BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH - BAB III Buku RKPD 2016

Gratis

0
0
15
1 year ago
Preview
Full text

  Subang

  1

  6 BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN

KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

  Arah kebijakan ekonomi daerah disusun berdasarkan kajian internal dan eksternal serta

berpedoman pada dokumen RPJMD Kabupaten Subang Tahun 2014-2018. Untuk menjamin

keberlanjutan arah pembangunan, arah kebijakan ekonomi Kabupaten Subang Tahun 2016

harus sejalan dengan kebijakan ekonomi nasional dan provinsi Tahun 2016. Berikut arah

kebijakan ekonomi daerah Tahun 2016 yang mendasarkan pada perkembangan ekonomi

daerah, nasional dan global serta tantangan yang masih akan dihadapi

3.1.1 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2014 dan 2015 dan Perkiraan Tahun 2016

  Kondisi perekonomian daerah Kabupaten Subang sangat dipengaruhi oleh kondisi

perekonomian nasional dan juga kondisi perekonomian Provinsi Jawa Barat. Semakin baik

kondisi perekonomian nasional akan berdampak langsung pada kondisi perekonomian di

provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Subang.

a. Pertumbuhan Ekonomi

  Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Subang dalam kurun waktu lima tahun terakhir

menunjukkan kecenderungan semakin membaik dan meningkat, pada tahun 2013

pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan dan menjadi sebesar 3,10% dan pada tahun

2014 naik kembali sebesar 4,10%. Secara lengkap pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dalam

tabel 3.1. dan Grafik 3.1.Tabel 3.1 Produk Domestik Regional Bruto dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Subang tahun 2009-2014* Harga Berlaku Harga Konstan (2000) Tahu (Rupiah) Pertumbuhan (Rupiah) Pertumbuhan n (%) (%)

  • 2009 14.767.393.000 7.066.546.000 2010 15.894.711.000 7,63 7.377.211.000 4,34 2011 17.120.524.000 7,71 7.701.017.000 4,45 2012 18.559.472.180 8,40 8.049.444.790 4,52 2013 19.823.498.000 6,81 8.299.085.000 3,10 2014* 21.066.210.990 6,27 8.639.429.495 4,10
Subang

  1

  4.52

  Grafik 3.2 Kinerja Perekonomian per Sektor di Kabupaten Subang

  Kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang ekonomi memberikan tanda ke arah

perbaikan ekonomi. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai salah satu

indikator ekonomi menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012 PDRB

Kabupaten Subang berdasarkan harga berlaku sebesar Rp. 18.559.472.180,- pada tahun 2013

naik menjadi Rp. 19.823.498.000,- dan pada tahun 2014 diprediksikan menjadi

Rp. 21.066.210.990,- Sedangkan berdasarkan harga konstan tahun 2000, pada tahun 2012

mencapai Rp. 8.049.444.790,-, pada tahun 2013 naik menjadi Rp. 8.299.085.000,- dan pada

tahun 2014 diprediksikan mencapai Rp. 8.639.429.495,-. Secara lengkap kinerja

perekonomian Kabupaten Subang dapat dilihat pada Grafik 3.2 berikut.

  5.61 LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI LPE SUBANG LPE JAWA BARAT

  6.3

  6.21

  6.48

  6.2

  4.1

  3.1

  4.45

  6 Grafik 3.1 Trend Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Subang tahun 2010-2014*

  4.34

  7

  6

  5

  4

  3

  2

  1

  2010 2011 2012*) 2013**) 2014 (est)

b. Produk Domestik Regional Bruto

  Subang

  1

  6

  14

  12 PERTANIAN PERTAM-

  10 BANGAN

  8.61 INDUSTRI

  8 LISTRIK, GAS

  6.15

  6.67

  5.93 DAN AIR

  6

  5.39 KONTRUKSI PERDA-

  4

  3.99 GANGAN

  3.14 ANGKUTAN

  2

  1.58

  1.29 KEUANGAN JASA - JASA 2011 2012*) 2013**)

  • 2

  Laju pertumbuhan sektor Pertanian selalu berada dibawah laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Subang secara keseluruhan, sementara itu hal yang cukup mendapatkan perhatian adalah laju pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan industri cenderung mempunyai pola yang berlawanan.

