PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN EVALUASI DAN INFERENSI PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA SKRIPSI

Gratis

0
0
190
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN EVALUASI DAN INFERENSI PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Laila Rizki Madhania NIM: 101134237 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN EVALUASI DAN INFERENSI PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Laila Rizki Madhania NIM: 101134237 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya sederhana ini kupersembahkan kepada: 1. Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya. 2. Orangtuaku yang selalu mendoakan dan mendukungku. 3. Kakak-kakakku yang selalu memberikan semangat dan dukungan. 4. Almamaterku Universitas Sanata Dharma. 5. Teman-teman yang selalu memberikan motivasi. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Ada dua buah nikmat yang kebanyakan orang terperdaya karenanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas Ra) “Barang siapa yang keluar rumah untuk belajar satu bab dari ilmu pengetahuan, maka ia telah berjalan fisabilillah sampai ia kembali ke rumahnya.” (HR. Tirmidzi dari Anas Ra) “Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya, dan bagi umatnya.” (Anies Baswedan) v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Madhania, Laila Rizki. (2014). Pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi pada mata pelajaran IPA di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengujicobakan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi-experimental design tipe non-equivalent control group design. Populasi diambil dari siswa kelas IV berjumlah 149 siswa. Sebanyak 28 siswa (kelas IVA3) sebagai sampel kelompok eksperimen dan 30 siswa (kelas IVA1) sebagai sampel kelompok kontrol. Variabel independennya adalah metode mind map dan variabel dependennya adalah kemampuan evaluasi dan inferensi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah test. Analisis statistik dengan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasilnya sebagai berikut: pertama, penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. Berdasarkan uji selisih skor pretest dan posttest I terhadap kemampuan evaluasi diperoleh sig. (2-tailed) sebesar 0,027 (atau p < 0,05) dengan nilai M = 1,0179, SD = 0,73, SE = 0,14, dan t(56) = -2,27. Besar pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi menunjukkan efek besar dengan harga r = 0,81 atau 67%. Kedua, penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi. Berdasarkan uji selisih skor pretest dan posttest I terhadap kemampuan inferensi diperoleh sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05) dengan nilai M = 1,000, SD = 0,82, SE = 0,16, dan t(56) = -4,941. Besar pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan inferensi menunjukkan efek besar dengan harga r = 0,77 atau 60%. Kata kunci : metode mind map, kemampuan evaluasi, kemampuan inferensi, mata pelajaran IPA. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Madhania, Laila Rizki. (2014). The effect of the use of mind map method on evaluation and inference abilities in science subject at SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Thesis. Yogyakarta: Elementary Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University. The background of this research was to test the mind map method on the evaluation and inference abilities. This research was aimed to determine the effect of the use of mind map method in science subject on the evaluation and inference abilities of the fourth grade students at SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta in the second semester in the academic year of 2013/2014. The type of the research used was quasi-experimental design, with non-equivalent control group design type. The population was taken from the fourth grade students consisting of 149 students. As many as 28 students (class IVA3) were selected as the samples of the experimental group and 30 students (class IVA1) were selected as the samples of the control group. The independent variable was the mind map method and the dependent variables were evaluation and inference abilities. The data collection technique used was tests. The data analysis used parametric statistics tests by using IBM SPSS Statistics 22 for Windows computer program with 95% of confidence interval. The result was as the following: first, the use of the mind map method affected the ability of the evaluation. Based on the difference in test scores of the pretest and posttest I on the evaluation ability, it was obtained that the price of sig. (2-tailed) is 0,027 (or p < 0,05), with M value = 1,0179, SD = 0,73, SE = 0,14, and t(56) = -2,27. The amount of the effect of the use of mind map method on the evaluation ability showed a large effect, with r price = 0,81 or by 67%. Second, the use of mind map method affected the inference ability. Based on the difference in the test scores of pretest and posttest I on the inference ability, it was obtained that the price of sig. (2-tailed) is 0,000 (or p < 0,05), with M value = 1,000, SD = 0,82, SE = 0,16, and t(56) = -4,941. The amount of the effect of the use of mind map method on the inference ability showed a large effect with r price = 0,77 or by 60%. Keywords: mind map method, evaluation ability, inference ability, natural science subject. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Evaluasi dan Inferensi pada Mata Pelajaran IPA di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Penulis menyadari bahwa penyusunan Tugas Akhir ini tidak terlepas dari bantuan, dukungan, dan perhatian dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung dan tidak langsung memberikan bantuan dan dukungan terselesainya skripsi ini: 1. Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya. 2. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. 3. G. Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. selaku Ketua Program Studi S-1 sekaligus dosen pembimbing I yang senantiasa memberikan bimbingan dan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini. 4. Agnes Herlina Dwi Hadiyanti, S.Si., M.T., M.Sc. selaku dosen pembimbing II yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. 5. Thomas Mardiono, S.Pd dan Floribertus Supriya, S.Pd selaku kepala sekolah SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta yang telah memberikan izin penelitian dan dukungan kepada penulis. 6. B. Sumardiman selaku guru mata pelajaran IPA di SD Tarakanita Bumijo yang telah membantu dan memberikan waktu sebagai guru mitra penelitian kolaboratif. 7. Siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta yang telah bekerjasama sehingga penelitian dapat berjalan dengan lancar. 8. H. Joko Iswaji dan Hj. Titi Widiarti yang senantiasa memberikan doa, dukungan baik secara moral maupun materiil, perhatian dan semangat kepada penulis selama menyelesaikan skripsi. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9. Aji Fajar Windrato dan Asih Budhiastuti serta Aira Sakina Dinada yang senantiasa memberi dukungan dan motivasi kepada penulis selama menyelesaikan skripsi. 10. Keluarga besar Sapri Supriyanto dan Nitidimedjo yang selalu memberikan dukungan, perhatian, semangat, dan doa selama ini untuk penulis. 11. Luki dan Farida yang selalu bekerjasama membantu kelancaran selama penelitian dan penyusunan skripsi. 12. Teman-teman satu kelompok payung IPA yang telah memberikan dukungan, masukkan dan bertukar pengetahuan (Luki, Rida, Sinta, Mita, Yola, Tri, Patris, Yuni, Anjar, Renny, Mita, Lia, Lusi, Priyanti, Bowo, Probo dan Dani). 13. Teman-teman PGSD USD Kelas D Angkatan 2010 yang selalu memberikan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini. 14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu penulis mengharapkan semua pihak memberikan kritik dan saran yang membangun. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma khususnya dan bagi semua pihak yang membutuhkan pada umumnya. Penulis xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN........................................................................... iv MOTTO ................................................................................................................. v LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................ vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ........... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR TABEL................................................................................................ xv DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 5 1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................... 5 1.4 Manfaat Penelitian....................................................................................... 5 1.5 Definisi Operasional .................................................................................... 6 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 8 2.1 Kajian Pustaka ............................................................................................. 8 2.1.1 Teori-teori yang Mendukung....................................................................... 8 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak .......................................................................... 8 2.1.1.2 Metode Pembelajaran ................................................................................ 10 2.1.1.3 Metode Mind Map ..................................................................................... 11 2.1.1.4 Ilmu Pengetahuan Alam ............................................................................ 13 2.1.1.5 Materi IPA ................................................................................................. 14 2.1.1.6 Berpikir Kritis ........................................................................................... 15 2.1.1.7 Kemampuan Evaluasi dan Inferensi.......................................................... 16 2.1.2 Penelitian-penelitian Terdahulu yang Relevan ......................................... 17 2.1.2.1 Penelitian-penelitian tentang Mind Map ................................................... 17 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.2.2 Penelitian-penelitian tentang Berpikir Kritis ............................................. 19 2.1.2.3 Literature Map .......................................................................................... 21 2.2 Kerangka Berpikir ..................................................................................... 22 2.3 Hipotesis Penelitian ................................................................................... 23 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 24 3.1 Jenis Penelitian .......................................................................................... 24 3.2 Setting Penelitian ....................................................................................... 25 3.3 Populasi dan Sampel ................................................................................. 27 3.4 Variabel Penelitian .................................................................................... 28 3.5 Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 29 3.6 Instrumen Penelitian .................................................................................. 31 3.7 Teknik Pengujian Instrumen ..................................................................... 34 3.7.1 Pengujian Validitas ................................................................................... 34 3.7.2 Pengujian Reliabilitas ................................................................................ 36 3.8 Teknik Analisis Data ................................................................................. 37 3.8.1 Uji Normalitas ........................................................................................... 37 3.8.2 Uji Pengaruh Perlakuan ............................................................................. 38 3.8.2.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................................. 38 3.8.2.2 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest......................................................... 39 3.8.3 Analisis Lebih Lanjut ................................................................................ 39 3.8.3.1 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest .................................................. 39 3.8.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) .............................................. 41 3.8.3.3 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ................................................................ 42 3.8.3.4 Dampak Perlakuan .................................................................................... 43 3.8.3.5 Konsekuensi Lebih Lanjut ........................................................................ 43 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 44 4.1 Implementasi Pembelajaran ...................................................................... 44 4.1.1 Kelompok Kontrol ..................................................................................... 45 4.1.2 Kelompok Eksperimen .............................................................................. 46 4.2 Hasil Penelitian ......................................................................................... 47 4.2.1 Uji Pengaruh Penggunaan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Evaluasi ................................................................................................................. 48 4.2.1.1 Uji Normalitas terhadap Kemampuan Evaluasi ........................................ 49 4.2.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Evaluasi .......... 50 4.2.1.3 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi ... 52 4.2.1.4 Uji Analisis Lebih Lanjut terhadap Kemampuan Evaluasi ....................... 54 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.2 Pengaruh Penggunaan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Inferensi . ................................................................................................................... 60 4.2.2.1 Uji Normalitas terhadap Kemampuan Inferensi........................................ 60 4.2.2.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Inferensi.......... 62 4.2.2.3 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi... 64 4.2.2.4 Uji Analisis Lebih Lanjut terhadap Kemampuan Inferensi ...................... 66 4.3 Pembahasan ............................................................................................... 71 4.3.1 Pengaruh Penerapan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Evaluasi 71 4.3.2 Pengaruh Penerapan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Inferensi 73 4.3.3 Dampak Perlakuan terhadap Siswa ........................................................... 74 4.3.3.4 Konsekuensi Lebih Lanjut ........................................................................ 77 BAB V KESIMPULAN....................................................................................... 79 5.1 Kesimpulan................................................................................................ 79 5.2 Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 80 5.3 Saran .......................................................................................................... 80 DAFTAR REFERENSI ...................................................................................... 81 LAMPIRAN ......................................................................................................... 84 CURRICULUM VITAE ..................................................................................... 171 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data. .................................................................... 27 Tabel 3.2 Topik Wawancara terhadap Kelompok Eksperimen ............................ 30 Tabel 3.3 Topik Wawancara terhadap Guru Mitra ............................................... 31 Tabel 3.4 Matriks Pengembangan Instrumen........................................................ 32 Tabel 3.5 Rubrik Penilaian.................................................................................... 32 Tabel 3.7 Perhitungan Validitas. ........................................................................... 35 Tabel 3.8 Kriteria Koefisien Reliabilitas .............................................................. 36 Tabel 3.9 Perhitungan Reliabilitas ........................................................................ 37 Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas terhadap Kemampuan Evaluasi .......................... 49 Tabel 4.2 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Evaluasi ................................................................................................................... 51 Tabel 4.3 Hasil Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi. ................................................................................................................ 53 Tabel 4.4 Hasil Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi. ................................................................................................................ 55 Tabel 4.5 Hasil Uji Besar Efek Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi ......... 57 Tabel 4.6 Hasil Uji Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi ............ 58 Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas terhadap Kemampuan Inferensi. ......................... 61 Tabel 4.8 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Inferensi. ................................................................................................................... 63 Tabel 4.9 Hasil Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi................................................................................................................. 65 Tabel 4.10 Hasil Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi................................................................................................................. 67 Tabel 4.11 Uji Besar Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi ......... 69 Tabel 4.12 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi ...... 70 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Contoh Mind Map Sistem Utama Tubuh .......................................... 12 Gambar 2.2 Literature Map dari Penelitian Terdahulu yang Relevan .................. 21 Gambar 3.1 Rancangan Penelitian ........................................................................ 25 Gambar 3.2 Variabel Penelitian ............................................................................ 29 Gambar 3.3 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I ........................ 40 Gambar 3.4 Rumus Uji Paired Samples t-test ...................................................... 41 Gambar 3.5 Rumus Uji Wilcoxon Signed Ranks Test ........................................... 41 Gambar 3.6 Rumus Persentase Peningkatan Posttest I ke Posttest II ................... 43 Gambar 4.1 Diagram Batang Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi ........................................................................................... 54 Gambar 4.2 Diagram Grafik Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi ........................................................................................... 56 Gambar 4.3 Diagram Grafik Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi ........................................................................................... 59 Gambar 4.4 Diagram Batang Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi ........................................................................................... 66 Gambar 4.5 Diagram Grafik Peningkatan Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi ........................................................................................... 68 Gambar 4.6 Diagram Grafik Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi. .......................................................................................... 71 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 3.1 Instrumen Penelitian ....................................................................... 85 Lampiran 3.2 Kunci Jawaban ................................................................................ 88 Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian Instrumen Penelitian .......................................... 90 Lampiran 3.4 Tabulasi Skor Pengujian Validitas ................................................ 92 Lampiran 3.5 Uji Validitas Instrumen Penelitian ................................................ 94 Lampiran 3.6 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian .............................................. 95 Lampiran 3.7 Resume Expert Judgement .............................................................. 96 Lampiran 4.1 Silabus Pembelajaran Kelompok Eksperimen ................................ 98 Lampiran 4.2 Silabus Pembelajaran Kelompok Kontrol .................................... 103 Lampiran 4.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ....... 108 Lampiran 4.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol.............. 118 Lampiran 4.5 Lembar Kerja Siswa Kelompok Eksperimen ............................... 126 Lampiran 4.6 Lembar Kerja Siswa Kelompok Kontrol ...................................... 134 Lampiran 4.7 Rekapitulasi Nilai Kemampuan Evaluasi Kelompok Eksperimen 143 Lampiran 4.8 Rekapitulasi Nilai Kemampuan Evaluasi Kelompok Kontrol ..... 144 Lampiran 4.9 Rekapitulasi Nilai Kemampuan Inferensi Kelompok Eksperimen145 Lampiran 4.10 Rekapitulasi Nilai Kemampuan Inferensi Kelompok Kontrol ... 146 Lampiran 4.11 Hasil Uji Normalitas terhadap Kemampuan Evaluasi................ 147 Lampiran 4.12 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Evaluasi ............................................................................................................... 148 Lampiran 4.13 Hasil Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi ............................................................................................................... 149 Lampiran 4.14 Hasil Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi ......................................................................................... 150 Lampiran 4.15 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi ............................................................................................................... 151 Lampiran 4.16 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi .... ................................................................................................................. 152 Lampiran 4.17 Uji Normalitas terhadap Kemampuan Inferensi ......................... 153 Lampiran 4.18 Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Inferensi . ................................................................................................................. 154 Lampiran 4.19 Uji Selisih Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi............................................................................................................... 155 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.20 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi............................................................................................................... 156 Lampiran 4.21 Uji Besar Efek Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi ........ 157 Lampiran 4.22 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi.... ................................................................................................................. 158 Lampiran 4.23 Transkrip Wawancara Guru........................................................ 159 Lampiran 4.24 Transkrip Wawancara Siswa ...................................................... 161 Lampiran 4.25 Foto Kelas Kontrol ..................................................................... 167 Lampiran 4.26 Foto Kelas Eksperimen ............................................................... 168 Lampiran 4.27 Surat Ijin Penelitian .................................................................... 169 Lampiran 4.28 Surat Keterangan Melakukan Penelitian .................................... 170 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan pondasi untuk membangun bangsa yang lebih maju. Pendidikan adalah proses terlatih dan terencana dalam mengembangkan potensi diri individu untuk mewujudkan tujuan nasional Indonesia (Sanjaya, 2006: 2). Proses pendidikan berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran memiliki peranan yang penting dalam menyongsong masa depan yang lebih baik. Pembelajaran dapat membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu. Artinya, seseorang memperoleh suatu pengetahuan harus melalui serangkaian proses pembelajaran. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Guru sebagai pengajar merupakan fasilitator dan motivator bagi siswa, sedangkan siswa sebagai subjek pembelajaran yang menikmati kondisi belajar yang diciptakan oleh guru. Proses pembelajaran yang ideal yaitu di mana strategi belajar yang diciptakan oleh guru dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa secara menyeluruh. Penerapan strategi yang tepat dalam proses pembelajaran akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia. Adanya peningkatan mutu pendidikan Indonesia, maka akan tercipta sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi sehingga mampu menghadapi perkembangan dunia global dan bersaing dengan negara lain. Pada kenyataannya, kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Indonesia menduduki peringkat bawah yaitu peringkat 57 dari 65 negara partisipan dengan skor pada kemampuan bidang sains 383. Peringkat tersebut dikemukakan oleh PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2009. Hasil evaluasi internasional selanjutnya yang dilakukan oleh PISA pada tahun 2012 menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia semakin menurun. Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara partisipan dengan skor pada kemampuan bidang sains 382. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah lemahnya 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI proses pembelajaran di kelas. Hal ini dikarenakan kinerja guru yang kurang maksimal dalam melayani siswa. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya difokuskan pada kemampuan siswa untuk menghafal informasi yang ditransfer oleh guru melalui metode konvensional atau metode ceramah sehingga kurang memahami informasi yang diterimanya dan mengkaitkan pada kehidupan sehari-hari (Trianto, 2009: 6). Berdasarkan hasil observasi di sekolah pada tanggal 16 Januari 2014, selama proses pembelajaran berlangsung guru tidak mengkombinasikan penerapan metode inovatif dalam proses pembelajaran. Guru hanya menerapkan metode ceramah untuk menjelaskan materi pelajaran. Pemilihan metode ceramah dalam proses pembelajaran di kelas cenderung membosankan dan monoton, sehingga mengakibatkan kurangnya motivasi siswa untuk belajar. Selain itu, proses pembelajaran juga berpusat pada guru, sedangkan siswa hanya mencatat hal-hal yang dianggap penting. Pembelajaran yang diterima oleh anak hanya berupa hafalan materi pelajaran. Tentu permasalahan tersebut akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Kenyataan ini berlaku untuk semua mata pelajaran. Misalnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seharusnya menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung untuk mengembangkan kompetensi siswa. Siswa dapat menjelajahi dan memahami alam sekitar dengan kemampuan berpikir kritis dan sistematis sehingga memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih bermakna. Namun berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 16 Januari 2014, siswa mengatakan bahwa “Saat belajar IPA jarang sekali melakukan praktikum, kayaknya baru sekali atau dua kali saja”. Dalam wawancara pada hari yang sama, siswa yang lain juga mengatakan, “Biasanya kalau belajar IPA kegiatannya mendengarkan materi, terus siswa mencatat yang penting-penting”. Berdasarkan observasi dan wawancara tersebut dapat diketahui bahwa dalam proses pembelajaran IPA, siswa tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sistematis, karena metode pembelajaran yang melibatkan kemampuan berpikir kritis tidak diterapkan secara maksimal dalam proses pembelajaran di kelas sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa dan rendahnya kemampuan berpikir kritis. 2

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berpikir kritis adalah penilaian yang terarah dan terukur yang menghasilkan interpretasi, analisis evaluasi, kesimpulan, dan juga penjelasan terhadap pertimbangan-pertimbangan faktual, konseptual, metodologis, kriterilogis, atau kontekstual yang menjadi dasar penilaian tersebut (Facione, 1990). Dalam hal ini hanya akan difokuskan pada kemampuan evaluasi dan inferensi saja karena kedua kemampuan tersebut termasuk ke dalam beberapa bagian penting dalam kemampuan berpikir kritis. Kemampuan evaluasi merupakan kecakapan untuk menilai kredibilitas pernyataan atau ungkapan lain yang mencerminkan persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, kepercayaan, atau opini seseorang untuk menimbang bobot dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau ungkapan lainnya (Facione, 1990: 8). Sub kecakapan dalam kemampuan evaluasi yaitu menilai klaim dan menilai argumen. Kemampuan inferensi merupakan kecakapan mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang diperlukan untuk menarik alasan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi-informasi yang relevan, dan menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari data, pernyataan, prinsip, bukti, penilaian, kepercayaan, opini, konsep, gambaran, pertanyaan, atau bentuk ungkapan lainnya (Facione, 1990: 9). Sub kecakapan dalam kemampuan inferensi yaitu menguji bukti-bukti, menerka alternatif, dan menarik kesimpulan. Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya tersebut terwujud melalui program sertifikasi guru. Namun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), program sertifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru supaya menjadi guru yang semakin profesional dan memfasilitasi siswa dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Chang, dkk, 2014: 98). Pemerintah memberikan apresiasi yang lebih kepada guru melalui pemberian tunjangan untuk memotivasi guru dalam meningkatkan kinerjanya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas proses sertifikasi secara keseluruhan tidak sebaik tujuan yang dimaksudkan sehingga hampir tidak ada bukti perbedaan kompetensi antara guru 3

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bersertifikat dan guru yang tidak bersertifikat atau dampaknya terhadap hasil belajar siswa (Chang, dkk, 2014: 184). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebijakan politik pemerintah Indonesia terkait program sertifikasi guru yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia ternyata tidak efektif digunakan sebagai solusi inti permasalahan pendidikan di Indonesia. Program sertifikasi tersebut tidak tepat sasaran atau tujuan utamanya karena tidak secara langsung mempengaruhi metode pembelajaran yang diciptakan oleh guru, namun hanya sebagai aksesoris semata. Hasil belajar siswa tetap rendah meski pemerintah sudah mengeluarkan dana yang banyak untuk upaya melakukan reformasi pendidikan di Indonesia. Fakta berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, program yang diberikan harus secara langsung tertuju pada sasaran utama yang menjadi permasalahan pendidikan selama ini, yakni pembaharuan metode pembelajaran di dalam kelas. Upaya untuk memperbarui metode pembelajaran tersebut, perlu dirancang metode yang dapat melibatkan kemampuan berpikir dan pengembangan potensi diri siswa melalui aktivitas pembelajaran yang melibatkan siswa. Salah satu metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran dan diduga efektif mampu mempengaruhi ketrampilan berpikir siswa yakni dengan menggunakan metode mind map. Metode mind map memungkinkan kita untuk menyusun fakta dan pengetahuan sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal melalui pemetaan yang hebat dalam kegiatan berpikir manusia (Buzan, 2008: 5). Metode mind map memberikan pandangan yang menyeluruh terhadap pokok permasalahan dan mendorong pemecahan masalah melalui terobosan kreatif baru. Penelitian eksperimen ini merupakan salah satu upaya untuk melakukan perbaikan kualitas pendidikan Indonesia, khususnya pada mata pelajaran IPA. Penelitian ini akan mengujicobakan secara sistematis dan metodis untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar. Dengan adanya penelitian ini maka diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan untuk mengetahui pengaruh salah satu metode pembelajaran yang inovatif dalam mengembangkan mutu pendidikan Indonesia. 4

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penelitian ini dibatasi pada pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. Materi pembelajaran yang digunakan hanya dibatasi pada materi yang terdapat pada Standar Kompetensi 7. Memahami gaya dapat mengubah gerak dan/atau bentuk suatu benda, sedangkan Kompetensi Dasar yang digunakan 7.1 Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak suatu benda. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014? 1.2.2 Apakah penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan inferensi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA terhadap kemampuan evaluasi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. 1.3.2 Mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA terhadap kemampuan inferensi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Guru Guru mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas dalam menerapkan metode mind map pada mata pelajaran IPA sehingga memberikan inspirasi untuk menggunakannya pada mata pelajaran lain. 5

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.4.1 Siswa Siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan menggunakan metode mind map dalam mata pelajaran IPA. 1.4.2 Sekolah Laporan penelitian ini dapat menambah referensi bacaan di perpustakaan sekolah terkait tentang penelitian eksperimen mengenai pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPA. Selain itu, hasil penelitian ini dapat memberikan masukkan dan pertimbangan bagi sekolah sebagai bahan kajian dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran di kelas untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah. 1.4.3 Peneliti Peneliti mendapatkan pengetahuan dan pengalaman berharga dalam menerapkan metode mind map terhadap kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPA sehingga bermanfaat sebagai bekal bagi peneliti untuk menerapkannya kelak setelah menjadi guru. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun untu memfasilitasi siswa dalam mengembangkan potensi agar tujuan belajar tercapai secara optimal. 1.5.2 Mind map adalah metode pembelajaran dengan cara mencatat informasi secara kreatif dengan menggunakan kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang melengkung agar lebih mudah dalam mengingat informasi tersebut. 1.5.3 Berpikir kritis adalah penalaran logis dalam menjelaskan tujuan, memeriksa asumsi, nilai-nilai, pikiran, mengevaluasi bukti, menyelesaikan tindakan, dan menilai kesimpulan dalam memecahkan suatu permasalahan. 6

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5.4 Kemampuan evaluasi adalah kecakapan untuk menilai kredibilitas pernyataan atau ungkapan lain yang mencerminkan persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, kepercayaan, atau opini seseorang untuk menimbang bobot dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau ungkapan lainnya. 1.5.5 Kemampuan inferensi adalah kecakapan mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang diperlukan untuk menarik alasan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasiinformasi yang relevan, dan menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari data, pernyataan, prinsip, bukti, penilaian, kepercayaan, opini, konsep, gambaran, pertanyaan, atau bentuk ungkapan lainnya. 1.5.6 IPA adalah ilmu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam di mana pengetahuan tersebut didapatkan melalui serangkaian metode ilmiah yang sistematis. 1.5.7 Gaya adalah tarikan atau dorongan yang dapat mengakibatkan bergeraknya suatu benda. 1.5.8 Siswa SD adalah siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014 yang tergolong pada perkembangan anak dalam tahap operasional konkret. 7

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori-teori yang Mendukung 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Setiap anak perlu melakukan adaptasi untuk menunjukkan pola hubungan individu dengan lingkungannya dalam proses perkembangan kognitif (Piaget dalam Suyono dan Harianto, 2011: 86). Adanya dorongan untuk mengorganisasikan pengalaman agar mendapatkan adaptasi yang optimal (ekuilibrium) disebut ekuilibrasi (Hergenhahn dan Olson, 2008: 316). Agar terjadi ekuilibrasi antara individu dengan lingkungan, maka peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi secara terpadu (Schunk, 2012: 334). Asimilasi merupakan proses penggabungan informasi baru yang ditemui dalam kehidupan nyata, kemudian informasi tersebut dikelompokkan ke dalam istilah yang sebelumnya telah dipahami anak. Sedangkan akomodasi merupakan mengubah struktur kognitif yang sudah dimiliki sebelumnya untuk disesuaikan menghadapi tantangan baru. Jadi setiap organisme yang melakukan adaptasi dengan lingkungannya harus mencapai keseimbangan (ekuilibrium), antara aktivitas individu terhadap lingkungan (asimilasi) dan aktivitas lingkungan terhadap individu (akomodasi). Menurut Piaget (dalam Suyono dan Harianto, 2011: 83) setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahapan perkembangan kognitif yang teratur berupa aktivitas yang gradual dari konkret menuju abstrak. Empat tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget (Hergenhahn dan Olson, 2008: 318): 1) tahap sensorimotor (sekitar 0-2 tahun), 2) tahap pra-operasional (sekitar 2-7 tahun), 3) tahap operasional konkret (sekitar 7-11 tahun), dan 4) tahap operasional formal (sekitar 11-15 tahun). Dalam tahapan sensorimotor, ditandai dengan aktivitas anak dilakukan secara spontan dan menunjukkan adanya usaha untuk memahami dunia (Schunk, 2012: 332). Pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, seperti: melihat, 8

