Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya

 0  1  75  2018-11-27 10:35:35 Report infringing document

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam Negara Republik Indonesia ini, adat yang dimiliki oleh

  Untuk memelihara hubungan baik ini manusia mesti Mengingat adat (berasal dari Bahasa Melayu) dan tradisi (berasal dari magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli, yang meliputi nilai-nilaibudaya, norma-norma hukum dan aturan yang saling berkaitan dan kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan tradisional (Suyono dalamRochwulaningsih 2009: 1), yang kemudian sering disebut sebagai secara umum sebagai hukum adat. Hal tersebut timbul dari suatu kebutuhan hidup yang nyata, cara hidup, dan pandangan hidup yang keseluruhannya merupakan Berdasarkan deskripsi yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Ritual Yawe adat di daerah sumba,yang diajukan adalah: “Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya”.

D. Kegunaan Penelitian

  Bagi PenulisKegunaan penelitian ini bagi penulis adalah sebagai salah satu sarana belajar untuk melatih cara berpikir kritis, ilmiah, dan untuk memperdalampengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan. Bagi masyarakat SumbaDengan diadakannya penelitian ini diharapkan agar masyarakat tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada terutama untuk mengkajinorma-norma yang berlaku dalam masyarakat sebagai pedoman hidup bermasyarakat.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Budaya

1. Pengertian Budaya

  Dalam kaitannya dengan emansipasi perempuan model kajian budaya yang di bicarakan dalam berbagaijurnal, seperti: Kalam,Horison, dan Basis dan dengan sendirinya perempuan. Banyaknya karya siswa, besarnya minat, dan keberagamaan masalah yang berhasil untuk diungkap, baik sebagai tesis (S2) maupun disertasi (S3),melahirkan cita-cita untuk membentuk suatu aliran yang diesbut sebagai kajian budaya Mazhab Nias, dengan ciri sebagai berikut: 1) Secara akademis, khususnya pada program studi magister (S2) KajianBudaya Universitas Udayana mengembangkan tiga pengutamaan, yaitu: pengendalian sosial, pariwisata budaaya, dan estetika.

2. Wujud kebudayan

  Dalam fungsi itu secara khusus adat terdiri dari beberapa lapisan yaitu dari yang palingabstrak dan luas sampai yang paling konkret dan sistem hukum yang bersandar kepada norma-norma adalah lebih konkret. Wujud ketiga dari budaya disebut budaya fisik dan memerlukan keterangan hanya karena merupakan seluruh total hasil fisik dari aktivitasperbuatan dan akrya semua manusia dalam masyarakat yang sifatnya paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba,dilihat dan difoto.

3. Unsur kebudayaan

  Koentjaraningrat (2015: 2) mengemukakan bahwa ada tujuh unsur budaya yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yaitu :1) Sistem religi dan upacara keagamaan2) Sistem dan organisasi kemasyarakatan 3) Sistem pengetahuan4) Bahasa5) Kesenian6) Sistem mata pencaharian hidup7) Sistem teknologi dan peralatan Sujarwa (2016; 38) perkembangan kebudayaan dibagi atas tiga tahap: pertama tahap mistis, kedua tahap ontologis, dan ketiga tahap fungsional. Manusia pada tahap ini tidak lagi terpesonadengan lingkungannya dan kepungan kehidupan mistis, juga tidak lagi dengan kepala dingin mengambil jarak terhadap obyek yang menjadi objekpenyelidikannya.

B. Masyarakat

1. Pengertian masyarakat

  Masyarakat adalah sejumlah besar orang yang tinggal dalam wilayah yang sama, relatif independen dan orang orang di luar wilayah itu,dan memiliki budaya yang relatif sama. Pengertian kedua masyarakat berdasarkan ensiklopedi manusia yaitu merupakan keseluruhan masyarakat manusia meliputiseluruh kehidupan bersama (3), Menunjukkan suatu tata kemasyarakatan tertentu dengan ciri sendiri (identitas) dan suatu otonomi (relatif) sepertimasyarakat barat, masyarakat primitif yang merupakan suku yang belum banyak berhubungan dengan dunia sekitarnya.

C. Tradisi di Masyarakat Sumba

  Dalam peta, pulau Sumba bagaikan sebuah atol di tengah lautan dengan karakteristik kehidupan yang begitu spesifik dan unik. Keunikannya, karenapulau Sumba terkenal dengan ragam atraksi kesenian, upacara adat dan kampung adat yang sangat spesifik dengan kuburan batu dan menhir peninggalan zamanmegalitikum.

