Meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada materi virus dengan penggunaan strategi discovery - USD Repository

Gratis

0
0
136
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X-1 SMA SEMINARI SAN DOMINGGO HOKENG PADA MATERI VIRUS DENGAN PENGGUNAAN STRATEGI DISCOVERY SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Oleh: Maria Immaculata Afra Lamatokan 091434018 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X-1 SMA SEMINARI SAN DOMINGGO HOKENG PADA MATERI VIRUS DENGAN PENGGUNAAN STRATEGI DISCOVERY SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Oleh: Maria Immaculata Afra Lamatokan 091434018 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2014 i i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Karya ini Kupersembahkan untuk: Ibu dan Bapak, kedua Orangtuaku sebagai ungkapan keseriusan menjadi manusia yang selalu taat dan berbakti dan terus menjaga eksistensinya Juga kepada: Adikku untuk menyemangatinya bahwa tiada mimpi yang dibarengi usaha yang tidak bisa tercapai Dan teruntuk kawan-kawan aktivis mahasiswa: Jalan terus dan biarkan mereka menggerutu iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Di tempat pertama dan kesempatan pertama ini, ijinkan saya mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya, saya diberikan kesempatan untuk menyelesaikan penelitian dan penulisan naskah skripsi yang berjudul Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng dengan Penggunaan Strategi Belajar Discovery sebagaimana yang saya harapkan. Adapun skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Dalam proses penelitian dan penulisan skripsi ini, saya tentunya dibantu oleh beberapa pihak yang berkaitan sehingga pada kesempatan ini pula, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu dan mendukung selama masa penelitian dan penulisan naskah skripsi ini. 1. Kepada kedua orang tua tercinta, Bapak Antonius Wadan Sao dan Ibu Cristina Lisnawati yang tidak pernah berhenti berharap, berdoa, dan mendukung saya dalam setiap detik perjalanan hidup saya terkhusus masa penelitian dan penulisan skripsi ini. 2. Kepada saudara, sahabat, Raja Ammar yang selalu setia menemani, mendukung, dan membantu saya selama masa penelitian dan penulisan skripsi ini. 3. Kepada kawan terkasih, Fandiatmajaya Sang Dinamit yang berhasil membuat hari-hari saya selalu berwarna menjelang pelaksanaan ujian. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Kepada adik tercinta, Elisabeth Febrina Tuto Burak Lamatokan yang turut membantu mendokumentasikan kegiatan selama penelitian, selalu menemani hari-hari selama masa studi saya. 5. Kepada Kepala Sekolah SMA Seminari San Dominggo, Rm. Antonius Londa Diazyanto, PR yang telah mengijinkan saya untuk melakukan penelitian di tempatnya. 6. Kepada adik-adik kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo yang telah menerima saya dan mau bekerja sama selama masa penelitian. 7. Kepada guru mata pelajaran Biologi, Bapak Drs. Yosef Libu Sili yang sudah telah mengijinkan saya untuk melakukan penelitian terhadap anak didiknya dan membantu saya selama masa penelitian. 8. Kepada Ibu Alberta FT Seda, S.Pd. yang telah membantu saya mengamati aktivitas siswa selama penelitian berlangsung. 9. Kepada Ibu Yasinta Bela yang telah merelakan jam mengajarnya guna dilaksanakannya penelitian ini. 10. Kepada Sr. Praeksedes yang juga telah merelakan jam mengajarnya demi berlangsungnya penelitian ini 11. Kepada dosen pembimbing, Rm. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ dan Ibu Luisa Diana Handoyo, M.Si. yang telah merelakan waktu untuk membimbing saya selama perencanaan penelitian hingga penulisan naskah skripsi. 12. Kepada segenap guru dan karyawan SMA Seminari San Dominggo yang telah menerima kehadiran saya selama masa penelitian. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Kepada seluruh karyawan sekretariat Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sanata Dharma yang sudah membantu saya dalam menyiapkan keperluan administrasi guna dilaksanakannya penelitian dan penulisan skripsi. 14. Kepada saudari terkasih, Cicilia Maryani Subekti “Iean Ubex” yang telah mendukung saya selama penulisan naskah skripsi ini. 15. Kepada sepupu terkasih, Maria Fatima Lamablawa yang selalu mendukung saya dalam menyelesaikan penulisan naskah skripsi ini. 16. Kepada teman-teman Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma angkatan 2009 yang telah saling mendukung. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat di kemudian hari dan saya sangat mengharapkan kritik dan saran serta umpan balik guna penyempurnaan penelitian ini selanjutnya. Terima kasih. Yogyakarta, 6 Maret 2014 Penulis Maria Immaculata Afra Lamatokan ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Kurangnya minat belajar sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa khususnya kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo. Penelitian yang bertujuan meningkatkan minat dan hasil belajar menggunakan discovery pada pembelajaran virus ini, berhasil meningkatkan persentase hasil belajar siswa ranah kognitif dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 55,17 % menjadi 68,96 % dan rata-rata dari 76,55 menjadi 78 pada siklus 1 dan siklus 2. Kemampuan kognitif siswa terlihat dari kemampuan analisis khususnya kemampuan di hampir seluruh indikator kompetensi. Selain itu, hasil belajar afektif dan psikomotorik juga berhasil mencapai target penelitian di kedua siklus dengan persentase sebesar 100 % dan rata-rata lebih dari 75. Peningkatan ini tidak terlepas dari meningkatnya minat belajar dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 82,75 % menjadi 93,10 % dan rata-rata 78 ke 84,10. Hasil ini menjelaskan bahwa discovery merupakan metode yang baik untuk meningkatkan minat dan hasil belajar. Kata Kunci: Metode, Discovery, Hasil Belajar, Minat Belajar. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The lack of learning interest has a strong effect on student’s learning outcome as found among students of X-1 SMA Seminari San Dominggo. This research’s purpose to increase learning interest and learning outcome by using discovery. Such a problem can be solved by implementing discovery strategy as a method of teaching as indicated by this research. It was found that discovery strategy can increase cognitive learning outcomes from 55,17 % in cycle 1 to 68,96 % in cycle 2 with the average grade increasing from 76,55 to 78,00. Using analyzis ability related to the whole material as indicator, it was found that the result was similar. The affective and psychomotoric measurement could reach the target in both cycles by reaching the amount of 100 % with average grade above 75. Learning interest increase from 82,75 % in cycle 1 to 93,10 % in cycle 2 with average grade increasing from 78,00 to 84,10. The whole results explained that the discovery strategy was a potential teaching method to increase learning interest and learning outcome of students. Keywords: strategy discovery, method, learning outcome, learning interest. xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ……………………….......................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………………………. ii HALAMAN PENGESAHAN………………………………………… iii HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………………. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………………………………. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILIMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK………………… vi KATA PENGANTAR………………………………............................ vii ABSTRAK…………………………………………………………….. x ABSTRACT……………………………………………………………. xi DAFTAR ISI………………………………………………………….. xii DAFTAR TABEL…………………………………………………….. xv DAFTAR GAMBAR……………………………....…………………. xvii DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………….. xix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………………………................................ 1 B. Rumusan Masalah…………………………………………………. 5 C. Batasan Penelitian…………………………………………………. 6 D. Indikator Penelitian…………………………................................... 10 1. Ketuntasan Siswa………………………................................... 10 2. Rata-rata Kelas…………………………................................... 10 3. Persentase Minat……………………………………………… 11 4. Rata-rata Minat………………………………………………... 11 E. Tujuan Penelitian…………………................................................... 11 F. Manfaat Penelitian…………………………………………………. 12 1. Manfaat bagi Guru…………………………………………….. 12 2. Manfaat bagi Siswa…………………………............................ 12 3. Manfaat bagi Sekolah…………………………………………. 13 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA 14 A. Belajar dan Pembelajaran………………………………………….. 14 1. Pengertian Belajar……………………………………………... 14 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Siswa dalam Belajar……... 15 B. Minat Belajar………………………………………………………. 16 1. Pengertian Minat Belajar…………………................................ 16 2. Klasifikasi Minat Benar……………………………………….. 17 3. Indikator Minat Belajar……………………………………….. 19 4. Cara Menumbuhkan Minat Belajar……………….................... 21 C. Hasil Belajar……………………………………………………….. 22 1. Pengertian Hasil Belajar………………………………………. 22 2. Indikator Hasil Belajar………………………………………… 24 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar……………... 27 D. Strategi Pembelajaran Discovery....................................................... 30 1. Pengertian Strategi Discovery…………………........................ 30 2. Langkah-langkah Pelaksanaan Strategi Discovery……………. 31 E. Gambaran Umum Materi Virus……………………………………. 33 F. Hubungan Pembelajaran Virus dengan Discovery 35 G. Penelitian yang Relevan……………………………….................... 36 H. Kerangka Berpikir…………………………………………………. 36 I. Hipotesis…………………………………………………………… 37 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 39 A. Jenis Penelitian……………………………………………………. 39 B. Setting Penelitian…………………………………………………. 40 1. Objek Penelitian……………………………………………… 40 2. Subjek Penelitian……………………………………………… 40 3. Tempat Penelitian……………………………………………... 40 4. Waktu Penelitian…………………............................................. 40 C. Rancangan Tindakan………………………………………………. 41 1. Siklus 1………………………………....................................... 43 2. Siklus 2……………………………........................................... 46 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Instrumen Penelitian……………………………………………….. 49 1. Instrumen Pembelajaran………………………………………. 49 2. Instrumen Pengambilan Data…………………………………. 50 E. Teknik Pengumpulan Data………………………………………… 50 1. Observasi……………………………………………………… 50 2. Kuisioner……………………………………………………… 53 3. Dokumentasi…………………………………………………... 56 4. Tes…………………………………………………………….. 57 F. Metode Analisis Data…………………………………………….... 58 1. Analisis Hasil Belajar…………………………………………. 58 2. Analisis Minat Belajar………………………………………… 61 3. Analisis Ketercapaian Soal……………………………………. 64 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 65 A. Deskripsi Kegiatan………………………………………………… 65 1. Pra Penelitian………………………………………………….. 65 2. Siklus 1………………………................................................... 69 3. Siklus 2………………………................................................... 77 B. Hasil Penelitian…………………………………………………….. 84 1. Deskripsi Kondisi Awal Subjek Penelitian…………………… 84 2. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus 1…………………………… 85 3. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus 2…………………………… 94 C. Pembahasan………………………………………………………... 103 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 111 A. Kesimpulan………………………………………………………... 111 B. Saran…………………………………............................................. 112 1. Saran bagi Penelitian Selanjutnya……………………………. 112 2. Saran bagi Guru………………………………………………. 112 3. Saran bagi Sekolah……………………………………………. 113 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………. 114 LAMPIRAN xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.1 Batasan Materi Virus………………………...……………………… 9 Tabel 2.1 Taksonomi Bloom…………………………………………………… 25 Tabel 2.2 Ranah Afektif dan Psikomotorik, Indikator, dan Cara Evaluasi…...... 26 Tabel 2.3 Tahapan Pelaksanaan Strategi Discovery…........................................ 32 Tabel 2.4 Gambaran Umum Kompetensi dan Materi Virus................................ 33 Tabel 3.1 Kegiatan Pembelajaran dengan Tahap Discovery Siklus 1………….. 44 Tabel 3.2 Kegiatan Pembelajaran dengan Tahap Discovery Siklus 2…………. 47 Tabel 3.3 Kisi-kisi Kegiatan Siswa pada Ranah Afektif………………………. 51 Tabel 3.4 Kisi-kisi Kegiatan Siswa pada Ranah Psikomotorik........................... 52 Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuisioner Minat Belajar…………………………………… 54 Tabel 4.1 Deskripsi Hasil Belajar Sebelum Tindakan…………………………. 66 Tabel 4.2 Persentase Ketercapaian Tiap Soal Berdasarkan Indikator Kompetensi dan Kognitif……………………………………………. 67 Tabel 4.3 Deskripsi Hasil Post Test Siklus 1…………………………………... 86 Tabel 4.4 Analisis Hasil Post Test Siklus 1 Berdasarkan Indikator Kompetensi dan Indikator Kognitif………………………………………………. Tabel 4.5 Deskripsi Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Observasi 1 Siklus 1…………………………………………………. Tabel 4.6 90 Deskripsi Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Observasi 2 Siklus 1…………………………………………………. Tabel 4.8 89 Analisis Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Indikator pada Observasi 1 Siklus 1…………………………………………… Tabel 4.7 87 91 Analisis Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Indikator pada Observasi 2 Siklus 1………………………………………….... 92 Deskripsi Minat Belajar Kelas X-1 Siklus 1………………………… 93 Tabel 4.10 Analisis Minat Belajar Siklus 1 Berdasarkan Indikator Minat……… 94 Tabel 4.11 Deskripsi Hasil Post Test Siklus 2………………………………….. 95 Tabel 4.9 Tabel 4.12 Analisis Hasil Post Test Siklus 2 Berdasarkan Indikator Kompetensi dan Indikator Kognitif………………………………………………. xv 96

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.13 Deskripsi Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Observasi 1 Siklus 2………………………………………………… 98 Tabel 4.14 Analisis Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Indikator pada Observasi 1 Siklus 2…………………………………………… 98 Tabel 4.15 Deskripsi Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Observasi 2 Siklus 2…………………………………………………. 99 Tabel 4.16 Analisis Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Indikator pada Observasi 2 Siklus 2…………………………………………… 100 Tabel 4.17 Deskripsi Minat Belajar Kelas X-1 Siklus 2………………………… 101 Tabel 4.18 Analisis Minat Belajar Siklus 2 Berdasarkan Indikator Minat……… 102 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Raw Input, Learning Teaching Process, Environmental Input, Instrumental Input dan Output……………………………….. 29 Gambar 3.1 Pola Penelitian Tindakan Kelas Versi Hopkins………………. 42 Gambar 3.2 Rumus Nilai Kognitif Siswa……………………...................... 58 Gambar 3.3 Rumus Rata-rata Kelas Hasil Belajar Kognitif……………….. 59 Gambar 3.4 Rumus Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Kognitif………... 59 Gambar 3.5 Rumus Nilai Afektif Psikomotorik Siswa…………………….. 60 Gambar 3.6 Rumus Rata-rata Kelas Hasil Belajar Afektif Psikomotorik….. 61 Gambar 3.7 Rumus Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Afektif Psikomotorik………………………………………………….. 61 Gambar 3.8 Rumus Skor Minat Siswa………............................................... 62 Gambar 3.9 Rumus Rata-rata Minat Belajar……………………………….. 62 Gambar 3.10 Rumus Persentase Minat Belajar……………………………… 63 Gambar 3.11 Rumus Persentase Minat Siswa per Indikator……………….... 63 Gambar 3.12 Rumus Persentase Ketercapaian Soal Pilihan Ganda…………. 64 Gambar 3.13 Rumus Persentase Ketercapaian Soal Esai………..................... 64 Gambar 4.1 Suasana Kelas saat Pre Test…………………………………... 65 Gambar 4.2 Suasana Kelas Tahap Stimulasi pada Pembelajaran Sejarah Penemuan Virus………………………………………………. Gambar 4.3 Suasana Kelas Tahap Perumusan Masalah pada Pembelajaran Ciri-ciri dan Bagian Tubuh Virus……………………………... Gambar 4.4 74 Suasana Kelas Tahap Stimulasi pada Pembelajaran Peranan Virus………………………………………………………….. Gambar 4.7 73 Suasana Kelas Tahap Verifikasi pada Pembelajaran Ciri-ciri dan Bagian Tubuh Virus……………………………………… Gambar 4.6 71 Suasana Kelas Tahap Analisis Data pada Pembelajaran Sejarah Penemuan Virus……………………………………… Gambar 4.5 70 79 Suasana Kelas Tahap Pengolahan Data pada Pembelajaran Reproduksi Virus……………………………………………… xvii 80

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 4.8 Gambar 4.9 Suasana Kelas Tahap Analisis Data pada Pembelajaran Reproduksi Virus……................................................................ 81 Perbandingan Hasil Belajar Kognitif Siklus 1 dan Siklus 2…... 107 Gambar 4.10 Perbandingan Hasil Belajar Afektif Psikomotorik pada Siklus 1 dan Siklus 2…………………………………………………. 108 Gambar 4.11 Hubungan Peningkatan Minat dan Hasil Belajar pada Siklus 1 dan Siklus 2…………………………………………………… xviii 109

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Silabus…………………………………………………... 116 Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 1…………... 119 Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 2…………... 129 Lampiran 4 Kisi-kisi Soal Pre Test………………………………….. 140 Lampiran 5 Kisi-kisi Soal Post Test Siklus 1………………………... 141 Lampiran 6 Kisi-kisi Soal Post Test Siklus 2………………………... 142 Lampiran 7 Soal Pre test…………………………………………….. 143 Lampiran 8 Soal Post Test Siklus 1…………………………………. 146 Lampiran 9 Soal Post Test Siklus 2…………………………………. 149 Lampiran 10 Kunci Jawaban Pre Test………………………………... 153 Lampiran 11 Kunci Jawaban Post Test Siklus 1……………………… 154 Lampiran 12 Kunci Jawaban Post Test Siklus 2……………………… 156 Lampiran 13 Contoh Lembar Observasi……………………………… 157 Lampiran 14 Contoh Kuisioner……………………………………….. 159 Lampiran 15 Contoh Lembar Kerja Siswa……………………………. 160 Lampiran 16 Hasil Belajar Kognitif…………………………………... 172 Lampiran 17 Hasil Belajar Afektif dan Psikomotorik………………… 173 Lampiran 18 Hasil Kuisioner 1……………………………………….. 175 Lampiran 19 Hasil Kuisioner 2……………………………………….. 177 Lampiran 20 Analisis Pre Test………………………………………... 179 Lampiran 21 Analisis Post Test Siklus 1……………………………... 181 Lampiran 22 Analisis Post Test Siklus 2……………………………... 183 Lampiran 23 Analisis Hasil Observasi 1 Siklus 1…………………….. 185 Lampiran 24 Analisis Hasil Observasi 2 Siklus 1…………………….. 187 Lampiran 25 Analisis Hasil Observasi 1 Siklus 2…………………….. 189 Lampiran 26 Analisis Hasil Observasi 2 Siklus 2…………………….. 191 Lampiran 27 Analisis Minat Siklus 1…………………………………. 193 Lampiran 28 Analisis Minat Siklus 2…………………………………. 195 Lampiran 29 Lembar Pre Test………………………………………… 197 xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 30 Lembar Post Test Siklus 1…………………………….... 200 Lampiran 31 Lembar Post Test Siklus 2……………………………… 203 Lampiran 32 Lembar Observasi 1 Siklus 1………………………….... 207 Lampiran 33 Lembar Observasi 2 Siklus 1…………………………… 209 Lampiran 34 Lembar Observasi 1 Siklus 2…………………………… 211 Lampiran 35 Lembar Observasi 2 Siklus 2…………………………… 213 Lampiran 36 Lembar Kuisioner Siklus 1……………………………... 215 Lampiran 37 Lembar Kuisioner Siklus 2……………………………... 216 Lampiran 38 Lembar Kerja Siswa…………………………………….. 217 Lampiran 39 Surat Ijin Penelitian…………………………………….. 229 Lampiran 40 Surat Keterangan Mengadakan Penelitian……………… 230 xx

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Faktor yang sering mempengaruhi kesuksesan seseorang adalah minatnya terhadap sesuatu. Ketika minat timbul, seseorang dapat dengan mudah atau bersedia melakukan sesuatu yang diminatinya dengan melimpahkan perhatian khusus dan tidak mudah bosan terhadap hal yang dilakukan. Berkenaan dengan minat dalam pembelajaran, setiap guru pastinya sering menjumpai masalah minat siswa yang kurang pada pembelajaran tertentu. Masalah minat tersebut tentunya banyak berkaitan dengan proses maupun hasil belajar siswa di kelas. Masalah minat saat proses pembelajaran ini biasanya berpengaruh terhadap tercapainya hasil belajar. Minat merupakan salah satu variabel yang sering disebut-sebut dalam proses belajar. Menurut Sudarsono (2003), minat adalah bentuk sikap ketertarikan atau sepenuhnya terlibat dengan suatu kegiatan karena menyadari pentingnya atau bernilainya kegiatan tersebut. Untuk menilai apakah siswa berminat, kurang berminat, atau tidak berminat terhadap mata pelajaran tertentu, dapat dilakukan dengan pengamatan akan situasi siswa di kelas. Yang sering menjadi tolak ukur dalam penilaian minat siswa di kelas adalah bentuk pengekspresian siswa itu sendiri. Bentuk pengekspresian minat masing-masing orang khususnya 1

