POLITIK REPRESENTASI LINGKUNGAN HIDUP KALIMANTAN TENGAH DI WEBSITE DOWN to EARTH

Gratis

0
1
150
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI POLITIK REPRESENTASI LINGKUNGAN HIDUP KALIMANTAN TENGAH DI WEBSITE DOWN to EARTH TESIS Untuk memenuhi persyaratan mendapat gelar Magister Humaniora (M.Hum.) di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Oleh Kartika Rini NIM: 086322006 PROGRAM MAGISTER ILMU RELIGI DAN BUDAYA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI POLITIK REPRESENTASI LINGKUNGAN HIDUP KALIMANTAN TENGAH DI WEBSITE DOWN to EARTH TESIS Untuk memenuhi persyaratan mendapat gelar Magister Humaniora (M.Hum.) di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Oleh Kartika Rini NIM: 086322006 PROGRAM MAGISTER ILMU RELIGI DAN BUDAYA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TESIS POIITIK REPRESEN?ASI LINGI{ILNITGAN ITIDT]P KALTMANTAN TENGAH DI WEBSM,OOWT,I fu EARTH gdr NIhI: i 521€06 Telah disetujui sleh: ? 7-

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TESIS POLITIK REPRESENTASI LINGKUNGAN HIDUP KALIMANTAN TENGAH DI WEBSITEDOWN to EARTH Oleh Kartika Rini NIM:086322006 Telah dipertabankan di depan'Dewan Penguji Tesis dan diny-atakan.tetrdh moqenuhi syarat Tim Penguji .. Ketua : Moderator I Dr. FX, BaskaraT::I#aidhya, S.r" Anggota : 1. Dr. GregoriuS'Budi Subenai, S.J. Dr. St. Sunardt .. ,,. . : t;'. ,: i, 2. Dr. St. Sunardl t. J. Ur. Karfln tsandel ogyakarta, 28 Februari 2014 nus Supratiknya l-

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI r LtrIVIBAR P*MEYA"AAN ::-: ,. tlrccfukfi*d Politik Representasi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengahdi website Down io Etth*"rnpuk* hasil karya'dan' penelitian saya pribadi. Di dalam thesis hi tfi* tedapqt karyd yang pernah diajtil
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBTIKASI IMRYA ILMIAH UNTTIK KEPENTINGAN AKADIMIS Nama : Kartika NIM : Rini 086322006 Demi keperluan pengenabangail ilrnu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah yang berjudul: Politik Representasi Lingkungan Hldup Kalimantan Tengah di Websitebqwn to Earth Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharrna hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, neengelolanya dalam bdntuk perangkat data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lainnya demi kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya atau memberikan royalti kepada saia selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 28 Februari 2014 FI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Saya memilih provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai lokasi penelitian tesis saya karena saya telah menemukant horison baru dari provinsi ini. Saya telah tinggal di provinsi ini dari tahun 1997 hingga 2006 sehingga saya menjadikan tempat ini rumah kedua saya. Semula saya tertarik Kalimantan Tengah sebagai kisah berlatar rimba tua dan sungai purba, tetapi saya kemudian sadar itu hanya kacamata saya memandang dunia. Ketertarikan saya berpindah dari imajinasi saya tentang lingkungan Kalimantan Tengah sebagai rimba kepada bagaimana kompetisi pemaknaan terhadap lingkungan hidup Kalimantan Tengah di antara kelompok-kelompok yang berkepentingan. Untuk meneliti isu lingkungan hidup Kalimantan Tengah saya memerlukan tempat pembelajaran agar proses dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Saya menjadikan program Ilmu Religi Budaya (IRB) sebagai kawasan pembelajaran yang kondusif untuk menulis tesis. Proses penelitian dan penulisan tesis merupakan pengalaman menegangkan sekaligus menyenangkan yang sangat berharga. Tesis ini tidak dapat terwujud tanpa bantuan dari kedua pembimbing saya Dr. G. Budi Subanar dan Dr. Dt. Sunardi yang dengan sabar dan waspada menemani saya menulis dan menulis. Tak kurang pentingnya adalah berbagai pihak yang memberi waktu untuk berdiskusi dan memberi data untuk bahan tesis ini yakni Down to Earth (DTE), dan teman-teman di Kalteng baik yang di Dinas Kehutanan Kalteng, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalteng mau pun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalteng. Kemudian sudah pasti semua itu adalah dorongan teman- teman baik teman-teman IRB maupun guru-guru dan teman-teman baik yang dekat maupun yang jauh, yang tidak dapat saya sebut satu persatu yang membuat saya mengerjakan tesis ini tanpa henti. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada mereka. Kepada Dr. Fx. Baskara T.Wardaya S.J., Dr. Katrin Bandel, Dr. Budiawan saya mengucapkan terimakasih karena telah memberi masukan-masukan berharga

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan meluangkan waktu. Terakhir bukan berarti tidak penting tetapi saya merangkai sesuai diksi, saya mengucapkan terimakasih kepada mbak Devi, mbak Hengky, mbak Desy. Penulis

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Kartika Rini. 2014. Politik Representasi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah di Website Down to Earth. Tesis. Yogyakarta: Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma. Politik representasi atau wacana dari waktu ke waktu semakin luas dan beragam. Luas dan beragamnya praktik wacana bisa dilihat salah satunya dari pelaku atau instansi yang mengembangkannya. Kajian ini ini memfokuskan pada persoalan politik representasi atau wacana sebagaimana dimainkan oleh DTE (Down to Earth), sebuah NGO internasional yang berbasis di London. DTE, sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang (issue) lingkungan hidup yang menempatkan Kalimantan Tengah sebagai salah satu cover areanya. Sebagai kesimpulan dapat dinyatakan bahwa sejauh ini DTE hadir ke permukaan sebagai produsen wacana yang dimaksudkan untuk menghadapi praktik wacana sebagaimana dimainkan oleh para enterprener (kapitalis) yang menempatkan persoalan lingkungan sematamata sebagai sumber daya tanpa menimbang aspek keadilan. Isu lingkungan hidup Kalteng merupakan arena yang memiliki tiga pemain utama yakni negara, masyarakat, dan pasar. Negara memakai legitimasi bentuk negara bangsa sebagai perlawanan terhadap kolonialisme. Masyarakat memakai posisi sebagai pemilik suara yang harus didengar. Negara yang menyebut dirinya demokratis harus melibatkan partisipasi masyarakat. Pasar memiliki kekuatan dari pengunjung websitenya. Kata kunci : website DTE, Kalimantan Tengah, lingkungan hidup yang berkeadilan, arena.

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Kartika Rini. 2014. The Politic of Representation of the Environment in Central Kalimantan on Down to Earth’s Website. Thesis. Yogyakarta: Religious and Cultural Studies, University of Sanata Dharma. Politic of representation or discourse is wider and more variable day by day. The width and variety of discourse practices can be seen from one of persons or institution developing it. This study focuses on politic of representation or discourse matters as it is played up by DTE (Down To Earth), a London- based international NGO. It is a non governmental organization taking action in environmental field (issue) and sets Central Kalimantan off as one of its area cover. As a conclusion can be proved that DTE as far comes to surface as discourse producer intended to counter discourse practices played up by entreprises (capitalists) who set environmental matters as resources only without determine justice aspects. Central Kalimantan environmental issue is an arena which has three player: state, society, and market. The state put legitimacy of nation state form as an opponent against colonialism. The society put their position as the voice. The state can be a democratic state if the state involves society participation. Meanwhile, the market has the power from its website visitor. Keywords : DTE’ website, Central Kalimantan, ecological justice, arena.

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................... 8 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................. 9 D. Tinjauan Pustaka ......................................................................10 E. Kerangka Teori ........................................................................ 13 F. Data .......................................................................................... 19 G. Sistematika Penulisan .............................................................. 20 BAB II WACANA LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKEADILAN A. Lingkungan dan hak asasi manusia ........................................... 22 B. Lingkungan dan komunitas lokal ..............................................31 C. Pengadilan internasional untuk Ecological Justice ....................35 D. Ecological Justice di Indonesia ..................................................36 E. Kesimpulan ................................................................................44 BAB III LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKEADILAN DI KALTENG A. Website DTE .............................................................................48 A. 1. Sistem berbasis image ..............................................................48 A. 2. Sistem berbasis kata .................................................................52 B. Konteks Kalteng ...............................................................................62 B. 1. Sumber Daya Alam Kalteng (SDA) .......................................62 B. 2. Isu Lingkungan Kalteng .........................................................69

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. 3. Perebutan akses SDA Kalteng .............................................79 C. Kesimpulan ....................................................................................85 BAB IV TEKS DI WEBSITE DTE DALAM WACANA LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKEADILAN DI KALTENG A. Pemerintah .................................................................................89 B. Masyarakat Sipil .........................................................................95 C. Pasar ..........................................................................................105 D. Relasi Pemerintah, Masyarakat Sipil dan Website DTE di Arena Lingkungan Hidup yang Berkeadilan Kalteng ........................................................116 E. Kesimpulan ..............................................................................118 BAB V PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia menggemparkan dunia pada tahun 1997 karena sejak April “mengasapi” ketiga negara tetangga. Kalimantan Tengah adalah salah satu tungku asapnya. September 1997 , Kanwil Dephut Kalteng mengumumkan kebakaran hutan yang menimbulkan asap tebal sebagian besar terjadi di kawasan proyek Pengembangan Lahan Gambut ( PLG) Kalteng dengan titik kebakaran berkisar di wilayah Lamunti dan Dadahup (LATIN 1998: 28). PLG menduduki lahan seluas 1. 457. 100 hektar dan membangun kanal sepanjang 900 km. Kawasannya berupa rawa gambut 9.19 km2 atau 41 % dari total rawa gambut Kalteng ( Notohadiprawiro 2006: 6) Presiden Soeharto memulai proyek raksasa nan bergengsi ini tahun 1996 untuk swasembada pangan tanpa mempedulikan Amdal (LATIN: 42). Luasan lahan tidak menjamin tercapainya proyeksi produksi padi 5,1 juta ton per tahun karena hanya lahan dengan ketebalan 0,5 – 1,3 meter yang layak dijadikan sawah. Nyatanya, hanya 30 % atau 586. 700 hektar kawasan PLG yang dapat dijadikan lahan pertanian, itu pun hanya 410. 800 hektar sawah baru dan 80. 200 hektar sawah lama.(LATIN 1998: 40- 41). Kebakaran hanya salah satu bukti kerusakan lingkungan akibat PLG. Yang lainnya adalah banjir di waktu hujan, kekeringan di musim kemarau dan wabah tikus (Notohadiprawiro 2006: 4), hancurnya fungsi resapan gambut 3, 36 milyar meter kubik air pada musim kemarau, ancaman digelontorkannya sekitar 2 juta liter pestisida untuk dua kali panen di lahan 400 hektar (LATIN 1998:43). PLG yang berlandaskan pemikiran Jawa – sentris dengan menganggap di Kalteng lahan tidur dan kosong masih luas (Notohadiprawiro 1

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2006: 4), di samping membawa bencana ekologi PLG juga menjadi bencana sosial. WALHI menyatakan PLG tidak mengakui sistem kepemilikan adat, tidak ada musyawarah pelepasan lahan dan anggaran ganti rugi, hancurnya sumber daya ekomomi rakyat (LATIN 1998: 43) Apakah kehancuran alam Kalteng juga menjadi penyebab konflik etnik berdarah? Pada Februari 2001, bermula dari Sampit, gelombang pembunuhan oleh etnik Dayak melawan etnik Madura menyebar di Provinsi ini. Fasilitas kesehatan, tanpa alat penguburan yang memadai, pada tiga hari kerusuhan dibanjiri mayat tanpa kepala. Selama bermingguminggu bau darah menyebar hingga 10 mil setelah pembantaian. Pemerintah memperkirakan 431 korban jiwa, sumber tak resmi memperkirakan antara 1 500 hingga 3000. (Claire Q. Smith 2005: 1) Jumlah yang diungsikan ke Surabaya, Banjarmasin dan Surabaya mencapai 20.000 jiwa. Sedangkan, jumlah warga Madura yang bermukim di Sampit sendiri sebelum konflik, mencapai 40 persen dari total penduduk kota Sampit. (Tempo.co., 28 Februari 2001). Pembalakan hutan telah menggunduli Kalteng dan mengakibatkan terjadinya gurun pasir seperti di Galangan Ampalit. Di sanalah para penambang emas skala kecil, yang tidak tahu lagi bagaimana mencari pekerjaan lain, memakai merkuri, suatu neurotoxin (lihat : Michael Casey, The Jakarta Post, Kerengpangi, Kalimantan , January 12 2009 ). Pertambangan emas tanpa ijin (PETI) yang mengakibatkan pencemaran merkuri di sungai- sungai juga mengancam masa depan kehidupan Kalteng. Badan Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Daerah (BPPLHD) Kalteng (2008) mengumumkan tingkat pencemaran merkuri yang terjadi di tiga sungai besar di Kalimantan Tengah, yaitu Sungai Barito, Kahayan, dan Kapuas, masih membahayakan karena melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Batas maksimal baku mutu konsentrasi merkuri adalah 2,000 mikro gram per liter. Baku mutu di wilayah DAS Barito kosentrasinya 5,519 mikro gram per liter, di DAS Kahayan antara 2,966 hingga 4,687 mikro gram per liter, dan di DAS Kapuas mencapai 7,029 mikro gram per liter atau lebih tiga kali dari batas baku mutu. Senyawa merkuri dapat 2

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terserap dalam usus dan terakumulasi dalam ginjal dan hati dalam waktu cukup lama, serta dapat mengakibatkan kerusakan otak ( Tiga Sungai Besar di Kalimantan Tercemar Merkuri . Kompas.com. Senin, 11 Februari 2008 ). Dari ketiga masalah di atas, isu lingkungan hidup dan sosial di Kalteng muncul di website Down to Earth (DTE). Kalteng muncul di website DTE pertama kali November 1997 pada isu kebakaran hutan. DTE adalah Organisasi non Pemerintah sebuah non- governmental organization (NGO) atau (Ornop) yang bermarkas di London. Mereka mengangkat ecological justice ( EJ) di Indonesia. Website DTE menyatakan bahwa dirinya melakukan “ Kampanye Internasional untuk Lingkungan Hidup Yang Berkeadilan di Indonesia”. Penelitian ini dilakukan untuk teks yang diproduksi DTE mengenai isu lingkungan berkeadilan di Kalteng. DTE didirikan oleh dua NGO Tapol , organisasi hak asasi manusia, dan Survival International, organisasi “tribal peoples”. Keduanya bermarkas di Inggris. DTE secara resmi menyatakan lahir tanggal 20 Desember dan memperingati ulang tahunnya ke 20 pada tahun 2008. Semula DTE menerbitkan koran dwi-bulanan dan selanjutnya pada tahun 1999 merambah publikasi digital dengan membuat website dua bahasa : Inggris dan Indonesia. ( DTE 2009 ). Media di AS mau pun Eropa media memiliki peran signifikan untuk mengekspose isu lingkungan sekaligus penolakan terhadapnya. Bentuk media yang dipakai gerakan lingkungan pun beragam dari pin/ bros, leaflet, buku, koran, majalah, tabloid, gambar dari satelit NASA hingga internet. Pada tahun 1969 the EnvironmentalAction for Survival Committe Universitas Michigan memprotes perang Vietnam sembari menjual bros bertuliskan slogan “Give Earth a Chance”. Newsweek segera mempertanyakan kemungkinan bros tersebut menjadi simbol 3

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konservasi New Age. Buku Rachel Carson Silent Spring menjadi best seller tahun 1962 menjadikan isu lingkungan mendapatkan popularitasnya. (Rome 2003: 525 ) Gerakan peduli lingkungan dapat dilacak pada jejak- jejak beberapa usaha berikut ini. Sejak awal 1960 New York Times, Life, Red-book, American Home , Good Housekeeping mengangkat isu- isu lingkungan dikaitkan dengan kebijakan nasional dan rumah tangga . Tahun itu juga Vance Packard menulis buku The Waste Makers yang menjadi best- seller. Buku tersebut mengenai polusi, tujuan nasional. (Rome 2003: 530- 531). Tahun 1966 Donald Carr menerbitkan buku Death of The Sweet Water yang menjadi salah satu buku populer. Buku tersebut didedikasikan untuk the League of Women Voters yang memainkan peranan penting melawan polusi air. Tahun itu juga Hazel Henderson mengorganisasikan Citizen for Clean Air dengan menyebarkan leaflet kepada ibu-ibu selama jalan-jalan harian di taman dengan bayi perempuannya. Kelompok ini segera punya anggota lebih dari duapuluh ribu, diperkirakan 75 persen adalah perempuan. ( Rome 2003: 535-536) Pada 1969 terbit buku yang berpengaruh the Population Bomb oleh Paul R. Ehrlich (Rome 2003: 542). Sebelumnya, pada tahun 1958 Jack Kerouac menulis novel the Dharma Bums, bertema budaya tandingan, mempertanyakan “ generasi yang terpenjara dalam sistem kerja, produksi, konsumsi, kerja, produksi, konsumsi”. Tahun 1969 aktivis Berkeley memulai “Earth ReadOut” , laporan radikal isu lingkungan. Tahun 1970 majalah kiri Ramparts menulis “ jalan buntu ekologi lebih sebagai ekspresi salah fungsi aturan sosial ....”(Rome 2003: 544). Tahun1969 majalah Liberation mendukung gerakan People’s Park (Rome 2003: 547 ). Pada tahun1969 jumlah organisasi lingkungan mahasiswa meledak. New York Times melaporkan di halaman depan pada bulan November bahwa isu lingkungan mungkin segera mengaburkan perang Vietnam sebagaimana sejumlah isu suatu kampus. Newsweek membuat prediksi yang sama sebulan kemudian. (Rome 2003: 549). 4

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Di Inggris World Wide Fund for Nature diluncurkan tahun 1961 dengan daya pikat melalui tabloid yang dipasarkan massal. Walau kritik terhadap industri pertanian telah diterbitkan di Eropa, publikasi Silent Springnya Rachel Carson 1962 di AS menandai langkah yang mengubah kesadaran lingkungan. Bukan karena peringatan efek pemakaian pestisida yang tidak pandang bulu. Tetapi karena dipublikasikan di majalah populer dan menciptkan sensasi media. Waktu diterjemahkan dan diterbitkan ulang di Eropa dampaknya lebih besar daripada di AS (Rootes 2008: 2). Aspirasi gerakan lingkungan global mungkin dari sesuatu pemandangan planet biru yang ditransmisikan dari satelit NASA tahun 1960. Secara karakteristik, organisasi ikonik dekade itu FoE dan Greenpeace mulai d Amerika utara. Walau, ini menarik bahwa keduanya sekarang lebih kuat di Eropa. (Rootes 2008: 7) Dengan berkembangnya teknologi, internet merupakan media penting yang dipakai NGO lingkungan seperti DTE. Internet yang berwatak menggantikan place dengan space, menghadirkan keserempakan dan intimacy. Meski begitu, seperti media lain, internet juga dipertanyakan apakah ia dapat menjadi sarana meningkatkan demokrasi atau justru sebaliknya menghambat gerakan demokrasi. Apalagi teknologi informasi dikhawatirkan memunculkan digital divide, jurang yang terjadi karena masalah kepemilikan piranti digital . Keunikan watak internet ini menyebabkan pemakaian internet bagi gerakan lingkungan menjadi menarik untuk diteliti. Salah satu penelitian yang dilakukan Manuel Castells dalam bukunya The Information Age membuatnya memproklamirkan the Network Society sebagai sebuah bentuk baru masyarakat akibat revolusi teknologi dan restrukturisasi kapitalisme. ( Castell 2004 : 1-2 ) Internet dan hubungannya dengan New Social Movement (NSM) memunculkan pertanyaan mendasar. Apakah internet dapat membawa bentuk baru aktivisme politis , dengan konsekuensi pada cara kita membawa kewarganegaraan politis kita? Terciptanya 5

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI publik- tandingan online meningkat. Apakah perkembangbiakan mereka menuju kekuatan yang berlipat atau malahan terpecah? Kalau menerima penjelasan bahwa masyarakat terfragmentasi, maka solidaritas sangat penting untuk menciptakan komunitas politis yang berhasil. (Fenton 2008: 37-38) Meski memfasilitasi mobilisasi, potensi demokrasi internet tidak tergantung pada partisipasi dan interaktivitas, polycentrality dan multiplicity. Potensi demokrasi direalisasikan hanya lewat agen yang terlibat aktivitas reflektif dan demokratis. Ini disebutkan Bohman ( 2004: 142) : “ adalah kesalahan untuk mengatakan bahwa individu memiliki kontrol seketika. Mereka punya kendali hanya lewat persetujuan pada hubungan asimetris pada berbagai agen yang menstruktur pilihan dalam lingkungan komunikatif cyberspace”. Dunia online secara kokoh berjangkar pada dunia offline pada pembatasan sosial semua partisipan adalah subyek juga. Beberapa protes high-profile terjadi di lokasi yang jauh hanya bisa dicapai pemrotes yang punya dana perjalanan. Crossley (2002) menemukan, sebagaimana protes sering diorganisasikan lewat internet, sumber ekonomi dan budaya yang melibatkan pemakaian teknologi ini juga mengucilkan beberapa partisipan potensial. Mereka mungkin yang menderita dampak paling banyak dari sesuatu yang diprotes.(Fenton 2008: 47) Pemakaian internet untuk gerakan sosial membawa pertanyaan bagaimana kelompok oposisi yang terfragmentasi dan terdiri dari banyak bagian dapat berfungsi bersama untuk cita-cita politis. Dalam menciptakan politik lintas batas selalu ada perbedaan. Bagaimana suatu politik solidaritas dalam perbedaan akan direalisasikan? Solidaritas sosial dapat dideskripsikan sebagai sebuah moralitas kerjasama, kemampuan individual untuk mengidentifikasi satu sama lain dalam semangat kebersamaan dan timbal balik tanpa keunggulan individual atau paksaan. Itu yang menuntun pada jaringan individu atau lembaga sekunder yang mengikat pada proyek politik yang melibatkan kekuatan sosial politis yang 6

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyatukan. Contohnya gerakan anti- globalisasi.(Fenton 2008: 49) Identitas yang dipilih pada suatu ketika tidak bisa dianggap sudah begitu adanya atau statis . Identitas politis muncul dan diekspresikan lewat proses sosial yang terus menerus dari pembentukan identitas individu dan kolektif. Dengan cara ini solidaritas sosial diperbesar ( Fenton 2008: 49). Della Porta dan Tarrow (2005) menunjuk interkoneksi antara partisipasi online dan offline sebagai:’ rooted cosmopolitans’ (orang atau kelompok yang punya akar di konteks nasional spesifik tapi terlibat dalam jaringan kerja transnasional kontak dan konflik’); ‘multiple belongings’ (aktivis dengan keanggotaan tumpang tindih yang terhubung dengan jaringan kerja polycentric ); ‘flexible identities’ ( diberi karakter keinklusifan dan penekanan positif pada perbedaan dan cross- fertilization ). Partisipan pada gerakan ini disimpulkan bersama oleh elemen umum dalam sistem nilai mereka dan pemahaman politis, dan karena itu terkait dengan kepercayaan bersama dalam narasi yang memasalahkan fenomena sosial partikular (Fenton 2008: 49) Solidaritas yang dibangun lewat internet disebut Jordon dan Taylor (2004) sebagai solidaritas viral – sebuah tekno- politik di jaman informasi. Contohnya Dissent! , sebuah jaringan kerja yang dibentuk pada musim gugur 2003 oleh sekelompok orang yang sebelumnya terlibat People’s Global Action (PGA). PGA dibentuk tahun 1998 oleh aktivis yang memprotes WTO. Jaringan kerja Dissent! tidak punya kantor pusat, tidak punya juru bicara, tidak punya daftar keanggotaan dan tidak punya staf yang dibayar. Ia eksis sebagai jaringan kerja yang menyebar untuk komunikasi dan koordinasi antara kelompok lokal dan individual yang terlibat dalam membangun penolakan terhadap G8 , dan kampanye terkait. ( Fenton 2008: 50) Bagaimana pun Fenton mengingatkan supaya tidak mengecilkan arti solidaritas yang dimediasikan hanya pada tekno- determinisme. Itu lebih jauh dari sekedar menandatangani 7

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI petisi online atau mengklik protes di website sembari sendirian di rumah. Breslow (1997) berpendapat bahwa internet mempromosikan rasa sosialitas, tetapi anonimitas dan kurangnya ruang kepadatan mungkin kotraproduktif terhadap solidaritas. Internet mungkin juga didevaluasi oleh aktivis karena ia mengambil kesenangan dan petulangan dari beberapa bentuk protes kolektif. Aktivisme online dapat dilihat sebagai lazy politics – itu membuat orang merasa baik tetapi mengerjakan sangat sedikit. (Fenton 2008: 51 -52 ) Setiap pihak memiliki kepentingan seturut agenda masing-masing terhadap Kalteng . Begitu juga pelaku gerakan lingkungan yang mengangkat isu tentang Kalteng. Kalteng di website DTE adalah Kalteng yang direpresentasikan DTE sesuai kepentingan DTE untuk membangun identitas kolektif pembacanya berdasarkan tujuan DTE yang melakukan kampanye internasional. Karena itu, menarik untuk mengetahui politik representasi di website DTE tentang isu lingkungan Kalteng. B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka di atas maka permasalahan yang muncul adalah produksi wacana lingkungan hidup di Kalteng. Oleh karena itu penelitian ini dipusatkan pada: 1. Bagaimana wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng diproduksi? 2. Pihak- pihak mana yang terlibat dalam produksi wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng? 3. Wacana macam apa yang dihasilkan oleh setiap produsen wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng? 4. Mengapa wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng penting untuk diproduksi? 8

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. Tujuan dan manfaat penelitian 1. Tujuan Berdasarkan permasalahan di atas maka penelitian ini memiliki tujuan: 1. Untuk mengetahui wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng diproduksi. 2. Untuk mengetahui pihak- pihak mana yang terlibat dalam produksi wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng. 3. Untuk mengetahui wacana macam apa yang dihasilkan oleh setiap produsen wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng. 4. Untuk mengetahui mengapa wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng penting untuk diproduksi. 2. Manfaat Manfaat kajian ini adalah mendapatkan jawaban di atas yakni: 1. Bagi masyarakat pada umumnya dan khususnya masyarakat Kalteng, penelitian ini menambah pandangan tentang wacana lingkungan hidup Kalteng. 2. Bagi pengembangan ilmu hasil penelitian ini menambah kajian tentang wacana lingkungan hidup Kalteng. 9

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Bagi berbagai pihak yang peduli dengan lingkungan hidup Kalteng, penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi untuk kajian ataupun aksi. D. Tinjauan pustaka Kajian mengenai bagaimana suatu kelompok di website secara menarik ditulis Ien Ang di bukunya On Not Speaking Chinese (2005). Pada salah satu bagian bukunya, Indonesia on My Mind, ia mengulas tentang website www.huaren.org yang muncul sebagai reaksi kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Dari website tersebut terbaca representasi Cina diaspora yang tersebar di berbagai penjuru dunia yang dalam memandang kejadian tersebut cenderung menafikan kompleksitas sejarah dan situasi spesifik di Indonesia. Website ini merupakan fenomena yang setara dengan CNN ketika mengangkat tragedi di lapangan Tiananmen Beijing. Website huaren masih bertahan pada tahun 2000 meskipun tak lagi menarik perhatian dunia, karena sebagaimana sifat internet itu sendiri yang dapat melakukan zoom in – zoom out tetapi tak mampu bertahan lama karena melelahkan. Ulasan Ian Eng memberi kontribusi penting pada kajian website yakni menyoroti proses produk teks yang membangkitkan rasa solidaritas Cina diaspora. Ini untuk membandingkan produksi teks di Website DTE untuk menghimpun solidaritas atas isu- isu lingkungan Kalteng dari ranah lokal ke ranah global. Penelitiannya mengungkap bagaimana sentimen primordial ras dan etnik dapat mengobarkan kepedulian lewat internet. Namun belum dapat menggambarkan bagaimana kepedulian terbangun lewat internet terhadap masalah yang menimpa ras dan etik lain di tempat lain. Penelitian yang dilakukan penulis untuk mengisi kekurangan ini dengan kajian kasus bagaimana website DTE yang bermarkas di London membangun kepedulian terhadap masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng). Sementara itu penelitian yang dilakukan David T. Hill dan Krishna Sen (2005) di Indonesia tahun 1996, lewat bukunya The Internet in Indonesia ‘s News Democracy, 10

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memberi gambaran bagaimana internet menjadi media yang penting ketika media lain dalam tekanan pemerintah Orde Baru. Maraknya bisnis warnet (warung internet) dapat menjadi ajang aktivis pro demokrasi mengakses informasi sekaligus berinteraksi . Namun, seperti yang diakui penulisnya, kajiannya kurang memberi perhatian pada bagaimana interaksi antara koneksi global dengan masyarakat madani setempat. Selain itu kini keberadaan warnet sudah jarang. Penelitian yang dilakukan penulis akan mengisi kekurangan ini dengan kajian kasus bagaimana website DTE melakukan kampanye internasional untuk lingkungan hidup berkeadilan di Indonesia berkerjasama dengan Ornop Kalteng. Kedua buku di atas mengkaji bagaimana sebuah gerakan memakai internet untuk menyikapi kondisi di Indonesia, tetapi tidak secara spesifik meneliti bagaimana sebuah lembaga melakukan aktivitasnya dalam arena gerakan sosial baru. Helena Cook, yang menulis Amnesty International at The United Nations, dari bagian buku The Influence on Non – Govermental Organisations in The U.N. System, dengan editor Peter Willetts (1996), menyumbangkan sisi bagaimana sebuah gerakan lahir dan menjadi lembaga yang memberi pengaruh besar bagi gerakan memperjuangkan hak asasi manusia di dunia. Cook menulis bagaimana Amnesty International dalam aksinya berada dalam tegangan antara kampanye publik dan “quiet diplomacy”. Tetapi bagaimana mereka memakai media terutama internet tidak dibahas di sini. Penilitian yang dilakukan penulis untuk mengisi kekurangan ini dengan kajian kasus DTE melakukan aktivitasnya memantau dan kampanye isu lingkungan Kalteng baik dengan cara off line mau pun on line. Peran penting internet untuk membangun jaringan lokal – global dalam gerakan social baru secara menarik diungkap Jeffrey S. Juris dalam artikel “Networked Social Movements : Global Movements for Global Justice “, bagian dari buku The Network Society yang editornya Manuel Castelss. Lewat penelitiannya di kota-kota di berbagai benua tempat para 11

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI aktivis berkumpul seperti Seattle, Brussel, Zaragoza, Porto Alegre, Juris mengangkat gerakan yang beroperasi sekaligus pada tingkat global dan lokal sembari terjadi integrasi antara aktivitas politik on line dan off line. Menurutnya gerakan-gerakan tersebut secara genealogy merupakan keturunan gerakan Zapatistas dari Indian Maya di Chiapas yang sukses melawan North American Free Trade (NAFTA) dan Multilateral Investment Agreement (MAP) dengan didukung teknologi internet. Gerakan sosial baru berikutnya bermunculan dengan aksi yang mirip misalnya People’s Global Day Action Network, Continental Direct Action (DAN), Movement for Global Resistance (MRG), International Movement for Democratic Control of Financial Markets and Their Institutions (ATTAC). Mereka muncul sebagai gerakan anti globalisasi dan neoliberal dengan melawan lembaga-lembaga global seperti Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), World Social Forum (WSF), World Economic Forum bahkan Uni Eropa. Gerakan mereka dengan membentuk jaringan memakai berbagai bentuk komunikasi sekaligus. Teknologi informasi yang canggih dipakai untuk menyebarkan informasi, berinteraksi dan melakukan koordinasi dengan cepat ke berbagai belahan dunia menggapai para aktivis yang memiliki latar belakang sangat beragam. Tetapi diskusi yang lebih kompleks terjadi ketika mereka telah bertatap muka. Gerakan mereka, meski bersifat cair dan menolak adanya hirarki seperti lembaga konvensional (misalnya partai politik) bagaimana pun memiliki apa yang disebut Juris sebagai “key activist” yang bertindak sebagai “relayers”, “exchangers”. Mereka bekerja untuk melakukan “generating concrete practices” yang meliputi penerimaan, interpretasi, dan “relaying of information out to the different nodes” di antara jaringan gerakan alternatif. Paparan penting mengenai gerakan anti neoliberal ini sayangnya tidak menyinggung bagaimana proses produksi teks gerakan- gerakan tadi di internet secara khusus.Penelitian yang dilakukan penulis untuk mengisi kurangan ini dengan kajian kasus DTE melakukan 12

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI aktivitasnya melalui internet dan bekerjasama dengan Ornop lokal untuk isu lingkungan hidup berkeadilan di Kalteng. Kajian tentang etika lingkungan dalam konteks Indonesia dilakukan Sonny Keraf . Bukunya Etika Lingkungan Hidup merunut perkembangan etika lingkungan yang dibedakan menjadi : 1) antropsentrisme, 2) biosentrisme, dan 3) ekosentrisme. Antroposentrisme membangkitkan minat manusia menyelamatkan lingkungan karena lingkungan hidup dan alam semesta diperlukan manusia untuk memuaskan kepentingannya. Biosentrisme menganggap setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai berharga pada dirinya sendiri (Keraf 2010 : 65). Teori etika lingkungan biosentrisme berlanjut dengan ekosentrisme. Bedanya, pada biosentrisme etika dipusatkan pada komunitas biotis, sedang ada ekosentrisme etika dipusatkan pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup mau pun tidak. Salah satu versi teori ekosentrisme adalah teori etika lingkungan hidup yang dikenal dengan Deep Ecology (Keraf 2010: 91 -92). Atas kerusakan lingkungan di Indonesia, Keraf mengajak kembali kepada kearifan tradisional yakni kearifan lama masyarakat adat (Keraf 2010: 360). Keraf menawarkan menjaga kelestarian lingkungan dengan kembali ke kearifan masyarakat adat , seperti yang diperjuangkan DTE , akan tetapi Keraf hanya menulis dari sisi filsafat lingkungan, belum melakukan kajian kasus- kasus pelaksanaannya. Penelitian yang dilakukan penulis untuk mengisi kekurangan ini dengan kajian kasus bagaimana DTE dan mitra lokalnya melaksanakan kearifan masyarakat adat di Kalteng. E . Kerangka Teori 1. Teori Representasi Untuk membaca politik representasi di website DTE mengenai Kalteng pertama- tama adalah memahami representasi itu sendiri. Saya mengalami kesulitan untuk memperoleh pemahaman mengenai representasi karenanya saya meminjam kajian Stuart Hall dan kawan 13

