Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Komputer Program Studi Teknik Informatika

Gratis

0
0
129
3 months ago
Preview
Full text

  ANALISIS UNJUK KERJA WIRELESS LAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Komputer Program Studi Teknik Informatika Oleh: Thomas Dhani Eka Kurniawan 075314012 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2012

  PERFOMANCE ANALYSIS OF WORKING WIRELESS LAN A THESIS Presented as Partial Fulfillment of The Requirements to Obtain The Sarjana Komputer Degree in Informatics Engineering Study Program By: Thomas Dhani Eka Kurniawan 075314012

INFORMATICS ENGINEERING STUDY PROGRAM

PERNYATAAN KEASLIAN HASIL KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat dan menggunakan hasil karya atau sebagian dari hasil karya orang lain, kecuali yang tercantum dan disebutkan dalam kutipan serta daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 20 Februari 2012 Penulis

  Thomas Dhani Eka Kurniawan

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Thomas Dhani Eka Kurniawan NIM : 075314012 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

  “ Analisis Unjuk Kerja Wireless LAN

  bersama perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Yogyakarta, 20 Februari 2012 Penulis

  Thomas Dhani Eka Kurniawan

  

ABSTRAK

  Saat ini, banyak muncul perangkat yang mengutamakan nilai praktis yang artinya dapat digunakan dimanapun dan kapanpun. Salah satu teknologi yang berkembang dalam bidang informasi adalah perangkat wireless. Dengan berkembangnya zaman, berkembang juga kemampuan perangkat wireless, dari standar 802.11b menjadi 802.11g. Untuk mengetahui performansi jaringan terhadap suatu trafik yang menggunakan perangkat wireless dibutuhkan parameter performa jaringan. Parameter tersebut antara lain adalah throughput, delay, dan packet loss.

  Dalam tugas akhir ini, pengukuran dilakukan pada perangkat wireless untuk mengetahui hubungan antara kuat sinyal, interferensi, Maximum Transfer

  

Unit (MTU) terhadap parameter-parameter performa jaringan tersebut.

  Pengukuran dilakukan terhadap protokol File Transfer Protocol (FTP) yang sederhana dalam penerapannya. Pengujian yang telah dilakukan memberikan rekomendasi bahwa jarak antara perangkat wireless yang jauh menyebabkan kecepatan aktual atau throughput menurun akibat adanya redaman pada media transmisi yaitu udara. Hal tersebut juga mengindikasikan terjadinya packet loss. Diketahui juga bahwa faktor interferensi dalam hal penggunaan channel access

  

point yang sama berpengaruh memperburuk kinerja jaringan. Sedangkan dari hasil

  pengaturan MTU sebesar 576 bytes didapatkan nilai throughput yang tinggi pada saat terjadi interferensi. Hal ini menguatkan dugaan bahwa ketika paket yang dibawa difragmentasi menjadi paket yang lebih kecil maka bila terjadi banyak

  

packet loss akibat interferensi, proses retransmit akan lebih cepat dilakukan

daripada ketika menggunakan MTU 1500 bytes.

  Kata kunci : wireless, FTP, parameter performa jaringan, sinyal, interferensi,

  MTU

  

ABSTRACT

  Nowdays, there are many devices that prioritize practical aspect such that it can be used everywhere and anytime. One of the popular technology is wireless device. By the development of the age, the ability of wireless devices also improve from the standard 802.11b to be 802.11g. To identify the network performance in a traffic that uses wireless devices, parameters are needed. Those parameters consist of throughput, delay, and packet loss.

  In this thesis, measuring of the parameters was performed on the wireless devices to know the connection between the strength of the signals, interference, and the Maximum Transfer Unit (MTU) to that network performance parameters. Measuring was done to the File Transfer Protocol (FTP) that is simple in its application. The test that have been done gives recommendation that the distance between wireless devices that are far separated causes the actual speed or throughput down because there is attenuate in the air as transmission media. It indicates packet loss has happened. It is also identified that interference factor in the same channel access point degrades the performance. Whereas the MTU setting of 576 bytes resulted in a high throughput. It emphasites hypothesis that in a packet which is defragmented into smaller packets, if there are many packet losses due to interference, the process of retransmit will perform faster than the setting of 1500 bytes.

  MTU

  Key words : wireless, FTP, network performance parameters, signal, interference,

  MTU

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, atas segala rahmat dan anugerah yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir “Analisis

  

Unjuk Kerja Wireless LAN ini dengan baik. Dalam menyelesaikan tugas akhir

  ini, penulis tidak lepas dari bantuan sejumlah pihak, oleh sebab itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Tuhan Yesus Kristus, yang telah menjawab semua doa-doa penulis dan mencurahkan berkat sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.

  2. Ibu Paulina Heruningsih Prima Rosa, S.Si., M.Sc. selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi.

  3. Ibu Ridowati Gunawan, S.Kom., M.T. selaku Ketua Program Studi Teknik Informatika.

  4. Bapak Henricus Agung Hernawan, S.T, M.Kom., selaku dosen pembimbing tugas akhir dari penulis.

  5. Bapak Iwan Binanto, S.Si., M.Cs. dan bapak Albertus Agung Hadhiatma, S.T., M.T. selaku penguji tugas akhir ini.

  6. Orangtua dan adik dari penulis yang telah memberi dukungan doa, materi, serta semangat. Tanpa semua itu penulis tidak akan memperoleh kesempatan untuk menimba ilmu hingga jenjang perguruan tinggi dan akhirnya dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.

  7. Teman-teman dari penulis di Teknik Informatika angkatan 2007 yang tidak dapat disebutkan satu per satu, namun mereka semua sangat berkesan bagi penulis.

  8. Frater Aldo Rivan Susanto, SX dan Hanna Christy Nugroho, teman-teman yang sangat penulis kasihi.

  9. Segenap keluarga, dosen, karyawan, dan semua teman-teman dari penulis yang sangat berperan dalam kehidupan penulis sehingga membantu penulis dalam menempuh studi dengan lancar. Akhir kata, penulis berharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Penulis juga meminta maaf kepada semua pihak bila ada kesalahan atau hal-hal yang kurang berkenan. Semoga Tuhan memberkati, amin.

  Yogyakarta, 20 Februari 2012 Penulis

  Thomas Dhani Eka Kurniawan MOTTO !"

  

DAFTAR ISI

  LEMBAR JUDUL ................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING................................................... iii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iv PERNYATAAN KEASLIAN HASIL KARYA ................................................... v PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................... vi ABSTRAK ........................................................................................................ vii ABSTRACT ..................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................ ix MOTTO ............................................................................................................. xi DAFTAR ISI ..................................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xiv DAFTAR TABEL .......................................................................................... xviii

  I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

  I.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1

  I.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 3

  I.3 Tujuan .................................................................................................... 3

  I.4 Batasan Masalah .................................................................................... 3

  I.5 Metodologi ............................................................................................. 3

  I.6 Sistematika Penulisan ............................................................................. 4

  II LANDASAN TEORI .................................................................................... 5

  II.1 Jaringan Komputer TCP/IP .................................................................... 5

  II.2 Wireless Local Area Network (WLAN) ............................................... 12

  II.2.1 Standart 802.11 a/b/g/n ................................................................... 13

  II.2.2 Mode Jaringan WLAN ................................................................... 14

  II.3 MTU (Maximum Transfer Unit) ........................................................... 15

  II.4 Sinyal dan Noise .................................................................................. 17

  II.5 Parameter Perfoma Jaringan ................................................................. 20

  II.6 FTP (File Transfer Protocol) ................................................................ 23

  IV.1 Pembangunan Jaringan Ad-Hoc............................................................39

  V.1 Kesimpulan..........................................................................................106

  V KESIMPULAN DAN SARAN....................................................................106

  IV.4.4 Pengukuran Skenario 4............................................................101

  IV.4.3 Pengukuran Skenario 3..............................................................81

  IV.4.2 Pengukuran Skenario 2..............................................................47

  IV.4.1 Pengukuran Skenario 1..............................................................44

  IV.4 Pengukuran dan Analisis.......................................................................44

  IV.3 Konfigurasi Transfer File......................................................................43

  IV.2.1 Konfigurasi Access Point...........................................................42

  IV.2 Pembangunan Jaringan Infrastruktur.....................................................42

  IV IMPLEMENTASI DAN ANALISIS..............................................................39

  II.7 Sniffing (Penyadapan) .......................................................................... 25

  4. Skenario Keempat................................................................................37

  3. Skenario Ketiga...................................................................................35

  2. Skenario Kedua...................................................................................34

  1. Skenario Pertama.................................................................................34

  III.3 Desain Sistem Jaringan ........................................................................ 33

  III.2 Diagram Alir Desain Pengujian ............................................................ 32

  III.1 Spesifikasi Alat .................................................................................... 30

  III PERANCANGAN ....................................................................................... 30

  II.7.3 DU Meter ...........................................................................................29

  II.7.2 Network Stumbler .......................................................................... 28

  II.7.1 Axence Net Tool ............................................................................ 26

  V.2 Saran....................................................................................................107 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 109

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. 7 lapisan komunikasi data (OSI layer) dan TCP/IP ....................... 5Gambar 2.2. Proses enkapsulasi data ................................................................. 7Gambar 2.3. Format IP datagram .................................................................... 10Gambar 2.4. Mode Ad-Hoc ............................................................................. 15Gambar 2.5. Mode infrastruktur ...................................................................... 15Gambar 2.6. Paket MTU ................................................................................. 16Gambar 2.7. Sinyal analog .............................................................................. 17Gambar 2.8. Sinyal digital .............................................................................. 17Gambar 2.9. Sinyal yang terkena noise ........................................................... 18Gambar 2.10. Sinyal lebih tinggi dari noise..................................................... 19Gambar 2.11. Noise lebih tinggi dari sinyal..................................................... 19Gambar 2.12. Model hubungan FTP ............................................................... 24Gambar 2.13. Screenshoot software Axence Net Tool..................................... 27Gambar 2.14. Screenshoot Network Stumbler ................................................. 28Gambar 2.15. Grafik sinyal wireless pada Network Stumbler .......................... 28Gambar 2.16. Grafik pengukuran menggunakan DU Meter ............................. 29Gambar 3.1. Adapter Intel WiFi Link 1000 BGN ............................................ 31Gambar 3.2. Access point Linksys WRT320N ................................................ 31Gambar 3.3. Flowchart pengujian wireless ..................................................... 32Gambar 3.4. Jaringan Ad-Hoc dengan 2 user .................................................. 34Gambar 3.5. Jaringan infrastruktur dengan 1 access point dan 1 user .............. 34Gambar 3.6. Jaringan infrastruktur dengan 2 access point dan 2 user .............. 35Gambar 3.7. Jaringan infrastruktur dengan 3 access point dan 3 user .............. 36Gambar 3.8. Jaringan infrastruktur dengan 3 access point, pengaturan MTU ... 37Gambar 4.1. Capture screen halaman network and sharing center .................. 39Gambar 4.2. Capture screen untuk pembuatan jaringan ad-hoc....................... 40Gambar 4.3. Capture screen halaman network and sharing center .................. 40Gambar 4.4. Capture screen untuk pengaturan ip address ............................... 41Gambar 4.5. Capture screen halaman web, access point Linksys WRT320N .. 42Gambar 4.6. Capture screen Filezilla dari XAMPP ......................................... 43Gambar 4.7. Capture screen pengaturan admin di Filezilla ............................. 43Gambar 4.8. Grafik hubungan kuat sinyal dengan jarak .................................. 44Gambar 4.9. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal ......................... 45Gambar 4.10. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal ................................ 46Gambar 4.11. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal ....................... 47Gambar 4.12. Grafik hubungan kuat sinyal dengan jarak ................................ 48Gambar 4.13. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal ....................... 49Gambar 4.14. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal ................................ 50Gambar 4.15. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal ....................... 51Gambar 4.16. Grafik perbandingan kuat sinyal adhoc dengan infrastruktur ..... 51Gambar 4.17. Grafik perbandingan throughput adhoc dengan infrastruktur .... 52Gambar 4.18. Pelemahan di media transmisi ................................................... 53Gambar 4.19. Grafik perbandingan delay mode adhoc dengan infrastruktur .... 54Gambar 4.20. Grafik perbandingan packet loss adhoc dengan infrastruktur .... 55Gambar 4.21. Grafik hubungan kuat sinyal dengan jarak ................................ 57Gambar 4.22. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal ....................... 58Gambar 4.23. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal ................................ 59Gambar 4.24. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal ....................... 60Gambar 4.25. Grafik kuat sinyal pada transmission rate 54 dengan 36 Mbps .. 60Gambar 4.26. Grafik throughput pada transmission rate 54 dengan 36 Mbps .. 61Gambar 4.27. Grafik delay pada transmission rate 54 dengan 36 Mbps .......... 61Gambar 4.28. Grafik packet loss pada transmission rate 54 dengan 36 Mbps .. 62Gambar 4.29. Grafik hubungan jarak dengan kuat sinyal ................................ 63Gambar 4.30. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal ....................... 64Gambar 4.31. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal ................................ 65Gambar 4.32. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal ....................... 66Gambar 4.33. Grafik kuat sinyal pada transmission rate 36 dengan 18 Mbps .. 67Gambar 4.34. Grafik throughput pada transmission rate 36 dengan 18 Mbps .. 67Gambar 4.35. Grafik delay pada transmission rate 36 dengan 18 Mbps .......... 68Gambar 4.36. Grafik packet loss pada transmission rate 36 dengan 18 Mbps .. 69Gambar 4.37. Grafik hubungan jarak dengan kuat sinyal ................................ 70Gambar 4.38. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal ....................... 71Gambar 4.39. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal ................................ 72Gambar 4.40. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal ....................... 73Gambar 4.41. Grafik kuat sinyal pada transmission rate 18 dengan 9 Mbps .... 74Gambar 4.42. Grafik throughput pada transmission rate 18 dengan 9 Mbps .... 74Gambar 4.43. Grafik delay pada transmission rate 18 dengan 9 Mbps ............ 75Gambar 4.44. Grafik packet loss pada transmission rate 18 dengan 9 Mbps .... 76Gambar 4.45. Grafik sinyal pada transmission rate yang berbeda ................... 77Gambar 4.46. Grafik throughput pada transmission rate yang berbeda ........... 77Gambar 4.47. Grafik delay pada transmission rate yang berbeda .................... 78Gambar 4.48. Grafik packet loss pada transmission rate yang berbeda ........... 79Gambar 4.49. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 10 .................... 81Gambar 4.50. Grafik delay, channel 10 dengan channel 10 ............................. 82Gambar 4.51. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 10 .................... 82Gambar 4.52. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 9 ...................... 84Gambar 4.53. Grafik delay, channel 10 dengan channel 9 ............................... 84Gambar 4.54. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 9 ...................... 85Gambar 4.55. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 8 ...................... 86Gambar 4.56. Grafik delay, channel 10 dengan channel 8 ............................... 87Gambar 4.57. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 8 ...................... 88Gambar 4.58. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 7 ...................... 89Gambar 4.59. Grafik delay, channel 10 dengan channel 7 ............................... 90Gambar 4.60. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 7 ...................... 90Gambar 4.61. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 6 ...................... 92Gambar 4.62. Grafik delay, channel 10 dengan channel 6 ............................... 92Gambar 4.63. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 6 ...................... 93Gambar 4.64. Grafik throughput pada masing-masing channel ....................... 94Gambar 4.65. Grafik delay pada masing-masing channel ................................ 94Gambar 4.66. Grafik packet loss pada masing-masing channel ....................... 95Gambar 4.67. Grafik pengaruh interferensi pada throughput ........................... 96Gambar 4.68. Grafik pengaruh interferensi pada delay .................................... 97Gambar 4.69. Grafik pengaruh interferensi pada packet loss ........................... 97Gambar 4.70. Pengaruh interferensi 2 dan 3 access point pada throughput...... 98Gambar 4.71. Pengaruh interferensi 2 dan 3 access point pada delay .............. 99Gambar 4.72. Pengaruh interferensi 2 dan 3 access point pada packet loss ...... 99Gambar 4.73. Alokasi frekuensi untuk 14 channel ........................................ 100Gambar 4.74. Penggunaan channel kembali .................................................. 101Gambar 4.75. Grafik throughput pada saat terjadi interferensi ...................... 102Gambar 4.76. Grafik delay pada saat terjadi interferensi ............................... 102Gambar 4.77. Grafik packet loss pada saat terjadi interferensi ....................... 103Gambar 4.78. Grafik throughput pada saat tidak terjadi interferensi .............. 104Gambar 4.79. Grafik delay pada saat tidak terjadi interferensi ....................... 104Gambar 4.80. Grafik packet loss pada saat tidak terjadi interferensi .............. 105

  

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Pembagian channel menurut ITU ................................................... 14Tabel 2.2. MTU untuk bermacam jenis jaringan .............................................. 16Tabel 2.3. Kebutuhan aplikasi terhadap parameter perfoma jaringan ............... 23Tabel 3.1. Spesifikasi adapter Intel WiFi Link 1000 BGN............................... 30Tabel 3.2. Spesifikasi access point Linksys WRT320N ................................... 31Tabel 4.1. Tabel pengukuran skenario 1 .......................................................... 44Tabel 4.2. Tabel pengukuran skenario 2, transmission rate 54 Mbps ............... 48Tabel 4.3. Tabel pengukuran skenario 2, transmission rate 36 Mbps ............... 56Tabel 4.4. Tabel pengukuran skenario 2, transmission rate 18 Mbps ............... 63Tabel 4.5. Tabel pengukuran skenario 2, transmission rate 9 Mbps ................. 69Tabel 4.6. Tabel prosentase penurunan throughput masing-masing jarak ........ 78Tabel 4.7. Tabel hubungan antara jarak dengan free space loss ....................... 80Tabel 4.8. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 10 .......................... 81Tabel 4.9. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 9 ............................ 83Tabel 4.10. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 8 .......................... 86Tabel 4.11. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 7 .......................... 89Tabel 4.12. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 6 .......................... 91Tabel 4.13. Tabel interferensi, 3 access point, semua channel 10 .................... 98Tabel 4.14. Tabel interferensi dengan MTU 1500 , 750 , 576 bytes ............... 101Tabel 4.15. Tabel pengaruh MTU pada saat tidak ada interferensi ................. 104

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi membawa kemajuan juga pada perangkat

  pertukaran data komputer yang terbatas tidak hanya melalui kabel, namun telah berkembang menjadi teknologi mobile seperti wireless. Wireless adalah teknologi tanpa kabel dalam hubungan telekomunikasi dengan menggunakan gelombang elektromagnetik sebagai media penghubungnya. Saat ini perkembangan teknologi wireless sedang berkembang pesat. Berbagai macam perangkat komunikasi seperti handphone dan laptop, telah dapat terkoneksi dengan internet secara mudah. Teknologi wireless sendiri bermacam-macam seperti infrared, bluetooth, radio frequency, GSM/CDMA, dan wireless LAN (802.11) [1].

