Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur.

Gratis

4
26
174
2 years ago
Preview
Full text

STUDI ETNOEKOLOGI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK TUNJUNG LINGGANG DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan BiologiOleh: Alfret Edward Runtunuwu 091434026 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

SKRIPSI STUDI ETNOEKOLOGI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK TUNJUNG LINGGANG DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

  Oleh: Alfret Edward Runtunuwu 091434026 Telah Disetujui oleh:Dosen PembimbingDrs. Sc Tanggal: 13 September 2013 ..

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalamkutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 16 Oktober 2013Penulis, Alfret Edward Runtunuwu

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata DharmaNama : Alfret Edward RuntunuwuNomor Mahasiswa : 091434026 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada PerpustakaanSanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

STUDI ETNOEKOLOGI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK TUNJUNG LINGGANG DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

  Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui dan mengungkap Etnoekologi masyarakat suku Dayak TunjungLinggang terkait dengan jenis tumbuhan obat, organ tumbuhan yang dimanfaatkan, penyakit yang dapat diobati, cara pemanfaatan dan sumber perolehan tanaman obattersebut. Pengumpulan data dilakukan secara observasi dan wawancara dari 20orang informan, para informan diambil dari tokoh masyarakat seperti kepala adat, budayawan, dan masyarakat yang mengerti mengenai pemanfaatan tanaman obat.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yangberjudul Studi Etnoekologi Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang Di Kabupaten Kutai Barat ProvinsiKalimantan Timur. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangannya, untuk itu saran, kritik dan masukan sangat diharapkan agar skripsi ini dapat menjadi lebihbaik.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Budaya pengobatan tradisional merupakan salah satu pengetahuan yang memiliki perbedaan besar antara suatu suku, etnis dengan masyarakat lainnya. Indonesia memiliki budaya pengobatan tradisional (pemanfaatan tumbuhan obat)

  Tema dari penelitian ini adalah pemanfaatan tanaman obat yang sangat Penelitian mengenai pemanfaatan tanaman obat di suku Dayak Tunjung yang pernah dilakukan hanya masih bersifat umum dan beberapa peneliti hanyamendata tanaman obat yang telah diteliti sehingga mudah untuk diidentifikasi sedangkan tanaman endemik lain yang belum diidentifikasi di biarkan begitu saja. Pendekatan dengan cara mengidentifikasi dan inventarisasi jenis tanaman obat dan pemanfaatannya merupakan langkah awal dalammengungkapkan potensi berbagai jenis tumbuhan yang dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang.

B. Rumusan Masalah

  Jenis Tumbuhan apa saja yang dimanfaatkan sebagai obat oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, ProvinsiKalimantan Timur? Organ tumbuhan apa saja yang digunakan oleh Masyarakat Suku DayakTunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur?

4. Bagaimana cara pemanfaatan tumbuhan obat oleh Masyarakat Suku Dayak

  Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur? Bagaimana cara memperoleh tumbuhan obat oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.

C. Batasan Penelitian

  Pemanfaatan tumbuhan yang diteliti terbatas pada tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Variabel penelitian terbatas pada jenis tumbuhan obat, manfaat tumbuhan obat, macam organ tumbuhan yang dimanfaatkan, cara pemanfaatan, dancara mendapatkan tumbuhan obat.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan mengungkap Etnoekologi masyarakat Dayak Tunjung Linggang terkait dengan:

1. Jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur

  Organ Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh Masyarakat SukuDayak Tunjung Linggang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Hasilnya dapat dikaitkan dengan materi Keanekaragaman Hayati diSekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Kutai Barat sehingga dapat di aplikasikan bagi siswa dan guru 4.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Etnoekologi Etnoekologi (bahasa Inggris: ethnoecology) merupakan cabang ilmu yang

  Ilmu Etnoekologi sebagai ilmu pengetahuan bio ‐fisis: hal ini dikarenakan yang mendasari analisis atas seluk beluk tanah, air, iklim dan curah hujan sebagaihabitat manusia adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan biotik dan abiotik. Ilmu Etnoekologi sebagai Ekologi budaya : hal ini dikarenakan yang mendasari analisis dan pembahasan mengenai semua aspek kebudayaan, salingberhubungan secara fungsional dengan cara yang tidak pasti.

B. Tanaman Obat

  Sulaksana dan Jayusman (2005) berpendapat bahwa tanaman obat adalah suatu jenis tumbuhan atan tanaman yank sebagian atau seluruh bagian tanamanberkhasiat menghilangkan atau menyembuhkan suatu penyakit dan keluhan rasa sakit pada bagian atau organ tubuh manusia. Selain itu Zein juga menambahkan bahwa sediaan obat tradisional yang digunakan masyarakat saatini disebut dengan Herbal Medicinal atau Fitofarmaka Menurut Andrianto (2011), Tumbuhan obat mempunyai khasiat yang bekerja sebagai antioksidan, anti radang, analgesik, dan lain-lain, mengarah padapenyembuhan suatu penyakit.

C. Suku Dayak Tunjung

  Masyarakat Suku Dayak Tunjung merupakan salah satu suku yang mendiamiKabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dengan persentase 24,2 % dari total Suku Tunjung menggunakan bahasa tunjung namun seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, beberapa daerah sudah menggunakan bahasa Indonesia,namun ada juga yang menggunakan bahasa tunjung yang bercampur dengan bahasa pergaulan sehari-hari. Dayak Tunjung merupakan sebuah sub dari Dayak, namun didalam Dayak Tunjung itu sendiri terdapat perbedaanlogat bahasa dan wujud kebudayaan, tetapi tidak begitu besar.

