PERANAN SPIRITUALITAS KONGREGASI SUSTER-SUSTER SANTA PERAWAN MARIA (SPM) AMERSFOORT DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Il

Gratis

0
4
250
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERANAN SPIRITUALITAS KONGREGASI SUSTER-SUSTER SANTA PERAWAN MARIA (SPM) AMERSFOORT DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh: Viyani Istiningsih NIM: 101124048 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini penulis persembahkan kepada: ♥ Yesus Sang Guru Sejati dan Sahabatku yang setia membimbing dan menguatkanku. ♥ Para Suster Kongregasi SPM Amersfoort yang telah memberikan dukungan kasih dan kepercayaan selama masa studiku. ♥ Ibunda tercinta dan adikku sekeluarga yang selalu setia mendukung dengan doa, semangat, dan cinta nan tulus dalam peziarahan hidup dan panggilanku. ♥ Ayah (alm.) yang selama hidupnya di dunia selalu mencintaiku. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Alangkah Baiknya Tuhan yang Mahabaik” (Seruan St. Yulia Billiart) “Kesemuanya hanyalah demi kemuliaan Allah, kepada-Mulah kuserahkan diriku” (Kutipan Doa Pater Mathias Wolff, S.J.) “Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” (Pengkhotbah 3: 11) v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Judul skripsi PERANAN SPIRITUALITAS KONGREGASI SUSTERSUSTER SANTA PERAWAN MARIA (SPM) AMERSFOORT DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI dipilih berdasarkan kenyataan yang terjadi dalam karya pelayanan bidang pendidikan milik Kongregasi Suster-suster SPM. Karya pendidikan milik para Suster SPM yang berada dalam naungan Perkumpulan Dharmaputri (PDp), mengalami dua keprihatinan mendasar. Pertama, para pelaksana bidang pendidikan kurang memahami, menghayati, dan mengamalkan spiritualitas Kongregasi SPM. Kedua, kurangnya kualitas kepribadian pelaksana perutusan bidang pendidikan. Dua keprihatinan yang saling berkaitan ini, mendesak untuk diolah dan ditingkatkan. Oleh sebab itu, penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan pemahaman tentang spiritualitas Kongregasi Suster-suster SPM dan profesionalitas guru. Profesionalitas guru lebih difokuskan pada kompetensi kepribadian. Kompetensi ini merupakan landasan utama bagi kompetensi pedagogik, sosial, dan profesional. Selanjutnya, penulis berusaha memberikan gambaran konkret pemahaman dan penghayatan spiritualitas Kongregasi SPM dalam meningkatkan kompetensi kepribadian guru Perkumpulan Dharmaputri, melalui penelitian. Penulis melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman dan penghayatan spiritualitas Kongregasi SPM, yaitu “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah” telah dipahami oleh para guru PDp. Namun, para guru menyadari keterbatasan pemahaman dan penghayatan spiritualitas Kongregasi SPM. Oleh sebab itu, mereka masih membutuhkan pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman dan penghayatan mereka tentang spiritualitas Kongregasi SPM. Mereka menyadari pula bahwa dengan memahami dan menghayati serta mengaktualisasikan spiritualitas Kongregasi SPM, kualitas kompetensi kepribadian mereka menjadi lebih baik. Berdasarkan realitas tersebut, penulis mengusulkan program katekese model Shared Christian Praxis (SCP) dalam bentuk rekoleksi bagi para guru PDp. Rekoleksi ini bertujuan untuk membantu para guru menemukan kesadaran dan kekuatan baru dalam memahami dan menghayati diri sebagai pribadi citra Allah yang berharga serta mengokohkan identitas mereka sebagai guru PDp. Dengan demikian, spiritualitas Kongregasi SPM menjadi daya penggerak bagi para guru PDp dalam melaksanakan dan mencintai tugas panggilan mereka sebagai insaninsan pendidik yang profesional. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The title THE ROLE of THE SISTERS of OUR LADY CONGREGATION of AMERSFOORT SPIRITUALITY IN INCREASING PROFESIONALISM AMONG TEACHERS of DHARMAPUTRI ASSOCIATION was selected based on true events happening in educational works by Sisters of Our Lady Congregation (SPM). The educational works which also belong to Dharmaputri Association (PDp) felt two great concerns. The first concern to appear was the lack of understanding, comprehension, and implementation of The Sisters of Our Lady Congregation among the educational workers. Meanwhile the second concern was the fact that the workers’ personal quality apparently went down. These two related concerns, therefore, sought for improvement. The writer attempted to seek and describe a better understanding of The Sisters of Our Lady Congregation spirituality and teacher professionalism. Teacher professionalism was narrowed down into personality competency which is the basis of pedagogical, social, and professional competencies. Next, the writer attempted to show a concrete understanding and the spirituality comprehension of The Sisters of Our Lady Congregation in increasing personality competency among teachers of Dharmaputri Association. Thus, a qualitative research was conducted to help the writer show the understanding. The results of the research showed that teachers of Dharmaputri Association had understood as well as comprehended the spirituality of The Sisters of Our Lady Congregation, which is “Human’s dignity as the image of God”. However, teachers were aware of limited understanding and comprehension on the spirituality. Therefore, they needed a continuous development to increase their understanding and comprehension. They admitted the importance of understanding and comprehending the spirituality to gain their personal competence. Referring to the reality, the writer suggested a Shared Christian Praxis catechism program in form of seclusion for teachers of Dharmaputri Association. The seclusion is aimed at helping teachers to raise their awareness yet gain strength in understanding and comprehending themselves as the precious image of God. In addition, the seclusion also aims to preserve their identity as teachers of Dharmaputri Association. Finally, the spirituality of The Sisters of Our Lady Congregation is expected to be a motivator for the teachers in living out and loving their vocations as professional teachers. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Allah yang Bapa Mahabaik karena kasih dan kebaikan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peranan Spiritualitas Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Maria (SPM) Amersfoort dalam Meningkatkan Profesionalitas Para Guru Perkumpulan Dharmaputri”. Skripsi ini disusun berdasarkan keprihatian mendasar yang terjadi dalam karya kerasulan Kongregasi Suster-Suster SPM bidang pendidikan. Pertama, para guru Perkumpulan Dharmaputri (PDp) masih belum memahami, menghayati, dan mengamalkan spiritualitas Kongregasi SPM. Kedua, para guru PDp masih belum memiliki kualitas kepribadian yang mantap. Kedua hal tersebut saling berkaitan. Artinya, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan spiritualitas Kongregasi SPM secara baik, dapat meningkatkan kompetensi kepribadian dan berdampak pada peningkatan profesionalitas para guru PDp. Oleh sebab itu, penulis memberi gambaran konkret melalui penelitian terhadap para guru PDp di wilayah Malang II dengan pendekatan penelitian kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mengusulkan program katekese model Shared Christian Praxis (SCP) bagi para guru PDp sebagai salah satu bentuk usaha untuk memahami dan menghayati spiritualitas Kongregasi SPM secara lebih baik dan mendalam. Skripsi ini dapat diselesaikan, berkat kemurahan hati dan bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, dengan hati tulus dan syukur penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Rm. Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M. Ed., selaku Kaprodi IPPAK-USD yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menempuh studi di Prodi IPPAK-USD, hingga selesainya skripsi ini. 2. Rm. Dr. J. Darminta, S.J., dosen pembimbing utama yang telah menyediakan hati dan diri, untuk membimbing dengan sabar, memberi masukan-masukan, dan kritikan-kritikan sehingga penulis termotivasi dalam menuangkan gagasan-gagasan dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini. 3. Rm. Dr. C.B. Putranta, S.J., selaku dosen pembimbing akademik dan penguji II yang telah memberikan perhatian selama studi hingga selasainya skripsi ini. 4. Bapak Y. Kristianto, SFK., M. Pd., selaku dosen penguji III yang telah menyediakan diri dan memberi masukan kepada penulis dalam mempersiapkan penelitian, hingga akhir penulisan skripsi ini. 5. Segenap Staf Dosen, Sekretariat, Perpustakaan, serta seluruh karyawan Prodi IPPAK-JIP, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan mendampingi penulis selama belajar hingga selesainya skripsi ini. 6. Sr M. Anita SPM, selaku provinsial dan segenap suster Dewan Pengurus Provinsi Indonesia, serta para suster SPM yang telah memberi kepercayaan dan aneka dukungan kepada penulis untuk melaksanakan tugas studi, dari awal masa studi hingga selesainya skripsi ini. 7. Para Suster SPM Komunitas Yogyakarta, yang selalu memberikan kepercayaan dan kasih persaudaraan, sehingga penulis merasa krasan dan xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI senantiasa diperkaya, dan diperkembangkan selama melaksanakan tugas studi hingga selesainya skripsi ini. 8. Para suster Kepala Sekolah yang telah memperkenankan penulis melakukan penelitian di unit-unit sekolah wilayah Malang II dan para guru yang telah berkenan menjadi responden penelitian, hingga skripsi ini dapat diselesaikan. 9. Ibu, adik beserta keluarganya, dan sahabat yang selalu setia memberikan semangat, doa, dan kasih nan tulus selama penulis melaksanakan tugas studi di Yogyakarta hingga selesainya skripsi ini. 10. Teman-teman mahasiswa, angkatan 2010/2011 yang turut mengutuhkan pribadi penulis, dengan segala keunikan pribadi dalam angkatan, untuk bersama berjuang menjadi pewarta kabar gembira. 11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah mendukung dengan berbagai bantuan hingga selesainya skripsi ini. Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan, pemahaman, dan pangalaman sehingga penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif dari para pembaca demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Yogyakarta, 1 September 2014 Penulis Viyani Istiningsih xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman JUDUL ...................................................................................................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................................................. ii PENGESAHAN ......................................................................................................... iii PERSEMBAHAN ..................................................................................................... iv MOTTO .................................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ...................... vii ABSTRAK ................................................................................................................. viii ABSTRACT ................................................................................................................. ix KATA PENGANTAR ................................................................................................ x DAFTAR ISI .............................................................................................................. xiii DAFTAR SINGKATAN ........................................................................................... xviii BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1 A. Latar Belakang. ................................................................................................ 1 B. Rumusan Permasalahan ................................................................................... 6 C. Tujuan Penulisan ............................................................................................. 6 D. Manfaat Penulisan ........................................................................................... 7 E. Metode Penulisan ............................................................................................ 8 F. Sistematika Penulisan. ...................................................................................... 9 BAB II. SPIRITUALITAS KONGREGASI SUSTER-SUSTER SPM MENDASARI PROFESIONALITAS PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI .......................................................................................... 11 A. Kongregasi Suster-suster SPM. ..................................................................... 11 1. Sejarah Singkat Kongregasi Suster SPM ................................................... 11 2. Gerak Kongregasi SPM ............................................................................. 13 a. Visi. ....................................................................................................... 13 b. Misi........................................................................................................ 14 3. Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah ................ 14 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. Arti dan Makna Spiritualitas ................................................................. 14 b. Unsur Dasar Spiritualitas ...................................................................... 15 c. Inti Spiritualitas SPM ........................................................................... 15 d. Arti Kesamaan Martabat ....................................................................... 16 e. Pemahaman Manusia Citra Allah .......................................................... 16 1) Perjanjian Lama ............................................................................... 17 2) Perjanjian Baru ................................................................................. 19 3) Konsitusi Pastoral “Gaudium et Spes”............................................. 20 4) Ensiklik “Evangelium Vitae” ........................................................... 22 f. Pemahaman Manusia sebagai Rekan Kerja Allah ................................. 23 1) Perjanjian Lama ............................................................................... 24 2) Perjanjian Baru ................................................................................. 25 3) Konsitusi Pastoral “Gaudium et Spes”............................................. 25 4) Ensiklik “Evangelium Vitae” ........................................................... 26 g. Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah ............................................. 27 1) Berdasarkan Konstitusi Kongregasi Suster SPM ............................. 27 a) Keteladanan Yesus Kristus .......................................................... 29 b) Keteladanan Santa Perawan Maria .............................................. 29 2) Berdasarkan Penghayatan Hidup Santa Yulia Billiart dan Pater Mathias Wolff, S.J. .......................................................................... 30 a) Santa Yulia Billiart ...................................................................... 30 b) Pater Mathias Wolff, S.J.............................................................. 32 h. Ikhtisar................................................................................................... 33 B. Profesionalitas Guru ....................................................................................... 36 1. Pengertian Profesionalitas .......................................................................... 36 2. Prinsip Profesionalitas ............................................................................... 37 3. Pengertian Guru ......................................................................................... 38 4. Hakikat Profesi Guru ................................................................................. 39 5. Hakikat Tugas Guru ................................................................................... 40 a. Guru sebagai Pendidik ........................................................................... 40 b. Guru sebagai Dikdaktikus ..................................................................... 42 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Standar Guru Profesional ........................................................................... 44 a. Standar Kualifikasi ................................................................................ 44 b. Standar Kompetensi .............................................................................. 46 1) Kompetensi Kepribadian .................................................................. 46 2) Kompetensi Pedagogik..................................................................... 48 3) Kompetensi Sosial ............................................................................ 49 4) Kompetensi Profesional ................................................................... 49 c. Standar Sertifikasi ................................................................................. 50 C. Spiritualitas Kongregasi SPM sebagai Dasar Profesionalitas Guru Perkumpulan Dharmaputri (PDp) .................................................................. 50 1. Arti dan Tujuan Perkumpulan Dharmaputri .............................................. 51 2. Karakteristik Guru Perkumpulan Dharmaputri .......................................... 52 a. Setia pada pencerdasan kehidupan bangsa ............................................ 52 b. Setia pada ciri khas Katolik................................................................... 53 c. Setia Spiritualitas dan Kharisma Kongregasi SPM ............................... 55 d. Kualitas kepribadian yang unggul ......................................................... 57 e. Profesional dalam pelaksanaan pendidikan ........................................... 57 f. Pendampingan generasi muda menjadi pribadi utuh ............................. 58 3. Identitas Guru Perkumpulan Dharmaputri ................................................ 58 a. Identitas Diri .......................................................................................... 58 b. Identitas Korps ...................................................................................... 59 c. Identitas Pelayanan ................................................................................ 61 4. Ikhtisar ....................................................................................................... 62 BAB III. GAMBARAN PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN SPIRITUALITAS KESAMAAN MARTABAT MANUSIA SEBAGAI CITRA ALLAH DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI KEPRIBADIAN PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI ..... 64 A. Visi dan Misi Perkumpulan Dharmaputri ...................................................... 64 B. Penelitian Pemahaman dan Penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah dalam Meningkatkan Kompetensi Kepribadian Para Guru Perkumpulan Dharmaputri ....................................... 66 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Pendahuluan .............................................................................................. 66 a. Permasalahan Penelitan ......................................................................... 66 b. Batasan Masalah Penelitan .................................................................... 66 c. Tujuan Penelitan .................................................................................... 67 d. Variabel Penelitan ................................................................................. 68 e. Manfaat Penelitan .................................................................................. 68 2. Metodologi Penelitan ................................................................................. 69 a. Pendekatan Penelitan ............................................................................. 69 b. Data dan Sumber Data........................................................................... 69 c. Metode Pengumpulan Data ................................................................... 70 d. Instrumen Penelitian .............................................................................. 71 e. Tahap-Tahap Penelitian ......................................................................... 72 f. Tehnik Analisis Data.............................................................................. 72 g. Keabsahan Data ..................................................................................... 73 C. Laporan Hasil dan Pembahasan Penelitian Pemahaman dan Penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah dalam Meningkatkan Kompetensi Kepribadian Para Guru Perkumpulan Dharmaputri ................................................................................................... 73 D. Dampak Pemahaman dan Penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah .......................................................................... 104 1. Bagi para responden ...................................................................................104 2. Bagi para anak didik ................................................................................. 106 3. Bagi para rekan kerja ................................................................................ 107 4. Bagi korps ................................................................................................. 107 E. Rangkuman Hasil Penelitian ......................................................................... 108 BAB IV. USAHA MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN SPIRITUALITAS KONGREGASI SPM BAGI PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI MELALUI KATEKESE MODEL SHARED CRISTIAN PRAXIS (SCP) ....................................................... 112 A. Latar Belakang Pemikiran Penyusunan Program ......................................... 112 B. Usulan Tema Katekese.................................................................................. 116 C. Rumusan Tema dan Tujuan. ......................................................................... 117 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Pelaksanaan Program Katekese. ..................................................................118 E. Program Katekese. .......................................................................................120 F. Contoh Persiapan Katekese Model SCP.......................................................123 BAB V. PENUTUP. ...................................................................................................133 A. Kesimpulan ..................................................................................................133 B. Saran.............................................................................................................136 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................137 LAMPIRAN ...............................................................................................................140 Lampiran 1: Instrumen Penelitian kepada Para Responden (R) Lampiran 2: Instrumen: Tabel Observasi kepada Para Observer (O): Anak Didik Lampiran 3: Instrumen: Tabel Observasi kepada Para Observer (O): Rekan Kerja Lampiran 4: Rangkuman Hasil Wawancara dengan Para Responden (R) Lampiran 5: Transkrip Hasil Wawancara dengan Para Responden (R) Lampiran 6: Tabel Hasil Observasi kepada Para Observer (O): Anak Didik Lampiran 7: Tabel Hasil Observasi kepada Para Observer (O): Rekan Kerja Lampiran 8: Surat Permohonan Ijin Penelitian Lampiran 9: Surat Pemberian Ijin untuk Penelitian xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Daftar Singkatan Kitab Suci Singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti daftar singkatan dari Direktorat Jendral Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia, Ed., Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru: Pengantar dan Catatan Singkat. Ende: Arnoldus, 2011, h. 14. B. Daftar Singkatan Dokumen Resmi Gereja EV : Evangelium Vitae: Ensiklik Paus Yohanes Paulus II mengenai Nilai Hidup Manusiawi Tak Dapat Diganggu Gugat, 25 Maret 1995. GE : Gravissimum Educationis: Pernyataan Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen, tanggal 28 Oktober 1965. GS : Gaudium et Spes: Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja dan Dunia Modern, tanggal 7 Desember 1965. LG : Lumen Gentium: Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, tanggal 21 November 1964. KWI : Konferensi Wali Gereja Indonesia C. Daftar Singkatan Umum art : Artikel AD-ART : Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga bdk : Bandingkan xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Depdiknas : Departemen Pendidikan Nasional DP3 : Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan D-4 : Diploma Empat h : Halaman hh : Dari Halaman sampai Halaman ISO : International Organization for Standardization Kap.Prov. : Kapitel Provinsi LPK : Lembaga Pendidikan Katolik MA : Madrasah Aliyah MI : Madrasah Ibtidaiyah MTs : Madrasah Tsanawiyah NKRI : Negara Kesatuan Republik Indonesia No : Nomor Nopas : Nota Pastoral SCP : Shared Christian Praxis SD : Sekolah Dasar SJ : Serikat Jesus SMA : Sekolah Menengah Atas SMP : Sekolah Menengah Pertama SND : Suster de Notre Dame SPM : Santa Perawan Maria Sub : Substansi S1 : Strata Satu xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TK : Taman Kanak-Kanak O : Observer PAUD : Pendidikan Anak Usia Dini PDp : Perkumpulan Dharmaputri Permendiknas : Peraturan Menteri Pendidikan Nasional PP : Peraturan Pemerintah PPPG : Pusat Pelatihan Pengembangan Guru Provindo : Provinsi Indonesia R : Responden Renstra : Rencana Strategis RI : Republik Indonesia UNESCO : United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang UUD : Undang-Undang Dasar xx

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN Bab ini, penulis menguraikan latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, metode dan sistematika penulisan. A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi setiap manusia; sebab pendidikanlah yang dapat memanusiakan manusia dan menciptakan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Harapan ini hanya mungkin tercapai, jika pendidikan beserta komponen-komponennya dipersiapkan dan tertata dengan baik. Salah satu komponen penting dalam dunia pendidikan adalah kehadiran seorang guru. Guru pada hakikatnya, merupakan profesi tenaga pendidik pada lembaga pendidikan tingkat sekolah. Guru adalah salah satu sumber daya yang sangat penting dalam pengelolaan organisasi pendidikan. Karena itu, untuk mencapai hasil pendidikan pada suatu lembaga (pendidikan) sebagaimana diharapkan, diperlukan kegiatan manajemen sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan mutu pendidikan ditanggapi positif oleh pemerintah melalui program peningkatan kompetensi Guru. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, khususnya pasal 8 yang menyatakan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 melalui pendidikan profesi. Sedangkan, Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008, khususnya pasal 2 menyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Wahyudi, 2012: 26). Namun, ketika menilik pada Standar Kompetensi Guru tersebut, bisa muncul pertanyaan-pertanyaan yang cukup menggoda untuk direnungkan; misalnya apakah para guru sudah memiliki dan menghidupi keempat kompetensi tersebut? Bagaimana menyikapinya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan suatu „stimulus‟ bagi lembagalembaga pendidikan, baik yang swasta maupun yang negeri. Dengan kata lain, pertanyaan-pertanyaan tersebut hadir sebagai bahan refleksi bagi pengelola pendidikan, khususnya kongregasi-kongregasi religius yang mewujudkan karya pastoral dalam bidang pendidikan. Demikian halnya dengan Kongregasi SusterSuster Santa Perawan Maria dari Amersfoort (selanjutnya ditulis: SPM), sebagai salah satu Kongregasi Religius yang berkarya di bidang pendidikan. Para Suster SPM tergerak untuk mewujudkan karya kerasulan dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan anak-anak, khususnya anak-anak yang berasal dari keluarga miskin. Tentunya, pengabdian ini didasarkan pada spiritualitas Kongregasi, yaitu membangun persekutuan hidup baru yang pusatnya adalah kepenuhan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah (Keputusan Kapitel SPM Provindo, 2010: 32-33). Spiritualitas tersebut merupakan representasi warisan semangat Santa Yulia Billiart, ibu rohani Kongregasi SPM yang

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 senantiasa memperlihatkan kebaikan Tuhan dengan mengangkat martabat generasi muda yang terlantar, cacat, miskin material dan spiritual akibat revolusi Perancis. Artinya, karya pendidikan merupakan salah satu kharisma pelayanan para Suster SPM. Karya ini dimulai dari tingkat TK sampai SMA yang bernaung di bawah lembaga berbadan hukum, yakni Perkumpulan Dharmaputri (selanjutnya ditulis: PDp). Perkumpulan Dharmaputri (PDp) merupakan Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) milik Kongregasi para Suster SPM. LPK milik Kongregasi SPM hendak memberikan pelayanan di bidang pendidikan untuk menjawabi pernyataan bahwa sekolah Katolik hendaknya mencapai tujuan mendidik generasi muda menjadi pribadi dewasa dan menjadi ciptaan baru sesuai semangat Kristus (GE, artikel 8). Sedangkan, PDp merupakan sebuah wadah persatuan para guru yang mengabdikan dirinya pada lembaga-lembaga pendidikan milik para suster SPM. Salah satu peran PDp dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah mengakomodasi para guru secara berkala, agar memiliki kualitas dan kompetensi sebagai pendidik profesional sesuai spiritualitas Kongregasi SPM. Hal ini merupakan suatu tanggapan antisipatif terhadap tantangan dunia pendidikan zaman sekarang yang lebih menekankan kualitas daripada kuantitas; juga menjawabi tujuan pendidikan nasional kita, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, tidak dapat dielakkan bahwa perkembangan zaman senantiasa membuat kualitas pendidikan mengalami penurunan, khususnya kualitas sekolahsekolah. Bahkan, tantangan besar yang harus dihadapi adalah kompetensi kepribadian komponen pendidik PDp yang belum optimal.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Realitas tersebut menjadi suatu keprihatinan besar bagi Kongregasi SPM, karena sebagian besar kerasulan kongregasi bergerak di bidang pendidikan. Karena itu, Kongregasi SPM menanggapinya dalam Keputusan Kapitel No. 03/SPM/Kap.Prov./XII/2010 (2010: 39) tentang Perutusan Bidang Pendidikan, dalam Hal Menimbang, butir no. 1 dan 4 sub no. 4.2. Keputusan tersebut dirumuskan, demikian: 1. Kurangnya pemahaman, penghayatan, dan pengamalan spiritualitas Kongregasi SPM dalam perutusan bidang pendidikan; 4. Belum optimalnya kaderisasi kepemimpinan di lingkungan Perkumpulan Dharmaputri; 4.2. Kurangnya kualitas kepribadian penyelenggara, pengelola, dan pelaksana perutusan bidang pendidikan. Selanjutnya, keprihatinan terkait dengan butir no. 1 dan 4 sub no. 4.2. di atas dipertimbangkan, lalu dirumuskan dalam Keputusan Kapitel No. 03/SPM/Kap.Prov./XII/2010 tentang Perutusan Bidang Pendidikan, sebagai berikut: 1. Perlunya peningkatan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan spiritualitas Kongregasi SPM dalam perutusan bidang pendidikan; 4. Perlunya peningkatan kaderisasi kepemimpinan di lingkungan Perkumpulan Dharmaputri; 4.2. Perlunya peningkatan kualitas kepribadian penyelenggara, pengelola, dan pelaksana perutusan bidang pendidikan. Pernyataan di atas merupakan sebuah keputusan yang menunjukkan bahwa spiritualitas kongregasi dan kualitas kepribadian adalah hal yang sangat penting, bahkan mendasar dan mendesak untuk ditingkatkan, karena spiritualitas kongregasi menjadi Roh bagi hidup dan karya para Suster SPM dan para mitra kerja kongregasi. Kedua hal tersebut saling berhubungan dan memiliki keterkaitan. Artinya, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan spiritualitas

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Kongregasi SPM secara baik, akan berdampak pada kualitas kepribadian para penyelenggara, pengelola, dan pelaksana pendidikan yang lebih baik pula. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk ikut serta dalam menjawabi keprihatinan, sekaligus menggali kembali keputusan-keputusan kapitel di atas dalam skripsi ini. Penulis menyadari bahwa keputusan kapitel tersebut telah ditanggapi dan dilaksanakan oleh kongregasi, dengan memberi pembinaan spiritualitas SPM bagi para mitra kerja, yakni para guru DPp, sejak dua tahun terakhir. Tentunya, pembinaan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kompetensi guru DPp, khususnya kompetensi kepribadian mereka. Oleh sebab itu, penulis lebih mengfokuskan tulisan ini pada peranan spiritualitas kongregasi Suster SPM dalam meningkatkan profesionalitas para guru PDp, khususnya kompetensi kepribadian. Guru memiliki kompetensi kepribadian hidupnya dilandasi dengan sikap iman dan kasih, peka akan situasi zaman, mampu berpikir kritis, berani berinovasi dan menanggung resiko, mampu bergaul dan menyelesaikan masalah hidup, serta membawa damai dan pengampunan (Nopas KWI, 2008: 4 dan Keputusan Kapitel SPM Provindo, 2010: 35). Bahkan, Santa Yulia Billiart telah memberi pesan kepada para pengikutnya, agar menghayati tugas panggilannya demi keselamatan jiwa-jiwa generasi muda melalui karya pendidikan (Irmine, 2009: 74). Dengan demikian, penulis memilih judul “Peranan Spiritualitas Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Maria (SPM) Amersfoort dalam Meningkatkan Profesionalitas Para Guru Perkumpulan Dharmaputri.” Spiritualitas Kongregasi SPM yakni “kesamaan martabat manusia sebagai citra

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Allah”, ditinjau oleh penulis dari aspek pemahaman dan penghayatan. Besar harapan penulis agar dengan memahami dan menghayati spiritualitas SPM, para guru PDp mampu meningkatkan profesionalitas, khususnya dalam kompetensi kepribadiannya sebagai seorang guru. Sebab, pada zaman ini dibutuhkan figur guru sebagai seorang utusan Allah yang memiliki kepribadian unggul, berkualitas, dan profesional (Keputusan Kapitel SPM Provindo, 2010: 34). B. Rumusan Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut: 1. Apa arti dan makna spiritualitas Kongregasi Suster-Suster SPM Amersfoort? 2. Bagaimana profesionalitas seorang guru PDp? 3. Bagaimana peran spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah dalam meningkatkan kompetensi kepribadian para guru DPp? 4. Apa bentuk program peningkatan pemahaman dan penghayatan spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah bagi para guru PDp? C. Tujuan Penulisan Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, penulisan skripsi ini bertujuan: 1. Memahami Spiritualitas Kongregasi Suster-Suster SPM Amersfoort. 2. Mengetahui profesionalitas guru PDp.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 3. Mengembangkan pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah para guru PDp dalam meningkatkan kompetensi kepribadian. 4. Menemukan bentuk-bentuk program peningkatan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah dalam meningkatkan kompetensi kepribadian guru PDp. 5. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Sarjana Strata 1 (S1) Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. D. Manfaat Penulisan Skripsi ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi: 1. Bagi penulis: Menjadi sarana bagi penulis untuk semakin menghayati dan mengamalkan inti spiritualitas kongregasi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam karya pendidikan. Selain itu, penelitian ini bermanfaat pula untuk menemukan bentuk program pengembangan profesioalitas guru PDp berdasarkan spiritualitas Kongregasi Suster-Suster SPM. 2. Bagi para guru Perkumpulan Dharmaputri: Menjadi salah satu referensi pembinaan lanjutan bagi para guru Perkumpulan Dharmaputri sebagai mitra kerja SPM dalam mengembangkan profesionalitas,

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 khususnya kompetensi kepribadian guru berdasarkan spiritualitas Kongregasi Suster-Suster SPM. 3. Pengurus Perkumpulan Dharmaputri Memberi gambaran konkret bahwa spiritualitas Kongregasi Suster-Suster SPM mempunyai peranan dalam meningkatkan kompetensi kepribadian para guru PDp. Di mana kualitas pribadi merupakan salah satu kriteria guru PDp disebut profesional. 4. Bagi Kongregasi SPM: Menemukan bentuk-bentuk program lanjutan pendalaman spiritualitas yang memungkinkan para guru Perkumpulan Dharmaputri, berperan aktif dalam menyebarluaskan inti spiritualitas SPM. E. Metode Penulisan Penulis menggunakan metode deskriptif analisis dan didukung dengan pendekatan penelitian kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi kepada para observer yaitu anak didik dan rekan kerja guru, serta melalui studi dokumen dan dokumentasi untuk mendapatkan gambaran pemahaman dan penghayatan Spiritualitas Kongregasi SPM yaitu “Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah” dalam meningkatkan kompetensi kepribadian para guru Perkumpulan Dharmaputri. Kompetensi ini merupakan modal utama, sebagai landasan dalam meningkatkan profesionalitas guru Perkumpulan Dharmaputri.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 F. Sistematika Penulisan Skripsi dengan judul “Peranan Spiritualitas Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Profesionalitas Maria Para (SPM) Guru Amersfoort Perkumpulan dalam Meningkatkan Dharmaputri.” ini, secara keseluruhan memuat pokok-pokok sebagai berikut: Bab I menguraikan pendahuluan yang berisi gambaran umum penulisan yang terdiri dari latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode, dan sistematika penulisan skripsi. Bab II mendeskripsikan pemahaman Spiritualitas Kongregasi SusterSuster Santa Perawan Maria (SPM), yakni Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah dari sudut pandang Alkitabiah, Dokumen Konsili Vatikan II “Gaudium et Spes”, Ensiklik Paus Yohanes Paulus II “Evangelium Vitae”, Konstitusi Kongregasi Suster-Suster SPM Amersfoort, dan penghayatan hidup Santa Yulia Billiart serta Pater Matias Wolff, S.J. Bab ini akan mendeskripsikan pula pengertian dan hakikat profesionalitas guru, serta spiritualitas Kongregasi SPM sebagai dasar profesionalitas guru Perkumpulan Dharmaputri. Bab III menguraikan visi dan misi Perkumpulan Dharmaputri serta memberi gambaran konkret pemahaman kesamaan martabat manusia sebagai citra dan penghayatan Allah dalam spiritualitas meningkatkan kompetensi kepribadian para Guru Perkumpulan Dharmaputri. Didukung dengan suatu penelitian, menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Selanjutnya bab ini, mendeskripsikan pula hasil penelitian beserta pembahasannya, dampak

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah, serta rangkuman hasil penelitian. Bab IV berisi tentang usaha untuk meningkatkan pemahaman dan penghayatan Spiritualitas Kongregasi SPM bagi para Guru Perkumpulan Dharmaputri malalui katekese model Shared Christian Praxis. Bab V berisi kesimpulan dari pembahasan skripsi ini dan saran sebagai bahan refleksi tentang peranan Spiritualitas Kongregasi Suster-Suster SPM dalam meningkatkan profesionalitas para Guru Perkumpulan Dharmaputri.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 BAB II SPIRITUALITAS KONGREGASI SUSTER-SUSTER SPM MENDASARI PROFESIONALITAS PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI Pembahasan Bab II menguraikan konsep-konsep gambaran umum Kongregasi Suster-Suster SPM dari Amersfoort, Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah, pengertian dan hakikat profesionalitas guru Perkumpulan Dharmaputri, serta spiritualitas Kongregasi SPM menjadi dasar profesionalitas guru PDp. A. Kongregasi Suster-Suster SPM 1. Sejarah Singkat Kongregasi Suster SPM Kongregasi SPM berawal mula dari keinginan hati beberapa wanita muda Amersfoort Belanda untuk menjadi religius; sekitar tahun 1822. Mereka ingin membentuk sebuah kongregasi religius dan membaktikan hidup sebagai seorang biarawati. Namun, keinginan mereka itu dihalangi karena Raja William I (yang pada zaman itu memerintah negeri Belanda) melarang pendirian kongregasi religius. Karena itu, secara diam-diam mereka membangun persekutuan dan memulai karya pendidikan, khususnya pendidikan anak-anak miskin. Pater Mathias Wolff S.J., seorang pembimbing rohani senantiasa memberi pendampingan rohani kepada mereka. Ia pun menjalin relasi dengan para Suster De Notre Dame (SND) dari Namur yang didirikan oleh Santa Yulia Billiart pada

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 tahun 1804 di Amiens, agar wanita-wanita muda tersebut mendapatkan pendidikan sebelum berkarya. Relasi ini terlaksana dengan baik, ternyata karya yang dicita-cita kelompok Amersfoort sejalan dengan karya para Suster SND (Konstitusi SPM, 1984: 10). Para wanita yang dibimbing oleh Pater Wolff menjalani masa pendidikan dan menghidupi regula para Suster SND Namur, yang bernafaskan semangat Santo Ignatius. Regula para Suster SND Namur disusun oleh Santa Yulia Billiart. Mereka adalah Maria van Werkhoven, Mathia Stichters, dan Martha Pijpers (Konstitusi SPM, 1984: 13). Pater Mathias Wolff bersama ketiga wanita tersebut mendirikan yayasan dengan nama Pédagogie Chrétienne, tanggal 29 Juli 1822. Sekolah pertama yang memberikan pelajaran agama kepada anak-anak putri didirikan di kota Amersfoort. Atas ijin dari pimpinan umum para Suster SND, yaitu Mere St. Yosef, para Suster SPM menggunakan regula para Suster SND Namur untuk dijadikan pedoman hidup mereka. Namun, beberapa perubahan kecil dari regula SND, hingga akhirnya digunakan sebagai pedoman hidup para Suster SPM Amersfoort (Hoeck, 2011: 80-83). Regula yang dibuat oleh Santa Yulia Billiart dengan beberapa perubahan kecil, dipakai sebagai pedoman hidup para Suster SPM Amersfoort. Seruan Santa Yulia, yakni “Alangkah baiknya Tuhan” senantiasa mengobarkan semangat para wanita yang bergabung bersamanya untuk menanggapi berbagai tantangan zaman. Salah satu tanggapan mereka diwujudkan dalam karya pendidikan dan pembinaan kristiani bagi orang-orang muda yang tersisih, berkekurangan material maupun spiritual. Ia percaya bahwa semuanya itu adalah rencana Tuhan sendiri sehingga

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 ia dapat bergerak secara kreatif meskipun dirinya mengalami keterbatasan. Tentunya, semangat Santa Yulia terus bertumbuh dalam kehidupan masyarakat sehingga menyadari banyak wanita muda untuk bergabung bersamanya dalam membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Ia menyadari bahwa semuanya adalah kehendak Tuhan, sehingga Tuhanlah yang memulai dan menyelesaikannya. Kesadarannya merupakan doa yang menjadikannya hidup hingga saat ini sebagai satu kongregasi religius, yaitu Kongregasi Santa Perawan Maria (SPM). 2. Gerak Kongregasi SPM a. Visi Visi Kongregasi SPM tertuang di dalam Konstitusi SPM (1984: 15) “Panggilan Yesus telah kita dengar. Kita mau hidup menurut warta gembira-Nya. Ia memperlihatkan kepada kita apa arti manusia di mata Tuhan: setiap orang ada artinya, tidak seorang pun hina. Ia menyatakan diri satu, khususnya dengan mereka yang paling hina. Ia malahan menyebutkan kita sahabat-sahabat-Nya”. Visi SPM hendak mengarahkan hidup dalam warta gembira-Nya kepada manusia yang menjadi pengejawantahan Tuhan. Setiap manusia ada artinya, berharga, dan mulia, khususnya mereka yang dipandang paling hina. Demi terwujudnya persekutuan hidup baru di mana kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah terpenuhi, seturut teladan Yesus dan Maria (Konstitusi SPM, 1984: 17-19).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 b. Misi Bertitik tolak dari visi, maka misi SPM ditujukan untuk “mencari Kerajaan Allah yang penuh kerahiman, belas kasih, keadilan dan kedamaian. Seperti seturut perkataan Maria dan tindakan Yesus” (Konstitusi SPM, 1984: 17). Kerajaan Allah yang hendak dihadirkan melalui hidup dan karya para Suster SPM adalah kerajaan kerahiman yang berbelas kasih, kerajaan keadilan dan kedamaian. Belas kasih dan keadilan yang dapat dialami oleh orang yang miskin dan tertindas. Kerajaan Allah dalam konteks spiritualitas SPM, hendak memberikan pelayanan melalui pembinaan, pendidikan, pastoral, dan sosial khususnya bagi yang miskin dan termarginalkan. 3. Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah a. Arti dan Makna Spiritualitas Hal utama dalam diri kaum religius adalah semangat spiritualitas yang dihidupinya. Istilah spiritualitas berasal dari bahasa Latin, yaitu spiritus yang berarti kerohanian atau Roh. Dengan demikian, spiritualitas adalah gambaran hidup yang menunjuk pada kehidupan rohani berdasarkan bimbingan Roh Allah. Selain itu, spiritualitas pun diartikan sebagai daya, semangat, atau kekuatan yang memampukan seseorang atau kelompok tertentu untuk mempertahankan, memperkembangkan, dan mewujudkan suatu cita-cita dan kehidupannya. Secara sepintas terdapat kesan seolah-olah spiritualitas hanya menyangkut atau berhubungan dengan hal-hal yang bersifat rohani, bahkan menunjuk pada aktivitas manusia dalam usahanya memperoleh kesucian dan keselamatan pribadi.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Pengertian yang lebih luas, spiritualitas mencerminkan nilai-nilai hidup berdasarkan iman, sikap-sikap atau keutamaan-keutamaan yang hidup dan mendukung perwujudan nilai-nilai iman dan tingkah laku atau pilihan konkret beserta tindakan-tindakan nyata untuk mewujudkan nilai-nilai iman (Meehan, 1983: 7). Dengan demikian, spiritualitas merupakan suatu bentuk relasi pribadi seorang beriman dengan Allah-nya yang diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Santo Paulus menegaskan bahwa orang beriman ialah orang yang hidup dalam Roh (Rm 8: 15). Berkat daya Roh itu, manusia berani melangkah untuk mengamalkan dan menghasilkan buah-buah rohani bagi sesama seturut kehendak Allah. Tujuan akhir dalam pencarian itu adalah “mengembangkan iman, harapan, dan cinta kasih” (Heuken, 1994: 277). b. Unsur Dasar Spiritualitas Spiritualitas mencakup 3 unsur yang saling berkaitan dan melengkapi. Pertama, pemahaman berkaitan dengan ajaran tentang Allah; hal kerohanian atau yang diajarkan oleh agama. Kedua, penghayatan iman akan Allah dalam bentuk relasi personal sesuai ajaran agama. Ketiga, aktualisasi iman dalam kesaksian hidup konkret sesuai dengan ajaran agama (Tim Spiritualitas SPM, 2012: 3). c. Inti Spiritualitas SPM Konstitusi SPM (1984: 17-19) menegaskan bahwa inti spiritualitas SPM tampak dalam pengenalan dan pengakuan setiap pribadi yang mulia dan berharga

