HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DAN KOMITMEN ORGANISASI PADA SUPIR TAKSI BERBASIS KONVENSIONAL

Gratis

0
0
144
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DAN KOMITMEN ORGANISASI PADA SUPIR TAKSI BERBASIS KONVENSIONAL SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh : Anggraini Ekowati Esthi Bringintyas 139114123 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” Filipi 4:13 “Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang” Amsal 23:18 “Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil” (Unknown) “Setiap orang mempunyai zona waktunya masing-masing, mungkin bukan sekarang atau besok atau lusa. Percaya semuanya akan dijadikanNYA indah pada waktunya” (Unknown) iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Tuhan Yesus yang tidak pernah sedikitpun meninggalkanku selama proses pembuatan karya ini. Tuhan Yesus yang selalu memberi harapan, kesehatan, kelancaran dalam setiap langkahku untuk menyelesaikan karya ini. Mama Suyanti yang sudah bahagia di surga bersama Bapa , Mama yang selalu memotivasiku dan pengingat untuk tidak pernah menyerah. Gervasius Damario Petra Wasiso anakku yang membuatku semangat menyelesaikan karya ini. Aloysius Yuni Tri Purnomo suamiku yang tiada hentinya menemaniku disaat senang ataupun susah untuk menyelesaikan karya ini. Papa, Adik, dan sahabat terkasihku yang selalu memberikan energi positif disaat mulai menyerah. Semua mahasiswi yang sedang mengerjakan skripsi sekaligus menjadi ibu untuk anaknya. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DAN KOMITMEN ORGANISASI PADA SUPIR TAKSI KONVENSIONAL Anggraini Ekowati Esthi Bringintyas ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dan komitmen organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensioal. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif signifikan antara Adversity Quotient dan komitmen organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analisis korelasi two tailed menggunakan program SPSS for Windows 22. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Adversity Quotient dan skala komitmen organisasi. Skala Adversity Quotient memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,816 dan skala komitmen organisasi memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,772. Penelitian ini tidak memenuhi uji asumsi karena data penelitian tidak linier sebesar (0,070, p>0,05). Namun, penelitian ini menggunakan analisis data tambahan. Teknik analisis data tambahan menggunakan uji korelasi Spearman’s Rho antar dimensi Adversity Quotient dan aspek komitmen organisasi karena sebaran data bersifat tidak normal. Hasil analisis tambahan penelitian ini adalah dimensi daya tahan pada Adversity Quotient berkorelasi tetapi lemah dengan aspek afektif pada komitmen organisasi (r= 0,28). Selain itu, dimensi daya tahan pada Adversity Quotient berkorelasi tetapi lemah dengan aspek normatif pada komitmen organisasi (r= 0,23). Kata Kunci : adversity quotient, komitmen organisasi, supir taksi berbasis konvensional. vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CORRELATION BETWEEN ADVERSITY QUOTIENT AND ORGANIZATIONAL COMMITMENT IN CONVENTIONAL TAXI DRIVER Anggraini Ekowati Esthi Bringintyas ABSTRACT This research was aimed to determine the correlation between Adversity Quotient and organizational commitment in conventional taxi driver. The hypothesis in this research was there is a positive and significant correlation between Adversity Quotient and organizational commitment in conventional taxi driver. This research use quantitative method with two-tailed correlation analysis method using SPSS for Windows 22. The Data collecting measurement used on this research was Adversity Quotient scale and organizational commitment scale. The Adversity Quotient scale alpha cronbach reliability coefficient was 0,816, and organizational commitment scale alpha cronbach reliability coefficient was 0,772. This research doesn’t fulfill the assumption test because the data was not linear (0,070, p>0,05). However, this research use Spearman’s Rho correlation as additional data analysis between each of Adversity Quotient dimension and aspect of organizational commitment. The result of the additional data analysis was the endurance dimension of Adversity Quotient had low correlation with affective aspect of organizational commitment (r=0,28). This additional data analysis also found that endurance dimension of Adversity Quotient had low correlation with normative aspect of organizational commitment (r=0,23). Keywords: adversity quotient, organizational commitment, conventional taxi driver. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yesus atas yang telah memberikan berkatnya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan positif signifikan antara Adversity Quotient dan komitmen organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional. Selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang telah membantu, membimbing, serta mendoakan saat proses penyelesaian karya ini. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada : 1. Tuhan Yesus yang menjadi kekuatan dan penolong dalam proses penulisan skripsi ini. 2. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M. Psi., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Monica Eviandaru M., M. Psych., Ph.D., Ketua Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 4. Ibu Passchedona Henrietta Puji Dwi Astuti Dian Sabati S.Psi., M.A.selaku dosen pembimbing skripsi yang telah mendampingi, membimbing dengan sabar, dan memberi masukan dengan penuh empati dalam proses penulisan skripsi. TERIMAKASIH MBAK ETHAK  5. Bapak Drs. Hadrianus Wahyudi M.si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan, arahan dan dukungan selama menjalani masa studi. 6. Seluruh karyawan dan staff di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Mama Suyanti yang sudah bahagia bersama Bapa di surga yang selalu membuatku tidak pernah menyerah dengan kesulitan apapun demi anak. Terimakasih mama sudah memberikan segala apa yang mama punya untuk kuliah ini. 8. Anakku Mario yang selalu memotivasi aku untuk menyelesaikan karya ini tanpa mengeluh. Love u so much! 9. Suamiku Luis yang selalu setia mendampingi dan mendorongku dikala menemui kesulitan. I Love u pa! Terimakasih pa. 10. Sahabatku Kevin Irwanto yang mendampingi dari awal sampai akhir karya ini diselesaikan. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan uang untuk membantuku. 11. Keluargaku Shinta, Papa Heri, Pakde Yudi, Mbak Warti, Mbah Giman, Ibu mertua, Bapak mertua, Mbak Lani, Mbak Meli yang selalu menyemangati, menasehati, dan mendoakanku tiada henti. Terimakasih semuanya. 12. Sahabatku Elizabeth, Adininta, Redita, Sofia, Sekar, Caca, Chila, mbak Reka, mas Bimo, mas Edo. Terimkasih kalian sudah memberiku dukungan yang luar biasa, tempatku berbagi kesedihan, kebahagiaan, tempat curhat dan selalu perhatian denganku. 13. Seluruh supir taksi yang menjadi responden dalam penelitian ini dan yang membantu menyebarkan skala. Terutama mas Pardi, terimakasih waktunya dalam meluangkan waktu untuk mengisi dan menyebarkan skala. Skripsi tidak akan selesai tanpa kalian. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. Untuk semua wanita disekelilingku yang sudah menjadi seorang ibu. Terutama mahasiswi yang sekaligus menjadi ibu. Terimakasih sudah menginspirasiku, menjadi contoh betapa harus kuatnya seorang ibu karena anaknya, pintar membagi waktu dan panjang sabar. 15. Untuk semua orangtua yang sedang berjuang untuk anaknya dalam keterbatasannya. Keteguhan dan ketelusan orangtua untuk menjamin masa depan anaknya menjadi teladan bagiku. Yogyakarta, 15 Desember 2018 Penulis, Anggraini Ekowati Esthi Bringintyas xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii HALAMAN MOTTO ......................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vi ABSTRAK ........................................................................................................... vii ABSTRACT .......................................................................................................... viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN .................................................. ix KATA PENGANTAR ......................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiii DAFTAR TABEL ............................................................................................... xvii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xx DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xxi BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 9 C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 9 1. Manfaat Teoritis ................................................................................. 9 2. Manfaat Praktis .................................................................................. 9 BAB II DASAR TEORI ...................................................................................... 11 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI A. Komitmen Organisasi................................................................................ 11 1. Pengertian Komitmen Organisasi ....................................................... 11 2. Dimensi Komitmen Organisasi ........................................................... 13 3. Faktor yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi ............................ 16 B. Adversity Quotient ..................................................................................... 17 1. Pengertian Adversity Quotient ............................................................ 17 2. Dimensi Adversity Quotient ................................................................ 19 3. Tiga Tingkat Kesulitan pada Adversity Quotient ............................... 23 4. Manfaat Adversity Quotient ............................................................... 25 C. Supir Taksi Berbasis Konvensional ......................................................... 28 D. Dinamika Adversity Quotient dengan Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional .......................................................... 31 E. Skema Penelitian ...................................................................................... 34 F. Hipotesis ................................................................................................... 35 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 36 A. Jenis Penelitian ......................................................................................... 36 B. Identifikasi Varabel Penelitian ................................................................. 36 C. Definisi Operasional.................................................................................. 36 1. Adversity Quotient ............................................................................... 36 2. Komitmen Organisasi ......................................................................... 37 D. Subjek Penelitian ...................................................................................... 37 E. Metode dan Pengumpulan Data ................................................................ 38 1. Adversity Quotient .............................................................................. 38 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Komitmen Organisasi ......................................................................... 39 F. Vaiditas dan Realibilitas .......................................................................... 41 1. Validitas ............................................................................................. 41 2. Seleksi Item ........................................................................................ 42 a. Skala Adversity Quotient .............................................................. 44 b. Skala Komitmen Organisasi ......................................................... 45 3. Realibilitas ......................................................................................... 45 G. Analisis Data ............................................................................................ 47 1. Uji Asumsi ......................................................................................... 47 a. Uji Normalitas .............................................................................. 47 b. Uji Linearitas ................................................................................ 47 2. Uji Hipotesis ...................................................................................... 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 49 A. Pelaksanaan Penelitian ............................................................................. 49 B. Deskripsi Subjek Penelitian ...................................................................... 49 C. Deskripsi Data Penelitian ......................................................................... 51 D. Hasil Penelitian ........................................................................................ 54 1. Uji Asumsi ......................................................................................... 54 a. Uji Normalitas .............................................................................. 54 b. Uji Linearitas ................................................................................ 56 2. Uji Hipotesis ...................................................................................... 57 E. Analisis Data Tambahan .......................................................................... 57 F. Pembahasan .............................................................................................. 76 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 82 A. Kesimpulan ............................................................................................... 82 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 82 C. Saran ......................................................................................................... 82 1. Bagi Subjek Penelitian ....................................................................... 82 2. Bagi Penelitian Selanjutnya ............................................................... 83 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 84 DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... 90 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Sebaran Item Skala Adversity Quotient .................................................. 39 Tabel 2. Skor Respon Pada Variabel Adversity Quotient .................................... 40 Tabel 3. Sebaran Item Skala Komitmen Organisasi ............................................. 40 Tabel 4. Skor Respon Pada Variabel Komitmen Organisasi ................................ 41 Tabel 5. Sebaran Item Skala Adversity Quotient Setelah Seleksi Item ................. 44 Tabel 6. Sebaran Item Skala Komitmen Organisasi Setelah Seleksi Item ............ 45 Tabel 7. Deskripsi Jenis Kelamin Subjek ............................................................ 50 Tabel 8. Deskripsi Usia Subjek ............................................................................ 50 Tabel 9. Deskripsi Data Empirik Adversity Quotient............................................ 52 Tabel 10. Deskripsi Data Empirik Komitmen Organisasi .................................... 53 Tabel 11. Hasil Uji Normalitas Adversity Quotient .............................................. 55 Tabel 12. Hasil Uji Normalitas Komitmen Organisasi ......................................... 55 Tabel 13. Hasil Uji Linearitas Adversity Quotient dan Komitmen Organisasi .... 56 Tabel 14. Hasil Uji Normalitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient .. 58 Tabel 15. Hasil Uji Normalitas Aspek Afektif dan Komtmen Organisasi ........... 58 Tabel 16. Hasil Uji Linearitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Afektif dari Komitmen Organisasi ............................ 59 Tabel 17. Hasil Uji Korelasi Sperman’s Rho Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Afektif dari Komitmen Organisasi ............................................................................................ 60 Tabel 18. Hasil Uji Normalitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient ... 60 Tabel 19. Hasil Uji Normalitas Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi ...... 61 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 20. Hasil Uji Linearitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi ......................... 62 Tabel 21. Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi ............................................................................................ 63 Tabel 22. Hasil Uji Normalitas Dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient ..... 63 Tabel 23. Hasil Uji Normalitas Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi ...... 64 Tabel 24. Hasil Uji Linearitas Dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi ......................... 65 Tabel 25. Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho Jangkauan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi .......... 66 Tabel 26. Kategori Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional ........................................................................................ 67 Tabel 27. Kategori Dimensi Afektif dari Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional ............................................................... 68 Tabel 28. Kategori Dimensi Kontinum dari Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional ...................................................... 69 Tabel 29. Kategori Dimensi Normatif dari Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional ...................................................... 70 Tabel 30. Kategori Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional ........................................................................................ 71 Tabel 31. Kategori Dimensi Kendali dari Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional ............................................................... 72 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 32. Kategori Dimensi Asal-Usul dan Pengakuan dari Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional .............................. 73 Tabel 33. Kategori Dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional ............................................................... 74 Tabel 34. Kategori Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional ...................................................... 75 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Scatterplot Hubungan antara Adversity Quotient dan Komitmen Organisasi ..........................................................................................123 xx

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Skala Penelitian ................................................................................ 91 Lampiran 2. Reliabilitas Skala Adversity Quotient dan Skala Komitmen Organisasi ........................................................................................ 102 Lampiran 3. Hasil uji Mean Teoritik dan Mean Empirik ..................................... 107 Lampiran 4. Hasil Uji Normalitas Adversity Quotient dan Komitmen Organisasi ....................................................................................... 110 Lampiran 5. Hasil Uji Linearitas ........................................................................... 112 Lampiran 6. Hasil Uji Normalitas Analisis Data Tambahan ................................ 114 Lampiran 7. Hasil Uji Linearitas Analisis Data Tambahan .................................. 116 Lampiran 8. Hasil Uji Korelasi Analisis Data Tambahan ................................... 119 Lampiran 9. Gambar ............................................................................................ 122 xxi

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu dampak dari perkembangan tekonologi yang semakin canggih terlihat dari munculnya layanan transportasi umum berbasis online ini mulai masuk di Indonesia sejak tahun 2014. Go-Jek merupakan aplikasi pertama yang memprakarsai layanan transportasi umum berbasis online yang diikuti dengan adanya aplikasi Grab dan Uber (Pratama, 2017). Gejolak adanya layanan transportasi umum berbasis online ini membuat semakin ketatnya persaingan antar perusahaan transportasi di Indonesia. Persaingan ini semakin memanas saat adanya taksi-taksi berbasis aplikasi online yang terjun dalam industri jasa layanan transportasi umum (Agustian, 2017). Kehadiran taksi berbasis aplikasi online ini sudah mencapai 11.000 armada dan mengancam keberadaan perusahaan taksi berbasis konvensional. Padahal persaingan pada perusahaan penyedia jasa transportasi taksi berbasis konvensional sendiri sudah sangat terlihat. Ketua DPD Organda Daerah Istimewa Yogyakarta mengatakan bahwa jumlah armada taksi berbasis konvensional yang beroperasi di Yogyakarta sudah sebanyak 1.025 dengan 20 perusahaan taksi berbasis konvensional (Widiyanto, 2018). PT. Express Transindo Utama Tbk. mencatat kerugian perusahaan taksi berbasis konvensional ini mencapai Rp. 81.805 miliar pada tahun 2016 (Mohammad, 2016). Sedangkan, kerugian juga dialami perusahaan taksi berbasis konvensional di Yogyakarta yang ditunjukkan dengan menurunnya pendapatan 1

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 operasional taksi. Data pendapatan operasional taksi berbasis konvensional di Yogyakarta menurun dari 330 juta rupiah pada tahun 2016 menjadi 150 juta rupiah pada tahun 2018 (Razak, 2019). Salah satu penyebab kerugian perusahaan taksi berbasis konvensional berasal dari turunnya jumlah setoran uang dari supir taksi berbasis konvensional di Yogyakarta. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Alex Bendahara Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY, yang melaporkan bahwa supir taksi berbasis konvensional yang biasanya dapat menyetorkan uang sebanyak Rp.275.000 sekarang hanya Rp.110.000 bahkan Rp.100.000 dengan rentang waktu kerja selama sehari semalam (Saraswati, 2019). Selain itu, supir taksi berbasis konvensional juga merasa dirugikan dengan adanya taksi berbasis aplikasi online karena menggunakan kendaraan pribadi. Penggunaan kendaraan pribadi ini menyebabkan tarifnya lebih murah karena tidak menanggung biaya pajak sebagai kendaraan umum yang dibebankan kepada konsumen (Sabadar, 2017). Akibat adanya kerugian-kerugian yang dirasakan oleh supir taksi berbasis konvensional di Yogyakarta, mereka melakukan aksi demo menolak adanya taksi berbasis online di Yogyakarta. Alex Bendahara Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY juga menyatakan bahwa tujuan aksi ini agar mengontrol jumlah taksi berbasis online di Yogyakarta yang jumlahnya semakin banyak sehingga perusahaan taksi berbasis konvensional tetap hidup (Saraswati, 2019). Ditengah situasi yang mendesak supir taksi berbasis konvensional ini, terdapat supir taksi berbasis konvensional di Yogyakarta yang enggan beralih menjadi supir taksi berbasis aplikasi online. Hal ini dibuktikan dengan

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 wawancara terhadap beberapa supir taksi berbasis konvensional di Yogyakarta yakni J dan D yang menyatakan bahwa mereka tidak mau beralih menjadi supir taksi berbasis aplikasi online (Zamzami, 2016). Sikap supir taksi berbasis konvensional di Yogayakarta yang memilih enggan beralih bekerja dari taksi berbasis konvensional ke taksi berbasis online ini karena mereka mempunyai alasan tertentu. Hal ini dibuktikan melalui wawancara yang dilakukan pada tanggal 15 Maret 2017 di Hartono Mall Yogyakarta dengan beberapa supir taksi berbasis konvensional berisinial H, W, N, J, K. Hasil wawancara tersebut menyatakan bahwa supir taksi berbasis konvensional enggan beralih disebabkan karena perusahaan taksi berbasis konvensional di Yogyakarta sangat mempermudah seseorang bergabung menjadi supir dengan syarat mempunyai pengalaman menyupir dan sim A umum saja. Selain itu, perusahaan taksi berbasis konvensional di Yogyakarta menyediakan kendaraan mobil, menyediakan jasa asuransi untuk kerusakan kendaraan mobil, mendapatkan komisi setiap setoran, mempunyai pelanggan tetap, dan dibantu oleh operator untuk setiap melakukan pelayanan dengan pelanggan. Sedangkan hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 27 Mei 2017 di Ambarukma Plaza Yogyakarta dengan supir taksi berbasis online, mereka harus menyediakan kendaraan mobil dengan kriteria keluaran terbaru minimal tahun 2012, tidak mendapat bantuan operator untuk melakukan pelayanan dengan pelanggan, dan mendapatkan bonus saat mencapai point tertentu saja. Keengganan seseorang untuk beralih ke perusahaan lain atau keinginan seseorang untuk bertahan dalam suatu perusahaan disebut dengan komitmen