7. Tunjung Berambai, mendiami Wilayah hilir sungai Mahakam seperti Muara

  Bagi suku Dayak Tunjung terutama Tunjung Linggang, alam dan lingkungan merupakan sesuatu yang sangat penting dan harus dijaga, karena itu di Suku DayakTunjung Linggang terdapat istilah Taluutn sebagai sebutan untuk hutan. Taluutn biasanya dilindungi secara adat, kemudian dibuat isu-isu mistis untuk melindungihutan tersebut agar tidak diganggu dan tidak dirusak oeh orang luar.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode

B. Subjek Penelitian

  Metode penyajian data secara deskriptif adalah suatu bentuk metode penelitian untuk membuat deskripsi atau memberi gambaran secara sistematis,faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2005). Subjek Penelitian merupakan beberapa individu maupun kelompok masyarakat dari Suku Dayak Tunjung Linggang yang memenuhi kriteria dalam menjawabinstrumen pertanyaan penelitian seperti : 1.

4. Memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai pengobatan tradisional

Beberapa orang yang dapat dijadikan informan kunci yaitu : Kepala adat, kepala kampung, tokoh masyarakat (sesepuh).

C. Tempat dan Waktu Penelitian

  Aspek, Data Yang Dibutuhkan dan Sumber Data No Aspek Data Yang Dibutuhkan Sumber Data Tunjung LinggangAdat atau tokoh Pola Kebiasaan danDeskripsi Suku Kehidupan Sehari-hari kampung yang menjadi 1 Dayak Tunjung tempat penelitian)Linggang Mata Pencaharian Etnografi Kutai Barat Jenis tanaman yang Narasumber dimanfaatkan wawancara (KepalaAdat atau tokoh Pengetahuan dimanfaatkankampung yang menjadi tradisional Jenis Penyakit Yang dapat Observasi Lapangan tumbuhanCara penggunaan dari E. Dalam tahap ini, penulis melakukan penggolongan,pengarahan, membuang data yang tidak perlu dan mengorganisasikan data-data yang telah direduksi sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih tajamtentang hasil pengamatan dan mempermudah ketika mencarinya sewaktu-waktu kemudian.

I. Diagram Alir Penelitian

MulaiIdentifikasi & Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Penyusunan Proposal PenelitianStudi Literatur Penyusunan Panduan wawancara & Instrumen PenelitianPenentuan Jumlah Responden atau Informan Kunci Penentuan Lokasi & Waktu PenelitianPenelitian Lapangan Pengumpulan DataAnalisis DataReduksi Data Penyajian Data Data Yang Diinginkan Lengkap ?TIDAK YA Kesimpulan & SaranSELESAI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kutai Barat tempat domisili

  Jenis satwa yang ada di daerah ini terdiri dari berbagai macam jenis ular, burung, rusa, kijang, kancil, beruang, kucing hutan, landak, orang hutan dan lainsebagainya di mana beberapa diantaranya merupakan satwa yang dilindungi di daerah ini, yaitu orang utan (Pongo pygmaeus), Owa-Owa (Hylobatidae), Bekantan(Nasalis larvatus), Trenggiling (Manis javanica), burung Enggang (Rucerotidae) dan ikan Pesut (Orcaella brevirostris). Penelitian yang dijadwalkan dimulai pada awal Bulan Maret 2013 dan berakhir pada awal Bulan Mei 2013, kondisi lapangan yang terkadang tidakbersahabat benar-benar membuat proses penelitian terganggu, misalnya proses penelitian yang terhambat selama 2 minggu akibat banjir tahunan yang melandaKabupaten Kutai Barat.

B. Suku Dayak Tunjung Linggang

  Peran flora dan fauna sangat penting bagi masyarakat suku dayak TunjungLinggang, misalnya orang Tunjung Linggang mengenal beberapa jenis tumbuhan yang edible (bisa dimakan) dan yang tidak bisa dimakan akan tetapi dapatdimanfaatkan untuk kepentingan lain seperti obat-obatan, racun untuk membunuh hewan dan zat pewarna. Hanya saja seiring dengan kemajuan teknologi kegiatan untukmemanfaatkan batuan dan logam dari alam sekitar sudah tidak dijumpai lagi karena orang Tunjung Linggang dapat memperoleh bahan-bahan tersebut dengan cara dibeli atau memanfaatkan besi dan logam dari sisa benda lain.

C. Tanaman Obat Yang di Manfaatkan Oleh Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang

  38 famili ini merupakan anggota dari 26 ordo yang sengaja tidak dicantumkan mengingat tujuanawal dari penelitian ini adalah menginventarisir dan mengidentifikasi tanaman obat hingga tingkat spesies dan minimal hingga tingkat famili. Bentuk batang belayatnberwarna hijau seperti sulur dengan diameter 1 cm, warna daun hijau dengan Gambar 4.3 Belayatn Di permukaan daun bagian atas terdapat bulu pendek dan lembut sedangkan pada permukaan bagian bawah tidak memiliki bulu dan halus.

4. Beliming Tunyuk / Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

  Gambar 4.4 Beliming Tunyuk / Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Belimbing wuluh merupakan jenis tanaman yang tumbuh liar atau dibudidayakan dipekarangan rumah yang cukup memperoleh sinar matahari. Nama lain dari belimbing wuluh di Indonesia memiliki perbedaan di setiap daerah misalnya, di Aceh belimbing wuluh dikenal dengan nama limeng, didaerah Sunda dikenal dengan sebutan calingcing, dan bainang di Makasar.

5. Brentaleng / Mampat (Cratoxylon arborescens)

  Mampat merupakan jenis tanaman yang hidup di dataran rendah akan tetapi mampat juga diketahuidapat hidup didataran dengan ketinggian hingga 1400m dpl. Bagi masyarakat suku dayaktunjung linggang, mampat dikenal sebagai tanaman yang berkhasiat untuk menyembuhkan / pengurang rasa sakit pada bagian tubuh yang terkilir(keseleo).

6. Benuang Rarikng / Binuang (Octomeles sumatrana Miq.)

7. Uruuq Beheq / Rumput Bulu (Ageratum conyzoides L.)

  DiIndonesia bandotan memiliki beberapa nama yaitu babandotan (sunda) dan Selain memiliki aroma yang menyerupai bau kambing, bandotan memiliki batang tegak atau “berbaring” di tanah kemudian bagian batang yangmenyentuh tanah akan memiliki akar dengan sendirinya. Pangkal daun berbentuk seperti jantung, membulat atau meruncing; dan bagian ujungnya berbentuk tumpulatau meruncing; tepi bergerigi; permukaan bagian atas dan bawah terdapat bulu Bandotan sering ditemukan hidup di sawah-sawah yang mengering, ladang.

