MAKALAH STUDI KELAYAKAN KAKAO GORONTALO

Gratis

5
15
21
2 years ago
Preview
Full text
STUDI KELAYAKAN KAKAO DI DESA KRAMAT KECAMATAN MANANGGU KABUPATEN BOALEMO GORONTALO MAKALAH MATA KULIAH EVALUASI PROYEK Oleh :MUHAMMAD REZA HARAHAP 1206112169 JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris sehingga pertanian merupakan salah satu sektor penting. Negara ini sudah lama dikenal sebagai penghasil berbagai komoditas perkebunan yang dapat diandalkan. Pemerintah Indonesia memberikan prioritas tinggi pada pengembangan dan perluasan industri yang mengolah hasil pertanian, termasuk tanaman perkebunan. Sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian pada bidang pertanian, namun mayoritas penduduk tidak bekerja sebagai petani besar melainkan sebagai petani kecil, dimana mereka hanya menguasai sebidang lahan kecil, sempit, dan pendapatan mereka yang relatif rendah tetapi dalam mengelola proyeknya setiap petani mempunyai cara sendiri. Untuk itu seorang petani harus dapat memperhitungkan apakah proyek layak atau tidak suatu proyek untuk dilanjutkan. Soekartawi et al. 1986) mengemukakan bahwa Kakao merupakan salah satu komoditas pangan bernilai ekonomis tinggi yang memberikan sumbangan dalam peningkatan kesejahteraan petani. Kakao termasuk komoditas pangan komersial yang dieksport hingga keluar negeri. Pada abad moderen seperti saat ini hampir semua orang mengenal cokelat yang merupakan bahan makanan favorit, terutama bagi anak-anak dan remaja. Salah satu keunikan dan keunggulan makanan dari cokelat karena sifat cokelat dapat meleleh dan mencair pada suhu permukaan lidah (Soekartawi et al.,1986).Provinsi Gorontalo, selain merupakan daerah penghasil tanaman pangan juga merupakan daerah penghasil tanaman hortikultura, dan tanaman perkebunan. Tanaman perkebunan yang dihasilkan seperti kelapa, durian, kakao dan lain-lain. Ada beberapa kabupaten yang sebagian masyarakatnya adalah mengandalkan berproyek tanaman perkebunan salah satunya adalah Kabupaten Boalemo, dimana daerah ini produksi kakao tertinggi kedua setelah kelapa yang produksi Kelapa 6.977 ha sedangkan Kakao 307 ha sehingga daerah ini akan dicanangkan sejuta Kakao (Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Gorontalo, 2011).Desa Kramat merupakan penghasil kakao terbesar dibandingkan dengan desa-desa yang ada di kecamatan Mananggu, kabupaten Boalemo, dimana sebagian masyarakatnya menjadikan berproyek tanaman kakao yang menjadi sumber mata pencahariannya. Dalam pembudidayaan tanaman kakao di Desa Kramat, pengelolaanya masih sangat tradisional, terutama dalam hal pemupukan tanaman, yang menyebabkan hasil produksi yang kurang maksimal.Hal ini dilihat dari kondisi yang ada, bahwa produksi kakao beberapa tahun terakhir ini menurun sehingga perlu dilakukan terobosan baru. Dengan menerapkan teknologi modern yang mungkin akan meningkatkan produksi tanaman kakao dan pendapatan petani itu sendiri(Badan Pusat Statistik Kabupaten Boalemo, 2011).Penggunaan lahan pertanian yang dimanfaatkan di Desa Kramat, khususnya perkebunan 350 ha yang di dalamnya terdapat luas lahan kakao 33 ha, dimana terdapat tiga kelompok gapoktan dengan jumlah anggota 45 orang. di Desa Kramat, sebagian besar ekonomi rakyat tumbuh dan berkembang dari sektor pertanian. Sebagian besar lahan digunakan untuk budidaya pertanian. Dengan potensi pertanian yang cukup besar, secara geografis Desa Kramat dimungkinkan untuk mengembangkan komoditas-komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini dikarenakan Desa Kramat memiliki sumberdaya pertanian yang cukup banyak, salah satu komoditas yang dikembangkan adalah tanaman tahunan, khususnya tanaman kakao (Badan Pusat Statistik Kabupaten Boalemo).Berdasarkan uraian diatas penulis tertari untuk mengkaji Analisis Kelayakan Finansial Pada Proyek Kakao di Desa Kramat, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah: 1. Berapakah pendapatan yang diperoleh petani pada proyek Kakao di Desa Kramat Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo. 2. 1.3. Bagaimana Kelayakan Finansial Proyek Kakao. Tujuan Studi Kelayakan Proyek Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis: 1. Pendapatan yang diperoleh petani pada proyek Kakao di Desa Kramat Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo. 2. Kelayakan finansial pada proyek kakao. 