Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur - USD Repository

Gratis

0
0
172
9 months ago
Preview
Full text

  

STUDI ETNOEKOLOGI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT

OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK TUNJUNG LINGGANG DI KABUPATEN KUTAI BARAT

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Biologi Oleh:

  

Alfret Edward Runtunuwu

091434026

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

  

SKRIPSI

STUDI ETNOEKOLOGI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT

OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK TUNJUNG LINGGANG

DI KABUPATEN KUTAI BARAT

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

  Oleh:

  

Alfret Edward Runtunuwu

091434026

  Telah Disetujui oleh: Dosen Pembimbing Drs. A. Tri Priantoro, M. For. Sc Tanggal: 13 September 2013

  ..

  “Pada Hati Yang Tertambat Sesama Ilmu Takkan Pernah Membisu KUPERSEMBAHKAN KARYAKU INI KEPADA

  AYAH, IBU DAN ADIK SERTA KABUPATEN KU YANG KU CINTAI, KUTAI BARAT

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 16 Oktober 2013 Penulis,

  Alfret Edward Runtunuwu

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Alfret Edward Runtunuwu Nomor Mahasiswa : 091434026

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

  

STUDI ETNOEKOLOGI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT

OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK TUNJUNG LINGGANG

DI KABUPATEN KUTAI BARAT

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

  Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

  Dibuat di : Yogyakarta Pada tanggal : 16 Oktober 2013

  Yang menyatakan, Alfret Edward Runtunuwu

  

ABSTRAK

  Dayak Tunjung terdiri dari beberapa sub suku, salah satunya yaitu suku Dayak Tunjung Linggang. Masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang memiliki keunikan tersendiri dalam pemanfaatan tumbuhan khususnya tumbuhan obat. Oleh karena itu inventarisasi dan dokumentasi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengungkap Etnoekologi masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang terkait dengan jenis tumbuhan obat, organ tumbuhan yang dimanfaatkan, penyakit yang dapat diobati, cara pemanfaatan dan sumber perolehan tanaman obat tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara observasi dan wawancara dari 20 orang informan, para informan diambil dari tokoh masyarakat seperti kepala adat, budayawan, dan masyarakat yang mengerti mengenai pemanfaatan tanaman obat.

  Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan secara induktif, yaitu dimulai dari lapangan atau fakta empiris dengan cara terjun ke lapangan, mempelajari fenomena yang ada di lapangan.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal yang ada di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang masih sangat kental karena suku ini merupakan suatu suku yang sangat berpegang teguh pada adat istiadat. Jenis tumbuhan obat yang didata sebanyak 80 jenis tanaman dari 37 famili yang berbeda, suku ini menggunakan hampir semua bagian tumbuhan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan obat, jenis penyakit yang dapat diobati oleh tanaman tersebut adalah luka luar, kram / kejang, penyakit kulit, terkilir, bengkak, penangkal racun, sakit gigi, vitalitas / daya tahan tubuh, luka dalam, kanker, kosmetik dan penyakit dalam; cara pemanfaatan tanaman obat dilakukan dengan 5 cara berbeda yang dapat dikombinasikan yaitu direbus, dioleskan, ditempelkan, dikonsumsi mentah

  • – mentah / segar dan di uapkan atau dijadikan sebagai sauna. Masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang memperoleh tanaman obat dengan 2 cara yaitu didapatkan tumbuh secara liar atau di budidaya. Kata kunci : Etnoekologi, Kearifan Lokal, Tumbuhan Obat, Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang

  ABSTRACT Dayak Tunjung ethnic group consists of several sub-ethnics; one of them is

Dayak Tunjung Linggang. The community of Dayak Tunjung Linggang has their

own characteristic in utilize plants; especially in utilize the medicinal plants.

Therefore, the inventory and documentation of the utilization of medicinal plants by

the Dayak Tunjung Linggang ethnic community is necessary. This study aims to find

out the ethno-ecology of the Dayak Tunjung Linggang which is related with

medicinal plants, part of plants that were used, diseases that can be treated, the way

to utilize the medicinal plants, and the source of the medicinal plants. This study is

qualitative study which used descriptive method. The data collected from

observation and interview with 20 informants. The informants were chosen from the

public figures of Dayak Tunung Linggang such as village headman and cultural

experts, and also people who understand about medicinal plants utilization. In this

study, the data were analyzed inductively; begin from the empirical fact by direct

observation to the study location, and then learn the phenomenon exist in the

location.

  The result of the study shows that the local wisdoms exist in Dayak Tunjung

Linggang ethnic community is still very strong. It is because they still holding fast

their traditions. There are 80 species of medicinal plants from 37 different families

which can be found in this study. Dayak Tunjung Linggang ethnic community uses

almost all parts of the plant as drug materials. Furthermore, it found that there are

several types of diseases that can be treated by the medicinal plants, such as wounds,

cramps/spasms, skin diseases, sprains, swelling, antidote, tooth pain,

vitality/endurance, injuries, cancer, cosmetic and medicine. It also found that there

are five different ways in utilized the medicinal plants, such as boiling the plants,

applying the plants, affixing the plant, consuming the raw plants, or steam the

plants, and used it as sauna. These ways can also be combined. The result of the

study also found that Dayak Tunjung Linggang ethnic community obtains medicinal

plants in 2 ways: grows wild or in cultivation.

  

Keyword: Ethno-ecology, local wisdom, medicinal plant, Dayak Tunjung Linggang

ethnic community.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Studi Etnoekologi Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh masyarakat

  

Suku Dayak Tunjung Linggang Di Kabupaten Kutai Barat Provinsi

Kalimantan Timur. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu persyaratan

  akedemik untuk menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada beberapa pihak yang telah membantu, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya, khususnya kepada: 1.

  Pemerintah Kabupaten Kutai Barat yang telah memberikan penulis kesempatan untuk melaksanakan tugas belajar di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Kepala Kampung Tering Seberang, Muara Mujan, Muara Leban, Melapeh Lama dan Linggang Amer.

  3. Kepala Adat Kampung Tering Seberang, Muara Mujan, Muara Leban, Melapeh Lama dan Linggang Amer.

  4. Drs. A. Tri Priantoro, M. For. Sc selaku Dosen Pembimbing.

  5. Pdt. Tommy Runtunuwu, Ny. Elfika Runtunuwu sebagai ayah dan ibu, dan Lidya Suzeth Runtunuwu sebagai adik.

  6. Natalia Cintya Arianti sebagai kekasih yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi.

  7. Bapak dan Ibu Dosen Pengajar dan seluruh Staf pada Program Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  8. Teman-teman seperjuangan (Yulius, Adit bantul, Yerri, Gentili, Wisnu, Fajar, Widi, dll) & Seluruh rekan-rekan Pendidikan Biologi USD angkatan 2009 atas kerjasama dan bantuannya, serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

  9. Seluruh Masyarakat Dayak Tunjung Linggang yang ada di Kabupaten Kutai Barat.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangannya, untuk itu saran, kritik dan masukan sangat diharapkan agar skripsi ini dapat menjadi lebih baik. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan semua pihak.

  Sleman, 16 Oktober 2013

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN......................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. v PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................. vi ABSTRAK ........................................................................................................ vii

  

ABSTRACT ........................................................................................................ viii

  KATA PENGANTAR ....................................................................................... ix DAFTAR ISI ..................................................................................................... x DAFTAR TABEL ............................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR......................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xix

  BAB I. PENDAHULUAN................................................................................ 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................. 2 C. Batasan Penelitian .................................................................................. 3 D. Tujuan Penelitian ................................................................................... 3 E. Manfaat Penelitian ................................................................................. 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 5 A. Etnoekologi……………………………………………………………... 5 B. Tanaman Obat ....................................................................................... 7 C. Suku Dayak Tunjung ............................................................................. 8

BAB III. METODE PENELITIAN...................................................................... 11

A. Jenis Penelitian ....................................................... ................................ 11 B. Subjek Penelitian .................................................................................. 11 C. Tempat dan Waktu Penelitian. ............................................................... 12 D. Data dan Sumber Data.... ....................................................................... 12

  E.

  Teknik Pengumpulan Data. .................................................................... 13 F. Analisis Data. ........................................................................................ 13 1.

  Pengumpulan Data................................................................................. 14 2. Reduksi Data ..................................................................................... 14 3. Penyajian Data................................................................................... 14 4. Pengambilan Kesimpulan .................................................................. 14 G. Instrumen Penelitian . ............................................................................ 15 H. Alat – alat Penelitian .............................................................................. 15 I. Diagram Alir Penelitian ......................................................................... 16

  

BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 17

A. Daerah Penelitian ................................................................................... 17 B. Suku Dayak Tunjung Linggang .............................................................. 20 C. Tanaman Obat Yang Dimanfaatkan Oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang ................................................................................. 25 1. Bakukng / Bakung (Crynum asiaticum L.)........................................ 32 2. Bakaaq ............................................................................................. 33 3. Belayatn ........................................................................................... 33 4. Beliming Tunyuk / Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) ............ 34 5. Brentaleng / Mampat (Cratoxylon arborescens) ............................... 35 6. Benuang Rarikng / Binuang (Octomeles sumatrana Miq.) ................ 36 7. Uruuq Beheq / Rumput Bulu (Ageratum conyzoides L.) ................... 37 8. Baduk / Sukun (Artocarpus communis) ............................................ 39 9. Botooq / Anggrung (Trema orientalis) ............................................ 40 10. Kerurang / Terong Asam (Solanum ferox L.) .................................... 41 11. Brakat Lutuuq Kuning / Bambu Kuning (Bambusa vulgaris) ............ 42 12. Butaq ............................................................................................... 43 13. Cahai / Kunyit (Curcuma domestica) ............................................... 44 14. Cahai Putiiq / Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) ............... 45 15. Engkuduuq / Mengkudu (Morinda citrifolia L.) ............................... 47 16. Lejaaq Uraakng ................................................................................ 49 17. Maralampukg ................................................................................... 50 18. Topus Tongau .................................................................................. 51

  19. Petoot ............................................................................................... 52 20.

  Engkapaaq / Kadaka (Asplenium nidus) ............................................ 53 21. Gaharaaq .......................................................................................... 54 22. Gaka Bruerai (Abrus precatorius L.) ................................................ 55 23. Gaka Kedoot (Aglaia borneensis Merr.) ........................................... 56 24. Ngelagit ........................................................................................... 57 25. Lemonuq .......................................................................................... 58 26. Mukng Baluuq ................................................................................. 58 27. Gaka Omang .................................................................................... 59 28. Geringakng (Cassia alata L.) ........................................................... 60 29. Geriq / Kemiri (Aleurites moluccana) ............................................... 61 30. Isak – Isik ........................................................................................ 63 31. Jamuuq / Jambu Biji (Psidium guajava) ........................................... 63 32. Jemewer / Sambiloto (Andrographis paniculata) .............................. 65 33. Juakng Nayuq / Hanjuang Merah (Cordyline terminalis) .................. 66 34. Kajuuq Narakng ............................................................................... 67 35. Kajuuq Nriokng ............................................................................... 68 36. Gedakng / Pepaya (Carica papaya) .................................................. 68 37. Pelehet (Psychotria viridiflora Thw.) ............................................... 70 38. Keranyiiq / Asam Keranji (Dialium indum) ...................................... 71 39. Ketikookng / Kayu Kuning (Arcangelisia flava L. Merr.) ................ 72 40. Kerehau / Meniran Hutan (Callicarpa longifolia) ............................. 73 41. Kunceekng / Harendong (Melastoma affine)..................................... 74 42. Labuuq Biasa / Labu Siam (Sechium edule) ...................................... ` 74 43. Lancikng .......................................................................................... 75 44. Luukng ............................................................................................ 77 45. Nyelutuui Putaakng / Jelutung (Dyera costulata) .............................. 77 46. Limau Bintakng / Jeruk Pepaya (Citrus medica var. proper L) ......... 78 47. Lunuuk Dukutn (Ficus sp.) .............................................................. 79 48. Marauleq / Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) ................................. 80 49. Nancakng / Mahang (Macaranga mappa) ........................................ 81 50. Nilapm / Nilam (Pogostemon cablin) ............................................... 82 51. Nturuui ............................................................................................ 83

  52. Paatn / Pinang (Areca catechu) ......................................................... 84 53.

  Pacar / Pacar Cina (Aglaia odorata) ................................................. 85 54. Paku Ataai / Paku Sayur (Diplazium esculentum) ............................. 86 55. Paku Parapm / Paku Pedang (Nephrolepis sp) .................................. 88 56. Pangir Bohokng ............................................................................... 89 57. Pengesik........................................................................................... 90 58. Pianguuq .......................................................................................... 91 59. Raja Pengalah / Benalu (Loranthus sp.) ............................................ 92 60. Rakap / Sirih (Piper betle) ................................................................ 93 61. Rakap Bohokng / Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) ........... 94 62. Sabeeq Lemit ................................................................................... 95 63. Sabeeq Pok / Paprika (Capsicum annuum var. Grossum) .................. 96 64. Selangkat ......................................................................................... 97 65. Sempat Iliir ...................................................................................... 98 66. Sengkerapak Badak .......................................................................... 99 67. Sepaai / Secang (Caesalpinia sappan L.) .......................................... 99 68. Serempolupm / Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) ........................... 100 69. Seweet / Pisang Hutan (Musa balbisiana) ........................................ 101 70. Sumiiq Meong / Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)................... 102 71. Tabat Barito (Ficus deltoidea) .......................................................... 103 72. Tawar Seribu .................................................................................... 104 73. Telasak / Salam (Syzygium polyanthum) ........................................... 105 74. Terok ............................................................................................... 107 75. Tempera / Nangsi (Villebrunia rubescens Bl.) .................................. 108 76. Pengooq Peay................................................................................... 108 77. Tetukng Galekng / Sarang Semut (Myrmecodia sp) .......................... 109 78. Tuuq Jarukng / Anggrek Macan (Grammatophyllum scriptum) ........ 111 79. Tuuq Nayuq (Saccharum sp.) ........................................................... 112 80. Pemusiiq Taluutn ............................................................................. 113 D.

  Organ Tanaman Obat Yang Dimanfaatkan Sebagai Ramuan Obat.......... 114 E. Jenis Penyakit Yang Terdapat Di Masyarakat Suku Dayak Tunjung

  Linggang ............................................................................................... 116

  F.

  Jenis Metode Pemanfaatan Tanaman Obat ............................................. 118 G.

  Sumber Perolehan Tanaman Obat .......................................................... 121 H. Pemanfaatan Tanaman Obat Sebagai Sumber Belajar Biologi ................ 122

  

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 125

A. Kesimpulan ............................................................................................ 125 B. Saran ..................................................................................................... 125 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 127 LAMPIRAN.. .................................................................................................... 130

  

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Aspek, Data Yang Dibutuhkan dan Sumber Data. ............................. 12Tabel 3.2. Alat-alat penelitian ............................................................................ 15Tabel 4.1. Jenis Tanaman Obat Yang Terdata .................................................... 26Tabel 4.2. Proporsi Organ Tanaman Yang Digunakan ....................................... 115Tabel 4.3. Proporsi Jenis Penyakit Yang Dapat Diobati ..................................... 117

  DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian ................................................................. 16Gambar 4.1 Bakukng / Bakung (Crynum asiaticum L.) ...................................... 32Gambar 4.2 Bakaaq ........................................................................................... 33Gambar 4.3 Belayatn ......................................................................................... 34Gambar 4.4 Beliming Tunyuk / Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) .......... 34Gambar 4.5 Brentaleng / Mampat (Cratoxylon arborescens) ............................. 35Gambar 4.6 Benuang Rarikng / Binuang (Octomeles sumatrana Miq.) .............. 36Gambar 4.7 Uruuq Beheq / Rumput Bulu (Ageratum conyzoides L.) ................. 37Gambar 4.8 Baduk / Sukun (Artocarpus communis) .......................................... 39Gambar 4.9 Botooq / Anggrung (Trema orientalis) .......................................... 40Gambar 4.10 Kerurang / Terong Asam (Solanum ferox L.) ................................ 41Gambar 4.11 Lutuuq Kuning / Bambu Kuning (Bambusa vulgaris) ................... 42Gambar 4.12 Butaq............................................................................................ 43Gambar 4.13 Cahai / Kunyit (Curcuma domestica) ............................................ 45Gambar 4.14 Cahai Putiiq / Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)............ 45Gambar 4.15 Engkuduuq / Mengkudu (Morinda citrifolia L.) ............................ 47Gambar 4.16 Lejaaq Uraakng ............................................................................ 49Gambar 4.17 Maralampuk ................................................................................. 50Gambar 4.18 Topus Tongau .............................................................................. 51Gambar 4.19 Petoot ........................................................................................... 52Gambar 4.20 Engkapaaq / Kadaka (Asplenium nidus) ........................................ 53Gambar 4.21 Gaharaaq ...................................................................................... 54Gambar 4.22 Gaka Bruerai (Abrus precatorius L.) ............................................ 55Gambar 4.23 Gaka Kedoot (Aglaia borneensis Merr.) ....................................... 56Gambar 4.24 Ngelagit ....................................................................................... 57Gambar 4.25 Lemonuq ...................................................................................... 58Gambar 4.26 Mukng Baluuq.............................................................................. 59Gambar 4.27 Gaka Omang ................................................................................ 60Gambar 4.28 Geringakng (Cassia alata L.) ....................................................... 61Gambar 4.29 Geriq / Kemiri (Aleurites moluccana) ........................................... 62Gambar 4.30 Isak

  • – Isik ..................................................................................... 63

Gambar 4.31 Jamuuq / Jambu Biji (Psidium guajava)........................................ 64Gambar 4.32 Jemewer / Sambiloto (Andrographis paniculata) .......................... 65Gambar 4.33 Juakng Nayuq / Hanjuang Merah (Cordyline terminalis) .............. 66Gambar 4.34 Kajuuq Nriokng ............................................................................ 68Gambar 4.35 Gedakng / Pepaya (Carica papaya) .............................................. 69Gambar 4.36 Pelehet (Psychotria viridiflora Thw.) ........................................... 70Gambar 4.37 Keranyiiq / Asam Keranji (Dialium indum) .................................. 71Gambar 4.38 Ketikookng / Kayu Kuning (Arcangelisia flava L. Merr.) ............ 72Gambar 4.39 Kerehau / Meniran Hutan (Callicarpa longifolia) ......................... 73Gambar 4.40 Kunceekng / Harendong (Melastoma affine) ................................. 74Gambar 4.41 Labuuq Biasa / Labu Siam (Sechium edule) .................................. ` 75Gambar 4.42 Lancikng ...................................................................................... 76Gambar 4.43 Luukng ......................................................................................... 77Gambar 4.44 Nyelutuui Putaakng / Jelutung (Dyera costulata) .......................... 78Gambar 4.45 Limau Bintakng / Jeruk Pepaya (Citrus medica var. proper L) ..... 78Gambar 4.46 Lunuuk Dukutn (Ficus sp.) ........................................................... 79Gambar 4.47 Marauleq / Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) ............................. 80Gambar 4.48 Nancakng / Mahang (Macaranga mappa) ..................................... 81Gambar 4.49 Nilapm / Nilam (Pogostemon cablin) ........................................... 82Gambar 4.50 Nturuui ......................................................................................... 83Gambar 4.51 Paatn / Pinang (Areca catechu) ..................................................... 84Gambar 4.52 Pacar / Pacar Cina (Aglaia odorata).............................................. 85Gambar 4.53 Paku Ataai / Paku Sayur (Diplazium esculentum) ......................... 87Gambar 4.54 Paku Parapm / Paku Pedang (Nephrolepis sp) ............................... 88Gambar 4.55 Pangir Bohokng ............................................................................ 89Gambar 4.56 Pengesik ....................................................................................... 90Gambar 4.57 Pianguuq ...................................................................................... 91Gambar 4.58 Raja Pengalah / Benalu (Loranthus sp.) ........................................ 92Gambar 4.59 Rakap / Sirih (Piper betle) ............................................................ 93Gambar 4.60 Rakap Bohokng / Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) ....... 94Gambar 4.61 Sabeeq Lemit ............................................................................... 95Gambar 4.62 Sabeeq Pok / Paprika (Capsicum annuum var. Grossum) .............. 96Gambar 4.63 Selangkat...................................................................................... 97Gambar 4.64 Sempat Iliir .................................................................................. 98Gambar 4.65 Sengkerapak Badak ...................................................................... 99Gambar 4.66 Sepaai / Secang (Caesalpinia sappan L.) ...................................... 100Gambar 4.67 Serempolupm / Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) ....................... 101Gambar 4.68 Seweet / Pisang Hutan (Musa balbisiana) ..................................... 102Gambar 4.69 Sumiiq Meong / Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) ............... 102Gambar 4.70 Tabat Barito (Ficus deltoidea) ...................................................... 104Gambar 4.71 Tawar Seribu ................................................................................ 105Gambar 4.72 Telasak / Salam (Syzygium polyanthum) ....................................... 106Gambar 4.73 Terok............................................................................................ 107Gambar 4.74 Tempera / Nangsi (Villebrunia rubescens Bl.) .............................. 108Gambar 4.75 Pengooq Peay ............................................................................... 109Gambar 4.76 Tetukng Galekng / Sarang Semut (Myrmecodia sp) ...................... 110Gambar 4.77 Tuuq Jarukng / Anggrek Macan (Grammatophyllum scriptum) ..... 111Gambar 4.78 Tuuq Nayuq (Saccharum sp.) ....................................................... 112Gambar 4.79 Pemusiiq Taluutn ......................................................................... 113

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Panduan Wawancara .............................................................. 130 Lampiran 2. Instrumen Perekaman Data ..................................................... 131 Lampiran 3. Peta Lokasi Penelitian ............................................................ 132 Lampiran 4. SILABUS............................................................................... 133 Lampiran 5. RPP ........................................................................................ 135 Lampiran 6. Materi Belajar ........................................................................ 140 Lampiran 7. Lembar Kerja Siswa/Tugas Kelompok ................................... 142 Lampiran 8. Kisi-kisi Soal Evaluasi ........................................................... 143 Lampiran 9. Soal Evaluasi.......................................................................... 144 Lampiran 10. Surat Izin Penelitian Dari Kampung Tering Seberang ........... 147 Lampiran 11. Surat Izin Penelitian Dari Kampung Muara Mujan ............... 148 Lampiran 12. Surat Izin Penelitian Dari Kampung Muara Leban ................ 149 Lampiran 13. Surat Izin Penelitian Dari Kampung Linggang Melapeh ....... 150 Lampiran 14. Surat Izin Penelitian Dari Universitas ................................... 151 Lampiran 15. Dokumentasi Penelitian ........................................................ 152

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Budaya pengobatan tradisional merupakan salah satu pengetahuan yang memiliki perbedaan besar antara suatu suku, etnis dengan masyarakat lainnya. Indonesia memiliki budaya pengobatan tradisional (pemanfaatan tumbuhan obat)

  yang dilestarikan secara turun temurun sejak dulu. Menurut data Survei Ekonomi Nasional 2007 masyarakat yang memilih mengobati diri sendiri dengan obat tradisional mencapai 28,69% meningkat dalam waktu tujuh tahun dari yang semula hanya 15,2% pada tahun 2001. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan IPTEK serta adanya modernisasi budaya, menyebabkan hilangnya pengetahuan maupun kearifan lokal termasuk pengetahuan pengobatan tradisional yang ada di masyarakat. Pengetahuan maupun kearifan lokal ini hilang ebelum dicatat atau diketahui oleh peneliti, dimana hal tersebut merupakan informasi yang sangat berharga untuk pelestarian pemanfaatan keanekaragaman sumberdaya alam.

