Efek hepatoprotektif jangka pendek ekstrak metanol-air daun macaranga tanarius L. terhadap tikus terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository

104 

Full text

(1)

i

EFEK HEPATOPROTEKTIF JANGKA PENDEK EKSTRAK

METANOL - AIR DAUN Macaranga tanarius L. TERHADAP

TIKUS TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Program Studi Ilmu Farmasi

Diajukan Oleh:

M. R. Biri Koni Tiala

NIM : 098114088

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

PERSEMBAHAN

“Dont wait for the perfect moment, just take the moment

and make it perfect”

Kupersembahkan skripsi ini untuk……

(5)
(6)
(7)

vii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“Efek Hepatoprotektif Jangka Pendek Ekstrak Metanol-Air Daun Macaranga

tanariusL. Terhadap Tikus Terinduksi Karbon Tetraklorida” ini dengan baik. Skripsi

ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penyelesaian skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak,

baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Oleh karena itu penulis hendak

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

2. Ibu Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt., selaku Dosen Pembimbing skripsi ini atas

segala kesabaran untuk selalu membimbing, memberi motivasi, dan memberi

masukan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

3. Ibu dr. Fenty, M. Kes., Sp. PK, selaku Dosen Penguji skripsi atas bantuan dan

masukkan kepada penulis demi kemajuan skripsi ini.

4. Bapak Prof., Dr. CJ Soegihardjo, Apt., selaku Dosen Penguji skripsi atas bantuan

dan masukkan, kepada penulis demi kemajuan skripsi ini.

5. Ibu Rini Dwiastuti, M.Si., Apt., selaku Kepala Penanggung Jawab Laboratorium

Fakultas Farmasi yang telah memberi izin dalam penggunaan fasilitas

laboratorium Farmakologi-Toksikologi, Farmakognosi-Fitokimia dan Farmasi

(8)

viii

6. Pak Parjiman selaku laboran Laboratorium Farmakologi-Toksikologi, Pak Heru

selaku laboran Laboratorium Biofarmasetika-Farmakokinetika, Pak Kayat selaku

laboran Laboratorium Biokimia dan Pak Ratijo selaku laboran Laboratorium

Hayati, Pak Wagiran, selaku laboran Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia, Pak

Agung selaku laboran Laboratorium Farmasi Fisika, serta Pak Andri selaku

laboran di kebun obat, atas segala bantuan dan kerja sama selama di

laboratorium.

7. Papa, mama, kakak, adik, dan saudara yang telah membantu dari awal sampai

akhir penelitian ini, atas doa, dukungan semangat dan perhatiannya.

8. Aloysius Gonzaga Jati Panantya sebagai teman seperjalanan, sahabat setia, yang

tak pernah kurang dan tak pernah habis, atas doa, kasih sayang, perhatian,

bantuan, motivasi dan waktunya yang telah membantu dari awal sampai akhir

penelitian ini.

9. Rekan-rekan penelitian tim macaranga, Nanda Chris Nurcahyanti, Theresia Garri

Windrawati, Fransisca Devita Risti W., Christine Herdyana Febrianti, Bernadetta

Amilia, A.M. Inggrid Silli dan Luluk Rahendra Martha atas bantuan, kerjasama,

perjuangan dan suka duka yang telah kita alami bersama selama penelitian.

10. Teman-teman FKK B atas kebersamaan kita.

11. Pihak-Pihak lain yang turut membantu penulis namun tidak dapat disebutkan

satu persatu.

Penulis menyadari bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik, saran dan masukan demi kemajuan

(9)

ix

bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kefarmasian, serta semua

pihak, baik mahasiswa, lingkungan akademis, maupun masyarakat.

Yogyakarta, 19 Desember 2012

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH.. v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

INTISARI ... xviii

ABSTRACT ... xix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang... 1

B.Rumusan Masalah ... 4

C.Keaslian Penelitian ... 4

D.Manfaat Penelitian ... 5

(11)

xi

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ... 7

A. Tanaman Macaranga tanarius L. ... 7

1. Sinonim... 7

2. Nama daerah ... 7

3. Taksonomi ... 7

4. Kandungan tanaman ... 7

B. Hepar ... 10

1. Anatomi dan fisiologi hati ... 10

2. Kerusakan hati ... 12

C. Hepatotoksin ... 15

D. Karbon Tetraklorida ... 17

E. Metanol ... 20

F. Metode Ekstraksi ... 20

G. Pengukuran Serum ALT dan AST ... 22

H. Landasan Teori ... 23

I. Hipotesis ... 24

BAB III. METODE PENELITIAN ... 25

A.Jenis dan Rancangan Penelitian... 25

B.Variabel Penelitian dan Definisi Operasional... 25

1. Variabel Penelitian ... 25

2. Definisi Operasional ... 26

C. Bahan Penelitian ... 27

(12)

xii

2. Bahan Kimia ... 27

D. Alat Penelitian ... 29

E. Tata Cara Penelitian ... 30

1. Determinasi daun M. tanarius ... 30

2. Pengumpulan bahan... 30

3. Pembuatan serbuk ... 30

4. Pembuatan ekstrak metanol : air daun M. tanarius ... 30

5. Penetapan konsentrasi pekat ekstrak ... 30

6. Pembuatan dosis ekstrak metanol : air daun M. tanarius ... 32

7. Pembuatan larutan karbon tetraklorida dalam olive oil ... 32

8. Uji pendahuluan ... 32

9. Pengelompokan dan perlakuan hewan uji ... 33

10. Pengukuran aktivitas ALT dan AST serum ... 34

11. Perhitungan efek hepatoprotektif ... 35

F. Tata Cara Analisis Hasil ... 35

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36

A.Penyiapan Bahan ... 36

1. Hasil determinasi tanaman ... 36

2. Pembuatan serbuk daun M. tanarius ... 37

3. Penetapan kadar air serbuk daun M. tanarius ... 37

(13)

xiii

C.Uji Pendahuluan ... 40

1. Penentuan dosis hepatotoksik ... 40

2. Penentuan dosis ekstrak metanol-air daun M. tanarius ... 40

3. Penentuan waktu pencuplikan darah ... 40

D.Efek Hepatoprotektif Jangka Pendek Ekstrak Metanol-Air Daun M. tanarius Terhadap Tikus Jantan Terinduksi Karbon Tetraklorida ... 45

1. Kontrol negatif... 46

2. Kontrol hepatotoksin ... 48

3. Kontrol perlakuan ... 49

4. Perlakuan Jangka Pendek Ekstrak Metanol-Air Daun M. tanarius Terhadap Tikus Terinduksi Karbon Tetraklorida ... 50

E. Rangkuman Pembahasan ... 57

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 59

A.Kesimpulan ... 59

B.Saran ... 59

DAFTAR PUSTAKA ... 60

LAMPIRAN ... 65

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel I. Aktivitas serum ALT setelah pemberian karbon tetraklorida dosis

2 ml/kg BB pada selang waktu 0, 24 dan 48 ... 41

Tabel II. Aktivitas serum AST setelah pemberian karbon tetraklorida dosis

2 ml/kg BB pada selang waktu 0, 24 dan 48 ... 43

Tabel III. Perbedaan kenaikan aktivitas serum ALT setelah pemberian karbon

tetraklorida dosis 2 ml/kg BB pada waktu pencuplikan darah jam ke 0,

24 dan 48 ... 44

Tabel IV. Perbedaan kenaikan aktivitas serum AST setelah pemberian karbon

tetraklorida dosis 2 ml/kg BB pada waktu pencuplikan darah jam ke 0

24 dan 48 ... 45

Tabel V. Pengaruh perlakuan jangka pendek ekstrak metanol-air daun M. tanarius

3840 mg/kg BB berdasarkan aktivitas serum ALT dan AST pada

beberapa variasi waktu terhadap hepatotoksin karbon tetraklorida ... 46

Tabel VI. Perbandingan aktivitas serum ALT jam ke-0 dengan perlakuan

kontrol negatif olive oil ... 47

Tabel VII. Perbandingan aktivitas serum AST jam ke-0 dengan perlakuan

kontrol negatif olive oil ... 47

Tabel VIII. Perbandingan aktivitas serum ALT kontrol perlakuan dengan

kontrol hepatotoksin dan kontrol negatif... 50

Tabel IX. Perbandingan aktivitas serum AST kontrol perlakuan dengan

kontrol hepatotoksin dan kontrol negatif... 50

(15)

xv

pada perlakuan jangka pendek ekstrak metanol-air daun M. tanarius

3840 mk/kg BB berdasarkan aktivitas serum ALT pada beberapa

variasi waktu ... 51

Tabel XI. Perbandingan data berbeda bermakna dan berbeda tidak bermakna

pada perlakuan jangka pendek ekstrak metanol-air daun M. tanarius

3840 mk/kg BB berdasarkan aktivitas serum AST pada beberapa

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur senyawa yang terdapat pada daun M. tanarius... ... 8

Gambar 2. Struktur dasar lolubus hati memperlihatkan lempeng sel hati... 11

Gambar 3. Struktur kimia karbon tetraklorida... 17

Gambar 4. Kenaikan relatif aktivitas serum ALT dan AST... 18

Gambar 5. Mekanisme biotrasformasi dan oksidasi karbon tetrakloria... 19

Gambar 6. Diagram batang rata-rata aktivitas ALT serum sel hati tikus setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 ml/kg BB pada selang waktu 0, 24 dan 48 jam... 42