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI meraba, memegang, mengecap, mencium, mendengarkan dan menggerakkan anggota tubuh. Dalam hal ini anak sangat mengandalkan kemampuan sensorik dan motoriknya. Kemampuan kognitif yang muncul pada saat ini adalah anak mulai memahami bahwa perilaku tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Dalam tahapan pra-operasional, perkembangan bahasa dan ingatan pada tahap ini membuat anak mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Anak mulai membentuk konsep sederhana seperti mengklasifikasikan bendabenda berdasarkan kemiripannya, namun masih banyak melakukan kesalahan dalam memahami konsep. Anak lebih menjadi tidak egosentris karena menyadari bahwa orang lain dapat berpandangan berbeda terhadap suatu objek yang mereka pikirkan (Schunk, 2012: 333). Dalam tahapan operasional konkret, anak memperlihatkan pikiran yang sudah lebih tidak egosentris dan bahasanya menjadi semakin bersifat sosial (Schunk, 2012: 333). Anak mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan, kemampuan mengklasifikasi secara memadai, melakukan pengurutan, dan menangani konsep angka. Selama tahap ini proses pemikiran anak diarahkan pada kejadian konkret yang diamati oleh anak. Dalam tahapan operasional formal, proses berpikir anak semakin logis (Hergenhahn, 2008: 320). Anak sudah mampu berpikir abstrak, yaitu berpikir mengenai ide dan memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah sehingga proses berpikirnya tidak lagi bergantung pada hal-hal yang langsung dan riil. Oleh karena itu pada tahap ini anak sudah dapat bekerja secara efektif dan sistematis, secara proporsional, serta menarik generalisasi secara mendasar. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa siswa SD kelas IV tergolong pada tahap operasional konkret. Di dalam tahap operasional konkret, proses pembelajaran yang diberikan pada siswa hendaknya melibatkan aktivitasaktivitas yang konkret untuk menyelesaikan masalah yang kompleks selama masalah tersebut merupakan objek yang tidak abstrak. Melalui aktivitas konkret tersebut maka ada kesempatan untuk merangsang siswa mengembangkan pikiran logisnya. Salah satu metode pembelajaran yang cocok untuk siswa dalam tahap operasional konkret adalah dengan menggunakan metode mind map. Metode mind 9

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI map melibatkan siswa dalam aktivitas konkret yakni melalui aktivitas menggambar mind map pada kertas putih. Hal ini akan membuat siswa memiliki pengalaman belajar yang lebih bermakna melalui aktivitas pembuatan mind map dalam pembelajaran. 2.1.1.2 Metode Pembelajaran Metode pembelajaran merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan (Sumantri dan Permana, 2001: 114). Sedangkan menurut Sanjaya (2006: 147) metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan dapat tercapai secara optimal. Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli mengenai metode pembelajaran, peneliti menyimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun untu memfasilitasi siswa dalam mengembangkan potensi agar tujuan belajar tercapai secara optimal. Metode pembelajaran yang dipilih oleh guru hendaknya dapat memfasilitasi siswa untuk mengembangkan potensi siswa secara optimal. Beberapa metode pembelajaran yang dapat dilaksanakan dalam proses belajar di kelas antara lain (Sumantri dan Permana, 2001: 116): 1) metode ceramah, penyajian pelajaran oleh guru dengan cara memberikan penjelasan-penjelasan secara lisan kepada peserta didik, 2) metode demonstrasi, penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses atau situasi tertentu, baik sebenarnya atau hanya tiruan, dan 3) metode diskusi, penyajian pelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan dengan tujuan siswa mampu memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami siswa, serta membuat keputusan secara bersama-sama. Beberapa ahli telah menjelaskan beberapa metode yang sering diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas. Peneliti memilih salah satu metode selain metode di atas yang sesuai untuk siswa kelas IV dalam tahap operasional konkret. Metode yang dipilih oleh peneliti yakni metode mind map. Huda (2013: 307-308) 10

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menjelaskan bahwa salah satu metode yang efektif untuk mengembangkan gagasan-gagasan melalui rangkaian peta-peta yakni dengan menggunakan mind map. Oleh karena itu peneliti membahas metode mind map tidak pada sub-bab metode pembelajaran namun pada sub-bab yang berbeda agar metode mind map dapat dimengerti lebih jelas. 2.1.1.3 Metode Mind Map Mind map (Buzan, 2008: 4-5) merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif, dan memetakan pikiran-pikiran kita serta menyusun fakta sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan. Informasi-informasi yang diperoleh disusun menjadi diagram warna-warni yang teratur dan penuh kreativitas sehingga bentuknya menarik, mudah dipelajari, dan memusatkan perhatian siswa agar mudah diingat. Michalko (dalam Buzan, 2008: 4) berpendapat bahwa mind map adalah sebuah alternatif pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran linier. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan mind map akan membuat proses berpikir menggapai ke segala arah dan menangkap berbagai pikiran dari segala sudut. Peneliti menyimpulkan pengertian mind map adalah metode pembelajaran dengan cara mencatat informasi secara kreatif dengan menggunakan kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang melengkung agar lebih mudah dalam mengingat informasi tersebut. Menurut Michalko (dalam Buzan, 2008: 6) manfaat penggunaan mind map dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) mengaktifkan seluruh otak, 2) membereskan akal dari kekusutan mental, 3) memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan, 4) membantu menunjukkan hubungan bagian-bagian informasi yang saling terpisah, 5) memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian, 6) dapat mengelompokkan dan membandingkan konsep, dan 7) memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang membantu mengalihkan informasi ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang. Menurut Buzan (2006: 15-16) terdapat tujuh langkah dalam membuat mind map, yaitu: 11

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Mulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar, karena memulai dari tengah memberikan kebebasan kepada otak untuk menyebarkan informasi ke segala arah. 2. Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral, karena sebuah gambar membantu mengembangkan imajinasi berpikir sehingga lebih menarik dan tetap fokus dalam berkonsentrasi. 3. Gunakan warna agar mind map lebih hidup, menambah energi pada pemikiran kreatif, dan menyenangkan. 4. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan pada cabang tingkat dua dan tiga hal sekaligus, dengan begitu akan lebih mudah mengerti dan mengingatnya. Setiap cabang pada sub pokok yang berbeda, gunakanlah warna yang berbeda agar tidak membingungkan. 5. Buat garis hubung yang melengkung dan organis, seperti cabang pohon, bukan garis lurus. Hal ini jauh lebih menarik bagi mata. 6. Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis, karena dengan kata kunci tunggal memberi banyak daya dan fleksibilitas. 7. Gunakan gambar, karena seperti gambar sentral, setiap gambar bermakna seribu kata. (Sumber: Buzan, 2006: 136) Gambar 2.1 Contoh Mind Map Sistem Utama Tubuh. 12

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Perbedaan utama peta konsep dengan mind map yakni pada mind map ada titik sentral yang diletakkan di tengah dan antar cabangnya tidak perlu dihubungkan dengan cabang-cabang yang lain, sedangkan peta konsep tidak terdapat titik sentral dan antar cabangnya dihubungkan satu sama lain untuk memetakan suatu konsep. Peta konsep merupakan ilustrasi grafis konkret yang menunjukkan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama (Martin dalam Trianto, 2009: 158). Dengan kata lain dalam peta konsep lebih menekankan untuk menunjukkan keterkaitan atau hubungan suatu konsep dengan konsep lainnya. Penggunaan mind map pada pembelajaran untuk anak dalam tahap perkembangan operasional konkret sesuai karena adanya keterkaitan antara mind map dengan aktivitas konkret yang bisa dilakukan oleh anak. Melalui metode mind map anak dapat mengembangkan kemampuannya untuk berpikir logis melalui aktivitas konkret dalam pembuatan mind map. Aktivitas konkret tersebut berupa proses menggambar mind map yang dilakukan oleh anak pada selembar kertas putih. Proses pembuatan mind map akan merangsang perkembangan cara berpikir anak dalam mengelompokkan, mengembangkan ide-ide, menguatkan peta-peta pikiran dalam otak, dan menangani suatu konsep yang diarahkan pada kejadian riil, sehingga siswa mampu memecahkan suatu permasalahan. 2.1.1.4 Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai bentuk penyelidikan yang terorganisir untuk mencari pola atau keteraturan dalam alam (Iskandar, 1996: 1). Definisi IPA menurut Webster (dalam Iskandar, 1996: 2) merupakan pengetahuan tentang alam dan gejala-gejalanya. Purnell (dalam Iskandar, 1996: 2) berpendapat bahwa IPA adalah pengetahuan manusia yang luas yang didapatkan melalui observasi dan eksperimen yang sistematis. Peneliti menyimpulkan bahwa IPA adalah ilmu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam di mana pengetahuan tersebut didapatkan melalui serangkaian metode ilmiah yang sistematis. Menurut Iskandar (1996: 11) hakekat IPA meliputi pengetahuan tentang alam berupa produk IPA yang diperoleh melalui proses IPA dengan dilandasi 13

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pemilihan sikap ilmiah tertentu. Menurut Darmodjo dan Kaligis (1991: 5) menguraikan tiga hakekat IPA sebagai berikut: 1) IPA sebagai suatu proses merupakan upaya untuk memahami berbagai gejala alam melalui cara-cara tertentu yang bersifat analitis, cermat, lengkap serta menghubungkan berbagai gejala alam sehingga keseluruhannya membentuk suatu sudut pandang baru tentang objek yang diamati. 2) IPA sebagai suatu produk merupakan upaya manusia untuk memahami berbagai gejala alam sehingga dihasilkan prinsipprinsip, teori-teori, hukum-hukum, konsep-konsep maupun fakta-fakta yang bertujuan untuk menjelaskan berbagai gejala alam. 3) IPA sebagai suatu faktor yang dapat mengubah pandangan manusia terhadap alam semesta, dari sudut pandang mitologis menjadi sudut pandang ilmiah. 2.1.1.5 Materi IPA Penelitian ini berdasarkan standar kompetensi mata pelajaran IPA yaitu : 7. Memahami gaya dapat mengubah gerak dan/atau bentuk suatu benda. Kompetensi dasar yang akan diteliti yaitu : 7.1. Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak suatu benda. Gaya adalah tarikan atau dorongan yang dapat mengakibatkan bergeraknya suatu benda (Halim, 2010: 39). Alat pengukur gaya disebut dinamometer atau neraca pegas. Satuan pengukur gaya disebut Newton yang dilambangkan dengan huruf N. Gaya yang bekerja pada suatu benda akan mempengaruhi benda tersebut. Saat suatu benda dikenai gaya maka pengaruhnya antara lain (Haryanto, 2007: 136-141): 1) Mengubah arah benda, contohnya: mendorong gerobak, menarik gerobak, parasut, kompas. 2) Mengubah kecepatan benda, contohnya: mendorong gerobak, menarik gerobak, parasut, menendang bola, rem sepeda, berjalan kaki. 3) Menyebabkan benda bergerak menjadi diam, terjadi jika dua benda yang bertemu memiliki besar gaya yang sama, contohnya: rem sepeda yakni besarnya gaya gesek kampas rem yang menjepit ban sama dengan gaya yang berputar pada ban tersebut sehingga dapat menghentikan laju sepeda. 4) Mengubah bentuk benda, contohnya: tanah liat yang dibuat kerajinan tangan, kertas yang diremas, karet gelang yang berbentuk bulat: ketika ditarik dengan kuat menyebabkan karet 14

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terputus, gelas yang utuh kemudian diberi gaya dorong yang menyebabkan gelas jatuh dan pecah. Jenis-jenis gaya ada berbagai macam. Gaya menurut asalnya digolongkan menjadi 4 jenis (Halim, 2010: 40): 1) gaya otot merupakan gaya yang ditimbulkan oleh manusia ataupun hewan yang dihasilkan oleh tenaga otot, contohnya: ketika mendorong dan menarik gerobak, mengayuh sepeda, menarik tali sumur timba, memikul ember, mengangkat tongkat, tarik tambang, dan menendang bola. 2) Gaya gravitasi, merupakan gaya yang disebabkan oleh gravitasi bumi, contohnya: buah kelapa yang jatuh ke tanah, parasut yang jatuh ke tanah, bola yang dilempar ke atas kemudian kembali jatuh ke tanah. 3) Gaya magnet merupakan gaya yang ditimbulkan karena adanya magnet, contohnya: penggunaan kompas dan paku yang ditarik oleh magnet. 4) Gaya gesek merupakan gaya yang melawan gesekan antara dua permukaan yang bersentuhan, contohnya pada parasut ada gaya gesek parasut terhadap udara (semakin lebar parasut, semakin lama bertahan di udara). 2.1.1.6 Berpikir Kritis Menurut Glaser (dalam Fisher, 2007: 3) berpikir kritis merupakan suatu keterampilan memeriksa dan melakukan penalaran logis pada setiap keyakinan dan pengetahuan asumtif mengenai hal-hal yang menjadi jangkauan pengalaman seseorang berdasarkan bukti pendukung dan kesimpulan lanjutan yang diakibatkannya. Sementara menurut Browne dan Keeley (2012: 2-3) istilah berpikir kritis merujuk pada kemampuan melontarkan dan menjawab serangkaian pertanyaan kritis yang saling terkait pada saat yang tepat serta menggunakannya secara aktif. Berpikir kritis merupakan interpretasi dan evaluasi yang terampil dan aktif terhadap observasi dan komunikasi, informasi dan argumentasi (Fisher dan Scriven dalam Fisher, 2007: 10-11). Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan penalaran logis dalam menjelaskan tujuan, memeriksa asumsi, nilai-nilai, pikiran, mengevaluasi bukti, menyelesaikan tindakan, dan menilai kesimpulan dalam memecahkan suatu permasalahan. Facione (1990) menggunakan metode Delphi dalam 46 ahli dari berbagai disiplin ilmu selama 2 tahun yang menghasilkan sebuah konsensus tentang pengertian berpikir kritis. Facione menyatakan bahwa berpikir kritis adalah 15

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penilaian yang terarah dan terukur yang menghasilkan interpretasi, analisis evaluasi, kesimpulan, dan juga penjelasan terhadap pertimbangan-pertimbangan faktual, konseptual, metodologis, kriterilogis, atau kontekstual yang menjadi dasar penilaian tersebut. Facione (1990) menyebutkan bahwa kecakapan berpikir kritis memiliki dua dimensi, yaitu dimensi kognitif dan dimensi disposisi afektif. Pada penelitian ini hanya difokuskan pada dimensi kognitif. Dimensi kognitif dipandang sebagai pusat kecakapan mental yang paling penting yang terdiri dari 6 kecakapan, yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri. Berikut ini diuraikan enam kecakapan berpikir kritis dimensi kognitif (Facione, 1990): 1) Interpretasi, merupakan kecakapan untuk memahami dan mengekspresikan makna dari berbagai pengalaman. 2) Analisis, merupakan kecakapan mengidentifikasi hubunganhubungan logis dari pernyataan, pertanyaan konsep, uraian, atau bentuk ungkapan lain untuk mengemukakan kepercayaan, penilaian, pengalaman, penalaran, informasi, atau opini. 3) Evaluasi, merupakan kecakapan untuk menilai kredibilitas pernyataan atau opini seseorang untuk menimbang bobot dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan atau ungkapan lainnya. 4) Inferensi merupakan kecakapan mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang diperlukan untuk menarik alasan, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi-informasi yang relevan, dan menarik konsekuensikonsekuensi yang mungkin timbul dari prinsip, bukti, penilaian, kepercayaan, atau bentuk ungkapan lainnya. 5) Eksplanasi merupakan kecakapan menjelaskan dan memberikan alasan-alasan dari bukti, konsep, metode, kriteria, dan konteks yang digunakan untuk menarik kesimpulan, dan untuk mengemukakan argumenargumen logis yang kuat. 6) Regulasi diri merupakan kecakapan memonitor aktivitas kognitifnya sendiri secara sadar, dan kecakapan untuk memonitor aktivitas mentalnya sendiri dalam menarik kesimpulan dengan menganalisis dan mengevaluasi penilaiannya sendiri. 2.1.1.7 Kemampuan Evaluasi dan Inferensi Fokus utama dalam penelitian ini adalah dimensi kognitif yang terdiri dari kemampuan evaluasi dan inferensi. Kemampuan evaluasi merupakan kecakapan 16

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk menilai kredibilitas pernyataan atau ungkapan lain yang mencerminkan persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, kepercayaan, atau opini seseorang untuk menimbang bobot dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau ungkapan lainnya (Facione, 1990: 8). Sub kecakapan dalam kemampuan evaluasi yaitu menilai klaim dan menilai argumen. Beberapa unsur yang terdapat dalam kemampuan evaluasi adalah sebagai berikut (Facione, 1990: 8): menilai benar tidaknya suatu argumen, menilai apakah argumen didasarkan pada asumsi yang benar, menilai benar tidaknya alternatif-alternatif pemecahan masalah, dan menilai apakah suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu. Kemampuan inferensi merupakan kecakapan mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang diperlukan untuk menarik alasan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi-informasi yang relevan, dan menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari data, pernyataan, prinsip, bukti, penilaian, kepercayaan, opini, konsep, gambaran, pertanyaan, atau bentuk ungkapan lainnya (Facione, 1990: 9). Sub kecakapan dalam kemampuan inferensi yaitu menguji bukti-bukti, menerka alternatif, dan menarik kesimpulan. Beberapa unsur yang terdapat dalam kemampuan inferensi adalah sebagai berikut (Facione, 1990: 9): mengemukakan alternatif-alternatif untuk mengemukakan masalah, tepat menentukan pemecahan masalah mana yang paling kuat untuk diterima dan mana yang lemah untuk ditolak, memperkirakan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin muncul dari suatu pilihan, dan memperkirakan pro dan kontra dari suatu pilihan. 2.1.2 Penelitian-penelitian Terdahulu yang Relevan 2.1.2.1 Penelitian-penelitian tentang Mind Map Penelitian yang dilakukan Septiani (2012) bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan menganalisis dan mengevaluasi pada mata pelajaran IPA materi proses pembentukan tanah akibat pelapukan batuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2012 di SD Kanisius Sengkan yang beralamat di Jalan Kaliurang Km 7, Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD 17

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kanisius Sengkan. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VA yang berjumlah 24 orang sebagai kelompok eksperimen dan siswa kelas VB yang berjumlah 24 orang sebagai kelompok kontrol. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil yaitu ada pengaruh signifikan pada penggunaan mind map terhadap kemampuan menganalisis dengan Independent Samples t-test diperoleh nilai sig. (2-tailed) adalah 0,000 dan kemampuan mengevaluasi diperoleh nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,043. Penelitian yang dilakukan Imadudin dan Utomo (2012) bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode mind mapping untuk meningkatkan prestasi belajar fisika. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta. Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 34 siswa yang berasal dari 17 siswa kelas VIII C dan 17 siswa kelas VIII D SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta. Siswa kelas VIII C yang berjumlah 17 siswa dijadikan sebagai kelompok eksperimen dan siswa kelas VIII D yang berjumlah 17 siswa dijadikan sebagai kelompok kontrol. Berdasarkan hasil analisis uji-t yaitu Paired Samples T-test pada kelompok eksperimen, diperoleh bahwa metode mind mapping berpengaruh positif terhadap peningkatan prestasi belajar fisika. Sedangkan hasil analisis uji-t yaitu Independent Samples t-test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, diperoleh bahwa ada perbedaan rata-rata (mean) hasil posttest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil analisis uji-t diperoleh nilai t = 2,144 dengan p = 0,020 (p < 0,05), artinya signifikan. Hasil nilai rata-rata (mean) posttest pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai M= 7,55 dan pada kelompok kontrol menunjukkan nilai M= 6,62. Penelitian yang dilakukan Priantini, Atmadja, dan Marhaeni (2013) bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode mind mapping terhadap keterampilan berpikir kreatif dan prestasi belajar IPS. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain posttest only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Seririt. Sampel penelitian yang diambil adalah kelas VIII A sebagai kelas kontrol dan kelas VIII E sebagai kelas eksperimen dengan jumlah keseluruhan siswa 64 orang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil adanya perbedaan 18

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keterampilan berpikir kreatif dan prestasi belajar IPS yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan mind mapping dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Berdasarkan data hasil penelitian analisis multivariate dengan bantuan SPSS 17 for windows diperoleh nilai F = 5,865, df = 1, dan signifikansi = 0,018. Ini berarti nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPS antara siswa yang mengikuti metode mind mapping dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. 2.1.2.2 Penelitian-penelitian tentang Berpikir Kritis Penelitian yang dilakukan Lestari (2011) bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode inkuiri terhadap prestasi belajar siswa dan kemampuan berpikir kritis kategori kognitif pada mata pelajaran IPA materi pembentukan tanah akibat pelapukan batuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 di SD Kanisius Ganjuran dengan alamat Jogodayoh, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Kanisius Ganjuran. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VA yang terdiri atas 27 siswa sebagai kelompok eksperimen dan kelas VB yang terdiri atas 27 siswa sebagai kelompok kontrol. Dalam penelitian tersebut data yang digunakan adalah skor pretest dan posttest. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil yaitu ada pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dan kemampuan berpikir kritis kategori kognitif dengan menerapkan metode inkuiri. Hal ini dapat dilihat dari analisis data signifikansi penggunaan metode inkuiri dalam meningkatan prestasi belajar ditunjukkan dengan harga sig. (2-tailed) < 0,05 atau 0,000 < 0,05. Untuk rata-rata (mean) kenaikan skor yang terjadi di kelompok eksperimen lebih tinggi dari ratarata kenaikan skor di kelompok kontrol, yang ditunjukkan dengan harga sig. (2tailed) < 0,05 atau 0,032 < 0,05. Sedangkan untuk rata-rata kenaikan kemampuan berpikir kritis kategori kognitif pada masing-masing unsurnya terdapat perbedaan yang signifikan, ditunjukkan dengan harga sig. (2-tailed) < 0,000 atau 0,000 < 0,05. 19

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penelitian yang dilakukan Sastrika, Sadia, dan Muderawan (2013) bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis proyek dengan model pembelajaran konvensional terhadap pemahaman konsep kimia dan keterampilan berpikir kritis. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain posttest only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Negara tahun pelajaran 2012/2013. Sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan 64 siswa sebagai kelompok kelas eksperimen dan 65 siswa sebagai kelompok kelas kontrol. Kelompok kelas eksperimen diberikan model pembelajaran berbasis proyek dan kelompok kelas kontrol diberikan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan Test Between Subjects Effects dapat diketahui nilai Fhitung = 20,714 sedangkan nilai Ftabel = 3,91. Oleh karena, Fhitung > Ftabel (p < 0,05) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Simpulan yang dapat ditarik adalah terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis antara kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran berbasis proyek dan kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. Penelitian yang dilakukan Astika, Suma, dan Suastra (2013) bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran ekspositori terhadap sikap ilmiah dan keterampilan berpikir kritis. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan ditetapkan 7 kelas sebagai populasi. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah sebanyak 245 siswa dengan 140 siswa dari 4 kelas sebagai sampel. Kelompok kelas eksperimen diberikan model pembelajaran berbasis masalah dan kelompok kelas kontrol diberikan model pembelajaran ekspositori. Berdasarkan hasil Test Between-Subjects Effects diketahui keterampilan berpikir kritis nilai (Fhitung = 23,192; p < 0,05). Dengan demikian H0 ditolak dan HA diterima. Simpulan yang dapat ditarik adalah pembelajaran berbasis masalah mempengaruhi keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran. Penelitian-penelitian tentang mind map dan berpikir kritis yang telah diuraikan di atas belum ada yang membahas tentang pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan berpikir kritis. Untuk melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya, maka akan dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan berpikir kritis. 20

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemampuan berpikir kritis yang diteliti adalah kemampuan berpikir kritis yang diungkapkan oleh Facione. Kemampuan berpikir kritis menurut Facione terdiri dari kemampuan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri. Dalam skripsi ini tidak membahas enam kemampuan berpikir kritis Facione, tetapi hanya difokuskan dalam dua kemampuan saja yaitu kemampuan evaluasi dan inferensi. 2.1.2.3 Literature Map Dari uraian penelitian-penelitian sebelumnya dapat dibuat literature map sebagai berikut: Mind Map Berpikir Kritis Lestari (2011) Septiani (2012) metode inkuiri – prestasi belajar dan kemampuan berpikir kritis mind map – kemampuan menganalisis dan kemampuan mengevaluasi Sastrika, Sadia, & Muderawan (2013) Imadudin & Utomo (2012) model pembelajaran berbasis proyek – pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis metode mind map – prestasi belajar Priantini, Atmadja, & Marhaeni (2013) Astika, Suma, & Suastra (2013) metode mind map – keterampilan berpikir kreatif dan prestasi belajar model pembelajaran berbasis masalah – sikap ilmiah dan keterampilan berpikir kritis Yang perlu diteliti: mind map – berpikir kritis pada kemampuan evaluasi dan inferensi Gambar 2.2 Literature Map dari Penelitian Terdahulu yang Relevan. 21

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Metode mind map merupakan cara mencatat informasi yang efektif dan memetakan pikiran-pikiran sedemikian rupa sehingga melibatkan proses kognitif anak. Proses pembuatan mind map sangat menarik dan menyenangkan bagi siswa. Proses pembuatan mind map dengan kata kunci sederhana dan pemberian gambar serta alur yang berwarna-warni bertujuan agar siswa mudah dalam mengingat dan memahami materi pembelajaran. Selain itu penggunaan metode mind map memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan proses berpikirnya agar lebih kritis, analitis, dan kreatif. Kemampuan berpikir kritis dimensi kognitif dipandang sebagai pusat kecakapan mental yang paling penting. Dalam kemampuan berpikir kritis, siswa diajak untuk membuat dugaan, mencari pembuktian, memberikan alternatifalternatif pemecahan masalah dan menarik kesimpulan. Kemampuan berpikir kritis siswa akan mempengaruhi hasil belajarnya. Biasanya siswa yang mampu untuk berpikir kritis akan memiliki prestasi yang lebih baik. Kemampuan berpikir kritis sangat berkaitan dengan mata pelajaran IPA di mana siswa perlu terlibat dalam proses berpikir untuk menemukan penyelesaian masalah yang terdapat di alam sekitar. Pembelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran di SD yang bahasan materinya cukup luas, banyak, dan berhubungan dengan aktivitas seharihari dalam lingkungan sekitar. Materi-materi dalam pembelajaran IPA menuntut siswa untuk lebih kritis dalam mengungkapkan gejala-gejala alam berkaitan dengan materi. Oleh karena itu diperlukan pembelajaran yang dapat mempengaruhi perkembangan berpikir kritis dan melibatkan keseluruhan kerja otak. Metode mind map dipilih sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa. Jika metode mind map digunakan pada mata pelajaran IPA untuk siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta, penggunaan metode mind map akan berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi. 22

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3 Hipotesis Penelitian 2.3.1 Penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. 2.3.2 Penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan inferensi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. 23