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 organisasi. Meyer & Allen (1997) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai kondisi psikologis yang menunjukkan adanya hubungan antara pegawai dengan organisasi dan mempengaruhi keputusan pegawai untuk tetap menjadi anggota organisasi. Bathaw & Grant (dalam Sopiah, 2008) menyatakan komitmen organisasi sebagai keinginan karyawan untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi dan bersedia melakukan usaha yang tinggi demi pencapaian tujuan organisasi. Hal ini sejalan dengan definisi dari Robbins dan Judge (2017) yang mendefinisikan bahwa komitmen organisasi merupakan sejauh mana seorang karyawan mengidentifikasikan diri dengan organisasi tertentu dengan tujuan untuk mempertahankan keanggotaannya dalam suatu organisasi. Meyer dan Allen (1997) menjelaskan bahwa terdapat tiga dimensi yang dapat membentuk komitmen organisasi yaitu komitmen afektif, komitmen kontinum dan komitmen normatif. Komitmen afektif berkaitan dengan kelekatan emosi karyawan terhadap organisasi, mengidentifikasikan dirinya, dan menunjukkan keikutsertaan mereka terhadap organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen afektif yang tinggi cenderung untuk menlanjutkan pekerjaannya dengan organisasi karena mereka menginginkan hal tersebut. Mereka akan merasa bahagia ketika bekerja, menikmati pekerjaan, terikat secara emosional, dan merasa terikat dan menjadi bagian dalam perusahaan. Komitmen kontinum berkaitan dengan kesadaran yang dimiliki karyawan mengenai kerugian yang akan dihadapi apabila mereka meninggalkan organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen kontinum yang tinggi akan mempertahankan komitmen tersebut karena mereka akan mengalami kerugian jika meninggalkan

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 perusahaan, mendapatkan fasilitas dari perusahaan, dan belum tentu akan mendapatkan perusahaan yang lebih baik. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap supir taksi berbasis konvensional, dapat disimpulkan bahwa supir taksi berbasis konvensional ketika meninggalkan perusahaan tidak akan mendapatkan pemasukan komisi yang pasti didapat saat bekerja. Selain itu, supir taksi berbasis konvensional belum tentu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari supir taksi, karena hanya memiliki keterampilan menyupir dan sim A saja. Hal ini menyebabkan supir taksi berbasis konvensional di Yogyakarta memiliki komitmen kontinum yang tinggi sehingga tetap bertahan didalam perusahaan taksi berbasis konvensional di Yogyakarta. Komitmen normatif berkaitan dengan perasaan mengenai kewajiban untuk tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Karyawan yang memiliki komitmen normatif tinggi cenderung merasa bahwa mereka harus tetap bersama dengan organisasi dan memiliki loyalitas terhadap perusahaan. Komitmen organisasi memiliki beberapa dampak positif bagi perusahaan. Menurut Riggio (2008) seseorang yang mempunyai komitmen tinggi akan menunjukkan tingkat absen dan turnover rendah dan sikap pegawai yang positif terhadap pekerjaan dan organisasinya. Fitriastuti (2013) menunjukkan bahwa komitmen organisasi yang tinggi menunjukkan performansi kerja yang optimal, sehingga dapat memberikan kontribusi kepada organisasinya. Kontribusi tersebut berupa pegawai akan tetap menjadi anggota organisasi dengan terus meningkatkan performasi kerjanya dengan tujuan untuk kemajuan organisasi. Selain itu, komitmen yang tinggi memunculkan perilaku kerjasama antar karyawan dan sifat

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 sosial karyawan, sehingga menambah kekompakan dan kenyamanan dalam bekerja (Pareke, 2004). Penelitian Mathieu dan Zajac (1990) bertujuan untuk mengkaji hasil penelitian secara empirik tentang anteseden, korelasi dan dampak komitmen organisasi menggunakan metode meta-analisis. Penelitian Mathieu dan Zajac (1990) ini menyatakan bahwa terdapat empat anteseden komitmen organisasi. Salah satu anteseden komitmen organisasi tersebut yaitu karakteristik pekerjaan. Karakteristik ini menjelaskan adanya hubungan positif antara komitmen organisasi dengan tantangan atau kesulitan kerja. Tantangan kerja penting untuk dihadapi karena memicu karyawan memiliki karakteristik rasa ingin tahu, berkompeten dan jeli terhadap permasalahan. Karyawan yang memiliki karakteristik tersebut akan berfokus pada penyelesaian masalah sehingga karyawan akan melihat bahwa tantangan kerja merupakan kesempatan untuk memiliki kemampuan baru dan berkembang dengan menunjukkan kemampuan baru tersebut dalam menghadapi permasalahan serta bertahan di dalam perusahaan (Broeck et all, 2010). Sedangkan, karyawan yang tidak mampu menghadapi tantangan kerja akan cenderung kehilangan kesempatan untuk memiliki kemampuan dan berkembang karena karyawan memandang tantangan kerja sebagai penghambat dalam bekerja sehingga karyawan merasa kelelahan dan burnout akan pekerjaannya. Hal ini berarti bahwa komitmen organisasi seseorang dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menghadapi tantangan atau kesulitan di tempat kerja. Menurut Stoltz (2007) Tantangan atau kesulitan terdiri dari tiga tingkatan yaitu tantangan atau kesulitan di masyarakat,

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 tempat kerja dan individu. Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menghadapi tantangan atau kesulitan di tempat kerja disebut Adversity Quotient. Adversity quotient adalah kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi dan menghadapi kesulitan, sekaligus bagaimana ia dapat bertahan di tengah kesulitan (Stoltz, 2007). Selain itu, Agustian (2011) mendefinisikan Adversity Quotient sebagai kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup. Contoh dari Adversity Quotient pada supir taksi berbasis konvensional di Yogyakarta yaitu munculnya teknologi digital didunia transportasi yang cara pengoperasian aplikasi onlinenya dianggap sulit untuk dipelajari namun mereka masih sanggup bertahan. Hal ini didukung dengan masih adanya supir taksi berbasis konvensional yang beroperasi sebanyak 1.025 taksi serta berupaya untuk membuat aplikasi online dan pelatihan penggunaan untuk taksi berbasis konvensional. Seseorang yang memiliki Adversity Quotient tinggi dalam konteks perusahaan maka ia akan memiliki kepuasan kerja yang tinggi pula, sehingga tingkat burnout pada karyawan rendah (Robbins, 2002). Selain itu, Adversity Quotient yang tinggi akan membantu individu memperkuat kemampuan dan ketahanan kerja karyawan dalam menghadapi permasalahan dan tantangan hidup sehari- hari dengan memegang prinsip dan impian yang dimiliki tanpa menghiraukan apapun yang terjadi, sehingga kemungkinan karyawan keluar dari organisasi tempat ia bekerja bisa diminimalisir (Stoltz, 2007). Berbeda dengan seseorang yang memiliki Adversity Quotient yang rendah maka ia akan mempunyai karakteristik sebagai pribadi yang pesimis sehingga

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 cenderung melarikan diri dari permasalahan yang ditemui dan berakhir pada keluarnya karyawan dari perusahaan (Stoltz, 2007). Seseorang dengan Adversity Quotient yang rendah dalam hal bekerja menunjukkan sedikit ambisi dan semangat kerja yang minim sehingga keinginan untuk memberikan tenaga dan tanggungjawab yang lebih tinggi dalam menyokong kesejahteraan dan keberhasilan tujuan organisasi perusahaan rendah (Steers & Porters, 1983). Selain itu, seseorang dengan Adversity Quotient yang rendah mempunyai kreativitas yang sempit sehingga sulit menemukan cara atau metode untuk meraih kesuksesan yang berdampak turunnya tanggungjawab karyawan mengerjakan halhal diluar tugas (Stoltz,2007). Karakter yang ditunjukkan pekerja dengan Adversity Quotient yang rendah ini justru menjadi beban perusahaan. Melihat kelebihan dan kekurangan Adversity Quotient yang berdampak pada beberapa aspek kehidupan dalam bekerja, maka Adversity Quotient menjadi hal yang penting untuk dimiliki karyawan. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, Adversity Quotient berperan penting untuk mencapai keberhasilan tujuan perusahaan. Hal itu menunjukkan bahwa Adversity Quotient yang tinggi akan membuat seseorang memiliki ketahanan seseorang dalam mengahapi masalah di suatu perusahaan sehingga enggan beralih ke perusahaan lain (Mathieu dan Zajac,1990). Keengganan beralih ke perusahaan lain inilah yang menjadi prinsip utama dari komitmen organisasi (Bathaw & Grant dalam Sopiah, 2008). Selain itu, penelitian Brickman, Dunkel-Schetter, dan Abbey (1987) menyatakan bahwa Adversity Quotient sarana pengembangan komitmen dan mendorong seseorang untuk mencari dan memperoleh dasar untuk berkomitmen. Oleh sebab

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 itu, penelitian yang dilakukan akan melihat hubungan antara komitmen organisasi dengan Adversity Quotient pada supir taksi berbasis konvensional. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pemaparan tersebut, peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara Adversity Quotient dan komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional ? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan Adversity Quotient dan komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini memiliki kontribusi dalam menambah wawasan dalam bidang psikologi industri organisasi terutama tentang Adversity Quotient dan komitmen organisasi. 2. Manfaat Praktis 2.1. Bagi perusahaan Manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan sebagai bahan evaluasi permasalahan yang dihadapi pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa, khususnya masalah yang terkait Adversity Quotient dan komitmen organisasi karyawan.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 2.2. Bagi subjek penelitian Dari sudut pandang karyawan, manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai dasar untuk melakukan evaluasi dan refleksi diri terkait dengan Adversity Quotient karyawan tersebut.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II DASAR TEORI Dalam bab ini, peneliti akan membahas mengenai variabel komitmen organisasi dan Adversity Quotient. Kedua variabel tersebut akan dijabarkan mulai dari definisi, dimensi, faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi dan manfaat Adveristy Quotient. Kemudian peneliti akan menjelaskan mengenai dinamika hubungan antara komitmen organisasi dan Adversity Quotient pada supir taksi berbasis konvensional. Setelah itu, peneliti akan meringkas dari keseluruhan pembahasan dan menyertakan bagan untuk membantu mempermudah pembaca memahami isi ringkasan. Terakhir, peneliti menuliskan hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini. A. Komitmen Organisasi Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai komitmen organisasi yang terdiri dari pengertian, dimensi, dan faktor dari komitmen organisasi. 1. Pengertian Komitmen Organisasi Meyer dan Allen (1997) menjelaskan komitmen organisasi merupakan karakteristik hubungan antara anggota organisasi dengan organisasinya serta memiliki pengaruh pada keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Pendapat yang serupa dikemukakan oleh O’Reilly (1986) yang mengatakan bahwa komitmen karyawan pada organisasi sebagai ikatan psikologis individu terhadap organisasi yang mencakup keterlibatan kerja, kesetiaan, dan 11

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 perasaan percaya terhadap nilai-nilai organisasi. Selain itu, Luthans (1995) juga mendefinisikan komitmen organisasi adalah sebuah sikap mengenai loyalitas seorang karyawan terhadap organisasi dan hal tersebut merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Luthans menyatakan bahwa karyawan yang memiliki komitmen terhadap perusahaannya akan mempunyai keinginan menuju level keahlian yang lebih tinggi atas nama organisasi, mempertahankan keanggotaannya, dan memiliki kepercayaan serta penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi. Riggio (2008) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai perasaan dan sikap yang dimiliki pekerja terhadap organisasi secara keseluruhan. Pendapat yang serupa dikemukakan oleh Hui dan Lee (2000) memaparkan bahwa komitmen organisasi mencerminkan sejauh mana responden merasa setia, peduli, dan bangga pada organisasi yang diikuti. Selain itu, Robbin dan Judge (2017) mendefinisikan komitmen organisasi merupakan sejauh mana seorang karyawan mengidentifikasikan diri dengan organisasi tertentu dengan tujuan untuk mempertahankan keanggotaannya dalam suatu organisasi. Komitmen organisasi menurut Mowday, Steers dan Porter (1982) adalah keinginan anggota organisasi untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi dan bersedia berusaha keras untuk mencapai tujuan organisasi. Kreitner dan Kinicki (1991) menyatakan bahwa komitmen organisasi sebagai tingkat dimana individu memihak kepada organisasi dan mengikatkan diri pada tujuan organisasi. Rogg, Schmidt, Shull dan Schmidt (2000) menyatakan

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 bahwa komitmen organisasi mengacu pada sejauh mana pegawai akan mendukung tujuan dan kesejahteraaan organisasi. Wiener (1982) mengungkapkan bahwa komitmen organisasi di definisikan sebagai dorongan dari dalam individu untuk melakukan sesuatu agar dapat menunjang keberhasilan organisasi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dan lebih mengutamakan kepentingan organisasi Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa komitmen organisasi merupakan ikatan psikologis karyawan terhadap organisasi yang ditandai dengan menerima tujuan-tujuan organisasi, adanya kesetiaan serta kepercayaan, dan bersedia mempertahankan keanggotaannya di dalam organisasi. 2. Dimensi Komitmen Organisasi Meyer & Allen (1997) menjelaskan bahwa komitmen organisasi yang terdiri dari dimensi afektif, kontinum dan normatif sebagai ini satu kesatuan yang utuh atau disebut dengan multidimensi. Meyer & Allen (1997) membedakan komitmen organisasi menjadi 3 dimensi, yaitu: a. Komitmen Afektif Komitmen afektif merupakan keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi karena keterikatan emosi dan keterlibatan dengan organisasi tersebut. Karyawan yang memiliki komitmen afektif yang tinggi akan mengidentifikasi dirinya dengan organisasi, menerima tujuan dan nilai- nilai yang organisasi, dan lebih bersedia untuk mengerahkan usaha

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 ekstra atas nama organisasi (Mowday et al dalam Colquite, Le Pine & Wesson, 2015). Melalui identifikasi dirinya dengan organisasi, pegawai akan melihat keanggotaan organisasi sebagai penting untuk diri mereka. Komitmen afektif juga mencerminkan ikatan emosional untuk organisasi, maka secara natural mempengaruhi ikatan emosional antara rekan kerja (Mathieu & Zajac dalam Collquite, Le Pine & Wesson, 2015). Selain itu, komitmen afektif ini ditandai dengan keyakinan kuat dan penerimaan akan tujuan dan nilai-niai organisasi, kemauan untuk melakukan usaha atas nama organisasi, dan keinginan yang kuat untuk tetap menjadi bagian dari organisasi (Levy, 2010). Komitmen afektif ini dapat terbentuk dari pengalaman pegawai di organisasi tersebut sehingga menghasilkan perasaan yang nyaman dan sesuai dengan dirinya. b. Komitmen Kontinum Keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi karena kesadaran yang berkaitan dengan biaya meninggalkan organisasi tersebut. Komitmen kontinum terjadi ketika ada keuntungan terkait dengan tetap tinggal dan biaya yang terkait dengan meninggalkan organisasi (Kanter dalam Collquite, Le Pine & Wesson, 2015). Namun, karyawan yang memiliki komitmen kontinum tinggi dapat

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 menimbulkan kesulitan untuk mengubah organisasi karena adanya hukuman yang terkait dengan hal mengganti (Stebbins dalam Collquite, Le Pine & Wesson, 2015). Salah satu faktor yang meningkatkan komitmen kontinum adalah jumlah total investasi (dalam hal waktu, tenaga, energi, kesempatan dll), dimana pegawai telah dibuat menguasai peran pekerjaan mereka atau menjalankan tugas organisasi mereka (Becker dalam Collquite, Le Pine & Wesson, 2015). Karyawan yang memiliki komitmen kontinum ini memiliki prinsip “apa yang terbaik untuk saya” bukan karena rasa tertarik bekerja di organisasi tersebut. c. Komitmen Normatif Keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi karena adanya suatu perasaan wajib. Komitmen normatif muncul ketika ada perasaan tetap tinggal adalah hal yang "benar" atau "moral" untuk dilakukan. Seorang pegawai merasa harus tetap tinggal dengan atasan mereka saat ini karena penilaian pribadi yang dikategorikan sebagai rasa benar dan salah. Rasa benar dan salah ini dikembangkan melalui pembelajaran selama mereka bekerja di dalam perusahaan. Karyawan dengan komitmen normatif yang tinggi akan merasa bahwa mereka harus tetap berada di organisasi. Komitmen normatif

