Pengaruh waktu protektif pemberian infusa daun macaranga tanarius L. secara akut terhadap kadar ALT-AST pada tikus terinduksi karbon tetraklorida.

Gratis

0
0
117
2 years ago
Preview
Full text

PENGARUH WAKTU PROTEKTIF PEMBERIAN INFUSA DAUN

i Macaranga tanarius L. SECARA AKUT TERHADAP KADAR ALT-ASTPADA TIKUS TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi FarmasiOleh: Luluk Rahendra MarthaNIM : 098114122 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA2013 ii

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas,lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,serta mulut yang akan selalu berdoa. secara akut danmengetahui waktu paling efektif yang dapat memberikan pengaruh terhadap penurunan kadar Alanine Aminotransferase (ALT) serum dan AspartateAminotransferase (AST) serum dari pemberian infusa daun Macaranga tanarius secara akut pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Hati mempunyai fungsi utama yaitu sebagai pusat metabolisme. Sel-sel

  tanarius yangdigunakan pada penelitian ini adalah 10g/kgBB, hal ini didasarkan pada penelitian tersebut, yang mana dosis ini memberikan penurunan purata ALT dan AST 4terendah. tanarius pernah dilakukan olehMatsunami dkk, (2006) yang melaporkan adanya senyawa glikosida yaitu macarangioside A, B, C, D dan mallophenol B yang diisolasi dari ekstrak metanol M.

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoritis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu khususnya ilmu kefarmasian mengenai pengaruh pemberian infusa daun M

  tanarius secara akut terhadap penurunan kadar ALT-AST. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi lama penggunaan tanaman M.

B. Tujuan Penelitian

  Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh waktu protektif pemberian infusa daun M. Tujuan khusus Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu paling efektif yang dapat memberikan pengaruh terhadap penurunan kadar ALT-AST dari pemberian infusadaun M.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Hati

1. Anatomi dan fisiologi hati

  Pada facies visceralis terdapat porta hepatis, yaitu suatu hilum dari hati yang merupakan tempat masuk dan keluar pembuluh darah, saluran empedu, pembuluh getah bening, dan plexus nervorum (Wibowo dan Paryana, 2009). Arteri hepatika membawa darah yang berisi oksigen yang berasal arteria 9hepatika communis , di sebelah kiri ductus choledocus dan di depan vena porta(Wibowo dan Paryana, 2009), sedangkan vena porta membawa darah vena dari usus halus yang kaya akan nutrient yang baru diserap, obat, dan racun langsung kehati.

2. Jenis kerusakan hati

  10Perlemakan hati dapat berasal dari satu atau lebih peristiwa berikut: kelebihan pasokan asam lemak bebas ke hati, gangguan pada siklus trigliserida,peningkatan sintesis atau esterifikasi asam lemak, penurunan oksidasi asam lemak, penurunan sintesis apoprotein, dan penurunan sintesis atau sekresilipoprotein densitas sangat rendah (VLDL) Steatosis adalah respon umum untuk pemejanan akut tapi tidak untuk semua hepatotoksin. KolestasisKolestasis adalah jenis kerusakan hati yang bersifat akut, dan lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan perlemakan hati dan nekrosis.

4. ALT dan AST

  Ujienzim sering menjadi satu-satunya petunjuk adanya cedera sel pada penyakit hati dini karena perubahan ringan kapasitas ekskretorik mungkin tersamar akibatkompensasi dari bagian hati lain yang masih fungsional (Sacher dan McPherson, 2002).aminotransferase. Meskipun enzim ALT terdapat pula pada beberapa bagianjaringan, konsentrasi terbesarnya pada semua spesies adalah di hati sehingga ALT merupakan petunjuk yang lebih spesifik terhadap nekrosis hati daripada AST(Zimmerman, 1999).

B. Karbon Tetraklorida

  Struktur molekul karbon tetraklorida (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995) Karbon tetraklorida (Gambar 2.) adalah suatu cairan jernih yang mudah menguap, tidak berwarna, dan dengan bau khas, BM 153,82 dan sangat sukar larutdalam air (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, 1995). Pada penelitian yang dilakukan oleh Yadav,Kumar, Singh, Sharma, dan Sutar (2011) juga menunjukkan adanya kenaikan nilai ALT hingga tiga kali lipat pada tikus yang diinduksi karbon tetraklorida.

