Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita dewasa di Dusun Krodan tentang antibiotika dengan metode seminar.

Gratis

0
0
115
2 years ago
Preview
Full text

PENINGKATAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN

  Mbak Rini, dan seluruh keluargaatas segala cinta kasih, sebagai tanda hormat dan baktiku Keluarga Fakultas Farmasi,atas kesempatan untuk menimba ilmu dan semua pengalaman hidup yang berharga Teman-teman yang selalu mendukung dan menyemangati dalam senang dan susah, dan yang selalu tanya kapan ujian? Perbandingan jumlah responden berdasarkan aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan dengan kategori baik pada post-1 , post-2, dan post-3 intervensi ...........................................

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Penyakit infeksi bakteri merupakan salah satu masalah kesehatan yang

  Keaslian penelitian Dari penelusuran pustaka yang telah dilakukan, penelitian tentang peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita dewasa di Dusun Krodantentang antibiotika dengan metode seminar belum pernah dilakukan. adalah melihat adanya peningkatan pengetahuan dan sikap dengan adanya CBIA, sedangkan penelitian ini melihat adanyapeningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan dengan diberikan seminar.

3. Manfaat penelitian a

  Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan bidang kesehatanterkait peningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat tentang antibiotika. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan pihak-pihak terkait antara lain:1) Bagi masyarakat, meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat mengenai antibiotika dan meningkatkan motivasi untuk 2)Bagi pemerintah, dapat digunakan Dinas Kesehatan sebagai dasar untuk evaluasi pelayanan kesehatan kepada masyarakat mengenaipenggunaan dan informasi tentang antibiotika.

2. Tujuan khusus a

  Mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat mengenai antibiotika sebelum seminar. Mengukur peningkatan tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan sebelum dan sesudah seminar.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan adalah hasil tahu seseorang terhadap obyek, sebagian besar

  Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman dan fasilitas yang berasal dari berbagai narasumber, misalnya media cetak, media elektronik, atau melaluikomunikasi interpersonal dengan orang lain. Cara pengukuran pengetahuan dilakukan dengan memberikan penilaian (scoring) yaitu untuk jawaban yang benar diberi nilai 1 dan nilai 0 untukjawaban yang salah (Mustafa, 2009).

B. Sikap 1. Pengertian

  Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau obyek yang melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Sikap tertentu terhadap suatuobyek menunjukkan tentang pengetahuan seseorang terhadap obyek sikap yang bersangkutan (Wawan dan Dewi, 2010).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

  Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan sikap antara lain pengalaman pribadi, orang yang dianggap penting, media massa, pengaruhkebudayaan, dan faktor emosional. Seseorang cenderung memiliki sikap searah dengan orang yang dianggap penting, hal tersebut merupakan sebuah motivasi dan keinginan untukmenghindari konflik dengan orang yang dianggap penting (Azwar, 2011).

3. Pengukuran sikap

  Konsep yang digunakan untuk pengukuran sikap, yaitu sikap merupakan penilaian dan atau pendapat seseorang terhadap suatu obyek (Likert). Padainstrumen pengukuran responden akan diminta pendapatnya terhadap pernyataan dengan memilih “sangat setuju”, “setuju”, “tidak setuju”, atau “sangat tidaksetuju”, yang kemudian skala tersebut disebut dengan skala Likert ( Notoatmodjo, 2010).

C. Tindakan 1. Pengertian

  Faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan Menurut Parsons (cit., Sarwono, 2012), terdapat tiga sistem yang dapat mempengaruhi tindakan individu dan kelompok, yaitu sistem sosial, sistembudaya, dan sistem kepribadian masing-masing individu. Mekanisme kerja antibiotika antara lain dengan menghambat sintesis protein sehingga menyebabkan bakteri mati (makrolida, tetrasiklin, kloramfenikol,aminoglikosida, dan linkomisin), bekerja pada dinding sel bakteri (sefalosporin dan penisilin), dan perusakan permeabilitas membran sel bakteri (polimiksin danimidazol) (Tjay dan Raharja, 2007).

2. Penggolongan antibiotika sebagai obat keras

  419 tanggal 22 Desember 1949 menyatakan bahwa obat keras dibagi menjadi dua golongan yaitu obat golonganG (gevaarlijk) atau obat-obat keras yang terdapat pada daftar obat-obatan berbahaya, dan obat golongan W (warschuwing) atau obat yang masuk padadaftar obat keras dengan peringatan. 1176 tahun 1999 tentang OWA, terdapat beberapa jenis antibiotika yang termasuk dalam daftar OWA sehingga dapat diperoleh tanparesep dokter, terutama antibiotika untuk antituberkolosa dan antibiotika dengan bentuk sediaan topikal.