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 ini juga dipengaruhi oleh sosialisasi dan budaya yang dimiliki karyawan. 3. Faktor yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi David (dalam Minner, 1997) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi, yaitu : a. Faktor personal, misalnya jenis kelamin, usia, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan kepribadian. b. Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, konflik peran, tingkat kesulitan, dan tantangan dalam pekerjaan. Tantangan dalam pekerjaan mempunyai hubungan yang positif dengan komitmen kerja (Mathieu dan Zajac,1990). c. Karakteristik struktur, misalnya besar atau kecilnya organisasi, bentuk organisasi seperti sentralisasi atau desentralisasi, kehadiran serikat pekerja dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi terhadap karyawan. d. Pengalaman kerja merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja dan karyawan yang sudah bertahun-tahun bekerja tentunya memiliki tingkat komitmen yang berbeda-beda.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 B. Adversity Quotient Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai Adversity Quotient yang terdiri dari pengertian, dimensi, tingkat kesulitan pada Adversity Quotient dan manfaat dari Adversity Quotient. 1. Pengertian Adversity Quotient Stoltz (2000) mengatakan bahwa Adversity Quotient adalah suatu bentuk kecerdasan yang mengukur kemampuan seseorang untuk bertahan dalam kesulitan dan mengatasinya. Adversity Quotient dapat menjelaskan bagaimana seseorang berperilaku dalam situasi sulit, apakah ia dapat mengendalikan situasi, menemukan sumber permasalahan, mempunyai rasa memiliki dalam situasi tersebut, membatasi efek dari kesulitan, dan bagaimana seseorang tersebut optimis bahwa kesulitan akan segera berakhir (Phoolka & Kaur, 2012). Adversity Quotient j u g a dapat memprediksi siapa yang akan berhasil mengatasi kesulitan, dan siapa yang akan gagal dan menyerah. Adversity Quotient menggabungkan teori ilmiah dan penerapan di dunia nyata dalam setiap konsepnya, sehingga Adversity Quotient tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga peralatan yang secara praktis dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pribadi demi tercapainya kesuksesan di berbagai bidang kehidupan (Stoltz, 2000). Abdilah (2006) juga mengemukakan bahwa Adversity Quotient adalah kecerdasan mengelola hidup dan mampu melihat kemalangan menjadi peluang. Markman (2005) menyatakan Adversity

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Quotient adalah pengetahuan tentang ketahanan individu, individu yang secara maksimal menggunakan kecerdasan ini akan menghasilkan kesuksesan dalam menghadapi tantangan, baik tantangan besar atau kecil di dalam kehidupan sehari-hari. Song dan Woo (2015) mendefinisikan Adversity Quotient adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dan mengatasi kesulitan yang dialami. Pendapat serupa dikemukakan oleh Selain itu, Hidayat (2001) mendefiniskan Adversity Quotient adalah cara individu merespon dan menjelaskan kesulitan yang dihadapinya. Surekha (2001) menyatakan bahwa Adversity Quotient merupakan cara mengukur seseorang dalam menghadapi dan merespon hambatan yang muncul dalam kehidupannya. Berdasarkan Adversity Quotient uraian adalah tersebut, bentuk dapat disimpulkan kecerdasan yang bahwa mengukur kemampuan seseorang untuk menghadapi dan mengatasi suatu masalah, sehingga mampu bertahan hidup.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 2. Dimensi Adversity Quotient Stoltz (2000) mengatakan bahwa Adversity Quotient terdiri atas empat dimensi, yaitu Control, Origin-Ownership, Reach, dan Endurance (CO2RE): a. C = Control (Kendali) Dimensi control ingin mengukur dua hal, yang pertama sejauh mana seseorang merasa mampu mengendalikan dan mempengaruhi sebuah situasi sulit secara positif, yang kedua sejauh mana seseorang mampu mengendalikan tanggapannya sendiri terhadap sebuah situasi sulit. Individu yang memiliki skor tinggi pada dimensi control merasakan kendali yang kuat atas peristiwa-peristiwa yang buruk. Besarnya pengendalian yang dirasakan akan membawa individu pada usaha penyelesaian masalah dengan mengambil sebuah tindakan. Selain itu, individu yang memiliki dimensi skor tinggi pada control memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi kesulitan dan tetap teguh dalam mencari penyelesaian masalah. Sebaliknya, individu yang memiliki skor rendah pada dimensi control memiliki keyakinan bahwa apapun yang mereka kerjakan tidak akan merubah keadaan. Individu yang kemampuan pengendaliannya rendah sering merasa tidak berdaya dan berhenti berusaha saat dihadapkan pada

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 kesulitan. Mereka juga akan cenderung bereaksi dengan cara yang negatif pada saat kesulitan melanda, seperti mengumpat, menghina, bahkan mengucapkan kata-kata yang kemudian mereka sesali. Hal tersebut dapat terjadi karena individu yang memiliki skor rendah pada dimensi control tidak mampu mengendalikan ataupun merubah reaksi internal yang ada dalam pikiran mereka sehingga terlepas begitu saja dalam wujud kata-kata dan tindakan. b. O2 = Origin-Ownership (Asal-usul dan Pengakuan) Dimensi origin-ownership ingin mengukur dua hal, yang pertama sejauh mana seseorang menemukan penyebab dari suatu kesulitan dengan tepat, yang kedua sejauh mana seseorang mengakui dan bertanggung jawab atas suatu kesulitan tanpa mempedulikan penyebabnya. Individu yang memiliki skor tinggi pada dimensi origin-ownership mampu memandang perasaan bersalah sebagai sebuah umpan balik untuk melakukan perbaikan. Rasa bersalah yang sewajarnya akan menggugah mereka untuk belajar dari kesalahan untuk menghindari kesalahan yang sama terulang lagi. Selain itu, individu yang memiliki skor tinggi pada dimensi originownership akan menghindarkan diri dari sikap menyalahkan orang lain, mengambil tindakan bertanggung jawab tanpa mempedulikan penyebabnya, dan tetap menghadapi masalah

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 dengan berpikir positif. Individu yang memiliki skor rendah pada dimensi origin-ownership cenderung tidak mampu menimpakan suatu kesalahan pada tempat yang semestinya. Terkadang mereka melihat dirinya sendiri sebagai satu-satunya penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa yang buruk. Hal ini yang membuat mereka mudah sekali dilanda perasaan bersalah yang terlampau besar. Rasa bersalah memang tidak selamanya berdampak negatif, namun rasa bersalah yang terlampau besar akan menjadi destruktif dan menempatkan individu pada penyesalan yang seringkali mereka tidak sewajarnya. Di sisi lain, sibuk untuk mencari-cari sumber permasalahan dan menimpakan kesalahan kepada orang lain. Hal ini yang membuat individu dengan skor rendah pada dimensi origin-ownership menghindarkan diri dari pengakuan dan tindakan bertanggung jawab atas sebuah situasi sulit. Selain itu, dimensi origin-ownership yang rendah akan membuat seseorang cepat menyerah, kinerja berkurang dan sulit mengidentifikasi masalah. c. R = Reach (Jangkauan) Dimensi reach mengukur sejauh mana seseorang mampu membatasi kesulitan agar tidak menjangkau bidang kehidupanya yang lain. Individu yang memiliki skor tinggi

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 pada dimensi reach akan merespon kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik dan terbatas. Sebagai contoh, kesalahpahaman dengan orang yang dikasihi adalah sebatas kesalahpahaman, bukan pertanda bahwa suatu hubungan akan berakhir. memungkinkan Membatasi individu jangkauan kesulitan untuk berpikir jernih dalam mengambil tindakan sehingga seseorang akan lebih berdaya dan perasaan putus asa atau kurang mampu akan berkurang. Sebaliknya, individu yang memiliki skor rendah pada dimensi reach akan menganggap suatu kesulitan sebagai bencana. Sebagai contoh, hasil penilaian kinerja yang buruk dianggap sebagai sesuatu yang menghambat karir dan pada akhirnya Membiarkan melemahkan kesulitan menjangkau motivasi kerja. bidang-bidang kehidupan yang lain hanya akan menguras tenaga dan membuat seseorang menjadi semakin tidak berdaya untuk mengambil sebuah tindakan penyelesaian. a. E = Endurance (Daya Tahan) Dimensi endurance mengukur seberapa lama seseorang menganggap sebuah kesulitan dan penyebab kesulitan akan berlangsung. Individu yang memiliki skor tinggi pada dimensi endurance akan menganggap kesulitan dan penyebab-penyebabnya sebagai sesuatu yang bersifat

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 sementara, cepat berlalu, dan kecil kemungkinannya akan terjadi lagi. Anggapan seperti ini akan meningkatkan optimisme dan dorongan untuk bertindak. Sebaliknya, individu yang memiliki skor rendah pada dimensi endurance akan menganggap kesulitan dan penyebab-penyebabnya sebagai sesuatu yang sifatnya permanen dan berlangsung lama. Anggapan seperti ini kan menyebabkan hilangnya harapan dan dorongan untuk bertindak. 3. Tiga Tingkat Kesulitan pada Adversity Quotient Stoltz (2000) mengatakan bahwa ukuran dan frekuensi kesulitan yang harus dihadapi setiap orang semakin besar dari hari ke hari. Kesulitan hidup terus meningkat dan tidak pernah berhenti. Untuk membantu menjelaskan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh manusia, Stoltz (2000) memperkenalkan model “Tiga Tingkat Kesulitan”. Model ini hendak menggambarkan suatu kenyataan bahwa kesulitan merupakan bagian dari hidup yang ada di mana-mana, nyata, dan tidak terelakkan. Selain itu, model ini juga hendak memperlihatkan bahwa perubahan positif yang dapat terjadi pada ketiga tingkatnya berawal dari individu yang mengalami kesulitan. a. Kesulitan di Masyarakat. Pada zaman sekarang ini, masyarakat dihadapkan pada banyak kesulitan, misalnya: tindakan kejahatan yang meningkat secara drastis, kondisi perekonomian yang tidak kunjung stabil,

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 kerusakan lingkungan yang semakin parah, krisis moral yang melanda generasi muda, perubahan pandangan terhadap kehidupan rumah tangga, dan hilangnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga pemerintah. Stoltz (2000) menyebut perubahan tersebut sebagai kesulitan masyarakat. b. Kesulitan di Tempat Kerja. Stoltz (2000) mengatakan bahwa situasi sulit di tempat kerja semakin meningkat, hal ini menyebabkan frustrasi yang dialami kaum pekerja semakin menumpuk. Mengerjakan banyak hal dengan upah yang sedikit merupakan salah satu dari sekian banyak kesulitan yang dapat ditemukan di tempat kerja. Tuntutan-tuntutan dan ketidakpastian yang harus dihadapi seringkali membuat kaum pekerja berangkat ke tempat kerja dengan perasaan cemas setiap harinya. c. Kesulitan Individu. Phoolka dan Kaur (2012) menyebutkan beberapa contoh kesulitan yang diantaranya adalah rasa terjadi pada kesepian, tingkat kurang individu, percaya diri, kehilangan semangat, kelelahan, dan kesehatan yang buruk. Namun, sesuai dengan penjelasan sebelumnya mengenai model “Tiga Tingkat Kesulitan”, pada tingkat inilah individu dapat memulai perubahan.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 4. Manfaat Adversity Quotient Adversity Quotient mempunyai banyak manfaat yang baik bagi seseorang untuk menghadapi kesulitan di pekerjaannya. Saat seseorang mempunyai Adversity Quotient yang tinggi maka ia akan mampu untuk mengatasi keadaan frustasi atas permasalahan dalam organisasinya sehingga masih tetap menjaga komitmen organisasi terkhusus pada komitmen afektif pada organisasi (Bukhari, Tazeem A.S., Saeed, Muhammad M., Nisar, Muhammad, 2011). Selain itu, seseorang yang memiliki Adversity Quotient tinggi akan memiliki kemampuan beradaptasi dengan masalah yang sedang dihadapi perusahaan. Keadaan yang sedang banyak mengalami permasalahan tersebut justru meningkatkan komitmen organisasi seseorang (Sitompul, Cynthia M, 2016). Peran Adversity Quotient bagi karyawan dalam bidang pekerjaan menurut Stoltz (2000), yaitu : a. Memiliki daya saing Satterfield dan Seligman (dalam Stoltz, 2000) menemukan bahwa karyawan yang merespon kesulitan secara optimis bersikap lebih produktif dan berani untuk melakukan pekerjaan yang lebih banyak resikonya. karyawan yang pesimis terhadap kesulitan menimbulkan lebih banyak sikap pasif dan hati- hati dalam melakukan pekerjaannya serta mudah putus asa.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 b. Memiliki produktivitas kerja yang baik Para pemimpin perusahaan mempunyai persepsi bahwa karyawan dengan adversity quotient yang tinggi akana unggul dibandingkan karyawan dengan adversity quotient yang rendah. Selligman (dalam Stoltz, 2000) membuktikan bahwa karyawan yang tidak merespon kesulitan dengan baik akan kurang produktif, dan kinerjanya lebih buruk daripada karyawan yang merespons kesulitan dengan baik. c. Memiliki kreativitas yang luas Joel Barker (dalam Stoltz, 2000) menyatakan bahwa kreativitas dapat muncul dari sebuah keputusasaan. Kreativitas menuntut kemampuan untuk mengatasi kesulitan yang ditimbulkan oleh hal-hal yang tidak pasti. d. Memiliki motivasi kerja Penelitian yang dilakukan pada perusahaan farmasi, tentang pengukuran adversity quotient dari para pekerjaan harian ataupun jangka panjang didapatkan hasil bahwa mereka yang memiliki adversity quotient tinggi dianggap sebagai karyawan yang paling memiliki motivasi (Stoltz, 2000). e. Memiliki keberanian untuk mengambil resiko Seseorang yang memiliki kemampuan dalam memegang kendali, sebenarnya berani mengambil resiko dalam hidupnya, bahkan resiko-resiko yang dinilai tidak masuk akal untuk

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 dipikirkan. Sebagaimana telah dibuktikan oleh Satterfield dan Selligman (dalam Stoltz, 2000), orang- orang yang merespon kesulitan secara lebih konstruktif, bersedia mengambil lebih banyak resiko karena resiko dianggap sebagai hal yang esensial dalam proses mendaki. f. Memiliki kemampuan dalam melakukan perbaikan Pada zaman sekarang, karyawan harus mampu melakukan perbaikan untuk dapat bertahan hidup. Karyawan harus dapat melakukan perbaikan untuk mencegah agar tidak ada orang yang ketinggalan oleh zaman baik dalam karier maupun dalam hubungan sosial. Ditemukan bahwa karyawan yang memiliki adversity quotient yang tinggi menjadi lebih baik dalam kehidupannya. g. Memiliki ketekunan Ketekunan merupakan inti dari proses mendaki seseorang. Ketekunan adalah kemampuan untuk terus menerus berusaha, bahkan saat seseorang dihadapkan dengan sebuah kemunduran ataupun kegagalan. Selligman (Stoltz, 2000) membuktikan bahwa karyawan yang merespon kesulitan dengan baik akan cepat pulih dari kekalahan dan mampu untuk terus bertahan. karyawan yang responnya buruk saat berhadapan dengan kesulitan akan mudah untuk menyerah. Adversity Quotient dinilai dapat menentukan keuletan yang dibutuhkan untuk menciptakan

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 ketekunan. h. Memiliki keinginan untuk terus belajar Pada abad ini, mengumpulkan dan memproses ilmu pengetahuan tidak pernah berhenti. Hal ini dibuktikan oleh Carol Dweck (Stoltz,2000), bahwa anak- anak dengan respon- respon yang pesimistis dalam menghadapi kesulitan tidak akan banyak belajar dan berprestasi. Sedangkan anak-anak yang memiliki respon-respon yang optimistis akan jauh lebih baik dalam belajar menghadapi kesulitan. i. Memiliki kemampuan untuk dapat merangkul perubahan Saat individu mengalami perubahan yang tidak pernah berhenti dalam hidup, maka kemampuan individu dalam menghadapi ketidakpastian dan pijakan yang berubah menjadi hal yang penting. Individu bisa sukses apabila memiliki keefektifan dalam mengatasi dan merangkul perubahan tersebut. Individu harus menghindari pemikiran bahwa akan dikalahkan dan dilumpuhkan dengan adanya perubahan tersebut, hal ini berdampak pada individu cenderung menyerah dalam menghadapi arus perubahan tersebut. 5. Supir Taksi Berbasis Konvensional Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sopir adalah pengemudi mobil. Sedangkan Angkutan Taksi adalah angkutan dengan menggunakan mobil penumpang umum yang diberi tanda khusus dan dilengkapi

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 dengan argometer yang melayani angkutan dari pintu ke pintu dengan wilayah operasi dalam kawasan perkotaan (Republik Indonesia, 2017). Febriany (2014), Taksi adalah angkutan umum yang menggunakan mobil untuk mengangkut penumpangnya dengan tarif layanan jasa angkutan yang dihitung dengan dua cara yaitu penghitungan tarif secara otomatis sesuai jarak yang ditempuh dengan menggunakan argometer, kemudian dengan cara kesepakatan penumpang dan pengemudi dalam menentukan tarif. Setyanto (2017) menjelaskan bahwa taksi konvensional adalah salah satu alternatif alat transportasi darat dilengkapi dengan argometer yang banyak diminati oleh masyarakat. Cara menggunakan jasa taksi berbasis konvensional ini cukup mudah hanya dengan memesan melalui menelpon operator ataupun memanggil langsung saat dijalan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengemudi yang salah satu alternatif alat transportasi darat menggunakan mobil untuk mengangkut penumpangnya dengan tarif layanan jasa angkutan yang dihitung dengan dua cara yaitu penghitungan tarif secara otomatis sesuai jarak yang ditempuh dengan menggunakan argometer, kemudian dengan cara kesepakatan penumpang dan pengemudi dalam menentukan tarif. Rosenbloom (2007) menyatakan bahwa supir taksi merupakan kelompok yang unik. Keunikan ini terlihat dari karakteristik supir taksi yang memiliki kepribadian berani mengambil resiko tinggi dengan mengemudi kendaraan pada kecepatan tinggi dan tidak berhati-hati dalam

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 mengubah jalur jalan kendaraan (Botes, 1997). Selain itu, supir taksi mempunyai jam kerja selama 27,35 hari dalam sebulan dan hanya beristirahat selama 2,65 hari dalam sebulan (Tseng,2012). Supir taksi dalam melakukan pekerjaannya sudah menggunakan teknologi internet seperti Google Maps, Ruby on Rails yang dikombinasikan dengan perangkat bergerak berbasis Android sehingga meningkatkan efisien dari pelayanan pengoperasian armada taksi (Emanuel & Salim, 2015). Namun, adanya perkembangan teknologi internet menyebabkan munculnya taksi berbasis internet seperti uber taksi dan grab taksi sehingga ada penolakan besar besaran oleh supir taksi berbasis konvensional karena taksi online jauh lebih murah (Oktavianti & Fridha, 2016). Supir taksi mempunyai durasi duduk dalam menyetir selama 18 jam perhari dan menjadi perokok sedang (Firmanita, Rosdiana & Indrayani, 2015). Supir taksi mempunyai usia rata-rata 21-30 tahun dengan pengalaman kerja antara 5-10 tahun, mendapat 3-7 orang penumpang dalam sehari, dan mendapat penghasilan antara Rp. 3.000.000-Rp. 4.000.000 perbulan (Nazaruddin, 2017). Selain itu, jenis operasi supir taksi yaitu mangkal karena dapat menghemat pemakaian bahan bakar dan menekan biaya perawatan mobil. Jam operasi supir taksi dapat mencapai 24 jam per hari (Artana, Winarto & Setijowarno, 2014).

