KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTAMADYA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia,

Gratis

0
1
338
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTAMADYA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Oleh: Yudha Hening Pinandhito 091224032 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTAMADYA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Oleh: Yudha Hening Pinandhito 091224032 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BNRBAHASA I'ALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTAMADYA YOGYAKARTA njana Rahardi, Dosen Pembimbing -r__/ r' karta,29 Agustus 2014 II /' Dr. Yuliana Setiyaningsih Yogyakarta, 29 Agustus 2014

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIKDAN PRAGMATIK BERBA}IASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DT KOTAMADYA YOGTAKARTA Dipersiapkan dan ditulis oleh: Yudha Hening Pinandhito NIM:091224032 Panitia Penguji 2AW Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Yogyakarta, 29 Agustus 2014 Falorltas Keguruan dan Ilmu Pendidikan llt

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan kepada : Kedua orang tuaku Bambang Haryanto dan Meta Santi Suprihandini yang tak pernah lelah memberiku semangat, kasih sayang dan doanya untuk segera menuntaskan studi. Adikku tercinta Agenda Yudha Samudra. Juga untuk sahabat-sahabatku Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2009 iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Keep in mind that your own resolution to succeed is more important than anything else” (Ingatlah selalu bahwa tekad anda untuk sukses adalah jauh lebih penting daripada hal-hal yang lain) Abraham Lincoln Hidup itu simple dan praktis yakni dengan melakukan suatu hal dengan keyakinan, dan tidak akan pernah menyesali apa yang telah terjadi “Selama kau menemukan teman sejati. Kau juga akan menemukan kedamaian dalam hatimu” Penulis v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 29 Agustus 201 4 Penulis @ Yudha Hening Pinandhito V1

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Yudha Hening Pinandhito NIM :09T224032 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTAMADYA YOGYAKARTA Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 29 Agustus 20 14 Yang menyatakan /€_ i /)z'- (Yudha Hening Pinandhito) vil

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Pinandhito, Yudha Hening. 2014. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa dalam Ranah Agama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta : PBSI, JPBS, FKIP, USD. Penekitian ini mengkaji ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Tujuan penelitian adalah (1) Mendeskripsikan wujud ketidaksantuan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan pemuka agama Budha dengan umatnya dan antarumat agama Budha di wilayah Kotamadya Yogyakarta, (2) Mendeskripsikan wujud penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan pemuka agama Budha dengan umatnya dan antarumat agama Budha di wilayah Kotamadya Yogyakarta, dan (3) Mendeskripsikan maksud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang dimiliki oleh pemuka agama Budha dengan umatnya dan antarumat agama Budha dalam berkomunikasi di wilayah Kotamadya Yogyakarta. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskripsi kualitatif. Data penelitian berupa tuturan lisan antara pemuka agama dengan umat dan umat dengan umat dengan aktifitas keagamannya. Instrumen penelitian yang digunakan adalah petunjuk wawancara berupa daftar pertanyaan, pancingan, daftar kasus, dan blangko pengamatan dengan bekal teori ketidaksantunan berbahasa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak, yakni berupa metode catat dan rekam. Analisis data yang dipakai adalah metoode kontekstual. Berdasarkan tujuan penelitian, hasil penelitian ini adalah pertama wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan tidak santun yang termasuk dalam (1) kategori melecehkan muka dengan subkategori menyindir, menegaskan, mengejek, memperingatkan, menegur, menasehati; (2) kategori menghilangkan muka dengan subkategori mengejek, dan memperingatkan; (3) kategori melanggar norma dengan subkategori mengaskan, mengejek, dan menyinggung; (4) kategori kesembronoan dengan subkategori memerintah; dan (5) kategori mengancam muka sepihak dengan subkategori mengejek, menyindir, menegaskan, dan menyinggung. Kedua, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang ditandai dengan nada, tekanan, intonasi, dan diksi, sedangkan penanda ketidaksantuan pragmatik diatandai berdasarkan pada uraian konteks yang mencangkup tentang penutur dan mitra tutur, situasi ketika bertutur, tujuan tuturan, waktu dan tempat ketika bertutur, serta tindak verbal dan tindak perlokusi dari tuturan. Ketiga, maksud tuturan tidak santun yang dilakukan oleh penutur, yaitu bercanda, memotivasi, kebal, asal bicara, ketidaksetujuan, protes, membalikan keadaan, menuduh, menyombongkan diri, dan menyarankan. vii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Pinandhito, Yudha Hening. 