Sumbangan katekese umat dalam rangka meningkatkan penghayatan iman umat Lingkungan Santo Yusuf, Berut, Wilayah Santa Marta, Sumber, Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Magelang, Jawa Tengah melalui Shared Christian Praxis.

Gratis

8
68
209
2 years ago
Preview
Full text

SUMBANGAN KATEKESE UMAT

DALAM RANGKA MENINGKATKAN PENGHAYATAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO YUSUF, BERUT, WILAYAH SANTA MARTA, SUMBER,PAROKI SANTA MARIA LOURDES, SUMBER, MAGELANG, JAWA TENGAH MELALUI SHARED CHRISTIAN PRAXIS S K R I P S I Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama KatolikOleh: Monica Dewi PratiwiNIM: 101124028

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2015

  MOTTO “Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahuludan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir." (Luk 13:30) ABSTRAK Judul skripsi SUMBANGAN KATEKESE UMAT DALAM RANGKA MENINGKATKAN PENGHAYATAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO YUSUF, BERUT, WILAYAH SANTA MARTA, SUMBER,PAROKI SANTA MARIA LOURDES, SUMBER, MAGELANG, JAWA TENGAH MELALUI SHARED CHRISTIAN PRAXIS. Diusia dewasa dan usia tua mereka menghadapi banyak tantangan dan persolan hidup, oleh karena itu kehadiran katekese umat sangat membantu danmempengaruhi penghayatan iman supaya umat memiliki iman yang kuat dalam menghadapi kehidupan.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan karena cinta kasih-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul SUMBANGAN KATEKESE UMAT DALAM RANGKA MENINGKATKAN PENGHAYATAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO YUSUF, BERUT, WILAYAH SANTA MARTA,

SUMBER, PAROKI SANTA MARIA LOURDES, SUMBER, MAGELANG, JAWA TENGAH MELALUI SHARED CHRISTIAN PRAXIS

  Sahabat-sahabat tercinta: Tiara Wulandari Mustikarani dan Hana PuspitaCanti yang dengan setia memberikan dukungan dan selalu memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini. Segenap teman-teman tercinta mahasiswa angkatan 2010 dan lintas angkatan yang telah mendukung dan berdinamika bersama dalam studi di IPPAKsehingga tercipta kebersamaan sebagai keluarga IPPAK.

DAFTAR SINGKATAN A

  Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. Singkatan Dokumen Resmi Gereja CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Paus Yohanes Paulus II kepada para Uskup, Klerus, dan segenap umat berimantentang ketekese masa kini, 16 Oktober 1979.

C. Singkatan lain-lain

  AK : Suster-suster Abdi KristusArt : ArtikelBdk : BandingkanBKSN : Bulan Kitab Suci NasionalDll : Dan lain-lainDst : Dan seterusnyaHal : Halaman IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama KatolikJ : Jumlah responden yang menjawab salah satu item jawaban dalam soal kuesioner. 31Tabel 5: Hambatan yang terjadi dalam Katekese Umat ................................

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di zaman sekarang iman yang kuat masih sangat dibutuhkan oleh setiap umat

  Berdasarkan PKKI II katekese umat merupakan proses komunikasi pengalaman iman antar umat sehingga umat dapat saling bersaksi dan mampumemperteguhkan dan menyempurnakan iman setiap umat. Usulan ini mengajak umat untuk terlibat aktif dalam katekese umat karena katekese umat dapatmemberikan pengaruh dan manfaat dalam kehidupan.

RANGKA MENINGKATKAN PENGHAYATANIMAN UMAT

LINGKUNGAN SANTO YUSUF, BERUT, WILAYAH SANTA MARTA, SUMBER, PAROKI SANTA MARIA LOURDES, SUMBER, MAGELANG,JAWA TENGAH MELALUI SHARED CHRISTIAN PRAXIS B. Rumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, penulis akan memberi perhatian khusus pada masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran katekese umat yang berlangsung di Lingkungan St. Yusuf

  Apa gambaran umum dari katekese umat? Bagaimana katekese umat model Shared Christian Praxis dapat meningkatkan penghayatan iman umat Lingkungan St.

C. Tujuan Penulisan 1

  Mengetahui gambaran umum katekese umat yang berlangsung di Lingkungan St. Yusuf, Berut.

2. Mengetahui dan mendalami hal-hal pokok tentang gambaran umum dari katekese umat

  Mengetahui cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan penghayatan iman umat Lingkungan St. Yusuf, Berut melalui katekese umat model Shared Christian Praxis .

D. Manfaat Penulisan 1

  Memberikan pemahaman yang cukup kepada umat di Lingkungan St. Yusuf,Berut tentang katekese umat serta mengetahui salah satu model katekese umat yaitu model Shared Christian Praxis sehingga umat dapat merasakanmanfaatnya dan terbantu dalam meningkatkan penghayatan iman.

2. Memberikan dorongan atau motivasi kepada umat di Lingkungan St. Yusuf

  Menambah wawasan baru dan membantu penulis sebagai anggota Gereja untuk meningkatkan penghayatan iman dengan melibatkan diri dalam katekese umatsebagai modal untuk menghadapi persoalan hidup. Penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode diskripsi yang mendalami tentang katekese umat dalam rangka meningkatkanpenghayatan iman di Lingkungan St.

