HUBUNGAN PERSEPSI SISWA TENTANG KETERAMPILAN MENGAJAR GURU DAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

51 

Full text

(1)

DAFTAR ISI

2.1. Karakteristik Sekolah Menengah Kejuruan ……….

(2)

2.2. Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar Guru ……….…….

2.2.2.1. Kedudukan, Fungsi dan Tujuan Guru ………..

2.2.2. 2. Kualifikasi dan Kompetensi ……….

2.3.2.Konsep Motivasi Berprestasi ………...…………...

2.3.2.1. Pengertian Motivasi Berprestasi ...

2.3.2.1. Karakteristik Motivasi Berprestasi ...

(3)

2.4.4. Kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan ……….

2.4.5. Tori Dasar Kelistrikan ……….

2.5. Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan ………

2.6. Kerangka Pemikiran ...

3.3. Variabel dan Definisi Operasional ………..

(4)

3.5.1.2. Uji Reliabilitas Instrumen …………...………...………….

4.2.1. Uji Normalitas Galat Taksiran Regresi ...

4.2.2. Uji Homogenitas Varians ...

4.3. Pengujian Hipotesis ……….……….

4.4.Pembahasan Hasil Penelitian ………

(5)
(6)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Digulirkannya AFTA (ASEAN Free Trade Area) dan AFLA (ASEAN Free

Labor Area) mau tidak mau menyeret negara kita terlibat dalam persaingan dengan

berbagai negara dengan berbagai kepentingannya. Era globalisasi dalam lingkungan

perdagangan bebas antar negara, membawa dampak ganda, disatu sisi era ini

membuka kesempatan kerjasama yang seluas-luasnya antar negara, namun disisi

lain era itu, membawa persaingan yang semakin tajam dan ketat. Oleh karena itu,

tantangan utama dimasa mendatang adalah meningkatkan daya saing dan

keunggulan kompetitif disemua sektor industri dan sektor jasa dengan

mengandalkan kemampuan sumber daya manusia, teknologi dan manajemen.

Bidang-bidang seperti sosial, budaya, politik, ekonomi dan lainnya akan

saling mempengaruhi dan bersaing untuk menjadi yang terbaik. Agar tidak tertinggal

dengan masyarakat dan bangsa lain di dunia, maka peningkatan pendidikan menjadi

salah satu sarana untuk meningkatkan potensi dasar yang dimiliki masyarakat dan

bangsa Indonesia. Peningkatan kualitas pendidikan akan memiliki makna bagi

perbaikan kualitas bangsa Indonesia secara keseluruhan. Krisis ekonomi memberikan

pengalaman bahwa negara-negara yang mempunyai kualitas sumber daya manusia

yang baik, lebih cepat bangkit dari krisis. Sementara negara yang memiliki sumber

daya manusia yang tidak baik, akan mengalami kesulitan berkepanjangan dalam

(7)

2 Negara berkembang seperti Indonesia dalam memacu pertumbuhan ekonomi

memerlukan sumberdaya manusia yang berkualitas. Namun kualitas itu tidak dapat

diukur dengan angka-angka semata, melainkan diukur dengan apa yang dihasilkan.

Besarnya pengeluaran pemerintah dan masyarakat terhadap bidang pendidikan dan

kesehatan menjadi ukuran yang menunjukkan perhatian pada usaha pengembangan

kualitas sumber daya manusia.

Pada era global seperti saat ini, lingkungan bisnis akan menjadi semakin

kompleks, dinamis, dan bermunculan berbagai konflik kepentingan. Hard

competence seperti pemahaman tentang bidang pekerjaan fungsional atau area

tertentu, tidak lagi mencukupi bagi seorang tenaga kerja. Saat sekarang diperlukan

tenaga kerja yang dididik agar memiliki pemikiran yang terintegrasi, komunikator

yang andal, cerdas emosional, mampu bekerja dalam tim dan ber-etika, yang

semuanya itu bersifat soft competence.

Pemahaman lama yang menekankan bahwa tenaga kerja harus memiliki

pengetahuan yang tinggi tentang bidang pekerjaannya, sekarang tidak lagi

mencukupi. Dan pada kenyataannya masih sangat sedikit pandangan bahwa seorang

karyawan di perusahaan harus memiliki soft competence. Semakin jelas bahwa

karyawan yang berhasil adalah karyawan yang secara konsisten menunjukkan

sejumlah kompetensi yang spesifik. Kompetensi tersebut membuat karyawan berhasil

dan membedakan dirinya dengan karyawan yang lain.

Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga

pendidikan formal yang bertujuan untuk menghasilkan tenaga kerja tingkat

menengah. Sebagai lembaga pendidikan formal, SMK turut bertanggung jawab dalam

(8)

3 menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas dan terpercaya agar dapat memasuki

pasar tenaga kerja baik skala regional maupun global. Oleh karena itu SMK harus

siap mengemban misi pembangunan untuk mengembangkan sekolah yang berstandar

nasional maupun internasional.

Misi utama pendidikan di SMK yaitu melatih peserta didik untuk menguasai

keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja termasuk bisnis dan industri. Selain

itu SMK juga harus menyiapkan lulusannya mampu beradaptasi terhadap perubahan

teknologi yang cepat, yang setiap saat dapat berdampak pada perubahan struktur

pekerjaan yang ada. Oleh karena itu pendidikan di SMK mempunyai tugas utama

melatih peserta didik menguasai suatu keterampilan secara profesional dalam bidang

keahlian tertentu, menyiapkan mereka agar memiliki kemampuan berpikir yang tinggi

disamping harus mempunyai komitmen moral yang tinggi, mau hidup berdampingan

dengan baik dalam masyarakat yang multikultur , multireligi, dan multi etnis.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang

mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Menurut

Muhidin (www.sambasalim.com/2009/10/27) salah satu ciri pendidikan kejuruan dan

yang sekaligus membedakan dengan jenis pendidikan lain adalah orientasinya pada

penyiapan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja.

Menurut Guntur (2010:5) kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu

lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan ukuran ganda, yaitu In

school success dan Out of school success. Kriteria pertama meliputi aspek

(9)

4 diorientasikan ke persyaratan dunia kerja, sedang kriteria kedua diindikasikan oleh

keberhasilan atau penampilan lulusan setelah berada di dunia kerja yang sebenarnya.

Fokus pembelajaran SMK ditekankan pada penguasaan pengetahuan,

keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan dunia kerja. Penilaian yang

sesungguhnya terhadap kesuksesan peserta didik harus pada ” hands on” atau

performa dalam dunia kerja, sehingga hubungan yang erat dengan dunia kerja

merupakan kunci sukses SMK. SMK yang baik harus memiliki sifat responsif dan

antisipatif terhadap kemajuan teknologi. Pembelajaran di SMK seharusnya lebih

menekankan pada “learning by doing” dan “hands on experience”, oleh karena itu

SMK memerlukan fasilitas mutakhir untuk kegiatan praktik, sehingga memerlukan

biaya investasi dan operasional yang lebih besar dibandingkan SMA atau pendidikan

umum lainnya.

SMK sebagai lembaga pendidikan kejuruan sampai saat ini masih banyak

alumninya yang belum terserap di dunia kerja, dan masih banyak juga yang bekerja

pada bidang lain yang tidak relevan dengan program keahliannya. Data dari Badan

Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu tahun 2010 dimana penelitian ini

dilakukan menunjukkan pencari kerja yang belum tersalurkan jumlah terbanyak

(10)

5 Tabel 1.1 Data pencari kerja yang belum disalurkan Dinas sosial dan tenaga kerja

Kabupaten Indramayu.

No Pendidikan Terakhir Banyaknya Pencari Kerja yank Belum ditempatkan Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Tidak/belum Tamat SD 25 89 114

2 SD dan yang setingkat 184 1314 1.498

3 SLTP Umum 629 2236 2.865

4 SLTA Umum 1919 1554 3.473

5 SLTA Kejuruan 2542 1767 4.309

6 Sarjana Muda/D III 1045 1296 2.341

7 Sarjana 624 583 1.207

Jumlah 6.968 8.839 15.807

Sumber :Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kab. Indramayu (BPS 2010:249)

Keadaan ini secara umum selain lapangan kerja yang terbatas, ditafsirkan oleh

Guntur (2010:5) adalah akibat dari tidak maksimalnya proses pembelajaran di kelas

akibat dari kinerja guru yang kurang maksimal dan motivasi siswa yang rendah serta

sarana prasarana yang belum standar.

