Hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua - USD Repository

Gratis

0
0
159
9 months ago
Preview
Full text

  

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KELEKATAN DAN PENYELESAIAN

KONFLIK ANTARA REMAJA AWAL DENGAN ORANG TUA

  skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Oleh: Ovina Felita Christie Wulandari

  NIM: 099114039

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

MOTTO

“AMSAL 23:18”

  

“KARENA MASA DEPAN SUNGGUH ADA

DAN HARAPANMU TIDAK AKAN

HILANG”

1 TESALONIKA 5:16-17 “BERSUKACITALAH SENANTIASA.

  

TETAPLAH BERDOA” Karya sederhana ini ku persembahkan untuk :

  • Tuhan Yesus Kristus  Orang tua tercinta
  • Adikku tersayang Hizkia Dewa Agung  Keluarga besar Eyang Sudarmi  Yanuari Eko Raharja

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KELEKATAN DAN

  

PENYELESAIAN KONFLIK ANTARA REMAJA AWAL DENGAN

ORANG TUA

Ovina Felita Christie Wulandari

  

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kualitas kelekatan

remaja awal dengan penyelesaian konflik. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif

antara kualitas kelekatan pada remaja awal dengan penyelesian konflik. Subjek penelitian

berjumlah 100 subjek remaja awal dengan rentang usia 13 hingga 16 tahun. Dalam penelitian ini,

peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan

menyebarkan skala kelekatan remaja awal dengan penyelesian konflik. Validitas penelitian ini

adalah validitas isi. Koefisien reliabilitas dari skala kualitas kelekatan remaja awal dengan orang

tua adalah sebesar 0,868 dan koefisien reliabilitas skala penyelesaian konflik adalah sebesar 0,812.

Untuk mengetahui hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik kompromi antara

remaja awal dengan orang tua digunakan teknik korelasi Pearson Product Moment. Untuk

mengetahui hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik kompetisi antara remaja

awal dengan orang tua digunakan teknik korelasi Spearman Rho. Untuk mengetahui hubungan

antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik menghindar antara remaja awal dengan orang

tua digunakan teknik korelasi Spearman Rho. Koefisien korelasi (r) antara kualitas kelekatan dan

penyelesaian konflik kompromi antara remaja awal dengan orang tua adalah sebesar 0,128 dengan

taraf signifikansi (p)=0,206 (p>0,05) maka dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut tidak

berkorelasi. Koefisien korelasi (r) antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik kompetisi

antara remaja awal dengan orang tua adalah sebesar -0,167 dengan taraf signifikansi (p) = 0,097

(p>0,05) maka dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berkorelasi. Koefisien

korelasi (r) antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik menghindar antara remaja awal

dengan orang tua adalah sebesar -0,055 dengan taraf signifikansi (p) = 0,583 (p>0,05) maka

disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berkorelasi.

  Kata kunci : remaja awal, kelekatan dengan orang tua, penyelesaian konflik

RELATIONSHIP BETWEEN ATTACHMENT QUALITY AND

  

CONFLICT RESOLUTION AMONG EARLY ADOLESCENT WITH

PARENTS

Ovina Felita Christie Wulandari

  

ABSTRACT

This research aims to find out whether there is a relationship between quality of

attachment of early teens and conflict resolution. The hypothesis was there was a positive

relationship between quality of attachment in early teens and conflict resolution. There are 100

subjects as the sample of the research, aged 13 until 16 years old, who are in early adolescent. In

this research, the researcher used purposive sampling technique. Data collection is done by

spreading the scale of early adolescent attachment and scale of conflict resolution. This research

used content validity. The coefficient reliablity of the scale of early adolescent attachment quality

was 0,868 and the coefficient reliability of the scale of conflict resolution was 0,812. To determine

the relationship between early adolescent attachment quality and compromise conflict resolution,

researcher used Pearson Product Moment Correlation. To determine the relationship between

early adolescent attachment quality and competition conflct resolution, researcher used Spearman

Rho Coreelation and to determine the relationship between early adolescent attachment quality

and avoidance conflict resolution, researcher used Spearman Rho Correlation. Coefficient

correlation (r) between early adolescent attachment quality and compromise conflict resolution

was 0,128 with significance level (p) 0,206 (p>0,05). It means there was a negative relationship

between early adolescent attachment with compromise conflict resolution. Coefficient correlation

(r) between early adolescent attachment quality and competition conflict resolution was -0,167

with significance level (p) 0,097 (p>0,05). It means there was a negative relationship between

early adolescent attachment quality with competition conflict resolution. Coefficient correlation

(r) between early adolescent attachment quality and avoidance conflict resolution was -0,055 with

significance level (p) 0,583 (p>0,05). It means there was a negative relationship between early

adolescent attachment quality with avoidance conflict resolution.

  Key words : early adolescent, attachment quality, conflict resolution

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karunia Nya, karena skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Kualitas Kelekatan dan Penyelesaian Konflik Antara Remaja Awal dengan Orang Tua ini dapat terselesaikan. Skripsi ini tidak bisa terselesaikan dengan baik tanpa adanya dukungan dan bantuan dari berbgai pihak. Pada kesempatan ini, penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak T. Priyo Widiyanto selaku Dekan Fakultas Psikologi Uiversitas Sanata Dharma.

  2. Ibu Dra. Lusia Pratidarmanastiti,MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan waktu, kesempatan, kesabaran, motivasi, dukungan dan saran dalam membimbing penulis selama proses penulisan skripsi.

  3. Para dosen penguji yang sudah meluangkan waktu untuk menguji hasil penelitian ini.

  4. Bapak C. Siswo Widiyanto selaku dosen pembimbing akademis yang telah memberikan waktu, bantuan, solusi, dan saran kepada penulis.

  5. Dosen-dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik dan mengajar penulis selama menempuh bangku perkuliahan.

  6. Seluruh staf Fakultas Psikologi: Mas Gandung, Mbak Nanik, Pak Gie, Mas Doni dan Mas Muji yang telah memberikan kenyamanan selama penulis

  7. MTSN Menggora Playen yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk mengambil data penelitian.

  8. Siswa/siswi MTSN Menggora Playen yang bersedia meluangkan waktu unuk mengisi kuesioner.

  9. Rekan-rekan Persekutuan Remaja GKJ Wonosari yang bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner.

  10. Siswa/siswi SMP Johannes Bosco yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner.

  11. Pingkan terima kasih banyak atas link nya.

  12. Bapak dan Ibu. Terima kasih buat kasih sayang, kesabaran, dukungan, semangat, doa dan fasilitas yang diberikan. Tanpa Bapak dan Ibu, aku tidak akan bisa menjadi seperti ini.

  13. Adikku tercinta Hizkia Dewa Agung yang telah memberikan semangat dan penghiburan selama pengerjaan skripsi.

  14. Yanuari Eko Raharja yang selalu memberikan dorongan untuk segera menyelesaikan skripsi. Terima kasih untuk lima tahun yang bermakna.

  Sampai saat ini kau belum tergantikan. Terima kasih untuk semangat dan dukungannya.

  15. Ratih dan Ina terima kasih untuk persahabatan yang tulus. Terima kasih juga karena selalu menemani t idur hahahaha…..

  16. Sahabat- sahabatku “konco kenthel” Vero, Ayuk, Brian, Gatyo, Putra, Pingkan, Sherly terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik dan selalu memberi semangat. Hayuuuk kita backpackeran lagi….. Pulau Dewata menanti.

  17. Tante Laura yang selalu memberikan dukungan dan semangat dalam bentuk masakan yang lezat dan jus buah yang menggoda selama saya mengerjakan skripsi.

  18. Eyang putri yang selalu mengejar-ngejar supaya cepat selesai.

  19. Sherly dan Rea terima kasih sudah mengajari SPSS..makasih banget sudah mau aku repotin.

  20. All my lovely customer terima kasih untuk dukungannya selama saya mengerjakan skripsi, maaf kalau pelayanan saya selama skripsi kurang memuaskan…terima kasih untuk kepercaaannya.

  21. Rekan-rekan pengurus Komisi Anak GKJ. Wonosari yang selalu memberikan semangat dan dukungan selama saya mengerjakan skripsi…Mba Ika, Mba Disi, Mba Sita, Mas Ido, Ratih, Dek Arga, Wisnu terima kasih,,aku banyak belajar dari kalian semua, love you all.

  22. Adik-adik Sekolah Minggu GKJ. Wonosari terima kasih karena sudah mengajarkan Mbak Ovina mengenai ilmu sabar.

  23. Rekan-rekan persekutuan dewasa muda GKJ. Wonosari yang selalu membawa skripsi saya dalam setiap doa syafaat kalian. Terima kasih untuk doa dan dukungannya.

  24. Penulis juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran proses penyusunan skripsi ini, baik secara moral maupun spiritual

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii HALAMAN MOTTO ......................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................ vi ABSTRAK .......................................................................................................... vii

  

ABSTRACT .......................................................................................................... viii

  HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ....................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiv DAFTAR TABEL...............................................................................................xviii DAFTAR SKEMA .............................................................................................. xix DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xx

  BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 8 C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 8 D. Manfaat Penelitian....................................................................................... 9

  1. Manfaat Teoritis..................................................................................... 9

  BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 10 A. PENGERTIAN REMAJA .......................................................................... 10

  3. Definisi Penyelesaian Konflik ............................................................... 24

  1. Variabel Bebas ....................................................................................... 41

  BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 41 A. Jenis Penelitian ............................................................................................ 41 B. Identifikasi Variabel Penelitian ................................................................... 41

  F. Skema .......................................................................................................... 40

  E. Hipotesis ..................................................................................................... 39

  D. Hubungan antara Kualitas Kelekatan dan Penyelesaian Konflik antara Remaja Awal dengan Orang Tua ............................................................... 37

  4. Macam Penyelesaian Konflik ................................................................ 24

  2. Penyebab Konflik .................................................................................. 19

  1. Pengertian Remaja ................................................................................. 10

  1. Definisi Konflik ..................................................................................... 18

  C. PENYELESAIAN KONFLIK .................................................................... 18

  3. Indikator Kualitas Kelekatan Remaja dengan Orang Tua .................... 16

  2. Aspek-aspek yang Mempengaruhi Kualitas Kelekatan Remaja dengan Orang Tua .................................................................................................. 16

  1. Definisi Kualitas Kelekatan Remaja dengan Orang Tua ...................... 13

  B. KUALITAS KELEKATAN REMAJA DENGAN ORANG TUA ............ 13

  2. Variabel Tergantung .............................................................................. 41

  1. Berusia 13-16 tahun ............................................................................... 41

  2. Status Pendidikan .................................................................................. 42

  D. Definisi Operasional .................................................................................... 42

  1. Kualitas Kelekatan antara Remaja Awal dengan Orang Tua ................ 42

  2. Penyelesaian Konflik antara Remaja dengan Orang Tua ...................... 43

  E. Lokasi Penelitian ......................................................................................... 46

  F. Metode dan Alat Pengumpulan Data ........................................................... 47

  1. Metode Pengumpulan Data ................................................................... 47

  G. Uji Coba Alat Ukur ..................................................................................... 54

  H. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ........................................................... 54

  1. Validitas ................................................................................................. 54

  2. Seleksi Item ........................................................................................... 55

  3. Reliabilitas ............................................................................................. 59

  I. Metode Analisis Data.................................................................................... 60

  BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................ 61 A. Pelaksanaan Penelitian ................................................................................ 61 B. Deskripsi Subjek Penelitian ......................................................................... 61

  1. Deskripsi Subjek Penelitian ................................................................... 61

  2. Deskripsi Data Penelitian ...................................................................... 62

  C. Uji Asumsi Data Penelitian ......................................................................... 64

  1. Uji Normalitas ....................................................................................... 64

  2. Uji Linearitas ......................................................................................... 66

  D. Pembahasan ................................................................................................. 69

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 73 A. Kesimpulan ................................................................................................. 73 B. Saran ............................................................................................................ 74

  1. Saran Bagi Orang Tua ........................................................................... 74

  2. Saran Bagi Remaja ................................................................................ 75

  3. Saran Bagi Penelitian Selanjutnya ......................................................... 75

  4. Saran Bagi Subjek Penelitian ................................................................ 75 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 76 LAMPIRAN ........................................................................................................ 80

  

DAFTAR TABEL

  1. Tabel Variabel Penyelesaian Konflik...................................................... 36

  2. Tabel Skoring ......................................................................................... 48

  3. Tabel Blueprint Kualitas Kelekatan ........................................................ 50

  4. Tabel Distribusi Item Kualitas Kelekatan Sebelum Uji Coba ................ 51

  5. Tabel Blueprint Penyelesaian Konflik ................................................... 53

  6. Tabel Penyebaran Item Baik Skala Kualitas Kelekatan Setelah Uji Coba ........................................................................................................ 57

  7. Tabel Penyebaran Item Baik Skala Penyelesaian Konflik ..................... 58

  8. Tabel Deskripsi Data Penelitian .............................................................. 62

  9. Tabel Hasil Uji Normalitas ..................................................................... 65

  7. Tabel Hasil Uji Linearitas ....................................................................... 66

  10. Tabel Hasil Uji Korelasi.......................................................................... 68

DAFTAR SKEMA

  1. Skema Hubungan antara Kualitas Kelekatan dan Penyelesaian Konflik antara Remaja Awal dengan Orang Tua ........................................... 40

  DAFTAR LAMPIRAN

  1. Lampiran 1 Skala Uji Coba .............................................................. 81

  2. Lampiran 2 Analisis Data Uji Coba .................................................. 98

  3. Lampiran 3 Skala Penelitian ............................................................. 109

  4. Lampiran 4 Analisis Data Penelitian................................................. 123

  a. Deskripsi Data Penelitian ..................................................... 124

  b. Uji Normalitas ....................................................................... 128

  c. Uji Linearitas ......................................................................... 130

  d. Uji Hipotesis ......................................................................... 136

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Baron dan Byrne (2005) menyatakan bahwa konflik adalah suatu

  proses dimana individu atau kelompok mempersepsikan bahwa orang lain telah atau akan segera melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan kepentingan pribadi mereka. Konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, kelompok-kelompok, atau organisasi-organisasi (Winardi, 1994). Beberapa indikator konflik antara lain kepentingan yang bertentangan di antara individu atau kelompok, kesadaran akan adanya kepentingan yang bertentangan tersebut, kepercayaan dari setiap pihak bahwa pihak lain akan melakukan tindakan yang mengintervensi kepentingan-kepentingan mereka, dan tindakan yang menghasilkan intervensi. Konflik juga sering muncul karena faktor-faktor sosial diantaranya keluhan dan amarah yang berkepanjangan, keinginan membalas dendam, persepsi sosial yang tidak tepat, komunikasi yang buruk, dan faktor-faktor lain yang serupa.

  Beberapa penelitian terdahulu (Hill,dk; Silverberg & Steinberg; Steinberg dalam Santrock, 2002) memperlihatkan bahwa konflik antara orang tua dan remaja adalah sesuatu yang paling penuh dengan tekanan selama puncak masa pubertas. Konflik dalam kehidupan sehari-hari yang relasi orang tua dan anak remaja. Konflik antara orang tua dengan remaja merupakan hal yang dapat memunculkan perilaku negatif pada diri remaja apabila tidak segera diselesaikan dengan cara yang baik (Harian Sumut Pos, 2010). Remaja sering terlibat konflik dengan orang tuanya bahkan melebihi tingkat konflik pada masa anak-anak (Steinberg dalam Santrock, 2007). Penelitian yang dilakukan Adam dan Laursen (2001) dengan subjek remaja ditemukan bahwa konflik lebih banyak ditemukan di kalangan orangtua-remaja dibandingkan dengan remaja-teman sebaya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Cooper,dkk dalam Santrock (2002) menyebutkan bahwa remaja yang mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap orang tua akan mengalami perkembangan identitas yang lebih aktif daripada remaja yang tidak mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap orang tua mereka.

