Penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Santo Yohanes Rasul Kutoarjo

Gratis

1
28
181
2 years ago
Preview
Full text

  PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN EKARISTI DI STASI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS KEMRANGGEN, PAROKI SANTO YOHANES RASUL KUTOARJO S K R I P S I Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pendidikan Agama Katolik

  Oleh: Anastasia Ranasita Windi Hartoyo

  NIM: 121124060

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orang tua (Bernadus Hartoyo dan Anastasia Budi Winarti) dan keluarga umat Stasi Fransiskus Xaverius Kemranggen

  

MOTTO

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.

  Dan aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu

  ”

  (Yohanes 15:16)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaiamana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 26 Januari 2017 Penulis

  Anastasia Ranasita Windi Hartoyo

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Anastasia Ranasita Windi Hartoyo Nomor Mahasiswa : 121124060

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan wewenang kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah penulisan yang berjudul

  

“PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN EKARISTI DI

STASI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS KEMRANGGEN, PAROKI

SANTO YOHANES RASUL KUTOARJO

  beserta perangkat yang diperlukan

  (bila ada). Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu minta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 26 Januari 2017

  

ABSTRAK

  Judul skripsi PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN

EKARISTI DI STASI SANTO FRANSISKUS

  XAVERIUS

KEMRANGGEN, PAROKI SANTO YOHANES RASUL KUTOARJO

  dipilih berdasarkan rasa keingintahuan penulis akan tanggapan umat mengenai penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi. Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Kutoarjo salah satu Gereja yang sampai saat ini masih mempertahankan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  Penulis ingin menguraikan inkulturasi yang digunakan sebagai sarana penghayatan iman umat dalam Gereja. Penulisan skripsi ini bertolak dari

  Sacrosanctum Concilium

  (SC) no. 36 yang menyatakan bahwa penggunaan bahasa setempat akan lebih bermanfaat bagi umat. Gereja menyatakan keterbukaan dirinya akan dunia luar dengan inkulturasi sebagai pemanfaatan budaya setempat untuk mempermudah menyampaikan kabar gembira dari Tuhan.

  Persoalan pokok dalam penulisan skripsi ini ialah tanggapan umat mengenai penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di zaman sekarang, terutama yang dihadapi oleh kaum muda. Kaum muda di zaman sekarang ini cenderung kurang memperhatikan budaya sendiri, mereka lebih mudah mengikuti perkembangan zaman. Diperlukan kesadaran kaum muda untuk tetap berpegang pada kebudayaan supaya tidak hilang tergerus oleh perkembangan zaman. Untuk mengkaji permasalahan tersebut maka diperlukan data yang akurat untuk dapat memperoleh gagasan-gagasan sebagai upaya untuk dapat membantu meningkatkan penghayatan kaum muda dalam Perayaan Ekaristi.

  Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh kaum muda di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen untuk dapat menyadarkan kaum muda agar dapat mempelajari Bahasa Jawa sehingga mereka mampu untuk menghayati Perayaan Ekaristi ialah dengan katekese dengan model Shared Christian Praxis. Katekese yang digunakan ialah untuk membantu kaum muda dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dalan mengikuti Perayaan Ekaristi Bahasa Jawa berdasarkan pengalaman yang mereka alami. Katekese ini berdasarkan pengalaman hidup dan melibatkan umat secara aktif selama proses berkatekese.

  

ABSTRACT

The title of this undergraduate thesis is USING JAVANESE LANGUAGE IN

EUCHARIST CELEBRATION

IN ST. FRANCIS

  

KEMRANG GEN, ST. JOHN PARISH, KUTOARJO was selected to satisfy the

writer’s curiosity of people’s response about the use of Javanese in the celebration of the

Eucharist. St. Francis Xavier District Kemranggen is one of the Church until today which

still maintains the Javanese in the celebration of the Eucharist.

  The writer would like to explain the inculturation used as a means of appreciation

of the faith of the Church. This was based on Sacrosanctum Concilium (SC) no. 36 which

states that the use of local languages will be more beneficial to the people. The Church

expresses her openness to the outside world as the inculturation of the local cultural use to

facilitate to convey the good news of God.

  A key issue in this undergraduate thesis is the notion of people's use of Javanese

in the celebration of the Eucharist today, particularly that of young people. Young people

these days tend to pay less attention to their own culture, and they are easier to keep

abreast of the times. Needed awareness of young people need to be aware of sticking on

their own culture so that it does not disappear the times. To solve the problems it is

necessary to gain accurate data in order to obtain ideas in an effort to help increassing the

appreciation of young people of the Eucharist.

  One way that can be done by young people in the St. Francis Xavier District

Kemranggen is to learn Javanese so that they are able to live in the celebration of the

Eucharist by means of catechesis with Christian Shared Praxis model. Catechesis used is

to help young people facing difficulties following the celebration of the Eucharist in

Javanese based on their experiences. This catechesis is based on experiences and involves

the people activity in the process of catechesis.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Allah Bapa karena kasih dan penyertaanNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PENGGUNAAN BAHASA JAWA

  

DALAM PERAYAAN EKARISTI DI STASI SANTO FRANSISKUS

  

XAVERIUS KEMRANGGEN, PAROKI SANTO YOHANES RASUL

KUTOARJO. Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk mengetahui pandangan

  umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen. Bahasa Jawa yang merupakan bahasa sehari- hari menjadi sarana untuk mempermudah umat dalam berkomunikasi lebih mendalam kepada Allah ditengah arus kebudayaan lain pada zaman sekarang ini.

  Tersusunnya skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1.

  Dr. B.A. Rukiyanto, SJ selaku dosen pembimbing utama yang telah

  membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan memberikan masukan- masukan, sehingga penulis dapat termotivasi dalam penulisan skripsi ini.

  2. YH. Bintang Nusantara SFK, M.Hum selaku dosen penguji kedua yang telah memberikan waktu dan senantiasa membimbing dengan penuh kesabaran serta memberi masukan demi penyelesaian penulisan skripsi ini.

  3. selaku dosen penguji ketiga yang telah

  Drs. L. Bambang Hendarto Y. M.Hum

  5. Segenap Staf Sekretariat dan Perpustakaan Prodi Pendidikan Agama Katolik, serta seluruh karyawan bagian lain yang telah memberi dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

  6. Rm. Y Lasono Wibowo MSC dan Rm. Al Y Sukirdi MSC selaku romo Paroki St. Yohanes Rasul Kutoarjo yang telah memberikan izin dan dukungan untuk mengadakan wawancara kepada umat di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen.

  7. Kedua orangtua (Bernadus Hartoyo dan Anastasia Budi Winarti) dan keluarga yang telah memberikan dukungan dan perhatian kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

  8. Agustinus Dwi Riyanto sahabat terkasih yang telah memberikan perhatian dan dukungan dalam penulisan skripsi ini.

  9. Kepada seluruh umat Stasi St. Fransiskus Xaverius yang telah meluangkan waktu dan bersedia menjadi responden penelitian sehingga penulis dapat memperoleh data untuk dijadikan sumber penelitian.

  10. Teman-teman angkatan 2012 yang selalu memberikan dukungan dan masukan dalam penulisan skripsi ini.

  11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang selama ini dengan tulus memberikan bantuan hingga selesainya penulisan skripsi ini. semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

  Yogyakarta, 26 Januari 2017 Penulis

  Anastasia Ranasita Windi Hartoyo

  

DAFTAR ISI

  

Sistematika Penulisan.........................................................................

  7

  7

  2. Pembaharuan Liturgi.....................................................................

  1. Konsili Vatikan II membuka Pandangan Baru.............................

  

Liturgi dalam Konsili Vatikan II.........................................................

  7 A.

  5 BAB II. PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN EKARISTI.......................................................................................

  5

  5

  4

  4

  4

  F.

  HALAMAN JUDUL...................................................................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................. ii PENGESAHAN.............................................................................................. iii PERSEMBAHAN........................................................................................... iv MOTTO.......................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA......................................................... vi LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI..................................................... vii ABSTRAK...................................................................................................... viii

  

Metode Penulisan................................................................................

  E.

  

Manfaat Penulisan...............................................................................

  D.

  

Tujuan Penulisan.................................................................................

  C.

  

Rumusan Masalah...............................................................................

  B.

  

Latar Belakang Masalah.....................................................................

  1 A.

  ...................................................................................................... ix KATA PENGANTAR.................................................................................... xi DAFTAR ISI................................................................................................... xiii DAFTAR SINGKATAN................................................................................ xviii BAB I. PENDAHULUAN..............................................................................

  ABSTRACT

  8

  1.

  17 Bahasa Liturgi...............................................................................

  2.

  18 Bahasa Jawa sebagai Bahasa Liturgi............................................

  a.

  18 Bahasa Jawa............................................................................

  b.

  20 Asal Mula Penggunaan Bahasa Jawa dalam Liturgi...............

  D.

  

Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi untuk membantu

Penghayatan Iman Umat.....................................................................

  21 1.

  21 Perayaan Ekaristi Menurut Konsili Vatikan II..............................

  a.

  22 Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Kehidupan Gereja........

  b.

  23 Ekaristi sebagai Perayaan Gereja............................................

  c.

  Ekaristi sebagai Pusat Liturgi.................................................

  24 d.

  24 Ekaristi sebagai Kurban..........................................................

  e.

  25 Ekaristi sebagai Perjamuan.....................................................

  f.

  26 Ekaristi sebagai Sakramen......................................................

  2. Memaknai dan Menghayati Perayaan Ekaristi melalui Bahasa Jawa...............................................................................................

  26 a.

  Ritus Pembuka........................................................................

  27 b.

  27 Liturgi Sabda...........................................................................

  c.

  29 Liturgi Ekaristi........................................................................

  d.

  32 Ritus Penutup..........................................................................

  3.

  35 Partisipasi Umat dalam Ekaristi Bahasa Jawa..............................

  E.

  

Tantangan Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi pada

Masa Sekarang....................................................................................

  37 1.

  Menghayati Ekaristi dalam Hidup Sehari-hari.............................

  37 2.

  Tantangan Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi....

  40 BAB III. PENELITIAN TENTANG PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN EKARISTI DI STASI ST. FRANSISKUS XAVERIUS KEMRANGGEN.............................

  42

  4. Pelaksanaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen..................................................................................

  45 5.

  Tantangan yang dihadapi oleh Umat di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen..................................................................

  47 B.

  

Penelitian Mengenai Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan

  Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Kutoarjo..............................................................................................

  48 1.

  48 Latar Belakang Fokus Penelitian..................................................

  48 a.

  Keadaan Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen.............

  49 b.

  Penelitian yang Relevan..........................................................

  51 2.

  Rumusan Masalah.......................................................................

  51 3.

  Tujuan Penelitian..........................................................................

  51 4.

  Metode Penelitian.........................................................................

  52 5.

  Responden Penelitian....................................................................

  53 6.

  Teknik Pengumpulan Data............................................................

  53 7.

  Tempat dan Waktu Penelitian.......................................................

  54 8.

  Variabel Penelitian........................................................................

  54 9.

  Kisi-kisi Penelitian........................................................................

  C.

  

Pembahasan Hasil Penelitian tenang Pengunaan Bahasa Jawa dalam

  57 Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen …...

  57 1.

  Hasil Penelitian ............................................................................

  57 a.

  Hasil Penelitian Wawancara...................................................

  66 b. (Focused Group Discussion) FGD...............

  Hasil Penelitian

  74 2.

  Pembahasan Penelitian..................................................................

  a.

  Pandangan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  74 tentang Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi...

  b.

  Penggunaan Bahasa Jawa dan Penghayatan Perayaan

  80 Ekaristi Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen...............

  STASI SANTO FRANSISKUS

  95

  D.

  

Contoh Satuan Program Katekese Model SCP...................................

  92

  92

  93

  94

  95

  3. Petunjuk Pelaksanaan Program.....................................................

  97

  99 100 102 105 105 107 109 111 114

  BAB V. PENUTUP........................................................................................ 129 A.

Kesimpulan.........................................................................................

B.

Saran...................................................................................................

  129 133

  Lampiran

  Lampiran 1. Surat ijin penelitian …………………………………………… (1) Lampiran 2. Hasil wawancara ……………………………………………….

  (2) Lampiran 3. Teks Lagu SCP (

  4. Penjabaran Program......................................................................

  2. Tema dan Tujuan Program............................................................

  XAVERIUS KEMRANGGEN............................................................................

  1. Pengertian Katekese......................................................................

  91 A.

  Berbagai Upaya untuk Meningkatkan Penghayatan akan Perayaan..............................................................................................

  1. Pentingnya Penjadwalan Misa......................................................

  2. Perayaan Ekaristi untuk Kaum Muda...........................................

  3. Katekese bagi Kaum Muda dengan Model SCP...........................

  B.

  Katekese bagi Kaum Muda sebagi salah satu Upaya Meningkatkan Penghayatan akan Perayaan Ekaristi..................................................

  2. Tujuan Katekese............................................................................

  1. Latar Belakang Pemilihan Program..............................................

  3. Model Katekese............................................................................

  a.

  Tiga komponen utama dalam SCP..........................................

  b.

  Langkah-langkah Model SCP.................................................

  C.

  

Usulan Program Katekese dengan Model SCP...................................

  SHARED CHRISTIAN PRAXIS) ……………. (29)

DAFTAR SINGKATAN

  A. Singkatan Teks Kitab Suci

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci dengan pengantar catatan singkat. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru: dan (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV).

  Ende:Arnoldus. 1984/1985, hal. 8.

  B. Singkatan Dokumen Gereja Catechesi Tradendae

  CT : , Anjuran Apostoik Paus Paulus II kepada para uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang Katekese Masa Kini, 16 Oktober 1979.

  Gaudium et Spes,

  GS : Konstitusi Pastoral dalam Konsili Vatikan II tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965

  LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis dalam Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964

  Presbyterium Ordinis,

  PO : Dekrit dalam Konsili Vatikan II tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam, 7 Desember 1965

  Sacrosanctum Concilium,

  SC : Konstitusi dalam Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, 4 Desember 1963 C.

   Singkatan Lain

  Mgr : Monsinyur MSC :

  

Missionari Sacratissimi Cordies Jesu

  (Misionaris Hati Kudus Yesus)

  OMK : Orang Muda Katolik PIOM : Pembinaan Iman Orang Muda PKKI : Pertemuan Kateketik Keuskupan se Indonesia PUMR : Pedoman Umum Misale Romawi PWI : Panitia Waligereja Indonesia St. : Santa/Santo SJ : Societas Jesu (Serikat Yesus) Pr :

  Presbiter

  (Imam Diosesan)

BAB I PENDAHULUAN Pada Bab I ini, penulis akan menjelaskan latar belakang penulisan,

  rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penulisan dan sistematika penulisan.

A. Latar Belakang

  Konsili Vatikan II yang diselenggarakan pada tahun 1962 dan berakhir tahun 1965, Paus Yohanes XXIII sebagai pemarkasa diadakannya suatu konsili, namun beliau wafat sebelum konsili tersebut selesai, kemudian di lanjutkan oleh Paus Paulus VI. Paus Yohanes XXIII mempunyai gagasan- gagasan baru mengenai konsili yang akan diadakan, jika pada Konsili Vatikan I diselenggarakan guna memecahkan masalah sengketa doktrin dan yurisdiksi di dalam Gereja, Konsili kedua ini bersifat pastoral (Beding, 1997:21). Konsili ini membawa Gereja ke dalam dunia modern dan masalah yang dihadapi. Paus Yohanes XXIII juga meyakini bahwa Konsili Vatikan II ini menjadi peluang bagi Gereja untuk memahami dan menghadapi dunia yang baru ini dengan terang Injil Yesus Kristus, menyadari tugas perutusan ditengah dunia serta kebebasan dalam beragama. Pada akhirnya konsili yang dipimpin oleh Paus Paulus VI sebagai pengganti Paus Yohanes XXIII menyadari apa yang menjadi harapan dari Paus Yohanes XXIII yaitu suatu arggiornamento yaitu suatu pembaharuan Gereja dari segi internal (Beding, 1997:21-22).

  Sacrosanctum Concilium (SC) Salah satu konstitusi yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II yang berbicara mengenai pembaharuan liturgi dengan tujuan supaya umat senantiasa dapat memahami dan memperoleh berkah dari apa yang umat rayakan secara bersama-sama, pemaharuan yang dimaksud ialah unsur-unsur yang disesuaikan dengan keadaan umat. Seperti apa yang menjadi keyakinan Paus Yohanes XXIII bahwa kebudayaan semakin disekurarisasikan, tidak luput apabila bermula dari Gereja Lokal, yaitu gereja yang tumbuh dan berakar di tengah-tengah rakyat (Madya Utama,Ig.

  2010:26). Di Indonesia perlahan menjadi Gereja Lokal yang mandiri dengan lahirnya biarawan biarawati pribumi, salah satunya yaitu Soegijapranata SJ, beliau merupakan uskup pribumi yang pertama (Beding, 1997:24). Berbicara Gereja Lokal maka tidak lepas dari inkulturasi di mana Gereja Lokal yaitu Gereja yang sungguh-sungguh bertumbuh dari kebudayaan setempat, menghargai nilai-nilai dan tradisi setempat serta bahasa yang diinkulturasikan ke dalam tata cara Katolik. dimengerti oleh umat setempat serta sanara pengungkapan iman umat kepada Allah. Demi terjalinnya suatu komunikasi dua arah antara manusia dengan Tuhan maka harus memperhatikan bahasa, walaupun Tuhan maha mengetahui apapun bahasa yang digunakan oleh manusia. Inkulturasi bahasa inilah yang terjadi di Stasi Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Kutoarjo, Keuskupan Purwokerto yang mengunakan Bahasa jawa dalam setiap Perayaan Ekaristi maupun ibadat-ibadat lainnya. Melihat kenyataan yang terjadi bahwa kebudayaan setempat khususnya bahasa yang semakin luntur dengan kebudayaan baru, maka menimbulkan masalah tersendiri di dalam Perayaan Ekaristi. Orang tua dirasa masih mahir dalam berbahasa Jawa dan dengan mudah mengerti dan dapat membantu menghayati dalam Perayaan Ekaristi tanpa terkendala bahasa, karena bahasa jawalah yang sejak dulu menjadi bahasa mereka. Namun untuk anak-anak jaman sekarang ataupun umat pendatang, mereka cenderung tidak mengerti arti bahasa jawa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi sehingga tidak sungguh-sungguh memahaminya.

  Konsili Vatikan tentang Liturgi yang merangkul budaya setempat telah diterapkan oleh Gereja Indonesia. Berbagai inkulturasi dengan budaya setempat telah masuk kedalam Gereja, seperti halnya penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi khususnya di daerah Jawa sebagai sarana untuk menghayati imannya di tengah arus budaya modern yang semakin menggerus kebudayaan setempat.

  Untuk dapat mengetahui tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi di Paroki Kutoarjo khususnya di Stasi Kemranggen. Penulis mengemukakan gagasan-gagasan sesuai dengan kenyataan yang dialami oleh umat setempat, sehingga penulis mengambil judul: PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN

  EKARISTI DI STASI SANTO FRANSISKUS KEMRANGGEN, PAROKI KUTOARJO B. Rumusan Masalah 1.

  Bagaimana pandangan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  mengenai Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi? 2.

  Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu penghayatan umat

  dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? 3.

  Apakah yang menjadi harapan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius

  Kemranggen terhadap penggunaan Bahasa Jawa? C.

   Tujuan Penelitian

3. Mengetahui harapan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi.

D. Manfaat Penelitian 1.

  Dapat mengetahui pandangan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen mengenai Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  2. Dapat mengetahui penghayatan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen dalam mengikuti Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa, sehingga Perayaan Ekaristi sungguh dirayakan oleh seluruh umat yang hadir.

  3. Mengetahui yang menjadi harapan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi.

E. Metode Penelitian

  Metode yang digunakan dalam penulisan ialah dengan metode pendekatan deskriptif analisis yaitu memaparkan, menguraikan dan menganalisis data yang ada, untuk melengkapi data digunakan metode penelitian kualitatif. Data diperoleh melalui pengalaman dan wawancara untuk dapat membantu memperoleh data dari lapangan. BAB I: Pendahuluan yang berisi latar belakang penulisan, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

  BAB II: Bagian ini memaparkan unsur-unsur peranan penggunaan bahasa dalam Perayaan Ekaristi meliputi dua hal pokok yaitu: liturgi dalam Konsili Vatikan II, inkuturasi dalam Gereja Katolik, Penggunaan Bahasa Jawa dalam Liturgi Gereja Katolik, Penggunaan Bahasa Jawa dalam liturgi Gereja Katolik dan Penghayatan Ekaristi, Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi untuk Membantu Penghayatan Iman umat dan tantangan penggunaan Bahasa Jawa dalam masa sekarang.

  BAB III: Bab ini berisi Penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen yang meliputi: gambaran umum umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, penggunaan bahasa Jawa dalam Ekaristi dan penelitian serta pembahasannya.

  BAB IV: Bab ini memaparkan mengenai usulan program untuk meningkatkan penghayatan umat dalam mengikuti Ekaristi. BAB V: Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

BAB II PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN EKARISTI Pada Bab II menguraikan penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi yang

  meliputi dua hal pokok yaitu: penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi dan penghayatan Sakramen Ekaristi. Berawal dengan penelitian yang sudah ada sebelumnya. Selanjutnya pembahasan tentang penggunaan Bahasa Jawa meliputi: liturgi dalam Konsili Vatikan II, inkulturasi dalam Gereja Katolik. Pembahasan tentang penghayatan Sakramen Ekaristi meliputi: Penggunaan Bahasa Jawa dalam Liturgi Gereja Katolik, Penggunaan Bahasa Jawa dalam liturgi Gereja Katolik dan Penghayatan Ekaristi, Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi untuk Membantu Penghayatan Iman umat dan tantangan penggunaan Bahasa Jawa dalam masa sekarang. Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi dan penghayatannya.

A. Liturgi dalam Konsili Vatikan II 1. Konsili Vatikan II membuka Pandangan Baru

  Konsili Vatikan II yang diprakarsai oleh Paus Yohanes XXIII telah membuat gebrakan baru dalam sejarah Gereja. Beliau menyerahkan seluruh kembali Gereja-Gereja Protestan. Gereja ingin melahirkan kesetiakawanan kepada kaum miskin dan menjadi Gereja kaum miskin.

  Gereja hadir bukan untuk dirinya sendiri malainkan terbuka untuk setiap orang. Konsili yang diselenggarakan tidak hanya memecahkan doktrin- doktrin dalam Gereja. Paus Yohanes XXIII berpandangnya membawa Gereja kepada dunia luar dan masalah-masalahnya. Para peserta konsili membuka konsili dengan membahas mengenai pembaharuan liturgi. Upaya pembaharuan liturgi pada saat itu sudah mulai ditangani, sehingga mengawali konsili dengan pembaharuan liturgi menjadi keuntungan yaitu karena merupakan pembaharuan gerejawi yang serentak dirasakan oleh seluruh umat Katolik sedunia.

2. Pembaharuan Liturgi

  Sacrosanctum Concilium sebagai salah satu dokumen yang dihasilkan

  dalam Konsili Vatikan II pada bagian tiga secara lebih rinci membahas pembaharuan liturgi dengan tujuan supaya umat dapat memahami dan memperoleh berkah melimpah dari apa yang mereka rayakan. Dalam liturgi terdapat unsur-unsur yang tidak dapat diubah karena berasal dari Allah dan ada pula unsur-unsur yang lebih baik disesuaikan dengan keadaan umat. pembaharuan liturgi ialah Tahta Apostolik dengan menurut kaidah-kaidah (SC 22).

  Pembaharuan dalam Sacrosanctum Concilium antara lain dengan membacakan Kitab Suci dengan jelas, dan mazmur dinyanyikan. Melalui pembacaan Kitab Suci maka umat dapat menghaturkan permohonan, doa dan mahda-mahda liturgi (SC 24). Peninjauan buku-buku liturgi (SC 25). Liturgi sebagai suatu perayaan bersama sebagai sakramen kesatuan, hendaknya umat ikut serta secara aktif (SC 26). Petugas misa harus sungguh-sungguh menghayati sepenuh hati apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab demi kelancaran Perayaan Liturgi (SC 29). Keaktifan umat dengan aklamasi, jawaban-jawaban, pendarasan mazmur. Saat hening dan khidmat (SC 30). Penggunaan bahasa pribumi yang dirasa lebih bermanfaat bagi umat dalam menghayati apa yang mereka rayakan bersama-sama (SC 36)

  Kata liturgi berasal dari kata Yunani leitorgia yang berarti pelayanan kepada masyarakat. Artinya bahwa Allah mengikutsertakan manusai dalam misteri Paskah melalui pewartaan dan tanda sakramental. Dengan demikian, seseorang yang telah diselamatkan mampu mengucapkan syukur kepada Allah. Dokumen SC menegaskan kembali bahwa liturgi bukan hanya sebagai kegiatan manusia melaikan suatu karya All ah “melalui liturgilah, terutama perayaan bersama dimana karya penyelamatan Allah dikenangkan, dengan ibadat maka karya Allah terlaksana (Rukiyanto, 2012: 145-150).

  Paus Fransiskus dalam homilinya, mengenang 50 tahun setelah Konsili Vatikan II menegaskan maksud dari pembaharuan liturgi, melalui liturgi diharapkan setiap umat beriman sungguh mendengarkan suara Tuhan yang senantiasa menuntun kearah kebenaran dan kesempurnaan dalam beriman Kristen. Pembaharuan liturgi bermaksud untuk mengaitkan liturgi dengan kehidupan sehari-hari, liturgi dengan Sabda Tuhan. Sehingga apa yang telah didengarkan, dihayati dan diperoleh dalam liturgi senantiasa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Liturgi menjadi lebih sederhana dan melibatkan umat untuk turut serta merayakan liturgi.

  Dalam

  Sacrosanctum Concilium,

  Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, artikel 50 dijelaskan mengenai pembaharuan liturgi dengan lebih sederhana dan mudah ditangkap oleh umat.

  Tata perayaan Ekaristi hendaknya ditinjau kembali sedemikian rupa sehingga lebih jelaslah makna setiap bagiannya serta hubungannya satu dengan yang lain. Dengan demikian, umat beriman akan lebih mudah ikut serta dengan khidmat dan aktif.maka dari itu hendaknya upacara-upaara disederhanakan, dengan tetap mempertahankan hal-hal yang pokok. Hendaknya dihilangkan saja semua pengulangan dan tambahan yang kurang berguna, yang muncul dalam perjalanan sejarah. Sementara beberapa hal, yang telah memudar karena dikikis waktu hendaknya dihidupkan lagi selaras dengan kaidah-kaidah umat, sehingga umat diharapkan akan lebih berperan aktif dalam setiap ritus perayaan. Demi terwujudnya peran serta oleh seluruh umat yang mengikuti perayaan Ekaristi maka dibutuhkan kesederhanaan sehingga mudah dimengerti dan diserap oleh umat. Pembaharuan liturgi ini bertolak dari tuntutan kebutuhan umat dalam merayakan Perayaan Ekaristi sehingga umat dapat mengikuti secara sadar, utuh dan penuh untuk dapat menghidupi seluruh hidup dengan menjadi umat yang ekaristis.

  Demi terwujudnya SC 50 maka hal-hal praktis dalam pembaharuan dengan kesederhanaan supaya mudah dimengerti, diawali dengan keberadaan tempat untuk Liturgi Sabda ialah mimbar, sedangkan altar digunakan untuk Liturgi Ekaristi. Kursi pemimpin tempat imam untuk memimpin ritus pembuka ataupun penutup. Sabda Allah dibacakan dengan menghadap arah umat, serta dalam penerimaan komuni disertai kata-

  kata “Tubuh Kristus” dan

umat menjawab dengan “Amin”. Untuk lebih mengidupi peran serta umat,

  disediakanlah bahan-bahan perarakan (Cunha, 2012:111-115).

  Dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) no. 387 dikatakan bahwa sejumlah penyesuaian liturgi menjadi wewenang Uskup diosesan atau Konferensi Uskup. Uskup yang berwewenang haruslah menjadi penggerak, pengatur dan pengawas kehidupan liturgi di wilayah keuskupannya. Dengan

3. Maksud Pembaharuan Liturgi

  Pembaharuan liturgi dalam Konsili Vatikan II mengubah wajah baru dalam hal liturgi. Pada mulanya seorang imam yang merayakan Misa, sedangkan umat-awam hanya duduk diam sambil berdoa secara pribadi. Seluruh Perayaan Ekaristi dibisikkan oleh pastor dalam Bahasa Latin. Posisi duduk Pastor yang membelakangi umat, rumusan selalu sama dan sudah baku, sehingga imam senantiasa sudah hafal namun ada pula yang masih menggunakan buku misa. Misa berlangsung sangat singkat tidak lebih dari 20 menit karena imam membacakan rumusan dengan terburu-buru (Madya Utama, 2015:11).