  Berdasarkan permasalahan di atas, maka dalam strategi ekologi modern perlu dilakukan adanya pemberdayaan kapasitas pengetahuan lokal. Dengan kata lain pengetahuan lokal dan praktik-praktik tradisional seperti budaya pengobatan tradisional perlu dilegitimasi sebagai kapasitas kearifan lokal yang potensial untuk pembangunan sehingga pengetahuan lokal dan praktik-praktik tradisional seperti budaya pengobatan tradisional tidak hilang begitu saja.

  Tema dari penelitian ini adalah pemanfaatan tanaman obat yang sangat suku Dayak Tunjung Linggang. Suku Dayak Tunjung Linggang merupakan salah satu suku yang terdapat di Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dan merupakan salah satu sub suku dari suku Dayak Tunjung.

  Penelitian mengenai pemanfaatan tanaman obat di suku Dayak Tunjung yang pernah dilakukan hanya masih bersifat umum dan beberapa peneliti hanya mendata tanaman obat yang telah diteliti sehingga mudah untuk diidentifikasi sedangkan tanaman endemik lain yang belum diidentifikasi di biarkan begitu saja.

  Selain itu penelitian juga hanya dilakukan pada suku Dayak Tunjung secara umum, padahal berdasarkan fakta di lapangan suku Dayak Tunjung memiliki 7 sub suku yang pastinya memiliki perbedaan kultur dan bahasa Kutai Barat, Kalimantan Timur. Pendekatan dengan cara mengidentifikasi dan inventarisasi jenis tanaman obat dan pemanfaatannya merupakan langkah awal dalam mengungkapkan potensi berbagai jenis tumbuhan yang dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang.

B. Rumusan Masalah

  Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : 1. Jenis Tumbuhan apa saja yang dimanfaatkan sebagai obat oleh Masyarakat

  Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur? 2.

  Organ tumbuhan apa saja yang digunakan oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur? 3. Jenis penyakit apa saja yang dapat disembuhkan?

4. Bagaimana cara pemanfaatan tumbuhan obat oleh Masyarakat Suku Dayak

  Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur? 5. Bagaimana cara memperoleh tumbuhan obat oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.

C. Batasan Penelitian

  Penelitian ini dibatasi pada kajian Etnoekologi yang berfokus pada: 1. Pemanfaatan Tumbuhan Obat di Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

  2. Pemanfaatan tumbuhan yang diteliti terbatas pada tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

  3. Tumbuhan obat diidentifikasi dari tingkat famili hingga pada tingkat spesies.

  4. Variabel penelitian terbatas pada jenis tumbuhan obat, manfaat tumbuhan obat, macam organ tumbuhan yang dimanfaatkan, cara pemanfaatan, dan cara mendapatkan tumbuhan obat.

D. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan mengungkap Etnoekologi masyarakat Dayak Tunjung Linggang terkait dengan:

1. Jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.

  2. Organ Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.

  3. Penyakit yang dapat diobati dengan tumbuhan obat.

  4. Cara pemanfaatan tumbuhan obat oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur 5. Cara memperoleh tumbuhan obat oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung

  Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur E.

   Manfaat Penelitian

  Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menambah khazanah keilmuan, khusunya mengenai studi Etnoekologi di Indonesia.

  2. Dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya.

  3. Hasilnya dapat dikaitkan dengan materi Keanekaragaman Hayati di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Kutai Barat sehingga dapat di aplikasikan bagi siswa dan guru

  4. Sebagai masukan kepada Pemerintah Daerah dalam pengelolaan dan perlindungan Sumber Daya Alam (SDA) secara berkelanjutan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Etnoekologi Etnoekologi (bahasa Inggris: ethnoecology) merupakan cabang ilmu yang

  kehadirannya relatif baru, karenanya beberapa ahli dalam menentukan terminologinya belum ada kesepakatan. Bidang ilmu ini muncul akibat dari adanya perspektif paradigma baru ilmu ekologi yaitu sustainability. Oleh karena itu ilmu ekologi berkembang tidak hanya mempelajari interaksi antara suatu bentuk kehidupan dengan bentuk kehidupan lainnya berikut kondisi lingkungannya, tetapi bersifat holistik hingga pada analisis tentang sistim pengetahuan suatu kelompok masyarakat atau etnik dalam pengelolaan sumber daya alam beserta lingkungannya. Bidang ilmu etnoekologi berasal dari 4 sumber utama yaitu bidang ilmu Antropologi (etnosains), Etnobiologi, Agro-Ekologi, dan Geografi lingkungan (Purwanto, 2003).

  Menurut Suryadarma (2005), Etnoekologi yaitu ilmu tentang bagaimana pandangan kelompok masyarakat terhadap alam terkait dengan kepercayaan, pengetahuan dan tujuan, dan bagaimana mereka mengimajinasikan penggunaannya, pengelolaan dan peluang pemanfaatan sumber daya. Penekanannya pada keseluruhan Sumber Daya Alam (SDA), melalui keterlibatan berbagai bidang keilmuan.

  Toledo (1992) menyatakan Etnoekologi akan tetap terikat oleh tempat tertentu atau lebih luas, terikat pada wilayah atau Negara tertentu. Sehingga memunculkan ciri khas yang ditampilkan pada wilayah tersebut sebagai akibat dari adanya manusia sebagai penghuni dengan segala keinginan nya yang tak terbatas. Intisari ilmu Etnoekologi yang diadaptasi dari N. Daldjoeni (1982) mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Ilmu Etnoekologi sebagai ilmu pengetahuan biofisis: hal ini dikarenakan yang mendasari analisis atas seluk beluk tanah, air, iklim dan curah hujan sebagai habitat manusia adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan biotik dan abiotik.

  2. Ilmu Etnoekologi sebagai ilmu land-scape study : hal ini dikarenakan yang mendasari analisis dan pembahasan pada daerah pantai, pegunungan, dataran rendah sebagai habitat manusia untuk melakukan aktifitas adaptasi keruangan (spatial adaptation) mereka 3. Ilmu Etnoekologi sebagai Ekologi budaya : hal ini dikarenakan yang mendasari analisis dan pembahasan mengenai semua aspek kebudayaan, saling berhubungan secara fungsional dengan cara yang tidak pasti.

  4. Ilmu etnoekologi sebagai ilmu Ekologi dan adaptasi manusia: hal ini mendasari analisis dan pembahasan mengenai adaptasi manusia bersama budaya yang melekat terhadap habitatnya dan mahkluk hidup lainnya. Manusia tidak hanya sebagai mahkluk biotik bagian dari alam di lingkungannya tetapi manusia sebagai kekuatan untuk mengubah alam. Setiap masyarakat akan memiliki teknik-teknik adaptasi yang diwariskan dari generasi sebelumnya secara turun temurun dan teknik-teknik tersebut akan mengalami perkembangan yang dinamis. Pembahasan dan analisis yang dilakukan terkadang kurang memperhatikan adanya saling pengaruh antara wilayah yang satu dengan wilayah lainnya.

  Dalam penelitian ini, penulis menggunakan intisari ilmu Etnoekologi sebagai sebagai obat tradisional merupakan salah satu cara manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya kemudian teknik-teknik adaptasi tersebut diwariskan secara turun temurun oleh generasi sebelumnya dari Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang.

B. Tanaman Obat

  Pengertian Obat menurut PerMenKes RI. No.949 / MenKes / Per / VI / 2000, adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologis atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, pengingkatan kesehatan, dan kontrasepsi.

  Sulaksana dan Jayusman (2005) berpendapat bahwa tanaman obat adalah suatu jenis tumbuhan atan tanaman yank sebagian atau seluruh bagian tanaman berkhasiat menghilangkan atau menyembuhkan suatu penyakit dan keluhan rasa sakit pada bagian atau organ tubuh manusia. Sedangkan Oswald (1995) menambahkan bahwa obat tradisional merupakan ramuan dari satu tumbuhan atau lebih, yang berkhasiat sebagai obat.

  Hampir setiap orang di Indonesia pernah menggunakan tumbuhan obat untuk mengobati penyakit atau kelainan yang timbul pada tubuh selama hidupnya, baik ketika masih bayi, kanak-kanak maupun setelah dewasa (Zein, 2005). Selain itu Zein juga menambahkan bahwa sediaan obat tradisional yang digunakan masyarakat saat ini disebut dengan Herbal Medicinal atau Fitofarmaka

  Menurut Andrianto (2011), Tumbuhan obat mempunyai khasiat yang bekerja sebagai antioksidan, anti radang, analgesik, dan lain-lain, mengarah pada penyembuhan suatu penyakit. Hal ini tidak terlepas dari adanya kandungan bahan menghasilkan bermacam-macam senyawa kimia yang merupakan bagian dari proses normal dalam tumbuhan.

  Zudud, dkk (1994) dalam Rahayu 2005 mengatakan, apabila mengacu pada Etnofarmakologi dan Etnobotani, maka tanaman obat dapat dikelompokkan menjadi 3 macam yaitu sebagai berikut :

  1. Tumbuhan obat tradisional, yaitu jenis tumbuhan yang diketahui dan dipercaya mempunyai khasiat obat. Tumbuhan obat ini terbagi menjadi 3 yaitu : a.

  Tumbuhan yang dapat digunakan juga sebagai obat di daerah lain, dengan khasiat yang sama b.

  Tumbuhan yang dapat digunakan juga sebagai obat di daerah lain, tapi dengan khasiat yang berbeda.

  c.

  Tumbuhan yang digunakan sebagai obat hanya di daerah tersebut (tidak digunakan sebagai obat di daerah lain).

  2. Tumbuhan obat modern sebagai bahan dasar (precursor) baik bahan asli maupun untuk sintesis. Tumbuhan obat ini telah dibuktikan mengandung senyawa/bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis.

  3. Tumbuhan obat potensial yang belum dikenal, yaitu berdasarkan informasi diduga sebagai obat tetapi belum jelas penggunaan dan kegunaannya secara medis.

C. Suku Dayak Tunjung

  Masyarakat Suku Dayak Tunjung merupakan salah satu suku yang mendiami masyarakat tradisional lain di Indonesia, masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang mempunyai seperangkat pengetahuan dalam memanfaatkan sumber daya tumbuhan untuk berbagai keperluan hidupnya sehari-hari.

  Suku Tunjung menggunakan bahasa tunjung namun seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, beberapa daerah sudah menggunakan bahasa Indonesia, namun ada juga yang menggunakan bahasa tunjung yang bercampur dengan bahasa pergaulan sehari-hari. Sebagian besar suku tunjung beragama Katolik dan Nasrani namun ada juga sebagian kecil yang beragama muslim. Dayak Tunjung merupakan sebuah sub dari Dayak, namun didalam Dayak Tunjung itu sendiri terdapat perbedaan logat bahasa dan wujud kebudayaan, tetapi tidak begitu besar. Akibat penyebaran ini sehingga terjadi berbagai macam jenis yaitu:

  1. Tunjung Bubut, mereka mendiami daerah Asa, Juhan Asa, baloq Asa, Pepas Asa, Juaq Asa, Muara Asa, Ongko Asa, Ombau Asa, Ngenyan Asa, Gemuhan Asa, Kelumpang dan sekitarnya.

  2. Tunjung Asli, mendiami daerah Geleo (baru dan Lama).

  3. Tunjung Bahau, mendiami Barong Tongkok, Sekolaq Darat, Sekolaq Muliaq, Sekolaq Oday, Sekolaq Joleq dan sekitarnya.

  4. Tunjung Hilir, mendiami wilayah Empas, Empakuq, Bunyut, Kuangan dan sekitarnya.

  5. Tunjung Lonokng, mendiami daerah seberang Mahakam yaitu Gemuruh, Sekong Rotoq, Sakaq Tada, Gadur dan sekitarnya.

  6. Tunjung Linggang, mendiami daerah dataran Linggang seperti Linggang Bigung, Linggang Melapeh, Linggang Amer, Linggang Mapan, Linggang Kebut, Linggang Marimun, Muara Leban, Muara Mujan, Tering, Jelemuq, lakan

7. Tunjung Berambai, mendiami Wilayah hilir sungai Mahakam seperti Muara

  Pahu, Abit, Selais, Muara Jawaq, Kota Bangun, Enggelam, Lamin Telihan, Kemabgn janggut, Kelkat, dan Pulau Pinang.

  Bagi suku Dayak Tunjung terutama Tunjung Linggang, alam dan lingkungan merupakan sesuatu yang sangat penting dan harus dijaga, karena itu di Suku Dayak Tunjung Linggang terdapat istilah Taluutn sebagai sebutan untuk hutan. Taluutn biasanya dilindungi secara adat, kemudian dibuat isu-isu mistis untuk melindungi hutan tersebut agar tidak diganggu dan tidak dirusak oeh orang luar.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode

  penyajian data deskriptif. Metode penyajian data secara deskriptif adalah suatu bentuk metode penelitian untuk membuat deskripsi atau memberi gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2005).

B. Subjek Penelitian

  Subjek Penelitian merupakan beberapa individu maupun kelompok masyarakat dari Suku Dayak Tunjung Linggang yang memenuhi kriteria dalam menjawab instrumen pertanyaan penelitian seperti : 1.

  Berasal dari Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang asli 2. Memiliki pengetahuan luas dan cukup mendalam mengenai kehidupan sosial

  Suku Dayak Tunjung Linggang Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur 3. Memiliki pengaruh yang kuat dikalangan masyarakat.

4. Memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai pengobatan tradisional

  Beberapa orang yang dapat dijadikan informan kunci yaitu : Kepala adat, kepala kampung, tokoh masyarakat (sesepuh).

C. Tempat dan Waktu Penelitian

  Untuk memperoleh data yang representatif, penulis melakukan penelitian di 6 kampung yaitu kampung Linggang Melapeh, Linggang Amer, Tering, Muara Mujan, Muara Leban, dan Jelemuq di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur selama 3 bulan terhitung dari tanggal awal bulan Maret 2013 sampai dengan akhir bulan Mei 2013 D.

   Data dan Sumber Data

  Data dan sumber data yang dibutuhkan dalam penulisan dapat dilihat pada tabel

  3.1 Tabel 3.1. Aspek, Data Yang Dibutuhkan dan Sumber Data

  No Aspek Data Yang Dibutuhkan Sumber Data

  • Narasumber Sejarah Suku Dayak  wawancara (Kepala

  Tunjung Linggang Adat atau tokoh masyarakat dari setiap

  • Deskripsi Suku Kehidupan Sehari-hari kampung yang menjadi

  Pola Kebiasaan dan

  1 Dayak Tunjung tempat penelitian) Linggang

  • Dinas Pariwisata dan

  Mata Pencaharian

  • Kepedulian masyarakat
  • Kebudayaan, Museum terhadap lingkungan hidup

  Etnografi Kutai Barat

  Jenis tanaman yang Narasumber dimanfaatkan wawancara (Kepala Adat atau tokoh

  • Organ tanaman yang masyarakat dari setiap

  Pengetahuan dimanfaatkan kampung yang menjadi tradisional

  • tempat penelitian) 2 tentang diobati

  Jenis Penyakit Yang dapat

  • pemanfaatan

  Observasi Lapangan

  • tumbuhan

  Cara penggunaan dari tanaman obat Cara memperoleh tanaman

  E. Teknik Pengumpulan Data

  Data etnoekologi diperoleh melalui studi literatur, wawancara struktural dan wawancara semi struktural terhadap masyarakat secara kualitatif yang disertai dengan keterlibatan aktif Penulis dalam kegiatan masyarakat setempat. Agar data yang diperoleh tercukupi maka perlu digunakan beberapa model pembuatan pertanyaan dan metode pendekatannya mengenai pemanfaatan tumbuhan di masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang.

  Selain menggunakan metode wawancara, penulis juga melakukan penilaian secara ekologis melalui pengamatan langsung di lapangan. Misalnya untuk mengetahui komposisi vegetasinya dilakukan dengan cara membuat transek di setiap satuan lingkungan yang terbentuk dikawasan tersebut. Ukuran dan cara pengamatan disesuaikan dengan bentuk dan kondisi satuan lingkungannya.

  F. Analisis Data

  Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan secara induktif. Metode induktif adalah jalan berfikir dengan mengambil kesimpulan dari data-data yang bersifat khusus. Pendapat lain menyatakan bahwa berpikir induktif adalah berangkat dari fakta- fakta atau peristiwa-peristiwa yang konkrit itu ditarik generalisasi-generalisasi yang mempunyai sifat umum (Sutrisno Hadi, 1986).

  Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara bersamaan dengan cara proses pengumpulan data. Menurut Miles dan Humberman (1992), tahapan analisis data adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data Di tahap ini, penulis mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan

  2. Reduksi Data Reduksi data diperlukan untuk memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian. Dalam tahap ini, penulis melakukan penggolongan, pengarahan, membuang data yang tidak perlu dan mengorganisasikan data-data yang telah direduksi sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah ketika mencarinya sewaktu-waktu kemudian.

  3. Penyajian data Setelah data direduksi, selanjutnya penulis melakukan penyajian data, penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersusun yang memungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penulis menyajikan data dalam bentuk deskripsi, chart dan grafis sehingga dapat dimengerti.

  4. Pengambilan Kesimpulan Setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk itu diusahakan mencari pola, model, tema, hubungan, persamaan, hal-hal yang sering muncul, hipotesis dan sebagainya. Dari semua data yang telah diperoleh maka dapat diambil kesimpulan.

  G. Instrumen Penelitian

  Pengumpulan data tentang etnoekologi Suku Dayak Tunjung Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur dalam pemanfaatan tumbuhan obat dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa wawancara berdasarkan panduan yang telah disusun dalam bentuk butir-butir pertanyaan.

  Penggunaan bahasa pada waktu wawancara menggunakan bahasa lokal untuk memudahkan komunikasi dengan masyarakat setempat. Penggunaan bahasa disesuaikan dengan situasi, kondisi serta kemampuan responden dalam berbahasa Indonesia. Daftar pertanyaan yang dijadikan sebagai panduan oleh Penulis dapat dilihat pada lampiran 1 sedangkan instrumen perekaman data dapat dilihat pada lampiran 2.

  H. Alat-alat Penelitian

  Alat

  • – alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.2

Tabel 3.2. Alat-alat Penelitian Alat Keterangan

  Kamera Digital & Camcorder Canon EOS 550D Alat Tulis Ballpoint, Log Book, dll

  • - Recorder

  Peralatan untuk transek

  • Instrumen Penelitian Daftar pertanyaan wawancara Lembar perekaman data

I. Diagram Alir Penelitian

  Mulai Identifikasi & Perumusan Masalah

  Tujuan Penelitian Penyusunan Proposal Penelitian Studi Literatur

  Penyusunan Panduan wawancara & Instrumen Penelitian Penentuan Jumlah Responden atau Informan Kunci

  Penentuan Lokasi & Waktu Penelitian Penelitian Lapangan

  Pengumpulan Data Analisis Data Reduksi Data Penyajian Data

  Data Yang Diinginkan Lengkap ? TIDAK YA

  Kesimpulan & Saran SELESAI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kutai Barat tempat domisili

  masyarakat suku Dayak tunjung yang akan menjadi subjek penelitian. Secara

  2

  geografis Kabupaten Kutai Barat memiliki luas 31.628,70 km atau sekitar 15% dari total luas Kalimantan timur, terletak antara 113 48’ 49’’ - 116 32’43’’ Bujur Timur serta diantara 1

  31’05’’ Lintang Utara dan 10 9’33’’ Lintang Selatan, Kutai Barat didominasi topografi bergelombang, dari kemiringan landai sampai curam dengan kemiringan antara 0-60% dan ketingian berkisar antara 0-1500 m dpl (Badan Pusat Statistik Kubar, 2007).

  Daerah dataran rendah pada umumnya dijumpai di kawasan danau dan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Daerah perbukitan dan pegunungan memiliki ketinggian lebih dari 1000 m dpl dengan kemiringan 30% terdapat di bagian barat laut yang berbatasan dengan wilayah Malaysia.

  Wilayah yang menjadi batas Kabupaten Kutai Barat adalah Kabupaten Malinau dan Negara Sarawak (Malaysia Timur) di sebelah Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah Timur, dan Kabupaten Penajam Paser Utara di sebelah Selatan. Sedangkan untuk sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah serta Provinsi Kalimantan Barat.

  Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Barat tahun 2011, Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 21 Kecamatan dan 238 Kampung. Kedua Puluh Satu Penyinggahan, Kecamatan Muara Pahu, Kecamatan Muara Lawa, Kecamatan Damai, Kecamatan Barong Tongkok, Kecamatan Melak, Kecamatan Long Iram, Kecamatan Long Hubung, Kecamatan Long Bagun, Kecamatan Long Pahangai, Kecamatan Long Apari, Kecamatan Bentian Besar, Kecamatan Linggang Bigung, Kecamatan Nyuatan, Kecamatan Siluq Ngurai, Kecamatan Manor Bulatn, Kecamatan Sekolaq Darat, Kecamatan Tering dan Kecamatan Laham.

  Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Barat 2011 juga menyebutkan jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Kutai Barat. Menurut Soil Taxonomi VSDA tergolong ke dalam jenis tanah: ultisol, entisol, histosol, inseptisol, dan mollisol, atau menurut lembaga Penelitian Tanah Bogor terdiri dari jenis tanah: podsolik. alluvial, andosol, dan renzina. Diperkirakan luas dan sebaran jenis tanah di Kabupaten Kutai Barat didominasi oleh 4 (empat) jenis tanah yaitu organosol gley humus ; alluvial ; komplek podsolid merah kuning, latosol dan litosol serta podsolik merah kuning.

  Karakteristik iklim di Kabupaten Kutai Barat adalah iklim hutan tropika humida di mana tidak ada perbedaan yang tegas antara musim kemarau dan musim hujan. Curah hujan tahunan berkisar antara 2000-4000 mm dan umumnya hujan lebih banyak turun pada bulan Oktober sampai dengan bulan April dan biasanya disebut dengan bulan- bulan basah. Temperatur rata-rata berkisar antara 26 C dengan perbedaan antara siang dan malam antara 5-7

  C. Wilayah Kabupaten Kutai Barat sebagian besar terdiri dari kawasan hutan yang merupakan sumber penghasil kayu yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti kayu ulin, kapur, bengkirai, meranti, tengkaeng, rotan, bambu, serta beraneka ragam buah-buahan. Selain itu terdapat pula berbagai jenis pakis, rotan, bambu serta beraneka ragam buah-buahan seperti cempedak, durian, rambutan, langsat, lay dan lain-lain.

  Di daerah Kecamatan Sekolaq Darat, dan Damai terdapat lokasi cagar alam yang ditumbuhi berbagai macam jenis anggrek (Anggrek Hitam) yang disebut sebagai cagar alam Kersik Luway. Selain anggrek hitam, di cagar alam seluas 5.000 hektar ini juga hidup tumbuhan dan hewan yang beraneka ragam.

  Jenis satwa yang ada di daerah ini terdiri dari berbagai macam jenis ular, burung, rusa, kijang, kancil, beruang, kucing hutan, landak, orang hutan dan lain sebagainya di mana beberapa diantaranya merupakan satwa yang dilindungi di daerah ini, yaitu orang utan (Pongo pygmaeus), Owa-Owa (Hylobatidae), Bekantan (Nasalis larvatus), Trenggiling (Manis javanica), burung Enggang (Rucerotidae) dan ikan Pesut (Orcaella brevirostris).