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 di hadapan-Nya, sebagai manusia citra Allah. Manusia mengalami kepenuhan sebagai citra Allah berkat penebusan Yesus Kristus. Dengan demikian, hidup dan karya setiap pribadi senantiasa diarahkan kepada terwujudnya persekutuan hidup baru di mana kesamaan martabat manusia mendapatkan kepenuhan. Artinya bahwa Allah menjadi pusat, sebab Allah bersemayam dalam diri manusia. d. Arti Kesamaan Martabat Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online martabat berarti harga diri manusia. Dapat pula berarti rasa berharga akan nilai diri. Oleh karena itu berbicara tentang martabat maka selalu bertalian dengan harga diri manusia, baik diri sendiri ataupun sesama. Selanjutnya arti kesamaan martabat ialah perihal sama akan harga semua manusia. Bahwa setiap manusia memiliki harga atau nilai diri yang sama (Tim Spiritualitas SPM, 2012: 31-32). e. Pemahaman Manusia Citra Allah Berdasarkan konsep Kristen, martabat manusia dimaknai sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah. Artinya, manusia memiliki martabat sebagai citra Allah. Bockle dalam www.edyscj.wordpress.com. mengatakan bahwa “manusia sebagai citra Allah memiliki dua lapis kecitraan, yakni citra natural karena ciptaan dan citra supernatural karena penebusan Kristus”. Martabat manusia sebagai citra Allah tampak dalam tulisan yang mempunyai gagasan dan makna teologis, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 1) Perjanjian Lama Perjanjian Lama memberi pemahaman bahwa manusia memiliki martabat sebagai citra Allah, karena manusia adalah ciptaan Allah. Allah mencipta manusia sehingga “manusia memiliki citra natural Allah”. Artinya, manusia dicipta menurut Gambar-Nya dan ia memiliki kuasa atas makhluk ciptaan lainnya (Bockle dalam www.edyscj.wordpress.com). Kitab Kejadian menuliskan, demikian: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej 1: 26). Ayat ini menegaskan bahwa Allah menjadikan manusia menurut gambar-Nya. Manusia merupakan gambaran dari Allah atau suatu gambar yang menampakkan Allah. Manusia dijadikan sebagai yang paling sempurna dibandingkan dengan ciptaan lain. Ia memiliki relasi yang dekat dan mendalam dengan Allah. Kepercayaan ini membuat umat Perjanjian Lama tidak dapat menerima patung sebagai sarana untuk menggambarkan Allah. Mereka beranggapan bahwa tidak ada satu benda pun yang dapat menyerupai Allah. Allah hadir dalam diri manusia sebagai wujud kehadiran-Nya di dunia dengan segala keterbatasannya. Manusia yang menghadirkan Allah di dunia mau memberi arti bahwa dirinya mempunyai kualitas yang serupa dengan Allah (Purwatmo, 2008: 11). Kitab Kebijaksanaan pun menegaskan bahwa “Sebab Allah telah menciptakan manusia dicipta Allah untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri” (Keb 2: 23). Inilah yang menjadikan manusia dekat dengan Allah, menjadikannya mampu bergaul dengan Allah sehingga ia mengarahkan diri kepada Allah. Manusia ikut serta dalam kehidupan Ilahi, sebab Allah telah

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 mengikat manusia dengan perjanjian-Nya (Sir 17:12). Ayat ini memberi gambaran bahwa manusia citra Allah menunjukkan keserupaannya dengan Allah sebab manusia mampu berelasi secara khusus dengan Allah (Purwatmo, 2008: 11). Sang pemazmur pun menulis “…apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mzm 8: 5-6). Kitab Mazmur mau memberi penegasan bahwa manusia memiliki martabat yang sangat luar biasa. Manusia dipercaya oleh Allah menerima martabat sebagai citra-Nya (Karris, 2002: 432). Seorang teolog menyatakan bahwa “Manusia menjadi serupa dengan Allah Sang Roh Murni, oleh sebab jiwa spiritual dan akal budinya”. Artinya, dalam diri manusia ada dua sisi yaitu yang bersifat rohani manusia dan sifat jasmani manusia (Bockle dalam www.edyscj.wordpress.com). Dengan kata lain, “Manusia utuh merupakan satu kesatuan antara jiwa dan badan (rohani-jasmani) yang dicipta menurut gambar Allah” (Bockle dalam www.edyscj.wordpress.com). Kesatuan jiwa dan badan yang terwujud dalam manusia utuh disebut “Pribadi”; seperti tertulis “Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2: 7). Hal ini berarti manusia menjadi makhluk hidup karena nafas Yahwe ada dalam dirinya (Karris, 2002: 37).

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 2) Perjanjian Baru Perjanjian Baru memiliki pandangan bahwa manusia ialah citra supernatural Allah (Bockle dalam www.edyscj.wordpress.com). Ia dipersatukan secara penuh dengan Yesus Kristus dalam Sabda yang telah menjelma menjadi manusia (Yoh 1: 14). Citra Allah melekat dalam manusia sebab penebusan Yesus Kristus. Artinya bahwa manusia mengalami kebaruan, karena kebangkitan-Nya, agar manusia terbebas dari dosa. Allah menghendaki pula agar kehadiran Kristus ke dunia dapat memulihkan manusia sehingga “manusia menjadi ciptaan baru karena ia ada dalam Kristus” (2 Kor 5: 17). Ia diciptakan kembali secara baru oleh karena Kristus dengan segala kemiskinannya (Karris, 2002: 320). Santo Paulus menegaskan bahwa dalam diri Kristus-lah Allah hadir. Kristus menjadi yang utama dari segala ciptaan, karena segala kuasa diberikan oleh Allah kepada-Nya. Kristus menjadi puncak ciptaan, dari seluruh proses penciptaan yang terus berlangsung. Semua yang diciptakan oleh Allah ada dalam kuasa Kristus. Ia menjadi pribadi yang memperjumpakan Allah dan manusia. Manusia menemukan kepenuhannya sebagai citra Allah dalam diri Kristus. Kepenuhan manusia yang diangkat menjadi anak-anak Allah membuat ia menemukan relasinya dengan Sang Pencipta (Karris, 2002: 363). Santo Paulus pun menekankan kepada jemaatnya bahwa jaminan keselamatan ada dalam kuasa Allah. Ia menghendaki agar manusia dapat menyelaraskan diri sebagai gambar Allah; sebab manusia telah ditentukan, dipanggil, dan dimuliakan dalam kehidupan Kristus, berkat kebangkitan-Nya, “sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8: 29). Hal ini berarti, Allah menghendaki agar manusia menjadi serupa dengan Kristus Putera-Nya. Surat Santo Paulus kepada umat di Filipi menyatakan bahwa Yesus mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba agar sama dengan manusia, dan menyelamatkannya dari dosa. Yesus merelakan diri-Nya hancur dan mengalami kematian demi keselamatan manusia, dengan menjelma sebagai manusia (Fil 2: 6-8). Artinya, melalui kemanusiaan-Nya, Ia rela merendahkan diri agar manusia ikut serta ditinggikan dalam kemuliaan. Bahkan, Ia mengingkari diri dan menunjukkan kerendahan hati-Nya dengan jalan kematian. Yesus mau memeluk manusia melalui kemanusiaan-Nya, agar manusia dapat mengalami kemuliaan, dengan mengalami kebangkitan seperti diri-Nya. Berkat perendahan diri-Nya manusia dihantar untuk bersatu dengan Allah (Karris, 2002: 356). 3) Konstitusi Pastoral “Gaudium et Spes” Martabat pribadi manusia pun dijelaskan dalam Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern, dalam Dokumen Konsili Vatikan II (KWI, 1993: 521-535). Konstitusi ini memaparkan martabat pribadi manusia sebagai berikut: a) Manusia mempunyai martabat citra Allah sebab ia diciptakan dengan jiwa dan raga. Martabat manusia menjadi utuh sebab dalam raga manusia terdapat jiwa. Jiwa yang berasal dari Allah membuat manusia hidup dalam kedalaman

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 batinnya dan menghantar manusia pada tujuan sejatinya, yakni ikut ambil bagian dalam hidup Ilahi dan mengalami kemuliaan Allah (GS, art. 14). b) Manusia dapat mengalami kemajuan, mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kerohanian berkat anugerah akal budinya. Dengan akal budi, manusia didorong untuk selalu mencari kebenaran sejati. Anugerah akal budi ia kembangkan dalam kebijaksanaan dan untuk mencari serta mencintai yang baik dan benar. Anugerah tersebut merupakan cahaya Budi Ilahi dari Allah yang menjadikan martabat manusia unggul melampaui ciptaan lain. (GS, art. 15). c) Manusia menerima anugerah martabat hati nurani, sehingga pada hakekatnya ia mampu menerima dan mentaati hukum Allah. Suara hati mendorong manusia untuk mencintai dan melakukan yang baik dan menghindari yang jahat. Hati nurani manusia menjadi tahta suci bagi Allah, sehingga ia selalu terdorong untuk mencari kebenaran. Keluhuran matabat manusia tampak dalam hatinya yang dikuasai oleh hati Allah (GS, art. 16). d) Manusia dikaruniai martabat keluhuran kebebasan. Kebebasan sejati yang merupakan simbol keagungan gambar Allah yang tampak. Artinya, dengan kebebasan, manusia dapat mengabdi kepada Allah dengan sukacita. Allah menghendaki manusia hidup bahagia (GS, art. 17). e) Keberasalan manusia yang sama menjadi dasar persekutuan dari keanekaragaman umat manusia. Artinya, setiap orang adalah sama; dianugerahi jiwa yang berbudi dan diciptakan menurut gambar Allah, walaupun memiliki bahasa, warna kulit, suku, budaya, agama, dsb., yang berbeda (GS, art. 29).

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Dengan demikian, Konstitusi Pastoral “Gaudium et Spes” mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut citra Allah, dengan anugerah akal budi dan hati nurani untuk mencari yang baik dan benar. Selain itu, karunia jiwa yang kekal, menjadikan manusia dapat ambil bagian dalam kemuliaan Allah dan kemerdekaan menjadikan manusia mampu mengabdi Allah dan sesama. 4) Ensiklik “Evangelium Vitae” Paus Yohanes Paulus II pun dalam Ensiklik Evangelium Vitae (1996: 55-62) berbicara tentang luhurnya martabat hidup manusia. Keluhuran martabat manusia sebagai citra Allah secara mendalam dapat dipahami dari beberapa artikel di bawah ini: a) Manusia diciptakan oleh Allah sebagai tanda kehadiran dan kemuliaan-Nya. Anugerah martabat luhur dalam diri manusia mengisyaratkan adanya satu keterikatan yang erat dan istimewa antara manusia dengan Sang Pencipta. Anugerah seperti akal budi, kemampuan membedakan yang baik dan jahat, serta kehendak bebas, menjadi keunggulannya untuk menerima kepercayaan dari Allah mengelola seluruh alam semesta dengan tanggung jawab (EV, art. 34). b) Manusia menerima anugerah martabat kehidupan ilahi dari Allah. Hal ini membuat manusia selalu mengalami kerinduan untuk bersatu dengan PenciptaNya. Materai kekal dari Allah, membuatnya selalu ingin mencari dan menemukan Allah. Dengan anugerah akal budi, ia mampu meneladan

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 keutamaan Allah, sehingga seluruh kedaulatan semesta dipercayakan kepada manusia (EV, art. 35). c) Citra Allah yang memancar dalam hidup manusia rusak akibat dosa. Adam pertama telah menghancurkan rencana Allah karena ketidaktaatannya, namun ia memperoleh kepenuhan martabatnya kembali berkat ketaatan Kristus Penebus. Dengan demikian, citra ilahi manusia dipulihkah, dibaharui, dan disempurnakan berkat ketaatan Kristus. “Manusia serupa dengan citra Putera Allah” (Rm 8: 29), agar ia dapat terbebas dari dosa, membangun kebersatuaan dengan Allah, dan menemukan kembali jati dirinya yang sejati (EV, art. 36). Dengan demikian, martabat hidup manusia bernilai tinggi, sangat berharga, dan suci. Martabat hidup manusia sangat suci, sebab ia mendapat kehidupan yang sempurna dari Allah dan Yesus Kristus Putera-Nya dan Allah bersemayam dalam hidup manusia. Paus menegaskan pentingnya membangun budaya kehidupan demi menghormati martabat hidup manusia yang luhur. Keluhuran martabat hidup manusia tidak dapat diganggu oleh bentuk apapun, baik secara fisik maupun psikis. f. Pemahaman Manusia sebagai Rekan Kerja Allah Konsekuensi manusia dicipta sebagai citra Allah, ia pun dipanggil menjadi rekan kerja-Nya. Artinya, secara pribadi manusia diundang dalam sebuah dialog hidup, sehingga ia dapat melakukan tugas-tugasnya. Oleh Hadisumarta dikatakan bahwa tugas manusia berakar dari karya penebusan Kristus, sebab oleh wafat-Nya manusia dibebaskan dari dosa dan menjadi anak Allah. Relasi manusia sebagai

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 rekan kerja Allah menunjukkan kerekanan manusia dengan sesamanya (Mali, 2009: 239). 1) Perjanjian Lama Allah tidak hanya menciptakan manusia menurut gambar-Nya, namun ia menghendaki agar manusia menjadi rekan kerja Allah di dunia. Kisah penciptaan telah menegaskan hal tersebut, demikian: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kej 1: 26). Allah memberi manusia kesempatan untuk mengembangkan daya kekuatan-Nya untuk mewujudkan kerja sama dalam mengelola alam semesta. Dengan kata lain, daya ilahi yang manusia terima dari Allah menjadikannya sebagai perpanjangan tangan Allah (rekan kerja Allah) dalam melanjutkan karya-Nya untuk mengelola seluruh alam ciptaan di dunia. Hal inilah keluhuran martabat manusia tampak dalam kedaulatan yang dianugerahkan Allah kepada manusia atas seluruh ciptaan-Nya. Manusia menjadi rekan kerja Allah, berarti ia dipanggil untuk mengembangkan seluruh kemampuan dan potensi dirinya dalam menata dan mengelola alam semesta demi tercapainya kebahagiaan hidup. Kerja manusia merupakan bentuk partisipasinya dalam mewujudkan karya Allah di dunia. Allah memanggil manusia untuk bekerja bersama-Nya dan melanjutkan karya-Nya (Karris, 2002: 36).

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 2) Perjanjian Baru Santo Paulus mengatakan “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (1 Kor 3: 9). Paulus secara tegas mengatakan bahwa ciri khas dari tugas dan tujuan para abdi Tuhan adalah membangun kesatuan dan kerja sama. Tujuan dari setiap tugas dalam pelayanan adalah sama sehingga tidak ada yang merasa paling unggul. Aneka kekayaan dalam pelayanan justru dapat saling memperkaya satu dengan yang lain. Paulus juga melukiskan bahwa para pelayan hendaknya seperti bangunan, di mana fondasinya ialah Yesus Kristus dan di atas fondasi itu dibangun bait suci Allah, yaitu umat Kristen. Artinya, Yesus yang menjadi landasan kokoh bagi para mitra kerja Allah dalam melaksanakan karya pelayanannya. Yesus menjadi kekuatan dalam setiap pelayanan mereka (Karris, 2002: 284 ) 3) Konstitusi Pastoral “Gaudium et Spes” Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, secara eksplisit dan implisit mengajarkan tentang martabat manusia, sebagai berikut: a) Manusia sebagai citra Allah dipanggil menjadi rekan kerja Allah. Manusia sebagai rekan kerja Allah menerima mandat untuk mengelola bumi beserta isinya dengan rasa keadilan dan tanggung jawab. Karya manusia menjadi lambang keagungan Allah dalam menyatakan segala rencana-Nya. Manusia sebagai partner Allah bertanggung jawab pula mewujudkan kesejahteraan bagi sesamanya (GS, art. 34)

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 b) Manusia sebagai teman sekerja Allah diberi otonomi untuk mengatur, mengolah, dan menata seluruh alam semesta sesuai dengan kehendak Allah. Konstitusi mengingatkan agar manusia memperkembangkan ilmu pengetahuan di segala bidang atas landasan iman. Manusia perlu menyelaraskan antara iman kristiani dengan ilmu pengetahuan. Konstitusi menekankan pula bahwa otonomi yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai partner-Nya, mengajaknya berjalan seiring dengan yang dikehendaki-Nya (GS, art.36). Ajaran Konsili di atas memberi penegasan bahwa manusia sebagai citra Allah, dipanggil pula menjadi rekan kerja Allah. Ia diberi kesempatan mengembangkan daya jiwanya dengan ilmu pengetahuan dan membangun keseimbangan antara iman kristiani dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, agar selaras dengan tujuan Allah mencipta manusia. 4) Ensiklik “Evangelium Vitae” Paus Yohanes Paulus II melalui ensikliknya menegaskan bahwa Allah menghendaki agar hidup manusia dapat menampakkan satu kesaksian, yakni ia menghormati dan mencintai setiap tugas yang diberikan oleh Allah. a) Manusia adalah puncak dari seluruh ciptaan. Ia menerima karunia akal budi, sehingga ia menerima sifat dan keutamaan Allah, yang dapat menjadi kekuatannya dalam mengatur seluruh alam semesta dalam kedaulatannya. Manusia dipanggil menjadi mitra kerja Allah karena ia dianugerahi kemampuan untuk dapat mengembangkan alam semesta (EV, art. 35).

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 b) Manusia diberi kepercayaan besar oleh Allah untuk berkuasa atas semua buatan tangan-Nya. Karena satu konsekuensi atas amanat ini, ialah bahwa manusia bertanggung jawab segalanya. Allah mempercayakan kepada manusia seluruh semesta, agar manusia secara turun temurun dapat mengalami keistimewaan martabat hidup pribadinya. Kedaulatan yang diberikan kepada manusia atas seluruh bumi bukan bersifat mutlak. Manusia diminta untuk memelihara dan mengelola dengan bijaksana demi keutuhan seluruh ciptaan Allah (EV, art. 42). Paus menegaskan bahwa manusia yang telah diciptakan menurut citraNya, mempunyai suatu konsekuensi tugas. Ia menerima tugas mulia dari Allah, yaitu memelihara dan mengelola semesta dengan bijaksana dan menjaga keutuhan seluruh bumi. Kerekanan antara Allah dengan manusia menjadi tanda kerekanan manusia dengan sesama. g. Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1) Berdasarkan Konstitusi Kongregasi Suster SPM Pedoman hidup Kongregasi SPM menegaskan bahwa “... hidup dan karya yang diarahkan pada kepenuhan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah” (Konstitusi SPM, 1984: 19). Artinya, Roh menggerakkan para Suster SPM dalam menghayati hidup dan karya, yakni memelihara dan memperjuangkan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Spiritualitas inilah yang melandasi para suster SPM dalam menghayati hidup dan melaksanakan karya sesuai dengan tujuan Kongregasi. Tujuan Kongregasi adalah mewujudkan hidup baru dimana

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 kesamaan martabat manusia terpenuhi seturut teladan Yesus dan Maria dan membaktikan diri secara total dalam hidup dan karya bagi mereka yang miskin dan terlantar (Konstitusi SPM, 1984: 17). Penulis menilai bahwa spiritualitas para Suster SPM memiliki beberapa penekanan untuk diperjuangkan oleh seluruh anggota kongregasi dalam memaknai kesamaan martabat manusia citra Allah. Pertama, ada relasi mesra antara Allah dan manusia, sehingga memungkinkan bagi setiap orang mencintai Allah Penciptanya. Sebab setiap manusia ada artinya, sangat berharga, dan istimewa (Konstitusi SPM, 1884: 17). Allah pun menyatakan cinta kepada setiap pribadi dengan menyebutnya sebagai sahabat. Setiap pribadi adalah sahabat Allah apabila ia mengarahkan hidupnya kepada Allah dan Yesus sebagai “jalan kebenaran dan hidup”. Kedua, pengakuan bahwa setiap orang baik laki-laki maupun perempuan memiliki martabat yang sama. Mereka dicipta sebagai partner satu dengan yang lain. Artinya bahwa tak seorangpun menjadi lebih tinggi atau lebih rendah. Manusia dipanggil sebagai citra Allah, maka Allah menghendaki manusia “mencari Kerajaan Allah yakni kerahiman, keadilan, serta kedamaian seturut teladan Yesus dan Maria” (Konstitusi SPM, 1884: 17). Ketiga, setiap pribadi citra Allah diundang menjadi rekan kerja-Nya untuk terlibat dalam karya agung Allah. Menciptakan kebaruan bagi pribadi-pribadi yang diangkat menjadi anak-anak Allah serta keutuhan ciptaan lainnya. Selain itu, spiritualitas kongregasi pun memberikan gambaran mengenai keteladanan Yesus dan Maria, sebagai hamba yang taat. Penulis menguraikannya sebagai berikut:

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 a) Keteladanan Yesus Kristus Yesus rela menjadi manusia agar martabat manusia yang terluka akibat dosa kembali utuh berkat penebusan-Nya. Dengan kata lain, misi Allah di tengah dunia, yakni meluaskan Kerajaan-Nya, memperjuangkan terwujudnya kerahiman, keadilan, dan kedamaian umat manusia, dinyatakan oleh Yesus kepada orang yang paling hina, miskin, lemah, menderita, dan tersingkir. Ia memberi pengharapan hidup bagi mereka yang lemah dan tertindas (Konstitusi SPM, 1984: 17), agar martabat manusia sebagai citra Allah dalam diri orang yang hina tetap memancar. Hal ini berarti Yesus sebagai citra Allah yang sempurna mau meninggikan martabat manusia menjadi sahabat-sahabatNya (Yoh 15: 15) dengan mempertaruhkan seluruh hidup-Nya. Cinta-Nya yang total kepada Allah, diejawantahkan dengan menyerahkan seluruh hidup-Nya demi kebahagiaan manusia. Dengan demikian, kebahagiaan dapat dialami manusia, berkat usaha dan kebaikan hati Allah Penciptanya, karena Yesus memanifestasikan kehadiran Allah (KWI, 1996: 285). Pola pewartaan dan pelayanan Yesus ini menjadi model dan teladan bagi setiap rekan kerja Allah dalam melaksanakan pelayanan untuk mengungkapkan iman dan harapan akan kebaikan dan cinta kasih Allah (KWI, 1996: 263). b) Keteladanan Santa Perawan Maria Bunda Maria memberi teladan dalam menampakkan citra Allah, baik dalam dirinya maupun dalam diri sesamanya. Berkat iman yang kuat sebagai hamba yang taat dan rendah hati, Maria mau memperlihatkan keagungan karya Allah

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 yang terjadi dalam hidupnya. Iman Maria membuatnya taat kepada kehendak Allah, “terjadilah padaku menurut perkataanMu” (Luk 1: 38), sehingga ia melahirkan Putera Allah di dunia (KWI, 1996: 231). Penyerahan Maria yang total kepada kehendak Allah menjadi lambang kesuciannya, sekaligus model bagi Gereja dalam menghayati iman dan cinta kasih (LG, art. 53). Allah telah memilih dan mengangkat Maria yang rendah, menunjukkan bahwa Allah sendiri yang memberikan seluruh hidup-Nya bagi orang-orang yang mengalami kematian karena kemiskinannya, agar mengalami hidup baru (Darminta, 2002: 26). Peran Santa Maria inilah yang menjadi teladan para Suster SPM dalam melaksanakan hidup dan karya. Para suster menggantungkan hidupnya secara penuh kepada Allah. Kerendahan hati menjadi sarana bagi para Suster SPM untuk mengenal Allah yang ia jumpai dalam diri sesama. Selain itu, keibuan Maria terpancar dalam ketaatan dan imannya yang kemudian menjadi pola bagi kongregasi serta para mitra kerja SPM dalam menghayati kasih dan persatuan yang utuh dengan Kristus (LG, art. 63). 2) Berdasarkan Penghayatan Hidup Santa Yulia Billiart dan Pater Mathias Wolff, S.J. a) Santa Yulia Billiart Santa Yulia Billiart adalah ibu rohani para Suster SPM. Kesaksian hidupnya telah menampakkan bahwa ia seorang pribadi gambar Allah. Kesadaran akan martabat yang luhur mendorong Santa Yulia mengenali Tuhan secara pribadi sebagai Allah yang mahabaik dalam kehidupan konkret. Santa Yulia

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 mengutamakan pendidikan bagi generasi muda yang terlantar, miskin material, dan spriritual, yang hidup tanpa pendidikan dan pembinaan kristiani (Konstitusi SPM, 1984: 12). Pemahaman Ibu Yulia tentang Tuhan yang baik sesungguhnya terpancar dalam dirinya. Tuhan yang baik hadir dalam peristiwa hidupnya setiap hari; dalam suka dan duka hidup, keheningan, penderitaan, penghinaan, dan keterbatasan. Penyerahan dirinya yang sempurna merupakan wujud imannya kepada Tuhan yang baik (Irmine, 1998: 50). Ia membiarkan hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus dan dijiwai oleh peristiwa inkarnasi Yesus Kristus dalam Perawan Maria untuk menyelamatkan seluruh ciptaan (Mary, 1996: 8). Santa Yulia menghayati hidupnya dengan memelihara kesatuannya dengan Allah. Ia memberi teladan kepada para susternya dalam membangun sikap hati sederhana. Hati sederhana yang membuahkan sikap iman akan Allah yang Baik. Imannya yang kuat dan mendalam akan penyelenggaraan kasih Allah yang baik, membuat hidup ibu Yulia penuh dengan rasa syukur (Konstitusi SPM, 1984: 12). Semangat yang berkobar dalam diri Santa Yulia menjadi satu lambang bahwa ia sungguh mencintai Sang Pencipta. Ia menyadari bahwa cintanya kepada Pencipta menjadi nyata apabila karya kerasulannya memiliki universalitas penebusan, yang merupakan universalitas cinta dan kebaikan Tuhan. Seluruh karya kerasulannya ingin mengejawantahkan karya Allah yang tanpa batas dan sekat (Irmine, 1998: 57-58). Selain itu, Santa Yulia menyadari diri sebagai teman sekerja Allah. Karya kerasulan dihayatinya dengan sungguh-sungguh mewujudkan panggilan Allah

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 sebagai mitra kerja-Nya. Ia melakukan semua demi melanjutkan rencana penciptaan Ilahi dan demi meluaskan Kerajaan Allah. Santa Yulia berkomitmen bahwa setiap pendidikan dan pengajarannya adalah bentuk penyelamatan bagi jiwa-jiwa (Mary, 1996: 8). Ia membimbing anak-anak didiknya, agar mengalami pengalaman yang membawa mereka menuju kepada kehidupan baru, kebebasan, dan martabat sebagai anak-anak Allah (Konstitusi SPM, 1984: 12). b) Pater Mathias Wolff, S.J. Pater Mathias Wolff, S.J. adalah salah satu pendiri Pédagogie Chrétienne (Suster-Suster Pendidikan Katolik) yang sekarang disebut Kongregasi SusterSuster Santa Perawan Maria dari Amersfoort. Pater Wolff memberi teladan dalam hal penyerahan diri secara total kepada Allah, khususnya dalam pengalaman sulit saat awal pendirian kongregasi. Ia telah melewati banyak tantangan dalam proses mewujudkan cita-citanya. Namun, berkat imannya yang kokoh, akhirnya ia mampu mendirikan satu kongregasi pada tanggal 29 Juli 1822 dengan nama Pédagogie Chrétienne di kota Amersfoort, untuk memberi pelajaran agama pada anak-anak putri. Kharisma pribadinya yang kuat terpancar dalam kesederhanaan hidup. Kesederhanaan hidup Pater Mathias Wolff membuatnya senantiasa taat, gembira, dan terus beriman kepada Allah. Semua dilakukannya karena digerakkan oleh cintanya yang besar kepada Yesus. Ia pun mewujudkan cintanya dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Yesus dalam setiap perkataan dan perbuatannya (Luk 24: 19).

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 h. Ikhtisar Manusia sebagai citra Allah dipanggil menjadi rekan kerja Allah. Artinya, panggilan dan tanggung jawab manusia diletakkan dalam keterarahan manusia kepada Allah melalui Kristus sebagai Citra Allah yang sempurna. Allah memanggil manusia agar ia menyerupai Kristus dan menghadirkan Kristus. Allah mau memperlihatkan eksistensi diri-Nya melalui diri Kristus yang hadir dalam diri manusia, agar hidupnya damai sejahtera. Panggilan manusia sebagai citra Allah menyangkut beberapa dimensi kehidupan manusia. Dimensi pertama, manusia sebagai citra Allah dalam hubungan relasinya dengan Allah. Manusia ingin menampakkan gambar Allah dalam dirinya dengan mengoptimalkan anugerah Allah. Ia dikaruniai kemampuan untuk mengenal dan mencintai Sang Pencipta. Sebab manusia adalah makhluk rohani yang memiliki kesatuan antara jiwa, roh, dan tubuh (1 Tes 5: 23-24). Karena itu, ia dipanggil untuk memanifestasikan kehendak Allah di tengah dunia, sehingga ia dijadikan Allah sebagai sahabat-sahabat-Nya (Konstitusi SPM, 1984: 17). Manusia mampu mewujudkan panggilan dan tanggung jawabnya sebagai citra Allah, apabila ia dapat menghadirkan Kerajaan Allah di tengah realitas dunia. Dimensi kedua, manusia sebagai citra Allah dalam relasinya dengan sesama. Citra Allah mengisyaratkan suatu penghargaan terhadap pribadi manusia dengan kegiatan-kegiatannya. Martabat manusia menjadi parameter segala kegiatannya. Satu pribadi manusia tidak dapat dikurbankan demi kepentingan apa pun. Semua manusia mempunyai martabat yang sama di hadapan Allah, seperti

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 digambarkan oleh Paulus bahwa “tidak ada orang Yahudi dan Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki ataupun perempuan” (Gal 3: 28). Karena itu, segala bentuk diskriminasi, penindasan, dan ketidakadilan kepada orang atau golongan tertentu tidak dikehendaki oleh Allah. Allah berfirman, “menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan, diciptakanNya mereka” (Kej 1: 27), bahwa keduanya diciptakan setara dan semartabat. Oleh sebab itu, laki-laki dan perempauan mempunyai kesamaan martabat di hadapan Allah, yakni sebagai citra-Nya. Dimensi ketiga, manusia sebagai citra Allah dalam hubungan relasinya dengan ciptaan lain. Allah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burungburung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kej 1: 26). Suatu isyarat bahwa manusia dicipta setara untuk saling melengkapi dan bekerja sama dengan Sang Pencipta. Ia memberi tugas kepada manusia untuk menghadirkan-Nya dalam setiap tugasnya. Manusia dengan anugerah akal budi dan kehendak bebasnya dipercaya oleh Allah menjadi wakil-Nya, mengelola seluruh semesta alam dengan penuh tanggung jawab demi kesejahteraan manusia di dunia (Karris, 2002: 36). Dimensi-dimensi tersebut memberi pemahaman bahwa citra Allah melibatkan semua manusia. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, maka setiap manusia dipanggil untuk mencintai Sang Pencipta dan menghargai pribadi sesamanya. Martabat manusia sebagai citra Allah membuat ia dipanggil menjadi mitra kerja Allah. Panggilan Allah ditujukan kepada manusia, baik

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 laki-laki maupun perempuan dengan segala keanekaragaman suku, bangsa, bahasa, warna kulit, atau agama. Semua memperoleh martabat sama dihadapan Allah yakni sebagai citra-Nya. Spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah merupakan Roh yang menggerakkan para Suster SPM dalam menghayati hidup dan karya. Spiritualitas ini sebagai potret keteladanan hidup Yesus dan Santa Maria; kemudian dihayati oleh Santa Yulia Billiart sebagai ibu rohani para Suster SPM. Karena itu, para Suster SPM berjuang dalam hidup dan karya di bawah Roh semangat keteladanan Yesus dan Maria. Hendak memperlihatkan arti manusia di hadapan Allah, bahwa setiap manusia berharga dan mulia. Bahkan manusia yang paling hina, merupakan identifikasi diri Allah. Begitu juga dengan Santa Yulia, yang senantiansa mewartakan Allah yang baik dalam setiap tugas hidupnya. Kebaikan Allah ia wartakan kepada orang miskin dan terlantar di jamannya. Demikian pula dengan Pater Mathias Wolff, S.J. Ia hamba yang mengandalkan hidup kepada kekuatan Allah. Keadaan sulit secara lahiriah tidak pernah mengurungkan niatnya untuk tetap menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Penyerahan diri ia lukiskan dalam kata “Hati begitu melekat kepada Allah sehingga baginya tidak ada lagi sesuatu yang dapat menyenangkannya, kecuali apa yang dikehendaki Tuhan” (Cloos, 2010: 273). Gambar Allah yang telah dimeteraikan dalam setiap pribadi, menggerakkan para suster dalam merealisasikan visi dan misi kongregasi. Di mana hidup dan karya terarah pada persekutuan hidup baru yang berpusat pada kepenuhan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 (Konstitusi SPM, 1984: 19). Dasar dari kesamaan martabat manusia tampak dalam pribadi manusia gambar Allah dan keserupaan manusia dengan Allah (Tim Spiritualitas SPM Provindo, 2012: 24). Maka setiap pribadi dalam kongregasi dan para mitra kerja dalam dunia pendidikan, hendaknya menghayati diri sebagai segambar/ serupa dengan Allah dan rekan kerja Allah yang menyatakan kesetaraan. Sekaligus menjadi pribadi yang mampu memberi penghargaan kepada setiap sesama sebagai pribadi citra Allah yang berharga. Dengan demikian kepenuhan pribadi sebagai citra Allah dapat dirasakan, dialami, dan dihayati oleh banyak orang (Keputusan Kapitel SPM Provindo, 2010: 32). B. Profesionalitas Guru 1. Pengertian Profesionalitas Ada beberapa pengertian yang bertalian dengan kata profesionalitas. Profesionaliatas berasal dari kata profesi, artinya “suatu pekerjaaan atau jabatan yang ditekuni oleh seseorang dengan syarat pengetahuan dan keterampilan khusus, diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif” (Webstar, 1989 dalam Kunandar, 2007: 45). Ada pula yang berpendapat bahwa, profesi berasal dari kata profess sebuah kata Yunani prophaino berarti menyatakan secara publik. Kata Yunani prophaino menjadi kata profession dalam Bahasa Latin, merupakan pernyataan publik seseorang dengan maksud menduduki jabatan publik. Jabatan yang menuntut keahlian khusus, dilaksanakan penuh tanggung jawab, kesetiaan, komitmen, dan ditandai (Koehn, 2000: 78). oleh janji dihadapan publik untuk melayani

