Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: ANALISIS PERUBAHAN PARAMETER IKLIM DAN MOSQUITO-BORNE DISEASE DI PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009-2016

Full text

(1)

TAHUN 2009-2016

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Disusun oleh: Afza Azzindani 1113101000098

PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

ii

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN Skripsi, 28 Desember 2017

Afza Azzindani, NIM: 1113101000098

ANALISIS PERUBAHAN PARAMETER IKLIM DAN MOSQUITO-BORNE DISEASE DI PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009-2016 (xxi + 153 halaman, 14 tabel, 9 grafik, 5 lampiran)

ABSTRAK

Latar Belakang: Jumlah kasus mosquito-borne disease mengalami flutuasi selama di Provinsi DKI Jakarta selama tiga tahun terakhir, yaitu terdapat 18.497 kasus pada tahun 2014, 11.996 kasus pada tahun 2015, dan 39.723 kasus pada tahun 2016. Perubahan parameter iklim merupakan faktor lingkungan yang mengakibatkan fluktuasi insidens mosquito-borne disease. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara perubahan parameter iklim dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

Metode Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan menggunakan desain time-trend ecologic study dan analisis korelasi spearman. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat agregat meliputi data insidens mosquito-borne disease (meliputi insidens DBD, insidens chikungunya, dan insidens malaria), data curah hujan, hari hujan, suhu udara, dan kelembaban udara di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2009-2016.

Hasil Penelitian: Diketahui bahwa terjadi perubahan pola iklim pada parameter curah hujan, hari hujan, suhu udara, dan kelembaban udara di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016. Pola curah hujan, hari hujan, dan kelembaban udara memiliki pola yang sama dengan insidens mosquito-borne disease dengan time-lag terjadi selama 1-3 bulan (dengan time-lag paling banyak terjadi selama 2 bulan). Terdapat tiga parameter iklim yang memiliki hubungan dengan mosquito-borne disease, yaitu curah hujan (P value = 0,002 / r = 0,314), hari hujan (P value = 0,001 / r = 0,338), dan kelembaban udara (P value = 0,000 / r = 0,460). Berbeda dengan suhu udara, varibel ini tidak memiliki hubungan yang signifikan (P value = 0,061 / r = -0,192), hal ini disebabkan oleh suhu udara yang berada di atas 290C akan menimbulkan penurunan jumlah insidens.

Simpulan: Parameter iklim yang memiliki hubungan dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016, yaitu curah hujan, hari hujan, dan kelembaban udara.

Kata Kunci: Iklim, Curah Hujan, Hari Hujan, Suhu Udara, Kelembaban Udara, Mosquito-borne Disease

(3)

iii

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES DEPARTEMENT OF PUBLIC HEALTH

ENVIRONMENTAL HEALTH CONCENTRATION Ungraduate Thesis, December 2017

Afza Azzindani, NIM: 1113101000098

ANALYSIS OF CLIMATE PARAMETERS CHANGES AND MOSQUITO-BORNE DISEASE IN DKI JAKARTA PROVINCE REGENCY YEAR

2009-2016

(xxi + 153 pages, 14 tables, 9 charts, 5 attachements) ABSTRACT

Background: The number of cases of mosquito-borne disease has floried during the last three years in DKI Jakarta, ie 18,497 cases in 2014, 11,996 cases in 2015, and 39,723 cases in 2016. Changes in climate parameters are environmental factors that result in fluctuations in the incidence of mosquito-borne disease. This research was conducted to find out the correlation between climate parameter change with mosquito-borne disease in DKI Jakarta Province 2009-2016.

Method: This research is descriptive research using time-trend design of ecologic study and spearman correlation analysis. This study uses aggregate secondary data covering incident data of mosquito-borne disease (including incidence of dengue fever, chikungunya incidence, and malaria incidence), rainfall, rainy days, temperature and humidity data in DKI Jakarta Province 2009-2016 .

Result: It is known that there is a change of climate pattern on the parameters of rainfall, rainy days, air temperature, and air humidity in DKI Jakarta Province in 2009-2016. Rainfall patterns, rainy days, and air humidity have the same pattern with the incidence of mosquito-borne disease with time-lag occurring for 1-3 months (with time-lag at most 2 months). There are three climatic parameters that have relationship with mosquito-borne disease, that is rainfall (P value = 0,002 / r = 0,314), rainy day (P value = 0,001 / r = 0,338), and air humidity (P value = 0,000 / r = 0.460). In contrast to air temperature, this variable has no significant relationship (P value = 0.061 / r = -0.192), this is caused by the temperature of air above 290C will cause a decrease in the number of incidents.

Conclusion: Climate parameter that has relationship with mosquito-borne disease in DKI Jakarta Province year 2009-2016, that is rainfall, rainy days, and air humidity.

Keyword: Climate, Rainfall, Rainy Days, Air Temperature, Humidity, Mosquito-borne Disease

(4)

iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Judul Skripsi

ANALISIS PERUBAHAN PARAMETER IKLIM DAN MOSQUITO-BORNE DISEASE DI PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009-2016

Disusun oleh

AFZA AZZINDANI 1113101000098

Telah disetujui, diperiksa, dan dipertahankan Tim Penguji Sidang Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta, Januari 2018

Mengetahui,

Pembimbing

(5)

vii

PANITIA SIDANG HASIL SKRIPSI

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Jakarta, Januari 2018 Penguji I,

Yuli Amran, MKM NIP.19800506 200801 2 015

Penguji II,

Siti Rahmah Hidayatullah Lubis, MKKK Penguji III,

(6)

viii

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata I di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Desember 2017

(7)

ix

RIWAYAT HIDUP

Data Diri

Nama : Afza Azzindani

NIM : 1113101000098

Tempat, tanggal Lahir : Lamongan, 20 September 1995 Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Telepon : 085 755 448 505

Email : afza.azzindani13@mhs.uinjkt.ac.id

Alamat : Jl. Tarumanegara No 48C, Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan

Riwayat Pendidikan

2001 – 2007 MI Muhammadiyah 13 Paciran 2007 - 2010 SMP Muhammadiyah 12 Paciran 2010 - 2013 MA Al-ISHLAH Paciran

2013 - 2017 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Kesehatan Masyarakat

(8)

x melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan magang ini dengan baik. Sholawat serta salam tidak lupa senantiasa dilimpahkan keharibaan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat-Nya dari zaman yang gelap gulita menuju ke zaman yang terang benderang. Atas segala rahmat dan

karunia-Nya sampai saat ini sehingga penulis dapat menyusun skripsi yang berjudul “

Analisis Perubahan Parameter Iklim dan Mosquito-Borne Disease di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016”. Oleh karena itu, ucapan terimakasih dituturkan secara ikhlas dan penuh kerendahan hati atas terselasaikannya Skripsi ini. Kepada: 1. Orang tua, kakak, dan adik yang selalu mendoakan dan mendukung dalam

penyelesaian skripsi ini.

2. Ibu Dewi Utami Iriani, M.Kes, Ph.D selaku pembimbing fakultas yang selalu siap memberikan bimbingan, pengarahan, serta semangat selama proses pelaksanaan skripsi.

3. Bapak Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, dan Ibu Fajar Ariyanti, M.Kes, Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Dr.Ela Laelasari, SKM, M.Kes selaku ketua Peminatan Kesehatan Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(9)

xi

dr. Satria Pratama, Sp.P selaku penguji sidang skripsi.

6. Semua civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang turut memberikan berbagai fasilitas yang mendukung seluruh kegiatan skripsi ini serta berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah banyak memberikan kontribusi dalam proses kegiatan skripsi ini.

7.Teman-teman Kesehatan Lingkungan 2013 yang selalu memberikan semangat.

Penulis menyadari bahwa masih banyak hal yang harus penulis pelajari dan perbaiki. Untuk itu kritik dan saran sangat diharapkan demi perbaikan skripsi ini.

