KAJIAN MOTIF BATIK BANYUMASAN

Gratis

0
0
118
7 months ago
Preview
Full text

KAJIAN MOTIF BATIK BANYUMASAN SKRIPSI

  19530314 198506 1 001 PERNYATAAN Nama : April Liana PuspitasariNIM : C0905003 Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul Kajian Motif Batik Banyumasan adalah betul-betul karya sendiri, bukan plagiat dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dariskripsi tersebut.

APRIL LIANA PUSPITASARI

  19530314 198506 1 001 PERNYATAAN Nama : April Liana PuspitasariNIM : C0905003 Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul Kajian Motif Batik Banyumasan adalah betul-betul karya sendiri, bukan plagiat dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dariskripsi tersebut.

KATA PENGANTAR

  Bapak/Ibu Dosen Seni Rupa, khususnya Jurusan Kriya Seni/Tekstil yang selama ini telah memberikan ilmu yang berguna dan mendukung penulis dalammenyelesaikan kuliah di Jurusan Kriya Seni/Tekstil Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadarisepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini banyak terdapat kekurangan, untuk itu diharapkan adanya saran dan kritik yang membangun dari berbagaipihak guna memperbaiki kekurangan dan kesalahan.

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang …………………………………………….. 1 B. Perumusan Masalah ……………………………………….. 2 C. Tujuan Penelitian ………………………………………….. 3 D. Manfaat ……………………………………………………. 3 I KAJIAN TEORI A. Sejarah Batik ……………………………………………… 5 B. Jenis Batik Berdasarkan Wilayah ………………………… 7

  Gaya Ragam Hias Batik Pedalaman ………………… 12 Pengertian Batik ………………………………………….. Motif Batik Modern ………………………………… 19 E.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian …………………………………………… 25 B. Lokasi Penelitian ………………………………………… 25 C. Populasi dan Sampel …………………………………….. 25 D. Strategi dan Bentuk Penelitian …………………………… 26 E. Sumber Data …………………………………………….. 27 1. Karya Batik ………………………………………… 27 2. Informan …………………………………………… 28 3. Dokumen dan Arsip ……………………………….. 28 F. Teknik Pengumpulan Data ……………………………… 29 G. Validitas Data …………………………………………… 30 1. Trianggulasi Data ………………………………….. 31 2. Trianggulasi Metode ………………………………. 31 H. Analisis Data ……………………………………………. 31

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Latar Belakang Penciptaan Batik Banyumas …………… 34 B. Jenis, Proses dan Bahan Batik di Banyumas …………… 36 1. Jenis …………………………………………………. 36 2. Proses ………………………………………………… 37 3. Bahan ………………………………………………… 57 C. Analisis Estetika ………………………………………… 61 1. Motif Batik Banyumasan ………………………….. 61 D. Analisis Fungsi Motif Batik Banyumasan ……………… 93 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan …………………………………………….. 95 B. Saran …………………………………………………… 98 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………….. 100 LAMPIRAN

DAFTAR SINGKATAN

Alm = Almarhum/almarhumahM = MasehiJDF = Japan Design FoundationDr = DoktorM, Sn = Magister SeniHjh = HajahPERBAIN = Persatuan Batik Indonesia m = Metercc = Centimeter Cubik cm = CentimeterTRO = Turkish Red Oil kg = KilogramC = Celcius VOC = Vereenigde Oost Indische Companie ISI = Institut Seni Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

  Dalam proses mencanting atau mencap juga sama-sama dilakukan sebanyak dua kali yaitu padasatu sisi dan kemudian dibalik, dan juga dilakukan proses pelorodan sebanyak dua kali, hanya saja pada proses pewarnaan batik tulis ada yang dibuat dengan teknik mencelup Fungsi batik yang semula hanya digunakan dalam upacara-upacara ritual sekarang banyak digunakan untuk aktivitas-aktivitas yang lain dalam kehidupan sehari-hari begitupula yang terjadi pada Batik Banyumasan. Batik Banyumasan merupakan salah satu yang mempunyai ciri pola batik tersendiri yakni tegas dan besar-besar, dengan ornamen tanaman dan binatang denganwarna yang dominan gelap mengikuti ciri khas batik pedalaman.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seni batik adalah salah satu warisan budaya masyarakat Banyumas. Jika dilihat

  Batik Banyumas mempunyai sejarah yang tidak terlepas dari budaya asli Banyumas maupun pengaruh budaya lain seperti Surakarta, Yogyakarta dan Pekalongan. Dari informasi para sesepuh dan penggiat batik Banyumas, disebutkan bahwa batikBanyumas berasal dari adanya Kademangan-Kademangan di Daerah Banyumas dan juga adanya pengikut Pangeran Diponegoro yang mengungsi di Daerah Banyumas.

B. Perumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah yang akan diteliti adalah : 1. Bagaimana jenis, proses dan fungsi Batik Banyumasan ?

3. Mengetahui kajian estetis pada Batik Banyumasan

D. Manfaat

  Menambah referensi pengetahuan dan wawasan mengenai BatikBanyumasan khususnya bagi para Mahasiswa di Jurusan Kriya Seni/Tekstil, Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas MaretSurakarta b. Pihak Terkait Diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas dalam menciptakan beragam jenis kain batik Banyumasan agar terus mampu berkembang di dunia pertekstilanseiring dengan perkembangannya.

BAB II KAJIAN TEORI A. Sejarah Batik Menurut Soesanto dalam (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ronggowarsito

  Alfred Steinnmann yang mengemukakan bahwa semacam batik terdapat pula di Jepang pada zaman dynasty Nara sampai abad pertengahan, yang disebut Ro-Kechi , di China pada zaman dynasty Tiang yang disebut Miao, di Bangkok disebut dengan istilah Phanung dan di Rusia/ Turkestan Timur yang disebut Bhokara yangsebagian besar merupakan motif geometris. Selain itu, terdapat pula sejenis kain batik yang dibuat dengan proses lukisan lilin yaitu dari Palikat dan Gujarat yang disebut dengan Kain Pelekat dan mencapaipuncaknya pada abad ketujuh belas sampai dengan abad kesembilan belas.

B. Jenis Batik berdasarkan Wilayah

  Menurut Yahya dalam (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ronggowarsito, 2004 :38) yaitu bahwa ”Dalam kerajaan telah ada dikotomi tentang seni yaitu seni untuk raja, seni untuk priyayi agung serta seni untuk kawula alit”. Terdapat anggapan bahwa seni dari dalam keraton merupakan seni yang paling indah dan menjadi panutan masyarakat meskipun dapat dimungkinkan bahwa seni daridalam keraton tersebut merupakan hasil seni pinggiran dari kawula alit yang diklaim sebagai hasil karya raja atau berasal dari dalam lingkungan istana.

1. Gaya Ragam hias batik pesisiran

  Batik PekalonganBerdasarkan keterangan dalam buku Gaya Ragam Hias Batik yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ronggowarsito yaitu bahwa “Asal-usul keberadaan batik di Pekalongan tidak diketahui secara pasti namun demikian yang jelas di daerah tersebut keberadaan batik tidak lepas dari pengaruhbeberapa pihak diantaranya Cina, bangsa Arab keraton Solo-Yogya, Belanda maupun jepang”. Walaupun terdapat kedekatan wilayah antara Batang dan Pekalongan serta sebagian besar pekerja batik di Pekalongan berasal dari kota Batang tetapiBatik di Batang kalah bersaing dengan batik di Pekalongan dikarenakan bahwa Batik Pekalongan telah lebih dahulu terkenal daripada batik Batang sehingga batik Batang kalah bersaing.

2. Motif Bang Biru

2. Gaya Ragam hias batik pedalaman

  Akibat keahlian membatik di lingkungan keraton disebarkan dan dihidupkan di daerah Banyumas, makatampak adanya motif-motif yang menyerupai motif dari Yogyakarta dan Solo. Sseorang misionaris Belanda yang bernama Van Osterom masuk ke daerah Banyumas memperkenalkan batik Banyumasan di kalangan bangsaBelanda atau orang manca dan hal inilah yang menyebabkan perkembangan batikBanyumasan semakin maju dan dikenal dunia luar.

C. Pengertian Batik

  Menurut Shadily dalam (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan MuseumRonggowarsito 2004 : 31), batik adalah suatu cara melukis di atas kain (mori, katun, teteron katun, adakalanya kain sutera dll) dengan cara melapisi bagian-bagian yang tidakberwarna dengan lilin yang disebut juga malam (bahasa Jawa: lilin), yang biasanya dibuat dari lilin lebah yang kuning dicampur dengan parafin damar atau colophonium. Oleh karena itu apabila sehelai kain bercorak batik tidak dapat disebut batik apabila tidak menggunakan proses perintang lilin atau malam sehingga kain tersebuthanya disebut kain bercorak batik Berdasarkan dari asal katanya, kemungkinan kata batik berasal dari aktivitas orang saat menggambar kain berbentuk titik.

