1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Kajian Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Uang Di Indonesia(Studi Putusan No. 1129/Pid.Sus/2013/Pn.Jkt.Tim)

Full text

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jauh sebelum dikenalnya uang sebagai alat pembayaran, masyarakat

melakukan perdagangan dengan sistem barter, yaitu suatu sistem perdagangan

dengan pertukaran antara barang dengan barang, jasa dengan jasa, barang dengan

jasa, atau sebaliknya. Bahkan hingga saat ini barter itu masih dilakukan, namun

praktiknya yang terkesan membuang waktu dan tenaga, seringkali membuat tidak

banyak perdagangan mungkin dilaksanakan.2 Perlahan praktik barter ditinggalkan

sebab sudah tidak lagi sesuai dengan keadaan.

Terdapat beberapa kendala yang sering terjadi dalam sistem barter, antara

lain sebagai berikut.3

1. Sulit menemukan orang yang mau menukarkan barangnya yang sesuai

dengan kebutuhan yang diinginkan.

2. Sulit untuk menentukan nilai barang yang akan ditukarkan terhadap barang

yang diinginkan.

3. Sulit menemukan orang yang mau menukarkan barangnya dengan jasa yang

dimiliki atau sebaliknya.

4. Sulit untuk menemukan kebutuhan yang mau ditukarkan pada saat yang

cepat sesuai dengan keinginan. Artinya untuk memperoleh barang yang

diinginkan memerlukan waktu yang terkadang relatif lama.

2

Stephen M. Goldfeld dan Lester V. Chandler, Ekonomi Uang dan Bank, Bina Aksara, Jakarta, 1988, hlm. 6.

3

(2)

Beberapa kendala dari praktik barter tersebut memberikan pengaruh besar

bagi masyarakat sebagai pelakunya. Tujuan utama dari pertukaran adalah agar

terpenuhi kebutuhan masing-masing pihak, namun barter dengan segala

kekurangannya justru mengakibatkan pertukaran kebutuhan menjadi memakan

waktu bahkan bisa berakhir dengan gagalnya pertukaran. Dengan tujuan

mempermudah transaksi perdagangan, maka kemudian muncul alat tukar yang

jauh lebih efisien yang dikenal dengan sebutan Uang.

Uang memberikan kemudahan dalam setiap proses pemenuhan kebutuhan

hidup manusia karena diterima secara luas oleh masyarakat. Dalam perekonomian

yang semakin modern seperti sekarang ini, uang memainkan peranan yang sangat

penting bagi semua kegiatan masyarakat. Uang sudah merupakan suatu

kebutuhan, bahkan saat ini, uang telah menjadi salah satu penentu stabilitas dan

kemajuan perekonomian di suatu negara.4

Peran uang dalam kehidupan manusia semakin hari semakin meningkat.

Semakin tingginya kebutuhan hidup manusia umumnya sejalan dengan

peningkatan kebutuhan akan uang. Hal ini mendorong masyarakat untuk

melakukan tindakan, yang sering kali justru bertentangan dengan hukum, sebagai

upaya untuk mencari dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Salah

satunya adalah dengan cara melakukan pemalsuan uang.

Karena peredaran uang palsu yang begitu cepat, kejahatan pemalsuan uang

dapat dianggap sebagai salah satu jenis kejahatan dengan dampak kerugian besar

yang tak terbatas lingkupnya. Negara sebagai otoritas yang berwenang dalam

4Ibid

(3)

mencetak dan mengedarkan uang akan merugi. Masyarakat sebagai penerima dan

pengguna uang juga akan menjadi korban apabila karena kurang teliti atau tanpa

sepengetahuannya telah mendapatkan uang palsu dari transaksi yang telah mereka

lakukan sebelumnya.

Modus peredaran uang palsu saat ini semakin beragam dan hasil dari proses

pemalsuan uang (uang palsu) juga semakin baik. Secara sekilas bahkan tampak

seperti uang asli. Peralatan canggih hasil dari perkembangan teknologi

memungkinkan para pelaku kejahatan untuk menciptakan uang palsu yang

semakin baik kualitasnya.

Meskipun Bank Indonesia sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang

dalam melakukan pengeluaran, pengedaran, dan/atau pencabutan dan penarikan

Rupiah telah melakukan berbagai bentuk sosialisasi terkait ciri dari Rupiah asli,

tetap saja masyarakat sering tertipu karena kualitas dari uang palsu yang mereka

terima hampir serupa dengan uang asli pada umumnya. Tingkat peredaran uang

palsu terus saja meningkat dari waktu ke waktu.

