PENGARUH SELISIH INFLASI, SELISIH SUKU BUNGA DAN NERACA PERDAGANGAN TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH (PERIODE 2000:I – 2011:II)

Gratis

0
0
109
1 year ago
Preview
Full text

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh selisih laju inflasiIndonesia dan Amerika Serikat, selisih tingkat suku bunga Indonesia dan AmerikaSerikat, dan neraca perdagangan Indonesia terhadap nilai tukar rupiah. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dalam jangka panjang, selisih tingkat inflasi berpengaruh positif signifikan terhadap perubahan nilai tukar rupiah, selisihtingkat suku bunga dan neraca perdagangan Indonesia berpengaruh negatif signifikan terhadap perubahan nilai tukar rupiah.

PERDAGANGAN TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH

  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh selisih laju inflasiIndonesia dan Amerika Serikat, selisih tingkat suku bunga Indonesia dan AmerikaSerikat, dan neraca perdagangan Indonesia terhadap nilai tukar rupiah. Correction Model (ECM) Hasil penelitian ini menemukan bahwa dalam jangka panjang, selisih tingkat inflasi berpengaruh positif signifikan terhadap perubahan nilai tukarrupiah, selisih tingkat suku bunga dan dan neraca perdagangan Indonesia berpengaruh negatif signifikan terhadap perubahan nilai tukar rupiah.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nilai tukar adalah indikator penting dalam suatu perekonomian, oleh

  Penelitian tentang dampak pergerakan nilai tukar terhadap variabel makro ekonomi di beberapa negara telah dilakukan oleh Esquivel dan Larraín (2002),Engel dan West (2003), Lee dan Boon (2007), Ozturk dan Kalyoncu (2009). Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi kepada pihak pengambil kebijakan sebagai acuan untukmenentukan kebijakan yang tepat dalam hal kestabilan nilai tukar rupiah, guna kepentingan bangsa dan negara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Nilai Tukar

1. Pengertian Nilai Tukar (Exchange Rate)

  Peningkatan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing disebut dengan apresiasi/ revaluasi, sedangkan turunnya nilai tukar mata uangdomestik terhadap mata uang asing disebut depresiasi/ devaluasi. Istilahapresiasi/depresiasi nilai tukar umumnya digunakan negara dengan sistim nilai Revaluasi atau devaluasi merupakan kebijakan pemerintah yang diumumkan kepada publik untuk menaikkan atau menurunkan nilai tukarterhadap mata uang asing.

2. Sejarah Sistem Moneter Internasional

Sejarah sistem moneter internasional dikelompokkan dalam empat periode (Simorangkir, 2004: 8), yaitu:

a. Periode Standar Emas (Gold Standart): 1880-1914

  Terdapat dua karakteristik utama standaremas yang ditetapkan oleh negara-negara yang menggunakannya, yaitu: 1) perorangan dapat dengan bebas mengimpor dan mengekspor emas dan 2)persediaan jumlah uang beredar dijamin dengan persediaan emas. Jumlah uang beredar yang harus dijamin oleh cadangan emas dalam sistem ini, mendorong terjadinya stabilitas nilai tukar dan harga.

b. Periode Perang Dunia Pertama (PD I) dan Kedua (PD II)

  Hasilnyaadalah suatu keputusan penting yang berupa penerapan sistem nilai tukar tetap yang secara resmi diikuti oleh 32 negara, serta pendirian dua lembagakeuangan internasional, yaitu International Monetary Fund (IMF) dan International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) atau sekarang dikenal dengan World Bank. IMF didirikan dengan tujuan untuk mendorong kerja sama moneter antar negara, sistem nilai tukar yang lebih baik, dan untukmemberikan bantuan keuangan jangka pendek apabila ada negara yang mengalami kesulitan neraca pembayaran.

3. Kebijakan dan Sistem Nilai Tukar

Sistem nilai tukar diklarifikasikan dalam tiga kelompok (Simorangkir, 2004: 15), yaitu:

a. Sistem nilai tukar tetap murni (Absolutely fixed exchange rate regime)

  Pada sistem nilai tukar tetap, kurs mata uang ditetapkan secara tetap pada nilai tertentu dengan mata uang asing tertentu. Kondisi ini dapat mengakibatkan harga barang ekspor suatu negaralebih mahal di luar negeri dan akan mengurangi daya saing yang pada akhirnya akan menurunkan volume ekspor.

b. Sistem nilai tukar mengambang murni (Pure floating exchange rate

  Sistem nilai tukar tetap tetapi dapat disesuaikan (Fixed But AdjustableRate/FBAR) Sistem ini merupakan kombinasi sistem nilai tukar tetap dengan sistem nilai tukar mengambang. Perubahan nilai tukar mencerminkan persepsi resmi daripemerintah mengenai perubahan fundamental ekonomi yang memerlukan penyesuaian nilai tukar atau terdapatnya tekanan pasar yang kuat yangmempengaruhi cadangan devisa sehingga memaksa perlu penyesuaian nilai tukar.