  Adapun yang menjadi maksud pembaharuan liturgi bukan hanya pembaruan demi pembaharuan melainkan seperti yang dicita-citakan dalam SC 1 antara lain memperkembangkan hidup Kristen bagi umat beriman, menyesuaikan tata hidup dalam dunia sekarang, mengusahakan demi tercapainya kesatuan umat yang percaya kepada Kristus serta memperteguh iman akan Yesus Kristus. Seluruh pembaharuan liturgi pada akhirnya mengarah kepada penghayatan iman umat. Namun perlu disadari pula pembaharuan liturgi bukan hanya mengenai bentuk-bentuk dan naskah liturgi yang diubah melinkan demi keikutsertaan umat secara aktif dalam perayaan Fransiskus menegaskan kembali pembaharuan liturgi yang tercantum dalam SC 14, pembaharuan liturgi bukan hanya memahami doktrin Gereja ataupun suatu ritus yang harus dipenuhi, melainkan lebih dipahami sebagai sumber kehidupan dalam perjalanan iman seluruh manusia. Liturgi merupakan suatu perayaan kehidupan, merefleksikan kembali apa yang diimani dalam kehidupan sehari-hari kehadapan Allah. Gereja mengundang umatnya supaya apa yang mereka rayakan dan alami dalam kehidupan sehari-hari dapat seimbang (Madya Utama, 2015:25-26).

  Dalam hal ini liturgi menunjukan bagaimana mewujudkan dalam hidup sehari-hari apa yang telah diterima dalam iman dan apa yang telah dirayakan. Merayakan sakramen-sakramen terutama dalam Sakramen Ekaristi yang diubah sedemikian dari sebelum Konsili Vatikan II. Umat tidak lagi hanya menghadiri Perayaan Ekaristi yang diyarakan oleh imam melainkan turut terta merayakannya Misa secara bersama-sama. Perubahan Bahasa Latin ke bahasa setempat menyatakan cara Gereja memaknai persekutuan jemaat.

  Menyambut hasil dari Konsili Vatikan II , setiap keuskupan di Indonesia dengan penuh semangat melaksanakan sosialisasi khususnya dokumen Sacrosanctum Concilium . Mgr. Van Bekkum, Uskup Ruteng pada saat itu memberikan warna dan sebagai penasihat dalam pelaksaaan bahasa lokal dalam liturgi. Di Jawa sudah diterbitkan buku-buku Misa dalam menggunakan Bahasa Jawa. Hal ini menjadi bukti bahwa Gereja Indonesia tergolong cepat dalam mempraktekan dan mensosialisakan pembaharuan liturgi (Martasudjita. 2014:61).

B. Inkulturasi Dalam Gereja Katolik 1. Inkulturasi Gereja

  “Inkulturasi gereja adalah suatu usaha untuk mengikutsertakan

  manusia dalam karya penciptaan baru dan penyelamatan yang dikerjakan oleh Allah

  ”. Allah senantiasa hadir, berkarya, dihayati dan diungkapkan oleh umat

  melalui perbuatan dan perkataan. Dengan demikian sesuatu kebiasan baik dalam peristiwa kehidupan sehari-hari ditafsirkan dengan iman yang ditunjang dengan adat-istiradat yang ada dalam suatu masyarakat. Hal ini dilakukan demi pengungkapan iman melalui kekayaan adat setempat, sehingga umat dapat dengan bebas mengungkapkan iman dan ikut serta dalam karya penyelamaan Allah (Sekretariat PWI Liturgi, 1980: 281)

  Dalam seminar inkulturasi yang diadakan di Yogyakarta yang digerakkan dan diatur oleh Fakultas Misiologi di Gregoriana Roma, dirumuskan pengertian inkulturasi sebagai berikut: baru persekutuan dan komunikasi dalam kebudayaan dan di luar kebudayaan itu sendiri (Muda, 1992:34).

  Pengertian tersebut dikatakan bahwa inkulturasi merupakan relasi dinamis antara keselamatan Kristen dengan berbagai kebudayaan. Di dalamnya terdapat proses dua arah yaitu percampuran antar warta kristen dan kekhasan kristiani dengan kebudayaan. Penerimaan dalam kebudayaan terhadap warta khas kristen, sebagai sikap keterbukaan diantaranya.

  “Inkulturasi tidak hanya terbatas pada cara pengungkapan iman,

melainkan harus lebih mendalam yakni pada satu perayaan/selebrasi iman”

  (Muda, 1992:87). Seperti yang dihasilkan Konsili Vatikan II dalam SC yaitu usaha inkulturasi liturgi dengan kebudayaan setempat. Hal ini menjadi penekanan kembali penyesuaian inkulturasi dengan berbagai bangsa dan kebudayaan di seluruh dunia. Gereja sangat mendukung penyesuaian liturgi, karena dengan demikian Gereja ikut serta dalam mengambil bagian dalam kebudayaan asal supaya tidak terjadinya kekeliruan dalam liturgi.

  Dengan demikian, mulailah dilaksanakannya pembaharuan liturgi dengan merevisi kitab-kitab liturgi yang memberikan tempat perbedaan sesuai dengan berbagai kebudayaan bangsa dan daerah. Hal ini menunjukan pula keterbukaan dalam Gereja dengan menerima dan masuk ke dalam

  Melalui pengesahan dokumen Sacrosanctum Concilium , Gereja secara resmi menyatakan diri bahwa Gereja tidak terikat hanya pada satu kebudayaan saja, misalnya kebudayaan Romawi/Latin saja yang dipakai dalam seluruh Tata Perayaan Liturgi sebelumnya. Begitu banyak perubahan yang terjadi dalam Liturgi, maka hal ini semakin memanfaatkan harta kekayaan budaya setempat sebagai cara pengungkapan iman (Muda, 1992:87- 93).

2. Inkulturasi Liturgi

  Kemungkinan penyesuaian adaptasi Tata Perayaan Ekaristi dilakukan oleh dua cara yaitu: akomodasi, penyesuaian ini berkaitan dengan unsur- unsur perayaan tanpa mengubah struktur perayaan. Dalam hal ini yang dapat disesuaikan ialah penggunaan bahasa, pilihan bacaan, doa-doa presidensial, juga sikap tubuh yang disesuaikan dengan situasi dalam Perayaan Ekaristi. Kedua ialah: adaptasi, penyesuaian ini berkaitan dengan unsur-unsur budaya. Istilah adaptasi dikenal dengan kata inkulturasi sebagai penyesuaian budaya secara umum. Wewenang adaptasi ialah Konferensi Waligereja karena menyangkut hal-hal yang bersifat permanen. Misalnya gerak-gerik dan sikap badan, nyanyian pembuka dan rumusan teks. Rumusan teks dapat dimengerti secara teologis dan unsur kultural dalam masa sekarang ini (Cunha, 2012:119-122).

  Kemungkinan inkulturasi liturgi yang diperbolehkan oleh Gereja Indonesia antara lain musik misalnya dengan mengunakan gamelan dalam budaya jawa, penggunaan bahasa jawa, musik rebana. Gedung Gereja diinkuturasikan dengan ciri budaya setempat misalnya dengan mengusung arsitek lokal, misalnya terdapat tokoh dalam wayang serta ornamen dalam budaya Jawa. Lambang dalam Tabernakel dengan lambang gunungan wayang, serta ritus dalam Perayaan Ekaristi, misalnya dengan menggunakan bahasa setempat, misa syukur. Ruang penyesuaian yang terjadi dalam Gereja antara lain bahasa, musik dan kesenian lainnya, hal ini seperti yang terdapat dalam SC 36, sebagai berikut:

  Akan tetapi, dalam Misa. Dalam pelayanan sakramen-sakramen, dan dalam bagian-bagian liturgi lainnya, tidak jarang mengunakan bahasa pribumi dapat sangat bermanfaat bagi umat. Maka seyogyanyalah hal ini diberi kelonggaran yang lebih luas, terutama dalam bacaan-bacaan dan ajakan-ajakan, dalam berbagai doa dan nyanyian Di daerah-daerah tertentu terdapat berbagai macam kesenian yang dimiliki yang berfungsi penting dalam kelangsungan beragama dan bermasyarakat. Begitu juga dengan bahasa yang sangat berperan sebagai alat berkomunikasi dengan sesama, hendaknya juga sarana sebagai komunikasi

C. Penggunaan Bahasa Jawa dalam Liturgi Gereja Katolik 1. Bahasa Liturgi Dalam Sacrosantum Concilium, Konstitusi tentang Liturgi Suci art.

  36, dikatakan bahwa Bahasa Latin hendaknya dipertahankan dalam ritus-ritus lain. Namun dalam Misa, dalam pelayanan Sakramen-sakramen, maupun bagian liturgi lainnya, bahasa pribumi lebih bermanfaat dan lebih dikenal oleh umat. Oleh sebab itu maka diberi kelonggaran yang lebih luas. Pengunaan bahasa inilah hendaknya mendapatkan persetujuan ataupun pengesahan dari Tahta Apostolik. Penyesuaian bahasa dengan Gereja setempat dimaksudkan supaya pesan Injil sungguh nyata diterima oleh umat.

  Bahasa setempat membuat liturgi lebih mudah diikuti dan dimengerti, mulai dari doa-doa, bacaan dan nyanyian dalam liturgi bisa langsung diserap dan dihayati oleh umat setempat. Dengan bahasa setempat juga memungkinkan umat untuk menyusun doa spontan dengan lebih mendalam dan ekpresif sesuai dengan apa yang diinginkan. Bahasa setempatpun membuat umat lebih berperan aktif, misalnya untuk menjadi lektor. Karena mengunakan bahasa setempat, bahasa yang digunakan sehari-hari maka lebih mudah dari pada menggunakan bahasa yang asing. Begitu juga dengan nyanyian yang telah tersedia dengan bahasa setempat dengan teks yang telah

2. Bahasa Jawa sebagai Bahasa Liturgi a. Bahasa Jawa

  Magnis Suseno dalam buku Etnologi Jawa mendefinisikan mengenai suku bangsa Jawa yaitu sebagai berikut: Suku Jawa adalah penduduk asli pulau Jawa bagian tengah dan timur, kecuali pulau Madura. Selain itu, mereka yang menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya untuk berkomunikasi juga termasuk dalam suku Jawa. Asal usul suku Jawa berkaitan juga dengan bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Jawa. Ada dua jenis bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Jawa, yaitu: bahasa Jawa Ngoko yaitu bahasa Jawa yang digunakan oleh orang yang sudah akrab, dengan usia yang sepadan ataupun kepada orang yang status sosialnya lebih rendah. Bahasa Jawa Krama digunakan kepada orang yang belum akrab, orang muda kepada orang yang lebih tua ataupun kepada orang yang status sosialnya lebih tinggi (Endraswara, 2015:169).

  Sifat, karakter, pendidikan dan wawasan seseorang terlihat dari tutur kata dan pilihan dalam berbahasa. Begitu juga dalam perayaan liturgi, bahasa menjadi sangat penting yang menjadikan simbol liturgi. Sebelum Konsili Vatikan II, Bahasa Latin merupakan bahasa resmi yang menyatukan seluruh umat Katolik di dunia. Namun seiring dengan kebutuhan dan keterlibatan berminat dengan liturgi yang menggunakan Bahasa Jawa walaupun mereka orang jawa.

  Namun masih banyak pula yang masih mempertahankan penggunaan Bahasa Jawa dalam liturgi. Bahasa yang memang menjadi bahasa sehari-hari yang tentu saja akan lebih mudah umat dalam menghayati Ekaristi.

  Penggunaan Bahasa Jawa dalam liturgi menyangkut segala aspek mulai dari nyanyian, doa, maupun khotbahnya. Tata Perayaan Ekaristi Bahasa Jawa yang digunakan yaitu Bahasa Jawa Krama Inggil, sedangkan dalam khotbah biasanya menggunakan bahasa yang santai yang biasa digunakan oleh umat.

b. Asal Mula Penggunaan Bahasa Jawa dalam Liturgi

  Bahasa sebagai sarana komunikasi bagi manusia mendapatkan perhatian yang tinggi di dalam masyarakat pada umumnya. Begitu juga dalam Gereja yang senantiasa memperhatikan kebutuhan umatnya. Seperti halnya penggunaan bahasa dalam Ekaristi di daerah Jawa yang sampai saat ini masih dipertahankan. Hal ini bermula dari para misionaris sebagai pembawa Agama Katolik yang menyadari bahwa keberhasilan misinya di daerah Jawa tergantung dari penguasaan bahasanya. Romo Van Lith, SJ salah satu misionaris dari Belanda yang datang ke Indonesia pada bulan Oktober 1896, misi perutusannya. Beliau mengecam bahwa kemacetan dalam menjalankan misi di Jawa kerena keterbatasan tentang bahasa dan perilaku orang Jawa.

  Dalam misinya di Muntilan Romo Van Lith menampilkan figur Gereja yang menyatu dan hidup berdampingan dengan umat walaupun di sisi lain ada pula yang menganggapnya terlalu keras kepala.

  Beliau juga menerjemahkan buku pelajaran agama dan doa-doa kedalam Bahasa Jawa bukan hanya menerjemahkan dari Bahasa Belanda dan Latin saja melainkan lebih mendalam lagi mengenai makna dan perasaan yang mau diungkapkannya. Hal ini memerlukan waktu yang lama karena beliau harus berkontak langsung dengan masyarakat sampai kraton Yogyakarta (Hendarto, 1990: 114-118).

D. Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi untuk Membantu Penghayatan Iman umat 1. Perayaan Ekaristi menurut Konsili Vatikan II

  Istilah Ekaristi yang dihasilkan dalam Konsili Vatikan II terdapat dalam dokumen Sacrosanctum Concilium , Lumen Gentium, Presbyterorum

  Ordinis . Konsili Vatikan II tidak secara sistematis menyampaikan tema

  Ekaristi. SC 47 secara singkat merumuskan mengenai Ekaristi, sebagai kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dipenuhi jaminan kemuliaan akan datang.

  Berdasarkan artikel dari SC dapat diperoleh beberapa kesimpulan pokok dari Ekaristi yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II.

a. Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Kehidupan Gereja

  Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup Gereja, Sacrosanctum

  Concilium menyebutkan Ekaristi sebagai ”sumber dan puncak” seluruh kegiatan Gereja, walaupun liturgi tidak mencakup seluruh kegiatan Gereja.

  Liturgi sebagai puncak seluruh kegiatan Gereja dan sebagai sumber daya- kekuatan (SC 10). Liturgi mendorong umat beriman supaya setelah mereka dipuaskan dengan sakramen-sakramen dipersatukan dalam persekutuan, mereka mampu mengamalkan apa yang mereka peroleh kedalam hidup sehari-hari. Liturgi Ekaristi sebagai sumber yang mengalirkan rahmat kepada umatnya. Kerena hidup ialah suatu ibadah maka istilah Perayaan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup Gereja menunjuk perhatian Konsili Vatikan II yang menghubungkan Ekaristi dengan seluruh spiritualitas hidup Gereja.

  Dalam Lumen Gentium (LG), Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Gereja, art. 11 menyatakan beberapa hal mengenai Ekaristi sebagai sumber melainkan masing-masing dengan caranya sendiri. Kemudian sesudah memperoleh kekuatan dari tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkrit menampilkan kesatuan umat Allah yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengangumkan. Dari artikel diatas terdapat tidak poin pokok mengenai makna Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup Gereja. Pertama, melalui Perayaan Ekaristi umat beriman mempersembahkan Kristus dan diri sendiri sebagai Gereja kepada Allah. Kedua, dalam Ekaristi diharapkan umat beriman berpartisipasi menurut cara dan perannya masing-masing. Ketiga, dalam Perayaan Ekaristi umat beriman memperoleh kekuatan untuk mewujudkan kesatuan umat melalui perutusan (Martasudjita, 2012:16).

b. Ekaristi sebagai Perayaan Gereja

  ”Melalui liturgi, terutama dalam kuban Ilahi Ekaristi terlaksanalah karya penebusan kita” (SC 2). Ekaristi sebagai karya penebusan (SC 47).

  Melalui Ekaristi maka Gereja memperoleh misteri penyelamatan Allah dalam nama Kristus. Ekaristi pula yang menjadi anugerah kebersamaan dan kesatuan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Merayakan Ekaristi Gereja senantiasa mengungkapkan dirinya sebagai karya keselamatan Allah.

  Liturgi Ekaristi membantu umat beriman dalam menghayati misteri Kristus, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, katolik d

  an apostolik”. Dengan demikian Gereja lahir dari Ekaristi. SC 26

  menyebutkan bahwa Ekaristi bukan suatu perayaan perorangan melainkan perayaan bersama yang dirayakan oleh seluruh Gereja (Martasudjita, 2009:298-300).

c. Ekaristi sebagai Pusat Liturgi

  Ekaristi sebagai pusat seluruh liturgi memiliki kedudukan khusus dalam beberapa tempat. Karya penebusan terlaksana dalam liturgi terutama dalam kurban Ekaristi (SC 2). Dalam liturgi terutama bagian Ekaristi umat beriman memperoleh rahmat dari Allah (SC 10). Kesatuan umat sebagai Gereja menuntut adanya keikutsertaan penuh dan aktif dalam perayaan liturgi terutama dalam bagian Ekaristi (SC 41). Ekaristi sebagai pusat liturgi menunjukan pemahaman SC yang melihat dari dua sudut pandang antara lain Ekaristi sebagai perwujudan tertinggi dan memandang liturgi lain dari sudut Ekaristi. Selain memberikan Ekaristi sebagai pusat liturgi juga memberikan kedudukan tertinggi pada perayaan Sabda dimana Kitab Suci menjadi pusat, perayaan sakramen lain, dan ibadat harian (Martasudjita, 2009:301). dalam kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan” (SC 7). Bapa Konsili

  mengutip kata kurban dalam Trente. SC menghubungkan kurban Ekaristi dengan perjamuan malam terakhir yang dilakukan oleh Yesus dan juga kurban salib. Pada perjamuan malam terakhir Yesus sudah mengorbankan Tubuh dan Darah-Nya. Namun hal ini tidak juga berarti bahwa perjamuan malam terakhir ialah perjamuan Ekaristi. Perayaan Ekaristi yang pertama baru terlaksana sesudah Yesus Kristus wafat dan bangkit. Kata kurban Ekaristi yang diadakan oleh Yesus pada perjamuan malam terakhir menunjukkan pada penyerahan diri Yesus kepada Bapa bagi keselamatan dunia. Peristiwa salib Kristus itulah yang dirasakan dan dihadirkan di setiap Perayaan Ekaristi. Maka kesatuan kurban Ekaristi dan kurban salib Kristus.

  Dalam hal ini maka Ekaristi juga sebagai perayaan kenangan dimana perjamuan malam terakhir dikenang dan diabadikan dalam Perayan Ekaristi (Martasudjita, 2009: 293-295).

e. Ekaristi sebagai Perjamuan

  SC 47 menyebutkan Ekaristi sebagai perjamuan Paskah. Istilah perjamuan Paskah menunjukan perjamuan Ekaristi yang berasal dari perjamuan malam terakhir yang diadakan oleh Yesus Kristus, yang disebut yang dimaksudkan ialah kurban salib. Namun menurut maknanya, perjamuan Paskah disebut sebagai keseluruhan karya penyelamatan Allah yang wafat dan kebangkitan-Nya sebagai puncaknya (Martasudjita, 2009:297-298).

f. Ekaristi sebagai Sakramen

  Kristus “mempercayakan Gereja, mempelai-Nya: sakramen cinta

  kasih, lambang kesatuan

  ikatan cinta kasih” (SC 47). Konsili Vatikan II tidak

  memisahkan sakramen dan kurban dalam Ekaristi dengan menyatakan bahwa Ekaristi menghadirkan kurban salib Kristus disebut juga sebagai sakramen.

  Hal ini menjadi suatu pembaharuan, karena sesudah Trente hingga pra- Vatikan II, makna kurban dan sakramen dari Ekaristi dipisahkan. Sejak abad pertengahan, gagasan sakramen dipersempit. Istilah sakramen menunjukkan kehadiran Kristus dalam Sakramen Mahakudus atau hosti yang sudah diberkati. Dalam SC menampilkan pembaharuan akan pendangan mengenai Ekaristi, baik dari isi maupun caranya. Dengan demikian Ekaristi disebut sebagai sakramen cinta kasih, lambang kasatuan dengan Allah dan dengan sesama anggota Gereja (Martasudjita, 2009:297).

2. Memaknai dan Menghayati Perayaan Ekaristi melalui Bahasa Jawa

  Ekaristi Bahasa Jawa dalam ritus pembuka terdapat dialog antara imam dan umat Tuhan sertamu, dan sertamu Gusti

  

juga” berubah menjadi “

manunggala, kalian kula sadaya

  dimana umat merasa lebih meresapi. Karl

  Edmund Prier, SJ dalam buku Indonesianisasi , mengungkapkan bahwa pada tahun 1960-an teks Latin diganti dengan Bahasa Jawa supaya liturgi lebih mendekati rakyat (Boelaars,2005:426). Ritus pembuka sebagai penghantar kepada Perayaan Ekaristi juga sebagai menghantar umat untuk masuk kedalam suatu perjamuan. Seruan tobat yang didaraskan, umat cenderung menutup mata dan sungguh mengucapkan

  “kawula ngakeni” dengan lantang

  dan juga cepat sehingga beberapa umat yang masih membaca bisa tertinggal begitu juga dalam mendasarkan

  “kawula pitados”.

  Dalam pembukaan atau biasa disebut sebagai ritus pembuka Perayaan Ekaristi terdiri dari beberapa bagian. Hal ini bertujuan supaya dapat mempersatukan umat yang berhimpun untuk dapat mendengarkan sabda Allah dengan khidmat dan merayakan Ekaristi dengan sungguh-sungguh. Mengawalinya dengan membuat dan merenungkan tanda salib yang dilakukan besama-sama. Dalam ritus pembuka ini pula mengajak umat untuk menyadari panggilan Allah dalam satu kesatuan bersama suluruh umat tanpa membedakan satu dengan yang lainnya (Suharyo, 2011:15-24). kekeluargaan karena menanggapi panggilan dari Allah. Namun dengan terbentuknya suatu ikatan persaudaraan dan kekeluargaan maka akan mudah membuat umat menyingkirkan mereka yang tidak termasuk kedalamnya. Melalui Imam yang memimpin Ekaristi selalu dituntut untuk menghayati dan dapat mengembangkan semangat persaudaraan di tengah masyarakat.

  Sebagai manusia yang datang dan menanggapi undangan dari Allah, maka diharapkan pula bahwa manusia menyadari kelemahannya atas segala dosa-dosanya. Dengan membawa segenap dosa, manusia datang dan berani untuk mengakuinya karena percaya seperti kisah domba yang hilang, Allah akan selalu menanti kedatangan umatnya. Pengakuan atas keberdosaan manusia menyadari bahwa manusia makhluk ciptaan Allah dan mencari kerahiman Allah.

b) Liturgi Sabda

  Pada tahun 1629 seorang pedagang Belanda Cornelis Ruly menerjemahkan Injil Matius dan dicetak dalam bahasa Belanda-Melayu. Hal ini menjadi contoh pertama untuk mencetak dan menerjemahkan Alkitab bukan dengan Bahasa Eropa demi tujuan misioner. Kemudian pada abad-abad selanjutnya dicetak dalam berbagai bahasa di nusantara termasuk di Jawa, kedalam bahasa daerah, karena bagi Gereja setempat terjemahan-terjemahan kedalam bahasa setempat sangatlah diperlukan. Hal ini karena Bahasa Indonesia tidak selalu digunakan dalam daerah-daerah tertenu walaupun pada kenyataannya sistem pendidikan menggunakan Bahasa Indonesia. Maka pengungkapan Sabda Allah kedalam bahasa setempat menjadi unsur utama dalam inkulturasi (Boelaars,2005:394).

  Penggunaan Bahasa Jawa dalam Liturgi Sabda dirasa sungguh membantu umat untuk mendengarkan, menghayati dan meresapi Sabda Allah.

  Umat yang telah terbiasa menggunakan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari- hari akan lebih mudah untuk memahami isi dari Sabda Allah yang dibacakan dan homili yang disampaikan. Homili yang disampaikan oleh imam menggunakan Bahasa Jawa membantu umat dalam memahami makna Sabda Allah. Beberapa istilah yang tidak biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang terdapat dalam Injil dapat dipertegas melalui homili yang dibawakan oleh imam, sehingga apa yang telah didengarkan dapat dengan mudah di pahami dan diresapi sehingga umat dapat menanggapinya dalam permohoman umum. Permohonan umum diselaraskan dengan situasi yang sedang terjadi didalam lingkungan maupun lingkup yang lebih luas.

  Umat yang berhimpun dalam Perayaan Ekaristi akan mendapat yang mendengarkan sabdanya seperti yang disabdakan oleh

  St. Paulus “jadi,

iman timbul melalui pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm

  10:17). Tanggapan terhadap sabda yang diwartakan ialah iman, karena hanya dengan imanlah manusia dapat menyadari kehadiran serta karya Kristus dalam sakramen (Suharyo, 2011:33-53).

  Melalui Liturgi Sabda pula umat disadarkan akan kegunaan dari Kitab Suci yang bukan hanya berisi tulisan-tulisan untuk dibaca saja melainkan undangan untuk ditanggapi dengan sepenuh hati dengan iman yang tangguh.

  Dengan sabda yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi diharapkan dapat meneguhkan ikatan kasih antara Kristus dengan Gereja yang merupakan semua umat yang percaya kepadaNya. Adanya homili setelah pembacaan Sabda Allah sebagai kesaksian dari sang pembawa homili akan cinta kasih yang di terima dari Kristus yang diwartakan. Bacaan-bacaan yang dipilih dalam Perayaan Ekaristi disusun berdasarkan lingkaran tahun liturgi yaitu A, B dan C. Jadi dapat dikatakan bahwa umat yang secara terus menerus mengikuti perayaan Ekaristi dalam 3 tahun maka sudah mendengarkan seluruh isi Kitab Suci. Hal pengulangan ini bukanlah membosankan melainkan sesuatu yang indah. Kisah-kisah tidak hanya perlu dimengerti namun dikenang kembali, dengan kenangan itu pula umat dengan lagi dan disatukan dengan umat yang merayaan Ekaristi diseluruh dunia. Dengan demikian iman yang ditimbulkan oleh Sabda Allah ialah iman seluruh umat, maka bersama-sama akan mengalami kegembiraan, peneguhan dan penghiburan dari kenangan bersama. Karena kuasa Sabda Allah maka tidak boleh ada orang kritiani yang mengalami kesendirian dalam hidupnya.

  Setelah Allah telah berbicara dan memberi pengajaran kepada umatnya maka seluruh umat dengan penuh kepercayaan menanggapi dengan mendaraskan Syahadat. Secara bersama-sama mengucapkan iman akan Yesus Kristus yang merangkum sejarah karya penyelamatan Allah kepada manusia.

  Setelah mengucapkan Syahadat maka dilanjutkan mengarahkan diri dihadapan Allah dengan menghaturkan doa-doa permohonan yang ditujukan untuk semua kalangan baik itu dalam lingkup Gereja maupun masyarakat.

c) Liturgi Ekaristi

  Bahasa Jawa dalam Ekaristi telah membantu umat dalam memahami Perayaan Ekaristi dan membantu umat dalam mendalami Sabda Allah yang telah dibacakan dalam Liturgi Sabda. Liturgi Sabda telah mengenyangkan umat dengan Sabda Yesus Kristus sebagai sabda kehidupan abadi dan kekal. Selanjutnya Perayaan Ekaristi dilanjutkan mulai dari doa persiapan

  Tahun 1973 Konggres Liturgi II diputuskan bahwa supaya ada bagian yang khas dalam PWI Liturgi, dalam hal musik (Boelaars,2005:427). Liturgi Ekaristi menjadi pusat perayaan dimana umat mengikutinya dengan khidmat. Oleh karena itu lagu-lagu yang dibawakan dalam Perayaan Ekaristi umumnya lagu dengan aliran keroncong, selendro dan pelog, dimana aliran lagu tersebut yang melekat dengan masyarakat Jawa. Lagu Rama Kawula slendro menjadi lagu yang dinantikan oleh umat dimana umat dengan menutup mata dan menengadahkan tangan memuji dan memuliakan Allah.

  Adapun inti dari harapan manusia ialah kepenuhan makna seluruh alam ciptaan dalam Kerajaan Allah. Dimana Allah telah memulai pekerjaan dalam penciptaan alam raya ini dengan sungguh amat baik selanjutnya diharapkan manusia yang akan melanjutkannya dengan baik pula. Dalam harapan umat tidak hanya dijanjikan oleh janji kosong melainkan suatu yang nyata dan sedang terjadi, walaupun tidak semua yang diharapkan akan terlaksana dan nyata namun hal ini menjadikan manusia semakin menghayati dan memberikan kesaksian tentang keutamaan harapan (Suharyo, 2011:59- 87).

  Di dalam doa persiapan persembahan manusia menyatakan harapan akan daya ilahi yang menyempurnakan ciptaan dan kerja manusia. Roti dan diubah menjadi roti kehidupan dan minuman rohani dimana Yesus sendiri yang menjadi korban keselamatan bagi manusia. Dengan demikian roti dan anggur semakin menyadarkan manusia akan kekayaan alam dan pentingnya memelihara alam raya. Selain dengan menggunakan roti dan anggur, masih ada pencampuran air ke dalam anggur dengan maksud bahwa manusia boleh mengambil keilahian Kristus.

