PENGARUH VARIASI KONSENTRASI DIETHANOLAMIDE DAN COCOAMIDOPROPYL BETAINE TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK SABUN BATANG TRANSPARAN MINYAK JAHE

Gratis

0
0
128
10 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH VARIASI KONSENTRASI DIETHANOLAMIDE DAN COCOAMIDOPROPYL BETAINE TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK SABUN BATANG TRANSPARAN MINYAK JAHE SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Oei Maria Dewiyani Sandjaja NIM : 108114065 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH VARIASI KONSENTRASI DIETHANOLAMIDE DAN COCOAMIDOPROPYL BETAINE TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK SABUN BATANG TRANSPARAN MINYAK JAHE SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Oei Maria Dewiyani Sandjaja NIM : 108114065 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI And all things, whatsoever ye shall ask in prayer, believing, ye shall receive (Matthew 21 : 22) Never give up. And most importantly, be true to yourself. Write from your heart, in your own voice, and about what you believe in (Louise Brown) Success is having a flair for the thing that you are doing, knowing that is not enough, that you have got to hard work and a sense of purpose (Margaret Thatcher) All our dreams can come true if we have the courage to pursue them (Walter E. Disney) Always remember you are braver than you believe, stronger than you seem and smarter than you think (A. A. Milne) I dedicate this work to: Jesus Christ My Parents Jeni Angela Merici and Gregorius Oei Bharata Putra Sandjaja My Grandma Chatarina Lani Soesiawati My brother Johanes Darma Hendra Sandjaja and my sister Teresia Rosa Sandjaja The person who always be there, sincere and has been loyal to encourage, support, care, love, accompanied me through the days full of happiness or when I was sad. And My Almamater iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelasikan tugas akhir yang berjudul “Pengaruh Variasi Konsentrasi Diethanolamide dan Cocoamidopropyl Betaine terhadap Karakteristik Fisik Sabun Batang Transparan Minyak Jahe”. Tugas akhir ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Progran Studi Farmasi (S. Farm) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama masa penelitian dan penyusunan tugas akhir ini, banyak kendala dan hambatan yang dialami oleh penulis. Namun banyaknya dukungan,doa, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak membuat penulis mampu untuk menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Oleh karena itu dengan segenap kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Mama Jeni Angela Merici dan Papa Gregorius Bharata Putra Sandjaja tercinta atas cinta, perhatian, nasihat, semangat, dan dukungan yang telah diberikan. 2. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Ibu C. M. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt. selaku dosen pembimbing yang telah dengan sabar memberikan nasihat, pengarahan, dan bimbingan dari awal proses pembuatan tugas akhir ini. 4. Bapak Septimawanto Dwi Prasetyo, M.Si., Apt. selaku dosen penguji atas kritik dan saran yang telah diberikan, serta kesediaannya dalam meluangkan waktu untuk meguji. 5. Ibu Melania Perwitasari, M.Sc., Apt. selaku dosen penguji atas kritik dan saran yang telah diberikan, serta kesediaannya dalam meluangkan waktu untuk meguji. 6. Ibu Aris Widayati M.Si., Ph.D, Apt. atas masukan dan bantuan yang telah diberikan pada pembuatan kuisioner dalam penelitian ini. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Bapak Enade Perdana Istyastono, Ph.D., Apt. atas kesediaannya meluangkan waktu untuk memberikan konsultasi dan masukan dalam proses penyelesaian tugas akhir ini. 8. Segenap dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas segala ilmu dan bimbingan yang telah diberikan sebagai bekal kepada penulis selama masa perkuliahan. 9. Bapak Musrifin, Bapak Agung, Bapak Parlan, Bapak Ottok, dan laboranlaboran lain atas bantuan dan kerjasama yang diberikan selama penelitian berlangsung. 10. Johanes dan Teresia, kakak dan adik yang selalu memberikan doa, kasih sayang, dan semangat kepada penulis. 11. Yoanita, Stephanie, dan Niken atas kerjasama, bantuan, dukungan dan semangat sebagai tim skripsi dan teman seperjuangan dalam penyelesaian tugas akhir ini. 12. Sahabat-sahabat yang telah memberikan banyak bantuan, waktu, perhatian, dukungan, nasihat, dan semangat kepada peneliti serta kebersamaan dan keceriaan yang tidak terlupakan. 13. Teman-teman FST dan FKK angkatan 2010 atas kebersamaan yang sangat berharga selama masa perkuliahan. 14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan doa, bantuan, dan dukungan atas peran besarnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir ini, masih banyak kekurangan dan kesalahan dikarenakan keterbasan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Kritik dan saran yang membangun dari semua pihak, penulis harapkan untuk memperbaiki kekurangan yang ada.Penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca, serta berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Penulis viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .............................................................. vi PRAKATA ........................................................................................................... vii DAFTAR ISI ......................................................................................................... ix DAFTAR TABEL ............................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xvi INTISARI............................................................................................................ xvii ABSTRACT ......................................................................................................... xviii BAB I. PENGANTAR ........................................................................................... 1 A. Latar Belakang .......................................................................................... 1 B. Permasalahan ............................................................................................ 4 C. Keaslian Penelitian ................................................................................... 4 D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 5 E. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA .................................................................... 7 A. Sabun ......................................................................................................... 7 ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Sabun Transparan ...................................................................................... 9 C. Minyak Jahe ............................................................................................. 11 D. Surfaktan.................................................................................................. 12 E. Diehanolamide......................................................................................... 14 F. Cocoamidopropyl Betaine ....................................................................... 16 G. Formulasi Sabun ...................................................................................... 18 1. Asam Stearat ........................................................................................ 18 2. Minyak Jarak ....................................................................................... 18 3. Butylated Hydroxy Toluene ................................................................. 19 4. Natrium Hidroksida ............................................................................. 20 5. Etanol ................................................................................................... 20 6. Asam Sitrat .......................................................................................... 21 7. Gliserin ................................................................................................ 21 8. Sukrosa ................................................................................................ 22 9. Aquadest .............................................................................................. 23 H. Karakteristik Fisik Sabun ........................................................................ 23 1. Transparansi Sabun.............................................................................. 23 2. Derajat Keasaman (pH) ....................................................................... 23 3. Kekerasan Sabun ................................................................................. 24 4. Busa ..................................................................................................... 24 I. Landasan Teori ....................................................................................... 25 J. Hipotesis ................................................................................................. 26 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ............................................................ 28 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ............................................................... 28 B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ......................................... 28 1. Variabel Penelitian .............................................................................. 28 2. Definisi Operasional ............................................................................ 29 C. Bahan Penelitian ...................................................................................... 31 D. Alat Penelitian ......................................................................................... 31 E. Tata Cara Penelitian................................................................................. 31 1. Formula Sabun Transparan.................................................................. 31 2. Pembuatan Sabun Batang Transparan Minyak Jahe ............................ 33 3. Penentuan Penyusutan Bobot .............................................................. 34 4. Pengujian Karakteristik Fisik Sabun ................................................... 34 a. Uji Transparansi ............................................................................... 34 b. Uji Derajat Keasaman (pH) ............................................................. 35 c. Uji Kekerasan .................................................................................. 35 d. Uji Kemampuan Membentuk Busa dan Kemampuan Mempertahankan Busa ....................................................................35 5. Subjective Assessment.......................................................................... 36 F. Analisis Hasil .......................................................................................... 36 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 38 A. Formulasi Sabun ...................................................................................... 38 B. Penentuan Penyusutan Bobot .................................................................. 42 C. Pengujian Karakteristik Fisik .................................................................. 44 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Transparansi Sabun.............................................................................. 45 2. Derajat Keasaman (pH) ....................................................................... 46 3. Kekerasan ............................................................................................ 48 4. Kemampuan Membentuk Busa ........................................................... 52 5. Kemampuan Mempertahankan Busa ................................................... 56 D. Subjective Assessment.............................................................................. 61 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 66 A. Kesimpulan .............................................................................................. 66 B. Saran ........................................................................................................ 66 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 67 LAMPIRAN .......................................................................................................... 70 BIOGRAFI PENULIS ........................................................................................ 109 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Komposisi Asam Lemak Minyak Jarak ....................................... .19 Tabel II. Formula Acuan Sabun Transparan ................................................ 32 Tabel III. Formula Modifikasi Sabun DEA ................................................... 32 Tabel IV. Formula Modifikasi Sabun Betaine ............................................... 33 Tabel V. Hasil p-Value pada Paired T-Test Penyusutan Bobot Sabun Minggu 3 ke Minggu 4 ...................................................................44 Tabel VI. Tingkatan Transparansi Sabun ...................................................... 46 Tabel VII. Hasil Uji pH Sabun dan pH Sabun Merek Dagang ....................... 47 Tabel VIII. Kekerasan Sabun DEA, Sabun Betaine dan abun Merek agang ) ........................................................................................ 48 Tabel IX. Perbandingan Kekerasan Sabun dengan Sabun Merek Dagang .... 51 Tabel X. Hasil Uji ANOVA dan Uji Tukey HSD Kekerasan Sabun ............ 52 Tabel XI. Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Tabel XII. ) ......................................................53 Perbandingan Kemampuan Membentuk Busa Sabun dengan Sabun Merek Dagang .....................................................................55 Tabel XIII. Hasil Uji ANOVA dan Uji Tukey HSD Kemampuan Membentuk Busa Sabun ................................................................ 55 Tabel XIV. Persentase Penurunan Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Tabel XV. ) ..................................................... 57 Perbandingan Persentase Penurunan Busa Sabun dengan Sabun Merek Dagang ............................................................................... 59 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel XVI. Hasil Uji ANOVA dan Uji Tukey HSD Persentase Penurunan Busa Sabun .................................................................................... 60 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Reaksi Saponifikasi Sabun .............................................................. 8 Gambar 2. Reaksi Netralisasi Sabun ................................................................. 8 Gambar 3. Struktur Kimia Diethanolamide .................................................... 14 Gambar 4. Struktur Kimia Cocoamidopropyl Betaine .................................... 16 Gambar 5. Diagram Subjective Assessment dengan Parameter Persetujuan terhadap Produk Sabun ...................................................................63 Gambar 6. Diagram Subjective Assessment dengan Parameter Kesukaan terhadap Produk Sabun ...................................................................63 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Komposisi Sabun Merek Dagang .................................................. 71 Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) ........................................................ 72 Lampiran 3. Hasil Penyusutan Bobot Sabun ..................................................... 74 Lampiran 4. Hasil Uji Kekerasan, Kemampuan Membentuk Busa dan Persentase Penurunan Busa ........................................................... 76 Lampiran 5. Hasil Uji Kekerasan, Kemampuan Membentuk Busa dan Persentase Penurunan Busa Sabun Merek Dagang ........................79 Lampiran 6. Hasil Uji pH Sabun dan pH Sabun Merek Dagang ....................... 80 Lampiran 7. Hasil Uji Normalitas ...................................................................... 81 Lampiran 8. Hasil Uji Paired t- Test.................................................................. 92 Lampiran 9. Hasil Uj Levene Test ...................................................................... 95 Lampiran 10. Hasil Uji ANOVA ......................................................................... 99 Lampiran 11. Hasil Uji Tukey HSD ................................................................... 103 Lampiran 12. Kuesioner Subjective Assessment ................................................ 106 Lampiran 13. Dokumentasi ................................................................................ 107 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Penelitian mengenai pengaruh variasi konsentrasi diethanolamide dan cocoamidopropyl betaine terhadap karakteristik fisik sabun batang transparan minyak jahe telah dilakukan dengan tujuan untuk dapat menghasilkan sabun transparan minyak jahe yang baik dan mengetahui apakah dengan perbedaan konsentrasi surfaktan yang digunakan akan mempengaruhi karakteristik fisik sabun. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian acak. Sabun transparan diformulasikan dengan surfaktan diethanolamide dan cocoamidopropyl betaine serta diuji karakteristik fisiknya. Karakteristik fisik yang diteliti meliputi transparansi, pH, kekerasan, kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa. Pada pengujian karakteristik fisik sabun juga digunakan sabun merek dagang “X” dan “Y”) sebagai acuan untuk menentukan kriteria karakteristik fisik sabun yang baik. Selain penilaian karakteristik fisik, dilakukan subjective assessment menggunakan kuesioner untuk memperoleh gambaran penerimaan konsumen terhadap sabun. Hasil pengujian kekerasan, kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa dianalisis secara statistik menggunakan One Way ANOVA. Taraf kepercayaan yang digunakan dalam analisis data secara statistik sebesar 95%. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh bahwa dalam penelitian dapat dihasilkan sabun yang baik. Penggunaan variasi konsentrasi diethanolamide berpengaruh pada transparansi, kemampuan membentuk dan mempertahankan busa, sedangkan variasi cocoamidopropyl betaine berpengaruh pada transparansi dan kekerasan. Subjective assessment yang dilakukan menunjukkan bahwa sabun dapat diterima oleh konsumen. Kata kunci: sabun batang transparan, diethanolamide, cocoamidopropyl betaine, minyak jahe, karakteristik fisik xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Research about the effect of various concentration of diethanolamide and cocoamidopropyl betaine on the physical characteristics of ginger oil transparent bar soaps had been carried out with aims to formulate good transparent soap and to determine whether variation concentration surfactants would result in different physical characteristics of the soap. The study was a randomized experimental research design. Transparent soaps were formulated and tested on their physical characteristics. The physical characteristics studied including transparency, pH, hardness, lathering and ability to retain the foam. On this study, comparison evaluation between formulated soap and the brand-name transparent soap (“X” and “Y”) was also conducted. In addition the subjective assessment with questionnaire was carried out to observe costumer acceptance of soap. Results of hardness testing, lathering and ability to retain the foam were statistically analyzed with One Way ANOVA. Confidence level used in the statistical analysis of the data by 95%. The results showed that good soaps could be produced. The variations in the concentration of diethanolamide had effect on transparency, lathering and ability to retain the foam, while variation cocoamidopropyl betaine had effect on transparency and hardness. Subjective assessments showed that the formulated soap can be accepted by costumers. Keywords: transparent bar soap, diethanolamide, cocoamidopropyl betaine, ginger oil, physical characteristic xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh manusia yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari pengaruh mikroorganisme, paparan sinar matahari, bahan kimia dan suhu. Manusia pada dasarnya selalu ingin memenuhi kebutuhan untuk hidup sehat, terutama di jaman serba modern sekarang ini dimana penampilan sangat diperhatikan (Wasitaatmadja, 1997). Menjaga penampilan dapat dilakukan dari hal kecil seperti merawat kesehatan kulit dan menjaga kebersihan diri. Salah satu cara paling mudah untuk menjaga kesehatan kulit adalah dengan mandi secara teratur menggunakan sabun. Penggunaan sabun dapat berfungsi untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada kulit seperti keringat, kotoran, debu, sebum, lapisan sel kulit mati, bahkan sisa-sisa kosmetik sehingga kulit tetap dapat berfungsi dengan baik (Izhar, Sumiati, dan Moeljadi, 2009). Sabun merupakan produk perawatan kulit yang digunakan untuk membersihkan kulit dari kotoran (Shrivastava, 1982). Seiring dengan perkembangan jaman dan selera konsumen yang semakin bervariasi, sekarang ini dikenal 3 jenis sabun padat yaitu sabun opaque, sabun translucent, dan sabun transparan (Hambali, Suryani, Dadang, Hariyadi, Hanafie, Reksowardjojo et al., 2006). Sabun batang dapat dikategorikan sebagai sabun transparan apabila tulisan dengan font tipe 14 dapat dibaca, melalui sabun dengan ketebalan 0,25 inchi (Jongko, 2014). Sabun transparan memiliki penampilan yang lebih menarik 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 dan berkilau serta terlihat lebih alami daripada sabun opaque (Cavitch, 1997), sehingga sabun transparan terkesan lebih mewah dan menawan. Sabun transparan juga menghasilkan busa yang lebih lembut. Pembuatan sabun transparan dapat meningkatkan nilai estetika dan ekonomis dari sabun. Pada jaman sekarang ini, konsumen tidak hanya menginginkan sabun sebatas sebagai pembersih tubuh, tetapi salah satunya juga harus mempunyai aroma yang menyenangkan. Penggunaan fragrance akan mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap sabun (Ghaim dan Volz, 2001). Jahe (Zingiber offcinale) sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia dan banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur, bahan makanan, minuman, dan jamu. Seiring dengan perkembangan jaman, jahe digunakan dalam pembuatan sediaan farmasi dan produk kosmetik (Harmono dan Andoko, 2005). Jahe memiliki rimpang yang mengandung 1-3% minyak atsiri (Tjitrosoepomo, 1994). Minyak atsiri digunakan sebagai bahan pewangi dan penyedap. Minyak atsiri jahe dapat digunakan sebagai fragrance yang memberikan aroma khas pada produk kosmetik seperti sabun. Sabun dengan minyak atsiri merupakan salah satu jenis produk herbal. Maraknya trend back to nature yang banyak dikembangkan dalam berbagai bidang, salah satunya bidang kosmetika membuat produk-produk olahan berbasis herbal kian dimininati masyarakat. Kebanyakan orang beranggapan bahwa dengan busa yang melimpah, sabun akan dapat membersihkan kotoran dengan baik (Izhar et al., 2009). Busa merupakan suatu dispersi koloid dengan fase gas terdispersi dalam fase cairan (Schramm, 2005). Komponen penting yang berpengaruh terhadap daya

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 pembuasaan sabun dan berfungsi sebagai penghilang kotoran adalah surfaktan. Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sekaligus yang membuatnya dapat menyatukan fase air dan fase minyak (Farn, 2006). Penggunaan surfaktan dalam suatu sabun dapat meningkatkan kualitas busa yang dihasilkan karena salah satu sifatnya yang berupa foaming agent. Diethanolamide (DEA) dan cocoamidopropyl betaine (betaine) adalah surfaktan yang banyak dipakai dalam pembuatan ko smetik (Hambali et al., 2006). Diethanolamide merupakan cairan kental dengan tampilan yang jernih, berwarna kuning atau kekuningan, kelarutannya larut dalam air, dan mempunyai titik leleh pada suhu 23-35oC (Anonima, 2014). DEA dapat membuat sabun yang dihasilkan memberikan sensasi lembut saat digunakan, meningkatkan busa dan dapat mencegah proses penghilangan minyak pada kulit dan pada rambut seacara berlebihan (Hambali, Suryani dan Rivai, 2005). Cocoamidopropyl betaine memiliki karakteristik berupa cairan jernih berwarna agak kekuningan, tidak berbau, memiliki bobot jenis yang lebih besar daripada air, kelarutannya larut dalam air, dengan nilai pH berkisar antara 5-6 (Anonimb, 2014). Betaine adalah surfaktan dengan sifat pembusa, pembasah, pengemulsi yang baik, dan tidak mengiritasi kulit (Barel, Paye dan Maibach, 2001).

