BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Promosi Kesehatan - Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat untuk mencegah TB paru di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014

Gratis

0
0
33
10 months ago
Preview
Full text

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Promosi Kesehatan

  Menurut WHO (1947), pengertian kesehatan secara luas tidak hanya meliputi aspek medis, tetapi juga aspek mental dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan (Maulana, 2009). Sedangkan pengertian kesehatan menurut UU Kesehatan No. 36 tahun 2009 adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Hal ini berarti, kesehatan tidak hanya diukur dari aspek fisik mental dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi (Notoadmodjo, 2010).

  Promosi kesehatan adalah perwujudan dari perubahan konsep perubahan pendidikan kesehatan yang secara organisasi struktur al dimana tahun 1984 organisasi WHO dalam salah satu divisinya, yaitu Division Healdh Education diubah menjadi

  

Division on Healdh Promotin and Education. Dan konsep ini baru oleh Departemen

  kesehatan RI tahun 2000 mulai menyesuaikan dengan merubah pusat penyuluhan kesehatan masyarakat menjadi direktorat promosi kesehatan dan sekarang menjadi pusat promosi kesehatan (Mubarak, 2007).

  Promosi kesehatan merupakan revitalisasi pendidikan kesehatan pada masa lalu, dimana dalam konsep promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat dalam hal pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan saja, melainkan juga upaya bagaimana mampu menjembatani adanya perubahan perilaku seseorang (Mubarak, 2007).

  Promosi kesehatan adalah dapat diartikan sebagai upaya menyebarluaskan, mengenalkan atau menjual pesan-pesan kesehatan, sehingga masyarakat menerima atau membeli pesan-pesan kesehatan tersebut dan akhirnya masyarakat mau berperilaku hidup sehat. Karena pendidikan kesehatan pada prinsipnya bertujuan agar masyarakat pada saat ini dimaksudkan sebagai revitalisasi atau pembaruan dari pendidikan kesehatan pada waktu yang lalu (Notoatmodjo, 2005).

  Menurut Charter, 1986. Piagam Ottawa menerangkan bahwa promosi kesehatan adalah suatu proses untuk memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Dengan kata lain promosi kesehatan ini mencakup (2) dua dimensi yaitu kemauan dan kemampuan. Lebih lanjut dinyatakan, bahwa dalam mencapai derajat kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, maupun soial dan spritual (Viktoria, 1997).

  Green juga mengemukakan bahwa perilaku ditentukan oleh 3 faktor utama, yaitu:

  1. Faktor predisposisi (predisposing factors), yang meliputi pengetahuan dan sikap dari sesesorang.

  2. Faktor pemungkin (enabling factor), yang meliputi sarana, prasarana dan fasilitas yang mendukung terjadinya perilaku.

  3. Faktor penguat (reinforcing factors) merupakan faktor penguat bagi seseorang untuk mengubah perilaku seperti tokoh masyarakat, undang-undang, peraturan- peraturan, surat keputusan.

2.1.1. Visi dan Misi Promosi Kesehatan

  Menurut Mubarak, 2007. Visi ini diperlukan agar promosi kesehatan yang diharapkan mempunyai arah yang jelas, dalam hal ini adalah apa yang menjadi harapan dari promosi kesehatan sebagai penunjang dalam program kesehatan yang lain. Visi promosi kesehatan adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan status kesehatannya, baik fisik, mental, sosial dan spritual diharapkan pula mampu produktif secara ekonomi maupun lainnya. Sebagai mana dituangkan dalam undang-undang kesehatan No. 23 tahun 1992. Untuk mencapai visi tersebut di atas perlu upaya-upaya yang dilakukan dan biasanya dituangkan dalam misi.

  Misi promosi kesehatan secara garis besar dirumuskann sebagai berikut: 1.

  Advokat, adalah melakukan kegiatan advokasi terhadap para pengambil keputusan diberbagai program atau sektor yang terkait dengan kesehatan.

  2. Menjembatani, adalah menjadi jembatan dan menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor yang terkit dengan kesehatan.

  3. Memampukan, adalah memberikan keterampilan atau kemampuan pada masyarakat agar mereka mempercayai dan meningkatkan kesehatannya.

2.2. Perilaku Kesehatan

2.2.1. Pengertian

  Perilaku kesehatan dapat dipahami melalui pengertian dan perilaku terlebih dahulu. Perilaku adalah aksi dari individu terhadap reaksi dari hubungan dengan lingkungannya dengan kata lain. Perilaku yang baru terjadi apabila ada sesuatu rangsangan tertentu yang akan menghasilkan untuk menimbulkan reaksi berupa perilaku (Adnani, 2011).