Pada dasarnya terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan

pendidikan, antara lain guru, siswa, sarana prasarana, lingkungan pendidikan,

kurikulum, dan lain-lain. Menurut Ditjen PMPTK (2008) Guru merupakan elemen

kunci dalam sistem pendidikan, khususnya di sekolah. Semua komponen lain, mulai

dari kurikulum, sarana prasarana, biaya, dan sebagainya tidak akan banyak berarti

apabila esensi pembelajaran yaitu interaksi guru dengan peserta didik tidak

berkualitas. Semua komponen lain, terutama kurikulum akan “hidup” apabila

dilaksanakan oleh guru. Begitu pentingnya peran guru dalam mentransformasikan

(11)

6 perubahan atau peningkatan kualitas tanpa adanya perubahan dan peningkatan

kualitas guru.

Studi yang dilakukan Heyneman & Loxley (1983) di 29 negara (Widoyoko.

http://www.um-pwr.ac.id. (Online) diakses tanggal 16/10/2011) menemukan bahwa

diantara berbagai masukan (input) yang menentukan mutu pendidikan (yang

ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa) sepertiganya ditentukan oleh guru. Peranan

guru makin penting lagi di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sebagaimana

dialami oleh negara-negara sedang berkembang. Lengkapnya hasil studi itu adalah : di

16 negara sedang berkembang, guru memberi kontribusi terhadap prestasi belajar

sebesar 34%, sedangkan manajemen 22%, waktu belajar 18% dan sarana fisik 26%.

Di 13 negara industri, kontribusi guru adalah 36%, manajemen 23%, waktu

belajar 22% dan sarana fisik 19%. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Nana

Sudjana (2002: 42) menunjukkan bahwa 76,6% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh

kinerja guru, dengan rincian: kemampuan guru mengajar memberikan sumbangan

32,43%, penguasaan materi pelajaran memberikan sumbangan 32,38% dan sikap

guru terhadap mata pelajaran memberikan sumbangan 8,60%.

Harus diakui bahwa guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan.

Meskipun fasilitas pendidikannya lengkap dan canggih, namun bila tidak ditunjang oleh

keberadaan guru yang berkualitas, maka mustahil akan menimbulkan proses belajar dan

pembelajaran yang maksimal. Guru sebagai pelaksana pendidikan nasional

merupakan faktor kunci keberhasilan pendidikan.

Peningkatan prestasi belajar siswa akan dipengaruhi oleh kualitas proses

pembelajaran di kelas. Oleh karena itu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, proses

(12)

7 guna. Proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik apabila didukung oleh guru

yang mempunyai kompetensi dan kinerja yang tinggi, karena guru merupakan ujung

tombak dan pelaksana terdepan pendidikan anak-anak di sekolah. Guru yang

mempunyai kinerja yang baik akan mampu menumbuhkan semangat dan motivasi

belajar siswa yang lebih baik, yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan

kualitas pembelajaran.

Kualitas proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsep pembelajaran

yang efektif dimana guru harus mampu menjadikan dirinya sebagai guru yang efektif,

menurut Arend seperti dikutip Narsoyo (2010:7) mengemukakan bahwa,

pembelajaran yang efektif memerlukan:

“… as its base line individuals who are academically able and who care about the well-being of children and youth. It also requires individuals who can produce results, mainly those of student academic achievement and social learning.”

Pendapat yang dikemukakan Arend itu menurutnya menempatkan guru sebagai

pusat tumpuan keberhasilan proses pembelajaran. Namun perlu pula disadari bahwa

hasil pembelajaran bukan semata-mata hasil kerja seorang guru, melainkan hasil

kooperatif antar guru, dimana peningkatan kerja sama antar guru akan meningkatkan

kualitas pembelajaran.

Lowman seperti yang dikutip Narsoyo (2010: 7) mengemukakan hasil

penelitian dari pendapat siswa tentang guru yang baik menemukan ciri-ciri guru yang

beragam, namun pada umumnya menggambarkan ciri-ciri khusus dalam keadaan

yang khusus pula. Pendapat ini didasarkan pada dua hal yakni tentang penguasaan

ilmu (intellectual excitement) dan dampak personal dan intelektual (personal and

(13)

8 kemampuan guru dalam melakukan hubungan interpersonal dengan siswa, baik di

dalam kelas maupun di luar kelas (interpersonal repport).

Pendapat siswa di atas tentunya terbentuk dari persepsi siswa selama

mengikuti pembelajaran, dimana hal ini sejalan dengan Klazky dalam Rizal (http:

www.scribd.com diakses tanggal 4/4/2011) yang menyatakan bahwa persepsi

sebagai proses untuk menentukan makna apa yang kita rasa dan yang kita pikirkan,

hal ini sejalan pula dengan Baron dalam Rizal (http: www.scribd.com diakses tanggal

4/4/2011) yang memandang persepsi sebagai suatu proses mental dalam memberi

makna (arti) terhadap obyek setelah individu memperoleh informasi melalui indera.

Pada akhirnya persepsi dapat mempengaruhi cara berpikir, bekerja, serta sikap pada

diri seseorang dan dalam proses belajar persepsi berpengaruh terhadap daya ingat,

pembentukan konsep dan pembinaan sikap serta persepsi menjadi landasan berpikir

bagi seseorang dalam belajar.

Faktor lain yang tidak kalah penting dalam keberhasilan proses pembelajaran

adalah motivasi siswa. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, motivasi didefinisikan

sebagai berikut :

“Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan … intensitas terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.”

Sementara menurut Sanjaya (2008:249) :

(14)

9 penggerak atau pendorong untuk melakukan tindakan tertentu. Tinggi rendahnya motivasi dapat menentukan usaha atau semangat seseorang beraktifitas; dan tentu saja tinggi rendahnya semangat akan menentukan hasil yang diperoleh.”

Motivasi sangat penting artinya dalam kegiatan belajar, sebab adanya motivasi

mendorong semangat belajar dan sebaliknya, kurang adanya motivasi akan

melemahkan semangat belajar. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar,

seorang siswa yang belajar tanpa motivasi (atau kurang motivasi) tidak akan berhasil

dengan maksimal.

Di SMK Negeri 1 Losarang Indramayu persentasi kehadiran siswa termasuk

baik yaitu mencapai 98,8 % (WMM SMK N 1 Losarang, 2010), akan tetapi dalam

keseharian masih banyak siswa yang datang terlambat pada jam pertama

pembelajaran, dan masih banyak juga siswa yang harus remedial pada saat penilaian

akhir semester. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi karena motivasi belajar siswa

yang kurang akibat dari ketidak puasan siswa terhadap proses pembelajaran di

sekolah seperti diperlihatkan pada tabel berikut :

Tabel 1.2. Rekapitulasi Tingkat Kepuasan Pelanggan Eksternal (Siswa)

No Aspek Puas Tidak Puas

% %

1 Guru 65% 35%

2 Kegiatan Belajar Mengajar 72% 28%

3 Sarana dan Prasarana 50% 50%

4 Layanan terhadap siswa 54% 46%

Rata - Rata 60% 40%

(15)

10 Dari data di atas, jika hal ini dibiarkan maka akan berpengaruh pada motivasi

belajar siswa, sehingga perlu dilakukan perbaikan dari sekolah menyangkut semua

aspek dari proses pembelajaran di sekolah.

Motivasi berprestasi bagi siswa SMK adalah faktor yang cukup penting bagi

keberhasilan saat belajar di sekolah maupun saat siswa sudah memasuki dunia kerja.