  Penyebab konflik yang umum terjadi pada remaja Indonesia dengan orang tua adalah perbedaan pendapat antara remaja dengan orang tua baik perbedaan pendapat dalam hal pertemanan, cara berpakaian, dan berpacaran. (Harian Kompas, 2009). Selain itu, generation gap antara orang tua dengan remaja juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya konflik remaja dengan orang tua

  Menurut penelitian

  yang dilakukan oleh Maentiningsih (2008) hubungan antara orang tua merupakan akibat dari masa puber dan perkembangan kognitif pada remaja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Santoso dan Silalahi (2000) konflik antara orang tua dan remaja dapat menjadi salah satu faktor pendorong remaja terjerumus dalam ketergantungan penggunaan zat adiktif. Kendati demikian, adanya konflik antara orangtua dengan remaja dapat berpengaruh positif dalam perkembangannya (Blos & Hill dalam Santrock, 1999). Maksud positif disini adalah sebagai masa transisi remaja dari ketergantungan dengan orangtua untuk menjadi individu yang mandiri. Kendati demikian ketika konflik terus menerus dibiarkan terjadi dan tidak diselesaikan dalam relasi orang tua dan remaja maka konflik berkepanjangan tersebut akan menjadi akar dari sejumlah permasalahan remaja seperti kenakalan remaja, putus sekolah, kehamilan dan pernikahan dini, keterlibatan dengan penyalahgunaan obat, dan keterlibatan dengan sekte-sekte sesat (Brook,dkk dalam Santrock ,2002).

  Strategi menyelesaikan konflik menurut Wirawan (2010) ada tiga macam yaitu berkompromi atau berkolaborasi, berkompetisi, dan menghindar. Strategi menyelesaikan konflik antara remaja dengan orang tua sebaiknya dilakukan dengan cara yang kolaboratif yang bertujuan untuk menemukan suatu pemecahan yang memuaskan baik bagi remaja maupun bagi orang tua (Santrock, 2005). Dalam proses ini pihak-pihak yang berkonflik saling bertukar penawaran baik secara langsung maupun tidak langsung yakni melalui perwakilan. Menurut Wirawan (2010) yang disusun dan bertujuan untuk melakukan pendekatan kepada lawan konflik agar mau bernegoisasi, menghadapi lawan konflik dengan ramah maupun dengan cara keras (memaksa) agar mau diajak bernegoisasi, mengemukakan data, fakta, informasi, atau kejadian yang ada hubungannya dengan konflik tanpa menyudutkan atau menyalahkan pihak lawan, mengemukakan persamaan serta menjauhkan perbedaan pendapat, adanya empati, pengertian, dan dukungan kepada pendapat lawan konflik dan berupaya bernegoisasi, melakukan inisiatif untuk melakukan pemecahan permasalahan secara bersama, menggunakan mediasi jika diperlukan.

  Cara penyelesaian konflik yang kedua menurut Wirawan (2010) adalah dengan cara berkompetisi. Dalam penyelesaian konflik ini, pihak yang teribat konfik bertujuan untuk memenangkan dan mengalahkan lawan konfliknya. Adapun beberapa indikator dari proses ini antara lain adanya strategi utnuk mengalahkan lawan konflik, menggunakan taktik menggertak, mengancam, dan menyerang lawan konflik, berbohong atau menyembunyikan sesuatu dengan hati-hati, melakukan agresi kepada lawan konflik agar lawan konflik mau menyerah, menyalahkan, memojokkan. Cara yang ketiga adalah dengan menghindar yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari situasi konflik. Pihak yang terlibat konflik berupaya menghindari konflik karena beberapa alasan yaitu tidak senang dengan situasi konflik, menganggap bahwa penyebab konflik tidaklah penyelesaian konflik menghindar ini antara lain menarik diri dari situasi konflik,menyusun strategi untuk menghindari konflik,tidak mengakui bahwa konflik telah terjadi,mengalihkan masalah, menggunakan humor untuk menghindari pembicaraan mengenai konflik.

  Collins dalam Santrock (2007) mengemukakan bahwa banyak orang tua yang melihat bahwa anak remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menurut menjadi seorang pembangkang, melawan, dan menentang standar dan peraturan yang telah ditetapkan oleh orang tua. Hal ini disebabkan oleh karena tugas perkembangan pada masa remaja adalah untuk memperoleh otonomi tetapi orang tua cenderung berusaha mengendalikan anak remaja mereka dengan keras dan memberi lebih banyak tekanan supaya mereka mau menuruti standar dan peraturan yang ditetapkan oleh orang tua. Kondisi tersebut menyebabkan anak memiliki ketidaksetujuan terhadap orang tuanya sehingga mereka terlibat konflik dengan orang tuanya (Adam dan Laursen ,2001). Hubungan dengan orang tua atau figur pengasuh merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial bagi anak. Kasih sayang orang tua atau pengasuh selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan kunci utama perkembangan sosial anak sehingga meningkatkan kemungkinan anak untuk memiliki kompetensi secara sosial, dan penyesuaian diri yang baik pada tahun-tahun pra sekolah dan setelahnya (Jahja, 2011). Kelekatan adalah ikatan emosional antara dua individu atau waktu tertentu Kuper dan Kuper (dalam Samsuniwiyati 2007). Bowlby (dalam Santrock 2007) percaya bahwa bayi akan membangun kelekatan pada individu yang memberikan kepuasan oral. Bagi kebanyakan bayi, orang ini adalah ibunya karena biasanya dialah yang menyusuinya. Dalam kegiatan menyusui tersebut orang tua dan anak akan membangun kedekatan secara fisik maupun secara emosional pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Ainsworth dalam Santrock (2007).Penelitian yang dilakukan oleh Sagrario Yarnoz-Yaben (2010) menyebutkan bahwa orang yang memiliki kelekatan yang aman akan memiliki gambaran yang positif mengenai dirinya sendiri dan lingkungan sekitar, mereka dapat membangun keintiman dengan orang lain dan memiliki sikap otonomi di dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Santrock (2005). Menurut Noller (1993) individu yang memiliki kelekatan yang aman juga lebih bisa menghargai dirinya sendiri dan bisa membangun kepercayaan dengan orang lain di sekitarnya sedangkan pada individu yang memiliki kelekatan yang tidak aman mereka akan memiliki pandangan yang negatif mengenai dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. (trust) (basic trust) Kelekatan yang dibangun sejak masa bayi tidak lantas pudar lalu menghilang setelah individu melewati tahap perkembangan di masa anak-anak namun kelekatan ini akan terus menerus berkembang ketika individu berada pada masa remaja, maupun dewasa.

rangkaian siklus kehidupan dan merupakan suatu periode perkembangan yang berkaitan dengan periode-periode sebelumnya. Remaja memiliki karakteristik yang unik dan hal-hal yang terjadi selama di masa remaja berkaitan dengan perkembangan dan pengalaman mereka di masa anak- anak maupun dewasa. Menurut Weinfield et al (2005) kelekatan memainkan peran terutama dalam hal keyakinan yang positif mengenai diri sendiri dan orang lain, dalam lingkup interpersonal dan emosional serta dalam hubungan dengan orang tua.Allen, Kobak & Cole, Onishi & Gjrede dalam Santrock (2007) mengemukakan bahwa kelekatan yang dibangun dengan orang tua pada masa remaja dapat meningkatkan kompetensi sosial dan kesejahteraan sosial remaja seperti penyesuaian emosional dan kesehatan fisik. Papini, Roggman, & Anderson dalam Santrock (2007) menyatakan bahwa kelekatan yang dibangun antara remaja dengan orang tuanya bisa berlaku sebagai fungsi adaptif, yang berarti dapat menjadi landasan yang kokoh bagi remaja dalam menjelajahi lingkungan dan dunia sosial nya yang baru dengan cara yang sehat secara psikologis. Kesimpulan dari uraian di atas adalah kelekatan yang dibangun antara anak dengan figur lekatnya di masa bayi dalam hal ini adalah orang tua akan mempengaruhi kehidupan anak tersebut di masa mendatang. Kelekatan yang sudah di bangun di tahun-tahun pertama kehidupan anak akan senantiasa berkembang seiring dengan perjalanan masa hidupnya

mereka akan berubah dari seorang pribadi yang selalu bergantung dengan orang tua menjadi pribadi yang mulai mengembangkan otonomi. Oleh sebab itu masa remaja merupakan masa yang banyak terjadi konflik antara remaja dengan orang tua. Berlatar belakang permasalahan tersebut peneliti menganggap bahwa perlu dilakukan penelitian mengenai ada tidaknya hubungan antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua. Peneliti ingin mengetahui penyelesaian konflik apa yang akan dipiih oleh remaja. Penelitian ini dilakukan pada remaja awal karena menurut Santrock (2002) konflik antara remaja dengan orang tua terjadi paling banyak pada masa remaja awal. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Hurlock (1980) yang mengatakan bahwa emosi selama remaja awal seringkali sangat kuat dan tidak terkendali tetapi akan terjadi perbaikan perilaku emosional menjelang berakhirnya masa remaja awal.

  B. Rumusan Masalah

  Apakah ada hubungan antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua?

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik yang dipilih antara remaja dengan orang tua.

D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis Penelitian ini menambah kajian dalam psikologi perkembangan, terutama dalam bahasan mengenai kelekatan dan penyelesaian konflik yang dialami remaja dengan orang tua.

  2. Manfaat Praktis

  a. Memberi pemahaman kepada orang tua mengenai pentingnya kualitas kelekatan pada masa remaja yang berhubungan dengan penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua

  b. Memberi masukan kepada konselor dalam mengatasi persoalan yang berhubungan dengan remaja.

  c. Memberi pemahaman kepada subjek penelitian mengenai pentingnya kelekatan aman yang dapat mendorong terbentuknya penyelesaian konflik secara konstruktif.

BAB II LANDASAN TEORI A. PENGERTIAN REMAJA Menurut Papalia dan Olds (dalam Jahja,2011) masa remaja adalah

  masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Menurut Hurlock (dalam Jahja,2011) transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai. Pada remaja awal sering terjadi konflik antara orang tua dengan remaja itu sendiri. Hal ini disebabkan karena frekuensi pergulatan dalam masa remaja awal berkaitan dengan ketegangan pubertas dan kebutuhan menuntut otonomi.

  Muangman dalam Sarwono (2007) mengatakan bahwa remaja adalah ketika individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda- tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari masa anak-anak menjadi dewasa. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

  Menurut Papalia (2009) masa remaja dikenal sebagai masa pemberontakan. Masa pemberontakan melibatkan gejolak emosional, gegabah, dan penolakan nilai-nilai yang diajarkan oleh orang dewasa. Emosi negatif dan perubahan suasana hatisering terjadiselama masa remaja awal. Hal ini disebabkan karena stress yang berkaitan dengan pubertas. Pada saat remaja akhir, emosi cenderung menjadi lebih stabil (Larson, Moneta, Richards, dan Wilson dalam Papalia 2009). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hall dalam Santrock (2007) yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa badai emosional. Hal ini disebabkan karena masa remaja adalah suatu masa dimana fluktuasi emosi berlangsung lebih sering (Rosenblum dan Lewis dalam Santrock, 2007). Fluktuasi emosi ini paling sering terjadi pada masa remaja awal. Hal ini menyebabkan konflik dengan orang tua meningkat melampaui masa anak- anak (Steinberg, dalam Santrock, 2002). Peningkatan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

  1. Perubahan biologis pubertas

  2. Perubahan kognitif yang menjadikan remaja mengalami peningkatan idealisme dan penalaran logis

  3. Perubahan sosial yang menyebabkan remaja menginginkan kemandirian dan identitas

  4. Perubahan-perubahan kebijakan dari orang tua dan harapan- harapan yang dilanggar oleh pihak orang tua dan remaja Remaja adalah sebuah tahapan dalam kehidupan seseorang yang berada di antara tahap kanak-kanak dengan tahap dewasa. Periode ini menuju kemandirian, otonomi, dan kematangan. Seseorang yang ada pada tahap ini akan bergerak dari sebagai bagian suatu kelompok keluarga menuju menjadi bagian dari suatu kelompok teman sebaya dan akhirnya mampu berdiri sendiri sebagai seorang dewasa (Mabey dan Sorensen,1995).

  Salzman dalam Rochmah, (2005) mengemukakan bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung atau dependen terhadap orang tua ke arah kemandirian. Erikson mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa di mana terbentuk suatu perasaan baru mengenai identitas. Identitas mencakup cara hidup pribadi yang dialami sendiri dan sulit dikenal oleh orang lain.

  Dari beberapa penjelasan para ahli di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa masa remaja awal adalahmasa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa dengan rentang usia antara 13-16 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik dalam hal pematangan fisik maupun psikologis. Pada masa remaja awal biasanya terjadi ketegangan-ketegangan emosional yang disebabkan karena remaja harus melakukan penyesuaian diri terhadap harapan-harapan orang tua dan masyarakat yang baru dan berlainan dengan dirinya. Selain itu, dalam rangka mencari identitas, remaja menginginkan kebebasan emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya. Mereka ingin diakui eksistensinya melalui berbagai cara. Dalam hal ini, orang tua harus memberikan kesempatan kepada anak remaja untuk mengambil keputusan sendiri dan belajar bertanggung jawab.

B. KUALITAS KELEKATAN REMAJA DENGAN ORANG TUA

1. Definisi kualitas kelekatan remaja dengan orang tua

  Ainsworth dalam Santrock (2002) mengemukakan macam-macam kategori gaya kelekatan. Gaya kelekatan yang pertama adalah gaya kelekatan aman (tipe B). Pada gaya kelekatan aman ini pengasuh berperan sebagai landasan yang aman untuk mengeksplorasi lingkungannya. Gaya kelekatan yang kedua adalah gaya kelekatan cemas menghindar (tipe A) yang memperlihatkan ketidaknyamanan dengan menghindari figur pengasuh. Gaya kelekatan yang ketiga adalah gaya kelakatan cemas menolak (tipe C) yang memperlihatkan ketidaknyamanan dengan cara menolak figur pengasuh.

  Kelekatan aman yang dikembangkan seorang anak dengan pemberi perhatian utama akan berpengaruh pada perkembangan anak sepanjang masa hidupnya. Kelekatan yang aman akan membuat anak bertumbuh menjadi pribadi yang sehat secara sosial dan psikologis, Steinberg (2002).Menurut pendapat O’Koon dalam Geldard (2010) anak muda yang memiliki kelekatan yang aman dengan orang tua akan lebih sedikit atau tidak terlalu stress dalam pengalamannya di sekolah dan tidak akan terlalu tertekan dengan masalah-masalah yang ia hadapi di perguruan tinggi Mereka juga akan menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi. Kelekatan yang aman dengan orang tua juga diketahui memiliki pengaruh yang besar pada citra diri, terutama berkenaan dengan beberapa aspek yang menjadi sangat penting bagi mereka semasa remaja seperti gambaran fisik, sasaran pekerjaan, dan seksualitas.

  Dibandingkan dengan gaya kelekatan yang lain, individu dengan gaya kelekatan yang aman lebih tidak mudah marah, lebih tidak mengatribusikan keinginan bermusuhan pada orang lain, dan mengharapkan hasil yang positif dan konstruktif dari konflik (Mikulincer dalam Baron dan Byrne, 2005). Sebagai tambahan menurut Mikulincer dalam Baron dan Byrne (2005), dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki gaya kelekatan tidak aman, individu yang memiliki gaya kelekatan aman akan memproses informasi mengenai situasi sosial dengan cara yang melibatkan keingintahuan dan kecenderungan untuk bersandar pada informasi baru dalam membuat penilaian sosial. kelekatan yang aman selama dengan orang tua selama masa remaja dapat berfungsi adaptif, yang menyediakan landasan yang kokoh di masa remaja sehingga remaja dapat menjelajahi lingkungan dan dunia sosialnya yang baru dengan cara- cara yang sehat secara psikologis.

  Kelekatan yang aman antara remaja dengan orang tua akan berfungsi sebagai berikut: a. Meningkatkan relasi dengan teman sebaya yang lebih b. Kelekatan yang aman dengan orang tua akan menyangga remaja dari kecemasan dan perasaan-perasaan depresi sebagai akibat dari masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

  Green & Campbell dalam Baron dan Byrne (2005) mengungkapkan bahwa pada anak-anak maupun orang dewasa, gaya kelekatan yang aman juga diasosiasikan dengan perilaku yang adaptif, seperti rasa ingin tahu dan eksplorasi pada lingkungan. Individu yang memiliki gaya kelekatan yang aman pada usia berapapun akan berinteraksi dengan baik dengan orang lain.

  Seiring dengan terjadinya perubahan kognitif selama masa remaja maka antara remaja dengan orang tua sering mengalamai perbedaan ide- ide atau pendapat yang berasal dari orang tua. Akibatnya, remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua serta mengembangkan ide-ide mereka sendiri.