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 siswa kelas X-1 tentunya berbeda satu dengan yang lainnya. Ada siswa yang menunjukkan minat berupa keingintahuannya dengan bertanya dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok, tetapi ada pula yang menunjukan ketidakberminatan dengan berbicara tidak sopan ke guru, ada yang melakukan aktivitasnya sendiri, ada yang mengantuk, tidak mengerjakan tugas, dan lain-lain. Bertolak dari bentuk pengekspresian minat seperti yang diamati dari kelas X-1, Djamarah (2002) menjelaskan bahwa jika siswa itu berminat maka bentuk pengekspresian minat umumnya dilakukan dengan cara memberi pernyataan, memberikan perhatian, dan partisipasi. Jika dikaitkan dengan beberapa hal di atas maka keberhasilan proses belajar akan menentukan hasil belajar siswa, dan minat adalah salah satu penentu keberhasilan proses belajar tersebut. Sehingga jika minat belajar ada pada diri siswa,maka proses belajar akan berjalan baik dan perolehan hasil belajar juga memuaskan. Berkenaan dengan masalah minat dan hasil belajar peneliti telah melakukan wawancara pada tanggal 4 Desember 2012 dengan guru Biologi SMA Seminari San Dominggo Hokeng. Peneliti mendapatkan informasi dan gambaran masalah mengenai minat dan hasil belajar siswa kelas X1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada materi virus dan secara khusus pada kompetensi mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan manusia yang masih cukup rendah. Berdasarkan atas penjelasan yang disampaikan guru, masalahmasalah tersebut adalah yang pertama, minat siswa kelas X-1 SMA

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Seminari San Dominggo Hokeng terhadap pembelajaran pada kompetensi menyangkut virus ini tergolong kurang. Minat siswa kelas X-1 masih belum dapat digolongkan tinggi karena dari seluruh siswa,kebanyakan siswa masih terlihat kurang antusias, mengantuk, melakukan aktivitas lain, mengobrol dengan temannya saat pembelajaran berlangsung. Selain itu dalam proses pembelajaran siswa masih sulit membedakan apa yang dimaksudkan dengan virus dan perbedaannya dengan bakteri dan protozoa. Siswa terlihat kebingungan dalam menjawab pertanyaan yang dikemukakan guru. Masalah yang kedua adalah metode yang digunakan guru belum bisa membuat seluruh siswa berminat meskipun metode yang dipakai sudah beragam, antara lain diskusi informasi untuk membahas ciriciri virus, replikasi, dan peranannya dalam kehidupan manusia, namun secara umum metode yang digunakan guru adalah metode ceramah. Jika melihat pencapaian hasil belajar, nilai ulangan siswa pada materi virus dan peranannya juga masih kurang memuaskan. Menurut keterangan guru pada tahun ajaran 2012/2013 jumlah siswa kelas X-1 yang nilai ulangannya di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah 37,50% yaitu sebanyak 10 orang dari total jumlah siswa 32 orang dan ketuntasannya sebesar 62,50% dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 68. Sedangkan menurut standar ketuntasan yang ditetapkan sekolah besarnya ketuntasan kelas adalah 75%. Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya materi virus adalah materi yang belum mencapai ketuntasan.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Dari persentase ketuntasan tersebut, guru menjelaskan bahwasannya pencapaian tertinggi dari kelas X-1 selalu berhubungan dengan hal yang dekat dengan kehidupan siswa, misalnya penyakit yang disebabkan oleh virus mampu dijawab baik oleh siswa. Akan tetapi untuk hal yang menyangkut ciri-ciri virus, reproduksi dan manfaat virus bagi kehidupan, belum mendapatkan pencapaian yang baik. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, ada berbagai macam strategi pembelajaran, salah satunya adalah strategi pembelajaran discovery. Menurut Moerdiyanto (2008) dalam tulisannya, menggolongkan strategidiscovery sebagai suatu pendekatan metode pembelajaran. Oleh sebab itu, peneliti hendak menerapkan strategi pembelajaran discovery ini kepada siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng dalam mempelajari virus. Discovery adalah kata dalam bahasa Inggris yang berarti penemuan. Discovery ini pertama kali dikonsepkan oleh Bruner dalam Dahalar (1989), ia berpendapat bahwa belajar melalui proses penemuan merupakan belajar yang sesuai dengan hakekat manusia sebagai makhluk yang selalu mencari pengetahuan secara aktif. Strategi ini secara teori lebih memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk bereksplorasi dan menemukan suatu konsep pengetahuan yang dipelajari sehingga siswa bisa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Dengan discovery, pengetahuan yang didapatkan siswa akan lebih mudah diingat dan diaplikasikan ke kondisi yang berbeda, sehingga dapat memotivasi belajar dan melatih kecakapan berpikir secara terbuka.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Selain itu, berkenaan dengan tujuan mata pelajaran Biologi dalam Standar Isi 2006 (BSNP, 2006), yang menyatakan bahwa mata pelajaran Biologi bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang dapat berpikir kritis analitis, mampu bekerja secara ilmiah, dan mengedepankan sikap positif, objektif, tanggung jawab, dan lain-lain, sehingga diwajibkan bagi para guru untuk melaksanakan pembelajaran yang berbasis pada penemuan baik penemuan mandiri maupun penemuan terbimbing.Meskipun dalam Standar Isi mengemukakan tujuan di atas, pada prakteknya siswa masih jauh dari cara berpikir kritis analitis, mampu bekerja secara ilmiah, dan mengedepankan sikap positif, objektif, dan tanggung jawab seperti yang termakhtub dalam Standar Isi 2006. Maka berdasarkan beberapa masalah yang dikemukakan di atas, peneliti memutuskan memilih “MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X1 SMA SEMINARI SAN DOMINGGO HOKENG PENGGUNAAN PADA STRATEGI MATERI VIRUS PEMBELAJARAN DENGAN DISCOVERY” sebagai judul penelitian skripsi. B. Rumusan Masalah Dari masalah yang diuraikan pada latar belakang maka secara spesifik dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah penggunaan strategi pembelajaran discovery dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada pembelajaran materi virus?

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Apakah penggunaan strategi pembelajaran discovery 6 dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada pembelajaran materi virus? C. Batasan Penelitian Pada poin latar belakang telah dijelaskan mengenai masalah-masalah yang menjadi perhatian peneliti. Sehingga yang menjadi batasan pada penelitian ini antara lain: 1. Minat belajar Minat belajar siswa kelas X1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada materi virus merupakan salah satu batasan yang telah peneliti tentukan. Sehubungan dengan banyaknya defenisi bentuk pengekspresian minat, maka minat yang diangkat peneliti di sini kemudian diuraiakan ke dalama tiga indikator yang mengacu pada minat menurut Suhartini (2001) dan Djamarah (2002) yaitu: 2. a. Keinginan siswa untuk mengetahui sesuatu b. Usaha untuk merealisasikan minatnya c. Partisipasi aktif dalam kegiatan Hasil belajar Selain minat belajar, hasil belajar siswa kelas X1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng juga merupakan batasan penelitian yang telah peneliti tentukan pada penelitian ini. Hasil belajar ini digolongkan peneliti ke dalam aspek yaitu:

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. 7 Ranah kognitif Dalam ranah kognitif peneliti telah membatasi beberapa indikator yang mengacu pada indikator kognitif versi lama. Indikator dalam ranah kognitif di sini disesuaikan dengan tingkat berpikir siswa yaitu: 1) C1 (Ingatan) 2) C2 (Pemahaman) 3) C3 (Aplikasi) 4) C4 (Analisis) b. Ranah afektif Untuk hasil belajar ranah afektif, peneliti juga membatasi pada beberapa kemampuan afektif yang akan diamati dalam penelitian ini dengan mengacu pada pendapat Syah (2003). Ranah afektif memiliki banyak indikator di tiap aspek kemampuannya antara lain: 1) Aspek penerimaan dengan indikatornyamenunjukkan sikap menerima 2) Aspek sambutan dengan indikatornya menunjukkan kesediaan berpartisipasi 3) Aspek apresiasi dengan indikator menunjukkan sikap menganggap penting 4) Aspek sambutan dengan indikator menunjukkan sikap bersedia memanfaatkan

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI c. 8 Ranah psikomotorik Untuk ranah psikomotorik, peneliti juga telah membatasi pada dua aspek yang dapat diamati beserta indikatornya antara lain: 1) Aspek keterampilan bergerak dan bertindak dengan indikatornya menunjukan koordinasi gerak mata serta bagian tubuh 2) Aspek kecakapan ekspresif verbal dan non verbal dengan indikatornya mengungkapkan pendapat dengan baik serta membuat mimik Dari setiap indikator pada ranah afektif dan psikomotorik kemudian dirumuskan beberapa kegiatan yang dapat diamati yang mengacu pada indikator-indikator di atas. 3. Objek Penelitian Hal lain yang menjadi batasan pada penelitian ini adalah objek penelitian yaitu minat dan hasil belajar. 4. Subjek Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas ini, siswa yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng sebanyak 29 orang dengan latar belakang minat dan kemampuan intelektual yang berbeda-beda.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. 9 Materi Virus Materi virus secara struktur termuat di dalam Standar Kompetensimata pelajaran Biologi SMA kelas X semester I yaitu pada bagian 2. Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup. Dalam standar kompetensi ini terdapat kompetensi dasar yang membahas mengenai ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan yaitu pada bagian 2.1. Penelitian ini hanya dilakukan dengan batasan kompetensi dasar tersebut. Dari kompetensi dasar diuraikan lagi ke dalam beberapa indikator yang memuat materi pokok sebagai berikut: Tabel 1.1 Batasan Materi Virus Indikator Materi pokok Menjelaskan sejarah penemuan virus Sejarah penemuan virus Menyebutkan nama ilmuwan yang berperan dalam proses penemuan virus Menyebutkan ciri-ciri virus Ciri-ciri dan bagian tubuh Menjelaskan bagian tubuh virus viruss Menjelaskan cara Reproduksi virus perkembangbiakkan pada virus Menyebutkan penyakit-penyakit Peranan yang disebabkan oleh virus Menjelaskan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus Menjelaskan prinsip kerja vaksin Menyebutkan contoh vaksin dana kegunaannya kehidupan virus bagi

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 D. Indikator Penelitian Dalam penelitian ini peneliti juga telah menetapkan beberapa indikator yang akan dijadikan tolak ukur keberhasilan penelitian ini, antara lain: 1. Ketuntasan Siswa Ketuntasan siswa pada penelitian ini dinyatakan dengan persentase. Persentase ketuntasan ini digunakan untuk melihat dan membandingkan besarnya ketuntasan dengan ketidaktuntasan siswa hasil belajar siswa X-1 SMA Seminari San Dominggo setelah penggunaan discovery, baik hasil belajar kognitif ataupun hasil belajar afektif dan psikomotorik. Diketahui sebelum melakukan tindakan, persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada materi virus sebesar 62,5%. Karena penelitian ini ditujukan untuk meningkatkan hasil belajar maka peneliti juga menetapkan persentase yang lebih tinggi. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila memenuhi standar yang ditetapkan peneliti yaitu persentase ketuntasan siswa harus mencapai ≥ 75%. 2. Rata-rata Kelas Selain menggunakan persentase sebagai ukuran keberhasilan, peneliti juga menggunakan nilai rata-rata kelas sebagai alat ukur keberhasilan penelitian ini. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila besar rata-rata kelas adalah ≥ 75.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 3. Persentase Minat Persentase minat merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur keberhasilan penelitian ini. Penelitian ini dikatakan berhasil ketika besarnya persentase minat mengalami kenaikkan. Namun standar yang ditentukan peneliti adalah ≥ 75%. Jika terdapat 75% siswa dari seluruh siswa kelas X-1 yang terindikasi berminat atau sangat berminat maka penelitian ini dikatakan berhasil. 4. Rata-rata Minat Rata-rata minat termasuk salah satu indikator ketercapaian penelitian ini. Dalam hal ini, jika rata-rata minat siswa ≥ 75 maka penelitian ini dikatakan berhasil. E. Tujuan Penelitian Tujuan dilakukannya penelitian ini antara lain: 1. Untuk meningkatkan minat belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng dalam mata pelajaran Biologi dan secara khusus pada materi virus. 2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada materi virus.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 F. Manfaat Penelitian Dengan penelitian ini diharapkan agar memiliki manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat bagi Guru a. Dengan adanya penelitian ini guru dapat memperkaya wawasan mengenai strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa secara khusus pada pembelajaran materi virus dan pembelajaran Biologi pada umumnya. b. Dengan adanya penelitian ini, guru dapat belajar mengidentifikasi masalah yang terjadi di kelas bahwasannya masalah tidak selalu datang dari siswa tapi juga dari guru. c. Manfaat lainnya adalah guru dapat memperkirakan solusi yang akan digunakan untuk mengatasi masalah di kelas. 2. Manfaat bagi Siswa a. Manfaat penelitian ini adalah memberikan pengalaman belajar yang baru bagi siswa. b. Selain itu berkenaan dengan strategi discovery, siswa dapat diberikan ruang yang luas untuk dapat mengembangkan konsep berpikir dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. c. Dengan penelitian ini dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 3. Manfaat bagi Sekolah a. Ketika penelitian ini berhasil dilakukan maka, siswa tentu dapat berhasil meningkatkan hasil belajar dan minat belajarnya. Ketika hasil belajar siswa baik, maka sekolah akan menerima pengaruh positif yang besar seperti daya tawar sekolah yang besar di mata orang tua dan para stakeholders. b. Selain itu jika penelitian ini berhasil maka penelitian ini juga dapat diujicobakan oleh guru mata pelajaran selain mata pelajaran Biologi.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran 1. Pengertian Belajar Berdasarkan tinjauan aksiologis dan jenisnya kata belajar adalah kata kerja yang berarti proses untuk membuat perubahan tingkah laku dan kecakapan melalui tindakan dan latihan. Sebelum masuk ke ranah yang lebih jauh, penting bagi kita untuk mengetahui apa itu belajar. Chaplin dalam Syah (2003) menyatakan bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa belajar hakekatnya menghasilkan perubahan tingkah laku dan kecakapan melalui proses tertentu. Pada konteks penelitian ini, belajar dikategorikan dalam proses yang dapat diakses melalui pendidikan formal di sekolah. Sedangkan menurut pendapat Hamalik (2001), mengajar dan belajar adalah dua peristiwa yang berbeda, tetapi terdapat hubungan yang erat, bahkan terjadi kaitan dan interaksi saling pengaruh-mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain. Sama halnya dengan pendapat Susilana(2006) bahwa belajar merupakan akumulasi dari konsep mengajar dan konsep belajar. Penekanannya terletak pada paduan antara keduanya yakni penumbuhan aktivitas subjek didik. 14

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Siswa dalam Belajar Mengacu pada definisi belajar merupakan suatu proses yang berakhir pada produk (tingkah laku dan kecakapan), maka tentunya dalam proses tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Gagne dalam Purwanto (2008) berpendapat bahwa belajar terjadi apabila suatu stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. Dari pendapat tersebut telah disebutkan mengenai stimulus yang mempengaruhi terjadinya proses belajar. Sehinggga kesimpulan untuk pendapat Gagne adalah belajar dipengaruhi stimulus. Pendapat lain dikemukakan oleh Hamalik(1991) bahwa, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dari pendapat Hamalik tersebut peneliti menyimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembelajaran yaitu guru, siswa, media, materi pembelajaran, metode pengajaran, fasilitas. Faktor manusiawi ini tidak terlepas dari faktor fisik (kesehatan), psikis (minat), dan lingkungan (keluarga, teman, dan masyarakat).

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 B. Minat Belajar 1. Pengertian Minat Belajar Minat merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai kesuksesan seseorang di berbagai bidang, baik di bidang kerja, hobi, dan lain-lain. Dengan adanya minat, seseorang akan memberikan perhatian lebih, konsentrasi lebih, sikap tekun dalam mengerjakan sesuatu meskipun dalam waktu yang lama. Selain itu minat dapat membuat seseorang dapat mudah menyimpan ingatan dan tidak mudah bosan terhadap apa yang dikerjakan. Dalam konteks minat belajar, siswa yang berminat akan cenderung lebih mudah memperhatikan apa yang dipelajari, mudah mengingat apa materi yang dipelajari, dan lebih tekun dalam belajar. Sudarsono (2003) mengungkapkan bahwasannya minat merupakan bentuk sikap ketertarikan atau sepenuhnya terlibat dengan suatu kegiatan karena menyadari pentingnya atau bernilainya kegiatan tersebut. Definisi minat lainnya oleh Syah(2003) menyatakan bahwasannya minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.Selanjutnya Hilgard dalam Slameto (2010) berpendapat, “Interest is persisting to pay attention to and enjoy some activity or content” yaitu minat adalah kecenderungan untuk memperhatikan beberapa aktivitas atau mengikuti aktivitas itu sendiri. Dari beberapa hasil pemikiran para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat merupakan kecenderungan seseorang untuk tertarik akan suatu hal dan memiliki keinginan yang besar untuk memperhatikan dan melakukan suatu kegiatan. Dari kesimpulan ini pula

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 dapat kita ketahui secara jelas bahwa minat sangat berperan dalam menggerakan seseorang untuk melakukan sesuatu. Jika minat ini kita hubungkan dengan konteks aktivitas belajar maka minat adalah salah satu alat untuk memotivasi siswa untuk melakukan pembelajaran. Begitulah menurut Surya(2010) yang berpendapat bahwa minat merupakan salah satu faktor utama yang menggerakan anak untuk melakukan suatu aktivitas atau aktivitas belajarnya. Sehingga secara sederhana minat dapat diartikan sebagai suatu keinginan yang kuat untuk memenuhi keinginan atau kehendak, di mana anak dengan minatnya itu bisa melihat bahwa seuatu yang dilihatnya akan mendatangkan faedah sehingga akan mendatangkan kepuasan jika dilakukan. Hubungannya dengan pembelajaran Biologi, jika seorang siswa berminat terhadap pembelajaran Biologi yang dilakukan maka siswa tersebut dapat memecahkan masalah-masalah dan fenomena-fenomena alam yang ada di sekitarnya secara kritis dan sistematik. 2. Klasifikasi Minat Belajar Berdasarkan beberapa pendekatan yang berbeda, para ahli telah mencoba mengklasifikasikan minat dengan beberapa kategori sebagai berikut: Menurut Surya (2007) minat dapat diklasifikasikan berdasarkan sebab akibat sebagai berikut: a. Minat Volunter, adalah minat yang datang dari dalam diri siswa tanpa adanya pengaruh dari luar.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 b. Minat Involunter, adalah minat yang datang kepada siswa karena terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang diciptakan guru. c. Minat Nonvolunter, adalah minat yang timbul dari diri siswa secara paksa. Lain pendapat menurut Super & Krites dalam Suhartini (2001) yang mengklasifikasikan minat menjadi empat jenis berdasarkan bentuk pengekspresiannya, antara lain: a. Expressed Interest, adalah minat yang diekspresikan melalui verbal yang menunjukan apakah seseorang itu menyukai atau tidak menyukai suatu objek atau aktivitas b. Manifest Interest, adalah minat yang disimpulkan dari keikutsertaan individu pada suatu kegiatan tertentu c. Tested Interest, adalah minat yang disimpulkan dari tes pengetahuan atau keterampilan dalam suatu kegiatan d. Inventoried Interest, adalah minat yang diungkapkan melalui inventori minat atau daftar aktivitas dan kegiatan yang sama dengan pernyataan Berikut menurut Krapp, et. Al dalam Suhartini (2001) yang membedakan minat menjadi tiga yaitu: a. Minat Personal Minat personal merupakan minat yang relatif stabil yang mengarah pada minat khusus mata pelajaran tertentu. Minat personal merupakan suatu bentuk rasa senang atau tidak senang, tertarik atau

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 tidak tertarik dan tumbuh dengan sendirinya tanpa pengaruh yang besar dari pengaruh eksternal. b. Minat Situasional Minat situasional merupakan minat yang cenderung bergantiganti tergantung rangsangan eksternal. Rangsangan tersebut dapat berupa metode pengajaran, media pembelajaran, suasana kelas, dorongan keluarga. Jika minat situasional ini dapat dipertahankan, maka selanjutnya minat ini dapat berubah ke minat personal ataupun minat psikologikal. c. Minat Psikologikal Minat psikologikal merupakan minat yang tumbuh karena pengaruh minat personal dan minat situasional. Misalnya jka siswa memiliki pengetahuan tertentu yang cukup dan situasi belajarnya mendukung, maka selanjutnya dalam aktivitasnya dia akan mendalami secara terstruktur di kelas dan secara pribadi di luar kelas. 3. Indikator Minat Belajar Pada umumnya minat disampaikan dalam bentuk pengekspresian seseorang atau siswa. Setiap orang tentu berbeda dalam mengekspresikan minatnya tergantung pada seperti apa minat yang dimilikinya dan sejauh mana minat tersebut. Untuk mengetahui sejauh mana minat seseorang akan sesuatu, dibutuhkan beberapa indikator yang berguna untuk mengukur dan menganalisa minat tersebut. Beberapa indikator yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Dari pendapat Suhartini (2001) minat dapat diukur dan dianalisa melalui indikator sebagai berikut: a. Keinginan untuk mengetahui atau memiliki sesuatu b. Objek-objek atau kegiatan yang disenangi c. Jenis kegiatan untuk mencapai hal yang disenangi d. Usaha untuk merealisasikan keinginan atau rasa senang terhadap sesuatu Berbeda dari Suhartini, Djamarah (2002) yang lebih terkonsentrasi pada minat belajar siswa, berpendapat bahwa minat belajar siswa dapat dianalisa dengan indikator sebagai berikut: a. Pernyataan lebih menyukai sesuatu daripada yang lainnya b. Partisipasi aktif dalam suatu kegiatan c. Memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang diminatinya tanpa menghiraukan yang lain Berdasarkan pendapat dua ahli mengenai indikator tersebut, dapat kita simpulkan bahwa minat siswa dapat diukur melalui partisipasi aktifnya di kelas maupun aktivitasnya di luar kelas untuk mencapai apa yang menjadi fokusnya dari suatu mata pelajaran yang diminatinya baik dengan melakukan kegiatan yang berhubungan, fokus saat mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan di kelas. Sehubungan dengan pengukuran minat belajar yang tentunya mengacu pada indikator minat, maka untuk mengukur minat siswa pada