JAWA TENGAH MELALUI SHARED CHRISTIAN PRAXIS

  Keempat, hasil penelitian tentang sumbangan katekese umat dalam rangka meningkatkan penghayatan iman di Lingkungan St. Bab IV ini terdiri dari enam bagian yaitu latar belakang usulan katekese umat model Shared Christian Praxis, alasan pemilihan tema dan tujuan, rumusan Bab V berisikan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran dari keseluruhan skripsi diantaranya: saran bagi para pendamping ketekese umat dansaran bagi seluruh umat di Lingkungan St.

BAB II PENELITIAN TENTANG KATEKESE UMAT DI LINGKUNGAN ST. YUSUF, BERUT, WILAYAH ST. MARTA, SUMBER, PAROKI ST. MARIA LOURDES, SUMBER, MAGELANG Salah satu cara untuk meningkatkan penghayatan iman adalah melalui

  Katekese umat merupakan sharing pengalaman iman antar peserta yang saling meneguhkan satu dengan yang lain. Umat sebaiknya mampu meningkatkan penghayatan iman supaya umatmemperoleh iman yang kuat sebagai pedoman/bekal menjalani kehidupan sehari- hari dan mampu untuk bersaksi di tengah-tengah masyarakat.

1. Sejarah Berdirinya Gereja St. Maria Lourdes, Sumber

  Kehadiran Tuan Sungken (Belanda) pada tahun 1923 sebagai pengusaha sapi perah dan perkebunan bibit tebu memberikan pengaruh yang baik kepada Akan tetapi ketika terjadi perang di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 Gereja yang berada di dusun Musuk dihancurkan, beberapa tokoh agamaditangkap dan diadili dengan tuduhan menjadi mata-mata bangsa Belanda. Pada tahun 1950 kegiatan Gereja hidup kembali dan umat dihimpun oleh tokoh Katolik,yaitu Timotius Prawiro Wahyono dari dusun Juwono, Pius Partin dari dusun Diwak, dan Yusup Somaatmaja dari dusun Berut (Kirjito, 2009: 6).

2. Visi dan Misi Paroki St. Maria Lourdes, Sumber

  Maria Lourdes, Sumber memiliki tiga hal pokok yang ditekankan dalam pelayanannya yaitu persekutuanmurid-murid Yesus yang tekun dan setia memperdalam iman serta menghadirkan keselamatan Allah. Memberdayakan potensi-potensi umat dan masyarakat dalam meningkatkan Meningkatkan kepedulian umat untuk menjaga kelestarian alam dalam Pertama, Gereja ingin meneguhkan keluarga-keluarga muda dan OMK supaya dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan iman yang tangguh.

5. Situasi Umat Paroki St. Maria Lourdes, Sumber, Magelang

  Berdasarkan data statistik per bulan April 2014 jumlah umat Paroki Sumber berjumlah 1.151 KK dan terdiri dari 2.999 jiwa. Maria Lourdes, Sumber dibagi menjadi 4 Wilayah dengan 33 Lingkungan sebagai berikut (Martoyoto Wiyono, 2014: 2-5).

6. Situasi Sosial dan Ekonomi Paroki St. Maria Lourdes, Sumber

  Hal ini juga terlihat dari kerja sama antar budaya dan agama misalnya saling mengundang tokoh agama sebagai peserta atau pembicara dalam suatu kegiatanbersama. Maria Lourdes, Sumber berada dalam kelas menengah ke bawah karena sebagian besar umat bekerja sebagai petani danburuh.

1. Situasi Umat di Lingkungan St. Yusuf, Berut, Wilayah St. Marta Sumber, Paroki St. Maria Lourdes, Sumber

  Kebersamaan umat yang tercipta saat hari raya kurban, umat Katolik mendapatkan daging kurban, pada saat lebaran umat Katolik ikut merayakan dengan salingberkunjung untuk bersilaturahmi. Apabila ada umat yang meninggal semua warga terlibat membantu, misalnya bila yang meninggal umat Katolik maka umatMuslim diundang untuk mendoakan yang meninggal dengan cara tahlilan dan sebaliknya [Lampiran 5: (5)-(6)].

2. Situasi Katekese Umat di Lingkungan St. Yusuf, Berut, Wilayah St. Marta Sumber, Paroki St. Maria Lourdes, Sumber

  Oleh karena itu hambatan yang dihadapiLingkungan adalah umat yang aktif mengungkapkan gagasan terbatas, umat sulit untuk menyampaikan pengalaman hidup dan pengalaman iman, kurangnya saranapendukung karena sarana yang di miliki Lingkungan sangat terbatas, peserta atau Pendamping katekese umat adalah prodiakon atau ketua Lingkungan hal ini dilakukan karena tidak semua umat mampu memandu katekese umat. Umat dan pendamping saling bekerjasama dengan harapan umat dapat terlibat aktif dalam proses berkatekese dan menghadirinya dengan kesadaransupaya menjadi umat yang berkualitas dalam iman, dan pendamping dapat memandu dengan kreatif supaya umat antusias mengikutinya.