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi kualitas adalah tingkat mutu; tingkat baik buruknya sesuatu; kadar. Jadi kesimpulan dari uraian di atas adalah kualitas kelekatan antara remaja dengan orang tua ialah tingkat mutu hubungan emosional antara anak dengan orang tua yang tercermin dalam perilaku-perilaku lekat yang dimunculkan oleh individu terhadap figur lekatnya dalam hal ini adalah antara remaja dengan orang tuanya.

  2. Aspek-aspek yang mempengaruhi kualitas kelekatan antara remaja dengan orang tua

  Menurut Papalia dkk (2008) aspek-aspek yang mempengaruhi kualitas kelekatan antara remaja dengan orang tua antara lain : a. Sensitifitas figur pengasuh

  Sensitifitas figur dapat berupa seberapa besar kepekaan figur pengasuh terhadap kebutuhan individu atau sejauh mana figur pengasuh dapat mengetahui kebutuhan- kebutuhan individu. Dalam hal ini adalah orang tua dengan remaja nya.

  b. Responsivitas figur Responsivitas figur pengasuh adalah bagaimana cara figur pengasuh menanggapi kebutuhan individu.

  Menurut Erwin (1998) aspek utama pembentukan dan pengembangan kelekatan adalah penerimaan figur lekat, sensitifitas atau kepekaan figur lekat terhadap kebutuhan individu dan responsivitas kedua belah pihak baik figur lekat maupun individu dalam menanggapi stimulus-stimulus yang diberikan untuk memperkuat kelekatan antara keduanya.

  

3. Indikator kualitas kelekatan remaja dengan orang tua

  Menurut Allen, Kobak & Cole, Onishi & Gjrede dalam Santrock (2002). Kelekatan dengan orang tua pada masa remaja dapat membantu dalam ciri-ciri seperti harga diri,penyesuaian emosional, dan kesehatan fisik.

  Remaja yang memiliki relasi yang nyaman dengan orang tuanya memiliki harga diri dan kesejahteraan emosional yang lebih baik (Armsden dan Greenberg dalam Santrock, 2002). Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Papini, Roggman, dan Anderson (dalam Santrock, 2002) bila remaja memiliki kualitas kelekatan yang aman dengan orang tuanya maka remaja akan memiliki sedikit kecemasan dan perasaan- perasaan depresi sehingga mereka bisa memahami dan mempunyai rasa memiliki antar anggota keluarga. Hal ini sesuai dengan pendapat Widyarini (2009) bahwa adanya kelekatan dengan orang tua membuat remaja tidak akan melepaskan diri dari ikatan dengan keluarga ketika mengembangkan hubungan di luar keluarga.

  Kelekatan yang berkualitas antara remaja dengan orang tua akan meningkatkan relasi teman sebaya yang kompeten dan relasi erat yang positif di luar keluarga. Dalam penelitian lain, remaja yang memiliki kelekatan yang tidak aman maka ia akan memiliki rasa iri hati,konflik,dan ketergantungan yang lebih besar daripada teman-teman remaja mereka yang memiliki kelekatan yang aman.

  Dari berbagai uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kualitas kelekatan antara remaja dengan orang tua adalah tingkat mutu kelekatan yang tercermin dalam perilaku-perilaku lekat yang dimunculkan individu a. Mempunyai harga diri yang tinggi Harga diri yang tinggi adalah ketika remaja memiliki pandangan yang positif terhadap dirinya sendiri.

  b. Mempuyai kesejahteraan emosional yang lebih baik Remaja yang memiliki kesejahteraan emosional yang baik tidak memiliki kecemasan-kecemasan dan perasaan depresi yang dapat mengganggu perkembangannya.

  c. Mempunyai kesehatan fisik yang baik Terwujud apabila remaja tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan tampka sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal dan tidak mengalami gangguan.

  d. Ingin mencoba berbagai aktivitas Remaja mau secara aktif terlibat dalam suatu kegiatan yang belum pernah ia coba sebelumnya.

C. PENYELESAIAN KONFLIK

1. Definisi Konflik

  configere conflict Edelman & Crain dalam Wirawan (2010)

  mengatakan bahwa konflik adalah situasi yang terjadi dimana dua orang berinteraksi dan satu orang tidak menyetujui tindakan yang lain.

  Menurut Hocker dan Wimot dalam Wirawan (2010) bahwa konflik adalah sebagai perjuangan yang diekspresikan diantara paling tidak dua yang bertentangan, sumber daya yang terbatas dan adanya hambatan dari pihak lain untuk mencapai tujuan.

  Joel A. DiGirolamo dalam Wirawan (2010) menyatakan bahwa konflik adalah proses yang dimulai ketika seorang individu atau kelompok merasakan perbedaan dan oposisi antara dirinya sendiri dan orang lain atau kelompok tentang kepentingan dan sumber daya, keyakinan, nilai, atau praktek yang penting bagi mereka.

  Menurut Watkins dalam Chandra (1992), konfik terjadi bila terdapat dua hal. Yang pertama konflik bisa terjadi bila sekurang-kurangnya terdapat dua pihak yang secara potensial dan praktis dapat saling menghambat. Kedua, konflik bisa terjadi bila ada suatu sasaran yang sama- sama dikejar oleh kedua pihak namun hanya salah satu pihak yang mungkin akan mencapainya.

  Sedangkan menurut Sarlito Wirawan (2010) konflik adalah proses pertentangan yang diekspresikan di antara kedua belah pihak atau lebih yang saling tergantung mengenai objek konflik, menggunakan pola perilaku dan interaksi konflik yang menghasilkan keluaran konflik.

  Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konflik adalah pertentangan yang timbul antara dua individu atau lebih dan masing- masing individu yang terlibat konflik bertujuan untuk menyingkirkan hambatan dari pihak lain guna mencapai tujuan yang dikehendaki.

2. Penyebab Konflik

  Menurut Wirawan (2010) ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya konflik, diantaranya: a. Tujuan yang berbeda

  Seperti yang dikemukakan oleh Hocker dan Wilmot dalam Wirawan (2010) konflik terjadi karena pihak-pihak yang terlibat konflik mempunyai tujuan yag berbeda. Konflik bisa juga terjadi karena tujuan pihak yang terlibat konflik sama tetapi cara untuk mencapainya berbeda.

  b. Komunikasi yang tidak baik Komunikasi yang tidak baik sering kali menimbulkan konflik.

  Faktor komunikasi yang menyebabkan konflik misalnya penggunaan bahasa yang tidak dimengerti oleh pihak-pihak yang terkait, informasi yang tidak tersedia dengan bebas, demikian juga perilaku komunikasi yang berbeda seringkali menyinggung perasaaan pihak lain baik disengaja maupun tidak disengaja.sebagai contoh gaya berbicara bisa menjadi penyebab konflik. c. Kebutuhan Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain.

  Kebutuhan merupakan pendorong terjadinya perilaku manusia. Jika kebutuhan individu diabaikan maka hal ini bisa memicu terjadinya konflik.

  d. Perasaaan dan emosi Setiap individu memiliki perasaan dan emosi yang berbeda-beda.

  Sebagian orang mengikuti perasaan dan emosinya saat berhubungan dengan sesuatu atau orang lain. Orang yang sangat dipengaruhi oleh perasaan dan emosinya menjadi tidak rasional saat berinteraksi dengan orang lain. Perasaan dan emosi tersebut bisa menimbulkan konflik dan menentukan perilakunya saat terlibat konflik. Selain itu, perubahan emosi pada remaja sebagai akibat dari perubahan fisik dan hormonal menimbulkan perasaan- perasaan baru yang belum pernah dirasakan oleh remaja sebelumnya. Keterbatasan remaja untuk mengolah perubahan- perubahan baru dalam hidupnya tersebut bisa membawa perubahan besar dalam fluktuasi emosinya, Agustiani (2006). Menurut Hurlock (1980) penyebab terjadinya konflik antara remaja dengan orang tua adalah sebagai berikut: a. Perbedaan rentang usia antara remaja dengan orang tua

  b. Orang tua yang berumur lebih tua tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan remaja dibandingkan dengan orang tua yang berumur lebih muda.

  c. Orang tua yang lebih tua seringkali memiliki energi yang lebih sedikit untuk mengikuti aktivitas para remajanya. Terutama orang tua yang lebih tua yang memiliki kesehatan yang kurang baik.

  d. Orang tua yang lebih muda biasanya tertarik untuk melakukan kegiatan bersama-sama dengan teman-teman mereka yang sebaya.

  e. Usia orang tua memiliki pengaruh yang ditandai pada sikap-sikap mereka terhadap peran orang tua f. Usia orang tua juga menentukan pola adekuasi dalam mengasuh remajanya g. Orang tua yang berusia lebih tua seringkali menjadikan pengalaman mereka sebagai tolak ukur untuk mengasuh remajanya di masa sekarang. h. Remaja seringkali merasa malu karena orang tua mereka bertingkah laku tidak sesuai dengan usia mereka. i. Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua kuno sehingga orang tua harus menyesuaikan diri dengan yang moderen. j. Metode penerapan disiplin yang digunakan oleh orang tua dianggap tidak adil atau kekanak-kanakan. k. Remaja menganggap bahwa orang tua pilih kasih dengan saudara kandung l. Remaja tidak merasa tidak suka apabila status sosial dan ekonomi keluarga tidak memungkinkannya mempunyai simbol-simbol status yang sama dengan yang dimiliki oleh teman-teman mereka. Seperti: mobil,pakaian,dan sebagainya m. Orang tua tidak menyukai sikap remaja yang terlalu kritis terhadap diri mereka n. Orang tua sering menghukum anak remaja nya ketika tidak bertindak sesuai dengan harapan orang tua. o. Orang tua dan keluarga menjadi marah apabila remaja menolak usul dan nasehat mereka.

  Dari beberapa penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa ada banyak orang tua. Dengan demikian diharapkan orang tua dan remaja bisa bekerja sama untuk meminimalisir terjadinya konflik tersebut.

  3. Definisi Penyelesaian Konflik

  Menurut Wirawan (2010) penyelesaian konflik adalah proses untuk mencapai keluaran konflik dengan menggunakan metode dan manajemen tertentu. Metode penyelesaian konflik bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu metode pengaturan sendiri oleh pihak-pihak yang terlibat konflik

  (self regulation) atau melalui intervensi pihak ketiga (third party intervention). Dalam metode pengaturan sendiri, pihak-pihak yang terlibat

  konflik menyusun strategi konflik dan menggunakan taktik konflik untuk mencapai tujuan akhir dari penyelesaian konflik yang sedang terjadi.

  Pihak-pihak yang terlibat konflik saling melakukan pendekatan untuk menyelesaikan konflik dan menciptakan keluaran konflik yang diharapkan.

  4. Macam Penyelesaian Konflik a. Kompromi

1) Pengertian penyelesaian konflik kompromi

  Menurut Liliweri (2005) kompromi merupakan suatu proses yang melibatkan dua atau tiga pihak untuk merundingkan beberapa pilihan pendapat yang menjadi sumber konflik guna mencapai persetujuan bersama yang menguntungkan kedua belah pihak. Proses kompromi selalu dimulai dengan memiliki aspirasi tersendiri dan berusaha untuk mencapai apa yang mereka inginkan atau butuhkan. Dalam situasi konflik, kedua belah pihak masing-masing mencari peluang untuk mengalahkan atau memenangkan yang lain. Dalam proses kompromi ini pada awalnya tidak melibatkan pihak ketiga, namun apabila proses kompromi gagal, maka kedua belah pihak akan memilih mediasi dari pihak ketiga.

2) Proses kompromi ini memiliki beberapa indikator diantaranya:

  a. Adanya persiapan yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

  b. Adanya aturan yang ditetapkan oleh kedua belah pihak yang terlibat konflik.

  c. Masing-masing pihak saling memberi kesempatanuntuk membuat klarifikasi atas isu perbedaan pendapat.

  d. Adanya proses tawar-menawar untuk memecahkan masalah yang diakukan oleh kedua belah pihak yang terlibat konflik.

  e. Kedua belah pihak yang terlibat konflik mengakhiri konflik dengn menerapkan apa yang sudah diputukan melalui kompromi.

  Berikut ini adalah rincian langkah-langkah kompromi menurut Liliweri (2005) : a. Memilih strategi yang konkret

  b. Mulailah dengan usaha positif yaitu mengatasi

  c. Berpikir tentang masalah, jangan berpikir tentang individu yang terlibat konflik d. Tangani secara rasional dan tetapkan kerangka pikir yang berorietasi pada tujuan e. Berikan sedikit perhatian kalau ada proses tawar- menawar f. Menekankan solusi menang-menang

  g. Menggunakan kriteria yang objektif

3) Ada dua tipe strategi kompromi yaitu:

a) Distributive bargaining.

  Yang dimaksud dengan distributive bargaining adalah perundingan yang menghasilkan suatu solusi sehingga dua pihak akan memperoleh apa yang disengketakan sesuai degan hak, jadi lebih mengutamakan “keadilan berdasarkan hak”.

  b) Integrative bargaining

  Yang dimaksud dengan integrative bargaining adalah perundingan yang menghasilkan suatu solusi sehingga disengketakan berdasarkan rasa keadilan, jadi lebih mengutamakan bagaimana rasa keadilan dari dua belah pihak.

4) Pengaruh penyelesaian konflik kompromi terhadap perkembangan remaja

  Dengan menggunakan penyelesaian konflik kompromi, maka kedua belah pihak yang terlibat konflik mencari alternatif titik tengah yang memuaskan untuk keinginan mereka masing-masing. Selain itu, menurut Santrock (2002) kesadaran bahwa konflik dan perundingan dapat berperan sebagai fungsi perkembangan yang positif dan dapat juga menurunkan kemarahan orang tua.

5) Aspek-aspek dalam penyelesaian konflik kompromi

  Dalam penyelesaian konflik kompromi, kedua belah pihak yang terlibat konflik mencari alternatif titik tengah yang memuaskan sebagian keinginan mereka. Dalam keadaan tertentu, kompromi dapat berarti membagi perbedaan di antara dua posisi dan memberikan konsensi untuk mencari titik tengah dari konflik yang sedang terjadi. Dalam penyelesaian konflik secara kompromi, bukan berarti pihak- pihak yang terlibat konflik menghindar dari suatu masalah yang telah terjadi namun mereka bekerja sama untuk kedua belah pihak. Aspek-aspek dalam penyelesaian konflik kompromi antara lain:

  1. Adanya persiapan yang dilakukan kedua belah pihak

  2. Adanya aturan yang ditetapkan oleh kedua pihak yang terlibat konflik

  3. Masing-masing pihak saling memberi kesempatan untuk membuat klarifikasi

  4. Adanya proses tawar menawar

  5. Kedua belah pihak yang terlibat konflik mengakhiri konflik dengan menerapkan apa yang sudah diputuskan melalui kompromi

b. Kompetisi 1) Pengertian penyelesaian konflik kompetisi

  Penyelesaian konflik dengan cara kompetisi adalah penyelesaian konflik yang berorientasi pada kekuasaan, di mana seseorang akan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk memenangkan konflik ( Thomas and Kilmann dalam Wirawan,2010) . Dalam penyelesaian konflik model kompetisi, pihak-pihak yang terlibat konflik bertujuan konfliknya. Pihak yang terlibat konflik berupaya mencapai solusi konflik mengalahkan lawan konfliknya dengan berbagai pertimbangan, antara lain:

  a) Merasa mempunyai kekuasaan lebih besar dari lawan konfliknya b) Merasa mempunyai sumber konflik lebih besar

  c) Menganggap objek konflik sangat penting bagi kehidupan dan harga dirinya d) Situasi konflik menguntungkan

  e) Merasa bisa mengalahkan lawan konfliknya Menurut Santrock, (2002) perselisihan yang terjadi antara remaja dengan orang tua akan mempermudah transisi remaja dari tergantung menjadi seorang pribadi yang memiliki otonomi. Dalam suatu penelitian, remaja yang mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan orang tua akan menjajaki perkembangan identitas yang lebih aktif daripada remaja yang tidak mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan orang tua mereka.

2) Aspek-aspek dalam penyelesaian konflik kompetisi

  Untuk dapat memenangkan konflik maka perilaku interaksi pihak yang terlibat konflik antara lain sebagai berikut: a) Menentukan strategi untuk memenangkan konflik dan berpegang teguh pada strategi tersebut. Strategi tersebut berupa mengalahkan lawan konflik dengan menggunakan berbagai taktik konflik. Taktik konflik bisa berubah setiap saat tergantung dari perkmbangan situasi konflik.

  b) Tawar menawar dengan lawan konflik hanya dilakukan apabila hasilnya menguntungkan c) Melakukan agresi untuk memperlemah dan mengubah posisi lawan agar mau menyerah.

  d) Menolak untuk bertanggung jawab dan menyatakan bahwa sesuatu yang terjadi merupakan tanggung jawab lawan konflik.