  Skinner dalam bukunya Notoatmodjo, 2003. Seorang ahli Psikologi merumuskan bahwa perilaku itu merupakan respon atau reaksi orang terhadap rangsangan atau stimulus dari luar. Dengan demikian perilaku manusia terjadi dengan adanya melalui proses Teori ini disebut teori S-O-R atau Stimulus-Organisme-Respon.

  Ada dua respon yang dikenal yaitu : a. Respondent respon atau reflexise respons, yaitu respons yang ditimbulkan oleh stimulus tertentu. Misalnya : Cahaya menyilaukan menyebabkan mata menutup, menarik jari bila jari kena api atau mau digigit binatang, dan sebagainya. Stimulus seperti ini disebut elicting Stimulation, tidak lain karena stimulus ini merangsang timbulnya respons-respons yang tetap, respondent ini juga termasuk perilaku emosional, misalnya mendengar berita gembira (anak lahir, dapat hadiah, lulus ujian, dsb). Menjadi bersemangat, mendengar berita musibah (kecelakaan, tidak lulus ujian, anak sakit, dsb) menjadi sedih. b.

  Operant respons atau Instrumental respons, yaitu timbulnya respon diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforching stimulation

  atau reinforcer, reinforcer artinya penguat, hal ini dikarenakan perangsang itu

  memperkuat respons. Misalnya seorang staf mengerjakan pekerjaan dengan baik (dari respons tugas yang telah diberikan sebelumnya). Maka sebagai imbalannya petugas itu mendapat reward atau hadiah.

2.2.2. Bentuk Perilaku

   Secara operasional, perilaku dapat diartikan sebagai respons seseorang terhadap

  rangsangan dari luar subject tersebut. Bentuk respons perilaku ada 2 yaitu: a.

  Bentuk pasif (respons internal): terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat orang lain.

  b.

  Bentuk aktif, yaitu apabila perilaku tersebut jelas dapat diobservasi secara langsung.

  Oleh karena itu perilaku mereka sudah tampak dalam tindakan nyata (over behaviour ).

  Perilaku manusia sebagian besar adalah perilaku yang dibentuk, atau perilaku yang dipelajari. Cara membentuk perilaku agar sesuai dengan yang diharapkan adalah: a.

  Pembentukan perilaku dengan kebiasaan (conditioning) b. Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight) c. Pembentukan perilaku dengan menggunakan model

2.2.3. Teori Perilaku

  Beberapa teori perilaku yang dikenal adalah: a. Teori Insting, yang dikemukakan Mc. Dougall. Menurutnya, perilaku itu disebabkan oleh Insting, yang merupakan perilaku yang innate, perilaku bawaan dan akan berubah karena pengalaman.

  b.

  Teori Insentif (incentive theory), yang menyatakan bahwa dengan insentif akan mendorong organisme untuk berbuat atau berperilaku.

  c.

  Teori Atribusi yaitu menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku orang, apakah karena disposisi internal, (misalnya motif, sikap dan sebagainya), atau keadaan external (Walgito, 2003).

2.3. Masyarakat

  Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik dan saran yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. Masyarakat juga berperan aktif dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintah lainnya, seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan sumber daya agar terwujutnya pembangunan yang berwawasan kesehatan. Masyarakat dapat mengupayakan meningkatkan pengetahuan, sikap, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara lansung maupun tidak lansung melalui berbagai teknik promosi kesehatan. Masyarakat berperan dalam pembangunan kesehatan dengan cara mendirikan fasilitas pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi (promosi kesehatan), kepada masyarakat dalam kaitan ini termasuk pengembangan desa siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa (Kemenkes, 2011).

  Menurut Freirian yang menyatakan bahwa mereka yang miskin dan tertindas itu dapat harus memiliki kemungkinan untuk melakukan analisis sendiri mengenai permasalahan yang mereka hadapi, dan telah berpengaruh sangat luas, meskipun tetap merupakan pandangan minoritas dikalangan para profesional pembangunan kesehatan secara keseluruhan. Masyarakat ini kesemuanya diarahkan agar masyarakat mampu mempraktekkan perilaku mencegah dan mengatasi masalah kesehatan yang terjadi pada warga masyarakat yang bisa memainkan perannya seperti: 1.

  Pemberdayaan Masyarakat Gerakan pemberdayaan pada hakikatnya adalah proses pemberian informasi secara bertahap dan mengawal, proses perubahan pada diri sasaran, dari tidak tau menjadi tau, dan dari mau menjadi mampu, mempraktekkan kader TB paru yang ada dalam desa tersebut.

