SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN

 0  0  73  2018-02-12 13:52:37 Report infringing document
Informasi dokumen

PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN (Skripsi) Oleh SHELLY MALINDA AZWAR

  Pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Peraturan PemerintahNomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, dan diKabupaten Lampung Selatan diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013 -2031. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengendalian pemanfaatan ruang oleh pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya.

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2017

  Pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Peraturan PemerintahNomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, dan diKabupaten Lampung Selatan diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013 -2031. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengendalian pemanfaatan ruang oleh pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya.

IMPLEMENTATION OF UTILIZATION SPATIAL

  The results of the study showed that the implementation of the control of the utilization of space in South Lampung Regency done with some ways are overzoning for setting with how to classify the plan of the use of space, prepare some Shelly Malinda Azwar form of permissions, providing incentives and powerful disincentive that have not yet been held. The cause is not the implementation of incentives and powerfuldisincentive in South Lampung Regency basically exploiting of space that is not in accordance with the allocation, such as the area of distance education is veryclose to industrial areas that are in the sub-district Kalianda.

RIWAYAT HIDUP

  yang dengan tulus dan tiada henti memberikan motivasi danilmunya demi terselesaikannya skripsi ini Dosen-Dosenku Semoga ilmu yang telah kalian berikan dapat berguna bagiku dan menjadi ladang amal bagimuSahabat-Sahabatku teristimewa yang selalu hadir dalam suka maupun duka Serta Almamater Tercinta, Universitas Lampung. E dan Adik-adikku Hector Macho Yusuf Habibie, Ahmad SjachroedinYacub, dan Aburizal Yacub, Serta Keluarga Besarku yang selalu tulus memberikan do’a dan dukungannya yang selama ini telah diberikan.

19. Bapak Misyo, Bapak Zakaria, Bapak Jarwo, Bapak Sutris, Bapak Hadi, dan

  Seluruh keluarga, sahabat dan teman-teman yang terlibat dan tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih sudah membantu, mendukung, danmemberikan semangat sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Akhir kata, sangat penulis sadari bahwa berakhirnya masa studi ini adalah awal dari perjuangan panjang untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  RTRW Kota adalah rencana pengembangan kota yang disiapkan secara teknis dan non-teknis oleh Pemerintah Daerah yang merupakan rumusan kebijaksanaanpemanfaatan muka bumi wilayah kota termasuk ruang di atasnya yang menjadi 10 pedoman pengarahan dan pengendalian dalam pelaksanaan pembangunan kota. RTRW Kabupaten Lampung Selatan tahun 2011-2031 merupakan perwujudan aspirasi masyarakat yang tertuang dalam rangkaian kebijaksanaan pembangunanfisik Kabupaten Lampung Selatan yang memuat pedoman, landasan dan garis besar kebijaksanaan bagi pembangunan fisik Kabupaten Lampung Selatan dalamjangka waktu 20 tahun, dengan tujuan agar dapat mewujudkan kelengkapan kesejahteraan masyarakat dalam hal memiliki kota yang dapat memenuhi segalakebutuhan fasilitas.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat dalam latar belakang, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah pengendalian pemanfaatan ruang oleh pemerintah Kabupaten

  Lampung Selatan? Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan penghambat dalam pengendalian pemanfaatan ruang di Kabupaten Lampung Selatan?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan pokok bahasan di atas maka tujuan dalam penelitiann ini adalah: 1. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pengendalian pemanfaatan ruang di Kabupaten Lampung Selatan.

1.3.2 Kegunaan Penelitian 1

Kegunaan TeoritisHasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pendidikan hukum, yaitu ilmu Hukum Administrasi Negara (HAN),khususnya Hukum Penataan Ruang dalam hal ini pengawasan pemerintah atas pengendalian pemanfaatan ruang.

2. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman bagiPemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan bagi masyarakat umum yang berada di Kabupaten Lampung Selatan untuk mendukung terhadappengendalian pengawasan pemanfaatan ruang di Kabupaten Lampung Selatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ruang, Tata Ruang, dan Penataan Ruang

  26 Tahun 2007 (UUPR), bahwa Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumisebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, 11 melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. TisnaadmidjajaRuang adalah wujud fisik wilayah dalam dimensi geografis dan geometris yang merupakan wadah bagi manusia dalam melaksanakan kegiatankehidupannya dalam suatu kualitas hidup yang layak.

4. Newton

  Sedangkan menurut UUPR Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola 12 ruang. Sedangkan Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata 13 ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

2.2 Asas, Tujuan dan Klasifikasi Penataan Ruang

2.2.1 Asas Penataan Ruang

  Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan;Yang dimaksud dengan “keberdayagunaan dan keberhasilgunaan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengoptimalkan manfaatruang dan sumber daya yang terkandung di dalamnya serta menjamin terwujudnya tata ruang yang berkualitas. Kepastian hukum dan keadilan;Yang dimaksud dengan “kepastian hukum dan keadilan” adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan berlandaskan hukum/ketentuanperaturan perundang-undangan dan bahwa penataan ruang dilaksanakan dengen mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat serta melindungi hakdan kewajiban semua pihak secara adil dengan jaminan kepastian hukum.

2.2.2 Tujuan Penataan Ruang

  Penyelenggaraan Penataan Ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskanWawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan: a. Terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif 15 terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.

2.2.3 Klasifikasi Penataan Ruang

  Penataan ruang wilayah nasional meliputi ruang wilayah yurisdiksi dan wilayah kedaulatan nasional yang mencakup ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan. Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,termasuk ruang di dalam bumi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

2.3 Pelaksanaan Penataan Ruang

  Kewajiban negara ini diperkuat dengan dicantumkannya dalam konstitusi negara yakni padaPasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa negara memiliki kuasa atas bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dididalamnya untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Hadirnya konsep otonomi daerah yang digulirkan sejak 1999 hanya merupakan intuisi sesaat yang terpengaruh oleheuforia sementara mengenai pola pemerintahan yang dianggap ideal yakni perubahan system pemerintahan dari sentralistrik ke desentralistrik yang padakenyataannya dapat dibilang masih ragu-ragu dan belum terbukti keefektifaan- 16 nya.

2.3.1 Perencanaan Tata Ruang

  Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan 17 pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. PadaUUPR RTRW Nasional, RTRW Provinsi, dan RTRW Kabupaten/Kota mencakup 18 ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi.

2.3.2 Pemanfaatan Ruang

  Pada Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Penataan Ruang dijelaskan bahwa pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan polaruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya. 2)Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan dengan pemanfaatan ruang, baik pemanfaatan ruang secara vertikal maupunpemanfaatan ruang di dalam bumi.

2.4 Pengendalian Pemanfaatan Ruang

  Sementara itu, maksud pengendalian penataan ruang ditegaskan dalam penjelasan Pasal 35, bahwa pengendalian pemanfaatan ruangdimaksudkan agar pemanfaatan ruang dilakukan sesuai dengan rencana tata 21 ruang. 26 Tahun 2007 yang merupakan tindakan penertiban yang dilakukan terhadap pemanfaatan 22 ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi.

2.4.1 Pengaturan Zonasi

  Pengaturan zonasi memuat ketentuan mengenai:1) Jenis kegiatan yang diperbolehkan, diperbolehkan dengan syarat, dan tidak diperbolehkan;2) Intensitas pemanfaatan ruang;3) Prasarana dan sarana minimum; dan4)21 Ketentuan lain yang dibutuhkan.22 Hasni, hukum penataan ruang dan penatagunaan tanah, hlm. Ketentuan kegiatan dan penggunaan ruang yang diperbolehkan, diperbolehkan dengan syarat, dan yang tidak diperbolehkan;b.