  Doa Syukur Agung sebagai puncak dari seluruh perjamuan, didalamnya terdapat suatu kenangan akan malam perjamuan terakhir Yesus dengan para muridnya. Yang dikenangkan ialah sengsara dan kematian Kristus, yang cenderung menyakitkan, namun melalui Ekaristi manusia diajak untuk berani menghadapi dengan tabah kenangan-kenangan yang menyakitkan. Karena dengan kenangan yang menyakitkan manusia diharapkan bisa melihat Allah dalam kegelapan dan mendatangkan perdamaian. Membuat manusia lebih berani dalam menghadapi kegelapan masa lampau yang berlandaskan pada karya keselamatan akan Yesus Kristus yang bangkit dari wafatNya. Melalui tindakan Yesus dalam perjamuan malam terakhir, membantu siapa saja untuk hidup dalam harapan, terutama mereka yang hidupnya tertekan oleh kenangan-kenangan yang menyakitkan ataupun menjadi korban penghianatan. persekutuan. Kemudian bagian yang tidak kalah pentingnya ialah penerimaan Tubuh dan Darah Kristus yang dilambangkan dengan roti dan anggur dalam komuni yang juga sebagai suatu persekutuan dengan Allah.

  Yesus menyebut Allah sebagai Bapa seluruh umat, sebagai Bapa tentu saja akan selalu mendampingi dan memberi kebutuhan kepada anak-anak- Nya. Oleh karena itu dalam doa Bapa Kami seluruh umat memuji, bersyukur dan memohon kepada Allah Bapa. Kemudian dilanjutkan dengan salam damai sebagai ungkapan kepercayaan seluruh umat akan cinta kasih dari Bapa yang mengikat seluruh umat.

d) Ritus Penutup

  Setelah doa sesudah komuni, itu berarti bahwa Liturgi Ekaristi telah selesai dirayakan bersama-sama. Ditutup dengan ritus penutup yang merupakan berkat dan perutusan, seperti halnya Yesus yang mengutus para murid untuk memberikan kesaksian kepada setiap orang begitu juga dengan umat yang telah selesai mengikuti Perayaan Ekaristi. Ekaristi dengan Bahasa Jawa dianggap sungguh menyentuh umat setempat dalam aklamasi dan umat yang menjawab salam dari Allah seperti yang terdapat dalam ritus penutup, sebelum berkat imam menyampaika n salam “ Gusti manunggala ” dan umat dengan Bahasa Jawa supaya liturgi lebih mendekati rakyat (Boelaars,2005:426).

  Dengan menerima berkat, umat Allah yang berhimpun dianugerahi kesatuan hidup dengan persekutuan dengan Allah. Apa yang telah diperoleh dan dialami selama mengikuti Perayaan Ekaristi juga senantiasa dibagikan kepada sesama. Dengan perutusan membawa umat untuk secara terus menerus meneruskan, meneguhkan dan membagikan kasaksian tentang apa yang telah dialaminya. Perayaan Ekaristi telah selesai namun anugerah kehadiran Yesus terus berlangsung yang menjadi kekuatan dalam menjalani beratnya kehidupan sehari-hari (Suharyo, 2011:97-101).

  Dengan demikian Gereja merupakan sang penerima dan pengemban kabar Gembira, walaupun dalam lingkup kecil namun gereja harus senantiasa membagikan tugas pewartaan kepada semua orang. Karena tidak ada satupun yang dapat menghambat penyebaran Sabda Allah. Seperti yang telah diketahui bahwa sejak awal hidup Gereja, murid Kristus telah mengalami penindasan namun mereka tetap menyebarkan pewartaan. Dalam Kis 4:29 dikatakan bahwa para murid tidak meminta supaya mereka tidak dianiaya melainkan meminta keberanian untuk tetap menyebarkan kabar gembira keselamatan. yang telah dilakukan oleh Para Rasul, walaupun ditindas namun semangat pewartaannya tidak akan pudar.

3. Partisipasi umat dalam Ekaristi Bahasa Jawa

  Penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi membuat umat setempat untuk lebih aktif dalam Ekaristi, dengan penggunaan bahasa sendiri dipandang akan jauh lebih memudahkan umat dalam mengikuti dan menghayati Perayaan Ekaristi. Umat diharapkan akan lebih aktif menggambil bagian dalam liturgi. Segi partisipatif umat menunjuk kepada suatu Ekaristi yang berarti sebuah perayaan bersama. Berikut dijabarkan mengenai peran serta umat dalam Perayaan Ekaristi: Umat diharapkan mengikuti Perayaan Ekaristi secara aktif dan sadar.

  Mulai dari persiapan, pelaksanaan dan sampai akhirnya penerapan kedalam hidup bermasyarakat. Partisipasi dimaksudkan pada keikutsertaan umat dari awal Perayaan sampai pada akhir karena Ekaristi merupakan satu kesatuan Perayaan Liturgi yang tidak bisa dipisahkan.

  Partisipasi umat dilaksanakan dalam tingkatan, tugas serta keaktifan umat, yang senantiasa menjalankan tugas dengan sepenuh hati menurut kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan. Masing-masing tugas yang diembannya liturgi antara lain, lektor, pemazmur, paduan suara, pelayan komuni, pemusik, koster, misdinar, kolektan (Martasudjita, 2009:108).

  E.

  

Tantangan Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi Pada

Masa Sekarang 1. Menghayati Ekaristi dalam Hidup Sehari-hari

  Unsur utama dalam ritus penutup ialah berkat dan perutusan, berkat membawa manusia kedalam persekutuan dengan Allah tritunggal, perutusan mengajak umat untuk mewartakan apa yang telah diterima dalam merayakan Ekaristi dan dapat hidup dalam perutusan. pewartaan tersebut bukan hanya pewartaan kedalam akan tetapi menuntut pewartaan keluar yaitu didalam kehidupan sehari-hari. Penghayatan Ekaristi ataupun sakramen-sakramen yang lain berarti suatu pengalaman iman. Dalam menghayati Sakramen Ekaristi tidak hanya menyambut dan menghormati komuni suci melainkan ikut serta dan mengambil bagian dalam perayaan.

  Ekaristi merupakan pertemuan pribadi dalam iman dengan Kristus, dalam iman tersebut seseorang dipersatukan dengan Kristus dan dengan

  sesama. Rasul Paulus menuliskan “Bukankah piala ucapan syukur, yang

  diatasnya kita ucapkan syukur, berarti persekutuan dengan darah Kristus? semua sakramen merupakan suatu perayaan bersama, dimana yang menjadi pusatnya bukanlah roti dan anggur melainkan Kristus yang karena iman hadir dalam seluruh umat (KWI,1996:412).

  Mewujudkan Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari bertolak pada paham dan penghayatan akan Allah yang mengasihi dan berbelas kasih kepada seluruh umat manusia bukan Allah yang menghukum mereka yang berbuat dosa. Menghayati kegiatan sehari-hari dengan berpangkal pada kasih Allah, menaburkan suka cita kepada sesama, peduli kepada yang berkekurangan berarti bahwa misteri Ekaristi sungguh terwujud dan diwartakan kepada setiap umat yang melakukan tindakan kasih tersebut. Misteri Allah yang terletak pada perayaan dan penghadiran kasih Allah kepada seluruh umat. Dengan menyadari dan menghayatinya dalam setiap keputusan, perkataan dan perbuatan, maka apa yang sudah di rayakan dalam Ekaristi terwujud dalam kehidupan sehari-hari (Martasudjita, 2016:128).

  Menghayati Ekaristi bukan hanya menyangkut perwujudan hidup yang ekaristis dalam kehidupan sehari-hari. Melainkan bagaimana menerapkan hidup yang berkualitas dalam pewartaan iman kepada sesama. Pewartaan sukacita Injil berawal dari ketertarikan kepada Sabda Allah sebagai penerang seluruh hidup umat beriman, maka pewartaan bertolak dari mewujudkan dan membagikan kasih Allah kepada sesama. Yesus Kristus sebagai juru selamat manusia, maka seluruh kegiatan, aktifitas serta perilaku umat manusia senantiasa dipusatkan pada usaha memperkenalkan Kristus kepada sesama.

  Tuhan hadir dan menyapa umatNya dengan berbagai bentuk dalam setiap waktu dan dengan iman seseorang dalam merasakan dan merasa bahwa Tuhan senantiasa tinggal bersama dengan umatNya. Melalui iman memungkinkan bahwa Ekaristi menyatukan seluruh umat dengan Tuhan dan dengan sesama. Gereja merupakan suatu persekutuan umat yang tergantung dari kondisi anggota-anggotanya, Gereja haruslah dapat hidup sebagaimana mestinya sebuah persekutuan umat Allah bukan hanya hidup sebagai tampaknya saja tanpa adanya suatu persekutuan. Untuk mewujudkan hidup Gereja yang ekaristi seperti yang dicita-citakan oleh Gereja ialah dengan menjadi orang beriman yang rendah diri. Kerendahan hati akan kasih Yesus Kristus yang begitu besar yang akan membuat iman semakin bermakna dan berdaya, terutama dalam Ekaristi dimana Yesus Kristus membagikan diriNya kepada seluruh umat. Dengan demikian seperti ketaatan Yesus kepada Bapa begitu juga umatNya yang senantiasa taat seperti Kristus. Ketaatan kepada seseorang merupakan suatu kasih sayang yang murni, seperti Allah Bapa bagi keselamatan umat manusia dengan dibagikannya kepada seruruh umat. Kristus telah membagikan diriNya untuk keselamatan manusia, oleh sebab itu manusia yang telah menerima Tubuh dan Darah Kristus juga diharapkan dapat membagikan diri kepada sesamanya tanpa kenal batas. Dalam kehidupan sekarang ini Ekaristi terjadi dalam hidup manusia apabila manusia rela berbagi diri dengan orang lain tanpa pamrih maupun perbedaan, terutama

  kepada mereka yang membutuhkan. “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” perintah Yesus yang selalau di ucapkan kembali oleh imam setiap kali

  dalam perayaan Ekaristi bukan hanya untuk mengenangkan akan peristiwa masa lampau. Hal ini dilakukan imam untuk menghadirkan Yesus di tengah- tengah mereka supaya semua orang yang mengikuti Ekaristi mau berbagi kepada orang lain (Hadisumarta, 2013:100).

2. Tantangan Pengguanaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi

  Inkulturasi sebagai upaya gereja untuk mengikutsertakan manusia dalam mengungkapkan iman melalui kekayaan adat istiadat setempat memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapai dalam dunia sekarang ini. tantangan tersebut antara lain: a.

  Kurang pengertian ataupun penghargaan terhadap adat istiadat, simbol b.

  

Kurangnya partisipasi umat dalam liturgi, serta kurangnya kesadaran akan

  penyadaran liturgi kepada umat. Umat beranggapan bahwa liturgi hanyalah sebagai rutinitas sebagai seorang Katolik yang hanya cukup dengan hadir dan merayakan Ekaristi.

  c.

  

Berhadapan dengan umat heterogen dari kalangan tua-muda,

berpendidikan, sehingga memicu terjadinya perbedaan pendapat.

  Berhubungan dengan inkulturasi ke dalam adat istiadat setempat maka pihak tua muda yang saling bertentangan. Di pihak kaum dewasa inkulturasi ke dalam budaya setempat dapat membantu pengayatan iman, namun bagi kaum muda untuk saat ini kurang menyentuh hati mereka.

  d.

  

Dengan perkembangan zaman saat ini menimbulkan krisis identitas oleh

  umat akan adat istiadatnya sendiri. Budaya baru yang terus bermunculan dengan mudahnya dari berbagai sudut semakin menggantikan kebudayaan asli karena tergantikan dengan budaya baru yang lebih kekinian.

  e.

  

Perlunya pelayan umat menghayati liturgi secara mendalam, sehingga

dapat memimpin dengan benar dan dapat dipahami oleh setuluh umat.

  Sebagai pelayan umat, baik prodiakon maupaun kepala stasi, lingkungan serta wilayah pengalaman hidup sehari-hari menjadi contoh seluruh umatnya. Penghayatan akan liturgipun menjadi panutan umatnya, maka

BAB III PENELITIAN TENTANG PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN EKARISTI DI STASI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS KEMRANGGEN Bab III menguraikan penelitian mengenai pengunaan Bahasa Jawa

  dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen. Bab ini dibagi menjadi tiga pokok bagian yaitu: gambaran umum umat Stasi Fransiskus Xaverius Kemranggen, penggunaan bahasa Jawa dalam Ekaristi dan penelitian serta pembahasannya. Gambaran umum umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen meliputi: sejarah singkat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, letak geofrafis, jumlah umat dan tantangan yang dihadapi oleh umat.

  Pengunaan bahasa Jawa dalam Ekaristi meliputi: pelaksanaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen. Sedangkan penelitian tentang pengaruh penggunaan bahasa Jawa terhadap penghayatan umat dalam Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen terdiri atas: latarbelakang penelitian, rumusan penelitian, tujuan penelitian, metode penelitian, responden, tehnik pengumpulan data, tempat dan waktu, variabel penelitian dan kisi-kisi.

  A. Gambaran Umum Umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen 1. Sejarah singkat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  Pada tahun 1970 untuk pertama kalinya daerah ini kenal dengan Agama Katolik ketika seorang guru Sekolah Dasar yang mempersunting putri dari Bapak Lurah/Kepala Desa Kemranggen. Namun kerena pasangan tersebut tidak menetap di Desa Kemranggen maka Agama Katolik masih kurang berkembang. Awal tahun 1975 barulah mulai diadakan kelompok Misa di salah satu keluarga, walaupun pada saat itu umat yang hadir ialah pendatang dari Purworejo dan Kutoarjo. Pada tahun itu pula dilakukan pembaptisan pertama oleh Romo Yitno, sejak saat itu mulai diadakan kunjungan-kunjungan oleh Romo Yitno dan Romo Sayadi. Di tahun 1983 salah satu keluarga yang kembali kekampung halamannya setelah merantau di Purbalingga. Dari sinilah Agama Katolik mulai berkembang.

  Kehidupan sebagai seorang Katolik mulai banyak berpengaruh nyata dalam masyarakat setempat pada masa itu. Hal ini sangat berpengaruh pada pertambahan jumlah umat yang ingin menjadi Katolik. Pada saat diadakan Misa disalah satu kediaman umat di kecamatan Bruno, umat dari Kemranggen datang untuk mengikutinya. Pada saat itu pula salah satu umat dari Kemranggen meminta untuk sering dikunjungi dan mendapat pelajaran dihadiri oleh simpatisan dan mulai saat itu pula mulai diadakan kunjungan tetap oleh Romo. Pada awal terbentuknya perkumpulan sembahyangan tercatat ada 9 orang yang mengikutinya dan kemudian bertambah menjadi 30 orang, yang terdiri dari orang tua, remaja dan anak-anak Sekolah Dasar.

  Pada Januari 1985 diadakan perkawinan secara Katolik pertama yang dihadiri oleh katekumen dan simpatisan yang mulai bertambah banyak dari daerah Kesodan desa Pamriyan. Banyaknya katekumen di daerah Kesodan mereka membentuk kelompok sembahyangan sendiri dan meminta pelajaran agama dari umat di Kemranggen. Perkembangan yang menggembirakan tersebuat tidak selamanya berjalan dengan mulus, banyak hambatan dan ejekan dari orang yang tidak suka dengan penyebaran agama Katolik di daerah Kemranggen. Hal ini dijadikan kekuatan iman untuk menjadi seorang Katolik (Budi Haryanto,V. 2010:27-18).

2. Letak Geografis Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  Stasi St. Fransiskus Xaverius terletak di Desa Kemranggen, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Umat Stasi Kemranggen berasal dari tiga desa, yaitu Desa Pamriyan, Desa Karang Gedang dan dari Desa Kemranggen, dari ketiga desa tersebut dibagi menjadi 2 wilayah. Stasi

  3. Jumlah Umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  Berdasarkan data Umat tahun 2015 Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen memiliki jumlah 65 umat dari 22KK yang terdiri dari 7 balita, 43 orang tua, 11 remaja, dan 4 anak-anak yang sudah komuni pertama.

  Pekerjaan utama umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen ialah sebagai petani.

  4. Pelaksanaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  Sakramen Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen dilaksanakan dua kali dalam satu bulan, yaitu pada minggu kedua dan keempat. Pada minggu pertama, ketiga dan kelima dilaksanakan ibadat yang dipimpin oleh salah satu prodiakon Stasi. Agama Katolik masuk ke daerah Kemranggen dan sekitarnya pada tahun 1975. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Bernadus Hartoyo sejak semula Romo dan guru agama yang datang ke Kemranggen menggunakan Bahasa Jawa dalam memperkenalkan agama Katolik termasuk dalam Perayaan Ekaristi yang selalu mengunakan Bahasa Jawa. Sampai saat ini Perayaan Ekaristi masih menggunakan bahasa Jawa. Pada tahun 2003-2007 ketika ada Pastor paroki yang berasal dari Menado yaitu Romo Jovinus Rahail, MSC atau lebih akrab disapa dengan

  Namun setelah Romo Nus pindah dari Paroki Kutoarjo, umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen tidak pernah misa mengunakan Bahasa Indonesia. Beberapa umat mengaku kesulitan dalam melantunkan doa, syahadat, nyanyian dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun disisi lain para orang tua mengajarkan anak-anaknya doa-doa dengan Bahasa Indonesia dengan alasan mudah dihafal dalam jaman sekarang, begitu pula pada saat menerima pelajaran agama di sekolah. Hal ini menjadi rancu karena dalam mengikuti Ekaristi semua mengunakan Bahasa Jawa.

  Ketergantungan dengan Bahasa Jawa membuat umat kurang terbiasa apabila teks misa pada hari raya Natal dan Paskah apabila tidak menggunakan Bahasa Jawa, kemudian salah satu umat menerjemahkan kedalam Bahasa Jawa. Kendala lain yang dihadapi oleh umat yaitu jika ada pastor paroki yang tidak bisa Bahasa Jawa. Pengucapan kata dalam Bahasa Jawa tentu tidak sama dengan tulisan, akan berarti beda jika salah dalam membacanya. Hal ini yang sering dilakukan oleh romo yang tidak mengerti Bahasa Jawa.

5. Tantangan yang dihadapi oleh umat di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  Agama Katolik merupakan agama yang sangat minoritas dan berada bagi kemurnian niat dan sekaligus kekuatan iman untuk menjadi orang Katolik, walaupun tidak semua umat dapat menghadapinya.

  Kenyataan yang harus dihadapi oleh umat ialah mengenai jarak rumah umat dengan Gereja dan antar umat yang berjauhan. Umat yang berada di Desa Pamriyan harus menempuh jarak 4 km untuk ke Gereja dengan berjalan kaki dan dari Desa Karang Gedang menempuh jarak 2 km. Umat sendiri menyadari bahwa jarak menjadi salah satu tantangan terbesar untuk bisa berkumpul dan mengadakan doa-doa di luar misa hari minggu yang biasanya dilaksanakan pada malam hari yang dirasa kurang efektif bagi umat yang rumahnya jauh. Jarak dan waktu tempuh menjadi kendala yang paling utama, umat harus menempuh dua jam perjalanan pada siang hari karena misa dimulai dari jam dua siang. Misa di Stasi Kemranggen mendapat jadwal dua kali dalam satu bulan yaitu pada minggu kedua dan keempat, pada minggu biasa diadakan ibadat yang dipimpin oleh salah satu prodiakon dari Stasi Kemranggen. Umat yang rumahnya jauh dan menempuh perjalanan yang panjang harus datang lebih awal untuk istirahat.

  Kurangnya kesadaran umat untuk mengikuti Misa setiap hari minggu juga menjadi pemicu lunturnya iman umat sehingga mudah untuk meninggalkan Gereja. Pihak orang tua yang kurang menyadari untuk anak, dengan tidak membaptiskan anak. Anak-anak dari pasangan beda agama juga tidak dibaptis.

  Hidup ditengah-tengah umat beragama lain, bahkan tidak jarang beberapa tahun belakangan ini diketahui ada beberapa keluarga yang memutuskan untuk meninggalkan Gereja. Umat yang memutuskan meninggalkan Gereja beralasan karena lebih menguntungkan dan lebih banyak teman apabila mengikuti mayoritas. Anak-anak dirasa akan lebih mudah mencari jodoh yang seiman karena dari pihak mayoritas.

  B.

  

Penelitian Mengenai Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi

di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Kutoarjo 1. Latar Belakang Fokus Penelitian a. Keadaan Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam berkomunikasi dengan sesama, begitu juga sarana komunikasi dengan Sang Pencipta. Bahasa yang digunakan ialah bahasa sendiri, yang dapat mewakili apa saja yang hendak disampaikan kepada Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari umat di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen menggunakan Bahasa Jawa. Dengan demikian, Perayaan Ekaristi sebagai sakramen kesatuan dengan Allah

  Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis menyatakan bahwa tidak semua umat mengerti dengan Bahasa Jawa yang digunakan dalam Perayaan Ekaisti. Hal ini terjadi pada kalangan anak-anak dan kaum muda. Umat orang dewasa pada umumnya hafal rumusan doa-doa dan nyanyian dengan Bahasa Jawa, namun untuk anak-anak akan lebih mudah menghafal rumusan doa dengan mengunakan Bahasa Indonesia seturut yang diajarkan oleh guru disekolah. Dengan demikian, Kaum muda dan anak-anak cenderung tidak mengerti arti bahasa yang digunakan. Keterbatasan akan memahami arti bahasa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi menjadikan umat yang kurang mengerti tidak akan sampai kepada menghayati Perayaan Ekaristi. Berdasarkan kenyataan tersebut penulis hendak meneliti penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat dan mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam mengikuti Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa. Dengan demikian penulis akan mengerti keadaan yang sebenarnya.

b. Penelitian yang Relevan

  Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan inkulturasi dalam Perayaan Ekaristi dilakukan oleh Yuni Suciningsih mahasiswa Fakultas setempat. Salah satu inkulturasi yang diterapkan dalam Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran Yogyakarta ialah dengan inkulturasi musik gamelan Jawa dalam mengiringi Perayaan Ekaristi. Penerapan dan pelaksanaan musik gamelan Jawa pada Ekaristi di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran mengarah pada Konsili Vatikan II. Dengan fokus permasalahan dalam penelitian ialah sejarah inkulturasi gamelan Jawa, penerapan pada pelaksanaan Perayaan Ekaristi dan tanggapan umat tentang penggunaan gamelan Jawa.

  Eksistensi gamelan Jawa sampai sekarang masih tetap teguh dilaksanakan dengan tanggapan umat yang beragam, mulai dari anak-anak, kaum muda dan orang dewaasa. Dari masing-masing kelompok usia, mempunyai prosentasi tingkat kesenangan dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. 58,3% anak-anak merasa senang, 16,67% anak muda merasa senang dan 66,67% orang muda yang merasa senang. Namun secara keseluruhan penggunaan musik gamelan Jawa dalam Ekaristi membantu umat dalam menghayati Perayaan Ekaristi yaitu sebesar 83,33%. Dengan demikian inkulturasi musik gamelan Jawa dalam musik liturgi tidak merusak kekudusan dalam Misa maupun merusak nilai gamelan Jawa melainkan dianggapap sebagai pendukung atau penunjang umat dalam menghayati

2. Rumusan Masalah

  Bertolak dari latar belakang penelitian di atas, penulis merumuskan rumusan permasalahan sebagai berikut: a.

  

Bagaimana tanggapan umat mengenai penggunaan Bahasa Jawa dalam

  Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? b.

  

Sejauh mana penggunaan Bahasa Jawa membantu umat dalam menghayati

  Perayaan Ekaristi Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? c.

  

Apa yang menjadi usulan/harapan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius

  Kemranggen terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi? 3.

   Tujuan Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan rumusan masalah, ialah sebagai berikut: a.

  

Mengetahui tanggapan umat mengenai penggunaan Bahasa Jawa dalam

Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen.

  b.

  

Mengetahui sejauh mana penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu umat

dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen.

  c.

  

Mengetahui usulan atau harapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen. pengumpulan data di lapangan.

  “Metodologi kualitatif didefinisikan sebagai

  prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang d

  an perilaku yang dapat diamati” (Moleong, 2007:6).

5. Responden

  Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono, 2014:117-118). Dari pengertian tersebut maka sampel merupakan bagian dari populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini peneliti mengunakan teknik sampling yaitu purposive sampling . Ialah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Dalam pertimbangan yakni bahwa orang - orang yang dianggap sudah tahu untuk melengkapi data (Sugiono, 2014: 300).

  Responden yang akan diteliti yaitu 1 romo paroki, 6 pengurus stasi, 7 kaum muda dan 5 umat. Dengan jumlah seluruh umat Stasi St. Fransiskus

6. Teknik Pengumpulan Data

  setting, berbagai “Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai sumber , dan berbagai cara (Sugiono, 2014: 193). Berdasarkan tehnik

  

  pengumpulan data, penulis menggunakan wawancara dan Focused Group Discussion (FGD). Wawancara yang digunakan ialah wawancara terstruktur.

  Adalah wawancara yang diandaikan bahwa peneliti telah mengetahui informasi apa yang akan diperoleh, oleh karena itu peneiti menyiapkan intrumen berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannyapun telah disiapkan4 (Sugiono, 2014:197). Wawancara akan dilakukan kepada romo paroki, pengurus stasi dan beberapa umat.

  Focused Group Discussion adalah ”proses pengumpulan data atau

  informasi data yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang

  sangat spesifik melalui diskusi kelompok” (Irwanto, 2006:3). Pelaksanaan

  FGD jumlah peserta merupakan faktor penting karena tidak boleh sedikit dan tidak boleh terlalu banyak, jumlah ideal ialah 7-11 orang. Fasilitator tidak selalu bertanya, tugasnya ialah untuk mengemukakan suatu persoalan sebagai bahan diskusi. FGD yang akan dilaksanakan kepada kaum remaja dengan jumlah yang telah ditentukan yaitu 7-11 orang.

  Paroki dan masih menggukan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2016.

  8. Variabel Penelitian

  Menurut Sugiono (2014:60) secara teoritis, variabel ialah sebagai atribut seseorang atau obyek, yang masing-masing mempunyai variasi antar obyek dengan obyek lain atau antara orang dengan orang lain. Penelitian ini penulis merumuskan tiga variabel yang akan diteliti, ialah sebagai berikut: a.

  Tanggapan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  b.

  Penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu umat dalam menghayati Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen.

  c.

  Usulan atau harapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen.

  9. Kisi-kisi Penelitian No Aspek Indikator Jumlah Nomor soal

  1 Tanggapan

  a. penggunaan 3 1,2,3

  Praktek dalam dalam Perayaan Ekaristi Perayaan Ekaristi

  2 Penggunaan a. 2 6,7

  Peranan Bahasa Jawa

  Bahasa Jawa dalam Ekaristi membantu b. 3 8,9,10,

  Penggunaan Bahasa Jawa

  umat dalam membantu penghayatan

  11 Perayaan umat dalam merayakan Ekaristi Ekaristi

  3 Usulan atau a.

  1

  12 Harapan umat terhadap harapan umat Bahasa Jawa dalam terhadap Ekaristi penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi

  1. Sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St.

  Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa 2.

  Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam

  Perayaan Ekaristi? 3.

  Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di

  Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? 4.

  Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam

  Perayaan Ekaristi? 5.

  Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa

  Jawa dalam Perayaan Ekaristi? 6.

  Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat

  dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa? 7.

  Apakah

  pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam

  Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

C. Hasil dan Pembahasan Penelitian tentang Pengunaan Bahasa Jawa

  dalam Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen 1. Hasil Penelitian

  Penulis akan menjabarkan hasil dari penelitian tentang Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi Fransiskus Xaverius Kemranggen. Penelitian dilakukan melalui wawancara kepada umat dan menggunakan metode Focused Group Discussion (FGD) kepada kaum muda. Penelitian tersebut dilaksanakan sejak Hari Sabtu, 15 sampai dengan 23 Oktober 2016.

a. Hasil Penelitian Wawancara

  Pada bagian ini penulis akan melaporkan hasil penelitan melalui

  Tabel.1 Pandangan umat tentang penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  

No Pertanyaan Jawaban Responden

  1. Menurut Bapak/ibu sejak Penggunaan Bahasa Jawa R3, R4, R8 kapan Bahasa jawa dalam Perayaan Ekaristi digunakan dalam Perayaan dimulai sejak masuknya Ekaristi di Stasi St. agama Katolik, simpatisan Fransiskus Xaverius menerima pelajaran dengan Kemranggen? menggunakan Bahasa Jawa.

  Sejak menikah (tahun 1988) R2, R5, R6, ataupun memilih dengan R7,R9, R10 kehendak hati menjadi orang Katolik (tahun 1990), mulai mengikuti Perayaan Ekaristi di Stasi Kemranggen sudah menggunakan Bahasa Jawa.

  Sejak kecil (1979 dan 1980) R11, R12 dalam Perayaan Ekaristi sudah menggunakan Bahasa Jawa digunakan dalam masih memegang teguh Perayaan Ekaristi? budaya Jawa terutama Bahasa

  Jawa, sehingga para misionaris menggunakan Bahasa Jawa yang dirasa akan jauh lebih mengena hati umat dan mempermudahkan umat dalam mengahayai iman Katolik Alasan penggunaan Bahasa R2, R3, R5, Jawa dalam Perayaan Ekaristi R8, R9, R10 karena bahasa sehari-hari yang digunakan umat, sehingga lebih mempermudah umat dalam menanggapi iman Katolik.

  Penggunaan Bahasa Jawa R4, R6, R7, dalam Perayaan Ekaristi turut R11, R12 serta dalam melestarikan

  3 Apakah Bahasa Jawa Bahasa Jawa tidak selalu R2, R3, R4, senantiasa digunakan digunakan dalam Perayaan R5, R6, R7, dalam Perayaan Ekaristi di Ekaristi, ketika ada seorang R8, R9, Stasi St. Fransiskus Romo dari Manado pernah R10, R11, Xaverius Kemranggen? mengunakan Bahasa R12

  Indonesia untuk melatih umat supaya tidak hanya bisa menggunakan Bahasa Jawa saja.