  2. Bina Suasana Strategi dasar ke-2 adalah bina suasana. Yaitu upaya untuk menciptakan lingkungan sosial yang mendorong perubahan perilaku si sasaran. Menurut teori, perubahan perilaku seseorang akan lebih cepat terjadi, jika lingkungan sosialnya berperan sebagai pendorong, atau penekan (Pressure).

  3. Advokasi Strategi dasar ke-3 adalah advokasi. Sebagaimana disebutkan dimuka, Advokasi diperlukan untuk mendapatkan dukungan baik berupa peraturan perundang- undangan, dana maupun sumber daya lain. Advokasi tidak boleh dilakukan alakadarnya, karena Advokasi sebenarnya merupakan upaya/proses strategis dan terencana, menggunakan informasi yang akurat dan teknik yang tepat.

4. Kemitraan

  Kemitraan adalah suatu kerjasama yang formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Dalam kerjasama ada kesepakatan tentang komitmen dan harapan masing-masing, tentang peninjauan kembali terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat, dan berbagi baik dalam risiko maupun keuntungan, kemitraan inilah yang mendukung dan menyemangati penerapan 3 (tiga) strategi dasar.

  Penerapan 3 (tiga) strategi dasar tersebut perlu metode dan teknik masing-masing, yaitu dengan pendekatan-pendekatan individual, kelompok, maupun masyarakat.

2.4. Penyuluhan Kesehatan

  Penyuluhan kesehatan adalah suatu proses mendidik individu atau masyarakat supaya mereka dapat memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi, seperti halnya proses pendidikan lainnya, pendidikan kesehatan mempunyai unsur masukan-masukan yang telah diolah dengan tehnik-tehnik tertentu akan menghasilkan keluaran yang sesuai dengan harapan atau tujuan kegiatan tersebut. Tidak dapat disangkal, pendidikan bukan satu-satunya cara merubah perilaku, tetapi pendidikan juga mempunyai peranan yang cukup penting dalam perubahan pengetahuan dan sikap setiap individu (Sarwono, 2004).

2.4.1. Pengetahuan

  Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan objek yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (overt behavior), perilaku tertutup (covert behavior) perilaku yang didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng (Riduwan, 2002).

  Menurut Notoatmodjo, 2010. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

  Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

  Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkat pengetahuan, yaitu: a.

  Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

  Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja yang mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

  b.

  Memahami (Comprehension)

  Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contohnya, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

  c.

  Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

  d.

  Analisa (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen–komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

  e.

  Sintesis (Synthetis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

  Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi- formulasi yang telah ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainyaterhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah dibaca.

  f.

  Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2010).

  Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari responden penelitian.

  Pengetahuan terkait persiapan pencegahan penyakit TB paru pada kelompok masyarakat yang mengalami gejala batu-batuk menjadi fokus utama (Sukana, 1999).

2.4.2. Sikap

  Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang- tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik dan sebagainya). Atau sikap itu suatu sindrom atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan kejiwaan yang lain (Notoatmodjo, 2010).

  Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.

  Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak, berpersepsi dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan, situasi atau kelompok.

  Sikap mengandung daya pendorong atau motivasi. sikap bukan sekedar rekaman masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro dan kontra terhadap sesuatu, menentukan apakah yang disukai, diharapkan dan diinginkan, mengesampingkan apa yang tidak diinginkan dan apa yang harus dihindari.

  Menurut Notoatodjo (2010), sikap terdiri dari beberapa tingkatan yaitu: a.

  Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau memperhatikan stimulus yang diberikan. Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah.

  b.

  Menanggapi (Responding) Menanggapi diartikan memberi jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

  c.

  Menghargai (Valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus. Dalam arti membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau memengaruhi orang lain untuk merespon.

  d.

  Bertanggung Jawab (Responsible)

  Sikap yang paling tinggi tindakannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tentunya berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil resiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya resiko lain.

  Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek yang bersangkutan. Pernyataan secara langsung juga dapat dilakukan dengan cara memberikan pendapat dengan menggunakan kata “setuju” atau “tidak setuju” terhadap pernyataan-pernyataan atau objek tertentu. Sikap pada fase

  

preparedness , berbentuk adanya perilaku yang sederhana pada masyarakat karena

minimnya informasi mengenai cara mencegah terjadinya TB paru di masyarakat.

  Menumbuhkan pegetahuan dan sikap pada masyarakat yang tinggi sehingga akan mudah untuk pencegahan TB paru (Sukana, 1999).