Pembahasan mengenai aturan hukum terkait pemalsuan uang sangat

diperlukan. Dengan keberadaan hukum maka akan terciptalah keamanan dalam

kehidupan masyarakat. Hukum memberi petunjuk tentang apa yang harus

diperbuat dan tidak diperbuat, sehingga segala sesuatunya dapat berjalan tertib

dan teratur.5 Dengan begitu, pembahasan terhadap aturan hukum tindak pidana

pemalsuan uang adalah penting mengingat keberadaan aturan hukum merupakan

5

(4)

salah satu instrumen penting dalam memberantas dan mengurangi tingkat

kejahatan pemalsuan uang.

Praktik pemalsuan uang yang kerap berkembang secara pesat, harus terus

diimbangi dengan perkembangan peraturan hukum. Selain dalam Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sekarang permasalahan tindak pidana pemalsuan

uang juga dibahas secara khusus dalam Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Aturan mengenai pemalsuan uang dalam KUHP terdapat pada buku kedua,

tentang kejahatan, tepatnya pada bab X. Tindak pidana pemalsuan uang, atau

pemalsuan objek lainnya, dapat di golongkan sebagai bentuk penyerangan

terhadap kepercayaan atas kebenaran sesuatu hal yang di yakini sebagai asli.

Dibentuknya aturan mengenai kejahatan pemalsuan pada pokoknya ditujukan bagi

perlindungan hukum atas kepercayaan masyarakat terhadap kebenaran sesuatu:

keterangan di atas sumpah, atas uang sebagai alat pembayaran, materai dan

merek, serta surat-surat. Karena kebutuhan hukum masyarakat terhadap

kepercayaan atas kebenaran pada objek-objek tadi, maka Undang-Undang

menetapkan bahwa kepercayaan itu harus dilindungi dengan cara mencantumkan

perbuatan berupa penyerangan tadi sebagai suatu larangan dengan disertai

ancaman pidana.6

Dalam Pasal 4 bagian kedua Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juga

diterangkan bahwa pada kejahatan terhadap mata uang (uang logam) dan uang

kertas Indonesia (Rupiah) yang dilakukan diluar wilayah Indonesia, berlaku

6

(5)

ketentuan pidana sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana Indonesia (asas universaliteit). Hal ini mengindikasikan bahwa

pemalsuan uang adalah kejahatan yang berat dan dianggap serius oleh pembuat

hukum.

Sementara itu pada aturan hukum terbaru, yaitu dalam Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, pada bagian

penjelasan umum di sebutkan bahwa tindakan pemalsuan uang dapat mengancam

kondisi moneter dan perekonomian nasional. Hal ini merupakan salah satu alasan

mendasar terciptanya aturan yang lebih khusus mengenai tindak pidana

pemalsuan uang tersebut.

Dengan lahirnya aturan hukum baru yang lebih bersifat khusus dalam

mengatur kejahatan pemalsuan uang, maka perlu untuk diperhatikan mengenai

aplikasi dari aturan hukum itu sendiri. Pada salah satu kasus pemalsuan uang yang

terjadi dan telah diputus di tahun 2013, kepada pelaku telah diberikan dakwaan,

tuntutan, dan hukuman atas dasar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7

Tahun 2011 tentang Mata Uang (Putusan Nomor 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim).

Pembahasan yang lebih merinci tentang putusan dari kasus tersebut diatas dirasa

penting untuk mengetahui bagaimana penerapan aturan hukum pemalsuan uang

yang baru dan pertimbangan hukum hakim terhadap dalam menjatuhkan sanksi

pidana pada Putusan Nomor 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim.

Berdasarkan uraian-uraian yang sudah disebutkan sebelumnya, maka dapat

(6)

B. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi yang berjudul Kajian

Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Uang (Studi Putusan No.

1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim) adalah:

1. Apakah perbedaan antara pengaturan tindak pidana pemalsuan uang dalam

KUHP dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011

tentang Mata Uang?

2. Bagaimanakah pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi pada tindak

pidana pemalsuan uang (Studi Putusan No. 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim)?

C. Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:

1. Untuk mengetahui aturan-aturan hukum yang berkaitan dengan tindak

pidana pemalsuan uang di Indonesia dan perbedaan antara masing-masing

aturan tersebut.

2. Untuk mengetahui pertimbangan hukum yang dilakukan oleh hakim

terhadap pertanggungjawaban pidana berdasarkan Studi Putusan Nomor

1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim.