  Pada Grafik 3.2 terlihat bahwa Sektor industri mempunyai kinerja yang baik, berada di puncak pertumbuhan pada tahun 2012, sedangkan kinerja sektor perdagangan dan pertanian masih harus terus ditingkatkan.

c. Pendapatan per Kapita

  Pendapatan perkapita merupakan salah satu variabel atau angka yang dipakai untuk melihat keberhasilan pembangunan dari aspek perekonomian suatu wilayah. Perkembangan pendapatan perkapita Kabupaten Subang atas dasar harga berlaku maupun harga konstan dari tahun 2011 hingga 2013 menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut :

Tabel 3.2 Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita Kabupaten Subang Tahun 2011-2013 PDRB PER KAPITA PDRB PER KAPITA TAHUN (ADHB) (ADHK)

  2011 11.479.006 5.163.395 2012 12.393.629 5.375.252

  Subang

  1

  6 2013 13.208.948 5.497.706

3.1.2 Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2015 dan Tahun 2016

  

Berdasarkan kondisi dan perkembangan perekonomian Kabupaten Subang maka tantangan

yang dihadapi pada Tahun 2015 dan 2016 adalah sebagai berikut : a. Tantangan

  1) Percepatan pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan pertumbuhan sektor- sektor ekonomi dominan sehingga dapat mendorong peningkatan investasi dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dengan fokus utama untuk menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan;

  2) Menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. dengan mengadakan perbaikan di bidang peraturan perundang- undangan, pelayanan, dan kemudahan dalam perijinan; 3) Membangun landasan yang lebih kuat untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. didukung oleh kelembagaan yang memadai, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup; 4) Optimalisasi pemeliharaan infrastruktur untuk mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

  b. Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2015 dan 2016 Melihat perkembangan perekonomian Kabupaten Subang tahun 2011–2014, proyeksi

perekonomian tahun 2015, perekonomian Kabupaten Subang pada Tahun 2015 dan tahun

  2016 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang positif.

  Untuk meningkatkan sinergitas dan kesinambungan kebijakan pembangunan antara

Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dengan strategi yang

mengarah pada pro poor, pro job, pro growth dan pro environment, maka kebijakan umum

perencanaan pembangunan daerah utamanya diarahkan untuk :

  1) Mendorong percepatan dan pemerataan pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2016 yang diprediksikan pada kisaran 6% dan Kabupaten Subang pada kisaran 5% dengan asumsi adanya dukungan ketersediaan infrastruktur, kawasan industri yang terintegrasi dengan sentra-sentra produksi serta iklim usaha yang kondusif; 2) Menurunkan angka inflasi Provinsi Jawa Barat Tahun 2016 sebesar 5 ± 1% dan Kabupaten Subang sebesar 5,0% dengan asumsi terjaganya ketersediaan bahan

  Subang

  1

  6 kebutuhan pokok, kelancaran distribusi, stabilitas harga barang dan jasa serta ekspektasi masyarakat

  3) Mengupayakan percepatan penurunan tingkat kemiskinan Provinsi Jawa Barat Tahun 2016 sebesar 10% dan Kabupaten Subang sebesar 11 - 10% melalui keterpaduan dan perluasan intervensi program/kegiatan sektoral berdimensi kewilayahan, mengutamakan pada wilayah sasaran prioritas dengan tingkat kemiskinan tinggi dengan pola quick win;

  4) Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Jawa Barat Tahun 2016 sebesar 8-7 % dan Kabupaten Subang pada kisaran 8%. 5) Mengupayakan peningkatan infrastruktur utamanya jalan, jembatan, jaringan irigasi dan air bersih sebagai kesatuan sistem untuk mendukung daya saing dan keseimbangan pembangunan antar wilayah 6) Meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian dalam arti luas serta pengendalian alih fungsi lahan untuk mendukung ketahanan pangan 3.2 Arah kebijakan Keuangan Daerah.