2.4.3. Tindakan

  Suatu rangsangan akan direspon oleh seseorang sesuai dengan arti rangsangan tersebut bagi orang yang bersangkutan. Respon atau reaksi inilah yang disebut dengan perilaku, bentuk-bentuk perilaku itu sendiri dapat bersifat sederhana dan kompleks. Dalam peraturan teoritis, tingkah laku dibedakan atas sikap, dimana sikap diartikan sebagai suatu kecenderungan potensi untuk mengadakan reaksi (tingkah laku). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan untuk terwujudnya, sikap agar menjadi suatu tindakan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan atau suatu fasilitas (Notoatmodjo, 2010).

  Menurut Notoatmodjo (2005), tindakan adalah gerakan atau perbuatan dari tubuh setelah mendapat rangsangan ataupun adaptasi dari dalam maupun luar tubuh suatu lingkungan. Tindakan seseorang terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut.

  Secara logis, sikap dapat dicerminkan dalam suatu bentuk tindakan namun tidak pula dapat dikatakan bahwa sikap dan tindakan memiliki hubungan yang sistematis.

  Tindakan terdiri dari beberapa tingkatan,yaitu: a. Persepsi, mengenal dan memilih suatu objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

  b.

  Respon terpimpin, dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar.

  c.

  Mekanisme, apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan.

  d.

  Adopsi, suatu tindakan yang sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

  Pengukuran tindakan dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

2.5. Media Penyuluhan Kesehatan

  Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika (TV, radio, computer dan sebagainya) dan media ruangan, media luar ruangan. Media penyuluhan atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan sebagai, alat bantu untuk promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk memperlancar komunikasi dan penyebarluasan informasi kesehatan kepada masyarakat (Notoatmodjo, 2005).

  Biasanya alat peraga digunakan secara kombinasi, misalnya menggunakan papan tulis dengan foto dan sebagainya. Tetapi dalam menggunakan alat peraga, baik secara kombinasi maupun tunggal, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: alat peraga harus mudah dimengerti oleh masyarakat sasaran dan ide atau gagasan yang terkandung di dalamnya harus dapat diterima oleh sasaran.

  Alat peraga yang digunakan secara baik memberikan keuntungan-keuntungan: a. Dapat menghindari salah pengertian/pemahaman atau salah tafsir. Dengan contoh yang telah disebutkan pada bagian atas dapat dilihat bahwa salah tafsir atau salah pengertian tentang bentuk plengsengan dapat dihindari.

  b.

  Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah ditangkap.

  c.

  Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat, terutama hal-hal yang mengesankan.

  d.

  Dapat menarik serta memusatkan perhatian.

  e.

  Dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjur

  Menurut Depkes, (2004). Alat-alat peraga dapat dibagi dalam 4 kelompok besar: a.

  Benda asli, yaitu benda yang sesungguhnya baik hidup maupun mati.

  Merupakan alat peraga yang paling baik karena mudah serta cepat dikenal, mempunyai bentuk serta ukuran yang tepat. Tetapi alat peraga ini kelemahannya tidak selalu mudah dibawa ke mana-mana sebagai alat bantu mengajar. Termasuk dalam macam alat peraga ini antara lain:

  • sebagainya.

  Benda sesungguhnya, misalnya tinja di kebun, lalat di atas tinja, dan lain

  • dalam botol pengawet, dan lain-lain.

  Spesimen, yaitu benda sesungguhnya yang telah diawetkan seperti cacing

  • dan lain-lain.

  Sampel yaitu contoh benda sesungguhnya untuk diperdagangkan seperti oralit,

  b.

  Benda tiruan, yang ukurannya lain dari benda sesungguhnya. Benda tiruan bisa digunakan sebagai media atau alat peraga dalam promosi kesehatan. Hal ini dikarenakan menggunakan benda asli tidak memungkinkan, misal ukuran benda asli yang terlalu besar, terlalu berat, dll. Benda tiruan dapat dibuat dari bermacam- macam bahan seperti tanah, kayu, semen, plastik, dan lain-lain.

  c.

  Gambar atau Media grafis, seperti poster, leaflet, gambar karikatur, lukisan, dan lain-lain.