D. Manfaat Penulisan

Adapun yang menjadi manfaat dari penulisan skripsi ini adalah:

1. Secara teoritis, yaitu: memberikan informasi kepada semua kalangan bahwa

(7)

dampak besar berupa kerugian bagi negara sebagai pihak yang berwenang

dalam mencetak dan mengedarkan uang, juga bagi masyarakat sebagai

pengguna uang.

2. Secara praktis, yaitu: hasil dari penilitian ini diharapkan dapat menjadi

referensi dalam proses penyelesaian perkara pemalsuan uang di Indonesia.

E. Keaslian Penulisan

Skripsi yang berjudul “Kajian Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan

Uang (Studi Putusan No. 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim)” sepengetahuan penulis

belum pernah dikemukakan oleh penulis lain, dan hal ini telah dikonfirmasikan

kepada Sekretariat Departemen Pidana.

F. Tinjauan Kepustakaan

1. Pengertian Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan salah satu pengertian dari istilah „Strafbaar Feit‟.

Istilah ini berasal dari bahasa Belanda yang terdiri dari penggabungan kata

Strafbaar dan Feit. Strafbaar yang berarti dapat dihukum,7 dan Feit yang berarti

kejadian, peristiwa, keadaan.8

Tidak terdapatnya di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Indonesia penjelasan mengenai definisi dari tindak pidana menimbulkan lahirnya

berbagai pendapat dari sarjana .

7

Google Translate., https://translate.google.com/#nl/id/Strafbaar., diakses pada tanggal 8 November 2014.

8

(8)

Hazewinkel-Suringa misalnya, telah membuat suatu rumusan yang bersifat

umum dari ‘strafbaar feit’ sebagai suatu perilaku manusia yang pada suatu saat

tertentu telah ditolak didalam pergaulan hidup tertentu dan dianggap sebagai

perilaku yang harus dibedakan oleh hukum pidana dengan menggunakan

sarana-sarana bersifat memaksa yang terdapat di dalamnya.9

Van Hamel merumuskan ‘strafbaar feit’ sebagai „suatu serangan atau suatu

ancaman terhadap hak-hak orang lain‟.10

Menurut Pompe, ‘strafbaar feit’ adalah suatu tindakan yang menurut suatu

rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.11

2. Pengertian Uang, Jenis Uang, dan Fungsi Uang

A. Pengertian Uang

Uang adalah segala sesuatu yang secara umum diterima di dalam

pembayaran untuk pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta untuk

pembayaran hutang-hutang.12

Uang sebagaimana dimaksud dalam aturan hukum pidana Indonesia

dalam bagian pemalsuan uang, dibedakan menjadi 2 macam, yaitu mata

uang dan uang kertas. Keduanya memiliki pengertian yang berbeda.

Mata uang diartikan sebagai jenis uang yang terbuat dari logam,

berbentuk koin, dan umumnya memiliki nilai nominal yang kecil.

Sedangkan uang kertas adalah uang yang terbuat dari bahan berupa kertas.

9

P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Adya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 181.

(9)

B. Jenis Uang

Adapun jenis-jenis uang dapat dilihat dari berbagai sisi.13

a) Berdasarkan bahan

Jika dilihat dari bahan untuk membuat uang maka jenis uang

terdiri dari 2 macam, yaitu uang logam dan uang kertas.

Uang logam, merupakan uang dalam bentuk koin yang terbuat

dari logam, baik dari aluminium, emas, perak, atau perunggu dan

bahan lainnya. Biasanya uang yang terbuat dari logam bernominal

kecil.

Uang kertas, merupakan uang yang bahannya terbuat dari kertas

atau bahan sejenis kertas. Uang dari kertas biasanya dalam nominal

yang besar sehingga mudah dibawa untuk keperluan sehari-hari. Uang

jenis ini terbuat dari kertas yang berkualitas tinggi, yaitu bahan yang

tahan terhadap air, tidak mudah robek atau luntur.

b) Berdasarkan nilai

Jenis uang ini dapat dilihat dari nilai yang terkandung pada uang

tersebut, apakah nilai intrinsiknya (bahan uang) atau nilai nominalnya

(nilai yang tertera dalam uang tersebut). Uang jenis ini terbagi

kedalam dua jenis, yaitu uang bernilai penuh (full bodied money) dan

uang tidak bernilai penuh (representatif full bodied money).

13

(10)

Uang bernilai penuh (full bodied money), merupakan uang yang

nilai intrinsiknya sama dengan nilai nominalnya, sebagai contoh uang

logam, di mana nilai bahan untuk membuat uang tersebut sama

dengan nominal yang tertulis di uang.

