Peranan ekaristi dalam meningkatkan hidup rohani bagi para Suster PRR di wilayah Jawa - USD Repository

Gratis

0
0
139
7 months ago
Preview
Full text

  

PERANAN EKARISTI

DALAM MENINGKATKAN HIDUP ROHANI BAGI PARA SUSTER PRR

DI WILAYAH JAWA

S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Ermelinda Du’e NIM: 041124029

  0leh: Kristina Koba Malo

  NIM: 041124028 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  2010

  

PERSEMBAHAN

  Dengan penuh syukur dan pujian skripsi ini kupersembahkan kepada Para Suster Kongregasi Puteri Reinha Rosari.

  

MOTTO

“Segalanya dapat kutanggung dalam Kristus yang menguatkanku”.

  ( Flp. 4:3 )

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta,12 Desember 2009 Penulis,

  Kristina Koba Malo PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Kristina Koba Malo Nomor Mahasiswa : 041124028 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul PERANAN EKARISTI DALAM MENINGKATKAN HIDUP ROHANI PARA SUSTER PUTERI REINHA ROSARI DI WILAYAH JAWA. beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dan membentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan , mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal 22 Januari. 2010 Yang menyatakan (Kristina Koba Malo)

  

ABSTRAK

  Judul skripsi PERANAN EKARISTI DALAM MENINGKATKAN

  

HIDUP ROHANI BAGI PARA SUSTER PUTERI REINHA ROSARI DI

WILAYAH JAWA. Pemilihan judul bertitik tolak dari pengalaman penulis dalam

  melihat kehidupan para Suster PRR dalam mengikuti perayaan Ekaristi. Penulis merasa tertarik untuk ingin melihat lebih dalam bagaimana penghayatan para Suster dalam ber-Ekaristi, apakah para Suster mengikuti perayaan Ekaristi karena kesadaran yang sungguh mendalam atau karena aturan komunitas sehingga mewajibkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi.

  Permasalahan pokok dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana para Suster PRR dapat meningkatkan hidup rohani melalui perayaan Ekaristi sebagai seorang religius dalam menghadapi tantangan zaman saat sekarang. Berdasarkan permasalahan di atas, penulis merumuskan sebagai berikut: Bagaimana pemahaman para Suster tentang arti dan makna perayaan Ekaristi selama ini? Langkah-langkah manakah yang perlu diusahakan dalam mencapai kematangan hidup rohani? Seberapa besar usaha yang dilakukan para Suster dalam meningkatkan hidup rohaninya?

  Dalam mengkaji permasalahan di atas, penulis menggunakan metode pendekatan melalui wawancara dengan para Suster PRR di wilayah Jawa yang dipandu dengan pertanyaan penuntun serta penemuan hasil refleksi pribadi dan studi pustaka. Penulisan skripsi ini membahas arti dan makna perayaan Ekaristi sebagai liturgi yang pokok, bagian-bagian pokok dalam perayaan Ekaristi, peningkatan hidup rohani melalui perayaan Ekaristi, hidup doa, hidup berkomunitas, hidup karya serta penghayatan ketiga nasihat Injil. Penulis membahas pula tantangan-tantangan para Suster dalam mengikuti perayaan Ekaristi di tengah perkembangan dunia saat ini serta upaya-upaya meningkatkan hidup rohani.

  Untuk membantu para Suster semakin memahami arti dan makna perayaan Ekaristi sebagai salah satu bentuk peningkatan hidup rohani, penulis menawarkan suatu program pembinaan model sarasehan, sebagai salah satu cara untuk membantu para Suster semakin menghayati peranan Ekaristi untuk meningkatkan hidup rohani sebagai seorang religius PRR. Penulisan ini membahas pula kesimpulan umum dan saran penulis dalam upaya meningkatkan hidup rohani sebagai seorang religius PRR selanjutnya.

  

ABSTRACT

  The title of this thesis is THE ROLE OF EUCHARIST IN IMPROVING SPIRITUAL LIFE OF THE SISTERS OF OUR LADY’S ROSARY (PRR) in the Java Region. This title came up on because of the writer’s experience looking at the attitude of PRR’s sister during the celebration of Eucharist. So the writer was interested to investigate the participation of the sisters in following the celebration of Eucharist, whether the sisters attend the celebration Eucharist with real awareness or on because they follow the schedule of the community.

  The fundamental problem in this thesis is, how do PRR’s sisters can intensify their spiritual life through the celebration of Eucharist as religious in order to face nowadays challenges. Therefore the investigation was formulated as follows: What do sisters know until now about the meaning and the essence of the celebration of Eucharist? Which steps could be done to achieve maturity in spiritual life? Which can be efforts done by the sisters to improve their spiritual life?

  In order to clear up the problems above, the writer choosed the direct approach method through interviews with PRR’s sisters in the Java region, consisting of special questions, deepended by personal reflections and the study of special literature. The thesis contains and explains also the meaning and the essence of celebration of Eucharist as the main liturgy by investigating the different parts of it. Moreover the thesis treads how spiritual life can improved by the celebration of Eucharist, special prayer’s life, community life, work’s life as well as living according to the three vows. The writer also examines the sisters challenges in following the celebration of Eusharist inmidst the development of the world nowadays and offers some efforts how to improve spiritual life.

  To help the sisters in understanding more and more the meaning and the essence of the celebration of Eucharist as one of the spiritual life improvements, the writer proposes a guidance program in form of talkshows, as one kind of approach to help the sisters deepening the role of Eucharist in order to deepen spiritual life religious of PRR. This thesis also submits some general conclusions and the writer’s suggestions to an ongoing improvement of the spiritual life as a religious PRR.

KATA PENGANTAR

  Syukur atas berkat dan rahmat-Nya yang berlimpah dalam hidup selama ini teristimewa dalam penulisan skripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan yang berjudul: PERANAN EKARISTI DALAM MENINGKATKAN HIDUP ROHANI PARA SUSTER PUTERI REINHA ROSARI DI WILAYAH JAWA .

  Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan penulis, dalam melihat pengalaman pribadi maupun pengalaman para suster Kongregasi Puteri Reinha Rosari khususnya yang berkarya di Wilayah Jawa terhadap perkembangan zaman yang membawa banyak perubahan dalam hidup sebagai seorang religius PRR.

  Penulisan skripsi ini bertujuan untuk membantu para suster PRR agar semakin mampu mendalami makna Ekaristi sebagai kekuatan hidup rohani dalam upaya meningkatkan kematangan hidup sebagai seorang religius PRR sehingga mampu menghadapi tantangan zaman melalui kesaksian dan teladan hidup bagi orang lain di tengah zaman yang terus berubah.

  Penulisan skripsi ini, banyak pihak yang membantu penulis teristimewa memberikan dukungan, perhatian yang sangat besar kepada penulis. Untuk itu dari hati yang tulus penulis mengucapkan limpah terima kasih dan penghargaan yang mulia kepada:

  1. Rm. Karl-Edmund Prier, SJ Lic. Phil selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktu, penuh kesabaran dan keterbukaan hati memberikan perhatian, mendampingi dan membimbing penulis, memberikan sumbangan pemikiran yang memperdalam penulisan serta kritikan yang membangun

  2. Dra. Y. Supriyati, M.Pd., selaku dosen pembimbing akademik yang dengan penuh kesetiaan mendampingi penulis dari awal studi sampai penyelesaian penulisan skripsi ini.

  3. Banyu Dewa HS.,S.Ag.,M.Si, selaku dosen pembimbing ketiga yang telah mendampingi dan memberikan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

  4. Segenap Staf Dosen dan karyawan Prodi IPPAK yang telah mendampingi dan membimbing serta membekali pengetahuan dan ketrampilan bagi penulis selama studi hingga penulisan skripsi ini diselesaikan.

  5. Suster Maria Benedictis, PRR, selaku pimpinan umum Kongregasi Puteri Reinha Rosari dan dewan pimpinan umum yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk menimba ilmu di prodi IPPAK, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  6. Para suster yang berkarya di Wilayah Jawa yang telah mendukung, memberikan usul saran kepada penulis hingga penulisan ini diselesaikan.

  7. Para suster Komunitas Magnificat Yogyakarta yang telah memberi perhatian, dukungan serta doa-doanya, kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tulisan ini.

  8. Orang tua dan anggota keluarga yang telah mendukung penulis lewat doa dan cinta serta perhatian selama ini.

  9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya yang selama ini memberikan perhatian dan dukungan bagi penulis.

  Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh perbaikan lebih lanjut. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi para suster Kongregasi Puteri Reinha Rosari.

  Yogyakarta, 12 Desember 2009 Penulis

  Kristina Koba Malo

  DAFTAR ISI

  JUDUL .................................................................................................................. ...... i PERSETUJUAN PEMBIMBING.......................................................................... ......ii PENGESAHAN ..................................................................................................... .....iii PERSEMBAHAN .................................................................................................. .....iv MOTTO ................................................................................................................ ......v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................ .....vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................................................. ....vii ABSTRAK ............................................................................................................ ...viii ABSTRACT........................................................................................................... .... ix KATA PENGANTAR .......................................................................................... ..... x DAFTAR ISI.......................................................................................................... .. xiii DAFTAR SINGKATAN .........................................................................................xviii

  BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................... ......1 A. Latar Belakang Penulisan..................................................................................1 B. Rumusan Masalah..............................................................................................5 C. Tujuan Penulisan...............................................................................................6 D. Manfaat Penulisan.............................................................................................6 E. Metode Penulisan .............................................................................................7 F. Sistematika Penulisan........................................................................................7 BAB II. GAMBARAN UMUM KEADAAN KONGREGASI PRR DALAM MENGIKUTI PERAYAAN EKARISTI ............................................. ......9 A. Sejarah Singkat Berdirinya Kongregasi PRR ................................................11 1.

  ) Tujuan berdirinya Kongregasi PRR….......................................................14 2. ) Visi Kongregasi Putri Reinha Rosari.................................................... ....15 3. ) Misi Kongregasi Putri Reinha Rosari. .................................................. ....15 4. ) Spiritualitas Kongregasi.............................................................................16 B. Tradisi-tradisi Kongregasi sehubungan dengan Perayaan Ekaristi bagi para suster yang berada di Wilayah Jawa... .............................................. ....17

  1. Komunitas Yogyakarta........................................................................... ....18 2.

  1.) Ekaristi Sebagai Sarana kebersamaan...............................................36 2.) Ekaristi Sebagai Sumber dan Puncak kehidupan Gereja..................37 c. Dimensi Eskatologis ..........................................................................38

  Tobat-Kryrie.......................................................................................44 4)

  Tanda salib..........................................................................................43 3)

  Perarakan masuk-nyanyian pembuka.................................................43 2)

  a. Ritus pembuka..........................................................................................42 1)

  6. Bagian-bagian pokok dalam Perayaan Ekaristi...........................................42

  5. Tata Perayaan Ekaristi.................................................................................41

  4. Makna Ekaristi ...........................................................................................40

  3. Ekaristi sebagai Perjamuan.................................................................35 b. Dimensi Eklesiologi................................................................................36

  Komunitas Cimanggis............................................................................. ....20 3. Komunitas Cijantung .............................................................................. ....22 4. Komunitas Pademangan.......................................................................... ....23 5. Komunitas Surabaya ............................................................................... ....25

  2.) Ekaristi sebagai Sakramen.................................................................34

  Dimensi Kristologis ...........................................................................31 1.) Ekaristi sebagai Kurban.....................................................................32

  Ekaristi menurut ajaran Konsili Vatikan II ........................................... ....31 a.

  2. Ekaristi berdasarkan pandangan Bapa-bapa Gereja ............................. ....30 3.

  Perjamuan malam terakhir ................................................................ ....29 c. Perjamuan dengan Yesus yang bangkit............................................. ....30

  Perjamuan makan dengan Yesus sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah .................................................................................. ....28 b.

  1. Ekaristi dalam Kitab Suci ..................................................................... ....28 a.

  BAB III. MAKNA EKARISTI BAGI PERKEMBANGAN HIDUP ROHANI PARA SUSTER PUTRI REINHA ROSARIO............................................27 A. Perayaan Ekaristi Sebagai Liturgi Yang Pokok................................................28

  Kemuliaan...........................................................................................44

  b.

  c) Doa sebelum Konsekrasi/Epiklesis..............................................55

  Ritus penutup.........................................................................................62 1)

  f) Doa sesudah komuni.....................................................................62 d.

  e) Saat hening-madah syukur sesudah komuni.................................61

  d) Penerimaan komuni......................................................................60

  c) Pemecahan roti-Anak domba Allah.............................................59

  b) Doa damai-salam damai...............................................................59

  a) Bapa kami.....................................................................................58

  3). Komuni...............................................................................................58

  g) Doksologi......................................................................................58

  f) Doa sesudah konsekrasi................................................................57

  e) Anamnesis.....................................................................................57

  d) Konsekrasi....................................................................................56

  b) Kudus............................................................................................55

  Liturgi Sabda............................................................................................46 1)

  a) Prefasi..........................................................................................55

  2). Doa Syukur Agung..............................................................................53

  b) Doa persembahan.........................................................................53

  a) Kolekte..........................................................................................53

  1) Persiapan persembahan.......................................................................52

  Doa Umat............................................................................................51 c. Liturgi Ekaristi.........................................................................................52

  Syahadat / Credo.................................................................................51 8)

  Homili.................................................................................................50 7)

  Bacaan Injil.........................................................................................49 6)

  Bait pengantar Injil.............................................................................49 5)

  Bacaan Kedua.....................................................................................48 4)

  Mazmur Tanggapan............................................................................47 3)

  Bacaan pertama...................................................................................46 2)

  Pengumuman................................................................................62

  3). Pengutusan..............................................................................................63 4). Lagu penutup..........................................................................................63

  B. Penelitian tentang peranan Ekaristi dalam meningkatkan hidup rohani para suster putri Reinha Rosari.......................................................................64

  1. Tujuan penelitian.........................................................................................65

  2. Rumusan masalah........................................................................................65

  3. Metode penelitian........................................................................................66

  4. Instrumen Penelitian....................................................................................66

  5. Tempat dan waktu penelitian......................................................................66

  6. Responden Penelitian..................................................................................66

  7. Variabel yang diteliti...................................................................................67

  8. Laporan dan pembahasan hasil penelititan……………………………..…68

  C. Peningkatan Hidup Rohani Melalui Perayaan Ekaristi.....................................75

  1. Hidup doa..... .............................................................................................77

  a. Pengalaman pribadi seseorang...........................................................80

  b. Kitab Suci............................................................................................80

  c. Bacaan Rohani.....................................................................................81

  d. Doa rosario..........................................................................................82

  e. Ibadat Harian/Brevir............................................................................84

  f. Adorasi Ekaristi..................................................................................84

  2. Hidup Berkomunitas.............................................................................. ....85 a.

  Makan bersama.....................................................................................88 b. Pertemuan Komunitas ..........................................................................89 c. Sharing bersama ...................................................................................89 d. Pengakuan dosa.....................................................................................90 e. Meditasi dan refleksi..............................................................................91

  3. Hidup Karya................................................................................................91

  4. Hidup Kaul ............................................................................................ ....93

  D. Tantangan-tantangan dalam mengikuti perayaan Ekaristi.............................. .95 1 .Tantangan dari dalam diri...................................................................... ....95

  2. Tantangan dari luar diri...............................................................................96

  BAB IV. PENUTUP .............................................................................................. ..103 A. Kesimpulan ................................................................................................ ..103 B. Saran........................................................................................................... ..104 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ ..106 LAMPIRAN........................................................................................................... ....

  1. Usulan Program Sarasehan..............................................................................(1) 2.

  Hasil wawancara............................................................................................(11)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  

Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada

  Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, B.

   Singkatan Dokumen Resmi Gereja

EE : Ecclesia De Eucharistia , Ensiklik Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II

  kepada Para Uskup, Imam dan Diakon penyandang Hidup Bakti, Pria dan perempuan dan segenap para beriman tentang Ekaristi dan hubungannya dengan Gereja., 17 april 2003.

  

LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dokmatik Konsili Vatikan II tentang

Gereja di dunia dewasa ini, 21 Nopember 1964.

  

PC : Perfectae Caritatis , Dekrit Konsili Vatikan II tentang pembaharuan

penyesuaian hidup religius, 28 Oktober 1965.

  

KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex luris Canonici), diundangkan oleh Paus

Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983.

  

VC : Vita Consecrata, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang

hidup bakti bagi para religius, 25 Maret 1996.

  PUMR : Pedoman Umum Misale Romanum

SC : Sacrosanctum Concilium, Konstitusi Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, 4 Desember 1963

C. Singkatan Lain

  FKIP : Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Hal : Halaman

  IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Konst : Konstitusi.

  KWI : Konferensi Wali Gereja Indonesia Prodi : Program Studi PRR : Puteri Reinha Rosari PU : Pimpinan Umum SP : Satuan Persiapan SSpS : Servae Spiritus Sancti (Suster Abdi Roh Kudus) SVD : Societas Verbi Divini ( Serikat Sabda Allah) Laudes : Ibadat pagi Vesperae : Ibadat sore SD : Sekolah Dasar SLTP : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama SR : Suster ST : Santo/Santa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penulisan Perayaan Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup umat kristiani (LG 11), memberi makna terdalam bagi kehidupan rohani seluruh umat beriman. Sejak Gereja perdana merayakan Ekaristi menjadi pusat seluruh kehidupan umat

  beriman Kristiani. Umat perdana tekun merayakan peristiwa keselamatan ini dalam perjamuan makan bersama dan peristiwa pemecahan roti. Perayaan Ekaristi yang bersumber pada perjamuan terakhir Yesus bersama para murid-Nya dirayakan oleh umat katolik di seluruh dunia. Gereja diajak untuk terus-menerus merefleksikan hidup imannya, dan berusaha mendalami makna Ekaristi ini bagi hidup panggilan dan perutusannya di tengah dunia terlebih saat sekarang dimana semakin banyak tawaran hidup yang membuat orang lemah dalam penghayatannya sebagai orang katolik yang hidup di zaman ini. Ekaristi sebagai perayaan iman mengajak seluruh umat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam perayaan Ekaristi

  Dalam seluruh sejarah kehidupan umat kristiani, tidak terlepas dari apa yang disebut dengan perayaan Ekaristi atau misa kudus. Dalam perkembangan Gereja selanjutnya, perayaan Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh kehidupan umat kristiani dan sekaligus puncak seluruh tindakan liturgi dan peribadatan Gereja (Martasudjita 2003: 27).

  Kata Ekaristi ini mau mengungkapkan pujian syukur atas karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus sebagaimana berpuncak pada peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Dengan pujian syukur itu, Gereja mengenangkan atau menghadirkan kembali misteri penebusan Kristus di atas kayu salib(Martasudjita, 2003: 28)

  Sebagaimana perayaan Ekaristi merupakan perayaan yang sangat Agung dan luhur, yang sungguh dihayati oleh umat perdana menjadi sebuah keprihatinan bagi Gereja saat sekarang, dunia mengalami banyak perkembangan, Gereja juga turut mengalami itu sehingga apa yang sungguh dihormati, dijunjung tinggi oleh umat kristiani selama ini sejak Gereja perdana akan kesakralan perayaan Ekaristi menjadi semakin berkurang atau boleh dikatakan penghayatannya semakin melemah. Ketekunan umat dalam mengikuti perayaan Ekaristi mulai berkurang, kesibukan pribadi yang banyak menyita waktu membuat orang tidak mampu lagi membuat pembedaan bahkan tidak berkonsentrasi lagi dalam mengikuti perayaan Ekaristi.

  Perkembangan dunia yang semakin modern, dengan segala tuntutannya membawa orang pada sebuah pilihan hidup. Terkadang karena kelemahan pribadi lalu orang tidak mampu membuat suatu keputusan. Dengan Kesibukan kerja yang mempunyai tuntutannya tersendiri, orang menjadi sulit untuk membagi waktu, mana waktu untuk kerja dan waktu untuk Tuhan. Persoalan semacam ini sangat nampak ketika orang ke Gereja menjadi sangat sulit menciptakan keheningan batin untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang hadir dalam perayaan Ekaristi. Umat sibuk dengan dirinya sendiri, dengan segala rencana pribadinya sehingga tidak mengherankan ketika ada dalam gereja masih sempat menerima telpon tanpa mempedulikan bahwa saat itu sedang mengikuti perayaan Ekaristi. Apalagi kalau kotbah tidak menarik atau tidak sesuai dengan apa yang saat itu diinginkan, maka semakin banyak kesibukan yang terjadi, penghayatan akan kesakralan perayaan Ekaristi menjadi tidak berarti lagi.

  Bapa Uskup Agung Semarang Mgr. Ignasius Suharyo, PR dalam kunjungan pastoralnya ke Paroki Santo Yusuf Bintaran khususnya di Stasi Santo Paulus Pringgolayan tanggal 12 April 2008, mengungkapkan keprihatinannya yang sama akan keadaan umat Katolik di Indonesia, dimana umat Katolik sangat lemah dalam penghayatannya akan makna perayaan Ekaristi sebagai sumber kekuatan rohani dalam hidupnya. Umat Katolik ke Gereja hanya sebagai suatu kewajiban atau rutinitas. Mengikuti perayaan Ekaristi hanya sekedar karena kebiasaan sebagai orang Katolik dan bukan suatu kesadaran atau kebutuhan yang menggerakkan hidupnya untuk mau bertemu dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan dalam hidupnya.

  Keprihatinan yang sama juga dialami atau dirasakan dalam tubuh Kongregasi PRR. Para suster sebagai pribadi yang terpanggil secara khusus merupakan pribadi yang mampu memberi teladan dan kesaksian iman di tengah umat dalam penghayatan akan kesakralan perayaan Ekaristi menjadi berkurang, kehidupan para suster tidak berbeda lagi dengan kehidupan umat biasa. Mengikuti perayaan Ekaristi hanya sebagai rutinitas, tuntutan hidup bersama dalam sebuah komunitas, tuntutan karya yang terlalu berat dan menyita banyak waktu, menjadi alasan untuk membela diri. Kesibukan study dan kecendrungan mengikuti acara televisi membuat para suster menjadi tidak konsentrasi dalam mengikuti perayaan Ekaristi, tidak ada waktu untuk berdoa, bermeditasi, kontemplasi, bacaan rohani dan membuat refleksi pribadi sehingga tidak mengherankan ketika ada dalam kapela menjadi tidak bersemangat bahkan mengantuk. Hati dan pikiran lebih tertuju pada tugas yang mau dijalankan pada hari itu.

  Perkembangan dunia yang semakin modern, telah merasuki kehidupan para kaum religius. Gaya hidup instan inginnya semua serba cepat karena masih ada hal lain yang lebih penting bagi dirinya, juga menjadi gaya hidup kaum religius di zaman ini. Rangkaian kegiatan rohani yang membantu untuk semakin bertumbuh dalam panggilan sebagai seorang religius sudah menjadi sesuatu yang sulit untuk dijalankan, kalau dilihat bahwa dengan banyaknya kegiatan rohani, para suster semakin dewasa dan matang dalam setiap peristiwa hidup namun justru banyak masalah yang ditemukan.

  Kongregasi PRR sebagai Tarekat religius sungguh memberi perhatian khusus akan kebutuhan rohani para anggotanya, apalagi dengan perkembangan dunia yang semakin modern, gaya hidup sebagai seorang religius semakin menurun, sehingga perayaan Ekaristi dalam Kongregasi sungguh mendapat perhatian yang besar. Pendiri Kongregasi Mgr. Gabriel Manek, SVD, sejak mendirikan Kongregasi sudah menanamkan dalam diri para anggota bahwa Perayaan Ekaristi merupakan makanan rohani, kekuatan rohani bagi setiap anggota dalam menjalani hidup sebagai seorang religius. Persatuan dengan Kristus dalam perayaan Ekaristi semakin menjadikan setiap anggota mengalami kehidupan rohani yang kuat dan mendalam. Namun dalam mewujudkan hal ini masih menjadi perjuangan bagi para suster, ada anggota yang sungguh menjadikan Perayaan Ekaristi sebagai kekuatan dalam hidupnya namun di lain pihak ada anggota yang merasa biasa-biasa saja bahkan karena kepentingan pribadi dengan mudah mengabaikan sebuah kegiatan rohani. (Konstitusi PRR, 172).

  Dengan melihat kenyataan di atas maka penulis mencoba untuk mendalami penulisan ini dengan judul: Peranan Ekaristi dalam meningkatkan Hidup

  

Rohani Para Suster Puteri Reinha Rosari di Wilayah Jawa. Penulisan ini

  dimaksud untuk membantu para suster Putri Reinha Rosari agar semakin dewasa dan mampu menghayati makna perayaan Ekaristi dalam kehidupannya setiap hari demi meningkatkan perkembangan hidup rohaninya sebagai religius khususnya sebagai seorang religius PRR.

B. Rumusan Masalah

  Dengan melihat latar belakang “Peranan Ekaristi dalam meningkatkan hidup rohani para suster Puteri Reinha Rosari di Wilayah Jawa” maka permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah sebagai berikut: 1.

  Bagaimana pemahaman para suster tentang arti dan makna perayaan Ekaristi? 2. Langkah-langkah manakah yang perlu diusahakan dalam mencapai kematangan hidup rohani?

  3. Seberapa besar usaha yang dilakukan para suster dalam meningkatkan hidup rohani?

C. Tujuan penulisan

  Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam proses penulisan ini adalah sebagai berikut:

  1. Membantu para suster agar dapat memahami arti dan makna dari perayaan Ekaristi

  2. Membantu para suster agar mampu meningkatkan kehidupan rohaninya melalui perayaan Ekaristi.

  3. Memberikan sumbangan bagi para anggota dalam meningkatkan mutu kehidupan rohani sebagai seorang religius.

  4. Sebagai satu persyaratan kelulusan Sarjana Strata Satu ( SI ) Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

D. Manfaat penulisan

  Adapun manfaat penulisan “Peranan Ekaristi dalam meningkatkan perkembangan hidup rohani para suster Puteri Reinha Rosari di Wilayah Jawa” sebagai berikut: 1.

  Memberikan sumbangan kepada Kongregasi dalam membantu anggotanya untuk lebih memahami arti dan makna perayaan Ekaristi.

2. Membantu Kongregasi PRR dalam usaha meningkatkan kehidupan rohani para anggotanya.

3. Penulis dapat memperoleh pengetahuan atau pemahaman tentang liturgi Ekaristi.

  E. Metode penulisan

  Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis yakni penulis mengadakan penelitian melalui wawancara bersama para suster dengan panduan pertanyaan penuntun yang bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata tentang “Bagaimana Peranan Ekaristi dalam meningkatkan Hidup Rohani para suster Puteri Reinha Rosari di Wilayah Jawa“. Pendekatan deskriptif ini juga dilakukan dengan studi pustaka.