  Kabupaten Subang dalam hal pengelolaan keuangan daerah telah menerapkan pola

pengelolaan keuangan berbasis kinerja sebagaiman yang diamanatkan dalam Peraturan

Pemerintah Nomor 8 tahun 2006 tentang laporan keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam menyelenggarakan

pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk segala bentuk kekayaan yang

berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah. Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah

akan berfungsi optimal bila penyelenggaraan urusan pemerintahan didukung dengan sumber –

sumber penerimaan yang cukup berdasarkan peraturan perundang – undangan (money follow

function). Analisis keuangan daerah pada prinsipnya dimanfaatkan untuk memberi gambaran

tentang kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan

pembangunan daerah.

  Menganalisis pengelolaan keuangan daerah dan kerangka pendanaan harus memahami

jenis obyek pendapatan, belanja dan pembiayaan sesuai dengan kewenangan serta struktur

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Oleh sebab itu sebelum penentuan arah Kebijakan

Umum Pendapatan dan Belanja Daerah untuk mendukung pembangunan Kabupaten Subang

lima tahunan melalui rencana keuangan tahun dapat dijelaskan sebagaiamana disebutkan

dalam Peraturan Mentri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 sebagaimana telah diubah

beberapa kali dan yang terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 21 tahun

  Subang

  1

  6

2011 tentang Pendanaan Pengelolaan Keuangan Daerah disebutkan bahwa Struktur Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah meliputi : a) Pendapatan Daerah; b) Belanja Daerah;

c) Pembiayaan Daerah. Dari struktur APBD tersebut untuk dapat menilai kinerja pelaksanaan

APBD dilakukan dengan menganalisis dari masing-masing susunan/struktur APBD dimaksud

dan perkembangan Neraca Daerah.

  Menyadari akan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang relatif kecil, maka Pemerintah

Kabupaten Subang telah mengoptimalkan penerapan pola intensifikasi maupun ektensifikasi

terhadap sumber-sumber pendapatan. Demikian pula terhadap sumber-sumber pendapatan

yang bersumber dari pemerintah atasan maupun pusat telah dimanfaatkan sebagai motorisator

pembangunan yang diharapkan mampu meningkatkan pelaksanaan pembangunan daerah.

  Dalam upaya meningkatkan pelaksanaan pembangunan diberbagai bidang, stabilitas

perekonomian adalah merupakan salah satu prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan

kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan yang tinggi dan peningkatan kualitas pertumbuhan,

serta dapat memberikan kepastian berusaha bagi para pelaku ekonomi, oleh karenanya

stabilitas ekonomi makro akan dapat dicapai apabila hubungan variabel ekonomi makro yang

utama berada dalam keseimbangan, neraca pembayaran, penerimaan dan pengeluaran fiskal,

serta tabungan dan investasi Perekonomian yang tidak stabil akan dapat menimbulkan biaya

yang tinggi bagi perekonomian dan akan menyulitkan masyarakat, baik swasta maupun

rumah tangga. Tingkat investasi yang rendah akan menurunkan potensi pertumbuhan

ekonomi jangka panjang dan adanya fluktuasi yang tinggi dalam pertumbuhan produksi, hal

ini sangat berpengaruh terhadap tenaga kerja menganggur. Inflasi yang tinggi akan

merupakan beban yang sangat berat dan sangat dirasakan oleh penduduk miskin, dimana daya

beli masyarakat akan semakin rendah. Kebijakan keuangan diarahkan pada :

  a. Menyeimbangkan antara peningkatan alokasi anggaran dengan upaya untuk memantapkan kesinambungan anggaran melalui peningkatan penerimaan daerah untuk dapat menaikkan belanja daerah, dengan harapan penurunan defisit anggaran secara bertahap.

  b. Peningkatan penerimaan daerah terutama ditempuh melalui reformasi kebijakan dan administrasi perpajakan dan sumber-sumber penerimaan daerah yang syah lainnya;

c. Peningkatan efektivitas dan efisiensi pengeluaran daerah ditempuh melalui mempertajam pengalokasian anggaran agar lebih terarah dan tepat sasaran.

3.2.1 Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan

  Subang

  1

  6 Dalam upaya mencapai pembangunan daerah memerlukan dukungan penganggaran

yang berasal dari berbagai sumber, antara lain dari Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari:

Pajak Daerah, Retribusi, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan serta lain-lain

PAD yang sah. Selain itu juga dari Dana Perimbangan yang terdiri dari Bagi Hasil Pajak/

Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus. Anggaran Pendapatan Daerah

disusun sebagai kesatuan sistem komprehensif dan tersusun atas dasar potensi yang dikelola

oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) penghasil Pendapatan Daerah.

  Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan yang merupakan hak daerah dalam satu

tahun anggaran yang akan menjadi penerimaan daerah atau pendapatan daerah, dimana

merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber

pendapatan. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan pendapatan daerah

adalah bahwa setiap upaya meningkatkan pendapatan tidak menambah beban bagi

masyarakat. Meskipun dari sisi pendapatan daerah, kemampuan keuangan daerah masih jauh

dari yang diharapkan namun Pemerintah Kabupaten Subang selalu berupaya untuk

mengembangkan dan menggali potensi pendapatan yang ada dalam rangka memperkuat

pelaksanaan otonomi daerah dan meningkatkan kemandirian daerah.

  Kerangka pendanaan disusun untuk memberikan gambaran proyeksi kinerja pendapatan

yang akan berpengaruh terhadap kebijakan pembangunan yang akan diambil pemerintah

daerah selama kurun waktu lima tahun mendatang. Kemampuan keuangan daerah Kabupaten

Subang untuk mendanai pembangunan daerah pada lima tahun mendatang diprediksikan

mengalami peningkatan, namun relatif kecil. Pendapatan daerah diproyeksi secara moderat

dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 11% untuk PAD, sekitar 10% untuk dana perimbangan,

dan sekitar 9% untuk lain-lain pendapatan yang sah. Sem entara itu penerimaaan pembiayaan

terutama berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya

(SiLPA) tahun lalu untuk menutup defisit anggaran.

  Dalam penyusunan kerangka pendanaan, terdapat beberapa jenis belanja daerah dan

pengeluaran pembiayaan yang bersifat periodik, wajib dan mengikat, serta prioritas utama.

Belanja periodik yang temasuk kategori wajib dan mengikat serta prioritas utama di

Kabupaten Subang meliputi: belanja pegawai, belanja hibah, belanja bantuan sosial dan

belanja bantuan keuangan kepada pemerintah desa (pada pos belanja tidak langsung), dan

belanja pegawai pada pos belanja langsung. Sementara itu pengeluaran pembiayaan yang

wajib dan mengikat serta prioritas utama meliputi Penyertaan modal (Investasi) pemerintah

daerah.

  Subang

  1

  6 Dengan memperhatikan kinerja selama lima tahun yang lalu, pengeluaran belanja tidak langsung yang bersifat wajib dan mengikat di Kabupaten Subang yang paling besar adalah pada belanja pegawai, diproyeksikan rata-rata tumbuh sebesar 8,30%. Peningkatan belanja pegawai dipengaruhi oleh pengangkatan CPNS kategori 2 pada tahun 2014 serta hal-hal rutin seperti peningkatan gaji berkala, gaji ke-13 dan penambahan cadangan sekitar 2,5% atau sesuai dengan keputusan dari pemerintah mengenai kenaikan gaji pegawai. Belanja tidak langsung lainnya yang cukup besar adalah belanja bantuan keuangan kepada pemerintah desa, ditetapkan mengalami kenaikan dengan harapan meningkatkan pembangunan di wilayah perdesaan. Belanja bagi hasil kepada pemerintah desa diprediksikan mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan perolehan pajak daerah. Sementara itu belanja bunga diperkirakan tidak mengalami perubahan.

  

Berdasarkan Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004, Sumber-sumber pendapatan

daerah meliputi pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan, lain-lain pendapatan daerah dan pinjaman daerah. PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, penerimaan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Dana perimbangan meliputi bagi hasil pajak dan bukan pajak, DAK, DAU dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Adapun proyeksi Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Subang Tahun 2016 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3 Proyeksi Pendapatan dan Belanja Daerah

  

Kabupaten Subang

BERTAMBAH/

  

NO URAIAN APBD 2015 RKPD 2016 %

(BERKURANG)

1. PENDAPATAN DAERAH 2,219,884,543,487 1,784,672,137,801 (435,212,405,687) (19.61) PENDAPATAN ASLI 1.1 251,064,375,850 298,434,194,843 47,369,818,993

  18.87 DAERAH 1.1.

  Pajak Daerah 90,979,516,250 95,528,492,063 4,548,975,813

  5.00

  1

  Subang

  1

  6 1.1.