4. Teori Nilai Tukar

a. Pendekatan Perdagangan atau Pendekatan Elastisitas

  Dalam pendekatan ini, jika nilai impor suatu negara lebih besar daripada nilai ekspornya, ceteris paribus, berarti negara tersebut mengalamidefisit neraca perdagangan, sehingga nilai tukar mata uangnya mengalami depresiasi terhadap mata uang mitra dagangnya. Begitu juga sebaliknya, jikanilai ekspor suatu negara lebih besar daripada nilai impornya, ceteris paribus, Dalam sistim nilai tukar fleksibel, depresiasi atau apresiasi nilai tukar akan mendorong perubahan arus perdagangan internasional atau ekspor danimpor dari satu negara ke negara lainnya sehingga akan tercapai keseimbangan kurs di mana nilai ekspor sama dengan nilai impor.

b. Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity)

  Mark (2000) menyarankan untuk menggunakan CPI (Consumer Price Indexs) dalam teori ini karena PPP mengarah pada nilai internal dari mata uang terkaitdan variasi nilai dapat diukur hanya dengan indeks umum. Misalkan tingkat harga umum di negara B tidak mengalami perubahan dari periode dasar ke periode 1 (P b1 /P b0 = 1), sementara pada periode yangsama, tingkat harga di negara A mengalami kenaikan sebesar 70%, maka menurut teori PPP relatif, kurs mata uang negara A terhadap mata uangnegara B naik sebesar 70% atau mata uang negara A terhadap mata uang negara B mengalami depresiasi sebesar 70%.

c. Paritas Suku Bunga Tidak Tertutup (Uncovered Interest Rate Parity)

  Kondisi paritas suku bunga tidak tertutup (uncovered interest parity) menegaskan hubungan antara tingkat suku bunga dan nilai tukar untuk duanegara dalam keadaan keseimbangan. Pergerakan nilai tukar akibat perubahan tingkat suku bunga Sumber: Krugman dan Obstfeld (1994: 71) Gambar diatas menunjukkan kondisi dimana terjadi kenaikan tingkat suku bunga.

IND. RP/US$

  simpanan rupiah lebih tinggi daripada simpanan dollar yang jumlahnya sama dengan jarak antara titik 1 dengan titik 1’. Peningkatan tingkat suku bunga 2 tersebut menyebabkan rupiah mengalami apresiasi ke titik E RP/US$.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar 1. Hubungan Inflasi dengan Nilai Tukar

  Boediono (1994: 161) menyatakan bahwa inflasi sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga-harga musiman, seperti menjelang hari raya, atau yang terjadi sekali saja dan tidak berdampak terhadap kenaikan sebagian besar harga barang-barang lain juga tidak disebut inflasi.

a. Inflasi berdasarkan laju inflasi

  1) Inflasi merayap (creeping inflation), yaitu inflasi yang ditandai dengan adanya laju inflasi yang sangat rendah yaitu kurang dari 10% per tahun dankenaikan harga berjalan sangat lamban dengan persentase kenaikan yang kecil dalam jangka waktu relative lama. 2) Inflasi Menengah (galloping inflation), yaitu ditandai dengan adanya laju inflasi yang cukup tinggi yaitu diatas 10% sampai dengan 20% per tahundan kenaikan harga berlangsung cepat dalam waktu relative singkat.3) Inflasi tinggi (hyper inflation), yaitu ditandai dengan adanya kenaikan harga secara umum sampai lima atau enam kali lipat dari semula atau diatas 40%.

b. Inflasi berdasarkan faktor penyebabnya

  Dalam kaitannya dengan nilai tukar, apabila terjadi penurunan nilai tukar lokal terhadap mata uang asingatau depresiasi maka harga barang-barang yang diimpor juga meningkat. Mekanisme Transmisi Nilai Tukar ke Inflasi Devaluasi nilai tukar mengakibatkan harga barang impor lebih mahal dan harga barang ekspor lebih murah.

2. Hubungan Tingkat Suku Bunga dengan Nilai Tukar

  Hubungan tingkat suku bunga dengan nilai tukar dapat dijelaskan berdasarkan teori paritas suku bunga yang mengasumsikan bahwa dalamperekonomian terbuka dimana modal dapat mengalir dengan sempurna, Perubahan tingkat suku bunga akan berdampak pada perubahan jumlah investasi di suatu negara. Dalam sistim nilai tukar mengambang dengansistem devisa bebas, perbedaan tingkat suku bunga dapat mempengaruhi aliran modal (capital flow) dari luar negeri, dan selanjutnya akan mempengaruhi nilaitukar mata uang negara tersebut terhadap mata uang asing.

3. Hubungan Neraca Perdagangan dengan Nilai Tukar

  Simorangkir (2004: 31) menyatakan bahwa hubungan neraca perdagangan dengan nilai tukar didasarkan pada konsep paritas daya beli(purchasing power parity), yaitu harga barang-barang ekspor dan impor suatu negara dipengaruhi nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing. Hal tersebut menunjukkan bahwa penurunan nilai tukar dapat memperbaiki neraca perdagangan dengan peningkatan volume ekspor karenaterjadi penurunan harga barang ekspor di luar negeri.

C. Penelitian Sebelumnya

  Periode data yang digunakan dalam penelitian ini mulai dari bulan Agustus 1997 hingga bulan Desember 2001dengan variabel-variabel antara lain selisih inflasi antara Indonesia dan AmerikaSerikat, selisih suku bunga riil antara Indonesia dan Amerika Serikat, selisih perubahan JUB antara Indonesia dan Amerika Serikat, selisih perubahan GDP riilantara Indonesia dan Amerika Serikat, serta surplus atau defisit BOP Indonesia. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa berdasarkan hasil estimasi ECM dan Ozturk dan Kalyoncu (2009), melakukan penelitian dengan judul“Exchange Rate Volatility and Trade: An Empirical Investigation from Cross- country Comparison ” , yang meneliti dampak volatilitas nilai tukar terhadap aliran perdagangan dari enam negara pada periode 1980-2005.