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 B. Permasalahan 1. Apakah dapat dibuat sediaan sabun batang transparan minyak jahe yang memiliki karakteristik fisik yang baik dengan variasi konsentrasi diethanolamide dan cocoamidopropyl betaine sebagai surfaktan? 2. Apakah terdapat perbedaan karakteristik fisik dari sabun batang transparan minyak jahe dengan adanya variasi konsentrasi diethanolamide dan cocoamidopropyl betaine sebagai surfaktan? C. Keaslian Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh Budianto (2010) mengenai optimasi formula sabun transparan dengan humectants gliserin dan surfaktan cocoamidopropyl betaine: aplikasi desain faktorial menunjukkan bahwa penggunaan gliserin dan betaine akan menimbulkan interaksi yang dominan dalam menentukan respon kekerasan dan kemampuan membentuk busa sabun transparan. Optimasi formula sabun transparan dengan fase minyak virgin coconut oil dan surfaktan cocoamidopropyl betaine: aplikasi desain faktorial telah dilakukan dilakukan oleh Setyoningrum (2009). Penelitian mengenai formulasi dan perbandingan sifat fisik sabun transparan berbahan dasar VCO dengan minyak atsiri (minyak kayu putih, sereh, dan cengkeh) sebagai fragrance oil pernah dilakukan oleh Retmana (2009), yang menunjukkan perbedaan jenis fragrance oil yang digunakan mempengaruhi pembentukan busa.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Pengaruh penambahan gliserin dan sukrosa terhadap mutu sabun transparan telah dilakukan oleh Fachmi (2008), dengan hasil bahwa penggunaan gliserin dan sukrosa pada campuran berbeda akan menghasilkan produk dengan karakteristik berbeda. Namun, sejauh penelusuran pustaka yang telah dilakukan oleh peneliti, penelitian mengenai Pengaruh Variasi Konsentrasi Diethanolamide dan Cocoamidopropyl Betaine terhadap Karakteristik Fisik Sabun Batang Transparan Minyak Jahe belum pernah diteliti dan dikembangkan sebelumnya. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoretis: Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang pendidikan terkait aplikasi formula sabun batang transparan dan dapat diketahui ada tidaknya perbedaan karakteristik fisik sabun yang dihasilkan dengan variasi konsentrasi surfaktan yang berbeda. 2. Manfaat praktis: Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan formula sabun transparan yang baik sebagai suatu bentuk inovasi dari sabun yang telah ada.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum: Untuk dapat melakukan pengembangan formulasi sediaan sabun batang transparan minyak jahe dan dihasilkan sediaan yang baik secara fisik dan estetika. 2. Tujuan Khusus: a. Untuk dapat menghasilkan sabun batang transparan minyak jahe yang baik menggunakan variasi konsentrasi surfaktan yang berbeda. b. Untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi surfaktan yang berbeda dari diethanolamide dan cocoamidopropyl betaine terhadap karakteristik fisik (transparansi, pH, kekerasan, kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa) sabun batang transparan minyak jahe yang dihasilkan.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Sabun Sabun merupakan bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari asam lemak dengan rantai karbon C 12 – C18 dan sodium atau potassium sebagai komponen utama. Sabun berfungsi sebagai pembersih yang dihasilkan melalui reaksi saponifikasi antara basa natrium atau basa kalium dan asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun biasanya ditambah bahan pewangi atau antiseptik yang digunakan untuk membersihkan tubuh manusia dan sifatnya tidak berbahaya bagi kesehatan (BSNI, 1994; Ophardt, 2003). Sabun yang baik memiliki daya deterjensi yang tinggi, dan tetap bekerja secara efektif meskipun dalam temperatur dan tingkat kesadahan air yang berbeda, serta dapat digunakan pada berbagai jenis bahan. Sabun batang yang ideal mempunyai kekerasan yang cukup untuk memaksimalkan pemakaian dan saat tidak sedang digunakan, memiliki ketahanan yang cukup terhadap penyerapan air, namun tetap mampu menghasilkan jumlah busa yang sesuai untuk mendukung daya pembersihannya saat sabun digunakan (Hill dan Moaddel, 2004; Shrivastava, 1982). Proses pembuatan sabun dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu melalui reaksi saponifikasi dan reaksi netralisasi. Reaksi saponifikasi terjadi ketika adanya asam lemak bebas dari trigliserida yang bereaksi dengan alkali (basa). Dari adanya reaksi saponifikasi, akan dihasilkan sabun dan gliserol yang merupakan 7

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 produk sampingan. Reaksi netralisasi dalam pembentukan sabun terjadi melalui proses hidrolisis trigliserida dengan uap bertekanan tinggi untuk menghasilkan asam lemak dan gliserin, yang disebut juga sebagai proses pemecahan lemak. Hasil asam lemak yang diperoleh kemudian dimurnikan dengan cara destilasi dan proses netralisasi dengan menambahkan basa yang akan bereaksi dengan asam lemak serta residu gliserin menghasilkan sabun dan air (Barrel et al., 2001; Rieger dan Rhein, 1997; Spitz, 1996). Gambar 1. Reaksi Saponifikasi Sabun (Barrel et al., 2001). Gambar 2. Reaksi Netralisasi Sabun (Barrel et al., 2001) Sabun mempunyai gugus hidrofilik yang bersifat polar dan gugus hidrofobik yang bersifat non polar sekaligus yang membuat sabun memiliki sifat sebagai surfaktan (surface active agent). Sifat sabun sebagai surfaktan menyebabkan sabun dapat bekerja mengikat kotoran di kulit yang berupa minyak

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 ataupun lemak. Keberadaan lemak pada kulit akan menyebabkan debu dapat menempel, yang tidak cukup hanya dibersihkan menggunakan air. Ketika sabun diaplikasikan maka gugus hidrofobik dari sabun akan berikatan dengan kotoran, sedangkan gugus hidrofiliknya akan berikatan dengan air, sehingga kotoran yang telah terikat dapat ikut terbilas bersama air (Cavitch, 1997; Ghaim dan Volz, 2001). Sabun memiliki bentuk yang bervariasi, yaitu padat (batang), cair, dan gel. Sabun mandi yang berbentuk padat, dapat dibedakan menjadi sabun opaque, sabun translucent dan sabun transparan. Jenis sabun dapat dibedakan dengan mudah melalui penampakannya. Sabun opaque adalah jenis sabun yang biasa digunakan sehari-hari, berbentuk kompak dan memiliki penampilan yang tidak tembus cahaya. Sabun transparan adalah sabun yang dapat paling banyak meneruskan cahaya, sedangkan sabun translucent adalah sabun yang sifatnya berada di antara sabun opaque dan sabun transparan (Cavitch 1997; Hambali et. al., 2005). B. Sabun Transparan Sabun batang dapat dikategorikan sebagai sabun transparan apabila tulisan dengan font tipe 14 dapat dibaca melalui sabun dengan ketebalan 0,25 inchi. Sabun memiliki penampilan transparan karena cahaya dapat diteruskan ketika melewati sabun dan tidak dihamburkan, sehingga obyek yang berada di luar sabun akan terlihat jelas. Pada sabun opaque cahaya yang melewati sabun akan dihamburkan oleh bahan-bahan yang ada didalamya, sedangkan pada sabun

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 transparan cahaya yang dihamburkan lebih sedikit karena cahaya menyebar dalam partikel-partikel kecil dari fase dispers (Hill dan Moaddel, 2004; Jongko, 2014). Sabun transparan mempunyai tampilan yang lebih menarik dan berkilau karena transparansinya, serta busa yang dihasilkan juga terasa lebih lembut di kulit, oleh karena itu sabun transparan mempunyai harga jual yang relatif lebih tinggi dibandingkan jenis sabun lainnya (Cavitch, 1997; Hambali et al., 2005). Sabun transparan dapat dibuat dari bahan baku lemak, minyak kelapa, minyak zaitun, ataupun dengan penggunaan minyak jarak. Seperti pada sabun mandi biasa, sabun transparan juga mengalami reaksi penyabunan antara asam lemak dengan basa kuat, hanya penampilannya yang trasparan yang membuat berbeda (Mitsui, 1997). Metode yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun transparan yaitu dengan cara melarutkan sabun menggunakan alkohol dibawah pemanasan yang terkontrol untuk mendapatkan larutan jernih, yang selanjutnya dapat ditambahkan pewarna dan pewangi. Sabun akhir dituang ke dalam cetakan dan didiamkan hingga mengeras sebelum dikemas. Warna akhir dari sabun yang dihasilkan tergantung pada pemilihan bahan awal. Pilihan pewangi, pewarna, dan bahan tambahan lainnya cukup terbatas untuk pembuatan sabun transparan, karena bahan-bahan yang ditambahkan tidak boleh memiliki efek yang bertentangan dengan pembentukan tekstur transparansi sabun (Hambali et al., 2006; Poucher, 1993). Pembuatan sabun secara khas adalah melalui pencampuran antara 50% sabun dengan 50% pelarut. Pelarut yang umum digunakan antara lain gliserin, etil

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 alkohol, atau sukrosa. Pada saat proses pencampuran, larutan sabun yang masih panas harus terlihat transparan dan tidak terlihat adanya fase solid yang tidak terlarut dari bahan-bahan yang digunakan. Jika larutan sabun yang masih panas tidak transparan, maka sabun yang dihasilkan juga tidak akan transparan ketika didinginkan (Hill dan Moaddel, 2004). C. Minyak Jahe Jahe banyak dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dalam kehidupan sehari-hari seperti bahan makanan, minuman, bumbu masak, dan obat-obatan tradisional. Jahe akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan untuk industri parfum, sabun, kosmetika, dan farmasi. Kandungan minyak atsiri pada rimpang jahe sebesar 1-3%. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol (Harmono dan Andoko, 2005; Tjitrosoepomo, 1994). Minyak atsiri dapat digunakan sebagai pengharum pada berbagai produk kosmetik seperti parfum, sabun, pasta gigi, sampo, dan lotion. Aroma yang khas dari minyak atsiri dapat berfungsi sebagai aroma terapi yang menenangkan pikiran (Armando, 2009). Minyak atsiri jahe diperoleh dari hasil penyulingan rimpang jahe. Minyak jahe memiliki karakteristik berupa cairan berwarna kuning kecoklatan, bersifat mudah menguap pada suhu kamar (volatile), memiliki aroma yang khas tanaman jahe, memiliki bobot jenis yang lebih kecil daripada bobot jenis air. Minyak jahe tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik. Minyak jahe

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 dalam industri farmasi dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kosmetika untuk pengharum, parfum, dan aroma terapi (Hernani dan Marwati, 2006; Santoso, 1989). Fragrance atau pengharum yang ditambahkan dalam sabun berfungsi untuk menutupi bau asam lemak atau fase minyak yang digunakan. Penggunaan fragrance merupakan hal yang penting karena akan mempengaruhi penerimaan konsumen, karena konsumen cenderung memilih produk yang memiliki bau yang harum dan menyenangkan (Ghaim dan Volz, 2001). D. Surfaktan Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sekaligus yang membuatnya dapat menyatukan fase air dan fase minyak. Gugus polar dari surfaktan terletak pada bagian kepala merupakan gugus yang bersifat hidrofilik atau menyukai air, sedangkan gugus non polar pada bagian ekornya merupakan gugus yang bersifat lipofilik atau menyukai minyak dan lemak. Sifat rangkap yang dimiliki surfaktan membuatnya dapat diadsorpsi pada antarmuka udara dan air, minyak dan air, serta zat padat dan air, dengan membuat gugus hidrofiliknya berada pada fase air dan rantai hidrokarbonnya berada pada udara, kontak dengan zat padat, maupun berada dalam fase minyak. Gugus polar dari surfaktan dapat memiliki muatan postif, negatif ataupun netral. Secara umum struktur surfaktan terdiri dari rantai alkil yang panjang pada bagian lipofilik dan gugus hidroksil pada bagian hidrofilik (Farn, 2006; Rieger dan Rhein 1997).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Surfaktan merupakan suatu senyawa dengan aktivitas permukaan yang tinggi. Aktivitas permukaanya yang tinggi tersebut membuat surfaktan sering disebut sebagai bahan akif permukaan (surface-active agent). Surfaktan dengan sifatnya yang demikian mampu untuk memodifikasi karakteristik permukaan suatu cairan maupun padatan. Surfaktan mempunyai berbagai macam kegunaan seperti agen pembusa (foaming agent), deterjensi, pembasah (wetting agent), pengemulsi (emulsifying agent), dan bahan pendispersi (dispersing). Jenis surfaktan yang sering digunakan dalam pembuatan sabun adalah betaine, DEA, dan SLES (Hambali et al., 2006). Surfakan sintetik yang ditambahkan pada sabun dapat meningkatkan mutu dari sabun yang dihasilkan karena penambahan surfaktan akan memperbaiki kualitas dan kuantitas busa, dan meningkatkan kerja pembersihan dari sabun serta memberikan sensasi halus dan lembut ketika sabun digunakan (Ghaim dan Volz, 2001). Menurut Rosen (2004), Rieger dan Rhein (1997), Swisher (1987), terdapat empat jenis penggolongan surfaktan berdasarkan muatannya, antara lain: a. Surfaktan anionik, merupakan surfaktan yang mengandung muatan negatif pada bagian hidrofiliknya atau bagian aktif permukaanya (surface active). Sifat hidrofiliknya berasal dari golongan utama yang terkandung di dalamnya seperti gugus sulfat dan sulfonat. Contoh dari surfaktan anionik yaitu linier alkilbenzen sulfonat (LAS), alkohol sulfat (AS), alkohol eter sulfat (AES), metil ester sulfonat (MES) dan sodium lauryl sulfate (SLS).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 b. Surfaktan kationik, merupakan surfaktan yang mengandung muatan positif pada bagian hidrofiliknya. Gugus terpenting yang menyebabkan sifat anionik terletak pada garam amonium. Contoh dari surfaktan kationik yaitu lemak amina, amidoamina, diamina, amina oksida dan amina etoksilat. c. Surfaktan nonionik, merupakan surfaktan yang tidak mengandung muatan pada gugus hidrofiliknya atau tidak terjadi ionisasi molekul. Sifatnya disebabkan adanya gugus eter atau hidroksil. Contoh surfaktan nonionik yaitu alkil poliglikosida (APG), diethanolamide (DEA), sukrosa ester, sorbitol, sorbitol ester dan etoksilat alkohol. d. Surfaktan amfoterik, merupakan surfaktan yang mengandung muatan positif dan negatif pada bagian hidrofiliknya yang tergantung dari pH. Pada pH rendah, surfaktan ini akan mempunyai muatan positif, sedangkan pada pH tinggi, surfaktan ini akan bermuatan negatif. Contoh surfaktan amfoterik yaitu asam amino karboksilik dan alkyl betaine. E. Diethanolamide Gambar 3. Struktur Kimia Diethanolamide (Zoller dan Sosis, 2009).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Diethanolamide (DEA) merupakan cairan kental dengan tampilan yang jernih, berwarna kuning atau kekuningan, kelarutannya larut dalam air, dan mempunyai titik leleh pada suhu 23-35oC (Anonim, 2014a). Diethanolamide termasuk dalam jenis surfaktan alkanolamida. Surfaktan alkanolamida bersifat tidak bermuatan atau tidak terjadi ionisasi pada molekulnya sehingga tergolong sebagai jenis surfaktan nonionik. Adanya gugus metal amida pada alkanolamida dapat berfungsi sebagai peningkat kelarutan surfaktan. Alkanolamida dapat digunakan pada rentang pH yang luas, busa yang dihasilkan lembut dan stabil, memiliki toksisitas yang rendah, serta bersifat non iritatif sehingga baik digunakan untuk kulit dan tidak berbahaya bagi mata. Sifat-sifatnya yang demikian, membuat golongan surfaktan alkanolamida dapat digunakan sebagai bahan pangan, obat-obatan, kosmetika dan industri. Produk-produk yang menggunakan surfaktan alkanolamida antara lain sampo, sabun, produk perawatan rambut, lotion, cream, pembersih, serta produk kosmetika dan produk farmasi lainnya (Holmberg cit., Masyithah, 2010). Golongan surfaktan alkanolamida seperti monoethanolamide dan diethanolamide digunakan secara luas sebagai surfaktan, serta penstabil busa dan pengembang busa. Diethanolamide dengan wujudnya yang cair, membuatnya lebih mudah diaplikasikan pada sediaan kosmetika yang berbentuk cairan. Diethanolamide banyak dimanfaatkan pada sediaan kosmetika, produk-produk pembersih seperti sampo, sabun mandi, dan deterjen sebagai agen pembusa, penstabil busa, bahan pendispersi, pengingkat viskositas, emulsifier, dan skin conditioner (Shipp, 1996; Spiess, 1996).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 DEA tergolong dalam jenis surfaktan non ionik yang dihasilkan dari lemak atau minyak. DEA berperan dalam meningkatkan busa, penggunaan DEA dalam sabun juga dapat membuat busa yang dihasilkan lebih lembut dan juga tidak pedih di mata, serta dapat mencegah proses penghilangan minyak pada kulit dan pada rambut secara berlebihan (Hambali et al., 2005; Holmberg cit., Masyithah, 2010). Pentingnya penggunaan zat penstabil busa adalah dengan adanya kotoran yang bersifat non polar seperti minyak dan sebum membuat stabilitas busa pada sabun maupun sampo akan terganggu dan menyebabkan busa berkurang secara drastis. Sehingga diperlukan zat yang dapat yang berfungsi sebagai penstabil busa agar diperoleh busa yang lebih banyak dan stabil (Holmberg, cit., Masyithah, 2001). F. Cocoamidopropyl Betaine Gambar 4. Struktur Kimia Cocoamidopropyl Betaine (Shipp, 1996). Cocoamidopropyl betaine memiliki karakteristik berupa cairan jernih berwarna agak kekuningan, tidak berbau, memiliki bobot jenis yang lebih besar daripada air, kelarutannya larut dalam air, dengan nilai pH berkisar antara 5-6 (Anonim, 2014b).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Cocoamidopropyl betaine atau sering disebut dengan betaine merupakan surfaktan amfoterik yang banyak digunakan dalam produk kosmetik dan produk kebersihan diri seperti sampo, cairan lensa kontak, pasta gigi, penghilang riasan wajah, sabun mandi, produk perawatan kulit, antiseptik, serta produk kebersihan anal. Penggunaan cocomidopropyl betaine sangat banyak pada produk perawatan pribadi karena menginduksi iritasi kulit yang relatif ringan (Jacob dan Amini, 2008). Betaine merupakan surfaktan dengan sifat pembusa, pembasah, dan pengemulsi yang baik. Betaine bersifat sangat larut dalam air pada rentang pH yang luas. Selain berfungsi sebagai foaming agent, betaine memiliki efek yang melembutkan pada kulit, dan penggunaannya dianggap aman karena toksisitasnya yang rendah pada kulit dan mata. Formula yang didalam komposisinya mengandung betaine, akan menghasilkan daya busa yang lebih baik dan stabil, serta memberikan efek pembersihan yang lebih baik dibandingkan tanpa penggunaan betaine. Betaine bersifat kompatibel pada surfaktan anionik, kationik, maupun nonionik. Penggunaan betaine bersama surfaktan anionik, dapat menurunkan sifat iritatif dari surfaktan anionik (Barel et al., 2001; Thau, 1997; Zoller, 2009).