8. Baduk / Sukun (Artocarpus communis)

  Sukun atau dalam bahasa inggris disebut breadfruit merupakan jenis tanaman hidup di kawasan tropika seperti Malaysia dan Indonesia. Kulit buah sukun berwarnahijau dan akan berubah menjadi hijau kekuningan ketika mencapai tingkat kematangannya, di permukaan kulitnya terdapat segmen-segmen petakberbentuk poligonal, dari segmen poligonal inilah kita dapat menentukan tahap kematangan buah sukun selain dari warnanya.

9. Botooq / Anggrung (Trema orientalis)

  Daun majemuk, bertangkai, tersusun secara berselang-seling,berwarna hijau dengan panjang 5-9 cm dan lebar 2,5-3,5 cm; bentuk daun lonjong dengan ujung runcing dan pangkalnya tumpul serta memiliki tepi daunyang rata dan pertulangan daun menyirip. Buah berwarna muda hijau dan akan merubah menjadi cokelat ketika tua dan berisi 4-10 biji untuk perbanyak secara generatif.

10. Kerurang / Terong asam (Solanum ferox L)

  Daun terung asam berbentuk tunggal dan tersebar; panjang tangkaidaun 13-20 cm, berambut ungu dan berduri; helaian bulat telur sampai elips, tepi berlekuk, ujung runcing, pangkal berbelah, permukaan berbulu, panjangdaun 20-33 cm, lebar 19-30 cm, berwarna hijau, pertulangan daun menyirip, tulang daun diselimuti rambut berwarna ungu dan duri kuning kehijauan. Bunga terung asam adalah bunga majemuk dengan 4-10 bunga disetiap tandan; dan berkelopak 5, berduri, hijau, bagian ujung ditutupi rambut ungu;mahkota bunga berjumlah 5, berlekatan, betuk bintang dengan panjang 2-2,5 cm, berwarna putih, bagian bawah berambut ungu; memiliki 1 kepala putikberwarna ungu dan 5 benang sari berwarna kuning.

11. Brakat Lutuuq Kuning / Bambu kuning (Bambusa vulgaris)

  Bambu ini dapat tumbuh baik di daerah dataranrendah dengan kondisi kelembapan udara dan tipe tanah yang luas. Bambu kuning dipercaya dapat menyembuhkan sakit kuning dengan cara merebusbagian akarnya untuk diminum air rebusannya.

12. Butaq

  Gambar 4.12 Butaq Butaq merupakan sejenis tanaman yang apabila dilihat secara sekilas memiliki kemiripan dengan tanaman waru terutama dari bentuk daunnya. Butaq memiliki batang berwarna hijau dengantinggi mencapai 2 m, diameter batang 3-5 cm dan terdapat noktah-noktah kecil Daun butaq berwarna hijau dengan bentuk ginjal, pendek dan lebar; berwarna hijau serta pertulangan daun menyirip, tepi daun tidak bergerigi.

13. Cahai / kunyit (Curcuma domestica)

  Berbunga majemuk yang berambut dan bersisikdari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Gambar 4.13 Cahai / kunyit (Curcuma domestica) Kunyit tumbuh dengan baik di tanah yang tata pengairannya baik, curah hujan 2.000 mm sampai 4.000 mm tiap tahun dan di tempat yang sedikitterlindung.

14. Cahai Putiiq / Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)

  Gambar 4.14 Cahai Putiiq / Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya terbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai 2 meter. Panjang daun sekitar 50-55cm,lebarnya 18 cm, dan tiap helai daun melekat pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur.

15. Engkuduuq / Mengkudu (Morinda citrifolia L.)

  Bunga tumbuh di ketiak daun penumpu yang berhadapan dengan daun yang Kelopak bunga tumbuh menjadi buah bulat lonjong sebesar telur ayam bahkan ada yang berdiameter 7,5-10cm. Bau itu timbul karena pencampuran antara asam kaprik dan asam kaproat (senyawa lipid atau lemakyang gugusan molekulnya mudah menguap, menjadi bersifat seperti minyak atsiri) yang berbau tengik dan asam kaprilat yang rasanya tidak enak.

16. Lejaaq Uraakng

  Daun Lejaaq Uraakng berbentuk elliptical yaitu memiliki bagian tengah daun yang lebar dengan ukuran 5-9 cm, panjang daun 10-18 cm,pangkal dan ujung daun runcing serta pertulangan daun yang berbentuk sejajar. Tangkai bunga dari Lejaaq Uraakng memiliki ukuran yang lebih panjang daripada batang Lejaaq Uraakng sendiri,hal ini menyebabkan bunga Lejaaq Uraakng tidak dapat tumbuh tegak keatas melainkan tumbuh melengkung ketanah karena tangkai yang tidak mampu Akar Lejaaq Uraakng berbentuk rimpang seperti jahe yang dapat menurut Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang dapat dimanfaatkansebagai bahan untuk mengobati hematuria atau kencing darah.

17. Maralampukng

  Tinggi tanaman mencapai 75 cm, bentuk batang kecil, lurus,diameter 1,5 cm, memiliki bulu Maralampuk hidup daerah dengan ketinggian 1200 m dpl, lembab, dan memiliki teksture tanah gambut. Maralampuk dipercaya memiliki khasiatuntuk mengobati jenis luka luar seperti luka bakar dan tersayat benda tajam, cara pemanfaatannya dengan menghancurkan seluruh bagian tumbuhan daribatang hingga daun kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang terluka.

18. Topus Tongau

  Gambar 4.18 Topus Tongau Apabila dilihat dari cirri morfologinya, Topus Tongau merupakan tanaman dari suku Zingiberaceae, dan termasuk dalam genus Hedychium. Panjang daun mencapai 30 cm, lebar daun 7-10cm, permukaan bagian atas dan bawah daun mulus dan licin.