D. Kerangka Pemikiran

  Dalam hal ini, yaitu kestabilan nilai rupiahterhadap barang dan jasa (disebut dengan inflasi) dan kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang negara lain (disebut dengan nilai tukar atau kurs rupiah). Nilai tukar rupiah terhadap US dollar menjadi variabel dependen, dimana variabel-variabel independen yang digunakan untuk menjelaskan variabeldependennya, yaitu: 1) Selisih laju inflasi Indonesia dengan laju inflasi AmerikaSerikat, 2) Selisih tingkat suku bunga Indonesia dengan tingkat suku bunga Amerika Serikat, 3) Neraca perdagangan Indonesia.

E. Hipotesis

  Diduga selisih tingkat suku bunga berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai tukar Rp/US$. Diduga variabel neraca perdagangan berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai tukar Rp/US$.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif, yaitu

  Penelitian ini akan mengukur pengaruh selisih laju inflasi Indonesia danAmerika Serikat, selisih tingkat suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat, dan neraca perdagangan Indonesia terhadap kurs Rp/US$. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari pihak kedua atau hasil dari pengumpulan oleh suatu instansi dalam bentukpublikasi.

D. Definisi Operasional Variabel

  Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 4 (empat) macam variabel, yaitu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, selisih laju inflasi Indonesiadan laju inflasi Amerika Serikat, selisih tingkat suku bunga Indonesia dan tingkat suku bunga Amerika Serikat, serta neraca perdagangan Indonesia. Di Indonesia Suku bunga SBI merupakan suku bunga acuan atau suku bunga kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, yaitu salah satu instrumen yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam melaksanakan kebijakanmoneter melalui mekanisme operasi pasar terbuka untuk mempengaruhi dan mengendalikan likuiditas perekonomian dalam rangka tercapainyakeseimbangan intern dan ekstern.

E. Metode Analisis

1. Uji Pemilihan Bentuk Fungsi Model

  Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam pemilihan bentuk fungsi model empirik antara lain metode transformasi Box-Cox, metode yangdikembangkan MacKinnon, White, dan Davidson atau lebih dikenal dengan MWD test , metode Bara dan McAleer atau dikenal dengan B-M test dan metode yang dikembangkan Zarembka (Rahayu, 2007: 80). Penelitian ini akan menggunakan metode yang dikembangkan oleh MacKinnon, White, danDavidson (MWD test) untuk memilih bentuk fungsi model empirik.

1 DS_INF t +

5 BS_IR t-1 +

6 BLTB t-1 +β t )Dimana:LKURS t = Nilai tukar rupiah terhadap US$LKURS (t-1) = Nilai tukar rupiah terhadap US$ periode sebelumnyaS_INF S_INF = Selisih tingkat inflasi Indonesia dan AmerikaSerikat (%) (t-1) (t-1) = Selisih tingkat inflasi Indonesia dan AmerikaSerikat periode sebelumnya(%) S_IR t = Selisih tingkat suku bunga Indonesia dan AmerikaSerikat (t-1) – LKURS (t-1) (t-1) 7 ECT2 DS_IR β t – LKURS (t-1) t = S_INF t (t-1) t ECT2 = (S_INF = S_IR t – S_IR (t-1) DLTB t = LTB t – LTB (t-1) DS_INF (t-1) Serikat periode sebelumnyaLTB = Neraca perdagangan Indonesia (juta US $) t LTB = Neraca perdagangan Indonesia periode sebelumnya (t-1) (juta US$)ECT2 = Error Correction Term Intersep = β= Koefisien regresi β 1 – β

7 Dari persamaan (3.1) dan (3.2) di atas, selanjutnya akan diterapkan MWD

  Melakukan regresi terhadap persamaan (3.1) kemudian kita dapatkan nilai dari KURS dan kita namai dengan KURSF. Melakukan regresi terhadap persamaan (3.2) kemudian kita dapatkan nilai dari LKURS dan kita namai dengan LKURSF.

1 DS_INF t

  Melakukan regresi dengan persamaan (3.2) dengan menambahkan variabel Z2 sebagai variabel penjelas. 2 t β 3 t β 4 t-1 7 ECT2 + Z 2β β β 5 BS_IR t-1 BLTB ...............(3.4) 6 t-1 + + + Bila Z2 signifikan secara statistik maka kita menolak Ha (model log- linier), bila Z2 tidak signifikan, maka tidak menolak Ha.

a. Uji Akar-Akar Unit

  Model otoregresif dengan ordinary least square Dickey-Fuller (ADF) Test (OLS) adalah (Insukindro, 2000):DX = a + a BX Bi DX .................................(3.5) + t o 1 t t DX = c + c T +c BX + Bi DX .....................(3.6) t o 1 2 t t Dimana:DX = X t t – X t-1 BX = X t t-1 t B = kelambanan (backward lag operator)Nilai DF dan ADF untuk uji hipotesis bahwa a = 0 dan c = 0. Nilai 1 2 tersebut ditunjukkan oleh nisbah t pada koefisien regresi BX pada persamaan t (3.5) dan (3.6), selanjutnya nisbah t dibandingkan dengan nilai kritis DF (ADF) untuk mengetahui ada atau tidaknya akar-akar unit.

b. Uji Derajat Integrasi

  Model otoregresif dengan OLS untuk melakukan uji derajat integrasi adalah (Insukindro, 2000):D2X = e + e BDX Bi D2X .............................(3.6) + t o 1 t t D2X = g + g T +g + BDX Bi D2X .................(3.7) t o 1 2 t t Dimana:D2X = DX t t – DX t-1 BDX = DX t t-1 Jika e dan g sama dengan satu, maka variabel X dikatakan stasioner 1 2 t pada diferensi pertama, atau berintegrasi pada derajat satu atau I (1). Insukindro (2000) menyatakan bahwa suatu himpunan variabel runtut waktu X dikatakan berkointegrasi pada derajat d, b atau ditulis CI (d,b) bilasetiap elemen X berintegrasi pada derajat d atau I(d) dan terdapat satu vektor k yang tidak samadengan nol, sehingga W = k’X~I (d,b), d > 0, dan k merupakan vektor kointegrasi.