1. Latar Belakang Penelitian

  Oleh sebab itu penulis melaksanakan penelitian untuk mengetahui seberapa besar sumbangan katekese umat terhadap penghayatan iman di Lingkungan St. Apa hambatan umat dalam mengikuti katekese umat yang ada di Lingkungan St.

4. Metodologi Penelitian a

  Variabel yang diungkap adalah identitas responden, pemahaman dan keterlibatan umat dalam katekese umat, penghayatan danperwujudan iman dalam katekese umat. Peran katekese umat dalam meningkatkanpenghayatan iman Hasil penelitian yang disajikan setelah melakukan penelitian adalah katekese umat yang terlaksana di Lingkungan dan sumbangan katekese umat ).

D. Hasil Penelitian tentang Sumbangan Katekese Umat dalam Rangka Meningkatkan Penghayatan Iman Umat Lingkungan St. Yusuf, Berut

  Pada variabel pemahaman dan keterlibatan umat dalam katekese umat terdiri dari pemahaman umat terhadap katekese umat, keterlibatan umat dalamkatekese umat, hambatan yang terjadi dalam katekese umat, dukungan yang dibutuhkan dalam ketekese umat, harapan terhadap katekese umat dan usulanterhadap katekese umat. Katekese umat yang menarik adalah katekese umat yang dapat mengajak umat terlibat aktif dalam hidup menggereja dan masyarakat 53,85% (28 orang),dan 25,00% (13 orang) responden katekese umat yang dapat menjawab kebutuhan umat.

3. Pengahayatan dan Perwujudan Iman dalam Katekese Umat

  Sedangkan keterbukaan umat terhadap pendapat dan saling membagikan pengalaman iman dari umat lain, sebagian besar responden menjawab kadang- Sedangkan hal yang dilakukan responden dalam proses katekese umat untuk mendukung penghayatan iman katolik, sebagian besar responden menjawabmemperhatikan penjelasan dan pengarahan dari pendamping 46,15% (24 orang), dan 30,78% (16 orang) responden menjawab tidak menghakimi pendapat oranglain. Pengaruh yang dirasakan selama mengikuti katekese umat dalam meningkatkan penghayatan iman adalah responden menjawab iman semakinditeguhkan dan dikuatkan 61,54% (32 orang), dan merasa bahagia dan tenang karena telah mendalami nilai-nilai Kitab Suci dan pengalaman hidup 19,23% (10orang).

E. Pembahasan Hasil Penelitian Sumbangan Katekese Umat dalam Rangka

  Hal ini menunjukkan bahwa umat yang hadir dalam katekese umat adalah umat usia dewasa dan tua, bahkan pekerjaanumat sebagai petani tidak menjadi penghalang untuk membaur dengan umat lain dalam mengikuti katekese umat yang ada di Lingkungan. Sebagian besar umat menjawab katekese umat adalah pendalaman Kitab Suci 51,93% padahal katekese umat merupakan tukar pengalaman iman antara Pemahaman umat terhadap katekese umat sudah cukup baik hal ini terlihat dari jawaban umat yaitu saling membagikan pengalaman iman, mengolahpengalaman hidup melalui terang Kitab Suci, serta pendewasaan iman dan kesaksian di masyarakat.

3. Penghayatan dan Perwujudan Iman dalam Katekese Umat

  Katekese umat dapat membantu dalam penghayatan iman berarti katekese umat dapat memberikan manfaat bagikehidupan umat dan dapat membantu umat dalam penghayatan iman. Hal tersebut menunjukkan bahwa katekese umat dapat membantu umat Proses katekese umat yang dapat meningkatkan penghayatan iman adalah merenungkan pengalaman hidup dalam terang Kitab Suci dan melaksanakan aksikonkrit dalam kehidupan sebagai perwujudan iman.

F. Kesimpulan Penelitian

  Sedangkan harapan umat terhadap katekese umat adalah menciptakan suasana kekeluargaan dan persaudaraan, umat terlibat aktif, pendamping memilikipengetahuan yang cukup akan materi katekese umat, pendamping kreatif dan aktif melibatkan semua umat dan materi katekese umat dapat menjawab kebutuhan,mengangkat tema tentang membangun kebersamaan serta katekese umat dapat mengajak umat untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja dan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari peran katekeseumat dalam kehidupan umat yaitu membantu memahami pesan Kitab Suci dalam pengalaman hidup, memberi pengetahuan tentang ajaran Gereja dan pesan KitabSuci dan terbantu mendalami iman tetapi belum sampai pada tindakan nyata.

BAB II I KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS DALAM PENGHAYATAN IMAN Karya pastoral Gereja merupakan tindakan Gereja sebagai keseluruhan umat Allah dalam melaksanakan tugas perutusan dan panggilan (Adisusanto, 2000: 13). Dalam karya pastoral, Gereja mempunyai tugas penting yang disebut sebagai tiga

  Yesus yang sudahbangkit dan mati merupakan pokok pewartaan Gereja sekarang, karena tugas pokok Kristus sebelum wafat dan kebangkitan adalah mewartakan Kerajaan Allah(Sumarno Ds, 2013/2014: 35-36). Model Shared Christian Praxis merupakan salah satu model katekese umat yang dapat membantu umat untuk meningkatkan penghayatan iman.