D. Motif Batik

  Isen motif batik merupakan hiasan yang berupa titik-titik, garis-garis atau gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk memperindah atau menambah ragam hiaspada motif batik. Unsur bumi atau tanah disimbolkan dengan bentuk meru, unsur api yang melambangkan nyala api disimbolkan dengan bentuk berupa lidah api, unsur air yangdisebut juga tirta disimbolkan dengan bentuk ular atau naga, unsur angin atau maruta disimbolkan dalam bentuk burung dan mahkota atau penguasa tertinggi disimbolkandalam bentuk garuda atau lar garuda.

1. Motif Batik Klasik

  Motif geometris yang antara lain terdiri dari motif banji, motif ganggong, motif ceplokan, motif anyaman serta motif parang dan lereng dan motif batiknongeometris contohnya adalah motif semen. Apabila dilihat dari ornamennya maka golongan semen terdiri dari 3 susunan motif yaitu motif semen yang hanya tersusun dari ornamen tumbuhan, motif semen yangtersusun dari ornamen tumbuhan dan binatang serta motif semen yang tersusun dari ornament tumbuhan, binatang dan lar-laran atau binatang bersayap.

2. Motif Batik Modern

  Pola dasar yang diperoleh dari batik ini merupakan pola lukisan lilin pada kain dan kemudian diselesaikansecara batik yaitu diberi isen-isen, cecek, ukel dan garis-garis atau sesuatu ornamen. Gaya lukisan yang menggambarkan serupa lukisan seperti pemandangan,bentuk bangunan dan sebagainya dan diisi dengan isen yang diatur rapi sehingga menghasilkan suatu hasil seni yang indah serta gaya khusus dari cerita lama misalnya real dan abstrak.

E. Desain

  Menurut JDF (Japan Design Foundation) dalam (Nanang Rizali, 2006 : 20), terdapat lima kriteria desain produk yang baik (good design) yaitu : a) Appearance : form, color, pattern and the like beautifully combined aswhole, and must be original. Appearance yang berarti rupa/perwajahan : maksudnya suatu karya tekstil yang dalam hal ini adalah karya batik yang mempunyai bentuk, warna, pola dan sepertigabungan keindahan sebagai keseluruhan dan harus yang asli.

2. Function yang berarti fungsi : harus fungsional, tepat dan dapat dipelihara dengan mudah

  Quality berarti kualitas : harus siap menawarkan penggunaan yang efisien dari bahan yang sepantasnya dan memberi cukup kepuasan berkenaan dengan tingkatkualitas tenaga kerja yang diharapkan dari barang dagangan utama. Safety berarti keselamatan : kepercayaan penuh harus diberikan untuk keselamatan dari hasil itu.

5. Others : pantas tidaknya untuk produksi, layak harga

  c) Detail : Detail atau bagian-bagian dari produk dapat dilihat pada berbagai jenis isen-isen yang terdapat pada motif batik Banyumasan. e)Daya Pikat/kesan : Suatu rasa yang dapat membangkitkan perasaan senang bagi yang memandangnya sehingga suasana yang demikian akan menstimulur dayapikat untuk memandang, menentukan pilihan terhadapnya, atau setidak-tidaknya mendorong timbulnya ungkapan bahwa Batik Tradisi Banyumasan tersebut indahatau menarik.

F. Estetika

  Garis yang terdiri dari garis yang bersifat grafis dan garis yang menjadi pengikat ruang, warna bentuk dan massa. Warna yang menurut system Munsell terdapat tiga golongan penghayatan warna yang terdiri dari Hue yang diartikan sebagai nama dari tiap-tiap warna, Valueyang diartikan sebagai gejala cahaya dari warna yang menyebabkan perbedaan pancaran warna dalam perbandingan dengan hitam putih dan Chrome yangdiartikan sebagai gejala kekuatan pancaran dari warna untuk menyatakan saturation dan warna.