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 G. Formulasi Sabun Bahan-bahan yang digunakan dalam formulasi sabun transparan, antara lain: 1. Asam Stearat Asam stearat berbentuk padat, keras, berupa hablur berwarna putih atau agak kekuningan, mengkilat, dengan rasa lemak. Memiliki titik lebur antara 69-70oC. Asam stearat adalah jenis asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang karena memiliki 18 atom karbon, mengandung gugus karboksil pada salah satu ujungnya, dan gugus metal pada ujung yang lainnya. Asam stearat merupakan asam lemak jenuh karena tidak memiliki ikatan rangkap diantara atom karbonnya. Asam stearat sering digunakan dalam kosmetik sebagai bahan dasar pembuatan krim dan sabun. Dalam pembuatan sabun, asam stearat berperan dalam memberikan kekerasan dan membentuk konsistensi (Mitsui, 1997; Poucher, 1993; Rowe, Sheskey dan Quinn, 2009). 2. Minyak Jarak Karakteristik dari suatu sabun dipengaruhi oleh karakteristik minyak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun. Masing-masing minyak memiliki kandungan asam lemak yang dominan dan berbeda-beda. Asam lemak yang terkandung dalam minyak, yang akan menentukan karakteristik suatu sabun (Cavitch, 1997).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Shrivastava (1982) berpendapat bahwa minyak merupakan salah satu komponen yang dibutuhkan dalam pembuatan sabun trasnparan. Minyak yang dapat digunakan salah satunya adalah minyak jarak. Sabun yang dibuat menggunakan minyak jarak akan memiliki mutu yang baik, transparansi yang sangat baik, menghasilkan busa yang lembut dan dapat melembutkan serta melembabkan kulit. Tabel I. Komposisi Asam Lemak Minyak Jarak (Gubitz, Mittelbach, Trabi, 1999). Asam Lemak Komposisi (%) Asam Miristat 0 – 0,1 Asam Palmitat 14,1 – 15,3 Asam Palmitoleat 0 – 1,3 Asam Stearat 3,7 – 9,8 Asam Oleat 34,3 – 45,8 Asam Linoleat 29,0 – 44,2 Asam Linolenat 0 – 0,3 Asam Arakhidrat 0 – 0,3 Asam Behenat 0 – 0,2 3. Butylated Hydroxy Toluene Butylated hydroxy toluene (BHT) memiliki karakteristik berbentuk kristal padat atau serbuk yang berwarna kuning pucat, dengan bau fenolik yang samar. Kelarutannya, praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilen glikol, larutan alkali hirdroksida, dan cairan asam mineral. Larut dalam aseton, benzena, etanol (95%), eter, metanol, toluen, minyak dan minyak mineral. Kelarutan dalam minyak dan lemak lebih tinggi daripada butylated hydroxyanisole. BHT berfungsi sebagai antioksidan (Rowe et al.,2009). Penambahan pengawet atau preservative bertujuan untuk mencegah oksidasi selama masa penyimpanan, dengan konsentrasi yang dapat digunakan

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 sebesar 0,02-0,1%. Terjadinya oksidasi dapat disebabkan oleh adanya penggunaan asam lemak tak jenuh seperti asam oleat, linoleat dan linolenat, maupun bahan tambahan seperti fragrance. Pemilihan pengawet yang dapat digunakan antara lain agen pengkelat logam, seperti ethylene diamine tetra acid (EDTA), ataupun antioksidan, seperti butylated hydroxy toluene (BHT) (Barel et al., 2001, Wasitaatmadja, 1997). 4. Natrium Hidroksida Natrium hidroksida (NaOH) merupakan senyawa alkali berupa massa melebur berwarna putih atau hampir putih. Berbentuk butiran kecil, serpihan, batang, atau bentuk lainnya. Keras dan rapuh, serta menunjukkan pecahan kristal. NaOH bersifat sangat cepat menyerap karbon dioksida dan air pada paparan udara (Rowe et al., 2009). NaOH dengan adanya asam lemak akan bereaksi membentuk sabun dan gliserol. NaOH merupakan basa alkali yang paling banyak dan sering digunakan dalam industri pembuatan sabun, dan sabun yang dihasilkan merupakan sabun yang paling banyak dikonsumsi. Basa seperti NaOH dan KOH berperan sebagai agen pereaksi dengan adanya fase minyak. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi saponifikasi yang menghasilkan gliserol dan sabun yang berbentuk garam sodium atau potasium (Barel et al., 2001; Shrivastava, 1982; Swern, 1979). 5. Etanol Etanol berupa cairan yang jernih dan tidak berwarna. Etanol bersifat mudah menguap walaupun pada suhu rendah. Etanol mempunyai beberapa

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 kegunaan, antara lain sebagai preservative, disinfectant, dan pelarut (Rowe et al., 2009). Dalam pembuatan sabun transparan, etanol digunakan sebagai pelarut karena bersifat semipolar sehingga mudah larut dalam air dan lemak. Sabun yang dibuat dengan penambahan etanol akan mempunyai kelarutan yang baik. Etanol juga mempunyai peran yang penting dalam pembuatan sabun transparan, yaitu untuk membentuk transparansi sabun (Hambali et al., 2005; Shrivastava, 1982). 6. Asam Sitrat Asam sitrat berupa kristal yang bening dan tidak berwarna, atau berbentuk granul, hablur, sampai serbuk halus yang berwarna putih. Asam sitrat tidak memiliki bau, dan memiliki rasa asam yang kuat. Beberapa fungsi dari asam sitrat antara lain sebagai acidifying agent, agen penyangga, chelating agent, dan pengawet. Asam sitrat sering digunakan dalam formulasi di bidang kefarmasian, dan pada produk makanan untuk mengatur pH larutan (Rowe et al., 2009). 7. Gliserin Gliserin berupa cairan kental, tidak berbau, tidak berwarna, memiliki rasa yang manis, dan bersifat higroskopis. Dalam bidang kefarmasian, gliserin dapat berfungsi sebagai emolien, humektan, pelarut, agen pemanis, dan agen tonisitas (Rowe et al., 2009). Gliserin telah sejak lama digunakan sebagai humektan, karena sifat dari gliserin adalah higroskopis sehingga mampu mengikat air dari udara.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Penggunaan konsentrasi gliserin sebesar 10%, mampu untuk meningkatkan kelembaban dan kehalusan kulit. Efektifitas gliserin dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan sekitarnya. Humektan seperti gliserin atau propilen glikol mampu melembabkan kulit pada kondisi kelembaban yang tinggi (Mitsui, 1997). Dalam formulasi sabun transparan, gliserin dengan adanya penggunaan sukrosa dan alkohol juga dapat berfungsi sebagai pembentuk struktur transparan pada sabun. Pada jaman sekarang ini, dengan permintaan konsumen yang kian beragam, sabun tidak hanya berfungsi sebagai pembersih kulit, namun konsumen juga menginginkan agar sabun dapat menimbulkan kesan lembut pada kulit. Diperlukan penambahan zat yang mampu meningkatkan kelembuatan di kulit, untuk dapat memenuhi keingininan konsumen tersebut, bahan tambahan yang dapat digunakan untuk memberikan kelembutan pada kulit adalah gliserin dan asam lemak (Barel et al., 2001). 8. Sukrosa Sukrosa merupakan gula yang diperoleh dari tebu (Saccharum officinarum Linne), berupa kristal tidak berwarna, massa seperti hablur kubus, atau serbuk hablur berwarna putih, tidak berbau dan memiliki rasa manis (Rowe et al., 2009). Sukrosa berfungsi sebagai transparent agent dalam pembuatan sabun transparan. Karakteristik sabun transparan hampir sama dengan sabun biasa, yang membedakan hanya pada tingkat transparansinya, maka diperlukan penambahan sukrosa sebagai agen transparansi. Penggunaan sukrosa dalam

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 formulasi bisa dalam bentuk butiran kristal halus maupun kasar. Dalam formulasi sabun transparan, pembentukan transparansi sabun dari gula adalah dengan membantu perkembangan kristal pada sabun (Hambali et al., 2005; Mitsui, 1997). 9. Aquadest Aqua destillata atau air suling dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum, berwujud cairan jernih dan tidak berwarna, tidak memiliki bau, dan tidak memiliki rasa. Molekul air terdiri dari satu atom oksigen yang berikatan dengan dua atom hidrogen secara kovalen. Air merupakan pelarut yang bersifat polar dan tidak dapat bercampur pada zat yang bersifat minyak atau non polar (Depkes RI, 1979; Winarno, 2004). H. Karakteristik Fisik Sabun 1. Transparansi Sabun Sabun batang termasuk dalam kategori transparan apabila seseorang dapat membaca tulisan dengan font tipe 14 melalui sabun dengan ketebalan 0,25 inchi (Jongko, 2014). 2. Derajat Keasaman (pH) Berdasarkan BSNI 06–3532–1994, pH sabun mandi tidak ditetapkan standarnya. Penggunaan sabun dapat meningkatkan pH kulit yang bersifat sementara namun perubahan pH kulit tidak akan terjadi secara drastis. Kenaikan pH kulit yang terjadi akibat penggunaan sabun tidak akan melebihi pH 7. pH sabun mandi berkisar antara 9 sampai 11, sedangkan kriteria pH

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 untuk sabun transparan berkisar antara 9,1 sampai 9,5 (Anonim, 2001; Tokosh dan Baig, 1995; Wasitaatmadja, 1997). 3. Kekerasan Sabun Kekerasan sabun merupakan parameter yang digunakan untuk menggambarkan ketahanan suatu sabun terhadap tekanan fisik atau mekanik. Sabun yang memiliki kerkerasan rendah atau massa sabunnya terlalu lunak akan lebih sulit untuk ditentukan kekerasannya, karena sabun dengan kekerasan yang kurang baik tidak akan terjadi kerusakan yang berarti saat diberi tekanan. Alat yang dapat digunakan untuk mengukur kekerasan sabun adalah hardness tester (Barel et al., 2001). 4. Busa Busa sabun merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi konsumen dalam memilih suatu produk surfaktan. Busa adalah suatu dispersi koloid dengan fase gas terdispersi dalam fase cairan. Sabun yang menghasilkan jumlah busa yang banyak dan mampu bertahan lama saat digunakan akan lebih diminati oleh konsumen. Dalam sabun transparan salah satu karakteristik fisik yang perlu dievaluasi adalah jumlah busa, kecepatan pembentukan busa dan kualitas busa yang dihasilkan. Kualitas, kuantitas maupun kecepatan busa yang dihasilkan oleh sabun dibuat menggunakan skala angka (Barel et al., 2001; Schramm, 2005; Spitz, 1996).

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 I. Landasan Teori Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari pengaruh luar seperti mikroorganisme, paparan sinar matahari, bahan kimia dan suhu. Mandi secara teratur menggunakan sabun merupakan salah satu upaya agar kulit senantiasa tetap terjaga dengan baik (Wasitaatmadja, 1997). Sabun digunakan untuk membersihkan kotoran yang dapat dibuat melalui proses saponifikasi antara basa natrium atau basa kalium dan asam lemak (Ophardt, 2003). Sabun transparan merupakan sabun dengan tampilan yang paling menarik dan menghasilkan busa lebih lembut di kulit. Sabun transparan memiliki penampilan yang lebih menarik dan berkilau serta memiliki nilai estetika dan nilai ekonomis yang lebih baik dibandingkan dengan jenis sabun lainnya (Cavitch, 1997). Minyak jahe dalam industri farmasi digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kosmetika sebagai pengaharum, parfum, dan aroma terapi (Hernani dan Marwati, 2006). Kandungan minyak atsiri pada rimpang jahe, membuat minyak jahe digunakan sebagai fragrance yang berfungsi untuk memberi aroma yang khas. Surfaktan diketahui merupakan komponen yang penting dalam sabun karena berpengaruh terhadap sifat pembusaan, dan juga sebagai penghilang kotoran yang merupakan fungsi utama dari sabun itu sendiri. Banyak orang berpendapat bahwa sabun dengan busa yang melimpah akan membersihkan kotoran dengan lebih baik (Izhar et al., 2009). Diethanolamide (DEA) dan

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 cocoamidoprpyl betaine (betaine) adalah surfaktan yang banyak digunakan dalam pembuatan sabun. DEA bersifat sebagai penstabil busa, memiliki toksisitas rendah dan tidak pedih dimata (Holmberg, cit., Masyithah, 2010). Betaine adalah surfaktan dengan sifat pembusa, pembasah, dan pengemulsi yang baik dan bersifat tidak mengiritasi (Barel et al., 2001). Bahan-bahan lain yang digunakan dalam formulasi sabun transparan antara lain asam stearat, minyak jarak, BHT, NaOH, etanol, asam sitrat, gliserin. Bahan yang digunakan dapat berpengaruh pada karakteristik sabun yang dihasilkan (Hambali et al., 2005). Sabun adalah suatu sistem sufaktan yang dengan penambahan surfaktan dengan konsentrasi yang berbeda dapat mempengaruhi karakteristik fisik sabun yang dihasilkan. Penambahan surfaktan sintetik berfungsi untuk meningkatkan mutu sabun yang dihasilkan dengan cara memperbaiki daya pembersihan dari sabun, kemampuan membentuk busa, dan kemampuan mempertahankan busa (Ghaim dan Volz, 2001). Karakteristik fisik sabun lainnya dari sabun yang dapat dipengaruhi oleh variasi konsentrasi surfaktan adalah transparansi, pH, dan kekerasan. J. Hipotesis Penggunaan variasi konsentrasi diethanolamide dan cocoamidopropyl betaine dalam formulasi sabun batang transparan minyak jahe dapat menghasilkan sabun transparan yang baik.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Penggunaan variasi konsentrasi diethanolamide dan cocoamidopropyl betaine dalam formulasi sabun batang transparan minyak jahe menghasilkan perbedaan karakteristik fisik sabun yang meliputi transparansi, pH, kekerasan, kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian dengan judul Pengaruh Variasi Konsentrasi Diethanolamide dan Cocoamidopropyl Betaine terhadap Karasteristik Fisik Sabun Batang Transparan Minyak Jahe merupakan jenis penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian pola acak lengkap searah. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi konsentrasi diethanolamide (DEA) dan cocoamidopropyl betaine (betaine). b. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah karakteristik fisik sabun transparan yang meliputi transparansi sabun, pH, kekerasan, kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa. c. Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah suhu waterbath, lama pengadukan, kecepatan putar mixer, lama pendiaman, wadah cetakan sabun, komposisi sabun batang transparan selain DEA dan betaine. d. Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini adalah perubahan suhu penyimpanan dan kelembaban pada masa aging. 28