C. Metode Pengujian Hepatoprotektif

  Beberapa uji penting yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi terjadinya kerusakan hati, dikategorikan menjadi tes enzim serum, tes ekskretori hepatik,perubahan kandungan kimia hati, dan analisis histologik kerusakan hati (Plaa dan Charbonneau, 2001). Enzim yang tidak spesifik dan dapatmenunjukkan kerusakan jaringan ekstrahepatik misalnya AspartateAminotransferase (AST) dan laktat dehidrogenase (LDH) (Plaa dan Charbonneau,2001).

D. Macaranga tanarius L

1. Sinonim

  Penyebaran Tanaman Macaranga tanarius banyak ditemukan tumbuh di daerah tropis negara antara lain : Australia, Brunei, Kamboja, China, Indonesia, Vietnam,Jepang, Laos, Malaysia, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Taiwan, dan Thailand (World Agroforestry Centre, 2002). Daun berwarna hijau dengan bentuk jantung dan pangkalnya berbentukbulat, ukuran daun berkisar 8-32 x 5-28 cm dan panjang tangkai daun 6-27 cm.

6. Kandungan

  tanarius yaitu tanarifuranonol, tanariflavanonC, dan tanariflavanon D bersama dengan tujuh kandungan yang telah diketahui yaitu nimfaeol A, nimfaeol B, nimfaeol C, tanariflavanon B, blumenol A(vomifoliol), blumenol B (7,8 dihidrovomifoliol, dan annuionone). Pada penelitian Matsunami, dkk (2009) menyebutkan adanya kandungan lignan glukosida, pinoresinol, dan duamegastigman glukosida yaitu macarangioside E dan F, serta 15 komponen lain yang telah diketahui dilaporkan terdapat pada daun M.

7. Khasiat dan kegunaan

  tanarius sudah digunakan di Thailand sebagai antipiretik danantitusif, akar kering digunakan sebagai agen emetik, dan daun segarnya dapat digunakan sebagai antiinflamasi. Pada penelitian yang dilakukan Lim, dkk (2009), dilaporkan bahwa di Cina tanaman Macaranga ini menjadi tumbuhan yang komersil, karena dapat dijadikan sebagai produk minuman kesehatan.

E. Infusa

  Pembuatan infus merupakan cara yang paling sederhana untuk membuat sediaan herbal dari bahan lunakseperti daun dan bunga. Sediaan herbal yang mengandung minyak atsiri akan berkurang khasiatnya apabila tidak menggunakanpenutup pada pembuatan infus (Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, 2010).

F. Landasan Teori

  Karena memiliki sistem peredaran darah yang tidak biasaini, sel hati mendapat darah yang relatif kurang oksigen dan menyebabkan sel hati lebih rentan terhadap kerusakan dan penyakit (Wibowo dan Paryana, 2009). Penelitian ini dilakukan secara tanarius 10g/kgBB pada tikus terinduksi karbon tetraklorida yang dilakukan oleh Nurcahyanti (2012) yang juga dilakukan secara bersama.

G. Hipotesis

BAB II I METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian acak lengkap pola searah. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel-variabel yang digunakan adalah sebagai berikut :

  Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah kondisi hewan uji, yaitu tikus galur Wistar dengan jeniskelamin jantan, berat badan 150-250 g, dan umur 2-3 bulan, frekuensi pemberian infusa daun M. tanarius, yaitu secara berturut-turut selama ½, 1, 2, 4, dan 6 jam,cara pemberian hepatotoksin secara intraperitonial, cara pemberian infusa secara 27per oral, bahan uji yang digunakan berupa daun M.

3. Definisi Operasional

  tanarius adalah yang berwarna hijau, segar, tidak bercacat, dan dipanen pada saat tanaman sedangberbunga. tanarius yang diberikan dalam waktu tertentu secara akut yang melindungi hatidengan cara menurunkan kadar ALT-AST pada tikus Wistar terinduksi karbon tetraklorida .

C. Bahan Penelitian

  Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tikus jantan galurWistar dengan umur 2-3 bulan dan berat badan 150-250 g yang diperoleh dari Laboratorium Imono Fakultas Farmasi Universitas Sanata DharmaYogyakarta. Blanko pengujian ALT dan AST menggunakan aqua bidestilata yang diperoleh dari Laboratorium Kimia Analisis dan Instrumental FakultasFarmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

e. Kontrol serum Cobas (PreciKontrol ClimChem Multi 1) Roche/ Hitachi Analyzer

  Reagen ALT 29Reagen serum yang digunakan adalah reagen ALT dyasis. Komposisi dan konsentrasi dari reagen ALT adalah sebagai berikut.

D. Alat Penelitian

  Alat pembuatan serbuk kering daun M. Alat pembuatan infusa daun M.