Gambar 7. Diagram batang rata-rata aktivitas AST serum sel hati tikus setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 ml/kg BB pada selang waktu 0, 24 dan 48 jam... 43

Gambar 8. Diagram batang rata-rata pengaruh perlakuan jangka pendek pemberian ekstrak metanol-air terhadap hepatotoksin karbon tetraklorida dilihat dari aktivitas serum ALT... 51

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Foto daun M. tanarius ... 66

Lampiran 2. Foto ekstrak metanol-air daun M. tanarius ... 66

Lampiran 3. Surat pengesahan determinasi tanaman M. tanarius ... 67

Lampiran 4. Surat Etikal Clearance ... 68

Lampiran 5. Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov dilanjutka Anova One-Way data ALT pada orientasi waktu pengambilan pencuplikan darah setelah pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 3840 mg/kgBB... 69

Lampiran 6. Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov dilanjutka Anova One-Way data AST pada orientasi waktu pengambilan pencuplikan darah setelah pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 3840 mg/kgBB... 76

Lampiran 7. Hasil rendemen ekstrak metanol-air daun M. tanarius ... 82

(18)

xviii

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian jangka pendek ekstrak metanol-air daun Macaranga tanarius L., untuk menurunkan aktivitas ALT

dan AST serum sehingga dapat digunakan sebagai hepatoprotektor. Dari penelitian ini juga dapat diketahui lama waktu efektif yang diperlukan untuk memberikan efek hepatoprotektif.

Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah. Penelitian ini menggunakan tikus jantan galur Wistar, umur 2-3 bulan, dan berat ± 150-200 gram. Kelompok I merupakan kontrol hepatotoksin CCl4 dengan

dosis 2,8 ml/kg BB secara intra peritonial. Kelompok II merupakan kontrol negatif yaitu pemberian olive oil 2 ml/kg BB secara intra peritonial. Kelompok III merupakan

kontrol perlakuan yaitu pemberian ekstrak metanol-air daun M. tanarius dosis 5 g/kg BB secara per oral. Kelompok IV-VIII diberikan ekstrak metanol-air daun M. tanarius dengan dosis 3840 mg/kg BB, kemudian secara berturut-turut pada ½, 1, 2, 4

dan 6 jam setelah perlakuan diberikan dosis hepatotoksik CCl4 dengan dosis 2 ml/kg

BB. Pada jam ke-24 setelah diberi CCl4, semua kelompok diambil darahnya pada

daerah sinus orbitalis di mata tikus. Data ALT dan AST serum yang didapat, dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi datanya kemudian

dilanjutkan analisis dengan uji Scheffe untuk mengetahui perbedaan aktivitas ALT dan AST serum antar kelompok.

Dari data pengukuran aktivitas serum ALT dan AST yang diperoleh waktu paling efektif menunjukkan efek hepatoprotektif adalah pada jam ke-½.

(19)

xix

ABSTRACT

This study is aimed to determine the effects of short-term administration of methanol-water extract of Macaranga tanarius L. leave; to decrease the activity of

ALT and AST serum, as a result, it can be used as a hepatoprotector. This study also measures the effective time allocation in providing effective hepatoprotective effects.

This is pure experimental study using completely randomized design. This study uses male Wistar rats, attain the age of 2-3 months and ±150-200 grams weight. Group I was the hepatotoxins CCl4 control at a dose of 2.8 ml/kg body weight which

was injected intraperitoneally. Group II was the negative control which was given olive oil 2 ml/kg body weight intraperitoneally. Group III was the control treatment given methanol-water extract of M. tanarius leave orally at a dose of 5 g/kg body

weight. Group IV-VIII were given the methanol-water extract of M. tanarius leave at

a dose of 3840 mg/kg, afterward, the treatment was given hepatotoxic dose of CCl4 at

a dose of 2 ml/kg at ½, 1, 2, 4 and 6 hours successively. At the 24th hour after being

given CCl4, all groups have blood drawn at the orbital sinus region in the rats’ eyes.

ALT data and AST serum which were obtained were analyzed using

Kolmogorov-Smirnov test to look at the data distribution, after that, the data were analyzed using

Scheffe test to determine the differences in ALT activities and AST serum in each

group.

From the data measurement of serum ALT activities and serum AST activities which were obtained, the most effective time showing hepatoprotective effect was shown at the beginning of the ½ hour.

(20)

1

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang Penelitian

Hati merupakan organ vital yang berfungsi vaskuler untuk menyimpan dan

menyaring darah, metabolisme dan sekresi atau eksresi, yang berperan dalam

pembentukan empedu yang mengalir melalui saluran empedu ke pencernaan, serta

fungsi pertahanan tubuh melalui detoksifikasi dan fungsi perlindungan (Guyton

dan Hall, 2010). Adanya kerusakan pada hati dapat disebabkan oleh

mikroorganisme maupun senyawa kimia (obat-obatan) (Donatus, 1992). Menurut

WHO (2012), kanker hati yang disebaban oleh adanya virus (mikoorganisme)

seperti virus HBV dan HCV menyebabkan kematian sebesar 20% di negara maju

dan negara berkembang, sedangkan di negara dengan kondisi menengah kebawah

memiliki tingkat resiko kematian lebih besar, sekitar 70%. Pada tahun 2008,

Kanker hati memiliki tingkat kematian ketiga setelah kanker paru dan lambung.

Obat dan zat beracun dapat menyebabkan sekitar 10% dari seluruh kasus hepatitis,

atau sekitar 20-30% dari kasus penyakit hati akut (Cadman, 2000).

Salah satu senyawa yang dapat digunakan sebagai senyawa model yang

dapat menyebabkan kerusakan hati adalah karbon tetraklorida (CCl4). Karbon

tetraklorida merupakan yang biasa digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci, dan

digunakan dalam pembuatan bahan-bahan plastik, tinta, bahan semikonduktor

(21)

karsinogen dan berpengaruh pada penipisan lapisan ozon di atmosfer (Bruckner

dan Warren, 2001).

Banyak orang di dunia ini yang terpapar karbon tetraklorida di lingkungan

kerja. Kazanthis, Bomford, Oxon (1960) melaporkan bahwa 17 karyawan pabrik

pengolahan kuarsa dievakuasi karena terpapar uap karbon tetraklorida dan 15

pekerjanya mengeluhkan gejala mual, anoreksia, muntah perut kembung,

ketidaknyamanan epigastrium, pusing sampai 4 bulan sebelum evaluasi.

Dampak dari terkena paparan karbon tetraklorida jangka panjang ini dapat

menyebabkan terjadinya kerusakan hati. Menurut data yang ada di WHO (2012)

pada tahun 2008 kanker hati mengakibatkan 695.000 kematian. Kanker ini dapat

diakibatkan senyawa kimia karsinogen ataupun karsinogen biologi seperti infeksi

virus, bakteri, maupun parasit. Pada tahun 2008 (WHO, 2008a; 2008b) dilaporkan

kejadian hepatitis akibat virus seperti VHA terjadi 1,4 juta kasus dan 2 milyar

orang terinfeksi VHB dengan 350 juta orang diantaranya menderita hepatitis

kronis.

Dengan adanya tumbuh-tumbuhan dapat menjadi suatu alternatif

pengobatan yang dilakukan untuk mencegah bahkan mengobati penyakit

(Donatus, 1992). Salah satu tumbuhan yang dapat berpotensi sebagai

hepatoprotektor adalah Macaranga tanarius L. Berdasarkan penelitian terakhir

mengenai M. tanarius., dilaporkan oleh Nugraha (2010) dan Mahendra (2010)

bahwa infusa daun M. tanarius dapat digunakan sebagai hepatoprotektor. Pada

penelitian tersebut, digunakan model senyawa hepatotoksin parasetamol dosis

(22)

tanarius, dapat digunakan untuk sebagai hepatoprotektor dengan senyawa model

yang digunakan adalah parasetamol.

Berdasarkan penelitian Matsunami, Takamori, Shinzato, Aramoto, Kondo,

Otsuka (2006), tanaman M. tanarius, mempunyai aktivitas sebagai antioksidan

yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, yaitu macarangiosida A-D, dan

malofenol B yang didapat dari isolasi ekstrak metanol daun M. tanarius, yang

mana mempunyai aktivitas penangkapan terhadap DPPH.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Matsunami, dkk (2006) meneliti

bahwa senyawa antioksidan yang dapat didapatkan dari daun M. tanarius adalah

dari hasil isolasi ekstrak metanol yang bersifat polar. Oleh karena itu, maka

metanol-air, diharapkan dapat diperoleh senyawa antioksidan yang mencegah

aktivitas radikal bebas dari karbon tetraklorida. Dari uraian diatas, maka

penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek hepatoprotektif jangka pendek

ekstrak metanol-air daun M. tanarius pada tikus jantan terinduksi karbon

tetraklorida.