1 BE’DE t

Nilai statistik CRDW ditunjukkan oleh nilai statistik Durbin-Watson pada persamaan (3.8), dan statistik DF dan ADF ditunjukkan oleh nisbah t padakefisien BE pada persamaan (3.9) dan (3.10). t

4. Error Correction Model ( ECM )

  Jika analisisregresi terhadap data deret waktu yang tidak stasioner dipaksakan, maka akibat yang timbul antara lain akan diperoleh koefisien regresi penaksir yang tidakefisien dan peramalan berdasarkan persamaan regresi menjadi tidak valid lagi. Dengan berbagai kelemahan yang terdapat pada variabel ekonomi deret waktu yang kebanyakan mempunyai sifat yang tidak stasioner, maka dalampenelitian ini digunakan pendekatan koreksi kesalahan (ECM).

a. Keunggulan Pendekatan ECM

  Secara umum dapat dikatakan bahwa ECM sering dipandang sebagai salah satu model dinamik yang sangat populer dan banyak digunakan dalamstudi empiris, terutama sejak kegagalan model persamaan parsial (PAM) pada tahun 1970-an dalam menjelaskan perilaku dinamik permintaan uang sertamunculnya pendekatan kointegrasi dalam analisis deret waktu. Dalam análisis ekonomi, ECM dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa pelaku ekonomi menghadapiadanya ketidakseimbangan dalam konteks bahwa fenomena yang diinginkan oleh pelaku ekonomi belum tentu sama dengan kondisi aktualnya sehinggapenting untuk melakukan penyesuaian sebagai akibat adanya perbedaan fenomena aktual yang dihadapi antar waktu.

b. Penurunan ECM

  Hal inidisebabkan unsur kelembagaan dan struktur ekonomi yang masih bersifat khusus seperti pasar uang yang belum maju, informasi yang langka, jangkawaktu perencanaan yang pendek dan masih banyaknya aktiva keuangan yang tidak mudah untuk saling menggantikan, akibatnya terjadi biayaketidakseimbangan dan biaya penyesuaian (Insukindro, 1999). Maka hubungan variabel tersebut akan dirumuskan sebagai berikut: KURS* t = 3 TB tα + α α + α 1 INF t 2 IR t Dimana:KURS* = Nilai tukar Rp/US$ yang diharapkan pada tahun t t INF = Selisih inflasi Indonesia dan Amerika Serikat pada tahun t t IR = Selisih suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat pada tahun t t TB = Neraca perdagangan Indonesia pada tahun t t 2.

3 TB t-1

KURS t 1 e +(1- e)f 1 ] INF t 2 e +(1- e)f 2 ] IR t 3 e +(1- e)f 3 ] = α e + [α + [α + [αTB - (1 - e)f INF - (1 - e)f IR - (1 - e)f TBt 1 t-1 2 t-1 3 t-1 Persamaan tersebut dapat diringkas menjadi: KURS = c + c INF + c IR + c TB + c + c + INF IR + c TBt 1 t 2 t 3 t 4 t-1 5 t-1 6 t-1c

7 KURS t-1

  …...........................................(3.16)Dimana: 4c c e c = - (1 = α4 – e )f 1 1 e + (1 1 c 5 = - (1 5= α – e)f – e )f c 2 = α 2 e + (1 – e)f 2 c 6 = - (1 – e )f 7c 3 3 e + (1 3 c 7 = (1= α – e)f – e ) 5. Persamaan (3.16) di atas disebut sebagai Model Linear Dinamis (MLD), KURS t = c 3 TB t-1 3 TB t-1 + INF t- 1 INF t-1 + c 2 IR t-1 + c 1 INF t-1 2 IR t-1 1 + IR t-1 TB t-1 t-1 t-1 t-1 + c 7 7 INF t-1 + c 7 IR t-1 + c INF IR TB ......................................

1 INF t - c

1 INF t-1 + c 2 IR t - c 2 IR t-1 + c INF + c INF + c INF - INF + c IR + 1 4 t-1 1 t-1 7 t-1 t-1 5 t-1c 6 TB t-1 + c 3 TB t-1 + c 7 TB - t-1TB + INF

2 IR t-1 + c

7 IR t-1 -IR t-1 + c IR TB KURS + + + INFt-1 t-1 t-1 t-1 – c 7 t-1 – c 7 t-1 7 TB t-1 .............................................(3.18) 7 IR t-1 c + c Persamaan di atas dapat disederhanakan sebagai berikut: KURS = c + c (INF )+ c (IR ) + c (TBt – KURS t-1 1 t – INF t-1 2 t – IR t-1 3 t – TB t- 1 ) + (c 4 + c 1 + c 7 t-1 + (c 5 + c 2 + c 7 t-1 6 3 7 – 1) TB t-1 7 4 7 – 1) + (1- c 7(INF + + t-1 + IR t-1 TB t-1 KURS t-1 ) .....................(3.19) Bentuk akhir dari persamaan ECM adalah: DKURS = c + c DINF + c DIR + c DTB + c INF + c IR + c TBt 1 t 2 t 3 t 4 t-1 5 t-1 6 t-1 .................................................................(3.20)

7 ECT1

  Keterangan:KURS = Nilai tukar rupiah per dollar US (Rp) INF = Selisih inflasi Indonesia dan Amerika Serikat (%) t-1 t-1 c = Intersep c 1 , c 2 , c 3 = Koefisien asli regresi ECM dalam jangka pendek c 4 , c 5 , c 6 , = Koefisien regresi ECM dalam jangka panjang c 7 = Koefisien regresi error correcton term (ECT)Bentuk persamaan model koreksi kesalahan (ECM) di atas dikenal sebagai ECM yang baku (standard error correction model). Apabila nilai ECT (error correction term) signifikan secara statistik dan mempunyai nilai antara 0 dan 1, maka spesifikasi modeldalam penelitian ini telah sesuai dengan teori.