  • dengan sedikit kata-kata. Dalam poster harus jelas artinya, tepat pesannya dan

  Poster adalah sehelai kertas atau papan yang berisikan gambar - gambar dapat dengan mudah dibaca pada jarak kurang lebih 6 meter. Poster biasanya ditempelkan pada suatu tempat yang mudah dilihat dan banyak dilalui orang misalnya di dinding balai desa, pinggir jalan, papan pengumuman, dan lain- lain. Gambar dalam poster dapat berupa lukisan, ilustrasi, kartun, gambar atau photo. Poster terutama dibuat untuk memengaruhi orang banyak, memberikan pesan singkat. Karena itu cara pembuatannya harus menarik, sederhana dan hanya berisikan satu ide atau satu kenyataan saja. Poster yang baik adalah poster yang mempunyai daya tinggal lama dalam ingatan orang yang melihatnya serta dapat mendorong untuk bertindak. Leaflet adalah selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat

  • yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana. Ada beberapa yang disajikan secara berlipat.
  • masalah, misalnya deskripsi pengolahan air di tingkat rumah tangga, deskripsi tentang TB paru dan penecegahannya, dan lain-lain.

  Leaflet digunakan untuk memberikan keterangan singkat tentang suatu

  • dilakukan seperti pertemuan FGD, pertemuan Posyandu, kunjungan rumah, dan lain-lain.

  Leaflet dapat diberikan atau disebarkan pada saat pertemuan-pertemuan

  • copy.

  Leaflet dapat dibuat sendiri dengan perbanyakan sederhana seperti di photo

  • topik dimana terdapat minat yang cukup tinggi terhadap suatu kelompok

  Booklet, media cetak yang berbentuk buku kecil. Terutama digunakan untuk sasaran. Ciri lain dari booklet adalah : Berisi informasi pokok tentang hal yang dipelajari, ekonomis dalam arti waktu dalam memperoleh informasi, memungkinkan seseorang mendapat informasi dengan caranya sendiri. Faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar dengan booklet ada beberapa halaman antara lain booklet itu sendiri, faktor-faktor atau kondisi lingkungan juga kondisi individual penderita. Oleh karena itu dalam pemakaiannya perlu mempertimbangkan kemampuan membaca seseorang, kondisi fisik maupun psikologis penderita dan juga faktor lingkungan dimana penderita itu berada. Di samping itu perlu pula diketahui kelemahan yang ada, oleh karena itu kadang-kadang informasi dalam booklet tersebut telah kadaluwarsa. Pada suatu tujuan instruksional tertentu booklet tidak tepat dipergunakan.

  d.

  Gambar Optik, seperti photo, slide,leaflet dan lain-lain.

  • dan dokumentasi lepasan.

  Photo sebagai bahan untuk alat peraga, photo digunakan dalam bentuk album

  • cukup effektif, karena gambar atau setiap materi dapat dilihat berkali - kali, dibahas lebih mendalam. Slide sangat menarik terutama bagi kelompok anak sekolah, karena alat ini lebih “trendi” dibanding dengan gambar, leaflet.

  Slide pada umumnya digunakan untuk sasaran kelompok. Penggunaan slide

  • pesan-pesan yang bersifat edukatif. Sasaran media ini adalah kelompok besar, dan kolosal.

  Film merupakan media yang bersifat menghibur, tapi dapat disisipi dengan

  • lisan. Metode ceramah ini ekonomis dan sangat efektif untuk keperluan penyampaian informasi dan pengertian. Metode ceramah cocok untuk menyampaikan imformasi, bila bahan ceramah langka, bila perlu membangkitkan minat, kalau bahan cukup diingat sebentar, dan untuk memberi pengantar atau petunjuk bagi format lain.

  Ceramah merupakan cara penyampaian bahan pelajaran dengan komunikasi

2.6. Tuberkulosis Paru

2.6.1. Definisi Tuberkulosis Paru

  Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri (Mycobacterium Tuberculosis), Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Rober koch, pada tanggal 24 Maret 1882. Sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama Basil koch, Sebagian besar bakteri TB paru menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes RI, 2007).

  Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB paru dibagi dalam 2 bagian yaitu; (1) TB paru BTA positif (sangat menular) yaitu sekurang-kurangnya 2 dari 3 pemeriksaan dahak, memberikan hasil yang positif. Satu pemeriksaan dahak memberikan hasil yang positif dan foto rontgen dada menunjukkan TB paru aktif; (2) TB paru BTA negatif, yaitu pemeriksaan dahak hasilnya masih meragukan. Jumlah kuman yang ditemukan pada waktu pemeriksaan belum memenuhi syarat positif. Foto rontgen dada menunjukkan hasil positif (Laban, 2007).

  Bakteri ini merupakan bakteri yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya, bakteri ini berbentuk batang tahan terhadap asam pada pewarnaan sehingga disebut Basil Tahan Asam (BTA). Bakteri ini dapat tahan hidup beberapa jam ditempat gelap dan lembab, akan mati bila terkenak sinar matahari secara lansung dan dalam jaringan tubuh manusia bakteri inidapat bertahan selama bertahun- tahun (Erwin, 2010).

