Full text

(1)

H a r r y P ot t er D a n B a t u B er t u a h

Ju dul asli :

Harr y Potter an d the Philo sopher's Sto ne Karya : J.K. Ro w ling

Edito r : Dewi KZ, Nu rul Huda karim, Paulu stjing Eboo k oleh : Dewi KZ

Tiraikasih W ebsite

(2)

HARR Y POTTER D AN BATU BERTU AH J. K. Ro wling

Penerbit PT G ramed ia Pustaka U tama Jakarta, 2001 Alih bahasa: Listiana Srisanti

G M 126 00.851

Hak cipta terjemahan lndon esia: Penerbit PT G ramed ia Pustaka U tama Jl. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh

Penerbit PT G ramed ia Pustaka U tama, anggota IKAPI,

Jakarta, September 2000

Cetakan kelima: Desember 2000 Cetakan keen am: Desember 2000 Cetakan ketuju h: Juni 2001

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT) RO WLING , J. K.

HarryHo tter dan Batu Bertuah / J.K. Ro wling; alihbah asa Listiana Srisan ti,—cet.l—Jakarta: G ramed ia Pustaka Utama, 2000

384 hlm.; 20 cm.

Judul asli: H arry Potter and the Philosopher's Stone ISBN 979 - 655 -851 - 3

I Jud ulII. Srisan ti, listiana 813

Dicetak o leh Percetakan PT G ramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan

untuk Jessica, yang menyukai cerita, untuk Anne, yang juga menyukainya,

(3)
(4)

kerabat keluarga Du rsley. Mr dan Mrs Du mJey bergidik memikirkan apa kata tetan gga mereka jika keluarga Potter mun cul di jalan mereka. Keluarga Du rsley tahu bahwa keluarga Potter juga punya seoran g anak laki-laki kecil, tetapi mereka belum pernah melihatnya. Anak ini salah satu alasan bagus lain ken apa mereka tak mau dekat-dekat keluarga Potter. Mereka tak ingin Du dley bergaul dengan an ak seperti itu .

Ketika Mr dan Mrs Du rsley bangu n pada hari Selasa pagi yang mendung saat cerita kita ini mulai, tak ada tanda-tanda di langit berawan di luar bahwa akan terjadi hal-hal misterius dan aneh di seluruh negeri. Mr Du rsley bersenandung ketika dia men gambil dasinya yang san gat membosankan untuk dipakainya bekerja, dan Mrs Du rsley bergo sip riang seraya berkutat dengan Dud ley yang menjerit-jerit dan mendu dukkan anak itu di kursinya yang tinggi.

Tak seorang pun dari mereka melihat seekor burun g hantu besar kuning kecokelatan terbang melintasi jendela.

Pukul setengah sembilan M r Dursley memun gut tas kerjanya, men gecup pipi Mrs Du rsley dan mencoba mengecup Dud ley, tapi gagal, sebab sekarang Dud ley ngadat dan melempar-lempar serealnya ke dinding. "Dasar anak-anak," senyu m Mr Du rsley sambil masu k ke mobilnya dan memu nd urkannya keluar dari garasi rumah no mor empat.

(5)

papan jalan yang bertuliskan Privet Drive—bukan , bukan membaca melainkan memandan g papan jalan itu, kucing itu tidak bisa membaca peta atau papan jalan. Mr Du rsley men ggelengkan kepalanya dan men coba melupakan kucing itu. Selama mengendarai mobilnya ke kota, yang dipikirkann ya han yalah pesanan bor dalam jumlah besar yang akan didapatn ya hari itu .

Tetapi men jelang masu k kota, bor tergusur keluar dari pikirann ya oleh sesuatu yang lain. Sementara terjebak macet seperti biasanya, dia melihat banyak orang berpakaian aneh. Oran g-orang yang memakai jubah . Mr Du rsley tak tahan melihat oran g yang berpakaian aneh-aneh—dandanan anak-anak muda jaman sekarang! Dia kira jubah bloon ini sedang mod e. Dia mengetu k-ngetu kkan jarinya pada kemudi mobil dan matan ya menatap serombo ngan oran g aneh yang berdiri cukup dekat. Mereka sedan g berbisik- bisik dengan tegan g. Mr Dursley sebal sekali melihat bahwa du a di antara mereka sama sekali tidak mud a lagi. Yang pakai jubah hijau zamrud itu bahkan lebih tu a dari dia! Kelewatan benar! Tetapi kemud ian terlintas d i ben aknya bahwa mereka mun gkin sengaja berdand an seperti itu—mereka pastilah sedang mengu mpulkan dana entah untuk apa—ya, pasti begitu. Ken daraan-kend araan mulai bergerak, dan beberapa menit kemudian M r Du rsley tiba di tempat parkir G run nings, pikirann ya kembali dipenu hi bor.

(6)

melakukan beberapa pembicaraan telepon penting dan berteriak beberapa kali lagi. Hatinya sedang senan g, sampai waktu makan siang, ketika dia memu tuskan akan melemaskan kaki dan berjalan ke toko kue di seberan g jalan.

Dia sudah lupa sama sekali pada oran g-o rang berjubah, sampai dia melewati serombongan lagi di sebelah toko kue. Dia men delik gusar kepada mereka. Dia tidak tahu ken apa, tetapi mereka membuatnya resah. Ro mbongan yang ini juga berbisik-bisik tegan g dan dia sama sekali tidak melihat satu pun kotak pengumpul dana. Saat melewati mereka lagi dalam perjalanan kembali ke kantor, dia mendengar beberapa kata yang mereka ucapkan.

"Keluarga Potter, betul, begitu yan g kudengar..."

"... ya, anak mereka, Harry..."

Mr Du rsley langsu ng berhenti. Ketakutan meland anya. Dia men oleh memand ang mereka yang berbisik- bisik itu, seakan mau mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.

(7)

Su lit baginya un tuk berkonsentrasi pada bor so re itu, dan ketika meninggalkan kantornya pada pukul lima sore, dia masih cemas sehingga menabrak orang di depan pintu.

"Maaf," gumamnya, ketika laki-laki tu a yang ditabraknya terhuyun g nyaris jatuh. Sesaat kemudian baru Mr Dursley men yadari, laki-laki itu memakai jubah un gu. Dia kelihaiann ya sama sekali tidak marah ditabrak sampai hampir jatu h. Sebaliknya, dia malah nyengir lebar dan berkata dengan su ara melengking yang membuat oran g-o rang yang lewat menoleh , "Jangan minta maaf, Sir, karen a tak ada yang bisa membuatku marah hari ini! Bergembiralah, karen a Kau-Tah u-Siapa telah pergi akhirnya! Bah kan Mu ggle seperti Anda pun harus ikut merayakan hari yang amat sangat membahagiakan ini!"

Dan laki-laki tu a itu memeluk pinggang Mr Dursley, lalu pergi.

Mr Du rsley berdiri terpaku di tempatnya. Dia baru saja dipeluk oleh o rang yang sama sekali asing. Seingatnya dia juga disebut Muggle, entah apa artinya itu. Dia jadi bingun g. Dia bergegas ke mobilnya dan pulang, berharap bahwa semua tad i han ya khayalann ya. Ini sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya, karen a dia oran g yang tak suka berkhayal.

Ketika mobilnya melun cur masu k ke pekarangan rumah no mor empat, yang pertama kali dilihatnya— dan ini tidak membuatn ya bertambah lega—ad alah kucing betina yang telah dilihatn ya pagi tad i. Kucing itu sekarang duduk di atas tembok pekarangann ya. Mr Du rsley yakin itu kucing yang sama. Dia punya tanda yang sama d i sekeliling kedua matan ya.

"Shuh!" Mr Dursley mengusirnya.

(8)

Mrs Du rsley melewatkan hari yang no rmal dan men yenan gkan. Saat makan malam dia bercerita kepada Mr Du rsley tentan g ibu tetangga yang punya masalah dengan anak perempuan nya d an bahwa D ud ley sud ah bisa ngo mon g kalimat baru ("Tak mau!"). Mr Du rsley berusaha bersikap biasa. Ketika Du dley sud ah ditidurkan , Mr Du rsley ke ruang keluarga untuk men dengarkan kabar terakhir dalam berita malam.

Dan akhirnya, para pengamat burung dari segala tempat melaporkan bahwa burung hantu di seluruh negeri bersikap aneh sekali hari ini. Meskipun burun g hantu no rmalnya berburu di malam hari dan jarang terlihat di siang hari, ratu san oran g melihat burung-bu rung hantu beterbangan ke segala penju ru sejak matah ari terbit. “Para ahli tidak dapat men jelaskan kenapa para burun g hantu men gubah pola tidur mereka." Pembawa berita tersenyum. "Su ngguh aneh. Dan sekarang, kita bergabun g dengan Jim McG uffin yang akan menyampaikan ramalan cuaca. Malam ini akan hu jan bu rung hantu lagi, Jim?"

“Wah, Ted," kata si peramal cuaca, "aku tak tah u tentang itu , tetapi bukan cuma burun g hantu yang bersikap aneh hari ini. Para pemirsa sampai sejauh Kent, Yorksh ire, dan Dundee bergan tian meneleponku untuk memberitahu bahwa alih-alih hu jan seperti yang kuramalkan kemarin, yang mereka dapat adalah bintang-bintang jatuh ! Mungkin oran g-o rang merayakan Bo nfire Night lebih awal—padahal pesta kembang api seharusnya baru minggu depan, para pemirsa! Tetapi malam ini bisa dipastikan hu jan akan turun!"

Mr Du rsley terenyak di kursi-berlengannya. Bintang jatu h d i seluruh Inggris? Burung-burung hantu beterbangan d i siang hari? Oran g-orang misterius berjubah di mana-mana? Dan bisik-bisik, bisik-bisik tentang keluarga Potter...