  Tidak seperti jaringan kabel, jaringan wireless memiliki dua mode yang dapat digunakan : infrastruktur dan Ad-Hoc. Konfigurasi infrastruktur adalah komunikasi antar masing-masing komputer melalui sebuah access point pada wireless LAN atau LAN. Komunikasi Ad-Hoc adalah komunikasi secara langsung antara masing-masing komputer dengan menggunakan piranti wireless.

  Wireless LAN biasanya digunakan pada sektor lingkungan yang

  penggunanya selalu mobile atau berpindah-pindah tempat dan tidak ada jaringan kabel untuk penyaluran data. Wireless LAN menggunakan frekuensi 2,4 Ghz yang disebut juga dengan ISM band (Industrial,

  Scientific, Medical) yang dialokasi oleh FCC (Federal Communication Commission) , sebuah komisi komunikasi dunia untuk keperluan industri, sains dan badan kesehatan. Frekuensi ini bebas digunakan oleh siapa saja

  namun tidak boleh menggunakan pemancar berdaya tinggi. Tipe untuk standarisasi wireless LAN juga terbagi menjadi 802.11a, 802.11b, 802.11g dan 802.11n. Selain perbedaan dari segi maksimum transfer rate, juga terdapat perbedaan dari metode transmisi dan jangkauannya [2].

  Jaringan WLAN juga bekerja pada frekuensi 2,4 Ghz, sehingga rentan terhadap interferensi oleh perangkat lain yang berfrekuensi sama. Interferensi ini menyebabkan terjadinya noise. Terdapat berbagai macam

  noise menurut jenisnya yaitu thermal noise, induced noise, crosstalk, dan impulse noise [6]. Salah satu faktor lain yang penting dalam komunikasi wireless adalah sinyal. Kekuatan sinyal suatu perangkat wireless selain

  karena spesifikasinya, juga tergantung dari power dan jaraknya. Sinyal dan

  noise ini berada dalam frekuensi yang sama sehingga perlu dihitung

  perbandingan sinyal dengan noise dengan teori Shannon. Dalam teorema

  Shannon dikatakan bahwa apabila sinyal kurang akibat terganggu noise maka SNR (Signal to Noise Ratio) dalam hal ini tinggi [6].

  Jaringan wireless menggunakan protocol TCP/IP dimana model transmisi datanya dengan metode fragmentasi paket per paket atau IP

  fragmentation . Setiap paket yang ditransmisikan dibatasi ukurannya oleh MTU (Maximum Transfer Unit) . MTU standar untuk koneksi Ethernet

  100Mbps adalah 1500 bytes [7]. Dengan fragmentasi ini maka akan berpengaruh terhadap retransmit karena paket yang besar akan dipecah menjadi beberapa bagian sesuai MTU. Hal ini juga akan mempunyai konsekuensi masing-masing saat terjadi collision dan data hilang.

  Dalam penelitian akan diuji beberapa skenario berkaitan dengan sinyal terkait jarak antar perangkat wireless, perubahan MTU (Maximum dan interferensi/noise yang dialami, untuk mengetahui

  Transfer Unit)

  pengaruhnya terhadap parameter perfoma jaringan yaitu delay(latency), packet loss dan throughput.

  I.2 Rumusan Masalah

  Dari latar belakang dapat dirumuskan masalah yaitu : 1. Bagaimana mengetahui secara statistik pengaruh sinyal dari perangkat wireless terhadap delay, packet loss dan throughput ?

  2. Bagaimana mengetahui secara statistik pengaruh perubahan MTU terhadap delay, packet loss dan throughput ?

  3. Bagaimana mengetahui secara statistik pengaruh interferensi terhadap delay, packet loss dan throughput ?

  I.3 Tujuan

  Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah 1. Mengetahui pengaruh sinyal, perubahan MTU, dan interferensi dari perangkat wireless terhadap delay, packet loss dan throughput untuk mencapai hasil yang efisien.

  2. Merekomendasikan hal-hal yang mengindikasikan menyebabkan terjadinya delay, packet loss, dan throughput menjadi lebih baik dari hasil pengukuran.

  I.4 Batasan Masalah 1.

  Pengukuran dilakukan dengan perangkat wireless tipe 802.11g 2. Pengujian dilakukan dengan transfer file (FTP) 3. Parameter yang diukur adalah delay, packet loss dan throughput.

  I.5 Metodologi Penelitian

  Metodologi yang digunakan dalam pelaksanaan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

1. Studi literatur: a.

  Teori jaringan komputer dan wireless LAN (WLAN) b.

  Teori MTU (Maximum Transfer Unit) c. Teori sinyal dan noise d.

  Teori parameter perfoma jaringan e.

  Teori FTP(File Transfer Protocol) f. Teori Sniffing 2. Perencanaan skenario pengujian dan alat pengujian 3. Pengukuran dan pengumpulan data 4. Analisis data

I.6 Sistematika Penulisan

  BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang penulisan tugas akhir, rumusan masalah, metodologi penelitian dan sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini menjelaskan tentang teori yang berkaitan dengan judul/rumusan masalah ditugas akhir. BAB III PERANCANGAN Bab ini menjelaskan tentang spesifikasi alat yang digunakan dan perencanaan desain pengujian. BAB IV IMPLEMENTASI DAN ANALISIS Bab ini berisi tentang pelaksanaan pengujian dan hasil pengujian. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisi kesimpulan atas analisa dan saran berdasarkan hasil yang telah dilaksanakan.

BAB II LANDASAN TEORI II.1 Jaringan Komputer TCP/IP Banyaknya ketidakcocokan pada sistem komunikasi pada tahun

  1970, melandasi

  ISO (International Standarts Organization)

  mengembangkan model komunikasi LAN (Local Area Network) standar yang disebut OSI (Open System Interconnect) yang membagi proses komunikasi menjadi 7 lapisan/layer. Sedangkan untuk protokol TCP/IP layer presentation dan session tidak dipakai.

Gambar 2.1. 7 lapisan komunikasi data (OSI layer) dan TCP/IP [6]

  Pada Gambar 1 di atas terdapat 7 tingkatan layer yang masing-masing memiliki tugas yang berbeda-beda, yaitu :

  1. Physical Layer

  Fungsi : bertanggung jawab untuk mengaktifkan dan mengatur physical interface jaringan komputer. Contoh : hub dan repeater.

  2. Datalink Layer

  Fungsi : mengatur topologi jaringan, error notification dan flow control. Contoh : switch dan bridge.

  3. Network Layer

  Fungsi : meneruskan paket-paket data ke node-node berikutnya yang di tuju dalam suatu jaringan Contoh : router.

  4. Transport Layer Fungsi : bertangung jawab atas keutuhan dari transmisi data.

  Lapisan ini sangat penting karena bertugas memisahkan lapisan tingkat atas dengan lapisan tingkat bawah. Pada lapisan ini data diubah menjadi segmen atau data stream. Contoh : TCP, UDP 5.

   Session Layer

  Fungsi : membuka, mengatur dan menutup suatu session antara aplikasi-aplikasi. Contoh : OS dan penjadwalan suatu aplikasi 6.

   Presentation Layer

  Fungsi : bertangung jawab untuk merepresentasi grafik, enkripsi, type data dan visual image. Contoh : JPEG, GIF, ASCII, EBCDIC 7.

   Application Layer

  Fungsi : memberikan sarana-sarana pelayanan pada jaringan komputer untuk aplikasi-aplikasi pemakai dan mengadakan komunikasi dari program ke program. Contoh : Telnet, HTTP, FTP, WWW Browser, SMTP Gateway / Mail Client (outlook) .

  Layer-layer dan protokol yang terdapat dalam arsitektur jaringan

  TCP/IP menggambarkan fungsi-fungsi dalam komunikasi antara dua buah komputer. Setiap lapisan menerima data dari lapisan di atas atau dibawahnya, kemudian memproses data tersebut sesuai fungsi protokol yang dimilikinya dan meneruskannya ke lapisan berikutnya.

  Ketika dua komputer berkomunikasi, terjadi aliran data antara pengirim dan penerima melalui lapisan-lapisan di atas. Pada pengirim, aliran data adalah dari atas ke bawah. Data dari user maupun suatu aplikasi dikirimkan ke lapisan transport dalam bentuk paket-paket dengan panjang tertentu. Protokol menambahkan sejumlah bit pada setiap paket sebagai

  header yang berisi informasi mengenai urutan segmentasi untuk menjaga

  integritas data dan bit-bit pariti untuk deteksi dan koreksi kesalahan. Dari lapisan transport, data yang telah diberi header tersebut diteruskan ke lapisan Network / Internet. Pada lapisan ini terjadi penambahan header oleh protokol yang berisi informasi alamat tujuan, alamat pengirim dan informasi lain yang dibutuhkan untuk melakukan routing. Kemudian terjadi pengarahan routing data, yakni ke network dan interface yang mana data akan dikirimkan, jika terdapat lebih dari satu interface pada host. Pada lapisan ini juga dapat terjadi segmentasi data, karena panjang paket yang akan dikirimkan harus disesuaikan dengan kondisi media komunikasi pada network yang akan dilalui. Proses komunikasi data di atas dapat dijelaskan seperti pada gambar berikut ini :

Gambar 2.2. Proses enkapsulasi data [6] Selanjutnya data menuju network access layer (data link) dimana data akan diolah menjadi frame-frame, menambahkan informasi keandalan dan address pada level link. Protokol pada lapisan ini menyiapkan data dalam bentuk yang paling sesuai untuk dikirimkan melalui media komunikasi tertentu. Terakhir data akan sampai pada physical layer yang akan mengirimkan data dalam bentuk besaran-besaran listrik/fisik seperti tegangan, arus, gelombang radio maupun cahaya, sesuai media yang digunakan.

  Di bagian penerima, proses pengolahan data mirip seperti di atas hanya dalam urutan yang berlawanan (dari bawah ke atas). Sinyal yang diterima pada physical layer akan diubah dalam ke dalam data. Protokol akan memeriksa integritasnya dan jika tidak ditemukan error, header yang ditambahkan akan dilepas. Selanjutnya data diteruskan ke lapisan network. Pada lapisan ini, address tujuan dari paket data yang diterima akan diperiksa. Jika address tujuan merupakan address host yang bersangkutan, maka header lapisan network akan dicopot dan data akan diteruskan ke lapisan yang di atasnya. Namun jika tidak, data akan diteruskan ke

  network tujuannya, sesuai dengan informasi routing yang dimiliki. Pada

  lapisan transport, kebenaran data akan diperiksa kembali, menggunakan informasi header yang dikirimkan oleh pengirim. Jika tidak ada kesalahan, paket-paket data yang diterima akan disusun kembali sesuai urutannya pada saat akan dikirim dan diteruskan ke lapisan aplikasi pada penerima.

  Proses yang dilakukan tiap lapisan tersebut dikenal dengan istilah enkapsulasi data. Enkapsulasi ini sifatnya transparan. Maksudnya, suatu lapisan tidak perlu mengetahui ada berapa lapisan yang ada di atasnya maupun di bawahnya. Masing-masing hanya mengerjakan tugasnya. Pada pengirim, tugas ini adalah menerima data dari lapisan diatasnya, mengolah data tersebut sesuai dengan fungsi protokol, menambahkan header protokol dan meneruskan ke lapisan di bawahnya. Pada penerima, tugas ini adalah menerima data dari lapisan di bawahnya, mengolah data sesuai fungsi protokol, melepas header protokol tersebut dan meneruskan ke lapisan di atasnya.

  Internet Protocol (IP) berfungsi menyampaikan paket data ke

  alamat yang tepat. Oleh karena itu internet protocol memegang peranan yang sangat penting dari jaringan TCP/IP. Karena semua aplikasi jaringan

  TCP/IP pasti bertumpu kepada internet protocol agar dapat berjalan

  dengan baik. IP merupakan protokol pada network layer yang bersifat : 1.

  Connectionless Setiap paket data yang dikirim pada suatu saat akan melalui rute secara independen. Paket IP (datagram) akan melalui rute yang ditentukan oleh setiap router yang dilalui oleh datagram tersebut. Hal ini memungkinkan keseluruhan datagram tiba di tempat tujuan dalam urutan yang berbeda karena menempuh rute yang berbeda.

2. Unreliable

  Protokol internet tidak menjamin datagram yang dikirim pasti sampai ke tempat tujuan. Protokol internet hanya akan melakukan

  best effort delivery yakni melakukan usaha sebaik-baiknya agar paket yang dikirim tersebut sampai ke tujuan.

  Setiap protokol memiliki bit-bit ekstra diluar informasi/data yang dibawanya. Selain informasi, bit-bit ini juga berfungsi sebagai alat kontrol. Dari sisi efisiensi, semakin besar jumlah bit ekstra ini, maka semakin kecil efisiensi komunikasi yang berjalan. Sebaliknya semakin kecil jumlah bit ekstra ini, semakin tinggi efisiensi komunikasi yang berjalan. Disinilah dilakukan trade-off antara keandalan datagram dan efisiensi. Sebagai contoh, agar datagram IP dapat menemukan tujuannya, diperlukan informasi tambahan yang harus dicantumkan pada header. Struktur

  datagram protokol IP dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.3. Format IP datagram [7]

  Setiap paket IP membawa data yang terdiri atas : • Version, yaitu versi dari protokol IP yang dipakai.

  • Header Length, berisi panjang dari header paket IP dalam hitungan 32 bit word.
  • Type of Service, berisi kualitas service yang dapat mempengaruhi cara penanganan paket IP.
  • Packet length, panjang IP datagram total dalam ukuran byte.
  • Identifier. Identifier diperlukan untuk mengizinkan host tujuan menentukan datagram pemilik fragment yang baru datang. Semua fragment suatu datagram berisi nilai identification yang sama.
  • Flags diperlukan untuk menjaga agar fragment datagram tetap utuh

  (tidak terpotong-potong) dan memberikan tanda bahwa fragment datagram telah tiba.

  • Fragmentation Offset. Untuk memberitahukan diantara datagram mana yang ada pada saat itu yang memiliki fragment yang bersangkutan. Seluruh fragment kecuali yang terakhir di dalam datagram harus merupakan perkalian 8 byte, yaitu satuan fragment elementer. Karena tersedia 13 bit, maka terdapat nilai maksimum

  fragment per datagram, yang menghasilkan panjang datagram maksimum 65.536 byte dimana lebih besar dari panjang datagram IP .

  • Time to Live, berisi jumlah router/hop maksimal yang dilewati paket IP (datagram). Nilai maksimum field ini adalah 255. Setiap kali paket IP lewat satu router, isi dari field ini dikurangi satu. Jika

  TTL telah habis dan paket tetap belum sampai ke tujuan, paket ini

  akan dibuang dan router terakhir akan mengirimkan paket ICMP

  time exceeded. Hal ini dilakukan untuk mencegah paket IP terus menerus berada dalam network.

  • Protocol, mengandung angka yang mengidentifikasikan protokol layer atas pengguna isi data dari paket IP ini.
  • Header Checksum, berisi nilai checksum yang dihitung dari jumlah seluruh field dari header paket IP. Sebelum dikirimkan, protokol

  IP terlebih dahulu menghitung checksum dari header paket IP

  tersebut untuk nantinya dihitung kembali di sisi penerima. Jika terjadi perbedaan, maka paket ini dianggap rusak dan dibuang.

  • Source Address dan Destination Address, isi dari masing-masing field ini yakni alamat pengirim dan alamat penerima dari datagram. Masing-masing field terdiri dari 32 bit, sesuai panjang IP address yang digunakan dalam internet. Destination address merupakan

  field yang akan dibaca oleh setiap router untuk menentukan

  kemana paket IP tersebut akan diteruskan untuk mencapai destination address tersebut.

  • Options. Header datagram IP mempunyai panjang yang tetap yakni 20 byte. Sedangkan panjang header yang variabel adalah 40 byte. Oleh sebab itu header datagram IP berkisar antara 20 hingga 60

  byte . Panjang header variabel ini adalah options. Yang digunakan

  untuk kepentingan pengetesan dan debugging. Options mempunyai panjang yang dapat diubah-ubah. Masing-masing diawali dengan kode-kode bit yang mengindentifikasikan options. Sebagian

  options diikuti oleh field options yang panjangnya 1 byte, kemudian oleh satu atau lebih byte-byte data.

  Jaringan komputer merupakan suatu koleksi komputer-komputer terpisah yang berkomunikasi satu dengan lainnya memanfaatkan media komunikasi yang dipakai bersama-sama. LAN (Local Area Network) merupakan komunikasi sejumlah komputer di dalam suatu area terbatas, dimana satu komputer dengan komputer lain dapat terkoneksi melalui media kabel (wired) maupun tanpa kabel (wireless) [3]. WLAN (Wireless

  Local Area Network) telah banyak diterapkan seiring dengan

  perkembangan perangkat mobile device yang memungkinkan untuk tetap berkomunikasi dengan berpindah-pindah tempat. Terdapat tiga peran yang dapat dijalankan oleh komputer-komputer di dalam LAN. Peran pertama adalah menjadi client, hanya sebagai pengguna tetapi tidak menyediakan sumber daya jaringan untuk dipakai oleh anggota jaringan lain. Peran kedua adalah menjadi peer, menjadi client yang menggunakan sekaligus menyediakan sumber daya jaringan, disebut juga peer to peer. Peran ketiga adalah menjadi server yang menyediakan sumber daya jaringan.