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kawan yang membuat catatan dari beberapa karya yang dibuat para pemikir lain termasuk Ferdinand de Sausure, Roland Barthes, Michael Foucault. Ada beberapa teori yang muncul untuk menjelaskan representasi yang melibatkan tiga hal penting : kebudayaan, bahasa dan makna. Hubungan ketiganya tak terpisahkan seperti dalam skema The circuit of culture (aliran / perputaran budaya) yang dibuat Du Gay, Hall dkk (1997). Makna diproduksi di lokasi yang berbeda- beda dan dialirkan secara terus menerus. Gambar skema ; ( Hall 2003:1) Representation Regulation Consumption Identity Production Aliran budaya menganggap makna diproduksi di beberapa lokasi yang berbeda dan disebarkan melalui beberapa proses dan praktek yang berbeda. Makna memberi arti pada identitas mengacu siapa dia dan “milik” siapa. Makna meregulasikan dan mengorganisasikan tingkah laku dan praktik, membantu menyusun aturan, norma dan konvensi untuk ketertiban 14

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan pengendalian kehidupan sosial. Salah satu media “istimewa” untuk itu adalah bahasa.(Hall 2003:3-4) Kebudayaan adalah tentang “ berbagi makna”. Bahasa merupakan media yang memiliki hak istimewa yang di dalamnya kita ‘mengerti ‘ sesuatu , di dalamnya makna diproduksi dan dipertukarkan. Makna hanya dapat dibagi bersama melalui akses umum pada bahasa. Bahasa sebagai tempat penyimpanan utama nilai- nilai dan makna. Dalam bahasa , kita memakai tanda-tanda dan simbol – berupa suara, kata- kata tertulis, image yang diproduksi secara elektronik, not musik, bahkan obyek untuk menghadirkan kepada orang lain konsep, ide dan perasaan kita. Bahasa merupakan satu dari ‘media’ untuk lewatnya pemikiran, ide, perasaan direpresentasikan dalam suatu kebudayaan. Representasi melewati bahasa karena itu pusat proses yang olehnya makna diproduksi. (Hall 2003:1) Bagaimana bahasa dipakai untuk merepresentasikan dunia sejauh ini melahirkan tiga teori representasi yakni : reflektif atau ‘mimetic’, intensional, dan kontruksionis. (Hall 2003 : 15). Pertama, pada pendekatan reflektif , makna dibayangkan terletak di dunia nyata. Bahasa berfungsi bagai cermin , memantulkan makna asali seakan itu sudah ada di dunia. Bahasa bekerja hanya dengan mencerminkan atau menirukan kebenaran yang telah ada dan menetap di dunia, yang kadang disebut ‘mimetic’ (Hall 2003: 24). Kedua, pendekatan intensional berseberangan dengan pendekatan reflektif. Makna bukan merupakan makna asali dari dunia tetapi makna unik berdasarkan cara memandang dunia yang diberlakukan oleh subyek (pembicara atau penulis) lewat bahasa. Kata- kata punya arti sesuai apa yang ditunjukkan penulis. (Hall 2003: 25) Kelemahan kedua pendekatan yang terdahulu diperbaiki pada pendekatan ketiga , kontruksionis, dengan mengakomodasi sifat sosial bahasa. Makna dalam bahasa ditentukan bukan oleh sesuatu dalam dirinya atau pun individu pemakai bahasa, tetapi dengan memakai 15

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sistem representasi kita dalam mengkontruksikan makna. Pendekatan konstruksionis memperjelas hubungan masalah dunia materi, tempat keberadaan segala sesuatu dengan proses dan praktek simbolik tempat yang dilewati beroperasinya representasi, makna dan bahasa. Bukan dunia materi yang membawa makna. Makna dikonstruksikan oleh aktor sosial dengan memakai sistem konseptual dari budaya mereka dan bahasa dan sistem representasi lain . Setelah dunia dibuat penuh makna, itu dapat dikomunikasikan kepada yang lain. Dari pendekatan konstruksionis, representasi didefinisikan sebagai suatu praktek, semacam ‘kerja’, yang memakai obyek materi dan efek. Meski begitu makna bukannya tergantung pada kualitas materi tanda akan tetapi pada fungsi simboliknya. Hal itu karena kata atau suara tertentu dipakai untuk, menyimbolkan atau merepresentasikan suatu konsep yang dapat berfungsi di dalam bahasa sebagai sebuah tanda atau membawa makna, atau itu oleh kontruksionis disebut signify ( sign-i-fy ). (Hall 2003: 25 -26 ). Pendekatan konstruksionis memiliki dua variasi aliran utama yakni pendekatan semiotik dan diskursif. Pendekatan semiotik atau ‘poetics’ menjawab pertanyaan tentang bagaimana representasi, dengan bahasa apa memproduksi makna. Sedang pendekatan diskursif atau ‘politik’ ingin menjawab efek dan konsekuensi apa dari representasi. Pendekatan diskursif menekankan sejarah khusus dari suatu bentuk tertentu atau ‘rejim’ representasi. Di sini yang dimaksud ‘bahasa’ bukanlah sebagai hal umum, tetapi tentang bahasa atau makna khusus, dan bagaimana mereka tersebar di tempat dan waktu tertentu. Ini mengenai cara praktek representasi beroperasi dalam situasi historis yang kongkret, dalam praktek sesungguhnya. (Hall 2003: 6) Pada pendekatan semiotik, representasi dipahami atas dasar bagaimana cara kata- kata digunakan sebagai tanda dalam bahasa. Masalahnya adalah , dalam suatu kebudayaan , makna tergantung pada unit analisa yang lebih besar : narasi, pernyataan, kelompok image, 16

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI discourse (wacana) menyeluruh yang beroperasi melintasi berbagai teks, bidang pengetahuan tentang subyek yang memerlukan otoritas yang tersebar luas. Hall menyebut Michel Foucault yang lebih memerhatikan produksi pengetahuan daripada discourse (wacana). Akan menimbulkan pertanyaan hanya makna dan melalui ketika menempatkan representasi sebagai sumber produksi pengetahuan dalam hubungannya dengan praktek sosial dan pertanyaan mengenai kekuasaan. Michel Foucault menjelaskan hubungan pengetahuan dengan kekuasaan. (Hall 2003: 42 – 43). Penelitian Foucault adalah wacana sebagai sebuah sistem representasi. Wacana itu sekelompok pernyataan yang menyediakan bahasa untuk berbicara tentang – suatu cara penghadiran pengetahuan tentang – sebuah topik khusus pada saat sejarah tertentu. Cakupan wacana lebih dari konsep ‘linguistik’ semata. Ia mengenai bahasa dan praktek. Ia mengkonstruksikan topik, juga mendefinisikan dan memproduksi obyek pengetahuan kita. (Hall 2003: 48 – 49). Lalu di mana subyek dan siapa yang memproduksi pengetahuan? Menurut Foucault bukan subyek tetapi wacana yang memproduksi pengetahuan. Subyek itu sendiri diproduksi dalam wacana (Hall 2003: 54- 55). 2. Analisa teks untuk isu lingkungan di media Stuart Hall telah membuat klasifikasi dan perbandingan teori representasi semiotik dan wacana. Meski begitu saya mengalami keterbatasan untuk menangkap makna teks di website DTE sebagai kajian media yang memakai “digital imaging”. Karena itu saya meminjam analisa yang dipakai Peter Hughes yang mengusulkan bahwa teks media bernilai sebagai bukti fenomena sosial sekaligus memiliki nilainya sendiri (Hughes 2007:251). Hughes memakai sekaligus pendekatan semiotik dan analisa wacana. Pendekatan semiotik mengartikan apa yang ada di layar sebagai tanda. Analisa wacana menganggap tanda berfungsi dalam hal struktur yang lebih besar yang melampaui teks itu sendiri (Hughes 2007:255). Ini untuk menghindari penekanan yang hanya pada wacana verbal yakni dengan 17

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membaca perwajahan teks keseluruhan termasuk visual teks. Saya meneliti teks DTE dengan pendekakatan Hughes dengan kajian semiotika dan wacana untuk menyediakan analisis sistematik dengan sistem berbasis image dan sistem berbasis kata. (Hughes 2007: 259). 3. Wacana dengan pembingkaian. Hughes mengusulkan analisa teks untuk media berbasis digital. Saya menambahkan analisa pembingkaian Jenny Kitzinger untuk menjelaskan teks di media adalah proses seleksi. Bagi Jenny Kitzinger analisa pembingkaian adalah hanya kata lain dari analisa wacana ( Kitzinger 2007: 140 ). Dalam kajian media dan komunikasi analisa bingkai adalah isilah yang dipakai ketika peneliti mencoba untuk membongkar proses yang dilewati ketika sebuah bingkai dihadirkan. Membingkai adalah untuk menyeleksi beberapa aspek realitas yang dirasakan dan membuatnya lebih menonjol. ( Kitzinger 2007 : 136 ) Pembingkaian bisa jadi merupakan strategi enviromentalis. Setiap gerakan sosial harus mem” bingkai kembali “ isu- isu. Kajian pembingkaian memperlihatkan pergulatan atas produksi atau pengerahan dan perlawanan pengerahan ide dan makna ( Benford & Snow 2000: 3 ) ( Kitzinger 2007: 136 ). Kajian pembingkian akan melacak bagaimana kelompok pengkampanye menghadirkan alasan mereka dan penggambaran diri mereka , atau bagaimana aspek paling penting atau pandangan alternatif direpresentasikan dalam media massa. ( Kitzinger 2007: 136- 137 ). 4. Arena Wacana lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng merupakan wacana yang tidak hanya dipakai DTE tetapi oleh berbagai pihak. Selain analisa pembingkaian, saya membaca bagaimana berbagai pihak tersebut memakai wacana lingkungan hidup berkeadilan secara berbeda. Karena itu saya meminjam konsep arena yang dikembangkan Pierre Bourdieu. 18

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dengan konsep ini saya membaca bagaimana pihak-pihak tadi adalah agen-agen yang bertindak dalam situasi sosial yang nyata di Kalteng yang diatur oleh seperangkat relasi sosial. Bourdieu mendefinisikan arena- arena sebagai ruang yang terstrukstur dengan kaidahkaidah keberfungsiannya sendiri, dengan relasi- relasi kekuasaannya sendiri, yang terlepas dari kaidah ekonomi kecuali dalam kasus arena ekonomi dan arena politik itu sendiri. Dalam arena agen- agen yang menempati berbagai macam posisi yang tersedia (atau yang menciptakan posisi- posisi yang baru) terlibat di dalam kompetisi yang memperebutkan kontrol kepentingan atau sumber daya yang khas dalam arena tersebut. ( Bourdieu 2012 : xvii- xviii). F. Data 1. Jenis data Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi beberapa unsur terdiri dari teks di website DTE , sumber dari Ornop dan Ormas lokal, media, pemerintah ( Indonesia, Kalteng ). Teks sebagai data untuk menjawab pertanyaan rumusan masalah nomor satu, dua dan tiga. Data termasuk perwajahan website, gambar (logo), foto, artikel. Di samping itu ada data praktis. Data ini dikumpulkan dari wawancara dengan berbagai pihak meliputi DTE, ornop dan ormas lokal. Wawancara dilakukan sebagai klarifikasi data yang menjawab rumusan masalah nomor satu, dua dan tiga. 2. Cara Pengumpulan data Cara pengumpulan data dengan mengunduh (download) dari internet dan wawancara. Keduanya dilakukan satu demi satu atau bersamaan. Mengunduh data dilakukan untuk mencari data berupa teks DTE dan data sekunder lain (sejarah, visi, misi, aktivitas DTE dan mitranya). Cara ini dipakai karena praktis dapat 19

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan di mana saja, asalkan tidak terhambat soal teknis. Tetapi mengingat data digital berada di ruang maya dan sering berubah maka harus dibuat catatan waktu mengunduhnya. Kendala lain adalah format data sering sulit untuk dicetak dalam bentuk hard copy. Data diambil dari tanggal 15 April 2009 hingga tanggal 30 April 2013. Melakukan wawancara dengan DTE dan nara sumber lain secara langsung atau telpon dan atau melalui wawancara tertulis lewat jaringan e- mail. 3. Cara menafsirkan data Berdasar pada keterangan di atas yang terkait dengan kerangka teori, teks- teks di website DTE ditafsirkan dengan kajian semiotika kemudian dibaca dalam konteksnya. G. Sistematika Penulisan Bab. 1. Pendahuluan bertolak dari proposal riset berisi judul, latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan. Bab. 2. Wacana Lingkungan Hidup yang Berkeadilan memaparkan teks bagaimana isu lingkungan dikontruksi menjadi berbagai wacana temasuk wacana Lingkungan Hidup Yang Berkeadilan yang diangkat DTE. Bab 3. Lingkungan Hidup yang Berkeadilan di Kalteng menampilkan data berupa teks website DTE dan konteks Kalteng. Teks website DTE ditampilkan dalam sistem berbasis image dan sistem berbasis kata. Konteks Kalteng berupa isu-isu lingkungan Kalteng. 20

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bab. 4. Teks di website DTE Dalam Wacana Lingkungan Hidup yang Berkeadilan di Kalteng membahas teks di website DTE dalam Wacana Lingkungan Hidup yang Berkeadilan di Kalteng Bab 5. Kesimpulan dan Penutup merupakan ringkasan dari keseluruhan isi tesis. 21

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II WACANA LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKEADILAN Bab ini merupakan diskusi wacana lingkungan yang dibingkai sebagai environmental justice (EJ). Gerakan EJ merupakan gerakan yang bertolak dari kritik terhadap pembangunan dan merupakan gerakan yang menggabungkan lingkungan dengan hak asasi manusia (HAM). Dalam hal ini HAM yang dipakai adalah hak asasi bersifat kolektif yang diperjuangkan oleh komunitas lokal. Dalam wacana tentang lingkungan terdapat sejumlah prespektif. Salah satunya perspektif konstruksionis yang dipakai Dorceta Taylor untuk memandang lingkungan sebagai konstruksi sosial. Saya menggunakan perspektif tersebut untuk menempatkan masalah lingkungan sehingga “masalah lingkungan” adalah masalah sosial. “Masalah lingkungan” adalah klaim yang secara sosial dikonstruksikan lewat proses kolektif. Dengan konstruksi sosial maksudnya, problem lingkungan tidak statis, tidak selalu produk yang sudah teridentifikasi, dapat dilihat, atau kondisi obyektif . Kelompokmerasakan, mengidentifikasi, dan mendefinisikan masalah kelompok masyarakat lingkungan dengan mengembangkan makna bersama dan menafsirkan isu- isu. Karena itu , perspektif kontruksionis mempermasalahkan bagaimana orang –orang menentukan makna pada dunia sosial mereka.(Taylor h. 509) Tulisan ini menggali isu lingkungan hidup berkeadilan semula dari isu lingkungan yang merupakan kritik terhadap isu pembangunan. Isu lingkungan hidup mengalami perkembangan dari usaha melindungi lingkungan hidup hingga menggabungkan dengan isu hak asasi manusia terutama hak kolektif bangsa kulit berwarna dan komunitas lokal. Apa yang diperjuangkan bangsa kulit berwarna dituangkan dalam dokumen The Principles pada tahun 1991 di Washington DC. Karenanya tulisan ini menggali juga perdebatan mengenai 22

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lingkungan hidup dan komunitas lokal. Kemudian tulisan ini akan menggali bagaimana gerakan lingkungan hidup berkeadilan d Indonesia. A. Lingkungan dan hak asasi manusia Wacana lingkungan hidup kontemporer muncul dari Amerika Serikat (AS). Gerakan lingkungan di AS tidak bersifat statik-monolitik. Wacana EJ muncul menggoyang kemapanan wacana dominan sebelumnya. EJ merupakan komponen kedua (selain Deep Ecology ) dari gerakan lingkungan AS yang timbul awal 1980 an. Seperti Deep Ecology , wacana EJ akibat dari kekecewaan mendalam pada hasil gerakan lingkungan tahun 19601970 . Perhatiannya ditempatkan bukan pada wilderness malahan pada ketidaksetaraan beban polusi yang ditempatkan pada komunitas miskin dan minoritas. Perhatian mereka diarahkan pada terpaan polusi racun yang sulit membusuk, dalam bentuk tempat pembuangan sampah limbah beracun lokal, polusi udara tingkat tinggi, atau kondisi tempat tinggal yang tidak sehat dan tercemar. Dari perhatian ini bangkitlah komunitas unik yang terpusat pada isu -isu lingkungan urban di lokasi yang tidak dirugikan. Gerakan Environmental Justice (EJ) di AS menunjukkan kecenderungan radikal akibat dari ketidakpuasan pada gerakan lingkungan sebelumnya. Secara kronologis Dorceta E. Taylor membagi kegiatan lingkungan Amerika Serikat dalam empat fase yang sesuai dengan paradigma pembangunan : Era gerakan awal (1820-1913) Explotative Capitalist Paradigm (ECP), Era Post - Hetch Hetchy (1914- 1959) ECP & Romantic Environmental Paradigm (REP) , setelah itu gerakan lingkungan modern yang terbagi dalam Era Post – Carson (1960- 1979) New Environmental Paradigm ( NEP), Era Post-Three Mile Island / Love Canal (1980 -sekarang) NEP dan Environmental Justice Paradigm ( EJP) ( Taylor : 527) (lihat tabel ) Tabel : Fase kegiatan lingkungan dan perkembangan paradigma yang berhubungan. 23

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pre -Movement Early Environmental Movement Modern Environmental Movement Fase gerakan Era Pre- Movement Era Post- Hetch Hetchy Era Post – Carson Era Post – Three Miles Lingkungan (1820-1913) (1914-1959) (1960-1979) Island/ Love Canal (1980- sekarang) Paradigma Exploitative capitalist paradigm (ECP) ECP & the Romantic environmental paradigm ( REP) New environmental paradigm (NEP) NEP & the environmental justice paradigm (EJP) Gerakan lingkungan AS dapat diklasifikasi dalam empat fase yang berbeda dari aktivisme dan pergantian tiga paradigma utama. Abad 19 kebanyakan paradigma sosial yang dominan yang berhubungan manusia – alam diartikulasikan dalam pola exploitative capitalist paradigm ( ECP). ECP melihat sumber daya sebagai berlimpah dan terbarukan , karenanya mereka dikeduk dan dipakai dengan luas tanpa memikirkan keperluan masa mendatang. Orang-orang percaya perkembangan teknologi dapat memecahkan masalah dan percepatan dan perluasan perkembangan industri bagus untuk masyarakat.(Taylor : 529). Romantic Environmental Paradigm ( REP) sebagai alternatif ECP mengembangkan sektor wilderness/ wildlife tumbuh dari tokoh seperti Emerson, Thoreau, Muir, semua itu dipengaruhi Jean – Jaques Rousseau, pemikir Eropa. Selain itu REP merupakan karya aktivis ekologis dan pegawai negeri George Perkin Marsh dan konservasionis seperti Gifford Pinchot dan Theodore Roosevelt. Mereka mendesak agar orang hidup harmonis dengan alam dan mendorong pemerintah untuk melindungi wildlife dan wild land. Pendukung preservasionis melakukan pembelaan untuk kembali ke kehidupan sederhana. Konservasionis setuju dengan preservasionis bahwa tingkat kerusakan sumber telah lama menjadi problematik dan kontrol pemerintah atas sumber daya alam adalah esensial. Mereka tidak setuju bahwa perlindungan lingkungan berarti meninggalkan pembangunan komersial.(Taylor: 530- 531) 24

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selama era post- Carson , REP mendapat sisipan visi lingkungan yang lebih luas yang mengkritik pembangunan teknologi tinggi (besar, kompleks, intensif energi) seperti industri nuklir, mendukung pembatasan kelahiran , pencegahan polusi, pengurangan resiko, pembersihan lingkungan, mendukung nilai posmaterialis. NEP memiliki sikap yang lebih pro- lingkungan dibanding REP karena sejumlah besar orang bergabung dengan gerakan untuk pertama kalinya , mereka terutama kaum muda yang sedikit atau tidak punya hubungan dengan dan kemungkinannya kurang untuk dipengaruhi untuk membuat konsesi bisnis atau mendukung rencana yang diawali dengan bisnis. Juga, aktivis lingkungan yang baru tidak mengejar rekreasi ekstratif seperti berburu dan memancing seperti environmentalis gelombang pertama dan kedua, mereka tidak terhubung dengan kepemimpinan lingkungan “old guard”, dan beberapa punya pengalaman gerakan sosial radikal seperti anti nuklir dan gerakan HAM (Hak Asasi Manusia). (Taylor :533) Pengalaman lingkungan ras berwarna jelas berbeda dengan ras kulit putih; karena itu tidak mengejutkan bahwa kegiatan lingkungan mereka, agenda, dan paradigma berbeda dengan yang dikonstruksikan oleh kulit putih klas pekerja- menengah. Kasus ini karena, pertama, sejarah kegiatan lingkungan ras berwarna adalah suatu usaha untuk mendefinisikan ulang bagaimana mereka menghubungkan pola kondisi tempat tinggal dan tempat kerja dan kesempatan rekreasi. Redefinisi tersebut memiliki tiga komponen : otonomi atau selfdetermination, hak atas tanah, dan hak sipil atau hak asasi manusia (HAM). Lewat sejarah, bangsa kulit putih menimbun dan mengendalikan sumber daya lewat apropriasi tanah dan buruh dan mengendalikan gerakan bangsa kulit berwarna. Periode penaklukan berkarakter kerusakan sistem budaya bangsa pribumi. Bangsa kulit putih , bagaimana pun bebas untuk mengekspresikan mereka sendiri dan membangun bermacam hubungan dengan apa yang mereka lihat cocok. (Taylor: 533-534) 25

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tidak mengherankan bahwa wacana lingkungan bangsa kulit berwarna dibingkai seputar konsep seperti otonomi, self- determination, akses sumber daya, kejujuran dan keadilan, hak sipil dan HAM. Konsep- konsep itu tidak terdapat di wacana lingkungan arus utama.(Taylor:543 ). EJ telah menjadi bingkai di bawah permukaan politik komunitas bangsa kulit berwarna lebih dari satu abad. Catatan sejarah memperlihatkan bahwa sejak 1800 an , bangsa kulit berwarna mencoba untuk meningkatkan kondisi perumahan di antara budak , untuk tanah dan hak pekerja.(Taylor: 534-535). Bahkan awal 1900 an kaum kulit hitam Chicago mengangkat isu pemisahan pemukiman dan pemisahan taman dan pantai publik. Selama masa 1940 an, 1950 an, 1960 an aktivisme lingkungan meningkat di komunitas kulit berwarna meliputi debat soal hak mencari ikan, kontaminasi pestisida, kesehatan dan keamanan pekerja, pemisahan di sistem transportasi. Walau pergulatan lingkungan 1950 an dan 1960 an digabungkan dalam gerakan dan bingkai gerakan HAM, gerakan Chicano dan gerakan Indian mendorong ketertarikan pada bingkai baru gerakan EJ.(Taylor:535) Sekitar 1980an gerakan EJ mendapat tambahan momentum dan dapat dilihat setelah bangsa kulit berwarna mulai mengorganisasikan kampanye lingkungan seperti pencegahan racun pestisida dan perlawanan penempatan fasilitas beracun di komunitas mereka. Sementara itu peneliti, pembuat kebijakan , dan aktivis komunitas memulai investigasi hubungan antara ras dan paparan lingkungan berbahaya. Dua kajian penting yang memeriksa hubungan itu mendapati masyarakat kulit hitam dan kulit berwarna lain lebih mungkin untuk terpapar lingkungan berbahaya daripada orang kulit putih (U. S. General Accounting Office [ U. S. GAO ]1983; United Church of Christ [UCC],1987). Kajian UCC khususnya adalah kesadaran yang menyengat karena merupakan kajian nasional yang membuat hubungan eksplisit antara ras dan kemungkinan yang meningkat terpapar limbah beracun dan kondisi lingkungan berisiko lain. Ini juga dokumen penting dalam arti ini menyediakan pembebasan kognitif; beberapa aktivis itu kemudian menjadi organiser EJ. Karena itu istilah 26

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI environmental racism dibakukan untuk menjelaskan ragam situasi yang dihasilkan karena pengaruh faktor- faktor rasial. Istilah itu dipakai secara populer pada konferensi yang diadakan University Michigan’s School of Natural Resources tahun 1990 dan dimunculkan pada laporan konferensi yang diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Race and Incidence of Environmental Hazard: A Time for Discourse. (Taylor: 535). Environmental racism sering juga disebut environmental discrimination , keduanya dipakai untuk menggambarkan perbedaan rasial dalam tingkat proses dan aksi. (Taylor: 536) Ketika aktivis, peneliti, dan pembuat keputusan mulai mengkaji rasisme lingkungan istilah environmental justice (EJ) juga dipakai. Selama 1980 an the Citizens Clearinghouse for Hazardous Wastes (CCHW) (1989) mulai melukiskan kegiatan lingkungan akar rumput sebagai “the movement for environmental justice”. Awalnya kaum kulit putih, organisasi kelas menengah –pekerja pada saat itu, CCHW (yang tumbuh dari the Love Canal Homeowners Association dan kampanye penduduk Love Canal untuk mendapat kompensasi untuk properti yang tercemar ) memusatkan perjuangan pada klas sosial, diorganisasikan di sekitar keadilan untuk masyarakat pendapatan menengah dan rendah. Bagaimana pun sebagaimana kajian U.S. GAO (1983) dan UCC (1987) yang membawa isu ras dan lingkungan menjadi penting di masyarakat kulit berwarna, istilah environmental equity movement dipakai untuk menjelaskan gerakan yang tumbuh yang ditujukan pada ketidakadilan lingkungan pada ras, jender, klas sosial. Pada awal 1990 an, istilah environmental equity salah pakai dan istilah environmental justice menguat. Istilah justice menggantikan equity . Aktivis EJ merasa justice lebih inklusif dibanding equity dan dapat disatukan dengan konsep equity, impartiality dan equality. Gerakan ini punya perhatian pada dua macam keadilan : (1) keadilan distributif, yang mengacu pada siapa mendapat apa, dan (2) keadilan korektif atau pertukaran/ pengurangan, yang punya perhatian pada cara individu diperlakukan selama transaksi sosial. (Taylor: 536-537). Lebih rinci daripada Taylor, Ke Jian 27

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengidentifikasi empat tipe keadilan yang terwujud pada EJ : keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan korektif, keadilan sosial. 1. Keadilan distributif Mengacu pada distribusi yang adil dari beban lingkungan dari fasilitas yang memproduksi resiko dan keuntungan lingkungan dari program pemerintah dan swasta. Konsepsi geografis yang besar adalah satu yang mungkin datang pada paling banyak pikiran orang-orang ketika mereka mendengar istilah “EJ” . Ini adalah sebuah kesalahpahaman , bagaimana pun, bahwa tujuan utama gerakan EJ adalah untuk secara geografis mendistribusikan ulang fasilitas lingkungan berisiko. Pemahaman yang lebih akurat mengenai keinginan untuk keadilan distributif adalah bahwa jika beban pemakaian tanah yang merusak dibagi secara lebih adil, ini akan menciptakan tekanan lebih besar untuk menurunkan polusi melalui komunitas. 2. Keadilan prosedural Mengacu pada kejujuran pada proses pembuatan keputusan, termasuk hak untuk semua anggota publik untuk berpartisipasi dalam semua aspek keputusan lembaga / agency. 3. Keadilan korektif Mengacu pada kejujuran penghukuman, termasuk kewajiban pemberian ganti rugi yang menjadi tanggung jawab seseorang, dan untuk membersihkan kontaminasi yang disebabkan seseorang. 4. Keadilan sosial Mengandung ide lebih dari hanya menertibkan masyarakat. Yang di dalamnya kebutuhan semua orang lebih terpenuhi. Di bawah pandangan ini, EJ adalah paket dan bagian masalah yang lebih besar ketidakadilan rasial, sosial dan ekonomi yang menghadapi komunitas yang terbebani berat. Pembelaan mencatat bahwa faktor28

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI faktor yang sama digarisbawahi rasial, politis, ekonomis yang menyebabkan kerusakan lingkungan yang tidak seimbang juga bertanggung jawab terhadap rumah miskin, sekolah berkualitas rendah, kurangnya kesempatan kerja, dan masalah lain di beberapa komunitas. Pada gilirannya kehadiran pemakaian tanah yang berisiko dan tak diiinginkan merusak kesehatan dan daya hidup sekitar, dan mengarah pada kerusakan ekonomi.(Ke Jian h. 274) Paradigma EJ paling jelas diartikulasikan dalam dokumen the Principles. Delegasi “The First National People of Color Environmental Leadership Summit” pada 24-27 Oktober 1991 di Washington DC menyusun dan mengadopsi 17 prinsip Environmental Justice (EJ) atau The Principles of Environmental Justice (EJ) yang isinya sebagai berikut : 1) EJ menegaskan kesucian Ibu Bumi, kesatuan ekologis dan kesalingtergantungan semua spesies, dan hak untuk bebas dari kerusakan ekologis. 2) EJ menuntut kebijakan publik didasarkan pada respek timbal balik dan keadilan untuk semua orang, bebas dari setiap bentuk diskriminasi atau bias. 3)EJ memandatkan hak etik, keseimbangan dan tanggung jawab pada pemakaian tanah dan sumberdaya terbarukan demi kepentingan planet yang lestari untuk manusia dan makhluk hidup lain. 4) EJ menyerukan perlindungan universal dari tes nuklir, ekstraksi, produksi dan pembuangan limbah beracun / berbahaya dan racun dan tes nuklir yang mengancam hak fundamental pada udara bersih, tanah, air, makanan. 5) EJ menegaskan hak fundamental pada politik, ekonomi, budaya dan penentuan nasib sendiri atas lingkungan pada semua orang. 6) EJ menuntut penghentian produksi semua racun, limbah berbahaya, materi radioaktif, dan semua produk baik dulu mau pun sekarang diatur secara ketat akuntabel kepada rakyat untuk detoksifikasi dan pencegahan perluasan pada saat produksi. 7) EJ menuntut hak partisipasi sebagai patner setara pada setiap tingkat pengambilan keputusan, termasuk keperluan perkiraan, perencanaan, implementasi, pelaksanaan dan evaluasi. 8) EJ menegaskan hak semua pekerja untuk lingkungan kerja yang aman dan sehat tanpa paksaan memilih antara penghidupan yang tidak aman dan pengangguran. Ini juga menegaskan bagi yang bekerja di rumah bebas dari lingkungan berbahaya. 9) EJ melindungi hak korban lingkungan yang tidak berkeadilan untuk menerima kompensasi penuh dan reparasi kerusakan dan pelayanan kesehatan berkualitas. 10) EJ menganggap tindakan pemerintah pada lingkungan yang tidak berkeadilan sebagai suatu pelanggaran hukum internasional, deklarasi Hak- hak Asasi Manusia, dan Konvensi PBB atas genosida. 29

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11) EJ harus mengakui hukum spesial dan relasi wajar “Native Peoples” dengan pemerintah AS lewat perjanjian, persetujuan, kontrak, kovenan yang menegaskan kedaulatan dan penentuan nasib sendiri. 12) EJ menegaskan keperluan kebijakan ekologi urban dan pedesaan atas pembersihan dan pembangunan kembali kota kami dan daerah pedesaan dalam keseimbangannya dengan alam, penghargaan integritas kebudayaan semua komunitas kami, dan menyediakan akses adil untuk semua kawasan penuh sumber daya. 13) EJ menyerukan pelaksanaan ketat prinsip- prinsip persetjuan yang diinformasikan, dan menghentikan tes eksprimen reproduksi dan prosedur medis dan vaksinasi pada bangsa kulit berwarna. 14) EJ menentang operasi destruktif korporasi multinasional. 15) EJ menentang pendudukan militer, represi dan eksploitasi tanah, manusia dan kebudayaan dan bentuk kehidupan lain. 16) EJ menyerukan untuk generasi sekarang dan mendatang yang menekankan isu-isu sosial dan lingkungan, berlandaskan pengalaman kami dan apresiasi pada perbedaan perpektif kebudayaan kami. 17) EJ mengharuskan bahwa kami, sebagai individu, membuat pilihan-pilihan personal dan konsumen untuk mengkonsumsi sesedikit mungkin sumber daya Ibu Bumi dan membuat sesedikit mungkin limbah; dan membuat keputusan sadar untuk menantang dan memprioritaskan kembali gaya hidup kami untuk menjamin alam yang sehat. The Principles dianggap kurang menunjukkan pola paradigmatik. Malahan gerakan EJ sering hanya dianggap gerakan anti racun yang dari jaringan kerja yang cair dari kelompok akar rumput lokal yang menentang penempatan fasilitas berbahaya dan terpaan zat beracun. Bahkan gerakan EJ digambarkan sebagai gerakan reaktif daripada gerakan yang lebih kompleks dengan inti ideologis yang penting yang punya efek penting pada ideologi lingkungan (Taylor: 538) Penelitian Taylor sebaliknya menemukan bahwa gerakan EJ bekerja dalam variasi isu yang lebih luas. Menurutnya the Principles adalah mengenai isu lingkungan yang berhubungan dengan manusia, alam, lingkungan urban dan pedesaan yang ditemukan pada enam komponen tematik utama berupa 1) prinsip ekologis; 2 ) hak- hak keadilan dan lingkungan; 3) otonomi / self- determination; 4) hubungan komunitas – korporasi; 5) proses kebijakan, politik, ekonomi; 6) dan bangunan gerakan sosial.(Taylor: 538- 539) 30