(9)

Mr Du rsley berdeham panik. "Ehm— Petunia sayang— belakan gan ini ada kabar apa dari adikmu?"

Seperti du gaan nya, Mrs Du rsley kelihatan kaget dan marah. Yah, biasanya kan mereka berpura-pura dia tidak punya ad ik.

"Tidak ada," jawabnya ketu s, "Memangnya kenapa?"

"Ada berita aneh tadi," gumam Mr Du rsley. "Bu rung hantu ... bintan g jatu h... dan ada banyak o rang bertampang an eh di jalan hari ini."

"Jadi?" tu kas M rs Dursley.

"Yah , aku cuma berpikir... mun gkin... ada kaitannya dengan... kau tahu , kan... kelompokn ya."

Mrs Dursley menyeruput tehn ya dengan bibir cemberut. Mr Du rsley mempertimbangkan, beran ikah dia memberitahu istrinya bahwa dia telah mendengar nama Potter disebut-sebut. Dia memutu skan tidak beran i saja. Sebagai gantinya dia berkata sebiasa mungkin, "Anak mereka—seumuran Dudley, kan?"

"Kayaknya sih," kata M rs Dursley kaku.

"Siapa ya, namanya? Howard , kan?"

"H arry. Nama jelek dan kod ian, menu rutku."

"O h, ya?' kata Mr Du rsley hatinya mencelos. "Ya, aku setuju ."

Dia tak lagi men yinggun g-n yinggun g masalah itu ketika mereka naik ke kamar tidur. Sementara Mrs Du rsley di kamar mand i, Mr Du rsley merayap ke jend ela kamar dan mengintip ke halaman depan. Kucing itu masih ada. Dia sedang menatap ke jalanan , seakan menun ggu sesuatu .

(10)

Su ami-istri Du rsley naik ke tempat tidur. Mrs Du rsley segera tertidur, tetapi Mr Du rsley tidak. Dia memikirkan segala kemu ngkinan. Pikiran terakhir dan menen angkan sebelum dia tertidur adalah, seand ainya pun keluarga Potter memang terlibat, tak ada alasan bagi mereka untuk datang ke tempat keluarga Du rsley. Mereka tahu bagaimana pendapat dirinya dan Mrs Du rsley mengenai mereka dan jenis mereka... Mr Du rley tak melihat bagaimana dia dan Petunia bisa terlibat dengan entah apa yang sedang berlangsung ini. Dia men guap dan berbalik. Semu a itu tak akan mempengaruhi mereka...

Betapa kelirunya dia.

Mr Du rsley mun gkin saja bisa tidur, walau tak nyenyak, tetapi kucing di atas tembok di luar sama sekali tak men unju kkan tanda-tanda mengantu k. Dia dud uk diam bagai patung, matanya memandang tanpa kedip ke sudut Privet Drive di kejau han. Ketika ada pintu mobil digabrukkan di jalan sebelah, dia tetap bergeming. Begitu juga ketika ada dua burun g han tu melayang d i atasnya. Kucing itu baru bergerak men jelang tengah malam.

Seorang laki-laki mun cul di sudut yang diawasi si kucing. Kemun culannya begitu mend adak dan tanpa su ara, sehingga kau akan mengira dia mun cul begitu saja d ari dalam tanah. Ekor si kucing bergerak dan matan ya menyipit.

(11)

Albus Du mbledore tampaknya tidak men yadari bahwa dia baru saja tiba di jalan tempat segala sesu atu dari naman ya sampai sepatunya tidak diinginkan . Dia sibuk memeriksa jubah nya, men cari sesu atu . Tetapi tampaknya dia sadar dia diawasi, karen a mendadak saja dia mendongak memand ang si kucing, yang masih memand angnya d ari uju ng lain jalan. Entah karen a apa, melihat kucing ini dia tampak geli.

Dia berdecak dan bergumam, "Seharusnya aku tahu."

Dia sudah menemukan apa yang dicarinya di kanton g sebelah d alam. Ternyata ko rek api perak.

Dibukanya, dian gkatn ya ke ud ara, lalu dinyalakannya. Lampu jalan terdekat padam dengan bun yi pop pelan. Dinyalakann ya lagi, lampu berikutn ya ikut padam. Du a belas kali ia men yalakan Pemadam-Lampu, sampai cahaya yang tinggal hanyalah du a soro t kecil mun gil di kejauhan, yaitu mata si kucing yang meng-awasinya. Jika ada oran g yang melongok keluar dari jendela sekarang, bahkan si mata-tajam M rs Dursley

Mu ngkin tidak akan melihat apa yang sedan g terjadi di trotoar. Du mbledo re men yelipkan Pemadam-Lampu ke dalam jubah nya lagi dan berjalan menu ju rumah nomo r empat. Setiba di san a dia dudu k di sebelah si kucing. Du mbledore tidak meman dangnya, tetapi setelah beberapa saat dia mengajaknya bicara.

"Tak d isangka kita bertemu di sini ya, Profesor M cG on agall”

Dia men oleh untuk tersenyum pada si kucing betina, tetapi kucing itu su dah tak ada. Alih-alih kucing, dia tersenyum pada wanita bertampang agak galak yang memakai kacamata persegi, persis bentuk vang melingkari mata si kucing. Wanita itu juga memakai jubah , warnan ya hijau zamrud. Rambu t hitamnya digelung ketat. Dia kelihatan bingun g.

(12)

"Profesorku, belum pernah aku melihat kucing yang dud uk begitu kaku ."

"Kau pun akan kaku kalau sudah duduk di tembok bata seharian," kata Profeso r McG onagall.

"Seharian? Padahal seharusnya kau bisa merayakan liari gembira ini? Aku melewati paling tidak selusin pesta dan perayaan d alam perjalanan kemari."

Profesor M cG on agall menden gus marah.

"O h ya, semua merayakan ," katan ya tak sabar. "Kaupikir mereka akan lebih hati-hati, tetapi tidak— bahkan para Muggle pun merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Itu disiarkan di warta berita mereka." Dia mengedikkan kepalanya ke arah jen dela ruan g keluarga Dursley yang gelap. "Aku men dengarnya. Ro mbon gan burun g hantu... bintan g jatu h... Nah , mereka kan tidak bego. Keanehan ini menarik perhatian mereka. Bintang jatuh di Ken t—aku berani bertaruh itu Dedalus Diggle. Dari dulu dia kuran g perhitu ngan."

"Kau tak bisa menyalah kan mereka," kata Du mbledore lembut. "Tak ada yang benar-benar bisa kita rayakan selama sebelas tahun ini."

"Aku tahu," kata Profeso r McGon agall jengkel. "Tapi itu bukan alasan bagi kita untuk lupa diri. Oran g- oran g ceroboh sekali, berkeliaran di jalan di siang bolo ng, bahkan tidak memakai pakaian M uggle, bertu kar gosip."

Dia melirik tajam Du mbledo re, seakan berharap Dumbledo re akan memberitahun ya sesuatu, tetapi ternyata tidak, maka dia men eruskan , "Bagu s sekali jika pada hari Kau-Tahu-Siapa akhirnya men ghilang, bangsa Muggle akhirnya juga tahu tentan g kita. Kira-kira dia betu l sud ah pergi, Dumbledore?"

(13)

"Apa?"

"Permen jeruk. Permen Mu ggle yang ku sukai."

"Tidak, terima..” kata Profeso r McG onagall dingin, seakan men urut dia ini bukan saatnya un tuk makan permen jeruk. "Seperti kukatakan, bahkan jika ‘Kau-Tahu-Siapa’ sudah pergi..."

"Profesorku yang baik, tentunya oran g bijaksan a seperti kau bisa men yebut naman ya? Segala omong-koson g 'Kau-Tahu-Siapa'—selama sebelas tahun aku sud ah berusaha membujuk oran g-orang agar menyebutnya dengan naman ya yang sebenarn ya: Voldemort." Profeso r McG onagall berjengit, tetapi Du mbledore, yang sedang membuka bu ngkus dua permen jeruk, kelihatannya tidak tahu. "Jadi sangat membingungkan jika kita selalu berkata 'Kau-Tahu-Siapa'. Aku tak melihat alasan kita haru s takut menyebut n ama Voldemort."

"Aku tahu," kata Profesor McG onagall, kedengarann ya setengah putus asa, setengah kagum. "Tetapi kau lain. Semua tah u kau satu-satun ya yang ditakuti si Kau-Tahu—oh, baiklah, Voldemort."

*Kau membuatku tersanju ng," jawab Du mbledore tenang. "Voldemort memiliki keku atan yan g tak akan pernah ku miliki."

"H anya karena kau terlalu—yah, mulia untuk men ggunakannya."

"U ntung sekarang gelap. Belum pernah mukaku semerah ini sejak Madam Pomfrey mengatakan dia menyu kai tutup telingaku yang baru."

(14)

Kelihatann ya Profesor McG onagall telah mencapai pokok masalah yang ingin sekali didiskusikannya, alasan ken apa dia du duk menunggu di atas tembok keras dingin sepanjang hari, karen a tidak sebagai kucing ataupun sebagai perempuan dia pernah memandang D umbledo re setajam sekarang. Jelas bahwa apa pun yang d ikatakan "semua o rang", tak akan d ipercayainya sampai Du mbledo re mengadakan kepadanya bahwa itu benar. Tapi Du mbledo re malah memilih permen jeruk yang lain dan tidak men jawab.

"Apa yang mereka katakan ," dia meneruskan , "adalah bahwa tad i malam Voldemort muncul di G odric's Ho llow. Dia datang men cari keluarga Potter. Menu rut gosip, Lily dan James Potter su dah—sud ah—mereka sudah meninggal."

Du mbledore menundukkan kepalanya. Profesor McG onagall memekik kaget.

"Lily dan James... tak bisa kupercaya... aku tak mau percaya... O h, Albus..."

