BUKU Perda No 3 Tahun 2014 RPJMD 2014 2019

Gratis

0
7
523
9 months ago
Preview
Full text

  RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2014 - 2019 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2014 - 2019 TERWUJUDNYA KABUPATEN GARUT YANG BERMARTABAT, NYAMAN DAN SEJAHTERA

  BUPATI GARUT PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2014-2019 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang : a. bahwa untuk menjabarkan visi, misi dan program Bupati Periode 2014-2019, yang memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), program kewilayahan, yang disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif, maka perlu disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2014-2019; b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 150 ayat (3) huruf e Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

  Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditetapkan dengan peraturan daerah; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang

  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Garut Tahun 2014-2019. Mengingat :

  1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

  2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara Tahun 1950) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang dengan Mengubah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam

  4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor

  

5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

6. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan

Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran

  

Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

  7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4421);

  8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004

Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4437) sebagaimana telah beberapakali diubah, terakhir

dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang

Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4844); 9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah

  

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 10. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025

  

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 11. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan

Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007

  

Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4723);

  12. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 13. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik

  

Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5234);

  14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

  16. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik

  Indonesia Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4855); 18. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara

  Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);

  19. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);

  20. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664);

  21. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 22. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

  

2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4741);

  23. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815);

  24. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);

  25. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara

  27. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 - 2014; 28. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan

Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS dan Menteri Keuangan

  

Nomor 28 Tahun 2010, Nomor 0199/M PPN/04/2010 dan Nomor

PMK 95/PMK 07/2010 tentang Penyelarasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014; 29. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang

Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang

  Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 517); 30. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik

  Indonesia Tahun 2014 Nomor 32); 31. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008

tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)

  

Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi

Jawa Barat Tahun 2008 Nomor 8 Seri E, Tambahan Lembaran

Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 45) sebagaimana telah diubah

dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 24 Tahun

2010 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan

Jangka Panjang (RPJP) Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-

2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2010 Nomor

  24 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 87);

  32. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010

tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun

2009-2029 (Lembaran Daerah Tahun 2010 Nomor 22 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 86);

  33. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018 (Lembaran Daerah Tahun

2013 Nomor 10 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 10); 34. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 14 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Garut (Lembaran

  Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 27); 35. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat

  Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 37) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 6 Tahun 2012 tentang

  36. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun

2008 Nomor 38) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir

dengan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 7 Tahun 2012

tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten

Garut Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan

Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 7); 37. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 24 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis

  Daerah dan Inspektorat Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 39) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 8 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 24 Tahun 2008 tentang Pembentukan

dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah dan Inspektorat

Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 8);

  38. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 26 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten

Garut Tahun 2008 Nomor 41) sebagaimana telah diubah dengan

Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 10 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 26 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 8); 39. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 27 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Kecamatan dan

  

Kelurahan Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut

Tahun 2008 Nomor 42);

  40. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten

Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2009 Nomor 5)

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten

Garut Nomor 11 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan

Daerah Kabupaten Garut Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 11); 41. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 4 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)

  

Kabupaten Garut tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten

Garut Tahun 2010 Nomor 4);

42. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 7 Tahun 2011 tentang

  44. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 15 Tahun 2012 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 15); 45. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pembentukan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten

  Garut Tahun 2014 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Garut Nomor 2).

  

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN GARUT

dan

BUPATI GARUT

  

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN

JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2014-2019.

  

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Garut.

  2. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

  3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

  4. Bupati adalah Bupati Garut.

  5. Badan adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Garut yang selanjutnya disebut Bappeda Kabupaten Garut.

  6. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.

  7. Pembangunan Daerah adalah upaya yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dan semua unsur masyarakat Kabupaten Garut dalam rangka mencapai visi dan misi daerah.

  10. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun.

  11. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah perangkat daerah pada Pemerintah Daerah Kabupaten Garut.

  12. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat daerah, yang selanjutnya

disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD), adalah

dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu)

tahun.

  13. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.

  14. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

  15. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi.

  16. Kebijakan adalah arah tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan.

  17. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang

dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk mencapai sasaran dan

tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang

dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

  18. Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang selanjutnya disingkat Musrenbang

adalah forum antar pemangku kepentingan dalam rangka menyusun rencana

pembangunan daerah.

  19. Pemangku Kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung

mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan

pembangunan daerah.

  BAB II KEDUDUKAN Pasal 2 RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 merupakan: a. penjabaran visi, misi dan program Bupati ke dalam strategi pembangunan daerah,

kebijakan umum, program prioritas Bupati dan arah kebijakan keuangan daerah,

dengan mempertimbangkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional

(RPJPN) Tahun 2005-2025, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

(RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025, Rencana Pembangunan Jangka

Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Garut 2005-2025, Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014, dan Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018; dan b.

dokumen perencanaan daerah yang memberikan arah dan acuan bagi

penyelenggara pemerintahan daerah dan pembangunan daerah dalam mewujudkan

pembangunan daerah yang berkesinambungan.

  

BAB Ill

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 3

(1)

RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 ditetapkan dengan maksud untuk

memberikan arah dan pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan Kabupaten Garut yang berkesinambungan. (2)

Adapun tujuan penyusunan RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 adalah

sebagai berikut: a.

menetapkan visi, misi dan program pembangunan daerah jangka menengah;

b. menetapkan pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD),

  Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD), dan perencanan penganggaran; dan c. mewujudkan perencanaan pembangunan daerah yang sinergis dan terpadu antara perencanaan pembangunan nasional, propinsi, kabupaten, antar kabupaten dan desa.

  

BAB IV

SISTEMATIKA

Pasal 4

Sistematika RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 meliputi: BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang Latar Belakang penyusunan RPJM, Dasar Hukum Penyusunan, Hubungan Antar Dokumen, Sistematika Penulisan serta Maksud dan Tujuan. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bab ini menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis, gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. BAB

  III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

  Bab ini menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis terhadap pengelolaan keuangan daerah, baik melalui gambaran kinerja keuangan serta kebijakan pengelolaan keuangan maupun kerangka pendanaan di masa lalu.

  BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Bab ini memuat deskripsi mengenai analisis isu-isu strategis yang menjadi dasar utama visi dan misi pembangunan jangka menengah. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis.

  BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Menjelaskan visi dan misi Pemerintah Daerah Kabupaten Garut untuk kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan, tujuan dan sasaran pembangunan. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Memuat dan menjelaskan arah kebijakan pembangunan daerah, program pembangunan daerah dan sasaran setiap program serta kebijakan kewilayahan.

  BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini menguraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja. Di samping itu, disajikan pula penjelasan tentang hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator kinerja yang dipilih.

  BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Pada Bab ini dijelaskan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD serta disajikan pula pencapaian target indikator kinerja pada akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan.

  BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Bab ini memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan. Hal ini ditunjukkan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai. Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program (outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan.

  BAB X KAIDAH PELAKSANAAN Menjelaskan tentang prinsip-prinsip dasar pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut tahun 2014-2019. BAB XI PENUTUP Pasal 5 Uraian lebih lanjut tentang isi kandungan RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

  

BAB V

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 6

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah Kabupaten

Garut Nomor 7 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2009-2014 (Lembaran Daerah Kabupaten Garut

Tahun 2009 Nomor 7) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten

Garut Nomor 32 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten

Garut Nomor 7 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2009-2014 (Lembaran Daerah Kabupaten Garut

Tahun 2011 Nomor 32), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

  

Pasal 7

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Garut. Ditetapkan di Garut pada tanggal 2 - 7 - 2014 B U P A T I G A R U T, t t d RUDY GUNAWAN Diundangkan di Garut pada tanggal 2 - 7 - 2014 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN GARUT, t t d

  I M A N A L I R A H M A N LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2014 NOMOR 3

  

LAMPIRAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR

3 TAHUN 2014

  

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN

GARUT TAHUN 2014 ‐ 2019 PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2014

  DAFTAR I SI

  Halaman Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Garut Tahun 2014 - 2019 Daftar I si .................................................................................................... i Daftar Tabel ................................................................................................ iv Daftar Gambar .............................................................................................. xvii

  Bab I Pendahuluan

  1.1 Latar Belakang .................................................................... I -1

  1.2 Dasar Hukum ...................................................................... I -4

  1.3 Hubungan RPJM Daerah Dengan Dokumen Perencanaan Lainya ............................................................ I -8

  1.4 Sistematika Penulisan .......................................................... I -9

  1.5 Maksud Dan Tujuan ............................................................ I -11

  Bab I I Gambaran Umum Kondisi Daerah

  2.1 Aspek Geografis dan Demografis .......................................... I I -1

  2.1.1 Aspek Geografis ..................................................... I I -1

  2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah .............................. I I -8

  2.1.3 Wilayah Rawan Bencana ......................................... I I -14

  2.1.4 Kondisi Demografi .................................................. I I -16

  2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat ......................................... I I -20

  2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi ........ I I -20

  2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial ..................................... I I -50

  2.2.3 Fokus Seni Budaya, Pemuda dan Olah Raga ............ I I -65

  2.3 Aspek Pelayanan Umum ..................................................... I I -67

  2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib .................................. I I -67

  2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan ................................. I I -158

  2.4 Aspek Daya Saing Daerah .................................................... I I -202

  2.4.1 Kemampuan Ekonomi Daerah ................................ I I -202

  2.4.2 I klim Berinvestasi .................................................. I I -204

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 i

  ii RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  I V-12 4.2 I su Strategis .......................................................................

  VI -1 6.2 Strategi dan Arah Kebijakan ................................................

  6.1 Analisis SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity, Threats) .............................................................................

  BAB VI Strategi Dan Arah Kebijakan

  5.2 Tujuan dan Sasaran ............................................................ V-3

  5.1. Visi dan Misi Kabupaten Garut ............................................. V-1

  BAB V Penyajian Visi, Misi, Tujuan Dan Saran

  I V-24

  4.1.2 Permasalahan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah ............................................

  Halaman

  BAB I V Analisis I su-I su Strategi 4.1 Permasalahan Pembangunan ............................................... I V-1 4.1.1 Permasalahan Pokok Pembangunan Daerah ............ I V-1

  I I I -30

  I I I -26 3.3.3. Penghitungan Kerangka Pendanaan ........................

  3.3.2 Proyeksi tentang kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Mendanai Pembangunan Tahun 2014 - 2019 ..........................

  I I I -25

  3.3.1. Analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama ..............................................

  Bab I I I Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan 3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu ................................................ I I I -1 3.1.1 Kinerja Pelaksanaan APBD ...................................... I I I -2 3.1.2 Neraca Daerah ....................................................... I I I -19 3.2 Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu ......................... I I I -23 3.2.1 Proporsi Penggunaan Anggaran .............................. I I I -23 3.3 Kerangka Pendanaan .......................................................... I I I -25

  2.4.3 Sumber Daya Manusia............................................ I I -207

  VI -3

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 iii

  7.7 Program Unggulan .............................................................. VI I -27

  10.2 Kaidah Pelaksanaan ........................................................ X--1

  10.1 Pedoman Transisi ............................................................ X--1

  BAB I X Penetapan I ndikator Kinerja Daerah................................... I X-1 BAB X Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan

  8.2 Kebijakan Pendanaan ........................................................ VI I I -9

  8.1 Prioritas Pembangunan RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 ........................................................................ VI I I -1

  BAB VI I I I ndikasi Rencana Program Prioritas Yang Disertai Pendanaan

  7.6. Program Pembangunan Daerah 2014 – 2019................... VI I -20

  Halaman

  7.5 Kebijakan Percepatan Pengentasan Status Daerah Tertinggal .......................................................................... VI I -15

  7.4 Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan . .............................. VI I -14

  7.3 Kebijakan Peningkatan I ndeks Pembangunan Manusia (I PM) . ............................................................................... VI I -10

  7.2 Kebijakan Pembangunan Kewilayahan .................................. VI I -1

  7.1 Kebijakan Umum 2014 – 2019 ............................................. VI I -1

  BAB VI I Kebijakan Umum Dan Program Pembangunan Daerah

  BAB I X Penutup .............................................................................. XI -1

  

DAFTAR TABEL

  Halaman Tabel 2. 1 Nama Kecamatan dan Jumlah Desa/ Kelurahan di Kabupaten Garut Tahun 2013 ...................................................................

  I I -3 Tabel 2. 2 Luas Lahan Menurut Penggunaan di Kabupaten Garut Tahun 2012 ......................................................................................

  I I -7 Tabel 2. 3 Rincian Rencana Kawasan Lindung .........................................

  I I -11 Tabel 2. 4 Rincian Rencana Kawasan Budidaya .........................................

  I I -13 Tabel 2. 5 Kasus Kejadian Bencana di Kabupaten Garut Tahun 2011-2013 .

  I I -15 Tabel 2.

  6 Perkembangan Jumlah, Laju dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Garut Tahun 2009-2013* * ......................................

  I I -16 Tabel 2. 7 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Per Kecamatan Tahun 2009- 2012 ......................................................................................

  I I -17 Tabel 2. 8 Perbandingan Komposisi Penduduk Kabupaten Garut Tahun 2009 dan Tahun 2012 .............................................................

  I I -19 Tabel 2. 9 Pencapaian I ndeks Pembangunan Manusia (I PM) Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013* * ................................................

  I I -21 Tabel 2. 10 Perbandingan I PM Kabupaten Garut dan Jawa Barat Tahun 2009-2012* ) ...........................................................................

  I I -24 Tabel 2. 11 PDRB adh Berlaku Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 (Milyar Rupiah) ..................................................................................

  I I -26 Tabel 2. 12 PDRB adh Konstan Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 (Milyar Rupiah) ..................................................................................

  I I -26 Tabel 2. 13 Kontribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Garut Tahun 2009-2013* * ................................................................

  I I -29 Tabel 2. 14 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013* * ...................................................................................

  I I -31 Tabel 2. 15 Peranan Sektor-sektor Ekonomi Kabupaten Garut Terhadap Jawa Barat Periode 2000-2012 (% ) ..........................................

  I I -34 Tabel 2. 16 Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Garut dan Jawa Barat Periode 2009-2012 .................................................

  I I -35 Tabel 2. 17 Perkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ......................................................................................

  I I -37 Tabel 2. 18 Perbandingan PDRB Per Kapita Kabupaten Garut dan Jawa Barat Tahun 2009-2012 (Juta Rupiah) ......................................

  I I -37

  iv RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  Halaman Tabel 2. 19 Jumlah Rumahtangga Sasaran (RTS) Hasil Pendataan PPLS di

  Kabupaten Garut Tahun 2008 dan 2011 .................................... I I -41 Tabel 2. 1 Rekapitulasi Program Keluarga Harapan Tahun 2012 – 2013 ...... I I -44 Tabel 2. 21 Pagu Raskin Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ....................... I I -44 Tabel 2. 22 Jumlah Siswa dan Anggaran Bantuan Siswa Miskin untuk

  Pendidikan Menengah di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..... I I -45 Tabel 2. 2 Data Jumlah Pasien Jamkesmas Dan Jamkesda RSUD dr. Slamet Garut Tahun 2009-2013 ................................................ I I -46

  Tabel 2.

  24 Alokasi Anggaran Bantuan Langsung Masyarakat Program PNPM-MPd Kabupaten Garut Tahun 2007-2013 ......................... I I -46

  Tabel 2.

  25 Alokasi Anggaran Bantuan Langsung Masyarakat Program PNPM-Pk Kabupaten Garut Tahun 2007-2013 ............................ I I -47

  Tabel 2. 26 Alokasi Anggaran Bantuan Langsung Masyarakat Program PNPM Daerah Tertinggal dan Khusus Kabupaten Garut Tahun 2007- 2013 ....................................................................................... I I -47

  Tabel 2. 27 Proporsi dan Sebaran Desa Tertinggal di Kabupaten Garut ......... I I -48 Tabel 2. 28 Faktor Ketertinggalan Utama Kabupaten Garut .......................... I I -48 Tabel 2. 29 Capaian I ndikator Utama Kab. Garut dibanding Target KPDT ..... I I -49 Tabel 2. 30 Perkembangan Angka Kriminalitas di Kabupaten GarutTahun

  2009-2013 .............................................................................. I I -50 Tabel 2.

  31 Angka Melek Huruf Kabupaten Garut Menurut Kecamatan Tahun 2011 ............................................................................ I I -51

  Tabel 2. 32 Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Garut Menurut Kecamatan Tahun 2011 ............................................................................ I I -52

  Tabel 2.

  33 Prosentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut I zasah/ STTB yang dimiliki Tahun 2009-2012* ) .......................... I I -55

  Tabel 2. 34 Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .................................................................... I I -57

  Tabel 2. 35 Angka Harapan Hidup Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......... I I -58 Tabel 2. 36 Kasus Penyakit Menular dan Tidak Menular di Kabupaten Garut

  Tahun 2009 s/ d 2013 .............................................................. I I -58 Tabel 2. 37 Persentase Balita Gizi Baik dan I bu Hamil di Kabupaten Garut

  Tahun 2009 s.d. 2013 .............................................................. I I -61

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 v

  Halaman Tabel 2. 38 Hasil Kegiatan Program Promosi Kesehatan Cakupan PHBS di

  Tatanan Rumah Tangga Berdasarkan 10 I ndikator Tahun 2009- 2013 ......................................................................................

  I I -61 Tabel 2. 39 Angkatan Kerja dan Penduduk Bekerja Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..............................................................................

  I I -63 Tabel 2. 40 Persentase Penduduk Bekerja di Kabupaten Garut Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009-2012 ..........................................

  I I -64 Tabel 2.

  41 Penduduk Bekerja berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2012 .........................................

  I I -65 Tabel 2. 42 Penduduk Bekerja berdasarkan Daerah di Kabupaten Garut Tahun 2009-2012 ...................................................................

  I I -65 Tabel 2. 43 Pencapaian SPM Seni dan Budaya Daerah Tahun 2011-2013 .....

  I I -66 Tabel 2. 44 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pendidikan Dasar Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 ..........................

  I I -67 Tabel 2.

  45 Perbandingan Jumlah Sekolah Berdasarkan Penduduk Usia Sekolah Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .............................

  I I -68 Tabel 2.

  46 Rasio Ketersediaan Guru Berdasarkan Jenjang Pendidikan Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .........................................

  I I -69 Tabel 2. 47 Kondisi Ruang Kelas Baik berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .........................................

  I I -69 Tabel 2. 48 Persentase Kondisi Ruang Kelas Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ......................................................................................

  I I -70 Tabel 2. 49 Sarana Prasarana Kesehatan Milik Pemerintah Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ...................................................................

  I I -71 Tabel 2. 50 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per Jumlah Penduduk di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .........................................

  I I -72 Tabel 2. 51 Jumlah Tenaga Kesehatan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ......................................................................................

  I I -73 Tabel 2. 52 Jumlah Pos Pelayanan Terpadu di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 ................................................................................

  I I -74 Tabel 2. 53 Persentase I bu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 ................................

  I I -74 Tabel 2. 54 Jumlah Desa Siaga Aktif di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .

  I I -75 Tabel 2. 55 Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .........................................

  I I -76

  vi RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 vii

  Halaman Tabel 2. 56 Jumlah Tenaga Medis di RSU dr Slamet Tahun 2009-2013 ......... I I -77 Tabel 2. 57 Jumlah Tenaga Medis RSU Pameungpeuk Tahun 2009 – 2013 .. I I -78 Tabel 2. 58 Jumlah Sarana Prasarana Pelayanan di RSU dr Slamet Tahun

  2009-2013 .............................................................................. I I -79 Tabel 2. 59 Jumlah Sarana Prasarana Pelayanan RSU Pameungpeuk Tahun 2009 – 2013 ........................................................................... I I -79 Tabel 2. 60 Jumlah Pasien Rawat I nap di RSU Pameungpeuk Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -80 Tabel 2. 61 Jumlah Pasien Rawat I nap di RSU dr Slamet Tahun 2009-2013 .. I I -80 Tabel 2. 62 Jumlah Persalinan yang ditolong di RSU dr Slamet Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -80 Tabel 2. 63 Jumlah Persalinan yang ditolong di RSU Pameungpeuk Tahun

  2009-2013 .............................................................................. I I -81 Tabel 2. 64 Capaian SPM RSU dr Slamet Tahun 2012 – 2013 ....................... I I -81 Tabel 2. 65 Capaian SPM RSU Pameungpeuk Tahun 2012 – 2013 ................ I I -85 Tabel 2. 66 Kondisi Jaringan Jalan Kabupaten Tahun 2009 - 2013 ............... I I -88 Tabel 2. 67 Kondisi Permukaan Jalan Kabupaten Tahun 2009-2013 .............. I I -89 Tabel 2. 68 Perkembangan Kondisi I rigasi Teknis Kabupaten Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -90 Tabel 2. 69 Perkembangan Kondisi I rigasi Desa Tahun 2009-2013 ............... I I -91 Tabel 2. 70 Kondisi Perkembangan SUB DAS sampai dengan Tahun 2013 .... I I -91 Tabel 2. 71 Kondisi Perkembangan Embung dan Penurapan Mata Air Tahun 2013 ....................................................................................... I I -92 Tabel 2. 72 Kondisi Perkembangan Situ sampai dengan tahun 2013 ............. I I -92 Tabel 2. 73 Kondisi Perkembangan Drainase/ Saluran Drainase Perkotaan

  Tahun 2013 ............................................................................ I I -93 Tabel 2.

  74 Perkembangan I ndikator Perumahan dan Permukiman di Kabupaten Garut Tahun 2010-2013 .......................................... I I -94

  Tabel 2. 75 Perkembangan I ndikator Penatan Ruang di Kabupaten Garut Tahun 2010-2013 .................................................................... I I -95

  Tabel 2. 76 Dokumen Rencana Tata Ruang Kabupaten Garut ...................... I I -96 Tabel 2. 77 Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut .......... I I -96 Tabel 2.

  78 Penyusunan Dokumen Rencana Pembangunan Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009-2014 .............................. I I -97

  viii RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  I I -104 Tabel 2. 88 Jumlah Terminal Bis dan Non Bis Tahun 2009-2013 ..................

  Tabel 2. 97 Penanaman Pohon Pelindung di Kawasan Sumber Mata Air ....... I I -109 Tabel 2. 98 Peningkatan Jumlah Timbulan Sampah Tahun 2009-2013 ......... I I -110 Tabel 2. 99 Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan Tahun 2012- 2013 ......................................................................................

  96 Pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan dalam Pengendalian Pencemaran dan Pelestarian Lingkungan ............. I I -108

  I I -108 Tabel 2.

  Jenis Pelanggan Di Kabupaten Garut Tahun 2012 (SST) ............ I I -107 Tabel 2. 95 Pencapaian I ndikator Sasaran Lingkungan Hidup Tahun 2010- 2013 ......................................................................................

  I I -106 Tabel 2. 94 Kapasitas Sentral Telepon Dan Jumlah Line I n Services Menurut

  I I -105 Tabel 2. 92 Jumlah Pelanggaran Hasil Operasi Penertiban Tahun 2009-2013 I I -106 Tabel 2. 93 Prasarana dan Sarana Bidang Perhubungan, Laut, Udara dan Komunikasi Tahun 2009-2013 ..................................................

  I I -105 Tabel 2. 91 Kendaraan Wajib Uji dan Angkutan Penumpang Umum Tahun 2009-2013 ..............................................................................

  I I -105 Tabel 2. 90 Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 2009-2013 .................................

  I I -104 Tabel 2. 89 Penugasan Pengaturan Lalu Lintas Tahun 2009-2013 ................

  I I -103 Tabel 2. 87 Potensi Angkutan Antar Kota Tahun 2009-2013 ........................

  Halaman Tabel 2.

  I I -103 Tabel 2. 86 Jumlah Angkutan Umum Dalam Kabupaten di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ...................................................................

  I I -101 Tabel 2. 84 Perkembangan Perlengkapan Lalu-Lintas di Kabupaten Garut .... I I -102 Tabel 2. 85 Pengujian Kendaraan Bermotor ................................................

  I I -100 Tabel 2. 83 Bimbingan Teknis/ Workshop Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009-2013 ..................

  82 Koordinasi Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009-2013 ..............................................

  I I -99 Tabel 2.

  I I -98 Tabel 2. 81 Penyusunan Dokumen Data/ Statistik Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009-2013 .......................................................

  80 Penyusunan Dokumen Kajian Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009-2013 ..................

  I I -98 Tabel 2.

  79 Penyusunan Laporan Pelaksanaan dan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009-2013 .......................................................

  I I -110

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 ix

  Halaman Tabel 2. 100 Perkembangan Jumlah dan Kondisi Penerangan Jalan Umum

  Tahun 2009-2013 .................................................................... I I -111 Tabel 2. 101 Rekapitulasi Capaian Rekaman dan Pendistribusian E-KTP S/ D

  Desember 2013 di Kabupaten Garut ......................................... I I -112 Tabel 2. 102 Data Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Kependudukan

  Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .......................................... I I -113 Tabel 2. 103 Data pelayanan Akta Pencatatan Sipil Kabupaten Garut Tahun

  2009-2013 .............................................................................. I I -114 Tabel 2. 104 Data Pelatihan Pengelola SI AK di Dinas Kependudukan dan

  Pencatatan Sipil Kabupaten Garut Tahun 2009-2013.................. I I -114 Tabel 2. 105 Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga di Kabupaten Garut Tahun

  2009-2013 .............................................................................. I I -115 Tabel 2. 106 Jumlah Keluarga per Tahapan Keluarga di Kabupaten Garut

  Tahun 2009 – 2013 ................................................................. I I -115 Tabel 2. 107 Rasio Beban Ketergantungan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -116 Tabel 2. 108 Rasio Akseptor KB di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .......... I I -116 Tabel 2. 109 Jumlah Peserta KB Berdasarkan Tempat Pelayanan di

  Kabupaten Garut Tahun 2009 – 2013 ....................................... I I -117 Tabel 2. 110 Jumlah Petugas Lapangan KB di Kabupaten Garut Tahun 2009 - 2013 ....................................................................................... I I -117 Tabel 2. 111 Jumlah Kader KB Sukarela di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -118 Tabel 2. 112

  Total Fertility Rate (TFR) Kabupaten Garut Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 ............................................................ I I -118

  Tabel 2. 113 Capaian SPM Program Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak .......................................... I I -118

  Tabel 2. 114 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) Tahun 2009-2013 ...... I I -123 Tabel 2. 115 Jumlah Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -123 Tabel 2. 116 Data Kepesertaan Program Keluarga Harapan Kabupaten Garut

  Tahun 2009-2013 .................................................................... I I -125 Tabel 2. 117 Rasio Tempat I badah di Kabupaten Garut Tahun 2012 .............. I I -126

  x RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  Halaman Tabel 2. 118 Perbandingan Jumlah Tenaga Kerja Terdaftar dan

  Penempatannya di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 ....... I I -126 Tabel 2. 119 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 ........................................................................

  I I -127 Tabel 2. 120 Perbandingan Jumlah Survey Calon Lokasi Daerah Tujuan

  Transmigrasi dengan Jumlah MoU Penyelenggaraan Transmigrasi di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 ............ I I -129

  Tabel 2. 121 Jumlah Transmigran Kabupaten Garut Berdasarkan Asal Kecamatan Tahun 2009 s.d. 2013 ............................................ I I -129

  Tabel 2. 122 Jumlah Penempatan Transmigran Kabupaten Garut Berdasarkan Daerah Tujuan dan Jenis Transmigrasi Tahun 2009 s.d. 2013 ................................................................................ I I -130

  Tabel 2. 123 Data Transmigrasi Lokal di Kabupaten Garut ........................... I I -130 Tabel 2. 124 Perkembangan Jumlah dan Volume Usaha Koperasi di

  Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......................................... I I -131 Tabel 2. 125 Persentase Koperasi Aktif di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d 2013 ......................................................................................

  I I -132 Tabel 2. 126 Perkembangan Jumlah dan Volume Usaha UMKM di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..........................................................

  I I -132 Tabel 2. 127 Perkembangan Jumlah dan Volume Usaha BMT Tahun 2009- 2013 ......................................................................................

  I I -133 Tabel 2. 128 Data Minat I nvestasi di Kabupaten Garut Berdasarkan Sektor

  Usaha .................................................................................... I I -134 Tabel 2. 129 Data Realisasi I nvestasi di Kabupaten Garut Berdasarkan Sektor

  Usaha .................................................................................... I I -135 Tabel 2. 130 Pengembangan Destinasi Wisata Tahun 2009-2013 .................. I I -135 Tabel 2. 131 Promosi Wisata di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .............. I I -136 Tabel 2. 132 Pencapaian SPM Seni dan Budaya Daerah Tahun 2011-2013 ..... I I -137 Tabel 2. 133 Jumlah Organisasi Pemuda dan Jumlah Organisasi Olahraga di

  Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......................................... I I -138 Tabel 2. 134 Data Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ...................................................................

  I I -139 Tabel 2. 135 Rasio Jumlah Linmas di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ...... I I -140 Tabel 2. 136 Rasio Pos Siskamling di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ...... I I -140

  Halaman Tabel 2. 137 Daftar Organisasi Kemasyarakatan Berdasarkan Sifat

  Kekhususan Di Kabupaten Garut .............................................. I I -140 Tabel 2. 138 Daftar Organisasi Kemasyarakatan Dan Yayasan di Kabupaten

  Garut ...................................................................................... I I -141 Tabel 2. 139 Data Pembinaan Terhadap Organisasi Kemasyarakatan Di

  Kabupaten Garut ..................................................................... I I -141 Tabel 2. 140 Hasil Evaluasi Atas Akuntabilitas Kinerja I nstansi Pemerintah

  Kabupaten Garut Tahun 2012 dan Tahun 2013 ......................... I I -142 Tabel 2. 141 Peringkat dan Status Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan

  Kab. Garut .............................................................................. I I -142 Tabel 2. 142 Realisasi I zin Di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .................. I I -143 Tabel 2. 143 Realisasi Retribusi Perizinan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -144 Tabel 2. 144 Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNSD) di Kabupaten Garut Tahun

  2009-2013 .............................................................................. I I -144 Tabel 2. 145 Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNSD) di Kabupaten Garut

  Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2009-2013 .................... I I -145 Tabel 2. 146 Data Penerimaan CPNS per Golongan di Kabupaten Garut

  Tahun 2009-2013 .................................................................... I I -145 Tabel 2. 147 Data Penyelenggaraan Diklat Tahun 2009-2013 ........................ I I -146 Tabel 2. 148 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Garut Berdasarkan

  Jenis Kelamin .......................................................................... I I -146 Tabel 2. 149 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Garut Berdasarkan

  Eseloneering ........................................................................... I I -147 Tabel 2. 150 Data Rapat Dewan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .......... I I -147 Tabel 2. 151 Data Pembinaan/ Pengawasan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2014 ....................................................................................... I I -147 Tabel 2. 152 Data Produk Hukum Tahun 2009-2013 ..................................... I I -148 Tabel 2. 153 Ketersediaan Pangan Kabupaten Garut Tahun 2012 & 2013 ....... I I -150 Tabel 2. 154 Cadangan Pangan Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .............. I I -151 Tabel 2. 155 Perkembangan Harga Pangan Strategis Selama Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -152 Tabel 2. 156 Konsumsi Pangan Kabupaten Garut Tahun 2011-2013 ............... I I -153 Tabel 2. 157 Perkembangan Konsumsi Gizi Per Kelompok Pangan Kabupaten

  Garut Tahun 2009-2013 ........................................................... I I -153

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 xi

  xii RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  I I -159 Tabel 2. 169 Produksi Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura

  Pertanian Menurut Kecamatan dan Jenis Lahan Tahun 2013 (m2) ......................................................................................

  I I -165 Tabel 2. 175 Rata-rata Luas Lahan yang Dikuasai per Rumah Tangga Usaha

  I I -163 Tabel 2. 174 Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Pengguna Lahan dan Rumah Tangga Petani Gurem Tahun 2003 dan 2013 .................

  I I -162 Tabel 2. 173 Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Pengguna Lahan Menurut Kecamatan Tahun 2003 dan 2013 ...............................

  I I -161 Tabel 2. 172 Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Subsektor di Kabupaten Garut Tahun 2003 dan 2013 ...................................

  I I -161 Tabel 2. 171 Pengembangan I nfrastruktur pendukung Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .....

  Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......................................... I I -159 Tabel 2. 170 Pengembangan Pasar Produksi Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .......................

  Kabupaten Garut Tahun 2010-2013 ......................................... I I -158 Tabel 2. 168 Peran Dan Kemampuan Usaha Petani Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .......................

  Halaman Tabel 2. 158 Prosentasi Capaian Kecukupan Gizi Per Kelompok Pangan Kabupaten Garut Sampai Dengan Tahun 2009-2013 .................

  I I -158 Tabel 2. 167 Jumlah Ketersediaan Buku Pada Perpustakaan Daerah di

  I I -157 Tabel 2. 165 Jumlah Perpustakaan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..... I I -157 Tabel 2. 166 Jumlah Pengunjung Perpustakaan di Kabupaten Garut Tahun 2010-2013 ..............................................................................

  I I -156 Tabel 2. 164 Data Perkembangan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Garut .....................................................................

  I I -156 Tabel 2. 163 Data Pemerintah Desa Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ........

  I I -156 Tabel 2. 162 Jumlah Pengadaan Barang/ Jasa melalui LPSE ...........................

  I I -155 Tabel 2. 161 Jumlah Ketersediaan Sarana/ Prasarana (Teknologi) Komunikasi dan I nformasi Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ....................

  I I -154 Tabel 2. 160 Pengelolaan Arsip secara Baku di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ......................................................................................

  I I -154 Tabel 2. 159 Capaian Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ...................................................................

  I I -166

  Halaman Tabel 2. 176 Jumlah Petani Menurut Sektor/ Subsektor dan Jenis Kelamin

  Tahun 2013 ............................................................................ I I -167 Tabel 2. 177 Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Kelompok

  Umur dan Jenis Kelamin Petani Utama Tahun 2013 ................... I I -168 Tabel 2. 178 Luas Lahan Sawah Produktif di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -168 Tabel 2. 179 Luas Lahan Kering Produktif di Kabupaten Garut Tahun 2012- 2013 ....................................................................................... I I -169 Tabel 2. 180 Realisasi Produksi Padi, Palawija, Sayuran dan Buah-buahan

  Tahun 2009-2013 (Ton) ........................................................... I I -169 Tabel 2. 181 Perkembangan Produksi Komoditi Perkebunan Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -174 Tabel 2. 182 Pencapaian Populasi Ternak Tahun 2009-2013 .......................... I I -174 Tabel 2. 183 Realisasi Pencapaian Produksi Hasil Ternak Tahun 2009-2013 .... I I -175 Tabel 2. 184 Pencapaian Penyediaan Konsumsi Hasil Ternak di Garut, Tahun

  2009-2013 .............................................................................. I I -176 Tabel 2. 185 Produksi I kan Tahun 2009-2013 ............................................... I I -180 Tabel 2. 186 Luas Areal Pengembangan Hutan RakyatTahun 2009-2013 (Ha) I I -181 Tabel 2. 187 Hasil Kegiatan Pengembangan Aneka Usaha Kehutanan (AUK)

  Tahun 2009 -2013 ................................................................... I I -182 Tabel 2. 188 Produksi Hutan Rakyat Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ....... I I -182 Tabel 2. 189 Daftar Kelompok Pamhut Swakarsa Sampai Dengan Tahun 2013 ....................................................................................... I I -183 Tabel 2. 190 Perkembangan Pembinaan Hutan, Produksi dan Pengelolaan

  Lingkungan Tahun 2009 – 2013 ............................................... I I -183 Tabel 2. 191 I jin Usaha Pertambangan Tahun 2006 s.d 2013 ........................ I I -185 Tabel 2. 192 Potensi Bahan Tambang Logam dan I jin yang Telah

  Dikeluarkan Sampai Dengan Tahun 2013 .................................. I I -185 Tabel 2. 193 Potensi Bahan Galian Non Logam ............................................. I I -186 Tabel 2. 194 Potensi Bahan Galian Batuan .................................................... I I -186 Tabel 2. 195 Potensi Bahan Galian Batubara ................................................. I I -187 Tabel 2. 196 Landrent dan Royalty 2013 ...................................................... I I -187 Tabel 2. 197 Rekapitulasi Nilai Perolehan Air (NPA) Perusahaan Pengguna Air

  Tanah di Kabupaten Garut ....................................................... I I -188

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 xiii

  Halaman Tabel 2. 198 Nilai Persentase Bagian Kabupaten Garut dari DBH Tahun 2006- 2013 ......................................................................................

  I I -190 Tabel 2. 199 Nilai prosentase Kabupaten Garut untuk DBH Tahun 2006-2012 I I -191 Tabel 2. 200 Realisasi Dana Bagi Hasil SDA Panas Bumi yang telah diterima

  Kabupaten Garut dari lokasi Darajat, Kamojang Tahun 2006 s/ d 2013 ......................................................................................

  I I -191 Tabel 2. 201 Daftar Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Yang Telah Dibangun 2008 Sampai Dengan 2013 .......................................

  I I -192 Tabel 2. 202 Potensi Panas Bumi di Kabupaten Garut ................................... I I -193 Tabel 2. 203 Status Potensi Panas Bumi di Kabupaten Garut ......................... I I -193 Tabel 2. 204 Potensi dan Lokasi PLTMH di Kabupaten Garut .........................

  I I -194 Tabel 2. 205 I nvestasi PLTMH di kabupaten Garut ........................................

  I I -194 Tabel 2. 206 Jumlah Objek Wisata dan Jumlah Kunjungan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..........................................................

  I I -197 Tabel 2. 207 Perkembangan Jumlah Sarana Perdagangan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..........................................................

  I I -198 Tabel 2. 208 Perkembangan Jumlah WDP di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ......................................................................................

  I I -198 Tabel 2. 209 Perkembangan Jumlah Pedagang Formal di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ...................................................................

  I I -199 Tabel 2. 210 Perkembangan Jumlah Agen / Grosir di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..............................................................................

  I I -199 Tabel 2. 211 Kontribusi Pasar Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) ......... I I -200 Tabel 2. 212 Data Potensi I ndustri Kabupaten Garut Tahun 2009– 2013 ........ I I -201 Tabel 2. 213 Statistik Perbankan di Kabupaten Garut Tahun 2008-2012 .........

  I I -202 Tabel 2. 214 Persentase Rumah Tangga Yang Menggunakan Listrik di

  Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......................................... I I -203 Tabel 2. 215 Jenis, Kelas dan Jumlah Penginapan/ Hotel di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ...................................................................

  I I -203 Tabel 2. 216 Angka Kriminalitas di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 ... I I -204 Tabel 2. 217 Jumlah Demonstrasi di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ....... I I -205 Tabel 2. 218 Jenis I zin, Struktur dan Besaran Tarif Retribusi Perizinan ...........

  I I -206 Tabel 2. 219 Jumlah Realisasi Pajak dan Retribusi Daerah di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..........................................................

  I I -207

  xiv RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  Halaman Tabel 2. 220 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2009-2012* ) I I -208 Tabel 2. 221 Rasio Beban Ketergantungan Penduduk Tahun 2009-2012* ) ...... I I -209 Tabel 2. 222 Perkembangan I ndikator Makro Pembangunan Kabupaten Garut

  Tahun 2009-2013* ) ................................................................. I I -209 Tabel 3. 1 Target dan Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten Garut Tahun

  2009-2013 .............................................................................. I I I -4 Tabel 3. 2 Kontribusi Komponen Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten

  Garut Tahun 2009-2013 ........................................................... I I I -4 Tabel 3. 3 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten

  Garut Tahun 2009 – 2013 ........................................................ I I I -4 Tabel 3. 4 Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah APBD Kabupaten

  Garut Tahun 2009-2013 ........................................................... I I I -6 Tabel 3. 5 Target dan Realisasi Belanja APBD Kabupaten Garut Tahun

  2009-2013 .............................................................................. I I I -12 Tabel 3. 6 Kontribusi Komponen Realisasi Belanja APBD Kabupaten Garut

  Tahun 2009-2013 .................................................................... I I I -13 Tabel 3. 7 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I I -13 Tabel 3.

  8 Anggaran dan Realisasi Belanja Tidak Langsung APBD Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .......................................... I I I -14

  Tabel 3. 9 Anggaran dan Realisasi Belanja Langsung APBD Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ........................................................... I I I -16

  Tabel 3. 10 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pembiayaan Daerah APBD Kabupaten Garut Tahun 2009 -2013 ......................................... I I I -18

  Tabel 3. 11 Rata-rata Pertumbuhan Neraca Daerah Tahun 2009 s/ d Tahun 2013 ....................................................................................... I I I -20 Tabel 3.

  12 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Tahun 2011 s/ d Tahun 2013 .................................................... I I I -23

  Tabel 3. 13 Defisit Riil Anggaran Tahun 2011 s/ d Tahun 2013 Kabupaten Garut ...................................................................................... I I I -24

  Tabel 3. 14 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun 2011 s/ d Tahun 2013 ............................................................................ I I I -24

  Tabel 3. 15 Pengeluaran Periodik,Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Tahun 2013 ............................................................ I I I -25

  Tabel 3. 16 Proyeksi Pendapatan Daerah Tahun 2014-2019 ......................... I I I -27

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 xv

  xvi RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

Tabel 7.3 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan DaerahTabel 9.2 Target Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 .........................................

  IX-1

Tabel 9.1 Target Indikator Makro Tujuan Pembangunan Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 ...................................................................

  Wakil Bupati Garut Tahun 2014-2019 ....................................... VIII-151

Tabel 8.2 Program dan Indikasi Pendanaan Janji Kampanye Bupati dan

  Pendanaan Kabupaten Garut ................................................... VIII-11

Tabel 8.1 Indikasi Rencana Program Prioritas Yang Diserta Kebutuhan

  Kabupaten Garut ..................................................................... VII-32

  Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 ......................................... VII-19

  Halaman Tabel 3. 17 Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2014-2019 ............................... III-28 Tabel 3. 18 Proyeksi Pembiayaan Daerah Tahun 2014-2019 ........................ III-29 Tabel 3. 19 Proyeksi Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Untuk Mendanai

Tabel 7.2 Program Percepatan Pembangunan Desa Tertinggal DiTabel 7.1 Strategi dan Program Percepatan Pengentasan Desa Tertinggal di Kabupaten Garut ................................................................. VII-17

  VI-3

  Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 .......................................................... V-3 Tabel 6.1 Strategi dan Arah Kebijakan ....................................................

Tabel 5.1 Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Rencana

  Daerah Kabupaten Garu Tahun 2015 s/d Tahun 2019 ............... III-31

  Pembangunan Daerah Tahun 2015 s/d Tahun 2019 .................. III-31 Tabel 3. 21 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan

  Pembangunan Daerah ............................................................. III-29 Tabel 3. 20 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Mendanai

  IX-3

  DAFTAR GAMBAR

  Halaman Gambar 1. 1 Proses Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah

  Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 ................. I -3 Gambar 1. 2 Hubungan RPJMD Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya ........ I -9 Gambar 2. 1 Kondisi Strategis Wilayah Kabupaten Garut ............................... I I -1 Gambar 2. 2 Peta Administrasi Kabupaten Garut ........................................... I I -2 Gambar 2. 3 Kondisi Topografis Wilayah Kabupaten Garut ............................ I I -4 Gambar 2. 4 Kondisi Geologis Wilayah Kabupaten Garut ............................... I I -5 Gambar 2. 5 Kondisi Hidrologis Wilayah Kabupaten Garut ............................. I I -6 Gambar 2. 6 Kondisi Curah Hujan Wilayah Kabupaten Garut.......................... I I -7 Gambar 2. 7 Kondisi Penggunaan Lahan Wilayah Kabupaten Garut ................ I I -8 Gambar 2. 8 Rencana Kawasan Strategis Wilayah Kabupaten Garut ............... I I -11 Gambar 2. 9 Kondisi Peta Rawan Bencana Kabupaten Garut .......................... I I -15 Gambar 2.

  10 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Garut Tahun 2009-2013* * ........................................................................... I I -16

  Gambar 2. 11 Perbandingan Piramida Penduduk Kabupaten Garut ................... I I -19 Gambar 2. 12 Kondisi Kepadatan Penduduk Wilayah Kabupaten Garut ............. I I -20 Gambar 2. 13 Perkembangan Pencapaian I PM Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -21 Gambar 2. 14 Perkembangan Prosentase Peningkatan I PM Tahun 2009-2013 .. I I -24 Gambar 2. 15 Perbandingan I PM Kabupaten Garut dan Provinsi Jawa Barat

  Tahun 2009-2012* ) ................................................................. I I -25 Gambar 2. 16 Peringkat I PM Kabupaten Garut di Provinsi Jawa Barat Tahun

  2004-2012 .............................................................................. I I -25 Gambar 2. 17 Perbandingan Struktur Ekonomi Kabupaten Garut dan Provinsi

  Jawa Barat Periode 2000-2012 ................................................. I I -33 Gambar 2. 18 Perbandingan LPE Kab. Garut, Provinsi Jawa Barat dan Nasional

  Tahun 2008-2012 .................................................................... I I -35 Gambar 2. 19 Perkembangan I nflasi Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......... I I -39 Gambar 2. 1 Perkembangan Penduduk Miskin Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I -40

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 xvii

  xviii RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  31 Perkembangan Capaian Upah Minimum Terhadap KHL Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......................................... I I -128

  5 Perbandingan Kontribusi DAU terhadap Pendapatan APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009-2013 ..............................................................................

  I I I -7 Gambar 3.

  I I I -7 Gambar 3. 4 Perbandingan Rasio PAD terhadap Penduduk Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009-2013 ..............

  I I I -6 Gambar 3. 3 Perbandingan Rasio Realisasi PAD terhadap PDRB Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jawa Barat ................................

  Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009-2013 ..............................................................................

  I I I -5 Gambar 3. 2 Perbandingan Rasio Realisasi PAD terhadap Pendapatan APBD

  Gambar 3. 1 Perbandingan Pertumbuhan Realisasi PAD dengan Kontribusi Komponen Pembentuk PAD pada APBD Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ..............................................................................

  Gambar 2. 32 Persentase Penduduk Memiliki I jazah Perguruan Tingggi di Kabupaten Garut Tahun 2009-2012 ......................................... I I -208

  I I -75 Gambar 2.

  Halaman Gambar 2. 21 Pemetaan Penduduk Miskin per Kecamatan di Kabupaten Garut Berdasarkan Data PPLS Tahun 2008 dan 2011 ..........................

  I I -58 Gambar 2. 30 Perkembangan Angka Kesakitan Kab. Garut Tahun 2009-2012 ..

  I I -56 Gambar 2. 29 Perkembangan Angka Harapan Hidup (AHH) Kab.Garut Tahun 2009-2013* * ..........................................................................

  I I -55 Gambar 2. 28 Perbandingan Tingkat Pendidikan Penduduk Kab.Garut dan Nasional Tahun 2009-2012 ......................................................

  I I -54 Gambar 2. 27 Perbandingan APK Kab. Garut, Jawa Barat dan Nasional Tahun 2009-2012 ..............................................................................

  I I -54 Gambar 2. 26 APK Menurut Jenjang Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2012 ..............................................................................

  I I -53 Gambar 2. 25 Perbandingan APM Kab. Garut Tahun 2009-2012 ......................

  I I -52 Gambar 2. 24 APM Menurut Jenjang Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2009-2012 ..............................................................................

  I I -51 Gambar 2. 23 Perbandingan RLS Kab.Garut, Jawa Barat dan Nasional Tahun 2008-2012 ..............................................................................

  I I -42 Gambar 2. 22 Perbandingan AMH Kab.Garut, Jawa Barat dan Nasional Tahun 2008-2012 ..............................................................................

  I I I -8

  Halaman Gambar 3.

  6 Perbandingan Kontribusi DAK terhadap Pendapatan APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009-2013 .............................................................................. I I I -9

  Gambar 3.

  7 Perbandingan Kontribusi DBH terhadap Pendapatan APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009-2013 .............................................................................. I I I -9

  Gambar 3. 8 Perbandingan Kontribusi Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Terhadap Pendapatan APBD Kab. Garut dan Kab/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009-2013 ........................................................... I I I -10

  Gambar 3. 9 Perbandingan Dana Transfer Bagi Hasil Pajak dari Provinsi APBD Kab. Garut dan Kab/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009- 2013 ....................................................................................... I I I -10

  Gambar 3. 10 Perbandingan Pertumbuhan Realisasi Belanja Tidak Langsung dengan Kontribusi Komponen Pembentuk Belanja Tidak Langsung pada APBD Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......... I I I -14

  Gambar 3. 11 Perbandingan Rasio Belanja Pegawai terhadap Belanja APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009-2013 .............................................................................. I I I -15

  Gambar 3.

  12 Perbandingan Pertumbuhan Realisasi Belanja Langsung dengan Kontribusi Komponen Pembentuk Belanja Langsung pada APBD Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 ......................... I I I -16

  Gambar 3.

  13 Perbandingan Pertumbuhan Realisasi Belanja Langsung dengan Kontribusi Belanja Langsung Thd Total Belanja APBD Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 .......................................... I I I -17

  Gambar 3. 14 Perbandingan Rasio Belanja Modal terhadap Belanja APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jawa Barat Tahun 2009-2013 .............................................................................. I I -17

Gambar 7.1 Strategi Percepatan Pengentasan Desa Tertinggal di Kabupaten

  Garut ...................................................................................... VI I -17

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019 xix

  TENTANG : RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN GARUT

TAHUN 2014-2019

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Perencanaan merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk menentukan tindakan masa depan secara tepat dari sejumlah pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. Perencanaan pembangunan merupakan suatu bentuk kebijakan publik berupa konsep dan dokumentasi yang menggambarkan berbagai upaya terkait pencapaian tujuan melalui pengalokasian sumber daya yang dimiliki. Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sebagai landasan hukum dalam penyusunan perencanaan pembangunan baik yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, mengatur adanya satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. Sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional, perencanaan pembangunan daerah dilakukan pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berdasarkan peran dan kewenangan masing-masing melalui pengintegrasian rencana tata ruang dengan rencana pembangunan daerah untuk mencapai pemenuhan hak-hak dasar masyarakat sesuai dengan urusan dan kewenangan pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing daerah, sesuai dinamika perkembangan daerah dan nasional. Perumusan perencanaan pembangunan daerah dilakukan secara transparan, responsif, efisien, efektif, akuntabel, partisipatif, terukur, berkeadilan dan berkelanjutan melalui proses penyusunan dengan mempertimbangkan seluruh aspek kehidupan baik itu politik, ekonomi, sosial dan budaya yang berkembang, dengan memperhatikan asas demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. Oleh karenanya, perencanaan pembangunan daerah disusun secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap perubahan, dengan tujuan untuk mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan, menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Selain itu, menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengawasan dan mengoptimalkan partisipasi masyarakat serta menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, mengamanatkan bahwa daerah diharuskan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah paling lambat 6 (enam) bulan setelah kepala daerah terpilih dilantik. RPJMD Kabupaten Garut Tahun

  2014-2019, merupakan dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahun pada masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati terpilih Kabupaten Garut periode Tahun 2014-2019 yaitu H. Rudy Gunawan, S.H., M.H., M.P., dan dr. H. Helmi Budiman yang telah dilantik pada tanggal 23 Januari 2014, dan penetapan RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 paling lambat 23 Juli 2014. Sebagai penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah, RPJMD memuat arah kebijakan keuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Susunan Organisasi Perangkat Daerah, lintas Susunan Organisasi Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Oleh karenanya RPJMD menekankan tentang pentingnya menerjemahkan Visi, Misi dan Agenda Kepala Daerah terpilih kedalam tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan pembangunan yang merespon kebutuhan dan aspirasi masyarakat serta kesepakatan tentang tolok ukur kinerja untuk mengukur keberhasilan pembangunan daerah dalam 5 tahun kedepan. RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 ini selanjutnya, menjadi pedoman bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) dan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah kabupaten/ kota dalam menyusun/ menyesuaikan rencana pembangunan daerahnya masing-masing dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan di Provinsi Jawa Barat. Untuk pelaksanaan lebih lanjut, RPJMD akan dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang akan menjadi pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 disusun berdasarkan beberapa pendekatan sebagai berikut:

  1. Politik, pendekatan ini memandang bahwa pemilihan Kepala Daerah adalah proses penyusunan rencana, karena rakyat pemilih menentukan pilihannya berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan para Calon Kepala Daerah. Oleh karena itu, rencana pembangunan adalah penjabaran dari agenda-agenda pembangunan yang ditawarkan Kepala Daerah saat kampanye ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah; 2.

  Teknokratik, pendekatan ini dilaksanakan dengan menggunakan kerangka

  berfikir, asumsi, dan metoda ilmiah untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah;

  3. Partisipatif, pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan ( stakeholders) terhadap pembangunan. Pelibatan ini adalah untuk mendapatkan aspirasi dan menciptakan rasa memiliki terhadap dokumen perencanaan pembangunan daerah, serta menciptakan konsensus atau kesepakatan pada semua tahapan penting pengambilan keputusan;

  4. top-dow n bottom-up) , kedua pendekatan

  Atas- baw ah ( ) dan baw ah- atas (

  ini dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Rencana hasil proses atas- bawah dan bawah-atas tersebut diselaraskan melalui musyawarah, sehingga tercipta sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah.

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 disusun melalui tahapan perencanaan partisipatif dengan mengedepankan proses evaluasi, proyeksi dan analisis terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap pembangunan daerah Kabupaten Garut disertai berbagai tahapan dialog publik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan kunci dari pihak Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat serta masyarakat. Tahapan proses penyusunan, secara diagramatis dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

  

Gambar 1. 1

Proses Penyusunan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ( RPJMD)

Kabupaten Garut Tahun 2014- 2019

  Oleh karenanya penyusunan dokumen RPJMD tersebut memiliki nilai strategis dan politis antara lain :

  1. Media untuk mengimplementasikan janji Kepala Daerah terpilih yang telah disampaikan pada saat kampanye kepada seluruh masyarakat.

  2. Pedoman pelaksanaan pembangunan daerah selama 5 (lima) tahun.

  3. Pedoman penyusunan rencana kerja tahunan (RKPD) bagi Pemerintah Daerah.

  4. Pedoman bagi setiap SKPD dalam penyusunan Rencana Strategis SKPD.

  5. Alat atau instrumen pengendalian bagi Satuan Pengawas I nternal (SPI ) dan Bappeda.

  6. I nstrumen mengukur tingkat pencapaian kinerja kepala SKPD selama 5 tahun.

  7. Pedoman penilaian keberhasilan Pemerintahan daerah sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaran Pemerintahan Daerah.

8. Merupakan ruang politis bagi kepala daerah terpilih dan DPRD, yang akan berdampak tidak baik apabila tidak dapat tercapai.

1.2 Dasar Hukum

  Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019, beberapa peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan, yaitu sebagai berikut :

  1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Barat (Berita Negara Republik I ndonesia Tahun 1950) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1968 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 2851);

  2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembar Negara Republik I ndonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3851);

  3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4286);

  4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4355);

  5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4400);

  6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 104,Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4421);

  7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapakali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4844);

  8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 No 126, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4438);

  9. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4700);

  10. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4723); 11.

  Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4725); 12.

  Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4578); 13.

  Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4585); 14.

  Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4593); 15.

  Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/ Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4609) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/ Daerah Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4855); 16.

  Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja I nstansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2006 Nomor 25,Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4614); 17.

  Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2006 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4663); 18. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan

  Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2006 Nomor 97,Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4664);

  19. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4737); 20.

  Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4741);

  21. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia

  Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4815); 22.

  Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi danTugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4816); 23.

  Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4817); 24.

  Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4883);

  25. Peraturan Presiden Republik I ndonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014; 26.

  I nstruksi Presiden Republik I ndonesia Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan serta Sasaran I ndikator Pembangunan RPJMN 2010 – 2014 dan Orientasi pencapaian MDGs pada setiap wilayah;

  27. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala BAPPENAS dan Menteri Keuangan Nomor: 28 Tahun 2010; Nomor : 0199/ M PPN/ 04/ 2010 dan Nomor : PMK 95/ PMK 07/ 2010 tentang Penyelarasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014;

  28. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapakali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik I ndonesia Tahun 2011 Nomor 310); 29.

  Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik I ndonesia Tahun 2010 Nomor 517); 30.

  Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2005- 2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 Nomor 8 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 45) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 24 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2010 Nomor 24 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 87);

  31. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah P Provinsi Jawa Barat rovinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029

  (Lembaran Daerah Tahun 2010 Nomor 22 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 86); 32.

  Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018 (Lembaran Daerah Tahun 2013 Nomor 10 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 10); 33.

  Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 4 Tahun 2006 tentang Pedoman Pembentukan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2006 Nomor 7) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 4 Tahun 2006 tentang Pedoman Pembentukan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 22);

  34. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 14 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 27);

  35. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 19 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 34);

  36. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 4 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Garut tahun 2005- 2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2010 Nomor 4);

  37. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut Tahun 2011-2031;

  38. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 22 Tahun 2008 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 6); 39.

  Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 7 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 7); 40.

  Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 8 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 24 Tahun 2008 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah dan I nspektorat Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 8);

  41. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pencabutan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 25 Tahun 2008 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu dan Sekretariat Badan Narkotika Kabupaten Garut sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 2 tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 25 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Kantor Pelayanan Perijinan

  Terpadu Satu Pintu dan Sekretariat Badan Narkotika Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 9); 42.

  Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 10 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 26 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 10); 43.

  Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 11 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 11);

44. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 15 Tahun 2012 tentang Sistem

  Perencanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 15);

1.3 Hubungan RPJM Daerah dengan Dokumen Perencanaan Lainnya

  Sebagaimana dikemukakan pada Latar Belakang, bahwa penyusunan RPJMD Kabupaten Garut tidak dapat dilepaskan dari berbagai dokumen perencanaan terkait, baik yang dihasilkan oleh komponen vertikal maupun horisontal. Dari komponen vertikal, RPJM Nasional menjadi acuan terutama dalam pengenalan dan penyelarasan program pembangunan. Sebagai bagian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018 dijadikan sebagai acuan untuk menyelaraskan strategi pembangunan daerah dalam kerangka pengembangan makro regional. Adapun dari sisi horizontal, RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 ini disusun dengan berpedoman pada RPJPD Kabupaten Garut 2005-2025, dengan memperhatikan arah pembangunan kewilayahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Garut Tahun 2011-2031, kondisi lingkungan strategis di daerah serta hasil evaluasi terhadap pelaksaaan RPJMD periode sebelumnya sebagai masukan dalam penjabaran visi dan misi Bupati terpilih. RPJMD tersebut menjadi pedoman SKPD dalam menyusun dokumen lima tahunan SKPD yaitu Rencana Strategis (Renstra) setiap SKPD yang merupakan Penjabaran teknis dari RPJMD. Kemudian RPJMD dijabarkan setiap tahunnya ke dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

  

Gambar 1. 2

Hubungan RPJMD Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya

1.4 Sistematika Penulisan

  Sebagai dokumen publik, RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 memuat arah kebijakan Keuangan Daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana- rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, maka sistematika penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014- 2019 adalah sebagai berikut:

  BAB I PENDAHULUAN Memuat tentang Latar Belakang penyusunan RPJMD, Dasar Hukum Penyusunan, Hubungan Antar Dokumen, Sistematika Penulisan serta Maksud dan Tujuan. BAB I I GAMBARAN UMUM KONDI SI DAERAH Menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis, gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. BAB

  I I I GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis terhadap pengelolaan keuangan daerah, baik melalui gambaran Kinerja Keuangan serta Kebijakan Pengelolaan Keuangan maupun Kerangka Pendanaan di masa lalu.

  BAB I V ANALI SI S I SU-I SU STRATEGI S Memuat deskripsi mengenai analisis isu-isu strategis yang menjadi dasar utama visi dan misi pembangunan jangka menengah. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis.

  Bagian ini menggambarkan rumusan isu dan permasalahan strategis pembangunan daerah di setiap Bidang Pembangunan daerah baik secara internal maupun eskternal. Analisis profil daerah diharapkan mampu menunjukkan kesenjangan antara pencapaian saat ini dengan pencapaian yang diharapkan di setiap Bidang Pembangunan daerah sehingga akan memberikan gambaran menyeluruh tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dalam penyelenggaraan Bidang Pembangunan daerah.

  BAB V PENYAJI AN VI SI , MI SI , TUJUAN, DAN SASARAN Menjelaskan visi dan misi, tujuan dan sasaran pembangunan Pemerintah Kabupaten Garut untuk kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBI JAKAN Memuat dan menjelaskan strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan dan sasaran serta arah kebijakan pembangunan dari setiap strategi terpilih. BAB VI I KEBI JAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Menguraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja. Di samping itu, disajikan pula penjelasan tentang hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator kinerja yang dipilih.

  BAB VI I I I NDI KASI RENCANA PROGRAM PRI ORI TAS YANG DI SERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Menjelaskan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD serta disajikan pula pencapaian target indikator kinerja pada akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan.

  BAB I X PENETAPAN I NDI KATOR KI NERJA DAERAH Memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai. Suatu indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program ( outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan.

BAB X PEDOMAN TRANSI SI DAN KAI DAH PELAKSANAAN Menjelaskan tentang prinsip-prinsip dasar pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut tahun 2014-2019 serta kaidah pelaksanaannya. BAB XI PENUTUP

1.5 Maksud Dan Tujuan

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 ditetapkan dengan maksud menjadi pedoman bagi seluruh komponen daerah (pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan lain-lain) dalam mewujudkan cita-cita masyarakat Kabupaten Garut sesuai dengan dengan visi, misi dan program pembangunan dari Bupati dan Wakil Bupati terpilih sehingga seluruh upaya yang dilakukan oleh pelaku pembangunan bersifat sinergis, koordinatif, dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya di dalam satu pola sikap dan pola tindak. Adapun tujuan penyusunan RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 adalah :

  1. Merumuskan gambaran umum kondisi daerah sebagai dasar perumusan permasalahan dan isu strategis daerah, sebagai dasar prioritas penangan pembangunan daerah 5 tahun kedepan;

  2. Merumuskan gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan sebagai dasar penentuan kemampuan kapasitas pendanaan 5 tahun kedepan;

  3. Menerjemahkan visi dan misi kepala daerah ke dalam tujuan dan sasaran pembangunan daerah tahun 2014 sampai dengan tahun 2019, yang disertai dengan program prioritas untuk masing-masing SKPD tahun 2014 sampai dengan tahun 2019 dengan berpedoman pada RPJPD 2005 - 2025;

  4. Menetapkan berbagai program prioritas yang disertai dengan indikasi pagu anggaran dan target indikator kinerja yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2019;

  5. Menetapkan indikator kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah dan indikator kinerja kepala daerah sebagai dasar penilaian keberhasilan pemerintah daerah periode 2014 sampai dengan tahun 2019.

  

BAB I I

GAMBARAN UMUM KONDI SI DAERAH

2.1 Aspek Geografis dan Demografis

2.1.1 Aspek Geografis

1. Kondisi Geografis dan Wilayah Administrasi

  Kabupaten Garut memiliki letak yang strategis sebagai penyangga Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, dengan jarak sekitar 61,5 km dari Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, sedangkan dari Pusat Pemerintahan Republik Indonesia (Istana Merdeka) memiliki jarak sekitar 216 km.

Gambar 2.1 Kondisi Strategis Wilayah Kabupaten Garut

  Kabupaten Garut sebagaimana Permendagri Nomor 6 Tahun 2008 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan memiliki luas 307.407 Ha, dengan ibukota kabupaten berada pada ketinggian 717 m dpl dikelilingi oleh Gunung Karacak (1838 m), Gunung Cikuray (2821 m), Gunung Papandayan (2622 m), dan Gunung Guntur (2249 m) dan secara geografis wilayahnya terletak pada koordinat 6 56’49” – 7 45’00” Lintang Selatan dan 107 25’8” – 108 7’30” Bujur Timur dengan batas-batas wilayah:  Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang;  Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya;  Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudra Indonesia;  Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Cianjur.

Gambar 2.2 Peta Administrasi Kabupaten Garut

  Secara administratif, sampai tahun 2012, Kabupaten Garut terdiri dari 42 kecamatan, 421 desa, 21 kelurahan, 3.820 RW dan 13.890 RT. Wilayah terluas pada Kecamatan Cibalong mencapai 6,97% dari wilayah Kabupaten Garut atau seluas 21.359 Ha, sedangkan kecamatan Kersamanah merupakan wilayah terkecil dengan luas 1.650 Ha atau 0,54%.

  Tabel 2. 1 Nama Kecamatan dan Jumlah Desa/ Kelurahan di Kabupaten Garut Tahun 2013 Nama Jumlah Nama

No No Jumlah Desa/ Kel

Kecamatan Desa/ Kel Kecamatan

  1 Cisewu 9 desa

  22 Samarang 13 desa

  2 Caringin 6 desa

  23 Pasirwangi 12 desa

  3 Talegong 7 desa

  24 Tarogong Kidul 7 desa 5 kelurahan

  4 Mekarmukti 5 desa

  25 Tarogong Kaler 12 desa 1 kelurahan

  5 Bungbulang 13 desa

  26 Garut Kota 11 kelurahan

  6 Pamulihan 5 desa

  27 Karangpawitan 16 desa 4 kelurahan

  7 Pakenjeng 13 desa

  28 Wanaraja 9 desa

  Nama Jumlah Nama

No No Jumlah Desa/ Kel

Kecamatan Desa/ Kel Kecamatan

  8 Cikelet 11 desa

  29 Pangatikan 8 desa

  9 Pameungpeuk 8 desa

  30 Sucinaraja 7 desa

  10 Cibalong

11 desa 31 Sukawening

11 desa

  11 Cisompet 11 desa 32 Karangtengah 4 desa

  12 Peundeuy

6 desa 33 Banyuresmi

15 desa

  13 Singajaya 9 desa 34 Leles 12 desa

  14 Cihurip

4 desa 35 Leuwigoong

8 desa

  15 Banjarwangi 11 desa 36 Cibatu 11 desa

  16 Cikajang

12 desa 37 Kersamanah

6 desa

  17 Cilawu 18 desa 38 Cibiuk 5 desa

  18 Bayongbong

18 desa 39 Kadungora

14 desa

19 Cigedug 5 desa

  40 Bl Limbangan 14 desa

  20 Cisurupan 17 desa 41 Selaawi 7 desa

  21 Sukaresmi

7 desa 42 Malangbong

24 desa Total 421 desa dan 21 Kel Sumber : BPMPD Kab. Garut.

2. Topografi

  Karakteristik topografi Kabupaten Garut beragam, daerah sebelah Utara, Timur dan Barat secara umum merupakan daerah dataran tinggi dengan kondisi alam berbukit-bukit dan pegunungan, sedangkan kondisi daerah sebelah selatan sebagian besar permukaan tanahnya memiliki kemiringan yang relatif cukup curam dan di beberapa tempat labil. Wilayah yang berada pada ketinggian 1.000 - 1.500 mdpl terdapat di kecamatan Cikajang, Pakenjeng, Pamulihan, Cisurupan dan Cisewu, wilayah yang berada pada ketinggian 500 - 1.000 mdpl terdapat di kecamatan Pakenjeng dan Pamulihan. Wilayah yang terletak pada ketinggian 100 - 500 mdpl terdapat di Kecamatan Cibalong, Cisompet, Cisewu, Cikelet dan Bungbulang serta wilayah yang terletak didaratan rendah pada ketinggian kurang dari 100 mdpl terdapat di Kecamatan Cibalong dan Pameungpeuk.

  Luas Wilayah Kabupaten Garut ditinjau dari kemiringan, mempunyai kemiringan lereng yang bervariasi antara 0 – 2% sebesar 10,51% atau 32.229 Ha, kemiringan lahan antara 2 – 15% adalah seluas 38.097 ha atau seluas 12,43%, kemiringan lahan antara 15 – 40% adalah seluas 110.326 ha atau sebesar 35,99%. Lahan dengan kemiringan di atas 40% adalah seluas 125.867 ha atau sebesar 41,06%.

  Gambar 2. 3 Kondisi Topografis Wilayah Kabupaten Garut

3. Geologi

  Kondisi geologi wilayah Kabupaten Garut, secara fisiografi termasuk dalam Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat dan Zona Bandung dengan bentang alam yang dibagi 4 (empat) satuan morfologi yaitu satuan morfologi kerucut gunung api, satuan morfologi perbukitan berelief kasar, satuan morfologi perbukitan berelief halus dan satuan morfologi pedataran.

  Stratigrafi daerah tersusun oleh batuan vulkanik, batuan sedimen dan batuan terobosan dengan struktur geologi adalah lipatan, sesar dan kekar. Dilihat dari jenis tanahnya secara garis besar meliputi jenis tanah aluvial, asosiasi andosol, asosiasi litosol, asosiasi mediteran, asosiasi podsolik, dan asosiasi regosol, dimana jenis tanah tersebut memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat menjadi suatu potensi maupun kendala dalam pemanfaatan lahan tertentu. Corak alam di daerah sebelah selatan diwarnai oleh iklim Samudra Indonesia dengan memiliki segenap potensi alam dan keindahan pantainya. Kabupaten Garut dengan memiliki iklim tropis, curah hujan yang cukup tinggi, hari hujan yang banyak dan lahan yang subur serta ditunjang dengan terdapatnya 34 aliran sungai ke Utara, dan 19 aliran sungai ke Selatan, menyebabkan sebagian besar dari luas wilayahnya dipergunakan untuk lahan pertanian.

  Akibat pengaruh adanya daerah pegunungan, daerah aliran sungai dan daerah dataran rendah pantai, maka tingkat kesuburan tanah di Kabupaten

  Garut bervariasi. Secara umum jenis tanahnya terdiri dari tanah sedimen hasil letusan gunung Berapi Papandayan dan Gunung Guntur, dengan bahan induk batuan turf dan batuan kuarsa. Pada daerah sepanjang aliran sungai, terbentuk jenis tanah aluvial yang merupakan hasil sedimentasi tanah akibat erosi di bagian hulu. Jenis tanah podsolik merah kekuning- kuningan, podsolik kuning dan regosol merupakan bagian paling luas dijumpai di wilayah Kabupaten Garut, terutama di wilayah Garut Selatan, sedangkan Garut bagian utara didomiasi oleh jenis tanah andosol.

Gambar 2.4 Kondisi Geologis Wilayah Kabupaten Garut

4. Hidrologi

  Kondisi hidrologi berdasarkan arah alirannya, sungai-sungai di wilayah Kabupaten Garut dibagi menjadi dua daerah aliran sungai (DAS) yaitu Daerah Aliran Utara yang bermuara di Laut Jawa dan Daerah Aliran Selatan yang bermuara di Samudera Indonesia. Daerah aliran selatan pada umumnya relatif pendek, sempit dan berlembah-lembah dibandingkan dengan daerah aliran utara. Daerah aliran utara merupakan DAS Cimanuk Bagian Utara, sedangkan daerah aliran selatan merupakan DAS Cikaengan dan Sungai Cilaki. Wilayah Kabupaten Garut terdapat 38 buah sungai dengan anak sungainya dengan panjang seluruhnya 1.403,35 Km. Berdasarkan interpretasi citra landsat Zona Bandung, nampak bahwa pola aliran sungai yang berkembang di wilayah dataran antar gunung Garut Utara menunjukkan karakter mendaun, dengan arah aliran utama berupa Sungai Cimanuk menuju ke Utara. Aliran Sungai Cimanuk dipasok oleh cabang-cabang anak sungai yang berasal dari lereng pegunungan yang mengelilinginya. Secara individual, cabang-cabang anak sungai tersebut merupakan sungai-sungai muda yang membentuk pola pengaliran sub- paralel, yang bertindak sebagai subsistem dari DAS Cimanuk. Mata air tanah yang terdapat di Kabupaten Garut berjumlah 12 titik utama. Debit mata air terbesar terletak di lokasi mata air Cibuyutan Desa Lewobaru Kecamatan Malangbong yaitu sebesar 700 liter perdetik, Cicapar dan Cipancar Kecamatan Leles sebesar 300 liter perdetik, sedangkan mata air dengan debit terendah terdapat pada mata air Bunianta sebesar 1 liter perdetik dan Babakan Nengneng sebesar 2 liter perdetik.

Gambar 2.5 Kondisi Hidrologis Wilayah Kabupaten Garut

5. Klimatologi

  Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Garut dapat dikategorikan

  humid tropical climate

  sebagai daerah beriklim tropis basah ( ) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen. Berdasarkan studi data sekunder, iklim dan cuaca di daerah Kabupaten Garut dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu : pola sirkulasi angin musiman ( monsoonal

  circulation pattern

  ), topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat dan elevasi topografi di Kabupaten Bandung. Curah hujan rata-rata harian di sekitar Garut berkisar antara 13,6 mm/hari - 27,7 mm/hari dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai 3.500-4.000 mm/hari. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24ºC - 27ºC. Besaran angka penguap keringatan ( evapotranspirasi ) menurut Iwaco-Waseco (1991) adalah 1.572 mm/tahun. Selama musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian baratLaut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di tenggara.

Gambar 2.6 Kondisi Curah Hujan Wilayah Kabupaten Garut

6. Penggunaan Lahan

  Penggunaan lahan di Kabupaten Garut sampai tahun 2012sebagian besar merupakan Hutan Negara mencapai 82.022 Ha atau 26,76%, kemudian berupa Tegal/Kebun dengan luas 67.491 ha atau 22,02 %, sementara lahan sawah mencapai 45.843 Ha atau 14,96% yang terdiri dari sawah irigasi seluas 23.316Ha (7,61%) dan sawah tadah hujan seluas 22.527 Ha (7,35%). Lahan lainnya berupa perkebunan seluas 27.333 Ha atau 8,92%, Ladang/Huma seluas 36.096 Ha atau 22,78%, Hutan Rakyat, seluas 8.577 Ha atau 2,80%, Kolam seluas 1.965 Ha atau 0,64%, Padang/rumput seluas 5.007 Ha atau 1,63%, rumah bangunan seluas19.172 Ha atau 6,25 %, dan sisanya berupa tambak, rawa dan lainnya.

  Tabel 2. 2 Luas Lahan Menurut Penggunaan di Kabupaten Garut Tahun 2012 2012 Rincian Ha %

  I Saw ah 45.843 Sawah Irigasi * 23.316 7,61 - SawahTadah Hujan * 22.527 7,35

  • I I Lahan Bukan Saw ah

  Rincian 2012 Ha % Tegal/Kebun 67.491 22,02 Ladang/Huma 36.096 11,78 Perkebunan 27.333 8,92 Hutan Rakyat 8.577 2,80 Tambak 15 0,00 Kolam 1.965 0,64 Padang/Rumput 5.007 1,63 Sementara tdk diusahakan 127 0,04

  Lainnya (Pekarangan yg ditanami tanaman pertanian) 6.128 2,00 Rumah bangunan ** 19.172 6,25

  I I I Lahan Bukan Pertanian Hutan Negara ( 107.865,10Ha, Kepmenhut)

  82.022 26,76 Rawa-rawa 80 0,03 Lain-lain (Jalan, sungai, dll) 7.551 2,46

   Jumlah 307.407 100,00 Sumber : BPS Kab. Garut, Dinas TPHKab. Garut (*),Tahun 2013

  

Gambar 2. 7 Kondisi Penggunaan Lahan Wilayah Kabupaten Garut

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah

  Dalam penyusunan kebijakan perencanaan pembangunan Kabupaten Garut turut memperhatikan arah pembangunan kewilayahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Garut Tahun 2011-

  2031 sebagai upaya mewujudkan ruang Kabupaten Garut sebagaidaerah konservasi yang didukung oleh agribisnis, pariwisata dan kelautan.Berdasarkan RTRW Kabupaten Garut Tahun 2011-2031, sistem pusat kegiatan Kabupaten terbagi atas : a. Pusat Kegiatan Wilayah promosi (PKWp) adalah kawasan perkotaan yang berpotensi pada bidang tertentu dan memiliki pelayanan skala provinsi atau beberapa kabupaten serta berperan sebagai penyeimbang dalam pengembangan wilayah provinsi, berupa perkotaan Rancabuaya yang berada di kecamatan Caringin;

  b. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau beberapa kecamatan, terletak di Perkotaan Garut, Perkotaan Pameungpeuk, Perkotaan Cikajang dan Perkotaan Bungbulang.

  c. Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) adalah kawasan perkotaan yang berpotensi pada bidang tertentu dan memiliki pelayanan skala kabupaten atau beberapa kecamatan serta berperan sebagai penyeimbang dalam pengembangan wilayah kabupaten, terletak di Perkotaan Kadungora; Perkotaan Malangbong; Perkotaan Cibatu; dan Perkotaan Singajaya.

  d. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan, meliputi Perkotaan Cisewu; Perkotaan Caringin; Perkotaan Talegong; Perkotaan Mekarmukti; Perkotaan Pamulihan; Perkotaan Pekenjeng; Perkotaan Cikelet; Perkotaan Cibalong; Perkotaan Cisompet; Perkotaan Peundeuy; Perkotaan Cihurip, Perkotaan Banjarwangi; Perkotaan Cilawu; Perkotaan Bayongbong; Perkotaan Cigedug; Perkotaan Cisurupan; Perkotaan Sukaresmi; Perkotaan Samarang; Perkotaan Pasirwangi; Perkotaan Karangpawitan; Perkotaan Wanaraja; Perkotaan Pangatikan; Perkotaan Sucinaraja; Perkotaan Sukawening; Perkotaan Karangtengah; Perkotaan Banyuresmi; Perkotaan Leles; Perkotaan Leuwigoong; Perkotaan Kersamanah; Perkotaan Cibiuk; Perkotaan Balubur Limbangan; dan Perkotaan Selaawi. .

e. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) adalah pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.

  Wilayah kabupaten Garut yang mempunyai pengaruh penting terhadap pengembangan ekonomi, sosial budaya maupun lingkungan menjadi prioritas dalam kebijakan penataan ruang daerah sebagai suatu kawasan strategis pada tingkat Nasional,Provinsi maupun kabupaten. Kawasan Strategis Nasional (KSN)merupakan kawasan strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan SDA dan/atau teknologi tinggi meliputi KSN Fasilitas Uji Terbang Roket Pameungpeuk berada di Kecamatan Cikelet; dan KSN Pengamat Dirgantara Pameungpeuk berada di Kecamatan Cikelet.

  Sementara itu Kawasan Strategis Provinsi(KSP) meliputi:

  a. KSP Panas Bumi Kamojang - Darajat - Papandayan dengan sudut kepentingan pendayagunaan SDA dan/atau teknologi tinggi terletak di kecamatan Samarang, Pasirwangi dan Cisurupan.

  b. KSP Garut Selatan dan sekitarnya dengan sudut kepentingan daya dukung lingkungan hidup terletak di kecamatan Cisewu, Caringin, Talegong, Bungbulang, Mekarmukti, Pamulihan, Pekenjeng, Cikelet, Pameungpeuk, Cibalong, Cisompet, Peundeuy, Singajaya, Cihurip, Banjarwangi, dan Cikajang. Dengan memperhatikan Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan Kawasan Strategis Provinsi (KSP), telah ditetapkan 3 (tiga) jenis Kawasan Strategis Kabupaten (KSK), meliputi:

  a. Kawasan yang memiliki nilai strategis ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten terdiri atas: 1) KSK Perkotaan Garut terletak di kecamatan Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Garut Kota, Banyuresmi, dan Karangpawitan. 2) KSK Koridor Kadungora - Leles - Garut terletak di kecamatan Kadungora, Leles, Tarogong Kaler; dan Tarogong Kidul. 3) KSK Perbatasan Bagian Utara terletak di kecamatan Balubur Limbangan,Selaawi, Kersamanah, Cibatu, danMalangbong. 4) KSK Perbatasan Bagian Timur terletak di kecamatan Singajaya, Banjarwangi, Peundeuy dan Cihurip. 5) KSK Perbatasan Bagian Barat terletak di kecamatan Caringin, Cisewu, dan Talegong. 6) KSK Agropolitan terletak di kecamatan Cisurupan, Cikajang, Cigedug, Sukaresmi, Pasirwangi, dan Bayongbong. 7) KSK Minapolitan terletak di kecamatan Tarogong Kaler,Sukawening, Pangatikan, Sucinaraja, Wanaraja, danKarangpawitan. 8) KSK Koridor Jalan Lintas Jabar Selatan terletak di kecamatan Cibalong,

  Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti, Pakenjeng, Bungbulang, dan Caringin.

  b. Kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan sosial budaya berupa Kawasan Cagar Budaya terdiri atas Kampung Adat Dukuh berada di kecamatan Cikelet; dan Kampung Adat Pulo berada di kecamatan Leles.

c. Kawasan yang memiliki nilai strategis fungsi dan daya dukung lingkungan hidup berupa Kawasan Wisata Cipanas berada di kecamatan Tarogong Kaler.

Gambar 2.8 Rencana Kaw asan Strategis Wilayah Kabupaten Garut

  Ditinjau dari rencana pola ruang wilayah Kabupaten, target alokasi luasan Kawasan Lindung mencapai sebesar 81,39% sehingga pelaksanaan kegiatan pembangunan daerah harus tetap dalam koridor daya dukung lingkungan dan oleh karenanya keseimbangan alokasi ruang antara kawasan budidaya dan kawasan lindung merupakan prasyarat yang tetap dibutuhkan.

  

Tabel 2. 3

Rincian Rencana Kaw asan Lindung

JENI S LUAS PROPORSI NO PEMANFAATAN

  LOKASI ( Ha) ( % ) RUANG

  1

  2

  3

  4

  5

  1. Kawasan Hutan Lindung 75.928,37 24,70 Kecamatan Cisewu, Caringin, Talegong, Bungbulang, Pamulihan, Pekenjeng, Cikelet, Cisompet, Peundeuy, Singajaya, Cihurip, Banjarwangi, Cikajang, Cilawu, Bayongbong, Cigedug, Cisurupan, Sukaresmi, Samarang, Pasirwangi, Tarogong Kaler, Garut Kota, Karangpawitan, Pangatikan, Sucinaraja, Sukawening, Karangtengah, Leles, Cibatu, Kersamanah, Cibiuk, Kadungora, Bl Limbangan, Leuwigoong, dan Malangbong.

  2. Kawasan Hutan 15.746,51 5,12 Konservasi

Cagar Alam (CA) 12.443,18 4,05 Kecamatan Cibalong, Pangatikan, Wanaraja,

Pasirwangi, Sukaresmi, Cikajang, Cisurupan,

  Pamulihan, Tarogong Kaler, Leles, dan Banyuresmi.

Taman Wisata Alam 831,36 0,27 Kecamatan Pangatikan, Tarogong Kaler, dan

(TWA) Cisurupan.

  NO JENI S PEMANFAATAN RUANG LUAS ( Ha) PROPORSI ( % ) LOKASI

  Pantai 709 0,23 Kecamatan Bungbulang, Caringin, Cibalong, Cikelet, Mekarmukti, Pakenjeng, dan Pameungpeuk

  6. Kawasan Rawan Bencana Alam 96.394 31,36 Kawasan Rawan

  Pameungpeuk

  RTH Kawasan Perkotaan (30% dari luas kawasan perkotaan) 11.161 3,63 PKL Garut, PKL Cikajang, PKL Bungbulang, PKL

  Kawasan Sekitar Mata Air 229 0,07 Tersebar di seluruh kecamatan.

  Kawasan Sekitar Danau/Situ 165 0,05 Kecamatan Banyuresmi, Leles dan danau/situ alam lainnya.

  Cimerak, Cibabalukan, Cijeruk, Cipangisian, Cibako, Cipalawah, Cikolomberan, Cilauteureun, Cipalebuh, Ciawi, Cisanggiri, Cibaregbeg, Cibera, Cikawung, Cimari, Citeureup, Cicadas, Cimangke, Cipasarangan, Cikarang, Cikandang, Cicalengka, Cianda, Cirpompang, Cijayana, Ciseureuh, Citanggeuleuk, Cipancong, Cihideung, Cilayu, Cilaki, Cikidang, Cikawung. Sungai Kecil : Cihideung, Cileueuy, Cibuluh, Cibarengkok, Ciawi Gombong, Ciparukpuk, Cibeureum Leutik, Cidayeuh, Cigunung, Cigarukgak, Cipeuteuy, Cilegong, Cisarua, Cisarana, Cipamulyan, Ciawi Malang, Cisaat, Ciruum, Cibodas, Cikamiri, Cikamojang, Ciseupan, Citepus, Ciroyom, Cimaragas, Cipeujeuh, Ciwalen, Cigulampeng, Cibeureum, Cisangkan, Cimalaka, Cisumangke, Cipari, Cisangkan, Citameng, Cikareo, Cimuara, Cijangkar Merang, Cipicung, Cilebakjero, Cicaban, Cisaat, Cipaingan, Cileunca, Cideres, Cigunung Agung, Cisalak, Cijeruk, Cipanyiriban, Cigangsa, Cilumbung, Ciudian, Cimanyal, Cisinga, Ciujung, Citap, Cigarunggang, Citamiang, Cipangramatan, Cibatu, Cibadak, Cilimbung, Cibentang, Ciogong, Cibatuk, Cisarua, Cikaso, Carinem, Cipapandayan, Cipanengen, Cihanjuang, Cikawung, Cigunung Herang, Cisodong Tengah, Cinunjang, Cigunung Karang, Cihikeu, Cibalubur, Cikalong, Cibodas, Cilayu Wetan, Cicalengka, Cipilang, Cikasur, Cibanagara, Cibadak, Cikasur, Citatal, Cikahuripan, Cilumbu, Cipicung, Citengah, Ciparanggong, Cikarang, Cikawung , Cingugu, Cipahimpunan

  Kawasan Sempadan Sungai 5.946 1,93 Sungai besar: Cimanuk, Cisaat, Cipancar, Cikokok, Cikaengan,

  5. Kawasan Perlindungan Setempat 18.210 5,92 Kawasan Sempadan

  1

  4. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya (Resapan Air) 54.922 17,87 Tersebar di seluruh kecamatan

  3. Kawasan Cagar Budaya** Leles, Karangpawitan, Wanaraja, Bayongbong, dan Cisompet.

  Taman Buru (TB) 2.471,92 0,80 Kecamatan Selaawi.

  5 Cagar Alam (CA) Laut (1.150 Ha)* Kecamatan Cibalong.

  4

  3

  2

  Bencana Gerakan Tanah 70.842 23,05 Tersebar di seluruh kecamatan

  JENI S LUAS PROPORSI NO PEMANFAATAN LOKASI ( Ha) ( % ) RUANG

  1

  2

  3

  4

  5 Kawasan Rawan 21.576 7,02 Kecamatan Banyuresmi, Bayongbong, Cibiuk, Bencana Gunung Api Cigedug, Cikajang, Cisurupan, Garut Kota, Kadungora, Karangpawitan, Leles, Leuwigoong,

  Pakenjeng, Pamulihan, Pangatikan, Samarang, Sucinaraja, Tarogong Kaler, Tarogong Kidul, dan Wanaraja. Kawasan Rawan 3.975 1,29 Bencana Tsunami

  7. Kawasan Lindung 56 0,02 Kecamatan Singajaya Geologi

  8. Kawasan Lindung Lainnya Kawasan Hutan Kecamatan Pameungpeuk dan Bungbulang.

  (178Ha)* Mangrove Kawasan terumbu Kecamatan Pameungpeuk dan Bungbulang. karang di wilayah laut (525 Ha)*

  Jumlah 261.256,88 84,99 Sumber : Perda Kab. Garut No.29 Tahun 2011 (RTRW Kab. Garut Tahun 2011-2031)

  Tabel 2. 4 Rincian Rencana Kaw asan Budidaya JENI S LUAS PROPORSI NO LOKASI PEMANFAATAN RUANG ( Ha ) ( % )

  1

  2

  3

  4

  5

  1. Kawasan Hutan Produksi

  a. Hutan Produksi Terbatas 5.416 1,76 Kecamatan Cikelet, Cibalong, Cisompet, Pameungpeuk, Caringin, dan Malangbong.

  

b. Hutan Produksi Tetap 166 0,05 Kecamatan Selawi, Cibalong,dan

Cisompet

  2. Kawasan Hutan Rakyat* 44.010 14,32 Tersebar di seluruh kecamatan kecuali Kecamatan Tarogong Kidul.

  3. Kawasan Pertanian

  a. Pertanian tanamanpangan Pertanian lahan basah 44.028 14,32 Tersebar di seluruh kecamatan (KP2B)* Pertanian lahan kering)* 60.790 19,78 Tersebar di seluruh kecamatan b. Hortikultura* 32.108 10,44 Tersebar di seluruh kecamatan c.Perkebunan* 56.940 18,52 Tersebar di seluruh kecamatan d.Peternakan* 42.000 13,66 Tersebar di seluruh kecamatan

  4. Kawasan Perikanan a.Perikanan Budidaya* 26.645 8,67 i seluruh kecamatan b.Perikanan tangkap* Kecamatan Pameungpeuk, Cikelet, Cibalong, Pakenjeng, Bungbulang,

  Mekarmukti, Caringin, Banyuresmi, dan Leles

  

5. Kawasan Budidaya Laut** 0,45 Kecamatan Pameungpeuk, Cikelet,

1.390 Cibalong, Pakenjeng, Bungbulang, Mekarmukti, dan Caringin

  

6. Kawasan Pertambangan*** Kecamatan Balubur Limbangan,

  JENI S LUAS PROPORSI NO LOKASI PEMANFAATAN RUANG ( Ha ) ( % )

  1

  2

  3

  4

  5 Banyuresmi, Bayongbong, Bungbulang, Pasirwangi, Caringin, Banjarwangi, Cibatu, Cibalong, Cikajang, Cigedug, Cikelet, Cisewu, Cisompet, Cisurupan, Cilawu,Cibiuk, Garut Kota, Leles, Leuwigoong, Mekarmukti, Pakenjeng, Pameungpeuk, Pamulihan, Peundeuy, Pangatikan, Samarang, Selaawi, Malangbong, Kersamanah, Sukawening, Karangtengah, Singajaya, Kadungora, Sucinaraja, Tarogong Kaler, Tarogong Kidul, dan Talegong.

7. Kawasan Industri* 31.100 10,12 Tersebar di seluruh kecamatan

  8. Kawasan Pariwisata* KSPK Perkotaan Garut, Garut Utara, Garut Tengah dan Garut Selatan

  9. Kawasan Permukiman a.Permukiman Perkotaan 6.271 2,04 Tersebar di seluruh kecamatan Permukiman Perdesaan* 10.416 3,39 Tersebar di seluruh kecamatan

  10. Kawasan Peruntukkan Lainnya Kawasan Perdagangan dan 6.241 2,03 Kawasan Perkotaan Jasa)**** Kecamatan Caringin, Tarogong Kaler,

  Tarogong Kidul, Cikelet, Leles, Garut Kawasan Sarana/Fasilitas**** Kota, Pameungpeuk, Balubur Limbangan, Cikajang dan Karangpawitan

  Kawasan Pertahanan dan Tersebar di seluruh kecamatan Keamanan***** Sumber : Perda Kab. Garut No.29 Tahun 2011 (RTRW Kab. Garut Tahun 2011-2031).

  Keterangan : *)kawasan tersebut overlay dengan kawasan lainnya.

  • )kawasan tersebut berada di wilayah perairan.
    • ) kawasan tersebut overlay dengan kawasan lainnya dan sebagian kawasannya berada di bawah tanah.
      • ) luas kawasan disesuaikan dengan kebutuhan dan didetailkan pada rencana yang lebih rinci sepanjan tidak melanggar ketentuan peraturan zonasi.

2.1.3 Wilayah Raw an Bencana

  Kondisi wilayah Kabupaten Garut yang mempunyai karateristik pegunungan dan berbukit-bukit, memiliki curah hujan yang tinggi serta berada pada jalur gempa tektonik, dan perairan pantai selatan yang merupakan daerah lempengan lapisan bumi menjadikan Kabupaten Garut sebagai kawasan rawan bencana, diantaranya sebagai kawasan rawan bencana gunung api, gerakan tanah, tsunami, abrasi dan tanah longsor. Berdasarkan kondisi geologinya, beberapa kendala yang perlu diperhatikan, khususnya dalam perencanaan konstruksi bangunan diantaranya bahaya gerakan tanah dengan lokasi terdapat di Kecamatan Cisompet, Singajaya, Talegong, Pakenjeng, Cisurupan, Bayongbong, Cisewu dan Cilawu. Bahaya rawan erosi terdapat di lereng-lereng pegunungan seperti di bagian utara komplek Gunung Mandalawangi, Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Karacak, Gunung Guntur dan Gunung Papandayan serta tebing-tebing sepanjang Sungai Cimanuk.

  

Gambar 2. 9 Kondisi Peta Raw an Bencana Kabupaten Garut

  15

  5 Kebakaran 190 138 -

  40

  5

  8

  4 Banjir

  24

  42

  3 Angin Puting Beliung

  Pada tahun 2013 jumlah kasus kejadian bencana berupa tanah longsor mencapai sebanyak 97 buah kasus, meningkat dibandingkan pada tahun 2011 sebanyak 38 kasus. Demikian halnya dengan jenis bencana gempa bumi, angin puting beliung maupun banjir yang mengalami peningkatan dari tahun 2011 sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

  2

  2 Gempa Bumi 1 -

  97

  47

  38

  1 Tanah Longsor

  O. JENI S BENCANA TAHUN 2011 2012 2013

  

Tabel 2. 5

Kasus Kejadian Bencana di Kabupaten Garut

Tahun 2011- 2013

  6 Tanah Retak - - - Sumber : Bagian Adkesra Sekretariat Daerah Kab. Garut

2.1.4 Kondisi Demografi

  Jumlah Penduduk Kabupaten Garut pada tahun 2012 berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut sebanyak 2.485.732 jiwa, yang terdiri dari laki- laki sebanyak 1.257.451 jiwa dan perempuan sebanyak 1.228.281 jiwa, meningkat 1,63% dari Tahun 2011 sebanyak 2.445.911 jiwa. Selama periode Tahun 2009-2012, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten Garut mengalami tren yang relatif stabil berkisar antara 1,10% - 1,63 %. Dengan luas

  2

  wilayah 3.065,19 Km , tingkat kepadatan penduduk pada Tahun 2012 mencapai

  2

  rata-rata sebesar 810,96 jiwa/ km mengalami peningkatan sekitar 34 orang

  2

  per km bila dibandingkan dengan tingkat kepadatan penduduk pada Tahun

  2

  2009 rata-rata sebesar 776,78 jiwa/ km . Pada Tahun 2013, jumlah penduduk diproyeksikan kembali meningkat 1,6 % menjadi sebanyak 2.525.483 jiwa

  2 dengan tingkat kepadatan 823,92 jiwa/ km .

  

Tabel 2. 6

Perkembangan Jumlah, Laju dan Kepadatan Penduduk

Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013* *

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013* *

  • Jumlah Penduduk 2.380.981 2.407.086 2.445.911 2.485.732 2.525.483
  • - Laki-laki (jiwa) 1.210.334 1.219.234 1.238.382 1.257.451 1.277.610

  • - Perempuan (jiwa) 1.170.647 1.187.852 1.207.529 1.228.281 1.247.873

    Laju Pertumbuhan Penduduk (%) 1,53 1,10 1,61 1,63 1,60 Kepadatan Penduduk (jiwa/km2) 776,78 785,30 797,96 810,96 823,92

  Sumber : BPS Kab. Garut, Tahun 2013. **) Angka Proyeksi

Gambar 2.10 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013* *

  Jumlah penduduk terbanyak pada pada tahun 2012 berada di kecamatan Garut Kota mencapai 129.023 jiwa dengan LPP sebesar 0,31% disusul kecamatan Malangbong mencapai 123.494 jiwa dengan LPP sebesar 2,31% dan kecamatan Karangpawitan mencapai 121.880 orang dengan LPP sebesar 2,52%.

  Sedangkan jumlah penduduk paling rendah berada di kecamatan Mekarmukti mencapai 16.152 jiwa dengan LPP sebesar 1,47% disusul kecamatan Karangtengah mencapai 16.329 jiwa dengan LPP sebesar -0,31% dan kecamatan Pamulihan mencapai 17.942 jiwa dengan LPP sebesar 0,35%.

  Apabila ditinjau dari tingkat kepadatan penduduk pada setiap kecamatan, maka konsentrasi penduduk paling banyak terpusat di kecamatan Tarogong Kidul

  2

  sebanyak 5.924,87 jiwa per km , disusul kecamatan Garut Kota sebanyak

  2

  4.656,19 jiwa per km , dan kecamatan Kadungora sebanyak 2.396,54 jiwa per

  2

  km . Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki nilai strategis ekonomi yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Garut. Dari indikator kepadatan penduduk tersebut dapat menunjukkan bentuk penyebaran penduduk, apakah tersebar merata atau tidak, yang dapat dijadikan sebagai gambaran kemampuan daerah dalam memberikan daya dukung berupa sarana atau prasarana dan daya tampung terhadap penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran dan kepadatan penduduk diantaranya : a. faktor fisiografis, bahwa penduduk selalu memilih tempat tinggal yang baik, strategis, tanah subur, relief baik, cukup air dan daerah aman.

  b. faktor biologi, karena adanya perbedaan tingkat kematian, tingkat kelahiran dan angka perkawinan.

  c. faktor kebudayaan dan teknologi, bahwa daerah yang masyarakatnya maju, pola berfikirnya bagus, dan keadaan pembangunan fisiknya maju, maka akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan daerah terbelakang.

  

Tabel 2. 7

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Per KecamatanTahun 2009- 2012

  2 Jumlah Penduduk ( Jiw a) Kepadatan Penduduk ( jiw a/ km ) No Kecamatan 2009 2010 2011 2012 2009 2010 2011 2012

  

1 Cisewu 34.028 32.998 33.576 33.570 196,89 190,93 194,27 194,24

  

2 Caringin 29.578 29.606 30.094 30.685 298,68 298,96 303,89 309,86

  

3 Talegong 31.656 30.735 31.267 31.248 291,12 282,65 287,54 287,36

  

4 Bungbulang 60.834 59.715 60.720 61.148 413,89 406,28 413,12 416,03

  

5 Mekarmukti 15.400 15.653 15.918 16.152 278,88 283,47 288,27 292,50

  

6 Pamulihan 18.012 17.584 17.880 17.942 136,00 132,77 135,00 135,47

  

7 Pakenjeng 63.177 65.836 66.889 68.034 318,37 331,77 337,07 342,84

  

8 Cikelet 38.816 40.989 41.654 42.627 225,26 237,87 241,72 247,37

  

9 Pameungpeuk 38.493 38.895 39.562 40.002 872,66 881,77 896,89 906,87

  

10 Cibalong 40.170 40.813 41.481 42.079 188,07 191,08 194,21 197,01

  

11 Cisompet 51.417 49.880 50.724 50.672 298,50 289,58 294,48 294,18

  

12 Peundeuy 23.552 22.427 22.788 22.887 414,72 394,91 401,27 403,01

  

13 Singajaya 45.635 45.554 46.305 46.674 674,18 672,98 684,07 689,53

  

14 Cihurip 17.735 17.912 18.209 18.400 438,77 443,15 450,49 455,22

  

15 Cikajang 73.855 78.290 79.524 81.674 591,08 626,57 636,45 653,65

  

16 Banjarwangi 57.522 56.156 57.058 57.792 464,56 453,53 460,81 466,74

  

17 Cilawu 100.608 100.185 101.841 103.079 1.295,99 1.290,54 1.311,88 1.327,82

  

18 Bayongbong 90.798 93.237 94.701 96.866 1.906,32 1.957,53 1.988,26 2.033,72

  

19 Cigedug 36.492 38.256 38.826 39.744 1.169,62 1.226,15 1.244,42 1.273,85

  

20 Cisurupan 92.191 95.227 96.721 98.991 1.139,85 1.177,39 1.195,86 1.223,92

  

21 Sukaresmi 34.789 37.141 37.705 38.723 989,17 1.056,04 1.072,08 1.101,02

  No Kecamatan Jumlah Penduduk ( Jiw a) Kepadatan Penduduk ( jiw a/ km

  

34 Leles 74.532 76.151 77.360 78.663 1.013,90 1.035,93 1.052,37 1.070,10

  Dengan asumsi Laju Pertumbuhan Penduduk yang tetap, berdasarkan RPJPD Kabupaten Garut Tahun 2005-2025, jumlah penduduk pada tahun 2019 diproyeksikan mencapai sebanyak 2.771.332 jiwa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya jumlah penduduk dapat menjadi potensi sekaligus beban pembangunan. Pada satu sisi, penduduk yang berkualitas (produktif) merupakan potensi/kekuatan pembangunan, sementara di sisi lain penduduk dengan kualitas rendah (non produktif) merupakan beban pembangunan. Tantangan dalam pembangunan kependudukan bukan hanya menyangkut masalah jumlah namun juga peningkatan kualitas penduduknya.

  Sumber : BPS Kabupaten Garut, Garut Dalam Angka Tahun 2013

  

42 Malangbong 115.808 118.845 120.702 123.494 1.253,60 1.286,48 1.306,58 1.336,80

Jumlah 2.380.981 2.407.086 2.445.911 2.485.732 776,78 785,30 797,96 810,96

  

41 Selaawi 39.129 37.199 37.823 38.000 1.148,49 1.091,84 1.110,16 1.115,35

  

40 Bl. Limbangan 78.062 76.608 77.856 78.602 1.060,77 1.041,01 1.057,97 1.068,11

  

39 Kadungora 84.806 86.612 88.011 89.415 2.273,01 2.321,42 2.358,91 2.396,54

  

38 Cibiuk 30.495 30.402 30.882 31.312 1.532,41 1.527,74 1.551,86 1.573,47

  

37 Kersamanah 35.873 35.621 36.191 36.636 2.174,12 2.158,85 2.193,39 2.220,36

  

36 Cibatu 71.215 67.861 68.984 69.475 1.718,92 1.637,97 1.665,07 1.676,92

  

35 Leuwigoong 44.690 41.506 42.196 42.040 2.309,56 2.145,01 2.180,67 2.172,61

  

33 Banyuresmi 81.401 84.312 85.647 87.575 1.700,10 1.760,90 1.788,78 1.829,05

  2 ) 2009 2010 2011 2012 2009 2010 2011 2012

  

32 Karangtengah 17.361 16.116 16.379 16.329 745,75 692,27 703,57 701,42

  

31 Sukawening 52.899 49.720 50.535 50.551 1.362,32 1.280,45 1.301,44 1.301,85

  

30 Pangatikan 38.343 38.520 39.128 39.782 1.944,37 1.953,35 1.984,18 2.017,34

  

29 Sucinaraja 27.209 26.068 26.498 26.656 804,29 770,56 783,27 787,94

  

28 Wanaraja 44.828 44.082 44.816 45.302 1.271,36 1.250,20 1.271,02 1.284,80

  

27 Karangpawitan 111.958 117.018 118.882 121.880 2.150,14 2.247,32 2.283,12 2.340,70

  

26 Garut Kota 128.841 126.550 128.626 129.023 4.649,62 4.566,94 4.641,86 4.656,19

  25 Tarogong Kaler 80.571 84.993 86.375 88.982 1.593,26 1.680,70 1.708,03 1.759,58

  24 Tarogong Kidul 97.268 108.433 110.135 115.298 4.998,36 5.572,10 5.659,56 5.924,87

  

23 Pasirwangi 60.680 62.125 63.074 64.211 1.299,36 1.330,30 1.350,62 1.374,97

  

22 Samarang 70.254 71.255 72.368 73.517 1.176,59 1.193,35 1.211,99 1.231,23

  Seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi serta jumlah penduduk, kondisi tersebut menjadikannya sebagai modal sosial yang besar maupun pasar yang potensial. Oleh karenanya kualitas penduduk harus ditingkatkan ditandai dengan semakin tingginya jenjang pendidikan, kualitas kesehatan yang semakin baik sehingga akan membentuk sumberdaya manusia yang makin produktif. Sejalan dengan hal tersebut perlu diciptakan lapangan kerja yang memadai. Sebab bila tidak, jumlah penganggur yang berpendidikan akan bertambah. Komposisi penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Garut selama tahun 2009-2012 memiliki pola semakin menua yang ditandai dengan menurunnya proporsi penduduk muda dan meningkatnya proporsi penduduk usia kerja & penduduk usia lanjut. Perbedaan struktur umur akan menimbulkan pula perbedaan dalam aspek sosial ekonomi seperti masalah angkatan kerja, pertumbuhan penduduk, dan masalah pendidikan. Sejalan dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat, akan meningkatkan pula usia harapan hidup, sehinggapeningkatan jumlah penduduk usia lanjut yang makin besar menuntut kebijakan-kebijakan yang serasi dan sesuai dengan perubahan tersebut. Hal ini juga menjadi suatu tantangan agar penduduk usia lanjut yang masih potensial bisa dimanfaatkan sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya. Struktur umur penduduk dipengaruhi oleh tiga variabel demografi, yaitu kelahiran, kematian, dan migrasi, yang saling berpengaruh satu dengan yang lain, dan selanjutnya berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi daerah.

  

Tabel 2. 8

Perbandingan Komposisi Penduduk Kabupaten Garut

Tahun 2009 dan Tahun 2012

  Tahun 2009 Tahun 2012 Kelompok Umur Laki- laki Perempuan Jumlah Laki- laki Perempuan Jumlah 00 - 04 133.688 127.959 261.647 132.499 126.487 258.986 05 - 09 138.035 130.054 268.089 147.067 139.617 286.684

  10 -14 131.075 124.159 255.234 147.326 140.794 288.120 15 - 19 120.900 114.863 235.763 116.854 111.071 227.925 20 - 24 112.956 108.715 221.671 93.886 93.445 187.331 25 - 29 103.508 100.377 203.885 102.548 100.093 202.641 30 - 34 91.696 89.922 181.618 93.636 90.604 184.240 35 - 39 80.541 79.731 160.272 91.473 88.096 179.569 40 - 44 70.298 68.521 138.819 77.478 76.658 154.136 45 - 49 58.171 55.841 114.012 68.684 67.180 135.864 50 - 54 46.419 44.693 91.112 54.914 54.043 108.957 55 - 59 36.141 35.556 71.697 41.856 39.377 81.233 60 - 64 29.523 29.608 59.131 29.820 32.601 62.420 65 - 69 22.751 23.594 46.345 24.534 26.293 50.828 70 - 74 17.589 18.829 36.418 16.764 19.702 36.466

  • 75 17.043 18.225 35.268 18.112 22.220 40.332

  Jumlah 1.210.334 1.170.647 2.380.981 1.257.451 1.228.281 2.485.732 Sumber : BPS Kabupaten Garut, Garut Dalam Angka Tahun 2010 dan Tahun 2013

  Gambar 2. 11 Perbandingan Piramida Penduduk Kabupaten Garut Permasalahan lain terkait kependudukan yaitu, masalah urbanisasi yang menyebabkan penduduk perkotaan terus bertambah sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Intensitas mobilitas penduduk yang semakin tinggi tentu saja akan menuntut jaringan prasarana yang semakin makin baik dan luas yang dapat berdampak secara jangka panjang terhadap perubahan sosial budaya masyarakat. Dalam pelaksanaan pembangunan daerah diperlukan adanya keseimbangan pembangunan perkotaan dan perdesaan untuk mengantisipasi meningkatnya urbanisasi diantaranya melalui peningkatan pembangunan infrastruktur perdesaan. Penduduk merupakan objek sasaran pembangunan sekaligus sebagai subjek pelaku pembangunan yang turut berperan dalam menentukan arah dan keberhasilan pembangunan. Potensi dan tantangan pembangunan daerah turut ditentukan oleh keadaan riil kependudukan dan sumber daya alam yang dimiliki daerah. Oleh karenanya pembangunan daerah harus menempatkan penduduk sebagai titik sentral dari seluruh kebijakan pembangunan yang dilakukan.

  Gambar 2. 12 Kondisi Kepadatan Penduduk Wilayah Kabupaten Garut

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

1. I ndeks Pembangunan Manusia

  Pembangunan kualitas hidup penduduk menjadi prioritas dalam pembangunan daerah, dan selama periode tahun 2009-2012 perkembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Kabupaten Garut menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dihitung berdasarkan tiga indikator yaitu Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan, dan Indeks Daya Beli. Berdasarkan data BPS Kabupaten Garut pada bulan Oktober 2013, pencapaian Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Garut sampai dengan tahun 2012 berada pada level menengah atas (Klasifikasi UNDP) dengan nilai sebesar 72,12 poin (angka perbaikan) dengan peningkatan sebesar 0,34 poin atau 0,48% dibandingkan pencapaian Tahun 2011 sebesar 71,70 poin dengan tingkat capaian sebesar 99,11% dari target IPM pada midterm RPJMD sebesar 72,77 poin. Dalam kurun waktu tahun 2009-2012, IPM mengalami peningkatan sebesar 1,14 poin atau 1,60% dibandingkan pencapaian Tahun 2009 sebesar 70,98 poin (angka perbaikan). Pada tahun 2013, pencapaian IPM diproyeksikan sebesar 72,73 poin atau mencapai 98,48% dari target IPM tahun 2014.

  

Tabel 2. 9

Pencapaian I ndeks Pembangunan Manusia ( I PM) Kabupaten Garut

Tahun 2009 s.d. 2013* *

  NO

  INDIKATOR Pencapaian Target 2012 % Capaian 2012 Proyeksi 2013** Target 2014 % Capaian 2013 2009 2010 2011 *) 2012 *)

1 IPM 70,98 71,36 71,70 72,12 72,77 99,11 72,73 73,85 98,48 A

INDEKS PENDIDIKAN 82,15 82,27 82,35 82,36 83,02 99,21 83,01 83,41 99,52

  Angka Melek Huruf (%) 98,93 98,94 98,96 98,98 99,22 99,76 99,28 99,32 99,96 Rata‐Rata Lama Sekolah (tahun) 7,29 7,34 7,37 7,37 7,59 97,10 7,57 7,74 97,80

  B

INDEKS KESEHATAN 67,00 67,67 68,33 68,98 68,43 100,80 69,76 69,5 100,37

  Angka Harapan Hidup (tahun) 65,20 65,60 66,00 66,39 66,06 100,50 66,86 66,7 100,24 Angka Kematian Bayi

  (Per 1.000 Kelahiran Hidup) 51,65 50,87 50,62 49,95 50,03 100,16 49,29 48,76 98,91 Angka Kematian Ibu

  (Per 100.000 kelahiran) 219,64 210,86 202,07 193,29 193,3 100,01 184,50 175,7 94,99

  C

INDEKS DAYA BELI 63,78 64,13 64,42 65,00 66,85 97,23 65,41 68,65 95,28

  Kemampuan Daya Beli (000 Rp) 636,01 637,49 638,77 641,28 649.264 98,77 643,05 657.048 97,87

  Sumber : BPS Kabupaten Garut, Oktober 2013, **) Angka Sementara Gambar 2. 13 Perkembangan Pencapaian I PM Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  Secara umum, peningkatan capaian IPM di Kabupaten Garut pada periode tahun 2009-2013 tampak lebih banyak disumbang dari semakin membaiknya Indeks kesehatan yang diproyeksikan mengalami peningkatan sebesar 2,76 poin atau 4,12% dari sebesar 67 poin pada tahun 2009 menjadi 69,76 poin (angka sementara) pada tahun 2013. Peningkatan pencapaian indeks kesehatan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan yang positif dari pencapaian nilai Angka Harapan Hidup (AHH), dimana sampai dengan Tahun 2013, AHH diproyeksikan mencapai 66,86 tahun, yang berarti meningkat 1,66 tahun atau 2,55% dari Tahun 2009 yang mencapai sebesar 65,20 tahun pada tahun 2009. Akan tetapi menurut data terakhir yang dipublikasikan oleh Pusdalisbang Provinsi Jawa Barat tahun 2012, AHH Kabupaten Garut adalah sebesar 66,43 tahun, tertinggal 2,17 tahun dari AHH Provinsi Jawa Barat sebesar 68,60 tahun.

  Kenaikan angka kontribusi AHH tersebut memberikan gambaran adanya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Garut secara makro. Hal ini tidak terlepas dari peran kinerja pemerintah antara lain melalui program jamkesmas. Peran pemerintah tersebut masih perlu untuk ditingkatkan yaitu untuk mengejar ketertinggalan dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Jawa Barat.

  Angka Harapan Hidup sebagai suatu variabel dalam indeks pembangunan manusia, akan berkaitan erat dengan Angka Kematian Bayi (AKB). Berdasarkan kondisi eksisting, memberikan indikasi bahwa kebijakan pembangunan bidang kesehatan masih perlu ditingkatkan dalam rangka menekan masih tingginya tingkat kematian bayi. Pada tahun 2013 diproyeksikan terjadi penurunan angka kematian sebesar 2,36 kematian per 1000 kelahiran hidup atau sebesar 4,58% dari sebesar 51,65 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2009 menjadi sebesar 49,29 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2013. Disisi lain, Angka Kematian Ibu (AKI) juga diproyeksikan mengalami penurunan 16% atau 35,14 kematian per 100.000 kelahiran dari sebesar 219,64 per 100.000 kelahiran pada tahun 2009 menjadi sebesar 184,50/100.000 kelahiran pada tahun 2013 (angka sementara). Salah satu faktor utama yang menghambat akselerasi dari pertumbuhan AHH banyak disebabkan karena masih tingginya persentase penolong kelahiran yang dilakukan oleh tenaga non medis serta pengetahuan ibu yang masih minim tentang kesehatan balita yang juga terefleksi dari RLS wanita di Kabupaten Garut yang masih rendah. Kondisi inilah yang menyebabkan masih relatif tingginya angka kematian bayi (AKB) yang sangat berpengaruh pada rendahnya Angka Harapan Hidup secara umum. Hal yang cukup berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat adalah persentase perumahan dengan atap daun dan dinding bukan tembok yang masih cukup tinggi di Kabupaten Garut. Di samping itu, tingkat ketersediaan yang rendah dan penyebaran yang kurang merata dari fasilitas dan tenaga medis juga merupakan penyebab yang cukup dominan dari rendahnya AHH di Kabupaten Garut. Selain itu, peningkatan IPM Kabupaten turut didorong dari perkembangan daya beli yang cukup signifikan. Kondisi tersebut dapat dimaklumi karena kualitas masyarakat akan meningkat manakala daya belinya mengalami peningkatan sehingga memiliki kekuatan yang relatif tinggi untuk mengakses fasilitas-fasilitas kesehatan dan pendidikan. Dengan kata lain, daya beli masyarakat yang menguat akan meningkatkan responsibilitas masyarakat terhadap penyediaan fasilitas-fasilitas di bidang kesehatan dan pendidikan yang juga merupakan intervensi Pemerintah di sektor-sektor bersangkutan. Sinergisitas antara intervensi pada sektor kesehatan dan pendidikan, berupa peningkatan ketersediaan maupun penyebaran fasilitas kesehatan dan pendidikan, dengan daya beli masyarakat tersebut secara otomatis akan mendongkrak seluruh komponen dalam IPM. Kondisi indeks daya beli dipengaruhi kondisi eksternal Kabupaten Garut, seperti kebijakan fiskal, moneter dan kenaikan harga BBM. Terdapat beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap dinamika kekuatan daya beli masyarakat, yaitu faktor pendapatan dan inflasi atau tingginya harga barang dan jasa. Pada tahun 2013 nilai Indeks Daya Beli diproyeksikan mencapai 65,41 poin atau mengalami proyeksi peningkatan sebesar 1,63 poin atau sebesar 2,55% dari Tahun 2009 sebesar 63,78 poin. Peningkatan pada periode ini tidak lepas dari kebijakan Pemerintah yang berhasil menciptakan iklim yang diminati oleh investor untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Garut yang merupakan wilayah yang memiliki sumber daya dan pangsa pasar yang cukup potensial. Dengan meningkatnya intensitas investasi yang ditanamkan di wilayah ini otomatis akan memperbesar aliran pendapatan ke masyarakat yang berimplikasi pada peningkatan daya beli secara makro. Peningkatan capaian Indeks Daya Beli tersebut dipengaruhi oleh peningkatan Kemampuan Daya Beli atau Purchasing Power Parity (PPP), dimana sampai dengan Tahun 2013 PPP diproyeksikan mencapai Rp.643.050,-, yang berarti meningkat 0,77% dari Tahun 2009 yang mencapai sebesar Rp.636.010,- (angka perbaikan) pada tahun 2009. Namun demikian, masih perlu dicermati bahwa kondisi ini masih belum menunjukkan kualitas kemampuan ekonomi masyarakat secara riil, karena tingkat daya beli masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal Kabupaten Garut yang berkembang.

  Sementara itu, walaupun dengan kontribusi yang relatif rendah dibandingkan indeks daya beli dan indeks kesehatan, derajat pendidikan masyarakat secara makro mengalami peningkatan, yang terefleksi dari pencapaian nilai Indeks Pendidikan pada tahun 2013 diproyeksikan sebesar 83,01 poin yang mengalami peningkatan sebesar 0,86 poin atau 1,04% dibandingkan pencapaian Tahun 2009 sebesar 82,15 poin. Pencapaian nilai Indeks Pendidikan ini dipengaruhi oleh pencapaian nilai Rata-rata Lama Sekolah (RLS), dimana pada Tahun 2013, RLS diproyeksikan mencapai 7,57 Tahun, yang berarti meningkat 0,28 tahun atau 3,84% dari pencapaian RLS tahun 2009 sebesar 7,29 tahun. Rata-rata lama sekolah adalah jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk berusia 15 tahun keatas dalam menjalani pendidikan formal, yang turut ditentukan oleh variabel angka putus/melanjutkan sekolah dan angka partisipasi sekolah seperti APM/APK pada masing-masing tingkat pendidikan. Bersamaan dengan itu, Angka Melek Huruf (AMH) sebagai salah satu variabel dari indeks pendidikan, pada tahun 2013 diproyeksikan sebesar 99,28% mengalami peningkatan 0,35 % dari Tahun 2009 sebesar 98,93%. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa sampai dengan Tahun 2013 kemampuan baca masyarakat Kabupaten Garut terus mengalami kenaikan.