1.4. Manfaat Studi Kelayakan Proyek Adapun manfaat dari studi kelayakan ini adalah: 1. Informasi atau masukan kepada investor dan pemerintah agar dapat meningkatkan dan mengembangkan potensi pertanian, khususnya proyek komoditas tanaman Kakao yang ada di Desa Kramat, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo. 2. Pedoman mahasiswa tentang pengaruh besar kecilnya biaya yang dikeluarkan terhadap penerimaan yang diperoleh petani. Dengan mengetahui hal tersebut kita dapat menganalisis apakah tanaman tersebut layak untuk diusahakan jika dilihat dari keuntungan atau kerugian yang diperoleh petani. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sub Sektor Perkebunan Menurut Ariyantoro (2006),Perkebunan dapat diartikan berdasarkan fungsi, pengelolaan, jenis tanaman, dan produk yang dihasilkan. Perkebunan berdasarkan fungsinya dapat diartikan sebagai usaha untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan devisa negara, serta memelihara kelestarian sumber daya alam. Berdasarkan pengelolaannya, perkebunan dapat Selain itu Ariyantoro (2006),menambahkan bahwa Perkebunan rakyat dibagi menjadi perkebunan rakyat, dan perkebunan besar. merupakan usaha budidaya tanaman yang dilakukan oleh rakyat,dimana perkebunan ini memiliki ciri antara lain: lahannya sempit, status lahan milik dan sewa, pengelolaannya dilakukan oleh petani itu sendiri dengan cara sederhana, jenis tanaman campuran monokultur, teknologi yang digunakan sederhana, cara pembudidayaannya tradisional, cara permodalan padat karya, pengambilan keputusannya cepat dimana tidak memperhatikan resiko yang akan diterima nanti, serta target produksi yang kadang tidak tercapai. Perkebunan besar adalah usaha budidaya tanaman yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau swasta. Perkebunan ini mempunyai ciri sebagai berikut: lahannya luas, status lahan hak guna usaha, pengelolaannya dilakukan oleh swasta sebagai karyawan dan agak rumit, jenis tanaman perdagangan, teknologi yang digunakan modern, cara pembudidayaan mengikuti perkembangan teknologi, cara permodalannya padat modal, pengambilan keputusannya jangka panjang, dan target produksi selalu tercapai. 2.2. Karakteristik Perkebunan Kakao Menurut Van Hall (1932) di Indonesia, tanaman kakao diperkenalkan oleh orang Spanyol pada tahun 1560 di Minahasa, Sulawesi Utara. Ekspor dari pelabuhan Manado ke Manila dimulai tahun 1825 hingga 1838 sebanyak 32 ton. Nilai ekspor tersebut dikabarkan menurun karena adanya serangan hama pada tanaman kakao. Tahun 1919 Indonesia masih mampu mengekspor sampai 30 ton, tetapi setelah tahun 1928 ternyata ekspor tersebut terhenti. Pendapat lain dikemukakan oleh Raharjo (1990),bahwa Kakao merupakan tanaman tahunan yang mulai berbunga dan berbuah umur 3-4 tahun setelah ditanam. Apabila pengelolaan tanaman kakao dilakukan secara tepat, maka masa produksinya dapat bertahan lebih dari 25 tahun, selain itu untuk keberhasilan budidaya kakao perlu memperhatikan kesesuaian lahan dan faktor bahan tanam. Penggunaan bahan tanam kakao yang tidak unggul mengakibatkan percapaian produktivitas dan mutu biji kakao yang rendah, oleh karena itu sebaiknya digunakan bahan tanam yang unggul dan bermutu tinggi .Menurut Zaenudin dan Baon(2004:3),Hasil studi menunjukkan bahwa tanaman kakao produktivitasnya mulai menurun setelah umur 15 -20 tahun. Tanaman tersebut umumnya memiliki produktivitas yang hanya tinggal setengah dari potensi produktivitasnya. Kondisi ini berarti bahwa tanaman kakao yang sudah tua potensi produktivitasnya rendah, sehingga perlu dilakukan rehabilitasi Upaya rehabilitasi tanaman kakao dimaksudkan untuk memperbaiki atau meningkatkan potensi produktivitas dan salah satunya dilakukan dengan teknologi sambung samping (side grafting).2.3. Penerimaan dan Pendapatan Proyek Penerimaan dan Pendapatan proyek merupakan nilai produksi total proyek dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Penerimaan dan pendapatan menjadi tujuan utama petani dalam mengelola proyek, hal ini disebabkan oleh harapan petani untuk mengembalikan modal usaha bahkan diharapkan untuk memberikan peningkatan pendapatan dan penerimaan proyek. 