  4. Bagaimana tanggapan Tanggapan umat terhadap R1, R2, R3, umat terhadap penggunaan penggunaan Bahasa Jawa R4, R5, R6, Bahasa Jawa dalam ialah umat merasa lebih R7, R8 Perayaan Ekaristi? khidmat apabila mengikuti

  Perayaan Ekaristi dan dapat mengikuti dengan baik.

  Beberapa istilah yang kurang R9, R10, dipahami namun karena dari R11, R12 awal menggunakan Bahasa Jawa dan maka sudah bapak/ibu terhadap pribadi terhadap penggunaan R4, R5, R6, penggunaan Bahasa Jawa bahasa Jawa yakni lebih R7, R8, R11 dalam Perayaan Ekaristi? membantu dalam menghayati, lebih khusuk, dapat memahami dan lebih mantab dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. Penggunaan Bahasa Jawa R2, R5, R9 dalam Perayaan Ekaristi dirasa akan jauh lebih pantas dan lebih sopan digunakan sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan Perayaan Ekaristi dengan R10, R12 Bahasa Indonesia lebih mudah dimengerti, karena zaman sekarang Bahasa Indonesia umum digunakan.

  Tabel. 2 Pengunaan Bahasa Jawa dan Penghayatan umat akan Perayaan Ekaristi

  

No Pertanyaan Jawaban Responden

  6 Apakah penggunaan Penggunaan bahasa dalam R2, R3, R4, Bahasa Jawa berpengaruh Perayaan Ekaristi tidak R5, R6, R7, terhadap kehadiran umat berpengaruh dan bahasa tidak R8, R9, dalam Perayaan Ekaristi? menjadi kendala bagi R10, R11, Mengapa? kehadiran umat. R12, R13

  Penggunaan bahasa Jawa tidak R11, R12 menjadi kendala melainkan cuaca yang berpengaruh dalam kehadiran umat, mengingat bahwa jarak rumah umat dengan Gereja yang cukup jauh.

  7 Apakah pengggunaan Penggunaan Bahasa Jawa R2, R3, R4, Bahasa Jawa mendorong mendorong umat untuk R5, R6, R7, partisipasi Bapak/ibu senantiasa aktif dalam dalam R8, R9, mazmur yang dinyanyikan.

  8. Apakah penggunaan Kitab Suci yang didengarkan R1, R2, R3, R4, R5, R6,

  Bahasa Jawa membantu dapat diterima dan mudah R11

  Bapak/ibu pada saat dipahami. Homili yang pembacaan Kitab Suci dan disampaikan dapat membantu homili? untuk lebih memahami.

  Bacaan Kitab Suci dengan R10, R12 Bahasa Jawa dapat dimengerti tetapi lebih mudah apabila menggunakan Bahasa Indonesia. Cenderung mendengarkan Bacaan Kitab Suci pada hari minggu saja, maka haruslah sunguh-sungguh dihayati Bahasa Jawa dapat dipahami, R7, R8, R9 kendalanya apabila romonya tidak pandai Bahasa Jawa Bahasa Jawa dapat khidmat dan khusuk dengan R4, R5, R6, membantu Bapak/ibu mengunakan Bahasa Jawa R7, R8, R9, dalam menghayati yang dirasa sangat menyentuh

  R11 Perayaan Ekaristi dalam hati umat dalam mengikuti Liturgi Ekaristi? Perayaan Ekaristi.

  Dapat mengikuti karena sudah R10, R12 terbiasa, namun Bahasa Indonesia dirasa akan lebih mudah dimengerti.

  10. Apakah penggunaan Dalam doa bersama maupaun R2,R3, R4, Bahasa Jawa dapat doa pribadi senantiasa R5, R6, R7, membantu Bapak/ibu menggunakan Bahasa Jawa R8, R9, R11 dalam mendaraskan doa karena lebih akrab digunakan pribadi dan doa bersama? dan lebih mudah diucapkan

  Walaupun terbiasa R10, R12 menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi namun, dalam doa pribadi membantu Bapak/ibu masyarakat, dan senantiasa untuk memaknai Ekaristi menanamkan rasa saling dalam hidup sehari-hari? menghargai dan menghormati satu sama lain.

  Umat senantiasa berusaha R2, R3, R4, R5, R7, R8, menjadi orang Katolik yang R9, R11, R12 sejati ditengah-tengah masyarakat tanpa membeda- bedakan, namun sebagai manusia banyak pula godaan dan kekurangannya.

  Nilai-nilai Kristiani dapat R6, R10 diterapkan dalam masyarakat, namun sebagai kaum minoritas tidak dengan mudah menerapkannya.

  Tabel 3 Usulan dan harapan umat terhapat Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi

  

No Pertanyaan Jawaban Responden

  12. Apa usulan Bapak/ibu Usulan kedepannya bahasa R1, R2, R5, terhadap penggunaan Jawa harus senantiasa R6, R7, R8, Bahasa Jawa dalam digunakan mengingat umat R9, R10, Perayaan Ekaristi di Stasi lebih merasa menghayati, R11, R12 St. Fransiskus Xaverius dengan tidak menutup Kemranggen? Mengapa? kemungkinan dilaksanakan kembali Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia, namun hal ini membutuhkan waktu karena tidak semua umat setuju dengan penggunaan Bahasa Indonesia. Tidak meninggalkan Bahasa R3, R4, R8 Jawa sebagai identitas orang Jawa.

  Fransiskus Xaverius Kemranggen. Responden dalam penelitian ini ialah 7 kaum muda yang memperoleh data melalui metode FGD [Lampiran 3: (5)].

  Tabel. 4 Pandangan umat tentang penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  

No Pertanyaan Jawaban Responden

  1 Menurut saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St.

  Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Sejak kecil (1999-2006) Ekaristi sudah menggunakan Bahasa Jawa.

  R13, R14, R15, R16, R17, R18, R19

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Alasan penggunaan Bahasa Jawa yaitu karena bahasa sehari-hari yang digunakan, sebagai sarana untuk lebih mempermudah umat dalam menanggapi Sabda Tuhan.

  R13, R14, R15, R16, R17, R18, R19

  3. Apakah Bahasa Jawa Di Stasi Kemranggen Pernah R13, R14,

  Xaverius Kemranggen? umat tidak hanya terbiasa mengguanakan Bahasa Jawa.

  4. Bagaimana tanggapan Umat lebih merasa khidmat R13, R14, umat terhadap penggunaan apabila mengikuti Perayaan R15, R16, Bahasa Jawa dalam Ekaristi dengan R17, R18, Perayaan Ekaristi? menggunakan Bahasa Jawa R19 dan dapat mengikuti dengan baik.

  5 Bagaimana tanggapan Perayaan Ekaristi dengan R13, R14, saudara terhadap Bahasa Jawa sulit dimengerti, R15, R16, penggunaan Bahasa Jawa karena zaman lebih akrab R17, R18, dalam Perayaan Ekaristi? menggunakan Bahasa R19

  Indonesia.

  Tabel. 5 Pengunaan Bahasa Jawa dan Penghayatan umat tentang Perayaa Ekaristi

  

No Pertanyaan Jawaban Responden

  6. Apakah penggunaan Penggunaan Bahasa dalam R14, R16, ialah rasa malas karena R17, R19 mementingkan acara pribadi ataupun apabila ada acara dalam sekolah menjadi alasan untuk tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi

  7. Apakah pengggunaan Penggunaan Bahasa Jawa R13, R14, Bahasa Jawa mendorong kurang mendorong R15, R16, partisipasi saudara dalam parisipasi dalam tugas di R17, R18, mengikuti Perayaan Gereja karena tidak percaya R19 Ekaristi? Bagaimana diri dan takut salah, namun bentuk partisipasinya? dalam lagu-lagu dan Dialog antar romo dengan umat dapat mudah diikuti.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Kitab Suci tentu R13, R14, Bahasa Jawa membantu sangat berbeda dengan R15, R16, saudara pada saat bahasa yang biasa R17, R18 pembacaan Kitab Suci dan digunakan. Sulit dimengerti yang biasa digunakan sehingga dapat diterima dan sangat membantu dalam memahami Sabda Tuhan.

  9. Apakah penggunaan penggunaan bahasa Jawa R13, R14, Bahasa Jawa dapat yang sejak awal digunakan R15, R16, membantu saudara dalam maka senantiasa dapat R17, R18, menghayati Perayaan mengerti walau kadang- R19 Ekaristi dalam Liturgi kadang ada beberapa istilah Ekaristi? yang kurang dipahami.

  10. Apakah penggunaan Sebagai kaum muda yang R13, R14, Bahasa Jawa dapat lebih akrab dengan Bahasa R15, R16, membantu saudara dalam Indonesia, walaupun dari R17, R18, mendaraskan doa pribadi kecil selalu mengikuti R19 dan doa bersama? Perayaan Ekaristi dengan

  Bahasa Jawa, namun untuk doa pribadi menggunakan Bahasa Indonesia. pada saat doa bersama dengan umat

  Dalam doa pribadi R13, R15, mengunakan Bahasa R17, R19 Indonesia. Bagi anak sekolah, pada saat menerima pelajaran di sekolah yang selalu mengunakan Bahasa Indonesia.

  11. Apakah penggunaan Bagi kaum muda yang R13, R14, Bahasa Jawa dapat masih sekolah terutama R15, R16, membantu saudara untuk sekolah di sekolah negeri R17, R18, memaknai Ekaristi dalam yang sebagian muslim dirasa R19 hidup sehari-hari? sulit untuk menerapkannya walaupun senantiasa berpegang teguh pada iman yang diyakini sejak lahir. Tidak jarang pula timbul rasa takut dan kurangnya rasa percaya diri karena tidak punya banyak teman ini akan sangat mudah dilaksanakan karena mayoritas muridnya Katolik. Selain apa yang teah diterima dan dirayakan dalam Perayaan Ekaristi, situasi sekolah juga sangat mendukung untuk menanamkan nilai-nilai kristiani ditengah masyarakat Sebagian yang lainnya R14, R16, menanamkan nilai kritiasni R17, R18, tidaklah mudah mengingat R19 sekeliling dan juga teman sebaya yang hampir seluruhnya muslim, dalam hal mencari jodoh juga

Tabel. 6 Usulan atau Harapan Umat terhadap Bahasa Jawa dalam Perayaa Ekaristi

  

No Pertanyaan Jawaban Responden

  12. Apa usulan saudara Dijadwalkan kembali R14, R15, terhadap penggunaan Perayaan Ekaristi dengan R16, R18, Bahasa Jawa dalam menggunakan Bahasa R19 Perayaan Ekaristi di Stasi Indonesia untuk St. Fransiskus Xaverius memberikan kesempatan Kemranggen? Mengapa? kepada kaum ikut berpartisipasi.

  Perayaan Ekaristi R13, R10, menggunakan Bahasa R17 Indonesia dirasa sangat penting untuk dilatih sejak dini mengingat banyak remaja yang keluar dari daerah dan mengikuti Perayaan Ekaristi dengan

2. Pembahasan Penelitian

  Pada bagian ini penulis akan menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan di stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen. Tujuan dari penelitian yang lakukan ialah mengetahui pandangan umat mengenai penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, mengetahui sejauh mana penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu umat dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, Mengetahui usulan atau harapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen.

  a.

  

Pandangan umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen tentang

penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  Berdasarkan tabel 1 umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen memandang penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi dimulai sejak adanya Agama Katolik masuk dalam wilayah Kemranggen. Kemudian pada tabel 4, kaum muda menyebutkan bahwa dari sejak awal mengikuti Perayaan Ekaristi sudah menggunakan Bahasa Jawa. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa para misionaris dari Paroki Kutoarjo telah mengikuti perkembangan ajaran Gereja, sepuluh tahun kemudian setelah Konsili Vatikan II barulah menggunakan bahasa Jawa. Hal ini sesuai dengan keadaan umat, walaupun awalnya Misa dilakukan keliling dari rumah kerumah yang lain dan masih sangat jarang dilaksanakan. (R4) Kemudian dipertegas dengan responden 8 sebagai orang Katolik generasi pertama, mengemukakan bahwa Bahasa Jawa digunakan sejak masuknya Agama Katolik ke wilayah Kemranggen pada waktu itu. Seorang pastor membawa dan mengajarkan agama Katolik dengan menggunakan Bahasa Jawa termasuk dalam Tata Perayaan Ekaristi. Responden 1, 2, 5, 6, 7, 9, dan 10 menyampaikan bahwa menjadi orang Katolik sejak menikah pada tahun 1988 dan pilihan pribadi pada tahun 1990, mulai mengikuti Perayaan Ekaristi sudah menggunakan Bahasa Jawa. Responden 11, 12, dan FGD sebagai orang katolik sejak lahir dan mengingat saat mulai mengikuti Perayaan Ekaristi kira-kira pada saat berusia 7 tahun sudah menggunakan Bahasa Jawa.

  Menurut responden yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi ialah, responden 1 mengungkapkan bahwa:

  Stasi Kemranggen merupakan stasi didesa yang telaknya paling jauh dari Paroki dan masih memegang teguh budaya Jawa khususnya Bahasa Jawa, sehingga Bahasa Jawa digunakan dalam menyampaikan dan sebagai sarana pengungkapan iman umat, hal ini diniai sangat cocok dengan keadaan dan situasi yang dialami oleh para misioner sehingga mempermudahkan umat dalam menanggapai Sabda Tuhan serta melihat umat yang dihadapi sebagian besar ialah orang tua. Alasan penggunaan Bahasa Jawa diperkuat lagi dengan jawaban dari responden 4, 6, 7, 11, dan 12 yaitu urut serta dalam melestarikan budaya Jawa, supaya tidak kehilangan identitas sebagai orang jawa. Dengan demikian maka tercapainyalah apa yang terdapat dalam SC 36 dimana dikatakan bahwa “bahasa pribumi akan jauh bermanfaat bagi umat setempat”.

  Pernyataan bahwa Bahasa Jawa menjadi bahasa sehari-hari dipertegas dengan jawaban umat mengenai Bahasa Jawa yang senantiasa digunakan dalam setiap Perayaan Ekaristi. Responden 3 menjawab bahwa:

  Bahasa Jawa selalu digunakan dalam setiap Perayaan Ekariti di Stasi Kemranggen, namun pada saat ada seorang Romo yang dari Manado, Stasi Kemranggen mendapat jadwal Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa, pada saat itulah umat diperkenalkan dengan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia. Hal ini bertujuan agar umat juga bisa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia pada saat mengikuti Ekaristi di Paroki. Namun setelah romo pindah, Perayaan Ekariti kembali lagi dengan menggunakan Bahasa Jawa.

  (R3) Semua responden menjawab sama bahwa Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam setiap Perayaan Ekaristi, namun pada saat ada seorang

  Romo dari Manado yang kurang paham dengan Bahasa Jawa mulai memperkenalkan penggunaan Bahasa Indonesia dalam Misa dengan tujuan

  Menurut responden bagaimana tanggapan umat tentang penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi. Responden 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan FGD mengungkapkan bahwa umat merasa lebih khidmat dan dapat mengikuti dengan baik Perayaan Ekaristi. Sedangkan resonden 9, 10, 11 dan 12 mengungkapkan karena terbiasa menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi yang menjadikan umat dapat memahami dibandingkan dengan Perayaan Ekarisi dengan Bahasa Indonesia yang dirasa kurang menyentuh

  

hati umat karena tidak terbiasa. Hal ini berdasarkan dengan “asal usul suku

  Jawa yang juga berkaitan den gan bahasa yang digunakan, yaitu Bahasa Jawa” (Endraswara, 2015:169).

  Pernyataan tanggapan masing-masing umat terhadap Perayaan Ekaristi Bahasa Jawa dipertegas lagi dengan jawaban mengenai tanggapan umat pribadi terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  Responden 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 11 menyatakan bahwa dengan Bahasa Jawa dapat lebih membantu dalam menghayati, lebih khusuk serta lebih mantab mengikuti Perayaan Ekaristi. Diperkuat dengan pernyataan responden 2 yang menyatakan bahwa:

  Akan jauh lebih menyentuh hati apabila mengikuti Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa, bahkan pada saat melihat Perayaan Ekaristi pada hari besar melalui siaran televisi apabila ada kepada setiap golongan yang berbeda. Secara resmi ada dua jenis Bahasa Jawa yang diguanakan oleh masyarakat suku Jawa, yaitu Bahasa Jawa Ngoko dan Bahasa Jawa Krama, dalam Perayaan Ekaristi digunakan Bahasa Jawa Krama yang digunakan kepada orang yang status sosialnya lebih tinggi (Endraswara, 2015:169). Namun lain halnya dengan responden 10, 12, dan FGD yang berbeda dalam menanggapi Bahasa Jawa yang digunakan, mereka cenderung lebih memilih dan mudah memahami dengan pengguanaan Bahasa Indonesia. Mereka beranggapan bahwa untuk sekarang ini Bahasa Indonesia umum digunakan dan lebih akrab didengar khususnya dalam kalangan anak muda dan anak-anak pada waktu disekolah maupun dalam lingkungan. Dalam lingkungan sekolah guru bahasa mengajarkan agar para muridnya terampil menggunakan bahasa Indonesia, karena dengan terampil berbahasa maka murid maka dapat diharapkan akan bisa berkomunikasi dengan ornag lain dengan baik dan lancar (Taringan, 2009).

  Bertolak dari tanggapan umat terhadap penggunaa Bahasa Jawa, kemudian apakah penggunaan bahasa berpengaruh terhadap kehadiran umat

  

dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. “Bahasa bukanlah menjadi kendala

  kehadiran umat dalam mengikuti Perayaan Ekaristi, pada umumnya cuaca

  

yang menjadi kendala utama” (R11). Berdasarkan keaktifan “umat yang setiap Perayaan Ekaristi selalu menggunakan Bahasa Jawa maka mau tidak mau umat senantiasa mengikuti bahwa mereka yang lebih memilih bahasa Indonesiapun aktif mengikuti Perayaan Ekaristi. Responden 11 dan FGD menambahkan jawaban yang menyatakan cuaca menjadi penguruh utama dalam kehadiran umat karena jarak rumah umat dengan Gereja yang cukup jauh. Sedangkan yang dihasilkan FGD oleh para remaja menyatakan kadang kala lebih mementingkan acara pribadi ataupun bersama teman-teman lain yang menjadi kendala untuk tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi.

  Menurut responden apakah penggunaan Bahasa Jawa yang sebagian umat menjawab bahwa Bahasa Jawa ialah Bahasa yang digunakan setiap hari dan karena terbiasa, apakah hal tersebut mendorong partisipasi umat dalam mengikuti Perayaan Ekaristi serta bagaimanakah bentuk partisipasinya.

  Semua responden menjawab dapat mengikuti aktif dalam lagu, menanggapi mazmur, doa maupun dialog dengan romo. Hal ini berkaitan dengan

  

“partisipati umat beriman dalam liturgi berdasarkan tugas dan tanggungjawab

  di dalam Perayaan Ekaristi. Selain petugas tertasbih, diantara umat beriman juga dipilih petugas liturgi dan ambil bagian dalam pelayan liturgi, seperti mazmur, lektor, pemandu lagu, k

  oster” (Martasudjita, 2009:109). Partisipasi

  umat tersebut juga mencerminkan pembaharuan dalam Konsili Vatikan II cenderung lebih fasih dan cepat dalam mengucapkannya. Adapun bentuk

  partisipasinya ialah sebagai berikut. Responden 2 menjawab bahwa ”

  Dengan bahasa yang digunakan akan turut mendorong partisipasi dalam Perayaan Ekaristi terutama dalam mazmur walaupun masih terus belajar namun tetap berusaha untuk tampil sejauh bisa dilaksanakan, terkadang meminta bantuan kepada saudara yang bukan Katolik yang bisa membaca not balok, hal ini tidak membuat malu justru memotivasi untuk lebih berusaha lagi. (R2) Pernyataan dari responden 2 mendapat dukungan dari responden 9 yang juga kadang kala menggantikan menjadi mazmur. Stasi St. Fransiskus

  Xaverius Kemranggen memang belum lama mengggunakan mazmur yang dinyanyikan, namun beberapa tahun belakangan mendapat dukungan dari paroki untuk menyanyikan mazmur. Partisipasi yang paling banyak yaitu lektor serta doa umat yang dijawab oleh responden 3, 5, 6, 9, 11 dan 12.

  Sedangkan responden 10 dan FGD mengemukakan bahwa merasa kurang yakin apabila ingin bertugas karena sudah ada petugasnya, namun apabila Misa dengan Bahasa Indonesia tidak menutup kemungkinan untuk dapat bertugas sebagai lektor. Responden 4 dan 8 keran sudah sepuh maka merasa sudah tidak sanggup lagi untuk ikut berpartisipasi mengingat banyak yang lebih muda untuk dapat bertugas. dapat ditemukan bahwa penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu umat dalam mengerti dan menghayati pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili.

  Hal ini berkaitan dengan apa yang telah disampaikan oleh Ernes Mariyanto dalam bukunya

  “Gereja Katolik Pasca Konsili II” “bahasa setempat yang

akan lebih muda diikuti dan dimengerti”. Namun berbeda dengan tabel 5,

  kaum muda apa yang dikemukanan oleh kaum remaja, mereka cenderung lebih memilih Bahasa Indonesia dalam Perayaan Ekaristi.

  Sebagai orang Jawa tulen saya merasa bahwa Kitab Suci dengan Bahasa Jawa akan sanat mudah dipahami, berbeda dengan bacaan Kitab Suci dengan Bahasa Indonesia, walaupun sekarang ini bahasa Indonesia lumrah digunakan dalam setiapkalangan namun apabila mendengarkan ataupun membaca Kitab Suci dengan bahasa Jawa akan sangat menyentu hati. (R 3) Pernyataan dari responden 3 mendapat dukungan dari sebagian besar responden yakni responden 1, 2, 4, 5, 6 dan 11 yang senantiasa menyatakan bahwa bacaan dan homili dengan menggunakan Bahasa Jawa dapat dengan mudah diterima dan dipahami karena sudah terbiasa, walaupun kadangkala ada beberapa istilah yang kurang dipahami dalam namun dengan homili yang disampaikan romo dapat memperjelas maksud yang ingin disampaikan dalam Kitab Suci. Responden 7, 8, dan 9 memperkuat lagi dengan pernyataan bahwa Bahasa Jawa bukanlah menjadi kendala karena sejak dulu akrab didengarkan, menggunakan Bahasa Indonesia. Umat tersebut menyatakan bahwa mendengarkan Kitab Suci cenderung hanya pada saat di Gereja pada setiap hari minggu sehingga haruslah sungguh-sungguh dihayati dengan baik.

  Pengaruh Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi dipertegas lagi melalui jawaban mengenai apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu umat dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi. Sebagian besar responden dari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 11 menyatakan bahwa Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi sangat membantu dalam menghayati dan lebih menyentuh hati umat pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan demikian maka tercapailah apa yang dikemukakan dalam SC 36 yang menyatakan bahwa dalam Misa maupun dalam bagian-bagian liturgi, bahasa pribumi akan jauh lebih bermanfaat dan sudah sewajarnya apabila mendapat keleluasaan. Hal ini ditekankan ke

  mbali oleh responden 11 menyatakan bahwa “setiap

  mengikuti Perayaan Ekaristi selalu menggunakan Bahasa Jawa sehingga sudah akrab apabila berdoa kepada Tuhan dalam doa pribadi selalu

  

menggunakan Bahasa Jawa”. Responden 12, dan FGD kembali menyatakan

  dan tetap berpegang bahwa mereka lebih memilih Bahasa Indonesia walaupun sudah terbiasa dengan Bahasa Jawa.

  Menurut responden apakah penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan

  

memanjatkannya dengan lebih ekspresif”. Berkaitan dengan hal tersebut

  responden 2 menjawab bahwa kebiasaan dengan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi juga berpengaruh pada saat mendaraskan doa pribadi dan doa bersama, kecuali dalam doa Malaikat Tuhan yang lebih mudah dihafal dan merasa lebih singkat dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Reponden 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 11 juga menyatakan hal yang demikian, karena keterbiasaan menggunakan Bahasa Jawa dalam Misa menjadikan lebih mudah mengucapkan doa pribadi muapun doa bersama dengan Bahasa Jawa. Lain halnya dengan responden 10,12 dan FGD yang masih pada jawaban bahwa menggunakan Bahasa Indonesia dirasa lebih mudah diucapkan karena akrab mendengarkan Bahasa Indonesia.

  Menurut hasil wawancara dengan umat, apakah Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa dalam membantu umat untuk memaknai Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran secara bebas dan aktif dalam mengikuti Perayaan Ekaristi diharapkan akan sampai kepada pengalaman misteri iman dalam kehidupan sehari-hari (Martasudjita, 2009:108).

  Umat Katolik di Stasi Kemranggen mendapatkan tempat di kalangan masyarakat setempat dengan turut terlibat menjadi dalam perangkat desa maupun pemerintahan, hal ini membuktikan bahwa umat Katolik dapat senantiasa menyesuaikan diri dalam masyarakat yang memunculkan rasa saling menghargai dan menghormati satu sama lain sudah lama dianutnya. Kemudian responden 3 menambahkan lagi bahwa dalam lingkungan kerjanya hanya seorang diri yang beragama Katolik, tidak ada yang merasa keberatan bahkan dalam lingkungan menjadi ketua RT, hal ini tentu saja suatu penghargaan sebagai kaum minoritas. Responden 2, 4, 5, 7, 8, 9, 11, dan 12 senantiasa berusaha untuk dapat menerapkan nilai-nilai Kristiani kedalam hidup bermasyarakat tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain, namun sebagai manusia yang lemah dan banyak kekurangan maka hal itu tidak dapat sepenuhnya dilaksanakan. Ditambah dengan jawaban dari respoden 6 yang menyatakan bahwa umat Katolik di Stasi Kemranggen merupakan umat yang sangat minoritas sehingga tidak dengan mudah dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hasil dari FGD yang diungkapkan oleh kaum muda juga menyatakan bahwa menerapkan nilai Kristiani tidak mudah dengan berhadapan dengan kaum yang mayoritas terutama dalam lingkungan sekolah bagi yang sekolah di sekolah Negeri, namun lain halnya bagi yang sekolah di sekolah Katolik yang selalu diajarkan untuk hidup berdasarkan nilai-nilai Kristiani setiap saat dan lingkungan sekolahpun dapat mendukung.

  c.

  

Usulan atau Harapan Umat terhadap Penggunaan Bahasa Jawa dalam dalam segi penghayatan. Dengan demikian umat tetap berharap supaya Bahasa Jawa akan tetap digunakan. Namun tidak menutup kemungkinan dengan penggunaan bahasa Indonesia. Hal tersebut juga diperoleh dari tabel 6 yang menyebutkan bahwa kaum muda juga mengharapkan adanya selingan, tidak hanya menggunakan Bahasa Jawa saja namun tidak meninggalkannya.

  Sebagai orang tua tentu saja mengerti kebutuhan yang dirasakan oleh anak-anak dan remaja yang pada umumnya keluar dari daerah Kemranggen. Berdasarkan pengalaman mereka, tentu saja tidak atau pernah sesekali mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia sehingga pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi Bahasa Indonesia sedikit kesulitan padahal mereka akan jauh lebih mengerti apabila menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga akan lebih baik jika kembali dijadwalkan Ekaristi Bahasa Indonesia, namun hal itu butuh proses, karena sebagian besar umat sudah terbiasa dan lebih membantu menghayati, sehingga tidak semua umat setuju menggunakan Bahasa Indonesia. (R 6) Pernyataan dari R6 tersebut mendapat dukungan dari hampir semua responden yang menyatakan bahwa tetap mempertahankan Bahasa Jawa karena memang dirasa sangat membantu dalam segi penghayatan. Responden 1, 2, 3, 7, 8, 9, 10, 11, 12 dan FGD menghendaki Bahasa Jawa harus tetap dipakai dalam Perayaan Ekaristi, namun ada kalanya juga adanya Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Indonesia walaupun tidak harus setiap bulan. Demi terbuka dengan bahasa lain dan supaya umat juga senantiasa dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia pada saat

  Dari kaum muda sangat mengharapkan adanya Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. walaupun tidak rutin namun tetap memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk bisa lebih menghayati dengan menggunakan Bahasa Indonesia serta dapat ikut berperan didalamnya seperti misalnya menjadi lektor. (FGD) Pernyataan tersebut dinyatakan oleh salah satu peserta FGD yang sebagian besar dari mereka sangat menghendaki adanya Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Sedangkan responden 3, 4, dan 8 tidak menyebutkan bahwa adanya selingan dengan Bahasa Indonesia namun lebih menyatakan supaya tidak meninggalkan Bahasa Jawa dan tetap menggunakan Bahasa Jawa, supaya tidak kehilangan identitas sebagai orang Jawa.

D. Kesimpulan Penelitian

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa penggunaan Bahasa Jawa membantu umat dalam menghayati Perayaan Ekaristi. Hal ini dapat diperoleh dari jawaban responden yang menyatakan bahwa penggunaan Bahasa Jawa membantu umat dalam menanggapai Sabda Tuhan serta memperdalam iman Kristiani. Stasi St. Fransiskus Xaverius menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi sejak masuknya Agama Katolik ke dalam wilayah Kemranggen dan sesuai dengan keadaan dan kondisi umat setempat yang senantiasa menggunakan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa dianggap lebih sopan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, namun hal ini berbeda dengan apa yang dirasakan oleh kaum muda. Melihat tujuan awal penggunaan bahasa daerah supaya membantu umat ternyata tidak sepenuhnya terlaksana dan dirasakan oleh kaum muda.