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 6. Dinamika Adversity Quotient dengan Komitmen Organiasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Adversity Quotient adalah kemampuan seseorang dalam menghadapi dan mengatasi suatu masalah sehingga mampu bertahan hidup. Adversity Quotient dapat menjelaskan bagaimana seseorang berperilaku dalam situasi sulit, apakah ia dapat mengendalikan situasi, menemukan sumber permasalahan, mempunyai rasa memiliki dalam situasi tersebut, membatasi efek dari kesulitan, dan bagaimana seseorang tersebut optimis bahwa kesulitan akan segera berakhir (Phoolka & Kaur, 2012). Terdapat empat dimensi yang membentuk Adversity Quotient yaitu kontrol (Control), asal-usul dan pengakuan (Origin-Ownership), jangkauan (Reach), daya tahan (Endurance). Seseorang yang memiliki dimensi kontrol yang tinggi akan menunjukkan sikap mampu bertahan dalam mengatasi masalah serta dapat gigih dalam menyelesaikan masalah. Seseorang yang memiliki dimensi asal-usul dan pengakuan yang tinggi akan bertanggung jawab atas kesulitan yang terjadi dan tetap menghadapi masalah dengan berpikir positif. Seseorang yang memiliki dimensi jangkauan tinggi akan berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah. Seseorang yang memiliki dimensi daya tahan yang tinggi akan optimis dalam menyelesaikan masalah (Stoltz, 2000). Karakteristik karyawan tersebut yaitu saat menghadapi tantangan akan muncul rasa ingin tahu, berkompeten dan jeli terhadap permasalahan. Karyawan yang memiliki rasa ingin tahu, berkompeten dan jeli terhadap permasalahan ini akan berfokus pada penyelesaian masalah

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 sehingga karyawan akan melihat bahwa tantangan kerja merupakan kesempatan untuk memiliki kemampuan baru dan berkembang dengan menunjukkan kemampuan barunya dalam menghadapi permasalahan serta bertahan di dalam perusahaan (Broeck et all, 2010). Hal tersebut akan membuat karyawan dapat menghadapi tantangan kerja sehingga memunculkan komitmen organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen organisasi akan menunjukkan keterlibatan emosional terhadap perusahaan sehingga dapat menerima tujuan dan nilai perusahaan (komitmen afektif). Selain itu, karyawan juga akan memiliki keinginan untuk bertahan (komitmen kontinum) dan muncul perasaan benar saat bertahan di dalam perusahaan (komitmen normatif) sehingga karyawan mempunyai komitmen tinggi (Meyer & Allen, 1997). Karyawan yang memiliki dimensi kontrol yang rendah maka ia akan merasa tidak berdaya dalam menghadapi permasalahan. Selain itu, karyawan yang memiliki dimensi asal-usul dan pengakuan yang rendah menunjukkan sikap tidak bertanggung jawab atas permasalahan yang terjadi. Karyawan yang memiliki dimensi jangkauan yang rendah akan menganggap permasalahan menjadi bencana dan karyawan yang memiliki dimensi daya tahan yang rendah akan pesimis dalam menyelesaikan masalah (Stoltz, 2000). Karakteristik karyawan tersebut yaitu ketika menghadapi tantangan tidak muncul rasa ingin tahu, berkompeten dan jeli terhadap permasalahan. Karyawan yang tidak memiliki rasa ingin tahu, berkompeten dan jeli terhadap permasalahan ini tidak berfokus pada

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 penyelesaian masalah sehingga kehilangan kesempatan untuk memiliki kemampuan baru dan berkembang dengan menunjukkan kemampuan barunya dalam menghadapi permasalahan serta bertahan di dalam perusahaan. Selain itu, karyawan melihat bahwa tantangan kerja merupakan penghambat dalam bekerja sehingga karyawan merasa kelelahan dan burnout akan pekerjaannya (Broeck et all, 2010). Hal tersebut akan membuat karyawan tidak dapat menghadapi tantangan kerja sehingga tidak memunculkan komitmen organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen organisasi akan menunjukkan sikap tidak mempunyai keterlibatan emosional sehingga kurang dapat menerima tujuan dan nilai perusahaan (komitmen afektif). Selain itu, karyawan akan memiliki keinginan untuk keluar dari perusahaan (komitmen kontinum) dan merasa bertahan dalam perusahaan itu tidak diharuskan (komitmen normatif) sehingga karyawan mempunyai komitmen organisasi yang rendah (Meyer & Allen, 1997).

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 7. Skema Penelitian Adversity Quotient Adversity Quotient Tinggi: Adversity Quotient Rendah: - Kontrol : Mampu bertahan dalam menghadapi masalah. - Asal Usul dan Pengakuan : Bertanggung jawab atas permasalahan yang terjadi. - Jangkauan : Dapat berfikir jernih untuk mencari penyelesaian masalah. - Daya Tahan : Mempunyai sikap optimis dalam menyelesaikan masalah. - Kontrol : Tidak berdaya untuk menyelesaikan permasalahan. - Asal Usul dan Pengakuan : Tidak bertanggung jawab atas permasalahan yang terjadi. Jangkauan : Menganggap permasalahan menjadi bencana. - Daya Tahan : Hilangnya harapan untuk menyelesaikan masalah. Saat menghadapi tantangan akan berfokus pada penyelesaian masalah dan melihat tantangan kerja merupakan kesempatan untuk berkembang sehingga dapat menghadapi tantangan kerja. Saat menghadapi tantangan tidak berfokus pada penyelesaian masalah dan melihat tantangan kerja merupakan penghambat untuk memiliki kemampuan untuk berkembang sehingga tidak dapat menghadapi tantangan kerja. - - Mempunyai keterikatan secara emosional sehingga dapat menerima tujuan dan nilai perusahaan (Komitmen afektif). Memiliki keinginan untuk bertahan dari dalam perusahaan (Komitmen Kontinum). Memiliki perasaan benar saat bertahan dalam perusahaan (Komitmen Normatif). Karyawan mempunyai komitmen organisasi tinggi. - - Tidak mempunyai keterikatan secara emosional sehingga kurang dapat menerima tujuan dan nilai perusahaan (Komitmen afektif). Memiliki keinginan untuk keluar dari dalam perusahaan (Komitmen Kontinum). Tidak merasa bahwa bertahan dalam perusahaan itu diharuskan (Komitmen Normatif). Karyawan mempunyai komitmen organisasi rendah.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 8. Hipotesis Berdasarkan dinamika hubungan antar variabel yang telah dipaparkan sebelumnya, maka peneliti menarik hipotesis penelitian yaitu: Terdapat hubungan yang positif signifikan antara Adversity Quotient dengan komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi Adversity Quotient maka akan semakin tinggi komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional. Sebaliknya, semakin rendah Adversity Quotient maka akan semakin rendah komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian kuantitatif korelasional menggunakan data berbentuk angka yang dapat dianalalisis dengan teknik perhitungan statistik dan bertujuan untuk menguji teori secara objektif yaitu mengetahui hubungan antara variabel (Supratiknya, 2015). B. Identifikasi Variabel Penelitian Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yang terdiri dari variabel tergantung dan variabel bebas, yaitu: 1. Variabel X : Adversity Quotient 2. Variabel Y : Komitmen Organisasi C. Definisi Operasional 1. Adversity Quotient Adversity Quotient adalah bentuk kecerdasan yang mengukur kemampuan supir taksi berbasis konvensional untuk menghadapi dan mengatasi suatu masalah, sehingga mampu bertahan hidup. Dalam penelitian ini, Adversity Quotient akan diukur dengan menggunakan skala Adversity Quotient dari Adhimulya Nugraha Putra (2016). Skala ini terdiri dari 4 dimensi yaitu, kontrol, asal-usul dan pengakuan, jangkauan, dan daya tahan. Skor total pada skala Adversity Quotient akan memperlihatkan tinggi atau rendahnya Adversity Quotient supir taksi berbasis 36

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 konvensional , sehingga semakin tinggi jumlah skor total per dimensi Adversity Quotient yang didapat dari penjumlahan skor tertinggi pada tiap dimensi menunjukkan semakin tinggi Adversity Quotient pada supir taksi berbasis konvensional . 2. Komitmen Organisasi Komitmen organisasi adalah ikatan psikologis supir taksi berbasis konvensional terhadap organisasi yang ditandai dengan menerima tujuantujuan organisasi, adanya kesetiaan serta kepercayaan, dan bersedia mempertahankan keanggotaannya di dalam organisasi. Dalam penelitian ini, komitmen organisasi akan diukur dengan menggunakan skala komitmen organisasi dari Maria Endah Rusnindita Puspitasari (2017). Skala ini terdiri dari 3 dimensi yaitu, komitmen afektif, komitmen kontinum dan komitmen normatif. Hasil pengukuran dari komitmen organisasi ditunjukkan dari skor total skala komitmen organisasi. Semakin tinggi skor total komitmen organisasi yang diperoleh menunjukkan supir taksi berbasis konvensional memiliki komitmen organisasi yang tinggi. Akan tetapi, jika skor total komitmen organisasi rendah menujukkan bahwa supir taksi berbasis konvensional memiliki komitmen organisasi yang rendah. D. Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah supir taksi berbasis konvensional. Supir taksi berbasis konvensional adalah pengemudi yang menggunakan mobil untuk mengangkut penumpangnya dengan tarif layanan jasa

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 angkutan yang dihitung dengan dua cara yaitu penghitungan tarif secara otomatis sesuai jarak yang ditempuh dengan menggunakan argometer serta kesepakatan antara penumpang dan pengemudi dalam menentukan tarif. Proses seleksi sampel pada penelitian ini menggunakan nonprobability sample atau convenience sample yaitu pemilihan sampel berdasarkan kemudahaan dan ketersediaan akses (Supratiknya, 2015). E. Metode dan Pengumpulan Data 1. Adversity Quotient Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data Adversity Quotient supir taksi berbasis konvensional adalah skala Adversity Quotient dari Adhimulya Nugraha Putra (2016) yang telah memperoleh ijin dari Adhimulya Nugraha Putra untuk digunakan. Skala Adversity Quotient merupakan skala yang berbentuk model Likert. Tabel 1. Sebaran Item Skala Adversity Quotient Dimensi No. 1. Control 2. Origin Ownership 3. Reach 4. Endurance Jumlah O2 Nomor Item Favourable Unfavourable 2, 3, 4, 15, 8, 17 30 10, 14, 24 12,13, 26, 34 5, 6, 16 7, 20, 25, 27 19, 28, 31, 11, 29, 35 33 1, 9, 21, 22 18, 23, 32 19 16 Jumlah Bobot 7 20% 7 7 20% 20% 7 20% 7 35 20% 100% Skala Adversity Quotient ini terdiri dari 35 item. Skala yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pernyataan dengan

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 alternatif jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Tabel dibawah ini menjelaskan sistem pemberian skor pada skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 2. Skor Respon Pada Variabel Adversity Quotient Respon Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Skor Favourable 4 3 2 Skor Unfavourable 1 2 3 1 4 Tingginya skor respon pada skala ini menunjukkan tinginya nilai Adversity Quotient pada subjek. 2. Komitmen Organisasi Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data komitmen organisasi supir taksi berbasis konvensional adalah skala Komitmen Organisasi dari Maria Endah Rusnindita Puspitasari (2017) yang telah memperoleh ijin dari Maria Endah Rusnindita Puspitasari untuk digunakan. Skala komitmen organisasi merupakan skala yang berbentuk model Likert.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Tabel 3. Sebaran Item Skala Komitmen Organisasi Nomor Item Favourable Unfavourable No. Komponen 1. Komitmen Afektif 2. Komitmen Kontinyu 3. Komitmen Normatif Jumlah Jumlah Bobot 1, 2, 12 9, 14, 18 6 33,3% 3, 4, 8 10, 15, 17 6 33,3% 7, 11, 13 5, 6, 16 6 33,3% 9 9 18 100% Skala komitmen organisasi ini terdiri dari 18 item. Skala yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pernyataan dengan alternatif jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Tabel dibawah ini menjelaskan sistem pemberian skor pada skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 4. Skor Respon Pada Variabel Komitmen Organisasi Respon Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Skor Favourable 4 3 2 Skor Unfavourable 1 2 3 1 4 Tingginya skor respon pada skala ini menunjukkan tinginya nilai komitmen organisasi pada subjek.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 F. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas Supratiknya (2014) mengatakan bahwa validitas adalah kualitas suatu alat tes sungguh-sungguh mengukur atribut psikologis yang hendak diukur. Saifuddin Azwar (2009) berpendapat bahwa validitas mengacu pada sejauh mana akurasi suatu tes atau skala dalam menjalankan fungsi pengukurannya. Alat ukur dengan validitas yang tinggi akan menghasilkan eror pengukuran yang kecil, yang berarti bahwa skor setiap subjek yang diperoleh oleh alat ukur tersebut tidak jauh berbeda dari skor yang sesungguhnya (Azwar, 2007). Validitas merupakan syarat utama untuk menentukan standar suatu tes, secara umum ada tiga jenis validitas, yaitu isi, kontrak, dan kriteria (Periantalo, 2015). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi dapat diuji melalui analisis rasional oleh expert judgement (Azwar, 2017). Pengujian validitas isi alat tes dilakukan oleh dosen pembimbing skripsi sebagai expert judgement. Kedua skala yang digunakan yaitu skala Adversity Quotient (Adhimulya Nugraha Putra, 2016) dan komitmen organisasi (Maria Endah Rusnindita Puspita, 2017) telah diuji validitas isi oleh dosen yang ahli di bidang psikologi. Penggunaan kedua skala ini karena mempunyai skor reliabilitas yang tinggi. Selain itu, kedua skala ini mempunyai tata bahasa yang cukup mudah dimengerti oleh supir taksi konvensional.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 2. Seleksi Item Kualitas item dilihat melalui uji daya beda item dengan bantuan Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 22. Seleksi item betujuan untuk memilih item-item yang akan membentuk skala yang bersifat homogen dan memiliki daya deskriminasi yang baik (Supratiknya, 2014). Proses seleksi item dilakukan melalui komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor item dengan distribusi skor skala itu sendiri. Cara tersebut dapat menjamin homogenitas skala sebagai satu kesatuan dan sekaligus dapat mengukur daya diskriminasi item (Supratiknya, 2014). Hasil dari komputasi akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total (rix) (Azwar, 2017). Koefisien korelasi item total bergerak dari 0 sampai dengan 1,00 dengan tanda positif atau negatif. Semakin baik daya diskriminasi item maka koefisien korelasinya semakin mendekati angka 1,00. Sedangkan, daya diskriminasi item dikatakan tidak baik bila koefisien korelasi mendekati angka 0 atau yang memiliki tanda negatif. Pemilihan item berdasarkan korelasi item total menggunakan batasan rix ≥ 0,30. Maka, semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 dapat dikatakan daya diskriminasinya baik (Azwar, 2017). Item yang memiliki indeks daya diskriminasi sama atau lebih besar dari 0,30 dan apabila jumlahnya melebihi jumlah item yang direncanakan, maka dapat memilih item-item yang indeks daya

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 diskriminasinya tinggi. Namun, jika jumlah item yang lolos masih tidak mencukupi mempertimbangkan jumlah untuk yang direncanakan, menurunkan maka dapat indeks daya diskriminasi menjadi 0,20 (Supratiknya, 2014). Try out terpakai adalah uji coba yang hasilnya langsung digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Dengan kata lain, subjek yang dijadikan uji coba juga dipakai sebagai subjek penelitian. Kelebihan dari try out terpakai adalah pengambilan data yang hanya sekali dan hasil uji coba yang langsung digunakan untuk hipotesis. Sedangkan menguji kelemahan dari Try out terpakai adalah saat ditemukan banyak item yang memiliki kualitas item kurang, maka diperlukan penyebaran ulang (Hadi, 2000) Pada penelitian ini, kedua alat ukur skala Adversity Quotient dan komitmen organisasi memiliki kualitas yang cukup baik, karena semua item pada kedua skala ini memiliki korelasi lebih 0,20.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 a. Skala Adversity Quotient Berdasarkan hasil try out, peneliti menemukan 20 item dari 35 item yang diujikan dengan kualitas baik dengan rincian sebagai berikut : Tabel 5. Sebaran Item Skala Adversity Quotient Setelah Seleksi Item Dimensi No. 1. 2. Control Origin Ownership 3. Reach 4. Endurance Jumlah O2 Nomor Item Favourable Unfavourable (2), 3*, 4*, 8, 17 15, 30 12*,(13), 26, 10, 14*, 24 34 (5),(6), 16 7, 20, 25, (27) 19*, 28*, 11, 29*, 35 31, 33 1*, 9, 21, 18, (23), 32* 22 10 10 Jumlah Bobot 4 20% 4 20% 4 20% 4 20% 4 20% 20 100% Keterangan : 1. Item yang dicetak tebal dan diberi tanda bintang (*) adalah item yang tidak lolos atau gugur. 2. Item di dalam tanda kurung adalah nomor item yang digugurkan untuk meratakan jumlah item pada tiap dimensi.

