MAKALAH HUKUM PERSAINGAN USAHA tiongkok

 0  0  21  2018-08-10 22:15:54 Report infringing document

  

MAKALAH HUKUM PERSAINGAN USAHA

PERBANDINGAN KPPU TIONGKOK DENGAN KPPU JEPANG

Kelompok 29

Bagas Hutomo 1206264341

  

Harsja Azhuri K. 1206265331

Levy M. Muhammad 1406610774

Michael Endha 1206265294

Muhammad Aditya 1206265533

  

Fakultas Hukum

Universitas Indonesia

Depok

2015

A. PENDAHULUAN

  Kemajuan suatu negara tidak lepas dari perekonomian suatu Negara yang berkembang dengan cepat dan efisien. Perekonomian yang berkembang dan maju dapat dilihat dari persaingan yang berlangsung di antara para pelaku usaha. Ketika terdapat persaingan diantara pelaku usaha dalam suatu Negara, dapat dipastikan Negara tersebut maju dengan pesat karena pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi disebabkan oleh pemanfaatan teknologi dan peningkatan produktivitas yang didorong oleh pasar yang kompetitif.

  Teori ekonomi pasar bebas yang diperkenalkan Adam Smith dikenal sebagai persaingan sempurna. Dalam pasar sempurna, terdapat banyak perusahaan yang beroperasi untuk menjual barang dengan karakteristik yang serupa. Kemampuan mereka untuk mengatur harga pasar ditentukan oleh mekanisme penawaran (supply) dan permintaan (demand) sendiri yang bisa dicapai oleh pasar (price equilibrium), maksudnya ketika pelaku usaha menaikkan harga, maka kemungkinan mereka akan kehilangan sejumlah pembeli yang mencari perusahaan atau penjual yang menjual dengan harga

  

  Salah satu esensi penting bagi terselenggaranya pasar sempurna adalah persaingan antar pelaku usaha dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam hal ini, persaingan usaha merupakan sebuah proses di mana pelaku usaha dipaksa menjadi perusahaan yang mampu meningkatkan efisensinya dalam menawarkan pilihan-pilihan produk yang berkualitas dan tentu dengan harga yang lebih rendah. Untuk merebut pasar, maka para pelaku usaha berlomba-lomba untuk menawarkan produk dan jasa yang menarik, baik dari

  

  Pada era globalisasi perekonomian dunia saat ini, mendorong masuknya barang dan/atau jasa dari berbagai Negara yang turut serta 1 meramaikan pasar di dalam Negeri yang potensial untuk menciptakan iklim

D. Carlton dan J. Perloff, Modern Industrian Organization, (New York: Addison-Wesley Longman, Inc,

  pasar persaingan yang tidak sempurna. Pada awal masa globalisasi ekonomi itu terjadi, pasar didominasi oleh monopoli dan oligopoli, yang mengakibatkan matinya proses mekanisme pasar serta merugikan konsumen karena pasar hanya dikuasai oleh beberapa pelaku usaha. Persaingan antar pelaku usaha yang tidak sempurna seringkali merugikan konsumen dan juga Negara karena sektor-sektor ekonomi bergabung menjadi satu dengan produk barang dan/atau jasa yang saling tidak berhubungan dan bermacam-macam yang dapat mematikan pasar. Oleh karena itu, pengaturan hukum mengenai persaingan usaha tidak sehat diperlukan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

  Globalisasi membuat transaksi ekonomi menjadi bersifat transnasional sehingga pemberdayaan sumber daya tidak terbatas hanya di dalam negeri. Negara tidak dilarang untuk menerapkan kebijakan industri guna melindungi kepentingan sektoral dan strategis nasionalnya sepanjang memang dialokasikan untuk meningkatkan daya saing dan mensejahterakan rakyatnya.

  Dengan berlakunya pasar bebas (free trade) pada masa globalisasi menjadikan setiap Negara untuk memiliki aturan hukum mengenai persaingan ini, terkhususkan bagi Tiongkok dengan The Anti-monopoly Law (AML) yang mulai diterapkan sejak 1 Agustus 2008 dan Jepang dengan undang-undang

  antitrust Law yang kurang lebih sama dengan Tiongkok. Kedua Negara ini

  merupakan subyek utama yang kewenangan lembaga pengawas persaingan usahanya akan diperbandingkan di Bab Pembahasan.