  Sampai saat ini Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Kemranggen selalu menggunakan Bahasa Jawa, hal tersebut menjadikan umat sulit untuk mengikuti Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun pernah diperkenal Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia pada saat ada seorang romo dari Manado. Romo tersebut selain kurang pandai Bahasa Jawa, juga bertujuan supaya pada saat umat Stasi St. Fransiskus Xaverius mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari besar di Paroki ataupun pada saat mengikuti dengan menggunakan Bahasa Indonesia, umat senantiasa aktif dalam mengikuti dan dapat memahaminya. Namun, setelah romo tersebut pindah tugas, umat Stasi Kemranggen tidak lagi menggunakan Bahasa Indonesia dalam Perayaan Ekaristi.

  Penggunaan Bahasa Jawa tidak hanya dalam Perayaan Ekaristi melainkan dalam mendaraskan doa pribadi maupun doa bersama oleh umat. Gereja yang cukup jauh. Kaum muda mengungkapkan kendalanya ialah karena lebih mengutamakan acara pribadi maupun acara sekolah. Meskipun kaum muda lebih memilih dengan menggunakan Bahasa Indonesia namun mereka senantiasa datang dan tidak menjadikan bahasa sebagai alasan untuk tidak hadir. Sebagai orang Jawa maka penggunaan Bahasa Jawa dirasa sangat efektif sebagai sarana berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Hal ini dibuktikan dengan masih eksisnya Bahasa Jawa dihati umat Stasi St. Fransikus Xaverius Kemranggen. Bahasa Jawa yang mampu menggerakkan hati umat untuk berusaha ikut ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi, selain aktif dalam mengikuti langkah demi langkah juga dalam tugas seperti mazmur, doa umat, serta lektor. Bagi kaum muda hal ini tidak bisa sepenuhnya dirasakan, mereka lebih akrab mendengarkan dan menggunakan bahasa Indonesia sehingga akan jauh lebih mengerti dan menghayatinya.

  Umat menyadari bahwa Bacaan Kitab Suci umumnya hanya didengarkan pada saat hari minggu saja membuat umat menyadari pentingnya untuk sungguh-sungguh dapat menangkap maksud dari Bacaan yang disampaikan. Homili yang disampaikan oleh romo dapat membantu umat dalam memahami dan dapat membantu penerapan dalam kehidupan di masyarakat. Melalui bahasa yang merupakan bahasa umat, namun umat juga di kalangan masyarakat setempat. Hal ini tidak membatasi umat dalam ikut serta dalam kegiatan maupun terlibat dalam kepengurusan dalam Desa. Umat Katolik cukup mendapat tempat di masyarakat setempat. Terbukti dengan adanya umat Katolik yang menjadi ketua RT, RW ataupun perangkat desa.

  Pada saat hari besar dirayakan Natal maupun Paskah, umat Katolik senantiasa mengundang perangkat desa untuk menyampaikan sambutan serta ramah tama bersama umat setelah Perayaan Ekaristi selesai. Pagelaran seperti kuda lumping, wayang, serta keroncong juga pernah ditampilkan untuk memeriahkan perayaan, tidak jarang pula umat dari agama lain yang meminta untuk menampilkan kebudayaan lain. Hal ini mendapat tanggapan positif dan baik untuk terus dilestarikan untuk semakin menumbuhkan rasa menghormati dan menghargai antar umat beragama.

  Sebagai orang Jawa yang turut serta dalam melestarikan budaya Jawa melalui Bahasa Jawa yang akan senantiasa luntur digerus zaman apabila tidak digunakan. Identitas orang jawa salah satunya dengan bahasa Jawa yang digunakan sehingga sejak dini Bahasa Jawa sudah seharusnya diajarkan kepada anak cucu sebagai generasi penerus. Walaupun dari awal sudah menggunakan Bahasa Jawa, pada kenyataannya hal ini tidak membantu kaum muda dalam menghayati Perayaan Ekaristi, mereka cenderung memilih Bahasa Indonesia, dengan tidak meninggalkan Bahasa Jawa, namun hal ini diperlukan adanya kesepakatan dengan seluruh umat untuk kembali menjadwalkan Bahasa Indonesia dalam Perayaan Ekaristi sebagai selingan dengan Bahasa Jawa, karena tidak semua umat setuju dengan hal itu. Melihat kenyataan bahwa Bahasa jawa sangat membantu umat dalam menghayati Perayaan Ekaristi.

BAB IV KATEKESE MODEL SCP (SHARED CHRISTIAN PRAXIS) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PENGHAYATAN AKAN PERAYAAN EKARISTI BAGI KAUM MUDA DI STASI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS KEMRANGGEN, PAROKI KUTOARJO Berdasarkan hasil penelitian, penulis mengetahui bahwa penggunaan Bahasa Jawa ditanggapai berbeda antara orang dewasa dengan kaum muda. Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi dapat membantu penghayatan

  umat orang dewasa di Stasi St. Frasiskus Xaverius. Kemranggen. Usaha Gereja untuk membantu penghayatan umat dengan menggunakan bahasa setempat ternyata tidak dirasakan oleh kaum muda. Kaum muda cenderung hanya mengikuti dan tingkat penghayatannya kurang mendalam. Mereka tidak memiliki pilihan lain dan menganggap Perayaan Ekaristi hanya rutinitas yang harus dipenuhi sebagai seorang Katolik yang mau tidak mau harus senantiasa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa. Hal ini diperoleh dari hasil FGD yang telah dilaksanakan kepada kaum muda.

  Dalam bab IV ini akan diuraikan usulan program katekese bagi kaum muda di Stasi St. Farnsiskus Xaverius Kemranggen. Usulan program ini sebagai

  ,

  usulan program katekese dengan model SCP Contoh Satuan Program Katekese Model SCP.

  A.

  

Berbagai Upaya untuk Meningkatkan Penghayatan akan Perayaan

Ekaristi 1.

  Pentingnya Penjadwalan Misa

  Sebagai upaya meningkatkan penghayatan umat akan Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemrangen, ialah pentingnya memperhatikan penjadwalan misa. Penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi senantiasa membantu umat dalam menghayatinya. Hal ini sesuai dengan rumusan dari SC 36 yang menyebutkan bahwa di dalam Misa maupun bagian liturgi lainnya, bahasa setempat dirasa lebih bermanfaat bagi umat. Namun, kaum muda tidak sunggung-sungguh menghayati Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa. Berdasarkan hasil penelitian, kaum mudah lebih memahami Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang dirasa sesuai dengan situasi yang mereka alami.

  Berdasarkan pengalaman tidak semua pastor yang bertugas di Paroki Kutoarjo berasal dan tahu bahasa Jawa serta dapat memimpin misa dengan bahasa Bahasa Jawa. Maka alangkah lebih baik apabila penjadwalan Misa Bahasa Indonesia. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada kaum muda serta memberi pelayanan sehingga mereka merasa tersapa dan mendapat perhatian dan dapat menghayati Perayaan Ekaristi dengan mendalam. Penjadwalan misa juga dimaksudkan supaya seluruh umat, baik orang tua maupun kaum muda senantiasa menghayati Perayaan Ekaristi serta dapat turut berperan aktif didalamnya.

2. Perayaan Ekaristi untuk Kaum Muda

  Sebagai upaya untuk meningkatkan penghayatan kaum muda akan Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, ialah dengan diadakannya Perayaan Ekaristi untuk kaum muda. Ekaristi Kaum Muda (EKM) merupakan hal baru bagi kaum muda di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, dengan memberikan nuansa baru diharapkan dapat membantu meningkatkan penghayatan kaum muda dalam Perayaan Ekaristi. Dari penelitian diperoleh data bahwa kaum muda merasa tidak sesuai dengan bahasa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi, mereka beranggapan bahwa bahasa tersebut tidak cocok dengan kondisi saat ini. Perayaan Ekaristi merupakan suatu perayaan, di dalamnya terdapat orang-orang dengan penuh syukur, begitu juga dengan kaum muda. Kaum muda dengan penuh syukur merayakan dengan terlibat didalamnya. Pemilihan tema Misa seharusnya

  EKM bertujuan untuk memberikan kemungkinan kaum muda untuk merayakan iman serta membantu kaum muda dalam menghayati Perayaan Ekaristi dengan menggunakan gaya kaum muda. Mulai dari pakaian, ekspresi, lagu, serta pastor yang memimpin supaya disesuaikan dengan kondisi kaum muda. EKM memberikan tempat kepada mereka untuk dapat merayakan dan sungguh menghayati Perayaan Ekaristi dengan nuansa yang sesuai dengan mereka. Dengan suasana yang disesuaikan dengan kaum muda, diharapkan supaya dapat membantu dalam penghayatan Perayaan Ekaristi. Inilah ruang bagi kaum muda untuk dapat mengekspresikan secara bebas kehendak hati dalam mengungkapkan iman mereka seturut dengan apa yang mereka alami dan zamannya .

3. Katekese bagi Kaum Muda dengan Model SCP

  Sebagai upaya meningkatkan penghayatan kaum muda di Stasi St, Fransiskus Xaverius Kemranggen, ialah dengan katekese bagi kaum muda.

  Bertolak dari penelitian yang telah dilakukan, penghayatan kaum muda terhadap Perayaan Ekaristi masih kurang mendalam. Salah satu kendalanya ialah penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi, kaum muda merasa bahwa bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan keadaan dan situasi dimaksudkan mendorong peserta untuk menemukan pengalaman hidupnya dengan Tradisi Kristiani demi terwujudnya keterlibatan baru.

  Katekese dengan model SCP menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan penghayatan akan Perayaan Ekaristi bagi kaum muda. Melalui katekese, kaum muda dapat saling mensharingkan apa yang menjadi kerinduan yang dirasakan selama ini terutama dalam hal penghayatan Ekaristi Bahasa Jawa. Sehingga apa yang mereka rayakan bersama tidak hanya berhenti pada mengerti maksudnya saja melainkan dapat sungguh-sunggguh memahami dan menghayati Perayaan Ekaristi serta dapat terlibat di dalamnya. Dengan demikian kaum muda turut serta dalam proses pewartaan kepada sesama dan upaya Gereja yang terdapat dalam SC mengenai tujuan digunakannya bahasa setempat dapat sungguh terlaksana dan mampu menggerakkan kaum muda untuk dapat terlibat aktif dalam Perayaan Ekaristi.

  B.

  

Katekese bagi Kaum Muda Sebagai Salah Satu Upaya Meningkatkan

Penghayatan Akan Perayaan Ekaristi 1. Pengertian Katekese

  Catechesi Tradendae

  Paus Yohanes Paulus II dalam (CT) art. 18

  mendefinisikan arti dari katekese sebagai berikut “... katekese ialah suatu pembinaan iman yang mencakup penyampaian ajaran Kristen yang diberikan secara sistematis dan organis dengan tujuan supaya dapat memenuhi kehidupan Kristen. Melalui katekese, Gereja berusaha untuk membantu umat beriman supaya lebih memahami dan menghayati hidup Kristen dengan harapan dapat diwujudkannyatakan dalam kehidupan sehari- hari. Terdapat tiga pokok yang disampaikan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam CT ialah: pembinaan iman kepada anak-anak dan orang dewasa, penyampaian ajaran Kristen, dengan harapan mengantarkan pendengar katekese supaya hidup secara Kristen sungguh dapat dipenuhi.

  PPKI II (Lalu, 2007: 12) mendefinisikan ketekese yang lebih akrab dengan katekese umat sebagai suatu komunikasi iman atau tukar pengalaman iman. Masing-masing peserta katekese membawa kesaksian sebagai orang kristiani yang kemudian saling bertukar dan saling meneguhkan dan memperkaya satu sama lain. Pengalaman dikasihi oleh Yesus Kristus yang secara bebas dan kehendak hati untuk mengimani Yesus Kristus. Dengan kesaksian akan sabda Allah yang telah tersampaikan dan kemudian ditanggapai oleh umat itu sendiri. Dalam hal ini yang bekatekse ialah umat yang senantiasa berkumpul atas nama Yesus Kristus.

  Katekese ialah salah satu bentuk perwujudan Gereja, yang bermaksud konkrit kepada keselamatan Allah. Bentuk perwujudan Gereja antar lain perayaan liturgi, permakluman sabda dan usaha-usaha sosial dan keutamaan- keutamaan yang lain.

2. Tujuan Katekese

  Berdasarkan dari definisi katekese dapat dikatakan bahwa katekese bertujuan untuk membantu umat Kristiani lebih memaknai ajaran Kristus sehingga dapat semakin beriman kepada Yesus Kristus. Paus Yohanes Paulus

  II dalam CT art. 25 memaparkan tujuan katekese sebagai berikut: Pada intinya katekese sungguh perlu baik bagi pendewasaan iman maupun bagi kesaksian umat Kristen ditengah masyarakat: tujuannya ialah mendampingi umat Kristen untuk meraih kesatuan iman serta pengertian akan Putera Allah, kedewasaan pribadi manusia, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Katekese bertujuan juga menyiapkan mereka untuk membela diri terhadap siapapun, yang meminta pertanggungjawaban mereka atas harapan yang ada pada mereka.

  Dengan ini tujuan katekese ialah supaya semakin mendewasankan iman umat beriman supaya kepenuhan hidup Kristen sungguh dirasakan dan tersampaikan dalam kehidupan. Umat senantiasa dapat beriman yang penuh sehingga tidak mudah tergoyahkan dengan hal-hal yang mungkin akan menghampiri. Suasana yang terjadi hendaknya saling terbuka dan saling

  Dalam PKKI II yang dilaksanakan pada tanggal 29 Juni s.d 5 Juli 1980 di Klendar Jakarta Yosep Lalu merumuskan tujuan katekese sebagai berikut:

  1)

  Supaya dalam terang injil kita semakin meresapi arti pengalaman-

  pengalaman kita sehari-hari 2)

  Dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari

  kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari 3)

  Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap,

  mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita 4)

  Pula kita masing bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin

  tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta 5)

  Sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam

  hidup kita di tengah masyarakat Berdasarkan rumusan dari tujuan katekese yang telah dicantumkan diatas, maka tujuan katekese yang akan dilakukan kepada kaum muda di Stasi

  St. Fransiskus Xaverius Kemrangge, ialah untuk membantu kaum muda dalam meningatkan penghayatan akan Perayaa Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa. Melalui katekese peserta diharapkan mempunyai kedasaran

3. Model Katekese

  Dalam PKKI III menyebutkan beberapa unsur dalam ketekese antara lain: proses penyadaran pengalaman hidup, hal ini menjadi pokok dalam suatu katekese karena proses katekese berpangkal dari kenyataan hidup yang dialami oleh umat. Proses penyadaran pengalaman hidup dengan terang Kitab Suci dan Tradisi Gereja, dimana umat memadukan pengalamnnya dengan pengalaman iman dalam Kitab Suci, dengan artian bahwa umat melihat campur tangan Tuhan dalam setiap pengalamannya. Yang terakhir ialah proses penyadaran akan keterlibatan untuk pembaharuan masyarakat atau keterlibatan baru, setelah umat menyadari pangilana sebagai murid maka mereka pun siap untuk menjalankan perutusan. Katekese dibagi menjadi tiga model yaitu model pengalaman hidup, model blibis, dan model campuran (Sumarno DS, 2005:11). Model-model tersebut merupakan alternatif yang digunakan dalam berkatekese seturut dengan perkembangan zaman. Dalam menyusun program yang akan dilaksanakan bagi umat di Stasi Kemranggen

  Shered Christian Praxis

  menggunakan model (SCP). Model ini bermula dari model pengalaman hidup umat yang kemudian direfleksikan secara kritis dengan pengalaman iman dan visi misi kristiani supaya muncul sikap kesadaran baru. Katekese model SCP mengutamakan peserta sebagai subyek

  Shered Christian Praxis a.

  (SCP). Tiga komponen utama dalam 1) Praxis

  Praxis dalam Shared Shristian Praxis diartikan sebagai suatu tindakan yang sudah direfleksikan. Praxis sebagai tindakan meliputi seluruh keterlibatan manusia dalam dunia, segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia dengan tujuan tertentu, yaitu suatu perubahan hidup yang meliputi kesatuan praktek dan teori, antara refleksi kritis dan histori yang mengarah kepada keterlibatan baru. Praxis merupakan suatu praktek yang didukung oleh refleksi teoritis dan sekaligus refleksi teoritis yang didukung oleh praktek. Yang merupakan ungkapan pribadi meliputi fisik, emosional, intelektual, spiritualitas dari hidup kita. Menyangkut 3 unsur pembentuk yang saling berkaitan yaitu: aktivitas, refleksi dan kreativitas (Sumarno DS, 2005:15).

2) Christian

  Corak kehidupan Kristiani terdapat dalam Tradisi Gereja, yaitu: Kitab Suci tertulis, ajaran Gereja resmi, tafsir, ajaran para teolog, praktek suci, ibadat, sakramen, simbol, ritus, peringatan, lukisan atau hiasan yang menjadi ekspresi iman akan pengalamannya kepada Allah, peristiwa historis khususnya kehadiran Allah dalam peristiwa hidup, mati dan kebangkitan memiliki pengalaman dan sejarah masing-masing serta memiliki tradisinya sendiri. Dalam hal ini setiap orang mencipakan tradisinya sendiri sebagai orang beriman. Pengalamn kontrit yang dialami oleh setiap orang inilah yang dimaksud dengan tradisi (dengan huruf t kecil).

3) Shared

  Sharing mengungkapkan berbagai rasa, pengalaman, pengetahuan serta saling mendengarkan pengalaman orang lain, shared bukan berarti peserta terus menerus harus berbicara. Dalam dialog ini meliputi untuk

  (to tell)

  penting membicarakan yang tidak sama dengan berbicara yang didasari oleh sikap keterbukaan dan kejujuran serta kerendahan hati untuk

  (to listen)

  mengungkapkan pengalaman nyata yang terjadi. Dan mendengarkan dengan hati dan rasa tentang apa yang dikomunikasikan oleh orang lain. Ketentuan sharing dalam berkatekese model SCP ialah rasa cinta kasih kepada dunia dan manusia yang menjadi dasar dalam berkomunikasi, sikap kerendahan hati dan mau menerima dan menghargai pribadi yang lain, suasana saling berharap akan kekuatan dan dukungan dengan peserta yang lain, bijaksana atas apa yang akan disharingkan. Sehingga dalam sharing diharapkan terjadinya dialog antar peserta dengan Tuhan bukan hanya anatar peserta yang lain. selanjutnya diangkat menjadi tema pertemuan. Dengan demikian tema yang diangkat sungguh-sungguh mencerminkan kehidupan umat sendiri. Langkah awal ini tidak selalu dan bahkan jarang digunakan karena sebagian besar pemandu katekese umat sudah mempersiapkan tema yang akan digunakan dalam berkatekese. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data bahwa kaum muda kurang menghayati Perayaan Ekaristi bahasa Jawa. Maka, tema sudah ditentukan sesuai dengan keprihatinan tersebut, supaya kaum muda dapat meningkatkan penghayatan akn Perayaan Ekaristi bahasa Jawa.

2) Langkah 1 (Pertama) : Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta

  Dalam langkah awal telah dibahas tentang bagaimana membuat tema yang mencerminkan hidup umat sendiri sehingga mereka mampu tersapa dengan tema yang diambil. Pada langkah pertama ini pendamping bisa membagikan teks cerita yang sesuai dengan tema ataupun video yang mampu mengantar umat, sehingga umat dapat lebih terlibat aktif untuk mensharingkan pengalamannya. Dalam langkah ini pendamping tidak boleh menanggapi sebagai suatu laporan tetapi dengan sabar, ramah dan hormat untuk mendengarkan sharing dari umat sekalian tentang pengalaman hidup yang mereka alami. Dalam langkah ini peserta mengungkapkan pengalaman

  3) Langkah II (Kedua) : Mendalami Pengalaman Hidup Peserta.

  Dalam Langkah pertama telah mendengar sharing dari umat mengenai pengalaman hidup yang mereka alami. Pada Langkah kedua ini tidak terlepas dari langkah pertama dimana para peserta diajak untuk lebih mendalami pengalaman yang mereka alami dengan panduan pertanyaan yang mampu membawa umat untuk lebih mendalami pengalaman tersebut. Supaya lebih memperdalam pada saat refleksi dan mengantar peserta untuk sampai kepada kesadaran kritis akan pengalaman hidup dan tindakannya. Dalam langkah ini peserta diajak untuk dapat mensharingkan dan saling menguatkan satu sama lain dengan bantuan pertanyaan untuk menggali pengalaman, namun tidak memaksa peserta untuk berbicara. Setelah peserta mengungkapkan pengalaman konkrit mengenai keterlibatan dalam Perayaan Ekaristi kemudian peserta diajak untuk mendalami dan merefleksikan pengalamannya tersebut.

  4) Langkah III (Ketiga) : Menggali Pengalaman Iman Kristiani

  Dalam langkah ini bertujuan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Tradisi dan visi kristiani supaya lebih terjangkau dan lebih mengena kepada kehidupan peserta yang memiliki latarbelakang yang berbeda. Dalam setiap pengalaman yang kita alami Tuhan selalu ada bersama kita. Oleh karena itu, menguatkan apa yang telah dibahas dalam katekese, sehingga iman umat semakin diteguhkan. Pengalaman peserta yang sudah direfleksikan kemudian dihubungan dengan Tradisi Gereja. Hal ini dimaksudkan supaya peserta diteguhkan, sehingga mulai muncul kesadaran sehingga mampu menggunakan unsur budaya setempat dapat digunakan untuk membantu menghayati Perayaan Ekaristi.

  5)

Langkah IV (Keempat) : Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi

peserta konkrit.

  Mengajak peserta untuk menemukan bagi dirinya sendiri nilai hidup yang hendak di garisbawahi, sikap-sikap pribadi yang picik di hilangkan dan nilai-nilai baru yang hendak di perkembangkan. Dalam langkah keempat peserta mendialogkan apa yang telah diperoleh selama berkatekese dari langkah pertama hingga langkah ketiga, dan fasilitator mengundang umat untuk melangkah kepada kehidupan yang lebih baik dengan semangat dan iman yang baru. Langkah keempat ini peserta mereflesikan kembali sambil merenungkan selama proses yang telah berlangsung dan diarahkan untuk menemukan sikap baru berkaitan dengan tema yang telah didalami, sehingga peserta semakin mampu untuk belajar untuk mempelajari dan tidak begitu

6) Langkah V (Kelima) : Mengusahakan suatu aksi konkrit

  Mengajak peserta agar sampai pada keputusan praksis yang dipahami sebagai tanggapan jemaat terhadap pewahyuan Allah dan nantinya mereka mampu untuk membuat aksi baik dalam bentuk kelompok/komunitas maupun secara individu sehingga mereka mampu menjawab kebutuan masyarakat disekitar dan terlibat didalamnya. Bertolak dari keprihatinan yang dialami oleh kaum muda sebagai peserta, dan setelah menemukan niat baru secara pribadi, kemudian peserta secara bersama-sama mengusahakan aksi yang akan dilakukan guna meningkatkan penghayatan akan Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa.

C. Usulan Program Katekese dengan Model SCP 1. Latar Belakang Pemilihan Program

  Setelah melakukan penelitian di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Santo Yohanes Rasul Kutoarjo, dari hasil wawancara kepada kaum muda dan orang tua, penulis menemukan fakta bahwa orang dewasa senantiasa merasa terbantu dengan penggunaan bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi. Tanggapan yang berbeda dirasakan oleh kaum muda yang mengerti bahasa Jawa tetapi tidak sungguh-sungguh menyentuh hati mereka. ini tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman sangat berpengaruh terhadap gaya hidup kaum muda tidak terkecuali dalam hal bahasa. Walaupun pada kenyataannya Bahasa Jawa digunakan dalam komunikasi dalam kehidupan sehari-hari oleh umat di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen. Perayaan Ekaristi yang dilaksanakan di Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen menggunakan Bahasa Jawa, maka tidak ada pilihan lain bagi umat untuk tidak mengikuti Ekaristi maupun ibadat.

  Kaum muda yang datang cenderung hanya mengikuti saja tanpa mengetahui dan memahami setiap ritus yang ada.

  Melihat kenyataan tersebut, penulis mengusulkan katekese dengan

  Shared Christian Praxis

  model (SCP). Katekese SCP dipilih untuk membantu kaum muda dalam memahami dan menghayati Perayaan Ekaristi secara mendalam, dengan mengenal unsur-unsur dalam Liturgi Ekaristi. Katekese SCP dimaksudkan supaya kaum muda dapat berdialog mengsharingkan dan mengungkapkan apa yang dirasakan sehubungan dengan penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi, karena unsur utama dalam katekese SCP ini ialah sharing pengalaman yang direfleksikan dengan pengalaman iman dan visi kristiani. Katekese ini pula mengajak kaum muda untuk senantiasa dapat dengan sungguh-sungguh menghayati apa yang mereka rayakan sehingga umat. Pesan Kitab Suci yang diterima dapat tersampaikan dengan baik melalui bahasa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi.

2. Tema dan Tujuan Program

  Tema yang dipilih bertujuan untuk membantu kaum muda dalam menghayati Ekaristi dengan Bahasa Jawa supaya sunggguh-sungguh menyentuh hati kaum muda serta menyadarkan mereka akan pentingnya menghayati bukan sekedar mengerti dan mengikuti, sehingga iman akan Yesus Kristus semakin mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

  Tema yan

  g dianggat dalam usulan program ini ialah “Menjadi pribadi

  yang ekaristis

  dengan tidak tercabut dari akar budaya Jawa” Penulis memilih

  tema tersebut berdasarkan kenyataan yang dialami oleh kaum muda yang merasa belum sepenuhnya terbantu dalam menghayati Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa. Oleh karena itu tema tersebut merujuk kepada cara untuk dapat menghayati Perayaan Ekaristi yang diharapkan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

  Tujuan dari tema tersebut ialah Memahami makna serta simbol dalam Perayaan Ekaristi, sehingga kaum muda sungguh menghayati dan menjadi pribadi yang ekaristis dengan berakar dari budaya Jawa. Dengan demikian Tujuan Umum

  : Memahami makna serta simbol dalam Perayaan Ekaristi, sehingga kaum muda sungguh menghayati dan menjadi pribadi yang ekaristis dengan berakar dari budaya Jawa

  Tema I : Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Tujuan I : Kaum muda menyadari makna Perayaan Ekaristi sebagai sumber dan puncak keselamatan, sehingga kaum muda memiliki kesadaran untuk berbagi demi mewujudkan keselamatan dalam kehidupan.

  Tema II : Ekaristi sebagai satu kesatuan yang utuh Tujuan II : Menyadari bahwa Perayaan Ekaristi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan Tema III : Berekaristi dengan bahasaku Tujuan III : Menyadarkan kaum muda akan makna berinkulturasi dalam Perayaan Ekaristi sebagai sarana untuk mengungkapkan iman sehingga kaum muda semakin disadarkan terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

  Tema IV : Keterlibatan dalam Perayaan Ekaristi Tujuan IV : Menyadarai pentingnya keterlibatan sehingga dapat memunculkan kesadaran baru untuk dapat terlibat dalam

  Tujuan V : Dengan menghayati Perayaan Ekaristi secara sungguh- sungguh, mampu menggerakkan dan meyentuh hati kaum muda sehingga dapat diterapkan dalam diri sendiri maupun sesama

3. Petunjuk pelaksanaan Program Sasaran program ini ialah kaum muda Stasi St. Fransiskus Xaverius.

  Mengingat kaum muda masih kurang terbantu dengan Perayaan Ekaristi Bahasa Jawa, maka, bersama-sama dengan orang tua supaya saling adanya perhatian sehingga akan saling membantu. Sebagai orang Jawa sudah seharusnya menjaga warisan budaya Jawa dan menjadi penerus yang tidak meninggalkan identitasnya. Bahasa Jawa sudah semestinya dilestarikan supaya tidak mudah tergerus oleh perkembangan zaman. Katekese dilaksanakan setiap malam minggu ke 2 dan 4 selama dua bulan. Hal ini juga dimaksudkan dalam rangka pembaharuan hidup yang bertepatan pula dengan (Asian Youth Day). AYD AYD yang ketujuh ditahun 2017 mengambil tema

  “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia” sebagai Gereja

  yang hadir ditengah-tengah masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya agama maupun masyarakat multikultur. Berpangkal dari hal tersebut tema katekese yang diambil berhubungan dengan tema AYD bagi kaum muda untuk senantiasa berakar dari budaya setempat. Melalui budaya kaum muda diharapkan dapat semakin terlibat dalam kehidupan menggereja sekaligus turut serta dalam melestarikan budaya.

  Berikut ini penulis akan memaparkan salah satu contoh persiapan katekese dengan model SCP. Katekese akan dilaksanakan lima kali pertemuan dengan judul yang berbeda namun tetap mengacu kepada tema yang terlah ditentukan, dengan tujuan supaya kaum muda dapat lebih menyadari pentingnya untuk menghayati Perayaan Ekaristi sehingga iman mereka senantiasa diperkuat dan dapat diterapkan dalam lingkungan sekitar.

4. Penjabaran Program Menjadi pribadi yang ekaristis dengan tidak tercabut dari akar budaya Jawa. Tema Umum :

  Tujuan Umum : Memahami makna serta simbol dalam Perayaan Ekaristi, sehingga kaum muda sungguh-sungguh menghayati dan sungguh-sungguh menjadi pribadi yang ekaristis dengan berakar dari budaya Jawa.