  F. Sistematika penulisan

  Secara keseluruhan penulisan ini terbagi dalam empat bab. Adapun perincian sebagai berikut: BAB I: Diawali dengan pendahuluan yang meliputi latar belakang penulisan, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan

  BAB II: Bab ini menguraikan tentang Sejarah singkat berdirinya Kongregasi PRR, Tradisi-tradisi Kongregasi PRR sehubungan dengan perayaan Ekaristi bagi para suster Putri Reinha Rosari yang berada di Wilayah Jawa. BAB III: Bab ini menguraikan tentang Perayaan Ekaristi sebagai Liturgi yang pokok, hasil penelitian, peningkatan Hidup rohani melalui perayaan Ekaristi, Tantangan-tantangan dalam mengikuti perayaan Ekaristi, upaya-upaya mengembangkan makna Ekaristi bagi perkembangan hidup rohani para suster Puteri Reinha Rosari,

  BAB IV: penutup yang mengemukakan kesimpulan dan saran sebagai masukan dalam usaha meningkatkan kehidupan rohani melalui perayaan Ekaristi.

  

BAB II

GAMBARAN UMUM KEADAAN KONGREGASI PRR

DALAM MENGIKUTI PERAYAAN EKARISTI

Pusat hidup bersama sebagai satu Kongregasi bagi para suster PRR ialah Ekaristi. Dimana terjalin persatuan yang akrab dalam Kristus semakin bertumbuh

  secara istimewa. Suasana perayaan Ekaristi, para suster mengalami kekuatan baru dengan mendengarkan sabda Allah dan Roti yang satu itu dipecah- pecahkan, dibagi-bagikan merupakan satu kesatuan dengan Tubuh Kristus (1 Kor 10:16-18). Sambil bersama mengeliling meja Tuhan para suster disatukan dalam satu Roh dengan semua anggota dan dengan semua yang dilayani. Dalam kehidupan bersama ini, Roh Kudus menyiapkan komunitas untuk menerima sabda, berbakti kepada Allah dalam ibadat, khususnya Ekaristi, serta menghayatinya dalam doa dan karya yang sama (Konstitusi PRR, 154: 69). Maka melalui perayaan Ekaristi, para suster semakin disatukan dengan Allah sendiri melalui kehidupan bersama dengan orang lain khususnya bagi sesama dalam komunitas serta mereka yang dilayani. Dengan itu kehidupan rohani para suster di setiap komunitas semakin mendalam.

  Barang siapa bersatu dengan Tuhan, berada dalam satu Roh dengan-Nya (1 Kor 6:17). Di sinilah terletak kekuatan persekutuan Ekaristi, di dalammya para suster menjadi satu Roh dengan Kristus dan Roh yang satu adalah “Roh Kudus”.

  Dengan persatuan itu para suster dimampukan untuk semakin mencintai Kristus dalam kehidupan sebagai seorang religius PRR yang terwujud dalam kebersamaan dengan sesama dalam Komunitas dimana para suster diutus dan juga dalam tugas dan karya pelayanan di tengah umat yang dilayani (Raniero, 1994: 49).

  Santo Thomas(Raniero,1994:51) ketika menyebut Ekaristi sebagai “Sakramen Cinta“ (Sacramentum Caritatis), menjelaskan bahwa hanya cinta yang dapat menciptakan persatuan dengan Kristus yang hidup. Sesungguhnya, cinta merupakan satu kesatuan. Melalui dua makhluk hidup yang berbeda dan mandiri dapat menjadi satu.

  Para suster dapat bersatu secara penuh dan sempurna dengan Kristus hanya bila para suster dengan penuh kesederhanaan serta kerendahan hati seperti Petrus yang memberi diri sepenuhnya kepada Tuhan, “Tuhan Engkau tahu bahwa aku mencintai Dikau” (Yoh.21: 16).

  Pada bab ini penulis membahas tentang gambaran umum keadaan Kongregasi PRR dalam mengikuti perayaan Ekaristi yang didukung melalui data- data yang diperoleh bersama para suster PRR yang berkarya di wilayah Jawa.

  Pembahasan tentang keadaan Kongregasi ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama menguraikan sejarah berdirinya Kongregasi Puteri Reinha Rosari yang meliputi faktor-faktor yang melatarbelakangi berdirinya Kongregasi PRR, tujuan visi dan misi Kongregasi Puteri Reinha Rosari, spiritualitas Kongregasi. Bagian kedua tentang tradisi-tradisi Kongregasi Putri Reinha Rosari di setiap komunitas yang berada di Wilayah Jawa sehubungan dengan perayaan Ekaristi yang terjadi dalam komunitas maupun bersama umat di Gereja.

A. Sejarah Berdirinya Kongregasi Puteri Reinha Rosari

  Kongregasi Putri Reinha Rosario (PRR) didirikan pada tanggal 15 Agustus 1958, oleh seorang Uskup Pribumi Yaitu Mgr. Gabriel Manek, SVD dibantu oleh Sr Anfrida, SSpS dan Pater Van de Burg, SVD yang pada waktu itu sebagai Vikjen Keuskupan Larantuka. Beliau mempunyai peranan cukup besar dimana sebagai pribadi yang mampu memberi semangat kepada pendiri Kongregasi Mgr Gabriel Manek, SVD untuk tetap mewujudkan niatnya dalam mendirikan Kongregasi, walaupun mengalami banyak tantangan dan kesulitan. Mgr Gabriel Manek, SVD, dalam kesederhanaan sebagai pribadi yang kuat serta selalu berpasrah pada rencana dan kehendak Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria dalam seluruh peristiwa hidupnya mampu mendirikan Kongregasi Putri Reinha Rosari (Gabriella, 2008: 87).

  Situasi awal ketika mendirikan Kongregasi para calon berjumlah dua belas orang dengan usia rata-rata tujuh belas tahun, kebanyakan para calon berpendidikan tamatan SD dan SLTP. Dengan keadaan yang demikian pendiri dan para pembantu pendiri cukup berjuang untuk memikirkan cara yang terbaik untuk mendidik para calon yang masih sangat muda. Pada tanggal 15 Agustus 1958 Kongregasi resmi didirikan, saat itu 12 calon resmi diterima sebagai calon suster dalam Kongregasi PRR. Penerimaan ke 12 calon suster dianggap sebagai awal lahirnya Kongregasi PRR. Sejak peresmian saat itu pula para Calon mulai dibina untuk menjadi seorang suster PRR oleh Co pendiri Sr Anfrida, SSpS (Gabriella, 2008: 88). Faktor-faktor yang melatarbelakangi berdirinya Kongregasi Putri Reinha Rosari antara lain:

  Pertama, agama dengan kedatangan bangsa Portugis pada abad ke enambelas dan para misionaris Dominikan memulai misinya di kepulauan Solor, Adonara, Flores Timur dan Timor. Situasi iman umat pada waktu itu mulai berkembang. Agama Katolik diperkenalkan, diimani dan dipertahankan terutama pada masa kritis kehidupan iman umat Katolik diserang di kepulauan ini serta dipaksa untuk meninggalkan imannya. Situasi yang terjadi saat itu menyebabkan para imam meninggalkan Larantuka sebagai pusat kegiatan misi. Kurang lebih dua abad, umat hidup tanpa bimbingan hirarkhi, hingga kedatangan misionaris Belanda pada abad sembilan belas. Kehadiran misionaris Belanda pada masa itu, umat menemukan harapan iman yang kuat akan Yesus Kristus dengan menghayati sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Keyakinan inilah yang terus- menerus direnungkan dan dikembangkan dalam seluruh perjalanan hidup melalui peristiwa rosario dan doa devosi, khususnya peristiwa jalan Salib selama masa puasa dan perayaan pekan suci. Bagi umat, Bunda Maria menjadi tokoh utama dan pelindung yang senantiasa menyertai dalam seluruh pergulatan iman. (Konstitusi PRR, 1987: 13).

  Kedua, sosial ekonomi yang memprihatinkan, dengan keadaan alam yang kering dan tandus, menyebabkan banyak kaum miskin dan yatim piatu yang mengalami menderita, khususnya penderita kusta kurang mendapat perhatian dan pengobatan bahkan disingkirkan dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitanya (Konstitusi PRR, 1987: 14).

  Ketiga, dukungan para imam dan pembantu pendiri Kongregasi. Gagasan untuk mendirikan Kongregasi Puteri Reinha Rosari ini selalu menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan para imam secara khusus bersama dengan Pater Van de Burg, SVD yang pada waktu itu menjabat sebagai Vikaris Jendral Keuskupan Larantuka. Pimpinan Kongregasi SSpS dengan mengutus salah satu anggota kongregasi yaitu Sr. Anfrida, SSpS untuk membantu mendirikan kongregasi pribumi ini (Konstitusi PRR, 1987: 15).

  Kelima, Pendidikan, Pada masa itu kaum perempuan, kurang mendapat tempat untuk menimba ilmu pengetahuan dan mengenyam pendidikan di Sekolah.

  Kaum perempuan dianggap hanya sebagai pengurus rumah tangga sehingga banyak kali mereka dinomorduakan oleh kaum pria (Manek, 2003: 2).

  Keenam, Tenaga hirarki yakni para misionaris yang mulai berkurang di wilayah ini, sebab para misionaris yang berkarya di wilayah ini pada umumnya berasal dari Eropa dan jumlahnya sangat terbatas (Manek, 2003: 3).

  Latar belakang di atas, menggerakkan hati Mgr. Gabriel Manek, SVD yang pada masa itu menjabat Uskup Larantuka dan Sr. Anfrida, SSpS dalam mendirikan Kongregasi religius pribumi untuk menghimpun puteri-puteri yang ingin membaktikan diri bagi kemuliaan Tuhan. Kongregasi Putri Reinha Rosari mengalami perkembangan dari tahun ke tahun sampai dengan akhir 2008 anggota bertambah banyak dengan jumlah 347 Suster berkaul dan 25 calon Suster novis dan postulan yang berada di tiga wilayah yaitu wilayah Flores, Timor Leste, dan Kenya Afrika (Katalog PRR, 2008: 9-69).

1. Tujuan berdirinya Kongregasi Puteri Reinha Rosari

  Perkembangan umat yang semakin pesat tanpa adanya bimbingan hirarki mengakibatkan adanya kekaburan nilai-nilai iman yang dialami oleh umat pada masa itu. Umat berjuang untuk mempertahankan imannya melalui doa dan devosi namun mereka membutuhkan seorang tokoh, seorang gembala, yang bisa menghantar mereka semakin kuat dan teguh dalam penghayatan iman yang murni akan Yesus Kristus. Situasi inilah yang mendorong Mgr. Gabriel Manek, SVD, sebagai pendiri Kongregasi PRR untuk menanggapi kebutuhan umat pada masa itu sehingga tujuan pendirian Kongregasi PRR antara lain:.

  Pertama, Kongregasi Puteri Reinha Rosari didirikan untuk kemuliaaan Tuhan dengan cara hidup sebagai religius PRR dalam mengejar kekudusan seturut teladan Bunda Maria hamba Allah. Suatu persekutuan yang dipanggil Tuhan kepada hidup religius yang khusus membaktikan diri semata-mata demi kemuliaan Allah dan kepentingan pelayanan iman umat (Konstitusi PRR, 1987: 102).

  Kedua, Kongregasi Puteri Reinha Rosari merupakan buah yang dihasilkan dari pertumbuhan iman umat sekaligus merupakan bentuk hidup yang secara penuh berpartisipasi dalam pembentukan umat yang dewasa dan bertanggung jawab. Suatu kemampuan mengaktualkan kharisma dan bakat-bakat bagi pembangunan seluruh tubuh Mistik Kristus (Konstitusi PRR, 1987: 102).

  Ketiga, Kongregasi Putri Reinha Rosari didirikan sebagai tanda syukur atas iman dan kepercayaan yang telah menyelamatkan umat serta menjamin keutuhan hidup beriman. Berkembangnya iman umat dan semangat misioner dalam tugas pembangunan masyarakat dan dunia serta pelayanan kepada kaum miskin turut menjamin keutuhan hidup beriman sehingga iman umat semakin berkembang dan berjiwa misioner dalam tugas pembangunan masyarakat dan dunia (Konstitusi PRR, 1987: 102).

  2. Visi Kongregasi Puteri Reinha Rosari

  Visi merupakan landasan bagi seseorang atau kelompok tertentu atau lembaga-lembaga lain dalam mengejar atau meraih suatu cita-cita atau tujuan yang hendak dicapai. Harapan-harapan ini pun menjadi cita-cita Kongregasi Puteri Reinha Rosari melalui visi tertentu. Cita-cita dan harapan itu mengandung arti dan makna untuk dihayati oleh setiap anggota Kongregasi Puteri Reinha Rosari (Tafaib, 2007: 22). Oleh karena itu visi Kongregasi Puteri Reinha Rosari adalah pembentukan iman umat yang kembali ke akarnya yang murni yakni misteri Salib yang mewarnai seluruh perjuangan hidup mereka sehari-hari. Umat yang dicita-citakan adalah umat yang partisipatif mendayagunakan kharisma dalam membangun Gereja sebagai tubuh Mistik Kristus. Suatu umat yang mampu berfungsi sosial, memasyarakat dan meragi. Umat yang berakar pada kebudayaan setempat, berfungsi kritis dan mampu membuat pembedaan Roh dalam menghadapi tantangan dunia (Konstitusi PRR, 1987: 103).

  3. Misi Kongregasi Puteri Reinha Rosari

  Dalam konstitusi Kongregasi Putri Reinha Rosari dikatakan bahwa: Kerasulan yang menjadi kegiatan Kongregasi sebagai perwujudan perutusan dengan melibatkan diri dalam pelayanan di berbagai bidang karya sesuai kebutuhan Gereja setempat dan secara khusus sesuai tanda zaman, memperhatikan dan memperjuangkan keadilan dan keselamatan bagi mereka yang miskin dan terbelenggu serta penindasan rohani jasmani, serta yang terlantara. ( Konstitusi PRR, 1987: 104). Kongregasi Puteri Reinha Rosari memiliki misi tertentu yang harus diwujudkan demi perkembangan iman umat dalam hidupnya sekaligus keutuhan

  Kongregasi yang dicita-citakan. Oleh karena itu misi Kongregasi Puteri Reinha Rosari adalah agar setiap anggota Kongregasi mengambil bagian secara aktif dalam tugas pewartaaan melalui pelayanan kepada sesama dengan menanggapi kebutuhan Gereja setempat terutama yang lemah, miskin dan tersingkirkan dari lingkungan masyarakat serta membangun hidup umat beriman yang aktif melibatkan diri demi perkembangan Kerajaan Allah di dunia yang semakin modern.

4. Spiritualitas Kongregasi PRR

  Kata spiritualitas berasal dari bahasa Perancis “spirituelle“yang berarti rohani dengan asal kata “Spiritus“ yang berarti roh . Spiritualitas sendiri berarti pola hidup yang digerakan oleh Roh kudus (Tom Jacobs, 1989: 1-2).

  Spiritualitas merupakan suatu anugrah dan menjadi daya kekuatan yang menghidupkan atau menggerakan suatu kelompok untuk mempertahankan, mengembangkan serta mewujudkan kehidupan. Spiritualitas merupakan kesadaran dan sikap hidup manusia untuk tetap bertahan dalam mewujudkan tujuan dan pengharapan (Banawiratma, 1990: 57-59).

  Untuk mewujudkan tugas perutusan Allah, Yesus memilih cara hidup sebagai manusia yang miskin, sebagai hamba Yahwe, dalam kemiskinan tetap ia mampu mencintai Bapa dan kehendak Bapa serta rela taat sampai mati di salib (Fil 2:8-11). Kesatuan Yesus dengan Bapa adalah sumber perutusan-Nya. Dalam doa dan karyanya, Yesus menyerahkan diri sepenuhnya kepada rencana Bapa yakni menyelamatkan umat manusia yang oleh karena dosa, sudah tidak mampu menjadi anak Allah atas dayanya sendiri (Konstitusi PRR, 1987: 24).

  Para suster sebagai seorang utusan, Yesus Kristus menjadi pusat hidup dan sumber kekuatan dalam menjalankan tugas perutusan. Roh Kudus menjadi kepenuhan Yesus dalam melaksanakan kehendak Bapa. Maka Roh Kristuslah yang memampukan para Suster PRR untuk mencintai Allah dan melaksanakan kehendak-Nya. Karena itu hendaklah hidup para Suster PRR semakin meresap dalam Allah, agar dapat merasakan gerakan Roh-Nya dalam kesibukan karya dan pelayanan di tengah umat (Konstitusi PRR, 1987: 25).

  B.

  

Tradisi-tradisi Kongregasi PRR Sehubungan dengan Perayaan Ekaristi

Bagi Para Suster yang Berada di Wilayah Jawa

  Perayaan Ekaristi menjadi puncak hidup doa dan hidup bakti bagi umat beriman. Para suster dimampukan untuk berpartisipasi dalam kurban Kristus.

  Segala doa komunitas yang lain: refleksi misteri penyelamatan Kristus dalam doa jalan salib dan doa rosario; doa-doa harian dalam kebersamaan komunitas, pun doa pribadi dalam segala bentuknya serta latihan-latihan rohani lainnya, mengarah kepada dan dipersatukan dalam kurban Yesus.

  Seluruh hidup doa para Suster berpola kepada seluruh sikap hidup doa Yesus. Kurban Ekaristi yang dilanjutkan dalam doa-doa komunitas dan pelayanannya, menolong para Suster untuk hidup dalam hubungan lebih dekat dengan Kristus. Doa-doa komunitas, disusun sesuai dengan spiritualitas Kongregasi dan kebiasaan-kebiasaan di daerah dimana para Suster berkarya.

  Kesempatan diberi untuk lebih kreatif menyusun bentuk-bentuk doa yang lebih baik (Konstitusi PRR,1987: 173). Adapun suasana tradisi hidup doa para Suster yang berkarya di setiap komunitas.

1. Komunitas Yogyakarta a.

  Komunitas Magnificat Yogyakarta didirikan oleh Kongregasi pada tanggal 1 Juli 1981, sebagai salah satu komunitas studi, yang berada di keuskupan Agung Semarang Yogyakarta. Jumlah anggota pada tahun 2009 ada 17 orang.

  Para Suster yang tinggal dan hidup dalam komunitas ini adalah Suster student dari berbagai jurusan seperti: katekis, konseling, sekretaris, kesehatan, ekonomi, yang dipersiapkan oleh Kongregasi demi perkembangan hidup dan masa depan Kongregasi selanjutnya.

  b.

  Tradisi hidup doa dalam komunitas Komunitas Yogyakarta sebagai komunitas studi, mempunyai kegiatan dan jadwal doa seperti:

  1) Pagi: Ofisi bersama, renungan konstitusi Kongregasi, meditasi, Senin; Siang: Jam tiga berdoa rosario.

  Sore: Sharing konstitusi. 2)

  Selasa; Pagi: Ofisi bersama, renungan Kitab Suci dengan bacaan Injil pada hari yang bersangkutan, meditasi dan perayaan Ekaristi.

  Siang : jam tiga berdoa rosario. Sore : Ofisi dan refleksi bersama. 3)

  Rabu: Seluruh hari dijadikan sebagai hari doa privat oleh komunitas dimana para suster mencari waktu untuk berdoa, tetapi pada sore hari dirayakan Ekaristi komunitas. 4)

  Kamis; Pagi : Ofisi bersama, renungan Kitab Suci, meditasi dan perayaan Ekaristi di gereja bersama umat.

  Siang : Jam tiga berdoa rosario. Sore : Adorasi bersama umat di gereja. 5) Jumat; Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi. Siang : Berdoa rosario. Sore : Jalan salib, perayaan Ekaristi. 6) Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi.

  Sabtu; Sore : Doa rosario, ofisi.

  7) Minggu; Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi.

  Siang : Ibadat siang. Sore : Adorasi.

  c.

  Situasi Perayaan Ekaristi dalam Komunitas Tradisi hidup doa dalam komunitas Yogyakarta untuk pengembangan hidup rohani para anggotanya yang telah disepakati bersama oleh seluruh anggota komunitas termasuk perayaan Ekaristi sebagai salah satu bentuk kegiatan rohani untuk mendukung perkembangan hidup rohani para suster, dirayakan empat kali seminggu yaitu pada hari Senin, Selasa, Rabu dan Jumat sedangkan pada hari Kamis pagi perayaan Ekaristi bersama umat di gereja. Dengan suasana perayaan Ekaristi para suster diharapkan mampu mengalami kekuatan rohani untuk bisa menjalankan tugas dan karya pelayanan yang dipercayakan oleh Kongregasi sebagai suster student.

  2. Komunitas Cimanggis a.

  Komunitas St. Fransiskus Asisi Cimanggis didirikan oleh Kongregasi, pada tanggal 1 Nopember 2001, sebagai salah satu komunitas karya, yang berada di Keuskupan Bogor. Jumlah anggota pada tahun 2009 ada 14 orang. Para suster yang tinggal dan hidup dalam komunitas ini menangani berbagai macam karya antara lain: Misi Prokur, karya sosial, pastoral, pendidikan, study, usaha pembuatan lilin, rosario, batu hitam dan kebun.

  b.

  Tradisi hidup doa dalam komunitas Komunitas Cimanggis sebagai komunitas karya, mempunyai kegiatan dan jadwal doa yang tetap, seperti;

  1) Senin; Pagi : Ofisi bersama, renungan konstitusi , meditasi,berdoa rosario.

  Siang: Ibadat siang, jam tiga berdoa rosario. Sore: Sharing konstitusi. Ibadat penutup.

  2) Selasa; Pagi: Ofisi bersama, renungan Kitab Suci , meditasi, berdoa rosario.

  Siang: Ibadat siang, jam tiga berdoa rosario. Sore: Berdoa rosario, ofisi dan refleksi bersama. 3)

  Rabu: Seluruh hari dijadikan sebagai hari doa privat oleh komunitas dimana para suster mencari waktu untuk berdoa, tetapi pada sore hari dirayakan Ekaristi komunitas. 4) Pagi: Ofisi bersama, renungan Kitab Suci, meditasi dan perayaan

  Kamis; Ekaristi di gereja bersama umat.

  Siang : Jam tiga berdoa rosario. Sore : Adorasi 5) Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi. Jumat; Siang : Ibadat siang, jam tiga berdoa rosario.

  Sore : Jalan salib, ibadat penutup. 6) Pagi : Ofisi Maria, renungan Kitab Suci, meditasi.

  Sabtu; Sore : Doa rosario, ibadat meriah.

7) Minggu; Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi, Ekaristi.

  Siang : Ibadat siang. Sore : Adorasi.

c. Situasi Perayaan Ekaristi dalam Komunitas.

  Komunitas Cimanggis sebagai salah satu komunitas karya yang berada di Keuskupan Bogor juga mempunyai tradisi atau kebiasaan doa yang telah disepakati bersama oleh seluruh anggota komunitas. Dari seluruh kegiatan rohani komunitas, perayaan Ekaristi menjadi salah satu kegiatan rohani yang cukup diperhatikan oleh seluruh anggota komunitas karena melalui perayaan Ekaristi para Suster dikuatkan melalui makanan rohani tubuh dan darah Kristus sebagai kekuatan dalam menjalankan tugas pelayanan. Perayaan Ekaristi komunitas terjadi pada hari Sabtu pagi bersama umat, sedangkan hari Senin sampai Jumat, Ekaristi dirayakan di gereja bersama umat.

3. Komunitas Cijantung a.

  Komunitas Nasaret Cijantung didirikan pada tanggal 2 Januari 1985, sebagai salah satu komunitas karya yang berada di Keuskupan Agung Jakarta. Dengan jumlah anggota pada tahun 2009 ada 6 orang. Para suster berkarya di bidang pendidikan, panti asuhan, pastoral paroki dan usaha pembuatan hosti.

  b.

  Tradisi hidup doa dalam Komunitas Komunitas Cijantung sebagai komunitas karya, mempunyai jadwal doa yang seperti;

  1) Pagi : Ofisi bersama, renungan konstitusi Kongregasi, meditasi, Senin; Siang : Jam tiga berdoa rosario.

  Sore : Sharing konstitusi. 2) Pagi : Ofisi bersama, renungan Kitab Suci , meditasi .

  Selasa; Siang : Jam tiga berdoa rosario.

  Sore : Ofisi dan refleksi bersama.

  3) Rabu: Seluruh hari dijadikan sebagai hari doa privat oleh komunitas dimana para suster mencari waktu untuk berdoa.

  4) Kamis; Pagi : Ofisi bersama, renungan Kitab Suci, meditasi.

  Siang : Jam tiga berdoa rosario. Sore : Adorasi umat di gereja. 5)

  Jumat; Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi, perayaan Ekaristi.

  Siang : Berdoa rosario. Sore : Jalan salib, refleksi, ibadat penutup. 6)

  Sabtu; Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi.

  Sore : Doa rosario, ibadat meriah. 7) Minggu; Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi.

  Siang : Ibadat siang. Sore : Adorasi.

  c.

  Situasi Perayaan Ekaristi dalam Komunitas.

  Ekaristi dirayakan dalam komunitas satu kali seminggu pada hari Jumat pagi bersama umat sedangkan hari –hari lain perayaan Ekaristi bersama umat di gereja.

  4. Komunitas Pademangan a.

  Komunitas Hati Kudus Yesus dan Maria Pademangan didirikan oleh Kongregasi pada tanggal 14 agustus 1992, sebagai komunitas karya, yang berada di Keuskupan Jakarta. Jumlah anggotanya 3 orang. Para suster berkarya di bidang pendidikan, pastoral paroki, karya sosial, dan juga studi.

  b.

  Tradisi hidup doa dalam Komunitas Komunitas Hati Kudus Yesus dan Maria Pademangan sebagai komunitas karya, mempunyai kegiatan dan jadwal doa seperti;

  1) Pagi : Ofisi bersama, renungan onstitusi Kongregasi, meditasi.

  Senin; Siang : Jam tiga berdoa rosario.

  Sore : Sharing konstitusi. 1) Selasa; Pagi : Ofisi bersama, renungan Kitab Suci dengan bacaan Injil pada hari yang bersangkutan, meditasi dan perayaan Ekaristi.

  Siang : Jam tiga berdoa rosario. Sore : Ofisi dan refleksi bersama. 2)

  Rabu: Seluruh hari dijadikan sebagai hari doa privat oleh komunitas dimana para suster mencari waktu untuk berdoa, tetapi pada sore hari dirayakan Ekaristi komunitas. 3)

  Kamis; Pagi: Ofisi bersama, renungan Kitab Suci, meditasi dan perayaan Ekaristi di Gereja bersama umat.

  Siang : Jam tiga berdoa rosario. Sore : Adorasi . 4) Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi, perayaan Ekaristi.

  Jumat; Siang : Berdoa rosario.

  Sore : Jalan salib. 5) Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi, perayaan Ekaristi

  Sabtu;

  Sore : Doa rosario, ibadat meriah. 6) Minggu; Pagi : Ofisi , renungan Kitab Suci, meditasi perayaan Ekaristi.

  Siang : Ibadat siang. Sore : Adorasi.

  c.

  Suasana Perayaan Ekaristi dalam Komunitas.

  Ekaristi dalam komunitas dirayakan pada hari Selasa pagi sedangkan pada hari lain dirayakan Ekaristi di gereja bersama umat.

  5. Komunitas Surabaya a.

  Komunitas St. Maria Bintang laut Surabaya didirikan oleh Kongregasi, pada tanggal 27 juli 1984, sebagai komunitas karya, yang berada di keuskupan Surabaya dengan jumlah anggota pada tahun 2009 4 orang. Para Suster berkarya di bidang pendidikan, pastoral paroki, karya sosial, dan studi.

  b.