19. Petoot

  Gambar 4.19 Petoot Petot merupakan tanaman sejenis perdu yang tumbuh liar di hutan, untuk mengenali Petot tidak sulit yaitu dapat dikenali dengan melihat daunnya. Daun Petot berbentuk lanset, dengan pertulangan menyirip, tepi daun bergelombang, permukaan bagian atas dari daun Petot berwarna hijau tetapimemiliki corak lurus membujur berwarna putih di bagian tengah daun sedangkan permukaan bagian bawah berwarna hijau.

20. Engkapaaq / Kadaka (Asplenium nidus)

  Gambar 4.20 Engkapaaq / Kadaka (Asplenium nidus) Engkapaaq atau yang disebut juga sebagai kadak merupakan tanaman sejenis paku-pakuan. Tanaman ini mudah dikenal karena tajuknya yangbesar, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang.

21. Gaharaaq

  Gambar 4.21 Gaharaaq Gaharaaq merupakan tumbuhan perdu yang hidup di habitat yang lembab, dekat dengan sumber air seperti di tepi sungai, danau bahkan dapatjuga ditemukan didalam hutan dengan tingkat curah hujan tinggi. Gaharaaq dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati penyakit herpes, masyarakat suku dayak tunjung linggang memanfaatkan tanaman inidengan cara mengambil daunnya untuk dihancurkan hingga halus kemudian dicampur dengan bedak dari beras lalu ditempelkan ada bagian tubuh yangterkena herpes.

22. Gaka Bruerai (Abrus precatorius L)

  Bruerai mempunyai biji yang berwarna jingga kemerahan dengan warna hitam padabagian yang runcing dari salah satu sisi biji. Beberapa sumberjuga mengatakan bahwa daun bruerai yang dikombinasikan dengan daun sirih akan meningkatkan kemampuan penyembuhan sariawan.

23. Gaka Kedoot (Aglaia borneensis Merr.)

  Daunnyabersifat majemuk dan menyirip ganjil yang tumbuh berselang-seling dengan anak daun 3-5 buah. Gambar 4.23 Gaka Kedoot (Aglaia borneensis Merr.) Ujung dan pangkal daun meruncing dan permukaannya licin mengilap terutama daun muda.

24. Ngelagit

  Daun lemonuq berbentuk oval, bagian ujung dan pangkal runcing, panjang daun 15-20 cm, lebar 8-12 cm, pertulangan daun menyirip,permukaan bagian atas dan bawah daun dipenuhi oleh bulu-bulu halus. Daun Mukng Baluqdapat dikatakan sangat besar apabila dibandingkan dengan tinggi tanaman dan diameter batang dikarenakan daun yang berbentuk bulat telur terbalik ini Gambar 4.26 Mukng Baluq Mukng Baluq dapat ditemukan di daerah hutan tropis, atau perbukitan terutama daerah yang berupa lereng gunung.

27. Gaka Omang

  Daun berbentuk oval,lebar daun 3-5 cm, panjang daun 7-13 cm, pertulangan daun menyirip, berwarna hijau, tepi daun rata, permukaan atas dan bawah daun licin danmulus. Gambar 4.27 Gaka Omang Akar Gaka Omang memiliki anak akar yang berfungsi sebagai alat untuk menyerap makanan dan unsure hara yang ada didalam tanah.

28. Geringakng / Ketepeng cina (Cassia alata L.)

  Gambar 4.28 Geringakng / Ketepeng cina (Cassia alata L.) Bunga tersusun dalam tandan yang panjang, tumbuh dari ujung cabang, mahkota bunga warna kuning, jumlah tandan bung 3-8 buah. Tumbuhan ini hidup liar di lahan terbuka atau agak terlindung, pinggir hutan, semak-semak belukar, tanah yang agak lembap, dekat ddengan sumberair, atau lahan terlantar.

29. Geriq / Kemiri (Aleurites moluccana)

  Daun muda, ranting, dan karangan bunga dihiasi dengan rambut bintang yang rapat, pendek, dan berwarna perak Gambar 4.29 Geriq / Kemiri (Aleurites moluccana) Daun tunggal, berseling, hijau tua, bertangkai panjang hingga 30 cm, dengan sepasang kelenjar di ujung tangkai. Daun jambu biji memiliki pertumbuhan daun yang menyirip (penninervis) yang mana daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal keujung dan merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang kesamping, keluar tulang-tulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan kita kepada susunansirip-sirip pada ikan.

32. Jemewer / sambiloto (Andrographis paniculata)

  Sambiloto merupakan tumbuhan berkhasiat obat berupa terna tegak yang tingginya bisa mencapai 90 sentimeter. Gambar 4.32 Jemewer / sambiloto (Andrographis paniculata) Tanaman sambiloto digunakan untuk mencegah pembentukan radang, memperlancar air seni (diuretika), menurunkan panas badan (antipiretika),obat sakit perut, kencing manis, dan terkena racun.

33. Juakng Nayuq / Hanjuang Merah (Cordyline terminalis)

  Gambar 4.33 Juakng Nayuq / Hanjuang Merah (Cordyline terminalis) Tanaman ini biasa dimanfaatkan sebagai tanaman hias, Tanaman kuburan, dan tanaman pagar. Stek digunakan batang tanaman yang keras sepanjang 5-10 Kandungan kimia dari tumbuhan ini belum banyak diketahui, tetapi kegunaan tumbuhan ini telah banyak diketahui, di antaranya menyejukkan darah,menghentikan pendarahan, dan menghilangkan bengkak karena memar (anti swelling) (DEPKESRI, 2006).

34. Kajuuq Narakng

  Gambar 4.34 Kajuuq Nriokng Daun Kajuuq Nriokng berbentuk lanset dengan ujung runcing dan pangkal tumpul; daun berwarna hijau dengan panjang 3-7 cm, lebar 2-3 cm,tumbuh secara tersebar diseluruh permukaan batang, pertulangan daun menyirip, tepi daun bergerigi dan tangkai daun berwarna merah muda. Gedakng / Pepaya (Carica papaya)Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, tumbuh hingga setinggi 5-10 m dengan daun-daunan yang membentuk serupa Gambar 4.35 Gedakng / Pepaya (Carica papaya) Pepaya adalah monodioecious' (berumah tunggal sekaligus berumah dua) dengan tiga kelamin: tumbuhan jantan, betina, dan banci (hermafrodit).