  Retribusi Daerah 19,108,859,600 19,882,202,780 773,343,180

  4.05

  2 Hasil Pengelolaan 1.1.

  Kekayaan Daerah yang 13,115,000,000 13,911,000,000 796,000,000

  6.07

  3 Dipisahkan

  1.1. Lain-lain pendapatan asli 127,861,000,000 169,112,500,000 41,251,500,000

  32.26 4 daerah yang sah

  • 1.2 DANA PERIMBANGAN 1,447,839,682,000 1,363,237,942,958 (84,601,739,042) (5.84)

  Dana Bagi Hasil 1.2. Pajak/Bagi Hasil Bukan 201,511,707,000 190,043,607,958 (11,468,099,042) (5.69)

  1 Pajak 1.2.

  • Dana Alokasi Umum 1,173,194,335,000 1,173,194,335,000

  2 1.2.

  • Dana Alokasi Khusus 73,133,640,000 (73,133,640,000) (100.00)

  3 Lain-lain Pendapatan

  

1.3 520,980,485,637 123,000,000,000 (397,980,485,637) (76.39)

Daerah yang Sah

  1.3. Pendapatan Hibah - 3,202,855,122.00 (3,202,855,122) (100.00)

  1 Dana Bagi Hasil Pajak dari 1.3.

  Provinsi dan Pemerintah 121,479,434,478 123,000,000,000 1,520,565,522

  1.25

  3 Daerah Lainnya

  1.3. Dana Penyesuaian dan

  • 396,298,196,037 (396,298,196,037) (100.00)

  4 Otonomi Khusus Bantuan Keuangan dari 1.3. Provinsi atau Pemerintah - - -

  5 Daerah lainnya

2 BELANJA DAERAH 2,350,244,680,037 2,012,902,000,000 (337,342,680,038) (14.35)

  

2.1 Belanja Tidak Langsung 1,542,560,717,365 1,228,702,000,000 (313,858,717,365) (20.35)

2.1.

  Belanja Pegawai 1,303,689,811,328 990,000,000,000 (313,689,811,328) (24.06)

  1 2.1.

  Belanja Subsidi - - -

  3 2.1.

  Belanja Hibah 51,129,230,000 51,000,000,000 (129,230,000) (0.25)

  4 2.1.

  Belanja Bantuan Sosial 11,031,500,000 11,000,000,000 (31,500,000) (0.29)

  5 Belanja Bantuan

  2.1. Keuangan Kepada 168,467,816,037 168,460,000,000 (7,816,037) (0.00)

  7 Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa

  2.1. Belanja Tidak Terduga 8,242,360,000 8,242,000,000 (360,000) (0.00)

  8

  

2.2 Belanja Langsung 807,683,962,672 784,200,000,000 (23,483,962,673) (2.91)

Surplus (Defisit) (130,360,136,550) (228,229,862,199) (97,869,725,649) 75.08 -

  3

  • - PEMBIAYAAN DAERAH

  3.1 Penerimaan Pembiayaan 137,590,136,550 242,059,862,199 104,469,725,649

  75.93 Sisa Lebih Perhitungan 3.1.

  Anggaran Daerah Tahun 137,590,136,550 242,059,862,199 104,469,725,649

  75.93

  1 Sebelumnya (SiLPA)

  Subang

  1

  6 Jumlah Penerimaan 137,590,136,550 242,059,862,199 104,469,725,649

  75.93 Pembiayaan

  • - Pengeluaran 3.2 7,230,000,000 13,830,000,000 6,600,000,000

  91.29 pembiayaan

  3.2. Pembentukan Dana

  1 Cadangan Penyertaan modal 3.2. (Investasi) pemerintah 7,230,000,000 13,830,000,000 6,600,000,000

  91.29

  2 daerah

  3.2.