1. Tempat Katekese dalam Pastoral Gereja

  Dari ketiga tugas Gereja tersebut terdapat tiga bentuk yang terpenuhi dalam pelayanan pastoral Gereja yaitu pelayanan sabda dengan mewartakan (kerygma), pelayanan ibadat denganmerayakan (leiturgia), dan pelayanan pengarahan dengan mengorganisir dan mendidik umat Kristus (koinonia) dengan penuh cinta kasih supaya dapatmemberikan kesaksian (martyria) dan pengabdian kepada sesama (diakonia) (Sumarno Ds, 2013/2014: 35; bdk. Bentuk dan fungsi Gereja dalam pelayanan Sabda adalah magisterium(kuasa mengajar) Gereja yang tidak dapat sesat, sebagai penjaga dan penyampaian pengajaran iman; peranan teologi sebagai refleksi iman dan pengalaman kristen/sebagai penulisan sistematis dan penyelidikan ilmiah tentang kebenaran iman; serta pelayanan sabda dengan pewartaan, katekese dan homili/khotbah (SumarnoDs, 2013: 37; bdk.

2. Pengertian Umum Katekese

  Katechein mempunyai dua pengertian yaitu Dalam konteks pengertian tentang katekese dapat dipahami sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman untuk umat supaya seorang Kristensemakin hari semakin dewasa dalam iman. 5:Katekese mencakup arti mengajak sesama mendalami Misteri dalam segala dimensinya: “untuk menunjukkan kepada semua orang makna rencana yang terkandung dalam misteri ...bersama dengan segala orang kudus memahami, Katekese tidak sebatas mengantar umat pada kepenuhan hidup Kristus tetapi juga mengajak umat untuk mendalami Misteri Kristus yaitu makna terdalamtentang kasih Allah, kasih yang melebihi pengetahuan, dan kasih yang terpenuhi dalam kepenuhan diri Allah.

3. Tujuan Katekese

  Katekese juga merangsang pengetahuan, penghayatan,serta pertumbuhan benih iman yang diberi oleh Roh Kudus melalui pewartaan awal, dan yang diperoleh melalui pembaptisan (CT, art. 5). Tujuan katekese adalah membantu menghubungkan relasi manusia dengan pribadi Yesus dan mengundang Yesus masuk dalam kehidupan manusia sehinggaterjalin hubungan yang mesra.

4. Isi Katekese

  Tradisi dan Kitab Suci tersebut yang telah dipercayakan kepada Gereja seperti yang telah diingatkan dalam Konsili Vatikan II, pelayanan sabda-kotbah pastoral, kateketik dan pendidikan Kristen harus dikembangkan, dan mendorong manusia menuju kekudusan melalui sabda Allah(CT, art. 27). Karena Tradisi dan Kitab Suci merupakan sumber katekese maka dibutuhkan perhatian akan kenyataan yang terjadi karena katekese harus lebihberwarna, dan diresapi oleh gagasan, semangat dan visi Kitab Suci serta Injil dengan berhadapan pada teks-teks tersebut dengan melakukan kontak.

5. Pendekatan-pendekatan Katekese

  Langkah pertama dalam pendekatan biblis adalah memilih salah satu nilai kemanusiaan dengan memberikan penjelasan dan mengungkapkan pengalamanhidup dengan memanfaatkan sarana pendukung yang ada. Pendekatan Peristiwa Pendekatan peristiwa merupakan pewartaan yang terjadi saat ada kesempatan spontan, misalnya resepsi pernikahan, layat, reuni keluarga, Pendekatan peristiwa diawali dengan mengajak umat mengungkapkan pengalaman hidup sesuai peristiwa yang sedang terjadi dan katekis memberikanarahan.

e. Pendekatan Alam

  Pendekatan alamterdiri dari tiga langkah pokok yaitu mencari arti alam semesta yang terjadi, membaca Kitab Suci, dan perwujudan hidup (Papo, 1987: 68-69). Peserta mendalami teks Kitab Suci dengan menemukan makna hidup dan berani mewujudkan nilai-nilai itu dalam kehidupan (Papo, 1987: 68-69).

6. Sarana Katekese

  Ketiga tujuan katekese umat yang pertama lebih mengarah pada pribadi peserta (ekstern), dan kedua lainnya menegaskan tujuan katekese umat sebagaiGereja dan memuncak pada hidup umat di tengah-tengah masyarakat (intern) (Huber, 1981a: 23). Isi katekese umat adalah pengalaman iman umat dalam kehidupan sehari-hari,pengalaman iman Gereja yang terdapat di dalam Kitab Suci, dan pengalaman iman Gereja dalam Tradisi yaitu perumusan iman Gereja untuk menanggapisituasi dan kondisi pada saat ini dan yang akan datang (Heselaar, 1981: 103).