Du mbledore mengu lurkan tangan dan membelai bahu Profesor M cG on agall. "Aku tahu ... aku tah u...," katanya sedih.

Su ara Profesor McG onagall bergetar ketika dia meneruskan, "Itu belum semua. Kata mereka dia mencoba membunuh anak keluarga Potter, Harry. Tetapi— dia tidak bisa. Dia tidak berhasil membunuh anak kecil itu. Tak ada yang tahu kenapa atau bagaimana, tetapi mereka bilang, bahwa ketika dia gagal membunuh Harry Potter, keku atan Voldemort punah — dan itulah sebabnya d ia mengh ilang."

Du mbledore mengangguk tanpa bicara.

(15)

segala upaya un tuk men ghentikan sepak terjangnya... tetapi bagaimana mungkin H arry bisa bertahan?”

"Kita cuma bisa mend uga," kata Du mbledore. "Kita mun gkin tak akan pernah tahu."

Profesor McG onagall men arik sehelai saputangan su tra dan men gusap mata di balik kacamatan ya. Du mbledo re men yedot hidun g keras sambil men gambil jam emas dari dalam sakun ya dan memandangn ya. Jam itu sudah sangat tu a. Jarumnya ada du a belas, tetapi tidak ada angkanya. Sebagai gantinya, planet-planct kecil bergerak men gitari tepinya. Tapi Du mbledo re pasti bisa men gartikannya, karen a dia mengembalikan jam itu ke saku nya dan berkata, “Hagrid terlambat. Kurasa dia yang memberitah umu bah wa aku akan ad a di sini, kan?"

"Ya," jawab Profeso r McG onagall. "Dan kurasa kau lulak akan memberitahuku kenapa kau sampai berada disini"

"Aku datan g un tuk men gantar Harry kepada bibi dan pamannya. Han ya merekalah keluarganya yang tinggal sekarang."

"Kau tidak—yang kaumaksu dkan tak mungkin uran g-orang yang tinggal di sini?" seru Profesor McG onagall seraya melompat berdiri dan menunjuk rumah nomo r empat. "Du mbledore—jangan . Aku sudah mengamati mereka sepanjang hari. Takkan bisa kautemukan dua o rang yang sangat berbeda dari kita seperti mereka. Dan mereka punya anak— kulihat anak ini men endang-nend ang ibun ya sepanjan g jalan ini, men jerit-jerit minta permen . Harry Potter akan tinggal di sini?”

"Ini tempat paling baik un tu knya," kata Du mbledore tegas. "Bibi dan pamannya akan bisa men jelaskan segalanya kepadanya kalau dia sudah lebih besar. Aku su dah menu lis surat kepada mereka."

(16)

kau bisa men jelaskan semua ini dalam su rat? Oran g-o rang ini tak akan pernah memahami Harry! Dia akan jadi oran g terkenal— jadi legenda—aku tak akan heran jika di masa depan nan ti, hari ini akan dijadikan Hari Harry Potter— akan ada buku-bu ku tentan g Harry yang ditu lis— semua anak di du nia kita akan mengenal namanya!"

"Justru itu," kata Dumbledore, memandang dengan sangat serius di atas len sa kacamatanya yang ber-bentu k bulan-separo. "Semua itu bisa membuat so mbong anak mana pun. Sudah terkenal sebelum dia bisa berjalan d an bicara! Terken al gara-gara sesuatu yang ingat pun dia tidak! Tak bisakah kaulihat, akan jauh lebih baik baginya jika dia dibesarkan jauh dari semua itu, sampai dia su dah siap menerimanya."

Profesor McG onagall membuka mulut, berubah pikiran, men elan ludah, dan kemud ian berkata, "Ya— ya, kau benar, tentu saja. Tetapi bagaimana anak itu bisa tiba di sini, Du mbledore?" Mend adak diamatinya jubah Du mbledore, seakan dia mengira Dumbledore mun gkin saja men yembunyikan an ak itu di balik jubahn ya.

“Hagrid yan g akan mengantarn ya."

“Kau pikir—bijaksan a mempercayakan hal sepenting ini kepada Hagrid?"

"Aku akan mempercayakan hidupku kepada Hagrid," kata Du mbledore.

"Aku tidak bermaksu d mengatakan hatinya tidak berad aa di tempatnya yang ben ar," kata Profesor McG onagall men ggerun del, "tetapi kau tak bisa berpura-pura tak tahu dia cerobo h. Dia kan cenderun g...apa itu?"

(17)

langit—d an sebuah moto r luar biasa besar jatu h dari angkasa, men darat d i jalan d i depan mereka.

Sepeda motor besar itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan laki-laki yang dud uk di atasnya, tingginya nyaris dua kali laki-laki dewasa dan lima kali lebih lebar. Besarn ya sungguh kelewatan , dan diaa begitu liar—rambut panjangnya yang hitam dan lebat kusu t dan jenggotn ya yang juga lebat menyem- bunyikan sebagian besar wajahn ya. Tan gannya sebesar tutup tempat sampah dan kakinya yang memakai sepatu bot kulit seperti lumba-lu mba kecil. Lengannya yang besar dan berotot memeluk bun gkusan selimut.

"H agrid," kata Du mbledo re lega. "Akhirnya. D an dari mana kaud apat sepeda motor itu ?"

"Pinjam, Profeso r Du mbledore” jawab si raksasa, sambil tu run dengan hati-h ati dari motor itu. "Sirius Black mud a pinjamkan padaku. Aku d apat dia, Sir."

"Tidak ada kesu litan , kan?"

"Tidak, Sir—rumah nyaris h ancur, tapi aku berhasil ambil dia sebelum para Mu ggle berdatangan. Dia tertidu r ketika kami terbang melewati Bristol."

Du mbledore dan Profesor McG on agall membun gkuk ke arah bun gkusan selimut. Di dalamnya ada seoran g bayi laki-laki, tertidur nyenyak. Di balik sejumput rambut h itam pekat di atas dahinya mereka bisa melihat luka berbentuk aneh," seperti sambaran kilat.

"Itukah...?" bisik Profeso r McGon agall.

"Ya," kata Du mbledore. "Bekas lukanya tak akan hilang selamanya."

"Tak bisakah kau melakukan sesuatu , Dumbledo re?"

(18)

berupa peta jalur kereta api bawah tanah Londo n. Nah , berikan anak itu , Hagrid. Lebih baik segera kita bereskan ."

Du mbledore menggendon g Harry dan berbalik men uju rumah keluarga Dursley.

"Bo lehkah —bolehkah aku ucapkan selamat tinggal padanya, Sir?" tanya Hagrid.

Dia men undu kkan kepalanya yang besar berambut lebat dan memberi si bayi kecupan yang pastilah membuat gatal gara-gara gesekan kumisnya. Kemudian mendadak Hagrid melolon g seperti anjing yang terluka.

"Shhh!" desah Profeso r McG onagall. "Kau akan memban gun kan para Mu ggle!"

“Maaf-maaf," isak Hagrid, seraya mengeluarkan saputangan besar berbintik-bintik dan membenamkan wajahnya di dalamnya. "Tapi aku t-t-tak tah an—Lily dan James meninggal— dan kasihan H arry harus tinggal dengan Muggle..."

"Ya, ya, meman g san gat menyedihkan , tetapi ken dalikan dirimu, Hagrid. Kalau tidak, kita bisa ketahu an," bisik Profeso r McG onagall sambil membelai-belai lengan H agrid dengan amat hati-hati, sementara Dumbledore melangkahi tembok halaman yang rendah dan berjalan ke pintu depan. Dengan hati-hati di baringkan nya Harry di depan pintu. Diambilnya sehelai su rat dari dalam jubah nya dan diselipkannya di balik selimut Harry. Setelah itu dia kembali bergabu ng dengan du a orang lainn ya. Selama semen it penuh ketigan ya memand ang bungkusan kecil itu. Bah u H agrid berguncang, Profesor McG onagall berkali-kali men gejapkan matan ya, dan kilat yang biasanya ada di mata Du mbledore seakan telah padam.

(19)

"Yeah," kata Hagrid sengau. "Aku akan kembalikan motor Sirius. Malam, Profeso r McG onagall... Profeso r Dumbledo re."

Sambil men yeka air matanya yang mengu cur terus dengan len gan jaketnya, Hagrid melompat ke atas motornya dan men starternya. Diiringi deruman, moto r itu terangkat ke angkasa dan meluncur dalam kegelapan malam.

"Kita akan segera bertemu lagi, Profesor McG onagall," kata Du mbledore sambil men gangguk kepadanya. Sebagai jawaban, Profesor M cG on agall membuan g ingus.

Du mbledore berbalik dan berjalan pergi. Di su du t dia berhenti dan mengeluarkan Pemadam-Lampu peraknya. Dijetreknya sekali, dan du a belas bola cahaya serentak melun cur men uju lampu-lampu jalanan, sehingga Privet Drive men dadak terang d an d ia bisa melihat seeko r kucing betina menyelinap ke su dut di uju ng jalan lainn ya. Dia juga masih bisa melihat bun gkusan selimut di depan pintu rumah n omor empat.

(20)

su ara pelan, "U ntuk Harry Potter—anak laki-laki yang bertahan hidu p!"

(21)

Padah al Harry Potter masih di situ, saat ini sedang tidur, tapi tak akan lama lagi. Bibinya, Petun ia, su dah bangu n, dan su ara nyaringn yalah yang pertama memecah kesun yian pagi itu.

"Ban gun! Ban gun ! Cepat!"

(22)

"Ban guuun!" len gkingnya. Harry menden garnya melangkah men uju dapur, lalu bun yi wajan yang d ielakkan d i atas kompor. Harry bergu ling telentang lagi dan berusaha mengingat-ingat mimpinya yang terputus tadi. Mimpinya men yen angkan. Ada motor terbang. Dia merasa dia pernah mimpi yang sama sebelumnya.

Bibinya sud ah kembali berad a di depan pintu kamarnya.