2014. Impolite Utterance of Linguistic and Pragmatic Inside Budha Religion Around Yogyakarta Municipality Region. Skripsi. Yogyakarta : PBSI, JPBS, FKIP, USD. This research discussing about the impolite utterance of linguistic and pragmatic inside Budha Religion around municipality region of Yogyakarta. The purposes of this research are: (1) describing the forms of linguistic and pragmatic impolite utterance , (2) describing the signal of linguistic and pragmatic impolite utterance, and (3) describing the intention of using impolite form of language that cause people using impolite language inside Budha Religion in municipality region of Yogyakarta. This study applies descriptive and qualitative study. The source data of this study is the impolite conversations that used by the clergymen and the communities of Budhist around Yogyakarta region. The instruments that used in this study are interview guidelines, cross question, case list and an observation handout with the impoliteness in language theory. The method that used to collect the data is attentive method, gathering the data by taking note and record. The researcher use contextual method to analyze the data. Based from the purpose of this research, the conclusions of this research are: first the linguistics impoliteness form can be seen from the spoken language, it is consisted of (1) faceaggravate where expectation, sick over, joking, luring, informing, and counseling as its subcategories. (2) Face-loss category where joking, expectation, reminding, informing, refusing, sick over, counseling and command as its subcategories. (3) Disobeying norms where confirming, mocking, and hurting others feeling as its subcategories. (4) Face-gratuitous where category joking, luring, prohibit, and counseling as its subcategories. (5) Face-threaten category where counseling, reminding, informing, joking, scolding, sick over, refusing, and offering as its subcategories. Second the sign of linguistic impoliteness can be observed based on tone, stress, intonation, and diction. The sign of pragmatic impoliteness can be observed based on the context consists of speaker, receiver, situation, condition, verbal act, perlocutionary act and purpose of speech. Third the intention of impoliteness are motivating, sick over, talk unwisely, disagreement, objection, countering the situation, accusing, boasting and suggesting. . ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkah dan kehendak-Nya, skripsi yang berjudul Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam Ranah Agama Budha di Kotamadya Yogyakarta dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dalam kurikulum Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (JPBS), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa skripsi ini berhasil karena bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. 2. Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd, M,Pd., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing, menasehati, dan memotivasi penulis selama proses penyusunan skripsi ini hingga dapat terselesaikan secara baik. 5. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan pendampingan, memotivasi dan pengajaran yang bermanfaat bagi penulis selama proses awal perkuliahan sampai selesai. 6. R. Marsidiq, selaku karyawan Sekretariat Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dengan ramah dan sabar memberikan informasi mengenai pelayanan administratif kepada penulis dalam menyelesaikan berbagi urusan admistrasi. 7. Bapak Solichun, selaku tokoh penting yang membantu penulis untuk mendapatkan data pada penulisan skripsi ini dan seluruh umat Budha beserta staf di Vihara Buddha Prabha dan Vihara Vidyaloka. 8. Bapak Bambang Haryanto dan Ibu Meta Santi Suprihandini, selaku orang tua penulis, serta Agenda Yudha Samudra, selaku adik penulis yang telah memberikan dukungan kepercayaan, sprititual, dan kasih sayang seutuhnya. 9. Yustina Cantika Advensia, Vinensia Wijati Rarasati Handayani, Yustinus Kurniawan, dan Danang Istianto yang berjuang bersama, berkeluh kesah, berbagi ilmu dan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10. Ambrosius Bambang Sumarwanto, S.Pd., Dedy Setyo Herutomo, S.Pd., Nuridang Fitra Nagara, S.Pd., Ade Henta Hermawan, Fabianus Angga Renato, Ignatius Satrio Nugroho, S.Pd., Jati Kurniawan, S.Pd., Reinardus Aldo Agassi, S.Pd., Yohanes Marwan, S.Pd., Prima Ibnu Wijaya, S.Pd., Rosalia Anik Setyorini, S.Pd., Valentina Tris Marwanti, S.Pd., Agatha Wahyu Wigati, S.Pd., Clara Dhika Ninda Natalia, S.Pd., Katarina Yulita Simanulang, S.Pd., Asteria Ekaristi, S.Pd., Martha Ria Hanesti, S.Pd., Elizabeth Ratih Handayani, S.Pd., Theresia Banik Putriana, S.Pd., dan semua sahabat yang telah memberikan berbagai bantuan, motivasi, senyuman dan semangat untuk penulis 11. Robertus Adi Hermawan Pradipta, S.Kom., Bernadus Purnawan, S.Pd., Eko Sularsono, S,Kom., selaku keluarga baru yang mampu memberikan berbagai inspirasi. 12. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum dapat dikatakan sempurna secara seutuhnya karena keterbatasan yang dimiliki oleh penulis. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menjadi sumber pencerahan untuk menyusun skripsi selanjutnya. Yogyakarta, 29 Agustus 2014 Penulis Yudha Hening Pinandhito xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Hal. HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii HALAMAN MOTTO ................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................................ vii ABSTRAK ..................................................................................................... viii ABSTRACT .................