5. Uji Statistik

a. Uji-t

  Langkah pengujian :1) Uji-t untuk pengaruh variabel selisih inflasi dan pengaruh variabel neraca perdagangan dalam jangka pendek. Keterangan:Ho diterima, Ha ditolak jika t hitung < + t / 2 : n-k / 2 : Ho ditolak, Ha diterima jika t hitung > + t  n-k2) Uji-t untuk pengaruh variabel selisih tingkat suku bunga dan pengaruh variabel neraca perdagangan dalam jangka panjang.

1 T hitung =

  se b ( ) 1 Dimana :b = koefisien regresi 1 (b ) = standar error koefisien regresi se 1 / 2 : Bila t hitung > t n-k pada confidence interval tertentu, Ho ditolak. Penolakan terhadap Ho ini berarti bahwa variabel independen tertentu yang diuji secara nyata berpengaruh terhadap variabel dependen.

b. Uji F

  Merupakan pengujian bersama-sama variabel independen yang dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen secara bersama-samaterhadap variabel dependen (Gujarati, 2004: 140). R   a) Nilai F 1 R 1 K 2 2   ....................................(3.22)Keterangan: N = jumlah observasi atau sampelK = banyaknya variabel tabel 2) Melakukan penghitungan nilai F sebagai berikut: Langkah pengujian :1) Menentukan Hipotesis a a) H : 1 =2 =3 =4 = 0Berarti semua variabel independen secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

2 R = koefisien determinan

  4) Kesimpulan a) Apabila nilai F < F , maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya hitung tabel variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan. b) Apabila nilai F > F , maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya hitung tabel variabel independen secara bersama-sama mampu mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

c. Koefisien Determinasi (R )

  Untuk mengetahui tingkat ketepatan yang paling baik dalam analisa regresi dimana hal ini ditujukan oleh besarnya koefisien determinasi antara nol 2 dan satu. 2 Sedangkan R merupakan koefisien korelasi ( R = yang digunakan untukR ) mengetahui kuat/ lemahnya hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen.

6. Uji Asumsi Klasik

  Jika nilai χ 2 kritis, maka tidak terdapat masalah heteroskedastisitas, dan kecil dari nilai χ 2 2 kritis, maka terdapat sebaliknya jika nilai χ hitung lebih besar dari nilai χmasalah heteroskedastisitas. 2 Dari model akan didapat nilai R , kemudian nilai ini dimasukkan 2 dalam rumus sebagai berikut : (n-1) R , dimana n adalah jumlah observasi, kemudian dilakukan pengujian dengan hipotesis sebagai berikut:Ho: ρ = 0 berarti tidak ada masalah autokorelasi Ha: ρ ≠ 0 berarti ada masalah autokorelasi 2 2 2 Selanjutnya nilai (n-1) R dibandingkan dengan .

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Penelitian ini menggunakan data sekunder runtun waktu (time series)

  Selisih laju inflasi Indonesi dan laju inflasi Amerika Serikat yang digunakan dalam penelitian ini merupakan selisih prosentase perubahan indek hargakonsumen (consumer price indexs) Indonesia dan Amerika Serikat yang dinyatakan dalam persen (%). Selisih tingkat suku bunga Indonesia dan tingkat suku bunga Amerika Serikat yang digunakan dalam penelitian ini merupakan selisih dari tingkat sukubunga kebijakan yang dikeluarkan oleh bank sentral (central bank policy antara Indonesia dan Amerika Serikat yang dihitung dalam persen (%).

B. Deskripsi Perkembangan Variabel 1. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

  Grafik Perkembangan Nilai Tukar Tahun 2000:Q1-2011:Q2 Sumber: Hasil olahan E-Views 6.1, (Lampiran 1 hal: 97) Sepanjang tahun 2000 hingga triwulan 1 tahun 2001, rupiah mengalami depresiasi, dari rata-rata Rp 8.438 per dollar pada tahun 2000 menjadi Rp 10.255per dollar pada tahun 2001. Nilai tukar rupiah sempat terapresiasi pada pertengahan tahun 2001 karena terpilihnya presiden baru sehingga meningkatkan sentimenpositif dari pasar dan dukungan dari dalam negeri maupun dunia internasional terhadap presiden terpilih.

2. Perkembangan Selisih Laju Inflasi

  dibawah ini:Pada awal tahun 2000, selisih laju inflasi berada di bawah nol atau negatif dikarenakan laju inflasi Indonesia lebih kecil dari laju inflasi Amerika Serikat, yaitu -0,51% pada triwulan I dan 1,1% pada triwulan II, sedangkan rata- rata laju inflasi Amerika Serikat sebesar 3% pada triwulan yang sama. Selama triwulan IV tahun 2008 hingga triwulan III tahun 2009, Amerika Serikatmengalami deflasi rata-rata 1%, sedangkan laju inflasi di dalam negeri juga mengalami penurunan dalam waktu yang sama, yaitu dari 11,49% pada triwulan III tahun 2008 menjadi 2,7% pada triwulan III tahun 2009.

