Peran film “Cheng-Cheng Po� untuk mananamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di Stasi Santo Antonius Padua, Paroki Santo Hendrikus, Melolo, Sumba Timur - USD Repository

Gratis

0
0
128
4 months ago
Preview
Full text

  

PERAN FILM “CHENG-CHENG PO”

UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN

BAGI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA,

PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR

  

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu

  Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Magdalena Mada Hede NIM: 051124028

  

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2009

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada () Hendrikus Hede Lobo & Lusia Dia Bunga;

  Kakak-kakak & adik-adikku, Para remaja Katolik di Stasi St. Antonius Padua, Palakahembi, Sumba Timur

  

MOTTO

  “Aku adalah aku, tanpa Dia aku bukanlah siapa-siapa”

  

ABSTRAK

  Skripsi ini berjudul ”PERAN FILM ’CHENG-CHENG PO’ UNTUK

  

MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN BAGI REMAJA KATOLIK DI

STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO,

SUMBA TIMUR”. Adapun penulisan ini berawal dari keprihatinan penulis bahwa tindakan

  kekerasan, pertikaian, pelanggaran HAM, penindasan terhadap kaum perempuan dan anak, dan konflik baik karena perbedaan suku, budaya, maupun bahasa, semua itu menjadi problem yang belum dapat diselesaikan. Situasi itu mengakibatkan hidup manusia menjadi tidak nyaman, damai dan tentram. Menciptakan dunia yang damai adalah tanggung jawab setiap pribadi. Remaja Katolik stasi St. Antonius Padua pun ikut bertanggung jawab dalam tugas ini.

  Remaja Katolik stasi St. Antonis Padua adalah penerus Gereja pada masa yang akan datang dan mereka ini diharapkan mampu menjadi pewarta kabar gembira (damai). Seiring dengan perkembangan jaman terlebih dalam dunia hiburan (film) kebanyakan remaja terpengaruh oleh tawaran-tawaran negatif dan akhirnya mempengaruhi pembentukan karakter para remaja. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua pun telah terpengaruh oleh tawaran-tawaran negatif dari media hiburan (film). Hal ini terlihat jelas dari pola pikir, cara berbicara, bertindak dan masih banyak lagi. Oleh karena itu diperlukan suatu pendampingan iman lewat katekese dengan menggunakan media audio visual. Menggunakan media audio visual (film) dalam katekese diharapkan remaja stasi St. Antonius Padua mampu mengambil hal yang positif dari tayangan yang ada.

  Katekese dengan menggunakan media (film Cheng-cheng Po), dinilai sesuai dengan situasi para remaja di stasi St. Antonius Padua. Oleh karena itu penulis mengadakan eksperimen dengan menggunakan film “Cheng-cheng Po” sebagai salah satu cara untuk menanamkan nilai semangat perdamaian. Dari praktik katekese audio visual dan evaluasi, penulis dapat menyimpulkan bahwa proses katekese dengan menggunakan film “Cheng- cheng Po” dapat menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua. Berdasarkan kenyataan di atas, penulis berharap agar Gereja terus mengupayakan katekese audio visual bagi remaja untuk menanamkan semangat perdamaian. Hal ini sangat penting karena remaja adalah pribadi yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan, oleh karena itu mereka perlu dibimbing.

  

ABSTRACT

  This writing entitled “THE ROLE OF THE MOVIE OF CHENG-CHENG PO”

  

TO BUILD UP THE SPIRIT OF PEACE TO THE CATHOLIC TEENAGERS THE

STATION OF SANTO ANTONY OF PADUA OF SANTO HENDRICK PARISH IN

MELOLO EAST-SUMBA. This writing appears for the observation of the writer

  concerning to the violence toward women and child and the conflict of discrimination, culture, language which have no way out; can not be solved up to this present moment. People live in the situation of violence where they find that peace and harmony seems to be far from them. Everyone, however, is responsible to create and to and bring peace to our world as well as the Catholic youth too.

  The teenagers of St Antony of Padua station are the successors of the Church in the future. Therefore, they are demanded to proclaim the good news to the world (Peace). Living in the modern life, many teenagers have been influenced by the worldly things that effect their personality and characteristic as a human person. According to the observation of the writer, there so many teenagers of St Antony of Padua station have been influenced by the worldly entertainments too. This problem can be seen from the way they think, speak, and behave etc. Therefore they need a good guidance for their faith through catechism through the means of the audio visual media. Actually, the teenagers of St Antony of Padua station are demanded to grasp or to take the positive thing from whatever has been presented or shown through this audio visual media.

  Catechism through this media (The movie of “Cheng-Cheng Po”) is appropriate to the teenagers of St. Antony of Padua satiation. That is the reason why the writer used this method for her experiment toward teenagers in building up the sense of peace. From what she has done, a conclusion appears that the catechism through the movie of “Cheng-Cheng Po” can be really helpful to teenagers of St. Antony of Padua station to be aware what the peace really is. Therefore, the writer hope that the Church can continue using this audio visual catechism for the betterment of the teenagers regarding to build up the sense of peace. The most important is that they are still young and they really need the guidance for their growth as a human person.

KATA PENGANTAR

  Syukur dan pujian kepada Tuhan karena keagungan cinta-Nya yang telah penulis terima, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul ”PERAN FILM

  

’CHENG-CHENG PO’ UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN

BAGI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI

SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR”.

  Penulisan skripsi ini sungguh telah menyerap perhatian, dorongan serta bantuan dari orang-orang yang sungguh memiliki cinta. Oleh karena itu pada kesempatan ini, secara istimewa penulis menghaturkan terima kasih yang tulus kepada: 1.

  Drs. Y.I. Iswarahadi S.J., M.A. selaku dosen pembimbing I dan dosen penguji utama yang begitu sabar, tulus, dan setia mendampingi dan mendukung penulis dari awal hingga penulisan skripsi ini selesai.

  2. Dra. J. Sri Murtini, M.Si., selaku dosen pembimbing akademik dan sekaligus dosen penguji II yang selama ini telah mendampingi dan mendukung penulis selama kuliah di

  IPPAK.

  3. Dra. Y. Supriyati, M.Pd., selaku dosen penguji III atas kesediaannya dalam memberikan masukan dan saran demi menyempurnakan skripsi ini.

  4. Seluruh staf dosen dan karyawan IPPAK-USD Yogyakarta yang telah membantu dan mendidik penulis selama studi.

5. Bapak Martinus Luna, selaku guru agama dan sekaligus pendamping umat di stasi St.

  Antonius Padua yang dengan tulus membantu dan mendukung penulis selama praktik kateksese audio visual.

  6. Bapak Marsel, Yohan, Agus, Arky, dan Putri Hede yang telah membantu penulis mulai dari penyebaran kuesioner hingga pelaksanaan katekese.

  7. Fr. Flori, BHK yang telah menemani dan yang selalu memotivasi penulis sejak awal masuk kuliah hingga menyelesaikan skripsi ini.

  8. Keluarga bapak Agus yang telah membantu penulis dengan tulus baik secara materi , doa, perhatian, dan juga cintanya sejak masuk kuliah hingga lulus.

  9. Martin Lamury. Terimakasih untuk cinta, kritik, saran, sehingga penulis terdorong untuk menyelesaikan skripsi ini.

  10. Papa () dan Mama, kakak-kakak, dan adik-adik penulis, yang sudah mendukung penulis baik secara materi, perhatian, cinta, dan doa.

  11. Teman-teman remaja Katolik stasi St. Antonius Padua, yang telah ambil bagian dan membantu penulis baik dari penelitian hingga pelaksanaan katekese.

  12. Teman-teman angkatan 2005-2006, kehadiran kalian telah memotivasi penulis untuk tidak menyerah dan terus berjuang dalam menyelesaikan studi di IPPAK.

  13. Sahabatku ada Henny, Anas, Eri, Lisna, Nuri, Desy, dan Lusy, kehadiran kalian membawa warna tersendiri dalam hidup penulis.

  14. Semua saja yang dengan caranya masing-masing telah membantu penulis dalam penulisan skripsi ini.

  Menyadari akan keterbatasan yang dimiliki maka penulis sangat mengharapkan masukan dan saran guna menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini tidak hanya sebagai prasyaratan kelulusan saja namun dapat juga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

  Yogyakarta, 2 September 2009 Penulis,

  Magdalena Mada Hede

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................................ iv MOTTO ...............................................................................................................................v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................................ vi PERNYATAAN PUBLIKASI .......................................................................................... vii ABSTRAK ...................................................................................................................... viii ABSTRACT ...................................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................................ x DAFTAR ISI ..................................................................................................................... xi

  BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 A. Latar Belakang Penulisan Skripsi .................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah .......................................................................................................... 4 C. Tujuan Penulisan ............................................................................................................ 4 D. Manfaat Penulisan .......................................................................................................... 5 E. Metode Penulisan ........................................................................................................... 5 F. Sistematika Penulisan ..................................................................................................... 6 BAB II. MEDIA AUDIO VISUAL DAN KATEKESE .................................................... 8 A. Media Audio Visual ...................................................................................................... 8 1. Pengertian Audio Visual ........................................................................................ 9 2. Katekese Audio Visual .........................................................................................10 3. Pandangan Gereja Katolik tentang Media Komunikasi ........................................11 a. Pandangan Gereja Katolik dalam Inter Mirifica .............................................11 b. Pandangan Gereja Katolik dalam Communio Et Progressio ..........................13 c. Pandangan Gereja Katolik dalam Aetatis Novae ...........................................13 B. Pengertian Katekese .................................................................................................... 14 1. Tujuan Katekese .................................................................................................... 16 2. Isi Katekese ........................................................................................................... 16 3. Proses Katekese .................................................................................................... 16

  4. Peserta Katekese ................................................................................................... 17 C. Katekese melaui Film untuk Menanamkan Semangat Perdamaian ............................ 17 1.

  Pengertian Film dan Jenis Film............................................................................. 17 2. Kedudukan Film di Mata Remaja ......................................................................... 18 3. Kekuatan dan Kelemahan Film ............................................................................. 18 4. Peranan Film untuk Menanamkan Semangat Perdamaian ................................... 19

  D. Gambaran tentang Perdamaian ................................................................................... 20 1.

  Pengertian Perdamaian .......................................................................................... 20 2. Perdamaian menurut Mahatma Gandhi ................................................................ 20 3. Perdamaian menurut Kitab Suci ........................................................................... 21

  

E. Kaum Remaja dan Permasalahnnya ............................................................................. 22

  BAB III. SITUASI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR DAN USAHA UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN MELALUI FILM ”CHENG-CHENG PO” ...................................................... 26 A. Gambaran situasi Remaja Katolik di Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur ............................................................. 26

  1. Pembagian Basis .................................................................................................... 27

  2. Jumlah Umat ........................................................................................................... 27

  3. Situasi Kaum Muda dan Permasalahannya ............................................................. 27 B. Penelitian dan Pembahasan ......................................................................................... 28

  1. Tujuan Penelitian .................................................................................................... 28

  2. Manfaat Penelitian .................................................................................................. 28

  3. Metode Penelitian ................................................................................................... 28 4.

  Responden .............................................................................................................. 29 5. Instrumen Penelitian ............................................................................................... 29 6. Waktu Tempat Penelitian ....................................................................................... 29 7. Hasil Penelitian ....................................................................................................... 30 8. Rangkuman Hasil Penelitian .................................................................................. 50

  BAB IV. PERAN FILM “CHENG-CHENG PO” UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR ................................................... 51 A. Pengertian Program ..................................................................................................... 51 B. Latar Belakang Penyususnan Program ....................................................................... 52 C. Alasan Pemilihan Tema .............................................................................................. 52 D. Program Katekese serta Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik untuk Menanamkan Semangat Perdamaian di Stasi St. Antonius Padua, Palakahembi, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng-cheng Po” .............................................................................................. 54 1.

  Program katekese audio visual bagi remaja Katolik stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng-cheng Po” ......................................... 54 2. Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo,

  Sumba Timur ........................................................................................................ 54 E. Praktik Katekese dengan Menggunakan Media Film “Cheng-cheng Po” untuk Menanamkan Semangat Perdamaian di Stasi St. Antonius Padua,

  Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur ............................................................. 54 1.

  Pelaksanaan Katekese Bagi Remaja I ................................................................... 55 2. Pelaksanaan Katekese Bagi Remaja II .................................................................. 64 F. Evaluasi Pelaksanaan Program Katekese .................................................................... 73 1.

  Hasil Evaluasi Pertemuan I ................................................................................... 73 2. Hasil Evaluasi Pertemuan II.................................................................................. 74 G. Rangkuman ................................................................................................................. 78

  BAB V. PENUTUP .......................................................................................................... 79 A. Kesimpulan ................................................................................................................. 79 B. Saran ........................................................................................................................... 80 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 81 LAMPIRAN ...................................................................................................................... 82 Lampiran 1: Kuesioner Penelitian .................................................................................... (1) Lampiran 2: Program Katekese Audio Visual ................................................................. (6)

  Lampiran 3: Contoh Persiapan Katekese ......................................................................... (8) Lampiran 4: Lembar Evaluasi Evaluator Pertemuan I ................................................... (14) Lampiran 3: Lembar Evaluator Pertemuan II ................................................................ (18) Lampiran 4: Cerita ”Sandubaya dan Lala Seruni” ......................................................... (20) Lampiran 5: Foto-foto Peserta Katekese Audio Visual ................................................. (23) Lampiran 6: Daftar Hadir Peserta Pertemuan I .............................................................. (24) Lampiran 7: Daftar Hadir Peserta Pertemuan II ............................................................ (25) Lampiran 8: Film ”Cheng-cheng Po” dalam Bentuk Compact Disc ............................. (28)

DAFTAR SINGKATAN

  A. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

AN : Aetatis Novae , Instruksi Pastoral Dewan Kepausan untuk Komunikasi

Sosial tentang Tantangan Komunikasi Dewasa ini, 2 Februari 1992.

  

CP : Communio Et Progressio, Intruksi Pastoral tentang Sumbangan Media

  bagi Kemajuan Umat Manusia serta Komitmen Orang Katolik terhadap Media, 23 Mei 1971.

  IM : Inter Mirifica, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Upaya-upaya Komunikasi Sosial, 4 Desember 1963.

  CT : Catechesi Traedendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Katekese, 16 Oktober 1979.

  B. Singkatan Lain

  Art : artikel dsb : dan sebagainya DVD : Digital Video Disc FKIP : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Fr : Frekuensi Fr : Frater HAM : Hak Asasi Manusia

  IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik KK : Kepala Keluarga

  MUDIKA : Muda Mudi Katolik No : Nomor RI : Republik Indonesia St : Santo Sta : Santa SD : Sekolah Dasar SLTP : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama SOTARAE : Situasi, Obyektif, Tema, Analisis, Rangkuman, Aksi, Evaluasi Sr : Suster TK : Taman Kanak-kanak USD : Universitas Sanata Dharma

  VCD : Video Compact Disc

BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan, penulis membahas mengenai latar belakang, perumusan

  masalah, tujuan, manfaat, metode, dan sistematika penulisan skripsi. Untuk lebih memperjelas hal-hal tersebut, berikut ini adalah uraiannya:

A. Latar Belakang Penulisan Skripsi

  Akhir-akhir ini tindakan kekerasan, pertikaian, pelanggaran HAM, penindasan terhadap kaum perempuan dan anak, dan konflik baik karena perbedaan suku, budaya, maupun bahasa menjadi problem bagi seluruh dunia. Kita di Indonesia pun mengalaminya dan problem ini membawa banyak penderitaan dan membuat orang tidak berdaya untuk mengatasinya. Orang menjadi mudah marah dan menaruh dendam, curiga, egois, dan masih banyak lagi. Akibatnya hidup manusia menjadi tidak nyaman, damai dan tentram. Usaha memupuk hidup yang tentram dan mewujudkan perdamaian menjadi amat sulit karena berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapi jaman sekarang khususnya bagi para remaja. Misalnya, pengaruh teknologi yang semakin canggih, pola hidup instan, membuat orang tidak lagi tahan menderita ataupun menghadapi kesulitan bahkan kebanyakan orang lebih cenderung untuk memilih jalan konflik dan perang.

  Masalah yang memprihatinkan di atas tentunya telah merusak relasi baik antara sesama manusia, manusia dan ciptaan lain, dan antara manusia dan Sang Pencipta. Melihat kenyataan ini, Gereja tidak tinggal diam dan mengamatinya saja. Oleh karena itu Gereja mengajak semua umat beriman untuk ikut ambil bagian dalam menciptakan perdamaian.

  Perdamaian merupakan suatu usaha dan perjuangan yang tiada henti-hentinya dilakukan oleh Gereja. Bahkan sekarang ini usaha untuk mewujudkan perdamaian diserukan di seluruh penjuru dunia. Menciptakan perdamaian tidak mungkin sekali jadi, namun membutuhkan waktu dan proses terus-menerus. Diana Mavunduse dan Simon Oxley (2006: 3) dalam bukunya Mengapa Tindak Kekerasan? Mengapa Bukan Damai? mengutip apa yang dikatakan Mother Theresa bahwa: “Perdamaian bukanlah sesuatu yang Anda inginkan, perdamaian adalah sesuatu yang Anda harus ciptakan, sesuatu yang Anda kerjakan, sesuatu yang menjadi bagian dari dirimu, sesuatu yang harus Anda berikan”.

  Kutipan ini merupakan sebuah ajakan bagi siapa saja untuk menjadi pemberi dan pencipta perdamaian. Ajakan ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Demikian juga usaha menanamkan semangat perdamaian bagi remaja di jaman sekarang sangatlah sulit. Hal ini dikatakan sulit karena melihat perkembangan dunia yang sangat pesat di mana perdamaian menjadi suatu hal yang sulit untuk dimiliki apalagi untuk dialami.

  Remaja di stasi St. Antonius Padua Palakahembi, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur adalah bagian dari Gereja. Mereka adalah remaja yang memiliki ciri, sifat, perkembangan, dan mengalami persoalan yang kiranya sama dengan remaja yang lainnya.

  Selain itu mereka juga memiliki tanggung jawab penuh dalam mengambil bagian dalam kehidupan menggereja, maupun tugas perutusan Gereja. Tanggung jawab itu bukanlah hal yang mudah untuk diemban. Selain itu sebagian hidup dari para remaja sudah tidak terpisahkan lagi oleh budaya atau tren dari media komunikasi yang memiliki berbagai macam tawaran hidup baik yang positif atau yang negatif.

  Bertitik tolak dari kenyataan di atas, kita dipanggil untuk menjadi tanda bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi setiap orang. Berarti kita diutus untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah kepada sesama. Untuk menanggapi situasi itu maka di Indonesia telah dirintis apa yang disebut dengan katekese yang bertitik tolak dari keprihatinan jemaat atau masyarakat. Katekese umat pada prinsipnya adalah bagaimana membina iman umat agar terlibat dalam masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya muncul istilah katekese audio visual.

  Media audio visual menjadi salah satu alternatif yang dipakai oleh Gereja dalam mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah di jaman modern ini. Media ini digunakan agar mempermudah umat dalam mengkomunikasikan imannya. Selain itu juga, katekese audio visual juga memberi kesempatan untuk membentuk suatu kelompok orang beriman, di mana komunikasi antarumat lebih kuat dan lebih mendalam.

  Berdasarkan uraian di atas peneliti merasa terpanggil untuk mengadakan penelitian dengan judul ”PERAN FILM ’CHENG-CHENG PO’ UNTUK MENANAMKAN

  

SEMANGAT PERDAMAIAN BAGI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO

ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR”.

  Melalui penelitian ini peneliti pada gilirannya ingin mendalami proses katekese audio visual dengan menggunakan film sebagai salah satu cara dalam pewartaan iman di dalam Gereja.

  Penulis memilih film “Cheng-cheng Po” sebagai suatu sarana dalam usaha menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik khususnya remaja di stasi St. Antonius Padua.

  Film “Cheng-cheng Po” mengandung nilai persaudaraan, adanya suatu penghargaan atas perbedaan baik itu perbedaan warna kulit, suku, dan bahasa, adanya solidaritas. Nilai-nilai itu menunjukkan adanya perdamaian di mana ada rasa tenteram, tenang, keadaan tidak ada permusuhan, dan warga dapat hidup berdampingan antara satu dan yang lain.