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental design dengan tipe non-equivalent control group design. Cresswell (2012: 242) menjelaskan dalam rancangan penelitian tersebut diseleksi tanpa prosedur penempatan acak untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji dampak dari suatu perlakuan (treatment). Oleh karena itu dalam penelitian ini terdapat dua kelompok yaitu kelompok eksperimen sebagai kelompok yang diberi treatment tertentu dan kelompok kontrol sebagai kelompok yang tidak diberi treatment. Treatment yang diberikan terhadap kelompok eksperimen berupa penggunaan mind map dalam pembelajaran IPA di kelas. Selanjutnya pada kedua kelompok tersebut sama-sama diberikan pretest dan posttest. Hasil penelitian dengan menggunakan pretest dan posttest atau pengaruh kausal dari intervensi dapat dihitung dalam tiga langkah yaitu (Campbell dan Stanley dalam Cohen, 2007: 276): (1) mengurangkan skor rerata posttest dengan pretest untuk menghasilkan selisih skor posttest-pretest pada kelompok eksperimen, (2) mengurangkan skor rerata posttest dengan pretest untuk menghasilkan selisih skor posttest-pretest pada kelompok kontrol, dan (3) mengurangkan hasil selisih skor posttest-pretest pada kelompok eksperimen dengan hasil selisih skor posttest-pretest pada kelompok kontrol. Pengaruh perlakuan menurut desain ini dapat diketahui melalui rumus: (O2 – O1) – (O4 – O3). Apabila hasilnya negatif maka efek kausal negatif atau tidak ada pengaruh, sebaliknya bila hasilnya positif maka efek kausal positif atau ada pengaruh. Rancangan penelitian dengan tipe non-equivalent control group design dapat dilihat pada gambar berikut ini: 24

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI O1 X O2 O3 O4 Gambar 3.1 Rancangan Penelitian. Keterangan: O1 = rerata pretest pada kelompok eksperimen O2 = rerata posttest pada kelompok eksperimen O3 = rerata dengan pretest pada kelompok kontrol O4 = rerata dengan posttest pada kelompok kontrol X = perlakuan (treatment) dengan menggunakan mind map Pada desain penelitian di atas menggunakan garis putus-putus untuk menunjukkan bahwa dalam penentuan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang ditetapkan tidak dipilih secara acak (nonrandomly assigned groups) (Setyosari, 2010: 158). Dengan kata lain tidak ada pilihan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dilakukan secara acak dengan kedua kelas sudah terbentuk terlebih dahulu. Oleh karena itu pemilihan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan menggunakan proses undian. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberikan pretest untuk mengetahui ada tidaknya kesamaan kemampuan awal siswa. Setelah itu, kelompok eksperimen diberikan treatment berupa pembelajaran menggunakan metode mind map, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan treatment dan hanya melakukan pembelajaran seperti biasa yaitu menggunakan metode ceramah. 3.2 Setting Penelitian Tempat penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Tarakanita Bumijo, Yogyakarta. SD Tarakanita Bumijo merupakan sekolah Katolik dibawah naungan Yayasan Tarakanita yang dikelola oleh suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus. SD Tarakanita Bumijo berdiri sejak tahun 1952. SD Tarakanita Bumijo telah meluluskan ribuan siswa yang sebagian besar memiliki peranan penting dalam masyarakat. Sekolah Dasar Tarakanita Bumijo beralamat di Jalan Sindunegaran Nomer 01 Yogyakarta. Secara kedinasan, SD Tarakanita Bumijo ini terbagi menjadi dua 25

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bagian yaitu SD Tarakanita Bumijo I dipimpin oleh kepala sekolah bernama Thomas Mardiono, S.Pd., sedangkan untuk SD Tarakanita Bumijo II dipimpin oleh kepala sekolah bernama Floribertus Supriya, S.Pd. Namun secara operasional tetap satu, yaitu SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Luas lahan dari kedua SD tersebut adalah 5600 m² dan luas bangunan sekolah 2974 m². SD Tarakanita Bumijo memiliki 31 ruang kelas, sedangkan untuk ruang administrasinya memiliki 1 ruang bertempat di kantor Kepala Sekolah. Gabungan SD Tarakanita ini juga memiliki ruang lain, diantaranya : ruang praktek komputer, ruang serbaguna, ruang multimedia, ruang teduh, ruang BK, ruang redaksi mekar, koperasi sekolah, UKS, toilet/WC, dapur, gudang, ruang pramuka, ruang English Club, ruang alat olah raga, ruang guru, ruang cuci, ruang tunggu, ruang ganti PP/karyawan, aula, pos satpam, kantin sekolah, dan perpustakaan. SD Tarakanita Bumijo I terdapat 17 kelas yang terdiri dari kelas IA1, IA2, IIA1, IIA2, IIIA1, IIIA2, IIIA3, IVA1, IVA2, IVA3, VA1, VA2, VA3, VIA1, VIA2, VIA3, dan VIA4. Sedangkan SD Tarakanita Bumijo II terdapat 14 kelas yang terdiri dari kelas IB1, IB2, IIB1, IIIB1, IIIB2, IVB1, IVB2, VB1, VB2, VB3, VIB1, VIB2, VIB3, dan VIB4. SD Tarakanita Bumijo I memiliki murid dengan jumlah 499 siswa dengan jumlah guru pengajar berjumlah 23 guru. Sedangkan untuk SD Tarakanita Bumijo II memiliki murid berjumlah 429 siswa dengan jumlah guru pengajar berjumlah 21 guru. SD Tarakanita Bumijo merupakan SD yang meraih penghargaan sekolah Adiwiyata 2012. Selain itu, SD Tarakanita adalah salah satu SD favorit di Yogyakarta. Hal ini terbukti dengan banyaknya siswa yang ingin belajar di SD tersebut dan banyaknya prestasi yang telah diraih dari SD Tarakanita Bumijo. Peneliti memilih SD Tarakanita Bumijo sebagai tempat penelitian dikarenakan beberapa guru di sekolah tersebut masih banyak yang hanya menggunakan metode ceramah saja tanpa dikolaborasikan dengan metode lain. Selain itu guru mitra mata pelajaran IPA kelas IV sebelumnya tidak pernah menggunakan metode mind map dalam proses pembelajaran di kelas sehingga nantinya penggunaan metode mind map ini akan menjadi pengalaman baru bagi guru maupun siswa. Sekolah tersebut juga memiliki jumlah kelas paralel yang 26

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI banyak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam sehingga dapat dimungkinkan untuk melakukan penelitian quasi experimental. Pengambilan data penelitian eksperimental dianjurkan dilakukan dalam waktu singkat untuk menghindari bias (Krathwohl, 2004: 547). Oleh karena itu, pelaksanaan penelitian di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta dilaksanakan sekitar 2 minggu dengan jadwal sebagai berikut: Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data. Kelompok Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol 3.3 Alokasi Waktu 2 x 40 menit 1 x 40 menit Hari, tanggal Selasa, 11 Februari 2014 Kamis, 13 Februari 2014 2 x 40 menit Rabu, 19 Februari 2014 1 x 40 menit Kamis, 20 Februari 2014 2 x 40 menit Selasa, 25 Februari 2014 2 x 40 menit 2 x 40 menit 2 x 40 menit 2 x 40 menit Rabu, 26 Februari 2014 Sabtu, 29 Maret 2014 Kamis, 06 Februari 2014 Rabu, 19 Februari 2 x 40 menit Kamis, 20 Februari 2014 2 x 40 menit Selasa, 25 Februari 2014 2 x 40 menit 2 x 40 menit Rabu, 26 Februari 2014 Sabtu, 29 Maret 2014 Kegiatan Pretest Pengenalan cara pembuatan mind map. Pembelajaran tentang pengaruh gaya menggunakan metode mind map. Pembelajaran tentang jenisjenis gaya menggunakan metode mind map. Pembahasan ulang tentang materi gaya (pengaruh dan jenis-jenis gaya) menggunakan metode mind map. Posttest I Posttest II Pretest Pembelajaran tentang pengaruh gaya menggunakan metode ceramah. Pembelajaran tentang jenisjenis gaya menggunakan metode ceramah. Pembahasan ulang tentang materi gaya (pengaruh dan jenis-jenis gaya) menggunakan metode ceramah. Posttest I Posttest II Populasi dan Sampel Sugiyono (2012: 80) menjelaskan bahwa populasi merupakan generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan digunakan untuk menarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV 27

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SD Tarakanita Bumijo yang terdiri atas kelas IV A1, IV A2, IV A3, IV B1, dan IV B2 dengan jumlah 149 siswa. Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2012: 81). Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non-random sampling dengan tipe purposive sampling. Purposive sampling merupakan pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang memiliki keterkaitan dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2004: 186). Penentuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dari keseluruhan siswa kelas IV yang ada di SD Tarakanita Bumijo dipilih melalui undian yang dilakukan pada tanggal 29 November 2013 dengan disaksikan oleh guru mitra mata pelajaran IPA di kelas IV. Dua kelas yang terpilih secara acak melalui undian adalah kelas IV A1 yang terdiri atas 30 siswa sebagai kelompok kontrol dan kelas IV A3 yang terdiri atas 28 siswa sebagai kelompok eksperimen. Pembelajaran pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol akan dilakukan oleh guru mitra mata pelajaran IPA di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Pembelajaran dilakukan oleh guru mitra yang sama pada kedua kelompok agar tidak terjadi kesenjangan atau perbedaan kemampuan guru dalam mengajar. Peneliti melakukan observasi atau pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Kelompok kontrol belajar menggunakan metode pembelajaran yang biasa dilakukan yaitu metode ceramah dan kelompok eksperimen menggunakan metode mind map. 3.4 Variabel Penelitian Sugiyono (2012: 38) menjelaskan bahwa variabel penelitian merupakan segala sesuatu yang memiliki variasi apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi mengenai hal tersebut yang kemudian dapat ditarik kesimpulan. Dengan kata lain variabel merupakan dasar yang digunakan untuk penarikan kesimpulan pada sekelompok sumber data yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti. Jenis variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel independen dan variabel dependen. 28

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Variabel independen merupakan hal yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab timbulnya perubahan (Sugiyono, 2012: 39). Variabel ini sering disebut variabel pengaruh karena tujuannya untuk mempengaruhi variabel lainnya. Variabel independen pada penelitian ini adalah metode mind map. Variabel dependen merupakan hal yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat timbulnya perubahan (Sugiyono, 2012: 39). Variabel ini sangat tergantung dengan variabel lainnya. Variabel dependen pada penelitian ini adalah berpikir kritis pada kemampuan evaluasi dan inferensi. Variabel Dependen Variabel Independen Kemampuan Evaluasi Penggunaan Metode Mind Map Kemampuan Inferensi Gambar 3.2 Variabel Penelitian. 3.5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik tes. Tes yang digunakan berupa pretest, posttest I, dan posttest II terhadap kelompok kontrol dan eksperimen dengan menggunakan instrumen yang sama. Pada tahap awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama diberikan pretest. Setelah pemberian pretest maka dilanjutkan dengan pemberian materi pelajaran IPA tentang gaya. diberikan treatment yang membedakan Perbedaan proses pembelajaran antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ada pada pemberian jenis perlakuan yang berbeda. Pada kelompok eksperimen menggunakan treatment berupa penggunaan metode mind map, sedangkan pada kelompok kontrol menggunakan metode ceramah. Setelah pemberian materi gaya selesai diajarkan, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberi soal posttest untuk mengetahui pengaruh penggunaan mind map atau pengaruh dari treatment yang diberikan. Posttest dilaksanakan selama dua kali yaitu posttest I dan posttest II. Tujuan pemberian posttest II adalah untuk mengetahui retensi pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Untuk lebih mengetahui sensitivitas penelitian 29

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tersebut, maka peneliti memberikan posttest II yang dilaksanakan dengan jarak 34 minggu dari pelaksanaan posttest I. Untuk setiap penelitian eksperimental dianjurkan untuk memasukkan elemen kualitatif agar lebih dapat dipahami sudut pandang subjek yang diteliti terkait perlakuan dan variabel-variabel yang diteliti antara lain dengan melakukan observasi, anekdot, dan interview sesudah penelitian (Krathwohl, 2004:547). Pengumpulan data kualitatif bertujuan sebagai elemen tambahan untuk memperkuat hasil interpretasi peneliti dalam penelitian kuantitatif. Oleh karena itu peneliti juga melakukan pengumpulan data kualitatif melalui observasi dan wawancara. Observasi adalah teknik pengumpulan data melalui pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung (Sukmadinata, 2008: 220). Observasi dilakukan saat pemberian pretest, posttest, dan selama proses pembelajaran berlangsung. Wawancara adalah teknik pengumpulan data secara lisan dengan memberikan sejumlah pertanyaan untuk dijawab oleh responden (Sukmadinata, 2008: 216). Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara tak berstruktur. Wawancara tak berstruktur lebih bersifat informal, pertanyaan-pertanyaannya berupa pandangan, sikap, keyakinan subyek, atau tentang keterangan lainnya yang dapat diajukan secara bebas kepada siswa (Ary, Jacobs, & Razavieh, 2007: 259). Wawancara dilakukan terhadap guru mitra dan beberapa siswa dari kelompok eksperimen yang mewakili keseluruhan nilai siswa mulai dari siswa yang mendapat nilai rendah, sedang, dan tinggi. Berikut ini merupakan topik yang digunakan sebagai pedoman wawancara: Tabel 3.2 Topik Wawancara terhadap Kelompok Eksperimen. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Topik Wawancara Motivasi siswa ketika belajar IPA dengan guru. Metode yang digunakan guru saat mengajar di kelas. Kepuasan siswa dengan metode yang digunakan guru selama ini. Pengalaman menggunakan mind map. Dampak dari penggunaan mind map. Kesulitan dalam pembuatan mind map. Motivasi menggunakan mind map kembali. 30

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 3.3 Topik Wawancara terhadap Guru Mitra. No. 1. 2. 3. 4. 5. 3.6 Topik Wawancara Pengetahuan guru mengenai metode mind map. Tanggapan guru setelah menggunakan metode mind map. Efektivitas penggunaan metode mind map. Perbedaan keaktifan, motivasi, dan kreativitas antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Rencana untuk menggunakan mind map kembali. Instrumen Penelitian Sugiyono (2012: 102) menjelaskan bahwa instrumen penelitian merupakan alat ukur yang digunakan untuk melakukan pengukuran dalam sebuah penelitian. Penelitian ini berdasarkan standar kompetensi mata pelajaran IPA yaitu : 7. Memahami gaya dapat mengubah gerak dan/atau bentuk suatu benda. Kompetensi dasar yang akan diteliti yaitu : 7.1. Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak suatu benda. Peneliti membuat instrumen penelitian dalam bentuk soal uraian yang digunakan untuk mengukur 6 kecakapan berpikir kritis dimensi kognitif interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri. Salah satu kelebihan dalam menggunakan bentuk soal uraian adalah dapat mengukur hasil belajar yang kompleks, seperti kemampuan mengaplikasikan prinsip, kemampuan menginterpretasikan hubungan, kemampuan merumuskan kesimpulan yang sahih dan sebagainya (Widoyoko, 2013: 84). Oleh karena itu peneliti menggunakan instrumen dengan soal uraian karena memiliki kelebihan dapat mengukur kemampuan berpikir kritis siswa pada dimensi kognitif (lihat Lampiran 3.1, halaman 85). Namun, soal uraian juga memiliki kelemahan yaitu mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah (Widoyoko, 2013: 85). Untuk mencapai validitas dan reliabilitas pada kriteria tinggi, peneliti perlu mengujikan soal uraian tersebut beberapa kali. Dari keenam soal tersebut hanya dua soal saja yang digunakan sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan evaluasi dan inferensi yaitu soal nomor dua dan tiga. Soal tersebut disusun berdasarkan unsur-unsur kemampuan evaluasi dan inferensi serta disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Standar kompetensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 7. Memahami 31

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI gaya dapat mengubah gerak dan/atau bentuk suatu benda. Kompetensi dasar yang digunakan adalah 7.1 Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak suatu benda. Berikut ini merupakan matriks pengembangan instrumen penelitian untuk mengukur kemampuan evaluasi dan inferensi. Tabel 3.4 Matriks Pengembangan Instrumen. No 1. Variabel Evaluasi 2. Inferensi Indikator Pembelajaran Menilai pengaruh gaya terhadap gerak benda pada aktivitas tertentu. Menyimpulkan pengaruh gaya terhadap gerak suatu benda. Unsur-unsur Menilai benar tidaknya suatu argumen. Menilai apakah argumen didasarkan pada asumsi yang benar. Menilai benar tidaknya alternatifalternatif pemecahan masalah. Menilai apakah suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu. Mengemukakan alternatifalternatif untuk memecahkan masalah. Tepat menentukan pemecahan masalah mana yang paling kuat untuk diterima dan mana yang lemah untuk ditolak. Memperkirakan konsekuensikonsekuensi yang mungkin muncul dari suatu pilihan. Memperkirakan pro dan kontra dari suatu pilihan. No. Soal 3 4 Kriteria penentuan skor atau rubrik penilaian dapat dilihat dalam tabel berikut ini (lihat Lampiran 3.3, halaman 90). Tabel 3.5 Rubrik Penilaian. No. Soal 3. Variabel Evaluasi Unsur-unsur Menilai benar tidaknya suatu argumen. Menilai apakah argumen didasarkan pada asumsi yang benar. Penskoran Jika dapat menyebutkan 3 argumen dengan benar. Jika dapat menyebutkan 2 argumen dengan benar. Jika dapat menyebutkan 1 argumen dengan benar. Jika tidak dapat menyebutkan argumen dengan benar. Jika dapat menyebutkan 3 asumsi dengan benar. Jika dapat menyebutkan 2 asumsi dengan benar. Jika dapat menyebutkan 1 asumsi dengan benar. Skor 4 3 2 1 4 3 2 32

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. Soal Variabel Unsur-unsur Menilai benar tidaknya alternatifalternatif pemecahan masalah. Menilai apakah suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu. 4. Inferensi Mengemukakan alternatifalternatif untuk memecahkan masalah. Tepat menentukan pemecahan masalah mana yang paling kuat untuk diterima dan mana yang lemah untuk ditolak. Memperkirakan konsekuensikonsekuensi yang mungkin muncul dari suatu pilihan. Memperkirakan Penskoran Jika tidak dapat menyebutkan asumsi dengan benar. Jika dapat menyebutkan 3 kategori alternatif pemecahan masalah dengan benar. Jika dapat menyebutkan 2 kategori alternatif pemecahan masalah dengan benar. Jika dapat menyebutkan 1 kategori alternatif pemecahan masalah dengan benar. Jika tidak dapat menyebutkan kategori alternatif pemecahan masalah dengan benar. Jika dapat menyebutkan cara yang paling efektif dengan tepat dan menjelaskan suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu dengan benar. Jika dapat menyebutkan cara yang paling efektif dengan tepat tetapi menjelaskan suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu dengan kurang benar. Jika dapat menyebutkan cara yang paling efektif dengan tepat atau hanya menjelaskan suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu dengan benar. Jika tidak dapat menyebutkan cara yang paling efektif dengan tepat dan tidak menjelaskan suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu dengan benar. Jika dapat mengemukakan 3 alternatif pemecahan masalah dengan benar. Jika dapat mengemukakan 2 alternatif pemecahan masalah dengan benar. Jika dapat mengemukakan 1 alternatif pemecahan masalah dengan benar. Jika tidak dapat mengemukakan alternatif pemecahan masalah dengan benar. Jika dapat menetukan solusi yang paling kuat dengan alasan yang tepat dan solusi yang paling lemah beserta alasannya yang tepat. Jika dapat menetukan solusi yang paling kuat dengan alasan yang tepat atau hanya menentukan solusi yang paling lemah beserta alasan yang tepat. Jika hanya dapat menentukan solusi yang paling kuat dan solusi yang paling lemah saja tanpa diberi alasan. Jika hanya dapat menentukan solusi yang paling kuat atau solusi yang paling lemah dengan benar atau tidak ada jawaban benar. Jika dapat mengemukakan 3 perkiraan dampak yang akan dialami dengan benar. Jika dapat mengemukakan 2 perkiraan dampak yang akan dialami dengan benar. Jika dapat mengemukakan 1 perkiraan dampak yang akan dialami dengan benar. Jika tidak dapat mengemukakan perkiraan dampak yang akan dialami dengan benar. Jika dapat menjawab 2 pro dan 2 kontra Skor 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 33

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. Soal 3.7 Variabel Unsur-unsur pro dan kontra dari suatu pilihan. Penskoran dengan benar. Jika dapat menjawab 2 pro dan 1 kontra atau sebaliknya dengan benar. Jika dapat menjawab 2 pro atau 2 kontra atau 1 pro dan 1 kontra dengan benar. Jika hanya menjawab 1 pro atau 1 kontra dengan benar atau tidak ada jawaban benar. Skor 3 2 1 Teknik Pengujian Instrumen Dalam penelitian ini, peneliti mengembangkan 2 soal uraian berdasarkan unsur-unsur kemampuan evaluasi dan inferensi. Peneliti bekerja sama dengan dua peneliti lain yang tergabung dalam satu kelompok payung penelitian. Bersama dengan dua peneliti lain, maka jumlah soal yang diuji validitas dan reliabilitasnya ada 6 butir soal uraian. Target peneliti dan dua rekan peneliti yang lain adalah keseluruhan soal uraian tersebut valid dan reliabel supaya dapat digunakan sebagai instrumen penelitian. 3.7.1 Pengujian Validitas Validitas merupakan taraf di mana suatu instrumen mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2012: 173). Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Azwar, 2009: 174). Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil yang tepat dan akurat sesuai dengan tujuannya. Untuk itulah tes dapat dikatakan valid bila dilihat secara langsung dari yang sudah dicek valid atau tidaknya dan juga dapat dilihat setelah membandingkan dengan suatu tes lain yang telah valid. Validitas instrumen secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu validitas internal dan validitas eksternal (Widoyoko, 2013: 129). Validitas internal harus memenuhi validitas isi dan validitas konstruk. Tahapan pertama yang dilakukan adalah menguji validitas isi. Validitas isi berhubungan dengan isi dan format instrumen yaitu apakah isinya dapat mengukur hal yang akan diukur oleh peneliti dan apakah formatnya sesuai untuk mengukur aspek tersebut (Sukmadinata, 2008: 229). Validitas isi dilakukan dengan cara memberikan instrumen penelitian kepada para ahli (expert 34

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI judgement). Validitas ini dilakukan dengan cara melakukan konsultasi kepada dosen IPA, dosen Bahasa Indonesia, dan guru SD guna melihat kualitas kisi-kisi materi gaya yang akan digunakan sebagai penelitian (lihat Lampiran 3.7, halaman 96). Selain menggunakan expert judgement, validitas isi juga dilakukan dengan menggunakan validitas tampang atau face validity. Face validity adalah cara yang dilakukan untuk melihat kejelasan tampilan soal (Cohen, 2007: 163). Diujikan dengan cara memperlihatkan soal kepada siswa untuk melihat kejelasan soal. Selain validitas isi, peneliti juga melakukan validitas konstruk. Validitas konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori, yaitu yang menjadi dasar penyusunan instrumen (Widoyoko, 2013: 131). Validitas konstruk dilakukan dengan menggunakan validitas empiris. Validitas empiris adalah tingkat ketepatan suatu instrumen untuk mengukur hal-hal yang akan diukur apakah sudah mewakili kriteria yang akan diukur dengan instrumen dengan melihat kecocokan istrumen dengan yang akan diteliti (Sukmadinata, 2008: 229). Validitas empiris digunakan untuk memvalidasi soal evaluasi yang berupa soal uraian. Untuk melakukan validitas ini, peneliti memberikan soal kepada siswa kelas IV di SD Kanisius Wirobrajan dengan jumlah 41 siswa. SD Kanisius Wirobrajan digunakan untuk melakukan validitas ini karena dianggap memiliki kemampuan yang setara dengan SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Untuk mempermudah perhitungan validitas maka digunakan program komputer yang bernama IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Hasil perhitungan uji validitas menggunakan rumus product moment Pearson terhadap 2 soal uraian untuk mengukur kemampuan evaluasi dan inferensi. Item yang dapat dikatakan valid adalah item yang mempunyai nilai r hitung > rtabel dengan taraf signifikansi kurang dari 0,05 (atau p < 0,05) (Sugiyono, 2010: 177-183). Besar rtabel untuk 41 responden adalah 0,308 (Sugiyono, 2013: 455). Hasil uji validitas dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 3.5, halaman 94). Tabel 3.7 Perhitungan Validitas. No. Soal 3. 4. Variabel Evaluasi Inferensi r tabel r hitung 0,308 0,308 0,882 0,783 Sig. (2tailed) 0,000 0,000 Kualifikasi Valid Valid 35

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa hasil Pearson Correlation pada instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan evaluasi dan inferensi menunjukkan bahwa nilai rhitung > rtabel. Nilai rhitung pada kemampuan evaluasi sebesar 0,882 (rhitung > rtabel) dan nilai rhitung pada kemampuan inferensi sebesar 0,783 (rhitung > rtabel) dengan harga signifikansi masing-masing kemampuan 0,000 (atau p < 0,05). Dengan kata lain instrumen tersebut tergolong instrumen yang valid. 3.7.2 Pengujian Reliabilitas Reliabilitas adalah taraf dimana suatu instrumen yang apabila digunakan dalam beberapa kali pengukuran diperoleh hasil yang relatif sama (Azwar, 2009: 181). Oleh karena itu pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi adalah pengukuran yang dapat menghasilkan data yang reliabel. Koefisien reliabilitas instrumen dimaksudkan untuk melihat konsistensi jawaban butir-butir pertanyaan yang diberikan oleh responden. Uji reliabilitas dilakukan untuk mendapatkan tingkat ketepatan instrumen yang digunakan karena mempengaruhi validitas. Uji reliabilitas menggunakan rumus Cronbach’s Alpha karena rumus tersebut cocok untuk digunakan pada skor berbentuk skala atau rentangan (Priyatno, 2012: 121). Berikut ini tabel kriteria koefisien reliabilitas untuk melihat hasil perhitungan reliabilitas instrumen (Masidjo, 1995: 209). Tabel 3.8 Kriteria Koefisien Reliabilitas. Interval Koefisien Reliabilitas 0,91 – 1,00 0,71 – 0,90 0,41 – 0,70 0,21 – 0,40 Negatif – 0,20 Kualifikasi Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat rendah Berdasarkan hasil uji reliabilitas menggunakan rumus Cronbach’s Alpha menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows diperoleh hasil perhitungan reliabilitas terhadap dua soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan evaluasi dan inferensi sebagai berikut (lihat Lampiran 3.6, halaman 95). 36