5. Model Katekese Umat

  Unsur pokok dalam pendalaman iman/katekese adalahpengalaman hidup, teks Kitab Suci, dan penerapan konkret. Pendalaman iman/katekese memiliki tiga model katekese umat, yaitu model pengalamanhidup, model biblis dan model campuran (Sumarno Ds, 2013: 11).

a. Model Pengalaman Hidup

  Langkah-langkah dalam model pengalaman hidup adalah pembukaan, penyajian pengalaman hidup, pendalaman pengalaman hidup, rangkumanpendalaman pengalaman hidup, bacaan Kitab Suci/Tradisi, pendalaman teks KitabSuci/Tradisi, rangkuman pendalaman teks Kitab Suci/Tradisi dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari (Sumarno Ds, 2013: 11-12). Berdasarkan hasil refleksi peserta diajak untuk menerapkan nilai/sikap yang diperoleh selamaproses berkatekese dalam kehidupan konkret, dan mengambil kesimpulan praktis sesuai tema dalam hidup di masyarakat, Gereja, Lingkungan, Wilayah, maupunParoki, keluarga.

b. Model Biblis

  Ketekese umat model biblisterdiri dari beberapa langkah yaitu pembukaan, teks Kitab Suci/Tradisi, pendalaman teks Kitab Suci/Tradisi, pendalaman pengalaman hidup, penerapandalam hidup, dan penutup (Sumarno Ds, 2013: 12-13). Dari pendalaman hidup peserta diajak merefleksikan dan Kemudian peserta masuk dalam keheningan merenungkan pesan yang diperoleh, menemukan sarana, dan cara menghadapi kesulitan, serta menemukan hal-halyang mendukung dalam kehidupan sehari-hari.

c. Model Campuran: Biblis dan Pengalaman Hidup

  Peserta diajakmengungkapkan kesan pribadi dalam penyajian pengalaman hidup, mencari apa yang terjadi dalam pengalaman hidup secara objektif, menemukan tema dan pesanpokok. Berdasarkan pengalaman hidup peserta diajak merefleksikan dan Langkah keenam adalah evaluasi jalannya katekese umat berupa isi, tema, langkah-langkah dan proses sharing pengalaman iman.

C. Shared Christian Praxis: Salah Satu Model Katekese Umat Salah satu model katekese umat yaitu model Shared Christian Praxis (SCP)

Shared Christian Praxis adalah model katekese umat yang menekankan sifat dialog dan partisipasi supaya mendorong umat berdasarkan konfrontasi tradisi dan visi hidup dengan Tradisi dan Visi Kristiani sehingga dapat mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan sehari-hari (Sumarno Ds, 2013: 14-15).

1. Pengertian Shared Christian Praxis

  Visi Kristiani menekankan tuntutan dan janji yang terdapat dalam Tradisi, tanggungjawab dan perutusan umat merupakan jalan menghidupi semangat dansikap kemuridan dan hal mendasar adalah terwujudnya Kerajaan Allah. Kelima langkah katekese umat model Shared Christian Praxis (SCP) adalah mengungkap pangalaman hidup peserta, mendalami pengalaman hidup peserta, menggali pengalaman iman kristiani, menerapkan iman kristiani dalam situasi peserta konkret, dan mengusahakansuatu aksi konkrit (Sumarno Ds, 2013: 18-22; bdk.

a. Langkah 0: Pemusatan Aktifitas

  Membangun keterlibatan dan kesadaran peserta sebagai subjek dalam ketekese sehingga menjadi pendidikan yang menciptakan kesatuan kesadaran,kehendak, dan keterlibatan baru. Langkah nol bermaksud membangun kesadaran dan minat bersama dan visi sebagai sarana perjumpaan, kebersatuan, dan komunikasi antar pribadi sebagaisubjek dengan menghormati keunikan dan kebutuhan (Groome, 1997: 8).

b. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Peserta

  Pengalaman hidup yang diungkapkan dapat berupa perasaan,menilai, sikap, kepercayaan, dan keyakinan sehingga peserta sadar dan kritis akan pengalaman hidupnya (Sumarno Ds, 2013: 19; bdk. Groome, 1997: 5). Pengalaman hidup yang diungkapkan adalah pengalaman pribadi, atau kehidupan dan permasalahan sosial, ekomomi, budaya yang terjadi di lingkunganmasyarakat atau gabungan keduanya.

c. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta

  Kekhasan langkah kedua adalah refleksi kritis dan mengantar peserta pada pengalaman hidup dan tindakannya yang mencakup tiga hal yaitu pemahamankritis dan sosial (alasan, minat, asumsi) menekankan pemahaman terhadap tindakan dan pertimbangannya serta menganalisa pengalaman hidup yangdibentuk oleh sistem sosial yang keduanya saling berhubungan. Tujuan yang akan dicapai adalah merefleksikan dan mengantar peserta pada kesadaran kritis pengalaman hidupnya dan tindakanya yang berhubungan denganpemahaman kritis dan sosial (alasan, minat, asumsi), kenangan analisis dan sosial (sumber historis) dan imajinasi kreatif serta sosial (harapan konsekuensi historis).

d. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani Peserta

  Peran peserta demi terciptanya tujuan langkah ini adalah mendialogkan tradisi dan visi hidup dengan Tradisi dan Visi Gereja sehingga iman Kristianidapat dekat dan hadir di tengah-tengah kehidupan peserta dan peserta terdorong mempribadikan makna kebenaran secara kritis dan kreatif, dan menemukanpraksis baru (Sumarno Ds, 2013: 19; bdk. Groome, 1997: 19). Pendamping juga berpartisipasi dengan menghormati Tradisi dan visiKristiani yang otentik, dan normatif, memanfaatkan sarana dan menafsirakanKitab Suci sebagai informasi dan mambantu peserta supaya nilai-nilai Tradisi dan visi Kristiani dapat dekat dalam kehidupan peserta.

e. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Konkrit

  Berdasarkan hasil pengolahan setiaplangkah peserta menemukan nilai-nilai tradisi dan visi Kristiani yang meneguhkan, mengkritik, sehingga peserta dapat melangkah kehidupan yang lebihbaik lagi dengan semangat, nilai, dan iman baru demi terwujudnya Kerajaan Allah (Sumarno Ds, 2013: 21; bdk. Groome, 1997: 5). Peran lainnya yang harus dilakukan pendamping adalah membantu peserta dengan cara menyampaikan pertanyaan-pertanyaan bantuan yang bersifat aktif,supaya peserta dapat menemukan sendiri nilai-nilai hidup, kesadaran baru dari iman, dan perjuangan hidup yang akan diwujudkan dan dikembangkan secarakritis dan kreatif dalam kehidupan sehari-hari (Sumarno Ds, 2013: 21; bdk.Groome, 1997: 49).

f. Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkret

  Pada tahap ini peserta diajak menutup katekese umat dengan melakukan ibadat singkat untuk mendoakan seluruh proses katekese umat Kekhasan langkah kelima adalah peserta diajak menemukan keputusan pribadi dan bersama berdasarkan tema dalam berkatekese. Berdasarkan tujuan yang akan dicapai peserta berperan untuk mengungkapkan keputusan yang akan diwujudkan dan dikembangkan dalamberbagai bentuk (aspek kognitif/pemahaman, dan aspek afektif/perasaan) dan Pendamping juga berperan untuk membantu peserta mengambil keputusan pribadi diiringi dengan pertobatan pribadi atau sosial.

3. Tinjauan Kritis Katekese Umat Model Shared Christian Praxis

  Hal-hal yang harus diperhatikan demi terlaksananya katekese umat model Shared Christian Praxis adalah urutan setiap langkah, peserta katekese umat, penggunaan waktu yang efektif, serta keterampilan katekis/pendamping dalam berkatekese (Sumarno Ds, 2013: 22-23). Penggunaan dan pemanfaatan lingkungan, tempat, dan waktuyang longgar merupakan sesuatu yang ideal dalam memberi perhatian yang cukup pada setiap langkah (Sumarno Ds, 2013: 23-24).

D. Penghayatan Iman dalam Katekese Umat

  Katekese umat merupakan tempat untuk membantu umat menghayati iman katolik karena melalui sharing pengalaman iman umat semakin diteguhkanimannya. Dari setiap proses katekese umat dan langkah-langkah yang ada didalamya peserta akan diajak untuk memperdalam kehidupannyasehingga iman umat semakin bertumbuh dan berkembang.

1. Penghayatan Iman

  Hal tersebut dapat terlihat dengan jelas dalam ekspresi agama melalui dan dalampersaudaraan/paguyuban iman, dalam pewartaan, dalam ibadah/perayaan iman dan dalam wujud sekuler iman (Banawiratma & Suharyo, 1990: 61). Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahuluiserta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan mengembalikannya kepada Allah, membuka mata budi dan Keterlibatan iman dalam diri manusia tidak berarti beriman sekedar mengetahui Kitab Suci dan ajaran Gereja, tetapi mampu mewujudkannya dalamhidup.

2. Bentuk dan Cara Penghayatan Iman dalam Katekese Umat

  Bentuk penghayatan iman yang terlihat adalah proses sharing pengalaman hidup, peserta mempunyai kecintaan dunia, dan manusia sebagai dasarberkomunikasi, memiliki sikap rendah hati, pengalaman iman yang melibatkan kejujuran dan keterbukaan sehingga memperoleh kekuatan dan dukungan darisesama, bijaksana terhadap apa yang disharingkan. Cara Penghayatan Iman dalam Katekese Umat Iman bertumbuh bila umat cermat mendengarkan sabda Tuhan dan membangun hubungan intim dengan Allah dalam doa (Youcat, no. 21).