1. Penerimaan Proyek Suratiyah (2006) mengemukakan bahwa penerimaan proyek adalah perkalian antara jumlah produksi yang diperoleh dengan harga produksi. Pendapatan proyek adalah selisih antara penerimaan dan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam sekali periode. Sedangkan menurut Rahim dan Diah (2008:17),Penerimaan proyek adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Kemudian menurut Hernanto (1988),adalah penerimaan dari semua proyek meliputi jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil, dan nilai yang dikonsumsi. Penerimaan proyek merupakan total penerimaan dari kegiatan proyek yang diterima pada akhir proses produksi. Penerimaan proyek dapat pula diartikan sebagai keuntungan material yang diperoleh seorang petani atau bentuk imbalan jasa petani maupun keluarganya sebagai pengelola proyek maupun akibat pemakaian barang modal yang dimilikinya. Pendapat lain dikemukakan oleh Soekartawi (1986),bahwa penerimaan proyek dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penerimaan bersih proyek dan penerimaan kotor proyek (gross income).Penerimaan bersih proyek adalah merupakan selisih antara penerimaan kotor proyek dengan pengeluaran total proyek. Pengeluaran total proyek adalah nilai nilai semua masukan yang habis terpakai dalam proses produksi, tidak termasuk tenaga kerja dalam keluarga petani. Sedangkan penerimaan kotor proyek adalah nilai total produksi proyek dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun tidak dijual. Penerimaan proyek dipengaruhi oleh produksi fisik yang dihasilkan, dimana produksi fisik adalah hasil fisik yang diperoleh dalam suatu proses produksi dalam kegiatan proyek selama satu musim tanam. Penerimaan proyek akan meningkat jika produksi yang dihasilkan bertambah dan sebaliknya akan menurun bila produksi yang dihasilkan berkurang. Disamping itu, bertambah atau berkurangnya produksi juga dipengaruhi oleh tingkat penggunaan input pertanian. Ada tiga hal yang berwujud pada penerimaan proyek yaitu: 1).Hasil penjualan tanaman, ternak, ikan atau produk yang akan dijual. 2).Produk yang dikonsumsi pengusaha dan keluarganya selama melakukan kegiatan, dan 3).Kenaikan hasil inventaris. Nilai benda-benda inventaris yang dimiliki petani, berubah tiap tahun, dengan demikian ada perbedaan nilai pada awal tahun dengan akhir tahun perhitungan.Penerimaan proyek (TR) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual (PY).Oleh karena itu dalam menghitung total penerimaan proyek perlu dipisahkan yaitu Analisis Parsial Proyek, dan Analisis Keseluruhan Usaha Tani. Jadi kalau sebidang lahan ditanami 3 tanaman secara monokultur (misalnya tanaman padi, jagung, dan ketela pohon),dan bila tamanan yang akan diteliti adalah satu macam tanaman saja, maka analisis seperti ini disebut analisis parsial. Sebaliknya kalau ketiga- tiganya seperti ini disebut analisis keseluruhan proyek (Soekartawi, 1986).2. Pendapatan Proyek Pendapatan dan biaya proyek ini dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.Faktor internal terdiri dari dari umur petani, pendidikan, pengetahuan, pengalaman, keterampilan, jumlah tenaga kerja, luas lahan, dan modal.Faktor eksternal berupa harga dan ketersediaan sarana produksi. Ketersediaan sarana produksi dan harga tidak dapat dikuasai oleh petani sebagai individu meskipun dana tersedia. Bila salah satu sarana produksi tidak tersedia maka petani akan mengurangi penggunaan faktor produksi tersebut, demikian juga dengan harga sarana produksi misalnya harga pupuk sangat tinggi bahkan tidak terjangkau akan mempengaruhi biaya dan pendapatan (Suratiyah, 2006).Sedangkan Hadisapoetra (1979) mengemukakan bahwa Pendapatan proyek adalah total pendapatan bersih yang diperoleh dari seluruh aktivitas proyek yang merupakan selisih antara total penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan. Menurut Soekartawi (1986),Pendapatan proyek dapat dibagi menjadi dua, yaitu pendapatan kotor proyek (gross farm income) dan pendapatan bersih proyek (net farm income).Pendapatan kotor proyek yaitu nilai produk total proyek dalam jangka waktu tertentu meliputi seluruh produk yang dihasilkan baik yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam proyek seperti untuk bibit atau makanan ternak, digunakan untuk pembayaran, maupun untuk disimpan.Untuk menghitung nilai produk tersebut, harus dikalikan dengan harga pasar yang berlaku, yaitu harga jual bersih ditingkat petani.Sementara pendapatan bersih proyek adalah selisih antara pendapatan kotor proyek dengan pengeluaran total proyek.Pendapatan proyek ditentukan oleh harga jual produk yang diterima ditingkat petani maupun harga –harga faktor produksi yang dikeluarkan petani