HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU HYGIENE TENAGA PENGOLAH MAKANAN DI INSTALASI GIZI Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan Di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi.

 3  19  11  2017-07-05 10:51:32 Report infringing document
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU HYGIENE TENAGA PENGOLAH MAKANAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI NASKAH PUBLIKASI Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Pendidikan Program DIII Gizi FIK UMS Disusun Oleh : AZWAR EKA SAPUTRA J 300 120 004 PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2015 HALAMAN PERSETUJUAN ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH HUBUNGAN PENGETAHUAN Judul Penelitian DENGAN PERILAKU HYGIENE TENAGA PENGOLAH MAKANAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI Nama Mahasiswa Nomor lnduk Mahasiswa : Azwar Eka Saputra : J 300 120 004 Telah Disetujui oleh Pembimbing Karya Tulis llmiah Program Studi llmu Gizi Fakultas llmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tanggal 15 Oktober 2015 dan layak dipublikasikan surakarta, {5 oktober 2015 Menyetujui Pembimbin gl Pembimbing ll a (Endang Nur w, SST., M.Si Med) (Nur Lathifah M, S-Gz-, M.S) NtK / NtDN. 717 / 06.2908-7401 NtK.,t458 Mengetahui, Ketua Program Studi llmu Gizi Fakullas llmu K€sehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta d"t* (Setvaninqrum Rahmawatv. A.. M.Kes.. Ph.D) NrK r NrDN.744 / 06.2312-7301 Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU HYGIENE TENAGA PENGOLAH MAKANAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI Azwar Eka Saputra* Endang Nur W, SST., M.Si Med** dan Nur Lathifah M, S.Gz., M.S** ABSTRAK Latar Belakang:Penyelenggaraan makanan yang hygiene dan sehat menjadi prinsip dasar penyelenggaraan makanan institusi rumah sakit. Tujuan:Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Metode:Penelitian ini merupakan jenis penelitian survei yang bersifat deskriptif korelatif. Populasi pada penelitian ini yang diambil adalah tenaga pengolah makanan di instalasi gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, sedangkan sampel penelitian adalah 30tenaga pengolah makanan di instalasi gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tenaga pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta termasuk dalam kategori yang baik (60%) dan perilaku hygiene tenaga pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta termasuk dalam kategori baik(53,3%). Hasil perhitungan chi square (χ2) diperoleh nilai χ2hitung sebesar 6,451 dengan p= 0,011. Oleh karena nilai p< 0,05; maka H0 ditolak, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Kesimpulan:Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Kata kunci : pengetahuan, perilaku hygiene 1   Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   ABSTRACT RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND PERSONAL HYGIENE BEHAVIORS IN FOOD HANDLERS AT DR. MOEWARDI GENERAL HOSPITAL Background: The implementation of hygiene and healthy food are the basic principles of organization of food management in hospital. Purpose: The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and personal gygiene in food handlers of Dr. Moewardi General Hospital. Method: This research was a descriptive study. The population in this study was taken from workers at Dr. Moewardi General Hospital, while the study subject were 30 workers in the food processing plant of Dr. Moewardi General Hospital. Result: The results showed that knowledge of most workers was good (60%) and the behavior of personal hygiene of most workers was also good (53,3%). There was a significant relationship between knowledge and personal hygiene behaviors in food handlers of Dr. Moewardi General Hospital (p= 0,011). Conclusion: there was a relationship between knowledge and personal hygiene behaviors in food handlers of Dr. Moewardi General Hospital. Keywords : knowledge, hygiene behaviors pelayanan medis melalui pendekatan preventif, kuratif, rehabilitatif dan promotif. Upaya untuk menunjang pelayanan medis bagi pasien yang diselenggarakan oleh rumah sakit, diperlukan pengolahan makanan yang baik dan memenuhi