  

Gambar 2. 14 Perkembangan Prosentase Peningkatan I PM

Tahun 2009- 2013

  Kondisi IPM Kabupaten Garut sampai Tahun 2012 masih terpaut 1,07 poin dari pencapaian IPM Jawa Barat sebesar 73,19 poin, dengan capaian indeks daya beli sudah diatas Jawa Barat dengan selisih sebesar 0,83 poin, sementara untuk capaian indeks pendidikan dan indeks kesehatan masih terpaut masing-masing 0,39 poin dan 3,69 poin. Hal ini menggambarkan bahwa capaian kinerja pembangunan manusia di Kabupaten Garut secaraumum masih berada dibawah rata-rata pencapaian Jawa Barat.

  

Tabel 2. 10

Perbandingan I PM Kabupaten Garut dan Jaw a Barat

Tahun 2009- 2012* )

  I NDI KATOR Garut Jaw a Barat Selisih 2009 2010 2011* 2012* 2009 2010 2011 2012* 2009 2010 2011* 2012*

  

I PM 70,98 71,36 71,70 72,12 71,64 72,08 72,73 73,19 -0,66 -0,72 -1,03 -1,07

I ndeks Kesehatan

  67,00 67,67 68,33 68,98 71,67 72,00 72,33 72,67 -4,67 -4,33 -4,00 -3,69

AHH (tahun) 65,20 65,60 66,00 66,39 68,00 68,20 68,40 68,60 -2,80 -2,60 -2,40 -2,21

I ndeks Pendidikan

  82,15 82,27 82,35 82,36 81,14 81,67 82,10 82,75 1,01 0,60 0,25 -0,39

AMH (%) 98,93 98,94 98,96 98,98 95,98 96,00 96,29 96,97 2,95 2,94 2,67 2,01

RLS (tahun) 7,29 7,34 7,37 7,37 7,72 7,95 8,06 8,15 -0,43 -0,61 -0,69 -0,78

I ndeks Daya Beli

  63,78 64,13 64,42 65,00 62,10 62,57 63,74 64,17 1,68 1,56 0,68 0,83 Kemampuan Daya Beli (000 Rp)

  636,01 637,49 638,77 641,28 628,71 630,77 635,80 637,67 7,30 6,72 2,97 3,61 Sumber : Indikator Makro BPS Kab. Garut dan RKPD Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 Ket. : *) Angka Proyeksi

  

Gambar 2. 15 Perbandingan I PM Kabupaten Garut dan Provinsi Jaw a Barat

  • * ) Tahun 2009- 2012

  Sementara itu, pencapaian IPM Kabupaten Garut pada yahun 2012 berada pada peringkat ke-17 dari 26 kabupaten/kota di Jawa Barat atau meningkat 3 tingkat dibandingkan tahun 2004 yang berada pada peringkat ke-20.

  Gambar 2. 16 Peringkat I PM Kabupaten Garut di Provinsi Jaw a Barat Tahun 2004- 2012

2. Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB )

  Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan pengukuran atas nilai tambah yang mampu diciptakan akibat adanya berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu daerah. Secara keseluruhan pencapaian kinerja PDRB Kabupaten Garut selama Tahun 2009-2013 yang diukur atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan sebesar Rp.12,64 trilyun atau 56,77% dari Rp. 22,27 trilyun pada tahun 2009 menjadi Rp.34,91 trilyun pada tahun 2013 (angka sangat sementara). Keadaan ini menggambarkan perkembangan yang cukup signifikan dari nilai produk barang yang dihasilkan di Kabupaten Garut selama Tahun 2009-2013. Kendati demikian, perkembangan tersebut belum dapat dijadikan sebagai indikator dari peningkatan volume produk barang atau jasa di wilayah Garut, karena pada PDRB yang dihitung atas dasar harga berlaku masih terkandung inflasi yang sangat mempengaruhi harga barang/jasa secara umum.

  Tabel 2. 11 PDRB adh Berlaku Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ( Milyar Rupiah) Sektor 2009 2010 2011 2012* 2013* * PRI MER 10.265,00 11.338,40 12.416,07 13.365,65 15.415,29 Pertanian 10.236,13 11.307,73 12.382,80 13.329,38 15.375,41 Pertambangan 28,87 30,67 33,27 36,28 39,87 SEKUNDER 2.419,63 2.691,00 2.991,23 3.312,23 3.890,02 Industri 1.733,67 1.888,47 2.081,47 2.296,96 2.687,97

Listrik dan air 97,04 117,56 128,30 137,15 162,00

Bangunan 588,93 684,97 781,46 878,13 1.040,06

TERSI ER 9.586,79 10.815,21 12.084,34 13.469,24 15.608,59

  Perdagangan 5.936,93 6.495,28 7.252,45 8.072,96 9.292,55 Pengangkutan 782,39 953,15 1.073,21 1.215,83 1.374,36 Keuangan 733,69 816,98 889,95 959,81 1.086,73 Jasa-jasa 2.133,78 2.549,81 2.868,74 3.220,63 3.854,95

  PDRB 22.271,42 24.844,61 27.491,63 30.147,12 34.913,90 Sumber : BPS Kabupaten Garut, Oktober 2013

  Untuk menganalisis perkembangan dari volume produk barang/jasa umumnya digunakan PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan. PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan Tahun 2000 di Kabupaten Garut selama tahun 2009-2013 meningkat Rp.2,52 trilyun atau 23,93% dari sebesar Rp.10,56 trilyun pada tahun 2009 menjadi Rp.13,09 trilyun pada tahun 2013 (angka sangat sementara). Kondisi tersebut merupakan indikasi quantum (volume) produk barang/jasa secara umum mengalami peningkatan atau perekonomian Kabupaten Garut secara makro berkembang positif selama Tahun 2009-2013.

  Tabel 2. 12 PDRB adh Konstan Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 ( Milyar Rupiah) Sektor 2009 2010 2011 2012* 2013* * PRI MER 4.881,21 5.102,48 5.314,17 5.443,61 5.803,60 Pertanian 4.867,31 5.088,30 5.299,39 5.428,12 5.787,59 Pertambangan 13,90 14,18 14,78 15,49 16,01 SEKUNDER 1.091,40 1.179,52 1.255,36 1.332,82 1.462,55 Industri 742,01 795,09 835,15 880,17 962,16 Listrik dan air 55,74 65,31 68,88 71,25 78,73

  Sektor 2009 2010 2011 2012* 2013* * Bangunan 293,64 319,12 351,32 381,40 421,67

TERSI ER 4.596,14 4.851,62 5.173,98 5.508,11 5.831,26

  Perdagangan 2.885,35 3.047,23 3.277,08 3.514,77 3.679,33 Pengangkutan 300,28 319,83 333,45 350,84 375,54 Keuangan 392,52 421,64 449,93 476,21 512,81 Jasa-jasa 1.017,99 1.062,92 1.113,53 1.166,29 1.263,58

  PDRB 10.568,74 11.133,63 11.743,51 12.284,54 13.097,41 Sumber : BPS Kabupaten Garut, Oktober 2013

  Sampai dengan tahun 2013, sektor pertanian masih menjadi sektor

  prime mover

  unggulan ( ) dalam menggerakkan perekonomian daerah dengan kontribusi nilai tambah terhadap PDRB mencapai 44,04% (angka sangat sementara) yang mengalami penurunan 1,92% dibandingkan tahun 2009 sebesar 45,96%. Tingginya peranan sektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Garut tidak lepas dari beberapa keunggulan komparatif ( comparative advantages ), seperti kondisi tanah yang relatif lebih subur dan cocok untuk beragam komoditi pertanian dan jumlah penduduk yang besar yang berimplikasi pada sistem pertanian yang tampak sangat beragam dan hampir sebagian besar komoditi produk pertanian sangat dominan kontribusinya, seperti berbagai palawija, sayur- sayuran dan juga padi. Kontribusi sektor pertanian banyak disumbang oleh subsektor tanaman bahan makanan (Tabama), diikuti oleh sub sektor perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Namun demikian, akselerasi kinerja sektor pertanian tersebut masih belum optimal, diantaranya disebabkan hubungan antar subsistem pertanian dan sektor

  linkages

  lain ( ) belum sepenuhnya menunjukkan sinergitas pada skala lokal, regional dan nasional, hal ini tercermin dari pengembangan agroindustri yang belum optimal baik dalam pengolahan maupun pemasarannya. Pengembangan yang bersifat sektoral pada sistem pertanian serta ketidaksiapan dalam menghadapi persaingan global merupakan kendala yang masih dihadapi sektor pertanian. Potensi lain dalam sektor pertanian yaitu pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan terutama dalam pengembangan usaha perikanan tangkap di pesisir selatan, usaha budidaya laut, bioteknologi kelautan, serta berbagai macam jasa lingkungan kelautan. Namun kondisi dan potensi sumber daya perikanan dan kelautan yang besar ini belum diikuti dengan perkembangan bisnis dan usaha perikanan dan kelautan yang baik. Tingkat investasi sarana dan prasarana pendukung bisnis kelautan serta produksi sumber daya perikanan dan kelautan masih jauh dari potensi yang ada. Dilain pihak, lemahnya kondisi pembudidaya dan nelayan sebagai produsen menyebabkan kurang berkembangnya kegiatan dan pengelolaan industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan. Dari sisi penciptaan nilai tambah, kecepatan sektor pertanian dalam menciptakan nilai tambah sangatlah lambat apabila diperbandingkan dengan sektor lainnya terutama industri manufaktur, sehingga tidaklah mengherankan jika wilayah yang didominasi oleh sektor pertanian cenderung pertumbuhan ekonominya sangat lamban. Pada sisi lain, seiring peningkatan jumlah penduduk tentu saja berimplikasi pada peningkatan kebutuhan lahan untuk pemukiman, sehingga luas lahan pertanian memiliki cenderung terus mengalami penurunan.Apabila dipahami secara lebih luas kondisi tersebut telah memberikan suatu sinyalemen positif terhadap hasil pembangunan karena salah satu indikator kemajuan negara berkembang adalah terjadinya pergeseran dari struktur ekonomi berbasis pertanian ke sektor lainnya.

  Disamping pertanian, sektor yang memiliki kontribusi cukup dominan pada tahun 2013 adalah sektor perdagangan, hotel dan restorandengan kontribusi nilai tambah terhadap PDRB mencapai sebesar 26,62% (angka sangat sementara) yang mengalami penurunan 0,04% dibandingkan tahun 2009 sebesar 26,66%. Kondisi tersebut merupakan indikasi dari peningkatan volume barang/jasa yang diperdagangkan di wilayah Kabupaten Garut. Tingginya peranan sektor perdagangan terhadap perekonomian didominasi oleh sumbangan dari subsektor perdagangan besar dan eceran yang diikuti peranan subsektor hotel dan restoran. Pada dasarnya, subsektor Hotel dan Restoran, di Kabupaten Garut masih memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh, karena banyak lokasi pariwisata di Garut yang dapat dikembangkan untuk skala nasional, atau bahkan sampai skala internasional. Selain itu, tingkat konsumsi masyarakat

  propensity to consume

  ( ) yang relatif tinggi membuat sektor ini berkembang cukup baik. Kendala umum yang dihadapi untuk dapat mengembangkan potensi tersebut adalah sulitnya menumbuhkan minat para investor baik lokal maupun internasional untuk menanamkan investasi di Kabupaten Garut yang infrastrukturnya terlihat masih sangat minim dan dari sisi pendanaan, sektor perdagangan memerlukan dana yang relatif lebih besar karena cenderung lebih lebih bersifat padat modal dibandingkan dengan sektor pertanian yang cenderung padat karya.

  Peranansektor industri yang merupakan sektor andalan di Jawa Barat, secara umum peranannyamasih relatif rendah dan tidak mengalami perubahan yang signifikan selama periode 2009-2013yaitu mencapai sebesar 7,7%. Namun demikian, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan nilai tambah dari sektor industri pengolahan secara stabil turut mendorong struktur ekonomi di Kabupaten Garut. Walaupun Kabupaten Garut memiliki keunggulan komparatif di sektor pertanian, namun kelemahan yang mendasar adalah masih rendahnya kegiatan industri yang memanfaatkan hasil-hasil pertanian, sehingga perdagangan antar wilayah yang dilakukan lebih dominan berupa bahan-bahan mentah hasil pertanian. Untuk itu roda perekonomian Kabupaten Garut dipandang dapat bergerak lebih cepat apabila dikembangkan industri yang dapat mengolah hasil-hasil pertanian, yang merupakan keunggulan wilayah yang dapat memperpanjang rantai agribisnis, sehingga produksi Kabupaten Garut dapat berupa barang-barang industri hasil pertanian. Sementara itu peranan sektor jasa terhadap perekonomian di Kabupaten Garut selama periode tahun 2009-2013 secara konstan menunjukkan trend yang terus meningkat dari sebesar 9,58% pada tahun 2009 menjadi sebesar 11,04% pada tahun 2013 (angka sementara). Kondisi tersebut tidak terlepas dari tingginya kontribusi subsektor jasa pemerintahan serta subsektor jasa swasta meliputi jasa perorangan dan rumah tangga, jasa sosial kemasyarakatan serta jasa hiburan dan rekreasi.

  Tabel 2. 13 Kontribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013* * Sektor 2009 2010 2011 2012* 2013* * PRI MER 46,09 45,64 45,16 44,33 44,15 Pertanian 45,96 45,51 45,04 44,21 44,04 Pertambangan 0,13 0,12 0,12 0,12 0,11 SEKUNDER 10,86 10,83 10,88 10,99 11,14 Industri 7,78 7,60 7,57 7,62 7,70 Listrik dan air 0,44 0,47 0,47 0,45 0,46 Bangunan 2,64 2,76 2,84 2,91 2,98

TERSI ER 43,05 43,53 43,96 44,68 44,71

  Perdagangan 26,66 26,14 26,38 26,78 26,62 Pengangkutan 3,51 3,84 3,90 4,03 3,94 Keuangan 3,29 3,29 3,24 3,18 3,11 Jasa-jasa 9,58 10,26 10,43 10,68 11,04

  

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Garut, Oktober 2013

  Apabila sektor-sektor perekonomian dikelompokkan menjadi tiga kelompok (primer, sekunder dan tersier), maka terlihat adanya fenomena umum, yakni pergeseran struktur ekonomi di Kabupaten Garut selama periode 2009-2013 dari primer ke arah sekunder dan tersier yang menggambarkan semakin modernnya perekonomian di Kabupaten Garut. Kondisi tersebut sejalan dengan teori ekonomi makro, yang diungkapkan oleh A.G.B. Fisher, dimana semakin tinggi pendapatan perkapita penduduk di suatu wilayah, maka perekonomian akan bergeser dari primer ke sekunder. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2013, kelompok sektor primer memberikan kontribusi sangat tinggi terhadap perekonomian di Kabupaten Garut, yakni sebesar 44,15% persen (angka sangat sementara). Kendati demikian, apabila ditinjau perkembangannya selama periode 2009-2013, kontribusi kelompok sektor primer menurun 1,94% dari semula 46,09% pada tahun 2009. Sementara itu, perkembangan peranan sektor tersier selama periode 2009-2013 mengalami peningkatan 1,66% dari semula sebesar 43,05% pada tahun 2009 menjadi sebesar 44,71% (angka sangat sementara) pada tahun 2013. Selanjutnya seperti kelompok sektor tersier, kelompok sektor penyumbang terendah yaitu sektor sekunder, disepanjang periode 2009-2013 tampak mengalami peningkatan kontribusi sebesar

  0,28% dari 10,86% pada tahun 2009 menjadi sebesar 11,14% pada tahun 2013. Ditinjau dari indikator Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) yang secara teknis merupakan pertumbuhan dari volume produk yang dihasilkan, secara sektoral merupakan gambaran kecepatan peningkatan volume produk yang dihasilkan pada sektor yang bersangkutan dan dapat dipergunakan dalam menentukan arah kebijakan perencanaan pembangunan ekonomi daerah. Secara makro, pengukuran LPE dapat diukur dari perkembangan besaran PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan, dimana BPS memakai harga konstan tahun 2000. Perekonomian Kabupaten Garut pada tahun 2012 mengalami perkembangan yang cukup positif ditandai oleh pertumbuhan sebesar 4,61%, yang tidak lepas dari performa ekonomi yang baik pada sektor pertanian yang merupakan sumber pertumbuhan paling dominan yang mampu tumbuh 2,43%. Kenaikan produksi tertinggi di sektor pertanian terjadi pada subsektor peternakan dengan pertumbuhan sebesar 5,17%, sedangkan terendah terjadi pada subsektor kehutanan dengan pertumbuhan sebesar 0,76%. Selanjutnya subsektor tanaman bahan makanan yang merupakan kontributor paling dominan pada sektor pertanian, mengalami penurunan pertumbuhan menjadi sebesar 2,28%. Sektor Pertanian secara umum merupakan usaha yang banyak digeluti oleh masyarakat Garut sampai saat ini dengan pengelolaan yangcenderung masih tradisional, tidak tergantung pada bahan impor dan berbasis teknologi sederhana yang memiliki potensi yang besar dan variatif, dan didukung oleh kondisi agroekosistem yang cocok untuk pengembangan komoditas pertanian dalam arti luas (tanaman, ternak, ikan, dan hutan). Sektor perdagangan dapat dijadikan suatu indikator kinerja perekonomian secara umum. Pada tahun 2012 pertumbuhan di sektor perdagangan, hotel dan restoran di Kabupaten Garut tampak dipicu oleh peningkatan kedatangan wisatawan yang berkunjung ke wilayah Kabupaten Garut. Hal ini terefleksi dari perkembangan subsektor perdagangan besar dan eceran yang merupakan subsektor yang paling dominan dengan pertumbuhan sebesar 7,21%. Sedangkan dua subsektor lainnya, yaitu subsektor hotel dan restoran tumbuh masing-masing sebesar 5,46% dan 7,72%. Peningkatan kinerja yang relatif tinggi terjadi pada sektor industri pengolahan. Pada tahun 2012, industri pengolahan mengalami pertumbuhan sebesar 5,39%. Kondisi ini tidak terlepas dari meningkatnya accesibilitas Kabupaten Garut yang tentunya berimplikasi pada perkembangan jumlah kedatangan wisatawan di Kabupaten Garut. Kondisi tersebut memicu peningkatan permintaan barang/jasa di Kabupaten Garut termasuk produk sektor industri pengolahan. Kinerja produksi yang sangat

  share

  konsisten tersebut tampak menyebabkan peningkatan sektor ini terhadap perekonomian Kabupaten Garut disetiap tahunnya. Apabila diamati lebih jauh, pada tahun 2012 tampak seluruh sektor ekonomi di Kabupaten Garut memperlihatkan kinerja yang cukup menggembirakan. Peningkatan kinerja tertinggi terjadi sektor bangunan yang mampu tumbuh sebesar 8,56% persen, sedangkan terendah terjadi pada sektor pertanian yang hanya mampu tumbuh sebesar 2,43%. Pada tahun 2013, LPE diproyeksikan dapat tumbuh secara positif sebesar 5,64% (Angka sangat sementara) yang turut didorong oleh proyeksi pertumbuhan positif dari sektor pertanian sebesar 4,75% (Angka sangat sementara).

  Tabel 2. 14 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013* * Sektor 2009 2010 2011 2012* 2013* * PRI MER 5,67 4,53 4,15 2,44 4,75 Pertanian 5,66 4,54 4,15 2,43 4,75 Pertambangan 7,10 1,98 4,25 4,83 3,86 SEKUNDER 7,27 8,07 6,43 6,17 7,81 Industri 7,42 7,15 5,04 5,39 7,04 Listrik dan air 9,84 17,16 5,47 3,44 6,97 Bangunan 6,40 8,68 10,09 8,56 9,76

TERSI ER 5,07 5,56 6,64 6,46 6,01

  Perdagangan 6,06 5,61 7,54 7,25 5,79 Pengangkutan 2,68 6,51 4,26 5,22 6,29 Keuangan 4,68 7,42 6,71 5,84 6,85 Jasa-jasa 3,20 4,41 4,76 4,74 6,21

  Kab. Garut 5,57 5,34 5,48 4,61 5,64 Sumber : BPS Kabupaten Garut, Oktober 2013. **) Angka Proyeksi

  Dengan mengelompokkan sektor ekonomi menjadi tiga kelompok, yaitu sektor primer, sekunder dan tersier, peningkatan kinerja tertinggi pada tahun 2012 terjadi pada kelompok sektor tersier, dengan pertumbuhan sebesar 6,46%, diikuti oleh kelompok sektor sekunder dengan pertumbuhan sedikit lebih rendah yakni 6,17%. Selanjutnya kelompok sektor primer memperlihatkan peningkatan kinerja terendah, yakni hanya mampu tumbuh sebesar 2,44% jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2009 yang mengalami pertumbuhan mencapai 5,67%. Pertumbuhan produksi pada kelompok sektor primer tampak berfluktuasi dan tumbuh relatif rendah dibanding kelompok sektor yang lain. Kondisi ini tidak terlepas dari besarnya kontribusi sektor pertanian dengan peningkatan produksi yang cenderung relatif rendah pada semua sektor pembentuknya. Subsektor kehutanan mengalami pertumbuhan terkecil dibandingkan pertumbuhan subsektor lain, ini terjadi diakibatkan oleh penurunan produksi. Peningkatan volume produk pada kelompok sektor tersier pada tahun 2012 tumbuh sebesar 6,46% serta mengalami percepatan diatas sektor lainnya, dan dibandingkan dengan tahun 2009 terdapat peningkatan sebesar 1,39% dari sebesar 5,07% pada tahun 2009. Pertumbuhan yang cukup tinggi kelompok sektor ini didorong/dipicu oleh membaiknya kinerja pada sektor perdagangan sektor keuangan dan sektor jasa-jasa sebagai sektor pendukungnya. Walaupun kelompok sektor ini merupakan kontributor terkecil terhadap perekonomian Kabupaten Garut, namun perkembangan kinerja kelompok sektor ini tampak sangat konsisten selama periode 2009- 2012, dimana pertumbuhannya di atas 5% di setiap tahunnya.Sementara itu, kinerja kelompok sektor sekunder menunjukkan kinerja yang berfluktuatif dan cenderung menurun selama periode 2009-2012. Pertumbuhan yang cukup tinggi dari kelompok ini hanya terjadi pada sektor konstruksi.

  Dalam konteks pembangunan ekonomi Jawa Barat yang memiliki struktur ekonomi berbasis Industri Pengolahan, sektor pertanian pun merupakan sektor yang sangat penting karena sebagian besar penduduk di Jawa Barat masih bermatapencaharian di sektor ini dan juga memberikan share yang masih cukup tinggi terhadap perekonomian. Kabupaten Garut merupakan daerah yang memberikan kontribusi nilai tambah di sektor pertanian yang paling dominan di Propinsi Jawa Barat. Sampai dengan tahun 2012, sektor pertanian Kabupaten Garut memberikan share sebesar 12,22% terhadap pembentukan nilai tambah sektor pertanian di Propinsi Jawa Barat. Walaupun sumbangan sektor pertanian Kabupaten Garut tampak sangat dominan, namun secara makro total nilai tambah yang tercipta (PDRB) ternyata masih terlihat sangat kecil, yaitu hanya sebesar 3,18% terhadap perekonomian Jawa Barat dan yang lebih memprihatinkan adalah share tersebut cenderung mengalami penurunan pada tahun-tahun selanjutnya, dan dimana pada tahun 2000 PDRB Kabupaten mampu memberikan kontribusi sebesar 3,73% terhadap perekonomian Jawa Barat. Penurunan share tersebut dapat dimaklumi karena penciptaan nilai tambah untuk Kabupaten Garut masih sangat mengandalkan sektor pertanian yang relatif lebih lambat dibandingkan Jawa Barat yang pembentukan PDRB nya telah berbasis sektor industri pengolahan. Kondisi ini disebabkan karena siklus produksi sektor pertanian jauh lebih lama dibandingkan industri pengolahan. Selain itu, efek multiflier terhadap perekonomian secara makro yang ditimbulkan sektor industri jauh lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian, sehingga efektifitasnya dalam mendongkrak perekonomian relatif lebih tinggi. Hal tersebut karena sektor industri pengolahan memiliki keterkaitan sektor, baik backward maupun foreward , yang jauh lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian. Dominannya share produk sektor pertanian Kabupaten Garut terhadap penciptaan nilai tambah pertanian di Propinsi Jawa Barat dibandingkan tingkat kabupaten/kota lainnya, tidak lepas dari beberapa keunggulan komparatif ( comparative advantages ) Kabupaten Garut, seperti kondisi tanah yang relatif lebih subur dan cocok untuk beragam komoditi pertanian disertai jumlah penduduk yang besar. Hal tersebut berimplikasi pada sistem pertanian yang tampak sangat beragam dan hampir sebagian besar komoditi produk pertanian sangat dominan share-nya terhadap produk komoditi yang sama di Jawa Barat, seperti berbagai palawija, sayur-sayuran dan juga padi.

  Perbandingan Struktur Ekonomi Kabupaten Garut periode 2000-2012 sangat berbeda dengan Jawa Barat, tiga sektor penyumbang terbesar

  Kabupaten Garut berturut-turut sebagai berikut: Pertanian; Perdagangan, hotel dan restoran; dan Lembaga Keuangan, sedangkan di Jawa Barat berturut-turut sebagai berikut: Industri Pengolahan; Perdagangan, hotel dan restoran; dan Pertanian. Secara umum pergeseran struktur ekonomi yang terjadi di Kabupaten Garut dan Jawa Barat terlihat sama, yakni pergeseran dari sektor primer menuju sektor sekunder dan tersier. Kondisi tersebut tampak dari kontribusi kelompok sektor primer yang mengalami penurunan diikuti peningkatan pada sektor sekunder dan tersier. Kendati demikian dari sisi kecepatan pergeseran, Propinsi Jawa Barat tampak lebih cepat dibandingkan Kabupaten Garut, ini terlihat dari penurunan sektor primer Jawa Barat yang lebih tinggi dibandingkan Garut, dimana pada periode 2000-2012 share sektor primer di Jawa Barat mengalami penurunan sebesar 7,21 persen, sedangkan pada Kabupaten Garut hanya mengalami penurunan sebesar 6,29% pada periode yang sama. Hal tersebut merupakan refleksi bahwa kecepatan pertumbuhan kelompok sektor-sektor primer baik di Kabupaten Garut maupun di Jawa Barat relatif lebih lambat dibandingkan kelompok sektor lainnya.

  Gambar 2. 17 Perbandingan Struktur Ekonomi Kabupaten Garut dan Provinsi Jaw a Barat Periode 2000-2012

  Jika diamati kontribusi penciptaan nilai tambah sektoral Kabupaten Garut terhadap Jawa Barat pada periode 2000-2012, tampak hanya tiga sektor yang mengalami peningkatan kontribusi, yakni sektor pertanian dari 11,82% menjadi 12,22%, sektor industri pengolahan dari 0,51% menjadi 0,68% dan sektor penggalian dari 0,11% menjadi 0,21%. Kondisi tersebut menggambarkan rata-rata kecepatan pertumbuhan dari tiga sektor tersebut di Kabupaten Garut berada diatas rata-rata pertumbuhan sektor yang sama di kabupaten/kota lainnya di Jawa Barat. Sedangkan enam sektor lainnya mengalami penurunan kontribusi, dimana sektor yang mengalami penurunan tertinggi terjadi pada sektor jasa-jasa diikuti bangunan/konstruksi yang masing-masing menurun sebesar 2,25% dan 1,72%. Kondisi tersebut merupakan implikasi dari kecepatan pertumbuhan sektor jasa-jasa dan konstruksi di Propinsi Jawa Barat cenderung jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sektor yang sama di Kabupaten Garut.

  Tabel 2. 15 Peranan Sektor- sektor Ekonomi Kabupaten Garut Terhadap Jaw a BaratPeriode 2000- 2012 ( % ) Sektor Struktur Ekonomi Garut Struktur Ekonomi Jaw a Barat Share Garut Terhadap Jaw a Barat 2000 2012 2000 2012 2000 2012 Primer 50,62 44,33 20,59 13,38 9,18 10,55

  1. Pertanian 50,48 44,21 15,95 11,52 11,82 12,22

  2. Pertambangan 0,14 0,12 4,63 1,86 0,11 0,21 Sekunder 8,98 10,99 47,19 42,59 0,71 0,82

  3. Industri 5,74 7,62 42,35 35,79 0,51 0,68

  4. Listrik, Gas & Air 0,45 0,45 2,16 2,51 0,78 0,58

  5. Konstruksi 2,79 2,91 2,68 4,29 3,88 2,16 Tersier 40,40 44,68 32,22 44,04 4,68 3,23

  6. Perdagangan 24,65 26,78 19,65 23,90 4,68 3,57

  7. Angkutan 2,72 4,03 3,81 7,79 2,66 1,65

  8. Lembaga Keuangan 3,55 3,18 2,73 2,95 4,86 3,44

  9. Jasa-Jasa 9,48 10,68 6,03 9,40 5,87 3,62 PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 3,73 3,18

  Sumber : BPS Kabupaten Garut, Oktober 2013

  Berbeda dengan tahun sebelumnya, secara makro pada tahun 2012, ekonomi Kabupaten Garut mengalami pertumbuhan sebesar 4,61%yang lebih rendah dibandingkan dengan Jawa Barat sebesar 6,21% ataupun dengan Indonesia sebesar 6,23%. Jika dikaji secara sektoral, tampak ada tiga sektor di Kabupaten Garut yang memiliki kinerja di atas sektor yang sama di Jawa Barat, yakni sektor industri, sektor pertanian dan sektor pertambangan. Sedangkan enam sektor lainnya memperlihatkan kinerja dibawah kinerja sektor yang sama di Jawa Barat. Pertumbuhan perekonomian sektor yang paling potensial di Kabupaten Garut yakni pertanian di tahun 2012 mencapai sebesar 2,43%, jauh di atas sektor pertanian di Propinsi Jawa Barat yang turun dibawah 1%. Pertumbuhan sektor pertanian di Kabupaten Garut tersebut tampak cukup efektif dalam mendongkrak perekonomian secara makro.

  

Tabel 2. 16

Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Garut dan Jaw a Barat

Periode 2009- 2012

  Sektor Pertumbuhan Ekonomi Garut Pertumbuhan Ekonomi Jaw a Barat Selisih Garut Terhadap Jaw a Barat 2009 2012 2009 2012 2009 2012

  1. Pertanian 5,66 2,43 12,34 -0,71 -6,68 3,14

  2. Pertambangan 7,10 4,83 8,38 -7,18 -1,28 12,01

  3. Industri 7,42 5,39 -1,74 3,94 9,16 1,45

  4. Listrik, Gas & Air 9,84 3,44 14,26 7,85 -4,42 -4,41

  5. Konstruksi 6,40 8,56 5,84 13,61 0,56 -5,05

  6. Perdagangan 6,06 7,25 10,12 11,55 -4,06 -4,30

  7. Angkutan 2,68 5,22 7,97 12,00 -5,29 -6,78

  8. Lembaga Keuangan 4,68 5,84 5,98 10,22 -1,30 -4,38

  9. Jasa-Jasa 3,20 4,74 3,40 8,14 -0,20 -3,40 PDRB 5,57 4,61 4,19 6,21 1,38 - 1,60

  Sumber : BPS Kabupaten Garut, Indikator Makro Gambar 2. 18 Perbandingan LPE Kab. Garut, Provinsi Jaw a Barat

dan Nasional Tahun 2008- 2012

  Walaupun perekonomian Jawa Barat maupun Nasional menunjukkan kinerja yang relatif baik, namun dari sisi pondasi ekonomi yang terbentuk, masih tampak rapuh dan rentan terhadap gejolak yang terjadi di pasar internasional. Sebaliknya Kabupaten Garut, yang lebih mengandalkan sektor pertanian, walaupun menunjukkan kinerja yang relatif lambat namun lebih tahan terhadap gejolak yang terjadi. Kendati demikian, dengan hanya mengandalkan kinerja sektor pertanian tentu saja perekonomian Kabupaten Garut tidak akan mampu bersaing dan akan tertinggal dibandingkan wilayah lain. Sehingga, dalam perjalanannya menuju wilayah transisi industrialisasi, Kabupaten Garut sangat perlu untuk membangun pondasi ekonomi yang tangguh, diantaranya menciptakan komoditi-komoditi industri yang mandiri atau industri yang lebih memanfaatkan sumberdaya domestik dibanding impor. Indikator ekonomi lainnya yang dapat memberikan gambaran kesejahteraan masyarakat secara makro adalah pendapatan perkapita. Semakin tinggi pendapatan yang diterima penduduk berarti tingkat kesejahteraannya bertambah baik. Sebaliknya penurunan pendapatan per kapita berarti tingkat kesejahteraannya semakin menurun. Pendapatan per kapita merupakan hasil bagi pendapatan regional dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Dengan menggunakan data PDRB sebagai pendekatan pendapatan, perkembangan pendapatan perkapita Kabupaten Garut selama periode tahun 2009-2012 tampak cukup mengagumkan, dengan pertumbuhan di atas 7%. Pada tahun 2012 pendapatan perkapita diproyeksikan mengalami peningkatan sebesar 8,16% atau dari semula pada tahun 2011 sebesar Rp.11.233.508 menjadi Rp. 12.150.453 pada tahun 2012. Peningkatan ini dapat di katakan cukup tinggi karena levelnya berada diatas laju inflasi sebesar 3,87% yang terjadi sepanjang tahun 2012. Namun demikian, peningkatan tersebut belum sepenuhnya dapat dipakai untuk menggambarkan peningkatan dari daya beli masyarakat. Karena pada PDRB per kapita yang dihitung atas dasar harga berlaku, selain masih terkandung inflasi yang sangat berpengaruh terhadap daya beli, juga karena pola distribusi dari pendapatan regional Kabupaten Garut tidak mutlak merata. PDRB per Kapita adh berlaku tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat produktifitas penduduk di suatu wilayah yang menunjukkan nilai pendapatan yang dihasilkan akibat kegiatan ekonomi yang dilakukan di wilayah Garut per penduduk selama satu tahun. Untuk lebih menggambarkan perkembangan daya beli atau pendapatan riil dari masyarakat dapat diamati perkembangan PDRB perkapita yang dihitung atas dasar harga konstan. Hal yang menarik untuk dikaji adalah walaupun pendapatan perkapita pada periode 2009-2012 meningkat relatif tinggi yang berkisar antara 7,91% sampai 11,10%, namun daya beli masyarakat secara riil pada periode yang sama hanya mengalami peningkatan berkisar 3,18% sampai 4,92% yang tercermin dari peningkatan PDRB perkapita yang dihitung atas dasar harga konstan. Kondisi tersebut mencerminkan tingginya inflasi yang terjadi pada periode bersangkutan sehingga mengkoreksi peningkatan daya beli yang diakibatkan oleh meningkatnya pendapatan yang diterima. Kendati demikian, dari data tersebut dapat dilihat pendapatan riil yang sangat berpengaruh pada daya beli masyarakat Kabupaten Garut secara makro di sepanjang periode 2009-2012 cenderung terus mengalami peningkatan di setiap tahunnya.

  Tabel 2. 17 Perkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Jumlah

  PDRB Per Kapita ( Rp) Laju PDRB Per Kapita ( % ) Penduduk

  Tahun Pertengahan Berlaku Konstan adh Berlaku adh Konstan

  Tahun

2009 9.263.853,08 4.396.095,28 2.404.121 7,91 4,14

2010 10.292.372,33 4.612.324,92 2.413.886 11,10 4,92

2011* 11.233.508,32 4.798.579,77 2.447.288 9,14 4,04

2012** 12.150.453,58 4.951.144,74 2.481.152 8,16 3,18

  14,24 5,17 2013** 13.880.101,84 5.206.907,18 2.515.392 Sumber : BPS Kabupaten Garut, Oktober 2013. **) Angka Proyeksi

  Perbandingan perkembangan PDRB perkapita antara Kabupaten Garut dengan Propinsi Jawa Barat kurun waktu 2009-2012 menunjukkan adanya kesenjangan PDRB perkapita baik atas dasar harga berlaku maupun konstan yang semakin membesar disetiap tahunnya. Selisih PDRB perkapita yang dihitung atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan sebesar Rp.2,28 juta dari semula sebesar Rp.6,82 juta menjadi Rp 9,10 juta. Dengan kata lain selisih meningkat rata-rata Rp.760.000 di tiap tahunnya selama periode tersebut. Sedangkan selisih PDRB per kapita yang dihitung atas dasar harga konstan, yang lebih mencerminkan perkembangan daya beli masyarakat secara makro, relatif lebih lambat dibandingkan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku, yaitu sebesar Rp.550.000 atau dari semula Rp.2,68 Juta menjadi Rp. 3,23 Juta, dengan selisih meningkat rata-rata Rp.183.333 di tiap tahunnya selama periode tersebut.

  

Tabel 2. 18

Perbandingan PDRB Per Kapita Kabupaten Garut dan Jaw a Barat Tahun 2009- 2012 ( Juta Rupiah) Selisih

  

Sektor 2009 2010 2011 2012

2009 -2012 Adh Berlaku

  • Kab. Garut 9,26 10,29 11,23 12,15 2,88
  • Jawa Barat 16,08 17,92 19,65 21,25 5,17 Adh Konstan Tahun 2000
  • Kab. Garut 4,39 4,61 4,80 4,95 0,55
  • Jawa Barat 7,07 7,48 7,83 8,18 1,11 Selisih antara Jabar dan Garut * Adh. Berlaku 6,82 7,63 8,42 9,1 2,28
  • Adh. Konstan 2000 2,68 2,87 3,03 3,23 0,55 Sumber : BPS Kabupaten Garut, 2014
Kondisi perkembangan PDRB per kapita di atas merupakan dampak dari kecepatan tumbuhnya ekonomi pada wilayah yang berbasis industri jauh lebih cepat dibandingkan dengan wilayah yang berbasis pertanian, ini tergambar dari kecepatan perkembangan PDRB perkapita yang dihitung atas dasar harga konstan Jawa Barat secara makro tampak lebih cepat dibandingkan Kabupaten Garut. Kendati demikian, inflasi yang terjadi relatif lebih tinggi wilayah yang berbasis industri dibandingkan yang berbasis pertanian, ini tampak dari kecepatan gap/selisih yang terlihat jauh lebih tinggi PDRB perkapita atas dasar berlaku dibandingkan atas dasar harga konstan. Walaupun secara kasar, kondisi tersebut juga mengindikasikan bahwa dari sisi produksi, tingkat harga di Kabupaten Garut yang berbasis pertanian relatif lebih stabil dibandingkan Jawa Barat yang berbasis industri pengolahan.

3. I nflasi

  Inflasi merupakan persentase tingkat kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum dikonsumsi rumah tangga, sebagai suatu indikator yang menggambarkan kecenderungan umum tentang perkembangan harga dan dapat dipakai sebagai salah satu informasi dasar untuk pengambilan keputusan baik tingkat ekonomi mikro atau makro, baik fiskal maupun moneter. Pada tingkat mikro, rumah tangga/masyarakat misalnya, dapat memanfaatkan angka inflasi untuk dasar penyesuaian nilai pengeluaran kebutuhan sehari-hari dengan pendapatan mereka yang relatif tetap. Pada tingkat korporasi, angka inflasi dapat dipakai untuk perencanaan pembelanjaan dan kontrak bisnis. Dalam lingkup yang lebih luas (makro), angka inflasi menggambarkan kondisi/stabilitas moneter dan perekonomian. Secara umum, penghitungan perubahan harga tersebut tercakup dalam suatu indeks harga yang dikenal dengan Indeks Harga

  

Consumer Price Index

Konsumen (IHK) atau (CPI).

  Pada tahun 2013, secara umum inflasi di Kabupaten Garut mencapai 6,89%, atau mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2012 mencapai 3,87% sebagai dampak terjadinya kenaikan harga-harga secara umum pada tahun 2013. Hal tersebut merupakan suatu indikasi bahwa beban hidup rumahtangga secara makro di Kabupaten Garut pada tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar kurang lebih 6,89% dengan struktur kebutuhan yang sama pada tahun 2012 yang mencapai sebesar kurang lebih 3,87%. Selama periode 2009-2013, peningkatan harga-harga masih tampak cukup terkendali walaupun terlihat mengalami sedikit peningkatan dibandingkan inflasi pada tahun 2009 sebesar 4,17%.

  Gambar 2. 19 Perkembangan I nflasi Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

4. Penduduk Miskin

  Pengukuran kemiskinan secara makro dilakukan BPS melalui estimasi jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dalam hal ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan penduduk dari sisi pengeluaran konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Kebutuhan dasar makanan (GKM) setara dengan besaran minimal jumlah rupiah per bulan untuk pemenuhan kebutuhan kalori 2100 kkal per kapita per hari untuk 52 jenis paket komoditi kebutuhan dasar makanan. Sedangkan kebutuhan dasar bukan makanan (GKNM) setara dengan besaran rupiah per bulan untuk pemenuhan kebutuhan minimum perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan yang diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis di pedesaan. Sehingga, secara teknis penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per bulan di bawah garis kemiskinan. Persentase penduduk miskin Kabupaten Garut, dari hasil pendataan dengan metode Garis Kemiskinan hasil SUSENAS, diprediksi pada tahun 2012 mengalami penurunan 16.305 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari semula 330.905 jiwa menjadi 314.600 jiwa. Penurunan jumlah penduduk miskin tersebut menyebabkan turunnya persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan, yakni dari 13,53% pada tahun 2011 menjadi 12,70% pada tahun 2012. Jumlah penduduk miskin pada tahun 2013, diproyeksikan kembali mengalami penurunan menjadi 308.528 jiwa atau 12,22%. Penurunan tersebut tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah Pusat terkait perluasan penciptaan kesempatan kerja, peningkatan dan perluasan program pro-rakyat, serta peningkatan efektifitas penanggulangan kemiskinan melalui tiga klaster program penanggulangan kemiskinan. Namun demikian angka ini masih berada diatas rata-rata penduduk miskin kabupaten/kota di Jawa Barat sebesar 9,89%, Nasional sebesar 11,66%.

  Gambar 2. 20 Perkembangan Penduduk Miskin Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  Secara mikro, pemetaan sebaran penduduk miskin menurut kecamatan dapat digambarkan melalui rumahtangga sasaran hasil pendataan

  Program Perlindungan Sosial ( PPLS) yang dilakukan BPS pada tahun

  2011, sebagai data baseuntuk keperluan intervensi-intervensi pemerintah yang berhubungan dengan program-program penanggulangan kemiskinan, seperti Raskin, Jamkesmas, PKH dan sebagainya. Persentase rumahtangga sasaran di Kabupaten Garut pada tahun 2011 relatif tinggi, yakni sebesar 49,10 persen, atau 302.346 RTS dari total sebesar 615.804 rumahtangga dan kondisi tersebut mengalami peningkatan sebanyak 81.336 RTS atau 36,80% dibandingkan hasil pendataan PPLS Tahun 2008 yang mencapai sebanyak 221.010. Rumahtangga sasaran tersebut merupakan banyaknya atau kumulatif rumah tangga terbawah yang ada di Kabupaten Garut.Data ini lebih tinggi dari angka PPLS Nasional tahun 2011 mencakup 42,5%. Kecamatan yang memiliki persentase RTS tertinggi di Kabupaten Garut adalah Kecamatan Peundeuy yang mencapai 73,39 %, atau sebanyak 4.285 rumahtangga. Kemudian disusul oleh Kecamatan Cisompet, Cikelet dan Pamulihan dengan persentase RTS masing-masing sebesar 72,24%; 67,22% dan 66,50%. Sedangkan kecamatan yang tampak memiliki persentase RTS terkecil adalah kecamatan Cibiuk dan Tarogong Kidul dengan persentase masing-masing sebesar 35,51% dan 32,44%. Kemudian disusul oleh Kecamatan Caringin dan Garut Kota, dengan persentase RTS masing-masing sebesar 39,26% dan 37,07%.

  Tabel 2. 19 Jumlah Rumahtangga Sasaran ( RTS) Hasil Pendataan PPLS di Kabupaten Garut Tahun 2008 dan 2011 KECAMATAN Rumah Tangga Sasaran ( RTS) Persentase RTS Terhadap RMT Total Peningkatan RTS 2008 2011 2008 2011 RTS % 010. Cisewu 3.554 4.805 35,87 45,22 1.251 35,20 011. Caringin 2.845 3.387 36,09 39,26 542 19,05 020. Talegong 3.626 4.180 39,24 44,72 554 15,28 030. Bungbulang 5.594 6.872 34,12 40,51 1.278 22,85 031. Mekarmukti 1.569 2.924 33,5 63,30 1.355 86,36 040. Pamulihan 2.108 3.228 42,43 66,50 1.120 53,13 050. Pakenjeng 6.837 10.778 36,8 59,77 3.941 57,64 060. Cikelet 4.695 7.709 42,42 67,22 3.014 64,20 070. Pameungpeuk 5.005 5.852 43,77 53,99 847 16,92 080. Cibalong 5.455 6.765 47,74 60,38 1.310 24,01 090. Cisompet 4.316 10.117 30,61 72,24 5.801 134,41 100. Peundeuy 2.603 4.285 47,4 73,39 1.682 64,62 110. Singajaya 4.934 7.508 40,16 61,86 2.574 52,17 111. Cihurip 1.723 3.015 35,61 59,67 1.292 74,99 120. Cikajang 5.370 9.082 26,44 45,21 3.712 69,12 130. Banjarwangi 5.055 8.450 34,47 61,84 3.395 67,16 140. Cilawu 9.533 14.788 35,19 56,63 5.255 55,12 150. Bayongbong 9.167 10.362 38,69 44,90 1.195 13,04 151. Cigedug 3.373 4.000 36,61 44,20 627 18,59 160. Cisurupan 10.028 12.007 40,11 48,71 1.979 19,73 161. Sukaresmi 3.347 3.390 38,85 39,66 43 1,28 170. Samarang 6.678 7.209 36,12 42,34 531 7,95 171. Pasirwangi 4.462 6.464 26,13 43,12 2.002 44,87 181. Tarogong Kidul 7.273 8.875 30,22 32,44 1.602 22,03 182. Tarogong Kaler 5.739 9.194 27,17 42,63 3.455 60,20 190. Garut Kota 11.548 12.310 35,72 37,07 762 6,60 200. Karangpawitan 9.042 11.378 32,24 39,95 2.336 25,83 210. Wanaraja 3.876 5.204 32,31 44,92 1.328 34,26 211. Sucinaraja 3.044 3.893 40,67 54,81 849 27,89 212. Pangatikan 3.339 4.675 35,36 51,27 1.336 40,01 230. Banyuresmi 4.150 5.798 32,21 48,80 1.648 39,71 220. Sukawening 1.905 2.450 43,32 61,98 545 28,61 221. Karang Tengah 7.871 10.329 38,34 49,83 2.458 31,23 240. Leles 6.228 8.312 31,97 43,15 2.084 33,46 250. Leuwigoong 4.381 5.638 39,5 57,27 1.257 28,69 260. Cibatu 5.933 10.423 34,93 62,92 4.490 75,68 261. Kersamanah 4.069 5.053 46,21 56,83 984 24,18 270. Cibiuk 2.558 2.312

  38 35,51 -246 -9,62 280. Kadungora 8.023 9.763 38,02 45,06 1.740 21,69 290. Bl. Limbangan 7.410 10.737 38,3 57,78 3.327 44,90 300. Selaawi 4.411 5.905 46,06 61,53 1.494 33,87 310. Malangbong 8.339 12.920 30,31 44 4.581 54,93

KABUPATEN GARUT 221.010 302.346 35,68 49,10 81.336 36,80

  Sumber : BPS Kabupaten Garut Dari pemetaan penduduk miskin hasil pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang dilakukan BPS pada tahun 2008 dan 2011, menunjukkan :

  • Terdapat sebanyak 17 Kecamatan dengan RTS diatas Kabupaten & peningkatan RTS diatas Kabupaten, meliputi kecamatan Cisompet, Peundeuy, Cikelet, Pamulihan, Mekarmukti, Cibatu, Banjarwangi, Pakenjeng, Singajaya, Cihurip, Cilawu, Sukawening, Balubur Limbangan, Leuwigoong, Sucinaraja dan Pangatikan;
  • Terdapat sebanyak 4 Kecamatan dengan RTS diatas Kabupaten & peningkatan RTS dibawah Kabupaten, meliputi : Cibalong, Kersamanah, Pameungpeuk dan Karang Tengah;
  • Terdapat sebanyak 5 Kecamatan dengan RTS dibawah Kabupaten & peningkatan RTS diatas Kabupaten, meliputi Banyuresmi, Cikajang, Malangbong, Pasirwangi dan Tarogong Kaler;
  • Terdapat sebanyak 16 Kecamatan dengan RTS dibawah Kabupaten & peningkatan RTS dibawah Kabupaten, meliputi: Cisurupan, Kadungora, Wanaraja, Cisewu, Talegong, Samarang, Cigedug, Bayongbong, Bungbulang, Leles, Sukaresmi, Caringin, Karangpawitan, Garut Kota, Cibiuk dan Tarogong Kidul;
  • Gambar 2. 21 Pemetaan Penduduk Miskin per Kecamatan di Kabupaten Garut Berdasarkan Data PPLS Tahun 2008 dan 2011

  Secara umum peran pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan dan pengurangan kemiskinan lebih dititikberatkan pada upaya untuk memfasilitasi dan menumbuhkan iklim yang mendukung tewujudnya kemandirian masyarakat, mengembangkan mekanisme yang menjamin terwujudnya komunikasi, koordinasi dan keterpaduan antara pemerintah dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat, sertamemfasilitasi keberlanjutan penanggulangan kemiskinan secara mandiri. Program Nasional yang mengacu pada Pepres nomor 15 tahun 2010 tentang percepatan penanggulangan kemiskinan, terbagi dalam beberapa kelompok, antara lain :

a. Bantuan atau perlindungan sosial terpadu berbasis keluarga, seperti

  Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (Balsem), Bantuan Beras Rakyat Miskin (Raskin), BOS, Bea Siswa untuk masyarakat Miskin, Jaminan kesehatan masyarakat nasional (Jamkesmas), Jamkesda dan Jaminan persalinan (Jampersal); b. Penanggulangan Kemiskinan berbasis Pemberdayaan Masyarakat yang diimplementasikan pada beberapa program seperti PNPM Mandiri

  Perdesaan di 36 Kecamatan, PNPM Mandiri Perkotaan di 6 Kecamatan Perkotaan, PNPM Pertanian ( PUAP), PNPM Pariwisata ( Desa Wisata), PNPM Kelautan (PUMP), PNPM Keciptakaryaan (Pamsimas), serta program – program yang mendukung pencapaian target Milineum

  Development Goals (MDGs) tahun 2015.

  c. Penanggulangan kemiskinan berbasis pengembangan UMKM, yang diimplementasikan dalam bentuk perluasan kesempatan berusaha dan menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan melalui fasilitasi permodalan dengan mengakses dana Kredit usaha rakyat (KUR), pelatihan keterampilan, dan fasilitasi pemasaran.

  d. Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan, pemerintah pusat melalui BAPPENAS telah merancang yaitu Program Quick Wins yang termuat dalam Masterplan Percepatan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) untuk mengintegrasikan program yang telah dilaksanakan yang diarahkan pada pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi lokal, pengelolaan sumberdaya alam, peningkatan sumber daya manusia, dan pengembangan sosial. Program Quick Wins di kabupaten Garut dilakukan melalui dua (2) program yaitu Program Percepatan dan Penguatan untuk tahap pertama sebagai pilot project diarahkan di 5 (lima) Kecamatan yaitu Pakenjeng, Banjarwangi, Singajaya, Cigedug dan Malangbong yang dianggap memiliki jumlah masyarakat miskin yang relatif tinggi.

  Program Keluarga Harapan (PKH) adalah suatu program yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RSTM), jika mereka memenuhi persyaratan yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan kesehatan. Tujuan utama dari PKH adalah untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama pada kelompok masyarakat miskin.

  Jumlah RTSM dari tahun ke tahun terus menurun seiring dengan meningkatnya perekonomian masyarakat yang dapat dilihat dari meningkatnya indeks daya beli masyarakat. Jumlah RTSM pada tahun 2013 sebanyak 23.031 KK mengalami penurunan sebanyak 295 KK atau 1,26% dari tahun 2012 sebanyak 23.326 KK. Sedangkan jumlah anggaran yang dialokasikan justru mengalami peningkatan, dari sebesar Rp.31.091.590.000,- pada tahun 2012 meningkat sebesar Rp.928.627.500,- atau 2,99% menjadi Rp.32.020.217.500,- pada tahun 2013. Hal ini diharapkan terjadi percepatan di dalam peningkatan derajat masyarakat atau rumah tangga yang berstatus sangat miskin.

  Tabel 2. 20 Rekapitulasi Program Keluarga Harapan Tahun 2012 – 2013 Jumlah No Tahun RTSM Jumlah Bumil Balita Anak SD Anak SMP

  1. 2012 1.160 23.584 39.804 18.723 23.326 31.091.590.000 2. 2013 677 16.211 26.018 11.019 23.031 32.020.217.500 Sumber : Dinsosnakertrans Kab. Garut, Tahun 2013.

  Program Raskin bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga sasaran dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras. Lebih jauh, program raskin bertujuan untuk membantu kelompok miskindan rentan miskin mendapat cukup pangan dan nutrisi karbohidrat tanpa kendala. Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) Program Raskin dari tahun 2009-2013 terus mengalami penurunan 17,61% yaitu dari 221.179 KK menjadi 182.239 KK. Hal tersebut sejalan dengan penurunan distribusi beras raskin yaitu dari sebesar 40.416.840 kg menurun sebesar 18,84% menjadi sebesar 32.803.020 kg.

  Tabel 2. 21 Pagu Raskin Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Pagu Raskin 12 bln Tahun RTS-PM (KK) kg

  (ton)

  2009 221.179 40.416.840 40.417 2010 221.010 34.477.560 34.478 2011 221.010 39.781.800 39.782 2012 213.136 38.364.480 38.364 2013 182.239 32.803.020 32.803 Sumber : Bagian Perekonomian Setda Kab. Garut, Tahun 2013.

  Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) adalah bantuan yang diberikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu untuk dapat melakukan kegiatan belajar di sekolah. Bantuan ini memberikan peluang bagi siswa untuk mengikuti pendidikan di level yang lebih tinggi. Tujuannya adalah agar siswa dari kalangan tidak mampu dapat terus melanjutkan pendidikan di sekolah. Selain itu juga bertujuan untuk mengurangi jumlah siswa putus sekolah akibat permasalahan biaya pendidikan. Secara umum program Bantuan Siswa Miskin terus ditingkatkan dari segi anggaran maupun siswa miskin yang masuk ke dalam program BSM ini, hal ini dilakukan untuk melakukan percepatan dalam penanggulangan dan pengurangan kemiskinan.

  

Tabel 2. 22

Jumlah Sisw a dan Anggaran Bantuan Sisw a Miskin

untuk Pendidikan Menengah di Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2013

  2009 2010 2011 2012 2013 No Program Kegiatan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Sisw a Sisw a Sisw a Sisw a Sisw a ( x ribu) ( x ribu) ( x ribu) ( x ribu) ( x ribu) SMA Beasiswa Khusus Murid Miskin

1 1.156 901.680 923 719.940 1.659 1.294.020 2.502 1.951.560 5.514 2.757.000

(BKMM) SMA (APBN) Beasiswa Khusus Siswa Miskin

  2 0 0 333 259.740 260 202.800 210 168.000 5.004 (BKSM) SMA (APBN-P) Beasiswa Khusus Siswa Miskin 3 (BKMM) dan Efesiensi SMA 0 0 2.660 2.074.800 815 635.700 /Pusat Bantuan Operasional Manajemen

  

4 Mutu (BOMM) SMA APBN / R- 11.006 990.540 6.102 549.180 16.002 1.440.180 25.769 3.092.280 27.015 13.507.500

BOS Bantuan Operasional Manajemen 5 0 0 6.095 548.550 Mutu (BOMM) SMA APBN-P SMK Beasiswa Siswa Miskin (BSM)

1 1.840 1.435.200 1.618 1.262.040 1.062 828.360 1.825 1.423.500 3.883 3.028.740

SMK Beasiswa Khusus Siswa Miskin

  2 0 0 231 195 156.000 2.370 (BKSM) SMK (APBN-P) Beasiswa Prestasi dan Tidak 3 0 0 361 281.580 6.253 Mampu SMK Bantuan Operasional Manajemen

  

4 Mutu (BOMM) SMK APBN-P / R- 0 1.568 188.160 30.312 3.637.440 32.686 1.961.160

BOS Bantuan Operasional Manajemen 5 17.422 2.090.640 21.560 1.940.400 24.060 1.443.600 Mutu (BOMM) SMK APBN SMP

  

1 BSM SMP 5.629 1.547.975 2.530 695.750 6.466 3.556.300 6.204 1.706.100 31.898 17.543.900

  2 Beasiswa Prestasi SMP 212 106.000 185 144.300.000 92 66.240 Sumber : Dinas Pendidikan Kab. Garut, Tahun 2013.

  Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat ) adalah sebuah program jaminan kesehatan untuk warga Indonesia yang memberikan perlindungan sosial dibidang kesehatan untuk menjamin masyarakat miskin dan tidak mampu yang iurannya dibayar oleh Pemerintah agar kebutuhan dasar kesehatannya yang layak dapat terpenuhi. Program ini dijalankan oleh Departemen Kesehatan sejak Tahun 2008. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) diselenggarakan berdasarkan konsep asuransi sosial. Program ini diselenggarakan secara nasional dengan tujuan untuk mewujudkan portabilitas pelayanan sehingga pelayanan rujukan tertinggi yang disediakan Jamkesmas dapat diakses oleh seluruh peserta dari berbagai wilayah, serta agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin. Sedangkan Jamkesda adalah program jaminan bantuan pembayaran biaya pelayanan kesehatan yang diberikan Pemerintah Daerah kepada masyarakat. Sasaran Program Jamkesda adalah seluruh masyarakat di daerah yang belum memiliki jaminan kesehatan berupa Jamkesmas, ASKES dan asuransi kesehatan lainnya.

  

Tabel 2. 23

Data Jumlah Pasien Jamkesmas Dan Jamkesda

RSUD dr. Slamet Garut Tahun 2009- 2013

  Tahun No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jamkesda Kabupaten 4.068 2.239 3.501 23.464 3.081

  2 Jamkesda Gubernur 15.282 5.039 3.740

  3 Jamkesmas 56.827 56.827 66.068 90.125 77.825 Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Garut, Tahun 2013.

  Catatan : Data Tahun 2013 per Nopember 2013.

  PNPM Mandiri adalah program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Tujuan umum dari program ini adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri. Komponen Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) adalah dana stimulan keswadayaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat untuk membiayai sebagian kegiatan yang direncanakan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan terutama masyarakat miskin. Alokasi Anggaran BLM terdiri dari untuk Program PNPM Mandiri Pedesaan (PNPM-MPd), Program PNPM Mandiri Perkotaan (PNPM-Pk), PNPM Daerah Tertinggal, PNPM Infrastruktrur Pedesaan, PNPM Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah. Selama periode tahun 2007-2013, jumlah anggaran BLM yang bersumber dari APBN dan APBD untuk PNPM-Pd secara keseluruhan sebesar 403,6 milyar rupiah, dengan total anggaran swadaya masyarakat dari tahun 2007-2013 sebesar 14,86 milyar rupiah.

  

Tabel 2. 24

Alokasi Anggaran Bantuan Langsung Masyarakat Program PNPM- MPd

Kabupaten Garut Tahun 2007- 2013

  BLM SWADAYA Tahun LOKASI APBN APBD TOTAL ( Rp.x ribu) ( Rp.x ribu) ( Rp.x ribu) ( Rp.x ribu) )

  2007 8.400.000 2.100.000 10.500.000 1.010.000

  9 Kecamatan   2008 14.000.000 3.500.000 17.500.000 1.318.000 15 Kecamatan

  2009 73.600.000 18.400.000 92.000.000 3.689.000 33 Kecamatan 2010 75.400.000 16.600.000 92.000.000 3.607.000 36 Kecamatan 2011 73.600.000 14.060.000 70.300.000 1.935.000 36 Kecamatan 2012 55.242.500 2.907.500 58.150.000 1.473.000 36 Kecamatan 2013 60.150.000 3.007.500 63.150.000 1.825.000 36 Kecamatan

  Total 435.992.500 60.575.000 403.600.000 14.857.000 Sumber : Distarkim Kab. Garut, Tahun 2013.

  Kabupaten Garut memiliki anggaran BLM yang bersumber dari APBN dan APBD untuk PNPM-Pk secara keseluruhan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2013 sebesar 46,62 milyar rupiah.

  8.760.000 462.000 11.200.000

  Berdasarkan Strategi Nasional (STRANAS) Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT), definisi daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain. Dalam skala nasional, penetapan daerah tertinggal mengacu pada 6 (enam) kriteria dasar, yaitu: perekonomian masyarakat, sumberdaya manusia, prasarana (infrastruktur), kemampuan

  Total 5.000.000 5.000.000 Sumber : Distarkim Kab. Garut, Tahun 2013.

  3 Kecamatan 2010 - - - - 2011 - - - - 2012 - - - - 2013 - - - -

  2009 5.000.000 5.000.000

  Tahun BLM Lokasi APBN ( Rp.x ribu) APBN ( Rp.x ribu) Total ( Rp.x ribu)

  

Tabel 2. 26

Alokasi Anggaran Bantuan Langsung Masyarakat Program PNPM Daerah

Tertinggal dan Khusus Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  Kabupaten Garut memiliki anggaran BLM yang bersumber dari APBN dan APBD untuk PNPM Daerah Tertinggal hanya terdapat di tahun 2009 saja, yaitu 5 milyar rupiah. Sedangkan untuk PNPM Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah belum pernah dilaksanakan di Kabupaten Garut sejak tahun 2009 sampai dengan sekarang.

    Sumber : Distarkim Kab. Garut, Tahun 2013.

  Total  

39.455.000 5.040.125 46.625.000

  3  Kecamatan  

  10.640.000 408.125 11.200.000

   

  2013

  6  Kecamatan  

   

  

Tabel 2. 25

Alokasi Anggaran Bantuan Langsung Masyarakat Program PNPM- Pk

Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

   

  Tahun   BLM LOKASI   APBN     (Rp.x  ribu) APBD (Rp.x  ribu) TOTAL   (Rp.x  ribu))

  2009

   

  10.440.000 2.610.000 13.050.000

  6  Kecamatan  

  2010

  4.490.000 860.000 5.350.000

  2012

  3  Kecamatan  

  2011

   

  5.125.000  700.000 

  5.825.000

  6  Kecamatan  

5. Aspek Ketertinggalan Daerah ( Status Daerah Tertinggal)

  keuangan lokal (celah fiskal), aksesibilitas, dan karakteristik daerah. Kriteria-kriteria tersebut digunakan sebagai kerangka acuan untuk menentukan suatu daerah termasuk kategori daerah tertinggal atau tidak.

  Pada tahun 2005, melalui Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia Nomor : 001/KEP/M-PDT/I/2005, Kementerian PDT menetapkan Kabupaten Garut sebagai salah satu daerah tertinggal di antara 199 daerah tertinggal di seluruh Indonesia.

  Pada tahun 2007 telah dilakukan identifikasi desa tertinggal di wilayah Kabupaten Garut sebagai upaya dalam menentukan lokasi pelaksanaan berbagai program pengentasan daerah tertinggal, dengan hasil identifikasi sebanyak 207 desa atau 49% dari 424 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Garut merupakan desa tertinggal, dengan komposisi 94 desa di wilayah Garut selatan, 52 desa di wilayah Garut tengah, dan 61 desa wilayah Garut utara.

  Berdasarkan hasil identifikasi ulang pada tahun 2011, desa tertinggal di Kabupaten Garut berkurang menjadi 137 desa atau 32% dari total 431 desa/kelurahan, dengan sebaran desa tertinggal meliputi sebanyak 24 desa di wilayah Garut Utara, 37 desa di wilayah Garut Tengah dan 76 desa di wilayah Garut Selatan. Kondisi tersebut menunjukkan keberhasilan pelaksanaan berbagai program pengentasan desa tertinggal di Kabupaten Garut yang berjalan secara efektif dan tepat sasaran.

  

Tabel 2. 27

Proporsi dan Sebaran Desa Tertinggal di Kabupaten Garut

2007 2011

  

Wilayah Desa Desa Proporsi Desa Desa Desa Proporsi Desa

Maju Tertinggal Tertinggal Maju Tertinggal Tertinggal

  Garut Utara

  76 61 45% 109 24 18% Garut Tengah 116 52 31% 136 37 21% Garut Selatan

  25 94 79%

  49 76 61% Kab Garut 217 207 49% 294 137 32% Sumber :Bappeda Kabupaten Garut, Tahun 2012.

  Faktor ketertinggalan utama Kabupaten Garut terdiri dari indikator ekonomi, indikator sumberdaya manusia, indikator infrastruktur, dan indikator karakteristik daerah sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

  Tabel 2. 28 Faktor Ketertinggalan Utama Kabupaten Garut Rata- rata I ndikator Sub I ndikator Satuan Garut Kabupaten di I ndonesia

  1 Pertumbuhan ekonomi % 5,34 5,75 Ekonomi

  1 Persentase pengangguran % 7,75 5,25 SDM

  Rata- rata I ndikator Sub I ndikator Satuan Garut Kabupaten di I ndonesia

  2 Angka Harapan Hidup Tahun 65,60 68,05

  3 Angka Partisipasi Sekolah (13- % 79,68 85,41

  15 Tahun)

  1 Persentase desa dengan Pasar % 12,76 19,17 Permanen/Semi Permanen

  2 Jumlah Sarana dan Prasana Rasio 0,16 0,48 Kesehatan per 1000 Penduduk Infrastruktur

  3 Jumlah SD dan SMP per 1000 Rasio 0,91 1,23 Penduduk

  4 Jumlah Dokter per 1000 Rasio 0,11 0,20 penduduk

  1 Persentase Desa Tanah % 39,21 9,50 Longsor Karakteristik

  2 Persentase Desa Gempa Bumi % 78,65 5,48 Daerah

  3 Persentase Desa Konflik % 3,54 3,44 Sumber : Hasil Analisis Data KPDT 2012

  Berkenaan dengan pencapaian target prioritas RPJMN 2010-2014, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal telah menetapkan target pencapaian indikator ekonomi pada tahun 2014 untuk kabupaten tertinggal meliputi IPM, LPE dan Penduduk Miskin. Dari ketiga target tersebut, untuk indikator IPM, pencapaian Kabupaten Garut pada tahun 2012 telah melebihi target KPDT pada tahun 2014. Demikian halnya untuk indikator persentase penduduk miskin yang sudah dapat melebihi target yang ditetapkan tahun 2014. Sedangkan untuk indikator LPE, masih jauh dari target yang ditetapkan.

  Tabel 2. 29 Capaian I ndikator Utama Kab. Garut dibanding Target KPDT Estimasi Capaian 2012 Target Capaian No I ndikator KPDT Jaw a 2014 Nasional Garut 2014 Barat ( KPDT) 68,46

  1 IPM 72,2 73,29 73,19 72,12 6,32

2 LPE (%) 7,1 6,23 6,21 4,61

  3 Penduduk miskin (%) 14,2 16,64 11,66 9,89 12,70 Sumber : Bappeda Kab. Garut

6. Angka Kriminalitas Yang Tertangani

  Angka kriminalitas dapat menggambarkan tingkat keamanan masyarakat, semakin rendah angka kriminalitas, maka semakin tinggi tingkat keamanan masyarakat. Pada tahun 2013 jumlah tindak kriminal di Kabupaten Garut sebanyak 130 kasus. Apabila dibandingkan dengan kondisi jumlah penduduk, dari data ini dapat diketahui bahwa angka kriminal di Kabupaten Garut pada tahun 2013 mencapai 0,51 ini artinya dari 10.000 jumlah penduduk di Kabupaten Garut pada tahun 2012 terdapat 1 tindak kriminal.

  Tabel 2. 30

Perkembangan Angka Kriminalitas di Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2013

  No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  Angka Melek Huruf (AMH) sebagai salah satu variabel dari indeks pendidikan, dihitung dari persentase penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis dengan huruf latin dan atau huruf lainnya. AMH pada tahun 2012 mencapai 98,98% atau meningkat 0,05% dari tahun 2009 sebesar 98,93%. Pencapaian tersebut telah berada diataspencapaian AMH Provinsi Jawa Barat sebesar 96,97% maupun AMH Nasional sebesar 93,25%, yang memberikan gambaran bahwa sampai dengan Tahun 2012 secara umum telah terjadi peningkatan terhadap kemampuan baca masyarakat Kabupaten Garut. Pada tahun 2013, AMH Kabupaten Garut diproyeksikan mencapai 99,28%.

  Pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat terkait erat dengan upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai salah satu faktor penting untuk mencapai kemakmuran bangsa. Gambaran umum kondisi daerah pada aspek kesejahteraan sosial masyarakat, dapat diperlihatkan antara lain dari pencapaian indikator angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi murni dan ketenagakerjaan.

  2,18 2,47 1,49 1,51 0,51 Sumber : Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Garut, Tahun 2014.

  10 Angka Kriminalitas (8)/(9) per 10.000 jumlah penduduk

  9 Jumlah Penduduk 2.386.388 2.424.888 2.464.010 2.503.765 2.544.160

  8 Total Jumlah Tindak Kriminal Selama 1 Tahun 520 600 368 379 130

  7 Jumlah kasus Pemalsuan uang - - - - -

  30 21 -

  6 Jumlah kasus Penipuan - -

  5 Jumlah kasus Pencurian 308 438 298 291 130

  2

  33

  23

  4 Jumlah kasus Penganiayaan 308 438

  3

  1

  7

  33

  32

  3 Jumlah Kejahatan Seksual

  4

  2

  5 2 -

  2 Jumlah kasus Pembunuhan

  1 Jumlah kasus Narkoba 43 38 47 30 24

2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial

1. Pendidikan

a. Angka Melek Huruf

  Gambar 2. 22 Perbandingan AMH Kab.Garut, Jaw a Barat dan Nasional Tahun 2008- 2012

  16 Banjarwangi 99,06

  12 Peundeuy 98,21

  33 Banyuresmi 97,79

  13 Singajaya 97,02

  34 Leles 97,58

  14 Cihurip 98,33

  35 Leuwigoong 98,53

  15 Cikajang 98,39

  36 Cibatu 99,01

  37 Kersamanah 99,54

  11 Cisompet 97,72

  17 Cilawu 97,64

  38 Cibiuk 98,56

  18 Bayongbong 96,42

  39 Kadungora 98,30

  19 Cigedug 97,29

  40 Blubur Limbangan 98,22

  20 Cisurupan 96,81

  41 Selaawi 98,56

  21 Sukaresmi 98,51

  32 Karangtengah 96,09

  31 Sukawening 98,25

  Berdasarkan data Pusdalisbang Provinsi Jawa Barat, pencapaian Angka Melek Huruf (AMH) untuk setiap kecamatan di Kabupaten Garut pada tahun 2011 dapat terlihat dalam tabel berikut ini.

  25 Tarogong Kaler 97,69

  Tabel 2. 31 Angka Melek Huruf Kabupaten Garut Menurut Kecamatan Tahun 2011 No Kecamatan AMH No Kecamatan AMH

  1 Cisewu 97,75

  22 Samarang 96,31

  2 Caringin 99,18

  23 Pasirwangi 97,85

  3 Talegong 95,50

  24 Tarogong Kidul 98,66

  4 Bungbulang 99,18

  5 Mekarmukti 97,45

  10 Cibalong 99,09

  26 Garut Kota 98,76

  6 Pamulihan 95,91

  27 Karangpawitan 98,16

  7 Pakenjeng 97,42

  28 Wanaraja 97,62

  8 Cikelet 98,23

  29 Sucinaraja 97,14

  9 Pameungpeuk 98,57

  30 Pangatikan 98,31

  42 Malangbong 99,02 Sumber : Pusdalisbang Provinsi Jawa Barat.

b. Angka Rata- rata Lama Sekolah

  Angka rata-rata lama sekolah merupakan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk berusia 15 tahun keatas dalam menjalani pendidikan formal. Pencapaian angka rata-rata lama sekolah selama tahun 2009-2012 mengalami peningkatan 0,08 tahun atau 1,10% dari sebesar 7,29 tahun pada tahun 2009 menjadi 7,37 tahun pada tahun 2012, namun masihdibawah pencapaian Jawa Barat sebesar 8,15 tahun dan Nasional sebesar 8,1 tahun. Kondisi pencapaian rata-rata lama sekolah tersebut, secara makro menunjukkan bahwa rata-rata penduduk dewasa Kabupaten Garut baru berpendidikan selevel dengan kelas satu SMP. Program dan kegiatan di bidang pendidikan yang diarahkan untuk meningkatkan pendidikan masyarakat hasilnya belum terasa signifikan yang kemungkinan disebabkan karena program tersebut belum seutuhnya menyentuh masyarakat terutama penduduk usia 20 tahun ke atas yang masih masuk dalam penghitungan RLS secara makro.

  Gambar 2. 23 Perbandingan RLS Kab.Garut, Jaw a Barat dan Nasional Tahun 2008- 2012

  Berdasarkan data Pusdalisbang Provinsi Jawa Barat, pencapaian angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) untuk setiap kecamatan di Kabupaten Garut pada tahun 2011 dapat terlihat dalam tabel berikut ini.

  Tabel 2. 32 Rata- Rata Lama Sekolah Kabupaten Garut Menurut Kecamatan Tahun 2011 No Kecamatan RLS No Kecamatan RLS

  1 Cisewu 6,64

  22 Samarang 6,67

  2 Caringin 5,91

  23 Pasirwangi 5,26

  3 Talegong 6,54

  24 Tarogong Kidul 9,56

  4

  25 Bungbulang 7,58 Tarogong Kaler 8,75

  5 Mekarmukti 5,88

  26 Garut Kota 9,31

  6 Pamulihan 6,54

  27 Karangpawitan 8,78

  7

  28 Pakenjeng 5,33 Wanaraja 8,57

  No Kecamatan RLS No Kecamatan RLS

  16 Banjarwangi 5,22

  Perbandingan capaian APM Kabupaten Garut dengan Jawa Barat dan Nasional pada Tahun 2012 menunjukkan untuk jenjang SD/MI sudah

  Gambar 2. 24 APM Menurut Jenjang Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2012

  Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan proporsi anak sekolah pada satu kelompok umur tertentu yang bersekolah pada tingkat yang sesuai dengan kelompok umurnya. APM untuk tingkat SD/MI mengalami peningkatan 12,6% dari sebesar 99,8% pada tahun 2009 menjadi 112,4% pada tahun 2012. APM untuk tingkat SMP/MTs mengalami peningkatan 3,78% dari sebesar 88,49% pada tahun 2009 menjadi sebesar 92,77% pada tahun 2012. Namun demikian, pencapaian tersebut masih dibawah target APM Wajar Dikdas pada RPJMD sebesar 100%. Namun APM untuk tingkat SMA/SMK/MA mengalami penurunan 11,91% dari sebesar 51,2% menjadi 39,29% pada tahun 2012.

  42 Malangbong 6,67 Sumber : Pusdalisbang Provinsi Jawa Barat.

  21 Sukaresmi 5,40

  41 Selaawi 6,24

  20 Cisurupan 6,26

  40 Blubur Limbangan 7,84

  19 Cigedug 5,35

  39 Kadungora 8,51

  18 Bayongbong 5,99

  38 Cibiuk 6,95

  17 Cilawu 6,65

  37 Kersamanah 8,23

  36 Cibatu 8,78

  8 Cikelet 6,02

  15 Cikajang 6,32

  35 Leuwigoong 6,61

  14 Cihurip 6,33

  34 Leles 7,26

  13 Singajaya 5,83

  33 Banyuresmi 8,32

  12 Peundeuy 6,17

  32 Karangtengah 6,44

  11 Cisompet 5,82

  31 Sukawening 8,03

  10 Cibalong 5,89

  30 Pangatikan 7,53

  9 Pameungpeuk 6,87

  29 Sucinaraja 7,38

c. Angka Partisipasi Murni ( APM )

  berada di atas Jawa Barat sebesar 18,95% dan diatas Nasional sebesar 19,91%. APM untuk jenjang SMP/MTs sudah berada di atas Jawa Barat sebesar 18,99% dan diatas Nasional sebesar 21,43%. Sedangkan untuk APM jenjang SMA/SMK/MA masih berada dibawah Jawa Barat sebesar 11,32% dan dibawah Nasional sebesar 12,17%.

  Gambar 2. 25 Perbandingan APM Kab. Garut Tahun 2009- 2012

d. Angka Partisipasi Kasar ( APK)

  Angka Partisipasi Kasar (APK) menunjukkan proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tertentu. APK untuk tingkat SD/MI mengalami penurunan 7% dari sebesar 121,4% pada tahun 2009 menjadi sebesar 114,40% pada tahun 2012. APK untuk tingkat SMP/MTsmengalami peningkatan 7,6% dari sebesar 90,2% pada tahun 2009 menjadi 97,80% pada tahun 2012. Namun demikian, pencapaian tersebut masih dibawah target APK Wajar Dikdas pada RPJMD sebesar 120%. Sementara itu, APK untuk tingkat SMA/SMK/MA mengalami penurunan 8,69% dari sebesar 60,29% pada tahun 2009 menjadi 51,56% pada tahun 2012.

  Gambar 2. 26 APK Menurut Jenjang Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2012

  Perbandingan capaian APK Kabupaten Garut dengan Jawa Barat dan Nasional pada Tahun 2012 menunjukkan untuk jenjang SD/MI sudah berada di atas Jawa Barat sebesar 10,97% dan diatas Nasional sebesar 10,10%. APK untuk jenjang SMP/MTs sudah berada di atas Jawa Barat sebesar 10,66% dan diatas Nasional sebesar 8,42%. Sedangkan untuk APK jenjang SMA/SMK/MA masih berada dibawah Jawa Barat sebesar 12,51% dan dibawah Nasional sebesar 16,62%.

  Gambar 2. 27 Perbandingan APK Kab. Garut, Jaw a Barat dan Nasional Tahun 2009- 2012

e. Tingkat Pendidikan Penduduk

  Gambaran kualitas SDM penduduk Kabupaten Garut juga dapat dilihat dari persentase penduduk menurut jenis pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Berdasarkan data BPS Kabupaten Garut, sampai dengan Tahun 2012 prosentase terbesar penduduk berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, adalah memiliki izasah/STTB SD/MI/sederajat sebanyak 41,74% atau menurun 1,59% dari Tahun 2011 sebanyak 43,33%. Selama Tahun 2009- 2012, yang paling menonjol adalah adanya peningkatan penduduk yang memiliki izasah/STTB SLTP/MTs/sederajat, SMU/MA/sederajat serta izasah Perguruan Tinggi yang cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan tingkat pendidikan terakhir ini menunjukkan secara tidak langsung terjadinya peningkatan derajat pendidikan penduduk di Kabupaten Garut.

  Tabel 2. 33 Prosentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut * ) I zasah/ STTB yang dimiliki Tahun 2009- 2012 I jasah/ STTB Yang 2009 2010 2011 2012* dimiliki Tdk punya ijazah SD 19,17 13,89 17,98 14,31 SD/MI/sederajat 40,62 52,73 43,33 41,74 SLTP/MTs/sederajat 21,28 18,12 21,25 24,38 SMU/MA/sederajat 14,78 12,46 13,77 15,08 Perguruan Tinggi 4,15 2,81 3,66 4,49

Sumber : Indikator Makro Kabupaten Garut, Tahun 2010 - 2013 Perbandingan tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Garut dengan Nasional pada Tahun 2012 menunjukkan untuk Kabupaten Garut mayoritas tingkat pendidikan penduduknya masih berada pada tingkatan SD sederajat, sedangkan secara Nasional tingkat pendidikan penduduk secara mayoritas sudah tamat diatas SMA sederajat. Jumlah penduduk yang belum memilki ijazah secara Nasional mencapai 19,78% lebih tinggi 5,47% dibandingkan Kabupaten Garut sebesar 14,31%.

  

Gambar 2. 28 Perbandingan Tingkat Pendidikan Penduduk Kab. Garut

dan Nasional Tahun 2009- 2012

2. Kesehatan

a. Angka kelangsungan hidup bayi

  Angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) merupakan probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. Angka kelangsungan hidup bayi terkait erat dengan angka kematian bayi (AKB) yang dihitung dengan jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dalam kurun waktu setahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama sebagai gambaran keadaan sosial ekonomi masyarakat pada waktu angka kematian tersebut dihitung. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi, dan secara garis besar dari sisi penyebabnya kematian bayi ada dua macam yaitu,kematian endogen (kematian neo-natal) yaitu kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Sementara itu kematian bayi

  post neo-natal

  eksogen atau kematian , adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. Selama tahun 2009-2013, Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) meningkat dari dari 948 orang per 1.000 kelahiran hidup menjadi 951 orang per 1.000 kelahiran hidup. Apabila ditinjau dari jumlah kasus bayi meninggal, selama tahun 2009-2013 telah mengalami penurunan 85 kasus kematian bayi atau 24,85% dari sebanyak 342 kasus pada tahun 2009 menjadi 257 kasus pada tahun 2013. Sedangkan angka kematian bayi di Kabupaten Garut dari tahun 2009-2013 terus mengalami penurunan, namun apabila dibandingkan dengan data terakhir yang dipublikasikan oleh Pusdalisbang Provinsi Jawa Barat tahun 2012 yaitu 30 kasus kematian per 1.000 kelahiran hidup, maka angka Kematian Bayi Kabupaten Garut terpaut lebih tinggi 19,95 kasus kematian per 1.000 kelahiran hidup.

  Tabel 2. 34 Angka Kelangsungan Hidup Bayi ( AKHB) Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 AKB ( per 1.000 AKHB( per 1.000 Jumlah Kasus Tahun kelahiran hidup) kelahiran hidup) Bayi Meninggal

  2009 51,65 948 342 2010 50,87 949 336 2011 50,62 949 397 2012 49,95 950 298

  2013** 49,29 951 190 Sumber : BPS Kabupaten Garut dan Dinas Kesehatan Kab. Garut.

b. Angka Usia harapan hidup

  Angka usia harapan hidup merupakan perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Angka harapan hidup pada suatu umur tertentu adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur tertentu, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Angka harapan hidup saat lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu yang dapat menjadi alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Garut pada tahun 2009 mencapai 65,20 tahun, artinya bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 2010 diperkirakan akan dapat hidup sampai 65 tahun. Pada tahun 2013, AHH diproyeksikan mencapai 66,86 tahun, sehingga bayi-bayi yang dilahirkan menjelang Tahun 2014 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang menjadi sekitar 66 tahun lebih. Kondisi peningkatan angka harapan hidup tersebut dapat menjadi suatu gambaran adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat kabupaten Garut selama tahun 2009-2013.

  Gambar 2. 29 Perkembangan Angka Harapan Hidup ( AHH) Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013* * Tabel 2. 35

Angka Harapan Hidup Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2013

KEADAAN PADA TAHUN NO.

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013* *

  

1 Angka Harapan Hidup (tahun) 65,20 65,60 66,00 66,39 66,86

Angka Kematian Ibu (Per 100.000

2 219,64 210,86 202,07 193,29 184,50

kasus Kelahiran)

  Angka Kematian Bayi (Per 1.000 49,29 3 51,65 50,87 50,62 49,95

  Kelahiran Hidup) Jumlah Kasus Ibu Meninggal akibat 4 55 34

  45

  28

  37 melahirkan

  5 Jumlah Kasus Bayi Meninggal 342 336 397 298 190

  Sumber : BPS Kabupaten Garut dan Dinas Kesehatan Kab. Garut. **) Angka Proyeksi Kasus Akibat penyakit menular dan tidak menular

  Sampai tahun 2013 Kabupaten Garut masih mendapat ancaman multi dan

  

Triple Burden Desease

  berbagai penyakit ( ) yang masih menyebabkan kesakitan, kematian dan kecacatan yang muncul kembali, hal tersebut mengingat beberapa penyakit yang erat kaitannya dengan kondisi geografis dan berdampak pada status endemisitas untuk penyakit tertentu.

  Tabel 2. 36 Kasus Penyakit Menular dan Tidak Menular di Kabupaten Garut Tahun 2009 s/ d 2013 KEADAAN PADA TAHUN NO.

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013* * Emerging Desease :

  1. Demam Berdarah Dengue 847 1486 316 120 341

  2. Kusta

  10

  29

  21

  14

  34

  3. Rabies

  2

  4. Filariasis

  20

  4

  24 Infeksi Saluran Pernapasan 5. 10.788 10.553 24.174 24.174 11.804 Akut

KEADAAN PADA TAHUN NO.

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013* *

  6. Diare Pada Balita 10.788 10.553 14.442 11.733 102.246 Re- Emerging Desease :

  1. Malaria 115 101 187 295 209

  2. Tuberkulosis (TB) 1.659 1.558 1.724 1.800 1.696 New - Emerging Desease :

  1. HIV-AIDS

  62

  74 89 182 167 Penyakit Degeneratif ( Tidak Menular)

  1. Penyakit Cardio Vasculer 87.028 71.283 72.662 111.601 149.653 Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Garut Tahun 2014

  Bila dilihat dari tabel di atas maka sangat jelas ancaman peningkatan kasus dan penyebaran berbagai macam penyakit menular dan tidak menular menjadi ancaman sangat serius yang membutuhkan penanganan efektif dan tepat serta membutuhkan suatu koordinasi/kerjasama dengan

  multistakeholder yang terintegrasi dan sinergis.

  Dalam periode 5 (lima) tahun terakhir ini, kasus penyakit yang termasuk

  emerging desease

  , Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang selalu ditemukan setiap tahunnya dengan variasi kasus bersifat fluktuatif. Hal tersebut berkaitan dengan pola musim penghujan pada waktu-waktu tertentu sebagai temuan kasus paling banyak, dan kondisi ini berkaitan pula dengan pola lingkungan serta kebiasaan dan perilaku hidup bersih dan sehat.

  leprae

  Selain itu, perlu diwaspadai pula dengan penyakit kusta ( ) di Tahun 2013 mengalami peningkatan 1,5 kali dibanding tahun 2012. Hasil analisis kasus dilapangan terjadi sebagai dampak dari kasus impor dari luar (luar Kab. Garut) juga sebagai pola penyebaran setempat ( indegeneous ).

  New-Emerging Desease

  Untuk kategori penyakit , penyakit malaria dalam dua tahun terakhir ini mengalami peningkatan, selain karena faktor daerah Endemis juga karena mobilitas penduduk yang bekerja di luar Pulau Jawa dan terindikasikan daerah Urban tersebut sebagai daerah endemis pula. Selain penyakit tersebut, Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit terbanyak ditemukan. Dalam 3 (tiga) tahun terakhir kasus TB mengalami peningkatan meskipun pada tahun 2013 temuannya mengalami penurunan. Namun demikian, berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa proses penyebaran TB di masyarakat masih terus berlangsung. Kategori re-Emerging Desease , penyakit Cardiovasculer (Hipertensi) terus terjadi peningkatan. Hal ini sejalan dengan pola perilaku hidup bersih dan sehat, diantaranya konsumsi makanan yang berisiko terhadap kejadian hipertensi dan beberapa kebiasaan yang merugikan kesehatan.

  Berbagai upaya untuk menanggulangi ke 3 (tiga) kelompok penyakit tersebut, melalui kegiatan pemberantasan langsung pada penyebab seperti

  Fogging

  pemusnahan vektor penyakit ( untuk kasus DBD), pencarian kasus

  Active/Pasive Case Detection

  malaria dengan kegiatan dengan melibatkan unsur masyarakat dan penanganan kasus tersangka rabies. Selain itu, penyediaan dan pengobatan langsung terhadap kasus TB yang

  International Standard Tuberculosis Care

  sesuai standar WHO yaitu (ISTC) yang diperoleh masyarakat secara gratis pada fasilitas pelayanan kesehatan. Khususnya dalam penemuan kasus baru TB, telah dilakukan dengan cara melibatkan unsur masyarakat (Kader kesehatan) untuk mendeteksi kasus tersangka TB dan berperan pula sebagai pengawas menelan obat.

  Dalam mengendalikan kasus HIV-AIDS, maka telah dilakukan upaya-upaya untuk mendeteksi dan mencegah transmisi penyebaran ke orang lain dengan cara, mobille VCT pada populasi yang beresiko, penyuluhan pada kelompok remaja dan usia sekolah, penjangkauan kasus, dan pendampingan kasus untuk memperoleh pengobatan Anti Retro Viral (ARV).

  Untuk mengendalikan penyakit kelompok degeneratif yang termasuk penyakit tidak menular, upaya yang dilakukan lebih bersifat pendeteksian dan promosi kesehatan dengan model konseling.

c. Persentase Balita Gizi Buruk

  Persentase balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi gizi buruk terhadap jumlah balita. Keadaan tubuh anak atau bayi dilihat dari berat badan menurut umur. Klasifikasi status gizi berdasarkan standar WHO (1999) mengelompokkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok balita, yaitu : a. rendah = di bawah 10 %

  b. sedang = 10-19 %

  c. tinggi = 20-29 %

  d. sangat tinggi = 30 % Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk.

  Berbagai upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah gizi di Kabupaten Garut telah menunjukkan adanya keberhasilan, dilihat dari prevalensi balita gizi buruk mengalami penurunan dari tahun 2009 sebesar 0,72% menjadi 0,53% pada tahun 2013. Sementara itu balita gizi baik mengalami kenaikan yaitu pada tahun 2009 sebesar 89,16% menjadi 94,42 % pada tahun 2013.

  

Tabel 2. 37

Persentase Balita Gizi Baik dan I bu Hamil di Kabupaten Garut

Tahun 2009 s.d. 2013

KEADAAN PADA TAHUN NO.

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Balita Gizi Lebih 2.417 2.161 2.343 2.554 3.289

  2 Jumlah Balita Gizi Baik 190.599 194.843 191.678 195.965 187.250

  3 Jumlah Balita Gizi Kurang 19.222 15.264 11.876 11.497 8.827

  4 Jumlah Balita Gizi Buruk 1.541 2.159 1.182 982 1.070

  5 Jumlah Balita 229.651 232.372 229.136 229.795 216.398

  6 Persentase

  • Gizi Lebih 1,13 1,01 1,13 1,21 1,64
  • Gizi Baik 89,16 90,87 92,56 92,88 93,42
  • Gizi Kurang 8,94 7,12 5,74 5,45 4,4
  • Gizi Buruk 0,72 1,01 0,57 0,47 0,53

  

7 Jumlah Ibu Hamil KEK 3.593 4.629 3.917 2.674 2.239

  8 Jumlah Ibu Hamil 54,497 66,76 67,6 67,41 66,23

  

9 Prosentase Ibu Hamil KEK 6,59 6,93 5,79 3,97 3,38

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Garut

  Jumlah kasus balita Kekurangan Energi Protein (KEP) yaitu balita gizi buruk dan gizi kurang dari tahun ke tahun mengalami penurunan sebesar 4,73% yaitu dari 9,66% (tahun 2009) menjadi 4,93 (Tahun 2013). Hal ini disebabkan karena selain setelah dilakukan intervensi penanggulangan gizi buruk melalui pemberian makanan tambahan pemulihan (PMT_P) selama 90 hari baik bersumber dari dana APBD Kabupaten, APBD Provinsi, BOK Puskesmas juga meningkatnya pengembangan pemberdayaan masyarakat dalam upaya penanggulangan gizi buruk melalui kegiatan Positive Deviance serta meningkatnya sistem pelacakan dan pelaporan kasus gizi buruk. Jumlah kasus KEP masih berada di bawah batas ambang toleransi (BA > 10%). Jumlah kasus ibu Hamil KEK Tahun 2013 (Januari sampai dengan Oktober 2013) sebesar 3,38% kalau dilihat dari tahun sebelumnya (Tahun 2010-2012) mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena telah dilakukan intervensi penanggulangan Bumil KEK melalui Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) selama 90 hari yang bersumber dari dana APBD Kabupaten Tahun 2013 dan bersumber dari dana BOK.

  

Tabel 2. 38

Hasil Kegiatan Program Promosi Kesehatan

Cakupan PHBS di Tatanan Rumah Tangga Berdasarkan 10 I ndikator

Tahun 2009- 2013

KEADAAN PADA TAHUN NO.

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Linakes 67,02 75,1 76,11 83,87 85,16

  2 Asi Ekslusif 48,35 43,3 49,59 53,2 57,23

KEADAAN PADA TAHUN NO.

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013

  3 Menimbang Bayi dan Balita 65,45 66,12 66,56 67,02 68,65

  4 Menggunakan Air Bersih 54,75 55,11 55,64 56,13 56,33

  5 Cuci Tangan Pakai Sabun 48,13 48,45 48,66 49,15 49,31

  6 Jamban Sehat 39,98 40,32 40,66 41,03 41,48

  7 Memberantas Jentik 47,12 47,54 48,02 48,54 49,18 Makan Buah Sayuran Setiap 8 47,68 47,89 48,12 48,52 48,67 Hari

  Melakukan Aktivitas Fisik 9 55,23 55,67 56,16 56,47 56,64 Setiap Hari Tidak Merokok di Dalam

  10 13,75 13,89 14,13 15,67 15,85 Rumah

11 Rumah Tangga Ber PHBS 32,25 32,57 33,03 34,38 34,62

  Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Garut Tahun 2014 Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa kenaikan cakupan dari tahun ke tahun sangat kecil/lambat, terlebih yang menyangkut dengan perilaku seperti pada indikator cuci tangan pakai sabun, memakan buah dan sayuran setiap hari, tidak merokok di dalam rumah sangat kecil sekali. Hal ini menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan anjuran yang disarankan masih sangat rendah. Dari target cakupan PHBS Tatanan Rumah Tangga Tahun 2013 sebesar 65%, realisasi hasil cakupan yang diperoleh baru mencapai 34,62%. Hasil ini masih jauh dari target yang telah ditetapkan, oleh karena itu sangat perlu untuk ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan dan kebijakan dari berbagai pihak dalam upaya peningkatan pencapaian cakupan PHBS. Karena dengan meningkatnya cakupan PHBS Tatanan Rumah Tangga maka dapat meningkatkan angka cakupan/derajat kesehatan bagi masyarakat di Kabupaten Garut secara umum, tentu dengan 10 indikatornya.

3. Ketenagakerjaan

  Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, karena mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Setiap upaya pembangunan, selalu diarahkan pada perluasan kesempatan kerja dan berusaha, sehingga penduduk dapat memperoleh manfaat langsung dari pembangunan. Salah satu sasaran utama pembangunan adalah terciptanya lapangan kerja baru dalam jumlah dan kualitas yang memadai untuk dapat menyerap tambahan angkatan kerja yang memasuki pasar kerja setiap tahun.

  demand for

  Dalam bidang ketenagakerjaan, indikator kesempatan kerja (

  labour ) merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan

  penyerapan tenaga kerja yang menggambarkan ketersediaan pekerjaan/ lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja. Kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian, keterampilan dan bakatnya masing-masing. Dengan demikian kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja.

  labour force

  Sementara itu, angkatan kerja ( ) didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang produktif sebagai sumber daya manusia. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja sehingga dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.

  Rasio penduduk yang bekerja merupakan perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja, dan selama periode tahun 2009-2012 mengalami peningkatan setiap tahunnya meskipun tidak terlalu signifikan dari sebesar 94,56% pada tahun 2009 menjadi sebesar 94,96% pada tahun 2012. Sementara pada tahun 2013, rasio penduduk yang bekerja diproyeksikan kembali dapat meningkat menjadi sebesar 95,10%.

  Tabel 2. 39 Angkatan Kerja dan Penduduk Bekerja Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 * * * * * No

  I NDI KATOR MAKRO 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah penduduk yang 1 bekerja Usia Kerja 15 Tahun 871.365 875.084 885.811 896.484 908.835 Keatas (orang) Angkatan Kerja Usia Kerja 15

  2 921.456 924.326 934.219 944.071 955.616 Tahun Keatas (orang) Rasio Penduduk bekerjaUsia 3 94,56% 94,67% 94,82% 94,96% 95,10% Kerja 15 Tahun Keatas (%)

4 Jumlah Pengangguran (orang) 50.091 49.242 48.408 47.587 46.781

  5 Tingkat Pengangguran (%) 5,44 5,33 5,22 5,12 5,01 Sumber : BPS Kabupaten Garut. **) Angka Proyeksi

  Tingkat pengangguran terbuka merupakan perbandingan antara banyaknya orang yang mencari pekerjaan dalam jangka waktu tertentu, baik yang sudah pernah bekerja maupun belum pernah bekerja terhadap angkatan kerja. Selama periode tahun 2009-2012, jumlah pengangguran usia kerja 15 tahun keatas mengalami penurunan sebanyak 2.504 orang atau 5% dari sebanyak 50.091 orang pada tahun 2009 menjadi sebanyak 47.587 orang pada tahun 2012, dengan tingkat pengangguran mengalami penurunan 0,32% dari sebesar 5,44% pada tahun 2009 menjadi sebesar 5,12% pada tahun 2012. Sementara pada tahun 2013, jumlah pengangguran usia kerja 15 tahun keatas diproyeksikan kembali mengalami penurunan menjadi menjadi sebanyak 46.781 orang dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,01%. Masih relatif tingginya jumlah pengangguran terbuka tersebut mengindikasikan bahwa angkatan kerja yang cukup besar di Kabupaten Garut masih belum terserap secara optimal oleh sektor-sektor produksi, sebagai akibat lapangan pekerjaan yang masih kurang dan tingkat kompetensi angkatan kerja yang masih rendah. Oleh karenanya, upaya peningkatan kualitas SDM bagi penduduk menjadi mutlak terus digiatkan, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Karena investasi pada

  human capital

  “ ” ini diharapkan dapat meningkatkan kondisi perekonomian di Kabupaten Garut. Peningkatan kompetensi, produktivitas dan daya saing tenaga kerja terus dilakukan sebagai upaya penanggulangan pengangguran di Kabupaten Garut. Berbagai upaya yang telah dilakukan diantaranya pemberian pelatihan terhadap pencari kerja untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Perluasan kesempatan kerja masih tetap menjadi perhatian, diantaranya melalui kegiatan pemberian kerja sementara di desa dan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

  Dilihat dari lapangan kerja, sektor pertanian merupakan sektor yang menampung paling banyak menampung tenaga kerja tiap tahunnya walaupun mengalami penurunan. Pada tahun 2012, sektor pertanian menampung sebanyak 38,18%, kemudian sektor perdagangan sebanyak 21,78%, sektor jasa sebanyak 16,45%, dan sektor industri pengolahan sebanyak 9,80%. Untuk mengetahui keadaan penduduk Kabupaten Garut Tahun 2009-2012 yang bekerja menurut lapangan usaha dapat dilihat pada tabel berikut.

  Tabel 2. 40 Persentase Penduduk Bekerja di Kabupaten Garut Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009- 2012 No I ndikator 2009 2010 2011 2012 Pertanian, kehutanan, perburuan 1 39,37 38,26 40,50 38,18 dan perikanan

  2 Pertambangan dan penggalian, 0,72 1,34 0,55 0,47

  3 Industri pengolahan 10,75 11,78 8,82 9,80

  4 Listrik, gas dan air 0,33 0,07 0,08 0,11

  5 Bangunan 5,47 7,05 6,68 6,44 Perdagangan besar, eceran, rumah 6 22,90 22,29 21,86 21,78 makan, dan hotel

  Angkutan, pergudangan dan 7 6,41 8,07 5,56 6,24 komunikasi Keuangan, asuransi, usaha

  8 persewaan bangunan, tanah, dan 0,60 0,91 0,00 0,52 jasa perusahaan

  9 Jasa kemasyarakatan 13,44 10,22 15,97 16,45 Sumber : BPS RI, Survei Angkatan Kerja Nasional.

  Dilihat dari tingkat pendidikan penduduk bekerja, selama periode tahun 2009-2012 paling banyak berpendidikan setingkat SD mencapai 64,67% pada tahun 2012 atau relatif tidak mengalami perubahan yang berarti dari kondisi tahun 2009 yang mencapai sebesar 64,14%, kemudian disusul dengan tingkat pendidikan setingkat SMP yang mencapai sebesar 16,38% pada tahun 2012. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan dominasi penduduk bekerja pada sektor pertanian dan sebagian besar berada di daerah perdesaan mencapai 56,82% pada tahun 2012, sehingga kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Garut, khususnya bidang ekonomi, perlu terus diarahkan pada program-program yang dapat meningkatkan kinerja sektor pertanian secara makro diantaranya melalui peningkatan kualitas SDM penduduk bekerja khususnya yang bekerja pada sektor pertanian, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dari pengelolaan sektor tersebut.

  Tabel 2. 41 Penduduk Bekerja berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2012 Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 2012 SD 64,14 65,83 69,66 64,67 ≤

  SMTP 16,48 16,56 13,95 16,38 SMTA Umum 9,02 7,88 9,96 11,66 SMTA Kejuruan 4,45 3,95 1,79 3,21 Diploma I/II/III/Akademi 1,42 1,41 1,82 0,79 Universitas 4,49 4,37 2,82 3,30 Sumber : BPS RI, Survei Angkatan Kerja Nasional.

  Sementara itu, perkembangan penduduk bekerja berdasarkan Daerah di Kabupaten Garut selama Tahun 2009-2012 menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan penduduk bekerja di perkotaan dari sebesar 28,55% pada tahun 2009 menjadi 43,18% pada tahun 2012.

  Tabel 2. 42

Penduduk Bekerja berdasarkan Daerah di Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2012

  Penduduk Bekerja 2009 2010 2011 2012 Berdasarkan Daerah

Perkotaan 28,55 28,85 43,13 43,18

Pedesaan 71,45 71,15 56,87 56,82

  Sumber : BPS RI, Survei Angkatan Kerja Nasional.

2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olah Raga

  Pembangunan seni dan budaya ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan kebudayaan daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan pengaruh negatif budaya global. Di sisi lain, pengembangan seni budaya di Kabupaten Garut diselenggarakan secara terintegrasi dengan pembangunan kepariwisataan, yang sekaligus berperan sebagai salah satu sektor yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan perekonomian daerah. Integralitas pembangunan seni budaya dan pariwisata merupakan sesuatu yang lazim berlaku di Indonesia dan perkembangannya ke masa depan, berhubungan erat dengan kualitas kondisi alam dan lingkungan, politik dan keamanan, serta sarana dan prasarana. Pembangunan seni dan budaya selama periode tahun 2009-2013 sudah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah. Dalam upaya melestarikan seni dan budaya daerah sesuai dengan Peraturan Bupati Garut Nomor 472 Tahun 2011 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), sampai dengan 2013 telah mencapai hasil sebagai berikut :

  Tabel 2. 43 Pencapaian SPM Seni dan Budaya Daerah Tahun 2011- 2013 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 I ndiktor Sasaran Satuan Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Kajian Seni dan Kali 5 4 8 13 8 9 Budaya Fasilitasi Seni dan

  Kali 2 11 2 5 2 2 Budaya

Gelar Seni dan Budaya Kali 3 3 3 11 3 10

Misi Seni dan Budaya Kali

  1

  2

  1

  6

  1

  4 SDM Seni dan Budaya: Kali 1 1 2 2 2 2 Tempat Seni dan 1 - - - Kali 1 1 Budaya

  Organisasi Seni & Kali 2 2 - - - - Budaya Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Garut Tahun 2014

  Untuk itu, upaya peningkatan jati diri masyarakat berupa solidaritas sosial, kekeluargaan, penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa perlu terus ditingkatkan untuk mengantisipasi memudarnya budaya berperilaku positif seperti kerja keras, gotong royong, kebersamaan dan kemandirian dengan menggali kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu, dalam pembangunan dan pembinaan olahraga disamping optimalisasi olahraga prestasi, dilakukan juga upaya membangun budaya olahraga dalam masyarakat. Untuk meningkatkan pembinaan olahraga dimaksud masih diperlukan dukungan sarana dan prasarana olahraga, baik olahraga masyarakat maupun sarana olahraga terpadu serta pembinaan terhadap atlet potensial. Selanjutnya pembangunan sarana prasarana olahraga di Kabupaten Garut sangat variatif, dengan mengupayakan pengadaan sarana olahraga sesuai dengan hegemoni masyarakat dan sebagai sarana pembangkitan kreativitas masyarakat dalam bidang ekonomi. Namun sampai saat ini Kabupaten Garut belum memiliki sarana olahraga terpadu dengan standar internasional.

2.3 Aspek Pelayanan Umum

  Gambaran umum kondisi daerah dari aspek pelayanan umum dapat dilihat dari 2 (dua) fokus layanan, yaitu : Fokus Layanan Urusan Wajib dan Fokus Layanan Urusan Pilihan.

2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib

  Layanan urusan wajib Pemerintah Daerah terdiri dari 26 (dua puluh enam) urusan, yaitu :

1. Pendidikan

  Sektor pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun modal sumber daya manusia ( human resources ) yang berkualitas sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembangunan serta memiliki karakter dan budi pekerti yang luhur. Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan pendidikan salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :  Angka Partisipasi Sekolah (APS)

  Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan salah satu indikator yang biasa digunakan untuk mengukur partisipasi pendidikan murid. APS dihitung berdasarkan jumlah murid kelompok usia pendidikan yang masih menempuh pendidikan dasar per 1.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Angka Partisipasi Sekolah tidak hanya ditentukan oleh jumlah murid, tetapi juga ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur sekolah yang mampu mengimbangi perkembangan jumlah penduduk usia sekolah.

  Selama periode tahun 2009-2013, Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami peningkatan sebesar 8,73% dari sebesar 99,89% pada tahun 2009 menjadi sebesar 108,61% pada tahun 2013, demikian halnya untuk jenjang SMP/MTs mengalami peningkatan sebesar 20,08% dari sebesar 87,44% pada tahun 2009 menjadi sebesar 105,00% pada tahun 2013.

  Tabel 2. 44 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah ( APS) Pendidikan Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 Peningkatan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun No Usia Tahun 2009- 2009 2010 2011 2012 2013 2013 ( % )

  

1 7 – 12 99,89 106,79 113,48 113,53 108,61 8,73

2 13 - 15 87,44 93,00 92,42 96,93 105,00 20,08

3 16 - 18 56,01 41,17 40,35 42,69 44,65 -20,28 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.

   Rasio Ketersediaan Sekolah/ Penduduk Usia Sekolah Keberlangsungan dan efektivitas proses pendidikan tentunya bergantung kepada sarana yang ada. Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah berdasarkan tingkat pendidikan per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan. Selama kurun waktu 2009-2013 rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami peningkatan, hal ini menunjukkan pertumbuhan penduduk diantisipasi dengan peningkatan jumlah sekolah SD/MI. Pada tahun 2013, perbandingan ketersediaan sekolah SD/MI adalah 1:170, yang menunjukkan bahwa 1 sekolah SD/MI menampung 170 siswa, relatif tidak mengalami perubahan berarti dibandingkan kondisi pada tahun 2009 dengan perbandingan sebesar 1:181 sehingga relatif dapat mengimbangi tingkat pertumbuhan penduduk yang berkisar sebesar 1,61%.

  Rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan SMP/MTs pada tahun 2013 mencapai 1:270, yang menunjukkan bahwa 1 sekolah SMP/MTs menampung 270 siswa, relatif mengalami penurunan dibandingkan kondisi pada tahun 2009 dengan perbandingan sebesar 1:360 seiring dengan meningkatnya jumlah sekolah SMP/MTs dan menurunnya angka putus sekolah pada jenjang SD/MI.

  Sementara itu rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan SMA/SMK/MA pada tahun 2013 mencapai 1:300, yang menunjukkan bahwa 1 sekolah SMA/SMK/MA menampung 300 siswa, relatif mengalami penurunan dibandingkan kondisi pada tahun 2009 dengan perbandingan sebesar 1:181 seiring dengan meningkatnya jumlah sekolah SMA/SMK/MA dan menurunnya angka putus sekolah pada jenjang SMP/MTs.

  Tabel 2. 45 Perbandingan Jumlah Sekolah Berdasarkan Penduduk Usia Sekolah Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

No. Jenjang Pendidikan 2009 2010 2011 2012 2013

  1 SD/ MI

  1.1. Jumlah gedung sekolah 1.732 1.773 1.793 1.850 1.869 Jumlah penduduk 1.2. 313.788 336.372 337.919 339.474 317.833 kelompok usia 7-12 tahun

  1.3. Rasio 181 190 188 183 170

  2 SMP/ MTs

  2.1. Jumlah gedung sekolah 360 450 490 516 582 Jumlah penduduk 2.2. 156.952 161.483 163.849 166.250 157.394 kelompok usia 13-15 thn

  2.3. Rasio 436 359 334 322 270

  3 SMA/ SMK/ MA

  2.1. Jumlah gedung sekolah 181 216 237 274 300 Jumlah penduduk

  2.2.

  112.411 132.748 143.687 151.062 153.726 kelompok usia 16-18thn

  2.3. Rasio 621 615 606 551 512 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.

   Rasio guru/ murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru berdasarkan tingkat pendidikan per jumlah murid berdasarkan tingkat pendidikan. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar juga mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.

  Selama kurun waktu tahun 2009-2013 rasio ketersediaan guru di Kabupaten Garut untuk jenjang pendidikan SD/MI, per jumlah murid mengalami perkembangan yang berfluktuasi, pada tahun 2009 mencapai rasio 1:30 dan pada tahun 2013 menjadi 1:20 atau masih dibawah standar nasional sebesar 1:28. Hal ini terjadi karena perkembangan jumlah murid yang pesat yang belum sebanding dengan perkembangan ketersediaan guru. Demikian halnya untuk jenjang SMP/MTs dan SMA/MA/SMK, rasio ketersediaan guru terhadap murid masih berada dibawah standar nasional.

  Tabel 2. 46 Rasio Ketersediaan Guru Berdasarkan Jenjang Pendidikan Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Standar No Jenjang 2009 2010 2011 2012 2013 Nasional

  1 TK/RA 13 20 22 27 9

  10

  2 SD/MI 30 30 25 26 20

  28

  3 SMP/MTs 18 28 24 27 17

  32

  4 SMA/MA/SMK 13 15 19 25 14

  32 Sumber : Dinas Pendidikan Kab Garut

   Persentase Kondisi Ruang Kelas Baik Ketersediaan ruang kelas yang baik merupakan salah satu indikator dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Garut. Selama periode 2009-2013, ketersediaan jumlah ruang kelas baik untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami peningkatan 4,20% dari sebesar 45,94% pada tahun 2009 menjadi sebesar 50,14% pada tahun 2013. Sementara untuk jenjang pendidikan SMP/MTsdan SMA/MA/SMK selama periode 2009-2013 kondisi ruang kelas baik mengalami penurunan, masing-masing dari 69,61 turun 0,97% menjadi 68,84% untuk jenjang SMP/MTs dan dari 88,92% turun 1,28% menjadi 61,88% untuk jenjang SMA/MA/SMK.

  Tabel 2. 47 Kondisi Ruang Kelas Baik berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Jenjang Pendidikan 2009 2010 2011 2012 2013

1 SD/ MI

  1.1. Jumlah ruang kelas kondisi baik 4.446 4.582 4.365 6.207 5.142

  1.2. Jumlah seluruh ruang kelas 9.677 9.488 9.169 9.444 10.255

  1.3. Persentase 45,94 48,29 47,61 65,72 50,14

  

No. Jenjang Pendidikan 2009 2010 2011 2012 2013

2 SMP/ MTs

  

2.1. Jumlah ruang kelas kondisi baik 2.460 2.247 2.325 2.375 2.777

  

2.2. Jumlah seluruh ruang kelas 3.534 3.762 3.685 3.930 4.046

  

2.3. Persentase 69,61 59,73 63,09 60,43 68,64

3. SMA/ MA/ SMK

  

3.1 Jumlah ruang kelas kondisi baik 1.019 1.130 1.231 1.315 1.629

  

3.2 Jumlah seluruh ruang kelas 1.389 1.866 2.009 2.125 2.260

  

3.3 Persentase 73,36 60,56 61,27 61,88 72,08

Sumber : Dinas Pendidikan Kab Garut, Tahun 2013

Tabel 2. 48

Persentase Kondisi Ruang Kelas Kabupaten Garut

  

Tahun 2009- 2013

Jenjang Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 2013 Rusak Sedang Rusak Berat Rusak Sedang Rusak Berat Rusak Sedang Rusak Berat Rusak Sedang Rusak Berat Rusak Sedang Rusak Berat

  TK 12,14 21,63 65,23 12,44 21,98 7,06 21,99 6,98 0,46 0,15 SD 21,83 33,13 20,30 31,93 21,04 31,93 20,63 10,14 21,67 28,59 SMP 12,14 6,23 9,32 18,51 5,70 18,25 25,82 2,75 24,81 3,86 SMA 16,74 5,13 25,07 14,93 25,07 15,04 24,16 14,50 15,36 10,66 SMK 18,48 1,63 24,39 14,96 24,97 14,93 29,68 9,36 15,82 8,53 RA

  25,97 16,10 43,63 14,39 MI 26,83 20,88 31,41 28,25 32,37 26,39 31,53 26,03 29,84 10,90 MTs 30,97 20,88 31,75 28,25 30,38 26,39 30,72 26,03 25,15 10,42 MA 27,37 14,80 25,77 13,00 23,57 10,79 24,01 11,71 22,38 7,06

  Sumber : Dinas Pendidikan Kab. Garut.

  Perkembangan sarana dan prasarana pendidikan masih dihadapkan pada kendala masih terdapatnya ruang kelas dalam kondisi rusak, meskipun secara umum selama periode tahun 2009-2013 relatif mengalami penurunan. Pada tahun 2013 untuk jenjang SD dalam kondisi rusak berat mencapai sebesar 28,59% mengalami penurunan sebesar 4,55% dari tahun 2009 sebesar 33,13%. Kondisi ruang kelas untuk jenjang SMP dalam keadaan rusak berat pada tahun 2013sebanyak 3,86%, untuk jenjang SMA sebanyak 10,66%, dan untuk jenjang SMK sebanyak 8,53%. Sementara itu untuk pendidikan keagamaan jenjang MI pada tahun 2013 dalam kondisi rusak berat mencapai sebesar 10,90%, jenjang MTs sebesar 10,42% dan MA sebesar 7,06%. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pemeliharaan secara rutin kondisi ruang kelas agar berada dalam kondisi baik.

2. Kesehatan

  Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan kesehatan salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :  Rasio Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) Persatuan

  Penduduk

  Puskesmas merupakan salah satu sarana penunjang kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Semakin banyak jumlah ketersediannya, maka semakin memudahkan masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan. Sampai dengan Tahun 2013,jumlah Puskesmas di Kabupaten Garut mencapai sebanyak 65 buah, dengan Rasio Puskesmas terhadap jumlah penduduk sebesar 1 : 38.869. Kondisi tersebut masih di bawah target nasional yaitu sebesar 1 : 25.000, sehingga dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada, tingkat ketersediaan puskesmas di Kabupaten Garut masih kurang dan memerlukan tambahan untuk dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dasar masyarakat. Sementara itu, rasio Puskesmas terhadap jumlah kecamatan pada tahun 2013 mencapai 1 : 1,5, artinya bahwa dalam satu kecamatan terdapat lebih dari 1 unit Puskesmas.

  

Tabel 2. 49

Sarana Prasarana Kesehatan Milik Pemerintah Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2013

KEADAAN PADA TAHUN NO

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Puskesmas DTP

  13

  

14

  15

  15

  15

  2 Jumlah Puskesmas TTP

  49

  

50

  50

  50

  50 Jumlah Puskesmas 3 7 7 - 18

  23 Mampu PONED

  4 Jumlah Pustu 136 136 136 136 138

  5 Jumlah Poskesdes 44 116 123 Rasio Puskesmas DTP 1 :

6 1 : 172.672 1 : 164.267 1:165.692 1:168.432

Persatuan Penduduk 183.152

  Rasio Puskesmas TTP 7 1 : 48.591 1 : 48.348 1 : 49.280 1 : 49.707 1 : 50.529 Persatuan Penduduk Rasio Puskesmas

  8 PONED Persatuan 1 : 340.140 1 : 345.343 1 : 136.889 1 : 138.076 1 : 101.059 Penduduk Rasio Pustu Persatuan 9 1 : 17.507 1 : 17.775 1 : 18.118 1 : 18.275 1 : 18.308 Penduduk Rasio Poskesdes

  10 1 : 54.113 1 : 24.667 1 : 21.241 1 : 21.426 1 : 20.541 Persatuan Penduduk

11 Jumlah Kecamatan

  42

  42

  42

  42

  42

  12 Jumlah Desa 424 424 442 442 442 Rasio Poskesdes Per 13 1 : 0,10 1 : 0,23 1 : 0,26 1 : 0,26 1 : 0,27 Desa

  Rasio Puskesmas Per 14 1 : 1,5 1 : 1,5 1 : 1,5 1 : 1,5 1 : 1,5 Kecamatan Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Tahun 2013.

   Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk Jumlah rumah sakit di Kabupaten Garut pada tahun 2013 sebanyak 3 unit, terdiri dari rumah sakit daerah sebanyak 2 unit, dan rumah sakit TNI sebanyak 1 unit. Rasio pelayanan rumah sakit terhadap jumlah penduduk Kabupaten Garut tahun 2013 mencapai 1 : 842.161, yang berarti bahwa untuk 1 rumah sakit di Kabupaten Garut melayani 842.161 penduduk. Kondisi tersebut lebih baik dibandingkan dengan Rasio pelayanan rumah sakit terhadap jumlah penduduk tahun 2009 dengan perbandingan mencapai 1 : 1.190.491.

  

Tabel 2. 50

Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per Jumlah Penduduk

di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

KEADAAN PADA TAHUN NO.

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Rumah Sakit

  2

  2

  3

  3

  3

  2 Jumlah Klinik

  65

  96

  97

  93

  40

  3 Jumlah Klinik Bersalin

  7

  7

  7

  1

  1

  

4 Jumlah Praktek Dokter 328 328 311 344 329

  

5 Jumlah Praktek Bidan 360 360 185 387 387

Rasio Rumah Sakit Thd

6 1.190.491   1.208.702   821.337   828.461   842.161  

Penduduk

  7 Jumlah Penduduk 2.380.981 2.417.404 2.464.011 2.485.383 2.526.483 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Garut

  Jumlah klinik apabila dilihat dari kuantitas sudah cukup, namun belum tersebar di seluruh kecamatan, akan tetapi lebih terpusat di Garut Kota dan Garut Utara, sementara untuk Garut Selatan masih sedikit terutama untuk klinik bersalin yang sampai saat ini baru ada 1 buah.

  Ditinjau dari jumlah Praktek Dokter sudah cukup banyak namun tidak tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Garut, dan sampai saat ini masih ada kecamatan yang tidak memiliki dokter. Sedangkan untuk praktek bidan hampir ada pada setiap desa.

   Rasio tenaga kesehatan per satuan penduduk Jumlah Tenaga Kesehatan selama tahun 2009 - 2013 mengalami peningkatan, namun apabila dibandingkan terhadap jumlah penduduk masih kurang, dimana rasio pemenuhan tenaga Kesehatan adalah 1 : 2.500. Pada tahun 2013, jumlah tenaga dokter mencapai sebanyak 177 orang dan apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk sebanyak 2.526.483 jiwa, maka jumlah dokter yang seharusnya adalah 1.011 orang. Sehingga kekurangan tenaga dokter di Kabupaten Garut tahun 2013 sebanyak 834 orang. Kondisi yang sama juga terjadi untuk tenaga kesehatan lainnya yaitu perawat dan bidan yang masih mengalami kekurangan.

  Tabel 2. 51 Jumlah Tenaga Kesehatan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Keadaan Pada Tahun No. I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Dokter Umum

  94

  94 93 108 131

  2 Jumlah Dokter Spesialis

  22

  34

  23

  37

  46

  3 Jumlah Dokter 116 128 139 145 177

  

4 Jumlah Penduduk 2.380.981 2.417.404 2.464.011 2.485.383 2.526.483

Rasio Dokter Terhadap

5 1 : 20.572 1 : 18.944 1 : 17.727 1 : 17.267 1 : 14.374

Penduduk

  

6 Jumlah Perawat 654 663 673 736 738

  7 Jumlah Bidan PNS 312 310 309 307 334

  8 Jumlah Bidan PTT 210 204 236 232 202

  9 Jumlah Bidan 522 514 545 539 536 Rasio Bidan Terhadap 10 1 : 4.561 1 : 4.703 1 : 4.521 1 : 4.611 1 : 4.794 Penduduk

  11 Jumlah Bidan di Desa PNS

  65

  69

  71

  72

  79

  12 Jumlah Bidan di Desa PTT 183 177 174 170 163

  13 Jumlah Desa 424 424 424 442 442 Rasio Bidan Desa Terhadap 14 1 : 1,71 1 : 1,72 1 : 1,80 1 : 1,83 1 : 1,83 Jumlah Desa

  Sumber : Dinas Kesehatan KabupatenGarut .

   Rasio Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu) Per Satuan Balita Selama periode tahun 2009-2013, jumlah Posyandu di Kabupaten Garut mengalami peningkatan 265 buah posyandu atau 7,66%dari sebanyak 3.459 buah pada tahun 2009 menjadi sebanyak 3.724 buah pada tahun 2013. Namun demikian, sampai tahun 2013 masih terdapat Posyandu Pratama sebanyak 21,11% dan Posyandu Madya sebanyak 50,59%, yang menggambarkan masih perlunya pembinaan peningkatan cakupan untuk meningkatkan Strata Posyandu Madya ke Purnama dan peningkatan Pemberdayaan Masyarakat untuk menurunkan Strata Pratama menjadi Madya melalui penambahan jumlah Kader dan juga perlu Pembinaan Tokoh Masyarakat untuk meningkatkan Strata Purnama ke Mandiri. Keberadaan posyandu dibandingkan dengan jumlah balita pada tahun 2013 menunjukkan Rasio Posyandu terhadap balita adalah 1 : 58, berarti bahwa dalam pelayanannya secara rata-rata 1 (satu)Posyandu menangani 58 anak.Kondisi tersebut sesuai, dimanaidealnya 1 (satu) Posyandu melayani 50-100 anak. Namun demikian, masih perlu adanya peningkatan secara kualitas, dan kegiatan di posyandu harus sudah terintegrasi dengan institusi lain yang mempunyai sasaran yang sama yaitu balita, selain dipergunakan untuk pelayanan kesehatan juga dapat dipergunakan untuk pelayanan lainnya misalnya sektor pendidikan pada saat yang berbeda.

  5 Total Posyandu 3459 3459 3558 3724 3724

  6 Prosentasi

  I NDI KATOR KEADAAN PADA TAHUN 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Posyandu Pratama 2274 2213 2246 1944 786

  2 Jumlah Posyandu Madya 971 1038 1073 1316 1884

  3 Jumlah Posyandu Purnama 173 172 193 369 894

  4 Jumlah Posyandu Mandiri

  41

  36

  46 95 160

  Tabel 2. 52 Jumlah Pos Pelayanan Terpadu di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 NO.

  • Posyandu Pratama 65,74 63,98 63,13 52,20 21,11
  • Posyandu Madya 28,07 30,01 30,16 35,34 50,59
  • - Posyandu Purnama 5,00 4,97 5,42 9,91 24,01

  • Posyandu Mandiri 1,19 1,04 1,29 2,55 4,30

  7 Jumlah Balita 229.651 232.372 229.136 229.795 216.398

  8 Rasio Jumlah Balita Setiap Posyandu 1 :66 1 :67 1 : 64 1 : 62 1 : 58 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Garut

   Persentase I bu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada saat proses persalinan. Persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dapat meminimalisir jumlah komplikasi/kematian ibu dan bayi. Selama tahun 2009-2013, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menunjukkan peningkatan 9,85% dari sebesar 67,02% pada tahun 2009 menjadi sebesar 85,15% pada tahun 2013.

  

Tabel 2. 53

Persentase I bu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan

di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013

  No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 1.

  Jumlah Ibu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan 34.866 52.087 49.108 54.264 53.167

2. Jumlah Total Ibu Bersalin 52.020 63.726 64.521 64.701 62.432

  3. Persentase 67,02 81,74 76,11 83,87 85,15 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Garut

  Dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melakukan identifikasi, deteksi dini dan mampu melaksanakan upaya pemecahan masalah kesehatan dan pencegahan/ penanggulangan faktor risiko secara dini, maka dikembangkan kebijakan Desa dan

  Kelurahan Siaga Aktif. Sampai tahun 2013, semua desa/kelurahan sudah menjadi desa siaga aktif,namun masih pada Strata Pratama, artinya Forum Desa sudah terbentuk tapi belum berjalan optimal. Oleh karenanya, perlu dilakukan revitalisasi kembali terhadap program kesehatan di setiap desa sehingga terkoordinasi dengan forum desa siaga.

  

Tabel 2. 54

Jumlah Desa Siaga Aktif di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

KEADAAN PADA TAHUN NO.

  I NDI KATOR 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Desa Siaga Aktif

  164 185 376 268 321

  2 Jumlah Desa Siaga 164 424 424 442 442

  3 Prosentase Desa Siaga

  100 43,63 88,68 60,63 72,62 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Garut

   Angka Kesakitan Salah satu indikator yang sering digunakan untuk melihat derajat kesehatan penduduk di suatu daerah adalah angka kesakitan yang memperlihatkan besarnya penduduk yang mengalami keluhan kesehatan. Selama tahun 2009-2012, proporsi penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan selama sebulan memiliki kecenderungan yang meningkat yaitu dari sebesar 26,62% pada tahun 2009 menjadi sebesar 30,63% pada tahun 2012.

  

Gambar 2. 30 Perkembangan Angka Kesakitan Kab. Garut

Tahun 2009- 2012

   Capaian Standar Pelayanan Minimal Pelayanan Bidang

  Kesehatan

  Berikut disajikan capaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan selama Tahun 2009-2013.

  

Tabel 2. 55

Capaian Standar Pelayanan Minimal ( SPM) Bidang Kesehatan

di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  No. Aspek SPM 2009 2010 2011 2012 2013

  A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Target / Sasaran Cakupan Kunjungan Ibu

  1 87,29 91,96 86 89,8 92,45 Hamil K 4

  Target / Sasaran Cakupan Komplikasi

  2

  • 51,09 54,23 65,47

  21 Kebidanan yang ditangani Target / Sasaran Cakupan Pertolongan

  

3 Persalinan oleh tenaga kesehatan yang 67,02 75,10 76,11 83,9 64,7

memiliki kompetensi kebidanan

  4 Target / Sasaran Cakupan Pelayanan Nifas 89,39 80,86 86,41 90,04 - Target / Sasaran Cakupan Neonatus

  5 89,23 - 83,44 100 21 dengan Komplikasi yang ditangani

  6 Target / Sasaran Cakupan Kunjungan Bayi 87,99 - 90,65 92,5 91,03 Target / Sasaran Cakupan Desa/Kelurahan

  7 74,29 83,96 79,72 84 73,76 Universal Child Immunization (UCI)

  Target / Sasaran Cakupan Pelayanan Anak

  8

  • 93,08 79,01 78,9 88,8 Balita Target / Sasaran Cakupan Pemberian

  

9 Makanan Pendamping ASI pada anak usia - - - - -

6-24 bulan keluarga miskin Target / Sasaran Cakupan balita gizi buruk

  10 100 - - 100 100 mendapat perawatan

  Target / Sasaran Cakupan Penjaringan

  11 35,2 38,85 33,2 85,8 89,3 kesehatan siswa SD dan setingkat

  12 Target / Sasaran Cakupan peserta KB Aktif 73,03 73,56 80,1 72,3 72,82 Target / Sasaran Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit-Acute

13 121,43 107,14 100 106,25 156,25

Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk < 15 tahun Target / Sasaran Cakupan Penemuan dan

  

14 Penanganan Penderita Penyakit-Penemuan 45,29 9946 62,1 50,8 38,4

Penderita Pneumonia Balita Target / Sasaran Cakupan Penemuan dan

  

15 Penanganan Penderita Penyakit-Penemuan 61,13 65,10 66,54 69,47 45,92

Pasien Baru TB BTA Positif Target / Sasaran Cakupan Penemuan dan

  

16 Penanganan Penderita Penyakit-Penderita 63,16 100 100 100 100

DBD yang ditangani Target / Sasaran Cakupan Penemuan dan

  17 Penanganan Penderita Penyakit-Penemuan 91,9 113.295 59,41 106,8 158 Penderita Diare Target / Sasaran Cakupan Pelayanan

  18

  • 9,33 12,71 29,22 Kesehatan dasar pasien masyarakat miskin

  B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN Target / Sasaran Cakupan Pelayanan

  

1 Kesehatan Rujukan pasien masyarakat 100 100 100 100 100

miskin Target / Sasaran Cakupan Pelayanan Gawat

  

2 Darurat level 1 yang harus diberikan sarana 100 - - - 25,00

kesehatan (RS) di Kab/Kota C. PENYELI DI KAN EPI DEMI OLOGI DAN PENANGGULANGAN KLB

  No. Aspek SPM 2009 2010 2011 2012 2013 Target / Sasaran Cakupan Desa/Kelurahan

1 mengalami KLB yang dilakukan 100 100 100 100 100

penyelidikan epidemiologi < 24 jam

  D. PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

  1 Target / Sasaran Cakupan Desa Siaga Aktif 100 43.63 88,68 60,63 72,62

  E. PENGEMBANGAN LI NGKUNGAN SEHAT Target / Sasaran Cakupan Rumah yang

  1 55,97 56,23 56,55 55,6 58,39 memenuhi syarat kesehatan (R)

  Target / Sasaran Cakupan masyarakat yang

  2 64,15 64,4 64,62 64,94 69,55 menggunakan air bersih (A)

  Target / Sasaran Cakupan menggunakan

  3 54,37 55,84 55,86 55,03 59,1 jamban keluarga/kasus (K)

  Target / Sasaran Cakupan Membuang

  4 50,87 54,94 51,71 54,88 58,18 Sampah pada tempatnya (S)

  Target / Sasaran Cakupan Penggunaan

5 pembuangan air limbah pribadi yang 23,11 24,82 25,04 25,76 26,6

memenuhi syarat kesehatan (A) Target / Sasaran Cakupan Institusi yang

  6

  • 65 64,8 75,83 dibina kesehatan lingkungannya Target / Sasaran Cakupan Tempat umum

  7 70,09 64 68,25 54,9 74,71 yang memenuhi syarat

  Target / Sasaran Cakupan Tempat

  8 70,04 64 68,5 70,3 74,29 pengelolaan makanan

  Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Garut

  Pelayanan kesehatan pada RSUD dr Slamet Garut berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, bahwa Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 4 (empat) spesialis penunjang medik, 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua) sub spesialis dasar.

  Jumlah tenaga medis spesialis dasar di RSU dr Slamet Garut cukup memadai, Jumlah tenaga medis spesialis lain masih kurang terutama spesialis jiwa, dan jumlah sub spesialis dasar masih kurang. Jumlah dokter umum di RSUD dr. Slamet cukup memadai, sedangkan tenaga keperawatan masih belum memadai. Hal ini seiring bertambahnya jumlah pasien yang di rawat dan bertambahnya sarana dan prasarana ruang rawat inap kelas III, dan untuk jumlah tenaga kebidanan cukup memadai.

  

Tabel 2. 56

Jumlah Tenaga Medis di RSU dr Slamet Tahun 2009 – 2013

Keadaan Pada Tahun No I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah dokter Umum PNS

  14

  14

  18

  13

  11

  2 Jumlah dokter Umum Non PNS

  4

  4

  6

  6

  5 3 18 18 24 19 16 Total dokter Umum

  No I ndikator Keadaan Pada Tahun 2009 2010 2011 2012 2013

  8 Jumlah Perawat NonPNS

  2 Jumlah dokter Umum Non PNS

  3

  3

  3 Total dokter Umum

  4

  4

  4 Jumlah dokter spesialis PNS

  5 Jumlah dokter spesialis Non PNS

  6 Total dokter spesialis

  7 Jumlah Perawat PNS

  8

  8

  19

  1

  19

  9 Total Peraw at

  27

  27

  10 Jumlah Bidan PNS

  3

  3

  11 Jumlah Bidan Non PNS

  18

  18

  12 Total Bidan

  21

  21 Sumber: RSUD Pameungpeuk, Tahun 2013.

  1

  1 Jumlah dokter Umum PNS

  4 Jumlah dokter spesialis PNS

  9 Total Peraw at 423 423 461 433 428

  19

  19

  17

  23

  25

  5 Jumlah dokter spesialis Non PNS

  5

  5

  3

  6 Total dokter spesialis 24 24 20 23 25

  7 Jumlah Perawat PNS 266 266 263 238 252

  8 Jumlah Perawat NonPNS 157 157 198 195 176

  10 Jumlah Bidan PNS

  Tabel 2. 57 Jumlah Tenaga Medis RSU Pameungpeuk Tahun 2009 – 2013 No I ndikator Keadaan Pada Tahun 2012 2013

  18

  18

  15

  17

  20

  11 Jumlah Bidan Non PNS

  20

  20

  19

  18

  18

  12 Total Bidan 35 35 34 35 38 Sumber: RSUD dr. Slamet Garut, Tahun 2013.

  Berkenaan dengan operasionalisasi RSUD Pameungpeuk, ketersediaan dokter spesialis yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi pelayanan kepada pasen di RSUD Pameungpeuk belum tersedia, sebagaimana diwajibkan dalam Peraturan Permenkes Nomor 340 Tahun 2010 yang merupakan suatu persyaratan bagi Rumah Sakit Tipe D, sekurang – kurangnya ada 2 dari 4 sepesialis dasar.

  Ditinjau dari Sarana Prasarana Pelayanan di RSU dr Slamet, jumlah tempat tidur untuk ruang VVIP jumlahnya tetap. Sedangkan untuk ruang VIP ada peningkatan, jumlah tempat tidur kelas I mengalami penambahan. Tetapi jumlah tempat tidur kelas II ada penurunan hal ini dikarenakan bertambahnya tempat tidur kelas III. Seiring bertambahnya pasien maka jumlah tempat tidur terus bertambah terutama untuk rawat inap kelas III.

  

Tabel 2. 58

Jumlah Sarana Prasarana Pelayanan RSU dr Slamet

Tahun 2009- 2013

  Keadaan Pada Tahun No I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah tempat Tidur di Ruang VVIP

  

15

  15

  15

  15

  15

  2 Jumlah tempat Tidur di Ruang VIP

  

26

  30

  41

  41

  44

  3 Jumlah tempat Tidur di Kelas I

  

57

  59

  59

  59

  79

  4 Jumlah tempat Tidur di Kelas II 119 116 116 116

  73

  5 Jumlah tempat Tidur di Kelas III 215 217 258 258 318

  6 Jumlah tempat tidur di Ruang Isolasi

  

17

  19

  23

  23

  39 Sumber: RSUD dr. Slamet Garut

  Pemenuhan Sarana Prasarana Pelayanan RSUD Pameungpeuk pada tahun 2013 belum dapat memenuhi standar Permenkes Nomor 340 Tahun 2010 tentang ketersediaan tempat tidur yang seharusnya minimal 50 tempat tidur, dikarenakan Ruang perawatan kelas III yang seharusnya bisa digunakan untuk tempat perawatan. Karena belum adanya selasar penghubung dari rawat jalan ke rawat inap, sekarang tempat perawatan hanya menggunakan Gedung IGD. Kondisi pada tahun 2013, jumlah tempat tidur pada RSUD Pameungpeuk hanya terdapat 26 tempat tidur, sehingga capaian pelayanan pasien perawatan belum maksimal dikarenakan belum lengkapnya sarana dan prasarana Rumah Sakit juga ketersediaan SDM yang terbatas.

  

Tabel 2. 59

Jumlah Sarana Prasarana Pelayanan RSU Pameungpeuk

Tahun 2009 – 2013 Keadaan PadaTahun No I ndikator 2012 2013

  1 Jumlah tempat Tidur di Ruang VVIP

  1

  2 Jumlah tempat Tidur di Ruang VIP

  1

  3 Jumlah tempat Tidur di Kelas I

  2

  4 Jumlah tempat Tidur di Kelas II

  5 Jumlah tempat Tidur di Kelas III

  26

  26

  6 Jumlah tempat tidur di Ruang Isolasi Sumber: RSUD Pameungpeuk, Tahun 2013.

  Tabel 2. 60 Jumlah Pasien Raw at I nap di RSU Pameungpeuk Tahun 2009 – 2013 Keadaan PadaTahun No I ndikator 2012 2013

  1 Jumlah Pasien Ruang VVIP

  2 Jumlah Pasien di Ruang VIP

  13

  17

  3 Jumlah Pasien di Kelas I

  6

  4 Jumlah Pasien di Kelas II

  

5 Jumlah Pasien di Kelas III 1476 950

Sumber: RSUD Pameungpeuk, Tahun 2013.

  Ditinjau dari jumlah kunjungan Pasien Rawat Inap di RSU dr. Slamet selama Tahun 2009-2013 terus bertambah setiap tahunnya, terutama jumlah pasien yang dirawat inap di kelas III dari sebanyak 4.478 pasien pada tahun 2009 menjadi sebanyak 18.894 pasien pada tahun 2013 atau hampir 4 (empat) kali lipat lebih.

  Tabel 2. 61 Jumlah Pasien Raw at I nap RSU dr Slamet Tahun 2009 – 2013 Keadaan Pada Tahun No I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Pasien Ruang VVIP 421 3.101 780 653 902

  2 Jumlah Pasien di Ruang VIP 925 8.563 1.105 1.776 3.941

  3 Jumlah Pasien di Kelas I 1.367 16727 18.576 6.907 4834

  4 Jumlah Pasien di Kelas II 2.255 24.941 25.051 11.469 16.527

  5 Jumlah Pasien di Kelas III 4.478 63.466 48.599 10.579 18.894 Sumber: RSUD dr. Slamet Garut Catatan : data tahun 2013 sampai dengan bulan Nopember 2013

  Jumlah pasien persalinan yang dilayani di RSU dr Slamet selama Tahun 2009 – 2013 meningkat 18% dari sebanyak 3.604 pasien pada tahun 2009 menjadi sebanyak 4.253 pasien pada tahun 2013. Selama periode tersebut jumlah ibu meninggal waktu bersalin mengalami peningkatan sebagai akibat keterlambatan rujukan. Demikian pula dengan jumlah bayi yang meninggal relatif masih tinggi meskipun cenderung mengalami penurunan.

  Tabel 2. 62 Jumlah Persalinan yang ditolong di RSU dr Slamet Tahun 2009 – 2013 Keadaan Pada Tahun No I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Pasien Persalinan 3.604 4.679 3.346 1.466 4.253

  2 Jumlah Ibu meninggal waktu bersalin

  16

  21

  28

  14

  40

  3 Jumlah Bayi yang meninggal 36 440 280 220 184 Sumber: RSUD dr. Slamet Garut, Tahun 2013. Catatan: Tahun 2013 sampai dengan bulan Oktober 2013

  Jumlah Persalinan yang ditolong di RSU Pameungpeuk pada tahun 2013 mencapai 208 pasien, dengan jumlah bayi meninggal yang masih relatif tinggi, yang merupakan bayi lahir di puskesmas dan di rumah sendiri yang dirujuk ke RSUD Pameungpeuk dalam keadaan kritis. Jumlah bayi yang meninggal di RSUD Pameungpeuk tahun 2012 sebanyak 8 orang, pasien kiriman sebanyak 2 orang. Pada tahun 2013, pasien yang meninggal di RSUD 4 orang dan pasien kiriman sebanyak 4 orang.

  Tabel 2. 63 Jumlah Persalinan yang ditolong di RSU Pameungpeuk Tahun 2009- 2013 Keadaan Pada Tahun No I ndikator 2012 2013

  1 Jumlah Pasien Persalinan 202 208

  2 Jumlah Ibu meninggal waktu bersalin

  3 Jumlah Bayi yang meninggal

  10

  6 Sumber: RSUD Pameungpeuk, Tahun 2013. Standar Pelayanan Minimal ( SPM) adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal. Dari 97 Indikator SPM RSU dr. Slamet, 35 indikator kinerja belum terpenuhi. Berikut ini merupakan capaian SPM di RSU dr. Slamet.

  Tabel 2. 64 Capaian SPM RSU dr Slamet Tahun 2012 – 2013 Keadaan Pada Tahun ( Target dan Hasil)

  I NDI KATORSPM 2012 2013 Target Pusat Target Capaian Target Capaian

  A. GAWAT DARURAT Kemampuan menangani life saving anak 1 100% 100% 100% 100% 100% dan dewasa

  2 Jam buka Pelayanan Gawat darurat

  24 JAM

  24 JAM

  24 JAM

  24 JAM

  24 JAM Pemberi pelayanan kegawatdaruratan 3 100% 30% 30% 30% 30% yang bersertifikast masih berlaku

  Ketersediaan Tim penanggulangan

  4

1 Tim

  1 Tim

  1 Tim

  1 Tim

  1 Tim bencana paling lama 5 menit Waktu tanggap pelayanan Dokter di

  5 melayani setelah 5 menit 5 menit 5 menit 5 menit Gawat Darurat pasien datang

  6 Kepuasan pelanggan minimal 70% 65% 65% 65% 65% Kematian pasien kurang atau sama maksimal

  7 2/1000 0 2/1000 0 dengan 24 jam 2/1000

  Khusus RS jiwa: pasien dapat 8 ditenangkan dealam waktu kurang atau sama dengan 48 jam Tidak ada pasien yang diharuskan

  9 100% 100% 100% 100% 100% membayar uang muka B. RAWAT JALAN Dokter pemberi pelayanan di poliklinik 100% dokter

  1 65% 65% 65% 65% Spesialis spesialis

  • 2 Ketersediaan Pelayanan Klinik Anak 100% 100% 100% 100%
  • Klinik Penyakit 100% 100% 100% 100% Dalam - Klinik 100% 100% 100% 100%

  • Klinik Bedah 100% 100% 100% 100%
  • NAPJA
  • Gangguan Psikotik - Gangguan Neurotik - Mental Retardasi - Mental Organik - Usia Lanjut

  90

  INAP

  7 b Terlaksananya pencatatan dan pelaporan TB di RS minimal 60% 45% 45% 45% 45%

  7 a Penegakan diagnosis TB nelalui pemeriksaan miskrokopis TB minimal 60% 40% 40% 40% 40%

  6 Kepuasan Pelanggan minimal 90 % 86% 86% 86% 86%

  90

  90

  90

  5 Waktu Tunggu di rawat Jalan maksimal 60 menit

  08.00 s/d 14.00,Jumat 08.00-11.00, 13.00 s/d 14.00

  08.00 s/d 14.00,Jumat 08.00-11.00, 13.00 s/d 14.00

  08.00 s/d 14.00,Jumat 08.00-11.00, 13.00 s/d 14.00

  08.00 s/d 14.00,Jumat 08.00-11.00, 13.00 s/d 14.00

  4 Jam Buka Pelayanan Hari kerja 08.00 s/d 13.00Jumat 08.00-11.00

  3 Ketersediaan pelayanan di RS Jiwa - Anak Remaja

  I NDI KATORSPM Keadaan Pada Tahun ( Target dan Hasil) Target Pusat 2012 2013 Target Capaian Target Capaian Kebidanan

C. RAWAT

  1 Pemberi Pelayanan di Rawat Inap a.Dokter Spesialis Ya Ya Ya Ya

b. D3 Perawatan Ya Ya Ya Ya

  3 Ketersediaan pelayanan Rawat Inap a. anak 100% 100% 100% 100%

  1 Rawat Inap TB

  2 Penanggung jawab pasien Rawat Inap 100% dokter 100% 100% 100% 100%

  4 Kejadian re-admission pasien gangguan jiwa dalam waktu kurang atau sama dengan 1 bulan 100%

  1

  3 tidak adanya kejadian kematian pasien ganggguan jiwa karen bunuh diri 100%

  1

  2 Ketersediaan pelayanan Rawat Inap di RS yang memberikan Pelayanan Jiwa

  1

  b. Terlaksananya pencatatan dan pelaporan TB di RS minimal 60% 45% 45% 45% 45%

  a. Penegakan diagnosis TB mellaui pemeriksaan mikroskopis TB minimal 60% 40% 40% 40% 40%

  1

  1 Kepuasan Pelanggan minimal 90 % 86% 86% 86% 86%

  9 Kejadian pulang paksa maksimal 5 % 5% 8% 5% 5%

  8 Kematian pasien di atas 48 jam maksimal 0.24 % 0,20% 0,20% 0,20% 0,20%

  7 Tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakibat kecacatan/kematian 100% 100% 100% 100% 100%

  6 Kejadian Infeksi Nosokomial maksimal 1.5% 1% 1% 1% 1%

  5 Kejadian Inpeksi pasca operasi maksimal 1.5 % 1,5% 1,5% 1,5% 1,50%

  4 Jam Visite dokter spesialis 08.00 s/d 14.00 setiap hari kerja Ya Ya Ya Ya

  d. Bedah 100% 100% 100% 100%

  c. Kebidanan 100% 100% 100% 100%

  b. Penyakit Dalam 100% 100% 100% 100%

  • NAPZA
  • Gangguan Psikotik - Gangguan Neurotik - Gangguan Mental Organik
  • Dokter Umum terlatih (Asuhan Persalinan Normal)
  • Bidan Ya Ya Ya Ya

  4 Pemberi Pelayanan Persalinan dengan Tindakan Operasi

  6% 0% 0% 0% 0% E. PERSALINAN PERINATOLOGI (KECUALI RS KHUSUS DILUAR RS IBU DAN ANAK) DAN KB

  3 Pemberi pelayanan persalinan dengan penyulit Tim PONEK yang terlatih

  2 Pemberi Pelayanan persalinan Normal - Dokter Sp.OG Ya Ya Ya Ya

  

c. sepsis maksimal 0,2 % 0,01% 0,01% 0,01% 0,01%

  b. pre-eklampsia maksimal 30% 1% 1% 1% 1%

  a. pendarahan maksimal 1% 0,06% 0,06% 0,06% 0,06%

  1 Kejadian kematian ibu karena persalinan

  7 komplikasi anestesi karena overdosis, reaksi anestesi, dan salah penempatan endoktracheal tube

  I NDI KATORSPM Keadaan Pada Tahun ( Target dan Hasil) Target Pusat 2012 2013 Target Capaian Target Capaian

  100% 100% 100% 100% 100%

  6 tidak ada kejadian tertinggalnya benda asing/lain pada tubuh pasien setelah operasi

  5 tidak ada kejadian salah tindakan operasi 100% 100% 100% 100% 100%

  D. BEDAH SENTRAL (BEDAH SAJA) 1 waktu tunggu operasi elektif maksimal 2 hari 60 hari 60 hari 60 hari 60 hari 2 kejadian kematian di meja operasi maksimal 1 % 1% tdk ada 1% 0% 3 tidak ada kejadian operasi salah sisi 100% 100% 100% 100% 100% 4 tidak ada kejadian operasi salah orang 100% 100% 100% 100% 100%

  5 Lama hari Perawatan pasien gangguan jiwa maksimal 6 minggu

  1

  Ya Ya 100,00% 100,00%

  • Dokter Sp.OG Ya Ya Ya Ya - Dokter Sp.A Ya Ya Ya Ya - Dokter Sp.An Ya Ya Ya Ya

  5 Kemampuan menangani BBLR 1500 gr - 2500 gr 100% 95% 95% 95% 95%

  6 Pertolongan persalinan melalui Sectio cesaria maksimal 20% 20% 30% 20% 20%

  7 Keluarga Berencana 100%

  a. % KB (vasektomi & tubektomi) yang dilakukan oleh Tenaga Kompeten dr.Sp.OG, dr. Sp.B, dr. Sp.U, dr. Umum terlatih

  100% 100% 100% 100%

  b. % peserta KB Mantap yang mendapat konseling oleh Bidan terlatih 100% 100% 100%

  8 Kepuasan pelanggan minimal 80% 70% 50% 70% 50%

F. PELAYAN

  INTENSIF

  1 Rata-rata pasien yang kembali ke perawatan intensif dengan kasus yang sama < 72 jam maksimal 3 % 3% 3% 3%

  2 Pemberi Pelayanan Unit Intensif dr. Sp.Anestesi dan dr. Sp.

  Sesuai dengan kasus yang ditangani Ya Ya Ya Ya

  100 % Perawat minimal D3 dengan sertifikat Perawat mahir

  ICU/setara D4 100% 100% 100% 100% G RADILOGI

  1 waktu tunggu hasil pelayanan thorax photo maksimal 3 jam 3 jam 2 jam 3 jam 2 jam

  2 pelayanan ekspertisi dr.Sp.Radiologi Ya Ya Ya Ya

  • - kerusakan poto maksimal 2% 2% 1,3% 2% 1%

  L. TRANSFUSI DARAH

  

d. PH 6-9 6-9 6-9 6-9 6-9

  

c. TSS < 30mg/l < 30mg/l < 30mg/l < 30mg/l < 30mg/l

  

b. COD < 80mg/l < 80mg/l < 80mg/l < 80mg/l < 80mg/l

  

a. BOD < 30mg/l < 30mg/l < 30mg/l < 30mg/l < 30mg/l

  1 Bakku mutu limbah cair

  O. PENGELOLAAN LIMBAH

  4 waktu penyediaan dokumen rekam medik pelayanan rawat inap maksimal 15 menit 20menit > 20menit 20menit > 20menit

  3 waktu penyediaan dokumen rekam medik pelayanan rawat jalan maksimal 10 menit 35menit > 35menit 35menit > 35menit

  2 kellengkapan Informed Concent setelah mendapatkan informasi yang jelas 100% 100% 100% 100% 100%

  1 Kelengkapan pengisian rekam medik setelah 24 jam selesai pelayanan 100% 80% 80% 80% 80%

  N. REKAM MEDIK

  M. PELAYANAN GAKIN pelayanan terhadappasien GAKIN yang datang ke RS pada unit pelayanan 100% terlayani 100% 100% 100% 100%

  1 Kebutuhan darah bagi setiap pelayanan transfusi 100% terpenuhi 65% 65% 65% 65%

2 kejadian transfusi maksimal 0.01% 0,01% 0,00% 0,01% 0,00%

  3 tidak adanya kejadian kesalahan pemberian diet 100% 100% 100% 100% 100%

  I NDI KATORSPM Keadaan Pada Tahun ( Target dan Hasil) Target Pusat 2012 2013 Target Capaian Target Capaian 3 kejadian kegagalan pelayanan rontgen

  2 sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien maksimal 20% 12% 12% 12% 12%

  1 Ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien minimal 90 % 90% 90% 90% 90%

  3 kepuasan pelanggan minimal 80% 70% 70% 70% 70% 4 penulisan resep sesuai furmularium 100% 100% 100% 100% 100% K. GIZI

  2 tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat 100% 100% 100% 100% 100%

  J. FARMASI 1 waktu tunggu pelayanan a. Obat Jadi maksimal 30 menit 160menit 160menit 160menit 160menit b. Obat racikan maksimal 60 menit 200menit 200menit 200menit 200menit

  2 Tidak adanya kejadian kesalahan tindakan rehabilitasi medik 100% 100% 100% 100% 100% 3 kepuasan pelanggan minimal 80% 70% 70% 70% 70%

  1 Kejadian DO pasien terhadap pelayanan Rehabilitasi Medik yang direncanakan maksimal 50% 68% 68% 68% 68%

  I. REHABILITASI MEDIK

  3 Tidak adanya kesalahan pemberian hasilpemeriksaan Lab 100% 100% 70% 100% 70% 4 kepuasan Pelanggan minimal 80% 65% 50% 65% 50%

  200 menit 200 200 menit 120menit 2 pelayanan ekspertisi dokter Sp.PK Ya Ya Ya Ya

  1 Waktu tunggu hasil pelayanan laboratorium maksimal 140 menit untuk kimia darah dan darah rutin

  H. LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

  4 Kepuasan pelanggan minimal 80% 70% 90% 70% 80%

  2 Pengelolaan Limbah Padat Infeksius sesuai dengan aturan 100% 100% 100% 100% 100% P ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN

  I NDI KATORSPM Keadaan Pada Tahun ( Target dan Hasil) Target Pusat 2012 2013 Target Capaian Target Capaian

  1 Tindak lanjut penyelesaian hasil pertemuan direksi 100% 95% 95% 95% 95% 2 kelengkapan Laporan akuntabilitas 100% 95% 95% 95% 100%

  3 ketepatan waku pengurusan naik pangkat 100% 100% 100% 100% 100%

  4 Ketepatan waktu pengurusan gaji berkala 100% 100% 100% 100% 100%

  5 Karyawan yang mendapat pelatihan minimal 20 jam/tahun minimal 60% 80% 80% 80% 80%

6 Cost Recovery minimal 40%

  7 Ketepatan waktu penyusunan laporan keuangan 100% 85% 85% 85% 85%

  8 kecepatan waktu pemberian informasi tentang tagihan pasien rawat inap maksimal 2 jam 2 jam 2 jam 2 jam 2 jam

  9 Ketepatan waktu pemberian imbalan (insentif) sesuai kesepakatan waktu 100% 100% 100% 100% 100% Q AMBULANCE KERETA JENAZAH

  1 waktu pelayanan ambulance/kereta jenazah 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam

  2 kecepatan memberikan pelayanan ambulance/kereta jenazah di RS maksimal 30 menit 90menit 90menit 90menit 90menit

  3 response time pelayanan ambulance oleh masyarakat yang membutuhkan sesuai ketentuan daerah (?) Ya Ya Ya Ya

  R. PEMULASARAAN JENAZAH Waktu tanggap (response time) pelayanan maksimal 2 jam 2 jam 2 jam 2 jam 2 jam

S. PELAYANAN PEMELIHARAAN SARANA RS

  2 Ketepatan waktu pemeliharaan alat 100% 85% 85% 85% 85%

  100% 50% 50% 50% 50% T PELAYANAN LAUNDRY 1 tidak adanya kejadian linen yang hilang 100% 85% 85% 85% 85%

  2 Ketepatan waktu penyediaan linen untuk ruang rawat inap 100% 85% 85% 85% 85% U PENCEGAHAN PENGENDALIAN INFEKSI

  1 Anggota Tim PPI yang terlatih 75% 60% 50% 60% 50%

  2 Tersedia PPI setiap instalasi/departemen 60% 40% 20% 40% 20%

  3 Kegiatan pencatatandan pelaporan infeksi nosokomial/HAI (Healthcare Associated Infection di RS (minimal 1 parameter)

  75% 60% 50% 60% 50% Sumber: RSUD dr. Slamet Garut, Tahun 2013.

  Untuk Pencapaian SPM di RSUD Pameungpeuk, hampir semua tercapai dikarenakan masih sedikitnya pelayanan yang dilaksanakan.

  

Tabel 2. 65

Capaian SPM RSU Pameungpeuk Tahun 2012 – 2013

No Unit I ndikator Target 2012 Realisasi 2012 Pencapaian

  1 IGD

  1. Jam buka pelayanan rawat darurat 24 jam 24 jam Tercapai

  2. Pemberi pelayanan kegawatdaruratan bersertifikat ATLS/BTLS/ACLS/PPGD ≥93%

  

1 Kecepatan menanggapi kerusakan alat maksimal 80% 95% 80% 95% 80%

  3 Peralatan Lab Dan alat ukur yang digunakan dalam pelayanan terkalibrasi tepat waktu sesuai dengan ketentuan kalibrasi

  Realisasi No Unit I ndikator Target 2012 Pencapaian 2012 Perawat 80 % Belum tercapai Dokter 80% Belum tercapai

  3. Waktu tanggap pelayanan dokter 5 menit Tercapai ≤5 menit di IRD

  4. Kemampuan memberikan 100% 100% Tercapai pelayanan life saving

  5. Ketersediaan tim penanggulangan 1 tim 1 tim Tercapai bencana

  6. Kematian pasien ≤24 jam setelah ≤2 per seribu 5,4 per seribu Belum tercapai pasien datang

  7. Tidak adanya keharusan untuk 100% 100% Tercapai membayar uang muka

  8. Kepuasan pelanggan pada ≥70% 75,4% Tercapai pelayanan IRD

  2 IRJA

  1. Ketersediaan pelayanan rawat ≥85% 100% Tercapai jalan

  2. Pemberi pelayanan di poliklinik ≥60% 61,50% Tercapai spesialis

  3. Buka pelayanan sesuai ketentuan ≥80% 100% Tercapai

  4. Waktu tunggu di rawat jalan 34 menit Tercapai ≤50 menit

  5. Kepuasan pelanggan pada ≥75% 76,60% Tercapai pelayanan Instalasi Rawat Jalan

  3 IRNA

  1. Ketersediaan pelayanan rawat 100% 100% Tercapai inap

  2. Kejadian Infeksi Nosokomial ≤1,3% 0,96% Tercapai

  3. Kejadian Infeksi pasca operasi ≤1,5% 0,10% Tercapai

  4. Pemberi pelayanan di rawat inap ≥80% 97,63% Tercapai

  5. Dokter penaggungjawab pasien 100% 100% Tercapai rawat inap

  6. Jam visite dokter spesialis Tidak tercapai ≥50% 10%

  7. Tidak adanya pasien yang jatuh 100% 100% Tercapai dan berakibat kecacatan/kematian

  8. Kematian pasien >48 jam 15 ‰ Belum Tercapai ≤25 ‰

  9. Kejadian pulang paksa ≤8% 7,20% Tercapai

  10. Kepuasan pelanggan pada ≥70% 7% Tercapai pelayanan rawat inap

  4 SMF OBGYN 1. Kejadian kematian ibu karena persalinan.

  a. Perdarahan ≤1% 0,11% Tercapai b. Pre Eklampsia ≤30% 0,11% Tercapai

c. Sepsis

  Belum Tercapai ≤0,2% 0,33%

  2. Pemberi pelayanan persalinan ≥70% 76,50% Tercapai normal adalah dr. SpOG,dr umum terlatih dan bidan bersertifikat APN

  3. Pemberi pelayanan persalinan Tersedia Tim Tersedia Tim Tercapai dengan penyulit PONEK PONEK

  4. Pemberi pelayanan persalinan ≥75% 83,30% Tercapai dengan operasi

  No Unit I ndikator Target 2012 Realisasi 2012 Pencapaian

8 Ambulans

  2. Ketepatan waktu penyusunan laporan keuangan 100% 100% Tercapai

  2. Kelengkapan pengisian RM 24 jam setelah selesai pelayanan ≥60% 40% Tidak Tercapai

  3. Kelengkapan informed consent setelah mendapat informasi yang jelas 100% 100% Tercapai

  4. Waktu penyediaan dok RM pelayanan rawat jalan ≤15 menit 15 menit Tercapai

  5. Waktu penyediaan dok RM pelayanan rawat inap ≤15 menit 15 menit Tercapai

  10 Bagian Keuangan

  1 jam 38 menit Tercapai

  3. Kecepatan waktu pemberian informasi pembayaran pasien rawat inap ≤2 jam

  9 Subbag Informasi dan Rekam Medis

  4. Ketepatan waktu pemberian insentif sesuai kesepakatan waktu ≥80% 66,7% Belum Tercapai

  11 Bagian Tata Usaha

  1. Tindak lanjut penyelesaian hasil pertemuan tingkat direksi ≥80% 80% Tercapai

  2. Ketepatan waktu pengusulan kenaikan pangkat ≥97% 90% Tercapai

  3. Ketepatan waktu pengurusan kenaikan gaji berkala ≥75% 75% Tercapai Sumber: RSUD Pameungpeuk, Tahun 2013.

  1. Pelayanan Gakin di setiap unit pelayanan 100% 100% Tercapai

  2. Kecepatan memberikan pelayanan ambulans/ mobil jenazah di RS 100% 99,42% Belum Tercapai

  5. Pertolongan persalinan melalui SC ≤28% 23,70% Tercapai

  1. Waktu tunggu pelayanan obat jadi 29 menit 21,99 menit Tercapai

  6. Pemberi pelayanan KB mantap 100% 100% Tercapai

  7. Konseling KB mantap 100% 100% Tercapai

  8. Kepuasan pelanggan pada pelayanan di SMF Obgyn ≥70% 74,20% Tercapai

  5 Instalasi Perinatologi Kemampuan menangani BBLR 1501- 2499 gram

  ≥93% 90,50% Belum Tercapai

  6 Instalasi Farmasi

  2. Waktu tunggu pelayanan obat racikan 58 menit 39,3 menit Tercapai

  1. Waktu pelayanan ambulance/ mobil jenazah 24 jam 24 jam Tercapai

  3. Tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat 100% 100% Tercapai

  4. Penulisan resep sesuai formularium ≥75% 100% Tercapai

  5. Kepuasan pelanggan pada pelayanan di Instalasi Farmasi ≥80% 74% Belum Tercapai

  7 Instalasi GIZI 1. Ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien ≥55% 78% Tercapai

  2. Sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien ≤60% 60% Tercapai

  3. Tidak adanya kesalahan dalam pemberian diet ≥90% 90% Tercapai

1. Cost Recovery 100% 110,53% Tercapai

3. Pekerjaan Umum

   Jaringan Jalan Hingga tahun 2013, total panjang jalan di Kabupaten Garut mencapai 4.750,59 km, yang terdiri dari jalan negara yang berupa jalan arteri primer yaitu Jalan Nagreg-Tasikmalaya yang melewati Limbangan dan Malangbong sepanjang 33,104 km dan jalan strategis nasional rencana sepanjang Pantai Selatan yang melewati Pameungpeuk terbentang dari Kecamatan Cibalong sampai Kecamatan Caringin (perbatasan Kabupaten Cianjur) sepanjang 71,93 km. Jalan Provinsi yang berupa Jalan Kolektor Primer yang terbentang dari perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang sampai ke Pantai Selatan Kabupaten Garut sepanjang 277,08 km dan jalan Strategis Provinsi Rencana dari Kecamatan Bungbulang sampai dengan Kecamatan Mekarmukti (ruas jalan Bungbulang-Cijayana) sepanjang 14,29 km, sedangkan jalan kabupaten yang merupakan jalan kolektor primer – sekunder yang menghubungkan antar kecamatan, perbatasan di seluruh Kabupaten sepanjang 828,76 km, dan jalan desa sepanjang 3.371,76 km. Dalam kurun waktu tahun 2009-2013, kondisi tingkat kemantapan jalan kabupaten mengalami peningkatan dari sepanjang 486,63km atau 58,48% pada tahun 2009 menjadi sepanjang 534,45 km atau 64,49% pada tahun 2013. Kondisi ini berbanding lurus dengan peningkatan jalan kabupaten dalam kondisi baik dari sepanjang 275,45 km, atau 33,24 % pada tahun 2009 menjadi sepanjang 346,21 km atau 41,77% pada tahun 2013.

  

Tabel 2. 66

Kondisi Jaringan Jalan Kabupaten

Tahun 2009- 2013

  Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 2013 N I ndikator o Km % Km % Km % Km % Km % 346,21 41,77

1 B a i k 275,45 33,24 305,00 36,80 323,77 39,07 305,99 36,89

  

2 Sedang 209,18 25,24 205,25 24,77 195,72 23,62 217,49 26,24 188,24 22,71

Rusak 294,31 35,51 3 344,13 41,52 318,51 38,43 309,27 37,32 305,28 42,33

  Berat

Jumlah 828,76 100 828,76 100 828,76 100 828,76 100 828,76 100

Keman-

  534,45 64,49

484,63 58,48 510,25 61,57 519,49 62,68 523,48 63,16

tapan Sumber : Dinas Bina Marga Kabupaten Garut.

  Kondisi permukaan jalan kabupaten sampai dengan tahun 2013, meliputi aspal sepanjang 392,39km (47,35%), hotmix sepanjang 293,67km (35,43%), jalan batu sepanjang 140,40km (16,94%), tanah sepanjang 1,6km (0,19%), dan beton sepanjang 0,7km (0,08%). Sementara itu, jumlah jembatan di Kabupaten Garut mencapai 306 buah dengan total panjang jembatan 2.565,30 meter.

  Tabel 2. 67 Kondisi Permukaan Jalan Kabupaten Tahun 2009 – 2013 Tahun 2013 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 No Kondisi Km % Km % Km % Km % Km %

  

1 Hotmix 244,01 29,44 280,31 33,82 280,01 33,79 285,67 34,47 293,67 35,43

  

2 Beton 0,7 0,08 0,7 0,08 0,70 0,08

  

3 Aspal 407,25 49,14 354,05 42,72 391,09 47,19 386,59 46,65 392,39 47,35

  

4 Batu 173,3 20,91 190,2 22,95 155,37 18,75 154,2 18,61 140,40 16,94

  5 Tanah 4,2 0,51 4,2 0,51 1,6 0,19 1,6 0,19 1,60 0,19

Jumlah 828,76 100 828,76 100 828,76 100 828,76 100 828,76 100

  Sumber: Dinas Binamarga Kab. Garut

  Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam urusan pekerjaan umum yang terkait jaringan jalan diantaranya : a) Terdapat titik simpul kemacetan di kawasan ruas jalan nasional

  Limbangan-Malangbong, pada ruas jalan provinsi Bandung-Garut dan pada beberapa ruas jalan kabupaten.

  b) Tidak terlaksanannya penanganan pemeliharaan jalan sesuai dengan rencana umur jalan.

  c) Kerusakan jalan sebelum waktunya akibat sebagian besar jalan berada pada daerah rawan bencana, curah hujan/iklim basah yang berkepanjangan serta muatan berlebih.

   Sumber Daya Air Aspek penanganan sumber daya air terdiri dari aspek pendayagunaan sumber daya air, aspek konservasi sumber daya air dan aspek pengendalian daya rusak air merupakan upaya pengelolaan sumber daya air yang dilaksanakan melalui kegiatan yang bisa memberikan dampak positif terhadap pembangunan. Potensi sumber daya air yang besar di Kabupaten Garut tetapi belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang kegiatan pertanian, industri, dan kebutuhan domestik.

  Jaringan I rigasi -

  Irigasi merupakan usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang yang jenisnya meliputi irgasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak yang berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat.

  Pada aspek infrastruktur jaringan irigasi, pembangunan difokuskan dalam upaya meningkatkan intensitas tanam padi sawah khususnya pada daerah Irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah seluas 11.771 Ha dengan jumlah bangunan bendung utama 23 buah, bangunan air pelengkap 1.630 buah dan panjang saluran sekunder 147 Km. Kondisi saluran irigasi teknis kabupaten dalam kondisi baik pada tahun 2013 mencapai 84 km dari 147 km (57,14%), meningkat 8,84% dari tahun 2012 yang hanya mencapai 71 km (48,30%). Kondisi rusak ringan mengalami penurunan 16,32% dari sepanjang 46 km (31,29%) pada tahun 2012 menjadi sepanjang 22 km (14,79%) pada tahun 2013. Sementara kondisi rusak berat mengalami peningkatan 7,48% dari sepanjang 30 km (20,41%) menjadi 41 km (27,89%). Tingkat Kemantapan Jaringan Irigasi Teknis Kabupaten sampai tahun 2013 baru mencapai 57,14%, meskipun telah mengalami peningkatan 21,34% dari tahun 2010 sebesar 35,80%.

  Tabel 2. 68 Perkembangan Kondisi I rigasi Teknis Kabupaten Tahun 2009- 2013 Uraian Daerah I rigasi Teknis Kabupaten 2009/ 2010 % 2011 % 2012 % 2013 % Panjang Saluran (km) 147 147 147 147 Areal (Ha.) 11.771 11.868 11.771 11.771 Saluran ( Km) : 147 KM

  • - Baik 48 32,65 59 40,14 71 48,30 84 57,14

  • - Rusak Berat 43 29,25 42 28,57 30 20,41 41 27,89

  • Rusak Ringan 56 38,10 46 31,29 46 31,29 22 14,97

  Bangunan Bendung ( buah) : 23 Buah

  • - Baik 5 21,74 9 39,13 11 47,83 14 60,87

  • Rusak Berat 10 43,48 6 26,09 6 26,09 3 13,04
  • Rusak Ringan 8 34,78 8 34,78 6 26,09 6 26,09

  Bangunan Air ( buah) : 1.630 Buah

  • Baik 683 41,90 728 44,66 898 55,09 992 60,86
  • - Rusak Berat 727 44,60 637 39,08 421 25,83 213 13,07

  • - Rusak Ringan 220 13,50 265 16,26 311 19,08 425 26,07

  Pintu ( buah) : 662 Buah

  • - Baik 174 26,28 195 29,46 218 32,93 259 39,12

  • - Rusak Berat 317 47,89 309 46,68 297 44,86 278 41,99

  • Rusak Ringan 171 25,83 158 23,87 147 22,21 125 18,89

  Tingkat Kemantapan Jaringan I rigasi ( % ) 35,80% 41,68% 48,44% 57,14% Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut

  Jaringan irigasi desa merupakan jaringan irigasi yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat desa atau pemerintah desa dengan kondisi jumlah bangunan bendung desa sebanyak 1.202 buah, bangunan air pelengkap sebanyak 1.020 buah dan panjang saluran irigasi desa mencapai 1.758 Km. Kondisi baik saluran irigasi desa pada tahun 2013 sepanjang 939 km (53,41%), atau mengalami peningkatan 4,55% dari kondisi tahun 2012 mencapai 859 km (48,86%), sedangkan saluran irigasi desa dalam kondisi rusak berat tetap sebesar 32,48%. Sementara itu saluran irigasi desa dalam kondisi rusak ringan mengalami penurunan sebesar 4,55% dari sepanjang 328 km (18,66%) pada tahun 2012 menjadi sepanjang 248 km (14,11%) pada tahun 2013. Tingkat Kemantapan Jaringan Irigasi Desa sampai tahun 2013 baru mencapai 51,75%, meskipun telah mengalami peningkatan 20,32% dari tahun 2010 sebesar 31,43%.

  Tabel 2. 69 Perkembangan Kondisi I rigasi Desa Tahun 2009- 2013 DAERAH I RI GASI DESA Uraian 2009/ % 2011 % 2012 % 2013 % 2010 Panjang Saluran (km) 1758 1758 1758 1758 Areal (Ha) 45.931 59.685,30 45.931 45.931 Saluran ( Km) : 1.758 km

  Baik 615 34,98 739 42,04 859 48,86 939 53,41 - Rusak Berat 583 33,16 571 32,48 571 32,48 571 32,48 -

Rusak Ringan - 560 31,85 448 25,48 328 18,66 248 14,11

  Bangunan Bendung ( buah) : 1.202 Buah

  • Baik 420 34,94 468 38,94 512 42,60 580 51,75
  • Rusak Berat 593 49,33 505 42,01 392 32,61 293 21,71
  • Rusak Ringan 189 15,72 229 19,05 298 24,79 329 26,54

  Bangunan Air ( buah) : 1.020 Buah

  • - Baik 412 40,39 478 46,86 527 51,67 580 56,86

  • Rusak Berat 438 42,94 426 41,76 399 39,12 380 37,25
  • Rusak Ringan 170 16,67 116 11,37 94 9,22 60 5,88

  Pintu ( buah) : 39 Buah

  • Baik 2 5,13 6 15,38 9 23,08 12 30,77
  • Rusak Berat 31 79,49 29 74,36 26 66,67

  23 58,97

  • Rusak Ringan 6 15,38 4 10,26 4 10,26

  4 10,26 Tingkat Kemantapan 31,43% 38,20% 44,97% 51,75% Jaringan I rigasi ( % )

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut , Tahun 2014 Tabel 2. 70 Kondisi Perkembangan SUB DAS Sampai Dengan Tahun 2013 DAS SUB. DAS KondisiSub. DAS Saat I ni Panjang Panjang Nama Jumlah Nama Jumlah ( % ) ( km) ( km)

  Cimanuk – 1 58,60 Cimaragas cs. 32 301,20 17,60 Cisanggarung Sungai-sungai pada Sub. DAS bagian utara Garut

  Ciwulan - 34 562,69 Cijeruk cs 50 309,46 20,36 Cilaki Sungai-sungai pada Sub. DAS bagian selatan Garut

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut , Tahun 2014

  Konservasi Sumber Daya Air -

  Konservasi sumber daya air disusun berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan ( sustainable development ), yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan disaat sekarang, tanpa mengorbankan hak dan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. Sisi lain yang dikedepankan adalah upaya-upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan air, meliputi adanya rekayasa pemenuhan atau pendekatan ke-arah air ada dan air tersedia, memiliki akses penting di dalam umur keawetan ketersediaan air, media pembawa air, media pembuangan, dan budidaya. Sedangkan dalam rangka memenuhi kebutuhan air baku untuk kebutuhan masyarakat baik perkotaan dan pedesaan pada tahun 2013 telah dilakukan pembangunan saluran pembawa berupa pipanisasi 6 kegiatan untuk melayani 600 KK dan pembangunan Sumur Air Tanah pada 19 (sembilan belas) titik lokasi untuk melayani 400 KK yang lokasinya tersebar di kabupaten Garut. Pelaksanaan Pengelolaan kawasan lindung sumber air, termasuk penyediaan air baku, pembuatan embung sebanyak 6 kegiatan dan penurapan mata air 2 kegiatan.

  Tabel 2. 71 Kondisi Perkembangan Embung dan Penurapan Mata Air Tahun 2013 Rencana Belum Kondisi Potensi Lokasi Terbangun Dibangun Dibangun Saat I ni( % ) Tersebar di 191 Desa

288 8 104 176 2,78

Pada 33 Kecamatan Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut , Tahun 2014

  Tabel 2. 72 Kondisi Perkembangan Situ sampai dengan tahun 2013 Kondisi Rencana Belum Potensi Lokasi Terbangun Saat ini Dibangun Dibangun ( % )

87 pada Wilayah Tersebar di 19 8 78 1 9,20

DAS Cimanuk 64 desa pada 17 kec. 25 pada Wilayah tersebar di 16

  2

  20

  3

  8 DAS Ciwulan-Cilaki 64 desa pada 7 kec. Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut , Tahun 2014

  • Pengendalian daya rusak air merupakan upaya pengaturan keseimbangan hulu-hilir yang dilakukan secara teknis melalui kegiatan penanggulangan banjir, pemetaan genangan banjir, serta upaya pemulihan akibat bencana banjir. Pada tahun 2013, dalam upaya

  Pengendalian Daya Rusak Air pengendalian banjir telah dilakukan Rekayasa Sipil/Konstruksi pada kawasan ordo 1 & 2 pada sebanyak 82 kegiatan Sub DAS, termasuk evaluasi dan pemeliharaan Sungai Perkotaan dan pengendalian banjir dengan 130 kegiatan Drainase perkotaan kecamatan, Desa/Kelurahan.

  Selain hal tersebut telah dilakukan pembersihan pada 4 sub DAS yang sering atau berpotensi menimbulkan genangan akibat banjir terutama pada wilayah perkotaan kabupaten dan Kecamatan.

  Tabel 2. 73 Kondisi Perkembangan Drainase/ Saluran Drainase Perkotaan Tahun 2013 SUB. DAS REGI ON DRAI NASE ( Saluran Drainase Perkotaan) Kondisi Baik Drainase Perkotaan ( % ) Nama Jumlah Panjang ( km) Nama Jumlah Panjang ( km) Cigulampeng 1 5,98 Region:

A2-A3, A3-B3, B2- B3, B3-C3.

  4 13,22 54,86 Ciwalen 1 6,28 Region: A2-A3, B2-B3, B3-C3,C2-C3 4 11,78 52,24

  Cikendi 1 4,66 Region: A1-A2, A2-B2, B1-B2,B2-C2, C1-C2 4 13,85 40,18

  Cimaragas /Cipeujeuh 1 4,73 Region:

  A1-A2, A1-B1, B1-B2, B1-C1, C1-C2 4 14,40 43,60

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut , Tahun 2014

4. Perumahan dan Permukiman

  Perkembangan kinerja urusan perumahan dan permukiman selama periode 2010-2013 ditinjau dari luas permukiman yang tertata relatif stabil mencapai sebesar 13%. Seiring peningkatan jumlah penduduk dan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman masyarakat, jumlah rehabilitasi rumah tidak layak huni mengalami peningkatan dari sebanyak 150 unit rumah pada tahun 2010 menjadi sebanyak 1.700 unit pada tahun 2013, dengan rasio jumlah rumah layak huni terhadap jumlah penduduk sebanyak 29% pada tahun 2013 serta penyediaan ruang terbuka hijau mencapai 30% pada tahun 2013. Perkembangan pembangunan prasarana perumahan dan permukiman selama periode tahun 2010-2013 relatif terus mengalami peningkatan, antara lain pembangunan jalan lingkungan dari sepanjang 5,78km pada tahun 2010 menjadi sepanjang 81,63 km pada tahun 2013, pembangunan turap penahan tanah dari sepanjang 5,12km pada tahun 2010 menjadi sepanjang 78,85 km pada tahun 2013 serta pembangunan/rehab jembatan lingkungan dari sebanyak 1 unit pada tahun 2010 menjadi sebanyak 4 unit pada tahun 2013, serta pembangunan drainase dari sepanjang 1,52km pada tahun 2010 menjadi sepanjang 8,79 km pada tahun 2013. Pada aspek pemenuhan kebutuhan air bersih, cakupan pelayanan air bersih perkotaan meningkat 14,60% dari sebesar 38,23% pada tahun 2010 menjadi sebesar 52,83% pada tahun 2013. Sementara itu cakupan pelayanan air bersih perdesaan meningkat 10,28% dari sebesar 53,55% pada tahun 2010 menjadi sebesar 63,83% pada tahun 2013. Berkenaan dengan persentase ketersediaan rumah tinggal bersanitasi mengalami peningkatan dari sebesar 51,92% pada tahun 2010 menjadi sebesar 52,88% pada tahun 2013. Dalam hal upaya pelayanan terhadap terjadinya bahaya kebakaran, sampai tahun 2013 dilayani oleh 6 unit mobil pemadam kebakaran, dan apabila dibandingkan dengan luas wilayah maka rasio ketersediaan mobil damkar terhadap luas daerah pelayanan pada tahun 2013 mencapai

  2 1:512,34 artinya 1 unit mobil damkar melayani sekitar 512,34 km .

  

Tabel 2. 74

Perkembangan I ndikator Perumahan dan Permukiman di Kabupaten Garut

Tahun 2010- 2013

  Capaian Setiap Tahun

  I NDI KATOR KI NERJA No Tahun Tahun Tahun Tahun PERUMAHAN DAN PERMUKI MAN 2010 2011 2012 2013 Perumahan Rakyat Persentase Luas Permukiman yang Tertata

1. luas area permukiman tertata 15.820,80 23.731,20 27.686,40 35,596.80

  

2. Total luas area permukiman 122.675,20 184.012,80 214.681,60 276,019.20

Persentase luas permukiman yang 13% 3. 13% 13% 13% tertata

  4. Prosentase Ruang Terbuka Hijau 30% 30% 30% 30% Jumlah permukiman layak huni dan rumah layak huni

  

1. Luas permukiman layak huni 15.821 23.731 27.686 35.596

  

2. Luas wilayah permukiman 122.675,20 184.012,80 214.681,60 276.019,20

  3. Rasio permukiman layak huni 13% 13% 13% 13% 716.358

  4. Jumlah rumah layak huni 713.576 713.787 714.658

  

5. Jumlah Penduduk (jiwa) 2.424.888 2.464.010 2.503.765 2.525.483

  6. Rasio rumah layak huni 29% 29% 29% 29% Jumlah rumah tidak layanan huni yang

7. 150 Unit 361 Unit 1232 Unit 1.700 unit

direhabilitasi

  Sarana pendukung Rumah Sederhana

8. 101 unit 101 unit 101 unit 2.174 unit

Sehat (RSH)

  9. Jumlah Rusunawa, Kasiba dan Lisiba - -

  1 Lokasi 1 unit

10. Pembangunan jalan lingkungan 5,78 Km 4,19 Km 54,63 Km 81,63 Km

  

11. Pembangunan Turap Penahan Tanah 5,12 Km 7,42 Km 62,00 Km 78,85 Km

Pembangunan/ Rehab Jembatan 12. 1 bh 6 bh 4 bh - Lingkungan

  Jumlah Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Bersih

  Capaian Setiap Tahun

  I NDI KATOR KI NERJA No Tahun Tahun Tahun Tahun PERUMAHAN DAN PERMUKI MAN 2010 2011 2012 2013 Jumlah penduduk yang mendapatkan 129,262 354.456 1. 40,854 Jiwa 49,220 Jiwa akses air bersih jiwa

  

2. Jumlah penduduk sasaran 297.392 307.236 333.089 555.341

  

3. Sambungan Rumah untuk Air Minum 2,960 SR 3,589 SR 3,007 SR 1.583 SR

Cakupan pelayanan air minum di 52,83 4. 38,23 % 42,59 % 45,13 % perkotaan Pembangunan instalasi sumber mata air

  2 SPAM 5.

  

2 SPAM

  1 SPAM

  2 SPAM dan unit distribusi Cakupan pelayanan air bersih

  63,83% 6. 53,55% 55,32% 59,98% diperdesaan Jumlah desa yang melaksanakan

  18 Desa 7.

  

15 Desa

  15 Desa

  15 Desa Program PAMSIMAS

  8. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

  

3 Paket

  1 Paket

  3 Paket

  1 Paket Panjang drainase di wilayah perkotaan 1,22 Km 9. 1,52 Km 2,80 Km 21,54 Km dan perdesaan

  Panjang drainase perkotaan dan 8,790 km 10. 1,52 Km 2,80 Km 21,54 Km perdesaan yang tertangani Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi ( Mempunyai Failitas Tempat Buang Air Besar)

  

1. Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi 283.446 283.992 286.285 293.678

  

2. Jumlah rumah tinggal 545.928 545.928 545.928 555.341

  

3. Persentase 51,92 52,02 52,44 52,88

Cakupan pelayanan bencana kebakaran

  1. Jumlah Mobil Pemadam Kebakaran

  

5

  5

  6

  6

  

2. Jumlah Penduduk 2.424.888 2.464.010 2.503.765 2.525.483

  

3. Luas Wilayah Kab. Garut 3.074,07 3.074,07 3.074,07 3.074,07

  

4. Jumlah Kejadian Kebakaran 129 Kali 149 Kali 136 Kali 101 Kali

Rasio mobil damkar thd luas kab Garut 512,345 5. 614,814 614,814 512,345 (km2)

  Sumber : Distarkim Kab. Garut

5. Penataan Ruang

  Dalam hal penataan ruang, wilayah Kabupaten Garut sebagai bagian dari struktur penataan ruang wilayah Kabupaten dilakukan secara terpadu tidak terlepas dari kedudukan dan perannya dalam lingkup wilayah yang lebih luas baik dalam lingkup Nasional maupun wilayah Propinsi Jawa Barat. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan RTRW Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Garut termasuk ke dalam Kawasan Andalan Priangan Timur bersama dengan empat kabupaten/ kota lainnya. Gambaran pencapaian kinerja urusan penataan ruang selama periode 2010-2013 antara lain kesesuaian antara peruntukan dan pemanfaatan kawasan lindung mengalami peningkatan 8 % dari sebesar 34% pada tahun 2010 menjadi sebesar 42% pada tahun 2013.

  

Tabel 2. 75

Perkembangan I ndikator Penataan Ruang di Kabupaten Garut

Tahun 2010- 2013

  No I ndikator Kinerja Penataan Ruang Capaian Setiap Tahun 2010 2011 2012 2013 Penataan Ruang

1. Pranata hukum penataan ruang dan kawasan -

  1 Perda

  16 RDTR Kota Garut 2007

  29 RTR KSK Perbatasan Utara 2012

  12 RUTR Garut Selatan 2007

  30 RTR KSK Koridor Leles-Kadungora 2012

  13 RDTR Balubur Limbangan 2007

  31 RDTR Cibatu 2013

  14 RDTR Bungbulang 2007

  32 RDTR Bungbulang 2013

  15 RDTR Cibalong 2007

  33 RDTR Pangatikan 2013

  34 RDTR Caringin 2013

  28 RTR PKL Pameungpeuk 2012

  17 RDTR Leles 2007

  35 RDTR Talegong 2013

  18 RTRK Kawasan Industri Copong 2007

  36 RTRPerbatasan Bagian Timur 2013 Sumber : Distarkim Kab. Garut

Tabel 2. 77

Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut

  No Dokumen Rencana Rinci Tata Ruang Tahun

  1 RTRW Kab. Garut 2001

  2 RTRW Kab. Garut 2006

  3 RTRW Kab. Garut 2009-2010

  4 RTRW Kab. Garut (Perda No.29 Tahun 2011) 2011-2031 Sumber : Distarkim Kab. Garut

  11 RTDR Cibatu 2006

  10 RUTR Sucinaraja 2005

  1 Perda 2. Kesesuaian antara peruntukan dan pemanfaatan kawasan lindung

  21 RDTR Karangpawitan 2008

  34% 36% 40% 42% 3. Peran serta masyarakat dan swasta dalam penataan ruang

  Sedang Sedang Sedang Sedang 4. Tingkat kesesuaian antara rencana tata ruang dengan pemanfaatan ruang

  Sedang Sedang Sedang Sedang Sumber : Distarkim Kab. Garut

Tabel 2. 76

Dokumen Rencana Tata Ruang Kabupaten Garut

  No Dokumen Rencana Rinci Tata Ruang Tahun No Dokumen Rencana Rinci Tata Ruang Tahun

  1 RUTR Pameungpeuk 1993

  19 RTRK Kawasan Industri Cipanas 2007

  2 RUTR Kadungora 1994

  20 RDTR Cikajang 2008

  3 RUTR Cisurupan 1995

  4 RUTR Samarang 1995

  27 RDTR Cisewu 2011

  22 RDTR Bayongbong 2009

  5 RUTR Wanaraja 1995

  23 RDTR Caringin 2009

  6 RUTR Banyuresmi 2001

  24 RDTR Kota Garut 2,3,5,6 2009

  7 RUTR Kota Garut 2001

  25 RDTR Kadungora 2009

  8 RUTR Malangbong 2001

  26 RDTR Pasirwangi 2011

  1 Perda

  9 RTBL Kawasan Sport Center 2004

6. Perencanaan Pembangunan

  Pelaksanaan urusan pemerintahan bidang perencanaan pembangunan daerah selama tahun 2009-2013 secara garis besar berkaitan dengan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah, antara lain perumusan kebijakan teknis perencanaan; pengkoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan daerah; dan pembinaan pelaksanaan tugas di bidang perencanaan pembangunan daerah. Pencapaian kinerja urusan perencanaan pembangunan selama tahun 2009- 2013 antara lain : a. Tersedianya dokumen perencanaan pembangunan daerah yang meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)

  Kabupaten Garut Tahun 2005 – 2025, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2009 – 2014, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Garut Tahun 2010 s/d 2014, Rencana Detail Tata Ruang;

b. Tersedianya Peraturan Daerah Kabupaten Garut tentang Sistem

  Perencanaan Pembangunan Daerah;

  

Tabel 2. 78

Penyusunan Dokumen Rencana Pembangunan Daerah

Kabupaten Garut Periode Tahun 2009- 2013

  Dokumen No Dasar Hukum Jumlah Keterangan Perencanaan

  1. RPJPD Peraturan Daerah Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 4 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka

  1 Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Garut Tahun 2005 – 2025

  2. RPJMD Peraturan Daerah Perda Kab. Garut Nomor 7 Tahun 2009 tentang

  1 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2009 – 2014 Perda Kab. Garut Nomor 32 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 7 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut Tahun 2009 – 2014;

  3. RKPD Peraturan Bupati Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

  5 Garut Kabupaten Garut Tahun 2010 s/d 2014

  4. Sisrenbangda Peraturan Daerah

  1 Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 15 Tahun 2012 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah

  Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2014

c. Tersedianya Laporan Pelaksanaan dan Evaluasi Penyelenggaraan

  Pemerintahan Daerah berupa Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah (LKPJ), Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kabupaten Garut; Laporan Triwulanan Kegiatan Pembangunan;

  

Tabel 2. 79

Penyusunan Laporan Pelaksanaan dan Evaluasi Penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009- 2013

  No Dokumen Laporan Dasar Hukum Jumlah Keterangan

  1. Laporan Akuntabilitas PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang

  5 LAKIP Kabupaten Garut

Kinerja Instansi Pelaporan Keuangan Dan Kinerja Tahun 2008 s/d Tahun

Pemerintah (LAKIP) Instansi Pemerintah 2012

  2. Laporan Keterangan PP Nomor 3 Tahun 2007 tetang

  7 LKPJ Bupati Garut ATA Pertanggungjawaban Laporan Penyelenggaraan 2008 s/d 2012 (LKPJ) Bupati Garut Akhir Pemerintahan Daerah Kepada LKPJ Bupati Garut AMJ Tahun Anggaran (ATA) Pemerintah, Laporan Keterangan 2004-2009 dan AMJ dan Akhir Masa Jabatan Pertanggungjawaban Kepala Daerah 2009-2014 (AMJ) Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan

  Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat

  3. Laporan Triwulanan PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang

  20 Laporan Triwulanan

Kegiatan Pembangunan Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Kegiatan Pembangunan

Pengendalian dan Evaluasi Kabupaten Garut Tahun Pelaksanaan Rencana Pembangunan 2009 s/d Tahun 2013 Daerah

  4. Laporan Evaluasi Kegiatan PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang

  5 Laporan Evaluasi

Pembangunan Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Kegiatan Pembangunan

Pengendalian dan Evaluasi Kabupaten Garut Tahun Pelaksanaan Rencana Pembangunan 2008 s/d Tahun 2012 Daerah Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2014.

d. Tersedianya dokumen kajian perencanaan pembangunan daerah ;

  

Tabel 2. 80

Penyusunan Dokumen Kajian Perencanaan Pembangunan Daerah

Kabupaten Garut Periode Tahun 2009- 2013

  Tahun No Bidang Jumlah 2009 2010 2011 2012 2013

1. Ekonomi 4 2 3 6 5

  20

  

1. Penyusunan perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan cepat tumbuh (Desa

Barudua Kec. Malangbong), 2009

  2. Pemetaan Potensi Ekonomi Kabupaten Garut, 2009

  3. Penyusunan Konsep Pengembangan Pasar Tradisional, 2009

  4. Penyusunan Konsep Pengembangan Ekonomi Berbasis Agribisnis, Agroindustri, Kelautan dan Pariwisata pada Cluster Pengembangan Wilayah, 2009

  5. Design Pengembangan Pasar Tradisional (Banprop), 2010

  6. Kajian Ekonomi di Sentra Tembakau, 2010

  7. Kajian Revitalisasi dan Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL), 2011

  

8. Penyusunan Masterplan Pembangunan Pelabuhan Pendaratan Ikan Rancapadu, 2011

  9. FS dan DED Wisata Agro Barudua (Banprop), 2011

  10. Kajian Ekonomi Masyarakat Daerah Pesisir Kabupaten Garut, 2012

  11. Penyusunan Geografis Komoditas Tembakau di Kabupaten Garut (DBHCT), 2012

  12. Kajian PDRB Hijau (Banprop), 2012

  13. FS Pengembangan Pabrik Pakan Ternak Kabupaten Garut, 2012

  

14. Identifikasi Potensi Pengembangan Sumber-sumber PAD di Kabupaten Garut, 2012

  

15. Penyusunan Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan (Pandu Gerbang

Kampung), 2012

  No Bidang Tahun Jumlah 2009 2010 2011 2012 2013

  31 Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2014.

  1

  1

  3

  1. Kajian Kelayakan Pemekaran Garut Selatan, 2009

  2. Kajian Daerah Pemekaran Kabupaten Garut, 2010

  3. Penyusunan Rencana Aksi Strategis Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi di Kabupaten Garut, 2013 Jumlah 6 3 6 9 7

  e. Tersedianya dokumen data/statistik daerah untuk penyusunan rencana pembangunan daerah ;

  3. Pemerintahan

  Tabel 2. 81 Penyusunan Dokumen Data/ Statistik Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009- 2013 No Uraian Tahun Jumlah Keterangan 2009 2010 2011 2012 2013 1.

  Kabupaten Garut Dalam Angka 1 1 1 1 1 5 Kerjasama dengan BPS Kab. Garut

  2. Produk Domestik Regional Bruto Kecamatan di Kabupaten Garut Tahun 2009 (Studi pada 25 kecamatan)

  1

  1 Kerjasama dengan BPS Kab. Garut 3.

  Survei Sosial Ekonomi Daerah (SUSEDA) Kabupaten Garut 1 1 1

  3 Kerjasama dengan BPS Kab. Garut 4.

  1

  8. Studi Kelayakan Alternatif Jalan Limbangan Malangbong, 2013

  16. Penyusunan Kajian Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan

  3

  17. Studi Kelayakan Pengembangan Pabrik Es di Kawasan Pelabuhan Cilauteureun Kab. Garut (Banprop)

  

18. Studi Kelayakan Pengembangan Industri Pengolahan Susu di Kab. Garut (Banprop)

  19. Kajian Pengembangan Potensi Industri Lokal Untuk Mendukung Peningkatan Pendapatan Masyarakat di Kab. Garut (Banprop)

  

20. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Pedesaan Kab. Garut

  2. Fisik

  1

  3

  1

  7. Penyusunan Rencana Hubungan Antar Moda Kabupaten Garut (Banprop), 2012

  8

  1. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota Garut BWK 2-3-5-6 dan Kec. Leuwigoong, 2009

  2. Penyusunan Feasibility Study Terminal Kecamatan Malangbong (Banprop), 2011

  3. Penyusunan Feasibility Study Jalan Lingkar Cipanas (Banprop), 2011

  4. Penyusunan Masterplan Art Centre, 2011

  5. Analisis Kompensasi Hulu Terhadap Hilir DAS Cimanuk (Banprop), 2012

  6. Penyusunan Masterplan Persampahan Kota Garut (Banprop), 2012

  Indikator Makro Kabupaten Garut 1 1 1 1 1 5 Kerjasama dengan BPS Kab. Garut

  Tahun No Uraian Jumlah Keterangan 2009 2010 2011 2012 2013

  Membangun Garut Satu Data (Pengumpulan,

  5.

  1 1 1 3 Updating dan Analisis Data / Informasi) Updating Sistem Informasi

  6. Perencanaan Pembangunan 1 1 Daerah Updating Metadata

7. Infrastruktur Data Spasial

  1

  1 Daerah (Lanjutan Banprop) Jumlah 3

  4

  4

  4

  4

  19 Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2014

f. Terselenggaranya koordinasi perencananaan pembangunan daerah;

  Tabel 2. 82 Koordinasi Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009- 2013 Tahun No Bidang/ Uraian Jumlah 2009 2010 2011 2012 2013

  1. Bidang Ekonomi

  

1

  1

  3

  3

  2

  10 Koordinasi perencanaan pembangunan 1 1 1 1 1 5 bidang ekonomi Koordinasi Percepatan Pembangunan

  1 1 1 3 Daerah Tertinggal Koordinasi Perencanaan Penggunaan 1 1

  2 DBHCHT

  2. Bidang Sosial Budaya

  3

  3

  4

  4

  6

  20 Koordinasi perencanaan pembangunan 1 1 1 1 1 5 bidang sosial dan budaya Koordinasi Program Keluarga Harapan

  1

  1

  1

  1

  1

  5 Koordinasi KHPPIA

  1

  1

  1

  1

  1

  5 Penunjang Koordinasi Pemberdayaan 1 1 1 3 Lansia Penunjang Koordinasi Kabupaten Siaga

  1

  1 Penunjang Koordinasi Sinergitas Percepatan Penurunan AKB Lintas 1 1 Sektor

  3. Bidang Fisik

  

4

  4

  5

  5

  6

  24 Koordinasi Perencanaan Pembangunan 1 1 1 1 1 5 Bidang Prasarana Daerah Koordinasi PNPM Mandiri Perkotaan

  1

  1

  1

  1

  1

  5 Koordinasi Pamsimas

  1

  1

  1

  1

  1

  5 Koordinasi PISP

  1

  1

  1

  1

  1

  5 Koordinasi Program Air Minum dan 1 1 1 3 Penyehatan Lingkungan Rapat Koordinasi Rencana Tata Ruang

  1

  1

  4. Bidang Pemerintahan

  

1

  1

  1

  1

  2

  6 Koordinasi perencanaan pembangunan 1 1 1 1 1 5 bidang Pemerintahan Koordinasi Antar Daerah

  1 1

  5. Sekretariat

  1

  1

  1

  1

  4 Koordinasi Dalam Pemecahan Masalah-

  1

  1

  1

  1

  4

  Tahun No Bidang/ Uraian Jumlah 2009 2010 2011 2012 2013

  Masalah Daerah (Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten/TKPK)

6. Bidang Data Evlap

  1

  1

  1

  3 Koordinasi Penyelenggaraan 1 1 1 3 Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan

  9 10 15 15 18 67 Jumlah Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2014.

  g. Terselenggaranya bimbingan teknis/ workshop perencananaan pembangunan daerah ;

  Tabel 2. 83 Bimbingan Teknis/ Workshop Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Garut Periode Tahun 2009- 2013 No Uraian Keterangan

  

1 Workshop Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Bidang Pemerintahan, Tahun 2010

Bidang Pemerintahan, Tahun 2011,

  2 Workshop Penyusunan Perencanaan Pembangunan Desa 2012 Workshop Penyusunan Rencana Pembangunan untuk Lingkup

  3 Bidang Pemerintahan, Tahun 2011 SKPD dan Kecamatan di Garut (Banprop)

  

4 Workshop Peningkatan Kapasitas Kerjasama Daerah Bidang Pemerintahan, Tahun 2013

Bimbingan Teknis Perencanaan Percepatan Pembangunan

  5 Bidang Ekonomi, Tahun 2013 Ekonomi Berbasis Potensi Lokal Workshop Perencanaan Pembangunan Kawasan Pedesaan

  6 Bidang Ekonomi, Tahun 2013 Berbasis Masyarakat Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2014.

  h. Terselenggaranya perencanaan pembangunan secara partisipatif melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam penyusunan dokumen rencana pembangunan daerah;

  Permasalahan dalam urusan perencanaan pembangunan diantaranya :

  a) Masih lemahnya tingkat koordinasi antar sektor, maupun antar tingkatan pemerintahan yang mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan program dan kegiatan;

  b) Masih kurangnya pemahaman aparatur baik di lingkup Bappeda maupun pada tingkatan SKPD terhadap tahapan dan proses perencanaan pembangunan daerah, sehingga masih banyak SKPD yang terlambat dalam penyampaian baik dokumen perencanaan maupun laporan hasil pelaksanaan kegiatan;

  c) Masih kurangnya tenaga teknis perencana baik pada lingkup Bappeda maupun SKPD, sehingga banyak program dan kegiatan yang sifatnya koordinatif dengan Bappeda menjadi terhambat;

  d) Adanya kebijakan dan peraturan yang diterbitkan pada tengah tahun anggaran, yang mengakibatkan tidak dapat berlanjutnya pelaksanaan program dan kegiatan.

7. Perhubungan

  Pelaksanaan Urusan Perhubungan dititikberatkan untuk menunjang kelancaran roda perekonomian daerah antara lain kegiatan usaha masyarakat dalam mendistribusikan pemasaran hasil produk barang dan jasa yang diindikasikan pada kelancaran dan keselamatan di jalan melalui pengadaan perlengkapan jalan berupa rambu lalu lintas, marka jalan dan RPPJ serta meningkatnya pelayanan bagi penyedia dan pengguna jasa transportasi seperti di terminal. Indikator-indikator keberhasilan program dan kegiatan bidang perhubungan ditentukan oleh perkembangan perlengkapan jalan seperti: Rambu Lalu Lintas, Rambu pendahulu petunjuk jurusan, Marka Jalan, Traffict Cones, Lampu peringatan (Warning Light), Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (Traffic Light), dan Guardrail. Selama tahun 2009-2013 Rambu Lalu Lintas mengalami kenaikan sebesar 41,15%, Rambu pendahulu petunjuk jurusan (RPPJ) meningkat 0,85%, TrafficCones mengalami penurunan sebanyak 84,09%, Warning Light mengalami peningkatan sebanyak 13,33%. Marka Jalan meningkat 22%, dan Guardrail mengalami peningkatan sebanyak 100%.

  Tabel 2. 84 Perkembangan Perlengkapan Lalu- Lintas di Kabupaten Garut Jumlah pada tahun Perkembangan No Jenis Fasilitas 2009 2010 2011 2012 2013 Unit %

  

1 Rambu lalu-lintas 797 770 753 929 1.125 328 41,15

Rambu pendahulu petunjuk jurusan

2 117 114 120 135 118 1 0,85

/RPPJ (unit)

  Rambu pendahulu petunjuk jurusan

3 30 29 28 28 28 -2 -6,67

(RPPJ) portable (unit)

  4 Traffic Cones (unit)

  44

  35

  24

  24 7 -37 -84,09

  5 Lampu peringatan/Warning Light (unit)

  15

  15

  15

  15

  17 2 13,33

  6 Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (unit)

  8

  8

  8

  8 8 0,00

  2

  

7 Marka Jalan (m ) 1.000 350 750 1.724 1.220 220 22,00

  8

  5

  10 - Water barrier (unit)

  9 Guardraill (m) 0 0 0

  80

  80 80 100,00 Sumber: Dishub, Kab. Garut tahun 2013

  Aspek keselamatan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian karena dampak yang ditimbulkan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup dan kerugian materi. Dampak kecelakaan tidak hanya dirasakan sesaat, khususnya bagi keluarga yang ditinggalkan atau bagi korban yang mengalami cacat seumur hidup. Disamping itu kerugian materi sebagai akibat rusaknya fasilitas keselamatan dan sarana bukanlah nilai yang kecil. Kendaraan bermotor berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu-lintas yang dapat berakibat korban manusia bahkan kematian saat dioperasikan dijalan. Untuk menghindari atau mengurangi resiko tersebut di atas, setiap kendaraan bermotor harus dilakukan pengujian agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Sampai dengan saat ini kewajiban uji bagi kendaraan bermotor baru sebatas kendaraan umum dan barang. Ketentuan yang mengatur pengujian kendaraan bermotor adalah Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun

  2005 tentang Penyelenggaraan Perhubungan dan telah mendapat revisi dengan Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun 2011. Selama tahun 2009- 2013, jumlah kendaraan bermotor yang diuji mengalami kenaikan sebesar 26,70%. Dari jumlah kendaraan yang diuji mengalami peningkatan sebanyak 2.982 unit atau 26,70% dari sebanyak 11.169 unit pada tahun 2009 menjadi 14.151 unit pada tahun 2013.

  Tabel 2. 85 Pengujian Kendaraan Bermotor Tahun Perkembangan No Jenis Kendaraan 2009 2010 2011 2012 2013 Angka %

  1 Mobil Penumpang 690 556 2.389 2.412 2.462 1772 256,81

  2 Bus 2.782 2.766 1.104 1.167 1.103 -1679 -60,35

  3 Barang 7.608 8.265 9.185 9.515 10.586 2978 39,14

  4 Khusus

  89

  63 59 -

  47 Jumlah 11.169 11.650 12.737 13.141 14.151 2.982 26,70 Sumber: Dishub, Kab. Garut tahun 2014

  Perkembangan jumlah angkutan umum dalam kabupaten di Kabupaten Garut sangat beragam, trayek Angkutan Kota yang memberikan pelayanan mobilitas pengguna jasa di sekitar/menuju pusat kota, trayek Angkutan Perkotaan yang melayani pengguna jasa antar kawasan/kecamatan dengan pusat kota, trayek Angkutan Pedesaan untuk melayani mobilitas penduduk di pelosok/pedesaan yang menghubungkan pusat kegiatan kecamatan dengan desa-desa di luar wilayah pusat kota, dan taxi yang melayani mobilitas penduduk yang lebih fleksibel sesuai dengan permintaan penumpang. Jumlah Angkutan lokal (Angkutan Kota, Angkutan Perkotaan, Angkutan Perdesaan maupun taksi) menunjukkan kenaikan sebanyak 79 unit atau sebesar 3,12% dari jumlah angkutan sebanyak 1.957 unit pada tahun 2009 menjadi 2.018 unit pada tahun 2013.

  Tabel 2. 86 Jumlah Angkutan Umum Dalam Kabupaten di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 TAHUN PERKEMBANGAN JENI S TRAYEK 2009 2010 2011 2012 2013 ( unit) ( % ) Angkot 1.020 1.038 1.056 1.056 1.056 36 3,52 Perkotaan 416 416 453 453 453

  37 8,89 Perdesaan 499 475 476 476 487 -12 -2,40 Taksi 22

  

22

  22

  22 22 0,00 JUMLAH 1.957 1.951 2.007 2.007 2.018 61 3,12

  Sumber: Dinas Perhubungan Kab. Garut 2013

  Sebagai sarana mobilisasi pengguna jasa tingkat regional, dengan di layani Trayek Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) dan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP). Perkembangan armada Trayek AKDP dan AKAP dapat kita lihat dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, pada tabel dibawah ini :

  

Tabel 2. 87

Potensi Angkutan Antar Kota Tahun 2009- 2013 Tahun Pertumbuhan Trayek 2009 2010 2011 2012 2013 unit %

  AKDP 432 650 650 650 650 218 50,46 AKAP 90 145 145 145 145 55 61,11

  JUMLAH 522 795 795 795 795 273 52,30 Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Garut

  Terminal dan Sub Terminal sebagai salah satu penunjang sarana mobilisasi, selama tahun 2009-2013 perkembangannya relatif tidak mengalami perubahan sebagaimana terlihat pada tabel berikut:

  Tabel 2. 88 Jumlah Terminal Bis dan Non Bis Tahun 2009- 2013 Tahun 2009 Tahun 2013 N Terminal Sub. Terminal Terminal Sub. Terminal Kecamatan o Non Non Non Non Bus Bus Bus Bus Bus Bus Bus Bus

  1 Bungbulang

  1

  1

  1

  1

  2 Pameungpeuk

  1

  1

  1

  1

  3 Singajaya

  1

  1

  1

  1

  4 Cikajang

  1

  1

  1

  1

  5 Bayongbong

  1

  1

  6 Samarang

  1

  1

  7 TarogongKidul

  1

  1

  1

  1

  8 Cibatu

  1

  1

  9 Bl. Limbangan

  1

  1

  1

  1

  10 Malangbong

  1

  1

  1

  1

  11 Cisewu

  1

  1

  12 Kadungora

  1

  1 Jumlah 2

  2

  5

  10

  2

  2

  5

  10 Sumber: Dinas Perhubungan Kab. Garut 2013

  Kondisi infrastruktur transportasi darat seperti kurangnya ketersediaan perlengkapan jalan dan fasilitas lalu lintas seperti rambu, marka, pengaman jalan, terminal, dan jembatan timbang, serta belum optimalnya kondisi dan penataan sistem hirarki terminal sebagai tempat pertukaran moda, menyebabkan kurangnya kelancaran, ketertiban, keamanan serta pengawasan pergerakan lalu lintas. Demikian pula halnya dengan pelayanan angkutan massal seperti kereta api dan bis, masih belum optimal mengingat infrastruktur transportasi darat yang tersedia belum mampu mengakomodir jumlah pergerakan yang terjadi. Selama kurun waktu tahun 2009-2013 tercatat beberapa penugasan pengaturan lalu lintas baik rutin maupun yang bersifat insidental. Adapun daftar penugasan dimaksud dapat dilihat pada tabel berikut :

  Tabel 2. 89 Penugasan Pengaturan Lalu Lintas Tahun 2009- 2013 Hari Besar Hari Besar Tamu VI P / Tahun Monitoring Jumlah Nasional/ Agama Daerah

  VVI P 2009 24 6 2

  32

  64 2010 36 7 3

  24

  70 2011 54 9 3 36 102 2012 56 18

  3 30 107 2013 41 44 5 12 102 Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Garut

  Ditinjau dari fatalitas dan jumlah korban kecelakaan angka kecelakaan masih sangat memprihatinkan, belum lagi bila dibandingkan dengan kerugian material yang timbul akibat kecelakaan tersebut. Selengkapnya data fatalitas dan jumlah korban kecelakaan lalu lintas 2009 – 2013 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

  Tabel 2. 90 Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 2009- 2013 Kerugian Fatalitas Korban JumlahK Jumlah No Tahun Material asus Korban MD LB LR ( Rp.000)

  1 2009 221 102 139 387 628 1.200.050 2 2010 470 112 288 580 980 1.433.325 3 2011 604 145 409 639 1.193 1.286.950 4 2012 618 148 336 680 1.164 2.092.450 5 2013 197 88 126 178 392 1.413.800 JUMLAH 2.110 595 1.298 2.464 4.357 7.426.575

  

% 13,66 29,79 56,55 100,00

Sumber : Satlantas Polres Garut

  Pengawasan dan penyidikan terhadap pelanggaran lalu lintas dan angkutan meliputi persyaratan teknis dan laik jalan serta perizinan angkutan. Potensi pengawasan terdiri dari kendaraan wajib uji dan kendaraan penumpang umum sebagaimana potensi pada Bidang Angkutan dan UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor dengan perincian sebagai berikut :

  Tabel 2. 91 Kendaraan Wajib Uji dan Angkutan Penumpang Umum Tahun Jenis Kend. 2009 2010 2011 2012 2013 Kendaraan Wajib Uji Jumlah Kend. 9.301 10.232 11.430 12.835 14.418 Kendaraan penumpang umum

  MPU 1.957 1.951 2.007 1.963 2.018 AKDP 432 650 650 650 650

  Tahun Jenis Kend. 2009 2010 2011 2012 2013 AKAP 90 145 145 145 145 JUMLAH 522 795 795 795 795

  Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Garut

  Hasil operasi penertiban yang digelar baik di terminal secara mandiri maupun di jalan bersama Satlantas Polres Garut secara tidak langsung dapat menekan jumlah pelanggaran lalu lintas dan angkutan, diantaranya tidak hanya diberikan sanksi berupa tipiring namun juga dengan melarang pengoperasian kendaraan bahkan penahanan kendaraan oleh Polres Garut. Hasil operasi penertiban yang dilakukan PPNS mulai tahun 2009 hingga 2013 dapat dilihat pada tabel berikut :

  Tabel 2. 92 Jumlah Pelanggaran Hasil Operasi Penertiban Tahun 2009-2013 Jumlah

Uraian Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun

  • * ) 2009 2010 2011 2012 2013

  Jumlah Kendaraan 505 106 663 1.515 1.059 Persy. teknis & laik jalan 315 54 457 814 759 Jumlah

  Perizinan Angkutan 399 66 296 779 350 Pelanggaran Jumlah 714 120 753 1.593 1.109

  Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Garut *) Tahun 2010 hanya dilaksanakan di terminal bus Guntur karena tidak tersedia alokasi anggaran.

  Tabel 2. 93 Prasarana dan Sarana Bidang Perhubungan, Laut, Udara dan Komunikasi Tahun No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 Norma Standar Prosedur dan Kebijakan

  1

  1

  • (NSPK) paket

2 Sertifikasi dan Registrasi kapal (unit) 100 200 200 - -

  3

  • Sarana Prasarana Pedesaan :
  • >

    - Dermaga/Tempat tambat kapal (unit) - 1 4 4 3

  • Alat Angkut Tdk Bermotor (u>
  • Angkutan Bermotor Roda 4 (Truk) (unit)>
  • Angkutan Bermotor Roda 4 (Pick Up) (u
  • 1 5

  9

  14

  • Angkutan Air Bermotor (unit)
  • 1 1 3 2

  4 Kapal Patroli (unit) - -

  1 Penataan Jaringan Telekomunikasi

  5 8 - - - - (kecamatan)

  6 Pengadaan alat ukur : - -

  • Theodolite (unit)

  1 - - -

  • Windspeed (unit) - 1 - -

  2

- - - - - GPS (unit)

  • 7 Pengadaan alat SAR : -

  1 - - - - - Alat selam + tabung (unit)

  • Kantong mayat (unit) - - 20 - -
  • Life Jacket (unit) - - 10 - -
  • Megaphone (unit) - - 14 - -
  • Radio HF (unit) - - 1 - -
  • Handy Talky (unit) - - -

  4 1 - 7 111 - 4.059 Cibatu 2.104 50 1.952

  Sumber : PT Telkom, Kandatel Garut

  17 68 - 1.383 Jumlah 34.970 2.615 28.937 156 131 6 7 144 835 32.831

  11 70 - 1.533 Malangbong 1.748 88 1.199 11 - - -

  5 1 -

  

37

  50 95 - 3.600 Bl. Limbangan 1.610 74 1.335

  4 3 - -

  10 43 - 2.066 Kadungora 3.618 98 3.350

  

10

1 - -

  9

  No Uraian Tahun 2009 2010 2011 2012 2013

  7 46 377 - 16.771 Wanaraja 4.350 73 3.854

  4

  3 43 - 2.000 Garut Kota 17.936 1.983 14.168 74 112

  6 5 - -

  4 1 - - - 24 - 1.210 Cisompet 248 7 199 1 - - - - 4 - 211 Cikajang 2.104 189 1.754

  Kecamatan Kav Sentral Line I n Service Subscriber Line Public Phone Wartel TUT Jumlah Bisnis Residen Sosial TUC TUK TUKS TUP Pameungpeuk 1.252 55 1.126

  Tabel 2. 94 Kapasitas Sentral Telepon Dan Jumlah Line I n Services

Menurut Jenis Pelanggan Di Kabupaten Garut Tahun 2012 ( SST)

  Pada aspek telekomunikasi, cakupan layanan untuk infrastruktur telekomunikasi dilayani melalui jasa telepon kabel serta telekomunikasi bergerak (selular). Pengembangan jaringan Infrastruktur Komunikasi Telepon Nirkabel (infrastruktur tower komunikasi selular) yang dibangun operator telekomunikasi, semakin memperluas jangkauan layanan telepon selular sampai ke wilayah-wilayah kecamatan di Kabupaten Garut.

  2 Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Garut

  2

  Pelayanan komunikasi lainnya yaitu jasa pos dilayani di oleh 19 unit kantor Pos dengan rata-rata lebih dari 500.000 unit transaksi penerimaan dan pengiriman surat pos per tahun. Dalam keragaman bentuk komunikasi yang terus berkembang, layanan pos masih tetap diminati masyarakat. Sampai saat ini PT. Pos Indonesia (Persero) Kantor Garut menyediakan beberapa jasa layanan pos, diantaranya adalah layanan Surat Biasa, Surat Kilat Khusus, Wesel Pos, Pos Express, Express Mail Service, Paket Pos, Western Union, SOPP.

8. Lingkungan Hidup

  Penyelenggaraan urusan lingkungan hidup dilaksanakan dengan sasaran terlaksananya upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, dengan pencapaian indikator kinerja selama tahun 2010-2013 :

  Tabel 2. 95 Pencapaian I ndikator Sasaran Lingkungan Hidup Tahun 2010- 2013 Realisasi Capaian Kinerja No. I ndiktor Kinerja 2010 2011 2012 2013

  1. Persentase pelayanan pencegahan 12,5% 16,67% 50% 70,37% pencemaran air

  2. Persentase pelayanan pencegahan 60% 60% 50% 100% udara dari sumber tidak bergerak

  3. Persentase pelayanan informasi status - 8,37% 71,43% 100% kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa

  4. Pelayanan tindak lanjut pengaduan 100% 100% 100% 100% masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan

  5. Tingkat status mutu sungai utama dan Cemar Cemar Cemar Cemar waduk/situ berat berat berat berat

  Sumber: DLHKP Kabupaten Garut Tahun 2013

  Upaya pengendalian pencemaran dan pelestarian lingkungan dilakukan pula melalui pengembangan teknologi ramah lingkungan antara lain biogas, komposter, lubang biopori, sumur resapan, alat bor biopori dan sarana IPAL UKM.

  Tabel 2. 96 Pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan dalam Pengendalian Pencemaran dan Pelestarian Lingkungan Tahun Jumlah No Jenis Total 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Biogas

  80

  79 36 35 35 265

  2 Komposter 120 100 100 320

  3 Lubang Biopori 1300 500 200 200 200 2400

  4 Sumur Resapan 70 40 110

  5 Alat Bor Biopori 100 100 200

  6 Sarana

IPAL UKM

  7

  7 Sumber: DLHKP Kabupaten Garut, Tahun 2013. Dalam upaya pelestarian lingkungan hidup terutama di kawasan sumber mata air pada Tahun 2013 dilakukan melalui penanaman pohon sebanyak 114.199 pohon di kawasan sumber mata air.

  Tabel 2. 97 Penanaman Pohon Pelindung di Kaw asan Sumber Mata Air Tahun Jumlah No Bibit Tanaman Total 2009 2010 2011 2012 2013

  

1. Mahoni 2.000 3.650 3.500 3.500 15.820 28.470

  

2. Nangka 2.000 2.499 3.719 7.359 4.519 20.096

  

3. Suren 2.000 3.589 3.684 3.684 11.500 24.457

  

4. Kihujan 3.600 3.500 5.910 4.400 17.410

  

5. Kemiri 2.410 6.000 8.410

  

6. Bambu 3.640 3.640

  

7. Sukun 1.230 900 2.130

  

8. Picung 1.230 1.230

  9. Katapang 10.025 10.025

  10. Pandan 13.795 13.795

  11. Mangga 3.910 3.910

  12. Durian 3.800 3.800

  13. Alpukat 6.900 6.900

  14. Sirsak 11.180 11.180

  15. Salam 2.000 2.000

  16. Ekaliptus 9.000 9.000

  17. Gamelina 7.000 7.000

  18. Albasiah 900 900

  19. Kopi 1.300 1.300

  20. Mangrove 1.250 1.250

Total 6.000 13.338 14.403 28.963 114.199 176.903

  Sumber: DLHKP Kabupaten Garut Tahun 2013

  Perkembangan kinerja pelayanan persampahan selama tahun 2012 dan tahun 2013 ditinjau dari segi daya angkut sampah dari sumber sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Pasir Bajing sedikit mengalami peningkatan sebesar 11,11 % yaitu dari sebesar 432 m3/hari pada Tahun

  level of

  2012 menjadi 480 m3/hari pada Tahun 2013. Tingkat Pelayanan (

  service ) mengalami peningkatan 2,5% dari 30,5% di Tahun 2012 menjadi

  33% di Tahun 2013. Peningkatan kinerja yang cukup kecil itu dikarenakan hal-hal sebagai berikut :

1. Walaupun ada penambahan Mobil Angkutan Sampah sebanyak 3 Unit

  (12,5%) dari 24 unit di Tahun 2012 menjadi 27 unit pada Tahun 2013 pengaruhnya masih cukup kecil jika dibandingkan dengan peningkatan volume timbulan sampah total di wilayah pelayanan (5 kecamatan) dari 1.415 m3/hari pada Tahun 2012 menjadi sebesar 1457 m3/hari pada Tahun 2013.

  2. Secara kuantitas dukungan sarana angkutan sampah mengalami peningkatan (24 unit di Tahun 2012 dan 27 unit di Tahun 2013) tapi secara kualitas tetap atau cenderung menurun karena mengalami kerusakan dan keausan;

  3. Walaupun Tingkat Pelayanan (

  level of service

  ) Persampahan Kabupaten Garut relatif rendah, tapi cakupan pelayanan cukup besar dimana selain 5 kecamatan di perkotaan, terdapat 2 kecamatan di luar perkotaan yang dilayani secara rutin yaitu Kecamatan Leles dan Kadungora, ditambah juga pelayanan ke wilayah kecamatan lain yang sifatnya permintaan masyarakat. Juga dengan ditambahnya sarana pengumpul sampah berupa Motor Tiga Roda dari 3 unit di Tahun 2012 menjadi 26 unit di Tahun 2013 maka terjadi peningkatan kualitas penanganan persampahan di perkotaan.

  Dari tahun ke tahun jumlah timbulan sampah semakin meningkat, yang disebabkan oleh : 1) Pertambahan jumlah penduduk; 2) Kabupaten Garut menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Barat sehingga jumlah kunjungan wisata semakin meningkat, termasuk wisata kuliner;

  3) Pertumbuhan rumah makan, toko oleh-oleh souvenir semankin meningkat. Peningkatan jumlah timbulan sampah tidak sebanding dengan pertambahan julah sarana angkutan sampah sehingga pelayanan persampahan akan cenderung menurun.

  Tabel 2. 98 Peningkatan Jumlah Timbulan Sampah No Jumlah Timbulan Sampah dan Sarana Angkutan Sampah Tahun 2009 2010 2011 2012 2013

  1. Jumlah timbulan sampah 1.000 m3/hari 1.038 m3/hari 1.382 m3/hari 1.415 m3/hari 1.457 m3/hari 2.

  Jumlah sarana angkutan sampah 24 buah 24 buah 24 buah 24 buah 27 buah

  3. Tingkat Pelayanan 43,2% 41,62% 31,26% 30,5% 33% Sumber: DLHKP Kabupaten Garut Tahun 2013 Tabel 2. 99 Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan No Jenis Fasilitas Tahun 2012 2013

  1 Cakupan Wilayah Pelayanan 5 kecamatan (perkotaan)

sebagai pelayanan utama :

Kecamatan Garut Kota

Kecamatan Tarogong Kidul

Kecamatan Tarogong Kaler

Kecamatan Banyuresmi

Kecamatan Karangpawitan

5 kecamatan (perkotaan) sebagai pelayanan utama : Kecamatan Garut Kota Kecamatan Tarogong Kidul Kecamatan Tarogong Kaler Kecamatan Banyuresmi Kecamatan Karangpawitan

  

2 kecamatan (luar perkotaan)

sebagai pelayanan tambahan :

Kecamatan Leles Kecamatan Kadungora

Kecamatan lain (permintaan)

2 kecamatan (luar perkotaan) sebagai pelayanan tambahan: Kecamatan Leles Kecamatan Kadungora Kecamatan lain (permintaan)

  No Jenis Fasilitas Tahun

  

2 Volume Timbulan Sampah 1.415 1.457

di Wilayah Pelayanan (m3/hari)

  3 Daya Angkut Sampah 432 480 (m3/hari) Level of

  4 Tingkat Pelayanan ( 30,5 % 33 % Service) (Daya Angkut Sampah : Volume Timbulan Sampah Wilayah Pelayanan x 100%)

  5 Mobil Angkutan Sampah 24 27 (Dump Truck, Armroll Truck, Mini Truck, Panther)

  6 Motor Angkutan Sampah 3 26 (Tiga Roda) Sumber: DLHKP Kabupaten Garut Tahun 2013 Catatan :Timbulan sampah : 2.63 lt/org/hari Asumsi pertambahan sampah : 3%

  Sementara itu perkembangan Jumlah dan Kondisi Penerangan Jalan Umum selama Tahun 2012-2013 relatif tidak mengalami perubahan yang signifikan dengan kondisi dalam keadaan nyala sekitar 45%-52% sebagaimana terlihat pada tabel berikut:

  

Tabel 2. 100

Perkembangan Jumlah dan Kondisi Penerangan Jalan Umum

Tahun 2009- 2013

  Kondisi Penerangan Jalan Umum Tahun Nyala Tidak Nyala Jumlah % Nyala

  2.772 1.891 4.663 2009

  59,45 1.806 1.273 3079

  2010 58,66 1945 1300 3246

  2011 59,93 2012 2.054 2.598 4.562 45,03

  2013 2.509 2.346 4.855 51,68

  Sumber: DLHKP Kabupaten Garut Tahun 2013

  Permasalahan yang masih dihadapi pada pelaksanaan urusan lingkungan hidup : a) Peningkatan jumlah timbulan sampah tidak sebanding dengan pertambahan jumlah sarana angkutan sampah sehingga pelayanan persampahan cenderung menurun dari sebesar 43,2% pada tahun 2009 menjadi sebesar 33% pada tahun 2013; b) Tingkat status mutu air DAS Cimanuk adalah cemar berat. Kondisi tersebut terutama diakibatkan beban pencemaran dari kegiatan domestik, pertanian, perkebunan, peternakan, industri dan aktifitas lain yang berada di DAS Cimanuk yang air limbahnya di buang ke sungai c) Pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer sehingga terjadi efek rumah kaca yang berdampak besar pada perubahan pola iklim;

  d) Tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap fungsi lingkungan yang masih rendah; e) Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan;

f) Masih rendahnya cakupan dokumen lingkungan oleh pengusaha;

  g) Masih rendahnya pengelolaan limbah domestik yang bersumber dari rumah tangga, pariwisata dan jasa pelayanan medis atau jasa usaha lainnya;

  h) Menurunnya kualitas beberapa kawasan konservasi (hutan lindung, cagar alam dan taman wisata alam); i) Masih kurangnya pemanfaatan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dalam upaya pengendalian pencemaran lingkungan; j) Belum optimalnya pemeliharaan Penerangan Jalan Umum (PJU);

9. Kependudukan dan Catatan Sipil

  c. Terpeliharanya data base kependudukan;

  10

  Pelaksanaan urusan pemerintahan bidang Kependudukan dan Catatan Sipil selama tahun 2009-2013 berkaitan dengan pelayanan umum bidang kependudukan pencatatan sipil, dengan capaian kinerja tahun 2013 antara lain: a. Tercetaknya dokumen kependudukan Kartu Keluarga (KK) 817.697 lembar dan Kartu Tanda Penduduk KTP 1.181.795 lembar; b. Meningkatnya kepemilikan akta capil (kelahiran) sebanyak 137.630

  8 PASIRWANGI 72.53 44.245 37.75 32.818 30.808 2.01 15.916

  7 SAMARANG 87.824 52.100 44.410 42.319 36.386 5.933 11.127

  6 BANYURESMI 93.030 65.252 55.678 36.198 22.097 14.101 24.451 65 95%

  5 TAROGONG KIDUL 131.216 83.998 71.602 55.553 51.092 4.461 16.699

  4 TAROGONG KALER 93.783 69.798 59.501 48.654 43.028 5.626 18.481

  3 WANARAJA 66.774 34.732 29.605 27.610 26.591 1.019 11.127 306

  2 KARANGPAWITA N 152.876 96.62 82.376 65.597 43.752 21.845 7.901 1.932

  1 GARUT KOTA 171.019 110.226 93.985 79.705 69.274 10.431 6.039

  11

  9

  d. Meningkatnya pemahaman aparatur tingkat desa/kelurahan dan kecamatan dalam hal pelaksanaan pengelolaan adminduk; e. Terekamnya Data Penduduk W-KTP dalam enrollment E-KTP sebanyak 1.867.461 W-KTP.

  8

  Akta;

  

6

  5

  4

  3

  2

  1

  e- KTP jadi yang sudah diterima Sisa Belum Melaksana kan Perekaman e-KTP e-KTP Yang terdapat Kesalaha n Ket

  Tabel 2. 101 Rekapitulasi Capaian Rekaman dan Pendistribusian E- KTP S/ D Desember 2013 di Kabupaten Garut No Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah Wajib KTP Target

Realisasi

Perekaman

e-KTP

  7

  No Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah Wajib KTP Target Realisasi Perekaman e-KTP

  36 CARINGIN 34.761 23.047 19.686 18.193 16.628 1.565 2.678

  25 CIHURIP

21.57 13.892 11.846 10.422 11.075 -653 6.181

  26 PEUNDEUY 24.843 15.236 13.100 12.119 10.044 2.075 1.281

  27 PAMEUNGPEUK 45.994 33.937 28.965 21.865 15.966 5.899 9.81 267

  28 CISOMPET 60.767 39.258 33.472 27.493 25.562 1.931 10.429 291

  29 CIBALONG 46.026 28.163 24.010 23.209 21.92 21.017 21.742 213

  30 CIKELET 44.344 29.131 24.855 23.309 22.262 1.047 55.815 207

  31 BUNGBULANG 69.597 44.740 38.169 24.992 22.461 2.531 15.083

  32 MEKARMUKTI 19.018 11.714 9.995 10.165 9.828 337 1.503

  33 PAKENJENG 74.574 46.479 39.674 22.315 23.989 -1.674 15.359

  34 PAMULIHAN 21.214 13.711 11.697 10.309 5.268 5.041 2.678

  35 CISEWU

40.95 28.411 24.256 17.379 15.657 1.722 8.877

  37 TALEGONG 36.233 25.047 21.368 16.39 14.414 -12.775 8.420

  23 BANJARWANGI

60.84 39.367 33.634 26.290 24.637 1.653 8.404

  16

  38 BL. LIMBANGAN 93.429 57.248 48.896 45.989 38.385 7.604 15.158

  39 SELAAWI 47.771 29.615 25.252

  24.55 22.86 169 5.042 495

  40 CIBIUK

39.98 24.455 20.856 19.976 19.669 307 3.880

  41 PANGATIKAN 40.727 29.841 24.499 22.662 14.319 -12.057 9.450

  42 SUCINARAJA 34.905 21.877 18.669 16.219 16.62 14.557 3.260

Jumlah 3.009.552 1.867.461 1.591.739 1.349.435 1.181.795 167.84 456.453 22.477

Sumber : Disdukcapil, Tahun 2014.

  Tabel 2. 102 Data Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Kependudukan Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No Tahun

Uraian

Jumlah

  Tidak membaw a KTP

Memiliki lebih

  

1 KTP

Habis masa berlaku

  

1 2009 834 107 2278 1.169

2 2010 721 93 62 876 3 2011 - - - -

  4 2012 604

  24 SINGAJAYA 51.246 32.877 28.046 20.952 20.803 149 13.279

  56

  e- KTP jadi yang sudah diterima Sisa Belum Melaksana kan Perekaman e-KTP e-KTP Yang terdapat Kesalaha n Ket

  

10 KADUNGORA 111.853 69.580 59.324 55.849 49.727 6.122 1.638 733 79.81%

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  11

  9 LELES 96.663 58.208 49.634 49.915 44.7 49.668 10.396

  11 LEUWIGOONG 55.807 35.077 29.897 26.993 25.045 1.948 10.793

  22 CIKAJANG 97.024 56.671 48.305 44.091 38.173 5.918 569

  12 CIBATU 89.352 56.732 48.385 45.299 39.623 5.676 10.757

  13 KERSAMANAH 47.543 27.295 23.290 21.059 18.842 2.217 3.549

  14 MALANGBONG 150.703 89.738 76.508 56.198 50.172 6.026 23.410

  15 SUKAWENING 69.229 43.031 36.721 31.919 25.56 29.363 9.305 471

  16 KARANG TENGAH 20.967 13.348 11.392 12.052 10.679 1.373

  3.4

  17 BAYONGBONG 138.523 69.988 59.652 53.091 44.453 8.638 20.151 173

  18 CIGEDUG

45.43 28.130 23.979 23.199 21.308 1.891 6.739

  19 CILAWU 144.598 78.005 66.497 60.411 51.843 8.568 7.166

  20 CISURUPAN 114.6 67.308 57.378 48.409 40.612 7.797 11.069

  21 SUKARESMI 49.949 29.243 24.925 17.698 15.431 2.267 10.656

  47

  81 57 742 5 2013 564 54 37 655 Sumber : Disdukcapil, Tahun 2014.

  Tabel 2. 103 Data pelayanan Akta Pencatatan Sipil Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tahun No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Kelahiran :

  • - Umum 5.315 6.558 17.260 22.168 25.375

    25.661 59.212 134.841 21.319

  19.43

  • Terlambat - - - > 1 Tahun 3.581 1.555 92.825

  Jumlah 34.557 65.77 151.101 45.042 137.630

  2 Perkawinan :

  • WNI 30 28 20 29

  23

  • WNA - - - - -

  3 Perceraian :

  1

  3

  4

  3

  • WNI 1
  • WNA - - - - -

  4 Kematian :

  • WNI 31 41 51 65

  58

  • WNA - - - - 1

  5 Pengesahan Anak - - - - 1

  6 Pengakuan Anak 3 - 6 - -

  7 Angkat Anak - - -

  2

  3

  8 Perubahan Nama

  1

  4 - - -

  • 9 Perubahan Warga Negara - - - -

  10 Kutipan ke 2

  11 Surat Keterangan Capil

  12 Realisasi Akta 34.622 65.843 152.179 45.146 137.719 Sumber : Disdukcapil, Tahun 2014.

  Tabel 2. 104 Data Pelatihan Pengelola Sistem Administrasi Kependudukan ( SI AK) Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Operator No Tahun Total Keterangan Kecamatan Kabupaten Tingkat kemahiran 1 2009

  84 Orang

  31 Orang 115 Orang operator dalam 2 2010 penggunaan komputer/aplikasi

  3 2011 SIAK 4 2012

  5 2013

  84 Orang

  31 Orang 115 Orang Sumber : Disdukcapil, Tahun 2014.

  Permasalahan yang dihadapi pada Program Penataan Administrasi Kependudukan adalah masih terbatasnya SDM di Kecamatan maupun Kabupaten dalam pengelolaan kependudukan dan pencatatan sipil, terbatasnya sarana prasarana pendukung pelaksanaan program SIAK secara on-line , serta masih terbatasnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan dan mendaftarkan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting.

10. Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan

  Gambaran pencapaian kinerja urusan keluarga berencana terkait dengan upaya pengendalian pertumbuhan penduduk melalui pengaturan kelahiran, jarak dan usia ideal melahirkan, pengaturan kehamilan, promosi dan bantuan sesuai dengan hak-hak reproduksi selama tahun 2009-2013 disajikan sebagai berikut :

  • Rata- rata Jumlah Anak Per Keluarga Jumlah anak dalam keluarga di Kabupaten Garut selama kurun waktu tahun 2009-2013 rata-rata berjumlah 2 orang anak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 2. 105 Rata- rata Jumlah Anak Per Keluarga di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

1. Jumlah anak 1.241.384 1.261.981 1.142.148 1.232.242 1.217.319

  2. Jumlah keluarga 651.676 665.136 664.618 691.185 704.795 Rata-rata Jumlah Jiwa 3. 3,71 3,68 3,66 3,63 3,57 dalam Keluarga

  Rata-rata jumlah anak per 4. 1,90 1,90 1,72 1,78 1,73 keluarga Sumber : BKBPP Kab. Garut dan BPS Kab.Garut, Tahun 2013.

   Jumlah Keluarga Per Tahapan Keluarga Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBNmenggunakan kriteria kesejahteraan keluarga untuk mengukur kemiskinan. Lima pengelompokkan tahapan keluarga sejahtera menurut BKKBN adalah Keluarga Pra Sejahtera, Keluarga Sejahtera Tahap I, Keluarga Sejahtera Tahap II, Keluarga Sejahtera Tahap III, dan Keluarga Sejahtera Tahap III Plus. Jumlah Keluarga per Tahapan Keluarga di Kabupaten Garut terus mengalami peningkatan, yaitu dari segi jumlah Keluarga di Kabupaten Garut terus mengalami kenaikan sejak tahun 2009. Proporsi keluarga prasejahtera yaitu keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan akan pengajaran agama, pangan, sandang, papan dan kesehatan terus mengalami penurunan, sedangkan Keluarga Sejahtera Tahap II, III dan IV terus mengalami kenaikan.