sebagai biaya produksi. Jika harga produk atau harga faktor produksi berubah, maka pendapatan proyek juga akan mengalami perubahan. Bentuk dan jumlah pendapatan proyek mempunyai fungsi yang sama, yaitu memenuhi keperluan saehari-hari dan memberikan kepuasan petani agar dapat melanjutkan kegiatannya. Pendapatan ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kewajibannya. Pendapatan proyek (π) adalah selisih antara penerimaan (TR) dan total biaya (TC).Dalam banyak hal jumlah TC ini selalu lebih besar bila analisis ekonomis yang dipakai, dan selalu lebih kecil bila analisis finansial yang dipakai. Oleh karena itu, setiap kali melakukan analisis, perlu disebutkan analisis apa yang digunakan. Ada dua tujuan utama dari analis pendapatan yaitu menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usaha dan cukup untuk membayar bunga modal yang ditanamkan termasuk pembayaran sewa tanah, pembayaran dana depresiasi modal dan cukup untuk membayar upah tenaga kerja (Soekartawi, 1986).2.4. Analisis Kelayakan Finansial Studi kelayakan merupakan suatu kegiatan pengkajian secara sistematis dari suatu proyek atau rencana usaha, baik baru maupun rencana pengembangan usaha yang sudah ada. Studi kelayakan usaha dilakukan bertujuan untuk membantu para pengusaha, pemilik modal dan lain-lain untuk menentukan apakah usaha layak dilaksanakan atau tidak. Kegunaan studi kelayakan antara lain adalah untuk mengetahui apakah usaha mempunyai manfaat (benefit) dan keuntungan (profit) dan sebagai pedoman/standar kerja serta instrumen pengawasan ketika usaha berjalan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedalaman studi kelayakan antara lain: 1. Jumlah dana yang ditanam, 2. Ketidakpastian estimasi usaha pada masa yang akan datang, 3. Kompleksitas elemen-elemen yang mempengaruhi usaha. Studi kelayakan pada akhir-akhir ini telah banyak banyak dikenal oleh masyarakat, terutama masyarakat yang bergerak dalam bidang dunia usaha. Bermacam-macam peluang dan kesempatan yang ada dalam kegiatan dunia usaha telah menuntut perlu adanya penilaian sejauh mana kegiatan/kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat (benefit) bila diusahakan. Kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha/proyek disebut dengan studi kelayakan bisnis. Studi kelayakan bisnis/usaha biasanya menggunakan analisis kelayakan investasi dimana pada dasarnya sama dengan kegiatan investasi. Kelayakan investasi dapat dikelompokkan kedalam kelayakan finansial. Dengan demikian studi kelayakan yang juga sering disebut Feasibility Studi merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha yang direncanakan. Pengertian layak dalam penilaian ini adalah kemungkinan dari gagasan usaha yang akan dilaksanakan memberikan manfaat (benefit),baik dalam arti financial benefit maupun dalam arti social benefit. Layaknya suatu usaha dalam arti social benefit tidak selalu menggambarkan layak dalam arti finansial benefit, hal ini tergantung dari segi penilaian yang dilakukan. Tujuan dari analisis finansial yaitu untuk mengetahui apakah proyek yang diusahakan layak dan menguntungkan untuk dikembangkan atau dikatakan masih dalam tingkat efisiensi.Untuk memberikan gambaran kepada user apakah manfaat yang diperoleh dari sistem baru ‘lebih besar’ dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Berbagai kriteria investasi dapat dipertanggungjawabkan dan sering digunakan untuk menilai kelayakan investasi tersebut adalah R/C Ratio, Net Present Value (NPV),Benefit Cost Ratio (BCR),Profitability Ratio, Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Periode (Ibrahim, 2009).1. Analisis NPV Menurut Yacob Ibrahim, NPV merupakan suatu kriteria yang digunakan untuk mengukur apakah suatu investor layak atau tidak yang berasal dari perhitungan Net Benevit yang telah didiskon dengan menggunakan Socical Opportunity Coast of Capital (SOCC) sebagai discount factor.Secara singkat, formula untuk perhitungan Net Present Value adalah sebagai berikut: dimana :Ci biaya investasi +biaya operasi Bi keuntungan yang telah didiskon i discount factor n tahun (waktu) Kriteria dalam menolak dan menerima rencana investasi dengan metode NPV adalah sebagai berikut :Jika NPV >0, maka usulan investasi diterima. Jika NPV <0, maka usulan investasi ditolak -Jika NPV =0, nilai perusahaan tetap walaupun usulan investasi diterima ataupun ditolak 2. Analisis Internal Rate of Return (IRR) Menurut Yacob Ibrahim, Internal Rate of Return atau IRR adalah suatu tingkat discount rate yang menghasilkan NPV sama dengan 0. Bila IRR lebih besar dari SOCC maka dapat dikatakan suatu investasi feasible, bila semua sama dengan SOCC maka dapat dikatakan investasi hanya kembali modal. Apabila kurang dari SOCC maka suatu investasi dapat dikatakan tidak feasible. IRR dapat dirumuskan sebagai berikut :I0 =CFt /1+ t IRR) Dimana :t =tahun ke-t n =jumlah tahun I0 =nilai investasi awal CF =arus kas bersih IRR =tingkat bunga yang dicari harganya. 