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sebelum tahun 1960 an isu lingkungan dibingkai untuk menarik klas menengah dan elit dengan menekankan perlindungan wildlife dan wilderness dan rekreasi outdor – olah raga mendaki gunung, mencari ikan, berburu burung dan hewan lain. Orang –orang yang tidak bisa berpartisipasi pada kegiatan ini karena jarak, biaya perjalanan, waktu luang kerja atau yang dikucilkan dari partisipasi karena etnik atau ras telah terasing dari pesan itu. Pembingkaian Carson memperluas wacana lingkungan sehingga memobilisasikan jutaan orang yang bagaimana pun awalnya mobilisasi kaum kulit putih klas menengah. Walau penelitian dan pembingkaian Carson mengidentifikasi masalah dengan pestisida yang mempengaruhi manusia, ia tidak memasukkan pendekatan ras, klas atau jender. Karena itu dampak yang tidak proporsional yang hadir di antara kelompok pupolasi yang berbeda tidak kelihatan jelas ( misalnya pencemaran pestisida pada pekerja pertanian dapat menyediakan petunjuk dampak pestisida yang berbeda atas manusia) . Bahkan setelah era Carson, keseluruhan bingkai lingkungan masih tidak menarik kaum kulit berwarna dan beberapa kaum kulit putih kelas pekerja. Pembingkaian yang tidak seimbang lebih jauh diperburuk oleh fakta bahwa reformasi organisasi lingkungan tidak merekrut kaum kulit berwarna untuk organisasi mereka. Faktanya, beberapa organisasi tersebut tidak mengijinkan kaum kulit hitam dan kaum kulit berwarna lain, Eropa selatan dan timur, atau Yahudi untuk bergabung hingga akhir 1950 an, dan bahkan kemudian sedemikian hingga mengakibatkan banyak keretakan dalam organisasi. (Taylor: 556) Konstruksi wacana EJ penting untuk usaha mobilisasi. Aktivis harus menstransformasikan wacana ingkungan di komunitas kulit berwarna dari bingkai bawah tanah ke bingkai induk. Pada awal proses, awal 1980, wacana EJ secara kuat tergantung pada retorika kejujuran. Bingkai juga menarik retorika idiom ketidakmasukakalan (diskriminasi 31

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan manipulasi komunitas), malapetaka (penghancuran komunitas ), pemberian hak (menagih keadilan dan kejujuran), dan keterancaman (identifikasi resiko yang tak dapat ditolerir dan ketidak seimbangan paparan resiko). Pada titik ini motif retorik memberi karakter komunitas kaum kulit berwarna sebagai “ Chemical Corridor” dan “Street of Death” dan penyakit sebagai “disease of the month” mengilhami klaim dengan pentingnya moral. (Taylor: 56) Sebagai bagian dari proses pembingkaian , retorika awal dan konstruksi sosial juga fokus pada keterukuran yang dapat dialami dan keterpusatan yang bersifat gagasan kesetiaan naratif. Inilah studi kasus yang dikumpulkan aktivis dan memakai pengalaman orang- orang untuk memperlihatkan pentingnya gerakan dan keperluan untuk bertindak segera. Sebagaimana sejumlah kasus EJ menumpuk, kesetiaan naratif meningkat. Orang yang berpikir komunitas mereka hanya satu-satunya yang memiliki masalah lingkungan menjadi sadar bahwa kasus- kasus seperti yang mereka miliki tersebar di seluruh negara (Taylor: 561). Pengalaman-pengalaman tersebut menguatkan orang-orang untuk mengambil strategi aksi kolektif daripada sekedar mencoba untuk memecahkan isu sebagai kelompok komunitas atau individu yang terisolir. B. Lingkungan dan komunitas lokal. Wacana EJ yang memakai dasar komunitas harus berhati- hati karena pandangan tentang komunitas yang solid dan “murni” terus berubah. Hal lain adalah gerakan yang mengusung wacana EJ yang merupakan perkawinan wacana lingkungan tradisional dengan wacana HAM ditantang apakah bisa menguat seperti gerakan HAM. Sebagai wacana tandingan dari wacana dominan lingkungan yang diprakarsai milik kalangan klas atas AS, wacana EJ berbasis komunitas lokal yang menanggung resiko limbah beracun dan ketidak adilan lingkungan yang lain. Padahal wacana tentang komunitas lokal seperti halnya wacana lingkungan sebagai hasil konstruksi sosial budaya juga terus berubah. 32

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada beberapa kasus, komunitas lokal dikaitkan dengan bangsa pribumi. Istilah indigenous (pribumi) atau native (asli) sebagai wacana mengalami perubahan dan menimbulkan gugatan apakah itu menjadi alat politik. Seperti halnya terhadap lingkungan, modernitas menjadi ancaman namun sekaligus membuatnya populer. Antropologi selama seperempat abad lampau kebanyakan tertarik pada sifat-sifat lokal, native (asli), autochthonous ( berasal dari tempat asli) dengan bingkai indigeneity yang fokusnya pada sejarah dan tempat (Dove 2006: 192). Beberapa gerakan lokal yang suatu saat direpresentasikan pada ketertarikan utama pada ras, etnisitas, religi dilihat oleh peserta dan analis sebagai gerakan hak “indigenous peoples”. Subyek kajian dan debat yang semula direpresentasikan sebagai petani atau saudara sesuku lalu direpresentasikan sebagai “indigenous peoples”. Dove mengutip Nugent memberi salah satu contoh sukses pengartikulasian kembali adalah gerakan Zapatista Chiapas yang semula gerakan land reform petani yang sedikit dikenal bisa menjadi gerakan yang mendunia setelah dibingkai kembali sebagai Indian indigeneity. (Dove 2006:192). Kebanyakan ketertarikan pada pengetahuan pribumi terpusat pada sumber daya alam dan lingkungan dicerminkan dengan munculnya konsep pengetahuan indigenous lokal . Munculnya konsep ini merepresentasikan reaksi atas penyebarluasan wacana yang mengandung sejarah yang membesar dan tanpa kritik yang menyalahkan populasi lokal atas kerusakan lingkungan. (Dove 2006: 196). Meski pun koreksinya mengandung keadilan sejarah dan validitas empirik , konsep pengetahuan indigenous juga mengandung celah. Tiga mitos mendasar tentang indigenous peoples disebut Berkes (1999) yakni : the exotic other, the intruding wastrel, dan the noble savage atau fallen angel malahan menjadi subyek debat sengit. Sebuah debat yang pernah dirilis mempertanyakan apakah tindakan yang tak dimaksudkan untuk konservasi layak disebut konservasi. (Dove 2006:197). 33

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Di luar wacana tentang komunitas indigenous , wacana tentang komunitas itu sendiri memiliki tegangan di antara pendukung struktur di satu kutub berseberangan dengan pendukung agency di kutub lain. Sejumlah pengamat telah berkomentar pada perubahan fundamental pemikiran dalam antropologi lingkungan lewat seperempat abad lalu dengan respek pada kajian kekuasaan, politik , kekuasaan pemerintahan menuju teori postruktural. Ketika lebih condong pada agency maka pada gilirannya komunitas lokal semakin dipermasalahkan. Beberapa kajian antropologi telah berkontribusi untuk pandangan revisionis pada komunitas sebagai kurang homogen, harmonis, dan terintegrasi dan lebih banyak secara historis tidak terduga daripada pemikiran sebelumnya. Menulis sistem irigasi India selatan, contohnya, Mosse (1997), melawan intuisi, yang lebih tua, sistem sosial supralokal telah secara nyata ditempati oleh lebih yang dilokalkan yang lain baru- baru ini karena tuntutan negara modern. (Dove 2006: 199). Wacana global yang bersifat hegemonik Community Based Natural Resource Management (CBNRM ) yang menolong mempromosikan perkembangan konsep komunitas , dirusak oleh pengalaman. Kasus San di Kalahari, (tentang otonomi dan identitas komunitas) merupakan kasus ikonik indigenous peoples yang terisolasi dan abadi. Wilmsem (1989) menyatakan San telah diintegrasikan pada ekonomi kapitalis modern secara material, karena administrasi kolonial Inggris telah memperkuat sistem upeti Tswana , yang mengekstrak surplus dari San. Mereka juga diintegrasikan secara diskursif dalam cara yang menyamarkan sejarah riil mereka. (Sylvain 2002 ). Berada di pihak yang berseberangan Solway & Lee (1990) membela bahwa walau San tergantung pada non San , yang lainnya adalah, jika tidak terisolasi dan abadi, setidaknya secara substansial bersifat otonomi dan secara aktif melawan pembentukan kapitalisme dunia (Dove 2006: 200) 34

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Apabila wacana bahwa komunitas lokal memiliki ciri-ciri homogen, harmonis dan terintegrasi mulai ditanggalkan, maka bagaimana menghubungkan reaksi komunitas lokal terhadap perubahan lingkungan dan outsider akan memerlukan pengujian yang cermat. Dove yang membandingkan beberapa kajian tentang komunitas lokal dan perubahan lingkungan menemukan bahwa agency secara aktif bekerja sama dengan pihak di luar komunitas lokalprimordialnya. Banyak peneliti melampaui ke luar konsep lokal resisten, pada karya yang awal dan pusatnya berkontribusi pada kajian agency. Komunitas lokal tidak hanya sekedar menolak aktor ekstra komunitas yang sangat kuat, tapi juga berkolaborasi dengan mereka dengan cara yang lebih kompleks daripada yang telah dibayangkan. Contohnya, sebuah sejarah panjang kajian oposisi antara departemen kehutanan dan bangsa pribumi oleh Mathews (2005) dan Vasan (2002) menganalisa cara harian orang kehutanan dan petani berteman untuk keuntungan bersama. (Dove 2006: 200). Contoh bagaimana sistem patronase dan rendahnya solidaritas sosial di Kalimantan Timur ketika berhadapan dengan perusahaan tambang batu bara yang diteliti Ramanie Kunanayagam dan Ken Young akan saya tambahkan nanti. Selain mengungkap kerjasama agency komunitas lokal dengan pihak outsider, Dove mengingatkan tentang partisipasi. Kolaborasi dan complicity (keterlibatan dalam perbuatan buruk ) di sini dibedakan dari partisipasi. Ketertarikan menyingkap pola informal bertambah besar, begitu juga kritik struktur pembangunan formal atas partisipasi. Lewat seperempat abad lalu ada perubahan arah diskursif utama dalam lingkaran pembangunan global menuju jaminan partisipasi masyarakat indigenous pada pembangunan mereka sendiri, yang direfleksikan pada teknik riset yang lebih partisipatoris (contohnya participatory rural appraisal dan pemetaan lokal ) dan CBNRM. Tapi kritik mempertanyakan bagaimana ukuran partisipatoris. Trantafillou dan Nielsen (2001) beranggapan bahwa penguatan 35

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI partisipatoris sekedar menuju jeratan lebih besar pada hubungannya dengan kekuasaan. ( Dove 2006: 200). C. Pengadilan internasional untuk Ecological Justice Gerakan lingkungan EJ yang berbasis komunitas lokal memadukan wacana lingkungan dengan HAM sehingga bisa memperbandingkan strateginya dengan strategi gerakan HAM. Di AS, gerakan HAM berupa penguatan komunitas merupakan strategi paling efektif sebagai alat mencapai tujuan EJ karena menyerang akar penyebab masalah, kelemahan komunitas miskin dan minoritas. Ada tiga strategi kunci gerakan EJ di AS meliputi :1) litigasi (pengajuan proses perkara di pengadilan), 2) legislasi (pembuatan undang- undang), dan 2) Executive Order 12, 898 ( yang berjudul “ judul ”Federal Actions to Address Environmental Justice in Minority Populations and Low Income Populations” ) (Robert: 234 ). Litigasi sangat sukses menyembuhkan contoh masa lalu diskriminasi rasial, tapi ada dua kelemahan Amandemen dan pasal HAM tidak siap untuk konteks EJ. Membawa masalah EJ ke luar dari jalanan ke pengadilan bisa menjadi kerugian komunitas. R Gregory Robert mengutip Luke Cole, percaya bahwa pertentangan antara pencemar dan komunitas di pengadilan berarti “dua tipe kekuatan hadir : kekuatan uang dan kekuatan rakyat”. Padahal penempatan fasilitas adalah masalah politis, bukan legal. (Robert: 245). Pada ranah perudangundangan, walau solusi legislatif terbukti efektif , tanpa representasi penting pada proses pembuatan keputusan , setiap legislasi yang diloloskan mungkin terbukti terlalu “watered down” untuk punya efek. (Robert: 248). Karena itu strategi penguatan komunitas harus bermain sebagai pelaku utama pada setiap strategi EJ karena alat paling efektif untuk tujuan akar penyebab EJ : kelemahan ekonomi dan politik. Kelemahan tersebut menyebabkan komunitas miskin dan minoritas mendapat (1) ketidakseimbangan LULU (locally undesirable 36

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI and uses ), (2) toxic “hot – spot” yang diakibatkan sindrom NIMBY ( Not in my back yard ) (Robert: 249) Bangkitnya wacana EJ di AS bahwa penguatan komunitas lokal menyandang peran utama. Bagaimana pun itu belum cukup. Belajar dari gerakan HAM, di tingkat internasional perlu adanya ganti rugi legal mengglobal seperti yang diusulkan Economic & Social Research Council (ESRC). The International Criminal Court , dan pengadilan kejahatan perang adalah contoh yang sudah sering terdengar. Masa depan EJ dapat mengglobal juga dengan peningkatan pemakaian contoh ini atau yang lainnya : 1. Kasus keluarga Ken Saro- Wiwa melawan Shell – Nigeria memakai the US Allien Tort Claims Act (1789) 2. Dua keluarga Perancis korban penyakit sapi gila melawan dua bekas pemerintah Konservatif Inggris memakai hukum pembunuhan dan peracunan. 3. Environmentalis Austria melawan pemerintah Czech di pengadilan AS mengenai pembangkit tenaga nuklir Temelin yang dekat dengan perbatasan Austria yang melibatkan perusahaan AS Westinghouse. Orang-orang desa Mianmar melawan Unocal dan Total di pengadilan California yang menutupi kekuatan buruh. Orang Ekuador melawan Texaco di pengadilan AS untuk pelecehan HAM dan kontaminasi tanah mereka. 4. Komisi hukum PBB saat ini bekerja pada ‘international liablity for transboundary damage from hazardous activities’. (ESRC 2001: 16) D. Ecological Justice di Indonesia Di negara asalnya wacana lingkungan mengalami transformasi seiring perubahan kebudayaannya. Kondisi khusus terutama ketidak adilan komunitas minoritas kulit berwarna dan kelompok berpendapatan rendah memicu munculnya wacana EJ. Dengan begitu tentunya 37

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI wacana EJ tidak mungkin begitu saja dicopy- paste untuk negara di luar AS khususnya di Indonesia. Environmentalisme , khususnya sejak akhir 1980 an menjadi sesuatu yang melegitimasi wacana oposisi. Dalam masyarakat yang lembaga oposisi politiknya tidak diijinkan untuk berkembang , gerakan lingkungan menciptakan lokasi alternatif untuk ekspresi persaingan posisi. Pada satu tingkat, pembangunan berkelanjutan, pemeliharaan keaneka ragaman dan kesamaan lintas generasi pada akses sumber daya lingkungan (SDA) sekarang diterima arus utama global sebagai bernilai ideal. Juga, lingkungan dipakai sebagai dasar mengartikulasikan klaim atas sumber daya sebagai bagian kelompok terpinggirkan yang klaim terdahulunya diabaikan atau dicap subversif. Ketika ada batas jelas pada gabungan isu lingkungan dan sosial, environmentalisme dalam manifestasinya yang beragam di Asia Tenggara mengambil peranan sebuah gerakan sosial. Lingkungan sebagai arena legitimasi perlawanan, atau sebagai bagian wacana yang diterima atas jalan alternatif pembangunan bisa juga menjadi subyek untuk memaksa kooptasi. Jendela environmentalisme dengan demikian terbuka dan merefleksikan beberapa kepelikan posisi dan cross- cutting interest yang diasosiasikan dengan sosial, ekonomi, politik yang baru. (Hirsch & Warren 2002: 2) Pimpinan Ornop lingkungan menjadi garda depan apa yang disebut “liberasi politik di Indonesia”. Satu- satunya cara menjadi anti – Suharto adalah melalui gerakan lingkungan, tak ada cara lain untuk bicara tentang Suharto atau HAM (Gordon 1998: 2). Soeharto memberi aktivis mahasiswa tempat di DPR di awal pemerintahannya hingga awal 1970 an. Hubungan baik kedua pihak berakhir pada Januari 1974 atau sering disebut peristiwa Malari “lima belas Januari”. Bahkan Soeharto menghentikan kegiatan politik di kampus dengan Normalisasi kehidupan Kampus (NKK) di tahun 1978 dan menghapus Dewan Mahasiswa. (Gordon 1998: 38

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9), (Tsing 2005 :129). NGO Indonesia menghindari serangan dan intimidasi pemerintah dengan tidak memakai istilah “non- governmental” yang berkonotasi “ anti- pemerintah”. Mereka memakai istilah “lembaga pengembangan swadaya masyarakat”(LPSM). NGO yang lebih kecil memakai nama “lembaga swadaya masyarakat” (LSM). (Gordon 1998: 5) Tekanan internasional dan kesadaran pengendalian pencemaran mendorong pemerintah Indonesia pada tahun 1978 dalam Kabinet Pembangunan III mengangkat Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Men-PPLH) yang dipegang Prof.Dr.Emil Salim. Menyadari posisinya lemah secara politis, kurang kekuasaan legislasi dan kurang dana, Emil Salim memelihara dukungan Ornop untuk membangun suara untuk pembangunan berkelanjutan dengan dukungan donor (Gordon 1998: 9). Relasi itu dan penerimaan bagian lain pemerintahan menyebabkan menjamurnya Ornop lingkungan baik domestik mau pun internasional. Pemerintah juga bergantung pada dana dan keahlian beberapa Ornop lingkungan tersebut. Sebagai contoh, The World-Wide Fund for Nature (WWF), membantu mengurus 17 dari 32 Taman Nasional. (Gordon 1998:10) Di Indonesia kelompok mahasiswa pecinta alam sudah ada di tahun terakhir pemerintah Sukarno. Pendiri Mapala Universitas Indonesia (UI) beberapa di antaranya aktivis mahasiswa bermaksud menciptakan kegiatan non politik. Pada masa Orba, beberapa pendirinya menjadi pengkritik pemerintah (Tsing 2005: 129). Ornop lingkungan kadang satu-satunya forum yang ide-idenya ditujukan kepada Orba sehingga menarik mahasiwa. Salah satunya yang vokal adalah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang didirikan pada tahun 1980. Ornop yang berpusat di Jakarta ini merupakan jaringan kerja Ornop lokal dan daerah di seluruh Indonesia (Gordon 1998:11). WALHI dalam bingkai “pembangunan berkelanjutan” secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya dengan pemerintah untuk isu- isu yang luas dari menejemen spesies yang terancam punah hingga hak-hak bangsa pribumi atas konsesi pembalakan di lahan “publik”. 39

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perlawanan WALHI yang paling dramatis pada Desember 1988 ketika menuntut PT Inti Indorayon Utama yang dibekingi anak laki-laki tertua Soeharto untuk kompensasi pencemaran dan deforestasi (Gordon 1998: 11-12). Langkah radikal ini menjadi tonggak sejarah advokasi lingkungan yang menarik perhatian media domestik dan internasional dan diperhitungkan sebagai mempermalukan Soeharto pribadi. Meski kalah di pengadilan peristiwa itu menjadi kemenangan moral environmentalis. Ornop lingkungan menjadi semakin kritis terhadap pemerintah pada era 1980 – 1990 an dan memperluas lingkup advokasi pada bantuan pemerintah menekan kemiskinan dan hak-hak buruh (Gordon 1998:12). Sebagai balasannya, pemerintah Orba berusaha melemahkan gerakan masyarakat sipil termasuk Ornop. Pada tahun 1985 pemerintah memperkenalkan perundang-undangan Organisasi Masa (Ormas) untuk mempersempit aksi independen Ornop. Aturan itu mengharuskan pendirian Ornop baru dengan ijin pemerintah sementara Ornop lama dapat dicabut ijinnya. Aturan itu juga mempersulit Ornop Indonesia menerima bantuan asing (Gordon 1998:13). Pada tahun 1994, Soeharto mengeluarkan dekrit yang semakin melemahkan Ornop. Saat itu pers nasional dan pemimpin buruh sudah dilemahkan. Dekrit itu untuk menutup organisasi yang merusak otoritas negara dan atau mendeskreditkan pemerintah , yang menghalangi pembangunan nasional atau terlibat aktivitas lain yang mengganggu stabilitas dan keamanan.(Gordon 1998:14) Gordon, mengutip Aditjondro menyebut dengan pelemahan sistematik yang dilakukan Orba, kekuatan politik lebih simbolis daripada yang nyata. Pengaruh politik mereka tidak tergantung pada keanggotaan tetapi lebih pada suara mereka di media. Kemampuan Ornop Indonesia memakai media khususnya media internasional membantu kesuksesan gerakan mereka. Pada Oktober 1989 koalisi Ornop The Rainforest Action Network menyebabkan Scott Paper menarik proyeknya. Koalisi ini memasang iklan di New York Times menyerukan 40

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konsumen internasional melakukan boikot demi lestarinya hutan hujan Indonesia (Gordon 1998:14-15). Pada tahun 1985 sekelompok Ornop Barat, Asia dan Indonesia membentuk International NGO Forum on Indonesia (INGI) untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan. INGI melakukan pertemuan sebelum pertemuan IGGI unuk memformulasikan rekomendasi dan kritik untuk bantuan pembangunan terkini. Tahun 1988 Bank Dunia yang menggelontorkan US$283 juta untuk proyek waduk Kedung Ombo memperhatikan surat INGI yang membeberkan fakta- fakta kekerasan yang terjadi atas nama proyek. Bank Dunia mengirim misi mengevaluasi proyek secara kseluruhan. Rejim Orba membalas di tahun berikutnya dengan mengancam menolak memberikan ijin ke luar penanggung jawab Ornop yang akan mendatangi pertemuan tahunan ke tujuh INGI di Washington DC (Gordon 1998:16). Rudini berhasil memakai daftar hitam untuk secara efektif membungkam partisipasi Ornop lingkungan di sebuah forum terpenting. Itu memeras persetujuan para pimpinan Ornop untuk “bersikap baik” selama di luar negeri. Bagaimana pun gerakan lingkungan di Indonesia memberikan pengaruh tak sedikit sehingga pemerintah membentuk Bapedal pada Juni 1990 Bapedal dan pada tahun 1993 mencanangkan “Tahun Lingkungan Hidup” (Gordon 1998:16). Di Indonesia perjuangan EJ yang memakai bingkai ketidakadilan harus dikaji apakah telah memperkuat gerakan sipil pada tingkat lokal, nasional dan internasional. Aditjondro menganggap gerakan anti waduk besar Kedungombo di Jawa Tengah punya karakter adhocracy dan expertocracy daripada demokrasi. Aditjondro menganggap gerakan lingkungan dengan isu ini Kedungombo memiliki ketergantungan kepada ahli, intelektual dan media. Lepas dari bias klas pergulatan anti dam Indonesia membawa sifat ekstra perlementer, patron- mediated, ad hoc dan Jawa sentris politik Indonesia ke depan. Disebut ekstra parlemen karena kekuatan politik di luar parlemen, misal mahasiswa dan Bank Dunia 41

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI nampaknya dipertimbangkan lebih serius oleh rejim daripada faksi di parlemen. Dianggap Mediated karena hanya perjuangan ektra parlemen yang menerima publisitas luas di media nampak diperhatikan serius oleh pemerintah. Ad hoc adalah pertimbangan dan konstelasi nasional dan internasional yang sedang berlangsung nampak lebih penting – untuk pemerintah dan pihak yang berselisih – daripada pertimbangan jangka panjang. Pada kasus Kedungombo, bermacam faktor ad hoc bekerja untuk keuntungan penduduk desa yang digusur seperti keretakan yang nampak antara Suharto dan faksi dalam tubuh militer, konsolidasi gerakan mahasiswa, kampanye NGO internasional untuk membuat Bank Dunia lebih bertanggung jawab. Gerakan anti waduk Kedungombo juga bersifat Java – centrisme nyata jika dibandingkan dengan kasus yang sama yang muncul di luar Jawa, yang kekuatan ekstra –parlemen , khususnya gerakan mahasiswa dan media kurang kuat. Oposisi melawan waduk Asahan di Sumatra Utara ( Sumut) dan Bakaru di Sulawesi Selatan ( Sulsel) tidak menerima perhatian sebanyak kasus analogis di Jawa (Aditjondro 2002: 47). Pembangunan waduk berskala besar bagi pemerintah Indonesia merupakan simbol suksesnya pembangunan sedang di sisi lain menjadi simbol ketidakadilan komunitas lokal yang semula berada di lokasi proyek. Kedongombo hanya salah satu waduk yang dibangun pemerintah Orde Baru. Nama Kedungombo melejit ketika menjadi gerakan lingkungan untuk memperjuangkan ganti rugi masyarakat lokal yang tergusur. Di Kalimantan Timur (Kaltim) Kunnayagam &Young menemukan hubungan patronase dipilih individu dari komunitas lokal ketika berhadapan dengan perusahaan tambang karena pengabaian birokrat. Tsing (2005) di pegunungan Meratus Kalsel kehilangan banyak harapan untuk mendefinisikan perwakilan komunitas. Jauh dari pusat pemerintahan nasional , Kalimantan juga jauh dari keterhubungan dengan gerakan sipil yang menjadi perjuangan utama EJ. Berbeda dengan perjuangan HAM yang mengacu pada hak individu, wacana EJ adalah perjuangan bersifat kolektif untuk komunitas lokal. Ketika 42

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebuah daerah pedalaman yang kaya sumber daya tiba- tiba menjadi kota kecil karena aktivitas perusahaan tambang, di tengah kekecewaannya pada birokrat yang mencari keuntungan, kolektif. komunitas lokal di sekitarnya menghadapinya secara individual daripada Kunnayagam & Young yang meneliti distribusi kekuatan ekonomi politik komunitas lokal di Teluk Lingga Kaltim dengan PT Kaltim Prima Coal (KPC) menemukan lemahnya kesadaran dan solidaritas kolektif. Wacana pada situasi di Teluk Lingga jarang yang merawat mobilisasi kolektif seputar penderitaan bersama penduduk – walau pun keluhan itu ada - tapi lebih mengekspresikan strategi pilihan untuk adaptasi yang dipakai individu untuk hidup di berkelompok yang jaringannya longgar di pinggiran tambang , yang mencari keuntungan dari hubungan patronase. Kontrasnya, lembaga alat untuk memecahkan masalah kolektif – dan masalah lingkungan adalah secara tipikal kolektif- lemah. Kelemahan lembaga ini manifestasi dari depolitisasi massa penduduk Indonesia- politik massa mengambang Orde Baru ( Orba) ( Kunnayagam & Young 2002: 140). Camat dan stafnya yang berpendidikan universitas, Jawa atau Bugis urban, membedakan diri mereka dari penduduk Teluk Lingga dalam berpakaian, pola berbicara, tingkah laku setiap hari, dan konsepsi pekerjaannya. Di sisi lain keengganan camat dan stafnya yang terang-terangan untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian populasi lokal mengurangi derajat kepatuhan di antara penduduk desa untuk menerima ‘ petunjuk dan arahan’ dari mereka. Sedangkan oknum kepolisian dianggap penduduk tidak tahu malu. Pengabaian ini diperparah dengan sikap korup birokrat misalnya untuk mengurus hak kepemilikan atas tanah harus memberi suap supaya lancar. (Kunnayagam & Young 2002: 148-152). Otoritas pemerintahan lokal karenanya dianggap tidak memiliki kredibilitas yang sepadan dengan perusahaan. Penduduk Teluk Lingga punya kepercayaan yang lebih besar 43

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada kapasitas KPC untuk memecahkan masalah mereka, dan mereka menilai hubungan baik dengan perusahaan dan personel perusahaan lebih tinggi daripada terhadap hubungan mereka dengan otoritas pemerintah lokal. Hampir tanpa kecuali, penduduk Teluk Lingga memandang perusahaan sebagai sumber fasilitas yang dapat dipercaya dan ukuran kesejahteraan – walau pertimbangan kehati-hatian menjadi bagian menejemen KPC untuk tidak menempatkan diri mereka pada peran kesejahteraan tanpa batas. Walau pun pilihan perusahaan untuk menghindari komitmen sosial macam ini, penduduk dan individu-individu di dalamnya punya ketergantungan signifikan pada tambang. Ketergantungan ini menciptakan suatu dasar – walau tanpa pertimbangan – suatu derajad pengendalian atas komunitas (Kunnayagam & Young 2002: 142). Penduduk menganggap menjalin hubungan baik dengan personel perusahaan akan membuat hidup lebih mudah karena perusahaan memiliki sekolah, klinik kesehatan, pemadam kebakaran, bantuan saat banjir, infrastruktur pemerintah lokal : kantor kecamatan, kantor polisi. Di sisi lain hubungan antara perusahaan dengan birokrat juga memiliki kekaburan aturan main. Perusahaan perlu memelihara hubungan kerja yang baik dengan lembaga pemerintah tingkat pusat, provinsi, lokal. Masing- masing dari ketiga tingkat tersebut melihat keperluan dan tanggungjawab mereka dengan cara konflik dengan dua lainnya ( Kunnayagam &Young 2002: 146). Kenyataannya pengaruh KPC di Teluk Lingga luar biasa. Nama-nama menejer KPC dan figur berpengaruh lain sudah dikenal bagi kebanyakan penduduk. Pada kasus pertengkaran pribadi - misalnya hutang yang tidak dibayar dan kewajiban keuangan - kepada KPC penduduk pergi mencari pemecahan. Mengekpos kelemahan saingan seseorang kepada majikan senior KPC dianggap sanksi yang jauh lebih efektif daripada usaha untuk mendapat bantuan atau lewat jalan resmi kantor camat atau polisi (Kunnayagam & Young 2002: 147) 44

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perusahaan memiliki kepentingannya sehingga mereka waspada menjaga teritorialnya. Sikapnya kepada komunitas bersifat ambivalen. Sementara kehadiran dan sokongan perusahaan dihargai penduduk, di mata penduduk perusahaan juga otoriter kadang berwajah sewenang- wenang. Contoh nyata adalah usaha perusahaan untuk menutup rapat penduduk tak diundang dari Teluk Lingga dari kawasan konsesi perusahaan. KPC mirip polisi sipil. Komunitas lokal menganggap pemerintah dan perusahaan bersifat peternalistik (Kunnayagam & Young 2002: 150-151). Perdebatan tentang apa yang disebut komunitas juga muncul ketika di perbukitan Meratus Kalimantan Selatan (Kalsel) ada dua pihak yang berhadapan yakni anti dan pro Kodeco. Pihak anti Kodeco didukung NGO dan media. Penduduk asli bukanlah pihak yang secara homogen menentang atau menerima Kodeco, tetapi terlibat dalam aliansi yang berbeda. (Tsing 2005: 205-212). Kala pengerukan SDA illegal mendadak meningkat pesat, menjadi sulit untuk membayangkan perwakilan komunitas yang menginginkan hal lain selain jatah uang. (Tsing 2005: 265- 266). E. Kesimpulan Bab ini merupakan diskusi wacana lingkungan hidup yang berkeadilan karenanya membahas lingkungan berkaitan dengan hak asasi manusia (HAM), komunitas lokal, pengadilan internasional dan environmental justice di Indonesia. - Lingkungan dan hak asasi manusia EJ merupakan komponen kedua (selain Deep Ecology) dari gerakan lingkungan AS yang timbul awal 1980 an. Perhatiannya ditempatkan bukan pada wilderness malahan pada ketidaksetaraan beban polusi yang ditempatkan pada komunitas miskin dan minoritas. EJ 45

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diartikulasikan di The Principles oleh delegasi “The First National People of Color Environmental Leadership Summit” pada 24- 27 Oktober 1991 di Washington DC. Selama era post- Carson , gerakan lingkungan mendapat tambahan visi lingkungan yang lebih luas , dan beberapa aktivisnya punya pengalaman gerakan sosial radikal seperti anti nuklir dan gerakan HAM (Hak Asasi Manusia). EJ sebagai sejarah kegiatan lingkungan ras berwarna adalah suatu usaha untuk membuat redefinisi bagaimana mereka menghubungkan pola kondisi tempat tinggal dan tempat kerja dan kesempatan rekreasi. Definisi ulang itu meliputi : 1) otonomi atau self- determination, 2) hak atas tanah, dan 3) hak sipil atau hak asasi manusia (HAM). Gerakan EJ selain menggabungkan masalah lingkungan dan gerakan HAM, juga terpengaruh gerakan Chicano dan gerakan Indian. Istilah EJ bermula dari istilah environmental racism yang sering juga disebut environmental discrimination, keduanya dipakai untuk menggambarkan perbedaan rasial dalam tingkat proses dan aksi. Ketika aktivis, peneliti, dan pembuat keputusan mulai mengkaji rasisme lingkungan istilah environmental justice ( EJ) juga dipakai. Istilah environmental equity movement juga dipakai untuk menjelaskan gerakan yang tumbuh yang ditujukan pada ketidakadilan lingkungan pada ras, jender, klas sosial. Awal 1990 an aktivis EJ merasa justice lebih inklusif dibanding equity dan dapat disatukan dengan konsep equity, impartiality dan equality. Ke Jian mengidentifikasi empat tipe keadilan yang terwujud pada EJ : keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan korektif, keadilan sosial. - Lingkungan hidup dan komunitas lokal. Istilah indigenous ( pribumi ) atau native ( asli ) sebagai wacana mengalami perubahan dan dipertanyakan. Munculnya konsep indigenous ini merepresentasikan reaksi atas penyebarluasan wacana yang mengandung sejarah yang membesar dan tanpa kritik yang menyalahkan populasi lokal atas kerusakan lingkungan. Pertanyaan yang muncul apakah 46