B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang penulisan yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan diungkapkan dalam skripsi ini, yaitu:

1. Bagaimanakah gambaran situasi remaja Katolik terhadap media audio visual? 2.

  Sejauh mana perdamaian menjadi suatu cara hidup bagi remaja Katolik di stasi St.

  Antonius Padua? 3. Sejauh mana media audio visual dimanfaatkan oleh Gereja dalam pewartaan iman? 4.

  Sejauh mana peran media audio visual khususnya film “Cheng-cheng Po” dalam usaha menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur?

C. Tujuan Penulisan

  Berdasarkan permasalahan yang diungkapkan di atas, maka penulisan ini mempunyai tujuan, yaitu:

  1. Untuk mengetahui gambaran situasi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

  2. Untuk mengetahui sejauh mana Gereja memanfaatkan media audio visual dalam pewartaan iman.

  3. Untuk membangun sikap kritis dan tanggap dalam diri remaja Katolik stasi St.

  Antonius Padua dalam melihat masalah-masalah perdamaian yang terjadi saat ini dalam kehidupan sehari-hari.

  4. Untuk memaparkan peranan media audio visual khususnya film “Cheng-cheng Po” dalam usaha menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di stasi St.

  Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

D. Manfaat Penulisan

  Berdasarkan tujuan penulisan yang telah diuraikan di atas, maka penulisan ini diharapkan dapat berguna untuk:

  1. Tulisan ini memberi sumbangan bagi karya pewartaan dengan model katekese audio visual.

  2. Para pembaca belajar serta menambah pengetahuan sehubungan dengan pewartaan iman melalui media audio visual.

  3. Tulisan ini menambah pemahaman akan pentingnya peran katekese audio visual dalam bidang pewartaan iman.

E. Metode Penulisan

  Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode deskriptif analitis dan argumentatif didasarkan pada studi pustaka. Penulis juga akan menggunakan metode penelitian sederhana di mana penulis terlebih dahulu menyebarkan kuesioner terhadap obyek yang akan diteliti. Setelah melakukan analisis terhadap data yang diperoleh melalui kuesioner, maka penulis akan mengadakan eksperimen program katekese dengan menggunakan film ”Cheng-cheng Po”. Dari pelaksanaan usulan program katekese dengan menggunakan media film penulis akan melakukan evaluasi. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana film ”Cheng-cheng Po” berperan dalam menanamkan semangat perdamaian bagi remaja katolik.

F. Sistematika Penulisan

  Tulisan ini terdiri dari lima bab. Adapun garis besar bab tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

  BAB I. PENDAHULUAN Bab ini berisikan pokok-pokok latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II. MEDIA AUDIO VISUAL DAN KATEKESE Dalam bab ini penulis berbicara mengenai ketekese audio visual dan film ”Cheng- cheng Po” untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik. Pada bab ini penulis akan mengurai lima hal pokok, yaitu menguraikan pengertian media audio visual, katekese dan film ”Cheng-cheng Po” sebagai sarana untuk menanamkan semangat perdamaian bari remaja Katolik, Gambaran tentang Perdamaian, Kaum Remaja dan Permasalahannya.

  BAB III. SITUASI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR DAN USAHA

  UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN MELALUI FILM ”CHENG-CHENG PO” Isi dari bab ini adalah situasi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St.

  Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Isi dari bab ini juga tentang perencanaan dan pelaksanaan penelitian di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Hal-hal yang akan dibahas antara lain seputar situasi yang terjadi dan hal itu berkaitan dengan remaja di stasi tersebut, hasil penelitian dan analisis.

  BAB IV. PROGRAM KATEKESE MELALUI FILM “CHENG-CHENG PO” UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR Pada bagian ini penulis akan menguraikan pengertian program, latar belakang penyusunan program, alasan pemilihan tema, program katekese dengan menggunakan film ”Cheng-cheng Po”, contoh persiapan, dan praktik katekese bagi remaja Katolik St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur, dan evaluasi kegiatan.

  BAB V. PENUTUP Bab ini berisikan kesimpulan dan saran

BAB II MEDIA AUDIO VISUAL DAN KATEKESE Pada bab ini penulis mengurai lima hal pokok. Pertama, media audio visual di mana

  penulis akan menguraikan pengertian audio visual, katekese audio visual, serta pandangan Gereja tentang media komunikasi. Kedua, katekese, pada bagian ini penulis akan menguraikan tujuan, isi, proses, dan peserta katekese. Ketiga, katekese melalui film untuk menanamkan semangat perdamaian, gambaran tentang perdamaian, dan kaum remaja dan permasalahannya.

A. Media Audio Visual

  Arti kata “media” berasal dari kata Latin yaitu “medium”. Media merupakan bentuk jamak dari medium. Kata “medium” berarti “perantara” atau “pengantar”. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.

  Media memiliki fungsi dan menurut Iswarahadi (2003: 115-117) ada empat fungsi media. Pertama, berfungsi korelatif. Media dapat menimbulkan rasa bangga dan dapat memperteguh identitas suatu kelompok. Contohnya, pertandingan bulu tangkis. Siaran ini dapat menimbulkan rasa bangga karena termasuk anggota team bulu tangkis. Kedua, kontinyuitas. Media mampu menggali nilai-nilai spiritualitas, tradisi serta nilai-nilai dasar kehidupan dan mendorong seseorang untuk memperjuangkan nilai-nilai tersebut. Media juga mampu menciptakan solidaritas. Contohnya, film “Cheng-cheng Po” dapat mendorong para penontonnya untuk menghidupi nilai-nilai yang ada. Misalnya nilai solidaritas. Dengan menghidupi nilai solidaritas maka seseorang mampu menciptakan damai bagi orang lain. Ketiga, mobilisasi. Media mampu menggerakkan massa untuk peduli terhadap kehidupan. Contohnya, media mengangkat tentang korupsi. Ada begitu banyak mahasiswa yang tergerak dan berbondong-bondong melakukan demo agar pemerintah segera membasmi para koruptor. Keempat, memberi hiburan. Ketika seseorang berhenti dari aktivitas keseharian yang melelahkan dan ingin beristirahat, maka saat inilah mereka membutuhkan media untuk melepaskan lelah. Fungsi media yang lainnya adalah sebagai pemberi informasi. Contohnya, melalui berita-berita yang disiarkan lewat televisi seseorang dapat mengetahui perkembangan yang terjadi di suatu daerah.

1. Pengertian Audio Visual

  Audio visual adalah seperangkat media komunikasi yang mampu menyampaikan pesan sejauh pesan diterima dengan panca indra. Penekanan audio visual lebih pada proses dan pesan terletak pada pengaturan tempat dan waktu (Adisusanto dan Ernestine, 1977: 8). Audio visual dapat diartikan sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan pesan. Audio visual meliputi televisi, video, sound slide, film dan lain-lain. Audio visual merupakan media yang dapat dinikmati oleh indera pendengar, namun itu dapat mengubah suatu gambaran akan sesuatu hal. Katekese audio visual adalah salah satu model dalam pewartaan iman. Dengan model ini diharapkan pewartaan yang akan disampaikan mampu diterima dan pada akhirnya mampu untuk dihayati.

  Audio visual juga merupakan seperangkat sound system yang dilengkapi dengan penampilan gambar, biasanya digunakan untuk presentasi, home theater, dsb. Audio visual menjadi media komunikasi. Audio visual sebenarnya mengacu pada indra yang menjadi sasaran dari media tersebut. Media audio visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan dari khalayak sasaran (penonton). Media komunikasi tentu saja melibatkan lebih banyak elemen media dan lebih membutuhkan perencanaan agar dapat mengkomunikasikan sesuatu. Film cerita, iklan, dan media pembelajaran adalah contoh media audio-visual yang lebih menonjolkan fungsi komunikasi.

2. Katekese Audio Visual

  Katekese tidak dapat dipisahkan dari kenyataan dunia. Oleh karena itu katekese selalu berusaha menyesuaikan diri dengannya. Akhirnya muncul katekese kontekstual dan ini merupakan usaha Gereja untuk menjawab permasalahan yang ada di dunia. Katekese kontekstual berpijak dan berangkat atas konteks hidup dan permasalahan sosial yang dihadapi umat. Katekese juga mengarah kepada pertumbuhan iman dan hal ini terwujud lewat sikap solidaritas untuk ikut mengatasi permasalahan yang ada (Iswarahadi, 1992).

  Zaman ini adalah zaman audio visual. Katekese audio visual merupakan sebuah model pewartaan dan tentunya memiliki keunggulan. Keunggulan katekese audio visual dapat menyentuh dan merangsang daya khayal. Melihat kenyataan itu Gereja dalam pewartaannya juga menggunakan media audio visual. Pewartaan Injil memanfaatkan media dengan harapan dapat mempermudah dialog antarumat.

  Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman. Kegiatan katekese bersifat eklesial. Artinya, hal itu selalu berhubungan dengan tugas Gereja. Katekese audio visual dewasa ini merupakan sebuah upaya menyampaikan pengalaman pribadi sebagai orang kristiani. Tujuan katekese audio visual adalah untuk mempererat dan memperdalam persaudaraan. Sarana yang dapat dipakai antara lain adalah sound slide, film, video, permainan teater, wayang, gambar-gambar, tape, dan rekaman- rekaman (Eilers, 2001: 230-231).

  Dalam katekese audio visual terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, komunikasi iman dibangun bukan semata-mata sebagai pelajaran atau doktrin, melainkan sebuah pertemuan rohani. Kedua adalah tempat berkatekese. Ini penting karena untuk melakukan katekese audio visual dengan baik diperlukan tempat yang benar-benar sesuai dan mendukung. Ketiga adalah bahan atau materi katekese audio visual yang akan digunakan. Memang ada banyak bahan katekese yang tersedia tetapi belum tentu itu sesuai dalam rangka katekese yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu kita perlu selektif dalam pemilihan bahan (Adisusanto, 2001: 9-10).

3. Pandangan Gereja Katolik tentang Media Komunikasi Media komunikasi memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan dunia.

  Pengaruh media komunikasi juga masuk dalam kehidupan Gereja. Hal itu terjadi karena Gereja berada di tengah dunia. Hadirnya media komunikasi sangat didukung oleh Gereja dan ini terlihat dari tiga dokumen Gereja, yaitu Inter Mirifica, Communio Et Progressio, dan

  Aetatis Novae. a.

  Pandangan Gereja Katolik dalam Inter Mirifica Di zaman yang maju ini ada begitu banyak penemuan dan salah satu wujudnya adalah munculnya berbagai macam media komunikasi sosial. Media komunikasi sosial ternyata mampu menyentuh jiwa manusia, dapat menyalurkan berbagai macam berita, gagasan, dan pedoman-pedoman kepada masyarakat. Yang paling menonjol dari penemuan-penemuan itu adalah upaya-upaya yang pada hakikatnya mampu mencapai dam menggerakkan seluruh umat manusia (Inter Mirifica, Art. 1). Munculnya media komunikasi sangat berpengaruh karena informasi, berita, ide, dan gagasan-gagasan dapat disampaikan kepada khalayak ramai.

  Melihat perkembangan itu Gereja perlu berjuang demi Kerajaan Allah dan mengambil sikap di mana dengan berbagai penemuan teknologi yang ada Gereja menjadikan itu sebagai model dalam hidup umat saat ini. Gereja juga perlu waspada terhadap praktik penggunaan media komunikasi sosial karena bisa saja apa yang tejadi tidak sesuai dengan harapan.

  ”Manusia sering kali menyalahgunakan media serta melawan maksud Sang Pencipta sehingga menyebabkan kebinasaan”. (Inter Mirifica, Art. 2). Menyikapi hal ini Gereja hendaknya menjadi pelaku sekaligus pengawas dari penggunaan berbagai sarana teknologi. Dengan demikian Kerajaan Allah akan mudah diterima dan dirasakan oleh seluruh umat manusia.

  Agar penggunaan media komunikasi tepat, hendaknya kita mengetahui kaidah-kaidah, norma-norma moral, dan setia dalam mempraktikkannya. Dalam penggunaan media komunikasi kita perlu juga mengetahui tujuan dari penggunaan tersebut. Selain itu, para pengguna media komunikasi perlu mengetahui kewajiban-kewajiban dalam pemakaian media tersebut. Kewajiban itu bersifat khusus dan juga bersifat umum.

  Kewajiban yang bersifat khusus yaitu para pemakai media hendaknya menghindari program-program yang merugikan hidup rohani manusia. Selain itu mereka juga harus kritis terhadap kepentingan ekonomis di balik setiap program yang ditayangkan. Sedangkan kewajiban yang bersifat umum yaitu bahwa program atau tayangan hendaknya mengarahkan dan membina suara hati dengan upaya-upaya yang cocok (Inter Mirifica, Art. 9).

  b.

  Pandangan Gereja Katolik dalam Communio Et Progressio Manusia tidak bisa lepas dari perkembangan media. Akibat dari perkembangan media tidak dipungkiri bahwa Gereja dihadapkan dengan masalah baru dalam bidang pastoral.

  Dalam hal ini Gereja dituntut agar mengkaji ulang pola dan metode pewartaan.

  Dokumen Gereja Communio Et Progessio adalah instruksi Pastoral yang disusun atas mandat dari Konsili Vatikan II yang diterbitkan pada tanggal 23 Mei 1971 oleh Paus Paulus

  VI. Dokumen ini khusus membicarakan media komunikasi.

  Media komunikasi merupakan saluran-saluran untuk menyampaikan berita-berita dan menyuarakan sikap dan pandangan manusia masa kini dan hal ini sudah disadari oleh Gereja. Media komunikasi memberikan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa bagi semua orang. Dalam dokumen ini juga dikatakan bahwa selama hidup di dunia Kristus selalu menampilkan dirinya sebagai komunikator yang sempurna dan rasul-rasul menggunakan apa yang menjadi alat-alat komunikasi sosial di jaman mereka. Oleh sebab itu Gereja perlu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya yaitu mewartakan kabar suka cita Allah. Tugas pewartaan kabar suka cita Allah dapat disampaikan dengan menggunakan alat-alat komunikasi sosial yang disesuaikan dengan perkembangan jaman.

  c.

  Pandangan Gereja Katolik dalam Aetatis Novae Revolusi komunikasi berarti suatu situasi yang menunjukkan bahwa dunia mengalami pembentukan kembali secara mendasar dari unsur-unsur yang dipakai orang untuk memahami dunia di sekitar mereka, dan menguji serta mengekspresikan apa yang mereka pahami. Ciri-ciri dari revolusi komunikasi ini antara lain tersedianya gambar-gambar dan ide-ide secara terus-menerus, dan penyebarannya secara cepat bahkan dari benua ke benua, memberikan akibat yang mendalam, positif maupun negatif pada seluruh aspek kehidupan manusia (Aetatis Novae, Art. 4).

  Kehadiran media komunikasi dilihat oleh Gereja sebagai peluang untuk mencapai hal ini. Gereja melihat media komunikasi sebagai sarana untuk memajukan komunikasi dan kesatuan di antara manusia selama hari-hari ziarah mereka di dunia (Aetatis Novae, Art. 8). Oleh karena itu, Gereja memberi perhatian yang lebih terhadap kegiatan komunikasi dan kinerjanya. Gereja secara tegas mengatakan bahwa ”komunikasi pada hakikatnya adalah menyampaikan Kabar Baik (Injil) Yesus Kristus. Dengan kata lain bahwa hakikat dari komunikasi dalam konteks jaman sekarang adalah kesaksian tentang keadilan dan kesatuan di antara berbagai umat, bangsa, dan budaya” (Aetatis Novae, Art. 9).

  Media komunikasi diharapkan memberi kesaksian tentang Injil dan menggerakkan umat manusia untuk secara bersama-sama menciptakan perdamaian dunia. Selain itu media komunikasi sosial juga digunakan oleh Gereja sebagai sarana pemersatu di dalam tubuhnya sendiri.

B. Pengertian Katekese

  Arti kata katekese berasal dari kata Yunani “katechein” sebagai hasil bentukan dari kata “kat” yang artinya pergi atau meluas, dan “echo” yang memiliki arti menggemakan atau menyuarakan keluar (Telaumbanua, 1999: 4). Kata katechein sebagai bentukan kata berarti menggemakan atau menyuarakan keluar. Katekese juga dimengerti sebagai ilmu karena disejajarkan dengan ilmu pastoral dan ilmu teologi.

  Dalam suatu naskah kerja katekese Mencari Arah Katekese tulisan Setyakarjana dengan bantuan Dewan Harian PWI-Katekese dirumuskan: “Katekese adalah usaha saling menolong terus-menerus dari setiap orang untuk meng-arti-kan dan mendalami hidup pribadi maupun bersama menurut pola Kristus menuju kepada hidup Kristus yang dewasa penuh” (Setyakarjana, 1976: 38).

  Katekese adalah suatu bentuk pembinaan iman bagi anak-anak, kaum muda, dan orang dewasa yang merupakan usaha saling menolong terus menerus dari setiap orang dengan tujuan agar iman umat berkembang menurut pola Yesus Kristus menuju hidup Kristiani yang dewasa penuh. Katekese tersebut dilaksanakan oleh umat yang saling mengkomunikasikan imannya, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati dengan semakin sempurna (Telaumbanua, 1999: 4).

  Paus Yohanes Paulus II dalam dukumen Catechesi Traedendae, memberi arti katekese sebagai: Pembinaan iman anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dan dengan maksud menghantar para pendengar memasuki hidup Kristen” (CT, art. 18). Kutipan ini mau menegaskan bahwa katekese adalah pembinaan iman bagi semua orang beriman tanpa memandang usia. Katekese adalah usaha Gereja untuk menolong umat dengan harapan agar mereka semakin memahami, menghayati dan mengembangkan serta mewujudkan imannya dalam kehidupannya sehari-hari. Melalui usaha ini Gereja bercita-cita agar umat membangun diri menuju kematangan iman sebagai orang kristiani.

  1. Tujuan Katekese

  Setiap kegiatan tentu memiliki tujuannya. Demikian halnya dengan katekese. Tujuan katekese adalah mengembangkan dan menghidupkan iman umat. Berkat rahmat Allah manusia diubah menjadi ciptaan yang baru sesuai dengan ajaran dan cara hidup Kristus. Akhirnya tujuan katekese adalah menghantar umat beriman agar sampai pada kepenuhan hidup sebagai orang kristen yang beriman mendalam. Selain itu juga katekese bertujuan untuk menggugah serta memupuk iman, serta menolong manusia agar mampu menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Isi Katekese

  Isi yang terdapat dalam katekese adalah pewartaan Injil itu secara menyeluruh yaitu warta gembira keselamatan. Dalam katekese juga diungkapkan rahasia Kristus yang bangkit sebagai kepenuhan akan wahyu Ilahi yang memanggil manusia. Oleh karena itu wahyu sekaligus mendasari katekese.

3. Proses Katekese

  Kegiatan katekese bertitik tolak dari pengalaman hidup, Kitab Suci, atau tradisi-tradisi suci Gereja. Dalam pelaksanaan katekese pada dasarnya ada tiga tahap. Adapun tiga tahap dalam proses katekese adalah sebagai berikut: a.

  Pada tahap awal, para peserta melihat kembali peristiwa kehidupannya sehari-hari, baik itu yang dialami secara pribadi maupun secara bersama dengan orang lain (pengalaman hidup keseharian).

  b.

  Pada tahap awal itu peserta akan sampai pada suatu penyadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dimana adanya ketergantungan kepada Allah. Pada tahap ini peserta semakin menyadari sapaan Allah dalam hidupnya, dimana pengalaman hidupnya mengandung makna yang akan menjadi pengalaman iman dimana Allah mewarnai hidupnya.

  c.

  Pada tahap terakhir peserta mencari dan menemukan visi-visi baru kristiani dengan melihat relevansi sabda Allah di dalam kehidupannya sehari-hari.

4. Peserta Katekese

  Para peserta katekese adalah semua orang beriman (anak-anak, kaum muda, dan orangtua) yang telah dipermandikan. Melalui katekese mereka dimungkinkan untuk

C. Katekese melalui Film untuk Menanamkan Semangat Perdamaian

  Film bukanlah hal yang asing bahkan sebaliknya film menjadi suatu sarana hiburan, khususnya bagi kaum remaja. Film dengan mudah diterima karena menarik untuk dinikmati.