  Perilaku tersebut di atas dilakukan secara bergantian dan berulang-ulang sampai lawan konflik menyerah dan menerima solusi yang diharapkan.

c. Menghindar 1) Pengertian penyelesaian konflik menghindar

  Menurut Chandra (1992) penyelesaian konflik dengan cara menghindar adalah seseorang menyadari bahwa ada konflik tetapi bereaksi dengan menghindari atau dengan menekan kenyataan konflik tersebut. Seringkali hal ini mengabaikan minat dan kepentingan, baik yang dimiliki oleh orang lain maupun yang dimiliki dirinya sendiri, demi tercapainya kepentingan bersama. Wirawan (2010) mengungkapkan bahwa tujuan dari proses penyelesaian konflik menghindar adalah untuk menghindarkan diri dari situasi konflik. Pihak yang terlibat konflik akan berusaha menghindari konflik dengan beberapa alasan: a) Perasaan tidak nyaman akibat terjadinya konflik.

  b) Menganggap penyebab konflik tidak penting.

  c) Tidak mempunyai cukup kekuasaan untuk memaksakan kehendak.

  d) Menganggap situasi konflik tidak bisa dikembangkan sesuai kehendaknya.

  e) Belum siap untuk melakukan kompromi. Berikut ini adalah proses interaksi pihak yang terlibat konflik, antara lain: a) Menyusun strategi dengan tujuan untuk menghindari konflik, mungkin secara terus menerus atau untuk sementara jika penyebab konflik sangat esensial

  b) Menahan diri dan pasif

  c) Tidak melayani pihak lawan konflik

  d) Menarik diri dari situasi konflik f) Tidak mengaku bahwa telah terjadi konflik

  g) Mengalihkan masalah untuk mengalihkan perhatian lawan konflik mengenai konflik yang terjadi.

  h) Menggunakan humor untuk menghindari pembicaraan mengenai konflik Bernard Mayer dalam Wirawan (2010) menyatakan ada delapan cara untuk menghindari konflik, yakni: a) Menghindari secara agresif (aggressive avoidance)

  “Jangan memulai konflik dengan saya atau Anda akan menyesal” b)

  Menghindar pasif (passive avoidance) “Saya menolak terlibat konflik dengan Anda” c) Menghindari pasif-agresif (passive-aggressive avoidance

  ) “Jika Anda marah kepada saya, itu masalah Anda sendiri”

  d) Menghindar dengan ketidakberdayaan (avoidance through hopelessness) “Apa gunanya melayani Anda?” e) Menghindar dengan melemparkan ke orang lain

  (avoidance through surrogates)

  “Silakan Anda bertengkar d engan mereka, tetapi tidak dengan saya”

  f) Menghindar melalui menyangkal (avoidance through

  denial)

  “Jika saya memejamkan mata, semuanya akan g) Menghindar melalui pemecahan masalah secara dini

  (avoidance through premature problem solving)

  “Tak ada kon flik, sudah saya bereskan semua”

  h) Menghindar dengan melipat (avoidance by folding) Penyelesaian konflik dengan cara menghindar dapat menyebabkan pihak-pihak yang terlibat konflik menjauhkan diri dari masalah sehingga hal ini menyebabkan pihak-pihak yang terlibat konflik menunda pokok masalah hingga waktu yang tepat. Selain itu, penyelesaian konflik dengan cara menghindar akan mengakibatkan pihak yang terlibat konflik menarik diri dari konflik yang sedang terjadi.

2) Aspek-aspek dalam penyelesaian konflik menghindar

  Menurut Robbins (2002) dalam penyelesaian konflik dengan cara menghindar ini, individu menarik diri atau mendiamkan konflik. Ketidakacuhan atau keinginan untuk menghindari pertentangan secara terang-terangan dapat mengakibatkan penarikan diri sehingga masing-masing pihak memisahkan diri secara fisik dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Jika penarikan diri tidak memungkinkan atau tidak diinginkan maka pihak-pihak yang berkonflik tersebut dapat mendiamkan konflik, yakni pihak yang sedang terlibat konflik dipaksa untuk berinteraksi maka pendiaman diri akan dilakukan daripada penghindaran diri.

  Penyelesaian konflik dengan cara menghindar dilakukan apabila masalah-masalah yang terjadi dalam konflik dianggap masalah yang tidak penting, jika pihak-pihak yang berkonflik merasa bahwa apabila ia memenangkan konflik namun hal itu tidak bisa memuasakan kepentingannya,ketika potensi akan adanya kekacauan lebih besar daripada keuntungan dengan adanya resolusi,jika masalah dalam konflik dirasa menyinggung lawan konflik dan mengakibatkan hal yang lebih buruk daripada sebelumnya. Dari ketiga penjelasan mengenai penyelesaian konflik di atas, maka dapat dikatakan bahwa penyelesaian konflik dengan cara kompromi adalah penyelesaian konflik yang paling baik diantara ketiga penyelesaian konflik yang telah penulis sebutkan. Menurut Wirawan (2010) hal ini disebabkan karena ketika remaja menggunakan penyelesaian konflik dengan cara kompromi, maka ia akan memiliki kemampuan bernegosiasi dengan orang tua. Selain itu remaja yang memilih penyelesaian konflik dengan cara kompromi akan berlatih mendengarkan pesan yang dikemukakan oleh orang tuanya. Dengan menggunakan penyelesaian konflik secara kompromi remaja juga akan belajar bagaimana megevaluasi nilai dan

  (2002) mengatakan bahwa remaja yang mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan orang tua akan menjajaki perkembangan identitas dengan lebih aktif daripada remaja yang tidak mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan orang tua mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Steinberg dalam Santrock (2002) yang mengatakan bahwa cara terbaik untuk menangani konflik antara remaja dengan orang tua adalah melalui penyelesaian konflik dengan cara kompromi. Cara ini bertujuan untuk menemukan suatu pemecahan masalah yang memuaskan baik bagi remaja maupun orang tua.

  Penulis juga menemukan beberapa variabel yang sama dalam setiap penyelesaian konflik. Variabel-variabel tersebut diantaranya:

Tabel 2.1 Variabel yang sama dalam penyelesaian konflik

  

Variabel Kompromi Kompetisi Menghindar

  1. Negosiasi Pihak yang terlibat konflik melakukan negosiasi dengan penuh empati, pengertian,dukungan terhadap pendapat dari lawan konflik.

  Pihak yang terlibat konflik hanya melakukan negosiasi jika hasilnya menguntungkan.

  Pihak yang terlibat konflik tidak memiliki kesiapan untuk melakukan negosiasi.

  2. Strategi Strategi yang disusun oleh pihak yang terlibat konflik memiliki tujuan untuk melakukan pendekatan kepada lawan konflik.

  Pihak yang terlibat konflik menentukan strategi yang bertujuan untuk memenangkan konflik dan berpegang teguh pada strategi tersebut.

  Pihak yang terlibat konflik menyusun strategi untuk menghindari konflik

  3. Tanggung jawab Pihak yang terlibat konflik menyatakan bertanggungjawab atas terjadinya konflik.

  Pihak yang terlibat konflik menolak untuk bertanggungjawab atas terjadinya konflik.

  Pihak yang terlibat konflik akan berusaha menarik diri dari situasi konflik.

  4. Cara menghadapi konflik Pihak yang terlibat konflik dengan ramah maupun keras supaya lawan konfik mau diajak bernegosiasi

  Pihak yang terlibat konflik menghadapi konflik dengan percaya diri yang tinggi bahwa dia bisa memenangkan konflik.

  Pihak-pihak yang terlibat konflik akan menghadapi konflik dengan pasif.

D. Hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua

  Kualitas kelekatan yang terjadi pada hubungan antara bayi dengan figur pengasuh memiliki peranan penting dalam kehidupan anak dan menjadi dasar dalam hubungan anak dengan orang lain di kemudian hari. Kualitas kelekatan yang terbentuk antara anak dengan figur pengasuh di masa lampau tidak lantas hilang begitu saja namun akan senantiasa berkembang ketika individu menginjak pada masa remaja maupun dewasa. Penelitian yang dilakukan oleh Feeney dan Noller (1990) menunjukkan bahwa ikatan emosional dalam hubungan yang lekat tetap terjadi hingga dewasa. Kualitas kelekatan yang tampak pada hubungan intim yang terjalin pada saat individu memasuki masa remaja dan dewasa bersumber dari kualitas kelekatan yang dirasakan ketika individu tersebut ketika masih bayi hingga kanak-kanak.

  Hal tersebut terjadi pula pada berbagai kemampuan adaptif yang berkaitan dengan kemampuan sosial karena perkembangan kemampuan sosial bersumber pula dari perkembangan karkteristik mental individu seperti harga diri, kepercayaan diri, kemampuan penyesuaian emosional, dan sebagainya (Burland dan Zimmerman, dalam Santrock ,2002).

  Menurut Hall dalam Santrock (2007) masa remaja adalah masa badai emosional. Hal ini disebabkan karena masa remaja adalah suatu masa dimana fluktuasi emosi berlangsung lebih sering (Rosenblum dan Lewis remaja awal.Hal ini menyebabkan konflik dengan orang tua meningkat melampaui masa anak-anak (Steinberg, dalam Santrock, 2002).

  Peningkatan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

  1. Perubahan biologis pubertas

  2. Perubahan kognitif yang menjadikan remaja mengalami peningkatan idealisme dan penalaran logis

  3. Perubahan sosial yang menyebabkan remaja menginginkan kemandirian dan identitas

  4. Perubahan-perubahan kebijakan dari orang tua dan harapan- harapan yang dilanggar oleh pihak orang tua dan remaja Konflik adalah hal yang tidak dapat dihindari dalam setiap kehidupan bersama (Kottler, dalam Conts, 2003). Konflik yang terjadi antara remaja dengan orang tua sebenarnya sudah menjadi ciri relasi orang tua dengan remaja. Konflik sehari-hari antara remaja dengan orang tua dapat berperan sebagai fungsi perkembangan yang positif (Bloss dan Hill, dalam Santrock, 2002). Kendati demikian, konflik yang terjadi antara remaja dengan orang tua harus diselesaikan karena konflik yang berkepanjangan dapat terkait dengan sejumlah masalah remaja yaitu pelarian diri dari rumah, kenakalan remaja, putus sekolah, kehamilan dan pernikahan terlalu dini, keterlibatan penggunaan obat-obatan terlarang dan keikutsertaan pada sekte-sekte sesat.

  Berdasarkan uraian di atas maka masa remaja adalah masa yang sulit permasalahan antara remaja dengan orang tuanyayang disebabkan karena berbagai hal. Permasalahan antara remaja dengan orang tua adalah hal yang wajar terjadi di usia remaja dan akan meningkat pada remaja awal (Hall dalam Santrock, 2002). Hal ini sesuai dengan pendapat Steinberg dalam Santrock (2002) yang menyebutkan bahwa peningkatan konflik akan terjadi selama masa remaja awal.Meskipun konflik antara orang tua dengan remaja adalah hal yang wajar tetapi ketika permasalahan tersebut tidak diselesaikan dengan cara yang tepat maka akan terjadi konflik yang berkepanjangan dan bisa mendorong terbentuknya perilaku negatif pada remaja.

E. Hipotesis

  Berdasarkan tinjauan teoritis yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu : Ada hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua. Semakin tinggi kualitas kelekatan antara remaja dengan orang tua maka penyelesaian konflik yang dipilih oleh remaja tersebut semakin baik.

F. Skema hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk

  penelitian korelasional. Penelitian korelasional yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mencari hubungan atau relasi antara dua variabel. Dalam penelitian ini, penulis ingin mengetahui apakah ada hubungan yang positif antara kualitas kelekatan aman dengan penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

  Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Variabel Tergantung : penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua

  2. Variabel Bebas :kualitas kelekatan C.

   Subjek Penelitian

  Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah remaja awal. Cara pemilihan subjek dengan cara purposive sampling yakni teknik penentuan sample dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,2006). Subjek dalam penelitian ini adalah remaja awal dengan kriteria sebagai berikut : a. Usia subjek : usia subjek berkisar antara 13 sampai dengan 16 tahun dan masih memiliki orang tua. b. Status pendidikan: berstatus sebagai seorang pelajar baik SMP maupun SMA

  purposive sampling Purposive sampling representative sample

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Kualitas kelekatan antara remaja dengan orang tua

  Tingkat mutu kelekatan yang tercermin dalam perilaku-perilaku lekat yang dimunculkan individu terhadap figur lekatnya.

  Kualitas kelekatan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan skala kualitas kelekatan. Skala ini disusun oleh peneliti berdasarkan empat aspek yang mengacu pada teori Santrock, yaitu :

  a. Mempunyai harga diri yang tinggi Harga diri yang tinggi adalah ketika remaja memiliki pandangan yang positif terhadap dirinya sendiri.

  b. Mempuyai kesejahteraan emosional yang lebih baik Remaja yang memiliki kesejahteraan emosional yang baik tidak memiliki kecemasan-kecemasan dan perasaan depresi yang dapat mengganggu perkembangannya.

  c. Mempunyai kesehatan fisik yang baik Terwujud apabila remaja tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan tampka sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal dan tidak mengalami gangguan.

  Remaja mau secara aktif terlibat dalam suatu kegiatan yang belum pernah ia coba sebelumnya.

2. Penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua

  Penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua adalah cara untuk mencapai keluaran konflik dengan menggunakan cara-cara tertentu. Pada penelitian ini ada tiga cara penyelesaian konflik yang digunakan, yaitu: a. Kompromi

  Menurut Liliweri (2005) kompromi merupakan suatu proses yang melibatkan dua atau tiga pihak untuk merundingkan beberapa pilihan pendapat yang menjadi sumber konflik guna mencapai persetujuan bersama yang menguntungkan kedua belah pihak. Proses kompromi selalu dimulai dengan mempertimbangkan kepentingan antara dua pihak. Setiap pihak memiliki aspirasi tersendiri dan berusaha untuk mencapai apa yang mereka inginkan atau butuhkan. Dalam situasi konflik, kedua belah pihak masing-masing mencari peluang untuk mengalahkan atau memenangkan yang lain. Dalam proses kompromi ini pada awalnya tidak melibatkan pihak ketiga, namun apabila proses kompromi gagal, maka kedua belah pihak akan memilih mediasi dari pihak ketiga.

  Aspek-aspek dalam penyelesaian konflik kompromi antara lain:

  1. Adanya persiapan yang dilakukan kedua belah pihak

  2. Adanya aturan yang ditetapkan oleh kedua pihak yang terlibat konflik

  3. Masing-masing pihak saling memberi kesempatan untuk membuat klarifikasi

  4. Adanya proses tawar menawar

  5. Kedua belah pihak yang terlibat konflik mengakhiri konflik dengan menerapkan apa yang sudah diputuskan melalui kompromi b. Kompetisi Pihak-pihak yang terlibat konflik bertujuan untuk memenangkan konflik dan mengalahkan lawan konflik.

  Aspek-aspek dalam penyelesaian konflik kompetisi antara lain:

  1. Menentukan strategi untuk memenangkan konflik dan berpegang teguh pada strategi tersebut. Strategi tersebut berupa mengalahkan lawan konflik dengan menggunakan berbagai taktik konflik. Taktik konflik bisa berubah setiap saat tergantung dari perkembangan situasi konflik.

  2. Tawar menawar dengan lawan konflik hanya dilakukan apabila hasilnya menguntungkan

  3. Melakukan agresi untuk memperlemah posisi lawan konflik

  4. Menolak untuk bertanggung jawab dan menyatakan bahwa sesuatu yang terjadi merupakan tanggung jawab dari lawan konflik. c. Menghindar Menurut Chandra (1992) penyelesaian konflik dengan cara menghindar adalah seseorang menyadari bahwa ada konfik tetapi tetap bereaksi dengan menghindari atau dengan menekan kenyataan konflik tersebut. Aspek-aspek dalam penyelesaian konflik menghindar antara lain:

  1. Individu menarik diri dari situasi konflik

  2. Individu yang terlibat konflik mendiamkan konflik.

E. LOKASI PENELITIAN

  Penelitian ini dilakukan di Desa Wonosari Kabupaten Gunungkidul dan Kota Yogyakarta. Alasan peneliti memilih lokasi di Desa Wonosari adalah karena Dewa Wonosari merupakan Desa yang sedang berkembang pesat dalam pendidikan sehingga dimungkinkan memiliki banyak anak yang berusia remaja awal. Peneliti juga memilih melakukan penelitian di Yogyakarta dengan alasan, Yogyakarta merupakan kota pelajar dan cukup maju sehingga dimungkinkan memiliki banyak anak yang berusia remaja awal.