Siswa harus terbiasa menghadapi suasana persaingan, karena dengan begitu siswa

akan terbiasa menghadapi suasana kerja di industri yang penuh dengan persaingan,

tantangan dan perubahan yang selalu terjadi setiap saat. Ciri-ciri orang yang memiliki

motivasi berprestasi tinggi menurut Yahdi (www.4shared.com /2/4/2011) adalah :

“Memiliki motivasi/dorongan yang kuat untuk berhasil menyelesaikan tugasnya, tekun, keras hati, bekerja keras dan memiliki kemantapan hati untuk melakukannya. Melihat keberhasilan/kegagalan bukan sebagai faktor yang disebabkan pihak luar dirinya, tetapi dirinyalah sebagai pengendalinya. Bagi mereka berkarya tidak hanya sesuai target bahkan kalau bisa lebih baik daripada target. Dia selalu memiliki naluri senang, bahagia dan puas melakukan yang terbaik, tidak mengenal setengah-setengah.”

Dari uraian di atas siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan

menguasai kompetensi yang unggul baik soft competence maupun hard competence

yang merupakan modal awal ketika dia memasuki dunia kerja.

Proses pembelajaran di sekolah dengan berbagai dinamikanya akan bermuara

pada hasil belajar siswa yang berupa angka-angka hasil penilaian guru di sekolah

yang tertulis dalam buku Laporan Hasil Belajar. Menurut Sanjaya (2008:257)

“Umumnya hasil belajar itu ditunjukkan melalui nilai atau angka yang diperoleh

siswa setelah dilakukan serangkaian proses evaluasi hasil belajar”.

Fokus penilaian adalah prestasi belajar yang dicapai oleh individu meliputi

pengumpulan bukti-bukti tentang pencapaian belajar siswa. Sejalan dengan itu

(16)

11 peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu: (1) domain

kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika

- matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan

antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional),

dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik,

kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal).

Sejauh mana masing-masing domain tersebut memberi sumbangan terhadap

sukses seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan. Sudrajat menampilkan data hasil

penelitian multi kecerdasan yang menunjukkan bahwa kecerdasan bahasa dan

kecerdasan logika-matematika yang termasuk dalam domain kognitif memiliki

kontribusi hanya sebesar 5 %. Kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi

yang termasuk domain afektif memberikan kontribusi yang sangat besar yaitu 80 %,

sedangkan kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spatial dan kecerdasan musikal

yang termasuk dalam domain psikomotor memberikan sumbangannya sebesar 5 %.

Agar penekanan dalam pengembangan ketiga domain ini disesuaikan dengan

proporsi sumbangan masing-masing domain terhadap sukses dalam pekerjaan dan

kehidupan, para guru perlu memahami pengertian dan tingkatan tiap domain serta

bagaimana menerapkannya dalam proses belajar-mengajar dan penilaian.

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan di atas peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian terhadap proses pembelajaran di SMK yang difokuskan pada

persepsi siswa terhadap proses pembelajaran, motivasi berprestasi siswa dan

hubungannya dengan hasil belajar yang diperoleh siswa dengan judul penelitian

Hubungan Persepsi Siswa Terhadap Keterampilan Mengajar Guru dan Motivasi

(17)

12 1.2. Identifikasi Masalah

Dari uraian pada latar belakang penelitian, jelaslah bahwa banyak faktor yang

mempengaruhi hasil belajar siswa, diantaranya kompetensi guru dalam mengelola

pembelajaran, motivasi siswa khususnya motivasi berprestasi, persepsi siswa tentang

proses pembelajaran, kemampuan afektif siswa, sarana prasaran dan lain-lain.

Dari faktor-faktor di atas, ada beberapa masalah yang mengakibatkan proses

pembelajaran di SMK tidak maksimal diantaranya :

1.Kinerja guru SMK belum maksimal dalam melaksanakan tuntutan profesinya,

hal ini terbukti dari tingkat kepuasan siswa terhadap kinerja guru dalam proses

pembelajaran masih rendah.

2.Motivasi berprestasi siswa SMK masih rendah dengan masih banyaknya siswa

yang harus remedial pada penilaian akhir semester.

3.Proses pembelajaran dalam persepsi siswa tidak menyenangkan, masih banyak

siswa SMK yang merasa tidak puas dengan proses pembelajaran.

1.3. Batasan Masalah

Untuk menghindari adanya persepsi yang berbeda, maka penelitian ini

di-batasi permasalahnya, yaitu:

1. Persepsi siswa SMK tentang keterampilan mengajar guru pada penelitian ini

adalah pandangan, pengamatan, atau tanggapan, interpretasi terhadap

keterampilan mengajar guru di sekolah. (Rizal, www.scribd.com 4/4/2011)

2. Motivasi siswa dalam penelitian ini hanya menyangkut motivasi berprestasi

(18)

13 3. Hasil belajar pada penelitian ini adalah hasil belajar kognitif siswa pada

kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan setelah menyelesaikan program

pembelajaran.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka masalah pokok

yang hendak dijawab melalui penelitian ini adalah: Bagaimanakah hubungan

persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru dan motivasi berprestasi dengan

hasil belajar siswa di SMK Kabupaten Indramayu ?

1.5. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka secara umum

tujuan penelitian ini untuk mengungkap hubungan persepsi siswa tentang

keterampilan mengajar guru dan motivasi berprestasi dengan hasil belajar siswa pada

kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan Program Keahlian Teknik Elektro di SMK ,

secara spesifik tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap :

1.Hubungan persepsi tentang keterampilan mengajar guru dengan hasil belajar siswa

Progran Keahlian Teknik Elektronika Industri pada kompetensi Dasar-Dasar

Kelistrikan di SMK Kabupaten Indramayu.

2.Hubungan motivasi berprestasi dengan hasil belajar siswa Progran Keahlian

Teknik Elektronika Industri pada kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan di SMK

Kabupaten Indramayu.

3.Hubungan persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru dan motivasi

berprestasi dengan hasil belajar siswa Progran Keahlian Teknik Elektronika

(19)

14 1.6. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1. Guru, agar lebih memahami tugas dan fungsinya sebagai tenaga pendidik yang

dapat mempengaruhi keberhasilan dalam peningkatan hasil belajar siswa.

2. Pengambil kebijakan pendidikan, sebagai bahan yang dapat dijadikan

pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan dalam upaya

peningkatan proses pembelajaran di SMK sehingga menghasilkan lulusan yang

kompeten dan mempunyai daya saing dalam memasuki dunia kerja.

3. Pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya

teori mengenai keterampilan mengajar guru dan motivasi berprestasi, sehingga

dapat dijadikan bahan rujukan untuk penelitian lanjutan yang berkaitan dengan

(20)

84 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk kedalam metode survei dengan bentuk penelitian

korelasional, dimana dalam penelitian survey tidak dibuat perlakuan terhadap

variabel-variabelnya tetapi hanya mengungkap fakta. Sejalan dengan itu Kerlinger dalam

Riduwan (2010 : 49) mengatakan bahwa :

”penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis.”

Selanjutnya dikatakan bahwa penelitian survei biasanya dilakukan untuk

mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam, tetapi

generalisasi yang dilakukan bisa lebih akurat bila digunakan sampel yang

representatif.

Sesuai dengan tujuan penelitian maka dalam penelitian ini digunakan teknik

penelitian korelasional, seperti dikatakan Joesoef at al.(2007:13) :

(21)

85 3.2. Populasi dan Sampel Penelitian

3.2.1. Populasi

Sugiyono (2008:117) mengatakan populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.

Populasi target dari penelitian ini adalah siswa SMK di kabupaten

indramayu yang berjumlah 65 SMK, sedangkan populasi terjangkaunya adalah 2

SMK yaitu SMK Negeri 1 Losarang dan SMK Muhamadiyah Kandanghaur.

Berdasarkan permasalahan yang akan diteliti maka populasi sasaran dari

penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Elektronika Industri

SMK Negeri 1 Losarang sejumlah 62 siswa dan siswa kelas XI Program Keahlian

Teknik Elektronika Industri SMK Muhamadiyah Kandanghaur sebanyak 46 siswa,

sehingga jumlah populasi dari penelitian ini adalah 108 siswa.