  Melalui film seseorang dapat memperkaya pengalaman. Selain itu film dapat memberi sumbangan inspirasi kepada seseorang untuk mengatasi suatu permasalahan hidup.

1. Pengertian Film dan Jenis Film

  Film adalah gambar hidup. Selain itu film merupakan media untuk merekam gambar yang menggunakan selluloid sebagai bahan dasar. Memiliki berbagai macam ukuran lebar pita, seperti 16 mm dan 35 mm. Film pertama kali lahir di paruh kedua abad 19. Film dengan bahan selluloid dapat diubah ke dalam format digital (VCD-DVD). Adapun jenis- jenis film yaitu:

  a. Film dokumenter: film ini menyajikan realita dengan berbagai cara dan dibuat untuk macam-macam tujuan. Film dokumenter berkaitan dengan tujuan penyebaran informasi dan pendidikan.

  b. Film cerita pendek: biasanya film cerita pendek ini durasinya di bawah 60 menit.

  c. Film cerita panjang: film ini dengan durasi lebih dari 60 menit dan biasanya berdurasi 90-100 menit bahkan ada film yang durasinya 120 menit. Film-film yang biasanya diputar di bioskop umumnya adalah film cerita panjang.

2. Kedudukan Film di Mata Remaja

  Film merupakan media untuk mengungkapkan suatu kebenaran. Tentunya ini merupakan hal yang baik. Yang menjadi pertanyaan apakah penikmat media (film) dapat menangkap nilai-nilai yang hendak disampaikan? Misalnya para remaja masa kini. Para remaja bisa menghabiskan waktunya setiap hari (tiga atau empat jam) dengan duduk di depan televisi untuk menikmati film. Bagi kebanyakan remaja film merupakan media hiburan yang menarik untuk ditonton. Hal itu dapat dilihat ketika ada pemutaran sebuah film layar lebar di bioskop. Dari sekian banyak massa yang ada adalah kaum remaja.

  3. Kekuatan dan Kelemahan Film

  Film merupakan sebuah karya seni. Munculnya film tentu saja menimbulkan pro- kontra. Film merupakan media penyebaran nilai-nilai kemanusiaan, namun dapat juga merusak nilai-nilai yang ada. Film dapat dikatakan sebagai alat perkembangan, namun dapat menghancurkan kebudayaan manusia. Film dapat juga dijadikan sebuah sarana pendidikan, namun juga dapat menjadi penggoda yang licik. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dan pemikiran yang kritis dalam memahami sebuah film dan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan dalam film tersebut.

  4. Peranan Film untuk Menanamkan Semangat Perdamaian

  Arti kata “peran” atau ”peranan” dapat menunjuk pada bagian dari suatu fungsi atau tugas tertentu yang harus dilaksanakan sehubungan dengan sesuatu hal. Jika dilihat dari segi arti bahasa, kata “peranan” berasal dari kata dasar "peran" yang berarti "seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat". Kata “peran” mendapat akhiran "an" menjadi "peranan" yang berarti "bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan". Menurut Partanto “peranan” diartikan sebagai fungsi, kedudukan, atau bagian kedudukan (Partanto, 1994: 585). Sedangkan kata ”peran” atau ”peranan” dalam

  

Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bagian dari tugas utama yang harus

dilaksanakan (Moeliono, 1990: 667).

  Film adalah media hiburan, namun film juga dapat memperkaya pengalaman seseorang. Film dapat memberi sumbangan kepada seseorang untuk mengatasi suatu permasalahan hidup. Film memiliki peranan yang besar dalam kehidupan manusia. Film bukan hanya media hiburan semata. Film mencoba mengangkat berbagai macam permasalahan yang ada dengan harapan akan membawa manfaat bagi pemirsa.

  D. Gambaran tentang Perdamaian 1. Pengertian Perdamaian

  Perdamaian adalah penghentian permusuhan, sedangkan kata ”damai” mengandung arti tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, tenteram, tenang, ditambah keadaan tidak ada permusuhan. Orang Kristen mengartikan perdamaian dengan "damai sejahtera" atau “Shalom”, dan mulai membayangkan suatu keadaan yang damai, aman dan makmur sejahtera. Di dalam Alkitab kata “Shalom” seringkali diterjemahkan dengan "damai sejahtera". Kata “damai” atau “perdamaian” mengandung makna yang sangat luas. Dalam bahasa Yunani kata “shalom” diterjemahkan dengan beberapa istilah, yaitu eirene (kedamaian, kesejahteraan, kesehatan), hugianinein (keadaan baik, sehat) dan soteria (pembebasan, keselamatan, kesembuhan).

2. Perdamaian menurut Mahatma Gandhi

  Masalah perdamaian dewasa ini ditandai dengan munculnya berbagai kesenjangan di berbagai bidang. Hingga saat ini dunia masih dihantui dengan ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan masih banyak lagi. Ketika orang hidup dalam situasi seperti di atas tentu saja tidak akan merasa damai dan hidup tentram. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya agar perdamaian dapat terwujud? Dalam buku berjudul Semua Manusia Bersaudara yang ditulis oleh Mahatma Gandhi dikemukakan bahwa perdamaian hanya dapat tercipta atau terwujud kalau orang menganut “Ahimsa” atau “paham pantang kekerasan”.

  Ahimsa berarti kebebasan sempurna dari segala niat jahat, amarah dan kebencian. Ahimsa dapat juga berarti adanya rasa kasih sayang yang berkelimpahan bagi seluruh umat manusia (Gandhi, 1996: 204). Diyakini oleh Mahatma Gandhi bahwa dengan memiliki paham pantang kekerasan dunia tidak akan pernah hancur.

  Rasa kasih sayang atau cinta dalam Ahimsa memiliki kesamaan dengan ajaran Yesus dalam Injil Markus, 5:43-45 yang berbunyi: Kamu telah mendengar firman kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang ada di Sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

  Menurut Mahatma Gandhi kekuatan cinta merupakan suatu kekuatan yang dapat menghilangkan rasa dendam dan dapat mengubah musuh menjadi sahabat. Bila seseorang memiliki cinta, ia akan memandang sesamanya sebagai saudara. Pada kenyataannya hingga saat ini peperangan, konflik, tindak kekerasan, dan penindasan masih saja kita temukan.

3. Perdamaian menurut Kitab Suci

  Dalam Kitab Suci “damai” atau “perdamaian” diterjemahkan dengan "damai sejahtera" atau “shalom”. Damai sejahtera atau Shalom merupakan inisiatif dari Allah dan bukanlah inisiatif manusia. Shalom adalah suatu kondisi surgawi, berasal dari surga. Selama hidupnya Yesus selalu memberi salam kepada orang-orang dengan cara demikian: "SHALOM bagi kamu". Damai sejahtera yang ditawarkan Kristus bukan seperti damai sejahtera yang ditawarkan dunia, melainkan damai sejahtera yang berpusat pada diri-Nya sendiri.

  "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti apa yang diberikan oleh dunia kepadamu ..." (Yohanes 14:27). Damai tidak tergantung pada keadaan fisik, harta benda, lingkungan, atau dunia tempat kita berpijak. Shalom atau damai sejahtera dari Tuhan tetap dapat kita tunjukkan bahkan dalam kondisi yang paling buruk sekalipun.

E. Kaum Remaja dan Permasalahnnya

  Seiring berlalunya waktu seseorang akan selalu mengalami perkembangan. Demikian pula dengan remaja. Mereka mengalami perkembangan dari masa kanak-kanak, masa puber, dan menginjak masa remaja. Dalam perkembangan ini tentu mereka banyak mengalami perubahan entah dari bentuk fisik, perilaku, cara berpikir, dan lain-lain.

  Kata “remaja” dalam bahasa Indonesia sering disebut pubertas. Masa remaja awal dimulai pada usia 13 tahun atau 14 tahun dan berakhir pada usia 21 tahun. (Hurlock, 1978: 12). Dr. Winarno Surachmad (1977: 41-44) mengatakan bahwa masa remaja itu dimulai pada usia 12 tahun dan berakhir pada usia sekitar 22 tahun. Sedangkan menurut Undang-

  

undang Perkawinan RI tahun 1974 kaum muda atau remaja adalah mereka yang sudah

  melewati masa anak-anak dan belum mencapai umur yang oleh Undang-Undang diperbolehkan menikah: bagi pemuda minimal 19 tahun, bagi pemudi minimal 16 tahun.

  Dari batasan usia remaja di atas dapat dijadikan sebagai patokan umum bahwa batasan usia remaja kurang lebih 12 hingga 24 tahun. Pada masa usia remaja tentu mereka berada pada tahap perkembangan dimana mengalami perubahan menuju kedewasaan.

  Masa remaja adalah masa transisi dari periode anak ke dewasa (Sarlito Wirawan, 1989: 71). Dengan adanya perubahan jasmaniah membuat mereka tidak tahu pasti akan status sosialnya (identitas). Masa itu tentunya dialami oleh semua orang. Masa ini perlu dimengerti sebagai masa dimana orang akan menghasilkan kepribadian yang harmonis dan dewasa.

  Pada usia remaja tidak seorang pun terlepas dari yang namanya masalah atau problem. Yang dimaksud dengan problem remaja adalah masalah yang sehubungan dengan adanya kebutuhan-kebutuhan mereka dalam rangka penyesuaian diri terhadap lingkungannya (Willis, 1981: 32). Dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang mendekati masa dewasa tentunya remaja mengalami proses pertumbuhan secara fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, moral, dan religius dengan permasalahannya.

  1. Pertumbuhan fisik: pada masa ini anak mengalami pertumbuhan jasmani yang pesat dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Karena perubahan itu mereka menuntut agar tidak diperlakukan seperti anak-anak. Selain itu juga mereka akan mempersoalkan akan baik dan buruknya hasil pertumbuhan mereka secara fisik.

  Akibatnya mereka menjadi gelisah. Bersamaan dengan itu muncul pula masalah yang berhubungan dengan seks dan pergaulan dengan lawan jenis. Dalam pertumbuhan ini yang paling jelas terlihat adalah perubahan ciri-ciri baik sebagai laki-laki dan perempuan. Contohnya anak laki-laki, badannya berotot sedangkan anak perempuan mulai terlihat lekuk-lekuk pada tubuhnya.

  2. Perkembangan mental: hal ini nampak pada gejala-gejala perubahan dalam intelektual dan dalam cara berpikir. Mereka mulai berpikir secara kritis dan berusaha menggali pengertian tentang diri mereka sendiri, membentuk gambaran diri mereka, peranan yang diharapkan dari diri mereka, bahkan panggilan hidup dan masa depan mereka. Semua itu menjadi masalah yang ringan untuk mereka. Tidak mengherankan jika mereka terlihat resah, suka menyendiri dan melamun. Pada masa ini mereka perlu didampingi oleh orang lain.

  3. Perkembangan sosial: pada masa ini mereka mulai memperhitungkan kedudukannya di tengah masyarakat dan lingkungan. Di sini ada keinginan untuk diterima dan dihargai sebagai pribadi dalam suatu kelompok.

  4. Perkembangan moral: hidup terasa sederhana ini adalah pola pikir dimasa kanak- kanak. Hal yang baik dan buruk semua itu ada jaminannya pada orangtua, guru, atau tokoh para pemuka agama atau masyarakat. Dengan bertambahnya umur dan masuk dalam kelompok kaum remaja tentu akan mengalami perubahan sikap dan tindakan.

  Hal ini terjadi karena mereka sedang mencari patokan moral yang dapat mereka pergunakan untuk menentukan apa itu baik atau buruk dalam kehidupan mereka.

  Masalah moral tidak terbatas pada diri mereka saja namun meluas sampai pada masalah moral dalam hidup masyarakat seperti: kebebasan beragama, keadilan, perdamaian dan bagaimana peranan yang diharapkan dari mereka.

  5. Perkembangan religius: hal ini berkaitan dengan yang Yang Mutlak atau yang berkaitan dengan Sang Pencipta. Sejak kecil kegiatan keagamaan sudah ditanamkan oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Pada usia menjelang dewasa anak mulai mempertanyakan semua hal yang telah diajarkan kepadanya. Pada masa ini mereka menghadapi masalah yang berat seperti: apa arti hidup, apa arti Yang Mutlak, agama dan hidup, dan lain-lain.

  Kaum remaja adalah kaum yang berharga karena itu perlu dibantu dan didampingi. Pihak yang membantu itu adalah guru, orangtua, Gereja, dan masyarakat di sekitarnya. Namun karena perkembangan jaman yang begitu cepat kaum remaja banyak sekali dihadapkan oleh berbagai macam masalah.

  Masalah itu muncul baik dari dalam diri ataupun dari dunia luar. Untuk itu perlu pendampingan yang memadai baik dari segi tujuan, materi, program serta bentuk, maupun metode dan tekniknya.

BAB III SITUASI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR DAN USAHA UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN MELALUI FILM ”CHENG-CHENG PO” Pada bab tiga penulis akan membahas dua hal. Pada bagian pertama berisi gambaran

  situasi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Pada bagian ini penulis lebih fokus pada seberapa besar minat mereka terhadap film dan pengaruhnya terhadap pola pikir dan tindakan mereka sebagai remaja yang memiliki tanggung jawab sebagai pembawa damai bagi sesama. Pada bagian kedua penulis akan memaparkan hasil penelitian.

  A. Gambaran Situasi Remaja Katolik di Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

  Berdasarkan data yang diperoleh dan berdasarkan survei yang dilakukan oleh penulis, dikatakan bahwa Gereja St. Antonius Padua berada di bawah Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Gereja St. Antonius Padua terletak di dataran rendah dan jauh dari keramaian. Latar belakang kehidupan umat beraneka ragam. Sebagian besar umat yang ada adalah pendatang yang berasal dari Sabu. Umat yang ada di St. Antonius Padua kebanyakan petani, nelayan, pedagang, dan guru. Umat yang ada di St. Antonius Padua cukup berkembang dan maju dengan situasi lingkungan sosial seperti adanya TK, SD, SLTP, dan pertokoan kecil.

  1. Pembagian Basis

  Awalnya Gereja St. Antonius Padua terdiri dari empat lingkungan dan akhirnya dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang diberi nama Basis. Dari pembagian itu terdapat delapan Basis yaitu St. Yosep, Sta. Elisabet, St. Hendrikus, St. Agustinus, Sta. Monika, St. Stefanus, St. Yohanes, dan Sta. Martha.

  2. Jumlah umat

  Sesuai dengan data yang diperoleh dari stasi bahwa Gereja St. Antonius Padua Palakahembi berjumlah 118 KK dengan pembagian sebagai berikut:

  Tabel 1: Pembagian Basis dan Jumlah KK

  No Nama Basis Jumlah KK Laki-laki Perempuan

  1 St. Yosep

  21 KK 77 jiwa 54 jiwa

  2 Sta. Elisabet

  12 KK 29 jiwa 31 jiwa

  3 St. Hendrikus

  19 KK 45 jiwa 46 jiwa

  4 St. Agustinus

  13 KK 37 jiwa 31 jiwa

  5 Sta. Monika

  18 KK 53 jiwa 52 jiwa

  6 St. Stefanus

  11 KK 35 jiwa 23 jiwa

  7 St. Yohanes

  10 KK 28 jiwa 20 jiwa

  8 Sta. Martha

  14 KK 45 jiwa 36 jiwa

   Jumlah keseluruhan umat stasi St. Antonius Padua adalah 641 jiwa

  3. Situasi Kaum Muda dan Permasalahannya

  Setelah mengadakan wawancara non formal dengan beberapa orangtua dan mudika, penulis menyimpulkan bahwa kehidupan remaja yang berada di stasi St. Antonius Padua dapat dikatakan cukup memprihatin. Ada begitu banyak remaja yang sulit untuk diajak terlibat dalam kegiatan menggereja. Mereka memilih untuk menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna seperti mabuk-mabukan, adu otot antara satu dengan yang lain. Akibatnya kegiatan remaja yang ada di stasi St. Antonius Padua tidak satu terlaksana. Misalnya koor mudika. Relasi antara remaja di stasi St. Antonius Padua pun menjadi kurang harmonis.

B. Penelitian dan Pembahasan 1. Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: a.

  Mengetahui situasi remaja di Stasi St. Antonius Padua sehubungan dengan nilai-nilai perdamaian.

  b.

  Melihat sejauh mana peran film “Cheng-cheng Po” dalam menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik.

  2. Manfaat Penelitian

  Dengan mengetahui situasi remaja di stasi St. Antonius Padua diharapkan penelitian ini dapat memberi sumbangan bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St.

  Hendrikus, Melolo, Sumba Timur dalam usaha menanamkan semangat perdamaian.

  3. Metode Penelitian

  Jenis penelitian yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat Ex-post facto yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan dengan menyebarkan kuesioner, setelah mpenulis mengadakan eksperimen untuk mengetahui sejauh mana film “Cheng-cheng Po” dapat menanamkan semangat perdamaian bagi remaja di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

  4. Responden Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah para remaja Katolik di Stasi St.

  Antonius Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur, dengan jumlah 60 orang yang tersebar di 8 Basis.

  5. Instrumen Penelitian

  Instumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuesioner. Kuesioner ini ditujukan kepada anggota mudika stasi St. Antonius Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Bentuk kuesioner pada penelitian ini adalah tertutup yaitu berbentuk pilihan berganda dengan lima alternatif jawaban, sedangkan item berjumlah 30 butir yang akan mengungkapkan 2 variabel. [lampiran 1: (1)-(4)].

  Instrumen penelitian yang berupa kuesioner ini terdiri atas kata pengantar, identitas responden, dan daftar pertanyaan. Dalam pembuatan kuesioner ini penulis berpedoman pada kisi-kisi dan juga memperhatikan petunjuk-petunjuk item.

  Tabel 2: Variabel yang Diteliti

  

No Variabel Nomor item Jumlah

  1 Peran Film 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11,

  15 12, 13, 14, 15

  2 Semangat Perdamaian 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23,

  15 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30

  Jumlah

  30 6.

   Waktu dan Tempat Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan di Stasi St. Antonius Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2009 7.

   Hasil Penelitian

  Jumlah kuesioner yang dibagikan penulis kepada responden secara keseluruhan sebanyak 60 eksemplar. Kuesioner diisi dan kembali oleh responden sebanyak 60 eksemplar.