B. PEMBAHASAN

  Salah satu esensi penting dari terselenggaranya pasar bebas seperti memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam persaingan usaha merupakan sebuah proses dimana para pelaku usaha dipaksa untuk menjadi perusahaan yang efisien dalam menawarkan pilihan-pilihan produk dan jasa dengan harga yang lebih rendah. Untuk merebut hati konsumen, para pelaku usaha berusaha untuk menawarkan produk yang menarik dari segi harga, kualitas dan

  

  Fungsi penegakan hukum bertujuan untuk menghilangkan berbagai hambatan persaingan berupa perilaku bisnis yang tidak sehat. Sementara proses pemberian saran pertimbangan kepada pemerintah akan mendorong proses reformasi regulasi menuju tercapainya kebijakan persaingan yang efektif di seluruh sektor ekonomi. Selama ini, baik dalam proses penegakan hukum maupun dalam analisis kebijakan Pemerintah, seringkali ditemui bahwa kebijakan menjadi sumber dari lahirnya berbagai praktek persaingan usaha tidak sehat di beberapa sektor.

  Pada dasarnya dalam dunia bisnis, upaya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya merupakan perilaku yang wajar, akan tetapi langkah-langkah yang diambil untuk mencapai tujuan tersebut harus tetap dalam koridor yang diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Persaingan yang sehat hanya dan jika terjadi perilaku usaha yang sehat yang nantinya akan menghasilkan berbagai produk barang dan jasa dengan ragam pilihan serta harga yang sangat kompetitif.

  Untuk menjaga persaingan yang sempurna ini maka baik Negara maju seperti Tiongkok dan Jepang membentuk undang-undang anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat (antitrust laws). Antitrust laws awalnya berasal dari aturan hukum yang ditujukan untuk mencegah pengelompokan- pengelompokan industri-industri yang membentuk “trust” (sejenis kartel atau penggabungan) untuk memonopoli komoditi-komoditi strategis dan

   3 menyingkirkan para pesaing lain yang tidak tergabung dalam trust tersebut Kebijakan mengenai hukum antitrust tersebut bukanlah hal yang baru diakui oleh Negara-negara di dunia. Amerika Serikat sudah melarang praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sejak 1890 dengan adanya

5 Sherman Act. Lain halnya dengan Jepang, Negara ini memiliki antitrust law

  yang diberi nama dengan The Antimonopoly Law (AML) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1947 setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II.

  Antitrust law-nya pun diadopsi dari model antitrust law Amerika Serikat.

  Dengan berlakunya undang-undang tersebut, beberapa industri raksasa di Jepang terpaksa direkstrukturisasi dengan memecah diri menjadi perusahaan yang lebih kecil.

  Dampak dari diberlakukannya undang-undang anti monopoli di Jepang tersebut terlihat signifikan. Suatu aturan dapat diberlakukan dengan baik bila ada organ penegak hukum. Suatu aturan hukum yang baik secara formil tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung organ penegak hukumnya. Penegakan pesaingan usaha ini dilakukan dengan membentuk komisi sebagai pengawasan terhadap berjalannya pasar agar berjalan agar berjalan dengan sempurna. Peranan komisi persaingan usaha di tiap-tiap Negara dalam penyelesaian perkara persaingan usaha adalah berbeda tetapi pada dasarnya adalah untuk memberikan penilaian apakah terjadi perjanjian- perjanjian yang dilarang dan kegiatan usaha yang dilarang. Jika komisi ini menilai telah terjadi perjanjian-perjanjian yang dilarang dan kegiatan usaha yang dilarang, maka komisi ini dapat menggunakan wewenang dan fungsinya untuk menghentikan perjanjian-perjanjian dan kegiatan-kegiatan usaha yang dilarang.