3.2.2. Sampel

Sugiyono (2010 : 118) mengatakan “sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi”. Selanjutnya dikatakan bahwa apabila

populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada

populasi maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi.

Apa yang dipelajari dari sampel, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk

populasi.

Berkaitan dengan teknik pengambilan sampel Nasution (1998: 135)

menyatakan bahwa, “mutu penelitian tidak selalu ditentukan oleh besarnya sampel,

akan tetapi oleh kokohnya dasar-dasar teorinya, oleh desain penelitiannya

(22)

86 Sejalan dengan itu Hasan (2002: 119) berpendapat bahwa :

Sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan dua hal yaitu: (1) Peneliti bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja dari populasi. (2) Peneliti bermaksud mengadakan generalisasi dari hasil-hasil penelitiannya dalam arti mengenakan kesimpulan-kesimpulan dalam objek, gejala, atau kejadian yang lebih luas.

Sejalan dengan pendapat di atas mengenai sampel penelitian Riduwan (2007:56)

berpendapat :

“Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber dan dapat mewakili seluruh populasi. Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjek kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua sehingga penelitaannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar, dapat diambil antara 10% - 15% atau 20% - 25° % . “

Memperhatikan pernyataan tersebut, karena jumlah populasi lebih dari 100

orang, maka teknik pengambilan sampel sebanyak jumlah yang dibutuhkan, dalam

penelitian diambil sampel sebanyak 76 siswa.

Teknis pengambilan sampel dilakukan dengan pengambilan sampel acak

proporsional (proporsional random sampling), dengan tujuan agar sampel yang

dipilih dapat merupakan sampel yang representatif, yaitu sampel yang dapat

menggambarkan karakteristik populasi yang diteliti.

Ukuran anggota sampel (sample number) pada masing-masing sekolah

diten-tukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan : ni = Jumlah sampel masing-masing sekolah

Ni = Jumlah sub / unit populasi.

N = Jumlah populasi

n = ukuran sampel yang diinginkan.

n N N

n i

(23)

87 Dengan demikian maka jumlah anggota sampel yang diambil dari setiap SMK

Negeri 1 Losarang adalah 44 siswa dan dari SMK Muhamadiyah sebanyak 32 siswa

seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 3.1. Populasi dan Sampel Penelitian

No Populasi (SMK di Kab. Indramayu) Sampel Jumlah Siswa

(24)

88

34 SMK MANDIRI HAURGEULIS

35 SMK MUHAMADIYAH SEGERAN

36 SMK MUHAMMADIYAH HAURGEULIS

37 SMK MUHAMMADIYAH INDRAMAYU

38 SMK MUHAMMADIYAH JATIBARANG

39 SMK MUHAMMADIYAH KANDANGHAUR SMK MUHAMMADIYAH KDH 32

40 SMK NAHDLATUL ULAMA HAURGEULIS

41 SMK NASIONAL INDRAMAYU

42 SMK NU KAPLONGAN

43 SMK NU Karangampel

44 SMK PELITA JATIBARANG

45 SMK PGRI INDRAMAYU

46 SMK PGRI JATIBARANG

47 SMK PGRI JUNTINYUAT

48 SMK PGRI KANDANGHAUR

49 SMK PONPES CADANG PINGGAN

50 SMK PUI HAURGEULIS

51 SMK TELADAN KERTASEMAYA

52 SMK WIDYA UTAMA

JUMLAH 76

3.3. Variabel dan Definisi Operasional

3.3.1. Variabel Penelitian

Sugiono (2010:61) mengatakan bahwa :”Variabel penelitian adalah atribut

atau sifat atau nilai dari orang, obyek, atau kegiatan yang mempunyai variasi

tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya”. Variabel dari penelitian ini terdiri dari variabel bebas

(independent variable) yaitu persepsi terhadap keterampilan mengajar guru dan

motivasi berprestasi siswa, sedangkan variabel terikatnya (dependent variable)

(25)

89 Hubungan dari ketiga variabel tersebut dapat dilihat pada desain penelitian

dapat dilihat pada Gambar 3.1. sebagai berikut :

Gambar 3.1. Hubungan Variabel Penelitian Dimana

X1 : Persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru

X2: Motivasi berprestasi siswa

Y : Hasil belajar siswa pada kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan

3.3.2. Definisi Operasional

Definisi operasional dari variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1.Persepsi siswa terhadap keterampilan mengajar guru adalah skor yang diambil dari

tanggapan atau jawaban siswa terhadap keterampilan guru dalam bertanya,

memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup

pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar

kelompok kecil dan perorangan. Skor diambil dari jawaban 24 butir pernyataan

kuesioner yang diajukan kepada siswa, sehingga rentang skor teori akan diperoleh

antara 0 – 72. X1

X2

(26)

90 2.Motivasi berprestasi adalah kesungguhan atau daya dorong seseorang untuk

berbuat lebih baik dari apa yang pernah dibuat atau diraih sebelumnya maupun

yang dibuat atau diraih orang lain, yaitu berupa skor yang diambil dari jawaban

siswa pada pernyataan sikap berusaha untuk unggul dalam kelompoknya,

menyelesaikan tugas dengan baik, rasional dalam meraih keberhasilan, menyukai

tantangan, menerima tanggung jawab pribadi untuk sukses, dan menyukai situasi

pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi, umpan balik, dan resiko tingkat

menengah. Skor diambil dari jawaban 30 butir kuesioner pernyataan sikap yang

diajukan kepada siswa, sehingga rentang skor teori akan diperoleh antara 0 - 90.

3.Hasil belajar siswa pada kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan adalah skor

pengetahuan/pemahaman siswa pada materi ajar Dasar-Dasar Kelistrikan yang

diambil dari skor jawaban tes pada sub kompetensi menjelaskan arus, tegangan

dan hambatan listrik., menjelaskan sifat-sifat beban listrik yang bersifat resistif,

kapasitif dan induktif pada rangkaian DC, menjelaskan prinsip-prinsip kemagnetan

listrik, menjelaskan konsep rangkaian listrik, menggunakan hukum-hukum

rangkaian DC dan menggunakan hukum-hukum rangkaian AC. Skor diambil dari

jawaban 20 butir soal tes yang diajukan kepada siswa, sehingga rentang skor teori

akan diperoleh antara 0 – 20.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengungkap data mengenai hubungan persepsi siswa tentang

keterampilan mengajar guru dan motivasi siswa dengan hasil belajar siswa pada

kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan dibutuhkan metode dan alat pengumpul data

(instrumen penelitian). Dalam penelitian ini digunakan metode kuesioner/angket dan

(27)

91 3.4.1. Metode Kuesioner/Angket

Kuesioner (angket) merupakan salah satu alat pengumpul data yang dilakukan

dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada

responden untuk dijawab (Sugiyono, 2005: 162). Angket pada umumnya digunakan

untuk meminta keterangan tentang fakta, pendapat, pengetahuan, sikap dan perilaku

responden dalam suatu peristiwa.

Kuesioner dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data persepsi

siswa tentang keterampilan mengajar guru dan motivasi berprestasi siswa. Angket

yang digunakan adalah angket dengan pola jawaban tertutup dengan skala

pengukuran menggunakan skala Likert. Oleh karena itu angket ini dirancang

menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban, maka responden hanya

diminta memilih alternatif jawaban yang tersedia. Adapun pola penskorannya

(scoring) adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2. Skor opsi skala sikap

No OPSI SKOR

1. Sangat setuju 3

2. Setuju 2

3. Tidak setuju 1

4. Sangat tidak setuju 0

Sumber : Narsojo (2009 : 200)

3.4.2. Metode Tes

Tes adalah cara atau prosedur dalam rangka pengukuran dan penilaian di

bidang pendidikan. Untuk mengukur seberapa jauh tujuan - tujuan pengajaran

telah tercapai. Untuk mengukur hasil belajar pada ranah kognitif biasanya

(28)

92 Proses tahapan mengkonstruksi tes tertulis secara garis besar yaitu:

mengkaji kurikulum, mengembangkan indikator dan kisi-kisi, menulis item soal,

uji validasi konsep, revisi/perbaikan, uji validasi empiris, seleksi soal, dan penyajian

tes. Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta

didik dalam bentuk tulisan. Tes tertulis terbagi dua, yaitu tes uraian dan tes objektif. .