  Tabel 2. 106 Jumlah Keluarga per Tahapan Keluarga di Kabupaten Garut Tahun 2009 - 2013 Keadaan Pada Tahun No. I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Keluarga 651.676 665.136 664.618 691.185 704.795

  

2 Keluarga Pra Sejahtera 183.375 182.341 180.589 183.154 178.923

  3 Keluarga Sejahtera Tahap I 212.241 215.969 217.633 232.466 247.643

  Keadaan Pada Tahun No. I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  4 Keluarga Sejahtera Tahap II 165.625 173.110 173.088 186.727 187.156

  5 Keluarga Sejahtera Tahap III 84.423 86.960 83.488 83.761 84.565

  6 Keluarga Sejahtera Tahap III Plus 6.012 6.756 9.820 5.077 6.508

  7 Prosentase Keluarga Pra Sejahtera 28,14 27,41 27,17 26,50 25,39 Keluarga Sejahtera Tahap I 32,57 32,47 32,75 33,63 35,14 Keluarga Sejahtera Tahap II 25,42 26,03 26,04 27,02 26,55 Keluarga Sejahtera Tahap III 12,95 13,07 12,56 12,12 12,00 Keluarga Sejahtera Tahap III Plus 0,92 1,02 1,48 0,73 0,92

  Sumber : BKBPP Kab. Garut, Tahun 2013.

   Rasio Beban Ketergantungan Usia Produktif adalah dari kelompok umur 16-21 tahun dan umur 22- 59 tahun hasil pendataan keluarga. Usia Ketergantungan dari jumlah 100 orang menanggung beban 64 sampai 68 orang.

  Tabel 2. 107 Rasio Beban Ketergantungan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Keadaan Pada Tahun No. I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  

1 Jumlah Usia Produktif 1.438.140 1.454.873 1.614.686 1.524.479 1.533.637

  2 Jumlah Usia Konsumtif 977.180 990.659 816.769 984.534 985.526

  

3 Beban Ketergantungan 67,95 68,09 50,58 64,58 64,26

Sumber : BKBPP Kab. Garut , Tahun 2013.

   Akseptor KB Jumlah peserta KB di Kabupaten Garut pada tahun 2013 sebanyak 348.345 peserta dari 486.216 pasangan usia subur, meningkat 24.299 peserta bila dibandingkan tahun 2009 sebanyak 324.046 peserta.

  Adapun rasio akseptor KB terhadap jumlah pasangan usia subur selama kurun waktu tahun 2009-2013 mengalami peningkatan 0,31% dari 71,33% pada tahun 2009 menjadi 71,64% pada tahun 2013.

  Tabel 2. 108 Rasio Akseptor KB di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  

1. Jumlah PUS 454.275 466.793 421.865 486.958 486.216

  

2. Jumlah Peserta KB (Jumlah Akseptor KB) 324.046 334.548 292.516 347.973 348.345

  

3. Jumlah Tidak Ber-KB 130.229 132.245 129.349 138.985 137.871

  

4. Rasio Akseptor KB 71,33% 71,67% 69,34% 71,46% 71,64%

Sumber : BKBPP Kab. Garut , Tahun 2013.

  Tabel 2. 109 Jumlah Peserta KB Berdasarkan Tempat Pelayanan di Kabupaten Garut Tahun 2009 - 2013 Keadaan Pada Tahun No. I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  

1 Jumlah Peserta KB 324.046 334.548 292.516 347.973 348.345

Jumlah Peserta KB jalur

2 207.594 213.655 179.626 229.452 226.736

Pemerintah

3 Jumlah Peserta KB jalur Swasta 116.452 120.893 112.890 118.521 121.609

  4 Prosentase Jumlah Peserta KB jalur 64,06 63,86 61,41 65,94 65,09 Pemerintah

  

Jumlah Peserta KB jalur Swasta 35,94 36,14 38,59 34,06 34,91

Sumber : BKBPP Kabupaten Garut, Tahun 2013.

  Petugas lapangan KB yang merupakan ujung tombak dalam penggerakan program kependudukan dan KB lini lapangan. Selama periode tahun 2009-2013, untuk mengatasi kekurangan petugas lapangan KB PNS, terus ditingkatkan dengan penambahan petugas lapangan KB Tenaga Penggerak Desa (TPD), yaitu pada tahun 2009 sebanyak 37 orang menjadi 128 pada tahun 2013.

  Tabel 2. 110 Jumlah Petugas Lapangan KB di Kabupaten Garut Tahun 2009 - 2013 Keadaan Pada Tahun No. I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

1 Jumlah Petugas Lapangan KB (PNS) 107 107

  90

  78

  77 Jumlah Petugas Lapangan KB (TPD) 2 37 76 125 130 128 Total Petugas Lapangan 3 144 183 215 208 205 Jumlah Desa/Kelurahan 4 424 424 442 442 442 Rasio terhadap Desa garapan 5 2,94 2,32 2,06 2,13 2,16 Jumlah Petugas Lapangan KB (PNS)

  • Jumlah Petugas Lapangan KB (TPD)
  • Total Petugas Lapa
  • Sumber : BKBPP Kabupaten Garut, Tahun 2013.

  Keberhasilan program KB bukan saja kerja pemerintah, melainkan dedikasi kader dan penyuluh yang terjun langsung di lapangan. Mereka dengan sukarela mendatangi setiap rumah tangga untuk mengajak orang ber-KB. Julan kader relatif mengalami peningkatan dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013.

  Tabel 2. 111 Jumlah Kader KB Sukarela di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 Keadaan Pada Tahun No. I ndikator 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah Kader ditingkat Desa 424 424 442 442 442 Jumlah Kader ditingkat RW 2 4.498 4.498 4.591 4.600 4.600 14.710 15.115 14.573 15.298 15.419

  Jumlah Kader ditingkat RT

  3 Total Jumlah Kader 4 19.632 20.037 19.606 20.340 20.461 Sumber : BKBPP Kabupaten Garut, Tahun 2013.

  Kondisi pengendalian kependudukan di Kabupaten Garut dinilai masih mengalami hambatan, hal ini terlihat dari tingginya Total Fertility Rate (TFR). Hasil sensus penduduk tahun 2010 Kabupaten Garut menunjukkan angka yang tinggi dibanding dengan TFR Provinsi Jawa Barat dan TFR Nasional.

  Tabel 2. 112 Total Fertility Rate ( TFR) Kabupaten Garut Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 NO. URAI AN TFR Tahun 2010

  1 Pusat/Nasional 2,3 Provinsi Jawa Barat

  2 2,48 Kabupaten Garut

  3 2,56 Sumber : BKBPP Kabupaten Garut, Tahun 2013.

  Tabel 2. 113 Capaian SPM Program Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak KEADAAN PADA TAHUN NO. ASPEK SPM

  2009 2010 2011 2012 2013

  1 Cakupan PUS < 20 tahun ;- ;- Cakupan sasaran PUS menjadi Peserta 2 ;- ;- KB

  Cakupan PUS yang ingin ber-KB belum 3 ;- ;- terlayani (Unmeetneed) Cakupan anggota kelompok BKB yang

  4 ;- ;- ber-KB Cakupan PUS Peserta KB anggota 5 ;- ;- UPPKS menjadi Peserta KB Mandiri Cakupan Pembantu Pembina KB Desa

  6 ;- ;- (POS KB Desa) di setiap desa/kelurahan Ratio Petugas lapangan Keluarga Berencana/Penyuluh Keluarga

  7 ;- ;- Berencana (PLKB/PKB) di setiap desa/kelurahan

  KEADAAN PADA TAHUN NO. ASPEK SPM 2009 2010 2011 2012 2013

  Penyediaan alat dan obat kontrasepsi 8 untuk keluarga prasejahtera dan ;- ;- seajahtera I/keluarga miskin. Cakupan penyediaan informasi data 9 mikro keluarga di setiap Desa/Kelurahan setiap tahun. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan

  

10 45 54 66 75 68

penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan

  

11 12 17 21 19 16

terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KIP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit.

  Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial

12 terlatih bagi perempuan dan anak - 10 7 8 8

korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial

13 terlatih bagi perempuan dan anak - 10 7 8 8

korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan

  

14 8 11 12 18 20

pengadilan atau kasus-kasus kekerasan terhadap perermpuan dan anak Cakupan perermpuan dan anak korban

  

15 kekerasan yang mendapatkan layanan 11 17 15 21 25

bantuan hukum Cakupan layanan pemulangan bagi

16 11 15 8 7 16

perempuan dan anak korban kekerasan Cakupan layanan integrasi sosial bagi

  

17 11 15 8 7 16

perempuan dan anak korban kekerasan Sumber : BKBPP Kabupaten Garut, Tahun 2013.

  Permasalahan yang dihadapi urusan Keluarga Berencana, antara lain : - Jumlah kelahiran dan pertumbuhan penduduk masih tinggi. Saat ini jumlah penduduk di Kabupaten Garut terus meningkat dengan pesat, walaupun TFR (Angka Kelahiran Total) dan LPP menunjukkan kecenderungan menurun dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil sensus penduduk (SP) tahun 2010 TFR Kabupaten Garut berada pada posisi angka 2,56 dengan angka laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 1,59. Meskipun menunjukkan penurunan angka kelahiran namun belum dapat mencapai angka kelahiran yang ideal yaitu TFR 2,1.

  • Kualitas dan keberlangsungan pemakaian kontrasepsi masih rendah.
Secara kuantitas kesertaan ber-KB di Kabupaten Garut sudah cukup baik ditandai dengan angka CPR sebesar 71,66% pada kondisi hasil pendataan keluarga tahun 2013, namun tingkat kesertaan ber-KB masih didominasi oleh penggunaan kontrasepsi jangka pendek sebesar 81,62% dan pemakai kontrasepsi jangka panjang hanya 18,38%. Kondisi demikian menjadi rentan terhadap kelestarian akseptor sehingga mempengaruhi terhadap keberlangsungan pemakaian alat kontrasepsi dan menyebabkan drop out. Terdapat beberapa alasan drop out dan alasan utamanya disebabkan karena rasa takut akibat efek samping dan masalah kesehatan lainnya.

  Unmeet Need

  Masih Tetap Tinggi. - Dalam kurun 5 tahun ( 2009 – 2013 ), jumlah Pasangan Usia Subur

  (PUS) yang ingin menunda punya anak atau tidak menginginkan

  unmeet

  anak lagi atau kebutuhan ber- KB belum terlayani atau

  need , hasil pendataan keluarga tahun 2013 memperlihatkan adanya

  penurunan sebesar 2,07% yaitu dari 15,72 pada tahun 2009 menjadi 13,65 pada tahun 2013. Namun demikian, angka tersebut tetap jauh lebih tinggi dari target sasaran Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebesar 5% di tahun 2014. Beberapa faktor penyebab tingginya unmmet need antara lain karena akses pelayanan KB yang tidak terjangkau, kesenjangan pengetahuan terhadap suatu metode kontrasepsi, kurangnya pilihan atau ketersediaan metode kontrasepsi serta adanya kendala biaya. Disamping itu, hambatan yang timbul dari kebijakan atau peraturan yang belum sepenuhnya mendukung program KKB serta hambatan norma sosial, budaya dan agama.

  • Rata-rata umur perkawinan pertama wanita masih rendah. Hasil Pendataan Keluarga Tahun 2013 menunjukkan bahwa angka rata-rata usia kawin pertama wanita di Kabupaten Garut berada pada kisaran angka 18,65 tahun. Keadaan demikian menimbulkan dampak pada meningkatnya angka kelahiran pada usia muda (ASFR 15-19 tahun) yang masih tinggi yaitu 30 orang kelahiran per 1000 wanita usia subur. Hal ini mengindikasikan kurangnya KIE tentang pendewasaan usia perkawinan pertama dan penggarapan remaja dalam merencanakan kehidupan keluarga.
  • Masih rendahnya partisipasi keluarga dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dan remaja.

  Persentase keluarga yang memiliki anak balita yang aktif melakukan pembinaan tumbuh-kembang anak melalui kelompok BKB cenderung kurang, yaitu 68% dari jumlah anggota yang ada. Sementara jumlah partisipasi keluarga dalam kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja juga menunjukkan angka yang rendah yaitu hanya 65% dari anggota yang ada. Hal ini disebabkan salah satunya adalah karena masih kurangnya kapasitas SDM pengelola kelompok kegiatan baik BKB maupun BKR disamping sarana dan prasarana pendukung kegiatan belum tersedia sesuai kebutuhan.

  • Belum optimalnya pemanfaatan kelompok-kelompok kegiatan untuk peningkatan, pembinaan, dan kemandirian peserta KB.

  Menurut teori kependudukan, pada saat CPR telah mencapai di atas 50%, sangat sulit untuk meningkatkan peserta KB oleh karena sisa PUS pada umumnya adalah kelompok-kelompok sulit (

  hard core

  ) yang memerlukan terobosan-terobosan baru untuk mengajak mereka ber-KB. Salah satu upaya inovatif yang dipergunakan untuk mengajak mereka ber-KB adalah melalui pembentukan kelompok- kelompok kegiatan (Poktan) yang ada. Namun sampai dengan saat ini poktan tersebut belum optimal dalam meningkatkan dan membina kesertaan ber-KB serta meningkatkan kemandiriannya

  • Rasio jumlah petugas lapangan dengan jumlah desa binaan belum ideal.

  Saat ini tenaga Petugas Lapangan KB/ Penyuluh KB (PLKB/PKB) yang ada di Kabupaten Garut berjumlah 205 orang terdiri terdiri dari

  77 Tenaga Kerja Kontrak (TKK). Keberadaan petugas tersebut jika dibandingkan dengan desa/kelurahan yang ada yang jumlahnya 442, maka rasionya setiap 1 (satu) orang petugas membina 2 sampai 3 desa/kelurahan. Kondisi demikian tentu akan mempengaruhi pada kualitas penggarapan operasional KB di lapangan dan tentunya akan berpengaruh pula pada lambatnya capaian hasil program.

   Pemberdayaan Perempuan Pelaksanaan urusan pemberdayaan perempuan diarahkan pada upaya mencapai sasaran meningkatnya keadilan dan kesetaraan gender dan peran perempuan dalam proses pembangunan dan terpenuhinya hak- hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi dan dampak pornografi. Peningkatan pemberdayaan perempuan memegang peran dan posisi yang strategis diantaranya terhadap keberhasilan dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan kesehatan dan keluarga berencana dengan mengintegrasikan Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam berbagai sektor pembangunan sesuai dengan proporsi dan karakteristik yang dimiliki. Organisasi Wanita, baik Sosial, Profesi maupun Kemasyarakatan serta Keagamaan, diantaranya : Gabungan Organisasi Wanita, Organisasi Wanita Persatuan antara lain Dharma Wanita Persatuan, Persit, Bhayangkari dan Ikatan Isteri Dokter Indonesia (IIDI). Selain itu, terdapat Organisasi Wanita di Bidang Kemasyarakatan antara lain Tim Penggerak PKK, Forum Komunikasi Gender (Forkom Gender), Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Organisasi Wanita Profesi yang ada diantaranya Ikatan Bidan Indonesia (IBI), HWK, IWAPI dan PERWOSI

  Pendokumentasian dan database perempuan dan anak korban kekerasan belum dilakukan secara terencana dan terfokus, sehingga menyulitkan untuk melakukan dan menindaklanjuti monitoring dan evaluasi pendampingan korban.

  serta Organisasi Wanita Keagamaan antara lain Al-Hidayah, Wanita PUI, Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiyah dan Persistri. Upaya pengarusutamaan gender masih perlu ditingkatkan, antara lain melalui peningkatan pemahaman tentang pengarusutamaan gender kepada seluruh lapisan masyarakat, peningkatan komitmen pemerintah, serta peningkatan pengarusutamaan gender kepada seluruh program dan kegiatan. Pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak masih dihadapkan pada permasalahan antara lain :

  • Aspek keadilan dan kesetaraan gender yang masih belum membudaya di masyarakat. Meskipun kegiatan pemberdayaan keluarga yang dilaksanakan selama ini telah memprioritaskan kaum perempuan sebagai sasaran utamanya, namun pada kenyataannya nilai sosial budaya yang kurang menguntungkan bagi status dan peran perempuan di masyarakat masih kuat. Hal ini tercermin dengan masih adanya diskriminasi terhadap nilai anak dan pengakuan prestasi kerja perempuan.
  • Penanganan Pengaduan korban kekerasan terhadap anak dan perempuan belum optimal Penanganan pengaduan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak masih banyak mengalami kendala dalam pelayanan, antara lain terbatasnya jumlah petugas penerima pengaduan, minimnya jumlah tenaga pendamping korban dan biaya operasional juga menjadi kendala dalam pendampingan korban.
  • Database perempuan dan anak belum tersedia secara optimal

11. Sosial dan Keagamaan

   Sosial Pembangunan kesejahteraan sosial adalah usaha yang terencana dan melembaga yang meliputi berbagai bentuk intervensi sosial dan pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, mencegah dan mengatasi masalah sosial serta memperkuat kelembagaan sosial. Kondisi kesejahteraan sosial masyarakat diindikasikan dengan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dengan proporsi terbesar pada tahun 2013 diantaranya adalah keluarga fakir miskin sebanyak 282.102 keluarga. Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan penyandang masalah kesejahteraan sosial dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut:

  Tabel 2. 114 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ( PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial ( PSKS) Tahun 2009- 2013 Jumlah No Jenis 2009 2010 2011 2012 2013 A PMKS :

  1. Anak Balita terlantar 23.412 23.412 23.412 23.412 23.412

  2. Anak terlantar 44.936 44.033 43.285 42.520 41.770

  

3. Anak nakal 809 809 711 613 563

  

4. Anak jalanan 292 292 292 262 182

  5. Wanita rawan sosial ekonomi 39.645 39.645 39.605 39.535 39.445

  

6. Korban tindak kekerasan 914 884 820 745 670

  7. Lanjut usia terlantar 36.191 35.977 35.746 35.443 35.190

  8. Penyandang cacat 8.082 8.034 7.806 7.481 7.365

  

9. Tuna Susila 238 223 213 140 95

  

10. Pengemis 420 420 331 242 153

  

11. Gelandangan 56 56 48 41 29

Berkas waega binaan lembaga

12. 325 310 282 254 197

kemasyarakatan

  Korban penyalahgunaan Narkoba 13 1.634 1.604 1.574 1.524 1.468 (NAPZA)

  14. Keluarga fakir miskin 359.723 341.269 323.918 306.202 282.102 Keluarga tinggal di Rumah tidak layak 15. 56.805 56.575 56.350 56.154 55.613 huni

  16. Keluarga bermasalah social psikologis 3.003 2.883 2.883 2.883 2.883

  

17. Komunitas adat terpencil 166 166 166 166 166

  18. Korban bencana alam 20.500 8.458 17.750 16.324 1.961

  

19. Korban bencana social 1.250 1.194

Pekerja imigran terlantar/bermasalah

20. 1.082 1.082 1.017 952 857

sosial

  

21. Penyandang HIV/AIDS 98 98 92 92 92

  22. Keluarga rentan 8.564 8.484 8.454 8.424 8.224 Jumlah PMKS 608.145 574.714 565.949 543.409 502.437 B PSKS

  1 Organisasi Sosial /Yayasan

  

82

  89 95 112 117

  

2 Panti 28 33 36 38 42

  3 Pekerja Sosial Masyarakat 2.000 2.105 2.155 2.155 2.155

  

4 Karang Taruna 421 421 421 441 442

Sumber : Dinsosnakertrans Kab.Garut, Tahun 2014.

  

Tabel 2. 115

Jumlah Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial tahun 2009- 2013

Jumlah Penanganan Tahuan No Jenis PMKS

  Total 2009 2010 2011 2012 2013 Penanganan

  1 Anak Balita Terlantar - - - - - -

  2 Anak Terlantar 720 903 748 765 750 3.886

  3 Anak Nakal

  98

  98 - 50 246 -

  4 Anak Jalanan 30 110 - 80 - -

  Penanganan PMKS dengan selama tahun 2009-2013 mencapai 179.089 orang dengan rata-rata penanganan PMKS setiap tahunnya sebesar 6,4%. Salah satu bentuk penanganan PMKS ialah melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dengan sasaran masyarakat yang termasuk klafisikasi Rumah Tangga Sanggat Miskin (RTSM). Pola yang dikembangkan pada pelaksanaan PKH ini ialah dengan Pemberian Bantuan Tunai Bersyarat, yaitu dalam bidang Kesehatan dan Pendidikan, yang pada pelaksanaanya setiap RTSM bisa memperoleh bantuan tunai apabila melaksanakan persyaratan pemeliharaan kesehatan dan menyekolahkan anaknya, sehingga PKH juga diartikan sebagai upaya untuk merubah pola pikir Rumah Tangga Sangat Miskin sekaligus mengunting garis kemiskinan antara kemiskinan dengan Kesehatan dan Pendidiikan. Kegiatan PKH baru bersifat uji coba yang dilaksanakan di beberapa Kecamatan saja, namun selama 5 tahun (2009-2013) memperlihatkan peningkatan sasaran kegiatannya.

  65 95 225

  16 Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis

  17 Komunitas Adat Terpencil - - - - - -

  18 Korban Bencana Alam 20.500 8.458 17.760 16.324 1.900 64.942

  19 Korban Bencana Sosial 1.250 - 1.194 - - 2.444

  20 Pekerja Migran Bermasalah -

  65

  21 Orang Dengan HIV/AIDS -

  14 Keluarga Fakir Miskin 18.454 17.351 17.716 24.100 24.580 102.201

  6 6 -

  12

  22 Keluarga Rentan Sosial Ekonomi

  80

  

80

  30 30 200 420 Jumlah 41.623 27.447 38.494 42.638 28.887 179.089 Sumber : Dinsosnakertrans Kab.Garut, Tahun 2014.

  15 Keluarga Berumah Tidak Layak Huni 130 230 215 206 511 1.292

  33

  No Jenis PMKS Penanganan Tahuan Jumlah Total Penanganan 2009 2010 2011 2012 2013

  9 Tuna Susila 31 15 10 73 45 174

  5 Wanita Rawan Sosial Ekonomi 60 -

  40

  70 90 260

  6 Korban Tindak Kekerasan - 30 64 75 75 244

  7 Lanjut Usia Terlantar 172 214 231 313 243 1.173

  8 Penyancang Cacat 193 46 228 325 115 907

  10 Pengemis 15 -

  10

  89

  89 89 282

  11 Gelandangan - - - - - -

  12 Bekas Warga Binaan Lembaga

10 - -

  54 54 118

  13 Korban Penyalahgunaan NAPZA

8 - -

  15

  • 120 - - - 120

  Tabel 2. 116 Data Kepesertaan Program Keluarga Harapan Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tahun Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah Kecamatan lokasi 14 14 14 18 18 PKH Jumlah desa Lokasi PKH 124 124 124 186 186

Jumlah RTSM 15.008 16048 15.806 25.348 22.392

Jumlah Pendamping 61 61 61 84 76

Jumlah Bantuan Tunai 22.604.598 23.389.400 22.836.300 31.213.140 40.697.492,5 (Ribu Rp.) Sasaran RTSM :

  • Ibu Hamil 642 668 426 8.373 566

    Balita - 11.888 11695 10.272 18.154 13.929

  • Siswa SD 16.730 17915 17.297 25.763 25.211
  • Siswa SMP 6.360 7033 7.283 16.478 11.977 Sumber : Dinsosnakertrans Kab.Garut, Tahun 2014.

   Keagamaan Karakteristik masyarakat Kabupaten Garut yang religius menjadikan kualitas kehidupan beragama di Kabupaten Garut terus mengalami peningkatan, antara lain ditandai dengan semakin bertambahnya penyediaan sarana dan fasilitas keagamaan, sarana pendidikan keagamaan, meningkatnya peringatan hari-hari besar keagamaan dan senantiasa terpeliharanya kerukunan hidup antar umat beragama, intern umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah. Pembangunan keagamaan juga memberikan andil yang cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, antara lain ditandai dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam membayar Zakat Infak Sodaqoh (ZIS), hibah/ wakaf dan dana keagamaan lainnya. Walaupun masih belum optimal, namun hal itu cukup mendukung upaya penanggulangan kemiskinan, pembiayaan yatim piatu, bantuan bencana alam dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Untuk meningkatkan pengembangan kehidupan beragama, maka pembangunan kedepan perlu didukung dengan kebijakan untuk meningkatkan kerukunan dan toleransi kehidupan beragama dalam bermasyarakat. Beribadah menurut agama dan kepercayaan yang dianut, merupakan wujud kepercayaan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Beribadah sangat berguna dalam membentuk manusia seutuhnya terutama kaum generasi muda. Generasi muda mempunyai energi yang kuat yang dapat dimanfaatkan sebagai manusia yang produktif. Untuk itu diperlukan sarana/tempat ibadah dalam mewujudkan hal tersebut bagi masing-masing pemeluk agama. Jumlah tempat ibadah pemeluk agama Islam di Kabupaten Garut pada tahun 2012 sebanyak 13.276 unit, dengan jumlah pemeluknya sebanyak2.465.991 jiwa. Rasio tempat ibadah pemeluk agama Islam terhadap jumlah pemeluknya adalah 1 : 186,artinya bahwa 1 tempat ibadah digunakan oleh3 sekitar 185 jiwa pemeluknya.

  Tabel 2. 117 Rasio Tempat I badah di Kabupaten Garut Tahun 2012 2012 No Bangunan tempat I badah Jumlah Jumlah Rasio ( unit) pemeluk

  1. Mesjid Besar 42 2.465.991 185,75 Mesjid Jami 4.719 Mushala 2.255 Langgar 6.260

  2. Gereja 5 5.716 1.143

  3. Pura 1 348 348

  4. Vihara 1 589 589 Sumber : BPS Kab. Garut.

  12. Ketenagakerjaan

  Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan ketenagakerjaan salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :  Kompetensi Tenaga Kerja.

  Pada kurun waktu 2009-2013 jumlah tenaga kerja yang dilatih sebanyak 2.978 orang, meliputi :

  1. Berbasis kompetensi : 1.136 orang

  2. Berbasis masyarakat : 1.214 orang

  3. Kewirausahaan : 628 orang  Pencari Kerja Terdaftar. Pencari kerja terdaftar (Kartu AK.I) setiap tahun mengalami fliuktuasi, hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan angkatan kerja aktif dan kesempatan kerja. Jumlah tenaga kerja yang terdaftar (Kartu AK.I) dalam kurun waktu 5 tahun terakhir 2009-2013 sebanyak 93,525 orang sedangkan yang dapat ditempatkan rata-rata 9,88 % per tahun. Hal ini menunjukan kurangnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja sehingga berdaya saing rendah. Berikut perbandingan jumlah pencari kerja terdaftar dengan yang ditempatkan :

  Tabel 2. 118 Perbandingan Jumlah Tenaga Kerja Terdaftar dan Penempatannya di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah tenaga kerja yang 23.915 21.442 15.097 16.485 16.586 terdaftar (Kartu AK.I)

2 Jumlah tenaga kerja yang 1.524 2.060 2,006 1.819 1.835

  No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 terdaftar (Kartu AK.I) yang ditempatkan

  3 Prosentase tenaga kerja 6,37 9,6 13,3 11,03 11,1 terdaftar yang ditempatkan Sumber : Dinasosnakertrans Kabupaten Garut tahun 2013.

   Daya serap tenaga kerja Pada tahun 2013 jumlah tenaga kerja yang terserap pada perusahaan PMA/PMDN berjumlah sebanyak 30.605 orang mengalami peningkatan 10.655 orang dibandingkan dengan tahun 2009. Sementara itu jumlah PMA/PMDN pada tahun 2013 mencapai sebanyak 582 perusahaan, mengalami peningkatan 197 perusahaan dibandingkan tahun 2009 sebanyak 385 perusahaan. Ditinjau dari rasio penyerapan tenaga kerja terhadap jumlah PMA/PMDN pada tahun 2013 mencapai 1 PMA/PMDN : 53 orang, hal ini terdapat peningkatan yang sangat kecil yaitu dari 1 : 52 orang pada tahun 2009. Peningkatan PMA/PMDN di Kabupaten Garut sebanyak 53,40 % dari tahun 2009 sedangkan jumlah tenaga kerja yang diserap oleh PMA/PMDN peningkatannya rata rata 51,16 % dari tahun 2009.

  Tabel 2. 119 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah tenaga kerja yang berkerja pada perusahaan 19.950 23.450 28.545 29.198 30.605

PMA/PMDN

  2 Jumlah seluruh PMA/PMDN 385 452 487 528 582

  3 Rasio daya serap tenaga kerja 1 : 52 1 : 52 1 : 59 1 : 55 1 : 53 Sumber : Dinasosnakertrans Kabupaten Garut tahun 2013.

  Kondisi penyerapan tenaga kerja ditinjau dari bentuk hubungan kerja dapat digambarkan sebagai berikut :

a) Dalam hubungan kerja

  • Dalam Negeri mengalami penurunan 1.591 orang atau 63,13% dari sebanyak 2.520 orang pada tahun 2009 menjadi 929 orang pada tahun 2013.
  • Luar Negeri mengalami peningkatan sebanyak 880 orang atau

  446% dari sebanyak 197 orang pada tahun 2009 menjadi sebanyak 1.077 orang pada tahun 2013 b) Diluar Hubungan kerja mengalami penurunan sebanyak 1.655 orang atau 39,40% dari sebanyak 4.200 orang pada tahun 2009 menjadi sebanyak 2.545 orang pada tahun 2013. Terkait dengan peraturan ketenagakerjaan, jumlah perusahaan yang bisa menerapkan peraturan ketenagakerjaan mengalami peningkatan sebanyak 160 perusahaan dari sebanyak 20 perusahaan pada tahun 2009 menjadi sebanyak 180 perusahaan pada tahun 2013.

  Berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL), perkembangan besaran Upah Minimum Kabupaten (UMK) sebagai standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya di Kabupaten Garut selama tahun 2009-2014 mengalami peningkatanRp.425.000,- atau 64,39% dari sebesar Rp.660.000 pada tahun 2009 menjadi Rp.1.085.000,- pada tahun 2014. Apabila dilihat dari capaian UMK terhadap KHL di Kabupaten Garut, dari tahun ke tahun sejak 2009 sampai dengan 2014 belum mampu memenuhi KHL, tetapi capaiannya terus mengalami kenaikan yang awalnya sebesar 81,27% pada tahun 2009 menjadi 94,79% pada tahun 2014. Sedangkan apabila dibandingkan dengan daerah lainnya di Wilayah Priangan Timur, nilai Upah Minimum Kabupaten Garut pada tahun 2013 masih dibawah Kabupaten Tasikmalaya sebesar Rp.1.035.000, namun masih diatas Kabupaten Ciamis sebesar Rp.854.075.

  Upah Minimum Kabupaten (UMK) Garut   Tahun 2009‐2013 1.200.000 102,79 120,00 94,79 92,76 85,90  (%) 1.000.000 81,27 81,52 100,00 800.000 80,00  Kabupaten

   KHL 600.000 60,00 (Rp)

   Dari 400.000 40,00 200.000 20,00  Minimum 660.000 735.000 802.000 880.000 965.000 1.085.000 Capaian 0,00 Upah 2009 2010 2011 2012 2013 2014 UMK Capaian  Garut (Rp)  dari KHL (%) Gambar 2. 31 Perkembangan Capaian Upah Minimum Terhadap KHL Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  Berkenaan dengan kasus ketenagakerjaan yang muncul selama tahun 2009-2013 mengalami penurunan sebesar 23,08% dari sebanyak 13 kasus pada tahun 2009 menjadi sebanyak 10 kasus pada tahun 2013.

13. Transmigrasi .

  Kerjasama antar daerah dalam penyelenggaraan transmigrasi antara Pemerintah Kabupaten Garut dengan beberapa Pemerintah Daerah

  Kabupaten di Luar Pulau Jawa sudah terjalin dengan baik yang diwujudkan dengan penandatangan naskah perjanjian kerjasama (MoU) penyelenggaraan transmigrasi antara Pemerintah Kabupaten Garut dengan Pemerintah Daerah Kabupaten di Luar Pulau Jawa sebagai daerah tujuan transmigrasi. Survey lokasi daerah tujuan transmigrasi merupakan kegiatan awal sebelum perjanjian kerjasama (MoU). Sejak 2009-2013 telah dilaksanakan survey lokasi daerah tujuan transmigrasi sebanyak 21 daerah, sedangkan MoU yang dihasilkan sebanyak 13 MoU (61,9%).

  6 Pakenjeng 27 104 3 12 4 15 34 131

  15 Tarogong Kidul 7 18 1 3 - - 8 21

  14 Pasirwangi 4 12 1 4 - - 5 16

  13 Samarang - - 2 8 - - 2 8

  12 Sukaresmi - - 1 2 - - 1 2

  11 Cigedug 6 23 - - - - 6 23

  56

  10 Bayongbong 10 48 1 5 1 3 12

  9 Singajaya 1 4 - - - - 1 4

  82

  8 Peundeuy 20 82 - - - - 20

  7 Cikelet 19 89 9 38 - - 28 127

  5 Mekarmukti 1 7 - - - - 1 7

  

Tabel 2. 120

Perbandingan Jumlah Survey Calon Lokasi Daerah Tujuan

Transmigrasi dengan Jumlah MoU Penyelenggaraan Transmigrasi

di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d. 2013

  4 Bungbulang 1 5 2 9 - - 3 14

  46

  3 Talegong 13 46 - - - - 13

  2 Caringin 1 3 - - - - 1 3

  1 Cisewu 1 3 - - - - 1 3

  Umum/ Tahun 2013 Jumlah KK Jiw a KK Jiw a KK Jiw a KK Jiw a

  Tabel 2. 121 Jumlah Transmigran Kabupaten Garut Berdasarkan Asal Kecamatan Tahun 2009 s.d. 2013 Asal Kecamatan Umum/ Tahun 2009 s/ d 2011

Umum/ Tahun

2012

  3 Prosentase jumlah survey dengan jumlah MoU 66,6 50 75 60 60 Sumber : Dinsosnakertrans Kabupaten Garut tahun 2013.

  2 Jumlah perjanjian kerjasama (MoU) penyelenggaraan transmigrasi 2 2 3 3 3

  1 Jumlah survey calon lokasi daerah tujuan transmigrasi 3 4 4 5 5

  

No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  16 Tarogong Kaler 2 4 - - - - 2 4

  Asal Kecamatan Umum/ Tahun 2009 s/ d 2011 Umum/ Tahun 2012 Umum/ Tahun 2013 Jumlah KK Jiw a KK Jiw a KK Jiw a KK Jiw a

  14

  20 73 197 743 Sumber : Dinsosnakertrans Kabupaten Garut tahun 2013. Tabel 2. 123 Data Transmigrasi Lokal di Kabupaten Garut Nama UPT Tahun Penempatan Jumlah KK Jumlah Jiw a Keterangan Arinem 1993 95 384 Kec. Pekenjeng

Cimahi 2001 500 Kec. Caringin

  11 Cigedug - - 15 58 10 36 25 94 Jumlah 137 521 40 149

  10 Bayongbong - - 15 49 - - 15 49

  25

  9 Singajaya 10 25 - - - - 10

  8 Peundeuy 8 37 10 42 - - 18 79

  93

  25

  7 Cikelet 25 93 - -

  6 Pakenjeng 10 42 10 37 20 79

  32

  10

  5 Mekarmukti 10 32 - -

  49

  4 Bungbulang 14 49 - -

  17 Garut Kota 1 3 1 5 - - 2 8

  3 Talegong 25 115 - - - - 25 115

  88

  2 Caringin 25 88 - - - - 25

  40

  1 Cisewu 10 40 - - - - 10

  20 73 197 743 Sumber : Dinsosnakertrans Kabupaten Garut tahun 2013. Tabel 2. 122 Jumlah Penempatan Transmigran Kabupaten Garut Berdasarkan Daerah Tujuan dan Jenis Transmigrasi Tahun 2009 s.d. 2013 Asal Kecamatan Tahun 2009 s/ d 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Jumlah Umum Umum Umum KK Jiw a KK Jiw a KK Jiw a KK Jiw a

  25 Cibalong - - - - 2 8 2 8 Jumlah 137 521 40 149

  24 Cisurupan - - 1 3 1 5 2 8

  23 Malangbong - - 4 10 1 4 5 14

  22 Sucinaraja - - 1 8 - - 1 8

  21 Banyuresmi - - 1 4 - - 1 4

  20 Bl. Limbangan 15 44 11 34 11 38 37 116

  19 Sukawening 8 26 - - - - 8 26

  18 Karangpawitan - - 1 4 - - 1 4

  Jumlah 595 Sumber : Dinsosnakertrans Kabupaten Garut tahun 2013.

14. Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah ( KUMKM) dan BMT

  Pada hakekatnya sistem ekonomi kerakyatan yang perlu diwujudkan adalah sistem yang memungkinkan seluruh potensi masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk meningkatkan taraf hidupnya melalui berbagai kegiatan ekonomi. Dengan demikian, diantara berbagai skala usaha tidak ada yang dirugikan bahkan dapat bermitra usaha secara lebih efektif dan saling menguntungkan. Dalam rangka menciptakan kesetaraan usaha, dilakukan langkah-langkah yang mendorong dan mendukung pelaku ekonomi Koperasi usaha mikro kecil, menengah (KUMKM) dan BMT. KUMKM dan BMT memberikan peranan yang cukup signifikan dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan di Kabupaten Garut. Kebijakan umum KUMKM dan BMT yang telah dilaksanakan antara lain peningkatan kualitas aparatur KUMKM dan BMT, peningkatan kapasitas lembaga/Organisasi Koperasi, UMKM dan BMT dan memberikan dukungan penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi berlangsungnya pemberdayaan KUMKM dan BMT yang lebih produktif, efisien dan berdaya saing tinggi. Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan koperasi dan usaha kecil menengah dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :  Koperasi Perkembangan pembangunan urusan koperasi selama tahun 2009- 2013 dari sisi kuantitas telah terjadi peningkatan jumlah koperasi sebesar 11,76% yakni dari 1.225 unit pada tahun 2009 menjadi 1.369 unit pada tahun 2013. Begitu pula halnya dengan jumlah anggota mengalami kenaikan dari tahun 2009-2013 sebesar 0,48% yaitu dari 230.446 orang pada tahun 2009 menjadi 231.556 orang pada tahun 2013. Perkembangan lembaga dan anggota juga berbanding lurus dengan modal dan volume usaha yang mengalami peningkatan.Modal koperasi pada tahun 2013 adalah sebesar 643,92 juta rupiah sedangkan volume usaha pada tahun 2013 mencapai 771,37 juta rupiahmengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dari tahun 2009 yaitu masing- masing sebesar 74,02% dan 111,94%.

  Tabel 2. 124 Perkembangan Jumlah dan Volume Usaha Koperasi di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tahun Pertumbuhan No Uraian 2009- 2013 2009 2010 2011 2012 2013 Ket ( % )

  11,76

  1 Koperasi 1.225 1.268 1.298 1.337 1.369 Unit 12,10

  • Non KUD 1.190 1.233 1.263 1.302 1.334 Unit 0,00
  • KUD

  35

  35

  

35

  35

  35 Unit 0,48

  2 Anggota 230.446 218.976 226.539 225.973 231.556 Orang 74,02

3 Modal Koperasi 370,03 445,56 504,83 609,62 643,92 Juta

  • Modal Sendiri 149,44 167,01 204,21 230,02 Juta - Modal Luar 295,85 337,82 405,41 413,91 Juta

  Tahun Pertumbuhan No Uraian 2009- 2013

  

2009 2010 2011 2012 2013 Ket

( % ) 111,94

  5 Volume Usaha 363,95 497,34 597,46 659,42 771,37 Juta 43,43

  6 SHU 9,49 11,13 11,62 12,62 13,61 Juta 15,17

  7 Manajer 178 190 193 200 205 Orang 11,57

  8 Karyawan 4.173 4.498 4.658 4.709 4.656 Orang Sumber: Dinas Koperasi, UKM dan BMT Kab. Garut, 2013

  Persentase koperasi aktif pada tahun 2013 mencapai 68,52% atau (938 koperasi aktif) mengalami penurunan 5,93% dibandingkan persentase koperasi aktif pada tahun 2009 sebesar 74,45% (912 koperasi aktif). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

  Tabel 2. 125 Persentase Koperasi Aktif di Kabupaten Garut Tahun 2009 s.d 2013 No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Jumlah koperasi aktif 912 955 984 906 938

  2 Jumlah koperasi 1.225 1.268 1.298 1.337 1.369 Persentase koperasi 3 74,45 75,32 75,81 67,76 68,52 aktif

  Sumber: Dinas Koperasi, UKM dan BMT Kab. Garut, 2013

   Usaha Kecil Menengah Dalam rangka mengembangkan usaha berskala kecil dan menengah selama tahun 2009-2013, pemerintah Kabupaten Garut telah melakukan berbagai upaya, diantaranya melalui promosi, pembinaan kelembagaan, pengembangan usaha daerah, dan program penyertaan modal pemerintah. Perkembangan pembangunan UMKM selama tahun 2009-2013 dari sisi kuantitas jumlah UMKM mengalami peningkatan sebesar 18,61%, yakni dari 12.850 unit pada tahun 2009 menjadi 15.241 unit pada tahun 2013. Sementara itujumlah tenaga kerja yang terserap oleh kegiatan UMKM pada tahun 2013 berjumlah 33.680 orang, meningkat sebesar 19,66% dari tahun 2009 sebesar 28.147 orang.

  Tabel 2. 126 Perkembangan Jumlah dan Volume Usaha UMKM di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Pertum Tahun No. Uraian Sat. buhan 2009- 2009 2010 2011 2012 2013 2013 ( % )

  1 UMKM 12.850 13.165 13.970 14.565 15.241 Unit 18,61

  2 Modal Sendiri 369.301 375.210 391.606 411.187 430.172 Juta 16,48

  3 Volume Usaha 875.843 886.441 925.178 971.437 1.016.290 Juta 16,04

  4 Aset 451.694 458.696 478.741 502.678 525.887 Juta 16,43

  5 Modal Luar 332.218 342.351 357.311 375.177 392.500 Juta 18,15

  Pertum Tahun No. Uraian Sat. buhan 2009- 2009 2010 2011 2012 2013 2013 ( % )

6 Tenaga Kerja 28.147 28.752 31.268 32.831 33.680 orang 19,66

  Sumber: Dinas Koperasi, UKM dan BMT Kab. Garut, 2013

  Perkembangan usaha BMT dari tahun 2009-2013 mengalami penurunan dari segi jumlah BMT maupun jumlah anggota, tetapi dari segi modal dan volume usaha mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi yaitu pada tahun 2013 modal BMT mencapaiRp.26.107.567.000,- mengalami peningkatan sebesar 556,99% dari tahun 2009 sebesar Rp.3.973.801.650,-. Sedangkan dari segi volume usaha juga mengalami peningkatan sebesar 100,45% dari tahun 2009 sebesar Rp.12.105.455.755,- menjadi Rp.24.265.838.000,- pada tahun 2013.

  

Tabel 2. 127

Perkembangan Jumlah dan Volume Usaha BMT Tahun 2009- 2013

Perkembang Tahun No. Uraian an 2009- Satuan 2009 2010 2011 2012 2013 2013 ( % )

  1 BMT 68 69 69 37 40 Unit -41,18

  

2 Anggota 6.924 7.004 7.084 44.174 4.209 Orang -39,21

  

3 Modal BMT 3.973 4.015 4.057 26.769 26.107 Juta 556,99

Volume

4 12.105 12.220 12.336 24.697 24.265 Juta 100,45

Usaha

  

5 SHU 124.226 125.443 126.672 1.725 1.722 Juta -98,61

  6 Manajer 68 69 69 11 11 Orang -83,82

  7 Karyawan 234 238 242 142 142 Orang -39,32

  

8 Aset 10.273 10.362 10.451 26.769 26.493 Juta 157,87

Sumber: Dinas Koperasi, UKM dan BMT Kab. Garut, 2013

15. Penanaman Modal

  Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan penanaman modal dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut : Perkembangan nilai minat investasi di Kabupaten Garut tahun 2013 berdasarkan IPPT, IMB, IL dan SIUP dengan kriteria investasi

  ≥ Rp.500.000.000 tercatat sebesar Rp. 775.548.981.534, atau meningkat sebesar 22% dari tahun sebelumnya. Peningkatan minat investasi menunjukkan iklim investasi daerah yang semakin kondusif selain karena Kabupaten Garut kaya akan potensi daerah. Kontributor terbesar terhadap minat investasi tahun 2013 adalah sub sektor listrik terutama bidang usaha Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan nilai minat investasi sebesar Rp.413.045.555.505 atau 53% dari total minat investasi tahun 2013. Sementara itu sub sektor lainnya hanya berkontribusi dibawah 50%.

  Tabel 2. 128 Data Minat I nvestasi di Kabupaten Garut Berdasarkan Sektor Usaha Minat I nvestasi No Sektor Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 I . Sektor Primer - - 124.966.036.409

  1 Peternakan - - 97.741.554.409

  2 Perikanan - - 874.482.000

  • -

    3 Pertambangan

  26.350.000.000

  • 82.000.000.000

  I I . Sektor Sekunder

  1 Industri lainnya

  • 2.000.000.000 637.616.010.000 568.582.945.125

  I I I . Sektor Tersier 824.554.922.836

  1 Listrik, gas dan air 447.932.987.000 565.633.250.000 413.045.555.505

  2 Konstruksi 1.200.000.000 - -

  • 3 Perdagangan & reparasi 3.225.000.000 38.590.000.000

  4 Hotel & restoran 44.682.760.000 46.300.000.000 - Perumahan, kawasan industri 5 33.274.100.000 27.300.000.000 102.846.940.500 & perkantoran

  6 Jasa lainnya 340.122.835.836 - 46.600.449.120 Jumlah 824.554.922.836 637.616.010.000 775.548.981.534

  Sumber : BPMPT, Tahun 2013

  Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi yang dilakukan, peningkatan realisasi investasi sebesar 43% pada tahun 2013 disebabkan oleh perkembangan investasi yang sangat signifikan dari beberapa sub sektor. Tanaman pangan dan perkebunan, pertambangan, konstruksi dan perumahan merupakan subsektor yang membukukan angka realisasi pertumbuhan investasi sangat besar. Sub sektor tanaman pangan dan perkebunan dengan bidang usaha perkebunan karet merupakan bidang usaha paling berkontribusi terhadap pertumbuhan investasi tahun 2013 dengan penambahan realisasi investasi sebesar Rp.217.168.107.163, atau 30% dari total realisasi investasi tahun 2013. Besarnya realisasi investasi bidang usaha ini sebagai dampak dari meningkatnya permintaan pasar internasional atas komoditas karet dan melemahnya nilai tukar rupiah atas dollar.

  Sementara itu, pada sektor tersier sub sektor listrik, gas dan air terutama untuk bidang usaha Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang sebelumnya menjadi primadona investasi kabupaten Garut mengalami penurunan realisasi investasi cukup signifikan sebesar 39% dari capaian tahun sebelumnya. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan, penurunan tersebut disebabkan sebagian PLTMH yang sedang melakukan pembangunan menghentikan sementara pembangunannya karena alasan keuangan. Terkait dengan minat investasi tahun 2013, sampai dengan akhir tahun 2013 baru sektor tersier sub sektor perumahan, perdagangan dan hotel/restoran yang merealisasikan investasinya. Sektor-sektor lain, diperkirakan akan merealisasikan investasinya pada tahun 2014.

  Tabel 2. 129 Data Realisasi I nvestasi di Kabupaten Garut Berdasarkan Sektor Usaha Realisasi I nvestasi No Sektor 2011 2012 2013 I . Sektor Primer 111.363.465.932 287.229.383.766 430.768.698.638 350.821.864.128

  1 Tanaman pangan dan perkebunan 104.613.465.932 160.436.192.610 47.844.503.216

  • -

    2 Peternakan 119.293.191.156 32.102.331.294

  3 Pertambangan 6.750.000.000 7.500.000.000

  I I . Sektor Sekunder 13.793.300.000 27.500.000 5.008.375.000

  1 Industri makan 7.793.300.000 27.500.000 1.008.375.000

  2 Industri tekstil 2.250.000.000 - - 950.000.000

  • -

    3 Industri kimia & farmasi
  • 800.000.000
  • 4 Industri karet & plastic 6.000.000.000

  I I I . Sektor Tersier 355.940.668.973 217.532.717.884 287.713.406.888 110.845.830.415

  1 Listrik, gas dan air 248.099.382.566 187.446.104.039 89.020.000.000

  2 Konstruksi - - 16.989.125.000

  3 Perdagangan & reparasi 61.640.803.225 792.403.698 32.826.951.473

  4 Hotel & restoran 39.857.183.182 28.544.210.147 Perumahan, kawasan industri & 38.031.500.000 5 6.343.300.000 750.000.000 perkantoran

  Jumlah 481.097.434.905 504.789.601.650 723.490.480.526 Sumber : BPMPT, Tahun 2014

16. Kebudayaan

  Pelaksanaan urusan kebudayaan di Kabupaten Garut tidak dapat dilepaskan dengan upaya pengembangan pariwisata daerah. Keberhasilan program-program sektor kebudayaan dan kepariwisataan pada dasarnya dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu tingkat keberhasilan penyelenggaraan atas sasaran kegiatan yang telah ditetapkan sesuai perencanaan, dan dari sisi hasil pelaksanaan program keseluruhan terhadap keluaran makro, diantaranya terhadap kunjungan wisatawan ke Kabupaten Garut. Pencapaian jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2013 sebanyak 2.254.283 orang atau meningkat 36,55% dari tahun 2009 sebanyak 1.650.913 orang. Apabila dibandingkan target jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2013 sebanyak 2.142.232 orang, maka pencapaian jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2013 mencapai sebesar 105,23% dari target.

  Keberhasilan pencapaian sasaran peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tersebut, tidak terlepas dari keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan diantaranya pengembangan destinasi wisata melalui pembangunan, pemeliharaan/perbaikan/renovasi Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) yang disertai dengan pelestarian dan pengembangan keberadaan seni tradisional dan upacara adat istiadat khas Garut sebagai potensi daya tarik wisata seni dan budaya Kabupaten Garut.

  

Tabel 2. 130

Pengembangan Destinasi WisataTahun 2009- 2013

No Tahun 2009 2010 2011 2012 2013

  5 Penataan ODTW Pantai Gunung Geder berupa pemb.TIC, Kios Pedagang, kantin, Kushola dan jalan setapak

  

Pameran di GWN,

TMII, Endating Singapura Pembuatan mareial promosi berbentuk guide book, pamplet,Pameran di Pameran di dalam dan luar kab.Garut

  GWN, TMII, GOW Pembuatan Peta Wisata, Guide Book, DVD Potensi Wisata,

  No Tahun 2009 2010 2011 2012 2013

  

Tabel 2. 131

Promosi Wisata di Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2013

  Disamping itu, keberhasilan peningkatan jumlah kunjungan wisatawasan tersebut tidak terlepas dari upaya mempromosikan potensi pariwisata baik kebudayaan maupun pariwisata melalui berbagai even di Kabupaten Garut maupun di luar Kabupaten Garut dan berbagai media.

  Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Garut Tahun 2014

  8 Kajian obyek wisata Cipanas

  7 Pembuatan DED Pantai Sayangheulang

  6 Pembuatan drainase di kampung Pulo Cangkuang

  Pembanguna pagar dan renovasi bumi patemon di Situs Ciburuy

  Pemasangan flapon, lantai kios pedagang dan mushola di Pantai Gunung Geder

  1 Penataan Hotel Cipanas I ndah berupa Pengeboran Subur Dalam 2 titik, pengadaan meubelair dan rehab kamar Penataan ODTW

  4 Penataan di ODTW Situ Bagendit berupa Pemb.WC, Pesedtrian, Rehab pos tiket, Keermer area mushola, rehab kamar bilas

  Pembangunan pos tiket di Pantai Sayangheulang

  

Penataan ODTW

Pantai

Santoloberupa

pembangunan pos tiket

  3 Penataan ODTW Situ Cangkuang berupa pembangunan kios pedagang,rehab rumah air, pemb. Postiket, mushola dan toilet, pembgerbang pintu masuk.

  Penataan di ODTW Situs Ciburuy

  

Gunung Geder

berupa pemasangan

flafon, lantai kios

pedagang, mushola

Pembangunan pos tiket di Pantai Santolo

  2 Penataan di ODTW Cipanas I ndah berupa rehabilitasi kolam besar dan pedestrian Penataan ODTW Pantai

  Penataan kios di ODTW Situ Bagendit

  Pemasanan paving blok di Situ Bagendit

  

Bagendit berupa

pemasangan paving

blok

  Pantai Karangparanye berupa pembangunan Gazebo dan Paving Blok Penataan ODTW Situ

1 Pameran di

  No

Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

  6

  5

  2

  2 Gelar Seni dan Budaya Kali 3 3 3 11 3 10 Misi Seni dan Budaya Kali

  1

  

2

  1

  1

  

11

  4 SDM Seni dan Budaya: Kali 1 1 2 2 2 2 Tempat Seni dan Budaya Kali

  1

  

1

  1 Organisasi Seni & Budaya Kali

  2

  

2

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2014

  Kepemudaan merupakan mata rantai yang tak terpisahkan dari sasaran pembangunan manusia seutuhnya. Keberhasilan pembangunan pemuda sebagai sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keunggulan daya saing, merupakan salah satu kunci untuk keberhasilan di berbagai sektor pembangunan lainnya. Untuk itu pemuda harus disiapkan dan diberdayakan agar mampu memiliki kualitas dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan kebutuhan, tantangan, dan persaingan di era global. Secara kuantitas, jumlah pemuda di Kabupaten Garut pada tahun

  2

  2

  Tas Promosi dalam dan laur negeri, Moka

  Pembuatan DVD potensi wiata , guide book, pelatihan pemandu wisata

  2 Pembuatan Iklan Pariwisata ditayangkan di TV Nasional 15 kali

  Pembukaan Jalur khusus Bus Wisata Jakarta-Garut Pagelaran atraksi seni budaya di pameran

  3 Pameran di GWN, TMII, GOW Jogja,TIC Batam

  Pembuatan 215 buku Mozaik Wisata Pembuatan buku informasi ttg potensi wisata

  4 Promosi wisata seni dan budaya dalam bentuk penayangan di TV Pembuatan papan promosi, petunjuk, rambu-rambu dan peta obyek wisata

  5 Pembuatan material promosi berbentuk guide book , pamplet

  Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Garut Tahun 2014

  9 Fasilitasi Seni dan Budaya Kali

  Dalam upaya melestarikan seni dan budaya daerah sesuai dengan Peraturan Bupati Garut No 472 Tahun 2011 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), sampai tahun 2013 telah mencapai hasil sebagai berikut :

  Tabel 2. 132 Pencapaian SPM Seni dan Budaya Daerah Tahun 2011- 2013 I ndiktor Sasaran Satuan Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Kajian Seni dan Budaya Kali

  5

  

4

  8

  13

  8

17. Kepemudaan dan Olahraga

  2012 (usia 15-34 tahun) sebanyak 802.137jiwa atau 32,27% dari jumlah penduduk. Untuk mewadahi aktivitas dan kreativitas generasi muda yang lebih berkualitas dan mandiri, terdapat berbagai wahana baik yang dikembangkan oleh Pemerintah, maupun atas inisiasi masyarakat seperti melalui berbagai organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan keagamaan, diantaranya KNPI, Karang Taruna, Remaja Mesjid, dan sebagainya. Pada tahun 2013 jumlah organisasi pemuda di Kabupaten Garut sebanyak 51 buah atau menurun 29 buah dibandingkan tahun 2009 sebanyak 80 buah.

  Pelaksanaan pembangunan pada urusan pemuda selama periode tahun 2009-2013 diarahkan pada upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, kepemimpinan, kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda melalui strategi peningkatan pemahaman pemuda terhadap agama, peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda, serta peningkatan peran organisasi pemuda dalam pembangunan. Pencapaian pembangunan urusan pemuda selama tahun 2009-2013 ditandai dengan telah dilaksanakannya upaya peningkatan peran serta kepemudaan dalam pembangunan melalui pengembangan dan keserasian kebijakan pemuda dalam bentuk sosialisasi Undang-Undang tentang Kepemudaan, peningkatan pembangunan karakter pemuda melalui fasilitasi pendidikan dan pelatihan dasar kepemimpinan bagi pemuda, fasilitasi kegiatan kepemudaan, upaya penumbuhan kewirausahaan pemuda, serta penyuluhan untuk mencegah penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS dan bahaya destruktif lainnya di kalangan pemuda. Peningkatan pemberdayaan pemuda dalam pembangunan perlu terus dilakukan diantaranya dengan peningkatan upaya kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda, Pembinaan dan pelatihan Organisasi Kepemudaan.

  Pelaksanaan pembangunan urusan keolahragaan selama periode tahun 2009-2013 diarahkan pada upaya pengembangan sistem pembibitan, permasalahan dan peningkatan prestasi olahraga yang sistematis, berkelanjutan, terpadu dan terarah melalui strategi peningkatan kuantitas atlet berbakat usia dini, penyelenggaraan event olahraga bagi masyarakat secara masal, peningkatan jumlah atlet yang berprestasi di tingkat Provinsi Jawa Barat, serta pembangunan/pengadaan dan rehabilitasi sarana dan prasarana olahraga.Jumlah organisasi olahraga di Kabupaten Garut pada tahun 2013 sebanyak65 buah meningkat 25 dibanding tahun 2009 sebanyak 40 buah.

  Tabel 2. 133 Jumlah Organisasi Pemuda dan Jumlah Organisasi Olahraga di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 1.

  Jumlah Organisasi Pemuda

  80

  85

  51 2. Jumlah Organisasi Olahraga

  40

  42

  48

  63

  65 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Tahun 2014 Pencapaian pembangunan urusan keolahragaan selama tahun 2009-2013 ditandai dengan telah dilaksanakannya upaya pengembangan kebijakan dan manajemen olahraga, Pembinaan Cabang Olahraga Prestasi dan pemasyarakatan olahraga di Tingkat Daerah, diselenggarakannya kompetisi olahraga dan seni pelajar, kerjasama peningkatan olahragawan berbakat dan berprestasi dengan Lembaga / Instansi Lainnya, serta peningkatan sarana dan prasarana olahraga. Sebagaimana amanat Undang-Undang No.

  3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, tujuan pembangunan keolahragaan adalah untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan pelayanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya kegiatan keolahragaan bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Untuk itu, dalam pengelolaan keolahragaan, dilaksanakan perencanaan, pembinaan, pengembangan, penerapan standardisasi, dan penggalangan sumber daya keolahragaan yang berbasis keunggulan lokal yang memiliki potensi sebagai cabang olahraga unggulan yang bertaraf nasional dan/atau internasional.

18. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri

  Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan kesatuan bangsa dan politik dalam negeri dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :  Rasio jumlah linmas per 10.000 penduduk

  Jumlah anggota Linmas di Kabupaten Garut pada tahun 2013 mencapai 12.025. Hal ini berarti bahwa untuk setiap 10.000 jiwa penduduk Kabupaten Garut pada tahun 2013 tersedia jumlah Linmas sebanyak 50 orang. Rasio ini lebih kecil bila dibandingkan dengan tahun 2009 mencapai 59 orang. Jumlah petugas Satpol PP pada tahun2013 adalah sebanyak 491. Hal ini berarti untuk setiap 10.000 jiwa penduduk Kabupaten Garut pada tahun 2013 tersedia jumlah petugas Satpol PP sebanyak 2 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  

Tabel 2. 134

Data Keamanan dan Ketertiban Masyarakat

Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  TAHUN/ JUMLAH Uraian Satuan Sumber 2009 2010 2011 2012 2013

  Aparat dan Sarana Keamanan Satpol PP Jumlah Aparat Pamong Praja 570 570 571 494 491 Orang

  Jumlah Patroli Petugas Satpol PP

Pemantauan dan Penyelesaian 200 200 200 200 200 Orang Satpol PP

Pelanggaran K3 Dalam 24 Jam Sumber : Satpol PP Tahun 2013

  Tabel 2. 135 Rasio Jumlah Linmas di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  7 Sosial

  3 Hukum 1 1 1 1 1

  5

  4 Pertanian 2 5 1 2

  10

  5 Lingkungan Hidup 1 2 1 2 2

  8

  6 Pemberdayaan Masyarakat 28 15 22 14 36 115

  3

  1

  3

  8 Kesamaan Kegiatan 10 10 20 14 18

  72

  9 Ekonomi 1 1 1

  3

  10 Keagamaan 2 3 3

  3

  1

  2 Kesenian

  1. Jumlah Linmas 14.102 14.102 12.025

  1 Jumlah Pos Siskamling 4.654 4.654 464

  2. Jumlah Penduduk 2.386.388 2.424.888 2.464.010 2.503.765 2.544.160 3.

  Rasio jumlah Linmas per 10.000 penduduk 169 172

  50

  4. Jumlah Satpol PP 570 570 571 494 491 5.

  Rasio jumlah Satpol PP per 10.000 penduduk 2 2 2 2 2 Sumber : Badan Kesbangdan Satpol PP Kabupaten Garut, Tahun 2014.

   Rasio Pos Siskamling per Jumlah Desa/ Kelurahan Jumlah pos siskamling di Kabupaten Garut pada tahun 2013 mencapai 464 unit, dengan rasio terhadap desa/kelurahan sebesar 1 : 1,05. Ini artinya ketersediaan jumlah pos siskamling yang ada pada setiap desa/kelurahan sebanyak 1,05 buah. Rasio ini menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 1 : 11.

  Tabel 2. 136 Rasio Pos Siskamling di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  2 Jumlah Desa dan kelurahan 424 431 442 442 442

  7

  3 Rasio Pos Siskamling per desa/kelurahan 11 11 1,05 Sumber : Badan Kesbang Kabupaten Garut, Tahun 2014.

  Tabel 2. 137 Daftar Organisasi Kemasyarakatan Berdasarkan Sifat Kekhususan Di Kabupaten Garut No Sifat Kekhususan Tahun/ Jumlah Jumlah Total 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Pendidikan

  4

  1

  1

  1

  11 JUMLAH 50 33 56 33 63 235 Sumber : Badan Kesbangpol Kabupaten Garut, Tahun 2014.

  Tabel 2. 138 Daftar Organisasi Kemasyarakatan Dan Yayasan di Kabupaten Garut Tahun/ Jumlah Jumlah No Sifat Kekhususan Total 2009 2010 2011 2012 2013

  Organisasi 1 42 33 56 32 59 220 Kemasyarakatan

2 Yayasan 8 2 1 4 15

   JUMLAH 50

  33

  56

  33 63 235 Sumber : Badan Kesbangpol Kabupaten Garut, Tahun 2014. Tabel 2. 139 Data Pembinaan Terhadap Organisasi Kemasyarakatan Di Kabupaten Garut Tahun/ Jumlah No Sifat Kekhususan 2012 2013 Orkemas Peserta Orkemas Peserta

1 Organisasi Kemasyarakatan 100 260 150 300

   JUMLAH 100 260 150 300 Sumber : Badan Kesbangpol Kabupaten Garut, Tahun 2014.

  

19. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan

Daerah, Perangkat Daerah, Kepegaw aian dan Persandian

  Selama periode tahun 2009-2013, Pemerintah Daerah telah melakukan restrukturisasi kelembagaan, penempatan sumberdaya aparatur, pengelolaan keuangan daerah dan pengembangan kapasitas anggota legislatif. Pelaksanaan tugas umum penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam pelayanan publik pada hakikatnya merupakan bentuk pemberian pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintahan sebagai abdi masyarakat. Prinsip pelayanan publik meliputi kesederhanaan, kejelasan, kepastian waktu, akurasi, keamanan, tanggung jawab, kelayakan sarana dan prasarana, kemudahan akses, kedisiplinan (termasuk kesopanan dan keramahan), serta kenyamanan. Hasil evaluasi akuntabilitas kinerja instansi Pemerintah Kabupaten Garut yang dilakukan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada tahun 2013, Pemerintah Kabupaten Garut mendapat nilai 53,15 poin dengan predikat penilaian “CC” (Cukup baik/memadai, perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar), kondisi tersebut mengalami peningkatan 2,1 poin dari hasil penilaian tahun 2012 sebesar 51,05 poin ( Predikat penilaian “CC”). Aspek yang Dinilai pada Evaluasi Akuntabilitas Kinerja tersebut meliputi Aspek perencanaan (bobot 35%), Aspek pengukuran kinerja (bobot 20%), Aspek pelaporan kinerja (bobot 15%), Aspek evaluasi kinerja (bobot 10%) dan Aspek Capaian kinerja (bobot 20%).

  Tabel 2. 140 Hasil Evaluasi Atas Akuntabilitas Kinerja I nstansi Pemerintah Kabupaten Garut Tahun 2012 dan Tahun 2013 No. Komponen Yang Dinilai Bobot Nilai 2012 Nilai 2013

  a Perencanaan Kinerja 35 15,59 18,82 b Pengukuran Kinerja 20 9,03 9,88 c Pelaporan Kinerja 15 8,93 8,49 d Evaluasi Kinerja 10 7,01 5,59 e Capaian Kinerja 20 10,49 10,37

  Nilai Hasil Evaluasi 100 51,05 53,15 Tingkat Akuntabilitas Kinerja CC CC

Sumber : Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

  Dalam rangka peningkatan implementasi dan pengembangan akuntabilitas kinerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Garut perlu terus didorong upaya mewujudkan pemerintahan yang berorientasi kepada hasil ( result oriented

  government

  ) dengan melakukan perbaikan-perbaikanantara lain pada kualitas

  outcome

  perencanaan sasaran strategis yang berorientasi pada hasil ( ) yang dilengkapi indikator kinerja utama yang relevan dan terukur, sehingga penetapan kinerja yang dilakukan dapat dimanfaatkan dalam mengarahkan dan mengorganisasikan program dan kegiatan kegiatan pembangunan dalam upaya mencapai sasaran strategis daerah. Sementara itu hasil pengukuran kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri berdasarkan evaluasi terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) Tahun 2011, Kabupaten Garut berada pada peringkat ke-39 (tiga puluh sembilan) secara nasional dari 365 kabupaten yang dinilai, dengan skor 2,8425 poin dan berada pada kelompok prestasi kinerja “tinggi” dan apabila dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Provinsi Jawa Barat berada pada peringkat ke-2 (dua) setelah Kabupaten Bogor. Kondisi tersebut mengalami peningkatan dibandingkan pencapaian evaluasi LPPD Tahun 2009 yang berada pada peringkat 118 secara nasional dengan skor 2,4211 poin dari 344 kabupaten yang dinilai dan di Jawa Barat pada peringkat ke-8 (delapan).

  

Tabel 2. 141

Peringkat dan Status Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Kab. Garut

Peringkat Total Peringkat Kab. Di Jaw a Barat Tahun Nasional Status Kabupaten di Jaw a dengan peringkat di Nomor Skor Yang Dinilai Barat atas Kab. Garut

  Subang, Cianjur, Sukabumi, Sumedang, 2009 118 2,4211 Tinggi 344

  8 Bandung, Indramayu, Purwakarta Bogor, Sukabumi, 2010 29 2,9515 Tinggi 346

  5 Bandung, Subang 2011 39 2,8425 Tinggi 365

  2 Bogor Sumber : Kementerian Dalam Negeri Hasil evaluasi terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) tersebut menunjukkan sejauhmana penyelenggaraan pemerintahan daerah sejalan dengan upaya menciptakan pemerintahan yang bersih, bertanggungjawab serta mampu melaksanakan berbagai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dan manfaat yang diperoleh oleh masyarakat atas kinerja pemerintahan daerah.

  Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi melalui perbaikan iklim investasi dalam pelayanan publik di bidang perijinan, maka diselenggarakan pelayanan perijinan secara terpadu sehingga proses pengelolaan perijinan mulai dari tahap permohonan sampai tahap terbitnya dokumen dilakukan secara terpadu dalam satu tempat. Jenis perijinan yang diselenggarakan melalui Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Kabupaten Garut meliputi 98 jenis ijin dan 28 jenis non ijin. Gambaran pelayanan publik terkait perizinan selama tahun 2009-2013 dilihat dari pemohonan izin selama tahun 2009-2013 secara keseluruhan mengalami peningkatan sebanyak 2.127 perijinan atau sebesar 66,53% dari sebanyak 3.197 perijinan pada tahun 2009 menjadi sebanyak 5.324 izin pada tahun 2013 sebagaimana disajikan pada tabel berikut :

  Tabel 2. 142 Realisasi I zin Di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Jumlah I zin No Jenis I zin 2009 2010 2011 2012 2013 Izin Gangguan (IG)/ Surat Izin Tempat 1 846 1.672 1.817 2.281 1.581 Usaha (SITU)

  2 Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 719 752 861 566 508 Izin Peruntukan Penggunaan tanah (

  3 93 88 - 69 53

  IPPT )

  • 4 Izin Lokasi (IL) 5 7 6 8

  5 Izin Reklame ( IR ) 87 110 128 149

  87 Izin Usaha Industri (IUI)/izin Usaha 5 1.385 5.036 2 4 2 Perdagangan ( IUP )

6 Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK )

  37 71 150 160 157 7 izin usaha kepariwisataan (iuk) - -

  30

  42

  17

  8 Izin Usaha Perdagangan (IUP) 2.572 2.649 1.532 - -

  9

  • Tanda Daftar Gudang (TDG)

  51

  55 26 -

  10 Tanda Daftar Industri (TDI) - -

  34

  30

  11

  11 Tanda Daftar Perusahaan (TDP) - 2.243 2280 1352 -

  12 Izin Prinsip Penanaman Modal

  7 Jumlah 3.197 7.776 7.865 8.266 5.324 Sumber : Badan Penanaman Modal Dan Perijinan Terpadu (BPMPT) Kabupaten Garut.

  Jumlah Pendapatan Asli Daerah yang diperoleh dari retribusi izin IMB dan SITU/IG selama tahun 2009-2013mengalami peningkatan sebesar 104,77% dari sebesar Rp.844.184.367,- pada tahun 2009 menjadi Rp.2.241.232.507,- pada tahun 2013.

  

Tabel 2. 143

Realisasi Retribusi Perizinan di Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2013

  5 Pembina, IV/a 9.054 9.278 9.299 9.026 8.727

  3 Pengatur Muda Tk. I, II/b 909 950 1500 1409 1394

  2 Pengatur, II/c 720 817 917 818 799

  1 Pengatur Tk. I, II/d 610 472 404 386 376

  C GOLONGAN I I 4.998 4.919 4.172 3.646 3.567

  4 Penata Muda, III/a 1.710 1.625 2.060 1.915 1.899

  3 Penata Muda Tk. I, III/b 1.492 1.663 1.402 1.586 1.546

  2 Penata, III/c 1.101 1.067 1.084 1.157 1.125

  1 Penata Tk. I, III/d 1.450 1.256 1.146 1.055 1.008

  B GOLONGAN I I I 5.753 5.611 5.692 5.713 5.578

  4 Pembina Tk. I, IV/b 936 647 654 802 743

  No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  38 49 46 40

  23

  3 Pembina Utama Muda IV/c

  2 Pembina Utama Madya, IV/d 2 2 5 5

  1 Pembina Utama, IV/e

  Tabel 2. 144 Jumlah Pegaw ai Negeri Sipil ( PNSD) di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No Golongan 2009 2010 2011 2012 2013 A GOLONGAN I V 10.015 9.963 10.004 9.879 9.515

  Selama tahun 2009-2013, ditinjau dari aspek sumber daya aparatur (PNS), jumlah PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Garut terus mengalami pengurangan seiring diberlakukannya kebijakan moratorium penerimaan pegawai baru maupun adanya pegawai yang memasuki pensiun. Hingga tahun 2013, jumlah aparatur PNS Pemerintah Kabupaten Garut mencapai 18.899 orang atau sebesar 0,75% dari jumlah penduduk Kabupaten Garut pada tahun 2013 sebanyak 2.525.483 orang (angka proyeksi BPS), dengan rasio 1 orang PNS melayani 134 orang penduduk. Rasio jumlah PNS tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan rasio jumlah PNS Indonesia saat ini sekitar 1,75% dari total jumlah penduduk. Dengan rasio PNS yang lebih rendah, dalam rangka meningkatkan kinerja pelayanan terhadap masyarakat maka diperlukan peningkatan kualitas SDM disertai pendistribusian secara merata. Kondisi jumlah PNS pada tahun 2013 tersebut mengalami penurunan 10,92% dari tahun 2009 sebanyak 21.215 orang atau secara rata-rata setiap tahunnya menurun sekitar 2,18%. Komposisi PNS berdasarkan golongan meliputi golongan I sebanyak 239 orang atau 1,26 %, golongan II sebanyak 3.567 orang atau 18,87%, golongan III sebanyak 5.578 orang atau 29,51% dan golongan IV sebanyak 9.515 orang atau 50,35%.

  Sumber : BPMPT, Tahun 2013

  

2 SITU/IG 162.520.930 211.278.295 364.918.630 251.599.215 284.919.785

Jumlah 844.184.367 985.495.691 1.227.022.970 1.847.728.095 2.241.232.507

  

1 IMB 681.663.437 774.217.396 862.104.340 1.596.103.880 1.956.312.722

  4 Pengatur Muda, II/a 2.759 2.680 1.351 1.033 998

  No Golongan 2009 2010 2011 2012 2013 D GOLONGAN I 449 419 278 246 239

  

2 SLTP dan sederajat 726 474 338 182 175

  92 Pengatur Muda, II/a Juru, I/c Juru Muda, I/a

  50 Penata Muda, III/a 97 262 131 490 Pengatur, II/c 15 81 42 138 Pengatur Tk. I, II/b 32 49 11

  Penata Muda Tk.I, III/b 3 29 18

  I Formasi Umum 147 421 202 770

  Sumber : BKD Kabupaten Garut Tahun 2014 Tabel 2. 146 Data Penerimaan CPNS per Golongan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No Jenis 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah

  

9 S3 3 3 4 1 1

Jumlah 21.215 20.912 20.146 19.484 18.899

  

8 S2 827 607 941 923 906

  7 S1 6.768 10.131 11.941 12.959 12.552

  6 D3 1.119 1.609 941 678 668

  5 D2 6.626 3.172 1.497 405 403

  3 SLTA dan sederajat 4.518 4.584 4.338 4.178 4.048

  1 SD dan sederajat 628 332 146 158 146

  1 Juru Tk. I, I/d

  Tabel 2. 145 Jumlah Pegaw ai Negeri Sipil ( PNSD) di Kabupaten Garut Berdasarkan Tingkat PendidikanTahun 2009- 2013 No Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 2012 2013

  Komposisi PNS berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2013 paling banyak berpendidikan S1 sebanyak 12.552 orang (66,42%) meningkat 34,51% dari tahun 2009 sebanyak 6.768 (31,90%). Peningkatan kualitas pendidikan PNS tersebut diharapkan dapat menunjang terhadap peningkatan pelayanan terhadap masyarakat seiring semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan.

  Sumber : BKD Kabupaten Garut, Tahun 2013

  JUMLAH 21.215 20.912 20.146 19.484 18.899

Jumlah Penduduk 2.368.869 2.407.086 2.445.921 2.485.383 2.525.483

Rasio PNS terhadap Penduduk 112 115 121 128 134

Persentase PNS terhadap Penduduk 0,90 0,87 0,82 0,78 0,75

  4 Juru Muda, I/a 129 147 52 26 26

  5 44 59 57

  32

  3 Juru Muda Tk. I, I/b

  2 Juru, I/c 225 233 122 97 96

  34 60 64 60

  63

  II Formasi Honorer 390 287 0 219 0 896

  No Jenis 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah Penata Muda Tk.I, III/b

  82 Penata Muda, III/a

  29

  

42

  11

  40 Pengatur, II/c

  8

  

11

  21

  1 Pengatur Tk. I, II/b 1 602

  Pengatur Muda, II/a 272 219 111

  94 Juru, I/c

  53

  

13

  28

  77 Juru Muda, I/a

  28

  2

  47 195

  III Sekretaris Desa 118

  

72

  5

  84 Pengatur Muda, II/a

  79

  2

  3

  38 Juru, I/c

  29

  7

  2

  73 Juru Muda, I/a

  10

  

63

1861

  Jumlah Total 655 780 207 219

  Sumber : BKD Kab. Garut Thn 2013

  Tabel 2. 147 Data Penyelenggaraan Diklat Tahun 2009- 2013 No Jenis 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah

  I Diklat Penjenjangan Struktural Diklat Kepemiminan Tk. II

  12

  10

  3

  5

  7

  37 Diklat Kepemiminan Tk. III

  26

  12

  12

  40 41 131 Diklat Kepemiminan Tk. IV

  34

  46

  8 93 103 284

  II Diklat Prajabatan Golongan I 100 80 14 194 Golongan II 1018 328 360

  53 1759 Golongan

  III 106 129 333 149 717

  III Diklat Teknis Fungsional Diklat Pengadaan Barang dan Jasa 80 40 120

Ujian Nasional Sertifikasi 200 100 300

  Diklat Manajemen Pengelola Keuangan

  81

  81 Diklat Manajemen Pemerintahan

  42

  42 Diklat Peningkatan Kapasitas Sekdes

  80 60 140 Diklat Pengelola Asset Daerah

  80

  80 Diklat Akutansi Keuangan Daerah

  35

  35 Sumber : BKD Kab. Garut Thn 2013 Tabel 2. 148 Jumlah Pegaw ai Negeri Sipil Kabupaten Garut Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin 2009 2010 2011 2012 2013

1 Laki-laki 11679 11758 11325 10851 10461

  

2 Perempuan 9536 9154 8821 8633 8438

Jumlah 21.215 20.912 20.146 19.484 18.899

  Sumber : BKD Kab. Garut Thn 2013

  Tabel 2. 149 Jumlah Pegaw ai Negeri Sipil Kabupaten Garut Berdasarkan Eseloneering No Eseloneering 2009 2010 2011 2012 2013

Jumlah Pejabat Struktural 1374 1872 1592 1516 1461

  1. Pemeriksaan Reguler 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  7 Badan legislasi 15 2 13 3 1

  8 Hearing/Dialog 72 102 146 99 36

  9 BURT

  2 Jumlah 304 329 383 282 272

  Sumber : Sekretariat DPRD Kab. Garut Thn 2013

  Tabel 2. 151 Data Pembinaan/ Pengaw asan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2014 No URAI AN JENI S TAHUN 2009 2010 2011 2012 2013

  1 SKPD

  2. Tindak Lanjut 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  6 Badan kehormatan 1 3 3

  3. Reviu Keuangan 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  4. Evaluasi SAKIP 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  2 SKPD Kecamatan

  1. Pemeriksaan Reguler 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  2. Tindak Lanjut 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  3 UPTD :

  1. Pemeriksaan Reguler 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1) UPTD Pendidikan Dasar / SDN

  1

  5 Badan musyawarah 12 12 18 16 18

  1. Eselon I

  71

  2. Eselon

  II 32 31 36 40 37

  3. Eselon

  III 234 238 260 248 250

  4. Eselon

  IV 1108 1453 1225 1208 1154

  5. Eselon V 150

  20

  4 Pimpinan 14 27 27 15 12

  20 Jumlah Pejabat Fungsional 14409 14441 14032 13715 13761

  Sumber : BKD Kab. Garut Thn 2013

  Tabel 2. 150 Data Rapat Dew an di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

No Jenis / Uraian 2009* 2010* 2011* 2012* 2013*

  Rapat rapat

  1 Paripurna 40 33 27 28 37

  2 Komisi 93 91 81 96 119

  3 Panitia Khusus 55 59 68 25 48

  2. Tindak Lanjut 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  TAHUN No URAI AN JENI S 2009 2010 2011 2012 2013 2) UPTD Puskesmas 3) UPTD SMPN 4) UPTD SMAN 5) UPTD SMKN

  4 Desa

  1. Pemeriksaan Reguler 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  2. Tindak Lanjut 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali

  Sumber : Inspektorat Kab. Garut Thn 2013

  Tabel 2. 152 Data Produk Hukum Tahun 2009- 2013 TAHUN NO JENI S/ URAI AN 2009 2010 2011 2012 2013

  

1 Peraturan Daerah 13 buah 15 buah 32 buah 24 buah 18 buah

  

2 Peraturan Bupati 28 buah 25 buah 44 buah 82 buah 21 buah

  3 Keputusan Bupati 560 buah 469 buah 708 buah 683 buah 659 buah

  4 Lomba Kadarkum 1 (satu)

  • kegiatan

  5 Perjanjian 7 buah 3 buah 5 buah 10 buah - Kerjasama/Lainnya

  6 Dokumentasi 1927 buah 288 buah buku 198 buah buku 199 buah buku 175 buah buku

  Informasi Hukum buku himpunan himpunan himpunan himpunan

  (Buku) himpunan Perda Perda Perda Perda

  Perda 20 buah buku 20 buah buku 20 buah buku 10 buah buku 10 buah buku himpunan himpunan himpunan himpunan himpunan perbup dan perbup dan perbup dan perbup dan perbup dan kepbup kepbup kepbup kepbup kepbup

  Sumber : Bagian Hukum dan HAM Sekretariat Daerah Kab. Garut Thn 2013 Untuk menjamin penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan daerah secara berdayaguna dan berhasil guna diperlukan penerapan manajemen PNS secara profesional mulai dari pengangkatan PNS sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan formasi, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, pemberian reward dan punishment berdasarkan kepada penilaian kinerja,pola rotasi, promosi dan mutasi hingga pensiun. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pemerintah telah berupaya melakukan peningkatan kinerja birokrasi antara lain melalui penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (diklat) aparatur, penyederhanaan prosedur pelayanan, penataan regulasi dan peningkatan pengawasan. Meskipun demikian, pada kenyataannya kinerja birokrasi masih belum sesuai dengan yang diharapkan masyarakat, antara lain tercermin dari masih adanya penyelenggaraan pelayanan yang belum sesuai dengan aturan baik dalam pelayanan administratif maupun dalam pelayanan jasa dan pelayanan pengadaan barang/jasa. Dalam hal penggunaan dan pemanfaatan barang milik daerah untuk mendukung kelancaran tugas dan fungsi SKPD serta mendukung terhadap peningkatan potensi PAD, kondisi yang ada menunjukkan masih rendahnya tingkat kemampuan maupun pengetahuan pengurus / penyimpan barang dalam pengelolaan barang milik daerah; Belum tertibnya pengelolaan barang milik daerah secara optimal; Lemahnya pengawasan dan pembinaan pengguna barang (SKPD) dalam pengelolaan barang milik daerah serta; belum tertibnya penggunaan dan pemanfaatan barang milik daerah untuk mendukung peningkatan pendapatan asli daerah.

  Di samping berbagai capaian kinerja yang menunjukkan kemajuan dalam pembangunan bidang aparatur, beberapa permasalahan lain dalam pembangunan Bidang Aparatur antara lain:

  a. Distribusi PNS belum sesuai dengan yang diharapkan sesuai kebutuhan tugas serta fungsi jabatan yang ada pada unit kerja, sehingga dapat menjadi hambatan bagi unit kerja terkait dalam pemenuhan target kinerja yang diharapkan, bahkan cenderung menjadi permasalahan di masa datang;

  b. Jumlah Tenaga Kontrak Kerja dan Sukarelawan yang banyak.;

  c. Terbatasnya kesempatan mengikuti Diklat Aparatur;

  d. Sistem manajemen kepegawaian belum mampu mendorong peningkatan profesionalitas, kompetensi, dan renumerasi yang adil dan layak sesuai dengan tanggung jawab dan beban kerja, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian; Sistem dan prosedur kerja di lingkungan aparatur negara belum efisien, efektif,dan berperilaku hemat.

  e. Praktek penyimpangan yang mengarah pada penyalahgunaan wewenang (korupsi) belum teratasi.

  f. Pelayanan publik belum sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat.

  g. Terabaikannya nilai-nilai etika dan budaya kerja dalam birokrasi sehingga melemahkan disiplin kerja,etos kerja,dan produktivitas kerja. Bidang pemerintahan dan pembangunan Desa menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian khusus selama periode 2009-2013. Fokus pembangunan bidang pemerintahan dan pembangunan desa adalah: Terselenggaranya pembangunan yang berbasis perdesaan; Pemantapan penyelenggaraan Pemerintahan Desa; dan Pemantapan Program Raksa Desa. Permasalahan yang dihadapi dalam bidang pemerintahan dan pembangunandesa antara lain rendahnya kemampuan mengakses kesempatan berusaha dan berkurangnya kesempatan ekonomi/berusaha. Rendahnya kemampuan mengakses kesempatan berusaha disebabkan oleh terbatasnya kepemilikan produktif; lemahnya sumber daya modal usaha; terbatasnya pasar dan informasi pasar kurang sempurna/asimetris; serta rendahnya tingkat kewirausahaan sosial. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi berkurangnya kesempatan ekonomi/berusaha adalah ketimpangan distribusi kekayaan dan kecurangan praktek bisnis dan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Di samping itu tingkat partisipasi masyarakatperdesaan dalam penetapan kebijakan masih rendah disebabkan: (a) kurangnya representasi orang miskin; dan (b) terbatasnya ruang publik. Kurangnya representasi orang miskin disebabkanoleh: (1) lemahnya swa-organisasi; (2) kurang berkembangnya kepemimpinan kelompok; dan (3) lemahnya jejaring kaum miskin. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbatasnya ruang publik disebabkan oleh: aparat pemerintah yang kurang memberi ruang partisipasi; elit politik yang tidak responsif; dan tata pemerintahan yang otokratis.

20. Ketahanan Pangan

   Ketersediaan dan Cadangan Pangan Ketersediaan Pangan Kabupaten Garut dibandingkan dengan konsumsi aktual pada tahun 2013 menunjukkan adanya ada surplus jenis pangan, beras, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah dan Kacang Kedele, sayur-sayuran dan buah-buahan. Sedangkan yang minus jenis pangan kacang hijau, ikan, daging unggas, daging ruminansia, telur dan susu.

  Tabel 2. 153 Ketersediaan Pangan Kabupaten Garut Tahun 2012& 2013 2012 2013 Konsumsi Konsums Ketersedia Perimbang Ketersedia Perimbang No Jenis Pangan Aktual i Aktual an an an an ( Ton/ Tahun ( Ton/ ( Ton) ( + / - ) ( Ton) ( + / - ) ) Tahun) 478.039 200.197,62 277.841,38 525.962,2 212.102,2 313.860

  1 Beras 372.620 4.549,95 368.070,05 452.778,5 5.258,7 447.519,8

  2 Jagung 53.518 13.649,84 39.868,34 78.449,5 14.899,7 63.599,8

  3 Ubi Jalar 353.547 56.874,33 296.672,67 478.632,9 60.475,4 418.157,5

  4 Ubi Kayu Kacang Tanah 407.065 70.524 336.541 17.674,6 3.505,8 14.168,7 6 (Biji)

  27.431 4.549,95 22.881,05 19.041,8 18.405,6 636,2

  7 Kacang Kedele 20.296 18.199,78 2.096,22 1.946,5 1.752,9 193,6

  8 Kacang Hijau 1.659 2.274,97 -615,97 550.100,7 359.396 190.753,4

  9 Sayur-sayuran 863.516 166.073 697.443 142.209 85.892,6 56.316,4

  10 Buah-buahan 575.930 341.245,95 234.684,05 41.902,1 79.757,5 (37.855,4)

  11 Ikan 1.464.191,97 2.788,4 16.652,7 (13.869,3)

  12 Daging Unggas 1.546.091 81.899,03 Daging 28.692 75.074,11 -46.382,11 2.2788,3 8.764.6 (6476,3)

  13 Ruminansia 3.444 15.924,81 -12.480,81 223 26.293,7 (26.070,3)

  14 Telur 4.172 9.099,89 -4.928,39 7.968,5 70.992,9 (63.024,4)

15 Susu

  Sumber: BKP Kabupaten Garut Tahun 2014

  Jumlah cadangan pangan Kabupaten Garut dari Tahun 2009-2013 mengalami peningkatan 126,95 ton atau 39,61% dari sebanyak 320,5 ton pada tahun 2009 menjadi sebanyak 447,45 ton pada tahun 2013 sebagaimana disajikan pada tabel di bawah ini:

  Tabel 2. 154 Cadangan Pangan Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 Volume Cadangan Pangan 2009 2010 2011 2012 2013

Pemerintah (DOLOG) 100 ton 100 ton 100 ton 100 ton 100 ton

Cadangan Pangan

  • 13 ton - -

  50 ton Pemerintah Kelompok Lumbung 220,5 ton 100 ton 125,25 ton 297,45 ton 297,45 ton Pangan

  Jumlah 320,5 ton 200 ton 225,25 ton 410,45 ton 447,45 ton Sumber: BKP Kabupaten Garut Tahun 2014

   Distribusi dan Harga Pangan

  a) Kelembagaan Kelembagaan Distribusi pangan yang dikembangkan hingga akhir tahun 2013 sebanyak 9 gapoktan yang bergerak di bidang distribusi bahan pangan pokok beras, yaitu Desa Karangsari Kecamatan Leuwigoong, Desa Dungusiku Kecamatan Leuwigoong, Desa Cigawir Kecamatan Selaawi, Desa Sakawayana Kecamatan Malangbong, Desa Cintadamai Kecamatan Sukaresmi, Desa Mekarsari Kecamatan Cibalong, Desa Jagabaya Kecamatan Mekarmukti, Desa Cangkuang Kecamatan Leles dan Desa Cikarag Kecamatan Malangbong. Harga Pembelian gabah dan beras oleh masing-masing gapoktan peserta LDPM tersebut dari petani anggota selalu diatas HPP, selama tahun 2012 rata-rata pembelian GKP Rp.3.650,-/kg, harga GKG Rp.4.850,-/kg dan beras Rp.7.825,- /kg.

  b) Pemantauan Harga Pangan Pemantauan harga pangan strategis tingkat pedagang pengecer dan pedagang besar pada pasar-pasar kecamatan untuk komoditas pangan seperti beras, minyak goreng, terigu, gula pasir, bawang merah, cabe merah, jagung, kedele, kacang tanah, daging sapi, daging ayam, telur dan ikan. Pada Tahun 2011 dilakukan di 6 Kecamatan tetapi pada tahun 2012 dan 2013 Pemantauan dilakukan di 15 (lima belas) pasar kecamatan yaitu Pasar Guntur Kecamatan Tarogong Kidul, Pasar Leles Kecamatan Leles, Pasar Kadungora Kec. Kadungora, Pasar Limbangan Kec.

  BL. Limbangan, Pasar Leuwigoong Kec. Leuwigoong, Pasar Malangbong Kec. Malangbong,Pasar Bandrek Kec. Kersamanah, Pasar Cibatu Kec. Cibatu, Pasar Wanaraja Kec. Wanaraja, Pasar Samarang Kec. Samarang, Pasar Bayongbong Kec. Bayongbong, Pasar Cisurupan Kec. Cisurupan, Pasar Cikajang Kec. Cikajang, Pasar Bungbulang Kec. Bungbulang dan Pasar Pameungpeuk Kec.

  Pameungpeuk. Selama tahun 2009-2013, hampir seluruh komoditas pangan mengalami peningkatan harga.

  Tabel 2. 155 Perkembangan Harga Pangan Strategis Selama Tahun 2009- 2013 Komoditas Pangan Harga Rata- rata ( Rp/ Kg) 2009 2010 2011 2012 2013 Beras IR Kw I 5.057 7.000 6.736 7.915 8.175 Beras IR Kw II 4.875 6.500 6.304 7.531 7.724 Jagung Pipilan 4.000 3.000 - -

  5.683

Kedele 8.000 8.000 8.018 7.641 10.346

Gula Pasir 9.500 11.000 10.191 11.494 11.740 Minyak Goreng (Curah) 8.000 10.500 6.240 10.279 9.855 Cabe Merah TW 19.500 40.000 23.209 23.094 32.924 Bawang Merah 8.000 8.000 10.706 9.317 13.746 Kacang Tanah (Polong) 12.500 15.000 - - 18.831 Daging Sapi 58.000 58.000 58.422 67.409 88.478 Daging Ayam Ras 20.000 22.000 21.646 21.644 27.341 Telur Ayam Ras 12.000 14.000 13.029 14.949 16.983 Terigu 7.500 7.500 7.410 7.410 7.497

  Sumber: BKP Kabupaten Garut Tahun 2014

  c) Pemantauan Pasokan Beras Setiap tahunnya Kabupaten Garut banyak menjual berasnya ke luar Kabupaten Garut berbentuk beras kualitas 1 dan hanya sedikit beras dari luar kabupaten Garut yang masuk ke kabupaten Garut berbentuk beras kualitas 2 yang harganya lebih murah.

  Daerah-daerah tujuan penjualan beras dan gabah dari kabupaten Garut adalah Jakarta, Bandung, dan sedikit ke Sumedang dan Cianjur. Sedangkan daerah-daerah pemasok beras dan gabah ke kabupaten Garut adalah Banjar, Sumedang, Tasikmalaya, Majenang, Ciamis, Subang, Karawang dan Indramayu.

   Konsumsi dan Keamanan Pangan

  a) Konsumsi Pangan/ Kelompok Pangan Perkembangan banyaknya pangan yang dikonsumsi per kelompok pangan Kabupaten Garut selama tahun 2009 - 2013 menunjukkan bahwa jumlah pangan yang dikonsumsi penduduk rata-rata per orang per hari pada tahun 2013 secara umum mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009, terkecuali untuk kelompok padi-padian, minyak dan lemak serta kacang-kacangan.

  Tabel 2. 156 Konsumsi Pangan Kabupaten Garut Tahun 2011-2013 Kelompok Pangan Konsumsi I deal ( gram/ org/ hari) Konsumsi Aktual ( gram/ org/ hari) 2009 2010 2011 2012 2013 Padi-padian 275 269,98 123, 8 189,5 189,5 189,5 Umbi-umbian 100 24,29

  6

  29 Jumlah 1.341,22 1.649,00 1.312 1.312 1.312 Sumber: BKP Kabupaten Garut Tahun 2014

  29

  29

  43 Lain-lain (bumbu-bumbuan) 7,86 9,66

  43

  43

  19 Sayur dan buah 36,75 40,93

  19

  19

  6 Gula 21,89 15,38

  6

  28 62,6 62,6 62,6 Hewani 150 65,51 46,4 110,7 110,7 110,7 Minyak dan Lemak 20 16,89 0,9 9,3 9,3 9,3 Kacang-kacangan 35 47,04 13,6 34,1 34,1 34,1 Buah/biji berminyak 10 1,17 1,3 3,3 3,3 3,3 Gula 30 5,94 0,8 5,3 5,3 5,3 Sayur dan buah 250 75,76 49,7 169,6 169,6 169,6 Lain-lain (bumbu- bumbuan) 1,45 1,45 12,8 12,8 12,8

  81 Kacang-kacangan 61,14 125,4 154 154 154 Buah/biji berminyak 2,12 4,1

  81

  81

  69 Hewani 95,27 147,21 229 229 229 Minyak dan Lemak 120,54 25,33

  69

  69

  87

  Padi-padian 964,88 1193,99 682 682 682 Umbi-umbian 30,76

  Tabel 2. 157 Perkembangan Konsumsi Gizi Per Kelompok Pangan Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Kelompok Pangan

Energi ( kkal/ orang/ hari)

2009 2010 2011 2012 2013

  b) Perkembangan konsumsi gizi per kelompok pangan Perkembangan konsumsi gizi per kelompok pangan Kabupaten Garut selama tahun 2009-2013 menunjukkan bahwa selama tahun 2009-2013 konsumsi energi sedikit mengalami penurunan dari 1.341,22 kkal/orang/hari pada tahun 2009 menjadi 1.312 kkal/orang/hari, dan masih dibawah Standar Angka Kecukupan Gizi Energi (AKG Energi) untuk tingkat nasional rata-rata 2.000 kkal/orang/hari.

  Sumber: BKP Kabupaten Garut Tahun 2014

  c) Capaian kecukupan gizi per kelompok pangan Capaian kecukupan gizi per kelompok pangan selamatahun 2009- 2013 menunjukkan prosentasi capaian kecukupan gizi energi sedikit mengalami penurunan dari sebesar 68,08% pada tahun 2009 menjadi sebanyak 66,4% pada tahun 2013.

  Tabel 2. 158 Prosentasi Capaian Kecukupan Gizi Per Kelompok Pangan Kab. Garut Sampai Dengan Tahun 2009- 2013 % AKG Energi Kelompok Pangan 2013

  

2009 2010 2011 2012

Padi-padian 48,98 61,7 34,4 34,4 34,4

Umbi-umbian 1,56 4,2 3,6 3,6 3,6

Hewani 4,84 7,2 11,6 11,6 11,6 Minyak dan Lemak 6,12 1,1 4,1 4,1 4,1

Kacang-kacangan 3,1 6,3 7,8 7,8 7,8

Buah/biji berminyak 0,11 0,1 0,3 0,3 0,3 Gula 1,11 0,4

  1

  1

  1 Sayur dan buah 1,87 2,3 2,2 2,2 2,2 Lain-lain (bumbu-bumbuan) 0,4 0,5 1,4 1,4 1,4

Jumlah 68,08 83,8 66,4 66,4 66,4

  Sumber: BKP Kabupaten Garut Tahun 2014

d) Capaian Skor Pola Pangan Harapan (PPH)

  Perkembangan pencapaian skor Pola Pangan Harapan (PPH) Kabupaten Garut sampai dengan tahun 2009-2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

  Tabel 2. 159 Capaian Skor Pola Pangan Harapan ( PPH) Kab.Garut Tahun 2009- 2013 Skor PPH Skor Kelompok Pangan Maksimal 2009 2010 2011 2012 2013

  Padi-padian 24,49 24,99 17,3 17,3 17,3

  25 Umbi-umbian 0,78 1,836 1,7 1,7 1,7 2,5 Hewani 9,67 14,64 23,2 23,2 23,2

  24 Minyak dan Lemak 3,06 0,57

  2

  2

  2

  5 Kacang-kacangan 6,21 9,31

  

10

10 10 10 Buah/biji berminyak 0,05 0,06 0,2 0,2 0,2

  1 Gula 0,56 0,21 0,5 0,5 0,5 2,5 Sayur dan buah 9,33 11,38

  11

  11

  11

  30 Lain-lain (bumbu- 0 0 0 0 0 0 bumbuan)

  Jumlah 54,15 62,996 65,8 65,8 65,8 100 Sumber: BKP Kabupaten Garut Tahun 2014

  Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa secara kumulatif, konsumsi pangan selama tahun 2009-2013 mengalami peningkatan sebesar 21,51% dari sebesar 54,15 pada tahun 2009 menjadi sebesar 65,8 pada tahun 2013. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi dari keberhasilan berbagai intervensi yang dilakukan dalam upaya mendongkrak capaian Pola Pangan Harapan (PPH), sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2010 tentang kebijakan percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan berbasis Sumber Daya Lokal, melalui kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yang dilakukan di 10 Kecamatan dan 20 Desa/Kelurahan, disamping itu ditunjang dengan kegiatan yang bersumber dari APBD Kabupaten Garut melalui kegiatan Penyuluhan Sumber Pangan Alternatif dan kegiatan yang bersumber dari APBD Provinsi melalui sosialisasi keluarga sadar gizi (KADARZI) dan Lingkungan Bebas Rawan Pangan (LINGBASRANGAN).

  21. Kearsipan

  Berdasarkan data dari Bapusipda, jumlah SKPD, Kecamatan dan Desa di Kabupaten Garut pada tahun 2009-2013 sudah seluruhnya mengelola arsip secara baku. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 2. 160 Pengelolaan Arsip secara Baku di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1. Jumlah SKPD, Kecamatan dan Desa yang telah Menerapkan Arsip secara Baku 172 179 187 238 236

  2. Jumlah SKPD, Kecamatan dan Desa 492 492 492 520 520

  3. Persentase SKPD, Kecamatan dan Desa yang telah Menerpkan Arsip secara Baku 34,96% 36,39% 35,96% 43,85% 45,38%

  Sumber : BapusipdaKabupaten Garut, Tahun 2013

  22. Komunikasi dan I nformatika

  Sarana/prasarana (teknologi) komunikasi dan informasi yang tersedia di Kabupaten Garut terdiri dari : akses internet, sistem informasi, hotspot, media informasi dan radio komunikasi. Pada tahun 2013, jumlah SKPD yang telah memiliki akses internet di Kabupaten Garut sebanyak 70 SKPD, jumlah sistem informasi sebanyak 75 unit, jumlah titik hotspot sebanyak 6 titik, jumlah media yang digunakan untuk penyebaran informasi sebanyak 81 buah serta jumlah radio komunikasi yang aktif sebanyak 16 unit. Bila dibandingkan dengan tahun2009, jumlah ketersediaan sarana/prasarana (teknologi) komunikasi dan informasi Kabupaten Garuts ampai dengan Tahun 2013 mengalami rata-rata pertumbuhan sebesar 162,40%.

  Tabel 2. 161 Jumlah Ketersediaan Sarana/ Prasarana ( Teknologi) Komunikasi dan I nformasi Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 Pertumbuhan 2009-2013 ( % )

  1 Jumlah SKPD yang memiliki akses internet 15 34 56 68 70 366,67

  2 Jumlah sistem informasi yang ada 20 20 42 50 75 275,00 3.

  Jumlah titik hotspot yang difasilitasi pemda 6 6 3 4 6 - 4.

  Jumlah media yang digunakan untuk penyebaran informasi 80 80 60 75 81 1,25

  5. Jumlah radio komunikasi yang aktif 15 15 10 14 16 6,67

  Rata- rata Pertumbuhan 162,40

  Sumber : Bagian Komunikasi dan Informasi Setda Kabupaten Garut

  Tabel 2. 162 Jumlah Pengadaan Barang/ Jasa melalui LPSE No. Uraian 2011 2012 2013 Jml Pkt Nominal ( Rp.000)

Jml

Pkt

  Nominal ( Rp.000) Jml Pkt Nominal ( Rp.000)

  1 Pengadaan Barang/Jasa 65 49.283.062,3 257 149.469.083,3 191 161.097.677,9 Sumber : Bagian Administrasi Pembangunan Setda Kabupaten Garut, Tahun 2014.

23. Urusan Pemberdayaan Desa

  Gambaran umum pemerintahan desa di Kab. Garut berdasarkan kepemilikan gedung dan jumlah pemberdayaan masyarakat Tahun 2009- 2013.

  26

  27

  31

  33

  58 Sarjana (S1)

  18

  26

  36

  41

  93 Sumber : BPMPD Kabupaten Garut, Tahun 2014.

  Tabel 2. 163 Data Pemerintah Desa Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tahun Nama 2009 2010 2011 2012 2013 Status Kepemilikan Gedung Sarana Prasarana Pemerintahan Kantor Pemerintah Desa 403 403 403 403 403 Jumlah Aparat Pemerintah Desa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah/Belum Tamat SD - - - - - Tamat SD atau Sederajat 1015 1038 1038 1038 1038 SMP dan Sederajat 1295 1328 1320 1320 1255 SMA dan Sederajat 1528 1625 1619 1612 1600 Akademi (DI, DII dan DIII)

  Tabel 2. 164 Data Perkembangan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tahun Nama 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah Lembaga Pemberdayaan 424 424 431 442 442 Masyarakat Kelompok Binaan LPM

  42

  42

  42

  42

  42 Rata- Rata Kelompok LPM

  42

  42

  42

  42

  42 Jumlah LPM Berprestasi

  5

  5

  9

  10

  12 Jumlah Program Pemberdayaan 4 5 5 5 5 Masyarakat Persentase Masyarakat Mendukung

  78 79 80 83 87 Program Pemberdayaan Masyarakat Persentase Pemberdayaan Masyarakat

yang Dikembangkan dan Dipelihara 78 79 80 83 87

Masyarakat Sumber : BPMPD Kabupaten Garut, Tahun 2014.

24. Perpustakaan

  Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan perpustakaan salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :  Jumlah perpustakaan

  Sampai dengan tahun 2013, Kabupaten Garut memiliki 1 buah perpustakaan umum daerah dan 245 perpustakaan desa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di berikut ini.

  Tabel 2. 165 Jumlah Perpustakaan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1. Jumlah Perpustakaan Umum 1 1 1 1 1 Daerah 2.

  189 189 207 227 245 Jumlah Perpustakaan Desa

  3. Total Perpustakaan 190 190 208 228 246 Sumber : Bapusipda Kabupaten Garut, Tahun 2014

   Jumlah Pengunjung Perpustakaan Per tahun Jumlah pengunjung ke perpustakaan umum pada tahun 2013 mencapai sebanyak 214.250 orang meningkat 60.108 orang atau 39 % dibandingkan dengan tahun 2010 sebanyak 154.142 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 2. 166 Jumlah Pengunjung Perpustakaan di Kabupaten Garut Tahun 2010- 2013 No. Uraian 2010 2011 2012 2013

  1. Jumlah pengunjung 154.142 173.449 195.651 214.250 perpustakaan umum darah

  2. Jumlah pengunjung 897.600 933.600 1.094.400 1.180.800 perpustakaan desa

  3. Total pengunjung 1.051.742 1.107.049 1.290.051 1.395.050 Perpustakaan (1+2) Sumber : Bapusipda Kabupaten Garut, Tahun 2014

   Jumlah Ketersediaan Buku pada Perpustakaan Pada tahun 2013, jumlah buku yang tersedia di perpustakaan umum Kabupaten Garut sebanyak 47.523 buah dengan total judul buku sebanyak 25.731 jenis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 2. 167 Jumlah Ketersediaan Buku Pada Perpustakaan Daerah di Kabupaten Garut Tahun 2010- 2013 No. Uraian 2010 2011 2012 2013 1.

  Jumlah Judul Buku 22.731 25.731 25.731 25.731 2. Total Jumlah Buku 38.752 47.523 47.523 47.523 3. Rata-rata Jumlah Judul Buku Sumber : Bapusipda Kabupaten Garut, Tahun 2014

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan

1. Pertanian

  Tanaman Pangan dan Hortikultura -

  Pembangunan pertanian dalam bentuk “intensifikasi” merupakan upaya peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas tanaman dengan peningkatan penerapan teknologi tepat guna, peningkatan optimalisasi lahan marjinal dan pengairan serta peningkatan penggunaan sarana produksi seperti air, benih unggul, pupuk, obat- obatan dan alsin pertanian. Pencapaian indikator kinerja urusan pertanian khususnya dalam upaya mencapai sasaran meningkatnya produksi dan nilai tambah hasil tanaman pangan dan hortikultura ditinjau dari peran dan kemampuan usaha petani tanaman pangan dan hortikultura selama tahun 2009- 2013 menunjukkan adanya peningkatan sebagaimana disajikan pada tabel berikut :

  • Usahatani padi (Rp.) 6.000.000 8.976.873 6.668.000 6.935.000 7.987.500 9.100.000
  • Usahatani palawija (Rp.) 7.345.500 10.989.937 7.920.000 8.515.600 8.643.200 11.600.000
  • Usahatani sayuran (Rp.) 12.000.000 19.155.873 13.690.000 14.554.000 16.025.000 19.350.000 Meningkatnya pengetahuan, sikap dan kemampuan petani :
  • Tanaman pangan (Orang) 150 300 600 735 200 300
  • Tanaman Hortikultura (Orang) 75 225 100 100 100 315
  • Pengolah hasil pertanian (Orang) 100 250 35 40 120 155
  • P3A (Orang) 100 250 100 120 186 120

A. Tercapainya sasaran tanam tanaman pangan dan hortikultura :

  6 Ubi Kayu (Ha) 22.140 23.000 20.186 21.599 26.609 27.228

  5

  4

  3

  2

  1

  8 Sayuran (Ha) 33.421 37.800 36.237 37.397 39.295 46.716 9 -Buah-buahan (Pohon) 6.048.045 6.000.500 6.276.200 6.311.680 6.024.946 5.488.402

  7 Ubi Jalar (Ha) 6.059 6.000 5.610 6.739 6.332 6.863

  5 Kacang hijau (Ha) 2.150 2.200 2.220 2.371 2.100 2.142

  4 Kacang tanah (Ha) 22.547 17.100 15.672 19.526 18.375 18.968

  3 Kedele (Ha) 6.543 10.700 11.115 9.030 15.158 12.947

  2 Jagung (Ha) 58.143 62.327 60.767 64.603 73.081 76.887

  1 Padi (Ha) 132.059 142.726 153.279 160.110 167.508 171.976

  Tabel 2. 169 Produksi Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No I ndikator Kinerja Capaian Kinerja Realisasi Capaian Kinerja Kondisi Aw al 2009 Target Akhir 2014 2010 2011 2012 2013

  Pencapaian Indikator Kinerja peningkatan produksi pertanian tanaman pangan dan hortikultura, secara umum telah dapat mencapai target, sebagaimana disajikan pada tabel berikut :

  Sumber : Dinas TPH Kabupaten Garut

  Tabel 2. 168 Peran Dan Kemampuan Usaha Petani Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 I ndikator Kinerja Capaian Kinerja Realisasi Capaian Kinerja Kondisi Aw al 2009 Target Akhir 2014 2010 2011 2012 2013 Meningkatnya pendapatan usahatani :

B. Tercapainya sasaran panen tanaman pangan dan hortikultura :

  • Padi (Ha) 126.172 137.317 147.602 153.175 154.764 166.583
  • Jagung (Ha) 43.608 52.978 61.028 60.616 67.067 76.790
  • Kedele (Ha) 5.888 10.165 11.453 9.461 13.106 12.945
  • Kacang tanah (Ha) 21.420 16.245 17.946 17.533 17.068 18.963
  • Kacang hijau (Ha) 2.042 2.095 1.916 3.088 1.587 1.951
  • Ubi Kayu (Ha) 21.577 22.800 24.293 23.006 21.654 26.658

  No I ndikator Kinerja Capaian Kinerja Realisasi Capaian Kinerja Kondisi Aw al 2009 Target Akhir 2014

2010

2011 2012 2013

  6

  7

  • Ubi Jalar (Ha) 5.756 5.700 6.115 6.604 5.259 7.375
  • Sayuran (Ha) 31.752 35.910 39.482 38.650 37.856 49.481 9 -Buah-buahan (Pohon) 2.419.218 2.400.200 8.023.494 9.755.217 7.274.503 7.763.991

  8

C. Tercapainya sasaran produktivitas tanaman pangan dan hortikultura :

  1

  • Padi (Kw/Ha) 54,75 62,51 62,24 63,65 64,20 63,92
  • Jagung (Kw/Ha) 60,77 69,57 69,20 70,72 72,83 72,89
  • Kedele (Kw/Ha) 14,29 15,64 16,24 16,28 16,38 16,56 4 -Kacang tanah (Kw/Ha) 15,36 15,86 16,63 16,65 16,89 16,94 5 -Kacang hijau (Kw/Ha) 11,14 11,13 11,82 10,86 10,90 10,95
  • Ubi Kayu (Kw/Ha) 220,45 216,49 221,57 221,73 222,53 223,30
  • Ubi Jalar (Kw/Ha) 132,66 134,33 134,59 135,63 136,44 136,61
  • Sayuran (Kw/Ha) 176,69 186,39 186,16 186,74 187,00 187,82

  2

  3

  6

  7

  8

D. Tercapainya sasaran produksi tanaman pangan dan hortikultura :

  1

  • Padi (Ton) 730.167 858.367 918.735 974.942 993.547 1.064.853
  • Jagung (Ton) 293895 368.568 422.309 428.652 488.433 559.741
  • Kedele (Ton) 7.857 16.915 18.601 15.406 21.462 21.441
  • Kacang tanah (Ton) 22.580 27.389 29.846 29.188 28.823 32.122
  • Kacang hijau (Ton) 1.676 2.253 2.074 3.352 1.730 2.136
  • Ubi Kayu (Ton) 536.978 493.597 470.683 510.105 481.865 595.279
  • Ubi Jalar (Ton) 67.591 77.708 82.303 89.571 71.544 100.750
  • Sayuran (Ton) 623.680 669.326 719.257 703.591 707.901 924.393
  • Buah-buahan (Ton) 359.581 325.323 243.783 314.995 257.350 254.955 10 -Tanaman Hias (Tangkai) 322.402 34.971 147.147 213.246 94.828 862.456
  • Tanaman Obat (Kg) 57.827.000 9.218.109 10.095.178 114.350.710 14.953.413 97.341.723

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  11

  E. Terbangunnya sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani ( Kelompok) 10 40 6 6 56 50

  F. Berkembangnya kaw asan pertanian organik ( Ha) 40 100 7 7 2.045 3.045

  G. Menurunnya tingkat kehilangan hasil ( % ) 17 11 14 14 13 12 Sumber : Dinas TPH Kabupaten Garut

  Pencapaian Indikator Kinerja pengembangan pasar produksi pertanian tanaman pangan dan hortikultura, secara umum telah dapat mencapai target, sebagaimana disajikan pada tabel berikut :

  2

  Tabel 2. 170 Pengembangan Pasar Produksi Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Capaian Kinerja Realisasi Capaian Kinerja Kondisi Target I ndikator Kinerja Aw al Akhir 2010 2011 2012 2013 2009 2014 Berkembangnya kelembagaan usaha tani

yang berbasis agribisnis dan agroindustri 10 70 12 12 20 20

(Kelompok) Meningkatnya akses petani terhadap iptek,

  20 37 32 32 35 40 pasar, dan permodalan bunga rendah (%) Berkembangnya pasar produksi pertanian 2 8 2 2 2 2 tanaman pangan dan hortikultura (Unit) Terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat : Beras - (Ton/Tahun) 283.765 270.151 1.230.889 633.712 625.935 672.987

  • Kacang-kacangan (Ton/Tahun 53.667 58.618 79.866 428.652 50.285 55.699
  • jagung (Ton/Tahun 38.967 42.562 823.231 599.676 478.968 559.741 Umbi-umbian - (Ton/Tahun 183.869 200.829 1.152.662 47.946 553.409 696.029
  • Sayuran (Ton/Tahun 153.302 167.443 1.425.954 706.697 707.901 928.341 Buah-buahan (Ton/Tahun 140.002 152.916 559.128 315.570 258.699 245.955 - Meningkatnya ketersediaan infrastruktur, 20 50 20 20 148 170 sarana dan prasarana pertanian (Unit) Terwujudnya Perlindungan lahan pertanian 96 90 94 93 92 91 pangan berkelanjutan (%) Terwujudnya pembangunan kawasan sentra 7 25 4 4 6 10 produksi (lokasi)

  Sumber : Dinas TPH Kabupaten Garut

  Pencapaian Indikator Kinerja Pengembangan Infrastruktur pendukung pertanian tanaman pangan dan hortikulturta, secara umum telah dapat mencapai target, sebagaimana disajikan pada tabel berikut :

  Tabel 2. 171 Pengembangan I nfrastruktur pendukung Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Capaian Kinerja Realisasi Capaian Kinerja Kondisi Target I ndikator Kinerja Aw al Akhir 2010 2011 2012 2013 2009 2014 Meningkatnya fungsi jaringan irigasi 10.000 13.000 1.500 1.935 1.450 2.160 desa (Ha) Meningkatnya fungsi jaringan irigasi

  9.000 12.000 500 600 1.650 390 tingkat usaha tani (Ha)

  Sumber : Dinas TPH Kabupaten Garut Dari hasil pengukuran pencapaian kinerja selama tahun 2009 hingga tahun 2013 tersebut, secara umum realisasi sudah mencapai target. Adapan indikator kinerja yang masih belum mencapai target yaitu :

  1) Pencapaian penurunan tingkat kehilangan hasil (lossis) padi dari target 11% hanya tercapai 12% (91,67%). Hal ini disebabkan karena masih kurangnya alat-alat panen dan pasca panen padi.

2) Pencapaian perwujudan perlindungan lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura dari target 90% tercapai 91% (98,90%).

  Hal ini disebabkan tidak terkendalinya alih fungsi lahan sawah menjadi menjadi non sawah seperti jaringan irigasi, jalan, perumahan, pertokoan dan penggunaan lainnya. Berdasarkan hasil pendataan Sensus Pertanian Tahun 2013 diketahui bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian pada tahun 2013 sebanyak 268.601 rumah tangga, mengalami penurunan sebanyak 52.251 rumah tangga dari sebanyak 320.852 rumah tangga pada tahun 2003 atau secara rata-rata terjadi penurunan sebesar 1,63% per tahun. Subsektor Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Kehutanan merupakan tiga subsektor yang memiliki jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak yaitu masing-masing 220.909 rumah tangga, 120.336 rumah tangga, dan 111.933 rumah tangga. Sementara itu, Subsektor Perikanan merupakan subsektor yang paling sedikit memiliki rumah tangga usaha pertanian, yaitu sebanyak 38.029 rumah tangga.Secara absolut penurunan terbesar terjadi di subsektor peternakan sebanyak 38.752 rumah tangga (27,14%) dan penurunan terendah di subsektor perkebunan sebanyak 2.172 rumah tangga (2,5%).