Uang tidak bernilai penuh (representatif full bodied money)

merupakan uang yang nilai intrinsiknya lebih kecil dari nilai

nominalnya. Sebagai contoh uang yang terbuat dari kertas. Uang jenis

ini sering disebut „uang bertanda‟ atau token money. Kadangkala nilai

intrinsiknya jauh lebih rendah dari nilai nominal yang terkandung di

dalamnya.

c) Berdasarkan lembaga

Berdasarkan lembaga maksudnya adalah badan atau lembaga

yang menerbitkan atau mengeluarkan uang. Jenis uang yang

diterbitkan berdasarkan lembaga terdiri dari uang kartal dan uang

giral.

Uang kartal merupakan uang yang diterbitkan oleh Bank

Sentral, baik uang logam maupun uang kertas.

Uang giral, merupakan uang yang diterbitkan oleh bank umum

seperti cek, bilyet giro, traveller cheque, dan credit card.

Perbedaan mendasar antara uang kartal dan uang giral antara

(11)

1. Uang kartal berlaku dan digunakan di seluruh lapisan

masyarakat, sedangkan uang giral hanya digunakan dan berlaku

di kalangan masyarakat tertentu saja.

2. Nominal dalam uang kartal sudah tertera dan terbatas,

sedangkan nominal dalam uang giral harus ditulis lebih dulu

sesuai dengan kebutuhan dan nominalnya tidak terbatas.

3. Uang kartal dijamin oleh pemerintah tertentu, sedangkan uang

giral hanya dijamin oleh bank yang mengeluarkan saja.

4. Uang kartal memeiliki kepastian pembayaran seperti yang

tertera dalam nominal uang, sedangkan uang giral belum ada

kepastian pembayaran, hal ini masih tergantung dari beberapa

hal termasuk lembaga yang mengeluarkannya.

d) Berdasarkan kawasan

Uang jenis ini dilihat dari daerah atau wilayah berlakunya suatu

uang. Artinya bisa saja suatu jenis mata uang hanya berlaku dalam

satu wilayah tertentu dan tidak berlaku di daerah lainnya atau berlaku

di seluruh wilayah.

Jenis uang berdasarkan kawasan bisa di bedakan dalam bentuk

Uang Lokal, Uang Regional, dan Uang Internasional.

Uang Lokal merupakan uang yang berlaku di suatu negara

(12)

Uang Regional merupakan uang yang berlaku di kawasan

tertentu yang lebih luas cakupannya daripada uang lokal, seperti untuk

kawasan benua Eropa berlaku mata uang tunggal Eropa, yaitu Euro.

Uang Internasional merupakan uang yang berlaku antar negara

seperti US Dollar dan menjadi standar pembayaran internasional.

Dalam pembahasan mengenai pemalsuan uang, yang merupakan objek

dari pemalsuan uang adalah uang kartal, yaitu uang yang dikeluarkan oleh

bank sentral dan dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Uang

kartal yang dimaksud dapat berupa uang logam maupun uang kertas.

C. Fungsi Uang

Pada awalnya fungsi uang hanyalah sebagai alat guna memperlancar

pertukaran. Namun, seiring dengan perkembangan zaman fungsi uang pun

sudah beralih dari alat tukar ke fungsi yang lebih luas. Uang sekarang ini

telah memiliki berbagai fungsi sehingga benar-benar dapat memberikan

banyak manfaat bagi pengguna uang. Beragamnya fungsi uang berakibat

penggunaan uang yang semakin penting dan semakin dibutuhkan dalam

berbagai kegiatan masyarakat luas.

Fungsi dari uang secara umum yang ada dewasa ini adalah sebagai

berikut.14

a) Alat tukar-menukar

Dalam hal ini uang digunakan sebagai alat untuk membeli atau

menjual suatu barang maupun jasa. Dengan kata lain, uang dapat

14Ibid.,

(13)

dilakukan untuk membayar terhadap barang yang akan dibeli atau

diterima sebagai akibat dari penjualan barang dan jasa. Maksudnya

penggunaan uang sebagai alat tukar dapat dilakukan terhadap segala

jenis barang dan jasa yang ditawarkan.

b) Satuan hitung

Fungsi uang sebagai satuan hitung menunjukkan nilai dari

barang dan jasa yang dijual atau dibeli. Besar kecilnya nilai yang

dijadikan sebagai satuan hitung dalam menentukan harga barang dan

jasa secara mudah. Dengan adanya uang akan mempermudah

keseragaman dalam satuan hitung.

c) Penimbun kekayaan

Dengan menyimpan uang berarti kita menyimpan atau

menimbun kekayaan sejumlah uang yang disimpan, karena nilai uang

tersebut tidak akan berubah. Uang yang disimpan menjadi kekayaan

dapat berupa uang tunai atau uang yang disimpan di bank dalam

bentuk rekening. Menyimpan atau memegang uang tunai di samping

sebagai penimbun kekayaan juga memberikan manfaat lainnya.