  Penelitian ini dilakukan pada 6 kampung yang termasuk dalam dataran linggang (tempat masyarakat Dayak Tunjung Linggang berdomisili). Enam kampung tersebut adalah Muara Mujan, Muara Leban, Tering Seberang, Melapeh Lama, Linggang Amer dan Jelemuq. Kampung Jelemuq tidak dapat dijadikan sebagai lokasi penelitian karena terhalang oleh banjir tahunan, sehingga hampir semua warga mengungsi karena kampung jelemuq merupakan kampung yang berada tepat di tepi Sungai Mahakam.

  Dataran linggang sendiri terdiri dari 2 kecamatan yaitu kecamatan Tering dan kecamatan Linggang Bigung. Kampung Tering, Muara Mujan dan Muara Leban termasuk dalam kecamatan Tering sedangkan Melapeh Lama dan Linggang Amer termasuk dalam kecamatan Linggang Bigung. Kedua kecamatan ini memiliki Bigung terletak di daerah dataran dengan ketinggian 25-100 m dpl dan terletak di luar kawasan hutan sedangkan kecamatan Tering, sebagian besar kampung terletak di daerah lembah / DAS, dengan ketinggian 25-100 m dpl dan terletak di luar kawasan hutan.

  Selain melakukan wawancara, observasi lapangan secara langsung juga dilaksanakan di hutan adat Eno yang terletak di kampung Linggang Melapeh dengan jarak tempuh ± 15-20 menit dari kampung tersebut. Di hutan ini dilakukan analisa vegetasi dengan mendata tanaman obat apa saja yang terdapat di hutan adat tersebut.

  Akhirnya dari hasil penelitian dan pengumpulan data yang dilakukan selama ± 1,5 bulan, berhasil mendapatkan 80 jenis tanaman yang dimanfaatkan oleh suku Dayak Tunjung Linggang sebagai obat-obatan tradisional. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada lampiran 3.

  Penelitian yang dijadwalkan dimulai pada awal Bulan Maret 2013 dan berakhir pada awal Bulan Mei 2013, kondisi lapangan yang terkadang tidak bersahabat benar-benar membuat proses penelitian terganggu, misalnya proses penelitian yang terhambat selama 2 minggu akibat banjir tahunan yang melanda Kabupaten Kutai Barat. Akan tetapi penelitian masih dapat dilanjutkan setelah banjir surut.

B. Suku Dayak Tunjung Linggang

  Sejarah dari Suku Dayak Tunjung Linggang atau dalam bahasa Tunjung disebut sebagai Tonyooi Rentenuukng, Tonyooi Rentenuukng adalah sebutan dari suku Tunjung di luar suku Dayak Tunjung Linggang terhadap suku dayak Tunjung Linggang. Sebutan ini juga digunakan oleh suku Dayak Tunjung Linggang untuk

  Data-data maupun dokumen tertulis mengenai Masyarakat Dayak Tunjung Linggang dapat dikatakan masih kurang sehingga membuat kita merasa kesulitan untuk mencari informasi mengenai suku ini, oleh karena sangat diperlukan adanya tindakan untuk memfasilitasi Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang dengan membuat suatu dokumentasi mengenai suku ini, Dokumentasi ini akan sangat membantu dalam menjembatani celah antara praktek tradisional dengan pengetahuan ilmiah sehingga dapat menjadi bentuk sinergi yang memiliki dampak positif bagi pembangunan daerah.

  Ada tiga pernyataan yang berbeda berkaitan dengan asal-usul suku Dayak Tunjung Linggang. Pernyataan pertama mengatakan bahwa suku Dayak Tunjung Linggang berasal dari daerah perhuluan sungai mahakam, sebagai bagian dari perpecahan suku dayak Penihing atau Oaheng.

  Menurut Lahajir (2001) adanya kesamaan dari beberapa pandangan para antropolog yang pernah melakukan penelitian terhadap masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang seperti Nieuwenhuis (1994), Mallinkrodt (1928), Sellato (1989), Coomans (1987), Boyce (1986), dan Rosseau (1990). Para antropolog ini berpandangan bahwa suku Dayak Tunjung Linggang adalah suku yang berpindah dari daerah perhuluan sungai mahakam. Diperkirakan bahwa mereka berasal dari suku Penihing yang didesak oleh suku Dayak Bahau yang bermigrasi dari dataran Apau Kayan di bagian utara Kalimantan Timur (sekarang Kalimantan Utara) sekitar tahun 1700-1750. Oleh karena itu, orang Tunjung Linggang adalah suku pendatang dari dataran tinggi tunjung.

  Pernyataan kedua mengatakan bahwa orang Tunjung Linggang adalah penduduk asli dataran tinggi Tunjung Linggang (pernyataan ini merupakan bahwa orang Tunjung Linggang adalah suku yang berasal dari Kalimantan Tengah yang meninggalkan daerah tersebut melalui hulu sungai mahakam dan akhirnya terdesak oleh suku Dayak Bahau yang pindah dari dataran tinggi Apau Kayan ke perhuluan sungai mahakam.

  Dalam sistem mata pencaharian, sebagian besar masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang masih memanfaatkan perladangan tradisional. Seiring dengan perkembangan zaman dan daerah, kegiatan membuat ladang seperti ini mungkin sudah jarang dijumpai karena masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang cenderung memilih untuk berkebun karet, walaupun berdasarkan fakta dilapangan, kegiatan memanfaatkan lahan untuk menjadi ladang ini tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Hal ini disebabkan orang Dayak Tunjung Linggang merasa aman dan nyaman apabila dapat menyediakan cadangan bahan makanan untuk keluarga selama 1 tahun.

  Kegiatan membuat ladang ini biasanya dilakukan oleh kalangan orang tua.

  Pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup telah dipelajari oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang secara turun-temurun dari generasi ke generasi sejak zaman nenek moyang khususnya dalam pengetahuan mengenai flora dan fauna. Pengetahuan ini merupakan salah satu pengetahuan dasar orang Tunjung Linggang mengingat bahwa mata pencaharian utama pada mulanya adalah berladang.

  Peran flora dan fauna sangat penting bagi masyarakat suku dayak Tunjung Linggang, misalnya orang Tunjung Linggang mengenal beberapa jenis tumbuhan yang edible (bisa dimakan) dan yang tidak bisa dimakan akan tetapi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain seperti obat-obatan, racun untuk membunuh hewan dan zat pewarna. Jenis tumbuhan yang bisa dijadikan obat-obatan tradisional

  Sebagian besar dari tanaman tersebut memang belum dikaji secara ilmiah akan tetapi masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang meyakini bahwa tanaman- tanaman tersebut dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit tertentu, akan tetapi tidak semua tanaman langsung dapat digunakan sebagai obat tradisional, beberapa jenis tanaman harus digunakan dalam ritual adat sebelum dimanfaatkan sebagai obat. Masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang juga memiliki pengetahuan untuk membedakan jenis pohon / kayu yang memiliki kualitas baik untuk digunakan sebagai bahan bangunan, misalnya kayu ulin (Ensidroxylon zwageri) dan meranti merah ( Shorea leprosula).

  Fauna juga memiliki peran penting dalam kehidupan orang Tunjung Linggang dimana sebagian besar dari hewan-hewan ini dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi misalnya, babi, kijang, rusa, dll. Masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang mampu mengenali karakteristik hewan yang akan dikonsumsinya sehingga dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut ketika akan berburu. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu, orang Tunjung Linggang mempertahankan hidupnya dengan bergantung sepenuhnya kepada alam, sehingga pengetahuan seperti ini sangatlah penting.

  Benda-benda di lingkungan sekitar juga memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat suku dayak Tunjung Linggang. Sebagian besar fungsi dari elemen- elemen tersebut adalah untuk dikonsumsi (flora, fauna & air), sedangkan fungsi lainnya berupa pemanfaatan sebagai media pengobatan, bahan sandang papan, dll.

  Karena menyadari pentingnya elemen-elemen tersebut akhirnya orang Tunjung Linggang membuat aturan-aturan atau norma adat yang mengatur perlakuan warganya terhadap sungai, danau, dan tanah.

  Salah satu contoh mengenai keterkaitan budaya Masyarakat Tunjung Linggang dengan lingkungan adalah hutan lindung di Gunung Eno. Hutan Lindung Gunung Eno merupakan hutan yang dikonversikan menjadi hutan komunal adat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang, sebagai hutan adat, hutan ini dilindungi oleh hukum adat setempat secara ketat. Tujuannya adalah agar hutan ini dapat berfungsi sebagai hutan lindung, hutan penelitian ilmiah, dan sebagai warisan bagi anak cucu di masa depan.

  Orang Tunjung Linggang telah mempelajari bagaimana cara membedakan kualitas tanah yang subur atau pun tidak subur dalam memanfaatkannya sebagai lahan untuk berladang. Selain air dan tanah, orang Tunjung Linggang juga memanfaatkan jenis batu-batuan dan berbagai jenis logam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat peralatan kerja sehari seperti parang, lingga, pisau toreh, dll. Hanya saja seiring dengan kemajuan teknologi kegiatan untuk memanfaatkan batuan dan logam dari alam sekitar sudah tidak dijumpai lagi karena orang Tunjung Linggang dapat memperoleh bahan-bahan tersebut dengan cara di beli atau memanfaatkan besi dan logam dari sisa benda lain.

  Segala bentuk praktek pengobatan tradisional, hutan adat, dan upacara adat istiadat lainnya dari suku ini memiliki potensi yang cukup besar untuk dijadikan objek pariwisata. Karena hal-hal tersebut sangat menarik bagi turis-turis lokal maupun asing sehingga perlu dilakukan adanya upaya nyata oleh pemerintah Kutai Barat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kutai Barat.

C. Tanaman Obat Yang di Manfaatkan Oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang

  Selama penelitian, telah berhasil didata sebanyak 80 jenis tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang. Data dari 80 jenis tanaman itu dapat dilihat pada tabel 4.1.

  Tidak semua tanaman yang didata dapat diidentifikasi hingga tingkat spesies, hal ini disebabkan kurangnya informasi mengenai tanaman tersebut. Tanaman obat yang terdata merupakan anggota dari 38 famili yang berbeda. 38 famili ini merupakan anggota dari 26 ordo yang sengaja tidak dicantumkan mengingat tujuan awal dari penelitian ini adalah menginventarisir dan mengidentifikasi tanaman obat hingga tingkat spesies dan minimal hingga tingkat famili.

  Dari 26 ordo tersebut terbagi kedalam 3 jenis kelas yaitu, 9 ordo termasuk kedalam kelas liliopsida, 14 ordo pada kelas magnoliopsida dan sisanya yaitu 3 ordo yang termasuk dalam kelas pteridopsida. Dari 38 kelas yang terdata, 35 termasuk dalam divisi magnoliophyta sedangkan 3 kelas sisanya merupakan bagian dari divisi pterydophyta.

  26 Tabel 4.1. Jenis Tumbuhan Obat Yang Terdata

  Ageratum conyzoides L Asteraceae Liar Direbus Semua bagian

  13 Cahai Jahe Curcuma domestica

  

12 Butaq - Liar Direbus Akar Penangkal racun

  Bambusa vulgaris Poaceae Budidaya Direbus Akar Penyakit kuning

  11 Lutuuq Kuning Bambu Kuning

  Solanum sp Solanaceae Budidaya Direubus Akar Penyakit liver

  10 Brakat kerurang Terong pungo

  9 Botooq Anggrung Trema orientalis Ulmaceae Liar Direbus Akar Penawar racun

  8 Baduk Sukun Artocarpus communis Moraceae Budidaya Direbus Buah Memperlancar ASI

  Sakit perut, keputihan

  7 Uruq Beheq Rumput bulu

  No Nama Tumbuhan Sumber Perolehan Metode Pemanfaatan Organ Jenis Penyakit Lokal Umum Ilmiah Famili

  6 Benuang rarikng Benuang Octomeles sumatrana Miq. Datiscaceae Liar Direbus Akar Sakit kuning

  Hypericaceae Liar Ditempelkan Daun Terkilir

  5 Brentaleng Cratoxylon arborescens

  Cacar air

  Averrhoa bilimbi Oxalidaceae Budidaya Ditempelkan Buah, bunga

  4 Beliming tunyuk Belimbing sayur

  3 Belayatn - Liar Ditempelkan Daun Luka bakar / tersayat benda tajam

  2 Bakukng Bakung Crynum asiaticum Amaryllidaceae Budidaya Ditempelkan Daun, bunga Bengkak / terkilir

  1 Bakaaq Cyperus sp. Cyperaceae Liar Direbus Akar, batang Keram / kejang - kejang

  Zingiberaceae Budidaya Direbus Rimpang Sakit Gigi

  • Penambah daya tahan tubuh
  • Penambah nafsu makan
  • Penawar racun
  • Zingiberaceae Liar Direbus Rimpang, bunga Kencing darah

  • Liar Ditempelkan Semua Bagian Luka bakar / tersayat benda tajam
  • Liar Direbus Daun bengkak
  • Liar Direbus Semua Bagian keputihan
  • Liar Dioleskan Semua Bagian Luka luar + Bengkak
  • Liar Dioleskan Semua Bagian Luka luar
    • – isik

  29 Geriq Kemiri Aleurites moluccana Euphorbiaceae Budidaya Dikonsumsi Daun, Buah Malaria / Tipes

  28 Geringakng Cassia alata L. Caesalpiniaceae Liar Dioleskan Daun Kurap / kudis

  27 Gaka omang

  25 Ngelagit - Verbenaceae Liar Direbus Daun Disentri 26 lemonuq - Liar Dikonsumsi Akar Sakit perut / keracunan

  Bagian Sariawan, diare

  Meliaceae Liar Direbus, dioleskan Semua

  24 Gaka kedoot Aglaia borneensis Hk.f.

  23 Gaka brewerai

  22 Gaharaaq - Liar Dioleskan Daun herpes

  21 Engkuduuq Mengkudu Morinda citrifolia Rubiaceae Budidaya Di konsumsi Buah Tekanan darah tinggi

  19 Mukng Baluq

  20 Engkapaaq Kadaka Asplenium nidus Aspleniaceae Budidaya Direbus Akar Sakit perut

  18 Petoot - Liar Direbus Daun Luka dalam

  Tipes, Kencing batu, raja singa

  17 Topus Tongau Hedychium sp. Zingiberaceae Liar Direbus Rimpang

  16 Maralampu k

  15 Lejaaq Uraakng

  Zingiberaceae Budidaya Direbus / makan Rimpang

  Curcuma xanthorrhiza Roxb.

  14 Cahai putiiq Temulawak

  Nama Tumbuhan Sumber perolehan Metode pemanfaatan Organ Jenis Penyakit Lokal Umum Ilmiah Famili

  27 No

  30 Isak

  Nama Tumbuhan Sumber Metode No Organ Jenis Penyakit Lokal Umum Ilmiah Famili Perolehan Pemanfaatan

  Dikonsumsi

  31 Jamuuq Jambu Psidium guajava Myrtaceae Budidaya Daun Diare mentah

  • BAB darah

  Andrographis

  32 Jemewer Sambiloto Acanthaceae Budidaya Direbus Akar

  • Malaria

  paniculata

  • Sakit perut Juakng Hanjuang

  Cordyline terminalis L

  33 Agavaceae Budidaya Direbus Daun Batu ginjal nayuq merah Kajuuq

  Dioleskan / Penawar bisa 34 - Kayu arang Liar Batang narakng ditempelkan gigitan hewan Ambeien, luka

  Kajuuq Dioleskan /

  35 Liar - Akar luar / tersayat riokng ditempelkan benda tajam

  Kates /

  36 Gedakng Carica papaya L Caricaceae Budidaya Direbus Daun Malaria pepaya

Psychotria viridiflora Dikonsumsi

  37 Pelehet Liar Batang Sakit gigi Thw. mentah Asam

  Luka Luar akibat

  38 Keranyiiq Dialium indum Fabaceae Liar Ditempelkan Daun Keranji benda tajam

  Arcangelisia flava Sakit Pinggang,

  39 Ketikookng Akar kuning Menispermaceae Liar Direbus Akar Merr. vitalitas pria

  Callicarpa longifolia

  40 Krehau Lamiaceae Liar dioleskan Daun Gatal

  • – gatal Lamk.

  Luka luar /

  41 Kunceekng Harendong Melastoma affine Melastomataceae Liar Ditempelkan Daun menghentikan pendarahan Labuuq

  42 Labu siam Sechium edule Cucurbitaceae Budidaya Dikonsumsi Buah Tekanan biasa Akar,

  • 43 Lancikng

  Liar Direbus keputihan batang

  44 Luukng - Araceae Liar Direbus Akar Keracunan Nyelutuui

  45 Jelutung Dyera costulata Apocynaceae Budidaya Direbus batang Tipes putaakng

  28

  Nama Tumbuhan Sumber Metode No Organ Jenis Penyakit Lokal Umum Ilmiah Famili Perolehan Pemanfaatan

  • Batuk Limau Jeruk Citrus medica var.

  46 Rutaceae Budidaya Dikonsumsi Buah

  • Asma Bintakng pepaya proper L.
  • Asam urat Lunuuk

  47 - - Moraceae Budidaya Direbus Akar keracunan Dukutn

  48 Marauleq Pasak Bumi Eurycoma longifolia Simaroubaceae Liar Direbus Akar

  • Malaria - Sakit perut Direbus, Akar,

  49 Nancakng Mahang Macaranga mappa Euphorbiaceae Liar

  • Sariawan dioleskan batang (getah)

  50 Nilapm Nilam Pogostemon cablin Lamiaceae Budidaya Dioleskan Daun Alergi

  51 Nturui Moreceae Liar Dioleskan Daun herpes

  52 Paatn Pinang Areca catechu Arecaceae Budidaya Dikonsumsi Buah, biji Obat batuk Dioleskan /

  53 Pacar Pacar Cina Aglaia odorata Meliaceae Budidaya Daun Luka luar ditempelkan Diplazium

  Daun,

  

54 Paku ataai Paku Sayur Polypodiaceae Liar Dikonsumsi Penambah darah

esculentum batang Paku

  Daun,

  55 Paku pedang Nephrolepis sp Dryopteridaceae Liar Dikonsumsi Awet muda Parapm batang Pangir

  56 Morinda sp. Rubiaceae Liar Direbus Akar Keputihan Bohokng Daun

  57 Pengesik Albizia sp. Fabaceae Liar Direbus Vitalitas pria muda

  • Kudis Direbus, Akar,
  • Kurap 58 - Pianguuq

  Liar

  • dioleskan daun
  • Penawar racun
  • Sakit perut Raja 59 benalu Loranthus sp. Loranthaceae Liar Direbus Daun - Obat kanker Pengalah

  Menghilangkan

  60 Rakap sirih Piper betle Piperaceae Budidaya Dikonsumsi Daun bau badan, sakit gigi Rakap Piper crocatum Ruiz &

  61 Sirih Merah Piperaceae Budidaya Dikonsumsi Daun Kencing Manis Pav.

  Bohokng

  29

  • Budidaya Direbus Akar keracunan
  • Zingiberaceae Liar Dikonsumsi mentah Rimpang, Buah Penawar racun
  • Liar Direbus Akar, batang Penambah daya tahan tubuh dan vitalitas pria
  • Penawar racun
  • Sakit perut
  • Awet muda

  Daun, akar Lemah syahwat

  77 Tetukng galekng Sarang semut

  76 Pengooq Peay

  Urtiaceae Budidaya Dikonsumsi Batang Diare

  75 Tempera Villebrunia rubescens Bl.

  74 Terok Liar Direbus Batang TBC

  72 Tawar seribu

  71 Tabat barito Tabat Barito Ficus deltoidea Moraceae Budidaya Direbus Akar, batang Penyakit / luka dalam

  Orthosiphon aristatus Lamiaceae Budidaya Direbus Daun Peluruh batu ginjal

  70 Sumiiq meong Kumis kucing

  Musa balbisiana Musaceae Liar Dioleskan Batang

  69 Seweet Pisang Hutan

  Kalanchoe pinnata Crassulaceae Budidaya Dioleskan, direbus

  68 Serempolu pm Cocor Bebek

  Caesalpiniaceae Budidaya Direbus Batang

  67 Sepaai Caesalpinia sappan L.

  66 Sengkerapa k badak Ginseng kalimantan

  65 Sempaat iliir

  64 Selangkat - Liar Direbus Akar, batang Pembersih ginjal

  Solanaceae Budidaya Direbus Akar obat tekanan

  63 Sabeeq pok Paprika Capsicum annuum var. Grossum

  62 Sabeeq lemit

  Pemanfaatan Organ Jenis Penyakit Lokal Umum Ilmiah Famili

  Nama Tumbuhan Sumber Perolehan Metode

  • Borok, luka
  • Euphorbiaceae Budidaya Dioleskan Daun, batang Obat gigitan serangga 73 telasak salam Syzygium polyanthum Myrtaceae Liar Ditempelkan Daun Sariawan
  • Budidaya Direbus Umbi kencing darah

  30 No

  Myrmecodia tuberosa Rubiaceae Budidaya Direbus Akar Kanker

  • Liar Direbus Umbi Asma

  31 No

  Nama Tumbuhan Sumber Perolehan Metode Pemanfaatan Organ Jenis Penyakit Lokal Umum Ilmiah Famili

  78 Tuuq jarukng Anggrek macan

  Gramatophyllum scriptum BL Orchidaceae Liar Direbus Akar Sakit pinggang

  79 Tuuq nayuq Tebu Merah Saccharum sp. Poaceae Budidaya dikonsumsi batang Penawar racun, peluruh batu ginjal

  80 Pemusiiq Taluutn

  Deskripsi dari 80 tanaman tersebut adalah : 1.

  Bakukng / Bakung (Crynum asiaticum L.)

Gambar 4.1 Bakukng / Bakung ( Crynum asiaticum L.)

  Bakung merupakan tumbuhan tahunan dengan tinggi ± 1m. Memiliki batang semu, tegak, lunak dan berwarna putih kehijauan. Daun tunggal berbentuk lanset dan runcing di bagian ujungnya sedangkan pada bagian pangkalnya berbentuk tumpul. Bakung memiliki bunga berbentuk payung, pangkal mahkota berdekatan membentuk corong berwarna putih dengan putik yang panjang berwarna ungu serta benang sari berwarna jingga. Bakung memiliki buah berbentuk kotak atau bulat telur.

  Di Indonesia bakung memiliki beberapa nama yaitu bakong, semur (Bangka), dausa (Ambon) sedangkan dalam bahasa inggris bakung dikenal dengan sebutan Crinum lily atau Spider lily.

  Bakung biasanya tumbuh liar namun tidak jarang dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Habitat bakung pada umumnya terletak di tepi sungai hias, bakung juga memiliki manfaat sebagai bahan obat herbal. Pada bagian akar dan batangnya dapat digunakan sebagai obat untuk rematik, radang kulit, bisul dan borok serta dimanfaatkan sebagai analgesik, antibiotik, dan ekspektoran.

  2. Bakaaq

Gambar 4.2 Bakaaq

  Bakaaq merupakan sejenis tanaman herba berupa rumput-rumputan, sekilas bakaaq terlihat mirip seperti rumput teki. Bakaaq memiliki bentuk batang lurus, dengan tinggi batang mencapai 35 cm, pertulangan daun sejajar dan tumbuh di seluruh bagian tubuh utama. Bakaaq memiliki akar berupa akar serabut dan hidup di daerah tropis yang memiliki tekstur tanah gambut dan lembab. Bagi masyarakat Dayak Tunjung Linggang, Bakaaq memiliki khasiat sebagai obat anti kram dan kejang – kejang.