Penelitian efek hepatoprotektif jangka pendek ekstrak metanol-air daun M.

tanarius terhadap tikus yang terinduksi karbon tetraklorida ini dilakukan untuk

membandingkan dengan penelitian efek hepatoprotektif jangka panjang ekstrak

metanol-air daun M. tanarius terhadap tikus yang terinduksi karbon tetraklorida

(Windrawati, 2012) yang juga dilaksanakan bersamaan. Oleh karena itu,

penelitian ini menarik untuk diteliti karena penelitian menggunakan ekstrak

metanol-air daun M. tanarius jangka pendek dan belum pernah dilakukan

(23)

B. Rumusan Masalah

1. Apakah praperlakuan jangka pendek ekstrak metanol-air daun Macaranga

tanarius L. mempunyai efek hepatoprotektif pada tikus yang terinduksi

karbon tetraklorida yang dengan melihat adanya penurunan aktivitas serum

Alanine Aminotransferase (ALT) dan serum Aspartate Transaminase

(AST)?

2. Berapakah waktu paling efektif ekstrak metanol-air daun Macaranga

tanarius L. untuk menimbulkan efek hepatoprotektif pada tikus yang

terinduksi karbon tetraklorida?

C. Keaslian Penelitian

Penelitian yang menggunakan M. tanarius pernah dilakukan oleh Phommart, Sutthivaiyakit, Chimnoi, Ruchirawat, Sutthivaiyakit (2005) dan Matsunami dkk

(2006), Matsunami dkk ( 2009). Phommart, dkk (2005) melaporkan kandungan

tanaman M. tanarius. Mahendra (2010) bahwa infusa daun M. tanarius dapat

digunakan sebagai hepatoprotektor jangka panjang dan Nugraha (2010

melaporkan bahwa infusa daun M. tanarius dapat digunakan sebagai

hepatoprotektor jangka pendek. Selain itu, Adrianto (2010) melaporkan ekstrak

metanol-air daun M. tanarius, dapat digunakan untuk sebagai hepatoprotektor

dengan senyawa model parasetamol. Kurniawati (2010) melaporkan ekstrak

metanol-air daun M. tanarius sebagai antiinflamasi. Dari hasil penelitian Andini

(2010), ekstrak metanol-air daun M. tanarius memiliki efek analgesik. Dari

(24)

metanol-air daun M. Tanarius dengan metformin memiliki efek antidiabetik.

Selain itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Windrawati (2013)

bahwa daun M. tanarius memiliki efek hepatoprotektif jangka panjang.

Berdasarkan penelusuran pustaka, efek hepatoprotektif jangka pendek ekstrak

metanol-air daun M. tanarius terhadap tikus terinduksi karbon tetraklorida belum

pernah dilakukan.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya ilmu kefarmasian mengenai pemberian ekstrak

metanol-air daun M. tanarius yang memiliki efek hepatoprotektif jangka

pendek.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat

mengenai manfaat daun M. tanarius yang memiliki efek hepatoprotektif

jangka pendek.

E. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Untuk membuktikan adanya efek hepatoprotektif pemberian ekstrak

(25)

karbon tetraklorida dengan cara melihat adanya pernurunan aktivitas serum

ALT dan serum AST.

2. Tujuan khusus:

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu paling efektif

yang dapat memberikan efek hepatoprotektif dari ekstrak metanol-air jangka

pendek daun M. tanarius untuk menimbulkan efek hepatoprotektif pada tikus

(26)

7

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Tanaman Macaranga tanarius L.

1. Sinonim

Ricinus tanarius L., Macaranga molliuscula Kurz, Macaranga tanarius

var. Glabra F. Muell. (Asian Plant, 2012).

2. Nama Daerah

Mara, Tutup merah, Sapat (Plantamor, 2008)

3. Taksonomi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Superdevisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Subkelas : Rosidae

Ordo : Euphorbiales

Famili : Euphorbiaceae

Genus : Macaranga

Spesies : Macaranga tanarius L. (Plantamor, 2008).

4. Kandungan

Penelitian mengenai tanaman Macaranga tanarius L. sudah banyak

(27)

diisolasi dan diidentifikasi. Pada penelitian Matsunami dkk. (2006), Matsunami

dkk. (2009) diketahui bahwa dalam daun M. tanarius, yaitu macarangiosida D,

dan laurosida E, metil brevifolin karboksilat, dan larutan hiperin dan isokuercitin,

macarangioside A, macarangioside B, macarangioside C dan mallophenol B

yang diisolasi dari ekstrak metanol. Senyawa ini menunjukkan aktivitas

penangkapan radikal terhadap DPPH.

Dari penelitian lain (Phommart dkk, 2005) yang berhasil diidentifikasi

dilaporkan terdapat tiga kandungan senyawa baru yaitu tanarifuranonol,

tanariflavanon C, dan tanariflavanon D bersama dengan tujuh kandungan yang

telah diketahui yaitu nymphaeol A, nymphaeol B, nymphaeol C, tanariflavanone

B, blumenol A (vomifoliol), blumenol B (7,8 dihydrovomifoliol dan annuionone).

Struktur beberapa senyawa yang terdapat dalam daun M. tanarius dapat dilihat

pada gambar1.

Tanariflavanon C Tanariflavanon D

Nymphaeol A Nymphaeol B

(28)

5. Khasiat dan kegunaan

Daun M. tanarius juga memiliki banyak kegunaan, penelitian yang

dilakukan oleh Phommart dkk. (2005) akar tanaman M. tanarius digunakan

sebagai antipiretik dan antitusif, sedangkan daun M. tanarius memiliki efek

antiinflamasi. Daun M. tanarius yang kaya akan tanin, dapat digunakan sebagai

obat diare, luka dan antiseptik (Lin, Nonaka, Nishioka, 1990).

Berdasarkan penelitian lainnya yang dilakukan oleh Ardianto (2010),

ekstrak metanol-air daun tanaman Macaranga tanarius L. memiliki khasiat

sebagai hepatoprotektif jangka panjang. Infusa infusa daun M. tanarius dapat

digunakan sebagai hepatoprotektor jangka panjang yang dilaporkan oleh

Mahendra (2010). Selain itu, Nugraha (2010) melaporkan bahwa infusa daun M.

tanarius juga memiliki khasiat sebagai efek hepatoprotektif jangka pendek.

Dari penelitian lain, dilaporkan oleh Andini (2010) ekstrak metanol-air

daun M. tanarius memiliki efek analgesik. Selain itu, pada tahun 2010,

Kurniawati melaporkan hasil penelitian bahwa ekstrak metanol-air daun M.

tanarius memiliki efek antiinflamasi. Daun M. tanarius secara tradisional

digunakan untuk fermentasi tempe dan pakan hewan (Puteri dan Kawabata, 2010).

Khasiat lain yang diteliti pada daun M. tanarius adalah melalui penelitian terbaru

mengenai daun M. tanarius, dilaporkan oleh Oktavia (2012), bahwa kombinasi

ekstrak metanol-air daun M. tanarius dengan metformin dapat digunakan sebagai

antidiabetes. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Windrawati (2013) mengenai

efek hepatoprotektif jangka panjang ekstrak metanol-air daun M. tanarius

(29)

B. Hepar

1. Anatomi dan Fisiologi Hati

Hepar adalah kelenjar yang paling besar dalam tubuh manusia dengan

berat 1500 g (Baradero, Dayrit, Siswadi, 2005). Fungsi hati adalah pembentukan

empedu, penyimpanan karbohidrat, pembentukan benda keton, pengaturan

metabolisme karbohidrat, reduksi dan konjugasi hormon steroid adrenal dan

kelenjar kelamin, detoksikasi obat-obatan dan toksin, membentuk protein-protein

plasma dan banyak fungsi penting dalam metabolisme lemak (Ganong, 2001).

Unit dasar fungsional dasar hati adalah lolubus hati, yang berbentuk

silindris dengan panjang dan diameter tertentu. Hati manusia mengandung 50.000

sampai 100.000 lolubus (Guyton dan Hall, 2007). Hati memiliki dua lobus utama

yaitu kanan dan kiri. Setiap lobus hati terbagi menjadi struktur-struktur yang

disebut sebagai lobulus, setiap lobulus merupakan badan heksagonal yang terdiri

atas lempeng-lempeng sel hati berbentuk kubus, tersusun radial mengelilingi vena

sentralis yang mengalirkan darah dari lobulus (Price dan Wilson, 2005).

Lolubus hati terbentuk mengelilingi sebuah vena sentralis yang mengalir

ke vena hepatika dan kemudian ke vena cava. Lolubus sendiri dibentuk terutama

dari banyak lempeng sel hati yang menyebar dari vena sentralis seperti jeruji roda.

Masing-masing lempeng sel hati tebalnya dua sel, dan diantara sel yang

berdekatan terdapat kanalikuli biliaris kecil yang mengalir ke duktus biliaris di

dalam septum fibrosa yang memisahkan lolubus hati yang berdekatan (Guyton

(30)

Gambar 2. Struktur dasar lolubus hati memperlihatkan lempeng sel hati (Baradero dkk, 2005)

Diantara lempengan sel hati terdapat kapiler-kapiler yang disebut sebagai

sinusoid. Sinusoid dibatasi oleh sel fagositik atau sel Kupffer. Sel Kupffer

merupakan sistem monosit-makrofag, dan fungsi utamanya adalah menelan

bakteri dan benda asing lain dalam darah. Makrofag dalam hati adalah sel

Kupffer, sehingga hati merupakan salah satu organ penting dalam pertahanan

melawan invasi bakteri dan agen toksik (Price dan Wilson, 2005).