Salah satu bentuk tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar adalah tes pilihan

ganda. Tes pilihan ganda adalah bentuk tes obyektif yang mempunyai ciri utama

kunci jawaban jelas dan pasti sehingga hasilnya dapat diskor secara obyektif. Hal

ini disebabkan setiap jawaban diberi skor yang sudah pasti dan tidak mengenal

jawaban di antara benar dan salah atau jawaban benar sebagian saja.

Tes pilihan ganda merupakan tes objektif dimana masing-masing item

disediakan lebih dari dua kemungkinan jawaban, dan hanya satu dari pilihan-pilihan

tersebut yang benar atau yang paling benar. Hal ini sejalan dengan pendapat Suryantini

( http//srisuryantini.guru-indonesia.net,19/9/2011) yang menyatakan :

“Tes objektif adalah tes atau butir soal yang menuntut jawaban secara lebih pasti. Bentuk tes objektif dapat mencakup banyak materi pelajaran, penskorannya objektif, dan mudah dikoreksi. Jawaban singkat atau isian singkat. Bentuk ini digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa. Materi yang diuji bisa banyak, namun tingkat berpikir yang diukur cenderung rendah. ….Bentuk pilihan ganda bisa mencakup banyak materi pelajaran, penskorannya objektif, dan bisa dikoreksi dengan mudah. Tingkat berpikir yang terlibat bisa dari tingkat pengetahuan sampai tingkat sintesis dan analisis.”

Tes dalam bentuk pilihan ganda pada penelitian ini digunakan untuk

(29)

93 3.5. Instrumen Penelitian

Berdasarkan landasan teoritis dan definisi operasional yang telah diuraikan di

atas maka dalam penelitian ini digunakan kuesioner/angket dan tes objektif.

3.5.1. Uji Coba Instrumen

Dalam penelitian menggunakan metode kuantitatif, kualitas pengumpulan

datanya sangat ditentukan oleh kualitas instrumen atau alat pengumpulan data yang

digunakan. Instrumen disebut berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan

pemakaiannya apabila sudah terbukti valid dan reliabiel, dengan kata lain instrumen

penelitian yang baik adalah instrumen yang valid dan reliable. Valid mengandung arti

alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu dapat mengungkapkan data dari

variabel yang akan diteliti secara tepat dan reliable berarti konsisten, dengan kata lain

apabila intrumen digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan

tetap menghasilkan data yang sama pula.

Agar peneliti meyakini instrumen yang digunakan valid dan reliable perlu

dilakukan uji coba intrumen sebelum instrumen digunakan untuk mengambil data

yang sesungguhnya. Arikunto (2006 : 216) mengungkapkan pentingnya uji coba

instrumen, yaitu untuk mengetahui kualitas instrumen yang meliputi sekurang

kurangnya validitas dan reliabilitas intrumen. Uji coba instrumen secara teknis

dimaksudkan untuk mengetahui item mana saja yang harus dieliminasi dan

ditambahkan.

Uji coba dilakukan pada subjek yang diambil dari populasi yang akan diteliti,

namun bukan anggota dari sampel penelitian tersebut. Jumlah sampel untuk uji coba

(30)

94 3.5.1.1. Uji Validitas Instrumen

3.5.1.1.1. Validitas Angket

Untuk menguji validitas instrumen penelitian yang berupa angket skala sikap,

peneliti melakukan validitas konstruksi (construct validity) instrumen, dengan

mengkonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada pembimbing untuk diminta

pendapatnya tentang konstruksi instrumen tersebut.

Setelah didapat data dari sampel uji coba, selanjutnya pada angket skala sikap

yang menggunakan Skala Likert dengan 4 skala, peneliti menganggap perlu untuk

melakukan validitas skala (uji normalitas sebaran). Pengujian ini menurut Narsoyo

(2009:98) adalah untuk memeriksa ketepatan skala pada setiap pernyataan dengan

analisis sebaran frekuensi. Adapun langkah- langkahnya adalah sebagai berikut :

1.Menghitung frekuensi setiap katagori jawaban untuk setiap pernyataan (SS.S.TS

dan STS).

2.Menghitung proporsi frekuensi jawaban untuk setiap katagori dengan rumus :

= ∑

3.Menghitung proporsi kumulatif dan menentukan titik tengah proporsi

kumulatif Md dengan rumus :

=

= +

= +

(31)

95 Titik tengah dari setiap proporsi ditentukan dengan rumus :

= 2

= + 2

= + 2

= + 2

4.Harga-harga dari titik tengah Md itu digunakan untuk menentukan nilai bilangan

baku Z ( dengan pertolongan daftar sebaran normal) dan menetapkan nilai skala

sikap dengan rumus :

= | − ± |

Sedangkan untuk uji validitas butir pada angket dilakukan dengan

menggu-nakan persamaan korelasi product moment dari Karl Pearson (Riduwan,2007:217),

yang berfungsi untuk mengetahui korelasi antara skor pada setiap butir angket atau

soal dengan skor total, dengan persamaan sebagai berikut :

!"# = . ∑ % & − ∑ % . ∑ &

'( . ∑ % − ∑ % ). ( . ∑ & − ∑ & )

Dimana :

hitung

r = koefisien korelasi,

Xi = jumlah skor item,

Yi = jumlah skor total (seluruh item),

n = jumlah responden.

Kriteria yang dijadikan dasar untuk mengetahui valid tidaknya sebuah butir

(32)

96 total, dengan ketentuan, apabial rhitung bernilai positip dan lebih besar dari rtabel (rhitung >

rtabel) maka butir tersebut dinyatakan valid. Apabila rhitung bernilai negatif atau lebih

kecil dari rtabel (rhitung < rtabel) maka butir tersebut dinyatakan tidak valid (gugur) dan

tidak bisa digunakan untuk instrumen.

Selanjutnya dihitung dengan Uji-t untuk mengetahui signifikansinya dengan

rumus uji signifikansi korelasi :

2

Harga t hitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan harga t Tabel. Untuk

kesalahan 5% uji dua pihak dan dk = n – 2. Kaidah keputusannya: Jika thitung > ttabel

berarti item valid, sebaliknya jika thitung < ttabel berarti item tidak valid.

3.5.1.1.2. Validitas Instrumen Tes Hasil Belajar

Untuk mendapatkan tes hasil belajar yang cukup memadai, maka perlu

memperhatikan validitas dan reliabilitas tes. Di samping mencari validitas dan re-

liabilitas tes, juga diperlukan perhitungan tingkat kesukaran dan daya pembeda tes,

sehingga tes yang digunakan dapat dipertimbangkan layak atau tidak sebagai alat

pengumpul data yang baik.

Sehubungan dengan instrumen yang akan digunakan oleh peneliti berupa soal

tes pilihan ganda, Zulaiha (2008:1) mengatakan :

(33)

97 3.5.1.1.3.Validitas isi

1. Validasi Teman Sejawat (Validasi Ahli)

Analisis kualitatif dapat dikategorikan sebagai validasi alat tes dari segi

materi, konstruksi, dan bahasa. Analisis materi dimaksudkan sebagai penelaahan yang

berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam soal serta tingkat

kemampuan yang sesuai dengan soal. Analisis konstruks dimaksudkan sebagai

penelaahan yang umumnya berkaitan dengan teknik penulisan soal. Analisis bahasa

dimaksudkan sebagai penelaahan soal yang berkaitan dengan penggunaan bahasa

yang baik dan benar.

Untuk mendapatkan validitas isi dari tes hasil belajar kompetensi dasar-dasar

kelistrikan, ditempuh dengan cara membuat tabel kisi-kisi hasil belajar dan kemudian

validitas isi dan konstruk dilakukan bersama pembimbing dan bantuan guru-guru

Teknik Elektronika Industri di SMK Negeri 1 Losarang. (Validasi isi dari dari teman

sejawat dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 140).