1. Marapu

  2) Marapu yang tergolong dalam alam manusia, yang selanjutnya dirinci sebagai berikut;a) Marapu mete (Marapu orang mati) ialah Marapu arwah orang yang sudah mati, yang berpindah dari alam nyata kea lam gaib. Kedudukan dan peranpara Marapu itu dimuliakan dan dipercaya sebagai lindi papakalangu – ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang menjulurkan, sebagaiperantara) antara manusia dengan Tuhannya(Daeng, 2008:118).

2. Upacara Kematian dan Pemakaman Masyarakat Sumba

  Namun, bagi orang Sumba, hal tersebut dilakukan untuk Saat kematian merupakan saat perubahan atau perpindahan dari alam nyata ke alam gaib yang dalam luluku dikatakan njulu la kura luku — halubu laTubuh yang mati hanyaiah sebagai tada (kulit) atau haruma (selaput) dan tidak bersifat kekal, sedangkan yang hidup kekal ialah ndiawa (roh). Adapun yang dimaksud dengan meti mbana ialah kematian yang bukan disebabkan oleh ketuaan ataupenyakit, melainkan karena mati terlantar (njadangu), kecelakaan ( manjurangu) dan akibat perang ( meti la pabiara).

2. Pa Hadangu artinya "Membangunkan"

  Bunyi dan irama Gong pad upacara kematian berbeda dengan bunyi dan disebut Pa Hengingu dan Patambungu, sedangkan pada upacara pesta disebut Pahandakilungu dan Kabokangu. Kalau masih lama dikuburkan, maka jenazah disimpan di salah satu kamar dalam rumah (Puhi La Kurungu) atau dikuburkan sementara denganjauh maupun dekat harus diberitahu dengan mengutus " Wunang = Delegasi " hanya untuk pemeberitahuan bahwa yang bersangkutan sudahmati.

5. Lodu Taningu

  Selesai pemakaman, seorang Wunang (juru bicara) dari keluarga akan naik diatas kubur atau tempat yang lebih tinggi untuk berbicara menyampaikanisi hati keluarga dan beberapa pengumuman. Kata-katanya demikian "masih banyak yang yang harus kita bicarakan, masih ada yang perludituntaskan.

i) Warungu Handuka (berhenti berkabung)

  Keluarga menyampaikan ucapan terima kasih atas kebersamaan dan gotong royong dalam urusan penguburan dan di dalam menerima keluarga Adat-Istiadat tidak akan habis, bersifat dinamis sehingga selalu berkembang dari waktu ke waktu. Namun sifat-sifat fundamen harus diketahuisehingga yang sifatnya luhur dan menjadi jati diri bangsa dapat dipertahankan dan yang merugikan diganti atau dihilangkan (Iki, 2016).

D. Adat

  Adat (berasal dari Bahasa Melayu) dan tradisi (berasal dari BahasaInggris) mengandung pengertian sebagai kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli, yang meliputi nilai-nilai budaya,norma-norma hukum dan aturan yang saling berkaitan dan kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan tradisional (Suyono dalam Rochwulaningsih2009: 1). Hal tersebut timbul dari suatu kebutuhan hidup yang nyata, cara hidup, dan pandangan hidup yang keseluruhannya merupakankebudayaan masyarakat tempat hukum adat itu berlaku Aturan dan nilai adat awalnya dibuat dan disesuaikan dengan kebutuhan serta konteks masyarakatadat itu sendiri (Siboro 2010).

E. Penelitian yang Relevan

  Ambrosius Randa Djawa pada tahun 2014 dengan judul penelitian, Ritual mengetahui pengertian Marapu, Upacara-upacara yang dilaksanakandengan konsep marapu dan makna aliran kepercayaan asli (marapu) dalam pranata Masyarakat Sumba Timur. Untuk mengadakan hubungan denganpara arwah leluhur dan awah-arwah lainnya, Masyarakat Sumba melakukan berbagai upacara keagamaan di tempat-tempat pemujaan, setamenyiapkan segala alat dan bahan yang digunakan dalam ritual.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Pendekatan Pendekatan (approach) adalah cara “mendekati” objek sehingga karya Penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah menganalisa tentang sarana

  Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasilpemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan,membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Data dan informasi yang diperlukan berkenaandengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan.

B. Sumber Data Data adalah unit tertentu yang dperoleh melalui suatu hasil pengamatan

  Dari sumber data ini akan dihasilkan data primer yaitudata yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan khusus. Adapun yang dimaksud sebagaiinforman kunci dalam penelitian ini adalah kepala adat di desa Walla Ndimu yang bisanyanya memimpin upacara Yawe.

