Keywords: Education Nutrition, The Finger Puppets Media, Consumption Fruits And Vegetables PENDAHULUAN - PENGARUH EDUKASI GIZI MENGGUNAKAN MEDIA FINGERPUPPETS TERHADAP KONSUMSI BUAH DAN SAYURPADA ANAK KELOMPOK A DI TAMAN KANAK-KANAK NEGERI PEMBINA PONTIAN

 1  1  72  2018-11-01 02:20:56 Laporkan dokumen yang dilanggar

PENGARUH EDUKASI GIZI MENGGUNAKAN MEDIA FINGERPUPPETS TERHADAP KONSUMSI BUAH DAN SAYURPADA ANAK KELOMPOK A

  Konsumsi buah dan Edukasi atau pendidikan gizisayur yang berulang dapat tercapai jika merupakan suatu bidang pengetahuan pengetahuan anak tentang pentingnya yang memungkinkan seseorang memilihkonsumsi buah dan sayur baik, buah dan dan mempertahankan pola makan sayur tersedia dan orang tua memiliki berdasarkan prinsip-prinsip ilmu gizimotivasi dan pengetahuan tentang pentingnya (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti, menyediakan buah dan sayur di rumah. 2004: 142). Edukasi Gizi Anak diketahui secara efektif dapat meningkatkan Gizi merupakan salah satu aspekpengetahuan dan kesukaan anak terhadap yang sangat penting dalam buah dan sayur, juga memungkinkan interaksi pertumbuhan dan perkembangan anaklangsung antara orang tua atau guru dengan usia dini.

C. Konsumsi Buah Dan Sayur

  Bentukpenelitian eksperimen yang digunakan adalah eksperimen Pre-experimental dengan demikian metode eksperimen dapatdiartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencaripengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yangterkendalikan (Sugiyono, 2013:72). Kemudian pengaruh penggunaan media finger puppets dalam edukasi gizi yang dilakukan juga menjadi dasarpertimbangan peneliti untuk melakukan dan menerapkan penelitian menggunakanmedia finger puppets tersebut.

A. Metode dan Bentuk Penelitian

  Jadi kesimpulan yang dapat diambil dari nilai tersebut yaitu tidak adapengaruh edukasi gizi menggunakan media pada taraf signifikasi (α = 0,05), karena t - dan post-test maka dapat dilakukan perhitungan dengan uji-t melalui programSPSS 17 dengan hasil edukasi gizi menggunakan media finger puppets yangdilakukan sebelum dan sesudah perlakuan t hitung adalah -5,036 dengan tingkat sig. Sehubungan dengan kenaan dengan guru dan jabatan guru kemajuan pendidikan dan kebutuhan gurusenantiasa menjadi salah satu pokok yang semakin meningkat, baik dalam mutu pembahasan yang mendapat tempat tersendiri maupun jumlahnya, maka program Kepala PAUD memegang peranan dalam menentukan pencapaian pendidikanyang brelangsung di PAUD nya.

1. Pengertian Pembinaan

  menyampaikan pengetahuan atau d. Mengkoordinasikan kegiatan pengalaman yang dimiliki anak.

4. Langkah-Langkah Pembelajaran e. Melakukan penilaian. yang Dilakukan oleh Guru

  2. Tanggung Jawab Kepala PAUD Sebagai Pembina Disiplin Trianto (2013: 63), dalam rencana pembelajaran ada empat hal yang Menurut Wahjosumidjo (2011:204) tanggung jawab Kepala PAUD perlu di perhatikan sebagai berikut (1)sebagi Pembina disiplin meliputi menetukan tujuan, (2) menentukanpengolaan, penilaian, bimbingan, materi atau media, (3) meyusunpengawasan dan pengembangan.skenario atau KBM, (4) menetukan evaluasi.

