Pengaruh kerusuhan Mei 1998 dalam novel Putri Cina karya Sindhunata - USD Repository

Gratis

0
0
136
6 months ago
Preview
Full text

PENGARUH KERUSUHAN MEI 1998 DALAM NOVEL

  PUTRI CINA KAR YA SINDHUNATA

  Tugas Akhir Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia

  Oleh: Christopher Allen Woodrich

  NIM: 084114001 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA Skripsi ini disembahkan untuk semua korban Kerusuhan Mei 1998 serta para pejuang hak mereka.

  Merahnya Merah-Putihku

  Setetes darah Percik di benderaku tercinta Darah mereka tak berdosa Menjadi kambing hitam belaka Teriak sunyi orang tersiksa Masih bergema, masih bergema Tiada kita perdulikan nista Teman kita dalam Bhineka Tunggal Ika Sewindu setengah telah berlalu Tapi masih terharu hatiku Melihat sang merah-putih berduka Semakin merah karna dosa kita Kapankah kita kan bekerja sama Kapankah merah-putihku bisa bahagia Bersih dari darah korban api dan musnah Merah merah semangat bukan luka Dijilat api benderaku masih berlambai Memberi sinar harapan bangsa Sementara impian tak tercapai Selama kita masih memangsa

  Yogyakarta 2010 Tugas Akhir

PENGARUH KERUSUHAN MEI 1998 DALAM NOVEL

  PUTRI CINA KAR YA SINDHUNATA

  Oleh: Christopher Allen Woodrich NIM: 084114001 Telah disetujui oleh Pembimbing I tanggal 5 January 2012 (Susilawati Peni Adji, S.S. M. Hum.) Pembimbing II tanggal 5 January 2012 (Dr. I. Baryadi Praptomo, M. Hum.)

  PENGARUH KERUSUHAN MEI 1998 DALAM NOVEL PUTRI CINA KAR YA SINDHUNATA

  Dipersiapkan dan ditulis oleh Christopher Allen Woodrich

  NIM: 084114001 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji

  Pada 9 Januari 2012 Dan dinyatakan memenuhi syarat

  Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap Tanda Tangan Ketua Herry Antono ............................. Sekretaris S. E. Peni Adji ............................. Anggota Yoseph Yapi Taum ..............................

  I. Baryadi Praptomo S. E. Peni Adji ..............................

  ..............................

  Fakultas Sastra Dekan

  

Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah

untuk Kepentingan Akade mis

  Saya, yang bertanda tangan di bawah ini, Nama : Christopher Allen Woodrich NIM : 084114001 yang merupakan mahasiswa Sanata Dharma, memberikan kepada Perpustakaan

  Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul “Pengaruh Kerusuhan Mei 1998 Dalam Novel Putri Cina Karya Sindhunata” beserta perangkat yang diperlukan (bila ada) demi pengembangan ilmu pengetahuan.

  Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media yang lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Tulisan ini juga dilepaskan dengan lisensi hak cipta Creative Commons Attribution Share-Alike. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta, pada tanggal 12 January 2012 Yang menyatakan Christopher Allen Woodrich

  ABSTRAK

  Untuk memahami suatu karya sastra perlu kita memahami latar belakang sosial-budayanya, khususnya peristiwa sejarah di daerah karya itu ditulis. Demikian pula halnya meneliti Putri Cina, karya Sindhunata. Makalah ini bertujuan mencari hubungan antara Kerusuhan Mei 1998 dengan memahami unsurnya, yaitu Kerusuhan Mei 1998 dan karya Putri Cina. Dari pengertian dasar itu akan ditarik kemiripan dengan menggunakan teori sosiologi sastra.

  Pada bulan Mei 1998 terjadi suatu peristiwa yang sampai sekarang mempengaruhi psikis orang keturunan Cina di Indonesia, khususnya yang WNI. Pada saat itu terjadi amuk massa yang amat keji dan diarahkan kepada orang Cina: perkosaan, pembunuhan, penjarahan dan pembakaran. Amuk massa ini akhirnya memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri. Kini peristiwa itu dikenal Kerusuhan Mei 1998. menceritakan kehidupan dua perempuan Cina, yaitu Putri Cina,

  Putri Cina

  yang agak mistis, dan Giok Tien, yang menikah dengan seorang pribumi. Putri Cina merasa kehilangan identitasnya, maka dia melewati beberapa masa, dari keruntuhan kerajaan Majapahit sampai pada akhir rezim Prabu Amurco Sabdo, untuk mencari identitas itu. Giok Tien adalah istri Setyoko, senapati kerajaan Medang Kamulan Baru. Kakak-kakaknya dibunuh dan dia sendiri diperkosa. Biarpun akhirnya dia diselamatkan Setyoko dan berdua mereka memaksa Prabu Amurco Sabdo mengundurkan diri, dia tidak percaya pada suaminya. Ketika mereka akhirnya berbaikan, Setyoko dan Giok Tien dibunuh orang yang mengharapkan Giok Tien dari zaman dahulu.

  Kerajaan Medang Kamulan Baru adalah Orde Baru, dengan Prabu Amurco Sabdo sebagai wakil Soeharto. Rasa trauma yang dirasa Giok Tien mencerminkan rasa trauma orang Cina setelah tragedi itu. Itu dan beberapa kemiripan novel dengan kejadian nyata dan tokoh sejarahwi dapat dibaca pada Bab IV.

  ABSTRACT

  In order to understand a literary work one must understand its social and cultural background, especially the history of the area where it is written. The above statement holds true as well for analysing Putri Cina, by Sindhunata. This paper will explain the May 1998 tragedy and Putri Cina and then draw parallels between the two using the theory of sociology of literature.

  In May 1998 something happened that until now affects people of Chinese descent in Indonesia, especially those who are Indonesian citizens. At that time a large pogrom occurred, directed towards Chinese-Indonesians. These acts included rape, murder, pillaging and razing. This pogrom eventually forced Suharto, the president of Indonesia, to resign. Now that event is known as the May 1998 Tragedy. is about the lives of two Chinese women, namely Putri Cina

  Putri Cina

  (literally Chinese Princess), who is almost mystical, and Giok Tien, who is married to a pribumi (one considered to be indigenous to Indonesia). Putri Cina feels like she has lost her identity, so she travels through time, from the fall of the Majapahit kingdom up until the end of Prabu Amurco Sabdo’s regime to find it. Giok Tien is Setyoko’s wife, making her the wife of the commander in chief of the army of the kingdom of Medang Kamulan Baru. Her older sisters are murdered and she herself is raped. Even though she is eventually rescued by Setyoko and together they force Prabu Amurco Sabdo to resign, she doesn’t trust her husband. When they eventually are able to trust each other again, they are killed by one of Giok Tien’s long time admirers.

  The kingdom of Medang Kamulan Baru represents the New Order, with Prabu Amurco Sabdo as its Suharto. The trauma that Giok Tien feels reflects the trauma Chinese-Indonesians felt after the May 1998 Tragedy. These conclusions and other similarities between the novel and actual events and historical figures can be found in Chapter IV.

KATA PENGAN TAR

  Tulisan ini merupakan suatu titik akhir dari perjalanan yang sudah saya tempuh selama sepuluh tahun, sejak kelas enam SD saat saya mulai mengenali kebudayaan Asia. Sejak itu, saya sudah mengikuti pertukaran pelajar ke Indonesia sehabis SMA dan bahkan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Berdasarkan latar belakang saya dengan banyak teman keturunan Cina dan obsesi saya dengan hak asasi manusia, tugas akhir ini pun dapat diselesaikan.

  Atas bantuan mereka dalam penyelesaian makalah ini saya ingin ucapkan terima kasih kepada orang-orang berikut:

  • Trifosa Sie Yulyani Retno Nugroho, atas dukungannya dalam semua tugas akademik.
  • Keluarga saya di Kanada, khususnya ibu saya Diane Marie Boismier dan nenek saya Sarah Della Whitehead Sr., untuk dukungannya selama saya kuliah di Indonesia.
  • Peni Adji, S.S. M. Hum., untuk kesabarannya selama membimbing saya dalam penulisan tugas akhir ini.
  • Dr. I Praptomo Baryadi M. Hum., untuk kesabarannya dalam membantu mengoreksi tata bahasa dan diksi
  • Sindhunata, untuk usahanya memperjuangkan hak warga Tionghoa melalui karya ini.

  Makalah ini tidak sempurna dan apabila terjadi kekurangan saya mohon maaf lebih dahulu. Terima kasih.

  Yogyakarta, 12 January 2012 Christopher Allen Woodrich

  NIM: 084114001

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa makalah yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 12 Januari 2012 Penulis Christopher Allen Woodrich

  DAFTAR ISI Halaman

  HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i PERSEMBAHAN .............................................................................................. ii KUTIPAN PEMBUKA ...................................................................................... iii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ iv HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ v PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ....................................................................... vi ABSTRAK ......................................................................................................... vii viii

  ABSTRACT .........................................................................................................

  KATA PENGANTAR ........................................................................................ ix PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. x DAFTAR ISI ...................................................................................................... xi DAFTAR ISTILAH ........................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xv

  BAB 1: PENDAHULUAN ........................................................................ 1

  1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

  1.2 Perumusan Masalah ...................................................................... 2

  1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... 3

  1.4 Tinjauan Pustaka ........................................................................... 3

  1.5 Landasan Teori .............................................................................. 5

  1.5.1 Teori Strukturalisme ............................................................ 5

  1.5.2 Teori Sosiologi Sastra .......................................................... 7

  1.6 Metode Penelitian ......................................................................... 11

  1.6.1 Metode Pengumpulan Data .................................................. 11

  1.6.2 Metode Analisis Data ........................................................... 12

  1.6.3 Metode Penyajian Data ......................................................... 12

  1.7 Sistematika Penyajian ................................................................... 13

  BAB 2: KERUSUHAN MEI 1998 DI INDONESIA ................................. 15

  2.1 Latar Belakang .............................................................................. 15

  2.2 Kerusuhan di Jakarta ..................................................................... 18

  2.2.1 Secara Umum .................................................................... 18

  2.2.2 Kerusuhan dan Penjarahan ................................................ 22

  2.2.3 Kekerasan Terhadap Etnis Cina ........................................ 27

  2.2.4 Respons Aparat ................................................................. 31

  2.2.5 Reaksi Warga .................................................................... 33

  2.3 Kerusuhan di Surakarta ................................................................. 35

  2.4 Kerusuhan di Kota Lain ................................................................ 39

  2.5 Dampak dari Kerusuhan Mei 1998 ............................................... 41

  BAB 3: ANALISIS STRUKTURAL NOVEL PUTRI CINA .................... 43

  3.1 Sudut Pandang ............................................................................... 43

  3.2 Gaya Bahasa .................................................................................. 44

  3.3 Alur ............................................................................................... 46

  3.4 Latar .............................................................................................. 54

  3.4.1 Latar Tempat ..................................................................... 54

  3.4.2 Latar Waktu ....................................................................... 56

  3.3.3 Latar Sosio-Budaya ........................................................... 57

  3.5 Penokohan ..................................................................................... 58

  3.5.1 Putri Cina ........................................................................... 58

  3.5.2 Giok Tien ........................................................................... 60

  3.5.3 Setyoko / Gurdo Paksi ....................................................... 61

  3.5.4 Radi Prawiro / Joyo Sumengah ......................................... 63

  3.5.5 Prabu Murhardo / Prabu Amurco Sabdo ........................... 64

  3.5.6 Korsinah ............................................................................ 65

  3.5.7 Keluarga Giok Tien ........................................................... 66

  3.6 Tema .............................................................................................. 67

  3.6.1 Krisis Identitas ................................................................... 67

  3.6.2 Kemabukan Kekuasaan ..................................................... 69

  3.6.3 Cinta Sejati ........................................................................ 71

  BAB 4: PENGARUH KERUSUHAN MEI 1998 DALAM PUTRI CINA 74

  4.1 Alur ............................................................................................... 74

  4.2 Latar .............................................................................................. 81

  4.2.1 Latar Tempat ..................................................................... 81

  4.2.2 Latar Waktu ....................................................................... 84

  4.2.1 Latar Sosio-Budaya ........................................................... 84

  4.3 Penokohan ..................................................................................... 87

  4.3.1 Putri Cina ........................................................................... 87

  4.3.2 Giok Tien ........................................................................... 89

  4.3.3 Setyoko / Gurdo Paksi ....................................................... 90

  4.3.4 Radi Prawiro / Joyo Sumengah ......................................... 91

  4.3.5 Prabu Amurco Sabdo ........................................................ 94

  4.3.6 Korsinah ............................................................................ 96

  4.3.7 Keluarga Giok Tien ........................................................... 97

  4.3.8 Aryo Sabrang ..................................................................... 99

  BAB 5: PENUTUP ..................................................................................... 101

  5.1 Kesimpulan .................................................................................. 101

  5.1.1 Ringkasan Penelitian ......................................................... 101

  5.1.2 Kesimpulan ........................................................................ 103

  5.2. Saran ........................................................................................... 103 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 105 LAMPIRAN ..................................................................................................... 109 BIOGRAFI PENULIS ........................................................................................ 120

DAFTAR ISTILAH

  Oleh karena tiga tokoh mengubah nama dengan jabatan baru atau berjalannya waktu, akan digunakan hanya satu nama untuk ketiga tokoh itu, berdasarkan nama pertama yang digunakan secara kronologis, yaitu:

  Nama Yang Dilambangkan

  Prabu Murhardo : Prabu Murhardo / Prabu Amurco Sabdo Setyoko : Setyoko / Gurdo Paksi Radi Prawiro : Radi Prawiro / Joyo Sumengah Selain itu, di tugas akhir ini digunakan istilah Cina, yang kadang dianggap sebagai

  

  penghinaan, untuk menjaga konsistensi dengan novel Putri Cina, yang menggunakan istilah itu.

  a

Istilah Tionghoa dan China sering dianggap lebih netral. Lihat Woodrich, Christopher Allen.

  

“Pandangan Pemuda-Pemudi Yogyakarta tentang Kedudukan Suku Tionghoa di Indonesia.”

Makalah . Yogyakarta: Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. untuk contoh penerimaan

  DAFTAR LAMPIRAN

  Halaman

  1. Peta Kerusuhan di Jakarta .............................................................................. 109

  2. Data Kerusakan dan Korban .......................................................................... 110

  2.1 Data Kerusakan dan Korban Versi DKI Jakarta ............................. 110

  2.2 Dat a Ker usak a n da n Korba n Ve rs i Tim Re la wa n Unt uk Kemanusiaan (TRUK) ..................................................................... 110

  2.3 Data Korban Versi RSCM ............................................................... 111

  2.4 Data Kerusakan dan Korban Versi Kodam Jaya ............................. 111

  2.5 Data Kerugian Bisnis Properti Akibat Kerusakan ........................... 112

  2.6 Data Kerusakan dan Korban TRUK ................................................ 112

  2.7 Data Korban Jiwa dan Luka-Luka Versi Tabloid Berita Mingguan Adil .................................................................................................. 112

  2.8 Data Kerusakan Versi Tabloid Berita Mingguan Adil .................... 113

  2.9 Data Perkosaan Tim Gabungan Pencari Fakta ................................ 113

  3. Transcript Wawancara dengan Wahyu Apri Wulan Sari ............................... 114

  4. Transcript Wawancara Trifosa Sie Yulyani Retno Nugroho ......................... 117

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Karya sastra bertitik tolak pada dunia nyata, termasuk karya sastra Indonesia.

  Pada waktu sastra Indonesia lahir, kekuasaan Belanda mewarnai semua aspek kehidupan; dengan demikian, karya sastra yang diterbitkan, seperti Sitti Nurbaya, di

  

  permukaan tampak pro-Belanda. Pada saat perang kemerdekaan, kemanusiaan dan semangat perjuangan tidak dapat terpisah dari kehidupan; demikian pula pada karya sastra, seperti dalam Jalan Tak Ada Ujung, yang mengutamakan tema kemanusiaan

   dan kemerdekaan. Setiap periode diilhami oleh peristiwa nyata.

  Demikian pula Putri Cina karya Sindhunata, yang diterbitkan pada tahun 2007. Akibat kekacauan ekonomi, pada tahun 1998 orang keturunan Cina dijadikan kambing hitam di seluruh Indonesia. Di Jakarta sendiri, dalam waktu tiga hari (dari

  

  

  tanggal 13 – 15 Mei 1998) sebanyak 1.217 orang tewas, 152 wanita diperkosa, dan

  

  ada kerugian material setidaknya Rp. 2,5 triliun. Sebagai akibat dari krisis ekonomi dan kerusuhan di “kota paling aman dan dijaga se-Indonesia,” akhirnya Presiden

  1 Siregar, Bakri. Sedjarah Sastera Indonesia Modern. 1964. Akademi Sastera dan Bahasa 2 “Multatuli”: Jakarta. Hal. 31 – 32.

  Teeuw, A. Sastra Baru Indonesia I. Diterjemahkan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial. Ed isi Pertama. 3 1980. Nusa Indah: Ende. Hal. 170 – 172.

  

Hartin ingsih, Maria, dan Ahmad Arif. “Tragedi Mei: Membaca Kota dari Puing Berjelaga.” 2008.

4 Kompas.

  16 Mei. Hal. 49. 5 “Soal Kerusuhan: Pemerintah Bentuk Tim Interdep.” 1998. Kompas. 14 Ju li. Hal. 6.

  Setiono, Benny G. Tionghoa dalam Pusaran Politik: Mengungkap Fakta Sejarah Tersembunyi

   Suharto terpaksa mengundurkan diri. Kerusuhan ini menyebabkan hilangnya

  identitas dalam batin warga keturunan Cina, yang menjadi bingung: apa artinya nasionalitas, kalau tidak bisa Cina dan tidak bisa Indonesia? Putri Cina lahir sebagai

   tanggapan pertanyaan itu.

  Biarpun Putri Cina merupakan tanggapan atas pertanyaan identitas, novel itu tidak dapat dipisahkan dari peristiwa yang telah mengilhaminya. Novelnya penuh dengan peristiwa yang menjadi paralel kerusuhan Mei 1998, di antaranya kerusuhan yang menjadi alasan pembunuhan orang Cina, perkosaan wanita Cina, ketidakmampuan pemerintah untuk mencegah kerusuhan, dan gara-gara yang tersebar di seluruh Indonesia. Sejauh manakah Putri Cina mencerminkan realitas?

1.2 Perumusan Masalah

  Penelitian ini memecahkan tiga masalah, yaitu:

  1.2.1 Bagaimanakah peristiwa Kerusuhan Mei 1998 di Indonesia?

  1.2.2 Bagaimanakah struktur novel Putri Cina karya Sindhunata?

  1.2.3 Bagaimanakah Kerusuhan Mei 1998 mempengaruhi Putri Cina karya Sindhunata?

  6 Tan, Mely G. Etnis Tionghoa di Indonesia: Kumpulan Tulisan. 2008. Yayasan Obor Indonesia: 7 Jakarta. Hal. 212

  1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini mempunyai tiga tujuan sebagai berikut.

  1.3.1 Mendeskripsikan peristiwa Kerusuhan Mei 1998 di Indonesia.

  1.3.2 Mendeskripsikan struktur novel Putri Cina karya Sindhunata.

  1.3.3 Mendeskripsikan pengaruh Kerusuhan Mei 1998 terhadap novel Putri karya Sindhunata.

  Cina

  1.4 Tinjauan Pustaka

  Dalam tinjauan pustaka telah ditemukan beberapa pembahasan Putri Cina karya Sindhunata. Pembahasan-pembahasan yang ditemukan ada yang merupakan skripsi/tugas akhir, esai dan resensi buku.

  Pembahasan pertama ditulis oleh Maria Hartiningsih berjudul “Pergumulan Menguakkan Identitas”. Tulisan ini merupakan resensi buku Putri Cina. Resensi yang diterbitkan di Kompas pada tanggal 23 September 2007 ini memberi sinopsis plot, serta membahas salah satu pesan novel, yaitu “Identitas Tunggal adalah Ilusi.” Biarpun ada sedikit pembahasan interteks pada pembukaan dengan menjelaskan sedikit tentang Kerusuhan Mei 1998 dan pengaruhnya di dunia sastra, serta satu paragraf yang menarik keparalelan di antara dunia nyata dan dunia Putri Cina:

  Manusia terus mengulang sejarah itu dalam konteks politik yang berbeda-beda. Pemerkosaan terhadap perempuan etnis Cina juga terjadi waktu itu (hal 149-150). Sejarah kontemporer mencatat

   8 pengambinghitaman etnis Cina sejak tahun 1740 (hal 85-86). Dalam penulisan ini belum dijumpai pembahasan sosiologi sastra historis yang mendalam. Sementara, tugas akhir ini diharapkan dapat membahas ilham dari sudut sosiologi sastra sejarahwi secara lebih dalam.

  Ditemukan pula sebuah skripsi dari Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Gadjah Mada berjudul “Novel Putri Cina Karya Sindhunata: Analisis Intertekstual” oleh Dedy Purwono. Skripsi ini, yang diselesaikan pada tahun 2008, membahas Putri

  Cina dengan teori interteks. Skripsi Dedy sebagaimana dikemukakan di inti sarinya:

  Berdasarkan teori intertekstual, nampak kehadiran teks-teks lain dalam novel Putri Cina. Teks lain yang kehadirannya dapat dilacak dalam novel Putri Cina yaitu Babad Jaka Tingkir, Babad Tanah Jawa, sajak-sajak Cina klasik, drama “Jakarta 2039”, dan novel Sam Pek Eng

  Tay

  . Kehadiran teks-teks tersebut saling berkaitan dan menetralisasi satu sama lain sehingga berhasil menambah kualitas novel Putri Cina sebagai sebuah produktivitas.

9 Skripsi tersebut bertujuan untuk mencari interteks di antara Putri Cina dengan

  karya sastra lain. Sementara, tugas akhir ini akan mencari pengaruh Kerusuhan Mei 1998 dalam karya Putri Cina dengan menggunakan teori sosiologi sastra.

  Sementara, Novita Dewi, dosen Kajian Bahasa Inggris (Pascasarjana) di Universitas Sanata Dharma, menulis makalah mengenai bagaimana Putri Cina melambangkan usaha untuk rekonsilasi masyarakat pasca-Kerusuhan Mei 1998.

  Sebagaimana dinyatakan dalam abstraknya, Tulisan ini bertujuan mengungkapkan adanya rekonsilasi pasca konflik lewat imajinasi historis dalam karya terbaru Sindhunata Putri

  

Cina (2007). Rekonsilasi akan pesan perdamaian ditunjukkan melalui

  menerimanya tokoh akan ketidakjelasan identitasnya. Pesan ini dikemas 9 Purwono, Dedy. “Novel Putri Cina Karya Sindhunata: Analisis Intertekstual”. 2008. Skripsi. menggunakan narasi tentang peperangan, balas dendam, dan pengambinghitaman dengan mengangkat sejarah, mitos, cerita rakyat, dan realitas politik modern yang menggarisbawahi kengerian dan kesia- siaan perang antarsaudara. Rekonsilasi dan peran perdamaian ini dibayar

   oleh cinta dan kematian.

  Tulisan Novita Dewi ini menggunakan sosiologi sastra sejarah, folklor, dan politik untuk menunjukkan bagaimana novel Putri Cina merupakan sebuah usaha untuk merekonsiliasi suku pribumi dengan orang keturunan Cina. Sementara, tugas akhir ini mengutamakan teori sosiologi sastra sejarah dan dimaksud untuk menemukan ilham- ilham Putri Cina.

1.5 Landasan Teori

  Dalam tugas akhir ini akan digunakan dua teori, yaitu teori strukturalisme untuk memahami novel Putri Cina dan teori sosiologi sastra untuk memahami hubungannya dengan Kerusuhan Mei 1998.

1.5.1 Teori Strukturalisme

  Teori strukturalisme dalam sastra merupakan pengertian struktural terhadap sebuah karya sastra, baik prosa, puisi maupun drama. Berdasarkan strukturnya; penelitian ini akan menelusuri sudut pandang naskah, alur cerita, latar, penokohan, dan tema.

10 Dewi, Novita. “Putri Pewarta Perdamaian : Kajian atas Putri Cina karya Sindhunata” dalam Sintesis

  Sudut pandang merupakan bagaimana suatu cerita disampaikan. Apabila disampaikan dengan “aku-an” (tokoh utama ialah si “Aku”), maka sudut pandangnya disebut orang pertama. Apabila cerita disampaikan dengan menggunakan nama tokoh dan narator yang mempunyai kedudukan di luar cerita, maka naskah mempunyai sudut pandang orang ketiga atau “dia-an”. Sudut pandang orang ketiga ini dapat dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu terbatas (hanya mengetahui beberapa tokoh saja),

   dan mahatahu (mengetahui keadaan dan pikiran semua tokoh).

  Alur cerita (plot) adalah apa yang terjadi dalam cerita. Alur ini dibagi dalam lima bagian, yakni perkenalan, munculnya konflik, perkembangan konflik, klimaks dan penyelesaian. Walaupun secara umum kelima bagian tersebut berurutan, ada juga karya yang menggunakan urutan yang berbeda, dengan menggunakan teknik seperti

   flashback untuk mengembangkan cerita.

  Latar terdiri dari tiga bagian, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosio- budaya. Latar tempat adalah ruang lingkup di mana cerita terjadi, baik secara sempit (misalnya istana presiden) maupun luas (misalnya Jawa Barat). Latar waktu adalah kurun waktu di mana sebuah peristiwa itu terjadi, baik secara sempit (misalnya jam tiga siang), maupun luas (misalnya tahun 1998). Latar sosio-budaya adalah

   11 keseluruhan adat dan kebudayaan di tempat dan waktu di mana cerita terjadi.

  Ratna, Nyo man Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga . Cetakan 1. 2004. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Hal.

  Postruk turalisme Perspek tif Wacana Naratif 12 319 – 320 13 Ibid. Hal. 240 – 243.

  Obstfeld, Raymond. Fiction First Aid: Instant Remedies for Novels, Stories and Scripts. 2002

  Penokohan adalah perkembangan tokoh-tokoh dalam cerita. Ada tiga jenis tokoh, yaitu protagonis (pelaku/pendorong cerita), antagonis (penghambat protagonis), dan tritagonis (pembantu protagonis dan / atau antagonis). Hubungan di

   antara para tokoh dapat menyebabkan dan menyelesaikan konflik.

  Tema adalah pembahasan terhadap hal- hal mendasar dalam naskah yang merupakan perjuangan universal. Ada tema klasik, seperti ‘yang baik mengalahkan yang jahat,’ dan ada juga yang lebih jarang digunakan seperti ‘yang jahat

  

  mengalahkan yang baik.’ Dalam penelitian ini, yang akan dijadikan acuan ialah plot, latar, penokohan, dan tema, sementara sudut pandang akan disinggung pada Bab III tapi tidak didalami pada Bab IV.