3. Analisis B/C Ratio Menurut Soekartawi (1986),Suatu proyek layak dan efisien untuk dilaksanakan jika nilai Gross B/C dan net B/C> 1, yang berarti manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan dan berlaku sebaliknya. Selain itu Ibrahim (2009),menambahkan bahwa Net benefit cost ratio merupakan perbandingan antara net benefit yang telah di discount positif (dengan net benefit yang telah di discount negatif (Gross benefit cost ratio (Gross B/C) adalah perbandingan antara benefit kotor yang telah didiscount dengan cost secara keseluruhan yang telah di discount. Rumus mencari Net B/C :4. Payback Period Menurut Kasmir dan Jakfar (2012),Metode Payback Period (PP) merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Perhitungan ini dapat dilihat dari perhitungan kas bersih (proceed )yang diperoleh setiap tahun. Nilai kas bersih merupakan penjumlahan laba sesetelah pajak ditambah dengan penyusutan dengan catatan jika investasi 100% menggunakan modal sendiri. Pendapat lain dikemukakan oleh Ibrahim (2009),bahwa payback period (PBP) adalah jangka waktu tertentu yang menunjukkan terjadinya arus penerimaan (cash in flows) secara kumulatif sama dengan jumlah investasi dalam bentuk present value. Analisis payback period dalam studi kelayakan perlu juga ditampilkan untuk mengetahui berapa lama usaha/proyek yang dikerjakan baru dapat mengembalikan investasi. Semakin cepat dalam pengembalian biaya investasi sebuah proyek, semakin baik proyek tersebut karena semakin lancar perputaran modal.Menurut Manurung ,et. all (2008).dimana :PBP =Payback Period =Tahun sebelum terdapat PBP =jumlah Investasi yang telah di-discount =Jumlah keuntungan yang telah di-discount sebelum PBP =Jumlah Benefit pada PBP BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadan Umum Lokasi Proyek Pada tahun 2003 Desa Salilama dimekarkan menjadi tiga desa, dimana Salilama bagian selatan berdiri menjadi satu desa yang dinamakan desa Kramat. Desa Kramat ini memiliki tiga dusun dengan jumlah penduduk 1360 yang terbagi atas laki-laki 692 orang dan perempuan 668 orang dimana jumlah kepala keluarga laki-laki sebanyak 302 orang dan kepala keluarga perempuan sebanyak 49 orang yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Desa Kramat dapat ditempuh dengan jarak 2 km sampai ke kecamatan Mananggu, 30 km sampai ke kabupaten dan 135 km sampai ke ibukota Provinsi Gorontalo dengan akses jalan (Aspal) yang mudah dijangkau baik dengan jalan kaki sampai ke kecamatan dan kendaraan bermotor sampai ke kabupaten dan ibukota Provinsi Gorontalo. 4.1.1. Letak Geografis Desa Kramat Letak geografis suatu daerah sangat diperlukan,dimana untuk di jadikan suatu acuan atau petunjuk agar mempermudah dalam mencari daerah tersebut. Adapun letak atau batas suatu wilayah adalah sebagai berikut: Sebelah Utara Desa Salilama/Kaaruyan Sebelah Selatan Teluk Tomini Sebelah Barat Desa Tabulo/Tabulo Selatan Sebelah Timur Desa Pontolo Desa ini merupakan desa yang mudah dijangkau, karena tepat berada di Jalan Trans Sulawesi, dengan luas wilayah 2.833,1 ha. 4.1.2. Kondisi Iklim Wilayah Studi Curah hujan pada suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan topografi dan perputaran arus angin. Oleh karena itu jumlah curah hujan beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Catatan curah hujan di desa kramat Tahun 2011 berkisar 60mm, dengan jumlah bulan hujan adalah 3 bulan. Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Pada tahun 2011 suhu udara rata-rata 20°C. Kelembapan udara di Desa Kramat pada tahun 2011 adalah 32,5 dengan tinggi permukaan laut 8,15 mdl. 4.2. Penerimaan, Struktur Biaya, Pendapatan Proyek Perkebunan Kakao 4.2.1. Penerimaan Proyek Kakao Penerimaan proyek kakao diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah produksi dengan harga jual pada saat itu. Penerimaan proyek kakao di Desa Kramat dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Rata- rata Penerimaan Proyek Kakao di Desa Kramat, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo. No. Tahun Harga Produksi (Kg) Penerimaan (Rp) Rp/Kg 1. 