  No Tema Tujuan Pertemuan Judul Pertemuan Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  1 Menyadari Kaum muda Ekaristi sebagai Pengertian Sharing Kidung Rm 12:1-8 makna serta menyadari makna sumber dan Sakramen Informasi Adi Yak 1:26- simbol-simbol Perayaan Ekaristi puncak kehidupan Ekaristi Refleksi Laptop

  27 Ekaristi, sebagai sumber dan Sumber kritis Kitab Yoh 4:1-25 sehingga kaum puncak keselamatan, kehidupan Diskusi Suci muda semakin sehingga kaum

  Tanya LCD menjadi pribadi muda memiliki jawab yang ekaristis kesadaran untuk dengan berakar berbagi demi dari budaya mewujudkan Jawa keselamatan.

  2 Menyadari bahwa Ekaristi sebagai Bagian-bagian Sharing Kidung 1 kor 12:12- Perayaan Ekaristi satu kesatuan Ekaristi Informasi Adi

  31 merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan yang utuh Refleksi kritis Diskusi Tanya jawab

  Kitab Suci Laptop LCD

  1 Kor 12:1-

  11

  3 Menyadarkan kaum muda akan makna berinkulturasi dalam Perayaan Ekaristi sebagai sarana untuk mengungkapkan iman sehingga kaum muda semakin disadarkan terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

  Berekaristi dengan bahasaku Pengertian budaya Unsur-unsur budaya Inkulturasi

  Sharing Informasi Refleksi kritis Diskusi Tanya jawab

  Kidung Adi Kitab Suci Laptop LCD

  Ibr 11:1-40 Kis 2:5-12

  4 Menyadari pentingnya keterlibatan sehingga dapat

  Keterlibatan dalam Perayaan Ekaristi

  Macam-macam keterlibatan Kesadaran untuk terlibat

  Sharing Informasi Refleksi kritis

  Kidung Adi Kitab Suci

  Luk 10:38-

  42 memunculkan Diskusi Laptop kesadaran baru Tanya LCD untuk dapat terlibat jawab dalam Perayaan

  Ekaristi

  5 Dengan menghayati Mewujudkan Pribadi ekaristis Sharing Kidung

  1 Yoh 4:7- Perayaan Ekaristi pribadi yang Macam-macam Informasi Adi

  21 secara sungguh- ekaristi dalam contoh Refleksi Kitab Kis 4:30-37 sungguh, mampu hidup pribadi dan perwujudan kritis Suci Kis 2:40-47 menggerakkan dan bersama Diskusi Laptop Luk 9:57- meyentuh hati kaum

  Tanya LCD

  62 muda sehingga dapat jawab diterapkan dalam diri sendiri maupun sesama

D. Contoh Satuan Program Katekese Model SHARED CHRISTIAN PRAXIS Identitas pelaksanaan SCP

  1. Tema : Berekaristi dengan bahasaku

  2. Tujuan :Menyadarkan kaum muda akan makna berinkulturasi dalam Perayaan Ekaristi sebagai sarana untuk mengungkapkan iman sehingga kaum muda semakin disadarkan terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

  3. Peserta : Kaum muda Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen

  4. Waktu : 60 menit

  5. Model : SCP

  6. Metode :

  • Sharing
  • Refleksi kritis
  • Diskusi
  • Informasi
  • Tanya jawab

  7. Sarana :

  • Teks pertanyaan pendalaman
  • Lilin dan Salib - Kidung Adi

  8. Sumber Bahan:

  • Tafsir Injil Alkitab

  Kitab Suci Kisah Para Rasul 2:5-12

  • Perjanjian Baru , Yogyakarta: Kanisius.

  Bergant, Dianne & Karris, Robert. (2002),

  Pemikiran Dasar

  Sebagai manusia yang memiliki latar belakang budaya dan adat istiadat sudah seharusnya ikut serta dalam melestarikannya supaya tidak luntur begitu saja. Hal tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang yang telah mewariskannya kepada kita. Namun berbudaya saja tidak cukup tanpa percaya kepada Sang pencipta budaya tersebut. Beragama tidaklah menjadi alasan untuk menghilangkan unsur budaya. Setiap umat akan hidup dalam budayanya masing-masing, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan luar dengan mudah masuk dengan semakin berkembangnya zaman. Namun bagaimana kita dapat kritis terhadap setiap budaya baru yang muncul bersama dengan perembangan zaman. Bagaimana kita bisa bertahan dengan kebudayaan yang telah kita miliki, untuk senantiasa Jawa khususnya di Paroki Kutoarjo, Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen yang masih memegang teguh penggunaan bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi serta penggunaan gamelan pada hari-hari tertentu, seperti hari raya Natal paumun Paskah. Namun pada kenyataannya hal ini kurang menjadi perhatian khusus terhadap kaum muda di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen. Mereka beranggapan bahwa menggunakan Bahasa Jawa tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman sekarang ini, sehingga mereka cenderung hanya mengikuti tanpa sungguh-sungguh menghayatinya.

  Padahal hal ini menjadi salah satu upaya untuk melestarikan budaya Jawa.

  Perikop dalam Kisah Para Rasul 2:5-12 menguraikan peristiwa jemaat yang berkumpul dalam suasana doa, banyak peziarah Yahudi yang datang ke Yerusalem. Kemudian setelah semua dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka mulai berbicara menggunakan bahasa-bahasa yang diberikan oleh Roh Kudus

  • masing mendegar rasul-rasul itu berkata- kepada mereka.

  “mereka masing

kata dengan bahasa mereka sendiri”(2:6b). Bahasa Roh yang diberikan

  sebagai pewartaan kebenaran akan Allah. Hal ini mengandung unsur misioner bahwa sudah seharusnya apabila seorang misioner mengerti akan berbagai bahasa. Kita dihantar untuk semakin beriman melalui budaya yang telah menjadi warisan kita dari nenek moyang yang digunakan sebagai sarana

  Kita diharapkan untuk semakin mampu menanggapi dan memahami ajaran Yesus Kristus sebagai murid yang sejati. Sehingga apa yang telah kita terima tidak hanya untuk diri kita pribadi melainkan untuk kita wartakan dan sampaikan kepada ornag lain, dengan demikian haruslah untuk menyadari dengan sungguh-sungguh supaya apa yang kita bagikan kepada sesama tidaklah omongan tanpa arti. Sebagai generasi penerus yang menerima warisan dari nenek moyang, patutlah untuk terus dan turut serta dalam melektarikan budaya Jawa, supaya tidak mudah luntur dan tidak akan punah oleh zaman. Menjadi murid Yesus maka berani untuk memberi kesaksian kepada sesama, memberikan keteladanan dan ikut aktif dalam masyarakat dengan tetepa berpegang teguh kapada-Nya.

PENGEMBANGAN LANGKAH-LANGKAH

1. Pembukaan a. Pengantar

  Teman teman yang terkasih dalam Yesus Kristus, kita berkumpul di tempat ini karena kasih dan kesetiaan Allah kepada kita. Kita berkumpul bersama sebagai satu keluarga, sebagai seorang Jawa serta pilihan Allah ini tentu saja budaya sangat memegang peran penting dalam proses pewartaan Injil supaya sampai dan tepat sasaran. Unsur-unsur budaya yang ada menjadi sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang hendak disampaikan kepada umat. dengan hal tersebut maka, umat akan merasa terbantu dalam menerima apa yang disampaikan. Di wilayah Jawa tentu saja Bahsa Jawa senantiasa digunakan dalam masyarakatnya begitu pula di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemraggen yang senantiasa menggunakan Bahsa Jawa dalam Perayaan Ekaristi. Hal ini dianggap akan lebih membantu dalam proses menghayati serta mempertebal iman kepercayaan kepada Yesus Kristus. Karena asal mengerti saja tidak cukup, harus disertai dengan menghayati secara sungguh-sungguh. Hal ini juga sebagai sarana pelestarian budaya supaya tidak luntur begitu saja.

  Untuk itu sebagai satu keluarga dalam budaya yang sama ialah budaya Jawa, marilah kita bersyukur atas semuanya dan marlah pulakita memohon rahmat Tuhan supaya senantiasa menyertai kita dalam pertemuan kali ini.

  Memujia Pangeran b.

  KA 156 Lagu Pembuka:

c. Doa Pembuka

  Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur dan berterimakasih atas kasih merefleksikan sejauh mana kita menyadari pentingnya menghayati Perayaan Ekaristi melalui budaya Jawa yang kami miliki. Kami percaya atas penyelenggaraan-Mu bagi kami, sehingga kami mampu untuk turut serta dalam melestarikan budaya kami ini. Untu itu, pada kesempatan ini kamu mohon berkat-Mu bagi kami semua dengan melalui budaya yang kamu miliki mampu untuk semakin beriman dan percaya kepada-Mu sebagai murid yang sejati. Nama-Mu kami puji kini dan sepanjang masa. Amin.

2. Langkah I: Mengungkapkan Pengalaman Hidup peserta

  a. Pendamping mengajak peserta untuk bersama-sama melihat cuplikan video Misa bahasa Jawa b.

  

Pendamping meminta salah satu peserta untuk mengungkapkan apa

  yang tertera dalam cuplikan video Misa Bahasa Jawa

  c. Pengungkapan pengalaman: peserta diajak untuk mendalami gambar tersebut dengan beberapa pertanyaa: 1)

  

Unsur budaya seperti apa yang digunakan dalam cuplikan video

  Misa Bahasa Jawa? 2)

  

Ceritakanlah pengalaman teman-teman sehubugan dengan mengikuti Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa jawa di Stasi St. yang dikenakan oleh romo. Iringan musik gamelanpun digunakan untuk menambah suasana Jawa menjadi lebih kelihatan, tidak ketinggalan pula dengan penggunaan bahasa Jawa. Unsur-unsur budaya yang digunakan dimaksudkan untuk membantu menghayati Perayaan Ekaristi memalui budaya sendiri supaya lebih mudah masuk dalam ke dalam hati umat.

  Namun ada kalanya sebagai kaum muda merasakan bahwa unsur- unsur dalam badaya Jawa sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang ini yang sudah semakin modern, sehingga dalam mengikuti Perayaan Ekaristi cenderung hanya mengikuti saja tanpa sungguh-sungguh menghayatinya. Sebagai seoarng Jawa sudah pasti mengerti bahasa Jawa karena bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun mengerti tanpa menghayati maka tidak berarti apa-apa. Karena merasa tidak sesuai itulah yang menjadikan kita enggan untuk menghayati dengan baik dan cenderung hanya mendengarkan saja.

3. Langkah II:Mendalami Pengalaman hidup Peserta

  a. Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau cerita diatas dengan dibantu pertanyaan berikut: 1)

  Bagaimana teman-teman mengatasi kesulitan yang kalian alami?

  b. Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping mereka yang selalu menemani hari-hari kita. Namun dalam setiap perjalanan hidup kita tidak akan selalu mulus dan lurus tanpa menemukan hambatan serta rintangan didalamnya. Sering kali kita menemukan kenyataan dimana ada dalam suatu keluarga, persahabatan, masyarakat yang tidak setia pada komintmen awal mereka dan berujung penghianatan terhadap sesuatu yang baru. Begitu juga dalam suatu kebudayaan, seringkali warisan leluhur begitu saja dilupakan karena sudah digantikan dengan budaya baru yang datang bersama dengan perkembangan zaman.

  Begitulah yang sering diamali oleh kaum muda pada zaman sekarang ini. Sehingga budaya jawa baik itu bahasa maupun musiknya sudah tidak digemari lagi dilakanganya zaman sekarang. Namun untuk berani mencoba menyadari bahwa itu semua bagian dari kehidupan sebagai orang Jawa yang harus dilestarikan, maka kita berusaha untuk menghargai dan ikut melestarikannya. Kesulitan yang dialami mungkin nuansa Jawa yang dirasa tidak sesuai lagi, terutama dalam hal bahasa. Namun hal ini dapat diatas dengan misalnya melihat lambang-lambang yang ada serta bertanya kepada yang lebih tahu supaya kita sungguh-sungguh mau untuk menghayatinya.

4. Langkah III: Menggali Pengalaman iman Kristiani

  b.

  

Peserta diberi waktu beberapa menit untuk hening sambil secara

  pribadi merenungkan dan menanggapi bacaan Kitab Suci dengan bantuan beberapa pertanyaan, sebagai berikut: 1)

  Ayat manakah yang menunjukan adanya penyesuaian bahasa?

  2)

  

Apakah makna yang ingin diungkapkan dari penyesuaian bahasa

  tersebut? 3)

  

Apa yang hendak disampaikan/ditanamkan melalui perikop tersebut?

  Peserta diajak untuk sendiri mencari dan menemukan pesan inti dari perikop sehubungan dengan jawaban atas 3(tiga) pertanyaan b diatas.

  c. Pendamping memberikan tafsir dari Kisah Para Rasul 2:5-12 dan menghubungkan dengan taggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan, misalnyasebagai berikut: Teman-teman yang terkasih, pada perikop 2:5-12, Paulus ingin menyampaikan pada hari pentakosta yang digambarkan dalam perikop sebelumnya, banyak peziarah-peziarah Yahudi yang datang ke Yerusalem untuk merayakan Petakosta. Dalam ayat 6b dikatankan

  • masing mendegar rasul-rasul itu berkata-kata dengan bahasa mereka

  “mereka masing

  

sendiri”. Melalui ayat tersebut ingin menggambarkan karunia kenabian

  dengan segi mosioner. Betapa akan membantu bila para misioner dapat

  Menggabarkan bahwa para Rasul memberoleh karunia dari Allah untuk berbicara dengan bahasa masing-masing dari mereka. Hal ini dilakukannya supaya para Rasul bisa menyambaikan kebaikan-kebaikan yang diwartakan oleh Allah (2:11).

  Pada Kisah Para Rasul ini, dikisahkan bahwa, Allah memberikan karunia kepada rasul-rasul untuk mewartakan kebaikan-kebaikan ataupun perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan oleh Allah. Melalui bahasa yang yang dapat dimengerti oleh semua orang sehingg apa yang hendak disampaikan dapat tersampaikan dengan baik dan membuat orang percaya. Begitu juga dalam masyarakat dalam menyampaikan kabar gembira tentu saja para misioner menyempaikan melalui bahasa yang sesuai dengan bahasa setempat supaya dapat diterima dengan baik. Orang- orang akan menjadi percaya apabila mengerti maksud apa yang hendak disampaikan, dengan demikian maka muncul rasa untuk menghayati apa yang telah diterimanya. Bahasa yang digunakan ialah suatu cara untuk menyampaikan ajaran dan perbuatan Allah. Melalui para rasul Allah bertindak supaya jemaatnya dapat mengerti dan turut serta melakukan berbuatan sesaui dengan kehendaknya. Dengan demikian, pewartaan dengan bahasa setempat dapat menjadikan semakin percaya kepada Allah, umat dalam menghayati yang merupakan sumber dan puncak kehidupan, sehingga iman mereka semakin berkembang.

  

5. Langkah IV: Menerapkan iman Kristiani dalam situasi peserta

konkrit

  a. Pengantar Teman-teman yang terkasih dalam pembicaraan tadi kita sudah menemukan sikap-sikap yang ditujukan oleh Yesus melalui Paulus dalam

  Kitab Suci kepada kita, banyak hal yang mampu menyadarkan kita, baik itu dari gambar, sharing pengalaman masing-masing maupun dari Kitab Suci. Kita diajak untuk merenungkan dan memeriksa diri kita masing- masing sejauh mana kita percaya kepada kasih Allah kepada kita.

  Pewartaan akan keselamatan Allah diwartakan melalui budaya yang telah melekat dan menjadi milik kita sejak lahir. Kepercayaan yang ada dalam diri kita masing-masing bukanlah diperoleh secara instant begitu saja melainkan melalui setiap proses kehidupan yang kita alami. Sebagai kaum muda seringkali kurang percaya diri untuk mengekspresikan iman serta mewartakan menggunakan bahasa sendiri. Namun yang terpenting ialah bagaimana sikap kita terhadap iman yang kita miliki untuk terus dapat dihidupi sehingga akan muncul rasa ingin menyampaikan kebaikan Tuhan b.

  

Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin memahami bahwa

  Allah senantiasa berkarya dalam budaya yang kita miliki maka kita mencoba membangun sikap hidup di sekitar kita. Melalui pertanyaa- pertanyaan berikut:

  1)

  

Sikap mana yang hendak kita perjuangkan agar semakin mampu

  memahami peran budaya Jawa sebagai sarana mempertebal iman kepercayaan kita kepada Tuhan dalam keterlibatan yang diwujudkan melalui keterlibatan dalam mengikuti Perayaan Ekaristi?

  2)

  

Saat hening diiringi dengan musik instrumen Jawa untuk mengiringi

renungan secara pribadi dengan panduan pertanyaan reflesksi diatas.

  Kemudian peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan hasil renungannya. Kemudian sebagai bahan renungan dalam langkah ini pendamping memberikan arahan rangkuman singkat sesuai dengan hasil-hasil renungan pribadi mereka, sebagai berikut:

  Menjadi murid Yesus yang sejati, kita percaya bahwa penyertaan- Nya tidak pernah hilang. Melalui budaya yang telah kita miliki menjadikan sarana untuk memudahkan kita dalam memperdalam ikatan dengan Yesus.

  Dengan demikian sebagai generasi penerus yang harus kita lakukan ialah melestarikan dan menjaga budaya kita di Stasi St. Fransiskus Xaverius

  Teman-teman yang terkasih dalam Kristus pada awal pertemuan kita telah melihat cuplikan video Misa Bahasa Jawa. Sebagai seorang Jawa maka unsur-unsur dalan budaya Jawa sudah tidak asing lagi bagi kita, tergantung kita pernah menggunakannya atau tidak atau malah melupakannya.

  Setelah kita bersama-sama menggali pengalaman hidup bersama sebagai orang Jawa yang menjadi murid Yesus yang sejati dan turut serta dalam melestarikan budaya Jawa, ternyata kita semakin diperkaya dan diteguhkan. Dalam proses didalamnya ternyata kita sebagai kaum muda merasa kesulitan dalam menghayati Perayaan Ekaristi yang merupakan sumber dan puncak kehidupan seturuh umat, kita menyadari bahwa mengerti saja tidak cukup tanpa menghayatinya. Kesulitan yang kita alami karena masih mengurung diri dan merasa takut akan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Dalam Kitab Suci Allah bersabda melalui Paulus yang mengatakan bahwa para rasul yang datang dalam suasana perayaan berbicara menggunakan bahasa jemaat masing-masing padahal para rasul orang Galilea, namun kuasa Allah yang mengaruniakan kepada mereka bahasa yang dapat dimengerti oleh para jemaat supaya mereka mengerti apa yang diwartakan tentang perbuatan-perbuatan Allah. Kita semua telah b.

  

Peserta diajak untuk memikirkan niat-niat sebagai bentuk

  keterlibatan baru untuk semakin beriman melalui budaya Jawa, dengan dibantu dengan pertanyaan sebagai berikut: 1)

  

Niat-niat apa yang dapat kita buat agar dapat semakin beriman dan

  sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan melalui budaya Jawa di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  2)

  

Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan niat-

  niat tersebut?

  c. Niat-niat dapat diungkapkan dalam kelompok untuk saling meneguhkan satu sama lain.

  d.

  

Pendamping mengajak peserta untuk membicarakan dan

  mendiskusikan secara bersama-sama guna menentukan niat konkrit bersama yang akan segera diwujudkan, agar semakin memperbaharui sikap bersama sebagai murid Yesus yang sejati dengan semakin menghayati Perayaan Ekaristi secara sungguh- sungguh melalui budaya sendiri yaitu bahasa Jawa di zaman sekarang. Hingga akhirnya kita semua dapat membagikan kasih karunia Allah kepada sesama kita supaya mereka juga akan mengalami kasih yang telah kita dapatkan. b. Pendamping mengajak peserta untuk hening mengungkapkan doa umat yag diawali oleh pendamping dengan menghubungkan sesuai dengan situasi hidup peserta. Setelah itu doa disusul secara spontan oleh peserta lain. Akhir doa peserta secara bersama-sama mendoakan doa “Rama Kawula” dan doa penutup dari pendamping.

  c. Doa penutup Tuhan Yesus Kristus, kami mengucap syukur atas kehadiran serta penyertaanMu ditengah-tengah kami. Engkau mengajarkan kamu untuk membangun sikap kepercayaan dalam menghadapi segala kesulitan-kesulitan hidup kami. Bapa kami memiliki berbagai kekayaan budaya yang mendukung dalam pewartaan Sabda-Mu terutama dalam hidup menggereja. Ya Bapa semoga dengan pertemuan yang telah kami laksanakan ini memampukan kami melihat kelemahan dalam diri kami masing-masing sehingga kami mampu memperbaiki dan menggerakan hati kami untuk sungguh- sungguh beriman kepadaMu dan memiliki kesadaran untuk mampu mempelajari Bahasa Jawa sebagai upaya meningkatkan penghayatan akan Perayaan Ekaristi turut serta dalam melestarikan budaya Jawa.

  Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin

BAB V PENUTUP Pada bagian penutup penulisan skripsi ini, penulis akan mengemukakan

  kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Kutoarjo.

  Bagian kesimpulan ini, penulis akan merangkum bab I sampai bab IV. Sedangkan pada bagian saran, penulis akan mengemukakan saran-saran berdasarkan kesimpulan yang diperoleh sebagai masukan untuk Pastor Paroki, pengurus Stasi serta umat Stasi St. Fransisiku Xaverius Kemranggen.

A. Kesimpulan

  Agama dan kebudayaan merupakan suatu yang saling berkaitan satu dengan yang lain, kedua aspek tersebut saling berpengaruh dalam masyarakat.

  Dengan kekayaan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat, Gereja selalu terbuka akan hal tersebut sebagai pengungkapan iman melalui kebudayaan yang ada. Gereja mulai mengangkat budaya setempat, Sacrosanctum Concilium mengawali Konsili sebagai perubahan secara menyeluruh dan serentak dalam liturgi. Dengan demikian Perayaan Liturgi yang sebelum Konsili Vatikan II hanya dirayakan oleh Imam dengan berbisik-bisik, setelah misalnya gamelan. Mengingat bahwa bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia sebagai sarana berkomunikasi.

  Dalam suku Jawa tentu saja bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan di sebagian besar masyarakat Jawa, dengan demikian bahasa Jawa dalam liturgi dirasa lebih memberikan makna dalam menghayati Sakramen Ekaristi, walaupun tidak semua orang masih memegang teguh bahasa Jawa dan memilih mengunakan Bahasa Indonesia. SC 36 menegaskan bahwa bahasa pribumi dalam liturgi dirasa lebih bermanfaat dan dekat dengan umat sehingga dapat mempermudah umat dalam menangkap dan meresapi. Bahasa sangat berperan penting sebagai alat berkomunikasi dengan sesama, hendaknya juga sarana sebagai komunikasi dengan Tuhan dengan bahasanya sendiri (Mariyanto, 1997:275). Sehingga umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi tidak hanya sekedar hadir, mendengarkan, menghormati dan menyambut komuni saja melainkan ikut terlibat dalam perayaan.

  Sacrosanctum Concilium mengemukakan beberapa pandangan mengenai Ekaristi, antara lain: Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja, Ekaristi sebagai perayaan Gereja,. Ekaristi sebagai pusat liturgi, Ekaristi sebagai kurban, Ekaristi sebagai perjamuan dan Ekaristi sebagai sakramen. Beberapa pandangan tersebut yang diharapkan mampu menyentuh umat dalam kehidupan menggerja yang turut serta dalam tugas dan peran dalam liturgi diharapkan semakin meningkat dan memunculkan kesadaran terhadap masing-masing umat. Dengan demikian, sungguh terwujud pribadi yang ekaristis yang dapat sepenuhnya menerapkan nilai-nilai kristiani tanpa merendahkan orang lain serta dapat menerapkan apa yang telah dirayakan secara bersama-sama dalam Perayaan Ekaristi.

  Setelah melakukan penelitian, peneliti memperoleh fakta bahwa penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu umat dalam menghayati Perayaan Ekaristi. Usaha Gereja untuk terbuka kepada kebudayaan guna mempermudah umat dalam menghayati Perayaan Ekaristi dapat diterima dengan baik dan sesuai dengan harapan. Hal tersebut dibuktikan dengan jawaban umat yang menyatakan bahwa penggunaan bahasa Jawa membantu umat dalam menanggapai Sabda Tuhan serta memperdalam iman kristiani. Namun tanggapan lain dialami oleh kaum muda, mereka berpandangan bahwa budaya Jawa yaitu Bahasa Jawa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang. Bagi mereka, bahasa Indonesia lebih akrab dan lebih muda dipahami melihat perkembangan zaman pada sekarang ini. Oleh karena itu kaum muda cenderung hanya mengikuti saja tanpa menghayati dengan sungguh-sungguh. direfleksikan dengan pengalaman iman dan visi kristiani. Katekese yang dipilih ialah model SCP dimana dalam katekese terdapat beberapa unsur yaitu: sharing pengalaman, refleksi kritis akan sharing pengalaman hidup yang kemudian diteguhkan melalui Tradisi Kristiani sehingga muncul kesadaran dan sikap baru, sehingga kaum muda mampu untuk mempelajari Bahasa Jawa sebagai upaya untuk mengingkatkan penghayatan akan Perayaan Ekaristi.

B. Saran

  Bertitik tolak dari keseluruhan pembahasan yang telah diuraikan dalam setiap bab, pada akhirnya penulis mengungkapkan saran-saran kepada Romo Paroki, pengurus stasi serta umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen.

1. Kepada Romo Paroki St. Yohanes Rasul Kutoarjo dan pengurus Stasi St.

  Fransiskus Xaverius Kemranggen a.

  Romo Paroki supaya lebih memotivasi umat terutama kaum remaja dalam

  kehidupan menggereja. Dengan demikian umat merasa tersapa dan tergerak hatiya untuk terlibat aktif dalam tugas-tugas didalam Gereja. b.

  

Romo paroki supaya meninjau kembali penjadwalan Misa dengan

  menggunakan Bahasa Indonesia sehingga kaum muda tetap mampu menghayati Perayaan Ekaristi.

  c.

  

Pengurus Stasi St. Fransiskus Xaverius supaya lebih peduli terhadap umat

  lain juga kepada kaum muda. Seringkali yang terjadi ialah kaum muda merasa terabaikan, terutama dalam pendalaman iman, sehingga keterlibatan kaum muda masih kurang. Dalam memilih petugas liturgi hendaknya lebih merata sehingga tidak berkesan hanya itu-itu saja sehingga umat lain juga ikut merasakan.

  d.

  

Pengurus stasi hendaknya memberikan pendampingan khusus Bahasa

  Jawa kepada kaum muda, sehingga kaum muda mempunyai kesadaran untuk belajar Bahasa Jawa sehingga dapat menghayati Peraraan Ekaristi.

2. Kepada umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen a.

  

Kaum muda hendaknya lebih meningkatkan keterlibatan dalam kehidupan

menggereja serta menjalin persaudaraan dengan sesama kaum muda.

  Pertemuan rutin dihidupkan kembali untuk saling menguatkan satu sama lain dan semakin menumbuhkan iman mereka.

DAFTAR PUSTAKA

  Gereja Indonesia Pasca-

  Be ding, M. “Situasi Gereja Indonesia Pasca Vatikan II”,

  Vatikan II: Refleksi dan Tantangan. Yogyakarta: Kanisius. 1997, hlm 21- 32.

  Tafsir Injil Alkitab Perjanjian Baru

  Bergant, Dianne & Karris, Robert. (2002), , Yogyakarta: Kanisius.

  Indonesianisasi.

  Boelaars, H. (2005). Yogyakarta: Kanisius. Budi Haryanto, D. (2010). Buku kenangan 75 tahun Paroki Yohanes Rasul Kutoarjo. Yogyakarta: Cahaya Timur Offset.

  Ekaristi, Memahami Misa Kudus demi Penghayatan yang Chunha, B. D. (2012). Utuh.

  Jakarta: Obor.

  Etnologi Jawa.

  Endraswara, S. (2015). Yogyakarta: CAPS. Hardisumarta, F. (2013). Ekaristi. Jakarta: Obor. Heru Hendarto,Y. (1990). Romo Frans Van Lith, SJ Pembaharu Karya Missi

  Rohani Gereja Di Jawa Tengah. , Th. XXXVII, 6, h.214-218.

  Tema Asian Youth Day 2017, s pada Desember 10, 2016. Widada Prayitna, Yr. Ekaristi Kaum Muda , http://gerejakaummuda.wordpress.com/2010/11/25/ekm-ekaristi-kaum- muda, diakses pada Desember 14, 2016.

  Gereja Berwajah Asia.

  Kirchberger, Georg. (1995). Flores: Nusa Indah.

  Iman Katolik

  Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). : Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta-Jakarta: Kanisius. __________. (2002). Pedoman Umum Misale Romawi. (Komisi Liturgi KWI, Penerjemah). Flores: Nusa Indah (Dokumen Asli diterbitkan 1970).

  Dokumen Konsili Vatikan II

  Konsili Vatikan II. (1993). (R. Hardawiryana, .

  Penerjemah) Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). Lalu, Y. (2012). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius. Madya Utama, Ig L. (2015). Maju-Mudur Konsili Vatikan II .Yogyakarta: Pusat Pastoral Yogyakarta.