C. Teknik Pengumpulan Data

  Observasi merupakan salah satu teknik yang palng banyakdilakukan dalam penelitian. Proses wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan Rato Adat yang mengetahui upacara Yawe.

D. Instrumen Penelitan

  Karena penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka penelitii adalah instrumen utama dalam penelitian ini. Kedua, dikaitkan dengan fungsi manusia sebagai alat, sesuai dengan tujuan yang dicapai, maka sarana yang dgunakan adalah pedoman wawancara, alatperekam, kamera HP, dan catatan.

E. Teknik analisa Data

Analisis data merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi terus menerus terhadap data, mengajukan pertanyaan analitis dan menuliscatatan singkat sepanjang penelitian (Creswell, 2014: 274).

1. Pengumpulan data

  Peneliti melakukan wawancara dengan Rato Adat dan informan non kunci untuk mendapatkan gambaran tentang Yawe. Peneliti mendokumentasikan hasil wawancara dan proses upacara adat Yawe dengan mengambil foto dan video tentang jalannya upacara adat.

2. Penyajian Data Alur penting yang kedua dan kegiatan analisis adalah penyajian data

3. Reduksi data

  Miles dan Huberman (2014: 17) membatasi suatu “penyajian” sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikankesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian kita akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan lebihjauh mengailalisis ataukah mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dan penyajian-penyajian tersebut.

4. Kesimpulan

  Miles danHuberman (2014: 18) mengatakan kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna yang munculdari data yang harus diuji kebenarannya, kekokohannya dan kecocokannya, yaitu yang merupakan validitasnya. Dalam penelitian ini, Peneliti menyusunkesimpulan berdasarkan data yang telah dimaknai tentang sarana, prasarana dan makna Ritual Yawe adat di desa Walla Ndimu Kabupaten Sumba BaratDaya.

F. Pengecekan Keabsahan Data

1. Perpanjangan Kehadiran

  Peneliti dengan perpanjangan kehadirannyaakan banyak mempelajari “kebudayaan” dapat menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distorsi, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dariresponden, dan membangun kepercayaan subjek. Perpanjangan kehadiran juga menuntut peneliti agar terjun ke dalam lokasi dan dalam waktu yang cukup panjang guna mendeteksi danmemperhitungkan distorsi yang mungkin mengotori data.

2. Triangulasi

3. Pendapat Ahli

  Jadi Triangulasi adalah suatu teknik yang bertujuan untuk menjaga keobjektifan dan keabsahan data dengan cara membandingkan informasi data yang diperolehdari beberapa sumber sehingga data yang diperoleh merupakan data yang absah. Pendapat ahli adalah salah satu pengecekan keabsahan data dengan menggunakan pendapat ahli untuk membandingkan informasi data yangdiperoleh dari beberapa sumber sehingga data yang diperoleh merupakan data yang absah.

BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data

1. Deskripsi Lokasi Penelitian

  Tabel 4.1 Mata Pencaharian Penduduk Desa Walla Ndimu No Pekerjaan Penduduk Jumlah % 1 IRT 50 14,7 2 Petani 60 17,6 3 Peternak 70 20,5 4 Buruh Tani 140 41,2 5 PNS 20 5,8Total 340 100 (Sumber: data penelitian, 2017) 2) Penduduk Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin ini dapat dipergunakan untuk mengetahui jumlah penduduk usia produktif, nonproduktif dan belum produktif. Pada kelompokpenduduk usia produktif yang terbesar adalah penduduk kelompok usia 30-39 tahun, yaitu sebanyak 153 jiwa dan untuk kelompok belum produktif jumlahterbesar adalah penduduk kelompok umur 5-9 tahun yaitu sebanyak 165 jiwa.

3) Karakteristik subyek

  Informan dalam penelitian ini digunakan sebagai subyek untuk mengetahui secara rinci tradisi waris dalam masyarakat adat di desa Walla Ndimu. Informan yang dimaksud merupakan orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang akan diteliti.

B. Temuan Penelitian

  Hingga kini meskipun jaman dan peradapan telah berubah maju, namun adat kebiasaan yang dianut masyarakat di desa Walla Ndimu masih sangat kuat, salahsatunya adat untuk menghormati arwah leluhur (orang mati). Masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu atau “ajaran para leluhur” senantiasa melakukan upacara dan perayaan ritual untuk mengiringiberbagai sendi kehidupan mereka.