  Adapun penegakan persaingan usaha di Tiongkok dibebankan kepada AMEA (Anti Monopoly Enforcement Agency) yang didesain oleh State

  Council dari Tiongkok. Di sisi lain, Jepang meresmikan JFTC (Japan Fair Trade Commission) di tahun yang sama dengan dimulainya penerapan

  Undang-Undang antitrust-nya yakni pada tahun 1947. JFTC merupakan komisi bentukan Jepang untuk mengawasi persaingan usaha yang dibentuk

  

  B.1. Hukum Persaingan Usaha dan Lembaga Pengawas di Jepang Begitu pula dengan undang-undang anti monopoli yang berada di

  Jepang, berbeda dengan di Amerika Serikat. Pada dasarnya antitrust law (AML) di Jepang adalah hukum administrasi yang ditegakkan oleh personel pemerintah melalui konsultasi pribadi dengan para pihak. Pada awal berlakunya Undang-Undang Anti Monopoli Jepang, undang-undang ini diberlakukan secara ketat, namun dalam perjalanannya, pemberlakuannya tidak seketat pada awalnya.

  Penegakan AML oleh JFTC memburuk di bawah bayang-bayang kebijakan industri yang diumumkan oleh Kementrian Perdagangan Internasional dan Industri (MITI). Namun demikian, dimulai pada tahun 1970, AML mulai menunjukkan kebangkitan, dan pada tahun 1977, Jepang diperkuat dengan ketentuan baru (terutama sebagai ukuran untuk memerangi inflasi yang terjadi akibat krisis minyak di Timur Tengah). Terpenting adalah pengenalan biaya untuk memberantas kartel ilegal. Pungutan biaya benar- benar memainkan peran yang efektif guna mengefektifkan pembuatan larangan terhadap kartel oleh JFTC. Sebelum tahun 1977, JFTC tidak bisa memberikan sanksi untuk kartel, namun tekanan eksternal (terutama Amerika Serikat) mempengaruhi Jepang untuk memperkuat AML dan JFTC.

  AML dibentuk untuk memberikan batasan pada tiga jenis perilaku, yaitu: (1) Monopoli; (2) Kartel; (3) Praktek bisnis yang tidak adil.

  Selain ketiga kategori di atas, AML juga mencakup ketentuan yang mengatur tentang merger dan akuisisi. Dua undang-undang khusus diberlakukan untuk melengkapi AML, yaitu the Law to Regulate Unreasonable Premium and

  Unreasonable Representation and the Law to Prevent Unreasonable Delay in Payment of Subcintractors and Related Matters. Ini adalah kerangka

  Biaya tambahan 2% untuk melawan perusahaan yang berpartisipasi dalam kartel dirumuskan dalam amandemen tahun 1977. Pada tahun 1992, amandemen meningkatkan biaya tambahan sampai 6%. Amandemen tahun 2005, meningkat mnejadi 10% dan tahun 2010, dinaikkan menjadi 15% untuk kelompok kartel dan pelangaran berulang. Amandemen 2005 juga memperkenalkan program kelonggaran dan ini membuat penegakan hukum di

  

  Kenaikan harga yang tajam pada awal 1960-an, menyebabkan AML dianggap sebagai suatu terobosan baru untuk memerangi harga tinggi yang dapat dikatakan penyebabnya oleh kartel, jual-rugi dan predatory pricing yang disebabkan oleh struktur oligopolistik dalam perekonomian. Penegakan yang signifikan oleh AML di tahun 1960 diperjelas dengan peningkatan jumlah kasus yang ditangani oleh JFTC mengenai penetapan harga kartel

  

  Selain itu, peristiwa penting di tahun 1960 adalah liberalisasi perdagangan asing dan transaksi saham. Sampai pertengahan tahun 1960, perdagangan luar negeri dan investasi yang diatur secara ketat melalui kuota impor dan pembatasan pada pengenalan modal asing ke Jepang. Akibatnya, ada ruang yang relatif kecil untuk persaingan bebas sebagai perkembangan liberalisasi. Peran AML meningkat di berbagai bidang seperti lisensi paten internasional. Sebagai respon terhadap situasi baru, JFTC mengumumkan 7 pedoman baru uang mengatur bagaimana komisi perdagangan akan

  

Mitsuo Matsushita, Reforming the Enforcement of Japanese Antimonopoly Law, Loyola University mengawasi ketentuan secara ketat dalam kontrak internasional antara