3. Faktor Pendukung dan Penghambat Penghayatan Iman dalam Katekese Umat

  Proses penghayatan iman dalam katekese umat dibutuhkan kerjasama antara pendamping dan peserta sebagai bentuk dukungan tercapainya tujuan bersama. Bahkan dalam proses itu pendamping dan peserta akan menghadapi hambatan- hambatan yang akan mengganggu proses pengahayatan iman.

a. Faktor Pendukung Penghayatan Iman dalam Katekese Umat

  Menggunakan metode yang bervariasi, bahasasederhana dan mudah dipahami, tema sesuai kebutuhan, menjangkau seluruh umat, penyajian materi tersusun secara sistematis dan melakukan evaluasi untukmenghindari terjadinya kesalahan yang sama, fasilitator/pendamping menguasai bahan dan adanya pelatihan serta keterlibatan kaum biarawan-biarawati(Dapiyanta, 2013: 13). Ungkapan lain juga dikatakan bahwa faktor pendukung katekese umat adalah kebiasaan umat berkumpul, adanya penggerak dan aktivitas Paroki yangmenggiatkan umat terlibat, adanya bahan katekese umat yang tersedia, dan adanya program keuskupan, pusat pastoral, dan panitia kateketik (Setyakarjana, 1997: 84) Faktor pendukung penghayatan iman dari peserta adalah haus sabda Allah dan menginginkan kepenuhan-Nya melalui berkatekese.

b. Faktor Penghambat Penghayatan Iman dalam Katekese Umat

  Faktor penghambat penghayatan iman dalam berkatekese adalah umat belum haus akan sabda Allah sebagai sumber hidup akibatnya umat belum tertarik Tukar pengalaman hidup menjadi gagal dan menjengkelkan apabila peserta tidak mau saling menanggapi, tidak saling menampung, dan secara bersama tidakmendalami satu pokok dalam katekese umat. Masih ada petugas hirarki yang kurang memahami dan bersimpati terhadap katekese umat, masih ada umat yang klerikalisme-centris, dan adanyahambatan struktural, sehingga umat menjadi pasif (Lalu, 2007: 22).

4. Penghayatan Iman dalam Katekese Umat Model Shared Christian Praxis

  Dalam katekese umatmodel Shared Christian Praxis prosesnya menekankan dialog/partisipasi supaya peserta terdorong berdasarkan komunikasi Tradisi dan Visi Kristiani dengantradisi dan visi untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah (Groome, 1997: 1). Setiap langkah dalam model Shared Christian Praxis memiliki tiga unsur penting demi tercapainya penghayatan iman yaitu letak, dukungan, dan hambatan penghayatan iman.

a. Penekanan Penghayatan Iman dalam Langkah 0: Pemusatan Aktifitas

  Penekanaan Penghayatan Iman dalam Langkah II: MendalamiPengalaman Hidup Peserta Letak penghayatan iman berada dalam refleksi kritis dan tersampainya peserta pada pengalaman hidup dan tindakan yang mencakup tiga hal yaitupemahaman kritis dan sosial (alasan, minat, asumsi) menekankan pemahaman terhadap tindakan dan pertimbangannya serta menganalisa pengalaman hidupyang dibentuk oleh sistem sosial. Dukungan yang mempengaruhi dalam penghayatan iman adalah pribadi pendamping dalam memandu proses katekese umat yaitu menciptakan suasanasaling menghormati dan mendukung setiap gagasan, mengundang umat untuk refleksi kritis, mendorong peserta berdialog dan menarik penegasan bersamadengan tujuan memperdalam, menguji pemahaman, kenangan, dan imanjinasi.

BAB IV USULAN KATEKESE UMAT MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN IMAN UMAT LINGKUNGAN ST. YUSUF, BERUT, WILAYAH ST. MARTA, SUMBER, PAROKI ST. MARIA LOURDES, SUMBER, MAGELANG Katekese umat yang berlangsung di Lingkungan St. Yusuf, Berut

  Yusuf maka penulis mengusulkan adanya katekese umat model Shared Christian Praxis untuk membantu umat meningkatkan penghayatan iman. Usulan tersebut dapat berguna dan bermanfaat bagi umat untuk membantu meningkatkan pengahayatan iman dan mengajak umat untuk terlibat aktif mengikuti katekeseumat yang ada di Lingkungan supaya umat mengalami pertobatan terus menerus.

A. Latar Belakang Usulan Katekese Umat Model Shared Christian Praxis

  Dengan adanya ketekese umat, umat memiliki tempatuntuk belajar lebih dalam tentang sabda Tuhan sebagai pedoman dalam menjalani Berdasarkan hasil penelitian, kehadiran katekese umat belum mampu membantu umat meningkatkan penghayatan iman dengan berbagai sebab. Dengan adanyausulan katekese umat diharapkan umat semakin meningkatkan penghayatan iman dan semangat terlibat dalam hidup menggereja serta terjadi pertobatan terus.

B. Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan

  Yusuf, Berut adalah “Membangun kebersamaan dalam meningkatkan penghayatan iman” dengan tujuan bersama pendamping, pesertadiajak untuk menyadari dan memahami pentingnya arti kebersamaan dalam meningkatkan penghayatan iman sehingga peserta dapat bersama-samamembangun kebersamaan dalam hidup berkomunitas dan melibatkan diri dalam kegiatan menggereja. Tema umum tersebut masih dijabarkan lagi menjadi 6 tema yaitu bersama Yesus kita membangun kebersamaan dalam hidup berkomunitas,membangun kebersamaan dalam keluarga, membangun kebersamaan dalam kehidupan menggereja, iman yang kuat membuahkan kasih dalam hidupkebersamaan, hidup dalam kasih dan bersatu dalam Kristus.