2.6.2. Cara Penularan dan Risiko Penularan

  Penderita dapat menularkan kuman TB paru pada orang lain melalui cara: (1) Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. (2) Penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. (3) Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut. (4) Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB paru ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.

  Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Seseorang dapat terpapar dengan TB paru hanya dengan menghirup sejumlah kecil kuman TB paru. Penderita TB paru dengan status TB paru BTA (Basil Tahan Asam) positif dapat menularkan sekurang- kurangnya kepada 10-15 orang lain setiap tahunnya. Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB paru (Kemenkes RI, 2012).

  Infeksi TB paru dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif. menjadi positif. Faktor yang memengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien. TB paru adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).

2.6.3. Gejala Klinis Pasien TB Paru

  Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.

  Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB paru, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain.

  Mengingat prevalensi TB paru di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke Unit Pelayanan Kesehatan dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB paru, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

2.6.4. Pengobatan TB Paru dan Efek Samping

  Pengobatan TB paru bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT).

  Pengobatan tuberkulosis paru dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Kombinasi beberapa jenis obat tersebut terdiri dari ; Rifampisin, INH, Pyrazinamid, Etambutol, Streptomisin.

  2. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengobatan perlu dilakukan dengan pengawasan langsung oleh seorang PMO, supaya penderita meminum obatnya secara teratur setiap hari. Minum obat yang tidak teratur dan terputus putus bisa menimbulkan kekebalan kuman terhadap obat anti TB paru sehingga kuman tidak mati dan penyakit sulit untuk sembuh. Keadaan ini akan sangat membahayakan penderita sendiri maupun masyarakat sekitarnya.

  3. Pengobatan TB paru diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

  Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB paru BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

  Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan ini sangat penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan kembali.

  Beberapa faktor yang memengaruhi hasil pengobatan yaitu ; luasnya tubuh yang diserang, jenis, jumlah dan dosis obat yang cukup, teratur dalam menjalankan proses pengobatan, Istirahat yang cukup, perumahan yang sehat, makan-makanan bergizi, iklim dan faktor psikis.

  Sebagian besar pasien menyelesaikan pengobatan TB paru tanpa efek samping yang bermakna, namun sebagian kecil mengalami efek samping. Oleh karena itu pengawasan klinis terhadap efek samping harus dilakukan. Petugas kesehatan dapat memantau efek samping dengan dua cara. Pertama dengan menerangkan kepada pasien untuk mengenal tanda-tanda efek samping obat dan segera melaporkannya kepada dokter. Kedua, dengan menanyakan secara khusus kepada pasien tentang gejala yang dialaminya.

  Efek samping saat minum obat yang perlu diketahui yaitu; kulit berwarna kuning, air seni berwarna gelap seperti minum air teh, kesemutan, mual dan muntah, hilang nafsu makan, perubahan pada penglihatan, demam yang tidak jelas, lemas dan keram perut.

2.6.5. Memastikan Penyakit TB Paru

  Untuk memastikan bahwa seseorang menderita TB paru atau tidak, dapat dilakukan pemeriksaan dahak sebanyak 3x selama 2 hari yang dikenal dengan istilah SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu) yaitu; (i) Sewaktu (hari pertama), yaitu pemeriksaan dahak sewaktu penderita datang pertama kali; (ii) Pagi (hari kedua), yaitu pemeriksaan sehabis bangun tidur keesokan harinya. Dahak ditampung dalam pot kecil yang diberi petugas laboratorium; (iii) Sewaktu (Hari kedua), yaitu pemeriksaan dahak yang dikeluarkan saat penderita datang ke laboratorium untuk diperiksa. Jika positif, orang tersebut dipastikan menderita TB paru.

  Pada program TB paru nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB paru hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis (Kemenkes RI, 2012).

2.7. Pengawas Menelan Obat (PMO)

  Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO yang memiliki syarat ;

  1. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.

  2. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.

  3. Bersedia membantu pasien dengan sukarela.

4. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien.

  Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan dan bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, tokoh masyarakat atau anggota keluarga. PMO memiliki tugas yaitu;

  1. Mengawasi pasien TB paru agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.

  2. Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur, mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan.

  3. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB paru yang mempunyai gejala - gejala mencurigakan TB paru untuk segera memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan (Kemenkes RI, 2012).

2.8. Cara Pencegahan Penyakit TB Paru

  Menurut Kemenkes RI (2012) agar terhindar dari TB paru ada beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya;

  1. Membiasakan cara hidup sehat dengan makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, olah raga teratur, menghindari rokok, alkhol, obat terlarang dan menghindari stress.