G. Estetika Timur

  Negara Timur yang biasadianalogikan dengan suasana hati dan berkonotasi dengan negara-negara yang padat penduduk, amat tradisional, serba miskin dan terbelakang ini selalu bertentangan denganNegara Barat yang sering dihubungan dengan kapitalisme, imperialisme dan teknologi. Masyarakat Timur adalah masyarakat yang hidup dalam kebudayaan agraris yang senantiasa terbiasa dengan bahasa diam, tenang,langit, musim, tanah, awan dan bulan.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yaitu

B. Lokasi Penelitian

  penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif tentang gejala yang diselidiki serta menggambarkan atau melukiskan dan menafsirkan data tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan study kancah ke lapangan secara langsung, mengambil lokasi di Desa Pakunden, Desa Mruyung dan di Daerah Sokaraja Kulon,Kabupaten Banyumas.

C. Populasi dan Sample

  Jenis motif yang dikaji dalam penelitian ini yaitu motif Jonas Ukel, Ayam Puger, Godong Telo, Jahe Srimpang, Kawung Ketib, Parang Bebek, Kekayon dan Lumbon. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji motif batik Banyumasan, mendapatkan informasi mengenai latar belakang penciptaan batik Banyumasan sertauntuk mengetahui jenis, proses dan fungsi Batik Banyumasan.

D. Strategi dan bentuk penelitian

E. Sumber Data

  Dari survey di Desa Pakunden, Desa Mruyung dan Desa Sokaraja Kulon maka informasi yang diperoleh yaitu bahwa ciri khas Batik Banyumasan terletak padakeindahan motifnya yang menggunakan warna utama cokelat soga dan biru wedelan yang dahulu menggunakan zat warna alam. Dokumen dan arsip Dokumen dan arsip yang didapat yaitu data yang berkaitan dengan BatikBanyumasan baik dilihat dari sejarah, proses, ciri motif serta daftar berbagai macam nama motif batik Banyumasan yang ada di Desa Pakunden, Desa Mruyung dan Di daerahSokaraja.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik sebagai berikut:

1. Wawancara a

  Teknik wawancara yaitu dengan menggunakan teknik wawancara terstrukturyaitu wawancara yang sebelumnya telah disediakan daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada informan/ narasumber dan wawancaratidak berstruktur yaitu wawancara yang sebelumnya tidak terdapat daftar pertanyaan yang dibuat. Berdasarkan informasi yang didapat di daerah Mruyung dan di daerahPakunden berkaitan dengan Batik Banyumasan yaitu bahwa ciri dariBatik Banyumasan dengan menggunakan warna cokelat soga dan biru wedelan yang diproses dengan teknik kerokan.

G. Validitas Data

  Teknik trianggulasi data merupakan metode pengumpulan data yang sejenismelalui beberapa sumber data yang berbeda seperti beberapa informan atau narasumber, tempat, arsip dan dokumen yang berhubungan dengan Batik Banyumasan. Trianggulasi Metode Trianggulasi Metode meliputi pengumpulan data mengenai Batik Banyumasan dengan menggunakan beberapa metode atau teknik yang berbeda, seperti observasi,wawancara, mengcopy beberapa data dan mendokumentasikan berbagai benda yang berkaitan dengan Batik Banyumasan.

I. Analisis Data

  ”Reduksi data adalah bagian dari proses analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal-hal yang tidak penting dan mengatur Jadi reduksi data adalah proses paling awal yang dilakukan seorang penulis dengan mencatat data yang diperoleh di lapangan selanjutnya dilakukan prosespenyeleksian mengenai data-data yang berkaitan dengan batik Banyumasan sehingga dihasilkan suatu rangkuman. Agar mudah dipahami maka data-data yang diperoleh di lapangan dibuat secara narasi, hal ini merupakan bagian dari sajian data.

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Latar Belakang Penciptaan Batik di Banyumas Latar belakang penciptaan batik di Daerah Banyumas memang belum dapat

  Oleh karena itu, para bangsawan atau kaum ningrat pun ada yang berkeinginan menciptakan batik tulis untuk memenuhi kebutuhan pakaian keperluan di lingkungannyaPerkembangan batik Banyumasan semakin maju dan dikenal dunia luar ketika seorang misionaris Belanda yang bernama Van Osterom masuk ke daerah Banyumasmemperkenalkan batik Banyumasan di kalangan bangsa Belanda atau orang manca. Pada tahun 2004 pengusaha batik di Kabupaten Banyumas hanya terdapat 50 orang yang mengikuti Paguyuban Pengusaha Batik dan pada masa sekarang sekitar tahun2009 terdapat kurang lebih 54 pengrajin batik yang terletak di 4 Kabupaten atau 1 Karesidenan Banyumas.