37. Pelehet (Psychotria viridiflora Thw.)

  Gambar 4.36 Pelehet (Psychotria viridiflora Thw.) Pelehet merupakan sejenis semak dengan ketinggian mencapai 8 m dan diameter batang mencapai 14 cm. Permukaan daun licin dan mulus, tepi daun rata dan bentuk daun lanset.

38. Keranyiiq /Asam Keranji (Dialium indum)

  Keranyiiq merupakan tanaman dengan habitus berupa pohon yang dapat tumbuh dengan mencapai ketinggian 10-25 m. Gambar 4.37 Keranyiiq /Asam Keranji (Dialium indum) Daun keranyiiq merupakan daun majemuk, dengan letak berselang- seling, pertulangan menyirip, bentuk daun lanset, tepi daun rata, panjang daun2-4 cm, lebar 1-2 cm.

39. Ketikookng / Kayu Kuning (Arcangelisia flava L. Merr.)

  Gambar 4.38 Ketikookng / Kayu Kuning (Arcangelisia flava L. Merr.) Tumbuhan ini berupa liana, panjangnya dapat mencapai ± 10 m, batang utama sebelum bercabang dua besarnya seperti lengan/betis orangdewasa, batang tersebut mengandung air, batang dan cabangnya liat, dalam batang berwarna kuning dan rasanya pahit. Pada batang atau cabang-cabang yang besar terdapattandan buah yang menggantung, buah berwarna kuning, terdiri atas daging buah yang berlendir dan biji besar, pipih.

40. Krehau / Meniran Hutan (Callicarpa longifolia)

  Gambar 4.39 Krehau / Meniran Hutan (Callicarpa longifolia ) Krehau hidup didaerah dengan iklim tropis dengan habitat di hutan dipterocarpae dengan ketinggian hingga 400 m dpl. Krehau dimanfaatkan oleh suku Dayak Tunjung Linggang sebagaibahan untuk membuat ramuan semacam bedak atau lotion untuk mengobati alergi kulit dengan cara menghancurkan bagian daunnya kemudian di oleskanpada bagian tubuh yang terkena alergi (Oswald, 1995).

43. Lancikng

  Gambar 4.42 Lancikng Daun lancikng berbentuk oval dengan bagian ujung runcing sedangkan bagian pangkalnya tumpul, panjang daun diperkirakan 15-20 cm, lebar daun 5-8 cm, warna permukaan daun bagian atas hijau tua sedikit kusam sedangkan warna permukaan daun bagian bawah hijau muda dan ditutupi oleh bulu-buluhalus. Sampai saat ini, getah jelutung Gambar 4.44 Nyelutuui Putaakng / Jelutung (Dyera costulata) Tinggi pohon mencapai 25-45 m dengan tajuk tipis serta berdaun tunggal yang duduk melingkar pada ranting sebanyak 4-8 helai.

46. Limau Bintakng / Jeruk Pepaya (Citrus medica var. proper L.)

47. Lunuuk Dukutn

  Gambar 4.45 Limau Bintakng / Jeruk Pepaya (Citrus medica var. proper L.) Gambar 4.46 Lunuuk Dukutn Lunuuk dukutn merupakan tumbuhan berkayu yang hidup didaerah dataran rendah. Tumbuhan ini apabila dilihat secara sekilas sangat mirip Lunuuk dukutn dapat tumbuh hingga mencapai 5-10m, diameter batang 20-40cm, daun berwarna hijau berbentuk bulat telur, pertulangan daunmenyirip, dengan lebar 20cm dan panjang 35cm, percabangan simpodial serta sistem perakaran nya tunggang.

48. Marauleq / Pasak Bumi (Eurycoma longifolia)

  Gambar 4.47 Marauleq / Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) Pasak Bumi adalah pohon kecil hingga 15 m tinggi. Daunmajemuk, panjang, dan penuh di ujung cabang.

49. Nancakng / Mahang (Macaranga mappa)

  Gambar 4.48 Nancakng / Mahang (Macaranga mappa) Bunga berdiameter sekitar 0,5 mm, berwarna hijau kekuningan, yang merupakan bagian dari malai besar. Akar dan batang nancakng memiliki khasiat sebagai obat sakit perut / diare sedangkan getahnya dipercaya dapatmenyembuhkan sariawan.

50. Nilapm / Nilam (Pogostemon cablin)

  Nilam merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang didalam industri kimia dipergunakan sebagai bahan membuat produk wewangian(parfum), farmasi (obat alergi), kosmetika, pengawetan barang dan bahan industri lainnya. Nilam juga dapat tumbuh dan berproduksi secara optimum pada daerah dengan ketinggian 10-400 m dpl.

51. Nturuui

  Nturui dapat tumbuhhingga mencapai ketinggian 5 m dengan diameter batang 10-15 cm, warna batang kelabu dan sistem perakaran tunggang. Gambar 4.50 Nturuui Nturui memiliki daun dengan bentuk palmate yaitu pertulangan daun menjari, jumlah ujung daun dalam setiap daun 5 yaitu 3 dibagian ujung daunsedangkan pada bagian pangkal terdapat ujung dan yang terlihat seperti sayap pada pertulangan daun.

52. Paatn / Pinang (Areca catechu)

  Tajuk tidak rimbun,pelepah daun berbentuk tabung dengan panjang 80 cm, tangkai daun pendek; helaian daun panjangnya sampai 80 cm, anak daun 85 x 5 cm, dengan ujungsobek dan bergerigi. Gambar 4.51 Paatn / Pinang (Areca catechu) Tongkol bunga dengan seludang (spatha) yang panjang dan mudah rontok, muncul dibawah daun, panjang lebih kurang 75 cm, dengan tangkaipendek bercabang rangkap, sumbu ujung sampai panjang 35 cm, dengan 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya dengan banyak bunga jantan tersusundalam 2 baris yang tertancap dalam alur.