syarat hygiene sanitasi makanan, yaitu dengan pengendalian faktor yang memungkinkan terjadinya kontaminasi yang akan mempengaruhi pertumbuhan kuman dan bertambahnya bahan aditif pada makanan dan minuman yang berasal dari proses pengolahan makanan dan minuman yang disajikan di rumah sakit, agar tidak menjadi mata rantai penularan penyakit dan gangguan kesehatan (Djarismawati dkk, 2004) Penyelenggaraan makanan di rumah sakit harus optimal dan sesuai dengan mutu pelayanan standar kesehatan serta indikasi penyakit pasien (Depkes RI, 2005). Penyelenggaraan makanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan (tidak saniter dan higienis) selain PENDAHULUAN Pelayanan gizi di rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan penunjang yang mempunyai tugas mendukung upaya penyembuhan penderita dalam waktu sesingkat mungkin. Makanan yang memenuhi kebutuhan gizi dan termakan habis akan mempercepat penyembuhan dan memperpendek hari rawat. Penyelenggaraan makanan yang higienis dan sehat menjadi prinsip dasar penyelenggaraan makanan di rumah sakit karena pelayanan makanan rumah sakit diperuntukkan untuk orang sakit dengan ancaman penyebaran kuman pathogen yang tinggi. Makanan yang tidak dikelola dengan baik dan benar oleh penjamah makanan dapat menimbulkan dampak negatif seperti penyakit dan keracunan akibat bahan kimia, mikroorganisme, tumbuhan atau hewan, serta dapat pula menimbulkan alergi (Depkes RI, 2001). Rumah Sakit merupakan tempat umum yang memberikan 2   Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   personal merupakan prosedur menjaga kebersihan dalam pengelolaan makanan yang aman dan sehat. Prosedur menjaga kebersihan merupakan perilaku bersih untuk mencegah kontaminasi pada makanan yang ditangani. Prosedur yang penting bagi pekerja pengolah makanan adalah pencucian tangan, kebersihan dan kesehatan diri. Di Amerika Serikat 25% dari semua penyebaran penyakit melalui makanan, disebabkan pengolah makanan yang terinfeksi dan hygiene personal yang buruk (Hiasinta, 2001). Terdapat 4 (empat) faktor yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit di rumah sakit melalui makanan yakni perilaku yang tidak higienis, adanya sumber penyakit menular, adanya media (makanan, minuman) dan resipien yang kurang baik (Triatmodjo, 2003). Pekerja memegang peranan yang penting dalam kelancaran proses produksi karena pekerja merupakan perencana, pelaksana dan pengelola dalam suatu penyelenggaraan makanan. Pekerjaan dapat diselesaikan dengan sebaikbaiknya apabila dalam diri pekerja memiliki sikap positif yaitu sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, hati-hati, cermat dan teliti, senang akan kebersihan serta menjaga kesehatan. Hasil penelitian Meikawati, dkk (2010) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan praktek higiene dan sanitasi makanan dan berpola positif. Penelitian Fina Izzatul Chusna (2013) juga menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan, pendidikan dan lingkungan dengan kualitas sarana sanitasi kantin. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi merupakan salah satu rumahsakit yang menerapkan higiene dan sanitasi.Berdasarkansurvey di Instalasi Gizi diketahui 30% penjamah makanan memperpanjang proses perawatan, juga dapat menyebabkan timbulnya infeksi silang (cross infection) atau infeksi nosokomial (infeksi yang didapatkan di rumah sakit), yang di antaranya dapat melalui makanan (Iskak, 2006). Data tentang terjadinya infeksi nosokomial khususnya yang berhubungan dengan penyelenggaraan makanan di rumah sakit belum tercatat, akan tetapi timbulnya infeksi nosokomial secara umum diketahui angkanya tergolong tinggi. Angka infeksi nosokomial tahun 2007 di Jakarta sebesar 41,1%, di Surabaya 73,3%, dan Yogyakarta kurang lebih 5,9% (Hasyim, 2007). Pengolahan makanan yang baik dan benar pada dasarnya adalah mempunyai pengetahuan tentang mengolah makanan berdasarkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip higiene dan sanitasi makanan meliputi pengetahuan, sikap, dan prilaku manusia dalam menaati azas kesehatan, azas kebersihan, azas keamanan dalam menangani makanan sehingga menghasilkan makanan yang bersih, sehat, aman, bermanfaat