  Pada bagian ini penulis akan menjabarkan hasil penelitian mengenai keadaan remaja Katolik St. Antonius Padua, Melolo. Data-data hasil penelitian diperoleh dari kuesioner yang disebar pada remaja Katolik St. Antonius Padua, Peroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

  Tabel 3: Hasil Penelitian Definisi

  No No Operasional Pertanyaan Jawaban %

  Item Variabel

  1 Peran Film

  1 Film merupakan media untuk menyampaikan pesan moral.

  • 15.00
  • 60 100%

  d. 4 jam

  14

  10

  7

  17

  12

  23.33

  16.66

  11.66

  28.33

  20.00 60 100%

  4 Dalam sehari anda menghabiskan berapa jam untuk menonton film? a. 1 jam

  b. 2 jam

  c. 3 jam

  e. lebih dari 5 jam

  d. Kurang setuju

  19

  12

  12

  8

  9

  31.66

  20.00

  20.00

  13.33

  15.00 60 100%

  5 Apa tujuan anda menonton film?

  a. Refresing

  14

  e. Sangat tidak setuju

  c. Ragu-ragu

  a. Sangat setuju

  11.66 60 100%

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  9

  20

  13

  11

  7

  15.00

  33.33

  21.66

  18.33

  2 Apakah anda sering nonton film?

  b. Setuju

  a. Sangat sering

  b. Sering

  c. Kadang-kadang

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  9

  36

  14

  1

  60.00

  23.33

  1.66

  3 Film merupakan suatu media pembelajaran.

  a. Sangat setuju

  23.33 b. Mengisi waktu luang

  e. Menambah wawasan

  b. Sangat setuju

  45

  5

  2

  4

  4

  75.00

  8.33

  3.33

  6.66

  6.66 60 100%

  8 Film dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang a. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. 3 kali

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  22

  17

  9

  3

  9

  36.66

  28.33

  15.00

  5.00

  15.00 60 100%

  e. Lebih dari 3 kali

  c. 2 kali

  d. Mengikuti tren

  c. Laga

  e. Dan lain-lain

  24

  9

  7

  6

  40.00

  15.00

  11.66

  10.00 60 100%

  6 Jenis film apa yang sering anda tonton? a. Drama

  b. Komedi

  d. Kartun

  b. 1 kali

  e. Lain-lain

  26

  7

  8

  7

  12

  43.33

  11.66

  13.33

  11.66

  20.00 60 100%

  7 Sudah berapa kali anda menonton film “Cheng-cheng Po”? a. Belum pernah

  9 Kita harus kritis dalam menilai film-film yang kita tonton. a. Setuju

  b. Sangat setuju

  12 Film memberi sumbangan kepada seseorang untuk mengatasi masalah hidup

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  6

  25

  17

  4

  8

  10.00

  41.66

  28.33

  6.66

  13.33 60 100%

  a. Sangat setuju

  b. Sering

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  6

  19

  12

  11

  12

  10.00

  31.66

  20.00

  18.33

  c. Kadang-kadang

  a. Sangat sering

  c. Ragu-ragu

  10 Apakah anda sering merasakan manfaat dari menonton film a. Sangat merasa

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  24

  12

  10

  8

  6

  40.00

  20.00

  16.66

  13.33

  10.00 60 100%

  b. Sering merasa

  11 Apakah anda sering merasakan bahwa menonton film itu membosankan?

  c. Kadang-kadang merasakan

  d. Jarang merasakan

  e. Tidak merasakan

  5

  24

  17

  5

  9

  8.33

  40.00

  28.33

  8.33

  15.00 60 100%

  20.00

  60 100%

  13 Film dapat dijadikan sarana pendidikan namun bila tidak dimanfaatkan dengan baik dapat merusak moral kaum remaja a. Sangat setuju

  21

  35.00

  b. Setuju

  12

  20.00

  c. Ragu-ragu

  6

  10.00

  d. Kurang setuju

  12

  20.00

  e. Sangat tidak setuju

  9

  15.00 60 100%

  14 Bagi saya film hanyalah sarana hiburan semata a. Sangat setuju

  26

  43.33

  b. Setuju

  22

  36.66

  c. Ragu-ragu

  4

  6.66

  d. Kurang setuju

  6

  10.00

  e. Sangat tidak setuju

  2

  3.33 60 100%

  2 Semangat

  15 Film membantu saya dalam Perdamaian menghayati iman a. Sangat setuju

  4

  6.66

  b. Setuju

  12

  20.00

  c. Ragu-ragu

  14

  23.33

  d. Kurang setuju

  14

  23.33

  e. Sangat tidak setuju

  16

  26.66 60 100%

  16 Perdamaian merupakan suatu situasi dimana tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, tenteram, tenang, ditambah keadaan tidak ada permusuhan.

  a. Sangat setuju

  7

  33.33

  5.00

  6.66

  3.33 60 100%

  18 Pada saat kegiatan atau acara apa Anda mengenal istilah Shallom atau perdamaian? a. Pelajaran di sekolah

  b. Misa

  c. Ceramah d.Pendalaman iman atau katekese e. lain-lain

  8

  15

  19

  2

  11

  13.33

  25.00

  11.66

  31.66

  18.33 60 100%

  19 Gereja perlu menanamkan semangat perdamaian dalam diri remaja Katolik.

  a. Sangat setuju

  30

  51.66

  4

  b. Setuju

  28.33

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  30

  17

  6

  5

  2

  50.00

  10.00

  3

  8.33

  3.33 60 100%

  17 Dalam Alkitab, kita sering menemukan kata “Shallom” dan kata ini seringkali diterjemahkan dengan "damai sejahtera".

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  31

  20

  50.00 b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  18

  16.66

  8.33 60 100%

  21 Bila pernah mengikuti kegiatan atau acara yang membahas atau mendalami tentang perdamaian, kapan kegiatan itu Anda ikuti? a. Saat di SD

  b. Saat di SLTP

  c. Saat di SLTA

  d. Saat aktif di paroki

  e. Lain-lain

  19

  30.00

  6

  11

  6

  30.00

  31.66

  10.00

  18.33

  10.00 60 100%

  21.66

  23.33

  d. Kurang setuju

  5.00 60 100%

  e. Sangat tidak setuju

  9

  11

  7

  3

  15.00

  18.33

  11.66

  20 Apakah anda sering mengikuti kegiatan atau acara yang membahas atau mendalami tentang perdamaian? a. Sangat sering

  5

  b. Sering

  c. Kadang-kadang

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  14

  18

  13

  10

  22 Sikap Gereja terhadap dunia yang penuh dengan konflik sebaiknya menutup diri dan mengambil jarak karena akan membahayakan keberadaan Gereja. Terhadap pernyataan ini Anda…

  25 Dunia kita saat ini dihantui dengan ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan lain-lain sehingga orang hidup

  e. Sangat tidak setuju

  30.00

  8.33

  5.00

  24 Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja dapat dilakukan melalui kegiatan rekoleksi, pendalaman iman atau katekese, dan retret.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  31

  5

  18

  4

  5

  2

  51.66

  30.00

  6.66

  8.33

  3.33 60 100%

  3

  18

  a. Sangat setuju

  30.00

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  18

  13

  9

  7

  13

  21.66

  34

  15.00

  11.66

  21.66 60 100%

  23 Menciptakan dunia yang damai adalah tanggung jawab semua orang beriman termasuk kaum remaja Katolik.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  • 56.66
  • 60 100%
dalam situasi ketakutan dan hidup menjadi tidak tentram.

  a. Sangat setuju

  d. Kurang setuju

  21.66

  6.66

  21.66

  20.00 60 100%

  27 Apakah Anda setuju apabila diadakan kegiatan yang membahas atau yang mendalami tentang nilai perdamaian bagi kaum remaja Katolik?

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  e. Sangat tidak setuju

  12

  32

  18

  8

  1

  1

  53.33

  30.00

  13.33

  1.66

  30.00

  13

  b. Setuju

  28.33

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  17

  17

  8

  9

  9

  28.33

  13.33

  4

  15.00

  15.00 60 100%

  26 Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik bertentangan dengan perintah Kristus untuk mewartakan kabar gembira kepada semua bangsa. Terhadap pernyataan ini Anda… a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  18

  13

  1.66 60 100%

  28 Apakah anda sering mengikuti kegiatan mudika seperti pendalaman iman atau katekese yang ada hubungannya perdamaian?

  d. Kadang-kadang merasa

  7

  15.00

  30.00

  26.66

  16.66

  11.66 60 100%

  30 Apakah anda sering merasa bahwa kegiatan yang memiliki nilai perdamaian mengganggu kesibukan pribadi? a. Sangat merasa

  b. Merasa

  c. Kurang merasa

  e. Tidak merasa

  16

  7

  10

  7

  14

  22

  11.66

  16.66

  11.66

  23.33

  10

  18

  a. Sangat sering

  20.00

  b. Sering

  c. Kadang-kadang

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  12

  22

  11

  12

  3

  36.66

  9

  18.33

  20.00

  5.00 60 100%

  29 Dalam kehidupan sehari-hari apakah anda memperhatikan nilai- nilai perdamaian?

  a. Sangat sering

  b. Sering

  c. Kadang-kadang

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  36.66 60 100% Dikatakan bahwa film merupakan media untuk menyampaikan pesan moral. Sebanyak 15% responden menyatakan sangat setuju, 33.33% responden menyatakan setuju, 21.66% responden menyatakan ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut, 18.33% responden menyatakan kurang setuju, 11.66% responden menyatakan pendapat bahwa sangat tidak setuju bila film adalah media untuk menyampaikan pesan.

  Ketika ditanya apakah anda sering nonton film, ada 15% responden menyatakan sangat sering, 60% responden menyatakan sering menonton film, 23.33% responden menyatakan kadang-kadang, dan 1.66% responden menyatakan bahwa jarang sekali menonton film.

  Dikatakan bahwa film merupakan suatu media pembelajaran. Terdapat 23.33% responden menyatakan sangat setuju, 16.66 responden menyatakan setuju, 11.66 responden menyatakan ragu-ragu untuk menjawab bahwa film merupakan media pembelajaran, 28.33% responden menyatakan bahwa kurang setuju, sedangkan 20% responden sangat tidak setuju jika dikatakan film merupakan media pembelajaran.

  Dalam sehari anda menghabiskan berapa jam untuk menonton film? Terdapat 31.66% responden menghabiskan waktu satu jam dalam sehari untuk menonton film. Dalam sehari ada 20% responden yang menghabiskan waktu selama dua jam untuk menonton film dan 20% responden menghabiskan waktu tiga jam dalam sehari untuk menonton film. Ada 13.33% responden menghabiskan empat jam dalam sehari untuk menonton film dan 15% responden menonton film dalam sehari lebih dari lima jam.

  Ketika ditanya tentang apa tujuan remaja menonton film, sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka menonton film untuk refresing (23.33%). Terdapat 40% responden mengatakan bahwa menonton film hanya untuk mengisi waktu luang. Tujuan menonton film bagi 15% responden untuk menambah wawasan dan 11.66% responden menonton film karena mengikuti tren. Dari pernyataan di atas ada 10% responden menonton film tidak mempunyai tujuan, ya hanya sekedar nonton saja.

  Ketika ditanya tentang jenis film yang sering ditonton oleh remaja, sebagian besar responden sering menonton film drama (43.33%). Dari pertanyaan di atas ditemukan 11.66% responden menyukai film komedi, 13.33% responden sering menonton film laga dan ada 11.66 responden sering menonton film kartun. Sedangkan 20% responden lebih menyukai jenis film yang lain.

  Ketika ditanya sudah berapa kali menonton film “Cheng-cheng Po”, ada 75% responden yang belum menonton film ini. Terdapat 8.33% responden yang baru satu kali menonton film “Cheng-cheng Po”, 3.33% responden sudah dua kali menonton film ini. Sedangkan 6.66% responden yang sudah lebih dari tiga kali menonton film “Cheng-cheng Po”

  Ketika dikatakan bahwa film dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang, ada 36.66% responden yang setuju dengan pernyataan ini dan 28.33% responden berpendapat setuju. Dari pernyataan di atas ada 15% responden ragu-ragu untuk menjawab, 5% responden menyatakan kurang setuju dan 15% responden menyatakan sangat tidak setuju bila dikatakan bahwa film dapat mempengaruhi pola pikir seseorang.

  Diperlukan sikap kritis dalam menilai film-film yang ditonton, sebagian besar responden menyatakan setuju (40%). Terdapat 20% responden menyatakan sangat setuju, 16.66% responden yang ragu-ragu, 13.33% responden menyatakan kurang setuju sedangkan

  10% responden menyatakan bahwa sangat tidak setuju jika harus kritis dalam menilai film- film yang ditonton.

  Ketika menonton film, apa sering merasakan manfaatnya? Manfaat dari menonton film sangat dirasakan oleh 8.33% responden dan 40% responden menyatakan sering merasakan manfaat dari menonton film. Di dalam situasi tertentu terkadang orang merasakan manfaat dari menonton film dan itu dialami oleh 28.33% responden dan ada pula orang yang jarang merasakan manfaat dari menonton film (15%).

  Saat menonton film apakah sering merasa bosan? Rasa bosan saat menonton film sangat sering dirasakan oleh 10% responden, 41.66% responden menyatakan sering bosan, 28.33% responden menyatakan kadang-kadang. Perasaan bosan saat menonton film jarang sekali dialami oleh 6.66% responden dan 13.33% responden menyatakan tidak pernah bosan saat menonton film.

  Film memberi sumbangan kepada seseorang untuk mengatasi masalah hidup. Dari pernyataan ini ada 10% responden menyatakan sangat setuju dan 32.66% responden menyatakan setuju. Ada pula responden yang ragu jika film dapat memberi sumbangan bagi seseorang dalam mengatasi masalah hidupnya (20%). Terdapat 18,33% responden menyatakan pendapat bahwa kurang setuju bila dikatakan film memberi sumbangan dalam mengatasi masalah hidup bahkan ada 20% responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan di atas.

  Dikatakan bahwa film dapat dijadikan sarana pendidikan namun bila tidak dimanfaatkan dengan baik dapat merusak moral kaum remaja. Atas pernyataan ini, 35% responden menyatakan sangat setuju, 20% responden menyatakan setuju, 10% responden menyatakan ragu-ragu. Pernyataan tersebut bagi 20% responden kurang setuju dan 15% responden menyatakan sangat tidak setuju jika film dijadikan sarana pendidikan namun dapat merusak moral kaum remaja.

  Film hanyalah sarana hiburan semata. Dari pernyataan ini ada 43.33% responden menyatakan sangat setuju dan ada 36.66% responden menyatakan setuju karena bagi mereka film hanya hiburan. Terdapat 6.66% responden ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan tersebut, 10% responden menyatakan kurang setuju dan 3.33% responden menyatakan sangat tidak setuju jika film hanya dijadikan sarana hiburan semata.

  Film membantu seseorang dalam menghayati imannya. Ketika hal ini ditanyakan kepada remaja hanya 6.66% responden menyatakan sangat setuju, 20% responden menyatakan setuju jika film membantu seseorang dalam menghayati iman dan ada 23.33% responden menyatakan ragu-ragu dengan pernyataan tersebut. Sebagian besar responden berpendapat bahwa film tidak membantu seseorang dalam menghayati imannya (23.33%) bahkan ada 26.66% responden menyatakan sangat tidak setuju karena penghayatan iman seseorang tidak dipengaruhi oleh film.

  Dikatakan perdamaian merupakan suatu situasi dimana tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, tenteram, tenang, ditambah keadaan tidak ada permusuhan. Dari pernyataan ini ada 50% responden menyatakan sangat setuju, 28.33% responden menyatakan setuju, dan ada 10% responden menyatakan ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan tersebut. Ada 8.33% responden menyatakan kurang setuju dan 3.33% responden menyatakan sangat tidak setuju jika perdamaian merupakan suatu situasi dimana tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, tenteram, tenang, ditambah keadaan tidak ada

  Dalam Alkitab, sering ditemukan kata “Shallom” dan kata ini seringkali diterjemahkan dengan "damai sejahtera". Atas pernyataan tersebut 51.66% responden menyatakan pendapat sangat setuju dan 33.33% responden menyatakan pendapat setuju. Ada 5% responden menyatakan ragu-ragu untuk memberikan pendapat, 6.66% responden menyatakan pendapat kurang setuju dan 3.33% responden menyatakan pendapat sangat tidak setuju.

  Mengenal istilah “Shallom” atau perdamaian pada saat kegiatan atau acara seperti pelajaran di sekolah, misa, ceramah, pendalaman iman atau katekese dan lain-lain. Istilah “Shallom” atau perdamaian dikenal responden saat mengikuti pelajaran di sekolah (13,33%, 25% responden mengenal istilah “Shallom” atau perdamaian saat mengikuti misa, 11.66% responden mengenal istilah itu dengan mengikuti ceramah. Ada 31.66% responden menyatakan bahwa melalui pendalaman iman atau katekese responden mengenal istilah “Shallom” atau perdamaian, dan 18.33% responden yang mengenal istilah ini dengan mengikuti kegiatan atau acara lainnya.

  Gereja perlu menanamkan semangat perdamaian dalam diri remaja Katolik. Sebagian besar responden menyatakan sangat setuju (50%), 15% responden menyatakan setuju. Terdapat 18.33% responden ragu-ragu dalam memberikan pendapatnya, 11.66% responden kurang setuju dan ada 5% responden yang sangat tidak setuju jika semangat perdamaian perlu Gereja tanamkan dalam diri remaja Katolik.

  Ada banyak kegiatan atau acara yang membahas atau mendalami tentang perdamaian. Dari kegiatan atau acara tersebut ada 23.33% responden yang sangat sering mengikuti kegiatan atau acara ini dan 30% responden yang menyatakan sering terlibat responden yang kadang-kadang mengikuti, 16.66% responden yang jarang sekali mengikuti dan bahkan ada 8.33% responden yang tidak pernah mengikuti kegiatan atau acara seperti itu karena merasa tidak penting atau berguna. Kegiatan ini responden ikuti pada saat duduk di bangku SD (30%), saat SLTP (31.66%), saat SLTA (10%), saat aktif di Paroki (18.33%), dan saat lain ada 10%.

  Sikap Gereja terhadap dunia yang penuh dengan konflik sebaiknya menutup diri dan mengambil jarak karena akan membahayakan keberadaan Gereja. Terhadap pernyataan ini ada 30% responden menyatakan pendapat sangat setuju, 21.66% responden menyatakan pendapat setuju, dan 15% responden ragu-ragu dalam memberikan pendapatnya. Dari pernyataan di atas ada 11.66% responden menyatakan pendapat kurang setuju dan 21.66% responden menyatakan pendapat sangat tidak setuju jika Gereja bersikap menutup diri dan mengambil jarak terhadap dunia yang penuh dengan konflik hanya karena takut membahayakan keberadaan Gereja.

  Menciptakan dunia yang damai adalah tanggung jawab semua orang beriman termasuk kaum remaja Katolik. Sebagian besar responden menyatakan sangat setuju jika dikatakan bahwa remaja Katolik ikut bertanggung jawab dalam terwujudnya dunia yang damai (56.66%) dan 30% responden menyatakan pendapat setuju. Ada 8.33% responden yang ragu-ragu dalam memberikan pendapatnya dan ada 5% responden menyatakan pendapat kurang setuju jika menciptakan dunia yang damai itu termasuk tanggung jawab kaum remaja Katolik.

  Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja dapat dilakukan melalui kegiatan rekoleksi, pendalaman iman atau katekese, dan retret. Atas pernyataan ini ada 51.66% responden ragu-ragu dalam memberikan pendapatnya atas pernyataan tersebut, 8.33% responden yang tidak setuju dan 3.33% responden yang sangat tidak setuju jika melalui kegiatan rekoleksi, pendalaman iman atau katekese, dan retret untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja.

  Dunia saat ini dihantui dengan ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan lain-lain, sehingga orang hidup dalam situasi ketakutan dan hidup menjadi tidak tenteram. Terdapat 28.33% responden menyatakan pendapat sangat setuju dan 28.33% responden juga menyatakan setuju. Sedangkan ada 13.33% responden yang ragu-rau dalam memberikan pendapatnya atas pernyataan tersebut. 15% responden tidak setuju dan 15% responden menyatakan sangat tidak setuju jika orang hidup dalam ketakutan dan menjadi tidak tentram karena adanya ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan lain-lain.

  Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik bertentangan dengan perintah Kristus untuk mewartakan kabar gembira kepada semua bangsa. Atas pernyataan tersebut 30% responden menyatakan pendapat sangat setuju dan 21.66% responden yang menyatakan pendapat setuju, namun 6.66% responden yang menyatakan ragu-ragu untuk memberi pendapat. Ada 21.66% responden yang menyatakan pendapat tidak setuju dan 20% responden yang sangat tidak setuju usaha menanamkan semangat perdamaian bertentangan dengan perintah Kristus.

  Sebagian besar responden sangat setuju apabila diadakan kegiatan yang membahas atau yang mendalami tentang nilai perdamaian bagi kaum remaja Katolik (53.33%) dan 30% responden menyatakan pendapat setuju, namun ada responden yang ragu-ragu untuk

  1.66% responden yang sangat tidak setuju jika akan diadakan kegiatan yang membahas atau mendalami tentang nilai perdamaian.

  Ketika ditanya sejauh mana responden mengikuti kegiatan mudika seperti pendalaman iman atau katekese yang ada hubungannya dengan perdamaian, maka ada 20% responden yang menyatakan bahwa responden sangat sering mengikuti kegiatan itu dan ada 36.66% responden menyatakan pendapat sering. Sebesar 18.33% responden menyatakan pendapat jika mereka kadang-kadang saja mengikuti kegiatan mudika, 20% responden menyatakan pendapat jarang sekali dan 5% responden yang tidak pernah mengikuti kegiatan mudika seperti pendalaman iman yang ada kaitannya dengan nilai perdamaian.

  Dalam kehidupan sehari-hari hanya ada 15% responden yang sangat sering memperhatikan nilai-nilai perdamaian dan 30% responden yang menyatakan pendapat sering, 26.66% responden menyatakan pendapat kadang-kadang, 16.66% responden menyatakan pendapat jarang sekali, dan 11.66% responden menyatakan pendapat tidak pernah dalam kehidupannya sehari-hari untuk memperhatikan nilai-nilai perdamaian.

