Peran pendampingan orang tua dalam sekolah minggu terhadap perilaku iman anak di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi - USD Repository

Gratis

0
7
182
1 year ago
Preview
Full text

  PERAN PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM SEKOLAH MINGGU TERHADAP PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI St FRANSISKUS ASSISI BERASTAGI S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Elsa Levi Br Perangin-Angin NIM: 061124042

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2011

  Rohandi, Ph.D.

  PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada Ayahku tercinta (Alektara Perangin-Angin),

  Ibuku tersayang (Tiharum Br Sitepu) Adik-adikku tercinta, seluruh keluargaku, khususnya keluargaku di Suka Julu yang aku cintai, teman-teman angkatan 2006 dan umat di Stasi Suka Julu-Tiga Jumpa serta almamater kebanggaanku

  

MOTTO

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara

kamu”

(1 Pet 5 : 7)

  

ABSTRAK

  Judul skripsi PERAN PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM

  

SEKOLAH MINGGU TERHADAP PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI

St FRANSISKUS ASISI BERASTAGI ini dipilih bertitik tolak dari

  keprihatinan penulis akan kurangnya perhatian dan tanggungjawab orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak di paroki St Fansiskus Asisi Berastagi. Masih banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka ketimbang mendidik anak dan mengembangkan perilaku iman anak.

  Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana membantu orang tua untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab dalam mengembangkan iman anak, sehingga anak-anak memperoleh pendidikan dan kasih sayang dari orang tua. Penulis mengkaji masalah ini dengan menyebarkan kuisioner, wawancara dan menganalisa data permasalahan sehingga ditemukan jalan keluarnya. Disamping itu, penulis juga melakukan studi pustaka untuk memperoleh pemikiran-pemikiran yang diharapkan dapat dipakai membantu para orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak.

  Dalam dokumen Gravissimum Educationis (GE) art 3 menjelaskan bahwa orang tua sebagai penyalur kehidupan dari Allah mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anak. Orang tua Kristiani yang telah diperkaya dengan rahmat Sakramen Perkawinan mempunyai kewajiban untuk mendidik anaknya sejak dini secara katolik. Orang tua seharusnya mengerti akan tugas dan tanggung jawab meraka dalam mengembangkan perilaku iman anak serta membantu pendamping sekolah minggu dalam menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak selama mengikuti kegiatan sekolah minggu. Sekolah minggu merupakan salah satu wadah dalam mengembangkan perilaku iman anak.

  Untuk membantu para orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak maka penulis mengusulkan program katekese umat melalui Shared Christian

  

Praxis (SCP) yang ditujukan kepada para orang tua. Diharapkan katekese umat

  dapat membantu para orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak. Oleh kerena itu, melalui katekese umat penulis memberikan sumbangan dalam rangka membantu para orang tua agar semakin sadar akan peran dan tanggung jawab mereka dalam mengembangkan perilaku iman anak sehingga anak dewasa dalam mengembangkan iman.

  ABSTRACT Title thesis mentoring PARENTS ROLE IN THE CONDUCT OF FAITH

  SUNDAY SCHOOL CHILDREN IN BERASTAGI parish of St. Francis of Assisi was chosen author starts from concerns about the lack of attention and responsibility of parents in developing the faith of a child's behavior in the parish of St. Assisi Fansiskus Berastagi. There are still many parents are busy with their jobs than educating children and developing the faith of a child's behavior.

  The main issue in this thesis is how to help parents to raise awareness and responsibility in developing a child's faith, so that children get an education and affection from parents. The author examines this problem by spreading questionnaire, interview and analyze data so that problems found a way out. In addition, the authors also conducted a study library to obtain the thoughts that are expected to be used to help the parents in developing the faith of a child's behavior.

  In the document Gravissimum Educationis (GE) art 3 explains that parents as a channel of God's life have an obligation to educate children. Christian parents who have been enriched by the grace of the sacrament of marriage have an obligation to educate their children in Catholic early on. Parents should understand the duties and responsibilities meraka in developing the faith of a child's behavior and help chaperone the school week in providing the facilities needed to follow the activities of children during the school week. Sunday School is one of the containers in developing the faith of a child's behavior.

  To assist parents in developing the faith of a child's behavior then the authors propose a program of catechesis people through the Shared Christian Praxis (SCP) addressed to the parents. Catechesis people are expected to assist parents in developing the faith of a child's behavior. Ingredients, through catechesis people contributing author in order to assist parents to become more aware of their roles and responsibilities in developing the faith of a child's behavior so that children in developing mature faith.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya sehingga terselesaikannya skripsi ini.

  Banyak pengalaman yang penulis alami selama penulisan skripsi ini, pengalaman bahagia, gembira, kecewa, sedih dan cemas. Meski demikian berkat doa dan dukungan dari berbagai pihak penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

PENDAMPINGAN ORANGTUA DALAM SEKOLAH MINGGU PERAN

  

TERHADAP PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI St FRANSISKUS

ASISI. Penulisan skripsi ini bertitik tolak dari keprihatinan penulis akan perhatian

  dari orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak di tengah-tengah keluarga. Dengan demikian, harapan penulis bahwa penulisan skripsi ini dapat membantu para orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak, mampu menjadi saksi bagi anak, menyadari akan peran dan tanggung jawab sebagi orangtua khususnya dalam mengembangkan perilaku iman anak.

  Atas kerjasama yang baik penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang berperan serta dalam menyelesaikan skripsi ini. Dari hati yang paling dalam penulis menyampaikan terima kasih kepada:

  1. Rm. Dr. C.B Putranta, SJ selaku dosen pembimbing utama penulis yang telah dengan sabar, setia, penuh perhatian, penuh semangat dan selalu berusaha menyediakan waktu dalam membimbing penulis. Beliau juga dengan sepenuh hati senantiasa memotivasi, mencintai dan menumbuhkan kepercayaan diri pada penulis. Dengan kondisi beliau yang masih sakit tetapi semangat dan dukungan beliau sangat besar. Semangat beliau menjadi inspirasi bagi penulis agar mau berusaha untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik. Banyak saran dan kritikan yang menjadikan penulis berkembang baik segi pengetahuan maupun kematangan pribadi sebagai calon guru.

  2. Rm Drs. H.J.Suhardiyanto, SJ selaku anggota penguji II sekaligus dosen pembimbing akademik yang senantiasa menjadi ayah bagi penulis selama masa studi di IPPAK ini.

  3. Bpk. Y.H. Bintang Nusantara, SFK., M. Hum selaku anggota penguji III yang juga senantiasa memberi motivasi, dukungan, saran dan kritikan yang membangun bagi penulis baik dalam proses penulisan skripsi ini maupun selama menjalani kuliah di IPPAK. Beliau yang senantiasa memberikan masukan, perhatian, cinta kasih, dan semangat bagi penulis. Beliau juga menjadi teman bagi penulis terlebih saat menghadapi masalah, sehingga menjadi teman curhat yang mau mendengarkan dan memberi masukan, saran dan motivasi bagi penulis.

  4. Staf Dosen Prodi IPPAK-JIP, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan mengajarkan banyak hal demi perkembangan iman dan juga kepribadian penulis.

  5. Segenap Staf Sekretariat dan Perpustakaan Prodi IPPAK, dan seluruh karyawan bagian lain yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

  6. Pastor Ignatius Simbolon, Ofm Cap, selaku pastor paroki Santo Fansiskus Assisi Berastagi keuskupan Agung Medan yang telah memberikan tempat dan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian, memberi manfaat serta dukungan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

  7. Segenap dewan pengurus, staf sekretariat dan seluruh umat di Stasi Suka Julu-Tiga Jumpa khususnya yang telah bersedia menjadi responden dan menyediakan waktu bagi penulis dengan memberikan data-data yang penulis butuhkan demi terselesainya penulisan skripsi ini.

  8. Bapakku tercinta (Alektra Peragin-Angin), mamakku tersayang (Tiharum Br Sitepu) dan adik-adikku tercinta (Ervita, Melisandi, Estorina, Yance, Alepesiusta, Persita Basmuli, Deslita, Daniel dan Yosua) yang senantiasa memberi dukungan yang besar melalui doa, cinta dan perhatian pada penulis dalam menyelesaikan studi ini.

  9. Keluargaku tercinta di Suka Julu-Tiga Jumpa yang senantiasa mendukung, memotivasi, mengarahkan dan menyemangati penulis dalam masa studi ini, juga dalam penyelesai skripsi ini.

  10. Kekasih Lio yang selalu mendukung, selalu ada saat aku butuh seseorang untuk berbagi, baik suka maupun duka. Terima kasih atas kasih sayang, cinta serta doa yang telah diberikan skripsi ini. Terima kasih untuk segala cintanya.

  11. Keluarga Besar Karo Katolik Yogyakarta yang selalu memberi doa, dukungan dan semangat agar penulis tidak pantang menyerah.

  12. Sahabat-sahabatku Mudika Karo Katolik Yogyakarta (Mila, Ervita, Imalia, Hendra, Deslita, Sion, Petrus, Charlina Sinulingga Charlina Br Ginting, Dwi,

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv MOTTO ........................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ................................................... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................ ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiv DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xviii BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................

  1 A. Latar Belakang ......................................................................................

  1 B. Rumusan Masalah .................................................................................

  6 C. Tujuan Penulisan ...................................................................................

  7 D. Manfaat Penulisan ................................................................................

  7 E. Metode Penulisan ..................................................................................

  8 F. Sistematika Penulisan ............................................................................

  8 BAB II: PERAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU IMAN ANAK ..................................................................

  11 A. Pendidikan Iman ...................................................................................

  11 1. Pengertian Pendidikan Iman .............................................................

  12 a. Pengertian Pendidikan ................................................................

  12 b. Perilaku Iman .............................................................................

  13 c. Pendidikan Anak ........................................................................

  14 d. Iman ...........................................................................................

  16

  f. Pengertian Pendidikan Iman Anak .............................................

  20 2. Pentingnya Pendidikan Iman Anak ....................................................

  22 3. Tujuan Pendidikan Iman ...................................................................

  25 4. Bentuk-bentuk Pendidikan Iman .......................................................

  27 B. Keluarga dan JemaatSebagai Kancah Pendidikan Iman Anak .............

  28

  1.Pendidikan Iman Anak Dalam keluarg………………………………… 28 2.Peran Jemaat Dalam Pendidikan Iman Anak ....................................

  29 C. Sekolah Minggu Sebagai Wadah Mengembangkan Perilaku Iman Anak

  30 1. Pengertian Sekolah Minggu .............................................................

  30 2. Latar Belakang Sekolah Minggu .....................................................

  32 3. Dasar Sekolah Minggu .....................................................................

  33 4. Tujuan Sekolah Minggu ...................................................................

  35 D. Peran Orang tua Terhadap Perkembangan Iman Anak Di Era Modernisasi 36 1. Peran Orang tua Dalam Perkembangan Iman Anak.........................

  36 2. Orang tua dan Kegiatan Sekolah Minggu ........................................

  44 E. Konsekuensi Peran Orang tua ...............................................................

  45 1. Orang tua perlu sadar akan peran utamanya ....................................

  45 2. Pengetahuan tentang cara mendampingi ..........................................

  47 F. Kerangka Pikir ......................................................................................

  49 BAB III: PENELITIAN TENTANG PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM SEKOLAH MINGGU TERHADAP PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI

  ST FRANSISKUS ASISI BERASTAGI……………………………

  51 A. Metodologi Penelitian........................................................................

  54 1. Tujuan Penelitian .............................................................................

  54 2. Jenis ..................................................................................................

  54 3. Metode Penelitian ............................................................................

  55 4. Instrumen Penelitian .........................................................................

  56 5. Tempat dan waktu ............................................................................

  56 6. Teknis analisa data ...........................................................................

  56 7. Populasi dan sampel .........................................................................

  57 8. Variabel Penelitian ...........................................................................

  58

  B. Laporan Hasil Penelitian ...................................................................

  59 1. Hasil Penelitian Melalui Kuesioner ..................................................

  59 2. Hasil Wawancara .............................................................................

  74 C. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................................

  79 D. Kesimpulan Hasil Penelitian ...............................................................

  95 BAB IV: USULAN PROGRAM KATEKESE UMAT SEBAGAI USAHA MENINGKATKAN PERAN PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM SEKOLAH MINGGU TERHADAP PENGEMBANGAN PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI St FRANSISKUS ASISI BERASTAGI ................................ 101

  A. Katekese Umat Bagi Orang tua Dengan Model SCP ....................... 103

  1. Pengertian Katekese Umat ......................................................... 103

  2. Tujuan katekese umat bagi orang tua .......................................... 107

  3. Isi katekese umat bagi orang tua ................................................. 109

  4. Kekhasan katekese umat bagi orang tua ...................................... 112

  5. Proses katekese umat bagi orang tua dengan model SCP ........... 115

  B. Program Katekese Umat bagi orang tua di Berastagi dengan model SCP (Shared Christian Praxis) ........................................................ 119

  1. Latar Belakang Program .............................................................. 119

  2. Tujuan Program .......................................................................... 120

  3. Contoh program katekese umat bagi orang tua di Paroki St Fransikus Assisi Berastagi ........................................................... 121

  a. Tema-tema katekese umat bagi orang tua di paroki St Fransiskus Asisi Berastagi ................................................. 121

  b. Usukan Program ................................................................... 124

  c. Petunjuk Pelaksanan Program .............................................. 129

  C. Salah satu Contoh Satuan Persiapan Katekese Umat Dengan Model SCP (Shared Christian Praxis) Bagi Orang tua ................................. 131

  BAB V. KESIMPULAN ..................................................................................... 146 A. Kesimpulan ......................................................................................... 146 B. Saran ................................................................................................... 149 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 150

  LAMPIRAN

  Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian di Paroki ........................................................ (1) Lampiran 2: Surat Ijin Penelitian di Stasi ........................................................... (2) Lampiran 3: Surat Pernyataan dari Paroki ......................................................... (3) Lampiran 4: Kuesioner Penelitian ..................................................................... (4) Lampiran 5: Teks Kitab Suci .............................................................................. (10) Lampiran 6: Cerpen ............................................................................................ (11) Lampiran 7: Teks lagu ....................................................................................... (13)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci

  KS : Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti singkatan yang terdapat dalam daftar singkatan Alkitab Deuterokanonika (1995) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia B.

   Singkatan Dokumen Resmi Gereja

  CT : Chatechesi Tradendae, Ajaran Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, klerus dan segenap umat beriman katekese masa kini, 16 Oktober 1979

  EN : Evangelii Nuntiandi (Imbauan Apostolik Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Zaman Modern, 8 Desember 1975).

  FC : Familiaris Consortio (Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Peranan Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern,

  22 November 1981). GE : Gravissimum Education, pernyataan konsili vatikan II tentang Pendidikan Kristiani.

  GS : Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam Dunia Modern, 7 Desember 1965).

C. Singkatan lainnya

  Art : Artikel Kan : Kanon KK : Kepala Keluarga KWI : Konferensi Waligereja Indonesia Lih : Lihat PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia SCP : Shared Christian Praxis SP : Satuan Persiapan St : Santo

   

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Orang tua adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan anak, baik

  pendidikan intelektual amak. Tugas dan kewajiban ini tak tergantikan oleh siapa pun, baik itu guru disekolah, sesama masyarakat maupun para pelayanan di dalam gereja. Sehingga orang tua benar-benar menjadi yang pertama dan utama dalam mendidik dan mendewasakan anak-anaknya. Keluarga menjadi sekolah iman yang pertama. Keluarga merupakan sekolah pertama yang mengajarkan keutamaan-keutamaan sosial yang dibutuhkan setiap masyarakat di mana anak- anak hidup dan berkembang. Orang tua mengenalkan berbagai kebiasaan hidup rohani baik mulai dari doa-doa harian, cerita kitab suci serta kebiasaan upacara Gereja.

  Konsili Vatikan II, dalam Gravissimum Educationis (Pernyataan tentang

  Pendidikan Kristiani = GE) artikel 3 menuliskan “Kerena mereka meneruskan

  kehidupan kepada anak-anaknya, maka orang tua mengembang tugas maha berat, yakni mendidik putera-puteri dan sebab itu mereka harus diakui sebagai pendidik yang pertama dan utama”.

   

  Orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya seperti Kristus menjadi teladan bagi umat. Dalam agama Katolik, Kristuslah yang menjadi teladan yang paling hakiki. Kristus menjadi teladan karena kemuliaan dan keberhasilannya dalam mewujudkan keselamatan manusia. Kristus juga mengakui bahwa manusia adalah anak-anak-Nya yang mempunyai relasi pribadi yang dekat, dengan harapan agar manusia dapat menyatu dengan Kristus sendiri.

  Begitu juga hubungan antara orang tua dan anak. Orang tua sebagai teladan anak hendaknya membangun relasi yang dekat dengan anak, dengan mengakui keberadaan anak terciptalah relasi yang baik diantara anak dan orang tua.

  Tugas mendidik berakar dalam panggilan utama suami istri untuk berperan serta dalam karya penciptaan Allah. Bila orang tua dalam kasih dan karena kasih melahirkan pribadi baru yang dipanggil. Bila orang tua dalam kasih dan karena melahirkan pribadi baru yang dipanggil untuk tumbuh dan berkembang, maka orang tua bertanggung jawab mengemban tugas membantunya menjadi manusia utuh, karena mereka memberikan kehidupan kepada anak-anak, maka para orang tua mengemban tugas mahaberat mendidik anak dan sebab itu mereka harus diakui sebagai pendidik pertama dan utama. Tugas mendidik itu begitu penting sehingga bila tidak ditunaikan sulit dapat dilengkapi. Para orang tua wajib untuk menciptakan lingkungan keluarga, yang dijiwai cinta kasih terhadap Allah dan manusia, sehingga membantu pendidikan pribadi dan sosial anak- anak yang utuh. Sebab itu keluarga adalah sekolah pertama keutamaan- keutamaan sosial yang dibutuhkan setiap masyarakat. Terutama di dalam keluarga katolik, yang dilengkapi rahmat dan tugas sakramen perkawinan, anak-

   

  anak sejak dini harus diajari memandang dan menyembah Allah serta mencintai sesama sesuai dengan iman yang diterima dalam permandian. Dalam keluarga anak-anak mendapatkan pengalaman pertama baik sekitar masyarakat manusia yang sehat, maupun sekitar gereja. Akhirnya melalui keluarga, anak-anak mulai perlahan-lahan dihantar masuk ke dalam pergaulan para warga dan ke dalam umat Allah. Oleh karena itu para orang tua harus sadar betapa pentingnya keluarga yang benar-benar katolik untuk kehidupan dan kemajuan umat Allah sendiri. Maka mereka harus diakui pendidik pertama dan utama anak-anaknya.

  Tugas pendidik ini begitu menentukan sehingga hampir tak tergantikan bila tidak ada (GE art.3) Orang tua menjadi sebuah janji, janji itu berupa kebebasan dan dukungan terhadap anak. Janji merupakan hasil pertemuan antara hukum dan teladan, melalui hukum dan teladan membuka masa depan bagi anak. Orang tua menjadi sebuah janji melalui kebebasan, dukungan untuk keberhasilan masa depan anak.

  Kristus sendiri menjanjikan sebuah keselamatan bagi anak dan Dia sendiri keselamatan itu yang diberikan melalui penebusan dosa manusia dengan wafat di salib. Begitulah hendaknya orang tua menjadikan dirinya sebuah janji melalui kebebasan, dukungan untuk keberhasilan masa depan anak sehingga anak akan mencapai keberhasilan melalui orang tua.

  Orang tua mempunyai tugas atau tanggung jawab mendidik anak, sebab tugas orang tua menjadi pendidik iman anak yang pertama dan utama.

  Pendidikan iman anak merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan

   

  dengan senang hati, terus menerus, tanpa pamrih dan pengorbanan diri. Dengan kepercayaan dan keyakinan hendaknya orang tua terus mendampingi anak- anaknya mengenai nilai-nilai yang pokok dalam hidupnya. Dan orang tua perlu sadar bahwa Tuhan telah memilih dan memberi kepercayaan kepada mereka untuk mendidik dan membesarkan anak-anak mereka agar berkembang sebagai anak Allah sebagai sahabat Yesus, Bait Allah, Roh Kudus dan sebagai anggota gereja.

  Dalam mendidik anak, orang tua mempunyai dua fakta kodrati yang jelas, yaitu yang pertama adalah bahwa orang tua mempunyai hak atas anaknya. Hak orang tua atas anaknya adalah membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Orang tua adalah sumber kehidupan anak, orang tua bersama Tuhan menciptakan manusia baru. Kelahiran anak bukan hanya peristiwa jasmaniah saja, tetapi merupakan buah cinta yang terindah sehingga orang tua memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Dan ketika anak beranjak dewasa anak diharapkan untuk dapat memutuskan sendiri hal-hal yang menyangkut pribadinya dan orang tua hanya memberi dorongan dan nasehat. Fakta yang kedua, anak berhak atas pendidikan. Sebagai manusia yang mempunyai derajat dan martabat yang sama, anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tua. Baik anak, pendidikan merupakan suatu kebutuhan hidup yang perlu dipenuhi, karena pendidikan yang baik dari orang tua dapat membantu anak membangun dasar yang kuat untuk kehidupan yang akan datang. Maka orang tua perlu bertanggung jawab penuh atas pendidikan ini.

   

  Namun dalam kenyataannya sering dijumpai banyak orang tua yang belum menyadari sepenuhnya tentang pelaksanaan tugasnya, khususnya dalam mendidik iman anak. Hal ini mungkin disebabkan oleh terpancarnya orang tua terhadap tugas pada umumnya, misalnya seorang bapak yang mempunyai tugas mencari nafkah untuk keluarga dan sedangkan ibu hanya mengurus dan merawat anak. Ada juga anggapan dari orang tua bahwa mereka sudah mendidik jika mereka sudah memenuhi kebutuhan dan memberi aturan-aturan dalam keluarga.

  Berdasarkan pengalaman, penelitian dan informasi awal melalui wawancara dengan beberapa orang tentang pendampingan orang tua dalam sekolah minggu, yang terjadi di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi pada sekarang ini banyak mengalami kemunduran. Di Paroki St Fransikus Assisi Berastagi banyak orang tua yang lebih mementingkan pekerjaan daripada mengembangkan perilaku iman anak. Selain itu banyak juga anak yang sudah malas mengikuti kegiatan sekolah minggu karena pengaruh dari perkembangan teknologi baik itu internet maupun TV, dan orang tua hanya diam saja. Orang tua kurang menyadari bahwa kegiatan sekolah minggu sangat membantu mengembangkan perilaku iman anak. Bimbingan orang tua tidak cukup hanya sebatas ilmu saja. Mereka perlu menyadari bahwa mengembangkan perilaku iman anak sangat penting dan juga membutuhkan peran orang tua serta bimbingan agar anak senantiasa berkembang dalam hal imannya.

  Melihat permasalahan di atas ini, maka penulis tergerak hatinya untuk menyusun skripsi yang berjudul “PERAN PENDAMPINGAN ORANGTUA

   

DALAM SEKOLAH MINGGU TERHADAP PERILAKU IMAN ANAK

DI PAROKI St FRANSISKUS ASSISI BERASTAGI”. Melalui judul ini,

  penulis mengajak para orang tua di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi untuk lebih memperhatikan perilaku iman anak dalam keluarga, tertutama dalam keterlibatan anak dalam setiap kegiatan sekolah minggu maupun lingkungan.

  B. Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan peran pendampingan orang tua terhadap perkembangan perilaku iman anak?

  2. Sejauh mana peran pendampingan orang tua dalam meningkatkan perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu ?

  3. Sejauh mana orang tua memahami tugas dan tanggung jawab mereka dalam mengembangkan perilaku iman anak?

  4. Apakah orang tua di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi sudah mengembangkan perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu?

  5. Apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pendampingan orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak melalui sekolah minggu?

  C. Tujuan Penulisan

  1. Memberikan pengertian pada orang tua bahwa melalui kegiatan sekolah minggu sangat berguna terutama dalam mengembangkan perilaku iman?

   

  2. Menjelaskan sejarah singkat sekolah minggu dan tujuan pelaksanaan sekolah minggu.

  3. Mendeskripsikan situasi kongkrit pendidikan iman anak di Paroki St.

  Fransiskus Assisi Berastagi.

  4. Membantu orang tua untuk memahami akan tugas dan tanggung jawab dalam mengembangkan perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu.

  5. Mengetahui sejauh mana orang tua menyadari tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik iman anak yang utama dalam keluarga.

D. Manfaat Penulisan

  1. Meningkatkan pengetahuan orang tua terhadap pentingnya mengembangkan perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu.

  2. Orang tua mendapatkan pemahaman yang cukup sebagai pendamping dalam perkembangan iman anak serta menyadari perannya dalam pendampingan iman anak dalam keluarga.

  3. Memberikan masuk kepada orang tua agar mereka semakin menyadari dan bertanggung jawab sebagai pendidik utama dan pertama dalam mengembangkan perilaku iman

  4. Memberikan masuk pada orang tua di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi agar lebih memperhatikan perkembangan perilaku iman anak.

    E.

   Metode Penulisan

  Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis yakni memaparkan, menguraikan serta menganalisa permasalahan yang ada, sehingga ditemukan jalan pemecahan yang tepat. Data diperoleh berdasarkan kuesioner yang disebarkan kepada orang tua sebagi responden.

  Berdasarkan kajian pustaka dan hasil penulisan, dilakukan analisa terhadap permasalahan yang ada. Penelitian ini dilaksanakan di Paroki St. Fransisikus Assisi Berastagi Kabupaten Karo Sumatera Utara.

F. Sistematika Penulisan

  Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai penulisan ini, penulis menyampaikan pokok-pokok gagasan sebagai berikut:

  BAB I: PENDAHULUAN Bab ini merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. BAB

  II: PERAN ORANGTUA TERHADAP PERKEMBANGAN PERILAKU IMAN ANAK DALAM SEKOLAH MINGGU

  Bab ini membahas tentang pengertian pendidikan iman; pengertian pendidikan, perilaku iman, pendidikan anak, iman, pertumbuhan dan perkembangan anak, pengertian pendidikan iman anak;

   

  bentuk-bentuk pendidikan iman anak. Keluarga dan jemaat sebagai kancah pendidikan iman anak; pendidikan iman anak dalam keluarga, peran jemaat dalam pendidikan iman anak. Sekolah minggu sebagai wadah mengembangkan perilaku iman anak; pengertian sekolah minggu,latar belakang sekolah minggu,dasar sekolah minggutujuan sekolah minggu. Peran orang tua terhadap perkembangan iman anak di era modernisasi; peran orang tua dalam perkembangan iman anak, orang tua dan kegiatan sekolah minggu, konsekuensi peran orang tua; orang tua perlu sadar akan peran utamanya, pengetahuan tentang cara mendampingi, kemudian diterangkan dalam kerangka pikir.

  BAB III: PENELITIAN TENTANG PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM SEKOLAH MINGGU TERHADAP PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI ST FRANSISKUS ASSISI BERASTAGI. Pada bab ini dijelaskan metode penelitian; tujuan penelitian, jenis penelitian, tempat dan waktu, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, insterumen penelitian. Laporan penelitian melalui kuesioner, hasil wawancara. Pembahasan hasil penelitian dan kesimpulan hasil penelitian.

  BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE UMAT SEBAGAI USAHA MENINGKATKAN PERAN PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM SEKOLAH MINGGU TERHADAP

   

  PENGEMBANGAN PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI ST FRANSISKUS ASSISI BERASTAGI.

  Membahas tentang katekese umat bagi orang tua dengan model SCP; pengertian katekese umat, tujuan katekese umat bagi orang tua, isi katekese umat bagi orang tua, kekhasan katekese bagi orang tua, proses katekese umat bagi orang tua dengan model SCP. Program katekese umat bagi orang tua di Berastagi dengan model SCP; latar belakang program, tujuan program, contoh program katekese umat bagi orang tua di paroki St Fransiskus Assisi Berastagi.

  BAB V: PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan dan saran.

   

  

BAB II

PERAN ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN PERILAKU

IMAN ANAK DALAM SEKOLAH MINGGU

Dalam bab II skripsi ini penulis menguraikan tentang pendidikan iman yang meliputi; Pengertian pendidikan, pengertian pendidikan iman anak. Keluarga dan jemaat sebagai kancah pendidikan iman anak; pendidikan iman

  anak dalam keluarga, peran jemaat dalam pendidikan iman anak. Sekolah minggu sebagai wadah mengembangkan perilaku iman anak; pengertian sekolah minggu, latar belakang sekolah minggu, dasar sekolah minggu tujuan sekolah minggu. Peran orang tua terhadap perkembangan iman anak di era modernisasi; peran orang tua dalam perkembangan iman anak, orang tua dan kegiatan sekolah minggu, konsekuensi peran orang tua; orang tua perlu sadar akan peran utamanya, pengetahuan tentang cara mendampingi, kemudian diterangkan dalam kerangka pikir.

A. Pendidikan Iman 1. Pengertian Pendidikan Iman a. Pengertian pendidikan

  Pendidikan telah menjadi bagian dalam kehidupan di masyarakat. Jika ditinjau dari lingkungan di mana pendidikan dilaksanakan, pendidikan dibedakan menjadi pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan

   

  menjadi pendidikan jasmani, pendidikan budi pekerti, pendidikan agama, dan lain-lain. Meskipun istilah pendidikan sering digunakan namun kadang arti pendidikan sering kurang dipahami.

  Bapak pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara, memberikan rumusan tentang pendidikan sebagai berikut: “Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksud dari pendidikan yaitu menuntut segala kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaanya yang setingginya” (Suwarno, 1992:2-3). Menurut Driyarkara (Driyarkara, 1980:87), pada hakekatnya pendidikan adalah “pemanusian manusia muda”. Proses pemanusiaan manusia muda tersebut dalam arti humanisasi. Anak didik sebagai manusia muda kendati sejak lahir sudah seorang pribadi manusia, tetapi masih perlu bertumbuh menjadi manusia yang paripurna. Proses humanisasi berarti proses pemanusiaan dalam arti pembudayaan.

  Berkaitan dengan pendidikan, Gereja juga mempunyai suatu pandangan tersendiri. Konsili Vatikan II dalam Deklarasi tentang Pendidikan Kristen memberi petunjuk yang jelas yakni: “Pendidikan yang benar mengikhtiarkan pembinaan pribadi manusia untuk tujuan akhirnya dan serentak untuk kepentingan masyarakat. Manusia adalah anggota masyarakat dan setelah dewasa ia berperan serta dalam tugas-tugas masyarakat” (GE art 1). Konsili Vatikan II menyatakan bahwa pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang menuju ke pembentukan pribadi manusia dalam kaitannya dengan arah tujuan akhir hidup manusia dan sekaligus dalam kaitannya dengan kebaikan

   

  masyarakat tempat peserta didik menjadi anggota dimana ia harus bertanggung jawab sebagai warga yang dewasa. Dari pengertian pendidikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu usaha membantu seseorang.

b. Perilaku Iman

  Perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak bisa diamati pihak luar. Aktifitas manusia yang dapat diamati langsung itu seperti orang berjalan, naik sepeda, mengendarai motor atau mobil. Sedangkan aktifitas yang tidak dapat diamati pihak luar seperti seorang yang duduk diam dengan buku di tangan. Kita tidak dapat mengetahui kegiatan apa yang sedang dilakukan orang tersebut sekalipun kita mengetahui bahwa orang sedang membaca. Kegiatan membaca tersebut sebenarnya merupakan perkiraan saja dari orang yang melihatnya.