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Profesionalitas lebih menunjuk pada suatu sikap dan derajat pengetahuan serta keahlian yang dimiliki oleh seseorang untuk melangsungkan pekerjaannya. Profesionalitas secara signifikan diwujudkan oleh seorang dalam melaksanakan profesinya. Seseorang disebut profesional apabila ia mempunyai predikat dan perfoma sesuai dengan tuntutan keahliannya. Keahlian seseorang dapat ditempuh melalui tahap profesionalisasi yakni suatu proses peningkatan kualifikasi maupun kemampuan melalui suatu pendidikan dan pelatihan (Kunandar, 2007: 46). Sedangkan profesionalisme adalah mutu dari suatu keahlian dan kewenangan seseorang demi mencapai kondisi, nilai, dan tujuan tertentu melalui profesinya (Kunandar, 2007: 46). Dan Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik menegaskan bahwa profesionalisme merupakan pendidikan profesi yang berkualitas bagi seorang pendidik Katolik, sehingga ia dapat menghayati dan mewujudkan tri tugas Gereja melalui profesinya (Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik, Bab III Awam Katolik di Sekolah, art. 27). 2. Prinsip Profesionalitas Pasal 7 UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menuliskan prinsip profesionalitas sebagai berikut: Ayat (1) Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 d. e. f. g. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; h. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan i. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Ayat (2) Pemberdayaan profesi guru diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi. Prinsip-prinsip di atas, menjadi landasan bagi guru profesional, untuk menghayati profesinya. Prinsip-prinsip tersebut mendorong para guru untuk mengembangkan diri. Karena itu oleh Suparno ditegaskan bahwa, prinsip-prinsip profesionalitas berguna bagi para guru dalam “berpikir kritis, rasional, dan berani berinovasi demi terjaminnya kualitas profesi guru” (Widiastono, 2004: 131). Dengan adanya prinsip-prinsip tersebut, pihak pembuat undang-undang dan pihak lain yang terkait, wajib mendukung dan menghargai para guru dalam usaha mewujudkan profesinya. 3. Pengertian Guru UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mendefinisikan guru adalah sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 pendidikan menengah (2013: 2-3). PP No. 74 Tahun 2008 yang berisi peraturan tentang Guru, bahwa sebutan guru mencakup: guru itu sendiri (guru kelas, guru bidang studi, dan guru bimbingan dan konseling atau bimbingan karir), guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah, dan guru dalam jabatan pengawas (Danim, 2010: 18). Bahasa Sansekerta mengistilahkan guru dengan perumpamaan peralihan yaitu dari situasi gelap menjadi terang. Kata “guru” terdiri dari suku kata “gu” artinya kegelapan dan “ru” artinya terang. Dari kedua arti kata tersebut, dapat dimaknai bahwa guru ialah seorang yang mampu membebaskan seseorang dari kegelapan karena ketidaktahuan dan ketidaksadaran (Anita Lie dalam Sufiyanta, 2012: xxi). Guru dalam bahasa Sansekerta memiliki makna yang lebih dalam, karena tidak hanya sebatas bisa mengajar atau sebagai pengajar (teacher), namun seorang guru adalah ahli, konselor, sahabat, pendamping, dan pemimpin spiritual (Anita Lie dalam Sufiyanta, 2012: xxi). Oleh Suparno dikatakan bahwa tokoh pendidikan Driyarkara memberi istilah guru sebagai seorang yang menjalankan fungsinya membentuk anak didik berkembang menjadi manusia yang lebih utuh (Widiastono, 2004: 126). Artinya bahwa seorang guru melalui tugasnya, hendak menghantar anak didik untuk berani berproses mengenal dan menerima pribadinya secara utuh. 4. Hakikat Profesi Guru Profesi guru merupakan salah satu jabatan yang membutuhkan keahlian khusus. Disebut profesi sebab memiliki kualifikasi profesional dengan ciri:

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 1) memerlukan pendidikan atau persiapan bagi pelaku, 2) persyaratan yang dibakukan oleh pihak yang berwenang dapat dipenuhi, 3) mendapatkan pengakuan dari masyarakat dan negara (V.V. Good dalam Samana, 1994: 27). 5. Hakikat Tugas Guru Guru dalam melaksanakan tugas, wajib memiliki kompetensi khusus sesuai bidangnya. Ia dituntut untuk terampil mengelola proses belajar mengajar dan dapat memberi teladan menghayati nilai-nilai kehidupan melalui proses pembelajaran. Ia pun perlu memiliki kompetesi dalam tugas pendidikan dan pengajaran (Kunandar, 2007: 46), agar dapat melaksanakan tugas pokoknya sebagai seorang pendidik dan pengajar, yang terdidik, terlatih, serta berpengalaman. Terkait dengan tugas guru, Winkel (1996: 197-200) berpendapat bahwa guru mempunyai tugas digolongkan sebagai seorang pendidik dan didaktikus. a. Guru sebagai pendidik Pendidik adalah seorang yang melakukan perbuatan mendidik. Perbuatan mendidik ialah bahwa dengan tindakannya itu pendidikan (hendak) memanusiakan manusia muda, pengangkatan manusia muda ke taraf insani (Driyarkara: 1980: 78). Artinya bahwa guru sebagai seorang pendidik hendak memanusiakan anak didik menjadi human. Oleh Sastrapratedja dikatakan bahwa manusia yang memiliki martabat akal budi, kebebasan, dan kehendak, sehingga ia dihargai sebagai subyek didik (Widiastono, 2004: 21). Selanjutnya Suparno

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 (2003: 26) berpendapat bahwa seorang guru melaksanakan tugas untuk membimbing dan mendorong siswa mencapai kedewasaan utuh dalam emosional, sosial, fisik, seni, spiritual, dan moral. Artinya guru membantu siswa untuk mengalami perkembangan secara holistik. Guru sebagai seorang pendidik profesional juga dituntut untuk menguasai inti suatu kajian, dapat melaksanakan proses pembelajaran yang mendidik, memiliki komitmen, dan mampu memperhatikan perkembangan anak didik. Seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai materi yang akan diajarkan, namun perlu pula untuk memiliki kepribadian kuat sehingga ia mampu menghayati nilai-nilai kehidupan yang dapat dijadikan panutan bagi anak didik (Winkel, 1996: 195). Pendidik yang baik tidak hanya mengajarkan kepada anak didik pengetahuan, tetapi berkewajiban melatih keterampilan, sikap, dan mental anak didik. Winkel (1996: 197) mengatakan bahwa sebagai seorang pendidik guru ialah inspirator yang dapat memberi semangat dan korektor yang mampu mengarahkan dan membetulkan sikap atau tindakan peserta didik yang kurang sesuai dengan tuntutan kehidupan manusia dewasa. Guru selaku pendidik berharap bahwa nilainilai yang ditanamkannya, lambat laun terinternalisasi dalam kehidupan anak didik. Nilai-nilai dapat terinternalisasi dengan baik apabila pendidik memiliki paradigma bahwa anak didik bukan sebagai obyek. Paradigma ini dikatakan oleh Nasution (2005: 69) bahwa seorang pendidik perlu menempatkan peserta didik sebagai subyek, sebab ia dapat berkembang menjadi pribadi utuh berkat

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 pengalaman hidupnya. Pengalaman hidup baik di kelas atau di luar kelas akan menjadi suatu pengalaman belajar bernilai yang dapat mengutuhkan pribadinya. Oleh karena itu, seorang pendidik perlu menanamkan nilai-nilai kepada peserta didik, sebab nilai dapat menyebabkan manusia tertarik mengerjakan sesuatu karena isinya dan bukan sekedar mengikuti naluri alamiah. Sebab menurut Mardiatmadja pengalaman akan nilai menyebabkan manusia menjadi manusia seutuhnya (Widiastono, 2004: 69). Guru yang mendidik dapat memampukan anak didik belajar mengintegrasikan pengembangan intelektual dengan nilai-nilai kemanusiaan (Nasution, 2005: 216). b. Guru sebagai didaktikus Didaktikus artinya pandai mengajar. Kata dasar didaktikus ialah didaktik. Didaktik adalah bahasa Yunani yaitu didasko, asal katanya adalah didaskein atau pengajaran yang berarti perbuatan atau aktivitas yang menyebabkan timbulnya kegiatan dan kecakapan baru pada seseorang. Artinya “perbuatan atau aktivitas yang menyebabkan timbulnya kegiatan dan kecakapan baru pada orang lain” (suwandajampang.blogspot.com.). Jadi arti guru sebagai didaktikus adalah guru yang pandai dalam memberi pengajaran atau mengajar (Winkel, 1996: 200). Guru yang pandai mengajar mempunyai cakupan keahlian dalam menggunakan prosedur-prosedur didaktis; penguasaan materi, gaya memimpin kelas, berkomunikasi dengan siswa, dan kemampuan berbahasa (Winkel, 1996: 195). Keahlian guru dalam menggunakan prosedur-prosedur didaktis seperti: mengetahui kekuatan dan kelemahan setiap prosedur, memperhitungkan sifat

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 materi pelajaran dan tujuan pengajaran, memperhatikan kebutuhan siswa, keadaan kelas pada waktu tertentu, dan pengalaman guru secara pribadi (Winkel, 1996: 202). Pengajar yang baik mampu melaksanakaan proses belajar dan berusaha melakukan interaksi dengan anak didik. Saling mengkomunikasikan perasaanperasaan dan sikap sebagai bentuk kontak manusiawi baik secara verbal maupun nonverbal (Winkel, 1996: 206). Selain itu guru perlu memilih dan menggunakan gaya mengajar yang tepat dalam proses belajar mengajar. Gaya pengajaran guru perlu menyesuaikan materi yang akan diberikan, memperhatikan besar kecilnya kelas, dan memahami tahap perkembangan serta taraf kemampuan peserta didik (Winkel, 1996: 205). Guru yang mengajar perlu memiliki kemampuan dalam mengelola proses pengajaran, yang mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi dalam situasi kondusif dan edukatif. Pengajaran seorang guru diarahkan untuk mencapai tujuan agar anak didik mengalami perubahan tingkah laku, baik dari dimensi kognitif, afektif, maupun psikomotorik (Nasution, 2005: 53). Kegiatan pengajaran seorang guru selalu diarahkan pada terbentuknya kepribadian utuh di mana ketiga dimensi di atas dapat berkembang secara optimal dalam diri anak didik. Guru melaksanakan tugasnya sebagai pengajar maka ia berperan sebagai manajer belajar anak didik. Ia membimbing, mengambil prakarsa, dan mengeluarkan ide-ide baiknya agar peserta didik mampu mengembangkan potensi diri, kreatif, dapat menemukan pengetahuan dan hal-hal baru dari proses

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 belajarnya (Kunandar, 2007: 51). Sementara itu Suparno (2003: 26) memiliki gagasan bahwa tugas guru sebagai pengajar, mampu melatih dan menolong siswa untuk belajar mengetahui dan mengembangkan pengetahuan. Seperti dalam pengertian UNESCO arti belajar ialah belajar untuk mengetahui (to know), melakukan sesuatu (to do), menjadi diri sendiri (to be), dan untuk hidup bersama (to live together). Seorang guru yang memiliki keterampilan didaktik menurut pendapat Bloom dalam Winkel (1996: 201) ialah guru yang mampu menunjukkan kualitas pengajarannya dengan cara penyajian materi secara tepat, memberi peneguhan (reinforcement), menggerakkan anak didik untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan mengarahkannya melakukan refleksi kritis. Refleksi membuahkan kesadaran yang dijadikan sebagai acuan bagi anak didik dalam melakukan aksi. Aksi yang perlu didukung oleh guru, orang tua, teman, dan semua pihak (Nasution, 2005: 216). 6. Standar Guru Profesional Seorang guru dalam melaksanakan profesinya, secara bertahap diharapkan dapat mencapai suatu derajat kriteria profesional. Guru profesional dituntut untuk memenuhi 3 standar yang telah ditetapkan dalam UU RI No. 14 Tahun 2005 dan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 yaitu: a. Standar Kualifikasi Kualifikasi adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik. Kualifikasi harus dibuktikan dengan kepemilikan ijasah atau

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan undang-undang (Romadon, 2013: 31). Ketentuan standar kualifikasi seperti dalam PP RI No. 19 Tahun 2005, pasal 29 untuk jenjang pendidikan PAUD sampai dengan SMA dituliskan: 1) Pendidik pada pendidikan usia dini memiliki: a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1); b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan c. sertifikat profesi guru untuk PAUD. 2) Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1); b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c. sertifikat profesi guru untuk SD/MI. 3) Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1); b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c. sertifikat profesi guru untuk SD/MI. 4) Pendidik pada SMP/MTs, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1); b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan ; dan c. sertifikat profesi guru untuk SMP/MTs. 5) Pendidik pada SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1); b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan ; dan c. sertifikat profesi guru untuk SMP/MA. Seorang pendidik profesional wajib memenuhi kualifikasi akademik sesuai dengan patokan baku pada setiap jenjang pendidikan. Guru yang telah memenuhi kualifikasi akademik secara signifikan diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 b. Standar Kompetensi PP RI No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, Bab II, Bagian Kesatu Kompetensi, Pasal 3 mendefinisikan bahwa “Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya”. Kompetensi meliputi: kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional dapat dimiliki oleh seorang guru melalui pendidikan profesi. Sifat dari keempat kompetensi tersebut bersifat holistik. Namun kompetensi kepribadian menjadi modal dasar bagi seorang guru dalam melaksanakan tugas keguruannya secara profesional (Samana, 1994: 54). 1) Kompetensi Kepribadian Menurut PP RI No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, Bab II, Bagian Kesatu Kompetensi, Pasal 3, ayat (5) tertulis bahwa: Kompetensi kepribadian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mencakup kepribadian yang: a. beriman dan bertakwa, b. berakhlak mulia, c. arif dan bijaksana, d. demokratis, e. mantap, f. berwibawa, g. stabil, h. dewasa, i. jujur, j. sportif, k. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, l. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri, m. mengembangkan secara mandiri dan berkelanjutan. Sedangkan Depdiknas menyatakan bahwa inti kemampuan kepribadian meliputi kepribadian utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral, mampu mengaktulisasikan diri dengan disiplin, bertanggung jawab, peka, obyektif, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi, dengan orang lain,

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 mengembangkan profesi dengan kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dan berani mengambil keputusan (Suparno, 2003: 47). Substansi dari kompetensi kepribadian adalah kepribadian yang mantap dan stabil, dewasa, arif, berwibawa, dan berakhlak mulia. Kompetensi kepribadian yang dikembangkan oleh para guru dapat menciptakan satu kinerja yang baik. Hal tersebut tampak dalam bentuk interaksi guru dengan anak didik sehingga kelas dapat dikelola oleh guru dengan baik (Danim, 2010: 24). A.S. Lardizabal dalam Samana (1994: 54-57) menegaskan kembali bahwa seorang guru dapat melaksanakan tugasnya secara profesional apabila ia memiliki modal dasar yaitu kompetensi kepribadian. Gagasan tersebut diuraikan secara terperinci antara lain: 1) Guru mampu menghayati nilai-nilai hidup dan mengamalkannya dalam tindakan baik, 2) Guru bertindak secara jujur dan bertanggung jawab sehingga tindakannya merupakan perwujudan kesusilaaan, pengakuan akan keterbatasan dirinya, dan usaha terus menerus membenahi diri sehingga lahirlah sikap rendah hati dan sportif, 3) Guru berperan sebagai pemimpin baik dalam lingkup sekolah dan di luar sekolah. Kepemimpinan guru di lingkup sekolah ditunjukkan dalam upaya menciptakan suasana sekolah dan kelas yang kondusif, 4) Guru mampu menjadi sahabat anak-anak didik dan berkomunikasi dengan siapapun, dengan sikap terbuka, menghargai, empati, dan tulus, 5) Guru mampu menghargai perbedaan setiap pribadi, sehingga relasi satu dengan yang lain menjadi sarana memperkaya nilai-nilai hidup, 6) Pribadi guru yang bermental sehat dan stabil sehingga terintegrasi antara kekuatan fisik, psikis, dan spiritual. Ciri tersebut tampak dalam pribadi guru yang dinamis, memiliki

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 pola pikir kritis dan realistis, mampu menyesuaikan diri dan mengenal diri dengan segala kekuatan dan keterbatasannya, 7) Guru mampu bertindak, bertutur, berpenampilan sopan dan mampu menyesuaikan diri secara dinamis dengan lingkungannya, 8) Guru mampu bertindak kreatif, bijaksana, dan produktif dalam mengelola waktu dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya kepribadian yang berkualitas tampak pula dalam sosok guru yang memiliki integritas dalam melaksanakan dan menghayati tugasnya. Ia mampu berpikir kritis, analitis, dan konsisten. Guru mampu menunjukkan sikap empati dan simpati kepada setiap anak didik dan sesamanya. Guru yang mampu bertanggung jawab, berani menanggung resiko, dan sehat secara fisik serta psikis, sehingga ia sungguh menjadi agen pembaharu, baik di lingkungan sekolah dan di luar sekolah (Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 32-33). Oleh karena itu hakikat dari kompetensi kepribadian guru selalu berkaitan dengan jati diri seorang guru sebagai pribadi yang integral. Sosok pribadi yang matang secara manusiawi dan rohani. Tampak dalam kepribadian guru yang seimbang secara fisik dan psikis serta memiliki hidup rohani yang dewasa dan iman mendalam. Kepribadian guru yang integral terpancar dalam sikap menghayati profesinya. 2) Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik dimiliki oleh guru yang mampu mengelola pembelajaran bagi peserta didik. Bertolak dari PPPG, Danim (2010: 22) menulis lima subkompetensi dari kompetensi pedagogik yakni:

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Memahami peserta didik secara mendalam, merancang pembelajaran, memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran, merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran, dan mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya. Kelima unsur subkompetensi menjadi landasan dan perlu digali oleh guru, agar proses dan hasil pembelajaran menjadi optimal. Guru perlu menerapkan teori dan strategi belajar serta rancangan pembelajarannya, yang disesuaikan dengan karakteristik anak didik, kompetensi yang akan dicapai, dan materi ajar. Guru perlu menata dan melaksanakan pembelajaran dalam suasana kondusif, dapat melaksanakan evaluasi secara berkesinambungan dan menjadi fasilitator bagi anak didik dalam usaha mengembangkan berbagai potensinya (Danim: 2010: 22). 3) Kompetensi Sosial Kompetensi sosial menjadi milik seorang guru yang mampu berkomunikasi dan bergaul akrab dengan anak didik, rekan seprofesi, tenaga pendidik, orang tua atau wali, dan masyarakat. Pola komunikasi dialogis menjadi sarana baginya dalam berkomunikasi secara efektif. Kompetensi inilah yang menghantar guru, untuk melakukan transformasi pembelajaran (Danim: 2010: 24). 4) Kompetensi Profesional Kompetensi profesional ditunjukkan oleh guru yang menguasai ilmu pada bidangnya. Dengan demikian guru memahami materi ajar sesuai dengan kurikulum sekolah. Kompetensi ini menuntut seorang guru mampu memahami

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 struktur, konsep, dan metode yang sesuai dengan materi. Guru mampu menghubungkan materi ajarnya dengan materi bidang yang lain. Guru dituntut mampu memberi contoh konkret untuk menerapkan konsep ilmu dan materi ajarnya dalam pengalaman hidup setiap hari (Danim: 2010: 24). c. Standar Sertifikasi Sertifikasi merupakan hal mutlak untuk meningkatkan mutu dan martabat guru dalam menghadapi arus global dan aneka kemajuan jaman ini. Bentuk sertifikasi guru terdiri dari tes tertulis dan tes kinerja yang disertai portofolio atau laporan lengkap dengan penilaian dari atasan (Kunandar, 2007: 81). Bukti formal yang diberikan oleh pemerintah dalam bentuk sertifikat pendidik, secara eksplisit menyatakan pengakuan pemerintah kepada tenaga profesional. Guru berhak mendapatkan sertifikat pendidik apabila ia mampu melewati sejumlah prasyarat tertentu dan mampu melewati prosedur serta tahapan sertifikasi. Prasyarat yang ditentukan antara lain kualifikasi akademik, mengikuti ujian sertifikasi, dan dinyatakan lulus (Romadon, 2013: 33-34). C. Spiritualitas Kongregasi SPM sebagai Dasar Profesionalitas Guru Perkumpulan Dharmaputri Penulis memberi gambaran secara umum Perkumpulan Dharmaputri, dengan mendefinisikan pengertian dan tujuan, serta spiritualitas Kongregasi SPM sebagai dasar profesionalitas yang membentuk karakter dan identitas guru Perkumpulan Dharmaputri, melalui uraian di bawah ini:

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 1. Arti dan Tujuan Perkumpulan Dharmaputri Berdasarkan Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) Perkumpulan Dharmaputri Tahun 2013, “Perkumpulan Dharmaputri adalah lembaga badan hukum milik Kongregasi SPM yang mengelola perutusan bidang pendidikan”. Lembaga ini memiliki tujuan seperti yang terdapat dalam AD-ART Perkumpulan Dharmaputri Tahun 2013 Pasal 4, yakni “partisipasi Kongregasi SPM untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, berdasarkan iman Katolik dan spiritualitas SPM”. Tujuan tersebut dijabarkan dalam Arah Dasar Perkumpulan Tahun Pelajaran 2011/2012-2016/2017, sebagai berikut: a. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan sifat khusus pengabdian dan pelayanan Katolik dan Visi-Misi Perkumpulan Dharmaputri. b. Meningkatkan harkat dan martabat manusia melalui pengabdian di bidang pendidikan dan pengajaran, berdasarkan cinta kasih kepada semua orang tanpa membeda-bedakan bangsa, agama, dan status sosial. c. Mencerdaskan generasi muda bangsa secara integral dengan memperhatikan yang miskin dan tertindas melalui bidang pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian, Lembaga Pendidikan Katolik milik Kongregasi Sustersuster SPM ingin mengabdikan diri melalui bidang pendidikan dan pengajaran kepada setiap generasi muda tanpa kecuali. Pendidikan dan pengajaran yang berlandaskan cinta kasih diwujudkan untuk mengangkat martabat generasi muda, khususnya yang miskin dan terlantar.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 2. Karakteristik Guru Perkumpulan Dharmaputri Guru PDp ialah kompenen pendidikan yang melaksanakan tugas mencerdaskan generasi muda berlandaskan ciri khas Katolik dan spiritualitas serta kharisma Kongregasi SPM (AD-ART PDp, Pasal 5). Dengan kata lain, guru adalah pendidik dan pengajar dengan kualifikasi pribadi yang mampu menghayati iman Katolik dan spiritualitas serta kharisma Kongregasi SPM. Figur guru PDp tampak dalam karya pelayanan yang visioner, inovatif, memiliki integritas, dan ideal (AD-ART PDp, Pasal 5, Nomor 4). Mereka adalah sosok profesional yang melaksanakan Kongregasi profesinya Suster SPM. dalam naungan Mereka Lembaga melaksanakan Pendidikan tugas dengan Katolik bertitik tolak pada 6 pilar atau nilai inti yang tertulis dalam Rencana Strategis Perkumpulan Dharmaputri 2011/2012-2016/2017, yakni: Setia pada pencerdasan kehidupan bangsa; setia pada ciri khas Katolik; setia pada spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah dan kharisma Kongregasi SPM; kualitas kepribadian dan pendidikan yang unggul; profesional dalam penyelenggaraan, pengelolaan, dan pelaksanaan pendidikan; pendampingan generasi muda menjadi pribadi utuh. Artinya, seorang guru PDp wajib menghayati dan ikut ambil bagian mewujudkan visi dan misi Perkumpulan Dharmaputri, dengan mengimplementasikan nilai-nilai inti di dalam tugasnya. Keenam pilar tersebut dapat diuraikan dalam konteks tugas dan panggilan seorang guru PDp, sebagai berikut: a. Setia pada pencerdasan kehidupan bangsa Kekuatan utama atau roh dari tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dengan

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 demikian, proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru wajib memberikan penjabaran atas ideologi NKRI, yakni Pancasila, dengan memberi penekanan nilai-nilai: pluralisme, inklusif, demokratis, adil, dan berbudaya dalam berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai tersebut merupakan jiwa atau roh yang memberi kekuatan dan menggerakkan anak didik sebagai bangsa Indonesia. Karena itu, guru perlu menanamkan nilai-nilai kepada anak didik sedini mungkin; dan memperkembangkan anak didik menjadi warga bangsa yang cerdas dan berjiwa Pancasila (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 53). b. Setia pada Ciri Khas Katolik Salah satu bentuk implementasi dari Nota Pastoral KWI 2008 tentang pendidikan ialah setia terhadap ciri khas Katolik. Pendidikan Katolik berusaha untuk mengintegrasikan iman dan kebudayaan, iman dan kehidupan melalui pengajaran, iman dan pencerdasan bangsa. Karena itu, Guru PDp senantiasa berupaya mewujudkan suasana kekeluargaan, dengan mengembangkan martabat kebebasan, dan cinta kasih Injili. Guru sebagai salah satu warga PDp yang bertugas mengajar dan mendidik perlu mengusahakan: Sikap tanpa pamrih dan tulus dalam pelayanan, berani menyuarakan kebenaran, menciptakan lingkungan sekolah yang ramah dan diterangi oleh iman, membangun budaya kasih antar warga sekolah, meneladan Yesus sebagai Sang Guru Sejati, melayani seperti Yesus, perayaan nilai kristiani dalam sabda dan sakramen, mencipta suasana sekolah yang penuh kekeluargaan, menyenangkan, teduh, dan nyaman (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 101-102). Selain itu, Guru PDp hadir sebagai pengajar perlu mengusahakan proses pembelajaran yang mampu mengintegrasikan antara iman dan ilmu, dengan:

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Mengembangkan pengajaran atas landasan iman; pengetahuan yang diberikan membawa pada kebenaran sejati; menumbuhkembangkan sikap keingintahuan anak didik bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah; menumbuhkembangkan rasa cinta kepada kebenaran; membangkitkan sikap kritis; mendorong akal budi untuk belajar cermat, tepat, dan bertanggung jawab; mengembangkan sikap rela berkorban dan bertekun dalam karya intelektual; menumbuhkembangkan keberminatan terhadap karya akademik yang dipacu oleh perspektif baru; menumbuhkembangkan sikap percaya akan penyelenggaraan Ilahi (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 102-103). Karena itu, guru perlu melandasi seluruh proses pengajarannya dengan iman Katolik agar anak didik berkembang dalam dimensi kognitif atas dasar nilai-nilai iman Kristiani. Artinya, guru mengajak anak didik untuk sampai pada suatu pemahaman bahwa pengetahuan yang diperoleh dapat mengantarnya menemukan kebenaran (Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik, art. 41). Sisi lain, proses pendidikan yang diusahakan oleh guru dalam mendukung terwujudnya transformasi nilai-nilai kristiani, antara lain: Meningkatkan penghayatan iman yang diwujudkan dalam perbuatan nyata: peduli dan bela rasa; menciptakan kehidupan sekolah yang diinspirasi oleh Injil; mengembangkan perbuatan yang berakar pada kepekaan suara hati; meningkatkan sikap berani dan tangguh dalam menghadapi kesulitan; menghormati dan menghargai; sikap loyal dan cinta kepada sesama siswa; membangun sikap toleran, menciptakan pembelajaran yang diterangi iman kristiani; menumbuhkan kesadaran bahwa kehendak Allah ditemukan dalam kerja dan hubungan manusia sehari-hari; menumbuhkan semangat belajar seperti dicontohkan Sang Guru Sejati (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 103-104). Dengan demikian, guru menjadi agen perubahan bagi anak didik agar terjadi pembaharuan, di mana integrasi antara iman dan hidup konkret dalam pribadi pendidik terwujud. Selanjutnya, melalui teladan hidup seorang guru, anak didik didorong untuk mewujudkan nilai-nilai cinta kasih dalam kesaksian hidup (Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik, art. 46). Usaha pengintegrasian

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 antara iman dan pencerdasan kehidupan bangsa tampak dalam usaha seorang guru menciptakan lingkungan hidup bersama yang dijiwai oleh semangat Injil, kebebasan, dan cinta kasih. c. Setia pada Spiritualitas dan Kharisma Kongregasi SPM Roh yang menggerakkan para Suster SPM ialah mewujudkan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah dalam hidup dan karya. Sedangkan, kharisma kongregasi Suster SPM ialah menghidupi kharisma ibu rohani, yakni iman yang kuat akan penyelenggaraan ilahi, solider kepada yang miskin dan terlantar, serta peka akan tanda-tanda zaman. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah Implementasi hakekat pribadi manusia sebagai citra Allah dalam pendidikan, mengedepankan nilai-nilai yakni kesetaraan, martabat pribadi, martabat akal budi, martabat hati nurani, dan martabat kebebasan (Renstra Perkumpulan Dharmaputri 2011/2012-2016/2017). Artinya, seorang guru PDp wajib mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam melaksanakan tugas dan panggilannya, dengan terlebih dahulu secara pribadi memahami, menyadari, dan mampu mewujudkan kelima nilai dalam hidupnya. Setelah lima nilai tersebut menjadi milik guru, maka diharapkan guru PDp mampu melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik yang memperjuangkan

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 kesamaan martabat manusia citra Allah (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 109). 2) Kharisma Kongregasi Suster-Suster SPM Para Suster SPM ingin mengidentifikasikan dirinya dengan Santa Maria (Konstitusi SPM, 1986: 15). Iman Maria dijadikan sebagai model penghayatan iman para Suster SPM, seperti yang dihidupi oleh Santa Yulia Billiart. Seluruh hidup Santa Yulia dipercayakan sepenuhnya pada kehendak Tuhan yang Mahabaik. Ia menghayati imannya seperti Bunda Maria yang mengatakan “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk 1: 38). Santa Yulia berani mengambil resiko dan bertindak kreatif dalam memulai suatu karya, karena imannya yang kuat akan penyelenggaraan ilahi. Berkat imannya yang kuat ia mampu membaca tanda-tanda zaman. Hatinya tergerak untuk menyelenggarakan pendidikan bagi generasi muda yang miskin dan terlantar di jamannya (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 118-123). Karena itu, guru PDp pun harus mempunyai iman kuat dan mendalam di dalam menghayati tugasnya. Berkat imannya yang kuat, guru diharapkan mampu memberikan hatinya bagi semua anak didik, khususnya anak yang miskin dan lemah secara material, itelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Kharisma Santa Yulia diharapkan menjadi inspirasi bagi guru SPM dalam mengaktualisasikan tugasnya sebagai pembaharu di dunia pendidikan.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 d. Kualitas Kepribadian yang Unggul Kualitas pribadi unggul ditunjukkan oleh guru PDp tentunya yang memiliki idealisme, visioner, inovatif, dan integritas. Guru yang mempunyai idealisme tampak pada pribadi yang mau mengembangkan panggilan jiwanya; sedangkan guru visioner ialah yang peka akan kebutuhan anak didik dan sesama di sekitarnya, kreatif dan aktif dalam mengaktualkan visi serta misi lembaga. Karena itu, guru wajib mengembangkan profesionalitas dengan mengusahakan kompetensi profesional, pedagogis, sosial, dan kepribadian (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 32-33). e. Profesional dalam Pelaksanaan Pendidikan Kompetensi ini diolah dan dikembangkan melalui studi lanjut; pelatihan; pembinaan spiritualitas; belajar mandiri dan komunal, seperti TIK; memahami pokok-pokok penting Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Ajaran Gereja tentang pendidikan; dan penguasaan bahasa internasional (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 42-43). Karena itu, profesionalitas seorang guru PDp harus menjadi komitmen pribadi. Ia mampu menghayati tugasnya sebagai panggilan jiwa demi meningkatnya kualitas pendidikan. Dengan demikian seorang guru profesional benar-benar dituntut dalam mengembangkan profesionalitasnya. Ia harus belajar seumur hidup sebagai pelaksana pendidikan yang profesional. Maka profesionalitas guru yang tinggi tercermin dalam komitmen guru untuk mencintai tugas dan panggilannya sebagai pengajar dan pendidik.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 f. Pendampingan Generasi Muda menjadi Pribadi Utuh Guru PDp yang profesional diharapkan mampu mendampingi anak didik menjadi pribadi utuh. Proses pembelajaran diharapkan dapat mengembangkan anak didik memiliki kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, fisik, dan mengatasi kesulitan. Guru bertanggung jawab dalam mengembangkan kecerdasan anak didik yang beraneka ragam; kritis, matang, tahan uji, dan mampu menghayati iman dalam hidup konkret (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 45). 3. Identitas Guru Perkumpulan Dharmaputri Spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah menjadikan identitas guru PDp terpancar untuk mengimplementasikan nilai-nilai spiritualitas Kongregasi. Identitas yang dimaksud dapat digambarkan, sebagai berikut: a. Identitas Diri Semangat untuk setia pada ciri khas Katolik dan pencerdasan kehidupan bangsa merupakan identitas seorang guru PDp. Hal ini ditegaskan oleh Mandagi (1994: 34) bahwa “tidak pertama-tama tampak dalam kegiatan eksplisit seperti berdoa, perayaan sakramen, atau memakai simbol Katolik, namun lebih ditunjukkan dalam hidup kesaksian konkret dari semua warga sekolah yang memancarkan semangat Kristus”. Pendidik Katolik dipanggil untuk ikut serta mengejawantahkan tugas Kristus dan menjadi rekan kerja Allah untuk mengutuhkan pribadi anak didik.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Hal yang dituntut dari guru PDp adalah membangun relasi personal yang mesra dengan Allah dan merelakan dirinya bersatu dengan diri Allah, agar ia mampu mendidik dengan kasih Allah melalui hatinya. Artinya, dalam proses pembelajaran, perjumpaan hati antara guru dan anak didik adalah pengalaman iman yang terintegrasi melalui tindakan dan teladan hidup yang konkret. Dengan demikian, kebijaksanaan dan keutamaan hidup dapat dicapai (Sufiyanta, 2010: 37). Sisi lain, guru PDp adalah warga Gereja dan masyarakat. Keterlibatan mereka dalam dunia pendidikan, sebagai bentuk partisipasi Gereja dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru menjadi pelopor dalam menghargai nilai pluralisme, inklusif, demokratis, adil, dan berbudaya atas dasar Pancasila (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 53). Keikutsertaan guru PDp dalam mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi salah satu kewajibannya dalam membangun masyarakat yang berpendidikan. Karena itu, Mandagi (1994: 23) menegaskan bahwa “pendidik Katolik harus tahu membedakan hak dan kewajibannya sebagai anggota Gereja dan masyarakat, sehingga kedua menjadi harmonis”. b. Identitas Korps Spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah menjadi jiwa dan pengikat bagi para suster SPM dan guru PDp dalam melaksanakan panggilan jiwa. Kesetiaan pada spiritualitas dan kharisma Kongregasi SPM, tampak dalam semangat para guru PDp mewartakan Allah yang Mahabaik. Allah yang Baik

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 seperti yang diimani oleh Santa Yulia Billiart dalam semboyan hidupnya “Alangkah Baiknya Tuhan” (Konstitusi SPM, 1984: 12). Sebagaimana diwartakan oleh Yesus “…Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja” (Mrk 10: 18). Mereka menghayati dan mewujudkan spiritualitas SPM secara berkesinambungan sebagai mitra kerja pendidikan SPM. Sedangkan, dalam menghayati semangat spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah, guru PDp harus memperjuangkan unsur hakiki, yakni gerak menaikkan dan menurunkan. Memberi makna kesetaraan, bahwa setiap manusia setara di hadapan Allah sebab ia adalah citra-Nya. Guru sebagai mitra kerja para Suster SPM perlu memperjuangkan nilai kesamaan, yang mengalir dari visi iman Maria. Hal tersebut ditegaskan oleh Darminta (2002: 24) bahwa “Allah mencurahkan perhatian kepada Maria yang dina. Maria ditinggikan oleh Allah dari kehinaannya. Maria mengimani bahwa Allah ingin mengubah dan memulihkan tata kehidupan yang lebih bermartabat. Gerak menaikkan dan menurunkan ini adalah gerakan Allah demi pulihnya kehidupan, baik secara personal ataupun sosial, sehingga tercipta keadilan”. Kedua unsur ini menjadi jalan mewujudkan keseimbangan demi memberi makna bagi terwujudnya kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 110). Selain itu, kharisma Kongregasi menjadi kekuatan bagi para guru PDp dalam menghayati panggilannya dengan penuh iman. Guru memberi perhatian dan kasih khusus kepada anak didik yang miskin secra material, emosional, sosial, dan spiritual. Guru harus peka dalam membaca tanda-tanda jaman, sehingga

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 berani ambil resiko demi terciptanya pembaharuan (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 118-123). Karena itu, spiritualitas dan kharisma Kongregasi SPM menjadi identitas korps Lembaga Pendidikan Katolik milik para Suster SPM. c. Identitas pelayanan Identitas pelayanan diwujudkan dalam kualitas pribadi pendidik yang unggul dan profesional saat melaksanakan tanggung jawab. Pendidik yang memahami dan menghayati visi pendidikan maka ia mampu mengelola proses pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan anak didik. Salah satu kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian menjadi prioritas dalam pelayanan para guru PDp. Kompetensi tersebut dikelola dengan baik sehingga satu dengan yang lain saling melengkapi. Dengan demikian, seorang guru mampu memberi pelayanan prima kepada anak didik, rekan kerja, dan masyarakat luas (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 140). Karena itu, pelayanan prima seorang pendidik menjadi terjamin ketika didukung oleh penghayatan spiritualitas dan kharisma lembaganya. Spiritualitas dan kharisma menjadi landasan kokoh bagi pendidik untuk mengembangkan kualitas kompetensinya. Standar kualifikasi dan kompetensi pendidik yang dijiwai oleh penghayatan spiritualitas dan kharisma khas lembaga diharapkan membuahkan pelayanan kharismatis. Pelayanan kasih tanpa batas, menjunjung tinggi nilai martabat manusia sebagai citra Allah, dengan landasan iman yang

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 kokoh untuk berpihak pada yang miskin dan lemah (Keputusan Kapitel SPM Provindo, 2010: 32-33). 4. Ikhtisar Profesi guru merupakan salah satu jabatan profesional, sebab telah memenuhi prasyarat antara lain: menempuh pendidikan, memenuhi persyaratan baku, dan memperoleh pengakuan masyarakat/ publik (Samana, 1994: 27). Guru mampu mewujudkan keahlian dalam jabatan atau pekerjaannya karena ia mendapatkan kepercayaan publik. Publik meletakkan kepercayaannya, sebab mereka yakin bahwa seorang profesional mampu memberi demi kebaikan khalayak (Koehn, 2000: 72). Tugas seorang guru adalah membina generasi muda. Pembinaan diarahkan untuk menumbuhkembangkan bakat-pembawaan fisik, moral, dan intelektualnya (GE, artikel 1). Arah pembinaan dan pendidikan dapat mencapai tujuan apabila guru menyambut kepercayaan itu dengan kesediaan dirinya. Oleh sebab itu kesediaan guru perlu didukung dengan keahlian yang memadai, sehingga ia dapat melaksanakan tugasnya penuh tanggung jawab dan disiplin. Mampu memberikan yang baik bagi orang telah mempercayainya (Koehn, 2000: 75). Profesionalitas ditunjukkan oleh seorang yang memiliki bukti secara akademik. Namun, di sisi lain dapat pula ditunjukkan melalui satu tindakan konkret yang baik dan benar (Mali, 2012: 8). Tindakan baik dan benar hanya dapat diwujudkan oleh guru yang memiliki kemampuan kepribadian yang unggul. Sikap demikian ini penting bagi seorang guru berkepribadian baik, demi menjaga kualitas pelayanannya. Pelayanan yang prima hanya dapat diberikan oleh

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 guru yang berkepribadian integral. Integritasnya ia tunjukkan dalam keunggulan, kualitas, dan profesional. yang dilandasi oleh pemahaman, penghayatan, dan pengaktualisasian visi pendidikan, landasan hukum tentang pendidikan, dan spiritualitas lembaganya. Guru PDp dari waktu ke waktu diminta untuk memahami, menghayati, dan mengaktualisasikan visi pendidikan, landasan hukum tentang pendidikan, dan spiritualitas pendiri secara kontekstual (Keputusan Kapitel SPM Provindo, 2010: 34-35). Ia menjadi model bagi anak didik, dengan memberi kesaksian bahwa hidupnya dilandasi oleh iman dan kasih. Nilai-nilai dalam spiritualiatas SPM diharapkan menjadi roh dalam mengaktualisasikan janjinya. Janji guru terwujud nyata ketika sungguh dikawal oleh kode etik profesinya. Inilah yang dapat mengokohkan kepercayaan antara guru, anak didik, dan warga pendidikan yang dilayaninya (Koehn, 2000: 88). Artinya bahwa kualitas pelayanan ia wujudkan dengan membantu anak didik. Inilah yang dimaksud dengan profesionalitas sejati. “Mendidik pribadi anak didik menjadi manusia sempurna (humanisasi) dan mematangkan pribadinya (hominisasi) sehingga menjadi manusia seutuhnya” (Mali, 2012: 10). Process of being menjadi orientasi guru PDp dalam membantu anak didik untuk mengalami kepenuhan martabat pribadi sebagai manusia citra Allah. Mengutuhkan setiap anugerah daya jasmani dan rohani anak didik. Dengan segala keistimewaan dan keterbatasannya, agar ia dapat mengenal dirinya dan berkembang. Sebab perkembangan pribadinya menjadi bekal bagi anak didik untuk berproses menyesuaikan diri masuk dalam kelompok sosial di mana ia berada dan hidup (Irmine, 1987: 77-79).