Jakarta, Januari 2018

(10)

xii

1.3 Pertanyaan Penelitian ... 9

1.4 Tujuan Penelitian ... 10

1.4.1 Tujuan Umum ... 10

1.4.2 Tujuan Khusus ... 10

1.5 Manfaat Penelitian ... 11

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 11

1.5.2 Manfaat Praktis ... 12

1.6 Ruang Lingkup Penelitian ... 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 14

2.1 Mosquito-borne Disease ... 14

2.1.1 Definisi Mosquito-borne Disease ... 14

2.1.2 Demam Berdarah Dengue ... 14

2.1.3 Chikungunya ... 19

2.1.4 Malaria ... 20

2.1.5 Upaya Pemberantasan ... 25

2.2 Perubahan Iklim ... 27

(11)

xiii

2.2.2 Parameter Iklim ... 27

2.2.3 Definisi Perubahan Iklim ... 32

2.2.4 Penyebab Perubahan Iklim ... 33

2.2.5 Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan ... 35

2.2.6 Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim ... 36

2.3 Studi Ekologi ... 40

2.4 Data Surveilans ... 43

2.5 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ... 47

2.5.1 Sejarah ... 47

2.5.2 Visi dan Misi ... 49

2.5.3 Tugas dan Fungsi ... 50

2.6 Kerangka Teori ... 52

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 54

3.1 Kerangka Konsep ... 54

3.2 Definisi Operasional ... 56

3.3 Hipotesis Penelitian ... 58

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 59

4.1 Desain Penelitian ... 59

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 60

4.3 Populasi ... 60

4.4 Instrumen Penelitian ... 61

4.5 Pengumpulan Data ... 61

4.6 Pengolahan Data ... 62

4.7 Analisis Data ... 63

4.7.1 Analisis Univariat... 63

4.7.2 Analisis Bivariat ... 64

4.8 Penyajian Data ... 66

BAB V HASIL ... 67

5.1 Karakteristik Wilayah Penelitian ... 67

5.1.1 Karakteristik Geografi ... 67

5.1.2 Karakteristik Demografi... 69

5.1.3 Karakteristik Fasilitas Kesehatan ... 71

(12)

xiv

5.1.1 Gambaran Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 72 5.1.2 Gambaran Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016

79

5.1.3 Gambaran Hari Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 . 84 5.1.4 Gambaran Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 89 5.1.5 Gambaran Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 94

5.3 Analisis Time-trend Ecologic Study berdasarkan Pola Grafik ... 99 5.3.1 Analisis Mosquito-borne Disease dan Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta 100

5.3.2 Analisis Mosquito-borne Disease dan Hari Hujan di Provinsi DKI Jakarta 104

5.3.3 Analisis Mosquito-borne Disease dan Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta 107

5.3.4 Analisis Mosquito-borne Disease dan Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta ... 110 5.4 Analisis Bivariat ... 114 5.4.1 Hubungan antara Curah Hujan dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 114 5.4.2 Hubungan antara Hari Hujan dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 114 5.4.3 Hubungan antara Suhu Udara dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 115 5.4.4 Hubungan antara Kelembaban Udara dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 116 BAB VI PEMBAHASAN ... 117 6.1 Keterbatasan Penelitian ... 117 6.2 Gambaran Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 118

6.3 Gambaran Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 119 6.4 Gambaran Hari Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 124 6.5 Gambaran Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 128 6.6 Gambaran Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016

130

(13)

xv

6.8 Analisis Mosquito-borne Disease dan Hari Hujan di Provinsi DKI Jakarta

Tahun 2009-2016 ... 135

6.9 Analisis Mosquito-borne Disease dan Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 137

6.10 Analisis Mosquito-borne Disease dan Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 139

6.11 Hubungan antara Curah Hujan dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 141

6.12 Hubungan antara Hari Hujan dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 143

6.13 Hubungan antara Suhu Udara dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 145

6.14 Hubungan antara Kelembaban Udara dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 147

BAB VII PENUTUP ... 149

7.1 Simpulan ... 149

7.2 Saran ... 152

(14)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Masa Inkubasi Penyakit Malaria Plasmodium ... 25

Tabel 2.2 Perbedaan pada Jenis Studi Ekologi ... 42

Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 56

Tabel 4.1 Interpretasi Parameter Hasil Analisis Data Berdasarkan Nilai ... 65

Tabel 5.1 Gambaran Insidens Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 75

Tabel 5.2 Gambaran Angka Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 82

Tabel 5.3 Gambaran Jumlah Hari Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 87

Tabel 5.4 Gambaran Kondisi Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 92

Tabel 5.5 Gambaran Kondisi Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016 ... 97

Tabel 5.6 Hubungan antara Curah Hujan dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 114

Tabel 5.7 Hubungan antara Hari Hujan dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 115

Tabel 5.8 Hubungan antara Suhu Udara dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 115

Tabel 5.9 Hubungan antara Kelembaban Udara dengan Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ... 116

(15)

xvii

DAFTAR GRAFIK

(16)

xviii

DAFTAR ISTILAH

Agent : Patogen penyakit

Antropofilik : Nyamuk yang lebih memilih untuk mengambil makanan dari darah manusia

Antropogenik : Sumber pencemaran yang tidak alami timbul karena ada pengaruh atau campur tangan manusia atau aktifitas manusia

Arthopod-borne virus : Segala penyakit yang diakibatkan oleh mikroorganisme dan disebarkan oleh Arthopoda

CDM : Clean Development Mechanism, adalah

mekanisme pembangunan ramah lingkungan sebagai upaya mitigasi perubahan iklim

CFC : Klorofluorokarbon, yaitu senyawa-senyawa yang mengandung atom karbon dengan klorin dan fluorin terikat padanya

CP-EE : Cleaner Production and Energy Efficiency, adalah program produksi bersih dan efisiensi energi

Deforestasi : Proses penghilangan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya

(17)

xix

antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera

Echymosis : Lebam

El-Nino : Fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan memanasnya suhu permukaan laut di Ekuator Pasifik Tengah Endophagic : Perilaku memakan nyamuk di dalam rumah

atau ruangan

Endophilic : Perilaku istirahat nyamuk di dalam ruangan Environment : Lingkungan tempat berinteraksi antara pejamu

dan agen penyakit

Exophagic : Perilaku memakan nyamuk di luar rumah atau ruangan

Exophilic : Perilaku istirahat nyamuk di luar ruangan Extrinsic incubation period : Masa inkubasi patogen dalam tubuh nyamuk Freezing point : Titik beku

Green House Gases : Gas Rumah Kaca

HFC : Gas Hydrofluorokarbon adalah kelompok gas rumah kaca yang digunakan sebagai refrigeran (pendingin)

Host : Pejamu agen penyakit

(18)

xx

Insidens : Jumlah kasus penyakit selama suatu periode tertentu pada populasi tertentu

Intrinsic incubation period : Masa inkubasi patogen dalam tubuh manusia Japanese Encephalitis Virus : Virus penyebab infeksi otak (Japanese

Encephalitis)

La-Nina : Anomali suhu permukaan laut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya) di Ekuator Pasifik Tengah

Liquid-in-glass thermometer : Thermometer kaca

LULUCF : Land Use, Land-Use Change And Forestry, adalah penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan dan kehutanan sebagai salah satu penyebab perubahan iklim

Mosquito Biting Rate : Kepadatan menggigit pada nyamuk

Mosquito-borne disease : Segala penyakit yang diakibatkan oleh mikroorganisme dan disebarkan oleh nyamuk

Online : Terhubung dengan internet

Petechiae : Bintik perdarahan

PFC : Perfluorokarbon, yaitu jenis bahan kimia yang banyak digunakan pada produk anti-lengket dan pengemas makanan yang bersifat menolak air dan lemak

(19)

xxi

Purpura : Ruam

Raingauge : Instrumen yang digunakan untuk menghitung jumlah curah hujan

Siklus ekso-eritrositer : Siklus perkembangan patogen di dalam hati Skizon : Stadium reproduksi protozoa dalam tubuh

manusia

Software : Perangkat lunak

Sporozoit : Bentuk Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles

Tropozoit : Daur hidup protozoa dalam tubuh manusia Vector-borne disease : Penyakit yang ditularkan melalui vektor Virulensi : Kapasitas relatif patogen untuk mengatasi

pertahanan tubuh

West Nile Virus : Virus penyakit yang disebarkan melalui nyamuk yang dapat menyebabkan radang otak dan dapat menjadi serius bahkan fatal, penyakit Yellow Fever (Demam Kuning) : Penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh

(20)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mosquito-borne disease saat ini menjadi salah satu golongan penyakit yang masih belum mengalami penurunan secara signifikan. Golongan penyakit ini merupakan bagian dari vector-borne disease atau penyakit yang ditularkan melalui vektor. Mosquito-borne disease sendiri adalah segala penyakit yang diakibatkan oleh mikroorganisme dan disebarkan oleh nyamuk (WMO, 2016b). Nyamuk menjadi binatang paling mematikan di dunia karena nyamuk menimbulkan berbagai penyakit yang mematikan (WHO, 2015). Terdapat enam penyakit yang termasuk ke dalam mosquito-borne disease, yaitu Chikungunya, Zika Virus, Demam Berdarah Dengue (DBD), West Nile Virus, Malaria, dan Yellow Fever (WHO, 2015). Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat empat penyakit yang tergolong dalam mosquito-borne disease, yaitu DBD, Chikungnuya, Malaria, dan Filariasis (Prastowo and Anggraini, 2011).