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 penelitian ini, akan digunakan juga indikator-indikator sebagaimana yang telah diuraikan di atas. 4. Cara Menumbuhkan Minat Belajar Menyadari akan keberadaan minat belajar sangat penting untuk mendorong siswa untuk belajar, maka penting bagi guru untuk menumbuhkan minat tersebut dalam diri siswa karena menurut Gie (2002) pentingnya minat dalam belajar sebagai berikut: a. Minat dapat melahirkan perhatian yang lebih terhadap sesuatu b. Minat dapat memudahkan siswa yang berkonsentrasi dalam belajar c. Minat dapat mencegah adanya gangguan perhatian dari luar d. Minat dapat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan e. Minat dapat memperkecil timbulnya rasa bosan dalam proses pelajaran Minat bukan merupakan hal yang sudah menjadi tetapan dalam diri seorang sehingga minat bisa berubah dan ditumbuhkan. Adapun dalam menumbuhkan minat belajar, guru dapat melakukan beberapa cara seperti yang dikemukakan oleh Rooijakers dalam Slameto (2010) bahwa menumbuhkan minat-minat baru dapat pula dicapai dengan cara menghubungkan bahan pengajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui siswa. Sedangkan secara lebih rinci Djamarah (2002) menegaskan bahwa cara menumbuhkan minat siswa dalam belajar dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. 22 Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik, sehingga dia rela belajar tanpa paksaan b. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik, sehinggga anak didik mudah menerima bahan pelajaran c. Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif d. Menggunakan berbagai macam bentuk teknik mengajar dalam konteks perbedaan individual anak didik C. Hasil Belajar 1. Pengertian Hasil belajar Melalui definisi belajar, kita dapat mengetahui bahwa hasil belajar adalah ketika seseorang belajar dia akan menghasilkan suatu perubahan pada dirinya. Perubahan tersebut bisa diidentifikasikan melalui tindakan, pikiran dan perkataan. Seperti yang kita ketahui hasil belajar dapat dikelompokan menjadi beberapa ranah, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Hasil belajar pada hakekatnya adalah prestasi akan ketercapaian siswa selama proses pembelajaran sehingga untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat diukur melalui perubahan prestasi tersebut. Menurut Maehr dalam Suryabrata (2001) prestasi belajar adalah: a. Prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan menggunakan tes prestasi belajar (achievement test)

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. 23 Prestasi belajar merupakan hasil perubahan dari individu itu sendiri bukan hasil dari perbuatan orang lain c. Prestasi belajar dapat dievaluasi tinggi rendahnya berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh penilai atau menurut standar yang telah ditetapkan d. Prestasi belajar merupakan hasil dari kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan disadari, jadi bukanlah suatu kebiasaan atau perilaku yang tidak disadari Sedangkan menurut Syah (2003) prestasi belajar merupakan hasil interaksi sebagian faktor yang mempengaruhi proses belajar secara keseluruhan. Dari pendapat para ahli di atas, dapat kita simpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang didapatkan dari serangkaian kegiatan belajar individu siswa yang secara sadar dilakukannya, dapat dinilai dan dievaluasi berdasarkan aspek tertentu. Salah satu cara untuk mengukurnya adalah dengan mengadakan evaluasi baik secara lisan maupun tulisan. Telah disebutkan aspek yang berhubungan dengan prestasi belajar, adalah aspek afektif, aspek kognitif, dan aspek psikomotorik. Ketiga aspek ini yang biasa menjadi tolak ukur perubahan siswa ketika telah mendapatkan pembelajaran dan dirumuskan dalam bentuk nilai.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 2. Indikator Hasil Belajar Setiap siswa yang melakukan pembelajaran pastinya menghendaki hasil belajarnya mendapat nilai yang baik. Cara penilaian hasil belajar yang diketahui selama ini adalah dengan mempertimbangkan indikatorindikator pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk menilai siswa dari ranah kognitif dan psikomotor tergolong mudah, akan tetapi untuk ranah afektif atau rasa cenderung sulit karena rasa ini gampang terkamuflase dengan banyak faktor eksternal. Seperti misalnya ketika siswa mengapresiasi pembelajaran, belum tentu siswa benar-benar mengapresiasi. Untuk hal pengekspresian rasa bagi siswa di Indonesia masih sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi karena faktor eksternal seperti budaya, rasa segan, rasa tidak enak, rasa kurang sopan. Terlepas dari itu, menurut beberapa ahli, hasil belajar dapat dikelompokan sebagai berikut: Menurut pendapat Gagne dalam Slameto (2010), hasil belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu keterampilan motoris, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan strategi kognitif. Sedangkan menurut Tafsir (2008), hasil belajar atau perubahan bentuk tingkah laku yang diharapkan itu merupakan suatu target atau tujuan pembelajaran yang meliputi tiga aspek, yaitu: 1) Tahu, mengetahui (knowing) 2) Terampil melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing) 3) Melaksanakan yang ia ketahui itu secara rutin dan konsekuen (being)

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Pendapat di atas dibedakan lagi dan dipertegas oleh Bloom dalam Winkel (2004) yang kini menjadi acuan penggolongan hasil belajar di Indonesia yaitu ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affective domain), ranah psikomotorik (psychomotor domain). Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, peneliti cenderung sependapat dengan Bloom karena pengelompokan ranah yang dipaparkan cenderung lebih mudah untuk menentukan indikator apa saja yang akan diukur. Adapun ranah kognitif tersebut selanjutnya dikembangkan oleh Bloom dalam Arikunto (2001) menjadi suatu taksonomi (tingkatan) berdasarkan prinsip metodologis, psikologis, logis, dan tujuan. Tingkatan kognitif tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Taksonomi Bloom Tingkat Kognitif Keterangan (Indikator Kognitif) Mengenal (recognition) - Dapat memilih satu dari dua atau lebih jawaban Pemahaman - Dapat mengungkapkan kembali - Mampu (comprehension) menghubungkan fakta sederhana atau konsep - Mampu menentukan jawaban dari konsep-konsep yang ada Penerapan (application) - Mampu memilih suatu konsep, hukum, dalil, gagasan, atau cara secara tepat untuk diterapkan - Mampu memilih penerapan yang tepat pada situasi baru. Analisis (analysis) - Mampu menjelaskan hubungan situasi kompleks dengan konsep dasar

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tingkat Kognitif Keterangan (Indikator Kognitif) Sintesis (synthesis) 26 - Mampu menyusun atau menggabungkan hal-hal spesifik untuk suatu struktur baru Evaluasi (evaluation) - Mampu menilai konsep dan fakta berdasarkan atas hukum dan prisip Untuk mengukur tingkat ketercapaian hasil belajar siswa dari tiga ranah tersebut, dibutuhkan indikator-indikator seperti yang diungkapkan oleh Syah (2003) bahwa kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah mengetahui garis-garis besar indikator (petunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. Dan untuk lebih mudah dalam memahami jenis ranah dan indikator-indikatornya telah disertakan tabel sebagai berikut: Tabel 2.2 Ranah Afektif dan Psikomotorik, Indikator, Cara Evaluasi Jenis Prestasi/Ranah Ranah Rasa (Afektif) 1. Penerimaan Indikator Menunjukan sikap menerima Menunjukan sikap menolak 2. Sambutan Kesediaan berpartisipasi/terlibat Kesediaan memanfaatkan 3. Apresiasi Menganggap penting dan bermanfaat Menganggap indah dan harmonis Mengagumi Cara Evaluasi Tes tertulis Tes Skala Sikap Observasi Tes Skala sikap Pemberian tugas Observasi Tes Skala sikap Pemberian tugas Observasi

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jenis Prestasi/Ranah Indikator 4. Internalisasi Mengakui dan meyakini Mengingkari 5. Karakterisasi Melembagakan atau meniadakan Menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari Ranah Karsa (Psikomotorik) 1. Keterampilan bergerak Mengkoordinasikan gerak mata, dan bertindak tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya 2. Kecakapan ekspresif Mengucap verbal dan non verbal Membuat mimik dan gerak jasmani 27 Cara Evaluasi Tes Skala sikap Pemberian tugas ekspresif dan proyektif Observasi Pemberian tugas ekspresif dan proyektif Observasi Observasi Tes tindakan Tes tulisan Tes lisan Observasi Sumber: Syah (2008) 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Seperti yang kita ketahui, hasil belajar siswa merupakan hasil dari proses pembelajaran siswa. Untuk mendapatkan hasil belajar, siswa harus mengikuti serangkaian kegiatan belajar mengajar di kelas. Namun terkadang selama melakukan proses tersebut, siswa baik secara sadar dan tidak sadar akan menjumpai dengan banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajarnya. Faktor tersebut bisa datang dari internal siswa atau eksternal atau lingkungan belajarnya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh sebab faktor-faktor tersebut bisa berakibat positif dan negatif. Menurut Slameto (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain:

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. 28 Faktor intern yakni faktor yang ada dalam diri individu. (1) Faktor jasmani yang terdiri dari faktor kesehatan dan cacat tubuh, (2) Faktor psikologis yang terdiri dari intelegensi, minat, perhatian, bakat, kematangan, serta kesiapan siswa, (3) Faktor kelelahan. b. Faktor ekstern yakni faktor yang ada di luar individu. (1) Faktor keluarga, pengaruhnya dapat berupa cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan, (2) Faktor sekolah dapat memberikan pengaruh berupa metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dan siswa, disiplin sekolah, alat pengajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, serta tugas rumah, dan (3) Faktor masyarakat yang turut berpengaruh seperti kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. Kemudian untuk melengkapinya peneliti menyajikan pandangan menurut Nasution dalam Djamarah (2002) yang mengungkapkan bahwa belajar itu bukanlah suatu aktivitas yang berdiri sendiri tetapi ada unsurunsur lain yang terlibat di dalamnya yaitu raw input, learning teaching process, environmental input, instrumental input, dan output.Berikut adalah penjelasan mengenai unsur-unsur tersebut yang disajikan dalam bentuk gambar ini:

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 ENVIRONMENTAL INPUT RAW INPUT LEARNING TEACHING PROCESS OUTPUT INSTRUMENTAL INPUT Gambar2.1Raw Input, Learning Teaching Process,Environmental Input, Instrumental Input, dan Output.Djamarah (2002) a. Raw Input adalah masukan atau bahan mentah atau merupakan faktor internal dari dalam diri siswa. Faktor ini terdiri dari komponen kapasitas IQ, bakat khusus, motivasi, minat, kematangan, sikap, kebiasaan. b. Instrumental Input adalah sesuatu yang sengaja dirancang dan dimanipulasi guna mencapai tujuan pembelajaran dan terdiri dari komponen guru, metode, teknik, media, sumber belajar, serta sarana. c. Environmental Input adalah lingkungan di sekitar yang terdiri dari lingkungan sosial, fisik, kultural. d. Learning Teaching Process adalah aktivitas belajar dan mengajar antara siswa dan guru. e. Output adalah hasil atau keluaran dengan kualifikasi tertentu dari proses belajar mengajar dan biasa disebut dengan hasil belajar atau prestasi belajar.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 D. Strategi Pembelajaran Discovery 1. Pengertian Strategi Discovery Discovery adalah kata bahasa Inggris berarti penemuan. Menurut Moerdiyanto(2008), Discovery merupakan strategi yang digunakan guru untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan dan menemukan sendiri jawaban terhadap persoalan yang sedang dipelajari. Strategi pembelajaran ini pertama kali dikemukakan oleh Bruner dalam Dahalar (1989). Menurut Bruner belajar melalui proses penemuan merupakan belajar yang sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang selalu mencari pengetahuan secara aktif. Pengetahuan yang didapat melalui discovery akan lebih tahan lama dan mudah diingat, selain itu dapat juga digeneralisir ke dalam persoalan sejenis dalam kondisi yang berbeda. Proses merupakan suatu hal yang sangat ditekankan dalam strategi discovery. Dalam berproses secara discovery siswa wajib mengikuti serangkaian kegiatan yang didasarkan pada prinsip kerja ilmiah yang logis dan sistematis seperti mengamati, menggolongkan, membuat hipotesa, menjelaskan, menarik kesimpulan. Karena menekankan prinsip kerja ilmiah maka discovery dapat menumbuhkan motivasi belajar yang merupakan penggerak tumbuhnya minat belajar. Dalam perkembangannya, banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai strategi discovery, di antaranya adalah Amien (1987) yang berpendapat bahwadiscovery adalah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan mengukur, menarik kesimpulan, dan lain sebagainya. Kemudian pendapat lain mengatakan bahwa discovery juga merupakan proses mental ketika anak atau individu mengasimilasi berbagai konsep dan prinsip seperti yang diutarakan oleh Carind & Sund dalam Amien (1987). Jika Amien lebih menitikberatkan discovery sebagai proses mental maka discovery menurutHamalik(1991),adalah suatu pengajaran yang meliputi metode-metode yang didesain untuk mendorong sikap belajar aktif, berorientasi pada proses, membimbing diri sendiri (self-directed), dan model belajar reflektif. Maka jika melihat pemaparan para ahli di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa strategi discovery merupakan suatu rancangan pembelajaran yang mengutamakan proses dan dirancang sedemikian rupa, agar dalam pembelajaran dapat melibatkan peran siswa secara luas untuk menemukan konsep dan prinsip dengan cara mengasimilasi berbagai pengetahuan yang dimiliki siswa. 2. Langkah-langkah Pelaksanaan Strategi Discovery Dalam pembelajaran yang menggunakan strategi discovery, siswa dibimbing oleh guru untuk menemukan konsep atau prinsip atas pengetahuan yang sudah dimilikinya. Untuk menemukan konsep atau prinsip tersebut, siswa perlu melakukan observasi atau pengamatan, menggolongkan, membuat hipotesa dari hasil pengamatan, menjelaskan,

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 dan menarik kesimpulan yang didasarkan kepada pemikiran logis dan kerja yang sistematis. Jadi dalam pembelajaran discovery, siswa tidak sampai melakukan eksperimen mandiri atau menguji konsep atau pun prinsip. Pelaksanaan pembelajaran dengan strategi discovery dapat dibagi menjadi beberapa tahapan menurut Djamarah (2002) sebagai berikut: Tabel 2.3 Tahapan Pelaksanaan Strategi Discovery Tahapan 1. Penyajian Keterangan masalah Guru (stimulasi) 2. Perumusan masalah memulai pembelajaran dengan cara mengajukan persoalan berupa uraian masalah. Siswa diberi kesempatan untuk mengidentifikasi masalah, selanjutnya dari masalah tersebut siswa diarahkan membuat pertanyaan penyelidikan dan hipotesis. 3. Pengumpulan data Untuk menjawab pertanyaan dan membuktikan hipotesis yang dibuat siswa, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan, mengamati objek secara perorangan maupun berkelompok. 4. Pengolahan data Informasi-informasi yang diperoleh siswa dari kegiatan pengumpulan data diklarifikasi, dihitung dan ditafsirkan. 5. Pembuktian Berdasarkan diarahkan hasil untuk pengolahan menjawab data, pertanyaan siswa dan menguji hipotesis yang telah dibuatnya di awal pembelajaran, apakah pertanyaan yang dibuat siswa terjawab atau tidak dan apakah hipotesisnya terbukti atau tidak.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tahapan 6. Generalisasi 33 Keterangan Dari semua kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, siswa diarahkan untuk belajar menarik kesimpulan mengenai permasalahan yang disajikan. E. Gambaran Umum Materi Virus Sebagai salah satu mata pelajaran ilmu alam, Biologi tidak pernah terlepas dari segala fenomena yang terjadi di sekitar kita khusus yang berhubungan dengan gejala-gejala kehidupan. Keterikatan ini ditunjukan dengan salah satu kompetensi pada mata pelajaran Biologi yaitu mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peranan virus dalam kehidupan manusia. Tabel 2.4 Gambaran Umum Kompetensi dan Materi Virus KOMPETENSI INDIKATOR Mendeskripsikan 1. Menjelaskan sejarah penemuan ciri-ciri replikasi, virus, dan virus 2. Menyebutkan nama ilmuwan yang peranannya berperan dalam proses penemuan dalam kehidupan virus MATERI Sejarah penemuan virus 3. Menyebutkan ciri-ciri virus Ciri-ciri virus 4. Menjelaskan bagian tubuh virus Bakteriofage 5. Menjelaskan cara perkembangbiakkan pada virus 6. Menyebutkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus 7. Menjelaskan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus Replikasi virus Penyakit yang disebabkan oleh virus

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KOMPETENSI INDIKATOR 8. Menjelaskan prinsip kerja vaksin 9. Menyebutkan contoh vaksin dan kegunaannya 34 MATERI Kegunaan virus bagi kehidupan Virus merupakan organisme peralihan yang dapat hidup pada sel hidup adalah salah satu bentuk fenomena kehidupan. Di dalam kompetensi ini siswa dituntut untuk menggunakan daya pikir yang kritis dan analitis, sikap yang terbuka dan objektif. Maka jika dikaitkan dengan tuntutan akan sikap dan daya pikir siswa peneliti melihat bahwa kompetensi ini akan tercapai jika menggunakan strategi discovery yang telah dipaparkan sebelumnya. Pada indikator pertama dan kedua dirumuskan sejarah penemuan virus sebagai titik awal pembelajaran. Indikator tersebut menjelaskan bahwa penemuan virus dimulai dengan sintesis hipotesa dari beberapa percobaan yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan saat terdapat bercak kekuningan pada tanaman tembakau. Berbagai hipotesa saling melengkapi sampai pada akhirnya Stanley berhasil mengkristalkan materi penyerang tanaman tembakau dan dinamai TMV. Pada indikator ketiga, keempat, dan kelima ciri-ciri virus dan cara perkembangbiakkannya menjadi rumusan utama. Virus adalah makhluk peralihan karena tidak digolongkan sebagai makhluk hidup tetapi tidak juga digolongakan sebagai makhluk mati. Virus memiliki cara hidup dan reproduksi yang unik dan hanya dapat hidup ketika berada di dalam inang. Selain itu bagian tubuh virus tersebut ternyata memiliki fungsi yang spesifik seperti ekor, kepala, DNA atau RNA. Reproduksi juga dilakukan dalam tubuh inang.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Indikator selanjutnya lebih menjelaskan mengenai peran dan manfaat virus dalam kehidupan. Virus selalu bersifat parasit tetapi virus juga memiliki manfaat dalam membentuk antibodi tertentu. Tentu saja dengan penggunaan vaksin yang merupakan hasil kultur virus tertentu, makhluk hidup dapat bertahan dari infeksi virus. Gambaran di atas menunjukkan bahwa dalam standar kompetensi memahami prinsip-prinsip pengelompokkan makhluk hidup, sesorang siswa harus bisa membedakan kelompok makhluk hidup yang satu dengan yang lain. virus memang makhluk peralihan, tetapi virus perlu dimasukkan dalam standar ini agar siswa dapat membedakan virus dengan mikroorganisme lain. F. Hubungan Pembelajaran Virus dengan Discovery Sesuai dengan muatan materi yang telah dipaparkan sebelumnya, diketahui bahwa untuk membuat siswa mampu mengkonsepkan pengetahuan tentang virus dirasa cukup sulit menemukan metode yang sesuai. Namun di dalam discovery, seluruh materi tersebut dapat direduksi dan diasimilasi siswa dengan serangkaian tahapan dalam discovery. Melalui tahapan perumusan masalah, misalnya siswa belajar membuat pertanyaan atau pernyataan saat melihat gambar penderita cacar air (sub materi peranan virus dalam kehidupan), atau saat membaca artikel mengenai sejarah penemuan virus (sub materi sejarah penemuan virus). Melalui tahapan olah data, siswa diberi kebebasan untuk menganalisis data temuan baik mengenai nama ilmuwan, tahun, eksperimen yang dilakukan, atau fakta-fakta temuan (sejarah penemuan virus) yang dapat digunakan untuk menjawab