serta tahan lama (Depkes, 2003). Upaya hygiene dan sanitasi makanan pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makanan, penyimpanan makanan dan penyajian makanan (Purnomo, 2009 dalam Afriyenti, 2002). Penyelenggaraan makanan yang hygiene dan sehat menjadi prinsip dasar penyelenggaraan makanan institusi. Makanan yang tidak dikelola dengan baik dan benar oleh penjamah makanan dapat menimbulkan dampak negatif seperti penyakit dan keracunan akibat bahan kimia, mikroorganisme, tumbuhan atau hewan, serta dapat pula menimbulkan alergi. Faktor kebersihan pengelola makanan yang biasa disebut hygiene 3   Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   secara langsung melalui observasi, wawancara dan kuesioner atau menyebarkan daftar pertanyaan. Sedangkan data sekunder berupa data petugas pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, profil Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, struktur organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Wawancara berupa pertanyaan langsung yang diberikan kepada kepala Instalasi Gizi untuk mengetahui gambaran awal tentang pengetahuan dan perilaku hygiene tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Kuesioner berupa daftar pertanyaan yang diberikan kepada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi guna mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan. Pengamatan atau observasi dilakukan untuk mendukung data yang diperoleh melalui wawancara maupun kuesioner yaitu dengan melakukan pengamatan terhadap perilaku hygiene petugas pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Untuk mengukur pengetahuan dan perilaku hygiene pada petugas pengolah makanan di RSUD Dr. Moewardi terdapat 20 pertanyaan untuk pengetahuan dan 15 item pertanyaan untuk perilaku hygiene dengan memberikan penilaian dengan skor 1 apabila benar dan skor 0 apabila salah. Kuesioner dalam penelitian ini mengadopsi dari penelitian (Adam, 2011). Keberhasilan penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap, adapun tahap-tahap dalam penelitian sebagai berikut: Tahap Pertama, Tahap persiapan yang dimulai dari perijinan, studi pendahuluan di masih belum menggunakan Alat Pelindung Diri dengan lengkap. Berdasarkan hal tersebut, perlu di lakukan penelitian untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey yang bersifat deskriptif analitik karena peneliti tidak memberikan perlakuan kepada subyek penelitian. Penelitian survei adalah penelitian dengan cara data dikumpulkan dan hubungan (korelasi) antara berbagai perubahan diselidiki untuk memberi gambaran terhadap obyek peneliti. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Cross sectional (Nursalam, 2003). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga pengolah makanan di instalasi gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi yang berjumlah 36 orang.Sampel penelitian ini adalah 36 tenaga pengolah makanan di Instalasi gizi RSUD Dr. Moewardi. Teknik sampling yang digunakan dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan consecutive sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil seluruh populasi sebagai sampel penelitian (Notoatmodjo, 2005), sehingga jumlah sampel penelitian ini adalah 36 tenaga pengolah makanan di Instalasi gizi RSUD Dr. Moewardi. Lokasi penelitian ini adalah instalasi gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, adapun waktu pelaksanaan penelitian ini adalah pada bulan November 2014 hingga Februari 2015. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh 4   Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   “Ya” dan skor 0 apabila jawaban “Tidak”,sehingga setiap skor bernilai 5, dan jumlah skor maksimal perolehan pada variabel pengetahuan dan perilaku hygiene adalah 100. Coding, Memberikan kode jawaban dengan angka atau kode tertentu. Adapun kriteria coding untuk pengetahuan dan perilaku hygiene dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Kurang, apabila skor nilai kurang dari 60%; Sedang, apabila skor nilai antara 61-80%; dan Baik,apabila skor nilai antara 80-100% (Khomsan, 2003). Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Untuk mengukur pengetahuan dan perilaku hygiene pada petugas pengolah makanan di RSUD Dr. Moewardi terdapat 20 pertanyaan untuk pengetahuan dan 15 item pertanyaan untuk perilaku hygiene dengan memberikan penilaian dengan skor 1 apabila benar dan skor 0 apabila salah. Analisis data dilakukan dengan uji Chi Square. instalasi gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, usulan judul proposal, ujian proposal. Tahap Kedua, Pada tahap ini merupakan pelaksanaan penelitian, dalam tahap ini dibagi menjadi dua yaitu: Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer diperoleh dari subyek penelitian melakukan pengisian kuesioner yang ditujukan pada tenaga pengolah makanan di instalasi gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi dan Pengolahan Data. Pengolahan data penelitian ini melalui beberapa tahap yaitu persiapan, tabulasi, dan penerapan data sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian.TahapKetiga, Pada tahap ini merupakan tahap akhir atau penyelesaian yaitu penyusunan penelitian dan dilanjutkan ujian hasil penelitian. Data dari kuesioner yang telah terkumpul dan telah diisi oleh responden dianalisis sesuai dengan prosedur analisis data yang terdiridari 3 langkah (Arikunto, 2006). Persiapan (Editing), Kegiatan dalam langkah persiapan yaitu mempersiapkan media kartun sebagai media pendidikan dan sebelum diberikan kepada responden dilakukan pengecekan terhadap isi instrumen pengumpulan data dengan jumlah 20 item untuk pengetahuan dan 15 item untuk perilaku hygiene. Pengecekan meliputi kelengkapan lembaran isi instrumen, dan pengecekan kemungkinan apabila ada yang terlepas ataupun robek serta mengecek nama dan kelengkapan responden. Scoring, Pada variabel pengetahuan scoring dilakukan dengan memberikanskor 1 apabila benar dan skor 0 apabila salah, sedangkan pada variabel perilaku scoring dilakukan dengan memberikanskor 1 apabila jawaban HASIL PENELITIAN Analisis Univariat Analisis univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku hygiene tenaga pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Berdasarkan distribusi tentang tingkat pengetahuan tenaga pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Distribusi Pengetahuan Tenaga Pengolah Makanan No 1. 2. 5   Pengetahuan Baik Cukup Jumlah F 18 12 30 % 60,0 40,0 100,0 Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 1 distribusi tentang pengetahuan tenaga pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi diketahui bahwa mayoritas tenaga pengolah makanan mempunyai pengetahuan yang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil distribusi diketahui bahwa 60%tenaga pengolah makanan mempunyai pengetahuan yang baik. Penyelenggaraan makanan di rumah sakit harus optimal dan sesuai dengan mutu pelayanan standar kesehatan serta indikasi penyakit pasien (Depkes RI, 2005). Penyelenggaraan makanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan (tidak saniter dan higienis) selain memperpanjang proses perawatan, juga dapat menyebabkan timbulnya infeksi silang (cross infection) atau infeksi nosokomial (infeksi yang didapatkan di rumah sakit), yang di antaranya dapat melalui makanan (Iskak, 2006). Pengolah makanan yang baik dan benar pada dasarnya adalah yang mempunyai pengetahuan tentang mengolah makanan berdasarkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip higiene dan sanitasi makanan meliputi pengetahuan, sikap, dan prilaku manusia dalam menaati azas kesehatan, azas kebersihan, azas keamanan dalam menangani makanan sehingga menghasilkan makanan yang bersih, sehat, aman, bermanfaat serta tahan lama (Depkes, 2003). Usaha pengolahan makanan yang tidak diimbangi dengan peningkatan higiene dan sanitasi pengelolaan makanan akan mengakibatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan seperti penyakit bawaan makanan (food borne disease) dan kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan (Djaja, 2004 dalam Mardiah tahun 2005). Selanjutnya hasil distribusi perilaku tenaga pengolah makanan di Rumah Tabel 2 Distribusi Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan No 1. 2. 