1) Asal-Usul Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya

  “(W. 17/8/17: HL) Menurut masyarakat Marapu, arwah orang yang meninggal tidak wajar tidak menuju kepada Sang Pencipta, tetapi menuju matahari dan bulan, demikianpula dengan harta benda mereka yang mengalami ketidakwajaran, rohnya berada di matahari dan bulan, oleh sebab itu tidak baik jika dibiarkan begitu saja. 17/8/17: HL) Sebelum diadakan upacara Yawe, terlebih dahulu harus diadakan upacara(prupu klorro) yang bertujuan untuk mencari tahu hal-hal yang belum dibereskan oleh leluhur yang berkaitan dengan adat-istiadat yang belum ditunaikan dan hal-hal apa yang menyebabkan seseorang sering mengalami tulah berupa sakit berkepanjangan, mimpi buruk dan bencana lain.

2) Proses Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya

  17/8/17: RA)Terjemahan: jika ada orang yang sakit terus menerus dan mengalami mimpi buruk tapi orang tersebut sering membicarakan adat yang belum beressampai menimbulkan praduga, mungkin ini ada hubungannnya dengan adat istiadat, jika demikian panggilah Tua Adat (Rato Marapu) untuk mencari tahusebabnya sehingga orang ini mengalami penderitaan. Makna ritual yang lain dalam upacara Yawe ini dituturkan oleh BapakHona Lere sebagai berikut: Upacara Yawe itu selain untuk menghormati leluhur juga untuk bikin orang yang kit asayang yang juga keturunan leluhur tetap selamat dansehat.

BAB IV PEMBAHASAN

  Upacara dengan sistem- sistem simbol yang ada didalamnnya berfungsi sebagai pengintegrasian antaraetos dan pandangan hidup, yang dimaksudkan dengan etos merupakan sistem nilai budaya sedangkan pandangan hidup merupakan konsepsi warga masyarakat yangmenyangkut dirinya, alam sekitar dan segala sesuatu yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Bagi masyarakat tradisional dalam rangka mencari hubungan dengan apa menjadi kepercayaan biasanya dilakukan dalam suatuwadah dalam bentuk upacara keagamaan yang bisanya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat dan mempunyai fungsi sosial untuk mengitensifkan solidaritasmasyarakat.

1. Latar belakang Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya

  Sehubungan dengan itu, Berdasarkan hasil penelitian teantang asal-usul upacara Yawe maka dapat diketahui bahwa ritual Yawe dimaksudkan untuk mencari tahubahwa seseorang yang meninggal sebelum usia tua, dalam hal ini meninggal karena kecelakaan atau yang karena sakit, merupakan hukumankarena kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sendiri ataupun yang dilakukan oleh leluhurnya. Hasil ini sejalan dengan pernyataan RonaldRobertson,(1988:1) bahwa agama berisikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran tertinggi dan mutlak tentang tingkah laku manusia danpetunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat (setelah mati),yakni sebagai manusia yang bertakwa kepada Tuhannya,baradab,dan manusiawi yang berbeda dengan cara-cara hidup hewan atau mahluk gaib yang jahat dan berdosa.

2. Proses Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya

  Hasil penelitian tentang sarana dan prasarana ritual Yawe ini sejalan dengan pendapat Fox (2002: 90) yang menyatakandalam ritus liturgis Marapu yang menjadi hal pokok adalah ta’ liyo (doa yang dikemas dalam bentuk pantun-pantun) dan kurban hewan. Pendapat lain tentang pengertian ada juga dikemukakan oleh Arjono Suryono(1985: 4) bahwa adat merupakan kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi kebudayaan, norma dan aturan-aturan yang saling berkaitan dan kemudian menjadi suatu sistem atau pengaturan tradisional.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

  Menyiapkan ranting bambu yang diikat bersama parang dan tombak denganmenggunakan kain warna kuning dan juga menyiapkan abu dapur yang ditaruh dalam nyiru, selain itu pihak penyelenggara harus menyiapkanhewan kurban. Sarana dan prasarana Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya adalah sebagai berikut : Tala(gong), Bedu (tambur), Dilor (gendang), Kranga ongol (ranting bambu),Katopo (parang), Nambu (tombak), Kaba rara (kain warna kuning), RabokLaklidi (abu dapur dalam nyiru), dan Daun Siri dan Buah Pinang 5.

B. Saran

  Bagi Masyarakat Kecamatan Kodi patut dilestarikan seperti dalam bentuk budaya karya, leluhur yaitu upacara-upacara kegiatan leluhur untuk dapat diwariskan bagi generasike generasi. Bagi Pembaca Dan Penggemar Upacara adat Yawe ini merupakan nilai leluhur yang berfungsi sebagai tuntutan dalam hal hidup.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2017-06-04

Dokumen yang terkait

Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan K..

Gratis

Feedback