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pertanyaan yang dibuatnya. Dengan tahap verifikasi siswa 36 dapat membandingkan informasi yang disampaikan guru dengan hipotesa yang dibuatnya sehingga di tahap akhir siswa mampu membuat kesimpulan mengenai peranan virus atau sejarah penemuan virus. G. Penelitian yang Relevan Keberhasilan discovery dalam meningkatkan hasil belajar telah dibuktikan melalui penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan penelitian dengan penerapan discovery oleh Lestari (2008) dalam rangka meningkatkan hasil belajar Matematika kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda pada pokok bahasan bangun datar diperoleh peningkatan rata-rata sebesar 68,68 dari 57,99. Selain penelitian tersebut, Chusnah (2010) juga menggunakan discovery untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas V pada MI Miftahul Ulum Kejapanan. Pada penelitian tersebut, peneliti yang bersangkutan berhasil meningkatkan persentase ketuntasan dari 30% menjadi 81%. H. Kerangka Berpikir Seperti yang diketahui bahwa indikasi minat belajar siswa X-1 cukup rendah dan kurang mendorong pencapaian hasil belajar yang baik. Ketidaktercapaian itu terlihat dari persentase ketuntasan sebesar 62,50 % dari 32 siswa. Dalam meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada materi virus, peneliti menggunakan strategi discovery yang sudah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa seperti yang dilakukan oleh dua Chusnah dan Lestari.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Hubungan discovery dengan materi virus dilihat dari muatan materi yang bisa digunakan dalam pembelajaran yaitu siswa diajak untuk melakukan research sederhana dengan menggunakan literatur atau sumber belajar lain seperti video atau film dalam menemukan konsep dan pengetahuan tentang virus. Di dalam menemukan konsep dan pengetahuan tentang virus, siswa akan diajak untuk aktif dan mampu bersinergi. Selama proses pembelajaran dengan strategidiscovery, segala aspek dari afektif dan psikomotorik akan dibutuhkan oleh siswa untuk mencapai kognitifnya. Hal tersebut nampak ketika siswa diajak perkembangbiakkan untuk virus mengolah melalui video, dan siswa menganalisis akan proses menggunakan kemampuan afektif dan psikomotoriknya seperti memperhatikan dengan serius video yang ditampilkan, menulis poin-poin penting yang ditemukan, mencocokan poin tersebut dengan literatur, melakukan koordinasi dengan anggota kelompoknya, dan lain-lain. Strategi discovery ini mengutamakan proses maka ketika proses penemuan berjalan dengan baik sehingga output (hasil belajar) yang dihasilkan juga akan baik pula. Siswa akan menemukan ketertarikannya ketika proses penemuannya berjalan dengan baik dan berhasil mendapatkan output yang baik pula. I. Hipotesis Dari beberapa hal yang telah dijabarkan sebelumnya mengenai hakekat belajar, minat belajar, hasil belajar, serta discovery maka dapat diketahui bahwasannya discovery adalah metode yang mengasah daya pikir siswa,

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 memberikan siswa ruang belajar yang luas, sehingga siswa mampu menemukan konsep pengetahuannya sendiri. Dalam proses menemukan konsep inilah siswa dapat menggunakan segala kemampuannya sehingga pengetahuan yang didapat adalah pengetahuan yang konstruktif dan transformatif. Dengan discovery pula, siswa tidak diharus untuk berpaku pada sistem belajar yang kaku. Selain jabaran mengenai discovery, beberapa penelitian yang relevan mengenai discovery juga mendukung kesimpulan bahwasannya discovery dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik kognitif atau pun kemampuan afektif dan psikomotorik serta dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dalam melakukan penelitian terhadap suatu masalah tertentu, Fuchan (1982) mengungkapkan bahwasannya metode penelitian merupakan strategi atau cara ilmiah dan sistematis untuk mendapatkan data yang dapat diolah dan dianalisis. Setiap metode yang digunakan secara tepat pada dasarnya dapat mencapai hasil yang diharapkan. Penelitian yang berjudul Penggunaan Strategi Discovery untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada Materi Virus adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Sanjaya (2009), Penelitian Tindakan Kelas merupakan jenis penelitian yang dilakukan untuk menemukan pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis, empiris, dan terkontrol. Tindakan dalam PTK dapat diartikan sebagai bentuk perlakuan tertentu yang dilakukan oleh guru terhadap kelas yang menjadi tempat proses pembelajaran berlangsung. Penelitian Tindakan Kelas dilakukan ketika guru menemukan masalah dalam pembelajaran seperti hasil belajar siswa yang kurang memuaskan atau kurangnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan strategi discovery sebagai tindakan yang diujicobakan kepada siswa khusus dalam pembelajaran mengenai virus guna meningkatkan hasil dan minat belajar. B. Setting Penelitian 1. Objek Penelitian Yang menjadi objek pada penelitian ini adalah hasil belajar dan minat belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng. 2. Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng yang berjumlah 29 orang. Dari 29 orang siswa ini memiliki latar belakang, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan dalam pembelajaran yang berbeda. 3. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Seminari San Dominggo Hokeng yang bertempat di Dusun Wolorona, Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 4. Waktu Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu dari bulan Juli – bulan Agustus pada semester 1 tahun ajaran

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 2013/2014. Di masa awal sebelum dilakukan penelitian peneliti mengadakan observasi sekolah guna melihat beberapa faktor pendukung aktivitas belajar seperti sarana prasarana sekolah dan terutama sarana prasarana kelas X-1. C. Rancangan Tindakan Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dengan menggunakan siklus-siklus. Menurut Mc Kennan dalam Moerdiyanto (2008) tiap siklus terdiri dari beberapa langkah yaitu, perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Setiap bagian dari siklus tersebut memiliki fungsinya masing-masing. Planning adalah langkah pertama siklus yang berfungi dalam merencanakan tindakan yang akan digunakan dalam pembelajaran, menyiapkan segala perangkat selama satu siklus. Acting adalah langkah kedua setelah perencaan yaitu langkah pelaksanaan tindakan yang sudah dirancang pada tahap planning. Langkah ketiga dalam siklus adalah observing yang merupakan tahap pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa dan jika ada penilaian yang dilakukan selama pembelajaran, maka pada tahap ini biasanya dilakukan. Tahap terakhir adalah refleksi. Refleksi ini digunakan untuk melihat kekurangan dan keberhasilan pada tahap acting dan observing. Secara gagasan siklus ini direncanakan oleh peneliti namun dalam pelaksanaan khusus pada tahap observing, peneliti bekerja sama dengan dua guru yaitu guru mata pelajaran Biologi dan guru lain yang bertugas sebagai observer. Pemilihan observer ini berfungsi agar peneliti bisa

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 berfokus pada pemberian tindakan sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan peneliti. Siklus 1 digunakan untuk pembelajaran mengenai sejarah penemuan virus dan ciri-ciri virus sementara siklus 2 untuk pembelajaran mengenai replikasi virus serta peranan virus dalam kehidupan. Di akhir masing-masing siklus 1 dan 2 evaluasi pembelajaran diadakan. Pola Penelitian Tindakan Kelas yang dijalankan peneliti adalah mengikuti pola dari Hopkins (1993). MASALAH PLANNING ACTING REFLECTING OBSERVING PLANNING REFLECTING OBSERVING ACTING Gambar 3.1 Pola Penelitian Tindakan Kelas Versi Hopkins Pada pola yang ada pada gambar di atas, menunjukkan posisi masalah adalah yang teratas. Ini menggambarkan bahwasannya masalah

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 pembelajaran yang terjadi di kelas merupakan alasan bagi seorang guru atau peneliti untuk melakukan penelitian. Masalah tersebut terlebih dahulu harus diidentifikasi agar peneliti dapat menemukan perencanaan tindakan yang tepat agar dapat mengatasi masalah tersebut. Setelah mengidentifikasi masalah barulah peneliti akan masuk ke dalam siklus yang dimulai dari perencanaan. Identifikasi masalah dilakukan tidak hanya dengan melihat kegiatan siswa di kelas melainkan harus dengan bukti empiris. Dalam mengidentifikasi masalah sebelum dilakukannya penelitian, peneliti menggunakan tes awal untuk melihat kemampuan awal siswa. 1. Siklus 1 a. Planning Beberapa poin penting yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut: 1) Merencanakan rancangan pembelajaran yang akan dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar 2) Menyiapkan sumber belajar, media pembelajaran, bahan, dan alat untuk kegiatan pembelajaran 3) Membuat lembar kerja siswa 4) Membuat format evaluasi berupa soal-soal evaluasi, kisi-kisi soal, dan kunci jawaban 5) Membuat lembar observasi 6) Membuat lembar penilaian hasil belajar 7) Membuat lembar kuisioner

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 b. Acting Pada tahap ini terdapat beberapa poin penting yang dilakukan peneliti selama pelaksanaan tindakan, yaitu menerapkan tindakan yang sudah direncanakan. Jika selama pelaksanaan tindakan terdapat penyimpangan terhadap rencana maka peneliti akan mengulang tindakan tersebut. Adapun kegiatan yang dilakukan peneliti selama tahap acting adalah sebagai berikut: 1) Membentuk kelompok belajar (selama pembelajaran) siklus 1. 2) Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan strategi discovery sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat pada tahap perencanaan. Kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.1 Kegiatan Pembelajaran dengan Tahap Discovery Siklus 1 1. 2. Indikator Menjelaskan sejarah penemuan virus Menyebutkan nama ilmuwan yang berperan dalam proses penemuan virus Pertemuan 1 dan 2 Tahap Stimulasi Perumusan masalah Pengumpulan data Analisis data Verifikasi data Generalisasi data Kegiatan Siswa membaca artikel sejarah penemuan virus 2. Siswa merumuskan pertanyaan mengenai sejarah penemuan virus dan hipotesa awal 3. Siswa mengumpulkan data dari buku cetak 4. Siswa menganalisis data dari buku dan membuat hipotesa baru 5. Siswa menyampaikan hipotesa dan guru memverifikasi 6. Siswa membuat kesimpulan tentang sejarah penemuan virus 1.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. 2. Indikator Menyebutkan ciri-ciri virus Menjelaskan bagian tubuh virus Pertemuan 3 dan 4 Tahap Stimulasi 1. Perumusan masalah 2. Pengumpulan data 3. Analisis data 4. Verifikasi data 5. Generalisasi data 6. 45 Kegiatan Siswa mereview sejarah penemuan dan membaca clue pada LKS 2 Siswa menulis ciri virus berdasarkan temuan para ahli, menggambar tubuh virus berdasarkan clue dan menjelaskan bagian tubuh Siswa mencari informasi mengenai tubuh virus dan ciri-ciri virus Siswa membandingkan hipotesa awalnya dan menulis hipotesa baru Siswa menggambar tubuh virus dan menyebutkan ciri-ciri virus kepada kelompok lain, siswa lain melengkapi, dan peneliti memverifikasi hasil analisis siswa Siswa membuat kesimpulan tentang bagian tubuh dan ciri-ciri virus c. Observing 1) Melakukan pengamatan terhadap kemampuan afektif dan psikomotorik siswa selama pelaksanaan tindakan dengan lembar observasi afektif dan psikomotorik 2) Menilai hasil pengamatan berdasarkan data dari lembar observasi 3) Melakukan post test untuk melihat perkembangan hasil belajar kognitif siswa pada siklus 1. 4) Membagikan kuisioner minat belajar kepada siswa untuk diisi secara pribadi

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 5) Menilai dan menganalisis minat belajar siswa berdasarkan data dari kusioner 6) Menilai dan menganalisis hasil belajar kognitif siswa berdasarkan data hasil post test 7) Mengevaluasi tindakan di siklus 1 dan analisis hasil dan minat belajar siswa d. Reflecting Mendiskusikan hasil analisis kuisioner, hasil observasi, dan post testsiklus 1 dengan guru mata pelajaran 2. Siklus 2 a. Planning Planning pada siklus 2 ini sedikit berbeda dengan siklus 1 yaitu lebih tepat merupakan perencanaan ulang atas dasar masalah yang belum terselesaikan pada siklus 1. Beberapa hal yang dilakukan peneliti adalah: 1) Mengidentifikasi masalah yang belum terselesaikan di siklus 1 2) Mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan hasil identifikasi masalah pada siklus 1 3) Menyiapkan lembar observasi 4) Menyiapkan kuisioner

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 b. Acting Secara umum tahap acting pada siklus 2 sama dengan tahap acting pada siklus 1. Beberapa kegiatan peneliti lakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut: 1) Membentuk kelompok belajar baru (selama siklus 2) 2) Melaksanakan tindakan pada pembelajaran dengan menggunakan strategi sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan. Kegiatan pembelajaran secara umum dijelaskan pada tabel berikut: Tabel 3.2 Kegiatan Pembelajaran dengan Tahap Discovery Siklus 2 1. 1. Indikator Menjelaskan cara perkembangbiakkan virus Menyebutkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus Pertemuan 1 dan 2 3 Tahap Stimulasi 1. Perumusan masalah 2. Pengumpulan data 3. Analisis data 4. Verifikasi data 5. Generalisasi data 6. Stimulasi 1. Kegiatan Siswa membaca artikel di LKS 3 Siswa membuat hipotesa awal tentang reproduksi virus berdasarkan artikel Siswa mengumpulkan data tentang reproduksi virus dari video perkembangbiakkan virus dan buku cetak Siswa membandingkan hipotesa awal dan menganalisis data tersebut dan menulis hipotesa baru Siswa menjelaskan reproduksi virus kepada kelompok lain dan guru memverifikasi Siswa membuat kesimpulan tentang reproduksi virus Siswa bermain mencocokkan gambar penyakit dan nama penyakit, Siswa diberi

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 3. Indikator Menjelaskan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus Menjelaskan prinsip kerja vaksin Menyebutkan contoh vaksin dan kegunaannya Pertemuan Tahap Perumusan masalah 2. Pengumpulan data 3. Analisis data 4. Verifikasi data 5. Generalisasi data 6. 48 Kegiatan pertanyaan tentang manfaat virus Siswa menulis penyakitpenyakit yang disebabkan oleh virus, gejala, penyebab, cara penularan, dan jawaban atas pertanyaan tentang manfaat virus Siswa diberi kesempatan membaca buku cetak untuk memperoleh informasi mengenai vaksin dan penyakit Siswa membandingkan data dan hipotesa awal untuk menulis hipotesa tentang peranan negatif dan positif virus Siswa menjelaskan reproduksi virus kepada kelompok lain dan guru memverifikasi Siswa membuat kesimpulan mengenai peranan virus dalam kehidupan c. Observing 1) Melakukan pengamatan terhadap kemampuan afektif dan psikomotorik siswa selama pelaksanaan tindakan dengan lembar observasi afektif dan psikomotorik 2) Menilai dan menganalisis hasil observasi berdasarkan data dari lembar observasi 3) Melakukan post test untuk melihat perkembangan hasil belajar kognitif siswa pada siklus 2. 4) Membagikan kuisioner minat belajar kepada siswa untuk diisi secara pribadi

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 5) Menilai dan menganalisis minat belajar siswa berdasarkan data dari kusioner 6) Menilai dan menganalisis hasil belajar kognitif siswa berdasarkan data hasil post test siklus 2 7) Mengevaluasi tindakan di siklus 2 dan analisis hasil dan minat belajar siswa dan membandingkannya dengan siklus 1 d. Reflecting Mendiskusikan hasil analisis kuisioner, hasil observasi, dan post test siklus 2 dengan guru mata pelajaran D. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan data. Pada Penelitian Tindakan Kelas ini terdapat dua jenis instrumen yang digunakan peneliti yaitu instrumen pembelajaran dan instrumen pengumpulan data. 1. Instrumen Pembelajaran Instrumen pembelajaran adalah alat yang digunakan peneliti untuk melaksanakan pembelajaran. Instrumen pembelajaran tersebut antara lain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (dapat dilihat pada lampiran 4 dan 5), silabus (dapat dilihat pada lampiran 3), media pembelajaran berupa poster, video, power point presentation, kartu gambar penyakit dan kartu nama penyakit, serta lembar kerja siswa yang contohnya dapat dilihat pada lampiran 17.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 2. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil pemberian tindakan dari kedua siklus. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini antara lain, soal pre test (dapat dilihat pada lampiran 9), soal post test siklus 1 (dapat dilihat pada lampiran 10) dan post test siklus 2 (dapat dilihat pada lampiran 11), lembar observasi yang contohnya telah peneliti lampirkan di lampiran 15, lembar kuisioner lampiran yang contohnya juga telah dilampirkan pada lampiran 16, dan kamera. E. Teknik Pengumpulan Data Pada Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti menentukan beberapa teknik pengumpulan data untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, antara lain: 1. Observasi Observasi adalah cara untuk mengumpulkan data dengan mengamati subjek pengamatan misalnya mengamati aktivitas siswa saat mengikuti pembelajaran. Nasution dalam Sugiyono (2010) menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan bisa bekerja hanya berdasarkan data yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Sehingga data yang diperoleh dari hasil observasi adalah fakta. Pada penelitian ini observasi dilakukan saat pembelajaran. Data yang diperoleh dari observasi pembelajaran merupakan data kuantitatif

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 yaitu hasil belajar afektif dan psikomotorik dan disediakan dalam bentuk angka. Berkenaan dengan data kuantitatif maka data tersebut akan dianalisis sesuai dengan metode analisis data yang telah ditentukan. Untuk melakukan observasi, tentunya peneliti telah menyiapkan instrumen untuk observasi yaitu lembar observasi beserta kisi-kisi observasi dan cara skoring. Observasi pembelajaran dibuat untuk mengamati kemampuan afektif dan psikomotorik siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya untuk melaksanakan observasi, peneliti terlebih dahulu membuat kisi-kisi kegiatan yang harus diamati. Kisi-kisi tersebut atas acuan dari indikator ranah afektif psikomotorik yang berhubungan dengan langkah-langkah discovery seperti pada tabel dibawah ini. Tabel 3.3 Kisi-kisi Kegiatan Siswa pada Ranah Afektif Indikator Menunjukkan sikap menerima Kegiatan yang diamati - Menganggap penting - - Menyiapkan catatan dan alat tulis Siswa menunjukkan sikap antusias Siswa menulis hasil generalisasi Siswa membuat rangkuman dengan baik Siswa mendengar dengan serius arahan kegiatan yang disampaikan guru Siswa menulis hipotesa baru dengan baik Siswa mendengar informasi atau pertanyaan guru Nomor Pernyataan 3 20 19 16 7 9 4

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Indikator Kesediaan berpartisipasi Kegiatan yang diamati - Kesediaan memanfaatkan - Siswa menjawab atau menanggapi pertanyaan atau informasi dari guru Siswa bekerja sama dalam kelompok mencari informasi Siswa mendengar hasil verifikasi temannya Siswa mendengar dengan serius verifikasi guru Siswa menyampaikan pendapat saat verifikasi Siswa menulis hipotesa awal Nomor Pernyataan 5 8 14 15 12 6 10 Siswa mengerjakan tugas tepat waktu Siswa masuk tepat waktu Siswa bertanya saat kesulitan 1 11 Tabel 3.4 Kisi-kisi Kegiatan Siswa pada Ranah Psikomotorik Indikator Kegiatan yang diamati Keterampilan bergerak dan bertindak Kecakapan ekspresif verbal dan non verbal - Siswa menggunakan gerakan tangan, kepala, atau mata yang mendukung apa yang dibicarakannya Pendapat yang disampaikan siswa sesuai dengan pembelajaran Siswa berbicara dengan bahasa yang baik Siswa berbicara dengan membuat mimik wajah 52 Nomor Pernyataan 18 13 17 2

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Lembar observasi yang digunakan untuk pengambilan data akan berisi pernyataan-pernyataan yang telah ditentukan pada kisikisi. Tiap pernyataan diberi rentang skor antara 1 – 5. Satu lembar observasi digunakan untuk mengamati satu kelompok siswa. Detail lembaran observasi telah peneliti lampirkan pada lampiran 15. Untuk menentukan skor pada tiap pernyataan maka cara menentukan skor adalah sebagai berikut: 1) Skor 1: 1 orang dalam kelompok melaksanakan 2) Skor 2: 2 orang dalam kelompok melaksanakan 3) Skor 3: 3 orang dalam kelompok melaksanakan 4) Skor 4: 4 orang dalam kelompok melaksanakan 5) Skor 5: 5 orang dalam kelompok melaksanakan 2. Kuisioner Kuisioner adalah teknik yang biasa digunakan untuk refleksi dan untuk menilai kinerja. Kuisioner biasanya diisi secara pribadi. Pada penelitian ini kuisioner digunakan sebagai pengumpul data mengenai minat belajar siswa. Data yang diperoleh adalah data kuantatif berupa angka-angka. Adapun acuan yang peneliti gunakan dalam membuat kuisioner minat belajar,adalah indikator minat yang telah ditetapkan dalam batasan yaitu keinginan untuk mengetahui sesuatu, usaha untuk merealisasikan keinginan, dan partisipasi aktif dalam suatu kegiatan. Dari masing-masing indikator tersebut dibuatlah pernyataan-