  

Tabel 2. 172

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Subsektor

di Kabupaten Garut Tahun 2003 dan 2013

  Rumah Tangga Usaha Pertanian Sektor/ Subsektor Perubahan 2003 2013 Rumah Tangga % SEKTOR PERTANI AN 320.852 268.601 - 52.251 - 16,29 SUBSEKTOR :

  

1. Tanaman Pangan 240.616 220.909 -19.707 -8,19

Padi 195.579 191.821 -3.758 -1,92

Palawija 126.791 83.069 -43.722 -34,48

  

2. Hortikultura 152.199 120.336 -31.863 -20,94

  

3. Perkebunan 86.799 84.627 -2.172 -2,50

  

4. Peternakan 142.762 104.010 -38.752 -27,14

  

5. Perikanan 35.774 38.029 2.255 6,30

Budidaya Ikan 32.712 37.004 4.292 13,12

Penangkapan Ikan 3.186 1.096 -2.090 -65,60

  

6. Kehutanan 81.754 111.933 30.179 36,91

Sumber : Data Sensus Pertanian 2013 - Badan Pusat Statistik Republik Indonesia

Keterangan : Satu rumah tangga usaha pertanian dapat mengusahakan lebih dari 1 sub subsektor

usaha pertanian, sehingga jumlah rumah tangga usaha pertanian bukan merupakan penjumlahan

rumah tangga usaha pertanian dari masing-masing subsektor tanaman pangan, hortrikultura,

perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.

  Ditinjau dari penggunaan lahan, dari seluruh rumah tangga usaha pertanian pada tahun 2013, sebesar 99,84% atau 268.177 rumah tangga merupakan rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan. Sedangkan rumah tangga usaha pertanian bukan pengguna lahan hanya sebesar 0,16%, atau sebanyak 424 rumah tangga. Selama kurun waktu sepuluh tahun, rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan mengalami penurunan sebanyak 47.511 rumah tangga atau sebesar 15,05%. Penurunan jumlah rumah tangga terbesar secara absolut terjadi di Kecamatan Malangbong yang mencapai 4.192 rumah tangga. Sedangkan secara persentase, penurunan jumlah rumah tangga pengguna lahan terbesar terjadi di Kecamatan Tarogong Kidul mencapai 49,13% yaitu dari sebanyak 5.093 rumah tangga pada tahun 2003 menjadi hanya tinggal 2.591 rumah tangga.

  Tabel 2. 173 Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Pengguna Lahan Menurut KecamatanTahun 2003 dan 2013 No Kecamatan Rumah Tangga Usaha Pertanian Pengguna Lahan 2003 2013 Perubahan Rumah Tangga %

  16 Banjarwangi 10.188 7.597 -2.591 -25,43

  29 Sucinaraja 4.620 3.755 -865 -18,72

  28 Wanaraja 5.283 3.974 -1.309 -24,78

  27 Karangpawitan 9.006 4.935 -4.071 -45,2

  26 Garut Kota 5.125 4.083 -1.042 -20,33

  25 Tarogong Kaler 6.745 5.440 -1.305 -19,35

  24 Tarogong Kidul 5.093 2.591 -2.502 -49,13

  23 Pasirwangi 7.744 6.482 -1.262 -16,3

  22 Samarang 7.985 4.823 -3.162 -39,6

  21 Sukaresmi 4.378 4.046 -332 -7,58

  20 Cisurupan 15.540 11.437 -4.103 -26,4

  19 Cigedug 5.176 4.356 -820 -15,84

  18 Bayongbong 10.343 7.792 -2.551 -24,66

  17 Cilawu 12.409 9.941 -2.468 -19,89

  15 Cikajang 9.228 9.489 261 2,83

  1 Cisewu 8.452 8.609 157 1,86

  14 Cihurip 3.897 3.625 -272 -6,98

  13 Singajaya 9.086 9.174 88 0,97

  12 Peundeuy 4.208 4.717 509 12,1

  11 Cisompet 10.349 9.669 -680 -6,57

  10 Cibalong 7.903 7.348 -555 -7,02

  9 Pameungpeuk 5.707 4.569 -1.138 -19,94

  8 Cikelet 7.941 7.733 -208 -2,62

  7 Pakenjeng 13.356 12.161 -1.195 -8,95

  6 Pamulihan 3.177 3.214 37 1,16

  5 Mekarmukti 3.578 4.029 451 12,6

  4 Bungbulang 11.916 11.908 -8 -0,07

  3 Talegong 8.053 7.613 -440 -5,46

  2 Caringin 7.017 7.044 27 0,38

  30 Pangatikan 3.708 2.928 -780 -21,04

  Rumah Tangga Usaha Pertanian Pengguna Lahan No Kecamatan Perubahan 2003 2013 Rumah Tangga %

  31 Sukawening 5.762 5.157 -605 -10,5

  32 Karangtengah 2.766 2.788 22 0,8

  33 Banyuresmi 8.615 8.018 -597 -6,93

  34 Leles 8.098 7.783 -315 -3,89

  35 Leuwigoong 5.553 4.249 -1.304 -23,48

  36 Cibatu 7.565 5.878 -1.687 -22,30

  37 Kersamanah 4.630 3.396 -1.234 -26,65

  38 Cibiuk 3.755 3.478 -277 -7,38

  39 Kadungora 7.224 6.115 -1.109 -15,35

  40 Blubur Limbangan 11.197 8.101 -3.096 -27,65

  41 Selaawi 6.636 5.648 -988 -14,89

  42 Malangbong 16.676 12.484 -4.192 -25,14 Kab. Garut 315.688 268.177 - 47.511 - 15,05

  

Sumber : Data Sensus Pertanian 2013 - Badan Pusat Statistik Republik Indonesia

  Jumlah rumah tangga petani gurem (rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektar) pada tahun 2013 sebanyak 209.813 rumah tangga atau mencapai 78,24% dari keseluruhan rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan. Komposisi terbanyak berada di Kecamatan Malangbong sebanyak 10.415 rumah tangga, disusul Kecamatan Cisurupan sebanyak 9.690 rumah tangga, dilanjutkan Kecamatan Pakenjeng sebanyak 8.812 rumah tangga. Sementara komposisi rumah tangga petani gurem terkecil berada di Kecamatan Tarogong Kidul sebanyak 2.065 rumah tangga. Dibandingkan dengan kondisi tahun 2003, jumlah rumah tangga petani gurem di tahun 2013 mengalami penurunan sebanyak50.406 rumah tangga atau 19,37% dibandingkan tahun 2003 sebanyak 260.219 rumah tangga (82,43% dari keseluruhan rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan). Penurunan jumlah petani gurem terjadi hampir di seluruh kecamatan, dengan penurunan terbesar secara absolut terjadi di Kecamatan Karangpawitan mencapai 4.382 rumah tangga. Sedangkan ditinjau secara persentase, penurunan rumah tangga petani gurem terbesar terjadi di Kecamatan Tarogong Kidul sebesar 55,45%. Penurunan jumlah rumah tangga petani gurem sebagian besar berasal dari penurunan 58.208 rumah tangga usaha

  2

  pertanian yang menguasai lahan kurang dari 1000 m . Selain itu bertambahnya jumlah rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan

  2

  lebih dari 10.000 m juga turut menyumbang terjadinya penurunan jumlah rumah tangga petani gurem secara keseluruhan pada tahun 2013.

  

Tabel 2. 174

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Pengguna Lahan

dan Rumah Tangga Petani Gurem

Tahun 2003 dan 2013

  Garut Provinsi Jaw a Barat Rumah N Tangga Perubahan Perubahan o Usaha

2003 2013 2003 2013

Rumah Rumah

  % % Pertanian Tangga Tangga Rumah Tangga Usaha

  • 1 Pertanian 315.688 268.177 -47.511 -15,05 4.242.003 3.039.716 -1.202.287 28,34 Pengguna Lahan Rumah Tangga Usaha
  • 2 260.219 209.813 -50.406 -19,37 3.501.867 2.298.193 -1.203.674 Pertanian

  34,37 Gurem Rasio Rumah Tangga Usaha

  82,43 78,24 -4,19 82,55 75,61 -6,95 Pertanian      

  Gurem (%) Sumber : Data Sensus Pertanian 2013 - Badan Pusat Statistik Republik Indonesia

  Hasil Sensus Pertanian 2013 menunjukkan bahwa rata-rata penguasaan lahan yang dikuasai rumah tangga pertanian pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Jika pada tahun 2003 rata-rata lahan yang dikuasai sebesar 1.898,81 m2, maka pada tahun 2013 rata-rata lahan yang dikuasai meningkat menjadi 3.805,15 m2 untuk setiap rumah tangga pertanian. Peningkatan rata-rata lahan yang dikuasai terutama berasal dari peningkatan penguasaan lahan pertanian dari 1.721,30 m2 pada tahun 2003 menjadi 3.646,81 m2 pada tahun 2013. Berbeda halnya pada penguasaan lahan bukan pertanian terjadi penurunan rata-rata penguasaan lahan yang dikuasai oleh rumah tangga pertanian dari 177,51 m2 pada tahun 2003 menjadi 158,34 m2 pada tahun 2013. Rata-rata penguasaan lahan per rumah tangga pertanian terbesar tahun 2013 terdapat di Kecamatan Cibalong seluas 8.733,58 m2, sedangkan rata-rata penguasaan lahan per rumah tangga terkecil terdapat di Kecamatan Garut Kota seluas 2.281,59 m2. Demikian pula wilayah dengan rata-rata penguasaan lahan pertanian per rumah tangga terbesar adalah Kecamatan Cibalong seluas 8.563,45 m2 dan wilayah dengan rata-rata penguasaan lahan pertanian per rumah tangga terkecil adalah Kecamatan Garut Kota seluas 2.129,90 m2. Sementara itu, penguasaan rata-rata lahan sawah terbesar terdapat di Kecamatan Tarogong Kidul sebesar 3.389,52 m2 dan terkecil terdapat di Kecamatan Cikajang sebesar 138,32 m2 per rumah tangga pertanian. Sedangkan untuk penguasaan lahan pertanian bukan sawah terbesar berada di Kecamatan Cibalong yaitu sebesar 7.270,92 m2 dan terkecil berada di Kecamatan Tarogong Kidul sebesar 340,40 m2 per rumah tangga pertanian.

  Tabel 2. 175 Rata- rata Luas Lahan yang Dikuasai per Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Kecamatan dan Jenis Lahan Tahun 2013( m 2 ) No Kecamatan Lahan Bukan Pertanian Lahan Pertanian Lahan Yang Dikuasai Lahan Saw ah Lahan Bukan Saw ah Jumlah 2003 2013 2003 2013 2003 2013 2003 2013 2003 2013 ( 1) ( 2) ( 3) ( 4) ( 5) ( 6) ( 7) ( 8) ( 9) ( 10) ( 11) ( 12)

  27 Karangpawitan 164,57 184,48 522,88 2.170,48 401,77 1.998,04 924,65 4.168,52 1.089,22 4.353,00

  

21 Sukaresmi 147,02 150,56 904,82 1.729,95 706,57 1.574,98 1.611,39 3.304,92 1.758,41 3.455,48

  22 Samarang 137,17 144,58 653,25 1.548,47 703,03 2.071,47 1.356,28 3.619,94 1.493,44 3.764,52

  

23 Pasirwangi 132,3 149,62 458,66 947,42 1.355,54 2.935,23 1.814,20 3.882,65 1.946,50 4.032,27

  24 Tarogong Kidul 121,91 126,15 387,19 3.389,52 50,83 340,4 438,02 3.729,92 559,93 3.856,07

  25 Tarogong Kaler 185,31 165,09 462,87 1.580,27 613,81 1.859,86 1.076,68 3.440,13 1.261,99 3.605,22

  26 Garut Kota 99,79 151,69 224,31 1.405,78 126,85 724,12 351,16 2.129,90 450,95 2.281,59

  28 Wanaraja 182,89 205,17 413,45 1.138,89 964,1 2.526,75 1.377,56 3.665,64 1.560,45 3.870,81

  

19 Cigedug 158,51 149,09 150,73 257,98 1.259,75 2.762,10 1.410,48 3.020,08 1.568,99 3.169,17

  

29 Sucinaraja 191,05 169,24 447,51 814,45 1.587,82 2.276,80 2.035,33 3.091,24 2.226,38 3.260,48

  30 Pangatikan 157,14 155,16 446,77 1.358,11 555,75 1.938,62 1.002,52 3.296,73 1.159,66 3.451,89

  31 Sukawening 177,94 149,84 650,38 1.578,55 510,45 1.269,96 1.160,83 2.848,51 1.338,77 2.998,34

  32 Karangtengah 218,81 196,05 690,55 921,2 1.653,87 2.273,54 2.344,43 3.194,73 2.563,24 3.390,78

  

33 Banyuresmi 192,65 168,06 429,96 1.209,98 802,47 1.936,82 1.232,43 3.146,80 1.425,09 3.314,86

  34 Leles 158,6 158,12 430,08 1.009,55 848,17 2.442,36 1.278,25 3.451,92 1.436,85 3.610,04

  

35 Leuwigoong 211,35 173,09 721,31 1.938,76 385,51 995,03 1.106,82 2.933,79 1.318,17 3.106,88

  20 Cisurupan 154,29 159,81 439,63 612,07 1.109,70 2.207,18 1.549,33 2.819,25 1.703,62 2.979,05

  18 Bayongbong 144,73 159,39 580,61 1.538,17 543,03 1.233,60 1.123,63 2.771,77 1.268,37 2.931,17

  

1 Cisewu 204,95 157,64 1.468,20 1.707,18 1.971,29 1.933,91 3.439,49 3.641,10 3.644,44 3.798,74

  

8 Cikelet 199,93 190,66 1.027,94 1.626,26 2.716,36 4.134,40 3.744,31 5.760,66 3.944,23 5.951,31

  2 Caringin 402,07 188,08 1.590,86 1.880,41 3.197,56 3.692,76 4.788,42 5.573,17 5.190,50 5.761,25

  

3 Talegong 218,64 89,03 1.454,93 1.559,57 1.397,53 1.618,77 2.852,47 3.178,33 3.071,11 3.267,36

  

4 Bungbulang 181,24 152,35 1.495,48 2.240,39 1.208,64 1.945,97 2.704,12 4.186,36 2.885,36 4.338,71

  5 Mekarmukti 240,28 178,4 1.493,15 1.511,83 3.216,87 2.680,76 4.710,01 4.192,60 4.950,30 4.371,00

  

6 Pamulihan 126,58 101,58 662,66 1.152,69 1.634,51 2.887,16 2.297,16 4.039,85 2.423,74 4.141,43

  

7 Pakenjeng 214,85 121,74 1.203,63 1.818,53 1.767,49 2.659,60 2.971,12 4.478,14 3.185,97 4.599,87

  

9 Pameungpeuk 189,73 190,41 969,13 2.084,07 1.111,05 1.595,86 2.080,18 3.679,93 2.269,90 3.870,34

  

17 Cilawu 162,56 180,18 396,25 976,59 666,49 1.399,95 1.062,74 2.376,54 1.225,31 2.556,72

  10 Cibalong 240,86 170,13 819,9 1.292,53 4.046,62 7.270,92 4.866,52 8.563,45 5.107,38 8.733,58

  

11 Cisompet 156,53 140,73 1.102,91 1.470,57 1.367,72 2.768,17 2.470,63 4.238,74 2.627,17 4.379,47

  12 Peundeuy 125,97 95,21 1.828,18 2.428,78 2.631,95 2.787,44 4.460,14 5.216,22 4.586,11 5.311,42

  

13 Singajaya 154,87 107,15 910,78 919,1 1.361,09 1.694,29 2.271,87 2.613,39 2.426,74 2.720,55

  14 Cihurip 169,68 188,82 1.143,83 1.389,95 1.236,40 1.353,15 2.380,24 2.743,10 2.549,91 2.931,92

  15 Cikajang 152,29 161,9 80,39 138,32 1.352,56 3.660,28 1.432,95 3.798,61 1.585,24 3.960,51

  16 Banjarwangi 148,98 128,2 872,88 1.322,84 1.512,87 1.834,51 2.385,75 3.157,34 2.534,73 3.285,54

  36 Cibatu 247,86 186,06 607,29 1.441,52 448,87 984,42 1.056,17 2.425,93 1.304,03 2.612,00

  Lahan Pertanian Lahan Bukan Lahan Yang Pertanian

  Dikuasai No Kecamatan Lahan Saw ah Lahan Bukan Saw ah Jumlah 2003 2013 2003 2013 2003 2013 2003 2013 2003 2013 ( 1) ( 2) ( 3) ( 4) ( 5) ( 6) ( 7) ( 8) ( 9) ( 10) ( 11) ( 12)

  

37 Kersamanah 202,81 163,96 596,23 1.287,21 591,4 1.040,40 1.187,63 2.327,61 1.390,44 2.491,58

  

38 Cibiuk 223,96 184,48 723 1.263,79 912,53 1.732,74 1.635,53 2.996,53 1.859,49 3.181,02

  

39 Kadungora 162,68 151,17 504,89 1.643,53 381,66 1.439,16 886,56 3.082,69 1.049,24 3.233,86

Blubur

40 224,96 185,78 647,73 1.410,39 1.079,23 2.402,48 1.726,97 3.812,88 1.951,93 3.998,65

Limbangan

  Selaawi

41 207,14 163,12 816,51 1.276,80 1.044,84 1.731,63 1.861,35 3.008,44 2.068,49 3.171,55

  

42 Malangbong 229,77 196,39 521,34 1.037,20 1.002,56 1.931,06 1.523,90 2.968,26 1.753,67 3.164,65

Garut 177,51 158,34 669,9 1.386,39 1.051,40 2.260,42 1.721,30 3.646,81 1.898,81 3.805,15

  Sumber : Data Sensus Pertanian 2013 - Badan Pusat Statistik Republik Indonesia

  Berdasarkan kondisi demografi petani menurut jenis kelamin, hasil Sensus Pertanian 2013 menunjukkan bahwa dari seluruh jumlah petani sebanyak 307.684 orang yang bekerja di sektor pertanian pada tahun 2013, didominasi oleh petani laki-laki sebanyak 248.380 orang (80,73 persen). Sedangkan jumlah petani perempuan yang bekerja di sektor ini hanya berjumlah 59.304 orang atau sebesar 19,27 persen. Kondisi ini berlaku umum untuk komposisi petani di masing-masing subsektor pertanian baik di tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Persentase jumlah petani laki- laki terbesar berada di subsektor perikanan kegiatan penangkapan ikan yang mencapai 98,56 persen sementara persentase petani laki-laki paling sedikit berada di subsektor tanaman pangan yang mencapai 81,70 persen. Dari hasil Sensus Pertanian 2013 juga diketahui bahwa sebanyak 244.229 petani yang bekerja di sektor pertanian berada di subsektor tanaman pangan atau terbesar dari seluruh subsektor pertanian. Subsektor lain yang juga banyak menyerap jumlah tenaga kerja adalah subsektor hortikultura dan kehutanan dengan jumlah petani sebanyak 134.753 orang dan 118.460 orang.

  

Tabel 2. 176

Jumlah Petani Menurut Sektor/ Subsektor dan Jenis Kelamin Tahun 2013

Laki- Laki Perempuan Jumlah No. Sektor/ Subsektor Absolut % Absolut % Absolut %

  SEKTOR PERTANIAN 248.380 80,73 59.304 19,27 307.684 100,00 SUBSEKTOR:

  

1. TanamanPangan 199.537 81,70 44.692 18,30 244.229 100,00

  

2. Hortikultura 113.052 83,90 21.701 16,10 134.753 100,00

  

3. Perkebunan 79.358 87,54 11.295 12,46 90.653 100,00

  

4. Peternakan 95.422 83,31 19.116 16,69 114.538 100,00

  5. Perikanan

  • BudidayaIkan 34.316 86,01 5.581 13,99 39.897 100,00 ¤ - PenangkapanIkan 1.093 98,56

  16 1,44 1.109 100,00

  

6. Kehutanan 104.353 88,09 14.107 11,91 118.460 100,00

Sumber : Data Sensus Pertanian 2013 - Badan Pusat Statistik Republik Indonesia

  Berdasarkan kelompok umur, jumlah tangga usaha pertanian paling banyak terdapat pada kelompok umur 45-54 tahun yang mencapai sebanyak 73.298 rumah tangga atau sebesar 27,29%, disusul kelompok usia 35-44 tahun sebanyak 25,22% dan kelompok usia 55-64 tahun sebanyak 19,98%, kelompok usia 25-34 tahun sebanyak 11,36% dan kelompok usia 15-24 tahun sebanyak 0,9%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia produktif mendominasi kelompok umur di bidang usaha pertanian.

  

Tabel 2. 177

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian

Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Petani Utama Tahun 2013

  Jumlah Kelompok UmurPetani Utama Laki- Laki Perempuan Distribusi ( Tahun) Absolut ( Persen) ( 1) ( 2) ( 3) ( 4) ( 5) < 15

  35

  5 40 0,01 15 – 24 2.338 71 2.409 0,90 25 – 34 29.767 735 30.502 11,36

  35 – 44 64.845 2.902 67.747 25,22 45 – 54 66.775 6.523 73.298 27,29 55 – 64 46.239 7.438 53.677 19,98 65 + 33.796 7.132 40.928 15,24

  Jumlah 243.795 24.806 268.601 100,00 Distribusi ( Persen) 90,76 9,24 100,00 100,00

Sumber : Data Sensus Pertanian 2013 - Badan Pusat Statistik Republik Indonesia

  Komposisi Luas Lahan Sawah Produktif di Kabupaten Garut pada tahun 2013 terdiri dari sawah irigasi teknis dan sawah tadah hujan, paling banyak merupakan sawah irigasi teknis yang mencapai seluas 36.851 Ha atau 76,34%.

  

Tabel 2. 178

Luas Lahan Saw ah Produktif di Kabupaten Garut

Tahun 2012- 2013

  Tahun 2013 Tahun 2012 No Uraian Luas Proporsi Luas Proporsi ( Ha) Lahan ( % ) ( Ha) Lahan ( % )

1 Irigasi Teknis 40.344 80,45 36.851 76,34

  2 Tadah Hujan 9.807 19,55 11.420 23,66 Jumlah 50.151 100,00 48.271 100,00

  Sumber : Dinas TPH Kabupaten Garut, Tahun 2013

  Komposisi Luas Lahan Kering Produktif di Kabupaten Garut pada tahun 2013 paling banyak merupakan tegal/kebun yang mencapai seluas 64.040 Ha atau 31,98%, disusul Ladang/ Huma seluas 37.554 Ha atau 18,75%, Perkebunan seluas 26.523 Ha atau 13,24%, Hutan Rakyat seluas 11.946 Ha atau 5,96% dan sisanya berupa Tambak, kolam,Padang/ Rumput, sementara tidak diusahakan dan pekrangan yang ditanami tanaman pertanian.

  Tabel 2. 179 Luas Lahan Kering Produktif di Kabupaten Garut Tahun 2012- 2013 No Uraian 2012 2013

Luas

( Ha)

  

2 Padi Gogo 80.396 100.878 114.133 113.750 128.606

Jumlah Padi 804.457 918.735 974.975 993.547 1.064.853 B Palaw ija

  

5 Kubis 119.112 125.709 134.677 130.474 167.085

  

4 Kentang 120.048 143.342 127.090 128.018 161.073

  

3 Bawang Daun 38.912 36.886 36.529 34.502 49.264

  2 Bawang Putih 10 - - -

  

1 Bawang Merah 12.171 13.734 14.394 15.396 18.706

  7 Ubi Jalar 79.747 470.683 89.067 71.544 100.750 Jumlah Palaw ija 609.096 82.303 1.108.979 1.102.404 1.311.469 C Sayuran

  6 Ubi Kayu 529.349 2.074 510.105 481.865 595.279

  5 Kacang hijau 2.134 29.846 3.352 1730 2.136

  

4 Kacang Tanah 29.311 18.601 29.458 28.823 32.122

  3 Kedelai 12.647 394.579 15.849 21.462 21.441

  2 Jagung Muda 97.620 32.496 18.012

  1 Jagung berhasil 325.687 71.101 428.652 478,968 559.741

  

1 Padi Sawah 724.061 817.856 860.842 879.797 936.247

  Proporsi Lahan ( % ) Luas ( Ha) Proporsi Lahan ( % )

  Tabel 2. 180 Realisasi Produksi Padi, Palaw ija, Sayuran dan Buah- buahan ( Ton) No Komoditi 2009 2010 2011 2012 2013 A Padi

  Jumlah realisasi produksi tanaman padi, palawija, sayuran dan buah- buahan selama tahun 2009-2013 disajikan pada tabel berikut.

  Sumber : Dinas TPH Kabupaten Garut, Tahun 2013

  9 Lainnya (Pekrangn Yg Dtnmi Tnmn Pertanian) 6.128 4,01 55.161 27,54 JUMLAH 152.738 100,00 200.273 100,00

  8 Smtr.tidak diusahakan 127 0,08 407 0,20

  7 Padang/ Rumput 5.007 3,28 4.642 2,32

  6 Kolam 1.965 1,29

  5 Tambak 15 0,01

  4 Hutan Rakyat 8.577 5,62 11.946 5,96

  3 Perkebunan 27.333 17,89 26.523 13,24

  2 Ladang/ Huma 36.096 23,63 37.554 18,75

  1 Tegal/ Kebun 67.491 44,19 64.040 31,98

  

6 Kembang Kol 3.100 1.881 1.760 1.850 2.403

  No Komoditi 2009 2010 2011 2012 2013

  7 Petsay 36.690 49.569 43.221 44.530 58.018

  

8 Wortel 28.517 35.632 33.834 33.907 40.511

  9 Kacang Merah 38.100 36.487 36.911 33.394 41.835

  10 Kacang panjang 11.621 14.495 11.096 11.884 15.660

  11 Cabe Besar 70.641 79.492 80.390 79.032 107.337

  12 Cabe rawit 19.263 17.178 22.628 22.649 37.148

  13 Tomat 100.912 100.248 98.142 105.494 141.830

  14 Terung 15.917 17.086 16.736 18.601 23.238

  

15 Buncis 14.416 14.428 14.331 15.434 19.564

  16 Ketimun 14.539 13.761 14.246 14.267 18.605

  17 Labu siam 22.504 15.266 12.513 12.659 14.753

  18 Kangkung 3.831 2.923 3.736 4.087 5.158

  19 Bayam 1.676 1.138 1.357 1.723 2.205

  20 Paprika

  • 266

  21 Strawberi 3.682 - -

  

Jml. Sayuran 671.980 719.255 703.591 707.901 909.635

D Buah- buahan

  1 Alpukat 40.822 389.720 48.680 44.176 48.505

  2 Belimbing 533 3.322 273 390 351

  • 3 Duku 820 6.945 199 437

  4 Durian 8.460 40.649 6.303 6.537 5.676

  5 Jambu biji 4.747 42.792 4.104 4.703 4.784

  6 Jambu air 1.268 8.382 807 975 641

  

7 Jeruk siam/keprok 10.758 91.804 8.534 11.715 9.307

  8 Jeruk besar 89 828

  63

  71

  44

  9 Mangga 28.003 78.688 18.930 19.230 9.081

  10 Manggis 752 6.687 740 760 640

  11 Nangka 3.473 31.464 3.458 3.167 3.468

  12 Nenas 112 1.262

  86

  63

  36

  13 Pepaya 3.144 22.201 2.515 2.618 2.544

  

14 Pisang 172.525 1.571.287 204.344 143.520 152.282

  15 Rambutan 6.648 31.891 3.044 6.715 3.628

  16 Salak 86 1.192 68 113 116

  17 Sawo 840 15.032 1.342 1.786 1.450

  18 Markisa 52 510

  44

  26

  41

  19 Sirsak 4.874 40.221 4.760 3.950 3.757

  20 Sukun 1.087 9.451 1.027 877 1.206

  21 Melinjo 391 3.011 366 353 272

  22 Petai 5.108 40.253 5.199 4.993 6.173

  23 Jengkol 984 7.955 584 669 546

  24 Jeruk purut

  4

  

40

  4 -

  25 Anggur 0,6 -

  5

  4 Jumlah Buah 295.580 243.558 315.479 257.411 254.985 E Tanama Hias ( Tangkai)

  1 Anggrek 3.610 8.683 3.288 272

  46

  2 Anthurium 151.512 91.463 105.989 41.176 18.150

  Sumber : Dinas TPH Kabupaten Garut, Tahun 2014

  

4 Temu lawak 225.707 2.350 4.762 1.587 20.680

  20 Pedang-pedangan 1.659 6.143 4.500 -

  21 Anthurium daun 381 1.995 720 -

  22 Caladiun 275 - - - Jumlah Ta. Hias 191.164 168.449 260.842 118.279 862.456 F Tanaman obat- obatan

  ( Kg)

  1 Jahe 3.802.685 5.018.073 19.466.208 5.401.801 88.163.578

  2 Laos 645.078 121.206 57.654 92,-0 163.738

  3 Lempuyang 113.733 417 102.198 28.893 1.696.126

  5 Kapulaga 538.952 1.201.072 1.717.384 4.378.821 6.019.788

  18 Monstera - - -

  6 Temu Kunci 186.995 600 3.998 - 14.130

  

7 Kencur 278.671 1.353.218 638.056 711.976 204.995

  8 Kunyit 4.812.610 2.339.150 140.656.567 1.556.357 1.056.958

  

9 Temu Ireng 116.490 480 2,-0 370 745

  10 Keji Beling 80 2.500 6 -

  11 Mengkudu 12.927 48.199 184.353 3.135 435

  12 Sambiloto 251.991 7.913 159 - 100 13 lidah buaya 541 11.542 2.373 1.240 225

  14 Mahkota Dewa 7.757 52.980 10.058 810 225 Jumlah Tan. Obat 10.994.217 10.159.700 162.845.776 12.176.990 97.341.723

  19 Soka 326 3 197 -

  21

  No Komoditi 2009 2010 2011 2012 2013

  62

  3 Gladiol 1.406 1.323 128 240

  23

  4 Heliconia 3.776 3.324 366 140

  60

  5 Sedap Malam 8.149 14.119 7.150 1.120 29.185

  6 Dracaena 949 87 315 -

  7 Anyelir 168 445 210

  8 Gerbera 1.164 700 3.722 3.106 3.215

  17 Pakis 1.391 - 6 -

  

9 Krisan 631 5.175 355 1.302 45.426

  10 Mawar 4.575 14.483 90.910 70.410 766.330

  11 Melati 242 948 1.619 -

  12 Palem 127 6.397 503 -

  13 Aglonema 2.621 310 - -

  14 Kamboja jepang 1.907 6.087 -

  15 Euforbia 5.907 5.664 40.864 451

  16 Philodendro 388 400 - -

  • Perkebunan Pengembangan perkebunan secara menyeluruh telah memberikan dukungan terhadap upaya peningkatan perekonomian daerah dan dapat mempercepat pencapaian misi Kabupaten Garut sebagai daerah agribisnis dan agroindustri. Perkembangan pembangunan sektor perkebunan selama tahun 2009-2013 dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1) Meningkatnya kemampuan kelembagan perkebunan :

  • Meningkatnya kemampuan SDM petani dengan target 1.556 orang dan terealisasi sebanyak 3.491 orang, sehingga capaian kinerja 224,36%;
  • Meningkatnya kemampuan kelompok tani dengan target 204 kelompok dan terealisasi sebanyak 226 kelompok, sehingga capaian kinerja 110,78%;

  Pencapaian indikator kinerja “melampaui target”, hal ini disebabkan adanya berbagai kegiatan yang melaksanakan berbagai pelatihan untuk petani, kelembagaan dan aparatur yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi yang dapat diikuti oleh pegawai Dinas Perkebunan. 2) Meningkatnya produksi dan produktivitas tanaman perkebunan :

  • Peningkatan produksi komoditas ungggulan perkebunan :
    • Atsiri dengan target 305 Ton dan terealisasi 299,90 Ton, capaian kinerja 98,33%;
    • Kopi dengan target 4.290 Ton dan terealisasi 6.602 Ton, capaian kinerja 153,89%;
    • Teh dengan target 16.275 Ton dan terealisasi 19.721 Ton, capaian kinerja 121,17%;
    • Tembakau Lokal dengan target 12.995 Ton dan terealisasi

  13.281 Ton, capaian kinerja 102,20%;

  • Tembakau Burley dengan target 47,80 Ton dan terealisasi

  49,50 Ton, capaian kinerja 103,56%;

  • Tebu dengan target 3.440 Ton dan terealisasi 6.329 Ton, capaian kinerja 183,98%;
  • Karet dengan target 250 Ton dan terealisasi 490 Ton, capaian kinerja 196%;
    • Laju peningkatan produktivitas komoditi unggulan perkebunan dengan target 10% dan terealisasi 10,50%, capaian kinerja 105%;
    • Terpenuhinya kebutuhan pupuk dengan target 2 jenis dan terealisasi 2 jenis, capaian kinerja 100%;
    • Tersedianya bibit unggul perkebunan dengan target 2 jenis dan terealisasi 2 jenis, capaian kinerja 100%;
    • Penyerapan tenaga kerja dengan target 2% dan terealisasi 2%, capaian kinerja 100%;
    • Terlaksananya kegiatan yang menunjang kemandirian ekonomi disektor perkebunan di beberapa kecamatan dengan target 7 kecamatan dan terealisasi 7 kecamatan, capaian kinerja 100%.

  Pencapaian indikator kinerja tersebut turut didorong oleh adanya berbagai kegiatan berupa pengembangan komoditi unggulan baik tanaman semusim dan tahunan, rehabilitasi dan intensifikasi serta penyediaan sarana dan prasarana produksi. 3) Meningkatnya pengolahan hasil produk perkebunan :

  • Meningkatnya pengolahan hasil :
    • Kopi dengan target 1,25% dan terealisasi 1,40%, capaian kinerja 112%;
    • Tebu dengan target 16,50% dan terealisasi 17%, capaian kinerja 103%;
    • Akarwangi dengan target 9,50% dan terealisasi 10%, capaian kinerja 105,26%; Teh dengan target 19% dan terealisasi 19%, capaian kinerja • 100%; Karet dengan target 2% dan terealisasi 4%, capaian kinerja • 200%.

  • Meningkatnya jumlah alat pengolahan hasil tanaman perkebunan dengan target 32 unit dan retealisasi 40 unit, capaian kinerja 125%;
  • Bimbingan teknis dan sosialisasi pengoperasian alat pengolah hasil pertanian dengan target 38 kelompok dan terealisasi 45 kelompok, capaian kinerja 126,32%;
  • Meningkatnya kualitas hasil produk perkebunan dengan target

  16% dan terealisasi 18%, capaian kinerja 112,50%;

  • Fasilitasi promosi produk perkebunan dengan target 8 kali dan terealisasi 10 kali, capaian kinerja 125%;
  • Pencapaian indikator kinerja terlaksananya lelang agro dan pameran produk perkebunan dengan target 8 kali dan terealisasi 10 kali, capaian kinerja 125%;
  • Pencapaian indikator kinerja study banding pemasaran produk perkebunan dengan target 7 kali dan terealisasi 8 kali, capaian kinerja 114,29%;
  • Pencapaian indikator kinerja fasilitasi kemitraan pemasaran hasil perkebunan dengan target 4 jenis dan terealisasi 4 jenis, capaian kinerja 100%;
  • Pencapaian indikator kinerja produk yang memenuhi standar mutu produk dengan target 6 komoditi dan terealisasi 6 komoditi, capaian kinerja 100%.

  Pencapaian indikator kinerja tersebut turut didukung oleh adanya berbagai kegiatan yaitu promosi atas hasil produksi unggulan daerah, penyuluhan pemasaran produksi guna mengindari tengkulak, pengolahan informasi permintaan pasar atas hasil produksi perkebunan, pengadaan UPH dan bimbingan pengoperasiannya serta penanganan panen dan pasca panen.

4) Terkendalinya gangguan usaha perkebunan :

  • Terkendalinya gangguan usaha perkebunan (GUP) di sejumlah usaha perkebunan besar dengan target 7 kebun dan terealisasi 7 kebun, capaian kinerja 100%;
  • Menurunnya serangan hama dan penyakit perkebunan dengan target 5% dan terealisasi 6%, capaian kinerja 120%;
  • Terkendalinya perambahan lahan HGU (non hama penyakit) dengan target 400 Ha dan terealisasi 300 Ha (75%);
  • Terkendalinya serangan hama dan penyakit perkebunan dengan target 60 Ha dan terealisasi 150 Ha (250%).

  Pencapaian indikator kinerja tersebut turut disebabkan adanya berbagai kegiatan yaitu pendataan klasifikasi kelas kebun baik perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta, SLPHT tanaman perkebunan, Pengamatan OPT Kopi, Teh, Karet, Tembakau dan Nilam serta Penyediaan Bahan Pengendalian OPT.

  Tabel 2. 181 Perkembangan Produksi Komoditi Perkebunan Tahun 2009- 2013

Produksi ( ton)

Perkembangan

  No Komoditi ( % )

  

2009 2010 2011 2012 2013

Tanaman Semusim

    

  1 Akarwangi 66 73,6 75 75,3 73 10,61

  • 2 Haramay

  5 3 2,9 2,3 100,00

  3 Nilam 52 158 161 162 187 259,62

  4 Panili 23 28 29 30 45 95,65

  5 Serehwangi 28 28,6 29 54,6 198 607,14

  

6 Tembakau 2.775 3.322 3.480 3.507 3.505 26,31

  7 Tebu 637 1.659 1.696 1.979 1.141 79,12 Tanaman Tahunan

  8 Aren 789 914 1.175 1.182- 1.210 53,36

  

9 Cengkeh 285 634 656 658 711 149,47

  

10 Jambu Mete 14 15 13 13,2 14,40 2,86

  

11 Jarak - - - - - -

  12 Kakao 0,07 0,5 0,6 0,5 1,10 1.471,43

  

13 Kapok/Randu 10 16 17 18 18,40 84,00

  14 Karet 55 - 141 144 200 100,00

  15 Kayumanis 3,4 3,6

  4 5 5,70 67,65

  16 Kelapa 2.461,00 2.752 2.850 2.852 2.866 16,46

  17

  • Kelapa Sawit - - - - -

  18

  • Kemiri Sunan - - - - -

  19 Kina 14 26 27 28 29 107,14

  20 Kopi 670 1.592 1.635 1.685 1.776 165,07

  21 Lada

  6

  33

  

28

  29 30 400,00

  22 Pala 1,3

  10

  

11

  12 13 900,00

  23 Pinang 0,37

  1

  1 1 1,31 254,05

  24 T e h 2.724,80 4.915 4.929 4.937 4.932 81,00 Jumlah 10.559,94 16.241,30 16.877,60 17.319,90 16.963,21 60,64

  Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Garut

  Peternakan, Perikanan dan Kelautan - 1) Pencapaian Populasi Ternak

  Pencapaian populasi ternak Kabupaten Garut selama tahun 2009- 2013 secara umum terus mengalami peningkatan. Kondisi tersebut merupakan suatu indikasi keberhasilan berbagai fasilitasi Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah, peternak maupun swasta.

  Tabel 2. 182 Pencapaian Populasi Ternak Tahun 2009- 2013 Populasi ( ekor) Peningkatan No Jenis Ternak ( % ) 2009 2010 2011 2012 2013

  24,47

1 Sapi perah 16.197 17.302 21.676 22.154 20.160

  Keragaman produksi daging, telur dan susu selama tahun 2009- 2013 dibandingkan dengan tingkat konsumsi yang dilakukan pada umumnya masih dibawah standar norma gizi, sebagaimana disajikan tabel berikut :

  2) Pencapaian Produksi Hasil Ternak

  

3) Pencapaian Penyediaan Konsumsi Hasil Ternak

  

I I I SUSU ( Liter) 21.098.121 27.787.500 21.631.470 20.963.787 18.319.634 - 13,17

Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab Garut, 2014.

  JUMLAH 3.437.741 4.057.522 4.553.036 4.568.469 4.763.761 38,57

  I I TELUR

  JUMLAH 6.976.017 8.649.487 9.283.883 7.901.997 7.674.278 10,01

  I DAGI NG

  Tabel 2. 183 Realisasi Pencapaian Produksi Hasil Ternak Tahun 2009- 2013 No KOMODI TI 2009 ( kg) 2010 ( kg) 2011 ( kg) 2012 ( kg) 2013 ( kg) Pening- katan %

  Total produksi daging pada selama tahun 2009-2013 mengalami peningkatan 10,01% dari sebesar 6.976.017 kg pada tahun 2009 menjadi sebesar 7.674.278kg pada tahun 2013. Demikian pula produksi komoditi telur mengalami peningkatan sebesar 38,57%, namun untuk produksi susu sedikit mengalami penurunan sebesar -13,17%.

  Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab Garut, 2013

  No Jenis Ternak Populasi ( ekor) Peningkatan ( % ) 2009 2010 2011 2012 2013

  9 Itik 224.078 231.305 235.005 238.761 242.581 8,26

  8 Ayam buras 1.481.161 1.528.936 1.553.399 1.578.234 1.603.486 8,26

  7 Ayam ras pedaging 516.191 531.005 538.704 546.245 553.892 7,30

  6 Kambing 76.846 78.471 81.923 83.725 84.646 10,15

  5 Domba 601.469 718.720 862.464 942.829 1.126.976 87,37

  4 Kuda 2.442 2.551 2.633 2.679 2.765 13,23

  3 Kerbau 9.610 9.564 17.327 12.521 13.556 41,06

  2 Sapi Potong 12.099 12.927 28.680 29.278 31.704 162,04

  • - Sapi 1.873.692 2.286.949 2.604.251 1.911.607 1.580.312 -15,66

  • Kerbau 708.617 735.720 807.366 565.357 413.410 -41,66
  • - Domba 905.073 1.207.753 1.153.713 1.155.418 1.146.500 26,67

  • Kambing 359.442 361.890 350.052 241.599 263.397 -26,72
  • - Ayam Ras 794.836 818.681 1.132.311 797.618 936.225 17,79

  • - Ayam Buras 1.918.384 3.113.557 2.887.117 2.882.654 2.935.159 53,00

  • Itik 115.973 124.937 349.073 347.744 399.275 244,28
  • - Ayam Buras 2.021.150 2.295.422 2.393.599 2.396.514 2.468.593 22,14

  • Itik 1.416.591 1.762.100 2.159.437 2.171.955 2.295.168 62,02

  Tabel 2. 184 Pencapaian Penyediaan Konsumsi Hasil Ternak di Garut, Tahun 2009- 2013 Norma No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 Gizi A Daging :

  • Produksi (kg) 6.976.017 8.649.487 9.283.883 7.901.997 7.674.278
  • Konsumsi 2,64 3,2 3,43 3,23 3,03 10,10 (kg/kapita/th)

  B Telur

  • Produksi (kg) 3.437.741 4.057.522 4.553.036 4.568.469 4.763.761
  • Konsumsi 1,4 1,5 1,68 1,86 1,95 4,70 (kg/kapita/th)

  C Susu

  • Produksi (kg) 21.098.121 27.787.500 21.631.470 20.963.787 18.319.634
  • Konsumsi 3,2 3,89 3,03 3,1 2,70 6,10 (kg/kapita/th) Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab Garut, 2014.

  a) Produksi Daging

  Stabilitas sosial dan laju pertumbuhan ekonomi mengakibatkan permintaan akan daging secara gradual meningkat, baik dalam jumlah maupun keragaman jenis daging. Selama tahun 2009-2013, produksi daging mengalami peningkatan 10,01%, yang sebagian besar berasal dari ternak yang dihasilkan Kabupaten Garut, kecuali daging sapi. untuk memenuhi permintaan produksi daging sapi harus dilakukan melalui upaya pembinaan bagi para peternak sapi untuk meningkatkan produksinya dalam mencapai norma gizi ideal. Upaya untuk meningkatkan kontribusi Kabupaten Garut dalam memenuhi kebutuhan sapi potong, dilaksanakan melalui program antara lain Bantuan Ternak dan Permodalan usaha peternak, pengembangan usaha peternakan, Pengembangan Kelembagaan Peternakanserta Peningkatan nilai mutu genetik ternak bibit (pengembangan Pembibitan Ternak Sapi dalam menunjang pengembangan Sentra pembibitan ternak sapi dan ditunjang dengan sentra sentra penggemukan di Garut bagian Utara dan Tengah, Peningkatan program fasilitasi kemitraan antara pengusaha dan pemerintah dengan para peternak sapi potong dalam usaha budidaya clan penggemukan, serta dari Peningkatan kinerja IB, Pengamanan Ternak, dan Pengendalian Pemotongan Betina Produktif).

  b) Produksi Telur

  Produksi telur unggas selama tahun 2009-2013mengalami peningkatan sebesar 38,57% yang distribusinya berasal dari telur Ayam Buras dan telur Itik, sementara untuk ayam ras masih dipasok dari luar daerah. Upaya untuk meningkatkan kontribusi Kabupaten Garut dalam memenuhi kebutuhan telur dilaksanakan melalui program antara lain Bantuan Ternak dan Permodalan usaha peternak, pengembangan usaha peternakan, Penyuluhan Peternakan serta Peningkatan nilai mutu genetik ternak bibit melalui pengadaan ternak ayam buras petelur yang berkualitas seperti ayam arab dan itik Cihateup, masing-masing didatangkan dari Balai Pembibitan Unggas di Majalengka dan Penangkar Itik Cihateup di Tasikmalaya yang kemudian disebar di Kabupaten Garut.

  c) Produksi Susu

  Produksi susu yang dihasilkan pada tahun 2013 sebanyak 18.319.634 lt, sedikit mengalami penurunan sekitar 13,17% dari tahun 2009. Hal ini disebabkan tingginya harga konsentrat sehingga banyak peternak yang terpaksa mengurangi kualitas pakan yang berimbas pada penurunan produksi susu. Tetap bila melihat produksi susu Jawa Barat, Kabupaten Garut saat ini masih tercatat sebagai penghasil susu nomor 2 (dua) setelah Kabupaten Bandung. Di lain pihak pada tahun 2013 dengan telah diterapkannya perdagangan bebas maka Industri Pengolah Susu (IPS) telah menerapkan standar kualitas susu, selain penerapan kuantitas Kadar Lemak dan Berat jenis susu juga menerapkan dengan ketat ambang batas residu Antibiotik dan Kandungan Bakteri, dengan kondisi peternakan di Jawa Barat 30% adalah peternakan rakyat, cukup berat menerapkan hal tersebut.

  Selama tahun 2013 telah terjadi beberapa kali penolakan susu rakyat oleh IPS, namun dengan berbagai upaya peningkatan kualitas yang melibatkan seluruh stakeholder maka rendahnya kualiltas susu tersebut dapat ditekan melalui Milking Hygienes.

  

d) Pengendalian Penyakit Hew an Menular

  Prinsip pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan yang menjadi tugas pemerintah terutama diarahkan pada penyakit yang berdampak negatif tinggi, menular, penyebaran cepat serta mengakibatkan angka kematian. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan No. 103/TH.105/KPITS/DIP/ DJP/0398 ada 11 (sebelas) penyakit yang mendapat prioritas pengendaliannya diIndonesia yaitu rabies, hog cholera, brucellosis, anthrax, salmonellosis, ND, jembrana, IBD, SE, BVD dan surra. Penyakit penyakit tersebut sering berubah sifat dan intensitasnya setiap waktu sehingga beresiko menjadi, suatu wabah penyakit hewan menular yang akan berdampak terhadap sosio ekonomi. Oleh karena itu tindakan antisipasi melalui pencegahan, pengamatan clan pemetaan penyakit secara dini sangat diperlukan secara teratur dan berkesinambungan, lingkup pertanian yang dibudidayakan di unit pelaksana teknis dinas (UPTD) dan peraturan daerah No. 25 tahun 2001 tentang pemeriksaan kesehatan hewan dan bahan asal hewan antar propinsi, ransum makanan ternak serta penyidikan penyakit hewan.

e) Tingkat Konsumsi

  Untuk pencapaian konsumsi ternak selama tahun 2009-2013 masing-masing menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Namun tingkat konsumsi untuk Kabupaten Garut mencapai nilai norma gizi masih relatif rendah. Semua norma gizi mengalami peningkatan kecuali untuk produk susu. Hal ini selain disebabkan produk susu yang menurun, juga dipengaruhi daya beli masyarakat dimana produk susu masih dianggap barang mewah sehingga kurang mendapat perhatian sebagai produk konsumsi utama rumah tangga. Meskipun mengalami peningkatan lumayan besar, tingkat konsumsi dan norma gizi masyarakat Kabupaten Garut masih jauh dari standar yang ditetapkan WHO. Untuk konsumsi daging baru mencapai 30,00%, konsumsi telur sebanyak 41,49% dan konsumsi susu sebanyak 44,26% dari standar yang ditetapkan. Oleh sebab itu berbagai program perlu terus digalakan dalam meningkatkan konsumsi daging, telur dan susu.

4) Perkembangan Capaian Kinerja Perikanan dan Kelautan

  a) Produksi Perikanan Darat

  Stabilitas sosial dan laju pertumbuhan ekonomi mengakibatkan permintaan akan ikan konsumsi secara gradual meningkat, baik dalam jumlah maupun jenis. Produksi perikanan darat untuk konsumsi pada tahun 2013 sebanyak 49.005 ton atau meningkat sebesar 72,91% dibanding tahun 2009. Produksi ikan konsumsi yang dihasilkan sebagian besar berasal dari pembudidayaan yang dihasilkan Kabupaten Garut. Untuk memenuhi permintaan produksi ikan konsumsi dilakukan melalui upaya pembinaan bagi para pembudidaya ikan untuk meningkatkan produksinya dalam mencapai norma gizi yang ideal. Upaya untuk meningkatkan kontribusi Kabupaten Garut dalam memenuhi kebutuhan perikanan, dilaksanakan melalui program antara lain bantuan sarana prasarana dan permodalan usaha perikanan, pengembangan usaha perikanan, Pengembangan tata kelembagaan perikanan serta Peningkatan nilai mutu bibit ikan. Pengembangan perikanan terutaman ditunjang oleh sentra-sentra produksi perikanan antara lain terdapat di 42 kecamatan.

  b) Produksi Perikanan Laut

  Pantai selatan Kabupaten Garut memiliki potensi berupa Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil laut dengan luas areal penangkapan 28. 560 km2 dan diestimasi memiliki potensi lestari (MSY) sebesar 166.667 ton/tahun. Sementara untuk zona teritorial (12 mil laut) memiliki potensi sebesar 10.000 ton/tahun. Sampai saat ini nelayan Kabupaten Garut baru memanfaatkan zona teritorial dengan hasil tangkapan sampai tahun 2013 baru mencapai 4.134 kg (atau sekitar 41.34% dari potensi yang ada). Hal ini disebabkan karena armada penangkapan yang dimiliki saat ini baru sebagian besar masih menggunakan perahu/kapal ukuran kecil (5-10 GT). Potensi perikanan yang umumnya ditangkap di perairan selatan Kabupaten Garut diantaranya adalah Tuna, Tongkol, Cakalang, Cumi-cumi, Layur, Kakap, Bawal Hitam, Kerapu, Baronang, Cucut Botol, Lobster dan ikan hias. Disamping ikan- ikan tersebut juga terdapat rumput laut yang cukup potensial. Produksi perikanan laut di Kabupaten Garut sebagian besar masih berasal dari hasil penangkapan. Produksi ikan laut pada tahun 2013 sebesar 4.839 kg menurun sebesar 25,79% dibanding produksi pada tahun 2009. Untuk itu, dalam upaya peningkatan produksi ikan laut dilakukan melalui bantuan sarana prasarana dan permodalan kelompok nelayan, pengembangan usaha perikanan, Pengembangan tata kelembagaan perikanan serta Peningkatan teknologi dan armada tangkap.

  c) Pendapatan Bidang Perikanan dan Kelautan:

  Perkembangan pendapatan perikanan dan kelautan melalui pembudidayaan ikan pada tahun 2012 sebesar Rp.761.638.600.000,-, mengalami peningkatan 70,80% dari tahun 2009 sebesar Rp.445.898.769.000. Perkembangan pendapatan dari sektor kelautan pada 2012 sebesar Rp.96.780.000.000,-, terdapat peningkatan sebesar 9,75% dibandingkan tahun 2009 sebesar Rp.88.175.370.000 Kenaikan tersebut karena adanya produk unggulan untuk ekspor seperti udang lobster, udang windu dan udang vaname. Kontribusi pendapatan dari subsektor perikanan meliputi semua hasil kegiatan perikanan laut, perairan umum, kolam, tambak dan keramba serta pengolahan atas produk-produk perikanan berupa pemindangan, pengeringan dan pengasinan. Komoditas subsektor ini selain ikan juga termasuk udang, kepiting, rumput laut, ikan hias dan sebagainya. Produksi konsumsi ikan segar di Kabupaten Garut pada Tahun 2013 mencapai 53.139 ton yang berasal dari perikanan darat sebesar 49.005 ton dan perikanan laut sebesar 4.134 ton. Dari data tersebut terlihat bahwa produksi perikanan darat masih dominan.

  d) Tingkat Konsumsi ikan

  Tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Garut pada tahun 2013 sebesar 20,88 kg/kapita/tahun relatif tidak mengalami perubahan berarti dibandingan pencapaian tahun 2009 sebesar 19,30 kg/kapita/tahun. Tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Garut tergolong masih rendah bila dibandingan dengan target konsumsi ikan secara regional jawa Barat sebesar 30 kg/kapita/tahun dan nasional sebesar 34,4 kg/kapita/tahun. Untuk itu terus diupayakan berbagai program kegiatan yang dapat mendorong tingkat konsumsi. Upaya yang dilakukan diantaranya dengan kegiatan promosi dan sosialisasi ”Gemar Makan Ikan” serta meningkatkan produksi ikan untuk peningkatan pengadaan pangan.

  Tabel 2. 185 Produksi I kan Tahun 2009- 2013

Realisasi Produksi ( ton)

Peningkatan

  No Uraian ( % )

  

2009 2010 2011 2012 2013

A Budidaya

  

1 Tambak 220 298,5 321.04 420 426 93,64

Kolam Air

2 19.107 24.160,81 20.224.16 27.818 30.708 60,72

Tenang

  Koalam air

3 324 681,62 803.4 795 527 62,65

Deras Sawah/

  

4 8.690 7.443,11 18.477.66 13.182 15.908 83,06

Minapadi Jumlah 28.341,00 32.584,04 39.826.26 42.215 47.569 67,85 B Penangkapan

  1 Perikanan Laut 5.571,00 5.563,02 5.611.8 4.834 4134 -25,79

  2 Perairan umum 959 2.920,91 3.744 2.060 1436 49,74 Jumlah 6.522,00 8.483,93 9.355.8 6.894 5.570 -14,60 C Produksi Perbenihan (Kg) 1 332.543.760 302.311.000 541.224.000 337.903.057 471.328.220 41,73

  • Jumlah Produksi

    2 34.864,00 34.487,47 40.171,49 49.109 53.139 52,42

    Konsumsi (ton) Jumlah Produksi

    3 non Konsumsi 39.258,85 23.112 131.250 180.000 192.500 390,34

    (ekor) Jumlah Produksi

  

4 Perikanan Darat 28.341,00 32.584,04 40.171,49 44.275 49.005 72,91

(ton) Jumlah Produksi

5 5.571,00 5.563,02 5.611,80 4.834 4.134 -25,79

Perikanan Laut

  Ket. : ** 1 Kg Benih ikan = 200ekor Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab. Garut

2. Kehutanan

  Indikator Kinerja pelaksanaan Urusan Kehutanan ditetapkan sebanyak 3 (tiga) indikator kinerja utama (IKU) sebagai berikut :

  1. Rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan dan lahan DAS;

  2. Pengamanan dan pengawasan hutan seluas;

  3. Pemanfaatan potensi sumber daya hutan melalui pemberdayaan masyarakat Ds sekitar hutan dalam bentuk PHBM. Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan tahun 2009-2012 antara lain yaitu merumuskan kebijakan teknis dan sasaran rehabilitasi hutan dan lahan. Substansi rumusan kebijakan teknis dan Sasaran rehabilitasi hutan dan lahan tersebut, meliputi hal sebagai berikut : 1) Arahan teknis rehabilitasi hutan dan lahan, diprioritaskan pada upaya penanggulangan kerusakan hutan sebagai akibat penjarahan/ perambahan (hutan lindung dan hutan konservasi), dan penanaman kembali tanah kosong bekas tebangan di kawasan hutan produksi, serta rehabilitasi lahan kritis milik masyarakat dengan kategori sedang hingga berat. Rehabilitasi hutan dan lahan meliputi :

  • RHL (Perum Perhutani KPH Garut)
  • Rehabilitasi hutan produksi di 9 BKPH
  • Pola teknis rehabilitasi hutan dan lahan difokuskan pada kegiatan vegetatif (tanaman), kecuali pada lokasi tertentu diaplikasikan kegiatan sipil teknis (bangunan konservasi tanah dan air).
  • 1.000 550 500 180 DAK 2.

  2) Jenis tanaman yang dianjurkan berupa rimba campuran dan MPTS (hutan lindung), rimba campuran (hutan produksi), serta tanaman kayu- kayuan dan buah-buahan produktif (lahan milik masyarakat).

  3) Pelaksanaan kegiatan melibatkan dan partisipasi masyarakat sekitar hutan dan Kelompok Tani Hutan Rakyat.

  Tabel 2. 186 Luas Areal Pengembangan Hutan RakyatTahun 2009- 2013 ( Ha) N o Kegiatan 2009 ( ha) 2010 ( ha) 2011 ( ha) 2012 ( Ha) 2013 ( Ha) Ket.

  1. Pembinaan, pengendalian dan pengawasan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan (DAK)

  Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK) 3.000 4.340 2.800 1.500 3.453,32 APBD

  ProvJabar

  

3. Kebun Bibit Rakyat (KBR) - 3.750 5.625 6.083 450 APBN

RHL kawasan Lindung 575 -

  4. Banprov

  20 20 150 500

  75 Rehabilitasi Hulu DAS

  5. Agroforestry

  75 75 - 100

  6. Swadaya masyarakat - - 1.150 892 112,34 Jumlah 3.095 9.760 10.275 9.475 4.370,66 Sumber : Dinas Kehutanan Kab Garut, Tahun 2013.

  Berdasarkan RPRL Tahun 2011-2015 seluas 32.751,35 ha. Pada tahun 2013 telah dilakukan penanaman lahan kritis seluas 4.370,66ha. Kegiatan rehabilitasi ini berasal dari berbagai sumber anggaran yaitu APBN dalam bentuk DAK seluas 180 ha, GRLK tahun 2013 (APBD Provinsi) seluas 3.453,32 ha, RHL dalm bentuk KBR (APBN) 450 ha,rehabilitasi hulu DAS

  (APBD Provinsi) seluas 75 ha, dan swadaya masyarakat 112,34 ha. Dengan demikian sampai dengan akhir tahun 2013 sisa lahan kritis yang belum ditangani adalah 8.631,01 Ha. Kebijakan hutan kemasyarakatan (

  social forestry

  ) dalam bentuk sistem Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) pada tahun 2013 dilaksanakan pengembangan yaitu di 17 Ds, dengan komoditas tanaman kopi. Adapun pengembangan Aneka Usaha Kehutanan pada tahun 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 2. 187 Hasil Kegiatan Pengembangan Aneka Usaha Kehutanan ( AUK) Tahun 2009 - 2013 No Kegiatan/ Hasil Satuan Tahun 2009 2010 2011 2012 2013

  1. Sutera Alam

TanamanMurbei Ha 124 124 6,35 10,35

  15 Kokon Kg 4.250 4.250 653 - 177

  2. Jamur Kayu Media Log 121.651 121.651 69.635 50,751 223.926 Produksi Jamur Kg 60.820 60.820 34.819,41 25.375,89 39.721,90

  3. Lebah Madu Koloni Stup 186 186 45 152 487 Produksi Madu Liter 557,84 557,84 136 456,85 478,70

  4. Anyaman Besek Buah 155.225 155.225 224.460 30.890 21.480 Bilik Lembar 1.850 1.850 1.470 1.273 894

  5. Burung Walet Sarang Kg 24,75 24,75 559,40 548,80 571,80

6. Rami Luas tanaman Ha

  20 20 - - Produksi ton 12 16,5 1 - - Sumber : Dinas Kehutanan Kab Garut, Tahun 2013.

  20

  Tabel 2. 188 Produksi Hutan Rakyat Kabupaten GarutTahun 2009- 2013 No Jenis Kayu Produksi ( m3) 2009 2010 2011 2012 2013

  1. Jati 1961,06 729,43 826,1290 778,734 815,779

  2. Mahoni 641,94 2.270,58 1.062,3042 766,787 2.239,900

  3. Albazia 21.376,42 14.338,58 13.718,2427 1.000,742 4995,210

  4. Pinus 934,31 87,3 940,7960 1.624,371 682,970

  5. Afrika 1.894,15 4.944,32 3.598,1978 706,719 1.985,259

  6. Suren 269,3 221,96 92,4880 58,786 -

  7. Kihiang 218,1 153,08 166,6807 168,022 144,160

  8. Eucalyptus 131,42 12,46 - 119,-0 -

  9. Rimba 11.154,25 2.477,81 20.818,8360 13.357,394 4.053,227

Jumlah 38.580,95 25.235,52 41.223,6744 18.580,555 14.916,51

Sumber : Dinas Kehutanan Kab Garut, Tahun 2013.

  Produksi kayu dari hutan rakyat selama Tahun 2009-2012 secara keseluruhan mengalami penurunan sebagaimana disajikan pada berikut.

  

16 Shanghyang Karang Agung Singajaya

  

24 Jamkar Margawati Garut Kota

  18 Sawargi Mekarbakti Bungbulang

  

19 Raksawana Sukajaya Cisewu

  

20 Wanagiri Padakarya Padasuka Cibatu

  21 Bina Bakti Tanjung Karya Samarang

  

22 Sangga Buana Lestari Linggamanik Cikelet

  

23 Jaga Wana Sukamurni Cilawu

  

25 Karamat Jaya Tenjonagara Sucinaraja

  Dalam hal pengamanan dan pengawasan yang dilakukan, telah dilakukan secara kordinatif dengan pihak terkait. Selain itu, keberadaan kelompok Pengamanan Hutan Swakarsa (Pamhut Swakarsa) sangat membantu kinerja dinas dalam melaksanakan pengamanan dan pengawasan hutan. Sampai dengan tahun 2013 telah terdapat 29 kelompok Pamhut swakarsa.

  

26 Hijau Sejahtera Sindangsari Cigedug

  

27 Sinergijaya Papandayan Sukalilah Sukaresmi

  

28 Mekar Mandiri Mekarluyu Sukawening

  29 Karya Bakti Cipareuan Cibiuk Sumber : Dinas Kehutanan Kab Garut, Tahun 2014

Tabel 2. 190

Perkembangan Pembinaan Hutan, Produksi dan Pengelolaan

  

Lingkungan Tahun 2009 – 2013

No Jenis Kegiatan Sat. 2009 2010 2011 2012 2013

  I Bidang Pembinaan Hutan

  

17 Raksa Bandawasa Pangeureunan Limbangan

  

15 Pagerwana Sukamulya Pakenjeng

  1. Pengadaan Bibit a.Luar Kawasan Hutan Btg 42.283 2.404.000 4.110.000 3.790.000 4.370.600 b.Dalam Kaw. Hutan Btg 314.354 403.500 219.403 260.259 Jumlah 42.283 2.718.354 4.513.500 4.009.403 4.630.859

  

6 Balebat Panawa Pamulihan

  

Tabel 2. 189

Daftar Kelompok Pamhut Sw akarsa Sampai Dengan Tahun 2013

No Nama Pamhut Desa Kecamatan

  

1 Tirta Wana Sukarame Caringin

  2 Riksa Persada Pananjung/Pasawahan Tarogong Kaler

  3 Sabilulungan Cinta Karangtengah

  

4 Wana Riksa Cisero Cisurupan

  5 Mitra Budaya Barusari Pasirwangi

  7 Mekar Harum Lembang Leles

  

14 Opalin Wanamekar Wanaraja

  

8 Wana Lestari Simpang Cikajang

  9 Wana Harum Harumansari Kadungora

  

10 Jasa Muda Cikondang Cisompet

  

11 Mappegas Karyamukti Cibalong

  12 Maju Bersama Cisitu Malangbong

  

13 Talagamas Pangatikan Pangatikan

2. Pembuatan Tanaman

a. Luar Kawasan

  • lahan milik Ha - 6.010 10.275 9.475 4.370,66

  No Jenis Kegiatan Sat. 2009 2010 2011 2012 2013

  b. Dalam Kawasan

  • Hutan Lindung
  • Ha 459,11 1.029 26
  • Hutan Produksi Ha 155,34 196,38 148,84 186,16
  • Hutan Konservasi Ha
  • Jumlah 6.622,45 11.680 9.667,84 4.819,41

  3. Bangunan Konservasi Unit - 26 16 26 4 Pemeliharaan Tan.

  4.1 Tanaman Umur 1 th

  a. Luar Kawasan

  • Lahan Milik Ha 3169,6 6.010 10.275 8.527,50

  b. Dalam Kawasan

  • Hutan Lindung Ha 4.486,26 23,74 459,11 1.029
  • Hutan Produksi Ha 665,7 112,1 153,34 196,38 148,84
  • Hutan Konservasi Ha 425,- 425,- Jumlah 9.826,96 3.305,44 7047,45 11.925,38 8.676,34

  4.2 Tanaman Umur 2 Th

  a. Luar Kawasan

  • Lahan Milik Ha 4.675 3169,6 6.010 8.220

  b. Dalam Kawasan

  • Hutan Lindung Ha 1.818,77 1.120,28 23,74 459,11
  • Hutan Produksi Ha 203,11 49,82 112,1 153,34 196,38
  • Hutan Konservasi Ha Jumlah 6.696,88 1.170,10 3.305,44 6.622,45 8.416,38

  4.3 Tanaman umur 5 th

  a. Luar Kawasan

  • Lahan Milik Ha 1.700
  • 1.000 10.710 2.535

  b. Dalam Kawasan

  • Hutan Lindung 1.896,22 4.486,26
  • Hutan Produksi Ha 346,5 125,66 467,88 665,7 153,34
  • Hutan Konservasi Ha Jumlah 2.047 1.126 11.177,88 8.320,96 153,34

  II Produksi

  1. Luar Kawasan (milik)

  3

  

a. Jati M 1.961,06 729,43 826,129 778,734 116.751

  3

  

b. Rimba M 36.619,89 24.506,09 40.397,55 17.801,82 2.521.470

  2. Dalam Kawasan

  3

  a. Jati M 130,84 26,59 119,71 815,779

  3

  b. Rimba M 426,86 584,96 4.053,227 Jumlah 38.580,95 25.366,36 41.651,57 19.285,22 2.643.090,01 III Pengelolaan lingkung.

  1. Dalam Kawasan Hutan PHBM Ha 25 60 88 105 124

  2. Luar Kawasan Hutan Sutera Alam (kokon) Ha 100 124 653 177 - Jamur Kayu Log 720 121.651 34.817,41 50.751 223.926 Lebah Madu Stup 205 186 136 152 487 Burung Walet Kg 4,5 24,75 559,4 548,8 571,80 Rami Ton

  12

  16.5

  1 Sumber : Dinas Kehutanan Kab Garut& Perum Perhutani, Tahun 2013 (Belum termasuk Data dari BKSDA)

  3. Energi dan Sumberdaya Mineral

   Pertambangan (Sumberdaya Mineral dan Air Tanah) Dalam kegiatan pertambangan tidak terlepas dari aktivitas penambangan, sehingga dalam pengendaliannya perlu dikeluarkan izin untuk perusahaan yang akan melakukan kegiatan penambangan. Jumlah perusahaan pertambangan yang mempunyai izin pertambangan yaitu Ijin Usaha

  Pertambangan (IUP) Operasi Produksi mineral logam pada tahun 2009 sebanyak 20 perusahaan sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 15 perusahaan. Sementara itu pada tahun 2010 jumlah perusahaan pertambangan yang memiliki IUP Operasi Produksi mineral non logam sebanyak 25 Perusahaan jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan tahun 2009 sebanyak 38 perusahaan. Pada tahun 2009 jumlah perusahaan pertambangan yang memiliki IUP Eksploitasi mineral logam sebanyak 8 perusahaan sedangkan pada tahun 2009 sebanyak 9 perusahaan.

  Tabel 2. 191 I jin Usaha Pertambangan Tahun 2006 s.d 2013 Tahun No. Jenis I jin 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

  IUP Eksploitasi

  13

  1

  52

  38

  25

  1 Mineral Non Logam

  IUP Eksploitasi 1 - 6 8 6 4 5 7

  2 Mineral Logam

  IUP Eksplorasi 4 9 22 20 11 10 6 6

  3 Mineral Logam

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2013

  Meningkatkan pengelolaan kondisi infrastruktur penambangan kepada pendekatan usaha dan industri Tambang yang berwawasan lingkungan serta mendayagunakan potensi energi dan sumberdaya mineral.

  Tabel 2. 192

Potensi Bahan Tambang Logam dan I jin yang Telah Dikeluarkan

Sampai Dengan Tahun 2013

  Potensi Jumlah Jum. Yg Sdah Jum. Yg Blum No Jenis Bahan Galian Luas Ha I zin Diupayakan Ha Diupayakan Ha

1 Emas, Dmp 38.664

  5 IUP 25.770 12.894

  IUP Eksplorasi: 1. PT. Aneka Tambang Tbk Blok Kuda gold

  2. PT. Aneka Tambang Tbk Blok Bungbulang

  3. PT. Tiger Root

  IUP Operasi Produksi

  1. PT. Aneka Tambang, Arinem

  2. Koperasi Bina Usaha (Kobinus)

  2 Bijih Besi 10.000

  3 IUP 4.000 6.000

  IUP Eskplorasi: 1. PT. Tiger Root

  IUP Operasi Produksi

  1. CV. Mustika Buana

  2. PT. Alam Mineral Indonesia

  3 Pasir Besi 5.300

  2 IUP 5.000 300

  IUP Operasi Produksi

  1. PT. UMRI Garut

  2. PT. Megah Cipta Sawargitamas

  4 Galena 4.332

  1 IUP 1.911 2.421

  No Jenis Bahan Galian Potensi Luas Ha Jumlah I zin Jum. Yg Sdah Diupayakan Ha Jum. Yg Blum Diupayakan Ha

  

5 Tanah Diatomit 1.500 - - - Tersebar

  5 Batu Andesit 6.000 - Tersebar Wilayah Kab. Garut

  

4 Batu Kali 3.000 - Tersebar di Wilayah

Kab. Garut

  3 Batu Templek 1.000 - Tersebar di Garut Selatan

  

2 Pasir Beton 2.000 - Tersebar di Wilayah

Garut Utara

  

1 Pasir Kali 3.000 - Tersebar di Wilayah

Kab. Garut

  I UP Dimanfaat kan Belum Dimanfaat kan Keterangan

  No Jenis Bahan Galian Potensi Luas Jumlah

  8 Granodiorit 700 - - - Tersebar Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

Tabel 2. 194

Potensi Bahan Galian Batuan

  7 Granit 1.000 - - - Tersebar

  6 Kaolin 1.000 - - - Tersebar

  

4 Obsidian Perlit 2.000 - - - Tersebar

  IUP Eksplorasi: 1. PT. Hoya Perkasa

  

3 Batu ½ Permata 500 - - - Tersebar

  

2 Batu Gamping 2.000 - - - Tersebar

  1 Belerang 500 - - - Tersebar

  I UP Dimanfaat kan ( Ha) Belum Dimanfaat kan ( Ha) Potensi

  No Jenis Bahan Galian Potensi Luas ( Ha) Jumlah

  12 IUP 36.683,34 Ha 27.275 Ha Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

Tabel 2. 193

Potensi Bahan Galian Non Logam

  6 Mangan 1.000 - - 1.000 Jumlah

  IUP Operasi Produksi : 1. PT. Karunia Semesta Raya

  1 IUP 2.340 2.660

  5 Tembaga 5.000

6 Tanah Liat 10.000 - Tersebar Wilayah

  No Jenis Bahan Galian Potensi Luas Jumlah

  1 Batubara 3.000 1 1.000 2.000 Tersebar di 3

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

  2 DBH Pertambangan Umum Realisasi Tahun 2013 Rp. 1.139.447.244

  13 Perusahaan Keterangan:

  

1 Rp.959.998.677 Rp.40.812.001 Sudah Disalurkan oleh KEMENKEU

ke KAS Daerah Keterangan:

  No Realisasi Tahun 2013 Keterangan Landrent Royalti

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

Tabel 2. 196

Landrent dan Royalty 2013

  IUP Eksplorasi : PT. Asgarindo Prima Utama (IUP Dibekukan) Jumlah 1 1.000 2.000

  Kecamatan Garut Selatan

  I UP Dimanfaa t- kan Belum Dimanfaatk an Keterangan

  I UP Dimanfaat kan Belum Dimanfaat kan Keterangan Garut Utara

  N o Jenis Bahan Galian Potensi Luas ( Ha) Jumlah

  6. Ujang Rosid

Tabel 2. 195

Potensi Bahan Galian Batubara

  5. CV. Trikarya Abadi

  4. CV. Agung Jaya Laksana

  3. CV. Mulya Pasir Nusantara

  2. PT. Fajar Parahiyangan

  Jumlah 6 145 2.355 Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014 Catatan : IUP Operasi Produksi : 1. PT. Mandala Eksplorasi Sagara

  7 Pasir Batu 2.500 6 145 2.355 Tersebar di Wilayah Leles, Kadungora, dan Banyuresmi

1 Perusahaan

  Perkembangan eksisting pertambangan kabupaten Garut sampai dengan tahun 2013 :

  1. Dari 13 IUP mineral logam sebanyak 7 IUP operasi produksi dan 6 IUP eksplorasi;

  2. Dari 7 IUP operasi produksi belum melakukan kegiatan penambangan, masih dalam tahap konstruksi;

  Clean And Clear

  3. Tiga belas IUP sudah dinyatakan (CNC) oleh Kementerian ESDM;

  4. Dengan terbitnya Permen Nomor 11 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Pengolahan Dan Pemurnian, maka pemerintah menetapkan setiap perusahaan pertambangan wajib membangun smelter, tidak mengangkut hasil produksi dalam bentuk raw material melaluijalan darat, tetapi melalui pelabuhan yang dibangun oleh perusahaan.

  Kabupaten Garut dengan perolehan pajak air tanah pada tahun 2012 sebesar Rp. 300.000.000, dan perolehan pada tahun 2013 sebesar Rp.390.000.000.

  Tabel 2. 197

Rekapitulasi Nilai Perolehan Air ( NPA) Perusahaan Pengguna Air Tanah

di Kabupaten Garut

  Jumlah Perusahaan Jumlah Volume ( m3) Jumlah NPA ( Rp) 178 773.785 230.756.186,- Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

   Energi dan Ketenagalistrikan Kabupaten Garut memiliki potensi Sumber Daya Alam yang cukup besar dan bervariasi, yaitu sumber daya air, energi, dan sumber daya mineral. Sumber daya energi yang tersedia berupa potensi energi baru terbarukan seperti panas bumi (geothermal), mikrohidro, surya, gelombang, dan angin. Dari potensi tersebut, sudah dilakukan penelitian, baik berupa survey awal (survey tinjau), survey pendahuluan, dan eksplorasi, untuk menyelidiki keberadaan potensi energi dan sumber daya mineral oleh berbagai pihak, seperti pemerintah pusat, perusahaan-perusahaan swasta, instansi lainnya, maupun oleh Pemerintah Kabupaten Garut sendiri. Bahkan di beberapa lokasi sudah dilaksanakan kegiatan eksploitasi dan pemanfaatannya untuk sumber daya mineral (bahan tambang) dan kegiatan pengusahaan (pembangunan) untuk pengembangan sumber daya energi baru terbarukan yaitu panas bumi, pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

  Sebagai daerah vulkanik, di Kabupaten Garut banyak terdapat penyebaran manifestasi panas bumi yang pada umumnya berasosiasi dengan deretan gunung api aktif yang memanjang dari barat ke timur. dari hasil penyelidikan yang dilakukan, baik oleh Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral maupun oleh pengembang panas bumi, Kabupaten Garut memiliki potensi panas bumi sebesar 1.045 megawatt elektrik (MWE) yang tersebar di beberapa lokasi, yaitu di Darajat (350 MW), Kamojang (300 MW), Gn. Papandayan (225 MW), Cilayu (100 MW), Ciarinem (25 MW), Guntur Masigit (70 MW), dan Talagabodas (275 MW). Potensi panas bumi tersebut sangat besar prospeknya untuk dikembangkan terutama bagi pembangkit listrik energi masa mendatang yang baru terbarukan dan ramah lingkungan untuk kebutuhan masyarakat dan keperluan industri, dan dari sejumlah potensi tersebut, sudah ada lokasi yang dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik dengan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan total kapasitas terpasang sebesar 471 MWE yaitu area yang ada di dalam Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi Kamojang-Darajat milik PT. Pertamina Geothermal Energy terdiri dari Area Kontrak Darajat sebesar 271 MW yang dikembangkan oleh Chevron Geothermal Indonesia, Ltd (merupakan Kontrak Operasi Bersama an dengan PT. Pertamina Geothermal Energy), dan di Area Kamojang sebesar 200 MW yang dikembangkan oleh PT. Pertamina Geothermal Energy, yang mampu melayani listrik Jawa, Madura, dan Bali.

  Dengan adanya lokasi WKP Panas Bumi yang telah beroperasi, Kabupaten Garut telah menerima haknya yaitu menerima Dana Bagi Hasil (DBH) Sumber Daya Alam (SDA) Pertambangan Panas Bumi setelah ditetapkan sebagai daerah penghasil pertambangan panas bumi dari Area Kamojang dan Darajat oleh pemerintah pusat pada Tahun 2009 beserta Kabupaten Bandung, serta 2 (dua) kabupaten lain, yaitu Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi yang ditetapkan sebagai daerah penghasil pertambangan panas bumi dari Area Salak.

  Penetapan sebagai daerah penghasil pertambangan panas bumi berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineralyang memuat besaran prosentase daerah penghasil panas bumi sebagai dasar pembagian dana bagi hasil. Besarnya bobot prosentase untuk setiap kabupaten/kota dalam satu WKP yang berada pada wilayah yangberbatasan atau berada pada lebih dari satudaerah setiap tahunnya tidak sama, namun akan berubah tergantung kepada tingkat aktivitas dan produktivitas yang ada di daerah masing-masing, terutama untuk parameter infrastruktur produksi, infrastruktur penunjang, dan kapasitas produksi. Hal tersebut terlihat sebagaimana terjadi pada hasil Rapat Penghitungan Prosentase Daerah Penghasil Pertambangan Panas Bumi Tahun 2011 yang dilaksanakan tgl 31 Oktober 2011 di Jakarta dan 10 November 2011 di Puncak, Bogor dalam rangka penetapan Prosentase Daerah Penghasil Panas bumi tahun 2011 sebagai dasar pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) Panas Bumi Tahun 2012 dan akan disalurkan pada Tahun 2012, dimana pada Tahun 2012 terjadi penurunan bobot prosentase dibandingkan pada tahun 2011. Hal ini terjadi karena adanya perubahan luas wilayah pada area Kamojang, dimana area di Kabupaten Bandung lebih luas dibandingkan dengan area yang ada di Kabupaten Garut, dan untuk area Darajat adanya beberapa sumur baru yang dibangun di wilayah Kabupaten Bandung. Namun setelah dilakukan pendataan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Barat, data tersebut akan ada perubahan dan ada peningkatan bobot prosentase lagi untuk Kabupaten Garut pada bobot Tahun 2013. Berdasarkan perhitungan parameter dan bobot penilaian, nilai prosentase Kabupaten Garut untuk DBH Tahun 2006 – 2013 adalah sebagai berikut :

  Tabel 2. 198 Nilai Persentase Bagian Kabupaten Garut dari DBH Tahun 2006- 2013 No. Tahun Area Darajat Area Kamojang

  5)

  5) Kepmen ESDM Nomor 3124 K/80/MEM/2012 tanggal 12 November 2012 tentang Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Penghitungan

  Panas Bumi Tahun 2011 yang dilaksanakan tgl 31 Oktober 2011 di Jakarta dan 10 November 2011 di Puncak, Bogor dalam rangka penetapan Prosentase Daerah Penghasil Panas bumi tahun 2011 sebagai dasar pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) Panas Bumi Tahun 2012 dan akan disalurkan pada Tahun 2012.

  3) Kepmen ESDM Nomor 0218 K/80/MEM/2011 tanggal 7 Februari 2011 tentang Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Penghitungan Bagian Daerah Penghasil Pertambangan Umum, Pertambangan Panas Bumi, Minyak Bumi dan Gas Bumi untuk Tahun 2011.

  Daerah Penghasil Pertambangan Umum, Pertambangan Panas Bumi, Minyak dan Gas Bumi untuk Tahun 2010

  Daerah Penghasil Pertambangan Pertambangan Panas Bumi Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2009. 2) Kepmen ESDM No. 2466 K/30/MEM/2009 tgl 25 November 2009 tentang Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Penghitungan Bagian

  94,51% 13,11% Keterangan : 1) Kepmen ESDM No. 1944 K/30/MEM/2009 tgl 25 September 2009 tentang Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Penghitungan Bagian

  89,70% 12,94% 5. 2013

  1. 2006 s/d 2009

  4)

  95,11% 24,46% 4. 2012

  3)

  94,53% 13,91% 3. 2011

  2)

  95,018% 10,-% 2. 2010

  1)

4) Hasil Rapat Penghitungan Prosentase Daerah Penghasil Pertambangan

  Bagian Daerah Penghasil Pertambangan Umum, Pertambangan Panas Bumi, Minyak Bumi dan Gas Bumi untuk Tahun 2013. Adapun perolehan Dana Bagi Hasil SDA Panas Bumi yang telah diterima oleh Kabupaten dari Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2012 yang disalurkan melalui kas daerah adalah sebagaimana yang disajikan pada tabel-tabel di bawah sebagai berikut :

  Tabel 2. 199 Nilai prosentase Kabupaten Garut untuk DBH Tahun 2006 – 2012 2006 s/ d 2) 3) 4) 1) No. Area 2010 2011 2012 2009

  1. Darajat 95,018% 94,53% 95,11% 89,70%

  2. Kamojang 10,-% 13,91% 24,46% 12,94%

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014 Tabel 2. 200 Realisasi Dana Bagi Hasil SDA Panas Bumi yang telah diterima Kabupaten Garutdari lokasi Darajat, Kamojang Tahun 2006 s/ d 2013 No Tahun Penerimaan ( Rp) Waktu Penerimaan

  1 2006 – 2008 41.567.942.886,- Nov 2009& awal 2011 2 2009 39.809.208.188,- Tw III - IV (Nov 2009) & Tw V (Feb 2010) 3 2010 18.901.813.054,- Tw I s/d Tw IV 2010 4 2011 32.406.583.387,- Tw I s/d Tw IV 2011 5 2012 65.557.030.347,43 TW I s/d Tw IV 2012 6 2013 30.637.972.121,00 TW I s/d Tw IV 2013

  TOTAL 228.880.549.983,- Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

  Ket : DBH tersebut ditransfer melalui kas daerah oleh Kementerian Keuangan Realisasi Dana Bagi Hasil SDA Panas Bumi yang Diterima Kabupaten Garut Tahun 2006 s/d 2013 berdasarkan :

  a) Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 162/PMK.07/2009 tentang Alokasi Kurang Bayar DBH SDA Pertambangan Panas Bumi TA 2006, 2007, dan 2008.

  b) PMK No. 163/PMK.07/2009 tentang Perkiraan Alokasi DBH SDA Pertambangan Panas Bumi TA 2009. c) PMK No. 227/PMK.07/2009 tentang Alokasi DBH SDA Pertambangan Panas Bumi TA 2009 sebesar Rp.39.397.443.466,- ditambah proporsi koreksi dari Kab. Bandung Barat sebesar Rp.411.764.723,-.

  d) PMK No. 06/PMK.07/2010 tentang Penetapan Perkiraan Alokasi DBH SDA Pertambangan Panas Bumi TA. 2010 (untuk penyaluran Tw I dan Tw II) e) PMK Nomor 166/PMK.07/2010 tentang Perubahan atas PMK No.

06/PMK.07/2010 tentang Alokasi DBH SDA Pertambangan Panas Bumi TA. 2010 (revisi PMK Tahap I untuk penyaluran Tw III).

  g) PMK No. 39/PMK.07/2011 tentang Perkiraan Alokasi DBH SDA Pertambangan Panas Bumi TA. 2011 (untuk penyaluran Tw I dan Tw II).

  50 6 2009 Garut Banjarwangi Mulyajaya

  60 Terpusat (15 Kw) Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

  30 Terpusat (5 KW) 12 2011 Garut Panyindangan Pakenjeng 250 BCHS 13 2012 Garut Cikajang Cikandang

  50 9 2009 Garut Cihurip Cihurip 30 50 10 2009 Garut Pamulihan Linggarjati 100 50 11 2010 Garut Pamulihan Pakenjeng

  30

  50 8 2009 Garut Singajaya Sukamulya

  30

  50 7 2009 Garut Pamulihan Panawa

  50

  40

  h) PMK Nomor 223/PMK.07/2011 tentang Alokasi DBH SDA Pertambangan Panas Bumi TA. 2011 (revisi PMK No. 39/PMK.07/2011 untuk penyaluran Tw IV).

  f) PMK Nomor 08/PMK.07/2011 tentang Alokasi Kurang Bayar Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Pertambangan Panas Bumi Tahun Anggaran 2006, Tahun Anggaran 2007, dan Tahun Anggaran 2008 yang Dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011.

  60

  30 Terpusat(5kW) 4 2009 Garut Peundeuy Pangrumusan

  50 3 2008 Garut Cisompet Margamulya

  75

  No Tahun Lokasi KK Kapasitas Kabupaten Kecamatan Desa ( Wp)

1 2008 Garut Cihurip Cisangkal 100 Terpusat(15kW)

2 2008 Garut Cisompet sukamukti

  Tabel 2. 201

Daftar Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( PLTS) Yang Telah Dibangun

Tahun 2008 - 2012

  Dari 2001-2012 telah dibangun PLTMH sebanyak 17 Unit, Pikohidro 1 Unit. Sejak 2007 – 2013 telah diberikan bantuan alat biogas untuk 70 unit Biogas skala individual dan biogas skala komunal.

  50 5 2009 Garut Banjarwangi Talagajaya Jumlah penduduk : 2.525.483 jiwa Jumlah Desa : 421 Desa, 21 Kelurahan Desa berlistrik : 421 Desa Rasio elektrifikasi : 62,16 % KK yang sudah mendapat jaringan listrik : 62,16 % KK yang belum mendapat jaringan listrik : 37,84 % Jumlah pelanggan PLN : 456.310 pelanggan (2013) Daya tersambung PLN : 326,50 mva Konsumsi energi listrik : 593,8 gwh Upaya Pemerintah Daerah melalui program Lisdes sejak tahun 2008 sampai 2013 telah membangun JTR, IR dan SR secara hibah pada masyarakat pra-KS dan KS sebanyak 2.845 KK dari APBD Kabupaten Garut, dan 11.316 KK dari APBD Provinsi Jawa Barat.

  

Tabel 2. 202

Potensi Panas Bumi di Kabupaten Garut

Energy Potensial ( MWe)

  

I nstall Resources Reserve

No Lokasi PLTP ( Sumber Daya) ( Cadangan) Total ( MWe) Specu Hypo Possible Probable Proven lative thetic ( T’duga) ( Mngkin) ( Tbukti)

  1 Cilayu

  • 100 - 100 -

  2 Ciarinem - 25 - - 25 - -

  3 G. Papandayan 225 - -

  • 225 - -

  4 G. Guntur Masigit

  70 - - - -

  70

  5 Darajat 271 - - 70 280 350

  6 G. Talaga Bodas 75 120 - 80 275 -

  • TOTAL 271 425 620 1045

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

Tabel 2. 203

Status Potensi Panas Bumi di Kabupaten Garut

  

Potensi

No. Lokasi Kecamatan Tereksploitasi

( MWe)

  

1 Darajat Pasirwangi 350 Tereksploitasi 271 MWe oleh Chevron

Geothermal Indonesia, Ltd.

  

2 Talaga Bodas Wanaraja dan 275 Eksploitasi/Proses Pembangunan PLTP

Karang-tengah (bergabung dg Gn. Karaha di Kab.

  Tasikmalaya) 30 MWe oleh PT. Pertamina Geothermal Energy

  3 Cilayu Cisewu 100 Survey Pendahuluan 2011 (Rencana)

  4 Ciarinem Pakenjeng

  25 Survey Pendahuluan 2012 (Rencana)

  5 Guntur Tarogong Kaler

  70 Survey Pendahuluan 2013 (Rencana) Masigit

  

6 Gn. Cisurupan 225 Akan dilelangkan pada tahun 2010 oleh

  • T.A. 2007 Cipasarangan T.A. 2007 Cipasarangan 184 - - 9,26 Cikidang T.A. 2007 - 150 - - 9,26 Karihkil T.A. 2007 Cirompang 138 - - 19,57 Cimulu T.A. 2007 Cimulu

  7 Jati T.A. 2010 Cipasarangan 90 0,4 7 16,6 Nangewer T.A. 2011 - 80 - - 25 Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

  4 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/89/KPM/III/10

  Sungai Cikandang/ Curug Sanghiang Taraje Desa Pakenjeng Kec. Pamulihan Kabupaten Garut

  1 PT. CITA KEMALA MANDIRI Direktur, Pribodi Priatama, BA. MA

  5

  4

  3

  2

  1

  Tabel 2. 205 I nvestasi PLTMH di kabupaten Garut No Nama Perusahaan Lokasi Daya ( MW) Keterangan

  Neglasari T.A. 2009 - 247 - - 35,6 Leuwileksa T.A. 2009 Cirompang 206 - - 26,7 Cilopang T.A. 2009 Cipasarangan 82 7 220 9,4

  12 - - 2 Ciwarega T.A. 2008 Cipasarangan 62 0,22 5,5 7,2 Cikubang T.A. 2009 - 147 - - 17,8

  20

  18 Leuwi Mobil T.A. 2005 Cirompang 160 - - 25,65 Kombongan T.A. 2006 Cibatarua 165 - - 158 Linggarjati T.A. 2007 Irigasi Alam 105 - -

  40 Cihikeu Gede T.A. 2004 Cihikeu Gede 55 392 10,5

  Gunung Jampang T.A. 2001 Cirompang 400 520 12,4

  Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014 Tabel 2. 204 Potensi dan Lokasi PLTMH di Kabupaten Garut Nama PLTMH Pemb. Sungai KK Debit ( l/ s) Head ( m) Daya ( Kw )

  Bandung, tereksploitasi 200 MWe oleh PT. Pertamina Geothermal Energy dan direncanakan Pengembangan proyek Unit-5 (30 Mwe) Total project, mulai pemboran sumur tahun 2011 dan COD pada 2013

  7 Kamojang Samarang dan Pasirwangi 300 Berada di Kab. Garut dan Kab.

  No. Lokasi Kecamatan Potensi ( MWe) Tereksploitasi Papandayan Provinsi Jawa Barat

  • T.A. 2009 - 70 - -

  30 Maret 2010

  • Persetujuan Penanaman Modal No : 570/1600/KPM

  12 PT. CHIRON ENERGI Direktur, Edi H.

  20 Desember 2010

  9 PT. ARKORA HYDRO Direktur, Aldo Henry Artoko Sungai Cibatarua Dusun

  Cikopo Desa Panawa Kec. Pamulihan Kabupaten Garut

  6 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/2838/KPM/XII/2010

  22 Desember 2010

  10 PT. REPUBLIKA MANDIRI ENERGI Direktur, Achmad Kalla

  Sungai Cikandang Desa Jatiwangi Kp. Sindangratu Kec. Pakenjeng Kabupaten Garut

  4 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/324/KPM

  17 Pebruari 2011

  11 PT. TIRTA ENERGINDO Direktur, Agus Rusyadi

  Sungai Cibatarua Desa Pakenjeng Kec.Pamulihan Kabupaten Garut

  6 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/775/KPM

  19 April 2011

  Sidharta Desa Najaten Kec. Cibalong Kabupaten Garut

  Sidharta Curug Cikawung Dusun Curug Punduk Desa Giri Mukti Kec. Cisewu Kabupaten Garut

  3 Belum di proses

  13 PT. SAKSAMA CIPTA DAYA Direktur, Ir. Sri Taryanto

  Sungai Cibatarua / Sungai Cikandang Dusun Legog Desa Pasirgaru Kec. Pamulihan Kabupaten Garut

  4 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/929/KPM

  9 Mei 2011

  14 PT. ALSERA ENERGI Direktur, Ahmad Zaky Sungai Cikaengan Desa Peundeuy Kec. Peundeuy

  4 Persetujuan Penanaman ModalNo:570/1246/KPM

  20 Juni2011

  15 PT. SARANA JASA ENERGI Direktur, Anwar Saebe

  Sungai Cikandang Desa Depok dan Pasirlangu Kec. Pakenjeng Kabupaten Garut

  4 Persetujuan Penanaman ModalNo :570/1012/KPM

  19 Mei 2011

  16 PT. ARKORA HYDRO Sungai Cibatarua Dusun

  3 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/2827/KPM/2010

  8 PT. CHIRON ENERGI Direktur, Edi H.

  No Nama Perusahaan Lokasi Daya ( MW) Keterangan

  4 PT. CISANGIRI HYDRO Direktur, Achmad Kalla

  1

  2

  3

  4

  5

  2 PT. TIRTA GEMAH RIPAH Direktur, Ir. Iman Riwanto

  Sungai Cirompang Desa Gunamekar Kec. Bungbulang Kabupaten Garut

  8 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/234/KPM

  23 Juni 2010

  3 PT. INTI CIPTA ENERGI Direktur, Harsya Nurhastomo Krisnu Wardono Sungai Cilaki Desa Sukamaju

  Kec. Talegong dan Desa Nyalindung Kec. Cisewu Kabupaten Garut

  4 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/1697/KPM

  20 Juli 2010

  Sungai Cisangiri Desa Mekarwangi Kec. Cihurip Kabupaten Garut

  5 November 2010

  28 Juli 2010

  5 PT. SINERGI SOLUSI UTAMA Direktur, Makarsi Soenaryo

  Sungai Cilaki dan Cikahuripan Desa Cisewu Kec. Cisewu Kabupaten Garut

  4 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/2340/KPM/X/2010

  27 Oktober 2010

  6 PT. BAHTERA BAYU PERSADA Direktur, Hani Syarip Sungai Cibatarua Desa

  Girimukti Kec. Pamulihan Kabupaten Garut

  4 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/2405/KPM/XI/2010

  2 November 2010

  7 PT. CIKAENGAN TIRTA ENERGI Direktur, Ir. H.

  Hendro Supriyanto Sungai Cikaengan Kp.

  Cimudungdung dan Garung Desa Toblong Kec. Peundeuy Kabupaten Garut

  4 Persetujuan Penanaman Modal No : 570/2466/KPM/XI/2010

  6 Persetujuan Penanaman Modal

  Daya No Nama Perusahaan Lokasi Keterangan ( MW)

  1

  2

  3

  4

  5 Direktur, Aldo Henry Cikopo Desa Panawa Kec. No : 570/1366/KPM/2011 Artoko Pamulihan Kabupaten Garut Tgl. 4 Juli 2011

  17 PT. GEMA ENERGY Sungai Cilayu, Samudra

  6 Persetujuan Penanaman Modal Direntur Fikri JayaDesa Caringin No : 570/280/KPM/2012 Kecamatan Caringin Tgl. 3 Pebruari 2012

  18 PT. PUTRA KARYA Sungai Ciarinem Desa

  3 Persetujuan Penanaman Modal CAHAYA TERANG Talagawangi Kec. Pakenjeng No : 570/280/KPM/2012 DirekturBangbang Tgl.27 Pebruari 2012

  19 PT. NALURI ENERGI Sungai Cisanggiri Desa

  6 Persetujuan Penanaman Modal UTAMA Mekarwangi, Desa Jayamukti No : 570/280/KPM/2012 Kec. Cihurip Desa Jatisari Tgl.29 Pebruari 2012 Kec. Cisompet

  

20 PT. TOBLONG HYDRO Sungai Cikaengan Desa - Persetujuan Penanaman Modal

POWER Toblong Kec. Peundeuy No.570/848/KPM

  30 Maret 2012 Sumber: Dinas SDAP Kab. Garut, Tahun 2014

  Meskipun terdapat pembangkit listrik yang mampu memasok energi listrik untuk Jawa, Madura, dan Bali, dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), namun sangat ironis dengan keadaan wilayah dan masyarakat Kabupaten Garut yang sangat kekurangan menikmati layanan jaringan listrik dari PLN, dimana sampai saat ini rasio elektrifikasi di Kabupaten Garut baru mencapai 62,16 %. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut telah berupaya untuk melakukan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan melalui program pembangunan listrik perdesaan yang telah mendorong berkembangnya kegiatan perekonomian masyarakat. Meskipun demikian, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan ini masih perlu dukungan dari berbagai pihak mengingat alokasi anggaran untuk program tersebut masih sangat minim, sehingga capaian pelayanan jaringan listrik bagi warga masyarakat masih belum mampu mampu menaikkan rasio elektrifikasi.

  Kegiatan pembangunan listrik perdesaan yang selama ini telah dilakukan, baik dari APBN melalui pembangunan jaringan listrik oleh PLN, APBD Provinsi Jawa Barat (APBD I), maupun APBD Kabupaten Garut (APBD II), telah memberikan kontribusi langsung pada peningkatan cakupan pelayanan listrik di Kabupaten Garut. Dari jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Garut yaitu sebanyak 424 desa/kelurahan, sampai Tahun 2013 semua desa/kelurahan sudah menikmati pelayanan jaringan listrik, namun belum menyentuh sampai ke pelosok wilayah (perkampungan). Dengan demikian masih banyak warga di kampung-kampung yang belum mendapat layanan jaringan listrik.

4. Pariw isata

  Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan pariwisata salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :

   Kunjungan Wisata Jumlah obyek wisata yang ada di Kabupaten Garut sejak tahun 2009- 2013 mengalami penambahan sebanyak 3 obyek yaitu dari sebanyak 38 obyek pada tahun 2009 menjadi 41 obyek pada tahun 2013. Pencapaian jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2013 sebanyak 2.254.283 orang atau meningkat 36,55% dari tahun 2009 sebanyak 1.650.913 orang. Apabila dibandingkan target jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2013 sebanyak 2.142.232 orang, maka pencapaian jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2013 mencapai sebesar 105,23% dari target. Apabila dibandingkan dengan target kunjungan wisatawan pada tahun 2014 sebanyak 2.329.801 orang, maka pencapaian jumlah wisatawan pada tahun 2013 sudah mencapai sebesar 96,76%. Pencapaian sasaran peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tersebut, tidak terlepas dari keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan diantaranya pengembangan destinasi wisata melalui pembangunan, pemeliharaan/perbaikan/renovasi Objek Daya Tarik Wisata (ODTW). Dari data tersebut dapat diketahui rata-rata jumlah pengunjung pada masing-masing obyek wisata pada tahun 2013 sebanyak 54.983 orang yang mengalami peningkatan 11.537 orang atau 26,56% dari tahun 2009 sebanyak 43.445 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 2. 206 Jumlah Objek Wisata dan Jumlah Kunjungan di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1. Jumlah obyek wisata 38 38 41 41 41 (obyek)

  2. Jumlah kunjungan 1.650.913 1.802.853 1.988.615 2.014.766 2.254.283 wisata (orang)

  3. Rata-rata kunjungan per obyek wisata 43.445 47.444 48.503 49.141 54.983 (orang) Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Tahun 2013

5. Perdagangan

  Perkembangan usaha ekspor ditandai dengan keragaman komoditas dan nilai ekspor. Jenis komoditas yang diekspor terdiri dari teh hitam, teh hijau, karet, bulu mata palsu, minyak akar wangi, jaket kulit, kulit tersamak, kerajinan dari akarwangi, vanili dan kain sutera dengan negara tujuan ekspor yaitu: USA, Inggris, Belanda, Rusia, Mesir, Jepang, Singapura, Irak, Iran, Srilanka, India, Korea, Kanada, Jerman Taiwan, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Perkembangan dalam bidang perdagangan dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Dalam upaya menumbuhkembangkan aktivitas perdagangan, pemerintah Kabupaten Garut telah melakukan berbagai upaya baik yang bersifat regulatif maupun penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana perdagangan. Dari aspek regulatif, Kabupaten Garut pada tahun 2013 telah menerbitkan Surat Izin Usaha Perdagangan sebanyak 3.757 buah. Demikian pula telah diterbitkan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) sebanyak 3.052 buah.

b) Kegiatan perdagangan di Kabupaten Garut ditopang oleh Sarana

  Perdagangan berupa :

  • 15 buah pasar Tradisional Kabupaten dan 56 Pasar Desa; Sub Terminal Agribisnis (STA) yang berada di Kec. Bayongbong; - Gudang Sortasi Sayuran di Kecamatan Cikajang dan Gudang - Kacang di Kecamatan Mekarmukti; Silo Gudang di Desa Dangdeur Kecamatan Banyuresmi; - Garut Trade Centre (GTC) Kecamatan Bl. Limbangan; -
  • Toko Modern :
  • Supermarket 4 buah

  Minimarket 135 buah - Pasar Buah 1 (satu) buah di kampung Warung Peuteuy desa - Sukaraja kecamatan Banyuresmi; Pusat Perbelanjaan sebanyak 1 (satu) Ruko Intan Bisnis Centre - (IBC) Kecamatan Garut Kota.

  

Tabel 2. 207

Perkembangan Jumlah Sarana Perdagangan di Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2013 No Jenis 2009 2010 2011 2012 2013

  1 Pasar Modern 40 53 94 135 148

  2 Pasar Tradisional 15 15 15 15

  15

  3 STA 3 1 1 3

  4 Jumlah

  58 69 110 153 167 Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kab. Garut

  Tabel 2. 208 Perkembangan Jumlah WDPdi Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No BENTUK 2009 2010 2011 2012 2013

  

1 Perorangan 14.395 15.356 17.139 1.112 1.771

  

2 Koperasi 861 896 980 120 153

  

3 CV 1.712 1.927 2.199 537 872

  

4 PT 446 500 613 133 189

  5 BUMD/BUMN

  67 67 67 67

  67 Jumlah 17.481 18.746 20.998 2.169 3.052 Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kab. Garut c) Dilihat dari klasifikasi pedagang berdasarkan golongan, baik kecil, menengah maupun besar pada tahun 2013 mengalami peningkatan dari 2.544 pedagang pada tahun 2012 menjadi 3.757 pedagang pada tahun 2013. Sementara itu jumlah agen/grosir mengalami peningkatan dari 90 agen pada tahun 2012 menjadi 117 agen pada tahun 2013.

  

Tabel 2. 209

Perkembangan Jumlah Pedagang Formal di Kabupaten Garut

Tahun 2009- 2013

  57

  Pasar Tradisional yang menjadi kewenangan pembinaan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Garut terdapat 15 Pasar dan dilapangan tugas Kepala Dinas dibantu oleh UPTD yang tersebar di 12 UPTD. Kontribusi Pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah selama tahun 2009-2012 mengalami peningkatan 46,01% dari sebesar Rp.1.235.266.245,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.1.803.629.300,00 pada tahun 2013.

  10 Jumlah 52 72 84 90 117 Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kab. Garut

  6 Pupuk 15 11 15 15

  32

  5 LPG 18 20 27 32

  4

  4 SPBE 2 2 3 4

  3 SPBU 22 22 22

  No GOLONGAN Jumlah Pedangan Formal 2009 2010 2011 2012 2013

  2 BBM (Minyak Tanah) - - - - -

  14

  1 Sembako 17 17 17 17

  

Tahun 2009- 2013

No JENI S BARANG 2009 2010 2011 2012 2013

  Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kab. Garut

Tabel 2. 210

Perkembangan Jumlah Agen / Grosir di Kabupaten Garut

  3 Besar 103 147 191 235 240 Jumlah 16.288 18.653 21.225 2.544 3.757

  2 Menengah 1.335 1.556 1.724 734 777

  1 Kecil 14.850 16.950 19.310 1.575 2.740

c) Bidang Pengelolaan Pasar

  

Tabel 2. 211

Kontribusi Pasar Terhadap Pendapatan Asli Daerah ( PAD)

Realisasi PAD ( Rp) Jenis Pendapatan Asil

  Pertumbuhan Kodrek Daerah ( % ) 2009 2012 2013

4.1. Pendapatan Asli Daerah 1.235.266.245,00 1.596.076.531,00 1.803.629.300 46,01

4.1.2 Hasil Retribusi Daerah 1.046.945.900,00 1.476.862.815,00 1.559.474.905 48,95

  4.1.2.01 Retribusi Jasa Umum 969.511.800,00 1.185.998.600,00 1.185.345.300 22,26 Retribusi Pelayanan 4.1.2.01.02 337.537.600,00 352.272.000 345.418.600 2,33 Persampahan/Kebersihan

  4.1.2.01.06 Retribusi Pelayanan Pasar 631.974.200,00 833.726.600 839.926.700 32,91 Retribusi Pelayanan Tera / Tera

  4.1.2.01.12 ,- Ulang

   

  4.1.2.02 Retribusi Jasa Usaha 39.240.000,00 40.020.500 100,00 Retribusi Pemakaian Kekayaan

  4.1.2.02.01 39.240.000 40.020.500 100,00 Daerah

  4.1.2.03 Retribusi Perizinan Tertentu 77.434.100,00 251.624.215,00 284.919.785 267,95 Retribusi Izin Gangguan /

  4.1.2.03.03 251.624.215 284.919.785 100,00 Keramaian

  Retribusi Izin Usaha 4.1.2.03.08 6.000.000,00 -100,00 Penyelenggaraan Koperasi Retribusi Industri dan

  4.1.2.03.10 71.434.100,00 -100,00 Perdagangan Retribusi Izin Usaha Jasa 4.1.2.03.14 0,00 Bongkar Muat Lain- lain Pendapatan Asli 4.1.4 188.320.345,00 119.213.716,00 150.000.000 -20,35 Daerah yang Sah Hasil Penjualan Aset Daerah 4.1.4.01 188.320.345,00 119.213.716,00 150.000.000 -20,35 yang Tidak Dipisahkan

  4.1.4.01.20 Cicilan Kios Pasar 158.806.345,00 119.213.716 93.474.820 -41,14

  4.1.4.01.24 Pendapatan dari MCK Pasar 29.514.000,00 35.735.000 21,08 Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kab. Garut, 2013

  Secara rinci potensi pasar tersebut adalah sebagai berikut :  Jumlah Kios : 6.577 kios  Jumlah Los : 2.127 los

   Jumlah PKL : 2.412 PKL Jumlah kios/los/PKL yang berfungsi sebanyak 5.761 buah, terdiri dari :  Jumlah Kios : 3.287 kios  Jumlah Los : 1.161 los

   Jumlah PKL : 1.313 PKL

6. Perindustrian

  Peranan sektor industri yang merupakan sektor andalan di Jawa Barat, secara umum selama periode 2009-2013 memiliki pertumbuhan yang relatif stabil walaupun kontribusinya terhadap PDRB kabupaten Garut masih relatif rendah. Kondisi tersebut sejalan dengan pertumbuhan positif jumlah unit usaha industri sebesar 5,04% dari sebanyak 12.602 unit pada tahun 2009 menjadi sebanyak 13.237 unit pada tahun 2013, dengan komposisi terbanyak pada industri agro dan hasil hutan, yaitu pada tahun 2013 mencapai sekitar 72,87%. Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian dengan arah kebijakan pembangunan industri di Kabupaten Garut yang diarahkan untuk pengembangan agroindustri, yaitu mengolah potensi sumberdaya alam yang dimiliki khususnya sektor pertanian dan kehutanan.

  Peningkatan positif jumlah usaha industri tersebut berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja sektor industri sebesar 7,26%, yaitu dari 58.587 orang pada tahun 2009 menjadi sebanyak 62.840 orang pada tahun 2013. Selama periode tersebut, peningkatan penyerapan tenaga kerja tinggi pada industri agro dan hasil hutan serta industi tekstil, kulit dan aneka. Dukungan Pemerintah terhadap perajin berupa bantuan mesin dan penguasaan teknologi serta pembinaan ketrampilan perajin berupa diklat- diklat teknologi produksi memberi dampak pada peningkatan kapasitas industri serta peningkatan penyerapan tenaga kerja terampil. Terkait dengan investasi industri secara umum selama periode tahun 2009- 2013 juga mengalami peningkatan, yaitu sebesar 10,66%, dengan nilai produksi meningkat 22,27%. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi dan kualitas produk. Peningkatan investasi tertinggi terdapat pada industri logam dan bahan bangunan yaitu sebesar 29,59%, disusul industri agro dan hasil hutan yaitu sebesar 10,87%. Langkah-langkah yang telah dilakukan untuk meningkatkan nilai produksi antara lain pembinaan dalam pengemasan produk, pembinaan GMP ( Good

  Manufacturing Practise ), dll.

  

Tabel 2. 212

Data Potensi I ndustri Kabupaten Garut

Tahun 2009– 2013

  NO URAI AN TAHUN Ket Pertumbuhan 2009- 2013 ( % ) 2009 2010 2011 2012 2013 1.

  I NDUSTRI AGRO & HASI L HUTAN

  • Unit Usaha 9.126 9.146 9.470 9.623 9.646 Unit 5,70
  • Tenaga Kerja 37.698 37.738 40.560 41.041 41.336 Orang 9,65
  • - Investasi 16.453.746 16.465.746 17.789.561 18.141.561 18.241.561 Juta 10,87

  • - Nilai Produksi 418.371.565 418.371.565 556.609.290 559.734.290 565.450.290 Juta 35,16

    2.

  I NDUSTRI TEKSTI L, KULI T & ANEKA

  • Unit Usaha 1.086 1.095 1.126 1.226 1.156 Unit 6,45
  • Tenaga Kerja 9.307 9.468 9.718 10.038 9.815 Orang 5,46
  • - Investasi 14.903.063 15.173.063 15.529.063 16.229.063 15.751.563 Juta 5,69

  • - Nilai Produksi 178.236.129 180.280.129 189.903.703 196.950.851 197.103.382 Juta 10,59

    3.

  I NDUSTRI LOGAM & BAHAN BANGUNAN

  • Unit Usaha 1.869 1.874 1.901 1.911 1.903 Unit 1,82
  • Tenaga Kerja 8.927 8.935 8.996 9.066 8.994 Orang 0,75
  • - Investasi 7.466.763 7.468.221 7.563.221 7.584.221 9.675.914 Juta 29,59

  • - Nilai Produksi 111.049.802 111.183.500 113.123.500 113.823.500 113.423.500 Juta 2,14

4. I NDUSTRI KI MI A

  • Unit Usaha 521 531 532 536 532 Unit 2,11
  • Tenaga Kerja 2.655 2.685 2.695 2.710 2.695 Orang 1,51
  • - Investasi 40.373.710 42.713.085 42.720.585 42.795.585 43.970.585 Juta 8,91

  • - Nilai Produksi 86.605.918 90.062.168 89.948.228 92.948.228 95.189.442 Juta 9,91

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kab. Garut, 2012

  Gambaran umum kondisi daerah terkait aspek daya saing daerah dapat dilihat dari kemampuan ekonomi daerah, fasilitas wilayah/infrastruktur, iklim berinvestasi dan sumber daya manusia.

  NO URAI AN TAHUN Ket Pertumbuhan 2009- 2013 ( % ) 2009 2010 2011 2012 2013 JUMLAH TOTAL

  • Unit Usaha 12.602 12.646 13.029 13.296 13.237 Unit 5,04
  • Tenaga Kerja 58.587 58.826 61.969 62.855 62.840 Orang 7,26
  • Investasi 79.197.282 81.820.115 83.602.430 84.750.430 87.639.623 Juta 10,66
  • Nilai Produksi 794.263.414 799.897.362 949.584.721 963.456.869 971.166.614 Juta 22,27

2.4 Aspek Daya Saing Daerah

2.4.1 Kemampuan Ekonomi Daerah

  4

  4

  4

  4

  4 Bank Swasta

  Tabel 2. 213 Statistik Perbankan di Kabupaten Garut Tahun 2008- 2012 Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Bank Umum Bank Pemerintah

  15

  15

  15 BPD 1

  1

  1

  1

  1 Posisi Dana ( Miliar Rp) Giro 145,969 285,020 271,31 261,021 416,799 Simpanan Berjangka 363,952 370,455 419,82 595,745 740,818

Tabungan 821,478 1.069,14 1311,47 1552,98 1891,081

Posis Kredit ( Miliar Rp) Modal Kerja 713,908 874,687 822 1354,957 1848221

Investasi 109,408 98,947 147 253,976 416,398

Konsumsi 1691,04 1.831 2.228 2999,131 3493,189 Sumber : Statistik Daerah Kabupaten Garut, Tahun 2012 dan 2013

  Posisi dana perbankan selama periode 2008-2012 mengalami peningkatan sebesar 128,98 persen, atau dari Rp. 1331,40 miliar menjadi Rp. 3048,70 miliar. Peningkatan dana perbankan pada periode tersebut terjadi pada semua jenis simpanan baik simpanan berjangka, tabungan maupun giro. Di

   Fasilitas Bank Jumlah bank umum yang beroperasi di Kabupaten Garut sampai dengan tahun 2012 masih tergolong realatif minim, yakni sebanyak 20 unit yang terdiri dari bank umum pemerintah sebanyak 4 unit dan bank umum swasta sebanyak 15 unit dan bank pembangunan daerah 1 unit. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 2 unit pada bank umum swasta pada periode 2008-2012.

  13 sisi lain posisi kredit mengalami peningkatan sebesar 126,85 %, atau dari Rp.2.514,36 miliar menjadi Rp.5.703,81 miliar. Pinjaman bank didominasi untuk keperluan konsumsi dengan share yang mencapai 60,30% dari total kredit yang dikucurkan oleh bank umum pada tahun 2012. Sedangkan untuk keperluan modal kerja dan investasi masing-masing hanya sebesar 34,20 % dan 7,30 %.

   Fasilitas listrik Penggunaan Listrik dapat meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Gambaran umum kondisi fasilitas listrik di Kabupaten Garut selama tahun 2009-2012 dilihat dari persentase jumlah rumah tangga yang mengunakan listrik berdasarkan data BPS Kabupaten Garut mengalami peningkatan 79.176 rumah tangga atau 7,35% dari sebanyak 311.489 rumahtangga atau 54,78% dari seluruh rumah tangga pada tahun 2009 menjadi sebanyak 390.665 rumahtangga atau 62,13% dari seluruh rumah tangga pada tahun 2012.

  Tabel 2. 214 Persentase Rumah Tangga Yang Menggunakan Listrik di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2012 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 Total Jumlah Rumah Tangga

1. 311.489 331.282 350.945 390.665

menggunakan listrik

  2. Jumlah Rumah Tangga 568.608 606.802 638.478 628.736 Persentase Rumah Tangga yang

3. menggunakan listrik (rasio 54,78% 54,59% 54,97% 62,13%

elektifikasi) (1)/(2)

  Sumber : BPS Kabupaten Garut

   Ketersediaan penginapan Pada tahun 2013, jumlah penginapan di Kabupaten Garut sebanyak 143 unit, terdiri dari hotel bintang 3 sebanyak 7 unit dan hotel non bintang (hotel melati dan penginapan lainnya) sebanyak 136 unit. Kondisi ini mengalami peningkatan dari tahun 2009.

  Tabel 2. 215 Jenis, Kelas dan Jumlah Penginapan/ Hotel di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  1. Hotel Bintang 5 - - - - -

  2. Hotel Bintang 4

  3. Hotel Bintang 3

  6

  7

  7

  7

  7

  4. Hotel Bintang 2

  5. Hotel Bintang 1

  No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

6. Hotel Non Bintang

  80

  87 87 132 136 Total Jumlah

7. 86 94 94 139 143

penginapan/Hotel

  Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Garut

2.4.2 I klim Berinvestasi

  Investasi merupakan salah satu kekuatan penting dalam meningkatkan akselerasi pembangunan daerah. Investasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru sehingga diharapkan akan mengurangi beban pengangguran dan kemiskinan. Masuknya investor asing ke suatu wilayah, sangat tergantung dari kondisi keamanan dan politik dalam negeri suatu wilayah. Kondisi keamanan dan politik dalam negeri yang stabil merupakan modal penting dalam menarik minat investasi asing di Indonesia pada umumnya, khususnya di Kabupaten Garut. Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan iklim investasi diantaranta dapat dilihat dari indikator kinerjaangka kriminalitas, jumlah demonstrasi, kemudahan perizinan dan pengenaan pajak daerah.  Angka kriminalitas

  Angka kriminalitas dapat menggambarkan tingkat keamanan masyarakat, semakin rendah angka kriminalitas, maka semakin tinggi tingkat keamanan masyarakat. Pada tahun 2013jumlah tindak kriminal di Kabupaten Garut sebanyak 130 kasus. Apabila dibandingkan dengan kondisi jumlah penduduk, dari data ini dapat diketahui bahwa angka kriminal di Kabupaten Garut pada tahun 2013 mencapai 0,51 ini artinya dari 10.000 jumlah penduduk di Kabupaten Garut pada tahun 2013 terdapat 1 tindak kriminal. Kasus kriminal yang terjadi pada tahun 2009-2013 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 2. 216 Angka Kriminalitas di Kabupaten GarutTahun 2009 s.d. 2013 No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  

1. Jumlah kasus Narkoba 43 38 47 30 24

Jumlah kasus

2. 5 2 - 2 4

Pembunuhan

  Jumlah Kejahatan

3. 32 33 7 1 3

Seksual Jumlah kasus

  

4. 308 438 23 33 2

Penganiayaan

  5. Jumlah kasus Pencurian 308 438 298 291 130

  6. Jumlah kasus Penipuan

  30

  21 - - - Jumlah kasus Pemalsuan

7. - - - - -

uang

  Total Jumlah Tindak

8. 520 600 368 379 130

Kriminal Selama 1 Tahun

  No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

  

9. Jumlah Penduduk 2.386.388 2.424.888 2.464.010 2.503.765 2.544.160

Angka Kriminalitas

10. (8)/(9) per 10.000 jumlah 2,18 2,47 1,49 1,51 0,51

penduduk

  Sumber : Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Garut, Tahun 2014.