B. Jenis, Proses dan Bahan Batik di Banyumas

1. Jenis

  Batik CapMembuat batik cap berarti membuat batik dengan cara mengecapkan lilin batik pada permukaan kain dengan alat yang disebut cap atau canting cap. Cap yang akan dipakai diletakkan di atas dulang yangberisi lilin cair, kemudian diangkat dan dicapkan pada kain yang diletakkan pada bantalan meja cap.

2. Proses Pembuatan Motif Batik Banyumasan

  Setelah selesai dipola/ digambari kemudian dibatik dengan malam/ lilin menggunakan canting yang biasa disebut dengan istilah dikandangi/ dicantangidengan mengikuti pola tersebut serta menyesuaikan kondisi malam dengan tebal/ tipisnya kain dan panas yang cukup. Langkah berikutnya adalah memberi isen atau isi dengan motif tambahan berupa cecek atau titik-titik serta menambah motif dalam sketsa dengan ornamen atau ragam hias yang dapat menghidupkan pola.

3. Pekerjaan membatik yang membuat motif titik-titik berjumlah empat dengan Canting Prapatan yang disebut dengan istilah Mrapati

  Proses Penjemuran tahap kedua atau diangin-anginkan yang bertujuan untuk mempermudah pada proses selanjutnya yaitu proses mbironiFoto: Dokumentasi April Liana Puspitasari Dilakukan proses mbironi yaitu kain setelah dikerok pada bagian-bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecek/titik-titik) perlu ditutup denganlilin menggunakan canting tulis. Celupan adalah pemberian warna kain yang telah dicap klowong dan dicap tembok dengancara dicelupkan pada kolam yang berisi zat pewarna yang biasa disebut dengan napthol, garam hitam dan garam biru.

7. Tahap berikutnya nglorod yaitu membersihkan seluruh lilin yang masih ada pada kain dengan cara dimasak dalam air mendidih

  Terakhir adalah dicuci/dibersihkan dan dijemur. Gambar 23.

3. Bahan Pembuatan Batik Banyumasan a

  Primissima harganya relativ mahal dan proses pengerjaannya juga lama serta untuk Adanya perbedaan jenis kain yang digunakan tersebut maka kain batik di pusat industri kerajinan Batik Banyumasan dibedakan menjadi kain batik alusandan kain batik kasaran. Menurut informasi bahwa batik alusan yaitu batik yang terbuat dari kain primissima yang cenderung halus, lembut dan lemas serta dalampembatikannya juga halus dan rapi sedangkan batik kasaran yaitu batik yang terbuat dari kain prima dan kain biru.

4. Malam tawon disebut juga “kote” atau lilin tawon. Sifat-sifat dari malam

  Parafin atau lilin berupa putih bersih atau kuning muda, dipakai dalam campuran lilin batik agar lilin batik mempunyai daya tahan tembus basahyang baik dan mudah lepas waktu dilorod serta sebagai bahan pengisi karena harga parafin lebih murah dari pada bahan-bahan lilin yang lain. Analisis Estetika Berdasarkan penjelasan mengenai estetika dari Nanang Rizali yaitu bahwa estetika merupakan pencerapan atau cerapan indera dan pencerapan tidak hanyamelibatkan indera tetapi juga proses psikofisik seperti asosiasi, pemahaman, khayal, kehendak dan emosi yang kesemuanya itu dapat dilihat dan dirasakan dari satu karya senibatik termasuk diantaranya adalah Motif Batik Banyumasan.

1. Motif Batik Banyumasan

  Balance terlihat pada perpaduan warna yang seimbang antara warna sogan/ coklat kekuningan khas Batik Banyumasan dengan warna coklat tua tetapi dengansentuhan sedikit warna merah pada pinggiran motif sedangkan harmony terlihat pada perpaduan bentuk geometris pada belah ketupat yang cenderung mengesankan tegas,maskulin tetapi terdapat sentuhan motif flora dan fauna yang mengesankan kelembutan dan feminim sehingga menciptakan keselarasan. Daun Singkong merupakan salah satu tanaman yang banyak terdapat di daerah Banyumas dan sekitarnya selain dari tanaman lumbu atau daun talas, dan karena keindahan batik adalah keindahan sebuah seni hasil cipta karsa dan karya manusia yang tentunya juga dipengaruhi dari beragam budayasosial termasuk segala sesuatu yang ada di muka bumi, maka hal inilah yang menciptakan adanya motif Godong Telo.