C. Rumusan Tema dan Tujuan

  Tujuan Umum : Bersama pendamping, peserta diajak untuk menyadari dan memahami pentingnya arti kebersamaan dalammeningkatkan penghayatan iman sehingga peserta dapat bersama-sama membangun kebersamaan dalam hidupberkomunitas dan melibatkan diri dalam kegiatan menggereja. Tema dan Tujuan umum tersebut dijabarkan dalam tema dan tujuan yang lebih khusus yaitu sebagai berikut:Tema I : Bersama Yesus kita membangun kebersamaan dalam hidup berkomunitas.

E. Petunjuk Pelaksanaan Usulan Katekese Umat

  Sedangkan pendamping atau pelaksana kegiatan katekese umat adalah penulis dan bekerja sama dengan pemuka umat serta umat di Lingkungan St. Melalui kegiatan ini diharapkan umat semakin terbantu untuk meningkatkan penghayatan iman dan memperkenalkan kepada umat katekeseumat model Shared Christian Praxis sepaya umat juga semakin semangat untuk melibatkan diri dalam ketekese umat.

F. Contoh Persiapan Katekese Umat model Shared Christian Praxis 1. Identitas a

  Tema pertemuan: Bersama Yesus kita membangun kebersamaan dalam hidup berkomunitas. Tujuan: Bersama pendamping, peserta diajak untuk menyadari pentingnya membangun kebersamaan dalam hidupberkomunitas sehingga mereka dapat saling berbagi satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemikiran Dasar

  Penyebab lunturnyakebersamaan dalam kehidupan umat adalah pengaruh perkembangan teknologi yang pesat, sibuk dengan pekerjaan, cuek dengan keadaan sekitar, egois, dll. Kitamerupakan pribadi-pribadi yang percaya kepada Yesus dan hidup dalam suatu lingkungan yang membuat kita selalu kuat.

3. Pengembangan Langkah-Langkah: a

  Pada saat ini kebersamaan yang ada 2)Lagu pembukaan: “Dalam Yesus Kita Bersaudara” [Lampiran 8: (25)] 3)Doa pembukaan Bapa yang maha pemurah, kami bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu, karena penyertaan-Mu kami semua dapat berkumpul di tempat ini untuk bersama-sama mendalami sabda-Mu. Langkah I: Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta1) Pendamping membagikan teks cerita yang berjudul “Daun-Daun dan Orang”[Lampiran 9: (26)] kepada peserta dan menunjuk salah satu peserta untuk membacakanya sedangkan umat lain memperhatikan dan mendengarkan.

4) Inti sari cerita “Daun-Daun dan Orang”

  Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta Konkrit1) Pendamping mulai mengawali langkah ini dengan menempatkan peserta dalam konteks dan situasi pertemuan, serta menerapkan pesan inti Kitab Suci dalampengalaman, kebutuhan, dan situasi hidup sesuai dengan tema dan tujuan katekese umat, misalnya sebagai berikut: Bapak/Ibu yang terkasih dalam Yesus setelah kita bersama-sama mendalami pengalaman kebersamaan dalam komunitas/kelompok kita menemukan pesan didalamnya. Pendamping mengawalinya doa umat kemudian diakhiri dengan doa Bapa Kami, doa penutup yang dihubungkandengan tema dan tujuan katekese umat dan doa malam.2) Doa PenutupTuhan Yesus, yang penuh kasih, kami mengucap syukur kepada-Mu karena pada pertemuan malam hari ini, Engkau telah menyertai kami sehingga pertemuanmalam ini dapat berjalan dengan baik.

BAB V PENUTUP Berdasarkan situasi umat dan hasil penelitian, dapat dilihat situasi katekese

A. Kesimpulan

  Perwujudan iman dalam hidup umat belum terlaksana secara maksimal karena umat banyak yang masih kadang-kadang mewujudkan iman walaupunmereka menyadari bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan, perbuatan dan Berdasarkan situasi katekese umat di Lingkungan St. Lingkungan dapat meningkatkan peranpendamping katekese umat, melibatkan seluruh umat dalam katekese umat, materi katekese umat yang sesuai dengan kebutuhan, tersedianya tempat katekese umat,serta dapat mengolah waktu katekese umat dengan baik.

B. Saran

  Para pendamping dan seluruh umat dapat menyadari pentingnya katekese umat dalam pendewasaaniman dan meningkatkan penghayatan iman, sehingga katekese umat perlu dilaksanakan secara rutin dan umat dapat merasakan manfaatnya dalam hidup. Dengan adanya katekese umat, umat Umat dalam mengikuti katekese umat diharapkan dapat terlibat aktif dalam proses katekese umat, sehingga tujuan katekese umat dapat tercapai dan umatmerasakan manfaatnya dalam hidup.

Dokumen baru

Tags