1 REKONSTRUKSI KONSEP AKUNTABILITAS ORGANISASI GEREJA: (Studi Etnografi Kritis Inkulturatif pada Gereja Katolik di Tana Toraja) Fransiskus Randa

Gratis

0
0
39
1 year ago
Preview
Full text

2 ORNOP menyimpulkan bahwa akuntabilitas kepada stakeholder menjadi kebutuhan bagi setiap ORNOP jika ingin tetap mendapat kepercayaan dari mitranya

  Penelitian secara khusus tentang akuntabilitas spiritual dalam Gereja khususnya dalam Gereja Protestan dilakukan oleh Jacobs dan Walker (2000) yang meneliti praktik 3 akuntabilitas di lingkungan Gereja komunitas IONA dan Saerang (2001) yang meneliti komunitas Gereja Pentakosta di Indonesia. Nilai-nilai budaya lokal dapat diserap dalam organisasi Gereja Katolik sehingga organisasi GerejaKatolik dapat berkembang menjadi Gereja Katolik yang membudaya dalam aspek religius dan tata kelola organisasi yang lebih transparan, kontekstual dan akuntabel.

1. PARADIGMA INTERPRETIF DALAM PENELITIAN BUDAYA

  Dengan demikian obyek kajian antropologi bukanlah fenomena materiil saja, tetapi juga tentang cara fenomena tersebut Teknik pengumpulan data yang utama dalam hal ini adalah observasi partisipasi dan wawancara terbuka dan mendalam yang dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama,bukan kunjungan singkat dengan daftar pertanyaan yang terstruktur seperti pada kunjungan survei (Spradley, 1997: 157). Dalam tahap ini suatu organisasi yang masuk semakinmengasimilasikan diri pada budaya setempat yang kemudian mengambil alih nilai-nilai budaya setempat melalui tiga proses yaitu: proses pemurnian manifestasi dari nilai-nilaitersebut, menerima yang baik yang telah dimurnikan, dan selanjutnya memberi makna baru kepada manifestasi dengan mengangkatnya ke dalam nilai yang diharapkan.

a. Pemaknaan

b. Rekonstruksi

  Gambar 7: Model Akuntabilitas Kepemimpinan dalam Organisasi Gereja Katolik Paradoks yang dimaksud ialah di satu sisi pemimpin cenderung lebih mengamankan dimensi Kristologi yang menempatkan pimpinan Gereja sebagai sentral dan di lain sisimengabaikan dimensi pneumatologi yang mengedepankan unsur kolegialitas dan keterlibatan umat yang justru diharapkan oleh umat dan stakeholder lainnya untukdijalankan. Sebaliknya pada tingkat regional dan pusat, penyajian laporan keuangan dipandang perlu dan telah berjalan dengan baik karena dana yang ada di tingkat regionalberasal dari Gereja lokal dan dana yang ada di tingkat pusat berasal dari organisasi tingkat regional (Saerang, 2001).

3. REKONSRTUKSI INKULTURATIF AKUNTABILTAS

  Ketiga dimensi tersebut mempunyai kesejajaran dengan nilai-nilai akuntabilitas dalam budaya lokal masyarakat Toraja Rekonstruksi diawali dengan pemahaman akuntabilitas dalam perspektif fungsi dan peran tongkonan dalam budaya Toraja, dilanjutkan dengan rekonstruksi akuntabilitasspiritual, rekonstruksi akuntabilitas kepemimpinan, rekonstruksi akuntabilitas keuangan dan diakhiri dengan model rekonstruksi inkulturatif. Saya bersamasaudara-saudara saya juga membawa sebuah lettoan .” Model Rekonstruksi Inkulturatif Hasil rekonstruksi tersebut dirangkum dalam matriks pada Tabel 3 dan Gambar 10 sebagai model akuntabilitas Gereja Inkulturatif yang pada intinya memberikan pemaknaanakuntabilitas yang baru yang disebut akuntabilitas Gereja tongkonan.

12 Manuskrip no 3

Allah tidak terhindarkan dan senantiasa memakai unsur-unsur dari budaya umat manusia (Cahyadi, 2007). Pentingnya budaya tetap eksis dalam Gereja juga didukung oleh pendapat dari salah seorang umat yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat sebagai Panglaa

13 Tondok (M3) :

  ini adalah sesungguhnya yang kami harapkan. Bahwa Gereja tidak menjadi musuh “ bagi adat yang berada dalam masyarakat tetapi dapat mentolerir adat tersebut dalam kerangka keimanan yang sejati.” Dengan demikian proses inkulturasi tersebut diharapkan dapat membangun akuntabilitasGereja Katolik Toraja yang diterima baik oleh umat tanpa harus meninggalkan budaya mereka dan tetap dalam naungan Gereja Katolik yang kudus dan Apostolik.

4. KESIMPULAN

  Rekonstruksi konsep yang dimaksudkan ialah akuntabilitas Gereja tongkonan (tongkonan church accountability) yaitu konsep yangmenempatkan anggota ( toma’rapu) terikat secara batin dan lahiriah untuk membangun Gereja dalam tiga dimensi utama yaitu dimensi spiritual, kepemimpinan dan keuangan. Dengan potret diri tentang praktik akuntabilitas dalam organisasi KAMS, maka diharapkanpenelitian ini dapat memberi masukan bagi KAMS di masa akan datang untuk mendesign dan memetakan dimensi-dimensi akuntabilitas yang ada dalam organisasi Gereja sebagaiunsur-unsur yang perlu mendapat perhatian baik oleh umat maupun para pemimpin Gereja.

DAFTAR PUSTAKA

  Injil, Gereja dan Kebudayaan: alasan dan Implikasi Teologis bagi Studi Antropologi. Paus dan Kekuasaan Heboh doctrin infalibilitas dalam Perjalanan Sejarah Gereja serta Orang-orang dan Intrik Politik di Baliknya .

DAFTAR PUSTAKA LAIN

  Uskup Jerman Mengundurkan dari. Liputan 6 SCTV tgl 21 april 2010 Sejarah Gereja Katolik.

Dokumen baru

Tags

Gereja Katolik Fransiscus Asisi Di Denpasar Musik Liturgi Gereja Katolik Gereja Katolik Tahap Iii Gereja Katolik Paroki Sambiroto Semarang Pembangunan Gereja Katolik Tahap Iii Sejarah Dan Gereja Dan Katolik Selibat Dalam Gereja Roma Katolik Perbedaan Antara Ajaran Gereja Katolik Spiritualitas Gereja Katolik St Matius View Of Rekonstruksi Misi Gereja Di Abad
Show more