(66) 3. PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 b. Skala Komitmen Organisasi Berdasarkan hasil try out, peneliti menemukan 18 item dari 12 item yang diujikan dengan kualitas baik dengan rincian sebagai berikut : Tabel 6. Sebaran Item Skala Komimen Organisasi Setelah Seleksi Item No. Komponen 1. Komitmen Afektif 2. Komitmen Kontinyu 3. Komitmen Normatif Jumlah Nomor Item Jumlah Bobot Favourable Unfavourable 1, 2, 12 9, 14, 18 6 50% 3*, 4, 8 10, 15, 17* 4 34% 7, 11, 13* 5*, 6*, 16* 2 16% 7 5 12 100% Keterangan : 1. Item yang dicetak tebal dan diberi tanda bintang (*) adalah item yang tidak lolos atau gugur. 3. Reliabilitas Supratiknya (2014), salah satu syarat alat ukur yang baik adalah memiliki konsistensi dari reliabilitas hasil yang pengukuran tinggi. ketika R eliabilitas prosedur adalah pengetesan dilakukan berulang kali terhadap suatu populasi individu maupun kelompok. Sedangkan menurut Azwar (2009), alat ukur yang reliabel mampu menghasilkan skor yang sama ketika digunakan untuk mengukur atribut yang sama pada subjek yang sama. Kerlinger (1986) mengemukakan reliabilitas dapat diukur dari

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 tiga kriteria, yaitu stability, dependability, dan predictability. Stability menunjukkan kestabilan suatu tes dalam mengukur gejala yang sama pada waktu yang berbeda. Dependability menunjukkan kemantapan suatu tes atau seberapa jauh tes dapat diandalkan. Predictability menunjukkan pengukuran kemampuan gejala tes selanjutnya. untuk Namun meramalkan dalam hasil penelitian pada ini, reliabilitas diukur dalam bentuk koefisien konsistensi internal. Koefisien konsistensi internal adalah koefisien yang didasarkan pada hubungan antar skor pada tiap item dalam tes. Data koefisien konsistensi internal diperoleh melalui 1 kali pengetesan. Reliabilitas pada penelitian ini diukur dengan program IBM SPSS Statistic 22 Mengukur reliabilitas dengan melihat konsistensi internalnya dapat diukur dengan menggunakan Alpha Cronbach. Koefisien Reliabilitas berkisar antara angka 0.00 – 1.00. Semakin skor reliabilitas mendekati angka 1.00 menunjukkan bahwa skala tersebut semakin reliabel, sebaliknya apabila skor mendekati angka 0,00 maka, skala tersebut tidak reliabel (Azwar, 2009). Skala dapat dikatakan memiliki reliabilitas baik apabila memiliki nilai r > 0.60 (Noor, 2011). Setelah melakukan uji reliabilitas didapat bahwa skala Adversity Quotient pada penelitian ini memiliki skor koefisien Alpha Cronbach yang cukup tinggi, yaitu 0,816. Sedangkan, skor koefisien Alpha Cronbach Adversity Quotient pada penelitian Adhimulya Nugraha Putra (2016) yaitu 0,964. Skala komitmen organisasi pada penelitian ini

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 memiliki skor koefisien Aplha Cronbach 0.772. Sedangkan, skor koefisien Alpha Cronbach Adversity Quotient pada penelitian Maria Endah Rusnindita Puspitasari (2017) yaitu 0,837. G. Analisis Data 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah data variabel Adversity Quotient sebagai variabel independen dan komitmen organisasi sebagai variabel dependen mempunyai sebaran normal. Uji ini perlu dilakukan karena semua perhitungan statistik parametrik memiliki asumsi normalitas sebaran. Jika taraf signifikansi (p) > 0,05 maka data terdistribusi normal sedangkan, jika (p) <0,05 maka sebaran data tidak terdistribusi normal (Santoso, 2010). Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan teknik Kolmogrov-Smirnov dengan alat SPSS versi 22. b. Uji Linearitas Uji linearitas bertujuan untuk melihat apakah hubungan antarvariabel yang hendak dianalisis mengikuti garis lurus atau tidak (Santoso,2010). Hal ini berarti bahwa peningkatan atau penurunan kuantitas pada suatu variabel akan diikuti secara linear oleh peningkatan atau penurunan kuantitas di variabel lainnya. Uji linearitas perlu dilakukan agar tidak terjadi underestimasi

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 kekuatan hubungan antar variabel. Jika taraf signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) maka dapat dikatakan linier, atau sebaliknya. Pada penelitian ini uji linearitas menggunakan test for linearity dalam SPSS versi 22. 2. Uji Hipotesis Teknik korelasi merupakan teknik analisis yang melihat kecenderungan pola dalam suatu variabel berdasarkan kecenderungan pola dalam variabel yang lain (Santoso, 2010). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi untuk melihat hubungan antara adversity quotient dengan komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional. Teknik korelasi pada penelitian ini menggunakan formula korelasi Pearson Product Moment jika asumsi terpenuhi. Jika uji asumsi tidak terpenuhi, maka peneliti akan menggunakan formula korelasi Spearman’s Rho. Pengujian hipotesis akan dilakukan perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 22.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilakukan 21 September 2018 hingga 5 Oktober 2018. Data penelitian diperoleh dengan menyebar skala dalam bentuk paper and pencil kepada supir taksi berbasis konvensional di Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dengan menyebarkan skala ke tempat-tempat pangkalan taksi di Yogyakarta. Peneliti menyebarkan 150 skala, namun 20 skala dinyatakan gugur karena tidak memenuhi syarat penelitian sehingga terkumpul 130 skala. B. Deskripsi Subjek Penelitian Penelitian ini menampilkan beberapa informasi demografis dari subjek penelitian. Penyajian data demografik ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik subjek dalam penelitian ini. Subjek pada penelitian ini adalah supir taksi berbasis konvensional di Yogyakarta dari berbagai usia. 49

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Tabel 7. Deskripsi Jenis Kelamin Subjek Jenis Kelamin Pria Jumlah Persentase 126 96,93% 4 3,07% 130 100% Wanita Total Berdasarkan data Tabel 7 mengenai deksripsi jenis kelamin subjek penelitian ini dapat diketahui bahwa dari total 130 subjek, terdapat 126 pria (96,93%) dan 4 subjek wanita (3,07%). Hal ini berarti bahwa mayoritas subjek berjenis kelamin pria. Tabel 8. Deskripsi Usia Subjek Usia Jumlah Subjek Persentase 21-40 tahun 62 47,69% 41-60 tahun 64 49,23% ≥61 tahun 4 3,08% 130 100% Jumlah Berdasarkan data Tabel 8 mengenai deksripsi usia subjek penelitian, dapat diketahui bahwa subjek dengan rentang usia 21-40 tahun berjumlah 62 subjek (47,69%) sedangkan, subjek dengan rentang usia 4160 tahun berjumlah 64 subjek (49,23%). Subjek dengan rentang usia ≥61

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 tahun berjumlah 4 subjek (3,08%). Subjek penelitian mayoritas masuk dalam rentang usia 41-60 tahun. C. Deskripsi Data Penelitian Penelitian ini dapat mengetahui gambaran skor teoritik dan skor emipiris pada skala Adversity Quotient dan skala komitmen organisasi dengan menggunakan perhitungan manual untuk mendapatkan mean teoritik. MT = (Skor terendah x Jumlah item) + (Skor tertinggi x Jumlah item) 2 Sedangkan, mean empirik merupakan rerata dari skor yang dimiliki oleh subjek penelitian. Perhitungan mean empirik didapatkan dari hasil uji One-Sample Test dengan menggunakan program SPSS for Windows Versi 22. Berdasarkan data penelitian, maka diperoleh hasil perhitungan mean teoritik sebagai berikut: 1. Adversity Quotient Jumlah item : 20 Nilai minimum : 20 x 1 = 20 Nilai Maksimum : 20 x 4 = 80 Rentang nilai : 20– 80 Jarak : 80+20 = 100 Mean teoritik : (𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙+𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙) 2 = 20+80 2 = 50

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 2. Komitmen Organisasi Jumlah item : 12 Nilai minimum : 12 x 1 = 12 Nilai Maksimum : 12 x 4 = 48 Rentang nilai : 12– 48 Jarak : 48+12 = 60 Mean teoritik : (𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙+𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙) 2 Tabel 9. = 12+48 2 Deskripsi Data Empirik Adversity Quotient One-Sample Statistic Total AQ N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 130 62.32 6.687 .586 One-Sample Test Test Value= 50 TOTAL AQ T df Sig. (2tailed) 20.999 129 .000 Mean Difference 12.315 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 11.16 13.48 = 30

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Tabel 10. Deskripsi Data Empirik Komitmen Organisasi One-Sample Statistic Total KO N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 130 33.89 4.182 .367 One-Sample Test Test Value= 30 TOTAL KO T df Sig. (2tailed) 10.611 129 .000 Mean Difference 3.892 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 3.17 4.62 Berdasarkan dari tabel data empirik pada skala Adversity Quotient (Tabel10) hasil yang diperoleh dari uji beda mean OneSample Test menggunakan SPSS for Windows versi 22 diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,00. Hal tersebut berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritik dan mean empirik pada skala Adversity Quotient. Hasil mean teoritik pada skala Adversity Quotient sebesar 50 sedangkan hasil mean empirik pada skala tersebut sebesar 62,32 dengan standar deviasi sebesar 6,687. Data ini menunjukkan bahwa mean empirik secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mean teoritik. Dapat disimpulkan subjek dalam penelitian ini cenderung memiliki tingkat Adversity Quotient yang tinggi.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Pada skala komitmen organisasi, berdasarkan tabel data empirik (Tabel 11) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,00 yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara mean teoritik dan mean empirik. Hasil mean teoritik pada skala komitmen organisasi sebesar 30 sedangkan hasil mean empirik pada skala tersebut sebesar 33,89 dengan standar deviasi sebesar 4,182. Data tersebut menunjukkan bahwa mean empirik secara signifikan lebih tinggi dibandingkan mean teoritik, dan dapat disimpulkan subjek dalam penelitian ini cenderung memiliki komitmen organisasi yang tinggi. D. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Penelitian ini akan melihat hubungan antara Adversity Quotient dengan komitmen organisasi. Uji normalitas dilakukan untuk melihat sifat sebaran data dari subjek, yaitu bersifat normal atau tidak. Distribusi dikatakan normal apabila probabilitas (p) >0,05 (Santoso, 2010). Untuk menguji normalitas, penelitian ini menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS for windows versi 22. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel berikut:

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Tabel 11. Hasil Uji Normalitas Adversity Quotient Test Of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig. TOTAL AQ .089 130 .013 .989 130 .419 Tabel 12. Hasil Uji Normalitas Komitmen Organisasi Test Of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic df Sig. TOTAL KO .076 130 .060 .987 130 .231 Berdasarkan hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov melalui program SPSS for Windows versi 22, berdasarkan data dalam tabel 12, hasil uji normalitas data variabel Adversity Quotient sebesar 0,013 (p<0,05) dengan asumsi bahwa data Adversity Quotient tidak terdistribusi normal. Akan tetapi pada tabel 13, data komitmen organisasi sebesar 0,060 (p>0,05) artinya bahwa data komitmen organisasi terdistribusi normal.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 b. Uji Lineartitas Uji linearitas dilakukan dengan teknik test of linearity menggunakan SPSS from windows versi 22. Data dikatakan linear apabila nilai sig. linearity lebih kecil dari 0,05 (Santoso, 2010). Hasil uji linearitas adalah sebagai berikut: Tabel 13. Hasil Uji Linearitas Adversity Quotient dan Komitmen Organisasi ANOVA Table Sum of Square 643.084 55.425 df Mean F Sig. Square 20.454 1.236 .216 55.425 3.348 .070 Combined 31 TOTAL Between Linearity 1 AQ Groups DeviationFrom 578.659 30 19.289 1.165 .283 TOTAL Linearity Within Groups 1622.408 98 16.555 KO Total 2256.492 129 Berdasarkan hasil uji linearitas ini menunjukkan tidak ada hubungan yang linear antara data Adversity Quotient dan data komitmen organisasi dengan taraf signifikansi p<0,05, yaitu p = 0,070 (p>0,05) dengan F = 3.348. Selain itu, dalam tabel 14 juga menunjukkan nilai deviation from linearity. Hal ini berarti bahwa sebagian lain variasi hubungan antar variabel ini tidak mengikuti garis linier atau disebut juga penyimpangan dari pola linier sebesar 0,283 (p>0,05).

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 2. Uji Hipotesis Penelitian ini terdapat uji asumsi yang tidak terpenuhi sehingga tidak dapat dilakukan uji hipotesis. E. Analisis Data Tambahan Peneliti memberikan analisis tambahan yang bertujuan memperkaya data penelitian mengenai hubungan antara Adversity Quotient dan komitmen organisasi supir taksi berbasis konvensional. Analisis tambahan yang dilakukan yaitu Uji Korelasi antar dimensi Adversity Quotient terhadap dimensi Komitmen Organisasi. Setelah dilakukan Uji Korelasi didapatkan hasil bahwa hanya dimensi daya tahan dari Adversity Quotient terhadap dimensi Afektif dari komitmen organisasi, dimensi jangkauan dari Adversity Quotient terhadap dimensi normatif dari komitmen organisasi, dan dimensi daya tahan dari Adversity Quotient terhadap dimensi normatif dari komitmen organisasi yang mempunyai hubungan linier. Selain dimensi tersebut, masing-masing dimensi dari Adversity Quotient terhadap dimensi komitmen organisasi tidak mempunyai hubungan yang linier. Berikut hasil uji korelasi pada dimensi Adversity Quotient terhadap dimensi komitmen organisasi :

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Tabel 14. Hasil Uji Normalitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient KolmogorovSmirnova Statistic df Sig. TOTAL Daya Tahan .139 130 .000 Shapiro-Wilk Statistic df Sig. .962 130 .001 Tabel 15. Hasil Uji Normalitas Dimensi Afektif dari Komitmen Organisasi KolmogorovSmirnova Statistic df Sig. TOTAL Afektif .145 130 .000 Shapiro-Wilk Statistic df Sig. .948 130 .000 Berdasarkan hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov melalui program SPSS for Windows versi 22, berdasarkan data dalam tabel 15, hasil uji normalitas data variabel dimensi daya tahan dari Adversity Quotient sebesar 0,000 (p<0,05) dengan asumsi bahwa data variabel dimensi daya tahan dari Adversity Quotient tidak terdistribusi normal. Begitu juga dengan data dimensi afektif dari komitmen organisasi tabel 16, menunjukkan 0,000 (p<0,05) artinya bahwa data dimensi afektif dari komitmen organisasi juga tidak terdistribusi normal.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Tabel 16. Hasil Uji Linearitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Dimensi Afektif dari Komitmen Organisasi ANOVA Table TOTAL Daya Tahan TOTAL Afektif Combined Linearity Between DeviationFro Groups m Linearity Within Groups Total Sum of Square 60.563 39.262 F Sig. 8 1 Mean Square 7.570 39.262 1.107 5.742 .363 .018 21.302 7 3.043 .445 .872 827.313 887.877 121 129 6.837 Df Berdasarkan hasil uji linearitas ini menunjukkan ada hubungan yang linear antara data dimensi daya tahan dari Adversity Quotient terhadap dimensi Afektif dari Komitmen Organisasi dengan taraf signifikansi p<0,05, yaitu p = 0,018 (p>0,05) dengan F = 5.742.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Tabel 17. Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Dimensi Afektif dari Komitmen Organisasi Correlation Total Coefficient Afektif N Spearmanꞌs rho Total Afektif Total Daya Tahan 1.000 .192 130 130 Sig. (2-tailed) Total Daya Tahan Correlation Coefficient N .028 .192 1.000 130 130 Berdasarkan tabel hasil uji korelasi, dapat dilihat Spearman's rho sebesar 0,028 dan nilai signifikansi (2tailed) sebesar 0,192 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan dimensi daya tahan dari Adversity Quotient berkorelasi terhadap dimensi Afektif dari komitmen organisasi. Tabel 18. Hasil Uji Normalitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient KolmogorovShapiro-Wilk Smirnova Statistic df Sig. Statistic df Sig. TOTAL Daya Tahan .139 130 .000 .962 130 .001

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Tabel 19. Hasil Uji Normalitas Dimensi Normatif dari Komitmen Organisasi KolmogorovShapiro-Wilk Smirnova Statistic df Sig. Statistic df Sig. TOTAL Normatif .259 130 .000 .857 130 .000 Berdasarkan hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov melalui program SPSS for Windows versi 22, berdasarkan data dalam tabel 19, hasil uji normalitas data variabel dimensi daya tahan dari Adversity Quotient sebesar 0,000 (p<0,05) dengan asumsi bahwa data variabel dimensi daya tahan dari Adversity Quotient tidak terdistribusi normal. Begitu juga dengan data dimensi normatif dari komitmen organisasi tabel 20, menunjukkan 0,000 (p<0,05) artinya bahwa data dimensi normatif dari komitmen organisasi juga tidak terdistribusi normal.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Tabel 20. Hasil Uji Linearitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Dimensi Normatif dari Komitmen Organisasi ANOVA Table TOTAL Daya Tahan TOTAL Normatif Combined Linearity Between DeviationFro Groups m Linearity Within Groups Total Sum of Square 11.084 7.136 F Sig. 8 1 Mean Square 1.385 7.136 1.584 8.159 .136 .005 3.947 7 .564 .645 .718 105.839 116.923 121 129 .875 df Berdasarkan hasil uji linearitas ini menunjukkan ada hubungan yang linear antara data dimensi daya tahan dari Adversity Quotient terhadap dimensi normatif dari Komitmen Organisasi dengan taraf signifikansi p<0,05, yaitu p = 0,005 (p>0,05) dengan F = 8.159.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Tabel 21. Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Dimensi Normatif dari Komitmen Organisasi Correlations Total Total Daya Normatif Tahan Correlation Coefficient Normatif N Total Spearmanꞌs rho 1.000 .199 130 130 Sig. (2-tailed) Total Daya Tahan .023 Correlation Coefficient .199 1.000 N 130 130 Berdasarkan tabel hasil uji korelasi, dapat dilihat Spearman's rho sebesar 0,028 dan nilai signifikansi (2tailed) sebesar 0,192 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan dimensi daya tahan dari Adversity Quotient berkorelasi terhadap dimensi normatif dari komitmen organisasi. Tabel 22. Hasil Uji Normalitas Dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient KolmogorovShapiro-Wilk Smirnova Statistic df Sig. Statistic df Sig. TOTAL Jangkauan .133 130 .000 .960 130 .001