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................. xii DAFTAR BAGAN ......................................................................................... xvii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 8 1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................................... 8 1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................................... 9 1.5 Batasan Istilah ........................................................................................... 10 1.6 Sistematika Penelitian ................................................................................ 11 BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................... 13 2.1 Penelitian yang Relevan ............................................................................. 13 2.2 Pragmatik ................................................................................................... 19 2.3 Objek Kajian Pragmatik ............................................................................. 21 2.3.1 Praanggapan ..................................................................................... 21 2.3.2 Tindak Tutur .................................................................................... 22 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.3 Implikatur ......................................................................................... 24 2.3.4 Deiksis .............................................................................................. 26 2.3.5 Kesantunan ....................................................................................... 29 2.3.6 Ketidaksantunan .............................................................................. 32 2.4 Teori-teori Ketidaksantunan ...................................................................... 33 2.4.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher .............................................................................................. 34 2.4.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield .......................................................................................... 35 2.4.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper........................................................................................... 37 2.4.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Terkourafi ........................................................................................ 38 2.4.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watt .............................................................................. 40 2.5 Konteks ...................................................................................................... 43 2.6 Unsur Segmental ........................................................................................ 50 2.6.1 Diksi ................................................................................................. 50 2.6.2 Kategori Fatis ................................................................................... 57 2.7 Unsur Suprasegmental ............................................................................... 59 2.7.1 Tekanan ............................................................................................ 59 2.7.2 Intonasi ............................................................................................. 60 2.7.3 Nada ................................................................................................. 60 2.8 Maksud Tuturan ......................................................................................... 61 2.9 Kerangka Berpikir ...................................................................................... 63 BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 67 3.1 Jenis Penelitian ........................................................................................... 67 3.2 Subjek Penelitian........................................................................................ 68 3.3 Sumber Data ............................................................................................... 68 3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data .................................................... 69 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5 Instrumen Penelitian................................................................................... 71 3.6 Metode dan Teknik Analisis Data .............................................................. 72 3.6.1 Metode dan Teknis Analisis Data secara Linguistik ....................... 73 3.6.2 Metode dan Teknis Analisis Data secara Pragmatik ....................... 73 3.7 Sajian Hasil Analisis Data .......................................................................... 74 3.8 Triangulasi Data ......................................................................................... 75 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............................. 76 4.1 Deskripsi Data ............................................................................................ 76 4.2 Analisis Data .............................................................................................. 83 4.2.1 Wujud, Penanda, dan Maksud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik .................................................................................. 83 4.2.1.1 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka .................... 