II.2 Wireless Local Area Network (WLAN)

  WLAN adalah jaringan komputer yang menggunakan frekuensi radio dan infrared sebagai media transmisi data. WLAN sering disebut sebagai jaringan nirkabel atau wireless. Proses komunikasi tanpa kabel ini dimulai dengan munculnya alat-alat berbasis gelombang radio seperti,

  walkie talkie, remote control, cordless phone dan perangkat radio lainnya.

  Hal ini menyebabkan adanya keinginan untuk menjadikan komputer sebagai barang yang mudah dibawa (mobile) dan mudah digabungkan dengan jaringan yang sudah ada. Maka akhirnya muncul pengembangan teknologi wireless untuk jaringan komputer.

II.2.1 Standart 802.11a/b/g/n

  Pada tahun 1997, sebuah lembaga independen bernama IEEE membuat spesifikasi/standar WLAN pertama yang diberi kode 802.11. Peralatan yang sesuai standar 802.11 dapat bekerja pada frekuensi 2,4GHz, dan kecepatan transfer data (throughput) teoritis maksimal 2Mbps. Pada bulan Juli 1999, IEEE kembali mengeluarkan spesifikasi baru bernama 802.11b. Kecepatan transfer data teoritis maksimal yang dapat dicapai adalah 11 Mbps. Kecepatan transfer data sebesar ini sebanding dengan

  Ethernet tradisional (IEEE 802.3 10Mbps atau 10Base-T). Peralatan yang

  menggunakan standar 802.11b juga bekerja pada frekuensi 2,4Ghz. Salah satu kekurangan peralatan wireless yang bekerja pada frekuensi ini adalah kemungkinan terjadinya interferensi dengan cordless phone, microwave

  oven , atau peralatan lain yang menggunakan gelombang radio pada frekuensi sama.

  Pada saat hampir bersamaan, IEEE membuat spesifikasi 802.11a yang menggunakan teknik berbeda. Frekuensi yang digunakan 5Ghz, dan mendukung kecepatan transfer data teoritis maksimal sampai 54Mbps. Gelombang radio yang dipancarkan oleh peralatan 802.11a relatif sukar menembus dinding atau penghalang lainnya. Jarak jangkau gelombang radio relatif lebih pendek dibandingkan 802.11b. Secara teknis, 802.11b tidak kompatibel dengan 802.11a. Namun saat ini cukup banyak pabrik

  hardware yang membuat peralatan yang mendukung kedua standar tersebut.

  Pada tahun 2002, IEEE membuat spesifikasi baru yang dapat menggabungkan kelebihan 802.11b dan 802.11a. Spesifikasi yang diberi kode 802.11g ini bekerja pada frekuensi 2,4Ghz dengan kecepatan transfer data teoritis maksimal 54Mbps. Peralatan 802.11g kompatibel dengan 802.11b, sehingga dapat saling dipertukarkan. Misalkan saja sebuah komputer yang menggunakan kartu jaringan 802.11g dapat memanfaatkan

  access point 802.11b, dan sebaliknya. Channel yang dipakai untuk

  frekuensi 2,4GHz ini ada 11 channel untuk Indonesia dan Amerika yaitu :

  Channel Frequency (GHz) Range Channel Range 1 2.412 2.401-2.423 1-3 2 2.417 2.406-2.428 1-4 3 2.422 2.411-2.433 1-5 4 2.427 2.416-2.438 2-6 5 2.432 2.421-2.443 3-7 6 2.437 2.426-2.448 4-8 7 2.442 2.431-2.453 5-9 8 2.447 2.436-2.458 6-10 9 2.452 2.441-2.463 7-11 10 2.457 2.446-2.468 8-11 11 2.462 2.451-2.473 9-11 12 2.467 2.456-2.478 Not US 13 2.472 2.461-2.483 Not US 14 2.484 2.473-2.495 Not US

Tabel 2.1. Pembagian channel menurut ITU(International

  Telecomunications Union) [2]

II.2.2 Mode Jaringan WLAN

  Ad-Hoc merupakan mode jaringan WLAN yang sangat sederhana,

  karena pada ad-hoc ini tidak memerlukan access point agar host dapat saling berinteraksi. Setiap host cukup memiliki transmitter dan receiver

  wireless untuk berkomunikasi secara langsung satu sama lain. Kekurangan

  dari mode ini adalah komputer tidak bisa berkomunikasi dengan komputer pada jaringan yang menggunakan kabel. Selain itu, daerah jangkauan pada mode ini terbatas pada jarak antara kedua komputer tersebut.

  Pada mode infrastruktur access point berfungsi untuk melayani komunikasi utama pada jaringan wireless. Access point mentransmisikan data pada komputer dengan jangkauan tertentu pada suatu daerah. Penambahan dan pengaturan letak access point dapat memperluas jangkauan dari WLAN.

Gambar 2.4. Mode Ad-Hoc [7]Gambar 2.5. Mode infrastruktur [7]

II.3 MTU (Maximum Transfer Unit)

  Setiap lapisan protokol data link memiliki format frame-nya sendiri. Salah satu field frame tersebut didefinisikan dalam bentuk atau format ukuran maksimum untuk field data. Ketika datagram dibungkus

  (encapsulated) dalam sebuah frame, total ukuran datagram harus kurang

  dari ukuran maksimumnya. Hal ini disebabkan oleh persyaratan perangkat keras dan lunak yang digunakan di dalam jaringan. Pembatasan itu diatur oleh MTU (Maximum Transfer Unit). IP datagram yang membawa paket melebihi MTU akan difragmentasi/dipecah menjadi beberapa bagian, sehingga dapat memenuhi MTU.

Gambar 2.6. Paket MTU [5]

  Tabel di bawah ini menunjukkan ukuran MTU yang berbeda-beda pada setiap jenis protokol lapisan fisik.

Tabel 2.2. MTU untuk bermacam jenis jaringan [4] Setiap sebuah datagram yang difragmentasi akan memiliki header sendiri.

  Semakin banyak fragmentasi yang dilakukan terhadap datagram maka akan berpengaruh terhadap kinerja jaringan atau perfoma jaringan khususnya throughput. Throughput akan kecil karena banyak paket-paket yang ditransmisikan yang menyebabkan delay bertambah lama. Namun disisi lain hal ini memiliki keunggulan bila terjadi packet loss maka tidak seluruhnya data hilang karena masih ada data-data yang lain. Dalam beberapa aplikasi, packet loss yang kecil masih bisa ditolerir, tetapi ada juga aplikasi yang tidak mentolerir adanya packet loss. Sebuah datagram dapat difragmentasi beberapa kali sebelum mencapai tujuan akhirnya jika melewati banyak jenis jaringan fisik. Fragmen-fragmen ini dapat saja menempuh perjalanan atau rute yang berbeda-beda, jadi perakitan/reassembly terjadi di alamat tujuan akhir.

II.4 Sinyal dan Noise Sinyal terbagi menjadi 2 yaitu sinyal analog dan sinyal digital.

  Sinyal analog mengacu pada informasi kontinyu contohnya seperti jam analog dan suara manusia. Sinyal analog mempunyai level tak terhingga pada periode tertentu.

Gambar 2.7. Sinyal analog [6]

  Sedangkan sinyal digital mengacu pada informasi yang mempunyai keadaan diskret, contohnya jam digital dan data komputer. Sinyal digital memiliki nilai tertentu (0 atau 1) dengan perubahan nilai yang mendadak.

Gambar 2.8. Sinyal digital [6] Satuan untuk menunjukkan kuat sinyal yaitu decible (dB). Untuk mengukur kuat sinyal relatif antara dua titik yang berbeda dengan menggunakan rumus :

  P 1 (1) 10 log dB = 10 P 2 Dimana P adalah daya sinyal.[6]

  Gangguan transmisi disebabkan karena sinyal diawal media tidak sama dengan sinyal diakhir media sehingga terjadi ketidaksempurnaan. Dalam komunikasi wireless gangguan seperti ini sangat mungkin karena sinyal merambat melalui media udara. Ada 3 tipe gangguan yaitu atenuasi, distorsi dan noise [6]. Atenuasi disebabkan karena kehilangan energi akibat pentransmisian yang jauh. Distorsi disebabkan adanya perubahan bentuk sinyal karena perbedaan kecepatan perambatan yang mengakibatkan perbedaan fasa sehingga menyebabkan perubahan bentuk.

  Noise adalah bentuk gangguan dalam sebuah komunikasi atau semua

  sinyal yang tidak menjadi bagian dari input informasi. Tipe noise dibedakan menjadi thermal noise yang ditimbulkan oleh gerakan acak elektron di dalam kabel, induced noise yang ditimbulkan dari motor atau alat rumah tangga, crosstalk yang disebabkan oleh efek dari satu kabel ke kabel lain, dan impulse noise yang disebabkan oleh kilat.

Gambar 2.9. Sinyal yang terkena noise [6] Untuk mengetahui level antara sinyal dan noise dapat dipakai rumus SNR(Signal to Noise Ratio) yaitu : (2)

  Dapat diketahui nilai SNR dengan cara daya sinyal rata-rata dibagi dengan daya noise rata-rata. Apabila diketahui nilai SNR-nya tinggi maka berarti sinyal kurang akibat terganggu noise. SNR sering dinyatakan dalam satuan

  dB dengan rumus :

  (3) Apabila sinyal lebih tinggi daripada noise maka bentuk sinyalnya masih menyerupai aslinya. Tetapi apabila tinggi noise, bentuknya akan semakin menjauhi aslinya.

Gambar 2.10. Sinyal lebih tinggi dari noise [6]Gambar 2.11. Noise lebih tinggi dari sinyal [6]

  Kecepatan pengiriman data (data rate) tergantung dari beberapa faktor yaitu ketersediaan bandwidth, level sinyal dan kualitas kanal (level

  noise ). [6]

II.5 Parameter Perfoma Jaringan

  Kemampuan untuk memberikan prioritas yang berbeda untuk berbagai aplikasi, pengguna, atau aliran data, atau untuk menjamin tingkat kinerja tertentu ke aliran data berbeda-beda. Sebagai contoh, laju bit yang diperlukan, delay, jitter, probabilitas packet dropping dan / atau bit error

  rate (BER) dapat dijamin. Jaminan perfoma jaringan penting jika kapasitas

  jaringan tidak cukup, terutama untuk aplikasi streaming multimedia secara

  real-time seperti voice over IP, game online dan IP-TV, karena sering kali

  aplikasi-aplikasi ini memerlukan bit rate dan tidak memperbolehkan adanya delay, dan dalam jaringan di mana kapasitas resource-nya terbatas, misalnya dalam komunikasi data selular. Sebuah jaringan atau protokol yang mendukung perfoma jaringan dapat menyepakati sebuah kontrak

  traffic dengan software aplikasi dan kapasitas cadangan di node jaringan, misalnya saat sesi fase pembentukan.

  Beberapa alasan yang menyebabkan perfoma jaringan penting adalah :

  • Memberikan prioritas terhadap aplikasi-aplikasi yang kritis
  • Memaksimalkan penggunaan investasi jaringan
  • Meningkatkan performansi untuk aplikasi yang sensitif terhadap delay , seperti voice dan video.
  • Merespon perubahan aliran trafik yang ada di jaringan.

  Terdapat banyak hal yang bisa terjadi pada paket ketika ditransmisikan dari asal ke tujuan, yang mengakibatkan masalah-masalah dilihat dari sudut pandang pengirim atau penerima, dan sering disebut dengan parameter-parameter perfoma jaringan.

1. Throughput

  Yaitu kecepatan (rate) transfer data efektif, yang diukur dengan satuan bps (bit per second). Throughput merupakan jumlah total kedatangan paket yang sampai ke tujuan selama interval tertentu dibagi oleh durasi interval waktu tersebut. Ada juga yang disebut dengan goodput. Goodput merupakan kecepatan transfer yang berada antara aplikasi di pengirim ke aplikasi di penerima.

2. Packet Loss

  Parameter yang menunjukkan jumlah total paket yang hilang pada saat transmisi. Packet loss diukur dalam persen (%). Paket dapat hilang karena disebabkan oleh collision dan congestion pada jaringan. Hal ini berpengaruh pada semua aplikasi, karena

  retransmisi akan mengurangi efisiensi jaringan secara keseluruhan,

  meskipun bandwidth yang disediakan mencukupi. Bandwidth adalah lebar jalur yang dipakai untuk transmisi data atau kecepatan jaringan. Aplikasi yang berbeda membutuhkan bandwidth

  bandwidth yang berbeda juga. Secara umum perangkat jaringan

  memiliki buffer (tampungan sementara) untuk menampung data yang diterima. Jika terjadi congestion yang cukup lama, maka

  buffer akan penuh dan tidak bisa menampung data baru yang akan diterima, sehingga mengakibatkan paket selanjutnya hilang.

  Berdasarkan standar

  ITU-T X.642 (rekomendasi X.642 International Telecommunication Union ) ditentukan persentase packet loss untuk jaringan adalah

  • Good (0-1%)
  • Acceptable (1-5%)
  • Poor (5-10%) Secara sistematis packet loss dapat dihitung dengan cara :

  (4) Dimana, Pd = jumlah paket yang mengalami drop Ps = jumlah paket yang dikirim

  3. Packet Drop

  Packet drop berkaitan dengan antrian pada link. Jika ada paket

  datang pada suatu atrian yang sudah penuh, maka paket akan didrop/dibuang sesuai dengan jenis antrian yang dipakai.

  4. Delay (Latency)

  Delay adalah waktu yang dibutuhkan data untuk menempuh jarak

  dari asal sampai ke tujuan. Delay dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, congestion atau juga waktu proses yang lama. Selain itu adanya antrian atau mengambil rute lain untuk menghindari kemacetan juga dapat mempengaruhi delay, oleh karena itu mekanisme antrian dan routing juga berperan.

  5. Jitter

  Jitter didefinisikan sebagai variasi delay dari sebuah paket yang

  berasal dari aliran data yang sama. Jitter yang tinggi artinya perbedaan waktu delay-nya besar, sedangkan jitter yang rendah artinya perbedaan waktu delay-nya kecil. Jitter dapat diakibatkan oleh variasi-variasi panjang antrian, waktu pengolahan data, dan juga dalam waktu penghimpunan ulang (reasembly) paket-paket di akhir perjalanan.

  6. Reliability

  Realibility adalah karakteristik kehandalan sebuah aliran data

  dalam jaringan internet. Masing-masing program aplikasi memiliki kebutuhan realibility yang berbeda. Untuk proses pengiriman data, , dan pengaksesan internet jaringan internet harus dapat

  e-mail

  diandalkan dibandingkan dengan konferensi audio atau saluran telepon.

  7. Bandwidth

  Bandwith adalah lebar jalur yang dipakai untuk transmisi data atau

  kecepatan jaringan. Aplikasi yang berbeda membutuhkan bandwith yang berbeda. Dalam beberapa aplikasi, kebutuhan akan parameter perfoma jaringan di atas berbeda-beda. Adapun tabel untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan ini adalah :

Tabel 2.3. Kebutuhan aplikasi terhadap parameter perfoma jaringan [16]

  Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kebutuhan untuk e-mail sangat tinggi terhadap reliability, begitu juga dengan file transfer (FTP), namun rendah atau tidak sensitif terhadap delay, jitter dan bandwidth. Tetapi untuk aplikasi semacam audio/video, telephony dan videoconferencing sangat sensitif terhadap jitter sehingga tidak menjamin reliability data yang ditransmisikan.

II.6 FTP (File Transfer Protocol)

  FTP(File Transfer Protocol) merupakan salah satu aplikasi TCP/IP

  yang digunakan untuk mencopy atau memindahkan file yang ada disebuah komputer ke komputer lain. FTP mulai ada ada sejak perkembangan

  internet dan didefinisikan menggunakan RFC sebagai standarisasi. FTP

  menggunakan koneksi berbasis connection-oriented sehingga dari kedua sisi baik client ataupun server harus memiliki koneksi TCP/IP. FTP menggunakan 2 hubungan koneksi untuk melakukan transfer file.

1. Control Connection

  Metode ini dipakai pada hubungan client-server yang normal, artinya server membuka diri secara pasif pada sebuah port 21 selanjutnya server akan menunggu hubungan yang akan dilakukan oleh client. Client akan aktif untuk membuka port tersebut dan membangun control connection. Koneksi ini akan terus berlangsung selama client masih berkomunikasi dengan server.

  Client akan mengirimkan perintah-perintah ke server dan server akan merespon perintah tersebut.

  2. Data Connection Hubungan ini dibangun ketika file dikirim antara client-server yang bertujuan untuk memaksimalkan ukuran data yang ditransfer. Port yang digunakan untuk koneksi ini adalah port 20.

Gambar 2.12. Model hubungan FTP [5]

  Fasilitas-fasilitas yang disediakan FTP diantaranya adalah : 1. Interactive access Menyediakan fasilitas interaksi antara client dan server.

  2. Format specification Client dapat menentukan tipe dan format data.

  3. Authentification control Fasilitas ini digunakan untuk meminta autentifikasi dari client berupa username dan password.