  Tradisi hidup doa dalam Komunitas Komunitas St. Maria Bintang Laut Surabaya sebagai komunitas karya, mempunyai kegiatan dan jadwal doa seperti:

  1) Pagi : Ofisi bersama, renungan konstitusi Kongregasi, meditasi, Senin; perayaan Ekaristi.

  Siang : Jam tiga berdoa rosario. Sore : Sharing konstitusi. 2)

  Selasa; Pagi: Ofisi bersama, renungan Kitab Suci dengan bacaan Injil pada hari yang bersangkutan, meditasi dan perayaan Ekaristi.

  Siang : Jam tiga berdoa rosario. Sore : Ofisi dan refleksi bersama. 3)

  Rabu: Seluruh hari dijadikan sebagai hari doa privat oleh komunitas dimana para suster mencari waktu untuk berdoa, tetapi pada sore hari dirayakan Ekaristi komunitas. 4)

  Kamis; Pagi: Ofisi bersama, renungan Kitab Suci, meditasi dan perayaan Ekaristi di gereja bersama umat.

  Siang : Jam tiga berdoa rosario. Sore : Adorasi. 5) Pagi : Ofisi, renungan Kitab Suci, meditasi, perayaan Ekaristi.

  Jumat; Siang : Berdoa rosario.

  Sore : Jalan salib. 6) Pagi : Ofisi, renungan Kitab Suci, meditasi, perayaan Ekaristi

  Sabtu; Sore : Doa rosario, ibadat meriah.

7) Minggu; Pagi : Ofisi, renungan Kitab Suci, meditasi perayaan Ekaristi.

  Siang : Ibadat siang. Sore : Adorasi.

  c.

  Suasana Perayaan Ekaristi dalam komunitas Ekaristi komunitas dirayakan pada hari Senin pagi sedangkan pada hari lain Ekaristi dirayakan bersama umat di gereja.

BAB III MAKNA EKARISTI BAGI PERKEMBANGAN HIDUP ROHANI PARA SUSTER PUTERI REINHA ROSARI Dengan melihat kenyataan yang terjadi disetiap komunitas tentang

  bagaimana penghayatan para suster dalam mengikuti perayaan Ekaristi dirasa bahwa perayaan Ekaristi sebagai kekuatan iman, perayaan keselamatan yang sungguh memampukan setiap anggota mengalami kekuatan rohani karena persatuan dengan Yesus sendiri melalui perayaan Ekaristi. Sebagai seorang religius, para suster menghayati Ekaristi sebagai kekuatan untuk menjalankan seluruh hidup dan kegiatan sepanjang hari dalam tugas perutusan. Perayaan Ekaristi menjadi makanan rohani yang memberi kekuatan, kedamaian serta kesanggupan dalam menjalani hidup sebagai seorang religius dan bahkan Perayaan Ekaristi mampu memberi inspirasi baru dalam pelayanan (Nouwen, 2008:157). Namun disatu pihak para suster juga terkadang mengalami kejenuhan dalam mengikuti perayaan Ekaristi, terkadang dirasa sebagai sebuah rutinitas juga diakibatkan dengan banyaknya tugas atau beban yang harus diselesaikan pada hari itu. Dengan situasi nyata yang dialami yang dialami oleh para suster disetiap komunitas, maka sungguh diharap untuk semakin mampu memahami makna Ekaristi dalam pergulatan hidup harian, dimana Ekaristi sebagai perayaan keselamatan mampu memberi kekuatan baru serta kegembiraan dalam menjalani panggilan sebagai seorang religius.

  Injil Yohanes, Yesus bersabda, ”Akulah pokok anggur dan kamu adalah ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15: 5). Hanya jika menyatu dengan pokok, ranting akan hidup dan akhirnya dapat menghasilkan buah. Tanpa bersatu dengan pokok itu, ranting akan kering dan mati tanpa menghasilkan sesuatu. Gambaran hidup membiara menunjukkan bahwa kesatuan dengan Tuhan secara pribadi menjadi sangat penting karena kesatuan itulah yang menghidupkan panggilan seseorang. Tanpa relasi dengan Yesus sebagai pokok anggur akan mengalami kekeringan dalam hidup panggilan.

  Relasi pribadi dengan Yesus itu dapat dipupuk dengan bermacam-macam cara seperti melakukan karya kerasulan, menerima Sakramen, melakukan ibadat, sharing pengalaman iman, membaca dan mendengarkan sabda Tuhan, hidup dalam kasih, berdoa bersama maupun doa pribadi, tapa dan matiraga (Suparno, 2007: 177).

  Dalam pembahasan ini penulis akan mengemukakan lima bagian yang terdiri dari: perayaan Ekaristi sebagai liturgi yang pokok, hasil penelitan, peningkatan hidup rohani melalui perayaan Ekaristi, tantangan-tantangan dalam mengikuti perayaan Ekaristi, serta upaya-upaya meningkatkan hidup rohani .

C. Perayaan Ekaristi Sebagai Liturgi Yang Pokok 1. Ekaristi dalam Kitab Suci a.

  Perjamuan makan dengan Yesus sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah Tindakan pewartaan dan penghadiran kerajaan Allah oleh Yesus tidak hanya tampak dalam karya penyembuhan berbagai orang sakit, pengusiran setan, dan membangkitkan orang mati, tetapi juga dalam makan bersama Yesus dengan orang-orang berdosa (Mrk 2: 16-19). Dengan perjamuan makan bersama orang- orang berdosa, Yesus mau menampilkan makna kedatangan dan kehadiran Allah yang berbelas kasih. Kedatangan kerajaan Allah menunjuk pada datangnya keselamatan yang merangkul semua orang, teristimewa mereka yang hilang dan berdosa. Kebersamaan Yesus dengan orang-orang berdosa mengungkapkan kehendak Allah yang mau menyelamatkan (Mat 9: 13; Mrk 2: 17; Luk 5: 32) sebab Yesus datang pertama-pertama untuk mencari dan memanggil orang berdosa (Martasudjita, 2005: 25).

  b.

  Perjamuan malam terakhir Perjamuan Paskah Yahudi merupakan suatu upacara mengenangkan dan merayakan perbuatan besar Allah terhadap bangsa-Nya yaitu bangsa Israel maka perjamuan Paskah Yahudi merupakan suatu upacara syukur agung atas karya penyelamatan Allah sehingga orang Yahudi sungguh menghargai perayaan itu untuk memperingati pembebasan mereka dari Negeri Mesir (Bakker, 1988: 60).

  Perjamuan malam terakhir. (Mrk 14; 22-25; Mat 26: 26-29; Luk 22: 15- 20 dan 1Kor 11:23-26). Perjamuan malam terakhir merupakan perjamuan perpisahan Yesus dengan para murid sebelum Ia menderita sengsara dan wafat di kayu salib. Dalam perjamuan itu Yesus hendak mengungkapkan kepada para murid-Nya bahwa Yesus sangat mencintai seluruh umat manusia dan akan memberikan keselamatan dengan mengurbankan nyawa-Nya di atas kayu salib. Yesus rela menderita, wafat dan bangkit agar umat manusia mampu mengalahkan yang jahat. c.

  Perjamuan dengan Yesus yang Bangkit (Luk 24:13-35).

  Setelah bangkit Yesus kembali mengadakan makan bersama dengan para murid-Nya. Dalam perjamuan itulah Yesus mengungkapkan bahwa Ekaristi merupakan kebersamaan dengan Tuhan yang bangkit. “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Daku” (Luk 22: 19) disini nanpak bahwa Yesus menjadi pusat dalam Ekaristi, Yesus hadir dengan seluruh misteri hidup dan kematian-Nya serta kemuliaan-Nya. “Peringatan akan Daku” mengarah kepada peringatan akan wafat dan kebangkitan-Nya. Suatu peringatan penuh syukur kepada Allah melalui Putra- Nya yang bangkit.

2. Ekaristi berdasarkan pandangan Bapa-bapa Gereja

  Istilah “Ekaristi“ berasal dari bahasa Yunani “eucharistia” yang berarti ucapan syukur. Kata eucharistia adalah sebuah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani eucharistein yang berarti memuji, mengucap bersyukur. Istilah Ekaristi menunjuk pada isi dari apa yang dirayakan dalam seluruh perayaan Ekaristi, mau mengungkapkan pujian syukur atas karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus, sebagaimana berpuncak dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus (Martasudjita, 2003: 28).

  Santo Ignatius dari Antiokhia, ketika menulis surat kepada umat Philadelphia mengatakan: “Berusahalah kalian untuk merayakan satu Ekaristi, karena ini hanyalah satu tubuh Tuhan kita Yesus Kristus dan hanya satu piala untuk persatuan dengan darah-Nya, dan hanya satu altar”. Santo Ignatius mengajarkan roti Ekaristi sebagai tubuh Tuhan sendiri, yakni Yesus Kristus yang telah mempersembahkan diri dalam roti dan anggur Ekaristi (Martasudjita, 2005: 249).

  Dalam ajaran Santo Yustinus Martir (sekitar tahun 165) memandang Ekaristi sebagai suatu ibadah atau Liturgi Kristiani. Bagi Yustinus Ekaristi adalah kurban rohani sebab Ekaristi merupakan doa yang benar dan pujian syukur yang tepat. Ekaristi sebagai pujian syukur merupakan kurban kepada Allah, kenangan akan penderitaan Yesus, akan penciptaan dan penebusan. Yustinus yakin bahwa santapan Ekaristi adalah tubuh dan darah Yesus Kristus sendiri (Martasudjita, 2005: 249).

  Menurut Santo Ireneus Lyon (sekitar tahun 202), Ekaristi pertama-tama adalah kurban pujian syukur. Dalam Ekaristi diungkapkan pujian syukur atas penciptaan, dan atas penebusan Yesus Kristus. Tujuan makanan Ekaristi adalah penyampaian Sang Logos. Artinya dengan menerima santapan Ekaristi orang disatukan dalam kebersamaan abadi dengan Yesus Kristus (Martasudjita, 2005: 250-251).

3. Ekaristi menurut ajaran Konsili Vatikan II a.

  Dimensi Kristologis Pada peristiwa perjamuan malam terakhir Yesus menawarkan tubuh dan darah-Nya untuk menjadi makanan dan minuman rohani kepada para rasul-Nya

  (EE, 21) dan sekaligus berpesan kepada mereka: “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku”perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, kamu mengenangkan Aku” (1 Kor 11:24-25, Luk 22:19). Para rasul dengan menyambut undangan Yesus di ruang perjamuan “terimalah dan makanlah, minumlah” (Mat, 26:26-27) masuk dalam persekutuan sakramental bersama Putra Allah yang dikurbankan demi keselamatan umat manusia, maka perayaan Ekaristi menjadi kenangan kurban salib Kristus secara sakramental dalam tindakan liturgis Gereja (EE, 21).

  Konsili Vatikan ke II memberi gambaran tentang perayaan Ekaristi yang berhubungan erat dengan pribadi Yesus Kristus. Dimana “Ekaristi ditetapkan oleh Yesus sebagai kenangan akan diri-Nya yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya” di atas kayu salib. Apa yang dirayakan oleh Gereja saat ini sebagai kenangan akan karya penyelamatan Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus kepada umat manusia dihadirkan kembali yakni wafat dan kebangkitan- Nya melalui perayaan Ekaristi (SC, 6).

  Ada beberapa hal yang berhubungan dengan dimensi kristologis berkaitan dengan perayaan Ekaristi, yakni: 1)

  Ekaristi sebagai Kurban Konsili Vatikat II menjelaskan ajaranya mengenai Ekaristi sebagai kurban dalam SC 47: Pada perjamuan terakhir, pada malam ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian, Ia mengabadikan kurban salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja mempelai-Nya yang terkasih kenangan Wafat dan kebangkitan-Nya: Sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang.

  “Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan” (1 Kor 11:23) telah menetapkan kurban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Yesus tidak hanya menegaskan pemberian tubuh dan darah-Nya untuk dimakan dan diminum tetapi lebih dari itu Yesus mau mengungkapkan makna pengurbanan diri-Nya di atas kayu salib. “Kurban” bukanlah penyembelian tetapi penyerahan diri Yesus pada Bapa-Nya demi keselamatan umat manusia. (EE,12-13).

  Dalam perayaan Ekaristi umat mengadakan kurban persembahan yang melambangkan penyerahan diri Yesus. Yesus telah mengurbankan diri-Nya dengan wafat di atas kayu salib, dan sebelum wafat-Nya, Yesus mengadakan makan bersama dengan para murid-Nya pada peristiwa perjamuan malam terakhir. Hidup Yesus sendiri adalah kurban yang dipersembahkan dengan darah di kayu salib. Melalui peristiwa pada perjamuan terakhir, Yesus melakukan suatu tindakan kenabian, sebab dalam perayaan Ekaristi Yesus mempersembahkan diri- Nya sebagai kurban. Kurban Yesus saat sekarang dihadirkan atau dipersembahkan sebagai kurban syukur oleh Gereja melalui perayaan Ekaristi (Bakker,1988: 66).

  Umat beriman yang telah diselamatkan ikut berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi, sehingga dengan berpartisipasi dan membuka diri semakin bersatu dengan Kristus yang hadir dalam perayaan Ekaristi. Kurban bukanlah penyembelihan tetapi penyerahan diri Yesus pada Bapa. Umat beriman memohon diikutsertakan dalam inti hidup Yesus, itulah arti dari Ekaristi sebagai kurban.

  Dengan demikian Ekaristi sebagai kurban merupakan perayaan pengungkapan iman untuk mengenangkan kurban Kristus di atas kayu salib demi cinta-Nya kepada umat manusia.

  2) Ekaristi sebagai Sakramen

  Kata “Sakramen “dari bahasa Latin dengan asal kata “sacrare” artinya “menguduskan” atau “menyucikan”. Melalui sakramen Yesus menguduskan manusia, umat-Nya dimana oleh Gereja dinamakan sebagai perbuatan sakramental, maka melalui sakramen terjadi pengudusan atau penyucian secara rohani bagi hidup umat beriman. Sakramen dilihat sebagai sesuatu yang mendatangkan rahmat bagi umat beriman melalui wujud yang nyata. Maka untuk melaksanakan pemberian rahmat pengudusan, Yesus menggunakan air, minyak, roti dan anggur sebagai sarana pengudusan atau penyucian hidup umat manusia dalam tanda sakramen. Maka sakramen disebut tanda atau perbuatan simbolis yang menyatakan apa yang tidak kelihatan namun dibuat oleh Yesus dalam karya penyelamatan-Nya. Tanda merupakan suatu bagian dari seluruh perbuatan karya keselamatan Allah dalam diri Yesus kepada umat-Nya (Bakker,1988: 24).

  Konsili Vatikan ke II dalam SC 59 menyatakan bahwa: Sakramen-saktramen dimaksudkan untuk menguduskan manusia, membangun Tubuh Kristus, dan akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah. Sebagai tanda Sakramen juga dimaksudkan untuk mendidik. Sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan dan mengungkapkan dengan kata-kata dan benda. Maka juga disebut Sakramen iman. Memang Sakramen memperoleh rahmat, tetapi perayaan Sakramen itu sendiri juga dengan amat baik menyiapkan kaum beriman untuk menerima rahmat itu yang membuahkan hasil nyata, untuk menyembah Allah secara benar, dan untuk mengamalkan cintakasih.

  Perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh Gereja dimana umat berkumpul untuk merayakan Sakramen keselamatan selalu mengenangkan misteri iman, misteri keselamatan yang telah dilakukan oleh Yesus dengan menyerahkan diri- Nya menjadi tebusan bagi umat manusia. Dalam SC 47 juga dikatakan bahwa

  “Kristus mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, kenangan, wafat dan kebangkitan-Nya: Sakramen cinta kasih, lambang kesatuan ikatan cinta kasih “.

  3) Ekaristi sebagai Perjamuan

  Perayaan Ekaristi disebut sebagai perjamuan, karena dalam perjamuan terakhir yang dibuat Yesus bersama para murid-Nya, dimana Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dimakan dan diminum oleh para murid-Nya dalam wujud roti dan anggur. Dalam kehidupan sebagai manusia, makan dan minum adalah suatu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap orang untuk bisa bertahan dalam hidup. Maka perjamuan makan dan minum menjadi suatu unsur pokok yang diperjuangkan oleh setiap orang.

  Perjamuan malam terakhir yang telah dilakukan oleh Yesus bersama para murid-Nya merupakan makan dan minum secara jasmani dan rohani. Perjamuan ini diadakan sebagai pesta perjamuan perpisahan sebelum wafat-Nya di kayu salib, Yesus memberikan diri-Nya sebagai makanan dan minuman (Luk, 22: 15- 20). Bertolak dari peristiwa perjamuan makan Yesus bersama para murid-Nya maka Perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh Gereja saat ini disebut sebagai “Perjamuan”. Melalui penyerahan roti dan anggur “inilah tubuh-Ku “, inilah darah-Ku”, Yesus menyerahkan diri-Nya untuk menjadi santapan rohani bagi umat beriman yang percaya kepada-Nya melalui wujud roti dan anggur yang diterima dalam perayaan Ekaristi. Dengan perjamuan bersama dalam perayaan Ekaristi, umat semakin bersatu dengan Kristus, pemberi hidup, dan juga bersatu dengan sesama umat beriman yang hadir dalam perjamuan Ekaristi. Perayaan Ekaristi merupakan kenangan akan karya keselamatan Allah yang memuncak pada misteri Paskah (Martasudjita, 2003: 295).

  b.

  Dimensi Eklesiologi Dimensi eklesiologi yang berasal dari kata Yunani “ekkleo” artinya memanggil adalah suatu ajaran teologi yang berkaitan dengan Gereja. Umat katolik mengimani Gereja sebagai karya Roh Kudus yang menjadi perantara umat untuk dapat semakin dekat dengan Yesus Kristus. Gereja melaksanakan perintah Yesus sehingga dapat mengungkapkan imannya melalui perayaan Ekaristi. Beberapa dimensi eklesiologi tentang Ekaristi:

1) Ekaristi sebagai sarana kebersamaan.

  Ekaristi adalah bagian dari perayaan Gereja yang sangat dihormati dan diagungkan oleh umat katolik karena perayaan Ekaristi dalam Gereja merupakan perayaan yang suci. Dalam SC 26 menyatakan bahwa:

  Upacara- upacara liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan, yakni umat kudus berhimpun dan diatur di bawah uskup. Maka, upacara-upacara itu menyangkut seluruh tubuh Gereja dan menampakkan serta mempengaruhinya; sedangkan masing- masing anggota disentuhnya secara berlain-lainan, menurut keanekaan tingkatan, tugas serta keikutsertaan aktual mereka.

  Ekaristi merupakan perayaan seluruh Gereja, dimana umat dipersatukan dalam perayaan Ekaristi untuk mengenangkan karya penebusan Allah dalam diri Putra-Nya. Seluruh umat dipersatukan dalam cinta kasih Kristus untuk mampu umat berkumpul untuk merayakan perayaan Ekaristi, serta mampu mengungkapkan imannya dan bersyukur atas penebusan Tuhan yang telah dialami dalam kehidupan setiap hari.

  Gereja sebagai umat Allah yang berkumpul untuk merayakan perayaan Ekaristi juga diharapkan untuk ikut ambil bagian secara penuh dalam perayaan Ekaristi. Konsili Vatikan ke II dalam SC 48 menegaskan bahwa :

  Gereja dengan susah payah berusaha, jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh hikmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan hosti yang tak bernoda bukan saja melalui tangan imam melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari berkat perantaraan Kristus makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya. Umat diharapkan berpartisipasi dalam seluruh perayaan Ekaristi sejak awal persiapan hingga akhir perayaan, maka melalui kehadiran dan keikutsertaan dalam seluruh bagian perayaan Ekaristi umat terlibat aktif dalam seluruh bagian perayaan Ekaristi karena perayaan Ekaristi merupakan satu kesatuan yang harus diikuti oleh seluruh umat. Seperti apa dikatakan dalam PUMR 35 bahwa: “ Aklamasi dan jawaban-jawaban umat beriman terhadap salam dan doa-doa imam menciptakan tingkat partisipasi aktif yang harus ditunjukkan umat dalam setiap perayaan Ekaristi”.

  2) Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak kehidupan Gereja

  Melalui perantaraan Gereja umat berkumpul untuk merayakan peristiwa keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus melalui perayaan Ekaristi sehingga Ekaristi tidak hanya sebagai puncak seluruh liturgi Gereja, tetapi juga menjadi sumber dan puncak kehidupan Gereja, dimana umat beriman mengalami persatuan dengan Allah melalui Ekaristi.

  Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja, dalam SC 10 dikatakan bahwa: Liturgi merupakan puncak yang dituju oleh Gereja, dan serta merta sumber segala daya-kekuatannya. Sebab usaha-usaha kerasulan mempunyai tujuan ini: supaya semua orang melalui iman dan Baptis menjadi putera-putera Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah di tengah Gereja, ikut serta dalam kurban, dan menyantap perjamuan Tuhan. Mendorong umat beriman, supaya sesudah dipuaskan dengan ‘ Sakramen-sakramen paska” menjadi sehati sejiwa dalam kasih, berdoa supaya mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman. Adapun pembaharuan perjanjian Tuhan dengan manusia dalam Ekaristi menarik dan mengobarkan umat beriman dalam cintakasih Kristus yang membara. Jadi dari liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainya. Ekaristi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat sehari-hari, karena melalui perayaan Ekaristi umat memperoleh kekuatan rohani dan memohon rahmat dari Allah untuk dimampukan dalam menjalani kehidupan. Dari perayaan Ekaristi itulah mengalir kekuatan yang menjiwai dan menggerakkan seluruh hidup orang kristiani untuk mengarungi suka duka kehidupannya.

  c.

  Dimensi Eskatologis.

  Dalam dimensi eskatologis mau menggambarkan bahwa perayaan Ekaristi bukan hanya merupakan perayaan akan peringatan sejarah karya keselamatan Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus tetapi juga mau mengatakan kepada umat manusia bahwa perayaan Ekaristi berhubungan dengan kehidupan yang akan datang, atau peristiwa akhir zaman, seperti apa yang telah dijanjikan oleh Yesus sendiri tentang keselamatan yang akan datang.

  Perayaan Ekaristi merupakan perayaan perjamuan surgawi, perjamuan eskatologis seperti apa yang dikatakan Yesus dalam injil Yohanes “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak manusia dan minum darah-Nya kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman“ (Yoh 6: 53-54). Allah telah memberikan diri-Nya dengan perantaraan Putra-Nya Yesus Kristus demi keselamatan umat manusia sampai akhir zaman. Sehingga melalui perayaan Ekaristi menghantar umat manusia untuk semakin menghayati imannya akan Yesus Kristus.

  Konsili Vatikan ke II dalam SC 8 menyatakan bahwa: “Dalam Ekaristi yang dirayakan Gereja di dunia ini, umat Allah ikut mencicipi liturgi surgawi yang dirayakan di kota Suci Yerusalem “Ekaristi sebagai sumber kehidupan Gereja memang merupakan “Jaminan kemuliaan yang akan datang“ (SC 47). Dalam Ekaristi, Allah memberikan diri-Nya melalui Yesus Kristus Putra-Nya rela wafat di atas kayu salib. Maka melalui santapan Ekaristi umat mempersiapkan diri untuk mengalami kehidupan yang akan datang yaitu kehidupan akhir zaman yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri sekaligus umat dituntut untuk merayakan Ekaristi di dunia secara hikmat, suci dan pantas.

4. Makna Ekaristi

  Perayaan Ekaristi merupakan perayaan iman. Dalam perayaan umat mengungkapkan imannya atas kebaikan Allah yang telah menyelamat manusia melalui PuteraNya Yesus Kristus. Inti pokok perayaan Ekaristi adalah ungkapan syukur yang diungkapkan dalam bentuk sebuah perayaan. Sesuai dengan arti Ekaristi itu sendiri yang berasal dari bahasa Yunani “ eucharista” yang ungkapan puji syukur. Kata ini mau menekankan makna Ekaristi sebagai ungkapan syukur atas karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus. (Martasudjita, 2003 : 269).

  Konsili Vatikan II dalam SC 7 menyatakan bahwa: Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni kepala beserta para anggota-Nya. Oleh karena itu setiap perayaan liturgis, sebagai karya Kristus sang Imam serta tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Perayaan Ekaristi merupakan perayaan syukur Gereja. Dalam perayaan

  Ekaristi, umat mensyukuri karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus, yakni terutama dalam peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Maka seluruh doa dalam perayaan Ekaristi itu dialamatkan kepada Allah Bapa.

  Ungkapan Syukur nampak dalam doa Syukur Agung, ungkapan syukur itu terus mewarnai seluruh doa syukur Agung, yakni atas karya kasih dan kebaikan Allah yang tampak dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus yang menebus dan menyelamatkan umat manusia melalui salib; wafat dan kebangkitan-Nya ( Martasudjita, 2005: 344 ).

5. Tata Perayaan Ekaristi.

  a.

  Ritus Pembuka • Perarakan (nyanyian pembuka)

  • Tanda salib
  • Salam • Pengantar • Tobat • Kyrie • Kemuliaan • Doa Pembukaan b.

  Liturgi Sabda • Bacaan Pertama

  • Mazmur Tanggapan • Bacaan Kedua • Bait Pengantar Injil / Alleluia • Bacaan Injil • Homili • Syahadat /Aku percaya.
  • Doa Umat.

  c.

  Liturgi Ekaristi 1.

  Persiapan persembahan.

  • Kolekte.
  • Perarakan persembahan diiringi lagu persembahan
  • Doa persembahan 2. Doa Syukur Agung .
  • Prefasi • Kudus.
  • Doa sebelum konsekrasi
  • Konsekrasi • Anamnesis • Doa sesudah konsekrasi
  • Doksologi

  3. Komuni

  • Bapa Kami • Embolisme • Doa Damai • Salam damai.
  • Pemecahan Roti diiringi lagu Anak Domba Allah • Persiapan Komuni • Komuni • Saat Hening atau madah syukur • Doa Sesudah Komuni.
d.

  Ritus Penutup • Pengumuman

  • Berkat Penutup • Pengutusan • Lagu penutup.

6. Bagian-bagian Pokok dalam Perayaan Ekaristi

  Perayaan Ekaristi terdiri atas dua bagian pokok, liturgi sabda dan liturgi Ekaristi. Dua bagian pokok itu diapit oleh ritus pembuka sebagai bagian yang mempersiapkan dan ritus penutup sebagai bagian yang menutup seluruh rangkaian perayaan Ekaristi (Martasudjita, 2005; 116).

  a.

  Ritus pembuka PUMR 46: menjelaskan bahwa Ritus pembuka meliputi bagian-bagian yang mendahului Liturgi sabda, yaitu perarakan masuk, salam, kata pengantar, pernyataan tobat, Tuhan kasihanilah kami, kemuliaan dan doa pembuka; semua bagian ini memiliki ciri khas sebagai pembuka, pengantar dan persiapan.

  Tujuan semua bagian itu untuk mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan mereka, supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak. Maka sebelum perayaan Ekaristi dimulai para suster dianjurkan supaya hadir di dalam gereja atau kapel untuk mempersiapkan diri, berdoa secara pribadi, menciptakan suasana hening dalam diri agar sungguh menyadari kehadiran Tuhan dalam seluruh perayaan Ekaristi bersama dengan sesama saudari-suadari yang lain untuk semakin mengenal Tuhan, bersatu dengan-Nya dan bersatu dengan sesama yang lain dalam perayaan keselamatan.