  Ketika mengikuti kegiatan yang memiliki nilai perdamaian ada 11.66% responden yang menyatakan sering merasa kalau kegiatan itu mengganggu kesibukan pribadinya,16.66% responden menyatakan pendapat merasa terganggu, 11.66% responden menyatakan pendapat kurang merasa, 23.33% responden menyatakan pendapat bahwa kadang-kadang merasa terganggu, dan 36.66% responden menyatakan tidak merasa mengganggu kegiatan pribadinya jika mengikuti kegiatan yang memiliki nilai perdamaian.

  Jika berbicara mengenai peran film tentu saja akan banyak sekali pendapat yang berbeda-beda. Film memiliki peran atau fungsi sebagai sarana menyebarluaskan informasi, pengalaman, dan sarana hiburan (Eilers, 2001: 189). Remaja St. Antonius Padua ikut menikmati film dan mereka hanya melihat film itu semata-mata sebagai sarana hiburan. Hal ini terlihat dari pendapat mereka yang menyatakan menonton film hanya untuk refresing dan mengisi waktu luang (63,33% responden). Meski demikian remaja menyadari bahwa sebuah film perlu dikritisi (60% responden) sehingga pada akhirnya mereka mampu menemukan manfaat (48% responden) dan itu dapat dijadikan sebuah pembelajaran dalam hidupnya (40% responden). Dalam penelitian ini penulis melihat bahwa film memberi sumbangan bagi remaja dalam mengatasi masalah hidupnya dan film juga merupakan media untuk menyampaikan pesan moral (48% responden).

  Menurut Karl Erik Rosengren, media dapat mempengaruhi pribadi seseorang. Secara perlahan namun pasti, media akan membentuk pandangan pemirsa terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan seharusnya berhubungan dengan dunia. Contohnya media akan memperlihatkan pada pemirsa gambaran hidup layak bagi seorang manusia, di sini pemirsa akan menilai apakah lingkungan dimana tempat mereka sudah layak dan atau memenuhi standar itu.

  Pada masa remaja, ada begitu banyak perubahan yang terjadi salah satunya yaitu perubahan pada minat. Menurut Elizabeth B. Hurlock (1989: 128), remaja memiliki minat dalam hal rekreasi seperti menonton, olah raga, bepergian, dansa, dan lain-lain. Minat ini sungguh melekat dalam diri remaja. Dari hasil data penelitian yang penulis temukan bahwa minat remaja dalam menonton film mencapai 75%. Jadi tidak mengherankan jika kadang mereka kurang mempedulikan kegiatan-kegiatan yang ada di Gereja seperti kegiatan mudika. Hal ini ditemukan penulis dalam diri remaja Katolik yang ada di stasi St. Antonius Padua, Palakahembi.

  Film dapat mempengaruhi pola pikir seseorang dan pada akhirnya akan merubah cara pandang dan bertindak seseorang (66% responden). Ada begitu banyak remaja yang dihabiskan waktunya lebih dari tiga jam sehari untuk menonton film (48,33% responden). Akibatnya dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa remaja yang suka mengikuti hal-hal yang mereka tonton seperti lebih suka santai, mabuk-mabukan, sering melakukan kekerasan terhadap sesama dengan cara berbicara dan bersikap. Mereka tidak lagi memperhatikan nilai-nilai hidup yang ada (28% responden).

  Remaja sekarang hidup di zaman teknologi. Bagi mereka, komputer, televisi, VCD, bukanlah barang yang asing bagi mereka. Mereka dengan begitu mudahnya tanggap dengan produk yang baru (Goretti, 1999: 9). Melihat perkembangan media audio visual yang begitu pesat dan sangat dekat dengan umat maka Gereja dalam pewartaannya terbuka dalam menggunakan media sebagai sarana pewartaan. Contohnya dalam katekese sekarang telah menggunakan media audio visual. Katekese dengan menggunakan media audio visual diharapkan membantu peserta untuk memperdalam relasi persaudaraan di dalam kolompok orang yang percaya kepada Kristus.

  Dunia saat ini dihantui dengan ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan lain-lain (56,66% responden) sehingga orang hidup dalam situasi ketakutan dan hidup menjadi tidak tentram. Melihat situasi ini, Gereja mengambil sikap terbuka (33% responden) dan ikut bertanggung jawab dalam usaha menciptakan dunia yang damai. Menciptakan dunia yang damai termasuk tanggung jawab para remaja Katolik (86,66% responden). Menciptakan suasana damai dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Misalnya berbicara sopan terhadap sesama, bersikap ramah dan masih banyak lagi. Hal ini memang terlihat sederhana namun sulit jika dilakukan. Untuk itu perlu ditanamkan semangat perdamaian (48% responden) dengan semangat itu akan terus mendorong setiap pribadi untuk terus mewujudkan suasana yang damai di manapun mereka berada.

8. Rangkuman Hasil Penelitian

  Setelah penulis mengolah data yang ada menjadi suatu gambaran yang nyata, maka penulis akan menyimpulkan analisis hasil penelitian. Hal ini berguna dalam menyusun program katekese. Adapun kesimpulannya sebagai berikut:

  Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di stasi St. Antonius Padua, Melolo, Sumba Timur, penulis perlu mengadakan praktik katekese audio visual. Bagi mereka hal ini dirasa perlu karena dengan praktik ini diharapkan remaja memiliki semangat untuk menghidupi nilai-nilai hidup yang ada. Katekese audio visual melalui film merupakan suatu alternatif untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di stasi St.

  Antonius Padua, Melolo, Sumba Timur. Film “Cheng-cheng Po” berdurasi 17 menit dan efektif jika dipakai dalam katekese audio visual dan tidak menyita waktu banyak dan tidak membuat peserta bosan (Eilers, 2001; 188-192). Dalam katekese film dapat dipilih sesuai dengan tema yang akan diangkat dan dalam hal ini film “Cheng-cheng Po” sesuai dengan hal yang ingin dilaksanakan.

  

BAB IV

PERAN FILM “CHENG-CHENG PO” UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT

PERDAMAIAN BAGI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA,

PAROKI SANTO HENDRIKUS,

MELOLO, SUMBA TIMUR

Setelah melakukan penelitian terhadap remaja di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, penulis memperoleh data-data yang diperlukan dalam melengkapi penelitian ini. Dalam bab IV penulis akan menguraikan persiapan program katekese melalui film “Cheng-

  cheng Po”, proses katekese serta evaluasi pelaksanaan katekese. Dengan adanya evaluasi pelaksanaan katekese maka penulis dapat menarik kesimpulan, sejauh mana film “Cheng- cheng Po” memiliki peran dalam usaha untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

A. Pengertian Program

  Arti kata ”program” dimengerti sebagai rancangan mengenai asas-asas (hukum dasar) serta usaha-usaha (dalam perekonomian, ketatanegaraan, dan sebagainya) yang akan dijalankan (Maeliono, 1988: 702). Program adalah isi dan urutan acara-acara pembinaan yang akan dilaksanakan (Mangunhardjana, 1986: 16). Dengan demikian program dapat diartikan sebagai usaha yang dirumuskan sedemikian rupa untuk mencapai suatu tujuan. Program (Suhardiyanto, 1998: 3) bertujuan demi kemantapan dan kelancaran suatu tugas. Oleh karena itu isi program perlu mempertimbangkan minat, kemampuan, sesuai dengan kondisi peserta atau dengan kata lain sesuai dengan kehidupan nyata peserta.

  B. Latar Belakang Penyusunan Program

  Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa betapa banyak kaum remaja yang masih menganggap bahwa film itu hanya sebagai sarana untuk refresing dan mengisi waktu luang atau senggang. Meski demikian mereka tetap memiliki sikap yang kritis terhadap sebuah film dan film pada akhirnya menjadi suatu media pembelajaran, dimana mereka bisa menemukan begitu banyak pesan moral yang bisa dijadikan pedoman dalam hidup.

  Dalam kehidupan sehari-hari remaja tentu saja dihadapkan dengan berbagai masalah. Demikian halnya dengan remaja di stasi St. Antonius Padua, Palakahembi. Banyak sekali mereka berperilaku menyimpang dari nilai kehidupan yang ada. Contohnya, dalam kehidupan setiap hari-hari mereka lebih memilih untuk berkumpul untuk mabuk-mabukan, balapan motor, dan masih banyak lagi. Untuk itu diperlukan suatu kegiatan yang dapat membantu mereka.

  Berdasarkan hal di atas, penulis menyusun program katekese yang akan digunakan untuk membantu kaum remaja dalam proses menanamkan semangat perdamaian. Program katekese ini akan diadakan dalam dua kali pertemuan.

  C. Alasan Pemilihan Tema

  Setelah penulis mengadakan penelitian menggunakan kuesioner dan observasi, penulis memilih salah satu tema yang akan dipakai dalam pertemuan katekese di antara remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua. Tema yang penulis pilih ialah ”Membangun Sikap Tanggung Jawab Terhadap Tindakan Kita dalam Hidup Bersama Orang Lain”.

  Pendalaman tema ini akan dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Tema ini dipakai karena sangat cocok dengan situasi remaja yang ada di stasi St. Antonius Padua.

  Manusia adalah makhluk sosial, karena itu tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan orang lain. Demikian pula remaja di stasi St. Antonius Padua. Dalam kesehariannya mereka membutuhkan kehadiran sesama, mereka membutuhkan tempat dan sarana dalam beraktivitas, dan masih banyak lagi. Setiap dari mereka sangat tergantung dengan dunia yang ada di sekitarnya, maka dibutuhkan sikap terbuka, kritis, dan bertanggung jawab.

  Di zaman yang semakin berkembang ini, sikap terbuka, kritis, dan bertanggung jawab sudah sulit ditemukan dalam diri setiap pribadi. Remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Palakahembi tidak semuanya memiliki sikap terbuka, kritis, dan bertanggung jawab. Hal ini terlihat dari hasil penelitian dimana masih ada remaja yang kurang terlibat dalam kegiatan Gereja bahkan ada yang tidak terlibat. Selain itu penulis juga menemukan situasi dan suasana persaudaraan, kegembiraan, kedamaian dan sukacita masih perlu dipupuk di dalam diri remaja. Untuk menemukan situasi dan suasana persaudaraan, kegembiraan, kedamaian dan sukacita diperlukan sebuah perjuangan dan setiap orang berusaha dengan berbagai upaya untuk melakukannya. Selain itu remaja juga dalam kehidupan sehari-hari masih kurang memperhatikan nilai-nilai perdamaian. Akibatnya, remaja kurang peduli dengan dunia sekitarnya dan pada akhirnya kehadirannya tidak membawa damai.

D. Program dan Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik untuk Menanamkan Semangat Perdamaian di Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng- cheng Po”.

  1. Program Katekese Audio Visual bagi Remaja Katolik Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng-cheng Po” [Lampiran 2: (6)-(7)].

  2. Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur [Lampiran 3: (8)-(13)].

E. Praktik Katekese dengan Menggunakan Media Film “Cheng-cheng Po” untuk Menanamkan Semangat Perdamaian di Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

  Program katekese yang telah penulis susun tidak hanya sekedar usulan namun dilaksanakan bersama remaja Katolik yang ada di stasi St. Antonius Padua. Dalam menjalankan program ini, penulis tidak mengalami kesulitan. Jaduwal katekese yang sudah dari awal ditentukan tidak mengalami pergeseran waktu. Ada beberapa hal yang akan penulis sampaikan berkaitan dengan pelaksanaan program.

1. Pelaksanaan Katekese Bagi Remaja I

  Program katekese bagi remaja untuk menanamkan semangat perdamaian yang pertama dilaksanakan pada hari Minggu 26 Juli 2009. Selama ini pelaksanaan katekese bagi remaja dan mudika tidak pernah terlaksana. Sebelum melaksanakan katekese, penulis melakukan pendekatan baik dengan guru agama, pengurus stasi, ketua mudika, dan mencoba mendekati para remaja secara pribadi. Adapun jalannya pelaksanaan katekese yang dapat penulis laporkan sebagai berikut: a. Tempat : Gereja St. Antonius Padua

  b. Waktu : 10.00 – 12.00

  c. Peserta : 36 orang

  d. Sarana : - Cerita “Sandubaya dan Lala Seruni”

  • Kamera Digital - Laptop

  e. Proses : 1) Pembuka

  • Doa pembuka dipimpin oleh Rambu (anggota mudika)
  • Ucapan selamat datang
  • Pengantar singkat: “Teman-teman, selamat siang dan terima kasih karena sudah meluangkan waktunya untuk hadir dalam pertemuan ini. Tema pertemuan pada kesempatan ini adalah membangun sikap tanggung jawab terhadap tindakan kita dalam hidup bersama orang lain. Tema ini mengajak kita untuk membangun sikap tanggung jawab terhadap tindakan dan perilaku dalam hidup bersama demi kehidupan yang damai dan sejahtera. Teman-teman untuk mengawali proses pertemuan ini saya akan membagikan kepada teman-teman lembaran yang isinya sebuah cerita. Cerita ini berasal dari pulau Lombok dengan judul “Sandubaya dan Lala Seruni”. Setelah teman-teman membaca cerita tersebut, saya akan mengajak teman-teman untuk berdiskusi dengan metode SOTARAE. Diharapkan dengan menggunakan metode ini akan membantu teman-teman dalam menggali situasi yang muncul setelah membaca cerita, melihat isi cerita dengan obyektif, menemukan tema-tema yang sesuai, menganalis tema yang ada dan menemukan latar belakangnya. Saya juga akan meminta teman-teman untuk merangkum segala hal yang telah dibahas bersama dan setelah itu teman-teman membuat aksi nyata. Pada akhir proses teman-teman mengevaluasi seluruh proses yang telah dilakukan dari awal.

  2) Membagikan Teks cerita “Sandubaya dan Lala Seruni” kepada peserta”. Pendamping memberi waktu kepada peserta untuk membacanya sendiri-sendiri. (Pada usulan program melihat situasi saat itu kurang mendukung akhirnya cerita ini dibaca oleh masing-masing pribadi).

  Intisari cerita: Sang prabu Kertajagat adalah raja Lombok dan beragama Hindu. Pada suatu malam di bulan purnama ia bersama istri dan keluarga kerajaan hendak sembahyang ke Pura Kayangan. Setibanya di Pura raja bersama rombongan sangat kusuk sembahyang. Di sana ada pula sepasang suami-istri yang baru sebulan lamanya menikah yaitu Demung Sandubaya dan Lala Seruni. Melihat kecantikan Lala Seruni yang tidak ada tandingannya maka raja tergila-gila dan ingin memperistrinya. Maka muncullah niat busuk dari raja yaitu ingin membunuh Demung Sandubaya. Akhirnya Demung Sandubaya dibunuh di hutan Gemong saat sedang berburu. Sebelum pergi, Lala Seruni sempat melarang suaminya pergi karena ia tahu niat busuk raja, namun Demung Sandubaya tidak ingin ingkar janji kepada raja. Sebelum pergi Demung Sandubaya berpesan jika kuda yang ditungganginya (Gasar Mayang) kembali tanpa dirinya berarti itu bertanda bahwa dirinya telah mati. Ketika Gasar Mayang pulang sendiri maka Lala Seruni langsung menunggangi kuda itu dan cepat menuju hutan sesaai pesan suaminya. Di sana ia menemukan suaminya telah terbunuh. Keesokan harinya, rombongan raja membawa paksa Lala Seruni ke istana dan selama di istana Lala Seruni tidak mau makan dan minum berhari-hari. Melihat hal itu hati raja sedih. Suatu hari Lala Seruni mengajukan permintaan untuk mandi di pantai Mananga Baris dan permintaan itu pun dikabulkan. Saat di pantai, tiba-tiba dari tengah laut datang sekuntum teratai berwarna merah dan menyala seperti api. Melihat itu, Lala Seruni meminta kepada raja agar memetik teratai itu. Raja pun memerintahkan para prajurit untuk memetiknya namun tidak berhasil karena Lala Seruni terus meminta akhirnya raja sendiri yang berenang ke tengah laut untuk mengambil teratai. Namun saat berenang datang rombongan ikan dan kerang menyerang raja hingga pingsan. Teratai merah itu menepi ke arah Lala Seruni yang sedang menanti. Setelah mendekat ia pun melompat ke atas teratai dan teratai itu membawa Lala Seruni ke tempat penantian suaminya di alam baka. Kematian Demung Sandubaya membuat Demung Brangbantun, kakak Sandubaya marah dan akhirnya terjadilah perang. Dalam peperangan ini raja Lombok mengalami kekalahan dan karena kecewa Prabu Kartajagat membenturkan kepala ke batu sampai pecah dan meninggal. Sebagai penggantinya, diangkatlah Prabu Rangkasari sebagai raja. Karena sikapnya yang sangat berbeda dengan Prabu Kartajagat yaitu tidak suka dengan perang maka ia mengajak Demung Brangbantu untuk berdamai dan ajakan itu pun diterima dengan senang hati. Dan sejak itu kedua pasukan itu membentuk tali persahabatan dan Kerajaan Lombok menjadi aman dan sejahtera.

  3) Diskusi isi cerita Table 4. Hasil Diskusi SOTARAE Pertemuan I

  Pertanyaan Tahap Jawaban/Tanggapan Peserta Keterangan

  Penuntun Situasi Setelah membaca - Sedih: ketika Lala Seruni Jawaban cerita, situasi apa ditinggal mati suaminya. peserta diketik yang teman- - Jengkel: melihat si Raja di laptop dan teman temukan Lombok yang suka dengan ini dilakukan serta rasakan. perang. oleh salah - Salut: melihat kesetiaan Lala satu peserta.

  Seruni terhadap suaminya.

  • Senang: pada akhirnya Raja Lombok meninggal dan dengan bergantinya pemimpin perang pun berakhir.

  Objektif Siapa saja tokoh - Sandubaya: setia pada janji yang teman- Lala Seruni: setia, mau

  • teman temukan berkorban
  • dari cerita

  Prabu Kartajagat: serakah, tersebut. keras Bagaimana

  • pengertian, pemurah karakter dari setiap tokoh.

  Demung Brangbantun:

  • dan tidak suka dengan peperangan

  Demung Rangkasari: baik

  Tema Dari cerita Menjadi Pembawa Damai

  • Sandubaya dan

  Hidup Dalam Pengampunan Lala Seruni, tema

  • apa yang teman- teman temukan sehubungan dengan cerita

  Kesetiaan

  Pada tahap analisis peserta dibagi dalam 5 kelompok diskusi

  Analisis Ada 3 tema yang Kelompok I: teman-teman Tema: Kesetiaan

  • temukan. Dari Alasan: dalam cerita si Lala ketiga tema ini Seruni menunjukkan rasa pilihlah satu tema cinta akan suaminya dengan saja yang melakukan apa yang menurut dikatakan suaminya.
kelompok sangat sesuai dengan Kelompok II: cerita dan

  • mengapa tema itu Pengampunan - yang teman-

  Tema: Hidup Dalam

  Alasannya: rasa kehilangan teman pilih. yang dialami Demung Brangbantun, melahirkan kemarahan dan ingin membalas dendam. Namun pada akhirnya ia menerima juga perdamaian yang ditawarkan oleh Prabu Rangkasari. Hal ini terjadi karena ada sikap menerima dan memaafkan.

  Kelompok III:

  Menjadi Pembawa Damai

  • Alasan: Prabu Brangkasari - menggantikan raja Kertajagat. Dalam situasi perang, ia hadir sebagai pemersatu sehingga kehidupan menjadi damai dan sejahtera. Dalam dirinya ada rasa tanggung jawab yang besar dalam menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya.

  Kelompok IV:

  Menjadi Pembawa Damai

  • Alasan: tokoh Prabu -

  Brangkasari yang ada dalam cerita memberi teladan untuk selalu mengutamakan kepentingan umum. Prabu Brangkasari dan Demung Branbantun memiliki rasa peduli terhadap kesejahteraan rakyat dan itu ditunjukkan dengan menghentikan peperangan dan menjalin persahabatan antar kedua belah pihak.

  Kelompok V:

  Hidup Dalam Pengampunan

  • Alasan: Lala Seruni tahu
  • siapa yang membunuh suaminya namun dia tidak berniat membalas dendam. Demikian pula dengan Demung Branbantun, meski hatinya sudah dipenuhi oleh rasa marah dan dendam tapi ia pada akhirnya lebih memilih jalan damai ketimbang membalas dendam.