E. Tata Cara Penelitian

  Serbuk kering tersebut dimasukkan dan dicampur ke dalam 100,0 ml pelarut aquadest dan dua kali 32jumlah serbuk yang ditimbang, sehingga aquadest yang digunakan adalah 300,0 ml pada suhu 90 C dan dijaga tetap dalam suhu tersebut selama 15 menit. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa aktivitas ALT tikus terangsang karbon tetraklorida yang dilarutkan dalam olive oil volume (1:1) dengan dosis2ml/kg BB mencapai maksimal pada jam ke-24 setelah pemberiannya, kemudian pada jam ke-48 berangsur-angsur menurun (Janakat dan Merie, 2002).

10. Pengukuran aktivitas ALT dan AST

  Alat yang digunakan untuk pengukuran aktivitas ALT dan AST adalah micro-vitalab 200. Analisis fotometri ALT dilakukan dengan cara sebagai berikut, 100 µl serum dicampur dengan 800 µl reagen I, setelah itu dicampur dengan 200 µl reagen II, dan dibaca serapan setelah tiga menit.

F. Tata Cara Analisis Hasil

  Data aktivitas ALT dan AST yang diperoleh dianalisis dengan uji Kolmogorov Smirnov untuk melihat distribusi data tiap kelompok. Namun bila didapatkan 35distribusi tidak normal, maka dilakukan analisis dengan uji Kruskal Wallis untuk mengetahui perbedaan aktivitas ALT dan AST antar kelompok.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penyiapan Bahan

  Tujuan dari determinasi tanaman adalah untuk membuktikan bahwa bagian dari tanaman yang digunakan benar berasal dari tanaman M. 37 tanarius memenuhi persyaratan serbuk yang baik, yaitu dengan kadar air kurang dari 10% (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995).

B. Uji Pendahuluan

1. Penentuan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida Pada penelitian ini digunakan karbon tetraklorida sebagai hepatotoksin

  II Rata-rata aktivitas ALT tikus setelah induksi karbon tetrakloridadosis 2 ml/kg BB pada pencuplikan darah jam ke-0, jam ke-24, dan jam ke-48 Waktu pencuplikan jam ke- Jumlah hewan uji (ekor) Purata aktivitas ALT ± SE(U/L) 5 73,2 ± 12,9 24 5 246,4 ± 17,0 48 5 102,0 ± 14,6 Gambar 5. Diagram batang orientasi aktivitas ALT tikus setelah induksi karbon tetraklorida dosis 2 ml/kg BB pada pencuplikan darah jam ke-0, jam ke-24, dan jam ke-48 Hasil dari analisis pola searah (One Way ANOVA) dari data ALT tikus setelah terinduksi karbon tetraklorida dosis 2 ml/kg BB, diketahui memilikisignifikansi 0,749 (p>0,05).

C. Hasil Uji Waktu Protektif Pemberian Infusa Daun M. tanarius Secara Akut Pada Tikus Terinduksi Karbon Tetraklorida

  Pencuplikan darah hewan uji dilakukan pada penurunan kadar ALT dan AST yang dinyatakan U/L dan disajikan dalam bentukpurata ± SE dalam tabel dan diagram batang berikut. V Pengaruh waktu protektif pemberian secara akut infusa daun M.tanarius terhadap hepatotoksisitas karbon tetraklorida III 2ml/kg BB246,4 ± 17,0 596,2 ± 25,3 II kontrolhepatotoksin karbontetraklorida BB82,2 ± 2,7 118,6 ± 5,1 - - olive oil 2 ml/kg I kontrol negatif AST ALT AST Purata ± SE(U/L) (U/L)ALT (%)Purata ± SE AktivitasEfek hepatoprotektif dilihat dari aktivitas ALT dan ASTKel.

1. Kontrol negatif (olive oil 2 ml/kgBB)

  VIII Perbandingan kontrol olive oil jam ke-0 dan jam ke-24 pada ALT dan ASTtikus jantan Perbandingan terhadapPurata ± SE ALT Kel Perlakuan(U/L) Olive oil jam Olive oil jam ke-0 ke-24 I Olive oil jam ke-0 90,2 ± 4,9 TB - Olive oil jam ke- 24 AST Olive oil jam Olive oil jam ke-0 ke-24 Olive oil jam ke-0 III 122,8 ± 5,7 TB - Olive oil jam ke- 24 Ket : TB = berbeda tidak bermakna (p > 0,05) B = berbeda bermakna (p < 0,05) 46 Gambar 9. Hasil pengukuran terhadap aktivitas ALT dan AST, menunjukkan bahwa pemberian olive oil 2 ml/kgBB tidak memberikan peningkatan terhadap aktivitasALT dan AST, artinya apabila terjadi peningkatan terhadap aktivitas ALT danAST bukan karena penggunaan olive oil sebagai pelarut.