3. Perkembangan Selisih Tingkat Suku Bunga

  Kenaikan tersebut bersumber dari naiknya suku bunga SBIkarena meningkatnya laju inflasi dan melemahnya nilai tukar, serta adanya kenaikan suku bunga di luar negeri. Selisih tingkat suku bunga menunjukkan grafik yang stabil sepanjang tahun 2009 hingga akhir tahun 2010 dengan suku bunga Amerika Serikatbertahan pada tingkat suku bunga 0,13% dan Indonesia bertahan pada tingkat suku bunga 6,5%.

4. Perkembangan Neraca perdagangan Indonesia

  Grafik Perkembangan Neraca Perdagangan Indonesia Tahun 2000:Q1-2011:Q2 Sumber: Hasil olahan E-Views 6.1 (Lampiran 1 hal: 97) Neraca perdagangan menggambarkan kinerja perdagangan internasional yaitu total ekspor dan impor barang suatu negara. Pada awal tahun 2006, kinerja neraca perdagangan membaik karena meningkatnya permintaan ekspor, harga komoditas di pasar dan juga kestabilannilai tukar rupiah yang terjaga.

C. Hasil dan Analisis Data 1. Uji Pemilihan Bentuk Fungsi Model

  Dalam penelitian empiris, sebaiknya model yang akan digunakan diuji terlebih dahulu, apakah sebaiknya menggunakan bentuk linear atau log-linear. Uji pemilihan bentuk fungsi model dalam penelitian ini menggunakan MWD test yang dikembangkan oleh MacKinnon, White, dan Davidson.

a. Model Linier

  Tabel 4.1. Hasil Uji MWD Model Linier Variabel Koefisien t-Stat Prob.

b. Model Log-Linier

  Untuk uji Dickey-Fuller (DF) Test akar-akar unit ini, apabila nilai hitung mutlak DF dan ADF lebih kecil dari nilai kritis mutlak maka variabel tersebut tidak stasioner, sebaliknya jika nilai hitungmutlak DF dan ADF lebih besar dari nilai kritis mutlak maka variabel tersebut stasioner. 0.0005Nilai Kritis 5% -1.9483 Sumber: Hasil olahan E-Views 6.1 (Lampiran 7, hal: 104) Hasil pengujian memperlihatkan bahwa nilai ADF hitung untuk residual persamaan kointegrasi lebih besar dari nilai kritis ADF, yaitu -3,648438 > -1,948313, sehingga dapat disimpulkan bahwa koefisien nilai hitung mutlak ADF pada residual regresi berkointegrasi stasioner pada ordo 0 (pada  = 5%).

4. Estimasi Error Correction Model (ECM)

  Pendekatan Model Koreksi Kesalahan (ECM) akan menjelaskan parameter jangka pendek maupun jangka panjang atas variabel-variabel yangmempengaruhi nilai tukar rupiah. Hasil pengolahan yang telah dilakukan dengan menggunakan software E-Views 6.1.

2 R = 0,4989

5. Estimasi Error Correction Model (ECM) dengan Weighted Least Squares ( WLS)

  Dalam modelECM di atas masih terdapat masalah heteroskedastisitas, yang diketahui dari hasil uji asumsi klasik dengan menggunakan uji-white (lihat lampiran 8&9,hal:105-106), diketahui bahwa probabilitas chi-squares hitungnya lebih kecil dari α=5%, yaitu sebesar 0,0481. Pendekatan Model Koreksi Kesalahan (ECM) dengan Weighted Least(WLS) diharapkan akan mampu mengeliminasi masalah Squares heteroskedastisitas dalam model ECM agar menghasilkan estimator yang Best Linier Unbiased Estimator (BLUE) dalam menjelaskan parameter jangka pendek maupun jangka panjang atas variabel-variabel yang mempengaruhi nilai tukar rupiah.

2 R = 0,5484

F = 6,4203 (0,000)KeteranganLKURS = Nilai tukar rupiah per dollar US (Rp)S_INF = Selisih inflasi Indonesia dan Amerika Serikat (%)S_IR = Selisih suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat (%)LTB = Neraca perdagangan Indonesia (Miliar US $)Dimana:DKURS = KURS t t – KURS t-1 DS_INF = INF t t t-1 t t – TB t-1 ECT1 = S_INF + S_IR + LTB - LKURS t-1 t-1 t-1 t-1 c = Intersep c , c , c = Koefisien asli regresi ECM dalam jangka pendek 1 2 3 c , c , c , = Koefisien regresi ECM dalam jangka panjang 4 5 6 c = Koefisien regresi error correcton term (ECT)

7 Persamaan di atas menunjukkan besarnya nilai variabel ECT (Error

  ECT tersebut merupakan indikator apakah spesifikasi model dianggap baik atau tidak dalam mengestimasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Koefisien ECT menunjukkan angka 0.470400 berarti bahwa proporsi ketidakseimbangan perubahan nilai tukar pada satu periode yang telahdisesuaikan pada periode berikutnya adalah sekitar 0.470400%, sedangkan tingkat signifikansi ECT menunjukkan angka 0,00 berarti signifikan pada tingkatsignifikansi 5%.

6. Uji Statistik a. Uji t

1) Pengaruh Variabel Independen dalam Jangka Pendek

  Uji t merupakan pengujian secara individual terhadap setiap koefisien regresi semua variabel independen untuk melihat signifikansi dari variabelindependen. KesimpulanDS_INF 2.246113 0.0308 Signifikan pada a = 5%DLTB Sumber: Hasil olahan E-Views 6.1 (Lampiran 10, hal: 107)  Koefisien dari variabel DS_INF sebesar -0.002501 dengan probabilitas0,4484 tidak signifikan pada tingkat signifikansi 5%, artinya variabel DS_INF secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependen DLKURS pada tingkat signifikansi 5%.