(21)

dan DBD ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti (WHO, 2015). Oleh karena itu, pengendalian nyamuk secara berkelanjutan sangat diperlukan untuk menurunkan insiden mosquito-borne disease.

Di Indonesia, mosquito-borne disease masih menjadi permasalahan yang sangat serius dan belum terselesaikan sampai saat ini. Misalnya malaria, penyakit ini mengalami peningkatan insiden sebesar 0,3% pada tahun 2007 menjadi 1,4% pada tahun 2013 (Kemenkes RI, 2013b). Selain itu pada bulan Januari sampai Februari 2016, muncul KLB penyakit DBD di 12 Kabupaten dan 3 Kota dari 11 Provinsi di Indonesia (Kemenkes RI, 2016).

(22)

Berdasarkan hasil pengamatan data jumlah kasus mosquito-borne disease yang diperoleh dari penjumlahan data STP DBD, Malaria, dan Chikungunya tahun 2014-2016 Unit Surveilans Epidemiologi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menunjukkan peningkatan yang signifikan di beberapa kota administrasi. Kota administrasi Jakarta Pusat mengalami fluktuasi jumlah kasus mosquito-borne disease selama 3 tahun terakhir, yaitu 1.768 kasus pada tahun 2014, 1.007 kasus

pada tahun 2015, dan 3.469 kasus pada tahun 2016. Sedangkan kota administrasi Jakarta Utara mengalami fluktuasi setiap tahunnya, mulai dari 3.642 kasus pada tahun 2014, 3.310 kasus pada tahun 2015, dan 6.566 kasus pada tahun 2016. Kota administrasi Jakarta Barat mengalami fluktuasi jumlah kasus mosquito-borne disease, yaitu 3.552 kasus pada tahun 2014, 2.098 kasus pada tahun 2015, dan 8.500

kasus pada tahun 2016. Kota administrasi Jakarta Selatan mengalami fluktuasi jumlah kasus mosquito-borne disease, yaitu 4.580 kasus pada tahun 2014, 2.378 kasus pada tahun 2015, dan 8.878 kasus pada tahun 2016. Kota administrasi Jakarta Timur mengalami fluktuasi jumlah kasus mosquito-borne disease, yaitu 4.937 kasus pada tahun 2014, 3.184 kasus pada tahun 2015, dan 12.289 kasus pada tahun 2016. Dan Kabupaten Kepuluan Seribu selalu mengalami peningkatan jumlah kasus mosquito-borne disease, yaitu 18 kasus pada tahun 2014, 19 kasus pada tahun 2015, dan 21 kasus pada tahun 2016. Dari data di atas dapat diketahui bahwa insidens mosquito-borne disease bersifat fluktuatif di beberapa kota administrasi Provinsi DKI Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa mosquito-borne disease belum dapat dikendalikan sampai saat ini.

(23)

perilaku manusia, faktor lingkungan, dan faktor pelayanan kesehatan (Kemenkes RI, 2011a). Faktor lingkungan menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap mosquito-borne disease, dimana lingkungan menjadi tempat pertemuan antara pejamu dan agen penyakit. Menurut John Gordon, saat lingkungan mengalami pergeseran atau perubahan yang signifikan, akan mengakibatkan kerentanan pada pejamu dan peningkatan jumlah populasi serta peningkatan virulensi agen penyakit (Maryani, 2010).

Pergeseran lingkungan yang saat ini terjadi yaitu perubahan iklim. Iklim sendiri merupakan bagian dari lingkungan yang timbul dari interkasi parameter abiotik ekosistem. Kondisi iklim memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi aktifitas makhluk hidup. Iklim adalah iklim suatu wilayah atau negara, termasuk deskripsi statistik dari sistem iklim pada wilayah tersebut yang terdiri dari beberapa parameter iklim (Aldrian, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa saat perubahan iklim sedang berlangsung, maka akan memicu ketidakseimbangan pada lingkungan.

Penelitian yang telah dilakukan beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa perubahan iklim sedang berlangsung (IPCC 2014). Secara singkat perubahan iklim dapat diartikan sebagai perubahan kondisi parameter iklim dalam rentang waktu tertentu. Menurut beberapa sumber, perubahan iklim adalah berubahnya kondisi rata-rata iklim dan/atau keragaman iklim dalam periode tertentu sebagai akibat dari aktivitas manusia (IPCC, 2007b; Pemerintah RI, 2008; Aldrian, 2013; KLHK, 2016).

(24)

Rumah Kaca (GRK) atau dalam istilah international disebut dengan Green House Gases (GHG). Gas rumah kaca adalah gas-gas yang berada di atmosfer dan

menyebabkan efek rumah kaca (Gunawan, 2013). GRK dapat muncul secara alami di lingkungan dan juga dapat timbul akibat dari kegiatan antropogenik.

Di Indonesia emisi GRK diperkirakan akan tumbuh 2% per tahun dan mencapai 2.80 miliar ton CO2 pada 2020 dan 3.60 miliar ton CO2 pada 2030

(Gunawan, 2013). Sumber utama dari kenaikan emisi GRK tersebut berasal dari pembangkit listrik, transportasi, dan deforestasi lahan gambut (Gunawan, 2013). Deforestasi lahan gambut maupun lahan non-gambut menyumbang 80% dari emisi GRK di Indonesia (Gunawan, 2013). Peningkatan jumlah industri dan transportasi menyebabkan meningkatnya konsumsi energi yang bersumber dari bahan bakar fosil, sehingga peningkatan emisi hasil pembakaran meningkatkan GRK di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang GRK global.

(25)

diidentifikasi menjadi salah satu faktor risiko yang bersifat mengancam derajat kesehatan masyarakat (Akerlof et al., 2010; Wei et al., 2014; Yusa et al., 2015).

Peningkatan suhu permukaan bumi menimbulkan ketidakseimbangan pada sistem iklim. Hal ini memicu terjadinya kerusakan pola iklim dan cuaca, serta kondisi iklim yang sulit untuk diprediksi dengan tepat (IPCC, 2007c). Pola iklim yang mengalami gangguan akan meningkatkan tingkat stress pada manusia dan berpotensi untuk menimbulkan kerentanan pada sistem kekebalan tubuh (WHO, 2003; Dittmar et al., 2014; Rowley et al., 2016). Imunitas tubuh yang telah mengalami penurunan berpotensi menimbulkan kerentanan individu terhadap berbagai penyakit infeksius seperti mosquito-borne disease (WHO, 2003).

Sebelum terjadi gangguan pola iklim mosquito-borne disease cenderung meningkat saat memasuki musim hujan. Sebuah penelitian yang dilakukan di Jakarta menunjukkan bahwa DBD memiliki risiko serangan yang besar ketika memasuki musim hujan, dimana penyakit ini memiliki keterkaitan yang erat dengan curah hujan (Susanto, 2004). Penelitian lain yang dilakukan di Kabupaten Sukabumi menyatakan bahwa kepadatan menggigit atau Mosquito Biting Rate (MBR) nyamuk Anopheles sp meningkat saat musim hujan akibat dari curah hujan yang cukup tinggi (Hakim and Ipa, 2007).

(26)

berkembangbiak setiap saat baik pada saat musim hujan maupun musim kemarau. Selain itu nyamuk juga dapat menyerang kapan saja saat kondisi suhu dan kelembaban optimal untuk melakukan aktivitas (Perwitasari et al., 2004; Mardiana and Perwitasari, 2014).

(27)

1.2 Rumusan Masalah

Mosquito-borne disease menjadi salah satu masalah kesehatan yang belum

terselesaikan sampai saat ini, dimana penyakit ini belum mengalami penurunan insidens secara signifikan. Hal ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya yaitu lingkungan. Lingkungan menjadi faktor yang penting karena menjadi tempat pertemuan antara host (manusia) dan agent penyakit (nyamuk dan mikroorganisme), dimana saat lingkungan mengalami pergeseran maka akan timbul suatu dampak dimana host akan menjadi rentan terhadap penyakit dan agent mosquito-borne disease akan mengalami peningkatan jumlah populasi.

