CITRA WADAM DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO

Gratis

0
0
127
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CITRA WADAM DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia Oleh Winda Dorothea Putri Pranawengrum NIM: 094114018 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CITRA WADAM DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia Oleh Winda Dorothea Putri Pranawengrum NIM: 094114018 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 29 Agustus 2014 Penulis Winda Dorothea Putri Pranawengrum iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah untuk Kepentingan Akademis Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Winda Dorothea Putri Pranawengrum NIM : 094114018 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul “Citra Wadam dalam Drama Opera Julini Karya Norbertus Riantiarno”. Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 29 Agustus 2014 Yang menyatakan, Winda Dorothea Putri Pranawengrum v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselesaikannya skripsi berjudul “Citra Wadam dalam Drama Opera Julini Karya Norbertus Riantiarno”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat meraih gelar sarjana Sastra Indonesia. Skripsi ini tidak akan berjalan dengan lancar tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis, di antaranya: 1. S. E. Peni Adji, S.S., M.Hum., selaku ibu juga dosen pembimbing I yang dengan sabar mendampingi, merangkul, mengarahkan, dan memberi masukan serta dukungan dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi penulis. 2. Drs. B. Rahmanto, M.Hum., selaku dosen pembimbing II, atas bimbingan, bantuan, serta kritik yang diberikan kepada penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi. 3. Bapak dan Ibu dosen Sastra Indonesia; Fr. Tjandrasih Adji, M.Hum. (selaku ibu juga dosen yang pernah menjadi Dosen Pembimbing Akademik penulis), Drs. Hery Antono, M.Hum. (selaku Kaprodi juga Dosen Pembimbing Akademik pengganti), Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., Drs. F.X. Santosa, M.S., Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum., dan Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., serta dosen-dosen pengampu mata kuliah tertentu yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih atas keakraban, kekeluargaan, serta bimbingan yang diberikan kepada penulis untuk menimba ilmu di Program Studi Sastra Indonesia. 4. Kedua orangtua penulis, Bapak Darsono Eko Noegroho dan Ibu Neny Witantri, serta Mas Dany Brakha Putra Pranawa, keluarga tercinta yang telah membiayai, bersabar, mendukung, menginspirasi, dan mengasihi yang terangkum dalam doa yang tak ada habisnya diberikan kepada penulis. 5. Kekasih, Oktavianus Ari Dwi Kristanto atas suka duka yang mengiringi terselesaikannya skripsi ini dengan selalu bersabar, pengertian, mengasihi, menginspirasi, mengingatkan, dan memotivasi penulis. 6. Staf Sekretariat Program Studi Sastra Indonesia dan Fakultas Sastra yang membantu mengurus keperluan akademik penulis selama menjalani studi. vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Pengelola dan staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang membantu penulis dalam menyediakan buku-buku yang dibutuhkan untuk penelitian ini. 8. Ketua kelas Prodi Sastra Indonesia angkatan 2009, Sony, juga seluruh teman-teman Prodi Sastra Indonesia angkatan 2009; Janice, Tami, Tanta, Dita, Tita, Lala, Dian, Nuri, Charles, Bono, dan Tony terima kasih atas pertemanan, dukungan, bantuan, semangat, dan kebersamaannya dari awal perkuliahan sampai kapan pun, serta Grace, Indah, Ervita, Lydia, Niken, Risti, Lukas, dan Wahid yang telah memilih melanjutkan kehidupannya di tempat yang lain. 9. Sahabat-sahabat terbaik sejak bangku SMP; Anik, Tika, Resa, Dedeh, dan Rara karena memberi semangat, membantu, memotivasi, mengingatkan, sampai memarahi penulis tanpa henti demi terselesaikannya skripsi ini. 10. Saudara sepupu penulis, Mikhael Prastian Pandu Bongso, terima kasih atas bantuannya menemani penulis lembur dalam mempersiapkan ujian pendadaran. 11. Semua pihak yang ikut membantu dan mendukung penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Penulis menyadari, skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan, saran, dan kritik yang membangun dari para pembaca demi lebih baiknya skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Yogyakarta, 29 Agustus 2014 Winda Dorothea Putri Pranawengrum vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sing ora tak karepake Saiki kudu tak tindakake Nanging karana berkahing Gusti Aku bisa nglakoni Urip kuwi ajar nresnani sing ora sampurna lan ajar narima sing ora keduga.. -Dany Brakha- Gedhekna geni kang wus murup ing uripmu, Supaya tansah dadi pepadhang kanggo uripmu lan pepadha. Gawea urup kuwi tansah mewayu wayuning bawana. -Ari Kris- Karya sederhana ini kudedikasikan untuk Bapak Darsono Eko dan Ibu Neny Witantri serta Mas Dany Brakha, Mas Ari Kristanto, Prodi Sastra Indonesia USD, Segenap sahabat dan teman-teman Prodi Sastra Indonesia… viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Pranawengrum, Winda Dorothea Putri. 2014. “Citra Wadam dalam Drama Opera Julini Karya Norbertus Riantiarno”. Skripsi Strata Satu (S1). Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Skripsi ini membahas citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Wadam merupakan sebuah masyarakat marjinal dengan berbagai aspek kehidupan yang sangat menarik untuk diperhatikan. Sudah bisa dipastikan kehadiran mereka di dunia fana ini bukan karena kehendak mereka sendiri, melainkan merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, hingga sekarang masih banyak kalangan dari masyarakat kita yang belum bisa menerima keberadaan wadam dan komunitasnya. Skripsi ini bertujuan (1) mendeskripsikan tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno dan (2) mendeskripsikan citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan sosiologi sastra. Sosiologi sastra adalah studi sastra yang fokus dalam menemukan hubungan antara karya sastra dengan masyarakat. Data dikumpulkan menggunakan metode studi pustaka dan observasi nonpartisipan dengan teknik catat. Analisis data menggunakan metode formal dan metode analisis isi. Metode formal digunakan untuk menganalisis unsur tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini, sedangkan metode analisis isi digunakan untuk menganalisis konstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini. Hasil analisis data disajikan dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini meliputi tokoh dan penokohan serta citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Tokoh protagonis dalam drama ini yaitu Julini dan Roima; tokoh antagonis yaitu Tibal dan Pejabat; tokoh tritagonis yaitu Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda. Delapan tokoh yang menunjukkan identitasnya sebagai wadam yaitu Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda. Konstruksi citra wadam yang terdapat dalam drama Opera Julini adalah (1) transgender, (2) mengubah penampilan menjadi perempuan, (3) genit atau centil, (4) vulgar, (5) suka menggoda lelaki, (6) posesif, (7) mengubah nama, (8) suka bersolek, (9) suka berebut lelaki dan berkelahi seperti perempuan, (10) pantang menyerah, (11) tidak diterima dalam masyarakat, (12) memperjuangkan pengakuan sebagai wadam, (13) membentuk komunitas wadam, (14) strata sosial kelas bawah, (15) bekerja sebagai pelacur, (16) persahabatan erat, (17) setia kawan, (18) menciptakan bahasa khusus, dan (19) suka bercanda. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Pranawengrum, Winda Dorothea Putri Pranawengrum. 2014. “The Image of Transvestite in Opera Julini Play by Norbertus Riantiarno”. Undergraduate Thesis. Indonesian Letters Study Programme, Department of Indonesian Letters, Faculty of Letters, Sanata Dharma University. This thesis discusses about the image of transvestite in Opera Julini play by Norbertus Riantiarno. Transvestite is a minor community which consists of people who have various interesting life aspects to notice. Their existence in this earthly world is surely not based on their own will, but it is the Almighty God’s will. However, many people in the society still cannot accept the existence of transvestite community. The aims of this thesis are (1) to describe both character and characterization in Opera Julini play by Norbertus Riantiarno and (2) to describe the image of transvestite in Opera Julini play by Norbertus Riantiarno. This thesis employs sociological literature approach. The sociological literature approach is a literary study which focuses in finding the relation between literary work and the society. The data are collected by using library research method and written observation of non-participant. The analysis employs both formal and content analysis methods. The formal method is used to analyze the elements of the character and characterization in Opera Julini play, while the content analysis is used to analyze the construction of transvestite image in Opera Julini play. The result of data analysis is served by using descriptive qualitative method. The result of this thesis covers the character and characterization also the image of transvestite in Opera Julini play by Norbertus Riantiarno. The protagonists in the play are Julini and Roima; the antagonists are Tibal and Pejabat; the tritagonists are Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni and Wanda. The eight characters who show their identity as transvestites are Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni and Wanda. The construction of transvestite image happened in Opera Julini play consist of (1) transgender, (2) transform to female appearance, (3) flirtatious, (4) vulgar, (5) love to seduce men, (6) possessive, (7) changing names, (8) love to dress up, (9) love to fight over men and to quarrel like ladies, (10) impregnable, (11) socially rejected, (12) struggle the confeesion as transvestites, (13) to form a community of transvestite, (14) lower class, (15) work as a prostitute, (16) solid friendship, (17) sense of solidarity, (18) creating new terms, and (19) love to tease. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ………………………………………………………... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………….. ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI …………………………………… iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA …………………………………….. iv PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ………. v KATA PENGANTAR ………………………………………………………. vi HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………….. viii ABSTRAK …………………………………………………………………... ix ABSTRACT ………………………………………………………………….. x DAFTAR ISI ………………………………………………………………... xi BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………… 1 1.1 Latar Belakang ………………………………………………………. 1 1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………… 5 1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………………. 5 1.4 Manfaat Hasil Penelitian …………………………………………….. 5 1.5 Tinjauan Pustaka …………………………………………………….. 6 1.6 Landasan Teori ……………………………………………………… 9 1.6.1 Tokoh dan Penokohan dalam Drama ……………….……...…. 9 1.6.1.1 Tokoh dalam Drama …………………….………...…. 9 1.6.1.2 Penokohan dalam Drama ………………………....…. 10 1.6.2 Sosiologi Sastra ……………………………………………….. 11 1.6.3 Pengertian Wadam …………………………………………….. 12 1.6.4 Citra Wadam …………………………………………………... 13 1.6.4.1 Citra Diri Wadam ……………………………………. 14 1.6.4.1.1 Aspek Fisik ……………………………….. 14 1.6.4.1.2 Aspek Psikis ………………………………. 15 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.6.4.2 Citra Sosial Wadam dalam Masyarakat Indonesia …... 16 1.6.4.2.1 Aspek Masyarakat ………………………... 16 1.6.4.2.2 Aspek Komunitas Wadam ………………... 18 1.7 Metode Penelitian …………………………………………………… 20 1.7.1 Pendekatan …………………………………………………….. 20 1.7.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ………………………. 21 1.7.3 Metode dan Teknik Analisis Data …………………………….. 22 1.7.4 Metode Penyajian Hasil Analisis Data ………………………... 22 1.8 Sumber Data ………………………………………………………… 23 1.9 Sistematika Penyajian ……………………………………………….. 23 BAB II UNSUR TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO ……………………...…… 24 2.1 Pengantar …………………………………………………………….. 24 2.2 Sinopsis Drama Opera Julini ...……………….……………………... 24 2.3 Tokoh dan Penokohan Drama Opera Julini ………………....……… 31 2.3.1 Tokoh Protagonis ……………………………………………… 31 2.3.1.1 Julini …………………………………………………. 31 2.3.1.2 Roima ………………………………………………... 38 2.3.2 Tokoh Antagonis ……………………..……………………….. 44 2.3.2.1 Tibal …………………………………………………. 45 2.3.2.2 Pejabat ……………………………………………….. 49 2.3.3 Tokoh Tritagonis ……………………………………………… 53 2.3.3.1 Duing ………………………………………………… 54 2.3.3.2 Laila ………………………………………………….. 57 2.3.3.3 Ike ……………………………………………………. 62 2.3.3.4 Esyi …………………………………………………... 65 2.3.3.5 Tea …………………………………………………… 67 2.3.3.6 Syeni …………………………………………………. 69 2.3.3.7 Wanda ………………………………………………... 70 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.4 Rangkuman ………………………………………………………….. 72 BAB III CITRA WADAM DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO ……………………………………………… 75 3.1 Pengantar ……………………………………………………………. 75 3.2 Citra Diri Wadam …………………………………………………… 75 3.2.1 Fisik Wadam …………………………………………………... 76 3.2.1.1 Transgender ………………………………………….. 76 3.2.1.2 Mengubah Penampilan menjadi Perempuan ………… 78 3.2.2 Psikis Wadam …………………………………………………. 80 3.2.2.1 Genit atau Centil ……………………………………... 80 3.2.2.2 Vulgar ………………………………………………... 81 3.2.2.3 Suka Menggoda Lelaki ………………………………. 83 3.2.2.4 Posesif ……………………………………………….. 83 3.2.2.5 Mengubah Nama …………………………………….. 84 3.2.2.6 Suka Bersolek ………………………………………... 86 3.2.2.7 Suka Berebut Lelaki dan Berkelahi seperti Perempuan 87 3.2.2.8 Pantang Menyerah …………………………………… 88 3.3 Citra Sosial Wadam …………………………………………………. 88 3.3.1 Wadam dalam Masyarakat ……………………………………. 89 3.3.1.1 Tidak Diterima dalam Masyarakat …………………... 89 3.3.1.2 Memperjuangkan Pengakuan sebagai Wadam ………. 92 3.3.1.3 Membentuk Komunitas Wadam ……………………... 93 3.3.1.4 Strata Sosial Kelas Bawah ...…………………………. 94 3.3.1.5 Bekerja sebagai Pelacur ……………………………... 95 3.3.2 Wadam dalam Komunitasnya …………………………………. 98 3.3.2.1 Persahabatan Erat ……………………………………. 98 3.3.2.2 Setia Kawan ………………………………………….. 99 3.3.2.3 Menciptakan Bahasa Khusus ………………………... 100 3.3.2.4 Suka Bercanda ……………………………………….. 102 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4 Rangkuman ………………………………………………………….. BAB IV PENUTUP …………………………………………………………. 103 105 4.1 Kesimpulan ………………………………………………………….. 105 4.2 Saran ………………………………………………………………… 109 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 110 SUMBER TELEVISI DAN ONLINE ………………………………………. 112 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara normatif, berdasarkan jenis kelamin manusia dibedakan menjadi dua jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Kedua kelompok manusia tersebut diharapkan secara sosial memiliki sifat dan peran yang sesuai dengan kategori gendernya masing-masing. Di antara kedua kelompok manusia tersebut terdapat sekelompok individu yang merasa bingung dengan peran jenis kelaminnya. Individu dengan gangguan identitas gender biasa disebut waria (wanita pria), atau bisa juga disebut wadam yang merupakan akronim dari kata hawa dan adam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 1552). Menurut Atmojo (1986: 2, 41), dalam pengertian umum, wadam adalah seorang laki-laki yang berdandan dan berlaku sebagai wanita. Biasanya, istilah wadam memang ditujukan untuk penderita transeksual (seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan keadaan jiwanya). Nama lain transeksualisme adalah gender dysphoria syndrome yang berarti pada pokoknya yang didapati ialah ketidakpuasan individu tersebut dengan gender yang mereka miliki, yakni identitas gender dan tingkah laku gender. Ada banyak kontroversi yang muncul dari keberadaan wadam, ada masyarakat yang pro terhadap wadam tetapi juga masih banyak yang kontra. Kontroversi tersebut berupa tidak adanya kesesuaian antara fisik dan psikis, maka timbul konflik pribadi wadam dengan kelompok masyarakat. Heterogenitas inilah 1

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 yang memengaruhi persepsi atau penilaian seseorang terhadap wadam (Atmojo, 1986: 98). Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih kesulitan menerima wadam sebagai suatu identitas gender, karena di Indonesia belum ada undang-undang maupun asas hukum bagi pengadilan yang mengatur soal pergantian kelamin (Ibid., 76). Naskah drama Opera Julini merupakan bagian ketiga dari drama trilogi Opera Kecoa. Hal menarik dalam drama Opera Kecoa karya Norbertus Riantiarno khususnya drama Opera Julini, ini adalah drama berlatar kehidupan prostitusi di kolong jembatan, khususnya wadam. Drama Opera Julini ini menceritakan kehidupan masyarakat kelas sosial rendah yang tersingkir diibaratkan seperti kecoa yang hidup di comberan yang kumuh dan kotor. Mereka dianggap najis, sumber maksiat, dan tanpa moral. Mereka selalu dilukai oleh penguasa atau golongan atas dan tak sanggup membalas. Khususnya wadam, dalam drama ini wadam adalah pemilik status sosial terendah. Dalam kelompok masyarakat dengan budaya heteroseksual, sosok wadam masih menjadi fenomena sosial tersendiri bagi masyarakat sosial rendah. Dalam penelitian ini, peneliti hanya memilih naskah drama Opera Julini sebagai bahan penelitian karena drama Opera Julini merupakan puncak akhir cerita yang memberikan gambaran paling jelas mengenai nasib yang dialami para wadam. Bahkan sampai saat meninggal pun wadam masih merasakan penolakan. Tokoh wadam dalam drama Opera Julini memberikan gambaran yang cukup jelas bahwa masyarakat menganggap tabu keberadaan wadam. Norbertus Riantiarno

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 juga mampu menyajikan tokoh wadam beserta wataknya dengan sangat baik melalui cerita komedi-ironinya yang sangat menarik. Drama Opera Julini secara umum mengisahkan tentang kehidupan rakyat miskin yang terpinggirkan. Di dalamnya hidup kelompok wadam. Salah satu wadam tersebut bernama Julini yang pada trilogi ketiga yaitu drama Opera Julini sudah mati. Julini sebagai wadam yang sudah mati, masih diharuskan melewati banyak gerbang untuk sampai ke tempat tujuan akhir (alam kematian), yang pada akhirnya dihadapkan dengan pilihan ke mana orientasi seksual para wadam, pintu untuk laki-laki atau pintu untuk perempuan. Arwah Julini beserta arwah wadam lainnya memilih pintu untuk perempuan, tetapi ditolak. Di dunia nyata, kelompok bandit Roima dan Tibal semakin berkembang. Namun, keegoisan dan keangkuhan Tibal berakhir pada peristiwa pembunuhan Roima oleh Tibal. Di sisi lain permasalahan dan tekanan dari pemerintah untuk memusnahkan kelompok bandit terus terjadi. Teror, kerusuhan, salah wewenang, bawahan bertindak semaunya, semakin kacau ketika pejabat sakit mata dan nyaris buta. Dalam kerusuhan kota tersebut, sekelompok wadam menjadi korban senapan mesin akibat keteledoran dua polisi mabuk, padahal para wadam itu baru saja selesai mengikuti penataran P-6 (Pendidikan Pedoman Penghayatan Perilaku Pantang Pertengkaran). Naskah ini menggunakan setting cerita yang mengangkat kehidupan sekelompok wadam yang tinggal di kolong jembatan di Jakarta. Bagaimana wadam sangat sulit mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga sebagian besar bekerja sebagai pelacur. Jika ditinjau dari segi budaya kita, keberadaan para pekerja seks komersil dan wadam dianggap sebagai “penyakit masyarakat”.

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Orientasi seksual yang tidak sama dengan fisik menjadi hal tabu bagi masyarakat heteroseksual, sehingga belum ada jalan keluar bagi kasus keberadaan wadam. Konflik interpersonal wadam bersamaan dengan segala macam penolakan dari masyarakat membentuk watak, perilaku, dan karakter tersendiri bagi wadam. Hal tersebut pada akhirnya membangun terbentuknya suatu citra pada wadam, baik positif maupun negatif. Citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno dipilih sebagai topik dalam penelitian ini didasarkan alasan sebagai berikut. Pertama, pada drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno banyak ditemukan tokoh wadam yang juga menjadi tokoh yang paling berpengaruh dalam proses berjalannya cerita. Kedua, terkait dengan banyak ditemukannya wadam pada drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno, terbukti bahwa wadam merupakan fenomena sosial yang perlu diteliti. Ketiga, ada berbagai macam sikap dan sifat yang dimiliki oleh wadam serta sikap dan pandangan orang lain terhadap wadam yang terdapat dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno yang mengkonstruksikan citra wadam. Drama Opera Julini karya Norbertus Rantiarno merupakan teks sastra yang akan dijadikan bahan penelitian. Teks-teks sastra dalam drama tersebut akan dianalisis unsur tokoh dan penokohannya sebelum lebih jauh menganalisis citra wadam. Selanjutnya analisis tokoh dan penokohan digunakan sebagai batu lompatan untuk mengkonstruksi citra wadam yang diasumsi merupakan cerminan kondisi sosial masyarakat dalam drama Opera Julini.

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dalam 1.1, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno? 2. Bagaimana citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno? 1.3 Tujuan Penelitian Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan konstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini. Secara khusus tujuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut. 1. Mendeskripsikan tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. 2. Mendeskripsikan citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. 1.4 Manfaat Hasil Penelitian Hasil penelitian ini adalah konstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno yang diperoleh dari analisis tokoh dan penokohan. Secara umum hasil penelitian tentang citra wadam ini muncul karena adanya konstruksi citra wadam dari drama Opera Julini.