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Tabel 23. Hasil Uji Normalitas Dimensi Normatif dari Komitmen Organisasi KolmogorovShapiro-Wilk Smirnova Statistic df Sig. Statistic df Sig. TOTAL Normatif .259 130 .000 .857 130 .000 Berdasarkan hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov melalui program SPSS for Windows versi 22, berdasarkan data dalam tabel 19, hasil uji normalitas data variabel dimensi jangkauan dari Adversity Quotient sebesar 0,000 (p<0,05) dengan asumsi bahwa data variabel dimensi daya tahan dari Adversity Quotient tidak terdistribusi normal. Begitu juga dengan data dimensi normatif dari komitmen organisasi tabel 20, menunjukkan 0,000 (p<0,05) artinya bahwa data dimensi normatif dari komitmen organisasi juga tidak terdistribusi normal.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Tabel 24. Hasil Uji Linearitas Dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient terhadap Dimensi Normatif dari Komitmen Organisasi ANOVA Table TOTAL Jangkauan TOTAL Normatif Combined Linearity Between DeviationFro Groups m Linearity Within Groups Total Sum of Square 6.392 4.083 F Sig. 9 1 Mean Square .710 4.083 .771 4.432 .643 .037 2.310 8 .289 .313 .960 110.531 116.923 120 129 .921 df Berdasarkan hasil uji linearitas ini menunjukkan ada hubungan yang linear antara data dimensi jangkauan dari Adversity Quotient terhadap dimensi normatif dari Komitmen Organisasi dengan taraf signifikansi p<0,05, yaitu p = 0,037 (p>0,05) dengan F = 4.432.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Tabel 25. Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho Dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient terhadap Dimensi Normatif dari Komitmen Organisasi Total Total Daya Normatif Tahan Total Normatif Spearmanꞌs rho Correlation Coefficient N 1.000 .135 130 130 Sig. (2-tailed) Correlation Total Coefficient Jangkauan N .125 .135 1.000 130 130 Berdasarkan tabel hasil uji korelasi, dapat dilihat Spearman's rho sebesar 0,023 dan nilai signifikansi (2tailed) sebesar 0,125 (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan dimensi jangkauan dari Adversity Quotient terhadap dimensi normatif dari komitmen organisasi.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Tabel 26. Kategori Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Kategori Komitmen Organisasi Rendah Sedang Tinggi Rentang Jumlah (%) X < 29,707 29,708 ≤ X ≥ 38,072 X > 38,072 18 13,8 97 74,6 15 11,5 130 100 Total Berdasarkan tabel kategorisasi komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 18 subjek (13,8%) memiliki komitmen organisasi yang rendah, 97 subjek (74,6%) memiliki komitmen organisasi sedang serta 15 subjek (11,5%) yang memiliki tingkat komitmen organisasi yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat komitmen organisasi yang sedang.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Tabel 27. Kategori dimensi Afektif dari Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Kategori Dimensi Afektif Rendah Sedang Tinggi Rentang Jumlah (%) X < 14,945 14,945 ≤ X ≥ 20,194 X > 20,194 14 10,8 103 79,2 13 10,0 130 100 Total Berdasarkan tabel kategorisasi dimensi afektif dari komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 14 subjek (10,8%) memiliki komitmen organisasi yang rendah, 103 subjek (79,2%) memiliki komitmen organisasi sedang serta 13 subjek (10,0%) yang memiliki tingkat komitmen organisasi yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat dimensi afektif dari komitmen organisasi yang sedang.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Tabel 28. Kategori dimensi Kontinum dari Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Kategori Dimensi Kontinum Rentang Jumlah (%) Rendah X < 9,01 32 24,6 Sedang 9,02 ≤ X ≥ 12,08 87 66,9 Tinggi X > 12,08 11 8,5 130 100 Total Berdasarkan tabel kategorisasi dimensi kontinum dari komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 32 subjek (24,6%) memiliki komitmen organisasi yang rendah, 87 subjek (66,9%) memiliki komitmen organisasi sedang serta 11 subjek (8,5%) yang memiliki tingkat komitmen organisasi yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat dimensi kontinum dari komitmen organisasi yang sedang.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Tabel 29. Kategori dimensi Normatif dari Komitmen Organisasi pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Kategori Dimensi Normatif Rentang Jumlah (%) Rendah X < 4,897 5 3,8 Sedang 4,898 ≤ X ≥ 6,802 102 78,5 Tinggi X > 6,802 23 17,7 130 100 Total Berdasarkan tabel kategorisasi dimensi normatif dari komitmen organisasi pada supir taksi berbasis konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 5 subjek (3,8%) memiliki komitmen organisasi yang rendah, 102 subjek (78,5%) memiliki komitmen organisasi sedang serta 23 subjek (17,7%) yang memiliki tingkat komitmen organisasi yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat dimensi normatif dari komitmen organisasi yang sedang.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Tabel 30. Kategori Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Kategori Adversity Quotient Rendah Sedang Tinggi Rentang Jumlah (%) X < 55,632 55,633 ≤ X ≥ 69,007 18 13,8 93 71,5 X > 69,007 19 14,6 130 100 Total Berdasarkan tabel kategorisasi Adversity Quotient pada supir taksi berbasis konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 18 subjek (13,8%) memiliki Adversity Quotient yang rendah, 93 subjek (71,5%) memiliki Adversity Quotient sedang serta 19 subjek (14,6%) yang memiliki tingkat Adversity Quotient yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat Adversity Quotient yang sedang.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Tabel 31. Kategori dimensi Kendali dari Adversity Quotient pada Supir Taksi Konvensional Kategori dimensi Kendali Rendah Sedang Tinggi Rentang Jumlah (%) X < 10,620 10,621 ≤ X ≥ 13,879 17 13,1 83 63,8 X > 13,879 30 23,1 130 100 Total Berdasarkan tabel kategorisasi dimensi Kendali dari Adversity Quotient pada supir taksi konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 17 subjek (13,1%) memiliki tingkat dimensi Kendali dari Adversity Quotient yang rendah, 83 subjek (63,8%) memiliki tingkat dimensi Kendali dari Adversity Quotient sedang serta 30 subjek (23,1%) yang memiliki tingkat dimensi Kendali dari Adversity Quotient yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat dimensi Kendali dari Adversity Quotient yang sedang.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Tabel 32. Kategori dimensi Asal-Usul dan Pengakuan dari Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Kategori dimensi Asal-Usul dan Pengakuan Rendah Sedang Rentang Jumlah (%) X < 21,892 21,893 ≤ X ≥ 28,247 20 15,4 89 68,5 X > 28,247 21 16,2 130 100 Tinggi Total Berdasarkan tabel kategorisasi dimensi Asal-Usul dan Pengakuan dari Adversity Quotient pada supir taksi berbasis konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 20 subjek (15,4%) memiliki tingkat dimensi Asal-Usul dan Pengakuan dari Adversity Quotient yang rendah, 89 subjek (68,5%) memiliki tingkat dimensi Asal-Usul dan Pengakuan dari Adversity Quotient sedang serta 21 subjek (16,2%) yang memiliki tingkat dimensi Asal-Usul dan Pengakuan dari Adversity Quotient yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat dimensi Asal-Usul dan Pengakuan dari Adversity Quotient yang sedang.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Tabel 33. Kategori dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Kategori dimensi Jangkauan Rendah Sedang Rentang Jumlah (%) X < 10,463 10,464 ≤ X ≥ 13,976 21 16,2 78 60,0 X > 13,976 31 23,8 130 100 Tinggi Total Berdasarkan tabel kategorisasi dimensi jangkauan dari Adversity Quotient pada supir taksi berbasis konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 21 subjek (16,2%) memiliki tingkat dimensi jangkauan dari Adversity Quotient yang rendah, 78 subjek (60,0%) memiliki tingkat dimensi jangkauan dari Adversity Quotient sedang serta 31 subjek (23,8%) yang memiliki tingkat dimensi jangkauan dari Adversity Quotient yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat dimensi jangkauan dari Adversity Quotient yang sedang.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Tabel 34. Kategori dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient pada Supir Taksi Berbasis Konvensional Kategori dimensi Daya Tahan Rendah Sedang Rentang Jumlah (%) X < 11,00 11,001 ≤ X ≥ 14,55 31 23,8 77 59,2 X > 14,55 22 16,9 130 100 Tinggi Total Berdasarkan tabel kategorisasi dimensi daya tahan dari Adversity Quotient pada supir taksi berbasis konvensional, terlihat bahwa dari 130 subjek terdapat 31 subjek (23,8%) memiliki tingkat dimensi daya tahan dari Adversity Quotient yang rendah, 77 subjek (59,2%) memiliki tingkat dimensi daya tahan dari Adversity Quotient sedang serta 22 subjek (16,9%) yang memiliki tingkat dimensi daya tahan dari Adversity Quotient yang tinggi. Hal ini berarti mayoritas subjek memiliki tingkat dimensi daya tahan dari Adversity Quotient yang sedang.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 F. Pembahasan Penelitian ini tidak memenuhi uji asumsi karena data penelitian tidak linear (0,070, p>0,05). Data yang tidak linear juga ditunjukkan pada scatter plot hubungan Adversity Quotient dan komitmen organiasi (Gambar 1.) yaitu data pada penelitian ini tidak mengikuti satu garis lurus dan tidak membentuk pola hubungan. Dengan demikian, teknik analisis berupa korelasi produk momen dan turunannya (Spearman’s Rho) akan cenderung melakukan underestimasi karena korelasi produk momen dan turunannya (Spearman’s Rho) mengasumsikan data bersifat linear sehingga kekuatan hubungan antara dua variabel yang sebenarnya memiliki hubungan yang kuat menjadi tidak ada hubungan atau memiliki hubungan yang lemah (Santoso, 2010). Selain itu, dimensi dan item dari skala Adversity Quotient tidak mendukung terwujudnya komitmen organisasi supir taksi berbasis konvensional. Item pada Adversity Quotient menyangkut 5 dimensi utamanya yaitu kendali, asal-usul serta pengkuan, jangkauan dan daya tahan tidak berpengaruh langsung terhadap komitmen seorang individu (Langvardt,2007). Hal ini akan membuat individu merasa tidak terlibat secara afektif terhadap organisasinya, merasa tidak adanya keuntungan yang didapat karena memilih tinggal pada organisasi serta tidak merasa bersalah saat meninggalkan organisasi sehingga akan mengurangi keinginan seseorang untuk bertahan dalam organisasi. Penelitian Langvardt (2007) mengemukakan bahwa Adversity Quotient berkorelasi tetapi lemah dengan komitmen kerja (r=0,387). Hasil ini dibuktikan dengan dimensi dalam Adversity Quotient yaitu, Kendali (r=0,567), asal-usul dan

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 pengakuan (0,501), jangkauan (0,236) serta daya tahan (r=0,343) berkorelasi tetapi lemah dengan komitmen kerja. Hasil dalam penelitian ini Adversity Quotient tidak berkorelasi dengan komitmen kerja yang ditunjukkan dengan dimensi Kendali (r=0,893), asal-usul (r=0,183), dan jangkauan (r=0,120) tidak berkorelasi terhadap komitmen organisasi. Namun, setelah dilakukan analisis tambahan uji korelasi antar dimensi Adversity Quotient dan dimensi komitmen organisasi ditemukan bahwa dimensi daya tahan (r=0,28) berkorelasi tetapi lemah dengan dimensi afektif pada komitmen kerja. Hasil tersebut menunjukkan bahwa seorang supir taksi berbasis konvensional membutuhkan daya tahan untuk berkomitmen secara afektif dengan organisasinya. Stoltz (2000) mengatakan bahwa individu yang memiliki daya tahan tinggi akan mempunyai dorongan untuk bertindak ekstra atas nama organisasi sehingga membuat individu lebih mempunyai kemauan yang tinggi untuk berusaha bertahan dalam organisasi. Selain itu, dimensi daya tahan dari Adversity Quotient (r=0,23) berkorelasi tetapi lemah dengan dimensi normatif pada komitmen kerja. Hasil ini menunjukkan bahwa seorang supir taksi berbasis konvensional membutuhkan daya tahan untuk berkomitmen secara normatif dengan organisasinya. Stoltz (2000) mengatakan bahwa individu yang memiliki daya tahan tinggi akan mempunyai perasaan salah saat meninggalkan organisasinya sehingga individu akan cenderung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bertahan menghadapi permasalahan yang dihadapi. Pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa dimensi Kendali dari Adversity Quotient (r=0,893) tidak berkorelasi dengan komitmen kerja. Hal ini

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 menyatakan bahwa komitmen seorang supir taksi berbasis konvensional tidak berhubungan dengan dimensi Kendali pada Adversity Quotient. Stolz (2000) mengatakan bahwa individu yang memiliki kendali yang rendah akan merasa apa yang mereka kerjakan tidak akan merubah apapun dan berhenti melakukan usaha saat dihadapkan pada permasalahan. Pada dimensi asal-usul (r=0,183) menunjukkan tidak berkorelasi dengan komitmen kerja, yang berarti bahwa komitmen seorang supir taksi berbasis konvensional tidak berhubungan dengan dimensi asal-usul pada Adversity Quotient. Stolz (2000) mengatakan bahwa individu yang memiliki dimensi asal-usul yang rendah akan cepat menyerah dan memiliki kinerja yang menurun saat berhadapan dengan masalah. Selain itu, dimensi jangkauan (r=0,125) menunjukkan tidak berkorelasi dengan dimensi normatif pada komitmen kerja. Dengan demikian, bahwa komitmen seorang supir taksi berbasis konvensional tidak berhubungan dengan dimensi jangkauan. Stolz (2000) mengatakan bahwa individu yang memiliki dimensi jangkauan rendah akan membiarkan kesulitan menjangkau bidang-bidang kehidupan lainnya yang menyebabkan terkurasnya tenaga. Rendahnya dimensi jangkauan juga akan menyebabkan seseorang merasa tidak berdaya untuk mengambil tindakan penyelesaian. Selain itu, berdasarkan hasil kategorisasi supir taksi berbasis konvensional memiliki tingkat komitmen organisasi yang sedang sebesar 74,6% dengan subjek 97. Pada masing-masing dimensi dari komitmen organisasi supir taksi berbasis konvensional juga menunjukkan tingkat yang sedang. Hasil kategorisasi dimensi afektif dari komitmen organisasi supir taksi berbasis konvensional menunjukkan

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 tingkat yang sedang yaitu sebesar 79,2% dengan subjek 103. Hal ini berarti bahwa supir taksi berbasis konvensional memiliki keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi, namun tidak mempunyai keterlibatan emosi dan keterlibatan dengan organisasi yang cukup tinggi Stolz (2000). Pada dimensi kontinum dari komitmen organisasi supir taksi berbasis konvensional menunjukkan tingkat yang sedang yaitu sebesar 66,9% dengan subjek 87. Sedangkan pada dimensi daya tahan dari komitmen organisasi supir taksi berbasis konvensional menunjukkan tingkat yang sedang yaitu sebesar 78,5% dengan subjek 102. Hal ini berarti bahwa supir taksi berbasis konvensional merasa ingin terikat dengan perusahaan, wajib dan butuh terikat dengan perusahaan, namun saat ada tawaran yang lebih menarik terkait dengan keuntungan pada perusahaan lain, supir taksi berbasis konvensional tersebut akan keluar dari perusahaan (Purba & Seniati, 2004). Hasil kategorisasi supir taksi berbasis konvensional memiliki tingkat Adversity Quotient yang sedang sebesar 71,5% dengan subjek 93. Pada masingmasing dimensi dari Adversity Quotient supir taksi berbasis konvensional juga menunjukkan tingkat yang sedang. Hasil kategorisasi dimensi kendali dari Adversity Quotient supir taksi berbasis konvensional menunjukkan tingkat yang sedang yaitu sebesar 63,8% dengan subjek 83. Hal ini berarti bahwa supir taksi berbasis konvensional mampu mengendalikan masalah dan mempengaruhi situasi yang sulit. Namun, saat menemukan kesulitan yang dianggap terlalu sulit bagi supir taksi berbasis konvensional akan berhenti berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan mencari-cari alasan yang kuat atas tindakannya (Stoltz, 2000). Pada dimensi asal-usul dan pengakuan dari Adversity Quotient supir taksi berbasis

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 konvensional menunjukkan tingkat yang sedang yaitu sebesar 68,5% dengan subjek 89. Hal ini berarti bahwa supir taksi berbasis konvensional mampu menemukan penyebab kesulitan yang mereka alami. Namun, supir taksi berbasis konvensional cenderung menyalahkan oranglain atas masalah yang terjadi, cepat menyerah sehingga menyebabkan kinerja turun (Stoltz, 2000). Pada dimensi jangkauan dari Adversity Quotient supir taksi berbasis konvensional menunjukkan tingkat yang sedang yaitu sebesar 60,0% dengan subjek 78. Hal ini berarti bahwa supir taksi berbasis konvensional mampu membatasi masalah yang mereka hadapi tidak menjangkau bidang kehidup lainnya. Namun, masalah yang dialami supir taksi berbasis konvensional cenderung menghambat pekerjaan, melemahkan motivasi dalam bekerja sehingga tidak berdaya dalam menyelesaikan masalah (Stoltz, 2000). Selain itu, pada dimensi daya tahan dari Adversity Quotient supir taksi berbasis konvensional menunjukkan tingkat yang sedang yaitu sebesar 59,2% dengan subjek 77. Hal ini berarti bahwa supir taksi berbasis konvensional mempunyai energi yang cukup tinggi dalam proses penyelesaian masalah. Namun, supir taksi berbasis konvensional cenderung menganggap bahwa masalah yang mereka hadapi akan berlangsung lama sehingga menyebabkan hilangnya harapan untuk bertindak (Stoltz, 2000). Berdasarkan katagorisisasi dari komitmen organisasi dan Adversity Quotient supir taksi berbasis konvensional tergolong sedang. Selain itu juga, karakteristik supir taksi berbasis konvensional yang merasa apa yang dikerjakan sia-sia, cepat menyerah dan tidak berdaya terhadap permasalahan merupakan