Pergeseran lingkungan yang saat ini terjadi adalah perubahan iklim global. Berdasarkan Laporan Perubahan Iklim Tahun 2014 yang dikeluarkan oleh IPCC, menyatakan bahwa akan terjadi peningkatan rata-rata suhu permukaan bumi sebesar 0,3oC sampai 4,8oC pada akhir abad 21 (2081-2100) terhitung dari akhir abad 20 (1986-2005) (IPCC, 2014). Hal ini memicu terjadinya kerusakan pola iklim dan cuaca, serta kondisi iklim yang sulit untuk diprediksi dengan tepat (IPCC, 2007c). Selain itu pola iklim yang rusak akan membuat pola hujan menjadi tidak teratur dan bersifat mendukung terhadap peningkatan populasi nyamuk. Sebelum iklim mengalami kerusakan yang cukup parah, kepadatan menggigit atau Mosquito Biting Rate (MBR) nyamuk Anopheles sp meningkat saat musim hujan akibat dari

curah hujan yang cukup tinggi (Hakim and Ipa, 2007). Namun saat ini mosquito-borne disease berpotensi muncul di semua musim, dimana hasil sebuah penelitian

(28)

2012). Hal ini sangat berpotensi untuk meningkatkan jumlah kasus mosquito-borne disease. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian terkait perubahan iklim

dan mosquito-borne disease, dimana apakah pola iklim memiliki pola yang sama dengan angka kejadian mosquito-borne disease.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

2. Bagaimana gambaran variasi curah hujan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

3. Bagaimana gambaran variasi hari hujan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

4. Bagaimana gambaran variasi suhu udara di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

5. Bagaimana gambaran variasi kelembaban udara di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

6. Bagaimana gambaran pola curah hujan dan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

7. Bagaimana gambaran pola hari hujan dan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

8. Bagaimana gambaran pola suhu udara dan mosquito-borne disease dan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

(29)

10.Apakah terdapat hubungan antara curah hujan dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

11.Apakah terdapat hubungan antara hari hujan dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

12.Apakah terdapat hubungan antara suhu udara dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

13.Apakah terdapat hubungan antara kelembaban udara dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016 ?

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum

Diketahuinya perubahan parameter iklim yang berhubungan dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

2. Diketahuinya gambaran variasi curah hujan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

3. Diketahuinya gambaran variasi hari hujan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

4. Diketahuinya gambaran variasi suhu udara di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

(30)

6. Diketahuinya gambaran pola antara curah hujan dan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

7. Diketahuinya gambaran pola antara hari hujan dan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

8. Diketahuinya gambaran pola antara suhu udara dan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

9. Diketahuinya gambaran pola antara kelembaban udara dan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

10.Diketahuinya hubungan antara curah hujan dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

11.Diketahuinya hubungan antara hari hujan dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

12.Diketahuinya hubungan antara suhu dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

13.Diketahuinya hubungan antara kelembaban udara dengan mosquito-borne disease di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009-2016.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

1. Menambah wawasan pembaca terkait perubahan iklim dan mosquito-borne disease, serta gambaran alur dampak perubahan iklim terhadap mosquito-borne disease.

(31)

mosquito-borne disease.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Instansi Pemerintahan (Kementrian dan Dinas Kesehatan)

a. Sebagai bahan masukan dalam proses pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan, dalam terjadinya perkembangan kasus mosquito-borne disease akibat dari adanya perubahan iklim.

b. Sebagai landasan atau bukti (evidence) pemerintah untuk meningkat upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sesuai dengan pedoman yang telah disusun.

2. Bagi Lembaga Penelitian

Sebagai bahan informasi tambahan bagi lembaga penelitian untuk mengembangkan serta melakukan penelitian lebih lanjut tentang dampak perubahan iklim terhadap mosquito-borne disease, serta penelitian tentang perubahan iklim itu sendiri maupun penelitian lain terkait mosquito-borne disease.

3. Bagi Masyarakat

(32)

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan menggunakan desain time-trend ecologic study. Uji statistik dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif pola dan analisis korelasi spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel independen dengan dependen. Adapun Variabel dependen penelitian ini yaitu mosquito-borne disease. Sedangkan Variabel independen penelitian ini yaitu iklim (curah hujan, hari hujan, suhu udara, dan kelembaban udara).

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat agregat meliputi data insidens mosquito-borne disease (meliputi insidens DBD, insidens chikungunya, dan insidens malaria), data curah hujan, hari hujan, suhu udara, dan kelembaban udara di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2009-2016. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa lembar check list pengumpulan data insidens mosquito-borne disease tahun 2009 sampai 2016 dan data iklim tahun 2009 sampai 2016.

(33)

14 2.1 Mosquito-borne Disease

2.1.1 Definisi Mosquito-borne Disease

Mosquito-borne disease sendiri adalah segala penyakit yang diakibatkan

oleh mikroorganisme dan disebarkan oleh nyamuk (WMO, 2016b). Terdapat enam penyakit yang termasuk ke dalam mosquito-borne disease, yaitu Chikungunya, Zika Virus, Demam Berdarah Dengue (DBD), West Nile Virus, Malaria, dan Yellow Fever (WHO, 2015). Dari golongan penyakit ini, terdapat tiga penyakit yang ada di

Indonesia, yaitu DBD, Chikungunya, dan Malaria.

2.1.2 Demam Berdarah Dengue 2.1.2.1 Definisi dan Penyebab

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang sangat mematikan. Penyakit DBD sendiri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang ditandai dengan demam mendadak 2 sampai dengan 7 hari tanpa

(34)

anak, ditandai dengan panas tinggi, perdarahan, dapat menimbulkan renjatan dan kematian, serta termasuk salah satu penyakit yang dapat menimbulkan wabah (Kemenkes RI, 2011b).

Virus penyebab demam berdarah dengue (DBD) adalah virus dengue anggota dari genus flavivirus (Candra, 2010). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dengue yang terdiri dari empat tipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 dan ditularkan memalului gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang telah terinfeksi oleh virus dengue dari penderita DBD lainnya

(Candra, 2010).

2.1.2.2 Vektor 1. Daur Hidup

Berikut daur hidup nyamuk Aedes aegypti (Kemenkes RI, 2011b): a. Nyamuk betina meletakkan telur di tempat perkembang-biakannya. b. Dalam beberapa hari telur menetas menjadi jentik,kemudian

berkembang menjadi kepompong dan akhirnya menjadi nyamuk (perkembang-biakan dari telur, jentik, kepompong, nyamuk membutuhkan waktu 7-10 hari).

c. Dalam tempo 1-2 hari nyamuk yang baru menetas ini (yang betina) akan menggigit (mengisap darah) manusia dan siap untuk melakukan perkawinan dengan nyamuk jantan.

(35)

tumbuh- tumbuhan atau benda tergantung di tempat yang gelap dan lembab, berdekatan dengan tempat perkembang biakannya.

e. Siklus mengisap darah dan bertelur ini berulang setiap 3-4 hari.

f. Bila mengisap darah seorang penderita demam berdarah dengue atau carrier, maka nyamuk ini seumur hidupnya dapat menularkan virus itu. g. Umur nyamuk betina rata-rata 2-3 bulan.

2. Perilaku Vektor

Berikut perilaku dan aktivitas nyamuk Aedes aegypti (Kemenkes RI, 2012):

a. Nyamuk Aedes sp jantan mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya sedangkan yang betina mengisap darah. b. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia daripada hewan

(bersifat antropofilik). Darah diperlukan untuk pematangan sel telur, agar dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan, waktunya bervariasi antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut dengan siklus gonotropik.

(36)

d. Setelah mengisap darah, nyamuk akan beristirahat pada tempat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan habitat perkembangbiakannya. Pada tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telurnya.

e. Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakkan telurnya di atas permukaan air, kemudian telur menepi dan melekat pada dinding-dinding habitat perkembangbiakannya. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam waktu ±2 hari. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat menghasilkan telur sebanyak ±100 butir. Telur itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan ±6 bulan, jika tempat-tempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.

Di sisi lain terdapat beberapa hal yang mempengaruhi tingkat aktivitas nyamuk Aedes sp, meliputi:

a. Suhu

Nyamuk Aedes sp cenderung akan lebih aktif saat suhu udara berada pada 250C - 280C (Perwitasari et al., 2004; Sulasmi, 2013; Zubaidah, Ratodi and Marlinae, 2016). Pada suhu tersebut nyamuk akan mengalami kondisi yang optimal untuk melakukan aktivitas.

b. Kelembaban udara

(37)

c. Curah hujan

Nyamuk ini akan lebih aktif saat curah hujan berada diatas 200 mm setiap bulannya (Perwitasari et al., 2004; Zubaidah, Ratodi and Marlinae, 2016).