  2. Bila batuk mulut ditutup.

  3. Jangan meludah sembarang tempat

  4. Lingkungan sehat.

  5. Vaksinasi BCG pada bayi

2.9. Penanggulangan Tuberkulosis Paru

  Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD (International Union Against TB

  

paru and Lung Diseases ) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB paru yang

  dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-

  efective) .

  Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB paru tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB paru dan dengan demkian menurunkan insidens TB paru di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB paru (Kemenkes RI, 2012).

  Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci : 1. Komitmen politis.

  2. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.

  3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB paru dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan.

  4. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu.

  5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan (Depkes RI, 2012).

2.9.1. Kebijakan Penanggulangan Tuberculosis Paru

  Menurut Kemenkes RI (2012), Penanggulangan Tuberkulosis paru di Indonesia ditempuh melalui kebijakan-kebijakan yakni:

  1. Penanggulangan TB paru di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program dalam kerangka otonomi yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana).

2. Penanggulangan TB paru dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS 3.

  Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB paru.

  4. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB paru.

  5. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB paru dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), meliputi Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah dan swasta, Rumah Sakit Paru (RSP), Balai Pengobatan Penyakit Paru - Paru (BP4), Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS).

  6. Penanggulangan TB paru dilaksanakan melalui promosi kesehatan, penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait, sektor pemerintah, non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB paru (Gerdunas TB Paru).

  7. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring.

  8. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB paru diberikan kepada pasien secara gratis dan dijamin ketersediaannya.

  9. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program.

  10. Penanggulangan TB paru harus berkolaborasi dengan penanggulangan HIV.

  11. Pasien TB paru tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya.

  12. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam MDGs.

  

2.9.2. Strategi Advokasi, Komunikasi, dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam

Penanggulangan Tuberkulosis Paru

  AKMS TB paru adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk memengaruhi dan mengubah kebijakan publik, perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penanggulangan TB paru. Sehubungan dengan itu AKMS TB paru merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi, komunikasi, dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. Dalam pelaksanaan tiga strategi tersebut tidak berdiri sendiri, antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan (Depkes RI, 2007).

2.10. Landasan Teori

  Notoatmodjo (2010), mengatakan bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan tersebut didapat dari penambahan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

  Menurut Skiner dalam Notoatmodjo (2010), perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian, perilaku manusia terjadi melalui proses: Stimulus  Organisme  Respons, sehingga teori skiner ini disebut teori ”S-O-R” (stimulus-organisme-respons).

  TEORI S-O-R

  RESPONS TERTUTUP STIMULUS ORGANISME Pengetehuan Sikap RESPONS TERBUKA Praktik Tindakan

Gambar 2.1 Kerangka Teori

  Selanjutnya, teori Skiner menjelaskan adanya dua jenis respons, yaitu : a.

  Respondent respons atau refleksif, yakni respons yang ditimbulkan oleh rangsangan- rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut elicting stimuli. Karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap.

  b.

  Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang timbul dan berkembang dan kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan yang lain.

  Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena berfungsi untuk memperkuat respons.

  Berdasarkan teori ”S-O-R” tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : a.

  Perilaku tertutup (Cover Vehavior) Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum dapat dinikmati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk ”unobservable behavior” atau ”covert behavior” yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap.

  b.

  Perilaku terbuka (Overt Behavior) Perilaku terbuka ini terjadi bila respons terhadap stimulus sudah berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau ”observable behavior”.

  Menurut David K. Berlo dalam Effendy (2003), penambahan pengetahuan dapat dilakukan dengan pemberian informasi (stimulus). Pemberian komunikasi ini dapat digambarkan dengan model S-M-C-R. Model ini adalah singkatan dari Source (sumber), message (pesan), channel (saluran), dan receiver (penerima). Sebagaimana diungkapkan Berlo, sumber adalah pihak yang menciptakan pesan, baik seseorang ataupun suatu kelompok. Pesan adalah terjemahan gagasan ke dalam kode simbolik, seperti bahasa atau isyarat, saluran adalah medium yang membawa pesan, dan penerima adalah orang yang menjadi sasaran komunikasi (Effendy, 2003).

  Menurut model S-M-C-R, sumber (komunikator) dan penerima pesan (komunikan) dipengaruhi oleh faktor-faktor ketrampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, sistem sosial dan budaya. Pesan dikembangkan berdasarkan elemen, struktur, isi, perlakuan, dan kode. Salurannya berhubungan dengan panca indra : melihat, mendengar, menyentuh, membaui, dan merasai (merasapi) (Mulyana, 2011).