B. Kedisiplinan Guru Dalam Kedisiplinan Guru Dalam Pembelajaran Pembelajaran

1. Pembinaan Kedisiplinan Guru dalam

1. Pengertian Disiplin Merencanakan Pembelajaran

Menurut Maulana (2003: 72)Pembelajaran pada anak usia dini adalah “ketaatan pada peraturan”.pada hakikatnya adalah pengembangan Sedangkan Hasibun (2000: 190) kurikulum secara kongkret berupamengartikan disiplin sebagai seperangkat rencana yang berisi “Kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan dan norma- sejumlah pengalaman belajar melalui norma yang berlaku”.bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas \perkembangan yang harus dikuasainya

2. Pengertian Kedisiplinan Guru Dalam

  dalam rangka mencapai kompetensi Pembelajaran yang dimiliki oleh anak (Sujiono, 2011:Jihad dan Haris (2008:11) 76). Pembinaan kedisiplinan Guru hakikatnya merupakan proses Dalam Melaksanakan Pembelajaran komunikasi antara murid dengan guruPandangan mengenai konsep serta antara murid dengan murid dalampembelajaran terus menerus rangka perubahan sikap”.mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan IPTEK.

C. Tugas dan Tanggung Jawab Kapala

Tanda-tanda perkembangan PAUD Sebagai Pembina Disiplin tersebut,dapat kita amati berdasarkan

1. Tugas Kepala PAUD Sebagai

  Teknik pembinaan yang digunakan kepala PAUD terhadap disiplin guru dalam pembelajaran di PAUD Citra Kartini Pontianak Kota Guru melaksanakan tanya jawab tentang apa yang di pelajarimemberikan kesempatan kepada anak untuk menjawab kegiatan evaluasi inidi lakukan di akhir pembelajaran Tanya jawab antara guru dan anak. Pembinaan Kepala PAUD dalam pelaksanaan pembelajaran yang telah diterapkan oleh Kepala PAUD harus di laksanakan sebagai mana mesti denganpembinaan ini semua terarah terutama dalam penyusunan RKH yangsebelumnya kurang sesaui dengan kegiatan belajar mengajar atau prosespembelajaran yang laksanakan tidak sesuai dengan RKH yang di paparkan 2.

2. Disiplin Kerja Guru dalam Pembelajaran

  Penerapan Kegiatanmenggambar rumah dilakukan guru dengan menyediakan dan mempersiapkan media yangmenarik untuk anak agar dapat mengeskplorasi motorinya khususnya dalammotorik halus dengan menggunakan media atau alat peraga, dan guru sudah memberikanstimulasi dan kebebasan pada anak dalam membuat gambar dan menghiasnya sesuaidengan imajinasi dan teknik yang diinginkan oleh anak untuk meningkatkan motorik halusanak usia 5-6 tahun. Guru hendaknya dapat melakukan kegiatan menggambardalam proses kegiatan pembalajaran untuk meningkatkan aspek tingkat pencapaianperkembangan anak diantaranya yaitu nilai- nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif,bahasa, dan sosial emosional, karena melalui kegiatan menggambar dapat memberikankebebasan pada anak dalam melakukan aktivitas pembelajaran dan anak lebih mudahmenerima dan memahami apa yang disampaikan oleh guru.

B. Perilaku Prososial anak

  Perilaku prososial lain yang ingin memberikan sesuatu memiliki kategori yang luas yang mengarah yang dimiliki kepada orang yang tidakdan di nilai positif oleh masyarakat, yang memiliki. karakteristik penolong, yang meliputi :Variabel X dalam penelitian ini kepribadian, suasana hati, rasa bersalah, storytelling adalah metode , sebab distress diri dan rasa empatik;metode storytelling sebagai variabel kepribadianyang mempengaruhi atau yang menjadi c.