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Manfaat teoretis penelitian ini adalah memberikan sumbangan ilmu pengetahuan di bidang sosiologi sastra yaitu memberikan contoh kajian penerapan teori tokoh dan penokohan dalam naskah drama serta konstruksi citra wadam yang tergambar oleh drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Manfaat praktis penelitian ini adalah sebagai rujukan penelitian tentang studi gender khususnya wadam, serta sebagai rujukan penelitian mengenai terbentuknya bahasa khusus wadam dalam kajian sosiolinguistik. Dengan demikan, diharapkan penelitian ini dapat membantu pembaca memahami drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno secara lebih mendalam. 1.5 Tinjauan Pustaka Topik tentang wadam secara umum pernah dibahas oleh Atmojo (1986), Soedijati (1995), dan Yangni (2004). Atmojo dalam bukunya berjudul Kami Bukan Lelaki (1986) yang didasarkan pada penelitian terhadap sejumlah kelompok wadam. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa wadam bukan termasuk dalam kelompok gay (homoseksual), tetapi termasuk dalam kelompok transeksual. Berdasarkan hasil penelitiannya, sifat transeksual diperoleh karena tidak sengaja—bawaan sejak lahir—dan akan semakin kuat ketika sifat transeksual tersebut didukung oleh konstruksi sosial dan kultural. Misalnya pada konstruksi kultural diketahui adanya kesenian Reog Ponorogo yang telah lama memperkenalkan homoseksualitas dan budaya ludruk yang memberi kenyataan bahwa seorang laki-laki berdandan dan

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 berlaku sebagai wanita yang tak jarang kebiasaan pemain laki-laki berperan sebagai wanita itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari (Atmojo, 1986: 3-6). Sementara itu, Soedijati dalam penelitiannya berjudul Solidaritas dan Masalah Sosial Kelompok Wadam (1995) menjelaskan, wadam adalah seseorang yang memiliki fisik pria, tetapi psikis wanita yang diperoleh sejak lahir. Para ahli di bidang kelainan seks berpendapat bahwa kaum wadam memiliki hasrat hubungan seks yang sangat tinggi dengan laki-laki. Untuk memenuhi hasrat seks itu mereka sebagian besar melakukan kegiatan “turun jalan”, hubungan seks secara tetap dengan pacar dan ada pula dengan cara membayar laki-laki yang diinginkan dan bersedia melayani. Tidak adanya kesesuaian antara fisik dan psikis, menyebabkan mereka berperilaku menyimpang yang menimbulkan masalah-masalah sosial. Meskipun wadam kaum marjinal, tetapi kondisi mereka memudahkan interaksi secara efektif yang menguatkan solidaritas antarwadam sehingga mereka dapat membentuk organisasi yang kompak. Selanjutnya, Yangni (2004: 22-23), menjelaskan pertemuan seorang wadam dengan wadam lainnya dalam situasi tertentu dan wilayah tempat tinggal tertentu memunculkan pembicaraan mengenai aktivitas yang sama. Aktivitas yang dilakukan wadam merupakan aktivitas homoseksual yang muncul melalui polapola perilaku teratur yang dilakukan mereka. Aktivitas tersebut dimanifestasikan dengan bahasa mereka, yaitu bahasa wadam yang berasal dari aktivitas seksual homoseksual. Menjadi kaum marjinal di tengah budaya heteroseksual, ekspresi dan representasi kaum wadam yang berupa menyamarkan ekspresi homoseksualitas mereka. bahasa digunakan untuk

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Drama trilogi Opera Kecoa karya Norbertus Riantiarno sebelumnya pernah diteliti oleh Sasanti dalam „Kekerasan Struktural oleh Pemerintah terhadap Kaum Urban Miskin di Jakarta dalam Drama Trilogi Opera Kecoa Karya Norbertus Riantiarno: Tinjauan Sosiologi Sastra‟ (2007), yang menyatakan tentang kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat dalam drama trilogi Opera Kecoa yang terdiri atas dua tingkatan anggota masyarakat, yaitu pemerintah sebagai kelas atas dan kaum urban miskin sebagai masyarakat kelas bawah. Kekerasan struktural dominan dilakukan oleh pemerintah. Dalam hal ini kaum urban miskin sebagai korban tidak dapat melacak secara langsung pelaku kekerasan struktural karena ketika kekerasan ini terjadi kebanyakan korbannya menanggap bahwa hal yang mereka alami wajar terjadi dalam kehidupan dan hubungan sosial mereka, sehingga bagi kaum urban miskin bentuk kekerasan ini tidak dapat diketahui secara langsung, tapi dampak dari kekerasan inilah yang akan sangat mereka rasakan. Berdasarkan kajian sosiologi sastra, Sasanti menemukan adanya kekerasan struktural oleh pemerintah terhadap kaum urban miskin dalam drama trilogi Opera Kecoa karena penggunaan kekuasaan secara berlebih, ketidaksamaan struktur sosial, perekonomian yang tidak merata, penggunaan jabatan untuk memperoleh keunggulan, dan monopoli kekuasaan. Akibat dari kekerasan struktural oleh pemerintah terhadap para kaum urban miskin adalah kekuasaan yang dimiliki tiap kelas sosial tidak seimbang. Sementara itu, dalam penelitian ini, yang diteliti merupakan trilogi bagian ketiga drama Opera Kecoa yaitu drama Opera Julini. Drama Opera Julini dikaji dengan menggunakan kajian sosiologi

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 sastra untuk menemukan konstruksi citra wadam yang terkandung dalam drama tersebut. 1.6 Landasan Teori Suatu penelitian memerlukan teori-teori atau pendekatan yang tepat dan sesuai dengan objeknya. Landasan teori dalam penelitian ini memaparkan tokoh dan penokohan dalam drama, kajian sosiologi sastra, pengertian wadam, dan citra wadam dalam karya sastra. 1.6.1 Tokoh dan Penokohan dalam Drama Dalam penelitian ini, digunakan teori tokoh dan penokohan untuk menganalisis drama Opera Julini. Dengan menganalisis unsur tokoh dan penokohan, peneliti dapat mengetahui hubungan antartokoh dalam kehidupan sosial mereka yang terjadi dalam drama Opera Julini yang kemudian oleh peneliti digunakan untuk menganalisis citra wadam dalam drama Opera Julini. 1.6.1.1 Tokoh dalam Drama Tokoh adalah pemegang peran dalam roman atau drama. Penokohan adalah penciptaan citra tokoh dalam karya susastra (KBBI, 2008: 1476). Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam lakon (Rahmanto dan Peni Adji, 2007: 3.18). Penelitian ini akan menganalisis tokoh dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno yang diklasifikasikan berdasarkan perannya sebagai berikut.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. 10 Tokoh Protagonis Tokoh protagonis adalah tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak lakuan. Tokoh protagonis juga tokoh yang pertama-tama akan menghadapi masalah dan terbelit dengan kesulitan-kesulitan. Dalam sebuah lakon biasanya ada satu atau dua orang tokoh protagonis (Rahmanto dan Peni Adji, 2007: 3.19). b. Tokoh Antagonis Tokoh antagonis adalah tokoh yang berperan sebagai penghalang dan masalah bagi protagonis. Biasanya ada seorang tokoh antagonis dan beberapa orang tokoh yang ikut berperan sebagai penghalang dan masalah bagi tokoh protagonis (Ibid., 3.19). c. Tokoh Tritagonis Tokoh tritagonis adalah tokoh yang berpihak pada protagonis atau antagonis, atau berfungsi menjadi penengah pertentangan antara kedua golongan tokoh tersebut (Ibid., 3.19). 1.6.1.2 Penokohan dalam Drama Dalam penokohan terdapat watak para tokoh yang digambarkan berdasarkan (i) fisik: meliputi umur, jenis kelamin, ciri tubuh, cacat jasmaniah, ciri khas yang menonjol, suku, bangsa, raut muka, kesukaan, tinggi/pendek, kurus/gemuk, suka senyum/cemberut, dan sebagainya yang berkaitan dengan identitas sosiologis dan psikologis, (ii) psikologis: meliputi kegemaran, mentalitas, standar moral, temperamen, ambisi, keadaan emosinya, watak dasar,

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 kompleks psikologis yang dialami yang membedakan tokoh yang satu dengan yang lain, dan (iii) sosiologis: meliputi jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, agama, ideologi, dan sebagainya yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang (Rahmanto dan Peni Adji, 2007: 3.21). 1.6.2 Sosiologi Sastra Penelitian sosiologi sastra memiliki perspektif khusus, yaitu berkacamata sosiologis. Dalam perspektif sosiologis, sastra dianggap memiliki arti penting bagi kehidupan sosial. Perspektif sosiologis yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan ini disebut sosiologi sastra. Perspektif tersebut menunjukkan perhatian terhadap sastra sebagai hasil refleksi sosial, yang diciptakan oleh sastrawan sebagai anggota masyarakat. Sastra dipandang mampu menangkap rasa sosial suatu bangsa. Sastra juga mampu mengulas sejarah sosial. Sastra juga sebagai pantulan budaya masyarakat. Tugas sosiologi hanya untuk menemukan sejarah dan refleksi sosial (atau bias) dalam karya sastra (Endraswara, 2011: 93102). Setiap karya sastra adalah hasil dari pengaruh timbal-balik yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural, dan karya sastra itu sendiri merupakan objek budaya yang rumit. Tak ada karya sastra besar yang diciptakan berdasarkan gagasan sepele dan dangkal; dalam pengertian ini sastra adalah kegiatan yang sungguh-sungguh. Setiap karya sastra yang bisa bertahan lama pada hakikatnya adalah monumental, baik dalam hubungannya dengan kebudayaan sumbernya

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 maupun dalam hubungannya dengan orang-seorang. Dengan demikian, sastra adalah gambaran sistem moral masyarakatnya (Endraswara, 2011: 110). Menurut Ratna (2012: 332-333), karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek tersebut adalah anggota masyarakat. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat. Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap tiga aspek tersebut. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya. Melalui teori sosiologi sastra, peneliti dapat mengkonstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini yang diasumsikan merupakan cerminan kondisi wadam di masyarakat. 1.6.3 Pengertian Wadam Menurut Atmojo (1986: 2), secara umum wadam adalah seorang laki-laki yang berdandan dan berlaku sebagai wanita. Istilah wadam memang ditujukan untuk penderita transeksual (seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan keadaan jiwanya). Wadam bukan homoseksual, melainkan tergolong dalam transeksual. Perlu dibedakan pengertian antara homoseksual dan transeksual, karena jika dilihat dari cara melakukan hubungan seksual keduanya tampak menggunakan cara yang sama. Homoseksual adalah relasi seks dengan jenis kelamin yang sama; atau rasa tertarik dan mencintai jenis seks yang sama, sedangkan transeksual adalah gejala

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya (Kartono, 1989: 247, 266). 1.6.4 Citra Wadam Konsep citra pada penelitian ini mengadopsi citra perempuan dalam teori citra perempuan oleh Sugihastuti, karena penelitian mengenai citra wadam selama ini belum pernah dilakukan. Mengetahui bahwa sikap dan sifat wadam yang berperilaku menyerupai perempuan maka teori citra perempuan oleh Sugihastuti akan digunakan dalam penelitian ini. Citraan adalah gambaran-gambaran angan atau pikiran. Setiap gambar pikiran disebut citra. Citra artinya rupa, gambaran, dapat berupa gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi sistem kerja mental (bayangan) visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase, atau kalimat dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi (Sugihastuti, 2000: 45). Citra perempuan yang dimaksud dalam hal ini adalah semua gambaran mental spiritual dan tingkah laku keseharian perempuan, yang menunjukkan “wajah” dan ciri khas perempuan sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial (Ibid., 7). Dengan demikian, perempuan dicitrakan sebagai makhluk individu yang beraspek keluarga dan masyarakat (Ibid., 46). Dalam penelitian ini, peneliti akan menganalisis citra diri dan sosial wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno dan akan memfokuskan hanya pada tokoh wadam. Citra diri wadam meliputi ciri fisik dan ciri psikis, sedangkan citra sosial wadam meliputi citra wadam dalam masyarakat

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 dan citra wadam dalam komunitasnya. Penulis meneliti ciri fisik dan psikis untuk mengetahui secara jelas peranan wadam dalam kehidupan sehari-hari. Penulis meneliti citra wadam dalam masyarakat dan citra wadam dalam komunitasnya untuk mengetahui peranan wadam dalam membangun kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini, penulis hanya meneliti citra wadam dalam masyarakat dan komunitasnya karena di dalam drama Opera Julini tidak ditemukan adanya cerita kontak sosial wadam dengan keluarga. 1.6.4.1 Citra Diri Wadam 1.6.4.1.1 Aspek Fisik Secara fisik, wadam bertubuh laki-laki seperti pada umumnya (memiliki alat kelamin laki-laki, memiliki jakun, suara yang berat), tetapi juga tidak sedikit dari mereka yang sudah mengubah identitas fisik yang mereka bawa sejak lahir. Memahami bahwa wadam tidak merasa nyaman dengan keadaan fisiknya semakin menunjukkan bahwa wadam adalah transeksual terbukti bahwa di antara mereka terlihat ada usaha menghilangkan ciri kelaki-lakiannya, meskipun masih banyak juga wadam sebagai transgender. Namun, pilihan seorang wadam untuk tidak mengubah ciri kelaki-lakiannya kebanyakan karena pertimbangan ekonomi. Berdasarkan pernyataan mengenai fisik wadam di atas, perlu ditegaskan bahwa wadam terdiri dari dua jenis, yaitu (i) transeksual dan (ii) transgender. Transeksual adalah orang yang mengubah dirinya secara total ke dalam gender yang terkait dengan identitas gendernya, sedangkan transgender merupakan term yang mendeskripsikan bagaimana seseorang dengan identitas gendernya mampu

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 mengekspresikan atau bertindak secara tidak tradisional diasosiasikan dengan jenis kelamin sewaktu ia dilahirkan (Listiorini: 34). Oleh karena itu, transeksual dapat digunakan untuk menggolongkan wadam yang sudah mengubah fisik lakilakinya menjadi perempuan melalui operasi, sedangkan transgender cenderung digunakan untuk menyebut wadam yang tidak atau belum mengubah ciri fisiknya. 1.6.4.1.2 Aspek Psikis Menurut Haerudin (2012: 13), studi gender lebih menekankan pada perkembangan aspek maskulinitas atau femininitas seseorang. Gender merupakan bentukan sosial-budaya masyarakat yang dapat berubah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Tidak sedikit laki-laki yang justru sangat lekat dengan identitas feminitasnya—penakut, pemalu, dan lainnya—, dan perempuan sangat lekat dengan identitas maskulinitasnya— perkasa, berani, tegas, dan lainnya. Pembawaan dan cara berpikir wadam adalah seperti wanita (Atmojo, 1986: 83). Perilaku yang ditunjukkan wadam antara lain perilakunya halus, menyukai hal-hal yang dilakukan wanita, berteman dengan wanita (hanya sebatas teman), memakai pakaian wanita, senang becermin, suka merias wajahnya secara berlebihan, suka menari, bahasa tubuh yang berlebihan, dan penggunaan bahasa yang cenderung sekenanya sebagai cara untuk meluapkan perasaan sedih sehingga mereka mendapat semacam katarsis 1 (Ibid., 60). Selain itu, usaha lain wadam yang sering dijumpai sehari-hari dalam rangka mendapat pengakuan dari orang 1 Cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas, KBBI, hlm. 635.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 lain selain dengan mengoperasi ciri kelaki-lakiannya adalah dengan mengganti nama (Atmojo, 1986: 40). Nama asli wadam yang tadinya terdengar sangat lakilaki diubah menjadi nama seperti nama wanita, misalnya Rian Adi Firmansyah menjadi Risma Ance, Fredrick Ricky Patty menjadi Fanila Daun, dan sebagainya. Wadam yang dianggap aneh juga seorang manusia yang juga bisa merasakan cinta dan kasih sayang. Tidak sedikit wadam yang menjalin hubungan dengan laki-laki tentunya. Selain sebagai sasaran untuk melampiaskan nafsu, kehadiran seorang pacar bagi wadam sangatlah penting terutama sebagai syarat “kelengkapan” dirinya sebagai wanita, meskipun banyak juga wadam yang mejeng 2 di jalanan untuk kepentingan kelangsungan hidup—menjual diri agar tetap memperoleh uang—karena minimnya pendidikan dan keterampilan (Ibid., 69). 1.6.4.2 Citra Sosial Wadam dalam Masyarakat Indonesia 1.6.4.2.1 Aspek Masyarakat Kaum marjinal gerak-geriknya selalu mendapat perhatian dan membuka kemungkinan untuk dikomentari lebih banyak oleh kaum yang mendominasi. Tidak jarang wadam diperlakukan sebagai manusia ajaib yang patut ditertawakan, diolok-olok, atau bentuk-bentuk penolakan yang lain. Bahkan wadam dianggap sebagai penyebar dosa yang patut disingkiri yang kemudian mengakibatkan sempitnya gerak pergaulan sampai pada hal lapangan pekerjaan. Sejak lahir wadam sudah banyak konflik, dihadapkan dengan pilihan untuk menjadi laki-laki 2 Meragakan diri dengan penampilan atau dandanan yang berlebihan untuk menarik perhatian orang, KBBI, hlm. 895.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 atau perempuan kemudian kontak dengan masyarakat sekelilingnya yang penuh norma-norma dan aturannya sendiri yang membuat mereka mengalami frustasi yang dalam (Atmojo, 1986: 98). Sikap dari masyarakat, penolakan keluarga, kontroversi, dan diskriminasi yang diperoleh wadam hanyalah menjadi pemicu terjadinya tekanan pada diri mereka. Hal tersebut tidak mengherankan, mengingat dilema psikologis yang mereka hadapi dari sikap melecehkan sebagian besar orang terhadap wadam. Wadam seringkali menimbulkan kontroversi dan diskriminasi sehingga amat sulit diterima di masyarakat. Penolakan terjadi ketika tidak sedikit wadam yang sudah mencoba bekerja di kantor-kantor dan toko-toko, tetapi mereka terpaksa keluar karena tidak tahan dengan hinaan orang-orang di sekitarnya (Ibid., 24). Uang menjadi kebutuhan paling mendesak bagi wadam, karena dengan uang mereka menutupi biaya hidupnya mengingat mereka sebagian besar tinggal sendiri. Namun, terkadang usaha mencari uang diwarnai tindakan kekerasan seperti pemerasan, pencopetan, dan lain-lain, tetapi hal itu berkaitan dengan moralitas tiap individu. Tidak semua wadam seperti itu seperti halnya manusia pada umumnya ada yang baik dan ada yang jahat (Ibid., 71). Tampaknya, penilaian masyarakat terhadap wadam tentang pemerasan dan pencopetan juga dipengaruhi dengan anggapan bahwa wadam adalah makhluk yang berdosa. Penggantian identitas, kelamin dan identitas diri, menjadi salah satu cara mendapat pengakuan secara resmi dari masyarakat.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 1.6.4.2.2 Aspek Komunitas Wadam Sebagai makhluk sosial, wadam juga butuh berinteraksi dengan orang lain. Interaksi dalam tahap dasar berupa komunikasi antarpribadi yang terjalin pada wadam dengan orang-orang terdekatnya. Tidak terkecuali pada hubungan pertemanan sesama wadam. Para wadam yang ditolak oleh orangtuanya pergi dari keluarga dan berkumpul bersama orang-orang yang mau menerimanya, sesama wadam (Atmojo, 1986: 21). Dalam suatu komunitas wadam, belum tentu wadam satu dan wadam yang lainnya kenal dekat atau akrab. Kalau mereka saling simpati itu dikarenakan perasaan senasib sebagai wadam, bukan berarti tidak ada persahabatan antarwadam. Selain latar belakang yang sama, wadam-wadam ini memlih teman sesama wadam karena alasan kecocokan masing-masing. Hubungan pertemanan sesama wadam yang terjalin disebabkan oleh adanya kepedulian dari mereka akan rekan yang mempunyai latar belakang yang sama. Seringkali mereka membutuhkan teman untuk berbagi dan bercerita tentang keluh kesah yang hanya dimengerti oleh kalangan wadam sendiri. Contoh permasalahan yang dihadapi mereka salah satunya adalah penolakan dari pihak keluarga saat mereka memutuskan diri menjadi wadam. Mereka membutuhkan teman bercerita dan memberikan solusi terhadap masalahnya dan tidak semua orang bisa mengerti masalah yang dihadapinnya. Hanya wadam yang dapat mengerti masalah yang dialami sesama wadam (Rusdiana: 5). Bahasa berfungsi sebagai penghubung antara pengguna bahasa yang satu dengan yang lainnya. Maka bahasa dibuat sepraktis mungkin agar pengguna

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 bahasa lebih mudah untuk memahami dan juga bisa dipahami oleh si pengguna bahasa itu sendiri. Banyak kalangan yang mengubah bahasa baik golongan ataupun tingkatan usia. Begitu banyak komunitas yang ada di Indonesia dan begitu banyak pula variasi bahasa yang terbentuk untuk memudahkan komunikasi, salah satunya adalah komunitas wadam. Komunitas yang satu ini tergolong unik dan eksklusif. Hal ini dikarenakan bahasa merupakan hasil kreativitas berbahasa, oleh karena itu bahasa yang dimiliki komunitas wadam ini termasuk bahasa slang3 sebab tak banyak orang mengerti dan paham tentang bahasa ini kecuali komunitas itu sendiri yaitu wadam (http://gudangmakalah.blogspot.com/2009/08/skripsipenggunaan-bahasa-slang-dalam.html). Waria atau gay yang kehidupannya ditandai dengan skenario bermainmain yang ramai, kemungkinan akan bermain-main pula dengan bahasa. Seperti para remaja yang cenderung untuk melakukan hal-hal yang kadang dianggap tidak biasa di masyarakat umum dan salah satu alasan mereka melakukannya adalah karena menunjukkan identitasnya, maka mereka kadang-kadang menciptakan dan menggunakan bahasa-bahasa yang tidak umum. Bahasa itu diambil dari bahasa Indonesia atau bahasa Daerah yang kemudian diubah, ditambah, dikurangi atau sebaliknya, dan sebagainya. Bahasa semacam itu (bahasa yang digunakan kaum tertentu, kaum minoritas) merupakan sebuah wacana perlawanan atas konstruksi kebahasaan umum (Yangni, 2004: 16-17). 3 Ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang sifatnya musiman, dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern dengan maksud agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti, KBBI, hlm. 1325.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Berdasarkan paparan di atas, penulis menggunakan teori tokoh dan penokohan untuk menganalisis tokoh wadam beserta beberapa tokoh yang berpengaruh besar terhadap terbentuknya citra wadam (Julini, Roima, Tibal, Pejabat, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda) berdasarkan fungsinya. Hasil tersebut akan disaring menjadi hanya tokoh wadam saja (Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda). Penokohan tokoh wadam tersebut digunakan untuk menemukan konstruksi citra diri (fisik dan psikis) serta citra sosial (masyarakat dan komunitas) wadam yang ada pada naskah drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. 1.7 Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap, yaitu (i) pendekatan, (ii) pengumpulan data, (iii) analisis data, dan (iv) penyajian hasil analisis data. 1.7.1 Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif dan pendekatan sosiologis. Pendekatan objektif bertumpu pada karya sastra itu sendiri yang berpusat pada unsur-unsur yang dikenal dengan analisis intrinsik (Ratna, 2012: 73). Dalam penelitian ini unsur tokoh penokohan yang menjadi jembatan untuk mendapatkan analisis citra wadam dalam drama Opera Julini. Pendekatan sosiologis berdasarkan hubungan antara karya sastra dan masyarakat. Hubungan tersebut disebabkan oleh (i) karya satra dihasilkan

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengarang, (ii) pengarang adalah anggota masyarakat, (iii) 21 pengarang memanfaatkan kekayaan pada masyarakat, dan (iv) hasil karya sastra dimanfaatkan kembali oleh masyarakat (Ratna, 2012: 60). Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa citra wadam dalam drama Opera Julini merupakan cerminan fenomena di masyarakat yang sesungguhnya. Konsep cermin adalah sastra sebagai refleksi sosial (Endraswara, 2011: 95). Apa saja yang ada dalam sastra, asalkan mencerminkan kehidupan sosial, dianggap penting sehingga layak untuk diteliti. 1.7.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menganalisis data mengenai citra wadam di masyarakat dan citra wadam dalam drama Opera Julini karya N. Riantiarno yang terbit pada tahun 1982 oleh penerbit Matahari, Jakarta. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, yaitu peneliti membaca banyak pustaka, termasuk karya sastra secara cermat (Nazir, 1985: 111-132). Penelitian ini menggunakan teknik catat, yaitu mencatat data-data berupa kata, kalimat, dan paragraf yang mengungkapkan makna karya sastra (Moleong, 1989: 167-176). Dalam penelitian ini, teknik catat digunakan untuk mencatat data yang diperoleh dari teks-teks naskah drama yang berupa dialog, penggalan dialog, maupun teks samping. Selain itu, penelitian ini menggunakan metode observasi nonpartisipan yang berarti observasi memusatkan kepada pengamatan, tidak mengikutsertakan peneliti di dalamnya, peneliti hanya sekadar sebagai pengamat (Ratna, 2012: 217-221). Metode observasi nonpartisipan