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tindakan yang tak dimaksudkan untuk konservasi layak disebut konservasi. Sementara itu, kajian antropologi menyumbang pandangan revisionis pada komunitas sebagai kurang homogen, harmonis, dan terintegrasi dan lebih banyak secara historis tidak terduga daripada pemikiran sebelumnya. - Pengadilan internasional untuk EJ. Akar penyebab EJ adalah kelemahan ekonomi dan politik. Karena itu perlu penguatan komunitas lokal. Selain itu perlu dipertimbangkan ganti rugi legal mengglobal. Sudah ada beberapa kasus yang dapat menjadi contoh. - EJ di Indonesia Aktivis lingkungan di Indonesia waktu Orba mendapatkan keuntungan sekaligus tantangan dengan adanya EJ sebagai wacana global. Keuntungannya : 1) Pemerintah Indonesia menerima isu lingkungan bahkan mengangkat Menteri Lingkungan Hidup. Aktivis lingkungan memakai isu lingkungan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. 2) Media terutama media internasional yang mendukung wacana EJ menjadi penekan pemerintah Indonesia, pemerintah dan investor Luar Negeri. Sedangkan tantangan yang dihadapi aktivis lingkungan Indonesia adalah : 1) Membangun masyarakat sipil yang memiliki kekuatan yang seimbang dengan pemerintah untuk memperjuangkan EJ, 2) Wacana EJ menyangkut hak- hak kolektif komunitas lokal. Komunitas lokal bukanlah komunitas yang homogen. Aktivis lingkungan perlu memperkuat solidaritas kolektif komunitas lokal. 47

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III LINGKUNGAN HIDUP BERKEADILAN DI KALTENG Bab ini memaparkan teks di website DTE dan konteks ekonomi - sosial Kalteng di luar website DTE. Di websitenya, DTE mengemas isu lingkungan Kalteng dalam dua jenis. Jenis pertama adalah artikel- artikel yang memuat Kalteng hanya sebagai bagian dari topik berskala nasional di antaranya topik kebakaran hutan dan pembalakan liar. Sedang jenis kedua adalah artikel-artikel yang khusus mengangkat topik yang terjadi di wilayah Kalteng. Penelitian dilakukan untuk jenis kedua ini. A. Website DTE Saya menyajikan data yang disediakan DTE dengan elemen-elemen teks di website DTE dengan meminjam analisa Hughes (Hughes 2007 : 258). Saya membagi elemen- elemen tersebut dalam sistem berbasis image (tampilan visual website, logo, foto) dan sistem berbasis kata (tulisan di website, dan artikel). Saya membuat catatan pilihan- pilihan DTE, dan apa yang nampak di teks, mencari pola pengulangan dan pembedaan. Teks DTE yang diteliti berupa tiga bagian yakni : 1) homepage dan menu- menu DTE, 2) berita foto, dan 3) artikel. Untuk selanjutnya interpretasi teks website DTE hanya diambil bagian-bagian tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian terkait dengan lingkungan berkeadilan. A. 1. Sistem berbasis image 1 . Homepage Down to Earth memiliki dua situs dan http://www.downtoearth-indonesia.org/oldsite/index.htm yang merupakan situs lama dan http://www.downtoearth-indonesia.org/id yang merupakan situs baru. Menurut www.downtoearth-indonesia.org/old-site/inews.htm , situs lama ini dimulai sejak November 1998 . Pada situs baru ada link untuk mengakses situs 48

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lama. DTE tidak menyebutkan sejak kapan menampilkan situs barunya. Bagian berikut disajikan tampilan homepage DTE. Homepage DTE ini disajikan sebagai data yang terkait dengan image dan kata- kata yang ada di dalamnya. Teks DTE tentang Kalteng yang dianalisa diambil ketika masih berada dalam situs lama yaitu tanggal 17 April 2009 hingga 29 April 2013. Karena teks yang dianalisa diproduksi ketika masih berada di situs lama, maka tampilan website DTE yang dibaca untuk penelitian ini adalah situs lama. Homepage DTE 49

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Homepage DTE terdiri dari satu halaman yang didominasi warna oranye tipis. Oranye adalah warna yang mudah kelihatan, hangat dan cerah. Homepage DTE berisi tulisan yang memberikan penjelasan verbal ditambah logo, kotak, dan garis minimalis sehingga terkesan sederhana, lugas, langsung. Secara vertikal homepage ini dibagi menjadi dua bagian simetris. Sebelah kiri berbahasa Inggris, sebelah kanan berbahasa Indonesia. Ini nampaknya upaya untuk memberi ruang yang adil antara pembaca berbahasa Inggris dengan pembaca berbahasa Indonesia, letak tulisan berbahasa Inggris yang di sebelah kiri memposisikan bahasa Inggris sebagai yang lebih didahulukan. Pembaca akan membaca huruf latin dari kiri ke kanan. Bagian kepala homepage terdiri dari tiga bagian, dari kiri ke kanan : tulisan berbahasa Inggris, logo DTE, tulisan berbahasa Indonesia. Logo DTE berada di tengah diapit tulisan berbahasa Inggris dan tulisan berbahasa Indonesia. Pemilihan huruf “ D”,” T”,” E” pada logo dan tulisan “Down to Earth” menunjukkan kelugasan logo. Tidak ada gambar atau huruf lain selain titik hitam di bawah huruf “T”. Hanya ada DTE, Down to Earth, tidak ada yang lain. Badan homepage terdiri dari menu di bagian atas dan bawah, dan bagian tengah berupa penjelasan. Bagian penjelasan terbagi dalam dua bagian : sebelah kiri berbahasa Inggris, sebelah kanan berbahasa Indonesia. Bagian kaki homepage berisi tulisan keterangan alamat dan status DTE. 2. Menu Homepage DTE menampilkan menu- menu berikut : 1) Menu newsletter ( http://www.downtoearth-indonesia.org/old-site/news.htm ) merupakan menu berbahasa Inggris yang versi bahasa Indonesianya adalah menu buletin DTE ( http://www.downtoearth-indonesia.org/old-site/inews.htm ). Menu ini menampilkan tematema materi dan informasi apakah materi dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. 2) 50

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menu campaigns (versi bahasa Inggris) dan advokasi (versi bahasa Indonesia) menampilkan tema- tema utama dan sub sub-sub tema. 3) Menu more about DTE ( versi bahasa Inggris ) dan lebih jauh tentang DTE (versi bahasa Indonesia ) memberi penjelasan lebih rinci tentang ketidakadilan lingkungan hidup di Indonesia dan kegiatan DTE. Di sana juga ada kutipankutipan kata – kata masyarakat korban ketidak adilan lingkungan, sebagai bagian yang ditekankan atau penting untuk dibaca. DTE secara konsisten juga memakai latar berwarna oranye tipis untuk berita foto dan artikel- artikelnya. 3. Foto Foto sebagai bagian dari sistem berbasis image dalam homepage bisa diakses melalui advokasi. Foto- foto tersebut dipilih dari DTE tentang Indonesia yang terkait dengan Kalteng karena penelitian hanya tentang Kalteng. Foto- foto yang dianalisa adalah foto tentang Kalteng, yang diambil secara googling dengan subyek foto Kalteng di website DTE. DTE menampilkan foto- foto Kalteng dengan judul “Photos for WALHI Kalteng/ DTE report on CDC’s Agroindomas oil palm plantation, Central Kalimantan”, Down to Earth, September 2000 dari http://www.downtoearthindonesia.org/old-site/p1.htm. Meski punya judul sendiri foto- foto ini merupakan bagian dari tulisan “The dispute between the local community and PT Agro Indomas Oil Palm Plantation, Central Kalimantan Indonesia.” Report by WALHI Kalteng & Down to Earth, September 2000 dari http://www.downtoearth-indonesia.org/old-site/ccdc1.htm/. Tulisan tersebut merupakan laporan panjang dan rinci sebagai campaign atau advokasi yang dilakukan DTE bersama mitra lokalnya, WALHI Kalteng tentang konflik di konsesi PT Agro Indomas (AI) di kecamatan Danau Sembuluh. 51

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Foto- foto itu menunjukkan lingkungan alam dan kehidupan lokal di Danau Sembuluh. Foto- foto ini merupakan pemandangan umum di Kalteng dan baru dapat dipahami secara spesifik lewat teks foto. Ada 15 foto yang ditampilkan : hutan, desa, rumah penduduk, kebun karet, industri kapal, jalan desa, bekas tunggul pohon, penanaman kelapa sawit, kuburan Muslim, musoleum Dayak, sawmill illegal. Di sana ada dualisme yakni yang “lama- lokal” dan yang “baru - dari luar”. Unsur luar yang datang itu bahkan dari luar negeri yang ditunjukkan dengan bungkus agrokimia “Potash”. Kedatangan yang baru menimbulkan perubahan. Yang baru seringkali datang dengan melanggar aturan, menimbulkan kerusakan. Yang baru melanggar mungkin karena memiliki kekuasaan. Oleh karenanya kehadiran “yang baru” ini sudah seharusnya diawasi karena telah memporakporandakan keharmonisan yang sebelumnya ada. 54

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI A. 2. Sistem berbasis kata a. Homepage dan menu-menu Pada bagian ini adalah tampilan sistem berbasis kata yang merupakan pesan verbal DTE dari homepage dan menu-menu. Homepage DTE menampilkan: ucapan selamat datang, visi, misi, kedudukan proyek dan fasilitas masuk menuju menu-menu. 1) Ucapan selamat datang “International Campaign for Ecological Justice in Indonesia.Welcome to the Down to Earth website” (“Kampanye Internasional untuk Lingkungan Hidup Yang Berkeadilan di Indonesia. Selamat datang ke website Down to Earth “). DTE memakai istilah “Ecological Justice”, bukan “Environmental Justice”. “Ecological Justice” diterjemahkan DTE sebagai “Lingkungan Hidup Yang berkeadilan”. DTE memperkenalkan dirinya sebagai organisasi yang memperjuangkan “ecological justice”. Istilah ini berbeda dengan istilah yang biasanya dipakai gerakan lingkungan yakni “enviromental justice”.“Ecology”(ekologi) lebih dikenal sebagai sebuah disiplin ilmu sedang “environmental” (lingkungan) merupakan istilah yang lebih dekat kepada gerakan sosial. Ekologi merupakan disiplin akademis dari ilmu geografi yang cakupannya luas meliputi fisika, kimia, geologi, biologi. Sedang lingkungan mengutamakan kajian pengaruh interaksi manusia dengan ekologi dan bagaimana mengurangi dampak buruknya. Istilah ekologi dari aecologie diciptakan oleh Humbold dan Haeckel, penulis Jerman, tahun 1866 sebagai ilmu relasi organisme hidup dan dunia luar. (James B. Greenberg dan Thomas K. Park 199: 2) 2) Visi, misi dan kedudukan proyek Visi dan misi DTE adalah “memantau dan melakukan kampanye tentang dampak masalah lingkungan hidup terhadap manusia dan kehidupan sosial di Indonesia.” DTE memantau dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan atau data dari 55

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lapangan. DTE melakukan kampanye untuk konflik di perkebunan kelapa sawit PT Agro Indomas (AI). Investor utama PT AI adalah lembaga keuangan Inggris, CDC. DTE melakukan kampanye bersama WALHI Kalteng dengan membuat laporan, surat dan pertemuan. Untuk itu perjuangan DTE adalah “berupaya mendukung kelompok masyarakat sipil dan menjadi corong internasional bagi mereka di tingkat pemerintahan, perusahaan asing, lembaga bantuan dan lembaga penyandang dana internasional.” DTE telah menetapkan fokus utama keberpihakannya : ” masyarakat miskin di pedesaan dan masyarakat adat di luar Pulau Jawa terutama akan hak-hak dalam menentukan masa depan mereka sendiri.” DTE menyebutkan dirinya merupakan sebuah proyek yang berkedudukan di Inggris. DTE juga memberi informasi tentang alamat kantor dan status DTE sebagai lembaga legal dan terdaftar sebagai usaha swasta : “ DTE is a private limited company registered in England and Wales (no. 6241367). “. Menu- menu. Menu bagian atas menampilkan menu berbahasa Inggris : newsletter campaigns, links, dan menu berbahasa Indonesia : buletin DTE, advokasi, link. Di antara keduanya ada menu : search dan AMAN. Kedua menu yang berada di tengah ini tidak ada isinya. AMAN atau Aliansi Masyarakat Adat Nusantara secara khusus diangkat DTE dalam menunya. Padahal menu AMAN tidak memunculkan apa- apa, tidak ada isinya. 1. Menu newsletter (versi bahasa Inggris) atau buletin DTE (versi bahasa Indonesia) Bagian paling atas memberi penjelasan tentang buletin DTE. Berbeda dari homepage yang baik versi bahasa Inggris maupun versi bahasa Indonesia memiliki kesamaan isi, pada menu ini penjelasan versi bahasa Inggris agak berbeda dengan versi bahasa Indonesia. Dari menu newsletter ini DTE memberi informasi bahwa DTE adalah buletin kuartalan kampanye internasional untuk Ecological Justice di Indonesia, bentuk dokumen yang tersedia untuk 56

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI langganan, daftar isu terkini di website, dan adanya tanda jika ada artikel yang memiliki versi bahasa Indonesia. Penjelasan menu buletin DTE yang berbahasa Indonesia lebih menekankan sejarah buletin kuartalan DTE. DTE menyebutkan buletinnya selama sepuluh tahun berbahasa Inggris, menjangkau pembaca di sekitar 36 negara, dan sejak November 1998 berbagai artikelnya diterjemahkan dan disebarkan lewat internet. Di menu berbahasa Inggris tidak semua materi tersedia dalam bahasa Indonesia, sebaliknya di menu berbahasa Indonesia semua materi tersedia dalam bahasa Inggris. DTE membuat klasifikasi di menu newsletter atau buletin tidak secara baku seperti 12 topik utama campaign atau advokasi sehingga topik di newsletter dan buletin sangat luas dan berubah- ubah setiap edisinya. Beberapa topik yang pernah muncul di antaranya : batu bara, keadilan iklim, hak- hak adat, sawit / agrofuel, tambang, masyarakat pesisir, Papua Barat / industri ekstraktif, hukum, hutan/ pulp, Papua – Tangguh, analisis, perkebunan, pertanian, pembaruan agraria. 2. Menu campaigns (versi bahasa Inggris) dan advokasi (versi bahasa Indonesia) Menu campaigns ( http://www.downtoearth-indonesia.org/old-site/camp.htm ) merupakan menu berbahasa Inggris sedang versi bahasa Indonesianya adalah menu advokasi (http://www.downtoearth-indonesia.org/old-site/icamp.htm ). Kedua menu ini isinya sama yakni memberi informasi bahwa DTE melakukan kampanye dengan patnernya di Indonesia mengenai problem masyarakat desa dan adat di Indonesia. Pada menu campaigns DTE hanya menyebutkan bahwa dia melakukan kampanye dengan patner Indonesianya. Menu advokasi lebih rinci menyebutkan dengan siapa dia bekerjasama yakni “LSM dan kelompok masyarakat Indonesia lainnya”. Dari menu ini dapat 57

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dibaca DTE telah menentukan keberpihakannya berdasarkan lokasi geografis yakni : “masyarakat desa” dan “masyarakat adat”, dan mengeluarkan kategori “masyarakat urban” di perkotaan dari lingkup yang didukungnya meski pun masyarakat urban di perkotaan tak kurang menderita akibat ketidakadilan lingkungan. Di websitenya ini DTE menerjemahkan “indigenous peoples” sebagai “masyarakat adat” dan bukan yang lain misalnya “masyarakat pribumi” atau “penduduk asli”. DTE memilih membahasa-Indonesiakan “campaigns” sebagai: 1)“melakukan kampanye”, dan 2)“advokasi. Di homepagenya DTE menulis “monitors and campaigns” atau” memantau dan melakukan kampanye”. Sedangkan menu “campaigns” untuk bahasa Inggris diterjemahkan sebagai menu “advokasi” untuk bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sendiri sudah mengadopsi “campaign” sebagai “kampanye” dan “advocacy” sebagai “advokasi”. Pemakaian kosa kata “kampanye” sudah lazim di Indonesia terutama mengacu pada kegiatan politik menjelang pemilihan umum. Kata “advokasi” sering dipakai oleh Ornop di Indonesia. DTE pada menu campaigns dan advokasi menampilkan 12 topik utama naskah-naskah advokasinya : 1. Keadilan Iklim dan Penghidupan yang Berkelanjutan 2. UFS di Kalimantan- proyek-proyek bubur kertas dan kayu serpih UFS di Kalimantan 3. BP- Tangguh- Proyek gas dan LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat 4. PT TEL- Pabrik pulp PT Tanjung Enim Lestari, Sumatera 5. Rio Tinto / PT KEM- tambang di Kalimantan dan Papua Barat 6. Inco- tambang nikel di Sulawesi 7. Siberut- dan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat 8. Lembaga-lembaga Keuangan Internasional-Bank Dunia, IMF, ADB 9. Hutan dan Kebakaran hutan 58

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Otonomi Daerah dan demokrasi 11. Sawit dan Proyek CDC di Kalimantan 12. STD- Tambang: Pembuangan Limbah Tambang Ke Dasar Laut Setiap topik utama memiliki sub- sub topik yang waktu produksinya bisa berbeda- beda misalnya tema BP Tangguh berisi sub- sub topik yang diproduksi dari tahun 2003 hingga 2009. Naskah tidak diurutkan dari atas ke bawah secara kronologis tetapi berdasar klasifikasi tema utama tadi. Tidak seperti di menu newsletter dan buletin yang materi bahasa Inggrisnya lebih lengkap daripada materi berbahasa Indonesia, di menu campaigns dan advokasi tidak bisa disebutkan mana yang lebih lengkap. Di menu campaigns yang berbahasa Inggris artikel buletin Down to Earth tentang “Keadilan iklim dan Penghidupan yang Berkelanjutan” menampilkan 20 artikel sedang di menu advokasi yang berbahasa Indonesia menampilkan 9 artikel. Untuk tema utama “UFS di Kalimantan” di menu campaigns DTE menampilkan 3 artikel sedang di menu advokasi menampilkan 4 artikel. Tema “UFS Kalimantan” ini lebih lengkap versi bahasa Indonesianya karena ada pernyataan bersama CAPPA – WALHI Kalsel – DTE berbahasa Indonesia. 3. Menu links (versi bahasa Inggris) dan link (versi bahasa Indonesia) Kedua menu ini sama berisi daftar menurut abjad LSM yang menangani masalah-masalah Indonesia, atau topik yang berhubungan dengan kegiatan DTE. Daftar ini menampilkan 42 LSM dan alamat websitenya. 4. Menu more about DTE (versi bahasa Inggris) dan lebih jauh tentang DTE (versi bahasa Indonesia ) Kedua versi menu isinya sama yakni menampilkan narasi tentang sebagian besar penduduk Indonesia yang masih miskin berhadapan dengan penguasa militer Indonesia yang 59

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mendapat dukungan pemerintah negara-negara Utara, program bantuan internasional dan perusahaan-perusahaan asing. Di bagian akhir, DTE menjelaskan posisinya : “Down to Earth bekerjasama dengan kelompok masyarakat Indonesia dan LSM-LSM yang berjuang mendorong demokrasi, keadilan sosial dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. DTE berperan sebagai saluran komunikasi dua arah”. Tidak lupa DTE mengingatkan pengunjung websitenya : “Mohon diperhatikan: DtE bukanlah lembaga penterjemah ataupun penyandang dana. “ , dan menunjukkan sebagai proyek di bawah APPEN : “DTE adalah sebuah proyek APPEN - the Asia-Pacific People's Environment Network.” b. Artikel mengenai isu lingkungan Kalteng DTE meletakkan Kalimantan Tengah sebagai bagian dari wacana “Indonesia”. Penulis mengirim e- mail kepada DTE bertanya bagaimana menemukan materi tentang Kalteng, DTE menjawab bahwa penulis dapat mencarinya di newsletter. Penulis sulit mencari materi mengenai Kalimantan Tengah (Kalteng) di website DTE melalui menu newsletter atau buletin DTE dengan mendeteksi judulnya. Sebagai contoh, judul “Gugatan Masyarakat Adat Kalah di Pengadilan”Agustus 2003 Nomor 58 tidak menunjukkan bahwa peristiwa tersebut menyangkut masyarakat adat di Kalteng. Karena itu penulis melakukan pencarian materi khusus Kalteng di website DTE dengan Google. Penulis setelah mendapat materi dari googling mengelompokkan artikel dan berita foto isu lingkungan Kalteng produksi DTE berdasarkan jenis penyebab konflik lingkungan. Ada dua penyebab konflik yang diangkat DTE yakni : 1) perusahaan : perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Agro Indomas (PT. AI ) dan perusahaan pertambangan PT. Indo Muro Kencana (PT. IMK) , 2) mega -proyek oleh pemerintah : proyek Pengembangan 60

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lahan Gambut, dan 3) etnik : kerusuhan akibat konflik Dayak – Madura. Semua materi itu kemudian dilacak lagi di menu newsleter atau buletin dan campaign atau advokasi. DTE menempatkan artikel dan berita foto Kalteng di menu campaign dan advokasi untuk topik : “Oil Palm & CDC plantation in Kalimantan”, dan di menu newsletter dan buletin untuk topik : “Land/ Oil palm” , “mining” dan “forest”. Penempatan ini sebagai politik skala dalam arti menganggap besarnya kerusakan lingkungan hidup dan bencana sosial yang terjadi harus mendapat perhatian internasional. Kerusuhan etnik dan konflik di konsesi PT. IMK telah mengakibatkan korban jiwa. DTE menulis kerusuhan etnik sebagai akibat ketidakadilan lingkungan hidup. Konflik di kawasan PLG mengakibatkan kehancuran hutan rawa gambut secara masif. Konflik di konsesi PT. AI memiliki kekhasan yakni investornya The Commonwealth Development International Development (CDC) dan Rabobank. DTE menaruh perhatian khusus kepada CDC karena CDC adalah lembaga keuangan Inggris yang berhubungan erat dengan lembaga bantuan luar negeri pemerintah Inggris, the Department for International Development ( DFID). DTE mencatat ada 1 400 klaim masyarakat atas tanah dan tanaman yang digusur PT. AI. a. Konflik di perkebunan kelapa sawit PT. Agro Indomas (AI) 1. “Maps for WALHI Kalteng / DTE report on CDC’s Agroindomas oil palm plantation, Central Kalimantan”. Ini bagian dari “The dispute between the local community and PT Agro Indomas Oil Palm Plantation, Central Kalimantan Indonesia.”. Ada di menu campaign , topik : Oil Palm & CDC plantations in Kalimantan. 2. “Photos for WALHI Kalteng/ DTE report on CDC’s Agroindomas oil palm plantation, Central Kalimantan”. Down to Earth, September 2000. Ini bagian dari “The dispute between the local community and PT Agro Indomas Oil Palm Plantation, Central Kalimantan Indonesia.” Ada di menu campaign , topik : Oil Palm & CDC plantations in Kalimantan. 3. “The dispute between the local community and PT Agro Indomas Oil Palm Plantation, Central Kalimantan Indonesia.” Report by WALHI Kalteng & Down to Earth, September 2000. Menu campaign. Oil Palm & CDC plantations in Kalimantan 4. “CDC projects criticised over impacts. “. (“Proyek CDC dikritik karena dampaknya.” ). Down to Earth No. 50 Agustus 2001. Ada di menu newsletter dan buletin, topik : Land/ Oil palm. 5. “DTE ‘s comments on CDC’s Investigation into Social and Environmental Issues at PT Agro Indomas, Central Kalimantan December 2000.” Received by Liz Chidley 61

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6th Feb 2001.(“ Tanggapan DTE terhadap investigasi CDC pada isu sosial dan lingkungan di PT AI, Kalteng pada bulan Desember 2000.” Diterima Liz Chidley pada bulan Februari 2001). Ada di menu campaign dan advokasi, topik : Oil Palm & CDC plantations in Kalimantan. b. Konflik di pertambangan PT. Indo Muro Kencana (IMK) 1. “Dayak reoccupy traditional mines in Aurora Gold concession”. Down to Earth No. 43, November 1999. Ada di menu newsletter, topik : mining 2. “Arrests and food blockade at Aurora mine sites.” Down to Earth No. 45, May 2000. Ada di menu newsletter, topik : mining 3. “Indigenous miners evicted”. Down to Earth No. 47, November 2000. Ada di menu newsletter. Topik : mining 4. “Brimob shooting at Aurora mine”. Down to Earth No 52, February 2002. Ada di menu newsletter, topik : mining 5. “Dayaks take court action against Australian mining company”. Down to Earth No. 55, November 2002. Ada di menu newsletter, topik : mining 6. “Indigeneous people’s lawsuit fails”. (“Gugatan Masyarakat Adat Kalah di Pengadilan”). Down to Earth No. 58, Agustus 2003. Ada di menu newsletter dan buletin, topik : mining c. Konflik di kawasan mega – proyek Kalteng 1. “Bank report on chaos at Kalimantan Project” . Down to Earth No. 39, November 1998. Ada di menu newsletter,topik : forests 2. “Central Kalimantan mega-project re-invented ?”. Down to Earth No. 42. 1999. Ada di menu newsletter, topik : forests 3. “WALHI sues government over mega pro-project”. Down to Earth No 43, November 1999. Ada di menu newsletter, topik : forests. 4. “New Kalimantan mega- project will not proceed”. Down to Earth No. 45, May 2000. Ada di menu newsletter, topik : forests . 5. “Oil palm for mega- project site in Central Kalimantan”. (“Minyak sawit untuk Mega Proyek di Kalimantan Tengah”). Down to Earth No 51 November 2001. Ada di menu newsletter dan buletin, topik : forests. d. Konflik etnik “Behind the Central Kalimantan violence”. ( “Di balik Kerusuhan di Kalimantan Tengah “). Down to Earth No 49 May 2001. Ditemukan dengan googling tidak ditemukan di menumenu DTE. Penulis secara googling mendapatkan materi “Maps for WALHI Kalteng / DTE report on CDC’s Agroindomas oil palm plantation, Central Kalimantan” dan “Photos for WALHI Kalteng/ DTE report on CDC’s Agroindomas oil palm plantation, Central Kalimantan” sebagai materi yang berdiri sendiri meski pun keduanya merupakan bagian dari “The dispute 62

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI between the local community and PT Agro Indomas Oil Palm Plantation, Central Kalimantan Indonesia”. Sedang materi “Behind the Central Kalimantan violence”. ( “Di balik Kerusuhan di Kalimantan Tengah “) muncul dari googling tetapi tidak muncul di menu- menu DTE. Kalteng meliputi 14 kabupaten dan 1 kotamadaya Palangka Raya. Artikel DTE menampilkan kejadian di 9 kabupaten dan 1 kotamadya Palangka Raya yakni : 1. Konflik di kawasan di PT. AI di kabupaten Seruyan. 2. Konflik di konsesi PT IMK di Kabupaten Murung Raya ( Mura ) 3. Konflik di kawasan PLG di : 1) Kabupaten Kapuas, 2) Kabupaten Pulang Pisau, 3) Kabupaten Barito Selatan, dan 4) Kotamadya Palangka Raya. 4. Kerusuhan etnik di : 1) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) : Sampit, Parenggean, 2) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar ) : Pangkalan Bun, Kumai, 3) Kota Palangka Raya, 4) Kabupaten Kapuas : Kuala Kapuas, 5) Kabupaten Katingan : Ampalit. Dari semua artikel dan berita DTE mengenai Kalteng di atas hanya 2 yang ada di menu campaign dan advokasi yakni “The dispute between the local community and PT Agro Indomas Oil Palm Plantation, Central Kalimantan Indonesia.” dan “DTE ‘s comments on CDC’s Investigation into Social and Environmental Issues at PT Agro Indomas, Central Kalimantan December 2000.” Received by Liz Chidley 6th Feb 2001.(“ Tanggapan DTE terhadap investigasi CDC pada isu sosial dan lingkungan di PT AI, Kalteng pada bulan Desember 2000.” Diterima Liz Chidley pada bulan Februari 2001). Materi – materi di newsletter dan buletin memiliki karakter : 1) sering mengutip sumber lain yakni media massa dan LSM, 2) tidak memberitakan aktivitas DTE berkaitan dengan 63

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konflik yang terjadi, 3) tidak terlalu panjang, 4) fakta dan data tidak rinci melainkan berupa ringkasan, 5) ditulis berupa paragraf- paragraf , 6) tanpa menyertakan foto atau image lain. Materi campaign dan advokasi memiliki karakter : 1) fakta dan data merupakan hasil investigasi lapangan DTE bersama LSM lokal, 2) memberitakan aktivitas DTE berkaitan dengan konflik yang terjadi, 3) tulisan sangat panjang, 4) menyajikan data dan fakta secara rinci, 5) ditulis berupa paragraf – paragraf dan sub- sub judul atau kolom –kolom, 6) salah satu materi campaign yakni “The dispute between the local community and PT Agro Indomas Oil Palm Plantation, Central Kalimantan Indonesia” menyertakan foto- foto dan peta (meski peta – peta tidak dapat diakses ) B. Konteks Kalteng Bagian konteks Kalteng ini menampilkan Sumber Daya Alam (SDA), isu-isu lingkungan Kalteng, dan perebutan SDA. B. 1. Sumber Daya Alam Kalteng Potensi Sumber Daya Alam (SDA) Kalteng berupa: 1) SDA yang berada di atas permukaan sebagai potensi kehutanan dan 2) SDA yang berada di bawah permukaan sebagai potensi mineral dan tambang. Meski memiliki tanah yang miskin hara karena absennya gunung berapi, wilayah Kalteng terbentang di rimba tua dengan nadi sungai- sungai besar. Keadaan fisik Kalteng tidak bisa tidak dihadirkan secara angkawi mulai dari nomornomor perundang- undangan hingga klasifikasi luasan tutupan dan penduduknya. Di atas kawasan ini muncul gambaran perebutan pengaruh kekuasaan. Para elit Dayak memperjuangkan wilayah untuk mendapat konsesi politik dari pemerintah Sukarno. Perjuangan gerakan sipil yang memakai representasi etnik ini berlanjut hingga pasca Orde Baru. 64

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Potensi Kehutanan Kalteng menjadi provinsi berdasar Undang Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957 , Lembar Negara Nomor 53 tahun 1957, tambahan Lembar Negara Nomor 1284 yang berlaku mulai tanggal 23 Mei 1957 . Tanggal tersebut menjadi hari lahir Kalteng. Luas Kalteng disebutkan dalam angka-angka yang berbeda dari berbagai sumber. Bagaimana pun angkaangka tersebut mengilustrasikan luasnya wilayah hutan dengan kekayaan di atas permukaan mau pun yang tersimpan di dalamnya (mineral dan tambang). Departemen Kehutanan (Dephut) tahun 2000 menyebutkan luas daratan Kalteng 15. 356. 400 ha. Dibandingkan dengan luas daratan Indonesia 192. 257. 000 ha berarti luas daratan Kalteng 7, 99 % terhadap luas Indonesia (Dephut : 2002). Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng menyebutkan luas wilayah Kalimantan Tengah 153. 564 km2 atau sebesar 8,04 % dari total luas daratan Indonesia (BPS Kalteng : 2011). Sementara itu Dishut Kalteng berdasar Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 529 / Menhut - II / 2012 menyebutkan luas kawasan provinsi Kalteng 15. 426. 780 ha. Dari luas tersebut 12. 719. 707 ha atau sekitar 82, 45 % dari luas provinsi merupakan total luasan kawasan hutan. Dengan demikian provinsi Kalteng merupakan provinsi hutan (Dishut Kalteng 2013 : 1). Departemen Kehutanan mengklaim kawasan hutan Indonesia seluas 147 juta hektar. (LATIN 1998: 7) Secara geografis, provinsi Kalimantan Tengah terletak di daerah lintas garis katulistiwa yaitu pada posisi 0˚44’54” Lintang Utara (LU)-3˚47’70” Lintang Selatan (LS) dan 110˚43’19” Bujur Timur (BT)-115˚47’36” Bujur Barat (BB). (BPS: 2011 & Dishut Kalteng: 2013). Sebutan sebagai Kalimantan Tengah nampaknya sesuai dengan wilayahnya yang berada di antara tiga Provinsi tetangga yaitu Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. 65

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Salah satu ciri khas Kalteng adalah keberadaan sebelas sungai besar dan tidak kurang dari 33 sungai kecil/anak sungai. Sungai Barito dengan panjang mencapai 900 km dengan ratarata kedalaman 8 m merupakan sungai terpanjang dan dapat dilayari hingga 700 km.(BPS Kalteng: 2011) Sebagai daerah yang beriklim tropis, wilayah Provinsi Kalimantan Tengah menurut BPS Kalteng, rata-rata mendapat penyinaran matahari sekitar 56,18% per tahun. Udaranya relatif panas yaitu siang hari mencapai 33°C dan malam hari 23°C, sedangkan rata-rata banyaknya curah hujan per tahunnya relatif tinggi yaitu mencapai 331,68 mm. Menurut Dephut (2002) Kalteng memiliki suhu maksimum : 35,1ºC (Desember), suhu minimum: 20,0 ºC (Juni), kelembaban : 85-88% , curah hujan maksimum : 406,9 mm (Oktober) dan curah hujan minimum : 64,1 mm (Juni). Secara geografis, provinsi Kalimantan Tengah terletak di daerah lintas garis katulistiwa yaitu pada posisi 0˚44’54” Lintang Utara (LU)-3˚47’70” Lintang Selatan (LS) dan 110˚43’19” Bujur Timur (BT) - 115˚47’36” Bujur Barat (BB). Keadaan topografi atau bentang lahan Provinsi Kalimantan Tengah dapat dikelompokkan atas: Bagian selatan, terdiri dari daerah pantai dan rawa serta terpengaruh oleh pasang surut dengan ketinggian 0 – 50 meter dpl. Bagian tengah, merupakan daerah dataran dan berbukit/gelombang dengan dominasi penutupan lahan berupa hutan hujan tropis yang khas dengan ketinggian 50-100 meter dpl. Bagian utara, merupakan daerah perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian di atas 150 meter dpl. 66

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penutupan lahan pada sebagian besar kawasan di Provinsi Kalimantan Tengah adalah hutan yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 (empat) tipe hutan yang berbeda berdasarkan ketinggian tempat, yaitu: 1. Hutan Hujan Tropika seluas ± 10.350.363,87 ha 2. Hutan Rawa Tropika seluas ± 2.382,31 ha 3. Hutan Rawa Gambut Tropika seluas ± 2.280.789,70 ha 4. Hutan Pantai atau Hutan Payau, seluas ± 832.573,55 ha (Dishut Kalteng 2013: 2-3) Kondisi Penutupan Lahan Provinsi Kalimantan Tengah, berdasarkan rincian tutupan lahan masing-masing fungsi kawasan pada Peta Pola Ruang RTRWP Kalimantan Tengah, sesuai usulan perubahan fungsi kawasan ke Kementrerian Kehutanan tahun 2010, sebagai berikut: No. Tutupan Lahan Luas (ha) 1. Hutan Alam 1.359.812,56 2. Hutan Lahan Kering 4.832.414,58 3. Hutan Campuran 1.100.630,69 4. Mangrove 37.357,96 5. Perkebunan 1.247.278,29 6. Permukiman 121.729,90 7. Rawa 3.074.590,19 8. Sawah 513.770,60 9. Semak/Belukar 2.134.622,00 10. Tambak/Empang 582.558,26 11. Tanah Terbuka 668.811,24 12. Tegalan/Ladang 133.135,06 13. Tubuh Air 124.851,65 Keterangan 67