C. Kerangka berpikir

  Tanya jawab lagi dengan anak tersebut, peneliti mengambil sampel seputar apa yang yang di dongenkansebanyak 17 siswa dengan menggunakan tadi dan perilaku mana yang penelitian populasi.menunjukan tentang perilaku E. Menyiapkan lembar penilaian untuk langkah penting dalam suatu penelitian.menilai perilaku anak, dengan Pengumpulan data akan berpengaruh pada 27 kesimpulan, oleh karena itu dalam proses Sesuai dengan tujuan penelitian ini pengumpulan data diperlukan metode yang maka dilakukan uji-t, adapun rumus uji-tbenar untuk memperoleh data- data yang yang digunakan adalah sebagai berikut: akurat, relevan dan dapat dipercaya = kebenarannya.

I. Instrument Penelitian

  Diharapkan kepada guru dan kepala penelitian dengan menggunakan metode sekolah agar menggunakan metode storytellingstorytelling karena perilaku prososial untuk meningkatkan banyak sekali manfaat bagi anak selain agar perilaku prososia anak, karena metode storytelling anak dapat beperilaku baik dalam hal ini sangat baik apalagi menolong, membantu, bekerja sama dan ditambah dengan media yang menarikberkata jujur kepada orang lain. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat dan antri pada saat mencuci tangan atau mengembangkan penlitian ini, karenadikenalkan dengan nama perilaku prososial penelitian ini hanya untuk menguji merupakan sesuatu yang harus dilakukan keefektifan metode storytelling dalampada anak.meningkatkan perilaku prososial anak.

2. Jakarta: Erlangga Sears, D.O; Fredman, J.L., dan Peplau, L

  Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Statistika Parametrik dasar pemikiran dan penerapannyadalam penelitian.

UPAYA GURU MENINGKATKAN KEMAMPUANMENGENAL KONSEP BILANGAN

  Apabila data yang ditemukan disepakati oleh pemberi data, berarti datanya valid, sehingga semakin dipercaya, tetapiapabila data yang ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati olehpemberi data maka peneliti perlu melakukan diskusi dengan pemberi data, jadi tujuan member check adalah agar informasi yang diperoleh dan akan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yangdimaksud sumber data atau informan. Siklus Ipertemuan Ke II anak yang sudah berkembang sesuai harapan memasangkan Perkembangan kemampuan mengenal konsep bilangan dengan benda-benda konkret anakdalam kegiatan mengurutkan benda dari 1-5 yang berkembang sesuai harapan sebanyak 9anak (81,81%%), yang sudah mulai berkembang 2 anak (18,18%) dan yang belumberkembang 0 anak (0%).

A. Latar Belakang

  Anak berada danguru dalam pendidikan, maka dituntut hidup di dalam lingkungan yang sangatseorang guru yang profesional supaya dapat berpengaruh terhadap proses pembentukanmengembangkan dan menanamkan perilaku dirinya. Melalui pengalamanguru karena sikap dan kepribadian guru yang dimiliki anak saat berada disangat cepat dicontoh oleh anak, seperti di TK lingkungannya bersama dengan pengaruhAl Mukaddimah, yang merupakan lembaga lingkungan pada saat itu akan menentukanpendidikan formal.

B. Fokus Penelitian

  Apa saja hambatan guru dalam bimbinganBerdasarkan uraian yang telah perilaku hidup bersih pada anak usia dinidirumuskan di atas, maka yang menjadi fokus di TK Al Mukaddimahmasalah dalam penelitian ini adalah “Bimbingan Perilaku Hidup Bersih Oleh Guru 5. Dataprimer dalam penelitian ini adalah guru TKAl Mukaddimah yang merupakan guru kelasB2 berjumlah 2 orang, guru kelas dan guru pendamping, sedangkan data sekunder padapenelitian ini adalah orang tua murid.