  3. Belayatn Belayatn merupakan tanaman sejenis sulur. Belayatn tumbuh dengan cara menjalar diatas tanah atau pada tanaman lainnya. Bentuk batang belayatn berwarna hijau seperti sulur dengan diameter 1 cm, warna daun hijau dengan pangkal daun berbentuk busur sedangkan bagian ujung daun runcing; pertulangan daun menyirip dan bagian tepi daun halus tidak bergerigi.

Gambar 4.3 Belayatn

  Di permukaan daun bagian atas terdapat bulu pendek dan lembut sedangkan pada permukaan bagian bawah tidak memiliki bulu dan halus.

  Belayatn memiliki buah berbentuk kecil berwarna hijau. Selain itu belayatn mengeluarkan getah berwarna putih apabila ada bagian tubuhnya yang terluka.

  Getah inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kalimantan Timur sebagai obat untuk luka bakar atau luka akibat tersayat benda tajam.

4. Beliming Tunyuk / Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

Gambar 4.4 Beliming Tunyuk / Belimbing wuluh ( Averrhoa bilimbi L.)

  Belimbing wuluh merupakan jenis tanaman yang tumbuh liar atau dibudidayakan dipekarangan rumah yang cukup memperoleh sinar matahari.

  Nama lain dari belimbing wuluh di Indonesia memiliki perbedaan di setiap daerah misalnya, di Aceh belimbing wuluh dikenal dengan nama limeng, di daerah Sunda dikenal dengan sebutan calingcing, dan bainang di Makasar. Di luar Indonesia cucumber tree merupakan sebutan untuk tanaman yang memiliki rasa yang khas ini.

  Belimbing wuluh memiliki batang berkayu yang keras dengan tinggi mencapai ± 11m. Daun belimbing wuluh bersirip genap, bunga berbentuk bintang dengan warna merah muda atau ungu. Tekstur buah belimbing sangat berair dan asam serta memiliki warna hijau dengan bentuk lonjong yang bergelantungan secara berkelompok pada batang atau dahan (Dalimartha, 2007). Belimbing wuluh dikenal memiliki khasiat sebagai obat tradisional yaitu sebagai antipiretik, ekspektoran, kencing manis, radang tenggorokan dan sariawan.

5. Brentaleng / Mampat (Cratoxylon arborescens)

Gambar 4.5 Brentaleng / Mampat ( Cratoxylon arborescens) Menurut DEPKESRI dalam inventaris tanaman obat indonesia (2007), mampat atau yang dikenal juga dengan sebutan Garunggang merupakan sejenis pohon yang mampu tumbuh hingga mencapai 60 m dan memiliki diameter batang mencapai 120 cm. kulit mampat biasanya berwarna abu-abu hingga coklat bahkan ada juga yang berwarna coklat kemerahan, teksture kulit halus dan tipis.

  Habitat dari mampat sangat luas, distribusinya meliputi Burma selatan, Sumatera, Semenanjung Malaysia dan Kalimantan. Mampat merupakan jenis tanaman yang hidup di dataran rendah akan tetapi mampat juga diketahui dapat hidup didataran dengan ketinggian hingga 1400m dpl. Secara ekologis mampat tumbuh di daerah rawa, hutan gambut. Bagi masyarakat suku dayak tunjung linggang, mampat dikenal sebagai tanaman yang berkhasiat untuk menyembuhkan / pengurang rasa sakit pada bagian tubuh yang terkilir (keseleo).

6. Benuang Rarikng / Binuang (Octomeles sumatrana Miq.)

Gambar 4.6 Benuang Rarikng / Binuang ( Octomeles sumatrana Miq.) Tanaman binuang merupakan jenis tanaman yang cepat tumbuh. Binuang memiliki batang berkayu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas, triplex, korek api, dll. Binuang yang tergolong tanaman pionir ini tumbuh tersebar diseluruh Indonesia terutama di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Di Indonesia binuang dikenal dengan sebutan binuang, benuang, kapu, palaka dan erima. Binuang tumbuh di hutan hujan dataran rendah dengan ketinggian dataran 0-1000m dpl dan rata- rata curah hujan ± 1500 mm/tahun. Tanah yang cocok untuk dijadikan tempat tumbuh bagi benuang adalah tanah aluvial atau tanah lembab dipinggir sungai yang bertekstur liat / liat berpasir. Binuang dipercaya dapat dimanfaatkan sebagai obat sakit kuning yaitu dengan cara merebus bagian akarnya kemudian dikonsumsi dengan cara meminum air rebusan tersebut (Heyne, 1987).

7. Uruuq Beheq / Rumput Bulu (Ageratum conyzoides L.)

Gambar 4.7 Uruuq Beheq / Rumput Bulu ( Ageratum conyzoides L.)

  Rumput Bulu atau yang biasa disebut dengan bandotan merupakan sejenis terna namun tidak jarang dianggap sebagai gulma pertanian. Di wedusan (jawa) sedangkan dalam bahasa Inggris bandotan dikenal dengan sebutan chick weed, goat weed, atau white weed. Tanaman ini disebut babandotan karena tanaman ini mengeluarkan aroma khas yang menyerupai bau kambing.

  Selain memiliki aroma yang menyerupai bau kambing, bandotan memiliki batang tegak atau “berbaring” di tanah kemudian bagian batang yang menyentuh tanah akan memiliki akar dengan sendirinya. Batang berbentuk gilig, bercabang dan terdapat bulu-bulu halus dipermukaan batang hingga daun. Tinggi batang mencapai 120 cm dan terdapat banyak kuntum bunga majemuk pada bagian ujung batang.

  Daun-daun bertangkai dengan panjang 0,5-5 cm, terletak berseling atau berhadapan, terutama yang letaknya di bagian bawah. Helaian daun berbentuk bulat telur hingga menyerupai belah ketupat. Pangkal daun berbentuk seperti jantung, membulat atau meruncing; dan bagian ujungnya berbentuk tumpul atau meruncing; tepi bergerigi; permukaan bagian atas dan bawah terdapat bulu

  • – bulu halus.

  Bandotan sering ditemukan hidup di sawah-sawah yang mengering, ladang. Pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air dan wilayah semak belukar.

  Ditemukan hidup hingga ketinggian 3000m dpl. Bandotan dipercaya dapat dimanfaatkan sebagai obat luka luar sedangkan rebusan dari daun juga dapat digunakan sebagai obat sakit dada, disentri dan demam (Dalimartha, 2007).

8. Baduk / Sukun (Artocarpus communis)

  Sukun atau dalam bahasa inggris disebut breadfruit merupakan jenis tanaman hidup di kawasan tropika seperti Malaysia dan Indonesia. Sukun dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 20m. Di beberapa daerah seperti pulau jawa, tanaman ini merupakan tanaman yang dibudidaya oleh masyarakat. Buah sukun terbentuk dari keseluruhan kelopak bunganya, berbentuk bulat atau lonjong dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan alternatif.

Gambar 4.8 Baduk / Sukun ( Artocarpus communis)

  Pertumbuhan sukun tidak tergantung pada musim hanya saja proses penyerbukan hanya terjadi dua kali dalam setahun. Kulit buah sukun berwarna hijau dan akan berubah menjadi hijau kekuningan ketika mencapai tingkat kematangannya, di permukaan kulitnya terdapat segmen-segmen petak berbentuk poligonal, dari segmen poligonal inilah kita dapat menentukan tahap kematangan buah sukun selain dari warnanya. Di kalangan masyarakat Suku Dayak Tunjung, Baduk / Sukun dimanfaatkan sebagai suplemen untuk memperlancar ASI. Cara pemanfaatannya yaitu dengan merebus buahnya yang masih muda kemudian dikonsumsi dengan cara memakan buah yang telah direbus (Heyne, 1987).

9. Botooq / Anggrung (Trema orientalis)

  Di Indonesia, anggrung memiliki berbagai sebutan yaitu dehong, mumusuat, bongkoreyon (batak), mangkirai (minang), bengkire (aceh).

  Anggrung sendiri merupakan tumbuhan perenial berbentuk pohon dengan tinggi sekitar 10 m. Akar berbentuk tunggang, batang berkayu, silindris, tegak, berwarna hitam kecokelatan, permukaan batang halus dan percabangan simpodial. Daun majemuk, bertangkai, tersusun secara berselang-seling, berwarna hijau dengan panjang 5-9 cm dan lebar 2,5-3,5 cm; bentuk daun lonjong dengan ujung runcing dan pangkalnya tumpul serta memiliki tepi daun yang rata dan pertulangan daun menyirip.

Gambar 4.9 Botooq / Anggrung ( Trema orientalis)

  Bunga anggrung merupakan bunga majemuk yang muncul dari

  axillaris (ketiak daun), panjang mahkota 0,5 cm. Buah berwarna muda hijau

  dan akan merubah menjadi cokelat ketika tua dan berisi 4-10 biji untuk perbanyak secara generatif. Anggrung dipercaya dapat dimanfaatkan sebagai obat penawar racun, cara pemanfaatannya dengan cara merebus bagian akar anggrung kemudian dikonsumsi dengan meminum air rebusan tersebut.

10. Kerurang / Terong asam (Solanum ferox L)

Gambar 4.10 Kerurang / Terong asam ( Solanum ferox L)

  Terung asam atau yang biasa disebut juga sebagai terong dayak merupakan tanaman terna, perenial dan tinggi batang mencapai 1-2 m. Bentuk batang bulat, berwarna hijau, permukaan batang berbulu ungu dan berduri tajam. Daun terung asam berbentuk tunggal dan tersebar; panjang tangkai daun 13-20 cm, berambut ungu dan berduri; helaian bulat telur sampai elips, tepi berlekuk, ujung runcing, pangkal berbelah, permukaan berbulu, panjang daun 20-33 cm, lebar 19-30 cm, berwarna hijau, pertulangan daun menyirip, tulang daun diselimuti rambut berwarna ungu dan duri kuning kehijauan.

  Bunga terung asam adalah bunga majemuk dengan 4-10 bunga disetiap tandan; dan berkelopak 5, berduri, hijau, bagian ujung ditutupi rambut ungu; mahkota bunga berjumlah 5, berlekatan, betuk bintang dengan panjang 2-2,5 cm, berwarna putih, bagian bawah berambut ungu; memiliki 1 kepala putik berwarna ungu dan 5 benang sari berwarna kuning. Buang terung asam hijau dan akan menjadi kuning ketika matang, di sekitar buah terdapat kelopak yang menyusun dan menutupi buah.

  Biji terung asam berbentuk pipih seperti ginjal dan berwarna kuning. Terung asam juga memiliki akar tunggang berwarna putih. Akar terung asam dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti raja singa, demam, iritasi kulit dan luka luar. Selain akar, biji terung asam juga berkhasiat untuk mengurangi sakit gigi. Kandungan kimi yang terdapat pada tanamab terung asam antara lain alkaloid, saponin, flavanoid dan polifenol (Nurmalina, 2012).

11. Brakat Lutuuq Kuning / Bambu kuning (Bambusa vulgaris)

Gambar 4.11 Brakat Lutuuq Kuning / Bambu kuning ( Bambusa vulgaris)

  Bambu kuning atau yang dikenal juga dengan sebutan bambu ampel merupakan tanaman dari famili poaceae yang berbentuk rumpun, tegak, tinggi mencapai 10-20 m, diameter batang 4-10 cm, permukaan batang hijau mengkilap, kuning, atau kuning bergaris-garis hijau; internodus berjarak 20-45 cm, permukaan batang berambut hitam dan dilapisi lilin putih ketika muda dan tenggelam. Cabang-cabang muncul dari nodus tengah dan atas dari rumpun. Selubung rumpun berbentuk segitiga lebar; daun lurus, berbentuk segitiga lebar (broadly triangular), panjang 4-5 cm dan lebar 5-6 cm, ujung daun meruncing, berambut pada kedua permukaan daun dan di tepi-tepi daun; panjang ligula 3 mm, bergerigi (Kebler PJA & Sidiyasa K, 1999).

  Bambu kuning merupakan tumbuhan yang berasal dari kawasan Asia Tropis. Bambu kuning dapat dijumpai tumbuh di seluruh kawasan pantropikal, pada ketinggian 1200 m dpl. Bambu ini dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah dengan kondisi kelembapan udara dan tipe tanah yang luas. Bambu kuning dipercaya dapat menyembuhkan sakit kuning dengan cara merebus bagian akarnya untuk diminum air rebusannya.

12. Butaq

Gambar 4.12 Butaq

  Butaq merupakan sejenis tanaman yang apabila dilihat secara sekilas memiliki kemiripan dengan tanaman waru terutama dari bentuk daunnya.

  Butaq tumbuh didaerah dengan ketinggin 1200 m dpl, dengan lingkungan yang lembab dan tanah gambut. Butaq memiliki batang berwarna hijau dengan berwarna hitam disekujur batang, sedangkan bagian dari tangkai daunnya berwarna merah muda.

  Daun butaq berwarna hijau dengan bentuk ginjal, pendek dan lebar; berwarna hijau serta pertulangan daun menyirip, tepi daun tidak bergerigi.

  Lebar daun 10 cm, panjang daun 8 cm, permukaan atas dan bawah daun halus dan licin. Butaq dipercaya memiliki khasiat sebagai penangkal racun oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang.

13. Cahai / kunyit (Curcuma domestica)

  Menurut Nurmalina (2012), Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm. Batang merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan.

Gambar 4.13 Cahai / kunyit ( Curcuma domestica)

  Kunyit tumbuh dengan baik di tanah yang tata pengairannya baik, curah hujan 2.000 mm sampai 4.000 mm tiap tahun dan di tempat yang sedikit terlindung. Tapi untuk menghasilkan rimpang yang lebih besar diperlukan tempat yang lebih terbuka. Rimpang kunyit berwarna kuning sampai kuning jingga. Bagi masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang, kunyit memiliki banyak sekali manfaat, selain sebagai bumbu masak, kunyit juga dipercaya dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk mengurangi rasa nyeri ketika sakit gigi.

14. Cahai Putiiq / Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)

Gambar 4.14 Cahai Putiiq / Temulawak Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) banyak ditemukan di hutan- hutan daerah tropis. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan sekitar pemukiman, terutama pada tanah yang gembur, sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Daerah tumbuhnya selain di dataran rendah juga dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian tanah 1500 meter di atas permukaan laut.

  Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya terbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai 2 meter. Daun tanaman temulawak bentuknya panjang dan agak lebar. Lamina daun dan seluruh ibu tulang daun bergaris hitam. Panjang daun sekitar 50-55cm, lebarnya 18 cm, dan tiap helai daun melekat pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur. Daun berbentuk lanset memanjang berwana hijau tua dengan garis-garis coklat. Habitus tanaman dapat mencapai lebar 30- 90cm, dengan jumlah anakan per rumpun antara 3-9 anak.

  Bunga tanaman temu lawak dapat berbunga terus-menerus sepanjang tahun secara bergantian yang keluar dari rimpangnya (tipe erantha), atau dari samping batang semunya setelah tanaman cukup dewasa. Warna bunga umumnya kuning dengan kelopak bunga kuning tua, serta pangkal bunganya berwarna ungu. Panjang tangkai bunga 3cm dan rangkaian bunga (inflorescentia) mencapai 1,5 cm. Dalam satu ketiak terdapat 3-4 bunga.

  Rimpang temulawak sejak lama telah dikenal sebagai bahan ramuan obat. Aroma dan warana khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging buahnya berwarna kekuning-kuningan. Temulawak biasanya digunakan sebagai precursor dalam pembuatan suplemen untuk menambah

15. Engkuduuq / Mengkudu (Morinda citrifolia L.)

  Pohon mengkudu tidak begitu besar, tingginya antara 4-6 m. batang bengkok-bengkok, berdahan kaku, kasar, dan memiliki akar tunggang yang tertancap dalam. Kulit batang cokelat keabu

  • – abuan atau cokelat kekuning – kuningan , berbelah dangkal, tidak berbulu, anak cabangnya bersegai empat. Tajuknya selalu hijau sepanjang tahun. Kayu mengkudu mudah sekali dibelah setelah dikeringkan. Bisa digunakan untuk penopang tanaman lada.

Gambar 4.15 Engkuduuq / Mengkudu ( Morinda citrifolia L.) Berdaun tebal mengkilap. Daun mengkudu terletak berhadap-hadapan.

  Ukuran daun besar-besar, tebal, dan tunggal. Bentuknya jorong-lanset, berukuran 15-50 x 5-17 cm. tepi daun rata, ujung lancip pendek. Pangkal daun berbentuk pasak. Urat daun menyirip. Warna hiaju mengkilap, tidak berbulu. Pangkal daun pendek, berukuran 0,5-2,5 cm. ukuran daun penumpu bervariasi, berbentuk segi tiga lebar. Daun mengkudu dapat dimakan sebagai sayuran.

  Nilai gizi tinggi karena banyak mengandung vitamin A.

  Perbungaan mengkudu bertipe bonggol bulat, bergagang 1-4cm. tumbuh normal. Bunganya berkelamin dua. Mahkota bunga putih, berbentuk corong, panjangnya bisa mencapai 1,5cm. Benang sari tertancap di mulut mahkota. Kepala putik berputing dua. Bunga itu mekar dari kelopak berbentuk seperti tandan. Bunganya putih, harum.

  Kelopak bunga tumbuh menjadi buah bulat lonjong sebesar telur ayam bahkan ada yang berdiameter 7,5-10cm. Permukaan buah seperti terbagi dalam sel-sel poligonal (segi banyak) yang berbintik-bintik dan berkutil. Mula-mula buah berwarna hijau, menjelang masak menjadi putih kekuningan. Setelah matang, warnanya putih transparan dan lunak.

  Daging buah tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramida, berwarna cokelat merah. Setelah lunak, daging buah mengkudu banyak mengandung air yang aromanya seperti keju busuk. Bau itu timbul karena pencampuran antara asam kaprik dan asam kaproat (senyawa lipid atau lemak yang gugusan molekulnya mudah menguap, menjadi bersifat seperti minyak atsiri) yang berbau tengik dan asam kaprilat yang rasanya tidak enak. Diduga kedua senyawa ini bersifat aktif sebagai antibiotic (Heyne, 1987).

16. Lejaaq Uraakng

Gambar 4.16 Lejaaq Uraakng

  Lejaaq uraakng merupakan jenis tanaman yang hidup di habitat yang lembab dan dengan ketersediaan air tinggi, misalnya di tepi sungai atau danau.

  Dari bentuk daunnya dapat dipastikan bahwa lejaaq uraakng masih termasuk dalam famili Zingiberaceae dan diduga masih termasuk dalam genus

  Hedychium hanya saja belum ada sumber yang menyebutkan nama spesiesnya.

  Lejaaq Uraakng atau dalam bahasa Indonesianya Jahe Udang memiliki batang semu berwarna hijau, dimeter batang 2-3 cm, tinggi mencapai 40 cm.

  Daun Lejaaq Uraakng berbentuk elliptical yaitu memiliki bagian tengah daun yang lebar dengan ukuran 5-9 cm, panjang daun 10-18 cm, pangkal dan ujung daun runcing serta pertulangan daun yang berbentuk sejajar. Lejaaq Uraakng memiliki bunga berwarna merah muda dengan tangkai bunga berwarna hijau kehitaman. Tangkai bunga dari Lejaaq Uraakng memiliki ukuran yang lebih panjang daripada batang Lejaaq Uraakng sendiri, hal ini menyebabkan bunga Lejaaq Uraakng tidak dapat tumbuh tegak keatas melainkan tumbuh melengkung ketanah karena tangkai yang tidak mampu

  Akar Lejaaq Uraakng berbentuk rimpang seperti jahe yang dapat menurut Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk mengobati hematuria atau kencing darah.

17. Maralampukng

Gambar 4.17 Maralampukng

  Maralampuk termasuk dalam jenis tanaman herba dan hidup dengan cara merambat. Tinggi tanaman mencapai 75 cm, bentuk batang kecil, lurus, diameter 1,5 cm, memiliki bulu

  • – bulu halus diseluruh permukaan batang, dan berwarna hijau. Daun berwarna hijau kekuningan berbentul lanset, ujung daun runcing, tepi daun rata, permukaan daun dipenuhi oleh bulu-bulu halus dan lembut ; pertulangan daun menyirip, lebar daun 3 cm, panjang daun 5 cm.

  Maralampuk hidup daerah dengan ketinggian 1200 m dpl, lembab, dan memiliki teksture tanah gambut. Maralampuk dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati jenis luka luar seperti luka bakar dan tersayat benda tajam, cara pemanfaatannya dengan menghancurkan seluruh bagian tumbuhan dari batang hingga daun kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang terluka.

18. Topus Tongau

Gambar 4.18 Topus Tongau

  Apabila dilihat dari cirri morfologinya, Topus Tongau merupakan tanaman dari suku Zingiberaceae, dan termasuk dalam genus Hedychium.

  Topus Tongau memiliki batang semu berwarna hijau, dengan tinggi mencapai 1 m, diameter batang 2-4 cm.

  Daun Topus Tongau berbentul eliptical, berwarna hijau dengan pertulangan daun menyirip. Panjang daun mencapai 30 cm, lebar daun 7-10 cm, permukaan bagian atas dan bawah daun mulus dan licin.

  Topus Tongau memiliki bunga dengan kelopak dan mahkota berwarna putih sedangkan kepala putiknya berwarna merah muda. Akar berbentuk rimpang, dan memiliki aroma khas seperti aroma mint. Oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang, rimpang Topus Tongau dimanfaatkan sebagai obat tipes, kecing batu dan penyakit organ genital seperti sipilis.

19. Petoot

Gambar 4.19 Petoot

  Petot merupakan tanaman sejenis perdu yang tumbuh liar di hutan, untuk mengenali Petot tidak sulit yaitu dapat dikenali dengan melihat daunnya.

  Petot memiliki batang berwarna hijau dengan bulu-bulu halus diseluruh permukaan batangnya. Petot dapat tumbuh tinggi hingga mencapai 2 m, diameter batang 4-6 cm.

  Daun Petot berbentuk lanset, dengan pertulangan menyirip, tepi daun bergelombang, permukaan bagian atas dari daun Petot berwarna hijau tetapi memiliki corak lurus membujur berwarna putih di bagian tengah daun sedangkan permukaan bagian bawah berwarna hijau. Lebar daun Petot 5-7 cm, panjang 10-15 cm.

  Tidak diketahui apakah Petot memiliki bunga akan tetapi Petot memiliki buah berwarna hijau ketika masih muda dan akan berubah menjadi warna kuning ketika matang. Buah petot memiliki ukuran seperti kelereng. Daun petot memiliki khasiat untuk mengobati luka dalam. Biasanya orang Dayak Tunjung Linggang memanfaatkan Petot dengan cara merebus daunnya dan air hasil rebusannya dikonsumsi dengan cara diminum.

20. Engkapaaq / Kadaka (Asplenium nidus)

Gambar 4.20 Engkapaaq / Kadaka ( Asplenium nidus)

  Engkapaaq atau yang disebut juga sebagai kadak merupakan tanaman sejenis paku-pakuan. Tanaman ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, Peruratan daun menyirip tunggal. Warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung.tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada. Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam "sarang" yang menumpang pada cabang-cabang pohon.

  "Sarang" ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya.