   Jumlah Demonstrasi Pada tahun 2012 jumlah demontrasi/unjuk rasa di Kabupaten Garut sebanyak 98 kejadian, Jumlah kejadian ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2009 sebanyak 70 kejadian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 2. 217 Jumlah Demonstrasi di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2012 No. Uraian 2009 2010 2011 2012

1. Bidang Politik 111

  74 59 -

  • 2. Ekonomi

  8

  54

  39

  • 3. Kasus pemogokan kerja -

  4. Jumlah Demonstrasi/ Unjuk Rasa 70 119 128

  98 Sumber : Polres Garut

   Kemudahan perizinan Dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik dan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik, telah dibentuk Pelayanan Terpadu Satu Pintu dalam hal pemberian pelayanan perizinan dan non perizinan yang menjadi kewenangan Kabupaten. Berdasarkan Peraturan Bupati Garut Nomor 317 Tahun 2013 tentang Pendelegasian Wewenang Bupati Kepada Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Dalam Penyelenggaraan Perizinan dan Non Perizinan Jenis perizinan yang ditangani Kabupaten Garut pada tahun 2013, perizinan yang dilayani sebanyak 98 jenis izin dan 28 jenis non izin. Lamanya waktu penerbitan izin/non izin, sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) paling lama 14 hari dan paling cepat 1 hari tergantung dari jenis izin, terhitung dari terpenuhinya kelengkapan persyaratan. Dari sebanyak 126 jenis perizinan yang dilayani, terdapat 4 jenis perizinan yang dipungut biaya retribusi yaitu Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin Gangguan (IG), Izin Trayek, dan Izin Usaha Perikanan.

  

Tabel 2. 218

Jenis I zin, Struktur dan Besaran Tarif Retribusi Perizinan

No. Jenis I zin Struktur dan Besaran Tarif Retribusi 1.

  Izin Mendirikan

  Bangunan Baru :

  Bangunan (IMB)

  A. Bangunan Gedung : Luas Lantai Bangunan Gedung x Indeks Terintegrasi x 1,00 x Harga Standar Bangunan Gedung + Biaya Administrasi

  B. Prasarana Bangunan Gedung : Volume x Indeks x 1,00 x Harga Standar Prasarana Bangunan Gedung + Biaya Administrasi Bangunan Renovasi/Rehabilitasi :

  A. Bangunan Gedung : Luas Lantai Bangunan Gedung x Indeks Terintegrasi x Tingkat Kerusakan (TK) x Harga Standar Bangunan Gedung + Biaya Administrasi

  B. Prasarana Bangunan Gedung : Volume x Indeks x Tingkat Kerusakan (TK) x Harga Standar Prasarana Bangunan Gedung

  • Biaya Administrasi 2.

  Izin Gangguan Luas Ruang Usaha x Indeks Lokasi x Indeks Gangguan x Tarif

  Tarif :

  (IG)

  A. Luas Ruang Usaha s/d 100m2 : Rp.500/m2

  B. Luas Ruang Usaha > 100 m2 : Rp. 250/m2 3.

  Izin Trayek

  A. Izin berdasarkan kapasitas tempat duduk :

  1. Kapasitas Tempat Duduk 1 s/d 10 : Rp. 132.000

  2. Kapasitas Tempat Duduk 11 s/d 14 : Rp. 163.000

B. Daftar Ulang Izin Trayek berdasarkan Kapasitas Tempat Duduk

  1. Kapasitas Tempat Duduk 1 s/d 10 : Rp. 66.000

  2. Kapasitas Tempat Duduk 11 s/d 14 : Rp. 81.000

C. Izin Trayek Insidental (Untuk 1 kali perjalanan/kendaraan)

  1. Kapasitas Tempat Duduk 1 s/d 10 : Rp. 25.000

  2. Kapasitas Tempat Duduk 11 s/d 14 : Rp. 30.000

  3. Kapasitas Tempat Duduk 15 s/d 24 : Rp. 35.000

  4. Kapasitas Tempat Duduk > 14 : Rp. 60.000 4.

  Izin Usaha Surat Penangkapan Ikan (SPI) dengan Kapal Motor (KM) 5-10 Gross

  Tune (GT) : Rp. 75.000 / unit

  Perikanan Sumber : BPMPT Kabupaten Garut

   Pengenaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pada dasarnya ada dua hal yang diperhatikan sebagai faktor yang dapat menjadi disinsentif bagi pertumbuhan iklim investasi daerah yaitu pajak dan retribusi daerah sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selama tahun 2009-2013, kontribusi realisasi PAD yang bersumber dari pajak daerah berkisar antara 9,19% hingga 22,53%. Sedangkan kontribusi penerimaan PAD yang bersumber dari retribusi daerah selama tahun 2010- 2013 berkisar antara 7,85% hingga 13,31% dengan kecenderungan mengalami penurunan.

  Tabel 2. 219 Jumlah Realisasi Pajak dan Retribusi Daerah di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 No U R A I A N 2009 2010 2011 2012 2013 Pendapatan Asli 102.656.646.268 108.908.049.871 122.931.556.450 184.269.764.772 240.631.940.896 Daerah Pendapatan 1 9.437.458.548 10.805.033.932 24.457.259.912 41.517.318.512 40.898.906.516 Pajak Daerah Pajak Hotel 963.655.330 1.144.373.749 2.102.729.236 3.776.947.161 4.024.471.325 Pajak Restoran 732.247.781 805.751.623 2.523.430.110 4.992.000.126 6.115.524.602 Pajak Hiburan 451.761.066 463.987.102 270.301.226 377.849.229 688.755.561 Pajak Reklame 1.412.263.865 1.474.852.995 2.226.548.067 2.567.795.704 3.027.223.561

  Pajak Penerangan 5.776.595.856 6.809.038.693 8.958.872.533 13.615.520.718 15.930.438.138 Jalan Pajak Pengambilan Bahan Galian 22.555.000 22.522.000 Golongan C Pajak Mineral Bukan Logam dan 1.860.843.210 3.356.722.754 1.818.388.982 Batuan Pajak Parkir 26.631.500 31.489.320 42.337.745 329.463.987 106.872.950 Pajak Air Tanah 298.447.578 515.703.223 610.956.230 Pajak Sarang

  51.748.150 53.018.450 55.000.000 13.790.200 16.175.240 Burung Walet Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan 6.118.750.207 11.971.525.410 8.560.099.927 Bangunan Hasil Retribusi 2 83.603.048.746 14.494.494.942 15.290.954.951 16.855.196.787 18.890.056.311 Daerah Retribusi Jasa 80.356.421.554 9.095.355.990 10.409.511.918 11.029.625.367 12.905.456.783 Umum Retribusi Jasa

  1.710.299.241 3.287.518.126 3.485.649.133 3.822.539.325 3.570.825.021 Usaha Retribusi Perizinan 1.536.327.951 2.111.620.826 1.395.793.900 2.003.032.095 2.413.774.507 Tertentu Rasio Thd PAD ( % )

               

  Pendapatan 9,19% 9,92% 19,90% 22,53% 17,00% Pajak Daerah Hasil Retribusi 81,44% 13,31% 12,44% 9,15% 7,85% Daerah Sumber : DPPKA Kab. Garut.

  Catatan : Sumber pendapatan daerah dari pelayanan kesehatan pada RSUD dr Slamet sejak tahun 2010 tercatat sebagai lain-lain PAD yang sah, sementara pada tahun 2009 tercatat sebagai retribusi daerah.

2.4.3 Sumber Daya Manusia

  Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas merupakan modal dasar pembangunan, oleh karenanya pembangunan SDM harus benar-benar diarahkan dan ditingkatkan agar dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan, baik sumber daya manusia sebagai subjek maupun objek dalam pembangunan. Salah satu aspek daya saing daerah yang sangat penting yang berkaitan dengan sumber daya manusia dapat dilihat diantaranya dari persentase tingkat pendidikan tertinggi penduduk yang lulus Perguruan Tinggi pada tahun 2012 mencapai 4,49% sedikit lebih baik dibandingkan tahun 2009 sebesar 4,15%, selain itu dapat dilihat pula dari tingkat ketergantungan penduduk.

  

Gambar 2. 32 Persentase Penduduk Memiliki I jazah Perguruan Tingggi

di Kabupaten Garut Tahun 2009- 2012

  Komposisi penduduk menurut umur dapat dipakai untuk melihat atau menghitung angka beban ketergantungan atau dependency ratio . Angka Rasio Beban Ketergantungan Umur (RKU) merupakan gambaran perbandingan penduduk yang produktif dengan penduduk yang tidak produktif. Semakin tinggi persentase dependency ratio maka semakin tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang

  dependency

  belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase

  ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang

  ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Pencapaian RKU pada tahun 2012 relatif tidak mengalami perubahan berarti dibandingkan dengan keadaan pada tahun 2011. Pada tahun 2012 angka Rasio Beban Ketergantungan Umur (RKU) diproyeksikan mencapai 62,89% sedikit lebih tinggi dari Tahun 2011 sebesar 63,08%. Hal ini berarti pada tahun 2012, dari jumlah 100 orang penduduk usia produktif, harus menanggung sekitar 63 orang penduduk yang tidak produktif yang meliputi 55 orang anak-anak dan 8 orang usia lanjut.

  Tabel 2. 220 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2009- 2012* ) Kelompok Tahun Umur 2009 2010 2011 2012*

  831.146 0 – 14 784.970 813.258 820.397 15 – 64 1.477.980 1.480.633 1.499.825 1.525.778

  65+ 118.031 123.513 125.689 128.451

  Jumlah 2.380.981 2.417.404 2.445.911 2.485.375 Sumber : BPS Kabupaten Garut, Januari 2013

  Tabel 2. 221 Rasio Beban Ketergantungan Penduduk Tahun 2009- 2012* ) Tahun Anak Tua RKU

  2009 53,11 7,99 61,10 2010 54,93 8,34 63,27 2011 54,70 8,38 63,08

  2012* 54,47 8,42 62,89

  Sumber : BPS Kabupaten Garut, Januari 2013

  Keberhasilan pelaksanaan kebijakan pembangunan Kabupaten Garut sampai dengan Tahun 2013 berdasarkan pencapaian indikator makro pembangunan daerah yang meliputi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP), Prosentase Penduduk Miskin, Prosentase Pengangguran, Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) dan Jumlah Investasi disajikan pada tabel berikut.

  Tabel 2. 222 Perkembangan I ndikator Makro Pembangunan Kabupaten Garut * * ) Tahun 2009- 2013 No

  I NDI KATOR MAKRO 2009 2010 2011 2012* 2013* *

  

1. I ndeks Pembangunan Manusia 70,98 71,36 71,70 72,12 72,73

I ndeks Kesehatan 67,00 67,67 68,33 68,98 69,76

Angka Harapan Hidup (tahun) 65,20 65,60 66,00 66,39 66,86

Angka Kematian Bayi (Per Seribu

  51,65 50,87 50,62 49,95 49,29 Kelahiran Hidup) Angka Kematian Ibu (Per 100.000 219,64 210,86 202,07 193,29 184,50 kasus kelahiran) I ndeks Pendidikan 82,15 82,27 82,35 82,36 83,01

Angka Melek Huruf (%) 98,93 98,94 98,96 98,98 99,28

Rata-Rata Lama sekolah (tahun) 7,29 7,34 7,37 7,37 7,57

  I NDEKS DAYA BELI 63,78 64,13 64,42 65,00 65,41

Kemampuan Daya Beli (000 Rp) 636,01 637,49 638,77 641,28 643,05

  2. Perkembangan Jumlah Penduduk

  • Penduduk Pertengahan Tahun (30 2.368.869 2.407.086 2.445.911 2.485.732 2.525.483 Juni) Laki-laki 1.200.375 1.219.234 1.238.382 1.257.451 1.277.610 -
  • Perempuan 1.168.494 1.187.852 1.207.529 1.228.281 1.247
  • Penduduk Akhir Tahun (31 2.386.388 2.424.888 2.464.010 2.503.765 2.544.160 Desember)
  • Laki-laki 1.209.252 1.228.251 1.247.549 1.267.150 1.287.058 Perempuan 1.177.136 1.196.637 1.216.462 1.236.615 1.257.102 -

  3. Laju Pertumbuhan Penduduk (%) 1,61 1,59 1,59 1,61 1,61

  4. Jumlah Penduduk Miskin (Jiwa) *) 365.392 335.633 330.905 314.600 308.528

Persentase Penduduk Miskin 15,42 13,94 13,53 12,66 12,22

Angka Kelahiran Pddk Prpuan

5. 2,09 2,06 2,06 2,06 2,06

Pernah Kawin(TFR) Jumlah Penduduk Yang Bekerja 15

  

6. 871.365 875.084 885.811 896.484 908.835

th +

  No

  I NDI KATOR MAKRO 2009 2010 2011 2012* 2013* *

  7. Ketenagakerjaan Usia Kerja 15 Tahun Keatas 1.569.775 1.597.299 1.625.306 1.653.803 1.682.801

  • * Angkatan Kerja 921.456 924.326 934.219 944.071 955.616

  • * TPAK 58,7 57,9 57,5 57,1 56,8>

    * Pengangguran 50.091 49.242 48.408 47.587 46.781

  • * TPT 5,44 5,33 5,22 5,12 5,01

    Usia Kerja 10 Tahun Keatas 1.851.245 1.874.608 1.909.045 1.940.061 1.965.788
  • * Angkatan Kerja 991.899 1.011.277 1.004.091 1.051.631 1.026.964

  • * TPAK 53,58 53,95 52,60 54,21 52,24

  • * Pengangguran 92.527 92.573 80.734 77.286 73.422

  • * TPT 9,33 9,15 8,04 7,35 6,85

8. PDRB berlaku (Juta Rp) 22.271.424 24.844.613 27.491.630 30.147.122 34.913.896

  

9. PDRB konstan '2000 (Juta Rp) 10.568.745 11.133.627 11.743.507 12.284.543 13.123.519

Indeks Harga Implisit 210,73 223,15 234,10 250,98 266,04

10. inflasi (%) 4,17 5,56 4,17 3,87 6,89

  11. Konsumsi Rumah Tangga (Juta Rp) 16.747.689 18.452.102 20.465.264 23.447.088 26.254.589

  12. Konsumsi Pemerintah ( Juta Rp) 2.400.322 2.956.631 3.284.582 3.360.497 3.762.875

  13. Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,57 5,34 5,48 4,61 5,64

  14. PDRB perkapita (Rp) 9.263.853 10.292.372 11.233.508 12.150.454 13.880.102

PDRB perkapita a.d.h Konstan 2000 4.396.095 4.612.325 4.798.580 4.951.145 5.206.907

  

15. Investasi (Miliar) 2.998,03 3.314,14 3.652,42 4.197,30 4.699,87

  16. Laju Investasi (%) 8,55 10,54 10,21 12,10 11,97 Sumber : BPS Kabupaten Garut, Oktober 2013. **) Angka Sangat Sementara

  BAB I I I GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Keuangan daerah merupakan faktor strategis yang turut menentukan kualitas

  penyelenggaraan pemerintahan daerah, mengingat kemampuannya akan mencerminkan daya dukung manajemen pemerintahan daerah terhadap penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi tanggungjawabnya. Keuangan Daerah yang digambarkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), merupakan instrumen kebijakan fiskal yang dipergunakan pemerintah daerah dalam rangka melakukan pelayanan publik melalui kebijakan belanja daerah untuk berbagai prioritas pembangunan daerah sesuai sumber daya pendanaan yang tersedia baik yang diperoleh dari pendapatan asli daerah maupun skema transfer dari Pemerintah Pusat dan Provinsi. Tingkat kemampuan keuangan daerah, dapat diukur dari kapasitas pendapatan asli daerah, rasio pendapatan asli daerah terhadap jumlah penduduk dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Untuk memahami tingkat kemampuan keuangan daerah, maka perlu dicermati kondisi kinerja keuangan daerah, baik kinerja keuangan masa lalu maupun kebijakan yang melandasi pengelolaannya.

3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu

  Perkembangan kinerja keuangan pemerintah derah tidak terlepas dari batasan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana diatur dalam: (1) Undang-undang Nomor

32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

  Keuangan Antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah; (2) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 juncto Permendagri Nomor 59 tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; dan (4) Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 19 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Garut.

  Berdasarkan ketentuan tersebut, kinerja keuangan pemerintah daerah sangat terkait dengan aspek kinerja pelaksanaan APBD dan aspek kondisi neraca daerah. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: Pendapatan Daerah, Belanja Daerah, Dan Pembiayaan Daerah. Kinerja pelaksanaan APBD tidak terlepas dari struktur dan akurasi belanja (belanja langsung dan belanja tidak langsung), pendapatan daerah yang meliputi pendapatan asli daerah, dan perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Sementara itu, neraca daerah akan mencerminkan perkembangan dari kondisi asset pemerintah daerah, kondisi kewajiban pemerintah daerah serta kondisi ekuitas dana yang tersedia. Kinerja pelaksanaan APBD Kabupaten Garut sejak tahun 2009 hingga tahun 2013, digunakan sebagai dasar dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014- 2019.

3.1.1 Kinerja Pelaksanaan APBD

3.1.1.1 Rata- rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah

  Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana lancar, yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pasal 157 dan Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Garut, terdiri dari :

A. Pendapatan Asli Daerah ( PAD) , yaitu : 1) Hasil Pajak Daerah.

  Hasil pajak daerah pada APBD Kabupaten Garut terdiri dari: Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Bantuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak sarang Burung Walet, Bea Perolehan Hak atas tanah dan bangunan.

2) Hasil Retribusi Daerah

  a. Retribusi Jasa Umum, meliputi : Retribusi Pelayanan Kesehatan, Retribusi Pelayanan Persampahan/ Kebersihan, Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil, Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat, Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum, Retribusi Pelayanan Pasar, Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran, Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta, Retribusi Penyediaan dan/ atau Penyedotan Kakus, Retribusi Pengolahan Limbah Cair, Retribusi Pelayanan Tera/ Tera Ulang, Retribusi Pelayanan Pendidikan, dan Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.

  b.

  Retribusi Jasa Usaha, meliputi : Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, Retribusi Pasar Grosir dan/ atau Pertokoan, Retribusi Tempat Pelelangan, Retribusi Terminal, Retribusi Tempat Khusus Parkir, Retribusi Tempat Penginapan/ Pesanggrahan/ Villa, Retribusi Rumah Potong Hewan, Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga, dan Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

  c. Retribusi Perizinan Tertentu, meliputi : Retribusi I zin Mendirikan Bangunan, Retribusi I zin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol, Retribusi I zin Gangguan, Retribusi I zin Trayek, dan Retribusi I zin Usaha Perikanan.

  3) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan.

  Hasil Bagian Laba Usaha Daerah pada APBD Kabupaten Garut terdiri dari: Perusahaan daerah Air Minum (PDAM), PD.BPR, PD. BPR-LPK, dan PD. PK, termasuk Bagian Laba dari Bank Pembangunan Derah/ PT. Bank Jabar-Banten. 4) Lain-lain PAD yang Sah.

  Hasil Lain-lain PAD yang Sah pada APBD Kabupaten Garut terdiri dari: Penjualan Rumah Jabatan / rumah dinas, Penjualan hasil Pertanian, cicilan Kios Pasar, Jasa Giro Kas daerah, rekening deposito pada Bank, Tuntutan Ganti Rugi Daerah, pendapatan dari pengembalian kelebihan pembayaran gaji dan tunjangan, pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, pendapatan BLUD.

B. Dana Perimbangan, yaitu : 1.

  Dana Bagi Hasil Pajak; Dana bagi hasil pajak terdiri dari : Bagi hasil dari pajak bumi dan bangunan (PBB), bagi hasil dari pajak penghasilan (PPh) pasal 25 dan

pasal 29 wajib pajak orang pribadi, dana alokasi cukai.

  2. Dana bagi hasil bukan pajak; Dana bagi hasil bukan pajak terdiri dari : Bagi hasil dari pungutan hasil perikanan, bagi hasil dari pertambangan minyak bumi, bagi hasil dari pertambangan gas bumi, bagi hasil dari pertambangan panas bumi, bagi hasil dari pertambangan umum, bagi hasil dari sumberdaya hutan.

  3. Dana Alokasi Umum; 4.

  Dana Alokasi Khusus;

C. Lain- lain Pendapatan Daerah yang Sah terdiri atas : 1.

  Pendapatan hibah dari pemerintah 2. Dana bagi hasil pajak propinsi terdiri dari; Bagi hasil dari pajak kendaraan bermotor, Bagi hasil dari Bea balik nama kendaraan bermotor, Bagi hasil dari pajak bahan bakar kendaraan bermotor, Bagi hasil dari pajak pengembalian dan pemanfaatan air permukaan, bagi hasil retribusi propinsi, irwas, TPI , Kemeterologian, dan Bagi Hasil Pajak Rokok 3. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus dari Pemerintah 4. Bantuan Keuangan dari Provinsi

  Selama tahun 2009 -2013, secara umum kinerja pelaksanaan APBD khususnya mengenai Pendapatan Daerah, realisasinya mengalami peningkatan dari sebesar Rp.1.594.689.277.464,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.2.741.529.009.462,00 pada tahun 2013, dengan rata-rata pertumbuhan setiap tahunnya sebesar 14,66% . Pertumbuhan realisasi Pendapatan Daerah tertinggi selama periode tersebut terjadi pada tahun 2011 yang mencapai sebesar 21,96% dari sebesar Rp.1.695.059.486.811,00 pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp.2.067.371.338.824,00 pada tahun 2011, sebagai dampak meningkatnya dana penyesuaian dari Pemerintah untuk Tunjangan Profesi dan Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD, Dana Percepatan Pembangunan I nfrastruktur Daerah (DPPI D) dan dana BOS. Tingkat realisasi pendapatan daerah selama tahun 2009-2013 dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam APBD pada periode tersebut, secara rata-rata mencapai 101,45% .

  Tabel 3. 1 Target dan Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Target Realisasi Tingkat Tahun Pendapatan ( Rp) Pendapatan ( Rp) Capaian ( % ) 2009 1.542.860.407.696 1.594.689.277.464 103,36 2010 1.665.875.885.147 1.695.059.486.811 101,75 2011 2.062.933.884.142 2.067.371.338.824 100,22 2012 2.256.652.275.788 2.329.795.383.220 103,24

  2013* * 2.777.458.207.457 2.741.529.009.462 98,71 Rata- rata 101,45

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Ditinjau dari kontribusi setiap komponen pembentuknya, realisasi pendapatan daerah selama tahun 2009-2013 didominasi oleh sumber dana perimbangan dengan proporsi rata-rata sebesar 72,78% , disusul Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah dengan proporsi rata-rata sebesar 20,12% , sedangkan penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah secara-rata-rata baru mencapai 7,10% . Kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur penerimaan pendapatan daerah masih belum kokoh, karena tingkat ketergantungan terhadap dana perimbangan dari Pusat masih sangat tinggi.

  Tabel 3. 2 Kontribusi Komponen Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Kontribusi Terhadap Realisasi Pendapatan Daerah ( % ) No Uraian Pendapatan 2009 2010 2011 2012 2013 Rata-rata

  1 Pendapatan Asli Daerah 6,44 6,43 5,95 7,91 8,78 7,10

  2 Dana Perimbangan 78,02 75,70 67,54 73,44 69,21 72,78 Lain-lain Pendapatan Daerah 3 15,54 17,87 26,51 18,65 22,01 yang Sah

  20,12 Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Secara lengkap perincian mengenai realisasi penerimaan pendapatan daerah selama tahun 2009-2013 disajikan dalam tabel berikut ini:

  Tabel 3. 3 Rata- rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten Garut Tahun 2009 - 2013 Rata-

REALI SASI

rata

  N URAI AN Pertumb o

  

2009 2010 2011 2012 2013

uhan ( % )

  I PENDAPATAN 1.594.689.277.464 1.695.059.486.811 2.067.371.338.824 2.329.795.383.220 2.741.529.009.462 14,66 Pendapatan Asli A 102.656.646.268 108.908.049.871 122.931.556.450 184.269.764.772 240.632.617.210 24,86 Daerah

  N o URAI AN REALI SASI Rata- rata Pertumb uhan ( % ) 2009 2010 2011 2012 2013

  2 Dana Darurat 28.802.040.000

  Rp.102.656.646.268,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.240.632.617.210,00 pada tahun 2013, atau setiap tahunnya mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24,89% . Pertumbuhan penerimaan PAD terbesar terjadi pada tahun 2012 sebesar 49,90% , yang diperoleh dari kontribusi pajak daerah sebesar 9,15% , kontribusi retribusi daerah sebesar 0,87% , dan kontribusi Lain-lain PAD yang sah sebesar 67,45% .

  Untuk mengetahui perkembangan realisasi Pendapatan Daerah berdasarkan sumber-sumbernya, dijelaskan sebagai berikut :  Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalami peningkatan realisasi dari sebesar

  Sumber : DPPKA Kabupaten Garut

  5 Bantuan Keuangan dari Provinsi 144.729.027.000 106.781.906.040 99.994.284.800 108.896.969.005 107.011.170.300 -6,35

  4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 33.569.775.000 150.343.653.600 386.701.374.080 266.801.526.000 422.627.249.500 133,12

  3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi 40.698.567.770 41.734.565.572 54.935.212.136 58.803.430.677 71.727.111.181 15,80

  

1 Pendapatan Hibah 4.100.000.000 6.450.000.000 2.000.000.000 -21,34

  

1 Pajak Daerah 9.437.458.548 10.805.033.932 24.457.259.912 41.517.318.512 40.898.936.516 52,28

  247.799.409.770 302.960.125.212 548.080.871.016 434.501.925.682 603.365.530.981 30,33

  

3 Dana Alokasi Khusus 102.035.000.000 119.553.000.000 114.331.400.000 142.605.490.000 179.732.880.000 15,89

C Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah

  

2 Dana Alokasi Umum 1.012.043.617.000 1.031.869.766.000 1.140.671.417.000 1.385.441.117.000 1.563.833.157.000 11,71

  1 Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak 130.154.604.426 131.768.545.728 141.356.094.358 182.977.085.766 153.964.824.271 5,53

  4 Lain-lain PAD yang Sah 7.546.590.730 81.118.968.019 80.140.273.150 124.286.979.065 177.001.653.470 267,80

B Dana Perimbangan 1.244.233.221.426 1.283.191.311.728 1.396.358.911.358 1.711.023.692.766 1.897.530.861.271 11,35

  3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 2.069.548.244 2.489.552.978 3.043.068.437 1.610.270.408 3.842.000.913 33,51

  

2 Retribusi Daerah 83.603.048.746 14.494.494.942 15.290.954.951 16.855.196.787 18.890.056.311 -13,72

  Gambar 3. 1 Perbandingan Pertumbuhan Realisasi PAD dengan Kontribusi Komponen Pembentuk PAD pada APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  Tingkat realisasi PAD selama tahun 2009-2013 dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam APBD pada periode tersebut, secara rata-rata mencapai 104,59% .

  Tabel 3. 4 Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tingkat Tahun Target PAD ( Rp) Realisasi PAD ( Rp) Capaian ( % ) 2009 101.306.610.538 102.656.646.268 101,33 2010 106.290.841.118 108.908.049.871 102,46 2011 126.679.276.213 122.931.556.450 97,04 2012 155.560.809.456 184.269.764.772 118,46

  2013* * 232.113.331.304 240.632.617.210 103,67 Rata- rata 104,59

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Meskipun penerimaan PAD selama tahun 2009-2013 setiap tahunnya mengalami pertumbuhan positif, namun apabila ditinjau dari kontribusinya terhadap total pendapatan daerah mengalami peningkatan dari sebesar 6,44% pada tahun 2009 menjadi 8,78% pada tahun 2013 dan secara rata- rata baru mencapai 7,10% serta masih dibawah rasio realisasi PAD terhadap pendapatan pada APBD kabupaten/ kota di Jawa Barat yang mencapai rata- rata sebesar 12,81% . Rasio PAD terhadap Total Pendapatan dapat menggambarkan tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak eksternal, baik Pemerintah Pusat maupun Provinsi. Semakin besar angka rasio PAD terhadap pendapatan maka ketergantungan daerah semakin kecil. Kondisi yang ada menunjukan bahwa kemampuan kemandirian keuangan daerah dalam pembiayaan kebutuhan pembangunan masih rendah, sehingga perlu terus dilakukan upaya penggalian potensi sumber-sumber pendapatan asli daerah khususnya dari komponen pajak daerah dan retribusi daerah sehingga ketergantungan terhadap dana perimbangan dari pusat maupun provinsi tidak terlalu besar.

  Gambar 3. 2 Perbandingan Rasio Realisasi PAD terhadap Pendapatan APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jaw a Barat Tahun 2009- 2013

  Realisasi PAD terkait erat dengan PDRB sebagai gambaran kegiatan ekonomi masyarakat. Rasio PAD terhadap PDRB dapat digunakan sebagai pendekatan untuk menggambarkan kinerja PAD dibandingkan PDRB. Jika pertumbuhan ekonomi daerah baik tentunya akan menjadi potensi terhadap penerimaan pajak daerah sebagai komponen pendapatan asli daerah. Selama tahun 2009-2013, rasio PAD terhadap PDRB adh berlaku mengalami peningkatan dari 0,46% pada tahun 2009 menjadi sebesar 0,69% pada tahun 2013 dan secara rata-rata mencapai 0,53% , yang memiliki makna bahwa rata-rata PAD yang diperoleh baru mencapai sekitar 0,53% dari PDRB. Meskipun pencapaiannya meningkat setiap tahunnya, namun masih dibawah rata-rata kab./ kota di Jawa Barat sebesar 0,91% pada tahun 2012.

  Gambar 3. 3 Perbandingan Rasio Realisasi PAD terhadap PDRB Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jaw a Barat

  Rasio PAD terhadap penduduk (PAD per kapita) dapat dipergunakan sebagai pendekatan yang menggambarkan kontribusi setiap penduduk terhadap PAD. Selama tahun 2009-2013, rasio PAD per kapita mengalami peningkatan dari Rp.43.115 pada tahun 2009 menjadi Rp.95.282 pada tahun 2013 dan secara rata-rata mencapai Rp.61.607. Hal ini berarti secara rata-rata setiap penduduk Kabupaten Garut memberikan kontribusi sekitar Rp.95.282 terhadap PAD Tahun 2013, dan pencapaian tersebut masih jauh dibawah capaian rata-rata kabupaten/ kota di Jawa Barat sebesar Rp.202.515 pada tahun 2012.

  

Gambar 3. 4 Perbandingan Rasio PAD terhadap Penduduk

Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jaw a Barat Tahun 2009- 2013

   Dana Perimbangan mengalami peningkatan realisasi dari sebesar Rp.1.244.233.221.426,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.1.897.530.861.271,00 pada tahun 2013, atau setiap tahunnya mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 11,35% . Dana perimbangan merupakan sumber terbesar realisasi pendapatan daerah selama tahun 2009-2013, dengan kontribusi rata-rata sebesar 72,78% . Komponen penyumbang terbesar terhadap Dana Perimbangan selama periode tersebut diperoleh dari Dana Alokasi Umum dengan rata-rata sebesar 81,37% , disusul penerimaan Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar 9,93% , dan Dana Alokasi Khusus sebesar 8,70% .

  Selama tahun 2009-2013, Dana Alokasi Umum juga menjadi sumber penerimaan realisasi pendapatan daerah terbesar dengan kontribusi rata- rata per tahunnya sebesar 59,20% . Pada periode tersebut kontribusi DAU terhadap Total Pendapatan mengalami kecenderungan penurunan dari sebesar 63,46% pada tahun 2009 menjadi sebesar 57,04% pada tahun 2013, namun masih dibawah rata-rata kabupaten/ kota di Jawa Barat yang telah mencapai 50,46% pada tahun 2012.

  Gambar 3. 5 Perbandingan Kontribusi DAU terhadap Pendapatan APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jaw a Barat Tahun 2009- 2013

  Selama tahun 2009-2013, Dana Alokasi Khusus memberikan kontribusi terhadap penerimaan realisasi pendapatan daerah dengan rata-rata per tahunnya sebesar 6,33% . Pada periode tersebut kontribusi DAK terhadap Total Pendapatan mengalami kecenderungan yang berfluktuasi antara sebesar 5,53% - 7,05% , dan berada diatas rata-rata kabupaten/ kota di Jawa Barat yang berkisar antara 3,98% hingga 5,04% dengan rata-rata per tahunnya sebesar 4,31% selama tahun 2009- 2012.

  

Gambar 3. 6 Perbandingan Kontribusi DAK terhadap Pendapatan APBD

Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jaw a Barat

Tahun 2009- 2013

  Selama tahun 2009-2013, Dana Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak memberikan kontribusi terhadap penerimaan realisasi pendapatan daerah dengan rata- rata per tahunnya sebesar 7,25% . Pada periode tersebut kontribusi DBH terhadap Total Pendapatan mengalami kecenderungan yang berfluktuasi dan menurun antara sebesar 8,16% - 5,62% , dan berada dibawah rata-rata kabupaten/ kota di Jawa Barat sebesar 10,96% selama tahun 2009- 2012.

  

Gambar 3. 7 Perbandingan Kontribusi DBH terhadap Pendapatan APBD

Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jaw a Barat

Tahun 2009- 2013

   Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah selama tahun 2009-2013 mengalami peningkatan dari sebesar Rp.247.799.409.770,00 pada tahun 2009 menjadi Rp.603.365.530.981,00 pada tahun 2013, dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya sebesar 30,33% . Ditinjau dari kontribusinya terhadap struktur realisasi pendapatan daerah selama tahun 2009-2013, memberikan kontribusi yang cukup besar berkisar antara 15,54% hingga 26,51% , dengan rata-rata kontribusi per tahunnya sebesar 20,12% , tergantung besarnya Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus/ Dana I nsentif Daerah, Dana bagi hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya, serta bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang diterima. Apabila dibandingkan dengan rata-rata kontribusi Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah terhadap pendapatan daerah kabupaten/ kota di Jawa Barat, cenderung relatif sama berkisar antara 16,65% hingga 25,76% selama tahun 2009-2012, dengan rata-rata per tahunnya mencapai 20,42% .

  

Gambar 3. 8 Perbandingan Kontribusi Lain- lain Pendapatan Daerah Yang Sah

Terhadap Pendapatan APBD Kab. Garut dan Kab/ Kota di Jaw a Barat

Tahun 2009- 2013

  Salah satu komponen dari Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah adalah dana transfer bagi hasil pajak dari provinsi, dimana selama tahun 2009-2013 secara nominal terus mengalami peningkatan dari sebesar Rp.40,70 milyar pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp. 71,73 Milyar pada tahun 2013. Namun realisasi pencapaian dana transfer bagi hasil pajak dari provinsi tersebut masih dibawah rata-rata dana transfer bagi hasil pajak dari provinsi yang diterima kabupaten/ kota di Jawa Barat yang mencapai antara Rp. 85,64 milyar hingga Rp. 128,71 milyar selama tahun 2009-2012.

  

Gambar 3. 9 Perbandingan Dana Transfer Bagi Hasil Pajak dari Provinsi

APBD Kab. Garut dan Kab/ Kota di Jaw a Barat

Tahun 2009- 2013

  Beberapa faktor penyebab yang melatarbelakangi masalah yang timbul dalam realisasi Pendapatan Daerah selama tahun 2009-2013, antara lain:

a. Turunnya harga minyak dunia; b.

  Pertumbuhan ekonomi nasional yang cenderung lambat, yang pada akhirnya berpengaruh pada investasi di daerah; c. Deregulasi ketentuan dibidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang menetapkan kebijakan menutup peluang dilakukannya penambahan jenis pajak baru (close list); d. Turunnya potensi pajak daerah, karena persaingan usaha seperti pada jenis pajak burung walet; e.

  Perubahan kebijakan dalam perhitungan bagi hasil panas bumi. Sementara itu, potensi dan tantangan perkembangan ke depan ditinjau dari perspektif regional, dan nasional yang dapat mempengaruhi tingkat realisasi pendapatan daerah, antara lain: a.

  Stabilnya pertumbuhan ekonomi nasional;

b. Terjaminnya kondisi keamanan dan politik yang kondunsif; c. Pertumbuhan investasi daerah.

3.1.1.2 Rata- rata pertumbuhan realisasi Belanja daerah

  Belanja adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum Negara/ daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari kas umum daerah, khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disyahkan oleh unit yang mempunyai fungsi verifikasi dan pengesahan. Belanja daerah terdiri dari :

1) Belanja Tidak Langsung

   Belanja Pegawai ( Bel Tidak Langsung )  Belanja Bunga  Belanja Hibah  Belanja Bantuan Sosial  Belanja Bagi Hasil kepada Provinsi / Kab / Kota dan Pemerintahan Desa  Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi / Kab / Kota dan

  Pemerintahan Desa  Belanja Tidak Terduga 2)

  Belanja Langsung  Belanja Pegawai ( Bel Langsung )  Belanja Barang dan Jasa  Belanja Modal Transfer adalah penerimaan/ pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/ kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan desa dan dana bagi hasil ke desa. Surplus/ defisit adalah selisih lebih/ kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan. Konsekuensi pelaksanaan desentralisasi fiskal dari sisi pengeluaran dititikberatkan pada fleksibilitas kebijakan pengeluaran daerah yang sesuai dengan prioritas dan tujuan pembangunan daerah sebagai wujud dan implementasi dari kebijakan dan sekaligus operasionalisasi pelaksanaan pengeluaran Belanja Daerah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Melalui Belanja Daerah untuk pelaksanaan program pembangunan daerah dalam peningkatan kualitas layanan publik diharapkan dapat menjadi komponen yang berperan dalam peningkatan akses masyarakat terhadap sumber-sumber daya ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Anggaran Belanja Daerah yang tercantum dalam APBD mencerminkan gambaran umum upaya pemerintah daerah dalam menentukan skala prioritas terkait program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Pada komponen Belanja Daerah dapat diperlihatkan seberapa besar porsi belanja langsung yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah dan terkait langsung dalam pemenuhan pelayanan kepada masyarakat.

  Selama tahun 2009 -2013, secara umum kinerja pelaksanaan APBD khususnya mengenai Belanja Daerah, realisasinya mengalami peningkatan dari sebesar Rp.1.478.599.869.549,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.2.934.073.591.407,00 pada tahun 2013, dengan rata-rata pertumbuhan setiap tahunnya sebesar 19,23% . Pertumbuhan realisasi Belanja Daerah tertinggi selama periode tersebut terjadi pada tahun 2013 yang mencapai sebesar 37,62% dari sebesar Rp.2.131.967.233.530,00 pada tahun 2012 menjadi sebesar Rp.2.934.073.591.407,00 pada tahun 2013, sebagai dampak pelaksanaan kegiatan tahun 2012 yang diluncurkan dan dilaksanakan pada tahun 2013 terutama kegiatan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

  Tingkat realisasi penyerapan belanja daerah selama tahun 2009-2013 dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam APBD pada periode tersebut, secara rata-rata mencapai 93,68% .

  Tabel 3. 5 Target dan Realisasi Belanja APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Target Realisasi Tingkat Tahun Pendapatan ( Rp) Pendapatan ( Rp) Capaian ( % ) 2009 1.548.294.871.181 1.478.599.869.549 95,50 2010 1.770.388.523.301 1.689.118.746.922 95,41

  92,90 2011 2.164.909.401.598 2.011.183.908.760 2012 2.383.997.157.970 2.131.967.233.530 89,43

  2013* * 3.082.495.644.933 2.934.073.591.407 95,19 Rata- rata 93,68

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Ditinjau dari kontribusi setiap komponen pembentuknya, realisasi belanja daerah selama tahun 2009-2013 didominasi untuk pemenuhan belanja tidak langsung dengan proporsi rata-rata sebesar 68,73% , sementara untuk belanja langsung dengan proporsi rata-rata sebesar 31,27% . Kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur pengalokasian belanja daerah sebagian besar masih diarahkan untuk pemenuhan belanja aparatur khususnya untuk kebutuhan gaji dan tunjangan PNS, dimana komposisi terbesar PNSD di Kabupaten Garut merupakan guru dan tenaga kesehatan. Pemenuhan kebutuhan gaji guru dan tenaga kesehatan tersebut bersifat wajib dalam rangka menjamin kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat dalam bidang pendidikan dan kesehatan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah yang sifatnya wajib.

  Tabel 3. 6 Kontribusi Komponen Realisasi Belanja APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Kontribusi Terhadap Realisasi Pendapatan Daerah ( % ) No Uraian Belanja 2009 2010 2011 2012 2013 Rata-rata

  

1 Belanja Tidak Langsung 81,04 73,06 67,61 66,04 55,91 68,73

  

2 Belanja Langsung 18,96 26,94 32,39 33,96 44,09 31,27

Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Secara lengkap perincian mengenai realisasi penerimaan belanja daerah selama tahun 2009-2013 disajikan dalam tabel berikut ini:

  Tabel 3. 7 Rata- rata Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Tahun 2009 – 2013 Rata- REALI SASI ( Rp) rata No URAI AN Pertum 2009 2010 2011 2012 2013 buhan ( % ) Belanja

  I I 1.478.599.869.549 1.689.118.746.922 2.011.183.908.760 2.131.967.233.530 2.934.073.591.407 19,23 Daerah Belanja Tidak A 1.198.188.728.868 1.234.007.517.667 1.359.835.756.214 1.408.047.577.900 1.640.305.516.161 8,31 Langsung Belanja Pegawai 1 ( Bel. Tidak 892.234.780.195 1.013.008.621.402 1.150.091.894.918 1.321.605.550.474 1.515.276.256.027 14,16 Langsung )

  2 Belanja Bunga 6.744.835 -100,00

  3 Belanja Hibah 79.435.430.000 16.994.670.000 41.987.854.750 52.652.915.629 -10,51 Belanja Bantuan 4 161.689.911.028 124.072.147.819 74.045.366.266 11.370.834.520 1.459.725.000 -58,85 Sosial

  Belanja Bagi

  

5 Hasil kepada 15.000.000 26.688.320 27.311.520 30.620.480 30,79

Pemdes Belanja Bantuan

  6 Keuangan 63.632.173.145 76.653.154.167 90.942.402.145 68.994.728.038 69.250.775.125 3,84 kepada Pemdes.

  Belanja Tidak

7 1.196.434.500 3.263.924.279 2.734.804.980 6.049.153.348 1.635.223.900 51,20

Terduga Belanja B 280.411.140.681 455.111.229.255 651.348.152.546 723.919.655.630 1.293.768.075.246 48,82 Langsung Belanja Pegawai 1 42.448.298.145 77.017.357.785 122.055.675.973 109.497.002.187 157.047.376.457 43,26 (Bel. Langsung) Belanja Barang

  2 162.498.168.854 222.887.954.882 348.691.259.246 301.632.612.613 444.352.270.148 31,86 dan Jasa

  3 Belanja Modal 75.464.673.682 155.205.916.588 180.601.217.327 312.790.040.830 692.368.428.641 79,14 Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Untuk mengetahui perkembangan realisasi Belanja Daerah berdasarkan sumber- sumbernya, dijelaskan sebagai berikut :  Belanja Tidak Langsung mengalami peningkatan realisasi dari sebesar

  Rp.1.198.188.728.868,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.1.640.305.516.161,00 pada tahun 2013, atau setiap tahunnya mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 8,31% . Pertumbuhan realisasi Belanja Tidak Langsung terbesar terjadi pada tahun 2013 sebesar 16,50% , yang dipergunakan untuk realisasi Belanja Pegawai (Bel. Tidak Langsung) sebesar 92,38% , Belanja Bantuan Sosial sebesar 5,98% , Belanja Bantuan Keuangan untuk Pemerintahan desa sebesar 4,22% , Belanja Hibah sebesar 3,21% , dan sisanya untuk Belanja Tidak Terduga, Belanja Bagi Hasil kepada Pemerintahan desa dan belanja bunga.

  Gambar 3. 10 Perbandingan Pertumbuhan Realisasi Belanja Tidak Langsung dengan Kontribusi Komponen Pembentuk Belanja Tidak Langsung pada APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  Tingkat realisasi Belanja Tidak Langsung selama tahun 2009-2013 dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam APBD pada periode tersebut, secara rata-rata mencapai 97,54% .

  Tabel 3. 8 Anggaran dan Realisasi Belanja Tidak Langsung APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tingkat Tahun Anggaran BTL ( Rp) Realisasi BTL ( Rp) Capaian ( % ) 2009 1.250.160.489.390 1.198.188.728.868 95,84 2010 1.258.891.221.523 1.234.007.517.667 98,02 2011 1.380.151.939.081 1.359.835.756.214 98,53 2012 1.440.321.612.149 1.408.047.577.900 97,76

  2013* * 1.681.507.379.744 1.640.305.516.161 97,55 Rata- rata 97,54

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Meskipun realisasi Belanja Tidak Langsung (BTL) selama tahun 2009-2013 setiap tahunnya mengalami pertumbuhan positif, namun apabila ditinjau dari kontribusinya terhadap total belanja daerah mengalami penurunan dari sebesar 81,04% pada tahun 2009 menjadi 55,91% pada tahun 2013 dan secara rata-rata mencapai 68,73% . Rasio Realisasi Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah selama tahun 2009-2013 setiap tahunnya cenderung berfluktuatif berkisar antara 51,64% hingga 60,34% , dan secara rata-rata pertahunnya mencapai 58,23% atau masih lebih besar dibandingkan dengan rata-rata kabupaten/ kota di Jawa Barat yang berkisar antara 55,51% hingga sebesar 57,61% selama tahun 2009-2012. Selama periode tersebut, rasio belanja pegawai mengalami penurunan meskipun relatif kecil yang menunjukkan upaya rasionalisasi terhadap struktur belanja daerah.

  Gambar 3. 11 Perbandingan Rasio Belanja Pegaw ai terhadap Belanja APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jaw a Barat Tahun 2009- 2013

   Belanja Langsung mengalami peningkatan realisasi dari sebesar Rp.280.411.140.681,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.1.293.768.075.246,00 pada tahun 2013, atau setiap tahunnya mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 48,82% , dengan kontribusi terhadap total Belanja Daerah secara-rata-rata sebesar 31,27% . Pertumbuhan realisasi Belanja Langsung terbesar terjadi pada tahun 2013 sebesar 78,72% , yang dipergunakan untuk realisasi Belanja Modal sebesar 53,52% , Belanja Barang dan Jasa sebesar 34,35% dan Belanja Pegawai (Bel. Langsung) sebesar 12,14% .

  Gambar 3. 12 Perbandingan Pertumbuhan Realisasi Belanja Langsung dengan Kontribusi Komponen Pembentuk Belanja Langsung pada APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  Tingkat realisasi Belanja Langsung selama tahun 2009-2013 dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan dalam APBD pada periode tersebut, secara rata-rata mencapai 87,02% .

  Tabel 3. 9 Anggaran dan Realisasi Belanja Langsung APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013 Tingkat Tahun Anggaran BL ( Rp) Realisasi BL ( Rp) Capaian ( % ) 298.134.381.791 280.411.140.681 94,06

  2009

511.497.301.778 455.111.229.255

  2010 88,98

  2011 784.757.462.517 651.348.152.546 83,00

943.675.545.821 723.919.655.630

  2012 76,71

  2013* * 1.400.988.265.189 1.293.768.075.246 92,35 Rata- rata 87,02

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Realisasi Belanja Langsung (BL) selama tahun 2009-2013 setiap tahunnya mengalami pertumbuhan positif dan kontribusinya terhadap total belanja daerah cenderung terus meningkat dari sebesar 18,96% pada tahun 2009 menjadi 44,09% pada tahun 2013 dan secara rata-rata mencapai 31,27% .

  

Gambar 3. 13 Perbandingan Pertumbuhan Realisasi Belanja Langsung

dengan Kontribusi Belanja Langsung Thd Total Belanja

APBD Kabupaten Garut Tahun 2009- 2013

  Rasio Realisasi Belanja Modal terhadap Total Belanja Daerah selama tahun 2009-2013 setiap tahunnya cenderung meningkat dari sebesar 5,10% pada tahun 2009 menjadi sebesar 23,60% pada tahun 2013 dan secara rata-rata pertahunnya mencapai 12,31% , namun masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata kabupaten/ kota di Jawa Barat yang berkisar antara 14,71% hingga 20,77% dengan rata-rata selama tahun 2009-2012 sebesar multiplier effect dalam 16,66% . Realisasi Belanja Modal memiliki menggerakkan roda perekonomian daerah. Oleh karena itu, dengan semakin tinggi rasio belanja modal terhadap total belanja daerah, merupakan indikasi positif terhadap upaya perbaikan kualitas struktur belanja daerah dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

  

Gambar 3. 14 Perbandingan Rasio Belanja Modal terhadap Belanja

APBD Kabupaten Garut dan Kabupaten/ Kota di Jaw a Barat

Tahun 2009- 2013

3.1.1.3 Rata- rata pertumbuhan realisasi Pembiayaan daerah

  Pembiayaan Daerah 2.600.476.532 12.049.983.714 13.025.696.060 32.811.146.464 26.911.810.937 126,35

  Selama tahun 2009-2013, realisasi pembiayaan daerah cenderung meningkat setiap tahunnya dari sebesar Rp. 5.031.737.239, 00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp. 306.117.531.345,00 pada tahun 2013, atau secara rata-rata meningkat 553,81% . Sementara itu, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenan (Silpa) selama periode tersebut secara rata-rata tumbuh sebesar 20,37% . Kondisi tersebut disebabkan diantaranya berasal dari adanya pelampuan pendapatan, penghematan belanja, kewajiban pada pihak ketiga yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum terselesaikan dan sisa dana kegiatan lanjutan.

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (Silpa) 121.121.145.154 115.011.901.329 158.212.947.519 341.235.148.759 113.572.949.400 20,37

  3 Pembayaran Pokok Utang 100.476.532 249.983.714 75.696.060 10.000.000.000 16.411.810.937 3313,48 Sisa Lebih

  2 Penyertaan Modal (I nvestasi) Pemerintah Daerah 2.500.000.000 11.800.000.000 10.950.000.000 7.800.000.000 10.500.000.000 92,66

  1 Pembentukan Dana Cadangan 2.000.000.000 15.011.146.464 275,28

  Pembiayaan daerah merupakan transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan/ pengeluaran pembayaran diakui pada saat diterima/ dikeluarkan pada/ dari rekening kas umum daerah. Akuntansi penerimaan pembiayaan dilaksanakan berdasarkan asas bruto yaitu dengan membukukan penerimaan bruto dan tidak mencatat jumlah nettonya (setelah dikompensasikan).

  

Tabel 3. 10

Rata- rata Pertumbuhan Realisasi Pembiayaan Daerah

APBD Kabupaten Garut Tahun 2009 -2013

  3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan 933.932.779

   

  2 Pencairan Dana Cadangan 17.071.150.000

  7.632.213.771 121.121.145.154 116.476.353.086 158.046.302.754 333.029.342.282 407,49

  1 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Sebelumnya

  

I I I Pembiayaan 5.031.737.239 109.071.161.440 102.025.517.455 143.406.999.069 306.117.531.345 553,81

A Penerimaan Pembiayaan Daerah 7.632.213.771 121.121.145.154 116.476.353.086 176.051.385.533 333.029.342.282 406,03

  No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 Rata2 Pertumb uhan ( % )

    B Pengeluaran

3.1.2 Neraca Daerah

  Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah, neraca daerah merupakan salah satu laporan keuangan yang harus dibuat oleh Pemerintah Daerah yang menggambarkan posisi keuangan pemerintah daerah terkait aset, kewajiban dan ekuitas dana. Laporan ini sangat penting bagi manajemen pemerintah daerah, tidak hanya dalam rangka memenuhi kewajiban peraturan perundang-undangan yang berlaku saja, tetapi juga sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang terarah dalam rangka pengelolaan sumber-sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh daerah secara efisien dan efektif.

  Gambaran umum pertumbuhan neraca daerah pada periode tahun 2009-2013 sebagai berikut:  Jumlah Aset Daerah meningkat dari sebesar Rp.1.610.165.822.946,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.3.556.617.372.456,00 pada tahun 2013, atau secara rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 22,30% . Aset lancar mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 18,05% yang menunjukkan bahwa kondisi aset Pemerintah Kabupaten Garut berada pada kondisi sehat; Sementara itu untuk I nvestasi Jangka Panjang secara rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 4,66% ; Aset Tetap sebesar 217,10% ; serta Aset Lainnya sebesar 432,81% .

   Jumlah kewajiban mengalami peningkatan dari Rp.3.817.979.257,00 pada tahun 2009 menjadi Rp.31.222.389.859,00 pada tahun 2013, atau secara rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 137,52% . Kewajiban terdiri dari kewajiban jangka panjang yang mengalami penurunan dengan rata-rata 10,73% serta kewajiban jangka pendek yang mengalami peningkatan secara rata-rata sebesar 206% .

   Kondisi ekuitas dana mengalami peningkatan dari sebesar Rp.1.606.389.680.399,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.3.489.640.373.746,00 pada tahun 2013, atau secara rata-rata tumbuh sebesar 21,83% .

   Kondisi kewajiban dan ekuitas dana mengalami peningkatan dari sebesar Rp.1.610.207.659.655,00 pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp.3.520.862.763.605,00 pada tahun 2013, atau secara rata-rata meningkat 21,96% . Tingginya pertumbuhan Kewajiban dan Ekuitas Dana ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut selalu dapat melaksanakan kewajiban finansial jangka pendek yang cukup tinggi secara tepat waktu.

  Perkembangan neraca daerah dan analisis rasio di Kabupaten Garut Tahun 2009-2013 beserta prosentase rata-rata pertumbuhannya disajikan dalam tabel di bawah ini: RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  III ‐ 20 Tabel 3. 11 Rata- rata Pertumbuhan Neraca Daerah Tahun 2009 s/ d Tahun 2013 No Uraian

  Tahun Rata-rata Pertumbuha n 2009 2010 2011 2012 2013

1 ASET   

  1.1 ASET LANCAR       Kas di Kas Daerah 120.711.791.351 114.577.727.590 157.713.588.174 331.356.536.037 100.561.123.581 18,25   

  

Kas di Bendahara Pengeluaran 421.958.533 530.292.356 583.363.583 1.585.568.730 1.298.104.933 47,34

   Kas di BLUD RSU

  912.220.461 8.188.372.477 11.733.967.762 420,47    Kas di Bendahara Penerimaan 2.185.823.151 3.350.690.690 48.495.209 95.332.709 953.068.373 237,76    Piutang Pajak dan Retribusi 6.793.223.385 17.412.895.386 23.192.993.638 15.116.824.894 25.348.716.756 55,60

     Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran    Bagian Lancar Tagihan Ganti Rugi

     Piutang Pihak Ketiga   

Piutang Lain-Lain 5.159.081.328 4.886.907.365 4.707.549.689 5.039.253.873 4.489.395.153 -3,20

   Piutang Lain-Lain / Bank Jabar    Piutang Lain-Lain / Restitusi Pajak    Persediaan 11.622.720.510 18.562.422.240 20.716.186.144 22.924.521.170 41.493.145.870 40,74    Jumlah Aset Lancar 146.894.598.258 159.320.935.627 207.847.396.898 384.306.409.890 185.877.522.428 18,05

  1.2 I NVESTASI JANGKA PANJANG       I nvestasi Non Permanen    I nvestasi Permanen      

Penyertaan Modal Pemerintah Daerah 51.079.701.909 51.311.011.592 36.375.514.662 46.129.780.677 55.568.324.785 4,66

  

  

Jumlah I nvestasi Permanen 51.079.701.909 51.311.011.592 36.375.514.662 46.129.780.677 55.568.324.785 4,66

   Jumlah I nvestasi Jangka Panjang 51.079.701.909 51.311.011.592 36.375.514.662 46.129.780.677 55.568.324.785 4,66

  1.3 ASET TETAP       Tanah 132.744.309.937 134.960.494.095 137.356.147.395 141.959.931.327 599.136.868.798 82,21   

  

Peralatan dan Mesin 298.440.607.145 334.780.436.396 404.253.893.367 434.212.704.300 457.591.430.967 11,43

  

Gedung dan Bangunan 463.373.543.828 513.392.185.202 527.384.870.111 698.861.401.599 970.859.329.375 21,24

   Jalan. I rigasi dan Jaringan 481.295.526.162 548.700.710.948 621.231.302.078 835.671.468.276 1.092.229.559.724 23,11

     Aset Tetap Lainnya 34.398.511.568 63.855.699.410 66.314.543.277 66.606.816.464 87.262.705.401 30,23 Konstruksi dalam Pengerjaan 48.149.000 2.671.282.283 6.450.454.010 2794,71    Jumlah Aset Tetap 1.410.252.498.640 1.595.689.526.051 1.756.588.905.228 312.790.040.830 3.213.530.348.275 217,10

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  2.1 KEWAJI BAN JANGKA PENDEK       Utang Perhitungan Kepada Pihak

  2.3 EKUI TAS DANA   

  Jumlah Kew ajiban Jangka Panjang 1.340.439.921 1.264.743.861 1.264.743.861 1.245.348.170 800.035.000 - 10,73    JUMLAH KEWAJI BAN 3.817.979.257 22.560.327.602 40.657.699.378 43.748.344.984 31.222.389.859 137,52

  2.2 KEWAJI BAN JANGKA PANJANG       Utang Luar Negeri 75.696.060 0 0 0 0    Utang Dana Talangan Bank I ndonesia 1.264.743.861 1.264.743.861 1.264.743.861 1.245.348.170 800.035.000 -9,32   

  Jumlah Kew ajiban Jangka Pendek 2.477.539.336 21.295.583.741 39.392.955.517 42.502.996.814 30.422.354.859 206,00

     Utang Kepada PDAM 787.225.612    Utang Kepada PT. ASKES 14.834.245.453 23.709.138.832 28.785.289.529 28.785.289.529 27,08   

        Utang Kepada Pihak Ketiga 1.602.012.934 6.368.572.133 15.612.563.194 13.699.545.073 1.624.278.397 85,57    Utang Kepada Bank Jabar Cabang Garut

  Ketiga (PFK) 12.604.730 17.070.095 71.253.491 18.162.212 12.786.933 62,18    Bagian Lancar Utang Luar Negeri 75.696.060 75.696.060    Utang Jangka Pendek Lainnya :

    

  III ‐ 21 No Uraian

     JUMLAH ASET 1.610.165.822.946 1.808.608.092.995 2.041.501.224.278 2.686.111.616.585 3.556.617.372.456 22,30         

  Aset Lain-lain 34.962.014.500 49.527.628.689 41.246.933.863 12,47    Jumlah Aset Lainnya 1.980.860.848 2.286.619.725 38.662.407.490 58.620.671.769 101.641.176.968 432,81

  1.5 ASET LAI NNYA       Tagihan Penjualan Angsuran 26.300.000 26.300.000 26.300.000 26.300.000 26.300.000 0,00    Tuntutan Ganti Rugi 148.781.250 363.031.250 350.481.250 394.157.000 367.357.000 36,55    Piutang pada PD. BPR 585.829.500 585.829.500 1.888.777.550 1.888.777.550 1.888.777.550 55,60    Penyertaan Modal Terarah    Piutang Pasien 1.219.677.202 1.311.186.079 1.434.561.294 1.620.430.108 1.587.780.743 6,96    Aktiva Tidak Produktif 272.896 272.896 272.896 5.163.378.422 30.250.327.812 473113,51

  2.000.000.000 17.071.150.000 326,78

  2.000.000.000 17.071.150.000 326,78 Jumlah Dana Cadangan

  1.4 DANA CADANGAN    Dana Cadangan

  Tahun Rata-rata Pertumbuha n 2009 2010 2011 2012 2013

2 KEWAJI BAN

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014‐2019

  III ‐ 22 No Uraian

  Tahun Rata-rata Pertumbuha n 2009 2010 2011 2012 2013

    

        Selisih Lebih Pembiayaan Anggaran (SI LPA) :

EKUI TAS DANA LANCAR

  121.121.145.154 115.051.213.514 159.125.283.215 341.068.388.759 13.572.949.400 12,90    Pendapatan yang ditangguhkan 2.185.823.151 3.390.427.027 61.130.721 139.258.982 960.528.316 168,62    Cadangan Piutang 11.952.304.713 22.299.802.751 27.900.543.327 20.156.078.767 29.838.111.909 32,99    Cadangan Persediaan 11.622.720.510 18.562.422.240 20.716.186.144 22.924.521.170 41.493.145.870 40,74    Dana yang harus disediakan untuk :

        Pembayaran Utang Jangka Pendek -2.464.934.606 -21.278.513.646 -39.321.702.026 -42.484.834.602 -30.409.567.926 206,92   

  Jumlah Ekuitas Dana Lancar : 144.417.058.922 138.025.351.886 1.830.362.083.519 341.803.413.076 55.455.167.569 264,14    EKUI TAS DANA I NVESTASI      

  Diinvestasikan Dalam I nvestasi Jangka Panjang 51.079.701.909 51.311.011.592 36.375.514.662 46.129.780.677 55.568.324.785 4,66   

  Diinvestasikan Dalam Aset Tetap 1.410.252.498.640 1.595.689.526.051 1.756.588.905.228 2.179.983.604.249 3.185.785.347.486 23,37    Diinvestasikan Dalam Aset lainnya 1.980.860.848 2.286.619.725 38.662.407.490 58.620.671.769 193.631.568.906 472,05    Dana yang harus disediakan untuk :   

     Pembayaran Utang Jangka Panjang -1.340.439.921 -1.264.743.861 -1.264.743.861 -1.264.743.861 -800.035.000 -10,60    Jumlah Ekuitas Dana I nvestasi : 1.461.972.621.476 1.648.022.413.507 1.830.362.083.519 2.283.469.312.834 3.434.185.206.177 24,73 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan 0 0 2.000.000.000 17.090.545.691 0 327,26 Jumlah Ekuitas Dana Cadangan :

  2.000.000.000 17.090.545.691 327,26    JUMLAH EKUI TAS DANA : 1.606.389.680.399 1.786.047.765.393 2.000.843.524.900 2.642.363.271.601 3.489.640.373.746 21,83   

JUMLAH KEWAJI BAN DAN EKUI TAS DANA 1.610.207.659.655 1.808.608.092.995 2.041.501.224.278 2.686.111.616.585 3.520.862.763.605 21,96

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

3.2 Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu

  Kebijakan pengelolaan pendapatan daerah diarahkan kepada :

   Pendapatan Asli Daerah

  1. Peningkatan pelayanan pajak dan retribusi kepada masyarakat;

  2. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan retribusi daerah;

  3. I ntensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah;

  4. Operasionalisasi, Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan Peraturan Daerah tentang Pajak dan Retribusi Daerah;

  5. Memberikan insentif/ bonus dan penghargaan kepada SKPD yang berhasil mencapai atau melampaui target, dan menjatuhkan sanksi kepada SKPD yang tidak berhasil mencapai target penerimaan pendapatan daerah secara optimal dalam satu tahun anggaran.

   Dana Perimbangan

  1) I ntensifikasi dan ekstensifikasi pajak Bumi dan Bangunan (PBB); 2) Peningkatan koordinasi antara instansi pengelola pajak pemerintah dan pajak daerah

   Arah Pengelolaan Belanja Daerah Kebijakan Belanja

  1) Meningkatkan porsi belanja publik untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kepada masyarakat; 2) Meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan belanja.

  Kebijakan Pembiayaan

  1) Pada posisi penerimaan daerah, ditempuh kebijakan melalui upaya pinjaman daerah (Pinjaman jangka pendek dan jangka panjang); 2) Pada posisi pengeluaran daerah, ditempuh kebijakan peningkatan transfer ke dana cadangan dan peningkatan efisiensi penyertaan modal kepada perusahaan milik daerah.

3.2.1 Proporsi Penggunaan Anggaran

  Dalam bagian ini diuraikan mengenai proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur selama 3 (tiga) tahun terakhir.

  

Tabel 3. 12

Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur

Tahun 2011 s/ d Tahun 2013

  Total belanja untuk Total pengeluaran Rasio Belanja pemenuhan ( Belanja + aparatur terhadap No Uraian kebutuhan aparatur Pembiayaan Total Pengeluaran ( Rp) Pengeluaran) ( Rp) ( % )

  

1 Tahun anggaran 2011 1.150.091.894.918 2.024.209.495.910 56,82

  

2 Tahun anggaran 2012 1.321.605.550.474 2.164.778.379.994 61,05

  

3 Tahun anggaran 2013 1.515.276.256.027 2.960.985.402.344 51,17 Sumber : DPPKA Kab. Garut Belanja Pemenuhan kebutuhan aparatur selama tahun 2011-2013 khususnya terkait kebutuhan belanja pegawai (tidak langsung) mengalami peningkatan setiap tahunnya dari sebesar Rp. 1.150.091.894.918,00 pada tahun 2011 menjadi sebesar Rp. 1.515.276.256.027,00 pada tahun 2013, dengan rasio terhadap Total Pengeluaran APBD berkisar antara 51,17% hingga 61,05% , yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja Gaji dan Tunjangan PNSD, Tambahan Penghasilan PNSD, Belanja Penerimaan Lainnya Pimpinan dan Anggota DPRD serta KDH / WKDH, serta Belanja Pemungutan Pajak Daerah.

  Tabel 3. 13 Defisit Riil Anggaran Tahun 2011 s/ d Tahun 2013 Kabupaten Garut 2011 2012 2013 NO Uraian ( Rp) ( Rp) ( Rp)

  1. Realisasi Pendapatan Daerah 2.067.371.338.824 2.329.795.383.220 2.741.529.009.462 Dikurangi realisasi:

2. Belanja Daerah 2.011.183.908.760 2.131.967.233.530 2.934.073.591.407

  3. Pengeluaran Pembiayaan Daerah 13.025.696.060 32.811.146.464 26.911.810.937

A Defisit riil 43.161.734.004 165.017.003.226 -219.456.392.882

Ditutup oleh realisasi Penerimaan Pembiayaan: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

4. (SiLPA) Tahun Anggaran 115.051.213.515 158.213.062.754 333.029.342.282

sebelumnya

  5. Pencairan Dana Cadangan 17.071.150.000 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah

  6.

  933.932.779 Yang di Pisahkan Total Realisasi Penerimaan B 115.051.213.515 176.218.145.533 333.029.342.282 Pembiayaan Daerah Sisa lebih pembiayaan anggaran

  

A+ B 158.212.947.519 341.235.148.759 113.572.949.400

tahun berkenaan Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Tabel 3. 14 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun 2011 s/ d Tahun 2013 2011 2012 2013 % % % No. Uraian Rp dari Rp dari Rp dari SiLPA SiLPA SiLPA

  1. Jumlah SiLPA 158.212.947.519 341.235.148.759 113.572.949.400 Pelampauan

  2.

  28.708.955.316 8,41 8.519.285.906 7,50 penerimaan PAD Pelampauan penerimaan

  3. 14.304.345.398 9,04 41.060.055.469 12,03 dana perimbangan Pelampauan penerimaan lain- 4.

  17.383.780.600 5,09 lain pendapatan daerah yang sah

  No. Uraian 2011 2012 2013 Rp % dari SiLPA Rp % dari SiLPA Rp % dari SiLPA 5.

  Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya

  6. Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan

  7. Kegiatan lanjutan Sumber : DPPKA Kab. Garut

3.3 Kerangka Pendanaan

3.3.1 Analisis pengeluaran periodik w ajib dan mengikat serta prioritas utama

  1 Belanja Pegawai 927,88 986,08 1.046,72 1.244,67 10,44

  2 Belanja Bunga 0,01 0,00 0,00 0,00

  3 Bantuan Keuangan 90,94 68,99 69,25 74,60 -5,34

  4 Dana Daerah Otonomi Baru 0,00 0,00 0,00 5,00

  5 Dana Penyesuaian 386,70 266,80 422,63 418,31 8,79

  Tabel 3. 15 Pengeluaran Periodik,Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Garut ( Milyar Rupiah) No Uraian 2011 2012 2013 2014* * Rata- rata Pertum buhan ( % ) A Belanja Tidak Langsung 1.450,25 1.327,92 1.592,88 1.761,67 7,37

  7 Belanja Tidak Terduga 2,73 6,05 1,64 10,50 196,78 B Belanja Langsung 441,32 487,89 604,94 664,46 14,79

  1 Belanja Administrasi Perkantoran 124,75 86,00 116,58 119,03 2,20

  2 Penyediaan Jasa Pendukung Administrasi/ Teknis (TKK) 16,88 15,79 16,08 16,70 -0,25

  3 Dana Alokasi Khusus 114,33 142,61 179,73 146,58 10,77

  4 Pendamping DAK 11,43 14,26 17,97 13,49 8,61

  5 Manajemen DAK 3,17 3,95 4,98 4,06 10,77

  6 Belanja Bantuan Provinsi 99,99 108,90 107,01 118,78 6,06

  7 Belanja DBHCHT 6,97 10,40 8,10 17,00 45,70

  Analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat tergambar pada realisasi belanja wajib dan mengikat serta prioritas utama seperti pada digambarkan pada tabel sebagai berikut:

  6 Hibah 41,99 0,00 52,65 8,59

  Rata- rata Pertum No Uraian 2011 2012 2013 2014* * buhan ( % ) 0,00 0,00 0,00 59,69

  8 Belanja Pajak Rokok Pelayanan Kesehatan

9 63,79 88,13 137,48 106,00 23,75

(RSUD)

  0,00 0,00 0,00 0,00

  10 Jaminan Kesehatan Daerah 0,00 2,72 3,17 63,11

  11 Jaminan Kesehatan Nasional 0,00 15,14 13,83 0,00

  12 Jaminan Persalinan

C Pembiayaan Pengeluaran 13,03 32,81 26,91 21,30 37,69

  1 Pembayaran Pokok Hutang 0,08 10,00 16,41 4,70 2,00 15,01 0,00 5,00

  2 Dana Cadangan Pilkada 10,95 7,80 10,50 11,60

  3 Penyertaan Modal 5,44 TOTAL ( A+ B+ C) 1.904,59 1.848,63 2.224,74 2.447,42 9,14

  Sumber : DPPKA Kab. Garut, * * ) merupakan Anggaran APBD Murni Kapasitas

3.3.2 Proyeksi Riil Kemampuan Keuangan Daerah Tahun 2014 – 2019

A. Kebijakan dan Proyeksi Pendapatan Daerah

  Sejalan dengan kebutuhan pendanaan pembangunan daerah yang terus meningkat, upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan harus terus dilakukan baik terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), pendapatan yang bersumber dari pusat (Dana Perimbangan), serta pendapatan lain-lain. Saat ini sumber pendapatan dari PAD masih relatif kecil dibandingkan dengan dana perimbangan. Kebijakan umum pendapatan daerah diarahkan untuk mendorong peningkatan pendapatan daerah yang diproyeksikan dapat meningkat sebesar 7% setiap tahunnya melalui mobilisasi pendapatan asli daerah dan penerimaan daerah lainnya, meliputi : (1)

  Pendapatan Asli Daerah (PAD) :

  a. Peningkatan pelayanan pajak dan retribusi kepada masyarakat;

  b. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan retribusi daerah; c. I ntensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah;

  d. Operasionalisasi, Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan Peraturan Daerah tentang Pajak dan Retribusi Daerah; e. Memberikan insentif/ bonus dan penghargaan kepada SKPD yang berhasil mencapai atau melampaui target, dan menjatuhkan sanksi kepada SKPD yang tidak berhasil mencapai target penerimaan pendapatan daerah secara optimal dalam satu tahun anggaran; f. Optimalisasi upaya penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan

  Perkotaan/ Perdesaan;

  (2) Dana Perimbangan :

  a. Peningkatan koordinasi antara instansi pengelola pajak pemerintah dan pajak daerah; b.

  Peningkatan koordinasi dengan Kementerian yang mengelola Dana Alokasi Khusus (DAK);

  (3) Lain-lain Pendapatan Yang Sah

  Kebijakan penerimaan lain-lain pendapatan yang sah diarahkan untuk dapat meningkatkan penerimaan pendapatan dari dana bagi hasil pajak dari provinsi, bantuan keuangan dari provinsi maupun hibah dari pemerintah melalui peningkatan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat.

  Tabel 3. 16 Proyeksi Pendapatan Daerah Tahun 2014- 2019 Data Tingkat Proyeksi ( Milyar Rp) Tahun 2014 Pertum No Uraian ( Milyar Rp) buhan ( % ) 2015 2016 2017 2018 2019

  

1 PENDAPATAN 2.927,34 7,00 3.132,25 3.351,51 3.586,12 3.837,14 4.105,74

Pendapatan Asli

1.1 255,10 7,00 272,96 292,07 312,51 334,39 357,79

Daerah

  

1.1.1 Hasil Pajak Daerah 51,92 7,00 55,56 59,45 63,61 68,06 72,82

  1.1.2 Hasil Retribusi Daerah 16,07 10,55 17,77 18,40 19,69 21,07 22,54 Hasil Pengelolaan

  

1.1.3 Kekayaan Daerah Yang 3,56 -9,01 3,24 4,08 4,36 4,67 4,99

Dipisahkan

  1.1.4 Lain-Lain PAD Yang Sah 183,55 7,00 196,39 210,14 224,85 240,59 257,43

1.2 Dana Perimbangan 2.060,01 7,00 2.204,21 2.358,50 2.523,60 2.700,25 2.889,27

  Bagi Hasil Pajak / Bagi

1.2.1 210,97 7,00 225,74 241,54 258,45 276,54 295,89

Hasil Bukan Pajak

  1.2.2 Dana Alokasi Umum 1.702,45 7,00 1.821,62 1.949,14 2.085,58 2.231,57 2.387,78

  1.2.3 Dana Alokasi Khusus 146,58 7,00 156,85 167,82 179,57 192,14 205,59 Lain-Lain Pendapatan

  

1.3 612,23 7,00 655,09 700,94 750,01 802,51 858,68

Yang Sah Pendapatan Hibah dari

1.3.1 3,00 7,00 3,21 3,43 3,68 3,93 4,21

Pemerintah Dana Bagi Hasil Pajak

  

1.3.2 72,14 7,00 77,19 82,59 88,38 94,56 101,18

dari Provinsi Dana Penyesuaian dan

1.3.3 418,31 7,00 447,59 478,92 512,44 548,31 586,70

Otonomi Khusus : Bantuan Keuangan dari

  

1.3.4 Provinsi atau Pemerintah 118,78 7,00 127,10 135,99 145,51 155,70 166,60

Daerah Lainnya Sumber : DPPKA Kab. Garut

B. Kebijakan dan Proyeksi Belanja Daerah

  Arah Kebijakan Pengelolaan Belanja Daerah :

  1. Memenuhi pelaksanaan Program Unggulan yang merupakan Program Prioritas dalam pembangunan daerah selama 5 tahun;

  2. Memenuhi pelaksanaan program prioritas daerah lainnya sesuai dengan urusan pemerintahan yang harus dilaksanakan;

  3. Memenuhi pelaksanaan program yang bersifat pemenuhan standar pelayanan minimal dan operasional;

  4. Mengakomodir semaksimal mungkin program pembangunan yang dijaring melalui Aspirasi Masyarakat dalam Musrenbang;

  5. Mengedapankan program-program yang menunjang pertumbuhan ekonomi, peningkatan penyediaan lapangan kerja dan upaya pengentasan kemiskinan;

  6. Melaksanakan program-program yang bersifat mengikat seperti halnya dukungan pencapaian target pembangunan, pemenuhan ketentuan perundang-undangan (anggaran pendidikan lebih dari 20 persen), serta pendampingan program-program pemerintah pusat;

  7. Meningkatkan pelayanan masyarakat dari tingkat Desa/ Kelurahan, Kecamatan, hingga Kabupaten;

  8. Menyesuaikan gaji pegawai sesuai dengan kebijakan Pemerintah.

  Tabel 3. 17 Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2014- 2019 Tingkat Data Proyeksi ( Milyar Rp) Pertum Tahun 2014 No Uraian buhan ( Milyar Rp) 2015 2016 2017 2018 2019 ( % ) Belanja Tidak

A. 1.884,25 2.032,00 2.197,98 2.358,35 2.526,36 2.706,75 Langsung 7,84%

  

1 Belanja Pegawai 1.782,15 1.938,02 2.107,75 2.277,68 2.445,21 2.625,08

8,75%

  2 Belanja Bunga

  3 Belanja Subsidi

  

4 Belanja Hibah 2,58 0,77 0,85 0,94 1,03

8,59 -70,00% Belanja Bantuan

5 3,38 3,62 3,87 4,14 4,43 4,74

Sosial 7,00%

  

6 Belanja Bagi Hasil 0,03 0,03 0,04 0,04 0,04 0,04

7,00% Belanja Bantuan

7 74,60 74,60 74,60 74,60 74,60 74,60

Keuangan 0,00% Belanja Tidak

  

8 10,50 3,15 0,95 1,04 1,14 1,26

Terduga -70,00% Dana Daerah 5,00 10,00 10,00 0,00 0,00 0,00 Otonomi Baru 100,00% Belanja

B. 1.115,35 1.193,43 1.276,97 1.366,35 1.462,00 1.564,34 Langsung 7,00%

  

1 Belanja Pegawai 167,08 178,78 191,29 204,68 219,01

150,90 10,72% Belanja Barang

2 564,83 608,65 651,25 696,84 745,62 797,81

dan Jasa 7,76%

  

3 Belanja Modal 399,62 417,70 446,94 478,22 511,70 547,52

4,52% Total Belanja 2.999,60 7,53% 3.225,42 3.474,94 3.724,70 3.988,36 4.271,09

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

C. Kebijakan dan Proyeksi Pembiayaan Daerah

  Arah Kebijakan Pengeloaan pembiaayan daerah meliputi : 1) Pada posisi penerimaan daerah, ditempuh kebijakan melalui upaya pinjaman daerah (Pinjaman jangka pendek dan jangka panjang); 2) Pada posisi pengeluaran daerah, ditempuh kebijakan peningkatan transfer ke dana cadangan dan peningkatan efisiensi penyertaan modal kepada perusahaan milik daerah.

  Tabel 3. 18 Proyeksi Pembiayaan Daerah Tahun 2014- 2019 Tingkat Data Proyeksi ( Milyar Rp) Pertum Tahun 2014 No Uraian buhan ( Milyar Rp) 2015 2016 2017 2018 2019 ( % ) PEMBI AYAAN 72,27 93,17 123,43 138,59 126,22 165,35 PENERI MAAN

A PEMBI AYAAN 93,57 23,21% 115,28 145,67 160,95 148,61 187,86

DAERAH

  Sisa Lebih Pembiayaan 93,57 23,21% 115,28 145,67 160,95 148,61 187,86 Anggaran Tahun

  Sebelumnya PENGELUARAN

  3,81%

B PEMBI AYAAN 21,30 22,11 22,24 22,36 22,39 22,52

DAERAH

  Pembentukan Dana 5,00 0,00% 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 Cadangan Penyertaan Modal (I nvestasi) 11,60 7,00% 12,41 12,54 12,66 12,79 12,92 Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok 4,70 0,00% 4,70 4,70 4,70 4,60 4,60 Utang

  Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Kapasitas riil kemampuan keuangan Daerah untuk mengalokasikan Dana program Pembangunan pada tahun 2014-2019 seperti tercantum di dalam tabel berikut :

  Tabel 3. 19 Proyeksi Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Untuk Mendanai Pembangunan Daerah Realisasi ( Milyar Rupiah) Uraian 2015 2016 2017 2018 2019 KAPASI TAS RI I L   

  • Pendapatan 3.132,25 3.351,51 3.586,12 3.837,14 4.105,74
  • Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran 3.132,25 3.351,51 3.586,12 3.837,14 4.105,74

TOTAL PENERI MAAN

  dikurangi Belanja Pengeluaran Wajib & Mengikat

  

Belanja Pegawai 1.362,91 1.492,38 1.619,24 1.740,68 1.871,23

  Realisasi ( Milyar Rupiah) Uraian 2015 2016 2017 2018 2019 Penyertaan Modal 12,41 12,54 12,66 12,79 12,92 Belanja Bunga Pembayaran Pokok Hutang 4,70 4,70 4,70 4,60 4,60 Dana Cadangan Pilkada 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 Bantuan Keuangan 74,60 74,60 74,60 74,60 74,60 Belanja Administrasi Perkantoran 120,22 121,42 122,63 123,86 125,10

  Penyediaan Jasa Pendukung 10,02 5,01 2,51 1,25 0,63 Administrasi/ Teknis (TKK) Dana Daerah Otonomi Baru 10,00 10,00

  Dana Alokasi Khusus 156,85 167,82 179,57 192,14 205,59 Pendamping DAK 14,44 15,45 16,53 17,69 18,93 Manajemen DAK 4,35 4,65 4,98 5,33 5,70 Belanja Bantuan Provinsi 127,10 135,99 145,51 155,70 166,60 Belanja DBHCHT 18,19 19,46 20,83 22,28 23,84 Belanja Pajak Rokok 63,87 68,34 73,13 78,24 83,72 Dana Penyesuaian 447,59 478,92 512,44 548,31 586,70 Pelayanan Kesehatan (RSUD) 113,42 121,36 129,85 138,94 148,67 Jaminan Kesehatan Daerah 3,32 3,56 3,80 4,07 4,36 Jaminan Kesehatan Nasional 64,20 68,69 73,50 78,65 84,15 Hibah 2,58 0,77 0,85 0,94 1,03 Belanja Tidak Terduga 3,15 0,95 1,04 1,14 1,26

  JUMLAH PENGELUARAN MENGI KAT 2.618,91 2.811,63 3.003,39 3.206,23 3.424,62 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan 513,34 539,88 582,73 630,92 681,12 Peningkatan ( % ) 7,00 5,17 7,94 8,27 7,96 Sumber : DPPKA Kab. Garut

3.3.3. Penghitungan Kerangka Pendanaan

  Dari perhitungan proyeksi kapasitas riil kemampuan keuangan untuk mendanai pembangunan daerah sebagaimana disajikan pada tabel 3.19, menunjukkan bahwa proyeksi pertumbuhan kapasitas riil kemampuan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Garut setiap tahunnya adalah berkisar antara 5,17% hingga 8,27% , sehingga dengan asumsi peningkatan tersebut, maka pendanaan Pembangunan daerah 5 tahun Kedepan yaitu tahun 2014-2019 hingga berakhirnya masa berlaku RPJMD yang bersumber dari Dana Pendapan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan lain- lain Pendapatan yang sah yaitu:

  1. Proyeksi tahun 2015 sebesar Rp. 513,34 Milyar

  2. Proyeksi tahun 2016 sebesar Rp. 539,88 Milyar 3.

  Proyeksi tahun 2017 sebesar Rp. 582,73 Milyar 4. Proyeksi tahun 2018 sebesar Rp. 630,92Milyar

  5. Proyeksi tahun 2019 sebesar Rp. 681,12 Milyar

Tabel 3.20 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Mendanai Pembangunan Daerah Tahun 2015 s/ d Tahun 2019 Proyeksi ( Milyar Rupiah) No. Uraian Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2015 2016 2017 2018 2019

  1. Pendapatan 3.132,25 3.351,51 3.586,12 3.837,14 4.105,74

  2. Pencairan dana cadangan (sesuai Perda)

  3. Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran

Total penerimaan 3.132,25 3.351,51 3.586,12 3.837,14 4.105,74

Dikurangi: Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang 4.

  2.618,91 2.811,63 3.003,39 3.206,23 3.424,62 Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kapasitas riil kemampuan keuangan 513,34 539,88 582,73 630,92 681,12 Sumber : DPPKA Kab. Garut

Tabel 3.21 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Kabupaten Garut Tahun 2015 s/ d Tahun 2019 Proyeksi ( Milyar Rupiah) Uraian Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun No

  2015 2016 2017 2018 2019

  I Kapasitas riil kemampuan keuangan 513,34 539,88 582,73 630,92 681,12 Rencana alokasi pengeluaran prioritas I (Prioritas

  I I Kabupaten, program unggulan ( dedicated) Kepala 453,13 457,59 473,88 475,94 474,98 daerah) Rencana alokasi pengeluaran prioritas I I (Prioritas

  I I I 56,80 59,74 64,48 69,82 75,37

  SKPD) Rencana alokasi pengeluaran prioritas I I I (Belanja

  

I V Tidak Langsung Bantuan Sosial, Bagi Hasil Kepada 3,40 3,58 3,87 4,19 4,52

Pemdes) Surplus anggaran riil atau Berimbang ( I - I I - 0 0 0 0 0

  I I I -I V) * Sumber : DPPKA Kab. Garut

  Jumlah Kapasitas Rill Kemampuan Keuangan Daerah yang ada tersebut merupakan modal Pemerintah Daerah dalam membiayai : a.

  Rencana Alokasi Prioritas I , Yakni berkaitan dengan Tema atau Program Unggulan ( dedicated) Kepala Daerah sebagai mana diamanatkan didalam RPJMD, dan amanat kebijakan Nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah seperti prioritas bidang pendidikan 20% dan Kesehatan 10% serta penanggulangan Kemiskinan. Selain itu program prioritas I ini berhubungan langsung dengan kepentingan publik, bersifat monumental, berskala besar, dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang tinggi, memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit yang tinggi pada capaian visi – misi Daerah serta diprioritaskan pada belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan perundang- undangan.

b. Rencana Alokasi Prioritas I I , Yakni berkaitan dengan program unggulan ditingkat

  SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing Segmentasi Masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan.

  c.

  Rencana alokasi prioritas I I I , Yakni dialokasikan untuk belanja-belanja tidak langsung seperti belanja bantuan sosial Organisasi Kemasyarakatan, serta belanja bagi hasil kepada Pemerintahan Desa. Pengalokasian pada prioritas I I I mendahulukan pemenuhan Dana pada prioritas I dan I I terlebih dahulu.

  Kerangka pendanaan guna memenuhi kebutuhan pembangunan daerah, disamping dari jumlah kapasitas rill kemampuan keuangan daerah yang ada, juga mendapat dukungan pendanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Pusat terutama terkait pemenuhan Program Janji Gubernur Jawa Barat, Prioritas Tematik Sektoral maupun Tematik Wilayah Provinsi Jawa Barat serta Prioritas Pembangunan Nasional.

BAB I V ANALI SI S I SU- I SU STRATEGI S I su strategis merupakan suatu kondisi atau hal yang harus diperhatikan dalam

  perencanaan pembangunan karena memiliki dampak yang signifikan bagi daerah dimasa datang. Analisis isu-isu strategis diidentifikasi berdasarkan berbagai permasalahan yang sangat mendesak dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap keberhasilan dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang berlangsung selama pelaksanaan RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2009-2014. Kemudian disusun menjadi isu strategis pembangunan yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang yang akan muncul dalam 5 (lima) tahun mendatang, termasuk mengantisipasi berbagai ancamannya. Sehingga identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis dalam upaya mencapai visi dan misi pembangunan jangka panjang sesuai dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, diharapkan dapat meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan daerah, dapat dioperasionalkan serta secara moral maupun etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan.

4.1 Permasalahan Pembangunan

  Permasalahan pembangunan daerah merupakan “ gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang target sasaran kinerja yang telah direncanakan. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal, kelemahan yang tidak diatasi, peluang yang tidak dimanfaatkan, dan ancaman yang tidak diantisipasi. I dentifikasi permasalahan pembangunan diuraikan menurut permasalahan pokok pembangunan daerah yang melibatkan berbagai urusan serta berbagai permasalahan yang terkait dengan urusan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah. Selanjutnya identifikasi permasalahan pembangunan daerah akan menjadi dasar dalam penentuan isu-isu strategis pembangunan jangka menengah daerah sebagai salah satu input bagi perumusan tujuan dan sasaran yang bersifat prioritas sesuai platform Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.

4.1.1. Permasalahan Pokok Pembangunan Daerah 1) Masih Rendahnya Pencapaian I ndeks Pembangunan Manusia

  Memperhatikan kecenderungan pencapaian I PM dan komponen- komponennya, meskipun dapat meningkat setiap tahunnya namun peningkatannya belum terlalu signifikan hanya berkisar antara 0,3 - 0,6 poin. Disamping itu, kondisi I PM Kabupaten Garut sampai Tahun 2012 masih terpaut 1,07 poin dari I PM Jawa Barat sebesar 73,19 poin dan terpaut 1,17 poin dari I PM Nasional. Hal ini menggambarkan bahwa capaian kinerja pembangunan manusia di Kabupaten Garut secara umum masih berada dibawah rata-rata pencapaian Jawa Barat dan Nasional pada umumnya. Berdasarkan RPJPD Kabupaten Garut Tahun 2005-2025, target I PM pada akhir tahun 2019 sebesar 79,03 dan masih terpaut 6,91 poin dari pencapaian I PM tahun 2012 sebesar 72,12 poin. Guna mencapai target I PM tersebut, setiap tahunnya secara rata-rata harus meningkat sekitar 0,99 poin, sementara kecenderungan realisasi peningkatan I PM setiap tahunnya hanya berkisar antara 0,3 - 0,6 poin. Oleh karenanya terhadap tantangan peningkatan I PM pada masa datang diperlukan adanya upaya akselerasi pencapaian I PM dengan lebih terfokus pada permasalahan yang masih dihadapi dalam pencapaian setiap komponen I PM terutama pada upaya peningkatan I ndeks Kesehatan dalam menekan tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka kematian I bu (AKI ), serta peningkatan I ndeks Pendidikan terutama dalam rata-rata lama sekolah penduduk. Oleh karenanya pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat harus senantiasa ditingkatkan untuk menjamin peningkatan I ndeks Pendidikan dan I ndeks Kesehatan, disamping untuk terus menigkatkan kemampuan daya beli masyarakat.

  Pada pencapaian I ndeks Pendidikan, permasalahan yang dihadapi yaitu masih rendahnya pencapaian rata-rata lama sekolah masih terpaut 0,78 tahun dari capaian Jawa Barat, yang secara makro menunjukkan bahwa rata-rata penduduk dewasa Kabupaten Garut baru berpendidikan selevel dengan kelas satu SMP dan berbanding lurus dengan prosentase terbesar penduduk berdasarkan tingkat pendidikan terakhir mayoritas berijasah/ STTB SD/ MI / sederajat. Kondisi ini menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan terutama pendidikan menengah yang masih relatif rendah. Pada pencapaian I ndeks Kesehatan, permasalahan yang dihadapi yaitu masih relatif tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) terpaut 19 kasus per 1.000 kelahiran hidup dari capaian Jawa Barat yang sangat berpengaruh pada rendahnya Angka Harapan Hidup (terpaut 2,21 dari capaian Jawa Barat). Salah satu faktor utama yang menghambat akselerasi dari pertumbuhan AHH banyak disebabkan karena masih tingginya persentase penolong kelahiran yang dilakukan oleh tenaga nonmedis serta pengetahuan ibu yang masih minim tentang kesehatan balita yang juga terefleksi dari RLS wanita di Kabupaten Garut yang masih rendah. Pada pencapaian I ndeks Daya Beli, permasalahan yang dihadapi yaitu tingginya pengaruh kondisi eksternal Kabupaten Garut, seperti kebijakan fiskal, moneter dan kenaikan harga BBM terhadap dinamika kekuatan daya beli masyarakat, sehingga mempengaruhi yaitu faktor pendapatan masyarakat dan inflasi harga barang dan jasa. Tingginya kesenjangan status kesehatan dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan antarwilayah, belum optimalnya penggunaan teknologi di bidang kesehatan merupakan kondisi yang menjadi tantangan bagi para pemangku kepentingan untuk mengatasinya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mutlak diperlukan program-program percepatan di sektor kesehatan untuk dapat menekan angka kematian bayi serta mewujudkan tingkat ketersediaan dan penyebaran fasilitas serta tenaga medis yang memadai. Disamping itu lebih penting lagi, diperlukan pengembangan perilaku Hidup

  Bersih dan Sehat (PHBS) yang dinilai masih jauh dari harapan. Kebutuhan dasar ini perlu pula didukung peningkatan SDM tenaga kesehatan, serta meningkatkan peran aktif masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sehingga dengan demikian diharapkan tingkat keterjangkauan masyarakat pada pelayanan kesehatan dapat maksimum guna menunjang pembangunan di bidang kesehatan.

  Berkenaan dengan peningkatan waktu rata-rata lama sekolah dapat ditempuh dengan mengupayakan agar tidak ada lagi peserta didik yang putus sekolah, dengan memperkecil angka putus sekolah dan meningkatkan jumlah angka yang melanjutkan antar jenjang pendidikan melalui peningkatan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD), peningkatan partisipasi sekolah jenjang pendidikan dasar yang bermutu, peningkatan akses dan mutu pendidikan menengah, peningkatan akses dan daya saing pendidikan tinggi, peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, serta penyelenggaraan pendidikan non formal berupa kejar Paket A setingkat SD, Paket B setingkat SMP dan Paket C setingkat SMA. Dalam rangka meningkatkan partisipasi pendidikan masyarakat, dilakukan peningkatan aksesibilitas pendidikan melalui peningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana sekolah melalui pembangunan USB, RKB, peningkatan perbaikan/ rehab sekolah, maupun penyelenggaraan pendidikan SMP Terbuka/ Satu Atap terutama di daerah terpencil.

  Sementara itu, untuk meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat, kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah perlu lebih diarahkan pada upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha-usaha produktif dan mengurangi beban biaya hidup masyarakat.

2) Aksesibilitas dan Pelayanan di Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Keluarga Berencana

  Bidang pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan daya saing daerah. Permasalahan yang masih dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan diantaranya menyangkut masih banyaknya prasarana dan sarana pendidikan yang perlu diperbaiki. Dalam rangka meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah tidak hanya ditentukan oleh jumlah murid, tetapi juga ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur sekolah yang memadai dalam mengimbangi perkembangan jumlah penduduk usia sekolah. Sampai tahun 2013, kondisi ruang kelas yang rusak berat untuk jenjang SD sebanyak 28,59% , jenjang SMP sebanyak 3,86% , jenjang SMA sebanyak 10,66% , dan untuk jenjang SMK sebanyak 8,53% . Sementara itu untuk pendidikan keagamaan jenjang MI dalam kondisi rusak berat mencapai sebesar 10,90% , jenjang MTs sebesar 10,42% dan MA sebesar 7,06% . Disamping itu, tingkat ketersediaan tenaga pendidik masih terbatas apabila dibandingkan dengan jumlah murid yang harus dilayani, yang ditunjukkan melalui Rasio guru/ pada murid pada tahun 2013 untuk jenjang SD sederajat baru mencapai 1: 20 atau masih dibawah standar nasional sebesar 1: 28, untuk jenjang SMP sederajat dengan rasio 1: 17 atau masih dibawah standar nasional sebesar 1: 32, dan untuk jenjang SMA sederajat dengan rasio 1: 14 atau masih dibawah standar nasional sebesar 1: 32. Untuk itu guna memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, diperlukan kebijakan perekrutan dan penempatan tenaga pendidik yang sesuai dengan tingkat kebutuhan.

  Dalam pelayanan bidang kesehatan, permasalahan yang masih dihadapi diantaranya tingkat ketersediaan puskesmas yang masih kurang dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada. Jumlah Puskesmas di Kabupaten Garut pada tahun 2013 mencapai sebanyak 65 buah, dengan Rasio Puskesmas terhadap jumlah penduduk sebesar 1 : 38.869, dan masih di bawah standar nasional yaitu sebesar 1 : 25.000, sehingga memerlukan adanya tambahan untuk dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dasar masyarakat yang disertai dengan pemerataan sarana dan prasarana kesehatan. Jumlah Tenaga Kesehatan selama tahun 2009 - 2013 mengalami peningkatan, namun apabila dibandingkan terhadap jumlah penduduk masih kurang, dimana rasio pemenuhan tenaga Kesehatan adalah 1 : 2.500. Pada tahun 2013, jumlah tenaga dokter mencapai sebanyak 177 orang dan apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk sebanyak 2.526.483 jiwa, maka jumlah dokter yang seharusnya adalah 1.011 orang. Ditinjau dari jumlah Praktek Dokter sudah cukup banyak namun tidak tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Garut, dan sampai saat ini masih ada kecamatan yang tidak memiliki dokter. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang harus dilayani, masih terdapat kekurangan tenaga dokter di Kabupaten Garut. Kondisi yang sama juga terjadi untuk tenaga kesehatan lainnya yaitu perawat dan bidan yang masih mengalami kekurangan.

  Sementara itu pelayanan kesehatan pada RSUD dr Slamet Garut yang merupakan Rumah Sakit Umum Kelas B, dari sisi jumlah tenaga medis spesialis dasar, dokter umum dan tenaga kebidanan sudah cukup memadai, namun dari jumlah tenaga medis spesialis lain masih kurang terutama spesialis jiwa, dan jumlah sub spesialis dasar. Selain itu, seiring bertambahnya jumlah pasien yang di rawat dan bertambahnya sarana dan prasarana ruang rawat inap kelas

  I I I , keberadaan tenaga keperawatan masih belum memadai. Terkait dengan upaya penurunan kematian ibu akibat melahirkan, selama Tahun 2009 – 2013, jumlah ibu meninggal waktu bersalin mengalami peningkatan 18% dari sebanyak 3.604 pasien pada tahun 2009 menjadi sebanyak 4.253 pasien pada tahun 2013, sebagai akibat keterlambatan rujukan. Demikian pula dengan jumlah bayi yang meninggal relatif masih tinggi meskipun cenderung mengalami penurunan. Untuk itu, diperlukan perbaikan pada sistem pelayanan kesehatan rujukan dalam upaya menekan tingkat kematian bayi dan kematian ibu akibat melahirkan. Dalam upaya pelaksanaan program di bidang kesehatan untuk mengatasi permasalahan yang masih dihadapi, pengganggaran pembangunan kesehatan perlu lebih difokuskan pada program yang terkait upaya promotif dan preventif dengan tetap memperhatikan besaran satuan anggaran untuk program kuratif yang relatif lebih besar guna mendukung peningkatan indeks kesehatan masyarakat.

  Pembangunan kependudukan merupakan program lintas sektor, yang dalam konteks pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) mencakup pembangunan manusia sebagai subyek ( human capital) dan obyek (human resources) pembangunan yang meliputi seluruh siklus kehidupan manusia (life cycle approach), yaitu Pertama berkaitan dengan kuantitas penduduk, antara lain jumlah, struktur dan komposisi penduduk, laju pertumbuhan penduduk, serta persebaran penduduk; Kedua berkenaan dengan kualitas penduduk yang berkaitan dengan status kesehatan dan angka kematian, tingkat pendidikan, dan angka kemiskinan; Ketiga adalah mobilitas penduduk, seperti tingkat migrasi yang mempengaruhi persebaran penduduk antar wilayah, baik antar pulau maupun antara perkotaan dan perdesaan; Keempat adalah data dan informasi penduduk; Kelima adalah penyerasian kebijakan kependudukan. Dari aspek pengendalian kuantitas penduduk, program keluarga berencana (KB) diarahkan untuk menurunkan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk sehingga dapat memperlambat pertambahan dan pertumbuhan penduduk secara signifikan. Permasalahan yang dihadapi urusan Keluarga Berencana, terutama terkait pelaksanaan Program Pelayanan Kontrasepsi, antara lain Masih rendahnya cakupan penyediaan alat dan obat kontrasepsi; Masih tingginya cakupan pasangan usia subur yang ingin ber-KB tidak terpenuhi/ terlayani ( Unmet Need), Masih terbatasnya pelaksanaan pelayanan KB MO karena masih kurangnya tenaga ahli dan fasilitas serta terbatasnya alat dan obat kontrasepsi dibandingkan dengan jumlah kebutuhan ril bagi keluarga miskin.

3) Masih Tingginya Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran

  Tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Garut yang diukur dari jumlah penduduk miskin masih rendah. Hal ini terlihat dari masih tingginya jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut yang mencapai 314.600 jiwa atau 12,66% pada tahun 2012 yang masih berada diatas rata-rata penduduk miskin kabupaten/ kota di Jawa Barat sebesar 9,89% dan Nasional sebesar 11,66% . Pada tahun 2013 jumlah penduduk miskin diproyeksikan sebanyak 308.528 jiwa atau 12,22% . Berdasarkan pendataan penduduk miskin pada program PPLS 2011 yang dilakukan Badan Pusat Statistik, persentase rumahtangga sasaran di Kabupaten Garut pada tahun 2011 relatif tinggi, yakni sebesar 49,10 persen, atau 302.346 RTS dari total sebesar 615.804 rumahtangga dengan Kecamatan dengan RTS miskin tertinggi antara lain : Cisompet, Peundeuy, Sukawening, Pakenjeng, Banjarwangi, Pamulihan, Selaawi, Cikelet, Singajaya dan Mekarmukti. Kondisi tersebut mengalami peningkatan sebanyak 81.336 RTS atau 36,80% dibandingkan hasil pendataan PPLS Tahun 2008 yang mencapai sebanyak 221.010 RTS. Rumahtangga sasaran tersebut merupakan banyaknya atau kumulatif rumah tangga terbawah yang ada di Kabupaten Garut. Data ini lebih tinggi dari angka PPLS Nasional tahun 2011 mencakup 42,5% .

  Dalam bidang ketenagakerjaan, jumlah pengangguran usia kerja 15 tahun keatas masih cukup tinggi mencapai sebanyak 46.781 orang atau 5,01% (Nasional sebanyak 5,92% ). Mengindikasikan bahwa angkatan kerja yang cukup besar masih belum terserap secara optimal oleh sektor-sektor produksi, sebagai akibat lapangan pekerjaan yang masih kurang dan tingkat kompetensi angkatan kerja yang masih rendah. Oleh karenanya, upaya peningkatan kualitas SDM bagi penduduk menjadi mutlak terus digiatkan, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan tingkat pendidikan penduduk bekerja paling banyak berpendidikan setingkat SD mencapai 64,67% . Ditinjau dari sektor lapangan usaha, penduduk bekerja didominasi sektor pertanian dan sebagian besar berada di daerah perdesaan mencapai 56,82% , sehingga kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu terus diarahkan pada program-program yang dapat meningkatkan kinerja sektor pertanian secara makro diantaranya melalui peningkatan kualitas SDM penduduk bekerja khususnya yang bekerja pada sektor pertanian, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dari pengelolaan sektor tersebut. Jumlah penduduk yang cukup tinggi (mencapai sekitar 2,5 juta jiwa) dapat menjadi beban pembangunan apabila memiliki kualitas yang rendah (tidak produktif). Oleh karenanya kualitas penduduk harus ditingkatkan sehingga akan membentuk sumberdaya manusia yang makin produktif. Sejalan dengan hal tersebut perlu diciptakan lapangan kerja yang memadai. Sebab bila tidak, jumlah penganggur yang berpendidikan akan bertambah. Selain itu, ditinjau dari rasio ketergantungan penduduk masih cukup tinggi (mencapai 62,89 % ) yang berarti dari jumlah 100 orang penduduk usia produktif, harus menanggung sekitar 63 orang penduduk yang tidak produktif yang meliputi 55 orang anak-anak dan 8 orang usia lanjut. Hal tersebut cukup tinggi karena di atas 50% , dan masih berada diatas rata-rata Rasio Ketergantungan Kabupaten/ kota di Jawa Barat sebesar 39,71% . I ndikator rasio ketergantungan penduduk tersebut menggambarkan perubahan struktur penduduk terutama penduduk usia produktif dan non produktif menuntut adanya penurunan proporsi penduduk muda mengurangi besarnya investasi untuk pemenuhan kebutuhan kelompok usia tersebut, sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Program pengaturan kelahiran melalui Keluarga Berencana mempunyai pengaruh besar dalam mewujudkan kondisi demografi tersebut. Bila pengaturan kelahiran melalui Keluarga Berencana berhasil maka pemerintah dapat mengalihkan biaya dari sektor makanan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan yang harus dipenuhi masyarakat pada pengembangan sektor pertanian, I ndustri dalam penyediaan sektor kesempatan kerja.

4) Masih Rendahnya Pertumbuhan Ekonomi dan I nvestasi Daerah

  Perekonomian Kabupaten Garut pada tahun 2012 ditinjau dari Laju Pertumbuhan Ekonomi pencapainnya masih dibawah rata-rata Jawa Barat (Garut sebesar 4,61% sedangkan Jawa Barat sebesar 6,21% ), selain itu dari sisi Pendapatan perkapita masyarakat masih dibawah rata-rata Jawa Barat (Garut sebesar Rp.4,9 juta, sedangkan Jawa Barat Rp.8,1 juta). Struktur perekonomian Kabupaten Garut masih sangat mengandalkan sektor pertanian yang relatif lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada daerah yang telah berbasis sektor industri pengolahan. Kondisi ini disebabkan karena siklus produksi sektor pertanian jauh lebih lama dibandingkan industri pengolahan. Selain itu, efek multiflier terhadap perekonomian secara makro yang ditimbulkan sektor industri jauh lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian, sehingga efektifitasnya dalam mendongkrak perekonomian relatif lebih tinggi. Hal tersebut karena sektor industri pengolahan memiliki keterkaitan sektor, baik backward maupun foreward, yang jauh lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian. Salah satu permasalahan penting pada sektor pertanian, diantaranya konversi penggunaan lahan pertanian ke non pertanian seperti jaringan irigasi, jalan, perumahan, pertokoan dan penggunaan lainnya terus meningkat yang menyebabkan semakin rendahnya kontribusi produksi pangan domestik terhadap total ketersediaan pangan daerah. Hal itu dapat terlihat dari pencapaian perwujudan perlindungan lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura dari target 90% tercapai 91% (98,90% ). Oleh karenanya apabila perekonomian Kabupaten Garut hanya mengandalkan kinerja sektor pertanian tentu saja, maka tidak akan mampu bersaing dan akan tertinggal dibandingkan wilayah lain. Sehingga, dalam perjalanannya menuju wilayah transisi industrialisasi, Kabupaten Garut sangat perlu untuk membangun pondasi ekonomi yang tangguh, diantaranya menciptakan komoditi-komoditi industri agribisnis yang mandiri yang lebih memanfaatkan sumberdaya domestik dibanding impor dari daerah lain. Dalam bidang ketahanan pangan, Pemerintah Daerah berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi Pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang secara merata dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal. Beberapa permasalahan yang masih dihadapi diantaranya masih tingginya ketergantungan konsumsi beras dan belum optimalnya pemanfaatan pangan lokal; belum memadainya cadangan pangan pemerintah daerah dan cadangan pangan masyarakat; masih rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan penduduk dan belum sesuainya dengan konsumsi pangan yang aman, beragam, bergizi dan seimbang; masih belum berkembangnya industri pangan berbasis bahan lokal untuk mendukung penganekeragaman pangan; masih tingginya disparitas harga beberapa jenis pangan di beberapa daerah karena pola distribusi yang kurang efisien dan tingginya biaya pemasaran; dan masih banyaknya kelompok masyarakat yang akses pangannya masih rendah karena faktor fisik dan faktor ekonomi. Dalam rangka mendorong usaha ekonomi masyarakat dan menciptakan kesetaraan usaha, perlu dilakukan langkah-langkah peningkatan pemberdayaan Koperasi Usaha Mikro Kecil, Menengah (KUMKM) dan BMT dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui peningkatan kualitas aparatur KUMKM dan BMT, peningkatan kapasitas lembaga/ Organisasi Koperasi, UMKM dan BMT dan memberikan dukungan penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi berlangsungnya pemberdayaan KUMKM dan BMT yang lebih produktif, efisien dan berdaya saing tinggi. I nvestasi merupakan salah satu kekuatan penting dalam meningkatkan akselerasi pembangunan daerah. I nvestasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru sehingga diharapkan akan mengurangi beban pengangguran dan kemiskinan. Perkembangan realisasi investasi penanaman modal pada tahun 2013 mencapai Rp.723,49 milyar meningkat 43% dibanding tahun 2012 sebesar Rp.504,78 milyar yang turut didorong oleh investasi pada beberapa sub sektor Tanaman pangan dan

perkebunan, pertambangan, konstruksi dan perumahan yang membukukan angka realisasi pertumbuhan investasi sangat besar. Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi perlu terus dilakukan perbaikan iklim investasi dalam pelayanan publik di bidang perijinan, melalui pelayanan perijinan secara terpadu sehingga proses pengelolaan perijinan mulai dari tahap permohonan sampai tahap terbitnya dokumen dilakukan secara terpadu dalam satu tempat. Masuknya investor ke daerah, tentu saja sangat tergantung dari kondisi keamanan dan politik daerah. Sehingga diperlukan kondisi keamanan dan politik yang stabil sebagai modal penting dalam menarik minat investasi ke Kabupaten Garut.

5) Masih Rendahnya Ketersediaan I nfrastruktur Daerah yang Berkualitas, Lingkungan yang Sehat, Aman dan Nyaman serta Penanggulangan Bencana Alam

  Seiring peningkatan jumlah penduduk dan aktifitas masyarakat, perlu diimbangi dengan penyediaan infrastruktur daerah yang berkualitas untuk mendorong tumbuhnya perekonomian daerah. Secara ekonomi makro, ketersediaan jasa pelayanan prasarana jalan mempengaruhi tingkat produktivitas marginal modal swasta. Sedangkan secara ekonomi mikro, prasarana jalan menekan ongkos transportasi yang berpengaruh pada pengurangan biaya produksi. Prasarana jalan pun berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, antara lain peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, dan akses kepada lapangan kerja. Masih kurangnya sarana dan prasarana transportasi Daerah baik dari segi kuantitas maupun kualitas, merupakan salah satu faktor diklasifikasikannya Kabupaten Garut sebagai Daerah tertinggal di I ndonesia. Keterbatasan sarana transportasi, terutama jalan mengakibatkan rendahnya aksesibilitas antar wilayah dan banyaknya wilayah yang terisoilir, sehingga berpotensi terhadap dinamika perkembangan Daerah. Sampai tahun 2013, kondisi infrastruktur jalan masih dihadapkan pada permasalahan tingginya tingkat kerusakan jalan kabupaten mencapai 294,31 km atau 35,51% rusak berat. Permasalahan umum yang dihadap dalam penyediaan infrastruktur jalan yang memadai diantaranya penanganan yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan yang diakibatkan oleh keterbatasan anggaran yang mengakibatkan masih tingginya kondisi kerusakan jalan kabupaten karena sebagian besar jalan kabupaten sudah habis umur rencananya, Belum optimalnya sitem jaringan jalan yang menjadi poros penghubung antar kecamatan dan atar pusat pertumbuhan terutama di wilayah selatan dan Masih rendahnya kondisi jalan kolektor di ruas jalan Jabar Selatan. Sementara itu, kerusakan jalan sebelum waktunya disebabkan oleh sebagian jalan berada pada daerah rawan bencana dan pemanfaatan yang tidak sesuai (Muatan Lebih, pemanfaatan RUWASJA yang tidak sesuai dan saluran drainase jalan yang tersumbat). Disamping itu, sarana dan prasarana penunjang penanganan jalan/ jembatan masih kurang masih kurang optimal. Seiring peningkatan dan mobilitas penduduk, kondisi tersebut mendorong terdapatnya titik simpul kemacetan yang memerlukan penanganan lebih lanjut terutama di kawasan ruas jalan nasional Limbangan-Malangbong, pada ruas jalan provinsi Bandung-Garut dan pada beberapa ruas jalan kabupaten.

  Pada aspek infrastruktur sumber daya air diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan air baku, mengurangi luas areal banjir, dan pengendalian banjir. Sedangkan pada irigasi masih dihadapkan pada permasalahan masih tingginya tingkat kerusakan saluran irigasi (keadaan rusak berat irigasi teknis kabupaten sebesar 27,89% atau sepanjang 41 km dan irigasi desa sebesar 32,48% atau sepanjang 571 km). Kondisi tersebut harus menjadi prioritas penanganan dalam mendukung peningkatan produktivitas usaha tani dan ketahanan pangan, terlebih sektor pertanian merupakan sektor penggerak utama perekonomian daerah. Berkenaan dengan penyediaan dan pengelolaan sarana air bersih yang dititikberatkan pada upaya pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat, penanganan/ pemeliharaan sarana air bersih, permasalahan yang dihadapi diantaranya cakupan pelayanan air minum perkotaan baru mencapai 45,13% , sementara cakupan pelayanan air bersih perdesaan baru mencapai 59,98% dari target sebesar 65% . Untuk itu perlu terus dilakukan penambahan sambungan rumah untuk air minum, pembangunan instalasi sumber mata air dan unit distribusi dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan.

  Dalam hal mewujudkan lingkungan yang sehat, aman dan nyaman, perkembangan kinerja pelayanan pengelolaan persampahan masih level of dihadapkan pada permasalahan terbatasnya Tingkat Pelayanan ( service) persampahan (perkotaan) yang baru mencapai 33% . Untuk itu, perlu terus didorong upaya peningkatan partisipasi masyarakat untuk mengurangi

  Reduce, Reuse, timbunan sampah dimulai dari hulu melalui sosialisasi 3R ( Recycle). Disamping itu perlu dilakukan pula perawatan dan pemeliharaan kendaraan angkut serta penambahan armada untuk meningkatkan pelayanan persampahan khususnya daerah perkotaan. Selain perlunya tambahan perluasan areal TPA Pasirbajing serta adanya areal cadangan untuk TPA pada masa yang akan datang. Upaya meningkatkan kemampuan pelayanan kepada masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang sehat masih terkendala pada masih rendahnya tingkat status mutu lingkungan. Dari indikator yang diukur dari tingkat status mutu sungai utama dan waduk besar pada tahun 2013 berada pada status mutu cemar berat, dan belum dapat mencapai target status mutu sedang. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, masih rendahnya pengelolaan limbah serta masih kurangnya pemanfaatan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dalam upaya pengendalian pencemaran lingkungan menjadi kendala dalam peningkatan kualitas lingkungan.

  Seiring meningkatnya jumlah penduduk akan berbanding lurus dengan kebutuhan energi. Meskipun terdapat pembangkit listrik yang mampu memasok energi listrik untuk Jawa, Madura, dan Bali, dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, namun sangat ironis dengan keadaan wilayah dan masyarakat Kabupaten Garut yang masih kekurangan menikmati layanan jaringan listrik dari PLN, dimana sampai saat ini rasio elektrifikasi rumahtangga di Kabupaten Garut baru mencapai sebesar 62,16% dari target Jawa Barat sebesar 81,2% atau masih terdapat sebanyak 172.426 unit rumah yang belum memiliki fasilitas listrik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, upaya untuk melakukan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan melalui program pembangunan listrik perdesaan perlu terus dilakukan guna mendorong berkembangnya kegiatan perekonomian masyarakat. Ketersediaan infrastruktur perkotaan berupa Penerangan Jalan Umum (PJU) memiliki fungsi keamanan, ekonomi dan estetika. Sampai tahun 2013, dari sebanyak 4.855 titik PJU hanya sebanyak 51,68% dalam kondisi berfungsi. Untuk itu, sejalan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat terhadap penerangan jalan umum yang semakin meningkat sebagai upaya untuk menunjang keamanan, keselamatan dan menunjang estetika lingkungan, perlu dilakukan penyediaan Penerangan Jalan Umum yang memadai. Dari segi kebencanaan, Kabupaten Garut memiliki potensi resiko bencana yang tinggi, dengan jumlah kawasan rawan bencana alam mencapai 96.394 Ha (31,36% ) meliputi kawasan rawan bencana gerakan tanah, kawasan rawan bencana gunung api, dan kawasan rawan bencana tsunami. Perlindungan terhadap kawasan rawan bencana alam perlu dilakukan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia.

  6) Belum Optimalnya Pengendalian Pemanfaatan Ruang

  Dalam pelaksanaan penataan ruang, tingkat kesesuaian antara peruntukan dan pemanfaatan kawasan lindung baru mencapai 40% dari target 81,3 % sebagai kawasan berfungsi lindung. Tidak terkendalinya pemanfaatan fungsi tata ruang seperti contohnya alih fungsi lahan dari pertanian ke fungsi lahan non pertanian, penggunaan badan jalan untuk kegiatan sektor informal, dan kegiatan lainnya yang tidak sesuai dengan kebijakan pemanfaatan ruang perlu ditindaklanjuti melalui penetapan peraturan daerah zonasi pemanfaatan ruang; pengaturan penerbitan perijinan, pemberian insentif terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang yang dapat berupa keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi silang, imbalan, sewa ruang, dan urun saham, pembangunan serta pengadaan infrastruktur, kemudahan prosedur perizinan, dan/ atau pemberian penghargaan kepada masyarakat dan swasta; pemberian disinsentif untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang yang dapat berupa pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang, pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi, dan penalti perizinan.