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI JUMLAH 15.931.562,98 Kondisi Penutupan Lahan Provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan Citra Landsat Liputan Tahun 2007 Badan Planologi Kehutanan, Croping Batas Kabupaten Pada Perda Nomor 8 Tahun 2003, sebagai berikut: No. Tutupan Lahan Luas (ha) 1. Hutan Lahan Kering Primer 1.157.910 2. Hutan Lahan Kering Sekunder 4.963.906 3. Hutan Mangrove Primer 83 4. Hutan Rawa Primer 52.826 5. Hutan Tanaman Industri 118.264 6. Semak Belukar 1.911.028 7. Perkebunan 656.082 8. Pemukiman 66.230 9. Tanah Terbuka 196.439 10. Tubuh Air 123.308 11. Hutan Mangrove Sekunder 51.617 12. Hutan Rawa Sekunder 2.465.738 13. Semak Belukar/Rawa 1.474.617 14. Pertanian Lahan Kering 161.020 15. Pertanian Lahan kering Campur 820.007 Semak 16. Sawah 211.733 17. Tambak 2.348 18. Transmigrasi 54.749 19. Pertambangan 88.507 20. Rawa 577.102 Keterangan 68

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI JUMLAH 15.153.514 (Dishut Kalteng 2013: 3) Kalteng memiliki laju pertumbuhan penduduk : 2,67% ini dapat dibandingkan dengan persentase penduduk per propinsi : 0,89%. Sedangkan kepadatan penduduk : 12/km2 dibandingkan dengan kepadatan penduduk Indonesia 106/km2.(Dephut 2002) Eksploitasi SDA yang dalam hal ini hanya menganggap hutan sebagai sumber devisa menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah. Dishut Kalteng tahun 2013 menyebutkan luas kawasan hutan yang terdegradasi di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah mencapai ± 3.424.098,82 ha, tersebar di seluruh 14 wilayah kabupaten/kota, terdiri dari kategori kritis seluas ± 2.494.553,95 ha dan kategori sangat kritis seluas ± 929.544,87 ha, dengan sebaran sebagai berikut: Tingkat Kekritisan Lahan No. Kabupaten / Kota Kritis (ha) Sangat Kritis (ha) 1. Gunung Mas 124.627,53 153.844,59 2. Kapuas 208.775,15 96.361,79 3. Katingan 212.075,90 165.313,89 4. Kota Palangka Raya 51.324,47 10.524,00 5. Pulang Pisau 322.682,88 51.656,97 6. Kotawaringin Timur 394.140,01 172.346,11 7. Seruyan 417.256,76 113.940,24 8. Kotawaringin Barat 137.601,40 54.832,31 9. Lamandau 92.406,12 14.433,82 10. Sukamara 110.371,93 62.369,35 11. Murung Raya 149.799,60 24.781,30 12. Barito Selatan 120.504,90 3.377,00 13. Barito Utara 97.515,70 3.615,10 69

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. Barito Timur 55.471,60 1.148,40 JUMLAH 2.494.553,95 929.544,87 (Dishut 2013 : 5-6)1 b. Potensi Mineral dan Tambang Geologi Kalteng merupakan kesatuan dari keseluruhan geologi Pulau Kalimantan. Potensi bahan mineral dan tambang Kalteng terutama berada di cekungan-cekungan yang ada di Kalteng : 1. Cekungan Melawi (perbatasan dengan Kalbar) 2. Cekungan Barito ( bagian Tengah – Selatan – Timur Kalteng) 3. Cekungan Kutai ( bagian Utara – Timur Laut Kalteng) (KaltengMining.com) Keterdapatan endapan bahan tambang di Kalteng cukup banyak di antaranya : 1. Migas ( minyak bumi, gas bumi, gas metan) 2. Mineral logam dan batubara ( endapan mineral, endapan batubara, endapan gambut) 3. Mineral non logam dan batuan ( intan, zircon, kristal kuarsa, pasir kuarsa, batu gamping, fosfat, andesit, granit, granodiorit. (KaltengMining.com) Emas di Kalteng secara resmi hanya diproduksi oleh PT. Indo Muro Kencana dan PT. Ensbury Kalteng Mining di Kabupaten Murung Raya dan Kota Waringin Timur. Produksi emas Kalteng tidak dapat tercatat dengan baik karena dihasilkan dari pertambangan emas tanpa ijin (PETI) atau kegiatan pertambangan zircon yang hasilnya tidak dapat dilaporkan. 1 Kementerian Kehutanan membuat kategori lahan kritis dan penyebabnya dengan petunjuk teknis (juknis) yang setiap tahun di up date. Penyusun data Disnas Kalteng menampilkan data di atas hanya berdasar penutupan lahan. Kementerian Kehutanan sendiri belum memiliki kepastian soal kategori misalnya padang rumput dapat termasuk lahan kritis, padahal itu hutan savana di Taman Nasional) 70

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dalam pertambangan zircon setiap kiogram konsentrat zircon diyakini akan diperoleh butiran emas tidak kurang dari 10 hingga 50 mg emas. Produksi konsentrat zircon tahun 2008 ratarata setiap bulan 5000 ton, maka produksi emas yang tidak dilaporkan dan tidak dibayar royaltinya kira- kira 50 kg hingga 250 kg. Sedangkan perak di Kalteng diproduksi oleh PT. Indo Muro Kencana sebagai mineral ikutan penambangan emas primer. Data bulan Agustus 2011 menunjukkan produksi perak 1 177 kg. (KaltengMining.com) Bijih besi di Kalteng dijual atau diekspor masih dalam bentuk mentah berupa “Lump Ore” . Produsen utama bijih besi adalah PT. Kotabesi Iron Mining sekitar 1,5 juta ton, PT. Feron Tambang Kalimantan sekitar sekitar 0,6 juta ton, dan PT. Mentaya Iron Ore Mining sekitar 0,35 juta ton. Mereka memiliki Kuasa Pertambangan di kabupaten Kota Waringin Timur. Perusahaan lain ada di Kabupaten Lamandau dan Seruyan.(KaltengMining.com) Tingkat produksi batubara Kalimantan Tengah masih sangat kecil dibanding tingkat produksi batubara di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Itu karena endapan batubara umumnya berada di wilayah terpencil dan berada dalam hutan yang saat ini umumnya belum memperoleh ijin pinjam pakai kawasan . Produsen utama batubara Kalteng adalah PT. Marunda Graha Mineral di Kabupaten Murung Raya yang menghasilkan kurang lebih 1, 6 juta ton pertahun. Produksi batubara Kalimantan Tengah tahun 2011 mencapai 8 582 758 ton.(KaltengMining.com) B. 2. Isu Lingkungan Kalteng Penulis mengelompokkan isu- isu lingkungan Kalteng dalam dua bagian besar sesuai potensi SDA Kalteng: 1) masalah dengan SDA yang berada di permukaan lahan yakni masalah kehutanan, dan 2) masalah dengan SDA yang berada di bawah permukaan lahan yakni masalah pertambangan dan mineral. 71

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Isu Kehutanan Isu besar seputar kehutanan Kalteng meliputi : 1) pembalakan, 2) konversi lahan. Klasifikasi -klasifikasi tersebut tidak sepenuhnya berdiri sendiri karena seringkali saling berkaitan. Pembalakan liar dan konversi lahan menyebabkan hilangnya hutan Indonesia. Menteri Kehutanan memperkirakan Indonesia kehilangan 1,6-2,8 juta hektar pertahun atau 4-7 lapangan bola setiap menit disebabkan pembalakan liar dan konversi lahan karena kurang efektifnya menejemen dan penegakan hukum. (“UNODC extends fight against illegal logging and corruption to Kalimantan”, UNODC, 1November 2011) 1. Pembalakan Pasar internasional menjadi pemicu pembalakan hutan Indonesia sejak jaman kolonial hingga sekarang. Pemerintah Kolonialis Belanda sejak menduduki Kalteng sudah melakukan pembalakan hutan di sana. Pemerintahan Suharto melakukan pembalakan semakin masif terutama mengambil kayu gelondongan . Puluhan perusahaan konglongmerat kroni Suharto sejak era 1970 an membabat habis hutan dari wilayah dataran rendah hingga hutan hujan tropis di kawasan hulu di pedalaman. Mereka mengeksport hasil pembalakan ke luar negeri. Karakter pembalakan mulai mengalami perubahan pada era 1980 an karena menipisnya bahan kayu di Kalteng yang menyisakan hutan sekunder yang terdegradasi. Itu menjadi surga bagi para spekulan dengan menggunakan izin perkebunan sawit untuk mengambil kayu dengan dalih IPK tanpa membangun kebun dengan serius. (WALHI Kalteng 2012) Upaya penegakan hukum di lapangan yang lemah menyebabkan adanya pembersihan lahan hutan secara illegal di Kalimantan yang merugikan negara 321 triliun rupiah tahun 2011. Indonesian Corruption Watch (ICW) dan pecinta lingkungan Save Our Borneo (SOB) , mengutip data dari Menteri Kehutanan, dalam pernyataan gabungan menyatakan bahwa Kalimantan Tengah mengalami kerugian hampir separuh karena sejumlah besar perusahaan 72

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI di sana beroperasi dengan “ijin yang cacat”. Kira- kira 282 perusahaan perkebunan dan 629 perusahaan tambang bertanggungjawab terjadinya deforestasi atas setidaknya 7 juta hektar di provinsi. (Jakartaglobe, 24 Mei 2012) Polisi Indonesia membawa isu pembalakan menjadi agenda internasional. Polri bekerja sama dengan Interpol (polisi internasional) menggelar workshop “Pelatihan Pemberantasan Illegal Logging dan Kejahatan Kehutanan Terorganisir” di Hotel Pullman, Jakarta Barat, Senin (29/4/2013). Dalam kesempatan itu diumumkan bahwa sejak 2012 lalu kepolisian telah menciduk 9 perusahaan perusahaan swasta yang telibat illegal logging di Kalimantan Tengah. Tiga perusahaan di antaranya kini telah memasuki proses persidangan. Dari situ sebanyak 26 ribu hektar hutan yang habis kayunya. Polisi juga menangkap sekitar 30 ribu meter kubik termasuk kayu ulin. Semua proses hukum untuk itu di Kalimantan Tengah. (“Polisi Gandeng Interpol Cegah Illegal Logging” 29 4 2013 Liputan 6 com ) Pembalakan hutan di Kalteng terjadi karena faktor dari luar dan dalam negeri. Faktor luar negeri adalah kebutuhan pasar internasional terhadap kayu. Sedang faktor dari dalam negeri adalah tidak tertibnya perjinan dan lemahnya penegakan hukum. Bahkan ijin perkebunan kelapa sawit dipakai sebagai kedok melakukan pembalakan hutan. 2. Konversi lahan Konversi lahan secara masif di Kalteng menjadi isu lingkungan untuk : 1) mega proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG), 2) kelapa sawit, 3) REDD, dan 4) pertambangan (isu mengenai pertambangan akan dibahas di bagian tersendiri karena termasuk klasifikasi SDA di bawah permukaan tanah). 2.1. Mega proyek PLG 73

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mega proyek yang dibuat untuk menjadi lumbung beras ini gagal total, merusak lingkungan dan menyengsarakan penduduk baik penduduk asli mau pun transmigran yang didatangkan. Pemerintah Suharto menciptakan mega proyek PLG dengan landasan Dekrit Presiden 82 / 1995. Dekrit tersebut memberi judul resmi proyek secara komplit : “Pengembangan lahan gambut Untuk Pertanian Tanaman Pangan di Wilayah Propinsi daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Seluas Satu Juta Hektar “ (Notohadiprawiro 2006: 3). Total area proyek 1 457 100 ha tetapi hanya paling banyak 46 persen area prospektif untuk pertanian dan tempat tinggal. Bagian tersebut terpisah- pisah sepanjang aliran sungai utama (Notohadiprawiro 2006: 7). Pemerintah membuat proyek tanpa data yang cukup dan tanpa memahami karakteristik kawasan gambut Kalteng. Itu mengakibatkan bencana lingkungan dan bencana sosial bagi penduduknya. Kanal untuk irigasi mensuplai air dari sungai- sungai besar malahan menguras air kawasan gambut sehingga meningkatkan keasaman air bahkan di luar area PLG. Suplai air di Kuala Kapuas menjadi terasa asam (Notohadiprawiro 2006: 89). Saat ini 23 ijin perkebunan sawit dan 10 ijin konsesi pertambangan menjadi ancaman wilayah konservasi dan rehabilitasi gambut di kawasan eks PLG yang hancur oleh pembukaan proyek PLG. (WALHI Kalteng 2012) 2.2. Kelapa Sawit Konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit menimbulkan masalah lingkungan karena : 1) konsesinya sering hanya sebagai kedok melakukan pembalakan kayu gelondongan, 2) pembersihan lahan dengan cara pembakaran, 3)pemakaian bahan agrokimia, dan 4) pencemaran limbah pabrik minyak kelapa sawit. Perusahaan tertarik kayu gelondongan yang dapat dipanen dari konsesi kelapa sawit di Papua Barat dan Kalimantan. Ini menjelaskan mengapa mayoritas perusahaan yang dibangun di wilayah tadi memiliki hubungan kuat dengan perusahaan perkayuan. Itu juga mungkin 74

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menjelaskan rendahnya realisasi target perkebunan. Contohnya, hingga Maret 1999, pemerintah memberi ijin lokasi pembangunan 871,211 hektar perkebunan kelapa sawit di Kalbar, namun hanya 18,278 hektar yang betul – betul ditanami. Beberapa perusahaan mengakui tidak dapat menanam kelapa sawit karena menghadapi krisis ekonomi. Tetapi meski meski ada kesulitan tersebut, pelaksanaannya sangat sedikit sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa perusahaan- perusahaan tersebut lebih tertarik mengeksploitasi kayu gelondongan daripada membuat perkebunan kelapa sawit. (Casson 1999: 43) Friend of the Earth ( FoE ) memerkirakan kerusakan hutan baik di Amerika Latin mau pun Asia Tenggara dan Afrika setiap tahunnya lebih luas dari wilayah Wales. Perdagangan minyak sawit internasional menyebabkan pembersihan lahan hutan dan pelanggaran HAM dalam skala masif (FoE 2003: 3). Perkebunan kelapa sawit terus melakukan pembakaran untuk pembersihan lahan walau sejak 1997 pemerintah Indonesia telah melarang praktek ini. Centre for International Forestry Research (CIFOR) mendata pada 2002 lebih dari 75 persen titik api bulan Agustus disebabkan perkebunan kelapa sawit, Hutan Tanaman Industri dan konsesi hutan. (FoE 2003: 14) Perluasan kawasan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan 1997- 98 lebih dari 5 juta hektar di Kalimantan saja. (Casson 1999:8) Perkebunan kelapa sawit menyebabkan pencemaran lingkungan terutama karena pemakaian yang salah dan berlebihan bahan agro- kimia dan pembuangan limbah produknya. Sekitar 25 pestisida yang berbeda dipakai secara teratur di perkebunan. Pemakaian tersebut tidak dimonitor atau pun di dokumentasikan sehingga sulit dikendalikan. Dipastikan, paraquat, herbisida paling beracun yang telah dilarang di 13 negara masih dipakai secara umum di Asia Tenggara (FOE 2003:15). Sedangkan produksi minyak sawit juga menghasilkan limbah yang bermacam- macam. Palm Oil Mill Effluent (POME) adalah yang paling bertanggung jawab pada kebanyakan pencemaran. POME merupakan limbah 75

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI campuran air, remukan tempurung dan residu lemak. Itu terkenal sebagai pencemar sungai yang mematikan kehidupan air hingga jauh ke hilir. (FoE 2003:15) Sepanjang tahun 2010 - 2011 banyak pengelolaan pabrik yang tidak sesuai dengan UKL / UPL juga menjadi bencana bagi ekositem air dan bagi masyarakat seperti pencemaran PT. Agro Indomas yang di temukan langsung membuang IPAL nya ke sungai Rungau dan Rambania, PT. Bumi Hutan Lestari yang mencemari sungai Bumban, PT. Mustika Sembuluh yang masih memiliki persoalan pencemaran di sungai Sampit yakni masih ditemukan kebocoran pada pengelolaan IPAL nya. Di Kabupaten Kotawaringin Timur PT. Swadaya Sapta Putra yang mengancam penduduk Desa Padas dan Desa Bajarau di wilayah kecamatan Parenggean. (WALHI Kalteng 2012). Anggota DPR meninjau kebocoran limbah kelapa sawit di Parenggean Kota Waringin Timur dan mendapati limbah yang berbau , air sungai yang tidak layak dikonsumsi, menyebabkan gatal-gatal dan ikan banyak yang mati.( Antaranews.com 21 April 2013 ). Pada bulan november 2011 PT.Kalimantan Sawit Kusuma (KSK) mengakui adanya pencemaran limbah dari pabrik yang membuat ribuan ikan mati di daerah bantaran Sungai Mapam seperti Desa Balai Riam, Jihing, dan Air Dua Di Kabupaten Sukamara. (WALHI Kalteng 2012) Perijinan perkebunan kelapa sawit juga banyak bermasalah. WALHI Kalteng menemukan banyak sekali pelanggaran terhadap UU Kehutanan No 41 Tentang Kehutanan Tahun 1999 dari seluruh proses perijinan di Kalimatan Tengah. Perijinan tersebut banyak berada di kawasan hutan secara illegal karena belum memenuhi prosedural perijinan yang berlaku. Dari 352 ijin perkebunan besar sawit (PBS) hanya terdapat 68 ijin PBS yang sudah memiliki ijin pelepasan kawasan hutan dari Menteri Kehutanan. (WALHI Kalteng 2012) 2.3.Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) 76

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI REDD di Kalteng menimbulkan konflik karena tidak melibatkan partisipasi penduduk lokal. Presiden SBY pada akhir tahun 2010 menunjuk Kalteng sebagai provinsi percontohan yang merupakan bagian dari perjanjian letter of intent (LOI) antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah kerajaan Norwegia terkait upaya penurunan efek gas rumah kaca dari sektor deforestasi dan degradasi hutan. Situasi ini seolah menjadi angin segar untuk menyelamatkan hutan di Indonesia karena pemerintah Norwegia akan memberikan dana dan janji presiden SBY untuk menurunkan angka emisi sebesar 26 persen dengan upaya sendiri dan 46 persen dengan business as usual (BAU) bantuan dari pihak lain (WALHI Kalteng 2012) Di samping itu ada proyek Kalimantan Forest Patnership (KFCP) yang merupakan bentuk kerja sama antara pemerintah Australia dan Indonesia dengan komitmen dana sebesar 70 juta dollar Australia. Proyek ini hanya bisa melakukan penanaman seluas 50 hektar di wilayah eks PLG. Kawasan yang menjadi proyek KFCP merupakan wilayah eks PLG yang merupakan dosa kebijakan pemerintah Orde Baru dan menyisakan konflik dan kerusakan lingkungan. Di sana KFCP mencoba menjadikan wilayah seluas 120.000 ha di wilayah Blok E eks PLG sebagai demontrasi untuk REDD. Pada kenyataanya wilayah ini tanpa proyek tersebut tidak akan rusak karena banyak inisiatif masyarakat di sekitar kawasan tersebut yang masih memiliki kearifan tradisional dalam mengelola wilayah tersebut. Ancaman sesungguhnya justru ijin 23 buah perkebunan sawit seluas 360.000 ha yang akan merusak wilayah gambut di kawasan eks PLG tersebut. (WALHI Kalteng 2012) Isu kehutanan Kalteng terutama adalah masalah pembalakan dan konversi lahan. Pembalakan telah mengakibatnya gundulnya hutan akibat eksploitasi kayu gelondongan. Konversi lahan hutan di Kalteng secara masif untuk mega proyek PLG, perkebunan kelapa sawit, proyek REDD dan pertambangan telah menanamkan konflik lingkungan dan sosial. Pemerintah Indonesia menganggap kawasan hutan sebagai milik negara. Atas dasar itu 77

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kebijakan untuk eksploitasi SDA dan konversi lahan mengingkari hak-hak masyarakat sipil termasuk komunitas lokal. Selain itu pemerintah mengelola SDA secara tidak transparan, korup, tidak tertib perijinan, dan tidak menjunjung upaya penegakan hukum. Investor dalam dan luar negeri memanfaatkan situasi ini. Kawasa eks PLG menjadi sebuah contoh kebijakan pemerintah yang sejak awal idak berpihak kepada masyarakat sipil termasuk komunitas lokal. Pemerintah membuat proyek persawahan, transmigrasi, perkebunan kelapa sawit, pertambangan hingga REDD di kawasan tersebut tanpa melibatkan partisipasi masyarakat sipil. b. Isu Pertambangan Konsesi pertambangan di Kalteng menjadi isu lingkungan besar terutama karena menimbulkan konflik dengan penduduk setempat dan pencemaran lingkungan. Di luar itu banyak perusahaan tambang yang beroperasi tanpa perijinan yang tuntas. Ada perkiraan bahwa cadangan batu bara di Kaltim dan Kalsel akan habis 20-30 tahun ke depan. Karena itu pengerukan batu bara akan di arahkan ke Kalteng dan Kalbar di cekungan Melawi yang kaya akan sumberdaya alam dan mineral. Kondisi ini sudah dipersiapkan oleh perusahaan multi nasional seperti BHP Biliton yang mengusai 7 konsensi seluas 362.733 ha (PKP2B) di Kabupaten Murung Raya dan PT. Kalimantan Surya Kencana ( PT. KSK) seluas 120.900 ha (Kontrak Karya) di kabupaten Gunung Mas, Katingan dan Murung Raya. PT. KSK merupakan anak perusahaan Kalimantan Gold Corporation. Ltd yang sudah melakukan kongsi dengan Freeeport Mc Moran-Exploration. Ltd yang akan mengusai 75 % saham setelah menginvestasikan US$7 juta. Selain dua raksasa tersebut, di kabupaten Lamandau ada ijin milik PT. Kalimantan Mineral Eskpolration seluas 290.100 ha yang merupakan anak perusahaan Rio Tinto.Ltd. Di wilayah Kabupaten Kapuas di bekas kawasan eks PLG terdapat perusahaan asing yang siap mengeksploitasi wilayah ini untuk energi gas metana batubara 78

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (CBM) yakni 3 perusahaan di bawah bendera perusahaan muti nasional British Proteleum dari Inggris. Perusahaan tersebut antara lain Konsorsium PT Transasia CBB-BP Kapuas I Limited, Konsorsium PT Kapuas CBM Indonesia-BP Kapuas II Limited dan Konsorsium PT Gas Methan Utama-BP Kapuas III Limited. Ketiga konsorosium perusahaan ini adalah bagian dari 14 kontrak kerja sama (KKS) baru yang di tandatangai oleh pemerintah Indonesia melalui kementrian ESDM dengan komitmen investasi mencapai US$ 68,95 juta dan bonus tanda tangan USD 16,9 juta. KKS baru itu terdiri dari 9 KKS gas metana batu bara (CBM) dan 5 KKS WK migas. (WALHI Kalteng 2012) Perusahaan pertambangan berpotensi mengakibatkan pencemaran akibat pengelolaan lingkungan dan manajemen pemantauan yang tidak berkelanjutan. Kasus yang dilaporkan WALHI Kalteng di antaranya adalah meluapnya kolam limbah penampungan milik perusahaan Indo Muro Kencana pada akhir bulan desember 2010 yang mencemari sungai Barito mengakibatkan banyak ikan yang mati. Sementara di desa Buhut Jaya kecamatan Kapuas Tengah terjadi pencemaran limbah batu bara oleh perusahaan tambang PT Talen Orbit Prima (TOP). (WALHI Kalteng 2012 ) WALHI Kalteng menyoroti masalah utama yang sudah menjadi rahasia umum adalah korupsi dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pejabat daerah tanpa ada upaya pengakuan hukum oleh aparat penegak hukum. Pengusaha dan pejabat daerah memanfaatkan dualisme penggunaan kawasan di Kalteng lewat carut marutnya RTRWP Kalteng sebagai salah satu upaya pelemahan instrumen hukum (Pemerintah pusat memakai SK Menhut TGHK sedang pemerintah daerah memakai Perda no 8 tahun 2003 tentang RTRWP . Keduanya memiliki perbedaan peruntukan lahan dan aturan penggunaannya). Pejabat daerah melakukan pelanggaran hukum seolah-olah manjadi keterlanjuran dan kesalahan adminitrasi , sementara perusahaan mendapatkan keuntungan dengan terus mengkonversi hutan dan menduakali kawasan hutan secara illegal tanpa ijin pelepasan kawasan hutan dan membayar 79

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pajak atas penggunaan tanah dan menghilangkan potensi pendapatan Negara dari tegakan kayu, dan pajak PSDH/ DR yang sangat besar. Dari seluruh proses perijinan di Kalteng banyak sekali pelanggaran terhadap UU Kehutanan No 41 Tentang Kehutanan Tahun 1999. Perijinan tersebut banyak berada di kawasan hutan secara illegal karena belum memenuhi prosedural perijinan yang berlaku. (WALHI Kalteng 2012: 3). Di sektor pertambangan dari 630 ijin KP, 15 ijin PKP2B dan 5 ijin KK hanya 178 ijin yang dinyatakan clear and clean oleh kementrian ESDM. Pada perijinan dalam kawasan hutan terdapat 35 perusahaan yang sudah secara legal status perijinannya yakni 11 unit ijin yang sudah mendapatkan surat persetujuan penggunaan kawasan hutan dari Dirjen Badan Planologi Kehutanan dan 14 Unit surat persetujuan prinsip pinjam pakai kawasan hutan dari Kementrian Kehutanan . (WALHI Kalteng 2012: 4) Sementara itu Pokja dari Kementerian Kehutanan dan satgas mafia hukum menemukan 9 perusahaan tambang yang beroperasi di kawasan hutan lindung di Kalteng dan 54 (lima puluh empat) kasus perusahaan perkebunan, seluas 623.001 ha telah aktif membuka kebun di kawasan hutan tanpa ijin pelepasan kawasan hutan dari Menteri Kehutanan, yang tersebar di 10 kabupaten di Kalimantan Tengah. (WALHI Kalteng 2012 ) Tambang dan mineral merupakan kekayaan sekaligus ancaman bencana bagi lingkungan dan masyarakat. Apalagi potensi tambang dan mineral Kalteng terutama di kawasan perbukitan tempat hulu-hulu sungai berasal. Padahal sungai-sungai sangat berarti bagi penduduk Kalteng. Itu terbukti dari lokasi pemukiman tradisional berupa kota-kota dan kampungkampung yang hampir selalu dibangun di tepi sungai. Sungai menjadi sumber air untuk kehidupan sehari-hari sekaligus transportasi. Isu pertambangan dan mineral di Kalteng, seperti isu kehutanan, menjadi isu ketidakadilan. Pemerintah yang tidak mengedepankan transparansi dan penegakan hukum 80

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengeluarkan ijin-ijin pertambangan yang tidak sesuai ketentuan dan tidak menindak pelanggaran lingkungan yang dilakukan perusahaan pertambangan. B. 3. Perebutan akses SDA Provinsi Kalteng identik dengan suku bangsa Dayak. Untuk memperjuangkan sebuah wilayah administratif di sebuah negara bangsa, Indonesia, aktivis Dayak memakai atribut etnik sebagai pemersatu. Kemenangan itu diraih pada jaman Orde Lama. Serangkaian infrastruktur politik yang dibangun Orba merongrong kekuatan masyarakat sipil yang direpresentasikan oleh Ornop dan masyarakat adat. Gerakan masyarakat adat menguat setelah tumbangnya Orde Baru, menjadi politik identitas terutama karena mendapat pengakuan internasional. Strategi perlawanan komunitas lokal yang mengalami ketidakadilan lingkungan bersama LSM dan “masyarakat adat” menjadi menarik ketika dipertanyakan, apakah mereka merepresentasikan masyarakat adat itu sendiri dan bagaimana dengan kelompok komunitas lokal lain yang menolak mengakui adat . Adat yang juga berkaitan dengah tanah menjadi dasar kehidupan orang Dayak. Salah satu karakter budaya orang Dayak adalah kedekatan dengan tanahnya. Tirtosudarmo mengutip Stephanus Djuweng membuktikan bahwa di berbagai subetnik Dayak ditemukan konsep yang mirip yang disebut binua, manoa, benua. Konsep tersebut menjelaskan hubungan orang Dayak dengan tanahnya . Di sini yang dimaksud tanah adalah tanah dan seluruh isi yang terkandung dan terkait dengan tanah atau SDA beserta hukum adat dan perwakilan rakyat yang menegakkan hukum tersebut. (Tirtosudarmo 2007: 180-181) Adat pada era Suharto dilucuti kekuatannya dan hanya disisakan sebagai aspek simbolik. Pemerintahan Suharto sejak awal tahun 1970-an secara drastis merombak tatanan sosial mau pun kultural yang ada di Kalteng melalui “proses nasionalisasi”. Hal itu menghancurkan konstruksi sosial Kalteng sebagai “etnoteritorial”, yang bagi para pemimpin 81

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dayak dianggap memiliki hak-hak khusus. (Tirtosudarmo 2007: 184). Kendali terhadap penggunaan lahan di Kalteng berdasarkan berbagai peraturan yang diciptakan pada zaman Orde Baru telah menjadikan tanah dan SDA yang ada tidak lagi di tangan orang Dayak. Melalui Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah dan UndangUndang Nomor 5 tentang Pemerintahan Desa, pemerintah Orde Baru melakukan social engineering terhadap masyarakat yang berjalan beriringan dengan proses eksploitasi besarbesaran SDA di daerah. Berdasarkan UU Tahun 1974, penggunaan istilah dan struktur oganisasi desa disamakan di seluruh Indonesia. Akibatnya terjadi perubahan mendasar struktur kelembagaan masyarakat yang sebelumnya banyak didasarkan hukum adat yang ada. (Tirtosudarmo 2007: 186-188) Minyak bumi sebagai sumber devisa terbesar mulai guncang menjelang akhir 1970an. Pertamina sebagai perusahaan negara yang mengurus soal migas bangkrut. Pemerintah pun menggenjot pendapatan dari sektor lain. Salah satu sektor yang dianggap mampu menjadi sumber devisa adalah kehutanan terutama kayu gelondongan atau “emas hitam”. Tahun 1978, ekspor kayu Indonesia menguasai 40 % dari seluruh ekspor kayu dunia. (LATIN 1998 : 12). Acciaioli mengutip Mubyarto dan Baswir (1984) menyebutkan pertengahan tahun 1980 an 80% dari 154 000 km2 luas Kalteng merupakan hutan. Ini menarik banyak imigrasi menjadikannya sebagai salah satu dari provinsi Indonesia yang paling kaya dan paling cepat pertumbuhan ekonominya (Acciaioli 2008: 93). Sejak konferensi negara pihak (Conference of the Parties / COP) United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali Desember 2007, mata dunia tertuju pada Kalteng. Pembukaan dan pengeringan ekosisem lahan gambut di Kalteng menyebabkan oksidasi skala besar yang meningkatkan emisi karbon dioksida. Menurut laporan Wetland Internasional 2006 , emisi CO2 dari lahan gambut Asia Tenggara 19972006 sekitar 2 Gt pertahun. Mendekati 1,8 Gt (90%) diperkirakan dari Indonesia. Pembukaan 82

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ekosistem lahan gambut di Kalteng, bersama Riau , adalah kontribusi terbesar. Karena biaya konservasi yang besar menyebabkan diskusi untuk memecahkan penyebab peningkatan pelepasan karbon dihindari. Rehabilitasi ekosistem lahan gambut di Kalteng terhalang biaya besar . Meningkatnya emisi karbon daerah ini dilihat pemerintah dan beberapa lembaga internasional sebagai kesempatan menggalang dana lewat skema kompensasi berbasis karbon seperti Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD). (JATAM 2010: 5). Proyek REDD ini memicu ketegangan baru. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebut desain pembangunan pasca Suharto terus berlanjut hanya untuk menyokong investasi melalui infrastruktur politik yang efektif menghancurkan struktur sosial dan ekologis. Keamanan dan produktivitas masyarakat tidak ditingkatkan (JATAM: 9). Di Kalteng itu dilakukan dengan ekstraksi batu bara sepanjang bagian atas sungai Kapuas yang terus berlanjut, perkebunan kepala sawit diperluas dan rencana membangun rel kereta api melintas Kalimantan untuk mengangkut batubara, hasil hutan dan perkebunan ke pasar masing- masing. Juga rencana memperluas jaringan trans- Kalimantan. Semua kekayaan alam Kalteng untuk melayani pasar ekspor tanpa berpihak pada keperluan lokal. Ilustrasi kecil yang menunjukkan ironi itu adalah, di Kalteng mati listrik dari satu hingga beberapa hari merupakan peristiwa tetap, sementara batu bara dari bumi Kalimantan menjadi komoditi ekspor (JATAM 2010: 9). Sementara itu, ijin konsensi, melalui metode konversi telah menguasai 78 % dari total wilyah Kalteng di luar taman nasional dan hutan lindung yang tidak bisa di akses oleh masyarakat. Ijin konsesi tersebut merupakan model keruk habis sumber daya alam untuk : 1) perkebunan sawit yang monokultur dan membutuhkan lahan yang luas akan menghancurkan bentang alam dan kubah gambut , dan 2) praktek pertambangan dengan metode tambang terbuka (open pit ) yang terkonsentrasi di wilayah tangkapan air di daerah hulu pulau Kalimantan, yang merupakan kawasan ekologi penting dan sumber penghidupan dan mata air bagi beberapa DAS di 83