2. Kontrol hepatotoksin (karbon tetraklorida 2 ml/kgBB)

  Dapat diartikan bahwa pada jam ke-2 dan 4 kerusakan hati yang ditimbulkan sudah kembali ke keadaan normal, sedangkan pada kelompok perlakuan jam ke-1/2, 1, dan 6, terdapat perbedaan yang bermakna (p>0,05) terhadap kelompok kontrol olive oil. Kemungkinan adanya pengaruhpenurunan ALT dan AST tersebut, dapat ditinjau dari mekanisme perusakan sel hati oleh karbon tetraklorida dan aktivitas antioksidan yang terkandung dalaminfusa daun M.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil data yang diperoleh dan hasil uji analisis statistik yang

  Pemberian infusa daun M. Jangka waktu 2 jam pemberian infusa daun M.

B. Saran

  tanarius secara akut dengan menggunakan model hepatotoksin yang lain seperti galaktosaminterhadap kadar ALT-AST tikus jantan. tanarius jangka waktu 2 jam terhadap kadar ALT-AST pada tikus terinduksi karbon tetraklorida.

DAFTAR PUSTAKA

  Hasil analisis statistik data ALT dan AST pada uji pendahuluanwaktu pencuplikan darah hewan uji setelah induksi karbon tetraklorida 2ml/kg BB ALT NPar TestsDescriptive Statistics N Mean Std. .422 1.000 68 ALTScheffe Subset for alpha = 0.05orientasi_Karbon tetraklorida N 1 2 orientasi Karbon tetraklorida5 73.2000 dosis 2ml/kg BB jam ke-0orientasi Karbon tetraklorida 5 102.0000dosis 2ml/kgBB jam ke-48 orientasi Karbon tetraklorida 5 246.4000 dosis 2 ml/kgBB jam ke-24Sig.

2 Asymp. Sig. .003

  Homogeneous Subsets ALTScheffe Subset for alpha = 0.05kontrol_perlakuan N 1 2 3 kontrol infusa macaranga 6 68.67 kontrol olive oil 4 81.75 perlakuan jam ke-2 5 99.20 99.20 perlakuan jam ke-45 130.60 130.60 perlakuan jam ke-15 151.60 perlakuan jam ke-1/25 152.40 perlakuan jam ke-65 159.00 kontrol hepatotoksin Karbon5 246.40 tetraklorida Sig. 83 Homogeneous Subsets ASTScheffe Subset for alpha = 0.05kontrol_perlakuan N 1 2 3 kontrol olive oil5 118.60 kontrol infusa macaranga5 153.80 perlakuan jam ke-25 308.40 perlakuan jam ke-15 385.20 perlakuan jam ke-65 412.20 perlakuan jam ke-45 415.00 perlakuan jam ke-1/25 433.60 kontrol hepatotoksin Karbon5 596.20 tetraklorida Sig.

a. With fewer than three groups, linearity measures for ALT * Kelompok_Perlakuan cannot be computed

Kruskal-Wallis Test RanksKelompok_Perlakuan N Mean Rank ALT Kontrol negatif olive oil 2 5 6.70 ml/kgBB jam ke 0Kontrol negatif olive oil 2 5 4.30 ml/kgBB jam ke 24Total a,b 10 Test Statistics Chi-Square 1.580Df

1 Asymp. Sig. .209

  Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan 86 Mann-Whitney Test RanksKelompok_Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks ALT Kontrol negatif olive oil 2 5 6.70 33.50 ml/kgBB jam ke 0Kontrol negatif olive oil 2 5 4.30 21.50 ml/kgBB jam ke 24Total b 10 Test Statistics ALTMann-Whitney U 6.500 Wilcoxon W 21.500Z -1.257 Asymp. Error of MeanKontrol negatif olive oil 2 1.2280E2 5 12.73578 5.69561 ml/kgBB jam ke 0Kontrol negatif olive oil 2 1.1860E2 5 11.50217 5.14393 ml/kgBB jam ke 24Total 1.2070E2 10 11.65285 3.68495 88 a ANOVA TableSum of Mean Squares df Square F Sig.

a. With fewer than three groups, linearity measures for AST * Kelompok_Perlakuan cannot be computed

Kruskal-Wallis Test RanksKelompok_Perlakuan N Mean Rank AST Kontrol negatif olive oil 2 5 5.90 ml/kgBB jam ke 0Kontrol negatif olive oil 2 5 5.10 ml/kgBB jam ke 24Total a,b 10 Test Statistics ASTChi-Square .176 df