  Alasan peneliti melakukan penelitian di dua tempat supaya memiliki banyak variasi keberagaman subjek.

F. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA

1. Metode pengumpulan data

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan penskalaan model Likert. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kualitas kelekatan antara remaja awal dengan orang tua dan penyelesaian konflik antara remaja dengan orang tua. Skala kualitas kelekatan antara remaja awal dengan orang tua dibuat menggunakan skala model Likert. Skala Likert merupakan skala yang terdiri dari item-item yang bersifat favorable dan unfavorable. Item-item dalam skala ini dibagi dalam lima kategori respon,yaitu SS (Sangat Sesuai), S (Sesuai), N (Netral), TS (Tidak Sesuai), STS (Sangat Tidak Sesuai) (Azwar,2005). Dalam skala yang digunakan dalam penelitian ini, tidak ada jawaban N (Netral) dalam pilihan jawaban. Hal tersebut dilakukan dengan alasan, jika ada pilihan tengah maka subjek cenderung akan memilih pilihan jawaban tengah tersebut, sehingga peneliti tidak mendapatkan informasi yang diinginkan serta tujuan dari penelitian yang akan dilakukan tidak tercapai. Skor pada skala yaitu Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju bergerak dari arah 1 hingga 4 pada skala unfavorable dan dari 4 hingga 1 pada skala favorable. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3.1 Tabel skoring Skor Alternatif jawaban Favorable Unfavorable

  Sangat setuju

  4

  1 Setuju

  3

  2 Tidak setuju

  2

  3 Sangat tidak setuju

  1

  4 Sedangkan skala penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua dibuat dengan menggunakan kuesioner tipe pilihan. Item dalam kuesioner tipe pilihan meminta subjek untuk memilih salah satu jawaban dari tiga alternatif jawaban yang sudah disediakan oleh peneliti. Skala penyelesaian konflik ini dibuat dengan model multiple choice, yaitu bentuk pilihan dengan tiga alternatif.

  Penyajian pernyataan-pernyataan dalam setiap skala diacak berdasarkan arah (mendukung atau tidak mendukung) dan isi, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari response set score, yaitu respon terhadap suatu pernyataan dipengaruhi oleh respon dari pernyataan lain.

  Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Skala Kualitas Kelekatan Skala yang digunakan untuk mengungkap kualitas kelekatan antara remaja awal dengan orang tua didasarkan pada teori Santrock, yaitu aspek harga diri yang tinggi, kesejahteraan emosional yang lebih baik, kesehatan fisik, mencoba berbagai aktivitas. Item-item dalam skala ini disusun dengan mengacu pada blueprint yang berisi empat aspek kualitas kelekatan, yaitu aspek harga diri yang tinggi, kesejahteraan emosional yang baik, kesehatan fisik, mencoba berbagai aktivitas. Sebelum dilakukan uji coba, jumlah aitem yang akan dipakai dalam penelitian ini ada 80 butir dimana untuk masing-masing aspek terdiri dari 20 butir aitem. Setiap aspek diberikan bobot yang sama karena setiap aspek memiliki kawasan ukur yang sama dengan tingkat sifnifikan yang sama untuk mengungkap persepsi terhadap dukungan suami (Azwar, 2005). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel berikut ini.

  Tabel 3.2 Blueprint

  Kualitas Kelekatan Komponen Komposisi Item Total Prosentase Favorable Unfavorable

  Harga diri yang tinggi

  10

  10 20 25% Kesejahteraan emosi yang baik

  10

  10 20 25% Kesehatan fisik

  10

  10 20 25% Mencoba berbagai aktivitas

  10

  10 20 25%

  TOTAL

  40

  40 80 100%

Tabel 3.3 Distribusi Item Kualitas Kelekatan Sebelum Uji Coba

  Nomor Item Komponen

  Total Prosentase Favorable Unfavorable

  Harga diri yang 33,40,42,37,74, 63,71,50,69,45, 20 25% tinggi 25,20,43,76,55 21,57,52,13,34 Kesejahteraan 75,44,7,41,70, 77,5,15,39,23, 20 25% emosi yang baik 30,65,60,36,3 51,6,72,11,80

  Kesehatan fisik 31,57,2,12,79, 64,73,46,78,48, 20 25% 68,32,62,49,67 54,29,10,19,27

  Mencoba 8,26,28,22,24, 47,38,58,9,61, 20 25% berbagai 4,1,59,18,17 14,66,35,16,53 aktivitas

  TOTAL

  40

  40 80 100%

  2. Penyelesaian Konflik Skala yang digunakan untuk mengungkap penyelesaian konflik dalam penelitian ini didasarkan pada aspek-aspek antara lain sebagai berikut:

  a. Penyelesaian konflik kompromi memiliki aspek:

  1. Adanya persiapan yang dilakukan kedua belah pihak

  2. Adanya aturan yang ditetapkan oleh kedua pihak yang terlibat konflik

  3. Masing-masing pihak saling member kesempatan untuk membuat klarifikasi

  4. Adanya proses tawar menawar

  5. Kedua belah pihak yang terlibat konflik mengakhiri konflik dengan menerapkan apa yang sudah diputuskan melalui kompromi b. Penyelesaian konflik kompetisi memiliki aspek:

  1. Menentukan strategi untuk memenangkan konflik.

  2. Tawar menawar dengan lawan konflik hanya dilakukan apabila hasilnya menguntungkan.

  3. Melakukan agresi untuk memperlemah posisi lawan konflik.

  4. Menolak untuk bertanggung jawab dan menyatakan bahwa sesuatu yang terjadi merupakan tanggung jawab dari lawan konflik.

  c. Penyelesaian konflik menghindar memiliki aspek:

  2. Individu yang terlibat konflik mendiamkan konflik.

Tabel 3.4 Blueprint penyelesaian konflik

  

Sebelum uji coba

ASPEK NOMOR ITEM PRESENTASE JUMLAH

  Negosiasi 1,2,8,9,13,15,18,23,29,30 33,33%

  10 Strategi 3,6,10,12,14,17,20,21,25,27 33,33%

  10 Tanggungjawab 4,5,7,11,16,19,22,24,26,28 33,33%

  10 JUMLAH

  100%

  30 Cara membedakan penyelesaian konflik apa yang dipilih

  oleh subjek adalah dengan cara pengkategorian. Apabila subjek memilih opsi jawaban a pada kuesioner, maka subjek memilih penyelesaian konflik dengan cara kompromi, apabila subjek memilih opsi b pada kuesioner maka subjek memilih penyelesaian konflik kompetisi sedangkan apabila subjek memilih opsi c jawaban c pada kuesioner maka subjek memilih penyelesaian konflik dengan cara menghindar.

  G. Uji Coba Alat Ukur

  Sebelum mengadakan penelitian, peneliti lebih dulu mengadakan uji coba alat ukur. Uji coba dilakukan untuk menguji kesahihan dan keandalan alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian.

  Uji coba dilaksanakan pada bulan November tahun 2013 pada remaja di desa Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul yang masih berstatus sebagai seorang pelajar.

  Subjek yang dipakai dalam penelitian ini berjumlah 97 orang dan kepada seluruh subjek diberikan dua jenis skala, yaitu skala kualitas kelekatan dan skala penyelesaian konflik. Setiap subjek memperoleh satu eksemplar yang terdiri dari dua skala. Pada uji coba alat ukur dan penelitian, skala kualitas kelekatan disebut sebagai skala I dan skala penyelesaian konflik disebut sebagai skala II.

  H. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

  Sebelum skala diujicobakan kepada subjek penelitian, peneliti melakukan uji coba skala terlebih dahulu terhadap subjek dengan kriteria yang sama dengan subjek penelitian. Tujuan dilakukannya uji coba skala adalah untuk memperoleh validitas dan reliabilitas skala sehingga alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dipercaya, akurat, dan representatif.

1. Validitas

  Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti ketetapan Suatu instrumen pengukuran dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Azwar, 2009).

  Uji validitas akan dilakukan untuk skala kualitas kelekatan, untuk melihat ketepatan alat ukur ini untuk mengungkapkan bagaimana kualitas kelekatan antara remaja awal dengan orang tua. Untuk skala penyelesaian konflik yaitu untuk melihat ketepatan alat ukur ini dalam mengungkap penyelesaian konflik apa yang dipilih oleh remaja awal.

  Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi akan menunjukkan sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur, artinya tes itu bukan saja harus komprehensif tetapi isinya harus tetap relevan dan tidak keluar dari penelitian (Azwar,2009). Validitas isi dari skala ini diselidiki melalui analisis rasional terhadap isi tes atau melalui

  proffesional judgment , yaitu dengan cara meminta dosen pembimbing

  untuk melihat apakah item-item dalam tes telah ditulis sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan semula dan memeriksa apakah masing- masing item telah sesuai dengan aspek perilaku yang hendak diungkap.

2. Seleksi Item

  Seleksi item dilakukan dengan tujuan melihat dan memilih item- data penelitian serta membuang item-item yang tidak lolos seleksi (gugur), sehingga item-item yang gugur tidak lagi digunakan dalam pengambilan data penelitian.

  Seleksi item dilakukan berdasarkan koefisien korelasi item total. Besarnya koefisien korelasi item total bergerak dari 0 sampai dengan 1,00 dengan tanda positif atau negatif. Semakin baik daya beda item maka koefisien korelasinya semakin mendekati 1,00. Koefisien korelasi yang mendekati angka 0 atau negatif mengindikasikan bahwa daya beda itemnya tidak baik. Seleksi item berdasarkan korelasi item total dan digunakan batasan rix 0,30. Semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 maka daya bedanya dianggap memuaskan. Namun, apabila jumlah item yang lolos seleksi ternyata masih tidak mencukupi jumlah yang diinginkan, maka dapat dipertimbangkan untuk menurunkan batas kriteria dari 0,30 menjadi 0,25 (Azwar,2005).

  1. Seleksi item skala kualitas kelekatan Seleksi item pada skala kualitas kelekatan dilakukan dengan menggunakan prorgam SPSS for windows versi 16.

  Seleksi item dicapai apabila ada kesesuaian antara bagian- bagian alat tes (butir item) dengan keselurhan alat tes dan untuk menguji setiap butir item, maka skor yang ada pada tiap butir item tersebut dikorelasikan dengan skor total. Kriteria pemilihan item berdasarkan korelasi item total menggunakan batasan ≥ 0,25.

  Pada skala kualitas kelekatan diperoleh korelasi yang bergerak dari -0,332 sampai 0,514; dan untuk item baik diperoeh korelasi yang bergerak dari 0,250 sampai 0,514. Hasil penujian tersebut menunjukkan bahwa dari skala kualitas kelekatan diperoleh 55 item baik dan 25 item kurang baik dari 80 item yang diujikan. Item-item yang gugur tersebut adalah item-item nomor 2,3,5,6,10,12,14,19,23,27,31,34,41,56,57,58,60,65,67,71,72,73, 78, 80.

  Penyebaran item baik pada skala kualitas kelekatan dapat dilihat pada tabel 3.4 berikut ini :

Tabel 3.5 Penyebaran item baik skala kualitas kelekatan

  

ASPEK FAVORABLE UNFAVORABLE PERSENTASE JUMLAH

  Harga diri yang tinggi 33,40,42,37,74,25,20 , 43,76,55

  63,50,69,45,21,52,

  13 30,9%

  17 Kesejahteraan emosi yang baik 75,44,7,70,30,36 77,15,39,51,11 20%

  11 Kesehatan fisik 79,68,32,62,49 64,46,48,54,29 18,2%

  10 Mencoba berbagai aktivitas 26,28,22,24,4,1,59,1 8,

  17 47,38,9,61,66,35,1 6,

  53 30,9%

  17

  2. Seleksi item skala penyelesaian konflik Seleksi item pada skala penyelesaian konflik dilakukan dengan menggunakan progra SPSS for windows versi 16.

  Seleksi item dicapai apabila ada kesesuaian antara bagian- bagian alat tes (butir item) dengan alat tes keseluruhan dan untuk menguji tiap butir item, maka skor yang ada pada tiap butir yang dimaksud dikorelasikan dengan skor total. Kriteria pemilihan item berdasarkan korelasi item total menggunakan batasan 0,25.

Tabel 3.6 Penyebaran item baik skala penyelesaian konflik

  

ASPEK NOMOR ITEM PRESENTASE JUMLAH

  Negosiasi 2,9,13,15 20%

  4 Strategi 3,6,12,14,17,20,21,25,27 45%

  9 Tanggungjawab 4,5,19,22,24,26,28 35%

  7 JUMLAH 100%

  20 Pada seleksi item skala penyelesaian konflik diperoleh

  korelasi yang bergerak dari 0,104 sampai 0,536; dan untuk item baik diperoleh korelasi yang bergerak dari 0,259 sampai 0,536.

  Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa dari skala penyelesaian konflik diperoleh 20 item baik dan 10 item gugur dari 30 item yang diujikan. Item-item yang gugur tersebut adalah item nomor 1,7,8,9,10,16,18,23,29,30. Pada skala penyelesaian konflik termasuk dalam kuesioner tipe pilihan sehingga tidak ada kriteria favorable dan unfavorable dalam skala ini.

3. Reliabilitas

  Reliabilitas merupakan tingkat kemantapan atau keterpercayaan suatu alat yang berarti sejauh mana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif berbeda apabila dilakukan pengukuran kembali terhadap subjek yang sama (Azwar,2005). Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel. Meskipun reliabilitas memiliki nama lain seperti keterpercayaan, keajegan, kestabilan, konsisten, dan sebagainya, namun ide pokok yag terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar,2005). Untuk mengetahui reliabilitas instrumen alat ukur penelitian ini menggunakan Alpha

  Cronbach . Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien yang angkanya

  berada dalam rentang dari 0 sampai 1,00. Semakin koefisien reliabilitasnya mendekati 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya, sebalikya koefisien yang semakin rendah mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya.

  Data untuk menghitung koefisien reliabilitas Alpha Cronbach diperoleh lewat penyajian skala yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok responden (Azwar,2005). Hasil perhitungan koefisien

  0,868 dan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach pada skala penyelesaian konflik adalah sebesar 0,812.

I. Metode Analisis Data

  Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasi Product Moment dari Carl Pearson. Teknik ini digunakan untuk menguji hubungan antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua. Adapun alat bantu yang digunakan untuk pengolahan data adalah program SPSS for windows versi 16.

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember tahun 2013 dengan

  mengambil subjek remaja awal sebanyak 100 subjek. Subjek yang dipakai dalam penelitian ini terdiri dari anak-anak SMP dan SMA yang berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari 100 subjek tersebut, peneliti mengambil sebanyak 80 subjek yang berdomisili di Desa Banyusoca Paliyan, Kecamatan Paliyan,Kabupaten Gunung Kidul sedangkan 20 subjek lainnya berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta dan masih duduk di bangku SMA.

  Kepada sebanyak 100 subjek diberikan dua jenis skala yaitu skala kualitas kelekatan dan skala penyelesaian konflik. Setiap sujek memperoleh satu eksemplar yang terdiri dari dua skala. Skala kualitas kelekatan disebut sebagai skala I dan skala penyelesaian konflik disebut sebagai skala II.

B. Deskripsi Subjek dan Data Penelitian

1. Deskripsi Subjek Penelitian

  Subjek yang dipakai dalam penelitian ini adalah remaja awal yang berusia antara 13-16 tahun yang masih berstatus sebgai seorang

2. Deskripsi Data Penelitian

  Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada remaja awal di daerah Istimewa Yogyakarta maka peneliti memperoleh hasil data penelitian yang dapat membandingkan data teoritik dan data empiris. Data tersebut digunakan untuk melihat hubungan antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua. Cara yang digunakan adalah dengn melihat perbandingan mean teoritik dan mean empiris. Berikut disajikan hasil pengumpulan data penelitian dan diperoleh deskripsi data penelitian sebagai berikut:

Tabel 4.1 Deskripsi data penelitian Statistik Kualitas kelekatan Penyelesaian konflik Kompromi Kompetisi Menghindar teoritik empirik teoritik empirik teoritik empirik teoritik empirik

  Mean 137,5 164,07 40 46,35 40 2,82 40 3,14 X max 220 187

  60

  60

  60

  16

  60

  9 X min 55 137

  20

  15

  20

  20 SD 27,5 10,42 6,67 11,08 6,67 3,69 6,67 2,44 Mean teoritis pada variable kualitas kelekatan diperoleh sebesar 137,5 dan mean empiris sebesar 164,07

  (Mean Empiris > Mean Teoritis). Data ini menunjukkan bahwa rata-rata subyek penelitian cenderung memiliki kualitas kelekatan yang relatif tinggi.