1.5.2 Teori Sosiologi Sastra

  Sosiologi sastra (juga disebut sosiokritik) adalah ilmu sastra interdisiplin

  

  (ilmu sastra dengan ilmu sosiologi) yang dipicu sebagai tanggapan atas kekurangan teori strukturalisme. Oleh karena dipercaya bahwa karya sastra harus dipahami sebagai satu aspek kebudayaan yang melengkapi kebudayaan lain, sosiologi sastra berusaha untuk memahaminya dalam konteks kebudayaan itu. Semua aspek saling

   14 melengkapi, baik pengarang, artifak, pembaca, maupun interteks. 15 Ratna, Nyo man Kutha. Op. Cit. Hal. 318. 16 Obstfeld, Raymond. Op. Cit. Hal. 1, 65, 115, 171. 17 Ratna, Nyo man Kutha. Op. Cit. Hal. 338. Menurut Jonathan Culler, karya sastra, yang merupakan suatu sistem simbol, hanya dapat mempunyai arti apabila dijelaskan dari mana asal- usulnya dan untuk siapa dimanfaatkan. Penelitian yang tidak memperhatikan ini tidak dapat menjelaskan

   karya sastra dengan sesungguhnya.

  Dalam penerapannya, teori sosiologi sastra dinyatakan lebih mudah dipergunakan untuk prosa, khususnya novel. Menurut Nyoman Kutha Ratna, ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, novel menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, serta paling luas. Kedua, bahasa yang digunakan cenderung bahasa

   sehari- hari, sehingga paling mudah dipahami.

  Sosiologi sastra dianggap teori yang baru. Biarpun dinyatakan telah lahir pada

   abad kedelapan belas, baru ada buku teks yang diterbitkan pada tahun 1970.

  Walaupun demikian, perkembangannya sudah pesat. Di bawah ini dijelaskan berbagai aspek teori sosiologi sastra.

  Menurut Nyoman Kutha Ratna, kedudukan karya sastra adalah sebagai berikut.

  1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin. Ketiga subjek itu adalah anggota masyarakat.

  2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang 18 terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga digunakan masyarakat.

  Culler, Jonathan. 1977. Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of

Literature . Routledge & Kegan Pau l: London. Hal. 5. dalam Ratna, Nyo man Kutha. Op. Cit. Hal.

19 337. 20 Ratna, Nyo man Kutha. Op. Cit. Hal. 335 – 336.

  3. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah- masalah kemasyarakatan.

  4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat- istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.

  5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas; artinya, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.

   Dengan demikian, menurut Nyoman Kutha Ratna kekayaan karya sastra terjadi karena dua hal, sebagaimana dijelaskan di bawah.

  1. Pengarang, dengan pengetahuan intersubjektivitasnya, menggali kebudayaan masyarakat lalu memasukkan kebudayaan itu dalam karyanya. Keberhasilan pemasukan kebudayaan itu bertitik tolak pada kemampuan pengarang dalam melukiskannya.

  2. Pembaca, dengan pengertian kebudayaan itu, memahami apa yang dibaca dengan kaca mata budaya itu. Apabila pembaca tidak memahami atau berasal dari kebudayaan itu, sangat susah untuk karya sastra berhasil mengesankan pembaca.

22 Menurut Nyoman Kutha Ratna, karya sastra selamanya milik masyarakat

  yang melahirkan pengarangnya. Selama hidup pengarang, dia dapat diakui sebagai 21 Ibid. Hal. 333. 22 pengarang karya sastra. Namun, setelah kematiannya pengarang tunggal itu diganti dengan pengarang jamak, yaitu masyarakat yang melahirkan situasi sosio-budaya yang mewarnai karya sastra. Pengarang jamak ini yang dinamakan pengarang implisit. Tidak ada karya sastra yang merupakan hanya hasil dunia batin pengarang

   sendiri.

  Pernyataan serupa dinyatakan oleh ahli ilmu sastra lain. Menurut Jonathan Culler, tidak ada karya sastra yang berasal dari pikiran yang benar-benar independen yang dapat dimengerti oleh masyarakat luas. Apabila karya sastra diharapkan untuk dibaca, dipahami, dan dinikmati masyarakat, harus termasuk horison harapan pembaca, atau sistem kebiasaan dan pikiran umum di masyarakat itu yang sudah pasti

   akan dipahami pembaca.

  Sebagai ilmu interdisiplin antara ilmu sastra dan sosiologi, sosiologi sastra juga menerapkan berbagai aspek kebudayaan, antara lain sejarah, filsafat, agama, ekonomi, dan politik. Namun, prioritas dalam penelitian sosiologi sastra adalah karya

   sastra sendiri, dengan ilmu- ilmu lain sebagai ilmu pembantu.

  Ada tiga macam model penelitian karya sastra yang dapat digunakan seorang peneliti, sebagai berikut:

  1. Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah 23 terjadi. 24 Ibid. Hal. 336. 25 Culler, Jonathan. Op. Cit. Hal. 5. dalam Ratna, Nyoman Kutha. Op. Cit. Hal. 337.

  2. Sama dengan di atas, tetapi dengan cara menemukan hubungan antarstruktur, bukan aspek-aspek tertentu.

  3. Menganalisis karya dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu, dilakukan dengan menggunakan disiplin tertentu. Model ini mudah diterapkan

   dengan cara yang salah, sehingga karya sastra menjadi objek kedua.

  Dalam penelitian ini, aspek sosiologi sastra yang akan diteliti adalah sejarah, dengan menggunakan model ketiga.

1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Metode Pengumpulan Data

  Untuk memecahkan masalah yang telah dirumuskan di atas, diperlukan data yang cukup mengenai Kerusuhan Mei 1998 beserta unsur intrinsik novel Putri Cina.

  Untuk pengumpulan data itu, digunakan dua metode, yaitu kajian pustaka dan wawancara.

  Untuk data tentang Kerusuhan Mei 1998, akan digunakan sumber sekunder, antara lain buku sejarah, artikel koran, artikel majalah, dan novel. Sementara, untuk data mengenai perasaan dan pengalaman orang, akan digunakan metode wawancara supaya perasaan dan pengalaman korban lebih menonjol.

  26

  1.6.2 Metode Analisis Data

  Oleh karena ketiga masalah yang akan dipecahkan dalam tugas akhir ini mempunyai sifat yang sangat berbeda, akan digunakan tiga metode analisis data.

  Untuk Bab 2, yang bersifat sejarah kuantitatif/kualitatif, akan digunakan metode historis deskriptif agar apa yang terjadi dapat dikemukakan dengan jelas. Untuk Bab 3, yang menggunakan teori strukturalisme, akan digunakan metode analisis objektif- deskriptif, sesuai dengan filsafat dasar teori strukturalisme bahwa tidak ada unsur di luar karya sastra yang berperan dalam pembentukan karya sastra tersebut. Sementara, untuk Bab 4, yang berusaha untuk menghubungkan keterjadian pada Kerusuhan Mei 1998 dengan keterjadian dalam novel Putri Cina, akan digunakan metode komparatif, dengan menarik kesamaan di antara kenyataan sejarahwi dan keterjadian dalam novel.

  1.6.3 Metode Penyajian Data

  Data akan disajikan secara deskriptif, dengan kesimpulan ditarik dari deskripsi itu.

  1.6.4 Sumber Data

  Sumber data yang utama digunakan untuk penelitian ini adalah sumber sekunder (sumber pustaka), di antara lain artikel majalah, artikel koran, buku sosial, buku sejarah, dan skripsi. Sementara, untuk keperluan tertentu digunakan sumber mengetahui emosi yang terasa oleh korban kerusuhan, sementara sumber tersier dalam bentuk kamus digunakan untuk penerjemahan istilah-istilah asing.

1.7 Sistematika Penyajian

  Tugas akhir ini akan dibagi menjadi lima bab dan tujuh belas subbab. Bab satu adalah pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagi menjadi tujuh subbab dan menjelaskan latar belakang masalah, masalah, teori yang digunakan, tujuan dan metode penelitian, dan sistem penyajian.

  Bab dua berfungsi sebagai informasi yang menjelaskan Kerusuhan Mei 1998, ditarik dari berbagai sumber sekunder dan hasil wawancara pribadi. Bab ini akan dibagi menjadi lima subbab, dengan subbab pertama menjelaskan penyebab Kerusuhan Mei 1998, subbab dua menceritakan peristiwa di Jakarta, subbab tiga menceritakan peristiwa di Surakarta, subbab empat menceritakan garis besar kerusuhan di kota lain dan subbab lima menjelaskan dampak kerusuhan itu dalam batin warga Cina.

  Bab tiga adalah kajian struktural Putri Cina. Bab ini akan dibagi dalam lima subbab. Setiap subbab akan merupakan penjelasan salah satu aspek struktur Putri

  Cina , yaitu sudut pandang, alur cerita, latar cerita, penokohan, dan tema.

  Bab empat mengemukakan pengaruh Kerusuhan Mei 1998 dalam Putri Cina.

  Bab ini akan terdiri dari hasil kajian interteks, yaitu antara penelitian pustaka dan unsur-unsur cerita. Dengan penyamaan ini dapat ditarik kesimpulan bagaimana Putri

  Bab terakhir adalah penutup. Bab ini akan berisi kesimpulan dan saran dari penelitian.

BAB 2 KERUSUHAN MEI 1998 DI INDONESIA

2.1 Latar Belakang

  Kerusuhan yang terjadi pada bulan Mei 1998 adalah akibat dari krisis moneter yang telah terjadi di Asia Selatan-Timur mulai di Thailand pada bulan Juli 1997. Pada saat itu, pemerintah Thailand memutuskan mengembangkan nilai tukar baht. Itu menyebabkan nilai tukar mata uang negara tetangganya, seperti ringgit dan rupiah, bergoyang. Sebagian besar mata uang di Asia Selatan-Timur menjadi lemah, termasuk rupiah. Pada tanggal 13 Agustus 1997 harga tukar rupiah sudah sampai nilai terendah yang pernah ada sampai saat itu, dengan harga tukar sebanyak Rp. 2.682 per dolar AS. Semakin hari harga tukar rupiah menjadi semakin rendah, dan harga barang dan keperluan dasar seperti nasi menjadi semakin mahal. Walaupun pemerintah Indonesia dapat pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF), tarik- menarik di antara pemerintah Indonesia dan IMF membuat situasi di Indonesia menjadi semakin buruk, sampai pada Maret 1998 situasi ekonomi di Thailand dan negara- negara lain

   sudah mulai menjadi lebih baik, tetapi situasi di Indonesia menjadi semakin buruk.

  Kehancuran ekonomi ini tidak dapat diacuhkan oleh masyarakat. Pada tengah dan akhir tahun 1997 jumlah mahasiswa- mahasiswi yang melakukan aksi keprihatinan, dan itu hanya di kampus mereka saja. Kemudian, mulai pada bulan 27 Januari 1998 jumlah mahasiswa- mahasiswi yang berpartisipasi dalam aksi-aksi

  

Luhulima, James. Hari-Hari Terpanjang: Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto dan Beberapa keprihatinan mulai bertambah sampai ratusan orang; juga ada dosen dan alumni yang mulai terlibat. Aksi keprihatinan besar pertama terjadi pada tanggal 16 Januari, 1998 di Kampus Institut Teknologi Bandung; aksi keprihatinan ini disusun oleh lebih dari 500 mahasiswa- mahasiswi. Setelah itu aksi keprihatinan menjadi semakin besar, seperti aksi keprihatinan yang terjadi di Universitas Indonesia pada tanggal 25 dan 26

   Februari dan yang terjadi di Universitas Gadjah Mada pada bulan Maret 1998.

  Akhirnya aksi-aksi keprihatinan terus meluas sampai ke seluruh kota besar di

   Indonesia, dan hampir setiap hari berlangsung demonstrasi mahasiswa- mahasiswi.

  Demonstrasi semakin hari menjadi semakin terbuka anti-pemerintah. Contohnya, pada aksi keprihatinan yang terjadi di Universitas Gadjah Mada sebuah boneka kertas Presiden Soeharto yang setinggi dua meter dibakar; marak- marak seperti ini tidak jarang berlanjut menjadi bentrokan antara mahasiswa- mahasiswi dan aparat keamanan. Agar masyarakat bisa lebih tenang dan mahasiswa- mahasiswi bisa kembali belajar tanpa melakukan aksi keprihatinan lagi, Menteri Pertahanan dan Keamanan / Panglima ABRI (Menhankam/Pangab) Jenderal Wiranto mengajak masyarakat menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah dalam dialog. Namun, pada awalnya senat mahasiswa-mahasiswi menolak ajakan berdialog. Akhirnya pada tanggal 18 April 1998 terjadi sebuah dialog antara pemerintah dan tokoh masyarakat, cendekiawan, dan mahasiswa- mahasiswi di Gedung Niaga Arena Pekan Raya Jakarta, 28 Kemayoran. Namun, sejumlah senat mahasiswa-mahasiswi tidak hadir dan, walaupun 29 Ibid. Hal. 83 – 84.

  Setiono, Benny G. Tionghoa dalam Pusaran Politik : Mengungkap Fakta Sejarah Tersembunyi Menhankam/Pangab menganggap dialog itu sukses, sebenarnya dialog antara pemerintah dan senat mahasiswa- mahasiswi itu tidak menyurutkan niat para mahasiswa- mahasiswi untuk terus menggelar aksi-aksi keprihatinan dan mimbar

   bebas.

  Awal Mei 1998 suasana di Indonesia masih sangat kacau, penuh dengan rasa takut dan ragu. Aksi mahasiswa-mahasiswi menjadi semakin luas, tetapi di antara semua ini rezim Soeharto memutuskan untuk menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Soeharto menyatakan bahwa, sesungguhnya, harga BBM sudah lama mau dinaikkan tetapi situasi sampai saat itu belum memungkinkannya, dan apabila harganya tidak dinaikkan, keadaan akan lebih berat lagi. Setelah mengumumkan itu, Presiden Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir untuk hadir di Konferens Tingkat

   Tinggi G-15. Setelah dia pergi, suasana menjadi semakin kacau.

  Korban dari aparat keamanan pertama dalam kekacauan dan aksi-aksi keprihatinan ini ialah Letnan Dua (Pol) Dadang Rusmana, Kepala Satuan Intelijen Kepolisian Resor Bogor; dia tewas di Rumah Sakit Ciawi pada pukul 16.00, tanggal 9 Mei 1998, setelah dihajar kepalanya dengan batu sampai pingsan oleh mahasiswa- mahasiswi saat dia mengamankan protes mereka di Kampus Universitas Djuanda (Unida) di Bogor. Selain Letnan Dua (Pol) Dadang Rusmana ada satu pihak keamanan lain yang tewas setelah menjadi korban pemukulan mahasiswa- mahasiswi,

  30 31 Luhulima, James. Op. Cit. Hal. 84 – 86.

   yaitu Kapten (Inf.) Ali, Kepala Seksi Intelijen Komando Distrik Militer Bogor.

  Kedua kematian itu menyebabkan pihak keamanan menjadi semakin keras terhadap mahasiswa- mahasiswi yang melakukan demonstrasi, hingga tiga hari kemudian terjadi sebuah tragedi yang, setelah semua sudah berakhir, menyebabkan ribuan orang tewas se-Indonesia, kehancuran harta yang bernilai triliunan rupiah, dan memaksa Soeharto mengundurkan diri.

  Pada pukul 17:20, tanggal 12 Mei 1998, empat mahasiswa dari Universitas Trisakti yang memprotes situasi ekonomi dan rezim Soeharto, yaitu Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Heri Hartanto, dan Hafidhin Alifidin Royan, ditembak mati setelah mahasiswa-mahasiswi mulai kembali ke kampus setelah melakukan aksi

  

  keprihatinan tanpa senjata dan secara teratur. Pelaku aksi keprihatinan kembali ke halaman kampus Trisakti pada tanggal 13 Mei untuk memprotes kezaliman penguasa militer yang telah menembak mahasiswa-mahasiswi yang tidak bersenjata, dan berhasil membunuh empat di antaranya. Namun, aksi tersebut diarahkan oleh

   provokator dan kemudian menjadi aksi rasialis anti-Cina.

  

2.2 Kerusuhan di Jakarta

2.2.1 Secara Umum

  32 33 Ibid. 111 – 112. 34 Ibid. 112 – 113. 35 Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 1083.

  Untuk gambaran tersebarnya kerusuhan dan penganiayaan, lihat Lamp iran 1: Peta Kerusuhan di

  Kerusuhan mulai tersebar dari dekat kampus Universitas Trisakti. Pada tanggal 13 Mei, sekitar pukul 11:00 WIB daerah itu ramai dengan mahasiswa yang berduka cita atas kematian rekan mereka. Ada banyak karangan bunga tanda simpati. Ada pula beberapa tokoh politik dan masyarakat berkumpul melakukan orasi,

   memberi dukungan reformasi yang dipelopori mahasiswa.

  Di luar kampus, terlihat massa terus bertambah. Ada aparat keamanan terlihat berkumpul di bawah jembatan layang Kuningan, memperhatikan massa. Setelah mahasiswa menolak bergabung dengan massa, massa mulai menyebar ke arah Roxy, Tomang, Jalan S. Parman, Jalan Daan Mogot, dan Citraland. Setelah massa bubar

  

  terjadi pembakaran di berbagai lokasi yang dilewati. Kerusuhan yang mulai dekat Trisakti ini akhirnya sampai ke seluruh Jakarta, bahkan ke Tangerang dan Bekasi.

   Massa perusuh, yang diperkirakan dua juta orang, terdiri dari orang dari

  semua segi kehidupan. Ibu- ibu dan bapak-bapak menjarah barang untuk keluarga, remaja-remaja menjarah barang elektronik seperti compact disk dan televisi, kanak- kanak menjarah gula- gula, permen, coklat, dan permainan, sedangkan orang tua menjarah kesukaan mereka. Massa ini sangat bersemangat melakukan kerusuhan ini; mereka beteriak, bertepuk tangan, dan bersorak sambil merusak, menjarah, dan

   36 membakar.

  

Jusuf, Ester Indayani dan Ray mond R. Siman jorang. Reka Ulang Kerusuhan Mei 1998. 2005. Tim

37 Solidaritas Kasus Kerusuhan Mei 1998: Jakarta. Hal. 11 38 Ibid. Hal. 15. 39 Chailil, Munawar, dan Tim Foru m. “Di Ujung Aksi Damai.” 1998. Forum Keadilan. 1 Juni

Sumbogo, Priyono B., Hidayat Gunadai, dan Andi Zulfikar Anwar. “Mereka Ingin Reformasi tapi

  Massa dikendalikan oleh provokator yang dicurigai merupakan anak buah dari

  

  aparat dengan persuasi, misalnya “Bakar Citraland!” Provokator ini kadang-kadang malah membuat perusuh lain menjadi korban. Contohnya, ratusan ibu- ibu, remaja- remaja, dan anak-anak diprovokasi untuk menyerbu beberapa mal dan menjarah barang-barang, tetapi kemudian menjadi korban pembakaran ketika provokator-

  

  provokator membakar mal atau pertokoan tersebut; ini terjadi di Yogya Plaza dan Department Store Klender, dan sesedikitnya 259 orang tewas dalam kasus-kasus

   tersebut.

  Pada umumnya target kerusuhan ini adalah orang Cina; ribuan toko dan rumah yang milik warga etnis Cina dijarah dan dibakar. Demikian juga ribuan

  

  kendaraan bermotor yang menjadi bangkai karena dibakar dalam pogrom anarkis itu. Demikian juga sejumlah mal dan pertokoan lain seperti Supermall Karawaci,

   Glodok Plaza, dan Yogya Department Store Klender. Kantor-kantor Bank Central

   Asia, yang milik Sudono Salim, juga ditarget dan menjadi korban perusuhan ini.

  Selama tiga hari kerusuhan ini terjadi (13 – 15 Mei 1998), sebagian besar orang berkuasa hanya diam. Yang bertanggung jawab atas keamanan masyarakat di 40 Jakarta, yaitu Kapolda Metro Jaya Mayjen Hamami Nata dan Pangdam Jaya Mayjen 41 Sumbogo, Priyono B., Hidayat Gunadai, dan Andi Zulfikar Anwar. Op. Cit. 23 Mei. Hal. 24 – 31 42 Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 1083 – 1084.

  

Arif, Ah mad dan Maria Hart iningsih. “10 Tahun Kerusuhan Mei: Berebut Ruang Ingatan.” 2008.

  14 Mei. Hal. 1 43 Kompas.

  “Pembunuhan besar-besaran thd suatu bangsa” Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. 2009. 44 Gramed ia: Jakarta. Hal. 1087. 45 Setiono, Benny. G. Op. Cit. Hal. 1083. Sjafrie Sjamsuddin, tidak melakukan apa pun untuk mencoba mengatasi anarki yang terjadi pada saat itu; aparat keamanan disuruh menyelesaikan kerusuhan itu sendiri.

   Demikian juga Panglima ABRI Jenderal Wiranto, yang melepas tangan, dan

  mengutamakan persiapan upacara serah terima jabatan Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad di Malang tanggal 14 Mei, 1998, walaupun ada orang yang tewas dan

   dikorbankan di sekitarnya.

  Ketika aparat keamanan berusaha untuk mencegah aksi massa, terjadi pemberontakan yang besar. Batu dilempar ke arah aparat keamanan, dan di satu kasus ada truk yang dikendarai dengan kecepatan tinggi agar truk tersebut dibenturkan ke pos polisi. Mobil polisi dikejar, dan polisi ditimpuki. Aparat keamanan membalas dengan tembakan ke udara, tetapi akhirnya mereka tidak mampu menenangkan masyarakat dan para perusuh tidak bisa dihentikan. Oleh sebab itu, karyawan- karyawan di berbagai toko dan perusahaan lain seperti Pusat Perkulakan Goro membiarkan massa membawa pulang barang, asal mereka tidak membakar gedung.

   Akhirnya, massa perusuh dibiarkan menjarah, merusak, dan membakar sepuasnya.

  Setelah kekacauan anarkis selesai, Jakarta kelihatan seperti zona perang.

   Biarpun jumlah korban dan kerugian tidak disetujui oleh para analis, sudah diakui

  bahwa jumlah korban dan kerugian tidaklah sedikit. Menurut The Jakarta Post, ada 46 lebih dari seribu orang tewas, dan jumlah seluruh kerugian diperkira sesedikit- 47 Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 1084. 48 Luhulima, James. Op. Cit. Hal. 122. 49 Ibid. Hal. 24 – 31. sedikitnya Rp. 2,5 triliun, atau USD 238 juta. Sekitar 13 pasar, 2.479 rumah toko, 40 mal, 1.604 toko, 45 bengkel, 387 kantor, 9 SPBU, 8 bus dan kendaraan umum lainnya, 1.119 mobil, 826 sepeda motor, dan 1.026 rumah dirusaki, dijarah, dan / atau

   dibakar selama kerusuhan berlangsung.

  Menurut Kompas, pada tahun 1998 jumlah korban yang tewas diperkirakan di

  

  antara 200 dan 500 orang. Namun, sekarang jumlah korban yang tewas diperkirakan

  

  mencapai 1.217 orang. Jumlah korban perkosaan mencapai 152 orang, dengan 15 di

   antara mereka yang tewas.

  Semua ini menjadi sangat mengejutkan untuk warga Jakarta, karena ketika ada protes-protes di kota lain para pemimpin sangat tegas menyatakan bahwa Jakarta adalah “kota yang paling aman dan dijaga se-Indonesia.” Oleh sebab itu, belum ada

   yang siap, baik warga maupun aparat keamanan, untuk menghindari kerusuhan itu.

2.2.2 Kerusuhan dan Penjarahan

  Dapat digunakan penjarahan Yogya Plaza di Klender, Jakarta Timur, sebagai studi kasus bagaimana kerusuhan dijalankan.

  Sekitar pukul 12.00 WIB [Pen. tanggal 14 Mei], terjadi perkelahian antar pelajar di sekitar Jalan I Gusti Ngurah Rai. Mereka terlihat saling melempar batu di Jalan Layang Klender. Sekitar 30 pelajar 50 masuk pemukiman Kampung Jati. Warga mengusir karena takut 51 Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 1084.

  

Harsanto, Damar, dalam Su mbogo, Priyono B., Hidayat Gunadai, dan Andi Zu lfikar Anwar. Op.

  23 Mei. Hal. 24 – 31. 52 Cit.

  

Hartin ingsih, Maria, dan Ahmad Arif. “Tragedi Mei: Membaca Kota dari Puing Berjelaga.” 2008.

53 Kompas.

  16 Mei. Hal. 49. 54 “Soal Kerusuhan: Pemerintah Bentuk Tim Interdep.” Op. Cit. merugikan warga. Kemudian mereka lari ke arah Klender. Sampai di stasiun Klender, di dekat persimpangan Yogya Plaza terlihat sekelompok massa, kira-kira 20 orang berdiri di situ. Ketika para pelajar itu melewati mereka, beberapa orang dari kelompok massa tersebut berteriak ‘Serang, Serang!’ Mereka memiliki ciri berbadan cukup tegap, atletis, dan berambut cepak. Segera setelah komando itu, massa menyerang pelajar dengan menggunakan kayu, batu dan batangan besi. Pelajar yang diserang lalu lari masuk ke arah Yogya Plaza.

  Kesaksian lain menyebutkan sebelumnya keadaan sekitar Yogya Plaza belum terjadi apa-apa. Kemudian banyak orang lari- lari sambil berteriak ‘Serbu Yogya! Serbu Yogya!’. Terlihat banyak yang pakai seragam sekolah, tapi badannya besar-besar dan wajahnya tua-tua, ada yang bertato. Mereka menyerbu Yogya Plaza sambil membuka pakaian seragam sekolah.

  Kesaksian lain lagi menyebutkan adanya kelompok pemuda dan pelajar yang seolah-olah bertengkar untuk mengundang massa. Kemudian massa mulai berdatangan. Tidak berapa lama kemudian terlihat ada yang mulai membakar ban bekas di depan plaza.

  Pada saat yang hampir bersamaan terlihat seorang berpakaian polisi berdiri di atas Jalan Layang Klender mengamati tawuran antar pelajar itu.

  Banyak massa yang ikut menjarah. Banyak orang terlihat mondar- mandir mengambil barang jarahan. Sekitar pukul 15.00 – 15.15 WIB, salah seorang warga melihat sebuah truk besar berplat merah berwarna orange masuk ke lokasi Yogya

  Plaza. Truk tersebut mengangkut kira-kira 50 orang yang berpakaian macam- macam (berpakaian seragam sekolah, berbaju singlet dll.) Saksi mata melihat orang-orang tersebut saling mengenal. Mereka masing- masing membawa jirigen berwarna putih dan berlari ke arah

  Yogya Plaza. Tidak diketahui apa yang mereka kerjakan, tetapi beberapa saat kemudian mereka kembali ke truk dengan tangan kosong.

  Ciri-ciri orang-orang yang datang dengan truk berwarna orange tersebut adalah berbadan tegap dan berumur kira-kira 20 – 30 tahun. Mereka berpakaian preman, ada yang menggunakan seragam SMA. Beberapa di antara mereka berambut cepak, lainnya berpotongan rambut biasa saja. Mereka sepertinya saling mengenal satu sama lain dan mendapat perintah dari supir dan satu orang yang duduk di samping supir. Setelah orang-orang tersebut berada di Yogya Plaza, kemudian terdengar ledakan keras dari belakang Yogya Plaza. Setelah ledakan, supir dan 2 orang lain di truk, melambaikan tangan ke orang-orang yang tadi membawa jirigen.