D. Analisis Fungsi Motif Batik Banyumasan

  Fungsi batik yang semula hanya digunakan dalam upacara-upacara ritual sekarang banyak digunakan untuk aktivitas-aktivitas yang lain dalam kehidupan sehari-hari begitu pula yang terjadi pada Batik Banyumasan. Sedangkan batik yang ada kaitannya dengan status sosial seseorang misalnya kain batik Parang, Kawung dan Sawat.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dari bab-bab sebelumnya yang mengacu pada

  Salah satu keluarga ningrat yang menaruh perhatian pada senibatik ialah keluarga Pangeran Aria Gandasubrata yang pernah menjabat sebagai BupatiBanyumas pada tahun 1913-1933 dan telah menciptakan beberapa motif batik yaitu antara lain motif Parang Gandasuli dan motif Seling Madu bronto yang diciptakan beliauuntuk keturunannya. Bahan pembuatan batik di Banyumas menggunakan bahan mori seperti mori primissima, prima dan kain biru sehingga dari perbedaan jenis kain yang digunakan tersebut maka di daerah Banyumas kain batik dibedakan menjadi kain batik alusan dan kain batik kasaran.

B. Saran

  Mengadakan variasi motif agar dapat menarik daya beli masyarakat yaitu dengan mengembangkan motif yang ada dan menciptakan motif yang baru. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membudayakan batik dalamkehidupan misalnya dengan menggunakan batik dalam upacara-upacara tradisional, menghadiri acara-acara resmi atau bahkan pada kehidupan sehari-hari.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (118 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

KAJIAN TERHADAP PENANGANAN KORBAN NARKOBA DI YAYASAN REHABILITASI MENTAL SINAI SUKOHARJO DARI ASPEK VIKTIMOLOGI
0
0
93
KEHIDUPAN PESANTREN DALAM NOVEL GENI JORA KARYA ABIDAH EL KHALIEQY ( KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA )
0
0
115
KEPUASAN KARYAWAN TERHADAP ASPEK-ASPEK KEPUASAN KERJA DAN PEMENUHAN HAK DASAR DI PERUSAHAAN BATIK MERAK MANIS SURAKARTA
0
0
231
KAJIAN SINONIMI YANG BERHUBUNGAN DENGAN MAKNA “MENGALAHKAN” DALAM BERITA OLAHRAGA DI MEDIA CETAK
0
0
71
KAJIAN BIOMEKANIKA PADA PENGGUNA PROSTHETIC BAWAH LUTUT DENGAN MEMPERHATIKAN FUNGSI ANKLE JOINT
0
0
281
PENGGARAPAN KALIGRAFI ARAB DALAM PERANCANGAN MOTIF UNTUK TIRAI RUANG TAMU
0
0
89
KAJIAN UMUR SIMPAN BUMBU MASAK BERBAHAN BAKU CABUK DENGAN VARIASI JENIS PENGEMAS
0
0
63
KAJIAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH BANK TERKAIT TRANSAKSI DERIVATIF PERBANKAN
0
0
148
KAJIAN PENGARUH KONSUMSI AIR BERSIH PDAM TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT DI KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA
0
0
72
KAJIAN YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA PENIPUAN DENGAN MODUS PERDUKUNAN (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Karangnyar)
0
0
76
KAJIAN KARAKTERISTIK FISIKO KIMIA DAN SENSORI YOGHURT DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK UBI JALAR (Ipomea batatas L.)
1
0
54
STUDI PERLINDUNGAN HUKUM HAK CIPTA SENI BATIK DI KOTA SURAKARTA
0
0
89
KAJIAN KUAT TARIK BELAH DAN MODULUS OF RUPTURE BETON NORMAL DENGAN BAHAN TAMBAH METAKAOLIN DAN SERAT ALUMUNIUM
0
0
72
KAJIAN TERHADAP PENANGANAN KORBAN NARKOBA DI YAYASAN REHABILITASI MENTAL SINAI SUKOHARJO DARI ASPEK VIKTIMOLOGI
0
0
95
ISTILAH-ISTILAH DALAM KERIS SABUK INTEN WARANGKA LADRANG GAYA SURAKARTA (SUATU KAJIAN ETNOLINGUISTIK)
0
0
95
Show more