  Melalui pengertian ini dapat dilihat bahwa perilaku itu dapat dilihat melalui indera karena perilaku itu adalah tindakan dari subyek itu sendiri dimana ia mendapat rangsangan dari luar untuk melalukan suatu tindakan. Misalnya seorang anak melihat temannya menaiki sepeda kemudian untuk sama seperti temannya yang bisa naik sepeda iapun juga harus belajar untuk naik sepeda. Dalam konteks perilaku iman, penulis mengambil contoh dari pengalaman anak seperti bersikap sopan terhadap orang tua, jujur, adil, menghormati orang tua, mencintai semua orang.

    c.

   Pendidikan Anak

  Pelaksanaan pendidikan itu tidak hanya berlangsung di dalam keluarga saja, melainkan pendidikan itu dapat berlangsung di berbagai tempat antara lain: keluarga, sekolah dan masyarakat atau lingkungan dimana anak hidup. Ketiga lingkup pendidikan itu memiliki perbedaan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, sebab pendidikan merupakan satu kegiatan yang diterima anak dalam keluarga dan masyarakat yang merupakan rangkuman dari proses yang berlangsung seumur hidup.

  Dari semua tempat tersebut yang menjadi pendidikan yang pertama dan terutama adalah keluarga. Dalam keluarga seorang anak mendapat pendidikan yang pertama dari orang tuanya seperti perhatian, kasih sayang, teguran dan nasehat semenjak ia kecil. Dalam hal ini orang tua berperan sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan iman anak di sekolah dan masyarakat, sebab itu orang tua sebagai penanggungjawab iman anak dalam keluarga, bertanggung jawab dan berkewajiban untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berguna bagi pembentukan mental dan kepribadian anak-anak itu sendiri.

  Pendidikan anak sejak dini harus ditanamkan dalam keluarga sehingga anak dapat berkembang menjadi seorang yang beriman. Pentingnya pendidikan iman dalam keluarga memperlihatkan bahwa orang tidak boleh hanya mementingkan pendidikan secara umum yakni yang berkaitan dengan prestasi belajar melainkan pendidikan agama. Pendidikan agama dalam keluarga tidak

   

  hanya mencakup mengajar agama, melainkan juga perlu memperkenalkan sikap-sikap dasar hidup kristiani, diantaranya kasih, jujur, adil terhadap orang tua dan sesama yang dijumpainya setiap hari.

  Selain pendidikan agama yang peroleh dari keluarga, anak juga mengenal pendidikan dari pengenalannya akan dunia luar yakni sekolah, lingkungan, masyarakat dan umat atau gereja. Anak belajar dari pengalaman hidupnya sehari-hari. Pengenalan pendidikan iman anak dalam keluarga, sekolah, lingkungan, masyarakat, umat atau gereja bertujuan agar anak seusia dini mungkin dapat menyadari dan mengenali imannnya yang sedang tumbuh, sehingga anak semakin tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang dewasa.

  Anak diajar untuk memberi sesuatu kepada yang membutuhkan pertolongan, berbicara terbuka terhadap kesalahan yang dilakukannya, memaafkan teman yang bersalah padanya, tidak membenci teman yang berbuat salah padanya. Anak juga diajari untuk bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua, tidak membeda-bedakan teman atau memilih-milih teman dalam bergaul, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepadanya, bekerja dengan tekun dalam menyelesaikan tugas. Anak diajar untuk melihat, merasakan dan melakukan suatu tindakan yang baik yang didasarkan pada ketulusan hati untuk mencintai sesamanya yang berkekurangan. Anak diajak untuk melakukan suatu perbuatan atau tindakan yang baik yang didasari oleh kehendaknya yang baik sehingga mendorong serta memotivasi anak untuk selalu melakukan tindakan yang baik tersebut.

   

  Apostolik Familiaris Consortio Paus Yohanes Paulus II menyatakan demikian: Tugas mendidik berakar dalam penggilan suami-istri untuk berperan serta dalam karya penciptaan Allah, karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Oleh karena itu orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan terutama. Begitu pentinglah tugas mendidik itu, sehingga bila diabaikan, sangat sukar pula dilengkapi, sebab merupakan kewajiban orang tua: menciptakan lingkup keluarga yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang tehadap sesama sedemikian rupa sehingga menunjang kebutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak mereka. Maka keluarga itulah lingkup pendidikan pertama keutamaan-keutamaan sosial yang dibutuhkan masyarakat (FC art 36)

  Hak maupun kewajiban orang tua untuk mendidik anak bersifat hakiki karena berkaitan dengan penyaluran hidup. Selain itu bersifat asli dan utama terhadap peran serta orang lain dalam pendidikan, karena keistimewaan cinta kasih antara orang tua dan anak-anak. Lagi pula tidak dapat digantikan atau diambil alih oleh siapapun, karena itu tidak dapat diserahkan kepada orang lain atau direbut oleh orang lain.

d. Iman

  Iman adalah jawaban pribadi atas prakarsa Allah yang dikenal dalam Firman-Nya dan dalam campur tangan Allah demi keselamatan. Iman bukan hanya hasil refleksi manusia tetapi merupakan buah cuma-cuma yang dihasilkan oleh kuasa Allah, Roh Kudus dalam diri kita (Xavier Leon Dufour, 1990:282). Iman merupakan jawaban terhadap Allah akan wahyu yang dianugrahkan pada manusia. Iman bukan semata-mata tindakan manusia namun lebih pada karya Allah. Iman mencakup tiga hal yaitu: menerima, bertobat yaitu perubahan hati

   

  meninggalkan cinta diri menuju cinta hukum kasih Allah dan mengikat diri pada Kristus (Goretti, 1999:3). Manusia disertai rahmat Allah untuk menjawab wahyu Allah. Iman juga merupakan hubungan pribadi dengan Allah, yang hanya mungkin karena rahmat Allah. Akan tetapi iman tidaklah buta. Orang beriman mengetahui kepada siapa ia percaya (2Tim 1:12).

  Melihat bahwa iman merupakan jawaban pribadi manusia atas prakarsa yang dikenal dalam firman-Nya maka dalam pengalaman konkret setiap hari manusia perlu menanggapi setiap sapaan Tuhan dalam hidupnya sehari-hari, sehingga dalam situasi apapun manusia tetap setia dan beriman pada Allah.

  Beriman kepada Allah berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada kuasa Allah.

  Dalam buku ilmu kateketik dikatakan bahwa seorang beriman adalah: “Orang yang menerima dan mau tunduk serta berserah kepada Allah, mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, menerima bahwa

  Allah adalah kebenaran, menaruh kesadaran kepada-Nya dan bukan dirinya sendiri, dan dengan demikian menjadi teguh dan benar oleh karena kebutuhan dan kebenaran Allah” (Telaumbanua, 1999:44). Dengan demikian seorang dapat dikatakan beriman bila percaya dan menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Allah. Beriman berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak dan kuasa Tuhan. Untuk sampai pada iman yang mendalam dan penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan, maka manusia perlu membiasakan diri terus-menerus menghadirkan bimbingan Roh Kudus dalam seluruh peristiwa hidupnya, dan membiarkan hidupnya dipimpin oleh- Nya, karena melalui dan di dalam-Nya hidup kita semakin terarah dan akhirnya

   

  memampukan kita untuk semakin percaya dan berharap pada Tuhan adalah kebenaran.

  Boleh dikatakan orang yang beriman kepada Tuhan berarti menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan, dan tanpa ada suatu paksaan melainkan suatu keyakinan penuh dan suka rela. Oleh karena itu iman sesungguhnya adalah penyerahan total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa melainkan dengan sukarela (KWI, 1996:128).

e. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

  Semenjak bayi dilahirkan ke dunia, ia sudah secara tidak langsung berkenalan dengan iman. Iman yang dimaksud disini adalah tindakan dari ibu atau bapak dalam memberikan kasih sayang, menyusui dan menjaganya hingga ia bertumbuh menjadi seorang anak. Sikap, cinta kasih dan perhatian dari orang tua akan berdampak positif bagi perkembangan iman bayi menuju tahap selanjutnya pada tahap anak.

  Anak adalah seseorang yang berusia 2-12 tahun dan mereka memiliki potensi untuk menjadi dewasa (Soemanto, 1990:166). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil yang dapat kita perlakukan sebagaimana memperlakukan orang dewasa dan bukan seseorang mahluk yang dapat kita buat sebagai kelinci percobaan bila kita menginginkan sesuatu yang baru, tetapi anak adalah seorang individu yang mempunyai hak dan kewajiban untuk berkembang sesuai dengan keadaan dirinya.

   

  Pada tahap anak, orang tua mengajarnya untuk bersikap baik itu kepada orang tua maupun dengan orang lain dalam hal ini dengan teman-temannya.

  Karena setelah anak bertumbuh menjadi seorang remaja dan dewasa, ia akan masuk ke dalam kehidupan sosial yang lebih besar tidak terbatas pada keluarganya saja melainkan ia masuk kedalam kelompok orang dalam lingkungannya baik itu lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dalam, proses pergaulannya seorang anak yang dididik untuk bersikap baik terhadap orang lain secara tidak langsung akan memberi pengaruh dan contoh yang baik pada teman-temannya maupun masyarakat dimana ia bergaul. Orang tua memberikan pendidikan sosial berupa sikap melayani dengan cinta, bergaul dengan semua orang, menghargai dan sikap berempati atau tenggang rasa kepada orang lain yang menderita. Selain pendidikan sosial, orang tua juga memberikan pendidikan kedisiplinan misalnya disiplin dalam bermain belajar, makan, bekerja, berdoa. Pendidikan keterampilan juga diberikan orang tua misalnya, membersihkan rumah, menata ruangan, melukis, dan lain-lain.

  Seorang anak yang telah dibaptis berarti masuk dalam persekutuan hidup dengan jemaat beriman lainnya. Setelah menerima sakramen Krisma anak menjadi dewasa dalam iman dan tindakan. Ketika anak menjadi dewasa imannya menjadi lebih kritis dengan menanggapi pengalaman-pengalaman hidup terkhusus pengalaman religius yang dialaminya. Pengalaman religius itu misalnya mengalami perjumpaan dengan Allah dalam doa atau dalam keheningan. Merasa bahwa Allah hadir dan menyapanya. Pengalaman hidup itu misalnya, berjumpa dengan pengemis, merasa kasihan lalu memberi sedekah.

   

  Memberi sedekah kepada yang berkekurangan merupakan sikap hidup orang beriman.

  Setelah dewasa anak diajar pengetahuan tentang imannya. Pada waktu dewasa ia lebih berpikir kritis dalam mengaitkan antara pengalaman hidup, pengalaman religius dan pengetahuannya. Pengalaman hidup, religius dan pengetahuan merupakan aspek-aspek dalam hidup ketika seorang anak menjadi dewasa. Orang beriman tahu lebih mendalam mengenai Allah justru dalam penyerahan iman. Tidak mungkin mengenal seseorang tanpa mengetahui apa- apa mengenai dirinya. Begitu juga anak tidak dapat menyerahkan diri pada Allah, kalau ia tidak tahu siapakah Allah itu. Supaya dapat beriman dengan sungguh-sungguh, seorang anak harus mengetahui kepada siapa ia menyerahkan diri. Selanjutnya dalam penyerahan itu anak dapat memasuki pengetahuan yang lebih mendalam tentang imannya.

f. Pengertian Pendidikan Iman Anak

  Dari uraian di atas maka dapat diterangkan bahwa pendidikan iman adalah suatu usaha untuk membantu anak agar sampai pada kedewasaan iman dengan selalu tetap memperhatikan kodrat dan kemampuan dalam diri anak di mana usaha itu adalah sebuah proses yang terus-menerus. Pendidikan iman diberikan secara khusus kepada anak yang telah dipermandikan dengan sebuah tujuan agar anak semakin memperdalam imannya dan membantu menjawab kebutuhan hidup dan arti hidup bagi anak (Setyakarjana, 1976:51).

   

  Pendidikan iman anak adalah tanggung jawab utama dari orang tua. Orang tua dapat memulai dengan menanamkan pengertian bahwa hidup beriman merupakan kunci dasar hidup. Apostolik Familiaris Consortio Paus Yohanes Paulus II menyatakan demikian:

  Pendidikan iman mempunyai tujuan utama agar sebagai orang yang sudah dibaptis mereka secara bertahap dibimbing ke dalam pemahaman tentang misteri keselamatan, agar mereka khususnya anak belajar menyembah Allah dalam Roh dan dalam kebenaran terutama melalui ibadat liturgis dan agar mereka terdidik untuk menghayati hidup pribadi yang benar dan Kudus, menurut kodrat mereka yang baru (FC art 39). Secara tidak langsung sikap orang tua menunjukkan bahwa iman benar dihayati dalam keluarga, misalnya ketika pergi dan pulang kantor bapak menyalami isteri dan anak-anaknya, ketika makan bersama bapak atau ibu memberikan kesempatan pada salah seorang anak untuk memimpin doa, jika ada masalah orang tua tidak memperlihatkan di depan anak tetapi dengan dialog dan saling pengertian dalam menyelesaikan masalah rumah tangga dan lain-lain.

  Pendidikan iman anak yang diberikan orang tua kepada anak-anak hendaknya memberikan semua topik yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan pribadi anak-anak menuju pada kematangan dan kedewasaan dari sudut pandang Kristus dan gerejani, dengan berusaha menunjukkan kepada anak-anak mereka betapa dalamnya makna yang diselami berkat iman dan cinta akan Yesus Kristus. Topik itu misalnya pelajaran tentang kasih bahwa anak diajarkan untuk saling membantu khususnya terhadap orang berkekurangan, tidak dendam atau memusuhi teman yang bersalah. Secara tidak langsung orang tua

   

  memperkenalkan pada anak kebaikan yang ada pada diri Allah yang perlu dicontohi dalam hidupnya.

2. Pentingnya Pendidikan Iman Anak

  (GE) art 3 menjelaskan bahwa orang tua sebagai

  Gravissimum Educationis

  penyalur kehidupan dari Allah mempunyai kewajiban untuk mendidik anak- anak. Orang tua katolik yang telah diperkaya dengan rahmat Sakramen Perkawinan mempunyai kewajiban untuk mendidik anaknya sejak dini secara katolik. Mendidik secara katolik berarti orang tua harus berusaha memperkenalkan Allah kepada anak-anak, baik tentang pribadi Allah maupun bagaimana seharusnya anak berbakti pada Allah seperti yang telah orang tua terima dalam pembaptisan. Pendidikan iman kepada anak bukan untuk membentuk pribadi anak namun semata-mata merupakan usaha untuk membantu anak menemukan kedewasanan imannya dengan menggunakan potensi dan benih iman yang ada dalam diri anak. Benih iman ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan subur dan akhirnya berbuah. Pertumbuhan yang diharapakan sangat dipengaruhi oleh cara orang tua membantu merawat dan menjaganya.

  Hubungan antara anak dengan Allah, yaitu anak mempunyai anggapan bahwa Allah seperti orang tuanya. Di sinilah kiranya orang tua harus dapat memberikan pengertian tentang gambaran Allah yang benar melalui teladan hidup orang tua yang ditujukan pada anak-anak bahwa Allah bukan pemarah,

   

  bukan sosok yang selalu mengatur melainkan Allah yang selalu penuh ikhlas dan ketulusan sehingga peran orang tua sebagai citra Allah sungguh nyata melalui sikap keteladanan ini (Ul 6:7). Dari usaha pembenaran tentang gambaran Allah kepada anak diharapkan anak dapat memulai relasi yang dekat dan mendasar dengan Allah hingga akhirnya anak merasa sangat bersahabat dengan Allah.

  Pendidikan iman bukan hanya semata-mata menunjukkan jati diri Allah yang sebenarnya perlu diingat bahwa iman memerlukan perayaan dan penghayatan. Pendidikan iman yang menyangkut perayaan iman diupayakan melalui kesetiaan dalam hal berdoa dan beribadah yang dilalukan bersama dengan anggota keluarga dapat menjadi kebiasaan anak dalam beribadah dan akhirnya menjadi sebuah kerinduan untuk berjumpa dengan Allah melalui perayaan iman. “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26). Iman memerlukan penghayatan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga iman juga dapat membawa kedamaian bagi orang lain. Oleh karena itu anak sangat membutuhkan bantuan dan bimbingan dari orang-orang dewasa khususnya dari orang tua yang merupakan figur yang dihormati oleh anak-anak.

  Awal kehidupan dan lingkungan utama anak adalah keluarga. Dalam keluarga anak belajar dasar-dasar kepribadian, sikap dan prilaku yang akan dipergunakan untuk berhubungan dengan orang lain di luar keluarga (Adiyanti 2003:93). Apabila orang tua telah memperhatikan dasar-dasar kepribadian, sikap

   

  dan perilaku anak dalam keluarga dengan memberi kasih sayang dan perhatian penuh, maka iman anak bertambah dan berkembang ke arah yang lebih baik dan terutama ketika anak berada di luar keluarga.

  Namun dalam kehidupan setiap hari seringkali orang tua salah mengerti peran mereka sebagai pendidik iman anak yang pertama dan utama dalam keluarga. Mereka berpikir bahwa tugas yang paling pertama dan utama adalah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan memberi uang dan materi tugas mereka dianggap sudah selesai tanpa ada waktu sedikit pun untuk berdialog dan bersahabat dengan anak-anak untuk mengetahui situasi hidup mereka, jadi tidak mengherankan bila anak-anak mereka lebih mengasihi pembantu dari pada orang tuanya sendiri.

  Memang kebutuhan yang lain sangatlah menunjang tetapi yang paling penting dan mendasar dalam hidup anak yang masih kecil dalam keluarga adalah perhatian dan kasih sayang. Karena sikap inilah yang akan mempengaruhi hidup hidupnya dimasa yang akan datang. Sebagai orang tua yang bijaksana perlu memperhatikan bagaimana cara terbaik dalam menciptakan suasana yang kondusif terutama membantu pertumbuhan dan perkembangan iman anak dalam keluarga. Anak akan melihat dan belajar banyak dari kehidupan di mana mereka tinggal.

  Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama dalam keluarga perlu memperhatikan pendidikan iman anak dalam keluarga secara lebih bijaksana dan bertanggung jawab, terutama bagaimana cara orang tua menunjukkan

   

  kesaksian hidup yang baik dalam keluarga. Seorang anak bagaikan sebuah lembaran putih. Apa yang tertulis pada lembaran itu, hal itu pula yang akan memberi warna pada diri anak. Dengan demikian bahwa kesaksian hidup orang tua dalam keluarga sangatlah besar pengaruhnya bagi kehidupan anak dalam keluarga. Karena anak lebih banyak melihat dan merekam apa yang dilakukan orang tua terhadap mereka didalam keluarga.

3. Tujuan Pendidikan Iman Anak

  Orang tua yang pertama mengajari dan membimbing anak-anaknya menjadi orang yang berguna bagi Negara dan Gereja. Awal kehidupan dan lingkungan utama bagi anak adalah keluarga. Keluarga akan memberikan dasar- dasar kepribadian, sikap dan prilaku yang akan dipergunakan untuk berhubungan dengan orang lain.

  Pendidikan iman anak dalam keluarga bertujuan untuk membantu anak agar semakin berkembang dan bertumbuh menjadi seorang pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab serta mampu mewujudkan iman dalam pengalaman konkret sehari-hari melalui kedekatan mereka secara pribadi akan Yesus yang telah mereka hidupi dalam keluarga. Oleh sebab itu tahap demi tahap anak perlu dibantu dan dibina terus-menerus, sehingga pengalaman iman akan Yesua yang mereka peroleh dalam keluaraga tetap mewarnai seluruh hidup mereka. Betapa pentingnya tujuan pendidikan iman anak dalam keluarga.

  Tempat pelayanan dan kesaksian iman anak yang pertama dalam keluarga

   

  adalah orang tua. Melalui kesaksian hidup orang tua dalam doa bersama, membaca sabda Tuhan bersama, ke gereja bersama, maka dengan sendirinya orang telah mengantar anaknya untuk sampai pada kepenuhan iman yang mendalam akan Yesus Kristus yang sengsara, wafat dan bangkit, akhirnya dalam diri anak tumbuh suatu kerinduan besar untuk semakin mencintai Yesus dalam hidup mereka setiap hari.

4. Bentuk-bentuk Pendidikan Iman Anak

  Pendidikan iman anak dimulai sedini mungkin, sejak lahir dan terus- menerus sampai anak menjadi dewasa. Orang tua wajib menjamin pendidikan katolik, tidak hanya sebagai kewajiban tetapi anak perlu mendapat bimbingan agar iman yang tertanam seharusnya menjadi milik pribadi. Orang tua harus menjamin dan memelihara iman anak, menciptakan suasana katolik dalam hidup mereka. Karena iman merupakan anugerah atau panggilan dari Tuhan yang bertumbuh sesuai dengan dinamika perkembangan anak, usia, psikologi inteletual dan lingkungan. Orang tua dituntut kemampuannya memberi pendidikan iman menuju pada kedewasaan iman. Selain nilai-nilai iman yang ditanamkan dalam keluarga, orang tua juga perlu menanamkan bentuk pendidikan iman lainnya yang bisa membantu perkembangan dan pertumbuhan iman anak melalui setiap cara yang nantinya dapat membantu pribadi anak semakin dewasa, mandiri dan bertanggung jawab.

   

  Bentuk-bentuk pendidikan iman anak adalah pendidikan sosial, pendidikan keterampilan dan pendidikan kedisiplinan. Pendidikan sosial bagaimana orang tua mempelajari anak-anak mereka bersikap seperti sikap melayani dengan penuh cinta, sikap untuk bergaul dengan semua orang, sikap menerima orang apa adanya, sikap menghargai dan sikap berempati atau tenggang rasa kepada orang lain yang menderita dan yang mengalami kesusahan. Pendidikan ketrampilan, bagaimana orang tua mengajari anak- anaknya untuk terampil dalam memasak, menjahit menata bunga, menata rumah, terampil dalam melukis dan lain-lain. Pendidikan kedisiplinan, bagaimana orang tua mengajar anak-anaknya untuk disiplin dalam waktu belajar, makan, bermain, bekerja, berdoa dengan baik dalam keluarga, lingkungan dan gereja. Apabila dalam keluarga orang tua sudah menanamkan pendidikan ini dan memberi kepercayaan penuh kepada anak-anaknya sejak masih kecil dalam keluarga, maka anak akan semakin bertanggungjawab dengan sikap hidupnya baik di dalam keluarga, sekolah, gereja maupun masyarakat yang lebih luas.

B. Keluarga dan Jemaat Sebagai Kancah Pendidikan Iman Anak 1. Pendidikan Iman Anak Dalam Keluarga Keluarga merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan iman anak.

  Dari orang tua anak mulai dan mendapat pendidikan iman yang pertama dan utama, dan mulai mengalami perhatian dan kasih sayang. Perhatian dan kasih sayang dari orang tua ini merupakan tanda bagi anak-anak yang dikasihi Allah.

   

  Anak adalah milik Tuhan, diserahkan sepenuhnya kepada orang tua untuk mengasuh dan mendidik mereka, orang tua dipanggil pada suatu tanggung jawa baru. Tanggung jawab ini harus diterima sebagai suatu anugrah dari Allah.

  Dalam dokumen Gravissimum Educations , khususnya pada ayat art 3 digaris bawahi pentingnya peranan dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik iman yang pertama dan utama dalam keluarga yang dapat menciptakan dan hidup dalam nilai-nilai kristiani pada diri anak-anaknya. Orang tua telah menerima tugas dan tanggungjawab dari Tuhan menjaga dan memelihara serta mendidik anak-anak sesuai jalan Tuhan. Oleh karena itu, para orang tua wajib menciptakan lingkungan keluarga yang selalu dijiwai oleh semangat cinta kasih terhadap Allah dan manusia. Keluarga akan selalu menciptakan pendidikan iman anak secara menyeluruh dan utuh, terutama dalam hal perkembangan iman anak maupun perkembangan pribadi anak. Orang tua memberikan nilai iman dalam hidup anak sehari-hari, terutama kebajikan-kebajikan yang telah diterima dalam keluarga.

  Apostolik Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio menekankan bahwa peranan keluarga Kristen dalam dunia modern. Dalam dunia modern yang mengalami perkembangan sangat pesat dimana masyarakat dan budaya mengalami perubahan yang mendalam, keluarga-keluarga katolik sebagai Gereja kecil dalam masyarakat perlu memberikan perhatian penuh pada perkembangan iman anak-anaknya, pernikahan dan keluarga Kristen bertujuan untuk membangun Gereja. Dalam keluarga manusia tidak hanya menerima kehidupan, namun secara beranggur-anggur melalui pendidikan anak diantar

   

  memasuki pesekutuan manusiawi serta melalui kelahiran baptis dan pendidikan iman anak juga diajak memasuki keluarga Allah yakni Gereka (FC art 15).

2. Peran Jemaat Dalam Pendidikan Iman Anak

  Dalam jemaat setempat, umat dapat memberi bantuan lebih besar dalam pendidikan iman anak, terutama kepada anak-anak atau keluarga-keluarga yang kurang memperhatikan pendidikan katolik anak-anaknya. Memang peran liturgi selalu mempunyai unsur dan fungsi pendidikan juga terhadap anak-anak meskipun demikian, amat penting bahwa dalam pelajaran agama, baik di sekolah maupun di Paroki, pendidikan iman anak diberi perhatian yang wajar, supaya perkembangan iman anak dapat diperhatikan secara bertahap. Pendidikan iman anak yang harus diselaraskan dengan alam pikiran dan daya tangkap anak-anak. Sehubungan dengan ini terutama pendidikan iman anak, maka bukan hanya orang tua saja yang perlu memperhatikan perkembangan iman anak tetapi para jemaat di sekitar maupun guru.

  Dalam pendidikan iman anak orang tua tidak hanya bekerja sendiri tetapi harus bekerja sama dengan jemaat atau guru, supaya anak-anak dapat berkembang sesuai dengan umur dan taraf pertumbuhannya, bukan hanya dalam menghayati hal-hal Ilahi pada umumnya, melainkan juga dalam mengalami nilai-nilai manusiawi yang terdapat dalam pelajaran sekolah minggu atau perayan Ekaristi anak. Nilai-nilai manusiawi misalnya; kebersaman, pemberian salam, kemampuan untuk minta ampun dan memberi ampun ungkap rasa terima kasih, jamuan persahabatan dan perayaan pesta, mengikuti perayaan Ekaristi

   

  anak banyak dapat pelajaran yang diterima diantaranya adalah: memperkenalkan nilai-nilai manusiawi kepada anak-anak, sehingga tahap demi tahap jiwa anak terbuka menangkap nilai-nilai kristiani dan untuk merayakan misteri Kristus sesuai umur mereka.

  Maka pengalaman dalam hidup bersama merupakan kesatuan dalam keluarga maupun dalam hidup bersama dengan orang lain juga hidup bermasyarakat. Kesadaran dalam hidup bersama keluarga dan bersama orang lain sungguh menyenangkan sebab dalam kebersamaan semua orang atau semua anggota keluarga sungguh merasakan kehangatan di dalam keluarga juga membina kesadaran hidup dengan orang lain atau dengan Jemaat sebagai satu keluarga dalam Kristus. Orang harus menciptakan suasana kebersamaan di dalam keluarga, masyarakat, maupun jemaat setempat, karena kebersamaan merupakan tanda persatuan dan kesatuan hidup yang akrab dengan anggota jemaat lainnya.

C. Sekolah Minggu Sebagai Wadah Mengembangkan Perilaku Iman Anak.

1. Pengertian Sekolah Minggu

  PIA adalah singkatan dari Pendampingan Iman Anak yang sebelumnya biasa disebut dengan ‘Sekolah Minggu”. Istilah sekolah minggu ini memang cukup dikenal. Sekolah minggu adalah suatu kegiatan di gereja yang diikuti oleh anak-anak untuk memperdalam iman mereka. Sekolah minggu merupakan salah satu wadah untuk mengembangkan perilaku iman anak dan keperibadiannya.

   

  Sekolah minggu tidak hanya mengembangkan iman anak, tetapi juga wadah perkembangan kepribadian anak-anak.

  Kegiatan sekolah minggu adalah salah satu kegiatan yang penting karena bertujuan untuk membimbing, membina, dan mendampingi anak agar semakin mengenal dan mampu menjalin persahabatan dengan Yesus secara lebih dekat, seperti apa yang telah difirmankan Yesus sendiri dalam Injil Luk 18:15-17 yakni: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah”.

  Anak-anak adalah individu yang mempunyai ciri-ciri khusus yang berbeda dengan yang lainnya. Anak-anak juga merupakan umat Allah yang diselamatkan oleh-Nya. Anak juga menerima rahmat Allah yang diterimanya dari sakremen pembaptisan. Oleh karena itu, anak-anak mempunyai hak yang sama dengan kaum beriman lainya untuk berkembang dalam iman. Untuk dapat mengembangkan iman anak-anak, diperlukan suatu aktivitas yang sesuai dengan psikologi anak. Oleh karena itu, Gereja mengadakan kegiatan khusus untuk anak-anak yang disebut dengan Sekolah Minggu atau PIA (Pendampingan Iman Anak).

  Berdasarkan pemahaman tentang sekolah minggu, maka menurut penulis sekolah minggu adalah suatu proses pendampingan yang dilakukan oleh orang beriman dewasa kepada anak-anak untuk mengembangkan iman mereka kepada Yesus Kristus. Yang bertujuan untuk membantu mengembangkan imannya sehingga ketika sudah dewasa, mereka diharapkan dapat bertanggungjawab dan

   

  terlibat aktif dalam kehidupan menggereja. Kegiatan Sekolah minggu tidak akan berjalan dengan baik dan lancar jika tidak ada dukungan dan kerjasama yang baik antara pastor paroki, para pendamping, orang tua dan dari semua umat.

2. Latar Belakang Sekolah Minggu.

  Sekolah minggu adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Gereja supaya tercapai pendidikan iman bagi anak-anak. Oleh sebab itu, kita semua hendaknya mengetahui seluk beluk pendampingan iman bagi anak-anak. Hal ini diperlukan agar dalam mendampingi anak-anak, pendamping dapat memberikan materi yang sungguh sesuai dengan maksud dari kegiatan sekolah minggu.

  Untuk mengetahui seluk-beluk sekolah minggu, Didik Bagiyowinadi (2009:43-46) mengatakan tentang asal mula Pendampingan Iman Anak yang pada awal mula namanya adalah Sekolah Minggu. Awal mula Sekolah minggu berasal dari tradisi Gereja Protestan. Sejak reformasi Gereja oleh Martin Luther, beberapa Gereja dan negara memang kemudian menerima Protestantisme dan melepaskan diri dari negara-kepausan di Roma, salah satunya adalah Inggris.