  

  Hukum monopoli Jepang berubah secara mendasar pada tahun 2005. Pada tahun tersebut, proses penegakan AML diubah. Suatu prosedur diperkenalkan JFTC untuk mengeluarkan perintah untuk menghentikan dan berhenti kepada dugaan pelanggar, mengharuskan mereka untuk menghentikan perilaku tersebut setelah penyelidikan. Perubahan ini juga membebankan biaya tambahan administratif kepada dugaan pelanggar dimana

  

  Berdasarkan prosedur ini, JFTC berinisiatif melakukan penyelidikan dan menyimpulkan suatu pelanggaran apabila terbukti, yang kemudian memberitahukan kepada pihak yang melakukan pelanggaran. JFTC juga

  

  Dalam rangka mempertahankan persaingan yang adil dan bebas dalam pasar, JFTC memberlakukan AML. JFTC berupaya untuk memulihkan ketertiban dengan memberikan perintah ketika praktek ilegal telah terdeteksi, kartel, dan sebagainya. JFTC diberikan wewenang oleh undang-undang secara langsung. Berdasarkan pasal 49 dari AML, memungkinkan dari JFTC untuk memberikan keluhan atas sesuatu yang diduga melanggar undang-undang, melakukan gelar pendapat, serta menghentikan tindakan lainnya yang diperlukan untuk melenyapkan pelanggaran-pelanggaran yang ada di dunia persaingan usaha.

  JFTC merupakan lembaga penegakan AML. JFTC terdiri dari seorang ketua komisi, empat komisaris dan sekertariat. Secara keseluruhan, JFTC memperkerjakan lebih dari 500 pengacara dan pegawain lainnya. Ketua 10 dinominasikan oleh Perdana Menteri, sesuai dengan persetujuan dari kedua Majelis the National Diet, kesesuaian calon juga harus diverifikasi oleh Kaisar. Komisaris adalah yang ditunjuk oleh Perdana Menteri dengan persetujuan the National Diet. JFTC memiliki kekuasaan administratif, quasi administratif, dan quasi yudisial. Lingkup administrasi meliputi kekuatan lisensi (misalnya, kekuatan untuk membenarkan kartel dengan kompetisi adil), keharusan untuk menerima dan memeriksa pemberitahuan (seperti pemberitahuan pembentukan asosiasi perdagangan dan penandatangan kontrak), hak prerogratif untuk berkonsultasi dengan kementrian lainnya dan memberikan nasihat kepada industri, juga memiliki kewenangan untuk

  

  Kekuasaan quasi legislatif, diantaranya adalah kekuasaan untuk mengawasi dan menjelaskan tentang praktek persaingan usaha tidak sehat. Kekuasaan quasi yudisial termasuk kekuasaan untuk melakukan investigasi, untuk mengadakan dengar pendapat administrative dan untuk membuat

  

  Ketika JFTC menganggap bahwa adanya pelanggaran, JFTC dapat memilih untuk mengeluarkan pernyataan kepada pihak yang melakukan pelanggaran dan merekomendasikan bahwa pihak tersebut harus menghentikannya. Jika pihak tersebut menerima rekonmendasi, JFTC tidak perlu melanjutkan proses dengan mengeluarkan keputusan resmi. Apabila seperti ini keputusan JFTC disebut dengan rekomendasi.

  Apabila sidang administrasi digelar, Responden dapat mengusulkan kepada JFTC bahwa ia akan menerima tuduhan fakta dah hukum sebagaimana tercantum dalam pengaduan kepada JFTC dan JFTC dapat mengambil tindakan yang diperlukan guna menghentikan perilaku tersebut dan 13 memulihkan iklim persaingan. Keputusan JFTC dapat diajukan banding ke Pengadilan Tinggi Tokyo dan Mahkamah Agung. Namun, pihak yang menerima keputusan rekomendasi atau putusan tersebut, tidak dapat membahas gugatan tersebut berdasarkan kesepakatan antara responden dan