85 4.2.1.1.1 Subkategori Menyindir ......................................... 85 4.2.1.1.2 Subkategori Menegaskan ...................................... 97 4.2.1.1.3 Subkategori Mengejek .......................................... 105 4.2.1.1.4 Subkategori Memperingatkan ............................... 114 4.2.1.1.5 Subkategori Menegur............................................ 116 4.2.1.1.6 Subkategori Menasehati........................................ 120 4.2.1.1.7 Subkategori Memerintah ...................................... 124 4.2.1.1.8 Subkategori Berprasangka .................................... 128 4.2.1.2 Kategori Ketidaksantunan Menghilangkan Muka ............... 131 4.2.1.2.1 Subkategori Mengejek .......................................... 131 4.2.1.2.2 Subkategori Memperingatkan ............................... 135 4.2.1.2.3 Subkategori Menasehati........................................ 137 4.2.1.2.4 Subkategori Membantah ....................................... 139 4.2.1.3 Kategori Ketidaksantunan Melanggar Norma .................... 142 4.2.1.3.1 Subkategori Menegaskan ...................................... 142 4.2.1.3.2 Subkategori Mengejek .......................................... 144 4.2.1.3.3 Subkategori Menyinggung.................................... 148 4.2.1.4 Kategori Ketidaksantunan Menimbulkan Konflik .............. 150 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.1.4.1 Subkategori Memerintah ...................................... 150 4.2.1.5 Kategori Ketidaksantunan Mengancam Muka Sepihak ...... 154 4.2.1.5.1 Subkategori Mengejek .......................................... 154 4.2.1.5.2 Subkategori Menyindir ......................................... 160 4.2.1.5.3 Subkategori Menegaskan ...................................... 168 4.2.1.5.4 Subkategori Menyinggung.................................... 172 4.3 Pembahasan ................................................................................................ 173 4.3.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik ......................... 174 4.3.2 Penanda Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik ...................... 182 4.3.2.1 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka .................... 182 4.3.2.2 Kategori Ketidaksantunan Menghilangkan Muka .................................................................................... 197 4.3.2.3 Kategori Ketidaksantunan Melanggar Norma ..................... 201 4.3.2.4 Kategori Ketidaksantunan Menimbulkan Konflik ................................................................................. 207 4.3.2.5 Penanda Kategori Ketidaksantunan Mengancam Muka Sepihak ................................................................................ 210 4.3.3 Maksud Ketidaksantunan ................................................................. 216 4.3.3.1 Maksud Bercanda ................................................................ 216 4.3.3.2 Maksud Memotivasi ............................................................ 219 4.3.3.3 Maksud Kesal ...................................................................... 220 4.3.3.4 Maksud Asal Bicara............................................................. 223 4.3.3.5 Maksud Ketidaksetujuan ..................................................... 225 4.3.3.6 Maksud Protes ..................................................................... 227 4.3.3.7 Maksud Membalikkan Keadaan .......................................... 229 4.3.3.8 Maksud Menuduh ................................................................ 230 4.3.3.9 Maksud Menyombongkan Diri ............................................ 231 4.3.3.10 Maksud Menyarankan ....................................................... 232 4.4 Karakteristik Subkategori (Pembeda Makna Tuturan) .............................. 232 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP .......................................................................................... 256 5.1 Simpulan .................................................................................................... 256 5.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik ......................... 256 5.1.2 Penanda Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik ...................... 258 5.1.3 Maksud Ketidaksantunan Penutur .................................................. 262 5.2 Saran ........................................................................................................... 263 5.2.1 Bagi Penelitian Lanjutan .................................................................. 263 5.2.2 Bagi Pemeluk Agama....................................................................... 264 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BIOGRAFI PENULIS xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR BAGAN Hal. Bagan 1 Kerangka Berpikir 63 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Hal. Tabel 1 Jumlah Data Tuturan berdasarkan Kategori Ketidaksantunan ................................................................................. 76 Tabel 2 Kategori Melecehkan Muka ................................................................ 77 Tabel 3 Kategori Menghilangkan Muka .......................................................... 79 Tabel 4 Kategori Melanggar Norma ................................................................ 