  Setiap pribadi Kelompok I:

  • tentu diserahi

  Memiliki sikap tidak peduli suatu tanggung jawab. Namun terkadang orang lebih memilih untuk lari dari tanggung jawab itu. Mengapa hal tersebut terjadi?

  • Takut direpotkan
  • Terkadang merasa tidak mampu

  Kelompok II:

  • Takut melakukan kesalahan
  • Merasa bahwa masih ada orang lain yang lebih bertanggung jawab
  • Malas untuk terlibat atau ambil bagian

  Kelompok III:

  • Terkadang merasa tidak mampu
  • Takut salah
  • Tidak setia

  Kelompok IV:

  • Merasa bahwa masih ada orang lain yang lebih bertanggung jawab
  • Merasa tidak mampu

  Kelompok V:

  • Malas untuk terlibat atau ambil bagian
  • Takut salah

  Peserta dikumpulkan dalam kelompok besar

  Rangkuman Cerita Sandubaya - Sadar bahwa setiap janji Peserta diminta untuk membuka perikop Luk. 11:42-47

  dan Lala Seruni membawa pesan apa untuk teman- teman secara pribadi yang telah dikatakan harus dipenuhi

  • Perlu menjalani hidup dengan tanggung jawab seperti yang dilakukan oleh Prabu Rangkasari. Ia bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya
  • Sebagai penerus Gereja kaum remaja perlu memiliki sikap yang mau mengampuni agar ikut ambil bagian dalam tugas Gereja dalam menciptakan dunia yang damai.

  Aksi Langkah apa yang akan teman- teman lakukan atau buat untuk keterlibatan teman-teman dalam hidup bersama dan dalam hidup menggereja

  Aksi dibuat dalam kelompok besar

  • Diadakan pendalaman iman bagi remaja setiap bulan
  • Adanya kerja bakti bersama di Gereja dengan harapan adanya kegiatan ini semua remaja yang ada semakin terlibat dan akrab antara satu dengan yang lain

  Evaluasi Teman-teman sudah melewati proses dari awal hingga saat ini. Maka pada kesempatan ini

  Peserta diminta untuk mengungkapk an pendapatnya secara

  • Ketika sedang membaca cerita alangkah baiknya jika diselingi dengan musik
  • Peserta yang hadir hanya sedikit yang terlibat aktif.
  • Waktu pertemuan dua jam
saya mengajak terlalu lama sebaiknya satu spontan. teman-teman jam saja

  • untuk

  Bahasa yang dipakai mudah memberikan dimengerti apa lagi sering masukan tentang diselingi dengan bahasa proses pertemuan daerah hanya sedikit cepat yang perlu kita dalam berbicara perbaiki atau yang perlu kita pertahankan

  4) Penutup Doa penutup

2. Pelaksanaan Katekese Bagi Remaja II

  Pelaksanaan katekese audio visual bagi remaja stasi St. Antonius Padua dilaksanakan pada hari Minggu 2 Agustus 2009. Kegiatan ini dilaksanakan setelah perayaan ekaristi selesai. Adapun jalannya pelaksanaan program dapat dilaporkan penulis sebagai berikut: a. Tempat : Gereja stasi St. Antonius Padua

  b. Waktu : 10.00-11.30 c. Peserta : 48 peserta

  d. Sarana : - Laptop

  • Film “Cheng-cheng Po”
  • Kamera digital
  • Kitab Suci

  e. Proses: 1) Pembuka

  • Doa pembuka dipimpin oleh Ani - Ucapan selamat datang
  • Pengantar singkat “Teman-teman, selamat siang dan senang sekali karena kembali lagi kita berkumpul kembali di tempat ini untuk berkatekese. Minggu yang lalu kita sudah mendalami sebuah cerita berjudul Sandubaya dan Lala Seruni. Dari pertemuan itu ada beberapa hal pokok yang telah teman-teman peroleh. Pada pertemuan ini saya mengajak teman- teman untuk menyadari kasih Yesus yang dapat kita rasakan lewat sesama yang ada di sekitar kita. Pada hari ini kita akan nonton bersama sebuah film yang berjudul “Cheng- cheng Po”. Setelah itu kita akan berdiskusi bersama.

  2) Pemutaran Film

  • Sinopsis

  Markus, Tyara, Tohir, dan Han berasal dari keluarga dengan latar belakang dan etnis yang berbeda. Meski demikian, hal itu tak membuat mereka menjadi berjarak.

  Persahabatan mereka begitu tulus hingga merobohkan sekat-sekat perbedaan yang ada. Markus, Tyara dan Tohir, memiliki obsesi yang saling berbeda, namun mereka memilih untuk sejenak melupakannya demi menolong Han, bocah miskin dalam mencapai impiannya. Empat anak yang bersahabat ini berasal dari etnis berbeda. Ada Tionghoa, Jawa, dan Papua. Satu dari mereka yang etnis Thionghoa tidak bisa membayar uang sekolah karena tidak ada biaya. Orangtuanya bekerja sebagai penjual bakpao di pinggir jalan dan dagangannya pun tidak terlalu laris. Melihat kenyataan itu teman-temannya bermaksud membantu. Ketika berbicara dengan orangtua masing-masing, hasilnya sangat mengecewakan karena tidak ada yang mau membantu. Akhirnya salah satu di antara mereka mendapatkan ide untuk membuat pertunjukan barongsai sederhana di depan warung bakpao orangtua Han, agar menarik pembeli. Pertunjukan itu pun menarik perhatian banyak orang dan yang lebih menggembirakan lagi adalah dagangan dari orangtua Han menjadi laris dan habis terjual. Akhirnya Han dapat membayar uang sekolahnya.

  • Pemutaran Film 17 menit 3) Proses Tabel 5. Hasil Diskusi SOTARAE Pertemuan II

  Jawaban/pendapat Tahap Pertanyaan Penuntun Keterangan peserta

  Situasi Setelah menyaksikan Jawaban peserta Salut: melihat

  • film Cheng-cheng persahabatan mereka diketik di laptop Po, apa yang teman- yang begitu tulus meski dan ini
teman rasakan? berasal dari latar dilakukan oleh belakang suku yang salah satu berbeda peserta. Sedih: ketika melihat

  • Han tidak dapat membayar uang sekolah. Ketika Markus, Tyara, dan Tohir sangat kecewa karena orangtua mereka tidak mau menolong Han.
  • mereka untuk membantu Han. Mereka mengadakan pertunjukan di depan warung orangtua Han dengan harapan dagangan menjadi laris

  Terharu: melihat usaha

  • Han dapat melunasi uang sekolahnya dan bisa terancam tidak bisa ikut ujian
  • Objektif Siapa saja tokoh yang

  Senang: pada akhirnya

  Markus: tulus dan mau ada dalam film dan berbagi dari bagaimana karakter kekurangannya

  • dari setiap tokoh

  Tyara: mau berteman dengan siapa saja dan suka menolong

  • menyerah dengan keadaan

  Tohir: tidak mudah

  • menyerah tapi bersama teman-temannya mencoba untuk membantu orang tuanya agar dagangannya laris

  Han: tidak mudah ingin membantu tapi memiliki sesulitan keuangan yang sama, ada yang mampu tapi tidak mau membantu karena melihat latar belakang suku yang berbeda

  • untuk membantu
  • Tema Dari film tersebut,

  Orang banyak: tergerak

  Kasih dalam tindakan

  • tema apa yang

  Perbedaan itu indah

  • teman-teman

  Ringan tangan

  • temukan

  Persahabatan dan ketulusan

  Peserta dibagi dalam 6 kelompok

  Analisis Dari tema yang telah KELOMPOK I: ditemukan di atas, Tema: Kasih dalam

  • kelompok tindakan
  • dipersilahkan

  Alasan: mereka memilih satu tema memang anak kecil beserta alasannya namun ketika sahabatnya sedang kesusahan mereka memiliki perasaan kasihan dan ingin melakukan sesuatu, hal ini terlihat dari niat mereka untuk membantu.

KELOMPOK II:

  Tema: Ringan tangan

  • Alasan: Markus berasal
  • dari keluarga yang tidak mampu namun ia masih berpikir dan mau berusaha untuk menolong Han
  • indah

  Tema: Perbedaan itu

  • mengutus kita untuk membawa kasih bagi sesama lewat kata dan perbuatan. Hal ini ditunjukkan Tyara ketika dia berteman dengan siapa saja meski ayahnya melarang.

  Alasan: Yesus

KELOMPOK IV:

  • dan ketulusan

  Tema: Persahabatan

  • sahabatKu jika melakukan apa yang Kuperintahkan, kasihilah sesamamu”. Perbedaan budaya antara mereka tidak membuat satu dengan yang lain saling cuek atau tidak peduli namun mereka saling membantu dengan tulus. Sikap ini merupakan teladan kasih yang nyata dalam perbuatan

  Alasan: “kamu adalah

KELOMPOK V:

  • indah

  Tema: Perbedaan itu

  • maka ada sikap saling menghargai. Bila sikap ini ada dalam

  Alasan: bila ada kasih kehidupan bersama maka tidak akan terjadi perpecahan, permusuhan, saling membenci bahkan sebaliknya hidup menjadi indah karena dengan segala perbedaan yang ada kita saling mengasihi

KELOMPOK VI:

  • tindakan

  Tema: Kasih dalam

  • cukup hanya dikatakan namun terlihat dalam perbuatan. Karena kasih, Ia telah menyerahkan nyawa- Nya dan kita diharap mampu mewujudkan kasih dalam perbuatan.
  • Sejauh mana teman-

  Alasan: kasih tidak

  Sejauh ini belum teman sudah dilakukan dengan mewujudkan cinta sungguh-sungguh kasih dalam hidup karena terlalu berat bersama orang lain? menjalankannya

  • Dan jika belum

  Kadang-kadang mengapa hal itu bisa dilakukan karena terjadi? merasa tidak terlalu penting

  • karena tidak mau ditertawakan dan dibilang orang suci

  Takut melakukannya

  • karena kadang tidak berani atau takut

  Belum dilakukan Rangkuman Menurut - teman- Peserta diajak Menyadarkan saya teman film Cheng- untuk tidak untuk membuka cheng Po membawa meremehkan orang lain perikop suatu pesan karena Yesus Yohanes mengasihi siapa saja 15: 9-16

  • dengan orang lain diperlukan sikap tulus, memiliki rasa peduli, dan menghargai. Dengan demikian maka kasih akan nyata dalam kehidupan bersama sehingga terwujud hidupan yang damai

  Dalam menjalin relasi

  • bahwa hanya dengan kasih maka segala permusuhan, kebencian, dendam, dan peperangan akan hilang. Oleh karena itu kita perlu membuka diri dan selalu berusaha untuk menjadi pembawa damai di tempat kita berada

  Menyadarkan saya

  Aksi Setelah melewati Dalam Memperhatikan ajaran

  • proses di atas, niat Yesus dengan berusaha kelompok besar apa yang akan teman- untuk dilakukan atau teman lakukan agar dijalankan
  • ajaran dan perintah

  Menjadikan kehadiran cinta kasih sungguh- saya sebagai pembawa sungguh menjadi damai tugas dan perutusan kita di tengah dunia

  Evaluasi Dari seluruh proses Peserta diminta Keseluruhan proses

  • yang telah terjadi menarik untuk
  • mengungkapkan silahkan teman- Acara tidak kaku teman memberikan sehingga peserta mudah pendapatnya masukan untuk mengikutinya secara spontan

  • memperbaiki hal-hal

  Banyak peserta yang yang masih kurang aktif Ruangan terlalu luas

  • sehingga ketika pemutaran film suaranya kurang terdengar jelas F.

   Evaluasi Pelaksanaan Program Katekese.

  Dalam setiap pelaksanaan pertemuan diadakan evaluasi dan evaluasi ini dilakukan setelah proses pertemuan telah terlaksana. Adapun tujuan dari evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan katekese yang telah dilaksanakan sungguh memberikan sumbangan kepada para remaja di stasi St. Antonius Padua. Pada pertemuan pertama, evaluasi dilakukan oleh seorang evaluator. Sebelum ia mengevaluasi pelaksanaan katekese pertama, penulis telah mempersiapkannya agar sungguh memahami apa saja yang perlu diperhatikan saat proses katekese berlangsung. Pada pertemuan kedua, evaluasi dilakukan oleh seluruh peserta dengan cara mengisikan kuesioner yang telah disiapkan oleh penulis.

1. Hasil Evaluasi Pertemuan I

  Pada akhir pertemuan diadakan evaluasi bersama, namun selain itu penulis juga meminta satu orang untuk menjadi evaluator. Jadi selama proses pelaksanaan katekese evaluator bertugas mengamati dan memberi pendapat dan itu dilakukan secara tertulis. Evaluator tersebut adalah Sr. Rosalia, SSpS. Dari hasil pengamatannya dikatakan bahwa materi yang dipakai sesuai dengan keadaan remaja Katolik yang ada di stasi St. Antonius Padua. Hal ini sangat perlu diberikan agar mereka menyadari pentingnya memiliki tanggung jawab dalam kehidupan bersama dan dalam hidup menggereja. Sarana yang dipakai dalam pertemuan cukup inspiratif. Cerita Sandubaya dan Lala Seruni sesuai dengan tema yang dipakai. Evaluator melihat dari segi proses dapat dikatakan bahwa prosesnya lumayan lancar. Setiap tahap yang ada dalam diskusi SOTARAE dapat diikuti oleh peserta. Menurut evaluator, fasilitator cukup baik ketika menyampaikan materi meski agak sedikit cepat dalam berbicara. Fasilitator hanya sedikit sulit mengajak peserta untuk aktif dalam diskusi karena mereka belum terbiasa dengan katekese sehingga ketika diminta pendapatnya ada yang hanya senyum, ada yang diam namun ada juga yang mau mengeluarkan pendapatnya.

  [Lampiran 4: (14)-(17)].

2. Hasil Evaluasi Pertemuan II

  Tabel 6. Evaluasi Katekese Pertemuan II No. Pertanyaan Frekuensi %

  1 Metode yang dipakai dalam pertemuan ini membantu anda dalam memahami isi dan pesan yang ingin disampaikan.

  a. Sangat setuju 45 93,75

  b. Setuju

  c. Tidak setuju 3 6,25

  d. Sangat tidak setuju

  e. ……………………

  48 100 2 Dalam pertemuan ini anda tidak merasa bosan.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju 43 89,60

  c. Tidak setuju 2 4,16

  d. Sangat tidak setuju

  e. Kadang-kadang 3 6,25 48 100

  3 Cerita yang terdapat dalam film “Cheng-cheng Po”, jelas dan mudah untuk dimengerti maksudnya dan cocok dengan tema.

  • b. Setuju
  • a. Sangat setuju

  47 97,91

  • d. Sangat tidak setuju
  • c. Tidak setuju

  e. Ragu-ragu 1 2,1 48 100

  4 Bahasa yang dipakai dalam film tersebut menarik.

  a. Sangat setuju 46 95,83

  b. Setuju

  c. Tidak setuju 2 4,16

  d. Sangat tidak setuju - -

  • e. …………………… - 48 100

  5 Film “Cheng-Cheng Po” bukan hanya memberi hiburan tapi juga pesan iman.

  a. Sangat setuju 47 97,91

  b. Setuju

  c. Tidak setuju 1 2,08

  d. Sangat tidak setuju

  e. ……………………

  • 48 100 6 Anda menangkap pokok-pokok yang dibicarakan.
a. Sangat setuju 35 72,91

  b. Setuju 11 22,91

  c. Tidak setuju 2 4,19

  d. Sangat tidak setuju

  e. ……………………

  • 48 100

  7 Dalam pertemuan ini, anda menemukan nilai-nilai perdamaian.

  a. Sangat setuju 37 77,08

  b. Setuju 11 22,91

  c. Tidak setuju

  • d. Sangat tidak setuju -

  e. ……………………

  • 48 100

  8 Dalam pertemuan ini, anda merasa didorong untuk menjadi pembawa damai dalam hidup bersama dengan orang lain.

  a. Sangat setuju 47 97,91

  b. Setuju

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju 1 2,08

  • e. ……………………
  • 48 100 9 Anda terlibat aktif saat proses berlangsung.

  a. Sangat setuju 28 58,33

  b. Setuju 19 39,58

  c. Tidak setuju 1 2,08

  • d. Sangat tidak setuju -
  • e. …………………… - 48 100

  10 Anda terlibat aktif karena cocok dengan pengalaman keseharian dan pengalaman iman anda.

  a. Sangat setuju 45 93,75

  b. Setuju 3 6,25

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

e. ……………………

  • 48 100

  Pada pertemuan kedua, penulis meminta peserta untuk mengevaluasi seluruh proses secara lisan dan tertulis. Evaluasi yang berbentuk kuesioner terdiri dari sepuluh pertanyaan [Lampiran 5: (18)-(21)]. Adapun hasil dari evaluasi sebagai berikut:

  Metode SOTARAE yang dipakai dalam katekese sangat membantu peserta dalam memahami isi dan pesan yang ingin disampaikan. Hal ini terlihat dibenarkan oleh peserta (93,75%). Sarana yang digunakan yakni film, membuat peserta merasa tidak bosan melainkan menarik (89,60%). Sedangkan isi cerita dan kesesuaian dengan tema, ada 97,91% peserta mengatakan bahwa film “Cheng-cheng Po“ isinya jelas, mudah dimengerti, dan cocok dengan isi pesan. Ketika ditanya apakah bahasa yang dipakai dalam film menurut peserta menarik, terbukti hanya ada 4.16% peserta yang mengatakan bahasa dalam film kurang menarik. Setiap film selain menghibur tentunya juga mempunyai pesan yang ingin disampaikan. Demikian halnya dengan film “Cheng-cheng Po”. Menurut 97,91% peserta film “Cheng-cheng Po” bukan hanya menghibur, namun memberikan pesan iman pula.

  Pada pertanyaan tentang pokok-pokok yang dibicarakan, hanya ada 4,19% yang menyatakan tidak setuju. Dalam proses pertemuan seluruh peserta atau 100% peserta mengatakan bahwa mereka menemukan nilai-nilai perdamaian. Jadi tidak mengherankan jika ada 97,81% yang terdorong untuk menjadi pembawa damai bagi sesama. Dan saat proses berlangsung hanya 2,08% peserta yang tidak aktif. Peserta terlibat aktif karena cocok dengan pengalaman keseharian dan pengalaman iman mereka. Hal ini disetujui oleh semua peserta yang hadir.

G. Rangkuman.

  Setelah penulis melakukan praktik katekese audio visual untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua dan mengadakan evaluasi. Dapat disimpulkan bahwa katekese audio visual dengan menggunakan film untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua sangat tepat. Dikatakan demikian karena sesuai dengan situasi bahwa para remaja perlu menyadari bahwa media yang ada bukan hanya sebagai hiburan semata namun dapat memperkembangkan iman mereka. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, penulis dapat mengatakan bahwa sarana film dapat mendorong remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua lebih bersemangat menjadi pembawa damai di mana pun mereka berada.

BAB V PENUTUP Pada bagian akhir penulisan ini penulis akan menyampaikan beberapa hal sebagai

  kesimpulan dari keseluruhan isi dari penulisan ini. Penulis juga menyampaikan saran yang dapat digunakan dalam mendampingi kaum remaja dalam usaha menanamkan semangat perdamaian.

A. Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua menonton film hanya sebagai sarana hiburan semata. Mereka kurang kritis dalam melihat film sebagai media yang menyampaikan pesan. Jadi tidak mengherankan jika kebanyakan dari mereka terpengaruh oleh gaya hidup (negatif) yang ada dalam tayangan yang ditontonnya. Melihat hal itu Gereja tidak berpangku tangan dan untuk membantu remaja agar tidak menjadi korban budaya yang ditawarkan oleh media hiburan maka Gereja menggunakan media audio visual dalam pewartaan iman. Setelah remaja Katolik stasi St. Antonius Padua mengikuti program katekese audio visual yang penulis laksanakan, mereka menyadari bahwa media bukan hanya sarana hiburan semata namun sebagai suatu media pembelajaran bagi mereka.

B. Saran

  Remaja Katolik adalah penerus Gereja di masa yang akan datang. Kehadiran Gereja di tengah dunia untuk mengabarkan kabar suka cita. Ketika dunia berada dalam situasi yang memprihatinkan di mana tidak adanya kedamaian antara manusia, maka Gereja memiliki tanggung jawab untuk menciptakan perdamaian.

  Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mengungkapkan beberapa saran bagi remaja Katolik stasi St. Antonius Padua agar menyadari pentingnya memiliki semangat untuk menjadi pembawa damai. Beberapa saran yang dapat diberikan oleh penulis bagi remaja Katolik stasi St. Antonius Padua. Pertama, para pembina atau katekis perlu mampu mengadakan pendekatan dengan para remaja sehingga mudah memahami situasi mereka dan perlu mengadakan pembinaan iman untuk membantu mereka dalam menghayati imannya. Perlu juga memperhatikan tujuan dari pelaksanaan katekese dimana mengupayakan nilai- nilai kristiani dan menyadarkan mereka terhadap tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengikut Kristus. Kedua, para remaja perlu kritis dalam menikmati media hiburan (film) yang ada jangan sampai terbawa oleh arus yang ditawarkan. Ketiga, para remaja hendaknya terlibat dalam menciptakan dunia yang damai dan itu dapat dimulai dengan terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja.

DAFTAR PUSTAKA

  Adisusanto, F.X., SJ. (2001). Seri Puskat 378: Katekese Audio Visual. Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. Betani. http://healingmovement.site88.net/documents/healing movement -arti shalom.html.

  Accessed on February 25, 2009. Black, James A. dan Dean J Champion. (2001). Metode dan Masalah Penelitian Sosial.

  Bandung: PT. Refika Aditama. Effendy, Heru. (2002). Mari Membuat Film. Jakarta: Yayasan Konfiden. Eilers, Franz-Josef, SVD. (2001). Berkomunikasi dalam Masyarakat. Ende: Nusa Indah. Elizabeth B. Hurlock. (1989). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga. Gandhi, Mahatma. (1996). Semua Manusia Bersaudara. Jakarta: Yayasan Obor dan PT.

  Gramedia. Hamidi, M. Si. (2007). Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. Malang: UPT. Penerbitan Universitas Muhammadyah.

  Iswarahadi, Y.I., SJ. (2000). Tantangan dan Peluang Bagi Kerasulan Komunikasi Sosial Dewasa ini dan Mendatang . Diktat Kuliah PAK dan AV III. Yogyakarta.

  (2003). Beriman dengan Bermedia . Yogyakarta: Kanisius. Lalu, Yoseft. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Lembaga Alkitab Indonesia. (2004). Alkitab. Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia.

  Mavunduse, Diana dan Oxley, Simon. (2006). Mengapa Tindak Kekerasan? Mengapa Bukan Damai?. Yogyakarta: Titian Galang Printika. Mangunhardjana A. M. (1984). Pendampingan Kaum Muda Sebuah Pengantar Yogyakarta: Kanisius. Moeliono, Anton. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. NN. http://www.total.or.id/info.php?kk=Audiovisual. Accessed on February 24, 2009. NN. http://ceenso.wordpress.com/2008/12/03/arti-media-pembelajaran/. Accessed on March 19, 2009. NN. http://id.wikipedia.7val.com/wiki/Media_massa. Accessed on June 10, 2009. Parman, G dan Riyadi Ali, Slamet. (1993). Cerita rakyat dari Lombok . Jakarta: Gramedia Purbanegara, W. B. (2007). Cheng-cheng Po (VCD recording tidak resmi). Indonesia:

  Sanggar Cantrik Persekutuan Sahabat Gloria Sarlito Wirawan S. (1989). Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali. Setyakarjana, J. (1976). Mencari Arah Katekese Dalam Gereja Yang Berkembang Di Indonesia. (Seri Pradnyawidya 26). Yogyakarta. Suhardiyanto, H.J, SJ. (1998). Teori Pendidikan Kader. (Manuskrip). Yogyakarta: Puskat. Sugiyono, dkk. (2004). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta Sugiarti, Goretti. (1999). Pendampingan Iman anak. Yogyakarta. Fipa Telaumbanua, Marinus. DR. OFM.Cap. (1999). Ilmu Kateketik: Hakikat, Metode, dan Peserta Gerejawi . Jakarta: Obor. Willis, Sofian. S. (1961). Problem Remaja dan Pemecahannya. Jakarta: Angkasa. Zahrudin AR, M, Hasanudin Sinaga. (2004). Pengantar Studi Akhlak. Jakarta.

  Lampiran 1: Angket Penelitian Angket Penelitian

  c. Kadang-kadang

  c. 3 jam

  b. 2 jam

  a. 1 jam

  4. Dalam sehari anda menghabiskan berapa jam untuk menonton film?

  e. Sangat tidak setuju

  d. Kurang setuju

  c. Ragu-ragu

  b. Setuju

  a. Sangat setuju

  e. Tidak pernah 3. Film merupakan suatu media pembelajaran.

  d. Jarang sekali

  b. Sering

  A. Pengantar Mudika stasi St. Antonius Padua yang terkasih, saya bermaksud mengadakan penelitian untuk itu saya mohon bantuannya dalam mengisi daftar pertanyaan yang telah kami lampirkan. Atas partisipasi dari dari rekan-rekan kami ucapkan terima kasih. Tuhan memberkati.

  a. Sangat sering

  2. Apakah anda sering nonton film?

  e. Sangat tidak setuju

  d. Kurang setuju

  c. Ragu-ragu

  b. Setuju

  a. Sangat setuju

  D. Kuesioner 1. Film merupakan media untuk menyampaikan pesan moral.

  C. Petunjuk pengisian Di bawah ini akan diberikan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan keadaan anda. Jawaban yang anda berikan berkaitan dengan persetujuan anda terhadap pertanyaan tersebut. Tugas anda adalah melingkari salah satu huruf sebagai jawaban yang anda pilih.

  b. Perempuan Pendidikan Akhir : .................................... Pekerjaan : ....................................

  B. Identitas Nama : ..................................... Umur : .................................... Jenis kelamin : a. Laki-laki

  d. 4 jam e. lebih dari 5 jam

  5. Apa tujuan anda menonton film?

  a. Refresing

  b. Mengisi waktu luang

  e. Menambah wawasan

  d. Mengikuti tren

  e. Dan lain-lain

  6. Jenis film apa yang sering anda tonton?

  a. Drama

  b. Komedi

  c. Laga

  d. Kartun

  e. Lain-lain

  7. Sudah berapa kali anda menonton film “Cheng-cheng Po”?

  a. Belum pernah

  b. 1 kali

  c. 2 kali

  d. 3 kali

  e. Lebih dari 3 kali

  8. Film dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang

  a. Setuju

  b. Sangat setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju 9. Kita harus kritis dalam menilai film-film yang kita tonton.

  a. Setuju

  b. Sangat setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  10. Apakah anda sering merasakan manfaat dari menonton film

  a. Sangat merasa

  b. Sering merasa

  c. Kadang-kadang merasakan

  d. Jarang merasakan

  e. Tidak merasakan

  11. Apakah anda sering merasakan bahwa menonton film itu membosankan?

  a. Sangat sering

  b. Sering

  c. Kadang-kadang

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  12. Film memberi sumbangan kepada seseorang untuk mengatasi masalah hidup

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  13. Film dapat dijadikan sarana pendidikan namun bila tidak dimanfaatkan dengan baik dapat merusak moral kaum remaja a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  14. Bagi saya film hanyalah sarana hiburan semata

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  15. Film membantu saya dalam menghayati iman

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  16. Perdamaian merupakan suatu situasi dimana tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, tenteram, tenang, ditambah keadaan tidak ada permusuhan.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  17. Dalam Alkitab, kita sering menemukan kata “Shallom” dan kata ini seringkali diterjemahkan dengan "damai sejahtera".

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  18. Pada saat kegiatan atau acara apa Anda mengenal istilah Shallom atau perdamaian?

  a. Pelajaran di sekolah

  b. Misa

  c. Ceramah

  d. Pendalaman iman atau katekese

  e. lain-lain 19. Gereja perlu menanamkan semangat perdamaian dalam diri remaja Katolik.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

  20. Apakah anda sering mengikuti kegiatan atau acara yang membahas atau mendalami tentang perdamaian? a. Sangat sering

  b. Sering

  c. Kadang-kadang

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  21. Bila pernah mengikuti kegiatan atau acara yang membahas atau mendalami tentang perdamaian, kapan kegiatan itu Anda ikuti? a. Saat di SD

  b. Saat di SLTP

  c. Saat di SLTA

  d. Saat aktif di paroki

  e. Lain-lain

  22. Sikap Gereja terhadap dunia yang penuh dengan konflik sebaiknya menutup diri dan mengambil jarak karena akan membahayakan keberadaan Gereja. Terhadap pernyataan ini Anda…

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  23. Menciptakan dunia yang damai adalah tanggung jawab semua orang beriman termasuk kaum remaja Katolik.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  24. Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja dapat dilakukan melalui kegiatan rekoleksi, pendalaman iman atau katekese, dan retret.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  25. Dunia kita saat ini dihantui dengan ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan lain-lain sehingga orang hidup dalam situasi ketakutan dan hidup menjadi tidak tentram.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  26. Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik bertentangan dengan perintah Kristus untuk mewartakan kabar gembira kepada semua bangsa. Terhadap pernyataan ini Anda… a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  27. Apakah Anda setuju apabila diadakan kegiatan yang membahas atau yang mendalami tentang nilai perdamaian bagi kaum remaja Katolik? a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Ragu-ragu

  d. Kurang setuju

  e. Sangat tidak setuju

  28. Apakah anda sering mengikuti kegiatan mudika seperti pendalaman iman atau katekese yang ada hubungannya perdamaian? a. Sangat sering

  b. Sering

  c. Kadang-kadang

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  29. Dalam kehidupan sehari-hari apakah anda memperhatikan nilai-nilai perdamaian?

  a. Sangat sering

  b. Sering

  c. Kadang-kadang

  d. Jarang sekali

  e. Tidak pernah

  30. Apakah anda sering merasa bahwa kegiatan yang memiliki nilai perdamaian mengganggu kesibukan pribadi? a. Sangat merasa

  b. Merasa

  c. Kurang merasa

  d. Kadang-kadang merasa

  e. Tidak merasa

  ☺ ☺ ☺ TERIMA KASIH ☺ ☺ ☺

  • Cerita “Sandub aya dan Lala Seruni”
  • Dialog -
  • Cerita “Sandubaya dan Lala Seruni”

  • Alat tulis
  • G. Parman & Slamet Riyadi Ali.
  • Mendala mi Lukas 11: 42-
  • Kitab Suci -

  Tafsir

  1989:30-32

  Group Media.

  Manuel, O;

  Film “Cheng- cheng Po”

  SOTARA E

  “Cheng- cheng Po”

  2 - Film

  137-138

  Tafsir Alkitab Perjanjian Baru . 2002:

  38

  1993: 33-

  Cerita Rakyat dari Lombok .

  1989:30-32

  Group Media.

  Manuel, O;

  SOTARA E

  47

  PERTEMUAN I

  Mengajak remaja st. Antonius Padua, Palakahembi untuk membangun sikap tanggung jawab terhadap tindakan dan perilaku di dalam kehidupan bersama orang lain demi membangun kehidupan yang damai sejahtera.

  1 Memban gun sikap tanggung jawab terhadap tindakan kita dalam hidup bersama orang lain

  

Lampiran 2: Program Katekese Audio Visual bagi Remaja Katolik Stasi St. Antonius

Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng-cheng Po”. No Judul Pertemu an Tujuan Pertemuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  • Dianne Bergant & Robert J. Karris.
  • Lukas 11:42-47

PERTEMUAN II

  • Nonton Film -
  • Laptop -

  • VCD player
  • Mendala mi Yohanes 15:9-16
  • Alat tulis
  • Dianne Bergant & Robert J. Karris.
  • Kitab Suci -

  Alkitab

Perjanjian

Baru . 2002:

  190-191 Yohanes

  • 15:9-16
Intisari cerita Sang prabu Kertajagat adalah raja Lombok dan beragama Hindu. Pada suatu malam di bulan purnama ia bersama istri dan keluarga kerajaan hendak sembahyang ke Pura Kayangan. Setibanya di Pura raja bersama rombongan sangat kusuk sembahyang. Di sana ada pula sepasang suami-istri yang baru sebulan lamanya menikah yaitu Demung Sandubaya dan Lala Seruni. Melihat kecantikan Lala Seruni yang tidak ada tandingannya maka raja tergila-gila dan ingin memperistrinya. Maka muncullah niat busuk dari raja yaitu ingin membunuh Demung Sandubaya. Akhirnya Demung Sandubaya dibunuh di hutan Gemong saat sedang berburu. Sebelum pergi, Lala Seruni sempat

  Doa pembukaan

  Pelaksanaan : - Pertemuan I: Minggu, 26 Juli 2009

  Pertemuan I

  Proses pertemuan :

  Sarana : - Cerita “Sandubaya dan Lala Seruni”

  : 10.00-12.00 9)

  8) Waktu

  Tempat : Gereja St. Antonius Padua Palakahembi

  : Remaja Katolik Stasi St. Antonius Padua, Palakahembi 6)

  

Lampiran 3: Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik Stasi St. Antonius

Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur

  5) Peserta

  Metode : Cerita, nonton, SOTARAE

  : Katekese Audio Visual 4)

  3) Model

  Tujuan : Mengajak remaja St. Antonius Padua, Palakahembi untuk membangun sikap tanggungjawab terhadap tindakan dan perilaku di dalam kehidupan bersama orang lain demi membangun kehidupan yang damai sejahtera

  : Membangun Sikap Tanggung Jawab Terhadap Tindakan Kita dalam Hidup Bersama Orang Lain 2)

  1) Tema

  • Pertemuan II: Minggu, 2 Agustus 2009 7)
  • Film “Cheng-cheng Po”
  • Laptop - Alat tulis
  • Kitab Suci 10)
    • Pembuka -

  • Ucapan selamat datang
  • Pengantar (tujuan kegiatan, tema, dan gambaran acara yang akan berlangsung)
    • Cerita Sandubaya dan Lala Seruni -
    melarang suaminya pergi karena ia tahu niat busuk raja, namun Demung Sandubaya tidak ingin ingkar janji kepada raja. Sebelum pergi Demung Sandubaya berpesan jika kuda yang ditungganginya (Gasar Mayang) kembali tanpa dirinya berarti itu bertanda bahwa dirinya telah mati. Ketika Gasar Mayang pulang sendiri maka Lala Seruni langsung menunggangi kuda itu dan cepat menuju hutan sesaai pesan suaminya. Di sana ia menemukan suaminya telah terbunuh. Keesokan harinya, rombongan raja membawa paksa Lala Seruni ke istana dan selama di istana Lala Seruni tidak mau makan dan minum berhari-hari. Melihat hal itu hati raja sedih. Suatu hari Lala Seruni mengajukan permintaan untuk mandi di pantai Mananga Baris dan permintaan itu pun dikabulkan. Saat di pantai, tiba-tiba dari tengah laut datang sekuntum teratai berwarna merah dan menyala seperti api. Melihat itu, Lala Seruni meminta kepada raja agar memetik teratai itu. Raja pun memerintahkan para prajurit untuk memetiknya namun tidak berhasil. Karena Lala Seruni terus meminta akhirnya raja sendiri yang berenang ke tengah laut untuk mengambil teratai.

  Namun saat berenang, datang rombongan ikan dan kerang menyerang raja hingga pingsan. Teratai merah itu menepi ke arah Lala Seruni yang sedang menanti. Setelah mendekat ia pun melompat ke atas teratai dan teratai itu membawa Lala Seruni ke tempat penantian suaminya di alam baka. Kematian Demung Sandubaya membuat Demung Brangbantun, kakak Sandubaya marah dan akhirnya terjadilah perang. Dalam peperangan ini raja Lombok mengalami kekalahan dan karena kecewa Prabu Kertajagat membenturkan kepala ke batu sampai pecah dan meninggal. Sebagai penggantinya, diangkatlah Prabu Rangkasari sebagai raja. Karena sikapnya yang sangat berbeda dengan Prabu Kertajagat yaitu tidak suka dengan perang maka ia mengajak Demung Brangbantu untuk berdamai dan ajakan itu pun diterima dengan senang hati. Dan sejak itu kedua pasukan itu membentuk tali persahabatan dan Kerajaan Lombok menjadi aman dan sejahtera. Cerita “Sandubaya dan Lala Seruni” dibacakan oleh peserta yang telah

  • ditentukan.
    • Diskusi isi cerita (SOTARAE) Diskusi dilaksanakan dalam kelompok besar.

  • cerita). Pendamping mengajukan pertanyaan kepada peserta dengan pertanyaan: situasi apa yang teman-teman lihat dari cerita yang kita dengarkan tadi. Apakah situasi itu senang, sedih, bahagia, atau ada situasi lain yang teman-teman temukan?

  Situasi (Pendamping mengajak peserta untuk mengungkapkan kesan atas

  • cerita). Adapun fakta itu berkaitan dengan tokoh cerita, alur cerita, dan apa saja yang terjadi dalam cerita tersebut. Pada bagian ini, ada dua panduan pertanyaan. Pertama, siapa saja tokoh yang teman-teman temukan dari cerita

  Objektif (Peserta diajak untuk menggali fakta apa saja yang ada di dalam

  • mereka peroleh sehubungan dengan cerita). Dari cerita “Sandubaya dan Lala Seruni”, sebutkan tema apa yang teman-teman temukan sehubungan dengan cerita?

  Tema (Pendamping mengajak peserta untuk menemukan tema-tema baru yang

  • menganalisis cerita dengan situasi di sekitar mereka). Pada bagian ini, pendamping akan menanyakan tema mana saja yang sangat sesuai dengan situasi peserta atau dilihat peserta. Ada dua pertanyaan yang akan dijawab oleh peserta. Pertanyaan pertama, menurut kelompok tema mana saja yang cocok dengan saat ini. Mengapa tema itu yang dipilih? Kedua, setiap pribadi tentu diserahi suatu tanggung jawab. Namun terkadang orang lebih memilih untuk lari dari tanggung jawab itu. Mengapa hal tersebut terjadi?

  Analisis (Peserta dibagi dalam 6 kelompok. Peserta diminta untuk

  • dibicarakan bersama). Pertanyaan sebagai bahan permenungan bagi peserta: Cerita “Sandubaya dan Lala Seruni” membawa pesan apa untuk teman-teman secara pribadi? Peserta diminta untuk membaca perikop Injil Lukas 11: 42-47 tentang Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat: “Injil Lukas 11: 42-47 menunjukkan kritikan-kritikan Yesus yang tajam kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat oleh karena sikap mereka yang tidak bertanggung jawab antara apa yang dikatakannya (keadilan dan kasih Allah) tidak sesuai dengan tindakannya yang konkrit. Di sana muncul sikap topeng diri atau kemunafikan, sehingga dalam relasi dengan sesama hanya menampilkan yang baik saja. Yesus melihat bahwa sikap seperti ini membuat ahli Taurat menguasai sesamanya dan berlakulah hukum ketidakadilan dan kata rasa belas kasih Allah sepertinya tidak ada dalam diri mereka melihat orang selalu dari segi lahirihnya saja. Kritikan-kritikan ini mau mengajarkan bagaimana orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menghayati hidupnya dengan hukum Taurat namun mereka sendiri tidak menjalaninya dan tidak bertanggung jawab antara apa yang mereka kritikan terhadap masyarakat sekitar Yesus dengan kata-kata dan tindakannya selalu berlawanan. Yesus mengecam keras atas sikap yang tidak bertanggungjawab sebagai orang-orang yang taat pada hukum Taurat dan dipandang sebagai para tokoh religius yang sejati di antara masyarakat Israel. Dalam hidup bersama entah dalam keluarga, Gereja maupun di masyarakat bahkan di lingkungan kerja atau sekola hal tanggung jawab sangat menentukan kepribadian seseorang. Kalau ia mampu bertanggungjawab atas apa yang dikatakan dan dilaksanakan, berarti ia adalah orang yang setia. Sebaliknya kalau ia tidak bertanggungjawab antara apa yang dikatakannya

  Rangkuman (Pendamping mengajak peserta untuk merangkum apa yang telah

  berlawanan dengan perbuatannya sama hal orang yang tidak setia akan apa yang diucapkan dan orang bersikap munafik. Sikap setia ini ditunjukkan oleh Lala Seruni terhadap suaminya. Sebagai seorang raja yang baik maka ia sangat memperhatikan kesejahteraan dan kedamaian rakyatnya. Sikap itu dimiliki oleh

  Prabu Rangkasari maka sikap itu situasi dendam berubah menjadi baik dan akhirnya ada hubungan persahabatan antara dua pasukan dan kehidupan rakyat pun menjadi damai dan tentram. Demikian pula kita yang berada di antara sesama, setiap dari kita memiliki tanggung jawab. Menciptakan lingkungan yang aman bukan saja tanggung jawab orangtua, bagian keamanan yang ada di lingkungan itu namun kita yang juga hidup bersama mereka. Sebagai anggota Gereja kita diberi tugas perutusan untuk memberikan kabar gembira kepada sesama entah melalui setiap perkataan atau perbuatan. Remaja Katolik adalah penerus Gereja di masa yang akan datang maka sikap setia sangat diperlukan. Setia dalam mengikuti setiap kegiatan yang ada karena semua itu demi perkembangan iman”.

