PROPOSAL Widi

RP. 50,000

0
10
21
2 weeks ago
Preview
Full text

  
PREDIKSI OBESITAS, DIABETES MELITUS TIPE 2, SINDROM
METABOLIK DAN PENYAKIT JANTUNG KORONERMENGGUNAKAN ALGORITMA BACKPROPAGATIONA. Latar Belakang
  Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern mengakibatkan terjadinya perubahan pola hidup pada masyarakat dunia dan menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Salah satu dampak negatif yang sangat meresahkan masyarakat dunia adalah meningkatnya jumlah penyakit yang disebabkan oleh perubahan gaya hidup dan pola makan masyarakat yang tidak sehat.
  World Health Organization (WHO) (dalam Hill Jo, 2003 ) menyatakan bahwa
  obesitas merupakan salah satu dari 10 kondisi yang berisiko di seluruh dunia dan salah satu dari 5 kondisi yang berisiko di negara berkembang. Obesitas adalah stimulator utama untuk terjadinya berbagai penyakit terutama Sindroma Metabolik (SM), Diabetes Melitus tipe 2 (DM tipe 2) dan hipertensi. Penyakit tersebut merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler. Menurut WHO 40-60% pasien obesitas akan berkembang menjadi DM tipe 2 dan memiliki tekanan darah tinggi (Pusparini, 2007). Salah satu cara mendeteksi apakah seseorang menderita obesitas dapat diukur dengan rumus Indeks Massa Tubuh (IMT).
  Menurut Rini (dalam Wijaya, 2004) SM merupakan kelainan metabolik kompleks yang diakibatkan oleh peningkatan obesitas. Penderita SM berisiko tiga kali lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung atau strok dan lima kali lebih tinggi mengalami DM tipe 2 dibandingkan dengan orang yang tidak menderita SM. Hal ini akan menyebabkan peningkatan jumlah penderita diabetes yang merupakan salah satu penyebab keempat atau kelima kematian di dunia (IDF, 2006). Kriteria yang sering digunakan untuk menilai pasien SM adalah NCEP–ATP III yaitu apabila seseorang memenuhi 3 dari 5 kriteria yang disepakati, antara lain: lingkar perut pria >102 cm atau wanita >88 cm; hipertrigliseridemia (kadar serum trigliserida >150 mg/dL), kadar HDL–C <40 mg/dL untuk pria, dan <50 mg/dL untuk wanita; tekanan darah >130/85 mmHg; dan kadar glukosa darah puasa >110 mg/dL (Rini, 2015).
  Kira-kira 80% pasien DM tipe 2 menderita obesitas, dan obesitas dihubungkan dengan resistensi insulin. Jaringan adipose menginduksi resistensi insulin melalui berbagai mekanisme (Pusparini, 2007). DM tipe 2 merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar. Data dari studi global menunjukan bahwa jumlah penderita DM pada tahun 2011 telah mencapai 366 juta orang. Jika tidak ada tindakan yang dilakukam, jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 552 juta pada tahun 2030 (IDF, 2011). DM telah menjadi penyebab dari 4,6 juta kematian. Selain itu pengeluaran biaya kesehatan untuk DM telah mencapai 465 miliar USD (IDF, 2011). International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan bahwa sebanyak 183 juta orang tidak menyadari bahwa mereka mengidap DM. Menurut Pusparini (dalam Hanno et al., 2005) bahwa standar diagnosis DM tipe 2 didasarkan pada nilai glukosa puasa, glukosa sewaktu dan tes glukosa toleransi oral. Kriteria diagnosis ini berlaku untuk usia anak maupun dewasa. Apabila DM tipe 2 tidak di tangani dengan baik maka akan menyebabkan komplikasi vaskular yang dibedakan menjadi komplikasi makrovaskular seperti PJK, penyakit pembuluh