Deskripsi tingkat adversity quotient mahasiswa angkatan 2014 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.

Gratis

0
3
114
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Bimbingan dan KonselingUniversitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membagikan serta membekali berbagai ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi penulis. Orangtuaku tercinta Bapak Yohanes Jimin Cahyono dan Mamak FranciskaWawuk Sudarsih yang senantiasa mendukung serta mendoakan dan selalu mengajariku untuk selalu berjuang dan sabar selama kuliah dan prosespenyelesaian skripsi ini.

BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi

A. Latar Belakang Masalah

  Seseorang yangmemiliki tingkat adversity quotient yang tinggi akan mampu menghadapi rintangan atau halangan yang menghadang dalam mencapai tujuan. Adversity quotient dapat mengungkapkan: (1) seberapajauh individu mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk mengatasinya; (2) siapa yang akan mampu mengatasi kesulitan dansiapa yang akan hancur; (3) siapa yang akan melampaui harapan harapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa yang akan gagal; dan (4) siapayang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan (Stoltz, 2000).

2 Adversity qoutient dimiliki oleh setiap individu, hal ini dapat

  Tidak hanya persoalan itu saja, tetapi ada mahasiswa yang tidak hadir ketika mengerjakan tugas kelompok, bahkan ada mahasiswa Selama proses observasi bukan hanya mahasiswa yang memiliki adversity quotient rendah saja yang peneliti temukan, melainkan peneliti juga menemukan ada cukup banyak mahasiswa yang terlihat memiliki adversity quotient yang tinggi. Menjadi konselor yang tangguh perlu memiliki adversity qoutient yang tinggi,sehingga mahasiswa dapat mengatasi segala permasalahan dengan baik dan bijak tanpa perlu mengeluh dengan segala aktivitas yang ada.

B. Identifikasi Masalah

  Pembatasan Masalah Penelitian ini difokuskan pada tingkat adversity quotient mahasiswa angkatan 2014 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Aspek adversity quotient mana sajakah yang capaian skornya teridentifikasi rendah, sebagai dasar usulan program meningkatkan adversity quotient pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terkhusus bagi angkatan 2014?

F. Manfaat Penelitian

  Manfaat TeoritisPenelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu Bimbingan dan Konseling mengenai tingkat adversity quotient yang harus dimiliki mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling. Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu informasi yang dapat digunakan oleh Program StudiBimbingan dan Konseling dalam pembinaan atau peningkatan adversity quotient yang ada dalam diri mahasiswa angkatan 2014.

G. Definisi Istilah

  Adversity quotient merupakan suatu kemampuan dalam diri individu untuk dapat bertahan dalam kesulitan, memecahkan masalah, sertamereduksi hambatan dari permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi yang dapat diukur dengan Control (kendali), Origin & Ownership (asal usul dan pengakuan), Reach (jangkauan), dan Endurance (daya tahan) yang biasa disingkat dengan CO RE. Mahasiswa yang dimaksud dalampenelitian adalah mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan 2014.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini dipaparkan tentang hakikat adversity quotient, hakikat

A. Hakikat Adversity Quotient

mahasiswa, adversity quotient dilihat dari Hirarki kebutuhan Maslow, dan kerangka berpikir.

1. Pengertian Adversity Quotient

  Nashori (2007) berpendapat bahwa adversity quotient merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya untukmengarahkan, mengubah cara berfikir dan tindakannya ketika menghadapi quotient merupakan kemampuan atau kecerdasan seseorang untuk bertahan menghadapi dan mengatasi kesulitan. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa adversity quotient merupakan suatu kemampuan individu untuk dapat bertahan dalam menghadapi segala macam kesulitan sampai menemukan jalan keluar, memecahkan berbagai macam permasalahan, mereduksi hambatandan rintangan dengan mengubah cara berfikir dan sikap terhadap kesulitan tersebut.

2. Aspek-Aspek Adversity Quotient

  Origin dan ownership (asal usul dan pengakuan), mempertanyakan dua hal yakni: “yang” menjadi penyebab dari suatu kesulitan dan“sejauh mana” individu mengakui akibat-akibat yang ditimbulkan oleh situasi yang sulit. Individu yang memiliki adversity quotient rendah, cenderung menempatkan rasa bersalah yang tidak semestinya atas peristiwaburuk yang terjadi.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adversity Quotient

  Adanya keyakinan dalam diri untuk bertindak dan berkembang itupun juga akan mempengaruhibagaimana adversity quotient itu sendiri.3) Bakat Kemampuan dan kecerdasan seseorang dalam menghadapi suatu kondisi yang tidak menguntungkan bagi dirinya, salahsatunya dipengaruhi oleh bakat. Karakter merupakan bagian yang penting bagi kita untuk meraih kesuksesan dan hidup berdampingansecara damai.6) Kinerja Merupakan bagian yang mudah dilihat orang lain sehingga seringkali hal ini sering dievaluasi dan dinilai.