  Meskipun eksistensi JFTC pada dasarnya adalah sebagai sebuah organ administratif yang independen, namun masih terbuka celah bagi campur tangan pihak luar yang dapat mempengaruhi independensi JFTC. Celah-celah campur tangan pihak lainnya misalnya disebabkan karena aktivitas JFTC diawasi oleh Parlemen, lagipula penunjukan ketua komisi harus dilakukan melalui persetujuan Parlemen. Di samping itu, setiap tahun JFTC wajib menyampaikan laporan aktivitas penegakan AML kepada Parlemen. Sementara itu kewenangan rekrutmen ketua dan anggota komisi JFTC mengusulkan perangkat aturan-aturan terkait, serta mengusulkan anggaran, berada di tangan Perdana Menteri. Celah-celah ini yang masih memungkinkan intervensi yang bisa mempengaruhi kinerja JFTC sebagai sebuah lembaga

  

  Pada tahun 2010, rancangan undang-undang untuk merevisi AML mengusulkan untuk merevisi prosedur internal JFTC, yaitu meniadakan post-

  order sidang dan sistem pemeriksaan yang terjadi di JFTC, dan memberikan

  yurisdiksi eksklusif kepada Pengadilan Distrik Tokyo, untuk memeriksa banding atas perintah JFTC. Secara khusus, JFTC dapat dikatakan sebagai quasi yudisial, sebagian karena JFTC melakukan tindakan pemeriksaan. Penghapusan tindak pemeriksaan, tidak akan mengubah status JFTC sebagai komisi administrasi independen.

  Berdasarkan Pasal 56 AML, dalam hal penyusunan petugas pemeriksa dan penyidik terpisah, dan petugas pemeriksa juga diperbantukan dari luar (misalnya hakim) untuk menjamin ketidakberpihakan. Penyelidikan yang dilakukan JFTC dan prosedur pemeriksaannya biasa setidaknya memakan waktu dua tahun, faktanya bahwa sangat mahal bagi perusahaan untuk melalui penyelidikan dan pemeriksaan, dan kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Tokyo untuk membatalkan keputusan JFTC. Juga transparasi kemungkinan akan ditingkatkan bila banding dari perintah JFTC

  

  Berikut dibawah ini adalah penjelasan dari prosedur dalam penyelesaian perkara JFTC dalam bentuk istilah, antara lain: 1) A clue for starting investigation: Apabila JFTC mendeteksi tersangka melalui penyelidikan mantan pegawainya, informasi

  

  yang diberikan oleh masyarakat dan Leniency Progr ini

  

  2) Administrative investigation: Inspeksi di tempat dilakukan terhadap pengusaha yang diduga melakukan tindakan ilegal dalam rangka untuk menyelidiki buku akuntansi dan dokumen terkait, dan mengikutsertakan pihak tertentu untuk melakukan

  

  3) Compulsory investigation for criminal cases: Sesuai dengan surat perintah yang diterbitkan oleh hakim, kunjungan dan pencarian terhadap pengusaha bersangkutan dilakukan untuk penyitaan benda-benda yang diperlukan. Jika tuduhan pidana beralasan sebagai hasil dari investigasi, tuduhan diajukan

  

  4) Advance notification: Apabila tindakan ilegal diakui sebagai 17 hasil dari penyelidikan, JFTC memutuskan dalam perintah 18 Mitsuo Matsushita, loc.cit, hlm. 530, diakses 3 Juli 2015.

  Keistimewaan bagi para pelaku usaha yang terindikasi melakukan kartel atau praktek lainnya. Syaratnya, pelaku usaha tersebut harus bersedia membuka data dan informasi kepada KPPU 19 mengenai kartel atau praktek lainnya yang dilakukan.