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 BAB III GAMBARAN PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN SPIRITUALITAS KESAMAAN MARTABAT MANUSIA SEBAGAI CITRA ALLAH DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI KEPRIBADIAN PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI Bab ini, penulis memaparkan visi dan misi Perkumpulan Dharmaputri, dan gambaran pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah dalam meningkatkan kompetensi kepribadian para guru PDp. Laporan hasil penelitian tersebut dibahas oleh penelitian sesuai dengan hasil penelitian. A. Visi dan Misi Perkumpulan Dharmaputri Perkumpulan Dharmaputri mempunyai visi seperti yang tercantum dalam AD-ART Perkumpulan Dharmaputri, Bab III, Pasal 4, yaitu “setia pada pencerdasan kehidupan bangsa, ciri khas Katolik, spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah, kualitas, dan profesional dalam pendampingan generasi muda sebagai pribadi utuh”. Visi tersebut menunjukkan bahwa sebagai Lembaga Pendidikan Katolik, Perkumpulan Dharmaputri memiliki komitmen untuk mencerdaskan bangsa dengan landasan iman Katolik dan spiritualitas SPM. Pendidikan diarahkan demi terbentuknya generasi muda sebagai pribadi utuh, melalui pelayanan yang berkualitas dan profesional.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Sedangkan, misi Perkumpulan Dharmaputri, seperti dicantumkan dalam Pasal 5 AD-ART, bahwa dengan dijiwai spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah, Perkumpulan Dharmaputri: a. Mendampingi unit perutusan bidang pendidikan agar setia pada pencerdasan kehidupan bangsa, ciri khas Katolik, mewujudkan spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah, dan kharisma kongregasi SPM. b. Mendampingi penyelenggara, pengelola, dan pelaksana agar memiliki kualitas, kepribadian yang unggul, profesional dalam penyelenggaraan, pengelolaan, dan pelaksanaan pendidikan. c. Mendampingi generasi muda agar memiliki kecerdasan seimbang secara intelektual, emosional, dan spiritual. Dengan demikian, misi sesungguhnya diarahkan untuk mendampingi seluruh elemen dalam unit-unit bidang pendidikan yang dikelola PDp. Pendampingan diwujudkan demi pencerdasan kehidupan bangsa atas dasar iman Katolik dan spiritualitas SPM. Pendampingan khusus bagi pelaksana pendidikan agar sunguh-sunguh berkualitas, berkepribadian, dan unggul; sedangkan, pendampingan generasi muda supaya memiliki kecerdasan seimbang. Tentunya, semuanya dilaksanakan dengan landasan nilai-nilai yang terkandung dalam spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah. Misi Perkumpulan Dharmaputri ini dilaksanakan oleh setiap unit sekolah Perkumpulan Dharmaputri, di seluruh wilayah karya bidang pendidikan Kongregasi SPM. Tentunya termasuk unit karya pendidikan di wilayah Malang II.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 B. Penelitian Pemahaman dan Penghayatan Spiritualitas “Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah” dalam Meningkatkan Kompetensi Kepribadian para Guru Perkumpulan Dharmaputri 1. Pendahuluan Bagian ini berisi tentang permasalahan penelitian, batasan masalah penelitian, tujuan penelitian, variabel penelitian, dan manfaat penelitian. a. Permasalahan Penelitian Berdasarkan latar belakang yang diuraikan dalam bab I, permasalahan penelitian dapat disusun sebagai berikut: 1) Bagaimana para guru PDp memahami dan menghayati spiritualitas Kongregasi Suster SPM “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? 2) Bagaimana para guru PDp memahami kompetensi kepribadian guru PDP? 3) Apa faktor-faktor yang mendukung dan menghambat para guru PDp dalam memahami dan menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? 4) Usaha apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? b. Batasan Masalah Penelitian Pemahaman kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah digali dari Konstitusi Kongregasi Suster-Suster SPM Amersfoort. “Kesamaan martabat

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 manusia sebagai citra Allah”, ditinjau dari aspek pemahaman dan penghayatan para guru PDp. Sedangkan para guru PDp yang dimaksud ialah para guru PDp yang berkarya di wilayah Malang II. Selanjutnya untuk menghindari keluasan kajian profesionalitas guru, oleh sebab itu peneliti membatasi penelitian pada pemahaman kompetensi dalam prinsip profesionalitas guru yang paling mendasar yaitu kompetensi kepribadian. Kompetensi kepribadian menurut uraian PP RI No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, Bab II, Bagian Kesatu Kompetensi, Pasal 3, ayat (5) bahwa kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan secara mandiri dan berkelanjutan. c. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pemahaman dan penghayatan “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah” para guru PDp. 2) Mengetahui pemahaman kompetensi kepribadian para guru PDp. 3) Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat para guru PDp dalam memahami dan menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 4) Mengetahui usaha-usaha untuk meningkatkan pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah bagi para guru PDp. d. Variabel Penelitian 1) Paham kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. 2) Paham kompetensi kepribadian guru. 3) Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati “spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”. 4) Usaha untuk meningkatkan pemahaman dan penghayatan “spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”. e. Manfaat Penelitian Hasil penelitian dapat memberi gambaran konkret kepada Kongregasi Suster-Suster SPM dan Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, bahwa spiritualitas Kongregasi SPM “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah, mempunyai peranan dalam meningkatkan kompetensi kepribadian para guru PDp. Di mana kompetensi kepribadian merupakan salah satu modal dasar bagi guru PDp disebut profesional. Penelitian ini bermanfaat pula untuk menemukan bentuk program dalam usaha meningkatkan pemahaman dan penghayatan spiritualitas Kongregasi SPM khususnya bagi para guru PDp pada umumnya dan para guru PDp di wilayah Malang II.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 2. Metodologi Penelitian Dalam bagian ini berisi tentang pendekatan penelitian, data dan sumber data, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, tahap-tahap penelitian, tehnik analisis data, dan keabsahan data. a. Pendekatan Penelitan Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Moleong (2013: 6) menjelaskan arti penelitian kualitatif, demikian: Penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Jenis penelitian ini sebagai pendekatan yang memberikan perhatian terhadap data alamiah, yaitu data dalam hubungan dengan konteks keberadaannya. Artinya, jenis penelitian kualitatif melibatkan sejumlah besar gejala sosial yang relevan. Artinya, gejala-gajala dari fakta yang peneliti alami dapat dipahami secara menyeluruh, sehingga dapat dideskripsikan sesuai dengan konteks serta metode yang natural (Moleong, 2013: 6). b. Data dan Sumber Data Data adalah hasil pencatatan peneliti tentang obyek penelitian. Data yang dimaksud dapat berupa hasil wawancara, observasi, dan studi dukumentasi. Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti, maka data dalam

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 penelitian ini terdiri dari hasil wawancara berdasarkan instrumen penelitian dan dokumen-dokumen Kongregasi SPM. Sedangkan, mengenai sumber data, peneliti lebih fokus pada para guru yang berkarya di wilayah Malang II. Sebab karya di wilayah ini merupakan wilayah potensial bagi berkembangnya karya pendidikan para suster SPM. Selanjutnya mempertimbangkan pula bahwa sekolah-sekolah di wilayah ini telah mengikuti pembinaan spiritualitas Kongregasi SPM dalam kurun waktu 1 sampai 1.5 tahun yang lalu. Berdasarkan studi dokumentasi, jumlah guru di wilayah Malang II ada 78 orang. Peneliti mengambil 12 guru sebagai sampel berdasarkan purposive sampling, yakni “sampel berjumlah sedikit dan dipilih menurut tujuan (Nasution, 1992: 11). Selain itu, literatur-literatur pustaka atau studi dokumentasi pun digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan gambaran pemahaman dan penghayatan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah guru PDp dalam meningkatkan kompetensi kepribadian, agar kompleksitas analisis terhadap datadata dapat diperoleh peneliti. c. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pedoman wawancara yang digunakan adalah wawancara tak berstruktur. Artinya, responden memperoleh kebebasan dan kesempatan untuk mengeluarkan buah pikiran, pandangan, dan perasaan tanpa aturan ketat dari peneliti (Nasution: 1992: 72). Tentunya, peneliti menggunakan

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 sarana alat tulis untuk mencatat informasi dan alat perekam elektronik untuk merekam semua pembicaraan bersama subyek yang diwawancari secara terpimpin demi kelancaran proses wawancara. Demikian juga metode observasi, yaitu mengkaitkan dua hal yaitu informasi dan konteks, sehingga memperoleh makna (Nasution, 1992: 58). Observasi dilakukan oleh peneliti, yaitu terlibat dalam kegiatan mengamati aktivitas di sekolah guna memperoleh data. Khususnya data dari para observer yaitu anak-anak didik dan rekan kerja dari para responden. Sedangkan, dokumentasinya terdiri dari tulisan pribadi dan dokumen resmi (Nasution, 1992: 85). Bahan dokumen yang diperoleh seperti, buku anggaran dasar, buku pedoman kantor, dan renstra PDp serta dokumentasi berupa Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) dari kepala sekolah beserta timnya, buku surat-surat keluar dan masuk, serta dokumentasi lain untuk melengkapi metode wawancara dan observasi. d. Instrumen Penelitian Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan penelitian lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga mudah diperoleh (Arikunto, 2010: 203). Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, berarti salah satu instrumen adalah peneliti sendiri, khususnya dalam proses observasi dan pengumpulan dokumentasi. Namun, instrumen inti dalam penelitian ini

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 adalah pertanyaan-pertanyaan wawancara. Peneliti membuat pedoman wawancara yang memuat kerangka dasar dan membuat rincian pertanyaan-pertanyaan agar sesuai dengan data yang diperlukan. e. Tahap-Tahap Penelitian Penelitian ini melewati dua tahap, yakni tahap pralapangan dan tahap pekerjaan lapangan (Moleong, 2013: 127-148). Tahap pralapangan meliputi: penyusunan pertanyaan penelitian, yang dilaksanakan pada bulan Mei 2014 dan tahap pekerjaan lapangan pada bulan Juni 2014, dengan melakukan wawancara kepada 12 responden penelitian di wilayah Malang II. f. Tehnik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah teknik analisis yang dikonsepkan oleh Nasution, yakni meliputi langkah: (1) reduksi data dengan mengetik data ke dalam bentuk laporan tertulis, membuat rangkuman, memilih yang pokok, lebih memfokuskan hal yang penting, mencari tema dan pola (2) display data yang diperlukan untuk melihat bagian pokok dalam penelitian dengan bentuk matrik sehingga data dikuasai, (3) setelah semua mencukupi maka peneliti mengambil kesimpulan dan verifikasi yang dilakukan dengan mencari data baru untuk menyempurnakan data, sehingga dapat ditarik kesimpulan akhir (Nasution, 1988: 129).

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 g. Keabsahan Data Keabsahan data mempergunakan teknik trianggulasi, yaitu data atau informasi yang telah diperoleh akan dichek kebenarannya dengan cara memperoleh data dari sumber lain (Nasution, 1992: 10). Artinya, peneliti mencatat dan mendokumentasikan data-data hasil wawancara. Peneliti melakukan member chek dengan cara menanyakan kembali kepada responden atas data yang telah diperoleh. Selanjutnya, cross chek kepada beberapa observer yakni anak didik dan rekan kerja dari setiap responden. Reliabilitas data dilakukan dengan mendiskripsikan secara teliti dan cermat dari alat rekam elektronik. Penelitian ini dilakukan pula secara obyektif sehingga dapat memperkecil kemungkinan terjadinya praduga yang disebabkan oleh latar belakang suku, budaya, dan fungsi jabatan dari para responden. C. Laporan Hasil Penelitian dan Pembahasan tentang Pemahaman dan Penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah dalam Meningkatkan Kompetensi Kepribadian Para Guru Perkumpulan Dharmaputri Peneliti telah melakukan wawancara kepada 12 responden dengan tujuan ingin memperoleh gambaran konkret tentang pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah oleh para guru PDp, khususnya di wilayah Malang II, dalam meningkatkan kompetensi kepribadian mereka. Hasil wawancara dapat diuraikan oleh peneliti sebagai berikut:

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 ● Aspek Pemahaman: 1. Pemahaman Guru PDp sebagai citra Allah a. Hasil Penelitian Pemahaman para guru PDp bahwa dirinya dicipta sebagai Citra Allah menurut R1, R2, R3, R4, dan R5 ialah “ia dicipta mirip atau segambar dengan Allah yang memiliki sifat kasih, agung, dan baik” [Lamp. 4, h. (6)]. Selanjutnya R2, R4, R10, dan R12 menegaskan bahwa “ia dicipta sebagai manusia “sempurna” ” dan unik yang memiliki kekuatan dan kelemahan” [Lamp. 4, h. (6)]. R12 memperkaya pemahaman tersebut dengan menyatakan, “Saya dicipta sebagai citra Allah sehingga saya dapat menerima diri serta bangga atas segala anugerah yang saya terima dari Tuhan”. Sementara itu, pemahaman dari R8, R10, dan R11 bahwa “ia dicipta sebagai citra Allah, oleh karena diri dan sesamanya sama di hadapan Tuhan sama” [Lamp. 4, h. (6)]. Oleh R5, R7, R9, dan R12 masingmasing memahami bahwa ia dicipta sebagai Citra Allah, sebab R5 “dapat mengenal Sang Pencipta”, R7 merasa berharga karena “dihargai oleh Tuhan dan sesama”, R9 mengatakan “mampu memanusiakan manusia” [Lamp. 4, h. (6)]. b. Pembahasan Sebagian besar responden memahami bahwa mereka dicipta menurut gambar Allah atau serupa dengan Allah yang kasih, agung, dan baik. Mereka memahami pula bahwa diri mereka diciptakan sempurna, unik, dan berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasan (Konstitusi SPM, 1984: 17). Kekuatan dan keterbatasan yang mereka miliki adalah anugerah Tuhan yang berharga.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Dengan pemahaman tersebut, mereka dapat menerima diri apa adanya. Seperti ditegaskan oleh Purwatmo (2008: 11) bahwa Allah senantiasa hadir dalam diri manusia, sebagai eksistensi Allah yang hadir di dunia dengan segala keterbatasannya. Ia datang ke tengah dunia untuk memberi makna bahwa pribadi manusia memiliki potensi kualitas seperti pribadi Allah. Sebagai manusia ciptaan Allah, ada responden yang memahami bahwa ia dapat mengenal Allah Sang Pencipta (GS art. 12). Seorang pribadi mampu mengenal karena ia memiliki relasi istimewa dengan yang dikenalnya. Berdasarkan konteks Perjanjian Lama, manusia dapat mengenal Allah sebab relasi Allah dengan manusia sangat dekat. Kedekatan ini menunjukkan bahwa manusia dijadikan sebagai makhluk paling sempurna (Kej 1: 26). Seperti dalam tulisan Karris (2002: 432) bahwa “Allah memberi kepercayaan besar kepada mereka dengan menerima martabat sebagai citra Allah.” Sedangkan, dalam tulisan Perjanjian Baru manusia dicipta sebagai citra Allah, karena manusia dapat menemukan kepenuhannya sebagai citra Allah dalam diri Yesus Kristus. Allah telah mengangkat manusia menjadi anak-anak-Nya dan menemukan relasinya dengan Sang Pencipta (Karris, 2002: 363). 2. Pemahaman Guru PDp mengenai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah a. Hasil Penelitian Para responden memahami kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah, seperti dinyatakan oleh R1 bahwa “kesamaan martabat manusia dapat

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 dialami, dimana sesama saling berbagi”. Sedangkan, pemahaman R2, R3, dan R5 ialah bahwa diri dan sesamanya dicipta sederajat atau sama martabatnya di hadapan Allah melalui sikap tidak pilih kasih dalam kehidupan bersama sesama [Lamp. 4, h. (6)]. R4 memahami bahwa “ia dan sesamanya memiliki hak hidup yang sama”; R9 menyatakan pemahamannya bahwa “dirinya tidak membedakan dalam memberi pelayanan”, dan pemahaman R10 ialah “dapat menerima keunikan sesamanya”. Selanjutnya, R6, R7, R8, R11, dan R12 memberi penekanan bahwa pemahaman mereka tentang kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah ialah bahwa diri dan sesamanya sama, tidak ada perbedaan status antara guru atau karyawan, senior atau yunior, seagama atau tidak. Dan mereka tidak membedakan anak didik yang mampu atau tidak mampu baik dari segi finansial, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual [Lamp. 4, h. (6)]. b. Pembahasan Para responden memahami paham kesamaan martabat sebagai citra Allah yakni antara diri mereka dengan sesamanya dicipta oleh Allah setara/ sederajat. Setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Hal ini tampak dalam kesadaran para responden untuk tidak pilih kasih/ tidak membeda-bedakan siapapun, baik kepada anak didik maupun rekan kerja. Tidak ada pula perbedaan status antara guru dan karyawan, senior dan yunior, seagama atau tidak seagama. Tidak membedakan antara anak didik yang mampu dan tidak mampu dalam hal finansial, intelektual, sosial, dan spiritual. Ada pula yang merasa diri dan

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 sesamanya mempunyai hak hidup yang sama, tidak membedakan dalam memberikan pelayanan, dan akhirnya dapat menerima keunikan sesama. Semua responden memahami bahwa bahwa sikap tidak membeda-bedakan dimaknai sebagai sikap yang seimbang. Seperti ditegaskan dalam Renstra PDp bahwa dalam keseimbangan inilah para responden mampu memahami bahwa mereka dan sesamanya memiliki martabat yang sama sebagai citra Allah (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 108). 3. Pemahaman Guru PDp sebagai manusia istimewa dibanding ciptaan Allah yang lain a. Hasil Penelitian Keistimewaan atau keunikan para responden tampak dalam ungkapan R2, R5, R6, R8, dan R9 yang mengatakan bahwa masing-masing “saya dianugerahi akal budi untuk dapat berpikir” [Lamp. 4, h. (6)]. Sedangkan oleh R7, R8, dan ditegaskan R9, keistimewaan mereka tampak dalam anugerah hati atau kasih yang diterima sehingga mereka dapat mengasihi. Selanjutnya keistimewaan dalam anugerah akal budi dan hati, dapat diwujudkan dalam kemampuan membedakan antara yang baik dan tidak baik untuk bertindak secara benar, seperti yang dipahami oleh R1 dan R3 [Lamp. 4, h. (6)]. R5 mengatakan bahwa dirinya istimewa oleh sebab “dianugerahi hati nurani dan kehendak bebas”. Sementara R4 mengatakan dirinya unik karena “dapat bekerja dengan kemampuannya secara total”. Keistimewaan R11 dan R12 dinyatakan dalam anugerah kemampuan yang mereka miliki [Lamp. 4, h. (6)].

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Dan oleh R7 serta R10 ditegaskan bahwa keistimewaan mereka rasakan karena mereka dikasihi dan dicintai oleh Allah [Lamp. 4, h. (6)]. b. Pembahasan Berdasarkan pengalaman para responden mereka sungguh merasa istimewa oleh karena dianugerahi akal budi sehingga mampu berpikir. Inilah yang menjadikan manusia istimewa dibanding ciptaan yang lain. Dengan akal budi manusia diberi kesempatan untuk mengembangkan seluruh kemampuannya, sehingga menurut responden yang lain dapat bekerja dengan total. Suatu pernyataan muncul bahwa dengan akal budi mereka mampu untuk mencari kebenaran dan bertindak secara benar (GS, art. 15). Selanjutnya oleh responden lain dikatakan bahwa keistimewaan manusia tampak dalam anugerah hati nurani yang mereka terima. Dengan hati nurani yang hidup, manusia dewasa mampu membedakan antara yang baik dan benar, sehingga sanggup mencintai yang benar melalui segala tindakan (GS, art. 16). Keistimewaan mereka dengan ciptaan lain terpantul dari anugerah hati yang mampu mengasihi dan karena dicintai/ dikasihi oleh Allah. Ada yang mengalami keistimewaannya karena dianugerahi kehendak bebas. Seperti ditegaskan dalam GS artikel 17 bahwa keunggulan manusia menjadi gambaran Allah yang agung hadir dalam diri manusia. Ia menghendaki manusia mengalami kemerdekaannya dalam kebahagiaan sejati (GS, art. 17).

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 4. Pemahaman Guru PDp sebagai manusia yang berharga di hadapan Tuhan, anak didik, dan rekan kerja a. Hasil Penelitian Rasa berharga di hadapan Tuhan, oleh R7, R10, dan R12 sungguh dirasakan, sebab Tuhan mencintai mereka [Lamp. 4, h. (7)]. Oleh R1 dirasakan “dalam pemberian Tuhan dalam rupa talenta/ kemampuan dan ketidaksempurnaan diri saya”. R3 dan R5 masing-masing merasakan berharga sebab “dapat berpikir dan bertindak benar serta dapat menerima kepercayaan besar dari pihak sekolah, Gereja, dan masyarakat” [Lamp. 4, h. (7)]. Sementara R2, R8 dan R9 merasa berharga ketika dapat berdoa dengan tulus dan pasrah [Lamp. 4, h. (7)]. Sebagian besar merasakan diri berharga, dari ungkapan R4, R6, dan R9 di hadapan Tuhan, ketika dapat berbuat baik kepada sesama sebagai bentuk perpanjangan tangan Tuhan [Lamp. 4, h. (7)]. Rasa berharga di hadapan anak didik dialami oleh R1 dan R6 saat anak didik membutuhkan kehadiran mereka [Lamp. 4, h. (7)]. Berbeda dengan pengalaman R4, R7, R12 bahwa merasa berharga saat anak didik menyayangi mereka [Lamp. 4, h. (7)]. Sementara R2, R6, R7, dan R8 merasa berharga karena anak didik merindukan mereka [Lamp. 4, h. (7)]. Oleh R3, R10, dan R11 keberhargaan dialami karena mereka mampu menjadi teladan bagi anak didik [Lamp. 4, h. (7)]. Rasa berharga oleh R4 dirasakan “saat anak didik memahami dan menerima karakternya”. R6 merasa berharga ketika katanya “dapat membangkitkan semangat anak didik, khususnya yang “kesulitan” dan R8 merasa

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 dirinya berharga apabila ia dapat mendekati dan mengajak bicara anak yang “bermasalah” secara personal [Lamp. 4, h. (7)]. Pengalaman R1- R12 dikuatkan oleh pengalaman para anak didik [Lamp. 6, h. (41)-(52), no. 2, 3, 8]. Rasa berharga di hadapan rekan kerja dirasakan oleh R4 dan R8 ketika mereka menerima kepercayaan sesuai dengan kemampuan di bidang/ keahliannya dan kemampuan dalam melaksanakan tugas secara fungsional [Lamp. 4, h. (7)]. R1 dan R10 mengalami berharga ketika terjadi saling memberi dan menerima [Lamp. 4, h. (7)]. Sedangkan R1 merasa berharga apabila “saya dapat saling memberi kritik yang membangun dan mampu menerima kenyataan”. Oleh R6 dan R11 masing-masing merasa, mereka berharga ketika dapat menjadi teman sharing atau curhat dan saat menerima masukan/ diingatkan oleh rekan kerja yang lain [Lamp. 4, h. (7)]. Pernyataan mereka diperkuat oleh rekan kerja. Demikian pula dirasakan oleh R7 dan R8 yang mengalami diri mereka berharga saat diajak berdiskusi, berani berpendapat, dan dilibatkan [Lamp. 4, h. (7)]. Selanjutnya R2, R9, dan R11 merasa berharga apabila dapat bekerja sama, menolong, dan memberi solusi untuk rekan kerja [Lamp. 4, h. (7)]. Dan R5, R6, R12 menegaskan bahwa keberhargaan tampak dalam keakraban dan kekeluargaan di antara sesama rekan kerja, sehingga tidak terjadi pengkotak-kotakan [Lamp. 4, h. (7)]. Ungkapan tegas keduabelas responden diteguhkan oleh pengalaman rekan kerja mereka masing-masing [Lamp. 7, h. (65)-(76), no. 1, 2, 3, 4, 10].

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 b. Pembahasan Berikut ini uraian rasa berharga dari keduabelas responden dilihat dalam hubungan mereka dengan Tuhan, anak didik, dan rekan kerja. Para responden merasa berharga di hadapan Tuhan sebab mereka dicintai oleh Tuhan dan dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk berbuat baik. Keberhargaan responden di hadapan Tuhan tampak pula dalam kemampuan untuk berpikir dan bertindak benar. Seorang mampu bertindak benar karena ia telah dijiwai oleh semangat cinta kasih Injili. Semangat inilah yang menggerakkan responden dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pengajar dan pendidik di lingkungan PDp (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 101). Selajutnya, Tuhan telah memberikan pula talenta/ kemampuan serta ketidaksempurnaan dalam diri responden, namun justru inilah yang membuat mereka merasa berharga. Ada aneka keberhargaan dari keduabelas responden dalam relasi mereka dengan anak didik. Menurut pengalaman para responden, mereka merasa berharga saat mampu menjadi teladan bagi anak didik, menghargai anak didik dalam proses belajar, berkomunikasi dan mendekati anak yang sedang bermasalah secara personal sekaligus membangkitkan semangatnya. Hal ini sangat tampak bahwa para responden mampu mengintegrasikan iman dan kehidupan. Secara konkret mereka memberi jalan demi terciptanya dunia baru bagi anak didik. Proses perubahan terjadi melalui tindakan nyata, sehingga melalui kehadiran dan tindakan kasih mereka lahirlah hidup baru dalam diri anak didik. Terwujudnya hidup baru menjadi tanda bahwa kesamaan martabat manusia mendapatkan kepenuhannya (Konstitusi SPM, 1984: 17-19). Selanjutnya pengalaman responden

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 lain berbicara, bahwa rasa berharga dirasakan saat anak didik menyayanginya, merindukannya, memahami karakter pribadinya, dan dalam hal sederhana yaitu memberi ucapan “terima kasih”. Rasa berharga yang dialami oleh keduabelas responden dalam hubungan mereka dengan rekan kerja, antara satu dengan yang lain menunjukkan adanya kesamaan. Mereka merasa berharga saat mampu bekerja sama dan saling menolong. Rasa berharga dalam keakraban dan kekeluargaan, sehingga tidak ada jarak/ sekat/ pengkotak-kotakan antara satu dengan yang lain. Dirasakan pula saat berdiskusi, berani berpendapat, dan dilibatkan. Berharga karena dipercaya sesuai dengan kemampuan dalam bidangnya maupun dalam tugas fungsional. Mengalami diri berharga dengan saling memberi dan menerima, memberi kritik yang membangun, mampu menerima kenyataan, menjadi teman dalam berbagi , memberi solusi, dan mengingatkan antara satu dengan yang lain. 5. Pemahaman Guru PDp akan nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart a. Hasil Penelitian Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart dipahami masing-masing oleh R4 “saya memahami teladan nilai berani berkurban”, R5 mengatakan “teladan nilai memberi perhatian bagi pendidikan generasi muda”, dan yang dipahami R7 ialah “nilai iman dengan mengandalkan kebaikan Allah”. Hal ini ditegaskan secara spesifik oleh R1, R6, dan R10 bahwa keteldanan nilai Santa Yulia ialah nilai iman yang dihayati ialah beriman seperti Bunda Maria, dengan kesederhanaan dan kerendahan hati [Lamp. 4, h. (8)]. Selanjutnya R1, R2, R4, dan

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 R11 memahami keteladanan nilai memberi pelayanan dengan kasih [Lamp. 4, h. (8)]. Nilai keteladanan Santa Yulia dalam memberi perhatian kepada anak didik yang “khusus, terlantar, miskin baik secara fisik, materi, kemampuan, psikis, dan spiritual, dipahami oleh R3, R5, R8, dan R9 [Lamp. 4, h. (8)]. Oleh R12 dikatakan bahwa “nilai-nilai keteladanan Santa Yulia belum saya dipahami sepenuhnya”. b. Pembahasan Berdasarkan pemahaman para responden, dalam memahami nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart sebagai pendidik sangat beragam. Mereka memahami keteladanan Santa Yulia dengan memberi perhatian kepada anak didik yang “khusus”, kurang baik dari segi finansial keluarga, kemampuan akademik, mental, dan spiritualnya, serta anak didik yang sedang bermasalah. Dalam sharing dikatakan bahwa dengan memberi perhatian dan memahami segala keunikan anak-anak tersebut, mereka dapat mengangkat anak-anak yang demikian. Nilainilai teladan Santa Yulia yang dipahami menjadi jiwa dalam tindakan mereka dengan cara memberi perhatian khusus pada anak-anak didik yang lemah dan solider dengan yang miskin. Sebagaimana ditulis oleh Darminta (2002: 26) bahwa “Bunda Maria diangkat oleh Allah menjadi wanita mulia. Atas tindakan Allah inilah, Maria mengalami kehidupan baru. Hidup baru, yakni hidup Allah sendiri, yang telah mengangkat dirinya dari kerendahan”. Kehidupan baru seperti dialami oleh Bunda Maria inilah yang hendak dibagikan kepada anak didik, sehingga anak-anak dapat mengalami kasih Allah melalui kasih para pendidik (Pengurus Perkumpulan Dharmaputri, 2011: 121). Bunda Maria dijadikan pola bagi Santa

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Yulia untuk mengimani Allah yang Baik dalam hidupnya. Allah telah mengangkat dirinya yang lemah sehingga memiliki iman yang kuat akan Penyelenggaraan Ilahi. Ia melalui karya kerasulannya dalam bidang pendidikan. Ia hendak mengangkat martabat generasi muda untuk mendapat pendidikan yang layak. Melalui karya pendidikan Santa Yulia hendak mengejawantahkan kasih dan karya Allah yang tanpa batas dan sekat (Irmine, 1998: 57-58). Pemahaman yang mendalam atas keteladanan nilai pelayanan dan kasih, memperjuangkan nilai kesederhanaan, dan kerendahan hati seperti teladan Bunda Maria diwujudkan oleh para responden. Masing-masing memahami nilai pengurbanan, perhatian pada generasi muda untuk mendapatkan pendidikan, dan iman di mana responden mengandalkan kebaikan Allah seperti yang telah diteladankan oleh Bunda Maria dan Santa Yulia Billiart. Namun seorang responden, karena keterbatasan pemahamannya, dia belum menyadari sepenuhnya nilai-nilai keteladanan Santa Yulia. Walaupun dia telah sering memberikan perhatian khusus kepada anak-anak didik yang memerlukan perhatian ekstra. ● Aspek Penghayatan: 6. Usaha untuk menghargai keunikan diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja a. Hasil Penelitian Perwujudan penghayatan tampak dalam usaha menghargai keunikan/ keistimewaan diri yang diungkapkan oleh R5 dengan usaha “menyadari diri saya adalah manusia”. Oleh R1 dan R8 dikatakan bahwa setelah menyadari, mereka berusaha untuk menerima dan selalu mengolah anugerah kekuatan dan kelemahan

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 diri mereka [Lamp. 4, h. (8)]. Sedangkan menghargai keunikan diri diwujudkan oleh R6 dan R7 dengan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki dan membagikan kepada yang lain [Lamp. 4, h. (8)]. Selanjutnya R2, R3, R4, R6, R9, R11, dan R12 berusaha untuk selalu bersyukur dan berani menerima diri sebagai bentuk menghargai keunikan diri sendiri [Lamp. 4, h. (8)]. Usaha para responden dikuatkan oleh rekan-rekan kerja mereka [Lamp. 7, h. (65)-(75), no. 1-3]. Penghargaan kepada anak didik pun diusahakan oleh R8 dengan melakukan pendekatan secara personal kepada anak-anak didik yang sedang mengalami masalah. Oleh R3 diupayakan dalam bentuk “saya memberi pujian kepada anak-anak didik” dan R3 “mengusahakan untuk senantiasa berdamai dengan anak-anak didiknya”. Sedangkan R1, R2, R4, R6, R9, R11, dan R12 berusaha menghargai anak-anak didik pertama-tama dengan mengenal dan memahami kemampuan serta karakter masing-masing anak, sebagai “anak jaman” [Lamp. 4, h. (8)]. Secara lebih rinci R6 mengatakan bahwa: Saya pelan-pelan mendekati anak secara pribadi di luar waktu formal, terlebih anak-anak yang “khusus”. Saya mencoba masuk kepada anak didik, pertama-tama ingin mengenal anak-anak secara lebih dekat dan dalam, misal saya masuk melalui hal-hal yang ia sukai, sehingga saya dapat masuk melalui pintu mereka dan dapat membantu mereka. Setelah hal tersebut diusahakan, R1, R4, R5, R6, R9, R10, dan R12 melanjutkan dengan memperlakukan setiap anak didik sebagai subyek yang hidup yang memiliki kemampuan dan karakter berbeda-beda serta mengusahakan memberi perhatian dan perlakuan adil kepada mereka [Lamp. 4, h. (8)].

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Pengalaman mereka dikuatkan oleh ungkapan yang dipancarkan oleh anak-anak didik dari para reponden [Lamp. 6, h. (41), (44)-(46), (49), (50), (52), no.1-5]. Usaha menghargai keunikan rekan kerja ditunjukkan oleh R1, R2, R3, R6, R7, R9, R11, dan R12 dengan mengenal, menerima, dan mendalami setiap pribadi dari rekan kerja mereka [Lamp. 4, h. (9)]. Kemudian oleh R4 diwujudkan dengan “menghargai peran dan fungsi rekan kerja pada porsinya”, Hal ini didukung oleh R4 dengan berusaha “menempatkan dirinya”. Oleh R3 dan R7 diusahakan dengan memberi semangat dan menyapa [Lamp. 4, h. (9)]. Sedangkan R4 dan R5 yang termasuk senior mengatakan bahwa mereka terbuka dan bersedia dipimpin oleh yang lebih muda dan memiliki kemampuan [Lamp. 4, h. (9)]. Kemudian R6 dan R7 menegaskan bahwa salah satu usaha menghargai keunikan rekan kerja adalah dengan berani mengatakan misal ketidakcocokan dengan suatu alasan dan berani berdiskusi demi kebaikan [Lamp. 4, h. (9)]. Sedikit berbeda dengan R6 dan R7 bahwa usaha menghargai tampak dalam sikap berani mengingatkan dan mengambil resiko [Lamp. 4, h. (9)]. Oleh R7 diusahakan dengan “saya berbicara dan bersikap sopan serta menghormati rekan” dan R8 berusaha “berani untuk berdamai kembali”. Usaha masing-masing responden diakui kebenarannya oleh para rekan kerja yang terpancar [Lamp. 7, h. (66)-(76), no. 4, 5, 6, 10]. dalam sikap para responden

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 b. Pembahasan Para responden mengemukakan bahwa dalam usaha menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah bagi diri sendiri antara lain dengan bersyukur dan menerima diri apa adanya. Beberapa responden mensharingkan bahwa mereka menyadari dan menerima segala kekuatan dan keterbatasannya, serta selalu berusaha mengolah diri mereka. Adapun beberapa yang lain berusaha mengembangkan talenta/ kemampuan yang mereka miliki dan membagikannya. Ada pribadi yang menyatakan menyadari diri sebagai seorang manusia. Usaha mereka dalam menghargai anak didik ditunjukkan dengan mengenal dan memahami setiap kemampuan/ karakter anak didik yang berbedabeda, khususnya dalam memahami anak-anak jaman sekarang. Berusaha untuk memperlakukan anak didik sebagai subyek yang hidup. Mereka mencoba memahami keunikan/ karakter masing-masing anak tanpa membeda-bedakan. Lebih lanjut masing-masing responden berusaha untuk memberi pujian dan penghargaan, berdamai dengan anak didik, dan melakukan pendekatan secara pribadi kepada anak didik yang sedang mengalami masalah. Berdasarkan pengalaman mereka, wujud menghargai rekan kerja ditunjukkan dalam usaha mengenal, memahami, dan mendalami karakter setiap pribadi dari rekan kerja, memberi semangat dan sapaan, berani mengatakan ketidaksepahaman dan mau berdiskusi demi kebaikan, mau mengambil resiko, dan terbuka serta bersedia dipimpin/ dikoordinir oleh yang lebih muda dan mampu. Secara personal mereka masing-masing mengusahakan untuk menghargai

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 peran dan fungsi setiap rekan kerja pada porsinya, mampu menempatkan diri, berani berdamai, serta berbicara dan bersikap sopan satu dengan yang lain. 7. Usaha konkret mengembangkan anugerah akal budi a. Hasil Penelitian Pengalaman R1, R3, R6, dan R12 dalam mengembangkan anugerah akal budi secara konkret tampak dalam kemampuan membedakan antara yang baik dan tidak baik dengan usaha mengasah dan mengolah hati serta iman [Lamp. 4, h. (9)]. Sedangkan R1, R4, R5, R7, R8, R9, R10, dan R12 berusaha mengembangkan profesionalitas dengan memperkaya pengetahuan misal dengan mengikuti penataran, pelatihan, membaca buku-buku baru [Lamp. 4, h. (9)]. Upaya mereka dikuatkan oleh dokumentasi milik sekolah berupa surat-surat tugas mengikuti pelatihan, seminar, dsb. yang dicek oleh peneliti saat mengadakan studi dokumentasi. Sedangkan R7, dan R11 menyatakan bahwa selama ini mereka berusaha belajar dari orang lain/ rekan kerja yang lebih mampu. Ada pula yang mengusahakan seperti R5 dan R6 dengan berdiskusi yang melibatkan rasio/ nalar dan hati dalam sebuah sharing pengalaman dengan rekan kerja [Lamp. 4, h. (9)]. R6 menambahkan bahwa ia “berusaha untuk melakukan introspeksi diri demi mengembangkan akal budinya” dan R2 berusaha untuk “merencanakan dan mengatur alat peraga sebelum melaksanakan pembelajaran di sekolah”. Usaha para responden dikuatkan oleh para rekan kerja [Lamp. 7, h. (65)-(76), no. 9 dan Lamp. 7, h. (77)-(88), no. 10].