"Kau sudah bangun belum?" tuntutnya.

"H ampir," jawab Harry.

"Ayo, cepat. A ku mau kau yang men ggo ren g daging asap. Jangan sampai gosong. Aku ingin segalan ya sempurna pada hari ulan g tahun Dud ley."

Harry men geluh.

"Apa katamu?"

"Tidak, tidak apa-apa..."

Diulang tahun Dud ley—bagaimana mun gkin dia bisa lupa? Dengan enggan Harry tu run dari tempat tidu r dan men cari-cari kaus kaki. Ditemukan nya sepasang di bawah tempat tidu r, dan setelah menarik labah-labah dari salah satu di antaranya, dipakainya kaus kaki itu. Harr y su dah terbiasa dengan labah-labah, karena lemari di bawah tangga pen uh labah-labah-labah, dan di situ lah dia tidur.

(23)

jarang berhasil men genainya. Harry memang tidak kelihatan gesit, tetapi dia gesit sekali.

Mu ngkin ada hubu ngan nya dengan tinggal di dalam lemari yang gelap, tetapi Harry termasu k kecil dan kurus untuk umu rnya. Dia bahkan kelihatan lebih kecil dan lebih kurus d ari yang sesun gguhnya karen a semua pakaiann ya lungsuran Du dley, d an Dudley empat kali lebih besar daripadanya. Harry berwajah kurus, lututn ya meno njol, rambutn ya hitam, dan matan ya hijau cemerlang. Dia memakai kacamata bulat yang bingkainya dilekat dengan banyak selotip karen a seringn ya Du dley memukul hidungnya. Satu- satun ya yang disukai H arry pada penampilann ya adalah bekas luka tipis pada d ahinya yang berbentuk sambaran kilat. Sejauh yan g dia ingat, dari du lu bekas luka itu sudah ada dan pertan yaan pertama yang seingatnya dia tan yakan kepada Bibi Petun ia adalah bagaimana dia men dapatkan bekas luka itu .

"Dalam kecelakaan waktu oran gtu amu meninggal," katanya. "Dan jangan tanya-tanya lagi."

Jangan tan ya-tanya—itu peraturan pertama jika mau hidu p tenang bersama keluarga Dursley.

Paman Vernon masu k dapur ketika Harry sedan g membalik daging.

'Sisir rambutmu !" perintah nya, sebagai ucapan selamat paginya.

Sekali seminggu, Paman Vernon memand ang dari atas koran nya dan berteriak bahwa Harry haru s potong rambut. Harry pastilah su dah potong rambut lebih sering dibanding seluruh teman sekelasnya sekligus. Tetapi sama saja, rambutn ya tetap saja tu mbuh begitu—berantakan .

(24)

matan ya kecil, biru, berair. Rambu tn ya yang tebal pirang men empel rapi pada kepalanya yan g gemuk. Bibi Petun ia sering men gatakan bahwa Dudley kelihatan seperti bayi malaikat, 'sedangkan Harry sering mengatakan Du dley seperti babi pakai wig.

Harry men aruh piring berisi daging dan telur ke atas meja. Ini su sah, karen a nyaris tak ada tempat. Dudley, sementara itu, men ghitung hadiahnya. Wajahnya langsung cemberut.

"Tiga puluh enam," katanya sambil memandan g ayah dan ibunya. "Kurang d ua dibanding tahun lalu."

'Sayan g, kau belum mengh itun g hadiah Bibi Marge, lihat, ini dia di bawah h adiah dari Mu mmy dan D add y."

"Baik, tiga puluh tu juh , kalau begitu," kata Du dley, yang wajahn ya sud ah merah. Harry yang sud ah bisa menduga kemarah an Dudley akan meledak, cepat-cepat mengunyah dagingn ya. Siapa tahu D udley akan menjungkirkan meja.

Bibi Petun ia rupanya men yadari datan gnya bahaya juga, karen a dia cepat-cepat berkata, "Dan kami akan membelikan un tukmu du a had iah lagi kalau kita jalan-jalan nanti. Bagaimana, Manis? D ua had iah tambah an. Oke, kan?"

Sejenak Dudley berpikir. Kelihatann ya susah baginya. Akhirnya dia berkata pelan-pelan, "Jadi aku akan punya tiga puluh... tiga puluh ..."

"Tiga puluh sembilan, anak pintar," kata Bibi Petunia.

"O h." Dud ley dudu k dengan keras dan men jangkau bun gkusan terdekat. "Baiklah."

Paman Verno n tertawa.

(25)

Saat itu telepon berdering dan Bibi Petun ia men jawabnya sementara Harry dan Paman Vernon menonton Dudley membuka sepeda balap, kamera, pesawat terbang mainan yang dikendalikan remote control, enam belas permainan komputer, dan perekam video. Dia sedang merobek kertas pembun gkus arloji emas ketika Bibi Petunia mun cul kembali dengan wajah marah dan cemas.

"Kabar buruk, Verno n," katan ya. "Mrs Figg kakinya patah . Jadi tak bisa dititipi dia." Dia mengedikkan kepala ke arah Harry.

Mu lut Dud ley melon go ngeri, tetapi Harry senan g. Setiap tah un, pada hari ulan g tahun Dudley, orangtuanya mengajak Du dley dan seorang temannya jalan-jalan , ke taman hiburan, kios hambu rger, atau menon ton biosko p. Harry ditinggal, dititipkan pada Mrs Figg, wanita tua aneh yang tinggal dua jalan dari Pivet D rive. Harry benci tinggal di sana. Selu ruh rumahn ya bau kol dan Mrs Figg memaksanya melihat fo to-foto semua kucing yang pernah dimilikinya.

"Jadi bagaimana?" kata Bibi Petunia, meman dang Harry dengan berang, seakan Harry yang meren canakan sakitnya Mrs Figg. Harry tah u dia seharusnya kasihan Mrs Figg kakinya patah , tetapi dia mengingatkan dirinya bahwa baru setahu n lagi dia harus melihat foto Tibbles, Sn owy, Mr Paws, dan Tufty.

"Kita bisa men elepon Marge," Paman Vernon men yarankan .

"Jangan n gaco, Vernon, dia kan benci anak itu."

Keluarga Du rsley sering membicarakan Harry seperti inj seakan anak ini tidak ada, atau lebih tepat lagi, seakan dia sesuatu yang sangat menjijikkan, seperti bekicot.

(26)

"Kalian bisa men inggalkan aku di sini," Harry men gusulkan penuh harap (dia akan bisa menonton acara yang disukainya di televisi dan mungkin bahkan mencoba ko mputer Dudley).

Bibi Petu nia kelihatan seperti tersedak telur.

"Dan kalau kami pulang nanti rumah sudah han-cur?" geramnya.

"Aku tak akan meledakkan rumah," kata Harry, tetapi mereka tidak memedulikannya.

"Kurasa kita bisa membawan ya ke kebun binatan g," kata Bibi Petu nia pelan, "... dan meninggalkann ya di mobil..."

"Mo bil kita baru, dia tak boleh du duk sendirian..." Du dley mulai men angis rneraun g-rau ng. Sebetu lnya sih d ia tidak betul-betul menan gis. Sud ah bertahu n-tahu n dia tidak menan gis. Tetapi dia tahu bahwa kalau dia mengerutkan mukan ya dan merau ng, ibunya akan mengabulkan semua yan g diinginkan nya. "Dinky Duddydums, jangan menangis, Mu mmy tak akan membiarkannya merusak hari istimewamu !" Bibi Petun ia berseru sambil memeluk Dudley.

"Aku... tak... mau. .. dia... i-i-ikut!" Du dley menjerit d i antara isak pura-puran ya. "Dia se-selalu merusak acara!" Dia men yeringai jahat ke arah Harry dari celah len gan ibunya.

Saat itu bel pintu berbunyi. "Ya ampun, mereka sudah datang!" kata Bibi Petunia panik—dan sekejap kemudian sah abat Dudley, Piers Polkiss, masu k bersama ibunya. Piers anak kurus dengan wajah seperti tikus. Dia biasanya yang memegan gi lengan anak-anak d i belakang punggun g, sementara Du dley memuku li mereka. Du dley langsung berhenti berpura-pura menangis.

(27)

dalam hidupnya. Paman dan bibinya tak tahu lagi apa yang haru s dilakukan , tetapi sebelum mereka beran gkat, Paman Verno n mengajaknya bicara.

"Kuperingatkan kau," katan ya, wajahnya yang lebar keu nguan dekat sekali dengan wajah H arry. "Kuperingatkan kau sekarang—kalau kau melakukan yang aneh-aneh sedikit saja— kau akan dikurung d i lemari itu sampai Natal."

"Aku tidak akan melakukan apa-apa," kata Harry, su ngguh..."

Tetapi Paman Vernon tidak percaya. Yang lain pun tidak.

Su sahnya, hal-h al aneh sering terjadi di sekitar Harry dan tak ada gunan ya memberitah u keluarga Dursley bahwa bukan dia yang menyebabkan h al-h al itu terjadi.

Pernah Bibi Petu nia yang su dah sebal melihat Harry pulang dari tu kang cukur tetapi rambutn ya kelihatan sama saja, men gambil gunting dapur dan memotong rambut H arry sampai pendek nyaris gun dul, kecuali poninya yang sengaja tidak dipotongn ya un tuk "menyembun yikan bekas luka yang men gerikan". Dud ley terbahak-bah ak menertawakan Harry sedangkan Harry send iri semalaman tak bisa tidur, membayan gkan bagaimana di sekolah keesokan harinya. Dia su dah selalu ditertawakan gara-gara pakaian yan g kebesaran dan kacamatan ya yang dilekat dengan selotip. Tapi paginya, ternyata rambutn ya sudah persis lagi dengan sebelum Bibi Petu nia mencuku rnya. Dia dikurung selama seminggu dalam lemarinya gara-gara ini, walaupun dia sudah mencoba men erangkan bahwa dia tidak bisa men jelaskan bagaimana rambutn ya bisa tu mbuh kembali secepat itu .