  

International Affairs Divison JFTC, For Fair and Free Market Competition, hlm. 20 untuk menghentikan dan berhenti, dan perintah pembayaran biaya tambahan, yang dianggap wajar dan memberikan pemberitahuan terlebih dahulu terhadap para pengusaha dalam isi perintah tersebut. 5) Opportunity to present views and to submit evidence: Pelaku usaha dapat menyampaikan pandangan mereka mengenai isi perintah dalam pemberitahuan sebelumnya. Untuk menjamin ukuran keputusan administratif yang adil, mereka tidak bisa hanya menyampaikan pandangan mereka, tetapi harus turut

  

  6) Cease and desist orders: Perintah untuk menghentikan dan berhenti merupakan ukuran administrasi yang ditujukan untuk mendorong penghapusan tindakan illegal. Dalam kasus kartel, pelaku usaha yang terlibat diperintahkan untuk mencabut

  

  7) Surcharge payment orders: Perintah pembayaran biaya tambahan adalah tindakan administratif yang diberlakukan pada kasus-kasus seperti kartel, praktik curang dan monopoli swasta. Pembayaran biaya tambahan dihitung sesuai dengan

  

  8) Hearing procedures and decision: Apabila permintaan untuk prosedur pemeriksaan dibuat, penetapan fakta-fakta pelanggaran dan tinjauan yang berlaku dilakukan. Setelah prosedur pemeriksaan, keputusan dibuat berdasarkan fakta-

  

  9) Lawsuit: Apabila pelaku usaha tidak puas dengan keputusan, mereka dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi 22 Tokyo untuk meminta pencabutan, atas ketiadaan bukti 23 Ibid.

  substansial pada keputusan atau dalam kasus pelanggaran

  

  B.2. Hukum Persaingan Usaha dan Lembaga Pengawas di Tiongkok Hukum persaingan usaha di Tiongkok diatur didalam Anti Monopoly Law yang baru berlaku pada tanggal 1 Agustus 2008 yang berlaku di seluruh Tiongkok kecuali di Hong Kong dan Makau. Dasar didalam Hukum persaingan usaha di Tiongkok ini mencakup tiga hal pelarangan terhadap persaingan usaha, antara lain:

   Kesepakatan sistem monopoli antar pelaku usaha (Bab II dan III dari AML)  Penggabungan perusahaan (merger) yang berdampak pada persaingan usaha tidak sehat (Bab IV dari AML)  Penyalahgunaan posisi dominan didalam persaingan usaha (Bab V dari AML) Didalam AML sendiri diatur mengenai lembaga yang melaksanakan peraturan

  

  didalam hukum persaingan usaha di Tiongkok, antara lai  Komite Anti Monopoli yang berada dibawah Dewan Negara, yang bertanggungjawab didalam pengembangan kebijakan persaingan usaha, melakukan investigasi terhadap pasar, memberikan pengarahan dan koordinasi atas perihal administratif didalam persaingan usaha.

   The Anti-Monopoly Enforcement Authority (AMEA), yang bertanggungjawab didalam penegakan atas AML Berikut merupakan bagan dari AMEA yang terdiri dari beberapa lembaga, sebagai berikut

  Anti Monopoly Enforcement Agency (AMEA)

  State Administration National Development Ministry of Commerce and Reform for Industry and (MOFCOM) Commerce (SAIC)

  Commission (NDRC) Setiap lembaga yang berada dibawah AMEA ini memiliki lembaga dibawahnya yang berada di tingkat daerah dan bertanggungjawab terhadap lembaga yang berada di tingkat pusat. Ketiga lembaga tersebut memiliki kewenangannya masing-masing dan dapat menangani kasus yang sama secara bersama-sama.

  Komite Anti Monopoli bertugas melakukan koordinasi atas penegakan peraturan didalam hukum persaingan usaha di Tiongkok. Selain itu komite ini juga melakukan kebijakan atas hukum persaingan usaha dan melakukan investigasi didalam pasar. Komisi ini memiliki komposisi sebanyak sembilan belas anggota, yang biasanya tingkat kementerian atau direktorat dari berbagai macam kementerian. Sedangkan

  

Ministry of Commerce atau MOFCOM bertanggungjawab kepada AMEA serta

  memiliki kerjasama dengan Biro Anti Monopoli dan memiliki tugas untuk penegakan regulasi merger perusahaan di Tiongkok. Komposisi MOFCOM sendiri terdiri dari tiga puluh orang anggota. Sedangkan National Development and Reform Commission atau NDRC sendiri memiliki tanggungjawab terhadap AMEA, juga bekerjasama dengan Biro Anti Monopoli dan Pengawasan Harga serta biro-biro yang ada di tingkat provinsi.