  1) Perarakan masuk (nyanyian pembukaan)

  Perayaan Ekaristi diawali dengan perarakan masuk, imam dan para pelayan lainya berarak masuk menuju ruang altar, menggabungkan diri dengan umat yang sudah berhimpun untuk bersama merayakan perayaan Ekaristi dengan diiringi lagu pembuka. Adapun fungsi dari lagu pembuka antara lain: mengiringi perarakan para petugas liturgi memasuki ruang ibadat, membina persekutuan umat yang sudah berhimpun sehingga seluruh umat diharapkan ikut ambil bagian dalam memuji Tuhan, dan menghantar umat untuk memasuki misteri keselamatan yang akan dirayakan (Ernest, 2008: 15).

  2) Tanda salib

  Imam memulai perayaan Ekaristi dengan membuat tanda salib bersama seluruh umat. Tanda salib menyatakan dua pengakuan iman. Pertama, tanda salib mengungkapkan keselamatan umat manusia yakni melalui salib Kristus (Gal, 6: 14). Peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus, salib merupakan lambang dan sarana keselamatan. Kedua tanda salib dengan penyebutan nama Tritunggal menunjuk inti misteri iman sebagaimana diakui dan dinyatakan pada saat pembaptisan. Melalui pembaptisan umat dipersatukan dalam persekutuan Allah Tritunggal, sesuai dengan sabda Tuhan sendiri ketika memberi perintah kepada para murid-Nya: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus“ ( Mat 28:19 ). Dengan membuat tanda salib para Suster menyatakan kerelaan untuk mau memanggul salib kehidupan, rela diutus Allah untuk mewartakan karya keselamatan di tengah dunia.

  3) Tobat - Kyrie

  Ritus tobat berupa saat dimana umat beriman menyampaikan penyesalan dan pertobatan atas dosa dan pelanggaran yang telah dilakukannya kepada Tuhan dan sesama. Penyesalan dan tobat yang dilakukan umat sungguh merupakan tobat yang sejati mengalir dari kedalaman hati atas sebuah kesadaran yang penuh, menyadari, menyesali dan mengakui dosa-dosa di hadapan Allah dan sesama sebagai tanggapan atas kasih dan kebaikan Allah yang telah di alami (Marsudjita, 2005: 128).

  Dalam doa tobat umat beriman bersama-sama menyerahkan diri kepada Allah, membuka hati untuk menerima rahmat pengampunan dari Allah maka Allah mempersatukan kembali mereka yang masih tercerai berai, memperdamaikan yang masih bermusuhan sehingga melalui rahmat pengampunan dari Allah terjalin kembali relasi yang putus antara Allah dan manusia dan antar sesama manusia (Prier, 1988: 18).

  Maka pada bagian ini, dalam suasana hening para suster perlu menggunakan kesempatan untuk melihat diri, memeriksa batin dan menemukan diri sebagai orang berdosa sambil melihat hubungan dengan orang lain, kesetiaan akan panggilan dan tugas perutusan sehingga dengan itu suasana tobat mampu membawa pembaharuan dalam diri, untuk semakin berkembang dalam cinta kepada Allah dan kepada sesama.

  4) Kemuliaan

  Madah kemuliaan berisi kemuliaan untuk memuji dan memuliakan Allah Bapa dan Yesus Kristus Putra-Nya bersama Roh Kudus, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya“ (Luk, 2: 14). Madah kemuliaan dilagukan oleh seluruh umat yang berhimpun dalam perayaan Ekaristi atas dorongan Roh Kudus. Dalam PUMR 53, menyatakan; “Kemuliaan dibuka oleh imam atau lebih cocok oleh solis atau koor, kemudian dilanjutkan oleh seluruh umat bersama-sama atau oleh paduan suara bersahut-sahutan, atau hanya oleh koor. Kalau tidak dilagukan, bisa juga dilafalkan oleh seluruh umat bersama-sama atau oleh dua kelompok umat secara bersahut-sahutan“ ( PUMR, 2002; 44 ).

  Madah Kemulian khusus pada hari minggu sebagai peringatan akan hari Paskah karena Kristus bangkit pada hari pertama sesudah Sabat, namun kemuliaan ditiadakan selama masa Adven dan Prapaskah sebagai tanda tobat/atau persiapan hari raya. (Prier, 1988:8). 5)

  Doa pembuka Doa pembuka merupakan doa yang menutup seluruh ritus pembuka. Dalam

  PUMR 54 menyatakan: imam mengajak umat untuk berdoa. Lalu semua yang hadir bersama dengan imam hening sejenak untuk menyadari kehadiran Tuhan, dan dalam hati mengungkapkan doanya masing-masing. Kemudian imam membawakan doa pembuka yang lasim disebut “collecta“ , yakni sebagai doa yang mempersatukan ujud dari masing-masing orang dan juga mengungkapkan inti perayaan liturgi hari yang bersangkutan ( PUMR, 2002: 44).

  Ketika Imam mau mendoakan doa pembuka, imam mengajak umat untuk hening, umat boleh mengungkapkan doanya masing-masing di dalam hati dan ketika imam mengungkapkan doa pembuka, hendaknya seluruh umat mengikutinya dalam dan menjadikan sebagai doa mereka sehingga pada akhir dari doa pembuka umat menjawab “Amin“.

  b.

  Liturgi Sabda Liturgi sabda diawali dengan pewartaan bacaan-bacaan dari Alkitab dan diakhiri dengan doa umat. Bacaan dan mazmur tanggapan merupakan bagian pokok dari liturgi sabda, karena dalam bacaan-bacaan itu Allah sendiri bersabda kepada umatnya, mengungkapkan misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan makanan rohani kepada seluruh umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi sehingga umat diharapkan mendengarkan pada saat pewartaan sabda Allah (Martasudjita, 2005: 133).

  Saat hening sesudah bacaan merupakan saat yang sangat diperlukan, dimana saat hening dengan bantuan roh kudus para suster dapat merenungkan, meresapkan sabda Allah dan membiarkan benih-benih sabda berkembang dan bertumbuh subur dalam hati sehingga dapat menghasilkan buah kehidupan. Para suster perlu menggunakan waktu hening itu dengan membuka diri dihadapan Allah supaya sabda yang didengarkan itu sungguh meresapi seluruh kehidupan.

  1) Bacaan pertama

  Pada hari minggu dan hari raya, liturgi Gereja menyiapkan tiga buah bacaan, yaitu bacaan pertama, bacaan kedua dan bacaan injil. Dan misa harian hanya disediakan dua buah bacaan, yakni bacaan pertama dan bacaan injil. Bacaan pertama pada hari minggu dan hari raya diambil dari perjanjian lama. Bacaan pertama dipilih menurut tema injil, sehingga terungkap kesinambungan sejarah keselamatan Allah dari perjanjian lama berpuncak pada diri Yesus Kristus yang diwartakan dalam Injil (Martasudjita, 2005: 134).

  Sesudah bacaan pertama dengan diakhiri “demikianlah sabda Tuhan” diadakan saat hening sejenak, supaya umat dapat merenungkan sebentar apa yang telah mereka dengarkan (PUMR:128). Dengan demikian dalam suasana hening umat dapat memberi kesempatan kepada “Roh Allah sendiri yang hadir melalui sabda-Nya untuk berkarya dalam diri kita” (Prier, 1982: 34). Saat hening sesudah bacaan pertama digunakan sebagai saat dimana memberi tempat atau ruang kerja bagi Roh Allah yang diimani kehadiran-Nya melalui sabda yang dibacakan sehingga umat dapat bertemu dengan Allah sendiri secara pribadi.

  2) Mazmur Tanggapan

  Mazmur tanggapan merupakan lanjutan dari renungan dan sebagai tanggapan umat terhadap sabda Allah yang baru di wartakan serta merupakan unsur pokok dalam liturgi sabda, yang mempunyai makna liturgis serta pastoral yang penting dengan maksud membantu umat untuk memperdalam renungan atas sabda Allah yang baru dibacakan sehingga mazmur tanggapan hendaknya sesuai dengan bacaan yang ditanggapi atau sesuai dengan masa liturgi. Dan juga untuk mendorong umat dalam merenungkan dan meresapkan sabda Allah maka mazmur tanggapan perlu di bawakan dalam suasana hikmad dan meditatif agar umat dapat merenungkan sabda yang telah dibacakan. Dari ayat-ayat mazmur atau refrein yang di ulang perlu diungkapkan dengan penuh penghayatan, peresapan dalam diri bukan asal diucapkan sehingga mampu menangkap maknanya (Martasudji, 2005: 135).

  Dengan melihat peranan dari mazmur tanggapan yang cukup penting dalam perayaan Ekaristi maka para suster diharapkan mengambil kesempatan dengan baik untuk meresapkan sabda Tuhan melalui ayat-ayat mazmur yang dinyanyikan atau dibacakan, saat-saat hening merupakan saat paling baik untuk merenungkan sabda Tuhan, sehingga sabda itu dapat berbicara dalam kehidupan.

  3) Bacaan kedua

  Pada hari minggu dan hari raya disediakan bacaan kedua yang diambil dari perjanjian baru. Bacaan kedua tidak mempunyai hubungan dengan bacaan pertama dan bacaan injil dimana bacaan kedua dipilih bukan berdasarkan suatu tema, melainkan suatu Kitab dibacakan secara bersambung, bagian demi bagian.

  Dengan demikian umat dapat mendengar hampir seluruh isi Kitab Suci Perjanjian Baru. Hari-hari raya mempunyai bacaan tematis, berarti bacaan-bacaan dipilih sesuai tema Hari Raya yang bersangkutan termasuk masa Adven dan masa Prapaskah yang mempunyai bacaan khusus.

  Bacaan kedua bertujuan untuk mewartakan iman akan Yesus Kristus dan berfungsi untuk mempersiapkan umat masuk pada puncak perayaan sabda yaitu bacaan injil, maka diharapkan dapat mendengarkan dengan baik dan mengikuti seluruh proses perayaan agar mampu menemukan Tuhan yang sedang berbicara lewat sabda-Nya (Lukasik, 1991: 39).

  Bacaan kedua tidak langsung diikuti dengan bait pengantar injil tetapi umat diberi kesempatan untuk hening sejenak dimana dalam dalam Misale Romawi cukup ditegaskan bahwa: Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenung. Oleh karena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan harus sungguh dihindari. Selama Liturgi Sabda, sangat cocok disisipkan saat hening. Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa (PUMR: 56). 4)

  Bait pengantar Injil Bait pengantar injil sebagai persiapan untuk mendengarkan bacaan injil yang akan diwartakan. Bait pengantar injil dipakai untuk mengiringi perarakan injil ke mimbar dan bermakna untuk mengungkapkan pujian atas kemuliaan Kristus yang akan hadir dan berbicara melalui injil yang dibacakan oleh imam.

  Maka hendaknya seluruh umat yang hadir ikut berperan aktif dalam menyanyikan bait pengantar injil dengan sikap berdir sebagai tanda kesiapsediaan untuk menyambut Tuhan Yesus yang akan bersabda dalam bacaan Injil.

  5) Bacaan Injil

  Bacaan injil merupakan puncak Liturgi Sabda, maka dihormati dengan berbagai sikap liturgis seperti: umat berdiri, ada pengantar salam, tanda salib kecil pada dahi-mulut-dada dan dibacakan oleh Imam. Dalam Misale Romanum dikatakan bahwa: bacaan injil lebih mulia daripada bacaan-bacaan lain (PUMR,:47). Pembacaan injil menunjuk pada realitas sebagai orang beriman, dimana saat pembacaan injil Tuhan Yesus hadir dan bersabda kepada seluruh umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi.

  Pada semua hari minggu dan hari raya selalu ada tiga bacaan misa: bacaan pertama dari Perjanjian Lama, yang kedua dari Perjanjian Baru dan yang ketiga Injil. Tujuannya agar semua umat beriman dapat mendengarkan bacaan Kitab Suci secara keseluruhanya. Maka untuk hari minggu dan hari raya bacaan misa dibagikan menurut tahun A, B, dan C. Tahun A bacaan diambil dari Injil Matius, Tahun B diambil dari Injil Markus, dan Tahun C diambil dari Injil Lukas. Injil Yohanes digunakan untuk minggu-minggu terakhir Masa Prapaskah dan Paskah ( Martasudjita, 1998:70).

  6) Homili

  Homili berasal dari bahasa Yunani “homilia” yang mengandung arti; “percakapan” atau “komentar”. Homili merupakan pewartaan sabda Allah yang bertolak dari Kitab Suci, seorang Imam mengungkapkan atau mengsharingkan apa yang menjadi pengalaman pribadinya dan melihatnya dalam terang Kitab Suci. Dalam liturgi sabda homili, merupakan bagian penting. Konsili Vatikan ke

  II dalam SC 52 menegaskan bahwa: Homili sebagai Liturgi sendiri sangat dianjurkan. Disitu hendaknya sepanjang tahun liturgi diuraikan misteri-misteri iman dan kaidah-kaidah hidup Kristiani berdasarkan teks Kitab Suci. Oleh karena itu dalam perayaan Ekaristi hari minggu dan hari raya wajib yang dihadiri umat homili jangan ditiadakan, kecuali bila ada alasan yang berat. Homili dimaksudkan untuk mewartakan dan mendalami misteri iman yang sedang dirayakan dengan bertolak dari Kitab Suci. sehingga umat semakin diteguhkan dalam iman dan mengantar untuk masuk kepada misteri sabda dan Sakramen yang dirayakan. Serta mampu mendorong umat untuk berani diutus menemukan hubungan Sabda Allah dengan hidup konkretnya sehari-hari perlu diberi kesempatan untuk hening sehingga misteri iman itu sungguh diresapkan oleh setiap pribadi, seperti apa yang ditegaskan dalam Misale Romawi “Sangat tepat kalau sesudah homili diadakan saat hening sejenak“ (PUMR: 66). Maka homili akan menjadi sungguh Sabda Allah, Sabda yang hidup, yang bertujuan mengubah umat Allah menjadi umat yang suci, yang mencintai Allah dan bersedia mempersembahkan baik kurban Ekaristi maupun dirinya sendiri kepada Allah (Lukasik, 1991: 44).

  7) Syahadat atau Credo

  Setelah Imam selesai homili, imam mengajak seluruh umat untuk mendoakan doa “Aku percaya“ maksudnya adalah bahwa umat menanggapi dan menjawab sabda Allah dengan sikap iman. Kristus hadir dalam sabda-Nya, dan melalui sabda itulah umat dapat berjumpah dengan Allah maka dengan menyatakan pengakuan iman secara bersama-sama dapat saling memperkuat keyakinan yang sama akan Allah sebagai sumber kehidupan (Prier, 1988: 43).

  8) Doa Umat

  Doa umat merupakan bentuk pelaksanaan imamat umum seluruh umat beriman. Umat beriman berdoa bersama secara resmi bukan hanya untuk diri sendri dan kepentingan kelompok, melainkan untuk seluruh kepentingan gereja sejagat. Dalam SC 53 menyatakan; sesudah injil dan homili, terutama hari minggu dan hari raya wajib diadakan “doa umat” atau doa “kaum beriman”, supaya bersama dengan umat dipanjatkan doa-doa permohonan bagi Gereja kudus, bagi para pejabat pemerintah, bagi mereka yang sedang tertekan oleh pelbagai kebutuhan, dan bagi semua orang serta keselamatan seluruh dunia.

  c.

  Liturgi Ekaristi Liturgi Ekaristi merupakan pusat seluruh perayaan Ekaristi karena dalam

  Liturgi Ekaristi terdapat doa syukur agung yang yang menjadi pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi. Dalam PUMR 30 dan 78 mengatakan: tanpa adanya Liturgi Ekaristi, dalam suatu perayaan tidak bisa disebut perayaan Ekaristi, justru dalam liturgi Ekaristi inilah terletak kekhasan dan keagungan perayaan Ekaristi.

  Liturgi Ekaristi bertolak dari perayaan perjamuan malam terakhir yang diadakan Yesus bersama para murid-Nya dimana Yesus berpesan “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku“ ( Luk 22: 19). Sehingga perayaan Ekaristi yang dirayakan pada setiap hari minggu merupakan perayaan peringatan akan kebersamaan Yesus dengan para Murid-Nya pada peristiwa kamis putih.

  1) Persiapan persembahan

  Perjamuan Tuhan perlu disiapkan. Dalam persiapan persembahan yang mengawali Liturgi Ekaristi bahan-bahan; roti, anggur dan air yang dibawa ke altar. Bahan-bahan ini pula yang digunakan oleh Yesus saat Ia menetapkan Ekaristi pada perjamuan malam terakhir (Martasudjita, 2005: 151).

  Dalam mempersiapkan bahan persembahan roti dan anggur yang diantar ke hadapan altar Tuhan, hendaknya seluruh umat mengikuti upacara dengan sikap hati siap ikut mempersembahkan seluruh hidup ke hadapan Tuhan dan “ bersedia untuk diubah bersama dengan roti dan anggur” (Lukasik, 1991: 58). Sebagai syarat untuk ikut dalam perjamuan Tuhan.

  Namun perlu diingat bahwa persembahan yang sesungguhnya adalah “ kurban Kristus sendiri di atas kayu salib, yang hanya terjadi satu kali namun dibaharui secara terus menerus dalam setiap perayaan Ekaristi. Umat manusia yang ikut dalam kurban Kristus turut mengalami pembaharuan secara terus menerus di dalam hidup beriman (Prier, 1978: 50).

a) Kolekte.

  Pada hari minggu diadakan pula kolekte namun tujuannya tidak sama dengan persembahan roti dan anggur, uang kolekte dimaksudkan sebagai sumbangan untuk orang miskin atau untuk keperluan gereja. Maka kolekte tidak diletakkan di atas altar melainkan pada suatu tempat yang pantas (PUMR, 730.

  Kolekte bukanlah hal yang utama atau terpenting dalam persembahan, hanya dimaksudkan agar umat menyadari tanggungjawabnya sebagai warga Gereja yang ikut terlibat dalam pembangun Gereja secara fisik.

  b) Doa persembahan

  Doa persembahan mengungkapkan permohonan kepada Allah Bapa untuk menyatukan bahan-bahan persembahan dengan kurban Syukur Yesus Kristus dan pernyataan keinginan umat untuk mengambil bagian dalam kurban Ekaristi.

  2) Doa Syukur Agung (I - X )

  Doa syukur agung adalah pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi, seluruh misteri karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui peristiwa Yesus Kristus yang berpuncak dalam kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya yang dirayakan oleh Gereja. Dalam PUMR 78 dijelaskan bahwa:

  Pusat dan puncak seluruh perayaan sekarang dimulai yakni doa syukur agung, suatu doa syukur dan pengudusan. Imam mengajak jemaat untuk mengarahkan hati kepada Tuhan dengan berdoa dan bersyukur. Dengan demikian, seluruh umat yang hadir diikutsertakan dalam doa ini. Ini disampaikan oleh imam atas nama umat kepada Allah Bapa, dalam Roh Kudus, dengan pengantaraan Yesus Kristus. Adapun maksud doa ini ialah agar seluruh umat beriman menggabungkan diri dengan Kristus dalam memuji karya Allah yang agung dan dalam mempersembahkan kurban (PUMR, 78: 54).

  Doa syukur Agung pertama-tama adalah doa pujian dan syukur kepada Allah Bapa yang telah melaksanakan karya penyelamatan-Nya melalui Yesus Kristus Putra-Nya dalam Roh Kudus, seluruh umat dibawah bimbingan Roh Kudus dan dengan perantaraan Kristus menyampaikan pujian, syukur, dan permohonan. Bersyukur atas kebaikan Allah yang telah menyelamatkan umat- Nya melalui penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib. Meski demikian dalam doa syukur agung ini, Bapa menjadi pusat segala doa yang dilambungkan oleh seluruh umat beriman yang sedang merayakan Ekaristi. Umat beriman berkumpul dalam perayaan Ekaristi untuk memuji dan bersyukur atas segala berkat dan karunia yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari terlebih atas keselamatan yang diterima dari Allah sendiri. Bentuk syukur itu tampak dalam seluruh warna dan suasana syukur yang dimulai sejak dari awal doa syukur agung hingga akhir. Pada awal Imam mengundang seluruh umat untuk bersyukur kepada Allah.

  Dalam dialog sebelum prefasi sebagai awal doa syukur Agung, imam mengajak seluruh umat yang hadir untuk mempersiapkan diri “Tuhan sertamu“ atau “Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan“ . di dalam doa prefasi ini mengungkapkan atau mewartakan keagungan kasih Allah yang menyelamatkan manusia melalui Kristus (Martasudjita, 2005: 170).

  a) Prefasi

  “Prefatio” dalam bahasa Latin berarti “pendahuluan”, persiapan untuk sesuatu yang akan menyusul. Terutama kesadaran yang harus dipersiapkan untuk menyadari apa yang akan terjadi di atas meja altar. Prefasi adalah doa atau bagian yang mengawali Doa Syukur Agung. Doa prefasi mengungkapkan sesuatu motivasi yang dikonkritkan menurut hari Raya, pesta orang kudus, masa khusus dsb. Prefasi selalu berakhir dengan ajakan untuk menggabungkan syukur dengan nyanyian malaikat dan orang kudus di Surga.

  b) Kudus

  Kudus merupakan suatu aklamasi atau seruan umat. Dalam PUMR 79b mengatakan: “Seluruh jemaat, berpadu dengan para penghuni surga, melagukan kudus dalam memuliakan Allah” (PUMR, 2002: 55). Imam bersama seluruh umat mengungkapkan kudus dengan menggunakan kata-kata para serafim dalam pengelihatan nabi Yesaya: “Kudus-kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya”( Yes,6:3) “terberkatilah yang datang dalam nama Tuhan” (Mzm, 118:26) Kudus atau suci mengungkapkan sifat Allah. Allah itu kudus berarti lain dari segala sesuatu yang ada di dunia ini, memiliki kepenuhan hidup.

  c) Doa sebelum Konsekrasi / Epiklesis

  Doa Epiklesi adalah doa memohon turunnya Roh Kudus. “Gereja memohon kuasa Roh Kudus, dan berdoa supaya bahan persembahan yang disampaikan oleh umat dikuduskan menjadi Tubuh dan Darah Kristus; juga kurban murni itu menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang akan menyambutnya dalam komuni“ (PUMR: 79c).

  Dengan memohon Roh Kudus supaya persembahan roti dan anggur dapat diubah menjadi tubuh dan darah Kristus sebagai persembahan diri Kristus , dan juga ke atas umat beriman yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, dapat diubah, disucikan dan dipersatukan dengan persembahan diri Kristus dan mempersatukan mereka juga sebagai umat beriman (Lukasik, 1991: 69).

  d) Konsekrasi

  Konsekrasi adalah saat penting dalam perayaan Ekaristi, karena pada saat itulah karya keselamatan Kristus dihadirkan secara sakramental. Konsekrasi merupakan pokok doa syukur agung, dalam perayaan Ekaristi terjadilah peristiwa perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus yaitu pada saat “konsekrasi”, dengan peristiwa perubahan itu, tidak hanya roti dan anggur yang berubah menjadi tubuh dan darah Kristus tetapi juga semua orang yang ikut makan dalam perjamuan Ekaristi. Diselamatkan karena Kristus menyerahkan diri- Nya menjadi makanan dan minuman rohani (Lukasik, 1991: 82).

  Doa syukur agung sebagai puncak dari seluruh perayaan Ekaristi nampak jelas dikatakan dalam PUMR: Dalam bagian ini kata-kata dan tindakan Kristus sendiri diulang, dan dengan demikian dilangsungkan kurban yang diadakan oleh Kristus sendiri dalam perjamuan malam terkahir. Di situ Kristus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur, dan memberikannya kepada para rasul untuk dimakan dan diminum, lalu mengamanatkan kepada mereka e) Anamnesis

  Anamnesis adalah bagian pokok dari Doa Syukur Agung. Kata anamnesis artinya: ”kenangan atau peringatan” mengenangkan dan menyertakan karya keselamatan yang dilaksanakan Tuhan, sehingga seluruh peristiwa penyelamatan yang dulu dikerjakan Tuhan sungguh hadir dan dialami oleh seluruh Gereja ( Ernest, 2008: 134).

  Gereja memenuhi amanat Kristus Tuhan yang disampaikan melalui para rasul, pada peristiwa perjamuan malam terakhir “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku!” Maka Gereja mengenangkan Kristus, terutama sengsara- Nya yang menyelamatkan, kebangkitan-Nya yang mulia dan kenaikan-Nya ke Surga (PUMR: 79e).

  f) Doa sesudah Konsekrasi

  Doa sesudah konsekrasi dalam doa syukur agung dimaksudkan untuk mendoakan kepentingan seluruh Gereja yang kudus, baik para pemimpin Gereja, seluruh umat yang berkumpul, maupun seluruh anggota Gereja baik mereka yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Makna doa pada bagian ini sangat jelas seperti apa yang telah dikatakan dalam PUMR:

  Dalam permohonan-permohonan ini, tampak nyata bahwa Ekaristi dirayakan dalam persekutuan dengan seluruh Gereja, baik yang ada di surga maupun yang ada di bumi; dan juga jelas bahwa kurban Ekaristi diadakan bagi kesejahteraan seluruh Gereja dan semua anggotanya, baik yang hidup maupun yang telah mati, karena semuanya dipanggil untuk mengenyam hasil penebusan dan keselamatan yang diperoleh lewat Tubuh dan darah Kristus (PUMR, 79g).

  Tujuannya untuk mengungkapkan kesatuan umat beriman yang sedang merayakan peristiwa keselamatan dalam perayaan Ekaristi. Berdoa bagi Gereja, bagi para Gembala, bagi umat yang hadir dan bagi arwah juga para kudus, dengan harapan agar seluruh umat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal tetap bersatu. (Ernest, 2008: 150).

  g) Doksologi

  Kata Yunani doxa berarti Kemuliaan, dan logos berarti ungkapan jadi dalam doksologi, imam atas nama umat menyampaikan pujian dan hormat dari seluruh umat kepada Bapa, melalui Yesus Kristus, Putra-Nya dalam Roh Kudus. Doa pujian ini merangkum puji-pujian dan syukur yang sudah disampaikan dalam seluruh doa syukur agung. Imam mengangkat Tubuh dan darah Kristus dalam rupa roti dan anggur dengan mengucapkan kata-kata: “Dengan perantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan, sepanjang segala masa“ dan umat menjawab “Amin” ( Ernest, 2008: 152).

  3) Komuni

  a) Bapa Kami

  Doa “Bapa kami” termasuk dalam ritus persiapan perjamuan Tuhan atau komuni. Dalam PUMR menyatakan: “Dalam doa Tuhan, Bapa Kami, umat beriman memohon rezeki sehari-hari. Bagi umat kristen rezeki sehari-hari ini terutama adalah roti Ekaristi. Imam mengajak jemaat untuk berdoa, dan seluruh umat beriman membawakan doa Bapa Kami bersama-sama dengan imam“ (PUMR, 81).