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 pernyataan yang berhubungan dengan minat. Pernyataan-pernyataan yang dibuat tersebut ada pernyataan negatif dan pernyataan positif. Berikut adalah kisi-kisi kuisoner yang disajikan dalam bentuk tabel. Tabel 3.5 Kisi-Kisi Kuisioner Minat Belajar Indikator Pernyataan - Saya sering mencari tahu mengenai Keinginan persoalan atau fenomena Biologi yang untuk hangat dibicarakan di kelas. mengetahui atau memiliki - Saya acuh tak acuh ketika beberapa sesuatu (A) teman sedang berbicang tentang materi Biologi. - Saya jarang melewatkan film atau acara televisi yang berhubungan dengan Biologi - Saya tidak menyukai hiburan atau tontonan yang berhubungan dengan Biologi - Saya jarang bertanya kepada guru meskipun saya belum memahami materi Biologi yang diajarkan Usaha untuk - Saya selalu menjadwal jam belajar merealisasikan Biologi keinginan (B) - Saya hanya belajar Biologi ketika ada tes atau ulangan - Saya tidak hanya membaca satu buku sumber untuk mata pelajaran Biologi - Ketika diberi tugas Biologi saya biasanya langsung mengerjakannya - Saya tidak pernah melewatkan pelajaran Biologi kecuali saat benar-benar berhalangan - Saya sering membolos saat pembelajaran Biologi - Ketika guru Biologi berhalangan hadir, yang saya lakukan adalah membaca buku Biologi +/- Nomor Pernyataan + 6 - 11 + 17 - 20 - 7 + 1 - 3 + 12 + 13 + 14 - 18 + 16

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Indikator Pernyataan - Partisipasi aktif dalam suatu kegiatan (C) - - - Saya biasa mengobrol dengan teman saat guru Biologi berhalangan hadir Saya malas membaca buku Biologi meskipun sudah ditugaskan oleh guru Saya selalu memberi perhatian lebih terhadap penjelasan atau informasi yang disampaikan guru Biologi Saya selalu memberi pendapat ketika diskusi pada pembelajaran Biologi Saya selalu ingin menjadi sukarelawan ketika guru membutuhkan model saat menjelaskan materi Biologi Saya sering menjawab pertanyaan yang diberikan guru Biologi di kelas Saya berusaha menghindar agar guru Biologi tidak meminta saya untuk menjawab pertanyaan Saya biasa memberikan kesempatan menjawab kepada teman lain dan saya hanya diam saja 55 +/- Nomor Pernyataan - 9 - 19 + 10 + 2 + 4 + 5 - 8 - 15 Selain membuat kisi-kisi kuisioner, peneliti juga membuat lembar kuisioner yang berisi pernyataan-pernyataan pada kisi-kisi di atas. Sehubungan dengan jenis data kuantitatif, maka peneliti telah menentukan cara skoring untuk tiap pernyataan kuisioner sebagai berikut: a. Pernyataan positif 1) Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 1 2) Tidak Setuju (TS) : skor 2 3) Kurang Setuju (KS) : skor 3 4) Setuju (S) : skor 4 5) Sangat Setuju (SS) : skor 5

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 b. Pernyataan negatif 1) Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 5 2) Tidak Setuju (TS) : skor 4 3) Kurang Setuju (KS) : skor 3 4) Setuju (S) : skor 2 5) Sangat Setuju (SS) : skor 1 3. Dokumentasi Dalam penelitian, catatan peristiwa yang sudah lalu menurut Sugiyono (2010) disebut dokumen. Dokumentasi merupakan salah satu teknik pengambilan data selain observasi dan kuisioner. Data yang diambil melalui dokumentasi disebut dokumen. Pada penelitian ini dokumentasi dilakukan dengan pengambilan foto rekaman kegiatan belajar mengajar. Foto tersebut digunakan sebagai data kualitatif yang akan melengkapi pembahasan hasil penelitian. 4. Tes Teknik lainnya yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah tes. Tes adalah teknik yang paling sering digunakan untuk mendapatkan data hasil belajar kognitif siswa. Tes dilakukan dengan merumuskan beberapa soal menjawabnya. kemudian siswa diminta untuk

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Tes yang digunakan pada penelitian ini adalah pre test dan post test. Pre test digunakan untuk mengukur pengetahuan awal siswa akan kompetensi yang hendak diajarkan dan dilakukan pada awal penelitian. Post test digunakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran pada pertemuan tertentu dan dilakukan di akhir masingmasing siklus. Definisi tes menurut Sanjaya (2009) adalah instrumen pengumpulan data untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif, atau tingkat penguasaan materi pembelajaran. Untuk melakukan tes, peneliti terlebih dahulu membuat kisi-kisi soal (dapat dilihat pada lampiran 6, lampiran 7, dan lampiran 8) berdasarkan indikator kognitif, membuat soal tes (dapat dilihat pada lampiran 9, lampiran 10, dan lampiran 11), membuat kunci jawaban, serta cara skoring (dapat dilihat pada lampiran 12, lampiran 13, dan lampiran 14). Jumlah soal yang ada pada masing-masing tes baik pre test dan post test adalah 17 soal dengan 15 buah soal pilihan ganda dan 2 soal esai. Untuk pemberian skor pada dua jenis soal ini berbeda. Pada setiap soal pilihan ganda jika benar diberi skor 1 sedangkan untuk setiap soal esai jika benar diberi skor 5. Untuk kisi-kisi dan kunci jawaban masing-masing jenis tes disesuaikan dengan indikator pada kompetensi dasar.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 F. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan peneliti pada penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dan dilengkapi dengan analisis deskripsi kualitatif. Analisis statistik deskriptif ini digunakan untuk mengolah dan menganalisis data-data kuantitatif yaitu data hasil tes, data hasil observasi pembelajaran, dan data kuisioner. Beberapa jenis perhitungan dalam metode ini adalah rata-rata dan persentase. Sedangkan untuk data kualitatif berupa data hasil dokumentasi berfungsi sebagai pelengkap data kuantitatif. 1. Analisis Hasil Belajar Hasil belajar yang dimaksukan pada penelitian ini adalah hasil belajar dari ketiga ranah yaitu ranah kognitif yang didapatkan dari tes dan hasil belajar afektif psikomotorik yang didapatkan dari observasi pembelajaran. a. Analisis Hasil Belajar Kognitif 1) Nilai siswa didapatkan dari jumlah skor seluruh soal dibagi dengan skor maksimal (25). ∑ Gambar 3.2 Rumus Nilai Kognitif Siswa Adapun nilai siswa dapat dikategorikan sebagai berikut: - 81 – 100 : Sangat Baik - 70 – 80 : Baik - 60 – 69 : Cukup

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI - 40 – 59 : Kurang - 0 – 39 : Sangat Kurang 59 2) Rata-rata Kelas didapatkan dari jumlah nilai siswa kelas X-1 berbanding dengan jumlah siswa kelas X-1. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: ∑ NILAI SISWA ∑ SISWA Gambar 3.3 Rumus Rata-rata Kelas Hasil Belajar Kognitif 3) Persentase Ketuntasan didapatkan dari jumlah siswa tuntas berbanding jumlah siswa kelas X-1 dan dikali 100%. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: % $% % ∑ SISWA TUNTAS ( 100% ∑ SISWA Gambar 3.4 Rumus Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Kognitif b. Analisis Hasil Belajar Afektif dan Psikomotorik Sebelum mengolah hasil belajar afektif psikomotorik berdasarkan observasi pembelajaran, peneliti menentukan cara menilai kemampuan afektif dan psikomotorik siswa. Skor yang didapatkan melalui observasi tersebut adalah nilai dari masingmasing siswa yang ada pada kelompok tersebut. Sehingga nilai

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI afektif psikomotorik siswa adalah skor yang 60 diperoleh kelompoknya. Misalnya siswa A, B, C, D, dan E adalah anggota kelompok 1 dan kelompok 1 mendapatkan skor 80 maka nilai afektif psikomotorik siswa A adalah 80 begitu juga dengan siswa B, C, D, dan E. 1) Nilai siswa didapatkan dari menjumlahkan skor dari seluruh pernyataan pada lembar observasi. Rumusannya sebagai berikut: + , -. / - Gambar 3.5 Rumus Nilai Afektif Psikomotorik Siswa Adapun nilai siswa dapat dikategorikan sebagai berikut: - 81 – 100 : Sangat Baik - 70 – 80 : Baik - 60 – 69 : Cukup - 40 – 59 : Kurang - 0 – 39 : Sangat Kurang 2) Rata-rata Kelas didapatkan dari jumlah keseluruhan nilai siswa berbanding dengan jumlah siswa. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: ∑ NILAI SISWA ∑ SISWA Gambar 3.6 Rumus Rata-rata Kelas Hasil Belajar Afektif Psikomotorik

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 3) Persentase Ketuntasan untuk hasil belajar afektif psikomotorik diperoleh dengan cara yang sama seperti halnya hasil belajar kognitif yaitu dengan membagi jumlah siswa tuntas dengan jumlah siswa kelas X-1 dan dikali 100%. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut: % $% % ∑ SISWA TUNTAS ( 100% ∑ SISWA Gambar 3.7 Rumus Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Afektif Psikomotorik 2. Analisis Minat Belajar Analisis minat belajar dilakukan dengan menghitung rata-rata minat dan persentase minat dari jumlah siswa yang tergolong berminat dan jumlah siswa yang tergolong sangat berminat. Sebelumnya terlebih dahulu peneliti menentukan cara penggolongan minat siswa berdasarkan skor yang ada pada kuisioner. a. Skor minat siswa diperoleh dari menjumlah skor di tiap pernyataan 012 , -. / + - Gambar 3.8 Rumus Skor Minat Siswa Penggolongan minat belajar berdasarkan skor siswa adalah sebagai berikut: - Sangat Berminat (SB) : 86 – 100 - Berminat (B) : 70 – 85

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI - Cukup Berminat (CB) : 46 – 69 - Kurang Berminat (KB) : 20 – 45 62 b. Rata-rata Minat diperoleh dari jumlah skor minat seluruh siswa dan dibagi dengan jumlah siswa. Rumusan matematisnya adalah: 34% ∑ SKOR SISWA ∑ SISWA Gambar 3.9 Rumus Rata-rata Minat Belajar c. Persentase Minat diperoleh dari jumlah siswa yang tergolong sangat berminat dan berminat dibagi dengan jumlah siswa kelas X1 dikali 100%, rumusannya adalah sebagai berikut: % 34% ∑ SISWA SB 9 B ( 100% ∑ SISWA Gambar 3.10 Rumus Persentase Minat Belajar d. Minat Berdasarkan Indikator juga dirasakan penting bagi peneliti untuk dianalisis. Melalui analisis minat berdasarkan indikator akan diketahui minat belajar seperi apa yang dimiliki siswa. Selain itu dengan analisis ini akan diketahui jenis indikator minat apa yang cenderung dimiliki siswa. Perhitungannya dilakukan per indikator dan hasilnya akan dibandingkan. Hasil dari analisis ini disajikan dalam bentuk persentase. Rumusan matematisnya yaitu:

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI % 34% : ;< 63 ∑ SKOR INDIKATOR > ( 100% ∑ SKOR MAKSIMAL >> Skor maksimal indikator A=25***×29****=725; skor maksimal indikator B=50×29=1450; skor maksimalindikator C=25×29=725 Gambar 3.11 Rumus Persentase Minat Siswa Per Indikator Keterangan gambar: *) jumlah skor indikator diperoleh dari jumlah total skor siswa per indikator; **) jumlah skor maksimal diperoleh dari total skor maksimal siwa dikali dengan jumlah siswa; ***) total skor maksimal siswa; ****) jumlah siswa 3. Analisis Ketercapaian Soal Selain menentukan analisis hasil belajar dan analisis minat belajar, peneliti juga menambahkan satu jenis analisis yaitu analisis ketercapaian soal. Analisis ini digunakan untuk mengetahui ketercapaian siswa pada tiap soal baik pilihan ganda dan esai. Ketercapaian ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah siswa yang menjawab benar dengan jumlah seluruh siswa. Analisis ini digunakan pada hasil tes. Fungsi analisis ini untuk mengidentifikasi indikator kompetensi yang dianggap sulit dan indikator kognitif yang belum dicapai siswa. Analisis ini dapat dirumuskan secara matematis sebagai berikut:

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 a. Persentase Ketercapaian Soal Pilihan Ganda % @A@2B C ∑ SISWA BENAR ( 100% ∑ SISWA 1 : >< *n = nomor soal, misalnya soal 1, soal 2, dst. Gambar 3.12 Rumus Persentase Ketercapaian Soal Pilihan Ganda b. Persentase Ketercapaian Soal Esai % @A@2B C 1 : >< ∑ SKOR SOAL ( 100% ∑ SKOR MAKSIMAL *n = nomor soal, misalnya soal 1 dan soal 2 Gambar 3.13 Rumus Persentase Ketercapaian Soal Esai

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kegiatan 1. Pra Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan selama Bulan Juli sampai Agustus di Kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng dan dimulai dengan beberapa kegiatan pra penelitian seperti observasi lingkungan sekolah, perijinan penelitian, dan pengadaan pre test. Pre test digunakan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa mengenai materi virus. Pre Test diadakan pada tanggal 26 Juli 2013 setelah peneliti mengadakan perkenalan dan menjelaskan beberapa kompetensi yang akan dipelajari siswa pada materi virus. Setelah selesai menjelaskan kompetensi virus peneliti membagikan pre test kepada siswa. Gambar 4.1 Suasana Kelas saat Pre Test 65

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Pada awal penelitian yang menjadi subjek penelitian ini berjumlah 32 siswa. Namun pada saat pelaksanaan kegiatan baik sebelum penelitian dan setelah penelitian siswa yang hadir adalah 29 sehingga data yang diolah pada penelitian ini diambil dari 29 siswa tersebut. Pre test diadakan selama 30 menit. Materi yang diujikan pada pre test adalah materi virus secara umum. Setelah hasil tes dinilai didapatkan data sebagai berikut: Tabel 4.1 Deskripsi Hasil Belajar Sebelum Tindakan No 1 2 3 4 5 6 Aspek Nilai Tertinggi Nilai Terendah ∑ Siswa Tuntas ∑ Siswa Tidak Tuntas Persentase Ketuntasan Rata-rata Hasil 68 12 0 29 0% 39,86 Yang diharapkan ≥ 75 % ≥ 75 Berdasarkan tabel 4.1 di atas diperoleh gambaran pengetahuan siswa mengenai virus sebelum penelitian. Besarnya persentase ketuntasan siswa adalah 0% dari 29 siswa, rata-rata sebesar 39,86, nilai tertinggi yang diperoleh sebesar 68 dan nilai terendah sebesar 12. Perolehan hasil belajar seperti ini dianggap wajar karena siswa belum mendapatkan pembelajaran mengenai virus sehingga kemungkinan ketidaktuntasan sangat besar. Adapun dengan diadakannya pre test selain dapat mengukur pengetahuan awal siswa, peneliti juga dapat mengidentifikasi beberapa pengetahuan awal yang dimiliki siswa serta jenis kemampuan kognitif yang dimiliki. Hasil identifikasi tersebut disajikan pada tabel 4.2 berikut:

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Tabel 4.2 Persentase Ketercapaian Tiap Soal Berdasarkan Indikator Kompetensi dan Kognitif INDIKATOR KOMPETENSI Menjelaskan sejarah penemuan virus Menyebutkan nama ilmuwan yang berperan dalam proses penemuan virus Menyebutkan ciriciri virus Menjelaskan bagian tubuh virus Menjelaskan cara perkembangbiakkan pada virus Menyebutkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus Menjelaskan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus Menjelaskan prinsip kerja vaksin Menyebutkan contoh vaksin dan kegunaannya NO SOAL INDIKATOR KOGNITIF SKOR KELAS % KETERCAPAIAN SOAL I.6 C2 2 6,8 % I.2 C3 12 41,37 % I.1 I.4 I.12 I.15 II.1 C2 C2 C1 C3 C4 15 7 9 3 83* 51,72 % 24,13 % 31,03 % 10,34 % 57,24 % I.11 C1 18 62,06 % I.8 I.9 I.14 C2 C2 C2 12 5 7 41,37 % 17,24 % 24,13 % I.3 I.5 C2 C2 23 21 79,31 % 72,41 % I.7 I.13 C3 C2 6 14 20,68 % 48,27 % II.2 C2 25* 17,24 % I.10 C1 23 79,31 % Keterangan: *) skor esai dihitung berdasarkan total skor dibagi dengan skor maksimal (misalnya 110 : 160 ( ×100%) = 68,8%) Hasil identifikasi memperlihatkan bahwasannya pengetahuan awal yang sudah dimiliki siswa adalah mengenai penyakit-penyakit yang disebakan oleh virus karena data menunjukkan sebanyak 79,31 % siswa

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 mampu menjawab dengan benar soal dengan indikator tersebut. Indikator menjelaskan sejarah penemuan virus hanya dapat dijawab oleh 2 siswa dan memperoleh 6,8 % ketercapaian, indikator menyebutkan nama-nama ilmuwan yang berperan dalam proses penemuan virus dijawab oleh 12 siswa atau sebanyak 41,37 %, indikator menyebutkan ciri-ciri virus dijawab paling banyak 57,24 % dan dijawab paling sedikit 3 siswa dengan perolehan 10,34 %, indikator menjelaskan bagian tubuh virus mampu dijawab oleh 18 siswa atau 62,06 %, indikator menjelaskan cara perkembangbiakkan virus mampu dijawab paling banyak 12 siswa dengan perolehan 41,37 %, indikator menyebutkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus memperoleh paling banyak 79,31 % dan paling sedikit 72,41 % siswa yang menjawab benar. Meskipun siswa mampu dalam indikator tersebut, pada indikator menjelaskan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus hanya dapat dijawab paling banyak 14 siswa atau 48,27 %, indikator menjelaskan prinsip kerja vaksin memperoleh 17,24 %, dan indikator menyebutkan contoh vaksin mampu memperoleh 79,31 % siswa yang menjawab benar. Sebelum melakukan pre test, peneliti telah melakukan observasi lingkungan sekolah untuk mendapatkan data tambahan jika diperlukan saat menganalisis hasil penelitian. Observasi ini tidak menjadi fokus penelitian sehingga peneliti tidak membuat format khusus untuk mendata hasil observasi. Kegiatan ini dilakukan pada 6 Juli 2013. Setelah observasi dilakukan, peneliti pada 13 Juli 2013 mengurus perijinan penelitian kepada pihak sekolah dengan menyerahkan surat ijin dan proposal penelitian.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 2. Siklus 1 Pada siklus 1 jumlah pertemuan cukup banyak karena alokasi waktu di tiap pertemuan hanya 1 × 45 menit. Siklus 1 dilaksanakan pada 25 Juli 2013, 27 Juli 2013, 29 Juli 2013, 30 Juli 2013, 1 Agustus 2013, dan 2 Agustus 2013. Pertemuan 1 dan 2 membahas mengenai sejarah penemuan virus, pertemuan 3 dan 4 membahas tentang ciri-ciri dan bagian tubuh virus. a. Perencanaan Tindakan Perencanaan pada siklus 1 ini antara lain menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dilengkapi dengan halaman pengesahan oleh sekolah, membuat media pembelajaran konvensional berupa poster klasifikasi virus. Peneliti menggunakan media poster karena sekolah tidak menyediakan proyektor. Poster ini berukuran kira-kira 130 cm × 70 cm, ditulis tangan oleh peneliti dan diberi detail warna sehingga terlihat menarik. Selain poster dan RPP, peneliti juga menyiapkan lembar kerja siswa, lembar observasi pembelajaran, lembar kerja post test, dan kuisioner minat belajar. Pengerjaan instrumen pembelajaran di atas, dilakukan dalam satu hari pada 25 Juli 2013. b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan dilakukan setelah perencanaan tindakan selesai yaitu pada 27 Juli 2013, 29 Juli 2013, 30 Juli 2013, 1 Agustus 2013. Pada pembelajaran mengenai sejarah penemuan virus, peneliti membagikan lembar kerja siswa (LKS) kepada masing-masing siswa

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 pada awal pembelajaran dan menjelaskan kepada siswa mengenai penggunaan LKS. Setelah selesai dibagikan, peneliti meminta siswa membaca artikel pada LKS 1. Agar merata, peneliti memilih tiga orang siswa dari tiga kelompok yang berbeda (kelompok 1, 3, dan 5) dan meminta mereka untuk membacakan masing-masing 1 paragraf kepada seluruh siswa. Kegiatan di atas merupakan tahap stimulasi dan suasananya dapat dilihat pada gambar 4.1. Gambar 4.2 Suasana Kelas Tahap Stimulasi pada Pembelajaran Sejarah Penemuan Virus Pada pertemuan ciri-ciri virus bagian tubuh virus pada 30 Juli 2013, stimulasi yang diberikan peneliti hanya berupa clue singkat mengenai bentuk tubuh virus secara umum seperti kecebong yang memiliki kepala dan ekor. Siswa diminta untuk menggambar tubuh virus sepengetahuannya. Setelah itu siswa diberi pertanyaan mengenai ciri-ciri virus. Karena siswa terlihat bingung dengan pertanyaan tersebut, guru mengarahkan siswa untuk mereview