II.7 Sniffing (Penyadapan)

  Sniffer berarti penyadap. Sniffer paket (penyadap paket) dikenal

  juga sebaga network analyzer atau ethernet sniffer, sebuah aplikasi yang digunakan untuk melihat lalu lintas data pada jaringan komputer baik kabel maupun wireless. Sedangkan kegiatan penyadapan ini disebut

  sniffing . Aktifitas sniffing dibagi menjadi 2 yaitu pasif dan aktif. Sniffing

  pasif melakukan penyadapan tanpa mengubah data atau paket apapun di jaringan, sedangkan sniffing aktif lebih bersifat memanipulasi data atau merubahnya. Sniffing pasif lebih mudah ditanggulangi dibanding sniffing aktif. [14] Sniffing aktif pada dasarnya dapat memodifikasi ARP (Address

  Resolution Protocol) sehingga paket data yang seharusnya ke alamat

  tujuan dapat dibelokkan terlebih dahulu ke komputer penyadap. Sniffer dapat digunakan antara lain untuk : a.

  Menangkap password clear atau nama login dari jaringan.

  b.

  Konversi data jaringan ke bentuk yang mudah dipahami manusia c. Perfomance analysis misalnya menemukan bottleneck dalam jaringan d.

  Fault analysis, menemukan kesalahan-kesalahan di dalam jaringan.

  Sniffer dapat berupa software atau hardware. Pada masa sekarang

  telah banyak software sniffer yang dapat digunakan untuk membantu proses penyadapan. Dalam tugas akhir ini akan digunakan sniffer Axence

  Net Tool untuk mengetahui bandwidth, packet loss dan mengidentifikasi

  paket-paket yang ada di jaringan, serta software Network Stumbler yang digunakan untuk mengetahui kuat sinyal, SNR, noise, dan channel

  wireless .

II.7.1 Axence Net Tool

  Software Axence Net Tool ini dibuat oleh Axence Sofware, Inc yang berfungsi untuk memonitor performansi jaringan dengan cepat. Axence Net Tool berbasis grafik (GUI) sehingga dapat mudah dipahami.

  Terdapat berbagai macam menu yang dapat digunakan untuk mengukur performansi jaringan.

  1. New Watch Menu ini menampilkan host yang dimonitor, response time dan paket yang dikirim maupun yang hilang. Terdapat juga grafik yang menunjukkan antara response time dan packet lost (%).

  2. Win Tool Untuk mengidentifikasi informasi tentang perangkat/device yang dimiliki suatu host.

  3. Local Info Menampilkan beberapa tabel informasi tentang konfigurasi jaringan seperti statistik TCP/UDP dan ICMP, IP address table, ARP table, IP routing table, dan informasi network adapter.

  4. Net Stat Menampilkan daftar koneksi yang masuk dan koneksi yang keluar, dan informasi tentang port-port TCP/UDP.

  5. Ping Melakukan pengecekan terhadap koneksi suatu host dengan proses ping.

  6. Trace Menunjukkan rute koneksi dan informasi yang dilakukan suatu host.

  7. Lookup Untuk mengetahui informasi tentang DNS (Domain Name Server) 8. Bandwidth Untuk mengetahui berapa bandwidth yang ada dijaringan.

  9. Net Check

  Untuk mengukur kualitas hardware yang ada di jaringan.

  10. TCP/IP Workshop Untuk melakukan troubleshooting terhadap koneksi TCP dan UDP serta melakukan tes terhadap layanan yang berbeda.

  11. Scan Host Melakukan scanning terhadap host yang berada di jaringan beserta port-port yang digunakan.

  12. Scan Network Melakukan scanning terhadap jaringan untuk menemukan IP address, nama host, MAC, service, system dan response time.

  13. SNMP Untuk melakukan pencarian informasi terhadap suatu host dengan memakai bantuan SNMP agent.

Gambar 2.13. Screenshoot software Axence Net Tool.

II.7.2 Network Stumbler

  Network Stumbler adalah salah satu software yang tidak asing lagi

  bagi orang-orang yang berhubungan dengan wireless. Tool ini digunakan untuk melakukan active snanning terhadap jaringan wireless yang berada di sekitar. Network Stumbler mampu memberikan banyak informasi dengan tampilan GUI yang sangat baik. Penggunaan software ini sangat mudah, namun tidak semua wireless card adapter men-support aplikasi ini. Software ini memiliki beberapa kemampuan untuk menampilkan informasi diantaranya channel yang digunakan, alamat MAC access point,

  vendor, jenis enkripsi (WEP/WPA), tipe jaringan, kuat sinyal, SNR dan noise. Network Stumbler juga menampilkan rasio antara kuat sinyal

  dengan noise dalam bentuk grafik.

Gambar 2.14. Screenshoot Network StumblerGambar 2.15. Grafik sinyal wireless pada Network Stumbler

II.7.3 DU Meter

  DU Meter merupakan sebuah software untuk mengukur kecepatan transfer data aktual atau throughput sebuah jaringan. Tanda anak panah ke

  bawah dengan warna merah menunjukkan transfer rate karena aktivitas

  download, sedangkan tanda anak panah ke atas dengan warna hijau menunjukkan transfer rate karena aktivitas upload.

Gambar 2.16. Grafik pengukuran menggunakan DU Meter

BAB III PERANCANGAN III.1 Spesifikasi Alat Dalam tugas akhir ini akan dilakukan pengujian terhadap beberapa skenario untuk mengetahui mengetahui kinerja jaringan wireless. Pengujian dilakukan dengan menggunakan perangkat sebagai berikut : 1. Adapter Intel WiFi Link 1000 BGN Adapter ini telah terpasang atau bawaan dari laptop. Laptop

  tersebut nantinya digunakan sebagai user yang melakukan transaksi data. Spesifikasi adapter Intel WiFi Link 1000 BGN adalah sebagai berikut : [17]

  Dimention PCIe mini card: 2.00 in x 1.18 in x 0.12 in (50.95 mm x 30.00 mm x 3.10 mm) Weight PCIe Mini Card: 5.25 g Receive Diversity On-board diversity support for systems designed with two antennas Radio ON/OFF

  Control Supported in both hardware and software LEDs output Link, Activity Operating Temperature 0 to +80° Celcius Operating Systems Microsoft Windows Vista 32/64-bit, Microsoft Windows XP 32/64-bit, Ubuntu Linux,

  Microsoft Windows 7 planned

  IEEE WLAN Standard

  IEEE 802.11b/g/Draft-N1, 802.11d, 802.11e,

802.11i

Architecture Infrastructure or ad hoc (peer-to-peer) Authentication WPA and WPA2, 802.1X (EAP-TLS, TTLS,

  PEAP, LEAP, EAP-FAST), EAP-SIM, EAP- AKA Encryption 64-bit and 128-bit WEP, AES-CCMP, CKIP, TKIP

Tabel 3.1. Spesifikasi adapter Intel WiFi Link 1000 BGN .Gambar 3.1. Adapter Intel WiFi Link 1000 BGN.

2. Access point Linksys WRT320N

  Access point ini digunakan pada sisi server untuk berkomunikasi

  dengan user. Perangkat ini dibuat oleh perusahaan ternama dibidang jaringan komputer yaitu CISCO. Adapun spesifikasinya adalah : [18]

  Dimensions 7.95" x 6.3" x 1.34" (202 x 160 x 34 mm) Weight 10.58 oz (0.30 kg) Power

  12V

Standards Draft 802.11n, 802.11a, 802.11g,

802.11b, 802.3, 802.3u, 802.3ab

Ports Power, Internet, and Ethernet

  

Buttons Reset, Wi-Fi Protected Setup

LEDs Ethernet (1-4), Wi-Fi Protected

Setup, Wireless, Internet, Power Cabling Type CAT 5e

  Operating Temp. 32 to 104°F (0 to 40°C) Security Features WEP, WPA, WPA2 Security Key Bits 128-Bit Tabel 3.2. Spesifikasi access point Linksys WRT320N.

Gambar 3.2. Access point Linksys WRT320N

III.2 Diagram Alir Desain Pengujian

  Pada pengujian perangkat wireless ini dibutuhkan suatu perencanaan yang tepat agar hasil yang didapat sesuai dengan yang diharapkan. Berikut ini adalah flowchart atau diagram alir pengujian :

  

Mulai

Penentuan Desain Jaringan Konfigurasi Sistem Transfer File (FTP)

  Pencatatan delay, packet loss & throughput melalui sniffer Berfungsi

  Tidak

  ?

  Ya

  Analisa data

Selesai

Gambar 3.3. Flowchart pengujian wireless.

  Pengujian nantinya akan dilakukan sebanyak 3 kali untuk masing-masing konfigurasi sampai didapatkan 3 data tersebut memiliki kemiripan. Pengambilan data tidak dilakukan menurut aturan pengambilan sampel pada statistika karena disamping proses pengujian akan memakan waktu yang lebih lama. Oleh karena itu data yang dipakai adalah rata-rata dari ketiga data tersebut yang memiliki kemiripan, misalnya dari segi

  throughput didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda.

III.3 Desain Sistem Jaringan

  Pada pengujian ini ditentukan mode jaringan yang dipakai pertama adalah Ad-Hoc, karena keunggulan tipe jaringan ini dibandingkan dengan mode infrastruktur yaitu [19] : • Penerapan yang sederhana.

  • Pelaksanaan sniffing dengan mudah dilakukan.
  • Rate throughput yang lebih cepat. Berdasarkan keunggulan dari jaringan Ad-Hoc di atas maka perlu dibuat dan direncanakan desain jaringan untuk proses pengujian. Dari sumber referensi yang didapat dalam pengukuran kinerja jaringan infrastruktur, pengujian unjuk kerja wireless haruslah menempatkan kedua perangkat yang berkomunikasi pada jarak yang sudah ditentukan. [20] Hal ini berhubungan dengan kuat sinyal yang didapatkan masing-masing perangkat. Maka dalam pengujian nanti akan diatur jarak antara komputer A dan komputer B agar memperoleh sinyal yang baik atau sinyal yang buruk. Untuk menentukan apakah sinyal yang diterima perangkat wireless baik atau tidak, dapat dilihat pada grafik bar sinyal yang ada di pojok kanan bawah pada sistem operasi Windows. Jika bar berjumlah 4/5 atau 5/5 maka sinyal yang diterima perangkat wireless dikatakan baik, tetapi jika siyal 1/5 atau 2/5 maka dikatakan sinyal yang diterima buruk. [21] Dalam pengujian juga akan dilakukan pengubahan MTU sebelum dilakukan transfer file. Untuk itu dilakukan perubahan dari nilai maksimum sebesar 1500 bytes ke nilai yang lebih kecil. [22] Adapun desain sistem jaringan wireless terbagi menjadi beberapa skenario.

  1. Skenario Pertama Gambar 3.4. Jaringan Ad-Hoc dengan 2 user.

  Keterangan : 2 buah laptop (1 dan 2) saling terhubung pada jaringan Ad-Hoc yang memiliki SSID sama misal “tugasku”. Akan diatur jarak antara kedua laptop dari jarak yang dekat sampai yang jauh yaitu pada jarak 1m, 2m, 4m, 16m, 32m, 64m, dan 128m. Untuk lebih spesifik berapa kuat sinyal yang didapatkan pada masing-masing jarak tersebut, maka diukur menggunakan Network Stumbler. Selanjutnya disetiap jarak yang ditentukan, laptop 1 dan laptop 2 akan saling melakukan transfer file dan akan dilakukan pengukuran.

  2. Skenario Kedua Gambar 3.5. Jaringan infrastruktur dengan 1 access point dan 1 user.

  Keterangan : Skenario ini menggunakan mode infrastruktur. Sebuah PC dekstop akan difungsikan sebagai server dimana sebuah laptop akan melakukan proses

  upload dan download. Laptop tersebut terhubung ke sebuah access point

  yang memiliki SSID “Linksys 1”. Jarak antara access point dan laptop diatur dari yang paling dekat sampai terjauh pada jarak tertentu yaitu pada jarak 1m, 2m, 4m, 16m, 32m, 64m, dan 128m. Pada jarak inilah transfer file dan pengukuran akan dilakukan.

  3. Skenario Ketiga Gambar 3.6. Jaringan infrastruktur dengan 2 access point dan 2 user.

  Keterangan : Skenario ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh interferensi antar perangkat wireless dalam hal ini adalah access point. Di sini ditempatkan 2

  PC dekstop, 2 access point, dan 2 laptop. Access point 1 terhubung ke PC dekstop 1 dan ke laptop 1 sedangkan access point 2 terhubung ke PC dekstop 2 dan laptop 2. Access point 1 menggunakan SSID “Linksys 1”

  dan access point 2 menggunakan SSID “Linksys 2”. Laptop 1 akan melakukan transfer file dengan PC dekstop 1 melalui access point 1, begitu juga dengan laptop 2 akan melakukan transfer file dengan PC

  dekstop 2 melalui access point 2. Access point 1 akan diatur agar bekerja

  pada channel 10, sedangkan access point 2 akan diatur berbeda-beda mulai dari channel 10, 9, 8, 7 dan 6.

Gambar 3.7. Jaringan infrastruktur dengan 3 access point dan 3 user. Keterangan : Skenario ini juga dilakukan untuk mengetahui pengaruh interferensi. Dari skenario 2, jika diketahui interferensi berpengaruh terhadap throughput,

  delay dan packet loss maka akan dilakukan skenario 3 ini dengan

  penambahan jumlah access point yaitu access point 3 dengan SSID “Linksys 3”. Dalam skenario ini hanya akan dilakukan pengujian 3 access

  point bekerja pada channel yang sama yaitu channel 10. Selanjutnya

  ketiga laptop akan melakukan transfer file secara bersama-sama dalam satu waktu.

4. Skenario Keempat

Gambar 3.8. Jaringan infrastruktur dengan 3 access point dan 3 user, terjadi pengaturan MTU. Keterangan : Skenario ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan MTU terhadap throughput, delay dan packet loss. Access point diatur agar bekerja pada MTU 1500 bytes, 750 bytes, dan 576 bytes. Pengukuran akan dilakukan ketika terjadi interferensi antara access point 1, access point 2, dan access point 3 pada saat pengiriman data. Akan diamati hubungan antara nilai MTU dengan throughput, delay dan packet loss-nya.

BAB IV IMPLEMENTASI DAN ANALISIS IV.1 Pembangunan Jaringan Ad-Hoc Hal pertama yang dilakukan untuk melakukan pengukuran adalah

  membangun jaringan ad-hoc tersebut. Untuk itu, perlu dilakukan pengaturan pada kedua buah laptop agar membentuk sebuah koneksi menggunakan mode ad-hoc. Adapun langkah-langkah pada sistem operasi

  Windows 7 adalah 1.

  Klik start contol panel network and internet network and sharing center.

2. Di menu sebelah kiri pilih manage wireless networks

Gambar 4.1. Capture screen halaman network and sharing center 3.

  Pilih add create an ad hoc network kemudian next 4. Isikan network name, security type dan security key. Check pada hide characters dan save this network. Kemudian klik next.

Gambar 4.2. Capture screen untuk pembuatan jaringan ad-hoc 5.

  Setelah berhasil klik close. Setelah mode ad-hoc dengan SSID “tugasku” berhasil dibentuk, dilakukan pengaturan alamat IP pada wireless adapter dengan cara :

  1. Klik start contol panel network and internet network and sharing center.

  2. Di menu sebelah kiri pilih change adapter settings

Gambar 4.3. Capture screen halaman network and sharing center

  3. Pada wireless network connection klik kanan lalu pilih properties.

  4. Klik pada internet protocol version 4 (TCP/IPv4) lalu klik properties .

  5. Pilih use the following ip address lalu isikan alamat IP private pada kolom ip address dan isikan subnet mask. Setelah itu klik ok.

Gambar 4.4. Capture screen untuk pengaturan ip address

  Pengaturan ip address ini juga dilakukan di komputer satunya dengan alamat yang berbeda misalnya 192.168.0.2. Setelah pengaturan berhasil dilakukan komputer tersebut tinggal melakukan koneksi dengan

  SSID “tugasku” yang telah dibuat oleh komputer sebelumnya. Jika kedua

  komputer telah terhubung dalam jaringan yang sama maka pada indikator

  toolbar yang ada di pojok kanan bawah akan menampilkan pemberitahuan “connected”.

  IV.2 Pembangunan Jaringan Infrastruktur

  IV.2.1 Konfigurasi Access Point Access point akan digunakan adalah Linksys WRT320N. IP address default untuk pengaturan access point ini adalah

  192.168.1.1, maka harus diatur terlebih dahulu ip dari PC dekstop yang akan terhubung ke access point. Nantinya laptop yang akan terhubung dengan access point ini juga harus diatur dengan ip satu

  network yang sama dengan access point. Setelah dilakukan

  pengaturan ip address PC dekstop seperti yang dilakukan ketika pembangunan jaringan ad-hoc tadi, selanjutnya ketik pada address

  bar browser, ip default dari access point yaitu 192.168.1.1. Maka

  akan muncul halaman login. Dalam hal ini username dan password

  default untuk masing vendor berbeda-beda. Untuk access point

  Linksys WRT320N ini, username diisi dengan “admin” dan

  password diisi dengan “admin”. Selanjutnya setelah login berhasil, akan muncul antarmuka untuk segala pengaturan access point.

Gambar 4.5. Capture screen halaman web, access point Linksys

  WRT320N

IV.3 Konfigurasi Transfer File

  Dalam skenario yang sudah disebutkan pada bab III, akan dilakukan transfer file dari laptop ke PC dekstop. Besar ukuran file yang akan digunakan dalam proses transfer adalah sebesar 37,5 MB. Maka dibutuhkan aplikasi untuk mempermudah proses transfer file yang disebut

  FTP client dan FTP server. FTP client berfungsi untuk melakukan request pada FTP server jika akan melakukan proses upload atau download.

  Sedangkan FTP server bertugas melayani permintaan dari client. Dalam pengukuran ini komputer akan diinstall aplikasi XAMPP yang didalamnya telah ada Filezilla server untuk menangani proses upload dan download. Adapun tampilan dari aplikasi ini adalah sebagai berikut

Gambar 4.6. Capture screen Filezilla dari XAMPP

  Dengan aplikasi ini dengan mudah dapat ditentukan folder atau drive mana yang akan digunakan untuk menempatkan file upload atau download.