(28)

cukup dipakai Harry. Bibi Petun ia memu tuskan pastilah sweter itu mengerut ketika dicuci. Dan betapa legan ya Harry,! dia tidak dihuku m karena ini.

Tetapi sebaliknya, dia mend apat kesu litan besar gara-gara ditemukan di atap dapur sekolah. Seperti biasa geng Dudley men gejar-n gejarnya, dan Harryl sama kagetnya dengan yang lain ketika tiba-tiba saja d ia sud ah d uduk di atas cerobong asap. Mr dan Mrs Dursley menerima su rat dari Ibu Kepala Sekolah yang sangat marah, karen a Harry telah meman jat-manjat bangu nan sekolah . Tetapi sebetu lnya yang dilakukan nya han yalah (seperti diteriakkann ya kepada Paman Vernon dari dalam lemarinya yang terkunci) melompati ke belakan g tempat sampah besar di luar pintu d apur. H arry menduga pastilah saat melompat itu dia terbawa angin ke atas.

Tetapi hari ini semua akan berjalan mulus. Bahkan dud uk bersama Dudley dan Piers pun diterimanya, asal dia bisa melewatkan hari bukan di sekolah , di dalam lemarinya, atau di ruan g tamu Mrs Figg yang bau kol.

Sementara men gemudi, Paman Verno n men geluh kepada Bibi Petu nia. Ho binya meman g mengeluh, oran g-o rang di kantorn ya, Harry, para wakil rakyat, Harry, bank, dan Harry han ya beberapa saja dari to pik favoritn ya. Hari ini sepeda motor.

“….ngebut seperti orang gila, preman-preman kurang kerjaan ," komentarnya ketika ada motor yang menyalip mereka.

“Aku pernah mimpi tentang motor," kata Harry yang tiba-tiba ingat mimpinya. "Moto rnya terbang."

(29)

“Aku tah u motor tidak terbang," kata Harry. "Itukan cuma mimpi."

Tetapi Harry men yesal su dah ngo mong. Kalau ada hal lain yang dibenci keluarga Du rsley, itu adalah jika Harry menyebut-nyebut sesu atu yang tidak semestinya terjadi, tak peduli peristiwa itu cuma dalam mimpi atau bahkan film kartun. Ru panya mereka berpendapat ide-ide Harry berbahaya.

Hari Sabtu itu cerah sekali dan kebun binatang penu h dikun jungi keluarga-keluarga. Mr dan Mrs D ursley membelikan Du dley dan Piers es krim cokelat besar di pintu masu k, dan karen a si gad is penuh senyum di mobil es krim itu su dah telanjur menan yai Harry dia ingin es krim apa sebelum mereka sempat mengajak Harry pergi, mereka membelikannya es loli lemon yan g murah. Cuku p enak juga, pikir Harry yang menjilati es lolinya sembari menonton gorila yang men ggaruk-garuk kepalanya d an bertampang mirip Dudley, han ya saja rambutnya tidak pirang.

Belum pernah Harry segembira ini. Dia berhati- h ati, berjalan agak jauh dari keluarga Du rsley, agar Dudley dan Piers, yang men jelan g makan siang sudah mulai bosan dengan binatang-binatang, tidak kembali melakukan ho bi favo rit mereka, yaitu memu kulinya. Mereka makan di restoran kebun binatang dan ketika Dudley marah-marah karen a es krimnya kurang besar, Paman Vernon membelikannya porsi yang lebih besar dan Harry diizinkan men ghabiskan pesanan pertamanya.

Harry belakan gan merasa, bahwa seharusnya dia tahu , hal men yenan gkan seperti ini tak mungkin berlangsu ng terus.

(30)

segera men emukan ular terbesar di tempat itu. Ular itu bisa membelitkan tu buhn ya dua kali ke mobil Paman Verno n dan meremuknya seperti kaleng kerupuk—tetapi saat ini kelihatannya dia sedang malas. Sebetu lnya, dia malah sedang tidur nyenyak.

Du dley berdiri dengan hidung menempel di kaca, meman dang gulungan cokelat berkilat itu.

"Suruh dia bergerak," rengeknya pada ayahn ya. Paman Verno n mengetuk kaca, tetapi si ular diam saja.

"Ketuk lagi," Dudley menyu ruh. Paman Vernon mengetu k keras dengan buku-bu ku jarinya, tetapi si ular tetap saja tidu r.

"Sun gguh membosankan ," keluh D udley. Dia pergi.

Harry gan ti bergerak ke dekat kaca dan memand ang si ular lekat-lekat. Dia tak akan heran kalau si ular mati karen a bosannya. Tak ada teman selain oran g-o rang bodoh yang men getuk-n getu k kaca, men coba mengganggun ya sepanjan g hari. Ini lebih parah daripada men ggu nakan lemari sebagai kamar tidur, dengan satu-satu nya pengun jung adalah Bibi Petu nia yang menggedor-gedor pintu untuk memban gun kann ya—paling tidak dia kan bisa ke bagian rumah yang lain.

Ular itu tiba-tiba membuka matan ya yang seperti manik-manik. Pelan, san gat pelan, ia mengangkat kepalanya sampai matan ya sejajar dengan mata H arry.

Mata itu mengedip.

Harry terbelalak. Kemudian dia cepat-cepat memandan g berkeliling un tu k memastikan tak ada yang melihat. Ternyata meman g tak ada. Dia kembali meman dang si ular dan balas men gedip juga.

(31)

kepada Harry seakan jelas berkata, ‘Sepanjang waktu memang seperti itu ."

"Aku tah u," gumam Harry lewat kaca, meskipun Dia tak yakin si ular bisa men dengarnya. "Pastilah ?..ingat men yebalkan."

Si ular men gan gguk-angguk bersemangat.

"Kau berasal dari mana sih?" tanya Harry.

Ular itu men ggerakkan ekornya ke arah papan kecil di sebelah kaca. Harry membaca tu lisann ya.

Bo a Pembelit, Brasil.

"Enakkah d i sana?"

Si boa pembelit menunjuk dengan eko rnya ke papan lagi dan Harry men eruskan membaca: Ular yang ada di sini dikembangbiakkan di kebun binatan g. "Oh, begitu— jadi, kau belum pernah ke Brasil?"

(32)

dengan cepat, meluncur di lantai. Para pengunju ng rumah reptil menjerit-jerit panik dan berlarian ke pintu keluar.

Saat si ular meluncur cepat melewatinya, Harry bersedia bersumpah dia menden gar suara desis pelan berkata, "Brasil, aku d atang segera... Trimsss, Amigo."

Si penjaga rumah reptil shock dan bengon g.

"Tapi kacanya," katan ya terus-menerus, "ke man a kacanya?"

Direktu r kebun binatang sendiri yan g membuatkan secangkir teh kental manis untuk Bibi Petunia sambil tak henti-hentinya minta maaf. Piers dan Dudley cuma bisa merepet. Sejauh yang Harry lihat, ular itu tidak melakukan apa-apa, kecuali dengan main-main men gatup-ngatupkan mulutn ya di dekat tu mit Du dley dan Piers saat dia lewat. Tetapi ketika mereka sudah kembali ke mobil Paman Vernon, Dudley bercerita bagaimana si ular nyaris men ggigit kakinya sampai putu s, sementara Piers bersumpah si ular men coba membelitn ya sampai mati. Tetapi yang paling parah, paling tidak bagi Harry, adalah Piers su dah cukup tenang u ntuk berkata, "Harry tad i bicara dengan ular itu. Iya, kan, Harry?"

Paman Verno n menun ggu sampai Piers men inggalkan rumah mereka, sebelum dia mulai men cecar Harry. Paman Vernon marah sekali, sampai nyaris tak bisa bica ra. Dia han ya bisa bilang, "Pergi—lemari—tinggal san a— tidak makan," sebelum dia terhenyak di kursi dan Bibi Petun ia cepat-cepat lari men gambilkann ya segelas besar brandy.

(33)

Lama kemudian Harry masih berbaring di dalam lemarinya yang gelap, ingin sekali rasanya punya arloji. Dia sama sekali tak tahu jam berapa sekarang d an d ia juga tidak yakin keluarga Du rsley sudah tidu r. Sebelum mereka tidu r; riskan sekali jika dia keluar dan mengendap-endap ke dapur untuk mengambil makanan .

Dia telah tinggal bersama keluarga Du rsley selama sepuluh tah un, sepuluh tahun penuh penderitaan . Sejauh yang d ia ingat, sejak dia masih bayi dan oran gtuan ya men inggal dalam kecelakaan mobil. Kadan g-kad ang, jika dia men gingat-ingat dengan keras selama jam-jam panjang membosankan di dalam lemarinya, mun cul dalam ingatann ya pemand angan yang aneh: kilat cahaya hijau menyilaukan dan rasa sakit yang panas di dahinya. Dia menganggap ini pastilah saat tabrakan terjadi, walaupun dia tak bisa membayangkan dari mana cahaya hijau itu mun cul. Dia sama sekali tidak bisa mengingat oran gtu anya. Paman dan bibinya tidak pernah bicara tentang mereka, dan tentu saja dia dilarang men gajukan pertan yaan. Tak ada foto oran gtuan ya di rumah keluarga Dursley.

(34)

melambai dengan riang kepadanya dari bus. Seoran g laki-laki botak memakai mantel panjang ungu bahkan menjabat tan gannya di jalan kemarin d ulu d an kemud ian pergi begitu saja tan pa mengatakan apa-apa. Yang paling aneh tentang orang-oran g ini adalah, nampaknya mereka langsung lenyap begitu Harry ingin melihat lebih jelas.