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kembali fakta-fakta yang ditemukan oleh para ahli 71 yang menunjukkan bahwa makhluk tersebut adalah virus. Pada tahap perumusan masalah sejarah penemuan virus, peneliti mengarahkan seorang siswa untuk membaca langkah kerja dan siswa lain ikut membaca. Kemudian guru meminta siswa untuk membuat pertanyaan sekaligus jawaban berdasarkan artikel selama 10 menit. Setelah selesai menulis pertanyaan dan jawaban, guru mempersilahkan siswa kelompok 2, 4, dan 6 untuk membaca pertanyaan dan jawaban. Selanjutnya guru meminta siswa untuk menutup LKS dan sumber lain, lalu menuliskan sejarah penemuan virus sebagai hipotesa awalnya selama 10 menit. Setelah itu guru mempersilahkan siswa menjelaskan hipotesa yang ditulisnya kepada seluruh siswa secara lisan. Saat itu terdapat lebih dari 10 siswa yang bersedia menjelaskan namun guru memutuskan mempersilahkan 2 siswa dari kelompok yang berbeda. Gambar 4.3 Suasana Kelas Tahap Perumusan Masalah pada Pembelajaran Ciri-ciri dan Bagian tubuh Virus

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Perumusan masalah pada pertemuan tentang ciri-ciri virus dilakukan dengan merumuskan ciri-ciri berdasarkan fakta-fakta temuan para ilmuwan pada materi sejarah penemuan virus. Siswa diminta untuk menulis pada LKSnya masing-masing berserta gambar berdasarkan pengetahuan siswa atau clue yang diberikan peneliti. Tahap berikutnya adalah tahap pengumpulan data, dimana siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan data-data mengenai sejarah penemuan virus melalui buku paket untuk menguji dan menganalisis hipotesa awalnya. Peneliti saat itu mengarahkan siswa untuk membandingkan hipotesa awal yang ditulis siswa dengan sejarah yang ada pada buku paket. Peneliti mengarahkan siswa untuk mencatat hal-hal penting yang belum ditemukan dalam artikel untuk melengkapi pengetahuannya saat analisis. Pembelajaran usai pada saat waktu pengumpulan data selesai sehingga peneliti memutuskan melanjutkan analisis data, verifikasi, dan generalisasi pada pertemuan berikutnya. Pada pertemuan mengenai ciri-ciri dan bagian tubuh virus pada 30 Juli 2013, peneliti juga melakukan hal yang sama seperti pada pertemuan sebelumnya. Tahap analisis data pada pertemuan sejarah penemuan virus dilaksanakan pada 29 Juli 2013 dan pada pertemuan ciri-ciri dan bagian tubuh virus dilaksanakan pada 1 Agustus 2013. Pada tahap ini siswa diarahkan guru untuk menulis hipotesa baru jika hipotesa awalnya belum lengkap dan rancu. Bagi siswa yang hipotesa awalnya sudah hampir sempurna, peneliti mengarahkan siswa untuk

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 melengkapi hipotesa tersebut dengan data yang ada pada buku paket. Waktu analisis yang diberikan peneliti adalah 15 menit. Semua siswa mampu mengerjakan tugas pada tahap ini tepat waktu, sehingga tahap verifikasi dan generalisasi dapat dilaksanakan pada pertemuan yang sama. Gambar 4.4 Suasana Kelas Tahap Analisis Data pada Pembelajaran Sejarah Penemuan Virus Pada saat verifikasi pada 29 Juli 2013, guru bertanya kepada siswa mengenai sejarah penemuan virus. Saat verifikasi semua siswa di masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat sehingga waktu yang direncanakan seharusnya 10 menit, bertambah menjadi 20 menit. Pada verifikasi materi ciri-ciri dan bagian tubuh virus pada 1 Agustus 2013, peneliti meminta siswa dari masing-masing kelompok untuk menggambar tubuh virus di papan tulis. Waktu pembelajaran pada saat verifikasi ini banyak terpakai oleh siswa untuk menggambar tubuh virus secara detail meskipun peneliti hanya

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 meminta untuk menggambar secara skematik. Setelah itu, anggota lain dari kelompoknya diminta untuk menjelaskan bagian tubuh dan fungsi masing-masing bagian, serta ciri-ciri virus. Secara garis besar verifikasi sejarah dan ciri-ciri virus dapat berjalan dengan baik. Seluruh siswa mampu membuat hipotesa yang baik sehingga peneliti hanya perlu menegaskan kembali dan menambahkan klasifikasi virus. Gambar 4.5 Suasana Kelas Tahap Verifikasi pada Pertemuan Ciri-ciri dan Bagian Tubuh Virus Generalisasi adalah tahap terakhir dari rangkaian discovery. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengambil kesimpulan tentang sejarah penemuan virus. Generalisasi dimulai dengan pemberian pertanyaan mengenai nama-nama ilmuwan yang berperan dalam sejarah penemuan virus, kemudian fakta yang ditemukan dari setiap percobaan para ilmuwan, ilmuwan yang mendapatkan nobel atas temuan virusnya, pada tahun berapakah virus ditemukan dan bagaimana ceritanya. Semua pertanyaan tersebut dapat dijawab

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 sangat baik oleh seluruh siswa kelas X-1. Sebelum pembelajaran diakhiri, peneliti meminta salah satu siswa dari kelompok 5 untuk menyimpulkan pembelajaran hari itu. Generalisasi pada pertemuan ciri-ciri virus, dilakukan peneliti dengan menggambar secara skematik tubuh virus, menunjuk bagianbagian tubuh virus dan meminta siswa menyebutkan bagian tersebut serta menjelaskan fungsinya. Peneliti kemudian meminta masingmasing kelompok menyebutkan masing-masing satu ciri-ciri virus. Generalisasi dilakukan dengan keadaan buku dan LKS tertutup. Di akhir pembelajaran peneliti mengumumkan waktu pelaksanaan post test dan kisi-kisinya soal. Peneliti juga membagikan kuisioner saat setelah pembelajaran pada 1 Agustus 2013 berakhir. c. Observasi Pembelajaran Kegiatan yang dilakukan peneliti selama tahap observasi adalah memantau hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa selama pelaksanaan tindakan. Pengisian data afektif dan psikomotorik siswa dilakukan oleh observer. Peneliti tidak ikut mengisi lembar observasi melainkan membantu observer mengamati kegiatan siswa selama pembelajaran. Adapun observer sering lupa mengisi sehingga peneliti harus sering mengontrol pengisian lembar observasi tersebut. Data yang diperoleh dari lembar observasi tersebut kemudian dinilai oleh peneliti dan dianalisis. Sebelum mengadakan post test, peneliti di akhir pembelajaran pada 1 Agustus 2013, membagikan kuisioner untuk melihat minat siswa di siklus 1.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Hasil pengisian kuisioner tersebut kemudian dinilai dan dianalisis oleh peneliti pada hari yang sama. Selain itu peneliti juga mengadakan tes untuk mendata hasil belajar siklus 1 pada 2 Agustus 2013 dan dilaksanakan selama 45 menit. Selama tes diadakan peneliti sempat menanyakan, “Apakah soal tersebut tergolong sulit?” dan siswa umumnya menjawab tidak sulit. Namun karena beberapa siswa terlihat kebingungan maka peneliti menyarankan untuk bertanya jika ada soal yang kurang jelas perintahnya. Peneliti juga mengingatkan siswa untuk memahami soal karena soal cenderung mengecoh pemahaman. Setelah post test dilakukan, siswa diberi waktu istirahat selama 10 menit. Setelah mengadakan tes (post test) peneliti lalu menganalisis hasil tes dengan melihat ketercapaian soal dari indikator kompetensi dan indikator kognitif serta menilai dan menganalisis minat belajar siswa kelas X1. d. Refleksi Refleksi dilakukan peneliti dengan mendiskusikan hasil penilaian dan analisis hasil belajar baik kognitif, afektif, dan psikomotorik serta minat belajar bersama guru mata pelajaran. Kegiatan pada refleksi ini tidak dilakukan pada waktu yang spesisifik atau yang telah ditentukan. Diskusi dilakukan pada saat akhir pembelajaran dan pada waktu istirahat sekolah. Dari refleksi peneliti dan guru mata pelajaran sepakat untuk melakukan pengembangan discovery dengan penggunaan media yang lebih

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 menarik agar dapat meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran juga menaikkan persentase ketuntasan hasil belajar. 3. Siklus 2 Siklus dilaksanakan setelah tahap refleksi dari siklus 1 selesai. Perbedaan siklus 2 dan siklus 1 adalah pada bentuk pengembangan discovery dan kelompok saat pembelajaran di kelas. Siklus 2 dilaksanakan pada 2 Agustus 2013, 3 Agustus 2013, 6 Agustus 2013, dan 8 Agustus 2013. a. Perencanaan Perencanaan dilakukan pada akhir siklus 1. Peneliti pada penelitian ini tidak menggunakan waktu khusus untuk merencanakan pengembangan tindakan setelah evaluasi. Kisaran pengembangan sudah dipikirkan dan dipersiapkan pada 1 Agustus 2013. Peneliti pada siklus 2 ini mengembangkan media pembelajaran yang belum pernah dilakukan guru mata pelajaran yaitu dengan menampilkan video perkembangbiakkan virus dan mengadakan game. Peneliti juga menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) seperti pada siklus 1, menyiapkan lembar observasi, menyiapkan kuisioner minat, dan menyiapkan lembar kerja post test. Peneliti juga melakukan koordinasi dengan penanggungjawab aula sekolah untuk peminjaman proyektor dan ruangan tersebut guna diberlangsungkannya kegiatan pembelajaran.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan yang telah direncanakan dilaksanakan pada 2 Agustus 2013, 3 Agustus 2013 untuk materi reproduksi virus, dan 6 Agustus 2013 untuk materi peranan virus dalam kehidupan. Peneliti pada tahap stimulasi pertemuan reproduksi virus meminta siswa membaca LKS 3 yang pada poin pertama terdapat artikel reproduksi virus. Karena artikel tersebut terdiri dari tiga paragraf, peneliti meminta siswa dari kelompok 2, 4, dan 6 untuk membacakan masing-masing 1 paragraf. Untuk pertemuan yang membahas peranan virus, peneliti menggunakan game dan gambar pada LKS 4 sebagai stimulasi. Game yang diadakan adalah game mencocokkan kartu bergambar dan kartu nama penyakit. Siswa diminta dalam kelompoknya bekerja sama untuk mencocokkan kartu-kartu tersebut selama 1 menit. Dari game tersebut, kelompok yang berhasil menebak terbanyak dan benar akan mendapatkan reward dari peneliti. Setelah game usai, peneliti kembali meminta siswa untuk membandingkan gambar pada LKS 4 dan mengisi kolom-kolom pada poin stimulasi (jenis penyakit, penyebab, gejala, resiko penderita, cara penularan).

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Gambar 4.6 Suasana Kelas Tahap Stimulasi pada Pembelajaran Peranan Virus Pada tahap perumusan masalah, siswa diminta untuk menulis tahapan reproduksi virus. Setelah siswa selesai menjelaskan tahapan reproduksi yang diketahuinya, peneliti meminta siswa untuk mengolah data berdasarkan video yang akan ditampilkan. Peneliti juga menyarankan kepada siswa untuk mencatat poin-poin penting yang didapatkan dari video tersebut baik berupa kata kunci atau gambar. Pada perumusan masalah peranan virus, siswa diminta untuk mengidentifikasi peranan virus pada gambar sebelumnya. Peneliti juga menyediakan kolom rumusan tentang peranan positif, vaksin, prinsip kerja vaksin, dan contoh vaksin. Setelah merumusakan masalah, peneliti meminta siswa untuk mencari referensi dari literatur mengenai peranan virus di atas.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Gambar 4.7 Suasana Kelas Tahap Pengolahan Data pada Pembelajaran Reproduksi Virus Di tahap analisis data, peneliti pada pertemuan tentang reproduksi virus, memberikan waktu 15 menit kepada siswa untuk menganalisis reproduksi virus berdasarkan sumber video dan literatur kemudian menuliskan hipotesa barunya. Hal ini juga diberlakukan sama seperti pertemuan peranan virus. Peneliti pada kesempatan itu, memberikan waktu 15 menit kepada siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis peranan virus baik negatif maupun positif menjadi suatu hipotesa akhir yang baik.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Gambar 4.8 Suasana Kelas Tahap Analisis Data pada Pembelajaran Reproduksi Virus Saat verifikasi reproduksi virus, peneliti memberikan kesempatan kepada siswa-siswa untuk menjelaskan reproduksi virus. Saat itu siswa dari beberapa kelompok berlomba untuk mendapatkan kesempatan dan peneliti hanya memilih dua orang untuk menjelaskan. Karena siswa mampu menjelaskan dengan lengkap cara reproduksi virus, maka peneliti hanya menegaskan kembali apa yang dijelaskan oleh siswa-siswa tersebut. Selain itu peneliti juga menambahkan istilah sintesis untuk pembentukkan virus baru pada daur litik. Lain dengan verifikasi pada reproduksi virus, pada verifikasi peranan virus, peneliti cenderung lebih aktif karena sebagian besar siswa tidak mampu menjelaskan apa itu vaksin. Siswa pada umumnya menjelaskan vaksin seperti obat untuk menyembuhkan penyakit akibat infeksi virus. Peneliti kemudian mengumpulkan beberapa pendapat siswa mengenai vaksin. Peneliti lalu mengoreksi bahwasannya vaksin adalah salah satu bentuk manfaat peranan positif virus. Peneliti juga

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 menjelaskan kepada siswa bahwa vaksin bukanlah obat melainkan virus yang dilemahkan dengan proses Bioteknologi yang berguna utnuk membentuk antibodi tertentu. Peneliti juga menguhubungkan antara vaksin polio merupakan virus polio yang telah dikultur, yang jika diinjeksikan ke tubuh manusia, tubuh manusia akan membentuk antibodi untuk virus yang sama di kemudian hari. Beberapa pertanyaan mengenai peranan virus yang disampaikan siswa antara lain mengenai penyakit rosella, yellow fever, dan gondong. Peneliti saat itu juga menampilkan melalui smart phone beberapa penderita penyakit-penyakit yang bersangkutan dan menjelaskan gejala-gejala rosella, yellow fever, dan gondong. Untuk penyakit gondong, peneliti menampilkan gambar selaput otak dan tengkorak penderita gondong. Tahap generalisasi reproduksi virus dan peranan virus dilakukan peneliti dengan mengajak siswa untuk mengambil kesimpulan bersama dengan cara mereview muatan pembelajaran di masingmasing pertemuan. Setelah generalisasi selesai, peneliti mengumumkan waktu post test, membacakan kisi-kisi soal, dan membagikan kuisioner minat belajar c. Observasi Sama seperti siklus 1, beberapa kegiatan yang dilakukan selama observasi yaitu ikut memantau kegiatan siswa bersama observer. Pengisian data afektif dan psikomotorik dari kegiatan siswa dilakukan oleh observer. Peneliti tidak ikut mengisi lembar observasi melainkan

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 membantu observer mengamati kegiatan siswa selama pembelajaran. Adapun observer sering lupa mengisi sehingga peneliti harus sering mengontrol pengisian lembar observasi tersebut. Di akhir siklus 2 yaitu saat berakhirnya pembelajaran peranan virus, peneliti membagikan kuisioner untuk melihat perkembangan minat belajar siswa. Hasil kuisioner tersebut kemudian dinilai dan dianalisis oleh peneliti pada 9 Agustus 2013. Selain itu peneliti juga memberikan tes untuk menilai hasil belajar kognitif siswa pada siklus 2.Tes dilaksanakan pada 8 Agustus 2013. Lama waktu mengerjakan tes yang diberikan peneliti adalah 45 menit sama seperti siklus 1. Jumlah soal dan jenis soal yang diujikan sebanyak 17 soal dengan 15 soal pilihan ganda dan 2 soal esai. Saat post test ada seorang siswa yang menanyakan kepada peneliti soal pilihan ganda nomor 2. Siswa tersebut mempermasalahkan istilah perakitan pada option dengan sintesis DNA. Peneliti kemudian menghimbau ke seluruh siswa untuk membaca soal tersebut dan menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dari kedua kata tersebut adalah sama. Setelah post test selesai, peneliti mengumpulkan hasil post test dan memberi penilaian. Setelah menilai hasil tes, peneliti menganalisis hasil tes dengan melihat ketercapaian soal dari indikator kompetensi dan indikator kognitif serta menilai dan menganalisis minat belajar siswa kelas X-1.

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 d. Refleksi Refleksi dilakukan peneliti dengan mendiskusikan hasil penilaian dan analisis hasil belajar baik kognitif, afektif, dan psikomotorik serta minat belajar bersama guru mata pelajaran. Kegiatan pada refleksi ini tidak dilakukan pada waktu yang spesifik atau yang telah ditentukan. Diskusi dilakukan pada akhir pembelajaran dan waktu istirahat sekolah. Dalam diskusi guru mengungkapkan bahwasannya pengembangan ini berhasil meningkatkan minat dan hasil belajar meskipun tidak mencapai indikator penelitian namun guru jg mengungkapkan bahwasannya karena peranan virus merupakan sub materi terkahir maka penelitian ini hanya sampai pada siklus 2 dan penerapan pengembangan selanjutnya akan diterapkan guru pada materi lain. B. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Kondisi Awal Subjek Penelitian Indikasi minat terhadap pembelajaran Biologi ini sangat kurang dan terlihat pada saat peneliti melakukan perkenalan. Sebagian besar siswa acuh ketika peneliti mengajak untuk berinteraksi. Saat peneliti memberikan pre test, sebagian besar siswa menunjukkan usahanya dalam mengerjakan soal namun beberapa siswa terlihat kebingungan. Sehingga peneliti mengambil kesimpulan bahwa siswa kelas X-1 belum membaca materi virus meskipun sumber belajar sudah disediakan di

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 kelasnya. Kondisi ini menunjukkan bahwasannya minat untuk belajar Biologi sangat kurang. Selain minat belajar yang sangat kurang, hasil belajar yang tidak memuaskan. Secara logika memang besarnya perolehan ketuntasan tersebut dianggap wajar karena materi yang digunakan dalam tes belum dipelajari siswa pada pembelajaran. Pre test (tes awal) ini digunakan peneliti untuk melihat apakah siswa sudah memiliki pengetahuan mengenai virus dan sampai sejauh mana pengetahuan tersebut. 2. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus 1 a. Hasil Post Test Siklus 1 dilaksanakan dalam 5 kali pertemuan. Pertemuan ke1 dilaksanakan pada 27 Juli 2013, pertemuan ke-2 dilaksanakan pada 29 Juli 2013, pertemuan ke-3 dilaksanakan pada 30 Juli 2013, pertemuan ke-4 dilaksanakan pada 1 Agustus 2013, dan pertemuan ke-5 dilaksanakan pada 2 Agustus 2013. Masing-masing pertemuan berlangsung selama 1 × 45 menit. Pada pertemuan ke-5 peneliti mengadakan post test dan pembagian kuisioner untuk melihat perkembangan hasil dan minat belajar siswa selama siklus 1. Dari pemberian post test, peneliti mendapatkan hasil seperti pada tabel 4.3 berikut:

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Tabel 4.3 Deskripsi Hasil Post Test Siklus 1 No 1 2 3 4 5 6 Aspek Nilai Tertinggi Nilai Terendah ∑ Siswa Tuntas ∑ Siswa Tidak Tuntas Persentase Ketuntasan Rata-rata Hasil 100 52 16 13 55,17 % 76,55 Yang diharapkan ≥ 75 % ≥ 75 Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa hasil belajar pada akhir siklus 1 mencapai 55,17 % ketuntasan atau sebanyak 16 siswa yang tuntas dari 29 siswa kelas X-1. Rata-rata yang dicapai pada post test siklus 1 sebesar 76,55. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa pada tes tersebut adalah sebesar 100 dan nilai terendah sebesar 52. Menurut data pada lampiran 6, nilai yang paling banyak diperoleh siswa berkisar antara 60 – 69 dengan jumlah siswa 12 orang dan masuk pada kategori cukup dan tidak tuntas. Dari 16 siswa yang tuntas pada post test siklus 1, sebanyak 10 siswa ada pada kategori sangat baik yaitu dengan kisaran nilai 81 – 100. Siswa tuntas dengan kategori baik sebanyak 6 orang dengan kisaran nilai 70 – 80. Telah peneliti sebutkan sebelumnya bahwa selain menilai hasil tes, peneliti juga menganalisis hasil tes tersebut menurut indikator kompetensi dan kemampuan kognitif maka dapat dijabarkan seperti pada tabel 4.4 berikut:

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Tabel 4.4Analisis Hasil Post Test Siklus 1 Berdasarkan Indikator Kompetensi dan Indikator Kognitif INDIKATOR KOMPETENSI NO SOAL Menjelaskan sejarah penemuan virus Menyebutkan nama ilmuwan yang berperan dalam proses penemuan virus Menyebutkan ciriciri virus Menjelaskan bagian tubuh virus INDIKATOR KOGNITIF SKOR KELAS % KETERCAPAIAN SOAL I.1 I.7 I.11 1.12 C2 C1 C1 C2 25 29 28 27 86,2 % 100 % 96,6 % 93,1 % I.3 C2 11 37,9 % I.2 I.5 I.14 I.15 II.2 I.4 I.6 I.8 I.9 I.10 I.13 II.1 C1 C3 C2 C1 C2 C2 C2 C1 C4 C2 C2 C1 23 28 10 16 144* 16 22 16 13 19 25 104* 79,3 % 96,6 % 34,5 % 55,2 % 99,3 % 55,2 % 75,9 % 55,2 % 44,8 % 65,5 % 86,2 % 71,7 % Keterangan: *) skor esai dihitung berdasarkan total skor dibagi dengan skor maksimal (misalnya 110 : 160 ( ×100%) = 68,8%) Tabel 4.4 menunjukkan beberapa indikator yang telah dikuasai siswa adalah indikator menjelaskan sejarah penemuan virus, indikator menyebutkan nama-nama ilmuwan yang berperan dalam proses penemuan virus, dan indikator menjelaskan bagian tubuh virus. Masing-masing indikator memuat ketercapaian yang berbeda. Pada indikator menjelaskan sejarah penemuan virus, hampir