2.1.2.3 Penularan

Berikut siklus penularan DBD (Kemenkes RI, 2011b):

a. Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia) yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. b. Nyamuk menjadi infektif 8-12 hari sesudah mengisap darah penderita yang sedang viremia (periode inkubasi ekstrinsik) dan tetap infektif selama hidupnya.

c. Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik tersebut, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain.

d. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 3 - 4 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala awal penyakit secara mendadak, yang ditandai demam, pusing, myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu makan dan berbagai tanda atau gejala lainnya.

(38)

2.1.3 Chikungunya

2.1.3.1 Definisi dan Penyebab

Pada tahun 1928 di Cuba pertama kali digunakan istilah “dengue”, ini dapat diartikan bahwa infeksi Chikungunya sangat mirip dengan Dengue (Kemenkes RI, 2012). Istilah “Chikungunya” berasal dari bahasa suku Swahili yang berarti “Orang

yang jalannya membungkuk dan menekuk lututnya”, suku ini bermukim di dataran

tinggi Makonde Provinsi Newala, Tanzania (Kemenkes RI, 2012). Istilah Chikungunya juga digunakan untuk menamai virus yang pertama kali diisolasi dari serum darah penderita penyakit tersebut pada tahun 1953 saat terjadi KLB di negara tersebut (Kemenkes RI, 2012). Inilah sejarah singkat mengenai chikungunya.

Terdapat dua hal yang mempengaruhi penyebab timbulnya chikungunya, yaitu agen dan vektor. Agen penyakit ini adalah Arthopod-borne virus yang ditransmisikan oleh beberapa spesies nyamuk (Kemenkes RI, 2012). Hasil uji Hemaglutinasi Inhibisi dan uji Komplemen Fiksasi, virus ini termasuk genus alphavirus (“Group A” Arthropod-borne viruses) dan famili Togaviridae (Kemenkes RI, 2012; CDC, 2014). Sedangkan DBD disebabkan oleh “Group B” arthrophod-borne viruses (flavivirus) (Kemenkes RI, 2012). Vektor utama penyakit

ini sama dengan DBD yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (WHO, 2008).

2.1.3.2 Penularan

(39)

2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul (Kemenkes RI, 2012). Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya (Kemenkes RI, 2012). Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit (Kemenkes RI, 2012).

2.1.4 Malaria

2.1.4.1 Definisi dan Penyebab

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit plasmodium yang dapat ditandai dengan demam, hepatosplenomegali dan anemia (Depkes, 2008). Plasmodium hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina (Kemenkes RI, 2013a).

Terdapat 5 spesies plasmodium yang dapat menginfeksi manusia, yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium knowlesi (Depkes, 2008). Jenis Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia adalah P. falciparum dan P. vivax, sedangkan P. malariae dapat ditemukan di beberapa provinsi antara lain Lampung, Nusa

(40)

2.1.4.2 Vektor 1. Daur Hidup

Berikut gambaran daur hidup nyamuk Anopheles sp (CDC, 2016): a. Telur

Nyamuk betina dewasa dapat bertelur sebanyak 50-200 telur. Telur-telur ini terpisah masing-masing dan mengambang di air. Telur nyamuk ini tidak tahan dengan kering dan menetas selama 2-3 hari, meskipun terkadang sampai 2-3 minggu di musim yang lebih dingin.

b. Larva

Larva nyamuk memiliki kepala dengan mulut yang digunakan untuk makan, sebuah thorax besar, dan perut tersegmentasi. Mereka tidak memiliki kaki. Berbeda dengan nyamuk lain, larva nyamuk ini tidak memiliki siphon pernapasan, sehingga larva nyamuk ini memposisikan diri sejajar dengan permukaan air untuk bernapas.

c. Pupa

Pupa nyamuk ini berbentuk koma bila dilihat dari samping. Seperti larva, pupa harus datang ke permukaan untuk bernapas melalui sepasang terompet pernafasan pada thorax. Setelah beberapa hari, pupa muncul ke permukaan dan menjadi nyamuk dewasa.

d. Dewasa

(41)

2. Perilaku Vektor

Berikut gambaran perilaku dan aktivitas nyamuk Anopheles sp (CDC, 2016):

a. Nyamuk ini suka menggigit di luar rumah. Pada umumnya nyamuk yang menghisap darah adalah nyamuk betina. Kebanyakan nyamuk Anopheles aktif saat senja atau fajar dan bersifat nokturnal (aktif di malam hari). Beberapa nyamuk Anopheles makan di dalam rumah atau ruangan (endophagic) sementara yang lain makan di luar rumah (exophagic).

b. Setelah menggigit dan memakan darah, beberapa nyamuk Anopheles lebih memilih untuk beristirahat di dalam ruangan (endophilic) sementara yang lain lebih memilih untuk beristirahat di luar ruangan (exophilic). Perilaku inilah yang mendasari cara pengendalian vektor nyamuk.

c. Beberapa berkembang biak di terbuka atau genangan yang medapat sinar matahari, sementara yang lain hanya ditemukan di tempat perkembangbiakan yang gelap di hutan. Beberapa spesies berkembang biak di lubang pohon atau lipatan daun beberapa tanaman.

Di sisi lain terdapat beberapa hal yang mempengaruhi tingkat aktivitas nyamuk Anopheles sp, meliputi:

d. Waktu

(42)

18.00-01.00, istirahat di dinding tertinggi antara jam 20.00-23.00 dan di kandang antara jam 03.00-05.00 (Kazwaini, Willa and Wadu, 2014). e. Suhu

Kondisi optimal suhu yang disukai Anopheles sp yaitu sebesar 240C -

290C (Mardiana, 2012; Mardiana and Perwitasari, 2014). Pada suhu ini aktivitas Anopheles sp cenderung meningkat.

f. Kelembaban udara

Kelembaban udara yang optimal bagi Anopheles sp untuk melakukan aktivitas yaitu sebesar 65% - 95% (Mardiana, 2012; Mardiana and Perwitasari, 2014).

g. Curah hujan

Curah hujan yang mendukung aktivitas nyamuk Anopheles sp yaitu antara 1 mm - 567 mm setiap bulannya (Mardiana, 2012; Mardiana and Perwitasari, 2014).

2.1.4.3 Penularan

Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan nyamuk Anopheles betina (Kemenkes RI, 2013a). Berikut siklus hidup plasmodium pada dua hospesnya (Kemenkes RI, 2013a):

a. Siklus pada manusia

(43)

berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10,000-30,000 merozoit hati (tergantung spesiesnya).

Siklus ini disebut siklus ekso-eritrositer yang berlangsung selama lebih kurang 2 minggu. Pada P. vivax dan P. ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh).

Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit, tergantung spesiesnya). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi (skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus ini disebut siklus eritrositer.

Pada P. falciparum setelah 2-3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang menginfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual (gametosit jantan dan betina). Pada spesies lain siklus ini terjadi secara bersamaan. Hal ini terkait dengan waktu dan jenis pengobatan untuk eradikasi.

b. Siklus pada nyamuk anopheles betina

(44)

melakukan pembuahan menjadi zigot. Zigot berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Pada dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit. Sporozoit ini bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia.

Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk ke tubuh manusia sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam. Masa inkubasi bervariasi tergantung spesies plasmodium (lihat Tabel 2.1).

Masa prepaten adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk ke tubuh manusia sampai parasit dapat dideteksi dalam sel darah merah dengan pemeriksaan mikroskopik.

Tabel 2.1 Masa Inkubasi Penyakit Malaria Plasmodium

Plasmodium Masa Inkubasi (rata-rata) P. falciparum 9-14 hari (12)

P. vivax 12-17 hari (15) P. ovale 16-18 hari (17) P. malariae 18-40 hari (28) P.knowlesi 10-12 hari (11)

Sumber: Depkes 2008

2.1.5 Upaya Pemberantasan

(45)

1. Pencegahan

Pencegahan dilaksanakan oleh masyarakat di rumah dan Tempat umum dengan melakukan Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN) yang meliputi:

a. Menguras tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali, atau menutupnya rapat-rapat.

b. Mengubur barang bekas yang dapat menampung air. c. Menaburkan racun pembasmi jentik (abatisasi). d. Memelihara ikan.

e. Cara-cara lain membasmi jentik. 2. Penemuan, pertolongan dan pelaporan

Penemuan, pertolongan dan pelaporan penderita penyakit terkait mosquito-borne disease dilaksanakan oleh petugas kesehatan dan

masyarakat.