  Pada variable penyelesaian konflik kompromidiperoleh mean teoritis sebesar 40 dan mean empiris sebesar 46.35 (Mean Empiris > Mean Teoritis). Data ini menunjukkan bahwa rata-rata subyek penelitian cenderung memiliki penyelesaian konfik kompromiyang relatif tinggi. Variabel penyelesaian konflik kompetisi memiliki mean teoritis sebesar 40 dan mean empiris sebesar 2,82 (Mean Empiris<Mean Teoritis). Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata subjek penelitian cenderung memiliki penyelesaian konflik kompetisi yang relatif rendah. Sedangkan pada variabel penyelesaian konflik menghindar memiliki mean teoritis sebesar 40 dan mean empirirs sebesar 3,14 (Mean Empirirs<Mean Teoritis). Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata subjek penelitian cenderung memiliki penyelesaian konflik menghindar yang relatif rendah. Berdasarkan data di atas bisa disimpulkan bahwa sebagian besar subjek penelitian memillih penyelesaian konfik kompromi.

C. Uji Asumsi Data Penelitian

  Sebelum dilakukan analisis data untuk menguji hipotesis penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas dan uji linearitas.

1. Uji Normalitas

  Uji normalitas sebaran ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini telah menghasilkan data yang terdistribusi normal atau tidak. Kaidah yang digunakan untuk mengetahui normlitas sebaran data adalah jika p>0,05 sebaran dikatakan normal atau p<0,05 maka sebaran dianggap kurang normal. Pengujian normalitas sebaran dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program SPSS for windows versi 16. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas

  Variabel Mean Std.

devi

asi

  K-SZ P Keterangan

  Kualitas kelekatan 164,07 10,4

  2 0,673 0,755 Normal

  PKKompromi 46.35 11,0

  8 1,11 0,166 Normal

  PKKompetisi 2,82 3,69 2,47 0,000 Tidak Normal

  PKMenghindar 3,14 2,44 1,42 0,034 Tidak Normal

  Keterangan : Std. deviasi : standar deviasi K-SZ : Koefisien uji normalitas P : peluang kesalahan

  Hasil uji normalitas menghasilkan probabilitas (p) data kualitas kelekatan antara remaja awal dengan orang tua sebesar 0,755 atau nilainya lebih besar dari 0,05 (p>0,05) maka dapat diartikan variabel ini berdistribusi normal. Sedangkan probabilitas (p) data penyelesaian konflik kompromi sebesar 0,166 atau nilainya lebih besar dari 0,05 konflik kompromi berdistribusi normal. Pada data penyelesaian konflik kompetisi diperoleh nilai p sebesar 0,00 atau nilainya lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) dan pada data penyelesaian konflik menghindar diperoleh nilai p sebesar 0,034 atau nilainya lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kedua data tersebut tidak berdistribusi normal.

2. Uji Linearitas

  Pengujian terhadap linearitas dilakukan dengan menggunakan uji F yang dikerjakan dengan bantuan program SPSS

  for windows versi 12. Hasil uji linieritas menunjukkan bahwa

  besarnya statistik F adalah 1.159 dengan p=0,286. Pada tingkat signifikansi α=0,05 maka nilai p(0,000)>α(0,05); sehingga nilai F tersebut tidak signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara variabel Kualitas kelekatan dengan Penyelesaian konflik pada remaja awal dengan orang tuamempunyai hubungan yang bersifat tidak linear.

Tabel 4.3 Uji Linearitas Kualitas Kelekatan dengan Penyelesaian konflik Kompromi

  Korelasi F Sig Keterangan KK*pkKompromi 1,070 0,400 Tidak linear KK*pkKompetisi 1,394 1,121 Tidak linear KK*pkMenghindar 1,046 0,431 Tidak linear

3. Uji Hipotesis

  Pengujian terhadap hipotesis penelitian ini yaitu, hubungan antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua dianalisis menggunakan analisis korelasi Product

  Moment dan analisis korelasi Spearman Rho. Hal ini disebabkan

  karena uji hipotesis dilakukan dengan cara menguji satu per satu dari cara penyelesaian konflik yang ada. Pada penyelesaian konflik kompromi diketahui bahwa distribusi data bersifat normal sehingga digunakan analisis korelasi Product Moment. Pada penyelesaian konflik kompetisi dan menghindar diketahui bahwa data bersifat tidak normal sehingga peneliti menggunakan analisis korelasi Spearman

  Rho. Pengujian signifikansi hubungan kedua variabel tersebut

  dilakukan dengan cara membandingkan probability value (p) dengan tingkat signifikansi (α). Jika suatu korelasi memiliki nilai p<α maka disimpulkan bahwa korelasi tersebut signifikan. Nilai α yang digunakan dalam pengujian ini adalah 0.05

  Berdasarkan hasil analisis korelasi product moment dengan bantuan program SPSS for windows versi 16, diperoleh besarnya koefisien korelasi antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik kompromi sebesar r=0,128 dengan p = 0,206. Oleh karena nilai p(0,206)>α(0,05) maka disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berkorelasi. Hasil analisis korelasi Spearman Rho dengan koefisien korelasi antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik kompetisi sebesar r=-0,167 dengan p= 0,097. Oleh karena nilai p(-0,1

  67)>α(0,05) maka disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berkorelasi. Hasil analisis korelasi Spearman Rho dengan bantuan program SPSS for windows versi 16, diperoleh besarnya koefisien korelasi antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik menghindar sebesar r= -0,055 dengan p =0,583. Oleh karena nilai p(-

  0,167)>α(0,05) maka disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berkorelasi.

Tabel 4.4 Rangkuman hasil uji korelasi Product Moment

  Variabel N r Signifikan

  Kualitas kelekatan 100 0,128 P=0,206 Penyelesaian konflik kompromi 100

Tabel 4.5 Rangkuman hasil uji korelasi Spearman Rho

  Variabel N r Signifikan

  Kualitas kelekatan 100 -0,167 P=0,097 Penyelesaian konflik kompetisi 100

Tabel 4.6 Rangkuman hasil uji korelasi Spearman Rho

  Variabel N r Signifikan

  Kualitas kelekatan 100 -0,055 P=0,583 Penyelesaian konflik menghindar 100

D. Pembahasan

  Mean teoritis pada variabel kualitas kelekatan diperoleh sebesar 137,5 dan mean empiris sebesar 164,07 (Mean Empiris > Mean Teoritis). Data ini menunjukkan bahwa rata-rata subyek penelitian cenderung memiliki kualitas kelekatan yang relatif tinggi. Kelekatan aman yang dikembangkan seorang anak dengan pemberi perhatian utama akan berpengaruh pada perkembangan anak sepanjang masa hidupnya. Kelekatan yang aman akan membuat anak bertumbuh menjadi pribadi yang sehat secara sosial dan psikologis, Steinberg (2002).Dibandingkan dengan gaya kelekatan yang lain, individu dengan gaya kelekatan yang aman lebih tidak mudah marah, lebih tidak mengatribusikan keinginan bermusuhan pada orang lain, dan mengharapkan hasil yang positif dan konstruktif dari konflik (Mikulincer dalam Baron dan Byrne, 2005). Sebagai tambahan menurut Mikulincer dalam Baron dan Byrne (2005), dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki gaya kelekatan tidak aman, individu yang memiliki gaya kelekatan aman akan memproses informasi mengenai situasi sosial dengan pada informasi baru dalam membuat penilaian sosial. kelekatan yang aman selama dengan orang tua selama masa remaja dapat berfungsi adaptif, yang menyediakan landasan yang kokoh di masa remaja sehingga remaja dapat menjelajahi lingkungan dan dunia sosialnya yang baru dengan cara- cara yang sehat secara psikologis.

  Menurut Cohen (1992) kehidupan masyarakat desa sering kali ditandai oleh keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan pertanian dan ikatan- ikatan keluarga yang sangat erat. Hubungan antar pribadi yang ada di antara para anggotanya sangat kuat dan ditandai oleh pola-pola perilaku tradisional. Sebagian besar subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah berasal dari Desa Menggora, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul. Desa tersebut merupakan perbatasan antara Kabupaten Bantul dengan Gunung Kidul yang merupakan daerah pingiran dan masih memiliki sarana dan prasarana yang belum memadai. Oleh karena itu, kehidupan masyarakat di Desa Menggora masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan para anggota keluarganya. Selain itu mata pencaharian penduduk di Desa Menggora adalah sebagai seorang petani. Cohen (1992) mengatakan bahwa masyarakat pedesaan tidak memiliki pekerjaan- pekerjaan yang sifatnya khusus karena pekerjaan hampir setiap orang dikaitkan dengan pertanian. Pendidikan dalam masyarakat-masyarakat pedesaan keseluruannya menjadi tanggung jawab keluarga dan terutama diarahkan kepada pekerjaan-pekerjaan pertanian. Leibo (1995) yang ada sehingga kehidupan di desa lebih menekankan anggota keluarga sebagai unit ekonomi. Artinya semua anggota keluarga turut bersama- sama terlibat dalam kegiatan pertanian ataupun mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Hal ini juga tercermin dari perilaku remaja di Desa Menggora tersebut yang sebagian besar sampai saat ini masih membantu orang tua untuk mencari nafkah sebagai seorang petani ketika pulang sekolah. Menurut pendapat Cohen (1992) kehidupan di kota berbeda dengan kehidupan di desa, masyarakat yang hidup di kota ditandai oleh tingginya tingkat kompetensi dan konflik.

  Selain itu, kehidupan masyarakat desa tercermin dengan adanya sifat kekeluargaan, adanya keakraban diantara anggota keluarga. Hal inilah yang menyebabkan tingginya kualitas kelekatan antara remaja awal dengan orang tua.

  Pada variabel penyelesaian konflik kompromidiperoleh mean teoritis sebesar 40 dan mean empiris sebesar 46.35 (Mean Empiris > Mean Teoritis). Data ini menunjukkan bahwa rata-rata subyek penelitian cenderung memiliki penyelesaian konfik kompromiyang relatif tinggi.

  Variabel penyelesaian konflik kompetisi memiliki mean teoritis sebesar 40 dan mean empiris sebesar 2,82 (Mean Empiris<Mean Teoritis). Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata subjek penelitian cenderung memiliki penyelesaian konflik kompetisi yang relatif rendah. Sedangkan pada variabel penyelesaian konflik menghindar memiliki mean teoritis

  Teoritis). Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata subjek penelitian cenderung memiliki penyelesaian konflik menghindar yang relatif rendah.

  Berdasarkan data di atas bisa disimpulkan bahwa sebagian besar subjek penelitian memillih penyelesaian konfik kompromi. Hal ini terjadi karena anak-anak Indonesia terutama Jawa dilatih untuk mengembangkan sikap yang mendukung harmoni kelompok, rasa hormat kepada otoritas, pengendalian emosi, serta kerja sama melalui sosialisasi yang mereka alami. Dalam kajian antropologi juga diungkapkan bahwa pengasuhan anak dalam keluarga Jawa lebih menekankan pada kontrol emosi diri dan harmoni dalam hubungan sosial. Sebagai implikasinya masyarakat Jawa tidak mendorong kemunculan perilaku agresi terhadap teman sebaya apalagi orang tua. Remaja didorong untuk menyelesaikan masalah dengan bermusyawarah dan berkompromi daripada menggunakan agresi fisik maupun verbal.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka

  dapat disimpulkan bahwa :

  1. Variabel kualitas kelekatan tidak memiliki korelasi dengan variable penyelesaian konflik. Hal ini disebabkan karena subjek penelitian tidak menganggap bahwa konflik yang sehari-hari terjadi merupakan suatu konflik tetapi suatu hal yang biasa dalam hubungan orang tua dan anak.

  2. Kualitas kelekatan antara remaja awal dengan orang tua pada penelitian ini tergolong tinggi. Hal ini disebabkan karena orang tua semkain memiliki pengetahuan mengenai pentingnya kedekatan dengan orang tua di masa remaja merupakan hal yang penting. Selain itu, faktor budaya dan kondisi geografis pada subjek penelitian. Sebagian besar subjek dalam penelitian ini adalah remaja Jawa di daerah pedesaan sehingga masih memelihara hubungan kekeluargaan yang erat antar anggota keluarga.

  3. Penyelesaian konflik yang paling banyak dipilih oleh remaja kompromi. Hal ini disebabkan karena sebagian besar subjek dalam penelitian ini adalah remaja Jawa di daerah pedesaan sehingga remaja didorong untuk menyelesaikan masalah dengan bermusyawarah dan berkompromi daripada menggunakan agresi fisik maupun verbal.

B. SARAN 1. Bagi Orang Tua:

  Bagi orang tua yang memiliki anak remaja awal hendaknya dapat terus menjalin dan mengembangkan hubungan kelekatan dengan remjanya. Orang tua dapat menjadi tempat yang nyaman bagi anak remajanya untuk berbagi cerita dan menjadi pendukung dalam kehidupan remaja tersebut. Hal ini akan membuat remaja belajar bahwa mereka dapat menjalin rasa percaya dan komunikasi yang baik dengan orang tua sehingga remaja akan lebih terbuka ketika mereka ingin mengungkapkan perasaaan dan permasalahan yang sedang dihadapinya. Selain itu, orang tua diharapkan untuk memiliki pemikiran yang terbuka dalam menilai konflik yang terjadi antara orang tua dan remaja. Dengan demikian, remaja akan belajar untuk mengelola konflik dengan lebih baik.

  2. Bagi Remaja

  Bagi remaja, dengan mempertimbangkan hasil penelitian, diharapkan remaja mampu senantiasa memelihara kelekatan dengan kedua orang tuanya. Selain itu, remaja diharapkan mampu memilih penyelesaian konflik yang konstruktif sehingga konflik yang terjadi antara remaja dengan orang tua bisa diselesaikan dengan baik dan memiliki manfaat yang positif dalam kehidupan perkembangan remaja.

  3. Bagi peneliti

  Penelitian yang akan datang sebaiknya memperhatikan faktor budaya karena faktor budaya dapat mempengaruhi pemilihan penyelesaian konflik pada remaja awal.

4. Bagi subjek penelitian

   Bagi subjek penelitian dengan mempertimbangkan hasil penelitian

  diharapkan subjek penelitian mampu terus memelihara hubungan yang baik dengan orang tuanya dan tidak menanggap sepele konflik yang sedang terjadi,artinya remaja memiliki upaya untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dengan orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

  Ahmadi, Abu & Sholeh, Munawar. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

  Chandra,Robby.1992.Konflik dalam Hidup Sehari-hari. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

  Counts, J.A. 2003. Perceived Effectiveness of Conflicts Management Strategies in

  Dating Relationship. A Thesis. Faculty of the Departement of Psychology East Tennese State University.

  Desmita. 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

  Erwin,P. (1998). Friendship in Childhood and Adolescene. London: Routledge Feeney, Noller. 1996. Adult Attachment. United States of America: Sage Publication.

  Feinberg, Mark. E; Kan, Marni. L; Hetherington. E Mavis. The Longitudinal

  Influence of Coparenting Conflict on Parental Negativity and Adolescent Maladjustment. Journal of Marriage and Family, Vol.69, No. 3

  (Augustus,2007), page 687-702.

  Hurlock, Elizabeth.B. 1980. (Terjemahan). Psikologi Perkembangan: Suatu

  

  Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

  Laible, Thompson. 2000.

  “Mother-Child Discourse Attachment Security Shared Positive Affect and Conscience Development”. Child Development vol.71,

  no.5, page 1424-1440. Laursen, Brett&Adams, Ryan.