2003 0 0 0 2. 2004 0 0 0 3. 2005 2.722 516 1.424.444 4. 2006 2.722 516 1.424.444 5. 2007 5.400 423 2.298.889 6. 2008 10.500 320 3.317.222 7. 2009 10.611 308 2.611.667 8. 2010 15.400 248 3.829.111 9. 2011 15.400 244 3.755.556 10. 2012 15.400 215 3.317.333 Total 78.156 2.790 21.978.667 Rata-ra ta 7.816 279 2.197.867 Berdasarkan Tabel 1.diketahui bahwa pada tahun pertama dan tahun kedua belum memperoleh hasil produksi sehingga belum ada penerimaan. Pada tahun 2010 penerimaan yang diperoleh petani responden berjumlah besar yaitu sebesar Rp. 3. 829.111, hal ini dikarenakan produksi pada tahun tersebut hanya sedikit, namun harga per kg nya lebih besar, sedangkan penerimaan dengan jumlah yang sedikit terdapat pada tahun 2005 dan 2006 yaitu Rp. 1.424.444, karena harga perkg tanaman kakao pada tahun tersebut hanya kecil dibandingkan tahun-tahun yang lain. 4.2.2. Struktur Biaya Proyek Kakao Struktur biaya proyek kakao terdiri dari biaya investasi, biaya operasional &pemeliharaan serta pendapatan. Struktur biaya pertahun dapat di lihat pada tabel berikut ini: Tabel 2. Rata-rata Pertahun Biaya Proyek Kakao di Desa Kramat Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo. Jenis Biaya No Tahun Investasi 0 Biaya Total 1 2003 3611111 245.000 3.856.111 2 2004 0 180.000 180.000 3 2005 0 403.444 403.444 4 2006 0 436.111 436.111 5 2007 0 690.000 690.000 6 2008 0 1.067.778 1.067.778 7 2009 0 1.163.333 1.163.333 8 2010 0 1.336.111 1.336.111 9 2011 0 1.382.222 1.382.222 10 2012 0 1.232.222 1.232.222 Total 3611111 8.136.221 11.747.332 Rata-Rata 813.622 1.174.733 Pada Tabel 2. terlihat bahwa biaya terbesar yang dikeluarkan petani responden terdapat pada tahun 2003 yaitu sebesar Rp. 3.856.111, hal ini disebabkan karena pada tahun tersebut biaya-biaya yang dikeluarkan meliputi biaya investasi dan biaya operasional serta pemeliharan, sedangkan biaya terendah terdapat pada tahun 2004 yaitu sebesar Rp. 180.000 karena biaya yang dikeluarkan hanya biaya pemeliharaan. 4.2.3. Pendapatan Proyek Kakao Pendapatan proyek kakao diperoleh dari selisih antara penerimaan dan biaya total. Adapun pendapatan pertahun proyek kakao di Desa Kramat dapat di lihat pada tabel berikut ini: No. Tahun 1. 2003 2. 2004 3. 2005 4. 2006 5. 2007 6. 2008 7. 2009 8. 2010 9. 2011 10. 2012 Total Rata-rata Benefit Biaya Total Pendapatan(Rp) Rp) 0 0 1.424.444 1.424.444 2.298.889 3.317.222 2.611.667 3.829.111 3.755.556 3.317.333 21.978.667 2.197.867 Rp) 3.856.111 180.000 403.444 436.111 690.000 1.067.778 1.163.333 1.336.111 1.382.222 1.232.222 11.747.333 1.174.733 3.856.111 -180.000 1.021.000 988.333 1.608.889 2.249.444 1.448.333 2.493.000 2.373.333 2.085.111 10.231.333 1.023.133 Berdasarkan Tabel 3. dapat dilihat bahwa Rata-rata biaya total yang diperlukan selama 10 tahun adalah Rp. 1.174.733. dari sisi penerimaan diketahui rata-rata penerimaan petani kakao di Desa Kramat adalah Rp. 2.197.867. berdasarkan data biaya dan penerimaan diperoleh pendapatan terbesar yang terima oleh petani responden ada pada tahun 2010 sebesar Rp. 2.493.000, hal ini disebabkan jumlah penerimaan lebih besar dibandingkan dari biaya total, sedangkan pendapatan yang paling sedikit terdapat pada tahun 2003 yaitu sebesar Rp. 3.856.111, karena jumlah biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada penerimaan sehingga hanya memperoleh pendapatan yang sangat tidak memuaskan. 4.3. Analisis Kelayakan Aspek Finansial Proyek Kakao Menurut Lihan dan Yogi (2009),analisis atau pendekatan ini menitik beratkan pada pendekatan mikro, artinya dalam analisis atau pendekatan kegiatan dan hasil-hasil suatu proyek dilihat dari kepentingan individu atau perusahaan atau kepentingan para pemegang saham perusahaan tersebut ,yakni laba yang dihasilkan proyek (private return) atau laba bisnis (bussiness profit).Dalam menentukan layak atau tidaknya usaha, fungsi terpenting adalah aspek finansial dimana usaha hanya dapat terlaksana bila ada anggaran dana. Aspek finansial berkaitan dengan bagaimana menentukan kebutuhan jumlah dana dan sekaligus pengalokasiannya serta mencari sumber dana yang bersangkutan secara efisien, sehingga memberikan tingkat keuntungan