53. Pacar / Pacar Cina (Aglaia odorata)

  Gambar 4.52 Pacar / Pacar Cina (Aglaia odorata) Pacar Cina tumbuh menyebar namun biasanya dalam satu tempat dan ditemukan di malai hijau primer dan hutan yang tumbuh kembali setelahbencana, sedang sepanjang pesisir, di atas ketinggian 700 m dpl. Pacar cina juga terbukti dapat menekan penyakit bengkak akar yang disebabkan oleh Meloidogyne spp.

54. Paku Atai / Paku Sayur (Diplazium esculentum)

  Paku sayur merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai di lembah- lembah di pinggir sungai terlindung pada tanah yang kaya bahan organik. Gambar 4.53 Paku Ataai / Paku Sayur (Diplazium esculentum) Daun paku sayur bertipe majemuk, pertulangan menyirip, bentuk daun lanset, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 5-6 cm, lebar 1-2 cm, tangkai silindris, berambut, pertulangan menyirip, hijau.

55. Paku Parapm / Paku Pedang (Nephrolepis sp)

  Ujungnyaseringkali bebas, ada yang tidak mencapai tepi, sampai atau sangat dekat dengan tepi atau bahkan sampai diluar tepi daun seperti pada Tumbuhan ini memiliki permukaan daun yang halus dan bersisik. Bentuk daun menjorong dan ujungnya terbelah, sedangkan pada tepi daunnyabergerigi.selain itu spesies ini juga mempunyai ental yang bertumpuk di atas permukaan, yaitu adanya daun muda yang mengulung.

56. Pangir Bohokng

Pangir Bohokng merupakan tanaman yang masih termasuk dalamFamili Rubiaceae (suku kopi Gambar 4.55 Pangir Bohokng

57. Pengesik

  Pengesik merupakan tanaman perdu yang biasa hidup di hutan diterocarpae campuran dengan ketinggian dataran hingga 1200 m dpl. Gambar 4.56 Pengesik Daun pengesik berbentuk oval, dengan ujung dan pangkalnya runcing.

58. Pianguuq

  Gambar 4.57 Pianguuq Pianguuq merupakan tanaman perdu yang sering ditemukan di daerah hutan tropis. Pianguuq memiliki daun berbentuk oval berwarna hijau, pertulangan menyirip, ujung daun runcing,pangkal daun tumpul, tepi daun bergerigi, panjang daun 3-5 cm, lebar daun 2- 3 cm.

59. Raja Pengalah / Benalu (Loranthus sp.)

  Ia hidup sebagai parasit (parasiet=Belanda),menempel pada dahan-dahan pohon kayu lain dan mengisap mineral yang larut dalm pohon kayu yang ditempelinya dapat mati. Kemudian biji benalu tersebut melekat di dahan dahan kayu bersama dengan kotoran burung yangmemakannya, dan tumbuh di dahan itu.

60. Rakap / Sirih (Piper betle)

  Gambar 4.59 Rakap / Sirih (Piper betle) Piper bettle tumbuh di daerah hutan agak lembab dengan keadaan tanah yang lembab. Tumbuhan ini dapat ditemukan hingga ketinggian 900 m dpldan menyukai tempat yang teduh dan terlindung dari angin, serta pada daerah yang beririgasi baik dan kaya bahan organik dengan pH 7-7,5.

61. Rakap Bohokng / Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

  Gambar 4.60 Rakap Bohokng / Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Akar daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz dan Pav) adalah akar tunggang yang bentuknya bulat dan berwarna coklat kekuningan.

62. Sabeeq Lemit

  Gambar 4.61 Sabeeq Lemit Sabeeq Lemit merupakan tanaman jenis perdu yang ditanam untuk keperluan tertentu, salah satunya sebagai tanaman obat keluarga, sabeeq dalambahasa Dayak Tunjung Linggang berarti cabe akan tetapi tanaman ini tidak terlihat seperti pohon cabe. Sabeeq Lemit memiliki tinggi 1-1,5 m, diameterbatang 5-10 cm, sistem percabangan simpodial, warna batang utama hijau, Sabeeq lemit memiliki daun berbentuk lanset dengan pangkal dan ujung daun berbentuk runcing, letak daun berpasangan, panjang daun 5 cm,lebar 2 cm, warna daun hijau muda, sistem pertulangan daun menjari, permukaan daun halus, dan tepi daun rata.

63. Sabeeq Pok / Paprika (Capsicum annuum var. Grossum)

  Paprika atau yang biasa juga disebut cabai paprika merupakan tanaman sejenis perdu atau semak yang termasuk dalam suku Solanaceae. Tanaman cabai paprika memiliki akar tunggang yang tumbuh lurus kepusat bumi dan akar serabut yang tumbuh menyebar kesamping.

64. Selangkat

  Gambar 4.63 Selangkat Selangkat merupakan tanaman jenis perdu yang biasa dibudidaya sebagai tanaman hias dipekarangan rumah, dijadikan tanaman hias karenawarnanya yang unik yaitu daun nya yang memiliki degradasi warna hijau kemerahan. Daun selangkat merupakan daun majemuk yang terletak secaraberhadapan, jumlah anak daun 8-12 pasang.

65. Sempat Iliir

  Sepaai / Secang (Caesalpinia sappan L.)Secang (Caesalpinia sappan L) merupakan perdu yang umumnya tumbuh di tempat terbuka sampai ketinggian 1000 dpl seperti di darahpegunungan yang berbatu tetapi tidak terlalu dingin. Pada batang dan Gambar 4.66 Sepaai / Secang (Caesalpinia sappan L.) Daun secang merupakan daun majemuk menyirip ganda dengan panjang 25-40 cm, jumlah anak daunnya 10-20 psang yang letaknyaberhadapan.