  • Pembayaran pokok utang

  3

  • - Jumlah Pengeluaran 7,230,000,000 13,830,000,000 6,600,000,000

  91.29 Pembiayaan Pembiayaan Neto 130,360,136,550 228,229,862,199 97,869,725,649

  75.08 Sisa Lebih Pembiayaan

3.3 Anggaran Tahun - - - Berkenaan (SILPA)

3.2.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah

3.2.2.1 Arah Kebijakan Pendapatan Daerah

  

Kebijakan pengelolaan pendapatan daeah diarahkan untuk menggali dan

mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerah melalui upaya intensifkasi dan ekstensifkasi pendapatan daerah termasuk mengembangkan sektor-sektor potensial yang selama ini belum optimal. Optimalisasi peningkatan pendapatan daerah terhadap obyek yang betul-betul potensial dilakukan dengan tidak memberatkan masyarakat serta tidak merusak lingkungan.

  

Merujuk pada konsep hak dan kewajiban, dan menerapkannya pada

pengelolaan keuangan daerah, maka pendapatan daerah merupakan hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih, dan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan.

  

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah, komponen pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD); Dana Perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. Pendapatan Asli Daerah terdiri dari pajak daerah; retribusi daerah; hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan lain-lain PAD yang sah. Dana Perimbangan, yang berasal dari pemerintah pusat, terdiri dari Dana Alokasi Umum, dan Dana Bagi Hasil. Dana Bagi Hasil terbagi menjadi Dana Bagi Hasil Pajak, dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak. Selain itu lain-lain pendapatan daerah yang sah dapat berupa hibah, dana darurat, dan bantuan keuangan pemerintah daerah lainnya.

  Subang

  1

  6 Pada dana perimbangan ini (DAU, DAK, bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak), akurasi penggunaan pendekatan metode proyeksi belum ada yang benar

  • – benar dapat dipergunakan sebagai pedoman, karena penentuan dana perimbangan yang berasal dari pusat merupakan pemberian langsung (given) dan sangat tergantung kepada beberapa hal antara lain:

  a. Kebutuhan fskal adalah merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar, dengan dasar ukuran jumlah penduduk, luas wilayah, indeks kemahalan konstruksi, PDRB perkapita dan IPM (Indeks Pembangunan Manusia).

b. Kapasitas fskal adalah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD dan dana bagi hasil.

  

Pengelolaan pendapatan daerah harus memperhatikan upaya untuk

meningkatkan pajak dan retribusi serta penerimaan daerah lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pendapatan daerah dalam struktur APBD Kabupaten Subang masih merupakan momen yang cukup penting peranannya dalam mendukung penyelengggaraan pemerintahan maupun pelayanan publik.

  

Arah pengelolaan pendapatan daerah Kabupaten Subang tahun 2016

ditekankan pada mobilisasi sumber-sumber PAD dan penerimaan lainnya guna lebih mengoptimalkan kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan daerah Kabupaten Subang meliputi 3 (tiga) sumber pendapatan yaitu : 1. Pendapatan Asli Daerah 2. Dana Perimbangan 3. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah. Adapun proyeksi pendapatan daerah Kabupaten Subang untuk tahun 2016 secara rinci adalah sebagaimana tertera dalam tabel berikut :

Tabel 3.4 Proyeksi Pendapatan Kabupaten Subang Tahun 2016

  BERTAMBAH/

NO URAIAN APBD 2015 RKPD 2016 %

(BERKURANG)

1. PENDAPATAN DAERAH 2,219,884,543,487 1,784,672,137,801 (435,212,405,687) (19.61) PENDAPATAN ASLI 1.1 251,064,375,850 298,434,194,843 47,369,818,993

  18.87 DAERAH 1.1.

  Pajak Daerah 90,979,516,250 95,528,492,063 4,548,975,813

  5.00

  1 1.1.

  Retribusi Daerah 19,108,859,600 19,882,202,780 773,343,180

  4.05

  2 Hasil Pengelolaan 1.1.

  Kekayaan Daerah yang 13,115,000,000 13,911,000,000 796,000,000

  6.07

  3 Dipisahkan

  1.1. Lain-lain pendapatan asli 127,861,000,000 169,112,500,000 41,251,500,000

  32.26 4 daerah yang sah Subang

  1

  6

  • 1.2 DANA PERIMBANGAN 1,447,839,682,000 1,363,237,942,958 (84,601,739,042) (5.84)

  Dana Bagi Hasil 1.2. Pajak/Bagi Hasil Bukan 201,511,707,000 190,043,607,958 (11,468,099,042) (5.69)

  1 Pajak 1.2.

  Dana Alokasi Umum 1,173,194,335,000

  • 1,173,194,335,000

  2 1.2.