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 2. Definisi Operasional a. Sabun adalah sediaan yang berupa sabun batangan dengan penampilan transparan menggunakan minyak jahe, dengan variasi konsentrasi DEA dan betaine serta komposisi formula seperti dirancang dalam penelitian ini. b. Minyak jahe adalah minyak atsiri jahe yang ditambahkan ke dalam sabun yang berfungsi sebagai fragrance. c. Sabun DEA adalah sabun batang transparan minyak jahe yang menggunakan diethanolamide sebagai surfaktan. d. Sabun betaine adalah sabun batang transparan minyak jahe yang menggunakan cocoamidopropyl betaine sebagai surfaktan. e. Sabun merek dagang adalah sabun yang telah beredar dipasaran, terdiri dari sabun “X” dan sabun “Y”, yang digunakan sebagai acuan dalam menetapkan kriteria karakteristik fisik sabun. f. Sabun “X” adalah sabun batang transparan yang telah beredar dipasaran dengan menggunakan bahan alam. g. Sabun “Y” adalah sabun batang transparan yang ternama dan telah dikenal secara luas dipasaran. h. Karakteristik fisik sabun meliputi transparansi sabun, pH, kekerasan, kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa. i. Transparansi sabun adalah penampilan sabun yang jernih dan tembus cahaya, serta dimungkinkan untuk membaca tulisan dengan font tipe 14 melalui ketebalan sabun 0,25 inchi atau setara dengan 0,635 cm.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 j. Kekerasan sabun merupakan gambaran ketahanan sabun terhadap tekanan mekanik dalam satuan kilogram, yang diukur menggunakan hardness tester. k. Kemampuan membentuk busa adalah kemampuan sabun dalam menghasilkan busa yang dilihat dari banyaknya jumlah busa yang dihasilkan dalam satuan milimeter setelah dilakukan pembentukan busa menggunakan homogenizer selama 1 menit. l. Kemampuan mempertahankan busa adalah kestabilan busa yang dilihat dari persentase penurunan jumlah busa yang terjadi setelah dilakukan pembentukan busa menggunakan homogenizer selama 1 menit, yang didapatkan dengan mengitung selisih antara ketinggian busa awal yang dihasilkan dengan ketinggian busa yang tersisa setelah 20 menit dibagi dengan ketinggian busa awal dikali 100 persen. m. Subjective assessment adalah penilaian yang berasal dari responden sebagai gambaran penerimaan konsumen terhadap pemakaian sabun. Penilaian ini dituangkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 30 orang responden.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 C. Bahan Penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah asam stearat (farmasetis) yang diperoleh dari PT. Brataco Chemika (Bratachem) Yogyakarta, minyak jarak (farmasetis, Bratachem), butylated hydroxy toluene (Bratachem), Natrium hidroksida, etanol 96% (teknis, Bratachem), asam sitrat (farmasetis, Bratachem), diethanolamide (farmasetis, Bratachem), cocoamidopropyl betaine (farmasetis, Bratachem), gliserin (farmasetis, Bratachem), sukrosa, aquadest dan minyak jahe yang diperoleh dari PT. Phytochemindo Reksa Bogor. D. Alat Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixer (HR 1530/ HR 1538 Ser. 0936, Philips, Holland), glassware (Pyrex), cawan porselen, termometer, cetakan sabun, waterbath (1984 – 0045 [172], Dijkstra), freezer (Toshiba, Japan), pH indikator universal, hardness tester (174886, Kiya Seisakusho, LTD, Japan), homogenizer (Funkentstort, Germany). E. Tata Cara Penelitian 1. Formula Sabun Transparan Formula yang dipilih sebagai formula acuan merupakan formula sabun transparan menurut Hambali et al. (2006), dengan komposisi formula seperti terlihat dalam tabel II.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Tabel II. Formula Acuan Sabun Transparan BAHAN KOMPOSISI (Gram) Asam stearat 7 NaOH 30% 18 Minyak jarak 10 Etanol 96% 15 Gliserin 13 Asam sitrat 3 Gula 7,5 Betain 5 Aquadest 4,5 Modifikasi formula yang dibuat untuk 100 gram dalam penelitian dapat dilihat pada tabel III dan tabel IV. Tabel III. Formula Modifikasi Sabun DEA Bahan Asam stearat Natrium hidroksida 30% Minyak jarak Etanol 96% Gliserin Asam sitrat Gula Diethanolamide Butylated hydroxy toluene Minyak jahe Aquadest Komposisi (Gram) 8,4 21,6 12 17,1 14,5 3,6 9,3 3 0,1 2 8,4 8,4 21,6 12 17,1 14,5 3,6 9,3 6 0,1 2 5,4 8,4 21,6 12 17,1 14,5 3,6 9,3 9 0,1 2 2,4

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Tabel IV. Formula Modifikasi Sabun Betaine Bahan Asam stearat Natrium hidroksida 30% Minyak jarak Etanol 96% Gliserin Asam sitrat Gula Cocoamidopropyl Betaine Butylated hydroxy toluene Minyak jahe Aquadest Komposisi (Gram) 8,4 21,6 12 17,1 14,5 3,6 9,3 3 0,1 2 8,4 8,4 21,6 12 17,1 14,5 3,6 9,3 6 0,1 2 5,4 8,4 21,6 12 17,1 14,5 3,6 9,3 9 0,1 2 2,4 2. Pembuatan Sabun Batang Transparan Minyak Jahe Asam stearat dilelehkan pada suhu 70-80 oC diatas waterbath. Minyak jarak ditambahkan pada cairan asam stearat dan dicampur hingga homogen. Pencampuran bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatan sabun dilakukan menggunakan mixer dengan skala 1, selama 1 menit pada masingmasing bahan untuk membantu menghomogenkan campuran. BHT kemudian ditambahkan pada campuran asam sterat dan minyak jarak. Selama proses pembuatan sabun, suhu harus dikontrol pada 70-80 oC. Penambahan NaOH selanjutnya dilakukan untuk menjalankan reaksi penyabunan, yang kemudian ditambahkan etanol 96% untuk melarutkan sabun. Pada campuran yang terbentuk, ditambahkan secara berurutan asam sitrat, surfaktan, gliserin, gula dan aquadest. Setelah semua bahan tercampur homogen, campuran yang telah terbentuk didinginkan hingga mencapai suhu ± 40 oC. Minyak jahe kemudian ditambahkan dan dihomogenkan kembali menggunakan mixer dengan skala 1. Masa sabun yang telah terbentuk dicetak pada cetakan sabun, dan didiamkan

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 pada suhu ruang selama 24 jam. Sabun kemudian dimasukkan dalam freezer dengan suhu -20 oC selama kurang lebih 48 jam. Setelah pendinginan dalam freezer, sabun didiamkan pada suhu kamar selama 4 minggu. Dari setiap formula dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. 3. Penentuan Penyusutan Bobot Pengamatan penyusutan bobot dilakukan setiap minggu pada masa aging sabun yaitu pada minggu 1 ke minggu 2, minggu 2 ke minggu 3, dan minggu 3 ke minggu 4. Pada minggu 1, sabun dipotong 1x7 cm yang digunakan untuk pengujian karakteristik fisik, sisa sabun ditimbang dan ditetapkan sebagai bobot akhir minggu 1. Sisa dari sabun tersebut didiamkan selama 1 minggu dan pada minggu 2 sabun ditimbang kembali sebelum digunakan untuk pengujian karakteristik fisik, dan didapatkan bobot awal minggu 2. Penyusutan bobot pada minggu 1 ke minggu 2 dapat dilihat melalui selisih antara bobot akhir sabun minggu 1 dengan bobot awal sabun minggu 2. Pengamatan penyusutan bobot untuk minggu 2 ke minggu 3 dan minggu 3 ke minggu 4, dilakukan dengan cara yang sama seperti pada pengamatan penyusutan bobot minggu 1 ke minggu 2. 4. Pengujian Karakteristik Fisik Sabun a. Uji Transparansi Pengamatan transparansi sabun dilakukan pada minggu 4 setelah proses pembuatan sabun. Sabun dipotong dengan ketebalan 0,25 inchi atau setara dengan 0,635 cm. Sabun diletakkan di atas kertas dengan tulisan

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 font tipe 14. Pengujian dilakukan pada ketiga replikasi, semua hasilnya dicatat dan ditentukan sabun yang dihasilkan transparan atau tidak. b. Uji Derajat Keasaman (pH) Pengamatan derajat keasaman dilakukan pada minggu 4 setelah proses pembuatan sabun. Sabun ditimbang sebanyak 1 gram dan dilarutkan dalam 10 mL aquades. Larutan campuran sabun dan aquadest diukur pH nya menggunakan pH indikator universal. Diamati pH yang diperoleh. Pengujian dilakukan pada ketiga replikasi, semua hasilnya dicatat dan ditentukan rata-rata derajat keasamannya (pH). c. Uji Kekerasan Pengamatan kekerasan sabun dilakukan pada minggu 4 setelah proses pembuatan sabun. Sabun berukuran 1x1x1 cm diletakkan secara vertikal pada hardness tester. Hardness tester diputar hingga menembus bagian bawah sabun, dicatat skala kekerasan yang tertera. Pengujian dilakukan pada ketiga replikasi, semua hasilnya dicatat dan ditentukan rata-rata kekerasan sabun. d. Uji Kemampuan Membentuk Busa dan Kemampuan Mempertahankan Busa Pengamatan kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa dilakukan pada minggu 4 setelah proses pembuatan sabun. Sabun ditimbang sebanyak 3 gram dan dilarutkan dalam 30 mL aquadest. Larutan campuran sabun dan aquadest diambil sebanyak 25 mL dan dimasukkan ke dalam beaker glass 50 mL dengan skala millimeter

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 block. Larutan sabun diuji dengan homoginizer dengan skala 4 selama 1 menit. Dicatat tinggi dari busa yang dihasilkan. Pengujian dilakukan pada ketiga replikasi, semua hasilnya dicatat dan ditentukan rata-rata ketinggian busanya. Hasil ketinggian busa menunjukkan kemampuan membentuk busa dari sabun. Pengamatan kemampuan mempertahankan busa selanjutnya dilakukan dengan mengukur busa yang tersisa setelah pendiaman selama 20 menit, yang kemudian dihitung selisih ketinggian busa awal yang dihasilkan terhadap tinggi busa yang tersisa dibagi tinggi busa awal dikali seratus persen. Pengujian dilakukan pada ketiga replikasi, semua hasilnya dicatat dan ditentukan rata-rata persentase penurunan busanya. Hasil persentase penurunan busa menunjukkan kemampuan mempertahankan busa dari sabun. 5. Subjective Assessment Subjective assessment dilakukan melalui pembagian kuesioner kepada 30 orang responden yang dilakukan sebagai wujud gambaran penerimaan konsumen terhadap sabun yang dihasilkan. Kuesioner yang digunakan, terlebih dahulu dilakukan validasi. F. Analisis Hasil Data yang diperoleh dari pengujian karakteristik fisik sabun dianalisa secara statistik. Masing-masing data hasil pengujian karakteristik fisik diuji normalitas datanya menggunakan uji Shapiro-Wilk, data yang terdistribusi normal memiliki p-value > 0.05, sedangkan data yang tidak terdistribusi normal memilki

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 p-value < 0.05. Uji kesamaan varians dilakukan menggunakan Levene’s Test, data dikatakan memiliki kesamaan varians jika p-value > 0,05. Apabila data yang diperoleh terdistribusi normal dan memiliki kesamaan varians, maka dapat diuji menggunakan Parametric Test yang analisis datanya menggunakan One way ANOVA (Analysis of Variance). Jika data yang diperoleh tidak terdistribusi normal, maka pengujiannya menggunakan Non Parametric Test yang analisis datanya menggunakan Kruskal Wallis. Uji ANOVA dilakukan untuk melihat signifikansi perbedaan karakteristik fisik sabun yang dihasilkan. Jika hasil dari uji ANOVA didapatkan p-value < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa berbeda bermakna secara statistik, sedangkan apabila p-value > 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak berbeda secara statistik. Uji lanjutan untuk melihat secara spesifik signifikansi masing-masing formula yang dibandingkan adalah dengan uji Tukey HSD. Data penyusutan bobot sabun diuji normalitasnya menggunakan Shapiro-Wilk yang selanjutnya dianalisis menggunakan Paired Ttest. Taraf kepercayaan yang digunakan dalam analisis data secara statistik sebesar 95 %. Hasil subjective assessment mengenai produk sabun berdasarkan kuesioner yang dibagikan kepada responden disajikan dalam bentuk persentase tingkat penerimaan konsumen, serta digambarkan melalui diagram batang. Program yang digunakan untuk analisis data secara statistik data adalah R i386 3.0.2

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Formulasi Sabun Sabun batang transparan minyak jahe merupakan sabun yang didesain untuk mendapatkan penampilan fisik transparan dan bertujuan untuk dapat menghasilkan sabun dengan karakteristik fisik yang baik, serta untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi surfaktan terhadap karakteristik fisik sabun yang dihasilkan. Surfaktan yang digunakan yaitu diethanolamide (DEA) dan cocoamidopropyl betaine (betaine). Bahan-bahan lain yang digunakan dalam pembuatan sabun transparan, antara lain asam stearat, butylated hydroxy toluene (BHT), minyak jarak, NaOH, etanol 96%, asam sitrat, gliserin, sukrosa, aquadest, dan minyak jahe. Sabun yang dibuat menggunakan formula hasil modifikasi yang berasal dari formula acuan sabun transparan oleh Hambali et al., (2006). Modifikasi formula yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan menambahkan minyak jahe, BHT, serta penggunaan DEA. Asam stearat dan minyak jarak merupakan fase minyak dengan kandungan asam lemak yang akan bereaksi dengan NaOH, sehingga terjadi rekasi saponifikasi dalam proses pembentukan sabun. Asam stearat berfungsi sebagai agen pengeras dan pembentuk konsistensi sabun, sehingga dapat dihasilkan massa sabun yang padat dan keras. Digunakan suhu 70-80 oC untuk melelehkan asam stearat, karena titik leleh asam stearat pada suhu 69-70 oC (Rowe et al.,2009). Minyak jarak yang digunakan juga merupakan fase minyak yang dalam 38