3. Pengamatan penyakit dan Penyelidikan Epidemiologi (PE)

(46)

2.2 Perubahan Iklim 2.2.1 Definisi Iklim

Pengertian iklim dapat diartikan secara sempit maupun secara luas. Iklim dalam arti sempit didefinisikan sebagai rata-rata cuaca, atau lebih detail, sebagai deskripsi statistik dalam hal rata-rata dan variabilitas dalam jumlah yang relevan selama periode waktu dimulai dari bulan ke ribuan atau jutaan tahun (Aldrian, 2013). Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), periode klasik rata-rata untuk variabel-variabel iklim adalah 30 tahun (Aldrian, 2013). Iklim dalam arti lebih luas adalah iklim suatu wilayah atau negara, termasuk deskripsi statistik dari sistem iklim pada wilayah tersebut (Aldrian, 2013).

Interaksi pada berbagai parameter bumi akan menimbulkan sistem iklim. Sirkulasi atmosfer merupakan salah satu parameter utama pembentuk Sistem Iklim (Gunawan, 2013). Sistem iklim merupakan sistem komplek yang terdiri dari lima parameter utama: atmosfer, hidrosfer, kriosfer (lapisan es), daratan, biosfer, dan interaksi di antaranya (Gunawan, 2013). Sistem iklim berkembang dalam kurun waktu tertentu dan dipengaruhi oleh dinamika internal (pergerakan interaksi parameter) sistem iklim dan gaya luar seperti letusan gunung api, variasi matahari, pengaruh antropogenik, (seperti perubahan komposisi atmosfer dan perubahan lahan) (Aldrian, 2013).

2.2.2 Parameter Iklim

(47)

1. Curah Hujan

Curah hujan merupakan salah satu parameter dasar untuk melihat kondisi cuaca pada satuan waktu tertentu. Pengertian curah hujan adalah ketebalan air hujan (dalam satuan milimeter) yang terkumpul pada luasan 1 m2 pada saat dilakukan pengukuran (BMKG, 2015c). Alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan di Indonesia yaitu raingauge (BMKG, 2015c). Curah hujan ini menjadi besaran terjadinya hujan yang menunjukkan terjadinya hujan lebat ataupun hujan ringan.

Terdapat beberapa penggolongan curah hujan dalam periode harian (24 jam). Golongan tersebut meliputi hujan sangat ringan (< 5 mm), hujan rinagn (5-20 mm), hujan sedang (21-50 mm), hujan lebat (51-100 mm), dan hujan sangat lebat (> 100 mm) (BMKG, 2008). Selain itu terdapat pula penggolongan curah hujan dalam periode bulanan yang meliputi bulan hujan sangat ringan (10-15 mm), bulan hujan ringan (70-85 mm), bulan hujan sedang (250-295 mm), bulan hujan lebat (400-545 mm), dan bulan hujan sangat lebat (510-845 mm) (BMKG, 2008). Pada parameter ini juga memiliki kriteria hujan ekstrim, dimana hujan ekstrim terjadi jika terdapat bulan dengan curah hujan lebih dari 500 mm (Aldrian, 2014).

2. Hari Hujan

(48)

Berdasarkan proses terjadinya hujan, hujan dibedakkan menjadi 3, yaitu (BMKG, 2015c):

a. Hujan Orografis

Hujan orografis adalah hujan yang terjadi karena gerakan udara yang mengandung uap air terhalang oleh pegunungan sehingga massa udara itu dipaksa naik ke lereng pegunungan. Akibatnya suhu udara tersebut menjadi dingin di atas pegunungan. Sampai ketinggian tertentu terjadilah proses kondensasi dan terbentuknya awan. Kemudian terjadilah hujan yang disebut hujan orografis.

b. Hujan Konveksi (Zenithal)

Hujan konveksi terjadi karena udara yang mengandung uap air bergerak naik secara vertikal (konveksi) karena pemanasan. Udara yang naik itu mengalami penurunan suhu, sehingga pada ketinggian tertentu terjadi proses kondensasi dan pembentukan awan. Setelah awan tersebut tidak mampu lagi menahan kumpulan titik-titik airnya, maka terjadilah hujan konveksi. Hujan konveksi banyak terjadi di daerah tropis yang mempunyai intensitas penyinaran matahari yang selalu tinggi.

c. Hujan Frontal

(49)

Dalam melakukan pengukuran hujan dibutuhkan alat pengukur hujan yang biasa disebut dengan alat penakar hujan (BMKG, 2015c). Terdapat beberapa alat penakar hujan yang biasa digunakan untuk melakukan pengukuran yaitu alat penakar hujan biasa (manual raingauge), alat penakar hujan otomatis (automatic raingauge), dan alat penakar hujan hellman (BMKG, 2015c).

3. Suhu

Secara teoritis suhu udara memiliki arti ukuran energi kinetik rata-rata dari pergerakan molekul-molekul (BMKG, 2015c). Dengan kata lain suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda lain atau menerima panas dari benda lain (BMKG, 2015c). Dalam sistem dua benda dengan suhu berbeda, benda yang kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu lebih tinggi.

Alat yang biasa digunakan untuk mengukur temperatur atau suhu adalah thermometer. Ada beberapa jenis thermometer yang digunakan dewasa ini, namun dalam pengamatan meteorologi dan klimatologi, umumnya digunakan thermometer kaca (liquid-in-glass thermometer) untuk peralatan Konvensional dan thermometer PT-100 untuk peralatan-peralatan digital (BMKG, 2015c). Thermometer kaca (liquid-in-glass thermometer) umumnya menggunakan Air raksa (mercury) untuk

(50)

4. Kelembaban

Kelembaban udara adalah jumlah kandungan uap air yang ada dalam udara (BMKG, 2015c). Kandungan uap air di udara berubah-ubah bergantung pada suhu, dimana semakin tinggi suhu, makin banyak kandungan uap airnya. Alat pengukur kelembapan udara adalah higrometer (BMKG, 2015c). Kelembapan udara sendiri terbagi dalam 2 jenis, yaitu (BMKG, 2015c):

a. Kelembapan mutlak (absolut) yaitu bilangan yang menunjukkan jumlah uap air dalam satuan gram pada satu meter kubik udara.

b. Kelembapan relatif (nisbi), yaitu angka dalam persen yang menunjukkan perbandingan antara banyaknya uap air yang benar-benar dikandung udara pada suhu tertentu dan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung udara. Kelembapan relatif dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

𝐾 = 𝑇𝑃 × 100%

Keterangan:

K= kelembapan relatif.

T= uap air yang dikandung udara pada temperatur tertentu.

(51)

2.2.3 Definisi Perubahan Iklim

Secara singkat perubahan iklim dapat diartikan sebagai perubahan kondisi parameter iklim dalam rentang waktu tertentu. Menurut beberapa sumber, perubahan Iklim adalah berubahnya kondisi rata-rata iklim dan/atau keragaman iklim dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lain sebagai akibat dari aktivitas manusia (IPCC, 2007b; Pemerintah RI, 2008; Aldrian, 2013; KLHK, 2016). Perubahan iklim secara langsung maupun tidak langsung timbul akibat dari aktifitas manusia yang menimbulkan perubahan komposisi atmosfer secara global dan menimbulkan perubahan pada parameter iklim (seperti curah hujan, suhu, kelembaban, dan kecepatan angin) yang dapat dibandingkan pada peride waktu tertentu (IPCC, 2007b). Umumnya perubahan iklim timbul akibat dari perubahan komposisi atau struktur atmosfer bumi, dimana perubahan ini ditimbulkan dari meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) atau dalam istilah international disebut dengan Green House Gases (GHG).

Berikut gambaran proses terjadinya dampak akibat GRK terhadap atmosfir bumi (Sutamihardja, 2011):

(52)

Bumi harus meradiasikan kembali jumlah energi yang sama ke angkasa untuk menyeimbangkan energi yang diserap.

3. Radiasi panas yang dilepaskan oleh daratan dan lautan sebagian besar diserap oleh atmosfir, termasuk awan, dan diradiasikan kembali ke bumi. Peristiwa ini disebut efek rumah kaca yang secara alami ada untuk memungkinkan terjadinya kehidupan di bumi (tanpanya suhu rata-rata pada permukaan bumi akan berada di bawah titik beku air).

4. Efek rumah kaca ini memanaskan permukaan bumi karena dinding kacanya mengurangi aliran udara dan meningkatkan suhu udara di dalam ruangan. 5. Kegiatan-kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan

penebangan hutan sayangnya telah meningkatkan efek gas rumah kaca alami yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. Pembakaran bahan bakar fosil (yang memberikan kontribusi terbesar di dalam mengubah konsentrasi gas-gas rumah kaca), melepaskan gas karbon dioksida ke atmostir.