68. Serempolupm / Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata)

  Cocor bebek memiliki batang yang lunak dan beruas. Warna daun hijau muda (kadang Gambar 4.67 Serempolupm / Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) Cocor bebek mengandung asam malat, damar, zat lendir, magnesium malat, kalsium oksalat, asam formiat, dan tanin.

69. Seweet / Pisang Hutan (Musa balbisiana)

  Gambar 4.68 Seweet / Pisang Hutan (Musa balbisiana) Tanaman ini tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian ± 2200 m dpl. Seweet dipercaya memiliki khasiat sebagai obat luka luar dan penyakit kulit seperti koreng.

70. Sumiiq Meong / Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)

  Ciri khas tanaman ada pada bagian kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berbulu pendek dan jarang sedangkan di bagian yang paling atasgundul. Bunga bibir, mahkota yang bersifat terminal yakni berupa tandan yang keluar dari ujung cabang dengan panjang 7-29 cm, dengan ukuran panjang 13-27mm, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek berwarna ungu dan kemudian menjadi putih, panjang tabung 10-18mm, panjang bibir 4,5-10mm, helai bungatumpul, bundar.

71. Tabat Barito (Ficus deltoidea)

  Tabat Barito merupakan tanaman yang cara hidupnya dari terrestrial sampai epifit atau epilitik. Tabat barito diketahuimemiliki khasiat untuk mengobati penyakit dan luka dalam.

72. Tawar Seribu

  Tawar seribu merupakan tanaman yang masih termasuk dalam suku euphorbiaceae, tanaman ini memiliki ukuran dengan tinggi mencapai 15 cm,diameter batang 2 cm. Gambar 4.71 Tawar Seribu Daun tawar seribu berbentuk bulat telur, berwarna hijau tua, pertulangan daun menyirip dan memiliki daging daun yang tebal.

73. Telasak / salam (Syzygium polyanthum) Pohon berukuran sedang, mencapai tinggi 30 m dan gemang 60 cm

  Helai daun berbentuk jorong-lonjong, jorong sempit atau lanset, 5-16 x 2,5-7 cm, gundul,dengan 6-11 urat daun sekunder, dan sejalur urat daun intramarginal nampak jelas dekat tepi helaian, berbintik kelenjar minyak yang sangat halus. Pohon ini ditemukan tumbuh liar di hutan-hutan primer dan sekunder, mulai dari tepi pantai hingga ketinggian 1.000 m (di Jawa), 1.200 m (di Sabah)dan 1.300 m dpl (di Thailand); kebanyakan merupakan pohon penyusun tajuk bawah (Dalimartha, 2007).

74. Terok

  Tanaman ini memilikicairang yang keluar dari batang dan dapat diminum lalu dimanfaatkan sebagai bahan untuk mengobati penyakit kesulitan kencing atau digunakan untukmengobati bengkak pada mata. Daun Pengooq Peay berbentuk lanset dengan ujung dan pangkal daun runcing; warna daun hijau tua, panjang daun 5-8 cm, lebar daun 2 cm, Gambar 4.75 Pengooq Peay Buah Pengooq Peay berbentuk seperti kacang polong, berwarna hijau dengan bentuk didak beraturan.

77. Tetukng Galekng / Sarang Semut (Myrmecodia sp)

  Sarang semut adalah tumbuhan epifit (menempel pada tumbuhan lain yang lebih besar tetapi bukan parasit) yang batangnya menggelembung besardimana di dalamnya banyak terdapat ruang atau rongga kecil yang dihuni semut. Bagian yang menggelembung itulah yang banyakdimanfaatkan sebagai bahan baku obat dan digunakan masyarakat sebagai tanaman obat.

78. Tuuq Jarukng / Anggrek Macan (Grammatophyllum scriptum)

  Pada umumnya spesies ini memiliki bunga dengan lebar sampai4,5 cm, dengan warna hijau serta tanda berwarna cokelat tua. scriptum merupakan tanaman asli Asia Tenggara yang bisa ditemukan di dataran rendahpesisir (100 meter di atas air laut).

79. Tuuq Nayuq (Saccharum sp.)

  Tuuq Nayuq biasa tumbuh liar akan tetapi ada beberapa penduduk yang membudidayakan Tuuq Nayuq sebagai bahanobat-obatan keluarga. Tuuq nayuq dipercaya memiliki khasiat sebagai penawar racun dan peluruh batu ginjal.

80. Pemusiiq Taluutn

  Pengetahuan ini sangat penting untuk menentukan jenis tumbuhan obat yang dibutuhkan untuk dimanfaatkan sebagai obat pada penyakityang tepat sehingga dapat meminimalisir kesalahan yang dapat mengakibatkan keracunan atau efek samping lainnya pada orang yang mengkonsumsi. Selain pemberian nama yang menggunakan ciri atau organ yang paling dominan, nama tumbuhan juga dapat diberikan dengan berdasarkan pada habitat danciri dari tanaman yang mirip dengan benda atau tanaman lain yang mungkin tidak ada hubungannya secara klasifikasi.

D. Organ Tanaman Obat Yang Dimanfaatkan sebagai Ramuan Obat

  Dengan kata lain tiap organ tumbuhan obat memiliki fungsi yang Pengumpulan data organ tanaman yang digunakan berdasarkan data tanaman obat yang dikumpulkan lalu dilanjutkan dengan mengidentifikasi organ tumbuhanbagian mana saja yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Bagian biji sedikit digunakan karena pada umumnya beberapatanaman tidak memiliki biji dan tidak sedikit tanaman yang memiliki kandungan Batang biasanya dimanfaatkan dengan cara direbus atau dihancurkan untuk diambil ekstraknya, namun beberapa metode pemanfaatan hanya memanfaatkan getahyang dikeluarkan dari batang tanaman tersebut untung dioleskan atau ditempelkan.