yang menjanjikan bagi investor (Husen, 2009).Kegiatan usaha dikatakan layak jika memberikan keuntungan finansial, sebaliknya kegiatan usaha dikatakan tidak layak apabila usaha tersebut tidak memberikan keuntungan finansial. Tingkat kelayakan suatu usaha dapat dinilai dengan menggunakan kriteria-kriteria investasi :a) Net Present Value (NPV),b) Internal Rate of Return (IRR),c) Benefit Cost Ratio (BCR),d) Profitability Ratio (PR) dan Payback Period (PP) Gittinger (1986).Proyek Kakao di Desa Kramat merupakan usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun, karena tanaman kakao memiliki umur produktif puluhan tahun. Suatu usaha yang dijalankan dalam jangka panjang biasanya perlu diketahui kelayakannya dengan menggunakan alat analisis kelayakan finansial atau alat kriteria investasi. Alat kriteria investasi antara lain, yaitu Analisis NPV, IRR, B/C Ratio, Profitability Ratio dan Payback Period. Lebih jelasnya masing- masing analisis kelayakan finansial proyek kakao dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini: Tabel 4. Hasil Analisis Kelayakan Finansial pada Uahatani Kakao di Desa Kramat, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, 2013. No Analisis Finansial Nilai Keterangan 1 NPV 2.068.963 >0 Positif 2 IRR 26 %Suku bunga15% 3 Net B/C Ratio (BCR) 3,53 >1 4 Payback Period 4 tahun 9 bulan Layak Dari hasil perhitungan keempat kriteria investasi, maka dibuat interpretasi :4.3.1 Analisis NPV Pada analisis kelayakan finansial proyek kakao diperoleh hasil perhitungan NPV dengan tingkat suku bunga sebesar 15% menghasilkan nilai NPV sebesar Rp. 2.068.963 dimana menunjukkan bahwa penanaman investasi pada proyek kakao akan memberikan keuntungan sebesar Rp. 2.068.963 selama 10 tahun menurut nilai sekarang, yang berarti proyek ini layak untuk dikembangkan karena menghasilkan nilai positif atau lebih dari 0. Seperti yang di jelaskan dalam teori menurut Umar (2005) yang menyatakan bahwa NPV (Net Present Value) adalah selisih antara present value dari investasi dengan nilai skarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Aliran kas operasional maupun aliran kas terminal).Untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan. 4.3.2. Analisis IRR Untuk mengetahui sejauh mana proyek kakao ini dapat memberikan keuntungan, digunakan analisis IRR. IRR dinyatakan dalam persen (yang merupakan tolak ukur dari keberhasilan suatu usaha. Pada proyek kakao ini diperoleh IRR 26 persen (yang menunjukkan bahwa investasi pada tingkat suku bunga bank (DF) 15 persen layak dan menguntungkan, karena IRR lebih besar dari tingkat suku bunga (DF) yang ditetapkan hal ini jelaskan dalam teori Gittinger (1986) bahwa IRR adalah nilai discount rate yang membuat NPV dari proyek sama dengan nol. Jika ternyata IRR dari suatu proyek sama dengan yang berlaku sebagai social discount rate, maka NPV dari proyek itu sebesar 0. Jika IRR ≥social discount rate, maka usaha tersebut dinyatakan layak, sedangkan jika IRR ≤social discount rate maka usaha tersebut sebaiknya tidak dilaksanakan. 4.3.3. Analisis B/C Ratio Analisis B/C Ratio yaitu dapat dilihat dari Gross B/C Ratio dan Net B/C Ratio. Gross B/C Ratio yang dihasilkan dalam proyek kakao ini adalah 3,53 sedangkan Net B/C Ratio sebesar 1,3509 yang berarti Gross B/C Ratio dan Net B/C Ratio >1, dimana manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan, sehingga proyek kakao layak untuk dilanjutkan. Artinya, setiap biaya yang dikeluarkan sebesar 1 rupiah, akan memberikan keuntungan bersih sebesar 0,3509 rupiah. Seperti yang dinyatakan dalam teori Gittinger (1986:90) B/C Ratio adalah perbandingan antara present value manfaat dengan present value biaya, dengan demikian benefit cost ratio menunjukkan manfaat yang diperoleh setiap penambahan satu rupiah pengeluaran B/C Ratio akan menggambarkan keuntungan dan layak dilaksanakan jika mempunyai B/C Ratio ≥1, apabila B/C Ratio =1 maka usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi, sehingga terserah kepada penilai pengambil keputusan dilaksanakan atau tidak. Apabila B/C Ratio ≤1 maka usaha tersebut merugikan sehingga lebih baik tidak dilaksanakan. 