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 3.9 Perhitungan Reliabilitas. N 41 Alpha’s Cronbach 0,554 Kualifikasi Cukup Tabel di atas menunjukkan harga Cronbach’s Alpha untuk kedua instrumen yang digunakan sebesar 0,554. Sesuai dengan kriteria koefisien reliabilitas menurut Masidjo, reliabilitas instrumen tersebut termasuk ke dalam kategori cukup. Instrumen tersebut sudah memenuhi syarat suatu instrumen yang reliabel dan dapat digunakan untuk pengukuran dalam pengumpulan data penelitian. 3.8 Teknik Analisis Data 3.8.1 Uji Normalitas Sugiyono (2012: 173) mengatakan bahwa statistik parametrik bekerja berdasarkan asumsi bahwa data setiap variabel yang akan dianalisis berdasarkan distribusi normal. Oleh karena itu perlu dilakukan uji normalitas data terlebih dahulu untuk menentukan jenis statistik yang akan digunakan. Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test. Pengujian dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov test dimaksudkan untuk menentukan apakah skor dalam sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2006: 35). Kriteria yang digunakan menurut Priyatno (2012: 39) adalah sebagai berikut : 1. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka distribusi normal. 2. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka distribusi data tidak normal. Uji normalitas data digunakan untuk menentukan jenis statistik inferensial yang akan digunakan pada pengujian selanjutnya. Jika data yang diperoleh terdistribusi normal, uji statistik yang digunakan selanjutnya adalah uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test atau Paired Samples t-test. Sedangkan jika distribusi data tidak terdistribusi normal, uji statistik yang digunakan selanjutnya adalah uji statistik non parametrik, dalam hal ini Mann Whitney U-test atau Wilcoxon Signed Ranks Test. Setelah seluruh data diuji normalitasnya, maka data baru dapat dapat diuji dengan teknik statistik parametrik atau non parametrik. 37

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.8.2 Uji Pengaruh Perlakuan 3.8.2.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan data pretest dilakukan untuk mengetahui apakah pretest dari kelompok eksperimen dan pretest dari kelompok kontrol memiliki titik pijak yang sama sehingga dimungkinkan untuk melakukan pembandingan. Kondisi yang ideal adalah jika tidak ada perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain uji pretest ini dilakukan untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika data terdistribusi normal maka digunakan statistik parametrik Independent Samples t-test. Namun apabila data tidak terdistribusi normal maka digunakan statistik non parametrik Mann-Whitney U-test. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 51). Hi : ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Syarat atau kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 51). 1. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 Hnull diterima Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor rerata pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain terdapat persamaan data atau titik pijak yang sama antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 2. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 Hnull ditolak Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor rerata pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terdapat persamaan data atau titik pijak yang tidak sama antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 38

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.8.2.2 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest Uji selisih skor pretest dan posttest dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi. Secara prinsip rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: (O2 – O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan selisih skor posttest-pretest pada kelompok kontrol dengan selisih skor posttest-pretest pada kelompok eksperimen. Analisis statistik dengan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika data terdistribusi normal maka digunakan statistik parametrik Independent Samples t-test. Namun apabila data tidak terdistribusi normal maka digunakan statistik non parametrik MannWhitney U-test. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 51). Hi : ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest-pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest-pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Syarat atau kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 51). 1. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest-pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map tidak berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi dan kemampuan inferensi. 2. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest-pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi. 3.8.3 Analisis Lebih Lanjut 3.8.3.1 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest Uji peningkatan skor pretest ke posttest dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Analisis statistik menggunakan 39

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika data terdistribusi normal maka digunakan statistik parametrik Paired Samples t-test. Namun apabila data tidak terdistribusi normal maka digunakan statistik non parametrik Wilcoxon Signed Ranks test. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 45). Hi : ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Syarat atau kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan (Priyatno, 2012: 45). 1. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 Hnull diterima Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terdapat peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest. 2. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 Hnull ditolak Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain terdapat peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest. Menurut Campbell dan Stanley (dalam Cohen, 2007: 276) untuk melihat ada tidaknya perlakuan dan seberapa besar peningkatannya dapat dihitung dengan menggunakan rumus: (O2 – O1) – (O4 – O3). Jika hasilnya negatif maka efek kausal negatif atau tidak ada pengaruh dan sebaliknya jika hasilnya positif maka kausalnya positif atau ada pengaruh. Untuk mengetahui persentase peningkatan digunakan rumus sebagai berikut. ( ) Gambar 3.3 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I. 40

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.8.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) Uji besar pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi. Teknik pengujian klasik untuk mengetahui signifikansi pengaruh tidak dengan sendirinya menunjukkan pengaruh tersebut cukup substantif atau tidak. Pentingnya suatu pengaruh ini disebut effect size. Effect size adalah suatu ukuran objektif dan terstandarisasi untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan (Field, 2009: 56-57). Untuk mengetahui effect size digunakan koefisien korelasi dengan kriteria r = 0,10 (efek kecil) yang setara dengan 1% pengaruh yang diakibatkan oleh pengaruh variabel independen, r = 0,30 (efek menengah) yang setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) yang setara dengan 25% (Field, 2009: 179). Koefisien korelasi r dipilih karena koefisien korelasi ini cukup mudah digunakan untuk mengetahui besarnya efek yang terentang antara harga 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Cara yang digunakan untuk mengetahui koefisien korelasi adalah sebagai berikut. Jika data terdistribusi normal, maka harga t diubah menjadi harga r dengan rumus sebagai berikut (Field, 2009: 332). 1. Jika data normal, maka menggunakan rumus uji Paired Samples t-test (Field, 2009: 332). √ Gambar 3.4 Rumus Uji Paired Samples t-test. r = besarnya pengaruh (effect size) dengan koefisien korelasi Pearson. t = harga uji t. df = derajat kebebasan (degree of freedom). 2. Jika data tidak normal, maka menggunakan rumus uji Wilcoxon Signed Ranks test (Field, 2009: 350) : √ Gambar 3.5 Rumus Uji Wilcoxon Signed Ranks Test. 41

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI r = besarnya pengaruh (effect size) dengan koefisien korelasi Pearson. Z = harga konversi dari standar deviasi dari uji Wilcoxon. N = jumlah total observasi (2 kali jumlah siswa). 3.8.3.3 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan bertujuan untuk lebih mengetahui retensi pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Oleh karena itu uji retensi pengaruh perlakuan perlu dilakukan untuk lebih mengetahui sensitivitas perbedaan perlakuan dari penelitian eksperimental dengan melakukan posttest II sesudah posttest I. Analisis statistik dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika data terdistribusi normal maka digunakan statistik parametrik Paired Samples t-test. Namun apabila data tidak terdistribusi normal maka digunakan statistik non parametrik Wilcoxon Signed Ranks Test. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 45). Hi : ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 45). 1. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak. Artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan mind map tidak terjadi penurunan/peningkatan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. 2. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan mind map terjadi penurunan/peningkatan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Untuk mengetahui persentase peningkatan skor posttest I ke posttest II digunakan rumus sebagai berikut. 42

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ( ) Gambar 3.6 Rumus Persentase Peningkatan Posttest I ke Posttest II. 3.8.3.4 Dampak Perlakuan Untuk setiap penelitian eksperimental dianjurkan untuk memasukkan elemen kualitatif agar lebih dapat dipahami sudut pandang subjek yang diteliti terkait perlakuan dan variabel-variabel yang diteliti antara lain dengan melakukan observasi, anekdot, dan interview sesudah penelitian (Krathwohl, 2004:547). Untuk mengetahui dampak perlakuan dalam penelitian eksperimen maka dianjurkan untuk memasukkan data kualitatif dengan teknik pengambilan data triangulasi sebagai elemen tambahan. Triangulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2011: 327). Pendapat ahli yang lain juga mengatakan bahwa triangulasi merupakan penggunaan dua atau lebih metode pengumpulan data dalam studi beberapa aspek perilaku manusia (Cohen, 2007: 141). Peneliti menggunakan triangulasi tidak hanya untuk pengumpulan data, namun juga memeriksa kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data. Pengumpulan data yang dilakukan peneliti menggunakan observasi, wawancara, dan tes. Dari pengumpulan data melalui teknik triangulasi maka peneliti bukan mencari kebenaran, namun lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan, sehingga dapat meningkatkan kekuatan data bila dibandingkan dengan satu pendekatan. 3.8.3.5 Konsekuensi Lebih Lanjut Konsekuensi lebih lanjut digunakan untuk melihat penggunaan metode inovatif, dalam hal ini mind map, berdampak besar atau tidak terhadap peningkatan kompetensi dan kemampuan belajar siswa. Cara yang dilakukan adalah dengan melihat hasil pretest dan posttest terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi. Penggunaan metode inovatif, dalam hal ini mind map, diharapkan akan membantu mengatasi masalah rendahnya hasil belajar siswa. 43

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Implementasi Pembelajaran Implementasi pembelajaran pada kelompok kontrol dan eksperimen dilakukan sebanyak 6 pertemuan dengan total 12 jam pelajaran. Kelompok kontrol adalah kelas IV A1 yang terdiri dari 30 siswa, sedangkan kelompok eksperimen adalah kelas IV A3 yang terdiri dari 28 siswa. Pada pertemuan pertama kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama diberikan pretest. Untuk pertemuan selanjutnya pelaksanaan pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan treatment berupa penggunaan mind map, sedangkan pelaksanaan pembelajaran pada kelompok kontrol hanya menggunakan metode ceramah atau dengan kata lain tidak menggunakan treatment apapun. Penyampaian materi gaya pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilaksanakan sebanyak 3 pertemuan sebanyak 6 jam pelajaran. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru mitra sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh peneliti. Kegiatan dalam RPP tersebut terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Guru mitra merupakan guru yang sama dalam pelaksanaan pembelajaran di kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Selama proses pembelajaran berlangsung, peran guru mitra sebagai pembimbing bagi siswa dalam memberikan materi pelajaran dengan menggunakan mind map pada kelompok eksperimen, sedangkan pada kelompok kontrol menggunakan metode ceramah. Peran mahasiswa adalah sebagai pengamat aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan membantu guru dalam menyiapkan keperluan yang digunakan saat pelaksanaan pembelajaran. Dalam penelitian ini, antara guru dan mahasiswa memiliki peran masing-masing yang berbeda, namun tetap berkolaborasi dan bekerjasama selama kegiatan pembelajaran agar penelitian dapat berjalan dengan lancar. 44

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.1.1 Kelompok Kontrol Implementasi pembelajaran pada kelompok kontrol dilaksanakan sebanyak 6 pertemuan dengan total 12 jam pelajaran (lihat Lampiran 4.4, halaman 118). Tiga pertemuan digunakan untuk pelaksanaan pretest, posttest I, dan posttest II, sedangkan 3 pertemuan lain digunakan untuk penyampaian materi gaya. Penyampaian materi gaya yang dilaksanakan oleh guru mitra pada kelompok kontrol tidak menggunakan treatment apapun. Dengan kata lain hanya menggunakan metode ceramah saja. Guru memiliki peran penting selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Selama menjelaskan mengenai materi gaya, guru sepenuhnya menggunakan buku paket dan lembar aktivitas siswa yang dibuat oleh peneliti tanpa menggunakan media pembelajaran apapun. Guru menyampaikan materi gaya dengan metode ceramah, sedangkan siswa hanya menyimak dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Peneliti berperan sebagai observer selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Semua hal-hal yang terjadi selama kegiatan pembelajaran dicatat dalam sebuah catatan dan didokumentasikan menggunakan foto. Di dalam materi gaya, ada beberapa pokok bahasan yang akan dijelaskan kepada siswa meliputi: pengaruh gaya dan jenis-jenis gaya yang akan dibahas satu persatu. Langkah-langkah setiap pelaksanaan pembelajaram pada pemberian materi gaya pada kelompok kontrol terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada pertemuan pertama pokok bahasan yang dijelaskan guru mengenai pengaruh gaya. Kegiatan apersepsi diawali dengan tanya jawab bersama siswa. Selanjutnya guru menjelaskan menggunakan metode ceramah tanpa menggunakan media pembelajaran. Setelah guru selesai menjelaskan mengenai materi pengaruh gaya, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Pada kegiatan akhir siswa diberi lembar kegiatan siswa yang dibuat oleh peneliti. Setelah siswa selesai mengerjakan, guru bersama siswa membahas lembar kegiatan siswa tersebut. Pada pertemuan kedua, guru menjelaskan mengenai pokok bahasan jenisjenis gaya. Sama seperti pada pertemuan sebelumnya, guru menjelaskan materi hanya dengan menggunakan metode ceramah begitu pula saat memberikan contoh-contoh aplikasi gaya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan apersepsi 45

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diawali dengan tanya jawab berkaitan contoh-contoh jenis gaya yang ada di sekitar mereka. Kemudian guru mulai mengaitkan contoh-contoh tersebut berdasarkan berbagai jenis gaya. Pada kegiatan akhir siswa kembali diberikan lembar kerja siswa. Setelah siswa selesai mengerjakan, guru membahas jawaban soal bersama-sama disertai pemberian kesempatan bagi siswa apabila ingin bertanya. Pada pertemuan terakhir sebelum diadakan posttest, guru menjelaskan kembali materi gaya secara keseluruhan dengan tujuan agar siswa memahami materi gaya secara utuh. Setelah guru mengulas kembali seluruh materi, siswa diberikan lembar aktivitas siswa berupa latihan soal-soal. Setelah semua penyampaian materi selesai, pada pertemuan berikutnya dilakukan posttest dengan menggunakan instrumen yang sama seperti saat pretest. 4.1.2 Kelompok Eksperimen Implementasi pembelajaran pada kelompok eksperimen dilaksanakan sebanyak 6 pertemuan dengan total 12 jam pelajaran (lihat Lampiran 4.3, halaman 108). Tiga pertemuan digunakan untuk pelaksanaan pretest, posttest I, dan posttest II, sedangkan 3 pertemuan lain digunakan untuk penyampaian materi gaya. Penyampaian materi gaya yang dilaksanakan oleh guru mitra pada kelompok eksperimen menggunakan metode mind map. Sebelum pelaksanaan pembelajaran materi gaya, pada kelompok eksperimen diberi waktu tambahan diluar jam pelajaran untuk latihan pembuatan mind map. Guru menyampaikan materi gaya dengan menggunakan metode mind map, sedangkan peneliti berperan sebagai observer selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Selain itu peneliti juga membantu guru dalam mempersiapkan bahan ajar sehingga tercipta kolaborasi yang baik antara guru dan peneliti. Semua hal-hal yang terjadi selama kegiatan pembelajaran dicatat dalam sebuah catatan dan didokumentasikan menggunakan foto. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran pada kelompok ekperimen terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada pertemuan pertama peneliti bersama guru bekerjasama selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan apersepsi diwali dengan guru bertanya jawab seputar pengaruh gaya dan dilanjutkan dengan menjelaskan materi 46

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menggunakan media pembelajaran yang sudah disiapkan oleh peneliti. Setelah guru selesai menyampaikan materi pengaruh gaya, dengan dibantu peneliti siswa diberi kesempatan untuk membuat mind map secara berkelompok. Dengan bimbingan guru dan peneliti siswa dapat membuat mind map mengenai pengaruh gaya sampai pada jam pelajaran berakhir. Kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua diawali dengan tanya jawab guru bersama siswa mengenai jenis-jenis gaya yang ada dalam kehidupan seharihari. Pemberian materi menggunakan media pembelajaran yang telah disiapkan oleh peneliti. Pembelajaran dilanjutkan dengan membuat mind map mengenai jenis-jenis gaya secara berkelompok. Dengan bimbingan guru dan peneliti, siswa membuat mind map sampai pada jam pelajaran berakhir. Pada pertemuan terakhir, guru mengulas kembali seluruh materi gaya yang meliputi pengaruh gaya dan jenis-jenis gaya. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan siswa membuat mind map secara mandiri mengenai keseluruhan materi gaya. Siswa diberi kebebasan untuk membuat mind map sesuai dengan imajinasi mereka tetapi tetap pada konteks materi gaya yang telah dipelajari. 4.2 Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kolaborasi bersama dengan teman dalam kelompok payung IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Penelitian tersebut dilakukan terhadap siswa SD (Sekolah Dasar) untuk membuktikan pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, antara lain : kemampuan intepretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi dan regulasi diri. Peneliti hanya memfokuskan pembahasan penelitian tentang pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi. Penelitian dilakukan dengan metode quasi-experimental design tipe non-equivalent control group design sehingga menggunakan dua kelompok untuk dibandingkan, yakni kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes uraian yang terdiri dari dua soal, yakni satu soal untuk mengukur kemampuan evaluasi dan satu soal yang lain untuk mengukur 47

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kemampuan inferensi. Instrumen yang digunakan untuk pretest dan posttest merupakan instrumen yang sama dan diujikan pada dua kelompok penelitian, yakni kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil penelitian yang akan dibahas lebih lanjut mengenai deskripsi data dan dipaparkan lebih lengkap mengenai data pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kontrol pada masing-masing kemampuan yaitu evaluasi dan inferensi. Data yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan disertai data kualitatif sebagai elemen tambahan untuk lebih mengetahui retensi pengaruh tindakan. Data kuantitatif yang diperoleh adalah hasil pretest, posttest I, dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menggunakan soal uraian. Data yang diperoleh dari pretest, posttest I, dan posttest II untuk kemampuan evaluasi dan inferensi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dianalisis dengan menggunakan program komputer yang bernama IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. 4.2.1 Uji Pengaruh Penggunaan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Evaluasi Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variabel independen yaitu metode mind map terhadap variabel dependen yang diteliti yaitu kemampuan evaluasi. Analisis data untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi menggunakan beberapa langkah uji statistik sebagai berikut: 1) Uji normalitas data, untuk mengetahui skor dalam sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal atau tidak. 2) Uji perbedaan kemampuan awal, yaitu untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara. 3) Uji selisih skor pretest dan posttest I, yaitu untuk mengetahui apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. 4) Uji peningkatan skor pretest dan posttest I, untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. 5) Uji besar pengaruh perlakuan, yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi. 6) Uji 48

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI retensi pengaruh perlakuan, untuk lebih mengetahui sensitivitas perbedaan perlakuan dari penelitian eksperimental terhadap kemampuan evaluasi. 4.2.1.1 Uji Normalitas terhadap Kemampuan Evaluasi Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui skor dalam sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal atau tidak. Data yang diperoleh dari pretest dan posttest untuk mengukur kemampuan evaluasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dianalisis terlebih dahulu dengan uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test. Uji normalitas tersebut untuk menentukan jenis uji statistik yang akan digunakan dalam analisis data selanjutnya. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka distribusi data normal, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka distribusi data tidak normal. Jika data yang diperoleh terdistribusi normal, uji statistik yang digunakan selanjutnya adalah uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples ttest atau Paired Samples t-test. Sedangkan jika distribusi data tidak terdistribusi normal, uji statistik yang digunakan selanjutnya adalah uji statistik non parametrik, dalam hal ini adalah Mann Whitney U-Test atau Wilcoxon Signed Ranks Test. Berdasarkan analisis uji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh hasil sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.11, halaman 147). Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas terhadap Kemampuan Evaluasi. No Aspek 1 2 3 4 5 6 7 8 Rerata skor pretest kelompok eksperimen Rerata skor posttest I kelompok eksperimen Selisih skor pretest-posttest I kelompok eksperimen Rerata skor posttest II kelompok eksperimen Rerata skor pretest kelompok kontrol Selisih skor pretest-posttest I kelompok kontrol Rerata skor posttest I kelompok kontrol Rerata skor posttest II kelompok kontrol Sig. (2tailed) 0,071 0,122 0,063 0,200 0,200 0,194 0,167 0,088 Keterangan Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Berdasarkan analisis statistik di atas, aspek pretest kelompok eksperimen memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,071 (atau p > 0,05), aspek posttest I kelompok eksperimen memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,122 (atau p > 0,05), aspek selisih skor pretest-posttest I kelompok eksperimen memiliki harga 49

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sig. (2-tailed) sebesar 0,063 (atau p > 0,05), dan aspek posttest II kelompok eksperimen memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,200 (atau p > 0,05). Selanjutnya aspek pretest kelompok kontrol memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,200 (atau p > 0,05), aspek posttest I kelompok kontrol memiliki harga sig. (2tailed) sebesar 0,167 (atau p > 0,05), aspek selisih skor pretest-posttest I kelompok kontrol memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,194 (atau p > 0,05), dan aspek posttest II kelompok kontrol memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,088 (atau p > 0,05). Harga sig. (2-tailed) pada aspek pretest, posttest, selisih skor pretestposttest I, dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki distribusi data yang normal karena nilai sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 (atau p > 0,05). Berdasarkan uji normalitas tersebut diperoleh hasil bahwa skor pada aspek pretest, posttest, selisih skor pretest-posttest I, dan posttest II terdistribusi normal, maka uji statistik yang digunakan selanjutnya adalah uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test atau Paired Samples t-test. Analisis data pada kemampuan evaluasi menggunakan statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test atau Paired Samples t-test dengan lima langkah berikut: 1) Uji perbedaan kemampuan awal, yaitu untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara. 2) Uji selisih skor pretest dan posttest I, yaitu untuk mengetahui apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. 3) Uji peningkatan skor pretest dan posttest I, untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. 4) Uji besar pengaruh perlakuan, yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi. 5) Uji retensi pengaruh perlakuan, untuk lebih mengetahui sensitivitas perbedaan perlakuan dari penelitian eksperimental. 4.2.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Evaluasi Langkah pertama yang dilakukan setelah mengetahui normalitas data pretest dan posttest dari masing-masing kelompok yaitu melakukan analisis 50

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI perbedaan kemampuan awal dengan menggunakan skor pretest dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk mengetahui apakah pretest dari kelompok eksperimen dan pretest dari kelompok kontrol memiliki titik pijak yang sama sehingga dimungkinkan untuk melakukan pembandingan. Jika memiliki titik pijak yang sama dapat dilakukan pembandingan antara skor kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain uji perbedaan kemampuan awal melalui skor pretest ini dilakukan untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara. Analisis statistik yang digunakan dalam uji perbedaan kemampuan awal pada kemampuan evaluasi adalah statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test. Sebelum melakukan uji Independent Samples t-test, dilakukan uji Levene’s Test terlebih dahulu untuk mengetahui homogenitas varians data. Suatu data dikatakan memiliki homogenitas varians apabila harga signifikansi pada Levene’s Test > 0,05 (atau p > 0,05) (Priyatno, 2012:49). Berdasarkan uji Levene’s Test diperoleh besar nilai F = 0,531 dengan signifkansi sebesar 0,469 (atau p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa data pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki homogenitas varians data. Setelah diketahui data memiliki varians yang homogen, langkah selanjutnya adalah melakukan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hi) dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hnull). Untuk itu kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Berdasarkan uji analisis perbedaan kemampuan awal dengan menggunakan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test diperoleh hasil sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.12, halaman 148). Tabel 4.2 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Evaluasi. Hasil Uji Skor Pretest Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Sig. (2-tailed) 0,594 Keterangan Tidak ada perbedaan 51

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan tabel uji skor pretest pada kemampuan evaluasi menunjukkan tidak ada perbedaan skor rerata pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh hasil M = 2,41, SD = 0,63, SE = 0,12, sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil M = 2,31, SD = 0,69, SE = 0,12. Hasil uji Independent Samples T-test menunjukkan t(56) = -0,537 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,594 (atau p > 0,05), sehingga Hnull diterima Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki level kemampuan awal yang sama pada kemampuan evaluasi sehingga dapat dibuat perbandingan untuk selanjutnya. 4.2.1.3 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi Langkah kedua adalah melakukan uji perbedaan selisih skor pretest dan posttest I. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. Penghitungan dilakukan dengan cara mengurangkan selisih skor posttest I-pretest pada kelompok kontrol dengan selisih skor posttest I-pretest pada kelompok eksperimen. Hasil analisis uji selisih skor pretest dan posttest I antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dilakukan digunakan sebagai dasar dalam menarik kesimpulan yang berkaitan dengan hipotesis penelitian. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan hasil penelitian menerima atau menolak hipotesis penelitian. Berdasarkan tabel uji normalitas selisih skor pretest dan posttest I dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test, pada kelompok eksperimen memiliki nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,063 (atau p > 0,05) dan kelompok kontrol memiliki nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,194 (atau p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki distribusi data yang normal sehingga untuk uji selisih skor pretest dan posttest I dilakukan dengan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test. Sebelum melakukan uji Independent Samples t-test, dilakukan uji Levene’s Test terlebih dahulu untuk mengetahui homogenitas varians data. Suatu data dikatakan memiliki homogenitas varians apabila harga signifikansi pada Levene’s 52

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Test > 0,05 (atau p > 0,05) (Priyatno, 2012:49). Dari hasil uji selisih skor pretest dan posttest I antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa ada homogenitas varians data karena harga Levene’s Test pada data tersebut memiliki harga signifikansi sebesar 0,411 (atau p > 0,05) dengan F = 0,685. Setelah diketahui data memiliki varians yang homogen, langkah selanjutnya adalah melakukan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretestposttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hi) dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hnull). Untuk itu kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Berdasarkan uji analisis selisih skor pretest dan posttest I dengan menggunakan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test diperoleh hasil sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.13, halaman 149). Tabel 4.3 Hasil Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi. Selisih Skor Pretest dan Posttest I Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Sig. (2-tailed) 0,027 Keterangan Ada perbedaan Berdasarkan uji selisih skor pretest dan posttest I pada kemampuan evaluasi diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen memperoleh skor yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh hasil M = 1,0179, SD = 0,73, SE = 0,14, sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil M = 0,5333, SD = 0,88, SE = 0,16. Hasil uji Independent Samples T-test menunjukkan t(56) = -2,27 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,027 (atau p < 0,05), sehingga Hnull ditolak Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. 53

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berikut ini merupakan grafik rerata selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Grafik menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki hasil rerata selisih skor pretest dan posttest I lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Pada kelompok kontrol menunjukkan rerata selisih skor sebesar 0,5333, sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan rerata selisih skor sebesar 1,0179. Gambar 4.1 Diagram Batang Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi. 4.2.1.4 Uji Analisis Lebih Lanjut terhadap Kemampuan Evaluasi 1. Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi Uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Dari uji peningkatan skor pretest ke posttest I akan terlihat persentase kenaikan masing-masing kelompok. Uji perbandingan ini berkaitan dengan uji normalitas. Pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol harga sig. (2-tailed) untuk pretest dan posttest I lebih besar dari 0,05 (atau p < 0,05) sehingga data tersebut dikatakan normal, maka analisis 54

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI statistik yang digunakan untuk data normal adalah uji statistik parametrik, dalam hal ini Paired Samples t-test. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hi) dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hnull). Untuk itu kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: jika harga sig.(2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak, sedangkan jika harga sig.(2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Berdasarkan uji analisis peningkatan skor pretest ke posttest I dengan menggunakan uji statistik parametrik Paired Samples t-test diperoleh hasil sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.14, halaman 150). Tabel 4.4 Hasil Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi. No 1 2 Kelompok Eksperimen Kontrol Rerata Pretest Posttest I 2,41 3,42 2,31 2,85 Peningkatan (%) 41,91 23,38 Sig. (2tailed) 0,000 0,003 Keputusan Ada perbedaan Ada perbedaan Berdasarkan hasil uji peningkatan skor pretest ke posttest I pada kemampuan evaluasi menunjukkan bahwa kenaikan skor pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Perolehan hasil analisis pada kelompok eksperimen M = 1,02, SE = 0,14, dan SD = 0,73, sedangkan pada kelompok kontrol M = 0,53, SE = 0,16, dan SD = 0,88. Pada kelompok eksperimen diperoleh hasil analisis t(27) = 7,416 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil analisis t(29) = 3,310 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,003 (atau p < 0,05). Dari kedua kelompok tersebut dapat diputuskan bahwa Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Walaupun sama-sama mengalami peningkatan skor yang signifikan pada kedua kelompok, namun pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. 55