Di sekolah , Harry tak punya teman. Semua anak tahu bahwa geng D udley membenci Harry Potter yang aneh dengan pakaian bekasnya yang kebesaran dan kacamatanya yang bingkainya patah , dan tak seorang pun berani menentan g geng Du dley.

(35)
(36)

“Tidak, terima kasih," kata Harry. "Kasihan to ilet, belum pernah kemasu kan bend a lain yang lebih mengerikan daripada kepalamu—jan gan-jangan to ilet itu sekarang sedang mual." Kemud ian Harry lari, sebelum Dudley bisa mencerna ucapann ya tadi.

Pada su atu hari di bulan Juli, Bibi Petun ia membawa Harry ke Londo n un tuk membeli seragam Smeltings-nya. Harry dititipkan di rumah M rs Figg. Mrs Figg tidak separah biasanya. Ternyata kakinya patah gara-gara dia tersand ung salah satu kucingnya, jadi sekarang dia tak begitu su ka kucing seperti sebelumnya. Dibiarkann ya Harry men onton TV dan diberinya Harry sepotong kue cokelat yan g rasanya sudah tengik.

Malam itu Du dley berparade memakai seragam barunya di ruan g keluarga. Murid-murid Smeltings memakai jas bun tut merah tua, celana jingga selutut, dan to pi jerami rata. Mereka juga membawa tongkat, yang digunakan untuk saling pukuli kalau guru mereka sedang tidak melihat. Ini diandaikan sebagai latihan bagus u ntu k masa depan mereka.

Ketika meman dang Dudley dalam seragam barunya, Paman Verno n berkata parau bahwa ini saat paling memban ggakan dalam hidupnya. Bibi Petun ia men angis dan berkata dia tak percaya pemud a gagah dan tampan ini si Ickle Dud leykins. Harry tak bisa bica ra. Dia pikir mun gkin du a tu lang iganya su dah retak gara-gara menah an tawa.

Dapur berbau busuk ketika Harry esok paginya tu run untuk sarapan. Bau itu datangn ya dari ember metal besar di tempat cuci piring. Harry melongokn ya. Ember itu penuh go mbal koto r yang mengapung d i air berwarna abu-abu.

"Apa ini?" tan yanya kepada Bibi Petun ia. Bibir Bibi Petun ia langsung cemberut, seperti biasanya jika Harry beran i men gajukan pertanyaan.

(37)

Harry memandang ke dalam ember lagi.

"O h," komentarnya. "Tak kusangka haru s basah begitu." "Jangan bego," tu kas Bibi Petun ia. "Aku sedan g men celup pakaian lama Du dley dengan wenter abu-abu untukmu. Kalau su dah selesai nanti, akan sama seperti pun ya yang lain."

Harry jelas meragu kan ini, tetapi dia pikir lebih ba ik tidak memban tah . Dia duduk di depan meja makan dan mencoba tidak memikirkan bagaimana penampilann ya pada hari pertaman ya di Stonewall High nanti—seperti memakai poton gan-potongan kulit gajah tua, mun gkin.

Du dley dan Paman Vernon muncul, keduan ya men gernyitkan hidung gara-gara bau seragam Harry yang baru. Paman Verno n seperti biasa membuka korannya dan Dudley memu kul-mu kulkan ton gkat Smeltings-nya—yang selalu dibawanya ke man a-man a—di atas meja.

Mereka mendengar bunyi klik kotak su rat dan jatuhn ya surat-su rat di keset.

"Ambil su rat, Du dley," kata Paman Vernon dari blik koran nya.

"Suruh saja Harry."

"Ambil surat, Harry."

"Suruh saja Dudley."

"Sodo k dia dengan ton gkat Smeltings-mu , Dudley."

Harry men ghindari sodo kan tongkat Smeltings dan keuar un tuk mengambil surat. Ada tiga benda tergeletak di keset: kartu pos dari adik perempuan Paman Vernon , Marge, yang sedang berlibur di Pulau Wigh t, sebuah amplop cokelat yang kelihatannya berisi rekening tagihan, dan—surat untuk Harry.

(38)

Amplopnya tebal dan berat, terbuat dari perkamen —kulit yang digu nakan sebagai pengganti kertas. Warnan ya keku ningan d an n ama serta alamatnya d itulis dengan tinta hijau zamrud . Tak ada prangkon ya.

Membalik amplop itu dengan tangan gemetar, Harry melihat segel un gu bergambar lambang hu ruf "H" besar yang dikelilingi singa, elang, musang, dan ular.

"Cepat sedikit, Harry!" teriak Paman Verno n dari dapur. "Bu at apa kau memeriksa kalau-kalau ada bom-surat?" Dia men ertawakan leluconn ya sendiri.

Harry kembali ke dapur, masih men atap su ratnya. Diserahkannya tagihan dan kartu pos pada Paman Vernon , lalu dia dudu k dan pelan-pelan mulai membuka amplop kun ingnya.

Paman Verno n merobek surat tagihan, mendengus jijik, dan membalik kartu pos.

(39)

"Dad !" mend adak Dud ley berkata. "Dad, Harry dapat apa tu h!"

Harry sedang akan membuka lipatan suratnya, yang d itulis di atas kertas perkamen tebal yang sama d engan amplopnya, ketika tiba-tiba su rat itu disentakkan dari tan gann ya oleh Paman Verno n.

"Itu su ratku!" kata Harry, berusaha merebutnya kembali.

"Siapa yang men ulis padamu?" seringai Paman Vernon, sambil men gibaskan su rat itu dengan satu tan gan agar membuka. Dan melirik isinya. Wajahn ya berubah warna dari merah ke h ijau lebih cepat d aripada lampu lalu lintas. Dan tidak berhenti di situ . Dalam sekejap saja wajahn ya sud ah putih abu-abu seperti bubur busuk.

“P-P-Petun ia!" gagapnya.

Du dley berusaha merebut surat itu u ntuk membacanya tetapi Paman Verno n men gangkatnya tinggi-tinggi sehingga jauh dari jangkau annya. Bibi Petunia mengambilnya dengan ingin tahu dan membaca kalimat pertamanya. Sesaat kelihatan nya dia akan pingsan. Dia memegangi lehernya dan mengeluarkan su ara seperti tercekik.

"Verno n! Oh, astaga... Vernon!"

Mereka berpandangan, tampaknya lupa bahwa Harry dan Du dley masih berada di ruan gan yang sama. Dud ley tidak biasa diabaikan. Diketukn ya kepala ayahn ya keras-keras dengan to ngkat Smeltings-n ya.

“Aku mau membaca su rat itu," teriaknya.

"Aku mau membacanya," kata Harry marah, "karen a itu su ratku."

(40)

Harry bergeming.

“AKU M AU SU RATKU!" teriaknya. "Sini aku lihat!" Dud ley memaksa.

"KELUAR!" gerung Paman Vernon. Dicengkeramnya kerah baju Harry dan Dud ley dan dicampakkann ya mereka ke loro ng, lalu dibantingn ya pintu dapur menu tup. Harry dan Du dley segera berkelahi seru, tanpa su ara, memperebutkan siapa yang boleh mendengarkan lewat luban g kunci. Dudley men ang, maka Harry, kacamatan ya tergantu ng pada satu telinga, berbaring tengkurap un tu k mendengarkan dari- celah antara pintu dan lantai.

"Verno n," Bibi Petu nia berkata dengan suara gemetar, "lihat alamatn ya. Bagaimana mun gkin mereka tah u di mana dia tidur? Apa men urutmu mereka mengawasi rumah kita?"

"Mengawasi—memata-matai—mungkin juga mem buntuti kita," gumam Paman Verno n cemas.

"Tapi apa yang haru s kita lakukan, Vernon ? Apakah sebaiknya kita balas? Kita katakan bahwa kita tak ingin..."

Harry bisa melihat sepatu Paman Verno n yang hitam men gilap mond ar-man dir di dapur.

"Tidak," katan ya akhirnya. "Tidak, kita abaikan saja Jika mereka tidak mend apat balasan... ya, itu yang paling baik... kita tak akan melakukan apa-apa..."

"Tetapi..."

"Aku tak mau dengar, Petunia! Bu kankah kita sudah bersumpah waktu men gambilnya bahwa kita akan membasmi omo ng koson g yang berbahaya itu?"

(41)

So re itu sepulang kerja, Paman Verno n melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Dia mengun jungi Harry di dalam lemarinya.

"Mana su ratku” tanya Harry begitu Paman Vernon berhasil men jejalkan diri melewati pintu. "Siapa yang menulis padaku ?"

“Tidak ada. Su rat itu keliru dialamatkan padamu," kata Paman Verno n pendek. "Su dah ku bakar."

“Tidak keliru" kata Harry beran g. "Di alamatn ya tertulis lemariku."

“DIAM!" raun g Paman Verno n dan dua ekor labah-labah terjatuh dari langit-langit lemari. Dia men arik napas dalam beberapa kali dan kemudian memaksakan wajahn ya tersenyum, kelihatannya memelas sekali.

'”Er... ya, Harry... tentang lemari ini. Bibimu dan aku sudah berpikir-p ikir... kau sebetulnya sudah terlalu besar untuk tinggal di sini... kam i rasa lebih baik jika kau pindah ke kamar Dudley yang satun ya."

“Ken apa?" tanya H arry.

“Jangan tanya-tan ya!" tu kas pamann ya. "Bawa barang-barangmu ke atas, sekarang."

(42)

san gkar burun g besar, du lunya sangkar seekor burung nuri yang kemu dian ditu kar Dud ley di sekolah dengan senapan angin betulan . Senapan itu sekarang ada di rak, larasnya bengko k ked udu kan D ud ley. Rak-rak lain pen uh buku. Han ya buku-bu ku itulah yang tampaknya tak pernah disentuh .

Dari bawah terdengar Dudley berteriak-teriak kepada ibunya, "Aku tak mau dia di sana... aku butuh kamar itu... su ruh dia keluar...."