2. Validitas Konstruk

2.1.Daya Pembeda

Soal yang baik adalah soal yang dapat membedakan kelompok siswa yang

berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah. Indeks yang dapat mengukur

perbedaan itu adalah daya pembeda (item discrimination). Dengan demikian daya

pembeda soal sama dengan validitas soal. Daya pembeda soal diperoleh melalui

perhitungan :

* = +,-+.

" atau

* =+,

",−

+.

(34)

98 dimana :

DP = daya pembeda soal

KA = banyak siswa pada kelompok atas yang menjawab benar

KB = banyak siswa pada kelompok bawah yang menjawab benar

n = banyak siswa

nA = banyak siswa pada kelompok atas

nB = banyak siswa pada kelompok atas

Menurut kriteria yang berlaku di Pusat Penilaian Pendidikan (Zulaiha, 2008:5)

soal yang baik atau dapat diterima bila memiliki daya pembeda soal diatas 0,25,

karena soal tersebut dapat membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dan

berkemampuan rendah. Berikut kriteria daya pembeda soal menurut Pusat Penilaian

Pendidikan :

Tabel 3.3. Kriteria Daya Pembeda

Kriteria Daya Pembeda Keterangan

DP > 0,25 Diterima

0 < DP ≥ 0,25 Diperbaiki

DP ≤ 0 Ditolak

(Zulaiha, 2008:5)

Selain menghitung indeks daya pembeda soal dilakukan juga penghitungan

indeks daya pembeda pengecoh, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui semua

pengecoh sudah bekerja (diterima), perlu direvisi atau ditolak.

2.2.Tingkat Kesukaran.

Setelah daya pembeda soal diperoleh, langkah selanjutnya adalah menentukan

tingkat kesukaran soal. Tingkat kesukaran adalah proporsi siswa yang menjawab

benar. Tingkat kesukaran berkisar antara 0 sampai dengan 1. Makin besar tingkat

(35)

99 Tingkat kesukaran soal diperoleh melalui perhitungan dengan rumus :

/0 =12

Dimana :

TK = Tingkat Kesukaran

JB = banyak siswa yang menjawab benar n = banyak siswa

dengan kriteria sebagai berikut :

Tabel 3.4. Kriteria Tingkat Kesukaran

Kriteria Tingkat Kesukaran Keterangan

TK < 0,3 Sukar

0,3 ≤ TK ≤ 0,7 Sedang

TK > 0,7 Mudah

( Zulaiha, 2008:6)

Untuk mengetahui berfungsi tidaknya pengecoh dilihat dari tingkat kesukaran,

maka harus dilakukan perhitungan penyebaran pilihan jawaban, yaitu proporsi siswa

yang menjawab pilihan jawaban tertentu. Suatu pengecoh dikatakan berfungsi bila

dipilih paling sedikit oleh 2,5% (≥ 0,025).

3.5.1.2. Uji Reliabilitas Instrumen

Keterandalan (reliabilitas) menyangkut ketepatan alat ukur, jika alat itu tepat

dalam pengertian alat ukur itu stabil maka dapat diandalkan (dependability) dan dapat

diramalkan (predicability). Suatu instrumen dikatakan reliabel jika instrumen itu

memberikan hasil yang sama meskipun telah dipakai untuk mengukur berulang kali.

Untuk menguji reliabilitas instrumen digunakan rumus koefisien alpha yang

dikemukakan oleh Cronbach (Arikunto, 2006). Suatu kuesioner disebut

(36)

100 dengan jalan mengulang pertanyaan yang mirip pada nomor-nomor berikutnya, atau

dengan jalan melihat konsistensinya (diukur dengan korelasi) dengan pertanyaan lain.

Uji realibilitas instrumen dilakukan untuk menguji instrumen yang sudah

valid. Cara pengujian yang digunakan pada penelitian ini adalah internal consistency

yaitu mencobakan instrumen sekali saja, kemudian data dianalisis dengan teknik

belah dua dari Spearman Brown (spilt half). Aapun langkah-langkahnya adalah

sebagai berikut :

1.Data item hasil uji coba instrumen yang sudah dinyatakan valid dibelah menjadi

dua kelompok yaitu kelompok item instrumen ganjil (X) dan kelompok item

instrumen genap (Y), sehingga menghasilkan total skor dari masing-masing

kelompok.

2.Kemudian skor total antara kedua kelompok ganjil dan genap dicari korelasinya,

dengan rumus :

3.Setelah didapat nilai atau harga koefisien korelasi kemudian dimasukkan dalam

rumus Spearman Brown (Riduwan,2007:221)

Dimana :

r11 = koefisien reliabilitas internal

rb= koefisien korelasi Product Moment antara belahan ganjil dan genap

4.Menetapkan nilai rtabel dengan menggunakan koefisien Alpha (α) dari Cronbach.

(37)

101 5.Membandingkan nilai r11 dengan rtabel dengan kaidah keputusan, jika r11rtabel

berarti reliabel dan jika r11 rtabel berarti tidak reliabel.

3.5.2. Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian

Hasil uji coba instrumen penelitian adalah sebagai berikut :

a. Hasil uji coba instrumen variabel X1

Dari 30 item pernyataan dalam angket terdapat 6 item dinyatakan tidak valid atau

tidak reliabel, yaitu item no 3,6,8,18,26,dan 29 sedangkan 24 butir item lainnya

dinyatakan valid dan reliabel dan memenuhi syarat untuk menjadi item-item

instrumen penelitian variable X1. (Perhitungan validitas dan reliabilitas angket

dapat dilihat pada lampiran 7,lampiran 8 dan lampiran 9 pada halaman 150 s.d

158)

Setelah disusun ulang item-item pernyataan di atas, maka kisi-kisi instrumen

penelitian menjadi :

Tabel 3.5 Kisi-kisi instrumen penelitian Variabel X1

Variabel Indikator Item Pernyataan Jumlah

Positif Negatif + - ∑

(38)

102 b. Hasil uji coba instrumen variabel X2

Dari 40 item pernyataan dalam angket terdapat 10 butir item dinyatakan tidak

valid atau tidak reliabel, yaitu item no 1,7,16,17,20,21,29,36,39 dan 40

sedangkan 30 butir item lainnya dinyatakan valid dan reliable dan memenuhi

syarat untuk menjadi item-item instrumen penelitian untuk variabel X2.

Setelah disusun ulang dari item-item pernyataan diatas, maka kisi-kisi instrumen

penelitian menjadi :

Tabel 3.6. Kisi-kisi instrumen penelitian Variabel X2

Variabel Indikator Pernyataan Jumlah

Positif Negatif + - ∑

4. Menyukai tantangan 15 16,17,

18 1 3 4

(Instrumen penelitian variabel X2 dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 135)

c. Hasil uji coba instrumen variabel Y

Dari 22 item soal dalam soal tes hasil belajar kompetensi dasar-dasar

kelistrikan terdapat 2 butir item dinyatakan tidak valid atau tidak reliable,

yaitu item no 13 dan no 20 sedangkan 20 butir item lainnya dinyatakan valid

(39)

103 instrumen penelitian untuk variabel Y. (Perhitungan analisis butir soal dapat

dilihat pada lampiran 10 halaman 161).

Setelah disusun ulang dari item-item pernyataan di atas, maka kisi-kisi

instrumen penelitian menjadi :

Tabel 3.7. Kisi-kisi instrumen penelitian Variabel Y

Variabel Sub Variabel Nomor Item

Soal

dan hambatan listrik. 1, 10, 11,12

4

hukum rangkaian AC 3,4, 19,20

4

Jumlah soal 20

(Instrumen penelitian variabel Y dapat dilihat pada lampiran 3 halaman 137)

3.6. Teknik Analisis Data

Setelah diperolah instrumen yang valid dan reliabel maka langkah selanjutnya

dari peneliti adalah pengambilan data untuk dianalisis dan ditarik kesimpulan sebagai

hasil dari penelitian.