Gas-gas rumah kaca dan aerosol (partikel-partikel kecil) mempengaruhi iklim dengan cara mengubah radiasi sinar matahari yang masuk dan radiasi infra merah yang keluar, sehingga keseimbangan energi bumi berubah. Pembahan jumlah atau sifat gas-gas dan partikel-partikel di atmosfir dapat menyebabkan pemanasan atau pendingin sistem iklim.

2.2.4 Penyebab Perubahan Iklim

(53)

melalui aktivitas alami, seperti gas CO2dari aktivitas organisme, gas metana (CH4)

dari proses dekomposisi, dan gas lain berasal dari aktivitas vulkanik. Sedangkan GRK antropogenik berasal dari kegiatan manusia, seperti aktivitas pembakaran bahan bakar fosil sebagai sumber energi (energi transportrasi, energi listrik, dan energi untuk industri), aktivitas pertanian, dan aktivitas lain yang menghasilkan CFC, HFC, maupun PFC.

Karbon dioksida (CO2) adalah GRK yang paling penting dan paling besar

emisinya. Emisi tahunan telah bertambah tinggi antara tahun 1970 dan 2004 kira-kira sebesar 80%, dari 21 ke 38 gigatons (Gt), yang menunjukkan bahwa jumlah emisi GRK yang dihasilkan oleh kegiatan antropogenik sebesar 77% pada tahun 2004 (IPCC, 2007a). Kecepatan pertambahan emisi CO2-eq pada tahun 1995-2004

(0,92 GtCO2-eq per tahun) lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya

pada tahun 1970 sampai 1994 sebesar (0,43 GtCO2-eq per tahun) (IPCC, 2007a).

Pertambahan emisi GRK di antara tahun 1970 dan 2004 berasal dari suplai energi, transport dan industri, sedangkan yang berasal dari bangunan pemukiman dan perumahan dan komersial, kehutanan (termasuk deforestasi) dan sektor pertanian atau yang biasa disebut LULUCF bertambah dengan kecepatan lebih rendah (IPCC, 2007a).

Konsentrasi atmosfir global untuk CO2 bertambah tinggi dibandingkan

(54)

tahun (IPCC, 2007a). Hal ini menunjukkan bahwa tejadi percepatan jumlah emisi yang dihasilkan dalam rentang waktu tertentu.

Sedangkan konsentrasi CH4 pada atmosfir bertambah tinggi dari masa

pra-industri sebesar 715 ppb menjadi 1732 ppb pada awal tahun 1990 dan meningkat kembali menjadi 1774 ppb pada tahun 2005 (IPCC, 2007a). Di sisi lain konsentrasi N2O di atmosfer mengalami peningkatan yang tinggi semenjak pra-industri dari 270

ppb menjadi 319 ppb pada tahun 2005 (IPCC, 2007a). Dari data ini dapat dilihat bahwa peningkatan emisi GRK dapat dipastikan bersumber dari aktivitas antropogenik.

2.2.5 Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan

Dalam 157 tahun terakhir, suhu permukaan bumi telah meningkat secara global, dengan variasi penting berskala regional. Pemanasan (untuk rata-rata global), pada abad terakhir telah terjadi dalam tahap, yaitu dari tahun 1910-an hingga 1940-an (0,35°C), dan pemanasan yang lebih tinggi mulai dari tahun 1970-an hingga 2005 (0,55°C) (IPCC, 2007a). Laju peningkat1970-an pem1970-anas1970-an telah terjadi selama 25 tahun terakhir, dimana 11 dari 12 tahun terpanas tercatat pada 12 tahun terakhir (IPCC, 2007a).

(55)

berpotensi menimbulkan kerentanan individu terhadap berbagai penyakit infeksius (WHO, 2003).

2.2.6 Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim 2.2.6.1 Upaya Mitigasi

Adapun upaya mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah, dimulai dari pengembangan institusi, pembuatan kebijakan, pengembangan peraturan, dan pembentukan program, meliputi (KLHK, 2007):

1. Pengembangan Institusi

a. Pembentukan Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB) berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 206/05 sebagai Designated National Authority (DNA) yang bertujuan untuk memberikan persetujuan nasional terhadap usulan kegiatan proyek CDM (Clean Development Mechanism).

b. Usulan kegiatan proyek CDM yang telah disetujui oleh Komnas MPB sejumlah 24 proyek, dan 10 diantaranya sudah teregistrasi secara internasional di Badan Eksekutif UNFCCC. Dari 24 proyek tersebut, total emisi yang dapat diturunkan sebesar 33.079.993 ton CO2eq.

2. Sektor Energi

a. undang Nomor 17 tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, yang membebaskan/memberikan keringanan bea masuk atas impor peralatan teknologi bersih.

(56)

c. Instruksi Presiden Nomor 10 tahun 2005 tentang Penghematan Energi. d. Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan

Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. e. Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi

Nasional.

f. Peraturan Menteri ESDM Nomor 1122K/30/MEM/2002 tentang Pembangkit Listrik Skala Kecil dengan Menggunakan Energi Terbarukan (PSK Tersebar).

g. Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 tahun 2004 tentang Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Pengembangan Energi Hijau).

h. Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penghematan Energi.

i. Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 tahun 2006 tentang Pengusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah.

j. Monitoring emisi pencemaran udara untuk sektor industri yang telah dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup melalui program PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan).

k. Pelaksanaan Program Desa Energi Mandiri, yaitu program penyediaan sumber energi listrik seperti yang dilakukan di Subang dengan memanfaatkan tenaga air.

(57)

menggunakan energi intensif, seperti semen, besi dan baja, pupuk, pulp dan kertas, tekstil, pembangkit listrik, dll.

m. Mengatur dan melarang impor barang-barang yang tidak ramah lingkungan.

n. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 7 tahun 2007 tentang Baku Mutu Emisi Sumber tidak Bergerak bagi Ketel Uap.

3. Sektor LULUCF (Land Use, Land-Use Change And Forestry) a. Penanganan kebakaran hutan

 Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan.

 Upaya preventif kebakaran hutan yang meliputi: pemantauan dengan satelit, pemantauan di lapangan terhadap perusahaan-perusahaan, pemantauan kualitas udara, dan pemberdayaan masyarakat agar mengubah pola pembukaan lahannya dari membakar menjadi tidak membakar atau terkontrol.

 Pembentukan Manggala Agni yang bertugas untuk memantau, mencegah, dan menanggulangi kebakaran hutan.

b. Instruksi Presiden Nomor 4 tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu secara Ilegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia.

(58)

4. Peningkatan Kapasitas

Untuk mendorong kegiatan proyek CDM di Indonesia, telah dilakukan kegiatan sosialisasi CDM kepada para pemangku kepentingan, yakni instansi terkait, pemerintah daerah, masyarakat, sektor privat, legislatif, asosiasi, para pimpinan perusahaan, serta perguruan tinggi.

2.2.6.2 Upaya Adaptasi

Adapun upaya adaptasi yang dilakukan oleh pemerintah, dimulai dari pengembangan institusi, pembuatan kebijakan, pengembangan peraturan, dan pembentukan program, meliputi (KLHK, 2007):

1. Pengembangan Institusi

Penyusunan draft Strategi Nasional Adaptasi yang berfungsi sebagai bagian dari proses komitmen pemangku kepentingan dalam melaksanakan adaptasi terhadap perubahan iklim.

2. Sektor LULUCF

a. Pengelolaan pesisir pantai secara terpadu melalui Integrated Coastal Management yang dilakukan melalui penanaman hutan bakau (mangrove): di pantau utara Jawa (Pemalang, Batang, Brebes, Pekalongan, Tegal), pantai timur Sumatera, dan beberapa propinsi (Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara).

b. Penyusunan draft Pedoman Konservasi Air (sumur resapan dan penampungan air) dan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air. c. Pengelolaan terumbu karang dilakukan dengan cara transplantasi

(59)

d. Pembangunan struktur penguat pantai digunakan untuk mengurangi erosi air laut pada pesisir pantai seperti yang dilakukan di Tanah Lot menggunakan model tetrapod.

3. Peningkatan Kapasitas

Rencana pendirian Sekolah Lapang Iklim (SLI) di 25 propinsi (150 kabupaten/kota) untuk meningkatkan pemahaman tentang informasi iklim dan pemanfaatannya bagi petani.