E. Definisi Operasional

  Teknik Analisis Data Nawawi (2007: 101)Dokumentasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan kategori dan klasifikasibahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian baik berupasumber dokumen maupun buku-buku, Koran, majalah dan lain-lain yang merupakanlaporan-laporan dari Taman Kanak-Kanak Al- Mukaddimah Pontianak. Cara guru mengatasi hambatan dalam perilaku hidup bersih pada anak usia dini diTK Al-Mukaddimah adalah hambatan dalam bimbingan perilaku hidup bersih seperti anak-anak yang tidak mau cuci tangan sebelum makan, membuang sampah masih adaterdapat anak-anak yang tidak membuang pada tempatnya, namun sebagai guru harusbisa memberi penjelasan kepada anak sebab tidak mau mencuci tangan sebelum makandan membuang sampah di sembarangan tempat.

b. Religius

  Perencanaan yang dilakukan guru sudah cukup baik guru memilih nilai-nilai yangdiutamakn di PAUD Bina Insan yaitu nilai keagamaan, selain itu pada saat sebelummasuk sekolah guru mensosialisasikan dengan orangtua murid untuk mendukungpelaksanaan kegiatan religius yang dilaksanakan disekolah selain itu memintakerja sama untuk diajarkan juga dirumah. Perencanaan yang dilakukan guruini sama pernyataan Daryanto dan Sryatri Darmiatun(2013:81) tahapan perencanaan pendidikan karakter yaitu memilih dan menentukan nilai-nilai yang diprioritaskan untu dikembangkan berdasarkan hasil analisa konteks denganmempertimbangkan ketersediaan sarana dan kondisi yang ada.

1. Perencanaan Pendidikan Karakter Religius Di Kelas A2 TK Bina Insan Pontianak Tenggara

  Membaca iqro dilaksanakan hari senin di pagi hari atau selesai kegitan inti, gurumenyiapakn iqro dan buku prestasi santri, Jadi, pelaksanaan pendidikan karakter religius yang dilakukan oleh guru sudahcukup baik sesuai dengan teori yang di uraikan diatas,guru mengintergrasikankegiatan pembelajaran dengan kegiatan ekstrakulikuler, dengan menambah alokasiwaktu satu jam unuk melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler. Jadi guru seharusnya melakukan penilaian tidak hanya dengan melihat tetapi penilaianharus menggunakan lembar pengamatan, atau tertulis seperti yang diuraikan diatas selain Ituevaluasi dilakukan agar guru dapat mengetahui bagaimana perkembangan anakdalam pembelajaran, dan sebagai koreksi guru untuk mengajar lebih baik lagi.

b. Saran

  Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas yang dilakukan para Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian yang di lakukan di PAUDTerpadu dan di rumah, untuk mengetahui karakteristik sifat pemalu pada anak, antaralain; a)melihat perilaku anak ketika di sekolah, yaitu anak banyak diam tidak banyakberbicara, tidak mau menjawab pertanyaan dari guru dan temannya. Hasil penelitian tentang pola asuh kelima orang tua yaitu pola asuh yang diterapkan sudah baik, dan pola asuh yangdigunakan kelima orang tua ini bervariasi/ berbeda-beda dengan tujuan yang sama mendisiplinkan anak, perilaku agresif yang dimunculkan kelima anak ini adalah sama-sama merugikan orang lain,dan melanggar aturan, hambatan dalam menerapkan pola asuh yang baik yaitu kurangnya wawasan, kesabaran orang tua, serta di sekolah tidak ada guru bimbingan konseling.

1. Pengertian Pola Asuh Demokratis

2. Pengertian Pola Asuh Permisif

  Anak yang masih semacam ini diakibatkan oleh orang tua kecil, orang tua dengan lebihyang terlalu sibuk dengan pekerjaan, mudah membentuknya dengan kesibukan atau urusan lain yang berbagai contoh dan kebiasaan. Jarang secara fisik maupun verbal dengan sekali melakukan dialog terlebih tujuan membela diri maupununtuk mengeluh dan meminta tindakan yang dilakukan secara pertimbangan sengaja dengan tujuan menyakiti 3) Orang tua tidak perduli dengan orang lain yang disebabkan oleh pergaulan anaknya dan tidak berbagai macam factor.