darah perifer dan stroke serta mikrovaskular seperti retinopati, nefropati, dan neuropati. PJK merupakan komplikasi yang sering terjadi dan cenderung tidak disadari oleh peyandang DM tipe 2 (Muntaha, 2018) Saat ini PJK telah menjadi penyebab kematian utama di dunia, di Indonesia pun penyakit jantung adalah penyakit yang mematikan. Terdapat 9 faktor risiko yang dapat digunakan sebagai pendeteksi penyebab terjadinya PJK yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, HDL, LDL, trigliserida, kolestrol, tekanan sistolik dan tekanan darah diastolik (Effendy et al., 2008) Dalam penelitian ini penulis menggunakan hasil catatan rekam medis dan wawancara langsung dari pasien rawat jalan di Poliklinik Geriatri RSU Anutapura Palu untuk memprediksi prognosis obesitas, DM tipe 2 dan SM serta PJK. Dengan menggunakan beberapa faktor risiko suatu penyakit maka jaringan syaraf tiruan backpropagation dapat digunakan untuk deteksi penyakit tersebut. Terdapat tiga tahapan yaitu obesitas, DM tipe 2 dan SM serta PJK. Data faktor risiko suatu penyakit akan dilatih menggunakan jaringan syaraf tiruan backpropogation untuk mengenali pola pada masing-masing faktor risiko obesitas, DM tipe 2 dan SM serta PJK.
  B. Rumusan Masalah
  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang sebuah aplikasi yang berfungsi sebagai alat ba ntu pendukung keputusan dalam mendeteksi obesitas, DM tipe 2 dan SM serta PJK. Dan dapat memprediksi perkembangan statusnya menggunakan metode backpropogation.
  C. Tujuan Penelitian
  Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh sebuah aplikasi yang berfungsi sebagai alat bantu pendukung keputusan dalam mendeteksi obesitas, DM tipe 2 dan SM serta PJK. Dan dapat memprediksi perkembangan statusnya menggunakan metode Backpropogation.D. Manfaat Penelitian
  Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini sebagai berikut :
  1. Dengan adanya aplikasi yang dapat mendeteksi obesitas,
  DM tipe 2 dan SM serta PJK seseorang dapat mengetahui sejak dini kondisi kesehatannya agar selalu menjaga pola hidup sehat.
  2. Memudahkan seseorang untuk mengetahui apakah mereka
  positif atau negatif terkena obesitas, DM tipe 2, SM dan PJK berdasarkan faktor-faktor risiko yang dimiliki 3.
  Untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang matematika dan terapannya pada ilmu kesehatan serta dapat membantu program pemerintah.
  E. Batasan Masalah
  Penelitian ini dibatasi dalam beberapa hal, yaitu :
  1. Data yang diperoleh hanya berasal dari hasil rekam medis dan wawancara langsung pada pasien rawat jalan di Poliklinik Geriatri RSU Anutapura Palu.
  2. Respondensi yang digunakan hanya berjumlah 200 pasien untuk ke empat jenis penyakit yang di deteksi.
  F. Tinjauan Pustaka1. Obesitas
  Menurut Mayer (dalam Utomo, 2012) obesitas merupakan keadaan patologis karena penimbunan lemak berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Obesitas dari segi kesehatan merupakan salah satu penyakit salah gizi, sebagai akibat konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhanya. Perbandingan normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 12-35% pada wanita dan 18-23% pada pria. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko penyebab terjadinya penyakit degeneratif seperti DM, PJK, dan hipertensi menurut Laurentika (dalam Rahmawati, 2009).
  