3. Penggunaan antibiotika secara rasional

  Indikator 8 tepat dan 1 waspada tersebut antaralain tepat diagnosis, tepat pemilihan obat, tepat indikasi, tepat pasien, tepat dosis, tepat cara dan lama pemberian, tepat harga, tepat informasi, dan waspada terhadapefek samping obat (Swandari, 2013). Beberapa faktor yang mendukung resistensi adalahpenggunaan yang kurang tepat atau tidak rasional, yaitu penggunaan yang terlalu singkat, dosis terlalu rendah, diagnosa yang salah, atau dalam potensi yang tidakadekuat.

7. Pencegahan resistensi

  Strategi penanganan maupun pencegahan resistensi yang dapat dilakukan yang pertama dan utama adalah terapi yang rasional. Dalam pemilihan jenis antibiotika harus berdasar pada kondisi pasien, dosis yang tepat, rute pemberian,lama pemberian, informasi tentang spektrum kuman penyebab infeksi, hasil pemeriksaan mikrobiologi, waspada terhadap efek samping obat, dan cost effective, yaitu obat dipilih atas dasar yang paling cost effective dan aman bagi pasien (Kemenkes, 2011; Utami, 2012).

E. Upaya Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan

  Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan dapat dilakukan dengan edukasi kesehatan. Upaya ini dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan, dengan pengetahuan tersebut akanmenimbulkan sikap dan akhirnya menyebabkan seseorang akan berperilaku yang didasarkan pada kesadaran serta kemauan individu yang bersangkutan.

1. Seminar

  Tiap kelompok terdapat seorang tutor yang bertugas sebagaifasilitator diskusi dan membimbing peserta untuk menemukan atau memecahkan masalah yang ada. Metode ceramah adalah metode yang ekonomis untuk menyampaikaninformasi dan paling efektif dalam mengatasi terbatasnya pustaka yang sesuai dengan daya paham peserta.

F. Landasan Teori

G. Hipotesis

  Masyarakat perlu memiliki pengetahuan, sikap, dan tindakan yang baik tentang antibiotika agar dapatmenggunakan antibiotika secara tepat dan rasional,. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan sehingga dapat mengubah sikap dan tindakan masyarakat mengenaiantibiotika dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain seminar, CBIA, demonstrasi, simulasi, diskusi kelompok, dan ceramah.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah eksperimental semu. Eksperimental berarti

B. Variabel Penelitian 1

  adanya intervensi yang diberikan kepada responden, disebut penelitian eksperimental semu karena tidak dapat atau sulit mengendalikan variabel dari luaryang seharusnya dikontrol, sehingga efek yang diberikan tidak sepenuhnya dari intervensi dan menghadapi kesulitan teknis untuk dapat melakukan randomisasi(Notoatmodjo, 2012; Pratiknya, 2001). Rancangan penelitian yang digunakan adalah time series, karena pengambilan data yang dilakukan secara berulang-ulang dalam kurun waktu dua bulan, yaitu sebelum seminar, segera setelah seminar, satu bulan setelah seminar, dan dua bulan setelah seminar.

2. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang antibiotika

  Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah informasi yang diperoleh melalui pendidikan formal atau non formal (penyuluhan atauceramah) tentang antibiotika. Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini adalah informasi tentang antibiotika yang telah diperoleh sebelumnya melalui media cetak(surat kabar, majalah, brosur), media elektronik (radio, internet, televisi), atau melalui komunikasi interpersonal (penjelasan dari tenaga kesehatan atausesama masyarakat).

C. Definisi Operasional 1

  Tindakan adalah bentuk tindakan nyata yang dilakukan responden terkait penggunaan antibiotika yang diukur dengan kuesioner. Kategori tindakan yang baik jika skor 76-100% atau responden mendapatkan skor 31-40, kategori sedang jikaskor 56-75% atau responden mendapatkan skor 23-30, dan kategori buruk jika skor <56% atau responden mendapatkan skor <23.

D. Lokasi Penelitian

E. Subyek Penelitian dan Sampling 1. Subyek penelitian

  Penelitian ini dilakukan di Dusun Krodan, RT 02, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Subyek penelitian yang digunakan adalah ibu-ibu di Dusun Krodan, RT 02 dan memenuhi kriteria inklusi.