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 individu yang tidak mampu menyelesaikan tantangan kerja dan cenderung juga dapat bertahan karena mereka hanya menampilkan perilaku yang sesuai standar dan menghindar dari resiko (White, A., 2017). Perilaku supir taksi berbasis konvensional yang hanya sedang-sedang saja atau sesuai standar ini cenderung merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh, tidak menggunakan seluruh kemampuannya tetapi apa yang dilakukannya cukup untuk membuat mereka dipekerjakan dan mau melakukan pekerjaan yang penuh resiko, namun memilih ancamannya paling rendah untuk dirinya sehingga tidak ada pengembangan diri (Stoltz, 2000). Namun, jika dilihat dari segi daya tahan yang dimiliki supirt berbasis konvensional membuat individu mempunyai dorongan untuk bertindak atas nama organisasi sehingga membuat individu lebih mempunyai kemauan yang tinggi untuk berusaha bertahan dalam organisasi. Selain itu, supir taksi berbasis konvensional juga mempunyai perasaan bersalah saat meninggalkan organisasinya sehingga individu akan cenderung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bertahan menghadapi permasalahan yang dihadapi.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian ini tidak memenuhi uji asumsi karena data penelitian tidak linier (0,070, p>0,05). Namun, peneliti melakukan analisis data tambahan menggunakan teknik uji korelasi Spearman’s Rho antar dimensi dari Adversity Quotient dan dimensi dari komitmen organisasi. Hasil analisis tambahan penelitian ini menunjukkan bahwa dimensi daya tahan pada Adversity Quotient berkorelasi tetapi lemah dengan dimensi afektif pada komitmen organisasi (r= 0,28). Selain itu, dimensi daya tahan pada Adversity Quotient berkorelasi tetapi lemah dengan dimensi normatif pada komitmen organisasi (r= 0,23). B. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu tidak mencantumkan lama bekerja supir taksi berbasis konvensional sehingga kurang lengkap dalam membahas bagaimana komitmen organisasi supir taksi berbasis konvensional dari segi lamanya bekerja. C. Saran 1. Bagi Subjek Penelitian Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimensi daya tahan pada Adversity Quotient berkorelasi tetapi lemah dengan dimensi afektif dan normatif pada komitmen organisasi. Berdasarkan hal ini, supir taksi berbasis konvensional sebaiknya lebih meningkatkan dan mempertahankan 82

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 daya tahan yang dimiliki supir taksi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi sehingga mempunyai komitmen terhadap perusahaan taksi berbasis konvensional. 2. Bagi Penelitian Selanjutnya Berdasarkan hasil penelitian, data yang ditemukan tidak terdistribusi dengan normal sehingga peneliti harus menggunakan formula korelasi Spearman’s Rho. Hal ini berarti bahwa penelitian selanjutkan dianjurkan untuk mencari data penelitian yang lebih banyak. Penambahan data dapat memperbesar kemungkinan data terdistribusi dengan normal sehingga dapat mewakili data komitmen organisasi yang lebih luas. Selain itu, pada penelitian ini pembahasan komitmen organisasi kurang lengkap, terutama dalam pembahasan mengenai lama bekerja supir taksi berbasis konvensional yang merupakan faktor dari komitmen organisasi. Hal ini berarti bahwa peneliti selanjutnya dianjurkan untuk mencari lamanya bekerja subjek, sehingga data dan pembahasan lebih lengkap.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Agustian, Ary Ginanjar. (2001). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual– ESQ, Jakarta: Penerbit Arga. Abdilah, S. (2006). Cerdas dan Cermat Kelola Hidup. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/2006/112006/10/00jumat.htm. Artana, F., Winarto, Y., Setijowarno, D. (2017). Analisis Operasional Angkutan Taksi Di Kota Semarang. Jurnal Simposium III FSTPT, 979, 1-8. Azwar, S. (2007). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2009). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2017). Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Botes G. (1997). A systemic Study of Attitudes of Minibus Taxi Drivers Towards Traffic Law Enforcement as a Basis for the Formulation of a Management System for the South African Minibus Taxi Industry. DissertationAbstracts-International-Section-B:The Sciences-and-Engineering, 58 (3-B). Bukhari, T. A. S., Saeed, M. M., & Nisar, M. (2011). The effects of psychological contract breach on various employee level outcomes: The moderating role of Islamic work ethic and adversity quotient. African Journal of Business Management, 5(21), 8393-8398. Brickman.,Dunkel-Schetter., & Abbey, A. (1987). The Development of Commitment. In C.B. Wortman & R. Sorrentina (Eds.), Commitment, Conflict, and Caring (pp. 145-221). Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall. Broeck, Anja Van Den., Cuyper, Nele De., Witte, Hans De., Vansteenkiste, Maarten. (2010). Not All Demands Are Equal : Differentiating Job Hindrances and Job Challenges in the Job Demands-Resourse Model. European Joural of Work and Organizational Psychology, 19 (6), 735-759. Colquitte, Jason A.; Le Pine, Jeffery A & Wesson, Michael J. (2015). Organizational Behavior: Improving Perfomance and Commitment in the Workplace Fourth Edittion. New York: McGraw-Hill Education. Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta. (2015). “Data Taksi Reguler dan Taksi Eksekutif DKI Jakarta”. Retrieved from http://data.jakarta.go.id/sq/organization/dinas-perhubungan?page=8. 84

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Emanuel, A. W. R., & Salim, A. (2015). 2. Pembuatan Sistem Pelayanan Taksi dengan Menggunakan Android, Google Maps, dan Ruby on Rails. Jurnal Sistem Informasi, 8(1). Febriany, W. E. (2014). Pengaruh Keberadaan Taksi untuk Transportasi Masyarakat di Kecamatan Boyolali Kabupaten Boyolali (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta). Firmanita, S. D., Rosdiana, I., & Indrayani, U. D. (2015). The Correlation between Duration of Employment, Body Posture and Smoking Habit on Low Back Pain Incidence An Analytic Observational Study Among Taxi Driver in Semarang Municipality. Sains Medika, 6(1), 17-20. Fitriastuti, Triana. (2013). Pengaruh Kecerdasan Emosional, Komitmen Organisasional dan Organizatonal Citizenship Behavior terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Dinamika Manajemen, 4 (2), 103-114. Ginanjar, D.(2017, Maret 22). Masyrakat Suka Tarif Murah, YLKI Sentil Keselamatan Taksi Online. Diunduh dari https://www.jawapos.com/read/2017/03/22/117916/masyarakat-suka-tarifmurah-Ylki-sentil-keselamatan-taksi-online. Hadi, S. (2000). Panduan Manual Seri Program 2000). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Statistik (SPS- Hidayat, S. (2001). Adversity Quotient. MDI News. Vol.VII. July 2001. Hui, C & Lee, C. (2000). Moderating Effect of Organization-Based Self-Esteem on Organizational Uncertainly: Employee Response Relationship. Journal of Management, 26 (2). Kerlinger, P., & Lein, M. R. (1986). Differences in winter range among agesex classes of Snowy Owls Nyctea scandiaca in North America. Ornis Scandinavica, 1-7. Kreitner, Robert & Kinicki, Angelo (1991). Organizational Behavior (ed. 2). Boston : Richard D. Irwin, INC. Langvardt, G. D. (2007). Resilience and commitment to change: a case study of a nonprofit organization (Vol. 68, No. 03). Levy, P. E (2010). Industrial Organizational Psychology. 3th ed. New York: Worth Publisher. Luthans, F (1995). Organizational Behavior : Seventh Edition. Singapore : McGraw-Hill International Edition.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Markman, Gideon D., Baron, & Robert A., Balkin, David B. (2005). Are Perseverance and Self-Efficacy Costless? Assessing Enterpreneurs regretful Thinking, Journal of Organizational Behavior, 26, 1-19. Mathieu, John E., & Zajac, Dennis M. (1990). A Riview and Meta-Analysis of the Antecedents, Correlates, Consequences of Organizational Commitment. Journal of American Psychological Association, 108 (2), 171-194. Meyer, J. & Allen, N. (1997). Commitment in the workplace: Theory, research, and application. Thousand Oaks, CA: Sage. Minner, John B (1997). Industrial and Organizational Psychology. Mc. Graw Hill International Edition. Mohammad, Y. (2016, Desember 03). Taksi Konvensional Terdesak Taksi Berbasis Aplikasi. Retrieved September 08, 2017, from https://beritagar.id/artikel/berita/taksi-konvensional-terdesak-taksi-berbasisaplikasi. Mowday, R. T., Porter, L., W., & Seers, R. M (1982). Employee Organization Linkages: The Psychology of Commitment, Absenteesism, and Turnover. London: Academic Press Inc. Nazaruddin, M. (2017). Competotion of Taxi Driver in Pekanbaru City. Jom Fisip, 4(2), 1-15. Ngafifi,Muhamad.(2014).Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia Dalam Perspektif Sosial Budaya.Jurnal Pembangunan Pendidikan : Fondasi dan Aplikasi, 2(1), 33-47. Diunduh dari https://salamadian.com/cara-penulisandaftar-pustaka-dari-jurnal/. Noor,J. (2011). Metodologi Penelitian. Jakarta : Prenada Media Group. Oktavianti, M., & Fridha, M. (2017). Penggunaan Aplikasi Zello Walkie Talkie di Kalangan Sopir Taksi Online di Kota Bandung, Prosiding Komunikasi, 1(2). O'Reilly, C. A., & Chatman, J. (1986). Organizational commitment and psychological attachment: The effects of compliance, identification, and internalization on prosocial behavior. Journal of applied psychology, 71(3), 492. Pareke Fahrudin Js. (2004). Dimensionalisasi Perilaku di Luar Peran Kerja (ExtraRole Behavior). Universitas Bengkulu. Jurnal Bisnis dan Ekonomi September 2004.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Perintalo, J. (2015). Penyusunan Skala Psikologi : Asyik, Mudah & Bermanfaat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Phoolka, E. S., & Kaur, N. (2012). Adversity Quotient: A New Paradigm to Explore. International Journal of Contemporary Business Studies, 3(4), 6777. Pratama, H.A. 2017. Kilas Balik Perkembangan Layanan Transportasi Online di Tahun 2016. Diunduh dari https://id.techinasia.com/kilas-balikperkembangan-transportasi-online-sepanjang-tahun-2016. Purba, E.D & Seniati, A.N. (2004). Pengaruh Kepribadian dan Komitmen Organisasi Terhadap Organizational Citizenship Behavior. Jurnal Makara.3(8), 105-111. Puspitasari, Rusnindita. 2017. Hubungan Antara Komitmen Organisasi, Sikap Terhadap Perubahan Organisasi Dan Performansi Kerja Pada Pegawai Negeri Sipil. Skripsi. Tidak di terbitkan. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma : Yogyakarta. Putra, Nugraha. 2016. Hubungan Antara Adversity Quotient Dan Employability Pada Mahasiswa Tingkat Akhir. Skripsi. Tidak di terbitkan. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma: Yogyakarta. Republik Indonesia. 2017. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Nomor PM 108 Tahun 2017. Penyelenggaraan Angkutan Umum Tidak Dalam Trayek. Jakarta. Razak, Hamied Abdul. (2010, 22 Januari). Makin Terdesak, Unit Taksi Argo Berkurang. Diunduh dari https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2019/01/22/510/966671/makinterdesak-unit-taksi-argo-berkurang Riggio, Ronald E (2008). Industrial / Organizational Psychology (ed. 5). USA: Prentice-Hall Inc. Riyandi, S. (2016, Maret 27). 5 Bukti Taksi Konvensional Kalah Jauh dari Grbacar dan Uber. Retrieved August 26, 2017, from https://www.merdeka.com/uang/5-bukti-taksi-konvensional-kalah-jauh-darigrabcar-dan-uber.html. Robbins. P.S. (2002). Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Erlangga. Robbins, S. & Judge, T. (2007). Organizational behavior. (12th Ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Rogg, K. L., Schmidt, D. B., Shull, C., & Schmitt, N. (2001). Human resource practices, organizational climate, and customer satisfaction. Journal of management, 27(4), 431-449. Rosenbloom, T., & Shahar, A. (2007). Differences between taxi and nonprofessional male drivers in attitudes towards traffic-violation penalties. Transportation research part F: traffic psychology and behaviour, 10(5), 428-435. Sabadar, S. (2017, Feb 17). Jeritan Hati Sopir Taksi Argo di Kota Gudeg. Diunduh dari https://www.liputan6.com/regional/read/2858949/jeritan-hatisopir-taksi-argo-di-kota-gudeg. Santoso, A. (2010). Statistik Untuk Psikologi: Dari Blog Menjadi Buku. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Setyanto, A.R & Rizky, B.S. (2016). Kajian Determinan Biaya Transaksi Tkasi Konvensional dengan Taksi Online, Universitas Terbuka, Indonesia. Sitompul, C. M. (2016). Hubungan antara Adversity Quotient dengan Komitmen Organisasi pada Medical Representative di Kota Medan (Skripsi tidak diterbitkan), Universitas Sumatera Utara, Sumatera, Indonesia. Supratiknya, A. (2014). Pengukuran Psikologis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: USD Publishers. Saraswati, Bernadheta D. (2017, 9 Oktober). Tantangan Taksi Konvensional. Diunduh dari ttps://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2017/10/09/510/858279/dijogja-jumlah-taksi-konvensional-kalah-banyak-dengan-taksi-online. Surekha. (2001). Adversity Intellengence. Jakarta: Pustaka Umum. Song, J. H., & Woo, H. Y. (2015). A study on AQ (Adversity Quotient), job satisfaction and turnover Intention according to work units of clinical nursing staffs in Korea. Indian Journal of Science and Technology, 8(S8), 74-78. Sopiah, M. (2008). Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Andi. Steers, R. M., & Porter, L. W. (1983). Employee commitment to organizations. Motivation and work behavior, 99, 441-451.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Stoltz, P. G. (2000). Adversity quotient: Mengubah hambatan menjadi peluang. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Stoltz, P.G. (2007). Adversity Quotient. Jakarta : Grasindo. Tseng, M.C. Operating Styles, Working time and Daily Driving Distance In Realtion To a Taxi Drivers Speding Offenses in Taiwan. (2012). Journal of Accodent Analysis And Prevention Elsevier, 1-8. doi: http//dx.doi.org/10.1016/j.aap.2012.11.020. Widiyanto, Danar. (2018, 1 Februari). Jumlah Taksi Reguler Terjun Bebas. Diunduh dari https://krjogja.com/web/news/read/56685/Jumlah_Taksi_Reguler_Terjun_B ebas White, A. (2009). From comfort zone to performance management. White & MacLean Publishing. Wiener, Y., (1982). Commitment in Organization: A Normativer View. Academy of Management Review, 7, 414-428. Zamzami, Fitriyan. (2016, Maret 17). Mereka Terdesak Transportasi Daring. Diunduh dari http://www.republika.co.id/berita/koran/publik/16/03/17/o46h4923-merekaterdesak-transportasi-daring.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 90

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 LAMPIRAN 1 SKALA PENELITIAN

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 SKALA PENELITIAN Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Anggraini Ekowati Esthi Bringintyas 139114123 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Yogyakarta, September 2018 Kepada: Yth. Saudara/i yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini. Dengan hormat, saya : Nama : Anggraini Ekowati Esthi Bringintyas Fakultas : Psikologi Universitas : Sanata Dharma Yogyakarta Memohon bantuan dan kesedian saudara/i untuk membantu saya mengisi skala penelitian ini guna menyelesaikan tugas akhir saya sebagai seorang mahasiswa. Oleh karena itu, saya mohon saudara/i untuk memberikan tanggapan terhadap pernyataan-pernyataan yang telah tersusun dalam skala ini. Semua tanggapan yang saudara/i berikan tidak ada yang salah dan sangat dijamin kerahasiaannya. Oleh sebab itu, saya mengharapkan agar jawaban yang diberikan sesuai dengan diri saudara/i yang sesungguhnya. Atas waktu dan kesediaannya untuk menjawab setiap pernyataan berikut, saya ucapkan terimakasih. Hormat saya, Anggraini Ekowati Esthi Bringintyas

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 PERNYATAAN KESEDIAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa saya bersedia mengisi skala ini dengan sukarela dan tidak dibawah paksaan atau tekanan dari pihak tertentu, demi membantu terlaksananya penelitian ilmiah ini. Semua jawaban yang saya berikan adalah murni dari apa yang saya alami dan bukan berdasarkan pada pandangan masyarakat pada umumnya. Saya mengijinkan penggunaan jawaban yang saya berikan tersebut sebagai data untuk memperlancar penelitian ilmiah ini. ………..,…………………………….2018 Menyetujui ………............ (ttd)

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 IDENTITAS DIRI Inisial Jenis Kelamin Usia Lama bekerja : : : : PETUNJUK PENGISISAN Baca dan pahami pernyataan-pernyataan yang tersedia dengan seksama. Nyatakanlah sikap atau tanggapan Anda terhadap setiap pernyataan dengan memberikan tanda Checklist (√) pada kolom yang sesuai. Kemungkinan Jawaban yang tersedia adalah: SS : bila keadaan Anda Sangat Sesuai dengan pernyataan tersebut S : bila keadaan Anda Sesuai dengan pernyataan tersebut TS : bila keadaan Anda Tidak Sesuai dengan pernyataan tersebut STS : bila keadaan Anda Sangat Tidak Sesuai dengan pernyataan tersebut Skala penelitian ini tidak ada pilihan jawaban yang salah, semua jawaban dianggap benar. Hasil dari skala penelitian ini tidak akan mempengaruhi nilai atau apapun terkait pekerjaan Anda. Apabila Anda telah selesai mengerjakan seluruh soal, silahkan memeriksa dan memastikan agar tidak ada pernyataan yang terlewatkan untuk dijawab. Contoh cara pengisian: Pernyataan Saya yakin dengan pilihan hidup saya SS S TS STS √ Jika Anda ingin mengganti jawaban, silahkan memberikan tanda 2 garis vertikal pada jawaban Anda sebelumnya, lalu memberikan tanda Checklist(√) pada jawaban yang menurut Anda sesuai dengan keadaan diri Anda saat ini.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Contoh cara penggantian jawaban: No. Pernyataan 1. Saya yakin dengan pilihan hidup saya SS ~Selamat Mengerjakan~ S √ TS STS √