Hati dalam kondisi normal memiliki kapasitas fungsional yang besar.

Kemampuan hati di dalam tubuh antara lain untuk sintesis, eksresi dan berfungsi

dalam proses metabolisme. Hati merupakan sumber dari plasma albumin, globulin

(31)

dikeluarkan oleh hati melalui empedu. Komponen utama dari empedu adalah

bilirubin, selain itu kolesterol, urobilinogen dan asam empedu juga terdapat dalam

empedu. Pada fungsi metabolisme, hati memetabolisme lemak, karbohidrat,

protein dan detoksifikasi. Hati memegang peranan penting dalam

menawar-racunkan racun berbahaya turunan senyawa nitrogen yang berasal dari usus,

obat-obatan dan senyawa kimia. (Candrasoma dan Taylor, 1995).

Selain itu, hati memiliki kemampuan untuk mengembalikan dirinya

sendiri setelah kehilangan jaringan hati. Proses ini disebut regenerasi sel hati.

Selama regenerasi sel hati, hepatosoit diperkirakan mengalami replikasi sebanyak

satu sampai dua kali dan setelah tercapai ukuran dan volume hati sebelumnya,

hepatosit kembali kepada keadaan sebelumnya (Guyton dan Hall, 2007).

Peran penting hati dalam eliminasi obat adalah untuk memetabolisme

obat induk dan merubahnya menjadi senyawa metabolit. Kapasitas dari hati untuk

mengubah obat induk menjadi metabolit sangat dipengaruhi oleh aktivitas enzim

pemetabolisme yang terdapat pada retikulum endoplasma halus dan sitosol pada

hepatosit (DiPiro dkk, 2008).

2. Kerusakan Hati

Hati merupakan organ penting yang dapat mengubah struktur dari senyawa

kimia dan obat-obatan. Beberapa hasil dari proses terjadinya metabolisme secara

biologis dapat menjadi tidak aktif, beberpa menjadi metabolit yang aktif dan

(32)

Konsekuensi klinis paling parah penyakit hati akibat terjadinya kerusakan

hati adalah gagal hati. Hal ini dapat terjadi akibat kerusakan hati yang mendadak

dan masif. Gagal hati umumnya merupakan titik akhir kerusakan progresif hati

sebagai bagian dari penyakit hati kronik. Umumnya, sekitar 80%-90% kapasitas

fungsional hati sudah rusak sebelum gagal hati timbul (Kumar, Abbas, Fausto,

Mitchell, 2007).

Senyawa toksik dapat menyebabkan berbagai jenis efek toksik pada

berbagai organel dalam sel hati. Jenis kerusakannya, antara lain:

1. Steatosis (Perlemakan hati).

Perlemakan hati adalah hati yang mengandung berat lipid lebih dari 5%.

Adanya kelebihan lemak dalam hati dapat dibuktikan secara histokimia (Lu,

1995). Ketika senyawa toksin seperti alkohol masuk ke dalam tubuh dengan

jumlah yang cukup, maka akan menimbulkan terbentuknya lipid yang

terakumulasi dalam hepatosit. Ketika jumlah senyawa toksin yang terpapar ke

dalam tubuh jumlahnya semakin banyak maka lipid akan semakin terakumulasi

dan menciptakan gelembung-gelembung besar, dan meluas hingga ke tepi hati

(Kumar dkk, 2007).

Berbagai macam toksikan menyebabkan terjadinya penimbunan lemak di

dalam hati, mekanisme yang mendasari sangat beragam. Mekanisme yang paling

umum adalah terjadinya pelepasan trigliserid hati ke plasma, karena trigliserid

hati hanya disekresi bila dalam keadaan tergabung dengan lipoprotein.

Penimbunan lipid juga melalui beberapa mekanisme, seperti penghambatan

(33)

etionin); penekanan konjugasi trigliserid dengan lipoprotein (misalnya karbon

tetraklorida); rusaknya oksidasi lipid oleh mitokondria (misalnya etanol) (Lu,

1995).

2. Nekrosis hati

Nekrosis hati adalah kematian hepatosit. Nekrosis dapat bersifat fokal

(sentral, tengah dan perifer) atau masif. Biasanya nekrosis merupakan kerusakan

akut. Beberapa zat kimia telah dilaporkan menyebabkan nekrosis akut. Nekrosis

hati merupakan suati manifestasi toksik yang berbahaya tetapi tidak selalu kritis

karena hati mempunyai kapasitas pertumbuhan kembali yang luar biasa. Kematian

sel terjadi bersama dengan pecahnya membran plasma. Perubahan biokimia pada

nekrosis hati bersifat kompleks (Lu, 1995).

3. Sirosis

Sirosis ditandai oleh adanya septa kolagen yang tersebar di sebagian besar

hati. Patogenesis terjadinya sirosis hati dalam sebagian kasus tampaknya berasal

dari nekrosis sel tunggal karena kurangnya mekanisme perbaikan sel dari hati.

Keadaan ini menyebabkan aktivitas fibroblastik dan pembentukan jaringan parut.

Karsinogen kimia dan pemberian CCl4 jangka panjang dapat menyebabkan sirosis

hati pada hewan. Pada manusia, terjadinya sirosis hati karena konsumsi kronis

minuman beralkohol (Lu, 1995).

4. Kanker hati

Karsinoma hepatoseluler merupakan terjadinya kerusakan hati yang paling

berat. Sejumlah besar senyawa toksik dapat menyebabkan kanker hati pada hewan

(34)

Kerusakan sel hati dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Kerusakan sel hati akut

Kerusakan sel hati akut dapat terjadi karena nekrosis besar pada hati, yang

disebabkan karena infeksi viral, obat-obat yang merusak hati, maupun induksi

senyawa kimia. Kerusakan sel hati akut ditandai dengan adanya penyakit kuning,

hipoglikemia, gangguan elektrolit dan asam-basa, enselophati hati, dan kenaikan

serum enzim (alanin transferase dan aspartate transaminase) pada kasus terjadinya

nekrosis hati (Chandrasoma dan Taylor, 1995).

b. Kerusakan sel hati kronik

Kerusakan sel hati kronik biasanya merupakan hasil dari sirosis yang

merupakan tahap lanjut dari nekrosis, fibrosis, dan regenerasi nodular

(Chandrasoma dan Taylor, 1995). Pada keadaan nekrosis terjadi pemecahan sel

hepatosit sehingga enzim alanin transferase (ALT) yang terdapat dalam sel hati

keluar dan masuk ke aliran darah dan ditandai dengan peningkatan aktivitas ALT

(Zimmerman, 1978).

C. Hepatotoksin

Banyak kerusakan hati seperti yang diuraikan diatas yaitu steatosis,

nekrosis, sirosis yang disebabkan oleh paparan senyawa toksik (hepatotoksin).

Contohnya adalah paparan CCl4, kloroform, aflatoksin dan fosfor (Lu, 1995).

Hepatotoksin merupakan zat toksik yang dapat menyebabkan rusaknya sel hati

(Poppy, Komala, Santoso, Sulaiman, Rienita, Nuswantari, 1998). Obat dan

(35)

a. Hepatotoksin teramalkan (tipe A).

Merupakan obat atau senyawa yang bila diberikan dapat mempengaruhi

sebagian besar orang yang menelan senyawa tersebut dalam jumlah yang cukup

untuk menimbulkan efek toksik. Hepatotoksin teramalkan bergantung kepada

dosis pemberian (Forrest, 2006). Contoh hepatotoksin teramalkan adalah racun

jamur (Amanita phalloides), karbon tetraklorida, kloroform, parasetamol

(Chandrasoma dan Taylor, 1995).

Prosesnya dikenal sebagai toksisitas-intrinsik, dan aksinya dapat terjadi

secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung, obat induk atau bentuk

metabolitnya langsung berikatan dengan komponen membran sel dan merusak sel

hati beserta seluruh organelnya, seperti ditunjukkan oleh karbon tetraklorida dan

parasetamol. Secara tidak langsung, obat induk atau bentuk metabolitnya dalam

menimbulkan luka hepatik dengan cara mengganggu jalur metabolik-khas atau

mengganggu jalur ekskresi hepatik (Donatus,1992).

b. Hepatotoksin takteramalkan (tipe B).

Merupakan obat atau senyawa yang tidak bersifat toksik pada hati tetapi

jika diberikan kepada orang tertentu akan dapat menimbulkan efek toksik.