  Seri Pastoral __________. (2010). Gereja Partisipatif. 442 No. 3&4, hlm 26.

  Gereja Indonesia Pasca-Vatikan Mariyanto, E. Praktek Liturgi Pasca Vatikan II.

II: Refleksi dan Tantangan.

  Yogyakarta: Kanisius. 1997, hlm 271-303. Martasudjita, E. (2009). Ekaristi, Tinjauan Teologis Liturgis dan Pastoral.

  Yogyakarta: Kanisius.

  Dimensi Eklesial-Sosial Penghayatan Ekaristi Umat Paroki __________. (2012). Pugeran Jurnal Teologi Sekretariat PWI Liturgi (1980). Inkulturasi Liturgi.

  Spektrum,

  No. 4, th X, 1980, hlm 235. Soetiawan, I. B. (1974). Katekese untuk Anak Remaja. Yogyakarta: PUSKAT. Soetomo, G. (2002). Ekaristi dan Pembebasan. Yogyakarta: Kanisius. Sugiono. (2014).

  Metodologi Penelitian Pendidikan.

  Bandung: Alfabeta. Suharyo, I. (2011).

  Ekaristi: Meneguhkan Iman Membangun Persaudaraan Menjiwai Pelayanan.

  Yogyakarta: Kanisius. Sumarno Ds., M (2012). Program pengalaman Lapangan Pendidikan Agama

  Katolik Paroki . Diktat mata kuliah Program Pengalaman Pendidikan

  Agama Katolik untuk Mahasiswa Semester IV, Program Studi Ilmu Pedidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Stolk, H.C. (1979). Pembaharuan Liturgi. Seri Pastoral , No. 7, hlm 7-10. Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae . (R. Hardawiryana, Penerjemah).

  Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979).

   Lampiran 2: Hasil Wawancara

Identitas Responden

No Nama Usia/keterngan

1. Aluysius Sukirdi

  18/ R16 17.

  Iis Cristiyanti

  17/ R13 14.

  Leonardus Windho

  24/ R14 15.

  Hedwigis Elena

  15/ R15 16.

  Yohanes Probo

  14/ R17 18.

  Atanasia Raya

  Yoana Fransiska Yaneka Febtyas M

  Antonius Rendra

  25/ R18 19.

  Vitalis Redi Soraya

  19/ R19

  Wawancara R1 1. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Alasan yang mendasar awal mula penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi ialah karena umat setempa senantiasa meggunakan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Stasi yang berada di dasa dan paling jauh dari paroki yang masih kental menggunakan Bahasa Jawa, dengan melihat kenyataan dan situsasi yang terjadi di lapangan, maka misionaris pada saat itu menyakini bahwa menggunakan Bahasa Jawa akan jauh lebih mudah untuk sampai kepada hati umat.

  Bertolak dari alasan awal mula menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi, penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu penghayatan umat demikian tujuan awal penggunaan Bahasa Jawa sunguh tercapai. Menetapkan

  36/ R12 13.

  39/ R11 12.

  74/ R1 2.

  Matius Bejo Prayitno

  Budi Winarti

  44/ R2 3.

  Bernardus Hartoyo

  58/ R3 4.

  Yohanes Sumedi

  67/ R4 5.

  Yustinus Suyono

  61/ R5 6.

  41/ R6 7.

  Fransiskus Xaverius Onny Suprantiyo

  Fransiska Sugiyatmi

  48/ R7 8.

  Sisilia Manise

  57/ R8 9.

  Brigita Sutiti

  28/ R9 10.

  Maria Goreti Tri Ernawati

  56/ R10 11.

2. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Dalam kehidupan sehari-hari umat Katolik mempunyai tempat dalam masyarakat sebagai kelompok minoritas. Hal ini terbukti dengan umat Katolik di Stasi Kemranggen yang menjadi sekretaris desa, ketua RT, ketua RW maupun perangkat desa lainnya. Partisipasi dalam masyarakat tersebut dengan harapan bahwa hidup Kristiani senatiasa dibawa dalam masyarakat. Dengan demikian umat Katolik di Stasi Kemranggen juga senantiasa membuka diri kepada masyarakat, misalanya pada saat hari besar Gereja mengundang perangkat desa dan menampilkan budaya jawa seperti wayang, kudalumping, keroncong. Hal tersebut menambah kerukunan umat beragama untuk salaing menghagai dan menghayati.

  

4. Apa usulan romo terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan

Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Tujuan utama penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi ialah untuk mempermudah umat dalam menghayati Perayaan Ekaristi yang dirayakan secara bersama-sama. Menjadi orang Jawa yang turut melestarikan budaya Jawa untuk tidak ditinggalkan begitu saja maka menetapkan Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa sangatlah dipegang teguh melihat perubahan zaman yang akan turut menggerus budaya termasuk bahasa. Namun gereja tidak menutup diri dari dunia luar, seperti halnya penggunaan Bahasa Indonesia dalam Perayaan Ekaristi supaya umat juga dapat mengikutinya pada saat misa di paroki yang menggunakan Bahasa Indonesia. penggunaan Bahasa Indonesia dapat dilaksanakan di Stasi Kemranggen atas persetujuan dan kesepakatan bersama seluruh umat.

  Wawancara R2 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Sejak menikah dengan orang Katoli, dalam mengikuti Perayaan Ekaristi sudah mengunakan Bahasa Jawa. Pastor yang datang untuk menyebarkan Agama Katolik menggunakan Bahasa Jawa dalam menyampaikan pewartaannya. Sejak awal mula umat setempat menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi karena bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh umat setempat. Dengan demikian dapat mempermudah menerima Sabda Tuhan.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Dalam Perayaan Ekaristi pernah mengunakan Bahasa Indonesia ketika ada

  Akan jauh lebih menyentuh hati apabila mengikuti Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa, bahkan pada saat melihat Perayaan Ekaristi pada hari besar melalui siaran televisi apabila ada yang menggunakan Bahasa Jawa, maka hatipun lebih tersentuh dan lebih mantab walaupun itu hanya melihat melalui televisi.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Sebagai orang Jawa, Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa sangat menyentuh dan jauh lebih khidmat dan khusuk dalam mengikutinya. Bahasa Jawa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi dirasa lebih sopan dan halus sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Di dalam Stasi Kemranggen untuk saat ini selalu menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi maupun doa-doa bersama, namun hal ini tidak berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam mengikuti Perayaan Ekaristi.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Dengan bahasa yang digunakan akan turut mendorong partisipasi dalam Perayaan Ekaristi terutama dalam mazmur walaupun masih terus belajar namun tetap berusaha untuk tampil sejauh bisa dilaksanakan, terkadang meminta bantuan kepada saudara yang bukan Katolik yang bisa membaca not balok, hal ini tidak membuat malu justru memotivasi untuk lebih berusaha lagi.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Sebagai orang Jawa maka penggunaan Bahasa Jawa sangat membantu dalam menangkap dan mengerti Sabda Tuhan yang diperjelas dengan homili dari Romo.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Perayaan Ekaristi merupakan perjumpaan dengan Tuhan terutama dalam Liturgi Ekaristi, maka pada kesempatan itu pula berusaha untuk dapat sungguh-sungguh menjadi waktu bersama Tuhan, dibantu dengan bahasa sendiri maka hal ini sangat membantu dalam menghayati dan mendalaminya.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Dalam doa pribadi maupun doa bersama selalu mengunakan Bahasa Jawa karena lebih mudah diucapkan dan karena sudah terbiasa menggunakan itu iman senantiasa ditimba terus menerus dengan menikuti Perayaan Ekaristi maupun ibadat.

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Usulan kedepannya alangkah lebih baiknya apabila di Stasi Kemranggen penggunaan Bahasa Indonesia juga sesekali digunakan supaya apabila mengikuti Misa di manapun dengan Bahasa Indonesia dapat umat mengikuti Perayaan Ekaristi. selain itu juga memberi kesempatan kepada kaum muda ataupun umat yang kurang paham akan Bahasa Jawa.

  Wawancara R3 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Sejak adanya umat Katolik di Stasi Kemranggen dalam Perayaan Ekaristi menggunakan Bahasa Jawa. Dalam mewartakan/menyebarkan Agama Katolik seorang Pastor yang datang senantiasa menggunakan Bahasa Katolik. Dengan demikian banyak umat yang dengan pilihan pribadi ikut dan tergerak hatinya untuk menjadi orang Katolik.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Yang menjadi alasan penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi ialah bermula dari pada saat umat berkenalan dengan Agama Katolik sudah menggunakan Bahasa Jawa karena pada saat itu umat yang dihadapi kebanyakan dari kalangan orang tua yang kurang paham akan Bahasa Indonesia dan jauh lebih mudah dalam penyampaiannya apabila menggunakan Bahasa Jawa.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Bahasa Jawa selalu digunakan dalam setiap Perayaan Ekariti di Stasi Kemranggen, namun pada saat ada seorang Romo yang dari Manado, Stasi Kemranggen mendapat jadwal Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa, pada saat itulah umat diperkenalkan dengan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia. Hal ini bertujuan agar umat juga bisa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia pada saat mengikuti Ekaristi di Paroki.

  Namun setelah romo pindah, Perayaan Ekariti kembali lagi dengan menggunakan Bahasa Jawa.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Sejauh ini umat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan baik dan mampu

  Bahasa Indonesia, walaupun sekarang ini bahasa Indonesia lumrah digunakan dalam setiapkalangan namun apabila mendengarkan ataupun membaca Kitab Suci dengan bahasa Jawa akan sangat menyentu hati.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Penggunaan bahasa tidak berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. Kesadaran diri sendiri untuk mengikuti Perayaan Ekaristi tanpa dipengaruhi oleh bahasa, namun untuk memahami dan menyentuh lebih memilih dengan menggunakan Bahasa Jawa.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Secara keseluruhan daam aktif mengikuti setiap bagian dalam Perayaan Ekaristi, misalnya dalam lagu, doa maupun menjawab dialog dari romo. Adapun bentuk partisipasi salah satunya dengan menjadi lektor sebelum digantikan oleh yang lebih muda. Pergantian tugas merupakan salah satu cara supaya umat lain juga terlibat dalam Perayaan Ekaristi.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Kitab Suci dengan Bahasa Jawa mudah dimengerti dan mudah ditangkap, namun apabila pastornya kurang paham Bahasa Jawa maka penyampaiannya kurang tepat, namun karena menggunakan Bahasa Jawa umat dapt dengan mudah mengerti maksud dari yang disampaikan oleh pastor.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Liturgi Ekaristi merupakan yang paling pokok dalam Perayaan Ekaristi dimana umat akan menerika tubuh dan darah Kristus dalam komuni, Bahasa Jawa membantu untuk dapat masuk kedalam keheningan sebelum menerima komuni, karena bahasa mewakili diri sendiri yang mengucapkan/berbicara kepada Tuhan.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Doa pribadi ataupun doa bersama selalu menggunakan Bahasa Jawa karena lebih mantab dan bahasa yang sopan yang diucapkan kepada Tuhan. Bahasa Jawa krama yang digunakan semakin memeberikan tempat tertinggi untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  Agama Katolik merupakan agama yang sangat minoritas di kalangan masyarakat Kemranggen. Namun hal ini tidak menjadi hambatan dalam kendala untuk tetap ikut terlibat aktif dalam kegiatan dan menjadi ketua RT dalam masyarakat.

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Sebagai seorang Jawa supaya tidak meninggalkan identitas kejawaannya maka Bahasa Jawa tidak boleh ditinggakan,namun terbuka terhadap kemungkinan bahasa Indonesia dalam Perayaan Ekaristi, supaya umat tidak hanya terbiasa hanya menggunakan Bahasa Jawa, dan dapat mengikuti Perayaan Ekaristi yang menggunakan Bahasa Indonesia seperti tujuan yang disampaian oleh Romo yang pernah memperkenalkan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia.

  Wawancara R4 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Pada awal mula ada seorang pastor yang datang kewilayah Kemranggen, beliau senantiasa menggunakan bahasa Jawa, mulai dari mengenalkan doa- doa sampai kepada tataperayaan Ekaristi menggunakan bahasa Jawa. Hal ini sesuai dengan keadaan umat, walaupun awalnya Misa dilakukan keliling dari rumah kerumah yang lain dan masih sangat jarang dilaksanakan 2.

   Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi kerena Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari serta untuk melestarikan budaya Jawa. Dari awal mula para misionaris menggunakan Bahasa Jawa yang dirasa akan sangat mudah masuk kedalam hati umat yang saat itu kebanyakan dari kalangan orang tua bahkan ada yang sudah menginjak sepuh.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Bahasa Jawa selalu digunakan dalam Perayaan Ekaristi sesuai dengan apa yang telah diajarkan dari awal mula, umat senantiasa terbiasa dengan Bahasa Jawa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi maupun dalam ibadat yang lainnya. Namun pada saat ada seorang romo dari Manado, umat di Stasi Kemranggen mulai diperkenalkan dengan Perayaan Ekaristi Bahasa Indonesia. Inilah kali pertama umat mendapat jadwal Ekaristi menggunakan Bahasa Indonesia. Tujuannya supaya umat dapat mengikuti Ekaristi di Paroki atau dimanapun dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Penggunaan bahasa dalam Ekaristi sangat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman umat dalam menghayati Ekaristi, keterbiasaan menggunakan Bahasa Jawa sangat membantu dalam menghayati Perayaan Ekaristi. menggunakan Bahasa Jawa juga sebagai sarana untuk melestarikan budaya sebagai orang Jawa.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Pengguanaan bahasa tidak perbengaruh terhadap kehadiran umat melainkan berpengaruh terhadap tinggat pemahaman umat akan Ekaristi. Dengan demikian kehadiran umat dipandang sebagai kesadaran umat untuk menghidupi iman kristianni. Karena setiap Perayaan Ekaristi di Stasi Kemranggen saat ini selalu menggukan Bahasa Jawa maka mau tidak mau umat harus senantiasa hadir.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Menjadi orang Katolik tidak hanya ikut terlibat aktif didalamnya, karena akan percuma kalau ikut terlibat aktif tetapi tidak menghayatinya dengan sungguh- sungguh. Penghayatan tersebut dengan ikut serta dalam menyanyi maupun doa dalam Perayaan Ekaristi. Maka dari itu berhubung sudah beranjak sepuh dan banyak yang muda-muda, kesempatan diberikan kepada yang lebih muda.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Bahasa Jawa sangat umum digunakan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam Perayaan Ekaristi maka dari itu Kitab Suci akan jauh lebih mudah dipahami dengan menggunakan Bahasa Jawa pula. Bahkan apabila ada seorang pastor yang kurang paham dengan menggunakan Bahasa Jawa dan kurang tepat pada saat penyampainnya akan lebih mudah dipahami karena umat jauh lebih mengerti bahasa yang digunakan.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Perjumpaan dengan Tuhan salah satunya dengan Perayaan Ekaristi, mengikuti Perayaan Ekaristi apabila tidak mengerti arti dari bahasa yang digunakan maka tidak ada artinya. Dengan demikian Bahasa Jawa yang digunakan sangat membantu dalam menghayati dan masuk kedalam suasana keheningan bersama Tuhan.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Sebagai manusia tentu saja keterbatasan untuk melakukan segala perintah dan laranganya itu selalau ada, namun berusaha untuk dapat mengamalkan nilai- nilai Kristiani ditengah hidup bermasyarakat tanpa memandang apapun latarbeakangnya. Dalam kegiatan masyarakat walaupun menjadi kelompok minoritas tetapi dipercaya untuk turut menjadi pernagkat desa.

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Sebagai orang Jawa yang ikut melestarikan budaya Jawa hendaknya untuk kedepannya Bahasa Jawa tetap digunakan dan tidak begitu saja ditinggalkan dalam Perayaan Ekaristi. Mengingat untuk masa mendatang mungkin saja bahasa daerah akan hilang berjalannya arus modern yang kian berkembang. Dengan demikian baik apabila tetap melestarikannya sebagai sarana berkomunikasi dengan Tuhan.

  Wawancara R5 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Dari awal Bahasa Jawa digunakan mulai dari pewartaan hingga dalam tatacara perayaan. Misionaris yang datang senatiasa menggunakan Bahasa Jawa dalam memperkenalkan Kristus kepada umat di Stasi Kemranggen. Sejak awal berdirinya dan mulai melaksanakan Perayaan Ekaristi sudah mennggunakan Bahasa Jawa. Ikut dalam Perayaan Ekaristi dan menjadi orang Katolik merupakan pilihan pribadi, walaupun tidak bergabung sejak awal masuknya agama Katolik.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Alasan yang paling mendasar mengapa menggunakan Bahasa Jawa ialah karena Bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari sehingga akan jauh lebih memudahkan umat dalam memahaminya dan sungguh-sungguh masuk kedalam hati umat serta mampu menyentuh hati umat. Dengan demikian umat yang baru saja diperkenalkan dengan Kristus akan lebih mengerti.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Pada saat ini Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi maupun dalam doa-doa lainnya. Namun sebelumnya pernah diperkenalkan/diajarkan tatacara Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa oleh seorang Romo yang berasal dari Manado, hal ini bukan hanya karena romo tersebut tidak bisa Bahasa Jawa, melainkan untuk membiasakan umat agar tidak hanya bisa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bashasa Jawa. Romo

  Apabila menggunakan Bahasa Indonesia umat cenderung kurang hafal dengan doa-doa maupun nyanyiannya. Mengingat sebagian besar umat di Stasi ialah orang tua bahkah yang dari generasi pertama masih ada.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Sebagai orang Jawa sudah seharusnya turut serta dalam melestarikan dan memegang teguh budaya Jawa, salah satunya dengan bahasa yang kapan saja bisa luntur oleh zaman. Mengungkapkan iman kepada Tuhan dengan menggunakan bahasa sendiri yang sehari-hari digunakan meningkatkan rasa percaya diri serta lebih mantab dalam melaksanakan dan mengikuti Perayaan Ekaristi.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Sejauh adanya Gereja Stasi Kemranggen, Bahasa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi tidak berpengaruh terhadap kehadiran umat. Umat tidak hadir bukan karena bahasa yang digunakan melainkan ada keperluan lain atau ada halangan lainnya. Walaupun umat setempat senantiasa lebih akrab bahkan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi sudah melekat dalam hati umat tetapi umat tidak akan menutup diri ataupun menghindar apabila diadakan Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia sejauh memungkinkan bagi umat.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Sebagai manusia lemah dan banyak berbuat salah, kadang kala kesadaran umat untuk mengikuti Perayaan Ekaristi tidak selalu disadari oleh umat. Sehingga apabila umat yang biasanya bertugas lektor ataupun doa umat tidak hadir, maka dengan senang hati menggantikan. Namun untuk terlibat aktif dalam lagu, menjawab Mazmur maupun doa senantias dapat diikuti dengan baik.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Kitab Suci yang dibacakan dengan menggunakan Bahasa Jawa akan jauh lebih mantab dibandingkan apabila dengan Bahasa Indonesia. kemungkinan besar umat mengerti maksud apabila menggunakan Bahasa Indonesia namun lebih mengena dengan Bahasa Jawa, tentunya dirasa lebih sopan dengan tingkatan bahasa dalam Bahasa Jawa.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Secara keseluruhan Bahasa Jawa membantu dalam menghayati dan mampu menghantarkan umat dalam keheningan. Menggunakan kesempatan untuk

  Dalam setiap kesempatan untuk berdoa baik secara bersama maupun pribadi selalu menggunakn Bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan Bahasa Jawa merupakan bahasa sendiri sehingga dengan mudah melantunkan setiap kata yang hendak dihaturkan kepada Tuhan.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  Umat Katolik merupakan umat yang sangat minoritas di Stasi Kemranggen, pasang surut pernah terjadi dalam Gereja. Beberapa keluarga mengundurkan diri dari Katolik dan mengikuti yang menjadi mayoritas, namun hal ini tidak menyurutkan sebagian umat yang masih bertahan. Godaan dari luar selalu ada namun, sebagai pengikut Kristus yang sejati berusaha untuk berpegang teguh dan mencoba menampilkan jadi diri seorang Katolik tanpa merasa malu. Berusaha untuk mengamalkan dan menanamkan rasa cinta kasih kepada sesama tanpa membeda-bedakan.

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Demi mewujudkan dan melestarikan Bahasa Jawa alangkah lebih baiknya agar penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi tidak begitu saja ditinggalkan. Mengingat untuk zaman sekarang bahasa Indonesia selalu digunakan maka lebih baik pula jika sesekali menggunakan Bahasa Indonesia seperti yang telah dipaparkan oleh seorang romo dari Manado supaya umat dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Indonesia, dengan tidak meningalkan Bahasa Jawa.

  Wawancara R6 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Sejak adanya umat Katolik di Stasi Kemranggen, Bahasa Jawa selalu digunakan dalam Perayaan Ekaristi. Setelah menjadi Katolik umat setempat sudah menggunakan Bahasa Jawa mulai dari pelajaran sampai pada Parayaan Ekaristi yang diadakan oleh umat. Dalam penyebaran Agama Katolik seorang Pastor menggunakan Bahasa Jawa.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Umat Stasi Kemranggen senantiasa menggunakan Bahasa Jawa untuk berkomunikasi, sehingga penyebaran agama dengan Bahasa Jawa akan jauh lebih memudahkan umat untuk memahami dan mengerti maksud yang disampaikan. Mulai dari memperkenalkan Kristus sampai tatacara dalam Perayaan Ekaristi, umat diajarkan dengan menggunakan Bahasa Jawa. Oleh yang dari Manado tugas di Paroki Santo Yohanes Rasul Kutoarjo. Untuk pertama kalinya umat di Stasi Kemranggen menggunakan Bahasa Indonesia. Dibantu buku panduan umat diajarkan mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia, hal ini bertujuan supaya umat dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia. namun setelah romo pindah tugas, umat Stasi Kemrangen meninggalkan Bahasa Indonesia dan kembali menggunakan Bahasa Jawa dalam setiap Perayaan Ekaristi.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  sejauh ini penggunaan Bahasa Jawa dalam Ekaristi masih mendapat respon yang baik oleh umat. Umat dapat dengan mudah mengikuti karena Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari dan sudah terbiasa sejak dulu. Sehingga akan merasa kesulitan apabila mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia, walaupun dapat mengerti namun sulit untuk ikut berperan aktif.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Keterbiasaan dengan bahasa yang digunakan maka dengan mudah diikuti dan lebih merasa mantab serta mengena dihati umat. Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi juga mendapat persetujuan dan respon yang positif dari dewan paroki juga romo paroki.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Penggunaan Bahasa dalam Perayaan Ekaristi tidak berpengaruh terhadap bahasa yang digunakan. Mengingat pada saat ini Perayaan Ekaristi selalu menggunakan Bahasa Jawa maka umat mau tidak mau senantiasa mengikuti. Umat dapat mengerti maksud dengan bahasa yang digunakan baik itu Bahasa Indonesia maupun Bahasa Jawa yang biasa digunakan, namun untuk dapat mengikuti aktif dalam doa maupun pujiannya, umat cenderung akan memilih menggunakan Bahasa Jawa.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Setiap mengikuti Perayaan Ekaristi senantiasa ikut terlibat aktif apapun bahasa yang digunakannya. Keterlibatannya antara lain memandu lagu maupun doa umat. Tugas-tugas dalam Ekaristi sudah ditetapkan namun, tidak menutup kemungkinan untuk siapa saja yang akan ikut terlibat aktif terutama dari kalangan muda-mudi.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Kitab Suci yang dibacakan senantiasa dapat dimengerti dan mudah dipahami

  Secara keseluruhan Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa sepenuhnya dapat membantu dalam menghayati setiap bagian Ekaristi. Liturgi Ekaristi mendapat tempat tersendiri dalam seluruh perayaan, maka sudah seharusnya apabila mendapat waktu khusus untuk bersama Tuhan.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Dalam setiap doa baik pribadi maupun doa bersama selalu menggunakan Bahasa Jawa, karena akan lebih mudah dalam mengucapkannya. Keterbiasaan dalam Perayaan Ekaristi yang menggunakan Bahasa Jawa membatu dalam setiap doayang dipanjatkan kepada Tuhan.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  80% nilai-nilai Kristiani dapat diterapkan dalam kehidupa sehari-hari, mengingat bahwa manusia tidaklah sempurna dan masih banyak kesalahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Sebagai orang tua tentu saja mengerti kebutuhan yang dirasakan oleh anak- anak dan remaja yang pada umumnya keluar dari daerah Kemranggen. Berdasarkan pengalaman mereka, tentu saja tidak atau pernah sesekali mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia sehingga pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi Bahasa Indonesia sedikit kesulitan padahal mereka akan jauh lebih mengerti apabila menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga akan lebih baik jika kembali dijadwalkan Ekaristi Bahasa Indonesia, namun hal itu butuh proses, karena sebagian besar umat sudah terbiasa dan lebih membantu menghayati, sehingga tidak semua umat setuju menggunakan Bahasa Indonesia.

  Wawancara R7 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Sejak menikah dana menjadi seorang Katolik Perayaan Ekaristi di Stasi Kemranggen sudah menggunakan Bahasa Jawa. Mulai dari memberikan pelajaran ataupaun memperkanalkan Agama Katolik, selalu menggunaan Bahasa Jawa.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Alasan utama penggunaan Bahasa Jawa ialah karena umat Stasi Kemranggen ilaha penduduk asli Jawa. Salah satu bentuk melestarikan Bahasa Jawa dan

  Dalam setiap kesempatan, Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi kerena umat sudah terbiasa sehingga akan kesulitan apabila menggunakan bahasa lain, misalnya Bahasa Jawa. Ketika ada Romo Nus, seorang romo dari Manado bertugas di Paroki Kutoarjo, beliau memperkenalkan dan memberikan jadwal Misa dengan menggunakan Bahasa Jawa supaya umat tidak hanya terbiasa dan hanya bisa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa saja. Namun ketika beliau pindah tugas, umat Kemranggen tidak pernah lagi menggunakan Bahasa Indonesia dalam Perayaan Ekaristi.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Umat senantiasa mengerti dan memahami baik dengan Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia, namun karena keterbiasaan menggunakan Bahasa jawa sehingga tidak mudah untuk meninggalkan kebiasaan tersebut. Bahasa Jawa bagi umat Stasi Kemranggen dirasa akan lebih menggugah hati umat dan umat dapat dengan aktif mengikuti setiap bagiannya.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Di zaman sekaranag tidak menampik kenyataan yang ada bahwa Bahasa Indonesia lebih akrab didengarkan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Bahasa Jawa, Perayaan Ekaristi dengan menggunakan kedua bahasa tersebut dapat diterima dan dipahami dengan baik. hal yang menjadi kendala ialah apabila romo yang bertugas kurang mengerti Bahasa Jawa dan menimbulkan kesan yang lucu sehingga perlu konsentrasi tinggi untuk dapat memahami dan menyembunyikan reaksi yang tidak diinginkan.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Kehadiran umat di stasi Kemranggen dalam Perayaan Ekaristi tidak ditentukan dengan bahasa yang digunakan, mengingat untuk saat ini Perayaan Ekaristi selalu menggunakan Bahasa Jawa. Ketidakhadiran umat berkaitan dengan halangan-halangan lain yang mendesak. Umat tidaka pernah melihat adanya faktor yaang menghambat kehadiran yang berasal dari dalam Gereja melainkan dari luar Gereja, misalnya ada acara dalam masyarakat ataupun acara lain.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Partisipasi dalam Perayaan Ekaristi tidak setiap umat dapat mengikutinya walaupun menggunakan bahasa sendiri, namun untuk aktif dalam lagu maupun menjawab dialog romo senantiasa dilakukan oleh seluruh umat yang

  Apapun bahasa yang digunakan baik itu Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia dapat membantu menangkap Sabda Tuhan, karena dari Sabda Tuhanlah iman akan semakin ditambah dan diperkut, sehingga apabila tidak megerti artinya akan percuma saja. Homili yang disampaikan romo akan mempertegas lagi untuk mengerti dan menerakannya dalam kehidupan sehari- hari.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Secara keseluruhan Perayaan Ekaristi dapat diikuti dan dipahami dengan baik dengan bantuan bahasa yang dapat dimengerti baik Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Liturgi Ekaristi merupakan yang paling pokok dan harus sungguh-sungguh dipahami dan dihayati dengan baik dan benar pula.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam setiap Perayaan Ekaristi, namun dalam buku-buku doa pribadi sebagian besar menggunakan Bahasa Indonesia. sehingga dalam setiap doa pribadi senantiasa menggunakan Bahasa Indonesia, entah itu doa spontan ataupun rumusan doa lainnya.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  Menajadi orang Kristian sudah seharusnya dapat membawa sukacita dan dapat mengamalkan cinta kasih kepada sesama tanpa membeda-bedakan. Namun kelemahan manusia selalu ada maka, sebisa mugkin berusaha untu mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bertindak peduli dan mengasihi sesama dan berusaha bergaul dengan yanglain untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan sehingga akan lebih menghagai sesama.

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Sebagai orang Jawa maka tidak bisa meninggalkan Bahasa jawa, namun kembali lagi kepada yang telah disampaikan oleh Romo Nus, supaya umat juga bisa mengikuti Misa dengan Bahasa Indonesia, sesekali baik apabila Perayaan Ekaristi menggunakan Bahasa Indonesia dan tidak meninggalkan Bahasa Jawa.