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dengan kata lain penggunaan metode mind map lebih meningkatkan skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan evaluasi. Menurut Campbell dan Stanley (dalam Cohen, 2007: 276) untuk melihat ada tidaknya perlakuan dan seberapa besar peningkatannya dapat dihitung dengan menggunakan rumus: (O2 – O1) – (O4 – O3). Jika hasilnya negatif maka efek kausal negatif atau tidak ada pengaruh dan sebaliknya jika hasilnya positif maka kausalnya positif atau ada pengaruh. Secara umum hasil uji kenaikan skor pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Berdasarkan hasil analisis di atas, pada kelompok eksperimen menunjukkan hasil kausal positif dengan persentase sebesar 41,91% yang berarti metode penggunaan mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. Sedangkan pada kelompok kontrol juga menunjukkan hasil kausal positif dengan persentase sebesar 23,38% yang berarti penggunaan metode ceramah juga berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. Dengan kata lain penggunaan metode mind map lebih meningkatkan skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan evaluasi. Berikut adalah gambar diagram grafik yang akan menunjukkan kenaikan skor pretest ke posttest I baik di kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. 4 3,5 3,42 3 2,5 2 2,90 2,41 Eksperimen 2,32 Kontrol 1,5 1 0,5 0 Pretest Posttest I Gambar 4.2 Diagram Grafik Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi. 56

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Uji Besar Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi Uji besar pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan evaluasi. Pentingnya suatu pengaruh ini disebut effect size. Koefisien korelasi r dipilih karena koefisien korelasi ini cukup mudah digunakan untuk mengetahui besarnya efek yang terentang antara harga 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Cara yang digunakan untuk mengetahui koefisien korelasi adalah sebagai berikut. Jika distribusi normal, harga t diubah menjadi harga r. Dari hasil uji besar pengaruh perlakuan menggunakan rumus uji Paired Samples t-test maka besar effect size yang diperoleh adalah sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.15, halaman 151). Tabel 4.5 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi. No 1 2 Kelompok Eksperimen Kontrol t 7,416 3,31 t2 54,99706 10,9561 df 27 29 r 0,81 0,52 R2 0,67 0,27 % 67 27 Efek Besar Besar Berdasarkan tabel di atas, pada kelompok eksperimen dapat diketahui besar harga r = 0,81, t = 7,416, R2 = 0,67 dengan persentase efek sebesar 67%. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan evaluasi pada kelompok eksperimen termasuk dalam kriteria efek besar. Pada kelompok kontrol dapat diketahui besar harga r = 0,52, t = 3,31, R2 = 0,27 dengan persentase efek sebesar 27%. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan metode ceramah terhadap kemampuan evaluasi pada kelompok kontrol termasuk dalam kriteria efek besar. Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan mind map dan metode ceramah mempunyai efek yang besar terhadap kemampuan evaluasi. Walaupun pada kedua kelompok sama-sama menunjukkan efek yang besar, namun pada kelompok eksperimen memiliki efek lebih besar dibandingkan dengan besar efek pada kelompok kontrol. Dengan kata lain pengaruh penggunaan metode mind map menunjukkan efek yang lebih besar terhadap kemampuan evaluasi. 3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk lebih mengetahui sensitivitas perbedaan perlakuan dari penelitian eksperimental maka dianjurkan 57

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk melakukan posttest II sesudah posttest I. Pengujian ini dilakukan 1 bulan setelah pemberian treatment. Sebelum melakukan uji retensi, dilakukan uji normalitas terlebih dahulu pada skor posttest I dan posttest II terhadap kemampuan evaluasi. Pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol harga sig. (2-tailed) untuk posttest I dan posttest II lebih besar dari 0,05 (atau p < 0,05) sehingga data tersebut dikatakan normal, maka digunakan statistik parametrik dalam hal ini Paired Samples t-test. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hi) dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hnull). Untuk itu kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Hasil analisis data perbandingan posttest I ke posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut ini (lihat Lampiran 4.16, halaman 152). Tabel 4.6 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi. No Kelompok 1 2 Eksperimen Kontrol Rerata Posttest Posttest I II 3,42 2,90 2,85 2,52 Peningkatan (%) Sig. (2-tailed) Keputusan -15,2047 -11,5789 0,000 0,009 Ada perbedaan Ada perbedaan Berdasarkan hasil uji pengaruh perlakuan pada kemampuan evaluasi, hasil uji retensi skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Perolehan hasil analisis pada kelompok eksperimen M = 0,52, SE = 0,09, dan SD = 0,52, sedangkan pada kelompok kontrol M = 0,33, SE = 0,11, dan SD = 0,65. Pada kelompok eksperimen diperoleh hasil analisis t(27) = 5,27 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil analisis t(29) = 2,79 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,009 (atau p < 0,05). Dari kedua kelompok tersebut dapat diputuskan 58

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bahwa Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain terdapat penurunan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terhadap kemampuan evaluasi. Secara umum hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Berdasarkan hasil analisis di atas, pada kelompok eksperimen menunjukkan hasil kausal negatif dengan persentase sebesar -15,20%. Artinya pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi terjadi penurunan sebesar 15,20%. Sedangkan pada kelompok kontrol juga menunjukkan hasil kausal negatif dengan persentase sebesar -11,57%. Artinya pengaruh penggunaan metode ceramah terhadap kemampuan evaluasi terjadi penurunan sebesar 11,57%. Berikut adalah gambar diagram grafik yang akan menunjukkan penurunan skor posttest I ke posttest II baik di kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol terhadap kemampuan evaluasi. 4 3,42 3,5 2,85 3 2,5 2 2,41 2,90 2,52 2,32 Eksperimen Kontrol 1,5 1 0,5 0 Pretest Posttest I Posttest II Gambar 4.3 Diagram Grafik Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi. 59

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.2 Pengaruh Penggunaan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Inferensi Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variabel independen yaitu mind map terhadap variabel dependen yang diteliti yaitu kemampuan inferensi. Analisis data untuk mengetahui pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan inferensi menggunakan beberapa langkah uji statistik sebagai berikut: 1) Uji normalitas data, untuk mengetahui skor dalam sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal atau tidak. 2) Uji perbedaan kemampuan awal, yaitu untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara. 3) Uji selisih skor pretest dan posttest I, yaitu untuk mengetahui apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi. 4) Uji peningkatan skor pretest dan posttest I, untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. 5) Uji besar pengaruh perlakuan, yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan inferensi. 6) Uji retensi pengaruh perlakuan, untuk lebih mengetahui sensitivitas perbedaan perlakuan dari penelitian eksperimental terhadap kemampuan inferensi. 4.2.2.1 Uji Normalitas terhadap Kemampuan Inferensi Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui skor dalam sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal atau tidak. Data yang diperoleh dari pretest dan posttest untuk mengukur kemampuan inferensi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dianalisis terlebih dahulu dengan uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test. Uji normalitas tersebut untuk menentukan jenis uji statistik yang akan digunakan dalam analisis data selanjutnya. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka distribusi data normal, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka distribusi data tidak normal. Jika data yang diperoleh terdistribusi normal, uji statistik yang digunakan selanjutnya adalah uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test atau Paired Samples t-test. Sedangkan jika distribusi data tidak terdistribusi normal, uji statistik yang digunakan selanjutnya adalah uji statistik non parametrik, dalam hal 60

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ini adalah Mann Whitney U-test atau Wilcoxon Signed Ranks Test. Berdasarkan analisis uji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh hasil sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.17, halaman 153). Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas terhadap Kemampuan Inferensi. No 1 2 3 4 5 6 7 8 Aspek Rerata skor pretest kelompok eksperimen Rerata skor posttest I kelompok eksperimen Selisih skor pretest-posttest I kelompok eksperimen Rerata skor posttest II kelompok eksperimen Rerata skor pretest kelompok kontrol Rerata skor posttest I kelompok kontrol Selisih skor pretest-posttest I kelompok kontrol Rerata skor posttest II kelompok kontrol Sig. (2-tailed) 0,056 0,067 0,078 0,161 0,062 0,163 0,057 0,172 Keterangan Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Berdasarkan analisis statistik di atas, aspek pretest kelompok eksperimen memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,056 (atau p > 0,05), aspek posttest I kelompok eksperimen memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,067 (atau p > 0,05), aspek selisih skor pretest-posttest I kelompok eksperimen memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,078 (atau p > 0,05), dan aspek posttest II kelompok eksperimen memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,161 (atau p > 0,05). Selanjutnya aspek pretest kelompok kontrol memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,062 (atau p > 0,05), aspek posttest I kelompok kontrol memiliki harga sig. (2tailed) sebesar 0,163 (atau p > 0,05), aspek selisih skor pretest-posttest I kelompok kontrol memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,0,57 (atau p > 0,05), dan aspek posttest II kelompok kontrol memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,172 (atau p > 0,05). Harga sig. (2-tailed) pada aspek pretest, posttest, selisih skor pretestposttest I, dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki distribusi data yang normal karena nilai sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 (atau p > 0,05). Berdasarkan uji normalitas data tersebut diperoleh hasil bahwa skor pada aspek pretest, posttest, selisih skor pretest-posttest I, dan posttest II terdistribusi normal, maka uji statistik yang digunakan selanjutnya adalah uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test atau Paired Samples t-test. 61

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Analisis data pada kemampuan inferensi menggunakan statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test atau Paired Samples t-test dengan lima langkah berikut: 1) Uji perbedaan kemampuan awal, yaitu untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara. 2) Uji selisih skor pretest dan posttest I, yaitu untuk mengetahui apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi. 3) Uji peningkatan skor pretest dan posttest I, untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. 4) Uji besar pengaruh perlakuan, yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan inferensi. 5) Uji retensi pengaruh perlakuan, untuk lebih mengetahui sensitivitas perbedaan perlakuan dari penelitian eksperimental terhadap kemampuan inferensi. 4.2.2.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Inferensi Langkah pertama yang dilakukan setelah mengetahui normalitas data pretest dan posttest dari masing-masing kelompok yaitu melakukan analisis perbedaan kemampuan awal dengan menggunakan skor pretest dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk mengetahui apakah pretest dari kelompok eksperimen dan pretest dari kelompok kontrol memiliki titik pijak yang sama sehingga dimungkinkan untuk melakukan pembandingan. Jika memiliki titik pijak yang sama dapat dilakukan pembandingan antara skor kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain uji perbedaan kemampuan awal dengan menggunakan skor pretest ini dilakukan untuk memastikan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara. Analisis statistik yang digunakan dalam uji perbedaan kemampuan awal pada kemampuan inferensi adalah statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples T-test. Sebelum melakukan uji Independent Samples t-test, dilakukan uji Levene’s Test terlebih dahulu untuk mengetahui homogenitas varians data. Suatu data dikatakan memiliki homogenitas varians apabila harga signifikansi pada Levene’s Test > 0,05 (atau p > 0,05) (Priyatno, 2012:49). Berdasarkan uji Levene’s Test diperoleh besar nilai F = 0,575 dengan signifkansi sebesar 0,451 62

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (atau p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa data pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki homogenitas varians data. Setelah diketahui data memiliki varian yang homogen, langkah selanjutnya adalah melakukan uji statistik parametrik Independent Samples t-test. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hi) dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hnull). Untuk itu kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Berdasarkan uji analisis perbedaan kemampuan awal dengan menggunakan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test diperoleh hasil sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.18, halaman 154). Tabel 4.8 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Inferensi. Hasil Uji Skor Pretest Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Sig. (2-tailed) 0,889 Keterangan Tidak ada perbedaan Berdasarkan uji perbedaan kemampuan awal pada kemampuan inferensi menunjukkan tidak ada perbedaan skor rerata pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh hasil M = 2,08, SD = 0,78, SE = 0,14, sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil M = 2,10, SD = 0,72, SE = 0,13. Hasil uji Independent Samples t-test menunjukkan t(56) = 0,141 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,889 (atau p > 0,05), sehingga Hnull diterima Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki level kemampuan awal yang sama pada kemampuan inferensi sehingga dapat dibuat perbandingan untuk selanjutnya. 63

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.2.3 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi Uji perbedaan selisih skor pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi. Penghitungan dilakukan dengan cara mengurangkan selisih skor posttest I-pretest pada kelompok kontrol dengan selisih skor posttest I-pretest pada kelompok eksperimen. Hasil analisis uji selisih skor pretest dan posttest I antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dilakukan digunakan sebagai dasar dalam menarik kesimpulan yang berkaitan dengan hipotesis penelitian. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan hasil penelitian menerima atau menolak hipotesis penelitian. Berdasarkan uji normalitas selisih skor pretest dan posttest I dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test, pada kelompok eksperimen memiliki nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,078 (atau p > 0,05) dan kelompok kontrol memiliki nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,057 (atau p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki distribusi data yang normal sehingga untuk uji selisih skor pretest dan posttest I dilakukan dengan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test. Sebelum melakukan uji Independent Samples t-test, dilakukan uji Levene’s Test terlebih dahulu untuk mengetahui homogenitas varians data. Suatu data dikatakan memiliki homogenitas varians apabila harga signifikansi pada Levene’s Test > 0,05 (atau p > 0,05) (Priyatno, 2012:49). Dari hasil uji selisih skor pretest dan posttest I antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varians data karena harga Levene’s Test pada data tersebut memiliki harga signifikansi sebesar 0,102 (atau p > 0,05) dengan F = 2,765. Setelah diketahui data memiliki varians yang sama, langkah selanjutnya adalah melakukan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples ttest. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hi) dan tidak ada perbedaan 64

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hnull). Untuk itu kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Berdasarkan uji selisih skor pretest dan posttest I dengan menggunakan uji statistik parametrik, dalam hal ini Independent Samples t-test diperoleh hasil sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.19, halaman 155). Tabel 4.9 Hasil Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi. Selisih Skor Pretest dan Posttest I Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Sig. (2-tailed) 0,000 Keterangan Ada perbedaan Berdasarkan uji selisih skor pretest dan posttest I pada kemampuan inferensi diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen memperoleh skor yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh hasil M = 1,000, SD = 0,82, SE = 0,16, sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil M = 0,0167, SD = 0,68, SE = 0,12. Hasil uji Independent Samples t-test menunjukkan t(56) = -4,941 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05), sehingga Hnull ditolak Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi. Berikut ini merupakan grafik selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Grafik menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki hasil rerata selisih skor pretest dan posttest I lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Pada kelompok kontrol menunjukkan rerata selisih skor sebesar 0,0167, sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan rerata selisih skor sebesar 1,000. 65

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 4.4 Diagram Batang Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi. 4.2.2.4 Uji Analisis Lebih Lanjut terhadap Kemampuan Inferensi 1. Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi Uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Dari uji peningkatan skor pretest ke posttest I akan terlihat persentase kenaikan masing-masing kelompok. Uji perbandingan ini berkaitan dengan uji normalitas. Pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol harga sig. (2-tailed) untuk pretest dan posttest I lebih besar dari 0,05 (atau p < 0,05) sehingga data tersebut dikatakan normal, maka analisis statistik yang digunakan untuk data normal adalah uji statistik parametrik, dalam hal ini Paired Samples t-test. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan 66

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hi) dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hnull). Untuk itu kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Berdasarkan uji analisis peningkatan skor pretest ke posttest I dengan menggunakan uji statistik parametrik, dalam hal ini Paired Samples t-test diperoleh hasil sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.20, halaman 156). Tabel 4.10 Hasil Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi. No Kelompok 1 2 Eksperimen Kontrol Pretest 2,08 2,10 Test Posttest II 3,08 2,12 Peningkatan (%) 48,08 0,95 Sig. (2tailed) 0,000 0,895 Keputusan Ada perbedaan Tidak ada perbedaan Berdasarkan hasil uji peningkatan skor pretest ke posttest I pada kemampuan inferensi tersebut, peningkatan skor pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Perolehan hasil analisis peningkatan skor pada kelompok eksperimen M = 1,00, SE = 0,16, SD = 0,82, dan t(27) = 6,414 dengan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen. Dengan kata lain terdapat peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan inferensi. Sedangkan perolehan hasil analisis pada kelompok kontrol M = 0,0167, SE = 0,13, dan SD = 0,68, dan t(29) = 0,133 dengan harga sig. (2tailed) sebesar 0,895 (atau p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terdapat peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol terhadap kemampuan inferensi. Menurut Campbell dan Stanley (dalam Cohen, 2007: 276) untuk melihat ada tidaknya perlakuan dan seberapa besar peningkatannya dapat dihitung dengan menggunakan rumus: (O2 – O1) – (O4 – O3). Jika hasilnya negatif maka efek kausal negatif atau tidak ada pengaruh dan sebaliknya jika hasilnya positif maka 67

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kausalnya positif atau ada pengaruh. Secara umum hasil uji kenaikan skor pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Berdasarkan hasil analisis di atas, pada kelompok eksperimen menunjukkan hasil kausal positif dengan persentase sebesar 48,08% yang berarti metode penggunaan mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi. Sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan hasil kausal positif dengan persentase kecil yakni 0,95% yang berarti penggunaan metode ceramah tidak berpengaruh terhadap kemampuan inferensi. Dengan kata lain penggunaan metode mind map terhadap kemampuan inferensi pada kelompok eksperimen memiliki peningkatan skor yang lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol. Berikut adalah gambar diagram grafik yang menunjukkan peningkatan skor pretest ke posttest I baik di kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. 3,5 3,08 3 2,5 2 2,08 2,12 2,10 Eksperimen 1,5 Kontrol 1 0,5 0 Pretest Posttest I Gambar 4.5 Diagram Grafik Peningkatan Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi. 2. Uji Besar Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi Uji besar pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan inferensi. Pentingnya suatu pengaruh ini disebut effect size. Koefisien korelasi r dipilih karena koefisien korelasi ini cukup mudah digunakan untuk mengetahui besarnya efek yang terentang antara harga 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Cara yang 68

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI digunakan untuk mengetahui koefisien korelasi adalah sebagai berikut. Jika distribusi normal, harga t diubah menjadi harga r. Dari hasil uji besar pengaruh perlakuan menggunakan rumus uji Paired Samples t-test maka besar effect size yang diperoleh adalah sebagai berikut ini (lihat Lampiran 4.21, halaman 157). Tabel 4.11 Uji Besar Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi. No 1 2 Kelompok Eksperimen Kontrol t 6,414 0,133 t2 41,1394 0,017689 df 27 29 r 0,77 0,24 R2 0,6 0,06 % 60 % 6% Efek Besar Kecil Berdasarkan uji besar pengaruh perlakuan, pada kelompok eksperimen dapat diketahui besar harga r = 0,77, t = 6,414, R2 = 0,6 dengan persentase efek sebesar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan inferensi pada kelompok eksperimen termasuk dalam kriteria efek besar. Pada kelompok kontrol dapat diketahui besar harga r = 0,24, t = 0,133, R2 = 0,06 dengan persentase efek sebesar 6%. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan metode ceramah terhadap kemampuan inferensi pada kelompok kontrol termasuk dalam kriteria efek kecil. Dengan kata lain pengaruh penggunaan metode mind map menunjukkan efek yang lebih besar terhadap kemampuan inferensi. 3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk lebih mengetahui sensitivitas perbedaan perlakuan dari penelitian eksperimental maka dianjurkan untuk melakukan posttest II sesudah posttest I. Pengujian ini dilakukan 1 bulan setelah pemberian treatment. Sebelum melakukan uji retensi, dilakukan uji normalitas terlebih dahulu pada skor posttest I dan posttest II terhadap kemampuan inferensi. Pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol harga sig.(2-tailed) untuk posttest I dan posttest II lebih besar dari 0,05 (atau p > 0,05) sehingga data tersebut dikatakan normal, maka digunakan statistik parametrik dalam hal ini Paired Samples t-test. Analisis statistik menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan 69

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hi) dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Hnull). Untuk itu kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut: jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima Hi ditolak, sedangkan jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima. Hasil analisis data perbandingan posttest I ke posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut ini (lihat Lampiran 4.22, halaman 158). Tabel 4.12 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi. No Kelompok 1 Eksperimen 2 Kontrol Rerata Posttest I Posttest II 3,08 2,28 2,12 2,11 Peningkatan (%) -25,78 -0,8 Sig. (2-tailed) Keputusan 0,000 Ada perbedaan Tidak ada perbedaan 0,904 Berdasarkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan, skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Perolehan hasil uji retensi pada kelompok eksperimen M = 0,79, SE = 0,19, SD = 0,99, dan t(27) = 4,214 dengan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain terdapat penurunan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan inferensi. Sedangkan pada kelompok kontrol M = 0,0167, SE = 0,14, dan SD = 0,75, dan t(29) = 0,29 dengan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,904 (atau p > 0,05). maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terdapat penurunan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol terhadap kemampuan inferensi. Secara umum hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Berdasarkan hasil analisis di atas, pada kelompok eksperimen menunjukkan hasil kausal negatif dengan persentase sebesar -25,78%. Artinya pengaruh penggunaan mind map terhadap 70

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kemampuan inferensi terjadi penurunan sebesar 25,78%. Sedangkan pada kelompok kontrol juga menunjukkan hasil kausal negatif dengan persentase sebesar -0,8%. Artinya pengaruh penggunaan metode ceramah terhadap kemampuan inferensi terjadi penurunan sebesar 0,8%. Berikut adalah diagram grafik yang akan menunjukkan penurunan skor posttest I ke posttest II, baik di kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol terhadap kemampuan inferensi. 3,5 3,08 3 2,28 2,5 2,08 2 2,10 2,12 2,11 1,5 Eksperimen Kontrol 1 0,5 0 Pretest Posttest I Posttest II Gambar 4.6 Diagram Grafik Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi. 4.3 Pembahasan 4.3.1 Pengaruh Penerapan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Evaluasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi siswa kelas IV di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil uji selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Berdasarkan hasil uji selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,027 (atau p < 0,05). Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dengan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 71

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembelajaran menggunakan metode mind map dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada aspek evaluasi dibandingkan dengan menggunakan metode ceramah. Dalam grafik peningkatan skor pretest ke posttest I juga menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mengalami peningkatan, akan tetapi peningkatan pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kegiatan pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan metode mind map. Berdasarkan hasil analisis di atas menunjukkan bahwa penggunaan metode mind map dalam pembelajaran IPA membuat siswa pada kelompok eksperimen memiliki kemampuan evaluasi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Melalui metode mind map, siswa memetakan sendiri pengetahuannya dengan menggunakan gambar, warna, dan imajinasi sehingga siswa lebih mudah dalam menilai benar tidaknya suatu argumen dan menilai apakah argumen tersebut didasarkan pada asumsi yang benar. Mind map juga membantu siswa memberikan pandangan menyeluruh terhadap pokok permasalahan yang sedang dihadapi (Buzan, 2008: 5). Dengan adanya pandangan yang lebih menyeluruh terhadap suatu permasalahan, siswa mampu menilai penerapan suatu prinsip untuk memecahkan suatu masalah tersebut dan menilai benar tidaknya alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa mind map dapat meningkatkan aspek-aspek kemampuan evaluasi yang telah dipaparkan oleh Facione (1990). Kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol tidak menggunakan treatment apapun. Guru hanya menggunakan metode ceramah selama proses pembelajaran berlansung. Siswa mendengarkan penjelasan materi yang diberikan oleh guru dan mencatat hal-hal yang penting. Pengetahuan yang diterima disimpan dalam bentuk hafalan materi. Peneliti melihat bahwa pada kelas kontrol proses pembelajarannya kurang kondusif. Siswa mudah merasa bosan dan jenuh sehingga mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain seperti berbicara dengan teman sebangkunya, melamun, atau bahkan sibuk dengan suatu barang. Proses pembelajaran pada kelompok kontrol berpusat pada guru, namun beberapa siswa cenderung mengabaikan penjelasan yang diberikan oleh guru. Hal ini membuat penggunaan metode ceramah tidak memberikan pengaruh yang sama besarnya 72

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terhadap kemampuan evaluasi bila dibandingkan dengan penggunaan metode mind map. 4.3.2 Pengaruh Penerapan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Inferensi Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan inferensi siswa kelas IV di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil uji selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Berdasarkan hasil uji selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05). Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dengan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh kemampuan inferensi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan metode mind map dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada aspek inferensi dibandingkan dengan menggunakan metode ceramah. Dalam grafik peningkatan skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan yang signifikan, akan tetapi pada kelompok kontrol tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kegiatan pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan metode mind map. Berdasarkan hasil analisis diatas menunjukkan bahwa penggunaan metode mind map dalam pembelajaran IPA membuat siswa pada kelompok eksperimen memiliki kemampuan inferensi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Mind map mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan siswa mencari alternatif pemecahan masalah melalui proses berpikir kreatif (Buzan, 2008: 5). Melalui mind map siswa mampu mengemukakan alternatif-alternatif pemecahan masalah dan memilih mana yang paling kuat untuk diterima dan lemah untuk ditolak. Mind map memungkinkan siswa untuk mengelompokkan konsep dan membantu siswa untuk membandingkannya dengan konsep lain serta memperkirakan konsekuensi-konsekuensi dari pengambilan suatu keputusan. Pemikiran yang dibentuk melalui mind map menggapi ke segala 73

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI arah dan menangkap berbagai pikiran dari segala sudut (Buzan, 2008: 2). Hal ini tentu memudahkan siswa dalam menarik kesimpulan pada suatu materi yang telah ia pelajari. Hal ini menunjukkan bahwa metode mind map dapat meningkatkan aspek-aspek kemampuan inferensi sesuai yang telah dipaparkan oleh Facione (1990). Hal ini berbeda pada proses pembelajaran di kelompok kontrol. Pembelajaran di kelompok kontrol dilakukan dengan menggunakan metode ceramah. Para siswa cenderung pasif mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal yang sekiranya penting. Bahkan ada beberapa siswa yang duduk di belakang mengabaikan apa yang dikatakan guru dan lebih memilih untuk bercakap-cakap dengan teman sebangku. Siswa cenderung mudah bosan dan lelah sehingga konsentrasinya mudah hilang. Setelah selesai diberi materi pelajaran, siswa diminta untuk mengerjakan soal dan mencocokkannya bersama-sama. Pengetahuan yang diterima disimpan dalam bentuk hafalan materi. Ketika siswa dihadapkan pada suatu permasalahan, maka siswa kesulitan memberikan alternatif pemecahan masalahan. Hal ini dikarenakan pembelajaran pada kelas kontrol berpusat pada guru sehingga siswa kurang terlibat dalam penyelesaian masalah secara langsung. Siswa juga kurang mampu untuk memperkirakan pro dan kontra dari suatu pilihan, hal ini dikarenakan siswa hanya menghafal apa yang diberikan oleh guru. Siswa tidak bisa mengembangkan pemikirannya pada hal-hal yang lebih luas diluar materi yang diajarkan oleh guru. Hal ini membuat penggunaan metode ceramah tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap kemampuan evaluasi. 4.3.3 Dampak Perlakuan terhadap Siswa Dalam penelitian ini, selain menggunakan teknik pengumpulan data berupa test, peneliti juga menggunakan teknik triangulasi untuk memperkuat data yang telah diperoleh. Pengumpulan data dengan teknik triangulasi dilakukan dengan cara observasi, wawancara terhadap guru mitra, dan wawancara terhadap siswa. Wawancara terhadap guru dilakukan untuk mengetahui dampak pengajaran dengan menggunakan metode mind map, sedangkan wawancara terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui respon siswa selama belajar dengan menggunakan 74