Hepatotoksin jenis ini tidak bergantung pada dosis pemberian. Contoh obat-obat

(36)

D. Karbon tetraklorida

Gambar 3. Struktur kimia karbon tetraklorida (Pustakalaya, 2005)

Karbon tetraklorida merupakan senyawa kimia yang dengan rumus

molekul CCl4 dan memiliki rumus bangun seperti pada gambar 3. Karbon

tetraklorida merupakan cairan bening yang tidak mudah terbakar dan memiliki

bau yang khas, larut dalam etanol, aseton, benzen, karbon disulfida dan memiliki

kelarutan rendah dalam air (Oehha, 2000). Karbon tetraklorida pada masa lalu

digunakan sebagai cairan pemebersih, bahan yang digunakan untuk pemadam

kebakaran (Departement of Health and Human Services, 2005). Karbon

tetraklorida merupakan cairan bening yang sangat mudah menguap dan tidak

mudah terbakar Karbon tetraklorida merupakan senyawa kimia yang

dikhawatirkan dapat menyebabkan karsinogen dan dibuktikan melalui penelitian

terhadap hewan uji (Departement of Health and Human Services, 2011).

Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa penelitian. Frezza dkk (1994)

meneliti bahwa sekelompok tikus galur Sprague Dawley yang diinduksi karbon

tetraklorida mengalami kematian dan terjadi kanker hati. Pada tahun 1995,

penelitian mengenai hepatotoksin karbon tetraklorida dilakukan oleh Rosnalini

(37)

Penelitian lainnya mengenai karbon tetraklorida sebagai hepatotoksin dilaporkan

oleh Bulan, Pramono (2009) yang meneliti adanya perubahan kadar SGOT dan

SGPT setelah diberikan rebusan daun putri malu (Mimosa pudica, Linn) pada

tikus yang terinduksi karbon tetraklorida.

Karbon tetraklorida telah diketahui sebagai senyawa model yang dapat

menimbulkan nekrosis hepar dan perlemakan hati pada berbagai macam spesies.

Senyawa ini mudah larut dalam komponen lemak, yang mengakibatkan senyawa

ini terdistribusi ke seluruh tubuh, meskipun begitu efek utama ketoksikannya

adalah di hepar dengan cara pemberian apapun (Timbrell, 2008). Kerusakan hati

yang ditimbulkan oleh karbon tetraklorida dapat menaikkan aktivitas serum ALT

dan AST sebesar sekitar 4 kali dan 3 kali dari aktivitas serum normal. Berikut

adalah tingkat kenaikan relatif dari beberapa serum enzim dari terjadinya

keracunan hati.

Gambar 4. Kenaikan relatif aktivitas serum ALT dan AST (Zimmerman, 1999)

Karbon tetraklorida merupakan senyawa yang bersifat toksik karena akan

mengalami reaksi reduksi dehalogenasi membentuk radikal bebas yaitu radikal

triklormetil (CCl3). Radikal ini kemudian akan bereaksi dengan oksigen dan

(38)

dan Elstner, 1999). Kemudian radikal tersebut menginisiasi terjadinya radikal

lipid yang menyebabkan terbentuknya lipid hidroperoksidase (LOOH) dan radikal

lipid alkoksil (LO). Melalui proses fragmentasi, radikal lipid alkoksi tersebut

akan diubah menjadi malondialdehid (Gregus dan Klaaseen, 2001). Senyawa

aldehid inilah yang akan menyebabkan kerusakan pada membran plasma dan

meningkatkan permeabilitas membran (Bruckner dan Warren, 2001).

Senyawa radikal ini juga mengakibatkan kerusakan pada organela lain

yang akan menyebabkan nekrosis (kerusakan hati) (Zimmerman, 1978). Berikut

ini akan digambarkan skema biotransformasi terjadinya reaksi reduksi

dehalogenasi dan reaksi oksidasi dari karbon tetraklorida.

C

(39)

E. Metanol

Metanol (metil alkohol) yang memiliki struktur molekul CH3OH. Metanol

bersifat racun dan dapat mematikan bila ditelan. Kebutaan dapat pula terjadi

karena kontak dengan kulit atau penghirupan uapnya terlalu lama. Kebutaan orang

yang mencerna metanol disebabkan terbentuknya formaldehid (H2CO) yang dapat

merusakkan retina (Keenan, 1992).

Metanol adalah golongan senyawa alkohol yang paling sederhana, yang

berisi satu atom karbon. Kharakteristik dari metanol adalah berupa cairan, tidak

berwarna dan memiliki bau khas alkohol (Environmental Protection Agency,

1994). Metanol memiliki nilai indeks polaritas sebesar 5,1 dan termasuk senyawa

yang bersifat polar (Byers, 2003). Metanol banyak digunakan sebagai larutan

penyari yang digunakan pada saat maserasi. Pelarut ini diduga mampu melarutkan

hampir semua komponen, baik yang bersifat polar, semi polar maupun non polar

(Al-Ash’ary, Supriyanti, Zackiyah, 2010).

F. Metode Ekstraksi

Ekstraksi cair-cair digunakan sebagai cara untuk praperlakuan sampel

untuk memisahkan analit-analit dari komponen-komponen matriks yang mungkin

mengganggu pada saat pendeteksian analit. Disamping itu, ekstraksi pelarut juga

digunakan untuk memekatkan analit yang ada di dalam sampel dengan jumlah

kecil sehingga tidak menyulitkan proses pendeteksiannya. Analit-analit yang

mudah terekstraksi dalam pelarut organik adalah molekul-molekul netral yang

(40)

polar. Sementara itu, senyawa-senyawa polar dan juga senyawa-senyawa yang

mudah mengalami ionisasi akan tertahan dalam fase air (Sudjadi, 2007).

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat

aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai,

kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang

tersisa diperlakukan sedemikian rupa hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (Departemen Kesehatan RI , 1995).

Metode ekstraksi memilik beberapa metode ekstraksi, yang paling

sederhana adalah ekstraksi dingin. Dengan cara ini bahan kering hasil gilingan

diekstraksi pada suhu kamar secara berturut-turut dengan pelarut yang

kepolarannya makin tinggi: pertama heksana (atau petroleum eter), kemudian

kloroform (atau diklorometana), etil asetat, aseton, metanol dan akhirnya air

(Heinrich dan Barnes, 2009).

Keuntungan utama metode ini merupakan metode ekstraksi yang mudah

karena ekstrak tidak dipanaskan sehingga kemungkinan kecil bahan alam menjadi

terurai. Penggunaan pelarut dengan peningkatan kepolaran secara berurutan

memungkinkan pemisahan bahan-bahan alam berdasarkan kelarutannya

(polaritasnya) dalam pelarut ekstraksi. Ekstraksi dingin memungkinkan banyak

senyawa terekstraksi, meskipun beberapa senyawa memiliki kelarutan terbatas

dalam pelarut ekstraksi suhu kamar (Heinrich dan Barnes, 2009).

Metode maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan

dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa

(41)

digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang

mudah larut dalam cairan penyari tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin.

(Sudjadi, 1986).

G. Pengukuran Serum ALT dan AST

Sejumlah pemeriksaan sering digunakan untuk menilai cedera hati.

Aspartat aminotransferase (AST) dan alanin aminotransferase (ALT) serum, yang

sering disebut uji fungsi hati, merupakan pengukuran kadar enzim-enzim yang

normalnya terletak di dalam hepatosit. Oleh karena itu keberadaan keduanya

dalam serum adalah tanda nekrosis sel hati dan bukan merupakan indikasi sejati

fungsi hati (McPhee dan Ganong, 2010).

Kerusakan sel-sel hati dapat dilihat dari peningkatan serum

aminotransferase secara signifikan yang mendahului terjadinya kenaikan jumlah

bilirubin total dan alkaline phospatase. Kebanyakan dari kerusakan hati dapat

terjadi satu tahun setelah pemaparan agen hepatotoksik (DiPiro dkk.,2008).

Saat terjadi nekrosis pada hepatosit, kebocoran pada associated plasma

membran dapat dideteksi secara biokimia dengan cara menganalisa plasma atau

serum untuk melihat enzim turunan sitosol yakni, lactate dehydrogenase (LDH),

alanine aminotransferase (ALT atau SGPT), aspartate aminotransferase (AST atau

(42)

H. Landasan Teori

Di dalam hati, terdapat bermacam-macam bentuk kerusakan hati.

Kerusakan hati akibat induksi obat yang biasa terjadi yaitu nekrosis (Forrest,

2006). Pada keadaan nekrosis terjadi pemecahan sel hepatosit sehingga enzim

ALT yang terdapat dalam sel hati keluar dan masuk ke aliran darah. Kerusakan ini

ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas ALT (Zimmerman, 1978).

Karbon tetraklorida telah diketahui sebagai senyawa model yang dapat

menimbulkan toksisitas (Timbrell, 2008). Karbon tetraklorida ini bersifat toksik

karena akan mengalami reaksi reduksi dehalogenasi membentuk radikal bebas

yaitu radikal triklormetil (CCl3) (Gregus dan Klaaseen, 2001). Dengan bereaksi

dengan oksigen akan membentuk radikal triklorometil peroksi menginisiasi

terjadinya radikal lipid. Radikal lipid ini akan menyebabkan terbentuknya lipid

radikal lipid alkoksil (LO). Melalui proses fragmentasi, radikal lipid alkoksi

tersebut akan diubah menjadi malondialdehid (Gregus dan Klaaseen, 2001).