E. Jenis Penyakit Yang Terdapat Di Masyarakat Suku Dayak Tunjung Linggang

  Untuk mempermudah dalam menganalisa jenis penyakit yang terdapat di masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang maka jenis penyakit digolongkan kedalambeberapa golongan yaitu luka luar, kram / kejang-kejang, penyakit kulit, terkilir, bengkak, penawar / penangkal racun, sakit gigi, vitalitas & daya tahan tubuh, lukadalam, kanker, kosmetik, dan penyakit dalam. Selain penyakit dalam dan luka luar, vitalitas & daya tahan tubuh menjadi salah satu permasalahan yang umum dikalangan masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang halini dikarenakan beratnya aktivitas sehari-hari terutama kaum pria sehingga mereka memanfaatkan tanaman herbal sebagai ganti suplemen untuk menunjang aktivitassehari-hari.

F. Jenis Metode Pemanfaatan Tanaman Obat

  Contoh dari metode iniadalah pemanfaatan tanaman Melastoma affine atau yang biasa dikenal denganHarendong, Orang Dayak Tunjung Linggang menggunakan daun yang masih muda dari Melastoma affine untuk mengobati luka akibat sayatan benda tajam, yaitu dengancara menghancurkan daun tersebut hingga hancur lalu kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang terluka. Selain menghancurkan dengan cara ditumbuk, daun Melastoma affine biasanya dikunyah karena reaksi antara kandungan kimia yang ada di dalam daun Melastoma affine dengan air liur dipercaya memiliki khasiat yang lebih baik daripada daun yang dihancurkan dengan cara ditumbuk.

G. Sumber Perolehan Tanaman Obat

  Dari total 80 tanaman yang didata, 47 jenis tanaman obat didapatkan secara liar sehingga untuk mendapatkannya orang Dayak Tunjung Linggang harus mencaritanaman tersebut dihutan walaupun ada beberapa jenis tanaman yang tidak mudah untuk ditemukan di karenakan populasi tanaman tersebut yang semakin menyusutseiring dengan terjadinya penebangan hutan secara liar dan pembukaan lahan untuk berladang. Akan tetapi dari informasi yang diberikan oleh beberapa informan, penulis mengetahui bahwa ada beberapa jenistanaman obat baik campurannya yang hanya didapatkan dengan cara membeli hal ini tentu saja tidak berlaku bagi warga yang telah membudidayakan tanaman tersebutdirumahnya, namun bagi yang tidak memiliki tanaman tersebut memilih untuk membeli daripada harus mencari ke dalam hutan.

H. Pemanfaatan Tanaman Obat Sebagai Sumber Belajar Biologi

  Untuk daerah seperti Kutai Barat, penerapan model pendekatan Inquiry pada materi pemanfaatan tanaman obat akan lebih memudahkan guru sehingga dalammenjelaskan kepada siswa, guru cukup memberikan pemahaman mengenai bagaimana pemanfaatan tanaman obat tersebut dilakukan, ciri-ciri tanaman obat, caramendeterminasi dan tindakan apa saja yang perlu dilakukan untuk konservasi tanaman khas daerah yang sudah hampir punah. Diakhir pertemuan, guru akan memberikan tugas mandiri tidak terstruktur yaitu tugas yang diselesaikan dan dikumpulkan pada batas maksimum yang ditentukan oleh gurudan siswa dapat mengumpulkannya kapan saja direntang antara batas maksimum yang ditentukan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan

  Jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh suku Dayak Tunjung Linggang sangat bervariasi dengan sebagian besar merupakan Spermatophyta, selain ituterdapat sebanyak 80 jenis tanaman yang berasal dari 38 famili yang berbeda. Cara pemanfaatan tumbuhan obat yang terdapat di masyarakat suku DayakTunjung Linggang yaitu direbus, dioleskan, ditempelkan, dikonsumsi mentah – mentah / segar dan di uapkan atau dijadikan sebagai sauna.

B. Saran 1

  Pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman obat harus ditingkatkan, penulis menganjurkan untuk dibuat materi khusus dalam pembelajaran disekolah baikSMP maupun SMA mengenai jenis-jenis tanaman lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai obat sehingga siswa dapat mendapatkan materi 2. Selain mendokumentasikan jenis-jenis tanaman obat tradisional, dokumentasi mengenai praktek-praktek pengobatan tradisional yang menggunakantumbuhan juga perlu dibuat sebagai bahan kajian yang mungkin akan diperlukan sebagai referensi bagi peneliti dan masyarakat serta dapat dijadikansebagai upaya untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal agar tidak luntur.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Etnoekologi perladangan dan kearifan botani lokal masyarakat dayak benuaq di Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur
10
118
372
Etnoekologi perladangan dan kearifan botani lokal masyarakat dayak benuaq di Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur
2
94
726
EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH SUKU DAYAK TUNJUNG BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960JUNCTOPMNA/KBPN NOMOR 5 TAHUN 1999.
0
2
15
SKRIPSI EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH SUKU DAYAK TUNJUNG EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH SUKU DAYAK TUNJUNG BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960JUNCTOPMNA/KBPN NOMOR 5 TAHUN 1999
0
3
13
PENDAHULUAN EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH SUKU DAYAK TUNJUNG BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960JUNCTOPMNA/KBPN NOMOR 5 TAHUN 1999.
0
6
22
PENUTUP EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH SUKU DAYAK TUNJUNG BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960JUNCTOPMNA/KBPN NOMOR 5 TAHUN 1999.
0
3
5
Menggali simbol-simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan dalam perkawinan Gereja Katolik di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur.
3
51
144
Studi etnobotani pemanfaatan tumbuhan upacara adat Suku Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur.
0
17
275
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur.
2
3
174
Studi etnobotani pemanfaatan tumbuhan upacara adat Suku Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur
0
2
273
Menggali simbol simbol perkawinan adat suku Dayak Tunjung sebagai ungkapan dalam perkawinan Gereja Katolik di Kec. Linggang Bigung, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur
2
32
142
Suku dayak dan madura 1
0
0
1
ETNOFARMAKOLOGI DAN PEMAKAIAN TANAMAN OB AT SUKU DAYAK TUNJUNG DI KALIMANTAN TIMUR
0
1
9
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur - USD Repository
0
0
172
Studi etnoekologi pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat suku Dayak Tunjung Linggang di Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur - USD Repository
0
0
172
Show more