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi) untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, dan gejala-gejala alam. 1.7.3 Metode dan Teknik Analisis Data Metode analisis data merupakan tahap ketika data diberi arti atau makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian (Nazir, 1985: 405). Dalam penelitian ini digunakan metode formal dan metode analisis isi. Metode formal menganalisis unsur-unsur karya sastra dengan totalitasnya. Metode formal bertugas menganalisis unsur-unsur, sesuai dengan peralatan yang terkandung dalam karya sastra (Ratna, 2012: 49-51). Metode ini digunakan untuk menganalisis unsur tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini. Metode analisis isi mengungkapkan isi karya sastra sebagai bentuk komunikasi antara pengarang dan pembaca sebagai bentuk komunikasi (Ratna, 2012: 48-49 dan Endraswara, 2011: 160-181). Metode ini digunakan untuk menganalisis konstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini. 1.7.4 Metode Penyajian Hasil Analisis Data Analisis data disajikan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu hasil analisis data berupa pemaknaan karya sastra yang disajikan secara desrkriptif (Ratna, 2012: 46-48). Hasil analisis penelitian ini berupa penafsiran mengenai citra dalam bentuk deskriptif.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 1.8 Sumber Data Data merupakan bahan penelitian. Karya sastra yang menjadi objek penelitian ini adalah naskah drama dengan indentitas sebagai berikut: Judul : Opera Julini (Drama Trilogi Opera Kecoa Bagian Ketiga) Pengarang : Norbertus Riantiarno Tahun Terbit : 2004 Penerbit : Matahari Tebal : x + 159 halaman Ukuran : 14,5cm x 20,5cm x 1cm 1.9 Sistematika Penyajian Penelitian ini dibagi menjadi tiga bab. Sistematika penelitian ini dirinci sebagai berikut: Bab I berisi pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagi menjadi delapan sub bab yaitu latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat hasil penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II berisi deskripsi analisis tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno yang menjadi dasar analisis citra. Bab III berisi deskripsi citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Bab IV berupa penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II UNSUR TOKOH DAN PENOKOHAN DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO 2.1 Pengantar Sebelum drama Opera Julini dikaji dengan teori citra, peneliti akan menganalisis struktur drama Opera Julini yang meliputi unsur tokoh dan penokohan yang menjadi dasar penelitian sebelum meneliti ke hal yang lebih mendalam. Analisis tokoh dan penokohan diperlukan untuk melihat hubungan sosial antartokoh serta memahami makna keseluruhan drama Opera Julini terkait dengan citra wadam. Analisis tokoh dan penokohan meliputi tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Untuk menganalisis tokoh dan penokohan dalam drama Opera Julini, perlu diketahui terlebih dahulu sinopsis cerita drama Opera Julini. Selanjutnya, akan diuraikan analisis unsur tokoh dan penokohan drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. 2.2 Sinopsis Drama Opera Julini Pada suatu pagi seorang pejabat berjoging ditemani dengan seorang aspri setianya. Tidak lama kemudian datanglah dua orang polisi menemui pejabat dan melaporkan mengenai keadaan kota yang ada dalam keadaan aman juga baik. Namun, tak disangka ketika pejabat berhenti berjoging sampailah dia di suatu tempat di kolong jembatan. Kala itu pejabat sungguh-sungguh terkejut menyaksikan sendiri kondisi rakyatnya yang sangat miskin, terlantar, dan hidup 24

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 serba kekurangan. Tanpa sebab, usai menyaksikan kehidupan rakyatnya yang miskin dan jauh dari kesejahteraan tiba-tiba pejabat mengalami kebutaan. Sepulangnya pejabat ke rumah bukannya disambut dengan baik karena sakit matanya, tetapi justru mendapati sang istri pejabat yang marah-marah mengungkit masa lalu pejabat yang pernah berselingkuh dengan Tuminah seorang pelacur perempuan. Istri pejabat marah karena menemukan foto mesra pejabat dengan Tuminah yang masih disimpan oleh pejabat. Kebutaan pejabat pun disangkutpautkan dengan kejadian perselingkuhan beberapa tahun silam karena Tuminah adalah seorang pelacur sehingga dianggap kotor oleh istri pejabat. Karena merasa bersalah kepada istrinya, pejabat merobek-robek foto itu dan membuangnya. Di alam kematian, seorang Guide yang bertugas memandu arwah-arwah yang telah mati mengajak dan mengawal arwah Julini berkeliling melihat-lihat dunia nyata tempat di mana Julini pernah hidup. Beralih dari alam Julini yang sudah mati, di kolong jembatan markas besar para bandit, arwah Julini dan Guide datang dari sisi alam lain menyaksikan Roima, pemimpin kelompok bandit berpidato. Meskipun sudah mati, Julini masih tetap memuja-muja Roima, kekasihnya yang masih hidup. Usaha arwah Julini untuk mendekati Roima sia-sia, karena Roima tentu saja tak bisa melihat arwah Julini yang sudah mati. Di tengahtengah pidato Roima, tiba-tiba datang tiga orang polisi dengan maksud memeriksa kawasan para bandit. Mengetahui kedatangan polisi, para bandit kalang kabut berpencar melarikan diri agar tidak tertangkap polisi. Pencarian ketiga polisi itu berakhir sia-sia karena tidak satu pun bandit ditemukan untuk ditangkap, tapi justru gelandangan Sawil dan Bilunlah yang muncul di tempat itu. Di sisi lain di

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 rumah pejabat, mata pejabat yang sakit dan buta tak kunjung sembuh. Dokter pun sampai datang untuk menyembuhkan mata pejabat, tetapi semakin dokter itu berusaha menyembuhkan, justru mata Pejabat menjadi semakin sakit. Malam harinya, bandit-bandit berkumpul kembali untuk membahas terbongkarnya markas mereka. Kepanikan melanda para bandit terutama Tibal dan Roima sebagai pimpinan para bandit. Emosi keduanya tidak terkontrol. Karena kejadian itu, Tuminah pun ikut terkena imbas kemarahan Roima. Di dunia alam lain, Guide mengajak arwah Julini mengunjungi teman-teman lamanya di bawah Plaza Julini sebuah tempat berkumpulnya para wadam. Arwah Julini melihat Laila dan Tea berkelahi memperebutkan Bob. Ike, Esyi, Syeni, dan Wanda bukannya melerai kedua temannya yang berebut lelaki itu, tetapi mereka justru semakin memeriahkan suasana perkelahian itu dengan saling mendukung salah satu temannya. Tak lama kemudian ada suara yang membuat para wadam berhenti membuat keributan. Suara tadi adalah petugas yang mengamankan semua kawasan. Petugas itu menyuruh para wadam pergi mengikuti penataran P-6 karena dianggap sebagai biang keributan. Setelah menyaksikan kejadian itu, arwah Julini pergi bersama Guide untuk melihat Musoleum Patung Julini, patung Julini yang dibangun oleh pejabat sebagai penghormatan atas kematian Julini dan dibangun karena pejabat didemo oleh para wadam sepuluh tahun lalu. Usai itu arwah Julini bersama Guide pergi melanjutkan perjalanannya. Malam hari di kantor urusan bordil milik Tibal dan Roima, Tuminah dan Bajenet sibuk menyeleksi para perempuan yang ingin bekerja pada mereka sebagai pelacur. Dewi dan Antje adalah dua orang perempuan yang ikut serta

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 dalam seleksi itu. Tiba-tiba Duing datang membawa berita dan memberitahu Tuminah bahwa para wadam digiring petugas ke kantor polisi untuk ditatar P-6. Tuminah melaporkan kejadian itu kepada bos, Tibal dan Roima, karena merasa khawatir bahwa Laila akan dengan mudahnya membocorkan rahasia kelompok termasuk lokasi markas para bandit dan wadam. Di tempat lain, polisi-1 dan polisi-2 malam-malam datang ke rumah pejabat membawa berita mengenai bangkit kembalinya komplotan Kumis—para bandit—yang sekarang dipimpin oleh Tibal dan Roima, yang sepuluh tahun lalu memimpin para wadam demonstrasi di kantor pejabat. Tak lama setelah pejabat memerintahkan polisi-1 dan polisi-2 untuk segera menghabisi komplotan bandit itu dengan tujuan agar tidak lagi terjadi kerusuhan, tiba-tiba mata Pejabat menjadi semakin sakit dan tak kunjung sembuh. Di alam kematian Guide mengantar arwah Julini ke sebuah gerbang menuju alam lain dan meninggalkannya bersama dua orang penjaga. Di gerbang menuju alam lain itu terdapat dua pintu, pintu untuk perempuan dan pintu untuk laki-laki. Di tempat itu arwah Julini berusaha dengan keras berkali-kali masuk ke pintu untuk perempuan, tetapi selalu saja terpental dan tak pernah bisa masuk karena sesungguhnya Julini adalah seorang laki-laki. Karena Julini iri melihat arwah Kumis bisa masuk begitu saja ke dalam pintu untuk laki-laki sedangkan arwah Kasijah dan arwah Tarsih bisa masuk ke dalam pintu untuk perempuan, arwah Julini memutuskan untuk diam tidak mau bicara dan tetap menunggu sampai dia bisa melewati pintu untuk perempuan.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Malam hari di kolong jembatan, markas rahasia para bandit, Tibal memaki-maki Laila yang telah membocorkan semua kejahatan para bandit kepada polisi. Tibal menyuruh anak buahnya, Bajenet, untuk menyiksa Laila dan membunuhnya perlahan-lahan menggunakan pisau belati dengan cara mengiris kemaluan Laila sedikit demi sedikit. Melihat hal itu Roima tidak tahan dengan ulah penyiksaan Tibal terhadap Laila, sehingga membuat Roima mengambil keputusan untuk tetap membunuh Laila dengan pisau belati tetapi tanpa memberikan penyiksaan pada Laila. Pengalaman tersebut semakin menyadarkan Tibal dan Roima bahwa mereka adalah dua pemimpin yang tidak sepaham. Dalam keadaan hati yang sengit, Tibal pergi bersama Bajenet dan Bleki meninggalkan Roima. Roima menyuruh Bonar untuk membuang mayat Laila. Sebagai kekasih Roima, melihat Roima mengalami kejadian berat Tuminah mendekati Roima dan berusaha menenangkannya. Di tempat lain, karena merasa tersaingi oleh Roima, ternyata diam-diam Tibal bersama dengan Bajenet dan Bleki merencanakan pembunuhan terhadap Roima agar Tibal bisa bebas memimpin kelompok bandit tanpa harus berselisih paham dengan Roima. Malam di rumah pejabat, pejabat bersama dengan polisi-1 dan polisi-2 membuat rencana untuk menumpas para bandit dengan cara mendekati para wadam dan menginterogasinya. Di tempat lain, di bawah patung Julini, para wadam berkumpul bersama dan secara tiba-tiba para wadam dikejutkan Tea dengan berita bahwa Laila telah mati dibunuh Roima. Mendengar berita kematian Laila, semua wadam pergi menuju pintu air Waduk Kuningan tempat di mana mayat Laila ditemukan.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 Di jalanan malam, di tengah-tengah pembicaraan para gelandangan gila Sawil dan Bilun, polisi-1 dan polisi-2 yang telah diperintahkan pejabat untuk menghabisi para bandit datang sambil mabuk-mabukan. Kedua polisi yang sedang mabuk itu seharusnya memeriksa kawasan kumuh di kolong jembatan, tetapi mereka justru pergi menuju warung minuman untuk kembali melanjutkan bermabuk-mabukan. Tiba-tiba Roima datang mendekati patung Julini dengan perasaan sedih. Dalam bayangan Roima, patung Julini menjadi hidup, berbicara dengan Roima dan mereka seolah saling berkasih-kasihan seperti sedia kala ketika Julini masih hidup. Namun, dalam sekejap bayangan Julini menghilang karena peristiwa Roima yang disekap oleh Bleki dan dibunuh oleh Tibal di tempat yang sama Tibal pernah membunuh Kumis, mantan pemimpin kelompok bandit. Suatu malam, para pelacur perempuan yang lolos bekerja di rumah bordil milik Tibal dan Roima diberi kursus etika. Tidak lama tiba-tiba Duing datang mengejutkan Tuminah dengan membawa kabar buruk, yaitu kematian Roima. Kematian Roima membuat Tuminah sangat sedih dan kacau. Di bawah patung Julini, para wadam sangat menyesalkan kematian Roima. Tiba-tiba datanglah polisi-1 dan polisi-2 mendatangi para wadam di bawah patung Julini sambil mabuk-mabukan. Karena mabuk, kedua polisi itu tidak menyadari bahwa ternyata mereka justru menembaki dan membunuh para wadam dengan senapan mesin hingga tak tersisa seorang wadam pun. Jasad para wadam yang telah mati berubah menjadi kupu-kupu dan beterbangan mengejar kedua polisi lalu menghilang begitu saja ke langit. Menyusul para wadam, Tuminah dan Duing datang ke Plaza Julini dan bersedih melihat tempat itu kini sudah hancur berantakan, para wadam

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 telah mati dan Roima pun juga mati. Di tempat yang sama, Tibal dan anak buahnya kebingungan karena markas mereka semua hancur terbakar. Tiga puluh truk tentara dan tanknya meluluhlantahkan markas para bandit. Sia-sialah semua usaha apa pun yang pernah dikerjakan Tibal dan Roima. Di rumah pejabat, istri pejabat memaki polisi yang membuat kerusuhan dengan membunuh para wadam. Namun, aspri sang pejabat memberi kabar bahwa tentara telah menyebar di semua kawasan untuk mengamankan keadaan dan memusnahkan kawanan bandit. Mengetahui hal itu pejabat melanjutkan perintah menyuruh polisi agar terus mengamankan kota. Entah mengapa tiba-tiba mata pejabat yang sakit semakin sakit dan membuatnya mulai menyerah dengan kondisinya yang tidak bisa melakukan apa-apa jika harus memimpin kota dengan keadaan mata yang buta. Di gerbang dengan dua pintu—pintu untuk laki-laki dan pintu untuk perempuan—, arwah Julini bertemu dengan arwah teman-teman wadamnya yang sudah mati juga. Karena mereka semua sebenarnya laki-laki dan tidak bisa masuk ke pintu untuk perempuan, para wadam pun mengikuti niatan Julini untuk diam dan menunggu sampai pintu untuk perempuan itu terbuka bagi mereka. Di sisi lain, Pejabat bermaksud mengundurkan diri dari jabatannya. Namun, ternyata Menteri menolak permintaan pejabat dan justru akan menaikkan pangkat pejabat atas keberhasilannya menumpas kelompok bandit. Sementara itu, Bleki mencaricari Tibal yang menghilang entah ke mana. Pada akhirnya, di alam kematian arwah Julini bertemu kembali dengan arwah Roima yang sudah mati.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 2.3 Tokoh dan Penokohan Drama Opera Julini Salah satu unsur penting dalam karya sastra adalah tokoh. Pembedaan tokoh yang dilakukan berdasarkan peran tokoh dibagi menjadi tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Tokoh protagonis merupakan tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan berperan sebagai penggerak cerita. Tokoh antagonis merupakan tokoh lawan dari tokoh protagonis, sebagai musuh dan sebagai penghalang bagi tokoh protagonis. Tokoh tritagonis merupakan tokoh yang mendukung tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2005: 165). Penokohan tidak hanya menyebutkan siapa nama tokoh, tetapi juga memperkenalkan watak tokoh kepada pembaca. Oleh karena itu, penokohan dapat membantu memperjelas keadaan fisik, psikis, dan sosiologis para tokoh. 2.3.1 Tokoh Protagonis Tokoh protagonis dalam drama Opera Julini yang akan dianalisis adalah Julini dan Roima. Selanjutnya, pengenalan tokoh Julini dan Roima akan dibahas dalam penokohan tiap tokoh. 2.3.1.1 Julini Julini, seorang wadam yang telah meninggal sejak sepuluh tahun lalu karena terkena peluru nyasar saat demonstrasi, masuk dalam golongan wadam transgender, wadam yang secara fisik masih dengan alat kelamin laki-lakinya

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 karena tidak operasi kelamin (1). Julini belum mengoperasi alat kelaminnya menjadi perempuan dikarenakan pertimbangan ekonomi karena operasi memang tidak murah (Atmojo, 1986: 39-40). Wadam dengan nama asli Bambang Julino (34 tahun) ini diharuskan melewati tiga gerbang dunia lain dengan tujuan untuk menjemput Roima, kekasih yang masih dicintainya bahkan sampai Julini telah mati (2). Julini bangga menjadi kekasih Roima, tidak ada lelaki lain yang Julini cintai selain Roima. Kecintaannya pada Roima menunjukkan bahwa Julini sebagai seorang wadam mampu memberikan kesetiaan hatinya hanya pada seorang lakilaki (3), (4). Julini memanggil Roima dengan panggilan abang sebagai panggilan sayangnya terhadap Roima. (1) ROIMA: Peristiwa dulu itu. Aku penyebabnya. Kalau kamu tidak mati, kita pasti sudah bahagia. Kita cari duit supaya kamu bisa operasi ganti kelamin. Lalu kita pergi ke penghulu, menikah. Dua kali kita gagal menikah. Sekarang kamu jangan pergi. Aku tidak mau gagal lagi. (OJ: 416) (2) JAGA-1: Kamu salah masuk gerbang. Ada dua gerbang, satu untuk perempuan, satunya lagi untuk pria. Kamu masuk gerbang untuk perempuan. Tentu saja ditolak sebab kamu pria. JAGA-2: Komputer jelas-jelas memberitahu kamu itu laki-laki. Dengar! Saya bacakan. Nama, Bambang Julino. Umur, 34. Jenis kelamin, laki-laki. Status, tidak menikah. Kebangsaan, tak terbaca. Agama, tak terbaca. Alamat, tak terbaca. Kasus, mati kena peluru nyasar. Jelas? (OJ: 379) (3) JULINI: Saya kenal mereka. Duilah, Gusti, itu Roima, Tibal, Tuminah. Itu Roima, suamiku … pujaanku … kekasih jiwaku ….

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 GUIDE: Percuma mendekati mereka. Mereka tidak akan bisa melihat kamu. Kamu tidak punya kontak dengan mereka. Dunia kamu dan dunia mereka berbeda. JULINI: Bagaimana? Tidak mungkin Roima tidak kenal saya …. Tidak mungkin, oh, tidak mungkin …. GUIDE: jangan lupa, kamu sudah mati. (OJ: 310) (4) JULINI: Lalu untuk apa disuruh dandan kayak ondel-ondel begini. Katanya disuruh menjemput calon suami. Itu dia suami saya, Roima. Tidak ada lelaki lain yang saya sayangi selain Roima. JULINI: Lalu siapa yang akan jadi calon suami saya, kalau Roima tidak bisa melihat saya? Saya tidak ingin punya suami lain, selain dia. (OJ: 314) Sebagai wadam transgender, Julini menunjukkan perilaku laiknya perempuan pada umumnya. Julini dengan naluri keperempuanannya merias wajah dan kukunya dengan eye sedow, cat bibir, dan cat kuku ketika muncul dalam alam kematiannya (5), (6). Selain itu, sebagai seorang wadam Julini memiliki sifat genit dan suka merayu lelaki (7), (8). (5) LAILA: Iya juga. Tidak dinyana, tak disangka, kita ketemu di sini. Aih. Makin cakep deh Mbak Julini, pakai eye sedow segala, apa mereknya? (OJ: 435) (6) LAILA: Cat kukunya mengkilat, cocok dengan cat bibir. Ini luar negeri, ya? (OJ: 436)

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 (7) JULINI: Kamu ini penunjuk jalan asli apa palsu, sih? Dari tadi kalau ditanya, jawabnya melulu ‘aku belum bisa bilang’. Memangnya apa yang bisa? Nanti saya perkosa baru tahu rasa. Bikin geregetan orang saja. Eee, lama-lama saya lihat, si Mas ini ganteng juga. Pakai dasi, rambut rapih, minyak wangi. (OJ: 357) (8) JULINI: Ogah. Saya perempuan. Sejak lahir saya sudah merasa sebagai perempuan. Makin tua makin yakin saya perempuan. Seumur hidup saya selalu pakai rok. Enak saja disuruh berubah. Lagian mana ada laki-laki yang pantatnya bahenol kayak Julini? Mana ada laki-laki yang bibirnya seksi kayak saya. Cari. Pasti nggak ada. (OJ: 379) (9) JULINI: Ini kenyataan, tapi juga khayalan. Ini khayalan tapi juga kenyataan. Pokoknya bolak-balik begitu seperti kaca, dilihat dari sebelah mana saja, ya, tetep kelihatan. Abang masih suka ‘gituan sebelum sarapan? JULINI: Aih, ini yang Julini suka. Abang selalu terus terang. Julini memang jelek, tapi servis, servis kan memuaskan? (OJ: 415) Julini suka menggunakan istilah dalam percakapannya dengan tokoh lain. Istilah tersebut antara lain istilah kutilang ‘kumisan tinggi langsing’ dan latunas ‘laki-laki tuna susila’ seperti pada kutipan (10) dan (11). (10) JULINI: Roima makin ganteng dia, makin keren, makin jantan, makin seksi. Saya betul-betul gemes lihat kamu. Roima, kamu sekarang sudah jadi kutilang, ya? GUIDE: Apa? Kutilang?

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 JULINI: Kumisan. Tinggi. Langsing. Aiihhh …. (OJ: 312) (11) JULINI: Latunas, laki-laki tuna susila, istilah sopannya. Cabo laki istilah kasarnya. Orang-orang bilang kami begitu. Padahal Julini ini wanita. Tulen. Betul, banyak lelaki lain mampir di dada Julini. Tapi mereka cuma langganan. Yang saya layani lantaran uangnya, bukan lantaran cinta. Hanya Roima. Ibaratnya, sekali merdeka tetap merdeka. Sekali Roima, tetap Roima. Dunia langsung gelap kalau dia tidak ada. Lebih baik saya yang tidak bisa lihat Roima, daripada sebaliknya. Apa ini sulapan? (OJ: 315) Julini yang sudah mati masih dan terus dicintai bahkan diidolakan oleh teman-temannya sesama wadam (12), Julini dibuatkan sebuah patung sebagai penghargaan semasa hidup Julini yang disebut dengan Musoleum Patung Julini yang secara tidak langsung menjadi sebuah ikon dari keberadaan wadam. Patung Julini didirikan oleh pejabat yang didemo oleh para wadam dan bandit. Namun, Patung Julini dinilai istri pejabat dan anak-anak buah pejabat terlalu vulgar karena selain membuat kawasan itu semakin kumuh, patung Julini bertelanjang dada dan memegang sebuah pisang (13), (14). Karena dianggap merusak pemandangan kota, Patung Julini rencananya akan dirobohkan (15). (12) DUING: Roima dan Julini, memang luar biasa. Wadam mana yang tidak tahu kisah asmara mereka. Lakon cinta yang sudah jadi legenda. Dan Julini sampai sekarang masih tetap idola kita. Pantas kalau dia dijadikan patung. (OJ: 341) (13) JULINI: Kok lebih jelek dari aslinya?