  Wawancara R8 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi digunakan sejak awal mula adanya Gereja dan mengadakan Perayaan Ekaristi. Seorang Pastor yang

  Alasan penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi ialah karena Bahasa Jawa menjadi bahasa umat Kemranggen. Dengan demikian akan lebih mudah sampai kepada umat apabila pewartaanya juga menggunakan bahasa setempat. Umat akan merasa bebas berkomunikasi dengan Tuhan dengan bahasa sendiri.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Setiap Perayaan Ekaristi di Stasi Kemranggen selalu menggunakan Bahasa Jawa. Tahun 2003 pada saat ada Romo Nus bertugas di Paroki, Stasi Kemranggen mendapat jadwal menggunakan Bahasa Indonesia dalam Perayaa Ekaristi. Namun setelah Romo Nus pindah Bahasa Indonesia kembali ditinggalkan, salah satu alasannya ialah umat lebih akrab dengan Bahasa Jawa. Sampai saat ini dalam setiap Misa senantiasa menggunakan Bahasa Jawa.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Umat senantiasa dapat mengerti dan memahami, kecuali anak-anak dan kaum muda kemungkinan yang kurang begitu memahami kerena zaman sekarang ini bagi mereka Bahasa Indonesia lebih sering didengar baik disekolah maupun setiap acara televisi. Namun untuk orang dewasa yang sudah terbiasa akan snagat membantu untuk menghayati Perayaan Ekaristi.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Bahasa Jawa sudah menjadi kebiasaan dalam mengikuti Perayaan Ekaristi maka akan terlihat aneh dan kurang bisa diikuti apabila menggunakan bahasa lain seperti Bahasa Indonesia. Dengan demikian Bahasa Jawa dapat membantu untuk menghayati dan menangkap setiap bagian dari Perayaan Ekaristi.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Tidak berpengaruh, orang Katolik harus mengikuti setiap Perayaan Ekaristi, maka apapun bahasa yang digunakan akan senantiasa dihadiri oleh umat. Walaupun masih banyak umat yang tidak aktif ke gereja dengan berbagai macam alasan. Namun untuk umat yang sungguh menyadari dan aktif ke gereja tentu saja tidak mempersoalkan bahasa yang digunakan sejauh umat dapat mengerti.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Mengingat usia yang sudah tidak muda lagi maka, tugas-tugas dalam Gereja

  Pembacaan Kitab Suci dapat diterima denga bantuan bahasa yang merupakan bahasa sendiri. Kemudian dipertegas dengan homili yang disampaikan oleh romo untuk semakin menghayati hidup sebagai orang Kristiani. Sebagai manusia yang banyak kekurangan dalam homili yang diberikan tidak selalu dapat diterima karena rasa ngantuk dan terkadang merasa bosan.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Seperti hal nya dalam pembacaan Kitab Suci, dalam Liturgi Ekaristi pada umumnya umat dapat memahami dan menghayati namun beberapa kendala yang sering dihadapi ialah teriakan dan suara gaduh anak kecil yang membuat konsentrasi terganggu.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Keterbiasaan menggunakan Bahasa Jawa dan karena bahasa sendiri yang dirasa lebih mudah dalam menyampaikan kepada Tuhan. Bahasa Jawa membuat rasa percaya diri lebih tinggi dan tidak takut salah dalam mengucapkannya doa secara pribadi maupun doa bersama.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  Dalam menjalani kehidupan sehari-harisebagai seornag Kristiani sudah seharusnya mengamalkan nilai-nilai Kristiani tanpa memandang latarbelakang. Hidup sebagai kelompok yang sangat mayoritas tidak menyurutkan niat untuk selalu hidup sesuai aturan orang Kristen. Namun manusia menyadari kelemahan sehingga tidak dapat sepenuhnya diterapkan.

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Bahasa Jawa sudah sangat melekat dan seakan tidak bisa dipisahkan lagi oleh umat di Stasi Kemranggen, namun demi mengikuti perkembangan zaman dan supaya umat juga dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia, maka dapat diadakan kembali Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia.

  Wawancara R9 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Menginjak tahun ke delapan menjadi orang Katolik, yang dirasa masih belum cukup lama. Sejak memilih untuk menikah dengan orang Katolik dan mengikuti pelajaran, semuanya diterima dengan menggunakan Bahasa Jawa. Perayaan Ekaristi pertama yang diikuti juga menggunakan Bahasa Jawa umat Kemranggen. Dengan menggunakan bahasa sendiri maka akan lebih menguntungkan umat dalam menangkap dan memahami apa yang mereka rayakan dalam Misa.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Sejauh mengenal Agama Katolik dan mengikuti setiap Perayaan Ekaristi pada hari minggu walaupun tidak setiap minggu ada Misa dan diganti dengan ibadat Sabda senantiasa menggunakan Bahasa Jawa. Hal ini membuat umat stasi dapat dengan mudah mengikuti karena terbiasa sejak dulu menggunakan Bahasa Jawa. Dengan demikian akan sangat membantu umat untuk menghayatinya.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Bahasa Jawa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi merupakan bahasa yang sangat sopan untuk menghadap Tuhan dan menghaturkan segala pujian kepada Tuhan. Maka dengan penuh khidmat dan rasa sopan penggunaan Bahasa Jawa membuat umat yang mengikutinya semakin khusuk dalam mengkuti Perayaan Ekaristi.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Pada awal mengikuti Perayaan Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa membutuhkan konsentrasi untuk dalam mengikuti kerena belum terbiasa. Namun lambat laun hal tersebut dapat diikuti karena sebelumnya sekolah di yayasan Katolik sehingga lebih mudah untuk beradaptasi dengan agama Katolik. Namun untuk penggunaan bahasa tentu saja berbeda dengan apa yang telah diketahui dan diperoleh dari sekolah, misalnya sering mendengar rumusan doa dalam Bahasa Indonesia. berjalannya waktu penggunaan Bahasa Jawa sebagai sarana menghadap Tuhan dirasa sangat sopan dan dapat diikuti.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Bagi umat Stasi Kemranggen bahasa yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi sama sekali tidak berpengaruh teradap kehadiran umat. Walaupun sebagian besar umat memilih menggunakan Bahasa jawa dalam Perayaan Ekaristi tatapi sejauh ini apabila mengikuti Misa di paroki yang menggunakan Bahasa Indonesia tidak menyurutkan niat untuk tidak ke Gereja. kesadaran penuh yang dirasakan umat sejauh masih mengerti arti membuat umat semakin diperkaya dengan mengikuti Misa yang seain menggunakan Bahasa Jawa.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana lektor. Namun dengan berusaha semaksumal mungkin untuk bertanggungjawab atas tugas yang diberikannya dan dengan senang hati mendapat kepercayaan dan dapat ikut terlibat dalam Perayaan Ekaristi.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Sebagai salah satu pembaca dalam bacaan Kitab Suci, maka membuat keuntungan tersendiri yaitu lebih mengetahui bacaan karena sebelumnya sudah membaca dan mempersiapkan diri. Bahasa Jawa mempermudah umat dalam mengerti dan menangkap isi dan intidari bacaan kemudian dipertegas lagi dengan homili yang dibawakan oleh romo. Hal ini semakin menambah pengetahuan dan lebih mengerti maksud dari bahasa Kitab Suci yang terkadang sulit diterima.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Secara menyeluruh Penggunaan Bahasa Jawa sangat membantu umat dalam Perayaan Ekaristi, bahkan diliar Perayaan Ekaristi misalnya dalam doa Rosario umat senantiasa menghayatinya. Pada awalnya sulit mengikuti kerena umat yang sudah terbiasa dalam mendarasakan doa cenderung sangat cepat. Namun karena terbiasa mengikuti maka dapat pula mengimbangi umat yang lain.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Pelajaran yang diperoleh sebelum menjadi orang Katolik dengan menggunakan Bahasa Jawa, sehingga terbiasa menggunakan Bahasa Jawa dalam doa pribadi maupun doa bersama-sama yang sejak dulu menggunakan Bahasa Jawa. Namun untuk mengajari anak-anak menggunakan Bahasa Indonesia karena mudah dihafalkan.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  Menjadi orang Katolik merupakan pilihan dari dalam diri, masih harus terus belajar bagaimana menjadi orang Katoik yang baik. tanggapan orang lain tentu saja bermacam-macam dan tidak dengan mudah menerima, namun dengan ikut terlibat aktif dan rajin mengikuti Perayaan Ekaristi menjadi cara supaya tidak dengan mudah diremehkan oleh orang lain. Berusaha untuk menyakinkan bahwa menjadi seorang Katolik yang baik tanpa membedakan dan lebih menghargai sesama.

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Melihat anak-anak zaman sekarang ini yang lebih mudah diajarkan dengan

  Wawancara R10 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Sejak menjadi orang Katolik Perayaan Ekaristi di Stasi Kemranggen sudah menggunakan Bahasa Jawa. Hal ini sesuai dengan keadaan dan kondisi umat yang dihadapi pada saat itu, yang umunya ialah orang tua. Sehingga sangatlah cocok dan memudahkan umat untuk mengenal dan menghayati iman Kristiani.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Sebagai orang jawa yang pada umumnya menggunakan Bahasa Jawa menjadi alasan utama dalam penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi pada awal mula sampai sekarang. Hal ini tetap dipegang teguh untuk tidak meninggalkan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari yang pada saat ini mulai luntur.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Bahasa Jawa sennatiasa digunakan dalam setiap Perayaan Ekaristi di Stasi Kemranggen dari awal mula sampai saat ini, namun duu pernah menggunakan Bahasa Indonesia. karena setiap mengikuti Misa di Paroki selalu menggunakan Bahasa Indonesia maka umat Stasi Kemranggen juga diperkenalkan dengan Perayaan Ekaristi meggunakan Bahasa Indonesia. supaya umat dapat mengikuti Peryaan Ekaristi dengan mengguakan Bahasa Indonesia pada saat itu yang setiap hari raya Natal maupun Paskah seluruh umat diundang untuk mengikuti Perayaan Ekaristi di Paroki. Namun hal itu tidak berlangsung lama dan sampai sekarang selalu menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Sebagian besar umat dapat mengikuti karena menggunakan bahasa sendiri yang sudah akrab ditelinga. Sehingga dengan mudah menghayati dana masuk kedalam diri umat masing-masing. Pandangan bahwa umat katoik harus sealu ke greja selalu dipegang teguh oleh seluruh umat apalagi bahwa bahasa menjadi prioritas untuk senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi. sebagai orang Jawa tentu saja hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mendapat pengakuan dalam Gereja.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Sesuai dengan alasan awal mula dalam penggunaan Bahasa Jawa dalam Stasi Kemranggen, supaya dapat menyatu dan merupakan bahasa sendiri maka, hal

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Sejauh ini kehadiran umat tidak sama sekali berpengaruh terhadap bahasa yang digunakan. Bahkan yang cenderung memilih Bahasa Indonesiapun tetap ikut Misa dengan Bahasa Jawa karena hanya ada Misa menggunakan Bahasa Jawa di Stasi Kemraggen, namun karena sudah menjadi kebiasaan makan tidak menjadi kendala untuk tidak mengikuti Perayaan Ekaristi.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Bahasa Jawa selalu digunakan namun untuk tugas dalam Perayaan Ekaristi diberikan kepada yang lebih muda. Pengguanaan Bahasa Jawa yang tulisan dengan cara membacanya tidak sama menjadikan ragu-garu apabila salah baca padaa saat tugas dengan demikian memilih untuk tidak ikut berpartisipasi. Namun tetap mengikuti dengan baik setiap bagian dari Perayaan Ekaristi.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Sering kali yang terjadi ialah mendengarkan Bacaan Kitab Suci hanya pada saat Misa maka, haruslah di terima dan diresapi. Bacaan Kitab Suci menjadi pokok dimana Tuhan bersabda dan melalui homili, romo menyampaikan maksud dari bacaan yang dibacana pada saat itu. dengan demikian umat dapat menangkap dengan mudah supaya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari- hari untuk menjadi murid Kristus. Bahasa sangat membantu penghayatan umat, sebagai orang Jawa yang umunya menggunakan Bahasa Jawa.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Sejauh ini pengunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi sangat membantu umat dalam mengikuti dan memahaminya serta dapat dengan mudah dalam menjawab dialog pastor saat mengikuti Perayaan Ekaristi. namun menurut diri pribadi lebih mengerti apabila menggunakan Bahasa Indonesia.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Selama ini Bahasa Jawa senatiasa digunakan dalam Misa maupun dalam doa bersama, namun mengingat bahawa pada masa sekarang Bahasa Indonesia lebih sering dan akrab didengarkan maka dalam doa pribadi cenderung menggunakan Bahasa Indonesia.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  Sebagai seorang Kristiani sudah sewajarnya menerapkan nilai-nilai dan hidup

  12. Apa usulan Bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

  Untuk melatih umat supaya tidak hanya terbiasa dan tidah hanya bisa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Jawa maka, lebih baik apabila mulai lagi dijadwalkan Misa dengan Bahasa Indonesia. Misa dengan Bahasa Indonesia tidak harus sebulan sekali namun melihat kondisi umat. hal ii menjadikan variasai terhadap Perayaan Ekaristi sehingga tidak hanya cenderung Bahasa Jawa namun tidak begitu saja meninggalkan Bahasa Jawa.

  Wawancara R11 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi sejak pertama kali mengikuti Perayaan Ekaristi di stasi Kemranggen. Sebagai orang Jawa dan ornag Katolik sejaklahir maka hal ini menjadi wajar dan akan sangat membantu umat dalam mengikuti dan menghayati iman Katolik.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Alasan menggunakan Bahasa Jawa ialah karena ornag jawa yang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan Bahasa Jawa. Supaya ornag jawa tidak kehilangan identitas sebagai ornag jawa makan hal ini dijadikan oleh misionaris sebagai sarana untuk menyebarkan agama Katolik.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Iya. Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi. Namun pernah menggunakan Bahasa Indonesia pada beberapa tahun lalu. Dengan alasan supaya umat Katolik juga bisa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia. tetapi hal itu tidak berlangsung lama dan umat memilih kembali menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi? Umat senantiasa merasa cocok dan sesuai dengan bahasa umat sendiri.

  Karena sudah terbiasa menggunakan Bahasa Jawa memudahkan umat untuk menghayatinya. Bahkan akan merasa kesulitan apabila meggunakan Bahasa Indonesia walaupun umat akan mengerti artinya.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Keterbiasaan menggunakan Bahasa Jawa menjadikan Perayaan Ekaristi menjadi lebih mendalam dan mudah dihayati. Walaupun dengan lebih banyak yang mengikuti apabila Perayaan Ekaristi dibandingkan dengan Ibadat Sabda. Umat senantiasa lebih memberikan prioritas kepada Perayaan Ekaristi. jarak yang jaub serta cuaca terkadang yang menjadi kendala bagi umat untuk mengikuti Perayaan Ekaristi.

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Baik menggunakan Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia senantiasa siap dengan senang hati untuk dapat terlibat aktif, bentuk partisipasinya ialah sebagai pembaca bacaan. Bahasa Jawa menjadikan kepercayaan diri semakin bertambah karena sudah terbiasa dan sebagai bahasa sehari-hari.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Kitab Suci menjadi pusat yang harus sungguh-sungguh didengarkan, bahkan sebagian besar umat mendengarkan Kitab Suci pada hari minggu saja. Namun sebagai lektor yang hampir setiap hari minggu bertugas menjadikan keuntungan tersendiri untuk mempelajari dan membacanya sebelum dibacakan dalam Perayaan Ekaristi. Homili yang disampaikan oleh romo lebih memperkuat apa yang telah disabdakan oleh Tuhan melalui bacaan pada saat itu.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Secara keseluruhan pengguanaan Bahasa Jawa menyangkut doa, lagu maupun bacaan dalam Perayaan Ekaristi. Hal ini digunakan supaya umat dapat lebih memahami karena mengguakan bahasa sendiri. Liturgi Ekaristi menjadi pokok dimana umat meneria tubuh dan darah Kristus, maka mendapat tempat khusus untuk lebih memahaminya.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Kebiasaan menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi menjadikan Bahasa Jawa akrab digunakan dalam setiap doa. Baik dalam doa bersama maupun doa pribadi selalu menggunakan Bahasa Jawa. Dengan alasan lebih mudah diucapkan karena sudah terbiasa digunakan dalam hal-hal doa dan dalam hal berkomunikasi dengan Tuhan memalui Perayaa Ekaristi.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  Hidup secara Katolik sudah ditanamkan sejak menjadi orang Katolik, namun tidak semua rencana dan niat akan berjalan dengan lancar sesuai harapan. Mengingat bahwa manusia mudah terjerumus kedalam dosa karena kelemahan yang dimiliki manusia, hal ini membuat tidak semua dapat

  Sebagai orang Jawa sudah menjadi kewajiban untuk turut dalam melestarikan budaya jawa salah satunya dengan tetap menggunakan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi. Dengan demikian maka indenritas sebagai ornag jawa tidak akan hilang begitu saja. Namun dengan tidak menutup kepada diri kepada dunia luar, maka bisa sesekali menggunakan Bahasa Indonesia dalam Perayaan Ekaristi supaya lebih variatif.

  Wawancara R12 1. Menurut Bapak/ibu/saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Menjadi orang Katolik sejak lahir dan mengingat dari awal mula Perayaan Ekaristi selalu menggunakan Bahasa Jawa. Hal ini sesuai dengan keadaan umat yang merupakan ornag Jawa yang masih memegang teguh budaya jawa dan melestarikan bahasa Jawa supaya tidak luntur digerus zaman.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi?

  Alasan utama ialah karena ornag jawa yang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Hal ini mempermudah umat dalam megahayati iman Kristiani sesuai dengan bahasa yang digunakan.

  3. Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

  Bahasa Jawa selalu digunakan dalam setiap Perayaan Ekarristi maupun dalam Ibadat Sabda. Pernah beberapa tahun yang lalu menggunakan bahasa Indonesia pada Perayaan Ekaristi, namun hal itu hanya berlangsung beberapa saat saja kemudian Stasi Kemranggen kembali menggukan Bahasa Jawa dalam setiap Perayaan Ekaristi di Stasi Kemranggen.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Sejauh ini penggunaan Bahasa Jawa dirasa sangat cocok dan sesui dengan keadaan umat setempat. Umat dapat mengungkapkan iman mereka melalui bahasa yag digunakan. Tanggapan umat pun akan berbeda apabila Misa menggunaka Bahasa Indonesia karena sudah terbiasa dengan Bahasa Jawa.

  5. Bagaimana tanggapan bapak/ibu/saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

  Berdasarkan pengalaman, mengikuti Perayaan Ekaristi dengan meggunakan Bahasa Jawa dan Indonesia, lebih mudah dimengerti dengan menggunakan Bahasa Indonesia walaupun paham dengan Bahasa Jawa.

  6. Apakah penggunaan Bahasa Jawa berpengaruh terhadap kehadiran umat dalam Perayaan Ekaristi? Mengapa?

  Kehadiran umat dalam mengikuti Perayaan Ekaristi tidak berpengaruh

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  Sebelum memiliki anak kecil berusaha untuk aktif terlibat dalam tugas yang diberikan dan senatiasa memberikan diri entah untuk doa umat maupun lektor. Namun karena mempunyai anak kesil dan susa ditinggalkan maka, kesempatan itu diberikan kepada yang lain, namun tetap ikut dalam Perayaan Ekaristi dan aktif mengikutinya. Hal ini tidak menutup kemungkinan untuk dapat terlibat lagi kelak kemudian hari.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu Bapak/ibu/saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  Mendengarkan Sabda Tuhan sering kali hanya pada saat hari minggu, maka hal ini menjadi perhatian khusus, walaupun lebih memahami apabila menggunakan Bahasa Indonesia. namun homili yang disampaikan oleh romo membantu untuk lebih memahami dan mengerti maksud yang hendak disampaikan dalam bacaan.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  Kendala utama ialah mempunyai anak kecil yang cenderung akan aktif sendiri dan harus menjaganya, sehingga akan mengganggu dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. Hal ini pun menjadi maklum karena masih anak-anak dan membiasakan mengajak anak-anak sejak kecil selalu ditanamkan dan tidak pernah untuk tidak diajak. Walaupun menjadi kendala tetapi tetap berusaha untuk mengikuti dan memberikan waktu khusus untuk dapat mengikuti dalam keheningan.

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  Bahasa Jawa selalu digunakan dalam perayaan Ekaristi, namun pada saat doa pribadi lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia karena lebih sering menggunakan Bahasa Inodonesia pada kehidupan sehari-hari terutama dalam lingkup sekolah. Hal ini cukup berpengaruh pada zaman sekarang ini dan akan jauh mudah diucakpan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu Bapak/ibu/saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  Sebagai orang minoritas menjadi tantangan terbesar dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Katolik bahkan dilingkungannya hanya sendiri yang Katolik. Sebagai orang tua dan menjadi Katolik sejak lahir hal ini tidak menyurutkan iman dan tetap berusaha hidup dalam nilai Kristiani. Namun berbeda dalam mendidik anak yang berada dalam kalangan muslim, sebagai anak-anak akan cenderung untuk mengikuti teman-temannya. Dalam hal

  Melihat generasi penerus yang masih kanak-kanak dan pada umumnya kurang mengerti Bahasa Jawa, alangkah baiknnya pabila sesekali menggunakan Bahasa Indonesia untuk memudahkan anak dalam menangkap dan mengerti apa yang mereka ikuti dalam Perayaan Ekaristi dan tidak hanya modal datang ke Gereja, dengan tidak meninggalkan bahasa Jawa.

  Wawancara R13 FDG 1. Menurut saudara sejak kapan Bahasa jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Sejak mengikuti Perayaan Ekaristi sudah menggunakan Bahasa Jawa.

  • Mengenal dan mengingat pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi sudah

  • menggunakan Bahasa Jawa.

  2. Apakah yang menjadi alasan awal mula Bahasa Jawa digunakan dalam Perayaan Ekaristi? Sebagai orang Jawa sudah seharusnya menggunakan Bahasa Jawa.

  • Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari walaupun tidak sama

  • persis seperti yang digunakan dalam Perayaan Ekaristi.

  Untuk mempermudah dalam menyebarkan Agama Katolik pada waktu itu.

  • Umat yang dihadapi sebagian besar ialah orang tua.
  • 3.

   Apakah Bahasa Jawa senantiasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen?

Bahasa Jawa selalu digunakan dalam Perayaan Ekaristi sampai saat ini. Dulu

  • sempat menggunakan Bahasa Indonesia dalam Perayaan Ekaristi, namun tidak berlangsung lama dan sampai sekarang tidak pernah lagi menggunakan Bahasa Indonesia.

  4. Bagaimana tanggapan umat terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

Sebagian besar umat terutama orang tua akan lebih mengerti dengan Bahasa

  • Jawa yang digunakan, namun untuk kaum muda akan jauh lebih mengerti apabila menggunakan Bahasa Indonesia, walau terbiasa dengan Bahasa Jawa.
  • sesuai dengan yang terlihat bahwa ornag tua lebih khusuk dalam mengikuti Perayaan Ekaristi.

  

Sebagai orang jawa akan lebih memahami Misa dengan Bahasa Jawa, hal ini

  5. Bagaimana tanggapan saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi?

Karena terbiasa dengan Bahasa Jawa yang digunakan dalam Perayaan

  • Ekaristi sehingga mau tidak mau harus mengerti dan memahaminya.
  • dan dipahami dengan bahasa Indonesia walau ada beberapa doa dengan Bahasa Indonesia yang tidak hafal karena jarang mengikuti Misa dengan

  

Dibandingkan dengan bahasa Indonesia, akan jauh lebih mudah dimengerti

  • Rasa malas dan lebih memilih kegiatan lain menjadi pengaruh dalam

    kehadiran Perayaan Ekaristi.
  • Adanya kegiatan sekolah.
  • Keaktifan dalam ikut bernyanyi maupun menjawab dialog romo senatiasa

  • Kurang percaya diri dan takut salah dalam menjalankan tugasmaka memilih

    untuk tidak ikut berpartisipasi.
  • Paksaan dari luar untuk tugas mejadi lektor sesekali.
  • Apabila menggunakan Bahasa Indonesia akan dengan senang hati turut

    menjadi lektor.
  • Bahasa yang digunakan dalam bacaan maupun lagu sangatlah berbeda dengan

  7. Apakah pengggunaan Bahasa Jawa mendorong partisipasi Bapak/ibu/saudara dalam mengikuti Perayaan Ekaristi? Bagaimana bentuk partisipasinya?

  dapat dikuti namun dalam doa kadang kal ketinggalan dengan umat karena umat lebih fasih dan cepat dalam mendaraskannya.

  8. Apakah penggunaan Bahasa Jawa membantu saudara pada saat pembacaan Kitab Suci dan homili?

  bahasa sehari-hari. Hal ini menjadi sulit untuk mengerti, tetapi homili dari romo menggunakan bahasa biasa yang digunakan sehari-hari yang memperjelas apa yang maksud dari bacaan.

  9. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu saudara dalam menghayati Perayaan Ekaristi dalam Liturgi Ekaristi?

  • Bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang digunakan orang jawa dalam

  berkomunikasi, namun penggunaannya berbeda dan terkadang sulit dimengerti.

  • Tidak jarang mengikuti Perayaan Ekaristi hanya sekedar datang, namun jika

    diikuti dengan baik maka akan dapat menghayati dan memahami.
  • Apapun bahasa yang digunakan tetapi harus tetap berusaha untuk mengayati

    dan memberi tampat khusus dalam menerima komuni.
  • Doa pribadi selalu menggunakan Bahasa Indonesiakarena jauh lebih mudah

    diucapakan, baik doa spontan maupun doa rumusan.
  • Dalam doa bersama dengan orang tua cenderung menggunakan Bahasa Jawa,

  10. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu saudara dalam mendaraskan doa pribadi dan doa bersama?

  tidak jarang pula anak-anak ataupun kaum muda kesulitan untuk mengikuti orang tua dalam mendasarkan doa terlalu cepat karena sudah terbiasa dan fasih dalam mendasarkannya.

  11. Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat membantu saudara untuk memaknai Ekaristi dalam hidup sehari-hari?

  • Sebagai minoritas yang sekolah di sekolah negeri terkadang susah mengikuti

  • jodoh yang seiman, namun berusaha untuk tidak meninggalkan iman yang telah diikuti sejak lahir.

  

Berada di lingkungan muslim maka berpengaruh terhadap sulinya mencari

12. Apa usulan saudara terhadap penggunaan Bahasa Jawa dalam Perayaan

  

Ekaristi di Stasi St. Fransiskus Xaverius Kemranggen? Mengapa?

Sebagai generasi penerus hendaknya orang tua juga memperhatikan kaum

  • muda dengan memberi kesempatan untuk mendapat mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Bahasa Indonesia. Mengingat kaum muda sebagian besar lebih setuju dan mengerti dengan Misa menggunakan Bahasa Indonesia.

  Lampiran 3: Teks Lagu SCP Teks lagu pembuka

“Memujia Pangeran”

  Memujia Pangeran Maha Agung Kang ngatoni jagad alam sawegung Caos ana rerepen gendhing kidung Iringana gender gong saron demung Kebeh umat pada keplok suraka Caos bekti puji pangalembana Konjuk Gusti kanti bungah gambira Awit nyata tansah paring nugraha

  Teks lagu penutup “Tan ana kang luwih endah”

  Rinonce sulur niat suci Amerta kembang kang asri Rinengga arum arum janji Sumebar ngebaki ati Tan ana kang luwih mranani Tan ana kang luwih endah Mung tulus iklas kang gumelar Jroning atur sembah bekti

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pemanfaatan Teknologi Informasi Perpustakaan Universitas Katolik (UNIKA) Santo Thomas Medan dalam Kerjasama Jaringan Perpustakaan Aptik
3
72
51
Evaluasi Iklim Komunikasi Organisasi Pada Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
0
41
80
Pengadaan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Universitas Katholik Santo Thomas Sumatera Utara
1
76
58
Gambaran Pengetahuan Siswa/Siswi Kelas XI IPA di SMA Santo Thomas 2 Medan tentang Vitamin C
3
56
66
Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja dalam Mencegah HIV/AIDS di SMA Santo Thomas 1 Medan
0
30
66
Fungsi Dan Peranan Gondang Dalam Penerimaan Sakramen Krisma Di Gereja Katolik Santo Diego Martoba Paroki Pasar Merah Medan: Sebuah Kajian Deskriptif
1
69
73
Pengetahuan Dan Sikap Remaja SMA Santo Thomas 1 Medan Terhadap Jerawat
8
50
81
Tingkat Pemanfaatan Bahan Perpustakaan Pada Perpustakaan SMA Katolik Santo Thomas I Medan
0
24
88
Pengembangan Koleksi Pada Perpustakaan SMP Santo Thomas I Medan
0
18
56
Sistem Informasi Customer Relationship Management Rumah Sakit Santo Borromeus
0
5
1
Pernak pernik natal, Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam Perjanjian Baru
0
1
6
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Anak Melalui Metode “Role Playing” di Kelompok Bermain Fransiskus Xaverius 78 Salatiga
0
0
29
Penggunaan Meishi dalam Bahasa Jepang
0
1
8
SMP Negeri I Medan SMA Santo Thomas I Medan Riwayat Organisasi : Ketua Seksi Humas OSIS SMA Santo Thomas I Medan periode 2008
0
0
15
Hubungan Obesitas dengan Ideal Diri pada Remaja di SMU Santo Thomas – 3 Medan Tahun 2013
0
0
24
Show more