Harry men ghela napas dan membaringkan diri di tempat tidur. Kemarin dia akan bersedia memberikan apa saja un tu k bisa berad a di kamar ini. Hari ini dia lebih memilih berad a kembali di lemarinya dengan surat itu daripada di sini tan pa su rat.

Paginya saat sarapan, semua agak diam. Dudley uring-uringan . Dia sudah menjerit-jerit, memu kuli ayahn ya dengan to ngkat Smeltings-nya, pura-pura sakit, menendang ibunya, dan melempar kura-kuranya ke atap rumah kaca sampai atap itu berluban g, tapi tetap saja dia tidak memperoleh kembali kamarnya. Harry merenu ngkan saat jam begini kemarin dan men yesal sekali ken apa dia tidak membuka suratnya sewaktu masih di loron g. Paman Verno n dan Bibi! Petun ia saling pandang dengan wajah keruh.

Ketika tu kang pos tiba, Paman Vernon, yang kelihatannya men coba berbaik-baik kepada Harry, men yuruh Dudley men gambil su rat. Mereka menden gar Du dley memuku l-mukulkan ton gkat Smeltings-nya sambil tu run ke loro ng. Kemud ian dia berteriak, "Ada su rat lagi! Mr H. Potter, Kamar Paling Kecil, Privet Drive no mor 4..."

Dengan pekik tertahan Paman Vernon melompat dari kursinya d an berlari turun . Harry dibelakan gnya.|

(43)

belakan g. Setelah semenit pergulatan kalang kabut, dan semuanya kena pukul to ngkat Smeltings, Paman Vernon bangkit berdiri, tersengal-sengal, dengan su rat Harry terpegang erat di tan gan .

“Kembali ke lemarimu—maksud ku, kamarmu," katan ya kepada Harry. "Dud ley... pergi... pergi."

Harry berjiran bolak-balik men gitari kamar barunya. Ada yang tahu dia sudah pindah dari lemarinya d an mereka rupanya tah u dia belum menerima su rat pertaman ya. Jelas itu berarti mereka akan men coba lagi. Dan kali ini dia akan memastikan mereka tidak akan gagal. Dia punya rencana.

0o-^dw^-o0

Jam weker yang sudah dibetu lkan berdering pukul enam keesokan paginya. Harry cepat-cepat mematikannya dan bergan ti pakaian tan pa menimbulkan su ara. Jangan sampai keluarga Du rsley terbangun . Diam-diam dia tu run tan pa men yalakan lampu satu pun.

Dia akan men un ggu tu kang pos di su dut Privet Drive dan men gambil su rat-surat untuk rumah no mor empat lebih du lu. Jantun gnya berdegup ken cang saat dia merayap di lorong gelap men uju pintu depan...

"AAAAARR RG H !"

(44)

datang, jatu h persis di pangkuan Paman Vernon . Harry bisa melihat tiga surat yang alamatnya d itulis dengan tinta hijau.

"Berikan...," dia baru mau bicara, Paman Verno n su dah merobek-robek su rat-surat itu d i depan matanya. Paman Vemon tidak ke kantor hari itu. Dia tinggal di rumah dan memaku kotak su ratn ya.

"Kalau mereka tidak bisa mengirim su rat, mereka akan men yerah ," dia men jelaskan kepada Bibi Petunia dengan mulut penuh paku.

“Aku tak yakin, Vernon."

"O h, cara berpikir o rang-orang ini aneh, Petun ia! tidak seperti kita," kata Paman Vernon sambil memu kul paku dengan sepotong kue buah yan g baru saja d ibawakan Bibi Petunia.

(45)

rumah, digu lung dan disembunyikan dalam du a lusin telur yang dijulurkan tukan g su su mereka yang sangat kebingungan kepada Bibi Petunia lewat jendela ruang keluarga. Sementara Paman Verno n marah-marah menelepon kanto r pos dan perusahaan susu men cari orang yang bisa disalahkan , Bibi Petu nia mengh ancurkan surat-su rat itu dalam mixer makanan nya.

"Siapa sih yang begitu ingin bicara denganmu?" Dud ley bertanya kepada Harry dengan keheranan .

o)0o-d.w-o 0(o

Pada hari Minggu pagi, Paman Vernon duduk di meja untuk sarapan, kelihatan lelah tetapi senang.

"Tu kang pos tidak datang pada hari Minggu," dia men gingatkan mereka dengan riang seraya mengoleskan selai pada korann ya, "jadi tak ada surat sialan hari ini..."

Ada yang berdesis melun cur turun dalam cerobo ng asap ketika Paman Vernon bicara, dan men gemplang belakan g kepalanya. Detik berikutn ya tiga puluh atau empat puluh surat melun cur-luncur dari perapian seperti peluru. Keluarga Dursley men und uk men ghind ar, tetapi Harry melompat mencoba men angkap satu di antaran ya....

"Keluar! KELUAR!"

(46)

"Sudah kelewatan," kata Paman Verno n, berusaha berbicara dengan tenan g, tapi pada saat bersamaan men cabuti kumisnya dengan panik. "Aku mau kalian semua kembali ke sini lima men it lagi, siap berangkat. Kita akan pergi. Bawa saja pakaian secukupnya. Jangan membantah !"

Paman Vernon kelihatan berbahaya sekali dengar separo kumisnya len yap, sehingga tak seoran g pun beran i membantah. Sepuluh menit kemud ian mereka berhasil keluar dari pintu yang su dah dipaku rapat dan berada dalam mobil, yang ngebut men uju jalan tol. Du dley terisak-isak di jok belakan g. Ayahnya tad i memu kul kepalanya gara-gara mereka harus menunggun ya men coba menjejalkan televisi, video, dan komputernya ke dalam tas olah raganya.

Mo bil terus meluncur. Terus meluncur. Bah kan Bibi Petunia pun tak beran i bertanya ke mana mereka pergi. Sekali-sekali Paman Verno n tiba-tiba men ikung tajam dan melun curkan mobilnya ke arah berlawanan .

“Sesatkan mereka... sesatkan mereka," gumam Paman Verno n setiap kali dia melaku kan ini.

Mereka bahkan tidak berhenti untuk makan sepanjang hari. Saat malam tiba, Dudley su dah menangis meraun g-rau ng. Belum pernah dia mengalami hari seburuk ini. Dia lapar, dia tidak bisa menonton lima acara televisi yang ingin ditonton nya, dan belum pernah dia melewatkan waktu selama tan pa meledakkan Alien di layar komputernya.

Paman Verno n akhirnya berhenti di depan hotel su ram di luar sebuah kota besar. Dud ley dan Harry berbagi kamar dengan du a tempat tidu r dan seprai lembap yang berbau lumut. Dudley men dengkur, tetapi Harry tak bisa tidu r. Dia du du k di ambang jen dela, memandan g lampu-lampu mobil yang lewat dan bertanya-tanya dalam hati....

(47)

Mereka makan cornflake melempem dan tengik serta tomat kalen gan di atas roti panggan g sebagai sarapan keesokan

"Apakah tidak sebaiknya kita pulang saja, Sayan g? Bibi Petu nia menyaran kan dengan takut-takut beberapa jam kemu dian , tetapi Paman Verno n kelihatann ya tidak men dengarnya. Entah apa yang dicarinya, tak seoran g pun tah u. Dia membawa mereka ke tengah hutan keluar dari mobilnya, meman dang berkeliling, men ggelen gkan kepala, masu k lagi ke dalam mobil dan mobil pun meluncur lagi. Hal yang sama terjadi di tengah sawah yan g sedang dibajak, di tengah jembatan gan tung, dan di atas tempat parkir mobil yang bertingkat.

(48)

tepi pantai, men gunci mereka bertiga di dalamnya, lalu men ghilang.

Hu jan mulai tu run . Tetesnya yang besar-besar mengetu k-ngetuk atap mobil. Dudley tersedu-sedu.

"Ini hari Sen in," katan ya kepada ibunya. "Ada acara si Hebat Hu mberto d i televisi malam ini. Aku mau non ton ."

Senin. Harry jadi ingat sesu atu . Kalau hari ini Senin, dan Du dley bisa dian dalkan dalam hal ini, sehu bun gan dengan kegemarannya non ton televisi— maka besok, Selasa, adalah hari ulan g tahun Harry yang kesebelas. Tentu saja hari-hari ulan g tahu nnya yang telah lewat bukanlah hari yang men yenan gkan. Tah un lalu, misaln ya, keluarga Dursley men ghadiahinya satu gantungan mantel dan sepasang kaus kaki bekas Paman Vernon . Tapi, kita kan tidak berumur sebelas tiap hari.

Paman Vernon kembali sambil tersenyum. Dia juga membawa bun gkusan kecil panjang dan tidak men jawab ketika ditanya Bibi Petunia apa yang dibawanya itu

"Sudah kutemukan tempat yang sempurna!" kata-n ya. "Ayo, semua keluar!"

Di luar mobil ud ara dingin sekali. Paman Verno n menunjuk sesuatu yang kelihatan seperti batu karang besar yang menjo rok ke laut. Bertengger di atas karang itu ada gubu k kecil yang san gat kumu h d an bobrok. Kelihatan menyedihkan sekali. Satu hal sudah jelas, tak ad a televisi di gubuk itu .

"Malam ini diramalkan akan ada badai!" kata Paman Verno n senang, sambil men epukkan tangan. "Dan Bapak ini su dah berbaik hati mau meminjamkan perahun ya!"

(49)

"Aku su dah beli bekal untuk kita," kata Paman Vernon, "jadi, semua naik!"

Dingin sekali di perahu , sampai mereka serasa membeku. Cipratan air lau t d an tetes hu jan sedingin es merayap menu runi tengkuk dan angin dingin menerpa wajah mereka. Setelah rasan ya berjam-jam kemud ian, tibalah mereka di batu karang. Paman Verno n, terpeleset-peleset, memimpin men uju kegubu k reyot itu .