  Paku ini kebanyakan epifit, namun sebetulnya dapat tumbuh di mana saja asalkan terdapat bahan organik yang menyediakan hara. Karena merupakan tumbuhan bawah tajuk, ia menyukai naungan. Kadaka dimanfaatkan sebagai obat sakit perut dengan cara meminum air rebusan akarnya.

21. Gaharaaq

Gambar 4.21 Gaharaaq

  Gaharaaq merupakan tumbuhan perdu yang hidup di habitat yang lembab, dekat dengan sumber air seperti di tepi sungai, danau bahkan dapat juga ditemukan didalam hutan dengan tingkat curah hujan tinggi. Gaharaaq memiliki batang dengan tinggi mencapai 5 m, diameter batang 5-8 cm. daun Gaharaaq berwarna hijau, tiper pertulangan daun menyirip, lebar daun 7-10 cm, panjang daun mencapai 35 cm, tepi daun bergelombang. Sistem perakaran tunggang, selain itu Gaharaaq tidak memiliki buah.

  Gaharaaq dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati penyakit herpes, masyarakat suku dayak tunjung linggang memanfaatkan tanaman ini dengan cara mengambil daunnya untuk dihancurkan hingga halus kemudian dicampur dengan bedak dari beras lalu ditempelkan ada bagian tubuh yang terkena herpes.

22. Gaka Bruerai (Abrus precatorius L).

Gambar 4.22 Gaka Bruerai ( Abrus precatorius L).

  Bruerai merupakan sejenis tumbuhan merambat dan hidup dengan membelit inang (epifit). Di Indonesia bruerai juga dikenal sebagai saga rambat atau saga telik. Batang bruerai berukuran kecil, panjang dapat mencapai 10 m, diameter batang 2-3 cm. Daun bruerai adalah tipe daun majemuk berbentuk bulat telur, berukuran kecil menyerupai daun Tamarindus indica. Bruerai mempunyai biji yang berwarna jingga kemerahan dengan warna hitam pada bagian yang runcing dari salah satu sisi biji. Biji dari bruerai dikenal beracun sehingga tidak dianjurkan untuk dimakan.

  Daun bruerai dipercaya memiliki khasiat untuk mengatasi permasalahan kesehatan seperti keputihan dan sariawan. Beberapa sumber juga mengatakan bahwa daun bruerai yang dikombinasikan dengan daun sirih akan meningkatkan kemampuan penyembuhan sariawan.

23. Gaka Kedoot (Aglaia borneensis Merr.)

  Tinggi tanaman ini sekitar 2-6 meter, batangnya berkayu, bercabang banyak, dan tangkainya berbintik-bintik kelenjar berwarna hitam. Daunnya bersifat majemuk dan menyirip ganjil yang tumbuh berselang-seling dengan anak daun 3-5 buah. Anak daun ini bertangkai pendek, berbentuk bundar dengan panjang 3-6 sentimeter (cm), dan lebar 1-3,5 m.

Gambar 4.23 Gaka Kedoot ( Aglaia borneensis Merr.)

  Ujung dan pangkal daun meruncing dan permukaannya licin mengilap terutama daun muda. Bagian yang dimanfaatkan biasanya bunga, daun, batang, dan ranting. Bagian bunganya berkhasiat untuk mengatasi beragam gangguan kesehatan seperti sariawan dan diare.

24. Ngelagit

Gambar 4.24 Ngelagit

  Ngelagit merupakan tanaman jenis liana yang termasuk dalam famili

  Verbenaceae dan hidup di hutan tropis. Tanaman ini bukanlah parasit hanya

  saja dapat melemahkan tumbuhan lain yang menjadi penyangganya dan membuat tumbuhan yang menyangganya tidak mendapatkan cahaya yang cukup.

  Tinggi ngelagit tidak diketahui, bergantung pada jenis inang. Daun ngelagit berbentuk bulat telur terbalik, ujung berbentuk bulat, pangkal runcing, ukuran daun 20 x 8 cm, pertulangan daun menyirip, permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua, licin (tidak memiliki trikoma), permukaan bagian bawah berwarna hijau muda.

  Batang ngelagit berkayu, diameter 10-15 cm berwarna abu abu. Ngelagit dikenal memiliki kandungan air yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai salah satu sumber air darurat bagi orang yang kehabisan

  25. Lemonuq

Gambar 4.25 Lemonuq

  Lemonuq merupakan tumbuhan perdu yang habitatnya berada di daerah yana memiliki kadar air tinggi seperti tepi sungai, tepi danau, atau hutan tropis dengan ketinggian hingga 1200m dpl. Lemonuq dapat tumbuh tinggi mencapai 2 m, diameter batang 5-9 cm, warna batang kelabu.

  Daun lemonuq berbentuk oval, bagian ujung dan pangkal runcing, panjang daun 15-20 cm, lebar 8-12 cm, pertulangan daun menyirip, permukaan bagian atas dan bawah daun dipenuhi oleh bulu-bulu halus. Warna permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua kemerahan, permukaan bagian bawah berwarna hijau muda. Buah dan bunga tidak diketahui. Lemonuq dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati sakit perut dan keracunan dengan cara merebus akarnya kemudian meminum air rebusannya.

  26. Mukng Baluuq Mukng Baluq merupakan tanaman jenis perdu yang dapat tumbuh hingga ketinggian 8 m dengan diameter batang 6-15 cm. Daun Mukng Baluq dapat dikatakan sangat besar apabila dibandingkan dengan tinggi tanaman dan diameter batang dikarenakan daun yang berbentuk bulat telur terbalik ini pangkal tumpul, terdapat organ seperti sayap pada tangkai daun, warna permukaan daun bagian atas hijau tua, permukaan bagian bawah hijau muda, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip dan permukaan bagian atas kasar.

Gambar 4.26 Mukng Baluq

  Mukng Baluq dapat ditemukan di daerah hutan tropis, atau perbukitan terutama daerah yang berupa lereng gunung. Daunnya yang sangat lebar merupakan ciri utama dari Mukng Baluq sehingga mudah dikenali. Mukng baluuq berkhasiat sebagai anti swelling atau mengobati bagian tubuh yang bengkak, cara pemanfaatannya yaitu dengan merebus bagian daunnya untuk kemudian diminum air rebusannya.

27. Gaka Omang

  Gaka Omang merupakan tanaman jenis herba, hidup menjalar diatas tanah, tidak epifit. Panjang Gaka Omang diperkirakan mencapai 3 m, diameter 3-5 cm, bentuk batang berbuku-buku, batang berwarna hijau sedangkan pada bagian pangkal (dekat akar) berwarna putih kekuningan. Daun berbentuk oval, lebar daun 3-5 cm, panjang daun 7-13 cm, pertulangan daun menyirip, berwarna hijau, tepi daun rata, permukaan atas dan bawah daun licin dan mulus.

Gambar 4.27 Gaka Omang

  Akar Gaka Omang memiliki anak akar yang berfungsi sebagai alat untuk menyerap makanan dan unsure hara yang ada didalam tanah. Habitat Gaka Omang merupakan daerah yang lembab, tanah yang gembur seperti di tepi sungai, dipegunungan khususnya daerah lereng gunung. Gaka omang memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka luar dengan cara menghancurkan semua bagian tanaman untuk mendapatkan getahnya kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang terluka.

28. Geringakng / Ketepeng cina (Cassia alata L.)

  Ketepeng cina merupakan perdu tegak, berumur 1-2 tahun, cabang banyak, batang muda berwarna hijau. Tinggi mencapai 3 m. Daun majemuk menyirip genap, tangkai daun panjang, terdiri dari 5-12 pasang anak daun. Anak daun bulat panjang ada pula yang bulat telur. Panjang daun 3-15 cm, lebar 2,5-9 cm. tangkai pendek 1-2 cm, warna hijau, pangkal dan ujung daun tumpul, tepi daun rata.

Gambar 4.28 Geringakng / Ketepeng cina ( Cassia alata L.)

  Bunga tersusun dalam tandan yang panjang, tumbuh dari ujung cabang, mahkota bunga warna kuning, jumlah tandan bung 3-8 buah. Buah polong, panjang 10-20 cm, lebar 12-15 mm, segi empat, bersayap. Buah muda warna hijau, buah matang hitam dan pecah. Biji terdapat dalam buah, berjumlah +50- 70, warna coklat muda, bentuk bulat telur pipih, meruncinng di bagian pangkal. Tumbuhan ini berkembang biak dengan biji.

  Tumbuhan ini hidup liar di lahan terbuka atau agak terlindung, pinggir hutan, semak-semak belukar, tanah yang agak lembap, dekat ddengan sumber air, atau lahan terlantar. Tumbuhan ini merupakan gulma pada tanaman tahunan sereti karet, kelapa, dan kelapa sawit (Kebler PJA & Sidiyasa K, 1999).

29. Geriq / Kemiri (Aleurites moluccana)

  Kemiri merupakan tanaman yang hidup didaerah tropis, ciri-ciri kemiri adaladan gemang hingga 1,5 m.

  Pepagan abu-abu, sedikit kasar berlentisel. Daun muda, ranting, da mentega; seolah bertabur

Gambar 4.29 Geriq / Kemiri ( Aleurites moluccana)

   dengan sepasang kelenjar di ujung tangkai. Helai daun hampir bundar, bundar telur, bundar telur lonjong atau menyegitiga, berdiameter hingga 30 cm, dengan pangkal bentuk jantung, bertulang daun menjari hanya pada awalnya, bertaju 3-5 bentuk segitiga di ujungnya.

  berkelamin tunggal, putih, bertangkai pendek. Bunga-bunga betina berada di ujung malai payung tambahan; bunga- bunga jantan yang lebih kecil dan mekar lebih dahulu berada di sekelilingnya, berjumlah lebih banyak. Kelopak bertaju 2-3; mahkota bentuk lanset, bertaju- 5, panjang 6-agak bulat telur gepeng, 5-6 cm × 4-7 cm, hijau zaitun di luar dengan rambut beledu, berdaging keputihan, tidak memecah, berbiji 2 atau 1. bertempurung keras dan tebal, agak gepeng, hingga 3 cm × 3 cm; dengan keping biji keputihan, kaya akan minyak. Geriq / kemiri memiliki khasiat untuk menyembuhkan sakit malaria dan typhus (Suprapto, 2000).

  30. Isak-Isik

Gambar 4.30 Isak-Isik

  Isak

  • – isik merupakan tanaman herba yang dapat ditemukan didaerah yang lembab dan memiliki kandungan air yang tinggi misalnya tepi sungai, danau, maupun lereng perbukitan. Isak isik berukuran kecil dengan tinggi maks 15 cm, tanaman ini hanya memiliki batang semua berupa tangkai yang langsung menjadi tangkai daun sehingga tubuh utama dari tanaman ini tidak terlihat. Bentuk dan isak-isik lanset memanjang, lebar daun 2-2,5 cm, panjang daun 3-5 cm, pelepah daun 2-3 cm, pertulangan daun menyirip dan berwarna hijau. Akar isak – isik berbentuk rimpang kecil, tebal, diameter akar 1-1,5 cm.

  Isak-isik memiliki khasiat untuk mengobati luka luar dengan cara menghancurkan seluruh bagian tumbuhan kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang terluka.

  31. Jamuuq / Jambu Biji (Psidium guajava) Jambu biji memiliki akar tunggang yang bercabang (ramosus) yang bentuknya kerucut panjang, tumbuh lurus kebawah,bercabang cabang banyak dan cabang-cabangnya bercabang lagi. Sehingga memberi kekuatan yang lebih besar pada batang, dan juga daerah perakaran menjadi amat luas, hingga dapat menyerap air dan zat-zat makanan yang lebih banyak.

Gambar 4.31 Jamuuq / Jambu Biji ( Psidium guajava)

  Bentuk cabang pada jambu biji yaitu berkayu dan permukaannya licin dan terlihat lepasnya kerak (bagian kulit yang mati). Arah tumbuh batangnya tegak lurus (erectus). Jambu biji memiliki cabang sirung pendek (virgula atau

  ) yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas-ruas yang pendek

  virgula sucre scens yang selain daun juga merupakan pendukng bunga dan buah.

  Dilihat dari letak bagian terlebarnya jambu biji bagian terlebar daunya berada ditengah-tengah dan memiliki bangun jorong karena perbandingan panjang : lebarnya adalah 2 : 1. Jambu biji memiliki ujung yang tumpul, Ujung tumpul, tepi daun rata.

  Daun jambu biji memiliki pertumbuhan daun yang menyirip (penninervis) yang mana daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang kesamping, keluar tulang-tulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan kita kepada susunan sirip-sirip pada ikan. Jambu biji memiliki khasiat sebagai obat diare (Suprapto,

32. Jemewer / sambiloto (Andrographis paniculata)

  Sambiloto merupakan tumbuhan berkhasiat obat berupa terna tegak yang tingginya bisa mencapai 90 sentimeter. Asalnya diduga dari Asia tropika.

  Penyebarannya dari Tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 700 dari permukaan laut. Sambiloto dapat tumbuh baik pada curah hujan 2000-3000 mm/tahun dan suhu udara 25-32 derajat Celcius. Kelembaban yang dibutuhkan termasuk sedang, yaitu 70-90% dengan penyinaran agak lama. Nama daerah untuk sambiloto antara lain: sambilata (Melayu); ampadu tanah (Sumatera Barat); sambiloto, ki pait, bidara, andiloto (Jawa Tengah); ki oray (Sunda); pepaitan (Madura), sedangkan nama asingnya Chuan xin lien .

Gambar 4.32 Jemewer / sambiloto ( Andrographis paniculata)

  Tanaman sambiloto digunakan untuk mencegah pembentukan radang, memperlancar air seni (diuretika), menurunkan panas badan (antipiretika), obat sakit perut, kencing manis, dan terkena racun. kandungan senyawa kalium memberikan khasiat menurunkan tekanan darah. Hasil percobaan farmakologi menunjukkan bahwa air rebusan daun sambiloto 10% dengan takaran 0.3 ml/kg berat badan dapat memberikan penurunan kadar gula darah yang sebanding dengan pemberian suspensi glibenclamid. Selain itu, daun Sambiloto juga dipercaya bisa digunakan sebagai obat penyakit typhus dengan cara mengambil 10-15 daun yang direbus sampai mendidih dan diminum air rebusannya (Nurmalina, 2012).

33. Juakng Nayuq / Hanjuang Merah (Cordyline terminalis)

Gambar 4.33 Juakng Nayuq / Hanjuang Merah ( Cordyline terminalis)

  Tanaman ini biasa dimanfaatkan sebagai tanaman hias, Tanaman kuburan, dan tanaman pagar. Daun tunggal, berbentuk lanset lebar, berwarna merah tua, merah kecoklatan atau hijau. Bunga berbentuk malai, panjang sekitar 30 cm, berwarna hijau keunguan atau kuning muda. Buah berbentuk bola, berwarna merah mengkilat.

  Tanaman ini berasal dari Asia Timur, dan hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1900 m dpl. Perbanyakan tanaman menggunakan stek batang atau stumb. Stek digunakan batang tanaman yang keras sepanjang 5-10 sepertiga tanaman kedalam tanah. Pemeliharaan tanaman ini mudah, seperti tanaman lain dibutuhkan cukup air dengan penyiraman atau dengan menjaga kelembaban tanah. Disamping itu dibutuhkan pemupukan terutama pupuk dasar. memiliki rasa manis, hambar, dan bersifat menyejukkan.

  Kandungan kimia dari tumbuhan ini belum banyak diketahui, tetapi kegunaan tumbuhan ini telah banyak diketahui, di antaranya menyejukkan darah, menghentikan pendarahan, dan menghilangkan bengkak karena memar (anti swelling ) (DEPKESRI, 2006).

34. Kajuuq Narakng

  Informasi mengenai bentuk dan ciri morfologi mengenai tanaman ini masih sangat jarang, hal ini dikarenakan tanaman ini sangat susah untuk ditemukan, bahkan dari beberapa pengakuan warga, Kajuuq Narakng hanya bisa ditemukan apabila nasib kita sedang beruntung. Berdasarkan gambaran dari warga, Kajuuq Narakng merupakan tumbuhan berkayu, dengan ketinggian mencapai 10-15 m, diameter batang 50-80 cm, akar berbentuk tunggang, bentuk daun tidak diketahui akan tetapi pohon ini memiliki ciri khas yaitu kulitnya yang berwarna hitam mirip seperti arang. Apabila dilihat secara sepintas, kita tidak akan bisa membedakan antara Kajuuq Narakng dengan arang biasa. Kajuuq Narakng hidup didaerah tropis dengan ketinggian hingga 1200 m dpl. Kajuuq Narakng dipercaya dapat dimanfaatkan sebagai anti bisa hewan.

  35. Kajuuq Nriokng Kajuuq Nriokng merupakan tanaman sejenis perdu yang pada awalnya di budidaya di pekarangan rumah, akan tetapi karena sifatnya yang gampang tumbuh dan menyebar sehingga terkadang dianggap sebagai tanaman pengganggu. Kajuuq Nriokng memiliki bentuk batang tegak dengan tinggi mencapai 1 m, diameter 2 cm, batang berwarna merah.

Gambar 4.34 Kajuuq Nriokng

  Daun Kajuuq Nriokng berbentuk lanset dengan ujung runcing dan pangkal tumpul; daun berwarna hijau dengan panjang 3-7 cm, lebar 2-3 cm, tumbuh secara tersebar diseluruh permukaan batang, pertulangan daun menyirip, tepi daun bergerigi dan tangkai daun berwarna merah muda. Kajuuq nriokng dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati penyakit wasir dan ambeien.

  36. Gedakng / Pepaya (Carica papaya) Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, spiral pada batang pohon bagian atas. Daunnya menyirip lima dengan tangkai yang panjang dan berlubang di bagian tengah. Bentuknya dapat bercangap ataupun tidak. Pepaya kultivar biasanya bercangap dalam.

Gambar 4.35 Gedakng / Pepaya ( Carica papaya)

  Pepaya adalah monodioecious' (berumah tunggal sekaligus berumah dua) dengan tiga kelamin: tumbuhan jantan, betina, dan banci .

  Tumbuhan jantan dikenal sebagai "pepaya gantung", yang walaupun jantan kadang-kadang dapat menghasilkan buah pula secara . Buah ini mandul (tidak menghasilkan biji subur), dan dijadikan bahan obat tradisional. Bunga pepaya memiliki berwarna kuning pucat dengan tangkai atau duduk pada batang. Bunga jantan pada tumbuhan jantan tumbuh pada tangkai panjang. Bunga biasanya ditemukan pada daerah sekitar pucuk.

  Bentuk bulat hingga memanjang, dengan ujung biasanya meruncing. Warna buah ketika muda hijau gelap, dan setelah masak hijau muda hingga kuning. Bentuk buah membulat bila berasal dari tanaman betina disukai dalam budidaya karena dapat menghasilkan buah lebih banyak dan buahnya lebih besar. Daging buah berasal dari karpela yang menebal, berwarna kuning hingga merah, tergantung varietasnya. Bagian tengah buah berongga. Bijiberwarna hitam atau kehitaman dan terbungkus semacam lapisan berlendir (pulp) untuk mencegahnya dari kekeringan. Dalam budidaya, biji-biji untuk ditanam kembali diambil dari bagian tengah buah. Pepaya diketahui memiliki khasiat sebagai obat malaria melalui daunnya yang direbus kemudian dikonsumsi (Suprapto, 2000).

37. Pelehet (Psychotria viridiflora Thw.)

Gambar 4.36 Pelehet ( Psychotria viridiflora Thw.)

  Pelehet merupakan sejenis semak dengan ketinggian mencapai 8 m dan diameter batang mencapai 14 cm. Daun tumbuh secara berlawanan, pertulangan daun menyirip, panjang daun 8-10 cm, lebar daun 3-6 cm. warna permukaan daun bagian atas hijau tua, permukaan bagian bawah hijau muda.

  Permukaan daun licin dan mulus, tepi daun rata dan bentuk daun lanset. Pelehet memiliki bunga dengan diameter 4 mm berwarna putih, kuning, hingga merah muda. Buah pelehet berdiameter 9 mm, berwarna merah hingga ungu. Pelehet hidup didataran dengan ketinggiann sekitar 600 m dpl. Biasanya ditemukan di sepanjang tepi sungai, lereng gunung, dan hutan tropis.

38. Keranyiiq /Asam Keranji (Dialium indum)

  Keranyiiq merupakan tanaman dengan habitus berupa pohon yang dapat tumbuh dengan mencapai ketinggian 10-25 m. Bentuk batang tegak, bulat, percabangan simpodial, berduri dan berwarna putih. Akar keranyiiq merupakan akar tunggang.

Gambar 4.37 Keranyiiq /Asam Keranji ( Dialium indum)

  Daun keranyiiq merupakan daun majemuk, dengan letak berselang- seling, pertulangan menyirip, bentuk daun lanset, tepi daun rata, panjang daun 2-4 cm, lebar 1-2 cm. Buah keranyiiq berbentuk seperti polong, berwarna hijau ketika masih muda dan berwarna merah kehijauan ketika matang.

  Teksture biji bulat pipih, memiliki selaput biji berwarna putih, permukaan biji licin berwarna hitam. Keranyiiq hidup di hutan dipterocarpae campuran, ketinggian dataran hingga 1200 m dpl. Biasanya hidup didaerah pegunungan, tanah berpasir. Keranyiiq dipercaya memiliki khasiat sebagai obat luka luar dengan cara mengambil bagian daunnya untuk dihancurkan kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang terluka, luka luar yang dimaksud biasanya berupa luka akibat tersayat benda tajam.

39. Ketikookng / Kayu Kuning (Arcangelisia flava L. Merr.)

Gambar 4.38 Ketikookng / Kayu Kuning ( Arcangelisia flava L. Merr.)

  Tumbuhan ini berupa liana, panjangnya dapat mencapai ± 10 m, batang utama sebelum bercabang dua besarnya seperti lengan/betis orang dewasa, batang tersebut mengandung air, batang dan cabangnya liat, dalam batang berwarna kuning dan rasanya pahit. Bentuk daun bundar telur sampai lonjong/elip yang meruncing di bagian ujung, permukaan daun hijau mengkilat.

  Perbungaan malai, terdapat pada batang tua atau di ketiak daun, warna bunga kuning pucat. Pada batang atau cabang-cabang yang besar terdapat tandan buah yang menggantung, buah berwarna kuning, terdiri atas daging buah yang berlendir dan biji besar, pipih. Kayu Kuning dapat dijumpai di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan sebagian di Irian. Tumbuh mulai dari dataran rendah sampai ketinggian ± 800 m dpl. Ketikoong memiliki khasiat sebagai suplemen untuk menambah daya tahan tubuh

40. Krehau / Meniran Hutan (Callicarpa longifolia)

  Krehau atau meniran hutan merupakan tanaman sejenis semak yang dapat tumbuh hingga 6 m dengan diameter batang 11 cm. Daun tumbuh secara berhadapan, seluruh permukaan daun dan batang ditutupi oleh bulu- bulu halus. Buang berwarna putih hingga merah muda kebiruan dengan diameter 2 mm. Buah krehau berwarna putih dengan diameter 2 mm.

Gambar 4.39 Krehau / Meniran Hutan

  ( Callicarpa longifolia)

  Krehau hidup didaerah dengan iklim tropis dengan habitat di hutan dipterocarpae dengan ketinggian hingga 400 m dpl. Tanaman ini juga sering ditemukan di tepi sungai, lereng bukit, daerah padang pasir, dan daerah batuan kapur. Krehau dimanfaatkan oleh suku Dayak Tunjung Linggang sebagai bahan untuk membuat ramuan semacam bedak atau lotion untuk mengobati alergi kulit dengan cara menghancurkan bagian daunnya kemudian di oleskan pada bagian tubuh yang terkena alergi (Oswald, 1995).