  • akan dilakukan sehubungan dengan tema, cerita, dan hasil analisis yang telah dirangkum). Peserta akan dibantu dengan pertanyaan langkah apa yang akan teman-teman lakukan atau buat untuk keterlibatan kita dalam hidup bersama sesama dan dalam hidup menggereja.

  Aksi (Pendamping mengajak peserta untuk membuat langkah konkrit yang

  • proses bersama yang telah dilakukan). Dalam evaluasi ini pendamping akan mengajukan 5 pertanyaan. Pertama, cerita dan bacaan yang telah kita pakai apakah menurut teman-teman berhubungan dengan tema? Kedua, tema pertemuan dan cerita tadi apakah sesuai dengan pengalaman teman-teman? Ketiga, dari pertemuan ini apakah teman-teman yang ada di sini merasa terbantu untuk menyadari tanggung jawabnya di dalam kehidupan bersama sesama dan dalam hidup menggereja? Keempat, proses yang telah kita jalani bersama apakah menurut teman-teman menarik, membosankan, melelahkan, atau…? Kelima, pertemuan ini menggunakan metode katekese dengan menggunakan cerita lalu apa yang teman-teman rasakan?

  Evaluasi (pada langkah terakhir ini peserta diajak untuk mengevaluasi seluruh

  • Penutup (doa penutup)

  Pertemuan II

  • Pembuka Doa pembuka
    • Ucapan selamat datang
    • Pengantar singkat (mengingatkan peserta akan pertemuan sebelumnya dan
    • gambaran acara yang akan berlangsung)

  • Pemutaran Film “Cheng-cheng Po”
    • Markus, Tyara, Tohir, dan Han berasal dari keluarga dengan latar belakang dan etnis yang berbeda. Meski demikian, hal itu tak membuat mereka menjadi berjarak. Persahabatan mereka begitu tulus hingga merobohkan sekat-sekat

  Sinopsis perbedaan yang ada. Markus, Tyara dan Tohir, memiliki obsesi yang saling berbeda, namun mereka memilih untuk sejenak melupakannya demi menolong Han, bocah miskin dalam mencapai impiannya. Empat anak yang bersahabat ini berasal dari etnis berbeda. Ada Tionghoa, Jawa, dan Papua. Satu dari mereka yang etnis Thionghoa tidak bisa membayar uang sekolah karena tidak ada biaya. Orangtuanya bekerja sebagai penjual bakpao di pinggir jalan dan dagangannya pun tidak terlalu laris. Melihat kenyataan itu teman-temannya bermaksud membantu. Ketika berbicara dengan orangtua masing-masing, hasilnya sangat mengecewakan karena tidak ada yang mau membantu. Akhirnya salah satu di antara mereka mendapatkan ide untuk membuat pertunjukan barongsai sederhana di depan warung bakpao orangtua Han, agar menarik pembeli. Pertunjukan itu pun menarik perhatian banyak orang dan yang lebih menggembirakan lagi adalah dagangan dari orangtua Han menjadi laris dan habis terjual. Akhirnya Han dapat membayar uang sekolahnya. Pemutaran film 17 menit

  • Diskusi film (SOTARAE) Diskusi ini dilakukan dalam kelompok besar.
  • atas film). Setelah menyaksikan film tadi apa yang teman-teman rasakan? Apakah ada perasaan gembira, sedih, marah, atau situasi lain?

  Situasi (Pendamping mengajak peserta untuk mengungkapkan kesan situasi

  • tersebut). Fakta ini berkaitan dengan tokoh cerita, alur cerita, dan apa saja yang terjadi dalam film tersebut. Untuk membantu peserta maka pendamping mengajukan 2 pertanyaan. Pertama, sebutkan nama-nama tokoh yang ada dalam film tadi? Kedua, bagaimana karakter dari setiap tokoh yang ada?

  Objektif (Peserta diajak untuk menggali fakta yang telah ditampilkan film

  • berhubungan dengan film). Dari film tersebut, tema apa yang teman-teman temukan?

  Tema (Pada bagian ini, peserta diajak untuk menemukan tema-tema yang

  • akan memberikan pertanyaan pemandu untuk didiskusikan kelompok). Ada 3 pertanyaan yang akan dipakai pada langkah ini. Pertama, dari tema-tema yang telah kita temukan tadi silahkan teman-teman memilih satu tema saja dan ada di dalam film. Kedua, jelaskan mengapa teman-teman memilih tema itu dan apa yang melatarbelakangi tema itu muncul? Ketiga, kita memiliki ajaran cinta kasih, apakah hingga ini kita sudah sungguh-sungguh menghidupinya dalam kehidupan bersama dengan orang lain? Dan jika tidak mengapa hal itu bisa terjadi?

  Analisis (Peserta dibagi dalam beberapa kelompok dan setelah itu pendamping

  • Rangkuman (Pendamping mengajak peserta untuk merangkum apa yang telah dibicarakan bersama selama proses terjadi). Menurut teman-teman, apakah film “Cheng-cheng Po” membawa pesan untuk teman-teman secara pribadi? Pendamping mengajak peserta untuk membaca perikop Yohanes 15:9-16 tentang perintah supaya saling mengasihi. “Teman-teman, dalam perikop yang telah kita baca bersama sangat jelas dikatakan bahwa kita harus saling mengasihi. Dia telah mengasihi kita dan kasihnya telah
tinggal dalam diri kita. Oleh karena itu, Ia mengutus kita agar dalam kehidupan bersama orang lain kita dapat membawa kasih-Nya lewat cara kita berbicara dan bertindak. Hal mengasihi dapat terlihat dalam film “Cheng-cheng Po” dimana Markus, Tyara, dan Tohir berusaha keras untuk menolong Han agar bisa membayar uang sekolah. Perbedaan budaya atau etnis tidak membuat mereka satu dengan yang lain saling cuek namun ada sikap saling peduli, saling menghargai, ada sikap tulus karena itu maka dapat terjalin persahabatan yang baik antara mereka”.

  • Aksi (Peserta diajak untuk membuat niat konkrit yang akan dilakukan dan memiliki hubungan dengan tema, film, dan hasil analisis yang sudah dirangkum bersama tadi). Teman-teman telah mendalami, mencermati, dan menyadari perintah Yesus untuk saling mengasihi agar kasihNya tinggal dalam diri kita. Agar ajaran dan perintah- Nya sungguh-sungguh menjadi tugas perutusan kita di tengah dunia, tindakan nyata apa yang dapat teman-teman lakukan?
  • Evaluasi (pada bagian terakhir ini pendamping mengajak peserta untuk mengevaluasi seluruh proses kegiatan yang sudah berjalan).
  • Penutup (doa penutup

  Lampiran 5: Lembaran Evaluasi Peserta Pertemuan II

  A. Petunjuk Pengisian Pada kolom B isilah identitas anda dengan jujur. Pada kolom B lingkari pada setiap jawaban yang sesuai dengan pengalaman anda dan apabila anda mempunyai jawaban lain maka isilah dalam titik-titik yang telah tersedia. Sedangkan pada kolom D isilah apa yang menjadi usul dan saran anda yang menurut anda sangat perlu.

  B. Identitas Responden

  1. Nama :

  2. Lingkungan :

  3. Umur :

  4. Jenis Kelamin :

  5. Pekerjaan/sekolah :

  C. Pertanyaan

  1. Metode yang dipakai dalam pertemuan ini membantu anda dalam memahami isi dan pesan yang ingin disampaikan.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

  e. …………………… 2. Dalam pertemuan ini anda tidak merasa bosan.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

  e. Kadang-kadang

  3. Cerita yang terdapat dalam film “Cheng-cheng Po”, jelas dan mudah untuk dimengerti maksudnya dan cocok dengan tema.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

  e. Ragu-ragu 4. Bahasa yang dipakai dalam film tersebut menarik.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

  e. …………………… 5. Film “Cheng-Cheng Po” bukan hanya memberi hiburan tapi juga pesan iman.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

  e. …………………… 6. Anda menangkap pokok-pokok yang dibicarakan.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju d. Sangat tidak setuju

  e. …………………… 7. Dalam pertemuan ini, anda menemukan nilai-nilai perdamaian.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

  e. ……………………

  8. Dalam pertemuan ini, anda merasa didorong untuk menjadi pembawa damai dalam hidup bersama dengan orang lain.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

  e. …………………… 9. Anda terlibat aktif saat proses berlangsung.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Tidak setuju

  d. Sangat tidak setuju

  e. ……………………

  10. Anda terlibat aktif karena cocok dengan pengalaman keseharian dan pengalaman iman anda.

  a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

  e. ……………………

  Lampiran 6: Cerita “Sandubaya dan Lala Seruni”

  SANDUBAYA DANH LALA SERUNI Suatu malam di bulan purnama, Raja Lombok pergi bersembayang ke pura Kayangan. Pada waktu itu, Raja Lombok masih beragama Hindu, begitu pula rakyatnya. Raja Lombok, Prabu Kartajagat, pergi bersama istri dan keluarga kerajaan. Para pati, punggawa, dan pembesar negeri ikut pula dalam rombongan itu. Bunyi-bunyian seperti gamelan, seruling, dan serunai ikut meramaikan upacara. Kira-kira setengah jam berjalan, sampailah sang Prabu Kartajagat di Pura Kayangan.

  Malam bersinar terang-benderang, disekitar pura di pasang lampu minyak kelapa sehingga pelataran pura itu semakin terang. Para pati dan punggawa ikut bersembahyang dengan hikmat. Di pura itu hadir pula sepasang pengantin baru yang bernama Demung Sandubaya dan istrinya, Lala Seruni. Sandubaya adalah adik Demung Brangbantun, sedangkan Lala Seruni anak dari Rangga Bumbang. Baru sebulan mereka menikah. Kehadiran Lala Seruni dilihat oleh raja. Raja sangat takjub melihat kecantikan Lala Seruni. purnama yang sedang bersinar di langit. Raja langsung tergila-gila pada Lala Seruni dan ingin memperistri. Pendeta istana dan para patih menjadi gelisah. Kemudian para pembesar negeri berunding. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil Lala Seruni sebagai istri raja. Lalu mereka mencari cara untuk memisahkan Sandubaya dengan istrinya. Sandubany sengaja diajak pergi berburu ke hutan Gebong.

  Pada malam harinya sebelum berangkat ke hutan Gebong, Lala Seruni memperingatkan suaminya akan niat busuk raja. Ia melarang suaminya pergi berburu bersama raja. Sandubaya menolak bujukan istrinya karena tidak mau ingkar kepada raja untuk ikut berburu.

  “Adikku Lala Seruni relakanlah kakak pergi ke hutan Gebong. Bila kakak menemui ajal di situ, akan kunantikan arwahmu di mananga Baris kata Sandubaya kepada istrinya. Lanjutnya, adikku bila nanti kudaku si Gagar Mayang pulang sendiri itu tandanya kakak sudah mati. Segeralah engkau mencariku ke hutan Gebong. Lala Seruni menangis sedih mendengar pesan suaminya itu. Pagi-pagi sekali berangkatlah Sandubaya bersama rombongan raja ke hutan Gebong. Sewaktu Sandubaya sedang asyik mengejar rusa tiba-tiba beberapa orang prajurit raja menombaknya dari belakang. Sandubaya pun terjatuh dari kudanya dengan berlumur darah. Kuda Gagar Mayang segera berlari pulang. Anjing pemburu Sandubaya yang bernama si Getah menyerang para prajurit akan tetapi si Getah ditombak dan mati bersama tuannya.

  Lala Seruni yang gelisah menunggu kedatangan suaminya, melihat Gagar Mayang pulang sendirian. Tahulah ia bahwa suaminya telah dibunuh. Ia pun melompat ke punggung Gagar Mayang dan secepat kilat menuju hutan Gebong. Sesampai di tempat suaminya terbunuh, Lala Seruni melompat turun dari kuda. Ia memeluk mayat suaminya sambil menangis. Luka-luka suaminya diusap dengan rambutnya yang panjang lebat. Air matanya dipakai untuk memandiakan mayat Sandubaya. Gagar Mayang menyepak-nyepak tanah untuk membuat kubur. Ketika matahari akan terbenam, Sandubaya dikuburkan di bawah sebatang maja. Keluarga dan kerabat hadir pula disitu dalam keadaan sedih.

  Keesok harinya, datanglah rombongan raja ke rumah Lala Seruni. Mereka ingin membawa Lala Seruni ke istana. Lala Seruni memberoktak, tetapi tidak berdaya melawan prajurit. Patih Lombok juga ingin mengambil Gagar Mayang, tetapi kuda itu marah. Dia menggigit Sang patih sampai luka parah. Lalu, para prajurit menombak Gagar Mayang sampai mati.

  Lala Seruni di bawa ke istana dengan tandu dalam keadaan pingsan. Sesampai di istana ia mengamuk seperti orang gila. Berhari-hari ia tidak mau makan dan minum. Raja sangat sedih dan berusaha membujuk Lala Seruni setiap hari. Suatu hari tiba-tiba Lala Seruni berubah menjadi tenang. Ketika raja mendekatinya ia minta agar sebelum dinikah hendaknya ia diberi kesempatan untuk mandi di pantai Mananga Baris. Raja sangat mempersiapkan para pengiring. Tidak lama kemudia berangkatlah Lala Seruni bersama raja dan rakyat menuju Mananga Baris.

  Di Menanga Baris mereka mandi sambil bersuka cita. Tiba-tiba dari tengah lautan datanglah sekuntum teratai berwarna merah. Teratai itu menyala seperti api yang bercahaya. Lala Seruni minta untuk dipetikkan bunga terai merah itu. Raja memerintahkan para prajurit untuk memetik bunga teratai itu. Begitu para prajurit itu turun ke laut, mereka diserang sekelompok ikan laut dan kerang. Mereka menjerit kesakitan. Banyak prajurit terluka parah.

  Akan tetapi, Lala Seruni tetap meminta raja agar memetik teratai itu. Akhirnya, prabu Kartajagat sendiri berenang ke tengah laut. Ketika raja berenang, datang beratus-ratus ikan menyerangnya. Raja berteriak minta tolong. Dengan cepat, patih menyelamatkan rajanya yang sudah pingsan diserang ikan dan kerang.

  Teratai merah semakin menepi ke arah Lala Seruni. Lala Seruni berdiri di tepi ombak menanti teratai mendekatinya. Setelah dekat, ia melompat ke atas bunga teratai merah itu. Kemudian teratai merah berlayar ke tengah lautan membawa Lala Seruni ke tempat penantian suaminya di alam barzakh.

  Demung Brangbantun, kakak Sandubaya, sangat marah mendengar berita kematian adiknya. “Hai Raja jahil, tunggu pembalasanku!” teriaknya di depan para pengikutnya. Ia mempersiapkan pasukan untuk memberontak kepada Raja Lombok. Pasukan Brangbantun sangat gesit dan sakti. Mereka mengendarai kuda-kuda yang sangat kencang larinya. Dalam waktu satu bulan berperang, kalahlah pasukan Raja Lombok di medan pertempuran. Raja Lombok sangat kecewa mendengar berita kekalahan pasukannya. Lalu, Prabu Karjagat membenturkan kepalanya ke batu sampai pecah. Matilah Raja lalim itu. Mayatnya dibakar di pura Kayangan dan abunya dibuang di Selat Alas.

  Sebagai pengganti Prabu Kartajagat, diangkatlah Prabu Rangkasari. Prabu Rangkasari berbeda sifat dengan Prabu Kartajagat. Beliau sangat tidak menyukai peperangan. Bagitu naik tahta, patih segera diperintahkan untuk memanggil Demung Brangbantun. Prabu Rangkasari mengajak Demung Brangbantun untuk berdamai. Demung Brangbantun menerima ajakan damai itu.

  “Paman Demung Brangbantun, marilah kita hentikan peperangan ini. Bukankah paman keluarga kami juga? Tak ada gunanya kita terus berperang. Raja lalim penyebab perang sudah mati. Kalau kita berperang terus, rakyat akan sengsara dan harta benda akan musnah.”

  Demung Brangbantun berkata dengan lembut, “Paman menerima dengan senang hati ajakan tuanku. Paman sendiri tak suka berperang, tetapi bila kami disakiti pastilah kami melawan.”

  Prabu Rangkasari berkata lagi, “Paman Brangbantun, sebagai ganti perang dengan senjata, kita berperang saja dengan makanan. Pasukan paman membawa senjata makanan berupa kue-kue dan buah-buahan. Pasukan saya akan membawa senjata yang berasal dari laut, seperti ikan, kerang, dan penyu.”

  Kedua pihak setuju untuk berperang dengan cara aneh itu. Pasukan Prabu Rangkasri pergi ke laut mengumpulkan berbagai jenis ikan, seperti cucut, gurita, cumi-cumi, tongkol, kerang mutiara, dan penyu. Pasukan Brangbantun sibuk membuat kue, ketupat, dan mengumpulkan buah-buahan, seperti labu, pisang, mangga, dan jeruk.

  Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah pasukan Prabu Rangkasari dan pasukan Demung Brangbantun di sebuah lapangan. Kemudian, kedua pasukan mulai melakukan permainan perang bersenjatakan aneka makanan. Permainan itu sangat meriah dan tampak sangat lucu. Kedua pasukan saling melempar makanan yang dipakai sebagai senjata.

  Setelah permainan itu selelsai, kedua pasukan menyatu membentuk tali persahabatan. Sejak itu, Kerajaan Lombok menjadi aman dan tenteram. Kehidupan rakyat damai dan sejahtera. Raja memerintah dengan arif dan bijaksana. Lampiran 5: Foto-foto Peserta Katekese Audio Visual

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh doa Bersama dalam keluarga bagi perkembangan iman remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu.
1
7
141
Penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Santo Yohanes Rasul Kutoarjo.
4
67
183
Katekese keluarga untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Carolus Borromius Margomulyo Paroki Santo Yoseph Medari Yogyakarta.
1
19
209
Upaya peningkatan tanggungjawab keluarga Katolik di Paroki Santo Petrus Pekalongan terhadap pendidikan iman anak.
0
4
153
Peranan lagu rohani ekaristi dalam meningkatkan pemaknaan perayaan ekaristi bagi kaum muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru.
0
3
146
Pengaruh doa Bersama dalam keluarga bagi perkembangan iman remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu
1
8
139
Pengaruh sosok katekis terhadap minat umat dalam mengikuti katekese orang dewasa di Lingkungan Santo Yosef Benediktus Sagan Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogyakarta.
0
1
173
Penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Santo Yohanes Rasul Kutoarjo
1
28
181
Kesetiaan Maria sebagai teladan dalam hidup berkeluarga bagi ibu-ibu di lingkungan Santo Yohanes Pemandi Paroki Santo Albertus Agung Jetis, Yogyakarta.
0
0
134
Usaha menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.
0
8
155
Katekese keluarga untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Carolus Borromius Margomulyo Paroki Santo Yoseph Medari Yogyakarta
0
15
207
Pengaruh sosok katekis terhadap minat umat dalam mengikuti katekese orang dewasa di Lingkungan Santo Yosef Benediktus Sagan Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogyakarta
1
31
171
Gereja Paroki Santo Yusup Batang
0
1
5
Usulan pengembangan pendampingan calon penerima krisma remaja di Paroki Santo Petrus dan Pulus Minomartani Yogyakarta - USD Repository
0
1
235
Pengaruh Ibadat Taize terhadap perkembangan iman kaum muda di Paroki Santo Yakobus, Bantul - USD Repository
0
0
110
Show more