  Pada abad 18 Inggris mengalami krisis ekonomi yang sangat parah, sehingga setiap orang berusaha bekerja mencukupi kebutuhan hidupnya, dan memberikan makan kepada anak-anaknya. Karena situasi yang seperti itu, maka banyaklah anak gelandangan yang sangat kurang perhatian, mereka pun harus bekerja setiap hari dan hanya libur pada hari Minggu. Dengan situasi yang seperti ini, maka anak-anak akhirnya menjadi liar dan nakal. Ada seorang wartawan yang bernama Robert Raikes yang ingin meliputi berita di negara itu

   

  merasa prihatian dan mengajak teman-temannya untuk mencoba mengubah keadaan dengan mendampingi mereka. Setiap minggu anak-anak di kumpulkan di dapur milik ibu Meredith. Di dapur itulah anak-anak mendapatkan makanan, pelajaran tentang sopan santun, membaca, menulis dan mengajarkan tentang Kitab Suci. Dibutuhkan waktu yang sangat lama serta perjuangan, kesabaran, dan keuletan dalam mendampingi anak-anak apa lagi nereka anak-anak liar dan nakal. Sekolah minggu juga berkembang di kota-kota lain, sehingga pada tahun 1785 di seluruh Inggeris anak-anak yang terkumpul menjadi 250.000.

  Gereja Katolik melihat bahwa pewartaan bagi anak-anak yang dilakukan oleh Gereja Protestan cukup berhasil, maka gereja Katolik juga mengadakan kegiatan sekolah minggu. Tetapi karena tujuan dan kegiatan itu untuk membantu anak-anak katolik dalam mengembangkan imannya, serta setiap paroki tidak semua melakukannya pada hari minggu, maka nama Sekolah Minggu dirasa kurang sesuai. Sehingga nama kegiatan ini disetiap Paroki berbeda-beda misalnya: Bina Iman Anak, Pendampingan Iman Anak, ASMIKA (Anak Sekolah Minggu Katolik), atau menggunakan nama santo-santa. Maria Gorreti Sugiarti (1999:2-3) menjelaskan bahwa kegiatan sekolah minggu yang terjadi di paroki-paroki, mula-mula bertujuan agar orang tua tidak terganggu dalam mengikuti perayaan Ekaristi.

3. Dasar Sekolah Minggu.

  Sekolah minggu memiliki landasan edukatif dan teologis. Dasar edukatifnya ialah pentingnya pendidikan anak usia dini, sedangkan teologisnya

   

  adalah iman anak akan bertumbuh dan berkembang melalui rahmat Allah sendiri yang berkarya pada diri anak-anak dan orang tua pun bertanggungjawab atas tumbuh dan berkembangnya iman anak. Dasar edukatif munculnya sekolah minggu berkaitan dengan pentingnya pendidikan usia dini bagi anak-anak sebagai usaha untuk menyiapkan anak-anak menjadi genarasi penerus Gereja. Jika, sejak masa anak-anak tidak diperhatikan maka akan menjadi lebih susah diarahkan ketika mereka menginjak masa dewasa. Maria Goretti Sugiarti (1999:17) menjelaskan bahwa:

  Orang Kristiani yang telah dilahirkan kembali dari air dan Roh adalah putra-putri Allah, dan karena itu mereka berhak menerima pendidikan Kristiani bertujuan mematangkan pribadi manusia, yaitu menjadi manusia sempurna sesuai dengan kepenuhan Kristus (bdk. Ef 4:13). Konsili Vatikan II dalam hal ini mengingatkan, agar semua orang beriman menikmati pendidikan Kristiani, terutama angkatan muda yang merupakan harapan Gereja. Keluarga katolik perlu menciptakan keluarga yang penuh kasih, beriman kepada Allah dan mencitai sesama sesuai dengan ajaran kristiani yang diimaninya. Konsili Vatikan II menyatakan, bahwa orang tua mempunyai tugas mendidik anak-anaknya, termasuk pendidikan iman, tetapi juga membutuhkan bantuan masyarakat dan orang beriman. Maka, pendidikan iman juga menjadi tugas Gereja untuk membantu orang tua mendidik anak-anak dalam mengembangkan iman mereka, karena anak-anaklah yang nantinya akan menjadi generasi penerus Gereja. Dalam Dekrit tentang Pendidikan Kritiani art 3 dikatakan:

  Tugas penyelenggaran pendidikan, yang pertama-tama menjadi tanggungjawab keluarga, memerlukan bantuan dari seluruh masyarakat. Oleh sebab itu, disamping hak-hak orang tua serta

   

  mendidik, masyarakat pun mempunyai kewajiban-kewajiban serta hak-hak tertentu, sejauh merupakan tugas wewenangnya untuk mengatur segala sesuatu yang diperlkukan bagi kesejahteraan umum di dunia ini. Akhirnya pun harus diakui kemampuannya menyelenggarakan pendidikan, melainkan terutama karena Gereja bertugas mewartakan jalan keselamatan kepada semua orang (GE 3).

4. Tujuan Sekolah Minggu

  Tujuan sekolah minggu adalah menolong orang tua katolik dalam usaha untuk menyiapkan lingkungan yang baik bagi anak-anak, dan membantu anak- anak dalam menumbuhkan imannya terutama dalam hal iman dan kepribadiannya. Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan suatu proses pendampingan yang berupa aktivitas, refleksi bersama, permainan yang bertujuan untuk menjaga tercapainya tujuan sekolah minggu. Sedangkan tujuan utama sekolah minggu Anak-anak peserta sekolah minggu memiliki sikap dan wawasan iman katolik serta bangga atasnya, serta mampu pula mengungkapkan dan mewujudkan imannya sesuai usia mereka. Adapun maksud pelaksanaan sekolah minggu dilakukan adalah sebagai berikut: a. Menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan pribadi dan iman anak.

  b. Mengembangkan kesadaran akan nilai-nilai moral.

  c. Mengembangkan pemahaman dan penghayatan liturgi.

  d. Memupuk harga diri yang sehat dan wajar.

  e. Mengembangkan bakat dan keterampilan anak-anak.

   

  f. Mengembangkan sifat sportif pada anak D.

   Peran Orang tua Terhadap Perkembangan Iman Anak di Era Modernisasi.

1. Peran orang tua dalam perkembangan Iman anak

  Anak adalah anugerah dari Sang pencipta. Orang tua yang melahirkan anak harus bertanggung jawab terutama dalam soal mendidiknya, baik ayah.

  Keikutsertaan orang tua dalam mendidik anak merupakan awal keberhasilan orang tua dalam keluarganya apabila sang anak menuruti perintah orang tuanya terlebih lagi sang anak menjalani didikan sesuai dengan perintah agama.

  Orang tua bertanggung jawab atas perkembangan iman anak dalam keluarga, dalam mendampingi iman anak untuk tumbuh dan berkembang menjadi beriman yang matang dan dewasa. Peran orang tua merupakan konsekwensi sebuah keluarga dari suami dan istri melalui sakramen perkawinan dengan menjalankan peranannya.

  Dalam era modernisasi sekarang ini, peran penting orang tua sangat dibutuhkan. Sesuatu yang tidak dapat dihindari bahwa teknologi berkembang dengan pesat sehingga penggunaannya banyak digunakan tidak semestinya. Teknologi yang paling sering digunakan para anak muda sekarang adalah akses internet yang mudah ditemui, padahal pemerintah sudah mengeluarkan undang- undang anti pornoaksi dan pornografi tapi masih saja mereka kerap mengakses konten yang berbau negatif. Yang jelas dapat merusak moral sang anak.

   

  Teknologi canggih yang semestinya diciptakan untuk menambah wawasan malah berakibat pada moral yang jelek.

  (http://imankeluarga.blogspot.com/2007/03/kk04-pendidikan-anak-dalam- keluarga.html)

  Peran oang tua menurut Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II tentang keluarga dalam Dokumen Familaris Consortio: Orang tua mempunyai tugas bertanggung jawab yang pertama dalam mendidik anak, sebagai keluarga juga punya tanggungjawab salam mendidik anak-anak baik secara moral maupun spiritual seperti keluarga kudus Nazareth, memberi teladan kepada kita dalam mendidik Yesus sesuai dengan Yahudi. Orang tua dipanggil untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan terlebih ikut mengakat keluarga yang masih menderita. Karena kehadiran orang tua di tengah masyarakat sangtlah penting untuk menciptakan kehidupan yang nyaman dan menjadi terang bagi orang lain. Dengan demikian setiap keluarga kristiani terpanggil untuk melaksanakan tugas kerasulan dan disamping itu juga membangun Kerajaan Allah sendiri serta bertanggun jawab terhadap kebahagiaan orang lain di tengah masyarakat(FC art 36). Pergaulan merupakan interaksi antara beberapa orang baik berupa kekeluargaan, organisasi ataupun masyarakat. Melalui pergaulan kita akan berkembang karena jadi tahu tentang tata cara bergaul. Menjadikan individu yang bersosial karena pada dasarnya manusia memang mahluk sosial. Namun pergaulan di era modernisasi ini telah banyak disalah artikan terutama dikalangan anak muda. Sekarang kata-kata pergaulan bebas sudah tidak asing lagi didengar oleh siapapun dan jelas termasuk dalam kategori pergaulan yang negatif.

  Pergaulan yang negatif adalah salah satu dari sekian banyak penyebab kehancuran sang anak. Saat ini dapat kita lihat banyaknya sistem pergaulan

   

  kawula muda yang mengadopsi gaya ala barat dimana etika pergaulan ketimuran telah pupus, mungkin pernah atau bahkan sering mendengar kata-kata MBA (married by accident). Anak-anak muda sudah menganggap tradisi ini hal yang biasa dilakukan pada saat pacaran bahkan ada yang tidak segan-segan untuk merekam adegan mesum tersebut untuk disebarkan dan ditonton dikhalayak ramai. Dalam dokumen pedoman Gereja Katolik Indonesia dikatakan bahwa:

  “Arus besar di dalam masyarakat sering menciptakan gambaran seakan-akan yang terpenting dalam hidup adalah mengumpulkan uang dan materi, kedududkan dan kekuasaan. Lalu tidak sedikit orang tua yang mengira bahwa dengan menyediakan materi bagi keluarga tugasnya selesai. Padahal anak pertama-tama memerlukan perhatian, kehangatan dan kemesraan hubungan dengan orang tua dan saudara-saudara mereka. Anak-anak memerlukan kekeluasaan isi hati, emosi dan pengalaman kepada orang tua. Oleh karena itu orang tua harus menyadiakan diri dan harus juga dapat bertindak sebagai sahabat bagi anak-anaknya. Orang tua perlu menggunakan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan kedewasaan anak. Mereka perlu dilatih supaya bersikap dan bertindak secara bertanggungjawab. Apabila anak tidak menemukan suasana kerasan tersebut di dalam keluarga, mereka akan lari ke tempat yang lain atau kepergaulan di luar rumah yang mungkin membahayakan perkembangan jasmani dan rohaninya” (Pedoman Gereja Katolik, 1995:23).

  Dokumen ini memberikan pentingnya peran serta orang tua dalam perkembangan perilaku iman anak nantinya. Selain itu juga peran dan tanggungjawab mereka sebagai orang tua dalam keluarga diharapkan dapat menciptakan suasana yang harmonis bersama anak-anaknya, bukan pertama- tama uang dan materi saja yang dibutuhkan oleh anak tetapi kasih sayang dan bentuk perhatian dari orang tua yang sangat diinginkan oleh setiap anak.

  Satu lagi permasalahan yang sering ditakuti oleh orang tua yaitu narkoba. Narkoba menjadi jurang kehancuran bagi sang anak. Ironisnya memakai barang

   

  haram ini juga sudah menjadi tren remaja sekarang dengan anggapan bila mengkonsumsi barang ini akan menjadi senang atau yang dikenal dengan bahasa gaulnya (fly). Padahal sudah jelas menurut kesehatan mengkonsumsi barang-barang sejenis narkoba sangat merusak kesehatan terutama pada sistem syaraf apalagi dengan mengkonsumsi barang ini akan membuat ketagihan dan ketergantungan, ini sungguh menakutkan. Apakah kita sebagai orang tua ingin melihat anak hancur masa depannya karena kesalahan yang tidak semestinya terjadi? Di sinilah peran penting orang tua dalam mengontrol dan mengawasi sang buah hati. Menjadi orang tua bukan soal siapa kita, tetapi apa yang dilakukan. Pengasuhan tidak hanya mencakup tindakan tetapi mencakup pula apa yang kita kehendaki agar sang buah hati kita mengerti akan hidup. Apa artinya hidup dan bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik.

  Semua pasti ingin menghendaki hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Orang tua ingin mendisiplinkan, mendorong, dan menasihati agar mereka berhasil menjalani kehidupan sedari kanak-kanak hingga sampai dewasa. Orang tua harus menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Banyak orang tua ingin mendorong anaknya untuk melakukan hal yang terbaik dalam kehidupannya.

  Termasuk ingin membuat buah hatinya untuk bebas mengeluarkan dan menggali bakat dan minat yang dimiliki sang anak. Hal yang semestinya dipahami adalah banyak anak mengalami kesulitan untuk membedakan antara menerima atau menolak tindakan atas apa yang mereka lakukan. Misalnya saja penerimaan orang tua terhadap prestasi yang dimiliki atau dicapai anak bisa dianggap anak sebagai rasa cinta orang tua kepadanya, tetapi penolakan yang dilakukan orang

   

  tua terhadap tindakan yang dilakukan anak membuat anak beranggapan mereka tidak dicintai dan disayangi lagi. Setiap anak perlu tahu kalau mereka disayangi dan dicintai orang tua dengan sepenuh hati, meskipun sebaliknya, setiap orang tua harus mencintai dan menyayangi sang buah hati tanpa syarat apapun, baik buruknya sifat maupun sikap yang dimiliki sang buah hati, mereka harus menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh anak.

  Semua anak ingin diperhatikan kedua orang tuanya. Tetapi sifatnya fundamental bagi kedua orang dalam mengasuh buah hati mereka. Karenanya dalam pola pengasuhan sebaiknya setiap orang tua tidak boleh membedakan anak satu sama lain. Tidak semestinya membedakan buah hati mereka, baik dalam mendidik maupun memberikan perhatian kepada sang anak. Harus ada rasa keadilan, tidak boleh pilih kasih, karena akan menimbulkan kecemburuan diantara anak. Yang ditakutkan nanti akan membuat anak menjadi rusak, bahkan berpikir kalau mereka tidak disayangi lagi, bahkan ada anak yang beranggapan kalau mereka itu bukan anak dari orang tua mereka sendiri, karena selalu dibeda-bedakan dengan yang lainnya.

  Orang tua tidak seharusnya memperlihatkan emosi yang negatif kepada anak-anaknya. Ketidakmampuan setiap orang tua dalam mengontrol emosi membuat anak menjadi temperamental dan mempunyai sifat maupun sikap yang buruk yaitu mudah emosional. Akibatnya orang tua yang demikian tidak bisa menjadi model atau peran yang baik untuk anak-anaknya dalam mengontrol anak dan mengasuh buah hatinya. Tujuan orang tua sebenarnya untuk

   

  mengkomunikasikan kepada buah hatinya bahwa mereka memiliki hak untuk merasakan apapun yang mereka rasakan, Mengajari sang buah hati untuk menghargai dan menikmati setiap saat dalam kehidupan sehingga mampu memberi motivasi kepada anak dalam mencegah serta menghadapi masalah yang mereka hadapi kedepan.

  Terkadang orang tua sering lupa untuk berinteraksi dengan anak- anaknya. Ada diantara mereka yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada melakukan hal itu. Bagi mereka hal itu tidak perlu dilakukan. Mereka beranggapan bahwa materi yang dibutuhkan anak, Padahal seorang anak tidak hanya membutuhkan materi namun juga perhatian dan interaksi dengan orang tuanya. Mereka membutuhkan komunikasi dengan orang tuanya, mereka juga ingin bertukar pikiran dengan orang tuanya. Mereka ingin menceritakan pengalaman apa yang mereka rasakan sehari-hari baik itu pengalaman yang baik maupun pengalaman yang buruk.

  Orang tua yang baik adalah orang tua yang mampu melihat keburukan atau kebaikan anaknya. Untuk itu orang tua hendaknya memperhatikan tata cara bergaul sang anak, dengan siapa bergaul, bagaimana luas pergaulannya. Dengan maksud bukan untuk membatasi sang anak dalam bergaul namun diharapkan impian melihat anak sukses mengarungi kehidupan tanpa mengalami kesalahan dalam pergaulan baik di lingkungan keluarga, atau lingkungan luar menjadi sebuah kenyataan. Manfaatnya kembali ke orang tua, sebab sang anak lalu menjadi orang yang menghargai kedua orang tua.

   

  Peran orang tua pertama-tama adalah menjadi saksi iman, berarti lebih dari hanya berbicara tentang agama Katolik atau memberi pengajaran tentang pelbagai segi tentang Kristus, agama dan hidup kristiani. Menjadi saksi iman berarti mengarahkan seluruh pribadinya dan dengan segala apa yang dikatakannya. Menjadi saksi iman berarti mengarah kepada kenyataan hidup dan kepada kebenarannya, (Bernad, 1997:6). Orang tua tidak hanya cukup mengajar anak tentang Kristus, tetapi orang tua harus memberikan kesaksian hidup yang baik terhadap anak-anaknya. Bila orang tua berbicara tentang Kristus harus berbicara tentang-Nya sebagai seorang yang sungguh ada. Mereka berbicara tentang Allah Bapa sebagai seorang yang sungguh ada, hal ini sangat penting bagi anak. Dalam hidup orang tua yang memancarkan cahaya kasih di dalam keluarganya, anak-anak akan lambat laun melihat itu semua sebagai kenyataan bahwa Kristus, Allah Bapa, Roh Kudus, gereja ada, dan cinta Allah sungguh nyata. Di rumah anak-anak harus diberi pengajaran mengenai iman tidak hanya menguraikan ajaran-ajaran doktrin melainkan harus mengajar tentang pribadi- pribadi Kristus dan Bapa sebab iman merupakan penerimaan terhadap dua pribadi. Anak harus diberitahu tentang Kristus, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana Kristus sekarang dan siapa Allah itu. Orang tua menunjukkan melalui sikap dan tindakan orang tua, misalnya orang tua menyuruh anaknya supaya berdoa, orang tua juga harus duluan di tempat doa dan mulai berdoa.

  Jadi mendorong anak untuk melakukan hal itu orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak. Dalam iman keluarga-keluarga Kristus dikatakan bahwa:

   

  Salah satu hal yang tiada tara karyanya yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya adalah cinta kasih mereka satu sama lain. Jika anak-anak menjadi besar dalam suasana cinta kasih di rumah mereka dapat bertumbuh dan berkembang menjadi orang–orang yang utuh. Mereka dapat dipenuhi dengan cinta kasih antara orang tua harus juga meluaskan kepada anak- anaknya, dengan demikian mereka sungguh-sunguh saling mencintai, (Bernad, 1992).

  Maka disinilah orang tua sebagai pengajarnya, ia harus memahami pelajaran yang hendaknya menentukan anak seumur hidupnya yakni: pelajaran tentang sikap penghargaan, penghormatan, pengendalian diri, sikap kejujuran dan sikap kebenaran. Pendidikan dalam keluarga merupakan tempat yang utama dari segala pendidikan. Dengan demikian orang tua harus menanamkan nilai- nilai yang baik dalam diri anak yakni dalam keluarga berdoa merupakan tugas perutusan yang dapat diemban oleh suami istri sebagai konsekuensi dari tugas imamat Yesus Kristus. Doa keluarga adalah merupakan tugas yang dipersembahkan bersama oleh semua anggota keluarga. Persatuan dalam doa merupakan konsekuensi dan tuntunan dari makna sakramen baptis dan sakramen perkawinan untuk mewujudkan tanggung jawab dan tugas perutusan sebagai anak-anak Allah. Doa dalam keluarga merupakan usaha untuk mempersatukan setiap anggota keluarga, gereja dan masyarakat.

  Dengan demikian doa keluarga bukan hanya usaha untuk sekedar komunikasi belaka tanpa tujuan yang diharapkan melainkan menjadi suatu pokok dalam kehidupan keluarga. Orang tua mempunyai tanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya dalam orang bersama, menghantar mereka untuk mengenal Allah dan berdialog dengan-Nya. Orang tua yang melaksanakan

    kewajiban dengan baik akan dapat menciptakan keluarga yang bahagia.

  Kewajiban yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya merupakan tanggung jawab orang tua dihadapan Allah. Dalam hidup keluarga orang tua menanamkan nilai-nilai Kristus kepada anak agar anak mulai terbiasa terlibat dalam kegiatan apapun yang menyangkut kehidupan rohani mereka. Maka kebiasaan keseharian hidup yang dibawa orang tua datang kepada anak-anak dengan kelembutan dan hormat orang tua. Maka anak-anak menerima dengan gembira menghayati kedekatan Allah dan Yesus yang menjadi nyata melalui orang tua mereka sehingga pengalaman kristiani yang pertama sering meninggalkan jejak-jejak yang menentukan sepanjang hidup.

2. Orang tua dan kegiatan sekolah minggu

  Orang tua berkaitan erat dengan kehidupan berkeluarga, yang di dalamnya terdapat ayah, ibu dan anak-anak. Orang tua adalah pribadi pertama yang memiliki kesempatan memeperkenalkan realitas hidup duniawi kepada anak- anak, dan sekaligus sebagai pendidik pertama yang mengajarkan kebenaran.

  Orang tua bertanggungjawab terhadap keluarga dan memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup rumah tangga. Dalam keseharian orang tua disebut dengan kata bapak dan ibu (Agung Prihartana, 2008:21).

  Orang tua hendaknya memberi perhatian dan dukungan atas kegiatan sekolah minggu. Orang tua merelakan anaknya untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu di paroki. Orang tua merelakan anak-anaknya yang sudah berusia SMP, SMA untuk terlibat menjadi pendamping kegiatan sekolah

   

  minggu. Orang tua mendukung pendanaan untuk pengadaan sarana atau pemberdayaan pendampingan yang menunjang terlaksananya kegiatan sekolah minggu secara optimal dan menarik. Hal ini merupakan bentuk konkret dari dukungan dan perhatian orang tua terhadap anak-anaknya melalui kegiatan sekolah minggu (Prasetya, 2008:25).

E. Konsekuensi Peran Orang tua 1. Orang tua perlu sadar akan peran utamanya.

  Sadar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Tahu, mengerti” jadi kesadaran adalah keadaan tahu dan mengerti, bahwa orang tua sadar akan tugas dan tanggungjawabnya dalam pertumbuhan iman anak. Orang tua sadar apa yang seharusnya ditanamkan dalam diri anak sejak dini. Orang tua perlu tahu bahwa dalam mendidik anak tidak cukup dengan ajaran-ajaran kristiani saja tetapi bagaimana cara orang tua menghidupi dan menanamkan nilai-nilai rohani yang dapat membawa anak semakin dekat dengan Tuhan.

  Orang tua perlu sadar bahwa tugas dan tanggung jawabnya adalah mengajar dan melatih anak untuk berdoa bersama, yakni doa malam bersama keluarga, juga menjelang dan sesudah makan orang tua dan anak berkumpul pada saat berdoa. Seluruh keluarga hendak bersyukur kepada Tuhan dan memohon berkat-Nya, juga mengungkapkan rasa persatuan dan kesatuan keluarga sebagai suatu kelompok beriman. Orang tua harus membangkitkan semangat doa dalam diri anak. Doa mendekatkan hati kepada Allah, doa

   

  mengungkapkan pasrah kepada Allah sebab keselamatan hanya datang dari pada Allah. Orang tua perlu mengajari anak bagaimana cara membuka dan membaca Kitab Suci dengan hormat. Dengan demikian orang tuapun perlu sadar bahwa hari minggu adalah hari Tuhan, dimana anak-anak perlu diajak untuk mengikuti perayaan Ekaristi bersama sebab Ekaristi merupakan perjamuan besama.

  Orang tua sadar bahwa hidup sebagai orang berimnan tidak terlepas dari kewajibannya, maka orang tua setiap hari minggu mengajak anak-anak untuk mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja itu merupakan suatu kebiasaan yang sudah ditanamkan dalam diri anak sejak kecil. Dalam keluarga orang tua perlu mengajar anak dengan memberikan teladan akan lebih berhasil dari pada memberitahukan segala peraturan dan nasehat tanpa contoh atau seorang ibu akan berhasil dalam mendidik anak-anaknya jika isi perkataanya harus sesuai dengan kehidupannya karena anak belajar sesuatu yang baik dari orang tua.

  Ada dua hal yang perlu ditanamkan dalam diri anak adalah bertanggungjawab kristiani dan nilai-nilai moral dalam cinta. Dua hal harus dikembangkan dalam hidup anak sehari-hari yakni; tanggung jawab untuk mengembangkan sikap-sikap itu dirumah, lama kelamaan anak menemukan ciri pribadinya sebagai orang katolik dan inilah yang harus diajarkan orang tua kepada anak. Dengan demikian membawa anak untuk setapak demi setapak mempersiapkan diri untuk mengikutsertakan secara penuh dalam perayaan Ekaristi. Dengan demikian orang tua sadar bahwa memberikan yang terbaik kepada anak-anak melalui keteladanan orang tua. Karena anak belajar segala

   

  sesuatu dari orang tua. Untuk itu orang tua sadar bahwa mendidik iman anak penuh kasih, menciptakan suasana ketenangan, kedamaian, kegembiraan, suasana persaudaraan, kesatuan hati antara anak dan orang tua. Mendidik dengan kasih anak akan tumbuh dengan baik, seperti yang disabdakan oleh Yesus bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, jika anak itu bertumbuh dan berkembang dengan baik karena segala sesuatu yang baik dari orangtua/cara didikannya mendukung perkembangan hidup anak.

  2. Pengetahuan tentang cara mendampingi Orang tua hendaknya memiliki sikap sabar karena dengan kesabaran orang tua dapat melayani anak-anak dengan lemah lembut dan tenang. Karena dalam usaha apapun, kalau membimbing anak tanpa kesabaran akan menemui kegagalan. Tetapi kalau orang tua memiliki sikap sabar akan lebih berhasil dalam membimbing dan membentuk tabiat anak-anaknya. Anak-anaknya lebih banyak dapat dituntut dengan kesabaran. Orang tua yang menuntun anak- anaknya dengan kesabaran akan berhasil dari pada membimbing dengan mengancam anak-anak dengan cemeti adalah berbahaya kalau hanya menurut karena aturan-aturan dirumah juga takut kalau dipukul atau dihukum. Orang tua yang mempunyai sikap lekas marah dan hilang kesabaran akan gagal membimbing anak-anaknya, tetapi orang tua yang sabar dan pendidikannya tidak terlalu tinggi akan berhasil membimbing anak-anaknya. Dengan demikian

   

  orang tua yang sabar dan lemah lembut karena suara dan tingkah lakunya akan disenangi anak-anaknya.

  Orang tua harus mengenal anak-anaknya, tapi banyak orang tua yang tidak mengerti sifat anak-anaknya dan tidak mengenal mereka. Jika orang tua ingin menyelami perasaan anak-anaknya mereka harus bersahabat atau bergaul dengan anak-anak. Orang tua mesti bekerja sama dengan penuh pengertian.

  Orang tua patut menjadi kawan bagi anak-anak. Orang tua wajib mempelajari cara yang paling baik adalah memimpin anak-anak menuju jalan yang benar.

  Orang tua harus memelihara cinta dalam keluarga. Orang tua melatih anak- anaknya untuk mempercayakan rahasia mereka serta mencurahkan segala duka hatinya, dan percobaan mereka kepada orang tua. Usahakan supaya anak-anak mengikat hati dengan hati orang tua. Namun kadang-kadang pengaruh sekeliling akan menceraikan mereka dari orang tua. Maka biasakanlah anak-anak mempercayakan segala sesuatu kepada orang tua. Biarkan mereka menceritakan segala suka dukanya (Sarumpaet, 1980).

  Orang tua patut mendidik anak-anaknya untuk berterus terang memberitahukan segala kesulitannya. Sering kali orang tua selalu mengatakan tidak ada waktu untuk mendidik anak-anaknya bahkan tidak ada waktu untuk mengurus keluarganya. Konsekuensi sebagai orang tua biar kesibukan bagaimana pun waktu untuk anak-anak harus ada walaupun hanya sebentar saja. Karena anak-anak ini adalah tanggung jawab orang tua. Maka orang tua berikan waktu untuk bermain dengan anak-anak, bergaul dengan mereka dalam

   

  pekerjaan, dalam rekreasi bersama atau nonton TV bersama. Orang tua harus menggunakan waktu sore hari bersama anak-anak atau malam hari waktu makan bersama, dan orang tua harus melupakan keluh kesah, kesibukan dan kekecewaan sepanjang hari demi kepentingan anak-anak.

  F. Kerangka Pikir Dalam keluarga, orang tua mempunyai peran sangat penting dalam mendidik dan mendampingi anak-anak dalam meningkatkan iman anak melalui sekolah minggu. Maka butuh kesadaran dari orang tua dalam mendampingi anak-anak dalam meningkatkan imannya. Kesadaran adalah pengetahuan dan pengertian oran tua dan menyadari bahwa apa saja yang akan mendukung anak- anak dalam meningkatkan iman anak, orang tua mempunyai peranan dalam memberikan perhatian secara khusus pada anak terutama orang tua membawa anak-anak menuju kematangan hidup rohani sebagai orang katolik dalam keluarga, dan bagaimana orang tua menanamkan sikap dan nilai katolik dalam diri anak-anak sejak dini. Dengan demikian, dalam kehidupan sehari-hari peran orang tua sangatlah penting dalam memberikan perhatian secara khusus bagi anak-anak terutama dalam meningkatkan iman anak.

  Kesadaran orang tua dalam meningkatkan iman anak sangatlah penting terutama mendukung dalam setiap kegiatan anak-anak baik sekolah minggu, natal anak-anak, mesdinar, pendalaman iman anak-anak dan lain sebagainya. Kesadaran orang tua berkembang jika orang tua selalu sadar akan tugas dan tanggung jawab mereka dalam mendidik dan mendampingi serta mengikuti

   

  perkembangan dan pertumbuhan iman anak selanjutnya. Dengan mendukung setiap kegiatan rohani anak secara tidak langsung menghantar orang tua untuk masuk ke dalam pengalaman hidup sehari-hari. Orang tua untuk lebih terbuka dalam memberikan waktu yang secukupnya kepada anak-anaknya sehingga dalam kegiatan anak-anak selalu diperhatian tahap demi tahap perkembangan iman anak.

   

BAB III PENELITIAN TENTANG PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM SEKOLAH MINGGU TERHADAP PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI ST FRANSISKUS ASISI BERASTAGI Dalam rangka mendampingi iman anak di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi orang tua sudah seharusnya berperan positif dalam mengupayakan

  pendampingan iman anak. Orang tua di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi perlu menyadari akan hal ini sebagai tanggung jawab orang tua demi perkembangan iman anak. Orang tua perlu menyadari kebutuhan anak bukan hanya soal materi saja tetapi juga perhatian yang berhubungan dengan pendampingan iman anak dalam sekolah minggu, misalnya: merelakan anak- anaknya untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu diparoki, mendukung pendalaman dan pengadaan sarana atau pemberdayaan pendamping atau kegiatan lain yang menunjang terlaksananya kegiatan sekolah minggu secara optimal dan menarik sampai pada usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan- kesulitan anak dengan memberi motivasi kepada mereka. Hal ini merupakan bentuk perhatian yang dapat mendukung kemajuan sekolah minggu di Paroki.