4) Koefisien dasar hijau minimum

  Ketentuan lain yang dibutuhkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan cagar budaya, kawasan rawan bencana, kawasan keselamatanoperasi penerbangan, dan kawasan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Arahan peraturan zonasi pada zona ruang sistem nasional dan arahan peraturan zonasi pada zona ruang sistem provinsi, yang berlaku dikabupaten/kota yang bersangkutan.

2.4.2 Perizinan

  Izin pemanfaatan ruang diberikan kepada calon pengguna ruang yang akan melakukan kegiatan pemanfaatan ruang pada suatu kawasan/zona berdasarkanrencana tata ruang. Pemberian izin diberikan olehpejabat yang berwenang dengan mengacu pada rencana tata ruang dan peraturan zonasi.

2.4.3 Pemberian Insentif dan Disinsentif

  Disinsentif dari pemerintah daerah kepada pemerintah daerah lainnya dapat berupa:1) Pengajuan pemberian kompensasi dari pemerintah daerah pemberi manfaat kepada daerah penerima manfaat;2) Pembatasan penyediaan sarana dan prasarana; dan/atau3) Pensyaratan khusus dalam perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pemerintah daerah pemberi manfaat kepada investoryang berasal dari daerah penerima manfaat. Pensyaratan khusus dalam perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah;c.

2.4.4 Sanksi Administratif

  Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pejabat berwenang;c. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang; dan/ataud.

2.5 Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kabupaten Lampung Selatan

  Ketentuan pengendalian pemanfaatanruang wilayah Kabupaten Lampung Selatan digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten LampungSelatan. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi 1)Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (2) huruf a, menjadi pedoman bagi penyusunan peraturan zonasi oleh Pemerintah Daerah.2) Ketentuan umum peraturan zonasi meliputi: a.

2. Ketentuan Perizinan

  Perizinan pemanfaatan ruang dan bangunan meliputi Izin Lokasi, Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT) dan Izin Penggunaan Bangunan (IPB); c. Perizinan lingkungan diterbitkan berdasarkan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) ataurekomendasi UKL-UPL dari dokumen UKL-UPL (Upaya pengelolaanLingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup); dan e.

3. Ketentuan Intensif dan Disinsentif

  Ketentuan insentif dan disinsentif merupakan acuan bagi Pemerintah Daerah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. Insentif diberikan apabilapemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan ketentuan umum peraturan zonasi.

4. Arahan Sanksi

  Pengenaan sanksi tidak hanya diberikan kepada pemanfaat ruang yang tidak sesuai dengan ketentuan perizinan pemanfaatan ruang, tetapi dikenakan pulakepada pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW kabupaten; Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW kabupaten;f.

2.6 Dasar Hukum Penataan Ruang

  4, yang menyatakan “Melindungi segenap bangsaIndonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut sertamelaksanakan ketertiban dunia”. Selanjutnya, dalam pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnyauntuk kemakmuran rakyat”.

BAB II I METODE PENELITIAN

  Pendekatan yuridis normatif dilakukan terhadap nilai dannorma hukum untuk mempelajari kaedah hukum yang dengan mempelajari, menelaah, peraturan perundang-undangan dan konsep-konsep yang berhubungandengan masalah yang akan dibahas. Data primer adalah data yang diperoleh dari study lapangan, yaitu hasilwawancara dengan responden, sedangkan data sekunder terdiri dari berbagai sumber seperti study dokumentasi dan literatur.

3.2.1 Data Primer

  Data primer diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Dalam memperoleh data primer dilakukan dengan cara mencari data dari kantor Dinas Pekerjaan Umum Bidang Tata Ruang Kabupaten Lampung Selatan untuk mendapatkan data yang diperlukan dan dilakukan dengan wawancara dengan informan.

3.2.2 Data Sekunder

  Merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada seperti studi dokumentasi dan literatur. a.