  Dalam doa Bapa Kami bagian pertama adalah kepentingan Allah yang menjadi fokus perhatian, dalam bagian kedua kepentingan manusia, termasuk doa untuk rejeki pada hari ini” pengampunan dosa’ sebagai syarat untuk mendekati Allah, perlindungan terhadap godaan dan pembaharuan terhadap yang jahat sebagai persiapan untuk menyambut Kristus dalam komuni.

  b) Doa Damai (Salam damai)

  Lewat doa damai, Gereja memohon damai dan kesatuan bagi Gereja itu sendiri serta seluruh umat manusia, “Damai-Ku Kutinggalkan bagimu. Damai-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh,14: 27). Damai diungkapkan dengan melihat keadaan hidup umat manusia yang hidup rukun dengan alam, dengan sesama dan dengan Allah sendiri sehingga dengan suasana hati yang damai, tenang umat beriman dapat menyatukan diri dengan Tuhan dan sesama dengan saling mengungkapkan atau memberi salam damai kepada sesama sebelum menyambut tubuh dan darah Kristus (Ernest, 2008: 163).

  c) Pemecahan Roti - lagu Anak Domba Allah

  Ritus pemecahan roti banyak menggunakan simbol. Sebagaimana dibuat Yesus dalam perjamuan malam terakhir, sebelum dibagikan-bagikan roti suci itu dipecah-pecahkan agar bisa diterima dan disantap oleh umat beriman karena roti yang digunakan berukuran besar.

  Dalam PUMR menyatakan: “Di zaman para rasul perayaan Ekaristi disebut pemecahan roti, sebab kegiatan pemecahan roti itu melambangkan dengan jelas dan nyata, bahwa semua bersatu dalam roti yang sama. Selain itu, dilambangkan juga cinta persaudaraan, sebab roti yang satu dan sama itu dipecah-pecahkan dan dibagikan di antara saudara-saudara seiman” (PUMR, 2002: 321).

  Dengan pemecahan roti dan makan dari roti yang satu dan sama itu melambangkan kesatuan umat dengan Kristus sendiri seperti apa kata St. Paulus “Bukankah roti yang dipecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu“ (1 Kor 10: 16-17).

  Dengan pemecahan roti yang dilakukan oleh Yesus bersama para murid-Nya pada peristiwa malam terakhir melambangkan kesatuan umat beriman dengan Kristus sendiri yang dirayakan dalam perayaan Ekaristi. Maka pemecahan roti diiringi dengan nyanyian atau doa “ Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia”.

  Sebelum memasuki komuni, imam dan umat mengadakan doa persiapan komuni dalam hati untuk mengenangkan penebusan Yesus Kristus serta mohon berkat Tuhan agar berkat Tubuh dan Darah Kristus dianugerahkan pembebasan dari kejahatan dan kesetiaan pada perintah Tuhan, sehingga dengan penerimaan komuni umat ikut disatukan dalam perjamuan surgawi (Martasudjita, 2005: 206).

  d) Penerimaan Komuni

  Komuni merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari doa syukur agung dimana dalam komuni umat dipersatukan dengan Kristus sendiri melalui perjamuan Ekaristi “Siapa yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia“ ( Yoh 6: 56 ). Kesatuan dan persatuan umat beriman dengan Kristus terjadi dalam perayaan Ekaristi dengan menyantap Tubuh dan darah Kristus dalam rupa roti dan anggur. Penerimaan komuni merupakan saat umat mengalami kesatuan dan persatuan dengan Tuhan sendiri, sehingga makna dari persatuan dan kesatuan umat dengan Kristus tidak hanya menyambut tubuh dan darah Kristus tetapi juga dengan berpartisipasi dalam seluruh karya penebusan Kristus yang dikenangkan dalam doa syukur Agung (Martasudjita, 2005: 198).

  Komuni umat merupakan saat yang suci, penting dan agung. Melalui komuni, umat berpartisipasi dalam peristiwa penebusan Kristus yang dikenangkan dalam doa syukur Agung. Ikut berpartisipasi itu diungkapkan dengan menjawab “Amin“ pada waktu menyambut komuni. Seluruh hati dan pikiran tertuju kepada Allah yang telah merelakan diri-Nya untuk menjadi makanan dan minuman rohani.

  e) Saat Hening-Madah Syukur sesudah Komuni

  Setelah penerimaan komuni selesai, sebaiknya umat diberi kesempatan untuk hening yang cukup sehingga mempunyai waktu dan suasana yang tenang untuk berdoa secara pribadi. Suasana yang serba terisi dengan musik dan nyanyian, terkadang tidak mendukung umat untuk masuk dalam keheningan meskipun keheningan sendiri tidak pertama-pertama ditentukan oleh suasana yang sunyi. Dalam PUMR juga ditegaskan bahwa “sesudah pembagian Tubuh dan Darah Kristus selesai, sebaiknya imam dan umat berdoa sejenak dalam keheningan” namun PUMR juga menegaskan lebih lanjut bahwa “bisa dilagukan madah syukur atau nyanyian, pujian, atau didoakan mazmur, oleh seluruh jemaat” (PUMR, 88).

  Sesudah komuni umat diberikan kesempatan beberapa menit untuk hening. Inilah saat permenungan, suatu saat doa tanpa kata. Dimana umat membiarkan Allah berbicara dalam diri sesuai dengan kehendak-Nya. Maka saat-saat semacam ini, umat belajar untuk mendengarkan Allah di dalam keheningan sehingga mampu untuk melakukan apa yang dihendaki oleh Allah (Ernest, 2008: 189).

  f) Doa Sesudah Komuni

  Doa sesudah komuni merupakan doa yang menutup atau mengakhiri seluruh rangkaian Perayaan Ekaristi yang didoakan oleh imam. Isi doa sesudah komuni mengungkapkan rasa syukur atas rahmat Allah yang telah rayakan, diterima dan dialami dalam perayaan Ekaristi dan sekaligus memohon berkat untuk semakin bertekun dalam tugas perutusan serta diperkenankan menikmati perjamuan surgawi (Martasudjita, 2005: 211).

  d.

  Ritus Penutup Ritus penutup berfungsi untuk mengakhiri seluruh rangkaian perayaan

  Ekaristi dan sekaligus mengantar umat beriman untuk kembali kepada perjuangan hidup sehari-hari dan menjalankan tugas perutusan di tengah dunia. Inti ritus penutup antara lain: berkat penutup dan perutusan namun sebelum menerima berkat penutup disampaikan pengumuman.

  1) Pengumuman

  Sebelum berkat dan pengutusan, dibacakan pengumuman. Mengenai apa yang disampaikan dalam pengumuman merupakan perantara antara perayaan Ekaristi dan kehidupan umat sehari-hari sesudah mereka merayakan Ekaristi. Dan hendaknya apa yang disampaikan dalam pengumuman itu singkat dan jelas sehingga tidak terlalu banyak menghabiskan waktu.

  2) Berkat Penutup

  Pada bagian berkat penutup imam memberkati seluruh umat beriman yang hadir dalam perayaan Ekaristi sehingga dengan menerima berkat, umat dianugrahi kesatuan hidup melalui persekutuan dengan Allah Tritunggal sebagai sumber dan tujuan seluruh hidup manusia dan alam semesta sehingga dengan berkat Tuhan memungkinkan umat mampu melaksanakan tugas perutusan seperti apa yang diterima dalam Ekaristi kudus.

  3) Pengutusan

  Pada bagian pengutusan imam mengutus seluruh umat dengan ungkapan “Pergilah kalian diutus“ atau “Marilah pergi kita diutus“ umat menjawab “Amin“ atau “syukur kepada Allah“ dengan jawaban itu, umat siap untuk melakukan tugas perutusan yang diterima dari Allah sendiri.

  4) Lagu penutup

  Setelah pengutusan, imam mencium altar sebagai tanda penghormatan kepada Kristus yang hadir dalam perayaan Ekaristi, dengan diringi lagu penutup untuk menghantar imam dan para petugas lainnya keluar dari panti imam.

B. Penelitian tentang Peranan Ekaristi dalam meningkatkan hidup rohani para suster Putri Reinha Rosari.

  Pokok permasalahan yang mau diangkat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemahaman para suster akan peranan Ekaristi dalam kehidupan sebagai perayaan keselamatan. Dari pengalaman pribadi maupun kebersamaan sebagai anggota kongregasi penulis melihat dan mengalami bahwa kesadaran akan pentingnya perayaan Ekaristi sebagai perayaan keselamatan maupun sebagai kekuatan rohani dalam hidup masih mengalami berbagai macam kesulitan, terkadang perayaan Ekaristi dianggap sebagai rutinitas atau kewajiban.

  Merayakan Ekaristi berarti merayakan syukur atas karya keselamatan Allah, yang terjadi dalam wafat dan kebangkitan Kristus selain itu Ekaristi juga dipahami sebagai kenangan akan perjamuan Terakhir yang diadakan Yesus bersama para murid-Nya(Prasetiya, 2006:160). Maka sebagai orang beriman maupun sebagai pribadi yang terpanggil diharapkan mampu memahami perayaan Ekaristi sebagai perayaan keselamatan. Yesus telah menyerahkan hidup-Nya menjadi makanan melalui tubuh dan darah-Nya demi keselamatan umat manusia

  Pada bagian ini penulis mengadakan suatu penelitian tentang peranan Ekaristi bagi perkembangan hidup para suster PRR khususnya di wilayah Jawa.

  Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pemahaman para suster akan peranan Ekaristi demi meningkatkan hidup rohani. Dengan penelitian ini, penulis mengetahui pemahaman para suster tentang peranan Ekaristi dalam kehidupan setiap hari, maka penulis bersama para suster dapat bekerjasama menemukan permasalahan atau hambatan yang dialami sehingga dapat menemukan suatu upaya pembinaan yang dapat membantu para suster dalam peningkatan hidup rohani sebagai religius melalui persatuan dengan Kristus sendiri yang hadir dalam perayaan Ekaristi.

  1. Tujuan Penelitian.

  a. Untuk mengetahui bagaimana pemahaman para suster tentang arti dan makna perayaan Ekaristi? b. Untuk mengetahui langkah-langkah yang perlu diusahakan dalam mencapai kematangan hidup rohani? c. Untuk mengetahui seberapa besar usaha yang dilakukan para suster dalam meningkatkan hidup rohaninya?

  2. Rumusan Permasalahan Adapun rumusan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Bagaimana pemahaman para suster tentang arti dan makna perayaan

  Ekaristi?

  b. Langkah-langkah manakah yang perlu diusahakan dalam mencapai kematangan hidup rohani? c. Seberapa besar usaha yang dilakukan para suster dalam meningkatkan hidup rohaninya?

  3. Metode Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis yakni dengan penelitian melalui wawancara dengan panduan beberapa pertanyaan penuntun 4. Instrumen Penelitian.

  Instrumen sebagai alat pengumpulan data yang harus dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data empiris apa adanya (Sudjana & Ibrahim, 2004:97). Dalam penelitian ini penulis menggunakan instrumen wawancara dengan maksud untuk mendapatkan informasi secara langsung kepada responden yang diwawancarai yaitu para suster PRR 5. Tempat dan Waktu Penelitian.

  a. Tempat.

  Penelitian ini dilaksanakan di Komunitas Yogyakarta dan Komunitas Cimanggis Jakarta. Khususnya para suster yang berkarya di Wilayah Jawa.

  b. Waktu.

  Penelitian dilaksanakan pada tangggal 13 Mei 2009 di Komunitas Yogyakarta dan tanggal 22 Mei 2009 di Komunitas Cimanggis.

  6. Responden Penelitian Yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah para suster PRR yang berkarya di Wilayah Jawa. Untuk menentukan responden penelitian perlu diketahui terlebih dahulu perbedaan populasi atau sampel. Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki sedangkan sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari populasi (Sutrisno,2000:182).

  Jumlah suster yang berkarya di Wilayah Jawa ada 109 suster (Katalog PRR, 2010) Untuk jumlah responden yang diwawancarai ditentukan 30 suster dengan pertimbangan bahwa data yang didapat dari responden dianggap telah memadai maka jumlah responden dibatasi pada jumlah tersebut. Pengambilan sample menggunakan teknik purposive sampling ( sample bertujuan) karena berorentasi pada prinsip kualitas atau kecukupan informasi dan data 7. Variabel yang diteliti.

  Ada dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini yakni: Peranan Ekaristi dan hidup rohani. Menurut Sudjana, Variabel adalah ciri atau karakteristik dari individu, obyek, peristiwa yang nilainya berubah-ubah (Sudjana:11). Variabel merupakan suatu dimensi konsep yang dapat diukur yang mempunyai nilai atau lebih (Dapiyanta, 2004:29) Variabel yang dikaji dalam penelitian ini mengenai peranan Ekaristi demi meningkatkan hidup rohani bagi para suster PRR.

  Tabel 1 Variabel penelitian peranan Ekaristi dalam meningkatkan hidup rohani para suster PRR di Wilayah Jawa (N=30)

  No Variabel No. Soal Jumlah

  1 Peranan Ekaristi 1,2,3,5,6,7,8

  7 2 Hidup Rohani 4,9,10,11,12.

  5 Jumlah 12

  8. Laporan dan pembahasan hasil penelitian Pada bagian ini dibahas laporan hasil penelitian dan pembahasan yang akan disajikan secara berurutan dengan bertitik tolak pada tabel 1 a). Responden

  Jumlah responden yang diwawancarai ada 15 suster yang sudah berkaul dan 15 suster yang berkaul sementara sehingga jumlah secara keseluruhan ada 30 suster.

  Tabel 2: Identitas Responden (N=30) Keterangan Jumlah Prosentasi

  Suster yang berkaul kekal 15 100% Suster yang berkaul sementara 15 100%

  Jumlah 30 100% Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah total responden yang diwawancarai ada 30 suster. Suster yang sudah berkaul kekal berjumlah 15 suster

  (100%), sedangkan suster yang berkaul sementara ada 15 suster (100%).

  Dalam proses pelaksanaan, ada 18 responden yang diwawancarai di komunitas Yogyakarta dan ada 12 responden yang diwawancarai di Komunitas b). Pemahaman para suster akan Peranan Ekaristi.

  Untuk mengetahui bagaimana pemahaman para suster akan peranan Ekaristi maka pada bagian tabel 3, penulis melaporkan jawaban responden dari hasil penelitian yang sudah dirangkum.

  Tabel 3: Peranan Ekaristi ( N=30) No Pernyataan Alternatif jawaban Jumlah %

  (1) (2) (3) (4)

  1. Yang mendorong Suster 12 39,99%

  • Sebagai kebutuhan untuk selalu mengikuti pokok.

  perayaan Ekaristi. 10 33,33%

  • Sebagai kekuatan rohani.
  • Terkadang 24 79,99% dianggap sebagai suatu rutinitas atau kewajiban.

  2. Makna perayaan Ekaristi 25 83,33%

  • Mampu dan tabah bagi hidup Suster menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup
  • Menyadari kehadiran

  Allah yang nyata 15 49,99% dalam hidup bersama dengan orang lain 21 69,99%

  • Sebagai kekuatan dalam menjalani
tugas pelayanan.

  3. Suasana perayaan Ekaristi 15 49,99%

  • Cukup hikmat yang dalam Komunitas Suster.

  didahului dengan persiapan diri, tata ruang, lagu-lagu.

  9 29,99%

  • Cukup hening dan sacral.

  4. Suasana perayaan Ekaristi 25 83,33%

  • Cukup membantu dalam Komunitas membantu namun perlu

  Suster untuk berkembang diusahakan secara dalam hidup rohani terus-menerus.

  Mengapa

  • Karena suasana yang tenang, dapat membantu untuk berkonsentrasi dengan baik

  5. Keterlibatan dalam perayaan 6 19,99%

  • Aktif dalam doa Ekaristi komunitas, baik itu dan nyanyian dalam mengungkapkan doa-
  • Terlibat dalam doa 11 36,66% doa secara spontan maupun spontan keterlibatan dalam nyanyian

  3 9,99%

  • Sebagai lektor

6. Cara mewujudkan sikap 12 39,99% • Makan bersama.

  persatuan dalam 12 39,99%

  • Rekreasi, merasul kebersamaan di komunitas.
  • Menyelesaikan

  • Menghargai, mendengarkan, saling melayani, mengasihi, memaafkan
  • Hadir dalam acara- acara kebersamaan
  • Membahagiakan sesama pada hari ulang tahunnya.
  • Saling mendoakan.

  23

  30 86,66%

  26

  a. Dari dalam diri

  8. Hambatan-hambatan yang dialami dalam mengikuti perayaan Ekaristi

  26 76,66% 79,99% 86,66%

  24

  7. Pernah merasa jenuh dalam mengikuti perayaan Ekaristi

  39,99% 23,33% 33,33% 19,99%

  6 6,66%

  10

  7

  12

  2

  persoalan secara bersama

  • Terkadang merasa jenuh, mengantuk, tidak ada persiapan
  • Beban tugas yang terlalu berat membuat tidak konsentrasi
  • Dirasa sebagai suatu rutinitas/ kewajiban.
  • Beban tugas terlalu berat
  • Dirasa sebagai suatu rutinitas
  • Kurang menghadirkan diri

  100% sepenuhnya dalam 20 66,66% perayaan Ekaristi

  • Mudah reaksi kalau ada 8 26,66% kekeliruan dalam perayaan.
  • Kurang bertahan pada sikap liturgy 5 16,66% yang baik.
  • Terkadang dikejar-kejar 10 33,33% waktu b.Dari luar diri.
  • Rasa bosan bila suster tidak punya 15 49,99% persiapan liturgy yang baik.
  • Pemahaman tentang pengetahuan 26 86,66% liturgi sangat kurang.
  • Budaya instan 24 79,99% mulai merasuki kehidupan sehingga 26 86,66% ketahanan dalam ber-Ekaristi semakin melemah.
Hasil penelitian tentang peranan Ekaristi berdasarkan tabel 3 di atas bahwa dari 30 responden item 1, ada 12 responden yang menyatakan bahwa mengikuti perayaan Ekaristi sebagai kebutuhan pokok (39,99%). Ada 10 responden yang menyatakan Ekaristi sebagai kekuatan rohani. Dan ada 24 responden yang menyatakan bahwa mengikuti perayaan Ekaristi terkadang hanya sebagai rutinitas atau kewajiban.

  Pada item 2, cukup banyak responden yakni 25 suster (83,33%) yang menyatakan bahwa makna perayaan Ekaristi memampukan dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup, 15 responden (49,99%) menyatakan bahwa Ekaristi dapat membantu menyadari kehadiran Allah yang nyata dalam hidup bersama dengan orang lain, dan 21 responden (69,99%) menyatakan bahwa makna Ekaristi sebagai kekuatan dalam menjalani tugas pelayanan.

  Tabel 4: Hidup Rohani ( N=30) No Pertanyaan Alternatif jawaban Jumlah % (1) (2) (3) (4)

  4. Suasana perayaan

  • Cukup membantu Ekaristi dalam namun perlu

  25 83,33% Komunitas membantu diusahakan secara Suster untuk terus-menerus. berkembang dalam Mengapa hidup rohani sebagai

  • Karena suasana yang seorang religius PRR tenang, dapat membantu untuk berkonsentrasi dengan baik

  9. Usaha Suster dalam a.

  Diri sendiri. mengatasi hambatan-

  • Menyiapkan diri hambatan

  6 19,99% dengan berdoa, dan hening 5 16,66%

  • Berusaha mengikuti perayaan Ekaristi walaupun ada perasaan jenuh.

  4 13,33%

  • Membangun kesadaran dalam diri.

  4 13,33%

  • Membuat intensi pribadi.

  b.

  Dari luar.

  11 36,66%

  • Mengajak petugas liturgy untuk selalu menyiapkan diri dengan baik.

  10. Usaha-usaha yang

  • Selalu mengarahkan dilakukan agar suasana anggota untuk 3 9,99% perayaan Ekaristi menyiapkan liturgy dalam komunitas bisa dengan baik.

  membantu 7 23,33%

  • Melatih lagu-lagu mengembangkan hidup misa.

  rohani

  • Pengolahan hidup 5 16,66% secara terus menerus.

  11. Selain perayaan 30 100%

  • Brevir, rosario Ekaristi, cara-cara lain
  • Meditasi/Kontemplasi
yang membantu dalam 12 39,99%

  • Sharing bersama mengembangkan hidup
  • Bacaan rohani, jalan 11 36,66% rohani salib.

  7 23,33%

  • Setia menerima 15 49,99% sakramen tobat.

  12. Usul saran bagi 23 76,66%

  • Perlu pendalaman anggota Kongregasi tentang pengetahuan agar suasana perayaan liturgi Ekaristi Ekaristi dalam

  20 66,66%

  • Bacaan, lagu-lagu Komunitas semakin misa dan doa bermakna bagi permohonan, serta perkembangan hidup kapela supaya rohani disiapkan.

  Berdasarkan tabel 4 di atas, pada item no 4 dari 30 responden, ada 25 suster (83,33%) yang menyatakan bahwa suasana perayaan Ekaristi cukup membantu namun perlu diusahakan secara terus menerus sehingga pada item 12 ada 23 responden (76,66%) yang mengusulkan perlunya pendalaman tentang pengetahuan liturgi Ekaristi bagi setiap anggota dan 20 responden (66,66%) menyatakan perlu persiapan, baik itu bacaan, lagu-lagu, doa permohonan, maupun kapela untuk membantu suasana sakralnya perayaan Ekaristi.

C. Peningkatan Hidup Rohani Melalui Perayaan Ekaristi

  Hidup rohani merupakan salah satu aspek kehidupan manusia karena hidup Sebagai orang kristen perlulah menyadari bahwa dari waktu ke waktu kehidupan rohani harus bertumbuh, semakin lama semakin mencapai kesempurnaan karena hidup rohani merupakan suatu proses yang diperjuangkan secara terus menerus. Sehubungan dengan kebutuhan hidup rohani maka para suster PRR diajak untuk semakin memiliki kedewasaan hidup rohani sebagai seorang religius PRR yang dewasa dan matang dalam iman. Maka melalui perayaan Ekaristi yang dirayakan setiap hari baik itu dalam komunitas maupun bersama umat di gereja sungguh membawa pembaharuan dalam diri setiap anggota yang mengarah kepada kedewasaan hidup maka persatuan dengan Kristus dalam perayaan Ekaristi mampu membentuk pribadi matang dalam hidup rohani ( Nouwen, 2008:158).

  Sebagai seorang religius PRR yang terpanggil secara khusus demi pelayanan karya misi Gereja di tengah dunia, perlu memiliki kerohanian yang kuat dan berakar pada kesatuan dengan Allah sendiri melalui perayaan Ekaristi. Maka untuk mencapai itu para suster diharapkan berani membuka diri untuk menerima rahmat Allah melalui perayaan Ekaristi untuk dimampukan dalam hidup sebagai seorang religius. Perayaan Ekaristi sebagai puncak dari seluruh kehidupan umat beriman juga menjadi puncak kehidupan rohani para Suster, dengan kekuatan rohani itu, para suster semakin mampu memahami bahwa bersatu dengan Kristus dalam komuni kudus memberi kekuatan baru untuk bisa menjalani kehidupan harian (Konstitusi PRR: 173)

  Hidup rohani adalah hidup yang pada dasarnya merupakan dialog terus menerus antara Allah dengan manusia secara pribadi. Suatu dialog akan terjadi bila kedua belah pihak saling menanggapi terutama dari pihak manusia, karena bagi Allah walaupun manusia tidak mengindahkan kehadiran-Nya, Dia tetap setia menanti tanggapan dari manusia. Maka dalam hal ini sangat membutuhkan tanggapan, kemauan dan niat dari manusia itu sendiri untuk selalu berdialog dengan Tuhan (Darminta, 2007: 9). Menanggapi kehadiran Allah melalui dialog merupakan awal kedekatan manusia dengan Allah, dimana di dalamnya terjalin relasi yang mendalam sehingga iman akan Yesus Kristus semakin berkembang.

  Hidup rohani dapat dikatakan sebagai hidup yang dikomunikasikan dengan Allah, tetapi lebih dilihat dari segi kegiatan-kegiatan rohani yang dilakukan setiap hari dalam perjalanan hidup umat beriman.

1. Hidup Doa

  Doa pada dasarnya berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri sebagai anak Allah dan mengakui Allah sebagai Bapa.

  Doa pertama-tama adalah suatu pernyataan iman di hadapan Allah maka doa tidak pernah dilepaskan dari kehidupan sehari-hari dan dari hidup bersama dengan orang lain (Iman Katolik, 1996: 194). Para suster Putri Reinha Rosari sebagai orang religius mempunyai tradisi doa dan jadwal doa, maka diharapkan untuk setia dalam kehidupan doanya sebagai seorang religius.

  Doa merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Yesus telah menunjukkan suatu teladan doa yang baik, dimana dalam kesibukkan apapun Yesus berusaha meluangkan waktu untuk berdoa memohon kekuatan dari Bapa-Nya entah itu pada malam hari setelah bekerja keras seharian (Mat 14: 23) maupun pagi-pagi sekali sebelum fajar menyingsing, Yesus bangun dan mencari tempat yang sunyi untuk berdoa (Mrk 1: 35). Doa selain untuk menjalin relasi pribadi yang mesra dengan Bapa, juga mengawali setiap saat penting di dalam kehidupan Yesus seperti: ketika permulaan karya-Nya di depan umum setelah pembaptisan di sungai Yordan, sebelum memilih kedua belas murid-Nya, waktu perubahan rupa di atas gunung (Luk 3:21, 6:21, 9:29, 11:1). Yesus berdoa untuk para murid, khususnya untuk Petrus sebelum menghadapi pencobaan besar; ketika di taman Getsemani dalam kegelisahan-Nya, Yesus mengajak para murid-Nya berdoa dan berjaga-jaga. Nampak dalam doa Bapa kami yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya, “Bapa kami yang ada di Surga” Para murid diajak mengarahkan diri dan berseru kepada Bapa mereka satu-satunya (Mat 23: 9) dengan menyebut Allah sebagai Bapa Abba, Yesus mau menunjukkan adanya hubungan yang amat dekat, akrab dan khas antara diri-Nya dengan Allah (Iman Katolik, 1996: 202).

  Dalam perayaan Ekaristi didahului dengan ungkapan awal “atas petunjuk penyelamat kita maka beranilah kita berdoa” dengan mengajarkan doa ini kepada para murid, Yesus mengundang mereka masuk ke dalam hubungan dengan Allah yang sama, dengan menyapa Allah sebagai Bapa, para murid menyatakan keyakinan dan harapan mereka bahwa Bapa selalu memberikan perhatian penuh kepada anak-anak-Nya (Iman Katolik, 1996: 203).

  Bagi Yesus doa merupakan prioritas, walaupun sesungguhnya dalam seluruh kehidupan Yesus sudah bersatu secara terus menerus dengan Bapa-Nya tetapi Yesus tetap memberikan waktu-Nya untuk berdoa. Maka para suster PRR pun diajak untuk meneladani semangat doa Yesus sendiri untuk semakin bersatu dengan Yesus dalam seluruh kehidupan sebagai seorang religius. Para suster berusaha memberi waktu, tetap setia dan tekun di dalam doa, apabila mengalami kekeringan, itu merupakan tanda baik, karena Tuhan ingin membawa orang untuk masuk ke dalam doa yang lebih dalam. Maka kesetiaan serta ketekunan dalam hidup doa sangat dibutuhkan, sebagai seorang yang terpanggil, para suster diharapkan untuk tekun dan setia dalam hidup doa, bersatu dengan Kristus sendiri dalam perayaan Ekaristi karena Kristuslah yang menjadi kekuatan dan memampukan para suster untuk tetap bertahan dalam hidup sebagai seorang religius.