3.6.1. Pengujian Persyaratan Analisis

Pengujian persyaratan analisis merupakan pengujian syarat analisis data sesuai

dengan kondisi penyebaran data yang didapat. Karena penelitian ini merupakan

penelitian kuantitatif dengan menggunakan statistik inferensial, maka perlu dilakukan

(40)

104 3.6.1.1. Uji Normalitas Galat Taksiran

Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui dan menentukan apakah

sebaran data yang akan dianalisis mempunyai tingkat sebaran data yang normal atau

tidak. Jika data berdistribusi normal maka peneliti dalam pengolahan data selanjutnya

dapat menggunakan teknik analisis statistik parametrik dan sebaliknya jika sebaran

data tidak berdistribusi normal maka peneliti bisa menggunakan teknik statistik non

parametrik.

Pada penelitian ini pengujian normalitas data akan menggunakan Metode Chi

Square atau (Uji Goodness of fit Distribusi normal), metode ini menggunakan

pendekatan penjumlahan penyimpangan data observasi tiap kelas dengan nilai yang

diharapkan. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :

= Chi-kuadrat yang dicari

fo = Frekuensi dari hasil pengamatan (fo) fe = Frekuensi yang diharapkan (fe)

Dengan membandingkan χ2 hitung dengan χ2 tabel untuk ≥ = 0.05 dan derajat

kebebasan (dk) = k – 2, dengan kriteria pengujian sebagai berikut:

Jika χ2hitung ≥ χ2tabel artinya Data Distribusi Tidak Normal dan

Jika χ2hitung < χ2tabel artinya Data Berdistribusi Normal

Data yang perlu diuji normalitas distribusi frekuensi dalam penelitian ini

adalah galat (∈=YYˆ) dari data perolahan skor. Perhitungan uji normalitas

(41)

105 3.6.1.2. Uji Homogenitas Data

Uji Homogenitas, digunakan untuk mengetahui apakah data yang

dihubungkan sejenis (homogen) dengan menggunakan metode Bartlet dan varians

terbesar dibanding varian terkecil menggunakan table F untuk uji homogenitas antar

variable bebas. (Riduwan, 2008:177).

Untuk memudahkan perhitungan, satuan-satuan yang diperlukan untuk uji

Bartlett (Sudjana, 1992:262-263),disusun dalam sebuah daftar seperti berikut:

Sampel

Dari daftar ini kita hitung harga-harga yang diperlukan, yakni:

Langkah 1 : Varians gabungan dari semua sampel dalam hal ini yang menjadi sampel adalah kelompok-kelompok data yang nilainnya sama, dengan rumus:

(

)

Untuk uji Bartlett digunakan statistik khi-kuadrat dengan rumus:

(42)

106 Langkah 3 : membandingkan χ2 hitung dengan χ2 tabel untuk ≥ = 0.05 dan derajat kebebasan (dk) = k – 1 , Kriteria data homogeny jika χ2 hitung <χ2 tabel

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3

3.6.2. Pengujian Hipotesis Penelitian

Dengan asumsi data sudah memenuhi syarat analisis (distribusi data normal

dan homogen), maka untuk mengetahui tingkat korelasi antar variabel digunakan

analisis korelasi tunggal dan analisis korelasi ganda sebagai berikut:

a. Untuk menghitung tingkat korelasi X1 dengan Y, korelasi X2 dengan Y dan

korelasi X1 dengan X2 digunakan analisi korelasi sederhana dengan rumus :

(Usman, 1995:203)

Interpretasi korelasi dari nilai r adalah sebagai berikut :

Tabel 3.10 Interpretasi dari nilai r

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

(43)

107

b. Untuk menghitung korelasi X1dan X2 dengan Y digunakan analisis korelasi

ganda dengan rumus :

(Usman, 1995:232)

Untuk mengetahui signifikan atau tidaknya hubungan antar variabel

dalam hubungan ini, digunakan Uji-F dengan rumus:

(Usman, 1995:233)

Dimana: k = banyaknya variabel bebas dan n = banyaknya anggota sampel

Kaidah pengujiannya yaitu :

a. Jika Fhitung Ftabel, berarti signifikan

(44)

124 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka disimpulkan sebagai

berikut :

1.Terdapat hubungan yang positif (r = 4,33) antara persepsi siswa tentang

keterampilan mengajar guru dengan hasil belajar siswa Program Keahlian Teknik

Elektronika Industri pada kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan di SMK Kabupaten

Indramayu.

Terdapat hubungan yang positif artinya terdapat hubungan yang berbanding

lurus antara persepsi siswa terhadap keterampilan mengajar guru dengan hasil

belajar siswa Program Keahlian Teknik Elektronika Industri pada kompetensi

Dasar-Dasar Kelistrikan, dimana semakin baik keterampilan mengajar guru dalam

persepsi siswa, maka semakin meningkat pula hasil belajar siswa.

Hubungan antara persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru (X1)

dengan hasil belajar siswa (Y) Program Keahlian Teknik Elektronika Industri pada

kompetensi dasar-dasar kelistrikan di SMK Kabupaten Indramayu tergolong

sedang. Kontribusi (X1) terhadap (Y) sebesar 18,79%, artinya bahwa 18,79 persen

perubahan yang terjadi dalam meningkatnya hasil belajar siswa dapat dijelaskan

(45)

125 2.Terdapat hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan hasil belajar

siswa Program Keahlian Teknik Elektronika Industri pada kompetensi

Dasar-Dasar Kelistrikan di SMK Kabupaten Indramayu.

Artinya terdapat hubungan yang berbanding lurus antara motivasi

berprestasi dengan hasil belajar siswa Program Keahlian Teknik Elektronika

Industri pada kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan. dimana semakin baik motivasi

berprestasi maka semakin meningkat pula hasil belajar siswa.

Hubungan antara motivasi berprestasi (X2) dengan hasil belajar siswa (Y)

Program Keahlian Teknik Elektronika Industri pada kompetensi Dasar-Dasar

Kelistrikan di SMK Kabupaten Indramayu tergolong sedang. Kontribusi (X2)

terhadap (Y) sebesar 25,54%. artinya bahwa 25,54 persen perubahan yang terjadi

dalam meningkatnya hasil belajar siswa dapat dijelaskan oleh persepsi siswa.

3. Terdapat hubungan yang positif antara persepsi siswa tentang keterampilan

mengajar guru dan motivasi berprestasi dengan hasil belajar siswa Program

Keahlian Teknik Elektronika Industri pada kompetensi Dasar-Dasar Kelistrikan di

SMK Kabupaten Indramayu.

Artinya terdapat hubungan yang berbanding lurus antara persepsi siswa

tentang keterampilan mengajar guru dan motivasi berprestasi dengan hasil belajar

siswa Program Keahlian Teknik Elektronika Industri pada kompetensi

Dasar-Dasar Kelistrikan, dimana semakin baik keterampilan mengajar guru

dipersepsikan siswa bersama-sama dengan semakin baik motivasi berprestasi

siswa maka semakin meningkat pula hasil belajar siswa.

Hubungan antara persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru (X1)

(46)

126 Teknik Elektronika Industri pada kompetensi dasar-dasar kelistrikan di SMK

Kabupaten Indramayu tergolong sedang. Kontribusi (X1) dan (X2) secara

bersama-sama terhadap (Y) sebesar 25,82%. Temuan penelitian menunjukkan semakin

tinggi keterampilan mengajar guru dipersepsikan oleh siswa dan semakin tinggi

motivasi berprestasi siswa secara bersama-sama dapat meningkatkan hasil belajar

siswa.