  Namun demikian dalam kenyataannya masih banyak ditemui kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan iman anak. Salah satu faktor penyebab orang tua di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi adalah orang tua

   

  yang pada umumnya sibuk dengan segala kegiatan guna mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya sehari-hari. Hal pokok yang kurang diperhatikan oleh orang tua adalah kurangnya perhatian mereka terhadap keseimbangan pemenuhan kebutuhan anaknya. Kebutuhan anak tidak pada segi materi tetapi juga pada segi rohani, seperti pendidikan iman bagi anak-anak. Kenyataan seperti tidak dapat disangkal sebab kesibukan orang tua untuk mencari nafkah bagi anak-anak dengan tuntutan zaman sekarang.

  Suami dan istri memiliki tanggung jawab kudus untuk mengasihi dan memelihara satu sama lain dan anak-anak mereka. ‘Anak-anak adalah milik pusaka daripada Tuhan’ (Mazmur 127:3). Orang tua memiliki kewajiban kudus untuk membesarkan anak-anak mereka dalam kasih dan kebenaran, menyediakan kebutuhan fisik dan rohani mereka, mengajar mereka untuk saling mengasihi dan melayani, Berdasarkan rancangan ilahi, para ayah hendaknya memimpin keluarga mereka dengan kasih dan kebenaran, serta bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan hidup dan perlindungan bagi keluarganya.

  Para ibu terutama bertanggung jawab untuk mengasuh anak-anak mereka. Dalam tanggung jawab kudus ini, para ayah dan ibu berkewajiban untuk saling membantu sebagai pasangan yang setara” (Liahona, Oktober 2004, 49).

  Bermacam-macam corak kehidupan dalam keluaraga sejalan dengan beragamnya bentuk pendidikan dalam keluarga tersebut, antara lain sikap orang tua yang terlalu melindungi (over protective). Orang tua yang selalu memaksakan kehendaknya dengan kekerasan, kebanyakan justru mengakibatkan

   

  kegagalan pada diri anak. Sebaliknya, orang tua yang selalu melindungi pun akan menimbulkan dampak yang kurang baik pada diri anak. Anak menjadi sangat tergantung, tidak mandiri dan kurang memiliki rasa tanggung jawab.

  Pendidikan iman anak adalah usaha manusia untuk menciptakan situasi dan suasana berimana anak sedemikian rupa, sehingga membantu dan mempermudah perkembangan iman anak. Pendidikan iman untuk anak dalam skripsi ini merupakan tanggung jawab dari orang tua. Pendidikan dan perilaku iman anak mulai sajak dini dapat mengembangkan sikap religiusitas anak. Pendidikan dan perilaku iman anak dimulai dengan menanamkan pengertian bahwa hidup berimana kunci dasar hidup.

  Oleh karena itu penulis mengadakan penelitian untuk memperoleh data sehubungan dengan peran pendampingan orang tua dalam sekolah minggu terhadap perilaku iman anak di Paroki St Fransiskus Assisi. Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang peran pendampingan orang tua dalam sekolah minggu terhadap perilaku iman anak, memperhatiakan keterlibatan orang tua dalam segala kegiatan anak-anak dan mengetahui faktor pendukung serta hambatan bagi mereka dalam mendampingi anak-anak. Melihat data tersebut penulis berharap dapat memberikan sumbangan pemikiran yang dapat membantu meningkatkan kesadaran orang tua betapa pentingnya peran dan pendampingan orang tua dalam pendidikan dan perkambangan iman anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat penting bagi penulis dalam rangka memperdalam pemahaman dan penghayatan penulis sendiri serta

   

  mempersiapkan penulis dalam melaksanakan tugas sebagai katekis untuk mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat menjadi teladan bagi orang lain.

A. Metedologi Penelitian.

  1. Tujuan Penelitian

  a. Mengetahui sejauhmana sekolah minggu membantu memperkembangkan perilaku iman anak di Berastagi.

  b. Mengetahui pandangan orang tua di Berastagi tentang peran pendampingan orang tua terhadap perilaku iman anak melalui sekolah minggu.

  c. Mengetahui apa saja usaha-usaha orang tua dalam mendampingi anak untuk membantu perkembangan perilaku iman anak melalui sekolah minggu.

  d. Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat orang tua dalam mendampingi anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu.

  2. Jenis.

  Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif ini sering disebutkan metode penelitian naturalistik atau alamiah, karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah. Dengan metode ini penulis bisa tahu peranan orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak melalui sekolah minggu. Penelitian

   

  kualitatif adalah suatu penelitian yang mengkaji perspektif dengan multi strategi: observasi, wawancara, studi dokumen dan lain-lain (Sugiyono, 2002:1).

  Moleong (2007:5) dengan menggagas pemikiran Denzin dan Lincoln menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang tejadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dalam penelitian kualitatif ada berbagai metode yang bisa digunakan antara lain dengan wawancara, kuesioner, pengamatan, pemanfaatan dokumen.

  Adapun alasan penulis memilih jenis penelitian ini karena penelitian ini merupakan suatu proses dimana penulis sendiri terlibat secara langsung dalam proses penelitian, sehingga jenis penelitian ini menekankan pada kualitas obyek penelitian sendiri tidak dipisah-pisahkan agar memudahkan penulis untuk memahami konteks obyek penelitian. Proses dimaksudkan bahwa penelitian berproses bersama responden di mana penelitian diadakan. Oleh karena itu penulis menyesuaikan diri dengan kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan.

3. Metode Penelitian

  Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan menggunakan kuesioner yaitu dengan cara memberikan daftar pertanyaan kepada responden untuk mengumpulkan data (Sutrisno Hadi, 2000:186).

    4.

   Instrumen Penelitian

  Instrumen kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. Adapun skala likert adalah skala yang terdiri dari lima tingkat, yang diberikan dalam bentuk multiple choice dengan lima alternatif pilihan yakni Sangat Setuju, Setuju, Kurang Setuju, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju (Sutrisno Hadi, 1973:177).

  5. Tempat dan Waktu.

  Tempat penelitian yang dimaksudkan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi Keuskupan Agung Medan.

  Sedangkan waktu pelaksanaan penelitian di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi Keuskupan Agung Medan dilaksnakaan pada bulan Mei 2011.

  6. Teknis analisis data

  Selama pengumpulan data, penulis melakukan reduksi data yaitu menganalisa data secara keseluruhan pada bagian-bagiannya. Data yang diperoleh berupa uraian yang terperinci kemudian dicari tema atau polanya dan disusun secara sistematis sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

  Pengelompokkan ini bertujuan untuk menemukan arti dari data-data dengan cara menarik hubungan-hubungan sesuai dengan permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini. Selanjutnya, teknik yang digunakan adalah penarikan

   

  kesimpulan dan verifikasi (Nasution, 1998:129). Teknik ini disebut juga teknik interpretasi data.

7. Populasi dan Sampel.

  a.

   Populasi

  Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi yang akan menjadi subjek peneliti adalah orang tua di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi, Keuskupan Agung Medan.

  b.

   Sampel.

  Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Yang dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.

  Sampel penelitian ini adalah orang tua yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Sampel ini adalah orang tua yang anaknya mengikuti kegiatan sekolah minggu di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling. Setiap Subyek yang terdaftar sebagai populasi, diberi nomor urut mulai dari 1 sampai banyaknya subyek. Dalam hal ini peneliti sudah menentukan terlebih dahulu besarnya jumlah sampel apabila sampel kurang dari 50 maka diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.

    8.

   Variable Penelitian.

  Tabel 1: Variabel penelitian adalah sebagai berikut: No Variabel Aspek yang akan diungkap Item Soal

  1. Perilaku iman

  a. Pengertian perilaku 1-6 anak dalam b.Pandangan orang tua tentang sekolah minggu. sekolah minggu.

  c. Memotivasi orang tua mengikuti kegiatan sekolah minggu

  2. Peran

  a. Pandangan orang tua tentang peran 7-20 pendampingan orang tua dalam mendampingi orang tua anak dalam kegiatan sekolah minggu. b.Usaha-usaha orang tua dalam mendampingi anak untuk membantu perkembangan perilaku iman anak melalui sekolah minggu

  c. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat orang tua dalam mendampingi anak-anak. Total

  20

    B.

   Laporan Hasil Penelitian 1. Hasil Penelitian Melalui Kuesioner

  Pada bagian ini akan dilaporkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Stasi Suka Julu-Tiga Jumpa paroki St Fransiskus Asisi Berastagi pada tanggal 11-22 mei 2011. Dari hasil penelitian tersebut jumlah kuesioner yang disebarkan oleh penulis sebanyak 45 kuesioner dan dikembalikan secara utuh. Hasil penelitian ini dipaparkan berdasarkan jumlah dari responden dengan penyajian dalam bentuk tabel maupun deskripsinya.

  a. Identitas Responden Identitas responden yang akan dipaparkan berdasarkan hasil penelitian meliputi: jenis kelamin, usia pernikahan dan lingkungan seperti yang terungkap dalam tabel 2.

  Tabel 2: Identitas responden (N = 60 ) No Jawaban responden Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5)

  1 Jenis kelamin Laki-laki 23 51,11

  Perempuan 22 48,89

  2 Usia perkawinan 4 tahun 1 2,22 5 tahun 1 2,22

   

  3 Usia perkawinan 7 tahun 1 2,22 9 tahun 1 2,22 10 tahun 1 2,22

  4 Usia Perkawinan 11 tahun 3 6,67 12 tahun 2 4,44 13 tahun 5 11,11 14 tahun 1 2,22

  15Tahun 2 4,44

  5

  16 Tahun 4 8,89

  17 Tahun 5 11,11 Usia Perkawinan

  18 Tahun 4 8,89

  19 Tahun 2 4,44

  20 Tahun 4 8,89

  6

  21 Tahun 2 4,44

  24 Tahun 2 4,44 Usia Perkawinan

  27 Tahun 1 2,22

  28 Tahun 2 4,44

  37 Tahun 1 2,22 Berdasarkan tabel 2 di atas, jumlah responden dalam penelitian ini ada 45 responden, yang terdiri dari umur perkawinan 4 tahun ada 1 (2,22) responden, umur perkawinan 5 tahun ada 1 (2,22) responden, umur perkawinan 7 tahun ada 1 (2,22) responden, umur perkawinan 9 tahun ada 1 (2,22) responden umur perkawinan 10 tahun ada 1 (2,22) responden, umur perkawinan 11 tahun ada 3

   

  perkawinan 13 ada 5 orang (11,11) responden, umur perkawinan 14 tahun ada 1 orang (2,22) responden, umur perkawinan 15 tahun ada 2 (2,22) responden, umur perkawinan 16 tahun ada 4 orang (8,89) responden umur perkawinan 17 tahun ada 5 (11,11) responden, umur perkawinan 18 tahun ada 4 (8,89) responden umur perkawinan 19 tahun ada 2 (4,44) responden umur perkawinan 20 tahun ada 4 (8,89) responden umur perkawinan 21 tahun ada 2 (4,44) responden umur perkawinan 24 tahun ada 2 (4,44), responden umur perkawinan 27 tahun ada 1 (2,22) responden umur perkawinan 28 tahun ada 2 (2,22) responden umur perkawinan 37 tahun ada 1 (2,22).

  b. Pemahaman orang tua tentang arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak.

  Pemahaman orang tua tentang arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak terungkap dalam tabel 3.

  Tabel 3: Pemahaman orang tua tentang arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak (N-45) No Pertanyaan Alternatif Jawaban Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5)

  1 Tujuan perilaku iman anak a . Sangat Setuju 22 48,89 dapat terwujud dengan b . Setuju 23 51,11 baik dengan adanya peran c . Kurang Setuju serta orang tua dalam d . Tidak Setuju mengembangkan iman e . Sangat Tidak

   

  anak. Setuju

  2 Perilaku iman adalah a . Sangat Setuju 22 48,89 perbuatan anak yang baik b . Setuju 23 51,11 seperti bersikap sopan c . Kurang Setuju terhadap orang tua, jujur, d . Tidak Setuju adil, menghormati orang e . Sangat Tidak tua, mencintai semua Setuju orang.

  Dari hasil penelitian pada tabel 3 di atas dapat diketahui pemahaman orang tua akan arti dan tujuan dari perilaku iman anak yang sangat berpengaruh kepada perkembangan iman anak. Menurut tabel 3, para orang tua yang mengerti akan tujuan mengembangkan perilaku iman anak dapat terwujud dengan baik dengan adanya peran serta orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak ada 22 (48,89%) responden yang mengatakan sangat setuju dan 23 (51,11%) responden mengatakan setuju. Sedangkan orang tua yang menyatakan kurang setuju, tidak setuju dan sangat setuju sama sekali tidak ada yang mengisi. Dari tabel yang sama kita dapat menemukan pandangan responden tentang perilaku iman adalah perbuatan anak yang baik seperti bersikap sopan terhadap orang tua, jujur, adil, menghormati orang tua, mencintai semua orang, ada 22 (48,89%) responden yang mengatakan sangat setuju dan ada 22 (51,11%) responden mengatakan setuju.

   

  c. Sekolah minggu merupakan salah satu wadah mengembangan perilaku iman anak.

  Hasil penelitian mengenai sekolah minggu merupakan salah satu wadah mengembangkan perilaku iman anak telah termuat dalam tabel 4.

  Tabel 4. Sekolah minggu merupakan salah satu wadah mengembangan perilaku iman anak.(N = 45) No Pertanyaan Alternatif Jawaban Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5)

  3 Sekolah minggu merupakan a . Sangat Setuju 17 37,78 tempat mengembangkan b . Setuju 28 62,22 perilaku iman anak c . Kurang Setuju d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju

  4 Kegiatan-kegiatan dalam a . Sangat Setuju 17 37,78 sekolah minggu sangat b . Setuju 28 62,22 membantu anak dalam c . Kurang Setuju mengembangkan imannya. d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak

  Setuju

  5 Melalui sekolah minggu a . Sangat Setuju

  18

  40 anak semakin dapat b . Setuju

  27

  60 menunjukkan sikap doa c . Kurang Setuju yang baik dan benar. d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak

  Setuju

   

  6 Keberhasilan sekolah a . Sangat Setuju 14 31,11 minggu sangat ditentukan b . Setuju 30 66,67 oleh peran serta keterlibatan c . Kurang Setuju 1 2,22 orang tua dalam d . Tidak Setuju mendampingi anak-anak. e . Sangat Tidak

  Setuju

  9 Selama berdoa anak

  a. Sangat Setuju

  18

  40 menunjukkan sikap doa b . Setuju 26 57,78 yang baik dan benar c . Kurang Setuju 1 2,22 d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju

  15 Kegiatan sekolah minggu a . Sangat Setuju 13 28,89 telah terlaksana dengan baik b . Setuju 32 71,11 untuk menjadi tempat c . Kurang Setuju memperkembangkan d . Tidak Setuju perilaku iman anak. e . Sangat Tidak

  Setuju Tabel 4 membahas tentang sekolah minggu merupakan salah satu wadah mengembangan iman anak. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa sekolah minggu merupakan tempat mengembangkan perilaku iman anak ada 17 (37,78%) responden mengatakan sangat setuju dan ada 28 (62,22%) responden mengatan setuju.

  Hasil penelitian sehubungan dengan sekolah minggu adalah wadah atau tempat mengembangkan iman anak berdasarkan tabel 4 dapat kita lihat bahwa kegiatan-kegiatan dalam sekolah minggu sangat membantu anak dalam

   

  mengembangkan imannya ada 17 (37,78%) responden mengatakan sangat setuju dengan adanya sekolah minggu merupakan tempat atau wadah mengembangkan iman anak dan 28 (62,22%) responden mengatakan setuju dengan adanya sekolah minggu merupakan tempat mengembangkan iman anak. Dari tabel yang sama juga melalui sekolah minggu anak semakin dapat menunjukkan sikap doa yang baik dan benar, ada 18 (40%) responden yang mengatakan sangat setuju dan 27 (60%) mengatakan setuju. Ini dapat kita lihat bahwa orang tua sangat senang dengan adanya kegiatan sekolah minggu yang sangat mendukung akan perkembangan iman anak.

  Menurut hasil penelitian berdasarkan tabel 4, keberhasilan sekolah minggu sangat ditentukan oleh peran serta keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak-anak, ada 14 (31,11%) responden mengatakan sangat setuju dan 30 (66,67%) responden yang mengatakan setuju. Sedangkan ada 1 (2,22%) reponden yang mengatakan kurang setuju, dari hasil ini dapat kita lihat bahwa keberhasilan sekolah minggu sangatlah berhubungan erat dengan keterlibatan orang tua dalam setiap kegiatan sekolah minggu yang akan dilaksanakan. Menurut tabel 4, dikatakan bahwa selama berdoa anak menunjukkan sikap doa yang baik dan benar, ada 18 (40%) responden yang mengatakan sangat setuju dan ada 28 (62,22%) responden yang mengatakan setuju bahwa selama berdoa anak menunjukkan sikap doa yang baik dan benar. Dari item yang sama juga, ada 1 (2,22%) responden yang kurang setuju bahwa selama berdoa anak menunjukkan sikap doa yang baik dan benar.

   

  Berkaitan dengan tabel 4, ada sebanyak 13 (28,89%) responden mengatakan sangat setuju dan 32 (71,11%) responden yang mengatakan setuju bahwa kegiatan sekolah minggu telah terlaksana dengan baik untuk menjadi tempat memperkembangkan perilaku iman anak.

  d. Keterlibatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu.

  Hasil penelitian tentang keterlibatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu dapat dilihat pada tabel 5.

  Tabel 5. Keterlibatan oranggtua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu (N = 45) No Pertanyaan Alternatif Jawaban Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5)

  7 Orang tua berperan untuk a . Sangat Setuju 10 22,22 menyediakan fasilitas yang b . Setuju 34 75,56 dibutuhakan anak untuk c . Kurang Setuju 1 2,22 mengikuti kegiatan sekolah d . Tidak Setuju minggu. e . Sangat Tidak

  Setuju

  10 Sebagai orang tua selalu a . Sangat Setuju 4 8,89 mengantar dan menjemput b . Setuju 28 62,22 anak setiap kegiatan c . Kurang Setuju 13 28,89 sekolah minggu d . Tidak Setuju dilaksanakan e . Sangat Tidak

  Setuju

   

  Tabel 5, menunjukkan keterlibatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu antara lain adalah: orang tua menyediakan fasilitas, orang tua ikut serta mendampingi anak, hasil yang ditunjukkan anak setelah mengikuti kegitan sekolah minggu dan orang tua selalu menghantar dan menjemput anak selama kegiatan sekolah minggu. Tabel 5 di atas berkaitan dengan keterlibatan orang tua berperan untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhakan anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu, ada 10 (22,22%) responden yang mengatakan sangat setuju dan 34 (75,56%) responden yang mengatakan sangat setuju dan ada 1 (2,22%) responden yang kurang setuju adan perlunya peran serta orang tua menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu.

  Dari tabel 5, ada 16 (35,56%) responden yang mengatakan bahwa orang tua perlu mendampingi anak dalam pelaksanaan kegiatan sekolah minggu dan 21 (46,67%) responden yang mengatakan setuju akan perlunya mendampingi anak selama mengikuti kegiatan sekolah minggu. Sedangkan yang menyatakan kurang setuju, yakni ada 8 (17,77%) responden, ini disebabkan karena kesibukan orang tua dalam mencari nafkah menyebabkan orang tua kurang merasa penting dalam mendampingi anak selama kegiatan sekolah minggu. Sebagai orang tua selalu mengantar dan menjemput anak setiap kegiatan sekolah minggu dilaksanakan, ada 4 (8,89%) responden yang mengatakan sangat setuju bahwa sebagai orang tua selalu mengantar dan menjemput anak setiap kegiatan sekolah minggu dilaksanakan dan 28 (62,22%) responden yang mengatakan setuju akan keterlibatan orang tua dalam mengantar dan menjemput anak

   

  sebelum dan sesudah kegiatan sekolah minggu dilaksanakan. Dari tabel yang sama, ada 13 (28,89%) responden yang kurang setuju akan keterlibatan orang tua dalam mengantar dan menjemput anak selama mengikuti kegiatan sekolah minggu. Hal ini disebabkan karena kesibukan orang tua dalam berbagai macam pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga menyebabkan mengantar dan menjemput anak menjadi kurang penting.

  e. Dukungan orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu.

  Dukungan orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu Di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi dipaparkan pada table 6.

  Tabel 6. Dukungan orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi (N = 45) No Pertanyaan Alternatif Jawaban Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5)

  11 Orang tua selalu menanyakan pengalaman anak baik yang paling mengesan dan kurang mengesan selama mengikuti kegiatan sekolah minggu a . Sangat Setuju b . Setuju c . Kurang Setuju d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju

  8

  34

  2

  1 17,78 75,56 4,44 2,22

  13 Saya sebagai orang tua sangat mendukung anak menjadi pendamping a . Sangat Setuju b . Setuju c . Kurang Setuju

  13

  27

  3 28,89

  60 6,67

   

  sekolah minggu d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju 2 4,44

  14 Saya memberi dukungan dan kesempatan kepada anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu diluar pertemuan rutin (Retret, Rekoleksi, Camping Rohani dll. a . Sangat Setuju b . Setuju c . Kurang Setuju d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju

  9

  35

  1

  20 77,78 2,22

  18 Anak merasa senang dan semangat mengikuti sekolah minggu karena sebelum dan sesudah kegiatan sekolah minggu orang tua selalu mendampingi. a . Sangat Setuju b . Setuju c . Kurang Setuju d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju

  8

  30

  6

  1 17,78 66,67 13,33 2,22

  Tabel 6 di atas tentang dukungan orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi dalam hal orang tua selalu menanyakan pengalaman anak baik yang paling mengesan dan kurang mengesan selama mengikuti kegiatan sekolah minggu, ada 8 (17,78%) responden yang memilih sangat setuju dan 34 (75,56%) responden yang mengatakan setuju. Sedangkan ada beberapa orang tua lain yakni, ada 2 (4,44%) responden yang mengatakan kurang setuju, ada 1 (2,22%) menyatakan tidak setuju. Pada tabel 6, dikatakan bahwa sebagai orang tua menyediakan fasilitas (buku gambar, cat pewarna, Kitab Suci, Rosario dan lain-lain) yang dibutuhkan

   

  anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu, ada 6 (13,34%) responden yang mengatakan sangat setuju dan 36 (80%) responden yang mengatakan setuju.

  Berkaitan dengan hal ini, ada 2 ?(4,44%) responden yang mengatakan kurang setuju dan 1 (2,22%) menyatakan tidak setuju bahwa orang tua tidak perlu menyediakan falisitas kepada anak saat mengikuti kegiatan sekolah minggu.

  Pada tabel 6, dikatakan bahwa sebagai orang tua sangat mendukung anak menjadi pendamping sekolah minggu, dimana cara anak semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, ada 13 (28,89%) responden mengatakan sangat setuju dan 27 (60%) responden mengatakan setuju. Tetapi ada beberapa orang tua mempunyai pendapat berbeda dimana, ada 3 (6,67%) responden mengatakan kurang setuju dan 2 (4,44%) mengatakan tidak setuju. Dari tabel 6, dikatakan bahwa sebagai orang tua sangat mendukung memberi dukungan dan kesempatan kepada anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu diluar pertemuan rutin (Retret, Rekoleksi, Camping Rohani dan lain-lain), ada 9 (20%) responden yang mengatakan sangat setuju dan 35 (77,78%) responden mengatakan setuju untuk mendukung dan memberi kesempatan kepada anak-anak mengikuti kegiatan diluar kegiatan sekolah minggu untuk mengembangakan iman anak dan semakin mendekatkan anak kepada Tuhan, ini semua terlihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Dan dari tabel yang sama, ada 1 (2,22%) responden yang kurang setuju dengan diadakannya kegiatan diluar kegiatan sekolah minggu.

  Dari tabel 6, terdapat 8 (17,78%) responden mengatakan sangat setuju dan 36 (66.67%) responden mengatakan setuju bahwa anak merasa senang dan

   

  semangat mengikuti sekolah minggu karena sebelum dan sesudah kegiatan sekolah minggu orang tua selalu mendampingi. Sedangkan ada 6 (13,33%) responden yang mengatakan kurang setuju serta 1 (2,22%) mengatakan tidak setuju adanya dampingan dan kehadiran orang tua dalam kegiatan sekolah minggu, beberapa orang tua mempunyai pendapat berbeda-beda akan hal ini, mereka merasa dengan kehadiran mereka membuat anak menjadi kurang bebas dalam melakukan aktifitas atau kegiatan sekolah minggu lainnya.

  f. Dukungan dari Paroki terhadap kegiatan sekolah minggu dan keaktifan pendamping sekolah minggu.

  Dukungan dari paroki terhadap kegiatan sekolah minggu dan keaktifan pendamping sekolah minggu di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi dipaparkan pada tabel 7.

  Tabel 7. Dukungan dari Paroki terhadap kegiatan sekolah minggu dan keaktifan pendamping sekolah minggu (N=45) No Pertanyaan Alternatif Jawaban Jumlah %

  (1) (2) (3) (4) (5)

  16 Kegiatan sekolah minggu a . Sangat Setuju 11 24,45 telah didukung sepenuhnya b . Setuju 32 71,11 oleh paroki. c . Kurang Setuju 2 4,44 d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju

  17 Pendamping sekolah a . Sangat Setuju 7 15,56 minggu selalu kreatif b . Setuju 34 75,55

   

  dalam mendampingi anak selama kegiatan sekolah minggu. c . Kurang Setuju d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju 4 8,89

  Berdasarkan tabel 7, ada 11 (24,45%) responden mengatakan sangat setuju dan 32 (71,11%) responden yang mengatakan setuju karena kegiatan sekolah minggu telah didukung sepenuhnya oleh paroki. Sedangkan 2 (4,44%) responden mengatakan kurang setuju dengan adanya dukungan dari paroki.

  Dukungan dari paroki sangatlah penting dan bermanfaat bagi kegiatan sekolah minggu, jika tidak ada dukungan dari paroki maka kegiatan sekolah minggu tidak berjalan dengan baik. Peran serta dan keterlibatan pastor paroki sangat membantu perkembangan sekolah minggu.

  Sehubungan dengan kreatif pendamping dalam mendampingi anak selama kegiatan sekolah minggu pada tabel 7, sebanyak 7 (15,56%) responden menyatakan setuju dan 34 (75,55%) responden menyatakan setuju bahwa pendamping sekolah minggu selalu kreatif dalam mendampingi anak selama kegiatan sekolah minggu. Dan dari item yang sama ada 4 (8,89%) responden menyatakan kurang setuju akan keaktifan pendamping sekolah minggu.

  g. Hambatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui sekolah minggu.

  Hambatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui sekolah minggu di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi dapat kita lihat pada tabel 8.

   

  20 Karena kesibukan orang tua perkembangan iman anak kurang diperhatiakan. a . Sangat Setuju b . Setuju c . Kurang Setuju d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju

  Dari hasil penelitian pada tabel 8, diketahui bahwa pengaruh perkembangan teknologi membuat anak menjdi kurang berminat mengikuti kegiatan sekolah minggu secara rutin dan karena kesibukan orang tua membuat perkembangan iman anak menjadi kurang diperhatikan oleh orang tua, orang tua merasa perkembangan iman anak adalah nomor 2 dan yang paling utama bagi mereka adalah pekerjaan mereka.

  4 15,56 46,67 11,11 17,78 8,88

  8

  5

  21

  7

  20 51,12 13,33 11,11 4,44

  Tabel 8. Hambatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu di Paroki St Fansiskus Asisi Berastagi( N = 45) No Pertanyaan Alternatif Jawaban Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5)

  2

  5

  6

  23

  9

  19 Pengaruh perkembangan teknologi (Internet, PS, TV) membuat anak menjadi kurang berminat mengikuti kegiatan sekolah minggu secara rutin. a . Sangat Setuju b . Setuju c . Kurang Setuju d . Tidak Setuju e . Sangat Tidak Setuju

  Berdasarkan tabel 8 yang menyatakan bahwa pengaruh perkembangan

   

  kegiatan sekolah minggu secara rutin, ada 9 (20%) responden mengatakan sangat setuju dan 23 (51,12%) responden mengatakan setuju. Dari ítem yang sama, sebanyak 6 (13,33%) responden mengatakan kurang setuju, ada 5 (11,11%) responden mengatakan tidak setuju dan ada 2 (4,44%) responden mengatakan sangat tidak setuju karena perkembangan teknologi membuat anak menjadi kurang berminat ke gereja. Berkaitan dengan tabel 8, ada 7 (15,56%) responden mengatakan sangat setuju dan ada 21 (36,67%) responden mengatakan setuju bahwa karena kesibukan orang tua perkembangan iman anak kurang diperhatiakan. Sedangkan ada 5 (11,11%) responden mengatakan kurang setuju, ada 8 (17,78%) responden mengatakan tidak setuju dan 4 (8,88%) responden mengatakan sangat tidak setuju kalau karena kesibukan orang tua perkembangan iman anak kurang diperhatiakan.

2. Hasil Wawancara

  Hasil wawancara yang penulis dapatkan setiap harinya selama penelitian cukup membantu penulis untuk semakin mendalami dan memahami apa yang dipahami, dukungan, hambatan yang dialami oleh para orang tua di stasi Suka Julu-Tiga Jumpa paroki St Fransiskus Asisi Berastagi sekaligus membantu penulis untuk semakin peduli dan memahami apa yang dibutuhkan para orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak.

   

  a. Pemahaman orang tua tentang arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak Dari hasil wawancara banyak orang tua yang memahami akan arti dan tujuan dari perilaku iman anak, hal tersebut dapat kita lihat pada tabel 3 no 1 dan

  2.

  b. Sekolah minggu merupakan salah satu wadah mengembangkan iman anak? Wawancara para orang tua sudah paham jika kegiatan sekolah minggu merupakan tempat mengembangkan iman anak. Beberapa orang tua mengatakan jika kegiatan sekolah minggu sangat membantu mereka dalam mengembangkan perilaku iman anak. Orang tua bisa langsung melihat hasil dari kegiatan sekolah minggu di mana anak sudah bisa menunjukkan cara dan sikap doa yang baik dan benar, membuat tanda salib yang benar, berdoa sebelum dan sesudah makan.

  Orang tua menyadari ini semua adalah tangungjawab mereka di mana mendidik anak yang utama dan pertama adalah di dalam keluarga khususnya kedua orang tua tetapi karena sibuk dengan pekerjaan mereka ini semua diabaikan.

  c. Orang tua menyediakan fasititas yang dibutuhkan anak dan dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu.

  Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak, mendampingi anak saat kegiatan sekolah minggu, mengantar dan menjemput anak saat kegiatan sekolah minggu adalah tanggungjawab dari orang tua tetapi dari hasil wawancara banyak orang tua yang kurang mengerti akan hal ini, dimana orang tua kurang

   

  peduli akan kebutuhan anak misalnya Rosario, Kitab Suci dll. Bagi orang tua mengantar dan jemput anak sewaktu kegiatan sekolah minggu menyita waktu meraka bekerja sehingga menyebabkan anak sering pergi dan pulang sendiri saat kegiatan sekolah minggu. Pekerjaan adalah yang utama bagi orang tua, sehingga menyebabkan orang tua menjadi kurang peduli akan kegiatan anak baik di Gereja, masyarakat maupun sekolah.

  d. Dukungan orang tua dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu.

  Dukungan yang sudah dilakukan oleh orang tua sudah dalam mengembangkan perilaku iman anak masih kurang dimana orang tua kurang mendukung jika anaknya menjadi pendamping sekolah minggu dimana orang tua merasa menjadi pendamping sekolah minggu itu kurang penting dan hanya buang-buang waktu dan merepotkan dimana harus mengerti akan dunia anak serta apa saja yang butuhkan anak saat kegiatan sekolah minggu. Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak, menanyakan pengalaman anak setelah mengikuti kegiatan sekolah minggu jarang dilakukan oleh orang tua karena orang tua jarang bertemu dengan anak-anak ini disebabkan karena pagi-pagi sebelum anak berangkat sekolah orangtu belum bangun dan pada malam hari anak-anak sudah tidur orang tua baru pulang kerja. Orang tua jarang bertemu dengan anak-anak dan jarang bertanya akan pengalaman anak selama mengikuti kegiatan sekolah minggu. Kurangnya dukungan orang tua setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak diluar kegiatan sekolah minggu sangatlah memprihatinkan, kegiatan anak di luar kegiatan sekolah minggu sangat membantu anak dalam mengembangkan perilaku iman anak. dan dengan kegiatan tersebut anak bisa bersosialisasi

   

  dengan orang lain. Dari hasil wawancara alasan orang tua kurang mendukung kegiatan yang dilakukan anak diluar kegiatan sekolah minggu karena takut anak tidak bisa menjaga diri, kurangnya perhatian dari pendamping, harus pisah dari anak jika harus mendampingi, mengantar dan menjemput anak bagi orang tua sangat repot dimana waktu yang dibutuhkan untuk mendampingi anak cukup banyak.

  e. Dukungan dari paroki terhadap kegiatan sekolah minggu dan keaktifan pendamping sekolah minggu.

  Dukungan dari pastor paroki dan keaktifan pendamping sekolah minggu sangatlah berpengaruh dalam perkembangan kegiatan sekolah minggu. Dari hasil wawancara dengan orang tua maka orang tua mempunyai pendapat berbeda-beda tentang dukungan dari paroki ada yang perpandangan negatif dan ada juga yang perpandangan positif. Yang berpandangan negatif merasa dukungan dari paroki belum sama sekali maksimal bagi kegiatan sekolah minggu dan kegiatan sekolah minggu juga bagi orang tua dapat berjalan dengan baik jika adanya dukungan dari orang tua. Sedangkan yang berpandangan positif merasa dukungan dari pastor paroki sangat terlihat dan membantu dalam perkembangan kegiatan sekolah minggu. Sedangkan bagi pendamping sekolah minggu yang mengatakan kurang setuju mempunyai alasan jika pendamping sekolah mingg selalu aktif maka anak-anak akan semakin menyukai pendamping sekolah minggu dibandingkan orang tua, orang tua tidak ingin anaknya terlalu berpengaruh dengan pendamping sekolah minggu. Alasan para

   

  orang tua mungkin macam-macam tetapi mereka mempunyai alasan tertentu mengatakan demikian.

  f. Hambatan yang dialami orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu.

  Mendidik anak bukanlah hal yang mudah, banyak orang tua yang lelah dan menyerah karena kenakalan anak-anak. Pengaruh perkembangan teknologi yang begitu pesat banyak anak menjadi malas mengikuti kegiatan yang ada dalam lingkungannya baik itu dalam lingkungan sekolah, masyarakat maupun gereja.

  Jika sudah di depan TV atau di depan internetan banyak orang yang menjadi malas untuk beranjak dari tempat duduknya, begitu pula bagi anak-anak jaman sekarang. Pengaruh perkembangan teknologi banyak anak yang menjadi kurang berminat dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu tetapi banyak orang tua yang kurang peduli akan hal ini. Anak mau melakukan hal apa saja bisa asalkan jangan mengganggu pekerjaan orang tua dan melibatkan mereka dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis dalam hal pengaruh perkembangan teknologi membuat anak menjadi kurang berminat mengikuti kegiatan sekolah minggu banyak orang tua yang kurang peduli akan hal ini. Bagi orantua apapun yang dilakukan anak asalkan tidak menggangu pekerjaan mereka “ok ok” saja, dari hasil wawancara orang tua kurang setuju, tidak setuju maupun sangat tidak setuju dalam mengisi kuesioner yang dilakukan penulis, kebanyakan orang tua mengatakan terserah anak mau melakukan apa asalkan jangan menggangu orang tua dan bahkan jika anak

   

  dilarang untuk tidak menonton TV atau internet tetapi mengikuti kegiatan sekolah minggu anak menangis, tidak memperbolehkan orang tua kerja, dll.

  Dari hasil wawancara sangatlah memprihatinkan dimana karena kesibukan orang tua membuat perkembangan perilaku iman anak menjadi kurang diperhatikan dan menjadi kurang penting bagi orang tua.

C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN.

  1. Identitas responden Berdasarkan hasil penelitan dan hasil jawaban responden pada tabel 2, telah diperoleh 45 responden yakni laki-laki berjumlah 23 (51,11) dan perempuan berjumlah 22 (48,89) dan usia pernikahan mulai tahun 4 sampai 37 tahun. Hal ini dapat kita membedakan pendidikan iman anak yang usia pernikahan masih muda atau yang sudah lama menikah. Setiap orang tua memiliki cara masing-masing dalam mengembangkan perilaku iman anaknya.

  2. Pemahaman orang tua tentang arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak Dari hasil penelitian yang sudah dipaparkan oleh penulis pada tabel 3, dapat kita ketahui bahwa pemahaman orang tua tentang arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak. Pemahaman orang tua akan arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu cukup dipamahi oleh orang tua. Pemahaman ini dapat kita lihat dari hasil

   

  akan arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak. Tujuan mengembangkan perilaku iman anak dapat terwujud dengan baik dengan adanya peran serta orang tua dalam mengembangkan iman anak, sebanyak 22 (48,89%) responden yang mengatakan sangat setuju dan ada 23 (51,11%) responden yang mengatakan setuju. Dari sini dapat terlihat bahwa para orang tua mampu dan dapat mengerti akan arti dan tujuan mengembangkan perilaku iman anak itu sendiri sehingga mereka bisa mereka dapat menyadari bahwa melalui kegiatan sekolah minggu sangatlah membantu mengambangkan iman anak.

  Perilaku iman anak adalah perbuatan anak yang baik seperti bersikap sopan terhadap orang tua, jujur, adil, mencintai semasa adalah suatu hal yang sangat penting bagi orang tua dan anak karena sangat membantu dalam hal mengembangkan kepribadian anak. Sikap dan keperibadian anak tergantung dari didikan orang tua kepada anak. Jadi arti dari perilaku iman anak bagi orang tua sangat penting, ini adalah dasar dari cara mendidik anak. Para orang tua yang mengerti dan memahami ini sebanyak 22 (51,11%) yang mengatakan sangat setuju dan 23 (51,11%) mengatakan setuju. Hal ini menjadi dasar dalam mendidik anak, jika anak bersikap sopan, jujur, adil dan mencintai sesama maka orang tua dapat dikatakan berhasil dalam mendidik anak dengan baik.

  3. Sekolah minggu merupakan salah satu wadah mengembangkan perilaku iman anak Sekolah minggu merupakan salah satu tempat mengembangkan perilaku iman anak yang cukup baik dan diminati oleh para orang tua. Berdasarkan hasil

   

  penelitian yang telah dipaparkan dalam tabel 4 no 3, sebanyak 22 (48,89%) responden mengatakan sangat setuju dan 23 (51,11%) mengatakan setuju jika sekolah minggu merupakan tempat mengembangkan iman anak. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah minggu sangat membantu orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak. Dari hasil penelitian dan pengamatan penulis, para orang tua cukup terbantu dengan adanya kegiatan sekolah minggu, dimana anak juga mempunyai banyak pengalaman dan bergaul dengan teman- teman yang lain terkadang anak juga mendapatkan teman yang bagu dalam kegiatan sekolah minggu.

  Dengan adanya kegiatan-kegiatan dalam sekolah minggu sangat membantu anak dalam mengembangkan imannya, sebanyak 17 (37,78%) responden yang mengatakan sangat setuju dan 28 (62,22%) responden yang mengatakan setuju. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya kegiatan sekolah minggu ini sangat membantu orang tua dalam mengembangkan iman anak-anak, karena dengan adanya kegiatan sekolah minggu ini anak-anak semakin tahu bagaimana cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan yang paling mendasar adalah cara berdoa yang baik dan benar. Ternyata sebanyak 18 (40%) responden mengatakan sangat setuju dan ada 27 (60%) responden mengatakan setuju. Dari sini menunjukkan bahwa para orang tua menyadari bahwa kegiatan sekolah minggu sangat membantu mereka dalam mengembangkan iman anak mereka. Mereka juga bangga karena dengan kegiatan sekolah minggu anak bisa menunjukkan sikap doa yang baik dan benar, ini bisa dikatakan jika anak sudah mulai mandiri dan menunjukkan kepada orang tua mereka kalau mereka sudah

   

  bisa berdoa dengan baik dan benar tanpa dituntun lagi oleh orang tua (tabel 4 no 4).

  Mengenai keberhasilan sekolah minggu sangat ditentukan oleh peran serta keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak-anak berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4 no 6, ada 14 (31,11%) responden mengatakan sangat setuju dan 30 (66,67%) reponden yang mengatakan setuju. Kegiatan sekolah minggu sangat berpengaruh dengan adanya dukungan dan peran serta dari orang tua, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah minggu semata-mata menunjukkan dukungan mereka dan kebanggan mereka kepada anak-anak mereka karena melalui kegiatan sekolah minggu anak-anak bisa semakin dekat dengan Tuhan. Namun berkaitan dengan keberhasilan sekolah minggu dengan adanya peran serta orang tua didalamnya ada 1 (2,22%) responden mengatakan kurang setuju dengan adanya peran serta orang tua dalam kegiatan sekolah minggu.

  4. Keterlibatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu Keterlibatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu diantaranya adalah keterlibatan orang tua dalam menyediakan fasilitas bagi anak dalam kegiatan sekolah minggu sangatlah penting dan baik adanya karena sangat membantu dalam mengembangkan iman anak dan sekaligus membantu pendamping sekolah minggu. Berdasarkan hasil penelitian sebanyak 10 (22,22%) responden yang mengatakan sangat setuju dan 34

   

  (75,56%) responden yang mengataka setuju. Hal ini menunjukkan bahwa peran serta dan keterlibatan dari orang tua itu sendiri sangatlah membantu anak dalam mengembangkan perilaku iman anak. Menyediakan fasilitas untuk anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu merupakan hal yang wajib bagi orang tua, karena keterlibatan orang tua dalam menyediakan fasilitas merupakan salah satu dukungan dari orang tua secara tidak langsung. Sehubungan dengan keterlibatan orang tua dalam menyedikan fasilitas bagi anak-anak dalam kegiatan sekolah minggu, ada 1 (2,22%) responden yang mengatakan kurang setuju. Ini artinya keterlibatan orang tua dalam menyediakan fasilitas bagi anak dalam meningkatkan imannya kurang penting bagi orang tua, orang tua melimpahkan semuanya ini kepada pendamping sekolah minggu.

  Para orang tua perlu mendampingi anak dalam pelaksanaan kegiatan sekolah minggu sebanyak 16 (35,56%) responden yang mengatakan sangat setuju dan ada 21 (46,67%) responden mengatakan setuju. Kesadaran dari orang tua dalam mendampingi anak setiap kegiatan sekolah minggu masih ada, orang tua masih menyadari bahwa keterlibatan mereka dalam mendampingi anak dalam kegiatan sekolah minggu sangat penting dan berguna bagi anak-anak.

  Dengan ada pendampingan dari orang tua dalam kegiatan sekolah minggu, anak merasa sangat senang dan merasakan bahwa dukungan dari orang tua bagi mereka sangat besar sehingga anak semakin semangat dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu. Tetapi masih ada diantara para orang tua yang kurang setuju akan pendampingan orang tua setiap pelaksanaan kegiatan sekolah minggu, ada 8 (17,77%) responden yang menyatakan kurang setuju. Orang tua merasa

   

  mendampingi anak kurang penting dan orang tua juga mempunyai banyak kesibukan mencari nafkah bagi anak-anak. Hal ini menyebabkan anak-anak menjadi kurang dekat dengan orang tua karena orang tua kurang memperhatikan mereka, anak merasa kurang mendapat dukungan dari orang tua.

  Setiap orang tua pasti bangga dan senang jika melihat anak-anaknya menunjukan sikap doa yang baik dan benar, hal ini dapat kita lihat respon dari orang tua. Berdasarkan tabel 5 no 9, ada 18 (40%) responden yang menyatakan sangat setuju dan 26 (57,78%) responden yang menyatakan setuju. Orang tua menginginkan jika setiap berdoa anaknya selalu bersikap doa yang baik dan benar. Keberhasilan anak menunjukkan sikap doa yang baik dan benar tidak lain karena adanya keterlibatan dari orang tua. Keterlibatan orang tua setiap kegiatan sekolah minggu sangatlah membantu anak dalam mengembangkan perilaku imannya. Dan ada 1 (2,22%) responden yang mengatakan kurang setuju. Orang tua yang tidak senang jika selama berdoa anak menunjukkan sikap doa yang baik dan benar, ini mungkin hampir tidak pernah kita temukan. Pada tabel 5 no 10, dimana sebagai orang tua selalu mengantar dan menjemput anak setiap kegiatan sekolah minggu dilaksanakan, ada 4 (5,89%) responden yang menyatakan sangat setuju dan 28 (62,22%) responden yang menyatakan setuju. Dari sini menunjukkan bahwa para orang tua sangat antusias dalam mengantar dan menjemput anak setiap kegiatan sekolah minggu. Namun sehubungan dengan keterlibatan orang tua dalam hal mengantar dan menjemput anak setiap kegiatan sekolah minggu, ada 13 (28,89%) responden yang menyatakan kurang setuju juga sebagai orang tua seharusnya selalu mengantar dan menjemput

   

  aanak setiap kegiatan sekolah minggu. Keterlibatan orang tua dalam mengantar dan menjemput anak setipa kegiatan sekolah minggu sangatlah penting agar anak merasa semakin didukung dan mendapat dorongan dari orang tua. Setiap anak pasti merasa senang dan semangat mengikuti kegiatan sekolah minggu jika diantar, didampingi atau dijemput oleh orang tua tetapi hal ini jarang kita dilihat, ini semua disebabkan karena kesibukan orang tua dalam hal pekerjaan mereka.

  5. Dukungan orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu Dukungan orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi meliputi bertanya akan pengalaman anak setelah mengikuti kegiatan sekolah minggu, menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak, mendukung anak menjadi pendamping sekolah minggu, memberi kesempatan kepada anak mengikuti kegiatan diluar kegiatan sekolah minggu seperti Retret, Rekoleksi, Camping rohani dan lain-lain, sekolah minggu sudah menjadi tempat yang pas bagi orang tua adalam meningkatkan iman anak, apakah sekolah minggu sudah mendapat dukungan dari pastor paroki, pendamping sekolah minggu yang selalu kreatif dalam mendampingi anak dan yang terakhir anak merasa jika selalu mendapat pendampingan dari orang tua. Dalam tabel 6 no 11 tentang bertanya akan pengalaman anak baik yang paling mengesan dan kurang mengesan selama mengikuti kegiatan sekolah minggu adalah salah satu yang wajib ditanya oleh orantua kepada anaknya setelah mengikut kegiatan sekolah minggu, sebanyak 8 (17,78%) responden

   

  yang menyatakan sangat setuju dan 34 (75,56%) responden yang menyatakan setuju. Orang tua yang telah menyatakan demikian pasti selalu memperhatikan perkembangan iman anaknya dan selalu mendukung anak setiap kegiatan sekolah minggu. Namun masih ada juga orang tua yang kurang meperhatikan hal ini ternyata ada 2 (4,44%) responden yang menyatakan kurang setuju dan 1 (2,22%) responden menyatakan tidak setuju. Orang tua yang tidak pernah bertanya kepada anak akan pengalaman yang telah anak lakukan selama mengikuti kegiatan sekolah minggu hampir sering kita jumpai, ini disebabkan karena kesibukan orang tua dalam mengurus pekerjaannya sehingga waktu untuk anak menjadi berkurang. Bertanya kepada anak akan pengalaman yang telah mereka lakukan adalah hal yang sangat penting, ini merupakan salah satu bukti dari dukungan orang tua kepada anak. Menanyakan pengalaman kepada anak merupakan salah satu komunikasi atau pendekatan yang baik dari orang tua kepada anak, disinilah seharusnya kesempatan orang tua mencuri hati anak- anak agar anak-anak mereka selalu diperhatikan oleh orang tua sehingga orang tua menjadi teman dan sahabat bagi anak-anak. Selain bertanya akan pengalaman yang anak alami selama mengikuti kegiatan sekolah minggu, para orang tua juga menyediakan fasilitas seperti buku gambar, cat pewarna, Kitab Suci, Rosario dan lain-lain yang dibutuhkan anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu. Berkaitan dengan hal ini seperti yang dapat kita lihat pada tabel 6 no 12, sebanyak 6 (17,78%) responden mengatakan sangat setuju dan 34 (75,56%) responden yang mengatakan setuju. Ini artinya orang tua sangat ikut telibat adalam menyedikan fasilitas yang dibutuhkan anak setiap kegiatan

   

  sekolah minggu. Fasilitas yang disediakan oleh orang tua sangat membantu anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu, karena selain disekolah minggu dirumah juga anak bisa mewarnai, membaca Kitab Suci dengan orang tua serta Doa bersama dalam keluarga. Namun walaupun demikian masih ada beberapa orang tua yang kurang memperhatikan hal ini dimana ada 2 (4,44%) responden yang menyatakan kurang setuju dan 1 (2,22%) responden yang menyatakan tidak setuju. Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak merupakan salah satu kewajiban dari orang tua yang harus dilakukan dan dijalankan karena ini adalah bukti dari orang tua dalam mendukung anak setiap kegiatan sekolah minggu.

  Dalam mendukung anak setiap kegiatan sekolah minggu, orang tua juga sebaiknya mendukung anak menjadi pendamping sekolah minggu. Menurut tabel 6 no 13 dimana sebagai orang tua sangat mendukung anak menjadi pendamping sekolah minggu, sebanyak 13 (28,89%) responden menyatakan sangat setuju dan 27 (60%) responden yang menyatakan setuju. Dukungan dari orang tua bagi anak yang ingin ingin menjadi pendamping sekolah minggu sangatlah penting, jika tidak ada dukungan dari orang tua maka pendampingan bagi anak sekolah minggu tidak akan dapat berjalan dengan baik. Dukungan dari orang tua pasti diharapkan dan diinginkan oleh setiap anak, jika mendapat dukungan dari orang tua maka semuanya akan berjalan dengan naik dan lancar.

  Doa dan dukungan dari orang tua sangatlah berpengaruh bagi setia kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak. Walaupun dukuangan yang diharapkan setiap anak dari orang tua, masih ada orang tua yang kurang menyetujui hal ini. dimana ada 3 (6,67%) responden yang menyatakan kurang setuju dan 2 (4,44%)

   

  responden yang mengatkan tidak setuju. Orang tua yang mengatakan demikian memiliki alasan tertentu salah satu diantaranya adalah orang tua merasa menjadi pendamping sekolah minggu merupakan pekerjaan buang-buang waktu saja karena masih ada pekerjaan yang lebih baik dari pendamping sekolah minggu.

  Oleh karena itu perlu pendekatan kepada orang tua yang demikian agar bisa menyentuh hati mereka jika dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan oleh anak. Menjadi pendamping sekolah minggu merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan karena kita bisa menghibur anak-anak dan membantu anak semakin dekat dengat Tuhan.

  Dukungan dari orang tua sangatlah macam-macam seperti yang terdapat pada tabel 6 no 14 tentang dukungan dan kesempatan yang diberikan orang tua kepada anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu diluar pertemuan rutin (Retret, Rekoleksi, Camping Rohani dan lain-lain), ada 9 (20%) responden yang menyatakan sangat setuju dan 35 (77,78%) responden yang menyatakan setuju.

  Dari hasil yang telah kita dapat dari responden banyak orang tua yang mendukung akan kegiatan yang dilakukan anak diluar pertemuan rutin dimana ada kegiatan Retret, Rekoleksi, dll. Tetapi masih ada juga diantara para orang tua yang berbeda pendapat, dimana ada 1 (2,22%) responden yang kurang setuju. Orang tua yang kurang setuju dengan adanya kegiatan diluar kegiatan sekolah minggu ini ada kemunginan cemas dan khawatir kepada anak karena jarang pisah dari oangtau sehingga bisa membuat anak menangis selama mengikuti kegitan karena kegiatan yang dilakukan kemungkinan besar bermalam ditempat tujuan atau ada kemungkinan juga orang tua meresa

   

  kegiatan seperti itu kurang penting dan menyita waktu orang tua dalam mendampingi anak apalagi kegiatan seperti ini pasti bermalam dan membuat orang tua tidak lagi bekerja. Bekerja mencari nafkah bagi anak-anak jauh lebih penting bagi setiap orang tua, karena bekerja mencari nafkah bagi mereka merupakan hal yang wajib dan paling penting.

  Setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak seharusnya selalu mendapatkan dukungan dari orang tua mereka. Terkadang anak-anak dinomor duakan oleh orang tua, pada zaman sekarang kebanyakan dari orang tua menitipkan anak kepada pengasuh, kerabat atau tetangga mereka sedangkan orang tua sibuk dengan pekerjaa. Hal ini menyebabkan anak tidak terlalu dekat dengan orang tua mereka. Kegiatan sekolah minggu yang seharusnya tempat nomor dua mengembangkan iman anak menjadi nomor 1. Pada hal yang utama dan pertama mengembangakn iman anak adalah para orangtau. Pada tabel 6 no 15 dikatakan bahwa kegiatan sekolah minggu telah terlaksana dengan baik untuk menjadi tempat memperkembangkan perilaku iman anak. ada 13 (28,89%) responden yang menyatakan sangat setuju dan 32 (71,11%) responden yang mengatakan setuju. Ini artinya orang tua sangat mendukung dan terbantu adanya kegiatan sekolah minggu dalam mengembangkan iman anak. Sekolah minggu merupakan salah satu tempat mengembangkan iman anak tetapi tidak seharusnya sekolah minggu menjadi yang utama, yang seharusnya utama dan pertama tempat mengembangkan iman anak adalah keluarga. Keluargalah yang paling utama dan pertama tempat mengembangkan iman anak. dalam keluarga orang tua bisa mengajari anak berdoa, membaca kitab suci dan yang lainnya. Sehingga dalam

   

  kegaitan sekolah minggu hanyalah tambahan dalam mengembangkan iman anak. Sehubungan dengan dukungan dari para orang tua, dukungan dari paroki juga sangat diharapkan para pendamping sekolah minggu, anak-anak sekolah minggu dan para orang tua. Dari hasil penelitian yang dapat kita lihat pada tabel 6 no 16, ada 11 (24,45%) responden mengatakan sangat setuju dan 32 (71,11%) responden yang mengatakan setuju tentang kegiatan sekolah minggu telah didukung sepenuhnya oleh paroki. Tetapi masih ada juga yang berpendapat lain tentang dukungan yang diharapkan banyak orang dari paroki, ada 2 (4.44%) responden yang mengatakan kurang setuju tentang hal ini. Pada hal dukungan dari paroki sangatlah bermanfaat bagi kegiatan sekolah minggu, jika tidak ada dukungan dari paroki maka kegiatan sekolah minggu tidak bisa berjalan dengan baik.

  Aktifnya dan kreatifnya pendamping sekolah minggu sangatlah penting bagi anak-anak, jika pendamping sekolah minggu selalu kreatif dalam mendampingi anak-anak maka anak selalu semangat dan tidak bosan setiap kegiatan sekolah minggu dilakukan. Jika pendamping sekolah minggu kurang aktif dan kreatif maka kegiatan sekolah minggu menjadi kurang berkembang. Orang tua seharusnya banyak belajar dari pendamping sekolah minggu, dimana pendamping sekolah minggu selalu semangat dalam mendampingi anak dan mempunyai cara-cara agar anak-anak semakin aktif untuk datang dan semakin ikut terlibat dalam kegiatan sekolah minggu. Pada tabel 5 no 17 dapat kita lihat responden dari para orang tua jika pendamping sekolah minggu selalu kreatif dalam mendampingi anak setiap kegitan sekolah minggu, ada 7 (15,56%)

   

  responden yang mengatakan sangat setuju dan 34 (75,55%) responden mengatakan setuju. Orang tua yang setuju dan mendukung jika pendamping sekolah minggu selalu kreatif dalam mendampingi anak-anak memang kurang banyak tetapi walaupun sedikit sangat berpengaruh dalam kegiatan sekolah minggu. Keaktifan dan kreatif dari pendamping sekolah minggu merupakan salah satu cara untuk menarik anak-anak untuk semakin rajin mengikuti kegiatan sekolah minggu. Jika anak semakin rajin mengikuti kegitan sekolah minggu maka banyak anak-anak yang semakin dekat dengat Tuhan. Walaupun demikian masih ada juga orang tua yang setuju dengan keatifan atau kretif dari pendamping sekolah minggu, ada 4 (8,89%) responden yang mengatakan kurang setuju. Orang tua yang tidak setuju dengan keatifan dan kreatif dari pendamping sangatlah memprihatinkan, pada hal secara tidak langsung cara seperti inilah kebanyakan dipakai oleh pendamping untuk semakin dekat dengan anak-anak. Menurut tebel 6 no 18, tentang dukungan dari orang tua kepada anak dimana anak merasa senang dan semangat mengikuti sekolah minggu karena sebelum dan sesudah kegiatan sekolah minggu orang tua selalu mendampingi, ada 8 (17,78%) responden yang mengatakan sangat setuju dan 30 (66,67%) responden yang mengatakan setuju. Dari hasil yang diperoleh kita dapat mengetahui sejuahmana dukuangan yang telah diberikan orang tua kepada anak ternyata hasilnya memuasakan dimana para orang tua menyakini bahwa dengan kehadiran mereka dalam setiap kegiatan sekolah minggu membuat anak semakin semangat dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu. Kehadiran para orang tua setiap kegiatan sekolah minggu sangatlah diharapkan oleh anak-anak.

   

  Mengantar dan menjemput setiap kegitan sekolah minggu yang dilakukan oleh anak-anak meruapakan salah satu dukungan dari orang tua kepada anak. Akan tetapi sehubungan dengan mengantar dan menjemput anak setiap kegiatan sekolah minggu tersebut ada 6 (13,33%) responden yang menyatakan kurang setuju dan 1 (2,22%) responden menyatakan tidak setuju. Mereka yang berkata demikian ada kemungkinan merasa mengantar dan menjemput anak merupakan hal yang tidak penting dan bisa dititpkan kepada saudara atau teman lainnya. Bagi orang tua mencari nafkah jauh lebih penting dibandingkan mengantar dan menjemput anak setiap kegiatan sekolah minggu. Orang tua sibuk dengan pekerjaannya dan menomor duakan anak-anak merupakan sering kita jumpai pada jaman sekarang ini. Dimana para orang tua kebanyakan sibuk dengan bisnis mereka bahkan tak ada juga beberapa orang tua yang jarang bertemu dan bercengkrema dengan anak-anaknya, ini disebabkan tak lain karena kesibukan orang tua juga. Oleh karena itu para orang tua harus lebih memperhatikan anak- anak dan mendukung setiap kegiatan anak-anak, jika anak-anak mendapat dukungan dan selalu diperhatikan oleh orang tua maka anak anak selalu meresa senang dan semangat setiap menjalankan aktifitas mereka.

  6. Hambatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui sekolah minggu Hambatan yang dialami oleh orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak memalui kegiatan sekolah minggu antara lain : Pengaruh perkembangan teknologi dan kesibukan dari orang tua itu sendiri. Menurut tabel

   

  7 no 19, tentang pengaruh perkembangan teknologi (Internet, PS, TV) membuat anak menjadi kurang berminat mengikuti kegiatan sekolah minggu secara rutin, sebanyak 9 (20%) responden mengatakan sangat setuju dan 23 (51,12%) responden yang mengatakan setuju. Berdasarkan hasil ini dapat kita ketahui bahwa orang tua sangat tidak mendukung dengan adanya perkembangan teknologi ini, dimana dengan adanya perkembangan teknologi ini membuat anak menjadi kurang berminat dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu. Pengaruh perkembangan teknologi bagi anak memang bagus tapi jika disalah gunakan dan membuat anak menjadi kurang berminat mengikuti kegitian sekolah minggu tidaklah bagus karena membuat anak menjad semakin malas dan semakin jauh dangan Tuhan. Perkembangan teknologi pada jaman sekarang sangatlah cepat berkembang dan langsung mempengaruhi anak-anak sehingga anak-anak juga cepat menguaisinya. Tetapi ada beberapa orang tua berpendapat lain tentang perkembangan teknologi ini, ada 6 (13,33%) responden mengatakan kurang setuju, 5 (11,11%) responden mengatakan tidak setuju dan 2 (4,44%) responden yang mengatakan sangat tidak setuju. Mereka yang tidak setuju tersebut mungkin karena terkadang jika anak-anak dilarang menonton TV atau main PS dan diminta pergi ke gereja anak sering mengamuk dan menangis, hal ini membuat orang tua semakin repot dan sibuk. Hal ini menyebabkan orang tua memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang perkembangan teknologi ini. Masih berhubungan dengan hambatan yang dialami orang tua dalam mengembangkan iman anak, dimana karena kesibukan orang tua perkembangan iman anak kurang diperhatiakan seperti yang dapat kita lihat pada tabel 7 no 20,

   

  ada 7 (15,56%) responden mengatakan sangat setuju dan 21 (46,67%) responden yang mengatakan setuju. Hal ini cukup baik dimana para orang tua menyadari bahwa dengan kesibukan mereka sehingga perkembangan iman anak kurang diperhatikan, kesadaran orang tua ini sangatlah baik. Kesadaran dari orang tua inilah yang harus terus kita dukung sehingga orang tua semakin memperhatikan anak-anak. Kesibukan orang tua mempunyai alasan yang cukup, dimana orang tua sibuk dengan pekerjaan dan bisnis yang mereka jalankan. Orang tua mencari nafkah bagi anak-anak merupakan wajib tetapi jika sampai menyepelekan perkembangan iman anak memang kurang baik. Namun sehubungan dengan hal ini masih ada 5 (11,11%) mengatakan kurang setuju, 8 (17,78%) responden yang mengatakan tidak setuju dan ada 4 (8,88%) responden yang mengatakan sangat tidak setuju tentang hal ini. Kesibukan orang tua sangatlah berpengaruh dalam mengembangkan perilaku iman anak dan terkadang orang tua lupa akan janji atau membantu anak dalam hal belajar. Jika orang tua seharian sedah capek mecari nafkah dan pada malam hari sudah capek terkadang anak minta bantuanpun diabaikan dan tidak diperhatiakan. Kesibukan orang tua ini sangatlah berpengaruh akan kedekatakn antara orang tua dan anak menjadi berkurang. Maka kita tidak heran jika banyak anak-anak yang lebih dekat dengan pengasuh atau sanak saudara mereka. Anak merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua mereka, sehingga membuat mereka jauh dari orang tua mereka.