  Orang-orang tersebut kemudian kembali ke truk dengan tangan orang mengamati hal yang sama. Saat itu saksi mata sudah melihat asap tebal mulai keluar dari Yogya Plaza.

  Warga ... melihat sekitar 50 orang turun dari dua buah truk yang datang dari arah Pondok Kopi ke Yogya Plaza sambil membawa jirigen dan terlihat ada yang memimpin dengan menggunakan HT dan berkaca mata. Warga yang menyaksikan melihat bahwa isi jirigen tersebut adalah bensin. Terlihat ada orang melempar jirigen di lantai satu. Terlihat juga ada yang mengumpulkan segala macam barang menjadi satu, kemudian disiram dengan bensin (dari jirigen) dan dibakar. Diketahui kemudian ternyata ada yang mengunci lantai 2, sehingga anak-anak dan yang lainnya tidak dapat keluar menyelamatkan diri.

  Sekitar pukul 15.30 WIB, [di] lantai dua bangunan terlihat banyak orang terjebak dan berusaha keluar. Api sudah membesar dan asap tebal menghalangi pandangan. Dari luar bangunan terlihat banyak orang melambai tangan meminta tolong dari lantai 4 gedung. Warga kemudian mengambil tali tambang dari kain iklan film di bioskop Yogya Plaza untuk diulurkan dengan bambu ke lantai 4.

  Sekitar pukul 15.30 – 17.30 WIB, terlihat banyak orang dari lantai 4 turun dengan menggunakan tambang tersebut. Dalam keadaan panik, banyak juga orang melompat ke bawah. Akibat banyak orang menjadi terluka dan meninggal dunia.

  Sekitar pukul 21.00 WIB di sekitar Yogya Plaza hujan turun dan api mulai padam. Sekitar pukul 21.30 WIB, setelah api mulai padam warga mencoba masuk ke dalam gedung. Saat masuk melalui pintu eskalator di satu, terlihat kawat dikaitkan ke pintu rolling door, menghalangi jalan keluar. Saksi berhasil masuk sampai batas escalator di lantai dua. Hawa di dalam ruangan sangat panas. Sandal yang digunakan sempat meleleh. Terlihat di dalam ruangan banyak mayat terbakar bertumpuk menjadi satu.

  Warga lain, yang juga mencoba untuk memasuki bangunan, melihat pintu rolling door dalam keadaan terkunci gembok dan pintu masuk dihalangi oleh kawat yang diikat ke pintu rolling door dan dikaitkan ke eskalator sehingga pintu rolling door tidak dapat dibuka. ... rolling door tersebut sebelumnya dalam keadaan terbuka karena

   digunakan orang banyak keluar masuk gedung.

  Seperti dilihat dari kasus Yogya Plaza, awalnya sekelompok provokator 55 datang dan memancing emosi massa agar siap menjarah. Kemudian, provokator pergi dan membiarkan massa menjarah sepuasnya. Modus operandi ini juga dilihat di seluruh Jakarta, antara lain, sebagai berikut.

  • Pada tanggal 14 Mei di Sunter, Jakarta Utara, terlihat beberapa pengendara sepeda motor mondar- mandir dan memainkan gas dengan keras di sepanjang jalan depan Kompleks Ruko Griya Inti Sentosa. Pengendara motor tersebut terlihat berbadan kekar dan sebagian besar menggunakan seragam SMU, tetapi wajahnya mereka terlihat cukup tua untuk disebut pelajar SMA. Tidak lama kemudian massa datang dan menjarah Kompleks Ruko Griya Inti

56 Sentosa.

  • Pada tanggal 14 Mei, di depan Supermarket Hero Megaria, Jakarta Pusat, terlihat tiga pria berusia antara 20 – 30 tahun melempari bangunan dengan batu. Mereka berambut cepak, berbadan tegap, dan berpakaian preman. Tiga pria ini melempar batu dahulu, lalu diikuti massa. Setelah massa sibuk

   melempari dan menjarah Hero, mereka lenyap.

  • Pada tanggal 14 Mei, di Ciledug, Tangerang, terlihat sekitar 3 – 5 orang memimpin massa. Mereka umumnya berbadan kekar dan berambut cepak. Umumnya mereka mengenakan baju hitam, celana jeans dan meneriakkan yel- yel “Bakar Cina!” dan “Jarah Cina!” Di bawah pimpinan mereka, toko-

   toko dan Mal Ciledug dijarah.

  56 57 Ibid. Hal. 61 – 62. 58 Ibid. Hal. 101.

  Massa pada umumnya terdiri dari kaum rendah dan dari segala usia, baik

   dewasa, remaja, maupun anak. Jumlahnya diperkirakan mencapai dua juta orang.

  Mereka pada umumnya menjarah barang yang harga aslinya mahal, dan merusak

   barang yang tidak diambil.

  Massa dipimpin oleh sekelompok provokator. Para provokator ini mempunyai ciri-ciri yang mirip, yaitu berjenis kelamin pria, berbadan tegap dan atletis, berambut hitam cepak, dan terkoordinasi. Oleh karena itu, diduga bahwa para provokator

   adalah aparat yang memancing emosi rakyat.

  Provokator ini berusaha untuk mengarahkan serbuan massa pada perusahaan atau toko milik warga keturunan Cina atau orang Cina sendiri. Selain menggunakan

  

  

  yel seperti “Cina babi!” atau “Ganyang Cina!” dan komando seperti “Cina-Cina,

65 JP milik Cina, bakar-bakar!”, massa secara aktif diarahkan agar tidak menjarah

  perusahaan milik orang pribumi. Ini terlihat di Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat, ketika massa dikomando untuk tidak menjarah atau membakar gedung Asuransi

66 Bumi Putera.

  59 60 Ibid. Hal. 1 – 179. 61 Chailil, Munawar, dan Tim Foru m. Op. Cit. 62 Jusuf, Ester Indayani dan Ray mond R. Siman jorang. Op. Cit. Hal. 1 – 19. 63 Ibid. Hal. 101, 64 Ibid. Hal. 29 65 Ibid. Hal. 55 66 Ibid. Hal. 132

2.2.3 Kekerasan Terhadap Etnis Cina

  Selain anggota massa yang meninggal dalam kebakaran, juga sering terjadi kekerasan yang ditargetkan kepada etnis Cina. Ada bukti bahwa pemukulan,

  

  pembunuhan, dan perkosaan telah terjadi secara massal. Beberapa kasus kekerasan terhadap orang-orang Cina, antara lain sebagai berikut.

  • Pada tanggal 14 Mei di Tomang, Jakarta Barat seorang warga etnis Cina dipaksa turun dari angkatan mikrolet JB 03, lalu dipukuli beramai- ramai

   sambil barangnya dirampas.

  • Pada tanggal 14 Mei di Glodok, Jakarta Barat seorang warga etnis Cina

   kehilangan dua cucu laki- lakinya yang terbakar selama kerusuhan.

  • Pada tanggal 14 Mei di Slipi, Jakarta Barat dua orang keturunan Cina, seorang lelaki dan seorang perempuan, dilempari batu oleh massa dan luka berat. Massa berteriak “Cina babi, bunuh!” Akhirnya diselamatkan seorang aparat TNI (yang juga dilempari batu) dan dibawa ke Apotek Prima. Apotek itu kemudian hendak dibakar massa, tetapi pemiliknya keluar dengan berpakaian

   Muslim dan meyakinkan massa agar tidak melakukan hal tersebut.

  • Pada tanggal 14 Mei di Mangga Besar, Jakarta Utara, massa membakar dan merusuh sambil meneriakkan kata-kata seperti “Reformasi! Reformasi!” serta

  67 68 Setiono, Benny. G. Op. Cit. Hal. 1083 – 1084. 69 Jusuf, Ester Indayani dan Ray mond R. Siman jorang. Op. Cit. Hal. 18 – 19. 70 Ibid. Hal. 23. yel- yel anti-Cina seperti “Ganyang Cina!” Seorang warga etnis Tionghoa hampir ditikam oleh salah seorang di antara kelompok massa.

  

  • Pada tanggal 14 Mei di Jalan Mangga Besar, Jakarta Utara, sebuah mobil

  Mercedes Benz milik etnis Tionghoa dihentikan oleh lebih dari dua puluh orang, lalu penumpangnya dipaksakan turun. Mobil kemudian dirusak dan dibakar.

  

  • Pada tanggal 14 Mei di Grasera, Jakarta Timur terlihat massa melakukan

  sweeping

  pengendara bermotor. Semua yang melintasi dipaksa membuka helm sebelum diizinkan pergi. Ketika ditanya mengapa ada sweeping ini, seorang anggota massa menjelaskan “Kami mencari orang Cina.”

   Ada pula kekerasan seksual yang terjadi kepada wanita keturunan Cina.

  Perkosaan ini dinyatakan terjadi secara ramai-ramai, dan kerap tidak ada yang bersedia membantu. Contohnya, di Glodok telah terjadi perkosaan yang brutal kepada wanita etnis Cina di depan umum, dan korban-korban perkosaan itu kadang dibunuh setelah digunakan.

  Tercatat bahwa jumlah korban perkosaan mencapai 152 orang, dengan 15 di antara mereka yang tewas.

   Yang tidak dibunuh merasa trauma dan ada yang sampai masuk rumah sakit jiwa atau bunuh diri karena tidak bisa menahan rasa malu dan trauma.

   Untuk 71 Ibid. Hal. 54 – 55. 72 Ibid. Hal 61. 73 Ibid. Hal. 123. 74 “Jangan Biarkan Pelecehan dan Perkosaan Tak Terselesaikan.” 1998. Ko mpas. 06 Juni. Hal. 12. 75 “Soal Kerusuhan: Pemerintah Bentuk Tim Interdep.” Op. Cit. 76 menyelamatkan diri ribuan orang asing dan orang Cina melarikan diri, sampai

  

   perusahaan penerbangan menyediakan penerbangan ekstra untuk para pengungsi.

  Kejadian perkosaan ini sangat tragis, sebagaimana bisa dilihat dari kasus ‘Andina’ di bawah, yang terjadi di Jakarta pada tanggal 13 Mei, 1998:

  … sebut saja [Andina]. Gadis berusia 26 tahun ini, pada hari naas itu … pulang dari kantornya. Sebuah bank swasta di kawasan Tomang. Ia dibonceng pacarnya, pegawai perusahaan komputer, menuju rumahnya di bilangan Jelambar, Jakarta Barat.

  Merasa keadaan sudah mereda, mereka nekad pulang menjelang pukul 21.00 WIB. Keduanya tak pernah bermimpi, dalam perjalanan itu, di suatu tempat di Jakarta Barat mereka tiba-tiba dikepung massa yang muncul begitu saja entah dari mana.

  Di keremangan malam itu, Andina sudah tak mampu lagi berpikir diapakan saja dirinya. Yang teringat hanyalah, ia ditarik-tarik massa agar turun dari sepeda motor.

  ‘Tuhan, tolong Tuhan....’ hanya kata-kata itu yang dia teriakkan, di tengah-tengah himpitan kepanikan dan ketakutan luar biasa. Blazernya sudah terlepas, sementara seluruh harta miliknya dilolosi. Uang, handphone, kartu ATM, SIM, STNK, helm, bahkan obat dokter untuk orang-tuanya yang baru ditebus di apotek, habis dijarah.

  Andina tidak ingat lagi, diapakan saja dirinya waktu itu. Hanya doa yang terus menguatkannya. Sekali ia jatuh terjengkang, tetapi dengan kekuatan yang tersisa ia bangun dan kembali memegang baju pacarnya erat-erat. Sang pacar, yang orang-tuanya berencana melamar tanggal 17 Mei -empat hari sebelum kejadian ini menimpa- tak berdaya dipukuli massa. Yang terdengar hanyalah rintihannya, ‘Ampun Pak… ampun… Saya orang biasa...’

  Sementara teriakan massa makin menyeramkan. Tetapi dalam keputusasaan, menurut penuturan Andina, tiba-tiba ada orang tua muncul. Ialah yang memerintahkan agar para penjarah membebaskan dua anak manusia ini. Andina dan pacarnya bisa pergi meninggalkan tempat itu, sebelum kemudian ditolong polisi jaga di dekat situ yang 77 juga tak luput dari lemparan batu massa. 78 Sumbogo, Priyono B., Hidayat Gunadai, dan Andi Zulfikar Anwar. Op. Cit. 23 Mei. Hal. 24 – 31.

  

Kelana, A ries, dan I. Made Suarjana. “Yang Untung dan Buntung.” 1998. Gatra. 23 Mei. Hal. 66 –

  Oleh polisi mereka diantar ke rumah penduduk. Seorang penduduk kemudian memboncengkan keduanya sampai rumah. Berhari-hari kemudian, Andina masih saja dicekam peristiwa itu [hingga] lama ia tak masuk kantor. Sekujur tubuhnya penuh bilur-bilur biru, bahkan juga di pangkal paha. Bekas-bekas kekerasan ini, baru hilang seminggu kemudian. [Ketika ditanya mengapa dia menceritakan peristiwa itu, dia menyatakan bahwa dia] ‘Sakit, sakit sekali... Saya bercerita, dengan harapan ada salah satu dari mereka bisa membaca, bisa tahu apa yang

  

  saya rasakan, dan tak mengulanginya pada orang lain.’ Beberapa kasus perkosaan lain yang tercatat termasuk:

  • ‘Dini’, seorang wanita keturunan Cina yang diculik di daerah Jalan Jenderal Sudirman lalu diperkosa di daerah persawahan pada tanggal 15 Mei 1998.

   Karena menjadi trauma, dia akhirnya berpindah ke Amerika Serikat.

  • ‘Mei Ling’, seorang ibu dari dua anak keturunan Cina yang pada tanggal 14 Mei 1998 dicegat massa di jalan, lalu diperkosa oleh empat orang pria. Setelah diselamatkan, badannya penuh memar dan dalam keadaan syok. Menjadi sangat takut pada lelaki, dan akhirnya harus masuk ke rumah

   perawatan di Jakarta, dengan anaknya diasuh orang lain.

  • ‘Lina’, seorang pemudi keturunan Cina yang pada tanggal 14 Mei 1998 dikejar massa lalu diperkosa ramai-ramai di dalam rumahnya oleh lebih dari sepuluh orang. Setelah diperkosa, perempuan berusia empat belas tahun itu

  79 80 “Luka Kerusuhan, Lu ka Perempuan.” 1998. Kompas. 5 Juni. Hal. 1. 81 “Hidup yang Terenggut”. 2003. Tempo. 25 Mei. Hal. 169. menjadi takut pada lelaki dan tidak mendapatkan haid untuk jangka waktu yang panjang. Akhirnya berpindah ke Taiwan.

  

  • ‘Mona Johan’, seorang pemudi keturunan Cina yang diperkosa di antara tanggal 13 dan 14 Mei 1998 oleh lima orang lelaki. Empat di antara mereka memegang kakinya, sementara lelaki kelima menempatkan leher dan kepala Mona ke ujung tempat tidur, lalu memaksa alat kelaminnya ke dalam mulut Mona. Keempat pria lain bergantian memerkosanya di vagina. Setelah diperiksa, akhirnya Mono Johan bersama keluarga berpindah ke Australia.

  

2.2.4 Respons Aparat Respons aparat selama kerusuhan terjadi tidak ada kepastian.

   Dalam kasus-

  kasus tertentu, seperti kasus Slipi di atas, aparat berusaha untuk menyelamatkan warga yang ada dalam kondisi bahaya, bahkan atas risiko besar.

  Namun, ada pula banyak laporan aparat tidak berusaha untuk mencegah penjarahan atau kekerasan, biarpun ada kemampuan. Misalnya, di daerah Mangga Besar, Jakarta Utara, pada tanggal 14 Mei 1998:

  Saksi ... melihat sekitar 50-an orang dari arah Jembatan Baru berusaha memasuki wilayah Pasar Pagi Mangga Dua. Kelompok massa ini dihadang 50-an pasukan Kostrad (terlihat dari baret hijau yang dikenakan) yang berjaga di bawah jalan layang kereta api. Selain pasukan yang berjaga juga terlihat 2 buah truk dan panser. Warga mengatakan 82 Ibid. Hal. 169. 83 Gunadi, Fannie. “Mona, di Balik Sprei Kembang.” 1998. Tempo. 12 Oktober. Hal. 63. 84 Lihat Lampiran 1: Peta Kerusuhan di Jakarta, bagian Titik A muk Massa Terbesar untuk gambaran bahwa pasukan terlihat telah berjaga sejak siang hari pada tanggal 13 Mei.

  Kelompok orang tersebut setelah berhasil dihadang akhirnya bergerak mundur menuju perumahan dan toko di Jalan Mangga Dua. Sekitar pukul 10:00 – 11:00 WIB, sebuah toko material mulai dilempari kelompok massa yang baru saja berpindah dari seberang jalan. Toko tersebut dilempari hingga pecah kaca-kacanya, kemudian mereka mulai menggedor dan mendobrak pintu lantai bawah. Tidak lama kemudian asap tebal mulai mengepul dan membesar dengan cepat. Terdengar beberapa kali ledakan (diperkirakan disebabkan oleh pengencer cat yang diletakkan di lantai bawah).

  Suasana menjadi semakin panik setelah asap mulai memenuhi lantai dua dan pintu belakang yang tidak bisa dijebol penghuni bangunan. Akhirnya dengan segala upaya 3 laki- laki penghuni toko berhasil keluar dari bangunan dengan dibantu warga yang berada di belakang toko. Orang tua dan seorang penghuni lainnya juga berhasil ditolong, tetapi mereka telah dalam keadaan terbakar.

  Setelah semua penghuni bangunan berhasil keluar, salah seorang korban menghampiri pasukan yang berada di bawah jembatan layang. Ia meminta bantuan dan pengawalan untuk mengantar anggota keluarga yang luka ke rumah sakit. Permintaan itu ditolak pasukan. Kemudian korban tersebut menghubungi ambulans. Ambulans baru datang sekitar pukul 22:00 WIB.

  Selama peristiwa terjadi, pasukan yang berjarak sekitar 20 meter tersebut tidak melakukan tindakan menghalangi atau menghentikan

   massa yang melempar, membobol, dan membakar bangunan.

  Selain itu, ada laporan bahwa ada aparat yang mencari keuntungan dalam kerusuhan itu. Menurut hasil penelitian Tim Solidaritas Kerusuhan Mei 1998, di wilayah Glodok pada tanggal 14 Mei 1998 terlihat sekelompok polisi yang menyuruh perusuh mengisi truk dengan barang jarahan, lalu pergi dengan membawa barang-

   barang itu.

  Ada pula kecurigaan bahwa provokator yang memancing rakyat untuk 85 melakukan kerusuhan adalah tentara, biarpun ini belum dibuktikan. Menurut pikiran 86 Ibid. Hal. 46 – 48.

  rakyat pada waktu itu, Letnan Jenderal Prabowo Subianto, yang pada saat itu merupakan pemimpin Kostrad, bersama Mayor Jenderal Syafrie Sjamsoeddin, yang bertanggung jawab atas anggota ABRI di Jakarta, menyuruh bawahannya untuk memancing emosi rakyat dan melakukan kekerasan untuk dua alasan, yaitu untuk meneror musuh pemerintah dan memalukan Menteri Pertahanan Jenderal Wiranto,

  

  yang menjadi pesaingnya untuk menjadi presiden setelah Soeharto turun. Biarpun memang provokator mempunyai ciri-ciri yang seperti prajurit dan hal ini dipercaya oleh rakyat, belum ada bukti definitif.

  Risiko untuk aparat yang berusaha untuk mencegah amuk massa memang tinggi, sebagaimana dilihat di Jalan Kyai Tapa, Grogol, Jakarta Barat ketika pos

  

  polisi hancur ditabrak truk, lalu dibakar. Namun, aparat bertugas untuk mencegah kerusuhan sebisa mungkin dan tidak dibenarkan untuk menggunakan situasi untuk kepentingan sendiri.

2.2.5 Reaksi Warga

  Sebagai akibat ketidakmampuan aparat untuk mencegah massa, masyarakat terpaksa mengambil inisiatif sendiri untuk melindungi diri. Menurut ahli politik- ekonomi AS Albert Hirschman, secara umum ada tiga respons yang paling dimungkinkan dalam kerusuhan, yaitu exit (keluar dari negara di mana kerusuhan

  87 Purdey, Jemma. Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996–1999. 2006. Singapore University 88 Press: Singapura. Hal. 106 – 107. terjadi), voice (melakukan protes dan demonstrasi), dan loyalty (menerima semua

   dengan diam). Ketiga cara ini digunakan oleh masyarakat.

  Exit pada umumnya dilakukan orang Cina. Mereka bersembunyi di

  beberapa hotel milik pribumi atau meninggalkan Indonesia untuk pergi ke negara

  

  asing yang dianggap lebih aman. Jumlah pengungsi Cina pada saat itu diperkira

  

  

mencapai 10.000 sampai 100.000 orang.

  Sementara, voice digunakan oleh karyawan toko-toko tertentu yang ditarget oleh massa. Namun, voice ini bukan merupakan cara menentang pasif. Karyawan berusaha secara aktif untuk mencegah penjarahan. Misalnya, di Jatinegara Plaza, Jakarta Timur, karyawan ditugaskan untuk menjaga pintu dan menghentikan orang

  

  yang berusaha untuk masuk; karyawati disuruh pulang. Ini juga terlihat dalam kasus orang yang menyelamatkan tetangga, seperti keluarga keturunan pemilik toko

   material yang diselamatkan oleh warga setempat di Mangga Dua, Jakarta Utara.

  Sementara, jalan loyalty diikuti oleh orang-orang miskin atau menengah, baik pribumi maupun keturunan; ini kelompok yang paling besar. Pemilik toko

  

  pribumi memasang tanda bertulisan “Milik Pribumi”, “Milik Haji,” “Pro-

  89 Khoiri, Ilham. “I. W ibowo tentang Liberalisasi Masyarakat Tionghoa.” 2008. Ko mpas. 10 Februari. 90 Hal. 12.

  

Sumbogo, Priyono B., Khoiri A kh madi, dan Nurlis Effendi. "Massa Hantu Merayap dan Memicu

91 Kerusuhan Itu." 1998. Gatra. 16 Mei. Hal. 24 – 28. 92 Khoiri, Ilham. 2008. Op. Cit. 93 Gie, Kwik Kian. “Warga Keturunan Tionghoa dan Distribusi.” 1998. Kompas. 7 Juni. Hal. 4. 94 Jusuf, Ester Indayani dan Ray mond R. Siman jorang. Op. Cit. Hal. 130 – 131. 95 Ibid. Hal. 46 – 47.

96 Reformasi”, dan sebagainya; mereka berharap agar kepribumian mereka dapat menghindari amuk massa.

  Orang Cina bersembunyi di rumah diam-diam dan berharap agar semua kerusuhan selesai dengan cepat. Orang-tua berkorban demi keselamatan anak mereka dengan cara menyediakan makanan sepuasnya untuk anak-anak tetapi hanya mengambil makanan untuk dirinya sendiri ketika anak-anak sudah puas. Banyak

  

   orang-tua yang harus berpuasa selama beberapa hari kerusuhan itu terjadi.

  Namun, ada pula orang yang menggunakan kerusuhan itu untuk mencari keuntungan sendiri. Karena situasi mendesak itu, harga naik tidak terkendalikan.

  Contohnya, harga tiket keluar Jakarta dinaiki sembarangan, hingga tiket pesawat

   Jakarta – Batam yang aslinya hanya Rp. 580.000 dijual dengan harga 1,3 juta.

2.3 Kerusuhan di Surakarta

  Pada bulan Mei 1998 kota Surakarta (juga dikenal dengan nama Solo) mengalami kerusuhan yang mirip Jakarta. Pada tanggal 8 Mei ada insiden di antara kurang- lebih 5.000 anggota masyarakat dan polisi; dalam kasus itu sebanyak 25 orang terluka oleh peluru karet dan lebih dari 100 orang terluka oleh pelemparan

  

  batu. Keadaan menjadi lebih anarkis mulai dari tanggal 14 Mei 1998 kerusuhan 96 yang disebabkan oleh penewasan empat mahasiswa Trisakti di Jakarta mulai terasa di 97 Wawancara pribadi dengan Wahyu Apri Wulan Sari, tanggal 15 November 2008. 98 Sumbogo, Priyono B., Khoiri A kh madi, dan Nurlis Effendi. 1998. Op. Cit. Hal. 24 – 28. 99 Khoiri, Ilham. 2008. Op. Cit. 100 “Lega..., Lepas dari Jakarta.” 1998. Kompas. 21 Mei. Hal. 8.

  Surakarta. Dengan kabar tentang penembakan mahasiswa- mahasiswi Trisakti, rasa hangat berkembang dalam hati masyarakat umum dan menyebabkan warga-warga

   Solo mulai kerusuhan yang terasa separah kerusuhan yang terjadi di Jakarta.

  Didahului oleh orang yang bersepeda motor, massa menjarah semua pertokoan dan sebagainya sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi, Sudirman, Urip Sumoharjo, Ir Sutami, dan seluruh jalan di dalam kota. Massa juga dipinggirkan oleh warga Surakarta yang, walau tidak menjarah, memberi semangat kepada para perusuh. Warga Cina yang terlihat dikejar dan diperlakukan dengan jahat. Dalam

   waktu semalam, hasil pembangunan selama 30 tahun dihancur dan dibakar.

  Aparat keamanan tidak mampu menghindari kerusuhan itu. Jumlah aparat keamanan di Surakarta diakui sangat sedikit, dan dari personel yang ada sebagian besar ditugaskan untuk mendukung Polri mengamankan aksi keprihatinan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Oleh sebab itu, massa perusuh tidak

  

  dihentikan dan penjarahan, perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran terjadi, baik

  

  kepada milik warga umum maupun milik aparat keamanan. Akibatnya, massa perusuh mampu bergerak ke luar kota. Pada tanggal 15 Mei 1998 massa sebesar ribuan orang sudah tiba di Boyolali, Jawa Tengah dan menjarah dan membakar

   pabrik, toko, rumah, dan sebagainya. Dampak dari ini terasa sampai ke Salatiga.

  101 102 “Kota Solo Penuh Asap.” 1998. Kompas. 15 Mei. Hal. 11. 103 “’Si Lembut’ Itu Mendadak Beringas.” 1998. Kompas. 16 Mei. Hal. 11. 104 “Amien Rais: Kerusuhan Jakarta dan Solo ada Dalangnya.” 1998. Kompas. 11 Juni. Hal. 1. 105 “Kota Solo Penuh Asap.” 1998. Op. Cit. Hal. 11

  Oleh sebab kerusuhan itu, hampir semua pusat pembelanjaan tertutup. Demikian juga bank, sekolah, kantor pemerintah, dan sebagainya. Warga Surakarta yang tidak ikut massa itu hanya bisa bersembunyi, berdoa dan berharap bahwa mereka tidak akan kena kerusuhan itu. Toko-toko, bank, kantor, dan lain- lain sejauh Salatiga, Jawa Tengah, tutup karena takut dirusuh oleh massa itu.