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kalteng. WALHI Kalteng menyatakan salah satu kebijakan yang paling berbahaya adalah Peraturan Presiden Nomor 32 tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembagunan Ekonomi Indonesai (MP3EI). Ini menjadikan Kalimantan sebagai koridor ekonomi untuk pusat produksi dan pengembangan hasil tambang dan lumbung energi nasional yang menjadi ancaman serius bagi keberlajutan lingkungan dan kerusakan ekologi serta perampasan tanah bagi masyarakat di Kalimantan termasuk di Kalteng. Dilandasi kebijakan tersebut untuk Kalimantan di gelontorkan dana yang sangat besar senilai 128 triliun guna membangun infrastuktur jalan, pelabuhan dan rel kereta api yang semuanya bertujuan untuk mempermudah arus angkutan sumberdaya alam dan mempercepat ekploitasi dan pengerukan kekayaan alam di Kalimantan. (WALHI 2012: 7) `Pemerintah Orba menyedot SDA dari daerah ke pusat dengan dibarengi dengan program pemindahan penduduk. Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar , pada intinya dilandasi program pemindahan penduduk untuk menjadi petani di Kalteng. (Tirtosudarmo 2007: 179). Ambisi Suharto untuk mengubah lahan gambut menjadi sawah yang dimulai tahun 1986 adalah proses pengalihan lahan secara masif di Kalteng. Kebijakan transmigrasi sejak awal 1970-an menjadikan tanah-tanah yang dianggap tidak berpenghuni sebagai areal permukiman transmigran yang sebagian besar didatangkan dari Jawa. Areal hutan yang tidak lagi dianggap produktif dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. ( Tirtosudarmo 2007: 186). Derasnya penduduk migran yang masuk sebagai transmigran bukanlah angka yang kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kalteng keseluruhan. Tahun 2010 jumlah penduduk Kalteng 2 212 089 jiwa. Jumlah transmigran tahun 2009 ada 250 KK atau 998 jiwa dan tahun 2010 ada 225 KK atau 896 jiwa (BPS Kalteng, Kalteng dalam angka 2011). Secara keseluruhan jumlah transmigrasi sejak tahun 1960 hingga 2011 mencapai 100 591 84

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KK atau sekitar 395 621 jiwa di 261 Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) di 14 kabupaten se- Kalteng. (Tempo.co 12 Februari 2013) Di luar kawasan PLG, masyarakat urban di Kalteng didominasi pendatang dari luar Kalteng terutama yang mudah mengalir dari Banjarmasin yakni orang Banjar di Palangka Raya. Di Kalteng bagian selatan migran Madura tinggal di kota- kota menengah seperti Sampit dan Pangkalan Bun. Mereka melakukan ekspansi pada tanah yang dikuasai secara “longgar” oleh orang Dayak berdasar hak ulayat. (Tirtosudarmo 2007: 185) Kalteng oleh Mubyarto dan Baswir (1989) disebut sebagai “The Dayak Heartland” atau “Buminya orang Dayak”. Sebutan itu dimaksud oleh keduanya untuk menunjukkan atau memperkirakan dua pertiga penduduk yang tinggal di Kalteng adalah orang Dayak. Ternyata perkiraan tersebut tidak tercermin hasil sensus tahun 2000. Orang Banjarlah yang persentasenya terbesar yakni 24, 20 persen, diikuti orang Jawa (18, 06 persen) . Berikutnya baru Orang Dayak Ngaju memiliki persentase terbesar ketiga yakni 18, 02 persen, kemudian Dayak Sampit 9,57 persen , Bakumpai 7,51 persen, Madura 3, 46 persen, Katingan 3, 34 persen, dan Manyan 2,80 persen. Kalau dianggap apa yang disebut Dayak adalah gabungan subetnik Dayak Ngaju, Sampit, Bakumpai, dan Manyan, maka jumlah persentasenya “hanya” 37, 90 persen. (Tirtosudarmo 2007: 172-174) . Tirtosudarmo membandingkan komposisi penduduk yang menunjukkan pergeseran siapa yang menjadi mayoritas dan minoritas. Pada tahun 1930, “Central Borneo” termasuk sebagian dari yang sekarang disebut Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Sensus Penduduk tahun itu mencatat “Central Borneo” berpenduduk 619. 402 orang. Komposisinya terdiri dari mayoritas Dayak 393.282 orang atau 63, 49 persen. Orang Melayu 164. 981 atau 26, 64 persen, orang Banjar 36. 880 atau 5, 95 persen, orang Jawa 15 520 atau 2,51 persen, orang Bugis 6.740 atau 1,09 persen, sisanya dari suku bangsa yang lain 1,09 85

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI persen. Perbandingan komposisi penduduk tahun 1930 dengan tahun 2000 menunjukkan orang Dayak yang dianggap sebagai penduduk asli atau indigenous people telah tergeser posisinya dari mayoritas menjadi minoritas dalam waktu kurang dari satu abad. Perubahan ini menimbulkan dugaan bagaimana dampak ekonomi, politik, sosial dan budaya. (Tirtosudarmo 2007: 176). Rakyat kecil yang memperjuangkan hak konstitusi atas tanah yang dirampas oleh perusahaan menjadi korban kriminalisasi. Aparat penegak hukum mulai dari kepolisian, kejaksaan dan pengadilan sudah menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan menjerat masyarakat yang memperjuangkan haknya. Pasca dicabutnya pasal 21 dan 46 UU perkebunan oleh Mahkamah Konstitusi pada bulan September tahun 2011 bukan berarti bahwa masyarakat langsung bisa terhindar dari upaya kriminalisasi. WALHI Kalteng mencatat kasus masyarakat desa Biru Maju yang memperjuangkan tanah transmigrasi yang dirampas oleh PT. Buana Artha Sejahtera (Sinarmas Grup) yang justru belum memiliki legalitas secara hukum atas perijinanannya karena belum memiliki ijin pelepasan kawasan hutan dan belum memiliki HGU. Pihak kepolisian bekerja sama dengan pihak kejaksaan menggantinya dengan pasal 362 KUHP tentang pidana pencurian untuk menjerat masyarakat tanpa melalui proses penyidikan yang baru namun memaksakan menggunakan satu berita acara pemeriksaan (BAP) yang sama. Hal ini menunjukan bahwa kasus kriminalisasi ini merupakan pesanan dari pihak perusahaan dalam rangka menundukkan perlawanan masyarakat Biru Maju yang sedang memperjuangkan hak atas tanahnya. Padahal sebelumnya masyarakat Biru Maju sudah melaporkan perampasan tanah yang dilakukan oleh perusahaan PT. BAS kepada pihak kepolisan namun tidak ada tindakan hukum yang dilakukan oleh parat kepolisian. (WALHI Kalteng 2012: 7). Sementara kebijakan Pergub 13 Tahun 2009 tentang tanah adat masih jauh dari harapan untuk melindungi tanah-tanah adat dari ancaman perampasan tanah oleh investasi sawit dan pertambangan karena struktur adat 86

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang ada sudah sangat rapuh dan dihancurkan oleh kekuasaan sejak jaman Orde Baru dan penetrasi modal yang mengajarkan tentang pragmatisme dan individualistik di tingkat masyarakat adat. (WALHI Kalteng 2012: 7) Perebutan akses SDA di Kalteng dapat dilihat sebagai usaha masyarakat adat mendapatkan kembali legitimasinya. Kebijakan pemerintah Orba dan derasnya migrasi penduduk ke Kalteng menyebabkan masyarakat Dayak terpinggirkan. Setelah jatuhnya Orba, masyarakat sipil Kalteng membangkitkan kembali istilah “masyarakat adat” untuk merebut kembali akses SDA. Gerakan ini di satu sisi menjadi harapan bagi komunitas lokal yang terpinggirkan, di sisi lain menjadi batasan yang bersifat ekslusif. C. Kesimpulan Website DTE memiliki elemen- elemen dalam sistem berbasis image ( tampilan visual website, logo, foto ) dan sistem berbasis kata ( tulisan di website, teks foto, artikel). Tampilan visual website DTE berkarakter menarik perhatian, kontras, sederhana dan lugas. Website DTE memakai warna oranye sebagai warna latar dengan gradasi intensitasnya. Warna ini adalah warna yang mudah kelihatan, hangat, cerah dan aktif . Sementara itu logo DTE memakai warna yang kontras yakni hitam putih. Warna hitam dan putih sendiri merupakan warna yang dingin dan pasif. Meletakkan logo berwarna hitam – putih di latar berwarna oranye lagi- lagi merupakan kontras dingin- pasif dengan hangat – aktif. DTE juga membuat kontras dengan menciptakan pembagian ruang berbahasa Inggris dan ruang berbahasa Indonesia. Logo DTE “hanya” terdiri dari huruf “D”, “T”,”E” , titik kecil dan garis lurus menunjukkan konsistensinya untuk sederhana dan lugas seperti keseluruhan tampilan visual websitenya. 87

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Elemen yang ditampilkan DTE sebagai sistem berbasis kata juga memiliki karakter yang sama seperti sistem berbasis image. DTE menciptakan kontras : tulisan berbahasa Inggris dan tulisan berbahasa Indonesia. Kontras yang lain adalah pihak kelompok masyarakat sipil dan pihak pemerintahan, perusahaan asing, lembaga bantuan dan lembaga penyandang dana internasional seperti yang disebut di homepagenya. DTE menuliskan pesan- pesannya dengan bahasa sederhana dan lugas, contohnya pernyataan bahwa fokus utama DTE adalah “masyarakat miskin di pedesaan dan masyarakat adat di luar Pulau Jawa terutama akan hak-hak dalam menentukan masa depan mereka sendiri”. DTE memiliki karakter – karakter di atas untuk menampilkan isu-isu lingkungan Kalteng dalam bingkai “ecological justice” untuk kampanye di arena internasional. Akan tetapi DTE secara spasial tidak menampilkan isu-isu lingkungan Kalteng dengan judul yang secara spesifik menyebut Kalteng. DTE juga secara temporal tidak melanjutkan mengangkat isu – isu tersebut walau pun konflik masih terjadi. DTE tidak seperti LSM dan media lokal yang terus mengangkat isu- isu yang pernah ditulis DTE misalnya konflik di konsesi PT AI dan PT IMK. 88

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV ARENA LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKEADILAN DI KALTENG Pada bab ini penulis menampilkan bagaimana membaca pembingkaian teks isu lingkungan Kalteng yang dipakai berbagai pihak dalam arena Lingkungan Hidup Berkeadilan di Kalteng. Website DTE di sini sebagai titik untuk pembacaan wacana lingkungan hidup berkeadilan yang diproduksi oleh berbagai pihak yang berkepentingan dengan meminjam analisa Arena yang dipakai Pierre Bourdieu. A. Pemerintah Pemerintah Indonesia meletakkan wacana lingkungan hidup berkeadilan dalam pembangunan. Itu dilakukan dengan menyatakan SDA sebagai “modal pembangunan nasional” dan “SDA di bawah kekuasaan negara”. Kekuasaan itu sendiri menjadi hal yang diperebutkan antar elemen pemerintah. Pemerintahan pusat dan pemerintah daerah masih memperebutkan kekuasaan atas SDA Kalteng hingga kini. Kawasan hutan Kalteng menjadi salah satu contoh bagaimana hutan sebagai SDA yang dianggap modal pembangunan tersebut menjadi perebutan kekuasaan melalui sejumlah regulasi. Anggapan pemerintah bahwa hutan adalah modal pembangunan dituangkan dalam Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan paragraf 2: ”Hutan sebagai modal pembangunan nasional memiliki manfaat yang nyata bagi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia, baik manfaat ekologi, sosial budaya maupun ekonomi, secara seimbang dan dinamis. Untuk itu hutan harus diurus dan dikelola, dilindungi dan dimanfaatkan secara berkesinambungan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, baik generasi sekarang maupun yang akan datang.” Hutan itu sendiri merupakan sumber daya yang dikuasai negara. Dalam hal ini kekuasaan dimiliki dalam bentuk kewenangan secara 89

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI legal formal yang disebutkan dalam UU No. 41 Tahun 1999 pasal 4: “Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Menteri Kehutanan sebagai pemerintah pusat memiliki kekuasaan tersebut. Hanya hutan yang dianggap khusus yang memerlukan persetujuan legislatif yaitu hutan yang “berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis” seperti tercantum dalam UU no. 41 Tahun 1999 Pasal 19; “ Perubahan peruntukan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis, ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat” Kekuasaan Menteri Kehutanan atas kawasan hutan dapat dilihat dari laranganlarangan yang ada dalam UU nomor 41 tentang Kehutanan di antaranya: 1) Pasal 50 ayat (3) huruf a : “Setiap orang dilarang mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah”. 2) Pasal 59 ayat (3) huruf b: “Setiap orang dilarang merambah kawasan hutan”. 3) Pasal 50 ayat (3) huruf e :“Setiap orang dilarang menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa mememiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang.” Menteri Kehutanan sebagai pemerintah pusat memiliki otoritas mutlak dalam pengelolaan dan penggunaan kawasan hutan karenanya mempertahankan kawasan hutan yang luas. Sedangkan pemerintah daerah kewenangannya hanya di luar kawasan hutan atau yang disebut areal penggunaan lain (APL). Kedua jenis wilayah kekuasaan ini mengakibatkan hutan Kalteng menjadi ajang benturan peraturan. Kawasan hutan adalah wilayah Kementrian Kehutanan sedangkan kebijakan otonomi daerah memberi kewenangan pemerintah daerah membuat regulasi tingkat daerah. 90

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Semula Kepala Badan Planologi (Baplan) Kehutanan melalui surat No. 778/ VIIISKP/2000 tanggal 12 September 2000 membuat aturan bahwa KPP dan KPPL yang pada dasarnya merupakan area penggunaan lain (APL) berdasarkan peta padu serasi RTRWP dengan TGHK Kalteng (Keputusan Gubernur Kalteng No. 008/965/IV/BAPP 14 Mei 1999) tidak lagi memerlukan proses pelepasan kawasan hutan. Pemerintah Daerah Kalteng memakai aturan Baplan itu sebagai pijakan membuat Perda No. 8 Tahun 2003 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalteng. Pada saat itu juga adanya kebijakan otonomi daerah memberikan kewenangan kepada pejabat daerah untuk menerbitkan ijin kepada investor. Akibatnya Bupati dan pejabat lain memberi banyak sekali ijin perkebunan dan pertambangan. Surat Baplan tersebut berlaku 6 tahun. Menteri Kehutanan mengirimkan surat No. S.575/Menhut-II/2006 kepada Gubernur Kalteng yang mencabut surat Kepala Badan Planologi di atas. Setahun kemudian Pemerintah Daerah Kalteng mengajukan revisi tata ruang. Kementrian Kehutanan menindak lanjuti dengan membentuk tim terpadu. Hasil tim terpadu dituangkan melalui SK Menhut No. SK. 292/ Menhut-II/ 2011. Selanjutnya Menteri Kehutanan mengajukan permohonan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan Provinsi Kalteng kepada DPR RI periode 2005-2009. Pada pertengahan tahun 2011 DPR RI mengembalikan usulan tersebut kepada Menteri Kehutanan tanpa penjelasan. Pemerintah daerah tidak menerima begitu saja aturan pusat yang ditentukan Menteri Kehutanan. 5 Bupati Kalteng dan seorang pengusaha mengajukan pengujian konstitusionalitas tentang definisi kawasan hutan dalam Pasal 1 angka 3 UU Kehutanan nomor 41 tahun 1999 kepada Mahkamah Konstitusi. Pihak pemohon tersebut memiliki alasan bahwa berlakunya Pasal 1 angka 3 UU 41/ 1999 mengakibatkan tidak adanya jaminan kepastian hukum. MK membuat keputusan bahwa pasal 1 angka 3 tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Ini artinya tanah yang selama ini telah ditunjuk sebagai kawasan hutan 91

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI harus segera ditata batas, dipetakan dan ditetapkan untuk menjadi kawasan hutan sebagai bagian dari proses pengukuhan kawasan hutan. Jika RTRWP berlandaskan Perda No. 8 tahun 2003 sudah melewati proses penunjukan atau penetapan berdasar UU Kehutanan No. 41 tahun 1999 maka kebijakan ini dapat menjadi acuan untuk ditindaklanjuti sesuai aturan UU Kehutanan No. 41 tahun 1999 pasal 15 tentang pengukuhan kawasan hutan. Kekisruhan berlangsung sepuluh tahun. Presiden baru menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan. Ini direvisi dengan Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2012 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan. Presiden juga mengeluarkan Inpres No. 10 tahun 2011 tentang Penundaan Penerbitan Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Ini sebagai bagian dari kebijakan penurunan emisi karbon dari sektor kehutanan dan bagian dari Letter of Intent pemerintah Indonesia dan Norwegia. Tetapi Inpres tidak termasuk dalam hirarki perundang-undangan di Indonesia karenanya tidak memiliki legitimasi. Pihak pemerintah pusat dan pemerintah daerah Kalteng dalam menata ruang di wilayah kehutanan masih menunjukkan kebijakan mereka berdasarkan pembangunan yang punya ketegangan pada masalah kekuasaan. Itu menyebabkan situasi yang simpang siur. Pemerintah juga memakai bingkai pembangunan untuk mensahkan tindakannya membuat mega proyek PLG di Kalteng. Pemerintah Suharto ingin mempertahankan keberhasilan pembangunan dengan menyediakan pangan bagi rakyat Indonesia. Untuk itu lahan gambut Kalteng akan diubah menjadi lumbung beras. Hal itu dapat dilihat dalam landasan hukum Proyek Pengembangan Lahan Gambut untuk Pertanian Tanaman Pangan di Kalimantan Tengah Keppres RI No. 82 tahun 1995 tentang Pengembangan Lahan Gambut untuk Pertanian Tanaman Pangan di Kalimantan Tengah sebagai upaya mempertahankan “Swasembada Pangan”. 92

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pemerintah paska Suharto mencanangkan rehabilitasi kawasan eks PLG. Rehabilitasi ini masih berlandaskan wawasan pembangunan. Hal ini dapat dilihat dari analisa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) yang menyebut masyarakat sebagai “subyek pembangunan” dan “berpartisipasi dalam pembangunan” seperti yang ditulis Ikhwanuddin Mawardi dari BPPT:” Keterpurukan masyarakat akibat kegagalan proyek PLG serta upaya menempatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan merupakan hal penting dalam penyusunan strategi rencana rehabilitasi kawasan eks-PLG. Pemberdayaan masyarakat terutama masyarakat setempat dengan memberikan peluang sebesar besarnya untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan, sehingga konsep bottom up planing atau community based development dapat diwujudkan.” (Mawardi : 2007) Menurut Mawardi, agar masyarakat menjadi subyek pembangunan dan berpartispasi aktif dalam pembangunan maka mereka perlu diberdayakan. Dua hal utama dalam pemberdayaan masyarakat adalah pelatihan dan prasarana fisik seperti yang ditulisnya: “Pemberdayaan masyarakat ini dilakukan dalam bentuk pelatihan-pelatihan dan penyediaan sarana/prasarana kesehatan dan pendidikan, seperti laboratorium, perpustakaan. Salah satu permasalahan yang harus segera ditangani adalah masalah sosial ekonomi kawasan. Selain keberadaan 8.487 KK transmigran juga adanya masyarakat lokal yang tinggal dalam kondisi sangat memprihatinkan. Rendahnya taraf hidup yang diakibatkan keterbatasan aksesibilitas dan infrastruktur dasar wilayah, merupakan faktor utama yang arus segera diselesaikan.” (Mawardi: 2007). Kutipan di atas menunjukkan bahwa mantra pembangunan masih dipakai pemerintah untuk melakukan rehabilitasi kawasan eks Proyek PLG. Pemerintah menganggap masyarakat adalah pihak yang perlu dilatih di samping pembangunan adalah berbentuk prasarana fisik. Pemerintah Daerah Kalteng dalam hal ini Gubernur Kalteng membangun wacana lingkungan hidup yang berkeadilan dengan memakai istilah-istilah “hijau”: “pertumbuhan 93

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hijau dengan kelapa sawit”, mendukung pengawasan moratorium perijinan hutan, melakukan langkah hukum dan apel siaga. Isu mengenai REDD+ (strategi untuk Mengurangi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan) dan kelapa sawit merupakan dua isu penting yang saling berkaitan. Baik REDD+ maupun perkebunan kelapa sawit sama-sama mendatangkan penghasilan. Meski begitu keduanya dapat menjadi kontradiksi karena REDD+ merupakan proyek untuk mengurangi emisi karbon sedang perkebunan kelapa sawit yang mengkonversi lahan hutan menjadi penyebab emisi karbon. Gubernur Kalteng, Teras Narang menggabung 2 isu tersebut dengan melontarkan istilah “industri kelapa sawit yang berkelanjutan” dan “pertumbuhan hijau dengan kelapa sawit” saat membuat proyek percontohan kelapa sawit seperti kutipan berikut: “Adapun program ini dibangun dengan berlandaskan pada rencana aksi Kalimantan Tengah untuk gas rumah kaca, strategi REDD+ (strategi untuk Mengurangi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan), peraturan daerah Kalimatan Tengah mengenai industri kelapa sawit yang berkelanjutan, dan rencana jangka panjang Gubernur untuk mencapai industri kelapa sawit yang keberlanjutan. Gubernur Kalimantan Tengah juga telah membentuk kelompok kerja yang terdiri dari dunia usaha, akademisi, dan masyarakat untuk memberikan masukan kepada pemerintah daerah tentang kebijakan untuk mencapai pertumbuhan hijau dengan kelapa sawit.”(Beritasatu.com, 28 Juni 2013) Gubernur Kalteng mengangkat persoalan moratorium perijinan hutan dengan menekankan pentingnya pengawasan. Moratorium menjadi penting karena pemerintah Norwegia bersedia mengucurkan dana untuk REDD yang mensyaratkan moratorium tersebut. Gubernur, seeorang Dayak, tidak segan mengkritik orang Dayak di masa lalu setelah menuding perusahaan HPH sebagai penyebab kerusakan hutan Kalteng seperti yang ditulis Antara: “Ia mengatakan, pada tahun 1980-akhir 2000, mengalami masa-masa sulit karena 94

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI provinsi yang juga disebut "Bumi Pancasila" itu harus kehilangan 30 persen luas hutan akibat banyak perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) menebang tanpa menanam kembali. Gubernur menyatakan harus diakui pemahaman masyarakat Kalteng khususnya suku Dayak pada masa lampau hanya berpikir menebang pohon untuk menghasilkan uang tanpa memikirkan dampaknya. Gubernur Teras yang juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) itu mengharapkan upaya tersebut mendapat dukungan semua pihak, terutama masyarakat daerah tersebut."Kalteng menyambut baik diperpanjangnya moratorium perizinan hutan. Kami menginginkan moratorium itu mendapat pengawasan, bukan sekadar membuat kebijakan," demikian Teras Narang”. (Antaranews.com 16 Mei 2013) Gubernur Kalteng di depan publik menunjukkan sikap tegas terhadap persoalan perkebunan kelapa sawit yang melanggar regulasi lingkungan dengan mengancam mencabut ijin dan melakukan langkah hukum. Itu ditujukan bagi perkebunan besar kelapa sawit yang membuka lahan dengan pembakaran: “Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang mengancam mencabut izin perkebunan besar swasta (PBS), seperti kelapa sawit, jika terbukti melakukan pembakaran untuk kepentingan pembukaan lahan (landclearing). “Saya tegaskan kepada mereka, bila ada PBS nekat, maka saya tidak segan-segan untuk mencabut izin mereka. Langkah hukum secara perdata maupun pidana juga akan kami tempuh,” kata Teras Narang”. (Tempo.co, 27 Juni 2013). Ancaman pencabutan ijin dan langkah hukum merupakan bentuk pemakaian kekuasaan yang akan diberlakukan kepada pihak yang melanggar aturan. Bagi Gubernur Kalteng ancaman tersebut tidak cukup. Kebakaran lahan yang melanda Kalteng dianggapnya sangat merugikan sehingga dia menambahkan langkah antisipatif berupa “apel siaga” seperti yang diberitakan berikut : ““Dampaknya akan sangat mengganggu, baik dari sisi perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan transportasi,” ujarnya. Gubernur telah menyurati Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar membuat hujan buatan di wilayah Kalimantan Tengah. Sejumlah langkah antisipatif juga 95

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI telah dilakukan, termasuk menggelar apel siaga pencegahan dan pemadaman lahan terbakar yang akan dilaksanakan pada 4 Juli mendatang” ( Tempo.co, 27 Juni 2013). Pemerintah daerah Kalteng telah mengambil wacana lingkungan hidup yang berkeadilan dengan meramunya dengan wacana pembangunan yang memakai tema-tema “pertumbuhan” dan ”industri”. Gubernur Kalteng meramu wacana lingkungan dan pembangunan tersebut dengan istilah “industri kelapa sawit yang keberlanjutan” dan “pertumbuhan hijau dengan kelapa sawit”. Itu adalah proyek yang menarik. Gubernur meletakkan proyek ini dengan bersenjatakan otoritas yang dimiliki pemerintah berupa “pencabutan ijin” dan “langkah hukum”. Pemerintah menjanjikan keseriusannya terhadap pencegahan kebakaran dengan sifat khasnya disiplin- formal yakni “apel siaga”. Apakah keseriusan terhadap wacana lingkungan yang dibangun pemerintah daerah Kalteng memang menguntungkan pembangunan? Isu lingkungan sering berkaitan dengan dana yang besar. Situasi ini seperti yang terjadi pada isu pembangunan. Kalteng adalah provinsi untuk pilot proyek REDD. Australia dan Norwegia berkomitmen memberi kucuran dana untuk proyek REDD. Australia telah menghentikan proyek REDD di Kalteng. Norwegia masih melanjutkannya. Dana yang besar untuk lingkungan dapat memunculkan ketidakdilan karena adanya korupsi. KPK, lembaga anti rasuah Indonesia telah mengakui kesulitannya mengendalikan korupsi di arena lingkungan yakni sektor kehutanan dan pertambangan, seperti yang diberitakan berikut: “Indonesia bisa kehilangan bantuan miliaran dollar setiap tahun sebagai kompensasi pelestarian hutan apabila tidak memberantas korupsi di sektor kehutanan. Norwegia siap memberi bantuan pertama sebesar 30 juta dollar yang merupakan bagian dari kesepakatan PBB untuk membantu negara-negara menjaga pelestarian hutan mereka. Bantuan tersebut terancam sehubungan dengan mega proyek perkebunan kelapa sawit serta pertambangan 96

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang banyak merusak lingkungan dengan drastis di Indonesia. "Sektor kehutanan dan pertambangan merupakan lahan korupsi yang sulit dikendalikan" demikian Chandra M. Hamzah wakil ketua KPK. Menurut kantor audit Ernst & Young dalam waktu empat tahun antara 1993/1994 - 1997/1998 $ 5,25 juta lenyap akibat mis-manajemen dan korupsi di sektor kehutanan dan pertambangan Indonesia. Banyak pengamat cemas, bantuan PBB sebagai kompensasi pelestarian hutan akan sebaliknya justru semakin meningkatkan praktek-praktek korupsi di Indonesia.” (Radio Nederland, 17 September 2010) Pemerintah Indonesia baik di tingkat pusat maupun daerah meletakkan wacana lingkungan berkeadilan dalam kerangka wacana pembangunan. Pemerintah sebagai pihak yang memiliki kekuasaan memakai kekuasaan itu sendiri untuk apa yang disebutnya menata lingkungan. Kekuasaan tersebut menjadi masalah di Kalteng karena benturan pengaturan ruang antara pemerintah pusat dan daerah. Isu lingkungan juga dipakai pemerintah karena dapat menarik dana yang besar. Dana ini dapat menimbulkan ketidakadilan lingkungan karena dapat menjadi ajang korupsi. B. Masyarakat Sipil Masyarakat sipil Indonesia khususnya Kalteng memakai wacana lingkungan hidup berkeadilan dari sisi kesejahteraan. Mereka menggugat kebijakan pemerintah, keberpihakan pemerintah kepada investor, dan lemahnya penegakan hukum. Perlawanan masyarakat sipil berupa protes, tuntutan ke pengadilan, dan membentuk organisasi rakyat. Ornop Kalteng menyuarakan akibat kebijakan pemeritah yang menimpa mereka, salah satunya adalah proyek PLG. WALHI Kalteng mengeluarkan siaran pers “Rehabilitasi Kawasan Eks-PLG Terancam Gagal” (WALHI Kalteng 3 Februari 2013) . WALHI menyatakan Inpres No 2 tahun 2007 yang memandatkan upaya rehabilitasi kawasan eks PLG sama sekali tidak berjalan karena : 1) banyaknya kepentingan proyek dan kebijakan sektoral 97

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang masuk dalam kawasan tersebut tidak terkordinasi bahkan justru kebijakan yang tumpang tindih, 2) tanpa melibatkan masyarakat lokal bahkan meminggirkan hak-hak masyarakat yang berada di sekitar kawasan, 3) adanya pelanggaran hukum namun dibiarkan dan di abaikan tanpa ada upaya tindakan hukum dari pemerintah. Hal itu dinyatakan sebegai berikut: “Inpres No 2 tahun 2007 yang memandatkan upaya rehabilitasi kawasan sama sekali tidak berjalan karena banyaknya kepentingan proyek dan kebijakan sektoral yang masuk dalam kawasan tersebut tidak terkordinasi dan bersifat sektoral seperti kepentingan investasi, kepentingan pemerintah daerah, pemerintah pusat dan kepentingan dunia internasional terkait dengan upaya penyelamatan ekosistem gambut terkait mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Sayangnya berbagai upaya tersebut juga tanpa melibatkan masyarakat lokal bahkan meminggirkan hak-hak masyarakat yang berada di sekitar kawasan.” WALHI Kalteng menyebut ancaman nyata atas kawasan eks PLG adalah pemerintah yang berpihak kepada kepentingan investasi yang melanggar hukum: “ Hingga saat ini kawasan tersebut sudah diberikan ijin usaha perkebunan dan ijin lokasi kepada 23 perusahaan dengan luasan mencapai 935.225 ha. Sebagian dari mereka sudah melakukan aktivitas tanpa ijin HGU, tanpa ijin pelepasan kawasan hutan dari Menteri Kehutanan dan tanpa dokumen AMDAL. Mereka melanggar Inpres no 2 tahun 2007 yang mengatur alokasi untuk budidaya perkebunan hanya diberikan ijin 10.000 ha saja. Pelanggaran yang paling mencolok adalah perusahaan perkebunan sawit yaitu PT. Globalindo Agung Lestari yang melakukan aktivitas tanpa ijin pelepasan kawasan hutan dan mencaplok lahan-lahan transmigrasi yang sudah bersertifikat dan lahan penduduk lokal di desa Dadahup, Lamunti dan Mentangai tanpa dilengkapi dokumen AMDAL” Karenanya itu dengan jelas melanggar : 1) UU No 23 tahun 1999 tentang kehutanan, 2) UU Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup , 3) UU transmigrasi. Bupati Kapuas juga telah mengeluarkan ijin kuasa pertambangan bagi 7 perusahaan di kawasan eks PLG. Menurut WALHI Kalteng fakta itu 98

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI jelas menunjukkan pelanggaran hukum namun dibiarkan dan diabaikan tanpa ada upaya tindakan hukum dari pemerintah. Aliansi Masyarakat Adat (AMAN) Kalteng pada 17 Juni 201, seperti WALHI Kalteng juga menganggap pemerintah berpihak kepada investor yang merusak lingkungan hidup. Mereka mengeluarkan pernyataan sikap mengenai REDD+ dan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Kalteng. Mereka secara khusus, menuntut Pelaksanaan Inpres No. 2 tahun 2007 tentang Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan Eks PLG 1 Juta Hektar di Kalimantan Tengah: “Secara substansi, Inpres ini hanya membolehkan 10 ribu hektar untuk perkebunan kelapa sawit. Dalam kenyataannya, terdapat 360 ribu hektar ijin untuk perkebunan kelapa sawit di kawasan Eks PLG. Pelanggaran-pelanggaran ini harus ditindak secara hukum yang berlaku, termasuk dugaan terjadinya KKN dalam investasi-investasi ini” ( http://reddinfo.wordpress.com/2011/06/24/sikap-aman-kalteng-mengenai-redd-dan-rtwp/ ) LSM Yayasan Petak Danum (YPD) mengartikulasikan suara komunitas di kawasan eks PLG dengan lebih intensif. Mereka punya misi “memperjuangkan kedaulatan wilayah kelola gambut masyarakat lokal Kalimantan Tengah”. LSM ini bergerak dibidang advokasi dan penyadaran masyarakat di wilayah kawasan gambut, berdiri sejak tahun 1997, diawali dari pertemuan korban proyek PLG. Pada bulan Desember tahun itu, YPD memfasilitasi musyawarah rakyat pengelola gambut sehingga terbentuk organisasi rakyat yang diberi nama Aliansi Rakyat Pengelola Gambut (ARPAG). Resolusi ARPAG, yang dideklarasikan tanggal 8 Desember 2007 menggugat ketidakadilan lingkungan: ”Ketidakadilan iklim global yang dilakukan oleh negara maju kepada negara berkembang atas perubahan iklim yang sekarang terjadi, sehingga masyarakat adat menjadi korban dari adanya kerusakan iklim global.” YPD dan ARPAG melihat adanya ketidak adilan global yang merusak “pulau Borneo”. YPD menyatakan : “ Eksploitasi sumberdaya alam yang sangat berlebihan untuk 99

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memasok kebutuhan bahan-bahan mentah negara-negara kaya seperti Eropa, Amerika, Australia, Kanada, Jerman, Jepang, mulai dari hasil hutan, bahan tambang yang terdapat di daratan Borneo, membawa dampak kerusakan sumberdaya alam dan kehancuran kehidupan suku-suku Bangsa Dayak di Pulau Borneo. Kegagalan pembangunan global yang di prakarsai oleh negara-negara maju, membawa dampak berubahnya iklim dunia dan menyumbangkan kesengsaraan bagi penduduk-penduduk pribumi, termasuk pulau Borneo.” (YPD 21 Nov 2009). Sementara itu ARPAG menyoroti perubahan iklim yang menimbulkan korban “masyarakat adat di Pulau Borneo” : “Perubahan iklim global merupakan salah satu kegagalan pembangunan di dunia yang memberikan sumbangan kerusakan alam di muka bumi ini. Perubahan iklim ini disebabkan sumbangan industri-industri di negara maju yang berdampak pada kehidupan masyarakat di negara berkembang, salah satu korbannya adalah masyarakat adat di Pulau Borneo.” (Resolusi ARPAG 2008 , YPD 27 November 2008). Bagi ARPAG pembangunan selama ini adalah pembangunan yang gagal. Kegagalan itu bahkan merupakan kegagalan di planet ini dan akibatnya pulau Borneo dan kehidupan penduduknya rusak. YPD beranggapan ketidak adilan lingkungan di kawasan PLG tidak hanya pada lingkup internasional. Menurut mereka pemerintah nasional dan daerah juga bertanggung jawab yakni : 1) Pemerintah Suharto yang membuat proyek PLG. Akibatnya, lebih 82.000 jiwa penduduk lokal kehilangan mata pencaharian. Kebakaran hutan dan lahan terjadi sepanjang tahun, sejak 1997 hingga sekarang. Banjir pasang surut jaraknya semakin lama dan dalam, kering terjadi dimana-mana. Rawan pangan beresiko terjadi sejak mereka kehilangan sumber pangan dan mata pencaharian. Juga ancaman menjadi pengangguran karena kebun dan tanahnya tergusur. Bahkan proyek PLG juga merusak hal di luar materi yakni perasaan 100