  ”The Organization and Dynamic of Adolescent

  Conflict with Parents and Friends ”. Journal of Marriage and Family,

  Vol.63, February,2001, page:97-110. Leibo, Jefta. 1995. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Andi Offset. Lestari,Sri. 2012. Psikologi Keluarga; Penenaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konflik; Komunikasi Lintas Budaya

Masyarakat Multikultur. Yogyakarta: Penerbit LKIS Yogyakarta.

  Mabey, Judith & Sorensen, Bernice. 1995. Counsseling for Young People.

  Virginia: Open University Press. Mappiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usana Offset Printing. Noler & Fitzpatrick. 1993. Communications in Family Relationship. United States of America: Pretince Hall.

  Ormrod, Ellis Jeanne & Mc Devit, Teressa. 2002. Child Development. New Jersey, Colombus, Ohio: Courir Kendallville.

  Papalia, Diane; Olds, Sally Wendos; Feldman, Ruth Duskin. 2008. Human

  Development 10 th edition. New York: McGraw-Hill Copmanies.

  Papalia, Diane. E. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

  Park, Waters. 1989.

  “Security Attachment and Preschool Friendship”. Child Development, vol.60, no.5, page 1076-1081.

  Robbins, Stephen.P. 2002. Prinip-prinip Perilaku Organisasi edisi kelima.

  Jakarta: Penerbit Erlangga. Rocmah, Elfi Yuliani. 2005. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press.

  Salkind, Neil. 2009. Teori-Teori Perkembangan Manusia. Bandung: Penerbit

  Santrock, John. W. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, edisi 5, jilid II. Jakarta: Penerbit Erlangga.

  Santrock, John. W. 2003. Adolescence 6

  th

  edition (terjemahan). Jakarta : Erlangga. Sarwono, Sarlito Wirawan. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Press. Sarwono, Jonathan. 2012. Metode Riset Skripsi Pendekatan Kuantitatif. Jakarta: Elex Media Komputindo.

  Shaver,P.R., Mikulincer, M. 2011. Human Aggression and Violence: Causes,

  Manifestations, and Consquences. United States of America: American Psychological Association.

  Stenberg, Laurence 6

  th

  edition. 2002. Adolescence. North America: Mc Graw-Hill Companies.

  True,Pisani & Omar. 2001.

  “Infant-Mother Attachment Among the Dogon of Mali.” Child Development, vol.72, no.5, page 1451-1466.

  Yusuf, Syamsu. 2011. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

  LAMPIRAN

  LAMPIRAN 1 SKALA UJI COBA KUALITAS KELEKATAN DAN PENYELESAIAN KONFLIK ANTARA REMAJA AWAL DENGAN ORANG TUA

SKALA PENELITIAN

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

KATA PENGANTAR

  Saya merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta angkatan 2009 yang akan mengadakan suatu

penelitian untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana.

Penelitian ini saya lakukan dengan menyebarkan skala kepada remaja

awalyang berusia 13-16 tahun. Saya bermaksud meminta bantuan

Saudari untuk meluangkan waktu guna mengisi kuesioner penelitian

ini. Saya harap Saudari mengisi kuesioner ini secara lengkap, sesuai

dengan keadaan, perasaan, dan pikiran anda.

  Kesediaan anda mendukung penelitian ini sangat berharga bagi

pengembangan berbagai hal yang terkait dengan penelitian ini. Data

pribadi dan semua jawaban anda dalam penelitian ini akan dijamin

kerahasiaannya serta tidak akan dialihtangankan kepada pihak yang

tidak berkepentingan. Informasi yang saya peroleh dari skala ini akan

saya laporkan dalam bentuk perhitungan statistik dan kesimpulan

dalam bentuk skripsi atau karya ilmiah tanpa mengungkapkan

identitas Anda.

  Demikian harapan saya. Saya mengucapkan terimakasih atas bantuan dan kerjasama yang telah diberikan.

  Yogyakarta, 20 November 2013 Peneliti (Ovina Felita Christie. W)

  

IDENTITAS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia

untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Saya juga menyatakan

bahwa keterlibatan saya bersifat sukarela tanpa paksaan dari pihak

manapun.

  Insial : Usia : tahun Yogyakarta, November 2013

  Subjek Penelitian

  

SKALA I

PETUNJUK

1. Skala ini berjumlah 80 item.

  2. Bacalah pernyataan-pernyataan pada lembar berikut, kemudian jawablah dengan sungguh-sungguh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

  3. Tidak ada jawaban yang dianggap salah, semua jawaban adalah

benar jika diisi dengan jujur sesuai dengan keadaan saat ini

  4. Nyatakanlah sikap/tanggapan Anda terhadap setiap pernyataan dengan memilih salah satu dari antara empat kemungkinan jawaban yang tersedia, yaitu: Sangat Sesuai, Sesuai, Tidak Sesuai, atau Sangat Tidak Sesuai dengan memberi tanda X pada kolom Sangat Sesuai, Sesuai, Tidak Sesuai, atau Sangat Tidak Sesuai sesuai dengan pilihan Anda.

5. Isilah setiap kolom. Jangan sampai ada pernyataan yang terlewatkan.

  6. Jika Anda merasa bahwa jawaban yang Anda berikan kurang tepat dan Anda ingin mengganti dengan jawaban yang lain, maka Anda dapat langsung mencoret dengan memberikan tanda dua garis horisontal (=) pada pilihan jawaban yang dianggap kurang tepat dan memberikan tanda silang (X) pada pilihan Anda yang tepat atau yang baru.

  Keterangan : SS : Sangat Setuju S : Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju

  Selamat Mengerjakan

NO PERNYATAAN SS S TS STS

  1. Saya senang pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi dengan teman-teman saya

  2. Saya mengikuti berbagai aktivitas fisik di sekolah

  3. Saya merasa bahwa saya sudah mandiri

  4. Saya memiliki banyak kegiatan baru di luar sekolah

  5. Saya sulit mengelola emosi

  6. Saya menyimpan kesalahan orang lain

  7. Saya tetap bersikap tenang ketika tak seorangpun menolong saya dalam kesukaran

  8. Saya senang menjalin relasi dengan orang lain sebelumnya belum pernah saya lakukan

  10. Saya berolahraga sekali waktu

  11. Saya iri ketika teman saya lebih berhasil dibanding saya

  12. Saya bisa mengerjakan aktivitas saya tanpa pertolongan dari orang lain

  13. Saya adalah orang yang bodoh

  14. Saya memiliki sedikit kegiatan baru di luar sekolah

  15. Saya cemas ketika tak seorang pun menolong saya dalam kesukaran

  16. Saya enggan dikunjungi oleh teman- teman baru saya

  17. Saya bisa membangun komunikasi dengan orang-orang yang baru saya kenal

  18. Saya merasa senang jika ada teman- teman baru yang datang ke rumah saya

NO PERNYATAAN SS S TS STS

19. Daya tahan tubuh saya lemah

  20. Saya mensyukuri keadaan diri saya saat ini

  21. Saya merasa dibenci oleh teman-teman saya

22. Saya senang mencoba hal-hal baru yang

  23. Saya bersikap acuh tak acuh dengan apa yang dirasakan orang lain

  24. Saya mau belajar bahasa asing yang belum pernah saya pelajari

  25. Saya merasa bahwa orang-orang di sekitar saya menyukai saya

  26. Saya bersemangat untuk mencoba mempelajari keterampilan baru

  27. Saya belum pernah dirawat di Rumah Sakit

  28. Saya senang mencoba makanan baru

  29. Saya benci olahraga

  30. Saya menjalin hubungan yang positif dengan orang lain

  31. Saya merasa memiliki kesehatan fisik yang baik

  32. Saya memiliki hobi olahraga

  33. Saya memiliki rasa percaya diri yang tinggi

  34. Saya merasa belum bisa membahagiakan orang tua

  35. Saya malas mengikuti berbagai ekstrakulikuler yang belum pernah saya coba di sekolah

  36. Saya senang melihat orang lain berhasil tersebut tidak membuat diri saya tersinggung

  38. Saya enggan untuk mencoba mempelajari keterampilan baru

  39. Bagi saya, marah adalah hal yang sia-sia

  40. Saya senang bisa mengatur diri saya sendiri

  41. Bagi saya, marah adalah hal yang wajar

  42. Saya bisa menerima setiap kritik yang diberikan orang lain kepada saya

  43. Saya merasa bahwa saya cantik/cakep

  44. Saya dapat mengelola emosi dengan baik

  45. Saya benci dengan keadaan diri saya

  46. Saya enggan mengikuti berbagai aktivitas fisik di sekolah

  47. Saya enggan menjalin relasi dengan orang baru

  48. Saya mudah sakit

  49. Saya memiliki daya tahan tubuh yang baik

  50. Saya malas mendengarkan kritikan dari orang lain

  51. Saya memiliki banyak musuh

  52. Saya merasa bahwa saya jelek

  53. Saya enggan membangun komunikasi kenal

  54. Badan saya lemah

  55. Saya merasa bahwa orang tua saya bahagia memiliki anak seperti saya

  56. Saya benci dengan keadaan diri saya saat ini

  57. Saya belum pernah menderita sakit

  58. Saya enggan mencoba makanan baru

  59. Saya mengikuti berbagai ekstrakulikuler yang belum pernah saya coba di sekolah

NO PERNYATAAN SS S TS STS

  60. Saya bisa melakukan apapun sendiri

  61. Saya malas belajar bahasa asing yang belum pernah saya pelajari

  62. Saya rutin berolahraga setiap hari

  63. Saya merasa minder dengan keadaan diri saya

  64. Kesehatan fisik saya buruk

  65. Bagi saya, memaafkan kesalahan orang lain adalah hal yang mudah

  66. Saya malas pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi dengan teman-teman saya

  67. Saya pernah dirawat di Rumah Sakit

  68. Saya merasa bahwa badan saya kuat yang mengejek saya

  70. Saya bisa memahami perasaan orang lain

  71. Saya benci diatur oleh orang lain

  72. Saya bergantung pada orang lain

  73. Saya pernah menderita sakit

  74. Saya puas dengan keadaan diri saya

  75. Saya bersikap tenang dalam menghadapi suatu permasalahan

  76. Saya memiliki prestasi yang membanggakan

  77. Saya merasa cemas dalam menghadapi suatu permasalahan

  78. Saya memerlukan pertolongan orang lain ketika melakukan aktivitas

NO PERNYATAAN SS S TS STS

  79. Saya merasa tubuh saya sehat

  80. Saya merasa bahwa saya memerlukan bantuan dari orang lain

SKALA II

  

PETUNJUK

1. Skala ini berjumlah 30 item.

  2. Bacalah pernyataan-pernyataan pada lembar berikut, kemudian jawablah dengan sungguh-sungguh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

  3. Tidak ada jawaban yang dianggap salah, semua jawaban adalah

benar jika diisi dengan jujur sesuai dengan keadaan saat ini

  4. Nyatakanlah sikap/tanggapan Anda terhadap setiap pernyataan

dengan memilih salah satu dari ketiga respon yang tersedia.

  5. Kerjakan setiap nomor. Jangan sampai ada pernyataan yang terlewatkan.

  6. Jika Anda merasa bahwa jawaban yang Anda berikan kurang tepat dan Anda ingin mengganti dengan jawaban yang lain, maka Anda dapat langsung mencoret dengan memberikan tanda dua garis horisontal (=) pada pilihan jawaban yang dianggap kurang tepat dan memberikan tanda silang (X) pada pilihan Anda yang tepat atau yang baru.

  Selamat Mengerjakan

  1. Saya merasa bahwa nilai-nilai saya di sekolah menurun dan saya takut dimarahi orang tua, sikap saya: a. menjelaskan kepada orang tua bahwa ada hal-hal yang membuat nilai menurun misalnya kesulitan memahami pelajaran b. memarahi orang tua karena menganggap orang tidak memahami keadaan kita c. takut bertemu dengan orang tua dan menghindari untuk berkomunikasi dengan mereka

  2. Dalam komunikasi sehari-hari antara saya dengan orang tua, maka: a.saya bisa bertukar pendapat dengan orang tua saya dari hati ke hati

  b. orang tua saya harus mengikuti pendapat saya

  c. saya enggan untuk bertukar pendapat dengan orang tua

  3. Saya ingin mengadakan pesta ulang tahun tetapi orang tua saya kurang menyukainya, maka: a. saya berusaha untuk menjelaskan alasan saya mengadakan pesta ulang tahun b. saya memaksa orang tua saya untuk mengijinkan saya mengadakan pesta ulang tahun c. saya malas berbicara dengan orang tua saya

  4. Ketika ada kerugian yang terjadi akibat konflik antara saya dengan orang tua, maka: a. saya menyadari bahwa kerugian yang terjadi akibat konflik antara saya dengan orang tua adalah disebabkan karena saya b. kerugian yang terjadi akibat konflik bukan disebabkan karena saya

  c. saya menolak untuk bertanggung jawab dengan konflik yang terjadi

  5. Orang tua saya marah karena saya jarang membantu pekerjaan rumah, sikap saya: a. menjelaskan bahwa di sekolah sudah banyak pekerjaan yang membuat lelah b. menyalahkan orang tua karena mereka tidak mengerti saya

  c. menghindari kontak dengan orang tua supaya tidak terjadi konflik

  6. Pada saat strategi konflik sudah ditetapkan, maka:

  a. saya berpegang teguh pada strategi konflik yang sudah dibuat

  b. saya berusaha menentang strategi konflik yang sudah dibuat

  c. saya malas membuat dan menjalanakan strategi konflik yang telah

  7. Orang tua memarahi saya karena nilai saya menurun, sikap saya:

  a. memberikan penjelasan kepada orang tua bahwa pelajaran saat ini sulit dan berusaha mencari solusi terbaik b. menyalahkan orang tua karena menganggap orang tua tidak mengerti kesulitan anak c. berusaha menghindar untuk tidak pulang ke rumah

  8. Saya menginginkan gadget baru tetapi orang tua saya belum mengijinkan dengan alasan takut jika digunakan untuk hal-hal yang negatif, sikap saya: a. berusaha meyakinkan orang tua saya bahwa gadget baru tersebut tidak akan saya gunakan untuk hal yang negatif b. tetap memaksa untuk dibelikan gadget baru apapun yang terjadi

  c. mogok sekolah ketika permintaan belum terpenuhi

  9. Ketika saya meminta tambahan uang saku kepada orang tua, maka saya:

  a. bisa memberikan alasan yang jelas mengapa saya meminta tambahan uang saku b. saya mengancam orang tua saya supaya ia mau memberikan tambahan uang saku c. saya meminta lewat SMS

  10.Saat saya dilarang pergi bersama teman-teman saya oleh orang tua, maka saya: a. melakukan perundingan untuk memberi alas an mengapa saya pergi dengan teman-teman b. berusaha untuk pergi dengan teman dengan cara apapun

  c. menuruti perkataan orang tua saya

  11.Ketika terjadi konflik antara saya dengan orang tua, saya sadar bahwa:

  a. konflik yang terjadi antara saya dengan orang tua adalah tanggung jawab saya secara penuh b. konflik yang terjadi antara saya dengan orang tua adalah bukan merupakan tanggung jawab saya c. saya menarik diri dari situasi konflik yang terjadi antara saya dengan orang tua

  12.Saya merencanakan strategi penyelesaian konflik dengan penuh pertimbangan supaya: b. saya memenangkan tuntutan saya

  c. saya terbebas dari konflik

  13.Sebelum melakukan perundingan dengan orang tua saya, maka saya:

  a. mempersiapkan dengan baik tempat dan isi pembicaraan

  b. memaksa orang tua untuk menyetujui pendapat saya

  c. malas melakukan perundingan dengan orang tua

  14.Saya menyusun strategi konflik dengan tujuan:

  a. orang tua saya mau diajak berunding untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi b. agar pendapat saya diterima oleh orang tua saya

  c. saya enggan menyusun strategi untuk memecahkan konflik yang sedang dihadapi

  15.Ketika orang tua mengupayakan perundingan terhadap konflik yang sedang terjadi, maka saya: a. mendukung adanya perundingan tersebut

  b. menolak untuk diajak berunding ketika terjadi konflik dengan orang tua

  c. berusaha menghindari orang tua ketika sedang berkonflik dengan mereka

  16.Saat saya ketahuan membolos sekolah lalu ditegur oleh orang tua saya, maka: a. saya menurut dengan apa nasehat orang tua dan tidak mengulangi lagi perbuatan saya b. saya tidak mendengarkan nasehat mereka karena kalau bosan lebih baik membolos saja c. saya berusaha untuk tidak bertemu dengan orang tua saya karena takut