2.3 Studi Ekologi

Studi ekologi atau yang sering disebut dengan studi korelasi adalah studi epidemiologi dengan populasi sebagai unit analisis (Morgenstern, 1995). Tujuan dari penelitian dengan desain ini yaitu mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dan faktor-faktor terkait penyakit tersebut (Morgenstern, 1995). Hal ini menunjukkan bahwa studi ekologi dilakukan pada sebuah kelompok bukan pada individu sebagai unit analisis.

Dalam studi ekologi terdapat tingkat pengukuran yang digunakan sebagai unit analisis. Berikut tingkat pengukuran yang dilakukan pada studi ekologi (Morgenstern, 1995):

a. Pengukuran agregat

(60)

b. Pengukuran lingkungan

Pengukuran ini dilakukan pada pengukuran karakteristik fisik pada suatu tempat dimana kelompok itu tinggal atau bekerja, misal pengukuran polutan udara pada suatu tempat.

c. Pengukuran global

Pengukuran ini berupa atribut kelompok atau tempat, seperti kepadatan penduduk.

Studi ekologi memiliki tiga jenis desain secara spesifik. Jenis desain tersebut meliputi (Alexander et al., no date):

a. Studi Ekologi Potong Lintang (Cross-sectional Ecologic Study)

Studi ekologi ini membandingkan antara paparan dan dampak (penyakit) secara agregat dalam waktu yang sama.

b. Time-trend Ecologic Study

Studi ekologi ini membandingkan antara paparan dan dampak (penyakit) secara agregat pada komunitas yang sama dalam kurun waktu yang berbeda. c. Solely descriptive Ecologic Study

Studi ekologi ini menyelidiki penyakit atau perbedaan faktor risiko antara satu komunitas dengan komunitas lain dalam waktu yang sama, atau satu komunitas yang sama dalam kurun waktu yang berbeda.

(61)

Tabel 2.2 Perbedaan pada Jenis Studi Ekologi

Desain Studi Ekologi

Jenis Studi Desain Kerangka Waktu

Cross-sectional Antar komunitas Dalam waktu yang sama Time-trend Pada komunitas yang

sama

Dalam kurun waktu yang berbeda

Descriptive Antar komunitas atau pada komunitas yang sama

Dalam waktu yang sama atau dalam kurun waktu yang berbeda

Terdapat beberapa kekuatan atau keuntungan yang didapatkan saat melakukan studi ekologi. Keuntungan melakukan studi ekologi, meliputi (Morgenstern, 1995):

 Dapat mennggunakan data insidensi, prevalensi maupun mortalitas.

 Desain penelitian ini tepat sekali digunakan pada penyelidikan awal hubungan penyakit, dimana penelitian ini mudah dilakukan dan murah dengan memanfaatkan informasi yang tersedia.

 Membantu dalam menemukan hipotesis baru untuk penelitian yang lebih jauh.

 Kesederhanaan dalam melakukan analisis dan presentasi.

(62)

 Studi ekologi tidak dapat dipakai untuk menganalisis hubungan sebab akibat karena desain ini tidak mampu untuk menjembatani kesenjangan status paparan dan status penyakit pada tingkat populasi dan individu. Alasan lainnya yaitu studi ekologi tidak bisa digunakan untuk mengontrol faktor confounding (faktor perancu) yang berpotensi muncul saat dilakukan

penelitian.

 Terdapat beberapa data yang tidak lengkap dan hilang.  Terjadinya salah dalam klasifikasi kelompok.

2.4 Data Surveilans

Gambar

Tabel 2.1 Masa Inkubasi Penyakit Malaria Plasmodium
Tabel 2 1 Masa Inkubasi Penyakit Malaria Plasmodium . View in document p.44
Tabel 2.2 Perbedaan pada Jenis Studi Ekologi
Tabel 2 2 Perbedaan pada Jenis Studi Ekologi . View in document p.61
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Gambar 2 1 Kerangka Teori . View in document p.72
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Gambar 3 1 Kerangka Konsep . View in document p.74
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Tabel 3 1 Definisi Operasional . View in document p.75
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Tabel 3 1 Definisi Operasional . View in document p.76
Tabel 4.1 Interpretasi Parameter Hasil Analisis Data Berdasarkan NilaiTabel 4.1 Lanjutan
Tabel 4 1 Interpretasi Parameter Hasil Analisis Data Berdasarkan NilaiTabel 4 1 Lanjutan . View in document p.84
Tabel 4.1 Lanjutan
Tabel 4 1 Lanjutan . View in document p.85
Grafik 5.1 Gambaran Pola Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun
Grafik 5 1 Gambaran Pola Mosquito borne Disease di Provinsi DKI Jakarta tahun . View in document p.93
Tabel 5.1 Gambaran Insidens Mosquito-borne Disease di Provinsi DKI
Tabel 5 1 Gambaran Insidens Mosquito borne Disease di Provinsi DKI . View in document p.94
Grafik 5.2 Gambaran Pola Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016
Grafik 5 2 Gambaran Pola Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009 2016 . View in document p.99
Tabel 5.2 Gambaran Angka Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016
Tabel 5 2 Gambaran Angka Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009 2016 . View in document p.101
Grafik 5.3 Gambaran Pola Hari Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016
Grafik 5 3 Gambaran Pola Hari Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009 2016 . View in document p.104
grafik 5.3). Kestabilan pola ini menunjukkan tidak terjadinya peningkatan mapun
Kestabilan pola ini menunjukkan tidak terjadinya peningkatan mapun . View in document p.105
Grafik 5.4 Gambaran Pola Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016
Grafik 5 4 Gambaran Pola Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009 2016 . View in document p.109
Tabel 5.4 Gambaran Kondisi Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016
Tabel 5 4 Gambaran Kondisi Suhu Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009 2016 . View in document p.111
Grafik 5.5 Gambaran Pola Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun
Grafik 5 5 Gambaran Pola Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun . View in document p.114
Tabel 5.5 Gambaran Kondisi Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2016
Tabel 5 5 Gambaran Kondisi Kelembaban Udara di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009 2016 . View in document p.116
Grafik 5.6). Berikut penjelasan mengenai gambaran pola angka curah hujan dan
Grafik 5 6 Berikut penjelasan mengenai gambaran pola angka curah hujan dan . View in document p.119
Grafik 5.6 Analisis Mosquito-borne Disease dan Curah Hujan di Provinsi DKI
Grafik 5 6 Analisis Mosquito borne Disease dan Curah Hujan di Provinsi DKI . View in document p.120
Grafik 5.7 Analisis Mosquito-borne Disease dan Hari Hujan di Provinsi DKI
Grafik 5 7 Analisis Mosquito borne Disease dan Hari Hujan di Provinsi DKI . View in document p.124
Grafik 5.8 Analisis Mosquito-borne Disease dan Suhu Udara di Provinsi DKI
Grafik 5 8 Analisis Mosquito borne Disease dan Suhu Udara di Provinsi DKI . View in document p.127
Grafik 5.9). Berikut penjelasan mengenai gambaran pola kelembaban udara dan
Grafik 5 9 Berikut penjelasan mengenai gambaran pola kelembaban udara dan . View in document p.129
Grafik 5.9 Analisis Mosquito-borne Disease dan Kelembaban Udara di Provinsi
Grafik 5 9 Analisis Mosquito borne Disease dan Kelembaban Udara di Provinsi . View in document p.130
Tabel 5.6 Hubungan antara Curah Hujan dengan Mosquito-borne Disease di
Tabel 5 6 Hubungan antara Curah Hujan dengan Mosquito borne Disease di . View in document p.133
Tabel 5.8 Hubungan antara Suhu Udara dengan Mosquito-borne Disease di
Tabel 5 8 Hubungan antara Suhu Udara dengan Mosquito borne Disease di . View in document p.134
Tabel 5.9 Hubungan antara Kelembaban Udara dengan Mosquito-borne
Tabel 5 9 Hubungan antara Kelembaban Udara dengan Mosquito borne . View in document p.135
Tabel 6.1 Rata-rata Curah Hujan Bulanan Seluruh Indonesia Tahun
Tabel 6 1 Rata rata Curah Hujan Bulanan Seluruh Indonesia Tahun . View in document p.139
Tabel 6.1 kecuali tahun 2016. Selain itu dapat diketahui pula angka curah hujan
Tabel 6 1 kecuali tahun 2016 Selain itu dapat diketahui pula angka curah hujan . View in document p.140
Gambar 6.1 Distribusi Siklus Curah Hujan Bulanan Tahun 1901-2000. (a) El
Gambar 6 1 Distribusi Siklus Curah Hujan Bulanan Tahun 1901 2000 a El . View in document p.142

Referensi

Memperbarui...

Download now (193 pages)
Related subjects : Hari Hujan mosquito larvae