  NDRC sendiri bertugas untuk menegakkan peraturan dan larangan didalam

  

abuse of administration power didalam hal-hal yang menyangkut penentuan harga

  pasar. NDRC sendiri beranggotakan dua puluh orang. Sementara State

  

Administration for Industry and Commerce atau SAIC bertanggungjawab kepada

  AMEA dan bekerjasama dengan Biro Anti Monopoli dan Biro Persaingan Usaha Tidak Sehat serta biro-biro tingkat provinsi. SAIC bertugas untuk menegakkan peraturan dan larangan didalam abuse of administration power pada hal-hal yang berkaitan dengan non-harga didalam pasar. SAIC sendiri beranggotakan kurang lebih

  

C. KESIMPULAN

  Setelah menyimak berbagai penjelasan mengenai perbandingan kasar antara AMEA di Tiongkok dan JFTC di Jepang, berikut di bawah ini dapat dipaparkan beberapa kesimpulan terkait, antara lain:

  1. Diperlukannya komisi persaingan usaha adalah ditujukan untuk meningkatkan interaksi dengan para pihak dalam proses anti persaingan usaha dan untuk memperkuat mekanisme untuk melindungi hak-hak prosedural para pihak tersebut. Langkah-langkah ini akan meningkatkan transparansi dan keadilan dari proses kompetisi. Mereka memberikan gambaran yang jelas apa yang diharapkan dari berbagai tahap penyelidikan antitrust dan meningkatan kemampuan untuk merinteraksi dalam bentuk pelayanan komisi. Apabila ada pihak yang memiliki sengketa mengenai hak-hak prosedural, mereka dapat menyerahkannya kepada petugas pemeriksaan kompetisi, yang memiliki peran yang ditingkatkan selama proses keseluruhan antitrust.

  2. Kedua antitrust Law di kedua Negara sudah membuktikan bahwa meskipun Tiongkok baru memberlakukannya sejak 2008, namun itu tidak menutup kemungkinan bahwa tegaknya kepastian hukum dalam proses penanganan atas perkara persaingan usaha akan selalu menjadi tujuan utama dibentuknya antitrust ini.

  3. Adapun persamaan wewenang dan tugas yang diberikan oleh AML di kedua Negara baik AMEA maupun JFTC adalah sebagai berikut:  Menerima dan meneliti laporan dari perusahaan-perusahaan yg berkenaan dengan AML;  Melakukan survei umum mengenai aktivitas usaha, kondisi ekonomi dan kondisi monopolistik;  Melakukan fungsi konsultatif dengan perusahaan-perusahaan dan

   Membicarakan persoalan-persoalan persaingan usaha dengan organisasi internasional dan otoritas hukum persaingan negara lain.

  4. Adapun JFTC dan AMEA dalam bertindak berdasarkan rambu-rambu sebagai berikut: Diskriminasi yg tidak wajar (unreasionalble discrimination),  memboikot, menolak menjual pada satu perusahaan, diskriminasi harga; Transaksi dengan harga yg tidak wajar (transaction with

  unreasionable pricing);

  Bujukan dan pemaksaan yg tidak wajar terhadap pelanggan;  Pembatasan yg tidak wajar. Misalnya pengaturan harga (resale

  price maintanance), perjanjian dagang secara eklusif (exclusive dealing), pembatasan wilayah (territorial restriction), dan

  pembatasan pelanggan (custumer restriction); Penyalahgunaan posisi dominan (abuse of dominant position in the

  transaction);

  Campur tangan yg tidak wajar dalam masalah internal pihak  pesaing (unreaseonable interfence in internal matters of

  competition).

  Brief Case of Tingkok and Japan Antitrust Law

  

Standard Essential Patent Royalty Fee Case Appellate Case on Standard Essential Patent Royalty Fee Huawei Technologies Co., Ltd. v. InterDigital (IDC) Guangdong High Court Civil Judgment (2013) Yue Gao Fa Min San Zhong Zi No. 305 Beijing EAST IP Law Firm presented English Translation for Reference Merely [CASE BRIEF]

  Huawei Technology Co., Ltd (“Huawei”) has negotiated with InterDigital (IDC) for many times on standard essential patent royalty or royalty rate. During negotiations,

  IDC filed a lawsuit to an American court and requested the International Trade Commission of the United States to start 377 investigations and issue a complete injunction on imports, and cease and desist orders on relevant goods of Huawei.