Memegang uang tunai biasanya memiliki beberapa tujuan seperti

untuk memudahkan melakukan transaksi, berjaga-jaga atau

melakukan spekulasi. Kemudian dengan menyimpan uang di bank

justru akan menambah kekayaan karena akan memperoleh uang jasa

(14)

d) Standar pencicilan utang

Dengan adanya uang akan mempermudah menentukan standar

pencicilan utang piutang secara tepat dan cepat, baik secara tunai

maupun secara angsuran. Begitu pula dengan adanya uang, secara

mudah dapat ditentukan berapa besar nilai utang piutang yang harus

diterima atau di bayar sekarang atau di masa yang akan datang.

3. Pengertian Pemalsuan Uang

Pemalsuan uang adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau

kumpulan orang dengan cara meniru atau memalsu uang yang menghasilkan uang

yang tidak asli (uang palsu). Objek dari kejahatan pemalsuan uang adalah uang

kartal, yaitu mata uang dan uang kertas. Dalam KUHP, yang dimaksud dengan

mata uang adalah uang yang terbuat dari bahan logam, sedangkan uang kertas

merupakan uang yang terbuat dari bahan berupa kertas.

Kejahatan pemalsuan uang dapat dipahami sebagai suatu bentuk

penyerangan terhadap kepentingan hukum atas kepercayaan terhadap uang

sebagai alat pembayaran yang sah.15 Masyarakat sebagai pengguna uang harus

memperoleh jaminan akan keaslian uang yang mereka gunakan sebagai alat

pembayaran, untuk itulah kejahatan pemalsuan uang diatur dalam hukum pidana

Indonesia.

15

(15)

G. Metode Penelitian

Dalam penyusunan serta penulisan suatu karya ilmiah atau skripsi haruslah

didukung dengan bukti, data, dan fakta yang akurat. Metode penelitian yang

penulis pergunakan dalam skripsi ini adalah yuridis normatif, yaitu penelitian

hukum dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder.

1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penulisan suatu karya ilmiah atau skripsi dapat

dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Pada

skripsi ini, penulis memilih pengumpulan data dengan cara penelitian

kepustakaan.

Penelitian kepustakaan, adalah teknik penelitian dengan cara

mengumpulkan data dari buku-buku, peraturan perundang-undangan, majalah,

makalah, serta internet, yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti.

2. Sumber Data

a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan hukum berupa Kitab Undang-undang

Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang dan peraturan hukum lain yang

tingkatannya berada di bawah Undang Undang.

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum berupa buku, hasil penelitian,

laporan-laporan, artikel, majalah, jurnal, hasil-hasil seminar, dan situs

internet yang dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer.

c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk

maupun penjelasan terhadap bahan primer dan sekunder seperti kamus,

(16)

3. Analisis Data

Data sekunder yang telah diperoleh kemudian dianalisa secara kualitatif,

yaitu semaksimal mungkin memakai bahan-bahan yang ada berdasarkan

asas-asas, pengertian, serta sumber-sumber hukum yang ada untuk mencapai kejelasan

dari permasalahan yang akan dibahas.

H. Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan

penulisan, manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan,

metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II : PERATURAN-PERATURAN HUKUM YANG BERKAITAN

DENGAN TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG

Bab ini menguraikan penjelasan mengenai peraturan hukum yang

terkait dengan tindak pidana pemalsuan uang, baik yang di atur dalam

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), juga yang di atur

dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011

tentang Mata Uang. Bab ini juga memuat bahasan tentang perbedaan

(17)

BAB III : PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN SANKSI

PADA TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG (STUDI PUTUSAN

NO. 1129/PID.SUS/2013/PN.JKT.TIM)

Bab ini menguraikan sebuah putusan pengadilan terkait tindak pidana

pemalsuan uang (Putusan No. 1129/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Tim) dan

analisa terhadap pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi pada

kasus tindak pidana pemalsuan uang tersebut.

BAB IV : PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir yang menguraikan tentang inti dari

pembahasan pada bab-bab sebelumnya dalam bentuk kesimpulan dan

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (17 pages)