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Mana telanjang dada lagi. Bisa masuk angin kamu nanti. Aduh tangannya pegang pisang. Idiih. Siapa sih yang bikin patung ini? (OJ: 358) (14) ISTRI: Alllaa, siapa saja, apa peduliku. Tapi tindakanmu Pak, hanya membuat mereka makin bertingkah. Aku setuju kalau musoleum dan patung itu dirobohkan lagi. Apalagi bentuk patungnya kayak gitu itu. Ih, porno. Jijik. Bikin kotor pemandangan kota saja. (OJ: 404) (15) POLISI-2: Soal merobohkan patung banci super itu bagaimana, Pak? (OJ: 405) Tidak diterimanya Julini dalam masyarakat semakin terlihat ketika Julini yang sudah mati dan berada dalam alam kematian. Meskipun Julini berhasil melewati dua gerbang pertama, tetapi pada gerbang terakhir Julini tidak berhasil lolos karena di sana terdapat dua pintu, yaitu pintu untuk perempuan dan pintu untuk laki-laki. Julini selalu yakin bahwa dirinya adalah perempuan tulen, karena itu Julini tidak bisa memasuki pintu untuk perempuan yang sesungguhnya mengharuskan Julini masuk ke pintu untuk laki-laki. Julini ditolak oleh pintu untuk perempuan. Seberapa pun perjalanan Julini memperjuangkan keperempuanannya tidak akan pernah ada habisnya karena di mana pun Julini berada, keberadaannya sebagai wadam sulit diterima bahkan di alam kematian sebagai tempat terakhir bagi arwah Julini (16), (17), (18). Meskipun begitu, Julini dengan status wadamnya menunjukkan bahwa Julini tidak berhenti menyerah dan selalu berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya adalah seorang perempuan.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 (16) GUIDE: Selamat jalan Julini, masih banyak yang harus kamu lewati. Lautan kecap, padang api, sungai darah, danau angin, pegunungan tengkorak, jembatan pisau, tangga kapas, sumur tanpa dasar. GUIDE: Aku kasihan padamu, karena perjalananmu tidak akan habis. (OJ: 376) (17) JULINI: Eh, ada penjaga. Mas, Mas, situ jaga gerbang ini, ya? Eh, ada dua. Mas? Mas. Nggak pada punya kuping kali, ya? Ya sudah, saya masuk saja. (MASUK TAPI BERJUTA GARIS CAHAYA MENAHANNYA. JULINI TERPELANTING DITONJOK CAHAYA-CAHAYA ITU) Aduuh, toobaat. Apa sih maksudnya? Katanya disuruh masuk? Kok tidak bisa? Mas? Mas? Situ yang jaga gerbang ini, ya? Duh, ini sama gelonya ya dengan penunjuk jalan tadi. Masa nggak bisa masuk? (MENCOBA UNTUK MASUK LAGI. TAPI BEGITULAH, KEMBALI BERJUTA GARIS CAHAYA MENONJOKNYA HINGGA DIA TERPELANTING) Aduh, aduh, edan. (OJ: 377) (18) JULINI: Mana saya tahu? Yang saya tahu, saya macet di sini. Ibaratnya kalau kita lagi meladeni langganan, kita tutup anu kita, padahal dia udah ngebet. Sekarang kebalik. Kita ngebet, anu dia ditutup. Lihat enggak tuh, di situ. Ada dua pintu. Satu untuk laki-laki, satunya lagi untuk perempuan. Saya boleh masuk asal lewat pintu untuk lakilaki. Saya perempuan. Saya tidak mau. JULINI: Begitulah, kita ditolak. (OJ: 437)

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh kesimpulan penokohan tokoh Julini adalah seorang wadam transgender dengan nama asli Bambang Julino, kekasih Roima yang setia (1), (2), (3), (4); Julini suka merias diri, bangga pada jati dirinya sebagai wadam transgender, sifatnya genit dan suka merayu lakilaki (5), (6), (7), (8), (9). Julini menggunaan istilah khusus agar tak kalah bereksistensi (10), (11). Selain itu, Julini menjadi idola dan ikon melalui Musoleum Patung Julini, tetapi masyarakat menilai wadam itu vulgar, bebas, tidak sopan, kotor, vulgar tanpa mengerti norma, dan menyimpang dari kodrat (12), (13), (14), (15). Namun, Julini yakin bahwa dirinya adalah perempuan tulen meskipun ditolak dan sulit diterima bahkan di alam kematian. Hal ini tidak membuat Julini berhenti menyerah dan selalu berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan (16), (17), (18). 2.3.1.2 Roima Roima adalah seorang laki-laki pimpinan kawanan bandit dan juga wadam. Bersama Tibal, Roima menjalankan rencana-rencana kawanannya (19). Sebagai laki-laki tulen, Roima mencintai Julini apa adanya. Setelah ditinggal mati oleh Julini, Roima masih selalu teringat kepada Julini. Bahkan Roima sering merasa bersalah atas kematian Julini. Roima memang menjalin hubungan dengan Tuminah, tapi hal itu tidak membuat Roima berhenti mencintai Julini. Sebenarnya yang dicintai Roima hanya Julini. Roima menunjukkan bahwa Roima sangat setia dan tidak pernah berpindah ke lain hati (20), (21), (22).

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Kisah kasih Roima yang pernah mejalin hubungan dengan seorang wadam dan juga seorang perempuan memperlihatkan bahwa Roima berorientasi seksual sebagai biseksual4. Biseksual adalah orang-orang yang mempraktikkan baik homoseksualitas maupun heteroseksual sekaligus (Supratiknya, 1995: 95). Meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan, tetapi sebagai manusia biseksual Roima mau melakukan hubungan seksual dengan Julini maupun Tuminah. Dalam kedua hal tersebut, Roima sama-sama berperan sebagai laki-laki. Ketika bersama dengan Tuminah, jelas sekali Roima berperan sebagai laki-laki seperti biasa, sedangkan ketika bersama dengan Julini, dapat dikatakan bahwa Roima berlaku seperti homoseksual yang berperan sebagai laki-laki (22), (23). (19) ROIMA: Pada saatnya nanti kita bukan lagi bandit-bandit kasar yang bisanya cuma berkelahi. Kita akan menguasai ekonomi negeri ini. Dengan organisasi yang rapi dan ketat, dengan modal yang kuat, saya yakin rencana kita pasti terwujud. Inilah janji saya; pasti datang satu masa, nanti, kalian akan menjadi orang terhormat, orang yang dihargai, bukan lagi kecoa yang cuma berani merangkak di bawah kaki orang lain. (OJ: 308) (20) ROIMA: Aku datang Jul. kamu pasti sudah tahu kenapa aku datang. Aku tidak pernah bisa melupakan kamu. Karena aku, kamu pergi. Karena aku, kamu tertembak mati. Aku menyesal. Aku goblok, tidak pernah sanggup bilang terima kasih. Apa yang kuperoleh ini, semuanya karena kamu. Belum sempat membalas, kamu sudah mati. (OJ: 414) (21) ROIMA: Jul, kamu mau memaafkan? Aku selalu merasa bersalah. 4 Mempunyai sifat kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan); tertarik kepada kedua jenis kelamin (baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan), KBBI, hlm. 199.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 ROIMA: Peristiwa dulu itu. Aku penyebabnya. Kalau kamu tidak mati, kita pasti sudah bahagia. Kita cari duit supaya kamu bisa operasi ganti kelamin. Lalu kita pergi ke penghulu, menikah. Dua kali kita gagal menikah. Sekarang kamu jangan pergi. Aku tidak mau gagal lagi. (OJ: 416) (22) ROIMA: Aku masih tetap ingat kamu, aku tidak tahu kalau itu yang dinamakan cinta. Kamu tidak ada bandingannya. Biar kamu jelek seperti celepuk. (OJ: 415) (23) TUMINAH: Kamu pikir apa gunanya segala perhiasan dan cat kuku itu? Semuanya demi Roima. Tapi Duing, boleh aku terus terang, sudah hampir satu tahun aku tidak ‘gituan dengan Roima. Aku tidak tahu sebabnya. Mungkin dia punya pacar lagi, tapi rasanya tidak, entahlah. Mungkin aku sudah tidak menggairahkan lagi. (OJ: 340) Roima memiliki impian bahwa suatu saat dia bersama kelompok bandit dan para wadam punya kehidupan yang lebih baik. Melalui usaha-usaha seperti perjudian, pelacuran, bioskop, dan hotel yang telah mereka jalankan bersama, Roima membangun kehidupan yang lebih baik meskipun usaha-usaha tersebut mereka jalankan secara sembunyi-sembunyi karena mereka adalah kaum terpinggirkan (24), (25). Bagi Roima, kekayaan dan keberhasilan atas segala yang dia miliki akan sangat berpengaruh terhadap pandangan orang lain bahwa orangorang terpinggirkan juga mampu berkedudukan sama dengan para kalangan terhormat dan berkelas (26). Dalam hal ini kekayaan sangat berpengaruh dalam segala hal kehidupan. Roima hanya lelah dan jenuh dengan kehidupannya yang tidak pernah jauh dari kriminalitas dan penghinaan (27).

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (24) ROIMA: Itu celakanya. Rencana ini pasti makan waktu lama. Tidak bisa seketika. Betul, kekuatan adalah kekuasaan. Dan kekuasaan bisa dibentuk dengan uang. Kita harus punya banyak uang. Usaha itu sudah kurintis. Kita punya usaha perjudian, tempat pelacuran, bioskop dan hotel-hotel. (OJ: 334) (25) ROIMA: Kami sedang merencanakan sesuatu yang besar. Kalau berhasil keuntungannya bakal berlipat. Kalian sebagai kepala cabang harus simpan rahasia ini rapat-rapat. Bocor sedikit saja, kita semua mampus. (OJ: 312) (26) ROIMA: Aku tahu untuk apa aku kerja keras. Hanya kuda atau kerbau saja Yang tidak tahu untuk apa kerja keras. Kita kaya sekarang. Memang. Tapi apa bisa mengangkat diri kita ke dalam kalangan terhormat? TUMINAH: Apa kamu gila hormat? ROIMA: Aku belum selesai omong. Kita ini orang rendah, karena kita bandit-bandit kasar yang hanya mengandalkan tinju dan belati. Kehormatan? Apa itu tidak penting untuk orang-orang macam kita yang selama ini ‘ngumpet di dalam comberan? ROIMA: Apa kamu tidak ingin suatu saat nanti, kita bisa bergaul dengan kalangan jas dan dasi itu, membicarakan golf, lukisan dan turunnya harga minyak di pasaran dunia? Aku ingin. Aku ingin suatu saat nanti, kita satu meja makan dengan kalangan jas dan dasi itu, membicarakan macam-macam soal, tanpa malumalu. Kita sedang bergerak ke arah itu. Masa kita tidak mau belajar? Kita orang bodoh, tapi kita punya kesempatan untuk jadi pintar. Jangan sia-siakan. Kita punya uang sebagai modal. Kita tidak ingin terus menerus jadi kuda tunggangan. Kita harus jadi majikan. (OJ: 336) 41

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 (27) ROIMA: Selama ini, usaha-usaha kita jalankan sembunyi-sembunyi. Kita upah orang-orang kepercayaan kita. Sebab begitu kita nongol, polisi langsung akan menciduk kita. Aku tidak ingin jadi orang di belakang layar terus. Aku ingin mereka tahu inilah aku, otak dari semua usaha ini. Aku tidak ingin ngumpet dan buronan seumur hidup. (OJ: 337) Roima merupakan pemimpin yang bersifat tegas, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, berhati-hati dalam merencanakan sesuatu, dan berusaha menjaga kerahasiaan kelompok (28). Meskipun Roima berkedudukan sebagai pemimpin bandit, Roima adalah pemimpin yang menghargai orang lain terutama bandit-bandit anak buahnya dan juga para wadam (29), (30). Selain kebaikan hatinya, Roima juga mampu dan berhati-hati dalam mengambil keputusan yang bijak. Namun, dalam perjalanan memimpin kelompok bandit, Roima sering berselisih pendapat dengan Tibal karena mereka tidak sepaham dan masingmasing memiliki sifat yang berlawanan. Roima sadar bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, perselisihan antara Roima dan Tibal terjadi sehingga membuat Roima merasa ragu-ragu dan putus asa akan kemampuannya dalam memimpin kawanan bandit dan wadam (31), (32). (28) ROIMA: Aku setuju dia dihukum, tapi aku tidak setuju cara kamu yang di luar perikemanusiaan itu. Kalau mau bunuh, bunuh lekas. Jangan disiksa begitu, kita bukan orang biadab. ROIMA: Memang kita bandit, tapi kita bukan orang gila. Sekarang apa yang kamu inginkan dari pengkhianatan ini? Bunuh? Baik. Bunuh dia lekas. Bunuh. Tidak ada yang mau? Baik. Mana belatimu Bajenet?

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Sini. (OJ: 395) (29) ROIMA: Tibal, jangan kelewatan begitu. Bleki sudah menyerahkan diri kepada kita. Sudah selayaknya kita memperlakukan dia dengan baik. (OJ: 311) (30) ROIMA: Tenang. Tenang. Kita bubaran. Jangan berkelompok. Semuanya pergi berpencar. Kita ketemu seminggu lagi di tempat pertemuan nomor tiga, jam dua belas. Bubar. (OJ: 318) (31) ROIMA: Aku memang selalu ragu-ragu, aku tidak bisa jadi pemimpin. Aku tidak sanggup. (OJ: 397) (32) ROIMA: Dan keinginan untuk bersatu, tidak mungkin bisa lahir dari dendam. Dia harus tumbuh, alamiah, lahir karena kesadaran sendiri. Itulah kekuatan yang sebenarnya. ROIMA: Betul, aku harus banyak teman. Ah, Tuminah, kenapa kita jadi begini? Mungkin lebih enak hidup seperti lima belas tahun lalu. Miskin dan dikejar-kejar, tapi tidak rumit seperti sekarang. (OJ: 398) Kesimpulan penokohan tokoh Roima dari penjelasan di atas adalah Roima merupakan pimpinan kelompok bandit dan wadam. Roima selalu merasa bersalah atas kematian Julini; Roima sangat mencintai Julini walaupun Roima dekat dengan Tuminah; dan Roima berorientasi seksual sebagai biseksual (19), (20), (21), (22), (23). Impian Roima adalah memperbaiki kehidupannya melalui usaha-

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 usahanya agar Roima memiliki kekayaan dan kesuksesan dan menjadi manusia terhormat karena lelah dan jenuh dengan kehidupannya (24), (25), (26), (27). Sebagai pemimpin, Roima bersifat tegas, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, berhati-hati merencanakan sesuatu, menjaga rahasia kelompok dengan baik, pemimpin yang menghargai orang lain, bijaksana, berhati nurani, dan tidak suka kekerasan. Namun, ada kalanya Roima juga merasa rapuh, ragu-ragu dan putus asa akan keberhasilan impiannya (28), (29), (30), (31), (32). 2.3.2 Tokoh Antagonis Tokoh antagonis dalam drama Opera Julini yang akan dianalisis adalah Tibal dan Pejabat. Sebagai tokoh antagonis, Tibal dan Pejabat adalah dua tokoh yang paling berpengaruh menjadi penghalang dan sumber masalah bagi Julini dan Roima. Tibal yang bersama Roima memimpin kawanan bandit dan wadam, dengan keangkuhan dan keegoisannya dalam menguasai segala kehidupan perbanditan dan perwadaman justru menghancurkan kelompoknya sendiri. Pejabat sebagai figur pemimpin dengan keterbatasan untuk tidak ingin peduli terhadap kehidupan rakyatnya justru tidak mampu memberi jalan keadilan bagi kelompok bandit dan wadam yang membutuhkan bantuan serta media penyelesaian permasalahan sosial masyarakat kelas bawah. Selanjutnya, pengenalan tokoh Tibal dan Pejabat akan dibahas dalam penokohan tiap tokoh.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 2.3.2.1 Tibal Tibal merupakan pemimpin kelompok bandit yang merasa sangat berkuasa. Kegarangannya memaksa para anak buahnya tunduk dan setia karena takut (33), (34). Tibal termasuk orang yang tidak suka dengan pengkhianatan, tapi dia sering kali gegabah dalam mengambil keputusan, berpikir terlalu pendek, kejam, dan tidak memiliki rasa perikemanusiaan dengan alasan keadilan serta hukum yang harus ditegakkan (35), (36), (37). Obsesi akan kekuasaan membuat Tibal menjadi laki-laki kejam yang egois. Hanya ada rasa dendam membara yang membuat Tibal menjadi pemimpin yang buas, semena-mena, dan merendahkan anak-anak buahnya (38). Tibal selalu menyalahkan orang lain dan keadaan tanpa mau melihat kesalahan yang ada dalam dirinya, membuat Tibal menjadi orang yang angkuh dan keras kepala. (33) TIBAL: Selalu kalah? Kita memang kelas bawah tanah. Tapi kita tidak boleh menyerah. Sudah waktunya bangkit, menunjukkan dengan terang-terangan siapa kita. Kumis, bekas pemimpin kalian yang keparat dan sudah koit itu, mewariskan kepada kalian jiwa tempe. Bergerak dalam kegelapan, kemudian lari menyelinap kalau kerja sudah selesai. Itu jiwa coro, nyali kecoa. Aku, Tibal dan Roima, ingin kalian punya jiwa singa. Jiwa macan. Jantan. Tidak boleh ada sikap gampang takluk. Berani bertindak, dan berani menghadapi resikonya. Jangan seperti Bleki. (OJ: 308) (34) TIBAL: Dia sengaja kupelihara sebagai contoh dari sikap anjing. BLEKI: Ya, Bang. TIBAL: Sudi bekerja pada majikan mana saja, asal hidupnya aman.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Begitu Bleki? BLEKI: Ya, Bang. TIBAL: Biar ditendang, dimaki, diludahi, tidak peduli asal itu dilakukan oleh majikannya. Tidak punya harga diri. Begitu Bleki? BLEKI: Ya, Bang. (OJ: 309) (35) TIBAL: Kita para bandit nomor satu di dunia. Jangan sebut-sebut lagi kita kelas teri. Sikap merendah seperti itu hanya membuat kita makin lama semakin loyo. Aku tidak suka. Kita ini nomor satu di dunia, ingat. (OJ: 317) (36) TIBAL: Tidak bisa kuterima, tidak bisa. Masa ada mata-mata dalam kelompok kita? Ini akibat kamu terlalu lemah. Dunia kita dunia keras, dunia penuh darah, tidak bisa kita bersikap seperti pendeta. Bandit-bandit harus dikendalikan dengan tangan besi. TIBAL: Mereka harus takut kepada kita. Dengan darah kita rebut kelompok ini, dengan darah pula kita harus pertahankan kelompok ini di bawah perintah kita. Aku pikir, rencanamu terlalu bertele-tele. TIBAL: Kita harus segera mewujudkan rencana itu, lurus, tanpa belok-belok. Kekuatan adalah kekuasaan. Siapa kuat, dia kuasa. Tenaga para bandit hanya dibutuhkan untuk mengantar kita ke puncak kekuasaan. (OJ: 333) (37) TIBAL: Dan semua itu tidak kamu sengaja. Enak betul. Peraturan harus ditegakkan, disiplin harus dijunjung tinggi, pengkhianatan 46

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 diharamkan. Sudah berkhianat, masih minta keringanan. (OJ: 392) (38) TIBAL: Katanya minta keringanan? Saya berikan keringan. Kamu tidak akan langsung dibunuh. Potong anunya perlahan-lahan, Bajenet. Telanjangi dia. (OJ: 393) Dalam memimpin kelompok bandit, Tibal mengalami ketidakcocokan dengan Roima. Tibal merasa tidak sepaham dan dendam kepada Roima sebab Roima tidak mau mengikuti keinginan Tibal serta menganggap Roima tidak menghormati Tibal sebagai sesama pemimpin kelompok bandit (39). Tibal merasa iri pada Roima seeolah-olah hanya Roima yang mampu memimpin komplotan bandit. Dendam Tibal berlanjut menjadi rencana untuk membunuh Roima. Tibal menganggap dalam sebuah kelompok tidak boleh ada dua pemimpin. Karena sudah tidak tahan dengan Roima, akhirnya Tibal memerintahkan anak buahnya untuk membantunya membunuh Roima hanya demi memenuhi rasa dendam yang tidak ada habis-habisnya agar bisa menguasai semuanya (40). (39) ROIMA: Tibal, kamu terlalu dikuasai dendam masa lalu. Dulu, Kumis mengobrak-abrik masa depanmu. Kemudian kamu bunuh Kumis. Dan sekarang, kamu punya rencana mengobrak-abrik masa depan banyak orang. Kamu selalu buru-buru, tidak mau pakai otak. TIBAL: Aku punya otak. Jangan menghina. Aku hanya ingin agar rencana terwujud dalam waktu singkat. (OJ: 334) (40) TIBAL: Siapa yang membunuh Kumis? Siapa yang seharusnya mewarisi

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 komplotan yang dulu dipimpin Kumis? Siapa yang seharusnya jadi pemimpin besar? Tibal, Tibal, Tibal. Tapi apa kenyataannya? Roima mengambil alih semuanya. Aku tidak boleh berbuat semaunya. (OJ: 400) (41) TIBAL: Di sini aku pernah membunuh Kumis. Dan di sini juga aku membunuh kamu, Roima. Mampus kamu, mampus. Dan sekarang, tidak ada lagi yang bisa mencegah aku. Akulah pemimpin, akulah yang terbesar, kepala bandit paling berkuasa. Lihat mukaku baik-baik. Lihat. Inilah dunia kita, penuh kekerasan, pengkhianatan, penuh darah. Kamu tidak mungkin bisa mengubahnya. Kita orang kasar, orang bodoh, orang kampung. Hidup kita ada di ujung belati. Dan siapa kuat, dia berkuasa. (OJ: 417) Bersama Bleki dan Bajenet, akhirnya Tibal berhasil membunuh Roima. Dengan demikian Tibal sekarang menjadi satu-satunya pemimpin kelompok bandit. Namun, kehidupan Tibal beserta anak buahnya semakin tidak jelas dan hancur. Wataknya yang serakah, kasar, berangasan, kejam, ambisius, dan keras kepala membuatnya tidak mampu mempertahankan komplotan banditnya (41). Kesimpulan penokohan tokoh Tibal dari analisis di atas adalah Tibal merupakan pemimpin yang merasa berkuasa penuh, berpikir pendek, kejam, tidak berperikemanusiaan, tidak suka pengkhianatan, tapi gegabah mengambil keputusan. Tibal dipenuhi obsesi akan kekuasaan, kejam, egois, angkuh, keras kepala, semena-mena pada anak buahnya, dan suka menyalahkan orang lain (33), (34), (35), (36), (37), (38). Di samping itu, Tibal sering berselisih paham dengan Roima dan akhirnya rasa iri serta dendam membuat Tibal membunuh Roima agar bisa menjadi satu-satunya pemimpin kelompok bandit (39), (40), (41).