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI damai : “ Proyek ini malapetaka bagi rakyat dan kedamaian penghuni ekosistem gambut.” (YPD 21 Nov 2009) . 2) Bupati di 3 Kabupaten (Pulang Pisau, Kapuas dan Barito Selatan) yang memberikan ijin prinsip kepada 19 perusahaan seluas 350.000 hektar dialokasikan untuk perkebunan kelapa sawit. 3) Pemerintah SBY yang mengeluarkan Inpres No. 2 Tahun 2007 tentang percepatan rehabilitasi dan revitalisasi kawasan Eks-PLG. YPD menganggap inpres ini hanya memakai “pendekatan proyek semata, tidak serius dilakukan, lebih banyak tidak tepat sasaran.” (YPD 27 November 2008) . Kawasan gambut sejak transisi ke orde reformasi terancam menjadi konversi areal perkebunan kelapa sawit, Hutan Tanaman Industri, pertambangan, dan penyerap karbon lewat REDD. (YPD, 1 Nov 2009) , 4) Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). ARPAG membuat “Resolusi Khusus ARPAG Untuk DNPI” . Resolusi ini isinya mendesak DNPI agar memiliki sikap tegas dan tidak mendua atas solusi krisis iklim, dan segera melakukan penghentian pembangunan perkebunan kelapa sawit di wilayah- wilayah gambut di Kalteng khususnya di eks PLG. Pembangunan perkebunan kelapa sawit milik negara maju akan memperparah kerusakan gambut dan iklim global. Ini membuktikan ketidak tegasan pemerintah dan DPNI atas solusi krisis iklim. ARPAG mendesak DNPI mengakui skema dari “inisiatif rakyat yang sedang diupayakan ARPAG di Kalteng dan masyarakat pribumi (adat) lainnya di seluruh Nusantara” karena skema-skema lain di luar UNFCCC akan lebih murah, terbebas dari utang dan terhindar praktek-praktek korupsi. (YPD 21 Nov 2009) YPD menjelaskan skema lain yang merupakan “inisiatif rakyat” di kawasan eks PLG adalah upaya masyarakat lokal yang mendapat pendampingan dan asistensi teknis YPD. Mereka di Kapuas, sejak tahun 1999 sampai 2009 telah melakukan penyelamatan gambut di 101

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kalteng, dengan cara : 1) penanaman pohon hutan gambut (50.000 ha), 2) rehabilitasi kebun rotan beserta tanaman hutan rambatan (13.000 ha), kebun karet (5.000 ha), kebun purun, kolam ikan tradisional, 3) mencetak sawah tradisional, 4) menjaga hutan adat 200.000 hektar, 5) membangun sekolah gambut, dan 6) melakukan dialog strategis dengan pemerintah daerah, pemerintah pusat serta jaringan kerja NGO di dalam dan luar negeri. (YPD 21 Nov 2009) YPD, beberapa Ornop dan kelompok masyarakat lain menganggap bencana iklim ditangani di tingkat internasional karenanya mereka memantau forum-forum international UNFCCC di Bon Jerman Juni 2009, Bangkok International Meeting UNFCC 29 September 2009 – 09 Oktober 2009 dan Copenhagen Desember 2009. Mereka kecewa karena penyelesaian krisis iklim akibat dampak gagalnya pembangunan global, menawarkan skemaskema REDD, CDM, Energi Bersih. Skema- skema tersebut pada dasarnya tidak pernah mengakui hak-hak dan pengetahuan masyarakat lokal dalam pengelolaan lahan dan hutan gambut berbasis kearifan tradisional. Kekecewaan itu mereka ungkapkan dalam ritual Manyanggar. Petak Danum, ARPAG, SHI, Kelompok Pengrajin Rotan, Petani Karet, Koperasi Hinje Simpei, CSF, FoE, WALHI, Sawit Wacth membuat “Solidaritas Rakyat Untuk Solusi Krisis Iklim Global” 10 -12 Desember 2009 dengan upacara Manyanggar atau Manenga Lewu. Di Jawa upacara ini disebut ruatan bumi. Mereka mengadakan Manyanggar sebagai protes. Ini dianggap bentuk lain bagi masyarakat dalam mengkomunikasikan kepada Sang Pencipta, Semesta Alam, ketika komunikasi masyarakat lokal kepada pemerintah, dunia international tidak mendapat pengakuan. Pada ritual ini mereka menyerukan:” kepada semua pihak dari tingkat lokal, nasional dan international agar mengakui hak-hak masyarakat lokal tanpa syarat (afirmatif action) dalam pengelolaan sumberdaya gambut berbasis kearifan tradisional di Kalteng 102

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebagai kontribusi atas solusi krisis iklim dunia yang sedang dibicarakan di Kopenhagen Denmark (COP 15 UNFCCC bulan Desember 2009”. (YPD 21 Nov 2009). Dengan demikian seruan dari masyarakat yang terpinggirkan di lahan gambut Kalteng dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan membuat resolusi dan menyelenggarakan upacara tradisional. Upacara tersebut bisa jadi adalah sebentuk sindiran karena dinyatakan ditujukan kepada “Sang Pencipta” karena rejim internasional yang mengurus iklim global tidak mengakui partisipasi masyarakat lokal. Kalau ARPAG mengartikulasikan suara masyarakat di kawasan eks PLG untuk dunia internasional dengan mendesak DNPI maka WALHI Kalteng melakukan kampanye ke negara yang bersangkutan. Direktur Eksekutif WALHI Kalteng, Arie Rompas berkunjung ke Australia untuk mengkritisi program Kalimantan Forest and Climate Partnership (KFCP), yang merupakan program penyelamatan hutan Kalimantan melalui metode REDD (pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi) di eks kawasan PLG. WALHI Kalteng membeberkan fakta bahwa :1) Proyek KFCP 122 hektar tetapi masih terdapat konversi lahan seluas 2,1 juta hektar di Kalteng yang diperuntukkan untuk perkebunan sawit dan pertambangan. Menimbulkan pertanyaan apakah lahan seluas 122 hektar tersebut dapat menutupi kerusakan hutan seluas 2,1 juta hektar yang akan terjadi akibat dari pertambangan dan perkebunan sawit. 2) Proyek KFCP tidak mengakui secara tegas hak-hak masyarakat lokal. Berdasarkan data yang dimiliki Walhi, terdapat hak kelola masyarakat di kawasan yang akan dilakukan skema REDD, sehingga ancaman penggusuran terhadap lahan masyarakat akan terjadi. WALHI Kalteng dari kunjungan tersebut memiliki harapan agar publik, akademisi dan Senator Australia dapat mengontrol proyek tersebut, karena : “ bagi kami lebih baik dana proyek REDD itu dipergunakan untuk penghentian konversi lahan dan menyetop pemakaian kayu illegal dari Indonesia dari pada dipergunakan untuk pembayaran karbon”. Arie menemui empat orang senator dari tiga partai berbeda yaitu, Doug Cameron dan Kelvin 103

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Thomson MP dari Partai Buruh, Simon Birmingham dari Partai Liberal dan satu orang dari Partai Hijau. Pada pertemuan tersebut, keempat senator tersebut berterima kasih atas info yang telah diberikan WALHI, karena data dan informasi yang diberikan merupakan gambaran nyata dari kerjasama Australia dan Indonesia mengenai skema REDD di lapangan. Sedangkan dengan akademisi terjadi kesepahaman bersama dengan WALHI yaitu harus adanya pengakuan terlebih dahulu kepada masyarakat lokal sebelum proyek tersebut berjalan agar tidak terjadi konflik baru dengan masyarakat. (Antara , 30 November 2010). WALHI menilai proyek konservasi seperti REDD yang dijalankan di Kalteng tidak efektif untuk pemulihan lingkungan dan tidak menjamin keejahteraan penduduk lokal. Masyarakat sipil Kalteng menentang ketidakadilan lingkungan akibat perkebunan besar kelapa sawit dengan bebagai bentuk seperti yang dilakukan di kawasan eks proyek PLG. Perlawanan mereka mulai dari protes, membangun organisasi hingga mendokumentasikan kearifan lokal. Kasus di Danau Sembuluh menarik untuk diangkat yakni bagaimana masyarakat lokal mencari bentuk organisasi yang menyatukan mereka. Acciaioli tahun 2008 menulis bahwa gerakan perlawanan terhadap perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Danau Sembuluh mendapat katalisator Ornop lokal yang berbasis di Palangka Raya yakni Yayasan Betang Borneo, Yayasan Tahanjungan Tarung dan WALHI Kalteng. Yang terakhir ini mempublikasikan kasus Sembuluh dengan berbagai cara termasuk website, artikel buletin, poster, riset berkerja sama dengan Sawit- Watch, DTE, Novib Oxfam Netherlands dan Milieudefensie . Acciaioli menemukan sebagian penyebab kegagalan aksi menentang perkebunan kelapa sawit terletak pada kelemahan bentuk organisasi dan dasar alasan penduduk untuk memerangi ekspansi (Acciaioli 2008: 100-102). Organisasi yang dibentuk penduduk Danau Sembuluh memakai idiom “rakyat” dan “masyarakat adat” yang memiliki makna berbeda. Di samping itu kampanye Ornop yang punya hubungan dengan gerakan masyarakat adat internasional belum menjawab bagaimana dengan hak-hak non 104

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI masyarakat adat yang tanahnya juga dirampas. Acciaioli mengangkat keterpinggiran penduduk Banjar Sembuluh di Kecamatan Danau Sembuluh yang tidak mengakui “adat”. (Acciaioli 200: 102) WALHI memfasilitasi terbentuknya organisasi pemuda Serikat Pemuda Peduli Daerah (SPPD) di Danau Sembuluh. Organisasi ini memiliki lambang-lambang organisasi moderen dan rasional dengan struktur menejemennya, termasuk batas waktu jabatan pengurus dan visi- misinya. Mereka tidak berusaha menghidupkan kembali institusi adat tradisional (Acciaioli 2008: 102). SPPD melawan perkebunan sawit dengan aksi yang beragam dari demonstrasi di jalan masuk perkebunan hingga edukasi pentingnya lingkungan hidup jangka panjang. Itu termasuk melakukan kompilasi kamus tumbuhan lokal yang bermanfaat yang mungkin menjadi kekayaan intelektual lokal. Mereka juga mengkompilasi katalog hukum dan regulasi lokal. Koleksi ini akan “disosialisasikan kepada anggota komunitas desa sehingga mereka tidak lagi menjadi obyek intimidasi ilegal pemerintah dan membayar suap untuk pelayanan yang menjadi hak mereka” (Acciaioli 2008:103) Idiom yang dipakai dalam perlawanan terhadap perkebunan kelapa sawit dipakai secara kontras dan tidak konsisten. SPPD menyebut dirinya sebagai organisasi “rakyat” sedang Komunitas Masyarakat Pengelola Kawasan ( KOMPAK) Sembuluh memakai idiom “rakyat” dan “adat” sekaligus. Dalam dokumennya KOMPAK Sembuluh menyatakan diri sebagai organisasi” rakyat “ yang mengayomi hak-hak “masyarakat adat “(Acciaioli 2008: 118). Di bagian lain dokumen KOMPAK Sembuluh memakai idiom “hutan rakyat” bukannya “hutan adat “ (Acciaioli 2008: 119). Acciaioli menyebutkan bahwa penduduk di kecamatan Danau Sembuluh yakni di desa Sembuluh I dan Sembuluh II merupakan populasi multi etnik dengan pengaruh budaya yang kuat dari migran Banjar yang tinggal di sana beberapa generasi yang lalu (Acciaioli 2008: 105). Di sana konteks indentifikasi diri sebagai sebuah “masyarakat adat” tidak ada. Malahan kepala desa Sembuluh II yang mendeklarasikan 105

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bahwa adat itu “kuno dan kolot”; penduduk di Sembuluh II maunya menjadi moderen dan maju dalam cara berpikir dan bertindak. (Acciaioli 2008 :104). Masyarakat sipil yang mempertahankan haknya masih memiliki ketegangan antara wilayah adat dan non adat. Masyarakat di Murung Raya (Mura) memperjuangkan wacana lingkungan hidup berkeadilan melawan perusahaan pertambangan emas PT Indo Muro Kencana (IMK). Mereka membawa tuntutan ke pengadilan didampingi Tim Advokasi Tambang Rakyat (TATR). Seperti kasus di konsesi PT AI dan kawasan eks PLG, pemakaian idiom “rakyat”dari Tim Advokasi Tambang Rakyat (TATR) untuk memperjuangkan tuntutan “masyarakat adat” menampakkan keraguan. Kekalahan masyarakat adat melawan PT IMK di pengadilan menunjukkan masih lemahnya posisi masyarakat adat Kalteng itu sendiri. Karenanya menarik untuk mengikuti Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalteng memperkuat kendalinya atas SDA. AMAN Kalteng terutama memperjuangkan wilayah adat dengan legitimasi hukum dan pemetaan partisipatif. Pada tanggal 17 Juni 2011 AMAN Kalteng mengeluarkan sikap mengenai REDD+ dan RTRWP di Kalimantan Tengah. Mereka menyoroti proses-proses pembuatan RTRWP yang tidak melibatkan Masyarakat Adat dan Masyarakat Sipil. Hal ini menambah kerumitan persoalan di Kalimantan Tengah, yang akan berdampak pada implementasi REDD+. Mereka menuntut aturan hukum yang menjamin wilayah adat: 1) Perda No. 16/2008 harus menjamin hak-hak kolektif Masyarakat Adat atas Kelembagaan Adat yang memiliki kedaulatan untuk mengatur wilayah adat dan komunitas adatnya sesuai dengan aturan adat yang berlaku di wilayah masing-masing. 2) Pergub No. 13/2009 harus menjamin hak kolektif Masyarakat Adat atas tanah, wilayah dan sumberdaya alam. 3) UU No. 41 tahun 1999 mengenai Kehutanan yang menjadi pangkal persoalan kehutanan di Indonesia harus segera direvisi. 106

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gugatan terhadap UU No. 41 th 99 UU Kehutanan akhirnya memenangkan masyarakat adat. Keputusan MK no 35 / PUU – X / 2012 pasal 1 angka 6 yang semula hutan adat adalah hutan negara berubah menjadi hutan dalam wilayah masyarakat adat menjadi hutan hak. Kini AMAN Kalteng terus mendorong anggotanya melakukan pemetaan adat dengan verifikasi pemerintah dalam hal ini Kehutanan, Perkebunan dan Badan Informasi Geofisika (BIG). Di Indonesia tata kelola tapal batas masih tumpang tindih. Ini menjadi keempatan AMAN untuk pemetaan adat. Dishut provinsi masih menunggu AMAN untuk menyatukan wilayah- wilayah adat. AMAN Kalteng mendorong pengakuan masyarakat adat provinsi . Pergub no 13 th 2009 tentang tanah adat perlu direvisi karena membedakan adanya milik kolektif dan milik pribadi. Tanah adat milik pribadi dapat dijual sehingga ini perlu diikat supaya ada perundingan- perundingan komunitas (sumber : wawancara pribadi) C. Pasar Website DTE menggambarkan pasar lingkungan hidup yang berkadilan atau environmental justice (EJ). Di situ wacana EJ menjadi konsumsi. Pasar memerlukan informasi EJ yakni adanya ketidakadilan atas lingkungan hidup. Website DTE ditujukan untuk kampanye internasional sehingga pasar yang ditujunya adalah pasar internasional EJ. DTE memberi suplai informasi isu-isu lingkungan Kalteng untuk pasar internasional dalam empat tema utama yakni: 1) mega proyek PLG, 2) kawasan PT. Agro Indomas (AI),3) kerusuhan etnik, 4) kawasan PT. Indo Muro Kencana (IMK) DTE menyoroti kawasan proyek PLG dalam tingkat internasional, nasional, dan lokal dan menampilkan pandangan berbagai pihak termasuk pemerintah, ahli dan masyarakat sipil. Institusi tingkat internasional berkaitan dengan proyek PLG adalah Bank Dunia dan perusahaan Zeneca. DTE menuliskan bahwa “Bank Dunia mendapati situasi di lapangan proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) mengerikan. Theodore Herman, ahli sumber 107

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI daya air dari Bank Dunia menulis laporannya yang merupakan hasil dua hari kunjungan lapangan atas permintaan Menteri Pekerjaan Umum, Rachmadi”. Di samping itu DTE melaporkan Gramoxone (paraquat) dibagikan kepada petani untuk percobaan. Pestisida ini dibuat oleh Zeneca, perusahaan multinasional agrokimia dan farmasi yang berbasis di Inggris. Down to Earth menulis kepada Zeneca untuk meneliti keterlibatannya di mega proyek. Perusahaan menjawab bahwa tidak punya hubungan langsung dengan proyek tetapi mengkonfirmasikan kepemilikannya atas 95 % Zeneca Indonesia.( Down to Earth No. 39, November 1998. Bank Dunia yang menopang wacana pembangunan Indonesia ternyata menemukan fakta bahwa proyek PLG merupakan proyek yang sangat merusak. Kerusakan tersebut salah satunya akibat pemakaian pestisida yang diproduksi perusahaan yang investornya dari Inggris. DTE melaporkan bagaimana proyek PLG menjadi isu yang diperdebatkan antara pemerintah dan penentangnya. Pihak yang menentang memperjuangkan keadilan dengan kritik dan membawa tuntutan ke pengadilan untuk memeriksa adanya penyalahgunaan dana. “Ilmuwan dan Ornop sejak awal sudah memperingatkan bahwa proyek tidak akan sukses . PLG menjadi salah satu kawasan kebakaran hutan 1997- 98. Environmentalis Indonesia menganggap skema PLG sebagai alat mendapat akses kayu gelondongan murah dan membuka lebih banyak tanah hutan untuk kelapa sawit atau keduanya”( Down to Earth No. 42 1999). Pemerintah Suharto tidak peduli dengan suara yang menentang proyek PLG, malahan penerus Suharto merencanakan proyek itu lebih luas. DTE menulis betapa pemerintah penerus Suharto masih memiliki kebijakan yang sama yakni model pembangunan yang merusak lingkungan:”Pemerintah Habibie akan mengubah kawasan menjadi Kawasan Perekonomian Terpadu (KAPET) yang berorientasi kawasan skala besar dan masyarakat adat akan terus diabaikan. Habibie menginstruksikan pemerintah untuk menyediakan Rp 57 juta, sebagian besar dialokasikan untuk racun tikus”(Down to Earth No. 42/1999). 108

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DTE menulis bahwa: “Rencana Habibie mendapat respon marah WALHI. Ornop lingkungan ini pada Agustus menuntut ke pengadilan Presiden, sembilan menteri, enam dirjen yang terlibat PLG dan gubernur Kalteng Warsito Rasman. Organisasi ini mendaftarkan gugatan sipil ke pengadilan negeri Jakarta Pusat.” DTE mengutip WALHI yang menyatakan PLG adalah “contoh kekuasaan yang arogan dan menghina rakyat Indonesia”. Sedangkan ahli gambut dan pengkritisi proyek Dr. Jack Rieley mengatakan PLG menyebabkan. “Its rich biodiversity has gone and it lies festering in the tropical heat." Selanjutnya DTE menulis bahwa enam figur senior yang terlibat proyek termasuk mantan menteri Pekerjaan Umum Radinal Mochtar dan pejabat pemerintah daerah dalam pemeriksaan pengadilan negeri Kapuas Kalteng untuk penyalahgunaan Rp 126 milyar (18 juta $ AS). Proyek PLG dipaket ulang dengan nama KAPET yang melingkupi DAS (Daerah Aliran Sungai ) Kakab ( Kapuas, Kahayan, Barito dengan luas mengejutkan yakni 2, 7 juta hektar. (Down to Earth No 43, November 1999) Menurut DTE proyek yang merupakan kelanjutan PLG hanya akan menghancurkan lingkungan hidup demi keuntungan besar sedikit orang.“Kalau proyek KAPET mengikuti model PLG juga akan menjadikan timber baron dan teman-temannya mendapat keuntungan cepat. Kebanyakan hutan hujan Kalteng termasuk yang disebut kawasan “yang dilindungi” telah dirusak api dan pembalakan liar dalam iklim ketiadaan hukum yang dipertahankan sejak Suharto jatuh” (Down to Earth No 43, November 1999). Proyek PLG tidak hanya merusak lingkungan hidup tetapi juga menjungkirbalikkan kehidupan masyarakat lokal yang hakhaknya tidak dihargai.”Beberapa kelompok masyarakat yang lahannya diambil untuk mega proyek PLG yang menjadi bencana buat mereka dilaporkan menentang investasi baru itu sampai tuntutan lama mereka untuk mendapat kompensasi dipenuhi. Mereka dibiarkan mengatasi sendiri akibat yang ditimbulkan oleh proyek tersebut”(Down to Earth No 51 November 2001) 109

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Investor mau pun pemerintah Inggris tidak secara langsung terlibat dalam Proyek PLG. DTE mengangkat kasus yang melibatkan investor Inggris yakni pengalaman masyarakat di kecamatan Danau Sembuluh Kabupaten Seruyan (dulu masuk Kabupaten Korawaringin Timur ) yang terkena dampak proyek CDC, lembaga keuangan swasta Inggris. CDC adalah salah satu investor perkebunan kelapa sawit PT Agro Indomas (AI). Perusahaan ini, dimiliki oleh perusahaan Sri Langka, Malaysia, dan Indonesia, dengan investasi utama dari CDC dan bank Belanda, Rabobank, diuntungkan oleh tindakan pemerintah yang tidak transparan. “PT Agro Indomas (AI) di Kalteng bersepakat dengan pemerintah tanpa pengetahuan masyarakat sebelumnya. Sebagai hasilnya, sejumlah penduduk setempat mengalami kehidupan yang tak menentu, hak adat mereka atas tanah ditolak dan ternak mereka musnah”. (Down to Earth No. 50 Agustus 2001). DTE secara khusus mengangkat pelanggaran etika yang dilakukan CDC. “CDC melakukan investasi awal sebesar 14,4 juta $ AS pada Maret 1999 dan Rabobank sebesar 10,3 juta $ AS pada akhir tahun itu. CDC kini merupakan pemegang saham mayoritas dan manajer proyek tersebut. CDC menanamkan investasinya di kedua proyek walau telah ada masalah dengan penduduk setempat. Tidak ada analisa dampak lingkungan dan sosial yang tepat yang dilaksanakan walaupun perusahaan menganut kebijakan prinsip etika bisnis”(Down to Earth No. 50 Agustus 2001). DTE menulis kasus CDC dibarengi advokasi DTE yang bersama mitra lokal dengan membuat laporan, pertemuan dan menulis surat kepada menteri Inggris. Pada September 2000, DTE dan LSM lingkungan hidup Indonesia cabang setempat, WALHI, menyusun laporan penting tentang proyek perkebunan AI. “Laporan tersebut disusun berdasarkan masukan dari masyarakat yang dirugikan. Laporan itu juga mempertanyakan kebijakan CDC menanam modal dalam proyek yang berkonflik mengingat hubungan erat lembaga ini dengan lembaga bantuan luar negeri pemerintah Inggris, DFID. DFID, yang mempromosikan pembangunan berwawasan lingkungan dan bertanggung-jawab sosial serta keterlibatan 110

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pemegang saham dalam pengambilan keputusan untuk proyek-proyek sektor kehutanan, sekarang ini adalah pemegang saham CDC satu-satunya” (Down to Earth No. 50 Agustus 2001). Laporan tersebut dikirimkan ke CDC, Rabobank, staff DFID di Jakarta dan Menteri Pembangunan Internasional, Inggris, Clare Short. Short saat berkunjung ke ibukota Kalimantan Barat, Pontianak berjanji untuk memperhatikan masalah ini dan meminta masyarakat melaporkan kepadanya perkembangan dalam waktu empat bulan mendatang. CDC menanggapi dengan mengirimkan seorang anggota dari Business Principle Unit di kantor pusat London ke proyek untuk mengkaji masalahnya dan menanggapi masalah yang diangkat oleh WALHI dan DTE. Menurut DTE respon CDC tidak betul-betul mengakomodasikan hak-hak masyarakat lokal yang telah dirugikan. “Kunjungan-kunjungan dilakukan secara singkat dan tidak berlangsung konsultasi yang murni dengan masyarakat. Laporan-laporan tersebut jadi dibuat. Walau ada beberapa pengakuan dalam laporan itu tentang praktek-praktek buruk masa lalu dan dampak negatif dari perkebunan kelapa sawit, sebagian besar dari tuntutan masyarakat yang diuraikan dalam laporan DTE -WALHI diabaikan. CDC juga tidak mengakui bahwa proyek telah menyebabkan konflik sosial, penggundulan hutan dan peningkatan kemiskinan. Menurut DTE bahkan CDC dan perusahaan rekanan mereka juga gagal memahami sifat hak adat penduduk asli. CDC bukannya memperhatikan kebutuhan masyarakat akan kesinambungan mata pencaharian justru menuding NGO salah menafsirkan situasinya. Sementara CDC menyusun laporannya, ketegangan meningkat di lapangan”(Down to Earth No. 45, May 2000) Pada Bulan Maret 2001 sebuah pertemuan dilakukan antara DTE, CDC, dan DFID, dan di sana disepakati bahwa peningkatan kondisi untuk berdialog, termasuk keterbukaan yang lebih besar, dibutuhkan jika keluhan masyarakat ingin benar-benar diperhatikan. Juga disepakati bahwa adalah berguna bagi CDC dan rekan perkebunan kelapa sawit untuk melibatkan diri dalam konsultasi yang lebih meluas dengan sumber-sumber ahli dan 111

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI informasi yang reputasinya baik, khususnya dalam masalah-masalah sosial, seperti hak tanah, penggunaan tanah adat dan mata pencaharian. LSM-LSM Indonesia sudah meneruskan saransaran ini dalam pertemuan berikutnya dengan staff CDC dan mereka kini meminta DFID menunjuk konsultan yang independen untuk memberi nasehat kepada CDC dalam masalahmasalah ini. Pada bulan yang sama, DTE menulis kepada Clare Short untuk melaporkan perkembangan sejak kunjungannya Bulan Oktober. Surat itu berisi:”...meski CDC telah melakukan sejumlah upaya untuk mendengarkan kelompok masyarakat yang tidak puas, namun langkah-langkah yang diambil sejauh ini gagal mengamanatkan tuntutan dasar mereka. Surat itu mengharapkan kabar tentang "langkah-langkah nyata, sasaran pelaksanaan dan jadwal waktunya" dalam waktu dekat”(Down to Earth No. 45, May 2000) Pada saat artikel ditulis, negosiasi masih dalam tahap berunding tentang perundingan (talks about talks). CDC masih belum mengakui bahwa metode penyerahan tanah perusahaan (dalam kasus AI) tidak adil dan tetap ragu dengan kesungguhan tuntutan masyarakat. Dengan sikapnya yang tidak terbuka ini, komitmen CDC untuk mencapai penyelesaian jangka panjang yang adil dengan masyarakat masih harus dipertanyakan. DTE menyatakan itu:” Sangat mengecewakan bahwa pada saat sengketa masih berlanjut, perusahaan perkebunan tidak menyepakati usulan agar pembersihan lahan lebih lanjut sebaiknya ditunda sampai ganti rugi dan penggantian ternak diselesaikan dengan seluruh masyarakat yang dirugikan”. (Down to Earth No. 45, May 2000). Tulisan DTE ini menunjukkan bahwa DTE bersama WALHI Kalteng telah memantau dan melakukan kampanye terhadap proyek CDC. Tindakan DTE yang telah dilakukan DTE untuk berpihak kepada masyarakat lokal dengan melawan CDC, sebuah lembaga investor Inggris, memberi nilai lebih pada isu perjuangan lingkungan berkeadilan. 112

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DTE menulis kerusuhan yang meletus di Sampit dari berbagai masalah penting yang menjadi penyebabnya. Menurut DTE kerusuhan yang pecah di Sampit Kalteng Februari 2001 disebabkan pelanggaran hak-hak masyarakat adat serta pengrusakan besar-besaran sumber alam di provinsi tersebut selama beberapa dekade. DTE menganggap yang bertanggung jawab adalah pemerintah Indonesia sejak jaman Suharto hingga penerusnya, baik pemerintah pusat mau pun daerah dan komunitas internasional. “Penyebab utama dari konflik antara masyarakat adat dengan pemukim Madura – dan konflik-konflik lain di Indonesia - adalah ‘pembangunan’ yang dipromosikan rejim Suharto selama tiga puluh tahun lebih.” Pemerintah paska Suharto dan dunia internasional menambah parah berlangsungnya isu lingkungan yang tidak berkeadilan seperti yang disebut DTE: “Berdasarkan undang-undang otonomi regional yang baru, wilayah-wilayah harus mendapatkan pemasukan yang cukup dari SDA di bawah kendali mereka untuk membiayai layanan publik, mendukung birokrasi, dan memberikan keuntungan kepada elite setempat serta mengirimkan bagian keuntungan ke Jakarta. Komunitas internasional mendukung proses itu. IMF mendorong pengerukan SDA untuk menyeimbangkan neraca ekonomi Indonesia termasuk membayar hutang pada masa Suharto. Bank Dunia mendanai program transmigrasi pemerintah Indonesia selama bertahun-tahun dan dengan Bank Pembangunan Asia mendukung sistem tanaman industri yang tergantung pada pekerja transmigran” (Down to Earth Nr 49 Mei 2001) DTE mengutip pernyataan LSM Indonesia bulan Maret yang menuntut agar lembagalembaga seperti Bank Dunia “mengakui kegagalan dan kesalahan mereka kepada orang-orang yang terkena ledakan kerusuhan” dan “memberlakukan rehabilitasi dan peningkatan yang tidak pernah dilaksanakan.” Mereka juga menuntut agar Bank Dunia, IMF dan ADB, serta perusahan-perusahaan raksasa lebih terbuka pertanggung-jawabannya “untuk mencegah terulangnya tragedi kemanusiaan yang sia-sia.”(Down to Earth Nr 49 Mei 2001) 113

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kerusuhan Sampit telah mendorong DTE menulis kepada Clare Short, Menteri Inggris untuk Pembangunan Internasional pada bulan Februari untuk: “Mendesak dia agar mengangkat kerusuhan Kalimantan Tengah dalam pertemuan kreditur CGI bulan April dan menekan pemerintah Indonesia untuk bertindak dalam masalah-masalah di balik ini, termasuk penolakan hak adat atas tanah dan hak atas sumber-sumber lain." Surat itu juga menyatakan bahwa amatlah tepat bagi departemennya untuk mengambil tindakan, karena CDC, badan investasi swasta yang semua sahamnya dimilik DFID, sudah menanam modal di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.(Down to Earth Nr 49 Mei 2001) DTE dengan demikian menampilkan konflik etnik di Kalteng sebagai masalah lingkungan berkeadilan. DTE menganggap Menteri Inggris dapat mempengaruhi pemerintah Indonesia dan CDC, karena itu DTE menulis surat kepadanya. Keprihatinan yang ditunjukkan DTE dengan menulis surat kepada Menteri Inggris memperkuat nilai informasi lingkungan berkeadilan di Indonesia untuk pasar internasional bagi wacana lingkungan berkeadilan. DTE menulis masalah pertambangan di Kalteng yang mengakibatkan korban penduduk lokal dan hancurnya lingkungan akibat tindakan perusahaan yang dimiliki investor internasional dengan dukungan kekuasaan pemerintah. Masyarakat lokal didampingi Ornop terus berjuang tetapi keadilan yang mereka dambakan belum didapat. Kasus ini terjadi di Murung Raya mengenai nasib komunitas Dayak Kalteng yang telah melakukan proses damai dan negoisasi bertahun-tahun. Karena gagal mereka kembali ke lokasi pertambangan tradisional mereka. Itu aksi langsung sebagai upaya terakhir mempertahankan hak-haknya yang diingkari pemerintah Indonesia dan perusahaan tambang yang mengambil alih tanah mereka. DTE mengutip JATAM mengumumkan pernyataan bulan September 1999 mengenai 114

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pendudukan kembali itu dan bahwa :“ Masyarakat adat Dayak Siang, Murung, dan Bakumpai dengan sukses dan damai mengambil kembali lubang tambang mereka yang telah diambil alih PT Indo Muro Kencana (IMK) selama hampir 10 tahun. Masyarakat marah karena tuntutan kompensasi dan pemulihan hak-hak tambang diabaikan oleh perusahaan begitu lama dan tak dimulai negoisasi langsung seperti yang dijanjikan”.( Down to Earth No 43, November 1999) DTE menggambarkan nasib tragis masyarakat lokal: “Penghidupan keseluruhan komunitas diingkari. Beberapa keluarga tidak sanggup menyekolahkan anak-anaknya. Orangorang desa kehilangan kebun karet dan buah, lahan pertanian dan kolam ikan, dan tempat suci mereka dinajiskan. Seluruh desa, Luit Raya, tempat tinggal sekitar 8000 orang, dihancurkan total untuk jalan ke lokasi tambang. Kompensasi telah dibayarkan untuk beberapa kasus tetapi itu ditetapkan dengan harga rendah oleh pemerintah tanpa konsultasi dengan penduduk desa”(Down to Earth No 43, November 1999) DTE menyebutkan PT Indo Muro Kencana (IMK), semula dimiliki Ashton Mining, sekarang 90% dimiliki Aurora Gold yang berbasis di Australia. Perusahaan tidak mengakui hak-hak adat atas tanah dan sumber dayanya, mengutip perundang – undangan pemerintah Indonesia dan kewajiban yang terikat kontrak legal. DTE mengutip JATAM yang mengakui bahwa: “... aksi langsung komunitas Dayak tadi adalah “pilihan resiko tinggi” yang mungkin mengakibatkan konfrontasi kekuatan keamanan dan pengorbanan lebih jauh. Komunitas Dayak sudah mencoba memecahkan masalah lewat negiosasi bertahun-tahun berakhir gagal”. (Down to Earth No 43, November 199). Mereka mengirim surat protes kepada otoritas lokal dan pusat, pertemuan dengan dewan, anggota Komnas HAM, menteri dan Kedutaan Australia di Jakarta. Semua tidak menghasilkan pemecahan masalah. Tahun 1997 perwakilan komunitas mengunjungi kantor pusat Aurora Gold di Perth, Australia, di sana disetujui 115