  

  Ketika kerusuhan sudah selesai pun jarang ada yang berani membuka tokonya; demikian banyak orang yang menderita saat itu.

  

  Warga Cina di Surakarta dijadikan kambing hitam untuk semua masalah masyarakat, dan demikian ditarget dalam kerusuhan itu. Perumahan, vihara, dan toko Cina dirampok dan dibakar oleh massa tersebut. Berikut adalah naratif dari Wahyu Apri Wulan Sari, seorang orang Jawa dengan keturunan Jepang yang tinggal di Surakarta pada saat kekacauan Mei 1998.

  Saya melihat banyak sekali pertokoan, mall, pasar, semuanya dibakar. Banyak bangkai mobil dan kendaraan bermotor lainnya yang menjadi bangkai di jalan raya pada saat itu. Penjarahan juga ada di mana-mana. Banyak rumah-rumah penduduk di Surakarta, khususnya penduduk Cina yang dijarah, dan dibakar. Bahkan ada banyak juga wanita yang diperkosa; tapi tidak sebanyak di Jakarta.

  Salah satu teman saya yang terkena serangan itu, Lina (dia adalah warga keturunan Cina yang [keluarganya] memiliki toko buku terkenal di Solo, namanya Toko Buku Sekawan), dia sendiri diperkosa, dan orang tuanya dibuang keluar. Seisi tokonya dijarah penduduk. Walaupun penjagaan dari para penduduk setempat sudah banyak membantu, tapi ternyata itu semuanya tidak berhasil. Akhirnya Toko Sekawan tersebut terbakar, seisinya. Dan Lina sendiri menjadi stress berat, sampai saat ini. Dia sekarang masih berada di Rumah Sakit Jiwa Kentingan, Surakarta. 106 Ibid. 107

  Setiap saya dan keluarga saya berjalan di jalan dengan menggunakan mobil atau kendaraan lain, dan kami hampir diserang penduduk, kami selalu berkata, ‘Kami orang Jawa, kami Pro- Reformasi!,’ atau menyebutkan nama perusahaan kami yang dikenal dengan nama Indonesianya. Rumah kami juga ditulisi dengan banner Pro-Reformasi, yang jumlahnya banyak sekali.

  Kami telah mencoba membantu orang Cina. Dulu, sempat kami membantu orang Cina, yang rumahnya kebetulan berhadapan dengan rumah tante saya di daerah Jagalan. Jagalan adalah salah satu kampung Cina di Solo. Mereka satu keluarga bertempat tinggal di Vihara, walaupun mereka tidak terkena serangan apapun, tapi mereka merasa takut akan serangan yang mungkin akan tiba-tiba terjadi. Akhirnya mereka kami tampung di rumah tante selama beberapa hari, dan kebetulan saat itu, saya dan keluarga saya ikut juga.

  Awalnya kami semua takut untuk keluar rumah, bahkan kami berencana untuk pindah ke luar kota, dan juga pindah sekolah. Solo benar-benar seperti kota mati saat itu, tidak ada orang, cuma bangkai mobil dan motor, dan juga pecahan kaca di mana- mana. Banyak gedung yang terbakar. Sekolah-sekolah, termasuk sekolah saya pun, ditutup untuk beberapa waktu, sampai menunggu pengumuman lebih lanjut dari pihak sekolah. Lebih parah lagi, kami tidak bisa menemukan toko atau pasar yang terbuka, jadi kami sempat kehabisan bahan makanan selama beberapa hari. Suasana saat itu benar-benar

  

  seperti perang mendadak di kota Solo (Lampiran 3) Oleh sebab Surakarta jauh lebih kecil daripada Jakarta (luasnya Surakarta

  2

  sekitar 44 km dan penduduk pada saat itu berjumlah 500.000), kerugian dan intensitas kerusuhan itu lebih terasa, dan selama berbulan-bulan warga Cina di Surakarta hidup dalam suasana ketakutan, walaupun suasana di Surakarta mulai menjadi lebih tenang pada tanggal 17 Mei 1998. Dalam aksi kerusuhan yang terjadi selama dua hari itu, tercatat 56 kantor dan bank, 27 toko swalayan, 217 toko, 12 rumah makan, 18 ruang pamer mobil, dan delapan pabrik dirusak dan dibakar. Massa

  108

  

  juga membakar 287 mobil, 570 sepeda motor, 55 bus dan tujuh truk. Jumlah

  

  kerugian dari kerusuhan itu mencapai Rp. 457 miliar. Selain itu, korban tewas

  

  terbakar dalam bangunan yang terbakar diperkirakan mencapai 31 orang. Ada juga 24 keluarga yang melaporkan bahwa ada anggota keluarga yang diperkosa saat

  

  kerusuhan itu. Dari 230 perusuh yang ditangkap polisi, hanya 19 masih ditahan

   satu bulan kemudian.

2.4 Kerusuhan di Kota-Kota Lain

  Di kota lain di Jawa juga terjadi kerusuhan, tetapi pada umumnya tidak separah kerusuhan yang terjadi di Jakarta dan Surakarta. Walaupun demikian, warga Cina penuh dengan rasa ketakutan, baik di kota yang mengalami kerusuhan maupun di kota yang masih relatif tertib. Warga yang tinggal di pinggiran kota, jauh dari

  

aparat keamanan, merasa paling khawatir.

  Di Surabaya, 10.000 orang keturunan Madura menjaga keamanan Surabaya

  

  dengan membawa celurit. Namun, penjarahan masih terjadi pada tanggal 14 Mei di kawasan Sidotopo. Massa membobol pintu toko-toko dan menjarah, kemudian

   109 membakar milik warga keturunan Cina. Akibatnya, warga Surabaya masih harus 110 “Warga Desak Otak Kerusuhan Solo Diungkap.” 1998. Kompas. 06 Juni. Hal. 11. 111 “Daerah Sekilas.” 1998. Kompas. 06 November. Hal. 8. 112 “Warga Desak Otak Kerusuhan Solo Diungkap.” 1998. Op. Cit. 113 “Perkosaan di So lo Tak Terungkap.” 1998. Ko mpas. 22 Juli. Hal. 11. 114 “Polisi So lo Masih Menahan 19 Perusuh.” 1998. Ko mpas. 22 Juni. Hal. 9. 115 “Lega..., Lepas dari Jakarta.” 1998. Kompas. 21 Mei. Hal. 8. 116 “Rakyat Harus Ikut Mencari Perusuh.” 1998. Ko mpas. 22 Mei. Hal. 5.

  Wijayanta, Hanibal W. Y., Sen Tjiauw, dkk. “Percik Bara Seantero Nusantara.” 1998. Foru m

  

  menjaga diri dengan cara mereka sendiri. Toko, kantor, dan sebagainya tertutup. Di Bandung, massa melempari toko-toko dengan batu hingga sekitar 20 toko rusak

  

  berat. Juga masih ada ratusan orang Semarang yang melarikan diri agar mereka

  

  tidak kena kerusuhan apabila kerusuhan terjadi. Di seluruh Jawa, suasana sangat was-was oleh karena adanya kerusuhan besar di Jakarta dan Solo. Yang paling was- was ialah warga Cina, yang pada umumnya menutup diri dalam rumah, rumah toko,

   atau hotel, atau keluar dari Indonesia.

  Berikut adalah naratif dari Trifosa Sie Yulyani Retno Nugroho, seorang warga keturunan Cina yang bertempat tinggal di Semarang sejak lahir sampai tahun 2009.

  Naratif ini menggambarkan suasana di Semarang pada saat itu.

  … [keluarga saya] merasa sedikit takut karena banyak isu yang mengatakan, seperti ‘ninja- ninja itu akan mendatangi rumah-rumah orang Cina atau suku Cina dengan membunuh atau bahkan merampas harta dan memerkosa para gadis atau wanitanya.’ Jadi, kami hanya bersembunyi di dalam rumah dan mempersiapkan pintu darurat bila seandainya sesuatu terjadi, dan kami merasa was-was di saat malam. Jadi tidur pun terasa harus terjaga.

  Kemudian, saat sekolah harus sedikit tertutup dengan menggunakan jaket dan topi untuk menutupi identitas diri sehingga tidak mencolok di luar; itu karena di Semarang ada kejadian dekat rumah kami di mana seorang gadis Cina yang sedang naik motor dipukul sampai jatuh dari motornya dan diperkosa ramai-ramai... dan dia dibiarkan tergeletak begitu saja di jalan. Saya tidak melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri; saya hanya mendengarnya dari tetangga-tetangga yang menyaksikan kejadian ini. Akan tetapi, tidak seorang pun dari mereka yang berani menolong gadis itu saat kejadian berlangsung. Dia akhirnya ditolong dan dibawa 117 ke rumah sakit ketika segerombolan orang jahat itu pergi 118 “Hamp ir Seluruh Kota Sepi dan Mencekam.” 1998. Op. Cit. 119 Wijayanta, Hanibal W.Y., Sen Tjiauw, d kk. Op. Cit. Hal. 19. 120 “Lega..., Lepas dari Jakarta.” 1998. Kompas. 21 Mei. Hal. 8. meninggalkannya; namun, malang gadis itu akhirnya meninggal dunia. Pada saat itu saya merasa sangat takut dan membenci sekali perbuatan [pemerkosa itu] (Lampiran 4.).

2.5 Dampak dari Kerusuhan Mei 1998

  Pada saat kerusuhan di Jakarta terjadi, Presiden Soeharto masih hadir di KTT G-15 di Kairo, Mesir; setelah dia diberi tahu keadaan di Indonesia dia segara kembali ke Indonesia. Namun, setiba di Indonesia Presiden Soeharto menyadari dia kehilangan kendali pemerintahan dan kekuasaan karena demonstrasi untuk menuntut dilakukannya reformasi dan penggantian pemerintahan telah mencapai puncaknya; puluhan ribu mahasiswa- mahasiswi berdemonstrasi setiap hari di seluruh Indonesia. Apalagi, empat belas calon anggota kabinetnya telah meninggalkan beliau, dipimpin oleh Menteri/Ketua Bappenas Ir. Ginanjar Kartasasmita. Oleh karena hal- hal itu, pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden RI, dan Wakil Presiden Habibie mengambil sumpahnya menjadi Presiden

   RI. Berakhirlah masa Orde Baru dan muncullah masa Reformasi.

  Suasana politik berubah dengan hadirnya Presiden Habibie. Dia segara berusaha untuk menjaga jarak dari rezim otoriter Soeharto dan membersihkan citra buruk Indonesia di dunia internasional. Untuk mendapatkan itu, Presiden Habibie melakukan tiga hal: dia mengutuk Kerusuhan Mei 1998 dalam jumpa pers pada

  

  tanggal 15 Juni 1998, memerintahkan Jaksa Agung Mayjen Andi Galib, SH. agar 121 memeriksa kasus korupsi yang telah terjadi pada saat Orde Baru, dan juga mulai 122 Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 1086. menghapus dikotomi di antara orang Pribumi dan orang Non-Pribumi dengan cara

   mengeluarkan Instruksi Presiden No.26/1998 pada tanggal 16 September 1998.

  Namun, selama berbulan-bulan setelah kerusuhan, masih ada orang yang mengancam

   korban kerusuhan dan menyatakan bahwa kerusuhan itu akan terulang.

  123 124 Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 1087 – 1090.

BAB 3 ANALISIS STRUKTURAL NOVEL PUTRI CINA Bab ini, yang membahas struktur novel Putri Cina, mulai dari sudut pandang dan

  gaya bahasa yang digunakan supaya pengertian alur yang lebih mendalam dapat digarap. Peristiwa-peristiwa dalam cerita tidak bisa lepas dari bagaimana alur disampaikan; tidaklah mungkin bahwa ada eksposisi tentang perilaku antagonis dalam cerita bersudut-pandang Aku-an. Sementara, setelah alur dibahas maka hal- hal yang tergantung pada alur, yaitu latar dan penokohan, akan dijelaskan supaya pengertian alur ini menjadi lebih bulat. Terakhir ada tema, yang mengikat segala aspek cerita.

3.1. Sudut Pandang

  Novel Putri Cina ditulis dalam sudut pandang dia-an maha-tahu. Dia-an ini memusatkan tokoh “Putri Cina” dan Giok Tien, tetapi ada pula tokoh lain yang pikirannya disampaikan penulis. Berikut ada tiga contoh, satu dari pihak Putri Cina, satu dari Giok Tien, dan satu dari Prabu Murhardo sebagai tokoh minor. Yang mengisahkan Putri Cina berbunyi demikian:

  Tak henti-hentinya, ia si Putri Cina itu, bertanya, ke mana wajahnya? Segala jawab ia dapatkan, toh belum juga wajah itu ia temukan. Ia tidak sadar, ia sendiri yang telah meletakkan wajahnya. Ia merasa, wajah itu berat dan amat mengganggunya. Sekarang, wajah itu

   bagaikan sebuah topeng yang selalu ada di tangannya. 125 Sementara, kutipan dari bagian yang mengisahkan Giok Tien: Giok Tien baru saja melepas dandanannya. Tiba-tiba di hadapannya berdiri seorang lelaki tampan dan gagah perkasa. Giok Tien sendiri terkejut, mengapa di hatinya terasa, seakan ia melihat Pangeran Tejaningrat sungguhan berdiri di hadapannya? ‘Tidakkah Pangeran Tejaningrat itu hanyalah Tejo, temanku sesama pemain Ketoprak Sekar Kastubo yang sudah kukenal setiap hari? Kenapa ia seakan menjadi sungguh nyata, persis seperti kubayangkan sebagai Tejaningrat yang asli,

   ketika aku main sebagai Roro Hoyi?’ tanya Giok Tien dalam hati.

  Sementara, kutipan dari bagian yang mengisahkan perilaku Prabu Murhardo: Prabu Amurco Sabdo berhenti lagi sejenak. Ia terentak dan bertanya mendadak. Mengapa senapatinya bisa memiliki Putri Cina yang cantik ini, dan aku sendiri tidak? Hatinya lalu makin bergelora panas. Sekarang Gurdo Paksi, senapatinya, tak mau patuh dan taat pada perintahnya. Dan bisa saja ia mengkhianatinya. Sebelum ia dikhianati oleh Senapati, apa salahnya ia menikmati istrinya yang cantik ini? Senapati boleh menghancurkan kekuasaannya, tetapi apa arti kemenangan itu, bila ia bisa menggagahi dan menghancurkan istrinya ini? Ya, dengan menaklukkan istrinya, ia telah menaklukkan dan membungkam kuasa Senapati, jika ia memang sungguh hendak

   mengkhianatinya.

3.2. Gaya Bahasa

  Gaya bahasa yang digunakan dalam Putri Cina bersifat mistis dan klasik, dengan banyak penggunaan kosa kata dan struktur kalimat yang agak kuno; dengan demikian, kadang tampak seperti puisi prosa.

  Unsur mistisnya paling kuat di awal cerita, ketika Putri Cina mencari identitasnya. Teknik ini digunakan karena berdasarkan mitos Jawa. Misalnya: ‘Bukan, Tuan Putri, bukan! Sebelum ada agama apa pun, manusia di Tanah Jawa ini sudah didera dengan pertikaian. Buminya sudah ditaburi dengan darah dendam dan pembalasan. Semua hanyalah lanjutan darah Kurusetra, di mana nenek moyang mereka, sesama saudara, berperang habis-habisan dan meninggalkan warisan dendam, satu sama

   126 lainnya, sampai sekarang,’ kata Sabdopalon-Nayagenggong. 127 Ibid. Hal. 193. 128 Ibid. Hal. 250 Setelah tokoh utama pindah menjadi Giok Tien, gaya bahasa menjadi lebih deskriptif, tetapi masih menggunakan kosa kata yang klasik. Ini melambangkan faktor- faktor duniawi yang menonjol, biarpun dinyatakan terjadi di suatu kerajaan rekaan. Misalnya:

  Keadaan genting yang membuat matanya gelap, ternyata sekaligus membuat rahasia tersingkap, di lubuknya terdalam kuasa yang selama ini mengungkapkan diri keluar dalam segala bentuk penindasan dan kekerasan, adalah kuasa kesyahwatan, kuasa lelaki yang harus menaklukkan perempuan. Dalam matanya yang sudah digelapkan itu, ia hanya tahu, dunia akan mencemoohnya, dan kuasanya akan lumpuh tak berdaya, bila ia tidak dapat melampiaskan hasrat syawat kelaki- lakiannya terhadap perempuan yang diingininya, yang kini ada di hadapannya. Ia

   sudah tidak dapat lagi menahan diri untuk segara menelanjanginya.

  Dalam penceritaan Putri Cina juga sering digunakan istilah- istilah Jawa. Ini memberi rasa kelokalan dan aktualitas; oleh karena cerita terjadi di tanah Jawa, harusnya ada unsur-unsur kebudayaan Jawa, termasuk bahasa. Selain itu, raja Medang Kemulan Baru, Sabdo Murhardo, memegang adat Jawa dengan erat dan sering menggunakan bahasa Jawa dalam dialognya. Istilah- istilah dan kalimat-kalimat

  

  bahasa Jawa yang digunakan termasuk bebathen (keuntungan), jamane edan

  

  (zamannya gila) sendika dhawuh (setuju dengan perintah) tedheng aling-

  

aling (secara rahasia) (wanita

   129 paling cantik, di seluruh dunia tidak ada yang sama). 130 Ibid. Hal. 247. 131 Ibid. Hal. 83.

  

Purwadi. Kamus Jawa-Indonesia Populer. Cetakan Pertama. 2004. Med ia Abadi: Yogyakarta. Hal.

132 36. 133 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 119. 134 Purwadi. Op. Cit. Hal. 155, 146. 135 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 140. 136 Dalam konteks ini, ‘akan saya turuti’. Purwadi. Op. Cit. Hal. 520, 100.

3.3 Alur

  Alur Putri Cina secara kronologis sebagai berikut: bab satu kontemporer dengan bab tiga belas sampai selesai, dan bab dua sampai dua belas adalah flashback.

  Ini terbukti karena pada bab satu sudah ada krisis identitas; apabila sudah ada itu, pasti sudah ada peristiwa yang menyebabkan itu.

  Secara plot, urutan Putri Cina sebagai berikut:

  Lambang 1: Alur Putri Cina

Bab Halaman Bagian Alur Tanda

  9 – 14

  1 Perkenalan 1 ; Timbulnya Konflik 1 1 A 1 1 , B 1 2 – 12 15 – 87 Peningkatan Konflik C 13 – 17 88 – 148 Perkenalan 2 ; Timbulnya Konflik 2 A 2 , B 2 149 – 152

18 Peningkatan Konflik

  2 C 2 153 – 165 19 – 20 Perkenalan 3 ; Timbulnya Konflik 3 A3, B 3 21 – 28 166 – 257 Peningkatan Konflik 3 C 3 29 – 31 258 – 302 Klimaks; Penyelesaian D; E

  atau A – B – C – A – B – C A – B – C – D – E.

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  3

  3

  3 Pada bab pertama, tokoh Putri Cina diperkenalkan. Konfliknya sebagai tokoh

  juga muncul; ternyata dia merasa kehilangan identitas, yang ditandai dengan kehilangan wajahnya.

  Dalam Peningkatan Konflik , Putri Cina teringat pada cerita rakyat. Anak raja

  1 137 Majapahit, Jaka Prabangkara, dihukum karena telah menggambarkan selir 138 Departemen Pendidikan Nasional. Op. Cit.. Hal. 1416. 139 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 248 Merupakan penyusunan kalimat sendiri dari terjemahan ‘cantik’, ‘wanita’, ‘seluruh’, ‘dunia’, ‘tidak’, ‘ada’, ‘sama’. Zoet mulder, P. J. Dan S. O. Robson. Kamus Jawa Kuna Indonesia.

Diterjemah kan Darusuprapta dan Sumart i Suprayitna. Cetakan Kelima. 2006. Gramedia: Jakarta. 140 Hal. 34, 90, 404, 1005, 1198. Tanda ditentukan oleh kedudukan unsur itu dalam alu r konvensional. No mor kecil (subscript)

menandai p lot mana yang tampil. D dan E tidak mempunyai subscript karena menyatukan ket iga kesayangan raja dengan sangat tepat, termasuk noda hitam dekat vaginanya. Sebagai hukuman, Jaka Prabangkara ditugaskan untuk menggambarkan semua yang ada di langit dan tidak turun dari langit sampai dia tiba di negeri Cina. Setiba di sana, dia menjadi terkenal dan akhirnya menikah dengan dua perempuan, yaitu seorang warga miskin dan seorang putri kaisar Cina; keturunannya bertakdir kembali ke tanah Jawa. Oleh karena itu, Putri Cina merasa bahwa dia sebenarnya sudah orang Jawa.

  Namun, dia teringat lagi bahwa pada kerajaan Majapahit sudah ada seorang selir dari Cina; dengan demikian, Putri Cina merasa bahwa pencariannya tidak selesai. Dia ingat bahwa selir Cina itu telah dienyahkan saat hamil ke Sumatra karena kehendak permaisuri kesayangan raja; selir itu dinikahkan dengan anak raja itu dan akhirnya melahirkan anak dari kedua bapak-anak itu. Kedua anaknya tumbuh dewasa, lalu pulang ke tanah Jawa dan akhirnya menjatuhkan raja Majapahit dan mendirikan kerajaan baru, kerajaan Demak.

  Putri Cina tidak tega, anaknya bisa mengkhianati ayah mereka. Dia merasa itu melawan adat. Maka dia, sebagai selir Cina itu, pulang ke tanah Jawa, mencari jawaban. Setelah bertemu dengan Loro Cemplon, seorang hamba di kerajaan Majapahit, dia berangkat ke Banyuwangi untuk mencari Sabdopalon-Nayagenggong.

  Setiba di sana, dia bertanya Sabdopalon-Nayagenggong mengapa Tanah Jawa selalu menjadi rawan perang.

  Sabdopalon-Nayagenggong menceritakan kutukan Sarama, dewi anjing, sebagai balasan kekerasan yang terjadi kepada anaknya. Sabdopalon-Nayagenggong ratus tahun, dan bangsa Cina yang dikambinghitamkan. Sabdopalon-Nayagenggong juga menyatakan bahwa itu sebenarnya salah mereka ada kutukan seperti itu.

  Sabdopalon-Nayagenggong menceritakan asal usul Semar, Togog dan Batara Guru. Mereka adalah tiga dewa bersaudara yang berasal dari satu telur. Untuk mendapatkan jabatan raja dewa dari ayah mereka, Semar dan Togog berlomba menelan Gunung Gabawarsa. Togog gagal, tetapi Semar berhasil. Namun, gunung itu tidak bisa keluar dari perutnya. Akhirnya Semar dan Togog digusur ke bumi dan Batara Guru menjadi pemimpin dewa. Perbuatan cekcok mereka yang seperti manusia akhirnya menjadi ciri khas manusia.

  Ketika Putri Cina bertanya kepada Sabdopalon-Nayagenggong mengapa mereka merasa bersalah, mereka mengakui bahwa merekalah Semar dan murca, atau hilang. Setelah itu, Putri Cina bersama Loro Cemplon pergi ke kota Tuban. Di sana, mereka berpisah dan Putri Cina melewati waktu ratusan tahun dalam waktu singkat.

  Saat perjalanan waktu dia melihat keturunan Jaka Prabangkara kembali ke Tanah Jawa dalam jumlah besar. Mereka menjadi kaya raya, tetapi mulai melupakan budaya asalnya. Putri Cina juga melihat kekerasan terhadap bangsanya; dia melihat 10.000 orang Cina dibunuh di Batavia oleh penguasa Tanah Jawa Baru, Kompenie, ratusan orang Cina dibunuh di Tangerang pada tahun 1946, pembunuhan dan perkosaan di Malang pada tahun 1947 dan pembunuhan tanpa alasan pada tahun 1949 di Surabaya.

  Setelah melihat semua penderitaan ini, dia berhenti ketika lagu “Cucak Rowo” pakaian dan mendekatkan wayang Cina potehi wanita ke celana dalamnya. Putri Cina, karena sudah terbiasa kekerasan, tidak mengerti ancaman itu.

  Pada bab tiga belas sampai dengan enam belas terjadi perkenalan latar baru, yaitu Kerajaan Medang Kamulan Baru. Kerajaan Medang Kamulan Baru adalah lanjutan dari Kerajaan Medang Kamulan yang didirikan dengan ideologi yang beda. Walau ketika Kerajaan Medang Kamulan Baru masih baru itu sangat dicintai oleh rakyat, kini hanya ada rasa putus asa; putus asanya sangat parah, sampai Kerajaan Medang Kamulan Baru juga diberi nama panggilan Kerajaan Pedang Kemulan dan Negeri Mampir Ngombe.

  Para antagonis dan salah satu protagonis diperkenalkan pada bab tujuh belas, yaitu raja Prabu Murhardo, senapati Setyoko (dengan nama Gurdo Paksi), lurah prajurit Radi Prawiro (dengan nama Joyo Sumengah) dan penasihat Patih Wrehonegoro. Konflik baru juga timbul; karena rakyat sedang banyak demonstrasi dan ingin menjatuhkan Prabu Murhardo, dia atas saran Patih Wrehonegoro ingin mengalahkan amarah rakyat kepada orang Cina. Namun, Setyoko tidak bersedia. Dia ingin mencari jalan tanpa kekerasan; karena itu, dia menyerahkan Nyai Pesat Nyawa, keris senapati, kepada Prabu Murhardo. Joyo Sumengah, akan tetapi, bersedia melaksanakan tugas itu dan menerima keris senapati.

  Dalam bab berikutnya, konflik kekuasaan Prabu Murhardo dan rakyat ditingkatkan. Kebencian masyarakat dialihkan ke orang Cina. Akibatnya, harta- harta orang Cina dijarah, rumah dibakar, dan wanita Cina diperkosa dan dibunuh. Dalam amuk massa ini aparat tidak bergerak; karena tidak ada aksi dari mereka, terasa bahwa mereka mendukung perusuh ini.

  Pada bab sembilan belas dan dua puluh plot ketiga muncul. Tokoh Giok Tien, Giok Hwa dan Giok Hong, tiga kakak-beradik, bersiap untuk mengungsi ke negara Singa. Biarpun Giok Tien istri Setyoko, mereka tidak merasa aman. Saat bersiap untuk mengungsi, Giok Tien menjadi terkenang akan masa lalu.

  Giok Tien mengingat masa kecilnya, ketika masih sering mengikuti ibunya menonton ketoprak. Lama-kelamaan dia menjadi pemain ketoprak juga di rombongan Sekar Kastubo. Bersama teman satu rombongan, Korsinah, dia belajar tentang dunia ketoprak. Ketika dia menjadi bintang rombongan itu, dia juga menjadi pujaan lelaki; Korsinah juga mengajar dia dalam hal ini.