  Sikap doa keheningan batin, terbuka, jujur di hadapan Tuhan, kejernihan budi dan pikiran mendalami sabda-Nya, kesetiaan dalam doa-doa harian walaupun kadang tidak mengalami sesuatu yang “istimewa“ dalam berdoa. Namun doa sebagai tempat mempersembahkan diri kepada Allah dan berkomunikasi dengan-Nya, bercakap-cakap dengan-Nya, walaupun penuh dengan kelemahan dan dosa, merasa tidak sempurna, beban tugas yang dipercayakan oleh Kongregasi, namun tetap percaya bahwa Tuhan selalu mendampingi. Itu sebabnya doa adalah soal iman dan kesetiaan untuk selalu percaya bahwa Tuhan dekat dan selalu mendamping dalam setiap peristiwa hidup.

  Dalam hidup nyata perjumpaan dengan Tuhan dalam diri sesama dan dalam setiap peristiwa hidup serta kesibukan karya pelayanan sebagaimana para suster bertemu dengan Tuhan dalam perayaan Ekaristi, sabda, doa serta meditasi. Pertemuan ini merupakan tantangan yang terus menerus membawa kepada pertobatan dan pembaharuan sikap hidup. Kedekatan dengan Allah membawa kegembiraan dalam hidup dan memungkinkan mengikuti Dia melalui salib-salib dan derita hidup setiap hari. Menjadi serupa dengan Dia dalam pengosongan diri bahkan dalam kematian-Nya, dan melalui kekuatan kebangkitan-Nya masuk dalam kemuliaan-Nya (Konstitusi PRR, 1987: 171).

  Setiap pribadi mempunyai usaha dan perjuangannya masing-masing dalam membina relasi dengan Tuhan dan sesama namun akan semakin lebih baik kalau pribadi itu sendiri semakin memperkaya diri dengan beberapa sumber pokok yang dapat membantu mengolah dan memperkembangkan hidup rohaninya (Darminta, 2007: 8), beberapa sumber pokok antara lain seperti: a.

  Pengalaman pribadi seseorang Pengalaman pribadi seseorang dianggap penting karena merupakan pengalaman hidup rohani yang konkrit yang secara langsung bisa diolah dan dipahami oleh manusia itu sendiri. Dari pengalaman itulah seseorang bisa melihat dan mengolah hidupnya sehingga hidup rohani baru bisa berarti dan dapat dirasakan bila itu sungguh merupakan pengalaman rohani. Orang baru dapat merasakan apa makna kontemplasi, bila dipraktekan cara kontemplasi itu, dari usaha itulah orang baru dapat mengerti dan merasakan makna kesukaran- kesukaran hidup rohani yang harus diperjuangkan untuk dapat menuju pada kesempurnaan hidup (Darminta, 2007: 14).

  b.

  Kitab suci Ketekunan seseorang membaca dan merenungkan bacaan kitab Suci akan sangat membantu untuk bisa menemukan kekayaan imannya. Para suster dapat menemukan pengalaman-pengalaman rohani yang patut dipercaya dan diteladani, seperti pengalaman para nabi dan terlebih dalam Kitab Suci perjanjian baru dapat diikuti dan direnungkan teladan dan semangat hidup Yesus, Bunda Maria dan orang-orang kudus lainnya. Kitab suci merupakan sabda Allah yang mengundang siapa saja khusunya para suster untuk dapat berdialog dengan Tuhan, dengan demikian dialog itu mampu membangkitkan semangat rohani untuk selalu berelasi dengan Tuhan yang adalah tujuan hidup sebagai umat beriman (Kis 1: 1; Yoh, 3:21) hidup rohani lahir dari perjumpaan antara Allah, yang mengkomunikasikan hidup-Nya kepada manusia dan manusia secara aktif menerima tawaran Allah itu sendiri (Darminta, 2007: 17).

  Konstitusi Kongregasi menegaskan bahwa “Hendaknya para suster menggunakan cukup waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci karena dengan merenungkan Kitab Suci para suster mempersilahkan sabda Tuhan membentuk hati dan hidup untuk semakin bersatu dengan Allah sendiri (Konstitusi PRR, 1987: 176.1). Dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci para suster mampu membuka hati untuk karya Roh Kudus yang membantu untuk meresapkan sabda Allah, merenungkan dan menjadikan itu sebagai milik sehingga mampu mewartakan sabda Allah itu kepada sesama.

  c.

  Bacaan Rohani Bacaan rohani juga merupakan salah satu sumber hidup rohani. Tulisan- tulisan dalam bacaan rohani sangat inspiratif dan menarik baik itu pengalaman yang dialami oleh pengarang sendiri maupun pengalaman orang lain yang membantu untuk memperkembangkan hidup rohaninya (Darminta, 2007: 19).

  Banyak orang yang mempunyai pengalaman rohani mendalam menuliskan pengalamannya itu di dalam sebuah karangan atau sebuah buku. Oleh sebab itu banyak buku sungguh bermutu menyimpan pengalaman-pengalaman rohani yang sangat berharga. Orang dapat belajar banyak karena bacaan-bacaan banyak mengandung nilai pendidikan, bacaan dapat dipakai oleh roh kudus untuk menyalurkan bimbingannya, sehingga dengan banyak membaca para suster semakin terbantu untuk menata kehidupan rohani agar semakin lebih baik. (Harjawiyata, 1978: 82).

  d.

  Doa rosario Sebagai Kongregasi religius yang berasal dari iman umat para suster menyatu dengan Bunda Maria dalam devosi doa rosario sebagai Kharisma dan spiritualitas Kongregasi. Menyatu dengan Bunda Maria secara terus menerus merenungkan hidup dan perutusan Yesus bersama Bunda Maria, para suster semakin berani mewartakan Yesus dengan mendoakan doa rosario setiap hari seturut tradisi Gereja. Seperti apa yang dikatakan dalam kitab hukum kanonik bahwa “Memelihara devosi khusus kepada Santa perawan Bunda Allah, teladan dan pelindung segenap hidup Bakti dengan berdoa rosario (KHK, 662.4).

  Kongregasi PRR menghayati dan menempatkan rosario sebagai doa dan pengembangan hidup rohani. Dengan berdoa rosario para suster dihantar kepada ke kedalaman iman seperti Bunda Maria. Bersama Maria para suster terus menerus merenungkan misteri hidup Yesus dan memuliakan Allah dalam nama Yesus Kristus Putra-Nya. Dengan terus menerus berdoa rosario sambil merenungkan hidup Yesus maka para suster memiliki sikap kontemplasi seperti Maria yang senantiasa menyatu dengan Putra-Nya dalam tugas perutusannya sebagai Bunda Gereja..

  Paus Yohanes Paulus II dalam Ecclesia De Eusharistia menegaskan bahwa “ Maria adalah “Wanita Ekaristi” dalam seluruh hidupnya (EE:52). Dalam Ekaristi, Gereja bersama dengan Kristus dan kurban-Nya mengenangkan semangat Maria “Jiwaku memuliakan Tuhan“ sebagaimana madah Maria ini pertama dan utama adalah madah pujian dan Syukur. Inilah sikap Ekaristi sejati yang ditampilkan Maria melalui Madah Magnificatnya “jiwaku memuliakan Tuhan dan Rohku bersukacita dalam Tuhan juruselamatku”. Maria telah mengandung Yesus dalam rahim, Maria memuliakan Tuhan lewat Yesus dan juga memuji Tuhan dalam dan bersama Yesus (EE, 57).

  Konstitusi Kongregasi menegaskan bahwa devosi kepada Santa Perawan Maria sebagai tokoh yang terlibat dalam sejarah keselamatan dunia, menolong para suster untuk memahami misteri penyelamatan dunia. Maka sangat dianjurkan para suster disetiap komunitas menghidupkan kebaktian kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario baik secara bersama dalam komunitas maupun pribadi dan juga bersama umat (Konstitusi PRR, 1987: 175. 1). Dengan ketekunan serta kesetiaan memelihara devosi kepada Bunda Maria semakin memampukan setiap anggota untuk tekun dan setia memelihara hidup rohani bersama Bunda Maria. e.

  Ibadat Harian/Brevir Doa Offisi atau ibadat harian merupakan doa wajib sebagai seorang religius sesuai dengan ketentuan yang ada dalam KHK 1174, Maka para suster seharusnya mendoakan pada pagi dan sore hari. Karena doa-doa mazmur adalah doa Kristus dan Gereja, maka dengan berkumpul bersama sebagai komunitas diharapkan untuk mendoakan doa ofisi, Laudes dan vesperae setiap hari.

  Tujuan dari ibadat harian adalah pengudusan seluruh hari. Maka pembagian waktu ibadat hendaknya ditata kembali sedemikian rupa sehingga ibadat-ibadat sedapat mungkin dilaksanakan pada saat yang tepat, sekaligus juga diperhitungkan situasi hidup zaman sekarang, terutama bagi mereka yang bertekun menjalankan karya-karya kerasulan (SC, 88).

  f.

  Adorasi Ekaristi Adorasi atau pujian kepada Sakramen Mahakudus merupakan praktek devosi sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus. Pentakhtaan Sakramen

  Mahakudus muncul dalam hubungannya dengan kerinduan umat beriman untuk memandang Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus (Martasudjita, 2005: 424).

  Tujuan dari adorasi kepada Sakramen Mahakudus ialah sembah sujud kepada Tuhan Yesus Kristus yang hadir dalam Ekaristi dan sekaligus untuk menyatukan hati dengan Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus (ES, 82). Akan tetapi harus disadari bahwa puncak kesatuan dengan Tuhan yang hadir dalam Ekaristi itu pertama-tama terjadi dalam komuni kudus saat perayaan Ekaristi. “ Bilamana kaum beriman menghormati Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, hendaknya mereka ingat bahwa kehadiran itu bersumber pada kurban Ekaristi, dan terarah kepada persekutuan baik Sakramental maupun spirit” (ES, 80).

  Dalam Ecclesia De Eucharistia mengungkapkan bahwa “Sembah sujud Sakramen Mahakudus telah menjadi praktek harian yang penting dan menjadi sumber kesucian” (EE, 10). Dan “penghormatan terhadap Ekaristi di luar Misa adalah harta yang tak ternilai untuk hidup Gereja, kehadiran Kristus dalam Kurban Ekaristi dalam rupa roti suci di simpan sesudah Misa adalah kehadiran yang bertahan selama terdapat rupa roti dan anggur” (EE,25).

  Adorasi Ekaristi disetiap Komunitas mendapat perhatian cukup baik oleh setiap anggota komunitas. Dimana komunitas menyiapkan waktu khusus untuk berdoa adorasi, sehingga para suster diajak untuk menggunakan kesempatan ini dalam suasana hening berada di depan Sakramen Maha Kudus berdoa secara pribadi maupun bersama. Dalam doa adorasi ini memungkinkan para suster mengalami pertumbuhan rohani dan semakin beriman secara lebih mendalam maka dalam suasana hening bersama Yesus yang hadir dalam Sakramen Maha Kudus, para suster dapat semakin bertumbuh dalam kehidupan rohani sebagai seorang religius PRR.

2. Hidup Berkomunitas

  Komunitas PRR adalah komunitas religius yang bersifat apostolis dimana anggota bertumbuh dan berkembang dalam iman, harap dan kasih. Dalam hidup berkomunitas perlu membangun relasi yang benar dalam arti bukan sekedar saling menyenangkan melainkan relasi saling menumbuhkan dan saling memberi peluang bagi setiap anggota untuk dapat berkembang. Para suster hidup dalam saling ketergantungan, saling melayani, dan saling membantu. Manusia diciptakan dengan saling membantu dan puncak dari bantuan itu adalah Ekaristi: Yesus membagi dirinya demi keselamatan umat manusia, dan dalam perayaan Ekaristi seluruh umat dipersatukan dalam perayaan Ekaristi dan melalui perayaan Ekaristi itulah Yesus membagi diri-Nya untuk menjadi makanan dan minuman rohani bagi umat manusia, model itulah yang diharapkan untuk dikembangkan dalam hidup bersama. Para suster yang disatukan Tuhan, diharapkan saling membantu dalam hidup bersama dan menguatkan satu sama lain. Maka dibutuhkan kerelaan berbagi, berbagi dalam kehidupan yang biasa, dan dalam hidup rohani yang mendalam. Maka para suster yang disatukan dalam sebuah komunitas, juga diharapkan mampu membagi diri, memberi diri, mempersembahkan diri demi kebahagiaan sesama yang hidup bersama dalam komunitas (Suparno, 2007: 15).

  Anjuran apostolis tentang hidup bakti bagi para religius, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa: “Hidup bersaudara dalam arti hidup bersama dalam cinta kasih merupakan lambang yang jelas bagi persekutuan gerejani” (VC, 42).

  Bapa suci menegaskan pula bahwa “Hidup bersaudara memainkan peranan yang mendasar dalam perjalanan rohani para anggota hidup bakti, baik demi pembaharuan mereka terus menerus maupun untuk sepenuhnya menjalankan misi mereka dalam masyarakat” (VC, 45).

  Konstitusi Kongregasi menegaskan pula bahwa komunitas pertama-tama harus sungguh merupakan komunitas iman dengan ikatan hidup komunitas yang paling utama ialah cinta kasih Kristus (Konstitusi PRR, 1987: 155). Hidup dalam cinta persaudaraan, saling menghargai, melayani satu sama lain akan memampukan setiap pribadi atau anggota untuk berkembang dalam hidup dan panggilannya sebagai seorang religius terutama dipupuk cinta persaudaraan dan persatuan dalam komunitas. Persatuan dalam komunitas berpangkal pada kehendak Bapa yang mengumpulkan para suster untuk menjalani hidup bersama dalam komunitas dan memampukan setiap anggota untuk melaksanakan kehendak Bapa dalam kesaksian hidup setiap hari.

  Konsili Vatikan ke II dalam perfectae Caritatis menegaskan pula bahwa jemaat perdana, ketika golongan kaum beriman hidup sehati dan sejiwa (Kis,4: 2) hendaknya kehidupan bersama bertekun dalam ajaran Injil, dalam liturgi suci dan terutama dalam perayaan Ekaristi, dalam doa serta persekutuan semangat hidup yang sama ( PC: 15). Maka ikatan persaudaraan itu menjadi kuat dan bertahan, dibutuhkan ketekunan para suster untuk setia dalam kehidupan doa dan bersatu dengan Kristus sendiri melalui perayaan Ekaristi komunitas

  Setiap anggota sebagai seorang religius dipanggil untuk hidup bersama dalam sebuah komunitas yang anggota-anggotanya berasal dari berbagai daerah dan kebudayaan disatukan dalam sebuah komunitas kecil untuk menciptakan suasana persaudaraan sebagai religius PRR. Maka untuk menciptakan suasana persaudaraan, diharapkan adanya kesatuan hati dalam komunitas. Beberapa hal yang mendukung suasana kebersamaan itu, antara lain: a.

  Makan bersama Perayaan Ekaristi dalam komunitas maupun bersama seluruh umat di

  Gereja menjadi sarana pertemuan rohani yang sangat istimewa dalam kehidupan para suster. Perayaan Ekaristi dalam komunitas merupakan saat-saat penting dimana para suster selalu bersatu dengan Tuhan sendiri sebagai sumber kekuatan dalam menciptakan kebersamaan sebagai saudara dan saudari dalam komunitas.

  Maka perayaan Ekaristi yang sungguh dipersiapkan dengan baik akan memberikan kesan mendalam bagi setiap anggota.

  Komunitas para rasul ditandai dengan makan bersama nampak pada peristiwa Kamis Putih, Yesus bersama para murid-Nya menciptakan suasana persaudaraan, kesatuan sebagai pribadi yang terpanggil dengan makan bersama. Dengan suasana persaudaraan dalam makan bersama para murid disanggupkan untuk melaksanakan perintah Baru yaitu saling mengasihi. “makan bersama adalah tanda persahabatan dan cinta yang menghidupkan rasa komunitas” (Konstitusi PRR, 9187:164.1). Kebersamaan dalam makan bersama di komunitas akan sangat terkesan dan menggembirakan, ketika anggotanya saling berbagi pengalaman dan mengungkapkan apa yang menjadi perjuangan serta pergulatan dalam hidupnya, saling mendengarkan dan saling memberi perhatian dengan melayani satu sama lain. Peristiwa semacam inilah yang memungkinkan para suster mampu menciptakan sebuah komunitas religius yang sungguh membantu setiap anggota merasa memiliki komunitas dan orang-orang yang hidup bersama dalam komunitas. “Lihatlah betapa baik dan senangnya tinggal bersama sebagai saudara“ (Mzm, 133). b.

  Pertemuan Komunitas Pertemuan komunitas merupakan saat yang tepat untuk membicarakan hal- hal penting dalam kehidupan bersama. Saat di mana setiap anggota merasa dilibatkan untuk berbagi tanggungjawab dan peranan dalam mengambil keputusan. Pertemuan komunitas sebagai sesuatu yang menyangkut perkembangan komunitas dan anggotanya dalam bentuk evaluasi bersama atau koreksi persaudaraan.

  Dalam pertemuan komunitas ini para suster dapat saling memberikan nasihat atau usulan untuk perbaikan bersama, mengadakan dialog bersama antar anggota. Maka sebagai komunitas religius, para suster berusaha menciptakan kebersamaan melalui pertemuan komunitas agar anggota-anggota merasa memiliki komunitasnya dan semakin akrab satu terhadap yang lain sebagai sesama saudara yang terpanggil.

  c.

  Sharing bersama.

  Hidup bersama dalam komunitas akan sangat membantu setiap pribadi untuk berkembang jika adanya sharing bersama saling membagikan pengalaman satu dengan yang lain. Berbagai pengalaman suka, duka, kegagalan, kekecewaan dan keberhasilan dalam karya pelayanan, bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap pribadi, sehingga dengan itu semua anggota merasa diperkaya oleh karena belajar dari pengalaman hidup sesama yang lain.

  Sharing bersama akan pengalaman hidup rohani merupakan kekayaan iman, Kekayaan rohani sangat memperkaya hidup orang lain juga akan semakin menyuburkan diri sendiri. Sharing pengalaman rohani dapat diberikan lewat sharing Kitab Suci, Sharing Konstitusi Kongregasi, sharing waktu doa, mendoakan sesama lewat doa-doa permohonan, melalui acara-acara kebersamaan semacam ini dapat memberikan peneguhan dan hiburan rohani sesama yang lain (Riyanto, 2008: 101).

  Konstitusi Kongregasi juga menegaskan bahwa setiap komunitas perlu mengadakan sharing pengalaman tentang hidup dan karya serta pergulatan hidup kebersamaan dari masing-masing anggota sehingga dengan itu bisa saling memberikan peneguhan serta pembaharuan hidup secara bersama sebagai suatu komunitas beriman (Konstitusi PRR, 1987: 179.1).

  d.

  Pengakuan dosa.

  Ketika Yesus memulai karya-Nya dengan mewartakan kabar gembira tentang kedatangan kerajaan Allah, membuat banyak orang bertobat dan percaya (Mrk,1:15). Demikian pun para suster memerlukan rahmat tobat secara terus- menerus, agar hidupnya semakin dimurnikan dalam cinta Allah sendiri. Melalui Sakramen tobat, orang mengalami belas kasihan Allah dan cinta Allah Bapa melalui Yesus Kristus yang memberikan pengampunan dan damai serta memulihkan kembali hubungan dengan Allah yang sempat terputus oleh karena dosa dan kelemahan manusiawi.

  Konstitusi Kongregasi menegaskan bahwa meskipun setiap anggota bertanggungjawab atas perkembangan hidup rohaninya, “pemimpin komunitas mempunyai tanggungjawab khusus terhadap kehidupan rohani komunitas bila perlu ia dibantu seorang pembimbing rohani yaitu Bapa pengakuan yang tetap untuk membantu kerohanian para suster” (Kongregasi PRR, 173:1).

  e. Meditasi dan refleksi.

  Hendaknya para suster mengadakan meditasi pada pagi hari dan refleksi pada sore hari. Dalam pemeriksaan bathin dan refleksi setiap hari, para suster diharapkan untuk berefleksi tentang kehdupan dan panggilan, menyadari kelemahan dan menghidupkan dalam diri semangat tobat serta kemauan untuk memperbaiki diri (Konstitusi,179).

3. Hidup Karya Karya adalah tempat dimana para suster bertemu dengan Tuhan dan sesama.

  Maka sangat penting dalam karya kerasulan bukan kerja itu sendiri melainkan bagaimana memberikan kesaksian akan kebaikan Allah, dan bagaimana membawa Kristus kepada sesama yang dilayani lewat jenis karya tertentu yang ditangani setiap anggota Kongregasi (Konstitusi PRR, 1987: 113.4).

  Hidup para suster bukan pertama-tama pekerjaan yang dilakukan setiap hari akan tetapi hubungan batin dengan Allah Tritunggal Maha kudus yang terpancar dalam pelayanan sehingga mereka yang dilayani mengalami kehadiran Allah dan bertemu dengan Allah yang menyelamatkan.

  Karya merupakan sarana kesatuan dengan Kristus sendiri maka untuk mencapai hal ini para suster harus memiliki sikap kontemplasi dalam aksi sehingga dengan pelayanan itu para suster mampu menemukan Allah dalam diri orang-orang yang dilayani. Seluruh kegiatan karya kerasulan dan perjumpaan dengan siapa saja perlu adanya sikap penyerahan diri dalam cinta akan Allah dan sesama maka melalui sabda dan Sakramen Ekaristi yang diterima para suster dikuatkan dan mampu bekerja ke arah kesatuan yang sempurna dengan Allah di mana Allah menjadi segala-galanya dalam tugas pelayanan (Konstitusi, 1989: 107).

  Semangat kerasulan Yesus hendaknya menjadi milik para anggota Kongregasi dalam pelayanan karya kerasulan, Yesus walaupun sibuk dengan segala tugas pelayanan-Nya Yesus tetap mencari kesempatan untuk berdoa membina kesatuan dengan Bapa-Nya, maka dibutuhkan suatu kesadaran yang tinggi bahwa pengabdian yang dijalankan merupakan sarana untuk berkontak dan bersatu dengan Tuhan. Dengan pengabdian itu para suster semakin bertumbuh sebagai manusia pendoa, manusia bagi sesama dan sebagai manusia utusan Allah sendiri (Mrk 1: 21-39). Para suster perlu melihat bahwa karya yang dijalankan sebagai sumbangan bagi kesuburan kerajaan Allah sehingga dengan pengabdian yang total kepada Allah mampu merasul melalui pekerjaan apa saja yang dipercayakan oleh Kongregasi.

  Kesatuan dengan Kristus melalui perayaan Ekaristi merupakan inti hidup Kristiani dan menjadi pokok dan dasar hidup religius. “Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku“(Yoh, 6: 38). Ekaristi tidak berakhir pada saat komunitas yang berkumpul menyanyikan ayat terakhir dari lagu penutup misa tetapi komunitas Ekaristi diutus untuk membawa Ekaristi altar ke dalam Ekaristi dunia dengan kesaksian dan pelayanan (Osborne, 2008: 194).

  Maka dengan berakhirnya perayaan Ekaristi yang ditandai dengan sebuah perutusan “Pergilah kita diutus” seperti para rasul, masing-masing mereka pergi sesudah perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, begitu juga para suster setelah mengalami perayaan keselamatan dalam Ekaristi, dengan penuh kesadaran bahwa saat-saat yang dialami bersama dengan Kristus mengingatkan kepada mereka akan kewajiban dan tanggungjawab yang sama. Tanggungjawab itu harus nampak dalam hidup, karya dan terutama dalam tugas mempersatukan (2 Kor 5:19) dan bersatu erat dengan Kristus sendiri (Lukasik, 1991: 124).

4. Hidup Kaul

  Kaul adalah suatu persembahan diri atau suatu komitmen seumur hidup untuk hidup bagi kepentingan kerajaan Allah. Sesuatu yang membedakan awam dengan religius ialah bahwa religius mempersembahkan diri kepada Tuhan, dengan cara mengikrarkan kaul kebiaraan untuk hidup menurut nasihat-nasihat Injil secara radikal. Hidup kaul itu dihayati sebagai karisma demi pelayanan kerajaan Allah. Dengan kaul sebagai seorang religius para suster mau memfokuskan diri pada jalan hidup Yesus dalam mewujudkan misi-Nya karena bagi Yesus itu adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup (Yoh 1: 1-14).

  Paus Yohanes Paulus ke II dalam Vita Consecrata menegaskan bahwa anggota hidup bakti akan menjadi misionaris terutama dengan tiada hentinya memperdalam kesadarannya dipanggil dan dipilih oleh Allah. Oleh karena itu hendaknya ia mengarahkan dan mempersembahkan seluruh hidup dan apa yang ada padanya kepada Allah, dan membebaskan diri dari hambatan-hambatan yang menghalangi keutuhan jawabannya. Begitulah ia akan menjadi tanda Kristus yang sejati di dunia (VC, 25).

  Para suster PRR adalah orang-orang yang dipanggil secara khusus untuk membaktikan diri demi pelayanan kerajaan Allah serta kemuliaan Tuhan, maka para suster hidup dalam ikatan kaul-kaul kebiaraan melalui penghayatan ketiga nasihat Injil. Kaul-kaul religius sebagai bentuk penyerahan yang total kepada Allah berdasar dan berakar pada kesetiaan, cinta, kerahiman dan kemurahan Allah yang menumbuhkan dalam iman, harap dan kasih.

  Dengan ketiga nasihat Injil yaitu kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan para suster melepaskan diri dari ikatan cinta yang terbatas pada manusia tertentu, ikatan harta, ikatan kehendak pribadi. Para suster PRR dipanggil kepada suatu hidup yang penuh pengabdian dalam cinta yang tak terbatas, mengarahkan seluruh hidup kepada Allah, kepada pelaksanaan tugas Gereja, dan memberi kesaksian tentang kemuliaan Allah (Konstitusi PRR, 1987: 118).

  Kitab Hukum Kanonik menyatakan bahwa “hidup yang dibaktikan dengan pengikraran nasihat-nasihat injili adalah bentuk kehidupan tetap dimana orang beriman dengan mengikuti Kristus secara lebih dekat atas dorongan Roh kudus, dipersembahkan secara utuh kepada Allah yang paling dicintai, agar demi kehormatan bagi-Nya dan demi pembangunan Gereja serta keselamatan dunia mereka dilengkapi dengan alasan baru dan khusus, mengejar kesempurnaan cinta kasih dalam pelayanan kerajaan Allah dan sebagai tanda unggul dalam Gereja mewartakan kemuliaan surgawi“ (KHK, 573.1).

  Maka melalui ikatan kaul-kaul kebiaraan, para suster mewajibkan diri untuk hidup menurut ke tiga nasihat injil, mengabdikan diri seutuhnya kepada Allah yang dicintainya. Nasihat-nasihat injil mendorong para suster untuk bertumbuh dalam hidup rohani maka dengan pengikraran ketiga nasihat injili para suster hendaknya dengan sungguh-sungguh berusaha supaya hidup dan bertahan serta berusaha maju dalam panggilan yang diterima dari Allah sendiri.