4. Karakteristik individu Berdasarkan Tingkatan Adversity Quotient

  Tipe campers ini merupakan golongan yang sedikit lebih banyak mengusahakan agar terpenuhinya kebutuhankeamanan yang ada pada skala hirarki Maslow. Climbers (para pendaki) Climbers adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan tidak pernah membiarkan Climbers merupakan kelompok orang yang selalu berupaya mencapai puncak kebutuhan aktualisasi diri pada skala hirarkiMaslow.

B. Hakikat Mahasiswa

1. Pengertian Mahasiswa

  Mahasiswa berasal dari kata maha yang berarti besar atau tinggi dan siswa yang berarti pelajar atau dengan kata lain mahasiswaadalah pelajar yang berada pada strata tertinggi. Selain itu juga mampu memecahkanberbagai macam permasalahan, mereduksi hambatan dan rintangan dengan mengubah cara berfikir dan sikap terhadap kesulitan tersebut Adversity qoutient pada mahasiswa merupakan daya juang atau adversity qoutient dalam diri mereka, namun yang membedakan ialah tingkat adversity quotient dalam tiap diri mahasiswa.

4. Tipologi Adversity Quotient Mahasiswa

  Kelompok mahasiswa yang kedua adalah campers atau mahasiswa yang cenderung mudah puas dengan hasil yangdiperolehnya. Tipe campers ini merupakan mahasiswa yang Climbers merupakan kelompok orang yang selalu mempunyai semangat dan tekad yang tinggi untuk menyelesaikan suatu tantangan.

C. Adversity Quotient dilihat dari Hirarki kebutuhan Maslow

  Tiga tingkatan dalam adversity quotient dilihat dari piramida kebutuhanMaslow yang tertulis dalam Stoltz (2000) yaitu sebagai berikut: 1. Individu campers ini lebih mencari rasa aman, tidak suka mengambil resikosehingga mereka memilih bertahan pada apa yang sudah di capai.

D. Kerangka Berpikir

  Adversity Quotient sudah dimiliki oleh setiap mahasiswa angkatan 2014, yang membedakan antara mahasiswa satu dan yang lain ialah bagaimana tingkat adversity quotient itu sendiri. Aspek- aspek tersebut antara lain control ( kendali), origin dan ownership (asalusul dan pengakuan), reach (jangkauan), dan yang terakhir endurance quotient yang berbeda-beda antara tinggi, sedang, dan rendah.

BAB II I METODE PENELITIAN Pada bab ini, dipaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan metodei

  Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif karena ingin memperoleh gambaran mengenai tingkat adversity quotient yang dimilikimahasiswa angkatan 2014 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Tempat dan Waktu PenelitianPenelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 27 mei 2016, berdasarkan jadwal yang disesuaikan dengan kegiatan perkuliahanmahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan 2014.

C. Subjek Penelitian

  Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data yang sesuai, maka peneliti tidak akan mendapatkandata yang sesuai dengan standar yang sudah di tetapkan. Tahap persiapan 1) Melakukan observasi dengan subjek yang akan diteliti 2) Mempersiapkan kuesioner dengan memodifikasi alat ukur yang sudah ada, yang terlebih dahulu menyesuaikandengan yang terjadi pada mahasiswa angkatan 2014.3) Peneliti mempersiapkan 60 item, dimana terdapat 20 item positif dan 40 item negatif4) Menyederhanakan bahasa pada setiap item, disesuaikan dengan kemampuan subjek.

2) Mengolah data hasil penelitian, dimana pada pengolahan data ini, cukup data dari item yang negatif yang diolah

  Hal ini dikarenakan pada penelitian ini berfokus pada kesulitan yang dihadapi. 3) Item yang diolah ialah item yang valid dan item yang negatif4) Menganalisis dan membahas hasil penelitian 5) Menarik kesimpulan akhir Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan sistem uji terpakai karena pada penelitian ini berfokus pada satu populasi yaituangkatan 2014 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.