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 kandungannya terdapat asam lemak sehingga dapat berfungsi memberikan sensasi lembut dan lembab. BHT dalam formula ini berfungsi sebagai antioksidan. Penambahan antioksidan dalam sabun sangat diperlukan karena sabun tersusun dari asam lemak yang mengandung ikatan asam lemak tak jenuh yang mudah teroksidasi. Terjadinya oksidasi akan mengakibatkan sabun menjadi tengik. BHT yang ditambahkan dalam formula diperlukan untuk mencegah terjadinya proses oksidasi dari asam lemak ataupun minyak yang digunakan dalam formula. BHT ditambahkan pada fase minyak, karena BHT larut sempurna dalam fase nonpolar (Rowe et al.,2009). Penambahan NaOH berfungsi sebagai agen saponifikasi. NaOH yang bersifat sebagai basa akan bereaksi dengan fase minyak menghasilkan sabun. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi saponifikasi atau reaksi penyabunan. Dalam pembuatan sabun, fase minyak dan basa merupakan komponen utamanya, sedangkan bahan-bahan lain yang ditambahakan berperan dalam meningkatkan kualitas sabun. Etanol 96% digunakan sebagai pelarut dari sabun yang terbentuk. Digunakan etanol karena sifatnya yang merupakan pelarut semipolar, sehingga mudah larut dalam air dan lemak (Hambali et al., 2005). Etanol juga dapat disebut sebagai agen penjernih karena sabun yang terbentuk dari reaksi saponifikasi akan terlarut dalam etanol dan dihasilkan campuran yang jernih. Sabun harus larut dalam etanol sehingga nantinya akan diperoleh hasil yang transparan.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Asam sitrat dalam formula digunakan sebagai pH adjuster, sehingga dapat mengurangi kebasaan dari sabun yang dihasilkan. Pengaturan pH dianggap penting untuk meminimalisir terjadinya iritasi kulit, apabila sabun terlalu basa. Penggunaan gliserin berfungsi sebagai humektan atau pelembab. Sesuai mekanismenya, humektan dapat menarik air dari udara, sehingga dengan adanya gliserin dapat melembabkan kulit ketika sabun diaplikasikan dan dapat menghindari kulit dari kekeringan yang berlebihan akibat pemakaian sabun. Gliserin juga berperan sebagai agen penjernih sehingga dapat meningkatkan kejernihan dan transparansi sabun yang dihasilkan. Gula dalam formula berfungsi sebagai agen transparansi, sehingga gula merupakan bahan yang paling berperan penting dalam menghasilkan sabun yang transparan. Transparansi dari sabun yang dihasilkan akan berpengaruh pada estetika sediaan, yang mempunyai andil yang cukup besar terhadap penerimaan konsumen. Hal ini dikarenakan sabun transparan merupakan sabun yang mempunyai penampilan yang lebih berkilau daripada sabun opaque, dan lebih menarik dikarenakan transparansinya. Gula yang digunakan adalah sukrosa. Gula dapat membentuk transaparansi dari sabun dengan cara membantu perkembangan kristal pada sabun. Ketika massa pendiaman sabun, air dan etanol yang terkandung dalam sabun akan menguap sehingga kristal-kristal dari gula akan terbentuk kembali. Kristal bening yang dihasilkan akan meningkatkan transparansi sabun. Diethanolamide (DEA) dan cocoamidopropyl betaine (betaine) berfungsi sebagain surfaktan. DEA juga berfungsi sebagai foaming agent dan penstabil busa.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Selain itu DEA juga dipilih sebagai surfaktan karena dapat mencegah proses penghilangan minyak secara berlebihan pada kulit (Hambali et al., 2005), sehingga diharapkan akan menghasilkan efek lembut dari penggunaan sabun. Betaine memiliki sifat pembusa yang baik dan, relatif stabil. Penggunaan betaine dalam formula juga dikarenakan betaine bersifat tidak mengiritasi kulit (Barel et al., 2001). Surfaktan mempunyai peran penting dalam produk sabun, terutama dalam hal penghilangan kotoran dan sebagai agen pembusa. Surfaktan yang digunakan akan mempengaruhi kekuatan pembusaan yang bisa dihasilkan dari sabun. Hal ini penting karena kebanyakan konsumen menyukai produk sabun yang dapat menghasilkan busa yang melimpah karena beranggapan bahwa semakin banyak busa yang dihasilkan, maka akan semakin banyak kotoran yang dapat dibersihkan (Izhar et al., 2009). Minyak jahe berperan sebagai fragrance atau pewangi. Penggunaan minyak jahe bertujuan untuk meningkatkan penerimaan konsumen terhadap sabun, karena minyak jahe mempunyai aroma khas dan menenangkan, sehingga dapat menimbulkan efek rileks. Hal-hal kritis yang perlu diperhatikan selama proses pembuatan sabun yaitu, suhu dan pengadukan. Saat proses pembuatan sabun, suhu harus dijaga tetap konstan antara 70-80 oC, karena suhu akan berpengaruh pada proses pembentukan sabun. Apabila suhu yang digunakan terlalu rendah, maka sabun akan cepat memadat dan membentuk massa sehingga membuat proses pencampuran bahan-bahan pembentuk sabun menjadi sulit untuk dilakukan,

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 karena seharusnya bahan-bahan yang dicampurkan berbentuk larutan. Pengaruh pengadukan terhadap proses pembuatan sabun, yaitu apabila pengadukan dilakukan terlalu cepat dan tidak konstan maka akan banyak dihasilkan buih yang membuat estetika sabun menjadi berkurang, oleh karena itu proses pengadukan harus dilakukan dengan konstan dan stabil. Setelah proses pencetakan sabun, sabun didiamkan terlebih dahulu hingga mencapai suhu ruang ± 27 oC, setelah itu dilakukan pendinginan dalam freezer. Masa aging atau masa pendiaman sabun juga termasuk hal penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan sabun transparan. Saat masa aging, sabun didiamkan selama 4 minggu pada suhu ruang. Masa aging sabun tersebut bertujuan untuk mengurangi kadar air dan menguapkan etanol yang terkandung dalam sabun (Hambali et al., 2006). Setelah masa aging tersebut diharapkan sifat fisik sabun sudah stabil. B. Penentuan Penyusutan Bobot Penentuan penyusutan bobot dilakukan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sabun untuk mendapatkan bobot yang stabil. Sabun yang telah dibuat dilakukan proses pendiaman selama 4 minggu untuk memperoleh keadaan yang stabil. Pendiaman yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan menguapkan etanol yang terkandung dalam sabun. Adanya kandungan air dan etanol dalam sabun menyebabkan respon sifat fisik sabun berubah-ubah, oleh karena itu setelah masa aging diasumsikan etanol yang terkandung dalam sabun telah menguap. Penentuan persentase penyusutan bobot dilakukan dengan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 mengukur persentase penyusutan yang terjadi setiap minggunya, yaitu penyusutan bobot dari minggu 1 ke minggu 2, minggu 2 ke minggu 3, dan minggu 3 ke minggu 4 setelah pembuatan sabun. Minggu 1 ditetapkan sebagai titik awal pengukuran pesentase penyusutan bobot. Hasil persentase penyusutan bobot (lampiran 3) yang paling besar terjadi pada minggu 1 ke minggu 2. Hal ini menunjukkan bahwa saat masa aging sabun pada minggu 1 ke minggu 2 terjadi pengurangan kandungan air dan penguapan etanol dari dalam sabun yang cukup besar. Pada minggu 2 ke minggu 3, penyusutan bobot sabun tidak sebesar minggu pertama. Sedangkan penyusutan bobot pada minggu 3 ke minggu 4 sangat sedikit, karena jumlah kandungan air dan etanol telah banyak berkurang pada minggu-minggu awal masa aging. Data penyusutan bobot diuji normalitasnya secara statistik menggunakan Shapiro-Wilk. Hasil dari uji normalitas menunjukkan bahwa data yang didapatkan mempunyai distribusi normal (p-value > 0,05) (lampiran 7), kemudian untuk mengetahui signifikansi penyusutan bobot dilakukan uji paired T-test. Uji paired T-test digunakan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sabun untuk mendapatkan bobot yang konstan. Tabel V menunjukkan bahwa sabun DEA dan sabun betaine tidak mengalami penyusutan bobot yang signifikan pada minggu 3 ke minggu 4 yang ditunjukkan melalui p-value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa bobot sabun telah konstan.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Tabel V. Hasil p-Value pada Paired T-Test Penyusutan Bobot Sabun Minggu 3 ke Minggu 4 Formula Jenis Sabun Sabun DEA Sabun Betaine Rendah Tengah Tinggi 0,423 0,423 0,225 0,184 0,225 0,057 Hasil dari pengujian ini dijadikan sebagai dasar penentuan uji karakteristik fisik sabun, karena diasumsikan bahwa kandungan air dan etanol pada minggu 4 sudah tidak mempengaruhi respon karakteristik fisik sabun sehingga sabun telah memiliki karakteristik fisik yang stabil. Hal ini sesuai dengan teori bahwa masa aging sabun transparan adalah sekitar tiga minggu setelah pembuatan sabun (Hambali et al., 2006). C. Pengujian Karakteristik Fisik Karakteristik fisik sabun berperan penting dalam menentukan kualitas sabun dan penerimaan konsumen terhadap produk sabun yang dihasilkan. Pengujian karakteristik fisik terhadap sabun yang dihasilkan meliputi transparansi sabun, pH, kekerasan, kemampuan membentuk busa, dan kemampuan mempertahankan busa. Pengujian karakteristik fisik sabun dilakukan pada minggu 4 setelah proses pembuatan sabun yang bertujuan untuk mengetahui sabun yang dihasilkan dalam penelitian baik atau tidak, yang dilihat melalui kriteria karakteristik fisik sabun serta untuk melihat pengaruh variasi konsentrasi surfaktan terhadap respon karakteristik fisik sabun, yang selanjutnya dilakukan analisis data secara statistik. Minggu 4 ditentukan sebagai waktu yang digunakan

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 untuk pengujian karakteristik fisik sabun karena mengacu pada teori masa aging sabun transparan oleh Hambali et.al. (2006), dan didukung dengan data penyusutan bobot yang menunjukkan bahwa pada minggu 4 bobot sabun telah kosntan. Semua sabun dengan variasi konsentrasi surfaktan DEA dan betaine meliputi formula konsentrasi tinggi (9g), formula konsentrasi tengah (6g), dan formula konsentrasi rendah (3g) diuji karakteristik fisiknya. Sebagai pembanding karakteristik fisik sabun, digunakan sabun merek dagang sebagai acuan penentuan kriteria karakteristik sabun yang baik. Sabun merek dagang yang digunakan dalam penelitian ini adalah sabun merek “X” dan sabun merek “Y”, karena memiliki fungsi komposisi formula yang mirip dengan formula sabun yang digunakan dalam penelitian (lampiran 1). Sabun merek dagang diperlakukan sama dengan sabun yang dibuat dalam penelitian dengan pengujian karakteristik fisik. 1. Transparansi Sabun Transparansi sabun merupakan hal yang sangat penting dalam sabun transparan. Transparansi sabun ini akan berpengaruh pada nilai estetika dari sabun yang dihasilkan karena penampilan sabun transparan inilah yang membuatnya lebih menawan dibandingkan jenis sabun lainnya. Sabun dikatakan transparan apabila tulisan dengan font tipe 14 yang diletakkan dibawah sabun dengan ketebalan sabun 0,25 inchi atau setara dengan 0,635 cm, dapat terbaca (Jongko, 2014).

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Dari data yang didapatkan, semua sabun yang dihasilkan memiliki penampilan yang transparan, karena sabun yang dihasilkan mampu digunakan untuk membaca tulisan sesuai persyaratan sabun transparan (lampiran 13). Hasil pengujian transparansi sabun dibuat urutan tingkat transparansinya untuk mengetahui sabun dengan tingkat transparansi yang paling tinggi. Urutan tingkat transparansi sabun dapat dilihat melalui penomoran tingkat transparansinya. Nomor yang lebih kecil pada urutan tingkat transparansi sabun menunjukkan tingkat transparansi yang lebih tinggi. Tabel VI. Tingkatan Transparansi Sabun Tingkat Transparansi Formula Sabun DEA Sabun Betaine Konsentrasi Tinggi 1 1 Konsentrasi Tengah 2 2 Konsentrasi Rendah 3 3 Berdasarkan tabel VI, dapat dilihat bahwa baik pada sabun DEA dan sabun betaine dengan peningkatan konsentrasi surfaktan maka tingkat transparansi sabun yang dihasilkan juga meningkat, sedangkan penggunaan konsentrasi rendah menghasilkan sabun dengan tingkat transparansi yang paling rendah. Hal ini dapat dikarenakan dengan adanya konsentrasi surfaktan yang semakin tinggi maka partikel minyak yang teremulsi di dalam air akan semakin terbagi, sehingga ukuran droplet yang terbentuk akan semakin kecil dan sabun yang dihasilkan semakin transparan. 2. Derajat Keasaman (pH) Derajat keasaman atau pH termasuk salah satu unsur penting yang harus dipertimbangkan dalam produk sabun, dikarenakan sabun dengan pH yang terlalu

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 basa dapat mengakibatkan kemungkinan terjadinya iritasi pada kulit karena tidak sesuai dengan pH kulit yang netral, oleh karena itu akan lebih baik apabila sabun memiliki pH yang sesuai atau mendekati pH kulit. Adanya kemungkinan iritasi akibat penggunaan sabun harus dapat diminimalisir, oleh karena itu dilakukan pengukuran pH dari sabun yang dihasilkan. Tabel VII. Hasil Uji pH Sabun dan pH Sabun Merek Dagang Sabun DEA Parameter Sabun Merek Sabun Betaine Rendah Tengah Tinggi Rendah Tengah Tinggi “X” pH 8-9 8-9 8-9 8-9 8-9 8-9 “Y” 9-10 9-10 Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH indikator universal. Dari hasil pengukuran pH pada tabel VII, didapatkan pH sabun berkisar antara 8-9 dari semua sabun yang dihasilkan, sedangkan sabun merek dagang “X” dan “Y” memiliki pH 9-10. Nilai pH dari sabun yang dihasilkan menunjukkan pH basa dan belum sesuai dengan pH kulit yaitu 4,5-6 (Dayan dan Wertz, 2011), namun pH sabun yang dihasilkan memiliki pH yang lebih mendekati pH kulit dibandingkan dengan sabun merek dagang, sehingga dapat dikatakan bahwa sabun yang dihasilkan memiliki pH yang masih dapat diterima. Hal ini didukung dengan melihat secara teoritis pH sabun transparan biasanya memiliki pH yang berkisar antara 9,1-9,5 (Tokosh dan Baig, 1995). Penggunaan sabun dengan pH yang cenderung basa juga diperlukan untuk membuka pori kulit, sehingga sabun dapat mengikat kotoran dan kelebihan sebum pada kulit (Ertel, 2006).

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 3. Kekerasan Pengujian kekerasan perlu dilakukan karena kekerasan sabun yang baik dapat menjamin keutuhan sabun selama masa penyimpanan hingga diterima oleh konsumen. Kekerasan sabun juga berpengaruh pada kemampuan mempertahankan bentuk saat sabun digunakan. Jika sabun terlalu lembek maka saat digunakan sabun akan melunak dan menyebabkan sabun cepat habis. Pengujian kekerasan sabun dilakukan menggunakan hardness tester dengan satuan kekerasan sabun adalah kilogram (kg). Hasil uji kekerasan dari masing-masing formula dibandingkan, baik kekerasan sabun DEA maupun kekerasan sabun betaine, dan disertakan nilai SD (standart deviation). Nilai rata-rata dan nilai SD digunakan untuk mengetahui sabun yang memenuhi kriteria kekerasan sabun sesuai dengan rentang yang ditetapkan dalam penelitan. Hasil uji kekerasan sabun DEA, sabun betaine dan sabun merek dagang dapat dilihat pada tabel VIII. Tabel VIII. Kekerasan Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang ( ) Kekerasan (kg) Formula Rendah Tengah Tinggi Jenis 2,733 ± 0,153 2,533 ± 0,208 2,433 ± 0,153 Sabun DEA 3,067 ± 0,153 2,933 ± 0,153 2,600 ± 0,100 Sabun Betaine 2,233 ± 0,252 abun “X” 4,133 ± 0,153 abun “Y” Kriteria kekerasan sabun yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah kekerasan dari sabun tidak kurang dari 2 kg, yang ditetapkan berdasarkan nilai kekerasan dari sabun merek dagang “X” sebagai batas kekerasan minimal sabun. Berdasarkan data kekerasan dari tabel VIII dapat dilihat bahwa kekerasan semua

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 formula sabun DEA dan sabun betaine memenuhi kriteria kekerasan sabun yang ditetapkan. Data hasil uji kekerasan kemudian dianalisis dengan statistik. Uji normalitas data pada penelitian ini menggunakan uji Shapiro-Wilk, yang bertujuan untuk mengetahui data memiliki dsitribusi yang normal atau tidak. Pada uji Shapiro-Wilk dengan taraf kepercayaan 95% apabila nilai p-value < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, begitu pula sebaliknya apabila nilai nilai p-value > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. Dimana H0 merupakan hipotesis bahwa data terdistribusi normal, sedangkan H1 merupakan hipotesis bahwa data tidak terdistribusi normal (Istyastono, 2012). Data yang diharapkan adalah data yang mempunyai distribusi normal atau memiliki nilai p-value > 0,05. Hasil dari uji normalitas menunjukkan bahwa data uji kekerasan mempunyai distribusi normal (p-value > 0,05) (lampiran 7). Uji kesamaan varians dilakukan dengan Levene Test. Data dapat dikatakan memiliki kesamaan varians apabila nilai p-value > 0,05 (Suhartono, 2008). Uji Levene Test menunjukkan bahwa data yang didapat memiliki kesamaan varians (p-value > 0,05) (lampiran 9), sehingga dapat dilanjutkan dengan Parametric Test yaitu One Way ANOVA untuk mengetahui signifikansi kekerasan sabun. Pada One Way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% apabila nilai pvalue < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, begitu pula sebaliknya apabila nilai nilai p-value > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. Dimana H0 merupakan hipotesis bahwa data tidak berbeda, sedangkan H1 merupakan hipotesis bahwa

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 data berbeda secara signifikan (Istyastono, 2012). Apabila hasil uji ANOVA menyatakan bahwa data yang dibandingkan berbeda secara signifikan maka dilanjutkan dengan uji Tukey HSD yang bertujuan untuk mengetahui secara spesifik signifikansi masing-masing data antar formula yang dibandingkan. Data dikatakan berbeda bermakna atau berbeda secara signifikan apabila nilai p-value < 0,05, sedangkan apabila nilai p-value > 0,05 maka dikatan data tidak berbeda. Kekerasan sabun yang dihasilkan dalam penelitian juga dibandingkan secara statistik dengan sabun merek dagang “X” dan sabun merek dagang “Y”. Tujuan sabun dibandingkan dengan sabun merek dagang adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kekerasan dari sabun yang dihasilkan dalam penelitian dengan sabun merek dagang. Hal ini penting karena akan berpengaruh pada penerimaan sabun di pasaran. Data hasil uji kekerasan perbandingan antara sabun dengan sabun merek dagang yang dianalisis secara statistika dapat dilihat pada tabel IX. Berdasarkan tabel IX, hasil kekerasan sabun DEA untuk formula rendah, tengah, maupun tinggi jika dibandingkan dengan kekerasan sabun merek dagang “X” tidak berbeda secara statistika (p-value > 0,05) atau dengan kata lain memiliki kekerasan yang sama. Sedangkan kekerasan formula rendah, tengah, maupun tinggi dibandingkan dengan kekerasan sabun merek dagang “Y” berbeda secara statistika (p-value < 0,05).