D. Tantangan-tantangan Dalam Mengikuti Perayaan Ekaristi

1. Tantangan dari dalam diri

  Perayaan Ekaristi sebagai puncak dari seluruh kehidupan doa para suster terkadang mengalami banyak tantangan, seperti yang sudah diungkapkan pada bagian pendahuluan bahwa perkembangan dunia saat sekarang sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang sampai kepada penghayatan akan makna perayaan Ekaristi sebagai perayaan keselamatan, dimana Yesus telah memberikan diri-Nya untuk menjadi makanan dan minuman rohani lewat tubuh dan darah-Nya yang disambut dalam perayaan Ekaristi.

  Pengalaman para suster dari hasil wawancara menyatakan bahwa terkadang mengalami kejenuhan, rasa bosan dengan tuntutan karya yang terlalu berat, kesibukan study yang cukup menyita banyak waktu, banyaknya tugas yang harus diselesaikan sehingga terkadang perayaan Ekaristi dianggap sebagai rutinitas, tidak mengherankan saat merayakan Ekaristi terjadi kejenuhan, kemalasan. Para suster dengan terbuka mengungkapkan apa yang menjadi kesulitan dan tantangan mereka dalam mengikuti perayaan Ekaristi, walaupun tidak merasakan sesuatu tetapi bahwa ada kerinduan untuk terus-menerus mengikuti perayaan Ekaristi.

  Dengan kesibukan karya yang cukup menyita banyak waktu, para suster kurang mempunyai kesempatan untuk mendalami secara pribadi pengetahuan tentang liturgi Ekaristi. Dengan pemahaman yang baik dan benar akan sangat membantu seseorang untuk semakin menghayati hidupnya namun dalam kenyataannya apa yang dialami oleh para suster, hal itu cukup mempengaruhi kehidupan harian mereka. Disini kesadaran pribadi sangat dibutuhkan untuk belajar memahami liturgi yang baik dan benar.

2. Tantangan dari luar diri

  Tantangan dan pergulatan hidup yang dialami oleh setiap anggota ketika mengikuti perayaan Ekaristi dari hasil wawancara adalah merasa terganggu karena petugas liturgi tidak mempunyai persiapan yang baik sehingga banyak menimbulkan kekeliruan, seorang imam yang memimpin perayaan Ekaristi kurang adanya persiapan sehingga tidak mampu membawakan kotbah dengan baik, terkadang liturgi tidak disiapkan dengan baik, para suster yang bertugas kurang kreatif dalam memilih lagu-lagu perayaan Ekaristi sehingga mempunyai kesan bahwa lagu yang sama saja. Bahkan Para suster sedang mengikuti perayaan Ekaristi, namun pikiran dan hati sibuk dengan berbagai macam hal yang kurang mendukung seperti tidak berkosentrasi dalam mengikuti perayaan sehingga hati dan pikiran tertutup akan sapaan Tuhan melalui sabda-Nya. Dan juga tantangan yang cukup berpengaruh dimana para suster kurang mempunyai kesempatan untuk mendalami pengetahuan mereka tentang liturgi Ekaristi, seperti kegiatan rohani dalam komunitas: rekoleksi atau sharing komunitas kurang mendapat perhatian sehingga pemahaman atau pengetahuan mengenai liturgi Ekaristi menjadi sangat lemah. Tantangan-tantangan ini cukup berpengaruh dalam kehidupan para suster

  Dengan melihat hal-hal semacam ini banyak anggota menganjurkan agar para suster sungguh mempersiapkan diri, baik persiapan bathin maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan perayaan Ekaristi agar suasana perayaan mampu menghantar umat untuk semakin dekat dengan Tuhan sendiri.

  Konsili Vatikan II menegaskan bahwa umat beriman perlu menghadiri Liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang diucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya maka para gembala rohani memperhatikan dengan saksama supaya dalam kegiatan Liturgi jangan hanya dipatuhi hukum-hukumnya untuk merayakannya secara sah dan halal, melainkan supaya umat beriman ikut merayakannya dengan sadar, aktif dan penuh makna (SC, 11). Maka Persiapan hati antara pemimpin perayaan Ekaristi dan seluruh umat yang hadir sungguh diharapkan sehingga perayaan Ekaristi itu sungguh bermakna dalam kehidupan teristimewa agar melalui perayaan Ekaristi para suster dan seluruh umat semakin bersatu mesra dengan Tuhan sendiri.

  Munculnya budaya instan yang mengakibatkan para suster tidak bertahan dalam mengikuti perayaan Ekaristi, bertekun dalam doa, dalam mati raga, dan dalam mengatasi kejenuhan hidup serta lemahnya daya juang dalam menghadapi rutinitas hidup berkomunitas. Dalam pergulatan hidup semacam ini para suster diajak untuk berani memikul salib hidup seperti Yesus sendiri. Relasi dengan Tuhan tidak dapat dilakukan secara instan tetapi perlu diusahakan secara terus- menerus dengan sikap ketabahan, keberanian mengatasi kejenuhan atau kebosanan dalam hidup (Suparno, 2007: 141). Dalam peristiwa percobaan di padang gurun, Yesus sendiri digoda iblis untuk mengubah batu menjadi roti.

  Yesus digoda untuk melakukan tindakan instan dalam membuat makanan. Tetapi Yesus tidak mau melakukan itu. Bagi Yesus, untuk dapat makan, orang harus bekerja, bukan membuat mujizat bagi dirinya sendiri. Yesus menunjukkan suatu sikap keterbukaan untuk berani menghadapi situasi hidup yang menantang, kiranya para suster dalam pergulatan hidup, juga berani mengambil suatu sikap sehingga mampu bertahan dalam menghadapi pergulatan hidup.

E. Upaya-upaya Meningkatkan Hidup Rohani

  Pada dasarnya hidup rohani adalah mengambil bagian dalam hidup Allah Tritunggal sendiri, sehingga membentuk pribadi yang secitra dengan Yesus sendiri. Oleh ketekunan, ketabahan dan kesetiaan dalam menghidupi doa secara terus menerus, kesetiaan dalam merayakan peristiwa keselamatan melalui perayaan Ekaristi, para suster semakin masuk dalam hubungan mesra dengan Yesus dan Bapa. Dan dalam kemesrahan itu mampu mengasihi sesama seperti Bapa mengasihi umat manusia (Konstitusi PRR, 168).

  Jati diri hidup religius adalah hidup yang meneladani hidup Yesus yang bersatu erat dengan Bapa dan Roh Kudus dan sebagai utusan Bapa, Ia mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk melaksanakan kehendak Bapa dan rencana penyelamatan-Nya. Bunda Maria meneladani hidup Yesus secara sempurna maka para suster PRR sebagai Kongregasi yang berpelindungkan Maria mengenakan pola hidup Maria dalam perjuangan hidup setiap hari.

  Kekhasan kerohanian Maria ialah bahwa Maria menghayati keheningan sebagai spiritualitasnya dimana Bunda Maria terus menerus menghubungkan dirinya dengan Allah seperti Yesus Putra-Nya dan sebagai hamba Allah yang menyatukan diri dengan Allah dalam karya perutusan Yesus. Hubungan bathin yang terus menerus dengan Allah dan Roh Kudus memampukan Bunda Maria untuk membuka dirinya bagi karya keselamatan Allah dan membiarkan kuasa Allah terjadi dan tumbuh dalam dirinya sehingga penyelamatan manusia terwujud dalam diri Yesus.

  Perayaan Ekaristi menjadi puncak dari hidup doa para suster. Sedapat mungkin setiap anggota merayakan Ekaristi yang dipersembahkan oleh imam, karena Ekaristi itu mempunyai nilai mempersatukan maka para suster berani memiliki semangat korban dalam membagi hidup dengan orang lain. Perayaan Ekaristi sangat penting untuk membantu setiap anggota Kongregasi dalam meresapi kehadiran Allah dan berkembang dalam kesediaan membagi hidup dengan sesama dalam pelayanan setiap hari (Konstitusi PRR, 1987: 173). Maka seluruh hidup doa para suster berpola kepada sikap hidup doa Yesus. Kurban Ekaristi yang dilanjutkan dalam doa-doa komunitas dan pelayanannya menolong para suster untuk hidup dalam hubungan lebih dekat dengan Allah sendiri. Maka hendaknya para suster semakin terampil dan kreatif dalam mempersiapkan doa- doa komunitas, agar anggota dapat dibantu dalam perkembangan rohani selanjutnya.

  Ekaristi hendaknya dirayakan dengan penuh hormat dan bakti sebagai tanda syukur atas pemberian diri Yesus untuk menyelamatkan hidup para suster. Atas dasar ajaran Injil hendaknya para suster camkan dalam diri bahwa para suster perlu berdamai dengan Allah dan sesama untuk pantas merayakan Ekaristi.

  Hendaknya para suster juga mengambil bagian secara aktif dalam perayaan Ekaristi. Untuk itu hendaknya para suster merayakan dan menerima Ekaristi dengan hati yang suci, damai, dan tulus karena Yesus tinggal dan bersemayam dalam hati setiap anggota. Persiapan pribadi dan komunitas sangat diperlukan untuk merayakan Ekaristi secara baik karena merupakan moment yang penting untuk menghayati hidup Yesus yang berpuncak pada perayaan Ekaristi.

  Dalam konstitusi Kongregasi menegaskan bahwa: “Hendaknya para suster memperhatikan dan menekankan pentingnya persiapan hati yang baik untuk perayaan Ekaristi. Hendaknya trampil menyiapkan altar, segala peralatan ibadat harus istimewa, bersih dan indah serta sesuai dengan seni budaya dimana para suster berada” (Konstitusi,172.1). Dengan persiapan secara lahiria memungkinkan orang lain menemukan keindahan Tuhan yang hadir dalam perayaan Ekaristi maka dibutuh kesiapan baik dekorasinya maupun perlengkapan alat misa dan suasana hati yang tenang untuk menyambut kehadiran Kristus dalam Ekaristi kudus.

  Kongregasi menegaskan bahwa setiap anggota perlu adanya persiapan baik itu secara lahiria maupun yang kelihatan. Maka melalui perayaan Ekaristi yang dirayakan setiap hari para suster semakin mampu memperdalam hidupnya dalam Tuhan dan sesama serta menjadi sumber kekuatan dalam pelayanan kerasulan.

  Ketika mengadakan wawancara bersama para suster PRR yang juga menjadi keluhan hampir semua komunitas di Regio Jawa mengungkapkan hal yang sama bahwa perlu adanya persiapan setiap anggota dalam bertugas liturgi baik itu persiapan hati maupun mempersiapkan lagu-lagu, doa dan altar agar mampu menghantar seluruh umat yang mengikuti perayaan Ekaristi dengan baik. Para suster melihat bahwa dengan persiapan itu baik secara lahiria maupun yang kelihatan cukup berpengaruh dalam penghayati akan makna perayaan Ekaristi itu sendiri sehingga diharapkan masing-masing anggota perlu adanya persiapan yang baik.

  Kitab Hukum Kanonik Menegaskan hal yang sama bahwa “ Perayaan Ekaristi hendaknya diatur sedemikian rupa, agar semua yang ikut serta memetik hasil yang berlimpah; untuk memperoleh itulah Kristus Tuhan mengadakan kurban Ekaristi (KHK, 899.3).

  Pedoman Umum Misale Romanum juga menegaskan hal yang sama bahwa “tata ruang Gereja harus tetap mewujudkan kesatuan, supaya dengan demikian tampaklah kesatuan seluruh umat kudus. Penataan dan keindahan ruang serta semua perlengkapan Gereja hendaknya menunjang suasana doa dan menghantar umat kepada misteri-misteri kudus yang dirayakan (PUMR, 294).

  Untuk membantu para suster semakin mampu memahami dan memperdalam pengetahuannya tentang makna Ekaristi, maka komunitas- komunitas sangat diharapkan agar dalam sharing komunitas, rekoleksi bulanan atau retret tahunan bersama seluruh anggota Kongregasi membuat kesepakatan bersama tentang tema rekoleksi atau tema retret mengenai Ekaristi, dengan itu para suster mempunyai kesempatan untuk berrefleksi bersama, merenungkan dan mengolah pemahaman mereka tentang peranan Ekaristi sebagai kekuatan hidup rohani seorang religius, serta membuat evaluasi secara kritis mengenai misa harian sehingga seluruh anggota semakin memiliki kesadaran yang tinggi untuk ber-Ekaristi.

BAB IV PENUTUP Perayaan Ekaristi merupakan misteri kehadiran karya keselamatan Allah

  dalam diri Yesus Kristus. Misteri karya keselamatan Allah itu berpuncak pada wafat dan kebangkitan Kristus yang dirayakan dan dihadirkan dalam perayaan Ekaristi. Peranan Ekaristi dalam perjalanan hidup seorang beriman, khususnya bagi para suster PRR sebagai pribadi yang terpanggil secara khusus sungguh merupakan kekuatan rohani yang memampukan setiap suster dalam menjalani tugas panggilan hidupnya sebagai seorang religius. Persatuan dengan Kristus sendiri melalui kurban Yesus di salib, berkat wafat dan kebangkitan-Nya memberi kekuatan rohani bagi para suster melalui ketekunannya dalam mengikuti dan menghayati peranan Ekaristi sebagai pusat hidupnya, sehingga perayaan Ekaristi cukup mendapat tempat istimewa dalam seluruh perjalanan hidup dan panggilan bagi setiap anggota. Namun dalam kenyataannya kesadaran para suster untuk sungguh menghayati peranan Ekaristi belum menjadi milik mereka. Pada bagian akhir skripsi ini, penulis membagi dalam dua bagian, yakni kesimpulan dari seluruh penulisan yang telah diuraikan serta saran-saran yang menjadi anjuran dalam rangka meningkatkan hidup rohani melalui perayaan Ekaristi bagi para suster Putri Reinha Rosari.

A. Kesimpulan

  Dari seluruh permenungan yang telah dipaparkan dalam tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa penghayatan para suster mengenai perayaan Ekaristi masih perlu ditingkatkan terutama pengetahuan tentang liturgi Ekaristi agar semakin mampu memahami makna dan peranan dari perayaan Ekaristi itu sendiri, sebagaimana Yesus sendiri telah memberi diri menjadi tebusan bagi keselamatan umat manusia. Hasil wawancara, penulis menemukan bahwa para suster masih menganggap perayaan Ekaristi sebagai sebuah rutinitas atau kewajiban yang biasa dilakukan oleh seluruh umat katolik, sehingga terkadang dalam mengikuti perayaan Ekaristi tidak menemukan buah dari perayaan Ekaristi itu sendiri. Dan juga masih lemahnya pemahaman akan makna dan peranan dari liturgi Ekaristi. Salah satu cara untuk membantu para suster mendalami dan memahami makna serta peranan perayaan Ekaristi adalah melalui sarasehan liturgi. Menurut penulis, sarasehan mengenai liturgi Ekaristi menjadi salah satu cara untuk membantu setiap anggota kongregasi PRR, dalam meningkatkan pemahaman mereka akan penghayatan tentang Ekaristi sebagai kekuatan rohani melalui persatuan dengan Yesus sendiri dalam setiap perjuangan hidup.

B. Saran

  Demi meningkatkan kematangan hidup rohani sebagai religius PRR yang hidup di zaman ini, penulis memberikan beberapa saran sebagai bentuk perhatian yang mungkin dapat membantu para suster dalam meningkatkan mutu hidup rohani sebagai seorang religius.

  Pertama, Ekaristi sebagai puncak seluruh hidup umat Kristen juga merupakan puncak dari seluruh perjalanan hidup rohani dan hidup beriman bagi para suster PRR. Maka para suster diajak untuk sungguh menghayati peranan Ekaristi, membina keakraban dan kesatuan dengan Tuhan sendiri melalui Perayaan Ekaristi, sebagai sumber dan kekuatan dalam menjalani hidup sebagai pribadi yang terpanggil secara khusus.

  Kedua, para suster perlu mendapatkan pembinaan secara terus menerus mengenai liturgi Ekaristi sehingga pemahaman akan pentingnya perayaan Ekaristi harian tidak terbatas pada sebuah kewajiban sebagai orang Katolik atau sebagai seorang suster tetapi sungguh merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi.

  Ketiga, para suster perlu membuat kesepakatan bersama dalam komunitas untuk menentukan tema tentang liturgi Ekaristi sebagai bahan permenungan baik itu dalam sharing komunitas, rekoleksi bulanan dan retret tahunan, agar mendapat kesempatan khusus untuk merenungkan dan berefleksi bersama tentang makna dan peranan Ekaristi dalam seluruh perjalanan hidup.

  Keempat, Para suster diajak untuk berusaha menciptakan suasana perayaan Ekaristi yang kreatif tidak terkesan monoton sehingga suasana perayaan Ekaristi menjadi hidup.

  Kelima, para suster perlu mempersiapkan liturgi yang baik, hati juga pikiran yang terpusat pada perayaan Ekaristi agar mampu membawa sesama untuk dapat menikmati suasana perayaan sebagai perayaan keselamatan serta mampu membina kesatuan hati dengan Tuhan yang hadir dalam perayaan.

DAFTAR PUSTAKA

  Bagus, Al. Irawan. (2009), Seks, Selibat, dan Persahabatan sebagai Karisma, OBOR: Jakarta. Bakker, A. (1988). Ajaran Iman Katolik 2 untuk Mahasiswa, Kanisius: Yogyakarta. Darminta, J. (2007). Spiritualitas Dasar Kristiani. Diktat Mata Kuliah

  Spiritualitas Kristiani untuk Mahasiswa Semester VII. Yogyakarta: IPPAK-USD.

  Dokumen Konsili Vatikan II. (1990). Sacrosanctum Concilium, Jakarta, Obor

  Gabriella. (2008). Kisah Pesiarahan YM MGR, Gabriel J. W. Manek, SVD Dalam Jenasah. Gr

  ϋn, Anselmus, (1998). Ekaristi dan perwujudan Diri, Nusa Indah: Ende Sutrisno, Hadi. (2000). Statistik jilid II, Yogyakarta: Andi Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II.(R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. Dokumen asli diterbitkan tahun 1966).

  Harjawiyata, Frans. (1978). Bentuk-bentuk Hidup Religius: Yogyakarta, Kanisius Heuken, A. (2004). Ensiklopedi Gereja ,Jakarta, Yayasan Cipta Loka Caraka Jacobs, Tom. (1986). Hidup membiara: Makna dan Tantangannya. Yogyakarta:

  Kanisius Manek, Gabriel (2003). Memperkenalkan Tarekat Putri Reinha Rosari. Manuskrip yang dikeluarkan Oleh Yayasan Mgr. Gabriel Manek dalam rangka pembenahan kembali arsip Yayasan di Sarotari Larantuka

  Mariyanto, Ernest. (2008). Paham dan Terampil Ber-Ekaristi, (Katekese sebelum Misa, KA-SE-MI) . Nusatama: Yogyakarta. Nouwen Henri J.M, (2008). Diambil diberkati dipecah dan dibagikan. Kanisius: Yogyakarta. Osborne, Kenan B.(2008). Komunitas, Ekaristi, dan Spiritualitas. Kanisius: Jogyakarta. Paus Yohanes Paulus II. (1983).Kitab Hukum Kanonik. Jakarta: Obor. Paulus VI (1969). Pendoman Umum Misale Romawi. Nusa Indah Ende. Kongregasi PRR. (1987). Konstitusi & Direktorium Tarekat PRR. Manuskrip yang dikeluarkan oleh sebagai hasil musyawarah umum I, 27 November s/d 16 Desember 1985 di Riangkemie, Larantuka. Katalog Kongregasi PRR, 2008 Konferensi Waligereja Indonesia, (1996). Iman Katolik, Buku informasi dan referensi, Yogyakarta, Kanisius Lukasik, A. (1991). Memahami perayaan Ekaristi. Kanisius Yogyakarta. Martasudjita, E. (2005). Ekaristi Tinjauan Teologis, Liturgi, dan Pastoral, Kanisius: Yogyakarta. ____. (2003) Sakramen-sakramen Gereja, tinjauan teologis, Liturgis, dan pastoral . Kanisius: Yogyakarta. ____. (2000). Mencintai Ekaristi. Kanisius: Yogyakarta.

  Prier, Karl Edmund. (1982) Liturgi Perayaan keselamatan. Pusat Musik Liturgi: Yogyakarta. Ranierro, Cantalamesa. (1994). Ekaristi gaya pengudusan kita. Nusa Indah Ende. Riyanto,T. & Handoko, M. (2008). Membangun Hidup Religius, Yang Damai dan Sejahtera. Yogyakarta, Kanisius. Soetomo, Greg. (2002). Ekaristi dan pembebasan dalam Konteks masyarakat Indonesia. Kanisius Jogyakarta. Sudjana, Nana & Ibrahim, M. A, (2001). Penelitian dan penelaian pendidikan.

  Bandung, Sinar Baru Algensindo Suparno, (2007a). Saat Jubah Bikin Gerah. Jilid 1. Yogyakarta: Kanisius. _______. (2007b). Saat Jubah Bikin Gerah. Jilid 2. Yogyakarta: Kanisius. Tafaib, Gratiana. (2007). Biji Gandum Itu Harus Mati Menghasilkan Buah.

  Malang: Dioma. Yohanes Paulus II (2006). Vita Consecrata (Hidup Bakti) (R. Hardawiryana,

  Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI. (Dokumen asli diterbitkan tahun 2006). ____. (2005). Ecclesia De Eucharistia (Ekaristi dan Hubungan dengan Gereja) (Mgr. Anicetus B. Sinaga, Alih Bahasa). Jakarta: Dokpen KWI.

  

USULAN PROGRAM

SARASEHAN TENTANG PENGETAHUAN LITURGI EKARISTI DEMI

PERKEMBANGAN HIDUP ROHANI PARA SUSTER PRR

1.

   Latar Belakang Pemilihan Program Sarasehan

  Pemahaman tentang Ekaristi sering disalah artikan dan dianggap sebagai kewajiban atau rutinitas yang harus dibuat dalam hidup kebersamaan di Komunitas sehingga sering terjadi dalam kehidupan harian mengalami kejenuhan kebosanan dalam ber-Ekaristi, mengikuti perayaan Ekaristi terkadang hanya sebagai rutinitas dan bukan merupakan suatu kesadaran karena merasa bahwa Ekaristi adalah suatu kebutuhan yang rohani. Para suster belum menyadari dengan sungguh-sungguh arti dan peranan Ekaristi, kurang menghayati Ekaristi itu sebagai puncak dan pusat hidup sebagai orang beriman. Pemahaman semacam ini membuat makna Ekaristi menjadi kabur. Para suster menjadi sangat sibuk dengan kegiatan lain yang cukup menghabiskan waktu, sehingga tidak mengherankan ketika berada di Kapel, menjadi tidak bersemangat, nampaknya malas, jenuh, mengantuk dan tidak berkonsentrasi dalam perayaan Ekaristi. Kalau dilihat bahwa saat-saat penting itulah saat dimana para suster menerima kekuatan baru melalui perayaan Ekaristi untuk menjalani seluruh kehidupan dan tugas pelayanan. Namun hal ini menjadi sesuatu yang masih perlu diperjuangkan oleh para suster.

  Dalam kenyataannya masih banyak suster yang kurang menyadari betapa pentingnya penghayatan Ekaristi dalam hidup sebagai pribadi yang terpanggil maupun sebagai umat Kristiani. Banyak alasan yang menyebabkan hal itu terjadi antara lain kurang pemahaman yang baik tentang pengetahuan liturgi Ekaristi, kurang adanya waktu khusus untuk pembinaan bagi para suster tentang liturgi Ekaristi, dan juga kurang adanya kesadaran bagi setiap anggota untuk membina diri dalam sikap berliturgi yang baik.

  Melalui pertemuan ini diharapkan para suster semakin memiliki pengetahuan yang baik tentang Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari, dengan demikian para suster semakin menghayatan makna dan peranan Ekaristi dalam hidup sehari-hari sebagai puncak dan sumber seluruh hidupnya.

  2. Tujuan Program

  Adapun tujuan sarasehan ini adalah untuk membantu para suster PRR dalam meningkatkan penghayatan hidup rohani melalui Ekaristi sehingga pada akhirnya diarahkan pada pendewasaan (dewasa dan matang) hidup rohani sebagai seorang religius PRR.

  3. Metode Program

  Metode yang digunakan dalam program ini menggunakan model sarasehan 4.

   Sasaran Program

  Sedangkan yang menjadi sasaran dalam sarasehan adalah para suster PRR yang berkarya di wilayah Jawa.

5. Penjabaran Program

  Tema : Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani Tujuan : Bersama pendamping peserta diajak untuk semakin memahami arti dan makna Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup rohani sehingga para Suster PRR semakin dewasa dan matang dalam kehidupan rohaninya sebagai seorang religius. No Judul Pertemuan Tujuan Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan Waktu (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

  1 Pengertian Agar para suster dapat Pembukaan 120 • Informasi • Hand out • Martasudjita, E. (2005).

  • Pengantar Ekaristi memahami arti Ekaristi

  menit

  Ekaristi Tinjauan

  • Tanya • Laptop • Lagu sehingga mereka dapat

  Teologis, Liturgi, dan

  jawab

  • Doa • LCD

  Pembukaan memaknainya dalam

  Pastoral, Kanisius:

  proyektor kehidupan sehari-hari.

  Yogyakarta. Sessi I:

  • Sound Pengertian Ekaristi • ____. (2003) Sakramen- sistem

  sakramen Gereja, tinjauan teologis, Liturgis, dan pastoral . Kanisius: Yogyakarta.

  • ____. (2000). Mencintai (2)

  Ekaristi . Kanisius: Yogyakarta.

  2 Makna Ekaristi Agar para suster dapat Sessi II: 120

  • Informasi • Hand out Makna Ekaristi memaknai perayaan

  menit

  • Tanya • Laptop Ekaristi dalam hidupnya jawab
  • LCD sehingga Ekaristi

  proyektor menjadi perayaan yang Sound sungguh bermakna bagi sistem perkembangan hidup sebagai seorang religius.

  3 Penghayatan Para Agar para suster dapat Sessi III: 120

  • Sharing • CD Ekaristi Penghayatan Para Suster tentang menceritakan

  menit Pengalam

  • Laptop Suster tentang

  Ekaristi pengalamanya dalam Ekaristi an

  • LCD penghayatan hidup

  proyektor

  • Tanya Penutup: melalui Ekaristi sehingga jawab
  • Evaluasi • Sound menyeluruh semakin dewasa
  • Diskusi sistem Kegiatan matang dalam kehidupan
  • Kata penutup
  • Doa/Lagu rohani sebagai seorang penutup religius

  (2)

5.Jadual acara Sarasehan

  Hari/Tanggal/Waktu Acara Keterangan (1) (2) (3)

  ¾ Minggu, 7-03-2010 Pendamping menjelaskan

  Pembukaan maksud dari sarasehan

  • Pengantar umum tentang penghayatan
  • Lagu Ekaristi dalam hidup
  • Doa Pembukaan rohani para suster PRR

  ¾ Sessi I: Pengertian Pelaksana: Kristina K. M.