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 seluruh siswa mampu menjawab soal yang berhubungan seperti pada soal nomor 1 dengan ketercapaian 86,2 %, nomor 7 dengan ketercapaian 100 %, nomor 11 dengan ketercapaian 96,6 %, nomor 12 dengan ketercapaian 93,1 %. Pada indikator menyebutkan ciriciri virus terdapat beberapa soal yang mampu dijawab sebagian besar siswa namun ada juga yang sebaliknya. Misalnya nomor 2 mampu dijawab 79,3 % siswa kelas X-1, nomor 5 sebanyak 96,6 %, nomor 14 sebanyak 34,5 %, nomor 15 sebanyak 55,2 %, dan nomor 2 (esai) mampu dijawab 99,3 % siswa. Pada indikator menjelaskan bagian tubuh virus, terdapat 16 atau 55,2 % siswa berhasil menjawab nomor 4, 22 atau 75,9 % siswa berhasil menjawab nomor 6, 16 atau 55,2 % siswa berhasil menjawab nomor 8, 13 atau 44,8 % siswa berhasil menjawab nomor 9, dan yang tertinggi sebanyak 86,2 % atau 25 siswa berhasil menjawab soal nomor 13. Pencapaian siswa yang tertinggi ada pada indikator menjelaskan sejarah penemuan virus yaitu sebesar 100 % tetapi pada indikator menyebutkan ciri-ciri virus terdapat pencapaian terendah yaitu 34,5 % b. Hasil Observasi Selain hasil belajar kognitif, peneliti juga menilai hasil belajar afektif dan psikomotorik melalui observasi pembelajaran. Observasi dilakukan saat berlangsungnya proses pembelajaran dari

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 tahap stimulasi pada awal pembelajaran sampai tahap generalisasi pada akhir pembelajaran. Pada siklus 1 ini observasi dilakukan selama empat kali yaitu pada 27 Juli 2013, 29 Juli 2013 untuk observasi 1 dan 30 Juli 2013, 1 Agustus 2013 untuk observasi 2. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer selama siklus 1, peneliti mendapatkan hasil belajar afektif dan psikomotorik sebagaimana yang diuraikan pada tabel 4.5 berikut: Tabel 4.5 Deskripsi Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Observasi 1 Siklus 1 No 1 2 3 4 5 6 Aspek Hasil Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah Siswa Kategori Baik Jumlah Siswa Kategori Sangat Baik Rata-rata Persentase 94 77 15 Diharapkan - 14 84,68 100 % ≥ 75 ≥ 75 % Pada observasi 1 yang dilaksanakan pada pertemuan 1 dan 2, terlihat perolehan hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa kelas X-1 berhasil mencapai kategori baik (B) dan sangat baik (SB). Perolehan hasil belajar afektif psikomotorik dengan kategori baik pada kisaran nilai 70 – 80 berhasil dicapai oleh 15 orang atau sebanyak 51,72 % dari 29 siswa. Untuk siswa-siswa lainnya masuk pada kisaran nilai 81 -100 pada kategori sangat baik juga sebanyak 14 orang dari jumlah siswa kelas X-1.

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jika melihat analisis indikator hasil belajar 90 afektif psikomotorik pada tabel 4.6 akan jelas bahwa pencapaian tersebut tidak terlepas dari perolehan ketercapaian indikator hasil belajar ranah tersebut. Tabel 4.6 Analisis Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Indikator pada Observasi 1 Siklus 1 No. 1 2 3 4 5 6 Indikator Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Menunjukkan sikap menerima Menganggap penting Pernyataan Ketercapaian Menunjukkan kesediaan berpartisipasi Kesediaan memanfaatkan Keterampilan bergerak dan bertindak Kecakapan ekspresif (verbal dan nonverbal) 3, 20 4, 7, 9, 16, 19 5, 6, 8, 12, 14, 15 1, 10, 11 18 2, 13, 17 96,6 % 85,8 % 82,4 % 81,8 % 65,5 % 89,9 % Data pada tabel 4.6 menunjukkan 96,6 % siswa kelas X-1 menunjukkan sikap menerima, 85,8 % menunjukkan sikap menganggap penting, 82,4 % menunjukkan kesediaan berpartisipasi, 81,8 % menunjukkan kesediaan memanfaatkan, 65,5 % menunjukkan keterampilan bergerak dan bertindak, 89,9 % menunjukkan kecakapan ekspresif melalui cara bicara dan tata tulis. Observasi 2 dilakukan saat pembelajaran ciri-ciri dan bagian tubuh virus. Karena waktu pertemuan yang terbatas, observasi 2 ini

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 dilakukan selama 2 pertemuan untuk menggenapi rangakaian discovery. Hasil belajar afektif dan psikomotorik yang diperoleh melalui observasi 2 dapat dijabarkan seperti pada tabel 4.7 berikut: Tabel 4.7 Deskripsi Hasil Belajar Afektif dan Psikomotorik Berdasarkan Observasi 2 Siklus 1 No 1 2 3 4 5 6 Aspek Hasil Diharapkan Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah Siswa Kategori Baik Jumlah Siswa Kategori Sangat Baik Rata-rata Persentase 96 91 0 - 29 - 92,62 100 % ≥ 75 ≥ 75 % Pada pertemuan 3 dan 4, observasi 2 dilakukan. Data dari observasi menunjukkan sebanyak 29 siswa dari jumlah siswa kelas X-1 berhasil memperoleh hasil belajar afektif dan psikomotorik pada kisaran nilai 81 – 100 dan tergolong dalam kategori sangat baik. Pada observasi 2 diperoleh rata-rata sebesar 92,62 yang tentunya lebih besar dibanding observasi 1 dan berhasil mencapai target yang diharapkan. Selain nilai afektif dan psikomotorik, telah peneliti sajikan ketercapaian hasil belajar afektif dan psikomotorik berdasarkan masing-masing indikatornya seperti yang ada pada tabel 4.8 di bawah ini:

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Tabel 4.8 Analisis Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Indikator pada Observasi 2 Siklus 1 No. 1 2 3 4 5 6 Indikator Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Menunjukkan sikap menerima Menganggap penting Menunjukkan kesediaan berpartisipasi Kesediaan memanfaatkan Keterampilan bergerak dan bertindak Kecakapan ekspresif (verbal dan nonverbal) Pernyataan Ketercapaian 3, 20 4, 7, 9, 16, 19 5, 6, 8, 12, 14, 15 1, 10, 11 18 2, 13, 17 100 % 98,6 % 94 % 91,3 % 63,4 % 84,6 % Tabel 4.8 memperlihatkan bahwasannya ketercapaian di beberapa indikator mengalami peningkatan seperti pada indikator menunjukkan sikap menerima sebesar 100 %, menganggap penting sebesar 98,6 %, kesediaan berpartisipasi sebesar 94 %, kesediaan memanfaatkan sebesar 91,3 %. Akan tetapi pada indikator keterampilan bergerak dan bertindak turun menjadi 63,4 % serta kecakapan ekspresif menurun menjadi 84,6 %. c. Hasil Kuisioner Minat Belajar Minat belajar diperoleh melalui pengisian kuisioner oleh siswa yang dibagikan peneliti pada 1 Agustus 2013 menjelang akhir siklus 1. Kuisioner di siklus 1 ini akan digunakan untuk mendapatkan data minat belajar yang dimiliki siswa dan sekaligus menjadi pembanding minat belajar setelah siklus 2. Data minat yang didapatkan dapat dilihat di tabel 4.9 sebagai berikut:

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Tabel 4.9 Deskripsi Minat Belajar Kelas X-1 Siklus 1 No 1 2 3 4 5 Aspek Skor tertinggi Skor terendah Jumlah siswa berminat sangat berminat Skor Rata-rata Persentase Minat dan Hasil Diharapkan 92 60 24 ≥ 24 78 82,75 % ≥ 75 ≥ 75 % Dari hasil penilaian minat didapatkan sebanyak 24 siswa kelas X-1 tergolong dalam kategori berminat dan sangat berminat. Dari 24 siswa siswa tersebut jika persentasekan maka menjadi 82,75 %. Persentase tersebut sudah memenuhi target persentase minat pada penelitian ini. Jika melihat skor minat siswa kelas X-1 pada tabel 4.7 atau pada lampiran 8 dapat disimpulkan bahwa peroleh skor tertinggi mencapai angka 92 dan perolehan skor terendah adalah 60. Rata-rata dari seluruh skor minat kelas X-1 adalah 78. Bertolak dari data minat belajar yang diperoleh, peneliti kemudian mengidentifikasi dan menganalisis jenis minat yang dimiliki siswa kelas X-1. Jenis minat disesuaikan dengan indikator minat yaitu minat yang ditunjukkan dengan keinginan mengetahui sesuatu, minat yang ditunjukkan dengan usaha untuk merealisasikan keinginan, dan minat yang ditunjukkan dengan partisipasi dalam suatu kegiatan. Hasil identifikasi dan analisis tersebut dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut:

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Tabel 4.10 Analisis Minat Belajar Siklus 1 Berdasarkan Indikator Minat No. 1 2 3 Indikator Minat Belajar Pernyataan Persentase Keinginan untuk mengetahui sesuatu Usaha untuk merealisasikan keinginan 6, 7, 11, 17, 20 1, 3, 9, 10, 12, 13, 14, 16, 18, 19 2, 4, 5, 8, 15 89,9 % Partisipasi dalam suatu kegiatan Berdasarkan hasil analisis pada tabel 73,4 % 75,4 % 4.10, dapat diidentifikasi jenis minat yang dimiliki siswa kelas X-1 berdasarkan persentase dari masing-masing indikator di atas. Hasilnya sebanyak 89,9 % siswa kelas X-1 menunjukkan minat dengan keinginannya untuk mengetahui sesuatu, 73,4 % siswa kelas X-1 menunjukkan minat belajar dengan usaha merealisasikan keinginannya, dan sebanyak 75,4 % siswa menunjukkan minat belajar dengan partisipasi dalam suatu kegiatan. Dari sekian persentase indikator minat tersebut, dapat disimpulkan hampir sebagian besar siswa menunjukkan minat dengan ketiga cara di atas.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 3. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus 2 a. Hasil Post Test Berdasarkan post test di akhir siklus 2 yang dilaksanakan pada 8 Agustus 2013, didapatkan hasil sebagaimana yang dijabarkan melalui tabel 4.11 berikut: Tabel 4.11 Deskripsi Hasil Post Test Siklus 2 No 1 2 3 4 5 6 Aspek Nilai Tertinggi Nilai Terendah ∑ Siswa Tuntas ∑ Siswa Tidak Tuntas Persentase Ketuntasan Rata-rata Jika Yang diharapkan ≥ 75 % ≥ 75 Hasil melihat 96 48 20 9 68,96 % 78 tabel 4.11 di atas, bisa disimpulkan bahwasannya penelitian yang dilakukan belum mencapai indikator ketercapaian yang diharapkan khususnya aspek persentase ketuntasan. Namun aspek rata-rata berhasil mencapai target dengan perolehan sebesar 78. Pada tes yang dilakukan di akhir siklus 2, perolehan nilai tertinggi mencapai 96 dan nilai terendah adalah 48. Data lain dari lampiran 6 menunjukkan bahwa perolehan nilai dengan kategori sangat baik yaitu nilai yang ada pada range 81 – 100 sebanyak 12 siswa dengan persentase 41,4 % dari seluruh nilai siswa kelas X-1. Perolehan nilai dengan kategori baik yaitu pada range 70 – 80 mencapai 27,6 % atau 8 siswa dari sekian nilai siswa kelas X-1.

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Selain menilai hasil tes, peneliti juga menganalisis hasil tes tersebut untuk melihat kemampuan siswa di tiap indikator kompetensi dan indikator kognitif. Hasil analisis tersebut seperti yang telah diuraikan dalam tabel 4.12 berikut: Tabel 4.12 Analisis Hasil Post Test Siklus 2 Berdasarkan Indikator Kompetensi dan Indikator Kognitif INDIKATOR KOMPETENSI I.1 I.2 I.5 I.7 I.12 I.4 I.6 I.10 I.15 II.1 C2 C2 C2 C1 C1 C2 C2 C1 C2 C4 26 23 27 29 29 6 26 16 29 86* % KETERCAPAIAN SOAL 89,6 % 79,3 % 9318 % 100 % 100 % 20,7 % 89,6 % 55,2 % 100 % 59,3 % I.3 I.13 I.14 C2 C2 C2 24 28 23 82,8 % 96,6 % 79,3 % I.8 I.11 II.2 C2 C3 C2 19 28 125* 65,5 % 96,6 % 86,2 % I.9 C3 22 75,9 % NO SOAL Menjelaskan cara perkembangbiakkan virus Menyebutkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus Menjelaskan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus Menjelaskan prinsip kerja vaksin Meyebutkan contoh vaksin dan kegunaannya INDIKATOR KOGNITIF SKOR KELAS Keterangan: *) skor esai dihitung berdasarkan total skor dibagi dengan skor maksimal (misalnya 110 : 160 ( ×100%) = 68,8%) Tabel 4.12 menunjukkan bahwa sebanyak 29 siswa kelas X-1 berhasil menjawab dengan baik soal yang berhubungan dengan indikator menjelaskan cara perkembangbiakkan virus. Hal tersebut

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 dibuktikan dengan sebanyak 26 siswa menjawab benar pada nomor 1 atau 89,6 % siswa berhasil menjawab soal nomor 1. Selain nomor 1, nomor 2 juga mampu dijawab sebanyak 79,3 % siswa, nomor 5 mampu dijawab sebanyak 93,1 %, nomor 7 dan 12 mampu dijawab sebanyak 100 % siswa. Pada indikator menyebutkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus yaitu pada nomor 4 mampu dijawab sebanyak 20,7 %, nomor 6 mampu dijawab sebanyak 89,6 %, nomor 10 mampu dijawab sebanyak 55,2 %, nomor 15 mampu dijawab sebanyak 100 %, dan nomor 1 esai sebanyak 59,3 %. Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa nomor 12 dan nomor 15 merupakan nomor yang mampu dijawab oleh seluruh siswa kelas X-1. Untuk pencapaian terendah terdapat pada indikator menyebutkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus yaitu nomor 4 sebesar 20,7 %. Pada indikator menjelaskan prinsip kerja vaksin, pencapaian tertinggi ada pada nomor 11 sebesar 96,6 % dan pencapaian terendah pada nomor 8 sebesar 65,5 % b. Hasil Observasi Observasi pembelajaran di siklus 2 dilakukan selama pertemuan 1 dan 2 dan pertemuan 3. Observasi 1 digunakan untuk menilai hasil belajar afektif psikomotorik siswa pada pertemuan 1 dan 2. Observasi 2 dilakukan untuk menilai hasil belajar afektif psikomotorik siswa pada pertemuan 3. Dari pengamatan yang

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 dilakukan observer selama observasi didapatkan data seperti pada tabel 4.13 berikut: Tabel 4.13 Deskripsi Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Observasi 1 pada Siklus 2 No 1 2 3 4 5 6 Aspek Hasil Diharapkan Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah Siswa Kategori Baik Jumlah Siswa Kategori Sangat Baik Rata-rata Persentase 93 81 0 - 29 - 87,44 100 % ≥ 75 ≥ 75 % Berdasarkan tabel 4.13 di atas, terlihat hasil belajar afektif dan psikomotorik pada pertemuan 1 dan 2 siklus 2 memperoleh nilai tertinggi sebesar 93 dan nilai terendah adalah 81. Seluruh perolehan nilai pada hasil observasi tersebut masuk dalam kategori sangat baik. Rata-rata hasil belajar afektif psikomotorik sebesar 87,44 dan persentase yang diperoleh sebesar 100 %. Jika dibandingkan dengan indikator ketercapaian yang ditargetkan peneliti, hasil belajar ranah afektif psikomotorik sudah tercapai. Dari analisis yang dilakukan oleh peneliti terhadap hasil belajar afektif psikomotorik yang diperoleh melalui observasi, ditemukan hasil seperti pada tabel 4.14 berikut:

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Tabel 4.14 Analisis Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Indikator pada Observasi 1 Siklus 2 No. 1 2 3 Indikator Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Menunjukkan sikap menerima Menganggap penting Menunjukkan kesediaan berpartisipasi Kesediaan memanfaatkan Keterampilan bergerak dan bertindak Kecakapan ekspresif (verbal dan nonverbal) 4 5 6 Pernyataan Ketercapaian 3, 20 4, 7, 9, 16, 19 5, 6, 8, 12, 14, 15 1, 10, 11 100 % 93,1 % 88,2 % 80,2 % 18 50,3 % 2, 13, 17 87,8 % Tabel 4.14 menjelaskan tentang beberapa indikator yang diamati selama observasi pembelajaran di siklus 2. Hasil analisis menunjukkan sebanyak 100 % atau 29 siswa kelas X-1 menunjukkan sikap menerima melalui pernyataan pada nomor 3 dan 20. Siswa sebanyak 93,1 % juga menunjukkan sikap menganggap penting dari pernyataan nomor 4, 7, 9, 16, dan 19. Pada observasi 2 siklus 2 yang dilaksanakan pada 6 Agustus 2013, didapatkan data sebagaimana yang disajikan pada tabel 4.15 berikut: Tabel 4.15 Deskripsi Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Observasi 2 Siklus 2 No 1 2 3 4 5 6 Aspek Hasil Diharapkan Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah Siswa Kategori Baik Jumlah Siswa Kategori Sangat Baik Rata-rata Persentase 99 81 0 29 92,10 100 % ≥ 75 ≥ 75 %

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Pada observasi 2 siklus 2 diperoleh hasil berupa rata-rata sebesar 92,10 yang lebih tinggi dibanding observasi 1, persentase ketuntasan hasil belajar juga tetap bertahan yaitu 100%. Dari pembelajaran tersebut juga diperoleh nilai tertinggi dan nilai terendah yaitu sebesar 99 dan 81. Seluruh perolehan hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa kelas X-1 masuk pada kategori sangat baik yaitu pada rentang nilai 81-100. Dari hasil belajar yang diperoleh tersebut, peneliti kemudian menganalisis berdasarkan indikator hasil belajar afektif dan psikomotorik untuk menilai jenis kemampuan afektif psikomotorik yang dimiliki siswa kelas X-1. Hasil analisis disajikan dalam tabel 4.16 sebagai berikut: Tabel 4.16 Analisis Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Berdasarkan Indikator pada Observasi 2 Siklus2 No. 1 2 3 4 5 6 Indikator Hasil Belajar Afektif Psikomotorik Menunjukkan sikap menerima Menganggap penting Menunjukkan kesediaan berpartisipasi Kesediaan memanfaatkan Keterampilan bergerak dan bertindak Kecakapan ekspresif (verbal dan nonverbal) Pernyataan Ketercapaian 3, 20 4, 7, 9, 16, 19 5, 6, 8, 12, 14, 15 1, 10, 11 18 2, 13, 17 98,6 % 92,6 % 94,8 % 88,5 % 80 % 89,2 % Dari tabel 4.16 di atas, dapat dilihat kemampuan dan keterampilan yang ditunjukkan siswa saat pembelajaran peranan virus di siklus 2, yaitu sebanyak 98,6 % siswa kelas X-1

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 menunjukkan sikap menerima terhadap pembelajaran dengan tindakan tertentu seperti pada pernyataan 3 dan 20, selain itu sebanyak 92,6 % siswa juga menunjukkan bahwa mereka menganggap penting pembelajaran seperti pada pernyataan 4, 7, 9, 16, 19. Saat proses pembelajaran siswa kelas X-1 sebanyak 94,8 % menunjukkan kesediaan untuk berpartisipasi. Indikator lain seperti kesediaan untuk memanfaatkan baik memanfaatkan waktu dan sumber belajar juga diperlihatkan 88,5 % siswa kelas X-1. Untuk indikator psikomotorik seperti keterampilan bergerak dan bertindak serta kecakapan ekspresif mampu dibuktikan oleh 80 % dan 89,2 % siswa kelas X-1. c. Hasil Kuisioner Minat Belajar Untuk menilai minat belajar siswa pada siklus 2, peneliti pada 6 Agustus 2013 membagikan kuisioner kepada siswa kelas X1 untuk diisi secara pribadi. Setelah kuisioner tersebut didapatkan hasil seperti yang disajikan pada tabel 4.17 berikut: Tabel 4.17 Deskripsi Minat Belajar Kelas X-1 Siklus 2 No 1 2 3 4 5 Aspek Skor tertinggi Skor terendah Jumlah siswa berminat sangat berminat Skor Rata-rata Persentase Minat dan Hasil Diharapkan 97 62 27 - 84,10 93,10 % ≥ 75 %