    D.

KESIMPULAN HASIL PENELITIAN

  Stasi Suka Julu-Tiga Jumpa merupakan salah satu stasi dari Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi yang berada di kota Berastagi Keuskupan Agung Medan. Para orang tua di Stasi Suka Julu pekerjaan mereka adalah bertani dan bisnis. Walaupun orang tua sibuk dengan pekerjaan mereka tidak membuat orang tua tidak tahu akan arti dan tujuan kegiatan sekolah minggu. Dimana para orang tua sudah paham dan mengerti akan arti dan tujuan dari mengembangkan perilaku iman anak. Namun yang menjadi kepihatinan di Stasi ini adalah kesibukan orang tua sehingga membuat orang tua kurang memperhatikan perkembangan perilaku iman anaknya. Selain dari itu yang menjadi keprihatian adalah orang tua kurang tegas dalam mengontrol kegiatan anak. Orang tua cenderung membiarkan anaknya tanpa mengajak anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu. Dari keprihatinan di atas penulis menarik beberapa kesimpulan seperti berikut:

  1. Arti dan tujuan perilaku iman anak Penulis melihat bahwa orang tua yang ada di Stasi Suka Julu-Tiga Jumpa kurang memperhatikan perkembangan perilaku iman anak. Oleh karena itu keprihatinan ini menjadi masalah sesuai dengan tujuan penelitian yakni: Mengetahui bahwa sekolah minggu membantu memperkembangkan perilaku iman anak dan pandangan orang tua akan peran meraka terhadap perkembangan perilaku iman anak adalah tanggungjawab dari setiap orang tua terhadap anaknya. Kegiatan sekolah minggu merupakan salah satu

   

  wadah mengembangkan perilaku iman anak dimana para orang tua sudah paham jika kegiatan sekolah minggu merupakan tempat mengembangkan iman anak, beberapa orang tua mengatakan jika kegiatan sekolah minggu sangat membantu mereka dalam mengembangkan perilaku iman anak.

  Orang tua bisa langsung melihat hasil dari kegiatan sekola minggu dimana anak sudah bisa menunjukkan cara dan sikap doa yang baik dan benar, membuat tanda salib yang benar, berdoa sebelum dan sesudah makan. Orang tua menyadari ini semua adalah tangungjawab mereka dimana mendidik anak yang utama dan pertama adalah di dalam keluarga khususnya kedua orang tua tetapi karena sibuk dengan pekerjaan mereka ini semua diabaikan.

  2. Usaha-usaha orang tua.

  Usaha-usaha orang tua dalam mendampingi anak untuk membantu perkembangan perilaku iman anak melalui sekolah minggu. Keterlibatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegiatan sekolah minggu sangatlah penting. Para orang tua dalam mengembangkan iman anak bukan hanya menyedikan fasilitas yang dibutuhkan anak tetapi anak juga sangat membutuhkan dukungan dan peran serta orang tua dalam mengembangkan imannya. Para orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak tidak hanya terbatas pada kegiatan sekolah minggu, cara-cara berdoa saja melainkan orang tua harus ikut serta dan teribat dalam mengembangkan perilaku iman anak dalam kegiatan sekolah

   

  minggu. Pendidikan iman anak yang utama dan pertama didapat dari orang tua dan keluarga mereka masing-masing. Keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan iman anak di sekolah dan masyarakat, oleh karena itu orang tua sebagai penanggungjawab iman anak dalam keluarga, bertanggungjawab dan berkewajiban untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berguna bagi pembentukan mental dan kepribadaian anak-anak itu sendiri.

  3. Faktor pendukung dan penghambat.

  Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat orang tua dalam mendampingi iman anak. Dukungan dari orang tua sangat berperan dalam perkembangan kegiatan sekolah minggu. Perhatian dan dukuangan dari orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu sangatlah bermanfaat dalam perkembangan perilaku iman anak. Perkembangan perilaku iman anak akan bertumbuh dan berkembang jika para orang tua melalukan usaha yang bisa membantu anak untuk mengembangkan perilaku imannya. Usaha-usaha yang dilakukan orang tua bukanya sebatas mendorong anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu tetapi bagaimana para orang tua itu bisa melalukannya dalam tindakan sehari-hari sehingga perkembangan iman anak semakin bertumbuh dan berkembang. Bukan hanya dukungan dari orang tua yang berpengaruh dalam perkembangan sekolah minggu. Dukungan dari paroki dan pendamping sekolah minggu juga sangat bermanfaat dan berpengaruh.

   

  Jika paroki tidak mendukung dalam kegiatan sekolah minggu maka kegiatan sekolah minggu tidak dapat berjalan dengan baik begitu juga dengan pendamping sekolah minggu, jika pendamping sekolah minggu kurang aktif dan kreatif maka kegiatan sekolah minggu juga tidak dapat berkembang. Anak sekolah minggu juga perlu belajar dari pendamping sekolah minggu, misalnya kesabaran, ketenangan, tanggungjawab, dll.

  Orang tua, pastor paroki dan pendamping sekolah minggu sangat berperan aktif dalam perkembangan kegiatan sekolah minggu. Jika tidak ada dukungan dan dorongan dari pasroki, orang tua maupun pendamping maka kegiatan sekolah minggu bisa mati dan tidak berkembang dengan baik.

  Dukungan dari paroki seharusnya perlu dipertahankan agar perkembangan sekolah minggu menjadi semakin berkembang dan ditambah lagi adanya bimbingan bagi para pendamping sekolah minggu, serta evaluasi sesama pendamping sekolah minggu agar kegiatan sekolah minggu semakin berkembang. Bukan hanya itu jika pastor paroki sudah mendukung kegiatan sekolah minggu dan selalu dipertahankan maka orang tua juga semakin sadar akan pentingnya kegiatan sekolah minggu dan sangat berpengaruh dalam perkembangan perilaku iman anak. Dukungan orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak adalah dalam keterlibatan orang tua dalam mengembangkan iman anak melalui kegitan sekolah minggu begitu juga dengan hambatan yang terjadi misalnya orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga mengembangkan iman anak diabaikan. Disamping itu saja ketidak cocokan kedua orang tua dalam

   

  keluarga merupakan salah satu penyebab gagalnya perkembangan perilaku iman anak. Anak merasa tidak adanya dukungan dari orang tua bagi mereka dalam mengembangkan perilaku imannya. Dalam mengembangkan perilaku iman anak maka para orang tua pasti memiliki dukungan dan hambatan dalam mengembangkan perilaku iman anaknya. Dukungan dan hambatan dalam mengembangkan perilaku iman anak dapat berasal dari dalam keluarga maupun dari luar keluarga.

  Hambatan terbesar orang tua dalam upaya mengembangkan perilaku iman anak ialah kesibukannya dalam mencari nafkah untuk anak-anak, sehingga orang tua menjadi kurang memperhatikan perkembangan perilaku iman anak. Kondisi ini tentunya dapat mempengaruhi kedekatan antara anak dan orang tua. Untuk itu diperlukan waktu yang luang untuk anak sehingga anak merasakan kasih sayang dari orang tua, dukungan dalam setiap kegiatan dan perhatian dari orang tua. Mencari waktu yang luang untuk anak memang cukuap susah bagi orang tua dimana orang tua banyak kesibukan dalam pekerjaan maupun mencari nafkah untuk anak- anak hal tersebut dapat diatasi jika orang tua sering mengajak anak jalan- jalan keluar kota walaupun hanya seminggu sekali itu sudah sangat berharga bagi anak-anak, doa bersama dalam keluarga ataupun makan bersama dalam keluarga.

  4. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis terhadap orang tua, orang tua mengharapakan adanya solusi agar mereka semakin

   

  bertanggungjawab dalam mengembangkan perilaku iman anak, semakin memperhatikan anak, orang tua semakin menyadari peranannya dalam keluarga sebagai tempat utama dan pertama dalam mengembangkan iman bagi anak-anak untuk menemukan nilai serta membantu orang tua dalam mengenalkan dan mendekatkan anak kepada Allah, dll. Para orang tua berkumpul bersama mengadakan pendalaman iman, saling sharing dan saling menguatkan dalam mengembangkan perilaku iman anak. Sehingga menurut penulis Katekese umat Umat adalah salah satu solusi dalam membantu orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anaknya. Katekese umat Umat mempunyai peranan dalam membantu orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak dimana penulis mengharapkan agar orang tua semakin memperhatikan anak-anaknya, adanya waktu luang yang disediakan bagi anak-anak khususnya dalam kegiatan sekolah minggu. Oleh karena itu, katekese umat umat masih relevan dan berperanan bagi orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak.

   

BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE UMAT SEBAGAI USAHA MENINGKATKAN PERAN PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM SEKOLAH MINGGU TERHADAP PENGEMBANGAN PERILAKU IMAN ANAK DI PAROKI ST FRANSISKUS ASSISI BERASTAGI Orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam mengembangkan

  perilaku iman anak. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam mendidik dan mendampingi anak dalam mengembangkan perilaku imannya termasuk melalui kegiatan sekolah minggu. Sekolah minggu merupakan tempat dimana anak-anak dikumpulkan dan mendapat proses pendampingan demi perkembangan perilaku iman mereka. Sekolah minggu juga menjadi tempat bagi anak-anak bermain dan bergembira bersama dengan teman-teman yang lain dalam konteks belajar untuk berprilaku sesuai dengan imannya. Terhadap kegiatan sekolah minggu di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi penulis menemukan gambaran umum bahwa keterlibatan orang tua dalam meningkatkan perilaku iman anak belum sepenuhnya baik. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka, sehingga masih banyak orang tua yang tidak mendampingi anak selama proses kegiatan sekolah minggu serta kurang memperhatikan perkembangan iman anak, misalnya orang

   

  tua sibuk dengan pekerjaan dan tidak mendampingi, mengantar atau menjemput anak selama mengikuti kegiatan sekolah minggu.

  Mengembangkan perilaku iman anak itu adalah tanggung jawab orang tua, dimana yang mendidik pertama dan utama dalam mengembangkan perilaku iman anak adalah di dalam keluarga yaitu kedua orang tua. Butuh kesadaran dari orang tua untuk mendampingi anak selama mengikuti kegiatan sekolah minggu. Kesadaran adalah pengetahuan dan pengertian orang tua dan akan apa saja yang akan mendukung anak-anak dalam mengembangkan perilaku imannya. Orang tua mempunyai peranan dalam keluarga, dan bagaimana orang tua menanamkan sikap dan nilai kristiani dalam diri anak sejak dini. Oleh karena itu, pada bab IV ini penulis hendak memaparkan dan mengajak orang tua untuk menyadari pentingnya memberikan perhatian kepada anak khususnya dalam perkembangan perilaku iman anak melalui katekese umat, agar anak semakin merasakan kasih sayang dan perhatian dari orang tua mereka.

  Mengembangkan perilaku iman anak mencakup berbagai hal misalnya keluarga, lingkungan sekolah atau masyarakat. Dalam bab ini, penulis mengajak orang tua untuk semakin terlibat menjadi pewarta injil bagi anak-anak di tengah-tengah keluarga dan semakin menyadari bahwa keluarga merupakan tempat pendidikan utama dan pertama dalam mengembangkan perilaku iman anak.

    A.

   Katekese Umat Bagi Orang tua Dengan Model SCP 1. Pengertian Katekese Umat

  Kata katekese berasal dari kata Yunani: Katechein bentuk dari kata yang berarti pergi atau meluas dan kata Echo yang berarti menggemakan atau menyuarakan. Kata Katechein berarti menggemakan atau meyuarakan ke luar. Kata ini mengandung dua pengertian. Pertama, Katechein berarti pewartaan yang sedang disampaikan atau diwartakan sedangkan, yang kedua Katechein berarti ajaran dari para pemimpin (Papo, 1987:11). Menurut penulis pengertian katekese ini mengandung dua soal yang mau ditekankan. Pertama yang mau digemakan itu adalah isi pewartaan yang hendak disampaikan melalui katekese. Kedua bahwa isi pewartaan katekese itu sendiri berupa pengajaran iman. Berarti yang digemakan disini adalah katekese yang berisikan semangat Injili dan ajaran-ajaran Gereja. Katekese yang dimaksudkan adalah katekese model pengajaran. Apostolik   Evangelii Nuntiandi Paus Yohanes Paulus II, menyatakan bahwa:

  Salah satu sarana Evangelisasi yang tidak boleh diabaikan ialah pengajaran katekese. Kecerdasan seseorang, lebih-lebih milik anak-anak dan kaum remaja, perlu dikembangkan melalui pelajaran agama yang sistematis. Perlu dipelajari ajaran-ajaran pokok, isi yang hidup dari kebenaran yang ingin disampaikan oleh Allah kepada kita dan yang selalu diusahakan oleh Gereja untuk diungkapkan secara lebih kaya, selama perjalanan sejarah yang cukup panjang dari Gereja (EN, art 44). Dalam rangka Evangelisasi katekese berarti pengajaran yang diusahakan oleh Gereja. Gereja memandang penting katekese karena katekese sendiri memperkembangkan kecerdasan lebih-lebih kecerdasan anak-anak dan kaum

   

  remaja. Gereja mengusahakan katekese dalam bentuk pengajaran melalui pengajaran agama di sekolah-sekolah demi perkembangan iman anak-anak dan remaja. Apostolik Paus Yohanes Paulus II, menyatakan

    Chatechesi Tradendae

  bahwa: Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang- orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristus, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristus (CT.art 18). Berdasarkan kutipan Yohanes Paulus II dapat dimaknai bahwa katekese merupakan pembinaan dalam iman yang meliputi kelompok anak-anak, kaum muda dan orang dewasa. Sedangkan bentuk-bentuk katekese berupa penyampaikan pengajaran Kristus secara organis dan sistematis. Melalui katekese tersebut, diharapkan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dapat mengembangkan iman yang dewasa sehingga mengantar mereka untuk memasuki kepenuhan Kristus.

  Dengan pengertian katekese di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa hal pokok dalam katekese adalah salah satu bentuk pelayanan sabda sebagai tugas pastoral Gereja dengan tujuan untuk memperkenalkan, memperdalam dan meneguhkan iman umat akan Kristus, agar umat semakin terlibat dalam kehidupan menggereja dan masyarakat. Melalui katekese, umat dihantar kearah kematangan iman, yaitu keterbukaan hati terhadap warta Injil serta dapat menemukan rencana keselamatan Allah di dalam hidupnya sendiri.

   

  Katekese adalah usaha saling menolong terus menerus dari setiap orang untuk mengartikan dan mendalami hidup pribadi maupun bersama menurut pola Kristus menuju kepada hidup Kristiani yang dewasa (Setyakarjana, 1979:17). Berdasarkan pengertian katekese menurut Setyakarjana, penulis dapat menyimpulkan bahwa katekese merupakan usaha yang dilakukan secara terus menurus oleh setiap umat menuju kehidupan Kristus yang lebih dewasa. Pengertian Katekese umat menurut hasil PKKI II Di Klender tanggal 29 Juni sampai 05 Juli 1980 adalah sebagai berikut:

  Katekese Umat dapat diartikan sebagai kominikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antar anggota jemaat/kelompok, yang sebagai kesaksian saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dari kutipan hasil PKKI II dapat dinyatakan bahwa katekese umat bagi orang tua merupakan komunikasi iman antar orang beriman kepada Yesus Kristus. Di dalam komunikasi, setiap orang melihat bagaimana Allah berperan dalam pengalaman hidupnya. Oleh karena itu orang tua yang mengikuti katekese umat diharapkan harus menemukan misteri cinta kasih Kristus yang masih ada pada pengalaman yang diungkapkan.

  Berdasarkan pengertian katekese di atas, penulis dapat memahami beberapa hal pokok bahwa Katekese Umat adalah usaha mendidik dalam rangka mengembangkan iman melalui pengajaran, mengembangkan kehidupan pribadi maupun bersama untuk semakin setia mengikuti Yesus Kristus. Katekese merupakan komunikasi iman antar sekelompok orang yang saling

   

  mengungkapkan pengalaman hidupnya yang ditopak oleh karya keselamatan Allah. Melalui katekese para peserta semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam iman sehingga pada akhirnya menemukan keselamatan Allah lewat pengalaman hidupnya sehari-hari.

  Salah satu bentuk katekese adalah katekese bagi orang tua dalam rangka mengembangkan perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu. Ketekese bagi orang tua merupakan komunikasi iman antar sekelompok orang yang saling mengungkapkan pengalaman hidupnya menuju karya keselamatan Allah. Melalui katekese bagi orang tua diharapakan para orang tua semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam iman sehingga pada akhirnya menemukan keselamatan Allah lewat pengalaman hidupnya sehari-hari khususnya memperhatikan perkembangan perilaku iman anak. Karena yang bertanggung jawab dalam mengembangkan perilaku iman anak adalah orang tua, dimana orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalm mengembangkan perilaku iman anak. Hal ini dianggap penting karena bagi orang tua merupakan suatu praksis kegiatan gerejawi untuk membantu umat (memahami), menghayati dan mewujudkan iman dalam hidup sehari-hari; pembinaan dan pendidikan iman supaya jemaat semakin mencintai, mengenal dan setia mengikuti Yesus Kristus; komunikasi iman, atau pewartaan sabda Allah yang diselenggarakan bersama umat beriman, saling mengkomunikasikan dan memperdalam iman sebagai upaya membangun kedewasaan dan penghayatan iman agar mampu mewujudkan dalam tindakan nyata dengan menjadi saksi iman yang tekanannnya terletak pada penghayatan iman.

    2.

   Tujuan Katekese umat bagi orang tua.

  Berdasarkan PKKI II tujuan dari katekse umat adalah sebagai berikut:

  a) Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman- pengalaman kita sehari-hari.

  b) Dan kita bertobat (Metanonia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari.

  c) Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan makin dikukuhkan hidup Kristiani kita.

  d) Pula kita semakin bersatu dalam Kristus, untuk menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengkokohkan Gereja semesta.

  e) Sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat (Lalu Yosef, 2005:13). Berdasarkan kutipan di atas menunjukkan kepada orang tua dimana tujuan katekese dalam kehidupan sehari-hari begitu penting terutama bagi orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak. Dimana orang tua tidak hanya sekedar mengikuti proses katekese yang ada tetapi orang tua diajak untuk meresapi segala pengalaman hidup sehari-hari baik suka maupun duka. Orang tua melalui pengalaman hidupnya sehari-hari juga memaknai pertobatannya kepada Allah dengan menyadari kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari. Hal ini tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua sebagai pendidik iman anak dimana orang tua dengan cinta kasih mengembangkan perilaku iman anak untuk semakin mengenal Kristus dan juga menjadi bagian dalam Gereja. Oleh karena itu orang tua dituntut untuk memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup sehingga orang tua menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi teladan berarti memperhatikan perkembangan iman anak. Melalui pengalaman hidup sehari-

   

  hari orang tua diajak untuk semakin bisa mengubah hidup semakin baik dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan semakin menyadari akan kehadiran Alah sehari-hari sehingga iman umat semakin sempurna dan mengamalkan cinta kasih.

  Tujuan katekese umat bagi orang tua ini tidak hanya membantu orang tua untuk menyadari pengalaman hidupnya dan bertobat melainkan juga membantu orang tua untuk semakin aktif dalam lingkup Gereja. Dengan demikian orang tua akan semakin menyadari dan memaknai akan kehadiran Kristus dalam dirinya, serta semakin bersatu dengan Kristus dan mampu memberi kesaksian tentang Kristus di tengah-tengah masyarakat di zaman modern ini secara khusus bagi anak-anak khususnya ditengah-tengah keluarga kristiani mereka. Heryatno (2008:3) dalam diktat Pendidkan Agama Katolik III menyebutkan tujuan katekese umat sebagai berikut:

  Tujuan katekese merupakan gerakan mengkomunikasikan harta kekayaan iman Gereja supaya dapat membentuk dan membantu memperkembangkan imannya pada Yesus Kristus baik secara personal maupun komunal demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah ditenga-tengah kenyataan dunia. Berdasarkan kutipan di atas penulis dapat memaknai bahwa umat/orang tua rindu akan sabda Allah, mereka membutuhkan harta kekayaan iman Kristus untuk memaknai segala pengalaman hidup mereka baik itu pengalaman yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Dalam katekese umat bagi orang tua yang paling penting adalah adanya komunikasi. Komunikasi akan harta iman Kristus merupakan pegangan mereka untuk merefleksikan dan

   

  berdialog dengan peserta yang lain. Dengan demikian secara tidak langsung peserta sudah saling meneguhkan dan menguatkan satu sama lain.

  Apostolik Catechesi Trandendae Paus Yohanes Paulus II

  

(Penyelenggaraan Katekese = CT ) artikel 20 menguraikan tujuan khas katekese

  umat yakni: Berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru tumbuh dan

  

dari hari ke hari memekarkan menuju kepenuhannya serta makin memantapkan

perihidup Kristus umat beriman, muda Maupun tua.

  Berdasarkan tujuan katekese umat bagi orang tua di atas penulis dapat menjelaskan bahwa begitu pentingnya iman mereka yang baru tumbuh diteguhkan setiap hari. Oleh karena itu para orang tua diharapkan dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan prilaku iman anaknya sejak dini.

  Dimana sebagai orang tua yang baik harus bertanggung jawab dalam mendidik dan mengembangkan perilaku iman anaknya baik secara moral maupun spiritual. Dengan demikian orang tua memperoleh kepenuhan dalam beriman dan semakin mantap menjadi pengikut Kristus serta bertanggung jawab dalam mengembangkan perilaku iman anak. Katekese umat bagi orang tua juga diarahkan untuk membangun hati jemaat beriman supaya dapat berkomunikasi dengan hati yang baik dengan Tuhannya maupun dengan semua saudaranya.

3. Isi Katekese umat bagi orang tua

  Apostolik Catechesi Trandendae Paus Yohanes Paulus II menguraikan tentang katekese bagi orang dewasa yakni:

   

  Dunia, tempat kaum muda dipanggil untuk hidup dan memberi kesaksian tentang iman, yang melalui katekese hendak diperdalam dan diteguhkan, dikuasai oleh kaum dewasa. Iman kaum dewasa itu pun perlu terus menerus diterangi, didorong, dan diperbaharui, sehungga merasuki kenyataan-kenyataan duniawi dalam perkembangannya. (CT art 43). Dari pernyataan di atas terlihat bahwa orang dewasa dalam hal ini orang tua hendaknya memberi dukungan kepada kaum muda dan anak-anak untuk memberi kesaksian terang iman. Oleh karena itu orang tua perlu memahami katekese yang sesuai dengan orang muda maupun anak-anak. Katekese hendaknya bertolak dari pengalaman iman anak-anak sehingga iman anak semakin berkembang. Maka orang tua perlu mendampingi dan membimbing orang muda maupun anak-anak dalam memperkembangkan imannya.

  Apostolik Catechesi Trandendae Paus Yohanes Paulus II menguraikan tiga pokok penting mengenai isi katekese yakni: Pertama, keutuhan isi. Supaya persembahan kurban iman menjadi sempurna, orang yang menjadi murid Kristus berhak menerima “sabda iman” tidak dalam bentuk terkudung, dipalsukan atau dikurangi melainkan sepenuhnya dan seutuhnya dengan segala kekuatannya. Kedua, penggunaan metode-metode pendidikan yang cocok, maksudnya agar penyaluran kekayaan isi katekese lebih baik diatur dengan cara tertentu daripada dengan cara lain. Ketiga, dimensi ekumenis katekese, bearti menyiapkan anak-anak dan kaum muda katolik, begitu pula kaum dewasa untuk hidup dalam pergaulan dengan umat bukan katolik, tetap menyatakan jati diri katolik mereka, sambil menghormati iman sesama (CT art 30, 31, 32). Dari pernyataan diatas terlihat bahwa isi katekese mencakup tiga bagian, yang pertama keutuhan isi yang terkandung dalam Injil itu sendiri. Kedua, dalam berkatekese diperlukan metode-metode yang sesuai dengan keadaan peserta. Ketiga, ketekese juga memupuk ekumene yakni persaudaraan hidup dengan

   

  katekese juga mempunyai demensi eksternal yakni menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah di dunia.

  Apostolik Catechesi Trandendae Paus Yohanes Paulus II menguraikan isi amanat dari katekese yakni: Karena katekese merupakan suatu momen atau aspek dalam pewartaan Injil, isinya juga tidak dapat lain kecuali isi pewartaan Injil sendiri secara menyeluruh. Satu-satunya Amanat, yakni Warta Gembira Keselamatan, yang telah didengar sekali atau ratusan kali, dan telah diterima setulus hati dalam katekese terus-menerus didalam melalui refleksi dan studi sistematis, melalui kesadaran dan gema-pantulannya dalam kehidupan pribadi seseorang, suatu kesadaran yang meminta komitmen yang semakin penuh dan dengan mengintegrasikannya dalam keseluruhan yang organis dan selaras, yakni perihidup Kristen dalam masyarakat dan dunia (CT 26). Dari pernyataan di atas terlihat bahwa isi amanat dari katekse itu sendiri adalah Warta Gembira Keselamatan. Oleh karena itu orang tua perlu memahami isi amanat dari katekese itu sendiri yang akan diwartakan bagi anak-anak terutama dalam mengembangkan perilaku iman anaknya. Isi amanat dari katekese itu sendiri harus terus menerus kita menggali baik melalui refleksi atau studi sistematis. Isi amanatnya tak lain dari sumber hidup, yakni Sabda Allah, yang disalurkan dalam Tradisi dan Kitab Suci. Tradisi dan Kitab Suci merupakan hanya satu khasanah kudus Sabda Allah, yang telah dipercayakan oleh Gereja.

  Isi katekese adalah seluruh pengalaman hidup orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak. Melalui pengalaman mengembangkan perilaku iman anak yang nyata disitulah tandanya bahwa Allah hadir. Allah yang mewahyukan diri-Nya kepada orang tua melalui pengalaman-pengalaman

   

  bersejarah dan seluruh kenyataan duniawi. Isi katekese umat bagi orang tua tidak hanya menyampaikan ajarannya sendiri melainkan ajaran Yesus Kristus, kebenaran yang diajarkanNya atau lebih cermat lagi kebenaran yang tak lain adalah Dia sendiri. Katekese umat bagi orang tua berisi Kabar Gembira yaitu sabda yang menjelma dan Putra Allah yang diajarkan segala sesuatu yang diajarkan dengan mengacu kepada-Nya (FC art. 16).

4. Kekhasan Katekese umat bagi orang tua.

  Katekese sebagai pelayanan sabda tentunya memiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan katekese adalah komunikasi iman atau tukar menukar pengalaman hidup berdasarkan pengalaman mereka baik pribadi, keluarga, dalam pekerjaan, hidup bersama dalam masyarakat.

  Dalam proses katekese masing-masing peserta merefleksikan, mendalami, mengalami kembali kehidupan mereka dan diresapi dengan sabda Tuhan. Jadi dalam katekese, umat harus mendengarkan dan diteguhkan oleh pengalaman iman dalam tradisi Gereja dan Kitab Suci (Papo, 1987:14). Katekese membantu umat untuk semakin mendalami, meresapi, merefleksikan dan mengalami Yesus Kristus lewat pengalaman hidupnya sehari-hari. Kekhasan katekese umat bagi orang tua adalah komunikasi iman atau tukar menukar pengalaman hidup berdasarkan pengalaman mereka baik pribadi, keluarga, dalam pekerjaan maupun dalam hidup bersama dalam masyarakat.

  Kekhasan katekese umat ialah membangkitkan dan meluaskan

   

  menguatkan pengalaman (Sumarno, 2004:6). Rumusan ini mau menunjukkan bahwa konteks katekese umat bagi orang tua adalah kunci dari pembacaan dan interprestasi dari kehidupannya yang mencakup refleksi dan semua sarana untuk menganalisa dan memperdalam pengalaman hidupnya dalam mendidik, mendampingi dan mengembangkan perilaku iman anak. Akan tetapi pengalaman Kristus dan Gereja benar-benar pengalaman aktual, karena tidak ada katekese umat bagi orang tua yang benar-benar terjadi tanpa adanya suatu pengalaman Kristus yang autentik dapat diterima dan ditafsirkan serta dikomunikasikan. Hal ini sangat jelas bahwa katekese umat bagi orang tua merupakan bentuk pelayanan kesatuan persaudaraan.

6. Proses Katekese Umat Bagi Orang tua Dengan Model SCP

  Proses katekese model SCP (Shared Cristian Praxis) bagi orang tua ada enam langkah yakni:

a. Langkah Nol: Pemusatan Aktivitas

  Langkah ini bertujuan untuk mendorong peserta menemuka topik pertemuan yang bertolak dari kehidupan konkret yang selanjutnya menjadi tema dasar pertemuan. Dengan demikian tema dasar sungguh-sungguh mencerminkan pokok-pokok hidup, keprihatinan, permasalahan, dan kebutuhan peserta.

  Sarana yang digunakan dalam langkah ini biasa berupa simbol, cerita, bahan, foto, poster dan sarana lainnya yang menunjang peserta menemukan topik dasar untuk pertemuan tersebut. Pemusatan aktivitas ini mau

   

  mengungkapkan keyakinan bahwa Allah senantiasa aktif mewahyukan diri dan kehendaknya di tengah kehidupa manusia. Melalui refleksi sejarah hidup manusia dapat menjadi medan perjumpaan antara perwahyuan Allah dan tanggapan manusia terhadap-Nya. Pemilihan tema dasar hendaknya sungguh- sungguh mendorong peserta untuk terlibat aktif dalam pertemuan. Pemilihan tema dasar harus konsisten dengan model Shared Christian Praxis yang menekankan partisipasi dan dialog. Peran pembimbing dalam langkah ini yakni menciptakan lingkungan psikososial dan fisik yang mendukung; memilih sarana yang tepat dan membantu peserta merumuskan prioritas tema yang tepat.

b. Langkah I : Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual

  Pada langkah pertama orang tua dibantu untuk mengungkapkan pengalaman hidup faktual. Pengungkapan pengalaman berdasarkan tema dasar yang telah dipilih. Isi dari pengungkapan pengalaman tersebut adalah pengalaman orang tua sendiri atau kehidupan dan permasalahan sosial, ekonomi dan budaya yang terjadi dalam masyarakat, atau gabungan dari keduanya. Cara yang dipakai dalam langkah ini adalah “sharing” dimana orang tua diberi kesempatan untuk membagikan pengalaman hidup yang sungguh-sungguh dialami. Sikap yang diharapkan dari orang tua yang lain adalah memperhatikan sharing yang disampaikan.