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 2.3.2.2 Pejabat Pejabat sebagai penguasa kota berkedudukan sebagai Direktur Utama PT Penataran Manggala Nasional (42). Pejabat pernah berselingkuh dengan Tuminah, kasus tersebut yang menimbulkan percekcokan antara pejabat dengan istrinya (43). Tidak hanya itu, pejabat adalah orang yang mendirikan Musoleum Patung Julini karena didemo oleh para bandit dan wadam sepuluh tahun lalu dengan tuduhan telah membakar kompleks pelacuran (44), (45). Pejabat sebagai tokoh masyarakat ternyata selama ini tidak pernah mengetahui keadaan rakyat yang sebenarnya (46). Pejabat terkejut ketika melewati daerah tempat tinggal rakyatnya yang miskin dan kumuh. Ketika menyaksikan kawasan kumuh tersebut, mata Pejabat tiba-tiba buta yang tidak dapat diketahui sebabnya (47). Dalam memimpin, Pejabat bersikap kasar tetapi tegas terhadap anak buahnya. Apa pun dia perintahkan demi ketentraman kota meskipun harus memakai dana yang besar untuk menumpas komplotan bandit (48). Sebenarnya Pejabat adalah orang yang mudah marah sehingga ditakuti oleh anak buahnya (49). Hal itu yang membuat Pejabat tidak tahu keadaan yang sebenarnya terjadi pada rakyat miskinnya. (42) PEJABAT: Jangankan kata disentuh. Ada orang omong di dekatku saja, mataku langsung seperti ditonjok-tonjok … aduuuuhhh …. PEJABAT: Jangan, jangan sentuh, sakit. ISTRI: Kita semua tahu, mata Mas sakit. Tapi mbok ya biar Pak Dokter memeriksa. Kayak anak kecil saja, diurusi malah tidak mau. Sudah, kalau begini terus, biarkan dia sakit mata. Biar, biar. Bikin gregetan

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI orang. Makin tua tidak makin memberi teladan, malah semakin kolokan. Bagaimana kalau rakyat tahu, begini ini kelakuan Direktur Utama dari PT Penataran Manggala Nasional? Malu, kan? (OJ: 329) (43) ISTRI: Kalau sakit, baru merintih-rintih seperti ini. Kalau foya-foya, lupa anak lupa istri. PEJABAT: Bu, aku sakit, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba mataku sakit. Aku cuma minta tolong, kompres mataku, siapa tahu bisa lebih baik. ISTRI: Kompres sendiri. Atau minta tolong sana sama Tuminah. PEJABAT: Aduh, nama itu lagi, nama itu lagi. Sudah sepuluh tahun yang lalu aku tobat, aku akui kesalahan itu, kekhilafan itu. Maklum namanya juga lelaki, sering jalannya melenceng. Tapi kan cuma sebentar, dan sudah kuakui. Aduh, mataku, aduuh. (OJ: 305) (44) PAIJO: Mereka berdua yang memimpin wadam-wadam demonstrasi ke kantor kita sekitar 10 tahun yang lalu. Kemudian Bapak mengeluarkan keputusan untuk mendirikan patung salah seorang wadam yang mati kena peluru nyasar. (OJ: 371) (45) ISTRI: Ini semua karena salah kamu, Pak. Coba, apa manfaatnya memenuhi tuntutan mereka membikin musoleum siapa itu nama banci yang mati ditembak? (OJ: 404) (46) PEJABAT: Gubuk-gubuk itu, siapa penghuninya? PEJABAT: Anak-anak itu mengapa sepagi ini berkeliaran tanpa celana dan 50

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 baju? Apa tidak kedinginan? PEJABAT: Jadi itu semua kenyataan? Bukan bualan para seniman saja? (OJ: 298) (47) ASPRI: Bapak adalah penguasa kota ini dan saya asprinya. PEJABAT: Aduh, Paijo. Aduh, mataku tiba-tiba jadi gelap. Ada apa ini? Aduh, nyeri. Paijo, aku buta. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aduh. Sakit. Paijo, mataku sakit. Gelap tiba-tiba. Paijo. (OJ: 300) (48) PEJABAT: Setan. Apa pangkatmu berani memerintah aku? Laporan kalian sudah saya terima, nanti akan diperiksa. Perintah sudah aku turunkan untuk menumpas habis komplotan bandit, apa lagi yang ditunggu? Semuanya jelas? PEJABAT: Komplotan bandit, siapa pun mereka, tetap akan membuat rakyat resah. Kita ini pejabat negara, dibayar oleh uang rakyat, bertugas membikin aman tenteram rakyat. Paham? Pakai fasilitas apa saja yang kalian butuhkan untuk menumpas bandit-bandit itu. Besok surat perintahnya akan diturunkan oleh Pak Paijo. Paham? (OJ: 372) (49) PEJABAT: Mengapa tidak pernah dilaporkan? ASPRI: Ya tidak. Kalau dilaporkan, nanti Bapak marah. (OJ: 299) Setelah sekian lama menderita sakit mata, Pejabat menyadari kesalahan selama menjalankan tugas sebagai pemerintah (50). Pejabat merasa selama ini dia

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 tidak pernah peduli dengan keadaan masyarakat miskin sehingga matanya menjadi sakit saat melihat kenyataan (51). Karena malu dengan penyakitnya, Pejabat memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya, tapi permintaan pengunduran diri tersebut ditolak oleh Pak Menteri dan justru diberi penghargaan dan kenaikan pangkat serta wewenang untuk mengurus ibu kota (52). (50) PEJABAT: Tolong, tolong aku sudah tidak kuat lagi. Aku tidak punya mata lagi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Semua ini karena salahku, salahku. (OJ: 433) (51) PEJABAT: Lalu, apa yang selama ini sudah kulakukan? Sibuk dengan berkasberkas rencana anggaran? Seminar dan penataran demi masa depan gemilang. Lalu apa yang sudah kulakukan demi masa sekarang? Dan pertanyaan itu berulang-ulang nongol di kepalaku. Lalu aku tak bisa menemukan jawabannya. Lalu tiba-tiba aku merasa dunia gelap. Aku buta seketika karena ngeri dan nyeri. Selama ini aku ada dalam gedung, dalam kantor, dalam mobil, dalam hotel. Aku hanya mendengar kemiskinan lewat buku-buku dan koran dan selalu merasa itu hanyalah ulah mereka yang iri dan dengki, berita yang dibesar-besarkan. Sekaarang aku sudah melihatnya, dan langsung buta karena sadar tidak mampu berbuat apa-apa. Karena aku seluruhnya bukan milikku lagi. Tanganku, kakiku, mulutku harus kumanfaatkan semata-mata demikeutuhan korps. Demi kesatuan dan persatuan. Intinya, aku cuma wayang. Demikian yang terjadi, baru sekarang kusadari. Dan kamu, tidak mungkin sanggup mengobati aku. Sakitnya sudah parah, aduuuuh …. (OJ: 331) (52) PEJABAT: Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Hidup kita bukannya makin tenteram, malah semakin ricuh. Aku ingin menulis surat pengunduran diri. PEJABAT: Syarat utama bagi seorang pejabat adalah sehat jiwa raga. Aku ini sudah boleh dibilang buta.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Tidak memenuhi syarat. Celakanya lagi, aku malu penyakitku diketahui umum. (OJ: 406) Kesimpulan penokohan tokoh Pejabat dari analisis di atas adalah Pejabat sebagai Direktur Utama PT Penataran Manggala Nasional pernah berselingkuh dengan Tuminah, yang menimbulkan pertengkaran dengan istrinya. Pejabat adalah orang yang mendirikan Musoleum Patung Julini (42), (43), (44), (45). Pejabat selama ini tidak pernah mengetahui keadaan rakyat yang sebenarnya. Mata Pejabat tiba-tiba buta ketika menyaksikan kawasan kumuh dan miskin. Pejabat bersikap kasar tetapi tegas demi ketentraman kota dalam menumpas komplotan bandit, mudah marah sehingga ditakuti anak buahnya membuat Pejabat tidak tahu keadaan rakyatnya yang miskin (46), (47), (48). (49). Selain itu, Pejabat menyadari kesalahannya dan merasa selama ini dia tidak pernah peduli dengan keadaan masyarakat miskin. Karena malu dengan penyakitnya dan merasa sudah tidak sanggup memimpin kota, Pejabat memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya (50), (51), (52). 2.3.3 Tokoh Tritagonis Tokoh tritagonis dalam drama Opera Julini yang akan dianalisis adalah Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda. Sebagai tokoh tritagonis, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda adalah tokoh yang berperan sebagai tokoh yang berpihak dan mendukung tokoh protagonis, Julini dan Roima. Sesuai dengan topik penelitian yang membahas citra wadam, penulis hanya meneliti ketujuh tokoh tersebut di atas sebagai tokoh tritagonis, karena selain tokoh Julini, hanya

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 tokoh Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda yang di dalam cerita Opera Julini menunjukkan bahwa mereka adalah sosok wadam. Selanjutnya, pengenalan tokoh Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda akan dibahas dalam penokohan tiap tokoh. 2.3.3.1 Duing Duing adalah salah seorang wadam yang genit, konyol, dan menurut pada Tuminah. Duing selalu memanggil Tuminah dengan panggilan Zus. Bisa dikatakan bahwa Duing adalah pembantu Tuminah. Duinglah yang selalu membawakan barang-barang Tuminah sampai mengecat kuku Tuminah (53). Duing mengganti namanya menjadi Inge, tetapi tidak pernah ada yang memanggilnya dengan nama Inge (54). Selain itu, Duing juga menjadi teman cerita bagi Tuminah ketika Tuminah sedang terpuruk dalam peliknya hubungan romansa Tuminah dengan Roima (55), (56). Duing selalu mematuhi apa pun yang dikatakan oleh Tuminah. Duing juga selalu mengikuti ke mana pun Tuminah pergi (57). (53) DUING: Ngecet jari Zus Tuminah, eh jari. Kuku. (OJ: 310) (54) DUING: Jangan panggil saya Duing, dong. Itu kan nama lama. Zus kan tahu sendiri nama saya sudah ganti jadi Inge. Pakai potong tumpeng segala. TUMINAH: Jangan macem-macem. Biar ganti nama seribu kali, kamu tetap Duing yang aku kenal. Anak Kalipasir, bekas tukang semir sepatu.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tetaplah jadi Duing. Ayo, pergi! (OJ: 319) (55) DUING: Aduh, jangan Zus Tum, jangan telanjang, nanti saya nyesel jadi wadam. Perkataan Mas Roima tadi, sebaiknya jangan diambil hati. Mas Roima sedang kesel aja. DUING: Ee, dia masih mencintai Zus Tuminah. Sumpah. Kalau kebetulan dia saya pijati, Mas Roima sering bilang: Duing, bagaimana juga Tuminah itu luar biasa sebagai wanita, meski sekarang kerjanya cuma makan, tidur dan dandan …. TUMINAH: Dia bilang begitu, Duing? Dia bilang begitu? DUING: Eh, enggak bukan dia. Saya …. TUMINAH: Sini, aku gampar pipimu. DUING: Aduh. Zus, tega amat. (OJ: 338) (56) DUING: Ada pepatah, cinta lelaki bisa ditimbulkan lewat perut dan syahwatnya. Zus Tuminah masih montok. Masih belum terlambat menyeret kembali Mas Roima ke dalam pelukan Zus. DUING: Ah, masih, masih bisa bikin orang dag-dig-dug kok. Gemes-gemesgemess. Sudah dong Zus, jangan mewek lagi. (OJ: 340) (57) DUING: Zus Tuminah, tunggu, jangan tinggalkan Duing. (OJ: 430) 55

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Selain sifat Duing sebagai wadam yang genit, Duing bukan tipe orang yang bisa secara langsung mengungkapkan informasi-informasi yang dia ketahui yang menurut Duing memang masalah yang cukup merisaukan. Duing suka bertele-tele dalam mengungkapkan apa yang akan dia beritahukan karena rasa panik yang dialami Duing (58). Namun, meskipun begitu Duing adalah sumber informasi bagi Tuminah. (58) DUING: Zus Tuminah, Zus Tuminah, lekas kita pergi. Edan, edan, ini tidak masuk akal. Kita pergi sekarang juga. TUMINAH: Ada apa Duing, kenapa? DUING: Saya belum bisa omong, edan, edan, kok bisa ada kejadian begini. Mas Roima, cepat kita pergi. TUMINAH: Roima, kenapa Roima? DUING: Lebih baik Zus lihat sendiri, saya tidak bisa omong. (OJ: 421) Kesimpulan penjelasan di atas yaitu penokohan tokoh Duing adalah seorang wadam yang genit dan lucu (53). Duing yang berasal dari Kalipasir berganti nama menjadi Inge, tetapi orang lain tetap memanggilnya dengan nama Duing (54). Selain itu, Duing menjadi teman cerita bagi Tuminah (55), (56); Duing juga selalu patuh dan mengikuti ke mana pun Tuminah pergi adalah bukti kesetiaan Duing (57). Sebagai sumber informasi, Duing bertele-tele dalam

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 memberitakan informasi apa pun yang menyangkut kehidupan para wadam dan komplotan bandit (58). 2.3.3.2 Laila Laila adalah salah satu wadam dalam komplotan bandit yang suka berebut laki-laki dengan tokoh Tea (59). Dalam pertengkaran perebutan laki-laki tersebut, Laila menunjukkan kemampuannya berkungfu (60). (59) LAILA: Jangan bilang aku majenun ya? Namaku memang Laila, tapi tidak gila. Si Bob, bencong di seluruh dunia tahu, si Bob itu punyaku. Aku yang ‘ngongkosi dia dari udik. Enak aja, begitu udah keren, main rebut. Tahu aturan dong. (OJ: 345) (60) LAILA: Menghina, ya? Dobel menghina. Menghina Bob dan menghina eikke. Biar situ punya oom Tibum, Laila kagak takut. LAILA: Eeh, sudah pasang kuda-kuda, berarti memang betul-betul nantang. Ciaaaaat …. (OJ: 346) Laila sebagai wadam sifatnya genit dan suka menggunakan kata-kata istilah khas wadam; misalnya istilah eikke ‘aku, saya’ dan loncer ‘longgar’ seperti pada kutipan (60) dan (61). Selain itu, tokoh Laila kental dengan logat Betawinya; seperti penggunaan kata ye ‘ya, iya’, kagak ‘enggak, tidak’ (62), ujubilah dan bujuboneng ‘astaga, ya ampun’, serta istilah dalam bidang kecantikan dan tata rias yaitu eye sedow (63). Sebagai wadam, Laila sifatnya lucu dan konyol (64), (65).

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Laila juga terkenal bermulut ember di kalangan wadam dan para bandit (66). Sangat mudah para polisi mengorek informasi melalui Laila yang meskipun itu Laila lakukan tanpa sengaja. Namun, sebenarnya Laila, langganan Tibal, adalah orang yang setia dengan kawan-kawannya (67), (68). (61) LAILA: Betul Bos, saya keceplosan. Mulut saya memang loncer, loncer, loncer …. … tapi sumpah itu tidak sengaja. LAILA: Apa tidak ada keringanan? Saya sudah susah payah lari dari tahanan, semua itu demi Bos, demi kawan-kawan …. TIBAL: Keringanan? Minta keringanan sesudah dua kali bikin celaka kita semua? Siapa yang kasih tahu tempat pertemuan kita beberapa bulan lalu? Hah? Siapa? LAILA: Memang saya. Tapi juga tidak sengaja. TIBAL: Kamu ngoceh sama polisi yang kamu tiduri. Begitu, kan? LAILA: Ya. (OJ: 392) (62) LAILA: Kita nggak punya pemimpin, Oom. Kita bebas tapi bertanggung jawab. Aiii, kayak slogan surat kabar, ye? (OJ: 348) (63) LAILA: Aii, ujubilah, kok saya ada di sini? Pintu apaan tuh? Ee, ada patung Mbak Julini juga di sini. Tapi kok lain dengan yang pernah saya lihat? Yang ini pakai pakaian pengantin.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 JULINI: Laila …. LAILA: Bujuboneng, patung bisa omong …. JULINI: Laila Majenun, saya bukan patung, saya Julini. LAILA: Mbak Julini? Aduh tidak disangka-sangka, kok ada di sini? JULINI: Ya, kan saya sudah koit. Kamu juga? LAILA: Iya juga. Tidak dinyana, tak disangka, kita ketemu di sini. Aih. Makin cakep deh Mbak Julini, pakai eye sedow segala, apa mereknya? (OJ: 435) (64) SUARA: Pernah dengar nama Kumis? LAILA: O, Mas Kumis, tahu, tahu. Dulu jagoan di sini. Tapi dia mati dibunuh Mas Tibal. Apa Mas Kumis hidup lagi? (OJ:350) (65) LAILA: Ya, kita senasib sepenanggungan, nanti kalau kita dipenjara, kita satu ranjang, ya? (OJ: 352) (66) DUING: Bukan hanya itu. Yang digiring itu termasuk Laila dan Wanda. Kalau mereka bocor mulut, cerita tentang kita?Laila ‘kan langganan mas Tibal? Eh, maaf, ya Zus Tuminah? TUMINAH: Sebaiknya begitu. Aku tahu Laila, mulutnya becek sekali. (OJ: 368)

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (67) TIBAL: Baru sesudah terjadi kamu menyesal, nangis apa gunanya. Mulut becekmu itu menyebabkan kami semua terancam. Padahal kamu sudah disumpah. Masih ingat apa sumpah yang paling penting? Hah? Masih ingat? Jawab! LAILA: Setia kepada kelompok. TIBAL: Terus? Yang lebih penting lagi. LAILA: Kalau tertangkap polisi, urus diri sendiri … jangan bawa-bawa teman. TIBAL: Dan sekarang apa yang sudah kamu lakukan? Kamu berkhianat. LAILA: Ampun, saya tidak sengaja, Bos sumpah mati. (OJ: 390) (68) LAILA: Saya baru sadar saya salah setelah omong. Sumpah. Polisi itu pintar sekali mengorek keterangan. LAILA: Mereka tanya, siapa saja langganan kamu sih? Siapa yang paling jantan? Saya jawab, ada, ada, lelaki ganteng, Mas Tibal namanya … dia …. TIBAL: Anjing, setan, bangsat. Omongan itu saja sudah bisa bikin aku bunuh kamu. Cuma kamu yang ngoceh. Wanda kok diam. Kamu berbahaya kalau dibiarkan hidup. LAILA: Lalu mereka tanya lagi; oo, Tibal yang pernah dipenjara gara-gara membunuh hansip? Kok kamu mau sih? Kenapa nggak mau, saya bilang, keren kok. Betul. Saya ngotot. (OJ: 391) 60

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Sama halnya dengan Julini, Laila adalah wadam yang tergolong dalam wadam transgender (69), (70). Laila merasa jiwanya perempuan tetapi fisik dan jenis kelaminnya masih sebagai laki-laki yang ditunjukkan dengan keberadaan Laila yang tidak mampu untuk operasi berganti jenis kelamin menjadi perempuan. (69) LAILA: Aduh, aduh, masa mau dipotong? Nanti saya bagaimana? Tolong, Mas Roima, tolong, saya sumpah semuanya itu saya lakukan tidak sengaja. Saya memang loncer mulut tapi saya bukan pengkhianat. Tolong. (OJ: 393) (70) BAJENET: Satu iris saja, satu menit kemudian, satu iris lagi begitu seterusnya sampai kamu koit … hehehe … belum saya lakukan kok sudah jeritjerit … orang seperti kamu kan memang memimpikan tidak punya anu, kan ingin jadi wanita? Saya menolong kamu ini lho, coba kalau dioperasi berapa biayanya itu? LAILA: Memang saya ingin tidak punya anu, tapi bukan begini caranya. Aduuh, tolong, aduuh. Dan kalau dioperasi kan dibius? (OJ: 394) Berkaitan dengan sifat bermulut ember Laila, Laila dianggap sebagai pengkhianat oleh Tibal. Karena hal itu, sesuai peraturan kawanan Laila dibunuh (71). Kematian Laila berujung mempertemukan arwahnya dengan arwah Julini. Setelah mati dan berada di alam kematian, Laila bahkan tidak disambut baik dan ditolak oleh alam kematian (OJ: 437-439). (71) IKE: Apa, mayat? Laila mati? ESYI: Aaii, baru lulus penataran P-6, kok mati? Bagaimana, sih?

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 TEA: Mayatnye udah busuk, diangkat sama Mas Bajenet dan Mas Bleki. Katenye, katenye, Laila dibunuh sama Mas Roima. TEA: Sumpah, banyak saksinya. Kasihan Laila, cicilan beha-nya belum Lunas. Gue kagak punye temen bertengkar lagi …. IKE: Di mana mayatnya diketemukan? TEA: Di pintu air waduk Kuningan. (OJ: 409) Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penjelasan penokohan tokoh Laila adalah Laila tokoh wadam yang memiliki kemampuan berkungfu, genit, lucu, konyol (59), (60), (64), (65), suka menggunakan kata-kata istilah khas wadam, dan kental dengan logat Betawi (60), (61), (62), (63). Laila sebagai wadam terkenal dengan mulutnya yang ember, bocor, mudah sekali membeberkan rahasia kelompok (66), (67), (68). Laila merupakan wadam transgender (69), (70). Laila mati dibunuh karena ulahnya yang ember mulut (71). Selain itu, setelah Laila mati arwahnya tidak diterima di alam kematian (OJ: 437-439). 2.3.3.3 Ike Ike salah satu wadam transgender teman Julini yang juga sebagai anggota komplotan bandit (72). Ike menjadi juru bicara para wadam ketika para wadam sedang digeledah karena telah membuat keributan (73), (74). Ike yang bekerja sebagai tukang rias pengantin ini sangat cerewet. Ketika mendengar kematian Laila yang dibunuh Roima, Ike tidak percaya dan memang terbukti ketika Ike

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 mengetahui bahwa Roima juga mati dibunuh. Ike adalah salah satu wadam yang mati tertembak senapan mesin di bawah patung Julini (OJ: 425-427) dan arwahnya tidak diterima baik di alam kematian (OJ: 437-439). (72) IKE: Terpaksa, Bapak lihat sendiri. Dari pada dikeroyok sama tuh, bencong-bencong. SUARA: Kamu sendiri apa bukan bencong? IKE: O, bukan, saya wanita, tulen, hanya belum sempat operasi. Ini jawabnya musti ke mana, sih? Apa nggak bisa Bapak nongol sebentar, biar kita tahu tampang Bapak. IKE: Di KTP nama saya Harun Bawazir Al Kohar Al Mukadimah Al Khatam bin Nyoo Kam Wong. Tinggal di Gang Kelinci RT 008, RW 0011. Anak ketiga dari sembilan bersaudara, satu-satunya lelaki, lahir di Tangerang 25 tahun yang lalu, hobi main tebak manggis dan sepak bola. Oom saya dokter gigi dan tante saya bintang film, ada juga saudara ngobyek jadi makelar mobil, saya sendiri merangkap jadi tukang rias pengantin …. (OJ: 349) (73) SUARA: Ada berapa wadam yang parkir di sini? IKE: Banyak. SUARA: Berapa? IKE: Belum disensus. (OJ: 350) (74) SUARA: Ya, sudah. Kenapa tadi bertengkar?

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 (DIAM) Kenapa tadi bertengkar? Hei, juru bicara ayo jawab. IKE: Masih saya juru bicaranya? (OJ: 351) Selain itu, Ike adalah wadam yang sifatnya lucu dan konyol. Salah satu kelucuannya adalah dengan menggunakan istilah botol untuk menyebut alat kelamin laki-laki (75). Perkelahian yang terjadi antara Tea dan Laila bagi Ike hanyalah perkelahian biasa yang tidak perlu dikhawatirkan atau dibesar-besarkan. Ike juga genit seperti Julini (76), (77). Terkadang Ike juga terkesan sedikit vulgar yang tergambar dari percakapannya (78). (75) IKE: Biasa Pak, di sini setiap hari pasti ada pertengkaran. Sebabnya apalagi kalau bukan rebutan botol. IKE: Ih. Kayak nggak tahu aja, botol berdarah, enak dipakai nyaman dan tahan lama, itu yang jadi rebutan. Nanti juga damai lagi. Ya, namanya juga perempuan. (OJ: 352) (76) IKE: Masa bodoh. Cacing juga kalau diinjak menggeliat, apalagi para wadam. (OJ: 425) (77) IKE: Julini, Julini kita datang. Aduh … (JATUH) … landingnya nggak bener. Apa kabar? Lho, ada Laila. IKE: kita ini koit apa enggak sih, kok sama saja? (OJ: 436)

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 (78) IKE: Dia pikir ditatar itu, disiksa. Dia ingat bistik Tartar, sate bakar. Esyi pikir ditatar sama dengan di-tartar, dijadikan sate, ditusuk-tusuk. Padahal setiap dapat langganan, dia ditusuk-tusuk juga. Kan sama saja. (OJ: 354) Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh kesimpulan penokohan tokoh Ike adalah salah satu wadam transgender (72). Biasanya Ike langganan menjadi juru bicara para wadam (73), (74). Ike mati tertembak senapan mesin di bawah patung Julini (OJ: 425-427) dan arwahnya tidak diterima di alam kematian (OJ: 437-439). Sesekali Ike memakai istilah khusus wadam (75). Tidak hanya itu, Ike juga wadam yang lucu, konyol, genit dan juga sedikit vulgar (76), (77), (78). 2.3.3.4 Esyi Esyi, wadam teman Julini yang terkenal sebagai anak mami. Karena sifatnya anak mami, setiap kali Esyi menemui suatu masalah yang membuatnya takut pasti Esyi selalu mengompol (79), (80), (81), (82). Esyi mengompol ketika dia sedang dalam keadaan takut. Mengompol yang pertama dan kedua terjadi dalam peristiwa penggeledahan para wadam karena mereka menimbulkan keributan—perkelahian Laila dan Tea—, ketiga terjadi ketika para Polisi mendatangi para wadam untuk menangkap para wadam demi mendapat informasi tentang komplotan bandit untuk ditumpas. Namun, belum sampai ditangkap Esyi justru menjadi korban keteledoran Polisi-2 yang sambil mabuk menembakkan senapan mesin di bawah patung Julini (OJ: 425-427) dan arwahnya juga tidak disambut baik di alam kematian (OJ: 437-439).