Bagian dalam gubuk su ngguh menjijikkan. Bau ganggang lau t men yengat, angin bersuit-suit menembus lewat celah-celah di dinding papan. Perapiann ya lembap dan koson g. Hanya ada satu kamar. Bekal Paman Vernon ternyata sebun gkus keripik dan empat pisang untuk setiap orang. Dia men coba men yalakan api, tetapi keempat bun gkus keripik yan g kini sud ah kosong itu cuma men gerut d an berasap.

"Surat-surat itu sekarang bisa digu nakan, eh ?" katanya riang.

Paman Verno n sedang senang sekali. Jelas dia mengira tak akan ada oran g yang bisa men gejar mereka dalam badai untuk men gantar su rat. Harry dalam hati men gakui, dan ini membuatn ya sedih. Ketika malam tiba, badai yang dijanjikan men erjang di sekitar mereka. Cipratan air dari ombak-ombak yang bergulun g tinggi men yembur ke dinding pondok dan angin ken cang mengguncangkan jendela-jendela yang kotor. Bibi Petu nia menemukan beberapa selimut apak bulukan dari kamar dan menyiapkan tempat tidu r untuk Dudley di sofa yang sudah berluban g- luban g dimakan ngengat. Dia dan Paman Vernon tidur di tempat tidu r reyot di kamar dan Harry dibiarkan men cari sendiri tempat yang paling empuk di lantai dan meringkuk di bawah selimut paling tipis dan paling compang-camping.

(50)

lapar berkeron congan. Dengkur Du dley teredam oleh gemuruh guru h yan g mulai menggelegar menjelang tengah malam. Jarum arloji Du dley yang men yala—tangan gemuknya yang memakai arloji berjun tai ke bawah sofa—menun jukkan bahwa sepuluh men it lagi Harry akan berusia sebelas tahun . Dia berbaring meman dangi saat ulan g tahun nya yang berdetik-detik semakin dekat, bertan ya-tanya apakah keluarga Dursley akan ingat so al ulan g tahun nya bertanya-tanya di manakah gerangan oran g yang menulis su rat padanya sekarang.

Lima men it lagi. Harry men dengar sesu atu yang berkeriut di luar. Dia berharap atap gubu k tidak akan runtu h, walaupun kalau iya, dia mun gkin akan lebih han gat. Empat men it lagi. Mu ngkin rumah di Privet Drive akan penu h su rat kalau mereka pulang n anti, seh ingga dia bisa mencuri satu.

Tiga men it lagi. Ombakkah itu, yang menghantam karang begitu keras? Dan (du a menit lagi) bun yi derak aneh apa itu? Apa karangn ya remuk d an berjatuhan ke laut?

Semenit lagi dia akan berusia sebelas tahun. Tiga puluh detik... du a puluh... sepuluh... sembilan, mun gkin dia akan memban gun kan Dudley, sekadar su paya Dudley marah saja... tiga... du a... satu ...

BO OM!.

Seluruh gubuk bergetar dan Harry langsung dudu k tegak, meman dang pintu. Ada oran g di luar pintu menggedor-gedor mau masuk.

(51)

G UBRAAAK!

Pintu dihantam begitu keras sampai terlepas dari engselnya, dan dengan bunyi memekakkan telinga pintu itu terempas ke lantai.

(52)

Si raksasa memaksakan diri masu k, men unduk sehingga kepalanya cuma men yentuh langit-lan git. Dia membungkuk, memu ngut pintu, dan d engan mud ah memasan gnya kembali ke engselnya. Deru badai di luar teredam sedikit. Dia men oleh meman dang mereka semua.

"Bisa bikinkan teh, kan? Tidak gampang datang ke sini..." Dia melangkah ke sofa. Dudley duduk membeku ketakutan.

"Minggir, karung besar," kata oran g asing itu.

Du dley mencicit dan bersembunyi di belakan g punggun g ibunya. Bibi Petun ia send iri berjongko k ketakutan di belakan g Paman Verno n.

"Nah , ini dia H arry!" kata si raksasa.

Harry men don gak memand ang wajah liar dan galak itu, dan melihat sudut mata kumbangnya berkerut penuh senyum.

"Terakhir kali aku melihatmu, kau masih bayi," kata si raksasa. "Kau mirip sekali ayahmu, tapi matamu mata ibumu."

Paman Verno n mengeluarkan suara serak yang aneh. "Saya meminta Anda segera pergi, Sir!" katan ya. "And a menjebol pintu d an masu k tanpa izin."

"Ah, tu tu p mulut, Du rsley, jangan so k," kata si raksasa. Tan gannya men jangkau ke belakan g sofa, menjambret senapan dari tan gan Paman Vernon, membengko kkann ya seakan senapan itu terbuat dari karet saja, lalu melemparkann ya ke su dut ruangan.

Paman Verno n men geluarkan su ara aneh lagi, seperti cicit tikus yang terinjak.

(53)

Dari saku dalam mantel hitamnya dia men geluarkan kotak yang agak penyok. Harry membukanya dengan tangan gemetar. Di dalam kotak itu ada kue cokelat besar dengan tulisan Selamat Ulan g Tahun, Harry dari gula hijau.

Harry men engadah menatap si raksasa. Dia bermaksud men gucapkan terima kasih, tetapi kata-katan ya mengh ilang dalam perjalanan ke mulutnya, dan yang dikatakann ya malah, "Siapa kau?"

Si raksasa tertawa.

"Betul, aku belum perkenalkan diri. Ru beus Hagrid, pemegan g kunci dan pengawas binatang liar di Hogwarts."

Dia men gulu rkan tangan yang besar sekali dan mengguncang seluruh lengan Harry.

"Bagaimana tehn ya tad i, eh?" katan ya, seraya men ggosok-goso kkan tangannya. "Aku juga tidak tolak minuman yang lebih keras, kalau memang ada."

Pandangann ya tertuju ke perapian dengan bungkus keripik yang sud ah mengerut d an d ia menden gus. Dia membungkuk ke perapian. Mereka tidak bisa melihat apa yang dilakukan nya, tetapi ketika dia tegak lagi sedetik kemudian, api su dah men yala-n yala. Api itu memenuh i pondok yang lembap dengan cahayan ya yang bergerak-gerak dan Harry merasa kehangatan men yelubun ginya, seakan dia masuk ke dalam bak berisi air panas.

(54)

berminyak yang sedikit gosong dari tusukannya, Dudley mulai gelisah . Paman Verno n berkata tajam, "Jangan sentuh apa pun yang d iberikann ya padamu, Dudley."

Si raksasa tertawa seram. "Anakmu yang sudah sebulat bola tidak perlu digemukkan lagi, Du rsley, jangan khawatir."

Dia men yerah kan sosis-sosis itu kepada Harry. Harry, yang su dah lapar sekali, belum pernah makan makanan selezat itu, tetapi dia tetap tak bisa melepas pandangannya dari si raksasa. Akhirnya, karen a tak seoran g pun kelihatannya akan men jelaskan, dia berkata, "Maaf, tapi saya tetap belum tahu siapa Anda."

Si raksasa men ghirup tehn ya dalam tegukan besar, dan melap mulut dengan punggung tangann ya.

"Panggil aku Hagrid," katan ya. "Semua panggil aku begitu. Dan seperti sud ah ku bilang, aku pemegang kunci di Hogwarts— kau tentunya sudah tahu tentang Hogwarts."

"Eh... belum," kata H arry.

Hagrid kelihatann ya terperangah.

"Maaf," kata Harry cepat-cepat.

"Maaf?" balas Hagrid, menoleh menatap keluarga Du rsley yang men gerut dalam bayangan kegelapan. "Merekalah yang haru s minta maaf! Aku tahu suratmu tidak kauterima, tapi tak pernah kuduga kau tidak tahu tentan g Ho gwarts. Astaga! Tak pernah kah kau ingin tahu di mana oran gtuamu belajar semua itu?"

"Semua apa?" tanya H arry.

"SEMU A APA?" gelegar Hagrid. "Tu nggu dulu!"

(55)

"Apa ini berarti," dia men ggeram kepada keluarga Du rsley "bahwa anak ini... anak ini!... tidak tah u tentang... tidak tah u APA-APA?"

Harry merasa ini su dah kelewatan. Dia kan sekolah , dan angka-angkanya juga tidak buruk. "Aku tahu beberapa hal," katan ya. "Aku bisa M atematika dan pelajaran-pelajaran lain."

Tetapi Hagrid hanya mengibaskan tan gann ya dan berkata, "Tentan g du nia kita, maksud ku. Dun iamu, Duniaku. Du nia oran gtuamu ."

"Du nia apa?"

Hagrid kelihatann ya sud ah siap meledak.

"DU RSLEY!" teriakann ya mengguntu r.

Paman Vernon, yang sudah pucat pasi, menggumamkan sesuatu yang kedengarann ya seperti "Mimbel..wimbel!" Hagrid men atap liar pada Harry. "Tapi kau pasti tahu tentang ayah d an ibumu," katan ya. "Maksud ku, mereka terkenal. Kau terkenal."

"Apa? Ja-jad i, ayah d an ibuku terkenal?"

"Kau tak tah u... kau tak tah u..." Hagrid men yisir rambut dengan jari-jarinya, memand ang H arry keheranan.

"Kau tak tahu . kau ini apa?" katanya akh irnya.

Paman Verno n mendadak menemukan suaranya.

"Sto p!" perintahn ya. "Stop di sini, Sir. Saya larang Anda memberitah u anak ini apa pun !"

Oran g yang lebih berani dari Verno n Du rsley pastilah sudah gemetar menerima pandangan marah Hagrid. Ketika Hagrid bicara, setiap su ku katanya gemetar saking marahn ya dia.

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (331 pages)
Related subjects : HARRY POTTER