  Selama ada orang tua yang sedang menceritakan pengalaman hidupnya orang tua yang lain diam namun tetap terlibat. Sharing dari orang tua tidak perlu atau tidak boleh ditanggapi. Dalam mengungkapkan pengalaman hidupnya bisa

   

  diwujudkan dalam bentuk tarian, nyanyian, puisi, pantonim atau memakai lambang yang penting bisa dimengerti oleh orang tua lain dan betul-betul mengungkapkan pengalaman hidup faktual (Sumarno Ds, 2009 : 19).

  Pada langkah pertama ini bertujuan untuk membantu orang tua menyadari kehidupan mereka, bagaimana berdasar situasi masyarakat di dalamnya termasuk keadaan sosial, budaya serta ekonominya. Tindakan hidup orang tua benar-benar merupakan perhatian utamanya (Groome, 1997 : 13).

  Pada langkah ini pembimbing berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana pertemuan menjadi hangat, mendukung orang tua untuk membagikan praksis hidupnya berkaitan dengan tema dasar, merumuskan pertanyaan, memiliki sikap yang ramah, sabar, hormat, bersahabat, dan peka terhadap latar belakang keadaan dan permasalahan orang tua (Sumarno Ds, 2009:19).

  c.

  

Langkah II : Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual

  Langkah kedua ini mendorong orang tua untuk lebih aktif, kritis dan kreatif dalam memahami serta mengolah keterlibatan hidup mereka maupun masyarakatnya. Dalam refleksi kritis ini, orang tua diajak untuk menggunakan sarana baik analisa sosial maupun analisa kultural (Sumarno Ds, 2009:20).

  Tujuan pokok langkah kedua adalah memperdalam hasil sharing langkah pertama dan mengantar orang tua pada kesadaran kritis akan pengalaman hidup

   

  dan tindakan mereka yang meliputi alasan, minat, ideologinya (segi pemahaman), sumber-sumber historis (aspek kenangan), dan konsekuensi historis yang diharapkan serta dibayangkan/diimajinasikan (Sumarno Ds, 2009:20).

  Tanggung jawab seorang pembimbing pada langkah ini adalah menciptakan suasana pertemuan yang menghormati dan mendukung setiap gagasan serta sumbang saran orang tua, mendorong orang tua supaya mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam, menguji pemahaman, kenangan dan imaginasi orang tua, mengajak orang tua untuk berbicara tetapi tidak memaksa, membuat pertanyaan yang menggali bukan menginterogasi dan mengganggu harga diri dan apa yang dirahasiakan orang tua, menyadari kondisi orang tua, lebih-lebih para orang tua yang tidak biasa melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya (Sumarno Ds, 2009:20).

d. Langkah III: Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristianai Terjangkau

  Tradisi Kristiani mengungkapkan tanggapan iman jemaat Kristiani sepanjang sejarah terhadap pewahyuan ilahi, seperti terungkap di dalam Kitab Suci, dogma, pengajaran Gereja, liturgi, spiritualitas, devosi-devosi, kepemimpinan, seni dalam Gereja dan kehidupan jemaat beriman (Sumarno Ds, 2009:20-21).

   

  Peran pembimbing dalam langkah ini adalah menghilangkan segala macam hambatan sehingga semua orang tua mempunyai peluang besar untuk menemukan nilai-nilai dari tradisi dan visi kristiani, tidak mendikte tetapi mengantar orang tua ketingkat kesadaran, tidak mengulang-ulang rumusan, tidak bersikap sebagai “guru”, adakalanya bersikap sebagai “murid” yang siap belajar, tafsiran dari pembimbing mengikutsertakan kesaksian iman, harapan dan hidupnya sendiri, dan harus membuat persiapan yang matang (Sumarno Ds, 2009:20-21).

e. Langkah IV : Interpretasi Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan tradisi dan visi Orang tua(Menerapkan Iman Kristiani Dalam Situasi Konkrit Orang tua).

  Dalam langkah keempat ini orang tua diajak untuk meneguhkan, mempertanyakan, memperkembangkan dan menyempurnakan pokok-pokok penting yang telah ditemukan pada langkah pertama dan kedua. Selanjutnya pokok-pokok- penting itu dikonfrontasikan dengan hasil interpretasi tradisi dan visi kristiani dari langkah ketiga. Dari proses konfrontasi itu diharapkan orang tua dapat secara aktif menemukan kesadaran atau sikap-sikap baru yang hendak diwujudkan dan semakin bersemangat dalam mewujudkan imannya dengan harapan supaya nilai-nilai kerajaan Allah makin dapat dirasakan di tengah- tengah kehidupan bersama. Interpretasi dialektis ini akan memampukan orang tua untuk menginternalisasi dan mensosialisasi nilai tradisi dan visi kristiani

   

  sehingga menjadi bagian hidup mereka sendiri. Dengan proses ini diharapakan hidup iman peserta lebih aktif, dewasa dan missioner (Sumarno Ds, 2009:21).

  Langkah ini bertujuan untuk meyakinkan orang tua bahwa mereka memiliki potensi yang alamiah untuk memahami interaksi yang dinamis antara nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan nilai Tradisi dan Visi Kristiani (Groome, 1997 : 19).

f. Langkah V: Keterlibatan Baru demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia

  Kekhasan dari langkah ini adalah mengajak orang tua untuk melihat keprihatinan yang terjadi sehingga mendorong mereka untuk sampai pada keputusan baik secara pribadi maupun kolektif untuk sebuah pembaharuan hidup atau dengan kata lain keterlibatan baru dan dengan cara itu menggarisbawahi peran orang tua sebagai subyek yang dipanggil untuk mewujudkan nila-nilai Kerajaan Allah dengan jalan mengusahakan metanoia yaitu pertobatan pribadi dan sosial yang terus-menerus (Sumarno Ds, 2009:22).

  Tujuan dari langkah kelima yaitu mendorong orang tua supaya sampai pada keputusan konkrit bagaimana menghidupi iman Kristiani pada konteks hidup yang telah dialami, dianalisa dan dipahami, direfleksi secara kritis, dinilai secara kreatif dan bertanggung jawab. Tanggapan peserta dipengaruhi oleh tema dasar yang religius, direfleksikan, nilai-nilai kristiani yang diinternalisasikan dan konteks kepentingan politis, sosial dan ekonomis peserta (Sumarno Ds,

    B.

   Program Katekese Umat bagi orang tua di Berastagi dengan model SCP (Shared Christian Praxis) 1. Latar Belakang Program

  Berdasarkan hasil penelitian, ditemuakan bahwa peran serta pendampingan orang tua dalam mengingkatkan iman anak di Stasi Suka Julu- Tiga Jumpa masih belum terlaksana dengan baik oleh para orang tua. Masih banyak diantara para orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka atau sibuk dengan bisnis mereka masing-masing sehingga perhatian kepada anak-anak dirumah menjadi berkurang. Bahkan terkadang anak bisa seharian tidak ada berjumpa dengan orang tua sehingga anak-anak menjadi kurang dekat dengan kedua orang tua mereka. Berdasarkan keprihatinan tersebut penulis mencoba untuk memberikan usulan program yang diharapkan dapat membantu orang tua dalam meningkatkan perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu.

  Katekese umat bagi orang tua ini diharapkan dapat mengajak para orang tua untuk semakin memahami, menghayati dan merefleksikan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai orang tua dalam mengembangkan iman anak. Untuk itu penulis mengusulkan program dengan menggunakan Shared

  

Christian Praxis (SCP) karena melalui program ini orang tua diharapkan

  mampu mengungkapkan pengalaman hidup mereka bersama dengan keluarga setiap harinya, menggali, menafsirkan pengalaman para orang tua dalam

   

  pengalaman para orang tua dalam mengembangkan iman anak sungguh- sungguh bermakna dan bermanfaat bagi mereka.

  Dalam kehidupan sehari-hari peran dan pendampingan orang tua terhadap anak sangatlah penting. Bentuk kesadaran orang tua akan memperhatikan perkembangan perilaku iman anaknya sangat berpengaruh terhadap anak dimana anak merasa mendapat dukungan dari orang tua. Jadi kesadaran akan berkembang dengan mengadakan pendalaman iman atau ketekese umat. Maka katekese model SCP merupakan metode pendekatan dalam katekese yang lebih menekankan pada proses yang bersifat dialogis dan partisipatif, refleksi dan pengelaman hidup peserta. Dengan demikian kesadaran orang tua berkembang jika orang tua selalu sadar akan tugas dan tanggung jawab mereka dalam mendidik dan mendampingi serta mengikuti perkembangan perilaku iman anaknya dan pertumbuhan iman anaknya selanjutnya. Dengan model SCP menghantar orang tua untuk masuk ke dalam pengalaman hidup sehari-hari.

  Dengan model SCP ini juga dapat membantu orang tua untuk lebih terbuka dalam memberikan waktu yang secukupnya kepada anak-anaknya sehingga perkembangan perilaku iman anak dapat terwujud dengan baik.

2. Tujuan Program

  Model Katekese SCP (Shared Christian Praxis), bertitik tolak dari pengalaman hidup peserta yang sudah direfleksikan secara kritis dan dikonfrontasikan. Melalui pengalaman iman dan visi kristiani diharapkan muncul sikap dan kesadaran baru yang memberi motivasi peserta untuk terlibat aktif

   

  dalam kehidupan secara konkrit. Sifat dari SCP ini adalah dialogal dan partisipatif. Dialog artinya relasi timbal balik dari pendamping dan peserta karena pendamping bukanlah pembicara utama, tetapi sebagai fasilitator. Sedangkan yang dimaksudkan dengan partisipatif ialah setiap peserta ikut ambil bagian dalam proses berkatekese secara aktif. Dengan proses yang dialogal dan partisipatif seputar pengalaman iman diharapkan peserta mampu untuk berbagi pengalaman hidupnya dengan demikian saling memperkaya dan menguhkan (Sumarno Ds, 2009: 14-15).

  3. Contoh Program Katekese Umat Bagi Orang tua di Paroki St Fransiskus

  Asisi Berastagi a. Tema-tema Katekese Umat Bagi Orang tua di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi

  Tema umum yang penulis pilih adalah “Kerjasama Orang tua dengan pendamping dalam mengembangkan perilaku iman anak melalui sekolah minggu”. Tujuannya adalah agar orang tua dan pendamping semakin bertanggung jawab terhadap perkembangan dan kehidupan iman anak, sehingga otomatis yang memberi benih iman pada anak pertama kali adalah keluarga yang utama adalah orang tua.

  Adapun tema-tema Katekese Umat bagi orang tua di parokiSt Fransiskus Asisi Berastagi adalah:

   

  Sub Tema I : Keteladanan orang tua wujud dari tanggung jawab dalam pendampingan anak.

  Tujuan I : Peserta dapat meneladani Maria dan Yosef dalam mendidik anak dalam keluarga melalui sikap dan tindakan hidup mereka . Sub Tema II: Membangun komunikasi yang dilandasi dengan cinta kasih dan perhatian dalam keluarga.

  Tujuan II: Peserta semakin memahami akan pentingnya komunikasi yang dilandasi oleh cinta kasih dalam keluarga.

  Sub Tema III: Keluarga merupakan tempat pendidikan utama dan pertama dalam mengembangkan iman anak.

  Tujuan III: Peserta semakin menyadari dan mampu dalam memahami tugas dan peranannya dalam keluarga sebagai tempat utama dan pertama dalam mengembangkan iman bagi anak-anak untuk menemukan nilai serta membantu orang tua dalam mengenalkan dan mendekatkan anak kepada Allah. Sub Tema IV : Kasih dan persaudaraan sejati dalam hidup bersama bermasyarakat.

  Tujuan IV: Peserta semakin menyadari akan kehendak Allah untuk hidup dengan persaudaraan yang sejati, dalam hidup sehari- hari dengan saling mengasihi dan membantu.

   

  Sub Tema V: Setia mendampingi anak dalam mengikuti kegiatan sekolah minggu.

  Tujuan V: Peserta semakin menyadari bahwa mendampingi anak adalah salah satu bentuk dukung terhadap anak saat mengikuti kegiatan sekolah minggu sehingga anak merasa diperhatikan orang tua.

  Sub Tema

  VI: Membangun kerja sama antara orang tua dengan pendamping sekolah minggu untuk mengembangkan perilaku iman anak

  TujuanVI: Peserta semakin siap dalam mengambangkan perilaku iman anak sehingga iman anak semakin berkembang dengan adanya kerja smaa antar pendamping dan orang tua dan segala dukungan dan hambatan yang dialami oleh pendamping dan orang tua semakin dikuatkan.

   

b. Usulan Program No Sub Tema Tujuan Tema Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  1 Keteladanan orang tua wujud dari tanggung jawab dalam mendampingi anak.

  2. Sharing pengaaman

  Yogyakarta; Kanisius

  2 Membangun komunikasi yang dilandasi dengan cinta kasih dan perhatian dalam keluarga

  Membantu pesrta untuk memahami akan pentingnya komunikasi yang dilandasi cinta

  1. Arti komunikasi dalam keluarga.

  2. Perlu komunikasi yang mendukung perkembangan anak.

  1. Tanya jawab

  3. Refleksi

  Yogyakarta: Kanisius.

  4. Informasi

  5. Peneguhan

  1. Buku Madah Bhakti

  2. Teks Kitab Suci

  3. Teks pertanyaan

  1. Membangun keluarga Katolik sejati (Tim Publikasi Pastoral Redemtorist, 2001;26- 40)

  2. 1 Sam, 18:1-5

  4. LBI (1984). Tafsir Injil Lukas.

  3. Mardiatmadja, B.S, S,J. (1985). Beriman dengan taqwa.

  Agar peserta dapat meneladani Maria dan Yosef dalam mendidik anak dalam keluarga melalui sikap dan tindakan hidup mereka.

  3. Tanya Jawab

  1. Pengalaman keluarga kudus Nazaret.

  2. Teladan yang diberikan Maria dan Yosef dalam mendidik anak.

  3. Nilai-nilai yang disampaikan oleh Maria dan Yosef.

  4. Orang tua sebagai teladan yang pertama dan utama bagi anak.

  1. Informasi

  2. Sharing pengalaman

  4. Refleksi

  (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

  5. Peneguhan

  1. Buku Madah Bakti.

  2. Teks lagu

  3. Teks pertanyaan

  4. Teks Kitab Suci.

  1. Lembaga Alkitab Indonesia (1999).

  Alkitab . Jakarta: LAI

  2. Duan, Yeremia Bala Pito, (2003). Keluarga Kristiani

   

  kasih dalam panduan keluarga

  3 Keluarga Membantu orang

  1. Tanggung jawab

  1. Informasi

  1. Buku Madah

  1. Injil Lukas 119 : 45 - merupakan tua untuk semakin orang tua dalam

  2. Tanya jawab Bakti

  48 tempat menyadari dan mengembangkan

  3. Diskusi

  2. Teks cerita

  2. Tim ( 2005). Ziarah pendidikan utama mampu dalam perilaku iman kelompok

  3. Teks Batin. (Jakarta: dan pertama memahami tugas anak.

  4. Peneguhan pertanyaan Penerbit Obor, 2005 ) dalam dan peranannya

  2. Keluarga adalam

  5. Refleksi pendalaman

  3. Bergant, Dianne, mengembangkan dalam keluarga tempat 6. bernyanyi

  4. Teks Kitab CSA , Tafsir Alkitab iman anak. sebagai tempat mengembangkan Suci Perjanjian Baru . utama dan perilaku iman

  (Yogyakarta: Penerbit pertama dalam anak. Kanisius, 2002. Hal. mengembangkan

  3. Membantu 151.)

    iman bagi anak- orantua anak untuk menemukan

    menemukan nilai kemanuan- serta membantu kemauan dari orang tua dalam anak-anak. mengenalkan dan

  4. Pengalaman mendekatkan anak orang tua dalam kepada Allah. keluarga dalam mengambangkan prilaku iman anak

  4 Kasih dan Membantu peserta

  1. Arti

  1. Tanya

  1. Madah

  1. Tafsir Alkitab persaudaraan semakin persaudaraan jawab Bakti. Perjanjian Baru : sejati dalam menyadari akan

  2. Makna

  2. Diskusi

  2. Teks Kitab Dianne Bergant CSA, hidup bersama kehendak Allah persaudaraan kelompok Suci. Robert J. Karris, OFM

   

  bermasyarakat untuk hidup

  3. Gambaran

  3. Sharing

  3. Teks Lagu (Yogyakarta: Penerbit dengan orang

  4. Refleksi Kanisius, 2002). persaudaraan yang melaksanakan

  5. Informasi

  2. Mutiara Iman 2004 sejati, dalam hidup persaudaraan

  6. Peneguhan (Yogyakarta: sehari-hari dengan sejati adalah PenerbitYayasan saling mengasihi saling

  Pustaka Nusantara, dan membantu. mengasihi dan 2004). membantu

  3. Tafsir Alkitab

  4. Konsekwensi Perjanjian Baru: Leks dari saling Stefen (Yogyakarta: mengasihi dan Penerbit Kanisius 2000) membantu

  4. Lukas 10:25-37 terhadap iman yang dihayati.

  5 Setia Agar orang tua

  1. Kesadaran orang

  1. Informasi

  1. Buku Madah 1. Yohanes Paulus II. mendampingi menyadari bahwa tua dalam

  2. Sharing Bakti (1981). Familiaris anak dalam mendampingi mendampingi pengalaman

  2. Cergam Salah Consortio, artikel 36 mengikuti adalah salah satu anak setiap

  3. Pendalaman Sendiri dan 37. Cetakan kegiatan sekolah bentuk dukung kegiatan sekolah cerita

  3. Teks Kitab ketiga 1995. Jakarta: minggu. terhadap anak saat minggu semakin

  4. Tanya jawab Suci Dokpen KWI mengikuti berkembang.

  5. Refleksi

  4. Lilin dan Salib kegiatan sekolah

  2. Meningkatkan

  6. Peneguhan

  5. Salah Sendiri

  2. Luk 2:42-52 minggu sehingga peran orang tua

  7. Bernyanyi anak merasa dalam

  3. LBI. (1984). Tafsir diperhatikan orang meningkatkan Injil Lukas. tua. peilaku iman

  Yogyakarta : anak. Kanisius.

  3. Orang tua

   

  5. Refleksi 6. bernyanyi

  3. Bergant, Dianne, CSA (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  Masa Kini 3 , Jakarta P.D.Nilajndi.

  2. BPK Gunung Mulia (1983). Tafsiran Alkitab

  1. Injil Mat  23:27 ‐

  4. Teks Kitab Suci

  3. Teks pertanyaan pendalaman

  2. Teks cerita

  1. Buku Madah Bakti

  4. Peneguhan

  semakin siap dalam mendampingi dan mengantar anak mengikuti kegiatan sekolah minggu 4. SAV-PUSKAT.

  3. Diskusi kelompok

  2. Tanya jawab

  1. Informasi

  3. Kepercayaan orang tua terhadap pendamping sekolah minggu dalam mengembangkan

  2. Dengan adanya kerja sama antar orang tua dan pendamping segala hambatan dalam mendidik anak bisa di pecahkan.

  1. Kerja sama antara orang tua dan pendamping sekolah minggu terjalin dengan baik.

  Agar orang tua dan pendamping sekolah minggu semakin siap dalam mengambangkan perilaku iman anak sehingga iman anak semakin berkembang dengan adanya kerja sama antar pendamping dan orang tua dan segala dukungan dan hambatan yang dialami oleh pendamping dan orang tua semakin dikuatkan.

  6 Membangun kerja sama antara orang tua dengan pendamping sekolah minggu untuk mengembangkan perilaku iman anak

  Cergam ”Salah Sendiri”. Yogyakarta:Puskat.

  Yogyakarta:Kanisius

   

  perilaku iman anak berjalan dengan lancar.  

    c.

   Petunjuk Pelaksanaan Program

  Program ini akan dilaksanakan dalam jangka waktu 6 bulan, dengan jumlah pertemuan sebanyak enam kali. Pelaksanaan program katekese umat bagi orang tua dengan model SCP (Shared Christian Praxis) dan akan dilakanakan satu kali dalam satu bulan. Waktu yang dibutuhkan dalam setiap pertemuan kurang lebih 90 menit. Peserta program katekese ini adalah para orang tua dan pelaksanaan katekese bagi orang tua ini bertempat di Gereja St Don Bosco Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi. Program ini dilaksanakan berkesinambungan, yakni berurutan dari pertemuan pertama sampai dengan pertemuan keenam, dengan tujuan agar peserta benar-benar memahami dan menghayati makna dan maksud dari masing-masing pertemuan. Demi kelancaran pelaksanaan program katekese bagi orang tua, sumber bahan dapat disesuaikan dengan situasi dan permasalahan yang sedang dihadapi oleh orang tua.

  Pendamping atau pelaksana kegiatan katekese bagi orang tua di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi ini adalah penulis dan Porhanger yang ada di Gereja St Don Bosco Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi. Penulis sangat mengharapkan kerjasama dari Porhanger. Melalui kerjasama tersebut diharapkan pelaksanaan program katekese bagi orang tua ini dapat berjalan dengan lancar dan terlaksana dengan baik. Sebelum melaksanakan program katekese bagi orang tua ini, penulis perlu berkoordinasi dulu dengan porhanger

   

  di Gereja St Don Bosco Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi agar pelaksanaannya nanti dapat berjalan dengan baik dan lancar.

   

  

C. Salah Satu Contoh Satuan Persiapan Katekese Umat Dengan Model SCP

Bagi Orangtua

a. Identitas

  1) Tema : Orangtua adalah pendidik pertama dan utama dalam mengembangkan perilaku iman anak.

  2) Tujuan : Agar orangtua semakin bertanggungjawab dalam mengembangkan perilaku iman anaknya dan mendampingi anak sehingga anak semakin merasakan kasih sayang dan dukungan dari orangtua. 3) Peserta : Para bapak dan ibu 4) Tempat : Gereja St Don Bosco Suka Julu-Tiga Jumpa 5) Hari/tanggal : Rabu, 16 Mei 2012 6) Waktu : 19.30 – 21.00 wib 7) Metode : - Sharing

  • Diskusi - Refleksi - Informasi - Tanya jawab

   

  8) Sarana : - Buku Madah Bakti

  • Lilin dan Salib - Cerita ”Bolehkah aku mencabut paku ini?”

  9) Sumber Bahan :

  • Lukas 17:11-19
  • LBI. (1984). Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta:

  Kanisius

  • Keluarga Kristiani. KWI, 2003 - Bergant, Dianne dan J. Karris, Robert. (2002).

  Tafsir Alitab Perjanjian Baru . Yogyakarta: Kanisius.

b. PEMIKIRAN DASAR Keluarga merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan iman anak.

  Dari orang tua anak mulai dan mendapat pendidikan iman yang pertama dan utama, dan mulai mengalami perhatian dan kasih sayang. Perhatian dan kasih sayang dari orangtua ini merupakan tanda bagi anak-anak yang dikasihi Allah. Anak adalah milik Tuhan, diserahkan sepenuhnya kepada orangtua untuk mengasuh dan mendidik mereka, orangtua dipanggil pada suatu tanggung jawab baru. Tanggung jawab ini harus diterima sebagai suatu anugrah dari Allah. Oleh karena itu kewajiban untuk menyampaikan iman kepada anak-anaknya,

   

  mendidik anaknya dengan kata dan teladan, membantu anak untuk memilih panggilan hidupnya, serta memelihara dan memupuk panggilan suci yang mungkin ditemukan dalam diri anak melalui pendidikan yang diterimanya didalam keluarga.

  Dalam Injil Luk 17:11-19 dikatakan bahwa kesepuluh orang kusta itu datang untuk menemui Yesus. Keadaan orang kusta pada zaman Yesus sungguh memprihatinkan. Mereka saling ketergantungan satu sama lain. Mereka telah mendengar mengenai belas kasih-Nya dan kekuatan penyembuhan. Maka dari itu mereka berusaha dan berjuang dengan berteriak memohon agar Yesus mau menyembuhkan mereka. Mereka berdiri agak jauh. Mereka merasa takut dan malu karena mereka dianggap sebagai orang najis oleh orang di sekitar mereka. Mereka dianggap orang yang tidak berguna. Mereka orang yang berdosa. Mereka hidup dipinggiran kota.Tetapi mereka memiliki iman yang kuat. Sebagai orang yang beriman, mereka yakin bahwa Yesus mau menyembuhkan mereka. Mereka bejuang dengan imannya supaya apa yang diinginkan tercapai.

  Akhirnya dengan iman yang dimilikinya dan dengan perjuangan yang gigih mereka bisa di sembuhkan oleh Yesus. Tetapi masih berjuang lagi walaupun sudah sembuh, karena harus menunjukkan diri kepada para imam yang bertanggungjawab untuk menilai apakah seorang kusta boleh kembali ke masyarakat atau tidak. Akhirnya perjuangan mereka menghasilkan buah yang bagi manusia tidak mungkin tetapi bagi Allah semuanya mungkin. Orang kusta tidak peduli dengan orang yang tidak suka dengan mereka, karena keinginan mereka untuk sembuh sangat kuat mereka berjuang bahwa dengan kesungguhan

    dalam permintaan, Tuhan pasti memberikan sesuai dengan perjuangan mereka.

  Di sini Tuhan Yesus mau menunjukkan bahwa Ia memperhatikan yang miskin dan tersingkir, Ia penuh belas kasih terhadap mereka yang tersingkirkan.

  Dalam pertemuan ini kita akan bersama-sama mengolah dan merenungkan bagaimana cara mengembangan iman dalam diri kita maupun dalam diri anak terutama dalam mengembangkan perilaku iman anak. Dan manakala kita telah berhasil dalam mengembangkan perilaku iman anak dan melampaui segala pencobaan yang terjadi dalam kehidupan ini, kita akan memiliki kedekatan dengan Tuhan sendiri. Semua itu dapat kita cari dan gali dari kekuatan Yesus sendiri dalam menyelesaikan dan memperjuangkan imannya.

  1). Pengantar

  Bapak-ibu yang terkasih dalam Kristus, kalau berbicara tentang mengembangkan perilaku iman anak tidak jauh dari kegiatan sekolah minggu, selama ini mungkin kita merasa bahwa mengembangkan perilaku iman anak adalah tanggung jawab pendamping sekolah minggu atau guru agama di sekolah. Itu semua emang benar. Tetapi siapakah yang utama dan pertama dalam mengembangkan perilaku iman anak?. Pada pertemuan kali ini kita akan berbicara tentang yang utama dan pertama dalam mengmbangkan perilaku iman anak. Sebagai orangtua kita perlu sungguh-sungguh menyadari bahwa yang utama dan pertama dalam mengembangkan perilaku iman anak adalah tanggung jawab kita sebagai orangtua. Dalam kesempatan ini kita berkumpul untuk membagikan pengalaman-pengalaman dalam mengembangkan perilaku iman

   

  mendorong kita untuk tetap kuat dan semangat dalam mengembangkan perilaku iman anak, dan semakin menyadarkan kita bahwa kita sebagai orangtua adalah yang pertama dan utama dalam mengembangkan perilaku iman anak dan selalu berpegang teguh pada kasih Allah, sehinga dalam kehidupan kita setiap hari diwarnai oleh kasih Allah sendiri. Dalam pertemuan ini kita diajak untuk menyadari bahwa iman itu harus diperjuangkan sebagai konsekuensi terhadap pilihan kita terutama dalam mengembangkan perilaku iman anak

   2). Lagu Pembukaan MB 216 Kuingin Iman Sejati 3). Doa Pembukaan

  Bapa yang Maha Baik, kami bersyukur dan berterima kasih atas rahmat yang telah Engkau berikan kepada kami sampai saat ini. Secara khusus kami juga mengucapkan banyak terima kasih karena pada kesempatan ini kami Kau kumpulkan dalam satu ikatan persaudaraan seiman. Saat ini kami akan menggali bersama sejauh mana kami telah memperjuangkan iman kami dalam mendidik iman anak kami. Bantulah kami agar semangat-Mu dalam memperjuangkan iman sampai titik penghabisan dapat kami teladani sehingga dalam kehidupan kami sehari-hari dipenuhi dengan kasih-Mu. Kami persembahkan segala pembicaraan kami saat ini kepada-Mu semoga Engkau memberkati dan menyemangati usaha pendalaman iman ini. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami kini dan selamanya. Amin

c. Langkah I: Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta

   

  9 Membagikan teks cerita “Bolehkah Aku Mencabut Paku Ini ? ” kepada peserta dan membagi teks kepada peserta untuk dibaca sendiri-sendiri terlebih dahulu (cerita terlampir)

  9 Penceritaan kembali isi cerita: pendamping meminta salah satu peserta untuk mencoba menceritakan kembali dengan singkat tentang isi pokok dari cerita “Bolehkah Aku Mencabut Paku Ini ?”

9 Intisari cerita “Bolehkah Aku Mencabut Paku Ini?” tersebut adalah:

  9 Cerita ini menggambarkan seorang ibu yang hidup dengan satu anak laki- laki, yang sangat ia sayangi tetapi sering membantah perintah ibunya, bicara kotor, berbohong. Bu Tuti sedih melihat kenakalan anaknya. Tetapi bu Tuti tetap sabar, walaupun berlinang air mata ia mendoakan anaknya Cerita selanjutnya datang seorang katekis memberi saran agar bu Tuti memasang foto anaknya diruang tamu. Bu Tuti mengikuti saran dari seorang katekis. Setiap kali anaknya nakal atau membantah ia menancapkan paku pada foto tersebut. Bu Tuti minta tolong pada anaknya untuk mengantarkan surat undangan kepada Tante Cen Cen, tapi anaknya tidak mau. Bu Tuti memaku foto anaknya. Foto tersebut sampai penuh dengan paku. Anaknya jadi heran mengapa fotonya penuh dengan paku.

  Kembali nampak dalam suasana dialog antara Bu Tuti dengan Yoyon. Yoyon mau mencabut paku di fotonya, tetapi ada syarat dari ibunya yakni kamu bisa mencabut satu paku setiap kamu berbuat satu kebaikan. Yoyon mulai

   

  menyadari kesalahannya sehingga ia mengikuti perintah ibunya. Kesadaran Yoyon, mengubahnya menjadi anak yang baik dan patuh.

  9 Pengungkapan pengalaman: Peserta diajak untuk mendalami cerita tersebut dengan tuntunan beberapa pertanyaan: 1) Kesulitan-kesulitan apa yang dialami Bu Tuti dalam mendidik anaknya. 2) Ceritakanlah pengalaman bapak-ibu dalam menghadapi kesulitan dalam mendidik anak?

d. Arahan Rangkuman

  Dalam cerita tadi sebagai seorang pendidik bu Tuti mengambil sikap yang lembut dan sabar., ketika ia melihat anaknya nakal dan sering membantah.