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI metode mind map, dan observasi oleh peneliti dilakukan untuk mengetahui cara guru mengajar, respon siswa dan kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung. Dari hasil pengujian data diketahui bahwa penggunaan metode mind map berpengaruh secara terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi. Berdasarkan pengamatan pada saat penelitian didapat bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode mind map dapat membuat siswa pada kelompok eksperimen terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Hal ini terlihat ketika mereka aktif bertanya tentang cara pembuatan mind map dan apa saja yang boleh mereka lakukan dalam pembuatan mind map. Ini menunjukkan mereka memiliki semangat untuk belajar dan aktif dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode mind map. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru. Guru mengatakan, “anak senang dan antusias dalam membuat mind map” (wawancara guru mitra, 03 April 2014). Selain itu, guru juga mengatakan, “anak terlihat sangat aktif, berbeda dengan kelas kontrol” (wawancara guru mitra, 03 April 2014). Berdasarkan wawancara dengan guru, guru juga menyadari bahwa penggunaan mind map dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Wawancara yang dilakukan dengan siswa juga menunjukkan hal serupa. Ada siswa yang mengatakan, “senang karena biasanya hanya mendengarkan pelajaran, sekarang bisa belajar sambil menggambar” (wawancara siswa Be, 03 April 2014). Ada juga siswa yang mengatakan, “senang belajar pakai mind map karena mudah mempelajarinya kembali” (wawancara siswa Va, 03 April 2014). Berdasarkan wawancara tersebut menunjukkan bahwa penggunaan mind map dapat meningkatkan keaktifan siswa pada kelompok eksperimen. Selama proses pembelajaran pada kelompok eksperimen, siswa terlihat antusias dalam pembuatan mind map. Siswa membuat mind map sesuai dengan kreativitasnya masing-masing. Dengan menggunakan media buku gambar dan pewarna yang menarik, mereka diberi kebebasan untuk membuat mind map berdasarkan hal-hal yang telah mereka pelajari sebelumnya, misalnya tentang jenis gaya, pengaruh gaya, dll. Siswa mengembangkan kreativitasnya dengan memetakan materi melalui garis melengkung, menggunakan warna-warna yang 75

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berbeda, dan menambahkan gambar-gambar yang berhubungan dengan materi gaya. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode mind map meningkatkan kreativitas siswa. Hal ini juga didukung pernyataan guru, “mereka suka menggambar jadi sangat terbantu” (wawancara guru mitra, 03 April 2014). Selain itu, ada juga siswa yang mengatakan, “senang karena bisa menggambar dan mewarnai” (wawancara siswa Ki, 03 April 2014). Siswa lain juga mengatakan, “seneng karena belajar dengan menggambar seperti refreshing” (wawancara siswa Jo, 03 April 2014). Berdasarkan wawancara tersebut menunjukkan bahwa penggunaan mind map dapat meningkatkan kreativitas siswa pada kelompok eksperimen. Selain hal-hal di atas, peneliti juga melakukan wawancara yang berkaitan dengan motivasi siswa dalam penggunaan metode mind map. Berdasarkan hasil analisis data penelitian, penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi siswa. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan mind pada mata pelajaran IPA dirasa membantu siswa dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada beberapa siswa menunjukkan adanya motivasi untuk menggunakan mind map kembali pada materi lain atau pada mata pelajaran lain. Ada siswa yang mengatakan, “kalau mau liburan, bikin mind map dulu, akan lebih mudah menyiapkannya” (wawancara siswa Jo, 03 April 2014). Ada juga siswa yang mengatakan, “jadi sering buat mind map sendiri di rumah atau di tempat les supaya mudah belajarnya” (wawancara siswa Be, 03 April 2014). Guru juga menunjukkan adanya motivasi untuk menggunakan mind map kembali pada mata pelajaran lain. Guru mengatakan, “rencananya akan menggunakan mind map pada mapel PKT” (wawancara guru mitra, 03 April 2014). Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan terhadap guru dan siswa menunjukkan bahwa ada motivasi untuk menggunakan mind map kembali karena dirasa cukup membantu dalam memahami materi pelajaran. Berdasarkan hasil observasi, wawancara terhadap guru, dan wawancara terhadap siswa, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA memberikan dampak perlakuan yang positif. Keaktifan siswa yang menggunakan mind map lebih meningkat dan timbulnya kreativitas yang 76

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membuat siswa tertarik dan semangat untuk belajar. Penggunaan metode mind map membantu siswa dalam memahami materi sehingga siswa juga termotivasi untuk menggunakan mind map pada materi lainnya. 4.3.3.4 Konsekuensi Lebih Lanjut Kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Kemampuan bidang matematika, sains, dan bahasa siswa Indonesia menduduki peringkat bawah yaitu peringkat 57 dari 65 negara dengan skor 371. Peringkat tersebut dikemukakan oleh PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2009. Hasil evaluasi internasional selanjutnya yang dilakukan oleh PISA pada tahun 2012 menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia semakin menurun dalam bidang matematika, sains, dan membaca yang menduduki peringkat 64 dari 65 negara partisipan tes tersebut, dengan rata-rata skor sains 382. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah lemahnya proses pembelajaran di kelas. Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya tersebut terwujud melalui program sertifikasi guru. Program sertifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru supaya menjadi guru yang semakin profesional dan memfasilitasi siswa dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Chang, dkk, 2014: 98). Pemerintah memberikan apresiasi yang lebih kepada guru melalui pemberian tunjangan untuk memotivasi guru dalam meningkatkan kinerjanya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), dapat disimpulkan bahwa kualitas proses sertifikasi secara keseluruhan tidak sebaik tujuan yang dimaksudkan sehingga hampir tidak ada bukti perbedaan kompetensi antara guru bersertifikat dan guru yang tidak bersertifikat atau dampaknya terhadap hasil belajar siswa (Chang, dkk, 2014: 184). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebijakan politik pemerintah Indonesia terkait program serifikasi guru yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia ternyata tidak efektif digunakan sebagai solusi inti permasalahan pendidikan di Indonesia. Program sertifikasi tersebut tidak tepat sasaran atau tujuan utamanya karena tidak secara langsung mempengaruhi metode 77

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembelajaran yang diciptakan oleh guru, namun hanya sebagai aksesoris semata. Hasil belajar siswa tetap rendah meski pemerintah sudah mengeluarkan dana yang banyak untuk upaya melakukan reformasi pendidikan di Indonesia. Untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, program yang diberikan harus secara langsung tertuju pada sasaran utama yang menjadi permasalahan pendidikan selama ini, yakni pembaharuan metode pembelajaran di dalam kelas. Penggunaan metode inovatif akan membantu mengatasi masalah rendahnya hasil belajar siswa. Salah satu metode inovatif yang diujicobakan peneliti adalah mind map. Penggunaan metode inovatif yang diujicobakan oleh peneliti, dalam hal ini mind map menunjukkan dampak besar terhadap peningkatan kompetensi dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi siswa kelas IV di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Penggunaan metode mind map yang dilakukan pada jumlah sampel kecil dengan kontrol yang penuh pada mata pelajaran IPA dapat mengatasi permasalahan esensial pendidikan di Indonesia. Apabila metode inovatif, dalam hal ini mind map digunakan pada proses pembelajaran di dalam kelas dalam lingkup yang lebih luas, khususnya pada mata pelajaran IPA maka akan membantu mengatasi masalah pendidikan di Indonesia yakni rendahnya hasil belajar siswa. Namun, metode inovatif mind map belum tentu efektif untuk diterapkan pada mata pelajaran lain. Maka perlu ada penelitian serupa lebih lanjut mengenai pengaruh penggunaan metode mind map terhadap mata pelajaran lain. 78

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 5.1.1 Penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. Berdasarkan uji selisih skor pretest dan posttest I pada kemampuan evaluasi diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen memperoleh skor yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen diperoleh hasil M = 1,0179, SD = 0,73, SE = 0,14, sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil M = 0,5333, SD = 0,88, SE = 0,16. Hasil uji Independent Samples T-test menunjukkan t(56) = -2,27 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,027 (atau p < 0,05), sehingga Hnull ditolak Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest I - pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi. Besar pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi menunjukkan efek besar dengan harga r = 0,81 atau 67%. 5.1.2 Penggunaan metode mind map pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan inferensi siswa kelas IV SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. Berdasarkan uji selisih skor pretest dan posttest I diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen memperoleh skor yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol pada kemampuan inferensi. Pada kelompok eksperimen diperoleh hasil M = 1,000, SD = 0,82, SE = 0,16, sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil M = 0,0167, SD = 0,68, SE = 0,12. Hasil uji Independent Samples T-test menunjukkan t(56) = 79

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI -4,941 dan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (atau p < 0,05), sehingga Hnull ditolak Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest I - pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi. Besar pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan inferensi menunjukkan efek besar dengan harga r = 0,77 atau 60%. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Pada penelitian ini materi yang yang dipilih terlalu sedikit, padahal waktu yang disediakan cukup banyak sehingga membuat siswa di kelompok kontrol merasa materi yang diajarkan diulang-ulang. Berbeda dengan kelas eksperimen, yang membutuhkan waktu lebih banyak karena mereka harus berfokus dalam pembuatan mind map. 5.2.2 Pengalokasian waktu penelitian yang sudah dijadwalkan ternyata tidak dapat terlaksana sesuai jadwal. Hal ini dikarenakan adanya halangan bencana alam meletusnya Gunung Kelud. Peneliti melakukan diskusi ulang dengan guru berkaitan dengan waktu penelitian yang mundur agar tidak mengganggu jadwal guru dalam penyampaian materi selanjutnya. 5.3 Saran 5.3.1 Pengalokasian waktu sebaiknya disesuaikan dengan banyaknya materi yang diajarkan. Selain itu beri waktu yang lebih banyak untuk siswa dalam latihan pembuatan mind map agar saat penelitian siswa sudah terbiasa menggunakan cara mencatat kreatif menggunakan mind map. 5.3.2 Dalam penyusunan jadwal penelitian dan pembuatan rencana pembelajaran perlu disiapkan secara matang dengan melakukan diskusi bersama guru mitra. Jika perlu, siapkan juga rencana cadangan sebagai antisipasi apabila ada hal-hal yang tidak terduga. 80

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR REFERENSI Ary, D., Jacobs, L.C., & Razavieh, A. (2007). Pengantar penelitian dalam pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Astika, I. K. U., Suma, L. K., & Suastra, I. W. (2013). Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap sikap ilmiah dan keterampilan berpikir kritis. Diakses pada tanggal 16 September 2013 dari: pasca.undiksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnal_ipa/article/view/851 Azwar, S. (2009). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Browne, M. N. & Keeley, S. M. (2012). Pemikiran kritis: panduan untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan kritis. Jakarta: Indeks Permata Puri Media. Buzan, T. (2008). Buku pintar mind map. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Chang, M. C., Shaeffer, S., Al-Samarrai, S., Ragatz, A. B., Ree, J. D., & Stevenson, R. (2014). Teacher reform in Indonesia: the role of politics and evidence in policy making. Washington DC: World Bank. Cohen, L., Manion & Marrison. (2007). Research menthod in education sixth edition. London: British Library. Cresswell, J. W. (2012). Research design : pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Darmodjo, H. & Kaligis, J. R. E. (1991). Pendidikan IPA II. Jakarta: Depdikbud. Facione, P. A. (1990). Critical thinking: a statement of expert consensus for purposes of educational assessment and instruction. Millbrae: California Academic Press. Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS third edition. London: Sage. Fisher, A. (2009). Berpikir kritis: sebuah pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga. Ghozali, I. (2006). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Hadi, S. (2004). Statistik. Yogyakarta: Andi Offset. Halim, S. (2010). Bahas tuntas 1001 soal IPA SD. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. 81

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Haryanto. (2007). Sains untuk Sekolah Dasar kelas IV. Jakarta: Penerbit Erlangga. Huda, M. (2013). Model-model pengajaran dan pembelajaran isu-isu metodis dan paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hergenhahn, B. & Olson, M. H. (2008). Theories of learning (teori belajar). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Imaduddin, M. C. & Utomo, U. H. N. (2012). Efektivitas metode mind mapping untuk meningkatkan prestasi belajar fisika pada siswa kelas VIII. Diakses pada tanggal 16 September 2013 dari: http://journal.uad.ac.id/index.php/HUMANITAS/article/view/245 Iskandar, S. M. (1996). Pendidikan ilmu pengetahuan alam. Jakarta: Depdikbud. Krathwohl, D.R. (2004). Methods of educational and social science research, an integrated approach (second edition). Illinois: Waveland Press. Lestari, M. S. C. (2011). Pengaruh penerapan metode inkuiri terhadap prestasi belajar dan berpikir kritis kategori kognitif pada mata pelajaran IPA SDK Ganjuran Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: PGSD Universitas Sanata Dharma. Masidjo. (1995). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. OECD. (2010). PISA 2009 Results: Executive Summary. PISA, OECD Publishing. OECD. (2013). PISA 2012 Results: What Students Know and Can Do – Student Performance in Mathematics, Reading and Science (Volume I). PISA, OECD Publishing. Priantini, D. A. M. M. O., Atmadja, N. B. W., & Marhaeni, A. A. I. N. (2013). Pengaruh metode mind mapping terhadap keterampilan berpikir kreatif dan prestasi belajar IPS. Diakses pada tanggal 16 September 2013 dari: pasca.undiksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnal_pendas/article/.../323 Priyatno, D. (2012). Belajar cepat olah data statistik dengan SPSS. Yogyakarta: Penerbit Andi. Sanjaya, W. (2006). Strategi pembelajaran, berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sastrika, I. A. K., Sadia, I. W., & Muderawan, I. W. (2013). Pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap pemahaman konsep kimia dan keterampilan berpikir kritis. Diakses pada tanggal 16 September 2013 dari: pasca.undiksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnal_ipa/article/.../584 82

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Schunk, D. H. (2012). Teori-teori pembelajaran: perspektif pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Setyosari, P. (2010). Metode penelitian pendidikan dan pengembangan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sugiyono. (2011). Metode penelitian kombinasi. Bandung: CV Alfabeta. Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta. Sukmadinata, N. S. (2008). Metode penelitian pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sumantri, M & Permana, J. (2001). Strategi belajar mengajar. Bandung: CV Maulana. Suyono & Hariyanto. (2011). Belajar dan pembelajaran: teori dan konsep dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Trianto. (2009). Mendesain model pembelajaran inovatif progresif. Jakarta: Kencana Media Prenada Group. Widoyoko, E. P. (2013). Evaluasi program pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 83

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 84

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.1 Instrumen Penelitian Kasus BERKEMAH Hari ini seluruh siswa kelas IV mengikuti kegiatan perkemahan di halaman sekolah. Andi mengayuh sepedanya menuju ke sekolah dengan penuh semangat. Andi menghentikan laju sepedanya dan memarkir sepeda di tempat parkir seperti biasa. Acara diawali dengan mendirikan tenda bagi masing-masing regu, sehingga membutuhkan banyak tongkat pramuka. Setiap regu mendapat tugas untuk mengambil air dari sumur dan membawanya ke lokasi perkemahan. Selain itu ada berbagai kegiatan lomba yang diawali dengan lomba tarik tambang antar regu. Selanjutnya semua regu berlomba untuk membuat parasut sederhana. Regu Andi kecewa karena parasut dengan bahan plastik yang sama dengan regu lainnya namun parasutnya jatuh ke tanah lebih awal. Acara dilanjutkan dengan kegiatan sosial membersihkan jalanan dan mencari paku menggunakan magnet yang dipersiapkan oleh sekolah. Kegiatan pada malam hari adalah mencari jejak dengan menggunakan kompas dan senter untuk menemukan buah kelapa. Sebagai kegiatan puncak perkemahan akan dilaksanakan perayaan api unggun, dan regu Andi mendapat tugas untuk mengambil kayu. Setelah kayu ditata melingkar, salah satu kakak pembina menyalakan korek api. Api unggun menyala dan semua siswa bergembira. 3. Berdasarkan cerita di atas, jawablah pertanyaan berikut ini : a) Lingkari jawaban yang tepat! Manakah kalimat-kalimat berikut ini yang benar dan salah? Berikan alasan untuk setiap jawaban yang kamu pilih! 1) Tidak ada gaya yang mempengaruhi udara disekitar parasut yang jatuh ke tanah. (Benar / Salah) Alasan : .................................................................................................................. ............................................................................................................. 85

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2) Ada gaya yang mempengaruhi kecepatan gerak benda ketika siswa mendorong gerobak. (Benar / Salah) Alasan : .................................................................................................................. .......................................................................................................... 3) Gaya dapat menghentikan benda yang bergerak. (Benar / Salah) Alasan : .................................................................................................................. .................................................................................................................. b) Lingkari jawaban untuk menunjukkan benar atau tidaknya cara memperlambat/menghentikan laju sepeda : 1) Dengan menarik rem sepeda. (Benar / Salah) 2) Dengan menahan kaki ke tanah. (Benar / Salah) 3) Dengan menahan pedal sepeda. (Benar / Salah) Manakah cara yang paling tepat dilakukan oleh Andi untuk memperlambat laju sepedanya? Berikan alasanmu! Jawab: ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ 4. Perhatikan gambar di samping! Dalam sebuah perlombaan, setiap regu membuat parasut dari bahan plastik yang sama. Regu Andi kecewa karena parasut regu mereka jatuh ke tanah lebih awal daripada regu lainnya. a) Sebutkan minimal 3 cara yang bisa dilakukan regu Andi supaya parasut mereka bisa terbang lebih lama di udara? Jawab: ....................................................................................................................... ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ 86

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b) Berdasarkan pendapat yang telah kamu berikan di atas : 1) Tunjukkan satu cara yang menurutmu paling tepat agar parasut bisa terbang lebih lama di udara? Berikan alasannya! Jawab: .................................................................................................................. .................................................................................................................. 2) Tunjukkan satu cara yang menurutmu paling kurang tepat agar parasut bisa terbang lebih lama di udara? Berikan alasannya! Jawab: .................................................................................................................. .................................................................................................................. c) Jika regu Andi menggunakan cara yang paling tepat sesuai dengan pilihanmu di atas, sebutkan minimal 2 keuntungan dan 2 kerugian yang mungkin terjadi terhadap parasut regu mereka! Jawab: ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ 87

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.2 Kunci Jawaban KUNCI JAWABAN 3. Berdasarkan cerita di atas, jawablah pertanyaan berikut ini : a) Pernyataan dan alasan : 1) Parasut sederhana yang terbang kemudian jatuh ke tanah tidak dipengaruhi gaya terhadap udara. Pernyataan ini salah karena pada parasut tersebut dipengaruhi gaya gesek terhadap udara sehingga parasut dapat terbang atau bertahan di udara lebih lama. 2) Siswa yang menarik dan mendorong gerobak menunjukkan adanya pengaruh gaya terhadap kecepatan gerak benda. Pernyataan ini benar karena pada aktivitas menarik dan mendorong gerobak, gerobak yang tadinya diam diberi gaya tarik dan dorong sehingga dapat bergerak. Hal ini dikarenakan adanya gaya tambahan yang membuat benda bergerak semakin cepat (kecepatan benda). 3) Gaya dapat menghentikan benda bergerak. Pernyataan ini benar, gaya dapat menghentikan benda bergerak pada saat pemberian gaya berlawanan dengan arah gerak benda. b) Pernyataan : 1) Benar 2) Benar 3) Salah Cara yang paling tepat adalah cara 1) dengan mengerem sepedanya, karena prinsip kerja rem menggunakan gaya tarik yang berlawanan arah dengan laju sepeda sehingga menghambat kecepatan gerak sepeda. 4. Jawaban : a) 3 cara yang dapat dilakukan Andi : - Memperluas permukaan parasut - Mengurangi panjang tali parasut - Mengurangi beban parasut 88

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI - Cara menerbangkan parasut dilempar atau dengan ketapel b) Cara yang paling tepat dilakukan adalah dengan memperluas permukaan parasut. Hal ini dikarenakan agar gaya gesek parasut terhadap udara lebih besar sehingga parasut dapat terbang lebih lama di udara. Hal yang paling kurang tepat dilakukan adalah cara menerbangkan parasut. Hal ini dikarenakan cara menerbangkan pada umumnya dilempar ke atas seperti biasa. Apabila menggunakan ketapel, parasut akan sulit membuka. Cara lain bisa dengan menjatuhkan dari tempat yang lebih tinggi, namun dalam konteks cerita ini tidak adil. c) Apabila Andi melakukan sesuai dengan cara yang paling tepat (memperluas permukaan parasut), maka dampak yang akan terjadi : Keuntungan : - Kecepatan jatuh ke tanah menjadi lebih lambat - Waktu yang dibutuhkan untuk jatuh ke tanah lebih lama - Gaya gesek terhadap udara lebih besar - Juara dalam perlombaan Kerugian : - Beban parasut menjadi lebih berat - Kesulitan saat akan menerbangkan parasut - Resiko saat terbang lebih tinggi (menyangkut di pohon atau sobek) 89

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian Instrumen Penelitian No. Soal 3. Variabel Evaluasi Unsur-unsur Menilai benar tidaknya suatu argumen. Menilai apakah argumen didasarkan pada asumsi yang benar. Menilai benar tidaknya alternatifalternatif pemecahan masalah. Menilai apakah suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu. 4. Inferensi Mengemukakan alternatifalternatif untuk memecahkan masalah. Penskoran Jika dapat menyebutkan 3 argumen dengan benar Jika dapat menyebutkan 2 argumen dengan benar Jika dapat menyebutkan 1 argumen dengan benar Jika tidak dapat menyebutkan argumen dengan benar Jika dapat menyebutkan 3 asumsi dengan benar Jika dapat menyebutkan 2 asumsi dengan benar Jika dapat menyebutkan 1 asumsi dengan benar Jika tidak dapat menyebutkan asumsi dengan benar Jika dapat menyebutkan 3 kategori alternatif pemecahan masalah dengan benar Jika dapat menyebutkan 2 kategori alternatif pemecahan masalah dengan benar Jika dapat menyebutkan 1 kategori alternatif pemecahan masalah dengan benar Jika tidak dapat menyebutkan kategori alternatif pemecahan masalah dengan benar Jika dapat menyebutkan cara yang paling efektif dengan tepat dan menjelaskan suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu dengan benar Jika dapat menyebutkan cara yang paling efektif dengan tepat tetapi menjelaskan suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu dengan kurang benar Jika dapat menyebutkan cara yang paling efektif dengan tepat atau hanya menjelaskan suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu dengan benar Jika tidak dapat menyebutkan cara yang paling efektif dengan tepat dan tidak menjelaskan suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu dengan benar Jika dapat mengemukakan 3 alternatif pemecahan masalah dengan benar Jika dapat mengemukakan 2 alternatif pemecahan masalah dengan benar Jika dapat mengemukakan 1 alternatif Skor 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 90

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No. Soal Variabel Unsur-unsur Tepat menentukan pemecahan masalah mana yang paling kuat untuk diterima dan mana yang lemah untuk ditolak. Memperkirakan konsekuensikonsekuensi yang mungkin muncul dari suatu pilihan. Memperkirakan pro dan kontra dari suatu pilihan. Penskoran pemecahan masalah dengan benar Jika tidak dapat mengemukakan alternatif pemecahan masalah dengan benar Jika dapat menetukan solusi yang paling kuat dengan alasan yang tepat dan solusi yang paling lemah beserta alasannya yang tepat Jika dapat menetukan solusi yang paling kuat dengan alasan yang tepat atau hanya menentukan solusi yang paling lemah beserta alasan yang tepat Jika hanya dapat menentukan solusi yang paling kuat dan solusi yang paling lemah saja tanpa diberi alasan Jika hanya dapat menentukan solusi yang paling kuat atau solusi yang paling lemah dengan benar atau tidak ada jawaban benar Jika dapat mengemukakan 3 perkiraan dampak yang akan dialami dengan benar Jika dapat mengemukakan 2 perkiraan dampak yang akan dialami dengan benar Jika dapat mengemukakan 1 perkiraan dampak yang akan dialami dengan benar Jika tidak dapat mengemukakan perkiraan dampak yang akan dialami dengan benar Jika dapat menjawab 2 pro dan 2 kontra dengan benar Jika dapat menjawab 2 pro dan 1 kontra atau sebaliknya dengan benar Jika dapat menjawab 2 pro atau 2 kontra atau 1 pro dan 1 kontra dengan benar Jika hanya menjawab 1 pro atau 1 kontra dengan benar atau tidak ada jawaban benar Skor 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 91

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.4 Tabulasi Skor Pengujian Validitas EVALUASI INFERENSI NO TOTAL A B C D RERATA A B C D RERATA 1 2 1 3 1 1,75 1 1 1 1 1 2,75 2 3 1 3 1 2 1 1 1 1 1 3 3 2 1 3 1 1,75 1 1 1 1 1 2,75 4 2 1 2 1 1,5 1 1 1 1 1 2,5 5 4 2 3 4 3,25 1 1 2 1 1,25 4,5 6 2 1 3 1 1,75 1 1 2 1 1,25 3 7 4 1 2 2 2,25 1 1 1 1 1 3,25 8 4 2 3 2 2,75 3 1 2 1 1,75 4,5 9 4 2 4 1 2,75 2 1 1 1 1,25 4 10 2 2 2 4 2,5 1 1 1 1 1 3,5 11 2 2 2 4 2,5 1 2 1 1 1,25 3,75 12 3 2 4 4 3,25 3 1 3 2 2,25 5,5 13 3 2 2 1 2 1 1 1 1 1 3 14 3 1 3 4 2,75 1 1 1 1 1 3,75 15 3 3 3 1 2,5 2 1 1 1 1,25 3,75 16 3 2 1 1 1,75 1 1 1 1 1 2,75 17 4 3 4 4 3,75 2 1 2 1 1,5 5,25 18 4 2 3 1 2,5 1 1 1 1 1 3,5 19 3 3 2 1 2,25 1 1 1 1 1 3,25 20 3 3 3 1 2,5 1 1 1 1 1 3,5 21 4 1 4 4 3,25 1 1 1 1 1 4,25 22 4 4 4 4 4 4 1 3 2 2,5 6,5 23 3 1 2 2 2 2 1 3 2 2 4 24 4 4 3 1 3 2 1 2 1 1,5 4,5 25 4 1 4 1 2,5 2 1 2 1 1,5 4 26 4 3 4 4 3,75 2 1 2 1 1,5 5,25 27 4 4 4 4 4 3 1 3 2 2,25 6,25 28 3 3 4 4 3,5 4 4 2 1 2,75 6,25 29 4 4 4 4 4 4 3 2 1 2,5 6,5 30 3 1 4 2 2,5 1 1 1 1 1 3,5 31 4 1 2 4 2,75 3 1 3 2 2,25 5 32 3 3 1 4 2,75 1 1 1 1 1 3,75 33 3 1 1 2 1,75 3 1 1 1 1,5 3,25 34 2 2 4 2 2,5 2 1 1 1 1,25 3,75 35 2 1 2 1 1,5 3 4 3 2 3 4,5 36 3 1 1 1 1,5 1 1 1 1 1 2,5 37 2 1 1 1 1,25 2 1 2 1 1,5 2,75 92

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 4 2 2 3 2,75 2 1 2 1 1,5 4,25 39 4 1 2 2 2,25 1 1 1 1 1 3,25 40 4 1 3 2 2,5 1 1 1 1 1 3,5 41 3 2 1 1 1,75 3 1 2 1 1,75 3,5 93