Gambar 4.7. Capture screen pengaturan admin di Filezilla

  IV.4 Pengukuran dan Analisis

  IV.4.1 Pengukuran Skenario 1

  Dalam pengujian untuk mengetahui pengaruh kuat sinyal terhadap

  throughput, delay dan packet loss dengan mode jaringan ad-hoc

  didapatkan hasil seperti berikut :

  Jarak (m)

  1

  2

  4

  16 32 64 128 Sinyal (dBm) -35 -40 -44 -50 -60 -75 -89 Down (Mbps) 11.7 11.9 11.2 11.5 11.4 10.2 Up (Mbps)

  8.1

  8.1

  8

  6.8

  6.7

  5.6

  • Delay (s) 35.9 34.8 37 38.6 39.3 40.9 Loss (%) 0 100

Tabel 4.1. Tabel pengukuran skenario 1Gambar 4.8. Grafik hubungan kuat sinyal dengan jarak

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa terjadi pelemahan sinyal yang diakibatkan bertambahnya jarak antar perangkat. Prosentase pelemahan kuat sinyal dari jarak 1 meter ke 2 meter adalah sebesar 6,66%, untuk jarak 2 meter ke 4 meter mengalami pelemahan sebesar 4,76%, untuk jarak 4 meter ke 16 meter mengalami pelemahan sebesar 6,38%, untuk jarak 16 meter ke 32 meter mengalami pelemahan sebesar 9,09%, untuk jarak 32 meter ke 64 meter mengalami pelemahan sebesar 11,11%, dan untuk jarak 64 meter ke 128 meter terjadi pelemahan sebesar 8,53%. Pelemahan terbesar terjadi pada jarak 32 meter ke 64 meter. Dari hasil tersebut pelemahan kuat sinyal cenderung mengalami pola yang tetap atau bertingkat.

Gambar 4.9. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui prosentase peningkatan throughput pada saat kuat sinyal dari -35dBm menjadi -40dBm sebesar 0,50%, pada saat kuat sinyal -40dBm menjadi -44dBm terjadi penurunan sebesar 2,04%, pada saat kuat sinyal -44dBm menjadi -50dBm terjadi penurunan sebesar 2,4%, pada saat kuat sinyal -50dBm menjadi -60dBm terjadi penurunan sebesar 0,54%, pada saat kuat sinyal -60dBm menjadi -75dBm terjadi penurunan sebesar 6,78%, dan pada saat kuat sinyal -75dBm menjadi -89dBm terjadi pelemahan sebesar 100% dikarenakan antar perangkat sudah tidak dapat terhubung lagi. Penurunan yang cukup besar akibat penambahan jarak terjadi ketika kuat sinyal -75dBm yaitu pada jarak 64 meter. Dari sini dapat disimpulkan dugaan bahwa pada jarak 64 meter jaringan adhoc akan mengalami penurunan

  throughput yang cukup besar. Sedangkan untuk jarak 1 meter

  sampai 4 meter cenderung memiliki throughput yang hampir sama sehingga dapat dikatakan untuk jarak 1 meter sampai dengan 4 meter, jaringan adhoc belum terpengaruh adanya penurunan kuat sinyal.

Gambar 4.10. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran delay diketahui prosentase penurunan delay sebesar 0,27% pada kuat sinyal -35dBm ke -40dBm yang artinya semakin bagus apabila delay semakin kecil. Untuk kuat sinyal - 40dBm ke -44dBm terjadi peningkatan sebesar 1,78%, untuk kuat sinyal -44dBm ke -50dBm terjadi peningkatan sebesar 2,11%, untuk kuat sinyal -50dBm ke -60dBm terjadi peningkatan sebesar 0,89%, untuk kuat sinyal -60dBm ke -75dBm terjadi peningkatan sebesar 1,99%, dan untuk kuat sinyal -89dBm karena antar perangkat tidak dapat terkoneksi lagi maka pengukuran delay tidak dapat dilakukan. Dari hasil pengukuran delay dapat disimpulkan bahwa nilai delay selalu dipengaruhi oleh nilai throughput. Bila nilai throughput semakin besar maka nilai delay akan semakin kecil, namun apabila nilai throughput kecil maka nilai delay akan semakin besar.

Gambar 4.11. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran packet loss diketahui bahwa packet loss hanya terjadi pada kuat sinyal -89dBm yang dikarenakan perangkat sudah tidak dapat terhubung kembali. Maka dengan melihat hasil throughput, delay dan packet loss di atas, dapat disimpulkan bahwa jaringan adhoc bekerja secara optimal pada jarak antara 1 meter sampai dengan 32 meter dan dengan menurunnya kuat sinyal yang didapatkan kedua perangkat maka akan menurunkan juga kualitas throughput-nya.

IV.4.2 Pengukuran Skenario 2

  Dalam pengujian untuk mengetahui pengaruh kuat sinyal terhadap

  throughput, delay dan packet loss dengan mode jaringan

  infrastruktur didapatkan hasil seperti berikut :

  • Transmission Rate 54 Mbps Jarak (m)

  1

  2

  4

  16 32 64 128 Sinyal (dBm) -23 -23 -24 -30 -41 -48 -67 Down (Mbps) 12 11.7 11.5

  9.2

  7.1

  6

  4.3 Up (Mbps)

  8.4

  8.9

  7.8

  6.6

  6.2

  5.4

  2.1 Delay (s) 35.4 34.1 36.7 42.1 53.1 65.3 95.4 Loss (%)

  1 Tabel 4.2. Tabel pengukuran skenario 2, transmission rate 54 Mbps

Gambar 4.12. Grafik hubungan kuat sinyal dengan jarak

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa tidak terjadi pelemahan kuat sinyal dari jarak 1 meter ke 2 meter, namun untuk jarak 2 meter ke 4 meter mengalami pelemahan sebesar 2,12%, untuk jarak 4 meter ke 16 meter mengalami pelemahan sebesar 11,11%, untuk jarak 16 meter ke 32 meter mengalami pelemahan sebesar 15,49%, untuk jarak 32 meter ke 64 meter mengalami pelemahan sebesar 7,86%, dan untuk jarak 64 meter ke 128 meter terjadi pelemahan sebesar 16,52%. Pelemahan terbesar terjadi pada jarak 64 meter ke

  128 meter. Jika melihat pola grafik di atas diketahui bahwa untuk jarak 1 meter sampai 4 meter hampir tidak ada pelemahan yang cukup besar dikarenakan daya yang dipancarkan access point masih sangat kuat. Barulah pada jarak 16 meter sampai 128 meter terlihat pengaruh dari jarak terhadap kuat sinyal.

Gambar 4.13. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa untuk sinyal pada jarak 1 meter dan 2 meter sebesar -23dBm, terjadi peningkatan prosentase

  throughput sebesar 0,48%. Untuk kuat sinyal -23dBm ke -24dBm

  terjadi penurunan sebesar 3,25%, untuk kuat sinyal -24dBm ke - 30dBm terjadi penurunan sebesar 9,97%, untuk kuat sinyal -30dBm ke -41dBm terjadi penurunan sebesar 8,59%, untuk kuat sinyal - 41dBm ke -48dBm terjadi penurunan sebesar 7,69%, dan untuk kuat sinyal -48dBm ke -67dBm terjadi penurunan sebesar 28,08%.

  Pada jarak antara 64 meter sampai 128 meter inilah penurunan

  throughput terjadi cukup besar. Sedangkan untuk jarak 1 meter

  sampai 4 meter jika dilihat dari sisi download-nya tidak jauh berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa untuk jarak 1 meter sampai 4 meter belum ada penurunan yang berarti pada jaringan infrastruktur dengan transmission rate 54 Mbps. Namun ketika jarak semakin jauh yaitu antara 16 meter sampai 128 meter penurunan throughput semakin terlihat.

Gambar 4.14. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui prosentase delay dengan melemahnya kuat sinyal. Untuk kuat sinyal yang sama yaitu - 23dBm terjadi penurunan delay sebesar 1,87%, untuk kuat sinyal - 23dBm ke -24dBm terjadi kenaikan sebesar 3,67%, untuk kuat sinyal -24dBm ke -30dBm terjadi kenaikan sebesar 6,85%, untuk kuat sinyal -30dBm ke -41dBm terjadi kenaikan sebesar 11,55%, untuk kuat sinyal -41dBm ke -48dBm terjadi kenaikan sebesar 10,3%, dan untuk kuat sinyal -48dBm ke -67dBm terjadi kenaikan sebesar 18,73%. Seperti hasil throughput di atas bahwa pada jarak antara 64 meter sampai 128 meter, delay juga mengalami kenaikan yang paling besar. Sehingga semakin kecil throughput yang didapatkan maka delay untuk transmission rate 54 Mbps akan semakin besar.

Gambar 4.15. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal

  Berdasarkan hasil pengukuran diketahui packet loss terjadi pada jarak 128 meter dengan kuat sinyal sebesar -67dBm. Hal ini mengindikasikan bahwa pada jarak 128 meter, jaringan infrastruktur mulai rentan terjadi packet loss. Walaupun bila dilihat dari grafik nilai packet loss masih kecil yaitu sebesar 1%.

  Perbandingan hasil pengukuran pada AdHoc dan infrastruktur

Gambar 4.16. Grafik perbandingan kuat sinyal mode adhoc dengan infrastruktur Dari grafik di atas dapat diketahui prosentase selisih kuat sinyal antara adhoc dengan infrastruktur yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 20,68%, pada jarak 2 meter sebesar 26,98%, pada jarak 4 meter sebesar 29,41%, pada jarak 16 meter sebesar 25%, pada jarak 32 meter sebesar 18,81%, pada jarak 64 meter sebesar 21,95%, dan pada jarak 128 meter sebesar 14,10%. Selisih paling tinggi terjadi pada jarak 4 meter. Jika diamati grafik di atas mempunyai kesamaan pola yaitu menunjukkan pelemahan sinyal secara bertingkat. Namun yang berbeda adalah nilai pelemahan atau perolehan kuat sinyal pada jaringan infrastruktur lebih baik daripada adhoc. Pada jaringan infrastruktur jarak 1 meter sampai 4 meter masih menunjukkan kuat sinyal yang hampir sama, berbeda dengan adhoc yang mulai terlihat menunjukkan pelemahan. Hal ini mengindikasikan bahwa daya pancar sinyal dari access point pada jaringan infrastruktur lebih besar sehingga jarak jangkauannya lebih jauh.

Gambar 4.17. Grafik perbandingan throughput mode adhoc dengan infrastruktur Dari hasil perbandingan di atas didapatkan prosentase selisih

  throughput masing-masing jarak antara adhoc dengan infrastruktur

  yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 1,49%, pada jarak 2 meter sebesar 1,47%, pada jarak 4 meter sebesar 0,25%, pada jarak 16 meter sebesar 7,33%, pada jarak 32 meter sebesar 15,28%, pada jarak 64 meter sebesar 16,17%, dan karena pada jarak 128 meter sudah tidak terjadi koneksi pada jaringan adhoc maka tidak dapat dibandingkan. Selisih paling tinggi terjadi pada jarak 64 meter. Jika dilihat secara keseluruhan baik adhoc atau infrastruktur cenderung menurun throughput-nya seiring dengan bertambahnya jarak. Hal ini dikarenakan oleh redaman, misalnya udara dan benda-benda penghalang sinyal lainnya [23]. Sehingga daya pancar dari perangkat mengalami atenuasi (pelemahan). Dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4.18. Pelemahan di media transmisi.

  (5) P1 merupakan daya awal yang dimiliki saat transmisi dimulai dan P2 adalah daya yang diterima ketika paket selesai ditransmisikan. Besar atenuasi (dB) yang terjadi selama transmisi dapat dihitung menurut rumus di atas.

  Dari grafik di atas diketahui bahwa untuk jarak 1 meter sampai dengan 4 meter, throughput yang dihasilkan pada jaringan adhoc dan infrastruktur hampir sama, dalam hal ini infrastruktur lebih unggul sedikit. Namun jika dilihat pada jarak 16 meter sampai dengan 64 meter, perbedaan throughput antara jaringan adhoc dengan infrastruktur sangat jelas terlihat. Dalam hal ini throughput pada adhoc lebih unggul. Sehingga secara keseluruhan throughput pada jaringan adhoc lebih baik dari jaringan infrastruktur. Hal ini dikarenakan proses terjadinya koneksi pada jaringan adhoc lebih sederhana daripada jaringan infrastruktur namun kelemahan yang dimiliki adhoc yaitu tidak dapat menangani pengguna yang banyak. [2]. Dari grafik juga diketahui bahwa baik adhoc atau infrastruktur tidak dapat mencapai throughput maximum yaitu 54 Mbps. Maksimal yang didapatkan hanya 20,6 Mbps. Hal ini memang sudah sesuai dengan teori yang mengatakan maksimum yang didapat secara nyata hanya 24,4 Mbps [24].

Gambar 4.19. Grafik perbandingan delay mode adhoc dengan infrastruktur

  Dari hasil perbandingan di atas didapatkan prosentase selisih delay masing-masing jarak antara adhoc dengan infrastruktur yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 0,7%, pada jarak 2 meter sebesar 2,29%, pada jarak 4 meter sebesar 0,4%, pada jarak 16 meter sebesar 4,33%, pada jarak 32 meter sebesar 14,93%, pada jarak 64 meter sebesar 22,97%, dan karena pada jarak 128 meter sudah tidak terjadi koneksi pada jaringan adhoc maka tidak dapat dibandingkan. Selisih paling tinggi terjadi pada jarak 64 meter. Pada grafik delay di atas dapat diketahui bahwa delay yang terjadi pada jaringan adhoc secara keseluruhan lebih kecil dari jaringan infrastruktur. Hal ini cocok bila dilihat dari perolehan throughput masing-masing jaringan bahwa untuk jarak 1 meter sampai dengan 64 meter, secara keseluruhan jaringan adhoc lebih unggul.

Gambar 4.20. Grafik perbandingan packet loss mode adhoc dengan infrastruktur

  Grafik di atas menunjukkan bahwa packet loss terjadi hanya pada jarak 128 meter untuk jaringan adhoc dan infrastruktur. Yang membedakan adalah pada jarak ini packet loss dari adhoc sebesar 100% artinya kehilangan semua paket yang ditransmisikan, hal ini dikarenakan sudah tidak dapat terkoneksi lagi antar perangkat, sedangkan untuk infrastruktur packet loss yang terjadi sebesar 1%.

  Pada jarak ini access point masih dapat terhubung dengan perangkat. Namun dapat diperoleh indikasi bahwa pada jarak 128 meter ini jaringan infrastruktur mulai rentan terjadi packet loss. Dari grafik-grafik perbandingan hasil pengukuran antara mode

  adhoc dengan infrastruktur diketahui bahwa untuk masing-masing jarak, sinyal yang didapatkan mode infrastruktur lebih kuat.

  Sedangkan pada perbandingan throughput, rata-rata throughput pada mode adhoc lebih besar daripada mode infrastruktur. Hal ini menunjukkan bahwa throughput pada mode adhoc lebih cepat dari infrastruktur, sesuai dengan teori [19]. Maka untuk parameter

  delay, mode adhoc juga lebih kecil daripada infrastruktur. Untuk packet loss, mode infrastruktur lebih baik dari adhoc karena jarak

  jangkaunya yang lebih jauh sehingga pada jarak 128 meter masih dapat terkoneksi. Dari perbandingan antara adhoc dengan infrastruktur diperoleh rekomendasi bilamana jumlah pemakai sama-sama 1 laptop dan jarak perangkat dekat maka yang paling baik adalah memakai mode adhoc, namun apabila jarak perangkat jauh atau lebih dari 64 meter dan jumlah penggunannya banyak maka yang paling baik adalah menggunakan mode infrastruktur [2].

  • Transmission Rate 36 Mbps Jarak (m)

  1

  2

  4

  16 32 64 128 Sinyal (dBm) -24 -23 -23 -32 -45 -50 -62 Down (Mbps) 10 10.5 10.1

  8.8

  6.1

  4.1

  3.3 Up (Mbps)

  7.8

  7.5

  7

  6.3

  5.2

  3.6

  2.1 Delay (s) 39.3 38.8 40.1 42.5 65.4 87.3 120 Loss (%)

  1

  2 Tabel 4.3. Tabel pengukuran skenario 2, transmission rate 36 Mbps

Gambar 4.21. Grafik hubungan kuat sinyal dengan jarak

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa terjadi penguatan kuat sinyal dari jarak 1 meter ke 2 meter sebesar 2,12%, untuk jarak 2 meter ke 4 meter mengalami kuat sinyal yang sama, untuk jarak 4 meter ke 16 meter mengalami pelemahan sebesar 16,36%, untuk jarak 16 meter ke 32 meter mengalami pelemahan sebesar 16,88%, untuk jarak 32 meter ke 64 meter mengalami pelemahan sebesar 5,26%, dan untuk jarak 64 meter ke 128 meter terjadi pelemahan sebesar 10,71%. Pelemahan terbesar terjadi pada jarak 16 meter ke 32 meter. Jika melihat pola grafik di atas diketahui bahwa untuk jarak 1 meter sampai 4 meter hampir tidak ada perubahan yang cukup besar dikarenakan daya yang dipancarkan access point masih sangat kuat. Barulah pada jarak 16 meter sampai 128 meter terlihat pengaruh dari jarak terhadap kuat sinyal.