  Salah satu kelebihan model S-M-C-R ini adalah model ini tidak terbatas pada komunikasi publik atau komunikasi massa, namun juga komunikasi antarpribadi dan berbagai komunikasi tertulis. Model ini bersifat heuristik (merangsang penelitian), karena merinci unsur-unsur yang penting dalam komunikasi. Model ini dapat memandu anda meneliti efek ketrampilan komunikasi penerima atas penerimaan pesan yang dikirimkan kepadanya, atau meneliti ketrampilan pembicara atau komunikator (Mulyana, 2011).

Gambar 2.2. Model Komunikasi S-M-C-R Berdasarkan tinjauan pustaka, peneliti merumuskan beberapa landasan teori yang relevan dengan tujuan penelitian. Pengetahuan dan sikap masyarakat adalah sutu cara pencegahan TB paru yang sangat baik, karena masyarakat sudah mengerti tentang praktik dan tindakan yang akan dilakukan terhadap penderita. Belum diikuti dengan tercapainya target angka temuan kasus. Upaya promosi kesehatan yang telah dilakukan pada pasien dan masyarakat di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam teryata belum mampu meningkatkan angka temuan kasus di Desa tersebut. Kondisi ini dipersulit dengan masih rendahnya pengetahuan dan sikap tentang TB paru dan masih adanya stigma negatif di masyarakat terhadap penderita TB paru. Pendidikan kesehatan pada masyarakat. Memiliki peranan dalam mendukung tercapainya angka temuan kasus tersebut. Saluran komunikasi yang telah dilakukan, baik melalui media cetak maupun elektronik ternyata belum menghasilkan dampak sesuai dengan apa yang diharapkan.

  Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh metode ceramah dan media

  

Leaflet terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat di Desa Meunasah Meucat

Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara untuk mencegah Tuberkulosis paru.

2.11. Kerangka Konsep

  Berdasarkan beberapa kajian teori dan hasil penelitian, maka kerangka konsep penelitian yang disusun adalah sebagai berikut:

  • Penyuluhan m

Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian Intervensi

   Penyuluhan kesehatan

  etode

  Ceramah dan Media

  leaflet Pretest

  Pengetahuan dan Sikap Masyarakat dalam pencegahan TB paru

  Postest

  Pengetahuan dan Sikap Masyarakat dalam pencegahan TB paru

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah tentang Bahaya Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2014
2
85
181
Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat untuk mencegah TB paru di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014
4
117
119
Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara
0
33
173
Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah dan Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) pada Anak 6-24 Bulan di Desa Pantai Gemi Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat Tahun 2011
9
85
70
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendidikan Kesehatan - Pengaruh Pendidikan Gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMA Negeri 1 Secanggang Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat 2014
0
0
42
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemanfatan Pelayanan Kesehatan - Pengaruh Kepercayaan dan Kebutuhan Masyarakat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon terhadap Pemanfaatan RSUD Parapat
0
0
27
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4.1. Kesiapsiagaan - Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Terhadap Kesiapsiagaan Masyarakat di Kawasan Rawan Banjir di Desa Pengidam Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013
0
0
29
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Efektivitas - Efektivitas Promosi Kesehatan dengan Media Video dan Booklet Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Asi Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Stabat Kabupaten Langkat Tahun
0
1
31
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komunikasi - Efektivitas Promosi Kesehatan Menggunakan Metode Ceramah Tentang HIV/AIDS Terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja di SMK Tritech Informatika dan SMK Namira Tech Nusantara Medan Tahun 2013
0
1
42
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Promosi Kesehatan Promosi Kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat untuk - Pengaruh Metode Ceramah dan Diskusi Kelompok Terarah (DKT) terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja Mengenai Pencegahan Penularan TB Paru di SMA Neg
0
0
37
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyuluhan 2.1.1. Definisi Penyuluhan - Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah tentang Bahaya Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2014
0
0
46
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 - Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah tentang Bahaya Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2014
0
0
10
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyuluhan dan Pendidikan Kesehatan - Efekfitias Penyampaian Informasi HIV/AIDS melalui Peer Group dan Metode Ceramah Interaktif terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMAN 1 Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir Tahun 2013
0
0
45
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Menyusun Menu - Pengaruh Bimbingan Penyusunan Menu Balita dengan Metode Ceramah dan Permainan terhadap Pengetahuan Ibu di Kecamatan Medan Belawan
0
1
28
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Tingkat Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Senam Lansia di Desa Mompang Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas Tahun 2013
0
0
28
Show more