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 b. Pembahasan Pengalaman dua belas responden menghasilkan usaha konkret dalam mengembangkan anugerah akal budi ada yang memiliki kesamaan dan ada pula yang berbeda. Mereka mengembangkan dengan memperkaya pengetahuan dengan mengikuti misal: pelatihan, penataran, membaca buku-buku baru, mengakses berita penting, dan mau belajar hal-hal baru. Mengembangkan dengan mengoptimalkan akal budi, mengolah dan mengasah hati, sehingga mampu membedakan antara yang baik dan benar serta tidak baik dan tidak benar. Hal ini menunjukkan bahwa manusia dicipta sebagai makhluk luhur yang mengisyaratkan adanya satu keterikatan yang erat dan istimewa antara manusia dengan Sang Pencipta (Kej 1: 26-27). Berusaha untuk belajar dari orang lain, berdiskusi yang melibatkan nalar dan hati melalui sharing pengalaman, dan selalu berusaha untuk introspeksi diri sehingga oleh satu reponden ditegaskan dengan ujud bekerja dengan totalitas. 8. Usaha mewujudkan cinta/ kasih kepada Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja. a. Hasil Penelitian R1, R3, R5, R6, R7, R10, R11, dan R12 berusaha mewujudkan cinta mereka kepada Tuhan dengan memelihara dan mengolah hidup rohani serta berelasi dengan-Nya melalui berdoa, membaca sabda/ Kitab Suci, dan mengikuti kegiatan rohani di lingkungan dan Gereja [Lamp. 4, h. (9)]. Hal ini diteguhkan oleh rekan kerja [Lamp.7, h.(65), (67), (69)-(71), (75)-(76), no. 6-8]. Sedangkan

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 R4 mewujudkannya dengan ungkapan “saya percaya bahwa Allah itu baik”. R3 mengatakan “mewujudkan cinta kepada Tuhan dengan mencintai sesama”. Oleh R2 ditegaskan bahwa mencintai Tuhan berarti “saya berani menanggung salib dan memampakkan jati diri sebagai orang Katolik dalam kesaksian hidup”. Usaha mencintai diri oleh R8 diwujudkan dengan ungkapan “saya berusaha menciptakan keseimbangan hidup”. Lebih rinci R1, R3, R5, R6, R7, dan R11 mengatakan bahwa mereka merawat diri misal: mengatur pola hidup, olah raga, dan istirahat cukup dan berpenampilan rapi dan sopan seperti dikatakan oleh R1 [Lamp. 4, h. (10)]. R7 berusaha untuk “mengendalikan diri dan tidak emosional”. Sedangkan, R4, R6, R10, R12 berusaha untuk mengasihi diri dengan menerima dan mencintai diri apa adanya serta oleh R10 dan R12 lebih digarisbawahi bahwa mereka mencoba mendampingi anak yang “bermasalah” dengan penanganan khusus [Lamp. 4, h. (10)]. Hal ini dikokohkan oleh pendapat para rekan kerja mereka [Lamp. 7, h. (65)-(76), no. 3, 8]. Suatu usaha untuk memberikan kasih kepada anak didik menurut R1, R6, dan R8 yakni dengan membimbing, memotivasi, dan mengangkat anak yang masih “kurang” sehingga lambat laun tumbuh rasa percaya diri [Lamp. 4, h. (10)]. Sedangkan R8 menegaskan kembali dengan rinci bahwa: Saya senang mendampingi anak yang masih “kurang”, khususnya dalam bidang saya (Matematika). Saya memberi perhatian khusus padanya dengan memberi tambahan pelajaran dan bimbingan belajar. Karena dengan demikian saya berharap dapat mengangkat anak tersebut. Saya mengawalinya dengan memberikan soal yang mudah, sehingga anak merasa dan mengalami bahwa ia mampu mengerjakan. Hal ini menjadikannya percaya diri dan bersemangat.

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Sementara R1 dan R7 mencoba mewujudkan kasih mereka dengan memotivasi anak untuk saling menolong dan berbagi kemampuan misal dengan berdiskusi [Lamp. 4, h. (10)]. Selanjutnya oleh R3, R6, dan R7 menambahkan bahwa mereka berusaha memahami dan mencintai anak-anak didik sesuai dengan karakter pribadi dengan segala ada mereka . [Lamp. 4, h. (10)]. Sedangkan R9 lebih menekankan bahwa “saya berusaha akrab dan dekat dengan anak didik, sehingga dapat menjadi jalan untuk dapat berkomunikasi secara personal kapada anak yang sedang bermasalah”, seperti pengalaman dari R2 dan R6, dan didukung oleh pengalaman R4 sebagai suatu bentuk bela rasa [Lamp. 4, h. (10)]. Oleh R5 diungkapkan bahwa “saya mencintai anak berarti selalu berusaha sabar dengan mereka namun tetap tegas”. Para anak didik memberi penguatan bahwa semua yang diusahakan oleh para responden sesuai kenyataan dan tercermin dalam sikap [Lamp. 6, h. (42)-(52), no. 2-5, 8 dan 9]. R1, R2, R5, R9, R12 berusaha mewujudkan cinta/ kasih kepada rekan kerja dengan menyapa atau ngaruhke, memberi perhatian, dan mengunjungi khususnya saat mengalami sakit atau sedang dalam situasi susah [Lamp. 4, h. (10)]. Hal ini didukung oleh pendapat R4 dan R6 dengan wujud berbela rasa [Lamp. 4, h. (10)]. Mencintai rekan kerja yang unik diwujudkan oleh R3, R6, R7, dan R10 dengan mengenal, memahami, dan menerima rekannya sesuai dengan karakter dan kemampuan masing-masing [Lamp. 4, h. (10)]. Pengalaman tersebut dikuatkan oleh pengalaman para rekan kerja [Lamp. 7, h. (65)-(76), no. 4, 6, 10]. Oleh R3 dan R6 diusahakan dengan membangun kerja sama dan kenyamanan

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 [Lamp. 4, h. (10)]. Namun, menurut R8 justru diungkapkan “saya berani mengingatkan hal-hal yang kurang sesuai”. Selanjutnya masing-masing mulai dari R4, R6, R7, dan R10 mengatakan bahwa dengan total memberikan diri dalam melayani, membantu memberi solusi atau jalan keluar, berbicara dengan sopan dan hormat kepada rekan kerja, dan berusaha untuk tidak meninggalkan yang lain/ seorangpun [Lamp. 4, h. (10)]. Hal ini diperkuat oleh kesaksian rekan kerja mereka [Lamp. 7, h. (68), (70)-(71), (74), no. 6, 10]. b. Pembahasan Dua belas responden secara beragam membagikan pengalaman mereka dalam usaha menghayati spiritualitas dengan mengkonkretkan kasih mereka. Secara nyata oleh sebagian besar responden dalam mengusahakan relasi kasih mereka kepada Tuhan ditunjukkan dengan memelihara hidup rohani dengan berdoa, membaca Kitab Suci, dan mengikuti kegiatan rohani baik di lingkungan atau Gereja. Mereka pun berusaha untuk mengolah diri agar relasi dengan Tuhan tetap terjaga dengan baik. Seperti ditegaskan oleh Purwatmo (20018: 11) bahwa relasi dekat antara manusia dengan Allah menjadi satu bukti bahwa manusia memiliki keserupaan dengan Allah. Selanjutnya usaha responden dalam menghargai diri mereka sendiri secara jasmani tampak dalam menjaga dan mengatur hidup, contoh berolah raga, mengatur pola makan, dan memberi ruang bagi diri untuk beristirahat cukup. Hal ini sebagai usaha menerima dan mencintai diri seperti diungkapkan oleh beberapa

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 responden lain. Mereka berusaha mencipta keseimbangan hidup, mengendalikan diri, dan tetap menjaga agar tampil rapi dan sopan. Usaha mengkonkretkan kasih kepada anak didik, beberapa responden melakukannya dengan memahami dan mencintai anak didik sesuai dengan karakter masing-masing. Beberapa responden yang berusaha memotivasi anak untuk selalu belajar, membangun rasa percaya diri, dan mewujudkan saling tolong dan berbagi “kemampuan” antar anak didik. Dilengkapai dengan cara membangun keakraban dan kedekatan dengan setiap anak didik, berkomunikasi secara pribadi dengan anak yang sedang mengalami masalah dan mendampinginya secara khusus, berbela rasa, menjadi teladan/ contoh bagi anak didik, serta berusaha untuk sabar namun tetap tegas. Perwujudan penghayatan spiritualitas oleh dua belas responden kepada rekan kerja tampak dalam usaha yang bervariasi. Mereka berusaha selalu menyapa atau ngaruhke, memberi perhatian khusus, melakukan kunjungan kepada rekan kerja atau keluarganya, khususnya yang sedang sakit dan sedang dalam kesusahan. Mengusahakan untuk mengenal, memahami, dan menerima rekan kerja mereka sesuai dengan karakter pribadinya. Selanjutnya masing-masing mengupayakan membangun kerja sama dan kenyamanan dalam melaksanakan tugas di tempat kerja, berani mengingatkan yang lain apabila ada hal yang kurang pas, berbela rasa dalam suka dan duka, total memberikan diri dalam pelayanan, membantu memberi solusi pada yang membutuhkan dan mencarikan jalan keluar, tidak meninggalkan satu orangpun, berusaha untuk saling hormat dan sopan, serta dapat menjadi panutan/ teladan bagi rekan kerja yang lain. Maka hal-hal tersebut

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 sejalan dengan GS artikel 34 bahwa manusia sebagai partner Allah bertanggung jawab mewujudkan kesejahteraan bagi rekan kerja/ sesamanya. 9. Faktor yang mendukung dan menghambat pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. a. Hasil Penelitian Beberapa faktor pendukung baik internal ataupun eksternal tampak dalam ungkapan R1-12 dengan kekhasan setiap responden. Secara internal dari diri sendiri berturut-turut dikatakan oleh R1 bahwa ia memahami dan menghidupi visi san misi sekolah, bagi R3 adalah adanya semangat dan kemauan, oleh R4 dikatakan adanya kesetiaan dan kepedulian, R4 menambahkan ia dapat menikmati pekerjaan atau melakukan pekerjaan tidak di bawah tekanan sehingga hal ini sangat mendukungnya. Sementara bagi R5 faktor yang perfect, ia selalu mengerjakan segala sesuatu dengan mengedepankan disiplin. R8 merasakan bahwa ia pribadi yang terbuka dan mau bergaul dengan siapapun. Faktor pendukung dari dalam diri R9 ialah merasa ikut memiliki atau andarbeni sekolah. Secara mantap dikatakan oleh R7 dan R12 bahwa keduanya selalu untuk introspeksi dan refleksi diri. R2 dan R6 dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa ada kekuatan sabar, rendah hati, dan tanggung jawab. Sedangkan, menurut R6 dan R8 dalam pribadi mereka tampak satu keteladanan akan nilai. Semua dapat dilihat pada lamp. 4, h. (11). Faktor-faktor pendukung secara eksternal tampak dalam ungkapan R1-12. Ada budaya saling menghargai, peduli, dan pengertian di sekolah merupakan

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 faktor pendukung dari R1 dan R2. Oleh R3 pengalaman dapat saling kerja sama dirasakan sebagai salah satu faktor pendukung selama ini. Selanjutnya menurut R3, R4, R11, dan R12 ialah ada kesempatan atau waktu untuk berdoa bersama dan kegiatan rohani seperti retret. Sementara itu R5 dan R6 mengatakan bahwa mereka merasa bahwa keterbukaan untuk mau belajar kepada yang lebih muda dan mampu, merupakan hal yang mendukung. Bagi R7 dan R8 menyebutkan bahwa kebijakan sekolah yang memberi kesempatan bersekolah kepada anak didik yang kurang mampu menjadi salah satu kekuatan yang mendukung eksistensi sekolah. Hal yang lebih digarisbawahi oleh R8 bahwa semua guru telah berusaha menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah, sehingga tidak satu anak didik pun yang merasa disisihkan atau dalam istilah bahasa Jawa di “ceng” dan sekolah tidak membuka kelas unggulan. Kesemuanya tampak dalam lamp. 4, h. (11). Faktor-faktor yang menghambat baik internal maupun eksternal tampak dalam ungkapan R1-R12. Secara internal faktor yang menjadi penghambat dikatakan oleh R1 dan R3 yaitu adanya egoisme pribadi. Sedangkan R8 mengatakan kurang sabar dan R12 merasa bahwa saat lelah dirinya kurang menyempatkan waktu untuk Tuhan secara intensif. Sementara R1 mengatakan bahwa kurang adanya keterbukaan dan komunikasi sehingga acap kali terjadi berbicara di belakang. Bagi R3 lebih menekankan soal adanya kurang percaya diri dan ada person tertentu yang tidak peduli/ cuek. Selanjutnya R2, R6, dan R7 masing-masing mengatakan adanya rasa malas, putus asa, kelelahan fisik, dan ada pemahaman tentang spiritualitas tersebut namun kurang menyadari bahwa hal itu

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 sudah diwujudkan sehingga kurang mendalam. Seluruh faktor tersebut dapat dilihat dalam lamp. 4, no. (12). Selanjutnya, dari faktor eksternal yang menghambat menurut R1 dan R6 yaitu terjadinya komunikasi yang kurang baik sehingga terjadi mis komunikasi. Menurut R11 dan R12, ada perbedaan pendapat namun kurang berani konfrontasi sehingga acap kali berbicara di belakang. Sedangkan R1, R3, R4, R5, R6, R8, dan R10 masing-masing secara berurutan menyebutkan faktor penghambat yakni adanya kepala sekolah yang kurang menanggapi undangan kedinasan sehingga menyebabkan kurangnya informasi untuk sekolah, ada pihak yang kurang menjaga privasi pribadi guru, ada kalanya kepala sekolah kurang mendukung kegiatan sekolah seperti: lomba, ada unit sekolah yang kurang memberi penghargaan yang seimbang, ada para suster di salah satu unit kurang dapat “bersentuhan” dengan dengan anak didik oleh sebab padatnya tugas, ada rencana kerja yang tidak dapat terlaksana, terjadi kelelahan fisik sehingga kurang kontrol diri dan ada yang mengatakan bahwa ada suster di suatu unit tertentu kurang memberi teladan dalam cara menyapa dan mengingatkan yang “salah” atau kurang pas. Semua dapat dilihat dalam lamp. 4, no. (12). b. Pembahasan Berdasarkan pengalaman dari keduabelas responden faktor-faktor yang mendukung dan menghambat baik internal maupun eksternal tampak dalam sharing mereka. Berikut ini faktor-faktor yang mendukung secara internal antara lain: adanya kesatuan pemahaman visi dan misi sekolah sehingga dapat dihidupi,

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 semangat dan kemauan yang tinggi, kesabaran, kerendahan hati, tanggung jawab, kesetiaan, kepedulian, mampu menikmati setiap pekerjaan/ tugas, bekerja dengan maksimal, disiplin diri, terbuka dan mau bergaul dengan siapapun, dapat menjadi teladan, dan rasa andharbeni atau memiliki sekolah. Selanjutnya secara eksternal antara lain: ada budaya saling menghargai, peduli, dan pengertian di lingkungan sekolah, mampu saling bekerja sama, memberi waktu untuk untuk berdoa bersama dan kegiatan rohani seperti: retret dan rekoleksi, ada pembinaan dan pelatihan dari lembaga, terciptanya team work yang solid, mau belajar kepada yang muda dan lebih bisa sebagai bentuk keterbukaan dan kerendahan hati, adanya peneguhan dari pemahaman nilai-nilai keSPMan dalam misal dalam pengantar rapat/ pertemuan, adanya kebijakan sekolah untuk memberi kesempatan bagi anak kurang mampu untuk masuk di sekolah SPM, dan ada gerakan bersama dari para guru dalam memperjuangkan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah serta tidak dibukanya kelas unggulan, sehingga tidak satu pun anak didik yang merasa disisihkan. Adapun faktor-faktor yang menghambat keduabelas responden, secara internal tampak dalam: egoisme pribadi, ada yang kurang terbuka, kurang komunikasi, person tertentu ada yang kurang peduli/ cuek, kurang percaya diri, ada rasa malas, kurang dapat mengatur waktu, terjadi kelelahan fisik, memahami spiritualitas tersebut namun kurang menyadari, kurang sabar, dan saat lelah kurang menyempatkan waktu untuk Tuhan. Selanjutnya secara eksternal seperti: adanya kurang komunikasi sehingga terjadi mis komunikasi, ada pribadi yang kurang menjaga privasi rekan kerja,

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 penghargaan sekolah terkadang kurang seimbang, rencana kerja yang tidak dapat terlaksana karena berbenturan waktu dengan hal yang lebih mendesak, perbedaan prisip namun tidak berani berkonfrontasi sehingga berbicara di belakang, adanya kelelahan fisik karena volume kerja (ISO) sehingga menjadi kurang kontrol diri, ada kepala sekolah yang tidak selalu menanggapi undangan kedinasan, kurang didukung adanya alat peraga, ada suster yang kurang “bersentuhan” dengan anak didik tugas padat, kurang adanya keteladanan para suster dalam menyapa dan mengingatkan yang salah, ada gejala kurang kompak dari para pimpinan unit masing-masing sekolah dalam satu wilayah dalam bersinergi. 10. Pemahaman Guru PDp mengenai kompetensi kepribadian a. Hasil Penelitian Pemahaman para responden terkait dengan kompetensi kepribadian guru disebutkan oleh R1, R4, R6, dan R12 tampak dalam diri guru yang inovatif dan profesional dalam melaksanakan tugas [Lamp. 4, h. (13)]. Selain itu dipahami oleh R5, R6, R7, R8, R10, dan R12 ialah guru yang mampu memberi teladan nilai-nilai hidup kepada para anak didik [Lamp. 4, h. (13)]. Menurut pemahaman R1 dan R5 tampak dalam kepribadian guru yang jujur, percaya diri, disiplin, bertanggung jawab, dan berani mengambil resiko [Lamp. 4, h. (13)]. R1 menambahkan lagi bahwa guru berkepribadian ialah “guru yang memiliki jati diri positif”. Sedangkan R3 dan R8 memahami bahwa kualitas kepribadian guru tampak dalam guru yang memiliki keseimbangan hidup antara bidang rohani dan pengetahuan [Lamp. 4, h. (13)]. Oleh R6 dan R7 dipahami sebagai sosok yang

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 memiliki iman mendalam sesuai dengan ajaran agama atau iman kepercayaannya [Lamp. 4, h. (13)]. Dan R2, R4, R9, R10 masing-masing memahami guru berkepribadian yaitu guru yang loyal, memiliki motivasi, berpenampilan baik dan rapi, pribadi yang mampu berelasi dekat dengan anak didik khususnya “anak-anak jaman”, guru yang memiliki hati, dan guru yang mampu mengamalkan ajaran imannya yaitu kasih kepada para anak didiknya [Lamp. 4, h. (13)]. b. Pembahasan Dua belas responden memahami paham kompetensi kepribadian secara garis besar sama dan satu dengan yang lain saling melengkapi. Memahami bahwa guru yang memiliki kompetensi kepribadian ialah guru yang inovatif. Guru mampu memberi teladan baik kepada anak didik. Beberapa memahami sebagai seorang guru yang jujur, percaya diri, bertanggung jawab, berani mengambil resiko, memiliki keseimbangan rohani dan pengetahuan, beriman mendalam sesuai ajaran imannya dan mengamalkan nilai-nilai imannya. Guru berkepribadian adalah guru yang memiliki jati diri positif, mampu berelasi dekat dengan anak didik, memiliki hati, dan yang menyadari tugas menjadi guru adalah suatu panggilan. Seluruh responden telah memahami paham kompetensi kepribadian seperti uraian PP RI No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, Bab II, Bagian Kesatu Kompetensi, Pasal 3, ayat (5) bahwa kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan secara mandiri dan berkelanjutan. 11. Perkembangan kompetensi kepribadian Guru PDp setelah memahami dan menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah a. Hasil Penelitian Setiap responden mulai dari R1-R12 menyebutkan aneka ragam kompetensi/ kualitas kepribadian yang semakin berkembang. R1, R2, R3, R6, R7, dan R12 mengalami bahwa kualitas mereka semakin kuat dalam hidup beriman dan bersyukur karena berada dan bekerja di sekolah Katolik [Lamp. 4, h. (13)]. Selanjutnya ditambahkan lagi oleh R1, R3, R7, R10, R11, dan R12 bahwa mereka semakin menjadi guru yang berwibawa dan bijaksana [Lamp. 4, h. (13)]. Hal tersebut dilengkapi lagi oleh R1, R2, R3, R4, R7, R8, dan R12 bahwa mereka semakin memiliki pribadi yang mantap dan mampu menjadi teladan bagi anakanak didik [Lamp. 4, h. (13)]. Sedangkan secara khusus R4 dan R9 menyatakan bahwa mereka semakin total dalam memberikan diri [Lamp. 4, h. (13)]. Oleh R5 dikatakan ia semakin konsisten dengan sikap disiplin dan tertib [Lamp. 4, h. (13)]. Dan R10 mengungkapkan bahwa “saya selalu berusaha berelasi dengan baik dengan para orang tua/ wali anak didik”. R10 pun mengatakan bahwa ia “dapat menjadi panutan atau teladan bagi anak didik dalam mewartakan kasih Tuhan. Saya pun semakin memiliki totalitas sebagai seorang guru dan menyadari bahwa tugas menjadi seorang guru adalah suatu panggilan”.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Pengalaman R1-R12 bahwa dengan memahami dan menghayati spiritualitas SPM mereka semakin dapat memperkembangkan kompetensi kepribadian sebagai guru PDp. Hal ini diteguhkan oleh pangalaman rekan-rekan kerja mereka [Lamp. 7, h. (77)-(88), no. 1-9]. Terbukti pula dalam dokumentasi DP3 dari R1R12 yang menunjukkan bahwa mereka memenuhi kualifikasi kompetensi kepribadian sebagai seorang guru PDp yang baik. Secara spesifik DP3 (2013) R1R12 dalam unsur ketaatan memberi gambaran secara konkret atas kualitas kepribadian yang baik dengan mentaati: Peraturan perundang-undangan dan atau peraturan sekolah yang berlaku dengan berlaku: jujur, tertib, cermat, semangat, memelihara, dan meningkatkan persaudaraan, patuh pada jam kerja yang berlaku, menggunakan fasilitas dengan baik, menjaga moral dan kesusilaan, memberi teladan baik dan menjaga nama baik profesi, menyimpan rahasia jabatan, serta meningkatkan dan mengembangkan kualitas akademik dan non akademik. Hal kejujuran, dari keduabelas responden dinilai baik seperti: “Melaksanakan tugas dengan kasih dan tulus, tidak menyalahgunakan wewenang, melaporkan hasil kerja kepada kepala sekolah” (Dokumentasi DP3: 2013). b. Pembahasan Pemahaman para responden pada butir no. 10 dapat ditarik benang merah bahwa dari dua belas responden yang mensharingkan pengalaman mereka memahami dan menghayati spiritualitas SPM, mereka semakin berkembang dalam kompetensi/ kualitas kepribadian sebagai guru. Sebagian besar responden mengalami bahwa mereka semakin memiliki iman mendalam, berwibawa dan bijaksana, berkepribadian mantap, menjadi teladan/ panutan, total dalam

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 memberikan diri, tertib, disiplin, dan semakin mampu menjalin relasi dan komunikasi yang baik dengan orang tua/ wali siswa. Kriteria-kriteria sebagai seorang guru yang memiliki kompetensi kepribadian telah ada dalam diri para responden. Kualitas kepribadian yang ditunjukkan dalam pola relasi mereka dengan anak didik dan rekan kerja, seperti ditegaskan oleh PP RI No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, Bab II, Bagian Kesatu Kompetensi, Pasal 3, ayat (5) bahwa: Kompetensi kepribadian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mencakup kepribadian yang: a. beriman dan bertakwa, b. berakhlak mulia, c. arif dan bijaksana, d. demokratis, e. mantap, f. berwibawa, g. stabil, h. dewasa, i. jujur, j. sportif, k. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, l. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri, m. mengembangkan secara mandiri dan berkelanjutan. Aneka kriteria tersebut mau memberi gambaran bahwa pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah turut berperan bagi keduabelas responden dalam meningkatkan kompetensi kepribadian mereka. Dengan demikian para responden sungguh mengalami bahwa penghayatan mereka akan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah berperan membentuk kepribadian unggul. Kepribadian unggul menjadi bagian dari pilar keempat yang harus dibangun oleh para guru PDp, sehingga mereka dapat menjadi pribadi utusan Allah yang berkualitas dan profesional (Keputusan Kapitel SPM Provindo, 2010: 34). Dengan demikian seluruh responden menunjukkan profesionalitas seorang pendidik, yang selaras dengan prinsip-prinsip profesionalitas dalam UU RI No. 14, pasal 7, ayat (1), disebut dalam butir antara lain: a. memiliki bakat, minat, dan panggilan jiwa, b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 akhlak mulia, d. memiliki kompetensi yang diperlukan, e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan. 12. Usulan program untuk semakin memahami dan menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah a. Hasil Penelitian Menurut pendapat R1, R3, R7, R9, R11 mereka mengusulkan ada kegiatan penyegaran/ rekoleksi/ week end rohani dengan menggali nilai-nilai spiritualitas SPM [Lamp. 4, h. (14)]. Selanjutnya R2, R4, R5, R8, dan R10 secara berurutan mengusulkan penyegaran spiritualitas dalam satu wilayah, adanya program penggalian nilai keSPMan dalam lingkup intern unit sekolah, menggali enam pilar dari renstra PDp secara bertahap, menggali nilai-nilai keteladanan Yulia Billiart, program pembinaan bagi para guru untuk menggali nilai-nilai keSPMan sehingga dapat dibagikan kepada anak-anak sebagai landasan dan memperkaya nilai-nilai dalam melaksanakan kurikulum 2013, dan kegiatan berkumpul bersama para guru PDp sewilayah [Lamp. 4, h. (14)]. b. Pembahasan Program yang diusulkan untuk meningkatkan kesetiaan pada spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah, dari wawancara dengan dua belas responden antara lain:

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 1) Bentuk pendampingan yang diusulkan berupa penyegaran rohani yang dikemas dalam bentuk rekoleksi, week end, dan bentuk acara kebersamaan untuk membangun keakraban dan kedekatan antar guru. 2) Materi yang diusulkan ialah nilai-nilai yang terkandung dalam spiritualitas SPM atau enam pilar dalam renstra PDp. 3) Waktu pelaksanaan diusulkan misal: sebelum rapat kerja tahunan, masa advent atau prapaskah, dan saat-saat insidental sesuai dengan kebutuhan tiap unit sekolah. D. Dampak Pemahaman dan Penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah Hasil penelitian menunjukkan bahwa para responden telah memahami dan menghayati spiritualitas yang menjadi pilar ketiga. Dampak tersebut dirasakan dan dialami oleh para responden, anak-anak didik, rekan kerja, dan korps. Dapat dicermati dalam uraian seperti berikut: 1. Bagi para responden Para responden telah memahami spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah dengan baik, sehingga mampu menghayati bahwa diri mereka sangat istimewa di hadapan Tuhan dan sesama. Mereka menghayati keberhargaan diri dengan terbuka mengenal, menerima, dan mengakui diri sebagai pribadi yang memiliki kekuatan dan sekaligus keterbatasan. Kesadaran bahwa mereka menjadi ciptaan yang amat berharga dan dicintai oleh Sang Pencipta, membuat mereka

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 menemukan eksistensi diri sebagai pribadi citra Allah. Yang mampu mengenal Sang Pencipta yang baik dan kasih sehingga dapat menyalurkan daya-daya kasih dan kebaikan-Nya kepada sesama. Dan akhirnya mereka menemukan jati diri sebagai anak-anak Allah sehingga mampu mencintai diri dengan segala kekuatan dan keterbatasannya. Para responden pun telah berusaha sekuat tenaga untuk menghayati spiritualitas tersebut. Terbukti dalam kesaksian hidup dan pelayanan mereka yang menampakkan keluhuran martabat sebagai citra Allah yang berharga. Mereka telah berusaha memartabatkan diri mereka, sehingga mereka pun mampu memartabatkan pribadi sesamanya. Inilah bukti bahwa para responden sungguh memiliki kompetensi kepribadian yang mencerminkan kedewasaan manusiawi dan rohani. Hal ini diteguhkan oleh gagasan Darminta (2013: 63) bahwa dewasa secara manusiawi ditunjukkan dalam sikap tanggung jawab, kompeten, tekun, teguh, dan bijaksana. Selanjutnya makin tampak jelas bahwa buah dari kedewasaan manusiawi ialah kedewasaan rohani. Di mana kekhasan kedewasaan rohani ada dalam pribadi yang otentik dan memiliki kebebasan batin. Setiap tindakan dilandasi sikap iman, komitmen, tanggung jawab dan segala keputusan diambil atas dasar terang budi dan iman. Oleh sebab itu pribadi yang dewasa/ merdeka mampu menghayati panggilan hidupnya selaras dengan rancangan Allah Sang Pencipta. Dengan demikian semakin memancarlah profesionalitas mereka sebagai seorang pendidik profesional. Namun para responden menyadari bahwa dalam hal tertentu mereka masih memiliki keterbatasan secara manusiawi. Kesadaran ini membuat mereka berani

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 terbuka untuk memperjumpakan keterbatasan mereka dengan kekuatan yang lain sehingga terjadi timbal balik untuk saling memperkaya. Sikap inilah yang menunjukkan ada proses saling mendidik. Ada gerak saling menyeimbangkan sehingga terjadi saling memberi kepenuhan. Proses mendialogkan kekuatan dan keterbatasan dapat saling memperkaya dan memenuhkan. Inilah wujud nyata dalam menghayati nilai kesamaan dan kerendahan hati dalam spiritualitas SPM. 2. Bagi para anak didik Para responden menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah dengan mewujudkan nilai kesetaraan, kasih, kebaikan, keadilan, kemerdekaan, dan menghargai. Berani menerima dan mengakui segala keunikan anak didik menjadi salah satu perwujudannya. Hal inilah yang sangat dirasakan oleh anak didik di mana mereka merasa dipahami, dihargai, dan dicintai sebagai pribadi, dengan segala keunikannya. Mereka merasakan kegembiraan karena dikenal, dipahami, dicintai dan dihargai, sehingga tumbuh rasa nyaman, aman, dan percaya diri. Kepribadian yang dewasa dan bijaksana membuat anak didik merasa menemukan figur ayah, ibu, dan sahabat di sekolah. Inilah yang membuat mereka merasa kerasan di sekolah. Mereka menemukan pribadi yang dapat menjadi teladan dalam hal: kedisiplinan, tanggung jawab, bertindak adil, dan berbela rasa.

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 3. Bagi para rekan kerja Berdasarkan kesaksian rekan kerja, para responden dikenal dan diakui sebagai pribadi yang mampu menghayati spiritualitas SPM. Tampak dalam kesaksian hidup yang dialami satu dengan yang lain. Penghayatan tersebut terpantul dari kompetensi kepribadian yang dihayati dalam kesaksian hidup dalam menghayati nilai iman, kasih, kebaikan, tanggung jawab, kerja sama, dan perjumpaan hati yang mendialogkan kekuatan dan keterbatasan diri satu dengan yang lain untuk saling menerima, melengkapi, dan mengutuhkan. Khusus bagi rekan kerja muda dari para responden, mereka mengalami bahwa kasih persaudaraan yang tulus, tanpa membedakan, saling memberi keperyaaan menjadikan rekan kerja muda merasa kerasan, diterima, dan dihargai. 4. Bagi Korps Spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah menjadi daya dan pengikat antara para Suster SPM dan para mitra kerja pendidikan. Ikatan yang dimanifestasikan dalam gerak bersama untuk memberi makna bahwa setiap manusia berharga. Tidak seorangpun hina, sehingga semakin mampu memberi pelayanan yang prima, tanpa batas dan sekat. Mampu memberikan pelayanan yang berpusat pada pelayanan Kristus. Sebab didukung kepribadian guru unggul dan integral.

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 E. Rangkuman Hasil Penelitian Bertitik tolak dari pengalaman keduabelas reponden, mereka telah memahami dan menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Dengan memahami dan menghayati spiritualitas SPM mereka menyadari bahwa pribadi mereka berharga dan istimewa. Lambat laun mereka mampu menerima, mengakui, dan mencintai diri. Merekapun mengalami bahwa kedekatan dengan Tuhan, diri sendiri, dan sesama semakin memperteguh kecitraan pribadi dan sesama sebagai citra Allah. Selain itu mereka lebih menghayati panggilan sebagai guru Katolik. Ikut ambil bagian dalam mencerdaskan generasi muda dengan berlandaskan nilai-nilai iman Katolik. Diejawantahkan dalam tri tugas Kristus, yakni sebagai nabi, imam, dan raja di lingkungan sekolah serta masyarakat. Mereka mampu menunjukkan kokohnya identitas korps, di mana spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah dihayati dalam melaksanakan tugas sebagai rekan kerja Allah. Terbukti dalam usaha mereka untuk semakin mengenal, menerima, dan mencintai anak-anak didik, rekan kerja, dan diri sendiri dengan segala kekuatan dan keterbatasannya. Tampak pula dalam usaha menghayati nilai-nilai kesetaraan, penghargaan, iman, kasih, kebaikan, keadilan, solidaritas, dan visioner yang terkandung dalam spiritualitas SPM. Penghayatan spiritualitas mereka wujudkan dalam dinamika bersama anak didik dan rekan kerja. Pelayanan berlandaskan iman dan kasih, menjadikan mereka mampu menghargai bahwa diri dan sesamanya adalah pribadi citra Allah yang mulia. Dengan demikian para responden dapat memancarkan kepribadian

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 yang kompeten, unggul, dan berintegritas sebab mereka mampu menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Yang diamalkan dalam kehidupan moral, spiritual, dan sosial kepada anak didik, rekan kerja, dan masyarakat sekolah. Para responden ialah guru PDp yang mengemban tugas sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai seorang pendidik, mereka secara nyata menunjukkan kualitas kepribadian yang matang dan berintegritas, sehingga mampu menumbuhkembangkan anak didik untuk berproses menjadi pribadi utuh. Proses perjumpaan terjadi, dengan ditandai oleh adanya kesadaran bahwa anak didik ialah anak-anak Allah, sehingga tumbuh sikap empati kepada anak didik. Mau menerima dan mengakui bahwa anak didik mau dan mampu untuk maju. Berani mengenal secara mendalam dan realistis setiap keunikan pribadi anak didik. Dan dengan berbesar hati rela membantu serta melayani. Mereka sebagai citra Allah, telah memiliki daya hidup Allah sendiri. Maka daya hidup Allah mereka bagikan dalam proses perjalanan edukatif antara pendidik dan anak didik (Darminta, 2006: 99-101). Para responden pun menghayati spiritualitas SPM dengan menjadi partner kerja Allah dalam membangun dunia baru. Mereka dipanggil Allah untuk terus berkarya bersama-Nya dalam bimbingan Roh Kudus memulihkan seluruh ciptaanNya. Para mitra kerja SPM dipanggil untuk mengutuhkan anak didik melalui proses pendidikan. Mengangkat martabat anak didik khususnya yang mengalami disharmoni dalam keluarga dan aneka keterbatasan baik dalam kemampuan berpikir, emosi, spiritual, material, serta sosial. Dengan mengangkat martabat

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 anak-anak tersebut mereka telah ikut mengejawantahkan arti menjadi rekan sekerja Allah demi terwujudnya dunia baru. Keteladanan Santa Maria dan Santa Yulia menjadi kekuatan bagi para responden dalam menghayati hidup sebagai rekan kerja Allah di sekolah-sekolah PDp. Mereka berani bergerak turun untuk mengangkat anak yang “kurang” dengan memberi perhatian, rasa berharga, cinta, dan keadilan. Menghayati tugas sebagai rekan kerja Allah dimaknai oleh responden sebagai proses memperjumpakan antara hati dengan hati. Menjadi rekan kerja Allah ditunjukkan dalam penghayatan mereka menjadi teman dan sahabat dalam berjalan untuk saling menumbuhkan, mengembangkan, dan mengubah secara benar dan dilandasi sikap penuh tanggung jawab (Darminta, 2006: 96-97). Namun di balik kekuatan tersebut bahwa masih ada beberapa keterbatasan dari dalam diri mereka, seperti egoisme pribadi, kemalasan, kurang dapat mengatur waktu, dan kelelahan fisik yang perlu disadari. Selain itu ada hal sebagian kecil dari responden yang telah mewujudkan spiritualitas secara konkret, namun masih perlu diperdalam dan diteguhkan lagi pemahamannya. Hal ini akan berdampak pada identitas pelayanan yang menjadi kurang optimal, identitas korps dalam memperjuangkan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah menjadi redup, dan identitas diri mereka sebagai guru Katolik dapat luntur. Ditambah suatu keprihatian internal kongregasi suster SPM untuk mendapat perhatian khusus, yaitu keteladan dan kesaksian hidup para Suster SPM dalam menghayati spiritualitas kadang mulai meluntur dan melemah. Selanjutnya ada fenomena bahwa beberapa suster belum memungkinkan ikut bersentuhan

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 dengan anak didik secara optimal, misal: ikut ambil bagian mengajar nilai-nilai keSPMan. Keterbatasan-keterbatasan inilah yang perlu diwaspadai, diperhatikan secara serius melalui refleksi dan koreksi secara personal dan komunal. Evaluasi internal dan eksternal untuk mencari akar permasalahan serta mencari jalan keluar demi suatu perbaikan. Keduabelas responden memiliki aneka kekuatan dan kelemahan. Kekuatan menjadi modal untuk semakin menampakan jati diri mereka sebagai manusia citra Allah. Keterbatasan mereka menjadi perjuangan untuk dibaharui secara terus menerus. Dibalik semua itu, masih ada peluang dan memberi harapan. Seperti dukungan penuh dari lembaga. Yang memberi kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan kompetensi kepribadian. Adanya kesediaan hati dari para responden untuk menerima pembinaan lanjut agar lebih mantap dalam menghayati spiritualitas SPM dan semakin menjadi pribadi yang integral. Dengan demikian mereka mampu memancarkan dan memberi kesaksian sebagai pribadi utusan Allah yang berkualitas dan berintegritas. Maka sebagai salah satu pembinaan lanjut bagi para responden mengharapkan adanya bentuk pembinaan seperti rekoleksi. Dengan materi nilainilai keSPMan. Bentuk pembinaan ini diharapkan memberi kesegaran baru, inspirasi, dan pencerahan bagi para guru PDp. Mereka sadar akan keterbatasan pribadi masing-masing, sehingga butuh pembinaan yang bertahap dan berkelanjutan. Mereka butuh untuk diperdalam, disegarkan, dan diteguhkan kembali dalam memahami dan menghayati nilai-nilai yang diperjuangkan dalam spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 BAB IV USAHA MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN SPIRITUALITAS KONGREGASI SPM BAGI PARA GURU PERKUMPULAN DHARMAPUTRI MELALUI KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) Peningkatan akan pemahaman dan penghayatan para guru PDp terhadap spiritualitas Kongregasi SPM yaitu “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”, dapat diusahakan melalui katekese model Shared Christian Praxis, yang dikemas dalam kegiatan rekoleksi para guru PDp. Karena itu, bab IV ini merupakan uraian usulan program tersebut. Pemaparan bab ini terdiri dari latar belakang pemikiran program katekese, usulan tema ketekese, rumusan tema dan tujuan, pelaksanaan program katekese, penjabaran program katekese, dan contoh persiapan katekese model Shared Christian Praxis. A. Latar Belakang Pemikiran Penyusunan Program Hasil penelitian tentang pemahaman dan penghayatan para guru PDp terhadap spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah, tampak bahwa para guru PDp telah memahami dan menghayati spiritulitas tersebut. Penghayatan spiritualitas tersebut diaktualisasikan dalam sikap menghargai keunikan diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja. Sikap ini tampak nyata dalam usaha mereka untuk mengenal, menerima, dan mencintai keunikan masingmasing; bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama sebagai citra Allah.