Gambar 4.22. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa untuk sinyal pada jarak 1 meter dan 2 meter sebesar -24dBm ke -23dBm, terjadi peningkatan prosentase throughput sebesar 0,55%. Untuk kuat sinyal -23dBm ke -23dBm pada jarak 2 meter ke 4 meter terjadi penurunan sebesar 2,56%, untuk kuat sinyal -23dBm ke -30dBm pada jarak 4 meter ke 16 meter terjadi penurunan sebesar 6,21%, untuk kuat sinyal - 32dBm ke -45dBm terjadi penurunan sebesar 14,39%, untuk kuat sinyal -45dBm ke -50dBm terjadi penurunan sebesar 18,94%, dan untuk kuat sinyal -50dBm ke -62dBm terjadi penurunan sebesar 17,55%. Pada jarak antara 32 meter sampai 64 meter inilah penurunan throughput terjadi cukup besar. Sedangkan untuk jarak 1 meter sampai 4 meter throughput-nya tidak jauh berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa untuk jarak 1 meter sampai 4 meter belum ada perubahan dari adanya pengaruh hubungan kuat sinyal dan

  throughput pada jaringan infrastruktur dengan transmission rate 36 Mbps . Namun ketika jarak semakin jauh yaitu antara 32 meter

  sampai 128 meter penurunan throughput semakin terlihat.

Gambar 4.23. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui prosentase delay dengan kuat sinyal adalah untuk kuat sinyal -24dBm ke -23dBm terjadi penurunan delay sebesar 0,64%, untuk kuat sinyal -23dBm ke - 23dBm terjadi kenaikan sebesar 1,64%, untuk kuat sinyal -23dBm ke -32dBm terjadi kenaikan sebesar 2,9%, untuk kuat sinyal - 32dBm ke -45dBm terjadi kenaikan sebesar 21,22%, untuk kuat sinyal -45dBm ke -50dBm terjadi kenaikan sebesar 14,34%, dan untuk kuat sinyal -50dBm ke -62dBm terjadi kenaikan sebesar 15,77%. Seperti hasil throughput bahwa pada jarak antara 32 meter sampai 128 meter, delay juga mengalami kenaikan yang cukup besar. Sehingga semakin kecil throughput yang didapatkan maka delay untuk transmission rate 36 Mbps akan semakin besar.

Gambar 4.24. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal

  Berdasarkan hasil pengukuran diketahui packet loss terjadi pada jarak 64 meter dan 128 meter dengan kuat sinyal sebesar -50dBm dan -62dBm. Hal ini mengindikasikan bahwa jika transmission rate diturunkan maka akan membuat perolehan throughput menjadi kecil. Bila dihitung prosentase selisih dari packet loss yang didapat pada jarak 64 meter dan 128 meter yaitu sebesar 33,33%.

  transmission rate 54 Mbps Perbandingan hasil pengukuran dengan

36 Mbps pada mode infrastruktur

Gambar 4.25. Grafik perbandingan kuat sinyal pada transmission

  rate 54 Mbps dengan 36 Mbps

Gambar 4.26. Grafik perbandingan throughput pada transmission

  rate 54 Mbps dengan 36 Mbps

  Dari hasil perbandingan di atas didapatkan prosentase selisih

  throughput masing-masing jarak antara transmission rate 54 Mbps

  dengan 36 Mbps yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 6,8%, pada jarak 2 meter sebesar 6,73%, pada jarak 4 meter sebesar 6,04%, pada jarak 16 meter sebesar 2,26%, pada jarak 32 meter sebesar 8,13%, pada jarak 64 meter sebesar 19,37%, dan pada jarak 128 meter sebesar 8,47%. Selisih paling tinggi terjadi pada jarak 64 meter.

Gambar 4.27. Grafik perbandingan delay pada transmission rate 54

  Mbps dengan 36 Mbps Dari hasil perbandingan di atas didapatkan prosentase selisih delay masing-masing jarak antara transmission rate 54 Mbps dengan 36

  Mbps yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 5,22%, pada jarak 2 meter

  sebesar 6,44%, pada jarak 4 meter sebesar 4,42%, pada jarak 16 meter sebesar 0,47%, pada jarak 32 meter sebesar 10,37%, pada jarak 64 meter sebesar 14,41%, dan pada jarak 128 meter sebesar 11,42%. Selisih paling tinggi terjadi pada jarak 64 meter sama seperti pada perbandingan throughput.

Gambar 4.28. Grafik perbandingan packet loss pada transmission

  rate 54 Mbps dengan 36 Mbps

  Berdasarkan perbandingan hasil pengukuran antara transmission

  rate 54 Mbps dengan 36 Mbps diketahui bahwa ketika transmission rate diatur menjadi 36 Mbps, throughput yang

  didapatkan lebih kecil dari transmission rate 54 Mbps, sehingga

  delay pada transmission rate 36 Mbps juga lebih besar. Sedangkan

  untuk packet loss pada transmission rate 36 Mbps, jarak 64 meter mengalami packet loss, sedangkan untuk transmission rate 54

  Mbps jarak ini tidak mengalami packet loss.

  • Transmission Rate 18 Mbps Jarak (m)

  1

  2

  4

  16

  32 64 128 Sinyal (dBm) -24 -24 -24 -32 -40 -48 -67 Down (Mbps)

  7.8

  8

  7.5

  6.2

  5

  3.8

  2.6 Up (Mbps)

  5.3

  5.1

  5.2

  4.5

  4.1

  3.1

  1.9 Delay (s) 50.4 50.8 58.7 73.9 80.3 94.5 165.3 Loss (%)

  2 Tabel 4.4. Tabel pengukuran skenario 2, transmission rate 18 Mbps

Gambar 4.29. Grafik hubungan jarak dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa tidak terjadi perubahan kuat sinyal -24dBm dari jarak 1 meter ke 2 meter, begitu juga untuk jarak 2 meter ke 4 meter, untuk jarak 4 meter ke 16 meter mengalami pelemahan sebesar 14,28%, untuk jarak 16 meter ke 32 meter mengalami pelemahan sebesar 11,11%, untuk jarak 32 meter ke 64 meter mengalami pelemahan sebesar 9,09%, dan untuk jarak 64 meter ke 128 meter terjadi pelemahan sebesar 16,52%. Pelemahan terbesar terjadi pada jarak 64 meter ke 128 meter. Jika melihat pola grafik di atas diketahui bahwa untuk jarak 1 meter sampai 4 meter hampir tidak ada pelemahan yang cukup besar dikarenakan daya yang dipancarkan access point masih sangat kuat. Barulah pada jarak 16 meter sampai 128 meter terlihat pengaruh dari jarak terhadap kuat sinyal.

Gambar 4.30. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa untuk sinyal pada jarak 1 meter dan 2 meter, tidak terjadi perubahan prosentase throughput. Untuk kuat sinyal -24dBm pada jarak 2 meter ke 4 meter terjadi penurunan sebesar 1,55%, untuk kuat sinyal -24dBm ke -32dBm pada jarak 4 meter ke 16 meter terjadi penurunan sebesar 8,54%, untuk kuat sinyal -32dBm ke -40dBm terjadi penurunan sebesar 8,08%, untuk kuat sinyal -40dBm ke -48dBm terjadi penurunan sebesar 13,75%, dan untuk kuat sinyal -48dBm ke -67dBm terjadi penurunan sebesar 21,05%. Pada jarak antara 16 meter sampai 128 meter inilah penurunan throughput terjadi cukup besar. Sedangkan untuk jarak 1 meter sampai 4 meter throughput-nya tidak jauh berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa untuk jarak 1 meter sampai 4 meter belum ada perubahan dari adanya pengaruh hubungan kuat sinyal dan throughput pada jaringan infrastruktur dengan transmission rate 18 Mbps. Namun ketika jarak semakin jauh yaitu antara 16 meter sampai 128 meter penurunan throughput semakin terlihat.

Gambar 4.31. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui prosentase delay dengan kuat sinyal adalah untuk kuat sinyal -24dBm pada jarak 1 meter ke 2 meter terjadi kenaikan delay sebesar 0,39%, untuk kuat sinyal - 24dBm pada jarak 2 meter ke 4 meter terjadi kenaikan sebesar 7,21%, untuk kuat sinyal -24dBm ke -32dBm terjadi kenaikan sebesar 11,46%, untuk kuat sinyal -32dBm ke -40dBm terjadi kenaikan sebesar 4,15%, untuk kuat sinyal -40dBm ke -48dBm terjadi kenaikan sebesar 8,12%, dan untuk kuat sinyal -48dBm ke - 67dBm terjadi kenaikan sebesar 27,25%. Seperti hasil throughput bahwa pada jarak antara 4 meter sampai 16 meter dan 64 meter sampai 128 meter, delay juga mengalami kenaikan yang cukup besar. Sehingga semakin kecil throughput yang didapatkan maka

  delay untuk transmission rate 18 Mbps akan semakin besar.

Gambar 4.32. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal

  Berdasarkan hasil pengukuran diketahui packet loss terjadi pada jarak 128 meter dengan kuat sinyal sebesar -67dBm. Packet loss yang terjadi sebesar 2%. Hal ini mengindikasikan bahwa pada

  transmission rate 18 Mbps, jarak 128 meter masih memungkinkan terjadinya packet loss.

  Perbandingan hasil pengukuran transmission rate 36 Mbps dengan

18 Mbps pada mode infrastruktur

Gambar 4.33. Grafik perbandingan kuat sinyal pada transmission

  rate 36 Mbps dengan 18 Mbps

Gambar 4.34. Grafik perbandingan throughput pada transmission

  rate 36 Mbps dengan 18 Mbps Dari hasil perbandingan di atas didapatkan prosentase selisih

  throughput masing-masing jarak antara transmission rate 36 Mbps

  dengan 18 Mbps yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 15,21%, pada jarak 2 meter sebesar 15,75%, pada jarak 4 meter sebesar 14,76%, pada jarak 16 meter sebesar 17,05%, pada jarak 32 meter sebesar 10,78%, pada jarak 64 meter sebesar 5,47%, dan pada jarak 128 meter sebesar 9,09%. Mulai dari jarak 1 meter sampai 16 meter terjadi selisih yang cukup besar. Sedangkan untuk jarak 32 meter sampai 128 meter, selisih throughput semakin kecil.

Gambar 4.35. Grafik perbandingan delay pada transmission rate 36

  Mbps dengan 18 Mbps

  Dari hasil perbandingan di atas didapatkan prosentase selisih delay masing-masing jarak antara transmission rate 36 Mbps dengan 18

  Mbps yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 12,37%, pada jarak 2 meter

  sebesar 13,39%, pada jarak 4 meter sebesar 18,82%, pada jarak 16 meter sebesar 26,97%, pada jarak 32 meter sebesar 10,22%, pada jarak 64 meter sebesar 3,96%, dan pada jarak 128 meter sebesar 15,87%. Selisih paling tinggi terjadi pada jarak 16 meter sama seperti pada perbandingan throughput.

Gambar 4.36. Grafik perbandingan packet loss pada transmission

  rate 36 Mbps dengan 18 Mbps

  Berdasarkan perbandingan hasil pengukuran antara transmission

  rate 36 Mbps dengan 18 Mbps diketahui bahwa ketika transmission rate diatur menjadi 18 Mbps, throughput yang

  didapatkan semakin kecil dari transmission rate 36 Mbps, sehingga secara keseluruhan delay pada transmission rate 18 Mbps juga lebih besar. Sedangkan untuk packet loss pada transmission rate 36

  Mbps , jarak 64 meter mengalami packet loss, sedangkan untuk transmission rate 18 Mbps jarak ini tidak mengalami packet loss.

  • Transmission Rate 9 Mbps Jarak (m)

  1

  2

  4

  16

  32 64 128 Sinyal (dBm) -23 -23 -24 -35 -45 -54 -64 Down (Mbps)

  5.2

  5.2

  5

  3.2 2.3 1.8 0.974 Up (Mbps)

  3.5

  3.7

  3.2

  2.1 1.8 1.3 0.762 Delay (s) 84 83.7 85.6 128.2 170.4 190.1 412.8 Loss (%)

  1

  2

  2 Tabel 4.5. Tabel pengukuran skenario 2, transmission rate 9 Mbps

Gambar 4.37. Grafik hubungan jarak dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa tidak terjadi perubahan kuat sinyal -23dBm dari jarak 1 meter ke 2 meter, untuk jarak 2 meter ke 4 meter terjadi pelemahan sebesar 2,12%, untuk jarak 4 meter ke 16 meter mengalami pelemahan sebesar 18,64%, untuk jarak 16 meter ke 32 meter mengalami pelemahan sebesar 12,5%, untuk jarak 32 meter ke 64 meter mengalami pelemahan sebesar 9,09%, dan untuk jarak 64 meter ke 128 meter terjadi pelemahan sebesar 8,47%. Pelemahan terbesar terjadi pada jarak 4 meter ke 16 meter. Jika melihat pola grafik di atas diketahui bahwa untuk jarak 1 meter sampai 4 meter hampir tidak ada pelemahan yang cukup besar dikarenakan daya yang dipancarkan access point masih sangat kuat. Barulah pada jarak 16 meter sampai 128 meter terlihat pengaruh dari jarak terhadap kuat sinyal.

Gambar 4.38. Grafik hubungan throughput dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui bahwa untuk sinyal pada jarak 1 meter dan 2 meter yaitu sebesar -23dBm, terjadi peningkatan prosentase throughput sebesar 1,13%. Untuk kuat sinyal -23dBm dan -24dBm pada jarak 2 meter ke 4 meter terjadi penurunan sebesar 4,09%, untuk kuat sinyal -24dBm ke -35dBm pada jarak 4 meter ke 16 meter terjadi penurunan sebesar 21,48%, untuk kuat sinyal -35dBm ke -45dBm terjadi penurunan sebesar 12,76%, untuk kuat sinyal -45dBm ke -54dBm terjadi penurunan sebesar 13,88%, dan untuk kuat sinyal -54dBm ke -64dBm terjadi penurunan sebesar 28,2%. Pada jarak antara 16 meter sampai 128 meter inilah penurunan throughput terjadi cukup besar. Sedangkan untuk jarak 1 meter sampai 4 meter throughput-nya tidak jauh berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa untuk jarak 1 meter sampai 4 meter belum ada perubahan dari adanya pengaruh hubungan kuat sinyal dan throughput pada jaringan infrastruktur dengan transmission rate 9 Mbps. Namun ketika jarak semakin jauh yaitu antara 16 meter sampai 128 meter penurunan throughput semakin terlihat.

Gambar 4.39. Grafik hubungan delay dengan kuat sinyal

  Dari hasil pengukuran diketahui prosentase delay dengan kuat sinyal adalah untuk kuat sinyal -23dBm pada jarak 1 meter ke 2 meter terjadi penurunan delay sebesar 0,17%, untuk kuat sinyal - 23dBm dan -24dBm pada jarak 2 meter ke 4 meter terjadi kenaikan sebesar 1,12%, untuk kuat sinyal -24dBm ke -35dBm terjadi kenaikan sebesar 19,92%, untuk kuat sinyal -35dBm ke -45dBm terjadi kenaikan sebesar 14,13%, untuk kuat sinyal -45dBm ke - 54dBm terjadi kenaikan sebesar 5,46%, dan untuk kuat sinyal - 54dBm ke -64dBm terjadi kenaikan sebesar 36,93%. Seperti hasil

  throughput bahwa pada jarak antara 4 meter sampai 16 meter dan

  64 meter sampai 128 meter, delay juga mengalami kenaikan yang cukup besar. Sehingga semakin kecil throughput yang didapatkan maka delay untuk transmission rate 9 Mbps akan semakin besar.

Gambar 4.40. Grafik hubungan packet loss dengan kuat sinyal

  Berdasarkan hasil pengukuran diketahui packet loss terjadi pada jarak 128 meter dengan kuat sinyal sebesar -67dBm, jarak 64 meter dengan kuat sinyal -54dBm, dan jarak 32 meter dengan kuat sinyal

  • 45dBm. Selisih prosentase packet loss yang terjadi pada jarak 32 meter ke 64 meter adalah sebesar 33,33% dan pada jarak 64 meter ke 128 meter sebesar 0% karena perolehan yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa pada transmission rate 9 Mbps, jarak 32 meter, 64 meter, dan 128 meter masih memungkinkan terjadinya packet loss.

  Perbandingan hasil pengukuran transmission rate 18 Mbps dengan

9 Mbps pada mode infrastruktur

Gambar 4.41. Grafik perbandingan kuat sinyal pada transmission

  rate 18 Mbps dengan 9 Mbps

Gambar 4.42. Grafik perbandingan throughput pada transmission

  rate 18 Mbps dengan 9 Mbps Dari hasil perbandingan di atas didapatkan prosentase selisih

  throughput masing-masing jarak antara transmission rate 18 Mbps

  dengan 9 Mbps yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 20,18%, pada jarak 2 meter sebesar 19,09%, pada jarak 4 meter sebesar 21,53%, pada jarak 16 meter sebesar 33,75%, pada jarak 32 meter sebesar 37,87%, pada jarak 64 meter sebesar 38%, dan pada jarak 128 meter sebesar 44,32%. Mulai dari jarak 16 meter sampai 128 meter terjadi selisih yang cukup besar. Sedangkan untuk jarak 1 meter sampai 4 meter, selisih throughput lebih kecil.

Gambar 4.43. Grafik perbandingan delay pada transmission rate 18

  Mbps dengan 9 Mbps

  Dari hasil perbandingan di atas didapatkan prosentase selisih delay masing-masing jarak antara transmission rate 18 Mbps dengan 9

  Mbps yaitu untuk jarak 1 meter sebesar 25%%, pada jarak 2 meter

  sebesar 24,46%, pada jarak 4 meter sebesar 18,64%, pada jarak 16 meter sebesar 26,86%, pada jarak 32 meter sebesar 35,93%, pada jarak 64 meter sebesar 33,59%, dan pada jarak 128 meter sebesar 42,81%. Selisih paling tinggi terjadi pada jarak 128 meter sama seperti pada perbandingan throughput.