  41. Kunceekng / Harendong (Melastoma affine)

Gambar 4.40 Kunceekng / Harendong ( Melastoma affine)

  Harendong merupakan tanaman sejenis semak dengan tinggi tanaman mencapai 6 m. daun Harendong berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan panjang antara 6-12 cm dan lebar 2-4 cm. permukaan rambut dan batang ditutupi oleh rambut halus. Batang harendong berwarna merah hingga orange dengan diameter mencapai 8 cm. tanaman ini banyak terdapat didaerah yang memiliki iklim tropis. Harendong dipercaya memiliki berbagai khasiat mulai dari sebagai penangkal racun, mempercepat proses pembekuan darah dll. Selain mudah dikenal karena memiliki ciri yang khas, Tanaman ini juga sangat mudah ditemukan di tepi jalan, lapangan, hutan dll (Oswald, 1995).

  42. Labuuq Biasa / Labu Siam (Sechium edule) Tanaman Labu Siam termasuk tanaman merambat, atau menjalar. Untuk itu sebaiknya kalau berkebun Labu Siem paling baik mempergunakan anjang- anjang. Asli Amerika Selatan, daunnya berbentuk lekuk tangan, sedangkan buahnya berbentuk genta.

Gambar 4.41 Labuuq Biasa / Labu Siam ( Sechium edule)

  Dalam kehidupan sehari-hari, labu siam dikenal sebagai sayuran buah yang menyehatkan. Buahnya bisa dimasak sayur lodeh, oseng-oseng, atau sayur asam. Pucuk batang dan daun mudanya biasa dibuat lalap, diasak oseng- oseng, sebagai teman makan nasi.

  Buahnya mengandung zat saponin, alkaloid, dan tannin. Daunnya mengandung saponin, flafonoid, dan polifenol, Daging buahnya terdiri dari 90 persen air, 7,5 persen karbohidrat, 1 persen protein, 0,6 persen serat, 0,2 persen abu dan 0,1 persen lemak. Juga mengandung sekitar 20 mg kalsium, 25 mg fosfor, 100 mg kalium, 0,3 mg zat besi, 2 mg natrium, serta beberapa zat kimia yang berkhasiat obat (Dalimartha, 2007).

43. Lancikng

  Lancikng merupakan tanaman jenis perdu yang hidup di hutan tropis, lereng gunung. Pohon Lancking tumbuh tegak, percabangan simpodial, memiki tinggi mencapai 4 m, diameter batang 3-5 cm, warna batang kelabu dan sistem perakaran tunggang.

Gambar 4.42 Lancikng

  Daun lancikng berbentuk oval dengan bagian ujung runcing sedangkan bagian pangkalnya tumpul, panjang daun diperkirakan 15-20 cm, lebar daun 5- 8 cm, warna permukaan daun bagian atas hijau tua sedikit kusam sedangkan warna permukaan daun bagian bawah hijau muda dan ditutupi oleh bulu-bulu halus. Sistem pertulangan daun lancikng menyirip dan sedikit melengkung serta memiliki tepi daun yang rata. Lancikng dipercaya sebagai obat keputihan pada wanita.

  44. Luukng

Gambar 4.43 Luukng

  Luukng merupakan tumbuhan sejenis talas. Talas atau taro merupakan tumbuhan asli daerah tropis. sentrum asal tanaman talas adalah dataran Cina dan India. Luukng hidup ditepi sungai maupun tepi danau, perbedaannya dengan talas biasa adalah luukng memiliki batang berwarna merah, umbinya berwarna merah, sedangkan daunnya berwarna hijau kemerahan. Luukng dipercaya memiliki khasiat sebagai penawar racun.

  45. Nyelutuui Putaakng / Jelutung (Dyera costulata) Pohon jelutung tingginya mencapai80 meter, diameter 30 cm. Kulit batang berwarna abu-abu gelap atau hitam, licin. Kayunya dapat di bentuk menjadi kerajinan dengan mudah. Sering digunakan untuk bahan pembuatan peti mati, pensil, mainan anak-anak, dan plywood yang relatif murah. Sebelum diganti dengan Hevea brasiliensis dari Amerika Serikat, jenis ini dijadikan sumberdaya penghasil karet yang potensial. Sampai saat ini, getah jelutung digunakan sebagai bahan dasar permen karet, meskipun telah ditemukan sumberdaya lain yang lebih baik, misalnya sebagai obat disentri.

Gambar 4.44 Nyelutuui Putaakng / Jelutung ( Dyera costulata)

  Tinggi pohon mencapai 25-45 m dengan tajuk tipis serta berdaun tunggal yang duduk melingkar pada ranting sebanyak 4-8 helai. Panjang batang bebas cabang 15-30 m dan diameter dapat mencapai 100 cm. Batang berbentuk silindris dan kulit luarnya berwarna kelabu kehitama. Pohon tidak berbanir dan mengeluarkan getah putih seperti susu kental.

46. Limau Bintakng / Jeruk Pepaya (Citrus medica var. proper L.)

Gambar 4.45 Limau Bintakng / Jeruk Pepaya Pohon jeruk papaya tidak berbeda dengan pohon jeruk lainnya hanya saja jeruk papaya memiliki perbedaan pada bentuk buahnya yang mirip seperti papaya, di kalangan masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang, tanaman ini dikenal dengan limau bintakng karena apabila diris secara membujur maka bagian dalam dari jeruk ini akan terlihat speeti bentuk bintang. Buah jeruk papaya berukuran 20-25 cm, berdiameter 10 cm. Kulit jeruk papaya sangat tebal hingga isinya tidak dapat dapat dimakan karena sari buahnya sedikit dan rasanya sangat asam karena itu bagian yang dapat dimanfaatkan dari jeruk ini yaitu buah mulai dari kulit hingga isinya. Jeruk pepaya diperkirakan hanya tumbuh dikawasan hutan pegunungan akan tetapi bukan tidak mungkin untuk dijumpai didataran rendah. Jeruk papaya diketahui memiliki khasiat sebagai obat asthma, batuk dan asam urat.

47. Lunuuk Dukutn

Gambar 4.46 Lunuuk Dukutn

  Lunuuk dukutn merupakan tumbuhan berkayu yang hidup didaerah dataran rendah. Tumbuhan ini apabila dilihat secara sekilas sangat mirip dengan tanaman ketapang akan tetapi perbedaannya adalah Lunuuk dukutn tidak memiliki buah.

  Lunuuk dukutn dapat tumbuh hingga mencapai 5-10m, diameter batang 20-40cm, daun berwarna hijau berbentuk bulat telur, pertulangan daun menyirip, dengan lebar 20cm dan panjang 35cm, percabangan simpodial serta sistem perakaran nya tunggang. Tumbuhan ini dipercaya memiliki khasiat sebagai penawar racun dengan cara merebus akarnya untuk diminum air rebusannya.

48. Marauleq / Pasak Bumi (Eurycoma longifolia)

Gambar 4.47 Marauleq / Pasak Bumi ( Eurycoma longifolia)

  Pasak Bumi adalah pohon kecil hingga 15 m tinggi. Tanaman dioecious (bunga pada tanaman adalah baik laki-laki atau perempuan). Daun majemuk, panjang, dan penuh di ujung cabang. Ketika daun jatuh mereka meninggalkan bekas luka besar di batang.

  Daun adalah ovate. Bunga berkelamin tunggal; laki-laki selalu dengan bujur telur, 10-20 x 5-12 mm, hijau ke merah kehitaman ketika masak. Pasak Bumi cendrung hidup didaerah asam dan tanah berpasir di ketinggian rendah hingga 700 m dpl. Tanaman ini biasanya tumbuh di hutan pantai, hutan primer dan sekunder, hutan Dipterocarpae campuran dan juga di hutan lindung. Akar pasak bumi diketahui memiliki khasiat sebagai obat malaria dan sebagai

  precursor untuk pembuatan jamu vitalitas pria.

49. Nancakng / Mahang (Macaranga mappa)

  Mahang merupakan jenis pohon dengan ketinggian hingga 25 m dan diameter 55 cm. Batang lurus, bulat, tidak berbanir, berkulit halus dengan warna coklat muda abu-abu. Tajuk agak melebar dan tidak seberapa lebat. Daun tunggal berbentuk bulat telur yang melebar dan bercagap dalam tiga. Permukaan bawah daun putih, berbuku halus dengan urat daun menjari. Daun yang berbentuk setengah bulatan.

Gambar 4.48 Nancakng / Mahang ( Macaranga mappa)

  Bunga berdiameter sekitar 0,5 mm, berwarna hijau kekuningan, yang merupakan bagian dari malai besar. Buah berdiameter sekitar 10 mm berwarna dengan pantai dan dipengaruhi pasang-sungai, di sepanjang jalan dan di perbukitan serta pegunungan. Sebagian besar pada tanah berpasir atau berbatu.

  Dengan ketinggian hingga 1400 m dpl. Akar dan batang nancakng memiliki khasiat sebagai obat sakit perut / diare sedangkan getahnya dipercaya dapat menyembuhkan sariawan.

50. Nilapm / Nilam (Pogostemon cablin)

  Nilam merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang didalam industri kimia dipergunakan sebagai bahan membuat produk wewangian (parfum), farmasi (obat alergi), kosmetika, pengawetan barang dan bahan industri lainnya. Nilam dapat tumbuh dan berproduksi baik di daerah dengan ketinggian 0-1.200 m dpl. Nilam juga dapat tumbuh dan berproduksi secara optimum pada daerah dengan ketinggian 10-400 m dpl.

Gambar 4.49 Nilapm / Nilam ( Pogostemon cablin)

  Curah hujan dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman 2.300-3.000 mm/tahun. Suhu udara antara 24-28 derajat Celcius dengan kelembapan di atas

  75%. Agar produksi minyak nilam optimal diperlukan, intensitas penyinaran matahari sekitar 75-100% (DEPKESRI, 2006).

51. Nturuui

  Nturuui merupakan tanaman sejenis perdu yang hidup dihutan tropis, padang rumput, lereng gunung maupun tepi sungai. Nturui dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 5 m dengan diameter batang 10-15 cm, warna batang kelabu dan sistem perakaran tunggang.

Gambar 4.50 Nturuui

  Nturui memiliki daun dengan bentuk palmate yaitu pertulangan daun menjari, jumlah ujung daun dalam setiap daun 5 yaitu 3 dibagian ujung daun sedangkan pada bagian pangkal terdapat ujung dan yang terlihat seperti sayap pada pertulangan daun. Warna daun nturui hijau tua, permukaan bagian atas dan bawah sedikit kasar, teskturnya tebal. Panjang daun nturui mencapai 15 cm, lebar daun pada bagain yang menyatu 6-10 cm. Daun nturuui dipercaya memiliki khasiat sebagai obat herpes, cara pemanfaatannya dengan cara menghancurkan daunnya kemudian dijadikan semacam lotion kemudian di

52. Paatn / Pinang (Areca catechu)

  Pohon pinang meski ada pula yang lebih besar. Tajuk tidak rimbun, pelepaberbentuk tabung dengan panjang 80 cm, tangkai daun pendek; helaian daun panjangnya sampai 80 cm, anak daun 85 x 5 cm, dengan ujung sobek dan bergerigi.

Gambar 4.51 Paatn / Pinang ( Areca catechu)

  Tongkol dengan seludang (spatha) yang panjang dan mudah rontok, muncul dibawah daun, panjang lebih kurang 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap, sumbu ujung sampai panjang 35 cm, dengan 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya dengan banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap dalam alur.

  Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning; benang sari 6. Bunga betina panjang lebih kurang 1,5 cm, hijau; bakal buah beruang 1.buni bulat telur terbalik memanjang, merah oranye, panjang 3,5-7 cm, dengan dinding buah yang berserabut. Biji 1 berbentuk telur, dan memiliki gambaran seperti

  Pinang terutama ditanam untuk dimanfaatkan bijinya, yang di dunia Barat dikenal sebagai betel nut. Biji ini dikenal sebagai salah satu campuran orang makan

  Biji pinang mengandun dapat merangsang otak. Sediaan

  Sementara itu, beberapa macam pinang bijinya menimbulkan rasa pening apabila dikunyah. Zat lain yang dikandung buah ini antara lain

  arecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya.

  Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit Biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak (Heyne, 1987) .

53. Pacar / Pacar Cina (Aglaia odorata)

Gambar 4.52 Pacar / Pacar Cina ( Aglaia odorata) Pacar Cina merupakan tanaman sejenis semak yang berbentuk tinggi, gundul, tegak. Tinggi tanaman pacar cina berkisar antara 2-5 m. Daun bersifat polimorfi, majemuk menyirip ganjil yang tumbuh berseling panjang sekitar 13 cm, helaian daun 3-9 umumnya 5, tangkai induk (rachis) tanpa atau bersayap sempit, dengan beberapa sisik atau rambut bintang atau gundul. Helaian anak daun; gundul, panjang 1,5-11 cm, lebar 1-4,5 cm. bertangkai pendek, berbentuk sudip sampai bulat telur terbalik memanjang. Tangkai anak daun berdiameter 1-4 mm. Bunganya rapat, panjang 5cm - 6 cm berwarna kuning dan berbau harum, sedangkan buahnya bulat lonjong, merah, dengan 1-3 biji.

  Pacar Cina tumbuh menyebar namun biasanya dalam satu tempat dan ditemukan di malai hijau primer dan hutan yang tumbuh kembali setelah bencana, sedang sepanjang pesisir, di atas ketinggian 700 m dpl.

  Pacar cina berkhasiat menyembuhkan perut kembung, sukar menelan, batuk, bisul dan mempercepat persalinan karena mengandung pada tanaman Suprapto, 2000).

54. Paku Atai / Paku Sayur (Diplazium esculentum)

  Paku sayur merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai di lembah- lembah di pinggir sungai terlindung pada tanah yang kaya bahan organik.

  Dapat tumbuh dari ketinggian 350 m -1600 m dpl.

Gambar 4.53 Paku Ataai / Paku Sayur ( Diplazium esculentum)

  Daun paku sayur bertipe majemuk, pertulangan menyirip, bentuk daun lanset, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 5-6 cm, lebar 1- 2 cm, tangkai silindris, berambut, pertulangan menyirip, hijau. Ental yang muda ditutupi oleh sisik berwarna coklat muda. Tersusun atas 15 pasang anak- anak daun panjangnya 40 cm dan lebarnya 8 cm.

  Tekstur daun agak kaku dengan tepi bergigi berwarna hijau gelap. Batang tegak nampak berdaging dengan ental banyak mencapai panjang 1,2 m lebih. Akar Serabut, berwarna hitam. Sori tumbuh di sepanjang urat anak daun pada ketiak anak daun tumbuh tunas untuk perbanyakan diri. Spora dihasilkan pada sporofil, terutama di permukaan bawah daun, berwarna coklat. Paku atai dipercaya memiliki khasiat sebagai penambah darah, cara pemanfaatannya yaitu dengan mengkonsumsi daunnya yang sudah diolah menjadi makanan.

55. Paku Parapm / Paku Pedang (Nephrolepis sp)

Gambar 4.54 Paku Parapm / Paku Pedang ( Nephrolepis sp)

  Paku pedang memiliki batang berbentuk bulat, tetapi pada spesies ini terdapat seperti lekukan dipermukaannya sepanjang batang tersesut. umumnya merupakan tanaman kecil dengan sedikit daun, tingginya kurang dari 0.5m tinggi. Warna batang kecoklatan. Permukaan halus akan tetapi seperti tedapat rambut-rambut yang sangat halus pada batangnya.

  Daun pada spesies ini terdapat percabangan pada tulang daun. Ujung dari urat daunnya yang menjari tidak sampai menyentuh tepi daun dan bebas, pada ujung urat daun perdapat sporangium yang tertata dengan rapi disepanjang tepi daun. Daun tumbuhan paku ada beberapa macam, yaitu tropofil (daun khusus untuk fotosintesis, tidak mengandung spora), sporofil (daun penghasil spora), dan yang kecil-kecil disebut mikrofil, dan yang besar disebut makrofil. Pada spesiens ini daunnya termasuk mikrofol. Ujungnya seringkali bebas, ada yang tidak mencapai tepi, sampai atau sangat dekat dengan tepi atau bahkan sampai diluar tepi daun seperti pada

  Tumbuhan ini memiliki permukaan daun yang halus dan bersisik. Ukuran pada umumnya panjang mencapai 2 cm dengan lebar 1 cm. Bentuk daun menjorong dan ujungnya terbelah, sedangkan pada tepi daunnya bergerigi.selain itu spesies ini juga mempunyai ental yang bertumpuk di atas permukaan, yaitu adanya daun muda yang mengulung.

  Umumnya tumbuhan ini memiliki akar yang serabut, akar tumbuh di bawah permukaan tanah, bersifat non fotosintesis, berfungsi menyerap air dan nutrisi dari tanah. Akar-akar ini menyerabut dan strukturnya sangat kecil. Paku parapm dipercaya memiliki khasiat untuk memperlambat penuaan kulit (awet muda) yaitu dengan cara mengkonsumsi daunnya.

56. Pangir Bohokng

  Pangir Bohokng merupakan tanaman yang masih termasuk dalam Famili Rubiaceae (suku kopi

  • – kopian). Masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang menyebutnya pangir bohokng karena bunga dari tanaman ini yang berwarna merah.

Gambar 4.55 Pangir Bohokng Tanaman pangir bohokng dapat tumbuh mencapai 3 m, habitusnya perdu, diameter batang 5-10 cm, bentuk daun seperti jantung, pertulangan daun menyirip melengkung, warna daun hijau tua dengan permkaan daun yang ditutupi oleh bulu

  • – bulu halus, tepi daun rata. Bunga pangir bohokng berwarna merah, dengan lebih dar1 bunga disetiap tangkainya, sekilas bunga pangir bohokng berbentuk seperti bulir – bulir.

57. Pengesik

  Pengesik merupakan tanaman perdu yang biasa hidup di hutan diterocarpae campuran dengan ketinggian dataran hingga 1200 m dpl.

  Pengesik dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 5 m, diameter batang 5-10 cm, batang berwarna kelabu.

Gambar 4.56 Pengesik Daun pengesik berbentuk oval, dengan ujung dan pangkalnya runcing.

  Warna daun hijau muda sedangkan daun yang masih muda berwarna merah muda. Bentuk buah pengesik tidak diketahui begitu pula dengan bentuk dikotil. Daun pengesik yang masih muda biasanya dikonsumsi oleh kaum pria sebagai suplemen untuk menambah daya tahan tubuh dan vitalitas pria.

58. Pianguuq

Gambar 4.57 Pianguuq

  Pianguuq merupakan tanaman perdu yang sering ditemukan di daerah hutan tropis. Tinggi pianguq mencapai 4 m, diameter batang 3-6 cm, batang berwarna kelabu sedangkan cabang berwarna hijau. Pianguuq memiliki daun berbentuk oval berwarna hijau, pertulangan menyirip, ujung daun runcing, pangkal daun tumpul, tepi daun bergerigi, panjang daun 3-5 cm, lebar daun 2- 3 cm.

  Buah pianguuq berbentuk bulir-bulir tidak tumbuh dicabang melainkan di tandan yang langsung menempel pada tubuh pohon utama. Dalam satu tandan terdapat 3-4 buah kecil berwarna hijau dengan diameter buah 2 cm. Daun pianguuq memiliki khasiat untuk mengobati alergi kulit seperti kudis, kurap sedangkan akarnya dapat digunakan sebagai penawar racun.

59. Raja Pengalah / Benalu (Loranthus sp.)

Gambar 4.58 Raja Pengalah / Benalu ( Loranthus sp.)

  Benalu (Loranthus sp.) merupakan jenis tumbuhan yang hidupnya tidak memerlukan media tanah. Ia hidup sebagai parasit (parasiet=Belanda), menempel pada dahan-dahan pohon kayu lain dan mengisap mineral yang larut dalm pohon kayu yang ditempelinya dapat mati.

  Bunga benalu berkelamin tunggal biji buahnya mengandung getah. Pengembangbiakannya melalui binatang atau burung yang memakan biji buah benalu tersebut. Proses pengembangbiakannya sangat sederhana: biji benalu yang bergetah itu dimakan binatang atau burung. Kemudian biji benalu tersebut melekat di dahan dahan kayu bersama dengan kotoran burung yang memakannya, dan tumbuh di dahan itu. Benalu dipercaya memiliki khasiat sebagai obat kanker, cara pemanfaatannya dengan merebus daunnya kemudian meminum air rebusannya.

60. Rakap / Sirih (Piper betle)

Gambar 4.59 Rakap / Sirih ( Piper betle)

  Piper bettle tumbuh di daerah hutan agak lembab dengan keadaan

  tanah yang lembab. Hidup pada daerah yang mempunyai curah hujan 2250- 4750 mm/tahun. Tumbuhan ini dapat ditemukan hingga ketinggian 900 m dpl dan menyukai tempat yang teduh dan terlindung dari angin, serta pada daerah yang beririgasi baik dan kaya bahan organik dengan pH 7-7,5.

  Batang umumnya berwarna coklat kehijauan, batang berbentuk bulat, memiliki ruas, bagian ini merupakan bakal tumbuhnya akar. Daun sirih berbentuk jantung, tunggal, bagian ujung daun runcing, tumbuh berselang seling, setiap daun memiliki tangkai, bila daun diremas akan mengeluarkan aroma khas, panjang sekitar 5-8 cm dengan lebar sekitar 2-5 cm.

  Bunga sirih berbentuk bulir, memiliki daun pelindung kurang lebih 1 mm dengan bentuk bulat panjang. Bulir betina memiliki panjang antara 1,5-6 cm.Pada bagian bulir betina ini terdapat kepala putik berjumlah antara 3-5 buah dengan warna putih dan hijau kekuningan. Bulir jantan memiliki panjang termasuk kedalam buah buni ( memiliki dinding dengan dua lapisan), bentuk buah bulat dengan warna hijau keabu-abuan. Akar sirih termasuk akar tunggang dengan bentuk bulat serta warna coklat kekuningan. Daun sirih diketahui memiliki khasiat untuk menguatkan gigi dan mengurangi bau badan (DEPKESRI, 2006).

61. Rakap Bohokng / Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

Gambar 4.60 Rakap Bohokng / Sirih Merah ( Piper crocatum Ruiz & Pav.) Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga.

  Permukaanya kasar dan bila terkena cahaya akan cepat mengering. Batangnya bersulur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm. Di setiap buku tumbuh bakal akar (Sudewo, 2010).

  Daunnya bertangkai membentuk jantung dengan bagian atas meruncing, bertepi rata, dan permukaannya mengilap atau tidak berbulu.

  Panjang daunnya bisa mencapai 15-20 cm. Warna daun bagian atas hijau bercorak warna putih keabu-abuan. Bagian bawah daun berwarna merah hati cerah. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit, dan beraroma wangi khas sirih.