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa obesitas merupakan
  salah satu dari 10 kondisi yang berisiko di seluruh dunia dan juga merupakan salah satu dari 5 kondisi yang berisiko di negara berkembang. Obesitas kini menjadi stimulator utama penyebab terjadinya berbagai jenis penyakit terutama SM, DM tipe 2 dan hipertensi. Beberapa jenis penyakit tersebut merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler. WHO juga menyatakan bahwa 40-60% pasien obesitas akan berkembang menjadi DM tipe 2 dan memiliki tekanan darah tinggi (Pusparini, 2007). Salah satu cara mendeteksi apakah seseorang menderita obesitas dapat diukur dengan rumus Indeks Massa Tubuh
  Berat Badan(kg)
  (IMT) : menurut International Obesity Task Force/2 Tinggi Badan(m))
  (
  IOTF, WHO 2000 pada penduduk Asia dan klasifikasi berat badan berdasarkan Indeks Massa Tubuh dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1 Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan Indeks Massa Tubuh
  IMT Kategori BB ¿
18.5 Kurang
  18.5−22.9 Normal 23−24.9 Beresiko
  ≥ 25
  Obesitas
  2. Sindrom Metabolik The International Diabetes Federation (IDF) menyatakan bahwa SM
  merupakan faktor pemicu munculnya pandemik global antara DM tipe 2 dan penyakit kardiovaskuler, sehingga dapat diketahui secara global bahwa insidens SM meningkat dengan cepat. Adapun Prevalensi SM di dunia sebesar 20-25% sedangkan di Indonesia sebesar 13,3% sehingga tidak menutup kemungkinan prevalensi ini akan terus meningkat tiap tahunnya (Pusparini, 2007). Menurut Rini (dalam Wijaya, 2000) SM merupakan kelainan metabolik kompleks yang diakibatkan oleh peningkatan obesitas. SM adalah kumpulan dari faktor–faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Kriteria yang sering digunakan untuk menilai pasien SM adalah NCEP–ATP III, yaitu apabila seseorang memenuhi 3 dari 5 kriteria yang disepakati, antara lain: obesitas, hipertrigliseridemia (kadar serum trigliserida >150 mg/dL), kadar HDL–C <40 mg/dL untuk pria, dan <50 mg/dL untuk wanita; tekanan darah >130/85 mmHg; dan kadar glukosa darah puasa >110 mg/dL. Adapun faktor risiko SM meliputi gaya hidup dapat dilihat dari kebiasaan merokok, aktifitas fisik, pola makan, usia, jenis kelamin, genetik dan sosial ekonomi (Rini, 2015)
  3. Diabetes Mellitus
  Berdasarkan laporan International Diabetes Federation tahun 2015, jumlah populasi yang terkena diabetes di Indonesia mencapai 9,1 juta orang dan 53% penderita diabetes tidak menyadari bahwa dirinya terkena diabetes.
  Sebelumnya pada tahun 2011, Indonesia berada pada peringkat ke-10 untuk kasus diabetes tertinggi di dunia dengan jumlah penderita 7,2 juta jiwa dan naik pada tahun 2013 menjadi peringkat ke-7 dengan jumlah penderita sebanyak 8,5 juta jiwa. Tahun 2014, Indonesia berada pada peringkat ke-5 untuk jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Angka penderita DM di Jawa
  Tengah merupakan urutan ketiga setelah penyakit jantung dan pembuluh darah dengan prevalensi mencapai 17% dari golongan penyakit tidak menular (Sukesih dan Siswanti, 2017) Kira-kira 80% pasien DM tipe 2 menderita obesitas, dan obesitas dihubungkan dengan resistensi insulin. Jaringan adipose menginduksi resistensi insulin melalui berbagai mekanisme. DM tipe 2 merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar. Data dari studi global menunjukan bahwa jumlah penderita DM pada tahun 2011 telah mencapai 366 juta orang. Jika tidak ada tindakan yang dilakukam, jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 552 juta pada tahun 2030 (IDF, 2011). DM telah menjadi penyebab dari 4,6 juta kematian. Selain itu pengeluaran biaya kesehatan untuk DM telah mencapai 465 miliar USD (IDF, 2011). International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan bahwa sebanyak 183 juta orang tidak

Dokumen baru