2) Pengaruh Variabel Independen dalam Jangka Panjang

  KesimpulanS_INF(-1) Sumber: Hasil olahan E-Views 6.1 (Lampiran 10, hal: 107)  Koefisien dari variabel S_INF(-1) sebesar 0.002534 dengan probabilitas0,0000 signifikan dan positif pada tingkat signifikansi 5%, artinya variabelS_INF(-1) secara individu berpengaruh terhadap variabel dependen DLKURS pada tingkat signifikansi 5%.  Koefisien dari variabel S_IR(-1) sebesar -0.006350 dengan probabilitas0,0000 signifikan dan negatif pada tingkat signifikansi 5%, artinya  Koefisien dari variabel LTB(-1) sebesar -0.179024 dengan probabilitas0,0000 signifikan dan negatif pada tingkat signifikansi 5%, artinya variabel LTB(-1) secara individu berpengaruh terhadap variabel dependenDLKURS pada tingkat signifikansi 5%.

b. Uji F (Uji Secara Bersama-sama)

  Hasil pengolahan dari estimasi model ECM memperoleh nilai F hitung adalah sebesar 6.420321 dengan probabilitas signifikansinya sebesar0,000056 yang berarti signifikan pada taraf signifikansi 5%. Hal ini berarti bahwa secara bersama-sama dalam jangka pendek dan jangka panjangvariabel selisih tingkat inflasi, selisih tingkat suku bunga, dan neraca perdagangan Indonesia mempunyai pengaruh yang signifikan/nyata terhadapnilai tukar rupiah pada derajat signifikansi 5%.

c. Koefisien Determinasi (R

  Besarnya R 2 menunjukkan pengaruh yang dijelaskan oleh variabel dependen. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh nilai R 2 sebesar 0.548462, yang berarti bahwa 54,84 persen dari variasi variabel perubahan nilai tukar dapatdijelaskan oleh variasi variabel perubahan selisih laju inflasi, perubahan selisih tingkat suku bunga, dan perubahan neraca perdagangan Indonesia,sedangkan sisanya 45,16 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar model.

7. Uji Asumsi Klasik a. Uji Multikolinieritas

  Multikolinearitas merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya lebih dari satu hubungan linear pasti di antara beberapa atau semua variabelindependen dari model regresi (Gujarati, 2004: 341), disamping itu masalah ini juga timbul jika antara variabel independen berkorelasi dengan variabelpengganggu. Untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas, dilakukan pengujian dengan metode Klein, yaitu membandingkan nilai (r . Hasil 2 yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai R 2 Tabel 4.8 di bawah ini menunjukkan bahwa semua variabel bebas mempunyai nilai r < (r 2 2 Sedangkan apabila nilai R 2 ), berarti tidak terjadi gejala multikolinearitas.

2 R

Variabel r 2 KesimpulanDS_INF-DS_IR 0.375779 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritas DS_INF-DLTB 0.012980 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritasDS_INF-S_INF(-1) 0.180208 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritas DS_INF-S_IR(-1) 0.004219 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritasDS_INF-LTB(-1) 0.126289 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritas DS_IR-DLTB 0.002808 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritasDS_IR-S_INF(-1) 0.159605 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritas DS_IR-S_IR(-1) 0.042169 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritasDS_IR-LTB(-1) 0.004004 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritas DLTB-S_INF(-1) 0.018749 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritasDLTB-S_IR(-1) 0.001029 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritas DLTB-LTB(-1) 0.200324 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritasS_INF(-1)-S_IR(-1) 0.381336 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritas S_INF(-1)-LTB(-1) 0.003366 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritasS_IR(-1)-LTB(-1) 0.041927 0.548462 Tidak terjadi multikolinieritas Sumber: Hasil olahan E-Views 6.1 (Lampiran 11, hal: 108-113)

b. Uji Heteroskedastisitas

  Jika nilai χ 2 hitung(nilai Obs*R- squared) lebih kecil dari χ 2 tabel dan nilai probabilitas dari semua 2 terdapat masalah heteros hitung (nilai kedastisitas. Sebaliknya, Jika nilai χ 2 Obs*R- tabel dan nilai probabilitas dari semua squared) lebih besar dari χ variabel kurang atau lebih kecil dari nilai taraf signifikansi 5%, maka padamodel tersebut terdapat masalah heteroskedastisitas.

2 Dimana adalah nilai kritis Chi Square yang ada dalam tabel statistik Chi

  Chi-Square(2) 0.6117Sumber: Hasil olahan E-Views 6.1 Lampiran 13, hal: 115) 2 Dari tabel di atas didapat nilai (n-1) R adalah sebesar 0,982917 2 sedangkan nilaiχ (α = 0,05 ; df = 2) dalam tabel statistik Chi Square sebesar 2 10,5966. Dengan demikian dapat dilihat bahwa nilai (n-1) R lebih kecil dari 2 , maka pada model penelitian ini tidak terjadi masalah autokorelasi.