3. Pengertian Pola Asuh Otoriter

  anak yang sering mengalamiOtoritas adalah bentuk perilaku yang menyimpang atau kekuasaan, biasanya otoritas perilaku agresif biasanyadipahami sebagai kekuasaan mempunyai salah satu ciri-cirinya yang“legimate” atau kekuasaan”yang adalah, merusak diri sendiri dan diterima”. Perilaku agresif memiliki kekuasaan dalam mengatur, termasuk yang dilakukan anak memimpin, dan mengambil hampir pastimenimbulkan adanyakeputusan dalam hal ini adalah orang bahaya berupa kesakitan yang dapat tua yang memiliki wewenang dialami oleh dirinya sendiri ataupunmenentukan aturan-aturan aktivitas oleh orang lain.

C. Perilaku Agresif

anak agresif adalah sebagai berikut

1. Pengertian Perilaku

  dalam memberikan pola asuh yang baik 6. Faktor-faktor Penyebab Agresif terhadap anak, dalam penelitian iniBerbagai faktor dapat menjadi peneliti secara langsung beratatap muka penyebab agresif, Rosmala Dewi dengan responden, dengan cara peneliti (2005:111) menyatakan berbagai memberikan pertanyaan-pertanyan faktor penyebab terjadinya perilaku terhadap responden.agresif adalah : Tekhnik pengumpul data dalam a.

D. Hambatan yang Ditemukan Dalam

  Luapan emosi yang berlebihan pola asuh orang terhadap perilaku agresif anak usia 4-5 tahun di PAUDPenelitian ini adalah penelitian Terpadu Pontianak Barat adalah sebagai dengan menggunakan metode deskriptif.berukut Metode deskriptif merupakan paparan 1. Perilaku agresif lima anak usia 4-5 di rumah sehingga dapat diketahui tahun di PAUD Terpadu perilaku anak.

SIMPULAN DAN SARAN

  GambaranBerdasarkan hasil penelitian yang perilaku kelima anak adalahdifokuskan dalam penelitian ini, cendrung mudah marah, sulit untukyang telah peneliti paparkan baik tenang, jika dinasehati oleh guru dandari hasi wawancara maupun orang lain cendrung mengamuk danobservasi maka dapat sering menyakiti orang lain,disimpulkan bahwa pola asuh melontarkan bahasa yang kasar danorang tua yang telah diterapkan kotor, serta sulit diberikan penjelasansudah baik. Maka kesimpulan dari dan pemahaman, tidak maupenelitian ini adalah sebagai mendengarkan pendapat orang lain.berikut : Keinginannya selalu ingin dituruti, 1.

3. Hambatan yang hadapi orang tua

  pola asuh demokratis, dan pola dalam memberikan pola asuh asuh otoriter, setiap orang tua terhadapperilaku agresif lima anak menggunakan pola asuh yang di PAUD Terpadu Pontianak bervariasi tidak hanya Barat.menggunakan satu pola asuh Berdasarkan data hasil penelitian saja dalam membimbing,tentang hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaaan pola asuh kelima mengarahkan, serta mendidikorang tua adalah orang tua merasakan anak-anaknya.kesulitan dalam menangani anaknya 2. Kerjasama kepala sekolah, bimbingan koseling guru dan orang tua muridmenjadi salah satu untuk selalu melakukan hambatan dalam komunikasi perkembanganmemberikan pola asuh anak, dan masalah-masalah yang baik, serta membantu yang terjadi pada anak.memperbaiki perilaku anak.