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Tabel IX. Perbandingan Kekerasan Sabun dengan Sabun Merek Dagang Sabun DEA Sabun Betaine Perbandingan p – value Kebermaknaan Formula Rendah – Sabun “X” Formula Tengah – Sabun “X” Formula Tinggi – Sabun “X” Formula Rendah – Sabun “Y” Formula Tengah – Sabun “Y” Formula Tinggi – Sabun “Y” p – value Kebermaknaan 0,053 Tidak Berbeda 9,32.10-4 Berbeda 0,351 Tidak Berbeda 3,47.10-3 Berbeda 0,695 Tidak Berbeda 0,133 Tidak Berbeda 2,82.10-5 Berbeda 1,22.10-4 Berbeda 8,4.10-6 Berbeda 4,38.10-5 Berbeda 4,8.10-6 Berbeda 4,7.10-6 Berbeda Hasil kekerasan sabun betaine yang dibandingkan dengan sabun merek dagang juga dapat dilihat pada tabel IX, dimana kekerasan formula rendah dan tengah dibandingkan dengan kekerasan sabun merek dagang “X” berbeda secara statistika, sedangkan kekerasan formula tinggi dibandingkan dengan kekerasan sabun merek dagang “X” tidak berbeda secara statistika (p-value > 0,05). Kekerasan sabun betaine formula rendah, tengah, maupun tinggi jika dibandingkan dengan kekerasan sabun merek dagang “Y” berbeda secara statistika (p-value < 0,05). Hasil uji ANOVA kekerasan sabun DEA dan hasil uji Tukey HSD kekerasan sabun betaine yang merupakan perbandingan antar formula untuk melihat pengaruh variasi konsentrasi yang digunakan terhadap respon kekerasan sabun yang dihasilkan dapat dilihat pada tabel X.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Tabel X. Hasil Uji ANOVA dan Uji Tukey HSD Kekerasan Sabun P value Kebermaknaan Perbandingan Formula DEA Betaine DEA Betaine Rendah-Tengah Rendah-Tinggi Tengah-Tinggi 0,178 0,501 0,014 0,056 Tidak Berbeda Tidak Berbeda Berbeda Tidak Berbeda Hasil uji ANOVA untuk sabun DEA menunjukkan pada semua formula memiliki nilai p-value > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan variasi konsentrasi DEA tidak berpengaruh pada kekerasan sabun. Hasil uji ANOVA kekerasan sabun betaine memiliki nilai p-value < 0,05 (lampiran 10) yang menunjukkan variasi konsentrasi betaine menghasilkan kekerasan yang berbeda, sehingga dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Dari hasil uji Tukey HSD terlihat bahwa kekerasan sabun betaine pada formula rendah dibandingkan dengan formula tinggi berbeda (p-value < 0,05), yang menunjukkan dengan penambahan konsentrasi betaine yang besar dapat mempengaruhi kekerasan sabun, tetapi dengan penambahan konsentrasi yang kecil tidak mempengaruhi kekerasan sabun yang ditunjukkan dari hasil kekerasan sabun betaine formula rendah dibandingkan dengan formula tengah dan formula tengah dibandingkan dengan formula tinggi memiliki kekerasan yang sama. 4. Kemampuan Membentuk Busa Busa yang dihasilkan pada penggunaan sabun akan berpengaruh pada tingkat penerimaan konsumen, karena kebanyakan orang beranggapan apabila sabun dapat menghasilkan busa yang melimpah maka akan mampu membersihkan kotoran dengan lebih baik (Izhar, et al., 2009), sehingga konsumen akan lebih berminat pada sabun yang dapat menghasilkan busa yang banyak. Kemampuan

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 membentuk busa digunakan untuk melihat kemampuan sabun dalam hal menghasilkan busa. Pengujian kemampuan membentuk busa dilakukan menggunakan homogenizer yang kemudian dilihat skala pembentukan busanya dalam satuan milimeter (mm). Hasil uji kemampuan membentuk busa dari masing-masing formula dibandingkan, baik kemampuan membentuk busa sabun DEA maupun kemampuan membentuk busa sabun betaine, dan disertakan nilai SD (standart deviation). Nilai rata-rata dan nilai SD digunakan untuk mengetahui sabun yang memenuhi kriteria kemampuan membentuk busa sabun sesuai dengan rentang yang ditetapkan dalam penelitan. Hasil uji kemampuan membentuk busa sabun DEA, sabun betaine dan sabun merek dagang dapat dilihat pada tabel XI. Tabel XI. Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang ( ) Tinggi Busa (mm) Formula Rendah Tengah Tinggi Jenis 41,667 ± 1,528 43,333 ± 1,528 45,667 ± 1,528 Sabun DEA 43,000 ± 1,000 45,667 ± 1,528 46,333 ± 2,082 Sabun Betaine 44,667 ± 1,528 abun “X” 46,333 ± 1,528 abun “Y” Kriteria kemampuan membentuk busa sabun yang ditetapkan dalam penelitian adalah sabun dapat menghasilkan tinggi busa yang tidak kurang dari 43 mm, yang ditetapkan berdasarkan sabun merek dagang “X” sebagai batas minimal kriteria kemampuan membentuk busa sabun. Data kemampuan membentuk busa dari tabel XI menunjukkan bahwa kemampuan membentuk busa semua formula sabun DEA dan sabun betaine memenuhi kriteria kemampuan membentuk busa yang ditetapkan dalam penelitian.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Data hasil uji kemampuan membentuk busa kemudian dianalisis dengan statistik. Uji normalitas data pada penelitian ini menggunakan uji Shapiro-Wilk, hasil dari uji normalitas menunjukkan bahwa data yang didapatkan mempunyai distribusi normal (p-value > 0,05) (lampiran 7). Uji dilanjutkan untuk mengetahui kesamaan varians dengan Levene Test. Uji Levene Test menunjukkan bahwa data yang didapat memiliki kesamaan varians (p-value > 0,05) (lampiran 9), sehingga dapat dilanjutkan dengan Parametric Test yaitu One Way ANOVA untuk mengetahui signifikansi kemampuan membentuk busa sabun. Kemampuan membentuk busa sabun yang dihasilkan dalam penelitian juga dibandingkan secara statistik dengan sabun merek dagang “X” dan sabun merek dagang “Y”. Tujuan sabun dibandingkan dengan sabun merek dagang adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan membentuk busa dari sabun yang dihasilkan dalam penelitian dengan sabun merek dagang, karena akan berpengaruh pada penerimaan sabun di pasaran. Data hasil uji kemampuan membentuk busa perbandingan antara sabun dengan sabun merek dagang yang dianalisis secara statistika dapat dilihat pada tabel XII. Berdasarkan tabel XII diketahui bahwa kemampuan membentuk busa dari sabun DEA formula rendah, tengah, maupun tinggi jika dibandingkan dengan sabun merek dagang “X” tidak berbeda secara statistika (p-value > 0,05). Kemampuan membentuk busa sabun DEA formula rendah dibandingkan dengan sabun merek dagang “Y” berbeda secara statistika (p-value < 0,05), sedangkan formula tengah dan tinggi jika dibandingkan dengan sabun merek dagang “Y” tidak berbeda yang dilihat dari nilai p-value > 0,05.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Tabel XII. Perbandingan Kemampuan Membentuk Busa Sabun dengan Sabun Merek Dagang Sabun DEA Sabun Betaine Perbandingan p – value Kebermaknaan Formula Rendah – Sabun “X” Formula Tengah – Sabun “X” Formula Tinggi – Sabun “X” Formula Rendah – Sabun “Y” Formula Tengah – Sabun “Y” Formula Tinggi – Sabun “Y” p – value Kebermaknaan 0,191 Tidak Berbeda Tidak Berbeda 0,818 Tidak Berbeda Tidak Berbeda 0,924 Tidak Berbeda Tidak Berbeda 0,119 0,025 Berbeda Tidak Berbeda 0,191 Tidak Berbeda Tidak Berbeda 0,981 Tidak Berbeda Tidak Berbeda Kemampuan membentuk busa sabun betaine dibandingkan dengan sabun merek dagang juga dapat dilihat dari tabel XII, yang menunjukkan bahwa kemampuan membentuk busa sabun betaine dari formula rendah, formula tengah, dan formula tinggi apabila dibandingkan dengan sabun merek dagang “X” dan sabun merek dagang “Y” tidak berbeda secara statistika ( p-value > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan membentuk busa sabun betaine sama dengan kemampuan membentuk busa dari sabun merek dagang. Tabel XIII. Hasil Uji ANOVA dan Uji Tukey HSD Kemampuan Membentuk Busa Sabun P value Kebermaknaan Perbandingan Formula DEA Betaine DEA Betaine Rendah-Tengah 0,428 Tidak Berbeda Rendah-Tinggi 0,042 0,091 Berbeda Tidak Berbeda Tengah-Tinggi 0,227 Tidak Berbeda

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Hasil uji ANOVA kemampuan membentuk sabun betaine dan hasil uji Tukey HSD kemampuan membentuk sabun DEA yang merupakan perbandingan antar formula untuk melihat pengaruh variasi konsentrasi yang digunakan terhadap respon kemampuan membentuk busa sabun dapat dilihat pada tabel XIII. Hasil uji ANOVA kemampuan membentuk busa sabun DEA memiliki nilai p-value < 0,05 (lampiran 10) yang menunjukkan variasi konsentrasi DEA menghasilkan respon kemampuan membentuk busa yang berbeda sehingga dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Dari hasil uji Tukey HSD terlihat bahwa kemampuan membentuk busa sabun DEA pada formula rendah dibandingkan dengan formula tinggi berbeda (p-value < 0,05), yang menunjukkan dengan penambahan konsentrasi DEA yang besar dapat mempengaruhi kemampuan membentuk busa sabun, tetapi dengan penambahan konsentrasi yang kecil tidak mempengaruhi kemampuan membentuk busa sabun yang ditunjukkan dari hasil kemampuan membentuk busa sabun DEA formula rendah dibandingkan dengan formula tengah dan formula tengah dibandingkan dengan formula tinggi memiliki kemampuan membentuk busa yang sama. Hasil uji ANOVA untuk sabun betaine menunjukkan pada semua formula memiliki nilai p-value > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan variasi konsentrasi betaine tidak berpengaruh pada kemampuan membentuk busa sabun. 5. Kemampuan Mempertahankan Busa Kemampuan mempertahankan busa juga merupakan salah satu karakteristik fisik sabun yang diuji karena terkait penerimaan konsumen terhadap sabun yang dihasilkan. Kemampuan mempertahakan busa berkaitan erat dengan

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 kualitas busa yang diahasilkan. Bila kemampuan mempertahankan busa dari sabun baik, maka busa yang terbentuk akan stabil dan tidak akan cepat hilang. Dilakukan pengujian kemampuan mempertahankan busa untuk mengetahui kestabilan busa dari masing-masing sabun. Pengujian kemampuan mempertahankan busa dilakukan menggunakan homogenizer yang kemudian dilihat skala penurunan busa yang terjadi dalam satuan milimeter, dan selanjutnya dihitung persentase penurunan busanya. Persentase penurunan busa digunakan untuk melihat gambaran kemampuan sabun mempertahankan busa. Apabila semakin rendah atau semakin kecil persentase penurunan busa yang terjadi, maka sabun memiliki kemampuan mempertahankan busa yang semakin baik. Hasil uji persentase penurunan busa dari masing-masing formula dibandingkan, baik persentase penurunan busa dari sabun DEA maupun persentase penurunan busa dari sabun betaine dan disertakan nilai SD (standart deviation). Nilai rata-rata dan nilai SD digunakan untuk mengetahui sabun yang memenuhi kriteria kemampuan mempertahankan busa sabun sesuai dengan rentang yang ditetapkan dalam penelitan. Hasil uji persentase penurunan busa sabun DEA, sabun betaine dan sabun merek dagang dapat dilihat pada tabel XIV. Tabel XIV. Persentase Penurunan Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang ( ) Penurunan Busa (%) Formula Rendah Tengah Tinggi Jenis 60,772 ± 1,765 54,618 ± 3,087 45,230 ± 2,370 Sabun DEA 32,551 ± 2,066 29,182 ± 2,931 26,566 ± 2,268 Sabun Betaine 28,370 ± 3,402 abun “X” 28,062 ± 2,066 abun “Y”

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Kriteria kemampuan mempertahankan busa sabun yang dilihat dari persentase penurunan busa yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah penurunan busa sabun tidak lebih dari 32 %, yang ditetapkan berdasarkan sabun merek dagang “X” sebagai batas maksimal penurunan busa. Data persentase penurunan busa dari tabel XIV menunjukkan bahwa persentase penurunan busa sabun DEA tidak masuk dalam rentang persentase penurunan busa yang ditetapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa sabun DEA tidak memenuhi kriteria kemampuan mempertahankan busa yang ditetapkan. Pada hasil persentase penurunan busa, sabun betaine masuk dalam rentang persentase penurunan busa, sehingga dapat disimpulkan bahwa sabun betaine memenuhi kriteria kemampuan mempertahankan busa yang ditetapkan. Data hasil uji persentase penurunan busa kemudian dianalisis dengan statistik. Uji normalitas data pada penelitian ini menggunakan uji Shapiro-Wilk, hasil dari uji normalitas menunjukkan bahwa data yang didapatkan mempunyai distribusi normal (p-value > 0,05) (lampiran 7). Uji dilanjutkan untuk mengetahui kesamaan varians dengan Levene Test. Uji Levene Test menunjukkan bahwa data yang didapat memiliki kesamaan varians (p-value > 0,05) (lampiran 9), sehingga dapat dilanjutkan dengan Parametric Test yaitu One Way ANOVA untuk mengetahui signifikansi persentase penurunan busa sabun. Kemampuan mempertahankan busa sabun yang dihasilkan dalam penelitian juga dibandingkan secara statistik dengan sabun merek dagang “X” dan sabun merek dagang “Y” yang diperlakukan sama dengan melihat respon persentase penurunan busanya. Tujuan sabun dibandingkan dengan sabun merek

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 dagang adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan mempertahankan busa dari sabun yang dihasilkan dalam penelitian dengan sabun merek dagang. Hal ini penting karena akan berpengaruh pada penerimaan sabun di pasaran. Data hasil uji persentase penurunan busa perbandingan antara sabun dengan sabun merek dagang yang dianalisis secara statistika dapat dilihat pada tabel XV. Tabel XV menunjukkan bahwa persentase penurunan busa dari sabun DEA formula rendah, tengah, maupun tinggi jika dibandingkan dengan sabun merek dagang “X” dan “Y” berbeda secara statistik (p-value < 0,05), atau dapat dikatakan kemampuan mempertahankan busa dari sabun DEA berbeda dengan kemampuan mempertahankan busa dari sabun merek dagang. Tabel XV. Perbandingan Persentase Penurunan Busa Sabun dengan Sabun Merek Dagang Sabun DEA Sabun Betaine Perbandingan p – value Kebermaknaan Formula Rendah – Sabun “X” Formula Tengah – Sabun “X” Formula Tinggi – Sabun “X” Formula Rendah – Sabun “Y” Formula Tengah – Sabun “Y” Formula Tinggi – Sabun “Y” p – value Kebermaknaan 2.10-7 Berbeda Tidak Berbeda 1,8.10-6 Berbeda Tidak Berbeda 9,9.10-5 Berbeda Tidak Berbeda 0,142 -7 2.10 Berbeda Tidak Berbeda 1,6.10-6 Berbeda Tidak Berbeda 8,47.10-5 Berbeda Tidak Berbeda Kemampuan mempertahankan busa sabun betaine dibandingkan dengan sabun merek dagang juga ditunjukkan pada tabel XV, yang memperlihatkan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 bahwa persentase penurunan busa sabun betaine dari formula rendah, formula tengah, dan formula tinggi apabila dibandingkan dengan sabun merek dagang “X” dan sabun merek dagang “Y” tidak berbeda secara statistika (p-value > 0,05), sehingga dapat dikatakan kemampuan mempertahankan busa antara sabun betaine dengan sabun merek dagang adalah sama. Tabel XVI. Hasil Uji ANOVA dan Uji Tukey HSD Persentase Penurunan Busa Sabun p – value Kebermaknaan Perbandingan DEA Betaine DEA Betaine Rendah-Tengah 0,051 Tidak Berbeda Rendah-Tinggi 6,11e-4 0,064 Berbeda Tidak Berbeda Tengah-Tinggi 0,008 Berbeda Hasil uji ANOVA persentase penurunan busa sabun DEA memiliki nilai p-value < 0,05 (lampiran 10) yang menunjukkan variasi konsentrasi DEA menghasilkan respon persentase penurunan busa yang berbeda sehingga dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Dari hasil uji Tukey HSD terlihat bahwa persentase penurunan busa sabun DEA pada formula rendah dibandingkan dengan formula tengah tidak berbeda (p-value > 0,05), sedangkan persentase penurunan busa pada formula rendah dibandingkan dengan formula tinggi dan formula tengah dibandingkan dengan formula tinggi berbeda secara statistika (p-value < 0,05). Hal ini dapat disebabkan dengan konsentrasi yang semakin besar maka kemampuan DEA mengemulsi udara akan semakin baik dan kuat, sehingga persentase penurunan busa yang terjadi juga semakin berkurang. Hasil uji ANOVA untuk sabun betaine menunjukkan pada semua formula memiliki nilai p-value > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan variasi konsentrasi betaine tidak berpengaruh pada respon persentase penurunan busa