2. Sampling

  Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling . Peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampel, yaitu sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditentukan.

F. Instrumen Penelitian

  Bagian pertama berupa lembar kuesioner dengan bentuk close form item yang memuat tentang data demografi responden yang terdiri dari nama, alamat,pendidikan terakhir, usia, dan pekerjaan. Bagian keempat menggunakan skala Likert yang terdiri dari 10 pernyataan yang berfungsi untuk mengetahui tindakan responden terkait antibiotika danterbagi dalam 5 pernyataan favorable dan 5 pernyataan unfavorable.

2. Analisis situasi

  Tahap ini dilakukan pengumpulan informasi mengenai kemungkinan diadakannya penelitian dan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian, yaitu jumlahresponden yang memenuhi kriteria inklusi, waktu yang tepat untuk mengambil data dan mengetahui batas wilayah daerah pengambilan data. Pada RT 01 jumlah ibu-ibu anggota PKK yaitu 36 orang dan yang masuk dalam kriteria inklusi sebanyak 31 orang.

3. Pembuatan instrumen penelitian a

  Pengukuran reliabilitas dilakukandengan menggunakan koefisien alph a (α) dari Cronbach dan ujireliabilitas dilakukan pada responden yang tinggal bukan di lokasi penelitian dan masuk dalam kriteria inklusi. Untuk menemukan aitem yang harus dihilangkan adalah dengan melihat koefisien korelasi aitem yang negatif atau yang mendekati 0 (Travakol α = 0,66 untuk kuesioner aspek pengetahuan,α = 0,72 untuk kuesioner aspek sikap, dan α = 0,63 untuk kuesioner aspek tindakan, sehingga dapat dikatakan kuesioner telah reliabel.

4. Intervensi dan penyebaran kuesioner

  Secara teori seminar membutuhkanpenataan ruang tersendiri untuk pelaksanaannya seperti diperlukan kursi untuk peserta seminar, namun pada penelitian ini tempat yang dilakukan untuk seminartidak dilakukan penataan tersendiri dan diadakan pada tempat yang seadanya. Seminar dimulai dengan pembagian pretest kemudian dilanjutkan dengan presentasi yang disampaikan oleh apoteker yang berkompetendan dilanjutkan dengan tanya jawab lalu door prize.

H. Analisis Data 1. Editing

  Editing merupakan penyuntingan data meliputi pemeriksaan kelengkapan jawaban dari kuesioner hasil penelitian dan pemilihan kuesioner yang memenuhi kriteria inklusi. Jika responden masuk dalam kriteria inklusi, maka data responden dapat dimasukkan ke dalam tabel pada lembar kerja.

2. Data coding

  Pada aspek pengetahuan, responden yang menjawab pernyataan dengan benar maka diberikan skor satu (1) dan jika respondenmenjawab salah akan diberi skor nol (0). Apabila skor total responden<12 maka masuk dalam kategori pengetahuan buruk, yang berarti responden mampu menjawab dengan benar <56% dari total pernyataan.

5. Uji hipotesis

  Pengetahuan dan sikap responden sebelum dan setelah seminar dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dengan p < 0,05 dinyatakan terjadipeningkatan secara signifikan dan hipotesis diterima. Taraf kepercayaan yang digunakan pada penelitian ini adalah 95%.

I. Kelemahan Penelitian

  Dalam penelitian ini hanya digunakan satu kuesioner untuk pengukuran sebelum dan setelah intervensi. Pengukuran yang baik disarankan menggunakandua kuesioner yang berbeda untuk menghindari kemungkinan responden menghafal pernyataan dan jawaban kuesioner.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini akan dijelaskan berdasarkan tujuan penelitian pada pendahuluan. A. Karakteristik Demografi Responden Responden dalam penelitian ini adalah ibu-ibu di Dusun Krodan, Sleman

yang berjumlah 32 orang dan seluruh subyek penelitian telah memenuhi kriteria inklusi.

1. Usia

  Untuk aspek sikap pada pre intervensi terdapat 25% responden dengan kategori sikap baik, jumlah responden dengan kategori sikap sedang sebesar62,5%, dan jumlah responden dengan kategori sikap buruk sebesar 12,5%. Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Responden terkait Antibiotika Sesudah Seminar Fokus dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi adanya peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan dilihat dari adanya peningkatan jumlahresponden dengan kategori pengetahuan baik, kategori sikap baik, dan kategori tindakan baik.