5.2. Saran

Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan di atas, berikut ini

dikemukakan beberapa saran terkait dengan simpulan tersebut, yaitu :

1. Bagi pimpinan Sekolah Menengah Kejuruan :

a.Agar selalu memperhatikan pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru

secara sistematis dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan

pengawasan dalam rangka menciptakan lulusan yang berkualitas dan berdaya

saing tinggi baik di masyarakat maupun di industri,

b. Agar memperhatikan keterampilan dasar guru dalam proses belajar mengajar,

karena guru merupakan ujung tombak dari proses pembelajaran di sekolah,

sehingga sangatlah penting untuk terus menerus mengupayakan peningkatan dan

pengembangan keterampilan mengajar guru di sekolah, baik melalui diklat-diklat

profesi atau mendorong guru agar mau meningkatkan kualifikasi akademik

dengan mengikuti studi pada jenjang yang lebih tinggi.

c. Dalam penilaian kinerja guru maupun pengambilan keputusan sebaiknya

memperhatikan juga masukan-masukan dari siswa sebagai komponen sekolah

(47)

127 2. Guru harus selalu meningkatkan kompetensi profesionalnya, mengembangkan

keterampilan dan inovasi dalam proses pembelajaran di kelas, karena hal ini

bisa meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar di

kelas.

3. Siswa harus meningkatkan prestasi belajarnya dengan tekun belajar dan berlatih,

dan mengembangkan pengetahuan dengan mencari bahan ajar dan sumber

belajar lain dengan tidak hanya mengandalkan guru sebagai sumber informasi

tunggal.

4. Bagi kepentingan studi dan penelitian lebih lanjut, bahwa penelitian ini belum

mencapai tujuan yang optimal sebagaimana yang diharapkan, karena masih

memiliki kekurangan/kelemahan. Oleh karena itu disarankan agar penelitian ini

menjadi bahan pembanding bagi penelitian yang sama terhadap SMK di

(48)

128

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

BPS.(2010). Indramayu Dalam Angka. Indramayu

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1997). Fungsi Keluarga dalam

Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Yogyakarta

Dirjen PMPTK (2008). Departemen Pendidikan Nasional. Penilaian Hasil

Belajar . Jakarta

Dirjen PMPTK (2008). Departemen Pendidikan Nasional. Penilaian Kinerja

Guru . Jakarta

Dit.Pembelajaran DIT PSMK PMPTK (2006). Departemen Pendidikan Nasional. Bahan Sosialisasi KTSP . Jakarta

Fajar. (2005). Portofolio dalam pelajaran IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Fakhri. (2007). Pendidikan Kejuruan di Indonesia. (Online) http://www.acehforum.or.id, diakses 25 April 2010.

Fatchurrochman, R. (2011), Pengaruh motivasi berprestasi terhadap

kesiapan belajar, pelaksanaan prakerin dan pencapaian kompetensi mata pelajaran produktif Teknik Kendaraan Ringan. Tesis pada FPS

UPI Bandung, tidak diterbitkan

Guntur, A (2010). Pengembangan Pendidikan kejuruan untuk Kebutuhan

Tenaga kerja dan wira Usaha, Makalah Seminar Pendidikan

Nasional. Lustrum XI UPI, Bandung

Harianto.(2009). Kinerja Guru Kejuruan Yang Telah Bersertifikat Pendidik.

http://karya-ilmiah.um.ac.id, diakses 17 Desember 2010.

Joesoef.R at.al (2007). Peran SMK dalam mendukung pertumbuhan ekonomi

daerah. Dit PSMK Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta

Kiswoyowati, A. (2011), Pengaruh motivasi belajar dan kegiatan belajar

siswa terhadap kecakapan hidup siswa. Tesis pada FPS UPI Bandung,

(49)

129 Masbow (2003). Psikologi belajar

(http://www.masbow.com/2009/08/apa-itu-persepsi.html) diakses 9 pebruari 2011.

Maslow, A. (1993). Motivasi dan Kepribadian, Jakarta: Pustaka Binawan Presindo

Muhidin, A. (2009). Konsep Pendidikan Kejuruan, http/sambasalim.com. diakses 1 pebruari 201.

Mulyasa.E. (2007). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa.E. (2010). Menjadi Guru Profesional: menciptakan pembelajaran

kreatif dan menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muslim. (2007). Sekilas Pendidikan Kejuruan., http://tutomu.files.word-press.com, diakses 14 April 2010

Narsojo.T. (2009). Statistika untuk Psikologi dan Pendidikan. Bandung : Rafika Aditama.

... (2010). Planning/Organizing of Teaching and Training in TVE, Diktat Kuliah SPs UPI Bandung, tidak di terbitkan.

Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan.

Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Nasional Pendidikan

Prudjung,Cheng (2009), mc-clelland dan teori motivasi. (Online) http://www.pmiiumm.com diakses 10 juli 2010

Riduwan .(2008). Metode dan Teknik Menyusun Tesis.Bandung: Alfabeta

Rzal.J (2008). tinjauan teoritis tentang persepsi siswa tentang media televisi

dan pengaruhnya terhadap perubahan prilaku sisiwa. (Online)

http://www.scribd.com diakses 4 April 2011.

Sanjaya, W. (2010). Kurikulum Pembelajaran . Bandung: Kencana

(50)

130 Siagian,S. (2004). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sudjana. (1992). Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung: PT Tarsito. Bandung.

Sudjana, Nana. And Ibrahim. (2004). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Sudrajat A, (2008). Penilaian Hasil Belajar Siswa.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses 9 pebruari 2011.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Afabeta.

2005). Metode Penelitian Administratif. Bandung : Alfabeta.

Sulistio, E (2009). Penerapan Norma-Norma Keselamatan Dan Kesehatan

Kerja Pada Sekolah Menengah Kejuruan Bidang Keahlian Teknik Ketenagalistrikan Di Kabupaten Sidoarjo. Tesis : Universitas Negeri

Malang.

Suryantini.(2011). Desain dan Analisi Hasil Belajar .http//srisuryantini.guru-indonesia.net. diakses 19 september 2011

Sutarno, H., Rohendi, D. dan Gantini G. (2011). Pengaruh kompetensi guru

mata pelajaran TIK terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. Jurnal

Pendidikan edisi khusus no. 2.Agustus 2010, UPI Bandung

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Uno, H. (2007). Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi

Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

... (2007). Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang

Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

(51)

131 Walgito, B. (2003). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset

Widoyoko. (2009). Analisis Pengaruh Kinerja Guru terhadap Motivasi

Belajar Siswa (Online) http://www.um-pwr.ac.id, diakses 16

Desember 2011.

Winardi. (2001). Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Yahdi. (2011) Motivasi Berprestasi

http://www.4shared.com/get/akaxf1vk/Motivasi_Berprestasi.html diakses 24/3/2011.

Gambar

Tabel 1.1 Data pencari kerja yang belum disalurkan Dinas sosial dan tenaga kerja Kabupaten Indramayu
Tabel 1 1 Data pencari kerja yang belum disalurkan Dinas sosial dan tenaga kerja Kabupaten Indramayu. View in document p.10
Tabel 1.2. Rekapitulasi Tingkat Kepuasan Pelanggan Eksternal (Siswa)
Tabel 1 2 Rekapitulasi Tingkat Kepuasan Pelanggan Eksternal Siswa . View in document p.14
Tabel 3.2. Skor opsi skala sikap
Tabel 3 2 Skor opsi skala sikap . View in document p.27
Tabel 3.3. Kriteria Daya Pembeda Kriteria Daya Pembeda
Tabel 3 3 Kriteria Daya Pembeda Kriteria Daya Pembeda . View in document p.34
Tabel 3.4. Kriteria Tingkat Kesukaran
Tabel 3 4 Kriteria Tingkat Kesukaran . View in document p.35
Tabel 3.5 Kisi-kisi instrumen penelitian Variabel X1
Tabel 3 5 Kisi kisi instrumen penelitian Variabel X1 . View in document p.37
Tabel 3.6. Kisi-kisi instrumen penelitian Variabel X2
Tabel 3 6 Kisi kisi instrumen penelitian Variabel X2 . View in document p.38
Tabel 3.7. Kisi-kisi instrumen penelitian Variabel Y
Tabel 3 7 Kisi kisi instrumen penelitian Variabel Y . View in document p.39
Tabel 3.10 Interpretasi dari nilai r
Tabel 3 10 Interpretasi dari nilai r . View in document p.42

Referensi

Memperbarui...

Download now (51 pages)