  Akar daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz dan Pav) adalah akar tunggang yang bentuknya bulat dan berwarna coklat kekuningan. Tanaman sirih merah tergolong langka karena tidak tumbuh di setiap atau daerah. Srih merah tidak dapat tumbuh sebur di daerah panas. Sementara itu, di tempat berhawa dingin sirih merah dapat tumbuh dengan baik. Jika terlalu banyak terkena sinar matahari, batangnya cepat mengering, tetapi jika disiram secara berlebihan akar batang cepat membusuk. Tanaman sirih merah akan tumbuh dengan baik jika mendapatkan 60-70% cahaya matahari. Tanaman ini diketahui memiliki khasiat untuk mengobati kencing manis (DEPKESRI, 2006).

62. Sabeeq Lemit

Gambar 4.61 Sabeeq Lemit

  Sabeeq Lemit merupakan tanaman jenis perdu yang ditanam untuk keperluan tertentu, salah satunya sebagai tanaman obat keluarga, sabeeq dalam bahasa Dayak Tunjung Linggang berarti cabe akan tetapi tanaman ini tidak terlihat seperti pohon cabe. Sabeeq Lemit memiliki tinggi 1-1,5 m, diameter batang 5-10 cm, sistem percabangan simpodial, warna batang utama hijau,

  Sabeeq lemit memiliki daun berbentuk lanset dengan pangkal dan ujung daun berbentuk runcing, letak daun berpasangan, panjang daun 5 cm, lebar 2 cm, warna daun hijau muda, sistem pertulangan daun menjari, permukaan daun halus, dan tepi daun rata.

63. Sabeeq Pok / Paprika (Capsicum annuum var. Grossum)

  Paprika atau yang biasa juga disebut cabai paprika merupakan tanaman sejenis perdu atau semak yang termasuk dalam suku Solanaceae. Tanaman paprika dapat hingga mencapai ketinggian 4 m. Batang paprika keras, berkayu, berbentuk bulat, halus, berwarna hijau gelap dan memiliki sistem percabangan simpodial. Batang utama paprika tegak dan kuat, cabang paprika beruas-ruas, setiap ruas ditumbuhi daun atau tunas.

Gambar 4.62 Sabeeq Pok / Paprika ( Capsicum annuum var. Grossum)

  Daun paprika berbentuk bulat telur dengan ujung runcing dan tepi daun rata. Daun tunggal, pertulangan daun menyirip, letak daun agak mendatar, warna daun hijau tua. Bunga cabai paprika merupakan bunga tunggal (soliter) dan berbentuk bintang, dengan mahkota bunga berwarna putih. bunga tumbuh menunduk pada ketiak daun.

  Buah akan terbentuk setelah tejadi penyerbukan. buah cabai paprika memiliki keanekaragaman bentuk, ukuran, warna, dan rasa. pada umumnya, buah cabai paprika berbentuk seperti tomat, tetapi lebih bulat dan pendek. Tanaman cabai paprika memiliki akar tunggang yang tumbuh lurus kepusat bumi dan akar serabut yang tumbuh menyebar kesamping. Akar dari paprika dipercaya dapat mengobati tekanan darah tinggi apabila dikonsumsi dengan cara meminum air rebusan akarnya.

64. Selangkat

Gambar 4.63 Selangkat

  Selangkat merupakan tanaman jenis perdu yang biasa dibudidaya sebagai tanaman hias dipekarangan rumah, dijadikan tanaman hias karena warnanya yang unik yaitu daun nya yang memiliki degradasi warna hijau kemerahan. Daun selangkat merupakan daun majemuk yang terletak secara berhadapan, jumlah anak daun 8-12 pasang. Selangkat memiliki tinggi 2-3 m, percabangan polypodial dan sistem perakaran nya tunggang. Daun selangkat sedangkan bagian pangkalnya tumpul. Selangkat dipercaya dapat membersihkan ginjal, yang dimaksud dengan membersihkan ginjal adalah menghancurkan batu ginjal. Cara pemanfaatannya dengan meminum air rebusan akar dan batang selangkat.

65. Sempat Iliir

Gambar 4.64 Sempat Iliir

  Sempat Iliir masih digolongkan tanaman liar. Memang ia dapat tumbuh di sembarang tempat terutama di daerah pegunungan. Di daerah dataran rendah pun kecombrang juga acap ditemui. Sempat Iliir memiliki kemiripan dengan tanaman kecombrang baik bentuk tanaman, daun, buah, hingga aromanya.

  Tanaman famili jahe ini berupa herba setinggi 2-5 meter. Batang semunya tegak, hanya bergaris tengah 2-3 cm sehingga tampak kurus.

  Berpelepah dan membentuk rimpang hijau Daunnya tunggal, berbentuk lanset yang memanjang seperti pita sekitar 40-50 cm, selebar 8-10 cm. ujung dan pangkal daun runcing, dan hijau.

  Buah Sempat Iliir berbentuk panjang dan menggerombol. Dalam Pembudidayaannya lebih mudah dilakukan dengan stek atau tunas akar tinggalnya (anakan yang keluar dari akar tinggalnya). Rimpang sempat iliir dipercaya memili khasiat sebagai penawar racun.

  66. Sengkerapak Badak Sengkerapak Badak merupakan tanaman jenis perdu yang banyak terdapat daerah hutan perbukitan maupun lereng gunung. Sengkerapak Badak memiliki tinggi mencapai 4 m dengan dengan diameter batang 10-15 cm.

Gambar 4.65 Sengkerapak Badak

  Sekilas sengkerapak badak terlihat mirip dengan kayu manis hanya saja perbedaannya adalah sengkerapak badak memiliki akar tunggang berwarna putih dengan aroma mirip daun mint. Sengkerapak badak memiliki khasiat sebagai penambah daya tahan tubuh dan vitalitas pria.

  67. Sepaai / Secang (Caesalpinia sappan L.) Secang (Caesalpinia sappan L) merupakan perdu yang umumnya tumbuh di tempat terbuka sampai ketinggian 1000 dpl seperti di darah pegunungan yang berbatu tetapi tidak terlalu dingin. Tingginya 5-10 m. percabangannya terdapat duri-duri tempel yang bentuknya bengkok dan letaknya tersebar.

Gambar 4.66 Sepaai / Secang ( Caesalpinia sappan L.)

  Daun secang merupakan daun majemuk menyirip ganda dengan panjang 25-40 cm, jumlah anak daunnya 10-20 psang yang letaknya berhadapan. Anak daun tidak bertangkai berbentuk lonjong, pangkal rompang, ujung bulat, tepi daun rata dan hampir sejajar. Panjang anak daun 10-25 mm, lebar 3-11 mm dan berwana hijau.

  Bunga secang adalah bunga majemuk berbentuk malai, bunganya keluar dari ujung tngkai dengan panjang 10-40 cm, mahkota bunga berbentuk tabung berwarna kuning. Buah secang adalah buah polong, panjang 8-10 cm, lebar 3-4 cm, ujung seperti paruh berisi 3-4 biji, jika masak berwarna hitam.

  Bijinya bulat memanjang dengan panjang 15-18 mm dan lebar 8-11 mm, tebalnya 5-7 mm, warnanya kuning kecoklatan. Akar secang adalah akar tunggang berwarna coklat kotor (Heyne, 1987).

68. Serempolupm / Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata)

  Cocor bebek memiliki batang yang lunak dan beruas. Daunnya tebal kadang abu-abu). Bunga majemuk, buah kotak. Bila dimakan cocor bebek rasanya agak asam dan dingin. Cocor bebek populer digunakan sebagai tanaman hias di rumah tetapi banyak pula yang tumbuh liar di kebun-kebun dan pinggir parit yang tanahnya banyak berbatu.

Gambar 4.67 Serempolupm / Cocor Bebek ( Kalanchoe pinnata)

  Cocor bebek mengandung Cocor bebek digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan sakit kepala, batuk, sakit dada, borok, dan penyakit kulit lainnya, menyembuhkan demam, memperlancar haid yang tidak teratur, obat luka, serta bisul (Nurmalina, 2012).

69. Seweet / Pisang Hutan (Musa balbisiana)

  Tanaman pisang berbatang semu (nampak di atas tanah) tinggi dapat mencapai ± 3 m. Di atas batang semu tersebut terdapat banyak daun yang menggerombol dengan pelepah daun 1-2 m. Daun mudah robek. Perbungaan keluar dari ujung batang, dekat daun berbentuk tandan, warna bunga putih.

  Buah juga berbentuk tandan setelah masak berwarna kuning. Pisang biji rasanya manis tetapi banyak sekali bijinya, 1 buah terdapat ± 50 biji, biji kecil,

Gambar 4.68 Seweet / Pisang Hutan ( Musa balbisiana)

  Tanaman ini tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian ± 2200 m dpl. Tanaman pisang menyukai daerah yang panas, subur atau sedikit berbatu, dekat pembuangan sampah. Seweet dipercaya memiliki khasiat sebagai obat luka luar dan penyakit kulit seperti koreng.

70. Sumiiq Meong / Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)

Gambar 4.69 Sumiiq Meong / Kumis Kucing ( Orthosiphon aristatus)

  Menurut Heyne (1987), kumis kucing termasuk di bagian buku-bukunya dan tingginya mencapai 2 yang dimulai dari pangkalnya, ukuran daun panjang 1-10cm dan lebarnya 7,5mm-1,5cm. Urat daun sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul, dimana kedua permukaan berbintik-bintik karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai daun 7-29cm.

  Ciri khas tanaman ada pada bagian kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berbulu pendek dan jarang sedangkan di bagian yang paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota yang bersifat terminal yakni berupa7-29 cm, dengan ukuran panjang 13- 27mm, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek berwarnaanjang tabung 10-18mm, panjang bibir 4,5-10mm, helai bunga tumpul, bundar.

  Benang sari ukurannya lebih panjang dari tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap, panjang 1,75- 2mm. Gagang berbulu pendek dan jarang, panjang 1 mm sampai 6 mm (Heyne, 1987).

71. Tabat Barito (Ficus deltoidea)

  Tabat Barito merupakan tanaman yang cara hidupnya dari terrestrial sampai epifit atau epilitik. Daun tersusun zig zag pada cabang-cabang ramping, bertangkai panjang 0,1-9 cm, tebal 1-5 mm, gundul; helaian beragam terang kekuningan atau coklat kekuningan dengan bintik-bintik dan mengkilap di permukaannya. Urat daun utamanya bercabang dengan beberapa bintik coklat yang jelas di bawah poros urat daunnya. Jenis ini memiliki daun yang sangat bervariasi (dalam ukuran, bentuk, susunan tulang daun, keberadaan dan penyebaran kelenjar lilin, panjang tangkai daun) dan syconium (bentuk, warn a matang, panjang dan diameter tangkai perbungaannya).

Gambar 4.70 Tabat Barito ( Ficus deltoidea)

  Perbungaan atau disebut syconium, rumen aksiler, berpasangan atau tunggal; tangkai 1,5-3 cm atau duduk; dasar perbungaan bervariasi membulat, menjorong, membulat telur, melonjong dan hampir silinder, diameter 0,4-0,8 cm berwarna kuning-jingga atau merah-ungu tua. Tabat barito diketahui memiliki khasiat untuk mengobati penyakit dan luka dalam.

72. Tawar Seribu

  Tawar seribu merupakan tanaman yang masih termasuk dalam suku euphorbiaceae, tanaman ini memiliki ukuran dengan tinggi mencapai 15 cm, diameter batang 2 cm. tawar seribu memiliki batang berwarna hijau, dan memiliki getah berwarna putih apabila batangnya dipatahkan atau ditusuk.

Gambar 4.71 Tawar Seribu

  Daun tawar seribu berbentuk bulat telur, berwarna hijau tua, pertulangan daun menyirip dan memiliki daging daun yang tebal. Tawar seribu biasanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias dengan media pot dipekarangan rumah. Tawar seribu diketahui memiliki khasiat sebagai obat untuk gigitan serangga maupun alergi kulit.

73. Telasak / salam (Syzygium polyanthum) Pohon berukuran sedang, mencapai tinggi 30 m dan gemang 60 cm.

  Pepagan (kulit batang) berwarna coklat abu-abu, memecah atau bersisik. Helai daun berbentuk jorong-lonjong, jorong sempit atau lanset, 5-16 x 2,5-7 cm, gundul, dengan 6-11 urat daun sekunder, dan sejalur urat daun intramarginal nampak jelas dekat tepi helaian, berbintik kelenjar minyak yang sangat halus.

  Karanganberupa malai dengan banyak kuntum bunga, 2-8 cm, muncul di bawah daun atau kadang-kadang pada ketiak.

  Syzygium polyanthum)

Gambar 4.72 Telasak / salam (

  Bunga kecil-kecil, duduk, berbau harum, berbilangan-4; kelopak seperti mangkuk, panjangnya sekitar 4 mm; mahkota lepas-lepas, putih, 2,5- 3,5 mm; benang sari banyak, lebar 3 mm, terkumpul dalam 4 kelompok, lekas rontok; piringan tengah agak persegi, jingga kekuningan.buni membulat atau agak tertekan, 12 mm, bermahkota kepingkehitaman apabila masak.

  Pohon ini ditemukan tumbuh liar di dan 1.300 m dpl (di Thailand); kebanyakan merupakan pohon penyusun tajuk bawah (Dalimartha, 2007).

  Di samping itu salam ditanam di kebun-kebundan lahan- lahan yang lain, terutama untuk diambil daunnya. Daun salam liar hampir tak pernah dipergunakan dalam masakan, selain karena baunya sedikit berbeda dan kurang harum, salam liar juga menimbulkan rasa agak pahit.

74. Terok

Gambar 4.73 Terok

  Terok merupakan tanaman jenis perdu yang hidup dengan cara memanjat tanaman lain. Terok masih termasuk tumbuhan dikotil, tidak bersifat epifit karena akar utamanya masih berada di dalam tanah. Terok cukup sulit untuk ditemukan karena sifat hidupnya diantara pepohonan yang tinggi sehongga terok hanya dapat dikenali melalui buahnya yang jatuh ketanah. Buah terok berwarna merah, bentuknya pipih mirip seperti buah secang hanya saja buah terok memiliki semacam rambut diseluruh permukaan buahnya dan rambut ini dapat lepas dengan mudah ketika disentuh oleh manusia, selain mudah lepas, daun ini akan menempel dikulit, menancap pada pori

  • – pori kulit sehingga mengakibatkan rasa gatal yang berujung pada isritasi kulit. Terok dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati Tubercolosis (TBC).

  75. Tempera / Nangsi (Villebrunia rubescens Bl.)

Gambar 4.74 Tempera / Nangsi ( Villebrunia rubescens Bl.)

  Tempera merupakan tanaman sejenis perdu dengan tinggi antara 3-8 meter. Buah tempera kecil berwarna kuning. Tempera biasa hidup didaerah pegunungan dengan ketinggian hingga 1400 m dpl. Tempera memiliki daun berbentul lanset, berwarna hijau, pertulangan menyirip. Tanaman ini memiliki cairang yang keluar dari batang dan dapat diminum lalu dimanfaatkan sebagai bahan untuk mengobati penyakit kesulitan kencing atau digunakan untuk mengobati bengkak pada mata.

  76. Pengooq Peay Pengooq Peay merupakan tanaman jenis perdu yang hidup didataran dengan ketinggian hingga 1200 m dpl. Pengooq Peaya biasa ditemukan hidup didaerah perbukitan, lereng gunung, dan hutan dipterocarpae campuran. Pengooq Peay memiliki tinggi hingga 2 m, diameter batang 3-6 cm, warna batang kelabu, dan percabangan simpodial serta sistem perakaran tunggang.

  Daun Pengooq Peay berbentuk lanset dengan ujung dan pangkal daun runcing; warna daun hijau tua, panjang daun 5-8 cm, lebar daun 2 cm,

Gambar 4.75 Pengooq Peay

  Buah Pengooq Peay berbentuk seperti kacang polong, berwarna hijau dengan bentuk didak beraturan. Buah berkumpul dalam satu tandan, setiap tandan dapat memiliki buah antara 20-25 butir buah.

77. Tetukng Galekng / Sarang Semut (Myrmecodia sp)

  Sarang semut adalah tumbuhan epifit (menempel pada tumbuhan lain yang lebih besar tetapi bukan parasit) yang batangnya menggelembung besar dimana di dalamnya banyak terdapat ruang atau rongga kecil yang dihuni semut. Tumbuhan sarang semut banyak tumbuh di Malaysia, Filipina, Kamboja, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Papua, Papua Nugini, Cape York sampai ke Kepulauan Solomon.

Gambar 4.76 Tetukng Galekng / Sarang Semut ( Myrmecodia sp)

  Di Papua populasi sarang semut sangat banyak karena daerahnya sebagian besar adalah dataran tinggi, tempat yang tepat bagi tumbuhan sarang semut untuk berkembang biak, yaitu di atas 600 mdpl (meter di atas permukaan laut). Satu tumbuhan sarang semut selalu dihuni oleh satu jenis semut. Tercatat, ada 26 jenis tumbuhan sarang semut. Dan tumbuhan sarang semut yang dipakai untuk pengobatan adalah spesies Myrmecodia pendens.

  Jenis ini banyak tumbuh di daerah Wamena, Papua Bentuknya mirip umbi, di bawah batang tanaman yang menggelembung. Bagian yang menggelembung itulah yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat dan digunakan masyarakat sebagai tanaman obat. Di dalamnya terdapat tiga jenis semut (Irydomyrmex) sebagai penghuninya, jadi bukan sembarang sarang semut seperti tampak di beberapa ranting pahon seperti pohon Mangga (Nurmalina, 2012).

78. Tuuq Jarukng / Anggrek Macan (Grammatophyllum scriptum)

Gambar 4.77 Tuuq Jarukng / Anggrek Macan ( Grammatophyllum scriptum)

  Grammatophyllum scriptum adalah

   Pada umumnya spesies ini memiliki bunga dengan lebar sampai 4,5 cm, dengan warna hijau serta tanda berwarna cokelat tua. G. scriptum merupakan tanaman asliyang bisa ditemukan di dataran rendah pesisir (100 meter di atas air laut). Karena ukurannya yang besar, tanaman ini jarang ditemukan di luar budidaya lembaga botani. Anggrek macan dipercaya memiliki khasiat sebagai obat sakit pinggang atau pegal linu, cara pemanfaatannya yaitu dengan meminum air rebusan akarnya.

79. Tuuq Nayuq (Saccharum sp.)

Gambar 4.77 Tuuq Nayuq ( Saccharum sp.)

  Tuuq Nayuq merupakan tanaman sejenis tebu hanya sajaTuuq Nayuq berwarna merah. Tidak ada perbedaan lainnya dari tebu biasa selain warna batangnya yang berwarna merah. Tuuq Nayuq biasa tumbuh liar akan tetapi ada beberapa penduduk yang membudidayakan Tuuq Nayuq sebagai bahan obat-obatan keluarga. Tuuq nayuq dipercaya memiliki khasiat sebagai penawar racun dan peluruh batu ginjal.

80. Pemusiiq Taluutn

Gambar 4.79 Pemusiiq Taluutn

  Pemusiiq Taluutn merupakan tanaman sejenis rumput yang hidup di padang rumput, daerah perbukitan maupun lereng gunung. Sangat sedikit informasi mengenai tanaman ini. Tinggi Pemusiiq Taluutn mencapai 30 cm, daun lanset, pertulangan daun sejajar, akarnya serabut. Pemusiiq Taluutn memiliki cirri khas yaitu pada bagian akarnya terdapat seperti umbi yang berisi daging akar. Warna akar Pemusiiq Taluutn berwarna putih. Pemusiiq taluutn dipercaya memiliki khasiat sebagai obat asthma. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa orang Dayak Tunjung Linggang memiliki kemampuan untuk mengenali jenis tumbuhan obat melalui ciri-ciri khusus, cara hidupnya, habitat dan sebagainya sehingga mereka dapat membedakan dua jenis tanaman yang terlihat sangat mirip akan tetapi mempunyai perbedaan baik itu dari ciri, cara hidup, dan habitatnya. Pengetahuan ini sangat penting untuk menentukan jenis tumbuhan obat yang dibutuhkan untuk dimanfaatkan sebagai obat pada penyakit yang tepat sehingga dapat meminimalisir kesalahan yang dapat mengakibatkan keracunan atau efek samping lainnya pada orang yang mengkonsumsi.

  Selain pengetahuan untuk membedakan jenis-jenis tumbuhan, masyarakat nama dari suatu tumbuhan terutama tanaman obat. Nama tanaman diambil dan diberikan berdasarkan ciri khusus yang menonjol, habitat, kemiripan salah satu ciri dengan benda lain, dan organ tumbuhan yang paling dominan. Misalnya, orang Dayak Tunjung Linggang menyebut akar dengan sebutan brakat, batang dengan sebutan

  

lengaan , daun dengan sebutan rootn, dan buah dengan sebutan ugan. Sebutan ini akan

  digunakan sebagai dasar pemberian nama bagi tanaman tersebut terutama tanaman dengan salah satu organnya yang lebih dominan, cth : Brakat Kerurang (Solanum

  spp.) , Brakat lutuuq kuning (Bambusa vulgaris).

  Selain pemberian nama yang menggunakan ciri atau organ yang paling dominan, nama tumbuhan juga dapat diberikan dengan berdasarkan pada habitat dan ciri dari tanaman yang mirip dengan benda atau tanaman lain yang mungkin tidak ada hubungannya secara klasifikasi. Contoh : Pemusiiq Taluutn, dalam bahasa tunjung

  

pemusiiq = pengisi; taluutn = hutan. Bila diartikan pemusiiq taluutn = pengisi hutan,

  sebutan ini diberikan karena orang Dayak Tunjung Linggang sendiri tidak mengetahui dengan pasti dan spesifik nama dari tanaman tersebut sehingga hanya disebut sebagai “pengisi hutan”. Sebutan pemusiiq taluutn ternyata tidak hanya diberikan pada satu jenis tanaman saja akan tetapi beberapa jenis tanaman yang ada di hutan tetapi tidak diketahui namanya, walaupun begitu orang Dayak Tunjung Linggang tetap dapat membedakan jenis

  • – jenis tanaman itu meskipun memiliki nama yang sama.

D. Organ Tanaman Obat Yang Dimanfaatkan sebagai Ramuan Obat

  Dalam pemanfaatannya, tanaman obat memiliki fungsi yang berbeda tergantung dari organ tumbuhan yang diambil dan jenis penyakit yang ingin berbeda sehingga suatu tanaman obat dapat menyembuhkan lebih dari satu jenis penyakit.

  Pengumpulan data organ tanaman yang digunakan berdasarkan data tanaman obat yang dikumpulkan lalu dilanjutkan dengan mengidentifikasi organ tumbuhan bagian mana saja yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Tidak semua organ tanaman dapat digunakan sebagai obat, bahkan beberapa tanaman dikenal beracun. Oleh karena itu pemilihan bagian tumbuhan yang tepat sangat penting bagi pemanfaatan tanaman obat itu sendiri agar tidak terjadi kesalahan yang fatal ketika digunakan.

  Organ tanaman obat dapat digolongkan berdasarkan organ akar, batang, biji, buah, bunga, daun, rimpang, umbi. Data dari organ tanaman obat tersebut dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Proporsi Organ Tanaman Yang Digunakan

  

Nama Organ Jumlah

  Akar

  10 Batang

  15 Biji

  2 Buah

  5 Daun

  20 Bunga

  3 Rimpang

  10 Semua bagian tanaman

  10 Umbi

  5 TOTAL

  80 Berdasarkan data yang diperoleh organ dari total tanaman obat yang paling

  banyak digunakan adalah bagian daun sedangkan yang paling jarang digunakan adalah bagian biji. Organ tanaman yang digunakan hanya satu bagian dari suatu tumbuhan walaupun ada beberapa tanaman yang dapat digunakan semua bagian tanaman sebagai obat. Bagian biji sedikit digunakan karena pada umumnya beberapa kimia yang beracun pada biji ataupun buah. Beberapa bagian lain yang digunakan adalah batang, akar, rimpang, bunga dan umbi.