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 (79) ESYI: (LEMAS) Mati aku, mami, mami, mati aku. SYENI: Kenapa Esyi? ESYI: Ngompol. (OJ: 348) (80) ESYI: Aduh mami, mati aku, mami, mati aku. SUARA: Kenapa dia? SYENI: Ngompol lagi Pak. Esyi memang anak mami Pak. Bicara, ayo jawab Esyi! ESYI: ‘Nggak berani …. (OJ: 351) (81) ESYI: (MERAUNG) Mami, tolong, saya mau ditatar, mami. (OJ: 354) (82) ESYI: Mereka datang … aku ngompol lagi …. (OJ: 424) Seperti wadam lainnya, Esyi memakai istilah wadam berupa kata botol untuk menyamarkan sebutan dari alat kelain laki-laki (83). Selain itu, Esyi sebagai wadam justru senang mendapat hiburan ketika temannya sesama wadam Tea dan Laila berkelahi. Seperti halnya Ike, Esyi bukannya melerai, tetapi justru merasa

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 senang karena Esyi tahu bahwa perkelahian itu hanyalah candaan yang sudah biasa dalam kehidupan di dalam perkumpulan sesama wadam (84). (83) ESYI: Waduh, ada bencong berkelahi. Rebutan botol ya? (OJ: 345) (84) ESYI: Terus Tea, terus kamu jagoan kita. (TEA DAN LAILA BERKUTETAN. BEBERAPA WADAM MAIN TARUHAN) (OJ: 347) Kesimpulan penokohan tokoh Esyi dari analisis di atas adalah Esyi sebagai wadam yang sifatnya anak mami. Esyi seorang penakut sehingga mudah sekali mengompol ketika panik (79), (80), (81), (82), yang mati karena terkena senapan mesin (OJ: 425-427) serta arwahnya ditolak oleh alam kematian (OJ: 437-439). Esyi juga memakai istilah wadam (83). Selain itu, Esyi menganggap perkelahian antarwadam adalah hiburan (84). 2.3.3.5 Tea Tea merupakan salah seorang wadam dalam komplotan bandit. Tea bersifat genit dan mudah tergoda oleh laki-laki (85). Tea dianggap merebut kekasih Laila. Hal itu yang memancing perkelahian antara Tea dan Laila. Tidak kalah dengan Laila, Tea juga bisa kungfu. Meskipun Tea dan Laila pernah beradu memperebutkan laki-laki, tetapi mereka berteman baik. Tealah yang menyebarkan berita pada para wadam tentang kematian Laila karena Tea merasa Laila adalah

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 teman sesama wadam (86), (87). Tea juga salah satu korban senapan mesin di bawah patung Julini (OJ: 425-427) yang kemudian ditolak oleh alam kematian (OJ: 437-439). Tea juga suka menggunakan istilah wadam dalam percakapannya; misalnya istilah lekong ‘laki, laki-laki’ seperti pada kutipan (88); seperti Laila, Tea juga kental dengan logat Betawinya, misal sebodo ’terserah’, ‘nyang ‘yang’, lu atau elu ‘kamu’, kagak ‘nggak’, tidak’, gue ‘saya, aku’, dan same ‘sama’ (85), (86), (88), (89). Sebagai wadam, Tea merasa sedih karena tidak diterima oleh masyarakat, bahkan orang-orang yang seharusnya membantu memberi jalan bagi para wadam justru mengecewakan Tea. (85) TEA: (SAMBIL MASUK) Sebodo, sebodo. Lu ‘nyang kagak bisa jaga laki lu. Orang dianya ‘nyang gatel. TEA: Gue lagi mandi di sumur, dia main tomplok. TEA: Siapa ‘nyang mau? Gue ogah sama kumis baplang macam punyanya si Bob. Geli, geli. Geli. Bukan selera gua. Tapi dianya ‘nyang maksa-maksa. TEA: Orang dipaksa. Kan lama-lama jadi lupa? (OJ: 345) (86) TEA: Gue sedih, nangis sedari tadi, gue lihat, gue lihat, mayat Laila. Aduuh, duh, duh, duh …. (OJ: 409)

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 (87) TEA: Serbu, demi Laila, demi Mas Roima, dan demikian …. (OJ: 425) (88) TEA: Jangan fitnah, ya? Seribu lelaki kayak Si Bob, gue bisa dapetin dalam tempo satu hari. Apa lu kira cuman Bob satu-satunya lekong di donya? Sembarangan. Majenun lu. (OJ: 346) (89) TEA: Majenun, Majenun, aii, gue rindu, rindu banget same elu. Syukur bisa ketemu lagi. Ampun, ampun … (OJ: 436) Kesimpulan penokohan tokoh Tea dari analisis di atas adalah Tea merupakan salah seorang wadam korban senapan mesin di bawah patung Julini (OJ: 425-427), yang arwahnya ditolak di alam kematian (OJ: 437-439), sifatnya genit dan mudah tergoda laki-laki; Tea suka berebut laki-laki dengan sesama wadam (85). Sebagai wadam, Tea sangat dekat dengan teman-temannya sesama wadam dan kebersamaan sesama wadam sangat erat (86), (87). Terkadang istilah wadam dan logat Betawi digunakan Tea dalam percakapannya (85), (86), (87), (88), (89). 2.3.3.6 Syeni Syeni seorang wadam juga menjadi bagian dari korban senapan mesin di bawah patung Julini (OJ: 425-427) yang kemudian mati, bertemu dengan Julini di alam kematian dan juga arwahnya tidak luput dari penolakan alam kematian (OJ:

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 437-439). Arwah Syeni bersama dengan arwah para wadam lainnya tidak diterima masuk ke dalam pintu perempuan. Selain itu, sebagai wadam kelas sosial rendah, Syeni bekerja sebagai pelacur (90). Syeni terlihat genit ketika Syeni menggoda Polisi yang mendatangi para wadam untuk menangkap para wadam beserta komplotan bandit (91). (90) SYENI: Ya, namanya juga pasar Pak, mana bisa tertib. Kan masing-masing pengen dagangannya laku keras. (OJ: 353) (91) SYENI: Kita sudah menggeliat dari tadi, apalagi lihat kumis situ. (OJ: 425) Kesimpulan penokohan tokoh Syeni dari penjelasan di atas adalah Syeni merupakan wadam yang telah mati tertembak senapan mesin (OJ: 425-427), dan arwahnya juga ditolak di alam kematian (OJ: 437-439). Syeni bekerja sebagai pelacur (90), sifatnya genit dan suka menggona pria (91). 2.3.3.7 Wanda Wanda adalah salah satu wadam dalam komplotan bandit yang juga mati bersama dengan para wadam lainnya tertembak senapan mesin di bawah patung Julini (OJ: 425-427). Wadam dengan nama asli Masdrai Djuheri ini sama seperti wadam lainnya, ditolak untuk melewati pintu perempuan (OJ: 437-439), (92). Seperti teman-teman wadam lainnya, Wanda juga tidak kalah genit dan terkadang juga suka berpikiran vulgar (93), (94).

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 (92) WANDA: Lewat saja pintu untuk perempuan, masa enggak boleh? JULINI: Coba deh lewat, kalau bisa …. (WANDA MELENGGANG MASUK GERBANG UNTUK PEREMPUAN. TAPI SEJUTA CAHAYA MENONJOKKNYA DAN DIA TERLEMPAR) WANDA: Adauuww, sakit perut kita, kayak disodok-sodok. Apa-apaan ini? Kok gagal? JAGA-2: Nama, Masdrai Djuheri, mati ditembak. WANDA: Nama saya Wanda Mas, nama yang barusan disebutin sudah lama saya kubur. Saya Wanda. (OJ: 437) (93) WANDA: Aduuh, masya …. (OJ: 423) (94) WANDA: Aduh, mana tahan? Setiap pagi, pasti kita bergerak-gerak. Eh, bergerak-gerak …. (OJ: 439) Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh kesimpulan penokohan tokoh Wanda adalah salah seorang wadam komplotan bandit bernama asli Masdrai Djuheri yang telah mati karena senapan mesin (OJ: 425-427) dan sama halnya seperti wadam yang lain arwah Wanda juga tidak diterima di alam kematian (OJ: 437-439), (92). Sifatnya genit dan sedikit vulgar (93), (94).

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 2.4 Rangkuman Analisis tokoh dan penokohan yang terdapat dalam drama Opera Julini dapat dirangkum secara umum. Rangkuman tersebut meliputi pembedaan tokoh berdasar peran tokoh menjadi tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Para tokoh protagonis terdiri dari Julini dan Roima. Tokoh antagonis yaitu Tibal dan Pejabat. Tokoh tritagonis wadam terdiri atas Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda. Terdapat dua tokoh protagonis, yaitu Julini dan Roima. Penokohan tokoh protagonis akan diuraikan sesuai dengan para tokoh. Julini seorang wadam transgender dengan nama asli Bambang Julino, kekasih Roima yang setia. Julini suka merias diri, bangga pada jati dirinya sebagai wadam transgender, sifatnya genit dan suka merayu laki-laki. Julini suka berbicara menggunakan istilah wadam. Selain itu, Julini menjadi idola dan ikon melalui Musoleum Patung Julini, tetapi masyarakat menilai wadam itu vulgar, bebas, tidak sopan, kotor, tidak mengerti norma, dan menyimpang dari kodrat. Namun, Julini yakin bahwa dirinya adalah perempuan tulen meskipun ditolak dan sulit diterima bahkan di alam kematian, tidak membuat Julini berhenti menyerah dan selalu berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan. Roima merupakan pimpinan kelompok bandit dan wadam. Roima selalu merasa bersalah atas kematian Julini. Roima masih sangat mencintai Julini walaupun Roima dekat dengan Tuminah. Roima berorientasi seksual sebagai biseksual. Impian Roima adalah memperbaiki kehidupannya melalui usaha-usahanya agar Roima memiliki kekayaan dan kesuksesan dan menjadi manusia terhormat. Sebagai pemimpin, Roima bersifat tegas, tidak

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 tergesa-gesa mengambil keputusan, berhati-hati merencanakan sesuatu, menjaga rahasia kelompok dengan baik, pemimpin yang menghargai orang lain, bijaksana, berhati nurani, dan tidak suka kekerasan. Namun, ada kalanya Roima juga merasa rapuh, ragu-ragu dan putus asa akan keberhasilan impiannya. Terdapat dua tokoh antagonis, yaitu Tibal dan Pejabat. Sebagai tokoh antagonis, Tibal dan Pejabat adalah dua tokoh paling berpengaruh sebagai penghalang dan sumber masalah bagi tokoh protagonis, Julini dan Roima. Keangkuhan dan keegoisan Tibal dalam menguasai dan memimpin segala kehidupan kelompok bandit dan wadam justru menghancurkan kelompoknya sendiri, tidak terkecuali juga menghancurkan impian Roima. Pejabat sebagai figur pemimpin, sikap ketidakpedulian terhadap kehidupan rakyatnya tidak memberikan jalan kesejahteraan dan keadilan bagi kelompok bandit dan wadam yang membutuhkan bantuan dan jawaban atas permasalahan sosial masyarakat kelas bawah. Pejabat justru gagal menjadi pemimpin dan membuat kota semakin kacau juga hancur. Terdapat tujuh tokoh tritagonis, yaitu Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda. Dari ketujuh tokoh tersebut ada banyak permasaan di antara mereka. Ketujuh tokoh tersebut adalah tokoh wadam transgender yang sifatnya kebanyakan adalah genit, lucu, dan juga vulgar. Karena mereka semua adalah wadam, kebanyakan dari tujuh tokoh tersebut mengganti nama mereka menjadi nama-nama perempuan. Hubungan mereka satu sama lain cukup erat dan solit, tidak sedikit dari mereka yang juga memiliki sifat setia. Hampir semua wadam bekerja sebagai pelacur. Sebagai wadam yang hidup berkelompok juga membuat

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 mereka memakai istilah khusus wadam yang mereka pakai untuk berkomunikasi dengan sesamanya wadam. Persamaan paling mencolok dari mereka adalah ketika para wadam telah mati, bahkan di alam kematian pun arwah mereka tetap tidak diterima. Yang membedakan mereka hanyalah beberapa sifat bawaan setiap individu seperti suka bertele-tele, bermulut ember, pandai bicara hingga terpilih menjadi juru bicara, anak mami, dan yang pasti perbedaan daerah asal mereka masing-masing yang terkadang sedikit banyak memengaruhi cara berbicara dan bahasanya.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III CITRA WADAM DALAM DRAMA OPERA JULINI KARYA NORBERTUS RIANTIARNO 3.1 Pengantar Dari analisis unsur tokoh dan penokohan drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno dalam bab II, ditemukan delapan tokoh yang menunjukkan identitasnya sebagai wadam, yaitu Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda. Hasil analisis tersebut selanjutnya digunakan untuk mengonstruksi citra wadam melalui karakterisasi tokoh wadam Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda. Analisis yang dimaksud dalam hal ini adalah semua gambaran watak dan perilaku keseharian tokoh-tokoh wadam tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa wadam dapat dikatakan sebagai salah satu isu utama dalam drama Opera Julini sehingga tidak mungkin untuk mengkaji cerita ini tanpa melibatkan hal tersebut. Konstruksi citra wadam tokoh tersebut akan dibagi menjadi dua, yaitu citra diri wadam yang terdiri dari aspek fisik dan aspek psikis, serta citra sosial wadam yang terdiri dari aspek masyarakat dan aspek komunitas wadam. 3.2 Citra Diri Wadam Citra diri memperlihatkan bahwa apa yang dipandang sebagai perilaku bergantung pada bagaimana aspek fisik dan aspek psikis diasosiasikan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat (Sugihastuti, 2000: 113). Mengacu 75

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 pada deskripsi tokoh dan penokohan serta citra dari para tokoh, dapat disimpulkan bahwa ada delapan tokoh wadam pada Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Kedelapan tokoh wadam tersebut adalah Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda. Berikut ini akan dipaparkan citra diri wadam tokoh Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda dalam aspek fisik dan psikis wadam. 3.2.1 Fisik Wadam Citra wadam dalam aspek fisik merupakan hal yang akan dikaji dalam subbab ini. Keadaan fisik tokoh wadam dapat mendukung kejelasan identitas. Citra fisik tokoh wadam itu dapat diperoleh dari gambaran diri wadam yang khas dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Berikut ini akan dipaparkan sosok tokoh wadam drama Opera Julini dalam aspek fisiknya. 3.2.1.1 Transgender Secara fisik, wadam terlahir dengan tubuh laki-laki seperti pada umumnya, terutama dalam hal alat kelamin, wadam berkelamin laki-laki. Pada dasarnya wadam dengan jiwa perempuan tetapi masih tetap berkelamin laki-laki disebut sebagai transgender (“Taboo: Changing Gender”, saluran National Geographic, 08/03/2013, 22.00-23.00 WIB atau dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=0hjIeg1tE68). Tokoh wadam yang ditemukan dalam drama Opera Julini termasuk dalam kelompok transgender. Hal tersebut

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 ditunjukkan dalam kutipan percakapan yang mengacu pada tokoh Ike, Julini, serta Laila, sebagai wujud wadam transgender. (95) SUARA: Kamu sendiri apa bukan bencong? IKE: O, bukan, saya wanita, tulen, hanya belum sempat operasi. Ini jawabnya musti ke mana, sih? Apa nggak bisa Bapak nongol sebentar, biar kita tahu tampang Bapak. (OJ: 349) (96) JAGA-1: Kamu salah masuk gerbang. Ada dua gerbang, satu untuk perempuan, satunya lagi untuk pria. Kamu masuk gerbang untuk perempuan. Tentu saja ditolak sebab kamu pria. JAGA-2: Komputer jelas-jelas memberitahu kamu itu laki-laki. Dengar! Saya bacakan. Nama, Bambang Julino. Umur, 34. Jenis kelamin, laki-laki. Status, tidak menikah. Kebangsaan, tak terbaca. Agama, tak terbaca. Alamat, tak terbaca. Kasus, mati kena peluru nyasar. Jelas? (OJ: 379) (97) BAJENET: Satu iris saja, satu menit kemudian, satu iris lagi begitu seterusnya sampai kamu koit … hehehe … belum saya lakukan kok sudah jeritjerit … orang seperti kamu kan memang memimpikan tidak punya anu, kan ingin jadi wanita? Saya menolong kamu ini lho, coba kalau dioperasi berapa biayanya itu? LAILA: Memang saya ingin tidak punya anu, tapi bukan begini caranya. Aduuh, tolong, aduuh. Dan kalau dioperasi kan dibius? (OJ: 394) (98) ROIMA: Peristiwa dulu itu. Aku penyebabnya. Kalau kamu tidak mati, kita pasti sudah bahagia. Kita cari duit supaya kamu bisa operasi ganti kelamin. Lalu kita pergi ke penghulu, menikah. Dua kali kita gagal

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 menikah. Sekarang kamu jangan pergi. Aku tidak mau gagal lagi. (OJ: 416) Penggunaan kata bencong (95) untuk menyebut tokoh Ike merupakan indikasi bahwa tokoh Ike adalah seorang wadam transgender yang kemudian semakin diyakinkan dengan jawaban dari tokoh Ike sendiri bahwa dirinya mengakui memang belum operasi kelamin. Sama halnya dengan ucapan Roima pada Julini bahwa jika Julini tidak mati sudah tentu akan operasi ganti kelamin. Begitu juga dengan ucapan Bajenet yang ingin memotong kemaluan Laila dengan alasan Laila tidak mengingini kelamin laki-lakinya dan ingin menjadi perempuan. Tidak terkecuali peristiwa penolakan di alam baka terhadap Julini yang berstatus laki-laki juga semakin memperlihatkan bahwa konstruksi citra fisik wadam dalam drama Opera Julini adalah transgender (95), (96), (97), (98). Bagi wadam yang belum mengganti kelamin dan statusnya, mereka seperti terlupakan. Hukum di Indonesia belum menyebut-nyebut masalah hak dan kewajiban para wadam. Undang-undang atau peraturan pemerintah pun tidak mempunyai pasal yang menyebut kedudukan wadam. Maka, menjadi sulitlah bagi wadam yang belum mengganti statusnya untuk menjalankan perkawinan. Sebab, di hadapan undang-undang tersebut, mereka akan tetap dianggap sebagai laki-laki (Atmojo, 1986: 101). 3.2.1.2 Mengubah Penampilan menjadi Perempuan Tidak hanya sebagai transgender, tokoh wadam dalam Opera Julini bahkan juga merias wajah dan kukunya demi menunjang penampilannya sebagai

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 wadam. Salah satunya ditunjukkan melalui tokoh Julini, wadam transgender yang meskipun sudah mati dan menjadi arwah gentayangan tetapi tetap merias wajahnya dengan eye shadow pada matanya dan juga mengecat kuku-kuku jarinya. Menurut Atmojo (1986: 4), wadam merasa bahwa alat kelaminnya—juga ciri-ciri fisik lainnya—tidak pada tempatnya. Mereka ingin mengubah ciri-ciri fisiknya sesuai dengan jiwanya. (99) LAILA: Iya juga. Tidak dinyana, tak disangka, kita ketemu di sini. Aih. Makin cakep deh Mbak Julini, pakai eye sedow segala, apa mereknya? (OJ: 435) (100) LAILA: Cat kukunya mengkilat, cocok dengan cat bibir. Ini luar negeri, ya? (OJ: 436) Penggunaan riasan seperti eye shadow (99) dan cat kuku (100) oleh tokoh wadam merupakan salah satu cara bagi wadam untuk menunjang totalitas penampilannya agar semakin terlihat menyerupai perempuan dan untuk menutupi kekurangan fisiknya yang kelaki-lakian. Selain itu, penggunaan riasan oleh wadam merupakan salah satu bentuk protes bahwa tidak hanya perempuan sungguh-sungguh yang diizinkan untuk memakai riasan layaknya perempuan karena make-up merupakan perilaku gender yang dimiliki oleh kaum perempuan. Konstruksi citra fisik wadam dalam drama Opera Julini yang merias diri dengan bersolek adalah cara untuk meyakinkan masyarakat bahwa sesungguhnya dirinya adalah seorang perempuan, bukan laki-laki.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa konstruksi citra fisik wadam dalam drama Opera Julini adalah transgender (95), (96), (97), (98) yaitu wadam dengan jiwa perempuan tetapi dalam tubuh laki-laki (tidak mengubah alat kelamin ke alat kelamin lawan jenis). Selain itu, pemakaian makeup (99), (100) oleh tokoh wadam dilakukan untuk memenuhi kebutuhan berpenampilannya sebagai perempuan dan untuk menutupi bentuk fisik yang maskulin serta untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa dirinya adalah perempuan. 3.2.2 Psikis Wadam Dalam hal ini psikologis sangat berpengaruh terhadap watak dan perilaku seseorang, khususnya wadam. Ditemukan beberapa watak dan perilaku wadam dalam drama Opera Julini yang secara psikis tidak sesuai dengan tubuhnya dan kemudian menciptakan watak dan perilaku tertentu. 3.2.2.1 Genit atau Centil Genit atau centil merupakan fenomena yang sering ditemukan bila mengamati seorang wadam. Menurut KBBI (2008: 440), genit berarti bergayagaya (tingkah lakunya) atau banyak tingkahnya, dan centil menurut KBBI (2008: 260) berarti suka bergaya (tentang gadis) atau genit. Tidak sedikit tingkah laku dan gerak-gerik wadam yang dianggap dan disebut genit atau pun centil. (101) DUING: Ah, masih, masih bisa bikin orang dag-dig-dug kok. Gemes-gemesgemess. Sudah dong Zus, jangan mewek lagi.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 (OJ: 340) (102) IKE: Julini, Julini kita datang. Aduh … (JATUH) … landingnya nggak bener. Apa kabar? Lho, ada Laila. (OJ: 436) Hal tersebut menunjukkan bahwa tokoh wadam dalam Opera Julini memiliki watak yang genit juga centil (101), (102). Dapat dikatakan sifat genit atau centil wadam melebihi karakter genit atau centil yang dimiliki oleh perempuan tulen. Sebagai wadam transgender, wadam memahami kekurangan yang dimilikinya, yaitu tidak mampu luwes menjadi seperti perempuan secara alami yang memang dilahirkan sebagai perempuan. Kegenitan atau kecentilan tokoh wadam memberikan pesan bahwa apa yang dia lakukan atas dasar ketidakinginan untuk kalah atau tidak mampu genit atau centil seperti layaknya perempuan, sehingga sifat genit maupun centil tokoh wadam terkesan terlalu berlebihan karena ada unsur kesengajaan. 3.2.2.2 Vulgar Vulgar merupakan salah satu ciri-ciri watak wadam yang ada dalam drama Opera Julini. Dalam kehidupan berperilaku, berkata-kata, bahkan berpikir pun wadam memiliki kecenderungan untuk condong ke arah yang tidak jauh dari kehidupan-kehidupan seksualitasnya. (103) IKE: Biasa Pak, di sini setiap hari pasti ada pertengkaran. Sebabnya apalagi kalau bukan rebutan botol.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 IKE: Ih. Kayak nggak tahu aja, botol berdarah, enak dipakai nyaman dan tahan lama, itu yang jadi rebutan. Nanti juga damai lagi. Ya, namanya juga perempuan. (OJ: 352) (104) IKE: Dia pikir ditatar itu, disiksa. Dia ingat bistik Tartar, sate bakar. Esyi pikir ditatar sama dengan di-tartar, dijadikan sate, ditusuk-tusuk. Padahal setiap dapat langganan, dia ditusuk-tusuk juga. Kan sama saja. (OJ: 354) (105) JULINI: Ini kenyataan, tapi juga khayalan. Ini khayalan tapi juga kenyataan. Pokoknya bolak-balik begitu seperti kaca, dilihat dari sebelah mana saja, ya, tetep kelihatan. Abang masih suka „gituan sebelum sarapan? JULINI: Aih, ini yang Julini suka. Abang selalu terus terang. Julini memang jelek, tapi servis, servis kan memuaskan? (OJ: 415) (106) SYENI: Kita sudah menggeliat dari tadi, apalagi lihat kumis situ. (OJ: 425) (107) WANDA: Aduh, mana tahan? Setiap pagi, pasti kita bergerak-gerak. Eh, bergerak-gerak …. (OJ: 439) Pemakaian kata „botol‟ untuk menggantikan sebutan alat kelamin laki-laki, kata „ditusuk-tusuk‟, „gituan‟ dan „servis‟, „menggeliat‟, serta „bergerak-gerak‟ membuktikan bahwa apa yang dikatakan, dilakukan, dan dipikirkan oleh wadam bersifat vulgar (103), (104), (105), (106), (107).