  Namun, konflik timbul ketika Radi Prawiro, seorang prajurit muda, menjadi mabuk cinta untuk Giok Tien. Biarpun dia ditolak, dia tidak mengalah. Dia berjanji kepada dirinya bahwa dia akan mendapatkan Giok Tien suatu saat.

  Konflik ini lalu ditingkatkan dalam tujuh bab berikutnya. Bersama Sekar Kastubo Giok Tien keliling Indonesia. Dia menjadi pemain dan bintang ketoprak Sekar Kastubo. Namun, dia juga menggunakan waktu itu untuk berdoa demi masa depan. Demi kelancaran pemeranannya, Korsinah memberikan rapal ke Giok Tien.

  Dia menjadi semakin terkenal dan pintar bermain.

  Di saat itu Radi Prawiro tidak putus asa untuk memiliki Giok Tien. Dia bicara pada wanita tua dan membayarnya agar Giok Tien kena guna, terpaksa mencintainya. Setelah dia kena guna, Giok Tien merasa semakin gila. Namun, Korsinah mengerti itu dan bisa menghilangkan guna itu.

  Suatu hari, dia menjadi Roro Hoyi dalam lakon Geger Mataram. Karena perannya sangat luar biasa, akhirnya seorang prajurit muda, Setyoko, mendekatinya untuk mengakui cinta. Giok Tien pun jatuh cinta Setyoko, dan mereka menjadi pacar. Lama- lama mereka tunangan, tetapi karena Giok Tien masih ingin main ketoprak, mereka belum berani menikah. Giok Tien juga takut perbedaan suku mereka akan menimbulkan masalah.

  Akibat kedekatan Giok Tien dan Setyoko, Radi Prawiro menjadi sangat cemburu dan menyimpan dendam kepada Setyoko. Dia tidak ingin melepaskan Giok Tien.

  Sebelum memerankan Eng Tay dalam lakon Sam Pek Eng Tay, Giok Tien mengucapkan rapal yang diajari Korsinah. Pemeranannya sangat bagus, dan dia merasa bahwa dia hampir menjadi Eng Tay yang sesungguhnya. Dia sangat gembira.

  Tidak lama setelah itu, Siok Nio, ibu Giok Tien, meninggal dunia. Perpisahannya dengan Siok Nio membuat Giok Tien sangat terharu. Oleh karena itu, dia tidak main ketoprak lagi, tetapi berpindah ke ibu kota bersama kakak-kakaknya untuk bersama dengan Setyoko.

  Setelah mengingat masa lalu itu, Giok Tien, Giok Hwa, dan Giok Hong kembali mengepak untuk mengungsi ke Negara Singa. Namun, ada kelompok orang masuk ke rumah. Mereka memerkosa dan membunuh Giok Hwa dan Giok Hong. Giok Tien trauma atas pembunuhan kakak-kakaknya, apalagi karena mereka tertusuk Nyai Pesat Nyawa yang milik suaminya.

  Setelah dia dibawa ke rumah Radi Prawiro, ternyata Radi Prawiro tidak datang untuk benar-benar menyelamatkan Giok Tien. Dia ingin menggagahi Giok Tien dan memenuhi nafsunya, serta balas dendam kepada Setyoko. Namun, Prabu Murhardo datang sebelum Radi Prawiro bisa menanggalkan pakaian Giok Tien dan Radi Prawiro disuruh berhenti karena perilakunya tidak untuk kepentingan negara.

  Giok Tien lega.

  Pada saat yang sama Setyoko pulang ke rumah dan diprotes warga-warga setempat. Mereka memandang dia sebagai pembunuh dan pengkhianat; mayat Giok Hwa dan Giok Hong telah ditemukan, bersama Nyai Pesat Nyawa. Setyoko menegaskan bahwa dia tidak bersalah, lalu berangkat ke istana raja untuk mencari keadilan.

  Giok Tien dibawa Prabu Murhardo ke istana. Di sana, Prabu Murhardo bingung mengapa dia membawa Giok Tien. Dia sampai pada jawaban bahwa dia ingin memiliki Giok Tien. Akibatnya, dia menggagahi Giok Tien. Radi Prawiro masuk ke ruangan itu saat Prabu Murhardo masih menggagahi Giok Tien, tetapi diam sampai Prabu Murhardo bersyahwat.

  Setelah Prabu Murhardo bersyahwat, Radi Prawiro berbicara. Dia menganggap Prabu Murhardo munafik, karena telah melakukan hal yang sudah dia melarang. Prabu Murhardo tidak merasa bersalah; menurut dia itu haknya sebagai nikmat Radi Prawiro; setelah Radi Prawiro selesai, mereka hendak membunuh Giok Tien.

  Radi Prawiro segara turun menggagahi Giok Tien, tetapi tidak mencapai puncak nafsu. Pada klimaks Setyoko akhirnya masuk ke ruangan itu dan menghentikan Radi Prawiro. Dia marah besar, dan berusaha membantu istrinya. Dalam debat yang terjadi saat itu Setyoko mengancam akan ada perang saudara; Giok Tien menghindari itu dengan menyatakan bahwa dia bisa menjatuhkan Prabu Murhardo dengan mudah; dia ada bukti bahwa raja itu biadab. Setyoko juga mengatakan bahwa keluarganya dibunuh, entah oleh siapa; sebagai bukti itu dia menyerahkan Nyai Pesat Nyawa. Prabu Murhardo mengalah.

  Akibat persetujuan bersama, Prabu Murhardo mengundurkan diri sebagai raja dan Setyoko mengundurkan diri dari jebatan senapati. Radi Prawiro naik pangkat menjadi senapati dan menerima Nyai Pesat Nyawa kembali. Berakhirlah plot nomor dua.

  Empat puluh hari setelah kematian Giok Hong dan Giok Hwa, Giok Tien berdoa untuk roh mereka. Dia tidak percaya pada suaminya; dia masih merasa anak buah suaminya telah membunuh kakaknya. Namun, setelah Setyoko datang dan menyerahkan seragam senapatinya kepada roh Giok Hong dan Giok Hwa, Giok Tien sadar bahwa suaminya benar-benar mencintainya. Mereka berpelukan, bahagia bersama.

  Kesunyian ini dipecah ketika Radi Prawiro berusaha untuk menembak anak panah itu. Setyoko memegang mayat istrinya, lalu mengakui bahwa dia merasa lebih parah daripada pengkhianat karena tidak bisa melindungi istrinya. Akhirnya dia pun kena anak panah.

  Radi Prawiro mendekati mayat cinta dan musuhnya. Dia puas karena dendamnya akhirnya dibalas, tetapi merasa sedih karena dia sendiri sudah membunuh Giok Tien. Setelah mencoba melupakan cintanya kepada Giok Tien, dia mengakui bahwa cintanya kini membunuhnya. Dia lalu berusaha untuk memegang mayat Giok Tien, tetapi kedua mayat itu lenyap menjadi kupu-kupu.

  Kupu-kupu itu beterbangan ke langit. Radi Prawiro melihat, ada awan yang bentuknya mirip sekali dengan Giok Tien. Dia merasa bahwa dirinya sudah dimaafkan, tetapi masih tidak tega. Akhirnya dia menikam diri dengan Nyai Pesat Nyawa. Plot nomor tiga selesai.

  Melihat kupu-kupu itu beterbangan dan bersuka ria Putri Cina merasa lega. Dia merasa bahagia, dan terbang bagai kupu-kupu ke seluruh tanah Jawa, berbunga- bunga dan membagikan permata Suinli. Orang Jawa dan orang Cina tinggal dalam kedamaian sejahtera. Plot satu selesai.

3.4 Latar

3.4.1 Latar Tempat

  Latar tempat luas dalam Putri Cina ada dua, yaitu Indonesia, terutama tanah Jawa, dan negeri Cina. Indonesia adalah tempat keterjadian sebagian besar cerita, dan anjing ajaib dan dua dewa yang turun ke bumi; namun, kemistisan ini sudah hilang pada Kerajaan Medang Kamulan Baru. Sementara Cina, yang hanya muncul pada

  Bab 2, digambarkan sebagai negara yang sangat berdasarkan hal yang aktual. Walaupun kaisar dinyatakan keturunan dewa, tidak ada dewa yang muncul dalam cerita; hal lain di negara Cina hanya terkait dengan manusia biasa. Selain itu, ada puluhan latar tempat sempit. Latar tempat yang paling penting dalam cerita ini adalah:

  • rumah Giok Tien dan Setyoko, sebuah rumah besar yang mewah, dan tempat di mana Giok Hwa dan Giok Hong diperkosa dan dibunuh;
  • istana Prabu Murhardo, istana raja yang besar dan digunakan untuk pertemuan

  Prabu Murhardo bersama penasihatnya beserta perkosaan Giok Tien dan pemerasan Prabu Murhardo;

  • kuburan Giok Hong dan Giok Hwa, tempat kuburan kakak-kakak Giok Tien dan pembunuhan Giok Tien dan Setyoko oleh Radi Prawiro;
  • tempat pementasan Sekar Kastubo, di mana Giok Tien berkenalan dengan

  Setyoko dan Radi Prawiro dan juga mendapatkan saran atas kehidupan dari Korsinah;

  • kerajaan Majapahit dan Demak, dua kerajaan yang dikunjungi Putri Cina saat mencari identitasnya; dan
  • Banyuwangi, di mana Putri Cina mendapatkan penjelasan mengapa tanah Jawa membahayakan untuk orang keturunan Cina.

3.4.2 Latar Waktu

  Ada dua latar waktu besar dalam Putri Cina, yaitu pada keruntuhan Majapahit dan pada akhir abad kedua puluh. Bab dua sampai dengan sebelas terjadi pada tahun- tahun keruntuhan Majapahit, sebagaimana digambarkan alurnya. Sementara bab dua belas sampai selesai terjadi pada akhir abad kedua puluh; ini ditandai pada halaman 85 dan 86 dengan Putri Cina tiba di Medang Kamulan Baru ketika lagu “Cucak Rowo” sedang popular.

  Latar waktu sempit sangat banyak dan berbeda-beda. Namun, tidak ada yang pasti seperti “jam delapan pagi” atau “hari Rabu,” semuanya relatif. Antara lain, ada:

  • ketika matahari hampir terbenam, ketika Putri Cina diberi tahu alas an

  

  mengapa Tanah Jawa rawan kerusuhan;

  • malam yang sangat gelap, ketika Giok Hong dan Giok Hwa diperkosa dan dibunuh, Giok Tien diperkosa dua kali, dan Setyoko dan Prabu

  

  Murhardo mencapai kesepakatan untuk mengundurkan diri;

  • malam benderang dengan bulan purnama, waktu Putri Cina menyadari

  

  bahwa dia tidak mempunyai wajah; dan

  • empat puluh hari setelah kematian Giok Hong dan Giok Hwa, ketika Giok

   Tien dan Setyoko dibunuh Radi Prawiro.

  141 142 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 43. 143 Ibid. Hal. 223. 144 Ibid. Hal. 10.

3.4.3 Latar Sosio-Budaya

  Tanah Jawa digambarkan sebagai negara yang mempunyai kebudayaan kerajaan yang sampai akhir cerita dipegang. Dengan demikian, kuasa raja dianggap mutlak; dia boleh berbuat apa saja. Namun, Prabu Murhardo sudah menjadi seperti raja terpilih. Dia tidak takut pada orang luar, tetapi rakyatnya sendiri. Dengan demikian, Kerajaan Medang Kamulan Baru bisa dinyatakan sudah dipengaruhi demokrasi.

  Pemerintahan Medang Kemulan Baru munafik dalam hubungannya dengan rakyat. Walau sebenarnya Prabu Murhardo adalah hamba masyarakat, dia menakuti dan menginjak masyarakat untuk menahan kekuasaannya. Bahkan ketika ada sesuatu yang mengancam kekuasaannya, seperti gara-gara dan demonstrasi, perasaan rakyat itu dialihkan ke orang-orang Cina.

  Orang Cina dalam Putri Cina digambarkan sebagai orang yang berusaha untuk mencampuri adat Cina dan Jawa sehingga menjadi beda dari keduanya. Walau masih percaya pada dewa-dewi Cina dan mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang bersifat kecinaan, tokoh seperti Giok Tien dan Siok Nio digambarkan menyukai kebudayaan Jawa seperti ketoprak:

  Pada zaman itu bukanlah aneh orang-orang Cina suka menonton ketoprak, wayang orang, atau ludruk. Beberapa orang Cina malah sempat ikut menjadi pemain di perkumpulan sandiwara-sandiwara itu. Malah ada sebuah perkumpulan wayang orang, yaitu semua pemainnya orang Cina, Ang Hing Ho namanya.

  Di kotanya, Siok Nio juga suka menonton ketoprak. Jika ada perkumpulan ketoprak sedang main di kotanya, paling tidak seminggu sekali Siok Nio pasti menyempatkan diri untuk menonton. Dan ke sana, ia selalu membawa anak-anaknya, terutama Giok Tien, putri bungsunya. ...

  Karena sering diajak menonton, akhirnya Giok Tien juga menyukai ketoprak. ... Tapi entah kenapa, ia tiba-tiba sering membayangkan, alangkah indahnya jika ia boleh menjadi pemain

   ketoprak.

  Orang-orang Jawa digambarkan sebagai orang yang terkutuk dan terpaksa harus selalu bertengkar dengan sesama. Mereka iri hati karena melihat kekayaan orang-orang Cina, tetapi tergoda oleh kaum perempuan Cina. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa orang Cina dibenci tetapi diinginkan sebagai pasangan.

  

3.5 Penokohan

3.5.1 Putri Cina

  Putri Cina, tokoh protagonis pertama, adalah tokoh yang sangat kriptis. Dia tampaknya bisa di mana-mana, atau di hanya satu tempat. Dia bisa menggunakan badan orang lain sebagai badannya, atau bisa terbang bebas bagai kupu-kupu. Oleh karena itu, ada beberapa interpretasi tokoh Putri Cina.

  Menurut penulis, Putri Cina adalah tokoh yang berdiri sendiri dan tidak merupakan perwujudan tokoh lain. Dia adalah ibu metaforis dari semua orang Cina di Tanah Jawa, dan mewakili perasaan umum kaum Cina pada suatu saat tertentu. Dengan demikian, dia mempunyai kekuatan yang luar biasa yang digunakan untuk 145 menenangkan diri dan mencari informasi. 146 Ibid. Hal. 156 – 157.

  

Di sini hanya akan dijelaskan tokoh-tokoh yang akan ditelit i pada Bab IV. Tokoh-tokoh lain,

misalnya Sabdopalon-Nayagenggong, tidak akan dibahas karena tidak men jadi acuan untuk

  Kemungkinan lain, Putri Cina adalah perwujudan dari Giok Tien. Bila demikian, Putri Cina adalah representasi roh Giok Tien saat Giok Tien mencari jawaban atas pembunuhan kakak-kakaknya. Dalam waktu empat puluh hari di antara pembunuhan Giok Hong dan Giok Hwa, Giok Tien menggunakan pengalamannya dari dunia ketoprak untuk mencari identitasnya dan jawaban mengapa kekacauan dan kerusuhan terjadi. Oleh karena terjadi dalam dunia batin Giok Tien, dia mempunyai kekuatan untuk melakukan apa saja.

  Bagaimana pun dia, baik tokoh sendiri maupun perwakilan dari tokoh lain, Putri Cina mempunyai karakterisasi yang khas. Dari segi fisik, dia:

  ... [dikatakan], ... cantik jelita. Matanya nyaris sipit, tapi menambah wajahnya jadi lebih manis. Hidungnya tak terlalu mancung, tapi ia tampak sebagai gadis opera Peking yang amat anggun. Kulit wajahnya langsat kuning. Indah, meski tak seasli gadis-gadis asli Cina di tanah leluhurnya. Memang dahulu dia luar biasa. Dia dikenal kaya raya, dengan kecantikan yang luar biasa dan hati baik yang meninggalkan kenikmatan

   bagi orang-orang yang dijumpainya. Dia harum bagai bunga.

  Namun, akibat trauma dia tidak merasa demikian. Dia merasa bahwa dia jelek dan tidak berguna. Dia selalu kelihatan sedih, dan bahkan wajahnya sudah hilang.

  Walaupun dia tambah kaya, dia merasa itu atas kehilangan dirinya sendiri.

  Pada akhir cerita, Putri Cina menjadi lega dan lepas dari depresinya karena melihat cinta Giok Tien dan Setyoko yang tidak pernah bisa dipisahkan, kendati mereka Cina dan Jawa. Dengan mengetahui bahwa kaumnya akan bisa hidup bersama

  147 dengan orang Jawa dengan baik, Putri Cina menjadi bebas dari depresinya dan

   menjadi bagai kupu-kupu, menyebarkan kehidupan baru di Tanah Jawa.

3.5.2 Giok Tien

  Giok Tien adalah tokoh utama dan protagonis kedua. Dia seorang putri Cina yang menikah dengan Setyoko. Dahulu dia bekerja sebagai pemain ketoprak, tetapi setelah kematian ibunya dia meninggalkan pekerjaan dan tinggal di Ibu Kota bersama suaminya dan kedua kakaknya, Giok Hong dan Giok Hwa.

  Dia terkenal cantik jelita, sehingga ketika dia pemain ketoprak ada ratusan lelaki jatuh cinta kepadanya dan merayunya, antara lain Radi Prawiro. Hal itu dan beberapa hal lain membantu dia menjadi terkenal dalam dunia ketoprak:

  Dalam waktu yang tak lama, Giok Tien akhirnya menjadi bintang Sekar Kastubo. Penonton amat mengaguminya, karena ia dapat menjiwai peran-perannya. Suaranya indah. Kata-katanya seperti mengalir dari hatinya. Dan tentu saja, semuanya itu menjadi bertambah indah, karena Giok Tien adalah pemain yang cantik jelita. Kulitnya kuning langsat.

  Matanya sipit. Hidungnya mungil. Alisnya naik menggaris. Ini semua

   makin menjadikan dia pemain yang lain daripada yang lain.

  Dari segi batin, dia adalah wanita yang kuat dan tahu apa yang diinginkannya. Ketika masih kecil dia berani meminta izin menjadi pemain ketoprak. Saat menjadi pemain ketoprak dia bisa menolak ratusan lelaki yang merayunya, bahkan yang menggunakan guna atau menawarkan harta. Ketika 148 dia selesai digagahi oleh Prabu Murhardo dan Radi Prawiro, dia mampu berdiri 149 Ibid. Hal. 299 – 302. dan menyatakan bahwa dia akan menyebabkan kejatuhan kerajaan itu karena dibuktikan kemunafikan raja dan pejabat.

  Cintanya kepada Setyoko tulus dan tidak pernah hilang. Namun, setelah kematian kedua kakaknya dia menjadi bingung akan suaminya yang sebenarnya; Prabu Murhardo dan Radi Prawiro sudah mengatakan bahwa Setyoko telah membunuh mereka dan Giok Tien percaya mereka. Akan tetapi, setelah dia melihat betapa Setyoko berduka cita atas kematian Giok Hong dan Giok Hwa, Giok Tien tidak ragu-ragu lagi dan berani mengorbankan diri demi suami.

3.5.3 Setyoko / Gurdo Paksi

  Setyoko (nama pangkat Gurdo Paksi) adalah Senapati Kerajaan Medang Kemulan Baru dan suami Giok Tien; dengan demikian, tritagonis ini mendukung protagonis. Walau dia berketurunan Jawa dan menjadi pejabat negeri, dia tidak peduli tentang etnisitas Giok Tien. Dia bahkan sangat senang bersama orang-orang Cina; kesenangan itu mungkin juga dari harta yang dapat dikumpulkan dari mereka, sebagaimana dikutip di bawah:

  ‘Benar kau, Joyo Sumengah. Aku bahkan pura-pura menutup mataku, walau aku tahu, Senapati menjadi kaya raya karena kedekatannya dengan orang-orang Cina itu,’ sambung Gurdo Amurco

   Sabdo.

  150

  Walau sebelumnya dia telah menangani kerusuhan dengan kejam dan keras, dia tidak sanggup melanjutkan tugas itu. Dia berusaha untuk menyelesaikan masalah itu dengan lembut, tanpa kekerasan; oleh karena dia merasa dipengaruhi oleh keris sakti Senapati, Kyai Pesat Nyawa. Ini membuat prestasinya jatuh dengan Radi Prawiro dan Prabu Murhardo.

  Cinta dia pada Giok Tien tulus. Dari awal pertemuan mereka pertama dia berlangkah pelan dan tidak buru-buru. Akhirnya setelah mereka menikah Giok Hwa dan Giok Hong juga diajak tinggal di kediaman mereka di Ibu Kota. Setelah mengetahui Giok Tien diperkosa Prabu Murhardo dan Radi Prawiro, dia marah besar dan mengancam perang saudara kepada Prabu Murhardo. Namun, ketulusan cinta dia paling kelihatan setelah Giok Tien ditembak dengan panah oleh Radi Prawiro; dia segara menyesal ketidakmampuannya untuk melindungi keluarganya:

  ‘Giok Tien, akulah yang harus minta maaf padamu. Dulu aku berjanji padamu, tak hendak aku menjadi Tejaningrat yang mengkhianati cintamu. Sekarang, kau mati terlebih dahulu. Itu pun kaulakukan untuk melindungi aku dari sambaran anak panah ini. Tien, seharusnya aku yang melindungimu. Tapi akhirnya kau jugalah yang melindungi aku, sampai kau mati terlebih dahulu. Tien, memang aku tak berbuat seperti Tejaningrat, tapi sebagai lelaki yang pernah menjadi prajurit, aku ternyata demikian lemah dan tak berdaya, melebihi Tejaningrat,’ kata Gurdo Paksi merindih sedih.

  Air mata Gurdo Paksi terus berlinangan. Diciuminya wajah Giok Tien berulang-ulang. Ia terus menggendong tubuh istrinya itu dan menghadapkannya ke kuburan kakaknya.

   151

3.5.4 Radi Prawiro / Joyo Sumengah

  Radi Prawiro (nama pangkat Joyo Sumengah), antagonis pertama, adalah punggawa keamanan istana. Dengan demikian, jabatannya lebih rendah daripada Setyoko. Dia adalah orang yang licik dan terkenal keras, sehingga ditakuti oleh massa. Namun, dia juga menyimpan rasa cinta kepada Giok Tien yang tidak mereda setelah puluhan tahun; rasa cinta ini juga menyebabkan dia mempunyai rasa dendam kepada Setyoko, yang mampu memiliki Giok Tien.

  Rasa cinta dan dendam ini menyebabkan dia berbuat hal yang jahat. Dia merencanakan pembunuhan Giok Hong dan Giok Hwa, berusaha untuk memerkosa Giok Tien, lalu akhirnya berhasil setelah diizinkan oleh Prabu Murhardo. Dia juga membunuh Giok Tien (tidak sengaja) dan Setyoko dengan panah.

  Namun, setelah kematian Giok Tien cinta tulus Radi Prawiro tampil jelas sekali. Dia segara menyesal kematian Giok Tien, dan akhirnya menusuk diri karena sesal itu. Dia tampaknya tidak sanggup melanjutkan hidupnya dengan pengetahuan bahwa dia sendiri sudah membunuh wanita yang paling dia cintai, biarpun dia dimaafkan Giok Tien.

  ‘Tien, aku hanya hendak membunuh suamimu untuk melampiaskan dendamku. Bila suamimu sudah tiada, dengan segala cara aku ingin membujukmu untuk mau hidup bersamaku, karena aku amat mencintaimu, Tien. Ternyata kau malah terbunuh mendahului suamimu. Hatiku hancur dan sedih, Tien, karena akhirnya akulah yang membunuhmu,’ rapat Joyo Sumengah. Suaranya pedih menyayat-nyayat. ...

  ... senyum itu sudah cukup untuk menjadi tanda, bahwa Giok Tien telah memaafkan segala kekejaman yang ia lakukan. ... tanpa berpikir panjang, Joyo Sumengah pun menghunus keris Kyai Pesat Nyawa dari sarungnya. Lalu secepat kilat, ia menusukkan keris pusaka itu ke dadanya...

  Karena tusukan Kyai Pesat Nyawa, darah pun menyembur keras

   dari dadanya, dan Joyo Sumengah roboh, tergeletak tak bernyawa.

3.5.5 Prabu Murhardo / Prabu Amurco Sabdo Prabu Murhardo, antagonis kedua cerita, adalah raja Medang Kamulan Baru.

  Saat dia menjadi raja, rakyat sangat bahagia. Namun, setelah dia sudah lama berkuasa dan semakin mabuk kuasa rakyat menjadi putus asa dan mencari jawaban dalam minuman keras. Akhirnya mereka beramuk massa, menentang kekuasaan raja.

  Prabu Murhardo tidak memikirkan kepentingan orang lain, hanya dirinya sendiri. Walaupun orang Cina telah banyak membantu dan memperkaya dia, dia mengambil keputusan agar amuk massa diarahkan ke mereka agar dia bisa menikmati

  

  kekuasaannya. Saat perintahnya itu ditolak oleh Setyoko untuk alasan nurani, Prabu Murhardo menjadi marah dan mengancam akan memecat Setyoko sebagai Senapati, seakan itu penghinaan terhadap diri Prabu Murhardo.

  Prabu Murhardo juga munafik. Walau dia telah menegaskan kepada Radi Prawiro bahwa Giok Tien tidak boleh digagahi karena akan menyebabkan kekacauan dan urusan pribadi tidak boleh dicampur dengan urusan negara, dia sendiri sanggup memerkosa Giok Tien. Ketika Radi Prawiro menangkap basah perbuatannya, Prabu Murhardo tidak merasa bersalah besar:

  ‘Bukankah Paduka sendiri yang berkata, negeri sedang berada 152 dalam keadaan gawat, karena itu Paduka mencegah dan menyuruh hamba 153 Ibid. Hal. 295 – 298. menunda nafsu hamba terhadap Putri Cina ini? Padahal hamba sendiri sesungguhnya sudah tidak bisa menguasainya lagi!’ ...

  ‘... lelaki mana bisa tahan, bila berhadapan dengan Putri Cina yang cantik dan menggairahkan ini? ... Joyo Sumengah, jangan kau berpura-pura. Diam-diam dengan kata-katamu, kau telah menyalahkan dan menuduh aku. ... Aku adalah rajamu, selayaknyalah kau

  

  mendahulukan kemauanku.’ Akhirnya, sebagai akibat dari perbuatannya dia terpaksa harus mengundurkan diri sebagai raja, dengan persetujuan dengan Setyoko agar semua kerusuhan bisa selesai dengan damai dan tidak terjadi perang saudara.

3.5.6 Korsinah

  Korsinah, tokoh tritagonis yang mendukung protagonis, adalah seorang pemain ketoprak Jawa senior yang menjadi teman baik Giok Tien. Korsinah berfungsi sebagai ibu angkat Giok Tien di Sekar Kastubo, memberi saran tentang bermain ketoprak dan juga kehidupan dengan lelaki. Dia sangat khawatir Giok Tien akan mengikuti jalan seperti dia ketika masih muda.