  17.Ketika terjadi konflik antara saya dengan orang tua, maka: a.saya menyiapkan strategi untuk memecahkan konflik dengan orang tua b.saya berusaha untuk melawan strategi yang sudah dibuat untuk memecahkan konflik c.saya malas untuk menerapkan strategi penyelesaian konflik yang sudah dibuat

  18.Orang tua saya mengkritik cara berperilaku saya yang kurang sopan, tindakan saya: b. marah kepada orang tua karena menganggap bahwa mereka kuno

  c. mengabaikan kritik yang diberikan oleh orang tua saya dan menganggapnya tidak penting

  19.Orang tua menanggap saya adalah anak kecil yang belum bisa diberi tanggung jawab, sikap saya: a. meyakinkan mereka bahwa saya sudah bisa diberi tanggung jawab karena saya sudah dewasa b. memberontak kepada orang tua karena mereka memperlakukan saya seperti anak-anak c. membiarkan hal itu terjadi karena saya malas terlibat konflik

  20.Orang tua saya melarang saya berpacaran, yang saya lakukan adalah:

  a. memberikan alasan mengapa pacaran itu perlu dilakukan

  b. memberontak kepada orang tua

  c. memilih untuk melakukan backstreet demi menghindari konflik

  21.Saya merasa iri dengan saudara kandung saya karena ia lebih diperhatikan daripada saya, sikap saya: a. menjelaskan kepada orang tua mengenai perasaan saya yang sebenarnya dan mencari solusi atas permasalahan tersebut b. marah dan memberontak seharusnya saya lah yang mendapatkan perhatian lebih dari orang tua saya c. bersikap acuh tak acuh

  22.Saat berkonflik dengan orang tua, saya:

  a. tetap melakukan pekerjaan rumah karena saya sadar hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab saya b. menyuruh orang tua untuk mengerjakan pekerjaan rumah sendiri

  c. melakukan pekerjaan rumah karena takut dimarahi oleh orang tua

  23.Gaya berpakaian saya tidak disukai oleh orang tua, maka saya:

  a. melakukan perundingan dengan orang tua saya mengenai gaya trend gaya berpakaian masa kini b. mengabaikan apa yang dikatakan oleh orang tua dan tetap dengan gaya berpakaian yang sama c. mengubah gaya berpakaian saya dengan yang lebih sopan

  24.Ketika sudah terjadi kesepakatan antara saya dengan orang tua, maka saya:

  a. bersedia dengan sepenuh hati melakukan apa yang sudah disepakati b. menentang kesepakatan yang telah dibuat dengan tujuan kepentingan saya terpenuhi c. malas melakukan apaa yang sudah disepakati antara saya dengan orang tua saya ketika terjadi konflik

  25.Pada saat saya tidak diijikan pergi bersama dengan teman-teman saya, maka : a. saya membatalkan pergi dengan teman-teman saya dan menggantinya lain waktu b. saya memaksa orang tua supaya mengijinkan saya pergi

  c. saya ngambek dengan orang tua saya

  26.Ketika orang tua menghukum saya, maka:

  a. saya bersedia menanggung hukuman akibat kesalahan saya yang menyebabkan terjadinya konflik b. saya berpikir bahwa konflik yang terjadi disebabkan oleh kesalahan orang lain c. saya tidak pulang ke rumah untuk menghindari hukuman

  27.Saat saya mempunyai masalah dengan orang tua, maka saya:

  a. bisa merundingkan permasalahan tersebut dengan mereka

  b. harus menang dalam negosiasi tersebut

  c. saya malas melakukan negosiasi karena pendapat saya pasti tidak di dengarkan oleh orang tua

  28.Ketika orang tua saya memarahi saya, maka:

  a. saya tetap pergi ke sekolah karena sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai pelajar b. saya memilih untuk bolos sekolah sebagai bentuk perlawanan saya terhadap sikap orang tua c. saya tetap masuk sekolah dengan terpaksa karena takut kepada orang tua

  29.Ketika orang tua saya memberikan pendapatnya, maka:

  a. saya mendengarkan pendapat orang tua saya dengan penuh perhatian

  b. saya menentang pendapat dari orang tua saya

  c. saya bersikap acuh tak acuh terhadap pendapat dari orang tua saya

  30.Ketika orang tua saya berusaha mencari jalan keluar dari konflik yang sedang terjadi, maka saya: a. berusaha mengusahakan jalan keluar yang terbaik bagi saya dan orang tua b.mencari jalan keluar yang terbaik bagi saya

  c. membiarkan konflik yang terjadi antara saya dengan orang tua saya

  

~Harap periksa kembali jawaban Anda, jangan sampai

ada yang terlewatkan~

 Terima Kasih 

  LAMPIRAN 2 ANALISIS DATA UJI COBA SKALA KUALITAS KELEKATAN ANTARA REMAJA AWAL DENGAN ORANG TUA DAN PENYELESAIAN KONFLIK HASIL SELEKSI ITEM KUALITAS KELEKATAN

  Case Processing Summary

  97 Item5 2.1237 .80697

  97 Item16 3.1649 .77299

  97 Item15 2.4227 .82708

  97 Item14 2.2680 .69993

  97 Item13 3.3299 .62453

  97 Item12 2.0000 .73598

  97 Item11 2.4536 .97916

  97 Item10 2.3814 .79639

  97 Item9 2.7835 .86875

  97 Item8 3.3402 .65965

  97 Item7 2.6701 .77354

  97 Item6 2.5258 .89084

  97 Item4 2.7113 .76320

  N % Cases Valid 97 100.0

  97 Item3 2.7216 .74641

  97 Item2 2.6907 .69763

  Mean Std. Deviation N Item1 3.4433 .67653

  80 Item Statistics

  .868

  Cronbach's Alpha N of Items

  Reliability Statistics

  a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  .0 Total 97 100.0

  a

  Excluded

  97 Item19 2.9175 .71691

  97 Item20 3.5258 .63069

  97 Item37 2.6701 .83817

  97 Item50 3.0928 .76489

  97 Item49 2.9072 .70832

  97 Item48 2.9381 .65851

  97 Item47 3.0619 .78812

  97 Item46 3.0000 .82916

  97 Item45 3.3299 .62453

  97 Item44 2.4948 .73773

  97 Item43 2.6701 .82565

  97 Item42 3.2371 .62539

  97 Item41 2.9794 .67669

  97 Item40 3.2371 .53567

  97 Item39 1.8557 .85379

  97 Item38 2.9175 .78621

  97 Item36 3.1959 .62315

  97 Item21 3.2062 .62813

  97 Item35 3.0928 .75114

  97 Item34 1.9175 .78621

  97 Item33 2.6186 .69886

  97 Item32 3.1237 .72540

  97 Item31 3.0000 .72169

  97 Item30 3.3608 .63222

  97 Item29 3.4021 .67175

  97 Item28 3.3711 .58309

  97 Item27 2.3711 1.08320

  97 Item26 3.3711 .52677

  97 Item25 3.0103 .63729

  97 Item24 3.1237 .63341

  97 Item23 3.0309 .79652

  97 Item22 3.1237 .79396

  97 Item52 3.0722 .72525

  97 Item53 3.0309 .80950

  97 Item68 2.6186 .69886

  97 Item80 1.5979 .62349

  97 Item79 2.9381 .64250

  97 Item78 1.9691 .66854

  97 Item77 2.5258 .80484

  97 Item76 2.7835 .66500

  97 Item75 2.9588 .72050

  97 Item74 2.7320 .68489

  97 Item73 1.9381 .62607

  97 Item72 2.6289 .75443

  97 Item71 2.6495 .90186

  97 Item70 3.0309 .65278

  97 Item69 2.7423 .64997

  97 Item67 2.3814 .96224

  97 Item54 3.1134 .69035

  97 Item66 3.1959 .71646

  97 Item65 2.5258 .84277

  97 Item64 3.2268 .63746

  97 Item63 2.9897 .66919

  97 Item62 2.4639 .76461

  97 Item61 3.0412 .64416

  97 Item60 1.9072 .69346

  97 Item59 2.7526 .76418

  97 Item58 3.0412 .69098

  97 Item57 3.2062 .74914

  97 Item56 1.8144 .74063

  97 Item55 3.2371 .67350

  97

  Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted

  Item1 222.6289 290.173 .446 .864 Item2 223.3814 294.738 .237 .867 Item3 223.3505 295.043 .207 .867 Item4 223.3608 288.379 .461 .864 Item5 223.9485 295.258 .180 .868 Item6 223.5464 296.667 .112 .869 Item7 223.4021 292.576 .292 .866 Item8 222.7320 297.177 .145 .868 Item9 223.2887 289.666 .354 .865 Item10 223.6907 304.091 -.138 .872 Item11 223.6186 289.030 .328 .866 Item12 224.0722 298.068 .090 .869 Item13 222.7423 294.902 .262 .867 Item14 223.8041 297.680 .113 .868 Item15 223.6495 290.688 .338 .865 Item16 222.9072 292.023 .313 .866 Item17 223.0722 288.859 .516 .864 Item18 222.7216 290.099 .409 .865 Item19

  Item20 222.5464 292.896 .352 .866 Item21 222.8660 291.638 .413 .865 Item22 222.9485 287.654 .468 .864 Item23 223.0412 294.144 .224 .867 Item24 222.9485 291.987 .393 .865 Item25 223.0619 289.288 .517 .864 Item26 222.7010 290.795 .547 .864 Item27 223.7010 301.774 -.054 .873 Item28 222.7010 294.774 .289 .866 Item29 222.6701 291.807 .377 .865 Item30 222.7113 289.645 .504 .864 Item31 223.0722 296.630 .151 .868 Item32 222.9485 290.404 .403 .865 Item33 223.4536 291.334 .381 .865 Item34 224.1546 298.465 .067 .869 Item35 222.9794 286.875 .529 .863 Item36 222.8763 293.985 .305 .866 Item37 223.4021 292.680 .262 .867 Item38 223.1546 290.986 .347 .865 Item39 224.2165 308.234 -.269 .874 Item40 222.8351 292.889 .421 .865 Item41 223.0928 303.689 -.138 .871

  Item42 222.8351 292.889 .356 .866 Item43 223.4021 290.910 .331 .866 Item44 223.5773 292.642 .306 .866 Item45 222.7423 292.443 .378 .865 Item46 223.0722 287.338 .458 .864 Item47 223.0103 291.656 .320 .866 Item48 223.1340 292.930 .334 .866 Item49 223.1649 293.785 .272 .866 Item50 222.9794 293.750 .250 .867 Item51 222.6495 291.938 .389 .865 Item52 223.0000 292.208 .329 .866 Item53 223.0412 288.144 .440 .864 Item54 222.9588 291.582 .375 .865 Item55 222.8351 292.348 .352 .866 Item56 224.2577 309.006 -.332 .874 Item57 222.8660 296.388 .153 .868 Item58 223.0309 294.739 .240 .867 Item59 223.3196 293.782 .249 .867 Item60 224.1649 301.306 -.037 .870 Item61 223.0309 292.009 .385 .865 Item62 223.6082 288.845 .441 .864 Item63 223.0825 293.493 .304 .866

  Item64 222.8454 294.945 .253 .867 Item65 223.5464 297.625 .088 .869 Item66 222.8763 292.422 .325 .866 Item67 223.6907 296.987 .090 .869 Item68 223.4536 293.167 .303 .866 Item69 223.3299 292.140 .375 .865 Item70 223.0412 293.665 .304 .866 Item71 223.4227 294.455 .182 .868 Item72 223.4433 299.187 .044 .869 Item73 224.1340 300.617 -.005 .869 Item74 223.3402 293.435 .298 .866 Item75 223.1134 289.893 .428 .865 Item76 223.2887 290.666 .432 .865 Item77 223.5464 292.792 .271 .866 Item78 224.1031 301.843 -.060 .870 Item79 223.1340 294.305 .280 .866 Item80 224.4742 297.960 .119 .868

  Scale Statistics

  Mean Variance Std.

  Deviation N of Items 2.2607E2 300.901 17.34650

  80

  HASIL SELEKSI ITEM PENYELESAIAN KONFLIK Case Processing Summary N % Cases Valid

  97 100.0 Excluded a .0 Total 97 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  .812

  30 Item Statistics Mean Std. Deviation N Item1 2.8969 .44452

  97 Item2 2.8247 .55921

  97 Item3 2.8247 .50021

  97 Item4 2.9691 .22609

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  97 Item6 2.8144 .54639

  97 Item7 2.9691 .17402

  97 Item8 2.9485 .26501

  97 Item9 2.9072 .41035

  97 Item10 2.1856 .93908

  97 Item11 2.6392 .75257

  97

  97 Item5 2.7320 .66951 Item14 2.7423 .58235

  97 Item15 2.8247 .52062

  97 Item16 2.9588 .28568

  97 Item17 2.8763 .43917

  97 Item18 2.9588 .28568

  97 Item19 2.8660 .47057

  97 Item20 2.6495 .75057

  97 Item21 2.6082 .75769

  97 Item22 2.6598 .74842

  97 Item23 1.6082 .91920

  97 Item24 2.9588 .24654

  97 Item25 2.6598 .72005

  97 Item26 2.8969 .36755

  97 Item27 2.7320 .68489

  97 Item28 2.8557 .52021

  97 Item29 2.9588 .28568

  97 Item30 2.9485 .26501

  97 Item-Total Statistics Cronbach's

Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item

Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted

  Item1 79.8247 43.584 .164 .811 Item2 79.8969 41.010 .478 .800 Item3 79.8969 41.718 .430 .803 Item4 79.7526 43.917 .259 .810 Item5 79.9897 40.469 .449 .800 Item6 79.9072 41.460 .424 .802 Item7 79.7526 44.334 .164 .811 Item8 79.7732 44.198 .135 .811 Item9 79.8144 44.840 -.048 .817

  Item11 80.0825 41.014 .328 .807 Item12 80.3918 39.178 .396 .804 Item13 79.8041 42.492 .435 .804 Item14 79.9794 40.666 .503 .799 Item15 79.8969 40.802 .552 .798 Item16 79.7629 43.849 .215 .810 Item17 79.8454 41.695 .504 .801 Item18 79.7629 44.266 .104 .812 Item19 79.8557 42.875 .267 .808 Item20 80.0722 40.484 .387 .803 Item21 80.1134 39.768 .461 .800 Item22 80.0619 39.496 .498 .798 Item23 81.1134 42.143 .147 .820 Item24 79.7629 43.683 .307 .809 Item25 80.0619 41.121 .336 .806 Item26 79.8247 43.229 .286 .808 Item27 79.9897 39.656 .536 .796 Item28 79.8660 41.471 .448 .802 Item29 79.7629 43.766 .237 .810 Item30 79.7732 43.844 .237 .810

  Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 82.7216 44.745 6.68914

  30

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara pola asuh orang tua dengan sibling Rivalry remaja awal pada siswa kelas 2 SMPN 182 Jakarta
2
14
133
Hubungan antara pola komunikasi orang tua - remaja dengan konsep diri remaja
4
11
129
Hubungan antara persepsi pengawasan orang tua bekerja dan perilaku seksual remaja di Batam.
0
2
151
Hubungan antara gaya kelekatan dengan konsep diri pada remaja di panti asuhan.
2
18
153
Hubungan antara intensitas penggunaan smartphone pada orang tua dengan persepsi kualitas komunikasi interpersonal antara orang tua dan anak pada masa kanak-kanak awal.
12
38
137
Hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan asertivitas remaja akhir.
0
2
134
Hubungan antara kualitas kelekatan pasutri dengan strategi manajemen konflik [positive problem solving] dalam pernikahan.
0
4
176
Hubungan antara gaya atribusi orang tua dan remaja dengan depresi pada remaja - Ubaya Repository
0
0
1
Hubungan antara persepsi remaja terhadap harapan orang tua dengan prestasi belajar matematika - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
37
Hubungan antara movitasi belajar, fasilitas belajar, dan perhatian orang tua dengan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Akuntansi - USD Repository
0
0
153
Hubungan antara persepsi pola asuh orang tua demokratis dengan prestasi akademik pada remaja siswa SMP Negeri 3 Depok Yogyakarta - USD Repository
0
0
131
Hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja - USD Repository
0
0
122
Hubungan antara kelekatan dan tendensi untuk merawat orang tua lanjut usia pada individu dewasa tengah - USD Repository
0
0
157
Perbedaan kualitas komunikasi antara remaja akhir putra dan remaja akhir putri dengan ibunya - USD Repository
0
0
103
Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal - USD Repository
0
1
192
Show more