Gambar 4.44. Grafik perbandingan packet loss pada transmission

  rate 18 Mbps dengan 9 Mbps

  Berdasarkan perbandingan hasil pengukuran antara transmission

  rate 18 Mbps dengan 9 Mbps diketahui bahwa ketika transmission rate diatur menjadi 9 Mbps, throughput yang didapatkan semakin

  kecil dari transmission rate 18 Mbps, sehingga delay pada

  transmission rate 9 Mbps juga lebih besar. Sedangkan untuk packet loss pada transmission rate 9 Mbps, jarak 32 meter, 64 meter dan

  128 meter mengalami packet loss, sedangkan untuk transmission rate 18 Mbps, packet loss hanya terjadi pada jarak 128 meter. Prosentase selisih packet loss pada jarak 32 meter ke 64 meter sebesar 33,33%, sedangkan untuk jarak 64 meter ke 128 meter mengalami jumlah packet loss yang sama.

  Perbandingan sinyal, throughput, delay, dan packet loss pada beberapa transmission rate yang berbeda.

Gambar 4.45. Grafik perbandingan sinyal pada transmission rate yang berbedaGambar 4.46. Grafik perbandingan throughput pada transmission

  rate yang berbeda Dari grafik di atas dapat dibuat tabel prosentase penurunan

  

throughput untuk masing-masing jarak, seperti berikut ini :

  Jarak (m)

  1

  2

  4

  16

  32 64 128 Rate 54 ke 36 6.80% 6.73% 6.04% 2.26% 8.13% 19.37% 8.47% Rate 36 ke 18 15.21% 15.75% 14.76% 17.05% 10.78% 5.47% 9.09% Rate 18 ke 9 20.18% 19.09% 21.53% 33.75% 37.87% 38% 44.32%

Tabel 4.6. Tabel prosentase penurunan throughput untuk masing- masing jarak

  Diketahui dari tabel bahwa penurunan throughput terbesar terjadi pada jarak 128 meter yaitu sebesar 44,32%, pada transmission rate

18 Mbps ke 9 Mbps. Maka dari grafik perbandingan throughput di

  atas dapat disimpulkan secara sederhana bahwa perubahan

  transmission rate yang semakin kecil mengindikasikan throughput menjadi kecil.

Gambar 4.47. Grafik perbandingan delay pada transmission rate yang berbeda Melihat grafik perbandingan delay di atas, diperoleh hubungan antara throughput dengan delay. Ketika throughput yang terjadi semakin kecil, maka delay yang terjadi adalah semakin besar, namun ketika throughput yang terjadi semakin besar, maka delay yang terjadi adalah semakin kecil. Maka hubungan antara

throughput dengan delay adalah berbanding terbalik.

Gambar 4.48. Grafik perbandingan packet loss pada transmission

  rate yang berbeda

  Dari grafik perbandingan packet loss di atas, diketahui bahwa untuk transmission rate 54 Mbps, 36 Mbps, 18 Mbps, dan 9 Mbps terjadi packet loss ketika kedua perangkat berada pada jarak 128 meter. Selain faktor kuat sinyal, pengubahan transmission rate yang semakin kecil juga mengindikasikan akan menyebabkan

  packet loss pada jarak tertentu seperti dapat dilihat pada grafik,

  pada transmission rate 9 Mbps terjadi packet loss pada jarak 32 meter, 64 meter dan 128 meter. Hal ini lebih buruk bila dibandingkan pada transmission rate 18 Mbps dan 54 Mbps, packet

  loss hanya terjadi pada jarak 128 meter, serta transmission rate 36

  Mbps yang terjadi pada jarak 64 meter dan 128 meter saja. Dari

  pengujian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan yang mengindikasikan bahwa kuat sinyal berpengaruh terhadap

  throughput, delay, dan packet loss. Hal ini dikarenakan adanya

  redaman pada media transmisi yaitu udara [23], sehingga dengan pengukuran kuat sinyal tanpa penghalang atau Line Of Sight (LOS) maka untuk jarak yang semakin jauh diperoleh kualitas parameter perfoma jaringan tersebut semakin menurun. Menurut teori yang ada, besarnya redaman dapat dihitung dengan formula Free Space Loss yaitu :

  (6) FSL (dB) = 32.5 + 20 log (D) + 20 log (F)

  Dimana D adalah jarak dalam kilometer (km) dan F adalah frekwensi kerja dalam Mhz [26]. Jika dihitung menurut formula di atas diketahui besarnya redaman untuk jarak yang telah ditentukan yaitu :

  Jarak (meter) Free Space Loss (dB)

  1

  40.1

  2

  46.1

  4

  52.1

  16

  64.2

  32

  70.2

  64

  76.2 128

  82.2 Tabel 4.7. Tabel hubungan antara jarak dengan free space loss

IV.4.3 Pengukuran Skenario 3

  Dalam pengujian untuk mengetahui pengaruh interferensi terhadap

  throughput, delay dan packet loss dengan mode jaringan

  infrastruktur didapatkan hasil seperti berikut :

  • Channel 10 dengan channel 10

  Mode G-only trans.rate (Mbps) auto

  54

  36

  18

  9 Down (Mbps) 2.8 0.966

  1.1

  3.1

  2.5 Up (Mbps) 1.6 0.978

  1.1

  3.1

  2.5 delay (s) 178 346.9 302.8 107.3 134.2 packet loss (%)

  4

  4 Tabel 4.8. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 10

Gambar 4.49. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 10

  Pada grafik di atas diketahui bahwa pada interferensi yang sama di

  channel 10, throughput pada transmission rate 54 Mbps dan 36 Mbps lebih kecil daripada transmission rate yang lain. Prosentase

  selisih nilai throughput terendah pada transmission rate 54 Mbps dengan throughput tertinggi pada transmission rate 18 Mbps adalah sebesar 16,98%.

Gambar 4.50. Grafik delay, channel 10 dengan channel 10

  Pada grafik delay di atas, untuk interferensi pada channel 10 dengan channel 10, delay yang didapat pada transmission rate 54

  Mbps dan 36 Mbps lebih besar dari transmission rate yang lain.

  Prosentase selisih antara delay terbesar pada transmission rate 54

  Mbps dengan delay terkecil pada transmission rate 18 Mbps adalah sebesar 52,75%.

Gambar 4.51. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 10 Dari grafik di atas dapat diketahui packet loss terjadi hanya pada

  transmission rate 54 Mbps dan 36 Mbps saja. Packet loss pada

  kedua transmission rate ini mempunyai nilai yang sama yaitu di

  transmission rate 54 Mbps sebesar 4% dan packet loss di transmission rate 36 Mbps juga sebesar 4%.

  Dari hasil pengukuran, disimpulkan bahwa untuk interferensi di

  channel 10 dengan channel 10 pada transmission rate 54 Mbps,

  mengindikasikan penurunan throughput yang lebih besar dibandingkan dengan throughput pada transmisiion rate yang lebih kecil. Begitu juga dengan delay pada transmission rate 54 Mbps mengindikasikan kenaikan yang lebih besar dibandingkan dengan

  delay pada transmission rate yang lebih kecil. Sedangkan dari hasil

  pengukuran diketahui transmission rate 54 Mbps dan 36 Mbps mengindikasikan akan terjadinya banyak packet loss.

  • Channel 10 dengan channel 9

  Mode G-only trans.rate (Mbps) auto

  54

  36

  18

  9 Down (Mbps)

  3.1

  1.2

  1.5

  3.5

  3.2 Up (Mbps)

  1.8

  1.2

  1.3

  3.1

  2.9 delay (s) 167.4 293.7 270 105.2 111.7 packet loss (%)

  1

  6

  2 Tabel 4.9. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 9

Gambar 4.52. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 9

  Pada grafik di atas diketahui bahwa pada interferensi di channel 10 dengan channel 9, throughput pada transmission rate 54 Mbps dan

  36 Mbps masih lebih kecil daripada transmission rate yang lain.

  Prosentase selisih nilai throughput terendah pada transmission rate

  54 Mbps dengan throughput tertinggi pada transmission rate 18 adalah sebesar 46,66%. Mbps

Gambar 4.53. Grafik delay, channel 10 dengan channel 9 Pada grafik delay di atas, untuk interferensi pada channel 10 dengan channel 9, delay yang didapat pada transmission rate 54

  Mbps dan 36 Mbps masih lebih besar dari transmission rate yang

  lain. Prosentase selisih antara delay terbesar pada transmission rate

54 Mbps dengan delay terkecil pada transmission rate 18 Mbps adalah sebesar 47,25%.

Gambar 4.54. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 9

  Dari grafik di atas dapat diketahui packet loss masih terjadi hanya pada transmission rate 54 Mbps dan 36 Mbps saja. Packet loss di

  transmission rate

  54 Mbps sebesar 6% dan packet loss di

  transmission rate 36 Mbps juga sebesar 2%. Ada kenaikan packet loss pada transmission rate 54 Mbps bila dibandingkan dengan saat

  interferensi channel 10 dengan channel 10. Sedangkan untuk

  packet loss ditransmission rate 36 Mbps mengalami penurunan bila

  dibandingkan dengan saat interferensi channel 10 dengan channel 10. Dari hasil pengukuran, disimpulkan bahwa untuk interferensi di

  channel 10 dengan channel 9 pada transmission rate 54 Mbps,

  mengindikasikan penurunan throughput yang lebih besar dibandingkan dengan throughput pada transmisiion rate yang lebih kecil. Begitu juga dengan delay pada transmission rate 54 Mbps mengindikasikan kenaikan yang lebih besar dibandingkan dengan

  delay pada transmission rate yang lebih kecil. Sedangkan dari hasil

  pengukuran diketahui transmission rate 54 Mbps dan 36 Mbps masih mengindikasikan akan terjadinya banyak packet loss.

  • Channel 10 dengan channel 8

  Mode G-only trans.rate (Mbps) auto

  54

  36

  18

  9 Down (Mbps)

  4.1

  2.2

  2.6

  4.4

  4.6 Up (Mbps)

  3.7

  3.5

  3.5

  3.1

  2.4 delay (s) 87.3 117.1 101.9

  90.5

  93.4 packet loss (%)

  2 Tabel 4.10. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 8

Gambar 4.55. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 8

  Pada grafik di atas diketahui bahwa pada interferensi di channel 10 dengan channel 8, throughput pada transmission rate 54 Mbps dan

36 Mbps masih lebih kecil daripada transmission rate yang lain.

  Namun ada peningkatan bila dibandingkan pada saat terjadi interferensi dichannel 10 dengan channel 10 dan channel 10 dengan channel 9. Prosentase selisih nilai throughput terendah pada transmission rate 54 Mbps dengan throughput tertinggi pada transmission rate auto adalah sebesar 15,55%.

Gambar 4.56. Grafik delay, channel 10 dengan channel 8

  Pada grafik delay di atas, untuk interferensi pada channel 10 dengan channel 8, delay yang didapat pada transmission rate 54

  Mbps dan 36 Mbps masih lebih besar dari transmission rate yang

  lain. Prosentase selisih antara delay terbesar pada transmission rate

54 Mbps dengan delay terkecil pada transmission rate auto adalah sebesar 14,57%.

Gambar 4.57. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 8

  Dari grafik di atas dapat diketahui packet loss masih terjadi tetapi hanya pada transmission rate 54 Mbps saja. Packet loss di

  transmission rate

  54 Mbps sebesar 2%. Ada penurunan packet loss pada transmission rate 54 Mbps bila dibandingkan dengan saat interferensi channel 10 dengan channel 9. Sedangkan untuk packet

  loss

  ditransmission rate 36 Mbps juga mengalami penurunan dengan tidak adanya packet loss bila dibandingkan dengan saat interferensi channel 10 dengan channel 9. Dari hasil pengukuran, disimpulkan bahwa untuk interferensi di

  channel 10 dengan channel 8 pada transmission rate 54 Mbps dan

36 Mbps, mengindikasikan adanya peningkatan throughput. Begitu

  juga dengan delay pada transmission rate 54 Mbps dan 36 Mbps mengindikasikan adanya penurunan. Semua itu bila dibandingkan dengan hasil pengukuran pada interferensi dichannel 10 dengan

  channel 9. Sedangkan dari hasil pengukuran diketahui transmission rate 54 Mbps masih mengindikasikan akan terjadinya packet loss.

  • Channel 10 dengan channel 7

  Mode G-only trans.rate (Mbps) auto

  54

  36

  18

  9 Down (Mbps)

  4.7

  5.8

  5.5

  4.8

  4.2 Up (Mbps)

  4.2

  4.7

  4.3

  3.6

  3.1 delay (s)

  83.9

  76.1

  80.7

  85.2

  90 packet loss (%)

Tabel 4.11. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 7Gambar 4.58. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 7

  Pada grafik di atas diketahui bahwa pada interferensi di channel 10 dengan channel 7, throughput pada transmission rate 54 Mbps dan

  36 Mbps mengalami peningkatan sehingga lebih tinggi daripada transmission rate yang lain. Sedangkan bila dibandingkan dengan

  hasil pengukuran interferensi pada channel 10 dengan channel 8,

  throughput dari transmission rate 18 Mbps dan 9 Mbps mengalami

  penurunan. Prosentase selisih nilai throughput terendah pada

  transmission rate 9 Mbps dengan throughput tertinggi pada

transmission rate 54 Mbps adalah sebesar 17,97%.

Gambar 4.59. Grafik delay, channel 10 dengan channel 7

  Pada grafik delay di atas, untuk interferensi pada channel 10 dengan channel 7, delay yang didapat pada transmission rate 54

  Mbps dan 36 Mbps mengalami penurunan sehingga lebih kecil dari transmission rate yang lain. Sedangkan bila dibandingkan dengan

  hasil pengukuran interferensi pada channel 10 dengan channel 8,

  delay dari transmission rate 18 Mbps dan 9 Mbps mengalami

  peningkatan. Prosentase selisih antara delay terbesar pada

  transmission rate 9 Mbps dengan delay terkecil pada transmission rate 54 Mbps adalah sebesar 8,36%.

Gambar 4.60. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 7 Dari grafik di atas dapat diketahui packet loss sudah tidak terjadi. Hasil ini lebih baik bila dibandingkan dengan saat interferensi channel 10 dengan channel 8.

  Dari hasil pengukuran, disimpulkan bahwa untuk interferensi di

  channel 10 dengan channel 7 pada transmission rate 54 Mbps dan

  36 Mbps, mengindikasikan adanya peningkatan throughput. Begitu

  juga dengan delay pada transmission rate 54 Mbps dan 36 Mbps mengindikasikan adanya penurunan. Namun untuk throughput pada transmission rate 18 Mbps dan 9 Mbps mengindikasikan adanya penurunan serta delay pada transmission rate 18 Mbps dan

  9 Mbps mengindikasikan adanya kenaikan. Semua itu bila

  dibandingkan dengan hasil pengukuran pada interferensi dichannel

  10 dengan channel 8. Sedangkan dari hasil pengukuran diketahui

  semua transmission rate mengindikasikan tidak terjadinya packet loss.

  • Channel 10 dengan channel 6

  Mode G-only trans.rate (Mbps) auto

  54

  36

  18

  9 Down (Mbps)

  10.7

  9.5

  7.8

  6.3

  5 Up (Mbps)

  5.2

  4.6

  3.9

  3.1

  2.4 delay (s)

  45.4

  49

  64.5

  71.2

  88.4 packet loss (%)

Tabel 4.12. Tabel interferensi, channel 10 dengan channel 6Gambar 4.61. Grafik throughput, channel 10 dengan channel 6

  Pada grafik di atas diketahui bahwa pada interferensi di channel 10 dengan channel 6, throughput pada semua transmission rate mengalami peningkatan. Hal ini bila dibandingkan dengan hasil pengukuran pada interferensi channel 10 dengan channel 7. Prosentase selisih nilai throughput terendah pada transmission rate

9 Mbps dengan throughput tertinggi pada transmission rate auto adalah sebesar 36,48%.

Gambar 4.62. Grafik delay, channel 10 dengan channel 6 Pada grafik delay di atas, untuk interferensi pada channel 10 dengan channel 6, delay yang didapat pada semua transmission

  rate mengalami penurunan. Hal ini bila dibandingkan dengan hasil pengukuran interferensi pada channel 10 dengan channel 7.

  Prosentase selisih antara delay terbesar pada transmission rate 9

  Mbps dengan delay terkecil pada transmission rate auto adalah sebesar 32,13%.

Gambar 4.63. Grafik packet loss, channel 10 dengan channel 6 Dari grafik di atas dapat diketahui packet loss sudah tidak terjadi.

  Hasil ini sama baiknya bila dibandingkan dengan saat interferensi channel 10 dengan channel 7. Dari hasil pengukuran, disimpulkan bahwa untuk interferensi di

  channel 10 dengan channel 6 pada semua transmission rate

  mengindikasikan adanya peningkatan throughput. Begitu juga dengan delay pada semua transmission rate mengindikasikan adanya penurunan. Semua itu bila dibandingkan dengan hasil pengukuran pada interferensi dichannel 10 dengan channel 7.

  Sedangkan dari hasil pengukuran diketahui semua transmission

rate mengindikasikan tidak terjadinya packet loss.

  Perbandingan throughput, delay, dan packet loss pada interferensi masing-masing channel

Gambar 4.64. Grafik perbandingan throughput pada masing- masing channelGambar 4.65. Grafik perbandingan delay pada masing-masing

  channel

Gambar 4.66. Grafik perbandingan packet loss pada masing- masing channel

  Dari hasil perbandingan di atas, diketahui bahwa pada saat access

  point menggunakan channel yang sama yaitu 10, interferensi

  berpengaruh besar menurunkan throughput. Throughput yang paling buruk terjadi pada transmission rate 54 Mbps. Namun bila pada channel yang sama transmission rate diturunkan menjadi 18 atau 9 Mbps, terjadi kenaikan throughput yang cukup baik. Perolehan delay dan packet loss yang besar juga terjadi pada

  transmission rate 54 dan 36 Mbps. Kuat dugaan hal ini

  dikarenakan terjadinya banyak collision atau tabrakan paket data bilamana transmission rate dipaksa untuk bekerja pada 54 dan 36

  Mbps [23]. Diketahui juga bahwa bila access point yang satu diatur

  menjauhi channel 10, maka hasil throughput yang diperoleh juga semakin baik. Pada interferensi dengan channel 6 dan channel 7 menunjukkan bahwa throughput di transmission rate 54 dan 36

  Mbps telah meningkat. Hal ini sesuai konsep pemilihan channel,

  bahwa seharusnya selisih channel yang dipilih berkisar 5 ke atas maupun 5 ke bawah [2]. Jika dipilih channel 10, maka channel perangkat yang lain haruslah channel 5 atau channel 14. Namun jika dilihat dari grafik, penggunaan transmission rate auto-lah yang menunjukkan hasil efektif. Diduga pada saat terjadi interferensi, mode auto akan menyesuaikan dengan menurunkan kecepatan transfer datanya, sehingga dapat memperkecil data yang hilang.