Senyawa aldehid ini yang akan menyebabkan kerusakan pada membran plasma

yang dapat mengakibatkan kerusakan pada sel-sel lainya termasuk sel hati.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Phommart (2005) menemukan

adanya senyawa flavonoid dari ekstrak n-heksana dan kloroform dari daun

Macaranga tanarius L. yang memiliki aktivitas antioksidan terhadap DPPH dan

berfunsi mencegah terjadinya oksidasi. Pada tahun 2010, Adrianto melaporkan

penelitian mengenai M. tanarius bahwa, ekstrak metanol-air daun tanaman M.

tanarius memiliki khasiat sebagai hepatoprotektif dengan senyawa penginduksi

(43)

hepatoprotektif, hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mahendra

(2010) yang melaporkan bahwa infusa daun M. tanarius memiliki efek

hepatoprotektif jangka panjang dengan senyawa hepatotoksin parasetamol.

Nugraha (2010) juga melaporkan bahwa infusa daun M. tanarius juga memiliki

khasiat sebagai efek hepatoprotektif jangka pendek dengan menginduksi

parasetamol. Pada tahun 2012, Windrawati meneliti dari ekstrak metanol-air daun

M. tanarius yang memiliki efek hepatoprotektif jangka panjang.

I. Hipotesis

Ekstrak metanol-air daun Macaranga tanarius L., memiliki efek

(44)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai efek hepatoprotektif ekstrak metanol-air daun

Macaranga tanarius L., terhadap tikus jantan merupakan jenis penelitian

eksperimental murni diberikan pelakuan terhadap sejumlah variabel penelitian.

Rancangan penelitian ini termasuk rancangan acak lengkap dengan menggunakan

rancangan acak lengkap pola searah.

B. Variabel dan Definisi Operasional

Variabel-variabel yang digunakan pada percobaan ini ialah:

1. Variabel penelitian

a. Variabel utama

1. Variabel bebas

Lama pemberian ekstrak metanol-air daun M. tanarius, yaitu

variasi jam pemberian ekstrak.

2. Variabel tergantung

Efek hepatoprotektif jangka pendek ekstrak metanol-air daun M.

tanarius, terhadap sel hati tikus yang terinduksi karbon tetraklorida,

dengan tolok ukur kuantitatif berdasarkan penurunan aktivitas serum ALT

(45)

b. Variabel pengacau

1. Variabel pengacau terkendali

Kondisi hewan uji yaitu subyek uji yang digunakan adalah tikus

galur Wistar, jenis kelamin jantan, berat badan 150-200 gram, dan umur

2-3 bulan. Frekuensi pemberian ekstrak metanol-air daun M. tanarius dan

cara pemberian ekstrak secara per oral. Bahan daun M. tanarius yang

dipanen dari Kebun Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta pada bulan Mei 2012, cara penyimpanan serbuk daun M.

tanarius.

2. Variabel pengacau tak terkendali

Kondisi patologis hewan uji.

2. Definisi operasional

Definisi operasional penelitian ini adalah:

a. Ekstrak metanol-air daun M. tanarius

Ekstrak daun Macaranga tanarius L. adalah ekstrak kental yang

diperoleh dengan mengekstraksi serbuk kering daun M. tanarius seberat

10,0 gram yang dilarutkan dalam 100 ml pelarut metanol 50% secara

maserasi selama 72 jam, dengan putaran 140 rpm. Kemudian disaring

dengan kertas saring dan diuapkan di oven selama 24 jam pada suhu 50 C,

(46)

b. Efek hepatoprotektif

Efek hepatoprotektif adalah kemampuan ekstrak metanol-air daun M.

tanarius pada dosis tertentu dapat melindungi hepar dari hepatotoksin.

c. Jangka pendek, yaitu penelitian dilakukan dalam selang waktu ½, 1, 2, 4,

dan 6 jam.

C. Bahan Penelitian

1. Bahan utama

a. Hewan uji yang digunakan berupa tikus jantan galur Wistar, umur 2-3

bulan dengan berat badan berkisar antara 150-200 gram yang diperoleh

dari Laboratorium Imono Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta.

b. Bahan uji berupa daun M. tanarius yang dipanen dari Kebun Obat Fakultas

Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada bulan Mei 2012.

2. Bahan kimia

a. Pelarut ekstrak yang digunakan adalah metanol dan air yang diperoleh dari

Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta.

b. Karbon tetraklorida (Merck) sebagai hepatotoksin yang berupa cairan,

tidak berwarna, berbau khas yang diperoleh dari Laboratorium Kimia

(47)

c. CMC-Na sebagai pelarut ekstrak kental dari daun M. tanarius berupa

sebuk, berwarna putih yang diperoleh dari Laboratorium

Farmakologi-Toksikologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

d. Bahan pensuspensi karbon tetraklorida adalah olive oil (Bertolli) yang

berupa minyak.

e. Olive oil sebagai kontrol negatif.

f. Blanko pengujian ALT dan AST menggunakan aqua bidestilata (PT.

Ikapharmindo Putramas, Jakarta) yang diperoleh dari Laboratorium Kimia

Dasar Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

g. Reagen DyaSyss untuk mengukur aktivitas serum ALT dan AST berupa

reagen SGPT dan SGOT.

h. Serum ALT

Reagen serum yang digunakan adalah reagen serum ALT DyaSyss.

Komposisi dan konsentrasi dari reagen serum ALT adalah sebagai berikut:

R1: TRIS pH 7,15 140 mmol/L

L-Alanine 700 mmol/L

LDH (lactatedehydrogenase) 2300 U/L

R2: 2-Oxoglutarate 85 mmol/L

NADH 1 mmol/L

Pyridoxal-5-phosphate

FS: Good’s buffer pH 9,6 100 mmol/L

(48)

i. Serum AST

Reagen serum yang digunakan adalah reagen serum AST DyaSyss.

Komposisi dan konsentrasi dari reagen serum AST adalah sebagai berikut:

R1: TRIS pH 7,65 110 mmol/L

L-Aspartate 320 mmol/L

MDH(malatedehydrogenase) 800 U/L

LDH(lactatedehydrogenase) 1200 U/L

R2: 2-Oxoglutarate 65 mmol/L

NADH 1mmol/L

Pyridoxal-5-phosphate

FS: Good’s buffer pH 9,6 100 mmol/L

Pyridoxal-5-phosphate 13mmol/L

D. Alat Penelitian

1. Peralatan pembuatan serbuk kering daun M. tanarius antara lain: oven

(Memmert), mesin penyerbuk (Retsch) timbangan elektrik.

2. Peralatan pembuatan ekstrak metanol-air daun M. tanarius antara lain:

timbangan elektrik, seperangkat alat gelas berupa Erlenmeyer, labu ukur,

Bekker glass, gelas ukur, pipet tetes, batang pengaduk (Pyrek Iwaki Glass),

cawan porselin, shaker (maserator), kertas saring, corong Buchner, vaccum

pump, vaccum rotary evaporator, oven.

3. Peralatan uji hepatoprotektif antara lain: peralatan gelas, seperti Bekker glass,

(49)

pipa kapiler, effendorf, spuit injeksi per oral 5 ml dan 10 ml untuk tikus, spuit

injeksi intra peritonial 3 ml, stopwatch, vortex, sentrifuge, mikro pipet, mikro

vitalab (Microlab 200, Merck).

E. Tata Cara Penelitian

1. Determinasi Tanaman Macaranga tanarius L.

Determinasi tanaman M. tanarius dilakukan dengan mencocokan

ciri-ciri tanaman M. tanarius dengan buku acuan batang yang dilakukan secara

benar sesuai dengan buku acuan. Determinasi tanaman dilakukan di

Laboratorium Farmakognosi Fitokimia, Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta.

2. Pengumpulan bahan

Bahan uji yang digunakan adalah daun M. tanarius yang masih segar

dan berwarna hijau, tidak berlubang yang dipetik dari Kebun Fakultas

Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada bulan Mei 2012.

3. Pembuatan serbuk

Daun M. tanarius dicuci bersih dibawah air mengalir. Setelah bersih

daun diangin-anginkan hingga daun tidak tampak basah kemudian dilakukan

pengeringan menggunakan oven pada suhu 50° C selama 24 jam. Setelah

kering daun dibuat serbuk dan diayak dengan ayakan nomor 40 supaya

kandungan fitokimia yang terkandung dalam daun M. tanarius lebih mudah

terekstrak karena luas permukaan serbuk yang kontak dengan pelarut semakin

(50)

4. Pembuatan ekstrak metanol : air daun M. tanarius

Sebanyak 10 gram serbuk kering daun M. tanarius diekstraksi secara

maserasi dengan melarutkan serbuk dalam 100 ml pelarut metanol 50% pada

suhu kamar selama 3x24 jam dengan kecepatan 140 rpm. Setelah dilakukan

perendaman, hasil maserasi disaring dengan kertas saring. Larutan hasil

saringan dipindahkan dalam cawan porselen yang telah ditimbang

sebelumnya, agar mempermudah perhitungan randemen ekstrak yang akan

diperoleh. Cawan porselen yang berisi larutan hasil maserasi, dimasukkan

dalam vaccum rotary evaporator untuk menguapkan metanol dan

mendapatkan ekstrak kemudian dimasukkan dalam oven untuk diuapkan

selama 24 jam dengan suhu 50° C untuk mendapatkan ekstrak metanol-air

daun M. tanarius yang kental dengan bobot pengeringan ekstrak yang tetap

agar mendapatkan ekstrak metanol-air daun M. tanarius yang kental dengan

bobot pengeringan ekstrak yang tetap yaitu sebesar 3,77 g.