1. Pengetahuan

  Pada post-1 intervensi ini apabila dibandingkan dengan pre intervensi, jumlah responden dengan kategori pengetahuan baik terdapat peningkatan yangsignifikan dari 9,4% menjadi 37,5% (p<0,05), yang berarti pada post-1 intervensi jumlah responden yang mengalami peningkatan pengetahuan menjadi baiksebanyak 28,1%. Hasil pengukuran pada post-3 intervensi menunjukkan bahwa jumlah responden pada kategori pengetahuan baik terjadi peningkatan yang signifikandari 9,4% menjadi 34,4% (p<0,05), atau jumlah responden yang mengalami peningkatan pengetahuan menjadi baik sebanyak 25%.

2. Sikap

  Pengukuran pada post-1 intervensi menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada jumlah responden kategori sikap baik dari 25%menjadi 53,1% (p<0,05), atau sebanyak 28,1% responden yang mengalami peningkatan sikap menjadi baik. Jumlah responden yang memiliki tindakan sedang sebesar 46,9% dan tidak ada responden yang memiliki tindakan yang buruk.

D. Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Responden tentang

  Peningkatan jumlah responden berdasarkan aspek sikap dengan kategori baik pada pre intervensi sampai dengan post-3 intervensi 25 53,153,1 43,8 10 20 30 40 50 60 70 Pre Post-1 (p<0,05)Post-2 (p<0,05) Post-3 (p<0,05)Ju m lah R e sp o n d e n (% ) Waktu Pengukuran Jumlah responden pada kategori tindakan baik dari post-1 intervensi sampai dengan post-3 intervensi terus menurun. Pada aspek tindakan secarakualitatif tidak terjadi peningkatan yang signifikan pada post-1 intervensi(p=0,15), post-2 intervensi (p=0,17), dan post-3 intervensi (p=0,20), namun secara kuantitatif terdapat peningkatan jumlah responden dengan kategori baikpada post-1 intervensi sebesar 9,4% dan pada post-2 intervensi sebesar 3,2% jika dibandingkan dengan pre intervensi.

20 R

lah 10m Ju Pre Post-1 Post-2 Post-3 (p=0,15) (p=0,17) (p=0,20)Waktu Pengukuran Gambar 8. Peningkatan jumlah responden berdasarkan aspek tindakan dengan kategori baik pada pre intervensi sampai dengan post-3 intervensi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Jumlah responden yang berumur 36-45 tahun sebesar 53%, tingkat

  Pada pre intervensi, jumlah responden dengan kategori pengetahuan baik sebesar 9,4%, sedang 75%, buruk 15,6%. Untuk aspek tindakan, jumlah responden dengan kategori tindakan baik sebesar 43,7%, sedang 46,9%, buruk 9,4%.

4. Metode seminar dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap secara signifikan, namun tidak meningkatkan tindakan responden terkait antibiotika

B. Saran 1

  Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan follow up (edukasi ulang) untuk mempertahankan pengetahuan, sikap, dan tindakan responden agar tetap baik. Kuesioner yang digunakan untuk pengukuran post intervensi dan pre intervensi sebaiknya berbeda dalam hal pengacakan nomor pernyataan.

DAFTAR PUSTAKA

  Indijah, Nida, dan Suprapti, 2013, Peningkatan Pengetahuan dan Sikap IbuTerhadap Penggunaan Antibiotika dengan Metode CBIA di Kelurahan Rempoa Ciputat Timur, Sanitas, 6 (3), 207. Wawan, A., dan Dewi, M., 2010, Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia , Nuha Medika, Yogyakarta, pp.

TENTANG ANTIBIOTIKA DENGAN METODE SEMINAR

  Data-data yang saya berikan tersebut merupakan data yang sebenar- benarnya tanpa rekayasa apapun. Hormat saya,Yogyakarta, / /2014 ( ) Nama terang dan tanda tangan Data RespondenTuliskan data Bp/Ibu/Sdra/Sdri pada tempat yang telah tersedia di bawah ini.

I. Pengetahuan Responden Terkait Antibiotika Berilah tanda cek (√) pada kolom yang No PERNYATAAN JAWABAN Ya Tidak

  17 Resistensi (kekebalan kuman) artinya bakteri kebal terhadap antibiotika jadi siapapun yang terserang bakteri tersebut tidakdapat diobati dengan antibiotika apapun. 13 Jika saya lupa meminum antibiotika maka saya harus segera minum sesuai dengan dosis dan aturan pakai.