3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

  Ruang Nasional5) 6)Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentaang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional7) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang PenyelenggaraanPenataan Ruang 8)Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Lampung Tahun 2009 sampai dengan Tahun2029 9)Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 15 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2011-2031. 4)Peraturan Pemerintah No.62 Tahun 2000 tentang Koordinasi Penataan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara,Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan RencanaPembangunan Daerah Bahan hukum sekunderBahan hukum yang menjelaskan bahan hukum primer yang seperti buku-buku ilmu hukum, hasil karya ilmiah dari kalangan hukum, serta bahan lainnyayang berkaitan dengan permasalahan.

3.3. Prosedur Pengumpulan Data dan Pengolahan Data

  Untuk mengumpulkan data yang diperoleh dalam penelitian ini digunakan dengan cara-cara : 3.3.1 Studi Kepustakaan (Library Research) Studi kepustakaan dilakukan dengan cara menelaah, membaca buku-buku, mempelajari, mencatat, dan mengutip buku-buku, peraturan perundang-undanganyang ada kaitannya/berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. 3.3.2 Studi Lapangan (Field Research) Studi lapangan dilakukan dengan cara turun langsung mengamati untuk mendapatkan data primer dan dilakukan dengan cara melakukan wawancaraterbuka.

3.4 Prosedur Pengolahan Data

  Editing yaitu data yang diperoleh diolah dengan cara pemilahan data dengan cermat dan selektif sehingga diperoleh data yang relevan dengan pokokmasalah. Klasifikasi data, adalah suatu kumpulan data yang diperoleh perlu disusun dalam bentuk logis dan ringkas, kemudian disempurnakan lagi menurut ciri-ciri data dan kebutuhan penelitian yang diklasifikasikan sesuai jenisnya.

3.5 Analisis Data

5.1 Kesimpulan

  Dalam menganalisis data yang diperoleh, metode yang digunakan adalahanalisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengangkat fakta keadaan, variable, dan fenomena-fenomena yang terjadi selama penelitian dan menyajikan apaadanya. Pengendalian pemanfaatan ruang oleh Pemerintah Kabupaten LampungSelatan dilakukan dengan pengaturan zonasi dengan cara mengklasifikasikan rencana penggunaan ruang, menyiapkan beberapa bentuk perizinan,Pemberian Insentif dan Disinsentif yang belum terlaksana, Pemberian Sanksi yang hanya dilakukan jika di perizinan tidak sesuai dengan rencana tata ruang,pemberian sanksi yang tegas belum terlaksana.

2. Faktor pendukung pengembangan wilayah bagi tata ruang Kabupaten

Lampung Selatan mengacu pada Peraturan Daerah No.15 Tahun 2012 tentangRencana Tata Ruang Wilayah. Sedangkan faktor penghambat dalam pelaksanaan penataan ruang di Kabupaten Lampung Selatan yaitu cepatnyapertumbuhan berbagai bidang seperti masalah ekonomi, masalah sosial, masalah daya dukung lingkungan dan masalah tata ruang, infrastruktur seperti

5.2 Saran

  Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan diharapkan dapat segera menyelesaikan penyusunan dan penetapan Rencana Detail Tata Ruang, karenaRencana Detail Tata Ruang sangat diperlukan dalam proses pemberian izin pemanfaatan ruang pada suatu wilayah. Perlu adanya tindak lanjut oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mengenai pelaksanaan pemanfaatan ruang perkotaan agar pemanfaatannyasesuai dengan apa yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 15 Tahun 2012.

3. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan harus melaksanakan Rencana Tata

  Ruang Wilayah yang diprogramkan dan harus mengikuti Peraturan Pemerintah No.15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Agar pemanfaatan tata ruang wilayah Kabupaten Lampung Selatan dapat dipergunakan sesuai dengan fungsinya.

SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN Skripsi Tanpa Bab Pembahasan
Dokumen baru

Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait

SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN

Gratis

Feedback