5. Penetapan konsentrasi pekat ekstrak

Menghitung rata-rata rendemen enam replikasi ekstrak metanol : air

daun M. tanarius kental yang telah dibuat.

Rendemen ekstrak = berat cawan ekstrak kental – berat cawan kosong

𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎𝑟𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛=𝑟𝑒𝑝. 1 +𝑟𝑒𝑝. 2 +𝑟𝑒𝑝. 3 +𝑟𝑒𝑝. 4 +𝑟𝑒𝑝. 5 +𝑟𝑒𝑝. 6 6

Konsentrasi ekstrak didapat dari hasil rata-rata rendemen ekstrak.

percawannya yaitu 3,77 g dalam labu ukur terkecil dengan pelarut yang

sesuai. Konsentrasi yang dapat digunakan adalah konsentrasi pekat yang

(51)

dikeluarkan dari spuit oral. Cara pembuatannya adalah dengan melarutkan

ekstrak percawannya (gram) dalam labu ukur dengan pelarut yang sesuai

CMC Na 1%. Labu ukur terkecil yang tersedia adalah labu ukur 5 ml

sehingga konsentrasi ekstrak dapat ditetapkan yaitu sebesar 0,384 g/ml atau

384 mg/ml atau 38,4%b/v (Andini, 2010).

6. Penetapan dosis ekstrak metanol : air daun M. tanarius

Dasar penetapan peringkat dosis adalah bobot tertinggi tikus dan pemberian

cairan secara peroral separuhnya yaitu 2,5 ml. Penetapan dosis tertinggi

ekstrak metanol : air daun M. tanarius adalah :

D x BB = C x V

D x BB tertinggi tikus ( kg/BB) = C ekstrak (mg/ml) x 2,5 ml

D = x mg/kg BB

Dua dosis lainnya diperoleh dengan menurunkan 3 dan 6 kalinya dari dosis

tertinggi.

7. Pembuatan larutan karbon tetraklorida dalam olive oil

Larutan karbon tetraklorida dalam olive oil dibuat dengan cara

mengambil volume karbon tetraklorida secara seksama, kemudian diencerkan

dengan olive oil dengan perbandingan 1:1 sampai volume tertentu sehingga

(52)

8. Uji pendahuluan

a. Penetapan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida

Pemilihan dosis karbon tetraklorida dilakukan untuk mengetahui pada

dosis berapa karbon tetraklorida mampu menyebabkan kerusakan hati

tikus yang ditandai dengan peningkatan aktivitas GPT-serum paling tinggi

tetapi tidak menimbulkan kematian. Dosis hepatotoksik yang digunakan

dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Janakat, Al-Merie (2003),

bahwa dosis 2 ml/kg BB karbon tetraklorida dalam olive oil dengan

perbandingan karbon tetraklorida : oilve oil 1:1, terbukti mampu

meningkatkan aktivitas ALT-AST serum pada tikus bila diberikan secara

intra peritonial (i.p).

b. Penetapan waktu pencuplikan darah

Berdasarkan penelitian Janakat, Al-Merie (2003) meunjukkan bahwa

aktivitas GPT serum tikus terangsang karbon tetraklorida 2 mg/kg BB

mencapai maksimal pada jam ke-24 setelah pemberiannya, kemudian pada

jam ke-48 berangsur-angsur menurun. Pengukuran ada jam ke-24

dilakukan untuk mengetahui profil kenaikan serum GPT sebelum jam

ke-48.

c. Penetapan lama pemejanan ekstrak metanol : air daun M. tanarius

Lama waktu pemejanan ekstrak metanol : air daun M. tanarius dilakukan

pada waktu jam ke-½, 1, 2, 4 dan 6 kemudian setelah ½, 1, 2, 4 dan 6 jam

(53)

aktivitas ALT dan AST-nya sesuai hasil orientasi waktu penetapan

pencuplikan darah.

9. Pengelompokkan dan perlakuan hewan uji

Hewan percobaan yang dibutuhkan sebanyak 40 ekor tikus jantan

dibagi secara acak dalam delapan kelompok sama banyak. Kelompok I

merupakan kontrol negatif yaitu pemberian olive oil secara intra peritonial.

Kelompok II merupakan kontrol negatif yaitu hepatotoksin karbon

tetraklorida dengan dosis 3840 mg/kg BB secara intra peritonial. Kelompok

III merupakan kontrol perlakuan yaitu pemberian ekstrak metanol-air daun M.

tanarius dosis 3840 mg/kg BB secara per oral. Kelompok IV-VIII diberikan

ekstrak metanol-air daun M. tanarius dengan dosis 3840 mg/kg BB,

kemudian secara berturut-turut pada ½, 1, 2, 4, dan 6 jam setelah perlakuan

diberikan dosis hepatotoksik karbon tetraklorida dengan dosis 2 ml/kg BB.

Pada jam ke-24 setelah diberi karbon tetraklorida semua kelompok diambil

darahnya pada daerah sinus orbitalis pada mata tikus, kemudian ditampung

dalam Effendorf untuk penetapan aktivitas serum ALT dan AST. Darah

disentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 3500 rpm dan bagian

supernatannya diambil.

10.Penetapan aktivitas ALT-AST serum

Alat yang digunakan untuk menganalisis aktivitas ALT dan AST serum

adalah Mikro vitalab 200. Aktivitas enzim diukur pada panjang gelombang

(54)

Biokimia Fisiologi Manusia, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma,

Yogyakarta. Analisis aktivitas serum ALT dilakukan dengan cara mencampur

100 µL serum atau plasma dengan 800 µL reagen I, kemudian dicampurkan

200 µL reagen II dan didiamkan selama operating time selama satu menit

kemudian divortex dan dibaca resapan setelah dua menit. Untuk analisis

fotometri dengan AST serum dilakukan dengan cara mencampur 100 µL

serum atau plasma dengan 800 µL reagen I, kemudian dicampurkan 200 µL

reagen II dan didiamkan selama operating time selama satu menit kemudian

divortex dan dibaca resapan setelah dua menit.

11.Perhitungan Efek Hepatoprotektif

Hasil resapan aktivitas serum ALT dan AST yang dilakukan pengujian

besarnya efek hepatoprotektif yang dinyatakan dalam persen (%).

Perhitungan mengenai besarnya efek hepatoprotektif dapat dihitung

menggunakan rumus:

𝑝𝑢𝑟𝑎𝑡𝑎 𝐴𝐿𝑇/𝐴𝑆𝑇ℎ𝑒𝑝𝑎𝑡𝑜𝑡𝑜𝑘𝑠𝑖𝑛 −𝑝𝑢𝑟𝑎𝑡𝑎 𝐴𝐿𝑇/𝐴𝑆𝑇𝑝𝑒𝑟𝑙 𝑎𝑘𝑢𝑎𝑛

𝑝𝑢𝑟𝑎𝑡𝑎 𝐴𝐿𝑇/𝐴𝑆𝑇ℎ𝑒𝑝𝑎𝑡𝑜𝑡𝑜𝑘𝑠𝑖𝑛

x 100%

F. Tata Cara Analisis Hasil

Data aktivitas ALT-AST diuji dengan Kolmogorov-Smirnov untuk

mengetahui distribusi data dan analisis varian untuk melihat homogenitas varian

antar kelompoknya sabagai syarat analisis parametrik. Jika data terdistribusi

normal maka dilanjutkan dengan analisis variansi pola searah (ANOVA one way)

dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui perbedaan masing-masing

(55)

antar kelompok bermakna (signifikan) (p<0,05) atau tidak bermakna (tidak

signifikan) (p>0,05). Tetapi bila distribusi tidak normal dilakukan analisis dengan

Kruskal Wallis untuk mengetahui perbedaan aktivitas ALT-AST serum antar

kelompok. Kemudian dilanjutkan uji dengan Mann Whitney untuk melihat

(56)

36

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan khasiat

ekstrak metanol-air daun Macaranga tanarius L. sebagai hepatoprotektor tikus

yang terinduksi karbon tetraklorida (CCl4) dengan pemberian jangka pendek.

Selain itu penelitian ini sebagai kelanjutan dari penelitian sebelumnya mengenai

efek hepatoprotektif jangka panjang ekstrak metanol-air daun M.tanarius namun

menggunakan hepatotoksin karbon tetraklorida. Untuk mencapai tujuan penelitian

tersebut maka dilakukan beberapa pengujian. Aktivitas ALT dan AST dari serum

tikus yang diteliti dijadikan sebagai tolak ukur pengujian kuantitatif.

A. Penyiapan Bahan

1. Hasil determinasi tanaman

Penelitian dengan tema penggunaan tanaman sebagai hepatoprotektor ini

menggunakan serbuk dari daun tanaman M. tanarius. Daun tanaman M. tanarius

yang didapat dari kebun obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma ini

dilakukan determinasi. Tujuan determinasi tanaman ini supaya diketahui secara

pasti tanaman yang digunakan dalam penelitian ini benar merupakan tanaman M.

tanarius supaya tidak terjadi kesalahan dalam penyiapan bahan.