  ‘Hidupku pernah seperti pengemis-pengemis itu. Ketika aku masih cantik dan terkenal di panggung, aku menjual tubuhku pada para laki- laki yang menyukai aku. Tidakkah aku sama dengan pengemis- pengemis itu? Mereka mengemis dengan batoknya, dan aku mengemis dengan tubuhku. Namanya pengemis, Tien, mana ia bisa bahagia. Sekarang aku sudah tua, tubuhku tak mau lagi kuajak mengemis pada laki- laki. Kalau aku tidak jadi seniwati ketoprak, mungkin aku sudah menjadi pengemis seperti mereka. Maka meski hanya menjadi emban, dan mendapat uang hanya cukup untuk makan, aku sudah bersyukur. Maka kalau kamu tidak hati- hati, Tien, tubuhmu yang molek itu bisa

   154 menuntunmu jadi pengemis,’ tutur Korsinah. 155 Ibid. Hal. 253 – 254. Demi perlindungan Giok Tien, Korsinah mengajar sebuah rapal agar Giok Tien selalu bisa berperan optimal; Korsinah juga menghapus guna-guna Radi Prawiro dengan guna sendiri. Akhirnya, saat mereka berpisah, Giok Tien sangat sedih. Dia memberi Korsinah liontin yang dulu diberi ibu untuk keselamatan. Dengan menangis, mereka harus berpisah.

3.5.7 Keluarga Giok Tien

  Ada tiga anggota keluarga Giok Tien yang diperkenalkan di Putri Cina, yaitu ibunya Siok Nio dan kakak-kakaknya Giok Hong dan Giok Hwa; mereka semua berperan sebagai tritagonis pendukung protagonis. Siok Nio adalah seorang janda Cina yang suka menonton ketoprak. Biarpun dia sering dihampiri oleh lelaki, dia memilih berjanda dan membesarkan putri-putrinya.

  Tak heran bila banyak laki- laki, lebih- lebih laki- laki pribumi, menyukainya dan ingin meminangnya. Salah satu pengagumnya adalah seorang punggawa kota praja. Kerap punggawa kota praja ini memesankan kursi untuk menonton ketoprak bagi Siok Nio dan anak- anaknya. Tentu maksudnya, agar ia bisa duduk di dekat Siok Nio, ketika mereka bersama menonton ketoprak. Siok Nio tahu, punggawa itu amat menyukainya dan ingin mengambilnya sebagai istri. Namun Siok Nio

   tetap memilih hidup sendiri, bersama ketiga anaknya.

  Dia paling menyayangi Giok Tien dan memberi hadiah yang sangat berharga. Dia meninggal tak lama setelah pernikahan Giok Tien.

  Giok Hong dan Giok Hwa adalah kakak perempuan Giok Tien. Mereka tidak 156 menikah, tetapi memilih tinggal di satu rumah dengan Setyoko dan Giok Tien setelah pernikahan adik mereka. Mereka meninggal, ditusuk Kyai Pesat Nyawa oleh pasukan Radi Prawiro, dalam kerusuhan.

3.5.8 Aryo Sabrang

  Aryo Sabrang, salah satu tritagonis, adalah adipati yang menggantikan Prabu Murhardo sebagai raja Medang Kamulan. Biarpun dia dikemukakan sebagai anak

  

  buah Prabu Murhardo, dia ternyata tidak sependirian. Dia menghapus bekas-bekas dari kerajaan Prabu Murhardo dan mengembalikan Medang Kamulan Baru ke

   aslinya.

3.6 Tema

  Ada tiga tema utama dalam novel Putri Cina, yaitu kebingungan atas identitas (identity crisis), kemabukan kekuasaan, dan cinta sejati. Setiap tema ini mempunyai kedudukan yang setara dengan yang lain; akibatnya, tidak dapat dikatakan bahwa hanya mempunyai satu tema utama.

  Putri Cina

3.6.1 Krisis Identitas

  Tema mayor krisis identitas, yang muncul di sepanjang cerita, sudah diwujudkan pertama pada bab satu, ketika tokoh Putri Cina duduk dan berbicara

  157 158 Ibid. Hal. 273 – 274. dengan bulan seakan mereka pencinta. Putri Cina bingung karena merasa tanpa identitas, yang dipersonifikasikan sebagai wajah: Malam sedang terang benderang, ketika ia menanyakan perihal hidupnya itu. Bulan seperti keluar dari sarangnya, lalu menghampiri biliknya. Cahayanya demikian dekat padanya, sampai bulan itu terasa menari- nari di hadapannya. Disapanya bulan dengan mesra, seolah kekasihnya, ‘Sejak kita berpisah, betapa aku ingin kau datang kembali padaku. Ternyata kau hanya datang dalam mimpiku. Sungguhkah kau datang, dan mau bersama dengan aku dalam bilikku? Aku khawatir, kau hanyalah nyala yang keluar dari lilin di hadapanku. Dan begitu lilin itu habis mencair, kau pun hilang bersama nyalanya yang padam. Apakah kau hanya boleh kunikmati dalam mimpi?’

  Tentu tiada jawaban baginya. Bulan pun segara pergi meninggalkannya. Ia merasa, bukan kekasih yang ia cari, tapi dirinya sendiri. Dan dirinya itu tak pernah ia temukan sampai kini.

  Ia meraba wajahnya. Wajahnya ternyata tiada.

  

  Dari permulaan itu, tokoh Putri Cina mengingat dongeng-dongeng Jawa untuk mencari asal dirinya. Dia mengingat bahwa kaumnya ada yang pernah datang dari Cina setelah kerajaan Majapahit, keturunan dari seorang pangeran Jawa dan seorang miskin Cina, yakni Jaka Prabangkara dan Kim Muwah. Namun, dia ingat bahwa sebelumnya sudah ada kaumnya di tanah Jawa, seorang selir yang hanya disebut Putri Cina. Namun, asal usul Putri Cina itu tidak diketahui. Akibatnya, Putri Cina mengambil keputusan bahwa dia bukan Jawa dan bukan Cina.

  

  Sebagai Putri Cina selir Majapahit, dia kembali ke tanah Jawa dari Sumatra setelah keruntuhan Majapahit dan mencari Sabdopalon-Nayagenggong, dua hamba setia. Sabdopalon-Nayagenggong, yang ternyata sebenarnya Semar, menyatakan kepada Putri Cina bahwa kaumnya sebenarnya sudah sebagian dari bangsa Jawa, 159

  Ibid. Hal. 10 160 tetapi karena kutukan Sarama (wakil dari Togog) mereka selalu akan dimaki dan

   dihina.

  Terkejut, Putri Cina pergi ke Tuban. Setelah kerusuhan di Medang Kamulan Baru, dia melihat sepasang kupu-kupu, yang dia mengerti adalah Giok Tien dan Setyoko. Lega karena mengetahui bahwa kaumnya sebenarnya bisa tinggal di Jawa dengan aman dan bersama orang Jawa saling mencintai, dia menemukan identitasnya dan terbang ke langit sebagai kupu-kupu pula:

  Kupu-kupu cinta yang tak lagi memisahkan Jawa dan Cina itu terbang terus ke utara. Amat indahlah badan kupu-kupu itu. Badannya adalah badan Putri Cina yang sedang bertelanjang dada. Badan kupu- kupu itu begitu menarik penghuni alam semesta. Maka datanglah aneka jenis bunga, berebut menempel di buah dadanya, seakan hendak memberikan dirinya sehabis-habisnya, sampai tertumpahlah semua keharumannya. Langit pun harum dengan aroma bunga. Dan Putri Cina yang menjadi badan kupu-kupu itu lalu mencium sekuntum bunga berwarna ungu, seakan ia sedang mencium kematiannya dengan amat mesra. Karena tersentuh oleh cinta dan kasih sayangnya, maka kematian itu menjadi telaga kehidupan yang amatlah indah, sehingga dari kematian itu turunlah hujan emas ke dunia.

  ... Dan Putri Cina gembira, terbang terayun-ayun, dan dengan sayap daun-daunnya menaungi dan mendinginkan bumi yang menggelegak dengan kebencian, kekerasan, dendam, dan iri hati, sampai

   ia mendidih panas.

3.6.2 Kemabukan Kekuasaan

  Dalam tokoh Prabu Murhardo, Radi Prawiro / Joyo Sumengah dan Setyoko / Gurdo Paksi terdapat tema minor kemabukan kekuasaan, atau power corrupts. Pada 161 awal bagian Kerajaan Medang Kamulan Baru, dinyatakan bahwa kerajaan baru itu 162 Ibid. Hal. 47 – 66. pada awalnya disenangi masyarakat. Namun, setelah lama berkuasa Prabu Murhardo, Radi Prawiro dan (sedikit) Setyoko menginginkan kekuasaan yang lebih banyak maka mulai tidak memperhatikan nasib rakyat.

  

  Akhirnya, ketika terjadi demonstrasi anti-kerajaan Prabu Murhardo, raja itu mengambil keputusan bahwa kekuasaannya lebih penting daripada kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, dia memerintah bawahannya menyalahkan orang Cina, sesuai dengan saran penasihatnya:

  ‘Senapati, kuakui, memang aku memberi kesempatan pada orang- orang Cina. Kuakui, mereka telah banyak membantu aku dengan kekayaan mereka. Kupuji mereka sebagai orang-orang yang mau bekerja keras. Semata-mata hanya supaya kekayaan mereka bisa kuperas. Sementara kubiarkan mereka terus menumpuk harta, dan menjadi semakin kaya, menuruti keserakahan mereka. Dengan demikian mereka menjadi kelompok yang menimbulkan kecemburuan dan iri. Kecemburuan dan keirian terhadap mereka itu sudah ada di dalam diri rakyat negeri ini. Sekarang, negeri ini sedang dilanda kekacauan. Kalau menyulut api kecemburuan dan keirian terhadap orang-orang Cina itu adalah satu-satunya jalan dan celah untuk menyelamatkan negeri ini dari kekacauan, mengapa hal itu tidak kita kerjakan?’ kata Prabu Amurco Sabdo.

  

  Rasa kekuasaan ini juga menyebabkan Prabu Murhardo memerkosa Giok Tien. Oleh karena dia raja, dia merasa bahwa wanita siapa saja tersedia untuk kenikmatannya. Ketika sadar bahwa perbuatan dia dan Radi Prawiro bisa menjatuhkan dirinya, Prabu Murhardo membuat rencana untuk membunuh Giok Tien. Namun, oleh karena Giok Tien akhirnya diselamatkan, Prabu Murhardo terpaksa mengundur diri daripada dijatuhkan: 163 Ibid. Hal. 125 – 133. 164

  ‘Aku memang mau meruncingkan semua perkara yang penuh teka-teki ini menjadi satu masalah saja, yakni masalah perilaku kejimu yang melanggar tata susila. Sebab seperti katamu, orang takkan percaya, bila aku sendiri yang berkata, bahwa aku tak berurusan dengan Kyai Pesat Nyawa yang telah meminta nyawa kedua kakak iparku. Tapi mereka akan percaya, bahwa kau sengaja membuat semuanya itu, supaya kau dapat menggagahi istriku. Bila istriku telah membuka semua kebusukanmu, alangkah mudahnya bagiku untuk membuat mereka percaya, bahwa kau bersekongkol untuk menyingkirkan aku dengan cara

  

  keji itu, agar kau dapat merebut istriku.’ – Gurdo Paksi

3.6.3 Cinta Sejati

  Dalam hubungan Giok Tien dan Setyoko terdapatlah tema cinta sejati, atau cinta yang bisa mengatasi semua perbedaan. Pada mulanya Giok Tien adalah seorang pemain ketoprak Cina dan Setyoko adalah seorang prajurit bawahan Jawa. Giok Tien, oleh karena kecantikannya, selalu didekati lelaki dan dilamar tetapi selalu menolak; ini menyebabkan beberapa, seperti Radi Prawiro, menyimpan dendam dan yang lain,

   seperti Setyoko, menjadi malu mengakui cinta.

  Namun, ketika Setyoko akhirnya berani mengakui cintanya, Giok Tien jatuh cinta saat pandangan pertama: Ia hanya melihat, di hadapannya, berdiri seorang lelaki tampan yang dalam bayangannya sungguh seorang Tejaningrat. ‘Tertipukah mataku?’ tanya Giok Tien lagi dalam hati. ‘Tidak,’ jawabnya sendiri. ‘Atau jika tertipu, hatikulah yang tertipu,’ jawabnya lagi. Ia harus mengakui, berhadapan dengan lelaki ini hatinya sungguh berdebar tak

   karu-karuan.

  165 166 Ibid. Hal. 271. 167 Ibid. Hal. 178 – 193.

  Mereka tidak lama kemudian bertunangan. Giok Tien pada awalnya ragu-ragu karena merasa mereka tidak akan cocok karena beda suku, tetapi akhirnya mereka

   menikah dan Setyoko mendapat pangkat tinggi sebagai senapati.

  Dalam kerusuhan anti-Prabu Murhardo, Giok Tien mulai ragu-ragu lagi apabila suaminya akan mampu melindungi dia dan kakak-kakaknya. Keragu-raguan ini menjadi semakin tajam setelah kedua kakaknya diperkosa oleh massa lalu dibunuh di dalam pandangannya, ditikam dengan keris Nyai Pesat Nyawa yang milik senapati.

  Giok Tien merasa lebih tidak percaya lagi terhadap suaminya setelah dia diperkosa oleh Prabu Murhardo dan Radi Prawiro. Dia bahkan menuduh suaminya telah

   membunuh kakak-kakaknya.

  Namun, setelah dia melihat betapa Gurdo Paksi berduka cita dan merasa bersalah, sehingga menolak sebutan Gurdo Paksi dan kembali menjadi Setyoko saja, dia bisa yakin kembali akan ketulusan cintanya, bahkan tersedia mengorbankan diri untuk keselamatan suaminya dari anak panah Radi Prawiro. Setelah Setyoko pun mati, dipanahi Radi Prawiro, mereka menjadi kupu-kupu dan terbang bebas bersama, hidup abadi dalam percintaan:

  Sebab begitu [Radi Prawiro] hendak menyentuhnya, tubuh itu ternyata lenyap dalam seketika, dan menjelma menjadi kupu-kupu. Dan bersamaan dengan lenyapnya tubuh Giok Tien itu, tubuh Gurdo Paksi pun ikut lenyap, menjelma menjadi kupu-kupu pula. Joyo Sumengah membelalak tak percaya melihat kedua tubuh yang tadinya sudah mati dan menjadi mayat itu kini ternyata telah menjadi sepasang kupu-kupu yang hidup dan terbang di hadapannya. Ia mendongak dan melihat, 168 awan-awan gelap berarak pergi. Langit jadi putih bersih. Dan bersinar 169 Ibid. Hal. 198 – 222. teranglah cahaya matahari pagi. Burung-burung girang beterbangan,

   indah, merdu berkicau-kicauan.

  170

BAB 4 PENGARUH KERUSUHAN MEI 1998 DALAM PUTRI CINA

4.1 Alur

  Akibat dari kesengsaraan itu, rakyat menjadi sangat benci kepada Prabu Murhardo. Mereka mulai demonstrasi di jalanan. Seluruh rakyat sudah turun untuk memprotes kesengsaraan rakyat Kerajaan Medang Kamulan Baru. Prabu Murhardo dengan dukungan Patih Wrehonegoro menyalahkan rakyat, dan mengatakan bahwa rakyat sebenarnya melawan rakyat dan bukan raja. Namun, ini tidak sepenuhnya dipercaya:

  ‘Bila pertikaian lama yang terselimuti kesatuan dan keseragaman itu sekarang meledak, rakyat tak tahu lagi mana lawan mana kawan. Semuanya adalah lawan, dan semuanya adalah kawan. Semuanya adalah salah, dan semuanya adalah benar. Kalau demikian, tak dapat lagi mereka mempertahankan dirinya. Dan untuk mempertahankan dirinya yang tak ada jalan lain kecuali dengan bersama-sama mencari korban, yang bisa dianggap sebagai yang patut disalahkan,’ urai Patih Wrehonegoro.

  ‘Dan yang bersalah itu adalah aku? Karena itu mereka mau menggulingkan aku?’ tanya Prabu Amurco Sabdo. ‘Ampun, Sinuwun, bukan Paduka yang bersalah, tapi kesatuan dan keseragaman yang palsu itulah yang sekarang sedang menuntut korbannya,’ kata Patih Wrehonegoro.

  

  Ini seiring dengan kenyataan di Orde Baru. Mahasiswa- mahasiswa memprotes kebijakan ekonomi dan lain- lain Pemerintah, lalu tidak diperhatikan. Daripada mengubah yang sudah tidak berfungsi baik dalam pemerintahan, mereka menyalahkan rakyat dan menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk mencegah segala masalah yang timbul. 171

  Prabu Murhardo bersama abdi-abdinya mencari jalan keluar agar kekuasaan mereka bisa dijaga. Akhirnya keputusan diambil untuk mengalihkan kekerasan dan kerusuhan itu menjadi kekerasan etnis terhadap suku Cina.

  ‘Mudah, Sinuwun. Sekali lagi hamba katakan, itu sungguh mudah! Alihkan saja segala kekerasan yang mau pecah itu kepada orang- orang Cina. Setelah itu, Sinuwun akan mengendalikan keadaan dengan lebih mudah,’ kata Patih Wrehonegoro. Dia tersenyum, tanpa

   perasaan.

  Ini mencerminkan kecurigaan yang sampai sekarang terasa dalam masyarakat. Sebagaimana disinggung pada Bab II, ada teori bahwa provokator-provokator yang mengendalikan massa pada tahun 1998 sebenarnya anggota aparat.

  Setelah amarah massa diarahkan oleh Patih Wrehonegoro, orang-orang Cina menjadi korban dalam segala hal.

  Harta mereka dijarah. Rumah-rumah mereka dibakar. Tempat- tempat berdagang mereka dibumihanguskan. Di jalan-jalan mereka dicegat, lalu dianiaya. Kendaraan-kendaraan mereka digulingkan, disiram minyak tanah, dan dibakar.

  Siapa yang dijumpai (massa), dan ketahuan sipit matanya, dan kuning langsat kulitnya, tak ampun lagi, dia pasti jadi korban bulan- bulanan massa rakyat.

  Dan lebih mengerikan lagi adalah peristiwa ini: banyak wanita Cina diperkosa. Malahan, di banyak tempat, wanita diperkosa beramai- ramai. Dan kejinya, perkosaan itu dilakukan di hadapan orangtua atau saudara wanita-wanita Cina yang malang itu. Kekejian tidak hanya sampai di situ. Setelah diperkosa, wanita-wanita Cina yang sudah pingsan dan tak berdaya it masih dianiaya dengan kejam. Sebagian malah

   dibunuh.

  Kekejian massal ini telah terjadi di hidup nyata juga. Sebagaimana 172 dikemukakan di atas, di antara lain sebagai berikut. 173 Ibid. Hal. 134.

  • Sejumlah mal dan pertokoan lain seperti Supermall Karawaci, Glodok Plaza, dan Yogya Department Store Klender dibakar.
  • Di Jakarta, sebanyak 13 pasar, 2.479 rumah toko, 40 mal, 1.604 toko, 45 bengkel, 387 kantor, 9 SPBU, 8 bus dan kendaraan umum lainnya, 1.119 mobil, 826 sepeda motor, dan 1.026 rumah dirusaki, dijarah, dan / atau dibakar.
  • Di Jakarta, jumlah korban yang tewas diperkira mencapai 1.217 orang.
  • Di Jakarta, jumlah korban perkosaan mencapai 152 orang, dengan 15 di antara mereka yang tewas
  • Sebagaimana dikemukakan dengan kasus Lina di Surakarta, ada korban yang diperkosa di hadapan keluarga Sebagai akibat dari kerusuhan itu, Giok Tien dan kakak-kakaknya tidak percaya kepada kerajaan, bahkan Setyoko pun tidak dipercaya. Mereka mengambil keputusan untuk mengungsi ke Negara Singa:

  ‘Apalagi di Negara Pedang Kemulan ini, para penguasanya suka mengkhianati kata-katanya sendiri. Mereka berjanji akan melindungi kita. Terbukti sekarang mereka malah mengkhianati kita,’ kata Giok Hwa.

  ‘Kalau begitu, mari kita menyiapkan barang-barang. Kita mengungsi saja ke kerajaan tetangga, ke Negara Singa,’ ajak Giok Hong. ‘Iya, Cik. Mungkin itulah satu-satunya cara kita menyelamatkan

   diri,’ sahut Giok Tien.

  174

  Ini mencerminkan kenyataan bahwa sebanyak 10.000 sampai 100.000 orang Cina telah meninggalkan Indonesia pada saat kerusuhan. Kebanyakan memang pergi ke Singapura melalui Batam.

  Kekejian yang dirancang dalam novel pada halaman 149 – 150 menjadi semakin nyata ketika sekelompok orang bertopeng masuk ke rumah Giok Tien dengan paksa. Ketakutan mereka sangat jelas. Akhirnya Giok Hwa dan Giok Hong diperkosa lalu dibunuh di hadapan Giok Tien.

  … mereka terkejut setengah mati, karena mendengar pintu rumah mereka didobrak keras-keras. Dan mereka melihat sekelompok orang bertopeng masuk, dan mendekati mereka. Giok Tien, Giok Hong, dan Giok Hwa ketakutan sampai pucat pasi. Sebelum sempat mereka menjerit, orang-orang bertopeng itu sudah membekap mulut mereka. Giok Tien melihat, orang-orang bertopeng itu menelanjangi kedua kakaknya, mempermalukan, dan akhirnya memerkosa mereka. Dan lebih ngeri lagi, ia melihat, akhirnya, orang-orang bertopeng itu menusuk kedua kakaknya. Darah mereka berceceran.

  

  Peristiwa ini melambangkan hal yang sama seperti pada halaman 149 – 150, tetapi dengan lebih banyak emosi. Sama seperti kasus Andina (Jakarta) dan Lina (Surakarta) pada bab dua, Giok Hwa dan Giok Hong diperkosa di depan orang tercinta.

  Ketika Setyoko pulang dan menemukan kakak-kakak iparnya terbunuh dan istrinya tidak ada di rumah, dia sadar bahwa dia tidak mampu melindungi keluarganya dari kekejaman massa. Ini kelihatan paling jelas pada halaman 290:

  ‘Giok Tien. Aku adalah prajurit, bahkan aku pernah menjadi senapati. Tapi aku telah gagal menjalankan tugasku sebagai senapati, lebih- lebih dalam melindungi kaummu. … Aku harus mengakui, seperti 175 Tejaningrat tak berhasil menyelamatkan Roro Hoyi dari kekejaman Amangkurat, sebagai senapati aku juga tak berhasil menyelamatkanmu dari kekejaman yang pecah terhadap kaummu di Negeri Pedang Kemulan ini.’ – Setyoko

  

  Ketidakmampuan Setyoko untuk melindungi kaum Cina mewakili ketidakmampuan Wiranto untuk melindungi kaum Cina di Jakarta dan kota lain.

  Sama seperti halnya Giok Tien diperkosa tanpa dilindungi oleh penanggungjawabnya, kaum Cina di Jakarta dan kota lain tidak dilindungi oleh militer. Akibatnya, banyak kekejaman yang terjadi sebagaimana dijelaskan di atas.

  Akhirnya Giok Tien digagahi oleh Radi Prawiro dan Prabu Murhardo di Istana Raja. Namanya pun tidak diakui oleh penggagahnya itu; dia hanya disebut “Putri Cina”, misalnya:

  ‘Putri Cina, bukan hanya mereka berdua yang ingin merasakan kehangatan dirimu. Menyerahlah padaku, wong ayu. Enaklah hidupmu, jika kau mau menuruti kemauanku,’ kata Prabu Amurco Sabdo.

  

  dan ‘Benar, Sinuwun. Di luar, lelaki- lelaki sedang beramai-ramai memerkosa wanita Cina. Nikmat juga bila sekarang kita menggilir Putri

  Cina ini. Paduka telah menikmati Putri Cina ini terlebih dahulu. Sekarang tiba giliran hamba. Sudah lama hamba menghasratkannya. Mengapa ketika sekarang kesempatan tiba, hamba tidak memuaskannya? Paduka telah mengizinkan hamba, maka sekaranglah saatnya hamba menikmatinya,’ kata Joyo Sumengah.

  

  Dengan merendahkan Giok Tien dengan sebutan “Putri Cina”, Radi Prawiro dan Prabu Murhardo menghilangkan identitasnya sebagai manusia. Dia menjadi 176 Ibid. Hal. 290 – 291. 177 Ibid. Hal. 248. 178 hanya suatu benda atau objek, yang dapat digunakan sebagaimana mestinya. Ini juga terjadi pada Kerusuhan Mei 1998. Sebagaimana dicontohkan di kasus Andina di atas, massa pemerkosa tidak memedulikan bahwa orang tuanya sakit atau dia sudah mempunyai pacar; mereka hanya melihat bahwa dia seorang perempuan yang dapat digunakan seenaknya.

  Akhirnya Setyoko datang dan menghentikan perkosaan Giok Tien. Setelah Setyoko berdebat dengan Prabu Murhardo tanpa hasil, Giok Tien menyatakan bahwa pengakuan dirinya sebagai korban perkosaan akan bisa menjatuhkan Prabu Murhardo sebagai Raja Tanah Jawa. Cara Giok Tien sebagai berikut:

  ‘Sekarang, hamba mau tegak berdiri, saya tegak berdiri pula nasib hamba. Karena itu, tak dapat lagi Paduka mencegah hamba keluar menghadapi kerumunan orang banyak di bawah sana. Hamba akan katakan semua ini pada kaum perempuan yang ada di sana, supaya seperti hamba mereka juga berani berdiri tegak. Akan hamba katakan, bahwa kekuasaan itu tak lain adalah syahwat. Karena itu akan hamba katakan, Paduka akan terus menindas, karena Paduka tak bisa menguasai syahwat.

  Hamba dan kaum hamba hanyalah perempuan. Tak mungkin hamba mampu melawan kekuasaan. Tapi membongkar kesyahwatan Paduka dan abdi-abdi Paduka, hamba mempunyai beribu-ribu bukti yang nyata. Dan itulah yang akan hamba buat, agar terbukalah perilaku Paduka yang menghancurkan tata susila, justru ketika negeri ini dalam keadaan gawat,’ kata Giok Tien. Dan ia pun beranjak, hendak melangkah keluar.

  

  Setelah ancaman Giok Tien ini, Prabu Murhardo terpaksa harus mengundurkan diri sebagai raja. Dia menetapkan Adipati Aryo Sabrang sebagai penggantinya.

  179

  Ini melambangkan penyelesaian Kerusuhan Mei 1998. Akibat dari amuk massa yang terjadi di Jakarta dan kota-kota lain, Soeharto mengundurkan diri dan wakil presidennya Jusuf Habibie menjadi Presiden Republik Indonesia. Biarpun tidak ada satu orang tertentu yang memaksakan Soeharto mengundurkan diri seperti dalam

  Putri Cina

  , nasib kaum Cina yang digagah selama tiga hari tiga malam itu menjadi salah satu dorongan yang sangat besar.