  7) Belum Optimalnya Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam Pelayanan Publik

  Pelayanan publik pada hakikatnya merupakan bentuk pemberian pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintahan sebagai abdi masyarakat. Menciptakan tata pemerintahan yang bersih, dan berwibawa merupakan salah satu agenda pembangunan nasional sebagai upaya untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik melalui keterbukaan, akuntabilitas, efektifitas dan efisiensi, menjunjung tinggi supremasi hukum, dan membuka partisipasi masyarakat yang dapat menjamin kelancaran, keserasian dan keterpaduan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Untuk itu diperlukan langkah-langkah kebijakan yang terarah pada perubahan kelembagaan dan sistem ketatalaksanaan; kualitas sumber daya manusia aparatur; dan sistem pengawasan dan pemeriksaan yang efektif. Permasalahan umum yang masih dihadapi pada kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam pelayanan publik diantaranya pelaksanaan reformasi birokrasi yang belum berjalan sesuai dengan tuntutan masyarakat terkait dengan tingginya kompleksitas permasalahan. masih tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang, praktek KKN, dan masih lemahnya pengawasan terhadap kinerja aparatur negara yang dapat menjadi gambaran dari kondisi kinerja birokrasi yang masih jauh dari harapan. Pada aspek kelembagaan, postur birokrasi instansi pemerintah daerah belum mencerminkan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien, serta terdapat kecenderungan untuk membentuk lembaga atau unit kerja baru, tanpa disertai dengan audit organisasi. Tantangan ke depan, diperlukan audit organisasi dan ditindaklanjuti dengan penajaman fungsi dan struktur organisasi birokrasi pemerintah daerah, sehingga terwujud postur birokrasi yang tepat fungsi dan tepat ukuran. Pada aspek SDM Aparatur, masih menghadapi permasalahan manajemen kepegawaian meliputi komposisi PNS yang belum ideal untuk melakukan tugasnya agar lebih efektif, efisien dan profesional dalam melayani masyarakat, hal ini diantaranya berkaitan dengan komposisi jabatan, tingkat pendidikan maupun distribusi antar wilayah; tingkat disiplin dan kinerja pegawai masih rendah; belum diterapkannya sistem remunerasi yang berbasis kinerja; belum sepenuhnya diterapkan sistem karier berdasarkan kinerja; penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) belum sepenuhnya berdasarkan pada kompetensi yang diperlukan. Selain itu, pendidikan dan pelatihan (diklat) belum sepenuhnya dapat meningkatkan kinerja. Tantangan ke depan, adalah melakukan penyempurnaan manajemen kepegawaian untuk mendukung terwujudnya SDM Aparatur yang kompeten, profesional, berintegritas, dan mendukung pencapaian kinerja birokrasi secara optimal. Pada aspek Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai indikator pelayanan publik dalam pelaksanaannya belum optimal karena keterbatasan sumber daya dan regulasi, termasuk dalam hal dukungan pembiayaan dalam pelaksanaannya. Oleh karenanya, dalam penerapan SPM perlu terintegrasi dalam sistem perencanaan dan penganggaran daerah, salah satunya melalui pengakomodasian SPM dalam RKPD dan APBD. Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu komitmen kepala daerah dan koordinasi dengan K/ L sektor terkait yang perlu didorong baik dalam penerapan, monitoring, maupun evaluasi SPM. Dalam manajemen pelayanan publik, masih juga menghadapi permasalahan antara lain: tingkat kualitas pelayanan belum dapat memenuhi keinginan masyarakat akan pelayanan yang cepat, mudah, murah, dan transparan, belum meratanya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, masih lemahnya SDM pelayanan publik baik dari segi kapasitas dan sikap perilaku dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tantangan ke depan, adalah menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut

dan memastikan implementasi Pelayanan Publik dapat dilaksanakan secara konsisten oleh seluruh instansi penyelenggara pelayanan publik.

8) Masih Rendahnya Kemampuan Keuangan Daerah

  Ditinjau dari kontribusi setiap komponen pembentuk pendapatan daerah, realisasi selama tahun 2009-2013 didominasi oleh sumber dana perimbangan dengan proporsi rata-rata sebesar 72,78% , disusul Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah dengan proporsi rata-rata sebesar 20,12% , sedangkan penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah secara-rata-rata baru mencapai 7,10% . Kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur penerimaan pendapatan daerah masih belum kokoh, karena tingkat ketergantungan terhadap dana perimbangan dari Pusat masih sangat tinggi. Meskipun penerimaan PAD selama tahun 2009-2013 setiap tahunnya mengalami pertumbuhan positif, dan apabila ditinjau dari kontribusinya terhadap total pendapatan daerah mengalami peningkatan dari sebesar 6,44% pada tahun 2009 menjadi 8,78% pada tahun 2013 dan secara rata- rata mencapai 7,10% , namun kondisi tersebut masih dibawah rasio realisasi PAD terhadap pendapatan pada APBD kabupaten/ kota di Jawa Barat yang mencapai rata-rata sebesar 12,81% . Rasio PAD terhadap Total Pendapatan dapat menggambarkan tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak eksternal, baik Pemerintah Pusat maupun Provinsi. Semakin besar angka rasio PAD terhadap pendapatan maka ketergantungan daerah semakin kecil. Kondisi yang ada menunjukan bahwa kemampuan kemandirian keuangan daerah dalam pembiayaan kebutuhan pembangunan masih rendah, sehingga perlu terus dilakukan upaya penggalian potensi sumber-sumber pendapatan asli daerah khususnya dari komponen pajak daerah dan retribusi daerah sehingga ketergantungan terhadap dana perimbangan dari pusat maupun provinsi tidak terlalu besar.

4.1.2. Permasalahan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah 1) Urusan Pendidikan

  Permasalahan utama urusan pendidikan adalah :

  a) Masih rendahnya aksesibilitas pelayanan pendidikan bagi masyarakat terutama pada pendidikan menengah yang ditunjukkan dengan Angka

  Partisipasi Sekolah (APS) usia 16 – 18 tahun yang baru mencapai 44,65% dan berada dibawah capaian Jawa Barat sebesar 55,69% dan Nasional sebesar 63,27% , ketersediaan ruang kelas yang masih terbatas dan rusak mencapai sebanyak 27,92% ; b) Masih adanya Drop out/ putus sekolah untuk usia wajar dikdas dan

  Pendidikan Menengah yaitu jenjang SD sederajat sebesar 0,003, jenjang SMP sederajat sebesar 0,015% dan jenjang SMA sederajat sebesar 0,034% ;

  c) Masih rendahnya kuota penerima bantuan bagi siswa miskin;

  d) Belum Meratanya Penyediaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dengan rasio ketersediaan guru terhadap murid masih berada dibawah standar nasional, masing-masing untuk jenjang SD sederajat sebanyak

  20 (Nasional sebesar28), jenjang SMP sederajat sebanyak 17 (Nasional sebesar 32), dan jenjang SMA sederajat sebanyak 14 (Nasional sebesar 32);

e) Belum Optimalnya Perhatian Terhadap Siswa Berprestasi.

2) Urusan Kesehatan

  Permasalahan utama urusan Kesehatan adalah :

  a) Masih tingginya Angka Kematian Bayi mencapai 49,29 per 1.000 kelahiran hidup (Nasional sebanyak 32 dan Jawa Barat sebanyak 30 per

  1.000 kelahiran hidup) dan Angka Kematian I bu Angka Kematian akibat melahirkan mencapai 184 per 100.000 kelahiran hidup; b)

  Meningkatnya penyakit menular dan tidak menular antara lain Demam leprae), malaria, Tuberkulosis Berdarah Dengue (DBD), penyakit kusta (

  Cardiovasculer (Hipertensi), serta malnutrisi; (TB) dan penyakit

  c) Masih rendahnya kualitas dan standar sarana pelayanan Kesehatan masyarakat (Rasio Puskesmas terhadap jumlah penduduk sebesar 1 :

  38.869, masih di bawah target nasional yaitu sebesar 1 : 25.000);

  d) Jumlah tenaga kesehatan masih kurang dan distribusinya belum merata, serta belum terstandarisasinya kompetensi tenaga kesehatan yang ada; e) Belum seimbangnya sistem pelayanan dan pembiayaan kesehatan antara kuratif dengan promotif dan kuratif; f)

  Masih rendahnya pemahaman PHBS di masyarakat dengan prosentase Rumah Tangga Ber PHBS baru mencapai 34,62% ;

  g) Belum optimalnya aspek regulasi dan Sistem I nformasi Kesehatan dalam mendukung manajemen kesehatan; h)

  Masih terdapatnya ancaman penyakit berbasis emerging Deseases, New Emerging Deseases dan Re-emerging Deseases; i) Belum adanya regulasi sistem rujukan pelayanan kesehatan; j) Peran lintas sektor dalam bidang kesehatan belum optimal; k)

  Masih rendahnya akses dan kualitas air minum dan sanitasi yang layak (Cakupan masyarakat yang menggunakan air bersih baru mencapai 69,55% , Cakupan menggunakan jamban keluarga/ kasus baru mencapai 59,1% ); l) Masih rendahnya kualitas hygiene sanitasi makanan dan minuman; m) Masih tingginya penyakit berbasis lingkungan dikarenakan masih rendahnya kualitas sanitasi dasar; n)

  Belum optimalnya pengelolaan limbah medis di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) baik Pemerintah maupun Swasta; o) Masih rendahnya Fasilitas Sanitasi di Tempat-Tempat Umum (TTU), I ndustri dan Tempat Pengelolaan Makanan (TPM); p)

  Masih rendahnya fasilitasi sanitasi dasar di lingkungan permukiman; q) Secara kuantitas SDM Sanitarian/ Petugas Kesehatan Lingkungan masih kurang; r)

  Masih rendahnya kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan (jumlah tenaga dokter mencapai sebanyak 177 orang dan apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk sebanyak 2.526.483 jiwa, maka jumlah dokter yang seharusnya adalah 1.011 orang, sehingga masih kekurangan tenaga dokter sebanyak 834 orang); s) Belum optimalnya aspek regulasi dan sistem informasi kesehatan dalam mendukung manajemen kesehatan; t)

  Terbatasnya anggaran pembangunan kesehatan, terutama untuk mendukung jaminan kesehatan nasional;

3) Urusan Pekerjaan Umum

  Permasalahan utama urusan Pekerjaan Umum adalah : a.

  Belum optimalnya aksesibilitas dan kualitas jalan menuju sentra produksi usaha masyarakat; b. Tingginya tingkat kerusakan jalan kabupaten sebesar 36,84% rusak berat atau 305,28 km sebagai akibat penanganan jalan yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan, sebagian besar jalan kabupaten sudah habis umur rencananya, kerusakan jalan sebelum waktunya, keterbatasan anggaran dan pemanfaatan jalan yang tidak sesuai antara lain menutup saluran drainase jalan;

    c. Belum optimalnya sitem jaringan jalan yang menjadi poros penghubung antar kecamatan dan atar pusat pertumbuhan terutama di wilayah selatan; d. Masih rendahnya kondisi jalan kolektor di ruas jalan Jabar Selatan;

e. Sebagian jalan berada pada daerah rawan bencana;

  f. Belum optimalnya sarana dan prasarana penunjang penanganan jalan dan jembatan; g.

  Tingginya kerusakan saluran irigasi pada jaringan irigasi teknis kabupaten (keadaan rusak berat sebesar 27,89% atau sepanjang 41 km dan irigasi desa sebesar 32,48% atau sepanjang 571 km); h. Tingginya kerusakan morfologi dan lingkungan sungai pada Sub Daerah

  Aliran Sungai (Sub DAS) termasuk Daerah Tangkapan Air pada kawasan konservasi sumberdaya air. Dari panjang sungai 301,20 KM untuk 32 sub DAS pada DAS Cimanuk-Cisanggarung 243 KM (80,35 % ) dalam kondisi rusak berat. Kemudian Dari panjang sungai 309,46 KM untuk 50 sub DAS pada DAS Ciwulan-Cilaki 207 KM (66,89 % ) dalam kondisi rusak berat; i. Belum termanfaatkannya potensi 288 embung sebagai wadah tampungan air pada musim hujan dan dialirkan pada musim kemarau/ kering untuk keperluan pertanian. Embung yang dibangun baru 8 Embung (2,78% ); j. Belum termanfaatkannya potensi 87 Situ di DAS Cimanuk-Cisanggarung dan berada di kabupaten Garut sebagai wadah tampungan air/ reservoar untuk keperluan pertanian dan lainnya. Situ yang sudah diperbaiki baru

  8 Situ (9,20% ). Potensi 25 Situ di DAS Ciwulan - Cilaki dan berada di kabupaten Garut sebagai wadah tampungan air/ reservoar untuk keperluan pertanian dan lainnya. Situ yang sudah diperbaiki baru 2 Situ (8,00% ); k. Belum ada perbaikan secara menyeluruh pada drainase/ saluran pengaliran perkotaan untuk menghindari banjir dan genangan kawasan

  Garut Kota. Terdapat 28 titik rawan banjir/ genangan pada 4 sub DAS, 41 titik rawan banjir/ genangan pada saluran drainase perkotaan dan 49 titik rawan banjir/ genangan pada lingkungan perkampungan. Kondisi kerusakan berat saluran drainase perkotaan pada Sub DAS Cigulampeng (45,14% ), Kondisi kerusakan berat saluran drainase perkotaan pada Sub DAS Ciwalen (47,76% ), Kondisi kerusakan berat saluran drainase perkotaan pada Sub DAS Cikendi (59,82% ), Kondisi kerusakan berat saluran drainase perkotaan pada Sub DAS Cipeujeuh/ Cimaragas (56,40% ); l. Terbitnya Permen Nomor 11 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai

  Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan Dan Pemurnian, sehingga feasibility study dengan nilai investasi dan cash flow yang telah direncanakan berubah karena tidak sesuai dengan perencanaan penambangan sebelumnya dan harus disesuaikan; m. Pembangunan pelabuhan tidak termasuk kedalam RTRW provinsi dan kabupaten; n.

  Kondisi sosial masyarakat masih belum ada kesepahaman; o. Belum optimalnya sinkronisasi program perencanaan energi daerah dengan nasional;

4) Urusan Perumahan dan Permukiman

  Permasalahan utama urusan Perumahan dan Permukiman adalah :

a. Masih belum optimalnya pemanfaatan Surat I jin Mendirikan Bangunan

  (I MB), sehingga mengakibatkan tidak tertatanya penempatan bangunan yang menyebabkan dilanggarnya ketentuan sempadan bangunan; b. Terbatasnya sarana dan prasarana, penunjang dalam penanganan penanggulangan bahaya kebakaran; c.

  Masih terdapatnya rumah dan bangunan gedung yang tidak memenuhi persyaratan standar kesehatan dan teknis bangunan; d. Masih terjadinya pembuangan air limbah dan sampah ke tempat/ saluran badan air penerima sebagai buangan akhir yang mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan, selain itu masih terdapat masyarakat perkotaan maupun perdesaan yang tidak memiliki sarana mandi, cuci dan kakus yang memadai sehingga mengakibatkan terhadap pencemaran air tanah; e.

  Terbatasnya sarana dan prasarana jalan lingkungan baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan sehingga menghambat masyarakat dalam melakukan aktifitas;

  f. Masih rendahnya cakupan pelayanan air minum perkotaan baru mencapai 45,13% ; g. Masih rendahnya cakupan pelayanan air bersih perdesaan baru mencapai 59,98% ;

  5) Urusan Penataan Ruang

  Permasalahan utama urusan Penataan Ruang adalah :

  a. Belum memadainya pranata bidang penataan ruang khususnya rencana rinci tata ruang; b. Masih rendahnya tingkat kesesuaian antara peruntukan dan pemanfaatan kawasan lindung (baru sebesar 42% pada tahun 2013);

  6) Urusan Perencanaan Pembangunan Permasalahan utama urusan Perencanaan Pembangunan adalah :

  a. Optimalisasi partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan perencanaan; b.

  Keterkaitan serta konsistensi antara dokumen perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan; c.

  Kualitas dan kuantitas sumberdaya perencanaan masih rendah; d.

  Masih lemahnya tingkat koordinasi antar sektor, maupun antar tingkatan pemerintahan;

7) Urusan Perhubungan

  Permasalahan utama urusan Perhubungan adalah : a.

  Masih kurangnya ketersediaan perlengkapan jalan dan fasilitas lalu lintas seperti rambu, marka, pengaman jalan, terminal, dan jembatan timbang; b. Belum optimalnya kondisi dan penataan sistem hirarki terminal sebagai tempat pertukaran moda; c. Masih rendahnya pelayanan angkutan massal dalam mengakomodir jumlah pergerakan orang, barang dan jasa; d.

  Belum optimalnya cakupan layanan infrastruktur telekomunikasi;

  e. Belum terpenuhinya rasio panjang jalan per jumlah kendaraan ideal dalam mengimbangi pertambahan kendaraan tiap tahunnya; f. Kesadaran masyarakat baik pengguna maupun penyedia jasa perlu ditingkatkan untuk menciptakan kondisi transportasi yang selamat, cepat, aman, nyaman, tertib dan teratur;

g. Belum tersedianya prasarana pelabuhan bagi kapal nelayan maupun kapal regional serta fasilitas komunikasi yang memadai.

8) Urusan Lingkungan Hidup

  Permasalahan utama urusan Lingkungan Hidup adalah : a.

  Jumlah timbulan sampah setiap tahunnya semakin meningkat

  3

  (mencapai 1.457 m / hari) yang disebabkan oleh: Pertambahan jumlah penduduk;

  • Perubahan pola konsumsi masyarakat;
  • Pergeseran mata pencaharian dari sektor pertanian ke sektor
  • industri dan perdagangan; Kabupaten Garut menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Barat - sehingga jumlah kunjungan wisata semakin meningkat, termasuk wisata kuliner; Pertumbuhan rumah makan, toko oleh-oleh souvenir semakin
  • meningkat;

  Sementara ketersediaan sarana dan prasarana tidak sebanding dengan

  3

  peningkatan jumlah timbulan sampah (daya angkut 480 m / hari) sehingga cakupan pelayanan cenderung menurun (dari 43,2% pada tahun 2009 menjadi 33% pada tahun 2013).

  b.

  Sistem pengelolaan TPA yang masih open dumping serta umur pakai TPA yang semakin pendek; c. Tingkat status mutu air DAS Cimanuk adalah cemar berat;

  d. Masih kurangnya sarana pengolahan air limbah komunal dari kawasan industri/ perdagangan dan jasa serta air limbah domestik (rumah tangga, perkantoran, rumah makan, klinik/ rumah sakit, hotel);

  e. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan;

  f. Masih rendahnya kesadaran pelaku usaha dan/ atau kegiatan dalam penyusunan dan implementasi dokumen lingkungan; g.

  Masih adanya alih fungsi kawasan yang berfungsi lindung;

  h. Masih kurangnya penerapan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dalam upaya pengendalian pencemaran lingkungan;

i. Belum adanya laboratorium lingkungan yang terakreditasi;

  j. Pola pemanfaatan lahan untuk produksi biomassa telah menyebabkan kerusakan lahan dan/ atau tanah; k.

  Semakin bertambahnya volume kendaraan bermotor yang mengakibatkan meningkatnya emisi gas buang dan penurunan kualitas udara ambient; l. Peningkatan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian, perkebunan dan peternakan; m. Belum optimalnya penanganan air limbah dan limbah padat sentra industri kulit Sukaregang; n.

  Masih terbatasnya ruang terbuka hijau untuk taman; o. Belum optimalnya penataan tempat pemakaman umum serta masih terbatasnya lahan pemakaman; p. Penataan dan pemeliharaan PJU belum optimal (hanya 51,68% yang menyala);

9) Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil

  Permasalahan utama urusan Kependudukan dan Catatan Sipil adalah : a.

  Penerapan e KTP berbasis NI K dan kepemilikan KTP Tunggal (masih terdapat 456.453 wajib KTP yang belum melaksanakan perekaman e- KTP);

b. Layanan OL Di tiap Kecamatan; c.

  Pembuatan Data Base Kependudukan untuk data dasar pembangunan; d.

  Penduduk migran belum terdokumentasi secara baik;

  10) Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

  Permasalahan utama urusan Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak adalah :

  a. Penanganan pengaduan korban kekerasan terhadap anak dan perempuan belum optimal; b.

  Sarana dan prasarana perlindungan korban kekerasan terhadap anak dan perempuan belum optimal; c. Tingginya permasalahan Trafficking dan Kekerasan terhadap anak dan perempuan; d.

  Pemahaman tentang pengarusutamaan gender belum optimal;

  11) Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Permasalahan utama urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera adalah : a.

  Jumlah kelahiran dan pertumbuhan penduduk masih tinggi (TFR = 2,56);

  b. Kualitas kesertaan ber-KB metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) masih rendah 20,30% ; c.

  Tingkat partisipasi pria dalam ber-KB masih rendah sebesar 2,88% ; d.

  Jumlah Drop Out [ DO] kesertaan ber-KB masih tinggi ;

  e. Tingkat kemandirian ber-KB masih rendah sebesar 34,19% ; f.

  Jumlah Unmetneed masih tinggi sebesar 12,88% ; g.

  Rata-rata kawin pertama wanita masih rendah yaitu 18,39;

  h. Peran institusi masyarakat belum optimal;

i. Kualitas dan kuantitas bina keluarga belum optimal; j.

  Rasio jumlah penyuluh KB berbanding jumlah Desa/ Kelurahan belum ideal; k. Kualitas Data dan I nformasi masih rendah;

12) Urusan Sosial

  Permasalahan utama urusan Sosial adalah: a.

  Tingginya jumlah penduduk miskin (hasil SUSENAS dengan metode Garis Kemiskinan sebesar 12,70% dan rumahtangga sasaran hasil pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) sebesar 49,10% ); b.

  Tingginya angka penyandang masalah Kesejahteraan Sosial (penanganan PMKS selama tahun 2009-2013 secara rata-rata setiap tahunnya baru mencapai 6,4% )* ; c.

  Belum terintegrasinya penanganan penduduk miskin* ; d.

  Tingkat partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial belum optimal; e. Kurangnya kemandirian Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) sebagai mitra pemerintah dalam penanganan PMKS; f. Rendahnya aksesibilitas sarana dan prasarana bagi orang dengan disabilitas;

g. Belum optimalnya pemanfaatan potensi sumber kesejahteraan sosial* ; h.

  Belum optimalnya penanganan bencana alam dan dampak sosialnya* ;

13) Urusan Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian

  Permasalahan Urusan Ketenagakerjaan : a.

  Tingginya jumlah pengangguran terbuka;

  b. Rendahnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja;

  c. Rendahnya penyerapan tenaga kerja; d.

  Rendahnya kompetensi pencari kerja; e. Upah Minimum Kabupaten (UKM) belum sama dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL);

  f. Perlindungan dan pengawasan tenaga kerja yang belum optimal; g.

  Tingginya jumlah pekerja anak;

  h. Masih banyak perusahaan yang belum melaksanakan peraturan ketenagakerjaan; Permasalahan Urusan Ketransmigrasian : a.

  Kesiapan tempat transmigran tidak tepat waktu yang dijadwalkan;

  b. Belum efektifnya kegiatan penjajagan/ survey kerjasama antar daerah (KSAD) ke lokasi-lokasi potensial, karena sering berubahnya kepastian target penempatan dari pemerintah pusat; c. Belum tertibnya penataan aset/ lahan transmigrasi lokal (resettlement);

  14) Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

  Permasalahan utama urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah adalah : a.

  Masih rendahnya kemampuan pengelolaan usaha;

  b. Masih terbatasnya pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG) serta akses terhadap sumber pembiayaan dan informasi pasar; c.

  Masih rendahnya daya saing produk;

  15) Urusan Penanaman Modal

  Permasalahan utama urusan Penanaman Modal adalah : a.

  Masih rendahnya kualitas infrastruktur pendukung investasi; b. Masih terbatasnya kepastian hukum dan jaminan usaha;

  c. I klim investasi yang kurang kondusif;

  16) Urusan Kebudayaan dan Pariw isata

  Permasalahan utama urusan Kebudayaan dan Pariwisata adalah : a.

  Belum meratanya penataan Cagar Budaya;

  b. Kurangnya pembinaan terhadap para seniman;

  c. Kuangnya gedung pertunjukan dan Museum; d.

  Masih rendahnya apresiasi dan perlindungan terhadap budaya lokal; e. Masih rendahnya promosi budaya lokal;

  f. Masih lemahnya sarana dan prasarana pendukung pariwisata; g.

  Masih lemahnya pengelolaan objek dan daya tarik wisata (ODTW); h. Masih terbatasnya SDM profesional di bidang pariwisata; i. Masih rendahnya tingkat kesadaran wisata masyarakat; j. Masih kurangnya promosi pariwisata;

  17) Urusan Kepemudaan dan Olahraga

  Permasalahan utama urusan Kepemudaan dan Olahraga adalah :

  a) Terbatasnya ketersediaan sarana olahraga;

  b) Terbatasnya sarana dan prasarana untuk mewadahi aktivitas dan kreativitas generasi muda yang mandiri dan kreatif; c) Belum optimalnya pemberdayaan dan pengembangan potensi pemuda baik secara individu maupun kelembagaan; d)

  Terbatasnya pembinaan atlet;

  Permasalahan utama adalah : a.

  j. Belum adanya norma, Standar, Pedoman, Manual (NSPM) yang jelas terkait prosedur mengenai mekanisme penyusunan Anggaran;

  Belum tuntasnya Administrasi Daerah;

  Kelembagaan pemerintah masih belum sepenuhnya melaksanakan prinsip good governance; e. Masih rendahnya kapasitas dan profesionalisme sumber daya manusia aparatur; f. Pendataan aset yang belum terselesaikan dan adanya aset – aset yang belum tersertifikasi karena berada pada penguasaan perorangan atau masyarakat;

  Penegakan hukum masih lemah dan belum optimalnya perlindungan hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM); d.

  Partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah otonomi baru belum optimal; b. Belum sinkronnya implementasi peraturan antara tingkat pusat dan daerah; c.

  19) Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegaw aian Dan Persandian

  18) Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri

  Sumber daya Satuan polisi Pamong Praja dalam penanganan ketentraman dan ketertiban umum serta penegakan peraturan daerah, kapasitas pelayanan terhadap masyarakat jika di bandingkan baik ditinjau kwalitas maupun kwantitas pada saat ini masih belum memadai; i. Berkurangnya Kapasitas linmas dalam pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat serta mengkoondisikan lingkungan yang kondusif;

  f. Relatif rendahnya kesadaran hukum masyarakat sehingga masih terjadi pelanggaran terhadap rambu - rambu peraturan yang sudah di tetapkan g. Masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat terhadap ketentraman dan ketertiban umum di lingkungannya; h.

  Tingkat pemahaman dan ketaatan masyarakat terhadap berbagai peraturan daerah dan kebijakan pemerintah lainnya masih rendah karena kurang intensifnya sosialisasi peraturan yang sudah ditetapkan;

  d. Terdapat potensi gangguan terhadap ketentraman dan ketertiban masyarakat; e.

  Pendidikan politik masyarakat masih rendah; b. Krisis kepercayaan terhadap Pemerintah; c. Harmonisasi kehidupan beragama cenderung menurun;

  Permasalahan utama urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri: a.

g. Sumber pendapatan daerah dari BUMD masih tebatas; h.

i. Pelayanan Publik masih belum sesuai dengan harapan masyarakat;

  k. Sistem manajemen kepegawaian belum mampu mendorong peningkatan profesionalitas, kompetensi, dan remunerasi yang adil dan layak sesuai dengan tanggungjawab dan beban kerja; l. Belum ada grand design tentang pembuatan program legislasi daerah sehingga tidak ada pemahaman yang terintegrasi berkenaan dengan prosedur penyusunan produk hukum daerah; m. Lemahnya budaya hukum masyarakat; n. Belum optimalnya penggunaan dan pemanfaatan barang milik daerah untuk mendukung kelancaran tugas dan fungsi SKPD serta mendukung terhadap peningkatan potensi PAD; o. Peningkatan DAU tidak signifikan bagi daerah; p. Daya serap DAK, Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau Rendah; q. Realisasi Bagi Hasil Pajak dan SDA sangat dipengaruhi kondisi ekonomi makro nasional-regional khususnya produksi (lifting) dan harga minyak/ gas dunia serta hasil pertambangan lainnya; r. Alokasi dana perimbangan yang diterima oleh desa semakin meningkat baik yang berasal dari ADD, DBH, Bankeu Prop; s.

20) Urusan Ketahanan Pangan

a. Masih minimnya cadangan pangan dan lumbung pangan di daerah;

21) Urusan Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa

  Masih terbatasnya kewenangan yang dimiliki aparatur pemerintah desa dalam penyelenggaraan pemerintahan desa;

  Penyebarluasan informasi terkait kebijakan pemerintah belum optimal;

  a. Pemanfaatan teknologi informatika (e-gov) dalam penyelenggaraan pemerintah belum optimal; b.

  Permasalahan utama adalah :

  Belum optimalnya implementasi pengembangan lembaga ekonomi perdesaan; f. Masih kurangnya unsur transparansi dan pelibatan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa; g.

  Belum sepenuhnya terdapat kesepahaman dalam penyelenggaraan Pelayanan Perijinan; t. Keterbatasan SDM dan relatif rendahnya kemampuan/ intregritas SDM;

  Rendahnya kemampuan masyarakat desa dalam mengakses kesempatan berusaha; d. Belum meratanya kemampuan organisasi kemasyarakatan dalam memahami tugas dan fungsinya; e.

  b. Belum optimalnya fungsi kelembagaan dan kualitas aparatur desa; c.

  a. Minimnya sarana dan prasarana di pedesaan;

  Permasalahan utama urusan pemberdayaan masyarakat dan desa adalah :

  Masih rendahnya ketahanan pangan rumah tangga di wilayah rawan pangan;

  b. Pangan belum terdistribusikan dengan baik dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat; c.

  Permasalahan utama urusan ketahanan pangan adalah :

22) Urusan Komunikasi Dan I nformatika

  23) Urusan Pertanahan

  Permasalahan utama adalah : a.

  Banyak tanah yang belum bersertifikat; b. Penyelesaian tanah provinsi yang dikuasai oleh masyarakat dan pihak lain;

  24) Urusan Statistik

  Permasalahan utama urusan statistik adalah belum optimalnya penyediaan data/ statistik daerah;

  25) Urusan Kearsipan

  Permasalahan utama urusan kearsipan adalah :

  a. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaaan kearsipan;

  b. Kurang tertibnya pengelolaan kearsipan;

  c. Rendahnya sumber daya pengelola kearsipan baik secara kuantitatif maupun kualitatif;

  26) Urusan Perpustakaan

  Permasalahan utama urusan perpustakaan adalah :

  a. Tempat layanan perpustakaan yang tidak representatif, sehingga tidak dapat menampung jumlah koleksi buku yang di butuhkan masyarakat dan ruang baca yang kurang memadai;

  b. Kurangnya mobil unit layanan perpustakaan keliling (MULPK), sehingga tidak dapat melayani titik lokasi layanan yang diminta oleh masyarakat; c. Kurangnya media informasi dan sosialisasi tentang perpustakaan, yang menyebabkan masyarakat kurang mengenal akan keberadaan perpustakaan;

  d. Kurangnya tenaga pustakawan yang ahli di seluruh perpustakaan, baik perpustakaan desa, perpustakaan sekolah, dan perpustakan masyarakat lainnya;

  27) Urusan Pertanian

  Permasalahan Urusan Pertanian (Tananaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Peternakan) : a.

  Masih rendahnya nilai tambah produk;

  b. Aksesibilitas petani terhadap sarana produksi, pemasaran dan permodalan terbatas; c.

  Masih terbatasnya tenaga penyuluh pertanian;

  d. Tingginya alih fungsi lahan pertanian dan kerusakan lingkungan yang cenderung meningkat dan sulit untuk dikendalikan; e.

  Tingginya tingkat fluktuasi, baik terkait dengan biaya produksi dan harga komoditas hasil; f. Masih lemahnya dukungan infrastruktur terutama jaringan irigasi dan jalan usaha tani ke sentra produksi; g.

  Menekan kehilangan hasil pertanian (Losis);

  h. Masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan peternak, baik dalam proses produksi maupun pasca produksi;

i. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pencegahan dan

  penanggulangan penyakit hewan/ ternak menular;

  Masih rendahnya tingkat pendapatan masyarakat di sekitar hutan;

  h. Pembayaran setoran dari pengusaha langsung disetorkan ke pusat, daerah tidak mempunyai kewenangan untuk menagih karena panas bumi yang sudah diusahakan dilaksanakan melalui kontrak antara pengusaha dan pemerintah pusat (sebelum berlaku UU No.27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi); i. Aturan hukum di daerah tentang pengelolaan sumber daya mineral belum ada; j. Kabupaten Garut penghasil sudah mendapatkan dana bagi hasil sebesar

  Berapa perusahaan tidak meningkatkan ijin dari eksploitasi ke operasi produksi dan sebagian perusahaan tidak aktif karena terbatasnya kemampuan finansial, SDM dan teknologi dari perusahaan;

  f. Konsumsi energi yang belum menjadi daya dorong produktivitas ekonomi masyarakat; g.

  Dampak Lingkungan dari penggunaan energi di sektor industri;

  d. Belum optimalnya investor swasta dalam pengembangan energi baru dan terbarukan; e.

  a. Kesenjangan akses energi/ elektrifikasi di daerah pembangkit, masih adanya penduduk yang belum mendapatkan pelayanan listrik (rasio elektrifikasi rumah tangga baru mencapai 62,16% ); b. Belum tersedianya infrastruktur untuk mendukung kegiatan operasi penambangan mineral logam, seperti tidak tersedianya listrik untuk kebutuhan smelter dalam jumlah yang besar; c. Belum optimalnya pemanfaatan energi terbarukan setempat;

  Permasalahan utama adalah :

  b. Masih terbatasnya upaya konservasi hutan dan lahan (sisa lahan kritis yang belum ditangani adalah 8.631,01 ha); c.

  28) Urusan Perikanan dan Kelautan

  Masih tingginya tingkat gangguan keamanan hutan dan lahan;

  Permasalahan utama adalah : a.

  29) Urusan Kehutanan

  Masih terbatasnya zona teritorial kegiatan usaha perikanan tangkap karena keterbatasan infrastruktur pendukung dan kapasitas armada penangkapan;

  Terjadinya kerusakan lingkungan pada kawasan daerah aliran sungai dan pesisir; d.

  Masih rendahnya kemampuan kelembagaan kelompok tani ikan dan nelayan; c.

  Masih rendahnya aksesibilitas petani ikan dan nelayan terhadap sarana produksi, permodalan dan tata niaga hasil perikanan; b.

  Permasalahan Urusan Perikanan dan Kelautan : a.

d. Belum optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya hutan;

30) Urusan Energi Dan Sumber Daya Mineral

  32% dari pengusahaan paanas bumi di darajat dan kamojang, yang merupakan bagian dari setoran bagian pemerintah sebesar 34% penerimaan bersih usaha ( nett operating income/ NOI ). Sehubungan lokasi-lokasi tersebut berada di 2 (dua) wilayah (Garut dan Bandung), maka besaran Dana Bagi Hasil Panas Bumi yang diterima akan berubah setiap tahun, tergantung kepada produktivitas pengusahaan; k.

  Belum adanya regulasi di kabupaten Garut terkait dengan perijinan pengusahaan panas bumi;

31) Urusan Perindustrian Dan Perdagangan

  Permasalahan utama adalah : a.

  Pemanfaatan bahan baku lokal masih rendah;

  b. Masih rendahnya kemampuan desain, pengendalian mutu, dan penganekaragaman produk, terutama di sektor industri kreatif; c.

  Masih rendahnya penguasaan teknologi; d.

  Kegiatan industri masih belum ramah lingkungan;

e. Masih terbatasnya kemampuan pengelola pasar; f. Masih belum optimalnya perlindungan terhadap hak-hak kosumen.

4.2 I su Strategis

  Dalam rangka mewujudkan sinergitas perencanaan pembangunan yang komprehensif dan terintegrasi, berdasarkan peraturan perundangan yang telah ditetapkan mengamanatkan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kabupaten merupakan penjabaran dari Visi, Misi Kepala Daerah yang penyusunannya mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propinsi dan Nasional serta dokumen perencanaan pembangunan lainnya.

  Perbandingan I su Strategis Pembangunan Nasional dan isu strategis pembangunan daerah Provinsi Jawa Barat :

  I su Strategis RPJMN I su Strategis RPJMD Tahun 2010- 2014 Provinsi Jaw a Barat Tahun 2013- 2018 1)

1) Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Pertumbuhan penduduk dan

  Kesejahteraan Rakyat persebarannya.

  2) Kualitas dan aksesibilitas pendidikan dan

2) Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan kesehatan.

  3) 3) Penegakan Pilar Demokrasi Pengangguran dan ketenagakerjaan. 4) Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan 4) Penegakkan Hukum Dan Pemberantasan kesejahteraan masyarakat. Korupsi 5) Kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur dasar dan strategis 5) Pembangunan Yang I nklusif Dan

  6) Kualitas lingkungan hidup untuk mendukung Berkeadilan Jabar Green Province terwujudnya .

  7) Kualitas demokrasi 8) Kecepatan dan ketepatan penaganan bencana serta adaptasi masyarakat terhadap bencana 9) Pemerintahan daerah yang efektif dan efisien.

  

I su Strategis RPJMN I su Strategis RPJMD

Tahun 2010- 2014 Provinsi Jaw a Barat Tahun 2013- 2018 10) Pelestarian nilai – nilai dan warisan budaya lokal 11) Pengembangan I ndustri Wisata Jawa Barat 12) Penanggulangan penduduk miskin. 13) Pasar global dan Asean – China Free Trade

  Area (ACFTA) 14)

  Pencegahan dan Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) 15) Alih fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian dan penertiban okupasi lahan tidur (HGU)

  16) Ketahanan Pangan 17) Keamanan dan ketertiban daerah

  Selain itu, dalam perumusan isu-isu strategis memperhatikan 8 (delapan) janji Bupati dan Wakil Bupati periode Tahun 2014-2019 pada saat kampanye, antara lain:

  1. Gratis SPP bagi seluruh siswa SD, SMP, SMA serta beasiswa kuliah bagi putra- putri petani pedagang kecil;

  2. Gratis berobat dan ambulance bagi keluarga miskin; 3.

  Pemberian insentif bagi RW dan RT, Guru Honorer, Kader Posyandu dan Guru ngaji; 4. 300 milyar untuk Pembangunan I nfrastruktur Desa; 5.

  Subsidi harga pupuk dan benih bagi petani kecil; 6. Bantuan modal bagi usaha perempuan, perbaikan 10.000 rumah rakyat miskin, gratis akte kelahiran;

  7. Bantuan sarana prasarana olah raga, seni budaya serta mengembangkan keunggulan pariwisata lokal;

  8. Bantuan keuangan bagi masjid dan madrasah diniyah. Dengan memperhatikan berbagai permasalahan utama pembangunan daerah, isu strategis pembangunan nasional dalam RPJMN Nasional Tahun 2010-2014, dan isu strategis pembangunan provinsi dalam RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2013- 2018, serta janji Bupati dan Wakil Bupati pada saat kampanye maka dirumuskan isu strategis pembangunan Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 sebagai berikut: 1)

  Aksesibilitas dan Tata Kelola Mutu Pendidikan, Kesehatan dan Peningkatan Pengelolaan Pertumbuhan Penduduk dan Kesejahteraan Keluarga;

  2) Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial, Kemiskinan, Pengangguran dan Penanggulangan Bencana Alam;

  3) Peningkatan Laju Pertumbuhan Ekonomi, Pemerataan Kesejahteraan

  Masyarakat dan Ketahanan Pangan; 4)

  Pengembangan Budaya dan Destinasi Wisata; 5)

  Penyediaan I nfrastruktur Dasar yang Memadai; 6) Penanganan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air;

  7) Pelayanan Publik yang Profesional dan Amanah; 8) Peningkatan Partisipasi Masyarakat terhadap Efektifitas Penyelenggaraan Pemerintahan, Kemanan, Kenyamanan, dan Ketertiban Masyarakat.

BAB V PENYAJI AN VI SI , MI SI , TUJUAN DAN SASARAN

5.1 Visi dan Misi Kabupaten Garut

  Sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) harus disusun dengan berpedoman pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dalam menjabarkan visi dan misi dari kepala daerah terpilih. Dan sebagaimana diatur ketentuan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, RPJMD harus ditetapkan melalui Peraturan Daerah.

  Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, maka selain merupakan penjabaran dari visi dan misi Bupati terpilih, RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014 – 2019, mengacu pula pada visi dan misi yang ada dalam RPJPD Kabupaten Garut Tahun 2005 – 2025. Adapun visi pembangunan jangka panjang Kabupaten Garut adalah :

  “MEWUJUDKAN KABUPATEN GARUT YANG MAJU, SEJAHTERA, ADI L DAN BERWAWASAN LI NGKUNGAN”

  I ndikasi terwujudnya pencapaian Visi Pembangunan Kabupaten Garut Tahun 2005-2025, ditandai dengan:

  1 Maju; ditunjukkan dengan keberadaan Kabupaten Garut sebagai daerah otonom yang mampu menggali, memanfaatkan dan mengelola segenap potensi sumberdaya yang dimiliki secara optimal untuk digunakan dalam proses pembangunan sehingga masyarakat Kabupaten Garut memiliki kemampuan dalam membangun struktur ekonomi yang tangguh dan pertumbuhan ekonomi yang bernilai tambah tinggi.

  2 Adil; diindikasikan dengan terselenggaranya prinsip pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi, peran-serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, sehingga meminimalkan konflik sosial dan kesenjangan sebagai upaya mewujudkan terciptanya pola pembangunan yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Kabupaten Garut.

  3 Sejahtera; dimanifestasikan dengan terwujudnya masyarakat yang berakhlak mulia, sehat, cerdas dan produktif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta mampu memainkan peran dan fungsi sebagai subjek dan objek dalam pembangunan yang berkelanjutan.

  4 Berw aw asan Lingkungan; ditunjukkan dengan terwujudnya pembangunan berkelanjutan yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan daya dukung sumber daya alam dan lingkungan untuk menopangnya. Upaya perwujudan visi pembangunan jangka panjang Kabupaten Garut tersebut akan dicapai melalui 4 (empat) misi pembangunan jangka panjang Kabupaten Garut tahun 2005-2025 sebagai berikut :

  1 Mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat yang maju, sehat,

   berbudaya, serta

  berwawasan ilmu dan teknologi;

  2 Meningkatkan perekonomian berbasis potensi daerah yang berfokus pada agribisnis, agroindustri, pariwisata, jasa perdagangan dan kelautan yang berdaya saing dengan memperhatikan kearifan lokal disertai pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan;

  3 Mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan sesuai daya dukung dan fungsi ruang;

  4 Mewujudkan tata kelola pemerintahan daerah yang baik, bersih dan berkelanjutan. RPJMD Kabupaten Garut periode tahun 2014 - 2019 merupakan tahap ketiga dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2005 - 2025 yaitu tahap yang diarahkan untuk lebih memantapkan pembangunan daerah secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing perekonomian daerah yang ditopang oleh kuatnya kemandirian dan keunggulan daerah. Pada Tahap Ketiga ini ditujukan untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Garut yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kontribusi Kabupaten Garut terhadap pencapaian pembangunan baik dalam konteks provinsi maupun nasional. Pada tahapan ini, fokus pembangunan lebih diorientasikan bagaimana mewujudkan Kabupaten Garut keluar dari status sebagai daerah kantong kemiskinan. Dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, permasalahan, tantangan dan peluang serta isu-isu strategis, maka visi tahun 2014 -2019 yaitu :

  

” Terw ujudnya Kabupaten Garut Yang Bermartabat, Nyaman dan Sejahtera”

  Makna yang terkandung dalam visi tersebut dijabarkan sebagai berikut :  Bermartabat :

  Memiliki wibawa, harga diri serta diperhitungkan baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional.  Nyaman : Memiliki suasana yang tenang dan damai, sehingga setiap program pembangunan bisa dilaksanakan dengan optimal dan kondusif  Sejahtera : Hasil pembangunan dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat, sehingga bisa meningkatkan taraf kehidupan mereka dalam pemenuhan kebutuhannya Dalam rangka pencapaian visi yang telah ditetapkan dengan tetap memperhatikan kondisi dan permasalahan yang ada, tantangan ke depan, serta memperhitungkan peluang yang dimiliki, maka ditetapkan 4 (empat) misi sebagai berikut :

  1. Meningkatkan tata kelola pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, terjangkau, prima untuk mewujudkan kehidupan masyarakat bermartabat dan agamis;

  2. Mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal;

  3. Mewujudkan kualitas infrastruktur yang memadai serta lingkungan yang sehat, aman dan nyaman;

  4. Mewujudkan tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik yang profesional, amanah serta membangun kehidupan sosial politik yang demokratis dan berbudaya luhur.

5.2 Tujuan dan Sasaran

  Dalam mewujudkan visi melalui pelaksanaan misi yang telah ditetapkan tersebut di atas, diperlukan adanya kerangka yang jelas pada setiap misi, menyangkut tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Tujuan dan sasaran pada setiap misi yang akan dijalankan, akan memberikan arah bagi pelaksanaan setiap urusan pemerintahan daerah baik urusan terkait aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum maupun aspek daya saing daerah.

  Tujuan merupakan pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai Visi, melaksanakan Misi, dengan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembangunan daerah akan diterjemahkan ke dalam sasaran-sasaran yang ingin dicapai.

  Sementara itu, sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur, spesifik, mudah dicapai, rasional, untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu ke depan. Tujuan dan sasaran pada pelaksanaan masing-masing misi disajikan sebagai berikut :

  

Misi 1 : Meningkatkan tata kelola pelayanan pendidikan dan kesehatan yang

berkualitas, terjangkau, prima untuk mew ujudkan kehidupan masyarakat bermartabat dan agamis.

  Tujuan dan sasaran yang hendak dicapai pada misi pertama adalah sebagai berikut: Tujuan : Meningkatkan kehidupan masyarakat yang cerdas, sehat, bermartabat, memiliki etika serta menjunjung nilai-nilai agama.

  Sasaran : 1)

  Meningkatnya kehidupan masyarakat yang bermartabat, memiliki etika serta menjunjung nilai-nilai agama; 2) Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelayanan pendidikan; 3)

  Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan; 4)

  Terkendalinya pertumbuhan penduduk melalui pengaturan reproduksi keluarga yang sehat serta pelaksanaan fungsi keluarga; 5) Meningkatnya keadilan, kesetaraan gender dan peran perempuan dalam proses pembangunan; 6)

  Meningkatnya pemberdayaan dan akses pelayanan sosial dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial; 7) Meningkatnya kualitas dan produktivitas serta daya saing tenaga kerja.

  

Misi 2 : Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Berbasis Potensi

Lokal.

  Tujuan dan sasaran yang hendak dicapai pada misi kedua adalah sebagai berikut: Tujuan : Meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan aktifitas ekonomi berbasis agribisnis, agroindustri, kelautan dan pariwisata.

  Sasaran : 1) Meningkatnya aktifitas ekonomi masyarakat berbasis agribisnis, agroindustri, kelautan dan pariwisata; 2) Meningkatnya produksi, nilai tambah dan keragaman produk pertanian tanaman pangan, perkebunan dan peternakan; 3) Meningkatnya pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan yang berwawasan lingkungan; 4) Meningkatnya penanganan lahan kritis dan pemanfaatan lahan diluar kawasan hutan yang berfungsi lindung; 5) Meningkatnya ketahanan pangan; 6) Meningkatnya ODTW dan destinasi wisata; 7) Meningkatnya kapasitas kelembagaan koperasi, UMKM, Industri, perdagangan dan nilai investasi daerah dalam mendorong perekonomian Daerah.

  

Misi 3 : Mewujudkan kualitas infrastruktur yang memadai serta lingkungan

yang sehat, aman dan nyaman.

  Tujuan dan sasaran yang hendak dicapai pada misi ketiga adalah sebagai berikut: Tujuan : Meningkatkan infrastruktur dasar yang mampu mendorong percepatan ekonomi, sosial dan budaya.

  Sasaran : 1) Meningkatnya kuantitas dan kualitas infrastruktur jalan yang memadai; 2) Meningkatnya kualitas prasarana dasar pemukiman dan perumahan yang sehat dan nyaman; 3) Meningkatnya ketersediaan rencana tata ruang dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang; 4) Meningkatnya pengelolaan irigasi, konservasi dan pengendalian banjir; 5) Meningkatnya pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya mineral, energi alternatif dan listrik perdesaan; 6) Meningkatnya ketertiban, keselamatan dan kenyaman lalu lintas; 7) Meningkatnya pengendalian pencemaran, kerusakan lingkungan dan resiko bencana.

  V ‐ 4 RPJMD Kabupaten Garut 2014‐2019

  

Misi 4 : Mew ujudkan Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik yang

Profesional Amanah serta Membangun Kehidupan Sosial Politik yang Demokratis dan Berbudaya Luhur.

  Tujuan dan sasaran yang hendak dicapai pada misi keempat adalah sebagai berikut: Tujuan : Meningkatkan pelayanan publik yang profesional dan amanah serta kehidupan sosial politik yang demokratis dan berbudaya luhur.

  Sasaran : 1)

  Terwujudnya penyelenggaraan pemerintah yang baik dan bersih; 2)

  Meningkatnya SDM aparatur yang profesional, disiplin dan berwibawa; 3)

  Meningkatnya efisiensi dan efektifitas anggaran Daerah; 4)

  Meningkatnya pengelolaan asset daerah; 5) Meningkatnya suasana aman dan nyaman ; 6) Meningkatnya kuantitas dan kualitas kehidupan berdemokrasi.

  Keterkaitan tujuan dan sasaran pada pelaksanaan masing-masing misi, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5.1 Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

  

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ( RPJMD)

Kabupaten Garut Tahun 2014- 2019

Misi Tujuan Sasaran Meningkatkan tata kelola pelayanan pendidikan dan kesehatan yang

  

I berkualitas, terjangkau, prima untuk mew ujudkan kehidupan masyarakat

bermartabat dan agamis.

1 Meningkatkan kehidupan

  1 Meningkatnya kehidupan masyarakat yang masyarakat yang cerdas, sehat, bermartabat, memiliki etika serta bermartabat, memiliki etika serta menjunjung nilai-nilai agama menjunjung nilai-nilai agama

  2 Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelayanan pendidikan

  3 Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan

  4 Terkendalinya pertumbuhan penduduk melalui pengaturan reproduksi keluarga yang sehat serta pelaksanaan fungsi keluarga

  5 Meningkatnya keadilan, kesetaraan gender dan peran perempuan dalam proses pembangunan

  Misi Tujuan Sasaran

  6 Meningkatnya pemberdayaan dan akses pelayanan sosial dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial

  7 Meningkatnya kualitas dan produktivitas serta daya saing tenaga kerja

  

II Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Berbasis Potensi Lokal

1 Meningkatkan kemandirian

  1 Meningkatnya aktifitas ekonomi masyarakat ekonomi masyarakat melalui berbasis agribisnis, agroindustri, kelautan pengembangan aktifitas ekonomi dan pariwisata; berbasis agribisnis, agroindustri, kelautan dan pariwisata

  2 Meningkatnya produksi, nilai tambah dan keragaman produk pertanian tanaman pangan, perkebunan dan peternakan

  3 Meningkatnya pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan yang berwawasan lingkungan

  4 Meningkatnya penanganan lahan kritis dan pemanfaatan lahan diluar kawasan hutan yang berfungsi lindung

  5 Meningkatnya ketahanan pangan

  6 Meningkatnya ODTW dan destinasi wisata

  7 Meningkatnya kapasitas kelembagaan koperasi, UMKM, Industri, perdagangan dan nilai investasi daerah dalam mendorong perekonomian Daerah

  

III Mewujudkan kualitas infrastruktur yang memadai serta lingkungan yang

sehat, aman dan nyaman.

1 Meningkatkan infrastruktur dasar

  1 Meningkatnya kuantitas dan kualitas

yang mampu mendorong infrastruktur jalan yang memadai

percepatan ekonomi, sosial dan

  2 Meningkatnya kualitas prasarana dasar budaya pemukiman dan perumahan yang sehat dan nyaman

  3 Meningkatnya ketersediaan rencana tata ruang dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang

  4 Meningkatnya pengelolaan irigasi, konservasi dan pengendalian banjir V ‐ 6

  RPJMD Kabupaten Garut 2014‐2019

  Misi Tujuan Sasaran

  5 Meningkatnya pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya mineral, energi alternatif dan listrik perdesaan

  6 Meningkatnya ketertiban, keselamatan dan kenyaman lalu lintas

  7 Meningkatnya pengendalian pencemaran, kerusakan lingkungan dan resiko bencana

  I V Mew ujudkan Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik yang Profesional , Amanah serta Membangun Kehidupan Sosial Politik yang Demokratis dan Berbudaya Luhur.

4 Meningkatkan pelayanan publik

  1 Terwujudnya penyelenggaraan pemerintah yang profesional dan amanah yang baik dan bersih serta kehidupan sosial politik

  2 Meningkatnya SDM aparatur yang yang demokratis dan berbudaya profesional, disiplin dan berwibawa luhur

  3 Meningkatnya efisiensi dan efektifitas anggaran Daerah

  4 Meningkatnya pengelolaan asset daerah

  5 Meningkatnya suasana aman dan nyaman

  6 Meningkatnya kuantitas dan kualitas kehidupan berdemokrasi

   

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBI JAKAN Untuk menetapkan tujuan dan sasaran pembangunan daerah dalam kurun waktu lima

  tahun ke depan, perlu dilakukan analisis lingkungan yang mempertimbangkan seluruh faktor lingkungan internal yang terdiri atas kekuatan dan kelemahan, serta faktor lingkungan eksternal yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Garut. Analisis ini diperlukan sebagai media untuk memastikan pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan melalui penetapan tujuan ( goal) dan sasaran ( objective) pembangunan daerah yang ingin dicapai serta strateginya dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Proses pengidentifikasian analisis lingkungan ini menggunakan metode analisis SWOT dengan melibatkan seluruh komponen pemerintah daerah, masukan masyarakat yang dihimpun dalam dokumen Pokok-pokok Pikiran DPRD, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Kepala Daerah tahun 2009-2014, serta dokumen perencanaan lainnya yang mendukung.

6.1 Analisis SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity, Threats )

  Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threats) dilakukan untuk mengidentifikasi potensi positif dan negatif dari internal organisasi pemerintah. I dentifikasi ini dimaksudkan agar pemerintah dapat memaksimalkan potensi dirinya dalam upaya mencapai visi dan misi. I dentifikasi tersebut terdiri dari unsur kekuatan dan kelemahan organisasi. Adapun hasil identifikasi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Kekuatan

  Pemerintah Kabupaten Garut yang teridentifikasi adalah sebagai berikut : Tersedianya aparatur yang mempunyai komitmen yang berorientasi pada • pencapaian visi dan misi; Adanya kelembagaan yang sesuai dengan bidang kewenangan; • Adanya program pendidikan dan pelatihan bagi aparatur; •

  • Jumlah penduduk yang besar dengan komposisi penduduk usia produktif yang lebih tinggi;
  • Kehidupan dan budaya masyarakat yang religius dan agamis;

  Adanya keinginan masyarakat untuk bangkit dari ketertinggalan; • Masih tumbuhnya jiwa gotong royong, kebersamaan dan kerukunan antar • warga masyarakat; Kondisi geografis dengan topografi pegunungan dan pantai memiliki • pesona alam yang indah; Sumber daya alam yang cukup melimpah dan beragam (pertanian, • perkebunan, kehutanan, perikanan, kelautan, panas bumi, pertambangan, dan lain sebagainya);

  • Pembangunan jalan lintas selatan Jawa sebagai akses horizontal bagian selatan.

  

VI ‐ 1  

  2. Kelemahan

  Kelemahan Pemerintah Kabupaten Garut dalam pembangunan 5 (lima) tahun mendatang dapat diidentifikasi sebagai berikut :  Rendahnya kemapuan keuangan daerah;

   Kurang optimalnya penguasaan dan aplikasi sistem dan teknologi informasi dalam mendukung pelayanan masyarakat;  Rendahnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayanan dasar;

   Tingginya angka kemiskinan dan pengangguran pada usia produktif;  Kondisi geografis wilayah yang rawan bencana alam dan masih rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur wilayah;

   Masih rendahnya pemanfaatan teknologi dan informasi dalam pengelolaan sumber daya;  Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam bagi peningkatan PAD;

   Limitasi pengembangan wilayah dengan penetapan Kawasan Lindung sebesar 80% .

  3. Peluang

  Peluang untuk pembangunan Kabupaten Garut 5 (lima) tahun ke depan adalah sebagai berikut :  Tersedianya peluang usaha dan investasi khususnya pada sektor agribisnis, agroindustri, pariwisata, kelautan serta energi dan sumber daya mineral;  Pemberlakuan otonomi daerah secara luas bagi pemerintah daerah;  I klim demokratis yang semakin membaik, serta perhatian pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah yang semakin tinggi;  Perkembangan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi terbuka luas;  Mulai tumbuhnya kesadaran kehidupan berpolitik masyarakat, dan terbukanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan melalui otonomi daerah;  Terbukanya informasi pasar baik lokal, regional maupun global yang didukung oleh perkembangan informasi dan teknologi;

   Kebijakan pemerintah pusat dalam pemberian modal bagi pengembangan usaha kecil dan menengah termasuk petani dan nelayan;  Perubahan kebijakan pemerintah pusat dalam pengelolaan dan bagi hasil pemanfaatan sumber daya alam;  Adanya bantuan pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun Provinsi.

  4. Ancaman

  Adapun ancaman yang mungkin muncul dalam pembangunan Kabupaten Garut 5 (lima) tahun ke depanadalah sebagai berikut :  Kebijakan pemerintah pusat yang sering mengalami perubahan;

   Kondisi ekonomi makro yang masih belum stabil;  Pengembangan kawasan Ekonomi Asia;  Dampak negatif arus informasi dan globalisasi yang semakin cepat;

   Terjadinya degradasi moral masyarakat masyarakat;  Pengembangan wilayah sekitar yang memiliki karakteristik sama.

6.2 Strategi dan Arah Kebijakan

  Dalam upaya mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan yang telah dirumuskan, maka perlu ditindaklanjuti dengan upaya untuk mencapainya melalui penyusunan strategi dan arah kebijakan yang akan dilaksanakan dalam pembangunan daerah tahun 2014-2019. Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif Pemerintah Daerah dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran RPJMD secara efektif dan efisien. Dengan pendekatan yang komprehensif, strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi, reformasi, dan perbaikan kinerja birokrasi.

  Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Rumusan strategi menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai yang menunjukkan keinginan yang kuat bagaimana Pemerintah Daerah menciptakan nilai tambah ( value added) bagi stakeholder pembangunan daerah melalui strategi pembangunan daerah yang terpadu dan mampu memberdayakan segenap potensi daerah dan sekaligus memanfaatkan segala peluang yang ada. Selanjutnya strategi yang telah disusun, diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan sebagai pedoman untuk mengarahkan rumusan strategi yang dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari waktu ke waktu selama 5 (lima) tahun. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan strategi agar memiliki fokus dan sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya untuk mencapai tujuan dan sasaran dari visi dan misi selama lima tahun ke depan. Berdasarkan hasil Analisis SWOT, strategi dan arah kebijakan pembangunan Kabupaten Garut yang dipilih untuk 5 (lima) tahun mendatang adalah sebagai berikut:

  

Misi 1 : Meningkatkan tata kelola pelayanan pendidikan dan kesehatan

yang berkualitas, terjangkau, prima untuk mew ujudkan kehidupan masyarakat bermartabat dan agamis.

  Strategi dan arah kebijakan untuk pencapaian misi pertama adalah sebagai berikut: 1.

  Peningkatan pendidikan agama pada semua jenjang sekolah dan kelembagaan lainnya, dengan arah kebijakan : a. Membiasakan membaca Al Quran bagi pegawai Pemda, pelajar yang beragama I slam; b.

  Dukungan pada perbaikan kualitas pendidikan keagamaan, termasuk di madrasah, pesantren dan diniyah; c. Pengembangan I slamic Centre * * ;

  d. Bantuan operasional masjid dan madrasah diniyah * ; e.

  Pemberian insentif bagi Guru ngaji * ;

  2. Peningkatan sistem pembinaan pemuda, pemasalan dan peningkatan prestasi olahraga, serta apresiasi seni budaya secara tepadu dan terarah, dengan arah kebijakan: a.

  Beasiswa kuliah bagi putra-putri petani pedagang kecil * ;

  b. Pembangunan Gedung Pusat Seni dan Budaya (Art Centre) * * ;

  c. Pembangunan Sarana Olah Raga (SOR) * * ; d.

  Pemberdayaan pemuda dan peningkatan prestasi olah raga; e. Pelestarian nilai-nilai budaya daerah; f. Pengembangan sarana prasarana olah raga dan seni budaya lokal di desa/ kelurahan * ; g.

  Pembangunan Perguruan Tinggi / Politeknik di Kabupaten Garut * .

  3. Peningkatan angka partisipasi pada semua jenjang dan jalur pendidikan, dengan arah kebijakan : a. Pemerataan dan perluasan akses pendidikan, khususnya di Desa Tertinggal; b.

  Gratis biaya sekolah (SPP) bagi seluruh siswa SD, SMP, SMA * ;

  c. Beasiswa bagi siswa miskin; d. Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

  4. Peningkatan profesionalisme, kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan, dengan arah kebijakan : a. Pemerataan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan terutama bagi daerah- daerah terpencil; b.

  Peningkatan pengelolaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS); c. Pemberian insentif bagi Guru Honorer * .

  5. I mplementasi Wajar 12 Tahun serta mendorong berkembangnya SMK, dengan arah kebijakan : a.

  Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan;

  b. Peningkatan rata-rata lama sekolah melalui program pendidikan menengah Universal; c. Peningkatan partisipasi jalur pendidikan kejuruan.

  6. Penataan program studi pendidikan formal dan non formal, dengan arah kebijakan: a. Peningkatan partisipasi lembaga pendidikan formal dan non formal; b.

  Peningkatan partisipasi program Kejar Paket (A/ B/ C ).

7. Peningkatan, pengembangan budaya baca, dengan arah kebijakan :

  a. Peningkatan akses perpustakaan dan minat baca masyarakat; b.

  Pembangunan Gedung Perpustakaan Skala Nasional.

  8. Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, dengan arah kebijakan : a. Pembebasan retribusi pelayanan kesehatan dasar; b.

  Standarisasi pelayanan kesehatan masyarakat; c. Optimalisasi sistem jaminan kesehatan;

  d. Gratis berobat dan ambulance bagi keluarga miskin * ; e.

  Peningkatan kesehatan ibu dan anak;

  f. Pemberdayaan masyarakat dalam penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu akibat melahirkan melalui pembangunan Rumah Gizi; g. Pembangunan kesehatan partisipatif berbasis masyarakat; h.

  Penanggulangan HI V/ AI DS; i. Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

9. Peningkatan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan, dengan arah kebijakan :

a. Peningkatan Rumah Sakit dr. Slamet menjadi Tipe B Pendidikan * * ; b.

  Peningkatan Rumah Sakit Pameungpeuk menjadi Tipe D * * ; c. Pembangunan Rumah Sakit Garut Utara * * ; d. Peningkatan Puskesmas Tanpa Tempat Perawatan (TTP) menjadi Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP), Puskesmas Pembantu menjadi Puskesmas dan Puskesmas DTP menjadi Puskesmas Pratama; e.

  Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan; f. Peningkatan dan pemerataan tenaga medis.

  10. Pengendalian kehamilan dan peningkatan cakupan peserta KB, dengan arah kebijakan : a. Peningkatan ketersediaan alat kontrasepsi, pelayanan KB dengan standar mutu yang berkualitas bagi masyarat; b.

  I ntensifikasi penyuluhan/ KI E; c. Penggerakan kader/ I nstitusi Masyarakat.

  11. Optimalisasi fungsi keluarga dalam peningkatan kesejahteraan keluarga, dengan arah kebijakan : a.

  Penguatan Kapasitas Kelembagaan Program Kependudukan, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak; b. Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program transmigrasi.

  12. Peningkatan Keadilan dan kesetaraan gender dan peran perempuan dalam pembangunan, dengan arah kebijakan : a. Optimalisasi penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak;

  b. Bantuan bagi usaha perempuan; c.

  Penyediaan sarana dan prasarana.

  13. Peningkatan penyelenggaraan kesejahteraan sosial melalui pemberdayaan sosial, rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial dalam penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), dengan arah kebijakan : penyelenggaraan kesejahteraan sosial melalui pemberdayaan sosial, rehabilitasi sosial, jaminan sosial dan perlindungan sosial.

  14. Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial melalui aktualisasi nilai-nilai kesetiakawanan sosial, dengan arah kebijakan : a.

  Bantuan bagi masyarakat miskin; b. Penanganan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni.

  15. Peningkatan peran dan fungsi potensi sumber kesejahteraan sosial (PSKS) dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), dengan arah kebijakan pendayagunaan dan pemberdayaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) dalam penanganan PMKS dan pembangunan kesejahteraan sosial.

  16. Peningkatan fungsi dan peran Balai Latihan Kerja (BLK) dan Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) swasta sebagai pusat pendidikan dan pelatihan pencari kerja, dengan arah kebijakan Peningkatan penempatan tenaga kerja melalui mekanisme antar kerja antar lokal (AKAL), antar kerja antar daerah (AKAD) dan antar kerja antar negara (AKAN).

  17. Peningkatan perluasan kesempatan kerja, dengan arah kebijakan :

a. Peningkatan efektivitas informasi pasar kerja dan bursa kerja on line; b. Peningkatan program padat karya produktif.

  18. Peningkatan jejaring kerjasama antar daerah, dengan arah kebijakan peningkatan perlindungan bagi tenaga kerja serta optimalisasi pembinaan dan pengawasan perusahaan.

  

Misi 2 : Mew ujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Berbasis Potensi

Lokal.

  Strategi dan kebijakan untuk pencapaian misi kedua adalah sebagai berikut: 1.

  Peningkatan peran dan kemampuan usaha petani, dengan arah kebijakan :

  a. Fasilitasi, pemberdayaan usaha petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan; b.

  Bantuan subsidi pupuk dan benih bagi petani kecil* .

  2. Pengembangan sektor pertanian berdasarkan tematik wilayah provinsi Jawa Barat, dengan arah kebijakan : a.

  Pengembangan kelembagaan usaha tani berbasis agro bisnis dan agro industri; b. Penanganan pasca panen hortikultura dan tanaman pangan; c.

  Pengembangan kawasan agropolitan di kecamatan Cisurupan dan sekitarnya; d.

  Pengembangan komoditas unggulan jeruk Garut, pengembangan Usaha pembibitan kentang industri, padi organik dan padi ketan; e. Pengembangan kawasan agrowisata desa Barudua kecamatan Malangbong;

  f. Pengembangan kawasan Agropolitan Jagung; g.

  Pengembangan komoditi jagung hibrida;

  h. Pengembangan Usaha pembibitan kentang industri; i. Peningkatan jumlah populasi ternak, khususnya sapi perah dan flasma nutfah domba Garut; j. Pengembangan Sentra Bibit/ Village Breeding Center (VBC); k. Pengembangan Kawasan Peternakan; l. Pengembangan Kampung Domba I ndonesia (KDI ) di Kecamatan Cikajang.

  3. Peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, pemasaran serta penerapan teknologi, dengan arah kebijakan : a. Peningkatan produksi, nilai tambah hasil tanaman pangan hortikultura dan peternakan; b.

  Peningkatan akses petani terhadap iptek, pasar, dan permodalan bunga rendah; c. Pengendalian alih fungsi lahan pertanian; d.

  Pengembangan infrastruktur pertanian.

  4. Peningkatan daya saing produk pertanian, perkebunan, dengan arah kebijakan Peningkatan peran dan kemampuan usaha petani tanaman pangan dan perkebunan.

  5. Peningkatan produksi komoditi unggulan perkebunan, dengan arah kebijakan Pengembangan tanaman kopi rakyat, teh, karet dan akar wangi.

  6. Peningkatan penangkapan, budidaya dan nilai tambah perikanan melalui perbaikan mutu dan pengembangan produk, dengan arah kebijakan : a. Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan;

  b. Pengembangan kawasan budidaya laut, air payau dan air tawar; c.

  Peningkatan produksi hasil laut melalui pengembangan sarana dan prasarana penangkapan dan areal tangkap.

  7. Peningkatan profesionalisme petani dan nelayan serta kelembagaannya, dengan arah kebijakan Pengembangan kawasan minapolitan serta Pembinaan dan penataan kelembagaan usaha serta penguatan aspek pasar.

8. Pengembangan hutan lestari, dengan arah kebijakan :

  a. Peningkatan penanganan lahan kritis di luar kawasan hutan; b.

  Peningkatan pengamanan dan perlindungan hutan.

  9. Peningkatan pemanfaatan usaha hasil hutan, wisata alam dan jasa lingkungan, dengan arah kebijakan : a. Peningkatan produksi aneka hasil kehutanan bukan kayu; b.

  Peningkatan produksi dan nilai tambah hasil hutan.

  10. Peningkatan sistem ketahanan pangan dan peningkatan kapasitas penyuluhan pertanian, dengan arah kebijakan : a.

  Penanganan daerah rawan pangan dan pengembangan lumbung pangan; b. Pengembangan desa mandiri pangan.

11. Peningkatan keunggulan, daya tarik dan promosi wisata, dengan arah kebijakan :

  a. Penataan dan Pengembangan objek wisata unggulan; b.

  Peningkatan sarana dan prasarana penunjang wisata.

  12. Penguatan kelembagaan usaha, kapasitas SDM, sistem pembiayaan dan peluang pasar KUMKM, dengan arah kebijakan peningkatan daya saing produk dan peran KUMKM dalam perekonomian daerah.

  13. Fasilitasi kemitraan Usaha dan optimalisasi fungsi (KADI N), dengan arah kebijakan: a. Pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UMKM; b.

  Bantuan perkuatan Koperasi.

  14. Peningkatan aktifitas ekonomi masyarakat berbasis industri potensi lokal dan perdagangan, dengan arah kebijakan : a. Peningkatan produksi, nilai tambah hasil I KM dan pengembangan industri kreatif; b.

  Pengembangan sentra, klaster industri dan produk ekspor;

  c. Penyediaan informasi peluang usaha sektor/ bidang usaha unggulan serta revitalisasi, optimalisasi fungsi trade center Limbangan; d. Optimalisasi pengelolaan BUMD.

  15. Peningkatan sistem, jaringan distribusi barang dan jasa, dengan arah kebijakan Revitalisasi pasar tradisional dan distribusi barang / jasa.

  16. Promosi I nvestasi secara intensif, dengan arah kebijakan Penyelenggaraan pameran dan temu investor.

  17. Pemberian jaminan kepastian hukum pelaksanaan penanaman modal, dan peningkatan pengendalian investasi, dengan arah kebijakan   Penataan regulasi penanaman modal daerah dan peningkatan pemantauan, pembinaan dan pengawasan penanaman modal.

  

Misi 3 : Mew ujudkan kualitas infrastruktur yang memadai serta lingkungan

yang sehat, aman dan nyaman.

  Strategi dan kebijakan untuk pencapaian misi ketiga adalah sebagai berikut: 1.

  Peningkatan kualitas dan daya dukung jalan dan jembatan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan, dengan arah kebijakan Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Jalan dan Jembatan.

  2. Pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan jalan berdasarkan koridor pusat pertumbuhan dan wilayah strategis, dengan arah kebijakan : a. Lanjutan pembangunan jalan by pass;

  b. Pembangunan jalan penghubung Kecamatan Karangpawitan – Banyuresmi; c.

  Pembangunan akses jalan wisata jalan lingkar Cipanas, jalan situ Cangkuang- Leles;

  d. Perencanaan Pembangunan jalan alternatif Kadungora – Leles; e. Pembangunan jalan alternatif Pasar Wanaraja (Kp. Babakan - Kp. Bojong Ds.

  Wanamekar);

  f. Peningkatan akses jalan Kawasan Strategis Provinsi ( KSP ) Darajat;

  g. Peningkatan akses jalan Bingbulang - Cijayana dan Bungbulang – Sukarame; h.

  Peningkatan akses jalan penghubung antar kecamatan;

i. Pelapisan hotmix ruas jalan perkotaan;

  j. Pembangunan jembatan Cimurah-Cipicung kecamatan Karangpawitan; k. Peningkatan infrastruktur jalan desa; l. Pembangunan jembatan Cipasarangan kecamatan Cikelet; m.

  Perencanaan pembangunan jalan alternatif Garut – Cibatu; n. Perencanaan pembangunan jalan alternatif Kota Balubur Limbangan; o.

  Pembangunan jalan alternatif Balubur Limbangan – Malangbong;

  ; Perencanaan Pembangunan Jalan dan Jembatan Cimanuk By Pass Tahap I I q. Perencanaan pembangunan jalan alternatif Banyuresmi Situ Bagendit.

  • p.

  3. Peningkatan Penataan Perkotaan/ perdesaan, bangunan gedung dan kualitas lingkungan permukiman dan perumahan, dengan arah kebijakan : a.

  Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur dasar pemukiman dan perumahan; b.

  Penanganan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni; c. Penataan kawasan perkotaan dan perdesaan; d.

  Peningkatan kualitas kontruksi bangunan gedung dan penanggulangan kebakaran; e.

  Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut (Kadungora, Stasiun Cibatu, Malangbong, Cibalong, Talegong, Pelabuhan Samudra);

  f. Pembangunan/ Rehabilitasi Jembatan Rawayan;

  g. Penataan wilayah perkotaan Garut (PKL); h.

  Pembangunan I nfrastruktur Desa dan Perdesaan;

i. Perencanaan pembangunan kawasan pusat perkantoran pemerintah Kabupaten Garut.

  4. Peningkatan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah, dengan arah kebijakan: a.

c. Perlindungan mata air/ pembebasan lahan mata air Cibolerang kecamatan Wanaraja, dan mata air lainnya.

  9. Peningkatan jaringan dan kapasitas energi listrik, dengan arah kebijakan : a.

  Perencanaan Pembangunan Terminal Barang di Kecamatan Leles.

  g. Penataan wilayah perkotaan Garut (Parkir ); h.

  f. Perencanaan peningkatan terminal Tipe-A perkotaan kota Garut;

  Bantuan sarana / fasilitas perhubungan bagi desa tertinggal; e. Peningkatan sarana dan prasarana perhubungan;

  c. Perencanaan Peningkatan terminal Tipe-B Malangbong; d.

  Tahun 2015 – 2020;

  Evaluasi dan pengendalian trayek; b. Penyusunan Rencana I nduk Lalu Lintas Angkutan Jalan Kabupaten Garut

  10. Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur perhubungan dalam rangka peningkatan pelayanan pergerakan orang, barang dan jasa, dengan arah kebijakan : a.

  Pengembangan jaringan listrik perdesaan;

  8. Peningkatan, pemeliharaan sumber air, dengan arah kebijakan pembangunan, rehabilitasi dan peningkatan situ.

  Akselerasi pencapaian MDG’s; b. Pengembangan sistem penyediaan dan pengelolaan air bersih diantaranya melalui pengembangan SPAM I KK perkotaan dan perdesaan;

  Perlindungan dan konservasi sumber daya alam, mineral dan air tanah.

  g. Penyediaan dan pengelolaan air baku; h.

  f. Pengendalian banjir dan kekeringan serta pengamanan pantai;

  Konservasi kawasan hulu DAS dan sub DAS; e. Pengembangan, pengelolaan dan konservasi sumber daya air;

  c. Rehabilitasi drainase perkotaan dan penanggulangan banjir perkotaan; d.

  Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya; b. Pembangunan jaringan irigasi Leuwigoong;

  7. Peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya air, dengan arah kebijakan : a.

  6. Penyediaan data dan informasi spasial daerah yang terintegrasi, dengan arah kebijakan Peningkatan peran dan fungsi lembaga koordinasi perencanaan tata ruang daerah.

  Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru; c. Perencanaan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Kawasan I ndustri terpadu.

  a. I ntensifikasi sosialisasi regulasi, pengawasan dan pengendalian penataan ruang; b.

  5. Perencanaan tata ruang untuk kawasan strategis, dengan arah kebijakan :

b. Pembinaan, pengembangan ketenagalistrikan pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta pengkajian sosial ekonomi potensi panas bumi.

  11. Penurunan tingkat pencemaran, kerusakan lingkungan dan resiko bencana, dengan arah kebijakan : a.

  Peningkatan layanan, pengendalian pencemaran, pengaduan pencemaran dan kerusakan lingkungan; b. Perlindungan mata air;

  c. Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS); d.

  Penanganan revitalisasi I PAL industri kulit Sukaregang.

  12. Peningkatan, pengembangan sarana dan prasarana lingkungan, pencemaran dan persampahan, dengan arah kebijakan : a.

  Perencanaan pembangunan TPA Wilayah (Banjarwangi, Caringin dan Pameungpeuk);

  b. Revitalisasi TPA Pasirbajing;

  c. Pengadaan alat angkut, alat berat persampahan; d.

  Penataan wilayah perkotaan Garut (Pertamanan); e. Peningkatan penanganan pengelolaan PJU dan listrik untuk masjid besar dan madrasah diniyah.

  13. Peningkatan ketersediaan, kesiapan infrastruktur penanggulangan bencana dan resiko bencana, dengan arah kebijakan : a. Sosialisasi Penanggulangan bencana dan resiko bencana;

  b. Peningkatan partisipasi, lembaga masyarakat dalam penanggulangan bencana dan resiko bencana.

  

Misi 4 : Mew ujudkan Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik yang

Profesional Amanah serta Membangun Kehidupan Sosial Politik yang Demokratis dan Berbudaya Luhur.

  Strategi dan kebijakan untuk pencapaian misi keempat adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan sistem pengendalian internal pemerintah, dengan arah kebijakan : a.

  Optimalisasi penerapan sistem pengendalian internal pemerintah (SPI P); b.

  Peningkatan informasi pengelolaan keuangan yang akuntabel; c. Pemeriksaan terpadu antar lembaga dan non lembaga.

  2. Peningkatan pengawasan, pembinaan kinerja organisasi pemerintah, dengan arah kebijakan : a.

  Peningkatan pengawasan reguler, implementasi aksi daerah pencegahan korupsi; Evaluasi dan penyelesaian temuan; b. Fasilitasi peningkatan pengawasan API P dan pendampingan dalam penyelesaian tindak lanjut; c. Peningkatan penyelesaian pengaduan masyarakat.

  3. Pemantapan Otonomi Daerah dan Sistem Administrasi pemerintahan daerah, dengan arah kebijakan : a.

  Peningkatan efektivitas dan efisiensi kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah daerah; b. Penataan Struktur Organisasi Tata Kerja kelembagaan pemerintah daerah; c.

  Fasilitasi pembentukan Daerah Otonomi Baru Garut Selatan; d.

  Peningkatan, penguatan pengelolaan arsip daerah;

e. Penataan Daerah Otonomi Baru.

  4. Peningkatan akuntabilitas kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah, dengan arah kebijakan : a.

b. Bantuan, insentif dalam rangka peningkatan peran dan fungsi kelembagaan

6. Peningkatan sarana dan prasarana perdesaan, dengan arah kebijakan :

a. Peningkatan koordinasi dan Fasilitasi program pembangunan daerah; b.

7. Peningkatan pelayanan prima dan kepuasan masyarakat, dengan arah kebijakan : a.

  Fasilitasi penyelesaian permasalahan konflik pertanahan;

  Peningkatan koordinasi dan kerjasama perencanaan pembangunan daerah;

  Perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh; d.

  Peningkatan perencanaan pembangunan daerah yang aspiratif, berkelanjutan dan berkualitas; b. Peningkatan pelaksanaan monitoring, evaluasi serta pengendalian perencanaan pembangunan daerah; c.

  8. Peningkatan Sistem Perencanaan pembangunan daerah yang berkualitas, dengan arah kebijakan : a.

  g. Penataan administrasi kependudukan melalui Pelayanan dokumen kependudukan, akte pencatatan sipil dan gratis pembuatan akte kelahiran serta laminasi.

  f. Pengendalian penyelenggaraan pelayanan perijinan dan non perijinan;

  d. Optimalisasi fungsi Sistem I nformasi Publik; e.

  Peningkatan koordinasi dan sistem penyelenggaraan pemerintahan;

  Operasional Prosedur (SOP) dan persiapan penetapan I SO;

  Kecamatan (PATEN); c. Peningkatan penerapan Standar Pelayanan Minimum (SPM), Standar

  Peningkatan kualitas layanan publik secara berkelanjutan melalui pengukuran tingkat kepuasan atas pelayanan publik; b. Peningkatan pelayanan publik melalui Pelayanan Administrasi Terpadu

  Peningkatan infrastruktur Desa; c. Pembangunan dan rehabilitasi gedung pemerintah daerah, kantor kecamatan dan desa/ kelurahan.

  Peningkatan Penyelenggaraan Program dan Optimalisasi pengelolaan aset PNPM Mandiri Pedesaan.

  Peningkatan Penataan Sistem Administrasi Pemerintahan, kapasitas kelembagaan, dan tanah kas Desa; e.

  RT dan RW; c. Revitalisasi pos yandu dan bantuan operasional kader pos yandu; d.

  Peningkatan partisipasi dan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pembangunan desa;

  5. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan desa dan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pembangunan desa, dengan arah kebijakan : a.

  c. Optimalisasi, fasilitasi kapasitas Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Garut.

  b. Penguatan, sosialisasi kebijakan pemerintah daerah;

e. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan;

  f. Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Desa bagi Aparatur Pemerintah Daerah, Kecamatan, Kelurahan dan Desa.

  9. Peningkatan kapasitas SDM aparatur yang profesional dan amanah, dengan arah kebijakan : a. Penetapan standar pendidikan dan pelatihan aparatur untuk setiap jenis pekerjaan dan jenjang jabatan; b.

  Penetapan standar kompetensi pekerjaan dan jabatan pegawai negeri;

  c. Peningkatan kapasitas dan kapabilitas Sumber Daya Aparatur Pemerintah dalam rangka penerapan UU ASN.

  10. Peningkatan kesejahteraan pegawai dalam rangka mewujudkan pelayanan prima, dengan arah kebijakan Optimalisasi sistem kepegawaian daerah.

  11. Peningkatan pembinaan disiplin dan etos kerja pegawai, dengan arah kebijakan :

a. Penetapan sasaran kinerja pegawai; b.

  Optimalisasi sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010.

12. Peningkatan pengelolaan keuangan daerah, dengan arah kebijakan :

a. Penetapan, pelaksanaan kebijakan umum anggaran daerah; b.

  Peningkatan intensifikasi dan ekstensifikasi potensi pendapatan daerah.

  13. Peningkatan pengelolaan asset daerah, dengan arah kebijakan pengadaan tanah, sertifikasi dan penataan aset daerah.

  14. Peningkatan pengendalian keamanan dan ketertiban lingkungan, dengan arah kebijakan peningkatan partisipasi masyarakat dalam trantibmas.

  15. Peningkatan koordinasi pencegahan, penanganan konflik, dengan arah kebijakan peningkatan pemahaman ketahanan bangsa, pencegahan, penanganan konflik wilayah perbatasan.

  16. Peningkatan kesadaran hak dan kewajiban politik sebagai warga negara, dengan arah kebijakan peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan politik.

Tabel 6.1 Strategi dan Arah Kebijakan

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  

I Meningkatkan tata kelola pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas,

terjangkau, prima untuk mew ujudkan kehidupan masyarakat bermartabat dan agamis.

1 Peningkatan pendidikan agama

  1 Membiasakan membaca Al Quran bagi pegawai

pada semua jenjang sekolah dan Pemda, pelajar yang beragama I slam

kelembagaan lainnya

  2 Dukungan pada perbaikan kualitas pendidikan keagamaan, termasuk di madrasah, pesantren dan diniyah

  3 Pengembangan I slamic Centre * *

  4 Bantuan operasional masjid dan madrasah diniyah *

5 Pemberian insentif bagi Guru ngaji *

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  5 I mplementasi Wajar 12 Tahun serta mendorong berkembangnya SMK

  4 Gratis berobat dan ambulance bagi keluarga miskin *

  3 Optimalisasi sistem jaminan kesehatan

  2 Standarisasi pelayanan kesehatan masyarakat

  1 Pembebasan retribusi pelayanan kesehatan dasar

  8 Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan

  2 Pembangunan Gedung Perpustakaan Skala Nasional

  1 Peningkatan akses perpustakaan dan minat baca masyarakat

  7 Peningkatan, pengembangan budaya baca

  2 Peningkatan partisipasi program Kejar Paket (A/ B/ C )

  1 Peningkatan partisipasi lembaga pendidikan formal dan non formal

  6 Penataan program studi pendidikan formal dan non formal

  3 Peningkatan partisipasi jalur pendidikan kejuruan

  2 Peningkatan rata-rata lama sekolah melalui program pendidikan menengah Universal

  1 Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan

  3 Pemberian insentif bagi Guru Honorer *

  2 Peningkatan sistem pembinaan pemuda, pemasalan dan peningkatan prestasi olahraga, serta apresiasi seni budaya secara tepadu dan terarah

  7 Pembangunan Perguruan Tinggi / Politeknik di Kabupaten Garut *

  1 Beasiswa kuliah bagi putra-putri petani pedagang kecil *

  2 Pembangunan Gedung Pusat Seni dan Budaya ( Art Centre) * *

  3 Pembangunan Sarana Olah Raga (SOR) * *

  4 Pemberdayaan pemuda dan peningkatan prestasi olah raga

  5 Pelestarian nilai-nilai budaya daerah

  6 Pengembangan sarana prasarana olah raga dan seni budaya lokal di desa/ kelurahan *

  3 Peningkatan angka partisipasi pada semua jenjang dan jalur pendidikan

  2 Peningkatan pengelolaan Bantuan Operasional Sekolah ( BOS)

  1 Pemerataan dan perluasan akses pendidikan, khususnya di Desa Tertinggal

  2 Gratis biaya sekolah (SPP) bagi seluruh siswa SD, SMP, SMA *

  3 Beasiswa bagi siswa miskin

  4 Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan

  4 Peningkatan profesionalisme, kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan

  1 Pemerataan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan terutama bagi daerah-daerah terpencil.

  5 Peningkatan kesehatan ibu dan anak

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  6 Pemberdayaan masyarakat dalam penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu akibat melahirkan melalui pembangunan Rumah Gizi

  7 Pembangunan kesehatan partisipatif berbasis masyarakat

  8 Penanggulangan HI V/ AI DS

  9 Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

  9 Peningkatan akses dan

  1 Peningkatan Rumah Sakit dr. Slamet menjadi pemerataan pelayanan Tipe B Pendidikan * * kesehatan

  2 Peningkatan Rumah Sakit Pameungpeuk menjadi Tipe D * *

  3 Pembangunan Rumah Sakit Garut Utara * *

  4 Peningkatan Puskesmas Tanpa Tempat Perawatan (TTP) menjadi Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP), Puskesmas Pembantu menjadi Puskesmas dan Puskesmas DTP menjadi Puskesmas Pratama

  5 Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan

  6 Peningkatan dan pemerataan tenaga medis

  10 Pengendalian kehamilan dan

  1 Peningkatan ketersediaan alat kontrasepsi, peningkatan cakupan peserta pelayanan KB dengan standar mutu yang KB berkualitas bagi masyarat

  2 I ntensifikasi penyuluhan/ KI E

  3 Penggerakan kader/ I nstitusi Masyarakat

  11 Optimalisasi fungsi keluarga

  1 Penguatan Kapasitas Kelembagaan Program

dalam peningkatan Kependudukan, Keluarga Berencana,

kesejahteraan keluarga Pemberdayaan Perempuan Dan Anak

  2 Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program transmigrasi

  12 Peningkatan Keadilan dan

  1 Optimalisasi penanganan kasus kekerasan kesetaraan gender dan peran terhadap perempuan dan anak perempuan dalam

  2 Bantuan bagi usaha perempuan pembangunan

  3 Penyediaan sarana dan prasarana

  13 Peningkatan penyelenggaraan

  1 Penyelenggaraan kesejahteraan sosial melalui kesejahteraan sosial melalui pemberdayaan sosial, rehabilitasi sosial, jaminan pemberdayaan sosial, sosial dan perlindungan sosial. rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial dalam penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  1 Fasilitasi, pemberdayaan usaha petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan

  8 Pengembangan Usaha pembibitan kentang industri

   

  

7

Pengembangan komoditi jagung hibrida

  6 Pengembangan kawasan Agropolitan Jagung

  5 Pengembangan kawasan agrowisata desa Barudua kecamatan Malangbong

  4 Pengembangan komoditas unggulan jeruk Garut, pengembangan Usaha pembibitan kentang industri, padi organik dan padi ketan

  3 Pengembangan kawasan agropolitan di kecamatan Cisurupan dan sekitarnya

  2 Penanganan pasca panen hortikultura dan tanaman pangan

  1 Pengembangan kelembagaan usaha tani berbasis agro bisnis dan agro industri

  2 Pengembangan sektor pertanian berdasarkan tematik wilayah provinsi Jawa Barat

  2 Bantuan subsidi pupuk dan benih bagi petani kecil

  1 Peningkatan peran dan kemampuan usaha petani

  14 Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial melalui aktualisasi nilai- nilai kesetiakawanan sosial.

  I I Mew ujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Berbasis Potensi Lokal

  1 Peningkatan perlindungan bagi tenaga kerja serta optimalisasi pembinaan dan pengawasan perusahaan

  18 Peningkatan jejaring kerjasama antar daerah

  2 Peningkatan program padat karya produktif

  1 Peningkatan efektivitas informasi pasar kerja dan bursa kerja on line.

  17 Peningkatan perluasan kesempatan kerja

  1 Peningkatan penempatan tenaga kerja melalui mekanisme antar kerja antar lokal (AKAL), antar kerja antar daerah (AKAD) dan antar kerja antar negara (AKAN)

  16 Peningkatan fungsi dan peran Balai Latihan Kerja (BLK) dan Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) swasta sebagai pusat pendidikan dan pelatihan pencari kerja.

  1 Pendayagunaan dan pemberdayaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) dalam penanganan PMKS dan pembangunan kesejahteraan sosial

  15 Peningkatan peran dan fungsi potensi sumber kesejahteraan sosial (PSKS) dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

  2 Penanganan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni

  1 Bantuan bagi masyarakat miskin

  9 Peningkatan jumlah populasi ternak, khususnya sapi perah dan flasma nutfah domba Garut

  Misi Strategi Arah Kebijakan

11 Pengembangan Kawasan Peternakan

  1 Pengembangan kawasan minapolitan serta Pembinaan dan penataan kelembagaan usaha serta penguatan aspek pasar

  7 Peningkatan profesionalisme petani dan nelayan serta kelembagaannya

  3 Peningkatan produksi hasil laut melalui pengembangan sarana dan prasarana penangkapan dan areal tangkap

  2 Pengembangan kawasan budidaya laut, air payau dan air tawar

  1 Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan

  6 Peningkatan penangkapan, budidaya dan nilai tambah perikanan melalui perbaikan mutu dan pengembangan produk

  1 Pengembangan tanaman kopi rakyat, teh, karet dan akar wangi

  1 Peningkatan peran dan kemampuan usaha petani tanaman pangan dan perkebunan

  5 Peningkatan produksi komoditi unggulan perkebunan

  4 Peningkatan daya saing produk pertanian, perkebunan

  4 Pengembangan infrastruktur pertanian

  3 Pengendalian alih fungsi lahan pertanian

  2 Peningkatan akses petani terhadap iptek, pasar, dan permodalan bunga rendah

  1 Peningkatan produksi, nilai tambah hasil tanaman pangan hortikultura dan peternakan

  3 Peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, pemasaran serta penerapan teknologi

  12 Pengembangan Kampung Domba I ndonesia (KDI ) di Kecamatan Cikajang

  10 Pengembangan Sentra Bibit/ Village Breeding Center (VBC)

8 Pengembangan hutan lestari

  9 Peningkatan pemanfaatan usaha hasil hutan, wisata alam dan jasa lingkungan.

  1 Peningkatan produksi aneka hasil kehutanan bukan kayu

  2 Peningkatan produksi dan nilai tambah hasil hutan

  10 Peningkatan sistem ketahanan pangan dan peningkatan kapasitas penyuluhan pertanian

  1 Penanganan daerah rawan pangan dan pengembangan lumbung pangan

  2 Pengembangan desa mandiri pangan

  11 Peningkatan keunggulan, daya Tarik dan promosi wisata

  1 Penataan dan Pengembangan objek wisata unggulan

  2 Peningkatan sarana dan prasarana penunjang wisata

  12 Penguatan kelembagaan usaha, kapasitas SDM, sistem pembiayaan dan peluang pasar KUMKM

  1 Peningkatan daya saing produk dan peran KUMKM dalam perekonomian daerah

  13 Fasilitasi kemitraan Usaha dan optimalisasi fungsi ( KADI N )

  1 Pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UMKM

  2 Bantuan perkuatan Koperasi

  2 Peningkatan pengamanan dan perlindungan hutan

  1 Peningkatan penanganan lahan kritis di luar kawasan hutan

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  14 Peningkatan aktifitas ekonomi

  1 Peningkatan produksi, nilai tambah hasil I KM

masyarakat berbasis industri dan pengembangan industri kreatif

potensi lokal dan perdagangan

  2 Pengembangan sentra, klaster industri dan produk ekspor

  3 Penyediaan informasi peluang usaha sektor/ bidang usaha unggulan serta revitalisasi, optimalisasi fungsi trade center Limbangan

  4 Optimalisasi pengelolaan BUMD

  15 Peningkatan sistem, jaringan

  1 Revitalisasi pasar tradisional dan distribusi distribusi barang dan jasa barang / jasa

  16 Promosi I nvestasi secara intensif

  1 Penyelenggaraan pameran dan temu investor

  17 Pemberian jaminan kepastian

  2 Penataan regulasi penanaman modal daerah dan hukum pelaksanaan penanaman peningkatan pemantauan, pembinaan dan modal, dan peningkatan pengawasan penanaman modal pengendalian investasi

  I I I Mew ujudkan kualitas infrastruktur yang memadai serta lingkungan yang sehat, aman dan nyaman

  1 Peningkatan kualitas dan daya

  1 Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan dukung jalan dan jembatan Jalan dan Jembatan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan

  2 Pembangunan, peningkatan dan

  1 Lanjutan pembangunan jalan by pass pemeliharaan jalan berdasarkan

  2 Pembangunan jalan penghubung Kecamatan koridor pusat pertumbuhan dan Karangpawitan - Banyuresmi wilayah strategis

  3 Pembangunan akses jalan wisata jalan lingkar Cipanas, jalan situ Cangkuang- Leles

  4 Perencanaan Pembangunan jalan alternatif Kadungora - Leles

  5 Pembangunan jalan alternatif Pasar Wanaraja (Kp. Babakan - Kp. Bojong Ds. Wanamekar )

  6 Peningkatan akses jalan Kawasan Strategis Provinsi ( KSP ) Darajat

  7 Peningkatan akses jalan Bingbulang - Cijayana dan Bungbulang - Sukarame

  8 Peningkatan akses jalan penghubung antar Kecamatan

  9 Pelapisan hotmix ruas jalan perkotaan

  10 Pembangunan jembatan Cimurah-Cipicung kecamatan Karangpawitan

  11 Peningkatan infrastruktur jalan desa

  12 Pembangunan jembatan Cipasarangan kecamatan Cikelet

  13 Perencanaan pembangunan jalan alternatif Garut – Cibatu

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  14 Perencanaan pembangunan jalan alternatif Kota Balubur Limbangan

  15 Pembangunan jalan alternatif Balubur Limbangan – Malangbong

  16 Perencanaan Pembangunan Jalan dan Jembatan Cimanuk By Pass Tahap I I * *

  17 Perencanaan pembangunan jalan alternatif Banyuresmi Situ Bagendit

3 Peningkatan Penataan

  1 Peningkatan kuantitas dan kualitas

Perkotaan/ perdesaan, bangunan infrastruktur dasar pemukiman dan

gedung dan kualitas lingkungan perumahan permukiman dan perumahan

  2 Penanganan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni

  

3

Penataan kawasan perkotaan dan perdesaan

  4 Peningkatan kualitas kontruksi bangunan gedung dan penanggulangan kebakaran

  5 Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut (Kadungora, Stasiun Cibatu, Malangbong, Cibalong, Talegong, Pelabuhan Samudra)

  6 Pembangunan/ Rehabilitasi Jembatan Rawayan

  7 Penataan wilayah perkotaan Garut (PKL)

  8 Pembangunan I nfrastruktur Desa dan Perdesaan

  9 Perencanaan pembangunan kawasan pusat perkantoran pemerintah Kabupaten Garut Akselerasi pencapaian MDG’s

4 Peningkatan kinerja pengelolaan

  

1

air minum dan air limbah

  2 Pengembangan sistem penyediaan dan pengelolaan air bersih diantaranya melalui pengembangan SPAM I KK perkotaan dan perdesaan

  3 Perlindungan mata air/ pembebasan lahan mata air Cibolerang kecamatan Wanaraja, dan mata air lainnya

  1 I ntensifikasi sosialisasi regulasi, pengawasan

  5 Perencanaan tata ruang untuk dan pengendalian penataan ruang kawasan strategis

  2 Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru

  3 Perencanaan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Kawasan I ndustri terpadu

  6 Penyediaan data dan informasi

  1 Peningkatan peran dan fungsi lembaga spasial daerah yang terintegrasi koordinasi perencanaan tata ruang daerah

  7 Peningkatan kuantitas dan

  1 Pengembangan dan pengelolaan jaringan kualitas sumber daya air irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya

2 Pembangunan jaringan irigasi Leuwigoong

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  4 Bantuan sarana / fasilitas perhubungan bagi desa tertinggal

  3 Pengadaan alat angkut, alat berat persampahan

  2 Revitalisasi TPA Pasirbajing

  1 Perencanaan pembangunan TPA Wilayah (Banjarwangi, Caringin dan Pameungpeuk )

  12 Peningkatan, pengembangan sarana dan prasarana lingkungan, pencemaran dan persampahan

  4 Penanganan revitalisasi I PAL industri kulit Sukaregang

  3 Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS);

  2 Perlindungan mata air

  1 Peningkatan layanan, pengendalian pencemaran, pengaduan pencemaran dan kerusakan lingkungan

  11 Penurunan tingkat pencemaran, kerusakan lingkungan dan resiko bencana

  8 Perencanaan Pembangunan Terminal Barang di Kecamatan Leles

  7 Penataan wilayah perkotaan Garut (Parkir )

  6 Perencanaan peningkatan terminal Tipe-A perkotaan kota Garut

  5 Peningkatan sarana dan prasarana perhubungan

  3 Perencanaan Peningkatan terminal Tipe-B Malangbong

  3 Rehabilitasi drainase perkotaan dan penanggulangan banjir perkotaan

  2 Penyusunan Rencana I nduk Lalu Lintas Angkutan Jalan Kabupaten Garut Tahun 2015 - 2020

  1 Evaluasi dan pengendalian trayek

  10 Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur perhubungan dalam rangka peningkatan pelayanan pergerakan orang, barang dan jasa

  2 Pembinaan, pengembangan ketenagalistrikan pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta pengkajian sosial ekonomi potensi panas bumi

  1 Pengembangan jaringan listrik perdesaan

  9 Peningkatan jaringan dan kapasitas energi listrik

  1 Pembangunan, rehabilitasi dan peningkatan situ

  8 Peningkatan, pemeliharaan sumber air

  8 Perlindungan dan konservasi sumber daya alam, mineral dan air tanah

  7 Penyediaan dan pengelolaan air baku

  6 Pengendalian banjir dan kekeringan serta pengamanan pantai

  5 Pengembangan, pengelolaan dan konservasi sumber daya air

  4 Konservasi kawasan hulu DAS dan sub DAS

  4 Penataan wilayah perkotaan Garut (Pertamanan )

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  5 Peningkatan penanganan pengelolaan PJU dan listrik untuk masjid besar dan madrasah diniyah

13 Peningkatan ketersediaan,

  1 Sosialisasi Penanggulangan bencana dan kesiapan infrastruktur resiko bencana penanggulangan bencana dan

  2 Peningkatan partisipasi, lembaga masyarakat resiko bencana dalam penanggulangan bencana dan resiko bencana

  I V Mew ujudkan Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik yang Profesional Amanah serta Membangun Kehidupan Sosial Politik yang Demokratis dan Berbudaya Luhur.

  1 Peningkatan sistem

  1 Optimalisasi penerapan sistem pengendalian pengendalian internal internal pemerintah (SPI P)

   

  pemerintah

  2 Peningkatan informasi pengelolaan keuangan yang akuntabel

  3 Pemeriksaan terpadu antar lembaga dan non lembaga

  2 Peningkatan pengawasan,

  1 Peningkatan pengawasan reguler,implementasi pembinaan kinerja organisasi aksi daerah pencegahan korupsi; Evaluasi dan pemerintah penyelesaian temuan

  2 Fasilitasi peningkatan pengawasan API P dan pendampingan dalam penyelesaian tindak lanjut

  3 Peningkatan penyelesaian pengaduan masyarakat;

  3 Pemantapan Otonomi Daerah

  1 Peningkatan efektivitas dan efisiensi dan Sistem Administrasi kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah pemerintahan daerah daerah

  2 Penataan Struktur Organisasi Tata Kerja kelembagaan pemerintah daerah Fasilitasi pembentukan Daerah Otonomi Baru

  

3

Garut Selatan

  4 Peningkatan, penguatan pengelolaan arsip daerah

  5 Penataan Daerah Otonomi Baru

  4 Peningkatan akuntabilitas kinerja

  1 Peningkatan koordinasi dan sistem penyelenggaraan pemerintah penyelenggaraan pemerintahan daerah

  2 Penguatan, sosialisasi kebijakan pemerintah daerah

  3 Optimalisasi, fasilitasi kapasitas Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Garut

  5 Peningkatan kualitas

  1 Peningkatan partisipasi dan kapasitas penyelenggaraan pemerintahan kelembagaan masyarakat dalam desa dan kapasitas kelembagaan pembangunan desa

  Misi Strategi Arah Kebijakan masyarakat dalam

  2 Bantuan, insentif dalam rangka peningkatan pembangunan desa peran dan fungsi kelembagaan RT dan RW

  3 Revitalisasi pos yandu dan bantuan operasional kader pos yandu

  4 Peningkatan Penataan Sistem Administrasi Pemerintahan, kapasitas kelembagaan, dan tanah kas Desa

  5 Peningkatan Penyelenggaraan Program dan Optimalisasi pengelolaan aset PNPM Mandiri Pedesaan

  6 Peningkatan sarana dan

  1 Peningkatan koordinasi dan Fasilitasi program prasarana perdesaan pembangunan daerah

  2 Peningkatan infrastruktur Desa

  3 Pembangunan dan rehabilitasi gedung pemerintah daerah, kantor kecamatan dan desa/ kelurahan

  7 Peningkatan pelayanan prima

  1 Peningkatan kualitas layanan publik secara dan kepuasan masyarakat berkelanjutan melalui pengukuran tingkat kepuasan atas pelayanan publik Peningkatan pelayanan publik melalui

  

2

Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) Peningkatan penerapan Standar Pelayanan

  

3

Minimum (SPM), Standar Operasional Prosedur (SOP) dan persiapan penetapan I SO Optimalisasi fungsi Sistem I nformasi Publik

  

4

  5 Fasilitasi penyelesaian permasalahan konflik pertanahan Pengendalian penyelenggaraan pelayanan

  

6

perijinan dan non perijinan

  7 Penataan administrasi kependudukan melalui Pelayanan dokumen kependudukan, akte pencatatan sipil dan gratis pembuatan akte kelahiran serta laminasi

  8 Peningkatan Sistem

  1 Peningkatan perencanaan pembangunan Perencanaan pembangunan daerah yang aspiratif, berkelanjutan dan daerah yang berkualitas berkualitas

  2 Peningkatan pelaksanaan monitoring, evaluasi serta pengendalian perencanaan pembangunan daerah

  3 Perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh

  4 Peningkatan koordinasi dan kerjasama perencanaan pembangunan daerah

  5 Peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan

  Misi Strategi Arah Kebijakan

  6 Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Desa bagi Aparatur Pemerintah Daerah, Kecamatan, Kelurahan dan Desa

9 Peningkatan kapasitas SDM

  1 Penetapan standar pendidikan dan pelatihan aparatur yang profesional dan aparatur untuk setiap jenis pekerjaan dan amanah jenjang jabatan

  2 Penetapan standar kompetensi pekerjaan dan jabatan pegawai negeri

  3 Peningkatan kapasitas dan kapabilitas Sumber Daya Aparatur Pemerintah dalam rangka penerapan UU ASN

  10 Peningkatan kesejahteraan

  1 Optimalisasi sistem kepegawaian daerah pegawai dalam rangka mewujudkan pelayanan prima

  11 Peningkatan pembinaan disiplin

  1 Penetapan sasaran kinerja pegawai dan etos kerja pegawai

  2 Optimalisasi sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010

  12 Peningkatan pengelolaan

  1 Penetapan, pelaksanaan kebijakan umum keuangan daerah anggaran daerah

  2 Peningkatan intensifikasi dan ekstensifikasi potensi pendapatan daerah

  13 Peningkatan pengelolaan asset

  1 Pengadaan tanah, sertifikasi dan penataan daerah aset daerah

  14 Peningkatan pengendalian

  1 Peningkatan partisipasi masyarakat dalam keamanan dan ketertiban trantibmas lingkungan

  15 Peningkatan koordinasi

  1 Peningkatan pemahaman ketahanan bangsa, pencegahan, penanganan pencegahan, penanganan konflik wilayah konflik perbatasan

  16 Peningkatan kesadaran hak dan

  1 Peningkatan peran serta masyarakat dalam kewajiban politik sebagai warga pembangunan politik negara

BAB VI I KEBI JAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

7.1 Kebijakan Umum 2014 – 2019

  Sebagaimana tertuang dalam dokumen RPJPD Kabupaten Garut Tahun 2005 – 2025, RPJMD periode ke-3 Tahun 2014 - 2019 diarahkan untuk lebih memantapkan pembangunan daerah secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing perekonomian daerah yang ditopang oleh kuatnya kemandirian dan keunggulan daerah. Tahap Ketiga ini juga ditujukan untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Garut yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kontribusi Kabupaten Garut terhadap pencapaian pembangunan secara menyeluruh.

  Dalam konteks pembangunan nasional maupun propinsi Jawa Barat, beberapa kebijakan dan strategis telah dirumuskan dalam RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014 - 2019 untuk merespon percepatan pembangunan nasional dalam rangka implementasi I npres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, serta I npres Nomor 3 Tahun 2010 untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015, serta Jawa Barat Sebagai Propinsi Termaju di I ndonesia. Selain itu, fokus pembangunan daerah lebih diorientasikan dalam upaya mewujudkan Kabupaten Garut keluar dari status sebagai daerah kantong kemiskinan dan status sebagai daerah tertinggal di jawa barat. Kebijakan umum pemerintah daerah kabupaten Garut pada RPJMD 2014 - 2019 diarahkan pada :

  1. Meningkatkan kondisi sosial dan budaya masyarakat yang bermoral, beretika, berbudaya, beretos kerja, berkemampuan, sehat, dan cerdas berbasis pada nilai- nilai luhur bangsa dan agama dalam rangka pencapaian masyarakat yang sejahtera lahir dan batin ;

  2. Membangun kualitas sumber daya manusia yang semakin unggul dan berkarakter, ditopang dengan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang makin baik serta penghayatan dan pengamalan nilai-nilai luhur budaya dan agama.

  3. Mewujudkan perekonomian daerah berbasis pada ekonomi kerakyatan, potensi sektor unggulan daerah yang berfokus pada agribisnis, agroindustri, pariwisata, jasa perdagangan dan kelautan yang berdaya saing.

4. Mengembangkan kearifan lokal, serta cluster usaha tingkat perdesaan dalam rangka meningkatkan daya saing dan kemandirian daerah.

7.2 Kebijakan Pembangunan Kew ilayahan

  Kebijakan pembangunan kewilayahan ditinjau dari penataan ruang Kabupaten Garut lebih diarahkan pada fungsinya sebagai kawasan penunjang pusat pertumbuhan. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam perumusan konsepsi perencanaan tata ruang dan pengembangan wilayah Kabupaten Garut baik eksternal maupun internal adalah sebagai berikut :

  

VII ‐ 1

  1) Adanya pengembangan jalur lintas Selatan Jawa Barat yang akan mempengaruhi perkembangan kawasan yang dilintasi jalur tersebut karena adanya peningkatan aksesibilitas. 2)

  Adanya rencana pengembangan jalan tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan– Palimanan yang akan mempengaruhi perkembangan wilayah bagian Utara Kabupaten Garut seperti Kecamatan Malangbong, Selaawi, dan Limbangan karena adanya peningkatan aksesibiltas.

  3) Adanya rencana pengembangan pelabuhan samudera yang melayani angkutan barang untuk mendukung kegiatan perikanan di wilayah Kabupaten Garut. Hal ini tentunya akan semakin memperkuat peran dan kedudukan Kabupaten Garut dalam Pengembangan Wilayah Propinsi Jawa Barat.

  4) Adanya kebijakan penetapan kawasan lindung sebesar 45% dari luas seluruh wilayah Jawa Baratakan berdampak pada perubahan pola pemanfaatan ruang secara luas di wilayah Kabupaten Garut. Tanggungjawab dan peran wilayah Kabupaten Garut untuk mendukung kebijakan tersebut adalah memantapkan sekitar 85% wilayahnya untuk kawasan berfungsi lindung.

  5) Adanya rencana pengembangan kawasan andalan Priangan Timur di wilayah

  Propinsi Jawa Barat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut maupun kawasan sekitarnya telah membuka peluang bagi wilayah Kabupaten Garut untuk mengembangkan sektor-sektor unggulan terutama agribisnis dan pariwisata. 6)

  Perencanaan tata ruang dan pengembangan wilayah seyogyanya dilandasi oleh prinsip pembangunan yang berkelanjutan.

7) Keterkaitan sektor-sektor ekonomi dalam usaha memacu pembangunan wilayah

  Kabupaten Garut dengan memperhatikan implikasi keruangan yang didasarkan atas komplementari antar sektor-sektor yang terpilih dalam wilayah yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan saling ketergantungan antar wilayah yang dalam jangkauan jangka panjang dapat membentuk satu kesatuan ekonomi wilayah. 8) Keterkaitan antara kawasan yang berkembang pesat dan sektor-sektor pengembangan utama dengan kawasan yang terisolir dan tertinggal pertumbuhannya. Dimaksudkan agar terjadi penebaran dan penjalaran pertumbuhan ke daerah-daerah yang tertinggal tersebut.

  Adapun untuk Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 29 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut Tahun 2011-2031 yaitu sebagai berikut: (1) Peningkatan fungsi pelestarian kawasan lindung, dengan strategi meliputi:

  a. mempertahankan kawasan lindung yang telah ditetapkan;

  b. meningkatkan rehabilitasi dan konservasi lahan;

  c. memulihkan secara bertahap kawasan lindung yang telah mengalami penurunan fungsi; d. meningkatkan produksi dan pengelolaan hasil hutan kayu dan non kayu yang sesuai dengan kaidah konservasi; e. mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan buatan di kawasan lindung dengan pengembangan agrowisata dan ekowisata; dan f. meningkatkan jasa lingkungan. (2) Pengembangan agribisnis yang berkelanjutan, dengan strategi meliputi:

  a. meningkatkan produktivitas pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan; b. mengembangkan kawasan agropolitan dan minapolitan;

  c. mengembangkan budidaya peternakan pada kawasan permukiman perdesaan; d. mengembangkan pertanian terpadu ramah lingkungan;

  e. mengembangkan kawasan perikanan budidaya;

  f. mengembangkan agribisnis pada sentra-sentra produksi; dan

  g. mengembangkan pusat pemasaran hasil komoditas Kabupaten pada kawasan perkotaan dan objek wisata. (3) Pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal, dengan strategi meliputi:

  a. mengembangkan satuan kawasan wisata dengan objek unggulan wisata alam, budaya dan buatan.

  b. mengembangkan industri pariwisata yang berdaya saing dan ramah lingkungan; c. meningkatkan kualitas sarana dan prasarana penunjang kepariwisataan; dan

  d. meningkatkan kualitas perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan warisan budaya; dan e. meningkatkan pengembangan agrowisata. (4) Pengelolaan wilayah pesisir dan laut yang terpadu dan berkelanjutan, dengan strategi meliputi: a. mengembangkan perikanan tangkap;

  b. mengembangkan budidaya perikanan;

  c. mengoptimalkan fungsi hutan bakau;

  d. mengembangkan budidaya laut;

  f. mengendalikan pencemaran di kawasan pesisir dan laut; dan

  g. merehabilitasi kawasan pelestarian ekologi pesisir dan kawasan perlindungan bencana pesisir. (5) Peningkatan kualitas dan jangkauan prasarana dan sarana wilayah, dengan strategi meliputi: a. mengembangkan jalan penghubung perkotaan dan perdesaan, antar perkotaan, antar perdesaan dan aksesibilitas antara pusat produksi dengan pusat pemasaran;

  b. reaktivasi dan mengoptimalkan sistem jaringan kereta api;

  c. mengoptimalkan pendayagunaan dan pengelolaan prasarana sumber daya air;

  d. mengembangkan sumber daya energi listrik dan meningkatkan infrastruktur pendukung; e. mengembangkan pembangkit listrik berskala kecil berbasis energi setempat;

  f. meningkatkan jangkauan pelayanan telekomunikasi;

  g. mengembangkan sistem pengelolaan persampahan skala regional dan lokal; dan h. mengembangkan alokasi prasarana dan sarana fisik, sosial, dan ekonomi sesuai fungsi dan terintegrasi dengan struktur ruang wilayah. (6) Pengembangan pusat kegiatan, dengan strategi meliputi:

  a. mengembangkan PKL di wilayah utara dengan fungsi utama jasa dan perdagangan, pemerintahan dan permukiman perkotaan;

  b. mengembangkan kawasan PKL di wilayah selatan dengan fungsi utama agribisnis, kelautan, permukiman, pariwisata dan konservasi; c. mengembangkan PPK secara seimbang dalam konteks pelayanan dan pertumbuhan wilayah; d. mengembangkan PPL yang memiliki skala pelayanan PKL - PPL dan menunjang PPK; e. mempercepat perwujudan pengembangan Kecamatan Mekarmukti untuk mengemban sebagai rencana ibukota atau pusat pemerintahan daerah pemekaran; dan f. mengembangkan keterkaitan antar pusat pelayanan.

  (7) Pengendalian kegiatan pada kawasan rawan bencana, dengan strategi meliputi:

  a. mengendalikan pembangunan fisik pada kawasan rawan bencana;

  b. memanfaatkan penggunaan teknologi mitigasi bencana;

  c. mengembangkan kawasan budidaya yang dapat mempertahankan kawasan dari dampak bencana gerakan tanah berupa tanah longsor dan banjir; d. mengembangkan dan meningkatkan kualitas jalur evakuasi bencana;

  e. menetapkan kawasan evakuasi bencana; dan g. meningkatkan infrastruktur pada kawasan rawan bencana. (8) Peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan negara, dengan strategi meliputi: a. mendukung penetapan Kawasan Strategis Nasional dengan fungsi khusus

  Pertahanan dan Keamanan;

  b. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar Kawasan Strategis Nasional untuk menjaga fungsi Pertahanan dan Kemanan;

  c. mengembangkan Kawasan Lindung dan/ atau Kawasan Budidaya tidak terbangun disekitar Kawasan Strategis Nasional dengan kawasan budidaya terbangun; dan d. turut serta menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan.

  Pembangunan daerah yang telah dilaksanakan di Kabupaten Garut selama ini masih belum dapat mengatasi kesenjangan kesejahteraan masyarakat antar wilayah, dalam hal ini kesenjangan antarwilayah baik antar kabupaten/ kota maupun antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Guna menjamin keseimbangan pembangunan daerah antarwilayah di Kabupaten Garut maka perlu disusun suatu kebijakan pembangunan kewilayahan. Dalam rangka menciptakan suatu rentang kendali yang proporsional dan mencapai hasil yang optimal dalam pembangunan setiap wilayah maka ditetapkan melalui Kawasan strategis Kabupaten (KSK) Kabupaten Garut, yaitu sebagai berikut:

  

A. Kaw asan Yang Memiliki Nilai Strategis Ekonomi Yang Berpengaruh

Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

  Kawasan yang memiliki nilai strategis ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Garut, antara lain :

1. Kaw asan Perkotaan Garut, dengan kriteria sebagai kawasan yang

  memiliki nilai strategis ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan potensi ekonomi cepat tumbuh. I su penanganan yang harus dilakukan berupa sinergitas dengan pengembangan wilayah sekitar dan menyelarasan struktur dan pola ruang, serta arah pengembangan wilayah agar terintegrasi dan saling mendukung dengan kawasan tetangga. Ruang lingkup wilayah meliputi Kecamatan Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Garut Kota, Banyuresmi, dan Karangpawitan. Pengembangan, pembangunan kawasan perkotaan di fokuskan pada : 1) Penataan Wilayah Perkotaan Garut; 2) Pelapisan hotmix ruas jalan perkotaan; 3) Perencanaan Pembangunan Jalan By Pass Tahap I I ; 4) Perencanaan pembangunan terminal tipe A perkotaan kota Garut; 5) Penanganan pengolahan limbah industri kulit; 6) Peningkatan penanganan pengelolaan PJU; 7) Rehabilitasi drainase perkotaan; 8) Pembangunan akses wisata Jalan alternatif Lingkar Cipanas dan

  Pengembangan sarana dan prasarana destinasi wisata; 9) Perencanaan Pembangunan Sarana Olah Raga (SOR); 10)

  Pembangunan Art Centre; 11)

  Pengembangan I slamic Centre; 12) Peningkatan Rumah Sakit dr. Slamet menjadi Tipe B Pendidikan; 13) Pengembangan sentra-sentra industri kecil menengah; 14)

  Pengembangan industri kreatif; 15)

  Perencanaan pembangunan kawasan I nduk Pusat Pemerintahan (I PP) dan sarana fasilitas terpadu Pemerintah Kabupaten Garut; 16) Perencanaan pembangunan jalan alternatif Banyuresmi Situ Bagendit.