  • Dana Alokasi Khusus 73,133,640,000 (73,133,640,000) (100.00)

  3 Lain-lain Pendapatan

  

1.3 520,980,485,637 123,000,000,000 (397,980,485,637) (76.39)

Daerah yang Sah

  1.3.

  • Pendapatan Hibah 3,202,855,122.00 (3,202,855,122) (100.00)

  1 Dana Bagi Hasil Pajak dari 1.3.

  Provinsi dan Pemerintah 121,479,434,478 123,000,000,000 1,520,565,522

  1.25

  3 Daerah Lainnya

  1.3. Dana Penyesuaian dan

  • 396,298,196,037 (396,298,196,037) (100.00)

  4 Otonomi Khusus Bantuan Keuangan dari 1.3.

  • Provinsi atau Pemerintah

  5 Daerah lainnya

3.2.2.2 Arah Kebijakan Belanja Daerah

  

Arah pengelolaan belanja daerah Kabupaten Subang pada tahun 2014

ditekankan pada peningkatan proporsi belanja untuk kepentingan dan kebutuhan masyarakat Subang dengan tetap memperhatikan proporsi dan eksistensi penyelenggaraan Pemerintahan, sehingga perlu penekanan pada efsiensi belanja tidak langsung pada pelaksanaannya. Disamping itu perlunya efektivitas anggaran dan prioritisasi program dalam mendukung pembangunan daerah.Belanja daerah, atau yang dikenal dengan pengeluaran pemerintah daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, belanja daerah dikenal sebagai salah satu instrumen kebijakan fskal yang dilakukan pemerintah (pemerintah daerah), di samping pos pendapatan pemerintah daerah. Semakin besar belanja daerah diharapkan akan makin meningkatkan kegiatan perekonomian daerah (terjadi ekspansi perekonomian). Di sisi lain, semakin besar pendapatan yang dihasilkan dari pajak-pajak dan retribusi atau penerimaan-penerimaan yang bersumber dari masyarakat, maka akan dapat mengakibatkan menurunnya kegiatan perekonomian (terjadi kontraksi perekonomian).

  

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 menegaskan,

belanja daerah merupakan semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar, yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja daerah digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah (provinsi ataupun kabupaten/kota) yang meliputi urusan wajib dan urusan pilihan.

  Subang

  1

  6 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 juga telah

menentukan, struktur belanja terdiri dari belanja tidak langsung, dan belanja

langsung. Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak

terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan yang

meliputi: belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, bantuan

sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga.

Sedangkan belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara

langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan yang meliputi: belanja

pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja modal.

  Selain itu belanja penyelenggaraan urusan wajib sebagaimana dimaksud

dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 diprioritaskan

untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam

upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan

pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang

layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.

  Adapun langkah – langkah dalam mewujudkan belanja yang produktif Kabupaten Subang Tahun 2016 adalah :

  1. Meneruskan kebijakan pemberian gaji ke 13 dan penyesuaian gaji pokok dan pensiunan pokok sesuai dengan kebijakan fskal Nasional ;

  2. Menjaga agar pelaksanaan operasional Pemerintahan lebih efsien untuk meningkatkan pelayanan masyarakat melalui flat l poliiy罈 pada belanja barang operasional perkantoran;

  3. Mengarahkan peningkatan anggaran infrastruktur dalam rangka mendukung Dlmestiy l Clnneytivit罈, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainabie leylnlmiy lgrlwth) dalam upaya mencapai target pertumbuhan sebesar 6,52 % dan memantapkan stabilitas perekonomian domestik;

  4. Meningkatkan kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui dukungan anggaran untuk konservasi lingkungan dan pengembangan energi terbarukan ;

  5. Mendukung program MP3EI dengan mengarahkan pembangunan infrastruktur dan penguatan program pro rakyat dan sinergi antara yiuster dalam mendukung program MP3KI;

  6. Meningkatkan efsiensi belanja barang non operasional dan non prioritas antara lain perjalanan dinas, seminar dan konsinering ;