  Selain itu ia tidak pernah bersikap kasar terhadap anaknya. Ia tidak banyak berbicara, tetapi dengan sapaan dan tindakan yang halus.Ia selalu mendoakan anaknya. Maksud dari semua yang dilakukan oleh bu Tuti tersebut semata-mata demi kebaikan dan perkembangan iman anaknya.

  Begitu pula dalam pengalaman kita sehari-hari , hendaknya ketika kita mengalami masalah dalam mendidik anak atau mengajak anak mengikuti kegiatan sekolah mingu. Kita hendaknya bersikap sabar dan lemah lembut. Tentu saja hal ini membutuhkan perjuangan dan usaha yang keras serta ketekunan. Sebagai orangtua kita mempunyai harapan-harapan terhadap anak untuk menjadi lebih baik. Begitu harapan tersebut tidak tercapai maka muncullah sikap-sikap kurang mendidik yang berakibat bagi anak.

   

  

e. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta

  9 Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau cerita diatas dengan dibantu pertanyaan sebagai berikut:

  1 Cara mana yang dipakai Ibu Tuti dalam menghadapi kesulitan mendidik anaknya.

  2 Bagaimana cara bapak-ibu mengatasi kesulitan dalam mendidik iman anak dalam kehidupan sehari-hari?

  9 Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan rangkuman singkat

  f. Arah Rangkuman Sebagai orang yang beriman, kita harus mampu bertahan dalam godaan.

  Kesulitan yang kita hadapi merupakan jamu yang paling cocok, supaya kita kuat dalam berjuang menghadapi tantangan hidup ini. Beriman berarti percaya dan pasrah serta menyerahkan hidup kepada Allah Bapa. Kita harus percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup ini Tuhan sendiri yang mengaturnya, sehingga perjuangan kita dalam beriman tidak sia-sia karena punya pengharapan. Allah akan menyelesaikan segala permasalahan hidup. Namun jangan lupa bahwa Tuhan juga meminta partisipai kita untuk tidak lelah berjuang, memohon dan memohon belas kasih Allah.

g. Langkah III: Mengolah Pengalaman Iman Kristiani

   

  Salah seorang peserta dimohon untuk membacakan perikope langsung dari

9 Kitab Suci, Injil Luk 17:11-19 dan yang lain bisa membaca dari teks yang dibagikan.

  9 Peserta diberi waktu sebentar untuk hening sejenak sambil secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan dibantu beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  1. Ayat-ayat mana yang menunjukkan orang yang berjuang dengan imannya?

  2. Sikap-sikap mana yang mau ditanamkan oleh Yesus kepada kita?

  3. Sikap-sikap mana yang perlu saya kembangkan?

  9 Peserta diajak untuk sendiri mencari dan menemukan pesan inti perikope sehubungan dengan jawaban atas 3 pertanyaan di atas.

  9 Pendamping memberikan interpretasi atau tafsir dari bacaan kita suci dari Injil Luk 17:11-19 dan menghubungkan dengan tanggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan, sbb: Keadaan orang kusta pada zaman Yesus sangat diasingkan dari masyarakat. Mereka dianggap sebagai ancaman terhadap masyarakat. Kusta suatu istilah untuk menyebut semua gejala penyakit kulit yang dianggap sangat sulit untuk disembuhkan. Maka dari itu permintaan orang tersebut menunjukkan imannya yang kuat terhadap Yesus (ay 13). Dengan segala keyakinannya

   

  sepuluh orang kusta itu datang kepada Yesus. Mereka memperjuangkan imannya, meskipun mereka berdiri agak jauh (ay12) mereka berteriak memohon belaskasihan Yesus.

  Dengan iman yang kuat mereka berjuang untuk terus mendekati dan menjumpai Yesus karena mereka percaya bahwa Yesus mampu memberikan kesembuhan kepada mereka. Dengan iman mereka percaya bahwa rahmat kesembuhan itu akan mereka terima, maka mereka tetap berusaha untuk sampai kepada Yesus. Untuk mencapai suatu tujuan dibutuhkan perjuangan dan keja keras dan itu telah dilakukan kesepuluh orang kusta itu. Buah dari iman yang disertai dengan usaha akhirnya tercapai yakni kesembuhan dari penderitaan kusta.

  Yesus tidak berdiri di kejauhan seperti seseorang yang takut ketularan. Ia menyentuh orang sakit itu. Sentuhan dalam penyembuhan dipandang sebagai ciri khas dari karya penyembuhan Yesus, maka Yesus berkata pergilah perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam (ay 14). Yesus dalam perikop ini ditampilkan sebagai sorang sahabat yang punya sikap kepedulian dan belaskasih yang tinggi. Yesus selalu terbuka pada setiap orang yang datang kepada-Nya.Ia akhirnya memberikan kesembuhan kepada kesepuluh orang kusta itu.

  Ada satu hal yang patut diteladani dari kesepuluh orang kusta yakni percaya. Selain itu, yakni ungkapan syukur yang dilakukan oleh satu dari kesepuluh orang kusta tadi. Ia menghadap Tuhan dan menghaturkan syukur atas kesembuhannya (ay 16). Sedangkan kesembilan orang kusta yang lain tidak

    melakukan hal yang sama, tetapi mereka percaya karena mereka disembuhkan.

  Yesus sebaga pendidik selalu memperhatikan cara yang terbaik di dalam mendidik. Ia tidak menjauhkan diri dari anak didik/umat (dekat dengan orang kusta), memberi perhatian (menyembuhkan), memberi kasih sayang (memberi jalan keluar), tidak memarahi meskipun 9 orang tidak kembali kepada-Nya.

  

h. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Hidup Peserta Konkrit

1) Pengantar

  Pada awal pembicaraan tadi kita telah melihat bagaimana cerita seorang ibu yang mendidik seorang anaknya bukan dengan kekerasan, tetapi dengan sabar tindakannya yang halus. Ia tidak banyak bicara tetapi sikapnya bisa membuat anaknya sadar akan kesalahannya. Ia tetap tabah dan sabar dalam meghadapi sikap anaknya yang nakal. Kita juga sudah menggali bersama-sama bagaimana kita bisa mengatasi kesulitan dalam mendidik iman anak dalam kehidupan kita sehari-hari, dan bagaimana cara untuk mengatasi kesulitan itu, dan sekaranng kita akan melihat dalam kehidupan kita.

  Dalam pembicaraan tadi kita juga sudah menemukan sikap orang kusta dalam memperjuangkan imannya,dari teks Injil, dalam penghayatan mereka sebagai orang yang tersingkir, lemah tak berdaya , hidupnya tergantung pada orang lain, tidak diperhitungkan karena gigihnya, dan tekadnya yang kuat mengahasilkan buah yang tidak terduga sebelumnya yaitu sembuh dari sakitnya. Sebagai orang beriman seringkali kita mengalami patah semangat, kesulitan Allah pada saat-saat tertentu, tidak ada yang memperhatikan dan masih banyak lagi, namun dalam pertemuan ini kita sungguh mengucapkan syukur kepada Bapa karena telah mengingatkan kita kembali supaya tetap bertahan dalam keadaan apa pun, tetap berjuang dengan keyakinan Allah akan memberikan yang terbaik kepada kita. 2) Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin menghayati dan menyadari bahwa iman itu harus diperjuangkan supaya tetap berkembang. Kita akan melihat situasi konkrit dunia sekitar dalam penghayatannya dalam memerjuangkan imannya. Dengan mencoba merenungkan pertanyaan ini sebagai berikut:

  Saat hening diiringi musik instrument untuk mengiringi renungan secara pribadi. Kemudian diberi kesempatan untuk mengungkapkan renungan pribadinya, akan pesan Injil dengan situasi konkrit bapak-ibu sebagai orang beriman yang sedang berjuang.

   

  • Sejauhmana kepedulian orangtua terhadap anak-anak dari pada pekerjaan yang lain?
  • Sikap-sikap Yesus mana, yang bisa kita ambil sebagai contoh yang membantu kita untuk semakin menghayati peran sebagai pendidik iman anak.

  3) Arah Renungan Bapak-ibu yang terkasih, Tuhan Yesus telah banyak memberikan contoh bagaimana kita harus berani berjuang dalam hidup ini terutama

   

  memperjuangkan iman kita untuk kehidupan rohani kita. Bahkan Yesus sendiri telah memberi contoh diri-Nya sendiri, memang tidak mudah untuk melaksanakan seperti yang dicontohkan Tuhan. Namun kita mohon bantuan dari Allah sendiri supaya diberi rahmat yang kita perlukan dalam melaksanakan tugas ini. Tuhan akan memberikan apa yang kita minta untuk membantu menyelesaikan kesulitan yang kita hadapi, asal kita berani bertindak dan menanggung resiko pasti Tuhan akan memperhitungkan segala jerih payah kita.

  Dalam kehidupan ini dibutuhkan suatu keberanian untuk selalu mencoba dan melaksanakan supaya tahu apa yang menjadi kesulitan yakni dari pengalaman dan bukan dari orang lain. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, serahkan diri kita kepada Tuhan sang Guru perjuangan segala perjuangan. Dan Ia akan memberikan jalan. Dan percayakan kepada penyelenggaraan Ilahi.

i. Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkrit

  1) Pengantar Bapak- ibu yang terkasih kita telah banyak menggali pengalaman baik dari cerita yang menunjukkan seoarang yang beriman dan akhirnya menemui jalan yang baik. Dari sharing ibu-ibu tadi kita bisa mengambil hikmahnya bahwa dalam menghadapi masalah kita harus kuat bersikap sabar dan berjuang keras di tengah jaman yang semakin tidak menentu ini

  Bapak-ibu yang terkasih dalam Yesus Kristus, teladan perjuangan , setelah kita bersama-sama menggali pengalaman kita sebagai orang yang masih harus

   

  tadi sebenarnya apa yang dialami oleh bu Tuti itu perlu kita miliki. Ia tetap bersandar pada Allah, kuat dalam menghadapi masalah. Dalam kehidupan kita sehari–hari seringkali masalah datang silih berganti meskipun kita tidak mengundangnya. Kadang kita bisa menghadapi dan menyelesaikan tetapi tidak jarang pula kita mentok dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dari pengalaman orang kusta dalam Injil Lukas, kita bisa belajar bagaimana perjuangan orang kusta itu untuk menjadi sembuh berkat perjuangan imannya. Dari Yesus kita bisa menggali sikap-sikap Yesus yakni rasa peduli dan belaskasih yang tinggi terhadap orang-orang yang tersingkir. Dan Yesus sendiri memperhatikan bagi siapa yang dengan sungguh-sungguh berjuang, serta memberikan apa yang kita minta. Kita telah memperoleh sesuatu yang baru, harapan yang baru untuk semakin menghayati perjuangan iman kita, dan yang tidak kalah pentingnya bahwa kita menyadari setiap langkah kita Tuhan selalu menyertai dan membantu kita dalam memperjuangkan iman kita.

  2) Memikirkan niat-niat yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dalam menghadapi masalah, dan kesulitan dalam mewujudkan perjuangan iman

  ( baik pribadi, kelompok, atau bersama). Pertanyaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat-niat.

  • Tindakan apa yang hendak kita lakukan sebagai niat bersama,supaya kita tidak mudah putus asa dalam memperjuangkan dan mengembangkan iman anak kita?

   

  • Untuk mewujudkan niat-niat itu, kiranya hal-hal apakah yang perlu kita perhatikan?

  Selanjutnya peserta diberi kesempatan untuk hening memikirkan sendiri-sendiri tentang niat-niat pribadi/kelompok bersama, kalau ada bisa didiskusikan bersama untuk menentukan niat bersama agar mereka semakin memperbaharui sikap kelompok sebagai orang yang bersama berjuang, baik di rumah, lingkungan, paroki.

  j. Penutup

  1) Doa Penutup Bapa yang bertahta di surga sebagai teladan perjuangn orang beriman, kami mengucap syukur atas kekuatan yang Engkau berikan kepada kami dalam memperjuangkan iman kami di dunia yang semakin tidak menentu ini. Engkau telah memberi teladan bagaimana kami harus tetap bertahan dalam menghadapi berbagai cobaan. Tanpa bantuan-Mu kami tidak dapat berbuat apa-apa dan kami adalah orang lemah. Semoga Tuhan memberikan kekuatan supaya kami tetap bertahan dalam iman. Berilah kami rasa bangga atas iman kami sehingga kami tidak ragu atas iman kami. Dan akhirnya semoga kami dapat meneladani apa yang telah dibuat oleh Tuhan Yesus. Engkau kami puji kini dan sepanjang masa Amin.

  2) Lagu Penutup MB: 522 Maju Pantang Mu

   

BAB V PENUTUP Pada akhir skripsi ini, penulis mengemukakan beberapa hal yang perlu

  ditegaskan kembali dan dipikirkan untuk diperkembangkan lebih lanjut sehubungan dengan pengaruh pendampingan orang tua terhadap perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu. Dalam bagian penutup ini akan disampaikan kesimpulan dan saran penulis.

A. Kesimpulan.

  Dari semua yang sudah diuraikan oleh penulis mulai dari bab I-IV, maka dapat ditarik beberapa kesimpulas sebagai berikut:

  1. Pelaku utama dan pertama dalam mengembangkan perilaku iman anak adalah orang tua. Orang tua perlu menyadari akan tanggung jawabnya dalam memberikan bimbingan terhadap anak dalam mengembangkan iman anak-anak. Tujuan dari pendampingan orang tua itu bukan sebatas pengetahuan saja, namun lebih dari itu untuk membantu anak mengalami pengelaman persatuan dengan Allah. Di dalam proses ini anak bimbing untuk menerima dan mengerti perwahyuan Allah dalam Yesus Kristus. Untuk menjalankan perannya dengan baik, orang tua perlu memberikan teladan dan kesaksian hidup iman yang konkret dari orang tuanya. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga diharapkan dapat memberikan perhatian dan kesih sayang dalam diri anak. Maka dengan

   

  demikian anak akan merasa mendapat perhatian dari orang tua dan semakin dekat dengan keluarga.

  2. Sekolah minggu merupakan salah satu wadah dalam mengembangkan perilaku iman anak. Mengikuti kegiatan sekolah minggu merupakan suatu peristiwa iman yang penting dalam mengembangkan perilaku iman anak, maka diharapkan dukungan dari orang tua terhadap anak dalam mengembangkan imannya melalui kegiatan sekolah minggu, dimana gereja menyatakan diri sebagai sebagai umat yang mengimani keselamatan Yesus Kristus. Sebagai pendidik iman yang bertanggung jawab adalah orang tua.

  3. Pada hasil penelitian dikatehui bahwa orang tua yang cukup menyadari perannya sebagai seorang pendidik pertama dan utama dalam keluarga.

  Orang tua di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi sebagian telah memahami bahwa bimbingan orang tua terhadap perkembangan iman anak dalam keluarga sangatlah penting. Mereka menyadari bahwa hidup anak tidak jauh dari keteladanan yang di berikan oleh orang tua. Bimbingan orang tualah yang menjadi pendidik pertama dan utama dalam hidup anak- anak. Namun masih ada sebagian orang tua yang belum mengerti akan pentingnya pendampingan dari orang tua dalam mengembangkan perilaku iman anak.

  4. Pada hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa orang tua sungguh bertanggung jawab dalam mengembangkan perilaku iman anak melalui kegiatan sekolah minggu. Orang tua juga mempunyai kesadaran untuk

   

  mengantar anak-anak mereka pada kedewasaan iman. Mendidik anak dalam hal iman bukanlah hal yang mudah dan masih ada banyak permasalahan yang dihadapi oleh orang tua di paroki St Fransiskus Assisi Berastagi. Permasalahan yang menonjol di paroki St Fransiskus Assisi Berastagi adalah sebagai orang tua kurang memperhatikan perkembangan perilaku iman anak, kurang melibatkan anak-anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu dan hal ini disebabkan karena orang tua sibuk dengan pekerjaaan mereka, sehingga waktu untuk mendampingi atau mengantar dan menjemput anak sama sekali tidak ada.

  5. Dalam skripsi ini penulis menawarkan pendampingan anak melaui semangat orang tua dalam meningkatkan perilaku iman anak melalui katekese umat guna meningkatkan kesadaran orang tua dalam meningkatkan iman anak di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi. Penulis memilih katekese umat karena katekese ini dapat memecahkan permasalahan yang dialami oleh orang tua dalam meningkatkan perilaku iman anak dimana melalui sharing berdialog dan refleksi bersama diantara orang tua. Dengan sharing dan berdialog dapat membatu orang tua dimana orang tua saling bertukar pengalaman bagaimana cara mereka mendidik anak meraka masing-masing.

    B.

   Saran

  Bertolak dari seluruh pembahasan yang ada, penulis bermaksud mengungkapkan beberapa saran agar para orang tua semakin meningkatkan kesadaran akan tugas dan tanggung jawab serta perannya sebagai pendidik utama dan pertama dalam mengembangkan perilaku iman anak.

  1. Orang tua semakin bertanggung jawab terhadap perkembangan dan kehidupan iman anak dan memberi benih iman pada anak.

  2. Orang tua membuka diri dengan pendampingan dalam mengembangkan iman anak melalui kegiata sekolah minggu

  3. Bagi para pendamping sekolah minggu menjalin relasi yang baik dengan orang tua atau berorgansasi dengan orang tua dalam mendampingi anak.

  4. Paroki membekali para pendamping sekolah minggu sehingga pendamping mendapat bekal yang banyak dalam mendampingi anak dan mengembangkan sekolah minggu.

   

DAFTAR PUSTAKA

  Adisusanto, F.X. (1995). Umat Baru. Katekese dan Penegakkkan

  

Keadilan. Yogyakarta: FIFA USD

  Adiyanti,M.S,MG, dkk. (2003). Prilaku anak usia dini. Yogyakarta: Kanisius. Agung, Prihartana. (2008). Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga Kawin Campur Beda Agama. Yogyakarta: Kanisius. Bergant, Dianne. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. BPK Gunung Mulia. (1983). Tafsiran Alkitab Masa kini 3 (Matius- Wahyu). Jakarta: P.D.Nilakandi. Didit Bagiyowinadi (2009). Bekal untuk Pendampingan Bina Iman

Anak. Yogyakarta: Gloria Graffa.

Groom, Thomas H. (1977). Shared Christian Praxi: Suatu Model

  Berkatekese, (Drs. FX. Heryatno W.W. S.J., M.Ed., Penyalur). (Seri Puskat No. 356); Yogyakarta: LPKP Puskat (Buku Asli Diterbitkan tahun 1991).

  Handoko Martinus, dkk. (2004). Pendidikan pada usia dini.

  Jakarta:Gramedia. Heryatno Wono Wulung, F.X. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu

  Model Katekese (Seri Puskat No. 356). Yogyakarta : LPKP.

  Heryatno Wono Wulung, F.X. (2008:3). Diktat Pendidkan Agama

  Katolik III, Semester VII, Program Studi Ilmu

  Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Huber, Th. (1983). Katekese Umat. Yogyakarta : Kanisius

  http://imankeluarga.blogspot.com/2007/03/kk04-pendidikan- anak-dalam-keluarga.html

  Ign. Wignyasumarta, dkk. (2000). Pusat pendampingan keluarga.

  Yogyakarta: Kanisius. Konfrensi Wali Gereja Indonesia. (1996). Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi. Jakarta: Obor.

  Konsili Vatkan II, (1993). Gravissimum Educationis, Pernyataan tentang Pendidikan Kristiani, diterjemahkan oleh R.

  Hardawiryana, SJ, Jakarta: Obor. Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R.

  Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dolumen asli diterbitkan tahun 1966) LAI. (1995). Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. Lalu, Yosef, Pr. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI.

   

  Maria Goretti Sugiarti (Ed). (1996). Pendampingan Iman Anak. FIPA, Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta Moleong, Lexy, J. MA. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif.

  Yogakarta: PT Remaja Rosdakarya. Nasution, S. (1998). Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif.

  Bandung. Tarsito. Riduwan, M.B.A. (2004). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru- Karyawan dan Penelitian Pemula. Bandung : Alfabeta.

  Papo, Yakob. (1987). Memahami Katekese. Ende: Nusa Indah. Pedoman Gereja Katolik. (1994). Sidang Agung KWI Umat Katolik.

  Jakarta: KWI Prasetya, L, dkk (2008). Dasar-dasar Pendampingan Iman Anak. Yogyakarta: Kanisius. Sarumpaet, R.I. (1980). Rahasia Mendidik Anak. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. SAV Puskat. (1994). Cerita yang Patut Diperhatikan. Sarana Pembangunan Sikap. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Setyakarjana, J.S,. (1976). Kateketik Pendidikan Dasar. Yogyakarta: Pusat Kateketik. Setyakarjana, J.S,. (1997). Arah Katekese di Indonesia. Yogyakarta : Pusat Kateketik. Soemanto. (1990). Psikologi Perkembangan. Jakarta Aksara Baru. Sugiono (2002). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta. Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Suhardiyanto, H. J. (2004). Pendampingan Iman Anak (Sekolah

  Minggu). Diktat mata kuliah PIA untuk mahasiswa

  semester III Prodi IPPAK, FKIP, Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta. Sumarno DS. M. (2009). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan

  Agama Katolik Paroki. Diktat Mata Kuliah PPL PAK

  Paroki Semester V, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Sutrisno Hadi. (2002). Metedologi Reserch 2. Yogyakarta: Andi. Telaumbanau, Marianus. (1999). Ilmu Kateketik, Hakekat, Metode dan Peserta Katekese Gerejawi. Jakarta:Obor.

  Tim penyusun kamus. (1990) Kamus Besar Indonesia. Cet. 2. Jakarta : Balai Pustaka

  Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta : Dokpen KWI. Yohahes Paulus II. (1993). Familiaris Consortio. ( R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpon KWI.

KUESIONER PENELITIAN

  

DI PAROKI ST FRANSISKUS ASISI BERATAGI

KEUSKUPAN AGUNG MEDAN

  Bapak-ibu yang saya hormati, sehubungan dengan penulisan skripsi saya yang berjudul “Peran Pendampingan Orangtua Dalam Sekolah Minggu Terhadap Perilaku Iman Anak di Paroki St Fransiskus Asisi Berastagi”. Saya mohon kesedian bapak-ibu untuk mengisi kuesioner ini. Atas bantuan dan kerjasamanya saya mengucapkan banyak terima kasih.

  A. IDENTITAS Nama :

  Jenis kelamin : Lingkungan : Usia pernikahan : Pekerjaan :

  B. PETUNJUK PENGISIAN Dibawah ini terdapat beberapa pertanyaan. Pilihlah jawaban dengan cara mencentang pada salah satu jawaban yang tersedia. Pilihlah jawaban yang sesuai dengan yang pemahaman dan pengalaman bapak-ibu.

  Contoh

  No PERTANYAAN Sangat setuju Setuju Kurang setuju

  Tidak setuju Sangat tidak setuju

  1 Anak dilatih berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan .

  √

KUESIONER PENELITIAN

  No PERTANYAAN Sangat Setuju Kurang Tidak Sangat Tidak Setuju Setuju Setuju Setuju

  1 Tujuan perilaku iman anak dapat terwujud dengan baik dengan adanya peran serta orangtua dalam mengembangakn iman anak.

  2 Perilaku iman adalah perbuatan anak yang biak seperti bersikap sopan terhadap orangtua, jujur, adil, menghormati orangtua, mencintai semua orang.

  3 Sekolah minggu merupakan tempat mengembangakan perilaku iman anak

  4 Kegiatan-kegiatan dalam sekolah minggu sangat membantu anak dalam mengembangkan imannya.

  5 Melalui sekolah minggu anak semakin dapat menunjukkan sikap doa yang baik dan benar.

  6 Keberhasilan sekolah minggu sangat ditentukan oleh peran serta keterlibatan orangtua dalam mendampingi anak-anak.

  7 Orangtua berperan untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhakan anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu.

  8 Orangtua perlu mendampingi anak dalam pelaksanaan kegiatan sekolah minggu.

  9 Selama berdoa anak menunjukkan sikap doa yang baik dan benar.

  10 Sebagai orangtua selalu mengantar dan menjemput anak setiap kegiatan sekolah minggu dilaksanakan

  No PERTANYAAN Sangat Setuju Kurang Tidak Sangat Tidak Setuju Setuju Setuju Setuju

  11 Orangtua selalu menanyakan pengalaman anak baik yang paling mengesan dan kurang mengesan selama mengikuti kegiatan sekolah minggu

  12 Saya sebagai orangtua menyediakan fasilitas (buku gambar, cat pewarna, Kitab Suci, Rosario dan lain-lain) yang dibutuhkan anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu..

  13 Saya sebagai orangtua sangat mendukung anak menjadi pendamping sekolah minggu

  14 Saya memberi dukungan dan kesempatan kepada anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu diluar pertemuan rutin (Retret, Rekoleksi, Camping Rohani dan lain-lain)

  15 Kegiatan sekolah minggu telah terlaksana dengan baik untuk menjadi tempat memperkembangkan perilaku iman anak.

  16 Kegiatan sekolah minggu telah didukung sepenuhnya oleh paroki.

  17 Pendamping sekolah minggu selalu kreatif dalam mendampingi anak selama kegiatan sekolah minggu.

  18 Anak merasa senang dan semangat mengikuti sekolah minggu karena sebelum dan sesudah kegiatan sekolah minggu orangtua selalu mendampingi.

  19 Membuat anak menjadi kurang berminat mengikuti kegiatan sekolah minggu secara rutin.

  20 Karena kesibukan orangtua perkembangan iman anak kurang diperhatiakan.

  Lukas 17:11-19

  17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" 17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada- Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" 17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

   

  

Cerita “Bolehkah Aku Mencabut Paku Ini ?”

Ada seorang anak yang sangat nakal. Perilakunya sangat tidak terpuji. Ia sering

membantah perintah orangtuanya, berbicara kotor, berbohong, dan sebagainya.

Kenakalannya membuat hati bu Tuti menjadi sedih. Setiap malam dengan berlinang air

mata sang ibu mendoakan anaknya itu. Tetapi, kenakalannya tidak berkurang.

  Pada suatu hari, seorang Katekis memberi sebuah saran kepada bu Tuti. Katekis

itu menyarankan bu Tuti untuk memasang foto anaknya dalam ukuran besar di ruang

tamu.

  “Yoyon, tolong antarkan surat undangan doa lingkungan ini kepada Tante Cen Cen, ya?” suara bu Tuti mengagetkan lamunannya.

  “Tidak mau, Ma!” jawabnya enteng. “Mama sedang sibuk nih, tolong dong Yoyon!” “Antar saja sendiri!” Sang mama keluar dari dapur sambil membawa sebuah palu dan sebuah paku.

Tanpa sepatah katapun, ia memaku foto anaknya. Sedangkan Yoyon hanya terpana

melihat tindakan mamanya.

  Demikianlah, setiap berbuat nakal atau membantah perintah orangtuanya, maka

paku ditancapkan pada foto anaknya. Karena terlalu sering berbuat nakal, bisa

dibayangkan foto tersebut menjadi penuh paku dan tidak sedap dipandang.

  “Mama, fotoku menjadi rusak dan tidak sedap dipandang. Bolehkan aku mencabut paku-paku itu?” “Tentu saja boleh anakku, tetapi dengan syarat kamu bisa mencabut satu paku setiap kamu berbuat satu kebaikan.” Pagi-pagi, sang mama tertegun melihat anaknya menyapu lantai. Ini sebuah kejutan besar.

  “Bagus Yoyon. Itu baru anak yang baik.” “Kalau begitu, bolehkan aku mencabut sebuah paku dari fotoku?” “Tentu saja boleh”

Dengan gembira sang anak mencabut paku yang menancap pada fotonya..

  Demikianlah setiap kali berbuat baik, Yoyon mencabut sebuah paku hingga

akhirnya semua paku tercabut. Tetapi, apa yang terjadi dengan foto itu? Foto itu memang

bersih dari paku, tetapi gambarnya menjadi rusak karena lubang-lubang bekas paku.

  “Anakku, fotomu sudak rusak dan tidak sedap dipandang, jadi foto itu harus diganti dengan foto yang baru!” Setelah itu Yoyon menjadi anak yang baik dan patuh kepada mamanya. Ia tidak ingin fotonya rusak karena bekas paku lagi.    

  MB 216 Kuingin Iman Sejati

  Kuingin iman sejati Kuingin iman sajati, dalam hati. Dalam hati…..dalam hati Ku ingin iman sejati.Dalam hati Kuingin iman mencintai Kuingin kian mencintai.Dalam hati Dalam hati…dalam hati Kuingin iman sejati.Dalam hati

  Kuingin semakin sesuci Kuingin semakin suci.Dalam hati Dalam hati…dalam hati Kuingin semakin suci.Dalam hati Kuingin seperti Yesus Kuingin seperti Yesus.Dalam hati Dalam hati…..dalam hati Kuingin seperti Yesus.Dalam hati

  MB: 522 PantangMundur Sabda Tuhan bagi kita majulah pantang mundur.

  Tingggalkanlah malam kelam marilah kita maju Surya terang menantikan jangan ketinggalan Sabda Tuhan bagi kita majulah pantang mundur Tinggalkanlah masa silam menuju dunia baru.

  Jangan lalai jangan lena sampai ketujuan Sabda Tuhan bagi kita majulah pantang mundur. Kita akan dibimbingNya agar juta’kan tahan. Hingga kita mengalami dunia nan terang

   

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku agresif anak pra sekolah TK Ketilang Ciputat
1
13
106
Peranan orang tua terhadap anak dalam memilih sekolah keagamaan (studi kasus siswa kelas 111 MAK Darunnajah Jakarta)
0
4
96
Sikap orang tua terhadap sistem pendidikan di sekolah dikaitkan dengan motivasi menyekolahkan anak dengan sistem homeschooling
0
8
159
Pendampingan orang tua terhadap anak dalam mengikuti kegiatan Misdinar di Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor, Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
0
2
138
Pengaruh pendampingan iman anak terhadap keterlibatan putra-putri altar di Paroki Marganingsih Kalasan.
1
5
165
Peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.
17
147
222
Peranan sanggar anak sebagai alternatif pendampingan iman anak di Paroki Santo Thomas Rasul Bedono Kabupaten Semarang.
0
6
225
Manfaat metode bercerita dalam pendampingan iman anak di Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung Gunungkidul.
0
9
175
Sumbangan katekese keluarga terhadap peningkatan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri.
1
10
148
Hubungan antara pola asuh orang tua otoritatif dan perkembangan kemandirian anak usia pra sekolah di kelompok bermain melati - USD Repository
0
2
111
Bimbingan orang tua terhadap perkembangan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
2
132
Pengaruh Ibadat Taize terhadap perkembangan iman kaum muda di Paroki Santo Yakobus, Bantul - USD Repository
0
0
110
Sikap dan partisipasi orang tua perkampungan sosial Pingit Yogyakarta terhadap pendampingan belajar masyarakat prodi PAK dan PE - USD Repository
0
0
88
Hubungan pendidikan iman dalam keluarga kristiani dengan kecerdasan spiritual siswa/siswi SMP Santo Fransiskus Assisi Samarinda - USD Repository
0
1
124
Peranan pendampingan persiapan baptisan bayi/anak sebagai upaya membina kesadaran orang tua dalam pendidikan iman anak di Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati - USD Repository
0
0
122
Show more