3. F % 16 14 30 53,3 46,7 100,0 Berdasarkan Tabel 2 distribusi tentang perilaku hygiene tenaga pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi diketahui bahwa mayoritas tenaga pengolah makanan mempunyai perilaku hygiene yang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil distribusi diketahui bahwa 53,3%tenaga pengolah makanan mempunyai perilaku hygiene yang baik. Upaya hygiene dan sanitasi makanan pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makanan, penyimpanan makanan dan penyajian makanan (Purnomo, 2009 dalam Afriyenti, 2002). Penyelenggaraan makanan yang hygiene dan sehat menjadi prinsip dasar penyelenggaraan makanan institusi. Makanan yang tidak dikelola dengan baik dan benar oleh penjamah makanan dapat menimbulkan dampak negatif seperti penyakit dan keracunan akibat bahan kimia, mikroorganisme, tumbuhan atau hewan, serta dapat pula menimbulkan alergi. Faktor kebersihan pengelola makanan yang biasa disebut hygiene personal merupakan prosedur menjaga kebersihan dalam pengelolaan makanan yang aman dan sehat. Prosedur menjaga kebersihan merupakan perilaku bersih untuk 6   Perilaku Hygiene Baik Cukup Kurang Jumlah Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi.Hasil analisis data hubungan pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi dengan tabel silang ukuran 2 x 2 dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3. mencegah kontaminasi pada makanan yang ditangani. Prosedur yang penting bagi pekerja pengolah makanan adalah pencucian tangan, kebersihan dan kesehatan diri. Di Amerika Serikat 25% dari semua penyebaran penyakit melalui makanan, disebabkan pengolah makanan yang terinfeksi dan hygiene personal yang buruk (Hiasinta, 2001). Analisis Bivariat Analisis bivariat penelitian ini digunakan dalam untuk Tabel 3 Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene pada Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Perilaku Hygiene Baik Cukup N % N % 13 72,2% 5 27,8% 3 25,0% 9 75,0% 16 53,3% 14 46,7% N 18 12 30 % 100,0% 100,0% 100,0% P 0,011 makanan yang baik mempunyai perilaku hygiene yang baik, begitu pula tenaga pengolah makanan yang mempunyai pengetahuan cukup cenderung mempunyai perilaku hygiene yang cukup. Hasil perhitungan chi square (χ2) diperoleh nilai χ2hitung sebesar 6,451 dengan p= 0,011. Oleh karena nilai p< 0,05; maka H0 ditolak, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Pekerja memegang peranan yang penting dalam kelancaran proses produksi karena pekerja merupakan perencana, pelaksana dan pengelola dalam suatu penyelenggaraan makanan. Pekerjaan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya Berdasarkan Tabel 3 tentang hubungan pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi diketahui bahwa pada tenaga pengolah yang mempunyai pengetahuan baik, terdapat 72,2% yang mempunyai perilaku hygiene termasuk dalam kategori baik, sedangkan hanya 27,8% yang mempunyai perilaku hygiene termasuk dalam kategori cukup. Pada tenaga pengolah makanan yang mempunyai pengetahuan cukup terdapat 25,0% tenaga pengolah makanan yang mempunyai perilaku hygiene baik dan sebagian besar tenaga pengolah makanan mempunyai perilaku hygiene yang cukup. Hasil tabel silang ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa pada tenaga pengolah 7   Total Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   pengetahuan dan perilaku hygiene tenaga pengolah makanan dengan senantiasa memberikan pelatihan dan penyuluhan dalam berbagai kesempatan yang ada. 3. Bagi instalasi gizi dengan adanyahubungan antara pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk membuat program yang tepat tentang upaya peningkatan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan dengan lebih aktif mengadakan supervisi dan pelatihan. apabila dalam diri pekerja memiliki sikap positif yaitu sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, hati-hati, cermat dan teliti, senang akan kebersihan serta menjaga kesehatan(Hiasinta, 2001). Hal ini sesuai dengan penelitian Meikawati, dkk (2010) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan praktek higiene dan sanitasi makanan dan berpola ositif. Penelitian Fina Izzatul Chusna (2013) juga menemukan hasil bahwa ada hubungan antara pengetahuan, pendidikan dan lingkungan dengan kualitas sarana sanitasi kantin. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Pengetahuan tenaga pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi termasuk dalam kategori yang baik. 2. Perilaku hygiene tenaga pengolah makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi termasuk dalam kategori baik. 3. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku hygiene pada tenaga pengolah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Saran 1. Manajemen pelayanan gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi diharapkan lebih meningkatan tentang peralatan pelindung diri serta menjaga perilaku hygiene dalam melakukan pengolahan makanan, yaitu dengan senantiasa mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di Rumah Sakit. 2. Diharapkan manajemen rumah sakit dapat meningkatan DAFTAR PUSTAKA Adam, Yosvita M N N. 2011. Pengetahuan dan Perilaku Higiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Artikel penelitian, Universitas Diponegoro Afriyenti. 2002. Hygiene dan Snitasi Penyelenggaraan Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru dan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru (Skripsi). Bogor : Institut Pertanian Bogor. Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2001. Prinsip Hygiene dan Sanitasi Makanan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: Ditjen PPM dan PL. Depkes RI. 2003. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Jakarta : Direktorat Rumah Sakit. Khusus dan Swasta, Dit.Jen.Yanmedik. 8   Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hygiene Tenaga Pengolah Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi   Departemen Kesehatan RI. 2013. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS). Jakarta: Dirjen Binkesmas. Djarismawati, Bambang Sukana, Sugiharti, 2004, Pengetahuan dan Perilaku Penjamah Tentang Sanitasi Pengolahan Makanan Pada Instalasi Gizi Rumah Sakit di Jakarta, Media Litbang Kesehatan Volume XIV Nomor 3 Tahun 2004. Febrianti, Dessy. 2009. Penyelenggaraan Makanan, Tingkat Konsumsi dan Analisis Preferensi Atlet di SMA Negeri Ragunan Jakarta. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Hasyim H. 2007. Manajemen Hyperkes dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (Tinjauan Kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Institusi Sarana Kesehatan). Jurnal JMPK 2007; 08(02). Hiasinta A. Purnawijayanti. 2001. Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan. Yogyakarta: Kanisius. Inayatur Rabbani S. 2011. Hubungan Pengetahuan terhadap Perilaku Cuci Tangan Petugas Kesehatan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak BLU RSUP Prof. Dr. RD Kandou Manado. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Iskak R. 2006. Infeksi Nosokomial dan Staphylococcus Epidermidis. Jakarta: Republika. Khomsan, A. 2000. Teknik Pengukuran Pengetahuan Gizi [diktat]. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor. Khomsan, A. 2003. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: PT. Rajagrafindo. Persada Koentjarangningrat. 2001. Metode Penelitian. Jakarta: Gramedia Meikawati, Wulandari. 2010.Hubungan Pengetahuan dan Sikap Petugas Penjamah Makanan dengan Praktek Higiene dan Sanitasi Makanan di Unit Gizi RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Jurnal Unimus. Vol 6 no 1 Th 2010. Moehji, S. 2002. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita. Jakara: Bhratara Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta Pusat : PT. Rineka Cipta. Jakarta. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Tamallia, Rahmi, F. 2011. Gambaran Higiene dan Sanitasi Penyelengaran Makanan PT Nuansa Boga Sehatama Tahun 2010. Laporan Magang. Jakarta : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta. Triatmodjo P. 2003.Tinjauan Mikrobiologi Makanan, Minuman, dan Air pada Beberapa Rumah   Sakit di Jakarta. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran. WHO. 2011. Clean Hands Protect Against Infection. http://www.who.int/gpsc/ clean_hands_protection /en. 15 September 2015 AzwarEkaSaputra*: MahasiswaDIIIIlmu Gizi FIK UMS EndangNur W, SST., M.Si Med**: Dosen FIK UMS NurLathifah M, S.Gz., M.S**: Dosen FIK UMS 9  
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU HYGIENE..

Gratis

Feedback