  Perbandingan ketika ada interferensi dan tidak ada interferensi

  Setelah dilakukan pengukuran, maka dilakukan perbandingan pada hasil pengukuran mode infrastruktur yaitu ketika ada interferensi dan ketika tidak ada interferensi. Perbandingan ini didasarkan pada jarak antar perangkat yang sama yaitu 2 meter dan transmission

  rate 54 Mbps . Adapun grafik perbandingannya adalah sebagai

  berikut :

Gambar 4.67. Grafik perbandingan pengaruh interferensi pada

  throughput

Gambar 4.68. Grafik perbandingan pengaruh interferensi pada

  delay

Gambar 4.69. Grafik perbandingan pengaruh interferensi pada

  packet loss

  Berdasarkan grafik diatas disimpulkan bahwa interferensi mengindikasikan pengaruh terhadap throughput, delay dan packet

  loss. Walaupun pada channel 6 telah terjadi peningkatan throughput namun diduga masih terjadi interferensi akibat channel 6 berbatasan dengan range channel 10 [2], sehingga nilai

  throughput yang didapatkan masih berbeda bila dibandingkan dengan nilai throughput ketika tidak ada interferensi.

  Pengaruh Interferensi 3 Access Point.

  Dalam pengujian untuk mengetahui pengaruh interferensi terhadap

  throughput, delay dan packet loss dengan mode jaringan

  infrastruktur, sama seperti skenario 3 tetapi dengan penambahan

  access point untuk menambah daya interferensinya didapatkan

  hasil seperti berikut :

  • 3 access point, semua channel 10

  Mode G-only trans.rate (Mbps) auto

  54

  36

  18

  9 Down (Mbps) 0.789 0.02 0.767 0.915 0.803 Up (Mbps) 1.2 0.862 1.4 1.2 0.877 delay (s) 352 385.4 387 340.2 421.5 packet loss (%)

  6

  36

  9

  7

  6 Tabel 4.13. Tabel interferensi, 3 access point, semua channel 10

  Perbandingan pengaruh interferensi 2 access point dengan 3 access point

Gambar 4.70. Grafik perbandingan pengaruh interferensi 2 dan 3

  access point pada throughput

Gambar 4.71. Grafik perbandingan pengaruh interferensi 2 dan 3

  access point pada delay

Gambar 4.72. Grafik perbandingan pengaruh interferensi 2 dan 3

  access point pada packet loss

  Berdasarkan hasil perbandingan di atas, dapat diketahui bahwa penambahan access point yang diatur pada channel yang sama yaitu 10, mengakibatkan nilai throughput semakin kecil. Bahkan pada transmission rate 54 Mbps, terjadi packet loss yang sangat besar. Sehingga dapat ditarik kesimpulan yang mengindikasikan bahwa penambahan access point mengakibatkan semakin banyaknya packet loss yang terjadi. Hal ini dapat dilihat ketika ada 2 access point, transmission rate 18 dan 9 Mbps menunjukkan nilai

  packet loss yang lebih baik dengan tidak terjadi packet loss jika dibandingkan dengan pada saat ada penambahan 3 access point.

  Penggunaan channel yang sama atau berdekatan menyebabkan frekuensi saling tumpang tindih. Dalam skenario pengukuran sebelumnya digunakan channel 10 yang berada difrekuensi 2,457 Ghz. Padahal dalam hal ini frekuensi yang dipakai adalah frekuensi tengah sehingga terdapat range antara frekuensi atas dan frekuensi bawah sebesar masing-masing 11 Mhz. Maka dapat dikatakan lebar kanal frekuensi untuk setiap channel yaitu 22 Mhz.

Gambar 4.73. Alokasi frekuensi untuk 14 channel

  Dari gambar di atas, diketahui bahwa penggunaan channel 10 pada pengukuran yang dilakukan menyebabkan interferensi bila terdapat

  access point lain yang memiliki channel 9, 8, 7, 6. Artinya

  penggunaan channel 9, 8, 7, dan 6 masih mengakibatkan terjadinya

  overlap dengan frekuensi channel 10 yang memiliki range dari

  2,446 Ghz sampai dengan 2,468 Ghz. Semakin besar overlap yang terjadi mengakibatkan besar kanal yang seharusnya 22 Mhz menjadi kurang dari itu, sehingga karena bandwidth kanal menjadi kecil, kecepatan atau data rate-nya juga menurun. Idealnya pemilihan channel harus dilakukan dengan acuan +5 dan -5. Jika digunakan channel 10 maka channel lain yang dapat dipakai adalah

  channel 14 dan channel 5. Oleh karena batasan penggunaan channel maka diperlukan penggunaan kembali atau channel reuse

  untuk mendapatkan pengguna yang lebih banyak dengan variasi

  channel yang sedikit. Gambar di bawah menunjukkan penggunaan channel dan area coverage-nya.

Gambar 4.74. Penggunaan channel kembali

IV.4.4 Pengukuran Skenario 4

  Pengukuran ini untuk mengetahui pengaruh perubahan MTU terhadap throughput, delay dan packet loss. Pengukuran ini didasarkan keefektifan MTU terhadap throughput ketika ada interferensi yang menyebabkan terjadinya packet loss. Dari pengujian yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :

  MTU 1500 bytes 750 bytes 576 bytes

  Down (Mbps) 0.85 0.929

  1.1 Up (Mbps) 0.786

  0.88

  1 Delay (Mbps) 399.3 360 315.8 packet loss (%)

  6

  6

  7 Tabel 4.14. Tabel pengukuran interferensi dengan MTU 1500 bytes, 750 bytes, 576 bytes.

Gambar 4.75. Grafik throughput pada saat terjadi interferensi.Gambar 4.76. Grafik delay pada saat terjadi interferensi.Gambar 4.77. Grafik packet loss pada saat terjadi interferensi.

  Dari grafik di atas diketahui bahwa pada saat terjadi interferensi,

  throughput yang paling efektif adalah ketika menggunakan MTU 576 bytes. Adapun selisih pada throughput antara MTU 1500 bytes

  dengan 750 bytes adalah sebesar 5,02%, dan antara MTU 750 bytes dengan 576 bytes sebesar 7,44. Diduga karena MTU dikecilkan menjadi 576 bytes maka saat terjadi packet loss, proses pentransmisian kembali atau retransmit dapat dilakukan lebih cepat bila dibandingkan pada MTU 1500 dan 750 bytes. Sehingga hal ini juga berpengaruh pada delay. Delay yang didapatkan pada penggunaan MTU 576 bytes paling kecil bila dibandingkan dengan

  MTU 1500 dan 750 bytes [23]. Hasil packet loss menunjukkan

  perbedaan yang tidak cukup besar yaitu 1%. Hal ini dikarenakan oleh terjadinya interferensi 3 access point tersebut.

  

Pengaruh MTU pada saat tidak ada interferensi

  Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan tabel perbandingan antara perbedaan throughput, delay, dan packet loss ketika perubahan MTU dilakukan pada saat ada interferensi dengan pada saat tidak ada interferensi. Berikut adalah tabelnya :

  MTU 1500 bytes 750 bytes 576 bytes

  Down (Mbps)

  10.5

  8.2

  7.5 Up (Mbps)

  7.2

  7.8

  5.8 Delay (s)

  37.9

  40.4

  50.9 packet loss (%)

Tabel 4.15. Tabel pengukuran pengaruh MTU pada saat tidak ada interferensiGambar 4.78. Grafik throughput pada saat tidak terjadi interferensi.Gambar 4.79. Grafik delay pada saat tidak terjadi interferensi.Gambar 4.80. Grafik packet loss pada saat tidak terjadi interferensi.

  Dari grafik hasil pengukuran di atas diketahui bahwa throughput mengalami penurunan dari MTU 1500 bytes ke 750 bytes sebesar 5,04% dan mengalami penurunan lagi dari MTU 750 bytes ke 576

  bytes sebesar 9,21%. Jika dibandingkan dengan pengukuran

  sebelumnya yaitu pada saat terjadi interferensi maka dapat dilihat bahwa throughput pada saat tidak terjadi interferensi lebih unggul. Pada saat pentransmisian paket yang memiliki ukuran yang lebih panjang, tentu saja bila terjadi packet loss maka paket yang sama akan ditransmisikan kembali, hal ini membutuhkan waktu dan mengurangi kecepatan transfer. Sehingga pada saat interferensi yang mengakibatkan terjadinya banyak packet loss, lebih efektif bilamana paket yang ditransmisikan kembali adalah paket dalam ukuran kecil yang tidak membebani kerja jaringan, dalam hal ini pengaruhnya terhadap throughput [23]. Oleh karena akibat dari menurunnya throughput maka menyebabkan paket lama sampai ke tujuan sehingga delay-nya semakin besar.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan Dari pengukuran yang telah dilakukan, kesimpulan yang dapat ditarik guna

  sebagai rekomendasi adalah : 1.

  Pada skenario 1 pengukuran adhoc dengan 2 user, diperoleh kesimpulan bahwa jarak dan kuat sinyal mengindikasikan terjadinya pengaruh pada throughput, delay, dan packet loss. Semakin jauh jarak antar perangkat akan menyebabkan terjadinya redaman yang semakin besar pada media transmisi [23]. Hal ini diakibatkan oleh pelemahan (atenuasi) pada kuat sinyal.

2. Pada skenario 2 pengukuran infrastruktur dengan 1 user yang diatur

  transmission rate- nya, diperoleh kesimpulan bahwa rate 54 Mbps

  menghasilkan throughput, delay dan packet loss yang paling baik dibandingan dengan rate yang lebih kecil yaitu 36, 18, dan 9 Mbps. Pengukuran dilakukan ketika tidak ada interferensi.

  3. Pada skenario 3 pengukuran infrastruktur dengan 2 access point yang diatur channel-nya dan masing-masing mempunyai 1 user, diketahui bahwa beberapa access point yang bekerja pada jangkauan channel yang sama menyebabkan interferensi [2]. Dari pengukuran yang telah dilakukan disimpulkan bahwa ada indikasi interferensi mengakibatkan nilai throughput menjadi kecil, serta delay dan packet loss yang besar. Dengan penggunaan 3 access point pada channel yang sama, dapat disimpulkan juga bahwa semakin banyak perangkat yang menginterferensi, kinerja throughput, delay dan packet loss akan semakin buruk.

4. Pada skenario 4 pengukuran infrastruktur dengan interferensi 3 access

  point dan pengaturan MTU 1500, 750, 576 bytes disimpulkan bahwa

  pengaturan MTU minimum pada saat kondisi interferensi mengindikasikan laju throughput yang lebih baik, dan ketika tidak terjadi interferensi penggunaan MTU maximum adalah penggunaan yang paling baik [25]. Pengukuran ini menggunakan protokol ethernet yang mempunyai nilai MTU maximum 1500 bytes.

V.2 Saran

  Terdapat beberapa saran dari penulis agar peneliti selanjutnya dapat memperhatikan hal-hal di bawah ini, guna perbaikan ke arah yang lebih baik. Adapun saran tersebut adalah : 1.

  Pada pengujian interferensi, jarak antara access point yang berinterferensi adalah 2 meter sehingga sinyal yang didapatkan kuat.

  Sebaiknya perlu diketahui kuat sinyal antar access point yang tidak terpengaruh interferensi ketika ada 2 atau lebih access point yang menggunakan channel yang sama. Sehingga bilamana memang tidak dapat dihindari penggunaan channel yang sama, maka pengaturan jarak dalam hal kuat sinyal-lah yang berperan.

  2. Pengambilan sample pengukuran hanya terjadi 3 kali. Sebaiknya untuk mendapatkan sample yang lebih akurat perlu dilakukan pengambilan data sesuai dengan standar ilmu statistika.

3. Perlu dilakukan pengukuran untuk skenario pada saat kuat sinyal lemah dan terjadi interferensi, sehingga diketahui pengaruhnya.

DAFTAR PUSTAKA

  [1] Universitas Sumatra Utara “WLAN”. Chapter II.pdf (diakses tanggal 19 Agustus 2010)

  [2] S’to. 2007. “Wireless Kung Fu : Networking & Hacking”. Jasakom [3] Husni. 2004. “Implementasi Jaringan Komputer dengan Linux Redhat 9”.

  Andi Offset, Yogyakarta. [4] Richard, Steven W. “TCP/IP Illustrated, Volume 1, The Protocol. Prentice Hall International, Inc .

  [5] Unknown. Prasimax Technology Development Center. 2002. “Protokol

  TCP/IP Bagian 1”. Prasimax Product Research Division, Depok. nd

  [6] Forouzan, B.A. 2001. “Data Communications and Networking 2 Edition”. Mac Graw Hill . [7] Koruse, J & Ross, Keith. 2000. “Computer Networking: A Top Down Approach Featuring the Internet”. Addison Wesley . [8] Unknown.

  http://techpubs.sgi.com/library/tpl/cgibin/getdoc.cgi?coll=hdwr&db=bks&

fname=/SGI_EndUser/Altix350_UG/ch02.html (diakses tanggal 25

  Agustus 2010) [9] Dinata, Adriyansyah. “Protocol PPP (Point to Point Protocol)”.

  http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=49&ved=0CFcQFjAI OCg&url=http%3A%2F%2Fblog.unsri.ac.id%2Fadriyansyah%2Fkomunik asi-data%2Fprotocol-ppp-point-to-point- protocol%2Fpdf%2F13386%2F&ei=k0guTrKxL4fksQOLlPUD&usg=AF QjCNHLbIaxAhl_1x4Fxd7hMsGlibH4dw (diakses tanggal 26 Juli 2011)

  [10] Unknown. http://www.sysneta.com/ppp-protocol (diakses tanggal 26 Juli 2011)

  [11] Unknown. http://liyantanto.files.wordpress.com/2010/09/komdat-06-

  ftp1.pdf (diakses tanggal 26 Juli 2011)

  th

  [12] Forouzan, B.A. 2007. “Data Communications and Networking 4 Edition”. Mac Graw Hill . [13]

  

ITU-T Recommendation G-1010 . 2001. “End-User Multimedia QoS

Categories

  [14] S’to. 2006. “Web Hacking Skenario dan Demo”. Jasakom [15] Stallings, William. “Data and Computer Communications”. Prentice Hall International, Inc .

  [16] Tanenbaum, Andrew. S. 2003. “Computer Networks, Fourth Edition”.

  Prentice Hall International, Inc .

  [17] Intel Wifi Link 1000 Product Brief . 2009. Intel Corporation.

  http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=spesifikasi%20intel%20wifi% 20link%201000%20bgn&source=web&cd=1&ved=0CCMQFjAA&url=ht tp%3A%2F%2Fdownload.intel.com%2Fsupport%2Fwireless%2Fwlan%2 F1000%2Fsb%2Fintelrwifilink1000productbrief1.pdf&ei=9f_lTs7eJcnqrA ea1dSADw&usg=AFQjCNGvPsumPp0Pvm_sd6SFbIgUOhdJwA&cad=rj a . intelrwifilink1000productbrief1.pdf. (diakses tanggal 12 Desember

  2011) [18] User Guide Dual-Band Wireless-N Gigabit Router Model WRT320N.

  Linksys by CISCO.

  [19] Unknown. 2010. Wireless Ad-Hoc vs Infrastucture.

  http://www.sysneta.com/wireless-ad-hoc-vs-infrastructure (diakses tanggal

  25 Agustus 2011) [20] Sugiyanto, B. Siswoyo, B. Irawan. “Analisis, Desain dan Implementasi Jaringan Wireless LAN Standar IEEE 802.11b Pada Area Publik”. jbptunikompp-gdl-s1-2004-sugiyanton-758-JURNAL.pdf

  [21] Zainudin.MN,Achmad. 2011. “Cara Menguatkan atau Penguat Sinyal GPRS, 3G, GSM, CDMA, Modem , Wireless dan Internet”.

  http://ilmuti.com/2011/08/04/cara-menguatkan-atau-penguat-sinyal-gprs- 3g-gsm-cdma-modem-wireless-dan-internet/ (diakses tanggal 25 Agustus

  2011)

  [22] Unknown. 2010. “Maximum Transmission Unit (MTU) di Jaringan Wireless ”.

  http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/WiFi:_Topik_Lanjut

  (diakses tanggal 25 Agustus 2011) [23] Oky Dwi Nurhayati,ST.MT. “Sistem Komunikasi Multimedia”. Persyaratan_Layanan_dan_Protokol_pert9.pdf

  [24] “Methodology for Testing Wireless LAN Perfomance”. 2003. Atheros Technical Paper. Atheros Communications, Incorporated. [25] Yu-Ju Lin. Latchman,H. “On The Effects of Maximum Transmission Unit

  in Power Line Communication Networks”. Charleston Southtern Univ., Charleston.

  [26] Unknown. 2004. “Calculation : Free Space Loss”.

  

http://www.terabeam.com/support/calculations/free-space-loss.php

  (diakses tanggal 8 Februari 2012)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Tugas Akhir Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
125
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Informatika
0
1
127
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Elektro
0
0
106
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Elektro
0
0
66
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
113
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
1
76
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Jurusan Teknik Informatika
0
0
87
Studi Kasus ”NEUTRON” Yogyakarta SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
184
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
198
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
110
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
128
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Elektro
0
0
89
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
126
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
184
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
1
56
Show more