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 sabun, yang berarti variasi konsentrasi betaine tidak mempengaruhi kemampuan mempertahankan busa sabun. D. Subjective Assessment Subjective assessment yang dilakukan bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai penerimaan konsumen terhadap sabun yang dihasilkan dalam penelitian. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tertulis yang diberikan kepada responden (lampiran 12). Pernyataan yang diajukan kepada responden disampaikan melalui 2 buah kuesioner yang berisi 11 pernyataan terkait dengan karakteristik fisik sabun yang dihasilkan dalam penelitian dan responden dapat memilih tingkat persetujuan pada pernyataan yang diajukan. Satu kuesioner digunakan untuk mengetahui tingkat kesetujuan konsumen terhadap produk sabun, sedangkan kuesioner yang lainnya digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap produk sabun. Kuesioner yang diberikan kepada responden terlebih dahulu divalidasi. Validasi yang dilakukan adalah validasi konten dan validasi bahasa. Validasi dilakukan dengan terlebih dahulu mengujikan kuesioner kepada 3 orang responden. Dari pengujian tersebut, dapat dinyatakan bahwa kuesioner telah memenuhi syarat validitas, karena 3 orang tersebut sudah paham dengan maksud dan isi dari kuesioner, serta tidak menimbulkan pertanyaan saat membaca kuesioner yang diberikan. Kuesioner yang telah memenuhi syarat validitas selanjutnya dibagikan kepada responden yang dipilih secara acak. Kriteria responden yang ditetapkan pada penelitian ini yaitu 30 orang mahasiswi yang

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 berasal dari Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, angkatan 2012. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, didapatkan populasi sebesar 126 orang. Jumlah sampel minimal yang dapat digunakan untuk populasi dengan jumlah kecil yaitu sebesar 20% (Sevilla, Ochave, Punsalan, Regala, dan Uriarte, 1993), sehingga minimal sampel yang dapat digunakan dalam penelitian ini yaitu 25 orang. Namun dalam penelitian ini, digunakan responden sebanyak 30 orang yang dianggap dapat menggambarkan tingkat penerimaan konsumen. Pemilihan 30 orang responden ini juga dikarenakan jumlah tersebut dapat digunakan untuk pengambilan sampel dalam jumlah besar yaitu N ≥ 30 sampel (Spiegel dan Stephens, 2007). Responden diberi sampel sabun yang kemudian dapat digunakan, sehingga dapat mengisi kuesioner yang telah dibagikan. Sabun yang digunakan untuk subjective assessment adalah sabun betaine formula tengah karena memiliki karakteristik fisik yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan sesuai dengan sabun merek dagang. Tingkat penerimaan konsumen terhadap sabun yang dihasilkan dalam penelitian digambarkan melalui parameter persentase penilaian yang meliputi sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju terhadap pernyataan yang diajukan melalui kuesioner, serta sangat suka, suka, tidak suka, dan sangat tidak suka. Parameter persetujuan digunakan untuk mengetahui penilaian terhadap produk secara obyektif sedangkan parameter kesukaan digunakan untuk mengetahui kesukaan responden secara pribadi terhadap sabun yang dihasilkan.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 80% 70% Persentase 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Aroma Mempertahankan Bentuk Rasa Lembut Busa Penampilan Transparan Ketertarikan Setuju Sangat Setuju Parameter Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Gambar 5. Diagram Subjective Assessment dengan Parameter Persetujuan terhadap Produk Sabun 90% 80% Persentase 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Aroma Bentuk Sabun Rasa Lembut Busa yang Dihasilkan Kekerasan Parameter Sangat Tidak Suka Tidak Suka Suka Sangat Suka Gambar 6. Diagram Subjective Assessment dengan Parameter Kesukaan terhadap Produk Sabun Tingkat persetujuan responden terhadap pernyataan yang terkait produk sabun digambarkan melalui diagram yang dapat dilihat pada gambar 5, yang

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 menunjukkan bahwa konsumen setuju terhadap pernyataan terkait dengan aroma, mempertahankan bentuk, busa, sensasi rasa lembut, penampilan transparan, serta ketertarikan menggunakan produk sabun. Persentase persetujuan dari segi aroma sebesar 83,34%, mempertahankan bentuk sebesar 90%, sensasi rasa lembut sebesar 86,66%, busa yang dihasilkan sebesar 83,33% dan penampilan yang transparan sebesar 100% dan untuk tingkat ketertarikan responden terhadap sabun yaitu sebesar 73,34% responden menyatakan persetujuannya yang menunjukkan minat konsumen terhadap produk sabun. Berdasarkan hasil subjective assessment yang ditunjukkan pada gambar 6, dapat dilihat bahwa responden menyukai sabun baik dari segi aroma, bentuk, rasa lembut, busa yang dihasilkan dan kekerasan sabun. Hal ini ditunjukkan melalui persentase tingkat kesukaan responden untuk aroma sabun sebesar 83,33%, bentuk sabun sebesar 100%, rasa lembut sebesar 90%, busa yang dihasilkan sebesar 83,34% dan kekerasan sabun sebesar 76,66%. Persentase tersebut memperlihatkan bahwa tingkat kesukaan responden terhadap sabun lebih tinggi dibandingkan ketidaksukaan responden akan produk sabun. Melalui subjective assessment yang telah dilakukan, data yang didapatkan menunjukkan bahwa sabun yang dihasilkan dapat diterima oleh konsumen dan disukai. Peneliti menyadari adanya keterbatasan-keterbatasan yang terjadi selama proses penelitian berlangsung. Adapun keterbatasan yang terjadi antara lain adalah dalam penelitian ini tidak dilakukannya uji iritasi, dikarenakan keterbatasan peneliti dalam menemukan metode yang representatif untuk uji iritasi sabun. Uji iritasi ini dirasa penting karena dapat digunakan untuk mengetahui dan

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 mendukung tingkat keamanan dari sabun yang dihasilkan. Selain itu dalam penelitian ini terdapat keterbatasan lain yaitu pada saat melakukan subjective assessment untuk mengetahui gambaran penerimaan konsumen terhadap sabun yang dihasilkan melalui kuesioner, responden hanya menggunakan sabun dalam jangka pendek. Penggunaan sabun dalam jangka panjang dapat digunakan untuk lebih memastikan penerimaan konsumen terhadap sabun. Keterbatasan lainnya adalah belum dapat dihasilkannya sabun yang sesuai dengan pH kulit, meskipun peneliti sudah pernah mencoba untuk membuat sabun yang sesuai dengan pH kulit, tetapi sabun yang dihasilkan tidak transparan dan tidak dapat memadat.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Dapat dibuat sabun batang transparan minyak jahe yang baik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dalam penelitian ini menggunakan variasi konsentrasi betaine yang berbeda. 2. Penggunaan variasi konsentrasi surfaktan DEA berpengaruh pada transparansi, kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa, tetapi tidak berpengaruh pada pH dan kekerasan. 3. Penggunaan variasi konsentrasi surfaktan betaine berpengaruh pada transparansi dan kekerasan, tetapi tidak berpengaruh pada pH, kemampuan membentuk busa dan kemampuan mempertahankan busa. B. Saran 1. Perlu dikembangkan lagi penelitian mengenai sabun transparan menggunakan bahan alam lain sebagai inovasi dari sabun transparan yang telah ada. 2. Perlu dilakukan uji iritasi untuk mendukung tingkat keamanan sabun transparan yang dihasilkan. 66

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2014a, Diethanolamides as Used in Cosmetics, http://www.cirsafety.org/sites/default/files/amides092011FAR.pdf, diakses tanggal 2 April 2014. Anonim, 2014b, Making Cosmetics Coco Betaine (Cocamidorpopyl-betaine), http://www.makingcosmetics.com/msds1/msds-cocamidopropylbetaine.pdf, diakses tanggal 2 April 2014. Armando, 2009, Memproduksi 15 Minyak Atsiri Berkualitas, Penebar Swadaya, Jakarta. Badan Standarisasi Nasional Indonesia, 1994, Standar Mutu Sabun Mandi, Dewan Standarisasi Nasional, Jakarta. Barel, A. O., Paye, M., dan Maibach, H. I., 2001, Handbook of Cosmetic Science and Technology, Marcel Dekker Inc., New York. Budianto, V., 2010, Optimasi Formula Sabun Transparan dengan Humectant Gliserin dan Surfaktan Cocoamiopropyl Betaine: Aplikasi Desain Faktorial, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Cavitch, S. M., 1997, The Soapmaker’s Companion A Comprehensive Guide With Recipes, Techniques & Know How, Storey Books, North Adams. Dayan, N., dan Wertz, P. W., 2011, Innate Immune System of Skin and Oral Mucosa: Proprties and Impact in Pharmaceutics, Cosmetics, and Personal Care Products, p. 93. Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, p. 96. Ertel, K., 2006, Personal Cleansing Products: Properties and Use, in Draelos, Z. D., and Thaman, L. A., (Eds.), Cosmetic Fomulation of Skin Care Product, Taylor & Francis, New York. Fachmi, C., 2008, Pengaruh Penambahan Gliserin dan Sukrosa terhadap Mutu Sabun Transparan, Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Farn, R. J., 2006, Chemistry and Technology of Surfactants, Blackwell Publishing, Oxford, p. 24. Ghaim, J. B., dan Volz, E. D., 2001, Skin cleansing bar, in Barel, A. O., Paye, M., Maibach, H. I., (Eds.), Handbook of Cosmetic Science and Technology, Marcel Dekker Inc., New York, pp. 485, 489, 493. Gubitz, G.M., Mittelbatch, M., dan Trabi, M., 1999, Exploitation or Tropical Oil Seed Plant Jatropha Curcas L. Bioresource Technology. Hambali, E., Suryani, A., Dadang, Hariyadi, Hanafie, H., Reksowardjojo,I. K., et al., 2006, Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel, Penebar Swadaya, Jakarta, pp. 110-119. Hambali, E., Suryani, A., dan Rivai, M., 2005, Membuat Sabun Transparan untuk Gift dan Kecantikan, Penebar Swadaya, Jakarta, pp. 19-23, 29.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Harmono dan Andoko, A., 2005, Budidaya dan Peluang Bisnis Jahe, PT. Agro Media Pustaka, Jakarta, p. 3. Hernani dan Marwati T., 2006, Peningkatan Mutu Minyak Atsiri Melalui Proses Pemurnian, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor. Hill, M., dan Moaddel, T., 2004, Soap Structure and Phase Behavior, in Spitz, L., (Ed.), Soap, Detergent, Oleochemical and Personal Care Product, AOCS Press, USA. Istyastono, E.P., 2012, Mengenal Peranti Lunak R-2.14.0 for Windows : Aplikasi Statistika Gratis dan Open Source, Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pp. 21-35. Izhar, H., Sumiati, dan Moeljadi, P., 2009, Analisis Sikap Konsumen Terhadap Atribut Sabun Mandi, Universitas Brawijaya, Malang. Jacob, S. E., dan Amini, S., 2008, Cocoamidopropyl Betaine, Department of Dermatology, University of Miami School of Medicine, Miami, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18627690, diakses pada tanggal 9 April 2014. Jongko, 2014, Sabun Transparan Bebas Etanol, http://www.scrib.com/doc/11527862/e-book-sabun-transparan-nonetanol,diakses tanggal 7 Maret 2013. Masyithah, Z., 2010, Optimasi Sintesis Surfaktan Alkanolamida dari Asam Laurat dengan Dietanolamina dan N-Metil Glukamina Secara Enzimatik, Disertasi, Universitas Sumatera Utara, Medan. Mitsui, T., 1997, New Cosmetic Science, Elseiver, Amsterdam. Ophardt, C. E., 2003, Virtual Chembook, College Press, Illinois: Elmhurst. Poucher, W. A., 1993, Poucher’s Perfumes, Cosmetics and Soap, Chapman & Hall, London. Retmana, I. R., 2009, Formulasi dan Perbandingan Sifat Fisi Sabun Transparan Berbahan Dasar VCO dengan Minyak Atsiri (Minyak Kayu Putih, Sereh, dan Cengkeh) sebagai Fragrance Oil, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Rieger M. M., dan Rhein, L.D., 1997, Surfactants in Cosmetics, 2nd edition, Marcel Dekker, Inc., New York, pp. 2-19. Rosen, M. J., 2004, Surfactants and Interfacial Phenomena, 3rd edition, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey. Rowe, R. C., Sheskey, J. P., Quinn, M. E., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th edition, The Pharmaceutical Press, London. Santoso H. B., 1989, Jahe, Kanisius, Yogyakarta, p. 41. Schramm, L.L., 2005, Emulsion, Foams, and Suspensions, Wiley-VCH Verlag GmbH & Co.KGaA, Weinheim, p. 7.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Setyoningrum, E. N. M., 2010, Optimasi Formula Sabun Transparan dengan Fase Minyak Virgin Coconut Oil dan Surfaktan Cocoamiopropyl Betaine: Aplikasi Desain Faktorial, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sevilla, C. G., Ochave, J. A., Punsalan, T. G., Regala, B. P., dan Uriarte, G. G., 1993, Pengantar Metodologi Penelitian, diterjemahkan oleh Tuwu., A., 160-171, Universitas Indonesia Press, Jakarta. Shipp, J. J., 1996, Hair Care Products, in: Chemistry And Technology of The Cosmetics Toiletries Industry, William, D. F., dan Schmitt, W. H., Chapman & Hall, United Kingdom, pp. 43, 45. Shrivastava, S. B., 1982, Soap, Detergent and Parfume Industry, Small Industry Research Institute, New Delhi. Spiegel, M. R., dan Stephens, L. J., 2007, Schaum’s Outlines Teori dan Soal-Soal Statistik, edisi 3, Erlangga, Jakarta, pp. 198-199. Spiess, E., 1996, Raw Material, in William, D. F., dan Schmitt (Eds.), W. H., Chemistry And Technology of The Cosmetics Toiletries Industry, Chapman & Hall, United Kingdom, p. 20. Spitz, L., 1996, Soap and Detergents a Theoritical and Practical Review, AOCS Press, United States of America. Suhartono, 2008, Analisis Data Statistik dengan R, Jurusan Statistika ITS, Surabaya, p.115. Swern, D.,1979, Bailey’s Industrial Oil And Fat Product, vol.1, Interscience Publication, New York. Swisher, R. D., 1987, Surfactant Biodegradation, 2nd edition, Marcel Dekker, Inc., New York. Thau, P., 1997, Surfactants for Skin Cleansers, in Rieger, M.M., and Rhein, L.D.,(Eds.), Surfactant in Cosmetics, 2nd edition, Marcel Dekker, Inc., New York, pp. 298-299. Tjitrosoepomo, G., 1994, Taksonomi Tumbuhan Obat-Obatan, Gajah Mada Universitas Press, Yogyakarta, p. 422. Tokosh, R., dan Baig, M. A.,1995, Transparent Soap Formulation and Methods of Making Same, United States Patent, United States. Wasitaatmadja, S.M., 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, Universitas Indonesia Press, Jakarta, pp. 95-103. Winarno, F.G, 2004, Kimia Pangan dan Gizi, PT. Gramedia, Jakarta, p. 3. Zoller, U.,2009, Handbook of Detergent Part E: Applications, Volume 141, CRC Press, USA, pp. 292-293. Zoller, U., dan Sosis, P., 2009, Handbook of Detergents, Part F: Production, Vol. 142, CRC Press, United States, p. 30.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 70

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 LAMPIRAN Lampiran 1. Komposisi Sabun Merek Dagang A. Komposisi Sabun Merek Dagang “X” Komposisi yang digunakan : Cocos nicifera oil, glycerine, sodium hydroxide, sodium lauryl sulfate, perfume, magnesium ascorbyl phosphate, DMDM hydantoin, yambean extract, tocopheryl acetate dan Cl 47005. B. Komposisi Sabun Merek Dagang “Y” Komposisi yang digunakan : Water, sodium palm kernelate, sodium palmate, sorbitol, glycerin, sodium rosinate, propylene glycol, sodium lauryl sulfate, PEG 4, iso propyl alcohol, sodium chloride, perfume, sodium meta B1 sulfite, triclosan, terpineol, tertrasodium etidronate, thymol, BHT, pentasodium pentetate, glycerin laurate, tetrasodium EDTA, curcuma aromatic root oil, trisodium NTA, sodium hydroxide, trideceth-9, PEG 40 hydrogenated Castrol oil dan Cl 17200.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) A. Minyak Jarak

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 B. Minyak Jahe

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Lampiran 3. Hasil Penyusutan Bobot Sabun A. Penyusutan Bobot Sabun DEA Berat Sabun (gram) Formula Rep. m12 1 Rendah 2 3 1 Tengah 2 3 1 Tinggi Penyusutan Bobot (%) 2 3 m23 m34 s12 s23 s34 60,4 59,3 52,1 51,4 42,3 42.3 1,821 1,344 0 64,2 62,9 54,9 54,4 45,1 45,1 2,025 0,917 0 62,0 61,1 52,8 52,2 43,3 43,0 1,452 1,136 0,693 62,5 61,3 52,1 52,1 42,2 42,1 1,92 0 0,237 62,4 61,6 51,1 51,1 41,1 41,1 1,282 0 0 63,0 62,0 51,6 50,9 40,0 39,8 1,587 1,357 0,5 66,3 65,5 54,8 54,3 44,4 44,4 1,207 0,912 0 65,6 64,7 55,8 55,1 46,3 46,2 1,372 1,254 0,216 66,2 65,3 53,1 52,3 42,6 42,4 1,356 1,507 0,469 Keterangan : m12 : Bobot sabun pada minggu 1 ke 2 m23 : Bobot sabun pada minggu 2 ke 3 m34 : Bobot sabun pada minggu 3 ke 4 s12 : Persentase penyusutan bobot sabun pada minggu 1 ke 2 s23 : Persentase penyusutan bobot sabun pada minggu 2 ke 3 s34 : Persentase penyusutan bobot sabun pada minggu 3 ke 4