B. SARAN

  PENDAHULUAN kemampuan untuk menggerakkan segalaKepala Sekolah Taman Kanak-kanak sumber yang ada pada suatu sekolah sehingga merupakan tenaga fungsional guru yang dapat didayagunakan secara maksimal untukdiberi tugas untuk memimpin lembaga mencapai tujuan yang ditetapkan. Berdasarkan pernyataan di atas, yang dimaksud pemimpin dalamlingkungan lembaga pendidikan formal adalah seorang yang berorientasiterhadap kemajuan lembaga pendidikan formal, dimana ia merupakan pionir,yang memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakan seluruhsumber daya sekolah guna mencapai visi dan melaksanakan misi sekolah.

A. Gaya Kepemimpinan

1. Pengertian Kepemimpinan

  Kouzes dan Posner(dalam Karwati dan Priansa, 2013:163) seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga diamemiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakan orang lain dalammelalukan usaha bersama guru guna mencapai sasaran tertentu.”. Seorang pemimpin dapat berperan sebagai pemimpin rapat, dimanapemimpin ini dapat bertindak sebagai pengarah, membantu kelompok sampaipada pengambilan keputusan yang dapat dipahami oleh setiap orang dan dapatditerima oleh seluruh bawahannya.

3. Fungsi Kepemimpinan

  definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja merupakan hal yang sangatpenting dalam suatu organisasi, dan perlu ditanggapi dengan baik oleh pemerintah untukmenunjang kontinuitas organisasi agar dapat memberi manfaat yang positif bagi berbagaipihak, karena masalah disiplin kerja ini dipengaruhi oleh sikap pimpinan kepadakaryawannya, sehingga dengan adanya disiplin kerja yang baik tujuan organisasidapat tercapai. to enforce organization standards” jadi Mangkunegara (2004:129) menyatakan, “Dicipline is management action Pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya kepemimpinanmerupakan kemampuan lebih yang dimiliki oleh seseorang untukmempengaruhi orang-orang yang ada dalam lingkungan sekitarnya agar merekabersedia bekerja untuk mencapai tujuan yang diinginkan pemimpin.

5. Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Disiplin Kerja

  Sehingga dilaksanakan di Taman Kanak-kanak di penyelewengan waktu kerja tidak Kecamatan Pontianak Utara yang berjumlahdapat disia-siakan dengan hal-hal yang 31 guru dari 10 Taman Kanak-kanak negeri kurang bermanfaat. Analisis Deskriptif Persentase.terhadap aturan-aturan dan mencoba Menentukan persentasi skor tersebut ke untuk menghindari pelanggaran- dalam rumus %= x 100% di mana npelanggaran yang lebih lanjut.adalah skor jawaban dan N adalah total Kegiatan korektif seiring berupa suatu skor keseluruhan.hukuman dan disebut tindakan 2.

4. Aspek-aspek Disiplin Kerja

  METODE PENELITIAN Rumus-rumus yang digunakan dalam uji linieritas yaitu:Dalam penelitian ini metode yang 2 JK (T) = ∑Y digunakan adalah metode deskriptif, karena (∑ ) penelitian ini akanJK (A) = mendeskripsikan/menggambarkansecara apa (∑ )(∑ ) JK(b │a)= b ∑ − adanya tentang pengaruh gaya kepemimpinan (∑ )(∑ )] [ ∑ terhadap disiplin kerja guru Taman Kanak-= [ ∑ (∑ ) ] kanak di Kecamatan Pontianak Utara. Dapat dinyatakan semua nilai tersebut Ŷ = a + bX yang di dapatkan dari tabel Shapiro-WilkKeterangan: dengan SPSS lebih besar dari 0,05 yang Ŷ =Subyek dalam variabel dependen berarti data variabel X dan data Variabel Y yang diprediksikan.dalam penelitian ini berdistribusi secara a= Harga Y ketika harga X=0 (harganormal.konstan).

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags
25 Laporan Ppm Di Taman Kanak Kanak Pembina Kab Bantul

Analisis Dan Pengukuran Kesiapan Sekolah Anak Taman Kanak Kanak

Moralitas Anak Taman Kanak

Keywords: Education Nutrition, The Finger Pup..

Gratis

Feedback