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Minat belajar dikatakan sebagai salah satu faktor yang berpengaruh tehadap hasil belajar siswa. Melalui penilaian minat ini, dapat diketahui hubungan minat dengan hasil belajar. Minat belajar pada siklus 2 ditunjukkan dengan 93,10 % siswa kelas X-1 atau 27 siswa masuk dalam kategori siswa yang berminat dan sangat berminat. Hal ini didukung dengan rata-rata skor yang mencapai angka 84,10. Skor minat tertinggi mencapai 97 dan skor terendah ada pada angka 62. Perolehan minat belajar tersebut kemudian dianalisis berdasarkan indikator minat dan menemukan hasil seperti pada tabel 4.18 berikut: Tabel 4.18 Analisis Minat Belajar Siklus 2 Berdasarkan Indikator Minat No. 1 2 3 Indikator Minat Belajar Pernyataan Persentase Keinginan untuk mengetahui sesuatu Usaha untuk merealisasikan keinginan 6, 7, 11, 17, 20 1, 3, 9, 10, 12, 13, 14, 16, 18, 19 2, 4, 5, 8, 15 91,7 % Partisipasi dalam suatu kegiatan 80,3 % 82,8 % Minat yang dimiliki siswa kelas X-1 pada siklus 2 ini ditunjukkan dengan keinginan untuk mengetahui sesuatu sebesar 91,7 %, setelah memiliki keinginan tentunya diperlukan usaha untuk merealisasikan keinginan tersebut yang rumuskan dalam pernyataan 1, 3, 9, 10, 12, 13, 14, 16, 18, dan 19. Jika dihubungkan indikator usaha maka diperoleh 80,3 % siswa kelas X-1 yang

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 menunjukkan minat dengan usaha merealisasikan keinginannya. Selain itu sebanyak 82,8 % siswa kelas X-1 juga menunjukkan minat dengan berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan minatnya tehadap Biologi. C. Pembahasan Objek penelitian tindakan kelas ini adalah minat dan hasil belajar yang diamati dari siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng sebagai subjeknya. Menurut Sudarsono (2003) minat merupakan bentuk sikap ketertarikan terhadap sesuatu dan berusaha terlibat dalam kegiatan karena menyadari penting atau bernilainya kegiatan tersebut. Jika dikaitkan dengan konteks pembelajaran maka minat belajar merupakan bentuk sikap yang mengungkapkan ketertarikan siswa terhadap suatu pembelajaran atau mata pelajaran. Sikap tersebut umumnya diperlihatkan dengan keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Uraian di atas juga didukung oleh Surya (2010) dengan pendapatnya yang mengungkapkan bahwa minat merupakan salah satu faktor yang menggerakkan siswa untuk melakukan aktivitas belajarnya sehingga dapat disimpulkan bahwasannya minat belajar dan hasil belajar adalah dua hal yang saling berhubungan. Hasil belajar bisa tercapai dengan baik ketika siswa memiliki minat untuk mengetahui apa yang dipelajarinya dan berusaha untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan siswa tersebut dalam pembelajaran yang diminatinya.

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Seperti yang diketahui bahwasannya minat bukan menjadi sesuatu yang tetap dalam diri seseorang sehingga minat dapat diubah ataupun ditumbuhkan. Cara yang dilakukan peneliti pada penelitian ini adalah dengan menggunakan strategi discovery yang mengajak siswa menemukan konsep pengetahuannya sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Djamarah (2002) bahwa minat belajar dapat ditumbuhkan dengan cara menghubungkan bahan pelajaran dengan pengalaman dan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif. Discovery secara teori memiliki kemungkinan besar dalam menumbuhkan minat belajar, karena menurut peneliti pembelajaran dengan discovery dapat memberi pengalaman kepada siswa sehingga dapat memicu tumbuhnya minat. Selain itu discovery juga mengharuskan siswa menemukan konsep pengetahuan selama proses pembelajaran dari berbagai sumber. Minat yang tumbuh tersebut nantinya akan memotivasi siswa untuk melakukan proses pembelajaran dengan baik sehingga hasil belajar yang diperoleh juga akan baik. Pada siklus 1, perolehan ketuntasan hasil belajar kognitif sebesar 55,17 % yang diperoleh siswa kelas X-1 secara langsung menjelaskan bahwa pemberian tindakan discovery pada siklus 1 belum berhasil mencapai indikator ketercapaian yang menargetkan ketuntasan sebesar ≥ 75 %. Berkenaaan dengan tidak tercapainya target penelitian tersebut peneliti kemudian melakukan analisis terhadap hasil belajar kognitif tersebut. Setelah menganalisis hasil belajar koginitif siklus 1, peneliti mendapatkan beberapa hal penting yang nantinya digunakan sebagai tolak

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 ukur pengembangan discovery di siklus 2 untuk mencapai indikator ketercapaian penelitian ini. Hasil analisis kognitif telah memperlihatkan bahwasannya dari seluruh indikator kompetensi terdapat beberapa indikator yang menjadi kendala dalam pencapaian target penelitian, yaitu menyebutkan nama ilmuwan yang berperan dalam proses penemuan virus dan menjelaskan bagian tubuh virus. Kedua indikator tersebut yang secara umum memiliki beberapa ketercapaian yang tergolong rendah. Pada indikator tersebut meskipun terdapat pencapaian 65,5 %, 71,7 %, 75,9 %, dan 86,2 % akan tetapi ada pula pencapaian yang hanya sebesar 37,9 %, 44,8 % dan 55,2 % pada beberapa nomor soal. Hal ini menandakan bahwasannya materi yang bersangkutan dengan indikator tersebut belum sepenuhnya dikuasai siswa. Temuan lain dapat dipertimbangkan dengan melihat analisis pencapaian hasil belajar kognitif bedasarkan tingkat kemampuan kognitif. Faktanya dari hasil analisis kemapuan kognitif dapat disimpulkan bahwa soal dengan tingkat analisis, atau pemahaman, atau ingatan kurang berpengaruh secara signifikan terhadap pencapaian yang diperoleh kelas X-1 dari setiap soal. Pada tabel analisis hasil belajar kognitif (tabel 4.4 dan tabel 4.12) telah diperlihatkan bahwa soal dengan tingkat ingatan, tingkat pemahaman, aplikasi, dan analisis mampu dijawab siswa dengan baik meskipun ada beberapa soal yang tidak mampu dijawab benar oleh siswa. Logika tersebut menjelaskan bahwasanya pada siklus 1, masalah siswa bukan terletak pada tingkat kemampuan kognitif melainkan muatan materi

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 tertentu yang belum sepenuhnya dikuasai siswa. Penguasaan terhadap materi memperlihatkan pengaruh yang cukup besar pada hasil belajar siklus 1. Dalam usaha untuk mengatasi kelemahan tersebut, peneliti telah mencoba mengembangkan discovery dengan mengkombinasikan strategi discovery dengan media pembelajaran yang lebih menarik. Alasan pemilihan bentuk pengembangan ini karena minat siswa cenderung timbul ketika pembelajaran yang dilakukannya terkesan lebih menarik dan kreatif. Untuk membuat suatu pembelajaran yang kreatif peneliti menggunakan bantuan media pembelajaran serta game sehingga siswa dapat tertarik untuk melakukan pembelajaran. Pada siklus 1 peneliti menggunakan artikel dan poster berwarna untuk merangsang minat belajar siswa karena sekolah tidak menyediakan fasilitas belajar yang mendukung di setiap kelas. Akan tetapi jenis media tersebut tidak begitu efektif sehingga siswa kurang terpacu minatnya terhadap pembelajaran, sehingga hasil belajar yang diperoleh tidak mampu mencapai target yang ditentukan. Maka dari itu diperlukan pengembangan discovery dengan media pembelajaran yang lebih menarik bertujuan untuk membantu siswa dalam mengingat dan memahami muatan materi pembelajaran dengan lebih baik. Setelah melaksanakan pengembangan discovery pada siklus 2, hasil belajar yang didapat mengalami peningkatan yang cukup baik dengan ketuntasan sebesar 68,96 % dengan rata-rata 78. Meningkatnya hasil belajar kognitif ini tentu tidak terlepas dari pengaruh pengembangan yang

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 direncanakan pada siklus 2. Perbandingan hasil belajar kognitif tersebut dapat dilihat pada gambar 4.9 sebagai berikut: HASIL BELAJAR KOGNITIF SIKLUS 1 DAN SIKLUS 2 78 55.17 SIKLUS 1 68.96 PERSENTASE 76.55 RATA-RATA SIKLUS 2 Gambar 4.9 Perbadingan Hasil Belajar Kognitif Siklus 1 dan Siklus 2 Diketahui hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini selain hasil belajar kognitif juga ada hasil belajar afektif dan psikomotorik. Dari rata-rata hasil belajar afektif dan psikomotorik yang pada siklus 1 sebesar 84,68 dan 92,62 mengalami penurunan pada awal siklus 2 sebesar 87,44 dan kembali meningkat pada akhir siklus 2 sebesar 92,10 seperti yang dapat dilihat pada gambar 4.10 berikut:

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 HASIL BELAJAR AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK SIKLUS 1 DAN SIKLUS 2 RATA-RATA 2 84.68 87.44 92.1 92.62 RATA-RATA 1 SIKLUS 1 SIKLUS 2 Gambar 4.10 Perbandingan Hasil Belajar Afektif Psikomotorik pada Siklus 1 dan Siklus 2 Pada kenyataannyahasil yang diperoleh tersebut dapat digolongkan tidak relevan karena mengalami penurunan setelah dilakukan pengembangan discovery. Akan tetapi secara umum hasil belajar afektif dan psikomotorik tersebut berhasil mencapai indikator ketercapaian penelitian. Penurunan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor baik internal seperti kesehatan siswa dan kondisi siswa juga faktor eksternal seperti tugas siswa diluar rumah mengingat beberapa faktor yang menentukan hasil belajar siswa selain minat seperti yang dikemukakan oleh Slameto (2010). Alasan peneliti mengangkat masalah di atas, karena pada beberapa waktu di bulan Agustus, siswa sedang mempersiapkan berbagai acara penting yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Seminari San Dominggo Hokeng. Atas dasar alasan tersebut peneliti menyatakan bahwa selama pelaksanaan pembelajaran di siklus 2, siswa dalam keadaan yang kurang baik sehingga kemampuan afektif dan psikomotoriknya menurun.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 Hal tersebut dapat dihubungankan dengan penerimaan siswa yang pada siklus 1 mencapai 100 %, pada siklus 2 hanya mencapai 98,1 %. Selain itu salah satu indikator afektif seperti kesediaan memanfaatkan yang ditunjukkan dengan mengumpulkan tugas tepat waktu, masuk kelas tepat waktu pada siklus 1 mampu ditunjukkan oleh 91,3 % siswa menurun pada siklus 2 mencapai 88,5 %. Kesimpulannya meskipun hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa pada dua siklus ini sangat baik, tetapi pengaruh faktor-faktor tersebut membuat penurunan hasil belajar afektif dan psikomotorik. Sehubungan dengan terjadinya peningkatan hasil belajar kognitif dan tercapainya hasil belajar afektif dan psikomotorik, minat belajar siswa pun mengalami peningkatan dari siklus 1 dan siklus 2. Meningkatnya minat tersebut ternyata berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram berikut: HUBUN G A N PE N I N G K ATA N MI N AT DA N HA SI L BE LA JA R % HASIL BELAJAR KOGNITIF RATA-RATA SIKLUS 1 78 68.96 55.17 76.55 82.75 93.1 % MINAT SIKLUS2 Gambar 4.11 Hubungan Peningkatan Minat dan Hasil Belajar pada Siklus 1 dan Siklus 2

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Perolehan peningkatan minat dan hasil belajar kognitif serta tercapainya hasil belajar afektif dan psikomotorik didapatkan melalui serangkaian tindakan dalam discovery. Seperti yang diketahui bahwasannya belajar adalah kata kerja yang menggambarkan usaha membuat perubahan tingkah laku dan kecakapan baik melalui tindakan dan latihan. Di dalam discovery, siswa berlatih untuk menemukan pengetahuan melalui kecakapannya dalam berpikir dan bertindak. Di dalam discovery juga, siswa akan mengalami berbagai pengalaman dalam membentuk suatu konsep pengetahuan. Pernyataan tersebut sama seperti yang diungkapkan oleh Chaplin dalam Syah (2003) bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku sebagai akibat latihan dan pengalaman. Dalam berpartisipasi prosesnya, secara discovery aktif, mengharuskan menggunakan segala siswa untuk kecakapan dan keterampilan (afektif dan psikomotorik) untuk menemukan suatu pengetahuan. Hal tersebut sejalan dengan kenyataan mengenai hasil penelitian. Kesimpulan dari pembahasan ini adalah strategi discovery merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa baik kognitif, afektif, dan psikomotorik.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Setelah melalui berbagai rangkaian penelitian, peneliti mendapatkan beberapa poin penting dari penelitian ini antara lain: 1. Strategi discovery mampu meningkatkan minat belajar siswa kelas X1 SMA Seminari San Dominggo Hokeng pada materi virus. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan persentase minat sebesar 82,75 % dan rata-rata minat sebesar 78 pada siklus 1 menjadi 93,10 % dengan rata-rata sebesar 84,10 pada siklus 2. 2. Strategidiscovery dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Seminari San Dominggo Honkeng pada materi virus. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan persentase ketuntasan hasil belajar kognitif dari siklus 1 ke siklus 2, yaitusebesar 55,17 % menjadi 68,96 % dengan rata-rata 76,55 menjadi 78. Strategi discovery juga menghasilkan capaian hasil belajar afektif dan psikomotorik yang sangat baik dengan persentase ketuntasan di kedua siklus sebesar 100 % dan rata-rata 84,68 di observasi 1 siklus 1, 92,62 di observasi 2 siklus 1, 87,44 di observasi 1 siklus 2, 92,10 di observasi 2 siklus 2. 111

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 B. Saran 1. Saran bagi Penelitian Selanjutnya Jika pada penelitian ini peneliti belum bisa mencapai target penelitian, diharapkan pada penelitian yang menggunakan discoveryselanjutnya, akanada bentuk pengembangan lain yang lebih kreatif, tepat sasaran, dan lebih melibatkan peran siswa dalam proses pembelajaran agar penelitian dapat mencapai target yang diinginkan. Karena masalah hasil belajar dan minat siswa ini tidak hanya bergantung kepada metode pembelajaran melainkan seluruh aspek dalam pembelajaran. Apabila terdapat masalah pembelajaran yang sama dengan penelitian ini, penelitian selanjutnya perlu menggunakan sumber belajar yang lebih variatif dan informatif sehingga siswa tidak mudah bosan saat mengolah literatur di tiap kegiatan pembelajaran. 2. Saran bagi Guru Berdasarkan penelitian yang dilakukan, saran peneliti kepada guru mata pelajaran adalah yang pertama guru sebaiknya kembali mengujicobakan discovery pada materi pembelajaran lainnya sebagai cara untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dengan bentuk pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru juga perlu menjadi lebih kreatif di tengah keterbatasan fasilitas dalam mengolah pembelajaran agar tidak cenderung monoton pada setiap pertemuannya. Keadaan fasilitas sekolah yang minim, sebetulnya

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 bukan menjadi penghalang bagi guru untuk menjadi lebih inovatif dan kreatif. Selain itu guru perlu menindaklanjuti segera mungkin ketika terjadi masalah pembelajaran dengan bertolak pada analisis hasil belajar agar dapat menemukan solusi yang tepat bagi pengembangan pembelajaran di kemudian hari. 3. Saran bagi Sekolah Sekolah hendaknya turut ikut mendukung pengembangan pembelajaran dengan cara menyediakan fasilitas belajar yang lebih menarik agar memudahkan guru untuk mengolah pembelajaran yang lebih inovatif. Fasilitas tersebut antara lain proyektor lengkap dengan LCD di setiap kelas dan fasilitas internet sekolah. Sekolah juga perlu mendukung realisasi pengembangan pembelajaran dengan mengikutsertakan guru dalam pelatihan-pelatihan pengembangan pembelajaran yang kreatif dan inovatif mewajibkan guru untuk melaksanakan pengembangan tersebut. serta

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 DAFTAR PUSTAKA Amien. (1987). Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam dengan Menggunakan Metode Discovery dan Inquiry. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan. Arikunto, S. (2001). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: Bumi Aksara. BSNP. (2006). Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan. Chusnah, I. (2010). Penerapan Model Pembelajaran Discovery untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Siswa Kelas V di MI Miftahul Ulum Kejapanan. Penelitan Tindakan Kelas. Diakses Mei 24, 2013, dari http://www.library.um.ac.id Dahalar, R. W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Djamarah, S. B. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Fuchan, A. (1982). Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Gie, T. L. (2002). Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi. Hamalik, O. (1991). Pendidikan Guru, Konsep, dan Strategi. Bandung: Mandar Maju. Hamalik, O. (2001). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara. Hopkins, D. (1993). A Teacher's Guide to Classroom Reasearch. Phioladelpia: Opeen University Press. Lestari, S. (2008, September). Metode Pembelajaran Discovery dengan Pendekatan Konstruktivis untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Bangun Datar pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda. Jurnal Didaktika, vol.9, no.3, hal.312-313. Moerdiyanto. (2008). Penelitian Tindakan Kelas dalam Pembelajaran Penjualan dan Bisnis Manajemen. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Moerdiyanto. (2008). Pengembangan Model Pembelajaran Kewirausahaan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Pratiwi, D. A., Maryati, S., Srikini, Suharno, & S, B. (2004). Buku Penuntun Biologi Jilid 1 untuk Kelas X. Jakarta: Erlangga. Purwanto, N. (2008). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 114

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Sanjaya, P. D. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sudarsono, J. (2003). Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta. Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suhartini, D. (2001). Minat Siswa Terhadap Topik-topik Mata Pelajaran Sejarah dan Beberapa Faktor yang Melatarbelakangi. Tesis PPS UPI. Surya, H. (2010). Rahasia Membuat Anak Cerdas dan Manusia Unggul. Jakarta: Elex Media Komputindo. Surya, M. (2007). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Salatiga: Pustaka Bani Quraisy. Suryabrata. (2001). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Susilana, R. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Syah, M. (2003). Psikologi Belajar. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. Syah, M. (2008). Psikologi Pendidikan dengn Pendekatan Baru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Tafsir, A. (2008). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Winkel, W. (2004). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

(137)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Permainan kartu kwartet untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada materi invertebrata kelas X SMA Negeri 1 Wuryantoro.
2
10
270
Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa SMA Katolik Wijayakusuma Blora kelas X IPA dengan metode two stay two stray pada materi virus.
0
1
329
Pemanfaatan media permainan monopoli untuk mengukur minat belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-G SMA Negeri 4 Yogyakarta pada materi invertebrata.
1
9
229
Meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa kelas X SMA N II Yogyakarta dengan permainan edukatif ular tangga pada materi protista.
0
0
179
Meningkatkan motivasi dan hasil belajar materi ekosistem siswa kelas X A SMA Negeri 1 Menyuke Kalimantan Barat dengan metode observasi.
1
2
87
Meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa kelas X-7 SMA Kolese De Britto Yogyakarta pada materi prostista dengan permainan edukatif Teka-Teki Silang (TTS).
1
9
204
Pengaruh penerapan metode praktikum terbimbing pada materi platyhelminthes terhadap minat dan hasil belajar biologi siswa di kelas X.4 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.
0
2
231
Hubungan minat belajar siswa dan lingkungan belajar siswa dengan prestasi belajar siswa : studi kasus pada siswa kelas III SMA Negeri 2 Klaten.
0
1
179
Pemanfaatan media permainan monopoli untuk mengukur minat belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas X G SMA Negeri 4 Yogyakarta pada materi invertebrata
0
7
227
Meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa kelas X SMA N II Yogyakarta dengan permainan edukatif ular tangga pada materi protista
0
2
177
Meningkatkan motivasi dan hasil belajar materi ekosistem siswa kelas X A SMA Negeri 1 Menyuke Kalimantan Barat dengan metode observasi
0
0
85
Pengaruh penerapan metode praktikum terbimbing pada materi platyhelminthes terhadap minat dan hasil belajar biologi siswa di kelas X.4 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta
0
4
229
Keefektifan penggunaan modul dalam pembelajaran matematika pada materi peluang terhadap hasil belajar dan keaktifan siswa di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 - USD Repository
0
1
364
Penerapan pendekatan salingtemas (sains-lingkungan-teknologi-masyarakat) dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi ekosistem kelas X SMA Pangudi Luhur Sedayu, Bantul - USD Repository
0
1
169
Penerapan pendekatan salingtemas (sains-lingkungan-teknologi-masyarakat) dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi ekosistem kelas X SMA Pangudi Luhur Sedayu, Bantul - USD Repository
0
0
169
Show more