  Then, Huawei filed a lawsuit to Shenzhen Immediate Court in Guangdong Province and requested IDC to follow the standard essential patent royalty rate according to the principle of Fair, Reasonable and Non-discriminatory (“FRAND”). The first instance of Shenzhen Immediate Court held that, according to the FRAND principle, the judgment and appealed to Guangdong High Court. The second instance of Guangdong High Court held that whether understand it literally or according to the intellectual property policies of European Telecommunications Standards Institute and US Telecommunications Industry Association and relevant regulations under Chinese laws, the FRAND obligation should be understood as “fair, reasonable and nondiscriminatory” license duty. The standard essential patent owner shall not directly decline license to standard users in good faith who are willing to pay reasonable fee, which not only guarantee sufficient returns of the patentee, but also prevent the standard essential patent owner from charging high royalty rate or adding unreasonable additional requirements. The core of FRAND duty lies in determination of reasonable and non-discriminatory license fee or royalty rate. Both Huawei and

  IDC are members of European Telecommunications Standards Institute and IDC has the obligation to license the standard essential patent to Huawei. The two parties shall negotiate on royalty or royalty rate according to FRAND principle and shall request the court’s ruling if the negotiation fails. The People’s Court must consider the essential patent’s characteristics, the profits obtained from patent enforcement and similar patents, and their percentage in sale profits or sale revenue of relevant good of the licensee, the fact that patent royalty shall be less than certain percentage in goods profits, the difference among each company on patent license and Huawei needs to pay extra fee if enforcing other standard essential patents of IDC outside China, and reasonably determine this case’s royalty.

  Guangdong Court Releases Redacted Huawei v. IDC Decision

  Earlier this month, the Guangdong Provincial High Court published a redacted version of its decision in the Huawei v. IDC intellectual property case. This marks a positive step that could facilitate greater transparency in a wide range of IP cases. It also offers a rare, clear window into Chinese intellectual property jurisprudence and the future intersection of standards-

  According to the redacted decision published by the Guangdong High Court, the key questions that the court considered were the definition of the relevant market, the findings of market dominance and the question of whether IDC abused its dominant market position. In addition, the court explored whether IDC was tying the licensing of its SEPs to its non-SEP technologies, and offered insight into the reasoning behind Huawei's RMB 20 million damages estimate.

  Last week, Xinhua News reported that Guangdong Province is in the process of creating a Special Intellectual Property Court. According to the article, the number of IP cases heard in Guangdong's nine largest cities increased from 2,352 in 2010 to 9,440 in 2013. The Chinese Supreme Court and the Guangdong Provincial High Court are currently selecting cities to become "trial locations" for the new IP courts.

  The redacted Huawei v. IDC decision can be viewed in Chinese on the Guangdong High Court official website. In addition, USITO has published a report on the Huawei v. IDC case which includes background and key takeaways from the newly published decision.

   UPDATE 1-Japan to extend review of BHP-Rio Tinto deal – Nikkei

  Japanese regulators may move forward with its antitrust review of BHP Billiton (BHP.AX) (BLT.L) and Rio Tinto Group's (RIO.AX) (RIO.L) plan to integrate their Australian iron ore operations, the Nikkei business daily reported.

  The Japan Fair Trade Commission will seek additional information from the two Anglo-Australian miners on Friday, when the initial 30-day review ends, and decide on it within 90 days, the daily said.

  Steelmakers in Japan have argued that the integration could lead to higher prices and hamper fair competition as the two firms supply about 60 percent of the iron ore that Japan consumes, the Nikkei said. The two companies, along with Brazil's Vale SA, control 70 percent of the world's iron ore market, the daily said.

  Antitrust authorities in Australia, the European Union, China, South Korea and elsewhere are reviewing the integration which BHP and Rio Tinto announced in December, the newspaper said. (Reporting by Megha Mandavia in Bangalore; Editing by Don Sebastian)

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

MAKALAH HUKUM PERSAINGAN USAHA tiongkok

Gratis

Feedback