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 BAGIAN PERTAMA No. Pernyataan 1. Saya yakin bahwa dengan bekerja keras, Saya mampu mengatasi permasalahan hidup saya. 2. Saya mampu mengatasi kesulitan dalam pekerjaan saya. 3. Saya mampu mengatasi setiap kesulitan di dalam hidup saya. 4. Saya mampu mengatasi masalah saya tanpa harus menunggu pertolongan dari orang lain. 5. Saya siap menerima konsekuensi atas kegagalan saya dalam pekerjaan. 6. Saya bertanggung jawab atas setiap kesulitan yang saya hadapi. Saya merasa gagal melaksanakan tanggung 7. jawab saya sehingga saya ingin orang lain menyelesaikan tanggung jawab tersebut. 8. Ketika saya berada dalam kesulitan saya tidak mampu mengatasinya. Saya merasa kesulitan yang saya lalui ini hanya 9. sementara dan mampu membantu saya sukses di masa depan. 10. Saya mampu menganalisa serumit apapun masalah saya hingga dapat mengatasinya. Pertemanan saya berakhir apabila teman kerja 11. saya tidak membalas pesan singkat yang saya kirim berulang kali. 12. Perilaku yang saya lakukan selama ini akan membawa saya pada kesulitan. 13. Saya merasa masalah saya. kesulitan mencari penyebab SS S TS STS

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 No. Pernyataan SS 14. Saya merasa mampu menemukan masalah yang mengganggu saya. sumber 15. Saya mampu berinisiatif untuk menyelesaikan masalah yang saya hadapi. Saya sadar akan kesalahan yang telah saya 16. lakukan dan saya bersedia belajar dari kesalahan tersebut. Ketika saya menghadapi kesulitan, saya hanya 17. bisa menunggu hingga keadaan menjadi lebih baik. 18. Saya merasa pesimis karena masalah yang berlarut-larut. Kesulitan saya dalam melayani penumpang 19. tidak akan mempengaruhi pekerjaan saya di masa depan. Saya menghindari mengakui kesalahan yang 20. saya lakukan dalam mengerjakan pekerjaan saya. Saya yakin bahwa saya mampu mengatasi 21. masalah walaupun membutuhkan waktu yang lama. Saya yakin dengan menyesuaikan diri maka 22. saya mampu mengatasi kesulitan yang saya hadapi. Saya merasa kesulitan yang saya hadapi 23. mustahil untuk diselesaikan karena masalah tersebut berasa dari diri saya sendiri. 24. Setiap pekerjaan berbeda-beda. memiliki kesulitan yang Saya takut memperbaiki kesalahan karena saya 25. takut membuat situasi semakin buruk. S TS STS

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Pernyataan No. SS S TS STS 26. Masalah yang rumit membuat saya sulit untuk mencari sumber permasalahannya. Saya kesulitan melaksanakan tanggung jawab 27. yang besar, sehingga saya menghindarinya. 28. Hari buruk yang terjadi pada saya kemarin tidak mempengaruhi kondisi saya di hari ini. 29. Suasana hati saya buruk sepanjang hari apabila teman saya melakukan kesalahan. 30. Saya mampu melakukan hal yang hebat dan penuh rintangan. 31. Saya yakin teman saya punya alasan yang tepat apabila ia tidak ingin menemui saya. 32. Saya merasa tidak berdaya dalam menyelesaikan masalah karena sifat saya. Saya mampu membedakan masalah yang di 33. dalam pekerjaan dan masalah yang ada di dalam rumah. 34. Setiap masalah di dalam paguyuban yang saya ikuti adalah hasil kesalahan saya. 35. Saya gelisah akibat masalah-masalah yang saya hadapi. BAGIAN KEDUA No. Pernyataan 1. Selama saya bekerja di perusahaan ini, saya merasa nyaman 2. Semakin lama bekerja di perusahaan ini, saya semakin menyukai perusahaan ini SS S TS STS

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 No. Pernyataan 3. Saya tidak memiliki pilihan lain sebagai pertimbangan selain bekerja di perusahaan ini 4. Saya merasa selalu ada kesempatan untuk berkembang di perusahaan ini 5. Saya memiliki hak untuk keluar dari perusahaan ini meskipun saya memiliki tanggungjawab terhadap pekerjaan saya 6. Bagi saya sah-sah saja untuk meninggalkan perusahaan ini 7. Saya tetap menjadi bagian dari perusahaan ini karena saya memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan tugas-tugas saya dengan baik 8. Saya akan menyesal meninggalkan perusahaan ini karena saya sudah mendapat keuntungan dari perusahaan ini 9. Selama saya bekerja di perusahaan ini, saya merasa tidak nyaman 10. Saya merasa tidak ada kesempatan untuk berkembang di perusahaan ini 11. Bagi saya, berkorban untuk mencapai tujuan perusahaan ini merupakan suatu keharusan 12. Perusahaan ini memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi 13. Saya tetap bekerja di perusahaan ini karena aturan tidak memungkinkan saya untuk keluar 14. Semakin lama bekerja di perusahaan ini, saya semakin tidak menyukai perusahaan ini 15. Saya tidak akan menyesal meninggalkan perusahaan ini meskipun saya sudah mendapat keuntungan dari perusahaan ini SS S TS STS

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 No. Pernyataan 16. Bagi saya, berkorban untuk mencapai tujuan perusahaan ini bukan merupakan suatu keharusan 17. Saya memiliki pilihan lain sebagai pertimbangan selain bekerja di perusahaan ini 18. Saya merasa bukan bagian dari perusahaan ini ~Terimakasih~ Semoga hari ini diberi kelancaran rejeki SS S TS STS

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 LAMPIRAN 2 RELIABILITAS SKALA ADVERSITY QUOTIENT DAN SKALA KOMITMEN ORGANISASI

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 LAMPIRAN RELIABILITAS SKALA A. SKALA ADVERSITY QUOTIENT 1. Reliabilitas Skala Adversity Quotient Sebelum Seleksi Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .793 35 Item Statistics Mean Std. Deviation N AQ1 3.41 .643 130 AQ2 3.20 .548 130 AQ3 3.18 .607 130 AQ4 2.68 .828 130 AQ5 3.25 .558 130 AQ6 3.32 .546 130 AQ7 2.99 .831 130 AQ8 3.14 .656 130 AQ9 3.30 .722 130 AQ10 3.09 .616 130 AQ11 3.28 .707 130 AQ12 2.97 .622 130 AQ13 2.86 .691 130 AQ14 2.88 .768 130 AQ15 3.16 .568 130 AQ16 3.44 .597 130 AQ17 2.84 .963 130 AQ18 3.17 .672 130 AQ19 2.85 .867 130 AQ20 2.97 .777 130 AQ21 3.07 .695 130 AQ22 3.25 .585 130 AQ23 3.02 .787 130 AQ24 3.39 .577 130 AQ25 3.10 .796 130 AQ26 2.92 .764 130

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 AQ27 3.02 .777 130 AQ28 2.97 .871 130 AQ29 2.83 .759 130 AQ30 3.11 .626 130 AQ31 2.82 .656 130 AQ32 2.83 .738 130 AQ33 3.26 .604 130 AQ34 3.16 .776 130 AQ35 2.85 .836 130 2. Reliabilitas Skala Adversity Quotient Setelah Seleksi Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .816 20 Item Statistics Mean Std. Deviation N AQ8 3.14 .656 130 AQ15 3.16 .568 130 AQ17 2.84 .963 130 AQ30 3.11 .626 130 AQ24 3.39 .577 130 AQ10 3.09 .616 130 AQ26 2.92 .764 130 AQ34 3.16 .776 130 AQ7 2.99 .831 130 AQ16 3.44 .597 130 AQ20 2.97 .777 130 AQ25 3.10 .796 130 AQ11 3.28 .707 130 AQ31 2.82 .656 130 AQ33 3.26 .604 130 AQ35 2.85 .836 130 AQ9 3.30 .722 130 AQ18 3.17 .672 130 AQ21 3.07 .695 130 AQ22 3.25 .585 130

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 A. SKALA KOMITMEN KERJA 1. Reliabilitas Skala Komitmen Kerja Sebelum Seleksi Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .699 18 Item Statistics Mean Std. Deviation N KO1 3.05 .639 130 KO2 2.79 .723 130 KO3 2.60 .764 130 KO4 2.96 .652 130 KO5 2.05 .674 130 KO6 2.02 .590 130 KO7 3.15 .515 130 KO8 2.35 .701 130 KO9 3.03 .570 130 KO10 2.78 .638 130 KO11 2.70 .700 130 KO12 2.92 .743 130 KO13 2.38 .662 130 KO14 2.88 .552 130 KO15 2.47 .684 130 KO16 2.21 .744 130 KO17 2.13 .627 130 KO18 2.81 .672 130

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 2. Reliabilitas Skala Komitmen Kerja Setelah Seleksi Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .772 12 Item Statistics Mean Std. Deviation N KO1 3.05 .639 130 KO2 2.79 .723 130 KO9 3.03 .570 130 KO12 2.92 .743 130 KO14 2.88 .552 130 KO18 2.81 .672 130 KO4 2.96 .652 130 KO8 2.35 .701 130 KO10 2.78 .638 130 KO15 2.47 .684 130 KO7 3.15 .515 130 KO11 2.70 .700 130

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 LAMPIRAN 3 HASIL UJI MEAN TEORITIK DAN MEAN EMPIRIK

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 LAMPIRAN HASIL UJI MEAN TEORITIK DAN MEAN EMPIRIK A. SKALA ADVERSITY QUOTIENT Jumlah item : 20 Nilai minimum : 20 x 1 = 20 Nilai Maksimum : 20 x 4 = 80 Rentang nilai : 20– 80 Jarak : 80+20 = 100 Mean teoritik : (𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙+𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙) 2 = 20+80 2 = 50 One-Sample Statistics N TOTAL_AQ Mean 130 62.32 Std. Deviation Std. Error Mean 6.687 .586 One-Sample Test Test Value = 50 95% Confidence Interval of the Difference T TOTAL_AQ 20.999 df Sig. (2-tailed) 129 .000 Mean Difference 12.315 Lower 11.16 Upper 13.48

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 B. SKALA KOMITMEN KERJA Jumlah item : 12 Nilai minimum : 12 x 1 = 12 Nilai Maksimum : 12 x 4 = 48 Rentang nilai : 12– 48 Jarak : 48+12 = 60 Mean teoritik : (𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙+𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙) 2 = 12+48 2 = 30 One-Sample Statistics N TOTAL_KO Mean 130 33.89 Std. Deviation Std. Error Mean 4.182 .367 One-Sample Test Test Value = 30 95% Confidence Interval of the Difference t TOTAL_KO 10.611 df Sig. (2-tailed) 129 .000 Mean Difference 3.892 Lower Upper 3.17 4.62

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 LAMPIRAN 4 HASIL UJI NORMALITAS ADVERSITY QUOTIENT DAN KOMITMEN ORGANISASI

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 LAMPIRAN HASIL UJI NORMALITAS A. ADVERSITY QUOTIENT Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic TOTAL_AQ df .089 Shapiro-Wilk Sig. 130 Statistic .013 df .989 Sig. 130 .419 B. KOMITMEN ORGANISASI Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic TOTAL_KO .076 df Shapiro-Wilk Sig. 130 .060 Statistic .987 df Sig. 130 .231

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 LAMPIRAN 5 HASIL UJI LINEARITAS

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 LAMPIRAN HASIL UJI LINIERITAS ANOVA Table Sum of Squares TOTAL_KO * Between (Combined) TOTAL_AQ Groups Linearity Mean df Square F Sig. 634.084 31 20.454 1.236 .216 55.425 1 55.425 3.348 .070 578.659 30 19.289 1.165 .283 Within Groups 1622.408 98 16.555 Total 2256.492 129 Deviation from Linearity

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 LAMPIRAN 6 HASIL UJI NORMALITAS ANALISIS DATA TAMBAHAN

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 LAMPIRAN HASIL UJI NORMALITAS ANALISIS DATA TAMBAHAN A. DIMENSI DAYA TAHAN DARI ADVERSITY QUOTIENT Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic TOTAL_E df .139 Shapiro-Wilk Sig. 130 Statistic .000 df .962 Sig. 130 .001 a. Lilliefors Significance Correction B. DIMENSI JANGKAUAN DARI ADVERSITY QUOTIENT Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic TOTAL_R df .133 Shapiro-Wilk Sig. 130 Statistic .000 df .960 Sig. 130 .001 a. Lilliefors Significance Correction C. ASPEK AFEKTIF DARI KOMITMEN ORGANISASI Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic TOTAL_AF df Shapiro-Wilk Sig. .145 130 Statistic .000 .948 df Sig. 130 .000 a. Lilliefors Significance Correction D. ASPEK NORMATIF DARI KOMITMEN ORGANISASI Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic TOTAL_NOR df .259 a. Lilliefors Significance Correction Shapiro-Wilk Sig. 130 .000 Statistic .857 df Sig. 130 .000

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 LAMPIRAN 7 HASIL UJI LINEARITAS ANALISIS DATA TAMBAHAN

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 LAMPIRAN HASIL UJI LINEARITAS ANALISIS DATA TAMBAHAN A. Hasil Uji Linearitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Afektif dari Komitmen Organisasi ANOVA Table Sum of Squares Mean df Square F Sig. TOTAL_AF * Between (Combined) 60.563 8 7.570 1.107 .363 TOTAL_E Groups Linearity 39.262 1 39.262 5.742 .018 21.302 7 3.043 Within Groups 827.313 121 6.837 Total 887.877 129 Deviation from Linearity .445 .872 B. Hasil Uji Linearitas Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi ANOVA Table Sum of Squares TOTAL_NOR * Between (Combined) TOTAL_E Groups Linearity Mean df Square F Sig. 11.084 8 1.385 1.584 .136 7.136 1 7.136 8.159 .005 3.947 7 .564 .645 .718 Within Groups 105.839 121 .875 Total 116.923 129 Deviation from Linearity

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 C. Hasil Uji Linearitas Dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi ANOVA Table Sum of Squares Mean df Square F Sig. TOTAL_NOR * Between (Combined) 6.392 9 .710 .771 .643 TOTAL_R Groups Linearity 4.083 1 4.083 4.432 .037 2.310 8 .289 .313 .960 Within Groups 110.531 120 .921 Total 116.923 129 Deviation from Linearity

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 LAMPIRAN 7 HASIL UJI KORELASI ANALISIS DATA TAMBAHAN

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 LAMPIRAN HASIL UJI KORELASI ANALISIS DATA TAMBAHAN A. Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Afektif dari Komitmen Organisasi Correlations TOTAL_AF Spearman's rho TOTAL_AF Correlation Coefficient * 1.000 .192 . .028 130 130 Correlation Coefficient .192 * 1.000 Sig. (2-tailed) .028 . N 130 130 Sig. (2-tailed) N TOTAL_E TOTAL_E *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). B. Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho Dimensi Daya Tahan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi Correlations TOTAL_NOR Spearman's rho TOTAL_NOR Correlation Coefficient .199 . .023 130 130 Correlation Coefficient .199 * 1.000 Sig. (2-tailed) .023 . N 130 130 N TOTAL_E * 1.000 Sig. (2-tailed) C , C . TOTAL_E *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 C. Hasil Uji Korelasi Spearman’s Rho Dimensi Jangkauan dari Adversity Quotient terhadap Aspek Normatif dari Komitmen Organisasi Correlations TOTAL_NOR Spearman's rho TOTAL_NOR Correlation Coefficient 1.000 .135 . .125 N 130 130 Correlation Coefficient .135 1.000 Sig. (2-tailed) .125 . N 130 130 Sig. (2-tailed) TOTAL_R TOTAL_R

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 LAMPIRAN 8 GAMBAR

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 LAMPIRAN GAMBAR Gambar 1. Scatter Plot Hubungan Antara Adversity Quotient dan komitmen organisasi

(145)

Dokumen baru

Download (144 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN KOMITMEN KARYAWAN PADA ORGANISASI
0
4
2
HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DENGAN KECEMASAN MENGERJAKAN SKRIPSI PADA MAHASISWA
6
30
8
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN ADVERSITY QUOTIENT PADA WIRAUSAHAWAN
4
40
64
HUBUNGAN ADVERSITY QUOTIENT DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI PADA MAHASISWA YANG MENGIKUTI ORGANISASI INTRA (BEMFA)
6
65
80
HUBUNGAN ANTARA KOHESIVITAS KELOMPOK DENGAN KOMITMEN ORGANISASI PADA KARYAWAN
0
2
7
HUBUNGAN ANTARA IKLIM ORGANISASI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI HUBUNGAN ANTARA IKLIM ORGANISASI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI.
0
1
14
HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DENGAN KINERJA KARYAWAN.
0
0
10
HUBUNGAN ANTARA KOHESIVITAS KELOMPOK DENGAN KOMITMEN ORGANISASI PADA KARYAWAN.
0
1
10
HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN PRESTASI KERJA PADA KARYAWAN HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN PRESTASI KERJA PADA KARYAWAN PT.KRAKATAU STEEL CILEGON.
0
0
17
HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI PADA KARYAWAN HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI PADA KARYAWAN.
0
0
16
PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI PADA KARYAWAN.
0
0
7
ejournal.psikologi.fisip unmul.ac.id HUBUNGAN ANTARA EMOTIONAL QUOTIENT DAN ADVERSITY QUOTIENT DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA PAD
0
1
2
HUBUNGAN ADVERSITY QUOTIENT DENGAN KEPUASAN BERWIRAUSAHA PADA WIRAUSAHA WANITA
0
0
15
HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KONFLIK KERJA PADA SUPIR TAKSI KOBATA DI PURWOKERTO
0
0
14
HUBUNGAN ANTARA SELF-ESTEEM DAN ADVERSITY QUOTIENT DENGAN KEMANDIRIAN BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA - UMG REPOSITORY
0
0
22
Show more