Pendeterminasian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Bagian tanaman yang

dideterminasi adalah daun, batang, bunga dan buah menggunaan buku acuan

untuk mendeterminasi tanaman hingga ke tingkat spesies. Hasil yang diperoleh

(57)

2. Pembuatan serbuk daun M. tanarius

Pembuatan serbuk daun M. tanarius diawali dengan pengambilan daun M.

tanarius, kemudian dilakuan pencucian dan pensortiran daun sesuai dengan

langkah-langkah pembuatan simplisia. Pencucian bertujuan supaya daun yang

diperoleh bebas dari kotoran dan debu. Penyortiran dilakukan supaya daun yang

digunakan daun yang hijau dan tidak berlubang. Kemudian daun dikeringkan

dibawah sinar matahari yang ditutupi kain hitam. Hal ini dilakukan supaya daun

menjadi layu, namun kandungan klorofilnya tidak rusak akibat sinar matahari.

Setelah daun menjadi rapuh, dipanaskan menggunakan oven sekitar 15 menit,

kemudian dipisahkan daun dari tulang daun, sehingga diperoleh serpihan daun.

Potongan kecil daun-daun ini kemudian diserbukkan penggunakan penyerbuk dan

disaring menggunakan pengayak dengan nomor mess 40. Hal ini sesuai dengan

ketentuan yang ditetapkan oleh BPOM RI.

3. Penetapan kadar air serbuk daun M. tanarius

Penetapan kadar air dari serbuk daun M. tanarius bertujuan untuk menguji

serbuk yang dihasilkan memenuhi persyaratan serbuk yang baik, yakni kadar air

kurang dari 10% (Departemen Kesehatan RI, 1995). Penetapan kadar air serbuk

daun M. tanarius dilakukan dengan metode Gravimetri dengan menggunakan alat

moisture balance. Serbuk dipanaskan pada suhu 110°C selama 15 menit.

Penetapan suhu sebesar 110°C dimaksudkan agar supaya kandungan air telah

menguap dan waktu 15 menit dianggap bahwa kadar air telah memenuhi

(58)

kadar air menunjukkan bahwa serbuk daun M. tanarius memiliki rata-rata kadar

air sebesar 7,59%. Hasil pengujian ini, menunjukkan bahwa kadar air sebuk daun

M. tanarius telah memenuhi persyaratan kadar air untuk serbuk yang baik, yaitu

kurang dari 10% (Departemen Kesehatan RI, 1995).

B. Hasil Penimbangan Bobot Ekstrak Metanol-Air Daun M. tanarius

Pembuatan ekstrak metanol-air dilakukan dengan metode penyarian yaitu

dengan maserasi. Maserasi merupakan metode penyarian yang dilakukan dengan

cara memasukkan serbuk simplisia ke dalam labu erlenmeyer, yang kemudian di

aduk dengan kecepatan kostan menggunakan shaker, selama kurang lebih 72 jam.

Metode ini dipilih dalam metode penyarian karena peralatan yang digunakan

sederhana dan cara pengerjaan serta pengoperasian alat yang mudah. Metode ini

dilakukan untun menyari simplisia yang dilarutkan menggunakan pelarut tertentu.

Pemilihan pelarut ini didasarkan pada jenis kandungan zat aktif digunakan,

hal ini supaya ada kecocokan antara zat akif dengan larutan penyari, sehingga zat

aktif akan larut dan bercampur dengan cairan penyari. Dalam daun M. tanarius

mengandung senyawa golongan glikosida fenolik yang dapat larut di dalam air,

sehingga dalam larutan penyari juga menggunakan air. Pada penelitian ini

digunakan cairan penyari, yaitu campuran metanol dengan air dengan

perbandingan 1:1 atau 50 ml air dan 50 ml metanol.

Menurut standar, proses ekstraksi metanol-air serbuk daun M. tanarius

menghasilkan ekstrak kental. Ekstrak kental didapatkan dengan mengikuti

(59)

dengan susut pengeringan sebesar 0%. Tujuan dilakukan pengukuran parameter

non spesifik yaitu parameter susut pengeringan adalah untuk menghitung sisa zat

setelah dilakukan pengeringan pada temperatur ± 50°C. Ekstrak yang berada

dalam cawan ditimbang setiap waktu tertentu selama 24 jam atau hingga berat

menjadi konstan (dinyatakan dalam persen). Tujuannya adalah untuk menentukan

batasan atau rentang mengenai seberapa banyak senyawa yang hilang selama

proses pengeringan, dimana hal ini dapat mempengaruhi bobot ekstrak yang

didapatkan sehingga akan mempengaruhi konsentrasi dan dosis ekstrak. Hasil dari

proses pengeringan didapatkan bahwa tidak ada perubahan bobot ekstrak sehingga

diperoleh bobot pengeringan tetap yaitu pada jam ke-23 dan ke-24.

Untuk susut pengeringan ekstrak metanol air daun M. tanarius pada jam

ke-23 dan ke-24 sebesar 0% sehingga dapat diketahui pelarut penyari ekstrak

sudah tidak ada atau tidak ada sisa. Dengan demikian, pada penelitian ini, waktu

pengeringan 24 jam yang digunakan untuk memperoleh bobot pengeringan tetap

ekstrak metanol air daun M. tanarius. Dari hasil penimbangan bobot ekstrak

didapat rendemen ekstrak metanol-air daun M. tanarius sebesar 3,77% yang

dihasilkan dari 63 cawan ekstrak kental. Untuk pembuatan ekstrak kental,

digunakan 1 kg serbuk kering daun M. tanarius, sehingga dapat dihasilkan ekstrak

Gambar

Tabel XI. Perbandingan data berbeda bermakna dan berbeda tidak bermakna
Tabel XI Perbandingan data berbeda bermakna dan berbeda tidak bermakna . View in document p.15
Gambar 3. Struktur kimia karbon tetraklorida......................................................
Gambar 3 Struktur kimia karbon tetraklorida . View in document p.16
Gambar 1. Struktur senyawa yang terdapat pada daun M. tanarius (Phommart, 2005)
Gambar 1 Struktur senyawa yang terdapat pada daun M tanarius Phommart 2005 . View in document p.27
Gambar 2. Struktur dasar lolubus hati memperlihatkan lempeng sel hati
Gambar 2 Struktur dasar lolubus hati memperlihatkan lempeng sel hati . View in document p.30
Gambar 3. Struktur kimia karbon tetraklorida
Gambar 3 Struktur kimia karbon tetraklorida . View in document p.36
Gambar 4. Kenaikan relatif aktivitas serum ALT dan AST
Gambar 4 Kenaikan relatif aktivitas serum ALT dan AST . View in document p.37
Gambar 5. Mekanisme biotransformasi dan oksidasi karbon tetraklorida (Timbrell, 2008)
Gambar 5 Mekanisme biotransformasi dan oksidasi karbon tetraklorida Timbrell 2008 . View in document p.38
Tabel I.  Aktivitas serum ALT setelah pemberian karbon tetraklorida dosis
Tabel I Aktivitas serum ALT setelah pemberian karbon tetraklorida dosis . View in document p.61
Gambar 6. Diagram batang rata-rata aktivitas ALT-serum sel hati tikus setelah
Gambar 6 Diagram batang rata rata aktivitas ALT serum sel hati tikus setelah . View in document p.62
Tabel II. Aktivitas  serum AST setelah pemberian karbon tetraklorida dosis         2 ml/kg BB pada selang waktu 0, 24 dan 48 jam
Tabel II Aktivitas serum AST setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 ml kg BB pada selang waktu 0 24 dan 48 jam . View in document p.63
Tabel III. Perbedaan kenaikan aktivitas serum ALT setelah pemberian
Tabel III Perbedaan kenaikan aktivitas serum ALT setelah pemberian . View in document p.64
Tabel IV. Perbedaan kenaikan aktivitas serum AST setelah pemberian
Tabel IV Perbedaan kenaikan aktivitas serum AST setelah pemberian . View in document p.65
Tabel V.  Pengaruh  perlakuan jangka pendek ekstrak metanol-air daun M.
Tabel V Pengaruh perlakuan jangka pendek ekstrak metanol air daun M . View in document p.66
Tabel VI.   Perbandingan aktivitas serum ALT jam ke-0 dengan perlakuan
Tabel VI Perbandingan aktivitas serum ALT jam ke 0 dengan perlakuan . View in document p.67
Tabel VIII.   Perbandingan aktivitas serum ALT kontrol perlakuan dengan
Tabel VIII Perbandingan aktivitas serum ALT kontrol perlakuan dengan . View in document p.70
Tabel VII.  Perbandingan data berbeda bermakna dan berbeda tidak
Tabel VII Perbandingan data berbeda bermakna dan berbeda tidak . View in document p.71
Gambar 8. Diagram batang rata-rata pengaruh perlakuan jangka pendek  pemberian
Gambar 8 Diagram batang rata rata pengaruh perlakuan jangka pendek pemberian . View in document p.72
Gambar 9. Diagram batang rata-rata pengaruh perlakuan jangka pendek  pemberian
Gambar 9 Diagram batang rata rata pengaruh perlakuan jangka pendek pemberian . View in document p.73

Referensi

Memperbarui...

Download now (104 pages)