  Ekaristi Tanya Jawab

  ¾ Doa dan lagu Penutup

  ¾ Minggu, 14-03-2010 Pelaksana:Kristina K. M.

  Doa Pembukaan ¾ Tanya Jawab

  SessiII:Makna Ekaristi ¾

  Doa dan lagu Penutup Minggu, 21-03-2010 ¾ Sharing dan dialog

  Doa Pembukaan ¾ pengalaman para suster

  Sessi III: Penghayatan Para Suster PRR dalam penghayatan tentang Ekaristi hidup setiap hari

  ¾ Penutup:

  Pendamping dan peserta

  • Evaluasi menyeluruh mengadakan evaluasi

  Kegiatan bersama

  • Kata penutup
  • Doa/Lagu penutup

6.Contoh Satuan Persiapan Sarasehan a.

  Identitas 1. : Pengertian Ekaristi

  Judul Pertemuan 2. : Agar para suster dapat memahami arti Ekaristi

  Tujuan Pertemuan sehingga mereka dapat memaknainya dalam kehidupan sehari-hari. 3. : Para suster PRR wilayah Jawa

  Peserta 4. : Komunitas PRR Pringgolayan

  Tempat 5. : Kristina Koba Malo

  Pelaksana 6. : Minggu, 7 Maret 2010

  Hari/tanggal 7. :

  08.00 WIB Waktu

  8. : Pengertian Ekaristi Materi

  9. : Informasi, tanya jawab Metode

  10. : Hand out, laptop, LCD proyektor, sound system Sarana

  11. : Sumber Bahan

  • Martasudjita, E. (2005). Ekaristi Tinjauan Teologis, Liturgi, dan Pastoral, Kanisius: Yogyakarta.
  • ____. (2003) Sakramen-sakramen Gereja, tinjauan teologis, Liturgis, dan pastoral . Kanisius: Yogyakarta.
  • ____. (2000). Mencintai Ekaristi. Kanisius: Yogyakarta.

  b.

  Pemikiran Dasar Pada dasarnya pengetahuan tentang Ekaristi itu sangat penting bagi seluruh umat, secara khusus pengetahuan atau pemahaman para suster PRR. Karena dengan pengetahuan itu, para suster dapat terbantu untuk lebih memahami arti dan peranan Ekaristi itu sendiri dalam kehidupan setiap hari.

  Berdasarkan realitas yang terjadi, masih banyak suster yang kurang menghayati peranan Ekaristi. Hal ini nampak dalam kenyataan hidup para suster ketika mengikuti perayaan Ekaristi. Saat ber-Ekaristi, terjadi kejenuhan, tidak bersemangat, menganggap sebagai rutinitas bahkan ketika waktu untuk merayakan Ekaristi dianggap sebagai pengganggu kesibukan karena masih ada banyak tugas yang harus diselesaikan pada hari itu, tidak adanya kesiapan pribadi saat bertugas liturgi. Kenyataan ini cukup memprihatinkan maka para suster perlu dibantu dengan memberi pembinaan agar penghayatan terhadap Ekaristi sebagai puncak dan sumber seluruh kehidupan menjadi semakin baik.

  Dengan itu pembekalan tentang Ekaristi sangat dibutuhkan oleh seluruh anggota Kongregasi sehingga mereka mempunyai pengetahuan atau pemahaman tentang Ekaristi yang baik dan benar. Pendampingan ini bisa dilanjutkan dalam acara-acara kebersamaan komunitas atau Kongregasi seperti: rekoleksi, retret, dan sharing komunitas tentang Ekaristi sehingga para suster benar-benar memahami peranan Ekaristi serta mempunyai suatu kesadaran yang tinggi dalam berliturgi dengan baik. c.

  Proses Kegiatan

  1. Pembukaan a.

  Pengantar b.

  Lagu c. Doa Pembukaan 2.

  Sessi I: Pengertian Ekaristi a. Ekaristi dalam Kitab Suci

  1). Perjamuan makan dengan Yesus sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah Tindakan pewartaan dan penghadiran kerajaan Allah oleh Yesus tidak hanya tampak dalam karya penyembuhan berbagai orang sakit, pengusiran setan, dan membangkitkan orang mati, tetapi juga dalam makan bersama Yesus dengan orang-orang berdosa (Mrk 2: 16-19). Dengan perjamuan makan bersama orang- orang berdosa, Yesus mau menampilkan makna kedatangan dan kehadiran Allah yang berbelas kasih. Kedatangan kerajaan Allah menunjuk pada datangnya keselamatan yang merangkul semua orang, teristimewa mereka yang hilang dan berdosa. Kebersamaan Yesus dengan orang-orang berdosa mengungkapkan kehendak Allah yang mau menyelamatkan (Mat 9: 13; Mrk 2: 17; Luk 5: 32) sebab Yesus datang pertama-pertama untuk mencari dan memanggil orang berdosa (Martasudjita, 2005: 25). 2). Perjamuan malam terakhir

  Perjamuan Paskah Yahudi merupakan suatu upacara mengenangkan dan merayakan perbuatan besar Allah terhadap bangsa-Nya yaitu bangsa Israel maka perjamuan Paskah Yahudi merupakan suatu upacara syukur agung atas karya penyelamatan Allah sehingga orang Yahudi sungguh menghargai perayaan itu untuk memperingati pembebasan mereka dari Negeri Mesir (Bakker, 1988: 60).

  Perjamuan malam terakhir. (Mrk 14; 22-25; Mat 26: 26-29; Luk 22: 15- 20 dan 1Kor 11:23-26). Perjamuan malam terakhir merupakan perjamuan perpisahan Yesus dengan para murid sebelum Ia menderita sengsara dan wafat di kayu salib. Dalam perjamuan itu Yesus hendak mengungkapkan kepada para murid-Nya bahwa Yesus sangat mencintai seluruh umat manusia dan akan memberikan keselamatan dengan mengurbankan nyawa-Nya di atas kayu salib. Yesus rela menderita, wafat dan bangkit agar umat manusia mampu mengalahkan yang jahat. 3). Perjamuan dengan Yesus yang Bangkit (Luk 24:13-35).

  Setelah bangkit Yesus kembali mengadakan makan bersama dengan para murid-Nya. Dalam perjamuan itulah Yesus mengungkapkan bahwa Ekaristi merupakan kebersamaan dengan Tuhan yang bangkit. “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Daku” (Luk 22: 19) disini nanpak bahwa Yesus menjadi pusat dalam Ekaristi, Yesus hadir dengan seluruh misteri hidup dan kematian-Nya serta kemuliaan-Nya. “Peringatan akan Daku” mengarah kepada peringatan akan wafat dan kebangkitan-Nya. Suatu peringatan penuh syukur kepada Allah melalui Putra- Nya yang bangkit.

  b. Ekaristi berdasarkan pandangan Bapa-bapa Gereja

  Istilah “Ekaristi“ berasal dari bahasa Yunani “eucharistia” yang berarti ucapan syukur. Kata eucharistia adalah sebuah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani eucharistein yang berarti memuji, mengucap bersyukur. Istilah Ekaristi menunjuk pada isi dari apa yang dirayakan dalam seluruh perayaan Ekaristi, mau mengungkapkan pujian syukur atas karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus, sebagaimana berpuncak dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus (Martasudjita, 2003: 28).

  Santo Ignatius dari Antiokhia, ketika menulis surat kepada umat Philadelphia mengatakan: “Berusahalah kalian untuk merayakan satu Ekaristi, karena ini hanyalah satu tubuh Tuhan kita Yesus Kristus dan hanya satu piala untuk persatuan dengan darah-Nya, dan hanya satu altar”. Santo Ignatius mengajarkan roti Ekaristi sebagai tubuh Tuhan sendiri, yakni Yesus Kristus yang telah mempersembahkan diri dalam roti dan anggur Ekaristi (Martasudjita, 2005: 249).

  Dalam ajaran Santo Yustinus Martir (sekitar tahun 165) memandang Ekaristi sebagai suatu ibadah atau Liturgi Kristiani. Bagi Yustinus Ekaristi adalah kurban rohani sebab Ekaristi merupakan doa yang benar dan pujian syukur yang tepat. Ekaristi sebagai pujian syukur merupakan kurban kepada Allah, kenangan akan penderitaan Yesus, akan penciptaan dan penebusan. Yustinus yakin bahwa santapan Ekaristi adalah tubuh dan darah Yesus Kristus sendiri (Martasudjita, 2005: 249).

  Menurut Santo Ireneus Lyon (sekitar tahun 202), Ekaristi pertama-tama adalah kurban pujian syukur. Dalam Ekaristi diungkapkan pujian syukur atas penciptaan, dan atas penebusan Yesus Kristus. Tujuan makanan Ekaristi adalah penyampaian Sang Logos. Artinya dengan menerima santapan Ekaristi orang disatukan dalam kebersamaan abadi dengan Yesus Kristus (Martasudjita, 2005: 250-251).

  c. Ekaristi menurut ajaran Konsili Vatikan II

  1). Dimensi Kristologis Pada peristiwa perjamuan malam terakhir Yesus menawarkan tubuh dan darah-Nya untuk menjadi makanan dan minuman rohani kepada para rasul-Nya

  (EE, 21) dan sekaligus berpesan kepada mereka: “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku”...perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, kamu mengenangkan Aku” (1 Kor 11:24-25, Luk 22:19). Para rasul dengan menyambut undangan Yesus di ruang perjamuan “terimalah dan makanlah, munimlah” (Mat, 26:26-27) masuk dalam persekutuan sakramental bersama Putra Allah yang dikurbankan demi keselamatan umat manusia, maka perayaan Ekaristi menjadi kenangan kurban salib Kristus secara sakramental dalam tindakan liturgis Gereja (EE, 21).

  Konsili Vatikan ke II memberi gambaran tentang perayaan Ekaristi yang berhubungan erat dengan pribadi Yesus Kristus. Dimana “Ekaristi ditetapkan oleh Yesus sebagai kenangan akan diri-Nya yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya” di atas kayu salib. Apa yang dirayakan oleh Gereja saat ini Kristus kepada umat manusia dihadirkan kembali yakni wafat dan kebangkitan- Nya melalui perayaan Ekaristi (SC, 6).

  Ada beberapa hal yang berhubungan dengan dimensi kristologis berkaitan dengan perayaan Ekaristi, yakni:

  • Ekaristi sebagai Kurban Konsili Vatikat II menjelaskan ajaranya mengenai Ekaristi sebagai kurban dalam SC 47:

  Pada perjamuan terakhir, pada malam ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian, Ia mengabadikan kurban salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja mempelai-Nya yang terkasih kenangan Wafat dan kebangkitan- Nya: Sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang. “Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan” (1 Kor 11:23) telah menetapkan kurban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Yesus tidak hanya menegaskan pemberian tubuh dan darah-Nya untuk dimakan dan diminum tetapi lebih dari itu Yesus mau mengungkapkan makna pengurbanan diri-Nya di atas kayu salib. “Kurban” bukanlah penyembelian tetapi penyerahan diri Yesus pada Bapa-Nya demi keselamatan umat manusia. (EE,12-13).

  • Ekaristi sebagai Sakramen Kata “Sakramen “dari bahasa Latin dengan asal kata “sacrare” artinya

  “menguduskan” atau “menyucikan”. Melalui sakramen Yesus menguduskan manusia, umat-Nya dimana oleh Gereja dinamakan sebagai perbuatan sakramental, maka melalui sakramen terjadi pengudusan atau penyucian secara rohani bagi hidup umat beriman. Sakramen dilihat sebagai sesuatu yang mendatangkan rahmat bagi umat beriman melalui wujud yang nyata. Maka untuk melaksanakan pemberian rahmat pengudusan, Yesus menggunakan air, minyak, roti dan anggur sebagai sarana pengudusan atau penyucian hidup umat manusia dalam tanda sakramen. Maka sakramen disebut tanda atau perbuatan simbolis yang menyatakan apa yang tidak kelihatan namun dibuat oleh Yesus dalam karya penyelamatan-Nya.

  Perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh Gereja dimana umat berkumpul untuk merayakan Sakramen keselamatan selalu mengenangkan misteri iman, misteri keselamatan yang telah dilakukan oleh Yesus dengan menyerahkan diri- Nya menjadi tebusan bagi umat manusia. Dalam SC 47 juga dikatakan bahwa “Kristus mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, kenangan, wafat dan kebangkitan-Nya: Sakramen cinta kasih, lambang kesatuan ikatan cinta kasih “.

  • Ekaristi sebagai Perjamuan Perayaan Ekaristi disebut sebagai perjamuan, karena dalam perjamuan terakhir yang dibuat Yesus bersama para murid-Nya, dimana Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dimakan dan diminum oleh para murid-Nya dalam wujud roti dan anggur. Dalam kehidupan sebagai manusia, makan dan minum adalah suatu
dalam hidup. Maka perjamuan makan dan minum menjadi suatu unsur pokok yang diperjuangkan oleh setiap orang.

  Perjamuan malam terakhir yang telah dilakukan oleh Yesus bersama para murid-Nya merupakan makan dan minum secara jasmani dan rohani. Perjamuan ini diadakan sebagai pesta perjamuan perpisahan sebelum wafat-Nya di kayu salib, Yesus memberikan diri-Nya sebagai makanan dan minuman (Luk, 22: 15- 20). Bertolak dari peristiwa perjamuan makan Yesus bersama para murid-Nya maka Perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh Gereja saat ini disebut sebagai “Perjamuan”. Melalui penyerahan roti dan anggur “inilah tubuh-Ku “, inilah darah-Ku”, Yesus menyerahkan diri-Nya untuk menjadi santapan rohani bagi umat beriman yang percaya kepada-Nya melalui wujud roti dan anggur yang diterima dalam perayaan Ekaristi. Dengan perjamuan bersama dalam perayaan Ekaristi, umat semakin bersatu dengan Kristus, pemberi hidup, dan juga bersatu dengan sesama umat beriman yang hadir dalam perjamuan Ekaristi. Perayaan Ekaristi merupakan kenangan akan karya keselamatan Allah yang memuncak pada misteri Paskah (Martasudjita, 2003: 295).

  2). Dimensi Eklesiologi Dimensi eklesiologi yang berasal dari kata Yunani “ekkleo” artinya memanggil adalah suatu ajaran teologi yang berkaitan dengan Gereja. Umat katolik mengimani Gereja sebagai karya Roh Kudus yang menjadi perantara umat untuk dapat semakin dekat dengan Yesus Kristus. Gereja melaksanakan perintah Yesus sehingga dapat mengungkapkan imannya melalui perayaan Ekaristi. Beberapa dimensi eklesiologi tentang Ekaristi: • Ekaristi sebagai sarana kebersamaan.

  Ekaristi adalah bagian dari perayaan Gereja yang sangat dihormati dan diagungkan oleh umat katolik karena perayaan Ekaristi dalam Gereja merupakan perayaan yang suci.(lihat SC 26 ) .

  Ekaristi merupakan perayaan seluruh Gereja, dimana umat dipersatukan dalam perayaan Ekaristi untuk mengenangkan karya penebusan Allah dalam diri Putra-Nya. Seluruh umat dipersatukan dalam cinta kasih Kristus untuk mampu menghayati makna dari perayaan Ekaristi. Maka melalui perantaraan Gereja, umat berkumpul untuk merayakan perayaan Ekaristi, serta mampu mengungkapkan imannya dan bersyukur atas penebusan Tuhan yang telah dialami dalam kehidupan setiap hari.

  Gereja sebagai umat Allah yang berkumpul untuk merayakan perayaan Ekaristi juga diharapkan untuk ikut ambil bagian secara penuh dalam perayaan Ekaristi.( lihat SC 48).

  Umat diharapkan berpartisipasi dalam seluruh perayaan Ekaristi sejak awal persiapan hingga akhir perayaan, maka melalui kehadiran dan keikutsertaan dalam seluruh bagian perayaan Ekaristi umat terlibat aktif dalam seluruh bagian perayaan Ekaristi karena perayaan Ekaristi merupakan satu kesatuan yang harus diikuti oleh seluruh umat. (lihat PUMR 35 ).

  Melalui perantaraan Gereja umat berkumpul untuk merayakan peristiwa keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus melalui perayaan Ekaristi sehingga sumber dan puncak kehidupan Gereja, dimana umat beriman mengalami persatuan dengan Allah melalui Ekaristi. (CS 10) Ekaristi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat sehari-hari, karena melalui perayaan Ekaristi umat memperoleh kekuatan rohani dan memohon rahmat dari Allah untuk dimampukan dalam menjalani kehidupan. Dari perayaan Ekaristi itulah mengalir kekuatan yang menjiwai dan menggerakkan seluruh hidup orang kristiani untuk mengarungi suka duka kehidupannya.

  3). Dimensi Eskatologis.

  Dalam dimensi eskatologis mau menggambarkan bahwa perayaan Ekaristi bukan hanya merupakan perayaan akan peringatan sejarah karya keselamatan Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus tetapi juga mau mengatakan kepada umat manusia bahwa perayaan Ekaristi berhubungan dengan kehidupan yang akan datang, atau peristiwa akhir zaman, seperti apa yang telah dijanjikan oleh Yesus sendiri tentang keselamatan yang akan datang.

  Perayaan Ekaristi merupakan perayaan perjamuan surgawi, perjamuan eskatologis seperti apa yang dikatakan Yesus dalam injil Yohanes “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak manusia dan minum darah-Nya kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman“ (Yoh 6: 53-54). Allah telah memberikan diri-Nya dengan perantaraan Putra-Nya Yesus Kristus demi keselamatan umat manusia sampai akhir zaman. Sehingga melalui perayaan Ekaristi menghantar umat manusia untuk semakin menghayati imannya akan Yesus Kristus.

  Konsili Vatikan ke II dalam SC 8 menyatakan bahwa: “Dalam Ekaristi yang dirayakan Gereja di dunia ini, umat Allah ikut mencicipi liturgi surgawi yang dirayakan di kota Suci Yerusalem “Ekaristi sebagai sumber kehidupan Gereja memang merupakan “Jaminan kemuliaan yang akan datang“ (SC 47). Dalam Ekaristi, Allah memberikan diri-Nya melalui Yesus Kristus Putra-Nya rela wafat di atas kayu salib. Maka melalui santapan Ekaristi umat mempersiapkan diri untuk mengalami kehidupan yang akan datang yaitu kehidupan akhir zaman yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri sekaligus umat dituntut untuk merayakan Ekaristi di dunia secara hikmat, suci dan pantas.

  Lampiran 2: Hasil wawancara bersama para suster PRR di Wilayah Jawa Pelaksanaan Waktu Pelaksanaan : Awal s/d akhir mei 2009 Tempat : Komunitas Yogyakarta dan Jakarta Yang diwawancarai ; Para suster PRR Jumlah : 30 suster Pokok-pokok pertanyaan dan jawaban 1.

  Yang mendorong suster untuk selalu mengikuti perayaan Ekaristi.? • Disadari sebagai kebutuhan pokok.

  • Sebagai kekuatan rohani.

2. Apa makna perayaan Ekaristi bagi kehidupan suster sehari-hari • Menguatkan iman dan panggilan hidup sebagai seorang religius.

  • Lebih tabah dalam menghadapi kesulitan hidup dan karya kerasulan • Berani berkorban dalam tugas kerasulan.
  • Membantu saya untuk bisa menyadari kehadiran Yesus yang nyata dalam hidup bersama dengan orang lain • Membantu saya untuk bisa bekerja dengan baik.
  • Kehadiran Yesus yang memberi kekuatan, penyejuk jiwa dan raga, pemberi kedamaian,
  • Saya belajar menjadi Ekaristi hidup bagi orang lain. Misalnya dengan bersikap ramah terhadap sesama.
  • Ekaristi memperdalam hidup saya dalam Tuhan 3.

  Bagaimana suasana perayaan Ekaristi dalam Komunitas suster • Cukup hikmat yang didahului dengan persiapan diri, tata ruang, lagu-lagu.

  • Cukup hening dan sacral.

  4. Apakah suasana perayaan Ekaristi dalam Komunitas membantu suster untuk berkembang dalam hidup rohani sebagai seorang religius PRR?

  • Suasana cukup membantu namun perlu diusahakan secara terus-menerus.

  Mengapa

  • Karena suasana yang tenang, dapat membantu untuk berkonsentrasi dengan baik dalam perayaan Ekaristi 5.

  Bagaimana keterlibatan suster dalam perayaan Ekaristi komunitas, baik itu dalam mengungkapkan doa-doa secara spontan maupun keterlibatan dalam nyanyian

  • Aktif dalam doa dan nyanyian
  • Terlibat dalam mengungkapkan doa secara spontan dengan segala kepentingan baik umum maupun pribadi.
  • Sebagai lektor membantu umat.

6. Bagaimana suster mewujudkan sikap persatuan itu dalam kebersamaan di komunitas.

  • Dengan makan bersama.
  • Rekreasi bersama.
  • Merasul bersama
  • Memecahkan persoalan secara bersama dalam komunitas
  • Saling menghargai
  • Saling mendengarkan
  • Saling melayani, mengasihi, memaafkan • Saling menggembirakan dalam kebersamaan.
  • Mewajibkan diri dalam acara-acara kebersamaan • Membahagiakan sesama pada hari ulang tahunnya.
  • Saling mendoakan.

  7. Apakah suster pernah merasa jenuh dalam mengikuti perayaan Ekaristi? mengapa?

  • Terkadang merasa jenuh, tidak ada persiapan hati
  • Terkadang mengantuk
  • Jenuh dengan pastor yang tidak punya persiapan dalam kotbah
  • Sering merasa malas kalau situasi komunitas tidak mendukung • Kurang konsentrasi.
  • Beban tugas yang terlalu berat membuat tidak konsentrasi dalam perayaan

  Ekaristi 8. Hambatan-hambatan apa saja yang suster alami dalam mengikuti perayaan

  Ekaristi?

  a. Dari dalam diri

  • Tugas kerasulan terlalu banyak sehingga merasa jenuh dan cape • Kurang konsentrasi.
  • Saat Ekaristi memikirkan tugas yang akan dijalankan pada hari itu
  • Mengantuk • Bosan • Terkadang dirasa sebagai rutinitas
  • Kurang menghadirkan diri sepenuhnya dalam perayaan Ekaristi • Mudah reaksi kalau ada kekeliruan dalam perayaan.
  • Kurang bertahan pada sikap liturgy yang baik.
  • Terkadang dikejar-kejar waktu dalam perayaan Ekaristi karena ada kegiatan lain yang harus dijalankan b. Dari luar diri.
  • Rasa bosan bila suster yang bertugas tidak punya persiapan liturgi yang baik.
  • Larut dalam masalah orang lain.
  • Suasana kota yang bising dengan segala bunyi-bunyian
  • Adanya reaksi-reaksi yang muncul ketika ada kekeliruan dalam perayaan.

  • Pemahaman tentang pengetahuan liturgi sangat kurang.
  • Masuknya budaya instan yang mempengaruhi sehingga ketahanan dalam ber-Ekaristi semakin melemah.

9. Bagaimana usaha suster dalam mengatasi hambatan-hambatan? a.

  Diri sendiri.

  • Menyiapkan diri dengan berdoa dan mengambil waktu hening
  • Berusaha untuk selalu sadar dan sungguh-sungguh mendengarkan dan mengikuti perayaan Ekaristi.
  • Berusaha untuk mengikuti perayaan Ekaristi walaupun ada perasaan jenuh.
  • Berusaha untuk membangun kesadaran dalam diri.
  • Membuat intensi pribadi.

  b.

  Dari luar.

  • Mengajak petugas liturgi pada hari itu untuk selalu menyiapkan diri dengan baik.

  10. Usaha-usaha apa saja yang dilakukan agar suasana perayaan Ekaristi dalam komunitas bisa membantu suster mengembangkan hidup rohani sebagai seorang religius PRR.

  • Sebagai pemimpin komunitas berusaha memberi pemahaman kepada para suster tentang Ekaristi, serta mengarahkan untuk selalu menyiapkan liturgi dengan baik.
  • Melatih lagu-lagu misa.
  • Pengolahan hidup yang terus menerus.
  • Persiapan batin 11.

  Selain perayaan Ekaristi apakah ada cara-cara lain yang membantu suster dalam mengembangkan hidup rohani sebagai seorang religius PRR?

  • Brevir • Rosario • Meditasi • Kontemplasi • Sharing bersama • Bacaan rohani.
  • Doa jalan salib.
  • Setia pada penerimaan sakramen tobat.

  12. Usul saran apa yang suster mau sampaikan kepada setiap anggota Kongregasi agar suasana perayaan Ekaristi dalam Komunitas semakin bermakna bagi perkembangan hidup rohani setiap anggota Kongregasi • Bacaan, lagu-lagu misa dan doa permohonan disiapkan dengan baik.

  • Memperhatikan sikap-sikap liturgi.
  • Menyiapkan tempat doa dengan baik dan rapih.
  • Persiapan hati untuk merayakan Ekaristi.
  • Sharing bersama tentang Ekaristi.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Peranan kebijaksanaan ekspor dalam upaya meningkatkan volume ekspor tekstil di wilayah Propinsi Jawa Barat
0
2
72
Peranan lagu rohani ekaristi dalam meningkatkan pemaknaan perayaan ekaristi bagi kaum muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru.
0
3
146
Peranan doa meditasi bagi peningkatan penghayatan hidup rohani para mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
0
4
168
Penghayatan spiritualitas Beata Maria Helena Stollenwerk untuk meningkatkan kesetiaan hidup membiara para Suster Medior SSpS Provinsi Maria Bunda Allah Jawa.
7
102
211
Kajian terhadap makna hidup doa dalam karya pelayanan para Suster Fransiskus Dina (SFD).
0
2
161
Peranan hidup doa dalam meningkatkan kecerdasan spiritual para suster yunior Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
0
1
189
Kajian terhadap makna hidup doa dalam karya pelayanan para Suster Fransiskus Dina (SFD)
0
9
159
Makna kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah bagi hidup berkomunitas pada Suster Santa Perawan Maria dari Amersfoort - USD Repository
0
0
169
Peningkatan penghayatan kaul kemiskinan bagi para suster Jesus Maria Joseph dalam karya melalui katekese - USD Repository
0
0
119
Upaya meningkatkan pembinaan hidup religius para suster yunior puteri reinha rosari dalam menghadapi tantangan zaman sekarang - USD Repository
0
2
135
Adorasi Ekaristi dalam hidup rohani para suster Sang Timur di Pulau Jawa, Provinsi Indonesia - USD Repository
0
0
187
Upaya memajukan hidup doa bagi para suster Jesus, Maria, Joseph demi meningkatkan karya kerasulan melalui katekese - USD Repository
0
0
141
Pengaruh iringan gamelan Jawa terhadap penghayatan iman umat dalam perayaan ekaristi di Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran Yogyakarta - USD Repository
0
0
156
Peranan spriritualitas persaudaraan Santo Fransiskus Asisi dalam semangat pelayanan para suster OSF Sibolga - USD Repository
0
0
145
Katekese ekologi sebagai upaya meningkatkan penghayatan spiritualitas ekologis bagi para Fransiskan di Yogyakarta dalam rangka gerakan pelestarian lingkungan hidup - USD Repository
0
0
252
Show more