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.5 Uji Validitas Instrumen Penelitian Correlations TOTAL TOTAL Pearson Correlation EVALUASI 1 Sig. (2-tailed) N EVALUASI Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N INFERENSI Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N ** ,882 INFERENSI ** ,783 ,000 ,000 41 41 41 ** 1 ,882 ,000 ** ,399 ,010 41 41 41 ** ** 1 ,783 ,399 ,000 ,010 41 41 41 94

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.6 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian Case Processing Summary N Cases Valid Excluded a Total % 41 100,0 0 ,0 41 100,0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,554 2 95

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.7 Resume Expert Judgement Rubrik Penilaian Instrumen No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Komponen Penilaian Expert Judgement Dosen Dosen Dosen Guru I II III SD Kesesuaian antara SK, KD, 4 dan indikator Kualitas perilaku yang dituntut dalam indikator mencerminkan keutuhan 4 perkembangan pribadi siswa. Kesesuaian indikator pada 4 variabel 1 dengan soal item soal yang diberikan. Kesesuaian indikator pada variabel 2 dengan soal item 4 soal yang diberikan. Kesesuaian indikator pada 4 variabel 3 dengan soal item soal yang diberikan. Kesesuaian indikator pada variabel 4 dengan soal item 4 soal yang diberikan. Kesesuaian indikator pada variabel 5 dengan soal item 4 soal yang diberikan. Kesesuaian indikator pada variabel 6 dengan soal item 4 soal yang diberikan. Kejelasan perintah 3 pengerjaan soal. Kualitas pedoman penilaian. 4 Bentuk muka instrumen tes 4 yang disajikan. Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis 3 baku. Total Skor 3 4 4 Rerata Skor 3,75 3,75 3 4 4 3,5 3 4 3 3,5 3 3 4 3,75 3 4 4 3,75 3 4 4 2,75 2 2 3 3,5 2 4 4 2 3 3 3 3 3 3 3 4 2,75 3,25 3,5 2,75 2 3 3 40,5 96

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Rentang skor No Bobot Skor terbobot 1 Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan 37-48 2 25-36 3 Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan dengan revisi Keseluruhan instrumen kurang layak digunakan 4 Keseluruhan instrumen tidak layak digunakan 1-12 13-24 Komentar Expert Judgement : 1. Bahasa lebih disederhanakan. 2. Perhatikan penggunaan EYD, tata bahasa, dll. 3. Soal a dan b kurang jelas. 4. Jangan hanya satu soal. 5. Dibuat catatan. 6. Gambar sudah menarik. 7. Soal sudah sesuai dengan indikator yang akan dicapai. 97

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.1 Silabus Pembelajaran Kelompok Eksperimen 98

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.2 Silabus Pembelajaran Kelompok Kontrol 103

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 108

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 118

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.5 Lembar Kerja Siswa Kelompok Eksperimen LEMBAR KERJA SISWA Satuan Pendidikan Pertemuan ke Kelas / Semester Mata Pelajaran Unit Alokasi Waktu : SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta :2 : IVA3 (Eksperimen) / 2 : IPA : Gaya : 2 x 40 menit I. Indikator - Menyebutkan pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam kehidupan seharihari - Mengidentifikasi pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam kehidupan sehari-hari - Menilai pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam kehidupan sehari-hari - Menyimpulkan pengaruh gaya - Menjelaskan pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam kehidupan seharihari - Menghargai pendapat teman II. Petunjuk - Lakukan kegiatan-kegiatan belajar berikut! - Isilah setiap pertanyaan dengan tulisan yang rapi - Kumpulkan LKS dalam keadaan bersih III. Percobaan Tujuan : Menjelaskan Pengaruh Gaya Langkah : 1. Amati percobaan yang dilakukan oleh gurumu! 2. Tuliskan hasil pengamatanmu pada tabel di bawah ini! A. Kegiatan Belajar 1 Berilah tanda centang () pada tabel di bawah ini! No Kegiatan / Benda Perubahan Arah Kecepatan 1 Berjalan kaki 2 Mendorong gerobak 3 Menarik gerobak 4 Memikul ember 126

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 6 7 8 9 10 Menendang bola Tarik tambang Rem sepeda Magnet Kompas Parasut yang jatuh ke tanah B. Kegiatan Belajar 2 Berdasarkan hasil pengamatan, diskusikanlah beberapa pertanyaan berikut ini! 1. Apakah gaya mempengaruhi gerak benda? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 2. Bagaimana pengaruh gaya terhadap gerak benda? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 3. Adakah pengaruh gaya dalam kompas? Bagaimana pengaruhnya? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 4. Adakah pengaruh gaya dalam kegiatan mendorong gerobak? Bagaimana pengaruhnya? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 5. Adakah pengaruh gaya ketika mengerem sepeda? Bagaimana pengaruhnya? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 6. Adakah pengaruh gaya pada parasut yang jatuh ke tanah? Bagaimana pengaruhnya? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 7. Berikan 3 cara supaya parasut bisa bertahan lama? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 127

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Jelaskan langkah-langkah mengambil air menggunakan ember yang dilakukan oleh temanmu? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 9. Mengapa ada orang yang menggunakan tongkat dan ember ketika membawa air? Jelaskan alasanmu! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 10. Apakah kamu setuju jika temanmu menyarankanmu untuk menjadi pemain terdepan dalam regu lomba tarik tambang? Jelaskan alasanmu! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… C. Kegiatan 3 Apa kesimpulanmu dari hasil pengamatan tersebut? Jelaskan! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 128

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR KERJA SISWA Satuan Pendidikan Pertemuan ke Kelas / Semester Mata Pelajaran Unit Alokasi Waktu : SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta :3 : IVA3 (Eksperimen) / 2 : IPA : Gaya : 2 x 40 menit I. Indikator - Menyebutkan jenis-jenis gaya berdasarkan aktivitas dalam kehidupan seharihari. - Menggolongkan jenis-jenis gaya berdasarkan aktivitas dalam kehidupan sehari. - Menilai berbagai jenis gaya berdasarkan aktivitas dalam kehidupan seharihari. - Menyimpulkan berbagai jenis gaya - Menjelaskan jenis-jenis gaya berdasarkan aktivitas dalam kehidupan seharihari. - Menghargai pendapat teman II. Petunjuk - Isilah setiap pertanyaan dengan tulisan yang rapi - Kumpulkan LKS dalam keadaan bersih III. Tujuan : Mengetahui jenis-jenis gaya A. Kegiatan belajar 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Aktivitas / Benda Kompas Magnet Mengangkat ember Parasut yang jatuh ke tanah Mengangkat tongkat Berjalan kaki Tarik tambang Mendorong meja Gaya B. Berilah tanda silang pada piliham jawaban yang benar! 1. Tarikan dan dorongan merupakan macam dari .... a. Gaya c. Kerja 129

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. b. Tenaga d. Daya Setiap benda yang ada di permukaan bumi akan ditarik oleh bumi. Gaya tarik bumi disebut dengan gaya ... a. Listrik c. Magnet b. Apung d. Gravitasi Gaya gesek yang dialami benda oleh lantai, besar. Agar benda tersebut bergerak diperlukan gaya yang .... a. Lebih besar c. Lebih kecil b. Sama d. Seimbang Gaya yang terjadi karena bersentuhannya dua permukaan benda disebut gaya .... a. Otot c. Tarik b. Gesek d. Magnet Jatuhnya buah dengan sendirinya dari atas pohon disebabkan karena adanya gaya. a. Gravitasi bumi c. Otot b. Gesekan d. Listrik Rem yang terdapat pada sepeda menggunakan prinsip kerja dari gaya .... a. Gesekan c. Dorongan b. Gravitasi d. Magnet Gerakan kelereng yang menggelinding di lantai datar, makin lama makin lambat, dan akhirnya berhenti. Hal ini terjadi akibat bekerjanya gaya .... a. Otot c. Magnet b. Gravitasi d. Gesek Untuk mengangkat air yang terikat pada tali yang ada di sumur, maka diperlukan gaya .... a. Tarik c. Magnet b. Dorong d. Gesekan II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat 1. Jika besar gaya tidak mencukupi untuk menggerakan benda, benda akan tetap ................... 2. Dalam lomba tarik tambang, peserta melakukan gaya ......................... 3. Delman dapat bergerak karena adanya gaya ................................ 4. Gaya yang ditimbulkan oleh tarikan atau dorongan dari magnet disebut ....................... 5. Beberapa faktor yang mempengaruhi gerak suatu benda adalah .................. dan ................ 6. Selain menyebabkan benda bergerak, gaya yang bekerja pada benda juga dapat mengubah bentuk benda. Salah satu contohnya yaitu …….............. 130

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Kegiatan 3 Apa yang dapat kamu simpulkan dari materi di atas? Jelaskan! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 131

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR KERJA SISWA Satuan Pendidikan Pertemuan ke Kelas / Semester Mata Pelajaran Unit Alokasi Waktu Nama : : SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta :4 : IVA3 (Eksperimen) / 2 : IPA : Gaya : 2 x 40 menit No : Kelas : I. Berilah tanda silang pada piliham jawaban yang benar! 1. Tarikan dan dorongan merupakan macam dari .... a. Gaya c. Kerja b. Tenaga d. Daya 2. Setiap benda yang ada di permukaan bumi akan ditarik oleh bumi. Gaya tarik bumi disebut dengan gaya ... a. Listrik c. Magnet b. Apung d. Gravitasi 3. Gaya gesk yang dialami benda oleh lantai, besar. Agar benda tersebut bergerak diperlukan gaya yang .... a. Lebih besar c. Lebih kecil b. Sama d. Seimbang 4. Gaya yang terjadi karena bersentuhannya dua permukaan benda disebut gaya .... a. Otot c. Tarik b. Gesek d. Magnet 5. Jatuhnya buah dengan sendirinya dari atas pohon disebabkan karena adanya gaya .... a. Gravitasi bumi c. Otot b. Gesekan d. Listrik 6. Rem yang terdapat pada sepeda menggunakan prinsip kerja dari gaya .... a. Gesekan c. Dorongan b. Gravitasi d. Magnet 7. Gerakan kelereng yang menggelinding di lantai datar, makin lama makin lambat, dan akhirnya berhenti. Hal ini terjadi akibat bekerjanya gaya .... a. Otot c. Magnet b. Gravitasi d. Gesek 8. Untuk mengangkat air yang terikat pada tali yang ada di sumur, maka diperlukan gaya .... a. Tarik c. Magnet b. Dorong d. Gesekan 132

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat! 1. Jika besar gaya tidak mencukupi untuk menggerakan benda, benda akan tetap ................... 2. Dalam lomba tarik tambang, peserta melakukan gaya ......................... 3. Delman dapat bergerak karena adanya gaya ................................ 4. Gaya yang ditimbulkan oleh tarikan atau dorongan dari magnet disebut ................. 5. Beberapa faktor yang mempengaruhi gerak suatu benda adalah .................. dan ................ 6. Selain menyebabkan benda bergerak, gaya yang bekerja pada benda juga dapat mengubah bentuk benda. Salah satu contohnya yaitu........................................ 133

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.6 Lembar Kerja Siswa Kelompok Kontrol LEMBAR KERJA SISWA Satuan Pendidikan Pertemuan ke Kelas / Semester Mata Pelajaran Unit Alokasi Waktu I. - : SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta :2 : IVA1 (Kontrol) / 2 : IPA : Gaya : 2 x 40 menit - Indikator Menyebutkan pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam kehidupan sehari-hari Mengidentifikasi pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam kehidupan sehari-hari Menilai pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam kehidupan sehari-hari Menyimpulkan pengaruh gaya Menjelaskan pengaruh gaya terhadap gerak benda dalam kehidupan seharihari Menghargai pendapat teman II. - Petunjuk Lakukan kegiatan-kegiatan belajar berikut! Isilah setiap pertanyaan dengan tulisan yang rapi Kumpulkan LKS dalam keadaan bersih - III. Percobaan Tujuan : Menjelaskan Pengaruh Gaya A. Kegiatan Belajar 1 Berilah tanda centang (√ ) pada tabel di bawah ini! No Kegiatan / Benda Perubahan Arah Kecepatan 1 Berjalan kaki 2 Mendorong gerobak 3 Menarik gerobak 4 Memikul ember 5 Menendang bola 6 Tarik tambang 134

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 8 9 10 Rem sepeda Magnet Kompas Parasut yang jatuh ke tanah B. Kegiatan Belajar 2 Diskusikanlah beberapa pertanyaan berikut ini! 1. Apakah gaya mempengaruhi gerak benda? ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 2. Bagaimana pengaruh gaya terhadap gerak benda? ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 3. Adakah pengaruh gaya dalam kompas? Bagaimana pengaruhnya? ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 4. Adakah pengaruh gaya dalam kegiatan mendorong gerobak? Bagaimana pengaruhnya? ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 5. Adakah pengaruh gaya ketika mengerem sepeda? Bagaimana pengaruhnya? ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 6. Adakah pengaruh gaya pada parasut yang jatuh ke tanah? Bagaimana pengaruhnya? ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 7. Berikan 3 cara supaya parasut bisa bertahan lama? ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 135

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Jelaskan langkah-langkah mengambil air menggunakan ember yang dilakukan oleh temanmu? ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 9. Mengapa ada orang yang menggunakan tongkat dan ember ketika membawa air? Jelaskan alasanmu! ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 10.Apakah kamu setuju jika temanmu menyarankanmu untuk menjadi pemain terdepan dalam regu lomba tarik tambang? Jelaskan alasanmu! ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… C. Kegiatan 3 Apa kesimpulanmu dari materi di atas? Jelaskan! ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… 136

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR KERJA SISWA Satuan Pendidikan Pertemuan ke Kelas / Semester Mata Pelajaran Unit Alokasi Waktu : SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta :3 : IVA3 (Kontrol) / 2 : IPA : Gaya : 2 x 40 menit 1. Indikator - Menyebutkan jenis-jenis gaya berdasarkan aktivitas dalam kehidupan seharihari. - Menggolongkan jenis-jenis gaya berdasarkan aktivitas dalam kehidupan sehari. - Menilai berbagai jenis gaya berdasarkan aktivitas dalam kehidupan seharihari. - Menyimpulkan berbagai jenis gaya - Menjelaskan jenis-jenis gaya berdasarkan aktivitas dalam kehidupan seharihari. - Menghargai pendapat teman 2. Petunjuk - Isilah setiap pertanyaan dengan tulisan yang rapi - Kumpulkan LKS dalam keadaan bersih 3. Tujuan : Mengetahui jenis-jenis gaya B. Kegiatan belajar 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Aktivitas / Benda Kompas Magnet Mengangkat ember Parasut yang jatuh ke tanah Mengangkat tongkat Berjalan kaki Tarik tambang Mendorong meja Gaya B. Berilah tanda silang pada piliham jawaban yang benar! 1. Tarikan dan dorongan merupakan macam dari .... a. Gaya c. Kerja 137

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. b. Tenaga d. Daya Setiap benda yang ada di permukaan bumi akan ditarik oleh bumi. Gaya tarik bumi disebut dengan gaya ... a. Listrik c. Magnet b. Apung d. Gravitasi Gaya gesek yang dialami benda oleh lantai, besar. Agar benda tersebut bergerak diperlukan gaya yang .... a. Lebih besar c. Lebih kecil b. Sama d. Seimbang Gaya yang terjadi karena bersentuhannya dua permukaan benda disebut gaya .... a. Otot c. Tarik b. Gesek d. Magnet Jatuhnya buah dengan sendirinya dari atas pohon disebabkan karena adanya gaya. a. Gravitasi bumi c. Otot b. Gesekan d. Listrik Rem yang terdapat pada sepeda menggunakan prinsip kerja dari gaya .... a. Gesekan c. Dorongan b. Gravitasi d. Magnet Gerakan kelereng yang menggelinding di lantai datar, makin lama makin lambat, dan akhirnya berhenti. Hal ini terjadi akibat bekerjanya gaya .... a. Otot c. Magnet b. Gravitasi d. Gesek Untuk mengangkat air yang terikat pada tali yang ada di sumur, maka diperlukan gaya .... a. Tarik c. Magnet b. Dorong d. Gesekan II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat 1. Jika besar gaya tidak mencukupi untuk menggerakan benda, benda akan tetap ................... 2. Dalam lomba tarik tambang, peserta melakukan gaya ......................... 3. Delman dapat bergerak karena adanya gaya ................................ 4. Gaya yang ditimbulkan oleh tarikan atau dorongan dari magnet disebut ....................... 5. Beberapa faktor yang mempengaruhi gerak suatu benda adalah .................. dan ................ 6. Selain menyebabkan benda bergerak, gaya yang bekerja pada benda juga dapat mengubah bentuk benda. Salah satu contohnya yaitu …….............. 138

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Kegiatan 3 Apa yang dapat kamu simpulkan dari materi di atas? Jelaskan! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 139

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR KERJA SISWA Satuan Pendidikan Pertemuan ke Kelas / Semester Mata Pelajaran Unit Alokasi Waktu Nama : : SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta :4 : IVA1 ( Kontrol ) / 2 : IPA : Gaya : 2 x 40 menit No : Kelas : I. Berilah tanda silang pada piliham jawaban yang benar! 1. Tarikan dan dorongan merupakan macam dari .... a. Gaya c. Kerja b. Tenaga d. Daya 2. Setiap benda yang ada di permukaan bumi akan ditarik oleh bumi. Gaya tarik bumi disebut dengan gaya ... a. Listrik c. Magnet b. Apung d. Gravitasi 3. Gaya gesk yang dialami benda oleh lantai, besar. Agar benda tersebut bergerak diperlukan gaya yang .... a. Lebih besar c. Lebih kecil b. Sama d. Seimbang 4. Turun naiknya kapal selam dalam air diatur dengan cara mengatur besarnya .... a. Kecepatan kapal c. Rongga kapal b. Posisi kapal d. Muatan kapal 5. Gaya yang dilakukan orang pada gambar ini adalah .... a. Dorongan b. Tarikan c. Tolakan d. Tenaga 6. Yang termasuk dorongan pada kegiatan berikut adalah .... a. Meniup balon c. Menggendong tas b. Membuka laci d. Membuka jaket 7. Gaya dapat mengubah arah benda contohnya adalah .... a. Memukul kok raket c. Memukul bola tenis ke dinding b. Melempar bola ke atas d. Menarik kursi 8. Gaya yang terjadi karena bersentuhannya dua permukaan benda disebut gaya .... a. Otot c. Tarik b. Gesek d. Magnet 140

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9. Jatuhnya buah dengan sendirinya dari atas pohon disebabkan karena adanya gaya .... a. Gravitasi bumi c. Otot b. Gesekan d. Listrik 10. Berikut ini merupakan faktor yang tidak memengaruhi gerak suatu benda adalah .... a. Gravitasi bumi c. Suhu b. Tarikan d. Dorongan 11. Gaya yang bekerja pada sebuah benda selain memengaruhi gerak benda juga mengubah .... a. Bentuk benda c. Isi benda b. Jarak benda d. Warna benda 12. Batu yang dipukul dengan palu besi akan pecah sebab .... a. Besi lebih keras dari batu b. Batu dalam keadaan diam c. Gaya dorong sangat kuat d. Orang yang memukul kuat 13. Rem yang terdapat pada sepeda menggunakan prinsip kerja dari gaya .... a. Gesekan c. Dorongan b. Gravitasi d. Magnet 14. Gerakan kelereng yang menggelinding di lantai datar, makin lama makin lambat, dan akhirnya berhenti. Hal ini terjadi akibat bekerjanya gaya .... a. Otot c. Magnet b. Gravitasi d. Gesek 15. Untuk mengangkat air yang terikat pada tali yang ada di sumur, maka diperlukan gaya .... a. Tarik c. Magnet b. Dorong d. Gesekan II. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat Gaya disebut juga dengan ............................. dan ............................... Gaya dapat mengubah .......................benda dan .........................benda Alat untuk mengukur gaya disebut ..................... Apabila kita melempar bola ke atas maka bola tersebut akan kembali ke bawah. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh gaya .... Jika besar gaya tidak mencukupi untuk menggerakan benda, benda akan tetap ................... Perahu dapat mengambang di air karena ada gaya .............................. air Bola yang menggelinding lama-kelamaan akan berhenti karena ada gaya .............. Dalam lomba tarik tambang, peserta melakukan gaya ......................... Delman dapat bergerak karena adanya gaya ................................ 141

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10. Gaya yang ditimbulkan oleh tarikan atau dorongan dari magnet disebut................ 11. Beberapa faktor yang mempengaruhi gerak suatu benda adalah .................. dan ................ 12. Selain menyebabkan benda bergerak, gaya yang bekerja pada benda juga dapat mengubah bentuk benda. Salah satu contohnya yaitu ...................................... 142

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.7 Rekapitulasi Nilai Kemampuan Evaluasi Kelompok Eksperimen Pretest No Res I II III 1 4 2 4 2 4 3 3 4 4 Posttest I IV Ratarata I II III IV Ratarata 3 3,25 4 2 4 4 2 1 2,50 4 4 3 2 4 3 3,25 4 3 1 1 1 1 1,00 4 5 4 2 4 2 3,00 6 3 1 3 3 7 2 1 3 8 4 1 9 1 2 10 2 11 Posttest II Selisih Skor I II III IV Ratarata 3,50 0,25 4 2 4 4 3,50 1 3,00 0,50 3 1 3 2 2,25 4 2 3,25 0,00 4 2 4 2 3,00 3 4 4 3,75 2,75 4 2 4 4 3,50 4 3 4 4 3,75 0,75 4 3 4 3 3,50 2,50 4 3 3 3 3,25 0,75 4 3 3 2 3,00 2 2,00 4 1 4 4 3,25 1,25 4 1 2 1 2,00 3 1 2,25 3 3 4 4 3,50 1,25 4 1 4 2 2,75 1 1 1,25 4 3 4 3 3,50 2,25 4 1 2 2 2,25 1 3 3 2,25 3 3 4 4 3,50 1,25 4 1 4 3 3,00 4 1 3 2 2,50 4 1 4 4 3,25 0,75 4 1 3 4 3,00 12 3 1 4 4 3,00 4 2 4 4 3,50 0,50 3 2 4 4 3,25 13 3 1 3 1 2,00 4 1 3 4 3,00 1,00 4 1 3 4 3,00 14 3 2 3 3 2,75 4 2 4 2 3,00 0,25 3 2 4 2 2,75 15 3 1 3 3 2,50 3 1 4 2 2,50 0,00 2 1 4 4 2,75 16 4 2 4 4 3,50 4 4 4 4 4,00 0,50 3 3 4 4 3,50 17 2 1 3 1 1,75 4 2 4 4 3,50 1,75 4 1 3 2 2,50 18 4 3 4 4 3,75 4 4 4 3 3,75 0,00 4 2 4 3 3,25 19 4 1 2 2 2,25 3 3 3 3 3,00 0,75 3 1 3 3 2,50 20 4 1 3 2 2,50 4 3 3 3 3,25 0,75 3 2 4 4 3,25 21 3 1 3 2 2,25 3 1 4 4 3,00 0,75 4 2 3 3 3,00 22 3 1 3 2 2,25 3 3 4 4 3,50 1,25 3 1 3 2 2,25 23 4 1 4 2 2,75 4 3 4 4 3,75 1,00 4 1 3 3 2,75 24 4 1 4 1 2,50 4 2 4 4 3,50 1,00 4 1 3 3 2,75 25 3 1 1 1 1,50 4 4 4 4 4,00 2,50 4 1 4 2 2,75 26 3 1 2 2 2,00 4 3 4 2 3,25 1,25 4 3 4 4 3,75 27 4 2 1 1 2,00 4 4 4 4 4,00 2,00 4 1 2 2 2,25 28 3 1 3 3 2,50 4 4 4 4 4,00 1,50 4 3 2 4 3,25 143

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.8 Rekapitulasi Nilai Kemampuan Evaluasi Kelompok Kontrol Pretest No Res I II III 1 3 4 2 4 3 Posttest I IV Ratarata I II III 4 3 3,50 3 2 1 3 2 2,50 4 2 2 2 2 2,00 4 4 2 3 1 5 3 2 4 6 2 1 2 7 3 2 8 1 9 Posttest II IV Ratarata Selisih Skor I II III IV Ratarata 4 2 2,75 -0,75 4 1 4 2 2,75 1 4 1 2,50 0,00 3 4 1 2 2,50 3 2 2 1 2,00 0,00 4 1 3 2 2,50 2,50 4 2 3 4 3,25 0,75 4 1 2 1 2,00 3 3,00 3 1 4 4 3,00 0,00 3 1 3 2 2,25 1 1,50 3 2 2 2 2,25 0,75 3 3 2 1 2,25 4 2 2,75 2 2 3 2 2,25 -0,50 2 1 3 3 2,25 1 2 1 1,25 3 2 4 4 3,25 2,00 3 2 4 3 3,00 3 2 2 1 2,00 4 2 3 1 2,50 0,50 1 1 2 2 1,50 10 2 2 3 2 2,25 4 3 4 3 3,50 1,25 3 1 2 2 2,00 11 2 1 2 1 1,50 4 1 3 2 2,50 1,00 3 1 3 2 2,25 12 4 4 4 2 3,50 4 3 2 2 2,75 -0,75 2 1 2 2 1,75 13 2 2 3 2 2,25 2 2 2 1 1,75 -0,50 4 1 4 2 2,75 14 3 1 3 3 2,50 4 3 3 4 3,50 1,00 4 1 3 4 3,00 15 3 1 3 4 2,75 3 2 4 4 3,25 0,50 4 2 3 4 3,25 16 3 1 3 3 2,50 2 3 3 4 3,00 0,50 4 2 3 3 3,00 17 2 1 4 3 2,50 4 4 3 2 3,25 0,75 4 3 3 3 3,25 18 3 2 2 2 2,25 3 3 4 4 3,50 1,25 3 1 3 4 2,75 19 3 1 3 2 2,25 4 2 3 4 3,25 1,00 3 1 3 2 2,25 20 2 1 1 1 1,25 2 2 3 1 2,00 0,75 4 1 3 2 2,50 21 3 1 3 2 2,25 4 1 4 2 2,75 0,50 4 1 3 2 2,50 22 1 1 1 1 1,00 4 2 3 3 3,00 2,00 2 1 3 2 2,00 23 2 1 2 3 2,00 2 2 2 2 2,00 0,00 3 2 2 1 2,00 24 4 2 3 2 2,75 4 3 4 4 3,75 1,00 2 1 3 3 2,25 25 3 2 4 4 3,25 3 3 3 3 3,00 -0,25 4 3 3 2 3,00 26 3 1 2 1 1,75 3 2 3 3 2,75 1,00 4 1 3 2 2,50 27 1 1 1 1 1,00 4 4 4 4 4,00 3,00 4 3 4 2 3,25 28 3 2 4 3 3,00 3 1 2 2 2,00 -1,00 4 2 4 2 3,00 29 3 1 3 4 2,75 4 3 3 2 3,00 0,25 4 2 3 3 3,00 30 4 2 3 4 3,25 4 2 3 4 3,25 0,00 4 1 2 2 2,25 144