4.3.4. Payback Period Payback Period diketahui bahwa jangka waktu pengembalian modal investasi yang diperlukan dalam proyek kakao adalah 4 tahun 9 bulan. Seperti yang dijelaskan oleh Ibrahim (2009),bahwa payback period (PBP) adalah jangka waktu tertentu yang menunjukkan terjadinya arus penerimaan (cash in flows) secara kumulatif sama dengan jumlah investasi dalam bentuk present value. Analisis payback period dalam studi kelayakan perlu juga ditampilkan untuk mengetahui berapa lama usaha/proyek yang dikerjakan baru dapat mengembalikan investasi. Semakin cepat dalam pengembalian biaya investasi sebuah proyek, semakin baik proyek tersebut karena semakin lancar perputaran modal, ditambahkan pula oleh Hermanto dalam Diatin (1989) bahwa Analisis Payback Period menghitung berapa investasi yang digunakan dapat kembali. BAB IV KESIMPULAN 4.1. Kesimpulan 1. Nilai NPV sebesar Rp. 2.068.963 dimana menunjukkan bahwa penanaman investasi pada proyek kakao akan memberikan keuntungan sebesar Rp. 2.068.963 selama 10 tahun menurut nilai sekarang, yang berarti proyek ini layak untuk dikembangkan karena menghasilkan nilai positif atau lebih dari 0. 2. IRR 26 persen (yang menunjukkan bahwa investasi pada tingkat suku bunga bank (DF) 15 persen layak dan menguntungkan, karena IRR lebih besar dari tingkat suku bunga (DF) yang ditetapkan. 3. Gross B/C Ratio yang dihasilkan dalam proyek kakao ini adalah 3,53 sedangkan Net B/C Ratio sebesar 1,3509 yang berarti Gross B/C Ratio dan Net B/C Ratio >1, dimana manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan, sehingga proyek kakao layak untuk dilanjutkan. Artinya, setiap biaya yang dikeluarkan sebesar 1 rupiah, akan memberikan keuntungan bersih sebesar 0,3509 rupiah. 4. Payback Period diketahui adalah 4,9. Hal ini menjelaskan bahwa lama pengembalian modal investasi yang diperlukan dalam proyek kakao adalah selama 4 tahun 9 bulan. Secara keseluruhan dari aspek finansial, proyek perkebunan kakao di Desa Kramat, kecamatan Mananggu, kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo layak dilanjutkan dan memberikan keuntungan yang relatif besar baik bagi segi finansial maupun perekonomian. 4.2. Saran Di tingkat petani ditemukan kendala yaitu; i) kualitas bibit masih rendah, menggunakan bibit lokal hasil panen sendiri, ii) tingkat aplikasi pupuk masih rendah, iii) adanya gangguan penyakit jamur dan (iv) kemampuan modal petani masih rendah. Dalam usaha peningkatan produksi, kendala-kendala ini perlu diatasi, di samping juga perlunya menerapkan program bapak angkat.

Dokumen baru

Download (21 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL AGRIBISNIS PERBENIHAN KENTANG (Solanum tuberosum, L) Di KABUPATEN LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR
26
304
21
IMPLEMENTASI MIKROKONTROLER ATMEGA 8535 STUDI KASUS PENGONTROL SUHU ALIRAN AIR DALAM PIPA DENGAN METODE KONTROL FUZZY LOGIK
28
239
1
STUDI PENJADWALAN DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) PADA PROYEK PEMBANGUNAN PUSAT PERDAGANGAN CIREBON RAYA (PPCR) CIREBON – JAWA BARAT
34
228
1
STUDI PERTUKARAN WAKTU DAN BIAYA PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN PAMEKASAN
5
156
1
STUDI EVALUASI KINERJA BUS EKONOMI RUTE MALANG – PROBOLINGGO
14
123
2
STUDI ANALISA PERHITUNGAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH STIKES SURYA MITRA HUSADA KEDIRI JAWA TIMUR
22
190
1
STUDI KANDUNGAN BORAKS DALAM BAKSO DAGING SAPI DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN BANGIL – PASURUAN
14
171
17
STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA EMPIRIS PADA PASIEN RAWAT INAP PATAH TULANG TERTUTUP (Closed Fracture) (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
10
132
24
STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON PADA PASIEN SIROSIS DENGAN ASITES (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
13
133
24
STUDI PENGGUNAAN ACE-INHIBITOR PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) (Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan)
15
134
28
STUDI PENGGUNAAN ANTITOKSOPLASMOSIS PADA PASIEN HIV/AIDS DENGAN TOKSOPLASMOSIS SEREBRAL (Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)
13
156
25
PROSES KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM SITUASI PERTEMUAN ANTAR BUDAYA STUDI DI RUANG TUNGGU TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA
97
584
2
DISKRIMINATOR KELAYAKAN KREDIT MODAL KERJA BAGI UKM PADA PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK. CABANG LUMAJANG
5
61
16
JI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK POLIFENOL BIJI KAKAO Escherichia coli SECARA IN VITRO
6
112
17
MAKALAH BANJIR BANDANG
0
1
7
Show more