  7. Mengarahkan pemanfaatan anggaran pendidikan untuk peningkatan sarana prasarana dan infrastruktur pendidikan serta memperluas akses masyarakat terhadap dunia pendidikan

8. Mendukung pengembangan industri kecil dan industri kreatif dalam rangka meningkatkan daya saing .

Tabel 3.5 Proyeksi Belanja Daerah Kabupaten Subang Tahun 2016

  Subang

  1

  6 BERTAMBAH/

NO URAIAN APBD 2015 RKPD 2016 %

(BERKURANG)

2 BELANJA DAERAH 2,350,244,680,037 2,012,902,000,000 (337,342,680,038) (14.35)

  

2.1 Belanja Tidak Langsung 1,542,560,717,365 1,228,702,000,000 (313,858,717,365) (20.35)

2.1.

  Belanja Pegawai 1,303,689,811,328 990,000,000,000 (313,689,811,328) (24.06)

  1 2.1.

  Belanja Subsidi - - -

  3 2.1.

  Belanja Hibah 51,129,230,000 51,000,000,000 (129,230,000) (0.25)

  4 2.1.

  Belanja Bantuan Sosial 11,031,500,000 11,000,000,000 (31,500,000) (0.29)

  5 Belanja Bantuan

  2.1. Keuangan Kepada 168,467,816,037 168,460,000,000 (7,816,037) (0.00)

  7 Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa

  2.1. Belanja Tidak Terduga 8,242,360,000 8,242,000,000 (360,000) (0.00)

  8

  

2.2 Belanja Langsung 807,683,962,672 784,200,000,000 (23,483,962,673) (2.91)

3.2.2.3 Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah

  

Pembiayaan daerah merupakan transaksi keuangan daerah yang

dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Jika pendapatan daerah lebih kecil daripada belanja daerah, maka terjadi transaksi keuangan yang defsit, dan harus ditutupi dengan penerimaan daerah. Sebaliknya, jika pendapatan daerah lebih besar daripada belanja daerah, maka terjadi transaksi keuangan yang surplus, dan harus digunakan untuk pengeluaran daerah. Karena itu, pembiayaan daerah terdiri penerimaan daerah dan pengeluaran daerah.

  

Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, penerimaan

daerah berasal dari sumber antara lain, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu (SiLPA); Pencairan Dana Cadangan; Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan; Penerimaan Pinjaman Daerah; Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman; dan Penerimaan Piutang Daerah. Sedangkan sumber pengeluaran daerah, antara lain, Pembentukan Dana Cadangan; Penanaman Modal (investasi) Pemerintah Daerah; Pembayaran Pokok Utang; dan Pemberian Pinjaman Daerah. Secara rinci proyeksi pembiayaan daerah tahun 2016 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 3.6 Proyeksi Pembiayaan Daerah Kabupaten Subang Tahun 2016

  BERTAMBAH/

NO URAIAN APBD 2015 RKPD 2016 % (BERKURANG) Subang

  1

  6

3 PEMBIAYAAN DAERAH 130,360,136,550 228,229,862,199 97,869,725,649

  75.08

3.1 Penerimaan Pembiayaan 137,590,136,550 242,059,862,199 104,469,725,649

  75.93 Sisa Lebih Perhitungan 3.1.

  Anggaran Daerah Tahun 137,590,136,550 242,059,862,199 104,469,725,649

  75.93

  1 Sebelumnya (SiLPA)

  Jumlah Penerimaan 137,590,136,550 242,059,862,199 104,469,725,649

  75.93 Pembiayaan

  • - Pengeluaran 3.2 7,230,000,000 13,830,000,000 6,600,000,000

  91.29 pembiayaan

  3.2. Pembentukan Dana

  1 Cadangan Penyertaan modal 3.2. (Investasi) pemerintah 7,230,000,000 13,830,000,000 6,600,000,000

  91.29

  2 daerah

  3.2. Pembayaran pokok utang

  3

  • - Jumlah Pengeluaran 7,230,000,000 13,830,000,000 6,600,000,000

  91.29 Pembiayaan Pembiayaan Neto 130,360,136,550 228,229,862,199 97,869,725,649

  75.08

Dokumen baru