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 B. Penyusutan Bobot Sabun Betaine Berat Sabun (gram) Formula Rep. m12 1 Rendah 2 3 1 Tengah 2 3 1 Tinggi Penyusutan Bobot (%) 2 3 m23 m34 s12 s23 s34 60,7 59,8 51,1 51,1 42,6 42,6 1,483 0 0 66,1 65,9 56,0 55,7 45,7 45,7 0,303 0,536 0 62,0 61,0 52,0 51,9 42,4 42,2 1,613 0,192 0,472 51,5 50,7 41,7 41,4 32,4 32,4 1,553 0,719 0 57,8 56,8 46,0 45,6 38,6 38,5 1,730 0,870 0,259 56,0 54,9 45,9 45,7 37,8 37,7 1,964 0,436 0,265 64,4 62,3 54,3 54,0 44,1 44,0 3,261 0,552 0,227 66,2 65,0 56,6 56,6 47,0 46,8 1,813 0 0,426 64,0 63,3 55,9 55,6 46,8 46,7 1,094 0,537 0,214 Keterangan : m12 : Bobot sabun pada minggu 1 ke 2 m23 : Bobot sabun pada minggu 2 ke 3 m34 : Bobot sabun pada minggu 3 ke 4 s12 : Persentase penyusutan bobot sabun pada minggu 1 ke 2 s23 : Persentase penyusutan bobot sabun pada minggu 2 ke 3 s34 : Persentase penyusutan bobot sabun pada minggu 3 ke 4

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Lampiran 4. Hasil Uji Kekerasan, Kemampuan Membentuk Busa dan Persentase Penurunan Busa A. Hasil Uji Kekerasan Sabun DEA Formula Replikasi Kekerasan Sabun (Kg) 1 2 3 1 2 3 1 2 3 2,9 2,6 2,7 2,7 2,6 2,3 2,3 2,6 2,4 Replikasi Kekerasan Sabun (Kg) 1 2 3 1 2 3 1 2 3 3,1 3,2 2,9 3,1 2,9 2,8 2,6 2,5 2,7 Rendah Tengah Tinggi Rata - rata ± SD 2, 733 ± 0,153 2,533 ± 0,208 2,433 ± 0,153 Sabun Betaine Formula Rendah Tengah Tinggi Rata - rata ± SD 3,067 ± 0,153 2,933 ± 0,153 2,600 ± 0,100

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 B. Hasil Uji Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA Formula Rendah Tengah Tinggi Replikasi Busa Awal (mm) 1 2 3 1 2 3 1 2 3 42 43 40 45 42 43 46 47 44 Replikasi Busa Awal (mm) 1 2 3 1 2 3 1 2 3 42 44 43 47 44 46 47 48 44 Rata - rata ± SD 41,667 ± 1,528 43,333 ± 1,528 45,667 ± 1,528 Sabun Betaine Formula Rendah Tengah Tinggi Rata - rata ± SD 43,000 ± 1,000 45,667 ± 1,528 46,333 ± 2,082

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 C. Hasil Pengujian Persentase Penurunan Busa Jenis Sabun Formula Rendah Sabun DEA Tengah Tinggi Rendah Sabun Betaine Tengah Tinggi Replikasi 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 Keterangan : % Penurunan Busa = Busa Awal (mm) 42 43 40 45 42 43 46 47 44 42 44 43 47 44 46 47 48 44 Busa Akhir (mm) 17 16 16 21 20 18 24 26 25 29 30 28 32 31 34 35 34 33 Penurunan Busa (%) 59,524 62,791 60,000 53,333 52,381 58,140 47,826 44,681 43,182 30,952 31,818 34,884 31,915 29,545 26,087 25,532 29,167 25,000 Rata - rata ± SD 60,772 ± 1,765 54,618 ± 3,087 45,230 ± 2,370 32,551 ± 2,066 29,182 ± 2,931 26,567 ± 2,268

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 5. Hasil Uji Kekerasan, Kemampuan Membentuk Busa dan Persentase Penurunan Busa Sabun Merek Dagang A. Sabun Merek Dagang “X” Replikasi Kekerasan (Kg) 1 2 3 Rata - rata ± SD 2,0 2,2 2,5 2,233 ± 0,252 Kemampuan Membentuk Busa (mm) 46 43 45 44,667 ± 1,528 Penurunan Busa (%) 30,435 30,232 24,444 28,370 ± 3,402 B. Sabun Merek Dagang “Y” Replikasi Kekerasan (Kg) 1 2 3 Rata - rata ± SD 4,3 4,1 4,0 4,133 ± 0,153 Kemampuan Membentuk Busa (mm) 48 46 45 46,333 ± 1,528 Penurunan Busa (%) 27,083 30,435 26,667 28,062 ± 2,066

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Lampiran 6. Hasil Uji pH Sabun dan pH Sabun Merek Dagang Sabun DEA Betaine Merek Dagang pH Rendah 8-9 Tengah 8-9 Tinggi 8-9 Rendah 8-9 Tengah 8-9 Tinggi 8-9 “X” 9-10 “Y” 9-10

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Lampiran 7. Hasil Uji Normalitas A. Uji Normalitas Penyusutan Bobot Sabun DEA Penyusutan bobot DEA rendah minggu 3 ke minggu 4 Penyusutan bobot DEA tengah minggu 3 ke minggu 4 Penyusutan bobot DEA tinggi minggu 3 ke minggu 4

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 B. Uji Normalitas Penyusutan Bobot Sabun Betaine Penyusutan bobot betaine rendah minggu 3 ke minggu 4 Penyusutan bobot betaine tengah minggu 3 ke minggu 4 Penyusutan bobot betaine tinggi minggu 3 ke minggu 4

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 C. Uji Normalitas Kekerasan Sabun DEA Kekerasan minggu 4 D. Uji Normalitas Kekerasan Sabun Betaine Kekerasan minggu 4

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 E. Uji Normalitas Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA Kemampuan membentuk busa minggu 4 F. Uji Normalitas Kemampuan Membentuk Busa Sabun Betaine Kemampuan membentuk busa minggu 4

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 G. Uji Normalitas Persentase Penurunan Busa Sabun DEA Persentase penurunan busa minggu 4 H. Uji Normalitas Persentase Penurunan Busa Sabun Betaine Persentase penurunan busa minggu 4

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 I. Uji Normalitas Kekerasan Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan kekerasan sabun DEA dengan sabun merek dagang

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Perbandingan kekerasan sabun betaine dengan sabun merek dagang

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 J. Uji Normalitas Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan kemampuan membentuk busa sabun DEA dengan sabun merek dagang

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Perbandingan kemampuan membentuk busa sabun betaine dengan sabun merek dagang

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 K. Uji Normalitas Persentase Penurunan Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan persentase penurunan busa sabun DEA dengan merek dagang

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Perbandingan persentase penurunan busa sabun betaine dengan sabun merek dagang

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Lampiran 8. Hasil Uji Paired t - Test A. Uji Paired t – test Penyusutan Bobot Sabun DEA Penyusutan bobot sabun DEA rendah minggu 3 ke minggu 4 Penyusutan bobot sabun DEA tengah minggu 3 ke minggu 4

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Penyusutan bobot sabun DEA tinggi minggu 3 ke minggu 4 B. Uji Paired t – test Penyusutan Bobot Sabun Betaine Penyusutan bobot sabun betaine rendah minggu 3 ke minggu 4

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Penyusutan bobot sabun betaine tengah minggu 3 ke minggu 4 Penyusutan bobot sabun betaine tinggi minggu 3 ke minggu 4

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Lampiran 9. Hasil Uji Levene Test A. Uji Levene Test Kekerasan Sabun DEA Kekerasan minggu 4 B. Uji Levene Test Kekerasan Sabun Betaine Kekerasan minggu 4 C. Uji Levene Test Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA Kemampuan membentuk busa minggu 4

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 D. Uji Levene Test Kemampuan Membentuk Busa Sabun Betaine Kemampuan membentuk busa minggu 4 E. Uji Levene Test Persentase Penurunan Busa Sabun DEA Persentase penurunan busa minggu 4 F. Uji Levene Test Persentase Penurunan Busa Sabun Betaine Persentase penurunan busa minggu 4

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 G. Uji Levene Test Kekerasan Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan kekerasan sabun DEA dan sabun merek dagang Perbandingan kekerasan sabun Betaine dan sabun merek dagang H. Uji Levene Test Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan kemampuan membentuk busa sabun DEA dan sabun merek dagang

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Perbandingan kemampuan membentuk busa sabun betaine dan sabun merek dagang I. Uji Levene Test Persentase Penurunan Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan persentase penurunan busa sabun DEA dan sabun merek dagang Perbandingan persentase penurunan busa sabun betaine dan sabun merek dagang

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Lampiran 10. Hasil Uji ANOVA A. Uji ANOVA Kekerasan Sabun DEA Kekerasan minggu 4 B. Uji ANOVA Kekerasan Sabun Betaine Kekerasan minggu 4 C. Uji ANOVA Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA Kemampuan membentuk busa minggu 4

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 D. Uji ANOVA Kemampuan Membentuk Busa Sabun Betaine Kemampuan membentuk busa minggu 4 E. Uji ANOVA Persentase Penurunan Busa Sabun DEA Persentase penurunan busa minggu 4 F. Uji ANOVA Persentase Penurunan Busa Sabun Betaine Persentase penurunan busa minggu 4

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 G. Uji ANOVA Kekerasan Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan kekerasan sabun DEA dan sabun merek dagang Perbandingan kekerasan sabun betaine dan sabun merek dagang H. Uji ANOVA Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan kemampuan membentuk busa sabun DEA tiap formula dan sabun merek dagang

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Perbandingan kemampuan membentuk busa sabun betaine tiap formula dan sabun merek dagang I. Uji ANOVA Persentase Penurunan Busa Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan persentase penurunan busa sabun DEA dan sabun merek dagang Perbandingan persentase penurunan busa sabun surfaktan betaine dan sabun merek dagang

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Lampiran 11. Hasil Uji Tukey HSD A. Uji Tukey HSD Kekerasan Sabun Betaine B. Uji Tukey HSD Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA C. Uji Tukey HSD Persentase Penurunan Busa Sabun DEA

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 D. Uji Tukey HSD Kekerasan Sabun DEA, Sabun Betaine dan Sabun Merek Dagang Perbandingan kekerasan sabun DEA dan sabun merek dagang Perbandingan kekerasan sabun betaine dan sabun merek dagang

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 E. Uji Tukey Kemampuan Membentuk Busa Sabun DEA dan Sabun Merek Dagang F. Uji Tukey Persentase Penurunan Busa Sabun DEA dan Sabun Merek Dagang

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Lampiran 12. Kuesioner Subjective Assessment A. Tabel Kuesioner dengan Parameter Persetujuan Responden terhadap Sabun Nilai No. Parameter Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju 1 Sabun memiliki aroma jahe 0% 16,67% 56,67% 26,67% 2 Sabun tidak melunak dan dapat mempertahankan bentuk saat digunakan 0% 10% 70% 20% 3 Terasa lembut saat digunakan 0% 13,33% 63,33% 23,33% 4 Busa yang dihasilkan baik 6,67% 10% 73,33% 10% 5 Sabun memiliki penampilan yang transparan 0% 0% 56,67% 43,33% 6 Saya tertarik menggunakan sabun ini 0% 26,67% 66,67% 6,67% B. Tabel Kuesioner dengan Parameter Kesukaan Responden terhadap Sabun Nilai No. Parameter Sangat Tidak Suka Tidak Suka Suka Sangat Suka 1 Aroma 0% 16,67% 73,33% 10% 2 Bentuk produk sabun 0% 0% 50% 50% 3 Sensasi rasa lembut setelah pemakaian 0% 10% 73,33% 16,67% 4 Busa yang dihasilkan 10% 6,67% 76,67% 6,67% 5 Kekerasan produk 0% 23,33% 63,33% 13,33%

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Lampiran 13. Dokumentasi Sabun DEA Formula Rendah Sabun Betaine Formula Rendah Sabun DEA Formula Tengah Sabun Betaine Formula Tengah Sabun DEA Formula Tinggi Sabun Betaine Formula Tinggi

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Uji Busa Uji Kekerasan Sabun

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 BIOGRAFI PENULIS Penulis skripsi berjudul “Pengaruh Variasi Konsentrasi Diethanolamide dan Cocoamidopropyl Betaine terhadap Karakteristik Fisik Sabun Batang Transparan Minyak Jahe” ini bernama lengkap Oei Maria Dewiyani Sandjaja, dilahirkan di Semarang pada tanggal 30 Oktober 1992. Penulis merupakan anak kedua dari tiga orang bersaudara yang lahir dari pasangan Gregorius Oei Bharata Putra Sandjaja dan Jeni Angela Merici. Penulis telah menempuh pendidikan formal di TK Bernardus Semarang pada tahun 1996 sampai tahun 1998, SD Bernardus Semarang pada tahun 1996 sampai tahun 2000 yang kemudian dilanjutkan di SD Katolik Santo Yoseph I Denpasar pada tahun 2000 sampai tahun 2004, SMP Tegaljaya Badung pada tahun 2004 sampai tahun 2007, dan SMA Negeri 5 Denpasar pada tahun 2007 hingga 2010. Penulis melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di program S1 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang ditempuh selama tahun 2010 hingga tahum 2014. Selama masa perkuliahan penulis mempunyai pengalaman kerja sebagai asisten dosen pada Praktikum Botani Farmasi (2011), Praktikum Biokimia (2013), serta Praktikum Farmasi Fisika dan Biofarmasetika (2014). Dalam hal kegiatan kemahasiswaan penulis aktif terlibat menjadi pengurus di Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia (JMKI), anggota Paduan Suara Farmasi Veronica 2010, ketua Seminar Hari AIDS Sedunia, panitia Tiga Hari Temu Akrab Farmasi (TITRASI) 2011, panitia Kampanye Informasi Obat (KIO) “Healty for Beauty”, panitia Seminar Nasioal dan Long March HIV AIDS, serta panitia Temu Alumni Farmasi Universitas Sanata Dharma 2012.

(129)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH KONSENTRASI HIDROGEN PEROKSIDA TERHADAP KARAKTERISTIK METIL ESTER SULFONAT DARI MINYAK JELANTAH
5
29
41
PENGARUH VARIASI PENAMBAHAN Additive CaCl TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN KEKUATAN LENTUR KOMPOSIT SEMEN SERBUK AREN (Arenga Pinnata)
1
12
41
BAB V PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN
0
3
10
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI ASAM SITRAT-ASAM TARTRAT TERHADAP SIFAT FISIK TABLET EFFERVESCENT YANG MENGANDUNG Fe, Zn DAN VITAMIN C.
0
7
19
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI ASAM SITRAT-ASAM MALAT TERHADAP SIFAT FISIK TABLET EFFERVESCENT YANG MENGANDUNG Fe, Zn, DAN VITAMIN C.
0
3
15
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI GELATIN SEBAGAI BAHAN MENGIKAT PENGARUH VARIASI KONSENTRASI GELATIN SEBAGAI BAHAN PENGIKAT DAN MANITOL SEBAGAI BAHAN PENGISI TERHADAP SIFAT FISIK DAN RESPON RASA TABLETEFFERVESCENT EKSTRAK TANAMAN CEPLUKAN(Physalis angulata L.
0
0
15
KETERAMPILAN MEMBUAT SABUN CREAM, DETERGENT, SABUN CUCI BATANG DAN SABUN MANDI.
0
1
6
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana Linn) TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIA SEDIAAN SABUN MANDI CAIR.
0
0
15
SIFAT ORGANOLEPTIK SABUN TRANSPARAN DENGAN PENAMBAHAN MADU
0
2
61
SKRIPSI KAJIAN PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA DAN ASAM SITRAT TERHADAP MUTU SABUN TRANSPARAN
0
0
106
PENGARUH ABSORBEN TERHADAP KUALITAS FISIK MINYAK
0
0
6
FORMULASI SABUN TRANSPARAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam.) Audia Triani Olii , Aztriana, Nursiah Hasyim Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia Email : audhee_jieyahoo.com. ABSTRACT - FORMULASI SABUN TRANSPARAN MINYAK BUAH MERAH (Pandanu
0
0
12
LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN DARI MINYAK KELAPA MURNI (VIRGIN COCONUT OIL)
1
1
36
PEMBUATAN SABUN MADU TRANSPARAN DENGAN MINYAK KELAPA MURNI (VCO), MINYAK KELAPA SAWIT, DAN MINYAK KEDELAI SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SKRIPSI
1
2
14
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI ENZIM PAPAIN KOMERSIAL TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIAWI DAN SENSORI KECAP IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)
0
0
10
Show more