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Setiap orang bermakna memiliki arti, tidak seorang pun hina, orang-orang “lemah” justru diangkat demi memulihkan martabatnya sebagai anak-anak Allah. Para guru PDp pun senantiasa berusaha dalam mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Santa Yulia Billiart dengan memberi perhatian khusus kepada anak yang miskin. Artinya bahwa mereka berpihak kepada anak yang “kurang” dalam kemampuan intelektual, emosional, spiritual, sosial, dan material. Sikap iman menjadikan mereka berani menyandarkan diri dan hidup dengan kekuatan Tuhan. Selain itu, mereka pun mencoba untuk berani memandang ke depan, dengan mencoba belajar hal-hal baru. Seorang yang visioner mampu mengembangkan anugerah akal budi dengan berlandaskan hati nurani sehingga dapat mengaktualisasikan kemerdekaan sebagai pribadi dewasa manusiawi dan rohani serta bermartabat. Para guru PDp sebagai mitra kerja SPM telah berusaha memahami dan menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Penghayatan atas spiritualitas SPM memberi dampak bagi peningkatan kualitas kompetensi kepribadian mereka sebagai seorang guru PDp. Bukti dari semua itu ditunjukkan dalam identitas diri yang kokoh sebagai seorang guru Kristiani. Mereka ikut ambil bagian dalam mencerdaskan generasi muda menjadi pribadi utuh, dikawal oleh semangat dan nilai-nilai iman Katolik. Kepribadian guru yang integral ditunjukkan dalam identitas korps yang menjadi ciri bagi para guru PDp. Karena dijiwai spiritualitas SPM, mereka mampu menghayati tugas panggilannya sebagai mitra kerja SPM. Mereka ikut serta dalam menyebarluaskan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 citra Allah. Inilah bukti bahwa indentitas korps dimanifestasikan dalam pelayanan mereka. Pelayanan yang dijiwai oleh spiritualitas SPM mampu membuahkan pelayanan yang berkualitas dan berintegritas sehingga para guru PDp semakin memancarkan identitas pelayanan. Uraian di atas merupakan suatu kekuatan yang dimiliki oleh para Guru PDp untuk mewujudkan profesionalitas mereka. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada faktor internal maupun eksternal yang perlu diperhatikan sehingga tidak menghambat penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah para guru PDp. Sikap egois, malas, menjadi keterbatasan pribadi para guru PDp. Selain itu, pengaturan waktu yang kurang baik sehingga administrasi guru terbengkelai dan kelelahan fisik sehingga keseimbangan hidup kurang mendapat perhatian pun menjadi keterbatasan yang perlu dievaluasi. Sementara itu, keteladanan para Suster SPM dalam menghayati spiritualitas SPM kadang luntur dan para Suster SPM dalam “bersentuhan” dengan anak didik dirasakan masih belum optimal. Berbagai keterbatasan dan keprihatinan tersebut, menumbuhkan kesadaran para guru untuk menerima pembinaan lanjut, guna memperteguh para guru PDp dalam menghayati spiritualitas SPM. Karena itu, penulis mengusulkan program katekese bagi para guru PDp. Program ini sebagai suatu usaha untuk meningkatkan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah. Program katekese model Shared Christian Praxis (selanjutnya ditulis: SCP) merupakan salah satu model katekese yang memungkinkan dan cocok untuk dilaksanakan. Para guru PDp membutuhkan wadah untuk menggali dan berbagi

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 pengalaman hidup mereka secara aktif dan partisipatif. Selajutnya, mereka saling mengungkapkan pengalaman hidup dan refleksi atas pengalaman mereka. Kemudian, mereka diajak untuk memahami Tradisi atau Visi Kristiani yang relevan dengan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah dan spiritualitas SPM. Dengan demikian, mereka mampu menemukan kesadaran baru untuk hidup dan karya selanjutnya. Nilai-nilai Kerajaan Allah, khususnya nilainilai spiritualitas SPM dapat dirasakan dan dialami di tengah kehidupan bersama serta diwujudkan dengan aksi konkret. Katekese model SCP merupakan bentuk pembinaan iman secara berkelanjutan bagi para guru PDp. Katekese dikemas dalam bentuk rekoleksi yang dipilih berdasarkan usulan para guru PDp yang dihimpun dari hasil penelitian. Pelaksanaan rekoleksi bagi para guru PDp dilaksanakan 3 kali dalam satu tahun pelajaran. Misalnya, dilaksanakan saat mengawali rapat kerja awal tahun pelajaran, masa adven, dan masa prapaskah. Program katekese model SCP dalam bentuk rekoleksi ini, bertujuan untuk menyegarkan pemahaman, memperdalam dan meneguhkan kembali penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah para guru PDp. Semoga program ini memberi inspirasi dan kesadaran baru serta dampak bagi perkembangan kompetensi kepribadian guru PDp. Selain itu, program ini dapat membuahkan kinerja guru yang berkualitas dalam meningkatkan kompetensi sosial, pedagogik, dan profesional guru.

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 B. Usulan Tema Katekese Penulis mengusulkan tema katekse model SCP dalam bentuk rekoleksi bagi para guru PDp secara umum dan wilayah Malang II secara khusus adalah “Memahami dan Menghayati Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah demi Mengembangkan Identitas Guru Perkumpulan Dharmaputri”. Penulis mengusulkan tema tersebut berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa para guru PDp telah memahami dan berupaya menghayati spiritualitas Kongregasi SPM. Penghayatan mereka selama ini telah memberi dampak yang sangat baik bagi peningkatan kompetensi kepribadian para guru. Spiritualitas yang telah dipahami dan dihayati para guru PDp semakin memperkokoh identitas diri sebagai guru Kristiani; mengakarkan nilai-nilai spiritualitas SPM yang menjadi pengikat antara para Surter SPM dan para mitra kerja sehingga identitas korps lebih dipancarkan; dan identitas tersebut perlahan dapat memanifestasikan pelayanan publik yang khas dan berkualitas. Fakta menunjukkan bahwa mereka telah menghayati identitas diri sebagai guru Kristiani. Indentitas diri dikembangkan dengan menghayati identitas korps yakni, spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah menjadi landasan utama dan menjadi gerakan bersama dalam mewujudkan identitas pelayanan bagi guru PDp. Oleh sebab itu, dari hasil penelitian diusulkan tematema katekese yang dapat menyegarkan, memberi inspirasi, dan memperteguh identitas diri, korps, dan pelayanan sebagai guru PDp. Namun, sadar akan aneka keterbatasan diri dan keprihatinan yang ada, para guru PDp dengan hati terbuka mau menerima pembinaan melalui katekese

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 model SCP dalam bentuk rekoleksi. Sub tema yang dipaparkan, yakni pertama berhubungan dengan identitas diri, lebih bersifat mengolah diri secara rohani dalam tugas sebagai guru Kristiani; kedua, berhubungan dengan identitas korps, lebih menggali nilai-nilai spiritualitas kesamaan martabat mausia sebagai citra Allah; dan ketiga, berkaitan dengan identitas publik, menggali nilai-nilai pelayanan khas SPM. C. Rumusan Tema dan Tujuan Tema dan tujuan umum dijabarkan dalam tiga sub tema dengan rumusan sebagai berikut: Tema umum : Memahami dan Menghayati Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah demi Mengembangkan Identitas Guru Perkumpulan Dharmaputri Tujuan umum : Agar para guru semakin teguh dalam menghayati Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah demi mengembangkan identitas diri, korps, dan pelayanan guru PDp. Sub Tema 1 : Belajar dari Yesus Sang Guru Sejati Tujuan : Agar para guru semakin menyadari jati dirinya sebagai seorang guru (pengajar dan pendidik) Kristiani yang mampu meneladan Yesus, Sang Guru Sejati. Sub Tema 2 : Membangun Dunia Baru bagi Anak yang “Miskin” Tujuan : Agar para guru menyadari pentingnya membangun dunia baru dengan memberi perhatian khusus pada anak didik yang “lemah

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 dan miskin” baik secara materi, intelektual, emosional, sosial, serta spiritual. Sub Tema 3 : Berjalan Bersama dan Menghargai Proses Tujuan : Agar para guru menyadari dan menghargai proses setiap anak didik dengan segala keunikannya di saat melaksanakan pendidikan dan pengajaran serta menjadikan anak didik sebagai pribadi utuh. D. Pelaksanaan Program Katekese Program rekoleksi dibagi menjadi tiga sub tema. Sub tema pertama dilaksanakan untuk mengawali rapat kerja awal tahun pelajaran. Sub tema kedua dilaksanakan pada masa natal, dan sub tema ketiga dilaksanakan pada masa prapaskah. Rekoleksi dengan pola katekese model SCP mulai dari sub tema pertama sampai ketiga masing-masing dibagi dalam 5 sesi yakni, satu sesi pembuka, tiga sesi inti, dan satu sesi penutup. Sesi pembuka, untuk membuka seluruh proses rekoleksi. Sesi pertama, merupakan penggabungan langkah I dan II dalam katekese model SCP yaitu mengungkapkan dan mendalami pengalaman hidup peserta. Pengungkapan pengalaman hidup peserta dilakukan dengan membagikan pengalaman hidup faktual para guru PDp. Selanjutnya, pengalaman tersebut diperdalam dengan pertanyaan refleksi, sehingga dari pengalaman faktual dimaknai dan diambil nilai-nilainya. Sesi kedua, merupakan langkah III dari katekese model SCP yaitu, menggali pengalaman iman Kristiani yang bersumber dari Tradisi atau Visi Kristiani yang relevan dengan spiritualitas kesamaan

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 martabat manusia citra Allah. Peran pendamping pada sesi ini mengemukakan pemahaman harta kekayaan iman Gereja sebagai sumber inspirasi dan meneguhkan pengalaman dalam berbagi para guru PDp pada sesi I. Sesi ketiga merupakan gabungan langkah IV dan V dari katekese model SCP yakni menerapkan iman Kristiani dalam situasi hidup peserta dan mengupayakan aksi konkret. Para guru diberi pertanyaan refleksi pada sesi ini, agar dapat membantu mereka menemukan kesadaran baru. Kesadaran baru ini diharapkan mampu menggerakkan mereka untuk mengambil keputusan guna mengembangkan hidup rohani. Sesi penutup untuk mengakhiri seluruh proses rekoleksi. Sub tema pertama sampai ketiga merupakan rangkaian proses rekoleksi yang berhubungan dan berkesinambungan. Ketiga sub tema secara khusus diharapkan dapat membantu guru PDp wilayah Malang II untuk semakin menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah dalam mengembangkan identitas guru PDp.

(140) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT E. Program Katekese Program Ketekese Model SCP dalam Bentuk Rekoleksi sebagai Usaha untuk Meningkatkan Pemahaman dan Penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah para Guru PDp Tema umum : Memahami dan Menghayati Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah demi Mengembangkan Identitas Guru Perkumpulan Dharmaputri Tujuan umum : Agar para guru semakin teguh dalam menghayati Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah demi mengembangkan identitas diri, korps, dan pelayanan guru PDp. No 1 Sub Tema Belajar dari Sang Guru Sejati Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan - Menyadari bahwa Yesus ialah Guru Sejati yang dapat menjadi teladan - Menemukan nilai totalitas pelayanan kerendahan rendah hati. - Berbagi pengalaman hidup - Pendalaman teks KS - Refleksi pribadi - Informasi dari pendamping - Tanya jawab - Katekese model SCP - Video Lagu Seperti Rusa - Teks Kitab Suci Yoh. 13: 1-20 - Pengalaman hidup peserta - Pertanyaan penuntun refleksi - Teks doa pembuka - Mp3 Lagu - Kitab Suci (Yoh. 13: 1-20) - Karris.2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. LBI. Yogyakarta: Kanisius - Mintara Sufiyanta, SJ. 2009. Roh Sang Guru. Jakarta: OBOR - Darminta, J. 120 Tujuan Pertemuan 1. Agar para guru semakin menyadari jati dirinya sebagai seorang guru (pengajar dan pendidik) mampu meneladan Yesus Sang Guru Sejati. (memancarkan jati diri seorang guru dengan melayani, mau

(141) 2 Membangun - Agar para guru Dunia Baru menyadari bagi Anak pentingnya yang “Miskin” membangun dunia baru dengan memberi perhatian khusus pada anak didik yang “miskin” (material, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual). Semua Baik - MP3 musik intrumentalia - Petunjuk permainan - Kertas, pensil warna/ spidol warna - Lilin, Salib - Speaker, LCD - Belajar menghayati nilai solidaritas kepada orang yang miskin, keadilan, dan kasih tanpa syarat. - Berbagi pengalaman hidup - Pendalaman teks KS - Refleksi pribadi - Informasi dari pendamping - Tanya jawab - Katekese model SCP - Sumarno, SJ. 2008. Teori PAK Paroki. Yogyakarta: IPPAK - Kitab Suci (Luk. 6: 27-36) - Karris.2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. LBI. Yogyakarta: Kanisius - Darminta, J. (1997). Sabda di Bukit Konstitusi Hidup Kerajaan Allah. Yogyakarta: Kanisius - Renstra PDp tahun 2011/20122016/2017 - Sumarno, SJ. 2008. Teori PAK 121 - MP3 Lagu Allah Peduli - Teks Kitab Suci Mat. 17-48 - Pengalaman hidup peserta - Teks doa pembuka - Pertanyaan penuntun refleksi - Video inspiratif - MP3 musik intrumentalia - MP3 Lagu Kasih Tiada Duanya - Lilin, Salib (1997). Yesus Mendidik Para Murid. Yogyakarta: Kanisius PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT merendahkan diri, dan menjadi teladan bagi para murid-Nya).

(142) 3 Berjalan bersama dan menghargai proses - Agar para guru menyadari dan menghargai proses setiap anak didik dengan segala keunikannya di saat melaksanakan pendidikan dan pengajaran serta menjadikan anak didik sebagai pribadi utuh. - Belajar menghayati nilai menghargai keunikan, menghargai proses, kesabaran, kreatif, dan ketekunan. - Berbagi pengalaman hidup - Pendalaman teks KS - Refleksi pribadi - Informasi dari pendamping - Tanya jawab - Katekese model SCP - Pengalaman hidup peserta - Teks dari bacaan: St. Julie Billiart dan Sukacita Sebuah Harapan (hal. 76) - Teks Kitab Suci 7: 1-27 - Teks doa pembuka - Pertanyaan penuntun refleksi - MP3 intrumentalia - MP3 Lagu Berharga - Lilin, Salib - Speaker, LCD Paroki. Yogyakarta: IPPAK - Karris.2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. LBI. Yogyakarta: Kanisius - Darminta, J. PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT - Speaker, LCD (1997). Sabda di Bukit Konstitusi Hidup Kerajaan Allah. Yogyakarta: Kanisius - Sr. Mary Linscott SND. 1987. St. Julie Billiart dan Sukacita Sebuah Harapan. Probolinggo: Sie Dokumentasi SPM Provindo - Sumarno, SJ. 2008. Teori PAK Paroki. Yogyakarta: IPPAK 122

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 F. Contoh Persiapan Katekese Model SCP Rekoleksi Pertama A. Identitas Rekoleksi 1. Tema : Belajar dari Sang Guru Sejati 2. Tujuan : Membantu para peserta berani meneladan Yesus, Sang Guru Sejati sehingga mampu memancarkan jati diri dalam guru dalam melayani, saling merendahkan diri, dan memberi teladan. 3. Peserta : Para Guru PDp di unit karya A 4. Tempat : Aula Unit Karya A 5. Waktu : Kamis, 25 Juni 2015 6. Pukul : 07.30-10.00 WIB 7. Model : Shared Christian Praxis (SCP) 8. Metode : - Dinamika kelompok - Berbagi pengalaman - Refleksi pribadi - Pendalaman Kitab Suci - Informasi dari pendamping - Tanya jawab 9. Sarana : - Teks Yoh 13: 1-20 - Panduan pertanyaan pendalaman KS dan refleksi - Satuan permainan - Kertas dan pensil gambar

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 - Krayon/ spidol warna - Video lagu - Power point acara pembuka dan penutup 10. Sumber bahan : - Sumarno. Ds., 2013. PPL PAK Paroki Diktat Mahasiswa Semester VI. Yogyakarta: Prodi IPPAK-USD. - Sufiyanta. 2009. Roh Sang Guru. Jakarta: OBOR. hh.: 14-15 - Karris, 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. LBI. Yogyakarta: Kanisius. - Darminta, J. (1997). Yesus Mendidik Para Murid. Yogyakarta: Kanisius - Pengalaman hidup peserta 11. Pemikiran Dasar : Umumnya, guru PDp telah berusaha menghayati spiritualitas SPM dengan baik sehingga mampu meningkatkan kualitas kompetensi kepribadian mereka. Hal tersebut menjadikan mereka mampu menghayati panggilannya sebagai seorang guru dengan usaha mencintai tugas sebagai pendidik dan pengajar. Namun, tidak dapat dielakkan bahwa para guru yang telah dengan sepenuh hati mencintai tugasnya dan berkarya di sekolah Katolik, terkadang mengalami “kelelahan” baik fisik maupun psikis. Hal ini dimungkinkan karena keterbatasan pribadi dan aneka tuntutan serta tantangan di dunia pendidikan saat ini. Keadaan demikian dapat melunturkan jati diri mereka sebagai pendidik Katolik, jika tidak disadari dan tidak dimurnikan terus menerus.

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 Proses panjang harus dilalui oleh seorang guru dalam usaha menemukan jati dirinya sebagai seorang guru Kristiani yang menjadi identitas diri. Identitas ini menjadikan guru ikut ambil bagian dalam mencerdaskan generasi muda melalui pengajaran yang mengedepankan nilai-nilai Injili dan seluruh perjalanan panggilannya berpola pada Yesus Sang Guru Sejati. Sebab hanya Dialah yang mampu memberi teladan konkret dalam upaya mengembangkan diri untuk menjadi pelayan yang rendah hati dan memberi teladan melalui tindakan nyata. Santo Yohanes dalam teks Yoh 13: 1-20 bahwa Yesus membasuh kaki para murid pada masa Paskah. Yesus berpesan kepada para murid untuk saling membasuh kaki. Tindakan Yesus menjadi suatu simbol bahwa Ia menubuatkan kematian-Nya. Pembasuhan kaki merupakan lambang kematian Yesus sebagai hamba. Selanjutnya, satu syarat untuk dapat mengambil bagian dalam kematian Yesus ialah melalui pembaptisan. Peranan hamba ialah sebagai orang yang mau melayani. Setiap orang yang dibaptis dan dipersatukan dengan Yesus, harus mengikuti teladan-Nya. “Sebab aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13: 15). Hal ini merupakan suatu gambaran kenabian bagi semua orang Kristen, terutama untuk para pemimpin. Seorang pemimpin harus dapat melayani seperti Yesus. Sebagai orang Kristen yang telah dibaptis harus sudah selayaknya meneladan pelayanan Yesus. Karena itu, rekoleksi kali ini mengajak para guru sebagai seorang Kristen yang telah dibaptis untuk meneladan sikap Yesus: saling merendahkan diri

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 untuk melayani. Sebab setiap orang yang telah dipersatukan oleh Yesus dalam pembaptisan, ia wajib mengambil bagian seperti Yesus untuk saling melayani. Melayani anak didik seperti yang diteladankan Yesus. Mau merendahkan diri untuk mengangkat anak didik sebagai pribadi citra Allah. Dengan demikian, semakin tampaklah jati diri dan identitas diri sebagai pendidik sejati yakni berani memberikan diri untuk melayani. 12. Pengembangan Langkah-Langkah: a. Sesi Pembukaan 1) Pengantar : Pendamping ucapan selamat datang dan pengantar kepada para peserta mengenai tujuan pertemuan dan mengajak mereka secara relaks dan tetap sungguh-sungguh berproses secara pribadi dan bersama-sama, baik dalam dinamika, berdoa, dan berefleksi. 2) Nyanyian Pembuka : Bagai Rusa (Video) 3) Doa Pembuka : Pendamping mengajak para peserta untuk mendaraskan doa pembuka secara bergantian per bait antara ibu dan bapak guru. Ibu guru: Yesus Guru dan memperjuangkan Sahabatku, kebenaran aku dan berkehendak untuk keutamaan-keutamaan Kristiani meskipun banyak tantangan dan godaan. Aku tidak akan pantang menyerah oleh silau dan tawaran duniawi: harta, pangkat, dan nikmat.

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 Bapak guru: Ya Yesus, Guru dan Sahabatku, akan kupimpin murid-muridku mencari dan memperjuangkan yang benar. Akan kuteladakan kepada mereka nilai-nilai kasih, kejujuran, ketekunan, kedamaian, kesederhanaan, kemurahan hati, cinta kepada yang miskin dan berkekurangan, dan peduli dengan lingkungan hidup. (Disadur dari Roh Sang Guru, Mintara Sufiyanta SJ) b. Sesi Pertama (Gabungan Langkah I dan II: Mengungkapkan dan Mendalami Pengalaman Hidup melalui Permainan “Menggambar Bersama”) 1) Pengantar: Pendamping memberikan informasi langkah-langkah dan aturan permainan kepada para peserta. 2) Tujuan Permainan Peserta menyadari pentingnya nilai komunikasi dan kerja sama dalam satu kelompok. 3) Langkah permainan: - Peserta dibagi dalam kelompok kecil disesuaikan dengan jumlah peserta. - Setiap kelompok mendapatkan kertas gambar, spidol warna/ krayon untuk menggambar. - Masing-masing orang dalam satu kelompok mendapatkan kesempatan menggambar di atas kertas gambar, dalam durasi waktu dua menit secara bergiliran. Syaratnya: tidak diperkenankan berbicara atau bertanya antara satu dengan yang lain, setiap orang berhak menggambar sesuai dengan

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 yang dipikirkan dan dikehendakinya, gambar diteruskan oleh anggota kelompok berikutnya, dan bergilir sampai seluruh anggota mendapat kesempatan untuk menggambar dalam satu kertas yang sama, sampai menghasilkan satu gambar yang menjadi miliki kelompok tersebut. 4) Sharing dinamika kelompok Pendamping memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk memperlihatkan hasil gambar kelompok, menggali dan membagikan pengalaman mereka dalam berdinamika kelompok. - Apa kesan dan perasaan bapak ibu guru melihat hasil gambar kelompoknya? - Bagaimana proses yang terjadi dalam satu kelompok sehingga menghasilkan gambar tersebut? - Nilai apa yang dapat diambil dari proses permainan tadi dan apa pesan yang disampaikan kepada bapak ibu melalui permainan tadi? 5) Pendamping membuat rangkuman singkat dari sharing pengalaman para peserta. 6) Pendamping memberikan peneguhan kepada peserta rekoleksi atas apa yang dirasakan, dialami, ditemukan (nilai-nilai dan pesan) oleh peserta rekoleksi. Betapa penting membangun sikap saling memberi kesempatan dan merendahkan diri untuk diperkaya satu dengan yang lain, sehingga gambar yang dihasilkan merupakan hasil dari proses bersama.

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 c. Sesi Kedua (Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani) Tujuan: Setiap guru semakin menyadari jati dirinya sebagai guru seorang (pengajar dan pendidik) yang berani meneladan Yesus Sang Guru Sejati sehingga mampu memancarkan jati diri seorang guru, bersedia merendahkan diri, melayani, dan menjadi teladan. Proses sesi kedua: 1) Salah satu bapak atau ibu guru diminta untuk membacakan teks Injil Yoh 13: 1-20 dari Kitab Suci. 2) Peserta diberi kesempatan untuk hening, sejenak merenungkan secara pribadi, dan menanggapi isi bacaan Kitab Suci, dengan pertanyaan berikut: a) Ayat mana yang merupakan pesan dari Yesus? b) Apa pesan ayat tersebut kepada kita? c) Apa nilai yang diteladankan Yesus kepada kita? 3) Pendamping memberikan tafsir Injil Yoh 13: 1-20 Kisah Injil ini memberikan satu teladan konkret Yesus, yaitu sikap berani merendahkan diri untuk melayani secara tulus. Yesus memberi teladan nyata dalam hal melayani. Sebab hanya guru sejatilah yang mampu memancarkan terang dengan sikap mau melayani, berani merendahkan diri, dan mampu menjadi teladan bagi para murid. Tugas seorang guru tidak hanya terbatas pada soal mengajar dan memberi pengetahuan, namun justru ia diminta untuk menyampaikan kebijaksaan dan memberi teladan sebagai satu keutamaan hidup. Pengajaran

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 Yesus lebih difokuskan dalam suatu tindakan konkret, dengan meneruskan nilai-nilai cinta kasih. Inilah hakikat tugas sebagai seorang guru sejati. Guru sejati akan mampu menunjukkan jati dirinya sebagai pendidik yang mampu memberi teladan konkret kepada para murid. Teladan sikap mau merendahkan diri untuk melayani. Gerak merendahkan diri seorang guru untuk memberi pelayanan kepada para murid, diharapkan dapat mengangkat martabat pribadi seorang murid menjadi berharga. Sikap mau merendahkan diri untuk melayani merupakan simbol pelayanan yang total. d. Sesi ketiga (Gabungan Langkah IV dan V: Mengungkapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta dan Mengupayakan Aksi Konkret) Tujuan: Para peserta menemukan kesadaran baru/ inspirasi/ nilai-nilai yang meneguhkan mereka dalam menghayati identitas diri sebagai guru Kristiani. Proses sesi ketiga: 1) Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta a) Pengantar: Para bapak ibu guru terkasih, melalui perikop tadi, kita telah menemukan pesan Yesus yang disampaikan kepada kita. Seorang yang bersedia dan rela merendahkan diri ialah seorang pribadi yang mampu memberikan diri secara total dalam melayani. Yesus memberi teladan nyata: Ia merendahkan diri-Nya untuk melayani dengan memberikan seluruh hidup-Nya. Kita diharapkan mampu meneladan sikap Yesus, yakni saling merendahkan diri

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 untuk melayani, sehingga semakin memancarkan identitas sebagai guru Kristiani. b) Refleksi: - Apakah bapak ibu rela dan sanggup meneladan Yesus Sang Guru Sejati? Mengapa? c) Pendamping memberi rangkuman singkat berdasarkan hasil refleksi para peserta. 2) Mengambil keputusan untuk diaktualisasikan dalam hidup a) Pengantar: Bapak ibu guru terkasih, Yesus telah memberi teladan nyata untuk kita dengan sikap rela sedia merendahkan diri untuk melayani. Seorang guru yang siap mendidik anak-anak, diminta untuk rela sedia melayani sebagai mana diteladankan Yesus kepada kita. Bahkan sampai merendahkan diri, demi mengangkat martabat pribadi anak-anak didik menjadi pribadi berharga. b) Mari bapak ibu, kita sekarang menyatukan hati dan segenap diri kita untuk membangun niat agar identitas kita sebagai guru Kristiani semakin memancar dalam diri kita. c) Selanjutnya para peserta diberi kesempatan untuk hening membangun niat dan selanjutnya diajak untuk membuat aksi konkret secara pribadi dan bersama.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 e. Sesi Penutup Tujuan: Para peserta semakin diteguhkan dalam menghayati identitas diri sebagai seorang guru Kristiani, melalui doa permohonan. 1) Setelah membuat aksi konkret, peserta diberi kesempatan untuk hening. Sementara itu, lilin bernyala dan salib diletakkan di tengah para peserta. 2) Para peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan doa permohonan dan dilanjutkan dengan doa Bapa kami. 3) Doa Bapa Kami 4) Pendamping mengajak para peserta untuk mengakhiri rekoleksi dengan menyanyikan lagu penutup “Semua Baik”

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 BAB V PENUTUP Bab V, penulis menguraikan tentang kesimpulan dan saran, sebagai berikut: A. Kesimpulan Para guru Perkumpulan Dharmaputri dengan jatuh bangun telah berusaha memahami dan menghayati spiritualitas Kongregasi SPM yaitu kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Pemahaman dan penghayatan mereka secara perlahan mencerahkan kesadaran mereka sebagai pribadi berharga dan istimewa. Mereka merasakan menjadi pribadi kecintaan Allah Sang Pencipta. Rasa berharga yang tumbuh dalam setiap pribadi, akhirnya memancarkan sikap berani saling menghargai antara satu dengan yang lain sebagai pribadi citra Allah. Sebab Allah yang baik, kasih, dan kudus, mereka yakini hadir dalam setiap pribadi tanpa kecuali. Oleh sebab itu spiritualitas SPM ini menjadi daya bagi para guru untuk menghayati dan mencintai panggilan sebagai guru Perkumpulan Dharmaputri. Sebab dengan mencintai panggilan, akan mendorong mereka untuk berkomitmen dan bertanggung jawab akan janji profesinya. Inilah pancaran profesionalitas yang mutlak dimiliki oleh seorang pendidik profesional. Sebab hanya pendidik profesional yang mampu memiliki kompetensi yang secara menyeluruh dan utuh.

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Kompetensi guru merupakan sesuatu yang utuh sehingga proses pembentukannya tidak dapat dilakukan secara instan. Hal ini disebabkan guru merupakan profesi yang akan menghadapi individu-individu, yaitu pribadi unik yang mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang. Dengan kata lain, keempat kompetensi guru, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional saling berhubungan, bahkan sebagai satu kesatuan yang utuh dalam pengembangan diri pendidik. Seorang guru bisa dikatakan memiliki kompetensi, jika ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan baik. Untuk mencapai kebaikan itu, seorang guru harus menanamkan kompetensi dasar dalam diri, yaitu kepribadian yang baik. Dengan demikian, kompetensi kepribadian menjadi modal utama atau prioritas bagi pendidik. Tentunya, tidak mengabaikan kompetensi yang lain. Namun, pencapaian kompetensi kepribadian, tidak bisa dilepaspisahkan dengan spiritualitas lembaga tempat guru itu mengabdi. Dengan kata lain, pengembangan kompetensi seorang pendidik, tentunya tidak bisa dipisahkan dari spiritualitas atau semangat lembaga yang memayunginya. Artinya, seorang guru senantiasa bertumbuh dalam satu semangat yang membantunya dalam berperan sebagai pendidik profesional. Para guru yang terhimpun dalam Perkumpulan Darmaputri senantiasa didorong oleh spiritualitas SPM, yakni Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah. Spiritualitas ini merupakan semangat yang sangat penting dalam membangun dan mengembangkan kompetensi kepribadian, sehingga profesionalitas para guru pun semakin meningkat. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa para guru PDp telah memahami dan menghayati

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah. Pemahaman dan penghayatan spiritualitas SPM tersebut berdampak pada peningkatan kompetensi kepribadian sebagai seorang guru PDp. Mereka mengalami bahwa kualitas kompetensi kepribadian diri bertumbuh dan berkembang, menjadikan pribadinya berharga, unggul, dan berkualitas. Hal ini ditunjukkan dalam pola relasi yang baik antara mereka dengan diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja. Pola relasi yang baik dipancarkan dengan memberi kesaksian hidup konkret, yakni menghargai dan mencintai diri sendiri dan sesama sebagai citra Allah yang berharga. Sementara itu, para guru mengharapkan untuk mendapat kesegaran, kedalaman, dan peneguhan dalam usaha memahami dan menghayati Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah. Karena itu, penulis mengusulkan program ketekese model Shared Christian Praxis, yang dikemas dalam bentuk rekoleksi, sebagai salah satu bentuk pembinaan lanjut, bagi para guru PDp secara umum dan khususnya di wilayah Malang II. Karena dengan demikian mereka semakin mampu menghayati dan mengaktualisasikan spiritualitas SPM dalam tugas mereka. Rekoleksi mengusung satu tema utama, yaitu “Memahami dan Menghayati Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah demi Mengembangkan Identitas Guru Perkumpulan Dharmaputri”. Tema ini dibagi dalam tiga sub tema, diharapkan dapat membantu para guru untuk semakin menghayati spiritualitas SPM sehingga dapat mengembangkan karakter dan identitas guru PDp serta mampu mengaktualisasikan profesionalitas sebagai pendidik profesional.

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 B. Saran Peneliti memberikan saran guru PDp dapat lebih meningkatkan penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah, sebagai berikut: 1. Setiap suster SPM hendaknya memberi kesaksian hidup konkret dalam menghayati dan mengaktualisasikan nilai-nilai Spiritualitas Kongregasi SPM, yaitu “Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah” di setiap unit karya khususnya bidang pendidikan. 2. Para suster SPM dan mitra kerja di bidang pendidikan hendaknya seiring untuk bersama-sama menghayati dan mengaktualisasikan spiritualitas Kongregasi SPM di unit-unit karya, sehingga spiritualitas SPM semakin disebarluaskan kepada banyak orang. 3. Pengurus Perkumpulan Dharmaputri: a. Mengusahakan bentuk pembinaan spiritualitas Kongregasi SPM bagi para guru PDp secara berjenjang dan berkelanjutan. b. Mengusahakan bentuk pembinaan spiritualitas Kongregasi SPM secara khusus bagi para guru PDp beragama non kristiani.

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 DAFTAR PUSTAKA Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan Dharmaputri 2013 di Surabaya. Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Cloos, H. (2010). Serigala yang Mengerkah dari Suku Benyamin. Yogyakarta: Kanisius. Danim, Sudarwan. (2010). Profesionalitas dan Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta. Darminta, J. (1997). Sabda di Bukit Konstitusi Hidup Kerajaan Allah. Yogyakarta: Kanisius. -------. (1997). Yesus Mendidik Para Murid. Yogyakarta: Kanisius. -------. (2002). Spiritualitas Berpihak pada Kehidupan. Pusat Spiritualitas Girisonta. -------. (2006). Praksis Pendidikan Nilai. Yogyakarta: Kanisius. -------. (2013). Perspektif Hati dalam Etika Profesi. Diktat Mata Kuliah untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Driyarkara. (1980). Kumpulan Karangan Driyarkara tentang Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Edy. http://www.edyscj.wordpress.com. accesed on 4 April, 2014. Heuken, Adolf. (1994). Ensiklopedia Gereja. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. Irmine, Maria (tjr). (1998). St. Julie Billiart dan Sukacita Sebuah Harapan. Probolinggo: Komisi Dokumentasi SPM. Karris, Robert. J. dan Dianne Bergant. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius. -------. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. KBBI Online. http:// www. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Online. accesed on 25 March, 2014. Koehn, Daryl. (2000). Landasan Etika Profesi. Yogyakarta: Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius dan Jakarta: OBOR. -------. (2008). Nota Pastoral tentang Pendidikan Lembaga Pendidikan Katolik: “Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul dan Lebih Berpihak kepada yang Miskin”. Jakarta: Sekretariat Jendral KWI. Konferensi Waligereja Indonesia Majelis Nasional Pendidikan Katolik. (1991). Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik. Jakarta: Grasindo. Kongregasi Suster SPM. (2010). Keputusan Kapitel Provinsi Indonesia. Probolinggo: Dewan Pengurus Provinsi Indonesia. Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1965).

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 Konstitusi Suster-Suster SPM. (1984). Hasil Keputusan Kapitel Umum Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Maria di Amersfoort dan disyahkan di Roma tanggal 29 Maret 1988. Kunandar. (2007). Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Mali, Mateus. (2010). Muatan Moral Profesionalitas Guru. Basis. hh. 7-11. -------. (2009). Perjumpaan Pancasila dan Kristianitas Reposisi Relasi Negara dan Agama dalam Masyarakat Plural. Yogyakarta: Lamalera. Mandagi, L. (1994). Identitas Pendidik Katolik Sumbangan dari Dokuman Gereja. Yogyakarta: Pusat Pastoral Yogyakarta. Mary. (1996). Ibu Julia dan Spiritualitas Religius Aktif Masa Kini. Malang: Dioma. Meehan, X. Francis. (1982). A Contemporary Social Spirituality. New York: Orbis Books. Moleong, J. Lexy. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Nasution, Irwan dan Syafarudin. (2005). Manajemen Pembelajaran. Jakarta: Quantum Teaching. Nasution, S. (1988). Metode Penelitian Naturalisktik-Kualitatif. Bandung: TARSITO. Pedoman Kerja Kantor Perkumpulan Dharmaputri 2013 di Surabaya. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Bandung: Citra Umbara. --------. Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Bandung: Citra Umbara. Purwatma, M. (2008, Januari-Maret). Manusia sebagai Citra Allah. Praedicamus. hh. 11-16. Rencana Strategis Perkumpulan Dharmaputri 2011/2012 - 2016/2017 di Surabaya tanggal 2 Mei 2011. Romadon, Risa Maulana dan Rojai. (2013). Panduan Sertifikasi Guru Berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen. Jakarta: Dunia Cerdas. Samana, A. (1994). Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius. Sufiyanta, A. Mintara. (2009). Roh Sang Guru. Jakarta: OBOR. --------. (2012). Jalan Sang Guru Spiritualitas Guru Kristiani. Jakarta: OBOR. Sumarno Ds., M. (2013). PPL PAK Paroki. Diktat Mata Kuliah untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Suparno, Paul. (2003). Guru Demokratis di Era Reformasi Pendidikan. Jakarta: Grasindo. Suwanda Jampang. http://www.suwandajampang.blogspot.com. accesed on 1 March, 2014. Tim Spiritualitas SPM Provindo. (2012). Retret Spiritualitas SPM bagi Mitra Kerja Perkumpulan Dharmaputri. Malang. Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005. (2011). Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara.