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 3.2.2.3 Suka Menggoda Lelaki Berkaitan dengan sifat genit, merayu atau menggoda laki-laki merupakan salah satu cara menarik perhatian para lelaki untuk menunjukkan bahwa dirinya juga mampu dan layak untuk mencintai dan dicintai para laki-laki. Hal tersebut merupakan salah satu cara menunjukkan pada orang lain bahwa wadam transgender bangga pada jati dirinya yang sesungguhnya selain dengan jalan operasi kelamin. (108) JULINI: Kamu ini penunjuk jalan asli apa palsu, sih? Dari tadi kalau ditanya, jawabnya melulu „aku belum bisa bilang‟. Memangnya apa yang bisa? Nanti saya perkosa baru tahu rasa. Bikin geregetan orang saja. Eee, lama-lama saya lihat, si Mas ini ganteng juga. Pakai dasi, rambut rapih, minyak wangi. (OJ: 357) Sifat wadam yang suka menggoda lelaki ditunjukkan oleh tokoh Julini melalui ucapannya yang menyebut laki-laki penjaga dengan kata „ganteng‟ (108). 3.2.2.4 Posesif Seorang kekasih bukan berarti tidak dimiliki oleh sosok wadam. Sebagai “wanita” tentu saja wadam juga memiliki perasaan untuk mencintai dan dicintai oleh lelaki. Sifat posesif yang muncul dari pribadi seorang wadam dikarenakan wadam merasa bahwa seorang lelaki yang sungguh-sungguh mau menjadi kekasihnya berarti mau menerima keadaan diri wadam apa adanya, terutama dalam hal fisik. Bentuk posesif yang diperlihatkan wadam dalam drama Opera Julini adalah ketika tokoh Julini sangat mencintai Roima hingga Julini telah mati

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 sekali pun tidak ada laki-laki lain yang Julini inginkan untuk menjadi kekasihnya (109), (110). Perilaku posesif itu merupakan akibat dari respon orang lain yang mau dengan sepenuh hati tulus berelasi dengan wadam. (109) JULINI: Lalu untuk apa disuruh dandan kayak ondel-ondel begini. Katanya disuruh menjemput calon suami. Itu dia suami saya, Roima. Tidak ada lelaki lain yang saya sayangi selain Roima. JULINI: Lalu siapa yang akan jadi calon suami saya, kalau Roima tidak bisa melihat saya? Saya tidak ingin punya suami lain, selain dia. (OJ: 314) (110) JULINI: Tidak, saya ini istrinya Roima. Di bumi saya nggak punya apa-apa selain rasa bangga punya suami Roima. Sampai sekarang saya masih tetap istrinya Roima. Pakaian pengantin ini saya pakai untuk Roima. Kalau saya masuk lewat gerbang untuk laki-laki, artinya saya membuang kebanggaan itu. Saya tidak bisa. Tolong „ngerti saya dong, ngerti. Jangan dipersulit kayak bikin KTP dong! Tapi … oh …. (OJ: 384) 3.2.2.5 Mengubah Nama Salah satu bentuk usaha wadam untuk memperoleh pengakuan orang lain tersebut dilakukan wadam dengan cara mengubah nama asli menjadi nama yang dirasa lebih terdengar dan terkesan feminin. Seperti nama Julini yang sebenarnya adalah Bambang Julino diubah menjadi Julini (111), Harun Bawazir Al Kohar Al Mukadimah Al Khatam bin Nyoo Kam Wong menjadi Ike (112), Masdrai Djuheri menjadi Wanda (113), dan Duing menjadi Inge (114). Perubahan nama wadam terjadi dikarenakan penyesuaian fisik terhadap kondisi yang dirasakan.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 (111) JAGA-2: Komputer jelas-jelas memberitahu kamu itu laki-laki. Dengar! Saya bacakan. Nama, Bambang Julino. Umur, 34. Jenis kelamin, laki-laki. Status, tidak menikah. Kebangsaan, tak terbaca. Agama, tak terbaca. Alamat, tak terbaca. Kasus, mati kena peluru nyasar. Jelas? JULINI: Ogah. Saya perempuan. Sejak lahir saya sudah merasa sebagai perempuan. Makin tua makin yakin saya perempuan. Seumur hidup saya selalu pakai rok. Enak saja disuruh berubah. Lagian mana ada laki-laki yang pantatnya bahenol kayak Julini? Mana ada laki-laki yang bibirnya seksi kayak saya. Cari. Pasti nggak ada. (OJ: 379) (112) IKE: Di KTP nama saya Harun Bawazir Al Kohar Al Mukadimah Al Khatam bin Nyoo Kam Wong. Tinggal di Gang Kelinci RT 008, RW 0011. Anak ketiga dari sembilan bersaudara, satu-satunya lelaki, lahir di Tangerang 25 tahun yang lalu, hobi main tebak manggis dan sepak bola. Oom saya dokter gigi dan tante saya bintang film, ada juga saudara ngobyek jadi makelar mobil, saya sendiri merangkap jadi tukang rias pengantin …. (OJ: 349) (113) JAGA-2: Nama, Masdrai Djuheri, mati ditembak. WANDA: Nama saya Wanda Mas, nama yang barusan disebutin sudah lama saya kubur. Saya Wanda. (OJ: 437) (114) DUING: Jangan panggil saya Duing, dong. Itu kan nama lama. Zus kan tahu sendiri nama saya sudah ganti jadi Inge. Pakai potong tumpeng segala. (OJ: 319)

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penggantian nama yang kelaki-lakian menjadi 86 nama perempuan merupakan usaha penyesuaian dengan kondisi yang dirasakan (Atmojo, 1986: 40). Pergantian nama serta status ini, tentu saja, sangat penting bagi wadam. Sebab, setelah itu, hukum-hukum—baik perdata maupun pidana—yang menyangkut dirinya akan berubah pula. Misalnya, pembagian warisan, pernikahan, perjanjian kerja, serta ketentuan dan kewajiban sesuai dengan statusnya (Atmojo, 1986: 76). 3.2.2.6 Suka Bersolek Menurut Atmojo (1986: 3-4), wadam merasa perlu ber-make up dan berpakaian seperti wanita karena wadam merasa bahwa alat kelamin dan segala ciri-ciri fisiknya tidak pada tempatnya sehingga mendorong keinginan wadam untuk mengubah ciri-ciri fisiknya sesuai dengan jiwanya. Itu sebabnya, wadam akan merasa lebih lengkap, setidaknya merasa perlu menghilangkan ciri-ciri kelaki-lakiannya (115), (116). Watak suka merias diri pada wadam yang terasa berlebihan merupakan bentuk dari penyembunyian rasa kemirisan, kekurangan dan keterbatasan wujud fisik wadam yang diderita oleh para tokoh wadam. Untuk menutupi segala bentuk fisik kemaskulinitasannya salah satu hal yang paling mudah dicapai dan dilakukan wadam adalah dengan merias atau memoles wajahnya agar tampak lebih feminin. (115) LAILA: Iya juga. Tidak dinyana, tak disangka, kita ketemu di sini. Aih. Makin cakep deh Mbak Julini, pakai eye sedow segala, apa mereknya? (OJ: 435)

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 (116) LAILA: Cat kukunya mengkilat, cocok dengan cat bibir. Ini luar negeri, ya? (OJ: 436) 3.2.2.7 Suka Berebut Lelaki dan Berkelahi seperti Perempuan Selain watak wadam yang tersebut di atas, wadam juga suka saling berebut laki-laki (OJ: 345-347). Hal tersebut bukan sekadar perebutan atau perkelahian untuk memperebutkan laki-laki saja, melainkan suatu bukti bahwa wadam mampu bersaing untuk memperoleh laki-laki. Dalam kasus perselisihan tersebut tersisip kepuasan batin seorang wadam karena mampu menunjukkan bahwa masingmasing pribadi wadam juga cantik bahkan seksi seperti halnya perempuan. Di samping itu, saling memperebutkan laki-laki tersebut terwujud dalam sebuah perkelahian yang berupa saling menjambak rambut lawannya seperti pada narasi (117). Perilaku saling jambak tersebut mencerminkan perilaku perempuan yang ketika beradu fisik salah satunya adalah dengan cara menjambak rambut lawan. (117) (AKHIRNYA LAILA DAN TEA MAIN JAMBAKJAMBAKAN. MAKA TIDAK HERAN KALAU GELANGGANG SEMAKIN SERU) (OJ: 347) Pacar bagi wadam sangat penting artinya. Bukan saja sebagai sasaran untuk melampiaskan nafsu, tetapi juga sebagai syarat “kelengkapan” dirinya sebagai wanita. Dengan memiliki pacar, seorang wadam akan merasa lengkap sebagai “wanita”. Dengan begitu, pencarian “keberadaannya” dalam lingkungan paling kecil maju selangkah (Atmojo, 1986: 53).

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 3.2.2.8 Pantang Menyerah Status wadam membuat tokoh wadam tidak berhenti menyerah dan selalu berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya adalah seorang perempuan meskipun banyak pihak yang menentang dan tidak bisa menerima keberadaan wadam. Seperti perjuangan wadam yang melakukan mogok diam menunggu sampai alam kematian membukakan pintu perempuan untuk para wadam (OJ: 438-439). Setelah melihat beberapa bukti di atas, konstruksi citra psikis wadam dalam drama Opera Julini yaitu (1) genit atau centil yang berlebihan (101), (102); (2) vulgar dalam ucapan maupun melalui gerakan tubuhnya wadam cenderung mengekspresikan kesehariannya dengan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas sehingga terkesan porno (103), (104), (105), (106), (107); (3) suka menggoda lelaki (108); (4) posesif terhadap pasangan atau kekasihnya (109), (110); (5) mengubah nama asli wadam yang kelaki-lakian menjadi nama yang feminin (111), (112), (113), (114); (6) suka bersolek (115), (116); (7) suka berebut lelaki (OJ: 345-347) dan berkelahi seperti perempuan yang dilakukan dengan saling menjambak rambut lawannya (117); serta (8) pantang menyerah semangat memperjuangkan keperempuanannya (OJ: 438-439). 3.3 Citra Sosial Wadam Terdapat berbagai macam anggapan masyarakat mengenai wadam. Ada yang pro, ada yang kontra, dan ada yang biasa-biasa saja dalam arti sekadar mau

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 menerima keberadaan wadam. Namun, dalam drama Opera Julini yang ditemukan adalah penilaian negatif masyarakat terhadap wadam. Penggambaran mengenai anggapan masyarakat ini merupakan konstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Hal itu dapat ditentukan berdasarkan keadaan psikis, fisik, sosial ekonomi tokoh, dan tingkat pendidikan tokoh. Keempat hal tersebut memperlihatkan bagaimana keberadaan tokoh wadam dalam hubungannya dengan kelompok sosial masyarakat di sekitarnya. 3.3.1 Wadam dalam Masyarakat 3.3.1.1 Tidak Diterima dalam Masyarakat Pada drama Opera Julini, wadam diharuskan mengikuti penataran P-6 (Pendidikan Pedoman Penghayatan Perilaku Pantang Pertengkaran), demi menjadi warga dan manusia yang baik menurut masyarakat umum. Hal itu menunjukkan bahwa wadam dianggap warga yang berperilaku dan berkepribadian buruk atau tidak sesuai norma dalam masyarakat (118). Wadam dinilai masyarakat sebagai biang keributan dan membuat lingkungan sekitar menjadi tidak aman karena tidak adanya sikap tertib dan patuh pada aturan. (118) SUARA: Bapak-bapak itu dikasih pangkat, lantaran mereka sudah ditatar. Kalian belum. Itu sebabnya ribut melulu. SUARA: Itu maksud tujuan kami datang malam ini. Kalian semua akan ditatar P-6 dulu, untuk kemudian ditingkatkan ke penataranpenataran lain yang bisa membuat kalian menjadi warga yang baik, jadi manusia yang baik. (OJ: 354)

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Musoleum Patung Julini yang didirikan oleh pejabat dengan wujud bertelanjang dada dan memegang pisang tersebut merupakan hasil dari paradigma masyarakat melihat dan menilai Julini sebagai wadam yang kehidupannya bebas dan vulgar. Simbol buah pisang yang dilekatkan dengan sosok Julini sebagai wadam dapat diartikan menjadi dua hal (119). Pertama, buah pisang yang sering digunakan untuk menyimbolkan alat kelamin laki-laki menunjukkan bahwa Julini sesungguhnya adalah seorang laki-laki. Kedua, buah pisang tersebut juga dapat melambangkan bahwa Julini menyukai laki-laki. Kedua hal tersebut membuktikan bahwa Julini adalah seorang wadam, laki-laki pecinta laki-laki (secara fisik). Penggambaran tersebut menunjukkan bahwa wadam hidup tanpa mengerti aturan dan norma yang ada dalam masyarakat sehingga wadam dianggap tidak sopan, kotor, dan menyalahi aturan bahkan menyimpang dari apa yang disebut sebagai kodrat manusia. Kutipan (120) merupakan wujud penolakan yang sangat jelas terutama menuju pada fisik wadam (transgender) yang memang masih dalam wujud fisik laki-laki tetapi bertolak belakang dengan watak dan perilakunya yang seperti perempuan. (119) JULINI: Kok lebih jelek dari aslinya? Mana telanjang dada lagi. Bisa masuk angin kamu nanti. Aduh tangannya pegang pisang. Idiih. Siapa sih yang bikin patung ini? (OJ: 358) (120) ISTRI: Alllaa, siapa saja, apa peduliku. Tapi tindakanmu Pak, hanya membuat mereka makin bertingkah. Aku setuju kalau musoleum dan patung itu dirobohkan lagi. Apalagi bentuk patungnya kayak gitu itu. Ih, porno. Jijik. Bikin kotor pemandangan kota saja. (OJ: 404)

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Tidak diterimanya keberadaan wadam dalam masyarakat semakin terlihat ketika Julini yang sudah mati berada di alam kematian. Di gerbang terakhir arwah Julini tidak berhasil lolos karena di sana terdapat dua pintu, yaitu pintu untuk perempuan dan pintu untuk laki-laki. Kedua pintu tersebut melambangkan masyarakat yang masih memandang dan hanya mengakui dua jenis kelamin manusia, serta tidak mau terbuka menerima wadam yang jiwanya benar-benar perempuan tetapi terjebak dalam tubuh laki-laki. Arwah Julini ditolak oleh pintu untuk perempuan karena Julini adalah seorang laki-laki yang sesungguhnya mengharuskan arwah Julini masuk ke pintu untuk laki-laki. Tidak hanya Julini, arwah teman-teman wadamnya seperti Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda pun juga tidak mendapatkan sambutan yang baik di gerbang terakhir (OJ: 437-439). Seberapa pun perjalanan tokoh wadam memperjuangkan keperempuanannya tidak akan pernah ada habisnya, karena di mana pun mereka berada, keberadaannya sebagai wadam sangat sulit diterima bahkan di alam kematian sebagai tempat terakhir bagi arwah para wadam (121). (121) JULINI: Eh, ada penjaga. Mas, Mas, situ jaga gerbang ini, ya? Eh, ada dua. Mas? Mas. Nggak pada punya kuping kali, ya? Ya sudah, saya masuk saja. (MASUK TAPI BERJUTA GARIS CAHAYA MENAHANNYA. JULINI TERPELANTING DITONJOK CAHAYA-CAHAYA ITU) Aduuh, toobaat. Apa sih maksudnya? Katanya disuruh masuk? Kok tidak bisa? Mas? Mas? Situ yang jaga gerbang ini, ya? Duh, ini sama gelonya ya dengan penunjuk jalan tadi. Masa nggak bisa masuk? (MENCOBA UNTUK MASUK LAGI. TAPI BEGITULAH, KEMBALI BERJUTA GARIS CAHAYA MENONJOKNYA

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 HINGGA DIA TERPELANTING) Aduh, aduh, edan. (OJ: 377) Ditolaknya wadam dari anggota keluarga, menunjukkan bahwa masih banyak orang tua yang belum siap menerima kenyataan yang menimpanya, sehingga para wadam ini pun kabur ke “gorong-gorong” untuk meniti jalan hidupnya sendiri. Lalu, pada gilirannya, mereka menjadi persoalan bagi orang lain (Atmojo, 1986: 21). 3.3.1.2 Memperjuangkan Pengakuan sebagai Wadam Ada banyak hal yang dilakukan wadam untuk memperjuangkan apa yang mereka rasa menjadi haknya dalam kehidupan para wadam. Wadam memiliki haknya untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat sebagai manusia wanita seperti pada umumnya. Salah satu bentuk usaha wadam untuk memperoleh pengakuan orang lain tersebut dilakukan wadam dengan cara merias wajah dan mengecat kukunya demi menunjang penampilannya sebagai wanita (OJ: 435436). Memakai riasan seperti eye shadow dan cat kuku bagi wadam merupakan salah satu cara agar semakin terlihat feminin dan untuk menutupi ciri fisiknya yang kelaki-lakian. Hal tersebut dilakukan wadam untuk meyakinkan masyarakat bahwa sesungguhnya wadam adalah seorang perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Selain itu, perjuangan wadam memperoleh pengakuan dari masyarakat juga dilakukannya dengan cara mengubah nama asli yang maskulin menjadi nama

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 yang feminin. Seperti nama Bambang Julino diubah menjadi Julini (OJ: 379), Harun Bawazir Al Kohar Al Mukadimah Al Khatam bin Nyoo Kam Wong menjadi Ike (OJ: 349), Masdrai Djuheri menjadi Wanda (OJ: 437), dan Duing menjadi Inge (OJ: 319). Pengubahan nama tersebut dilakukan wadam karena berpengaruh terhadap apa hak dan kewajiban sesuai dengan status wadam yang mengarah ke perempuan. Wadam yang tidak diterima dalam masyarakat terus memperjuangkan pengakuan dari masyarakat yang tercermin dari sikapnya yang mogok diam dan gigih akan terus menunggu sampai dibukakannya pintu perempuan bagi para wadam (OJ: 438-439), yang merupakan simbol dari penerimaan wadam di masyarakat. 3.3.1.3 Membentuk Komunitas Wadam Wadam yang ditolak keluarganya dan masyarakat tentu saja tetap menginginkan hidup nyaman bersama dengan orang-orang yang mau menerimanya. Satu-satunya cara dilakukan dengan berkumpul bersama sesama wadam. Mereka pun memilih pergi dan hidup bersama rekan-rekannya di kota besar (Atmojo, 1986: 21). Seperti yang diceritakan dalam Opera Julini bahwa wadam berkumpul bersama dalam komunitasnya sesama wadam dan memiliki kehidupannya bersama. Sebagai komunitas, wadam juga membutuhkan tempat untuk bertemu, berkumpul, saling bercengkerama, berkomunikasi, menjalin kehidupan sosial, bahkan juga menjalani kehidupan bersama dengan tinggal di suatu tempat tertentu secara bersama-sama (OJ: 343-358). Wadam pun makin

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 banyak bertebaran di tempat-tempat strategis (OJ: 18). Keadaan tersebut membangun suatu dinamika kehidupan sosial yang terjalin antarwadam, seperti hubungan persahabatan dan suka duka yang dijalani wadam sehingga wadam merasa tidak sendirian dan mampu berbagi permasalahan yang dirasakannya untuk mengurangi beban hidupnya serta membangun kekuatan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa wadam juga mampu bertahan hidup. Selain itu, komunitas juga digunakan sebagai tempat perlindungan bagi wadam. 3.3.1.4 Strata Sosial Kelas Bawah Ketidakselarasan antara golongan atas dengan rakyat miskin dikisahkan dalam drama ini. Masyarakat kelas atas dikisahkan melalui tokoh Pejabat, Polisi dan pemerintah, sedangkan masyarakat kelas bawah dikisahkan melalui tokoh rakyat miskin, yaitu pemulung, para berandal, perampok, bandit, dan juga wadam. Wadam yang sejak awal diceritakan sebagai tokoh kelas bawah membuat mereka sulit diterima di masyarakat. Kesulitan masyarakat menerima keberadaan wadam tersebut mengakibatkan terbataskan akses wadam ke segala segi kehidupan. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, status sosial kelas bawah tokoh wadam membuat wadam tidak memiliki banyak kesempatan untuk merasakan dunia pendidikan. Dari segi pendidikan, wadam bisa dikatakan berpendidikan minim dan rendah. Hal tersebut dibuktikan dalam sebuah percakapan yang menggunakan istilah bahasa Inggris berupa frasa eye shadow. Dari penulisan yang terdapat pada kutipan (122), penulisan frasa eye shadow ['syædow] sengaja ditulis salah menjadi eye sedow [sedow] dalam pengetikan yang berguna untuk menunjukkan bahwa

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 apa yang dituturkan tokoh wadam Laila sama seperti apa yang tertulis dalam kutipan (122), eye sedow. Melalui penuturan tokoh wadam Laila yang menuturkannya secara eye sedow, cukup membuktikan bahwa wadam tidak memiliki pendidikan yang tinggi jika seharusnya mengucapkannya secara ['syædow] tetapi justru menjadi [sedow]. (122) LAILA: Iya juga. Tidak dinyana, tak disangka, kita ketemu di sini. Aih. Makin cakep deh Mbak Julini, pakai eye sedow segala, apa mereknya? (OJ: 435) Masyarakat kelas bawah dengan pendidikannya yang rendah akan sangat sulit mencukupi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, masyarakat kelas bawah khususnya wadam dalam Opera Julini mengalami ketidakberuntungan dalam segi ekonomi karena keterbatasannya dalam dunia pendidikan juga berpengaruh terhadap pekerjaan dan penghasilannya, sehingga bekerja sebagai pekerja seks komersil menjadi satu-satunya pilihan dan juga jalan terakhir bagi wadam Opera Julini. Hal tersebut semakin terdukung dengan sikap penolakan masyarakat golongan atas yang tidak mempedulikan hal tersebut, bahkan semakin menindas rakyat kelas bawah dengan menggunakan kekuasaannya. 3.3.1.5 Bekerja sebagai Pelacur Berkaitan dengan aspek fisik wadam yang transgender, dalam hal ini wadam transgender bukan tanpa alasan, tetapi mereka memiliki kendala ekonomi yang belum atau bahkan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka beroperasi mengubah alat kelamin laki-lakinya menjadi perempuan

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 dengan alasan keuangan yang tidak mencukupi (Atmojo, 1986: 39-40). Operasi tersebut memang tidak murah, sedangkan penghasilan mereka rendah (Ibid., 40). Tingkat pendidikan yang rendah rasanya susah bagi wadam untuk mencari pekerjaan yang layak. Belum lagi soal kesediaan masyarakat untuk menerima kehadirannya (Ibid., 24). Seperti tokoh Duing yang dapat dikatakan bekerja sebagai pembantu bagi tokoh Tuminah, adik Tibal, menunjukkan bahwa tokoh Duing dalam segi ekonomi masih belum mampu mencukupi keinginannya untuk operasi kelamin sehingga mengantarkannya pada suatu kondisi untuk bekerja pada orang lain (OJ: 337-342). Tidak hanya tokoh Duing wadam yang miskin dan butuh pekerjaan untuk memperoleh uang demi mencapai cita-citanya operasi alat kelamin, wadam yang lain pun seperti Julini, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni dan Wanda yang bekerja sebagai wadam pelacur yang merupakan salah satu bentuk perjuangan mereka memperoleh uang agar mampu operasi kelamin (123), (124). (123) JULINI: Latunas, laki-laki tuna susila, istilah sopannya. Cabo laki istilah kasarnya. Orang-orang bilang kami begitu. Padahal Julini ini wanita. Tulen. Betul, banyak lelaki lain mampir di dada Julini. Tapi mereka cuma langganan. Yang saya layani lantaran uangnya, bukan lantaran cinta. Hanya Roima. Ibaratnya, sekali merdeka tetap merdeka. Sekali Roima, tetap Roima. Dunia langsung gelap kalau dia tidak ada. Lebih baik saya yang tidak bisa lihat Roima, daripada sebaliknya. Apa ini sulapan? (OJ: 315) (124) SYENI: Ya, namanya juga pasar Pak, mana bisa tertib. Kan masing-masing pengen dagangannya laku keras. (OJ: 353)

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Menjadi pelacur bagi wadam adalah alternatif termudah agar perut tidak keroncongan. Sebab, bisa dibayangkan, dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah dan tanpa keahlian, apa yang bisa mereka lakukan di Jakarta ini. Belum lagi sempitnya kesempatan dan ladang yang bisa mereka masuki (Atmojo, 1986: 69). Penghasilan mereka yang kebanyakan tak tentu itu hanya pas-pasan untuk keperluan sehari-hari (Ibid., 58). Berdasarkan hal tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa konstruksi citra sosial wadam di masyarakat adalah tidak diterima dalam masyarakat (118), (119), (120), (121), (OJ: 437-439). Karena wadam tidak diterima di masyarakat, wadam berusaha keras memperjuangkan pengakuan sebagai wadam dalam masyarakat (OJ: 435-436), (OJ: 379), (OJ: 349), (OJ: 437), (OJ: 319), (OJ: 438-439). Wadam dianggap berperilaku dan berkepribadian buruk tidak sesuai norma masyarakat, biang keributan karena tidak tertib dan tidak patuh pada aturan, tidak sopan, kotor, serta menyalahi kodrat manusia. Pada akhir perjalanan hidupnya pun keberadaan tokoh wadam di masyarakat masih belum bisa diterima. Karena tidak diterima di masyarakat, wadam membentuk suatu komunitasnya sendiri (OJ: 343-358). Selain itu, wadam dalam Opera Julini tergolong dalam strata sosial kelas bawah, khususnya berpendidikan rendah (122). Berkaitan dengan pendidikan rendah, membuat para wadam memiliki keterbatasan peluang kerja sehingga wadam bekerja sebagai pelacur (123), (124), (OJ: 337-342).