  Raja baru Prabu Aryo Sabrang secara segara menggantikan bekas-bekas dari kerajaan Prabu Murhardo. Sebagaimana dijelaskan di bawah: Semula mereka mengira, paling-paling Aryo Sabrang meneruskan apa saja yang telah dibuat pendahulunya. Ternyata tidak demikian halnya. Ia mau mendengar kata-kata rakyatnya.

  Malahan ia bertekad menghapus segala kenangan lama yang membuat rakyat takut dan susah. Ia tidak ingin Negeri Medang Kamulan dialami rakyat sebagai Negeri Pedang Kemulan. Ia bahkan mengembalikan nama Medang Kamulan Baru pada nama aslinya. Dihapusnya pengertian ‘Baru’ dari nama negerinya, sehingga nama negeri itu adalah Medang Kamulan. … Rakyat mengerti, perubahan ini tidak hanya sekadar berarti pengembalian nama, tapi juga penghapusan cara-cara pemerintahan yang ‘Baru’, yang dulu pernah menggantikan yang ‘Lama.’

   Ini melambangkan perubahan yang terjadi di Indonesia pada awal reformasi.

  Sebagaimana dikemukakan di atas, peraturan-peraturan diskriminatif dihapus, hak asasi manusia ditegakkan, dan demokrasi kembali dianut. Arah Reformasi justru sebaliknya dari arah Orde Baru.

  180

  Akhirnya Putri Cina dapat beterbangan bebas dari rasa takut dan maut sebagai kupu-kupu. Dia merasakan masa depannya indah. Dia beterbangan di langit dan hal- hal yang mengerikan, misalnya bunga kematian, menjadi indah:

  Dan Putri Cina yang menjadi badan kupu-kupu itu lalu mencium sekuntum bunga berwarna ungu, seakan ia sedang mencium kematiannya dengan amat mesra. … Karena itu semua, menjadi amat indah pula bunga ungu itu di tangannya. Bunga ungu itu bukan lagi bunga kematian. Di tangan Putri Cina yang menciumnya dengan mesra, bunga itu menjadi bunga kehidupan, yang akan mendatangkan hujan berkah dan kedamaian

   di Tanah Jawa ini.

  Kebebasan Putri Cina ini melambangkan semangat Sindhunata akan kehidupan yang lebih baik untuk orang Cina di Indonesia pasca-Reformasi. Setelah orang Cina menjadi korban amarah massa, kini ada rasa tenang dengan kebijaksanaan Reformasi. Dengan demikian, ada pula harapan untuk masa depan yang penuh kerja sama tanpa diskriminasi.

4.2 Latar

4.2.1 Latar Tempat

  Kerajaan Medang Kamulan Baru adalah representasi Indonesia pada Orde Baru. Selain fakta bahwa dalam Putri Cina sudah dinyatakan bahwa cerita terjadi di

  da banyak kemiripan dalam sejarahnya.

  Untuk menjadi raja Medang Kamulan, Prabu Murhardo menyingkirkan raja

   181 lama, Ajiksaka. Ini mencerminkan teori bahwa Presiden Soeharto telah 182 Ibid. Hal. 299 – 300. menyingkirkan Presiden Soekarno dengan memimpin atau menjadi anggota dari Gerakan 30 September, yang dikemukakan oleh ilmuwan Belanda dari Universitas Leiden, Profesor Wim F. Wertheim.

  

  Mengenai pilihan nama Medang Kamulan Baru, dinyatakan: Pada nama kerajaan itu ditambahkan kata Baru, karena memang demikianlah yang sering terjadi di Tanah Jawa. Adalah misalnya dulu

  Kerajaan Mataram. Pada suatu saat muncullah kerajaan baru, dan dinamakan Mataram Baru. Sama-sama di Tanah Jawa, Mataram Baru yang baru muncul itu tentu lain dengan Mataram Lama, yang dulu pernah ada dan sekarang digantikannya.

  

  Ini sama dengan alasan mengapa Orde Baru disebut Orde “Baru”. Menurut pidato Presiden Soeharto yang disampaikan di Seminar Angkatan Darat di Bandung pada tahun 1966, yaitu:

  Orde Baru akan lebih pragmatis dan realis tanpa meninggalkan cita-cita kebebasan. Orde Baru hendak mengutamakan kepentingan nasional sambil melanjutkan ideologi kita untuk memberantas kolonialisme dan imperialisme. Orde Baru tidaklah menantang kepemimpinan dan pemerintahan yang kuat, tetapi berharap untuk tetap memegang ciri-ciri ini dalam periode transisional dan perkembangan. Orde Baru hendak mengimplementasi demokrasi dalam ekonomi dengan tujuan mencapai masyarakat sosial, politik, ekonomi, dan budaya dengan Pancasila dan Ketuhanan yang Maha-Esa sebagai nilai moral dasar kita.

   183 Ibid. Hal. 93. 184 Sebagaimana dikemu kakan dalam Bayang-Bayang PKI, yang dilarang diterbit kan.

  

Abdulgani-Knapp, Retnowati. Soeharto: The Li fe and Legacy of Indonesia’s Second President.

2007. Marshall Cavendish Edit ions: Singapura. Hal. 62 – 63. 185 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 88 186 Abdulgani-Knapp, Retnowati. Op. Cit. Hal. 62 – 63.

  Diterjemah kan dari versi bahasa Inggris. Aslinya: “The New Order would be mo re prag matic and realistic without leaving out the ideals of freedom. The New Order wants to put our national interest in the driving while continuing with our ideology to fight against colonialis m and imperialis m. The New Order is not against a strong leadership and government; to the contrary, it is

  

  Sama dengan halnya Orde Baru, pada awalnya Kerajaan Medang Kamulan Baru disukai rakyat. Rakyat percaya pada Prabu Murhardo dan kerajaan maju dan berkembang dengan pesat.

  Namun, dalam beberapa tahun Kerajaan Medang Kamulan Baru berubah. Rakyat mulai tidak berharapan. Militer diperkuat, dan kedaulatan rakyat terasa hilang, seperti pada Orde Baru. Prabu Murhardo tidak lagi dihormati sebagai pemimpin, tetapi ditakuti.

  Tak ada lagi keadilan. Selalu Raja, keluarga dan pembantu- pembantunya yang dimenangkan, dan kepentingan rakyat ditelantarkan. Tidak ada lagi kesejahteraan. Selalu Raja, keluarga dan pembantu- pembantunya yang bertambah kekayaan dan hartanya, dan rakyat dibiarkan dalam kekurangan dan kemiskinannya. Tidak ada lagi ketenteraman. Selalu Raja, keluarga dan pembantu-pembantunya yang dilindungi dalam keamanan, dan rakyat ditakut-takuti serta diancam

   dengan senjata dan kekerasan.

  Ini juga mencerminkan kenyataan pada Orde Baru. Setelah sepuluh tahun di bawah pimpinan Presiden Soeharto, sudah ada ketidaksenangan dan ketidakpuasan

  

  yang timbul di hati rakyat. Ada pula kecurigaan atas korupsi, yang timbul setelah

   kasus Pertamina dikemukakan pada tahun 1974, tetapi terus- menerus meningkat.

  Sebagaimana dijelaskan pada Bab 4.1, kejatuhan Kerajaan Medang Kamulan Baru dan Orde Baru sangat mirip. Oleh karena sudah didalami di atas, kemiripan ini tidak perlu dibahas di sini.

  wants to implement democracy in economy. It is an order to achieve a social, polit ical, economic, 187 and cultural society with Pancasila and Belief in God Almighty as our moral values.” 188 Ibid. Hal. 67. 189 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 96. 190 Abdulgani-Knapp, Retnowati. Op. Cit. Hal. 159.

  4.2.2 Latar Waktu

  Kerusuhan dan kejatuhan di Medang Kamulan Baru terjadi pada tahun 1998,

  

  sama seperti halnya Orde Baru. Ini dilambangkan dengan adanya sengkalan lagu “Cucak Rowo”, yang sangat populer pada tahun 1998:

  Ternyata anak-anak itu menyanyikan lagu Cucak Rowo yang saat itu sedang digandrungi dan dinyanikan di mana- mana di seluruh pelosok

   Tanah Jawa.

  Selain itu, latar waktu tidak jelas. Dengan demikian, tidak dapat ditarik kemiripan lain.

  4.2.3 Latar Sosio-Budaya

  Orang-orang keturunan Cina serta kedudukan mereka dalam masyarakat Jawa dalam Putri Cina digambarkan sama dengan kenyataan pada Orde Baru. Dalam Putri , kaum Cina semakin lama menjadi semakin kaya. Pengembangan harta mereka

  Cina

  membuat orang pribumi menjadi iri hati dan benci kepada mereka. Mereka juga

  

  dipelihara oleh Prabu Murhardo untuk mengembangkan kekayaan penguasa. Ini mencerminkan kenyataan di masa Orde Baru, ketika secara de facto warga keturunan Cina dibatasi dalam bidang perdagangan, dan beberapa orang konglomorat seperti

  191

Bahasa Jawa. Penyebutan tahun dengan menggunakan kata-kata, hal atau peristiwa tertentu yang 192 melambangkan angka tertentu. 193 Sindhunata. Op.Cit. Hal. 85. pemilik BCA Sudono Salim dan raja kayu Mohammad “Bob” Hasan menjadi akrab

   dengan Presiden Soeharto.

  Dalam menjalani kebudayaan mereka, di kerajaan Medang Kamulan Baru orang Cina sangat dibatasi: Memang sejak Prabu Amurco Sabdo menggulingkan penguasa sebelumnya seperti Ajisaka menggulingkan Dewan Cengkar, orang- orang Cina dilarang menjalankan kebudayaan, adat istiadat, dan tata cara agamanya. Di Pedang Kemulan ini, tak bisa lagi orang-orang Cina hidup menurut kebudayaannya. Nama mereka pun harus diganti dengan nama pribumi asli. Dihapuslah nama-nama Cina di Tanah Jawa ini…

  Di Pedang Kemulan, orang-orang Cina juga tak boleh mempertunjukkan lagi keseniannya. Tak ada lagi barongsai, samsi, liong atau leang-leong, serta wayang potehi yang dulu pernah menghibur banyak orang, dan bahkan disukai juga oleh orang-orang pribumi. Orang- orang Cina juga tidak mudah menjalankan ibadat mereka di kelenteng- kelenteng. Bahkan mereka tidak diperbolehkan merayakan Tahun Baru Cina. Orang Cina yang nekat terpaksa merayakan tahun barunya dengan

   sembunyi-sembunyi.

  Ini mencerminkan kenyataan pada Orde Baru. Perundang- undangan yang

  

  membatasi budaya Cina termasuk:

  • Peraturan Pemerintah 127/U/Kep/12/1966, yang menegaskan keperluan untuk

   warga negara Indonesia keturunan Cina mengindonesiakan nama mereka.

  • TAP XXXI/MPRS/No. 32/1966, yang melarang penggunaan aksara yang

   194 bukan aksara Latin (antara lain Cina) di tempat umum. 195 Setiono, Benny. G. Op. Cit. Hal. 1055, 1059 196 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 110.

  Untuk in formasi lebih lanjut, dapat dibaca:

Woodrich, Christopher Allen. “Bangsa Tionghoa dalam Republik Indonesia, dengan Fokus Pada

Saat Rezim Soeharto, Dianalisa Dari Berbagai Defin isi Kemanusiaan.” 2008. Makalah. 197 Yogyakarta: Faku ltas Sastra, Universitas Sanata Dharma. 198 Setiono, Benny. G. Op. Cit. Hal. 987.

  • Surat Edaran 06/Pres-Kab/6/1967, yang menentukan istilah Cina sebagai istilah paling tepat untuk mendeskripsikan warga keturunan Cina, biarpun

   istilah itu sudah dianggap diskriminatif oleh kaum Cina.

  • Instruksi Kabinet Presendium 37/U/IN/6/1967, yang melarang izin tinggal dan bekerja untuk imigran Cina baru (serta anak dan istri mereka), membekukan modal milik orang keturunan, dan menutup semua sekolah yang tidak

   berbahasa pengantar bahasa Indonesia.

  • Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967, yang melarang pertunjukan kebudayaan luar negeri di umum dan mendorong orang keturunan untuk berbaur dengan

   budaya Indonesia.

  • Keputusan Menteri Kehakiman No. 3/4/12/1978, yang mewajibkan penggunaan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia oleh orang keturunan asing di atas Kartu Tanda Penduduk, tetapi dalam pada

   pelaksanaannya cenderung hanya diminta dari orang keturunan Cina.

  Sementara, rakyat Jawa juga digambarkan sama seperti kenyataannya pada Orde Baru. Rakyat merasa tertindas akibat kemiskinan mereka, sementara raja dan pembantu-pembantunya tinggal dalam kesejahteraan dan kemewahan. Akibatnya, mereka putus asa. Ini digambarkan dalam Putri Cina dengan menjadi peminum 199 alkohol, sehingga negeri Medang Kamulan dikatakan Negeri Mampir Ngombe: 200 Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 987. 201 Ibid. Hal. 979. 202 Tan, Mely G. Op. Cit. Hal. 230.

  Prasetyadji, dan Wahyu Effendi (Tjoa Jiu Tie). 2008. Tionghoa dalam Cengkeraman SBKRI.

  Maka dengan minum mereka merasa bersatu dalam mengalami dan menanggung penderitaan serta nasib yang sama. Karena itu sambil minum mereka dapat menyanyi: ...

  Di tengah putus asa Inilah sekarang lagu duka yang kami suka: Cintamu sepahit Topi Miring! Kami menderita, namun di tengah derita Kegembiraan masih juga kami punya: Saat kami mengangkat gelas bersama-sama:

  

  Kita berteman sudah lama! Ini menggambarkan putus asa yang terjadi di tengah Orde Baru. Rakyat merasa tidak puas dengan pemerintahan Orde Baru. Orang-orang yang berusaha

  

  untuk mengubah pemerintah dengan membuat petisi atau bersuara mendapat reaksi dari pemerintah yang sangat negatif; mereka mengalami kehilangan nama,

  

  kekerasan atau bahkan “dihilangkan.” Akibatnya, rakyat merasa tertindas dan sebagian besar tidak berani bertindakan.

4.3 Penokohan

4.3.1 Putri Cina

  Bila tokoh Putri Cina dianggap sebagai ibu semua orang Cina di Indonesia (lihat 3.5.1), peran Putri Cina menjadi cara untuk Sindhunata menunjukkan bagaimana tanggapannya atas perasaan orang-orang Cina setelah Kerusuhan Mei 203 1998. 204 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 115 – 116. 205 Petisi 50, di antara lain. Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 1054. 206 Di antara lain Fuad Muhammad Safrudin , wartawan dari harian Bernas. Ibid. Hal. 1075.

  Putri Cina merasa kehilangan identitas diri sehingga tidak tahu siapa dirinya. Ini ditampilkan dengan kehilangan wajahnya. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, Putri Cina setelah mengalami trauma merasa bahwa wajahnya telah hilang. Ini menyebabkan Putri Cina melihat ke sejarah bangsanya di Indonesia untuk berusaha memahami identitasnya sendiri dan menemukan wajahnya. Akhirnya, setelah melihat kisah Giok Tien dan Setyoko, Putri Cina merasa telah menemukan wajahnya dan mempunyai harapan untuk orang Cina dan orang Jawa tinggal bersama dalam damai sejahtera:

  Dan Putri Cina gembira, terbang terayun-ayun, dan dengan sayap daun-daunnya menaungi dan mendinginkan bumi yang menggelegak dengan kebencian, kekerasan, dendam, dan iri hati, sampai ia mendidih

   panas.

  Sama dengan halnya Putri Cina, warga keturunan Cina menjadi cemas dengan hidup di Indonesia dan mempertanyakan identitas mereka setelah kerusuhan Mei 1998. Biarpun memang secara sejarahwi identitas orang Cina di Indonesia tidak pernah jelas, dengan adanya yang merasa lebih kuat budaya Indonesia dan ada yang

  

  lebih kuat budaya Cina, setelah Kerusuhan Mei 1998 masalah identitas menjadi masalah yang perlu dipecahkan dengan segera.

  Isu identitas itu tergantung pada apa yang diakui orang Cina sendiri. Apabila mereka mengakui orang Cina, mereka tidak akan diterima oleh masyarakat Indonesia; sementara, apabila mereka mengakui diri mereka sebagai orang Indonesia akan 207 menghadapi hambatan hukum yang tidak seimbang dengan orang Indonesia yang 208 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 115 – 116. pribumi. Identitas itu juga termasuk bahasa yang digunakan, dengan pandangan bahwa orang yang tidak bisa berbahasa Mandarin bukanlah orang Cina, biarpun

  

  menurut keturunan memang orang Cina. Untuk menghindari masalah itu, ada keluarga yang melarikan diri ke luar negeri.

  Namun, setelah melihat perubahan yang terjadi di Indonesia setelah mulainya Reformasi ada orang Cina yang merasa bahwa situasi sudah mulai berubah, beserta harapan bahwa hidup akan menjadi lebih indah. Dalam soal ini, dapat dilihat bahwa Putri Cina tidak hanya mewakili pikiran orang Cina di Putri Cinta, tetapi pikiran orang Cina di Indonesia, sebagaimana dimengerti Sindhunata.

4.3.2 Giok Tien

  Pengalaman Giok Tien dan kakak-kakaknya mencerminkan pengalaman wanita-wanita Cina yang pada tahun 1998. Biarpun dia sudah berusaha untuk berbaur dengan budaya Jawa (dari main ketoprak sehingga menikah dengan orang Jawa), Giok Tien menjadi takut melihat kondisi tanah Jawa yang semakin mengerikan.

  Akhirnya, bersama kakak-kakaknya Giok Hwa dan Giok Hong dia mengambil keputusan untuk melakukan yang disebut exit oleh Hirschman: ‘Cik, apa dalam keadaan demikian kita masih bisa mengharapkan perkecualian? Rasanya, kita tinggal menunggu waktu. Kangmas Gurdo

  Paksi adalah prajurit. Ia harus hanya menjalankan perintah Prabu Amurco Sabdo. Mungkin bukan dengan tangannya sendiri, tapi dengan tangan bawahannya ia bisa saja meniadakan kita semua,’ jawab Giok 209 Tien.

  ... ‘Kalau begitu, mari kita menyiapkan barang-barang. Kita mengungsi saja ke kerajaan tetangga, ke Negara Singa,’ ajak Giok Hong. ‘Iya, Cik. Mungkin itulah satu-satunya cara kita menyelamatkan

  

  diri,’ sahut Giok Tien. Biarpun mereka sudah mengambil keputusan untuk mengungsi, akhirnya ada orang tidak dikenal yang masuk ke rumah, mengikat mereka, dan memerkosa dan membunuh Giok Hwa dan Giok Hong. Biarpun Giok Tien tidak diperkosa kelompok itu, akhirnya dia diperkosa oleh Radi Prawiro dan Prabu Murhardo. Ini membuat dia trauma akan hubungan dengan orang Jawa. Biarpun akhirnya selamat, dia merasa bersalah dan putus asa.

  Ini mencerminkan pengalaman orang Cina pada saat itu. Sebagaimana dikemukakan di atas, kekejian yang terjadi pada tanggal 13, 14, dan 15 Mei membuat Cina menjadi sangat takut dan putus asa atas hubungan mereka dengan orang pribumi. Sebagian melarikan diri dari Indonesia, dan sebagian lagi menjadi semakin tertutup terhadap orang yang bukan dari kaum mereka. Rasa takut itu tidak mudah hilang; sama seperti Giok Tien, warga keturunan Cina merasa takut untuk jangka waktu yang lama, sehingga menjelang tahun baru 1999 ada yang takut akan terjadi amuk massa lagi.

4.3.3 Setyoko / Gurdo Paksi

  Setyoko dapat dilihat sebagai gabungan dari sifat Jenderal Wiranto, yang 210 menjadi Panglima ABRI pada tahun 1998, dan para aparat yang berusaha untuk menyelamatkan korban Kerusuhan Mei 1998. Sama seperti Wiranto, Setyoko menjadi pemimpin (senapati) tentara Medang Kamulan Baru. Namun, Radi Prawiro

  

  (saingannya, yang mencerminkan Letnan Jenderal Prabowo Subianto) juga menginginkan pangkat itu, sama seperti yang dituduh dari Letnan Jenderal Prabowo Subianto: “... [Joyo Sumengah] melihat [Gurdo Paksi] menjadi senapati.

  Sesungguhnya lurah prajurit itu adalah pangkat yang tinggi. ... Namun pangkat itu tetap jauh di bawah pangkat seorang senapati. ... Tak mengherankan, bila ... ia selalu berusaha untuk menjatuhkan dan

  

  meniadakan Gurdo Paksi dari Negara Pedang Kemulan ini.” Setelah kerusuhan dipicu oleh Radi Prawiro, Setyoko bersama beberapa bawahannya berusaha untuk menyelamatkan korban dan menghentikan kerusuhan.

  Ini mencerminkan perilaku beberapa anggota aparat, sebagaimana dikemukakan pada

  Bab 2.2.4. Namun, sama seperti kenyataannya pada Mei 1998, mereka tidak mampu mencegah kerusuhan. Selain itu, banyak yang bersikap pasif, atau bahkan turun ikut

   kerusuhan.

4.3.4 Radi Prawiro / Joyo Sumengah

  Ada dua sifat Radi Prawiro yang dapat dikaji sebagai pencerminan kenyataan sosial pada tahun 1998, yaitu perilakunya sebagai seorang pemerkosa dan perilakunya sebagai tumenggung, atau penjaga istana. Kedua aspek tokoh itu mempunyai 211 kesamaan yang cukup banyak dalam perilaku rakyat dan aparat. 212 Lihat Bab 4.3.4 213 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 222.

  Pertama-tama akan dijelaskan bagaimana sifat Radi Prawiro dalam memerkosa Giok Tien mencerminkan sikap nyata pemerkosa pada kerusuhan Mei 1998. Seperti halnya pemerkosa Mona di atas, Radi Prawiro tidak memperhatikan usaha korbannya untuk melindungi diri, sebagaimana dijelaskan di bawah:

  ‘Radi Prawiro, jangan!’ tolak Giok Tien. Joyo Sumengah tak

   peduli lagi akan teriakan itu. Malah, ia jadi makin bernafsu.

  Sementara, sama seperti halnya pemerkosa Andina di atas, Radi Prawiro tidak menghiraukan bahwa Giok Tien sudah mempunyai pasangan. Dia justru menganggap itu satu hal yang mendorong dirinya. Radi Prawiro juga sempat memperkosa Giok Tien di depan Setyoko, tetapi beda dari halnya pemerkosa Andina, Radi Prawiro berhasil dihentikan oleh si pasangan.

  Selain itu, adapun kesamaan tindakan Radi Prawiro selaku tumenggung dengan perilaku yang disangka dilakukan oleh Mayor Jenderal Syafrie Sjamsoeddin, yang pada tahun 1998 bertanggung jawab atas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di Jakarta. Pasukan-pasukan di bawah kekuasaan Radi Prawiro turun ke lapangan untuk memancing amuk massa, lalu diikuti oleh beberapa pasukan di bawah kekuasaan Setyoko:

  Lurah Prajurit Joyo Sumengah hanya memerlukan waktu sedikit saja untuk menyulut kebencian dan iri hati terhadap orang-orang Cina yang memang telah ada. Dibakarnya hati mereka sehingga mereka percaya bahwa segala malapetaka ini menimpa Negeri Pedang Kemulan karena orang-orang Cina itu hanya selalu ingat akan diri dan kekayaan mereka sendiri saja. Jadi biang keladi kekacauan di Pedang Kemulan ini 214 adalah orang-orang Cina.

  ... [Prajurit-prajurit Gurdo Paksi] seperti diminumi ramuan yang membuat mereka kalap dan lupa diri. Kendati prajurit, mereka juga manusia yang seharusnya masih punya hati. Sebagian mereka bahkan ikut terjun ke tengah kerumunan massa yang membakar gedung- gedung orang Cina, lainnya lagi ikut memanasi, agar amuk massa itu makin berani menyerang orang-orang Cina. Lainnya lagi, kendati kelihatan ganas dan buas, hanya diam tak berdaya dan melihat- lihat saja. Mereka ini seakan sengaja membiarkan pusat-pusat perdagangan orang-orang Cina habis dilalap api dan dijarah. Sungguh mereka seakan tak mau berbuat apa-apa terhadap kekerasan yang menghancurkan orang-orang

   Cina.

  Hal ini mencerminkan kenyataan sebagaimana sudah dijelaskan pada Bab 2. Menurut sangkaan rakyat, Mayor Jenderal Syafrie Sjamsoeddin dan Letnan Jenderal Prabowo Subianto menyuruh pasukan mereka untuk memancing amarah rakyat untuk meneror musuh pemerintah dan memalukan Jenderal Wiranto, supaya Prabowo dapat

  

  menjadi presiden setelah Soeharto turun. Sekelompok orang yang berciri seperti aparat keamanan (badan tegap, rambut cepak) dilihat memancing masyarakat, “memanasi” emosi masyarakat. Selain itu, aparat lain yang dilihat di jalan cenderung hanya menjaga tempat-tempat tertentu, dan tidak mencegah kerusuhan lain yang terjadi di depan mereka.

  Kelompok yang tidak mengambil tindakan ini tidak hanya terbatas pada prajurit awam saja; sebagaimana dijelaskan di atas, Jenderal Wiranto, yang bertanggung jawab atas wilayah Jakarta, tidak menganggap kerusuhan itu sebagai hal yang penting, tetapi malah bersiap untuk acara yang sudah direncanakan di luar 215 pulau. Biarpun belum terbukti ada perintah dari Presiden Soeharto maupun jenderal- 216 Ibid. Hal. 149, 152. jenderal yang ada di bawah pimpinannya untuk mengarahkan amarah massa, itu merupakan suatu kesimpulan yang dapat ditarik oleh orang yang memperhatikan

  khususnya oleh orang yang menjadi sinis akibat mengalami kerusuhan itu.

4.3.5 Prabu Murhardo / Prabu Amurco Sabdo

  Prabu Murhardo mencerminkan Presiden Republik Indonesia pada tahun 1998, yaitu Soeharto. Ada beberapa aspek Prabu Murhardo yang mencerminkan Soeharto, antara lain kegiatannya menggulingkan raja sebelumnya, kecenderungan menggunakan bahasa Jawa, kedudukan sebagai pemimpin negara, dan kejatuhannya sebagai akibat kerusuhan.

  Prabu Murhardo telah menggulingkan Raja Medang Kamulan, Prabu Ajisaka, untuk menjadi Raja Medang Kamulan: ... Kerajaan Medang Kamulan [adalah] kerajaan pertama yang muncul di Tanah Jawa, dengan rajanya Prabu Ajisaka. ... ... Prabu Murhardo juga merasa telah menyingkirkan [Prabu

  Ajisaka] yang dianggapnya telah demikian lama menyengsarakan rakyat

   di Tanah Jawa.