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.9 Rekapitulasi Nilai Kemampuan Inferensi Kelompok Eksperimen Pretest No Res I II III 1 3 3 2 3 3 Posttest I IV Ratarata I II III 3 3 3,00 2 1 3 3 3 3,00 4 2 1 1 1 1,25 4 2 2 2 1 5 2 2 1 6 4 3 7 3 3 8 3 9 Posttest II IV Ratarata Selisih Skor I II III IV Ratarata 4 4 2,75 -0,25 4 1 4 4 3,25 4 4 4 4,00 1,00 4 4 3 4 3,75 1 1 4 3 2,25 1,00 1 1 1 1 1,00 1,75 4 3 3 3 3,25 1,50 1 1 1 2 1,25 1 1,50 4 3 3 3 3,25 1,75 4 4 3 4 3,75 3 3 3,25 4 4 4 3 3,75 0,50 3 2 1 1 1,75 3 2 2,75 4 4 3 2 3,25 0,50 1 1 1 1 1,00 1 1 1 1,50 4 4 3 2 3,25 1,75 3 2 1 1 1,75 3 2 2 1 2,00 2 2 2 2 2,00 0,00 3 2 1 1 1,75 10 3 3 3 3 3,00 4 4 4 3 3,75 0,75 3 1 2 3 2,25 11 1 1 1 1 1,00 3 4 4 3 3,50 2,50 4 2 3 4 3,25 12 3 3 2 1 2,25 4 2 3 2 2,75 0,50 4 2 2 3 2,75 13 1 1 3 2 1,75 3 4 4 3 3,50 1,75 3 2 1 2 2,00 14 2 2 2 1 1,75 2 1 4 3 2,50 0,75 2 1 1 1 1,25 15 1 1 1 1 1,00 1 1 2 1 1,25 0,25 1 1 1 1 1,00 16 3 3 4 4 3,50 4 4 4 4 4,00 0,50 4 2 4 4 3,50 17 1 1 1 1 1,00 2 1 1 1 1,25 0,25 4 2 4 4 3,50 18 3 2 3 1 2,25 4 4 4 4 4,00 1,75 4 2 2 3 2,75 19 4 3 3 2 3,00 3 3 3 3 3,00 0,00 2 1 1 1 1,25 20 2 1 2 1 1,50 3 4 4 4 3,75 2,25 4 4 4 4 4,00 21 2 1 2 1 1,50 4 4 4 3 3,75 2,25 4 2 2 3 2,75 22 3 2 3 2 2,50 3 3 4 4 3,50 1,00 2 1 1 1 1,25 23 3 4 2 1 2,50 3 3 2 2 2,50 0,00 3 1 1 1 1,50 24 2 1 2 1 1,50 3 4 1 1 2,25 0,75 3 1 2 3 2,25 25 2 1 1 1 1,25 4 3 3 2 3,00 1,75 3 2 1 1 1,75 26 4 2 2 2 2,50 4 1 4 3 3,00 0,50 3 2 1 2 2,00 27 2 1 1 1 1,25 4 4 4 3 3,75 2,50 4 2 2 3 2,75 28 4 3 3 3 3,25 4 2 4 4 3,50 0,25 4 1 3 4 3,00 145

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.10 Rekapitulasi Nilai Kemampuan Inferensi Kelompok Kontrol Pretest No Res I II III 1 3 3 2 2 3 Posttest I IV Ratarata I II III 3 3 3,00 2 1 1 2 1 1,50 3 4 2 4 3 3,25 4 1 1 1 1 5 2 1 1 6 2 3 3 7 2 1 8 1 9 Posttest II IV Ratarata Selisih Skor I II III IV Ratarata 1 1 1,25 -1,75 1 1 1 1 1,00 2 3 2 2,50 1,00 4 4 4 3 3,75 4 3 3 3 3,25 0,00 4 2 3 2 2,75 1,00 3 1 2 1 1,75 0,75 1 1 1 1 1,00 1 1,25 2 1 3 2 2,00 0,75 2 2 2 2 2,00 3 2,75 3 2 1 1 1,75 -1,00 3 2 2 3 2,50 2 1 1,50 2 2 2 1 1,75 0,25 2 2 1 2 1,75 1 3 2 1,75 3 1 2 1 1,75 0,00 2 1 2 1 1,50 2 1 1 1 1,25 3 1 2 1 1,75 0,50 1 1 1 2 1,25 10 2 2 2 1 1,75 4 1 3 2 2,50 0,75 3 1 1 1 1,50 11 3 2 4 3 3,00 4 3 3 2 3,00 0,00 1 1 1 2 1,25 12 3 1 1 1 1,50 3 1 1 1 1,50 0,00 3 1 2 3 2,25 13 3 1 1 1 1,50 3 2 2 1 2,00 0,50 3 3 2 3 2,75 14 2 3 3 3 2,75 3 2 4 3 3,00 0,25 4 3 3 2 3,00 15 3 2 2 2 2,25 3 2 2 1 2,00 -0,25 3 2 2 3 2,50 16 2 2 3 3 2,50 4 1 2 1 2,00 -0,50 2 2 1 1 1,50 17 2 2 3 3 2,50 3 2 3 2 2,50 0,00 4 2 1 2 2,25 18 2 1 2 2 1,75 3 1 3 2 2,25 0,50 1 1 1 2 1,25 19 2 2 3 2 2,25 1 1 2 1 1,25 -1,00 3 2 1 1 1,75 20 1 2 3 2 2,00 2 2 2 1 1,75 -0,25 2 1 2 1 1,50 21 2 1 2 1 1,50 2 1 2 1 1,50 0,00 1 1 1 2 1,25 22 2 3 2 1 2,00 1 1 2 1 1,25 -0,75 2 1 1 1 1,25 23 2 1 1 1 1,25 2 1 1 1 1,25 0,00 3 2 2 1 2,00 24 3 1 2 1 1,75 3 2 3 2 2,50 0,75 2 1 3 1 1,75 25 3 3 4 3 3,25 3 3 2 1 2,25 -1,00 4 4 4 4 4,00 26 3 2 2 1 2,00 3 1 3 2 2,25 0,25 3 2 2 3 2,50 27 1 2 1 1 1,25 4 2 3 2 2,75 1,50 3 2 2 1 2,00 28 3 4 3 3 3,25 3 3 3 3 3,00 -0,25 4 2 3 3 3,00 29 3 4 4 3 3,50 3 3 3 3 3,00 -0,50 2 3 4 3 3,00 30 2 3 2 3 2,50 3 2 3 2 2,50 0,00 4 3 4 3 3,50 146

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.11 Hasil Uji Normalitas terhadap Kemampuan Evaluasi 147

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.12 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Evaluasi 148

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.13 Hasil Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi 149

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.14 Hasil Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Evaluasi 150

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.15 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi  Kelompok Eksperimen  Kelompok Kontrol √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Persentase Efek: Persentase Efek: 0,67 x 100% = 67% (Efek Besar) 0,27 x 100% = 27% (Efek Besar) 151

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.16 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Evaluasi 152

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.17 Uji Normalitas terhadap Kemampuan Inferensi 153

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.18 Uji Perbedaan Kemampuan Awal terhadap Kemampuan Inferensi 154

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.19 Uji Selisih Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi 155

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.20 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I terhadap Kemampuan Inferensi 156

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.21 Uji Besar Efek Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi  Kelompok Eksperimen  Kelompok Kontrol √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Persentase Efek: Persentase Efek: 0,6 x 100% = 60% (Efek Besar) 0,06 x 100% = 6% (Efek Kecil) 157

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.22 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Inferensi 158

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.23 Transkrip Wawancara Guru Wawancara Guru Peneliti : “Apa sebelumnya Bapak pernah mendengar mind map untuk pembelajaran?”. Guru Mitra : “Belum, belum sama sekali. Bagi saya baru, pernah mendengar mengenai mind map tetapi metode ini menurut saya termasuk baru”. Peneliti : “Bagaimana tanggapan Bapak terhadap metode mind map setelah melihat pengaplikasiannya di kelas?”. Guru Mitra : “Saya lihat baik ya, anak senang dan sangat antusias. Mereka terlihat menyiapkan alat untuk membuat mind map seperti spidol, dan pensil warna”. Peneliti : “Menurut Bapak penggunaan mind map itu seperti apa? apakah efektif diterapkan?”. Guru Mitra :“Kalau saya sendiri melihat, untuk membuat mind map memang membutuhkan banyak waktu. Waktunya sangat banyak dan pengawasan terhadap anak juga harus ekstra karena kadang kalau anak-anak tidak senang, yang namanya gambar aja, 2 jam pelajaran itu ada yang tidak dapat apa-apa. Pertama itukan waktunya, anak sangat membutuhkan waktu yang banyak, bahkan bisa dua kali lipat daripada pelajaran biasa. Lalu yang kedua tentang pengawasan anak itu juga harus ektra, kalau satu guru mengawasi 30 anak saya pikir sangat sangat kurang karena yang satu selesai , yang satu tidak, satu belum, bahkan yang satu tidak tau maksudnya. Yang ketiga membutuhkan biaya yang lebih tinggi daripada yang mengisi, karena kalau mengisi kan cukup bolpoin dan pensil.kalau saya amati dari gambarnya memakai crayon tidak bisa. Karena kecil kecil harus spidol, minimal pensil warna, kalau pensil warna itu warnanya tidak secerah yang kita harapkan karena goresan-goresan itu kan tidak setebal crayon. Kalau yang paling jelas itu ya memang spidol, tapi kan spidol mahal. 1 set itu berapa, lalu melihat warnanya mind map supaya menarik kan ada lebih dari lima warna. Ada merah, kuning,biru, hijau, ungu dll”. Peneliti :“Kira-kira apakah Bapak ada rencana ingin menggunakan mind map sesekali untuk menyampaikan materi apa gitu Pak?”. Guru Mitra :“Kalau mind map sepertinya ada, itu saya rencananya karena saya lebih banyak bidang ke IPA ya justru nanti akan masuk ke IPA, dengan masuk ke istilahnya PKT (pendidikan karakter Tarakanita) cuma modelnya kan belum masuk ke yayasan. Nanti nunggu dulu 159

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peneliti Guru Mitra Peneliti Guru Mitra dari Sanata Dharma apakah itu bisa maksimal atau belum maksimal dsb”. : “Kira-kira dengan mind map siswa terbantu tidak kalau menurut Pak Mardiman dalam belajarnya, kan siswa sering menghafal?”. : “Ya cukup membantu, tapi kan kemaren hanya beberapa kali pertemuan jadi kadarnya baru sedikit, minimal mereka hanya mengingat kata-katanya dengan memberi warna. Tetapi jika diterapkan selama satu bulan mungkin hasilnya akan sangat bagus saya rasa”. : “Bagaimana perbedaan perbedaan antara kelas IVA1 (kelompok kontrol) dengan kelas IVA3 (kelompok eksperimen) Pak?”. : “Perbedaannya sangat terlihat ya, kalau di kelas IVA1 anakanaknya banyak yang tidak memperhatikan, pada ngobrol sendiri, kalau ditanya pada saat itu juga bisa menjawab, tetapi besok ditanya lagi udah lupa. Jadi harus dicatatkan agar mereka tidak mengantuk dan mengganggu teman yang lain. Kalau di kelas IVA3 siswa terlihat sangat aktif ya, malah cenderung pada hiperaktif. Mereka suka menggambar, tetapi kalau sudah bosan ya berhenti lalu mengganggu teman yang lain. Tapi secara nilai akademis kelas IVA3 terlihat lebih tinggi daripada yang kelas IVA1”. 160

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.24 Transkrip Wawancara Siswa Wawancara dengan Siswa Ki P : “Bagaimana perasaanmu selama ini belajar dengan pak guru?”. Ki : “Seneng aja..”. P : “Biasanya kalau belajar IPA dengan pak guru cara penyampaian pelajarannya bagaimana?”. Ki : “Seringnya apalan, paling ngerjain PS, prakteknya IPA-nya saja baru dua kali”. P : “Biasanya belajarnya membentuk kelompok atau sendiri-sendiri?”. Ki : “Belajarnya sendiri-sendiri terus, tidak kelompokkan”. P : “Bagaimana kepuasan kalian setelah selama ini belajar dengan pak guru?”. Ki : “Kurang puas, soalnya jarang praktek”. P : “Sebelumnya sudah pernah mendengar kata mind map?”. Ki : “Belum pernah dengar”. P : “Sebelum belajar dengan kakak-kakak, apakah pak guru pernah menggunakan mind map untuk menjelaskan materi pelajaran?”. Ki : “Belum pernah pakai mind map”. P : “Bagaimana perasaanmu saat kemarin belajar dengan menggunakan mind map?”. Ki : “Senang”. P : “Senangnya kenapa?”. Ki : “Senang karena bisa gambar-gambar dan mewarnai”. P : “Waktu kamu bikin mind map, ada gak kesulitan yang kamu alami?”. Ki : “Ada, sulit bikin cabang-cabangnya, harus dikira-kira kegedean atau tidak”. P : “Sebelum kamu buat cabang-cabang, biasanya apa yang kamu lakukan?”. Ki : “Biasanya aku baca ulang materi yang sudah dipelajari atau baca di buku dulu”. P : “Kamu merasa terbantu atau tidak belajar dengan menggunakan mind map?”. Ki : “Terbantu karena mind map kan tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu, langsung kata-kata yang penting, jadi mudah diingat”. P : “Kemarin kan kita sudah bikin mind map terus-menerus, kamu merasa bosan nggak?”. Ki : “Nggak bosan, malah seru”. P : “Ada rencana untuk menggunakan mind map lagi untuk mata pelajaran atau materi lain?”. Ki : “Iya sih ada..”. P : “Sekarang kalau diminta untuk memilih, pilih belajar dengan 161

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ki P menggunakan mind map atau ceramah saja?”. : “Pilih menggunakan mind map karena lebih enak belajarnya dan mudah mengingat materinya”. : “Oke, makasih ya Ki”. Wawancara dengan Siswa Be P : “Bagaimana perasaan kamu selama ini belajar dengan pak guru?”. Be : “Ya biasa aja kak..”. P : “Biasanya kalau belajar IPA dengan pak guru cara penyampaian pelajarannya bagaimana?”. Be : “Biasanya pak guru ceramah terus ngasih tugas latihan soal di buku PS”. P : “Biasanya belajarnya membentuk kelompok atau sendiri-sendiri?” Be : “Belajarnya sendiri-sendiri, tapi pernah berkelompok juga”. P : “Bagaimana kepuasan kalian setelah selama ini belajar dengan pak guru?”. Be : “Puas-puas aja sih”. P : “Sebelumnya sudah pernah mendengar kata mind map?”. Be : “Pernah”. P : “Tahu darimana tentang mind map?”. Be : “Di tempat les udah sering pakai mind map”. P : “Sebelum belajar dengan kakak-kakak, apakah pak guru pernah menggunakan mind map untuk menjelaskan materi pelajaran?”. Be : “Belum pernah pakai mind map”. P : “Bagaimana perasaanmu saat kemarin belajar dengan menggunakan mind map?”. Be : “Senang sih..”. P : “Senangnya kenapa?”. Be : “Senang karena biasanya kan cuma mendengarkan pelajaran, terus sekarang bisa belajar sambil menggambar jadi rasanya kayak bukan belajar IPA”. P : “Waktu kamu bikin mind map, ada gak kesulitan yang kamu alami?”. Be : “Sulitnya itu karena waktunya di sekolah terbatas, tapi di rumah jadi semangat untuk ngelanjutin bikin mind map lagi”. P : “Sebelum kamu buat cabang-cabang, biasanya apa yang kamu lakukan?”. Be : “Ya baca buku dulu atau bikin sesuai keinginan kita, jadi nambahnambahin gitu”. P : “Kamu merasa terbantu atau tidak belajar dengan menggunakan mind map?”. Be : “Mudah diingat karena tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu, langsung kata-kata yang penting, jadi mudah diingat”. 162

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI P Be P Be P Be P : “Kemarin kan kita sudah bikin mind map terus-menerus, kamu merasa bosan nggak?”. : “Nggak bosan kok”. : “Ada rencana untuk menggunakan mind map lagi untuk mata pelajaran atau materi lain?”. : “Iya, kadang di rumah atau di tempat les suka bikin mind map”. : “Sekarang kalau diminta untuk memilih, pilih belajar dengan menggunakan mind map atau ceramah saja?”. : “Ya pilih mind map sih karena belajarnya jadi lebih enak, mudah mengingatnya”. : “Oke, makasih ya Be”. Wawancara dengan Siswa Jo P : “Nah selama ini, biasanya kalau sama Pak Mardiman biasanya belajar IPA-nya itu ngapain?”. Jo : “Diberi PS (Pekerjaan Sekolah)”. P : “Biasanya dalam pembelajaran itu sering dibikin kelompok-kelompok atau sendiri-sendiri?”. Jo : “Belajar sendiri, jarang kelompokan”. P : “Merasa puas enggak atau seneng gak dengan belajar dengan Pak Mardiman?”. Jo : “Enggak, karena sering marah terus, kalo kelompokan tu pasti dipilihin satu kelompok sama temen yang enggak disenengin. Kan harusnya sudah hafal biasanya di kelas kalo ini itu gak seneng sama ini, terus itu gak seneng sama itu. Jadi tu pasti kelompokkannya sama yang enggak disenengin gitu”. P : “Pernah denger soal mind map?”. Jo : “Pernah, di internet”. P : “Kalau sama Pak Mardiman pernah menggunakan mind map belum?”. Jo : “Belum, belum pernah”. P : “Kemaren belajar mind map dengan kakak-kakak PPL seneng enggak?”. Jo : “Seneng, karena bisa pembelajaran enggak seperti biasanya, bisa kayak refreshing gitu”. P : “Kesulitas membuat mind map kemaren itu di bagian mana?”. Jo : “Bagian mewarnai, waktu mewarnainya kurang”. P : “Pernah merasa bosan enggak waktu membuat mind map?”. Jo : “Enggak, yakin, serius. Karena seru!” P : “Cara mengaitkan teman-tema itu gimana? Apa kalian liat kertas, atau mengaitkan sendiri dengan otak kalian, atau bagaimana?” Jo : “Lihat buku”. P : “Kamu merasa terbantu enggak dengan menggunakan mind map?”. 163

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jo P Jo P Jo : “Soalnya kan ada gambar-gambarnya jadi mudah buat menghafal”. : “Pernah terpikir untuk membuat mind map pada mata pelajaran lain?”. : “Aku sering, jadi kalo misalnya mau ke bandung bisa bikin mind map, atau kalo mau liburan kemana gitu jadi lebih gampang”. : “Kalau disuruh memilih antara membuat mind map atau dijelasin aja, kamu pilih yang mana?”. : “Pilih mind map, karena gampang dihafalin”. Wawancara dengan Siswa Va P : “Nah selama ini, biasanya kalau sama Pak Mardiman biasanya belajar IPA-nya itu ngapain?”. Va : “Dijelasin aja”. P : “Biasanya dalam pembelajaran itu sering dibikin kelompok-kelompok atau sendiri-sendiri?”. Va : “Belajar sendiri cuma dijelasin dari buku paket aja, kadang juga praktek diluar kelas”. P : “Merasa puas enggak atau seneng gak dengan belajar dengan Pak Mardiman?”. Va : “Seneng-seneng aja sih, asal diem pasti gak bakalan dicubit sama seneng asik sama pakteknya”. P : “Pernah denger soal mind map?” Va : “Belum pernah”. P : “Kalau sama Pak Mardiman pernah menggunakan mind map belum?” Va : “Belum, belum pernah”. P : “Kemaren belajar mind map dengan kakak-kakak PPL seneng enggak?” Va : “Seneng, karena gampang dipelajari, gampang ngapalinnya”. P : “Kesulitan membuat mind map kemaren itu di bagian mana?”. Va : “Bingung bikin cabangnya”. P : “Pernah merasa bosan enggak waktu membuat mind map?”. Va : “Bosen sih soalnya diulang-ulang terus, materinya sama terus”. P : “Cara mengaitkan teman-tema itu gimana? apa kalian liat kertas, atau mengaitkan sendiri dengan otak kalian, atau bagaimana?”. Va : “Lihat hand out, trus coba-coba sendiri”. P : “Kamu merasa terbantu enggak dengan menggunakan mind map?”. Va : “Enggak, sama aja soalnya belajar IPA dari bukunya Pak Mardiman malah tambah susah ngapalinnya”. P : “Pernah terpikir untuk membuat mind map pada mata pelajaran lain?”. Va : “Iya sih pernah, tapi susah, capek gambar-gambarnya, apalagi terus harus diwarnai”. P : “Kalau disuruh memilih antara membuat mind map atau dijelasin aja, kamu pilih yang mana?”. 164

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Va : “Dua-duanya. Ya kalo bisa selang-seling aja. Misal hari ini dijelasin terus besok bikin mind map, jadi ganti-ganti kegiatannya”. Wawancara dengan Siswa Bi P : “Kamu senang tidak belajar IPA?”. Bi : “Iya senang”. P : “Senangnya kenapa? Apa yang membuat kamu senang belajar IPA?”. Bi : “Lebih mudah belajar IPA”. P : “Nah selama ini sama pak mardiman, semua materi sering dijelasin aja atau menggunakan media/gambar?”. Bi : “Menggunakan gambar”. P : “Kalau menggunakan gambar-gambar diberi penjelasan tidak sama Pak mardiman?”. Bi : “Iya diberi penjelasan”. P : “ Selama pembelajaran kamu sering diajak menggunakan media itu atau gimana?”. Bi : “Iya sering diajak dengan menggunakan media”. P : “Berarti cuma ngerjain tugas sendiri atau belajar kelompokkan? Pernah kelompokkan tidak?”. Bi : “ Iya ngerjain tugas sendiri tidak kelompokan”. P : “Selama ini senang tidak diajar sama pak mardiman?”. Bi : “Iya senang”. P : “Puaas tidak diajar sama pak mardiman?”. Bi : “Tidak puas”. P : “Kenapa tidak puas?”. Bi : “Bosen aja”. P : “Nah sebelum sama kak luki, kak farida dan kak lala pernah mendengar atau membuat mind map tidak?”. Bi : “Tidak pernah”. P : “Sama pak mardiman belum pernah menggunakan mind map?”. Bi : “Belum”. P : “Kemarin seru tidak menggunakan mind map? Apa gimana?”. Bi : “Biasa aja”. P : “Kok biasa aja gimana?”. Bi : “Bikin capek”. P : “Susah tidak menggunakan mind map?”. Bi : “ Tidak susah”. P : “Pernah bosan tidak ketika membuat mind map kemarin?”. Bi : “Tidak bosen”. P : “Cara kamu mengaitkan tema-temanya atau materinya gimana? atau cuma lihat buku apa kamu berpikir sendiri?”. Bi : “Lihat buku”. 165

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI P P Bi P Bi P Bi P Bi P Bi P Bi : “Terus kamu merasa terbantu ga kemarin dalam mempelajari gaya?”. : “Lebih mudah apa tambah puyeng?”. : “Lebih mudah”. : “Nah kamu pernah kepikiran buat mind map ga selain IPA kemarin?”. : “Tidak pernah”. : “Buat mata pelajaran lain? Mencoba yang lain?”. : “Tidak pernah”. : “Pilih mana antara menggunakan mind map sama dijelasin biasa?”. : “Pilih mind map”. : “Kenapa pilih mind map?”. : “Enak mind map”. : “Enaknya kenapa?”. : “Enaknya bisa ngobrol, ga usah ngerjain soal”. 166

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.25 Foto Kelas Kontrol 167

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.26 Foto Kelas Eksperimen 168

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.27 Surat Ijin Penelitian 169

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.28 Surat Keterangan Melakukan Penelitian 170

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CURRICULUM VITAE Laila Rizki Madhania merupakan anak kedua dari pasangan H. Joko Iswaji dan Hj. Titi Widiarti. Lahir di Sorong pada tanggal 20 Maret 1993. Pendidikan awal dimulai di TK Al-Hidayah Tanjunganom Purworejo pada tahun 19971998. Penulis melanjutkan pendidikan di SD Negeri 2 Tanjunganom Purworejo pada tahun 1998-2004. Dilanjutkan ke jenjang pendidikan SMP Negeri 5 Purworejo pada tahun 2004-2007. Pada tahun 2007-2010 penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 7 Purworejo. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun 2010 pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama menempuh kuliah, penulis pernah mengikuti berbagai kegiatan, antara lain: No. Nama Kegiatan 1. English Club 2. 3. 4. Inisiasi Mahasiswa: SIMAK 2010 Seminar Diseminasi Hasil PHK S1 PGSD Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa I Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa II Workshop Dongeng Pelatihan Pengembangan Kepribadian: Weekend Moral Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar Panitia Inisiasi Prodi PGSD 2011 Maria Montessori Workshop : Learning Model Development for 3-6 years old Maria Montessori Workshop : Learning Model Development for 9-12 years old Seminar Pendidikan Etika Pengguna Perpustakaan Workshop Vertikultur Una Seminar and Workshop on Anti Bias Curriculum and Teaching Malam Kreativitas Mahasiswa PGSD 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Tahun 2010 2012 2010 2010 Peran Peserta Peserta Peserta 2011 Peserta 2011 Peserta 2011 Peserta 2011 Peserta 2011 2011 Peserta Sie Dekorasi 2011 Peserta 2012 Peserta 2011 Peserta 2012 Peserta 2012 Peserta 2012 Peserta 171

(191)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENERAPAN METODE MIND MAP DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD.
0
3
29
PENGARUH PENGGUNAAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS V PADA MATA PELAJARAN IPA SD N SUKOMULYO NGAGLIK SLEMAN.
0
1
157
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL MATERI PECAHAN SEDERHANA MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DI KELAS IIIA3 SEMESTER II TAHUN AJARAN 20082009 SD TARAKANITA I BUMIJO YOGYAKARTA SKRIPSI
0
0
109
PENGARUH PENERAPAN METODE INKUIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR DAN BERPIKIR KRITIS KATEGORI AFEKTIF UMUM PADA MATA PELAJARAN IPA SDK SOROWAJAN YOGYAKARTA SKRIPSI
0
0
267
PENGARUH PENGGUNAAN MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN MENGAPLIKASIKAN DAN MENCIPTA PADA PELAJARAN IPA DI SD KANISIUS WIROBRAJAN
0
0
138
PENGARUH PENGGUNAAN MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN MENGANALISIS DAN MENGEVALUASI PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD KANISIUS SENGKAN
0
0
111
PENGARUH PENGGUNAAN MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN MENERAPKAN DAN MENCIPTA PADA MATA PELAJARAN IPA DI SDK SENGKAN
0
0
107
PENGARUH PENERAPAN METODE INKUIRI TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENCIPTA PADA MATA PELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SD SOKOWATEN BARU YOGYAKARTA
0
0
195
PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN MENGINGAT DAN MEMAHAMI PADA PEMBELAJARAN IPA DI SD KANISIUS SENGKAN
0
0
99
PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN MENGINGAT DAN MEMAHAMI PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD KANISIUS WIROBRAJAN
0
0
155
PENGARUH PENGGUNAAN MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN MENGAPLIKASIKAN DAN MENCIPTA PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD KANISIUS SOROWAJAN
0
0
129
PENGARUH PENGGUNAAN METODE INKUIRI TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENCIPTA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD KANISIUS SOROWAJAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar sarjana pendidikan Program studi pendidikan
0
0
171
PENGARUH PENGGUNAAN METODE INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENCIPTA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN YOGYAKARTA SKRIPSI
0
1
154
PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN INTERPRETASI DAN ANALISIS PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD KANISIUS DEMANGAN BARU I YOGYAKARTA
0
0
173
PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN EVALUASI DAN INFERENSI PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V DI SD N SOKOWATEN BARU BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA SKRIPSI
0
0
186
Show more