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI negoisasi terbuka antara perusahaan dan komunitas. Komunitas diminta membuat daftar klaim / tuntutan. Itu diajukan Agustus 1998. Dokumen ini mendorong bupati membuat tuntutan bahwa tu merusak reputasinya. DTE menambahkan bahwa WALHI membantu merancang pertemuan pada Agustus 1999 tetapi tidak menghasilkan kemajuan. Perusahaan menolak klaim untuk hak- hak atas tanah dengan alasan tak ada tanah adat dalam rincian sensus pemerintah. Mereka juga menolak klaim peralatan tambang alasannya peralatan tersebut dinyatakan illegal oleh pemerintah kabupaten 1987. (Down to Earth No 43, November 1999) DTE melaporkan kekerasan terjadi di lokasi dan korban berjatuhan tetapi Aurora mengelak bertanggungjawab atas kekerasan di pertambangan dengan alasan perusahaan tidak punya pilihan selain menerima kehadiran Brimob dan bahwa polisi tidak mendiskusikan keadaan yang memaksa penembakan. Menurut DTE argumen itu tidak valid karena perusahaan harus sadar perencanaan keamanan sebelum mengambil alih pertambangan. Itu mengambil keputusan untuk menjalankan dan harus memiliki tanggung jawab terhadap pelangggaran HAM di lokasi. DTE memakai orang yang berkompeten untuk mendukung nya dengan mengutip komentar Geoff Evans dari Australia's Mineral Policy Institute . Menurut Evans: “...masalahnya adalah masyarakat lokal tidak berkepentingan dengan perusahaan pertambangan yang beroperasi dalam skala besar yang memerlukan bantuan polisi untuk memaksakan kemampuannya mencari keuntungan. Kalau beroperasi di Australia perusahaan tidak diijinkan melakukan hal itu atau tidak boleh mempunyai relasi semacam itu”( Down to Earth No 52, February 2002) DTE melaporkan Aurora Gold menutup pertambangan emasnya di Kalimantan yang bernama buruk, tetapi orang Dayak menginginkan kompensasi atas dampak buruk yang mereka derita. Komunitas Dayak Siang, Murung dan Bakumpai mengajukan tuntutan hukum 116

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI di pengadilan negeri Jakarta Selatan pada 30 Juli 2002 melawan PT Indo Muro Kencana (IMK). 29 penggugat dihadirkan pengacara WALHI dan JATAM. Aurora Gold, yang mengambil alih IMK tahun 1997, menjual pertambangan ke perusahaan Australia lainnya Archipelago Resources. DTE memberi komentar : “Masih harus dilihat apakah Aurora menghitung kekerasan dan pelanggaran HAM yang diderita mayarakat adat selama menjadi operator pertambangan”. (Down to Earth No 55 November 2002) DTE terus melaporkan perjuangan masyarakat lokal mencari keadilan. Yang terjadi adalah kekalahan masyarakat adat Murung Raya di pengadilan: “Dengan alasan bahwa gugatan yang diajukan tidak lengkap, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan menolak gugatan dari 29 orang penambang emas terhadap PT. Indo Muro Kencana (IMK), Selasa (17/6). Putusan ini dikeluarkan oleh majelis hakim, setelah beberapa kali penundaan pembacaan putusan. Menurut Majelis hakim, seharusnya yang menjadi tergugat bukan hanya PT IMK, tetapi juga pemerintah RI cq menteri Pertambangan dan Mineral. Alasannya, kontrak kerja itu dilakukan atas kesepakatan dua pihak yaitu antara PT IMK dan pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Menteri Pertambangan. Jadi jelas terlihat bahwa kedua pihak sangat erat kaitannya dalam pengambilalihan lubang tambang itu”. Menurut DTE penolakan gugatan ini dengan alasan bahwa gugatan yang diajukan tidak lengkap, tampak sedikit aneh. Di satu sisi, Majelis hakim yang diketuai oleh Zainal Abidin didampingi I Dewa Gde Putra Jadnya dan Marsup berpendapat bahwa memang kenyataannya bahwa PT. IMK telah mengambil alih kepemilikan lubang-lubang tambang milik masyarakat adat (Down to Earth No. 58, Agustus2003). Kisah kalahnya masyarakat sipil yang memperjuangkan hak-haknya di pengadilan memberikan gambaran betapa lemah posisi masyarakat sipil di hadapan investor yang disokong pemerintah. Padahal pihak masyarakat sipil betul-betul kehilangan sumber penghidupan mereka, seperti yang ditulis DTE: “Tim Advokasi Tambang Rakyat (TATR) bersedia memperjuangkan kasus mereka 117

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk menuntut ganti rugi atas atas lubang tambang. "Semua saksi yang diajukan mengungkapkan bahwa PT. IMK tidak pernah membayar lubang tambang.Yang diganti rugi baru sebatas rumah dan tanam tumbuh. Sedang lubang tambang, tempat mata pencaharian, belum diganti rugi," tegas Zen Smith dari TATR. Keluarnya putusan Majelis hakim yang menolak gugatan masyarakat, tentu saja mendatangkan kekecewaan bagi TATR” (Down to Earth No. 58, Agustus 2003) DTE menampilkan berbagai kasus lingkungan hidup yang berkeadilan di Kalteng. Penyebab ketidakadilan adalah pemerintah dan investor yang mendapat keuntungan timbal balik dari konspirasi mereka. Sedang masyarakat sipil masih berada dalam proses memperjuangkan hak-haknya. Ini menunjukkan structural adjusment dan neoliberal yang menghancurkan lingkungan sekaligus penghidupan berkelanjutan masyarakat lokal mendapat tentangan masyarakat sipil. Informasi-informasi tersebut untuk mensuplai pasar internasional wacana lingkungan berkeadilan. D. Relasi Pemerintah, Masyarakat Sipil dan Website DTE di Arena Lingkungan Hidup yang Berkeadilan Kalteng DTE sendiri membatasi relasinya dengan pemerintah pada tingkat internasional dengan menyatakan dirinya bekerja untuk kampanye internasional. Ini dilakukan DTE dengan membuat laporan, mengirim surat dan mengadakan pertemuan dengan Menteri Pembangunan Internasional Inggris, Clare Short untuk kasus CDC dan kerusuhan Sampit. DTE mendesak kepada Clare Short karena lembaga bantuan luar negeri pemerintah Inggris, DFID berkaitan dengan CDC. DFID, yang mempromosikan pembangunan berwawasan lingkungan dan bertanggung-jawab sosial serta keterlibatan pemegang saham dalam pengambilan keputusan untuk proyek-proyek sektor kehutanan, adalah pemegang saham 118

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CDC satu-satunya. DTE menilai hasil dari apa yang dilakukannya sebagai sangat mengecewakan karena CDC tidak peduli. DTE menganggap pemerintah Inggris dapat mempengaruhi kerusuhan Sampit dengan mendesak Clare Short agar mengangkat kerusuhan Kalimantan Tengah dalam pertemuan kreditur CGI. Alasan lain adalah CDC sudah menanam modal di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. DTE tidak melakukan hal yang sama untuk kasus di kawasan proyek PLG dan PT Indo Muro Kencana (IMK). DTE tidak menulis surat kepada pemerintah Inggris tetapi kepada Zeneca, perusahaan multinasional agrokimia dan farmasi yang berbasis di Inggris atas pemakaian pestisida produk Zeneca di kawasan proyek PLG. DTE membuat advokasi untuk masalah lingkungan yang berkeadilan di Kalteng dengan mendesak pemerintah Inggris untuk masalah lingkungan Kalteng yang dianggap ada kaitannya dengan pemerintah Inggris. DTE tidak melaporkan telah mendesak pemerintah Indonesia karena pemerintah Indonesia akan menyatakan DTE yang merupakan lembaga asing telah mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Relasi DTE dengan masyarakat sipil menunjukkan keuntungan timbal balik dan lentur. DTE bekerja sama dengan Ornop lokal sesuai dengan isu yang diangkat DTE. Demikian juga Ornop lokal menjalin kerja sama dengan mitra asing sesuai dengan isu yang ditanganinya. Sebagai contoh, DTE bekerja sama dengan WALHI Kalbar dan Kalteng untuk kasus CDC yang berinvestasi di Kalbar dan Kalteng. Sementara WALHI Kalteng memilih mitra lain untuk isu-isu yang berbeda seperti Sawit Watch, Green Peace dan Friend of The Earth (FoE). 119

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Masyarakat memiliki posisi yang diperhitungkan oleh negara karena negara dianggap demokratis jika lebih banyak partisipasi masyarakat. Ornop, LSM dan Ormas lokal yang bersuara untuk isu-isu lingkungan Kalteng memiliki legitimasi sebagai suara rakyat di tingkat akar rumput. Ini merupakan modal kuat namun perlu sumber daya lain untuk berhadapan dengan pemerintah mau pun pasar yakni dukungan internasional. Legitimasi off line DTE akan kuat jika memiliki status observer badan PBB, tetapi itu tidak dimilikinya. DTE tanpa legitimasi off line yang kuat masih dapat legitimasi dari jumlah pengunjung websitenya. Situs statshow (25 Januari 2014) menyebutkan bahwa situs lama DTE yakni dte.gn.apc.org yang diluncurkan 18 April 1991 mencapai 116 040 pengunjung dan menyampaikan sekitar 255 330 pageviews setiap bulan. Ini angka yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan WALHI Kalteng yang diluncurkan 18 Desember 2009 mencapai kira-kira 30 pengunjung dan menyampaikan 30 pageviews setiap bulan. AMAN Kalteng dan Yayasan Petak Danum memakai blog, bukan website. Meski pencapaian pengunjung yang dimiliki DTE dapat dianggap sebagai modal , DTE memerlukan tambahan modal lain sehingga DTE perlu menjalin kerjasama dengan Ornop, LSM dan Ormas lokal sebagai bagian penguatan legitimasi. E. Kesimpulan Pemerintah Indonesia memproduksi wacana lingkungan hidup yang berkeadilan dalam bingkai pembangunan. Pemerintah menyatakan hutan yang merupakan sumber daya alam dinyatakan sebagai modal pembangunan dan dikuasai negara. Kekuasaan pemerintah atas sumber daya alam dilegalkan dengan serangkaian produk hukum terutama UndangUndang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah Kalteng memperebutkan kekuasaan kewenangan penguasaan hutan Klateng sehingga menimbulkan keruwetan. Pemerintah membangun wacana keadilan yang 120

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berkaitan dengan masyarakat sipil dengan pemberdayaan masyarakat yang berupa pelatihan dan pembangunan prasarana fisik. Masyarakat sipil Kalteng memproduksi wacana lingkungan hidup yang berkeadilan dengan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia tidak adil karena berpihak kepada investor yang merusak lingkungan. Keberpihakan itu dilakukan dengan membuat aturan legal formal yang tidak berpihak kepada hak-hak masyarakat sipil dan pelanggaran-pelanggaran hukum yang tidak ditindak tegas. Masyarakat sipil berusaha memperjuangkan wacana lingkungan hidup yang berkeadilan dengan mengartikulasikan suara mereka dan membangun organisasiorganisasi rakyat. Semua itu menunjukkan upaya yang berkaitan dengan kesejahteraan mereka, Website DTE mengambarkan dinamika pasar lingkungan hidup yang berkeadilan atau environmental justice (EJ). Website DTE ditujukan untuk kampanye internasional sehingga pasar yang ditujunya adalah konsumsi EJ di wilayah internasional EJ. DTE menulis kasus-kasus EJ Kalteng dengan mendudukkan masyarakat sipil sebagai pihak yang mendapat ketidakadilan dan pemerintah yang didukung komunitas internasional sebagai pihak yang bertanggungjawab. Di samping itu DTE menambah nilai informasinya dengan tindakah advokasi DTE brsama mitra lokal membuat laporan, menulis surat dan mengadakan pertemuan dengan menteri Inggris dan investor Inggris. Ini menunjukkan pragmatisme pasar EJ yakni mensuplai yang diperlukan konsumen. 121

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Sampailah kini pada bab terakhir setelah menelusuri jejak DTE di arena lingkungan hidup Kalteng. Arena ini sebagai sebuah jalinan atau gambaran pertalian obyektif antara berbagai kedudukan para pelakunya mengedarkan wacana atau diskursus sebagai barang yang bermanfaat. Pelaku-pelaku utama arena tersebut yakni negara, masyarakat sipil, dan pasar berjuang memperebutkan dominasi melalui wacana. Pertarungan dominasi tersebut memakai strategi mempertahankan posisi atau mengubah aturan main, dan sekaligus melakukan penyesuaian. Para pelaku utama di arena lingkungan hidup Kalteng bersaing dan berjuang untuk memperebutkan dominasi melalui wacana dalam pertarungan simbolis. Pelaku yang dominan berusaha mempertahankan diri sementara pelaku yang terdominasi cenderung mengubah aturan main. Negara mempertahankan posisinya sebagai negara kesatuan yang merupakan bentuk perjuangan bangsa kulit berwarna dari penjajahan penjajah asing. Akan tetapi bersamaan dengan itu negara masih menjadi kepanjangan neoliberalis yang menarik investor sebanyak-banyaknya mengabaikan dan perlindungan meningkatkan kepada ekonomi masyarakat dengan lemah persaingan dan bisnis terpinggirkan. yang Negara memaksakan dominasinya dengan alasan keamanan yang mengorbankan masyarakat sipil. Negara mempertahankan posisi dan juga menyesuaikan wacana pembangunan dengan lingkungan hidup. Pemerintah memainkan wacana pembangunan yang diwarnai dengan wacana “hijau” dan berkeadilan diantaranya dengan menempelkan isu Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD), konsep bottom up planing atau community based development oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT), serta istilah “industri kelapa sawit yang berkelanjutan” dan “pertumbuhan hijau dengan kelapa sawit” dari Gubernur Kalteng. Pemerintah juga secara internasional menggarap 122

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI wacana lingkungan hidup dengan menggandeng Interpol (polisi internasional) menggelar workshop “Pelatihan Pemberantasan Illegal Logging dan Kejahatan Kehutanan Terorganisir”. Masyarakat sipil Kalteng yang muncul dalam bentuk Ornop dan LSM dalam persaingan konfigurasi arena berjuang untuk wacana kesejahteraan dalam lingkungan hidup. Mereka mengubah aturan main dengan mendiskreditkan wacana dominan negara supaya ditolak kebenarannya oleh publik. Mereka membongkar dan menafsir ulang wacana pembangunan yang disokong lembaga keuangan internasional. Itu dilakukan dengan menganalisa produk kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan implementasinya, melakukan tuntutan pengadilan hingga mengadakan ritual tradisional. Masyarakat membalik wacana pembangunan dengan mengangkat pentingnya kesejahteraan dalam hal ini diandaikan pada adanya: inisiatif dan partisipasi rakyat, solidaritas rakyat, masyarakat adat di Pulau Borneo, dan kedamaian penghuni ekosistem gambut. Masyarakat selain menggugat wacana pembangunan dalam lingkungan hidup juga melakukan penyesuaikan ketika menghadapi negara sebagai insitusi “moderen” beserta isuisunya dengan cara membentuk organisasi yang moderen juga diantaranya organisasi rakyat, organisasi adat, organisasi petani, dan koperasi. Masyarakat tidak hanya protes kepada pemerintah tetapi juga kepada lembaga bentukan pemerintah seperti Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), bahkan protes kepada rejim internasional yang mengurus iklim global. DTE sebagai pasar memiliki pragmatisme. DTE memakai kapasitas linguistiknya yakni memilih Ecological Justice (EJ) atau lingkungan hidup berkeadilan sebagai kosa kata pembeda. EJ dalam sejarah kontemporer gerakan lingkungan hidup tumbuh dari benih-benih perlawanan terhadap ketidakadilan pada akses lingkungan hidup yang dialami bangsa-bangsa kulit berwarna di Amerika. DTE memakai wacana EJ di Indonesia untuk masyarakat 123

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pedesaan dan luar pulau Jawa di antaranya di Kalteng dan bekerja dengan membicarakan, merundingkan, dan mengatur masalah-masalah lingkungan hidup Kalteng di websitenya. Untuk itu DTE melakukan penyesuaian dengan memilih “isu seksi” yang paling dicari pasar yakni fakta-fakta ketidakadilan yang diderita masyarakat lokal akibat kerusakan lingkungan berupa hancurnya penghidupan, kriminalisasi, dan pelanggaran HAM. Sedangkan untuk mendapatkan kekuasaan terbesar DTE menyokong masyarakat sipil dengan menempatkan kategori-kategori baru dari pembangunan. Baik masyarakat sipil maupun pasar dalam arena ini melakukan upaya perubahan terhadap wacana pembangunan yang dipertahankan negara. Akan tetapi wacana lingkungan hidup yang berkeadilan semestinya juga ditafsirkan ulang secara hati-hati karena sejarah dan maknanya tidak dapat begitu saja dicangkokkan di Indonesia khususnya di Kalteng. Terutama karena di negara asalnya, Amerika, masyarakat sipil memiliki posisi kuat ketika berhadapan dengan negara sehingga penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dapat diawasi rakyat. Sementara perjuangan masyarakat sipil di Indonesia masih terbentur pada praktek korupsi yang luar biasa, karenanya diperlukan perhatian dan strategi khusus untuk menghadapi korupsi. DTE dan Ornop serta LSM lokal mengangkat isu hak-hak masyarakat adat. Ini isu yang menarik dan strategis. Tetapi pemakaian isu ini bila tidak hati-hati akan menjebak sebagai isu yang mendukung gerakan yang eksklusif dan malahan menyebabkan gerakan sosial menjadi terpecah. Adalah menantang untuk mencari strategi yang inklusif serta memiliki ruh yang menghidupi gerakan perlawanan. Gerakan masyarakat sipil Kalteng telah mengangkat upacara adat dan menjadikannya kapital simbolik. Ini akan jauh memperkuat solidaritas sosial dan bela rasa jika tidak hanya berhenti pada ritual dan slogan namun juga sebagai perjalanan penghayatan sejarah dan pencarian jati diri. 124

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Wacana lingkungan hidup meski secara geopolitik terjadi di Kalteng, bagaimanapun memiliki ciri-ciri kolektif dan supranasional. Tidak ada yang salah pada kolektivitas dan supranasionalisme, akan tetapi di sisi lain untuk menghadapi neoliberalisme harus memperkuat negara yang mensejahterakan rakyat dengan cara memperkuat masyarakat sipil. Karena negaralah yang berkewajiban melindungi dan memberi kesejahteraan sosial bagi warganegaranya. Negaralah yang harus melindungi masyarakat lemah dari kapitalisme. Untuk itulah kerjasama DTE dengan masyarakat sipil Kalteng perlu ditingkatkan, bahu membahu pada posisi setara dan saling menguatkan. Satu hal penting dari DTE adalah pemasaran wacana lingkungan hidup Kalteng lewat websitenya. Pertarungan simbolik di arena lingkungan hidup Kalteng bertujuan meraih kekuasaan simbolik, untuk mendapatkan legitimasi dan pengakuan. DTE akan mendapatkan pengakuan berdasarkan pengunjung websitenya. Semakin banyak pengunjung akan memperbesar kekuatan DTE. Namun harus diakui bahwa dunia online hanyalah salah satu kapital budaya yang dapat dikonversi menjadi kapital simbolik. Sementara itu DTE juga memiliki kapital budaya lain yang dapat dikonversi menjadi kapital simbolik yakni dengan memperkuat posisinya di dunia off line di Eropa. Arena lingkungan hidup Kalteng memperlihatkan pelaku-pelaku yang mempertahankan atau berusaha menaiki posisi kekuasaan lewat wacana. Negara mempertahankan dominasinya dengan mendefinisikan wacana lingkungan hidup lewat skema-skema pembangunan, keamanan, kewibawaan. DTE yang bekerjasama dengan masyarakat sipil menolak tunduk dalam kategori yang dibuat negara dengan cara memproduksi wacana lingkungan hidup yang berkeadilan. Wacana ini memiliki sejarah dan makna yang berkembang di Amerika. Sementara itu dari berbagai belahan dunia telah muncul berbagai wacana lingkungan hidup. Di antaranya India telah memasarkan wacana gerakan memeluk pohon yang inspirasinya diambil dari kaum Bishnois, menjadi gerakan 125

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Chipko yang legendaris. Menurut hemat penulis, bukanlah utopia bila suatu saat wacana organik dari Kalteng dapat direproduksi, sehingga wacana ini memperkaya arena. 126

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Daftar pustaka : Acciaioli. Greg .2008. Mobilizing against the ‘cruel oil’. Dilemmas of organizing resistance against palm oil plantations in Central Kalimantan. Dari : Reflections on the Heart of Borneo. Ed. Gerrard A. Persoon, Manon Osseweijer. Tropenbos Series 24 . Tropenbos International Wageningen, the Netherland Acciaioli, Greg. 2011. Confronting Oil Palm Plantations. Inside Indonesia 106: OctDec 2011. Diunduh 31 Januari 2013 Ackland, Robert dan Mathieu O’ Neil . 2011. Online Collective Identity : The Case of Environmental Movement. Aditjondro, George J. 1998. Large dam victims and their defenders : the emergence of an anti-dam movement in Indonesia. Dari : The Politics of Environment in Southeast Asia Resources and Resistence. Ed. Philip Hirch and Carol Warren. New York : Routledge. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Profil Organisasi. Antaranews.com. 21 April 2013. Anggota DPR curigai pencemaran limbah sawit. Bourdieu, Pierre . 2012. Arena Produksi Kultural. Sebuah Kajian Sosiologi Budaya. Inyiak Ridwan Muzir ed. Bantul : Kreasi Wacana. BPS dan BAPPEDA Provinsi Kalteng. 2011. Kalimantan Tengah Dalam Angka 2011 Brulle. Robert J. , Drexel University. The U. S. Environmetal Movement. Budiardjo, Carmel. 1996. Surviving Indonesia’s Gulag. A western woman tells her story. London : Wellington House. Casey, Michael . The Jakarta Post, Kerengpangi, Kalimantan , 12 Januari 2009 Casson, Anne.1999. The Hesitant Boom : Indonesia’s Oil Palm Sub – Sector in an Era of Economic Crisis and Political Change

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Castells, Manuel.2004. The information Age. Economy, Society, and Culture. Volume II. The Power of Identity. Second Edition. Australia : Blackwell Publishing. Hal. 1-2 Cool, Helena. 1996. The Influence of Non- Govermental Organisation in the U.N. System . Amnesty International at United Nations ed. Peter Willetts. Hong Kong : David Davies Memorial Studies. Dryzek, John S. The Politics of the Earth: Environmental Discourses. New York: Oxford University Press, 1997. Reviewed by Seth Tuler. Social and Environmental Research Institute, Human Ecology Review, Vol. 5, No. 1, 1998. DTE. 2009. Keadilan Iklim dan Penghidupan yang Berkelanjutan. Edisi Khusus Ulang Tahun DTE ke 20. Cumbler, John T.2009. Environmental History : A road Map to Today. Sustain. Issue 19 Fall/ Winter 2009. University of Louisville. Kentucky. Devall, Bill. The Deep Ecology Movement. Natural Resources Journal [Vol. 20. April 1980] Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah (Dishut Kalteng). 2013. Data Pemanfaatan Sumber Daya Kehutanan :Perspektif Ekonomi, Lingkungan dan Keuangan Publik Serta Implikasi Pada Rancangan UU Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dove, Michael R. 2006. Indigenous People and Environmental Politics. Annu. Rev. Anthropol. 2006. 35:191–208 Drengson, Alan, Bill Devall, Mark A Schroll. The Deep Ecology Movement: Origins, Development, and Future Prospects. (Toward a Transpersonal Ecosophy). International Journal of Transpersonal Studies 101. 30(1-2), Dryzek, John S. Reviewed by Seth Tuler . The Politik of The Earth ( 1997) . New York : Oxford University Press. Human Ecology Review , Vol. 5. No. 1, 1998. ESRC (Economic Social Research Council ), Friends of The Earth , London School of Hygiene and Tropical Medicine. 2001. Environmental Justice. Rights and Means to a healthy environment for all. http://www.foe.co.uk/resource/reports/environmental_justice.pdf 2 Mei 2012.

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Enche Tjin. Apa itu foto Human Interest? http://www.infofotografi.com/blog/2013/12/apa-itu-foto-human-interest/ 2 Desember 2013 Fenton, Natalie .2008. Mediating Solidarity. Global Media and Communication .Sage. Friend of The Earth . 2003 : 3 Greasy palms – summary. Gordon, Joshua .1998 NGOs, the Environment and Political Pluralism in New OrderIndonesia. Explorations in Southeast Asian Studies A Journal of the Southeast Asian Studies Student Association Vol 2, No. 2 Fall 1998 Greenberg, James B. Dan Thomas K. Park Political Ecology Vol.1 1994. Journal of Political Ecology. Greenpeace. Enggang dan Harimau Menancapkan Jejak Menyusuri Hutan Kalimantan Tengah . http://www.greenpeace.org/seasia/id/Multimedia/GaleriFoto/Menancapkan-Jejak-Hutan-Kalimantan-Tengah/ Gubernur Kalimantan Tengah. Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 13 Tahun 2009 Tentang Tanah Adat dan Hak-hak Adat di Atas Tanah Provinsi Kalimantan Tengah. Hall, Jeremiah.History of the Environmental Movement. http : // www. mtmultipleuse.org/endangered/esahistory.htm. 12 Januari 2012. Hall, Stuart (Ed).1997. Representation. Cultural Representation and Signifying Practices. Sage Publications Ltd. London. Hughes, Peter. 2007. Text and Textual Analysis. Dari : Media Studies. Key Issues and Debates. Ed. Eoin Devereux. Los Angeles : Sage Publications. 249- 282. International Crisis Group. 2001. Kekerasan Etnis di Indonesia : Pelajaran dari Kalimantan. 27 Juni 2001. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM). 2010. Deadly Coal. Coal Extraction and Borneo Dark Generation. Edisi pertama, Februari 2010 Keraf, A. Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta : Kompas.

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kitzinger, Jenny. 2007. Framing and Frame Analysis. Media Studies. Key Issues and Debates. Ed. Eoin Devereux. H. 134-161.London: Sage Publications. Klinken, Gerry van . 2001. Ethnic fascism in Borneo. Inside Indonesia 68 : Oct- Dec 2001. Diunduh 25 Febr 2013. Kompas.com. Tiga Sungai Besar di Kalimantan Tercemar Merkuri . Senin, 11 Februari 2008 ). Kunanayagam, Ramanie dan Ken Young . 1998. Mining, environmental impact and dependent communities: the view from below in East Kalimantan . Dari : The Politics of Environment in Southeast Asia. Resources and Resistance. Ed . Philip Hirsch and Carol Warren. New York : Routledge Kurnain, Ahmad, dkk. 2008. Konsep Pengembangan Rawa Pasang Surut Untuk Pertanian. Seminar Nasional Teknik Sumber Daya Rawa. Banjarmasin, 4 Agustus 2008. La Drew, Roslyn Blyn. 2007 : What Color Is an Orange?Carrots? The Flag of Ireland? or, “Ye Could Be Murd(h)ered for [Teaching] That! , The Proceedings of the Barra Ó Donnabháin Symposium, 2007. LATIN. 1998. Kehutanan Indonesia Pasca Soeharto : Reformasi Tanpa Perubahan. Ed. Haryanto. Bogor : Pustaka Latin Mawardi, Ikhwanuddin. 2007. Rehabilitasi dan Revitalisasi Eks Proyek Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan Tengah. J.Tek. Ling. 8:(3):287-297 Mc. Grail, Stephen. 2011. Enviromentalism in Transition ? Emerging Perspektives, Issues & Futures Practices in Contemporary Enviromentalism Journal of Futures Studies, March 2011, 15 (2) : 117 – 144 Notohadiprawiro, Tejoyuwono .2006. Mega – Project of Central Kalimantan Wetland Development For Food Crop Production . Belief and Truth. Seminar in Finlandia. 1998. Repro : Ilmu Tanah Universitas Gadjah Mada 2006 . Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM). Catatan Tentang Pasal- pasal Bermasalah Dalam RUU Ormas (Kompilasi 5 Desember 2012, 9 Februari 2013 dan 19 Maret 2013) Petak Danum. http://petakdanum.blogspot.com

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI REDDinfo. Sikap AMAN Kalteng Mengenai REDD+ dan RTWP http://reddinfo.wordpress.com/2011/06/24/sikap-aman-kalteng-mengenai-redd-danrtwp/ 24 Juni 2011 Roberts, R. Gregory. Environmental Justice and Community Empowerment : Learning From The Civil Rights Movement. http://www.wcl.american.edu/journal/lawrev/48/pdf/roberts.pdf?rd=1 2 Mei 2012. Rome, Adam.2003 . “Give The Earth a Chance “ : The Environmental Movement and The Sixties “. Roots, Christopher. 2008. 1968 and The Environmental Movement in Europe, dari : 1968 in Europe A handbook of National Dimensions of 1060 /70s Protest Movements. Ed. Martin Klimke dan Joachim Scarloth . New York : PalgraveMacmillan. Sampurna, Simpun (penanggung jawab). 2012. Buku Saku. Perlindungan Masyarakat Adat dan REDD: Sebuah Panduan Praktis. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalteng dan Yayasan Tifa Smith, Claire Q. 2005. The Roots of Violence and Prospects for Reconciliation.A Case Study of Ethnic Conflict in Central Kalimantan, Indonesia. Social Development Papers. Conflict Prevention & Reconstruction Paper No. 23 / February 2005. The World Bank. Taylor, Bron .(Ed.) 2005 .Encyclopedia of Religion and Nature. (London & New York: Continuum, 2005) Taylor, Dorceta E. 2000. The Rise of The Environmental Justice Paradigm. Injustice Framing and the Social Construction of Environmental Discourse. American Behavioral Scientist, Vol. 43 no. 4, January 2000. h. 508- 580. Sage Publication, inc. Tempo.co. Kalimantan Tengah Moratorium Transmigrasi. 12 Februari 2013 Tempo co. Dayak Seruyan Adukan Konflik Lahan ke Komisi Hukum .16 Januari 2012. Tempo. Co. Kegiatan Tambang Emas di Murung Raya Dihentikan. 02 Juli 2013. Tirtosudarmo, Riwanto. 2007. Mencari Indonesia. Demografi- Politik PascaSoeharto. Jakarta : Yayasan Obor

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Turner, Graeme. 1996. British CulturalStudies. An Introduction. Second Edition. Routledge : New York. Tsing. Anna Lowenhaupt. 2005. Friction. An Ethnography of Global Connection. Princeton and Oxford : Princeton University Press Usop, Sidik. R. Idenfikasi Kawasan Pahewan di Kalimantan Tengah. Studi Kasus pada : Pahewan Klaru di Kampung Telaga Katingan, Pahewan Kalawa di Desa Kalawa Pulang Pisau, Pahewan Tabelien di Desa Mungku Baru Rakumpit. Kerjasama Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan daerah Kalimantan Tengah (LMMDD-KT) dengan WWF- Indonesia Kalimantan Tengah WALHI Kalimantan Tengah 2012 : Catatan Akhir Tahun 2011. WALHI: Senator Australia Kembali Bahas Redd. Antara. 30 November 2010. WALHI Kalteng 16 November 2013 . Dua Aktivis Walhi Kampanye di Australia ( sumber : http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-11-15/dua-aktivis-walhikampanye-di-australia/1220314) Warshall, Peter .2001. A Whole Earth View of The Environmental Movement . http://www.gbn.com/ArticleDisplayServlet.srv?aid=1125 ).

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN AI : Agro Indomas AMAN : Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Brimob : Brigade Mobil BPPLHD : Badan Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Daerah CDC : The Commonwealth Development International Development DFID : The Department for International Development DAS : Daerah Aliran Sungai Dishut : Dinas Kehutanan DTE : Down to Earth IMK : Indo Muro Kencana JATAM : Jaringan Advokasi Tambang LSM : Lembaga Swadaya Pemerintah Ornop : organisasi non pemerintah Ormas : organisasi masyarakat Kalteng : Kalimantan Tengah Kaltim : Kalimantan Timur Kalsel : Kalimantan Selatan Kobar : Kotawaringin Barat Kotim : Kotawaringin Timur KFCP : Kalimantan Forest Patnership Mura : Murung Raya KKS : Kontrak Kerja Sama KOMPAK : Komunitas Masyarakat Pengelola Kawasan PLG : Pengembangan Lahan Gambut REDD : Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation SK : Surat Keputusan

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menhut : Menteri Kehutanan TATR : Tim Advokasi Tambang Rakyat SDA : Sumber Daya Alam SPPD : Serikat Pemuda Peduli Daerah YPD : Yayasan Petak Danum YBB :Yayasan Betang Borneo YTT : Yayasan Tahanjungan Tarung WALHI : Wahana Lingkungan Hidup

(151)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

TRANSFORMASI ISU LINGKUNGAN HIDUP DALAM PERSPEKTIF POLITIK DAN KEAMANAN GLOBAL
0
16
1
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
1
6
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
0
2
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
0
2
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
0
1
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
0
29
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
0
10
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
0
39
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
0
11
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
1
32
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
0
26
TATA KERJA PEJABAT PENGAWAS LINGKUNGAN HIDUP DI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
0
0
12
::: WEBSITE BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH :::
0
3
2
REKONSTRUKSI POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA DI TENGAH DINAMIKA LINGKUNGAN STRATEGIS INDO-PASIFIK ABAD KE-21
0
0
26
KEBERMAKNAAN HIDUP PADA BIARAWATI DI KALIMANTAN TIMUR
0
0
13
Show more