2. Instrumen Pengumpulan Data

  Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini berupa kuesioner yang digunakan dari hasil modifikasi alat ukur yang telahada. Item-item dalam kuesioner dalam penelitian inidimodifikasi berdasarkan alat ukur yang telah ada dan disesuaikan Kisi-kisi kuesioner Adversity quotient mahasiswa Bimbingan dan Konseling angkatan 2014, sebelum dilakukan penelitian dapat dilihatpada tabel 3.2.

1 Control (Kendali)

  Mampu menemukan penyebab kesulitan yang terjadiOrigin dan Ownership(Asal-b. Mampu mengakui kesalahan 2,12,16,18,20,26,32, 2usul dan jika ia salah 34,36,38,46,52,54,56,58 pengakuan)c. kesulitan yang dihadapi 29,39,41,43,47,49,59Mampu bertahan dalam situasi apapun Endurance 4,6,8,10,14,22,24,28, 4(Ketahanan) 30,40,42,44,48,50,60 b.

JUM LAH

60 E. Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas

  Validitas merupakan pengukuran sesuatu hal yang seharusnya dapat diukur dengan menggunakan alat ukur Sugiyono, Pada penelitian ini peneliti meminta pertimbangan dari dosen pembimbing dalam proses penyusunan instrumen, untukmelakukan modifikasi alat ukur yang telah tersedia. Modifikasi ini digunakan karena pernyataan instrumen yang ada dalam buku tersebut memiliki kaitan yang sama dengan halyang akan diteliti, yakni mengenai adversity quotient.

2 C : Control (kendali)

Origin (asal-usul) dan Ownership (pengakuan)O :

2 R : Reach (jangkauan)

2. Reliabilitas Instrumen Penelitian Reliabilitas merupakan tingkat kepercayaan hasil pengukuran

  E : Endurance (ketahanan) AQ : Adversity Quotient (daya juang) Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi yaitu mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya, disebut reable Azwar (2011). Sukardi(2003), mengatakan bahwa pengukuran yang menggunakan instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, serta alatukur yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur apa yang hendak diukur.

F. Teknik Analisis Data

  Penentuan skor ini hanya berfokus pada 40 item inti saja atau item yang bertanda negatif, sedangkan 20 item yang lainnya itu tidakdigunakan hal ini dikarenakan penelitian ini lebih memperhatikan respon-respon subjek terhadap kesulitan yang dihadapi. Menentukan Kategorisasi Membuat kategorisasi tingkat adversity qoutient subjek penelitiansecara umum berdasarkan distribusi normal skor adversity quotient basis norma yang mengelompokkan tingkat adversity qoutient.mahasiswa angkatan 2014 dalam lima kategori, yakni rendah, kurang, sedang, cukup dan tinggi.

BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, DAN USULAN PROGRAM PENGEMBANGAN DIRI Pada bab ini dipaparkan hasil penelitian, pembahasan dan usulan

A. Hasil Penelitian

  Tingkat Adversity Quotient Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2014 Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian, tingkat adversity quotient mahasiswa angkatan 2014 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dapat dikategorikan pada tabel 4.1. Terdapat 0% mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan 2014 yang memiliki Adversity quotient tinggi.

2. Tingkat Adversity Quotient dilihat dari Setiap Aspek

  Berdasarkan hasil pengolahan tingkat adversity quotient mahasiswa angkatan 2014 dapat dilihat hasil kategori dari setiap aspekpada tabel-tabel berikut: 48 Kategori Skor Jumlah Mahasiswa PersentaseTinggi 38-50 1 2% Sedang 24-37 48 77% Rendah 10- 2313 21% Aspek control jika dilihat dalam grafik yaitu sebagai berikut: Grafik 4.2 Aspek Control Tabel 4.2 Aspek Control pada Tingkat Adversity Quotient Mahasiswa angkatan 2014 10 20 30 40 1 b. Terdapat 11% mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas SanataDharma angkatan 2014 yang memiliki Aspek O (origin dan ownership) 2 2 Aspek Reach (jangkauan) jika dilihat dalam grafik yaitu sebagai berikut: 10 0% 84% 16%Jum lah M ahasisw a Persent ase 52 50 40 30 20 10 Grafik 4.4 Aspek Reach (jangkauan) pada Tingkat Adversity Quotient Mahasiswa angkatan 2014 52 84% Rendah 10- 2310 16% (origin dan ownership) yang sedang.