a. Pengaruh Selisih Laju Inflasi terhadap Nilai Tukar Rupiah

  Nilai koefisien regresi dalam jangka pendek dari hasil estimasi ECM degan WLS untuk variabel selisih laju inflasi yaitu sebesar -0,002501 denganprobabilitas sebesar 0,4484, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel selisih laju inflasi antara Indonesia dan Amerika Serikat tidak berpengaruh secarasignifikan terhadap perubahan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. ceteris paribus Hasil penelitian ini sesuai dengan teori dan hipotesis awal dari penelitian ini yang menyatakan bahwa selisih laju inflasi berpengaruh terhadapperubahan nilai tukar dalam jangka panjang.

b. Pengaruh Selisih Tingkat Suku Bunga Terhadap Nilai Tukar Rupiah

  Nilai koefisien regresi dalam jangka pendek dari hasil estimasi ECM degan WLS untuk variabel selisih tingkat suku bunga yaitu sebesar 0,017548dengan probabilitas sebesar 0,0308, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel selisih tingkat suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat berpengaruhsecara signifikan terhadap perubahan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Koefisienvariabel selisih tingkat suku bunga dalam jangka panjang sebesar -0,006350 dan signifikan pada tingkat signifikansi 5% yang ditunjukkan denganprobabilitas sebesar 0,0000, hasil ini berarti elastisitas perubahan selisih tingkat suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat mempengaruhi variasi perubahanapresiasi nilai tukar dalam jangka panjang sebesar 0,006350%.

BAB V PENUTUP Bab ini akan menyajikan beberapa kesimpulan berdasarkan hasil pengujian

A. Kesimpulan

  Dalam jangka panjang, selisih laju inflasi Indonesia dan laju inflasi Amerika Serikat mempunyai pengaruh yang positif dan signifikanterhadap perubahan nilai tukar rupiah. Dalam jangka panjang, selisih tingkat suku bungaIndonesia dan tingkat suku bunga Amerika Serikat mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap perubahan nilai tukar rupiah.

B. Saran

  Sesuai dengan kesimpulan yang didapatkan dalam penelitian ini bahwa selisih tingkat inflasi berpengaruh signifikan terhadap perubahan nilai tukar, makadiharapkan pemerintah dan lembaga terkait mengupayakan kerjasama yang baik dalam menjaga kestabilan harga-harga di dalam negeri karena kestabilanharga atau tingkat inflasi berkaitan erat dengan kestabilan nilai tukar rupiah. Merujuk pada kesimpulan kedua bahwa selisih tingkat suku bunga mempunyai berpengaruh yang signifikan terhadap nilai tukar rupiah dalamjangka pendek maupun jangka panjang, maka diharapkan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter di Indonesia perlu berhati-hati dalam menentukantingkat suku bunga dikarenakan perubahan dalam tingkat suku bunga dalam negeri akan mempengaruhi capital flow yang selanjutnya akan berdampakpada nilai tukar rupiah.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA: Refleksi Filosofis atas Pemikiran Ian G. Barbour
0
0
14
PANDANGAN MURID TERHADAP GURU: 60 TAHUN PROF. DR. M. AMIN ABDULLAH
0
0
16
KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI SEBAGAI SOLUSI KONFLIK PADA HUBUNGAN REMAJA DAN ORANG TUA DI SMK BATIK 2 SURAKARTA Rina Sari Kusuma Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta ABSTRAK - KOMUNIKASI ANTAR PR
0
0
6
Kata kunci : Model Pelatihan, Manajemen Mutu, Kerjasama Sekolah PENDAHULUAN - MANAJEMEN MUTU KERJASAMA KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PENINGKATAN KUALITAS DAN AKREDITASI SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN-KOTA MAGELANG
0
0
8
PAKOM PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS LESSON STUDY Rita Pramujiyanti Khotimah, Masduki, N. Setyaningsih Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unversitas Muhammadiyah Surakarta Email: r
0
1
8
PENINGKATAN PENDAPATAN UKM MELALUI PENGUASAAN TEKNOLOGI PAKAN LELE DAN PEMANFAATAN LIMBAH LOKAL DESA JATISARI KECAMATAN JATISRONO, KABUPATEN WONOGIRI
0
0
8
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN PENELITIAN DAN PENULISAN KARYA ILMIAH BAGI GURU MATEMATIKA SMASMK MUHAMMADIYAH DI KLATEN DAN SUKOHARJO Masduki dan Muhammad Noor Kholid Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta E
0
0
8
PEMITRA BAGI PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MATEMATIKA GURU DAN SISWA SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH PROGRAM KHUSUS DI BOYOLALI Sutama, Sabar Narimo, dan Suyatmini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta Email : sutamaums.ac.id Abstra
0
0
7
PENINGKATAN KETRAMPILAN MEDIA KOMUNIKASI DAN PERLUASAN KERJASAMA DALAM PENCEGAHAN NARKOBA OLEH POLDA DIY DAN BNNP YOGYAKARTA
0
0
10
PEMITRA PENDAMPINGAN KELOMPOK TANI DAN PETERNAK LELE DESA PUCUNG, KECAMATAN EROMOKO KABUPATEN WONOGIRI
0
0
9
ANALISIS NERACA AIR SUNGAI TIRTOMOYO SUB DAS BENGAWAN SOLO HULU 3
0
0
68
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS RISIKO DALAM MASA PEMELIHARAAN PROYEK PADA PROYEK KONSTRUKSI DI KOTA SURAKARTA
0
1
20
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN KEPUTUSAN KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
0
0
115
RESEPSI MAHASISWA JURUSAN SASTRA INDONESIA UNS ANGKATAN 2010 TERHADAP FILM LASKAR PELANGI: ANALISIS ESTETIKA EKSPERIMENTAL
0
2
195
PENGARUH FAKTOR SOSIAL DALAM ADOPSI E-COMMERCE
0
0
119
Show more