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 Hoeck, F. Van. (2011). Riwayat Hidup Pater Mathias Wolff SJ. Probolinggo: Pengurus Dokumentasi SPM Provindo. Wahyudi, Imam (2012). Mengejar Profesionalitas Guru. Jakarta: Prestasi. Pustaka. Widiastono, Tonny D. (edt). (2004). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Kompas. -------. (edt). (2004). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Kompas. -------. (edt). (2004). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Kompas. Winkel, W.S.. (1996). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Grasindo. Yohanes Paulus II. (1995). Evangelium Vitae. (R. Hardawirjana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI.

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1 Instrumen Penelitian kepada Responden (R) Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apa yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? 3. Bagaimana bapak ibu memahami bahwa manusia dicipta istimewa dibanding ciptaan yang lain? 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart apa saja yang bapak ibu pahami selama ini? Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? 7. Bagaimana usaha bapak ibu mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? 8. Apa usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Kompetensi Kepribadian Guru 9. Dunia pendidikan jaman ini membutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkompetensi kepribadian? 10. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghambat Baik Internal maupun Eksternal 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah para guru PDp lebih mendalam? (1)

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2 Tabel 1a Instrumen Observasi kepada Observer (O) Para Anak Didik dari Responden Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, atau agama? 5. Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses setiap anak di kelas? 6. Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat menerima? 7. Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 8. Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak yang mengalami kesulitan dalam belajar? 9. Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ ibu saat di sekolah? 10. Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ keistimewaan masing-masing anak? (2) Ya Tidak

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 1b Instrumen Observasi kepada Observer (O) Para Anak Didik dari Responden Kompetensi Kepribadian Guru 11. Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 12. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 13. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? 14. Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 15. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 16. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 17. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 18. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 19. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 20. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (3) Ya Tidak

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3 Tabel 1c Instrumen Observasi kepada Observer (O) Para Rekan Kerja dari Responden Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (4) Ya Tidak

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 1d Instrumen Observasi kepada Observer (O) Para Rekan Kerja dari Responden Kompetensi Kepribadian Guru 11. Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? 12. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 13. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 14. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 15. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 16. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 17. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 18. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab? 19. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 20. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (5) Ya Tidak

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4 Rangkuman Hasil Wawancara kepada Responden (R1-R12) A. Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek pemahaman: 1. Pemahaman guru dicipta sebagai citra Allah a. Saya dicipta mirip/ segambar dengan Allah yang kasih, agung, dan baik (R1, R2, R3, R4, R5) b. Saya dicipta Allah sebagai manusia “sempurna”, unik, dan yang memiliki kekuatan dan kekurangan (R2, R4, R6, R10, R12) c. Saya dapat mengenal Sang Pencipta (R5) d. Saya merasa berharga karena dihargai oleh Tuhan dan sesama (R7) e. Saya dan sesama di hadapan Tuhan sama (R8, R10, R11) f. Saya mampu memanusiakan manusia (R9) g. Saya merasa dapat menerima diri dan bangga dengan segala anugerah dari Tuhan (R12) 2. Pemahaman guru tentang Kesamaan Martabat Manusia sebagai Citra Allah a. Satu dengan yang lain dapat saling berbagi (R1) b. Saya dan sesama dicipta sederajat/ sama martabatnya di hadapan Allah dan mampu memartabatkan setiap pribadi dengan tidak pilih kasih (R1, R2, R3, R5) c. Saya dan sesama memiliki hak hidup yang sama (R4) d. Saya dan sesama sama, tidak ada perbedaan status antara guru dan karyawan, senior dan yunior, seagama atau lain agama, anak yang mampu dan tidak mampu (finansial, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual) (R6, R7, R8, R11, R12) e. Tidak membedakan dalam memberi pelayanan (R9) f. Dapat menerima keunikan sesama (R10) 3. Pemahaman guru dicipta istimewa dibanding ciptaan Allah yang lain a. Saya dianugerahi akal budi untuk dapat berpikir (R2, R5, R6, R8, R9) b. Saya dianugerahi kasih untuk dapat mengasihi (R7, R8, R9) c. Saya dianugerahi pikiran dan hati untuk mampu membedakan antara yang baik dan tidak baik serta bertindak secara benar (R1, R3) d. Saya dianugerahi hati nurani dan kehendak bebas (R5) e. Saya dapat bekerja dengan kemampuan saya secara total (R4) f. Saya merasa dikasihi/ dicintai Allah (R3, R7, R10) g. Saya dicipta dengan seluruh anugerah kemampuan (R11, R12) (6)

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan: Lampiran 4 4. Guru merasa berharga di hadapan Tuhan, anak didik, dan rekan kerja a. Tuhan: 1) Saya dicintai Tuhan (R7, R10, R12) 2) Tuhan memberi semua anugerah talenta/ kemampuan dan ketidaksempurnaan saya (R1) 3) Saat mampu berdoa dengan tulus dan pasrah (R2, R8, R9) 4) Saya dapat berpikir dan bertidak benar (R3) 5) Saya dapat berbuat baik kepada sesama sebagai perpanjangan tangan Tuhan (R3, R4, R6, R9) 6) Saya menerima kepercayaan besar dari sekolah, Gereja, dan masyarakat (R5) b. Anak didik: 1) Mereka membutuhkan kehadiran saya (R1, R6) 2) Mereka menyayangi saya (R4, R7, R12) 3) Mereka merindukan saya (R2, R6, R7, R8) 4) Saya dapat menjadi teladan yang baik bagi mereka (R3, R10, R11) 5) Mereka memahami dan menerima karakter pribadi saya (R4) 6) Saya dapat menghargai proses anak didik dalam belajar (R3) 7) Mereka mengucapkan kata “terima kasih” (R7) 8) Saya dapat membangkitkan semangat anak-anak yang “kesulitan” (R6) 9) Saya dapat mendekati anak yang bermasalah secara personal (R8) c. Rekan kerja: 1) Saya dipercaya sesuai dengan kemampuan dalam bidang keahlian saya dan kemampuan fungsional (R4, R8) 2) Dapat saling memberi dan menerima (R1, R10) 3) Saling dapat memberi kritik yang membangun (R1) 4) Mampu menerima kenyataan (R1) 5) Dapat menjadi teman sharing/ curhat (R11) 6) Dapat memberi solusi (R2, R9, R11) 7) Dapat bekerja sama dan menolong (R3, R9, R11) 8) Dapat merasakan keakraban, kekeluargaan, sehingga tidak ada pengkotak-kotakan (R5, R6, R12) 9) Saya diingatkan atau mendapat masukan dari yang lain (R6) 10) Saat saya diajak diskusi, dapat berpendapat, dan dilibatkan (R7, R8) (7)

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan: Lampiran 4 5. Pemahaman nilai-nilai keteladanan Santa Yulia sebagai seorang pendidik/ guru PDp a. Memberikan pelayanan dengan kasih (R1, R2, R4, R11) b. Sederhana dan rendah hati dalam iman seperti Bunda Maria (R1, R6, R10) c. Memberi perhatian kepada anak didik: yang “khusus/ redup”, miskin/ terlantar, dan yang sedang dalam “masalah” untuk diangkat (R3, R5, R8, R9) d. Memahami anak didik dengan segala keunikannya (R3) e. Berani berkurban (R4) f. Memberi perhatian bagi pendidikan generasi muda (R5) g. Mengandalkan kebaikan Allah (R7) h. Belum memahami sepenuhnya (R12) Aspek Penghayatan: 6. Usaha guru menghargai keunikan diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja a. Diri sendiri: 1) Bersyukur dan berani menerima diri (R2, R3, R4, R6, R9, R11, R12) 2) Mau mengembangkan kemampuan diri/ talenta dan berbagi dan mengimani bahwa dengan semakin banyak memberi saya banyak diberi (R6, R7) 3) Menyadari, menerima, dan selalu mengolah kekuatan dan kelemahan diri (R1, R8) 4) Menyadari diri bahwa saya adalah manusia (R5) b. Anak didik: 1) Mengenal dan memahami kemampuan/ karakter anak yang berbedabeda, khususnya “anak-anak jaman” (R1, R2, R3, R4, R6, R9, R10, R11, R12) 2) Memperlakukan anak sebagai subyek hidup, sesuai dengan karakter dan keunikannya dan tidak membeda-bedakannya. Bagi anak yang “bermasalah” mendekati secara personal melalui pintu mereka. (R1, R4, R5, R6, R9, R10, R12) 3) Memberi pujian dan penghargaan kepada mereka (R3) 4) Dapat berdamai dengan mereka (R4) 5) Melakukan pendekatan personal kepada mereka yang dalam masalah (R8) (8)

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan: Lampiran 4 c. Rekan kerja: 1) Mengenal, memahami, menerima, dan mendalami karakter dari setiap pribadi (R1, R2, R3, R6, R7, R9, R11, R12) 2) Menghargai peran dan fungsi rekan kerja pada porsi masing-masing (R4) 3) Memberi semangat dan menyapa (R3, R7) 4) Menghargai rekan kerja dan mampu menempatkan diri (R2, R4) 5) Terbuka dan bersedia dipimpin oleh yang lebih “muda” dan mampu (R4, R5) 6) Berani mengatakan ketidakcocokan dan berdiskusi demi kebaikan (R6, R8) 7) Berani mengingatkan dan ambil resiko (R6, R7) 8) Berbicara dan bersikap sopan serta menghormati rekan sebagai pribadi (R7) 9) Berani berdamai (R8) 7. Usaha konkret guru mengembangkan anugerah akal budi selama ini a. Mampu membedakan antara yang baik dan tidak baik dengan mengasah dan mengolah hati serta iman (R1, R3, R6, R12) b. Mengembangkan profesi, memperkaya pengetahuan dengan mengikuti misal: penataran, pelatihan, membaca buku-buku baru, dan belajar hal-hal yang baru (R1, R4, R5, R7, R8, R9, R10, R12) c. Belajar dari orang lain yang lebih mampu (R7, R11) d. Merencanakan, mengatur, merancang kelas dan alat peraga sebelum pembelajaran (R2) e. Mampu bekerja dengan total (R4) f. Berdiskusi yang melibatkan rasio/ nalar dan hati dengan orang lain/ sharing pengalaman (R5, R6) g. Melakukan instrospeksi diri (R6) 8. Usaha guru mewujudkan cinta/ kasih kepada Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja a. Tuhan: 1) Memelihara dan mengolah hidup rohani dan relasi dengan Tuhan dengan doa, membaca KS, mengikuti kegiatan rohani di lingkungan dan Gereja (R1, R3, R5, R6, R7, R10, R11, R12) 2) Berani menangggung salib dan menampakkan jati diri sebagai orang Katolik dalam kesaksian hidup (R2) 3) Percaya bahwa Allah itu baik (R4) (9)

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan: Lampiran 4 b. Diri sendiri: 1) Menjaga/ merawat diri dengan: mengatur pola hidup, olah raga, istiraharat cukup (R1, R2, R3, R5, R6, R7, R11) 2) Berpenampilan rapi dan sopan (R1) 3) Menerima dan mencintai diri (R4, R6, R10, R12) 4) Mengendalikan diri/ tidak emosional (R7) 5) Menciptakan keseimbangan hidup (R8) c. Anak didik: 1) Membimbing, memotivasi, dan mengangkat anak yang “kurang” untuk belajar mencintai sesuatu yang “sulit untuk mereka” agar pertama-taman disenangi dan selanjutnya tumbuh percaya diri (R1, R6, R8) 2) Memotivasi anak untuk saling menolong dan berbagi “kemampuan” dengan berdiskusi (R1, R7) 3) Memahami dan mencintai mereka sesuai dengan karakter pribadi dan ada mereka (R3, R6, R7) 4) Akrab dan dekat dengan mereka (R3, R9) 5) Berbela rasa (R4) 6) Sabar namun tegas (R5) 7) Berkomunikasi secara personal kepada anak yang “bermasalah” (R2, R6) 8) Mampu menjadi teladan/ contoh bagi mereka (R10) 9) Mendampingi anak “khusus” yang membutuhkan penanganan khusus (R10, R12) d. Rekan kerja: 1) Menyapa dan “ngaruhke”, memberi perhatian, dan kunjungan (R1, R2, R5, R9, R12) 2) Mengenal, memahami, dan menerima rekan kerja sesuai dengan karakter dan kemampuannya (R3, R6, R7, R10) 3) Membangun kerja sama dan kenyamanan (R6) 4) Berani mengingatkan hal yang kurang sesuai (R8) 5) Berbela rasa (R4, R6) 6) Total dalam memberikan diri dan melayani (R4) 7) Membantu memberi solusi untuk mencari jalan keluar (R6) 8) Berbicara sopan dan hormat kepada setiap rekan kerja (R7) 9) Tidak meningggalkan satu orang pun (R7) 10) Dapat menjadi panutan/ teladan bagi rekan kerja (R10) (10)

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan: Lampiran 4 9. Faktor yang mendukung dan menghambat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah a. Faktor pendukung: Internal: 1) Memahami dan menghidupi visi dan misi sekolah (R1) 2) Ada semangat dan kemauan (R3) 3) Sabar, rendah hati, bertanggung jawab (R2, R6) 4) Kesetiaan dan peduli (R4) 5) Menikmati pekerjaan/ tidak di bawah tekanan (R4) 6) Bekerja maksimal “perfect” dan disiplin (R5) 7) Introspeksi dan refleksi diri (R7, R12) 8) Terbuka dan bergaul dengan siapapun (R8 ) 9) Dapat menjadi teladan bagi anak didik (R6, R8) 10) Merasa ikut memiliki/ “andarbeni” sekolah (R9) Eksternal: 1) Ada budaya saling menghargai, peduli, dan pengertian di sekolah (R1,R2) 2) Dapat saling kerja sama (R3) 3) Ada waktu untuk berdoa bersama, kegiatan rohani: retret (R3, R4, R11, R12) 4) Ada pembinaan dan pelatihan dari lembaga (R4) 5) Team work kuat (solid) (ISO) (R5) 6) Terbuka belajar kepada yang muda dan lebih bisa (R5, R6) 7) Pemahaman nilai-nilai keSPMan dan peneguhan nilai keSPMan (R7) 8) Kebijakan sekolah yang memberi kesempatan bagi yang kurang mampu untuk bisa sekolah (R8) 9) Semua guru memperjuangkan spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah, sehingga tidak ada satu anak didikpun yang merasa di”ceng” dan tidak membuka kelas unggulan (R8) (11)

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan: Lampiran 4 b. Faktor penghambat: Internal: 1) Egoisme pribadi (R1, R2, R5) 2) Kurang terbuka (R1) 3) Kurang komunikasi (R1) 4) Person tertentu ada yang cuek (R3) 5) Kurang percaya diri (R3) 6) Malas (R2) 7) Ada rasa putus asa (R2) 8) Kelelahan fisik (R6) 9) Kurang dapat memanage waktu (R7) 10) Memahami namun kurang menyadari (R7) 11) Saat tertentu kurang sabar (R8) 12) Kurang menyempatkan waktu untuk Tuhan saat “lelah” (R12) Eksternal: 1) Kurang komunikasi sehingga ada mis komunikasi (R1, R6) 2) Kepsek tidak selalu menanggapi undangan terkait dengan kedinasan, sehingga ada berita yang tidak lekas sampai(R1) 3) Ada yang kurang menjaga privasi guru (R3) 4) Adakala kurang dukungan dari sekolah untuk pengadaan alat peraga (R2) 5) Sekolah kurang memberi penghargaan yang seimbang (R4) 6) Ada suster di suatu unit karya kurang “bersentuhan” dengan anak didik (R5) 7) Rencana kerja yang tidak dapat terlaksana (R5) 8) Kelelahan fisik sehingga menjadi kurang kontrol diri (R6, R8) 9) Keteladanan suster di unit tertentu kadang kurang, misal: dalam cara menyapa dan mengingatkan yang “salah” atau kurang pas (R10) 10) Perbedaan prinsip namun kurang berani konfrontasi sehingga bicara di belakang (R11, R12) (12)

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan: Lampiran 4 10. Pemahaman guru tentang kompetensi kepribadian guru a. Guru yang inovatif dan profesional (R1, R4, R6, R12) b. Guru yang memiliki jati diri positif (R1) c. Guru memiliki loyalitas, motivasi, dan berpenampilan baik dan rapi sebagai guru (R2) d. Guru yang jujur, percaya diri, disiplin (R1, R5) e. Guru yang bertanggung jawab dan berani ambil resiko (R1, R5) f. Guru yang memiliki keseimbangan antara rohani dan bidang pengetahuan (R3, R8) g. Guru yang mampu memberi teladan baik kepada anak didik, berupa nilainilai hidup (R5, R6, R7, R8, R10, R12) h. Guru yang mampu berelasi dekat dengan anak didik sebagai “anak jaman” (R4) i. Guru yang beriman mendalam sesuai ajaran agamanya (R6, R7) j. Guru yang mempunyai hati untuk anak didiknya (R9) k. Guru yang mengamalkan ajaran iman kepercayaan/ agamanya, misal: kasih (R10) l. Guru yang total dan menyadari tugas sebagai guru adalah panggilan (R10) 11. Kompetensi kepribadian guru yang semakin berkembang setelah memahami dan menghayati spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah a. Saya semakin beriman salah satunya karena berada di lingkungan sekolah Katolik (R1, R2, R3, R6, R7, R12) b. Saya semakin berwibawa dan bijaksana (R1, R3, R7, R10, R11, R12) c. Saya semakin memiliki kepribadian yang mantab dan mampu menjadi teladan (R1, R2, R3, R4, R7, R8, R12) d. Saya semakin total dalam memberi diri (R4, R9) e. Saya konsisten dengan berusaha tertib dan disiplin (R5) f. Saya selalu berelasi dengan baik dengan orang tua/ wali siswa. Memiliki totalitas kepribadian dan menyadari bahwa menjadi guru adalah suatu panggilan (R10) (13)

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan: Lampiran 4 12. Usulan Program untuk Meningkatkan Pemahaman dan Penghayatan Spiritualitas Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah a. Penyegaran/ week end/ rekoleksi rohani dengan menggali nilai-nilai spiritualitas SPM (R1, R3, R7, R9, R11) b. Menggali nilai-nilai keSPMan dalam lingkup wilayah (R2) c. Menggali enam pilar dalam renstra PDp secara bertahap (R4) d. Menggali nilai-nilai khas keteladanan Yulia Billiart (R5) e. Kegiatan “aksi panggilan” dari para suster (R6) f. Pembinaan bagi guru dengan menggali nilai-nilai keSPMan untuk menjadi landasan para guru dalam melaksanakan kurikulum 2013 (R8) g. Berkumpul bersama para guru PDp dalam kebersamaan sewilayah (R10) h. Menyamakan “langkah” (R12) (14)

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5 Transpkrip Wawancara dengan Responden 1-12 Nama : R 1 Hari : Jumat, 6 Juni 2014, Pukul: 12.30-13.00 WIB Unit : SDK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apa yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Manusia dicipta untuk memanusiakan manusia. Manusia dicipta oleh Tuhan mirip/ sama dengan Allah. Tuhan mengangkat derajat manusia dengan kasih, agung, dan baik. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Saya dan sesama diciptakan sama derajatnya. Memartabatkan manusia dengan cara tidak pilih kasih sebab satu pribadi dengan yang lain memiliki martabat yang sama. 3. Bagaimana bapak ibu memahami bahwa manusia dicipta istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya diberi pikiran dan hati, mampu membedakan antara yang baik dan yang tidak baik. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya berharga di hadapan Tuhan karena Ia memberi segala sesuatu dengan cuma-cuma; segala kemampuan dan talenta, juga ketidaksempurnaan saya, tubuh yang sempurna, cantik; Anak didik: saya dibutuhkan oleh anak didik, menghargai guru, selalu ingin berjumpa karena disayang oleh anak-anak; Rekan kerja: Saya dapat berbagi, saling memberi dan menerima, memberikan kritik yang membangun, dan mampu menerima kenyataan. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart apa saja yang bapak ibu pahami selama ini? Nilai kasih, perhatian, jujur, memberikan pelayanan, dan sederhana. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya menghargai diri sendiri dengan menyadari, mengolah, dan menerima bahwa saya memiliki kekuatan dan kekurangan; Anak didik: berani melihat kenyataan bahwa anak didik mempunyai kemampuan yang berbeda dan tidak semua pintar, ada yang kurang mampu secara ekonomi, latar belakang sosial berbeda, memperlakukan setiap pribadi secara berbeda sesuai dengan keunikannya; Rekan kerja: mengenal watak/ karakter setiap rekan kerja. 7. Bagaimana usaha bapak ibu mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? (15)

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Saya bersyukur dan berdoa, menjaga diri, dan mencintai keluarga; Diri sendiri: olah raga, makan teratur, istirahat teratur, berpenampilan rapi; Anak didik: memberi motivasi belajar dan bantuan kepada anak kurang mampu secara finansial, misal: meminjamkan seragam dan buku, berdoa untuk anak, menyapa, dan memotivasi, mendorong anak didik untuk saling berbagi misal: anak yang mampu dalam bidang akademik diminta untuk menolong yang kurang mampu; Rekan kerja: saling mengunjungi dan memperhatikan, berdoa untuk rekan kerja, memberi bantuan dengan “ngaruhke”. 8. Apa usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Berusaha dengan sikap baik, mampu membedakan yang baik dan tidak baik, dapat menjadi panutan/ telada dan mengikuti perkembangan misal: penataran. Paham Kompetensi Kepribadian Guru 9. Dunia pendidikan jaman ini membutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkompetensi kepribadian? Pendidik berkualitas: inovatif, dapat mengikuti perkembangan teknologi, mampu mengembangkan teknologi, pribadi yang memiliki jati diri yang positif, jujur, berani mengambil resiko dengan bertanggung jawab. 10. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Saya semakin mantap menjadi guru, di hadapan anak-anak ada saat menjadi guru dan saat menjadi teman, dan saya tambah dalam beriman. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghambat (internal dan eksternal) 11. Dalam dunia pendidikan jaman ini dibutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkompetensi kepribadian? Faktor pendukung: - Internal : menghidupi visi misi sekolah - Eksternal : saling menghargai, peduli, dan pengertian antara warga sekolah (guru, siswa, wali murid, kepala sekolah), memahami visi misi sekolah. Faktor penghambat: - Internal : egois, kurang terbuka, kurang komunikasi - Eksternal : wali/ orang tua siswa semau sendiri, anak didik yang semaunya sendiri, mis komunikasi antar guru, kepala sekolah kurang tanggap terhadap kegiatan, ngaruhke, dan tidak hadir rapat dinas, kurang semangat misal lomba-lomba. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Penyegaran spiritualitas SPM secara berkesinambungan. (16)

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R2 Hari : Sabtu, 7 Juni 2014, Pukul: 10.35-11.35 WIB Unit : TKK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apa yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Allah menciptakan saya baik ada dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. Saya bersyukur bahwa saya dicipta normal. Allah mencipta saya baik dan inilah gambar Allah yang ada dalam diri saya. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Saya memahami kesamaan martabat sebagai citra Allah, saya dengan orang lain sama. Saya dan sesama mampu berpikir dan berbuat sesuatu. Saya berusaha untuk melihat orang lain dari sisi baik meski orang lain memiliki kekurangan. 3. Bagaimana bapak ibu memahami bahwa manusia dicipta istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya merasa istimewa karena saya mrantasi, mampu mengungkapkan ide atau pendapat, mampu mengatur, dan dipercaya untuk dimintai nasehat. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya berharga di hadapan Tuhan, saat saya mampu berdoa dengan tulus, pasrah, dan percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan. Tuhan memahami saya meski saya kadang tidak memahami kehendak Tuhan. Berharga di hadapan anak-anak ketika saya dicari oleh anak-anak misal saat tidak dapat masuk sekolah. Saat ada kesulitan anak-anak memahami situasi saya dan mau menolong. Rekan kerja mau mendengarkan dan mau memberi solusi saat saya curhat. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart apa saja yang bapak ibu pahami selama ini? Memberi perhatian dan kasih kepada anak didik. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya mengahargai keunikan misal memiliki kelebihan dapat menari maka saya siap untuk mengajari menari. Saya merasa menjadi orang yang ringan tangan karena saya mampu dan dapat dipercaya. Menghargai keunikan anak didik dengan mengenal dan memahami kemampuan dan karakter anak, tidak membedakan, dan mampu mengajak anak untuk saling berbagi, misal yang mampu mengajari yang kurang. Menghargai rekan kerja dengan cara saya beradaptasi, mau mengenal dan memahami kemampuan rekan saya, serta menyadari bahwa saya tidak sama dengan yang lain. 7. Bagaimana usaha bapak ibu mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Cinta/ kasih kepada Tuhan saya beruhasa untuk menyadari bahwa ikut Yesus berani menanggung salib dan berani menampakkan jati diri sebagai orang (17)

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Katolik. Mewujudkan cinta diri sendiri dengan mengatur pola makan dan rohani memaksa diri untuk tekun dalam doa dan terlibat dalam kegiatan rohani di lingkungan. Anak didik: memberi tambahan “pelajaran”, anak sakit saya membesuk, dan ada permasalahan pada anak saya mencoba mengunjungi dan memberi perhatian khusus. Rekan kerja: berusaha memperhatikan, ada teman sakit memberi kelonggaran, dan saling meringankan dalam mengerjakan tugas. 8. Apa usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Merencanakan pembelajaran, menyiapkan ruang belajar yang nyaman, menyiapkan alat peraga. Paham Kompetensi Kepribadian Guru 9. Dalam dunia pendidikan jaman ini dibutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkompetensi kepribadian? Guru berkualitas berpenampilan baik, rapi, dan cara kerja. Guru yang memiliki motivasi dan memiliki loyalitas. 10. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Saya matap berkarya di sini dan iman saya semakin dikembangkan. Saya semakin dekat dengan anak-anak. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor pendukung: Internal: - Saya berani terbuka bertanya dengan rendah hati kepada yang lebih memahami - Mampu menghargai sesama reman kerja, wali siswa orang yang biasa atau sederhana Eksternal: - Saling memahami, mampu mencari solusi saat ada masalah, sekolah peduli dan memberi perhatian anak yang “kurang”, misal: anak kurang gisi diberi susu. Faktor penghambat: Internal: - Mudah putus asa dan malas. Eksternal: - Kurangnya dukungan sarana dari sekolah, misal: dalam pengadaan alat peraga. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Penyegaran spiritualitas dalam satu wilayah. (18)

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R 3 Hari : Sabtu, 7 Juni 2014, Pukul: 12.05-12.30 WIB Unit : SDK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apa yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya segambar dengan Allah. Allah yang baik. Saya adalah ciptaan Allah yang baik, sesuai dengan citra-Nya. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Setiap manusia sama martabatnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Semua mempunyai martabat yang sama, meskipun ada yang memiliki kemampuan yang lebih dan kurang baik dalam hal finansial, kemampuan akademik. 3. Bagaimana bapak ibu memahami bahwa manusia dicipta istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya unik/ istimewa bahwa saya sempurna dengan tubuh yang lengkap. Saya mudah tersenyum. Saya mempunyai akal budi untuk berpikir dan dapat bertindak secara benar. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya berharga di hadapan Tuhan karena saya dianugerahi akal budi, sehingga dapat berpikir dan bertindak secara benar; Anak didik: dapat menjadi contoh/ teladan bagi anak didik dan baik dalam bertingkah laku; Rekan kerja: dapat bekerja sama, menolong dengan kemampuan saya. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart apa saja yang bapak ibu pahami selama ini? Memberi perhatian dan mengenal sesuai kemampuan anak, misal yang redup diangkat dan dilatih, sedangkan yang bersinar didorong untuk terus maju. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Menghargai diri sendiri dengan bersyukur, meningkatkan kemampuan saya, dan dibagikan; Anak didik: memberi pujian/ hadiah/ penghargaan; Rekan kerja: ikut senang/ bersyukur dan memberi semangat. 7. Bagaimana usaha bapak ibu mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya berdoa dan bersyukur; Diri sendiri: merawat tubuh, mengikuti kegiatan rohani baik di lingkungan dan Gereja; Anak didik: berusaha memahami anak didik (ada saat keras dan ada saat lembut) disesuaikan karakter anak; Rekan kerja: memahami rekan kerja sesuai dengan karakter masing-masing. 8. Apa usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Berusaha maju dalam bidang rohani. Dengan aneka kemajuan ilmu pengetahuan berusaha mengikuti perkembangan dengan memilah dan memilih yang baik. (19)

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Paham Kompetensi Kepribadian Guru 9. Dunia pendidikan jaman ini membutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkompetensi kepribadian? Pendidik yang memiliki keseimbangan antara bidang rohani dan pengetahuan. 10. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Pendidik yang mantab dan stabil karena tidak ragu-ragu, percaya diri, tidak terpengaruh. Saya dapat memberi teladan kepada anak didik. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor pendukung: - Internal : Kemauan, semangat. - Eksternal : Sarana untuk berdoa, memberi waktu untuk berdoa, rekan kerja saling dapat bekerja sama Faktor menghambat: - Internal : Egoisme diri, cuek, dan kurang percaya diri. - Eksternal : Rekan kerja yang kurang dapat bekerja sama, mementingkan tugas diri sendiri, dan pemimpin yang kurang menjaga privasi pribadi guru. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah para guru PDp lebih mendalam? Penyegaran rohani bagi guru dan karyawan. (20)

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.4 Hari : Senin, 9 Juni 2014, Pukul: 07.55-08.50 WIB Unit : SMPK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apa yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya memahami Allah adalah baik. Saya adalah citra Allah yang memiliki kelebihan dan kelemahan. Saya berprinsip bahwa kelemahan tetap menjadi milik saya. Namun dengan kekuatan yang saya miliki saya akan memberikan kekuatan saya secara maksimal, misal: diperyaca sebagai koordinator PSDM di unit karya. Saya mengalami bahwa tugas ini tidak mudah karena terkait dengan hal yang menyangkut “nasib” seseorang. Melalui tugas ini saya belajar untuk obyektf kepada setia rekan kerja. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Saya memahami dalam konteks sebagai koordinator personalia unit kerja bahwa setiap guru atau karyawan dalam unit kerja mempunyai hak hidup yang sama. Saya memaknai bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama dalam hak hidup, meskipun status dan fungsi berbeda. 3. Bagaimana bapak ibu memahami bahwa manusia dicipta istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya dicipta baik adanya, maka hal baik yang saya miliki saya berikan dan bagikan. Kapan saja dan di mana saja saya dibutuhkan oleh sekolah saya siap, misal dalam bentuk pemikiran, keberadaan, memberikan diri dengan total. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya memahami bahwa Allah itu baik. Saya berharga di hadapan Tuhan saat saya dapat melakukan hal yang baik, membagikan anugerah kebaikan Tuhan dengan tulus. Anak didik: Saya seorang guru B.Inggris saya memberi yang terbaik, misal diukur dengan: hasil nilai semester baik, kelas IX lulus dengan nilai baik. Saya menyadari bahwa hasil yang baik itu perlu, namun ada hal yang lebih penting yaitu “proses”. Saya merasa berharga ketika anak membutuhkan saya dan anak menghargai saya. Meskipun dalam proses terjadi “push” namun anak tetap menghargai proses tersebut. Anak memahami karakter saya yang keras/ “kenceng”, namun saya bersyukur bahwa sejak tahun 1991 saya belum pernah mengalami satu hal yang konfrontatif baik dengan anak ataupun orang tua. Mereka tetap menerima saya dan saling menghargai. Rekan kerja: Saya sebagai koordinator PSDM selalu menyadari wilayah kerja masing-masing rekan kerja. Saya selalu menempatkan diri sebagai jembatan antara rekan guru karyawan dengan kepala sekolah. Rekan guru dan karyawan memberi kepercayaan besar dan saya menjadi tempat jujugan bagi para guru dan karyawan sesuai dengan fungsi saya sebagai koordinator PSDM. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart apa saja yang bapak ibu pahami selama ini? (21)

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nilai kesetian dalam memberi diri dan berkurban untuk melayani. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya menghargai keunikan diri: Saya belajar menerima diri dan keberadaan saya apa adanya; Anak didik: Dalam konteks sebagai seorang guru B.Ing, saya menerapkan disiplin kepada anak-anak. Misal ada anak tidak displin pada saat jam saya, maka saya akan menegur dan memberi pelajaran dan anak bisa menerima. Namun setelah selesai jam mengajar, kepada anak yang kurang disiplin saya tetap netral dan normal kembali. Saya menempatkan anak didik seperti adanya. Ada yang salah ditegur atau diingatkan dan selesai. Saya menghargai anak didik dengan menempatkan anak didik sebagai pribadi berharga dengan segala adanya; Rekan kerja: Saya menghargai mereka dengan cara menempatkan setiap rekan kerja ada porsi dan tugas masing-masing di luar tugas mengajar, misal: kurikulum, kesiswaaan, humas, PSDM. Saya menyadari diri pentingnya menempatkan setiap pribadi pada peran masing-masing, agar tidak terjadi benturan. Saya sebagai guru “tua” tetap menghargai khususnya guru “muda”. Misal: Dalam sebuah kepanitiaan di sekolah ada guru muda yang menjadi ketua/ koordinator, maka saya melaksanakan tugas saya secara bertanggung jawab dalam kepemimpinan guru “muda”. Saya berusaha untuk terbuka dipimpin oleh yang “muda” dan taat pada pimpinan (Kepsek). 7. Bagaimana usaha bapak ibu mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Allah itu baik. Saya percaya bahwa kebaikan dari Allah ada dalam diri saya. Segala yang baik yang dalam diri. Saya bagikan kebaikan dalam bentuk kasih kepada rekan kerja, pimpinan, anak didik. Saya dapat memberikan passion kepada unit kerja, sehingga dapat bekerja total dan tidak hitung-hitungan. 8. Apa usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Saya dianugerahi pikiran (akal budi), sehingga saya dapat berpikir dan saya wujudkan dalam karya. Saya berusaha memperkaya diri, dengan mengikuti pelatihan, membaca buku-buku baru, belajar IT untuk menunjang pengakaran, belajar kepada yang “muda”. Dalam bidang profesionalitas dengan kegiatan pelatihan kurikulum 2013, seminar/ lokakarya, kajian-kajian terkait dengan tugas PSDM. Paham Kompetensi Kepribadian Guru 9. Dalam dunia pendidikan jaman ini dibutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkompetensi kepribadian? Seorang pendidik yang siap dengan realita kondisi terkini, dari aspek profesionalitas, memahami anak didik sebagai “anak jaman” dan mencoba berelasi dengan anak didik sebagai “anak jaman”. 10. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? (22)

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Saya berkepribadian, misal: berkarakter kuat/ berkepribadian mantap atau tidak terombang-ambing. Saya memberi diri full untuk kemajuan sekolah. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghambat (internal dan eksternal) 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor Mendukung: Internal : - Ada passion dalam diri sehingga saya setia - Bekerja tidak di bawah tekanan Eksternal : - Aktifitas kerohanian di unit kerja sehingga menambah semangat - Retret spiritualitas bagi para guru - Pembinaan studi dari PDp Faktor Menghambat: Internal : - Saya merasa dan mengalami kurang seimbang dalam memberi “penghargaan” kepada guru di unit SMP Malang II (standar ISO), yang dituntut lebih tinggi dibanding unit lain. Eksternal : - Kurang keteladanan dari seorang suster SPM. - Para suster (pimpinan) dalam satu wilayah kurang kompak/ kurang akur. - Kurang penghargaan sebagai satu kompensasi bagi guru yang bekerja keras di sekolah yang “diunggulkan”. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah para guru PDp lebih mendalam? Program pendidikan karakter SPM secara berjenjang dalam menggali nilainilai keSPMan, misal dalam week end. Menggali enam pilar dalam renstra PDp secara bertahap, dalam bentuk week end. (23)

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.5 Hari : Senin, 9 Juni 2014, Pukul: 09.00-10.05 WIB Unit : SMPK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apa yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya dicipta sebagai citra Allah, agar saya mampu mengenal diri saya dan Allah Sang Pencipta. Saya sebagai citra Allah adalah segambar dengan Allah. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Saya dan teman sekerja berjuang bersama, di mana ada saling menghargai dan menerima diri dan orang lain. Contoh khususnya dalam team work meskipun ada koordinator dan anggota namun pada hakekatnya setiap pribadi sama dan sederajat. 3. Bagaimana bapak ibu memahami bahwa manusia dicipta istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya ciptaan namun saya diberi anugerah luar biasa. Saya sebagai ciptaan Allah merasa istimewa karena dianugerahi akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya merasa berharga saat saya menerima kepercayaan dari sekolah, lingkungan, paroki, masyarakat dsb. Saya berharga di hadapan anak didik misal “terima kasih” secara tulus, didengarkan. Rekan kerja: saya ikut membangun keakraban dan kekeluargaan dengan sesama rekan kerja, sehingga tidak ada jarak antara generasi “tua” dan “muda”. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart apa saja yang bapak ibu pahami selama ini? Nilai yang diperjuangkan yakni kesemartabatan, memberi perhatian kepada orang-orang muda, dan mereka yang miskin dan terlantar. Saya memberi wawasan kepada anak didik bahwa penting memberi perhatian kepada yang sedang dalam kesulitan. Secara konkret diwujudkan dalam memberikan “uang”untuk disumbangkan kepada teman membutuhkan (tidak mampu). Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya sadar seorang sebagai seorang manusia. Saya menyadari bahwa saya menerima diri saya. Saya menyadari bahwa anak didik adalah subyek yang hidup, sehingga dalam proses memahami setiap anak didik. Saya mencoba memahami realita generasi jaman ini. Saya mencoba mengenal dan memahami pribadi dalam setiap kelas, khususnya anak-anak istimewa. Rekan kerja: memberi kesempatan kepada rekan yang lebih mampu. Saya dapat mengakui kelebihan rekan kerja. (24)