2. Kaw asan Koridor Kadungora - Leles – Garut, dengan kriteria sebagai

  kawasan yang memiliki nilai strategis ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan potensi ekonomi cepat tumbuh. I su penanganan berupa kawasan transisi antara kegiatan perekonomian di Kota Bandung dan perkotaan Garut, berpotensi sebagai kawasan ekonomi untuk persaingan di tingkat regional, dan perlu sinergitas infrastruktur. Ruang lingkup wilayah meliputi Kecamatan Kadungora, Leles, Tarogong Kaler dan Tarogong Kidul. Pengembangan, pembangunan kawasan ini di fokuskan pada : 1) Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut; 2) Perencanaan Pembangunan Jalan Alternatif Kadungora-Leles; 3) Pembangunan akses wisata Jalan alternatif Situ Cangkuang-Leles; 4) Perencanaan Pembangunan Terminal Barang di Kecamatan Leles. 5) Pengembangan kawasan agrowisata desa Haruman Kecamatan

  Kadungora 6) Pengembangan sentra-sentra industri kecil menengah; 7) Pengembangan industri kreatif;

  3. Kaw asan Perbatasan Bagian Utara ( Balubur Limbangan - Malangbong) , dengan kriteria sebagai kawasan yang memiliki nilai

  strategis ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan potensi ekonomi cepat tumbuh. I su penanganan berupa perbatasan dengan Kabupaten Bandung, Sumedang dan Tasikmalaya yang akan mendapatkan pengaruh dari pembangunan jalan tol Pembangunan jalan Tol Cileunyi-Nagreg-Ciamis-Banjar dan berpotensi sebagai kawasan ekonomi untuk persaingan di tingkat regional. Ruang lingkup wilayah meliputi Kecamatan Balubur Limbangan, Selaawi, Kersamanah, Cibatu dan Malangbong. Pengembangan, pembangunan kawasan perbatasan bagian utara di fokuskan pada : 1)

  Perencanaan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Kawasan I ndustri terpadu; 2) Peningkatan akses jalan penghubung antar kecamatan; 3)

  Perencanaan peningkatan pembangunan Terminal Tipe-B Malangbong; 4)

  Pembangunan jaringan irigasi Leuwigoong; 5) Perencanaan pembangunan jalan alternatif Garut – Cibatu; 6) Revitalisasi dan optimalisasi gedung trade centre di Bl. Limbangan; 7)

  Pembangunan pasar desa perbatasan Kabupaten Garut; 8)

  Pengembangan sentra-sentra industri kecil menengah; 9) Pengembangan industri kreatif; 10)

  Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut 11)

  Pengembangan village breeding centre di Garut Utara; 12) Pengembangan kawasan agrowisata desa Barudua kecamatan

  Malangbong; 13)

  Perencanaan Pembangunan Rumah Sakit Garut Utara; 14)

  Perencanaan pembangunan jalan alternatif Limbangan – Malangbong; 15) Perencanaan pembangunan jalan alternatif kota Balubur Limbangan.

4. Kaw asan Perbatasan Bagian Timur ( Singajaya Dan Sekitarnya) , dengan

  kriteria kawasan yang dapat mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal didalam wilayah kabupaten. I su penanganan berupa perbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya yang perlu dipacu perkembangannya disebabkan infrastruktur yang kurang memadai, sehingga kawasan ini kurang terintegrasi dengan sistem wilayah. Mengantisipasi terhadap potensi kerawanan terhadap konflik sosial. Ruang lingkup wilayah meliputi Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, Peundeuy dan Cihurip. Pengembangan, pembangunan kawasan perbatasan bagian timur di fokuskan pada : 1) Peningkatan perlindungan dan konservasi sumber daya alam serta konservasi sumberdaya air; 2) Elektrifikasi rumah tangga; 3) Peningkatan akses jalan penghubung antar kecamatan; 4) Pembangunan I nfrastruktur Desa dan Perdesaan; 5) Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut; 6) Pembangunan pasar desa perbatasan Kabupaten Garut; 7) Pembangunan lumbung pangan masyarakat di daerah rawan pangan; 8) Pengembangan desa mandiri pangan; 9) Pengembangan village breeding centre di Garut Selatan; 10) Pengembangan sentra-sentra industri kecil menengah; 11) Pengembangan komoditas unggulan perkebunan; 12)

  Pembangunan pasar desa perbatasan Kabupaten Garut; 13) Perencanaan Pembangunan TPA Wilayah Banjarwangi.

5. Kaw asan Perbatasan Bagian Barat ( Caringin – Cisew u - Talegong) ,

  dengan kriteria kawasan yang dapat mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal didalam wilayah kabupaten. I su penanganan berupa sebagian besar memiliki fungsi sebagai kawasan lindung. Kondisi ini perlu strategi khusus dalam memacu pertumbuhan wilayahnya yang diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal di sekitarnya dan mengantisipasi terhadap potensi kerawanan terhadap konflik sosial. Berbatasan dengan Cianjur dan Kabupaten Bandung dengan ruang lingkup wilayah meliputi Kecamatan Kecamatan Caringin, Cisewu dan Talegong. Kawasan ini memiliki banyak limitasi untuk pengembangan wilayahnya. Topografi yang curam dengan kemiringan lereng rata-rata 25% hingga 40% menyebabkan kawasan ini memiliki fungsi sebagai kawasan lindung. Kondisi ini perlu strategi khusus dalam memacu pertumbuhan wilayahnya. Pengembangan, pembangunan kawasan perbatasan bagian barat di fokuskan pada : 1) Peningkatan akses jalan penghubung antar kecamatan; 2) Pembangunan I nfrastruktur Desa dan Perdesaan; 3) Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut; 4) Peningkatan perlindungan dan konservasi sumber daya alam serta konservasi sumberdaya air; 5) Elektrifikasi rumah tangga; 6) Pengembangan komoditas unggulan perkebunan 7) Pembangunan pasar desa perbatasan Kabupaten Garut; 8) Pembangunan lumbung pangan masyarakat di daerah rawan pangan; 9) Pengembangan desa mandiri pangan; 10) Perencanaan Pembangunan TPA Wilayah Caringin.

  

6. Kaw asan Agropolitan Cisurupan Dan Sekitarnya, dengan kriteria sektor

  unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan. Ruang lingkup wilayah meliputi Cisurupan, Cikajang, Cigedug, Sukaresmi, Pasirwangi dan Bayongbong. Pengembangan, pembangunan kawasan Cisurupan dan sekitarnya di fokuskan pada : 1) Pembangunan I nfrastruktur Desa dan Perdesaan; 2) Peningkatan perlindungan dan konservasi sumber daya alam serta konservasi sumberdaya air; 3) Elektrifikasi rumah tangga; 4) Pengembangan sentra-sentra industri kecil menengah; 5) Pengembangan industri kreatif; 6) Pengembangan sarana dan prasarana destinasi wisata; 7) Pengembangan kawasan agropolitan di kecamatan Cisurupan dan sekitarnya; 8) Pengembangan Kawasan Agropolitan Jagung; 9) Pembangunan lumbung pangan masyarakat di daerah rawan pangan; 10) Pengembangan desa mandiri pangan; 11) Pengembangan komoditas unggulan perkebunan 12)

  Pengembangan Kampung Domba I ndonesia (KDI ) di Kecamatan Cikajang; 13)

  Pengembangan komoditas unggulan jeruk Garut, penangkaran benih kentang dan padi ketan;

  14) Pengembangan komoditas unggulan jeruk Garut; 15) Peningkatan akses Jalan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Darajat;

  

7. Kaw asan Minapolitan, dengan kriteria sektor unggulan yang dapat

  menggerakkan pertumbuhan ekonomi. I su penanganan berupa sektor unggulan minapolitan air tawar yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan tingkat produksi pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan.Ruang lingkup wilayah meliputi Kecamatan Tarogong Kaler, Sukaweining, Pangatikan, Sucinaraja, Wanaraja dan Karangpawitan. Pengembangan, pembangunan kawasan ini di fokuskan pada : 1) Pembangunan akses Jalan Alternatif Pasar Wanaraja; 2) Pembangunan Jalan Penghubung Kecamatan Karangpawitan-Banyuresmi; 3) Pengembangan Kawasan Agropolitan Jagung; 4) Pembangunan lumbung pangan masyarakat di daerah rawan pangan; 5) Pengembangan desa mandiri pangan; 6) Pengembangan minapolitan di Kecamatan Tarogong Kaler dan daerah sekitarnya; 7) Pengembangan sentra-sentra industri kecil menengah; 8) Pengembangan industri kreatif;

  

8. Kaw asan Koridor Jalan Lintas Jabar Selatan, dengan kriteria sebagai

  Kawasan yang berpengaruh terhadap perkembangan wilayah koridornya termasuk Kawasan Garut bagian Selatan dengan dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi. I su penanganan berupa dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi dan perlu sinergitas infrastruktur. Ruang lingkup wilayah meliputi Kecamatan Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Pakenjeng, Mekarmukti, Bungbulang dan Caringin. Berpengaruh terhadap perkembangan wilayah koridornya termasuk Kawasan Garut bagian selatan dengan dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi. Pengembangan, pembangunan kawasan ini di fokuskan pada :

  1) Perencanaan Pembangunan TPA Wilayah Pameungpeuk; 2)

  Peningkatan akses Jalan Bungbulang – Cijayana dan Bungbulang – Sukarame;

  3) Peningkatan akses jalan penghubung antar kecamatan; 4)

  Pembangunan I nfrastruktur Desa dan Perdesaan; 5)

  Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut; 6) Peningkatan produksi hasil laut melalui pengembangan sarana dan prasarana penangkapan dan areal tangkap.

  7) Pembangunan pasar desa perbatasan Kabupaten Garut;

  8) Pengembangan sentra-sentra industri kecil menengah;

  9) Pengembangan komoditas unggulan perkebunan; 10) Peningkatan Rumah Sakit Pameungpeuk menjadi Tipe D; 11)

  Pembangunan Kawasan I ndustri dan Kawasan Peternakan; 12) Pengembangan village breeding centre di Garut Selatan; 13) Pengembangan kawasan destinasi wisata pantai Garut Selatan.

  

B. Kaw asan Yang Memiliki Nilai Strategis Dari Sudut Kepentingan Sosial

Budaya

  Kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan sosial budaya di Kabupaten Garut, adalah :

1) Kaw asan Cagar Budaya Kampung Adat Dukuh. Kriteria sebagai

  Tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya dan yang memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya. I su penanganan yaitu mempertahankan suasana alam dan tradisi yang dilandasi budaya religi yang kuat, pelestarian cagar budaya, dan tempat perlindungan peninggalan budaya. Kampung Dukuh terletak di Kecamatan Cikelet merupakan desa dengan suasana alam dan tradisi yang dilandasi budaya religi yang kuat. Masyarakat Kampung Dukuh mempunyai pandangan hidup yang berdasarkan pada sufusme pada Mazhab I mam Syafii. Landasan budaya tersebut berpengaruh pada bentukan fisik desa tersebut serta adat istiadat masyarakat. Masyarakat Kampung Dukuh sangat menjunjung keharmonisan dan keselarasan hidup bermasyarakat. Paham ini berpengaruh pada bentuk bangunan di Kampung Dukuh yang tidak menggunakan dinding dari tembok dan atap genteng serta jendela kaca. Hal ini menjadi salah satu aturan yang dilatarbelakangi alasan bahwa hal yang berbau kemewahan akan mengakibatkan suasana hidup bermasyarakat menjadi tidak harmonis. Di kampung ini tidak diperkenankan adanya listrik dan barang-barang elektronik lainnya yang dipercaya selain mendatangkan manfaat juga mendatangkan kemudaratan yang tinggi pula. Alat makan yang dianjurkan terbuat dari pepohonan seperti layaknya bangunan, misalnya bambu batok kelapa dan kayu lainnya. Material tersebut dipercaya lebih memberikan manfaat ekonomis dan kesehatan karena bahan tersebut tidak mudah hancur atau pecah dan dapat menyerap kotoran.

  2)

  Kaw asan Cagar Budaya Kampung Adat Pulo. Kriteria sebagai Tempat

  pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya dan yang memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya. I su penanganan yaitu mempertahankan suasana alam dan tradisi yang dilandasi budaya religi yang kuat, pelestarian cagar budaya, dan tempat perlindungan peninggalan budaya. Kampung Adat Pulo yang masih memegang teguh adat istiadat karuhunnya berada pada komplek Danau/ Situ Cangkuang Kecamatan Leles yang dikelilingi oleh pemandangan alam pegunungan yang tepat pada tengahnya terdapat pulau yang didalamnya berdiri sebuah Candi Hindu peninggalan abad ke XVI I . Untuk mencapai Candi dan Kampung Adat tersebut wisatwan dapat menyewa rakit yang mempunyai daya tampung sampai 30 orang, terdapat pula sebuah museum yang menyimpan berbagai jenis benda peninggalan dari masa Hindu dan I slam.

  

C. Kaw asan yang Memiliki Nilai Strategis Fungsi dan Daya Dukung

Lingkungan Hidup

  Kawasan yang memiliki nilai strategis fungsi dan daya dukung lingkungan hidup di Kabupaten Garut, adalah

  Kaw asan Wisata Cipanas, dengan kriteria sebagai

  kawasan yang memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang menimbulkan kerugian dan kawasan rawan bencana alam. I su penanganan yaitu meningkatkan potensi objek wisata alam yaitu pemandian air panas dan Taman Wisata Alam sehingga menjadi potensi kawasan yang cepat tumbuh dan berkembang, menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan aksesibilitas dan sarana penunjang wisata, dan merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis lainnya yang sesuai dengan kepentingan pembangunan wilayah kabupaten. Kawasan Wisata Cipanas di Kecamatan Tarogong Kaler, merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis lainnya yang sesuai dengan kepentingan pembangunan wilayah kabupaten. Kawasan ini memiliki potensi untuk cepat berkembang dikarenakan memiliki potensi alam sebagai objek wisata alam yaitu pemandian air panas, potensi kawasan wisata khas Cipanas, potensi kawasan wisata agro dan potensi kawasan wisata alam lainnya.

7.3 Kebijakan Peningkatan I ndeks Pembangunan Manusia ( I PM)

  Pembangunan manusia merupakan paradigma pembangunan yang menempatkan manusia sebagai fokus dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, yaitu tercapainya penguasaan atas sumber daya guna memperoleh pendapatan untuk mencapai hidup layak, peningkatan derajat kesehatan agar meningkat usia hidup panjang dan sehat dan meningkatkan pendidikan (kemampuan baca tulis dan keterampilan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat dan kegiatan ekonomi). Menurut UNDP (1990), pembangunan manusia secara holistik salah satunya berupa suatu proses untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi manusia (“ a process of enlarging people’s choices”). Paradigma pembangunan manusia menurut UNDP (1995), terdiri dari 4 (empat) komponen utama, yaitu : (1) Produktivitas, masyarakat harus dapat meningkatkan produktivitas mereka dan berpartisipasi secara penuh dalam proses memperoleh penghasilan dan pekerjaan berupah. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi adalah salah satu bagian dari jenis pembangunan manusia,

  (2) Ekuitas, masyarakat harus punya akses untuk memperoleh kesempatan yang adil.

  Semua hambatan terhadap peluang ekonomi dan politik harus dihapus agar masyarakat dapat berpartisipasi di dalam dan memperoleh manfaat dari kesempatan-kesempatan ini,

  (3) Kesinambungan, akses untuk memperoleh kesempatan harus dipastikan tidak hanya untuk generasi sekarang tapi juga generasi yang akan datang. Segala bentuk permodalan fisik, manusia, lingkungan hidup, harus dilengkapi,

  (4) Pemberdayaan, pembangunan harus dilakukan oleh masyarakat dan bukan hanya untuk mereka. Masyarakat harus berpartisipasi penuh dalam mengambil keputusan dan proses-proses yang mempengaruhi kehidupan mereka.

  Human Development I ndex) merupakan suatu I ndeks Pembangunan Manusia ( indikator pembangunan manusia yang diperkenalkan UNDP pada tahun 1990 mencakup tiga komponen yang dianggap mendasar bagi manusia dan secara operasional mudah dihitung untuk menghasilkan suatu ukuran yang merefleksikan upaya pembangunan manusia. Ketiga aspek tersebut berkaitan dengan peluang hidup ( longevity), pengetahuan (knowledge), dan hidup layak (decent living). Pada konsep pembangunan manusia, UNDP menyusun suatu indeks komposit berdasarkan empat indikator, yaitu Angka Harapan Hidup; Angka Melek Huruf penduduk dewasa (AMH), Purchasing Power Parity; PPP).

  Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Daya Beli (

  I PM menjadi alat ukur dalam memantau tingkat pembangunan manusia yang dipergunakan UNDP dalam menyusun laporan tahunan pencapaian HDI ( Human Development I ndex) setiap negara di dunia, demikian halnya dengan I ndonesia beserta Provinsi dan Kabupaten/ Kota di I ndonesia, menggunakan indeks ini (I PM) untuk memantau kemajuan dari pembangunan manusia antar wilayah. Pencapaian I ndeks Pembangunan Manusia (I PM) Kabupaten Garut sampai dengan tahun 2012 berada pada level menengah atas (Klasifikasi UNDP) dengan nilai sebesar 72,12 poin masih terpaut 1,07 poin dari pencapaian I PM Jawa Barat sebesar 73,19 poin dan terpaut 1,17 poin dari I PM Nasional sebesar 73,28poin, dan pada tahun 2013 diproyeksikan mencapai 72,73 poin. Pada komponen kesehatan, pencapaian nilai Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Garut pada tahun 2012 sebesar 66,39 tahun, masih terpaut 2,21 tahun dari AHH Jawa Barat sebesar 68,60 tahun dan terpaut 3,48 tahun dari AHH Nasional sebesar 69,87 tahun. Pencapaian Angka Harapan Hidup berkaitan erat dengan Angka Kematian Bayi (AKB). Hal ini memberikan indikasi bahwa kebijakan pembangunan bidang kesehatan perlu ditingkatkan dalam rangka menekan tingkat kematian bayi yang mencapai 49,95 kasus kematian per 1.000 kelahiran hidup (terpaut 19,95 kasus kematian per 1.000 kelahiran hidup dari capaian Jawa Barat sebesar 30 kasus kematian per 1.000 kelahiran hidup). AKB sangat dipengaruhi oleh derajat kesehatan ibu, anak yang dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat muda dan sangat tua saat melahirkan menggambarkan resiko kematian yang tinggi. Semakin rendah tingkat kesehatan ibu, semakin tinggi resiko terjadinya kematian bayi dan kematian ibu melahirkan. Angka Kematian I bu akibat melahirkan (AKI ) pada tahun 2012 mencapai 193,29 kasus kematian per 100.000 kelahiran hidup.

  Oleh karena itu, untuk dapat mengejar ketertinggalan pencapaian AHH tersebut, mutlak diperlukan program-program percepatan di bidang kesehatan untuk dapat menekan angka kematian bayi serta mewujudkan tingkat ketersediaan dan penyebaran fasilitas serta tenaga medis yang memadai. Disamping itu lebih penting lagi, diperlukan pengembangan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang perlu terus ditingkatkan. Kebutuhan dasar ini perlu pula didukung peningkatan SDM tenaga kesehatan, serta meningkatkan peran aktif masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sehingga dengan demikian diharapkan tingkat keterjangkauan masyarakat pada pelayanan kesehatan dapat maksimum guna menunjang pembangunan di bidang kesehatan. Secara khusus, upaya yang dapat ditempuh dalam akselerasi penurunan AKB dan AKI diantaranya : (a) Memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan strategis pada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dalam penanganan kesehatan ibu dan anak terutama di daerah tertinggal; unmetneed) karena terbatasnya akses masyarakat (b) Memenuhi kebutuhan ber-KB ( terhadap pelayanan kontrasepsi; (c) Meningkatkan jumlah puskesmas mampu Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergensi

  Dasar (PONED) dan peningkatan Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) pada rumah sakit dalam mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak;

  (d) Menjamin penyediaan obat dan vaksin terutama pada fasilitas pelayanan kesehatan dasar.

  Pada komponen pendidikan, indikator pendidikan yang merepresentasikan dimensi pengetahuan dalam I PM adalah angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Kedua indikator ini dapat dimaknai sebagai ukuran kualitas sumber daya manusia. Angka melek huruf menggambarkan persentase penduduk umur 15 tahun ke atas yang mampu baca tulis, sedangkan indikator rata-rata lama sekolah menggambarkan rata- rata jumlah tahun yang dijalani oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal. Derajat pendidikan masyarakat secara makro yang diukur dari pencapaian Angka Melek Huruf (AMH) pada tahun 2012 sebesar 98,98% , relatif lebih baik dibandingkan AMH Jawa Barat sebesar 96,39% maupun Nasional sebesar 93,25% , dan pada tahun 2013 diproyeksikan sebesar 99,28% . Kondisi ini memberikan gambaran bahwa sampai dengan Tahun 2013 kemampuan baca masyarakat Kabupaten Garut terus mengalami kenaikan. Namun untuk komponen pendidikan lainnya yaitu nilai Rata-rata Lama Sekolah (RLS), pada Tahun 2012 mencapai 7,37 tahun (masih terpaut 0,71 tahun dari RLS Jawa Barat dan Nasional sebesar 8,08 tahun), sementara pada tahun 2013, RLS diproyeksikan mencapai 7,57 Tahun.

  Masih relatif rendahnya pencapaian rata-rata lama sekolah dimungkinkan karena masih cukup besarnya penduduk yang tingkat pendidikannya tidak tamat pendidikan dasar, sehingga meskipun partisipasi sekolah penduduk usia muda sudah sedemikian dipacu peningkatannya, namun belum terasa hasilnya secara nyata. Cara paling efektif untuk menaikkan waktu rata-rata lama sekolah bukan dengan menyekolahkan kembali penduduk yang telah berusia lanjut, akan tetapi dengan mengupayakan agar tidak ada lagi peserta didik yang putus sekolah. Oleh karenanya, untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah, upaya yang dapat ditempuh antara lain : (a) memperkecil angka putus sekolah dan meningkatkan jumlah angka yang melanjutkan antar jenjang pendidikan melalui peningkatan partisipasi dan mutu sekolah jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah universal, dan pendidikan tinggi yang berdaya saing, serta peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan;

  (b) peningkatan aksesibilitas pendidikan dalam rangka meningkatkan partisipasi pendidikan masyarakat, melalui peningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana sekolah melalui pembangunan USB, RKB, peningkatan perbaikan/ rehab sekolah, maupun penyelenggaraan pendidikan SMP Terbuka/ Satu Atap;

  (c) khusus bagi penduduk putus sekolah yang belum mengenyam pendidikan dasar maupun menengah pertama meskipun usianya telah beranjak dewasa, perlu disusun intervensi strategis dalam upaya menaikkan kualitas SDM dari sisi pendidikan, diantaranya dengan lebih mengoptimalkan pemanfaatan pendidikan luar sekolah (PLS) seperti, program Paket A, B dan C dan keaksaraan fungsional. Komponen Daya beli merupakan kemampuan masyarakat dalam membelanjakan uangnya dalam bentuk barang maupun jasa. Kemampuan tersebut sangat dipengaruhi oleh harga-harga riil antar wilayah karena nilai tukar yang digunakan dapat menurunkan atau menaikkan nilai daya beli. Dengan demikian, kemampuan daya beli masyarakat antara satu wilayah dengan wilayah lain berbeda. Kemampuan Daya Beli atau Purchasing Power Parity (PPP) masyarakat Kabupaten Garut pada tahun 2012 mencapai Rp. 641.280,- relatif lebih tinggi dibandingkan pencapaian PPP Jawa Barat sebesar Rp. 638.900,- maupun Nasional sebesar Rp. 641.040,-, dan pada tahun 2013 PPP diproyeksikan sebesar Rp.643.050,-. Untuk meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat, kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah perlu lebih diarahkan pada upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu

  meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha- usaha produktif dan mengurangi beban biaya hidup masyarakat.

  Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat, langkah-langkah yang dapat ditempuh di antaranya adalah:

  1. Mendorong berkembangnya ekonomi lokal, yaitu usaha yang memanfaatkan potensi dan sumber daya lokal serta melibatkan pelaku usaha lokal, melalui kegiatan-kegiatan pelatihan kewirausahaan, pemanfaatan teknologi tepat guna dan penyuluhan;

  2. Menciptakan iklim usaha yang dapat menarik para investor baik lokal, domestik maupun asing untuk menanamkan investasinya pada berbagai bidang usaha yang akan memperkuat perekonomian daerah, mengingat Kabupaten Garut memiliki faktor produksi, pasar domestik dan sumber daya alam yang cukup besar. Dalam upaya meningkatkan dan memperkuat investasi daerah maka diperlukan suatu penataan yang terencana dan komprehensif dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, yang dimulai dari peningkatan kemudahan perijinan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP); penataan regulasi peraturan daerah yang diselaraskan dengan peraturan-peraturan yang lebih tinggi (tingkat nasional) dalam mendukung penciptaan iklim investasi; promosi produk; bantuan pemasaran dan kepastian ketersediaan lahan; fasilitasi pemilihan fokus bidang usaha yang berbasis kemampuan/ potensi lokal dan selanjutnya didorong menuju produk yang berdaya saing yang dapat memberi manfaat bagi pengembangan potensi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, menyerap tenaga kerja dan akhirnya meningkatkan perekonomian lokal yang berdaya saing; fasilitasi kerjasama dunia usaha antar daerah dalam mendorong peningkatan usaha yang bersifat lintas wilayah;

  3. Memberikan fasilitasi dan pembinaan kepada kalangan dunia usaha dan wirausahawan untuk dapat meningkatkan produktivitasnya sehingga dapat mendorong perluasan lapangan kerja, khususnya Usaha Kecil Menengah (UKM) pada agribisnis dan rantai-rantainya selaku sektor yang sangat dominan dengan bahan baku lokal yang dapat meminimalisasi larinya nilai tambah keluar daerah Withdrawal) ;

  ( 4. Mendorong promosi produk unggulan daerah; 5. Mengembangkan sistem perdagangan yang dapat menjaga stabilitas harga komoditi yang diterima petani produsen;

  6. Menggerakkan perekonomian daerah dengan memanfaatkan potensi pariwisata dan budaya daerah, pengelolaan potensi sumber daya alam yang masih terpendam dan lahan-lahan tidur pertanian dalam upaya untuk memperluas lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas penduduk dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada pemerataan dan pertumbuhan. Selanjutnya, dalam rangka

  mengurangi biaya hidup masyarakat, langkah-langkah

  yang dapat ditempuh diantaranya adalah:

  1. Memperluas penerapan jaminan kesehatan daerah melalui program BPJS; 2.

  Memperluas program pendidikan gratis untuk pendidikan tingkat dasar dan menengah;

  3. Mengkoordinasikan implementasi program-program penanggulangan kemiskinan untuk meningkatkan ketepatan sasaran.

7.4 Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan

  Kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan dalam Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah disusun dengan prinsip yang mengacu pada nilai dasar yang berkenaan dengan tujuan yaitu kesamaan hak dan tanpa perbedaan dan manfaat bersama, serta nilai yang berkenaan dengan proses meliputi partisipasi, transparansi, akuntabilitas, keterwakilan, keberlanjutan, kemitraan dan keterpaduan.

  Kebijakan untuk program penanggulangan kemiskinan pada hakekatnya merupakan kebijakan publik yang berpihak pada orang miskin. Oleh karena itu, kebijakan tersebut pro poor harus diterjemahkan dalam pembangunan yang berpihak pada kaum miskin ( development) dan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum miskin (pro poor growth).

  Berdasarkan prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman, serta kerangka berpikir yang melatarbelakangi upaya penanggulangan kemiskinan melalui kesepakatan segenap pihak yang berkepentingan telah dirumuskan empat kebijakan utama dalam menyusun program penanggulangan kemiskinan, yaitu sebagai berikut : (1) Kebijakan Perluasan kesempatan Kerja dan Berusaha

  Strategi yang dilakukan untuk menciptakan kondisi dan lingkungan ekonomi, politik, dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh kesempatan seluas-luasnya dalam pemenuhan hak-hak dasar dan peningkatan taraf hidup secara berkelanjutan.

  (2) Kebijakan Pemberdayaan kelembagaan masyarakat Strategi yang dilakukan untuk memperkuat kelembagaan sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat, dan memperluas partisipasi masyarakat miskin baik laki- laki maupun perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang menjamin penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak dasar. Kebijakan yang dilakukan untuk pemberdayaan masyarakat. (3) Kebijakan Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia

  Strategi yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dasar dan kemampuan berusaha masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan agar dapat memanfaatkan perkembangan lingkungan. (4) Kebijakan Perlindungan sosial dan lingkungan

  Strategi yang dilakukan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi kelompok rentan (perempuan kepala rumah tangga, fakir miskin, orang jompo, anak terlantar, kemampuan berbeda/ penyandang cacat) dan masyarakat miskin baru laki-laki dan perempuan yang disebabkan oleh bencana alam, dampak negatif krisis ekonomi, dan konflik sosial.

  Penanggulangan kemiskinan tidak dapat dilakukan secara singkat dan sekaligus karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi masyarakat miskin dan keterbatasan sumberdaya untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak dasar. Oleh sebab itu, rencana aksi penanggulangan kemiskinan dipusatkan pada prioritas penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak atas pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, tanah, lingkungan hidup dan sumberdaya alam, rasa aman, dan berpartisipasi dengan memperhitungkan kemajuan secara bertahap. Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan daerah, upaya terobosan dalam 5 (lima) tahun mendatang, antara lain :

  1. Penyusunan Masterplan Program Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Garut (MP3KG) beserta roadmap dan Rencana Aksinya.

  2. Validasi data sasaran penanggulangan kemiskinan menggunakan pendekatan by name by adress.

  3. Dinamisasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) melalui: 1) Rapat Koordinasi yang terjadwal (minimal dilakukan setiap triwulan), 2) Menggunakan Sistem Ban Berjalan, melalui instrumen-instrumen monitoring dan evaluasi, dan 3) Penyediaan anggaran yang memadai.

  4. Menyusun dan mengembangkan model penanggulangan kemiskinan berdasarkan best practice. Beberapa best practice dengan model pendekatan kawasan tertentu yang memiliki karakteristik diantaranya kawasan sekitar hutan (model Desa Sarimukti Kecamatan Pasirwangi, tentang masalah pendidikan dan Desa Barusari Kecamatan Pasirwangi tentang Peran dunia usaha dan Perguruan Tinggi dalam pengurangan kemiskinan); kawasan perkotaan (model Desa Galih Pakuwon Kecamatan Limbangan tentang Home I ndustry kulit); kawasan perkebunan (model Desa Sagara Kecamatan Cibalong tentang reforma agraria); dan kawasan perbatasan (model Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera).

  5. Menjadikan program penanggulangan kemiskinan sebagai suatu GERAKAN DAERAH.

  Program Penanggulangan Kemiskinan hendaknya dilakukan secara terintegrasi melalui penegakkan komitmen bersama para pemangku kepentingan sebagai pilar- pilar utama pembangunan, diantaranya dengan memasukkan program-program

  Kamis Berbagi). Kemiskinan ini harus diberantas dengan GARUT I NTAN, (misalnya gerakan secara menyeluruh dan bersifat lokal. Oleh karena itu, gerakan ini juga mesti direncanakan dengan melibatkan elemen masyarakat di tingkat akar rumput dengan memperhatikan potensi lokal yang dimiliki masyarakat.

  Pelaksanaan penanggulangan kemiskinan dalam lima tahun mendatang memerlukan dukungan kelembagaan yang kuat yang mempunyai otoritas dan bertanggung jawab atas terwujudnya rencana aksi penanggulangan kemiskinan yang mencakup wewenang dalam melakukan koordinasi perumusan kebijakan dan pelaksanaan, penyusunan anggaran, monitoring dan evaluasi. Selain itu, perlu didukung oleh kemitraan dan kerjasama berbagai pelaku dan peran dan keterpaduan langkah dari berbagai pihak baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Garut, lembaga perwakilan, pelaku usaha, organisasi masyarakat, organisasi profesi, maupun unsur perguruan tinggi.

7.5 Kebijakan Percepatan Pengentasan Status Daerah Tertinggal

  Pada tahun 2005, Kementerian PDT menetapkan Kabupaten Garut sebagai salah satu daerah tertinggal di antara 199 daerah tertinggal di seluruh I ndonesia melalui Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik I ndonesia Nomor: 001/ KEP/ M-PDT/ I / 2005. Dari identifikasi desa tertinggal di wilayah Kabupaten Garut yang dilakukan pada tahun 2007 dan 2011, proporsi desa tertinggal telah mengalami penurunan 17% dari sebesar 49% (207 desa) pada tahun 2007 menjadi 32% (137 desa) pada tahun 2011. Kondisi tersebut menunjukkan keberhasilan pelaksanaan berbagai program pengentasan desa tertinggal di Kabupaten Garut yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Garut bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

  Dalam rangka percepatan pengentasan Kabupaten Garut keluar dari status sebagai daerah tertinggal, upaya yang perlu dilakukan secara bersama-sama antara Pemerintah Kabupaten Garut dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat diwujudkan melalui 3 (tiga) fokus utama, yaitu:

  1. Membangun kualitas Sumber Daya Manusia yang memiliki kompetensi berlandaskan nilai agama, sosial dan budaya sesuai kearifan lokal.

  2. Mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis agribisnis, agroindustri, kelautan dan pariwisata disertai pengembangan seni budaya daerah.

  3. Meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur wilayah sesuai dengan daya dukung lingkungan dan fungsi ruang. Dengan melihat keterkaitan antara kondisi dan permasalahan ketertinggalan di Kabupaten Garut dengan kebijakan nasional, kebijakan Provinsi Jawa Barat, maupun Kebijakan Pembangunan Kabupaten Garut, maka rumusan strategi untuk percepatan pengentasan desa tertinggal di Kabupaten Garut adalah sebagai berikut.

  1. Meningkatkan pelayanan dasar kesehatan.

  2. Meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

  3. Meningkatkan pelayanan infrastruktur dasar.

Gambar 7.1 Strategi Percepatan Pengentasan Desa Tertinggal di Kabupaten Garut

  Rumusan program yang berkaitan dengan strategi percepatan pengentasan desa tertinggal di Kabupaten Garut disajikan pada tabel 7.1.

Tabel 7.1 Strategi dan Program Percepatan Pengentasan Desa Tertinggal

  

di Kabupaten Garut

Strategi Program

  1. Meningkatkan pelayanan dasar kesehatan.

  • Peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/ puskesmas pembantu dan jaringannya.
  • Peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak.
  • Peningkatan pelayananan kesehatan anak balita.
  • Upaya kesehatan masyarakat.

  2. Meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

  • Pembangunan infrastruktur perdesaan.
  • Peningkatan kesejahteraan petani.
  • Peningkatan penerapan teknologi pertanian.
  • Pengembangan agribisnis pertanian.

  3. Meningkatkan pelayanan infrastruktur dasar.

  • Pembangunan jalan dan jembatan.
  • Rehabilitasi/ pemeliharaan jalan dan jembatan.
  • Pembangunan infrastruktur perdesaan.
  • Pengembangan kinerja air minum dan air limbah wilayah perdesaan.
  • Pembangunan lingkungan sehat pemukiman dan perumahan.
  • Pembinaan dan pengembangan bidang ketenagalistrikan.
  • Pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.
  • Perbaikan akibat bencana alam/ sosial.
  • Perlindungan dan konservasi sumberdaya alam. Desa yang menjadi prioritas sasaran untuk dientaskan dari ketertinggalan meliputi desa pada kawasan kecamatan maju, kawasan kecamatan berkembang, kawasan agropolitan, kawasan kerja pertambangan, kawasan kerja perkebunan, dan kawasan produk unggulan kabupaten sebagai berikut :

   Kaw asan Kecamatan Maju Sebanyak 9 (sembilan) desa tertinggal pada kawasan kecamatan maju yang diwilayahnya hanya terdapat 1 (satu) Desa tertinggal, yaitu Desa Sindangratu Kecamatan Wanaraja, desa Hegarsari Kecamatan Kadungora, Desa Margacinta Kecamatan Leuwigoong, Desa Girijaya Kecamatan Kersamanah, Desa Cinta Kecamatan Karangtengah, Desa Samida Kecamatan Selaawi, Desa Sindangsari Kecamatan Cigedug, Desa Cisangkal Kecamatan Cihurip dan Desa Bojong Kecamatan Pameungpeuk.

   Kaw asan Kecamatan Berkembang Sebanyak 14 (empat belas) desa tertinggal pada kawasan kecamatan berkembang yang diwilayahnya hanya terdapat 2 (dua) Desa tertinggal, yaitu Desa Cipancar dan Desa Kandangmukti Kecamatan Leles, Desa Sukalilah dan Desa Padasuka Kecamatan Cibatu, Desa Pangeureunan dan Desa Simpen Kaler Kecamatan Limbangan, Desa Cibiuk Kidul dan Desa Cipareuan Kecamatan Cibiuk, Desa Panjiwangi dan Desa Sukawangi Kecamatan Tarogong Kaler, Desa Jagabaya dan Desa Karangwangi Kecamatan Mekarmukti dan Desa Cimahi dan Dan Desa I ndralayang Kecamatan Caringin.

   Kaw asan Agropolitan Sebanyak 21 (dua puluh satu) Desa tertinggal yang terdapat di kawasan yang telah ditetapkan oleh Menko Ekonomi sebagai kawasan agropolitan, antara lain : (1). Desa Sindangsari Kecamatan Cigedug; (2). Desa Cipangramatan, Desa Girijaya dan Desa Keramatwangi Kecamatan Cikajang; (3). Desa Cipaganti, Desa Pamulihan, Desa Sirnajaya, Desa Situsari dan Desa Sukatani Kecamatan Cisurupan; (4). Desa Ciela, Desa Karyajaya, Desa Mekarsari dan Desa Salakuray Kecamatan Bayongbong; (5). Desa Mekarjaya, Desa Padamukti dan Desa Sukajaya Kecamatan Sukaresmi; (6). Desa Barusari, Desa Padamulya, Desa Padasuka, Desa Sarimukti dan Desa Talaga Kecamatan Pasirwangi.

   Kaw asan Kerja Pertambangan Sebanyak 14 (empat belas) Desa tertinggal yang terdapat di wilayah kerja pertambangan (I UP PT. Aneka Tambang, Tbk dan WKP Panas Bumi PT. Pertamina GE serta PT. Chevron GI ) melalui program CSR, antara lain : (1). Desa Garumukti dan Desa Linggarjati Kecamatan Pamulihan; (2). Desa Bojong, Desa Gunung Jampang, Desa Gunamekar, Desa Margalaksana, Desa Mekarbakti, Desa Mekarjaya, Desa Sirnajaya dan Desa Hegarmanah Kecamatan Bungbulang; (3). Desa Cisarua, Desa Parakan, Desa Sukalaksana dan Desa Tanjungkarya Kecamatan Samarang.

   Kaw asan Kerja Perkebunan Sebanyak 27 (dua puluh tujuh) Desa tertinggal yang terdapat di wilayah kerja perkebunan besar swasta (PT. Condong dan PT. Nusamba) dan perkebunan negara (PTPN), antara lain : (1). Desa Ciroyom, Desa Girimukti, Desa Karangsari, Desa Kertamukti, Desa Linggamanik, Desa Tipar dan Desa Awas Sagara Kecamatan Cikelet; (2). Desa Cigaronggong, Desa Maroko, Desa Mekarmukti, Desa Mekarwangi, Desa Sagara, Desa Sancang, Desa Simpang dan Desa Najaten; (3). Desa Cihaurkuning, Desa Cikondang, Desa Depok, Desa Margamulya, Desa

  Panyindangan, Desa Sindangsari dan Desa Sukamukti; (4). Desa Dagiang, Desa Dawungsari, Desa Kolot, Desa Karyamekar dan Desa Mekarmukti Kecamatan Cilawu.

   Kaw asan Produk Unggulan Kabupaten Sebanyak 12 (dua belas) Desa tertinggal yang terdapat di kawasan yang direncanakan oleh Kementerian PDT sebagai lokasi sasaran Program Unggulan Kabupaten dan Bedah Desa, antara lain : (1). Desa Saribakti Kecamatan Peundeuy; (2). Desa Jayabakti dan Desa Mulyajaya Kecamatan Banjarwangi; (3). Desa Pancasura Kecamatan Singajaya; (4). Desa Cisangkal Kecamatan Cihurip; (5). Desa Neglasari Kecamatan Cisompet; (6). Desa Jagabaya Kecamatan Mekarmukti; (7). Desa Cipangramatan, Desa Girijaya dan Desa Kramatwangi Kecamatan Cikajang; (8). Desa Sirnajaya Kecamatan Cisurupan.

  Adapun untuk merealisasikan kebijakan tersebut, maka disusun program kegiatan percepatan pembangunan pengentasan ketertinggalan, yaitu sebagai berikut:

Tabel 7.2 Program Percepatan Pembangunan Desa Tertinggal

  

Di Kabupaten Garut Tahun 2014- 2019

No Program SKPD Penanggungjaw ab

  1 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jalan Bungbulang - Dinas Bina Marga Cijayana

  2 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jalan Panunjuk - Pasirwangi Dinas Bina Marga

  • Darajat

  3 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jalan Sukamerang - Cibatu Dinas Bina Marga

  4 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jl. Toblong - Simpang Dinas Bina Marga

  5 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jl. Simpang - Cibaregbeg Dinas Bina Marga

  6 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jl. Pakenjeng lama - Sp. Dinas Bina Marga Burujul/ Nangkaruka

  7 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jl. Tegalgede - Dinas Bina Marga Bojongrandu

  8 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jl. Talegong - Selaawi Dinas Bina Marga

  9 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jl. Cikajang - Cikandang Dinas Bina Marga

  10 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jl. Cisarua - Cisewu Dinas Bina Marga

  11 Pembangunan dan Peningkatan Ruas Jl. Pameungpeuk - Bojong Dinas Bina Marga

  12 Pembangunan I nfrastruktur Perdesaan di Desa Tertinggal Dinas Bina Marga, Pembangunan Jalan Desa Dinas Tata Ruang dan

  • Permukiman Pembangunan pasca bencana jembatan rawayan
  • Dinas SDAP Penyediaaan air bersih
  • Rehabilitasi jaringan irigasi perdesaan
  • Penyediaan listrik perdesaan
  • Rehab kantor desa
  • 13 Peningkatan Puskesmas TTP menjadi DTP Dinas Kesehatan

  14 Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Dalam Akselerasi Dinas Kesehatan Penurunan AKI – AKB

  15 Pembangunan Gedung Rawat I nap Kelas I I I (RSUD RSUD Pameungpeuk Pameungpeuk)

  

No Program SKPD Penanggungjaw ab

I ntensifikasi pengembangan agribisnis jagung di wilayah Garut Dinas Tanaman Pangan dan

  16 Tengah dan Garut Selatan Hortikultura Pengembangan bibit kentang industri Di Kawasan Agropolitan Dinas Tanaman Pangan dan

  17 Kecamatan Cisurupan Hortikultura

  

18 Penanganan pasca panen holtikultura dan tanaman pangan Dinas Tanaman Pangan dan

Hortikultura

  

19 Pembangunan Jalan di Sentra Produksi Pertanian Tanaman Dinas Tanaman Pangan dan

Pangan Hortikultura

  

20 Pengembangan plasma nutfah domba garut di Kecamatan Dinas Peternakan, Perikanan

Cikajang, Leles, Cisurupan dan Tarogong Kaler dan Kelautan

  

21 Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan di Rancabuaya Dinas Peternakan, Perikanan

dan Kelautan

  

22 Pengembangan Budidaya I kan Air Tawar Dikawasan Strategis Dinas Peternakan, Perikanan

Kabupaten (KSK) Minapolitan Kecamatan Tarogong Kaler dan dan Kelautan Sekitarnya

  23 Pengembangan Tanaman Kopi Rakyat di Kecamatan Cisurupan Dinas Perkebunan

  24 Pengembangan Tanaman Karet di wilayah Garut Selatan Dinas Perkebunan

  25 Pengembangan Hutan Lestari Dinas Kehutanan

  26 Penanganan Daerah Rawan Pangan Dinas Ketahanan Pangan

  27 Pengembangan Lumbung Pangan Badan Ketahanan Pangan

  28 Peningkatan Sarana dan Prasarana Destinasi Wisata Unggulan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

  

29 Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Dinas Koperasi UMKM dan

UMKM (mengembangkan dan menciptakan kewirausahaan baru) BMT Dinas Perindagpas

  30 Revitalisasi Pasar Tradisional Wanaraja, Leles dan Samarang Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar

  31 Penambahan Ruang Kelas Sekolah* Dinas Pendidikan

  32 Program Beasiswa Perguruan Tinggi* Dinas Pendidikan

  33 Pembangunan Gedung Perpustakaan dengan Pengadaan Dinas Pendidikan Mebeulair dan Teknologi I nformatika Perpustakaan * *

  34 Kejar Paket Kesetaraan ( Paket B dan C )* * Dinas Pendidikan

7.6 Kebijakan Mew ujudkan Ketahanan Pangan

  Ketahanan Pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan individu, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, bergizi, merata dan terjangkau serta sesuai dengan keyakinan dan budaya, untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif. Tujuan pembangunan ketahanan pangan adalah untuk menjamin ketersediaan dan konsumsi pangan seluruh penduduk yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional, Provinsi, Kabupaten/ Kota, Desa, Keluarga hingga perorangan. Ketahanan pangan harus diwujudkan secara merata di seluruh wilayah sepanjang waktu, yang didasarkan pada Optimalisasi dan berbasis keragaman sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal. Mengingat pangan juga merupakan komoditas ekonomi, maka dalam pembangunannya dikaitkan dengan peluang pasar dan peningkatan daya saing produk, dengan memanfaatkan keunggulan komperatif dan kompetitif serta memanfaatkan teknologi spesifik lokasi. Produksi pangan sebagian besar dilaksanakan oleh petani/ masyarakat dengan skala usaha kecil di perdesaan, sehingga pembangunan ketahanan pangan sangat strategis untuk memperkuat ekonomi perdesaan dan sekaligus mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan kelaparan. Ketahanan pangan, di samping sebagai prasyarat untuk memenuhi hak azasi manusia, juga merupakan pilar bagi eksistensi dan kedaulatan suatu bangsa. Oleh sebab itu, seluruh komponen bangsa baik Pemerintah, Masyarakat dan Pihak Swasta, mulai dari Pusat, Daerah Provinsi dan Kabupaten/ Kota, sepakat untuk bersama-sama membangun ketahanan pangan Nasional maupun Daerah. Dalam sistem pemerintahan yang demokratis dan desentralistis saat ini, pelaku utama pembangunan pangan mulai dari produksi, penyediaan, distribusi dan konsumsi adalah masyarakat, sedangkan pemerintah lebih berperan sebagai inisiator, fasilitator, serta regulator, agar kegiatan masyarakat

  Pemerintah Kabupaten Garut sebagai bagian integral dari Pemerintah Pusat yang telah menyatakan komitmen dan berperan aktif, dalam berbagai hal untuk melaksanakan aksi kemanusiaan, terutama mengatasi masalah kekurangan pangan dan kelaparan, kekurangan gizi serta kemiskinan. Kesepakatan tersebut antara lain tertuang dalam Deklarasi Roma Tahun 1996 pada KTT Pangan Dunia ( World Food Summit 1996) dan ditegaskan kembali dalam World Food Summit: five years later

  Millenium Development Goals (MDGs) yang isinya (WFS: fyl) 2001, serta deklarasi antara lain menyepakati mengurangi angka kemiskinan ekstrem / penduduk lapar dan kerawanan pangan di dunia sampai setengahnya pada tahun 2015.

  Strategi dan arah Kebijakan Ketahanan Pangan diselaraskan dengan Peningkatan kualitas pelayanan ketahanan pangan yang dilaksanakan melalui penerapan dan pencapaian target Standar Pelayanan Minima (SPM) bidang ketahanan pangan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65/ PERMENTAN/ OT.140/ 12/ 2010 Tentang SPM Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/ Kota. Berkaitan dengan pencapaian target indikator SPM bidang ketahanan pangan, yang meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Menjamin ketersediaan Pangan dan Penanganan Kerawanan Pangan terkait dengan penyediaan lumbung pangan; 2)

  Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal;

3) Menjaga stabilisasi harga, distribusi serta keamanan pangan.

  Selanjutnya strategi dan arah kebijakan ketahanan pangan memperhatikan beberapa kebijakan diantaranya : 1)

  Penyusunan kebijakan terkait tindak lanjut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang konversi lahan pertanian ke non Pertanian termasuk keperluan pemukiman dan fasilitas umum termasuk fragmentasi lahan karena proses pewarisan, serta mencantumkan Luas Lahan dan Lokasi Lahan Perlindungan Lahan Pangan Berkelanjutan. Khusus lahan beragroekosistem sawah dan lahan kering tanaman pangan (Konversi sawah menjadi lahan non pertanian), perlu pemberian insentif perlindungan lahan pertanian produktif;

  2) Pengembangan usaha penangkaran benih/ bibit serta klinik konsultasi kesehatan tanaman dan hewan secara luas sesuai dengan Kebutuhan Benih Lokal daerah, sehingga benih/ bibit dapat terjangkau petani, dan mencegah beredarnya benih/ bibit palsu di masyarakat sangat merugikan petani. Sertaa harus memberikan insentif bagi petugas perbenihan/ perbibitan; 3)

  Fasilitasi pemanfaatan skim kredit program yang sudah ada (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi/ KKP-E, Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan/ KPEN-RP, Kredit Usaha Pembibitan Sapi/ KUPS dan Kredit Usaha Rakyat/ KUR) melalui sosialisasi, koordinasi dan sinkronisasi di tingkat lapangan;

  4) Memperkuat peran penting Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Pengendali

  Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Pengawas Benih Tanaman (PBT) dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) melalui peningkatan jumlah petugas lapangan dan mendorong munculnya penyuluh swadaya; dan

  5) I nventarisasi kelompok tani/ gabungan kelompok tani, serta mengembang industry perdesaan yang melibatkan kelompok tani/ gabungan kelompok tani.

  Adapun Strategi yang akan ditempuh dalam pembangunan pangan Kabupaten Garut Tahun 2014-2019 yaitu :

  1. Meningkatkan ketersediaan, akses pangan, kualitas, keragaman dan keamanan pangan masyarakat;

  2. Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ketahanan pangan;

  3. Pengembangan jaringan kerja dengan stakeholders dalam pembangunan ketahanan pangan;

  4. Pengendalian pemanfaatan sumber daya alam; 5.

  Peningkatan produktivitas dan pengamanan produksi tanaman pangan dan hortikultura;

  6. Meningkatkan sistem dan jaringan distribusi barang dan jasa; 7.

  Meningkatkan produksi, inovasi dan nilai tambah hasil peternakan; 8. Meningkatkan kapasitas dan kapital produsen pangan baik untuk perluasan pengusahaan maupun peningkatan kemampuan bersaing

  9. Mengembangkan, mendorong dan memfasilitasi pengembangan kelompok masyarakat ( desa mandiri pangan, dan sebagainya);

  10. Meningkatkan kapasitas dan kapital produsen pangan baik untuk perluasan pengusahaan maupun peningkatan kemampuan bersaing ;

  11. Memfasilitasi dan mendorong berkembangnya lembaga-lembaga pembiayaan masyarakat/ lembaga keuangan mikro untuk meningkatkan akses terhadap permodalan; 12. Pengembangan kapasitas produksi melalui rehabilitasi kemampuan dan pembangunan baru jaringan irigasi dan optimalisasi pemanfaatan keragaman sumberdaya alam (lahan, air dan perairan);

  13. Menangani kerawanan pangan, termasuk penanganan ibu hamil anemia besi dan balita gizi buruk;

  14. Pengembangan industri pangan berbasis bahan baku tepung-tepungan non beras; Arah Kebijakan pembangunan ketahanan pangan Kabupaten Garut Tahun

  2014-2019, antara lain :

  1. Peningkatan ketersediaan, dan penguatan distribusi, akses cadangan pangan;

  2. Pengembangan aneka ragam serta keamanan konsumsi pangan masyarakat; 3.

  Penanganan daerah rawan pangan; 4. Peningkatan pembangunan sistem ketahanan pangan;

  5. Peningkatan luas areal tanam lahan basah dana lahan kering;

  6. Pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan;

  7. Pengamanan produksi tanaman pangan dan hortikultura; 8.

  Peningkatan distribusi barang kebutuhan pokok masyarakat dan barang strategis serta menata distribusi barang yang efektif dan efisien;

  9. Peningkatan sistem dan jaringan informasi perdagangan; 10.

  Optimalisasi pelatihan dan pembinaan pelaku usaha peternakan, perikanan dan kelautan;

  11. Pengembangan kawasan usaha peternakan (village breeding centre) dan peningkatan sarana prasarana produksi ternak;

  12. Pengembangan kawasan sentra perikanan dan peningkatan sarana prasarana produksi.

  Selanjutnya dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan dikabupaten Garut perlu dilakukan langkah - langkah strategis sebagai berikut :

  1. Mengoptimalkan keberadaan Dewan Ketahanan Pangan daerah serta harus dilaksanakan rapat koordinasi secara reguler untuk mengevaluasi pelaksanaan dan pencapaianya serta perlu dibentuk kelompok kerja (Pokja) ketahanan pangan ; 2. Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 41 tahun 2009 Tentang

  Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, pemerintah daerah perlu menetapkan kebijakan dan regulasi yang terintegrasi dan sinergi serta tidak saling tumpang tindih terutama untuk pengendalian lahan penyediaan infrastruktur irigasi ;

  3. Pemerintah Daerah perlu mengalokasikan anggaran yang memadai dan mampu menggerakan masyarakat dan swasta secara bersinergi untuk mewujudkan ketahanan pangan ; 4. Mengembangkan pemanfaatan sumber daya dan kearifan pangan lokal yang dimiliki serta dapat diolah menjadi bahan setengah jadi untuk mendukung

  Program Subsidi Pangan Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah ; 5. Pelaksanaan gerakan penganekaragaman konsumsi pangan seperti ‘One Day No

  Rice ‘ dan Gerakan Makan Malam Tanpa Nasi ;

  6. Penyusunan Roadmap Ketahanan Pangan di kabupaten Garut periode 2015 - 2020 sebagai acuan untuk mewujudkan kemandiriaan pangan di kabupaten Garut.

7.7. Prioritas Program Pembangunan Daerah 2014 - 2019

  Prioritas program pembangunan daerah yang akan dilaksanakan untuk mencapai misi pembangunan Kabupaten Garut periode Tahun 2014 – 2019 adalah sebagai berikut :

  

A. Misi I : Meningkatkan tata kelola pelayanan pendidikan dan

kesehatan yang berkualitas, terjangkau, prima untuk mew ujudkan kehidupan masyarakat bermartabat dan agamis;

  1. Program Pendidikan Anak Usia Dini;

  2. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun;

  3. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan;

  4. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan;

  5. Program Pendidikan Menengah;

  6. Program Pendidikan Non Formal;

  7. Program Budaya Baca;

  8. Program Peningkatan Peran serta Kepemudaan;

  1. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani;

  34. Program Peningkatan Kesempatan Kerja;

  35. Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan; 36.

  Program Pengembangan Wilayah Transmigrasi; 37. Program Peningkatan Kehidupan Beragama;

  38. Program Peningkatan Pendidikan Agama; 39.

  Program Pengelolaan Keragaman Budaya.

  

B. Misi I I : Mew ujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Berbasis

Potensi Lokal;

  2. Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/ Perkebunan Lapangan;

  31. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial; 32.

  3. Program Peningkatan Produksi Pertanian/ Perkebunan;

  4. Program Peningkatan Ketahanan Pangan;

  5. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian;

  6. Program Pengembangan Jaringan I rigasi Pedesaan;

  7. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/ Perkebunan;

  8. Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan;

  9. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan;

  Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial; 33. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja;

  Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya;

  9. Program peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda;

  18. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita;

  10. Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga;

  11. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olahraga; 12.

  Program Upaya Kesehatan Masyarakat, Obat & Perbekalan Kesehatan; 13. Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan;

  14. Program Manajemen Kesehatan;

  15. Program Pengelolaan Pelayanan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD); 16.

  Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin; 17. Program Kesehatan I bu Melahirkan dan Anak;

  19. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat; 20.

  29. Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Perempuan; 30.

  Program Pengembangan Lingkungan Sehat; 21. Program Pengawasan Obat dan Makanan;

  22. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular; 23.

  Program Pengadaan Peningkatan Sarana Dan Prasarana Rumah Sakit/ Puskesmas dan Jaringanya;

  24. Program Keluarga Berencana;

  25. Program Pelayanan Kontrasepsi; 26.

  Program Kesehatan Reproduksi Remaja; 27. Program Memperkuat Dukungan Partisipasi Masyarakat;

  28. Program Pemberdayaan Ekonomi Keluarga;

  10. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Peternakan & Teknologi;

  11. Program Pengembangan Agribisnis;

  2. Program Rehabilitasi / Pemeliharaan Jalan dan Jembatan;

  16. Program Pembinaan, Pengembangan Ketenagalistrikan dan Pemanfaatan Energi; 17. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan;

  Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam serta konservasi sumberdaya air;

  14. Program Pengendalian Banjir; 15.

  Jaringan Pengairan lainnya;

  Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang; 13. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan I rigasi, Rawa dan

  11. Program Pemanfaatan Ruang; 12.

  10. Program Perencanaan Tata Ruang;

  9. Program Peningkatan Kesiagaan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran;

  8. Program Penataan Perkotaan dan Pedesaan;

  7. Program Pengembangan Sistem Penyediaan dan Pengelolaan Air Bersih;

  6. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah Wilayah Perkotaan & Perdesaan;

  5. Program Pengembangan Perumahan;

  4. Program Pembangunan lingkungan sehat permukiman dan perumahan;

  3. Program pembangunan infrastruktur perdesaan;

  1. Program Pembangunan Jalan dan Jembatan;

  12. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir; 13.

  21. Program Penciptaan I klim Usaha Usaha Kecil Menengah Yang Konduksif;

  Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Produksi Perikanan;

  14. Program Pengembangan Budidaya Perikanan; 15.

  Program Pengembangan Perikanan Tangkap; 16. Program Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan;

  17. Program Rehabilitas Hutan dan Lahan;

  18. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Hutan; 19.

  Program Pembinaan dan Penertiban I ndustri Hasil Hutan; 20. Program Pengembangan Kemitraan, Destinasi, Promosi Wisata;

  22. Program Peningkatan Kapasitas I ptek Sistem Produksi; 23.

  

C. Misi I I I : Mew ujudkan Kualitas I nfrastruktur yang Memadai serta

Lingkungan yang Sehat, Aman dan Nyaman;

  Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah;

  24. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi; 25.

  Program Pengembangan I ndustri Kecil dan Menengah; 26. Program Pengembangan Sentra-Sentra I ndustri Potensial;

  27. Program Penataan Struktur I ndustri;

  28. Program Pembinaan Pasar, Pedagang Kakilima dan Asongan; 29.

  Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama I nvestasi; 30. Program Peningkatan I klim I nvestasi dan Realisasi I nvestasi; 31. Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan.

  18. Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian Kendaraan Bermotor;

  19. Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan;

  9. Program Penataan Kelembagaan;

  26. Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan; 27. Program Penataan dan Penyempurnaan Kebijakan Sistem dan Prosedur

  25. Program Peningkatan Disiplin Aparatur;

  Program Pembinaan dan Pengembangan aparatur;

  23. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur; 24.

  22. Program Pendidikan Kedinasan;

  20. Program Perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh; 21. Program Kerjasama Pembangunan;

  19. Program Pengembangan Data/ I nformasi

  Program Penataan Administrasi Kependudukan; 18. Program Perencanaan Pembangunan Daerah;

  16. Program Peningkatan I klim I nvestasi dan Realisasi I nvestasi; 17.

  14. Program Pengendalian Administrasi Pembangunan dan Pengadaan Barang Jasa; 15. Program Penyelesaian Konflik Pertanahan;

  13. Program Peningkatan pelayanan publik;

  Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan; 12. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Membangun Desa;

  10. Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan; 11.

  8. Program Penataan Daerah Otonomi Baru;

  20. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ; 21.

  7. Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah;

  6. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan;

  5. Program Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah Daerah;

  4. Program Penyelamatan dan Pelestarian Dokumen Arsip Daerah;

  3. Program Peningkatan dan Pengembangan pengelolaan Keuangan daerah;

  2. Program Pengembangan Komunikasi, I nformasi dan Media Masa;

  1. Program Peningkatan Sistem Pengawasan I nternal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH;

  

D. Misi I V : Mew ujudkan Pelayanan Publik yang Profesional dan Amanah

serta Membangun Kehidupan Sosial Politik yang Demokratis dan Berbudaya Luhur;

  Program Ruang Terbuka Hijau; 29. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana persampahan; 30. Program Pengelolaan Areal Pemakaman.

  27. Program Pengelolaan Ekosistem Pesisir dan Laut; 28.

  26. Program Peningkatan Pengendalian Polusi ;

  Program Mitigasi dan Adaptasi perubahan iklim; 25. Program Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Alam;

  23. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan; 24.

  Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam; 22. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup;

  Pengawasan;

  28. Program Peningkatan dan Pengembangan Keuangan Daerah;

  29. Program Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan; 30.

  Program Pencegahan dan Penanggulangan Konflik; 31. Program Pendidikan Politik Masyarakat.

7.7 Program Unggulan Misi 1 : Meningkatkan Tata Kelola Pelayanan Pendidikan dan Kesehatan yang Berkualitas, Terjangkau, Prima untuk Mew ujudkan Kehidupan Masyarakat Bermartabat dan Agamis.

  1. Gratis SPP bagi seluruh siswa SD, SMP, SMA serta beasiswa kuliah bagi putra-putri petani pedagang kecil * ;

  2. Gratis berobat dan Ambulance bagi keluarga miskin * ; 3.

  Bantuan operasional masjid dan madrasah diniyah * ; 4. Pemberian insentif bagi Guru Honorer dan Guru ngaji * ;

  5. Pembangunan Perguruan Tinggi / Politeknik di Kabupaten Garut * ; 6.

  Pengembangan sarana prasarana olah raga dan seni budaya lokal di desa/ kelurahan * ;

  7. Peningkatan rata-rata lama sekolah melalui Program Pendidikan Menengah Rumah Cerdas”;

  Universal dan “ 8. Perluasan aksesibilitas pendidikan; 9. Peningkatan partisipasi jalur pendidikan kejuruan;

  10. Pemberdayaan pemuda dan peningkatan prestasi olah raga;

  11. Pembangunan Sarana Olah Raga (SOR) * * ; 12.

  Pembangunan Gedung Pusat Seni dan Budaya (Art Centre) * * ; 13. Pengembangan I slamic Centre * * ;

  14. Pemberdayaan masyarakat dalam penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu akibat melahirkan melalui pembangunan Rumah Gizi;

  15. Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat;

  16. Pemantapan kualitas tenaga dan fasilitas kesehatan dalam melakukan pelayananan kesehatan masyarakat;

  17. Peningkatan Rumah Sakit dr. Slamet menjadi Tipe B Pendidikan * * ; 18.

  Peningkatan Rumah Sakit Pameungpeuk menjadi Tipe D * * ;

  19. Pembangunan Rumah Sakit Garut Utara * * ; 20.

  Peningkatan Puskesmas Tanpa Tempat Perawatan (TTP) menjadi Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP), Puskesmas Pembantu menjadi Puskesmas dan Puskesmas DTP menjadi Puskesmas Pratama;

  21. Pembangunan Gedung Perpustakaan Skala Nasional; 22.

  Optimalisasi sistem pelayanan jaminan kesehatan nasional; 23. I ntensifikasi penyuluhan, pelayanan keluarga berencana dan keluarga sejahtera;

  24. Pencegahan dini dan penanggulangan daerah rawan bencana alam melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana; 25.

  10. Pengembangan kawasan agrowisata desa Barudua kecamatan Malangbong; 11.

  Peningkatan produksi hasil laut melalui pengembangan sarana dan prasarana penangkapan dan areal tangkap;

  21. Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan; 22.

  20. Peningkatan iklim dan realiasi investasi Daerah;

  19. Peningkatan keunggulan, daya Tarik wisata melalui pembangunan prasarana jalan ke objek-objek wisata lokal;

  18. Pengembangan kewirausahaan, penguatan kelembagaan, usaha dan keunggulan kompetitif KUMKM;

  Pembangunan pasar tradisional di wilayah perbatasan Kabupaten Garut; 17. Pengembangan sentra-sentra industri kecil menengah;

  15. Revitalisasi dan optimalisasi gedung trade centre di Bl. Limbangan; 16.

  Pembangunan lumbung pangan masyarakat di daerah rawan pangan; 14. Pengembangan desa mandiri pangan;

  12. Pengembangan komoditi Jagung hibrida; 13.

  Pengembangan kawasan agropolitan di kecamatan Cisurupan dan sekitarnya;

  9. Pengembangan komoditas unggulan jeruk Garut, pengembangan Usaha pembibitan kentang industri, padi organik dan padi ketan;

  Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT), RTLH dan PMKS lainnya;

  8. Pengembangan komoditas unggulan perkebunan (teh, kopi, karet dan akarwangi);

  5. Pengembangan Sentra bibit Sapi dan Domba Garut di Garut Selatan dan Utara; 6. Pengembangan Kampung Domba I ndonesia (KDI ) di Kecamatan Cikajang; 7. Pengembangan minapolitan di Kecamatan Tarogong Kaler dan daerah sekitarnya;

  Pengembangan Kawasan Jasa Perdagangan dan I ndustri kreatif; 4. Pengembangan Kawasan Peternakan;

  2. Bantuan modal bagi usaha perempuan * ; 3.

  Subsidi harga pupuk dan benih bagi petani kecil * ;

  Misi 2 : Mew ujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Berbasis Potensi Lokal 1.

  Pembangunan Shelter (Rumah aman bagi korban kekerasan terhadap anak dan perempuan).

  30. Pelestarian nilai-nilai budaya daerah; 31.

  29. Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja;

  Peningkatan Kesempatan Kerja; 28. Pemberian Kerja melalui Sistem Padat Karya (PKS-PK);

  26. Pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial; 27.

  23. Pengembangan pemanfaatan sumberdaya hutan berupa hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan;

  • 10.

  17. Pembangunan jembatan Cipasarangan kecamatan Cikelet dan jembatan Cimurah-Cipicung kecamatan Karangpawitan; 18. Perencanaan Pembangunan Jalan Alternatif Kadungora-Leles;

  32. Penyusunan Rencana I nduk Lalu Lintas Angkutan Jalan Kabupaten Garut 2015-2020;

  30. Perencanaan peningkatan Terminal Tipe-B Malangbong; 31. Perencanaan Pembangunan Terminal Barang di Kecamatan Leles.

  Pengembangan, pengelolaan, perlindungan dan konservasi lahan; 29. Perencanaan peningkatan terminal tipe A perkotaan kota Garut;

  27. Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS); 28.

  Peningkatan penanganan pengelolaan PJU dan listrik untuk masjid besar dan madrasah diniyah;

  25. Penanganan revitalisasi I PAL industri kulit Sukaregang; 26.

  24. Pengadaan alat angkut, alat berat persampahan;

  Revitalisasi TPA Pasirbajing dan Perencanaan Pembangunan TPA Wilayah Banjarwangi, Caringin dan Pameungpeuk;

  22. Perencanaan pembangunan jalan alternatif Banyuresmi Situ Bagendit; 23.

  Malangbong;

  Perencanaan pembangunan jalan alternatif Kota Balubur Limbangan; 21. Perencanaan Pembangunan jalan alternatif Balubur Limbangan –

  19. Perencanaan pembangunan jalan alternatif Garut – Cibatu; 20.

  16. Pelapisan hotmix ruas jalan perkotaan;

  24. Optimalisasi pengelolaan BUMD.

  Peningkatan akses Jalan Bungbulang – Cijayana dan Bungbulang – Sukarame;

  14. Peningkatan akses Jalan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Darajat; 15.

  13. Pembangunan akses Jalan Alternatif Pasar Wanaraja;

  12. Pembangunan akses wisata Jalan alternatif Lingkar Cipanas dan Jalan alternatif Situ Cangkuang-Leles;

  11. Pembangunan Jalan Penghubung Kecamatan Karangpawitan-Banyuresmi ;

  Peningkatan akses jalan penghubung antar kecamatan;

  9. Perencanaan Pembangunan Jalan dan Jembatan Cimanuk By Pass Tahap I I

  8. Perencanaan pembangunan kawasan I nduk Pusat Pemerintahan (I PP) dan sarana fasilitas terpadu Pemerintah Kabupaten Garut ;

  Pembangunan/ rehabilitasi jembatan rawayan; 6. Pengembangan sistem penyediaan dan pengelolaan air bersih diantaranya melalui perlindungan mata air Cibolerang kecamatan Wanaraja, dan mata air lainnya, serta pengembangan SPAM I KK perkotaan dan perdesaan; 7. Penataan Wilayah Perkotaan Garut;

  4. Penanganan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni * ; 5.

  3. Perencanaan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Kawasan I ndustri terpadu;

  Pembangunan I nfrastruktur Desa dan Perdesaan * ; 2. Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut;

  Misi 3 : “Mew ujudkan Kualitas I nfrastruktur yang Memadai Serta Lingkungan yang Sehat, Aman dan Nyaman.” 1.

  33. Rehabilitasi drainase perkotaan dan penanggulangan banjir perkotaan;

  34. Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya;

  35. Pembangunan jaringan irigasi Leuwigoong; 36.

  Pengembangan, pengelolaan dan konservasi sumber daya air;

  37. Penyediaan dan pengelolaan air baku; 38.

  Pengendalian banjir dan kekeringan serta pengamanan pantai; 39. Perlindungan dan konservasi sumber daya alam, mineral dan air tanah;

  40. Pembinaan, pengembangan ketenagalistrikan pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta pengkajian sosial ekonomi potensi panas bumi;

  41. Elektrifikasi rumah tangga.

  Misi 4 : “Mew ujudkan Pelayanan Publik yang Profesional dan Amanah serta Membangun Kehidupan Sosial Politik yang Demokratis dan Berbudaya Luhur.” 1.

  Pemberian insentif bagi RW dan RT dan Kader Posyandu* ;

  2. Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akte Pencatatan Sipil dan gratis pembuatan akte kelahiran serta Laminasi * ;

  3. Peningkatan pemahaman ketahanan bangsa, pencegahan, penanganan konflik wilayah perbatasan, dan penyelesaian konflik pertanahan;

  4. Peningkatan kapasitas dan kapabilitas Sumber Daya Aparatur Pemerintah dalam rangka penerapan UU ASN;

  5. Penataan Struktur Organisasi Tata Kerja kelembagaan pemerintah daerah;

  6. Peningkatan pelayanan publik melalui Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN); 7. Peningkatan pengawasan reguler, penerapan Sistem Pengawasan I nternal

  Pemerintah (SPI P) dan implementasi aksi daerah pencegahan korupsi;

  8. Fasilitasi peningkatan pengawasan API P dan pendampingan dalam penyelesaian tindak lanjut;

  9. Peningkatan penyelesaian pengaduan masyarakat;

  10. Pemeriksaan terpadu antar lembaga dan non lembaga;

  11. Peningkatan informasi pengelolaan keuangan yang akuntabel; 12.

  Pengembangan sistem komunikasi dan informasi yang handal; 13. Pembangunan dan rehabilitasi gedung pemerintah daerah, kantor kecamatan dan desa/ kelurahan;

  14. Pengadaan tanah, sertifikasi dan penataan aset daerah; 15.

  Penataan Daerah Otonomi Baru;

  16. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan;

  17. Peningkatan penerapan Standar Pelayanan Minimum (SPM), Standar Operasional Prosedur (SOP) dan persiapan penetapan I SO;

  18. Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Desa bagi Aparatur Pemerintah Daerah, Kecamatan, Kelurahan dan Desa;

  19. Peningkatan Penyelenggaraan Program dan Optimalisasi pengelolaan aset PNPM Mandiri Pedesaan;

  20. Peningkatan Penataan Sistem Administrasi Pemerintahan, kapasitas kelembagaan, dan tanah kas Desa;

  21. Kajian Pembangunan Rumah Sakit Garut Utara di kecamatan Limbangan dan Rumah Sakit Jiwa ;

22. Kajian pembangunan jalan lintas cepat Limbangan, Kadungora-Leles, Garut

  Kota – Cibatu, Cijapati-Kadungora; 23. Kajian pembangunan Mata Air Cibolerang kecamatan Wanaraja; 24. Kajian Pembangunan Terminal Penumpang Tipe A Perkotaan Garut dan Terminal Angkutan Barang di kecamatan Leles.

  • Beasiswa kuliah bagi putra-putri petani pedagang kecil *

  5

  12

  Gelar seni dan budaya (kali)

  Pengembangan sarana prasarana olah raga dan seni budaya lokal di desa/ kelurahan *

  Program peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda

  Disdik Pelestarian nilai-nilai budaya daerah

  25 Program peningkatan peran serta kepemudaan

  5

  5

  5

  1

  5

  5

  10

  Pemberdayaan pemuda dan peningkatan prestasi olah raga Jumlah Fasilitasi kegiatan kepemudaan

  Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olahraga

  Disdik Pembangunan Sarana Olah Raga (SOR) * *

  Pemuda dan Olahraga

  15 Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga

  3

  3

  3

  3

  1

  No Sasaran Strategi RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  1 Peningkatan pendidikan agama pada semua jenjang sekolah dan kelembagaan lainnya

  Meningkatnya kehidupan masyarakat yang bermartabat, memiliki etika serta menjunjung nilai-nilai agama

  Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun

  Peningkatan sistem pembinaan pemuda, pemasalan dan peningkatan prestasi olahraga, serta apresiasi seni budaya secara tepadu dan terarah

  Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan

Tabel 7.3 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Kabupaten Garut

  5 Disbudpar

  1

  1

  3

  1

  1

  1

  4

  Misi seni dan budaya (kali)

  Kebudayaan Disbudpar Pembangunan Perguruan Tinggi / Politeknik di Kabupaten Garut *

  12 Program Pengelolaan Keragaman Budaya

  2

  3

  3

  3

  2014 2015 2016 2017 2018 2019

  11

  Adkesra Setda Dukungan pada perbaikan kualitas pendidikan keagamaan, termasuk di madrasah, pesantren dan diniyah

  N/ A 8% 9% 10% 11% 12% 13% 13% Program Peningkatan kehidupan beragama Otonomi daerah

  Prosentase Pesantren, madrasah, diniyah yang mendapat bantuan

  Membiasakan membaca Al Quran bagi pegawai Pemda, pelajar yang beragama I slam

  16 MI SI 1

  15

  14

  13

  12

  10

  14

  9

  8

  7

  6

  5

  4

  3

  2

  1

  Jumlah Fasilitasi kegiatan keagamaan

  8

  3

  16

  3

  7

  Jumlah Fasilitasi kegiatan keolahragaan

  DPPKA/ Disdik Pembangunan Gedung Pusat Seni dan Budaya ( Art Centre ) * *

  Otonomi daerah / Pendidkan

  32 Program Manajemen Pelayanan Pendidikan

  32

  32

  24

  8

  8

  N/ A -

  Jumlah putra-putri petani, pedagang kecil yang mendapat fasilitasi beasiswa kuliah

  I slamic Centre * * Bantuan operasional masjid dan madrasah diniyah * Pemberian insentif bagi Guru ngaji

  Adkesra Setda Pengembangan

  50 Program Peningkatan Pendidikan Agama

  11

  11

  12

  8

  VII - 32

2 RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

  Peningkatan angka partisipasi pada semua jenjang dan jalur pendidikan

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  Pemerataan dan perluasan akses pendidikan, khususnya di Desa Tertinggal

  APK pendidikan Anak Usia Dini / TK

  19,73% 27,00% 34,41% 36,82% 39,40% 42,16% 45,11% 45,11% Program Pendidikan Anak Usia Dini

  Pendidikan Disdik Gratis biaya sekolah (SPP) bagi seluruh siswa SD, SMP, SMA *

  Angka Partisipasi Pendidikan Dasar :

  Disdik Beasiswa bagi siswa miskin - APK SD sederajat 111,11% 111,11% 110,43% 110,93% 111,43% 111,93% 112,43% 112,43% Disdik Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan

  Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelayanan pendidikan Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan

  • APK SMP sederajat 99,54% 101,29% 106,80% 107,60% 108,40% 109,22% 110,04% 110,04% Disdik - APM SD sederajat 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% Disdik - APM SMP sederajat 93,37% 94,48% 94,73% 95,68% 96,64% 97,60% 98,58% 98,58% Disdik Angka Putus Sekolah Pendidikan Dasar :

  • Angka Putus Sekolah (APTS) SD/ MI
  • Angka Putus Sekolah (APTS) SMP/ MTs

  Program Manajemen Pelayanan Pendidikan

  • APK SMA sederajat 55,68% 59,73% 63,79% 67,84% 71,89% 75,95% 80,00% 80,00% Disdik Peningkatan partisipasi jalur pendidikan kejuruan
  • APM SMA sederajat 44,82% 50,35% 55,88% 61,41% 66,94% 72,47% 78,00% 78,00% Disdik Peningkatan partisipasi lembaga pendidikan formal dan non formal

  Bapusipda Pembangunan Gedung Perpustakaan Skala Nasional

  VII - 33

  Program Pendidikan Non Formal

  Penataan program studi pendidikan formal dan non formal

  Peningkatan partisipasi program Kejar Paket ( A/ B/ C)

  I mplementasi Wajar 12 Tahun serta mendorong berkembangnya SMK

  Disdik Peningkatan pengelolaan bantuan operasional sekolah (BOS )

  Pemerataan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan terutama bagi daerah-daerah terpencil. Peningkatan profesionalisme, kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan

  Jumlah pengunjung perpustakaan terlayani per tahun

  0,003% 0,003% 0,000% 0,000% 0,000% 0,000% 0,000% 0,000%

  Peningkatan akses perpustakaan dan minat baca masyarakat 1.395.050 1.464.803 1.538.043 1.614.945 1.695.692 1.780.477 1.869.500 8.498.656 Program budaya baca

  Perpustakaan

  Disdik Pemberian insentif bagi Guru Honorer *

  7,55 7,73 7,91 8,10 8,30 8,50 8,70 8,70 Disdik Peningkatan, pengembangan budaya baca

  0,017% Disdik Angka melek huruf 99,06% 99,14% 99,21% 99,29% 99,37% 99,45% 99,53% 99,53% Disdik Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun)

  0,029% 0,026% 0,023% 0,020% 0,017%

  0,034% 0,031%

  Angka Putus Sekolah SMA/ MA/ SMK

  Program Pendidikan Menengah

  Menengah:

  67,30% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Disdik Angka Partisipasi Pendidikan

  Disdik Angka Melanjutkan SMP ke SMA/ SMK

  0,015% 0,013% 0,011% 0,009% 0,007% 0,005% 0,003% 0,003%

  Disdik Peningkatan rata-rata lama sekolah melalui Pengembangan pendidikan universal

  VII - 34

  Dinkes Penanggulangan HI V/ AI DS Cakupan Desa Siaga Aktif 72,17% 75% 80% 83% 86% 89% 92% 92% Dinkes Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Peningkatan Rumah Sakit dr. Slamet menjadi Tipe B Pendidikan

  15 Dinkes Pemberdayaan masyarakat dalam penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu akibat melahirkan melalui pembangunan Rumah Gizi

  Jumlah kasus kematian bayi 190 175 162 155 139 122

  95

  95 Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita

  Dinkes Pembangunan kesehatan partisipatif berbasis masyarakat

  Cakupan Desa/ Kelurahan Universal Child I mmunization (UCI )

  79,19% 95% 95% 95% 100% 100% 100% 100% Program Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat

  Program pengawasan obat dan makanan Dinkes

  17

  Peningkatan Rumah Sakit Pameungpeuk menjadi Tipe D * *

  Program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular

  Dinkes Program kesehatan ibu Melahirkan dan anak Program pengembangan lingkungan sehat

  Standarisasi pelayanan kesehatan masyarakat Gratis berobat dan ambulan bagi keluarga miskin Peningkatan kesehatan ibu dan anak

  Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan

  3 Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan Peningkatan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  15

  20

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  Optimalisasi sistem jaminan kesehatan Prosentase kepesertaan BPJS

  Pembebasan retribusi pelayanan kesehatan dasar Cakupan Pelayanan Kunjungan Rawat Jalan (orang)

  189.460 198.933 208.879 219.323 230.289 241.804 253.894 1.154.189 Program pengelolaan badan layanan umum daerah (BLUD)

  Kesehatan RSUD dr. Slmet N/ A 4.064 4.515 4.966 5.463 6.009 6.609 27.562 Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit

  RSUD Pameungpeuk

  Cakupan Pelayanan Kunjungan Rawat I nap (orang)

  48.200 48.200 48.500 48.800 49.300 49.500,00 49.800 245.900 RSUD dr. Slmet 973 1.070 1.177 1.295 1.425 1.567 1.724 7.188

  RSUD Pameungpeuk

  55% 60% 65% 70% 75% 80% 90% 90% Program Upaya Kesehatan Masyarakat

  22

  Setda( Bag Adkesra)

  Program standarisasi pelayanan kesehatan, Dinas

  Kesehatan / BLUD RSU

  Program pelayanan kesehatan penduduk miskin

  Cakupan linakes 85,16% 87% 88% 89% 95% 95% 96% 96% Dinkes Jumlah kasus kematian ibu melahirkan

  37

  35

  25

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  Pemberdayaa n Perempuan

  25

  25 25 125 Program Pengembangan Wilayah Transmigrasi

  Transmigrasi

  Dinsosnakertrans

  Optimalisasi penanganan kasus kekerasan terhada perempuan dan anak

  Prosentase kasus korban kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terselesaikan

  100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Program Keserasian kebijakan peningkatan kualitas perempuan

  Badan KBPP Bantuan bagi usaha perempuan Prosentase trafiking yang tertangani

  25

  80% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Badan KBPP Penyediaan sarana dan prasarana

  Program Pengadaan peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/ puskesmas dan jaringanya

  5 Meningkatnya keadilan, kesetaraan gender dan peran perempuan dalam proses pembangunan

  Peningkatan Keadilan dan kesetaraan gender dan peran perempuan dalam pembangunan

  4 Terkendalinya pertumbuhan penduduk melalui pengaturan reproduksi keluarga yang sehat serta pelaksanaan fungsi keluarga

  Pengendalian kehamilan dan peningkatan cakupan peserta KB

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  25

  20

  Pembangunan Rumah Sakit Garut Utara

  Badan KBPP Penggerakan kader/ I nstitusi Masyarakat

  Dinkes Peningkatan Puskesmas Tanpa Tempat Perawatan (TTP) menjadi Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP), Puskesmas Pembantu menjadi Puskesmas dan Puskesmas DTP menjadi Puskesmas Pratama Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan Peningkatan dan pemerataan tenaga medis Peningkatan ketersediaan alat kontrasepsi, pelayanan KB dengan standar mutu yang berkualitas bagi masyarat

  Menurunnya Total Fertility Rate (TFR)

  2,56% 2,49% 2,42% 2,36% 2,29% 2,22% 2,15% 2,15% Program Keluarga Berencana

  Keluarga Berencana dan keluarga

  Sejahtera Badan KBPP

  I ntensifikasi penyuluhan/ KI E Menurunnya Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP)

  1,60% 1,57% 1,54% 1,51% 1,47% 1,44% 1,41% 1,41% Program Pelayanan Kontrasepsi

  Program Kesehatan Reproduksi Remaja Program Memperkuat dukungan partisipasi masyarakat

  10

  Optimalisasi fungsi keluarga dalam peningkatan kesejahteraan keluarga

  Penguatan Kapasitas Kelembagaan Program Kependudukan, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak

  Menurunnya jumlah keluarga pra sejahtera (KK)

  178.923 176.923 174.923 172.923 170.923 168.923 166.923 166.923 Program Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

  Keluarga Sejahtera

  Badan KBPP Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program transmigrasi

  Jumlah calon transmigran yang ditempatkan

  VII - 35

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  59

  Tenaga Kerja

  Dinsosnakertrans

  Prosentase penyelesaian kasus perselisihan hubungan industrial dengan perjanjian bersama

  100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

  Dinsosnakertrans

  Prosentase kesesuaian Nilai upah Minimum Kabupaten (UMK) dengan kebutuhan hidup layak (KHL)

  94% 95% 96% 97% 98% 99% 100% 100%

  Dinsosnakertrans

  Prosentase keikutsertaan jamsostek

  44

  49

  54

  64

  Prosentase perusahaan yang menerapkan peraturan ketenagakerjaan dan syarat kerja

  69

  74

  74 Dinsosnakertrans

  7

  38

  40

  10

  8 Jumlah keluarga

  berumah tidak layak huni yang dibantu (RTLH) Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial

  7 Meningkatnya kualitas dan produktivitas serta daya saing tenaga kerja

  Peningkatan jejaring kerjasama antar daerah Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial melalui aktualisasi nilai-nilai kesetiakawanan sosial.

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan

  Peningkatan perlindungan bagi tenaga kerja serta optimalisasi pembinaan dan pengawasan perusahaan

  6 Meningkatnya pemberdayaan dan akses pelayanan sosial dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial

  Dinsosnakertrans

  Peningkatan penyelenggaraan kesejahteraan sosial melalui pemberdayaan sosial, rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial dalam penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)

  Penyelenggaraan kesejahteraan sosial melalui pemberdayaan sosial, rehabilitasi sosial, jaminan sosial dan perlindungan sosial.

  Jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang dapat memenuhi kebutuhan/ dibantu (orang)

  22.000 23.000 24.000 25.000 26.000 27.000 28.000 28.000 Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya

  Sosial

  Dinsosnakertrans

  Bantuan bagi masyarakat miskin 351 360 500 550 600 650 700 3000 Sosial

  Dinsosnakertrans

  Pembangunan rumah tidak layak huni Peningkatan peran dan fungsi potensi sumber kesejahteraan sosial (PSKS) dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

  Pendayagunaan dan pemberdayaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) dalam penanganan PMKS dan pembangunan kesejahteraan sosial

  Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial

  Sosial

  Peningkatan fungsi dan peran Balai Latihan Kerja (BLK) dan Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) swasta sebagai pusat pendidikan dan pelatihan pencari kerja.

  Dinsosnakertrans

  Peningkatan penempatan tenaga kerja melalui mekanisme antar kerja antar lokal (AKAL), antar kerja antar daerah (AKAD) dan antar kerja antar negara (AKAN).

  Prosentase Pencari Kerja terdaftar yang ditempatkan

  10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja

  Tenaga Kerja

  Dinsosnakertrans

  Peningkatan perluasan kesempatan kerja Peningkatan efektivitas informasi pasar kerja dan bursa kerja on line.

  Program Peningkatan Kesempatan Kerja

  Tenaga Kerja

  Dinsosnakertrans

  Peningkatan program padat karya produktif Jumlah penyerapan tenaga kerja melalui sistem padat karya (PKS- PK)

  7457 Orang

  4.500 5.000 5.500 6.000 6.500 7.000 30.000

  VII - 36 Meningkatnya aktifitas ekonomi masyarakat berbasis agribisnis, agroindustri, kelautan dan pariwisata Meningkatnya produksi, nilai tambah dan keragaman produk pertanian tanaman pangan, perkebunan dan peternakan

  • Petani tanaman pangan dan hortikultura (orang)
  • Petani perkebunan (orang)
  • Pelaku agribisnis peternakan (klp)
  • Gabungan kelompok tani dan pelaku agribisnis (gapoktan)

  Kesejahteraan Petani Dinas TPH

  9 Pengembangan sektor pertanian, peternakan berdasarkan tematik wilayah provinsi Jawa Barat

  Pengembangan kelembagaan usaha tani berbasis agro bisnis dan agro industri

  Peningkatan produksi pertanian tanaman pangan dan hortikultura :

  Program Peningkatan Produksi Pertanian

  Pertanian Dinas TPH Penanganan pasca panen hortikultura dan tanaman pangan

  Dinas TPH Pengembangan Kawasan Agropolitan Cisurupan dan sekitarnya

  Pengembangan kawasan Agropolitan Jagung

  Terkendalinya luas lahan sawah di Kabupaten Garut (Ha)

  48.541 45.843 44.926 44.009 43.092 42.175 41.258 41.258 Dinas TPH Pengembangan komoditi jagung hibrida

  Prosentase peningkatan pendapatan petani 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% Program Peningkatan

  Pengembangan Usaha pembibitan kentang industri Terwujudnya produk bersertifikat organik (sertifikat)

  10 BP4K/ TPH/ Disbun/

  N/ A

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  15 Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian

  Dinas TPH Program Pengembangan Jaringan I rigasi Pedesaan

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  Disnakanla

  2

  VII - 37

  40

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi MI SI 2

  8 Peningkatan peran dan kemampuan usaha petani Fasilitasi, pemberdayaan usaha petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan

  Jumlah Petani dan Pelaku Agribisnis yang terlatih :

  Program Peningkatan Kesejahteraan Petani

  Pertanian TPH Bantuan subsidi pupuk dan benih bagi petani kecil*

  N/ A 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 5.000 TPH

  1.109 300 639 575 375 375 615 2.579 Disbun

  69

  40

  40

  40

  2

  40 40 200 Disnakanla

  85

  85

  85

  85

  85 85 100 440 BP4K Kelompok tani berprestasi tingkat regional dan nasional

  1

  2

  2

  2

  2

  • Padi (ton) 1.070.539 846.155 858.889 871.816 884.937 898.255 911.774 911.774 Program Peningkatan ketahanan pangan
  • Palawija 1.311.464 1.101.835 1.118.418 1.135.250 1.152.335 1.169.678 1.187.282 1.187.282 Dinas TPH Pengembangan komoditas unggulan jeruk Garut, pengembangan Usaha pembibitan kentang industri, padi organik dan padi ketan
  • Sayuran 905.687 648.889 658.655 668.567 678.629 688.843 699.210 699.210 Dinas TPH Pengembangan Kawasan Agro wisatadesa Barudua kecamatan Malangbong - Buah-buahan 228.700 277.900 298.605 314.933 320.300 325.323 328.576 1.865.638 Dinas TPH

  • Sapi perah (ekor) 13.378 13.645 13.900 14.178 14.460 14.750 15.045 15.045 Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Produksi Perikanan Disnakanla Pengembangan Kawasan Peternakan - Domba Garut (ekor) 1.200.733 1.258.733 1.320.733 1.363.733 1.418.733 1.479.733 1.532.733 1.532.733 Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan Disnakanla Pengembangan Kampung Domba I ndonesia (KDI ) di Kecamatan Cikajang Produksi hasil peternakan :
  • Daging Sapi (kg) 1.580.312 1.587.423 1.594.567 1.601.742 1.608.950 1.616.190 1.623.463 1.623.463 Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan Disnakanla Peningkatan produksi, nilai tambah hasil tanaman pangan, hortikultura dan peternakan
  • Daging Domba (kg) 1.146.500 1.169.430 1.192.819 1.216.675 1.241.008 1.265.829 1.291.145 1.291.145 Disnakanla Peningkatan akses petani terhadap iptek, pasar, dan permodalan bunga rendah
  • Daging Ayam (kg) 3.871.384 3.922.978 3.985.012 4.048.246 4.112.703 4.178.409 4.252.011 4.252.011 Disnakanla Pengendalian alih fungsi lahan pertanian
  • Susu (liter)

  Peningkatan peran dan kemampuan usaha petani tanaman pangan dan perkebunan

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  Pengembangan tanaman kopi rakyat, teh, karet dan akar wangi Peningkatan produksi komoditi unggulan perkebunan

  2% 2% 2% 2% 2% 3% 3% 3% Disbun Peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, pemasaran serta penerapan teknologi

  Disbun Prosentase peningkatan unit pengolahan hasil perkebunan

  3% 2,6% 2,6% 2,6% 2,6% 2,6% 2,6% 2,6% Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/ Perkebunan

  Perkebunan Disbun Laju Peningkatan produktivitas komoditi unggulan perkebunan

  2,04% 2,8% 3,6% 4,0% 4,1% 4,3% 4,8% 4,8% Program Peningkatan produksi pertanian/ perkebunan

  Prosentase peningkatan produksi komoditi unggulan perkebunan (Akarwangi, Kopi, Teh, Karet)

  21.874.601 Disnakanla Pengembangan infrastruktur pertanian

  20.618.909 21.237.477 21.874.601

  20.018.359

  18.319.634 18.869.223 19.435.300

  Program Pengembangan Agribisnis

  Peternakan Disnakanla Pengembangan Sentra Bibit/ Village Breeding Center (VBC)

  Populasi ternak (sapi perah dan Domba) : Program Peningkatan Kesejahteraan Petani

  Peningkatan jumlah Populasi Ternak, khususnya sapi perah dan flasma nutfa domba Garut

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  • Telur (kg) 2.400.000 2.410.249 2.418.327 2.426.407 2.434.489 2.443.816 2.469.650 2.469.650 Disnakanla Peningkatan daya saing produk pertanian dan peternakan

  VII - 38

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  12 Meningkatnya ketahanan pangan Peningkatan sistem ketahanan pangan dan peningkatan kapasitas penyuluhan pertanian

  Terbentuk dan terbinanya Desa Mandiri Pangan (Desa)

  BKP Pengembangan desa mandiri pangan

  Ketahanan Pangan

  25% 30% 35% 40% 45% 50% 55% 55% Program Peningkatan Ketahanan pangan

  Prosentase Penanganan Daerah Rawan Pangan

  Penanganan daerah rawan pangan dan pengembangan lumbung pangan

  31 Dishut

  5

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  48

  8

  9 Dishut Peningkatan Jumlah Lokasi Pemanfaatan Jasa Lingkungan

  10 Meningkatnya pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan yang berwawasan lingkungan

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  Meningkatnya ODTW dan destinasi wisata

  Peningkatan pemanfaatan usaha hasil hutan, wisata alam dan jasa lingkungan.

  11 Meningkatnya penanganan lahan kritis dan pemanfaatan lahan diluar kawasan hutan yang berfungsi lindung

  13

  Peningkatan penangkapan, budidaya dan nilai tambah perikanan melalui perbaikan mutu dan pengembangan produk Peningkatan keunggulan, daya Tarik dan promosi wisata

  Disbudpar Pengembangan kemitraan, destinasi, promosi wisata

  12

  2,1 2,2 2,3 2,4 2,5 2,6 2,7 2,7 Pariwisata Disbudpar Peningkatan sarana dan prasarana penunjang wisata

  Jumlah kunjungan wisata (juta orang)

  83 BKP Penataan dan pengembangan objek wisata unggulan

  21

  21

  21

  13

  9

  Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan Jumlah produksi Perikanan Laut (ton)

  Pengembangan kawasan MI NAPOLI TAN serta Pembinaan dan penataan kelembagaan usaha serta penguatan aspek pasar

  hutan dan lahan Kehutanan Dishut

  33.880,66 3.678 3.500 3.500 3.500 3.500 3.500 17.500 Program rehabilitasi

  Jumlah lahan kritis di luar kawasan hutan hutan yang ditangani (Ha)

  Disnakanla Pengembangan hutan lestari Peningkatan penanganan lahan kritis di luar kawasan hutan

  30.708 31.280 30.993 33.162 35.484 37.968 40.625 40.625 Program Pengembangan Perikanan Tangkap

  Jumlah produksi perikanan budidaya kolam air tenang (ton)

  Peningkatan profesionalisme petani dan nelayan serta kelembagaannya

  1,85% 1,80% 1,75% 1,70% 1,65% 1,60% 1,55% 1,55% Perlindungan dan Konservasi Sumber daya Hutan

  Disnakanla Pengembangan kawasan budidaya laut, air payau dan air tawar

  Pengembangan Budidaya Perikanan

  Jumlah produksi perikanan budidaya tambak (ton) 426 426 743,82 795,89 851,6 911,22 975 975 Program

  Disnakanla Peningkatan produksi hasil laut melalui pengembangan sarana dan prasarana penangkapan dan areal tangkap

  Perikanan & Kelautan

  4.133 4.183 4.233 4.284 4.335 4.387 4.440 4.440 Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir

  Peningkatan pengamanan dan perlindungan hutan Prosentase kerusakan hutan

  Dishut Peningkatan produksi aneka hasil kehutanan bukan kayu

  8

  Dishut Peningkatan produksi dan nilai tambah hasil hutan

  7

  6

  5

  4

  3

  Jumlah Komoditi aneka usaha hasil kehutanan bukan kayu yang dikembangkan

  34 Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan

  Jumlah usaha aneka hasil kehutanan bukan kayu yang dibina

  34

  31

  28

  25

  22

  22

  18

  VII - 39

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  Prosentase peningkatan minat investasi daerah 21,63% 5,68% 5,84% 6,00% 6,17% 6,34% 6,52% 6,52% Peningkatan promosi dan kerjasama investasi,

  Revitalisasi,pasar tradisional dan distribusi barang / jasa Jumlah pasar tradisional yang direvitalisasi

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  10 Pembinaan pasar, pedagang kakilima dan asongan

  Perdagangan

  Disperindag Pasar

  Promosi I nvestasi secara intensif Penyelenggaraan pameran dan temu investor

  Penanaman modal BPMPT

  Disperindag Pasar

  Pemberian jaminan kepastian hukum pelaksanaan penanaman modal, dan peningkatan pengendalian investasi

  Penataan regulasi penanaman modal daerah dan peningkatan pemantauan, pembinaan dan pengawasan penanaman modal

  Prosentase peningkatan realisasi investasi daerah 43,44% 5,68% 5,84% 6,00% 6,17% 6,34% 6,52% 6,52% Peningkatan iklim dan realisasi investasi

  BPMPT

  7

  32

  31

  11

  11 Peningkatan aktifitas

  ekonomi masyarakat berbasis industri potensi lokal dan perdagangan Penguatan kelembagaan usaha, kapasitas SDM, sistem pembiayaan dan peluang pasar KUMKM

  Peningkatan daya saing produk dan peran KUMKM dalam perekonomian daerah

  Meningkatnya kapasitas kelembagaan koperasi, UMKM, I ndustri, perdagangan, dan nilai investasi daerah dalam mendorong perekonomian Daerah

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  Optimalisasi pengelolaan BUMD Peningkatan sistem, jaringan distribusi barang dan jasa

  0,24% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 5% Program Penataan Struktur I ndustri

  14 Prosentase UMKM yang terbina N/ A 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Program penciptaan iklim usaha Usaha

  Peningkatan produksi, nilai tambah hasil I KM dan pengembangan industri kreatif

  Kecil Menengah yang kondusif Koperasi &

  UMKM Diskop, UMKM

  BMT Rasio Usaha Mikro dan Kecil Terhadap Seluruh UMKM

  99,05% 99,06% 99,07% 99,08% 99,09% 99,10% 99,11% 99,11% Program Peningkatan Kapasitas I ptek Sistem Produksi

  Diskop, UMKM BMT

  Fasilitasi kemitraan Usaha dan optimalisasi fungsi (KADI N)

  Pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UMKM Jumlah wirausahawan baru

  N/ A 600 600 650 700 750 800 3.500 Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah

  Diskop, UMKM BMT

  Bantuan perkuatan Koperasi Prosentase Koperasi aktif / sehat

  68, 51 % 70% 72% 74% 76% 78% 80% 80% Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi

  Diskop, UMKM BMT

  Prosentase I KM terbina 99% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Program Pengembangan I ndustri Kecil Dan Menengah

  Limbangan Pertumbuhan I ndustri Agro dan Hasil Hutan

  Perindustrian

  Disperindag Pasar

  Pengembangan sentra,klaster industri dan produk ekspor Jumlah sentra industri potensial yang dibina dan dikembangkan

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  8

  8 Program Pengembangan Sentra- Sentra I ndustri Potensial

  Disperindag Pasar

  Penyediaan informasi peluang usaha sektor/ bidang usaha unggulan serta revitalisasi, optimalisasi fungsi trade center

  VII - 40

  Target Capaian Kinerja Setiap Tahun Kondisi Kondisi Program SKPD Akhir Bidang No Sasaran Strategi Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Aw al

  Pembangunan Penanggung Periode Urusan 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2013 Daerah Jaw ab 2019 MI SI 3

  15 Meningkatnya kuantitas dan Peningkatan kualitas dan Pembangunan, Rehabilitasi, Prosentase jalan 64,49% 67,08% 69,66% 72,25% 74,83% 77,42% 80,00% 80,00% Program Pekerjaan Binamarga kualitas infrastruktur jalan daya dukung jalan dan Pemeliraan Jalan dan Jembatan kabupaten mantap (baik Pembangunan Jalan Umum yang memadai jembatan untuk menunjang dan sedang) dan Jembatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan Pembangunan, peningkatan Lanjutan pembangunan jalan by

  Program Rehabilitasi / Binamarga dan pemeliharaan jalan pass Pemeliharaan Jalan berdasarkan koridor pusat dan Jembatan

  Pembangunan jalan penghubung pertumbuhan dan wilayah Kecamatan Karangpawitan - strategis Banyuresmi Pembangunan akses jalan wisata jalan lingkar Cipanas, jalan situ Cangkuang- Leles Perencanaan Pembangunan jalan alternatif Kadungora - Leles Pembangunan jalan alternatif Pasar Wanaraja (Kp. Babakan - Kp. Bojong Ds. Wanamekar) Peningkatan akses jalan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Darajat Peningkatan akses jalan Bingbulang - Cijayana dan Bungbulang - Sukarame Peningkatan akses jalan penghubung antar Kecamatan Pelapisan hotmix ruas jalan perkotaan Pembangunan jembatan Cimurah- Cipicung kecamatan Karangpawitan Peningkatan infrastruktur jalan desa Pembangunan jembatan Cipasarangan kecamatan Cikelet Perencanaan pembangunan jalan alternatif Garut – Cibatu Perencanaan pembangunan jalan alternatif Kota Balubur Limbangan Perencanaan Pembangunan jalan alternatif Balubur Limbangan – Malangbong Perencanaan Pembangunan Jalan dan Jembatan Cimanuk By Pass Tahap I I * * Perencanaan pembangunan jalan alternatif Banyuresmi Situ Bagendit

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  VII - 41

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  Pembangunan I nfrastruktur Desa dan Perdesaan Perencanaan pembangunan kawasan pusat perkantoran pemerintah Kabupaten Garut Akselerasi pencapaian MDGs Pengembangan sistem penyediaan dan pengelolaan air bersih diantaranya melalui pengembangan SPAM I KK perkotaan dan perdesaan Perlindungan mata air/ pembebasan lahan mata air Cibolerang kecamatan Wanaraja, dan mata air lainnya I ntensifikasi sosialisasi regulasi, pengawasan dan pengendalian penataan ruang

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  Program Peningkatan Kesiagaan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran

  Peningkatan Penataan Perkotaan/ perdesaan, bangunan gedung dan kualitas lingkungan permukiman dan perumahan Peningkatan kinerja pengelolaan air minum dan Air limbah

  Perencanaan tata ruang untuk kawasan strategis Meningkatnya kualitas prasarana dasar pemukiman dan perumahan yang sehat dan nyaman

  17 Meningkatnya ketersediaan rencana tata ruang dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang

  Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah Wilayah Perkotaan & Perdesaan Program Pengembangan Sistem Penyediaan dan Pengelolaan Air Bersih

  Distarkim Perencanaan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Kawasan I ndustri terpadu

  Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru Program Pemanfaatan Ruang

  Ruang Distarkim

  Tata Ruang Penataan

  Prosentase kesesuaian pemanfaatan ruang 42,00% 45,00% 47,00% 49,00% 51,00% 53,00% 55,00% 55,00% Program Perencanaan

  Prosentase cakupan air bersih perdesaan 54,45% 59% 63% 67% 71% 76% 80,00% 80,00% Distarkim

  16 Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur dasar pemukiman dan perumahan

  Penataan wilayah perkotaan Garut (PKL)

  Prosentase cakupan air minum perkotaan 45,14% 50% 55% 60% 65% 70% 75,00% 75,00% Distarkim

  1,95 1,95 1,95 2,28 2,28 2,60 2,60 2,60 Distarkim Penataan Akses Pintu Gerbang Kabupaten Garut (Kadungora, Stasiun Cibatu, Malangbong, Cibalong, Talegong, Pelabuhan Samudra) Pembangunan/ rehabilitasi jembatan rawayan

  Cakupan pelayanan bencana kebakaran (unit per km2)

  Distarkim Peningkatan kualitas kontruksi bangunan gedung dan penanggulangan kebakaran

  26,43% 27,03% 27,62% 28,22% 28,81% 29,41% 30% 30% Program Penataan Perkotaan dan Pedesaan

  Prosentase ruang terbuka hijau luas ber HPL

  Distarkim Penataan kawasan perkotaan dan perdesaan

  52,90% 55,00% 57,40% 59,80% 62,20% 64,60% 67,00% 67,00% Program Pengembangan Perumahan

  Cakupan Rumah Tinggal Bersanitasi

  Distarkim Penanganan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni

  Menurunnya jumlah rumah tidak layak huni 56.000 54.000 52.000 50.000 48.000 46.000 44.000 44.000 Pembangunan lingkungan sehat permukiman dan perumahan

  VII - 42

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  Rasio elektrifikasi rumah tangga 62,16% 63,47% 64,77% 66,08% 67,39% 68,69% 70,00% 70,00% SDAP

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur perhubungan dalam rangka peningkatan pelayanan pergerakan orang, barang dan jasa

  20 Meningkatnya ketertiban, keselamatan dan kenyaman lalu lintas

  Peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya air Meningkatnya pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya mineral, energi alternatif dan listrik perdesaan

  18 Meningkatnya pengelolaan irigasi, konservasi dan pengendalian banjir

  Dishub Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam serta konservasi sumberdaya air Program Pembinaan, Pengembangan Ketenagalistrikan dan Pemanfaatan Energi

  14.151 14.434 14.723 15.017 15.317 15.624 15.936 15.936 Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian Kendaraan Bermotor

  Jumlah kendaraan bermotor yang laik operasi/ diuji (unit)

  Penyusunan Rencana I nduk Lalu Lintas Angkutan Jalan Kabupaten Garut Tahun 2015 - 2020

  Pelayanan Angkutan Perhubungan Dishub

  Pembinaan, pengembangan ketenagalistrikan pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta pengkajian sosial ekonomi potensi panas bumi Evaluasi dan pengendalian trayek Rasio angkutan darat 0,3530 0,3578 0,3628 0,3678 0,3728 0,3780 0,3832 0,3832 Peningkatan

  19 Peningkatan jaringan dan kapasitas energi listrik Pengembangan jaringan listrik perdesaan

  Penyediaan data dan informasi spasial daerah yang terintegrasi

  Peningkatan, pemeliharaan sumber air Pembangunan, rehabilitasi dan peningkatan situ

  SDAP Konservasi kawasan hulu DAS dan sub DAS Pengembangan, pengelolaan dan konservasi sumber daya air Pengendalian banjir dan kekeringan serta pengamanan pantai Penyediaan dan pengelolaan air baku Perlindungan dan konservasi sumber daya alam, mineral dan air tanah

  Rehabilitasi drainase perkotaan dan penanggulangan banjir perkotaan

  Banjir SDAP

  Tingkat kemantapan jaringan irigasi Desa 53,41% 56,59% 59,76% 62,94% 66,11% 69,29% 72,46% 72,46% Program Pengendalian

  SDAP Pembangunan jaringan irigasi Leuwigoong

  Energi, sumberdaya air & pertambanga n

  54,17% 56,58% 58,99% 61,41% 63,82% 66,23% 75,10% 75,10% Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan I rigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan lainnya

  Tingkat kemantapan jaringan irigasi teknis kabupaten

  Distarkim Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya

  Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang

  Peningkatan peran dan fungsi lembaga koordinasi perencanaan tata ruang daerah

  VII - 43

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  BPBD Peningkatan partisipasi, lembaga masyarakat dalam penanggulangan bencana dan resiko bencana

  Meningkatnya Desa Tangguh Bencana

  N/ A

  10

  20

  25

  35

  40

  45

  45 Otonomi Daerah

  BPBD

  Penataan wilayah perkotaan Garut (Pertamanan )

  7

  18

  20

  6

  7 Program Pencegahan

  Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Penataan perkotaan, perdesaan serta peningkatan sarana dan prasarana penunjang kota Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ

  21 Meningkatnya pengendalian pencemaran, kerusakan lingkungan dan resiko bencana

  Peningkatan ketersediaan, kesiapan infrastruktur penanggulangan bencana dan resiko bencana Peningkatan, pengembangan sarana dan prasarana lingkungan, pencemaran dan persampahan

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  DLHKP Peningkatan penanganan pengelolaan PJU dan listrik untuk masjid besar dan madrasah diniyah Sosialisasi Penanggulangan bencana dan resiko bencana

  Pengadaan alat angkut, alat berat persampahan DLHKP

  Perencanaan peningkatan terminal tipe B Malangbong Prosentase Kapal < 7 GT dalam kondisi laik layar

  Berat Cemar

  100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan

  Dishub Bantuan sarana / fasilitas perhubungan bagi desa tertinggal

  Dishub Peningkatan sarana dan prasarana perhubungan Perencanaan peningkatan terminal tipe A perkotaan kota Garut Penataan wilayah perkotaan Garut (Parkir ) Perencanaan Pembangunan Terminal Barang di Kecamatan Leles

  Penurunan tingkat pencemaran, kerusakan lingkungan dan resiko bencana

  Peningkatan layanan, pengendalian pencemaran, pengaduan pencemaran dan kerusakan lingkungan

  Tingkat status mutu sungai utama dan waduk/ situ

  Cemar berat Cemar Berat Cemar

  Berat Cemar Berat Cemar

  Berat Cemar

  Sedang Cemar

  (% ) 51,68% 60% 65% 70% 75% 80% 85% 85% DLHKP

  Sedang Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup

  Lingkungan Hidup

  DLHKP Perlindungan mata air

  DLHKP Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS);

  DLHKP Penanganan revitalisasi I PAL industri kulit Sukaregang

  Program pengendalian polusi DLHKP

  Perencanaan pembangunan TPA wilayah (Banjarwangi, Caringin dan Pameungpeuk )

  Tingkat pelayanan sampah (% ) 33% 35% 37% 39% 41% 43% 45% 45% Program

  Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan

  DLHKP Revitalisasi TPA Pasirbajing Cakupan pelayanan PJU

  VII - 44

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi MI SI 4

  Program Peningkatan dan Pengembangan pengelolaan Keuangan daerah

  80% 80% 90% 100% 100% 100% 100% 100% Program Penataan Daerah Otonomi Baru

  Setda (Administrasi

  Pemerintahan) Penataan Struktur Organisasi Tata Kerja kelembagaan pemerintah daerah

  Program Penataan Kelembagaan

  Setda (Bag.Organisasi)

  Fasilitasi pembentukan Daerah Otonomi Baru Garut Selatan

  Setda (Administrasi

  Peningkatan efektivitas dan efisiensi kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah daerah

  Pembangunan) Penataan Daerah Otonomi Baru Peningkatan, penguatan pengelolaan arsip daerah

  Prosentase SKPD , Kecamatan dan Desa yang baik dalam pengelolaan Arsip

  45,38% 47,31% 49,23% 51,15% 53,08% 55,00% 56,92% 56,92% Penyelamatan dan Pelestarian Dokumen Arsip Daerah

  Kersipan Bapusipda Optimalisasi penerapan sistem pengendalian internal pemerintah (SPI P)

  Terwujudnya penyelenggaraan pemerintah yang baik dan bersih

  Peningkatan sistem pengendalian internal pemerintah

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  Prosentase fasilitasi tahapan pembentukan DOB Kabupaten Garut Selatan

  Pemantapan Otonomi Daerah dan Sistem Administrasi pemerintahan daerah

  22 Prosentase SAKI P SKPD kategori baik 80% 80% 85% 85% 90% 90% 90% 90% Program Peningkatan

  Setda (Administrasi

  Sistem Pengawasan I nternal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH

  Otonomi Daerah

  I nspektorat Predikat penilaian SAKI P Kabupaten

  CC CC B B B B B B Program Perencanaan Pembangunan

  Bappeda Peningkatan informasi pengelolaan keuangan yang akuntabel

  Predikat penilaian LPPD Kabupaten

  Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Program Peningkatan Sistem Pengawasan I nternal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH

  Pemerintahan) Pemeriksaan terpadu antar lembaga dan non lembaga

  Fasilitasi peningkatan pengawasan API P dan pendampingan dalam penyelesaian tindak lanjut Peningkatan penyelesaian pengaduan masyarakat;

  Opini BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

  WDP WDP WDP WTP WTP WTP WTP WTP Program Peningkatan dan Pengembangan Keuangan Daerah

  DPPKA Peningkatan pengawasan, pembinaan kinerja organisasi pemerintah

  Peningkatan pengawasan reguler, implementasi aksi daerah pencegahan korupsi; Evaluasi dan penyelesaian temuan

  Prosentase masalah / temuan yang terselesaikan

  80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% Program Peningkatan pengawasan Otonomi

  Daerah I nspektorat

  VII - 45

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  40% 50% 55% 60% 65% 70% 80% 80% Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan

  Pemberdayaan masyarakat desa

  BPMPD Bantuan, insentif dalam rangka peningkatan peran dan fungsi kelembagaan RT dan RW

  Prosentase kader pos yandu aktif 70% 75% 75% 80% 80% 85% 85% 85% BPMPD

  Revitalisasi pos yandu dan bantuan operasional kader pos yandu

  BPMPD Peningkatan Penataan Sistem Administrasi Pemerintahan, kapasitas kelembagaan, dan tanah kas Desa

  BPMPD Peningkatan Penyelenggaraan Program dan Optimalisasi pengelolaan aset PNPM Mandiri Pedesaan

  BPMPD Peningkatan sarana dan prasarana perdesaan

  Peningkatan koordinasi dan Fasilitasi program pembangunan daerah

  Prosentase Desa memiliki BUMdes

  BPMPD Peningkatan infrastruktur Desa

  Prosentase Desa/ kelurahan berkinerja baik

  BPMPD Pembangunan dan rehabilitasi gedung pemerintah daerah, kantor kecamatan dan desa/ kelurahan Peningkatan kualitas layanan publik secara berkelanjutan melalui pengukuran tingkat kepuasan atas pelayanan publik

  Prosentase peningkatan I ndek Kepuasan Masyarakat (I KM)

  N/ A 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% Program Peningkatan pelayanan publik Otonomi

  Daerah Setda (Bag.

  Organisasi) Peningkatan pelayanan publik melalui Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN)

  Prosentase kecamatan yang melaksanakan Program Paten

  N/ A 31% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Setda (Administrasi

  Pemerintahan) Program peningkatan partisipasi masyarakat dalam membangun desa. Program Peningkatan Keberdayaan Maryarakat Perdesaan

  Peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan desa dan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pembangunan desa Peningkatan pelayanan prima dan kepuasan masyarakat

  RPJMD Kabupaten Garut Tahun 2014-2019

  70% 75% 80% 85% 90% 95% 95% 95%

  Pemerintahan) Peningkatan partisipasi dan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pembangunan desa

  Peningkatan akuntabilitas kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah

  18 Perda,

  Peningkatan koordinasi dan sistem penyelenggaraan pemerintahan Jumlah Produk Hukum yang ditetapkan

  18 Perda,

  23 Perbup, 623 Kepbup

  12Perda,

  15 Perbup, 375 Kepbup

  15 Perda,15 Perbup, 400 Kepbup

  15 Perda,

  20 Perbup, 425 Kepbup

  17 Perda,

  20 Perbup, 450 Kepbup

  25 Perbup, 475 Kepbup

  Setda (Administrasi

  20 Perda,

  25 Perbup, 500 Kepbup

  85 Perda, 105 Perbup, 2250 Kepbup

  Program Penataan Peraturan Perundang- undangan

  Otonomi Daerah Setda (Bag.

  Hukum) Penguatan, sosialisasi kebijakan pemerintah daerah

  Program peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah

  Sekretariat DPRD

  Optimalisasi, fasilitasi kapasitas Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Garut

  Program Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah Daerah

  VII - 46

  2014 2015 2016 2017 2018 2019 Program Pembangunan Daerah SKPD Penanggung Jaw ab Bidang Urusan Kondisi Akhir Periode 2019 Kondisi Aw al 2013 Arah Kebijakan I ndikator Kinerja Target Capaian Kinerja Setiap Tahun No Sasaran Strategi

  100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Program Pengembangan Data/ I nformasi

  61,00% 65,00% 70,00% 75,00% 80,00%