  Batang biasanya dimanfaatkan dengan cara direbus atau dihancurkan untuk diambil ekstraknya, namun beberapa metode pemanfaatan hanya memanfaatkan getah yang dikeluarkan dari batang tanaman tersebut untung dioleskan atau ditempelkan. Akar, rimpang, bunga dan umbi diamanfaatkan dengan cara direbus atau dihancurkan untuk kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang akan diobati.

  Umumnya tanaman obat yang hanya diambil satu bagian, bagian lainnya yang tersisa akan dibuang. Contoh dari tanaman yang digunakan satu bagian saja antara lain Brakat kerurang / Solanum spp (akar), Sepaai (batang), Nyelutuui putaakng (buah & biji), isak – isik (bunga), lejaaq uraakng (rimpang), Pengooq peay (umbi). Sedangkan jenis tanaman yang dapat digunakan semua bagian umumnya berbentuk tanaman herba seperti pemusiiq taluutn (semua bagian) yang dimanfaatkan untuk mengobati penyakit asthma, Pemusiiq taluutn dimanfaatkan dengan mengambil semua bagian dari tanaman tersebut untuk kemudian direbus dan dikonsumsi air rebusannya.

  E.

  

Jenis Penyakit Yang Terdapat Di Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang

  Untuk mempermudah dalam menganalisa jenis penyakit yang terdapat di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang maka jenis penyakit digolongkan kedalam beberapa golongan yaitu luka luar, kram / kejang-kejang, penyakit kulit, terkilir, bengkak, penawar / penangkal racun, sakit gigi, vitalitas & daya tahan tubuh, luka dalam, kanker, kosmetik, dan penyakit dalam.

  Selain menggolongkan jenis penyakit dan pemanfaatannya, data juga disajikan dalam bentuk histogram untuk mengetahui jenis penyakit dan metode pemanfaatan seperti apa yang paling banyak terdapat di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang. Data dari jumlah dan jenis penyakit dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3. Proporsi Jenis Penyakit Yang Dapat Diobati Jenis Penyakit Jumlah

  Luka luar

  17 Kram / Kejang-kejang

  1 Penyakit kulit

  8 Terkilir

  2 Bengkak

  7 Sakit gigi

  6 Vitalitas & Daya tahan tubuh

  10 Luka dalam

  5 Kanker

  3 Penyakit dalam

  20 TOTAL

  79 Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar tanaman obat memiliki

  fungsi untuk menyembuhkan lebih dari satu penyakit sehingga jenis penyakit yang dapat diobati berjumlah lebih banyak daripada jumlah tanaman obat itu sendiri, selain itu jenis penyakit yang dapat disembuhkan oleh suatu tanaman tertentu dapat bertambah apabila tanaman tersebut dapat dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang ditemukan dilingkungan sekitar baik yang bersumber dari sesama tumbuhan maupun hewan atau bahkan dari sumber abiotik lainnya sehingga membentuk suatu formula obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang membutuhkan metode pengobatan yang spesifik misalnya, untuk mengobati penyakit cacar air, masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang mengkombinasikan tanaman Jagokng

  

mangur (jagung muda) + belimikng tunyuk (belimbing sayur) + ocok pare (pucuk

  pare) yang dihancurkan sampai halus kemudian dibentuk seperti lotion sedangkan orang Dayak Tunjung Linggang menyebutnya sebagai Burai, setelah itu burai yang

  Dari hasil penelitian, jenis penyakit yang umumnya muncul di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang yang dapat diobati oleh tanaman obat adalah jenis penyakit seperti penyakit dalam. Penyakit dalam yang dimaksud dalam hal ini misalnya disentri, kencing darah, batu ginjal, dll. Kemudian luka luar, yang dimaksud dengan luka luar adalah luka yang terjadi diluar tubuh (pada daerah kulit). Luka luar yang paling banyak muncul adalah luka akibat tersayat benda tajam, kecelakaan, dll.

  Selain penyakit dalam dan luka luar, vitalitas & daya tahan tubuh menjadi salah satu permasalahan yang umum dikalangan masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang hal ini dikarenakan beratnya aktivitas sehari-hari terutama kaum pria sehingga mereka memanfaatkan tanaman herbal sebagai ganti suplemen untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

  Selain mengobati penyakit, beberapa tanaman obat yang ada di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang juga berfungsi sebagai kosmetik misalnya sebagai obat awet muda, mengencangkan kulit, mengurangi bau badan, menghilangkan jerawat, dll.

F. Jenis Metode Pemanfaatan Tanaman Obat

  Dalam pemanfaatannya sebagai tanaman obat, metode pemanfaatan yang dipakai tentu saja berbeda dan bervariasi tergantung dari jenis tanaman dan jenis penyakit yang akan diobati. Metode-metode tersebut adalah direbus, dioleskan, ditempelkan, dikonsumsi mentah-mentah dan diuapkan atau dijadikan sauna.

  Dalam mengobati penyakit dalam biasanya tanaman dimanfaatkan dengan cara merebus bagian tanaman yang dipercaya memiliki khasiat kemudian air dari rebusan tersebut diminum atau dikonsumsi hingga sembuh dari penyakit. Umumnya mengatasi masalah ini orang Dayak Tunjung Linggang menambahkan campuran air aren atau madu agar rasa air rebusan menjadi lebih manis ketika dikonsumsi.

  Metode pemanfaatan yang menggunakan cara pengolesan biasanya dilakukan pada jenis penyakit luar seperti penyakit kulit, luka luar, luka bakar bahkan digunakan juga sebagai pengganti kosmetik. Dalam metode ini, tanaman obat yang akan dimanfaatkan diambil salah satu bagian tumbuhan tersebut yang dipercaya memiliki khasiat kemudian ditumbuk dan dilumat hingga halus kemudian kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang membutuhkan. Umumnya metode ini tidak dapat dilakukan hanya sekali sehingga perlu dilakukan berkali-kali hingga penyakit tersebut sembuh.

  Metode ini biasanya dapat menggunakan bahan tunggal atau satu jenis tanaman saja namun dapat juga menggunakan suatu formula sehingga membutuhkan bahan-bahan lain yang dapat membantu proses penyembuhan. Contoh dari pemanfaatan satu jenis tanaman adalah pemanfaatan tanaman Nilapm sebagai obat alergi pada kulit, Daun nilapm diambil kemudian dihancurkan lalu dioleskan pada bagian tubuh yang terkena alergi kulit. Sedangkan contoh dari metode pengolesan dengan menggunakan formula yaitu pada pengobatan penyakit herpes. Pada penyakit ini orang Dayak Tunjung Linggang mengkombinasikan tanaman Paatn mangur (Areca catechu) + rootn rakap (Piper betle), kedua bahan tersebut dihancurkan secara bersamaan hingga halus kemudian ditambahkan sedikit air lalu dioleskan pada bagian tubuh yang terkena penyakit herpes.

  Dalam pengobatan penyakit luar seperti luka dan penyakit kulit, metode pemanfaatan dengan cara dioleskan bukanlah menjadi satu-satunya metode yang dapat digunakan, dalam mengobati penyakit seperti ini, masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang juga menggunakan metode lain yaitu dengan cara menempelkan tanaman obat yang telah diolah pada bagian tubuh yang terkena penyakit kulit atau luka.

  Pemanfaatan tanaman obat dengan metode ini umumnya sangat efektif terhadap proses penyembuhan luka luar, metode penempelan dapat membantu mempercepat proses pembekuan darah sehingga apabila terjadi luka akibat sayatan benda tajam, pendarahan yang terjadi dapat diminimalisir. Contoh dari metode ini adalah pemanfaatan tanaman Melastoma affine atau yang biasa dikenal dengan Harendong, Orang Dayak Tunjung Linggang menggunakan daun yang masih muda dari Melastoma affine untuk mengobati luka akibat sayatan benda tajam, yaitu dengan cara menghancurkan daun tersebut hingga hancur lalu kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang terluka.

  Selain menghancurkan dengan cara ditumbuk, daun Melastoma affine biasanya dikunyah karena reaksi antara kandungan kimia yang ada di dalam daun

  

Melastoma affine dengan air liur dipercaya memiliki khasiat yang lebih baik daripada

  daun yang dihancurkan dengan cara ditumbuk. Metode pemanfaatan tanaman obat dengan cara ditempelkan ini sangat efektif apabila dilakukan sebagai bentuk Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), berbeda dengan metode pengolesan yang biasanya perlu dilakukan berkali-kali.

  Beberapa tanaman dalam pemanfaatannya tidak perlu diberi perlakukan khusus. Ocok jamuu (Psidium guajava), orang Dayak Tunjung Linggang memanfaatkan tanaman ini sebagai obat untuk diare yaitu dengan cara mengambil bagian pucuk dari Psidium guajava lalu dimakan mentah-mentah.

  Metode yang terakhir adalah diuapkan atau dijadikan sauna. Sejak dahulu orang Dayak Tunjung Linggang telah mengenal formula-formula dari tanaman yang bau badan. Sauna dalam bahasa Dayak Tunjung Linggang dikenal dengan istilah

  

reruukng , reruukng biasanya dilakukan oleh kalangan wanita khususnya bagi yang

  baru selesai melahirkan, reruukng dipercaya dapat membuang “keringat jahat” yang ada di dalam tubuh ketika proses melahirkan. Formula untuk reruukng umumnya adalah Hamuukng + Kerehau + Ocok kelepapaq + Ocok runuukng + Serai Limau dimana semua bahan ini dikumpulkan menjadi satu kemudian direbus lalu dibawa kesuatu ruangan kecil dan tertutup agar uap yang dihasilkan dapat memberikan hasil yang maksimal.

G. Sumber Perolehan Tanaman Obat

  Masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang sejak zaman dahulu merupakan suku yang memiliki ketergantungan besar terhadap alam dan lingkungan sehingga hampir sebagian besar tanaman diperoleh dengan cara diambil langsung dari alam. Berdasarkan pengamatan, ada 3 jenis sumber perolehan tanaman obat bagi suku Dayak Tunjung Linggang yaitu tanaman yang hidup liar, hasil budidaya dan dibeli.

  Dari total 80 tanaman yang didata, 47 jenis tanaman obat didapatkan secara liar sehingga untuk mendapatkannya orang Dayak Tunjung Linggang harus mencari tanaman tersebut dihutan walaupun ada beberapa jenis tanaman yang tidak mudah untuk ditemukan di karenakan populasi tanaman tersebut yang semakin menyusut seiring dengan terjadinya penebangan hutan secara liar dan pembukaan lahan untuk berladang.

  Total 33 tanaman dari 80 tanaman didapatkan dari hasil budidaya, tanaman- tanaman ini biasanya merupakan tanaman yang ditanam di pekarangan rumah.

  Pembudidayaan dilakukan dengan tujuan agar tanaman obat tersebut lebih mudah

  Selain mempermudah untuk memperoleh tanaman obat, budidaya juga dilakukan untuk mengkonservasi jenis tanaman obat tertentu yang sudah sulit ditemukan. Salah satu contoh tanaman yang dibudidaya dengan tujuan konservasi adalah Tetukng

  

galeekng , tanaman ini memiliki khasiat untuk mengobati penyakit kanker akan tetapi

  tanaman ini sudah sangat jarang sekali ditemukan sehingga beberapa orang dari Suku Dayak Tunjung Linggang berinisiatif untuk membudidayakan tanaman ini agar tidak punah.

  Sumber perolehan yang terakhir untuk mendapatkan tanaman obat adalah dengan cara dibeli di pasar walaupun dari data yang didapatkan, tidak ada satupun tanaman yang didapatkan dengan cara dibeli. Akan tetapi dari informasi yang diberikan oleh beberapa informan, penulis mengetahui bahwa ada beberapa jenis tanaman obat baik campurannya yang hanya didapatkan dengan cara membeli hal ini tentu saja tidak berlaku bagi warga yang telah membudidayakan tanaman tersebut dirumahnya, namun bagi yang tidak memiliki tanaman tersebut memilih untuk membeli daripada harus mencari ke dalam hutan.

H. Pemanfaatan Tanaman Obat Sebagai Sumber Belajar Biologi

  Pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman obat ternyata masih sangat kurang, hal ini ditunjukkan dengan fakta di lapangan bahwa tidak semua orang di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang mengerti mengenai pemanfaatan tanaman oba. Dalam hal ini, pengetahuan akan pemanfaatan tanaman obat ini perlu ditingkatkan.

  Cara meningkatkan pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman obat ini baik SMP maupun SMA mengenai jenis-jenis tanaman lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai obat sehingga siswa dapat mendapatkan materi pembelajaran yang bersifat kontekstual karena semua tanaman yang ada di dalam materi pembelajaran dapat ditemukan di daerah sekitarnya.

  Hasil dari penelitian ini secara teoritis dapat digunakan sebagai salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman obat yaitu dengan cara menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan kajian dalam pembelajaran biologi terutama dalam materi keanekaragaman hayati pada kompetensi dasar “Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan

  peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi

  ” di satuan pendidikan SMA kelas X semester II (Silabus & RPP dapat dilihat pada lampiran 4 & 5).

  Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi guru dalam memberikan pembelajaran biologi yaitu dengan memanfaatkan sumber belajar yang bersifat kontekstual ketika memberikan materi mengenai keanekaragaman hayati kepada siswa khususnya di daerah kabupaten Kutai Barat.

  Dengan begitu siswa akan lebih mudah memahami, menemukan dan mengenali jenis – jenis tanaman obat.

  Untuk daerah seperti Kutai Barat, penerapan model pendekatan Inquiry pada materi pemanfaatan tanaman obat akan lebih memudahkan guru sehingga dalam menjelaskan kepada siswa, guru cukup memberikan pemahaman mengenai bagaimana pemanfaatan tanaman obat tersebut dilakukan, ciri-ciri tanaman obat, cara mendeterminasi dan tindakan apa saja yang perlu dilakukan untuk konservasi tanaman khas daerah yang sudah hampir punah.

  Selain memberikan materi, guru juga dapat memberikan tutorial dalam pembuatan herbarium sehingga hal ini dapat memicu minat dan kreatifitas siswa.

  Diakhir pertemuan, guru akan memberikan tugas mandiri tidak terstruktur yaitu tugas yang diselesaikan dan dikumpulkan pada batas maksimum yang ditentukan oleh guru dan siswa dapat mengumpulkannya kapan saja direntang antara batas maksimum yang ditentukan. Isi dari tugas itu adalah siswa diminta untuk menemukan tanaman obat (Bryophyta, Pterydophyta dan Spermatophyta), mengidentifikasi (nama daerah, umum, ilmiah), mendeskripsikan ciri dan metode pemanfaatannya, serta membuat herbarium dari tanaman tersebut.

  Dari proses belajar seperti ini diharapkan siswa akan lebih memahami mengenai materi keanekaragaman hayati terutama peranan tumbuhan terhadap kelangsungan hidup manusia khususnya tanaman obat, siswa juga belajar untuk bagaimana memanfaatkan keanekaragaman hayati dengan benar, mencintai lingkungan dan ikut membantu dalam melakukan konservasi tumbuhan yang hampir punah (Biosentris).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan

  bahwa : 1.

  Jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh suku Dayak Tunjung Linggang sangat bervariasi dengan sebagian besar merupakan Spermatophyta, selain itu terdapat sebanyak 80 jenis tanaman yang berasal dari 38 famili yang berbeda.

  2. Organ tumbuhan obat yang dimanfaatkan adalah akar, batang, biji, buah, bunga, daun, rimpang, semua bagian tumbuhan dan umbi.

  3. Jenis penyakit yang dapat disembuhkan juga bervariasi yaitu luka luar, kram / kejang-kejang, penyakit kulit, terkilir, bengkak, penangkal racun, sakit gigi, vitalitas / daya tahan tubuh, luka dalam, kanker, dan penyakit dalam.

  4. Cara pemanfaatan tumbuhan obat yang terdapat di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang yaitu direbus, dioleskan, ditempelkan, dikonsumsi mentah – mentah / segar dan di uapkan atau dijadikan sebagai sauna.

  5. Cara memperoleh tumbuhan obat di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang antara lain didapatkan tumbuh secara liar dan dibudidaya.

B. Saran 1.

  Pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman obat harus ditingkatkan, penulis menganjurkan untuk dibuat materi khusus dalam pembelajaran disekolah baik SMP maupun SMA mengenai jenis-jenis tanaman lokal yang dapat pembelajaran yang bersifat kontekstual karena semua tanaman yang ada di dalam materi pembelajaran dapat ditemukan di daerah sekitarnya.

  2. Karena masih banyak hal-hal lain dari Suku Dayak Tunjung Linggang yang belum tercantum di dalam penelitian ini maka penulis menganjurkan untuk diupayakan tindak lanjut dalam inventarisasi dan dokumentasi tanaman obat tradisional yang ada di Kabupaten Kutai Barat baik dari suku Dayak Tunjung dan suku-suku lainnya agar lebih banyak lagi tanaman obat yang dapat dieksplorasi sehingga pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman obat tidak hilang begitu saja.

  3. Selain mendokumentasikan jenis-jenis tanaman obat tradisional, dokumentasi mengenai praktek-praktek pengobatan tradisional yang menggunakan tumbuhan juga perlu dibuat sebagai bahan kajian yang mungkin akan diperlukan sebagai referensi bagi peneliti dan masyarakat serta dapat dijadikan sebagai upaya untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal agar tidak luntur.

  

DAFTAR PUSTAKA

Andrianto, T.T. 2011. Ampuhnya Terapi Herbal Berantas Berbagai Penyakit Berat.

  Najah. Yogyakarta. Anna, L.K. 2011. Kepercayaan Masyarakat Pada Obat Herbal Makin Tinggi. s tanggal 19 september 2013.

  Anonim, 2010. The Plant Lists tanggal 2 agustus 2013. Anonim. 2012. The International Plant Names Indexdiakses tanggal 2 agustus 2013.

  Anonim. 2012. Your Plant Databasediakses tanggal 20 juli 2013.

  Anonim. 2013. Tropicoses tanggal 5 agustus 2013. Anonim. 2007. Kutai Barat Dalam Angka Tahun 2007. Sendawar: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Barat.

  Anonim. 2011. Kutai Barat Dalam Angka Tahun 2011. Sendawar: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Barat.

  C.A .BACKER, D.Sc. (urtrecht) & R. C. Bakhuizen van den brink Jr, Ph. D. 1972.

  Flora Of Java (Spermatophytes Only) , Netherlands.

  Daldjoeni, N. 1982. Geografi Kesejarahan I (Peradaban Dunia). Bandung: Universitas Negeri Malang.

  Dalimartha, S. 2007. Atlas Tumbuhan Obat Indonesiauspa Swara. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Registrasi Jenis Obat-obatan.

  Edisi VI. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. DEPKESRI. 2006. Invetaris Tanaman Obat Indonesia (VI). Jakarta: DEPKESRI Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Jakarta: BALITBANG Kehutanan.

  Jacobs, M. 1982. The study of minor forest products. Flora Malesiana Bulletin 35: 3768-3782 p.

  Kebler PJA, Sidiyasa K. 1999. Pohon-Pohon Hutan Kalimantan Timur: Pedoman .

  mengenal 280 jenis pohon pilihan di daerah Balikpapan-Samarinda Balikpapan: The Tropenbos Foundation.

  Lahajir, Y. 2001. Etnoekologi perladangan orang Dayak Tunjung Linggang (Etnografi lingkungan hidup di Dataran Tinggi Tunjung). Yogyakarta: Galang Press.

  Miles, B.B., dan A.M. Huberman. 1992. Analisa Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.

  Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalio Indonesia Nurmalina, R. 2012. Herbal Legendaris Untuk Kesehatan Anda. Jakarta: Bandung Valley.

  Oswald, T. T. 1995. Tumbuhan Obat Bagi Pencinta Alam. Jakarta: Cetakan II.

  Penerbit Bhratara Niaga Media. Purwanto, Y. 2003. Studi etnoekologi masyarakat Dani-Baliem dan perubahan

  lengkungan di lembah Baliem, Jayawijaya, Irian Jaya . Jakarta: Pusat Penelitian Biologi LIPI.

  Rahayu, Y. D. 2005. Kajian Potensi Tumbuhan Obat di Kawasan Malinau Research

  Forest (MRF) CIFOR Kabupaten Malinau Kalimantan Timur . Tesis Program

  Studi Ilmu Kehutanan. Program Pascasarjana Magister. Universitas Mulawarman. Samarinda. Sulaksana, J., & D. I. Jayusman. 2005. Keji Beling : Mencegah dan Menggembur Batu Ginjal . Cetakan I. Penebar Swadaya. Jakarta.

  Suprapto, W. 2000. Toga (Tanaman Obat Keluarga): pengobatan alternatif. Jakarta: Pusat Kajian Masyarakat UNIKA Atma Jaya.

  Suryadarma, I.G.P. 2005, Konsepsi Kosmologi dalam Pengobatan Usada Taru Pramana. Journal of Tropical Ethnobiology . Vol. 2, No. 1,. Januari 2005.

  LIPI. Bogor. Sutrisno, H. 1986. Metode Research. hlm. 42. Jakarta: Andi Offset. Syamsuhidayat, S.S & Hutapea, J.R. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta: DEPKES RI.

  Toledo, M.V. 1992. What is Ethnoecology? Origen, Scope and Implications of A

  Rising Dicipline. Ethnoecologica, vol. 1(1) : 5 – 21.

  Zein, U. 2005. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Dalam Upaya Pemeliharaan Kesehatan . Fakultas Kedokteran USU. Medan.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengelolaan zona pemanfaatan ekosistem mangrove melalui optimasi pemanfaatan sumberdaya kepiting bakau di Taman Nasional Kutai provinsi Kalimantan Timur
5
61
293
Pemberdayaan Peladang Berpindah : Kasus Kabupaten Kutai Kertenegara, Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Barat di Provinsi Kalimantan Timur
0
53
523
Etnoekologi perladangan dan kearifan botani lokal masyarakat dayak benuaq di Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur
9
118
372
Pemberdayaan Peladang Berpindah Kasus Kabupaten Kutai Kertenegara, Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Barat di Provinsi Kalimantan Timur
0
10
254
Pengelolaan zona pemanfaatan ekosistem mangrove melalui optimasi pemanfaatan sumberdaya kepiting bakau (scylla serrata) di Taman Nasional Kutai provinsi Kalimantan Timur
0
43
572
Perubahan penutupan lahan di Taman Nasional Kutai provinsi Kalimantan Timur
1
10
68
Etnoekologi perladangan dan kearifan botani lokal masyarakat dayak benuaq di Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur
2
94
726
Menggali simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan dalam perkawinan Gereja Katolik di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur.
3
51
144
Studi etnobotani pemanfaatan tumbuhan upacara adat Suku Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur.
0
16
275
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur.
1
3
174
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur.
3
26
174
Studi etnobotani pemanfaatan tumbuhan upacara adat Suku Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur
0
2
273
Menggali simbol simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan dalam perkawinan Gereja Katolik di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur
2
32
142
Inventarisasi tumbuhan obat tradisional masyarakat Suku Dayak Bakumpai di Kecamatan Murung Kabupaten Murung Raya - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
9
156
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur - USD Repository
0
0
172
Show more