II. Sikap Responden Terkait Antibiotika Berilah tanda ce k (√) pada kolom tersedia yang anda anggap paling sesuai: SS jika Sangat Setuju S jika Setuju TS jika Tidak Setuju STS jika Sangat Tidak Setuju JAWABAN No PERNYATAAN SS S TS STS

  Menurut saya, saya dapat memberikan antibiotika yang 1 saya gunakan kepada anggota keluarga yang sedangsakit. Saya lebih suka menghabiskan antibiotika yang 6 digunakan untuk menghindari resistensi.

III. Tindakan Responden Terkait Antibiotika Berilah tanda ce k (√) pada kolom tersedia yang anda anggap paling sesuai: SS jika Sangat Setuju S jika Setuju TSjika Tidak Setuju STS jika Sangat Tidak Setuju JAWABAN No PERNYATAAN SS S TS STS

  Antibiotika mengandung suatu zat yang dihasilkan oleh Dengan jalan menghambatsuatu mikroorganime (bakteri atau jamur)pertumbuhannya sehingga  Zat tersebut dapat membunuh atau menghambatjumlah bakteri tidak pertumbuhan bakteri yang lain.bertambah atau  Apakah yang dimaksud dengan INFEKSI?membunuh bakteri secara Masuknya suatu mikroorganisme (bakteri/jamur/virus) kelangsungdalam tubuh manusia sehingga menyebabkan timbulnya penyakit. agar dapat menyembuhkan penyakit? Umumnya antibiotika digunakan minimalselama 5 hari, dengan aturan pakai 2-3 kali sehari secara rutin dan tepat waktusesuai dosis yang dianjurkan dan harus dihabiskan.

BIOGRAFI PENULIS

  Penulis telah menyelesaikan jenjang pendidikan di TK Yos Sudarso Bandarjaya tahun1998-1999, SD Yos Sudarso Bandarjaya tahun 1999-2005,SMP Pangudi Luhur Kalibawang tahun 2005-2008, SMAN 1Sleman tahun 2008-2011 dan sejak tahun 2011 hingga saat ini penulis sedang menempuh jenjang S1 di Fakultas FarmasiUniversitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis juga terlibat dalam beberapa kepanitiaan yaitusebagai Pendamping Kelompok (Dampok) dalam kegiatan TITRASI (Tiga Hari TemuAkrab Farmasi) pada tahun 2012 dan 2013, sebagai sekretaris dalam panitia SeminarNasional Menyongsong Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tahun 2013, dan sebagai anggota sie expo dalam acara Pharmacy Days tahun 2012.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan wanita pra lansia di Kecamatan Umbulharjo tentang antibiotika dengan metode CBIA.
1
8
113
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan pria usia lanjut di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta tentang diabetes melitus dengan metode CBIA.
0
0
148
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan siswa smk di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman tentang diabetes melitus dengan metode CBIA.
0
1
156
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan remaja laki-laki di SMK Negeri 4 Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta tentang antibiotika dengan metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif).
1
11
148
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita usia lanjut pada kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kelurahan Terban, Yogyakarta tentang antibiotika dengan metode seminar.
0
0
113
Peningkatan pengetahuan sikap dan tindakan pria lansia tentang antibiotika dengan metode seminar di Kelurahan Baciro Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta.
0
1
147
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita dewasa di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta tentang diabetes melitus dengan metode CBIA.
0
0
134
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita usia dewasa tentang antibiotika dengan metode CBIA di Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta periode Desember 2014 – Maret 2015.
6
63
133
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan ibu-ibu lansia di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta tentang diabetes melitus dengan metode CBIA.
0
2
142
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan pria usia lanjut di Kecamatan Umbulharjo tentang antibiotika dengan metode CBIA.
0
0
128
Peningkatan pengetahuan sikap dan tindakan pria dewasa di SMKN 2 Depok Yogyakarta mengenai diabetes melitus dengan metode CBIA.
0
0
137
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan pria dewasa tentang antibiotika di Kecamatan Gondokusuma Yogyakarta dengan metode seminar.
0
2
114
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan siswi di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tentang antibiotika melalui metode seminar.
0
0
103
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan pria dewasa tentang antibiotika dengan metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif) di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta.
0
6
137
Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan remaja wanita di Kecamatan Umbulharjo tentang antibiotika dengan metode CBIA.
0
2
122
Show more