1 Asymp. Sig. .675

  Perhitungan konversi dosis untuk manusia  Angka konversi tikus 200 g ke manusia 70 kg = 56,0 Dosis untuk manusia = dosis untuk tikus 200 g x (angka konversi ke manusia)Oleh karena itu, dapat ditetapkan dosis infusa daun M. Hasil pengukuran validitas dan reabilitasTabel Hasil validitas dan reabilitas Dilihat dari serum kontrol (range 33,9-48,9 U/l) x (U/l)x- 4241,2 0,8 0,64 40 -1,2 1,4441 -0,2 0,04 42 0,8 0,6441 -0,2 0,04 ∑ = 2,8Range = ± SD= 41,2 ± 0,8= 40,4 – 42 CV = (SD/ ) x 100%= (0,8/41,2) x 100%= 1,94%Syarat CV yang baik ≤ 2%.

BIOGRAFI PENULIS

  Secara Akut Terhadap KadarALT-AST Pada Tikus Terinduksi KarbonTetraklorida” memiliki nama lengkap Luluk Rahendra Martha, merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Indwi Raharjo dan SriIndrati. Pendidikan formal yang telah ditempuh penulis yaitu TK Kristen Kridawita Klaten (1995-1997), kemudian melanjutkan pendidikan tingkatSekolah Dasar di SD Negeri 1 Klaten (1997-2003), tingkat Sekolah MenengahPertama di SMP Negeri 2 Klaten (2003-2006), tingkat Sekolah Menengah Atas diSMF Indonesia Yogyakarta (2006-2009).

3 K dan Panitia Hari Anti Tembakau tahun 2011 sebagai anggota Humas

  (Hubungan masyarakat). Selain itu, penulis pernah menjadi asisten praktikumBentuk Sediaan Farmasi (2011), Farmakologi Dasar (2011), dan Toksikologi Dasar (2012).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh pemberian fraksi heksan-etanol dari ekstrak metanol-air daun Macaranga tanarius L. jangka panjang 6 hari terhadap aktivitas serum alt dan ast tikus betina galur wistar terinduksi karbon tetraklorida.
2
2
183
Efek hepatoprotektif pemberian jangka pendek 6 jam fraksi heksan-etanol dari ekstrak metanol-air Macaranga tanarius (L.) Müll. Arg. terhadap kadar alt-ast pada tikus terinduksi karbon tetraklorida.
0
4
139
Pengaruh waktu pemberian infusa herba Bidens pilosa L. jangka pendek sebagai hepatoprotektif terhadap aktivitas ALT-AST serum pada tikus betina terinduksi karbon tetraklorida.
3
12
115
Efek hepatoprotektif pemberian infusa kulit Persea americana Mill. terhadap ALT-AST tikus terinduksi karbon tetraklorida.
0
2
125
Efek hepatoprotektif jangka waktu enam jam ekstrak etanol daun macaranga tanarius L. terhadap ALT-AST pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida.
0
2
111
Efek hepatoprotektif infusa daun macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida.
0
0
108
Pengaruh waktu pemberian infusa biji alpukat (persea americana mill.) secara akut sebagai hepatoprotektif terhadap aktivitas alt-ast serum pada tikus terinduksi karbon tetraklorida.
0
0
7
Pengaruh waktu protektif pemberian infusa biji persea americana mill. secara akut terhadap kadar kreatinin dan gambaran histologis ginjal tikus terinduksi karbon tetraklorida.
0
0
7
Efek hepatoprotektif ekstrak metanol:air (50:50) daun macaranga tanarius L. terhadap kadar ALT-AST serum pada tikus terinduksi karbon tetraklorida.
0
1
123
Efek hepatoprotektif jangka waktu enam jam ekstrak etanol daun macaranga tanarius L. terhadap ALT AST pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida
0
1
109
Efek hepatoprotektif pemberian infusa kulit Persea americana Mill. terhadap ALT AST tikus terinduksi karbon tetraklorida
0
0
123
Pengaruh waktu protektif pemberian infusa daun macaranga tanarius L. secara akut terhadap kadar ALT AST pada tikus terinduksi karbon tetraklorida
0
1
115
Efek hepatoprotektif ekstrak metanol:air (50:50) daun macaranga tanarius L. terhadap kadar ALT-AST serum pada tikus terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
121
Pengaruh waktu protektif pemberian infusa biji persea americana mill. secara akut terhadap kadar kreatinin dan gambaran histologis ginjal tikus terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
5
Efek hepatoprotektif infusa daun macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
106
Show more