  Ini mencerminkan teori bahwa Presiden Soeharto telah menyingkirkan Presiden Soekarno dengan memimpin atau menjadi anggota dari Gerakan 30

  217 218 Misalnya di Purdey, Jemma. Op. Cit. pada hal. 80 – 90.

  September, yang dikemukakan oleh ilmuwan Belanda dari Universitas Leiden,

   Profesor Wim F. Wertheim.

  Sementara, sebagai raja, Prabu Murhardo sering menggunakan bahasa Jawa.

  

  Beberapa contoh yang tercatat termasuk wedar (nampak), melorot (jatuh),

  

  (menurutlah sudah, hanya kau yang dapat

  wis manuta, amung sira gawe swarga

  menyediakan surga bagiku), dan putri ayu amung yekti, bisa temen gawe

  

wuyung (sesungguhnya hanya kamu, putri cantik, yang membuat aku benar-benar

  

  jatuh cinta). Ini mencerminkan kebiasaan Soeharto dalam pembicaraannya; dia

  

  sering menggunakan istilah bahasa Jawa, seperti mbalelo (membangkang), ngulad

  

  (mawas diri, mengoreksi diri), lengser keprabon, madeg

  sariro hangrasa wani

  

  (turun jabatan, menjadi orang religious yang hidup secara pas-pasan

  pandito 219 dan tinggal gelanggang colong playu (tidak bertanggung jawab).

  Sebagaimana dikemu kakan dalam Bayang-Bayang PKI, yang dilarang diterbit kan di Indonesia. 220 Abdulgani-Knapp, Retnowati. Op. Cit. Hal. 68. 221 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 133. 222 Zoetmulder, P. J. Op. Cit. Hal. 1407. 223 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 255. 224 Dalam konteks kalimatnya, menggauli. Zoetmu lder, P. J. Op. Cit. Hal. 255. 225 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 250.

  Merupakan penyusunan kalimat sendiri dari terjemahan ‘sudah’, ‘perintah’, ‘hanya’, ‘kamu ’,

‘membuat’ ‘surga’ , dengan tambahan yang imp lisit dalam konteks. Purwadi. Op. Cit. Hal. 596,

226 280, 15, 529, 122, 544. 227 Ibid. Hal. 249.

  

Merupakan penyusunan kalimat sendiri dari terjemahan ‘putri’, ‘cantik’, ‘hanya’, ‘sungguh benar’,

‘bisa’, ‘sungguh’, ‘membuat’, ‘cinta’ dengan tambahan yang implisit dalam konteks. Purwad i.

228 Op. Cit. Hal. 485, 27, 15, 602, 47, 555, 122, 600. “Presiden Res mikan Waduk Kedungombo Yang Belu m Mau Pindah Jangan Sampai Jadi 229 Kelo mpok ‘Mbalelo’.” 1991. Kompas. 19 Mei. Hal. 1. 230 Luhulima, James. Op. Cit. Hal. 64. 231 Ibid. Hal. 65.

  Secara harafiah, “Berhenti sebagai raja, menjadi pendeta.” Diubah agar sesuai dengan Soeharto 232 (seorang Muslim yang menjadi presiden). Pu rwadi. Op. Cit. Hal. 258, 270, 442, 475.

  Selain itu, Prabu Murhardo juga merupakan kepala negara Medang Kamulan Baru, sama seperti halnya Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia pada Orde Baru.

  Terakhir, sama seperti halnya Soeharto, Prabu Murhardo terpaksa turun jabatan setelah kerusuhan membara di seluruh negaranya. Dalam novel, Prabu Murhardo mengundur diri setelah dipaksakan oleh senapatinya, Setyoko, sebagai akibat dari tindakannya memerkosa Giok Tien; akhirnya, dia menunjukkan Aryo

  

  Sabrang sebagai penggantinya. Sementara, Soeharto mengundurkan diri secara suka rela setelah 14 anggota kabinetnya meninggalkannya dalam kekacauan pasca-

   Tragedi Mei 1998.

4.3.6 Korsinah

  Biarpun Korsinah tidak muncul dalam kerusuhan, dari perilakunya terhadap Giok Tien selama di Sekar Kastubo dapat ditarik kesimpulan bagaimana dia akan bersikap, yaitu berusaha untuk membantu orang-orang Cina. Dengan demikian, Korsinah dapat ditafsirkan mencerminkan orang-orang Jawa yang berusaha untuk melindungi orang-orang Cina.

  Sifat baik Korsinah terlihat sekali selama Giok Tien menjadi bintang Sekar Kastubo. Korsinah, yang sudah lama menjadi pemain ketoprak, memberi petunjuk 233 pada Giok Tien sehingga Giok Tien menjadi semakin pintar bermain, dan bahkan 234 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 271 – 278. melindungi Giok Tien dari guna- guna Radi Prawiro

  

  dan menasihati agar tidak melakukan hal yang bodoh: ‘Tien, panggung itu lain dengan dunia nyata. Di panggung, kamu bersandiwara. Di dunia nyata, kamu hidup seadanya. Karena panggung, kamu bisa kelihatan menarik dan dicintai. Ketika dandananmu dilepas dan bedak di wajahmu dihapus, kamu kembali menjadi biasa. Banyak laki- laki ingin menidurimu sebagai Ratu Kencanawungu yang anggun, merasakan gejolak nafsumu sebagai Ken Dedes yang menggairahkan, mencumbumu sebagai Anjasmara yang kenes, menggodamu sebagai Johar Manik yang liar, dan memain- mainkanmu sebagai Wahita atau Puyengan yang hangat. Tapi di ranjang, bau harum Kencanawungu telah mengambar, gejolak nafsu Ken Dedes itu telah mereda, bibir merangsang Anjasmara itu telah melayu pucat, keliaran Johar Manik dan kehangatan Wahita atau Puyengan hilang menjadi dingin,’ [ujar Korsinah].

  

  Kepedulian Korsinah terhadap Giok Tien ini mencerminkan perilaku beberapa warga pada Kerusuhan Mei 1998. Sebagaimana dijelaskan di atas, ada orang-orang pribumi yang membahayakan diri untuk membantu orang-orang Cina. Mereka menyembunyikan keluarga Cina di rumah sendiri, memberikan pakaian Muslim kepada orang Cina supaya mereka aman, dan mengusir massa yang sedang beramuk.

  

  Biarpun Korsinah tidak melakukan hal- hal ini, semangat melindungi Giok Tien masih dipegang erat.

4.3.7 Keluarga Giok Tien

  Keluarga Giok Tien yang akan dibahas pada sub-subbab ini ialah Giok Hwa dan Giok Hong, yang diperkosa dan dibunuh pada saat terjadi kerusuhan. Ibu dari 235 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 182 – 185. 236 Ibid. Hal. 160. 237 kakak-beradik ini, Siok Nio, tidak akan dibahas karena sudah meninggal sebelum kerusuhan.

  Sama dengan halnya Giok Tien, Giok Hwa dan Giok Hong sangat takut ketika terjadi kerusuhan yang diarahkan kepada orang Cina. Oleh karena Giok Tien dan Setyoko cukup kaya, Giok Hwa dan Giok Hong bersiap untuk melarikan diri (melakukan exit) ke Negara Singa. Namun, sebelum mereka dapat melarikan diri, sekelompok orang bertopeng masuk ke rumah, lalu memerkosa dan membunuh mereka:

  Ketika mereka sibuk mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa mengungsi ke Negara Singa, mereka terkejut setengah mati, karena mendengar pintu rumah mereka didobrak keras-keras. Dan mereka melihat sekelompok orang bertopeng masuk, dan mendekati mereka. Giok Tien, Giok Hong, dan Giok Hwa ketakutan sampai pucat pasi. Sebelum sempat mereka menjerit, orang-orang bertopeng itu sudah membekap mulut mereka. Giok Tien melihat, orang-orang bertopeng itu menelanjangi kedua kakaknya, mempermalukan, dan akhirnya memerkosa mereka. Dan lebih ngeri lagi, ia melihat, akhirnya, orang- orang bertopeng itu menusuk kedua kakaknya. Darah mereka berceceran. Giok Tien hampir pingsan, ketika melihat, bagaimana dalam kengerian itu Giok Hong mengembuskan napasnya yang terakhir. Dan ia hampir jatuh, ketika melihat seorang dari mereka menusuk- nusukkan sebilah keris ke tubuh Giok Hwa, lalu meninggalkan keris itu tertancap di dadanya. Semuanya itu berlangsung dengan demikian cepat, kejam, dan

   ganas.

  Hal ini mencerminkan pengalaman beberapa wanita yang diperkosa. Sebagaimana dilihat dari contoh Andina dan Mona di atas, perkosaan terjadi secara ramai-ramai, dengan banyak orang berpartisipasi. Pemerkosa itu mengambil giliran 238 memerkosa wanita, sehingga setiap pemerkosa sudah dapat giliran. Biarpun Andina dan Mona selamat, masih tercatat sebanyak 15 yang meninggal atau dibunuh setelah mereka diperkosa, sama seperti Giok Hwa dan Giok Hong.

4.3.8 Aryo Sabrang

  Aryo Sabrang, biarpun tokoh yang tidak banyak berperan dalam cerita, masih mencerminkan kenyataan pada Kerusuhan Mei 1998 dengan sangat jelas. Dia merupakan Adipati Nusa Barong, dan salah satu anak buah Prabu Murhardo. Setelah Prabu Murhardo mengundur diri, Aryo Sabrang diangkat menjadi raja yang ternyata adil dan bersikap jauh berbeda dari Prabu Murhardo:

  [Rakyat] senang, karena Prabu Aryo Sabrang memerintah dengan sabar dan penuh keterbukaan. Semula mereka mengira, paling-paling Aryo Sabrang meneruskan apa saja yang telah dibuat pendahulunya. Ternyata tidak demikian halnya. Ia mau mendengarkan kata-kata rakyatnya.

  Malahan ia bertekad menghapus segala kenangan lama yang membuat rakyat takut dan susah. Ia tidak ingin Negeri Medang Kamulan dialami rakyat sebagai Negeri Pedang Kemulan. Ia bahkan mengembalikan nama Medang Kamulan Baru pada nama aslinya. Dihapusnya pengertian ‘Baru’ dari nama negerinya, sehingga nama negeri itu adalah Medang Kamulan. ... Sekarang tiada lagi yang baru atau yang lama, yang ada hanyalah Medang Kamulan saja. Rakyat mengerti, perubahan ini tidak hanya sekadar berarti pengembalian nama, tapi juga penghapusan cara-cara pemerintahan yang ‘Baru’, yang dulu pernah menggantikan yang ‘Lama’. Memang Aryo Sabrang bertekad membawa Medang Kamulan ke masa depannya yang gemilang, karena itu ia harus memutuskan sama sekali dengan apa yang terdahulu, entah itu disebut

   yang ‘Lama’ atau yang ‘Baru’.

  Sifat dan perilaku Aryo Sabrang ini mencerminkan Presiden Jusuf Habibie. 239 Sama seperti Habibie (yang, sebelum menjadi Presiden, menduduki jebatan Wakil

  

  Presiden), Aryo Sabrang merupakan anak buah pemimpin yang menduduki jebatan tinggi, dijadikan presiden, lalu berusaha untuk menjauhi masa lalu.

  Sementara, tindakan Aryo Sabrang menghapus jejak-jejak dari Medang Kamulan Baru mencerminkan tindakan yang dimulai oleh Presiden Habibie dan dilanjutkan oleh presiden-presiden lainnya. Beberapa tindakan Habibie yang dapat dimaknai sebagai “menghapus jejak-jejak (pemerintahan sebelumnya)” termasuk mengundangkan Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998 yang secara formal menghapus istilah “pribumi” dan “non-pribumi”, menyelesaikan proses perundangan Undang-Undang Hak Asasi Manusia serta memulai proses amendemen Undang- Undang Dasar 1945, yang lebih menekankan hak asasi manusia dan diharapkan untuk

   lebih menyejahterakan rakyat.

  240 241 Setiono, Beny G. Op. Cit. Hal. 1085 – 1089.

BAB 5 PEN UTUP

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Ringkasan Penelitian

  Kerusuhan Mei 1998 adalah peristiwa yang sangat berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Akibat kekacauan ekonomi, mulai di Jakarta terjadi suatu pogrom dengan orang Cina sebagai sasaran yang akhinrya tersebarkan ke seluruh Indonesia. Di Jakarta sendiri, ada lebih dari seribu orang tewas, dan jumlah seluruh kerugian diperkira sesedikit-sedikitnya Rp. 2,5 triliun, atau USD 238 juta. Sekitar 13 pasar, 2.479 rumah toko, 40 mal, 1.604 toko, 45 bengkel, 387 kantor, 9 SPBU, 8 bus dan kendaraan umum lainnya, 1.119 mobil, 826 sepeda motor, dan 1.026 rumah dirusaki, dijarah, dan / atau dibakar selama kerusuhan berlangsung. Sementara, di Surakarta tercatat 56 kantor dan bank, 27 toko swalayan, 217 toko, 12 rumah makan, 18 ruang pamer mobil, dan delapan pabrik dirusak dan dibakar. Massa juga membakar 287 mobil, 570 sepeda motor, 55 bus dan tujuh truk. Jumlah kerugian dari kerusuhan itu mencapai Rp. 457 miliar. Tercatat banyak kasus di mana aparat tidak mampu atau tidak berusaha untuk mencegah kerusuhan dan penjarahan. Akibat kerusuhan ini, Soeharto harus mengundurkan diri dan pemerintahan Orde Baru berakhir.

  Namun, oleh karena mereka dijadikan sasaran kerusuhan dan tidak dilindungi oleh pemerintah sendiri, warga Indonesia keturunan Cina merasa sangat trauma.

  Demikian pula Sindhunata, yang mencantumkan perasaannya dalam Putri Cina. terjadi kepada dia. Dia mencari identitasnya dalam mitos orang Jawa, dan akhirnya menyaksikan gara-gara yang terjadi pada tahun 1998. Melalui cerita Giok Tien, seorang pemain ketoprak kuturnan Cina, pengambinghitaman orang Cina oleh pemerintahan dibahas. Biarpun Giok Tien adalah istri dari Setyoko, Senapati kerajaan Medang Kamulan Baru, dia diperkosa oleh raja Prabu Murhardo dan Radi Prawiro, dan kakak-kakaknya diperkosa dan dibunuh. Akhirnya, akibat pemerkosaan istrinya, Setyoko bersama Giok Tien memeras Prabu Murhardo untuk mengundurkan diri. Namun, karena tidak terima cinta Giok Tien dan Setyoko, Radi Prawiro membunuh mereka. Ketika Putri Cina melihat cinta tulus Giok Tien dan Setyoko, dia merasa seakan mengerti bagaimana orang Jawa dan orang Cina bisa bekerja sama, dan akibatnya merasa bebas.

  Dalam pembahasan perasaannya, Sidhunata mendapatkan banyak ilham dari kehidupan nyata. Tokoh yang berdasarkan tokoh sejarah termasuk Prabu Murhardo sebagai cermin Presiden Soeharto, dan Setyoko dan Radi Prawiro beserta hubungan mereka sebagai cermin Jenderal Wiranto dan Jenderal Prabowo Subianto. Tahun keterjadiannya dilambangkan dengan sengkalan lagu “Cucak Rowo” yang sangat popular pada tahun 1998. Indonesia, selain disebut tanah Jawa, juga digambarkan dengan mitos yang sama. Situasi politik, yaitu korupsi, nepotisme, dan hukum represif terhadap suku Tionghoa, di Medang Kamulan Baru dan Indonesia selama Orde Baru sama. Psikologi suku Cina digambarkan dengan Putri Cina, yang berasa kehilangan identitas.

5.1.2 Kesimpulan

  Sebagaimana telah dikemukakan di atas, Kerusuhan Mei 1998 telah sangat mempengaruhi pikiran warga Cina di Indonesia. Perkosaan, pembunuhan, dan penjarahan massal itu telah meninggalkan bekas di hati mereka yang tidak mudah hilang.

  Penulisan Putri Cina bukanlah sekadar penulisan novel, tetapi pengabadian suatu pengalaman dalam bentuk tulisan. Hal- hal yang terjadi di dalam novel mempunyai maksud untuk mencatat pengalaman dan keterjadian untuk masa depan, supaya orang dapat memahami apa yang dialami. Biarpun ditulis secara alegoris, kenyataan sangat menonjol. Dengan Prabu Murhardo mencerminkan Soeharto dan Giok Tien sebagai suara korban, Putri Cina mengemukakan kenyataan pahit yang harus dipahami. Tulisan ini juga menyampaikan suatu pesan, bahwa perlu ada kebhinekatunggalikaan supaya negeri ini bisa maju dan berkembang.

5.2 Saran

  Dengan pengertian Putri Cina baru ini, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut. Pertama, bisa dilakukan penelitian intertekstual Putri Cina dengan beberapa karya sastra pasca-Reformasi yang dituliskan oleh orang keturunan Cina dapat dilihat apabila ada kebiasaan baru untuk mencari jawaban atas kekerasan dan kerusuhan melalui karya sastra.

  Kedua, bisa dilakukan penelitian sosiologis atas karya sastra Indonesia yang dituliskan oleh orang keturunan Cina, dapat dilihat betapa Kerusuhan Mei 1998 telah mempengaruhi psyche warga keturunan Cina di Indonesia.

  Ketiga, bisa dilakukan penelitian psikologi sastra, dapat diteliti bagaimana yang terjadi dalam novel Putri Cina mempengaruhi tokoh Putri Cina atau

  gara-gara Giok Tien.

  Keempat, bisa dilakukan penelitian sosiologi sastra atas bagaimana ciri-ciri Presiden Soeharto digambarkan dalam karya sastra, misalnya dalam Putri Cina karya Sindhunata, Paman Gober karya Seno Gumira Ajidarma, Bapak Presiden yang karya Agus Noor, dan Semar Gugat karya N. Riantiarno.

  Terhormat

  Kelima, teorunya René Girard dapat diterapkan pada novel Putri Cina untuk mengikuti perkembangan diskriminasi terhadap orang keturunan Cina di Indonesia; ini dapat pula digabungkan dengan penelitian interteks untuk melihat pogrom lain di sejarah Indonesia, misalkan pembunuhan 10,000 orang keturunan Cina di Batavia pada tahun 1740.

DAFTAR PUSTAKA

  Abdulgani-Knapp, Retnowati. Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President . 2007. Marshall Cavendish Editions: Singapura. “Aksi Mahasiswa: Bentrok di Solo, Yogya, dan Samarinda.” 1998. Kompas. 9 Mei.

  Hal. 3. “Amien Rais: Kerusuhan Jakarta dan Solo ada Dalangnya.” 1998. Kompas. 11 Juni.

  Hal. 1. “Aparat Jamin Keamanan, Warga Masih Was-Was.” 1998. Kompas. 13 Agustus. Hal.

  9 Arif, Ahmad dan Maria Hartiningsih. “10 Tahun Kerusuhan Mei: Berebut Ruang Ingatan.” 2008. Kompas. 14 Mei. Hal. 1 Chailil, Munawar, dan Tim Forum. “Di Ujung Aksi Damai.” 1998. Forum Keadilan.

  1 Juni. Culler, Jonathan. Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of

  Literature . 1977. Routledge & Kegan Paul: London. dalam Ratna, Nyoman

  Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif . Cetakan Pertama. 2004. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat.

  2009. Gramedia: Jakarta. Dewi, Novita. “Putri Pewarta Perdamaian: Kajian atas Putri Cina karya Sindhunata” dalam Sintesis Vol. 6 No. 1 Maret 2008. Hal. 40 – 49.

  Gie, Kwik Kian. “Warga Keturunan Tionghoa dan Distribusi.” 1998. Kompas. 7 Juni.

  Hal. 4. Gunadi, Fannie. “Mona, di Balik Sprei Kembang.” 1998. Tempo. 12 Oktober. Hal.

  63. Hamid, Usman dkk. Menatap Wajah Korban: Upaya Mendorong Penyelesaian

  Hukum Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Dalam Peristiwa Kerusuhan Mei

  Cetakan Pertama. 2005. Diterbitkan bersama oleh Solidaritas Nusa 1998. Bangsa, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, Ikatan Keluarga Orang Hilang, dan Forum Keluarga Korban Mei 1998: Jakarta. “Hampir Seluruh Kota Sepi dan Mencekam.” 1998. Kompas. 21 Mei. Hal. 11. Hartiningsih, Maria. “Pergumulan Menguakkan Identitas.” 2007. Kompas. 23 September. Hal. 11. Hartiningsih, Maria, dan Ahmad Arif. “Tragedi Mei: Membaca Kota dari Puing Berjelaga.” 2008. Kompas. 16 Mei. Hal. 49. “Hidup yang Terenggut”. 2003. Tempo. 25 Mei. Hal. 68 – 69. “Jangan Biarkan Pelecehan dan Perkosaan Tak Terselesaikan.” 1998. Kompas. 06 Juni. Hal. 12. Kelana, Aries, dan I. Made Suarjana. “Yang Untung dan Buntung.” 1998. Gatra. 23 Mei. Hal. 66 – 67. Khoiri, Ilham. “I. Wibowo tentang Liberalisasi Masyarakat Tionghoa.” 2008.

  10 Februari. Hal. 12.

  Kompas.

  “Kota Solo Penuh Asap.” 1998. Kompas. 15 Mei. Hal. 11. “Lega..., Lepas dari Jakarta.” 1998. Kompas. 21 Mei. Hal. 8. Luhulima, James. Hari-Hari Terpanjang: Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto dan Beberapa Peristiwa Terkait. 2008. Kompas: Jakarta.

  “Luka Kerusuhan, Luka Perempuan.” 1998. Kompas. 5 Juni. Hal. 1. Obstfeld, Raymond. Fiction First Aid: Instant Remedies for Novels, Stories and Scripts . 2002. Writer's Digest Books: Cincinnati, Amerika Serikat.

  “Perkosaan di Solo Tak Terungkap.” 1998. Kompas. 22 Juli. Hal. 11. “Peta Amuk di Kota Hantu”. 2003. Tempo. 25 Mei. Hal. 164 – 166. Prasetyadji, dan Wahyu Effendi (Tjoa Jiu Tie). 2008. Tionghoa dalam Cengkeraman SBKRI. Jakarta: TransMedia.

  “Presiden Resmikan Waduk Kedungombo: Yang Belum Mau Pindah Jangan Sampai

  Purdey, Jemma. Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996–1999. 2006. Singapore University Press: Singapura. Purwadi. Kamus Jawa-Indonesia Populer. Cetakan Pertama. 2004. Media Abadi: Yogyakarta. Purwono, Dedy. “Novel Putri Cina Karya Sindhunata: Analisis Intertekstual”. 2008.

  . Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

  Skripsi “Rakyat Harus Ikut Mencari Perusuh.” 1998. Kompas. 22 Mei. Hal. 5.

  Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari . Cetakan

  Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif Pertama. 2004. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

  Setiono, Benny G. Tionghoa dalam Pusaran Politik: Mengungkap Fakta Sejarah Tersembunyi Orang Tionghoa di Indonesia. Edisi Pertama. 2008.

  TransMedia: Jakarta. “’Si Lembut’ Itu Mendadak Beringas.” 1998. Kompas. 16 Mei. Hal. 11. Sindhunata. Putri Cina. Cetakan Kedua. 2007. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Siregar, Bakri. Sedjarah Sastera Indonesia Modern. 1964. Akademi Sastera dan Bahasa “Multatuli”: Jakarta.

  “Soal Kerusuhan: Pemerintah Bentuk Tim Interdep.” 1998. Kompas. 14 Juli. Hal. 6. Sumbogo, Priyono B., Hidayat Gunadai, dan Andi Zulfikar Anwar. “Mereka Ingin Reformasi tapi Jakarta Dijilat Api.” 1998. Gatra. 23 Mei. Hal. 24 – 31.

  Sumbogo, Priyono B., Khoiri Akhmadi, dan Nurlis Effendi. "Massa Hantu Merayap dan Memicu Kerusuhan Itu." 1998. Gatra. 16 Mei. Hal. 24 – 28. Tan, Mely G. Etnis Tionghoa di Indonesia: Kumpulan Tulisan. 2008. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta. Teeuw, A. Sastra Baru Indonesia I. Diterjemahkan Yayasan Ilmu- Ilmu Sosial. Edisi Pertama. 1980. Nusa Indah: Ende. “Warga Desak Otak Kerusuhan Solo Diungkap.” 1998. Kompas. 06 Juni. Hal. 11.

  Wawancara pribadi dengan Wahyu Apri Wulan Sari, tanggal 15 November 2008. Wawancara pribadi dengan Sie Yulyani Retno Nugroho, tanggal 22 November 2008. Wijayanta, Hanibal W. Y., Sen Tjiauw, dkk. “Percik Bara Seantero Nusantara.” 1998.

  1 Juni. Hal. 19.

  Forum Keadilan.

  Woodrich, Christopher Allen. “Bangsa Tionghoa dalam Republik Indonesia, dengan Fokus Pada Saat Rezim Soeharto, Dianalisa Dari Berbagai Definisi Kemanusiaan.” 2008. Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

  Woodrich, Christopher Allen. “Pandangan Pemuda-Pemudi Yogyakarta tentang Kedudukan Suku Tionghoa di Indonesia.” Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma

  Zoetmulder, P. J. Dan S. O. Robson. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Diterjemahkan Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Cetakan Kelima. 2006. Gramedia: Jakarta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Dominasi dan hegemoni kerajaan Demak terhadap kaum Tionghoa dalam novel Putri Cina karya Sindhunata.
0
3
100
Analisis struktur cerita novel perampok karya W.S. Rendra - USD Repository
1
12
93
Ideologi pengarang dalam novel kitab omong kosong karya Seno Gumira Ajidarma pendekatan ekspresif - USD Repository
0
0
139
Pemikiran kiri dalam novel jejak sang pembangkang karya Frigidanto Agung : tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
155
Putri pewarta perdamaian : kajian atas putri cina karya Sindhunata - USD Repository
0
0
14
Citra wanita Bali dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini : tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
82
Kecemasan tokoh Suyono dalam novel sedimen senja karya S.N. Ratmana pendekatan psikologi sastra - USD Repository
0
0
90
Motivasi perpindahan kasta Krahmana-Sudra dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini : tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
129
Fungsi tuturan langsung dalam novel I feel bad about my neck karya Nora Ephron - USD Repository
0
0
6
Fungsi tuturan langsung dalam novel I feel bad about my neck karya Nora Ephron - USD Repository
0
0
104
Nilai feminis tokoh dalam novel trilogi Jendela-Jendela, Pintu dan Atap karya Fira Basuki - USD Repository
0
0
135
Nilai marxisme dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer - USD Repository
0
0
112
Kecemasan tokoh Aruni dalam novel Menolak Panggilan Pulang karya Ngarto Februana : pendekatan psikologi sastra - USD Repository
0
1
73
Tokoh dan plot dalam novel Jejak Kala karya Anindita S. Thayf - USD Repository
0
0
80
Implikatur percakapan antar tokoh dalam novel Projo dan Brojo karya Arswendo Atmowiloto - USD Repository
0
0
121
Show more