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.3.2 98 Wadam dalam Komunitasnya 3.3.2.1 Persahabatan Erat Di dalam komunitas sesama wadam tentu saja berbeda, karena kehidupan bersama dengan orang-orang sejenis membuat ikatan semakin erat. Merasa bahwa wadam hidup dalam ketidakadilan karena sulit diterima oleh masyarakat, hubungan wadam dengan sesama wadam sangat erat karena merasa senasib sepenanggungan (OJ: 345-352). Meskipun Tea dan Laila pernah beradu memperebutkan laki-laki, tetapi mereka berteman sangat baik. Tealah yang menyebarkan berita pada para wadam tentang kematian Laila, karena Tea merasa Laila adalah teman bagi Tea (125). Hal itu menunjukkan bahwa ikatan relasi yang ada dalam pertemanan antarwadam sangat solid (126). Bahkan, ketika arwah Tea dan arwah Laila bertemu di alam kematian pun persahabatan mereka tetap terjalin dengan sangat baik (127). (125) TEA: Gue sedih, nangis sedari tadi, gue lihat, gue lihat, mayat Laila. Aduuh, duh, duh, duh …. TEA: Mayatnye udah busuk, diangkat sama Mas Bajenet dan Mas Bleki. Katenye, katenye, Laila dibunuh sama Mas Roima. TEA: Sumpah, banyak saksinya. Kasihan Laila, cicilan beha-nya belum lunas. Gue kagak punye temen betengkar lagi …. (OJ: 409) (126) TEA: Serbu, demi Laila, demi Mas Roima, dan demikian …. (OJ: 425)

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 (127) TEA: Majenun, Majenun, aii, gue rindu, rindu banget same elu. Syukur bisa ketemu lagi. Ampun, ampun …. (TEA MEMELUK LAILA. LALU SEMUANYA BERSALAMSALAMAN DAN SUASANA JADI SANGAT RIUH RENDAH. SEMUANYA CEKIKIKAN) (OJ: 436) 3.3.2.2 Setia Kawan Perkelahian yang terjadi antarwadam justru menciptakan sebuah keakraban dan kesetiakawanan di antara para wadam dalam Opera Julini. Rasa senasib sepenanggungan membuat wadam mempunyai hubungan yang akrab dan setia kawan melebihi hubungan keluarga. Oleh karena itu, wadam dalam drama Opera Julini mudah untuk saling memaafkan (128). (128) TEA: Laila, oh, oh, maafin gue, ye? LAILA: Ya, kita senasib sepenanggungan, nanti kalau kita dipenjara, kita satu ranjang, ya? Saya juga minta maaf. (OJ: 352) Selain itu, kesetiaan juga ditunjukkan tokoh Duing terhadap Tuminah yang setia melayani dan menemani Tuminah (OJ: 337-342). Kesetiakawanan wadam semakin jelas terlihat ketika semua wadam telah mati, dan semua arwah para wadam berkumpul bersama di depan gerbang ke-3, yaitu gerbang dengan dua pintu (pintu untuk laki-laki dan pintu untuk perempuan). Di sana para wadam

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 sepakat dan kompak untuk mogok diam bersama-sama menunggu sampai gerbang perempuan terbuka bagi mereka (OJ: 438-439). 3.3.2.3 Menciptakan Bahasa Khusus Banyak kalangan yang mengubah bahasa baik golongan ataupun tingkatan usia. Begitu banyak komunitas yang memiliki bahasa simbol dan begitu banyak pula variasi bahasa yang terbentuk untuk memudahkan komunikasi, salah satunya adalah komunitas wadam. Berkaitan dengan komunitas para wadam, terkadang wadam memunculkan bahasa-bahasa tersendiri sebagai identitas wadam. Tokoh wadam Julini suka menggunakan istilah khas wadam dalam percakapannya dengan tokoh lain; misalnya istilah kutilang „kumisan tinggi langsing‟ dan latunas „laki-laki tuna susila‟ seperti pada kutipan (129) dan (130). Ada juga tokoh wadam Laila; misalnya istilah eikke „aku, saya‟ dan loncer „longgar‟ seperti pada kutipan (131) dan (132), serta tokoh wadam Tea dengan istilah lekong „laki‟ seperti pada kutipan (131). Tokoh wadam Esyi menggunakan istilah bencong „banci, waria, wadam‟ seperti kutipan (134), serta tokoh wadam Wanda yang memakai istilah masya „masa5‟ pada kutipan (133). (129) JULINI: Roima makin ganteng dia, makin keren, makin jantan, makin seksi. Saya betul-betul gemes lihat kamu. Roima, kamu sekarang sudah jadi kutilang, ya? GUIDE: Apa? Kutilang? 5 Kata untuk menyatakan ketidakpercayaan dan sifatnya retoris, KBBI, hlm. 882.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 JULINI: Kumisan. Tinggi. Langsing. Aiihhh …. (OJ: 312) (130) JULINI: Latunas, laki-laki tuna susila, istilah sopannya. Cabo laki istilah kasarnya. Orang-orang bilang kami begitu. Padahal Julini ini wanita. Tulen. Betul, banyak lelaki lain mampir di dada Julini. Tapi mereka cuma langganan. Yang saya layani lantaran uangnya, bukan lantaran cinta. Hanya Roima. Ibaratnya, sekali merdeka tetap merdeka. Sekali Roima, tetap Roima. Dunia langsung gelap kalau dia tidak ada. Lebih baik saya yang tidak bisa lihat Roima, daripada sebaliknya. Apa ini sulapan? (OJ: 315) (131) TEA: Apa lu kira cuman Bob satu-satunya lekong di donya? Sembarangan. Majenun lu. LAILA: Menghina, ya? Dobel menghina. Menghina Bob dan menghina eikke. Biar situ punya oom Tibum, Laila kagak takut. (OJ: 346) (132) LAILA: Betul Bos, saya keceplosan. Mulut saya memang loncer, loncer, loncer …. … tapi sumpah itu tidak sengaja. (OJ: 392) (133) WANDA: Aduuh, masya …. (OJ: 423) (134) ESYI: Waduh, ada bencong berkelahi. Rebutan botol ya? (OJ: 345) (135) IKE: Biasa Pak, di sini setiap hari pasti ada pertengkaran. Sebabnya

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 apalagi kalau bukan rebutan botol. (OJ: 352) Selain itu, tokoh wadam Esyi dan Ike memakai istilah botol untuk memalsukan sebutan alat kelamin laki-laki seperti pada kutipan (134), (135). Penggunaan istilah-istilah khusus oleh para wadam tersebut secara tidak langsung dan tanpa disadari timbul karena kebutuhan wadam akan pemenuhan terhadap eksistensi jati dirinya. Tokoh Julini, Laila, Tea, Esyi dan Wanda sebagai wadam transgender ingin terlihat menonjol. Di samping itu, menurut Dede Oetomo (melalui Yangni, 2004: 15-16), memandang bahasa binan (bahasa yang digunakan di kalangan kaum waria atau wadam dan kaum gay) sebagai bahasa rahasia, karena hal-hal yang biasanya dibicarakan kaum waria atau wadam dan gay adalah tentang anatomi tubuh, perbuatan serta sifat dan identitas seksual yang jika diungkapkan pada bahasa kaum awam (bahasa Indonesia pada umumnya) ditabukan, maka digunakanlah bahasa tersebut, agar hal-hal semacam itu dapat terus dibicarakan di tengah masyarakat luas tanpa dimengerti oleh orang lain. 3.3.2.4 Suka Bercanda Pada drama Opera Julini, tidak terbukti adanya perilaku wadam yang saling menyakiti perasaan bahkan fisik. Adapun itu hanya sebagai candaan antarwadam sendiri. Perkelahian yang terjadi antara Tea dan Laila hanyalah perkelahian biasa yang tidak perlu dikhawatirkan atau dibesar-besarkan. Perkelahian itu justru menjadi hiburan bagi para wadam (136). Seperti halnya Ike dan Esyi bukannya melerai, tetapi justru merasa senang karena Ike dan Esyi tahu

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 bahwa perkelahian itu hanyalah candaan yang sudah biasa dalam kehidupan di dalam perkumpulan sesama wadam. (136) IKE: Kalau kungfu, sama-sama jago. Pakai tenaga dalam dong. ESYI: Terus Tea, terus kamu jagoan kita. (TEA DAN LAILA BERKUTETAN. BEBERAPA WADAM MAIN TARUHAN) IKE: Ayo, yang lebih seru dong. (OJ: 347) Selanjutnya, dapat disimpulkan bahwa persahabatan para wadam sangat erat, solid, dan kompak (125), (126), (127), (OJ: 345-352), serta juga setia kawan (128), (OJ: 337-342), (OJ: 438-439). Wadam mempunyai dan memakai bahasa khas wadam dengan sesamanya, yaitu istilah kutilang „kumisan tinggi langsing‟, latunas „laki-laki tuna susila‟, eikke „aku, saya‟, loncer „longgar‟, lekong „laki‟, bencong „banci, waria, wadam‟, masya „masa‟ (129), (130), (131), (132), (133), (134); serta istilah botol untuk menyamarkan sebutan alat kelamin laki-laki (134), (135). Selain itu, perkelahian antarwadam merupakan bagian dari bentuk penghiburan di kehidupan wadam sehari-hari (136). 3.4 Rangkuman Citra wadam dibagi menjadi dua, yaitu citra diri wadam yang terdiri dari aspek fisik dan aspek psikis, serta citra sosial wadam yang terdiri dari aspek

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 masyarakat dan aspek komunitas sesama wadam. Terdapat delapan tokoh wadam pada Opera Julini, yaitu Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda sebagai tokoh wadam yang diteliti untuk menemukan konstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno. Konstruksi citra fisik wadam dalam drama Opera Julini adalah (1) transgender dan (2) mengubah penampilan menjadi perempuan. Konstruksi citra psikis wadam dalam drama Opera Julini yaitu (1) genit atau centil, (2) vulgar, (3) suka menggoda lelaki, (4) posesif, (5) mengubah nama, (6) suka bersolek, (7) suka berebut lelaki dan berkelahi seperti perempuan, serta (8) pantang menyerah. Konstruksi citra sosial wadam dalam drama Opera Julini di masyarakat adalah (1) tidak diterima dalam masyarakat, (2) memperjuangkan pengakuan sebagai wadam, (3) membentuk komunitas wadam, (4) strata sosial kelas bawah, dan (5) bekerja sebagai pelacur. Konstruksi citra sosial wadam dalam drama Opera Julini di komunitas wadam yaitu (1) persahabatan erat, (2) setia kawan, (3) menciptakan bahasa khusus, dan (4) suka bercanda.

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dari dua analisis yaitu analisis unsur tokoh dan penokohan serta analisis citra wadam dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut. Berdasarkan fungsinya, analisis unsur tokoh dan penokohan terdiri dari tokoh protagonis meliputi Julini dan Roima. Tokoh antagonis meliputi Tibal dan Pejabat. Tokoh tritagonis meliputi Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda. Dalam menganalisis unsur tokoh dan penokohan ditemukan identitasidentitas Julini yang meliputi wadam transgender, telah mati, mengubah nama Bambang Julino menjadi Julini, kekasih Roima, setia, suka bersolek, bangga jati diri, genit dan suka merayu laki-laki, menggunakan bahasa wadam, vulgar, hidup bebas, tidak sopan, kotor, tidak mengerti norma, menyimpang kodrat, yakin perempuan tulen, tidak diterima bahkan di alam kematian, serta pantang menyerah dan selalu berjuang keras mendapatkan pengakuan. Identitas-identitas Roima yang meliputi pimpinan bandit, merasa bersalah atas kematian Julini, sangat mencintai Julini, Roima biseksual, punya mimpi, tegas, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, berhati-hati merencanakan sesuatu, menjaga rahasia kelompok dengan baik, pemimpin yang menghargai orang lain, bijaksana, berhati nurani, tidak suka kekerasan, ada kalanya rapuh, ragu-ragu, dan putus asa. 105

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Identitas-identitas Tibal yang meliputi pemimpin bandit yang merasa berkuasa penuh, berpikir pendek, kejam, tidak berperikemanusiaan, tidak suka pengkhianatan, gegabah mengambil keputusan, obsesi kekuasaan, kejam, egois, angkuh, keras kepala, semena-mena pada anak buah, suka menyalahkan orang lain, sering berselisih paham dengan Roima, iri terhadap Roima, dan pendendam. Identitas-identitas Pejabat yang meliputi Direktur Utama PT Penataran Manggala Nasional, pernah berselingkuh dengan Tuminah, pendiri Musoleum Patung Julini, tidak peduli rakyat, bersikap kasar, tegas, ingin menumpas komplotan bandit, mudah marah, pada akhirnya menyadari kesalahannya, malu dengan penyakitnya, dan merasa tidak lagi sanggup memimpin kota. Identitas-identitas Duing yang meliputi seorang wadam, genit dan lucu, berasal dari Kalipasir, berganti nama menjadi Inge, teman cerita Tuminah, patuh mengikuti perintah Tuminah, setia, serta bertele-tele. Identitas-identitas Laila yang meliputi wadam transgender, berkemampuan kungfu, genit, lucu, konyol, menggunakan bahasa khas wadam, kental dengan logat Betawi, erat dengan sesama wadam, terkenal mulut ember, dan setelah Laila mati arwahnya tidak diterima di alam kematian. Identitasidentitas Ike yang meliputi seorang wadam, mati tertembak senapan mesin, arwahnya tidak diterima di alam kematian, lucu, konyol, genit, dan vulgar. Identitas-identitas Esyi yang meliputi wadam yang sifatnya anak mami, penakut, mudah mengompol ketika panik, mati terkena senapan mesin, arwahnya ditolak di alam kematian, dan menganggap perkelahian antarwadam adalah hiburan. Identitas-identitas Tea yang meliputi seorang wadam korban senapan mesin, arwahnya ditolak di alam kematian, genit, mudah tergoda laki-laki, suka berebut

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 laki-laki dengan sesama wadam, berteman dekat dan erat dengan teman-teman wadam, serta menggunakan bahasa wadam dan juga logat Betawi. Identitasidentitas Syeni yang meliputi seorang wadam, mati tertembak senapan mesin, arwahnya ditolak di alam kematian, genit, dan suka menggona pria. Identitasidentitas Wanda yang meliputi seorang wadam, bernama asli Masdrai Djuheri, mati tertembak senapan mesin, arwahnya tidak diterima di alam kematian, serta genit dan vulgar. Analisis tokoh dan penokohan menghasilkan delapan tokoh wadam yang ada dalam drama Opera Julini yaitu Julini, Duing, Laila, Ike, Esyi, Tea, Syeni, dan Wanda. Kedelapan tokoh tersebut digunakan untuk mengonstruksi citra wadam dalam drama Opera Julini. Dalam meneliti citra wadam dalam drama Opera Julini, penulis menemukan konstruksi citra diri wadam dalam aspek fisik adalah (1) transgender dan (2) mengubah penampilan menjadi perempuan. Sebagai wadam transgender, merasa bahwa ada ketidaksesuaian antara fisik dan jiwanya, wadam menghilangkan atau setidaknya menutupi ciri-ciri kelaki-lakiannya serta untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa dirinya adalah perempuan. Hal tersebut dilakukan dengan jalan merias wajahnya dan berpakaian perempuan. Konstruksi citra diri wadam dalam aspek psikis adalah (1) genit atau centil yang berlebihan oleh tokoh wadam karena ingin terlihat seperti layaknya perempuan tulen, (2) vulgar dalam berperilaku, berkata-kata, bahkan berpikir pun tidak jauh dari kehidupan seksualitasnya sehingga terkesan porno, (3) suka menggoda lelaki menunjukkan bahwa dirinya mampu dan layak mencintai dan

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 dicintai laki-laki, (4) posesif terhadap kekasih, (5) mengubah nama yang kelakilakian menjadi nama yang feminin demi mendapat pengakuan dari masyarakat, (6) suka bersolek karena akan merasa lebih lengkap dan utuh sebagai perempuan, (7) suka berebut lelaki dan berkelahi seperti perempuan dengan cara saling menjambak rambut lawannya, serta (8) pantang menyerah demi memperoleh pengakuan dari masyarakat. Konstruksi citra sosial wadam dalam aspek masyarakat adalah (1) tidak diterima dalam masyarakat karena Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur tentang wadam, (2) wadam berusaha keras memperjuangkan pengakuan sebagai wadam di masyarakat, (3) membentuk komunitas wadam, karena di Indonesia kala itu seorang wadam tidak bisa begitu saja bebas menyatakan dirinya di depan umum, mereka kemudian nekat melarikan diri dari rumah, lalu menuju kota-kota besar untuk berkumpul bersama rekan-rekan senasib, (4) wadam tergolong dalam strata sosial masyarakat kelas bawah sehingga wadam berpendidikan rendah, serta (5) bekerja sebagai pelacur adalah akibat dari pendidikan yang rendah sehingga tidak mampu memiliki profesi lain kecuali menjadi pelacur. Konstruksi citra sosial wadam dalam aspek komunitas wadam adalah (1) persahabatan erat yang timbul karena merasa sama-sama ditakdirkan menjadi wadam, (2) setia kawan, (3) menciptakan bahasa khusus agar terus dapat membicarakan kehidupan seksualitasnya di tengah masyarakat tanpa dimengerti orang lain, serta (4) suka bercanda karena hidupnya selalu bermain-main dengan kehidupan seksualitas.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 4.2 Saran Drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno ini semakin membuka wawasan mengenai drama Indonesia dan semakin melengkapi kesusastraan Indonesia. Drama ini pun cukup menarik untuk dijadikan bahan bacaan dan pembelajaran karena isi ceritanya banyak mengandung pesan-pesan dengan refleksi yang dikemas dalam peristiwa-peristiwa sosial serta dapat dijadikan sebagai bahan perenungan. Masih banyak hal dari dalam drama Opera Julini karya Norbertus Riantiarno yang bisa dikaji untuk dijadikan bahan penelitian selanjutnya. Penelitian selanjutnya dapat berupa kajian psikologi sastra mengenai analisis konflik batin tokoh-tokoh wadam dalam drama Opera Julini. Penelitian selanjutnya juga dapat berupa studi gender yang berkaitan dengan tokoh wadam drama Opera Julini. Selain itu, juga dapat berupa analisis bagaimana proses tercipta dan terbentuknya bahasa slang atau bahasa binan yang digunakan oleh wadam dalam komunitasnya dengan menggunakan kajian sosiolinguistik dan psikolinguistik. Hal tersebut dapat dilakukan karena akan menghasilkan suatu pengetahuan baru yang menarik.

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Atmojo, Kemala. 1986. Kami Bukan Lelaki. Jakarta: Grafitipers. Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Caps. Haerudin, Mamang M. 2012. Keberpihakan Islam untuk Perempuan dan LGBT. Jakarta: Bhinneka. Kartono, Kartini. 1989. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Mandar Maju. Listiorini, Dina. tt. Media, Gender, dan Seksualitas. Modul Mata Kuliah Media, Gender, dan Seksualitas, Program Studi Sosiologi, Fakultas Fisip, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. (tidak diterbitkan). Moleong, Lexy J. 1989. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya. Nazir, Mohammad. 1985. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indah. Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Rahmanto, B., S.E. Peni Adji. 2007. Drama. Yogyakarta: Universitas Terbuka. Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Riantiarno, Norbertus. 1982. Opera Julini. Jakarta: Matahari. Rusdiana, Marlia Wahyu. tt. “Manajemen Konflik pada Hubungan Pertemanan Sesama Waria Pekerja Seks Komersial di Kota Malang”. Skripsi pada Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Malang. 110

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Sasanti, Airani. 2007. “Kekerasan Struktural oleh Pemerintah terhadap Kaum Urban Miskin di Jakarta dalam Drama Trilogi Opera Kecoa Karya Norbertus Riantiarno: Tinjauan Sosiologi Sastra”. Skripsi pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Soedijati, Elisabeth Koes. 1995. “Solidaritas dan Masalah Sosial Kelompok Wadam”. Skripsi pada Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Sugihastuti. 2000. Wanita di Mata Wanita: Perspektif Sajak-sajak Toety Heraty. Bandung: Nuansa. Sugono, Dendy (Pemimpin Redaksi). 2008, cetakan pertama Edisi IV. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pusat Bahasa. Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius. Yangni, Stanislaus. 2004. “Bahasa Kaum Waria: Sebuah Manifestasi dari Wacana Homoseksualitas”. Skripsi pada Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SUMBER TELEVISI DAN ONLINE “Taboo: Changing Gender”. 2013. Saluran National Geographic. 08/03/2013, 22.00-23.00 WIB. “Taboo: Changing Gender,” http://www.youtube.com/watch?v=0hjIeg1tE68. Stable Diunduh URL: 11/04/2013, 22.30. “Penggunaan Bahasa Slang dalam Komunitas Waria di Kota X,” Stable URL: http://gudangmakalah.blogspot.com/2009/08/skripsi-penggunaan-bahasaslang-dalam.html. Diunduh 03/10/2012, 23.15. 112

(128)

Dokumen baru