3. Analisis Hasil Adversity Qoutient Berdasarkan Tipologi Adversity

  Quotient Berdasarkan kategorisasi adversity quotient menurut Stolzt (2000), dapat ditentukan pada tipe manakah mahasiswa Program Studi Bimbingandan Konseling Universitas Sanata Dharma berada. Berikut ialah hasil kategorisasinya berdasar tipe adversity quotient: Tabel 4.7 Kategorisasi Berdasarkan Tipe Adversity Quotient Kategorisasi Skor Tipe adversity quotient Tinggi 166-200 Climbers Cukup 135-165Sedang 95-134 CampersKurang 60-94 Quitters Rendah 0-59Maka dari itu berdasarkan hasil analisis adversity quotient mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2014berada pada tipe campers.

B. Pembahasan

  Jadi, adversity quotient yang berada pada kategori sedang, hal ini sudah dapat dikatakan baik, namun para mahasiswa ini belum mampumengolah dan meningkatkan terus menerus sehingga ketika terjadi kegagalan dalam berjuang, para mahasiswa langsung menurunkan tingkat adversity quotient yang dimiliki. Kegiatan ini diisi dengan sharing bersama teman-teman dan dosen pembimbing akademik, dan padaakhir kegiatan ditutup dengan outbond yang mengangkat satu jenis Usulan program ini, dimaksudkan agar para mahasiswa ProgramStudi Bimbingan dan Konseling angkatan 2014 dapat menyadari bahwa perlunya meningkatkan dan mengembangkan adversity quotient yang adapada diri mereka.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisi uraian mengenai kesimpulan, keterbatasan dan saran

A. Simpulan

  Menuruttipologi adversity quotient ini mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling berada pada kategori sedang ini berarti mahasiswacenderung pada tipe campers (mereka yang berkemah). Hasil penelitian ini aspek yang teridentifikasi rendah ialah aspek endurance ( ketahanan), dengan hasil persentase 32% yangartinya ada beberapa mahasiswa yang memiliki ketahanan rendah.

B. Saran

  Mengadakan penelitian yang lebih mendalam lagi mengenai Adversity Quotient sehingga didapatkan hasil yang maksimal. Bagi program studi Bimbingan dan KonselingDiharapkan program studi mampu menjadi wadah atau tempat menyalurkan pendapat bagi para mahasiswa dalam proses 3.

DAFTAR PUSTAKA

  (2-tailed) .000N 62 RELIABILITY STATISTICS Reliability Statistics Cronbach'sAlpha N of Items .879 52 LAMPIRAN 2 Kuesioner Adversity QuotientKUESIONER TINGKAT ADVERSITY QUOTIENT Di susun oleh: Maria Dominika Efi Cahyani121114023 Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Sanata Dharma KUESIONER A. Saya sangat mengharapkan anda mengisi kuesioner ini dengan teliti dan jujur, tidak ada jawaban benar atau salah jawaban yang tepatadalah jawaban yang berasal dari kejujuran anda.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Self awareness dan implikasinya pada usulan topik program pengembangan diri (Studi Deskriptif pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2014 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta).
36
177
87
Tingkat kejenuhan belajar mahasiswa (studi deskriptif pada mahasiswa angkatan 2013 program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
0
1
99
Deskripsi tingkat daya juang mahasiswa angkatan 2011 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.
3
35
100
Motivasi belajar pada mahasiswa : studi deskriptif tingkat motivasi belajar pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Angkatan 2013/2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan akademik.
0
1
79
Deskripsi tingkat kesiapan mahasiswa menghadapi pernikahan (studi deskriptif pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2012 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan implikasinya pada usulan topik-topik bimbingan persiapan berkeluarga).
0
0
84
Self awareness dan implikasinya pada usulan topik program pengembangan diri (Studi Deskriptif pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2014 Universitas Sanata Dharma Yogyakart
1
1
85
Studi tentang tingkat kebiasaan proaktif mahasiswa semester III program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2006.
0
10
106
Tingkat kejenuhan belajar mahasiswa (studi deskriptif pada mahasiswa angkatan 2013 program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
5
20
97
MANAJEMEN WAKTU MAHASISWA TERHADAP KURIK
0
1
17
Minat mahasiswa bimbingan dan konseling angkatan 2005 dalam kegiatan pendidikan di program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
119
Deskripsi motivasi belajar mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan tahun 2010 - USD Repository
0
0
92
Deskripsi tingkat prokrastinasi akademik dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan belajar : studi deskriptif pada mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, angkatan 2013, semester 2 - USD Reposito
0
0
109
Tingkat kecenderungan perilaku konsumtif mahasiswa Program Studi Bimbingan Dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2011 tahun akademik 2013/2014 - USD Repository
0
0
68
Deskripsi tingkat kemandirian belajar mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2013 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan klasikal - USD Repository
0
0
112
Tingkat kreativitas mahasiswa angkatan 2016 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
103
Show more