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Bagaimana usaha bapak ibu mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Diri sendiri: Saya mengatur hidup menjadi tertib dan menyesuaikan diri dengan anggota keluarga. Anak didik: Saya diminta untuk sabar namun tegas kepada anak didik. Rekan kerja: Saya hadir dalam kebersamaan bersama dengan rekan kerja (acara arisan), memberi dukungan kepada anggota keluarga rekan kerja yang misal: sedang sakit, saat ada hajat. 8. Apa usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Saya mencoba membaca, mencari informasi dalam berita, berdiskusi dengan melibatkan nalar dan rasio sehingga dapat membuahkan pemahaman satu dengan yang lain dan bahkan toleransi ketika ada satu perbedaan. Paham Kompetensi Kepribadian Guru 9. Dunia pendidikan jaman ini dibutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkompetensi kepribadian? Seorang pendidik yang menguasai bidang dan memberi yang terbaik. Seorang pendidik yang percaya diri, disiplin, dan bertanggung jawab. Pendidik yang berkepribadian adalah seorang guru (pendidik), seorang yang mampu memberi teladan bagi anak didik dan masyarakat. 10. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Saya seorang tertib dan disiplin dalam karya. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor Mendukung: Internal: - Saya seorang yang “perfect” dan mampu maksimal dalam bekerja. Eksternal: - Team work berjalan dengan baik dan solid - Mau belajar dengan yang lebih muda, misal dalam hal IT Faktor Menghambat: Internal: - Egoisme pribadi Eksternal: - Target dalam rencana kerja tidak dapat terlaksana - Para suster SPM masih terbatas dalam “bersentuhan” langsung dengan anak didik. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah para guru PDp lebih mendalam? Menggali kekhasan nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart. (25)

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.6 Hari : Senin, 9 Juni 2014, Pukul: 10.15-11.30 WIB Unit : SMPK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apa yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya mempunyai kemampuan dan merasa dan mengalami diri saya berkembang. Saya bersyukur jadi seorang Katolik dan di lingkungan Katolik. Saya mampu dibidang matematika dan memasak. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Saya merasakan bahwa di lingkup sekolah ini tidak ada perbedaan antara guru “tua/ senior” atau “muda/ yunior”, Katolik dan bukan Katolik. Semua saling berbaur ada guru Katolik, Kristen, dan Muslim. Saya mengalami bahwa dengan rekan kerja siapapun (bapak-bapak pelaksana) adalah saudara saya. 3. Bagaimana bapak ibu memahami bahwa manusia dicipta istimewa dibanding ciptaan yang lain Saya merasa istimewa bahwa saya dianugerahi akal budi dan mempunyai kasih. Saya memahami Allah yang kasih. Saya memberikan kemampuan yang saya miliki, misal: saya mampu dalam bidang matematika demi anak didik. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Tuhan: Saya dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam bidang saya dan bidang lain, ini yang membuat berharga. Anak didik: Ketika saya menjadi salah satu “pioneer” dari “Yohanes Surya” terpaksa tidak bisa bersama dengan anakanak didik untuk beberapa saat, saya mengalami bahwa kehadiran saya sangat dirindukan anak-anak, khususnya dalam mendampingi belajar matematika. Ada anak berkata: “aku tidak bisa belajar tanpa ibu”. Saya merasa berharga saat saya mampu membangkitkan semangat/ memotivasi anak didik untuk percaya diri dan ternyata mereka mampu melakukan itu, mencintai anak dengan tulus. Saya merasa berharga di hadapan rekan kerja: Saya merasa ada rasa saling menghargai, selalu melibatkan setiap orang misal: dalam kepanitiaan, tidak ada pengkotak-kotakan (guru biasa, wakasek, kepsek, dan karyawan), dan ketika saya salah saya diingatkan (mendapat masukan) orang lain demi perbaikan diri. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart apa saja yang bapak ibu pahami selama ini? Saya mencoba memahami nilai yang didentifikasikan oleh Bunda Maria, misal fiat voluntas tua, kasih kepada Yesus sehingga kesamaan martabat diperjuangkan. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu dalam menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Berdasarkan kemampuan saya dalam bidang “matematika” maka saya menghargai keunikan dengan meluangkan waktu untuk mencari buku, mencari (26)

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI hal-hal baru, karena merasa ilmu saya belum cukup, misal: menemukan trik baru yang disenangi anak-anak. Semakin mengimani bahwa dengan memberi saya diberi lebih banyak. Anak didik: Saya mencoba menerima dan memahami anak-anak, mencoba mendekati secara personal di luar waktu formal khusus untuk anak “khusus”, dan masuk kepada anak didik melalui pintu mereka. Rekan kerja: saya mencoba mengenal setiap pribadi, mengingatkan seorang demi kebaikannya dengan segala resiko, berani mengatakan misal: ketidakcocokan saat dalam rapat dan selesai saat di luar rapat, mengingatkan seseorang lewat orang yang dekat, dan memohon kepada Tuhan (doa) ketika hendak berkonfrontasi dengan orang lain. 7. Bagaimana usaha bapak ibu dalam mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya mencintai Tuhan dengan berdoa dan membagikan kasih Tuhan kepada yang membutuhkan. Saya mencoba mampu mengolah diri, mencintai diri dengan menerima diri yang sakit-sakitan, sebab ini anugerah Tuhan, mau menjaga diri dengan mengukur diri. Saya mencintai anak didik dengan total dan memberi pendampingan khususnya anak yang “kurang”, memotivasi anak untuk berusaha dan berdoa, dan berkomunikasi secara khusus dengan orang tuanya untuk mencari jalan keluar. Saya mencintai rekan kerja khusus yang sedang dalam masalah dengan membantu meringankan masalah dengan memberi peneguhan dan perhatian, dan memberi kenyamanan, membantu memberi solusi kepada rekan kerja yang lebih muda. 8. Bagaimana usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Saya mencoba mengasah iman sehingga akal budi dapat berkembang. Saya mencoba introspeksi diri dan minta masukan tentang hal rohani. Saya dikembangkan dalam hal jasmani dan rohani. Saya mencari buku-buku baru terkait dengan bidang matematika sehingga dapat menemukan cara baru untuk mempermudah anak dalam mempelajari matmatika. Dan anak merasa senang dengan cara-cara baru ini. Paham Kompetensi Kepribadian Guru 9. Dunia pendidikan jaman ini membutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkualitas kepribadian? Saya mengalami iman yang semakin hidup sebagai seorang Katolik. Sosok pendidik yang mampu menjadi teladan untuk anak didik dan orang lain, contoh: disiplin dan doa. Pelatihan untuk mengimbangi hal yang baru dan mencari wacana. Saya berani mengolah diri untuk lebih baik. 10. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Iman berkembang dan intelektual di bidang saya berkembang. Belajar tidak malu bertanya. (27)

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor Mendukung: Internal: - Rendah hati dan menerima orang lain apa adanya, mau belajar dari yang muda (tidak malu bertanya) - Menghargai dengan segala kekuatan dan keterbatasan mereka - Tanggung jawab kepada diri, rekan kerja, dan anak didik secara total. Eksternal: - Keluarga yang mendukung secara penuh - Ada budaya saling menghargai kekuatan dan kekurangan satu dengan yang lain Faktor Menghambat: Internal: - Kelelahan fisik Eksternal: - Sangat kelelahan (fisik) sehingga kurang kontrol - Kurang komunikasi Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Keterlibatan para suster SPM dalam memberi kesaksian dan aksi panggilan di sekolah. (28)

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.7 Hari : Senin, 9 Juni 2014, Pukul: 11.40-12.25 WIB Unit : SMPK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apakah yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya mampu menggali diri untuk menjadi pribadi yang lembut. Saya merasa diterima dan disambut dengan baik. Saat rapat kerja bapak pelaksana ikut presentasi. Saya berharga dan dihargai Tuhan dan sesama. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Kesamaan martabat tampak dalam keseharian. Konkret dalam raker tidak ada kotak-kotak, antara guru dan pelaksana. 3. Apa yang membuat bapak ibu merasa istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya minder, namun sadar diri bahwa pribadi saya sangat berharga. Tuhan sayang saya. Saya memiliki semangat, mampu mendengarkan, peduli dengan yang lain. Saya merasa dicintai Tuhan. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya berharga di mata Tuhan: saya rapuh namun saya dicintai Tuhan dan berani mengasihi diri sendiri. Saya berharga di hadapan anak didik ketika anak berkata: “ibu mami keduaku”, anak terbuka dan dicari anak didik. Rekan kerja: saat saya diajak diskusi, berpendapat, dan dilibatkan. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Apa saja nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart yang bapak ibu pahami selama ini? Memperjuangkan spiritualitas kesamaan martabat, dan mampu mengadalkan kebaikan Allah. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu dalam menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Menghargai diri bekerja secara benar dan mempunyai planning. Saya menjaga diri dan menjaga sikap. Anak didik: mengenal anak, mendalami/ menggali anak, menyapa/ PDKT kepada anak sebelum masuk ke anak. Rekan kerja: berbicara dengan sopan, nguwongke rekan kerja, bersikap profesional, dan berani duduk bersama saat ada hal perlu dibicarakan demi kebaikan. 7. Bagaimana usaha bapak ibu dalam mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya memiliki akal budi, hati (kasih), dan kehendak bebas. Saya mewujudkan kasih untuk Tuhan: berdoa, membaca KS, dan sharring iman. Saya mencintai diri dengan rohani: berdoa, baca KS, memberi waktu untuk saat teduh. Jasmani: memilihara badan, relaks, istirahat, dan makan. Anak didik: menerima anak dan mengingatkan anak yang “khusus”, memahami dan telaten anak dengan menyapa. Rekan kerja: hormat dengan bicara sopan, saat bercanda (29)

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menggunakan panggilan akrab, dan mau bertanya kepada, mencoba memahami karakter rekan kerja. 8. Bagaimana usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Saya berusaha untuk baca buku, dan banyak sharring pengalaman. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 9. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor Mendukung: Internal: - Berefleksi dan merenungkan kembali Eksternal: - Ada pemahaman visi dan misi dan peneguhan nilai-nilai keSPMan dalam setiap pertemuan khusus. Faktor Menghambat: Internal: - Banyak beban pekerjaan sehingga kurang dapat mengelola waktu - Memahami namun kadang kurang menyadari Eksternal: - Saya kurang dapat menerima teman yang kurang disiplin - Rekan kerja (personal) tertentu saya kurang bisa memahami dan kadang kurang dilibatkan. - Ada ketidaksamaan dalam aturan “cuti”. Paham Kompetensi Kepribadian Guru 10. Dunia pendidikan jaman ini membutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkualitas kepribadian? Saya memahami diri baik dan Tuhan baik, adalah awal pendidikan yang baik. Seorang pendidik berkualitas yang dapat memberi keteladanan anak didik. 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kualitas/ kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Saya berkembang dalam hal intelektual (ISO). Saya semakin dapat bertindak dan berpikir seperti apa adanya. Saya semakin berkembang dalam iman dan berwibawa di hadapan anak dan anak dapat menerima. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Penyegaran dalam bentuk rekoleksi dengan menggali nilai-nilai keSPMan. (30)

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.8 Hari : Selasa, 10 Juni 2014, Pukul: 09.30-10.25 WIB Unit : SMPK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apakah yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya memahami secitra dengan Allah bahwa saya sama dengan yang lain. Saya dan sesama di hadapan Tuhan sama dan setara. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Kesamaan atau kesetaraan tampak dalam kerja. Guru dengan bapak pembantu pelaksana sama dan tidak ada kesenjangan. 3. Apa yang membuat bapak ibu merasa istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya seorang yang tegas, mampu merencanakan dengan baik (planning), dan kemampuan ingatan yang tajam. Saya dianugerahi akal budi dan hati. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya berharga di hadapan Tuhan dengan membangun hidup rohani dengan berdoa dan beribadah. Saya berharga di hadapan anak didik dirindukan, saya mampu mendekati anak “bermasalah”. Saya berharga di hadapan rekan kerja saat saya dipercaya, diterima sebagai seorang yang tegas namun “dapat diluk” dan enak diajak komunikasi dan dipercaya sebagai wakil kepala sekolah. Aspek Penghayatan: 5. Bagaimana usaha bapak ibu dalam menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya dapat menghargai keunikan diri dengan mencoba mengendalikan diri sehingga dapat mengatasi emosi. Saya mengharga anak didik dengan memperlakukan sama, anak “bermasalah” saya dapat menyadarkan anak bahwa salah, anak tidak dipermalukan di depan kelas dengan pendekatan personal. Rekan kerja saya mencoba berkomunikasi dan berdamai saat ada permasalahan sehingga cepat selesai, mendampingi setiap rekan kerja untuk kinerja yang lebih baik (ISO). 6. Bagaimana usaha bapak ibu dalam mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya mewujudkan cinta kepada Tuhan dengan menikmati hidup yang Tuhan berikan untuk hal yang bermanfaat. Diri sendiri: mengendalikan emosi, merawat diri, menyeimbangkan antara kerja di sekolah dan refresh di rumah. Anak didik: senang mendampingi anak khusus (kurang) dalam bidang saya (Matematika), saya mengangkat anak “kurang” agar menjadi percaya diri. Misal dengan memberi contoh soal yang mudah terlebih dahulu sehingga mereka merasa bisa mengerjakannya dan tumbuh rasa percaya diri. Rekan kerja: saya memotivasi dan mengingatkan dan berusaha mendampingi dan tidak meninggalkan satu orang pun. (31)

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Bagaimana usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Saya mencoba untuk menambah wawasan dengan membaca, belajar dari pengalaman orang lain. 8. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Apa saja nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart yang bapak ibu pahami selama ini? Nilai kesamaan martabat dalam mendampingi anak: tidak ada yang kaya, lemah. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 9. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor yang Mendukung: Internal: - Terbuka berelasi/ terbiasa bergaul dengan orang “kecil” Eksternal: - Kebijakan lembaga misal dalam hal PSB khususnya bagi anak yang “kurang” secara finansial. - Rekan guru semua menghidupi spiritualitas kesamaan martabat, sehingga tak seorang pun ada yang “dicing. - Mengapersiasi semua anak untuk tampil dengan kemampuan/ bakat anak dalam ekskul. - Tidak ada kelas unggulan di sekolah. Faktor yang Menghambat: Internal: - Kadang kurang sabar Eksternal: - Ada pribadi yang “money oriented”sehingga agak sulit diajak “berjalan berjalan bersama”. Paham Kompetensi Kepribadian Guru 10. Dunia pendidikan jaman ini membutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkualitas kepribadian? Pendidik yang baik adalah kemampuan akademik memadahi dan dapat menjadi teladan/ nilai keteladanan. 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kualitas/ kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Saya semakin diteguhkan dan diingatkan bahwa apa yang saya lakukan benar dalam memartabatkan anak didik “khusus” secara adil. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Program usul lebih pada siswa tentang keSPMan. Pembinaan bagi para guru tentang nilai-nilai keSPMan agar dapat disampaikan kepada anak lebih mendalam. (32)

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.9 Hari : Selasa, 10 Juni 2014, Pukul: 11.00-11.30 WIB Unit : SDK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apakah yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya memanusiakan manusia. Saya mengapa orla seperti saya. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Kesamaan martabat, tidak membedakan dalam memberi pelayanan baik yang mampu atau tidak, lemah atau tidak, yang perlu perhatian khusus maka diberi perhatian khusus. 3. Apa yang membuat bapak ibu merasa istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya istimewa karena saya unik. Saya tidak membedakan siapapun, memberi perhatian pada yang tidak mampu. Saya memiliki kasih (hati) dan akal budi. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya berharga di hadapan Tuhan saat saya dibutuhkan orla dan saya dapat memberi bantuan kepada yang lain. Anak didik: saya dapat menjadi teman bagi mereka. Rekan kerja: dapat bekerja sama, saya dapat memberi bantuan yang diperlukan, dan menyapa. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Apa saja nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart yang bapak ibu pahami selama ini? Saya memahami memberi perhatian kepada yang “lemah” ekonomi, kemampuan akademik. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu dalam menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya menghargai keunikanku dengan mendengarkan sabda Tuhan, berdoa, dan saya bersyukur dengan anugerah yang saya miliki. Anak didik: saya menghargai anak dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan mereka, mengenal latar belakang, tidak mudah memarahi, dan membantu. Rekan kerja: saya berusaha menerima mereka adanya dengan segala keunikan dan karakternya. 7. Bagaimana usaha bapak ibu dalam mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya mewujudkan kasih Tuhan dengan mewujudkan pada anak didik dan rekan kerja karena mereka adalah gambaran Tuhan/ Allah. Diri sendiri: saya berusaha untuk membahagiakan dan diterima orang lain. Anak didik: selalu dekat dengan mereka, tidak memandang sebagai murid saat di luar kelas. Rekan kerja: memberi perhatian kepada mereka dan keluarganya. (33)

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Bagaimana usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Saya mengembangkan akal budi dengan terbuka pada hal baru dan senang belajar hal baru. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 9. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor yang mendukung: Internal: - Saya memberi contoh/ teladan konkret pada anak didik - Saya ikut merasa memiliki sekolah ini Eksternal: - Ada pembinaan bagi pengembangan guru Faktor yang menghambat: Internal: - Kelemahan diri saya Eksternal: - Keteladanan dari para suster SPM kurang misal: bagaimana menyapa orang, cara menegur saat ada yang “salah” Paham Kompetensi Kepribadian Guru 10. Dunia pendidikan jaman ini dibutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkualitas kepribadian? Seorang pendidik berkualitas adalah pendidik yang mempunyai hati (dalam memperlakukan anak didik) 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Saya semakin ramah dan murah senyum (karena dulu saya pendiam) dalam melayani, dan sabar dengan anak didik. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Saya mengusulkan keteladanan dari para suster SPM. Rekoleksi untuk melihat perjalanan kembali. (34)

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.10 Hari : Selasa, 10 Juni 2014, Pukul: 11.40-12.15 WIB Unit : SDK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apakah yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya sebagai citra Allah setiap pribadi sama di hadapan Allah, yang berbeda dan unik. Saya dapat menerima keunikan saya. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Saya dapat menerima aneka keunikan anak didik dan rekan kerja. 3. Apa yang membuat bapak ibu merasa istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya adalah umat istimewa, sebab dipilih oleh Allah karena Allah cinta kepada manusia. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya berharga di mata Tuhan karena saya memiliki kasih, saya menerima segala yang saya perlukan. Saya begitu dicintai Tuhan. Saya dapat mengalami iman yang hidup dengan kekuatan doa. Anak didik: saya dapat menjadi contoh dan terang bagi anak-anak. Rekan kerja: saya memahami keunikan rekan kerja yang unik, saya dipandang sebagai seorang pribadi berharga. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Apa saja nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart yang bapak ibu pahami selama ini? Nilai-nilai Santa Yulia yang saya pahami keteladanan, kerendahan hati, dan tidak pantang menyerah dalam berjuang. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu dalam menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Diri: menerima diri; Anak didik: menhargai sebagai subyek didik dengan segala Kemampuannya; Rekan: menerima (seperti yang sudah saya ungkap di depan). 7. Bagaimana usaha bapak ibu dalam mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Kasih untuk diri dengan rasa syukur atas segala yang Tuhan, saya menerima diri sebagai pribadi dengan segala kekuatan dan keterbatasan. Saya menjadi panutan atau cermin bagi anak didik bahwa kasih ada dalam setia pribadi anak didik dan para guru. 8. Bagaimana usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Saya mengaktualkan akal budi dengan tidak henti untuk belajar dan belajar. Semakin banyak belajar maka banyak yang akan dibagikan. (35)

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 9. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor pendukung: Internal: - Saya seorang yang terbuka dan pantang menyerah Eksternal: - Kebersamaan yang tercipta di sekolah - Penghayatan iman Faktor penghambat Internal: - Egoisme Eksternal: - Anak didik banyak yang tidak mendapatkan pendidikan rohani di keluarga - Komitmen bersama masih lemah Paham Kompetensi Kepribadian Guru 10. Dalam dunia pendidikan jaman ini dibutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkualitas kepribadian? Dapat menjadi panutan atau teladan bagi anak didik. Memiliki totalitas kepribadian guru dan menyadari bahwa menjadi guru adalah panggilan. 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kualitas/ kompetensi kepribadian mana yang semakin berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Guru dapat berelasi baik dengan anak didik dan orang tua/ wali. Saya menjadi panutan atau teladan bagi anak didik dalam mewartakan kasih Tuhan. Totalitas kepribadian guru. Kesadaran bahwa tugas guru adalah panggilan. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Program kegiatan berkumpul bersama dalam mempererat kebersamaan secara keseluruhan di wilayah, agar dapat mengenal satu dengan yang lain dengan lebih mendalam. (36)

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.11 Hari : Selasa, 10 Juni 2014, Pukul: 12.20-12.45 WIB Unit : SDK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apakah yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya dicipta sama dengan yang lain. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Saya tidak membedakan anak, menerima anak dengan apa adanya, misal: tidak membedakan status, dalam pembelajaran juga tidak membedakan anak baik yang pinter atau kurang, kaya atau kurang mampu dalam ekonomi. Konkret: memberi tambahan bagi yang kurang dan pengayaan bagi yang sudah bisa. 3. Apa yang membuat bapak ibu merasa istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya bersyukur sudah dicipta dengan seluruh ada (kekuatan dan keterbatsan saya) dengan sifat sabar, bijaksana, mau mendengarkan orang lain, dapat dapat menjadi guru. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Anak didik: dapat menjadi teladan atau panutan bagi anak didik, anak didik dapat nurut/ patuh. Rekan kerja: saya dipercaya/ curhat terkait masalah di sekolah atau masalah di luar sekolah dan dapat bekerja sama. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Apa saja nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart yang bapak ibu pahami selama ini? Nilai keteladanan Santa Yulia: kasih dan persaudaraan yang baik. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu dalam menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Diri sendiri: dengan bersyukur, membagikan kekuatan saya demi kebaikan. Anak didik: saya mencoba mengenal anak dengan segala karakter anak, mendekati anak yang “khusus”. Rekan kerja: saya mencoba netral dan berusaha menerima karakter setiap rekan kerja. 7. Bagaimana usaha bapak ibu dalam mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya menjaga kesehatan, berdoa, dan beribadat sehingga penuh. Anak didik: untuk anak yang kurang butuh pendampingan khusus dan yang hiper aktif butuh penanganan khusus. Rekan kerja: saya perlu mendekati dan merima apa adanya. 8. Bagaimana usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Saya perlu banyak belajar. (37)

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 9. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor yang mendukung: Internal: - Sabar dan mau mendengakan Eksternal: - Kegiatan bersama misal: rekoleksi dan retret Faktor yang menghambat: Internal: - Egoisme Eksternal: - Keterbatasan para guru misal: perbedaan prinsip - Kurang berani “konfrontasi” sehingga hanya berbicara di belakang Paham Kompetensi Kepribadian Guru 10. Dalam dunia pendidikan jaman ini dibutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkualitas kepribadian? Pendidik yang berkualitas yang memiliki profesionalisme guru dan mampu menjadi teladan bagi anak didik. 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kualitas/ kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Pendidik yang mampu menjadi teladan bagi anak didik. Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Pembinaan untuk menyegarkan guru dalam memahami dan menghayati nilainilai keSPMan, dengan menggali nilai-nilai keSPMan. (38)

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama : R.12 Hari : Selasa, 10 Juni 2014, Pukul: 12.55-13.35 WIB Unit : SDK Santa Maria Paham Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah Aspek Pemahaman: 1. Apakah yang bapak ibu pahami bahwa bapak ibu dicipta sebagai citra Allah? Saya dicipta seperti Allah. Allah yang sempurna. Saya menerima diri apa adanya, sebab inilah saya, dengan bangga menerima anugerah ini, dengan segala keterbatasan saya. 2. Bagaimana bapak ibu memahami “kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah”? Saya merasa bahwa saya setara dengan siapapun. Dalam saat tertentu ada berbeda dan saya pun sama. Misal: dengan bapak-bapak pelaksana sama. 3. Apa yang membuat bapak ibu merasa istimewa dibanding ciptaan yang lain? Saya dapat bekerja di tempat ini karena memiliki kemampuan dalam bidang komputer sebagai hobby, untuk saya bagikan kepada anak. 4. Apa yang membuat diri bapak ibu merasa berharga di hadapan: Tuhan, anak didik, dan rekan kerja? Saya berharga di hadapan anak didik menerima dan mengasihi saya. Rekan kerja: teman-teman merasa ditinggalkan saat saya pindah ke Malang. 5. Sebagai pendidik, Santa Yulia Billiart memberi teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah. Apa saja nilai-nilai keteladanan Santa Yulia Billiart yang bapak ibu pahami selama ini? Nilai-nilai keteladan Santa Yulia belum saya pahami sepenuhnya, namun satu nilai teladan adalah iman. Aspek Penghayatan: 6. Bagaimana usaha bapak ibu dalam menghargai keunikan: diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Saya menghargai diri dengan rendah hati, kekuatan saya keterbatasannya untuk salang melengkapi. Anak didik: saya tidak dapat menyamaratakan, mengenal anak didik, melakukan komunikasi sesuai dengan karakter dan kemampuan mereka, saya memberi kebebasan kepada anak untuk berekspresi agar saya dapat mengenal anak didik lebih dalam sehingga dapat masuk kepada anak. Rekan kerja: saya mencoba melihat terlebih dahulu sehingga dapat mengenal satu persatu sehingga dapat berbuat sesuatu. 7. Bagaimana usaha bapak ibu dalam mewujudkan cinta kepada: Tuhan, diri sendiri, anak didik, dan rekan kerja? Manusia dianugerahi hak hidup karena saya dikasihi. Usaha mengasihi diri karena dicipta utuh dengan segala kekurangan saya. Saya bangga terhadap diri saya dengan segala yang saya miliki, merawat diri, dan membangun hidup doa yang sungguh keluar dari hati, dan berpuasa untuk saat tertentu. Anak didik: saya memiliki anak yang “sangat unik yang belum jelas identitas orang tuanya”, misal: sakit saya kunjungi, saat bintal saya menemani dia secara khusus, mendampigi anak “bermasalah” lain diberi perhatian khusus. Rekan kerja: saat sedang dalam kesusahan dan dalam musibah dapat memberi support. (39)

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Bagaimana usaha konkret bapak ibu dalam mengembangkan anugerah akal budi selama ini? Augerah akal: mau belajar dengan tanpa batas, sehingga pengetahuan berkembang melalui berbagai media. Budi: memiliki pandangan senior sering berbeda. Saya dapat menyelami anak didik ketika saya menganggap mereka teman, sehingga mengenal anak dan baru masuk dalam budi pekerti. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghabat (internal dan eksternal) 9. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, apa saja faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam memahami dan menghayati kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah? (internal dan eksternal) Faktor yang mendukung: Intenal: - Hidup doa pribadi subur Eksternal: - Doa bersama, retret, dan rekoleksi Faktor yang menghambat: Intenal: - Saya saat tertentu kurang menyempatkan waktu untuk Tuhan Eksternal: - Ada pola pikir yang berbeda antara yang senior dan yunior Paham Kompetensi Kepribadian Guru 10. Dalam dunia pendidikan jaman ini dibutuhkan sosok pendidik yang memiliki kualitas kepribadian. Apa yang bapak ibu pahami tentang seorang pendidik yang berkualitas kepribadian? Guru yang dapat memberi contoh untuk anak didik dan mau mengembangkan diri dalam banyak hal 11. Berdasarkan pengalaman bapak ibu, kualitas/ kompetensi kepribadian mana yang telah berkembang berkat pemahaman spiritualitas kesamaan martabat manusia citra Allah? Saya semakin mantap menjadi guru, beriman, dan menjadi teladan Usulan Program 12. Apa yang ingin bapak ibu usulkan agar pemahaman dan penghayatan spiritualitas kesamaan martabat manusia sebagai Citra Allah oleh guru PDp lebih mendalam? Usul: menyamakan budaya dan manajemen dalam mengajar dan mendidik. (40)

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 1a: Observasi kepada 3 anak didik dari R1 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 07.15-07.45 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (41) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 2a: Observasi kepada 1 anak didik dari R2 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 07.45-08.05 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, atau agama? Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses setiap anak di kelas? Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat menerima? Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak yang mengalami kesulitan dalam belajar? Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ ibu saat di sekolah? Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ keistimewaan masing-masing anak? (42) Ya (O1) Tidak (O1) 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1.

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 3a: Observasi kepada 3 anak didik dari R3 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 08.05-08.35 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (43) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 4a: Observasi kepada 3 anak didik dari R4 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 08.35-09.05 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (44) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 5a: Observasi kepada 3 anak didik dari R5 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 09.05-09.35 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (45) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 6a: Observasi kepada 3 anak didik dari R6 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 09.35-10.05 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (46) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 7a: Observasi kepada 3 anak didik dari R7 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 10.05-10.35 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (47) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 8a: Observasi kepada 3 anak didik dari R8 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 10.35-11.05 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami “kesulitan” dalam belajar atau sedang 2. √ “bermasalah”? 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (48) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 9a: Observasi kepada 3 anak didik dari R9 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 11.05-11.35 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (49) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 10a: Observasi kepada 3 anak didik dari R10 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 11.35-12.05 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (50) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 11a: Observasi kepada 3 anak didik dari R11 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 12.05-12.35 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (51) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 12a: Observasi kepada 3 anak didik dari R12 Hari: Selasa, 11 Juni 2014, Pukul: 12.35-13.05 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Kesamaan Martabat sebagai Citra Allah 1. Bapak ibu guru mengenal keunikan/ keistimewaan anakanak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Bapak ibu guru dapat menerima dan menghargai setiap keunikan/ keistimewaan anak-anak di kelas dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 3. Bapak ibu guru memberi perhatian yang adil/ tidak pilih kasih kepada setiap anak di kelas? 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Bapak ibu guru mencintai setiap anak di kelas tanpa 1. √ membeda-bedakan, baik yang “lebih”/“kurang”, suku, 2. √ atau agama? 3. √ Bapak ibu guru sabar dan pengertian/ menghargai proses 1. √ setiap anak di kelas? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru bersikap tegas pada saat yang tepat 1. √ kepada setiap anak di kelas dan setiap anak dapat 2. √ menerima? 3. √ Bapak ibu guru menyapa/ menegur/ mengingatkan 1. √ dengan hormat/ santun khususnya kepada anak yang 2. √ “tidak tertib/ membuat masalah” di kelas? 3. √ Bapak ibu guru memberi perhatian khusus kepada anak 1. √ yang mengalami kesulitan dalam belajar? 2. √ 3. √ Bapak ibu guru menghargai setiap anak sebagai pribadi 1. √ berharga sehingga dapat menjadi teman/ sahabat/ bapak/ 2. √ ibu saat di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberikan pujian/ penghargaan kepada 1. √ setiap anak di kelas sesuai dengan kemampuan/ 2. √ keistimewaan masing-masing anak? 3. √ (52) Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 1b: Observasi kepada 3 anak didik dari R1 Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, misal: tepat waktu dan tidak terlambat? Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 8. 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (53) Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. √ 2. √ 3. √ 1. 2. 3. 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 2b: Observasi kepada 1 anak didik dari R2 Kompetensi Kepribadian Guru 1. Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 2. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 3. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? 4. Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (54) Ya (O1) 1. √ Tidak (O1) 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1. 1. √ 1.

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 3b: Observasi kepada 3 anak didik dari R3 Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, misal: tepat waktu dan tidak terlambat? Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 8. 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (55) Ya (O1,2,3) 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. √ 2. √ 3. √ 1. 2. 3. 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 4b: Observasi kepada 3 anak didik dari R4 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (56) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 5b: Observasi kepada 3 anak didik dari R5 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (57) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 6b: Observasi kepada 3 anak didik dari R6 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (58) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 7b: Observasi kepada 3 anak didik dari R7 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (59) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 8b: Observasi kepada 3 anak didik dari R8 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (60) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 9b: Observasi kepada 3 anak didik dari R9 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (61) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 10b: Observasi kepada 3 anak didik dari R10 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (62) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 11b: Observasi kepada 3 anak didik dari R11 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (63) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Tabel 12b: Observasi kepada 3 anak didik dari R12 Ya (O1,2,3) Bapak ibu guru memberi contoh nyata dalam mewujudkan 1. √ iman misal: sikap saling kasih, menghargai, mengampuni, 2. √ berbela rasa di dalam kelas dan di sekolah? 3. √ Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kedisiplinan, 1. √ misal: tepat waktu dan tidak terlambat? 2. √ 3. √ Kompetensi Kepribadian Guru 1. 2. 3. 4. Bapak ibu guru memberi teladan dalam hal kejujuran, misal: dengan rendah hati mengakui apabila bapak ibu guru salah/ keliru? Bapak ibu guru dapat menerima masukan/ kritikan dari anak-anak di kelas? 5. Bapak ibu guru berani sportif, misal: meminta maaf saat melakukan kesalahan/ kekeliruan? 6. Bapak ibu guru mampu membuat anak-anak senang dan nyaman belajar di kelas dan si sekolah? 7. Bapak ibu guru selalu memberi dorongan/ motivasi untuk maju dan tidak putus asa kepada setiap anak di kelas? 8. Bapak ibu guru mengajak setiap anak untuk belajar mengoreksi diri dan berefleksi? 9. Bapak ibu guru adalah seorang guru yang berwibawa di hadapan anak-anak? 10. Bapak ibu guru berpenampilan rapi dan sopan sebagai seorang guru ? (64) 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ 1. √ 2. √ 3. √ Tidak (O1,2,3) 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 1c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R1 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 08.00-08.10 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (65) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 2c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R2 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 08.10-08.20 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (66) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 3c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R3 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 08.20-08.30 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (67) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(228) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 4c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R4 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 08.30-08.40 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (68) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(229) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 5c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R5 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 08.40-08.50 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (69) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(230) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 6c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R6 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 08.50-09.00 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (70) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(231) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 7c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R7 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 09.00-09.10 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (71) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(232) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 8c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R8 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 09.10-09.20 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (72) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(233) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 9c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R9 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 09.20-09.40 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (73) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(234) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 10c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R10 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 09.40-09.50 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (74) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(235) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 11c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R11 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 09.50-10.00 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (75) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(236) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 12c: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R12 Hari: Rabu, 12 Juni 2014, Pukul: 10.00-10.10 WIB Pertanyaan-pertanyaan Observasi Ya Kesamaan Martabat Manusia Citra Allah 1. Dia seorang guru yang mampu memahami dan mengenal pribadinya berharga dan unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya? 2. Dia seorang guru yang mampu menyadari bahwa pribadinya berharga dengan segala kekuatan dan keterbatasannya? 3. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai dirinya dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 4. Dia seorang guru yang mampu mengakui, menerima, dan mencintai setiap rekan kerja dengan segala potensi, karakter, kekuatan dan keterbatasannya? 5. Dia seorang guru yang mampu menempatkan diri dan rekan kerjanya setara sebagai pribadi citra Allah? Misal: tidak membedakan yunior atau senior, mempunyai jabatan fungsional atau tidak, guru atau karyawan, dsb. 6. Dia seorang guru yang mampu memancarkan sikap hidup yang membawa damai, pengampunan, keadilan, dan suka cita? 7. Dia seorang guru yang hidupnya penuh iman, harapan, dan syukur? 8. Dia seorang guru yang mampu menghargai hidup, secara jasmani, misal menjaga kesehatan dan mengatur pola hidup? Hidup rohani misal taat beribadah, berdoa, dan menekuni hidup rohani? 9. Dia seorang guru yang mampu menghargai dan mengembangkan anugerah akal budi, hati nurani, dan kehendak sehingga dapat memilah, memilih, dan bertindak dengan kebebasan batin sebagai pribadi dewasa? 10. Dia seorang guru yang mampu mewartakan Allah yang baik misal: perhatian, membangun persaudaraan sejati, solider, berbagi, empati, dan bersikap tanpa pamrih kepada setiap rekan kerja? (76) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(237) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 1d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R1 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (77) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(238) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 2d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R2 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (78) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(239) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 3d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R3 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (79) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(240) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 4d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R4 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (80) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(241) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 5d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R5 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (81) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(242) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 6d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R6 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (82) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(243) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 7d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R7 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (83) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(244) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 8d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R8 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (84) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(245) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 9d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R9 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (85) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(246) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 10d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R10 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (86) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(247) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 11d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R11 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (87) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(248) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Tabel 12d: Observasi kepada 1 Rekan Kerja dari R12 1. Kompetensi Kepribadian Guru Ya Dia seorang guru yang mampu menghayati dan mengaktualisasikan iman kepercayaannya: dengan hidup penuh kasih, berharapan, dan beriman? √ 2. Dia seorang guru yang taat pada agamanya, hidup selaras dengan ajaran imannya dan norma-norma agama? 3. Dia seorang guru yang bijaksana, tulus dan setia? 4. Dia seorang guru yang mampu mendengarkan, terbuka dan mau menerima masukan/ kritikan membangun? 5. Dia seorang guru yang memiliki kepribadian seimbang baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual? 6. Dia seorang guru yang percaya diri dan mantap dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai guru? 7. Dia seorang guru yang mampu menjadi teman, sahabat, dan saudara bagi rekan kerjanya? 8. Dia seorang guru yang mampu memberi teladan, jujur, disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab? 9. Dia seorang guru yang mampu bersikap rendah hati dan sportif: menerima, mengakui kekeliruan/ kesalahan dan berani minta maaf? 10. Dia seorang guru yang mampu berintrospeksi diri, berefleksi, dan mengevaluasi diri demi kinerja yang lebih baik? (88) √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak

(249) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(250) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 9 Kepada Yth. Dosen Pembimbing Skripsi di tempat

(251)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
1
147
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
224
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
114
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
217
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
190
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Program Studi Pendidikan Fisika
0
0
90
SPIRITUALITAS PERSAUDARAAN BERBELASKASIH SEBAGAI DASAR KEPEMIMPINAN DALAM KARYA DAN PERUTUSAN PARA PEMIMPIN KONGREGASI FRATER SANTA PERAWAN MARIA BUNDA YANG BERBELASKASIH SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidika
0
0
140
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
130
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
148
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
135
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
159
Show more