80 Tabel 5 Kategori Menimbulkan Konflik .......................................................... 81 Tabel 6 Kategori Mengancam Muka Sepihak .................................................. 81 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab ini memaparkan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penyajian. Latar belakang masalah berisi tentang uraian yang menjadi masalah penelitian dan terkait dengan judul serta alasan mengenai penelitian perlu dilakukan. Rumusan masalah terdiri atas rumusan secara kongkrit tentang masalah yang terdapat dalam penelitian, serta disusun dalam bentuk pertanyaan yang dilandasi pemikiran teoritis yang kebenarannya perlu dibuktikan. Tujuan penelitian merupakan hasil yang akan dicapai dan merujuk pada hasil yang akan diperoleh dari maksud penelitian. Manfaat penelitian adalah nilai guna suatu penelitian untuk berbagai bidang sehingga dapat dijadikan menjadi acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya. Sistematika penyajian merupakan struktur atau kerangka suatu penelitian akan dipaparkan serta dibahas secara mendalam. 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia tidak dapat hidup secara utuh hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Untuk bersosialisasi, manusia bertindak sosial dengan cara memanfaatkan lingkungan sosial dengan sesamanya untuk menyempurnakan serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya dan demi kelangsungan hidup sejenisnya. Proses sosialisasi, berinteraksi dan bekerja sama antara manusia dan sesamanya membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi. Komunikasi 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 melalui bahasa memungkinkan setiap orang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosialnya serta untuk mempelajari kebiasaan, kebudayaan, adat istiadat serta latar belakang masing – masing. Dalam berkomunikasi penggunaan bahasa diperlukan penyesuaian bentuk (bahasa) atau ragam bahasa dengan faktor–faktor penentu tindak komunikatif yaitu (1) siapa yang berbahasa dengan siapa, (2) untuk tujuan apa, (3) dalam situasi apa, (4) dalam konteks apa, (5) jalur mana, (6) media apa, (7) dan peristiwa apa. Adapun ilmu untuk mempelajari bahasa adalah linguistik. Linguistiklah yang mengkaji unsur-unsur bahasa serta hubungan-hubungan unsur itu dalam memenuhi fungsinya sebagai alat perhubungan antarmanusia (Nababan, 1984:1). Para linguis biasanya memberikan batasan tentang bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi serta mengidentifikasikan diri (Chaer, 1994:56). Di sisi lain setiap sistem dan lambang bahasa menyiratkan bahwa setiap lambang bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana selalu memiliki makna tertentu, yang bisa saja berubah pada saat dan situasi tertentu, maupun tidak berubah sama sekali. Sebagai ilmu bahasa linguistik yang memiliki beberapa bidang-bidang cabang ilmu diantaranya fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan, pragmatik. Secara universal, linguistik menganalisis bahasa mengenai aspek yang berhubungan dengan struktur kebahasaannya (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik). Biasanya tidak banyak orang yang mempermasalahkan bagaimana bahasa dapat digunakan sebagai media berkomunikasi yang efektif, sehingga

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 sebagai akibatnya penutur sebuah bahasa sering mengalami kesalahpahaman dalam suasana dan konteks tuturannya. Salah satu cara untuk mengetahui tentang hal itu adalah melalui sudut pandang pragmatik. Pragmatik adalah studi bahasa tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentukbentuk itu (Yule 2006;5). Hal ini dipaparkan Levinson (1983) via Nugroho (2009;199) menjelaskan kurang lebih tujuh pengertian pragmatik. Salah satunya adalah “Pragmatics is the study of the relation between language and context that are basic to an account of language understanding”. Pengertian ini menunjukkan bahwa untuk memahami makna bahasa orang seorang penutur dituntut untuk tidak saja mengetahui makna kata dan hubungan gramatikal antarkata tersebut tetapi juga menarik kesimpulan yang akan menghubungkan apa yang dikatakan dengan apa yang diasumsikan, atau apa yang telah dikatakan sebelumnya. Ada dua hal penting yang perlu dicermati dari pengertian pragmatik di atas, yaitu penggunaan bahasa dan konteks tuturan. Hal itulah yang dikaji sebagai objek utama dalam pragmatik. Itulah yang membedakan pragmatik dengan ilmu yang lainnya termasuk linguistik. Apabila pada analisis linguistik struktur lebih menekankan pada hubungan dengan struktur kebahasaannya (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik), sedangkan pragmatik mengacu pada kajian penggunaan bahasa yang berdasarkan pada konteks tuturan. Oleh karena itu, hubungan ataupun relasi antara kajian linguistik dan pragmatik akan berdampak pada kejelasan maksud penggunaan bahasa dalam berkomunikasi.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Sejauh ini, pragmatik juga menelusuri lebih dalam mengenai kesantunan maupun ketidaksantunan. Pembahasan mengenai kesantunan dan ketidaksantunan memungkinkan antara penutur maupun mitra tutur dapat berinteraksi maupun berkomunikasi secara nyaman maupun tidak merugikan kedua belah pihak. Pada saat ini banyak peneliti yang sudah mengupas mengenai kesantunan berbahasa, namun untuk ketidaksantunan berbahasa masih sangat jarang peminatnya. Hal ini akan menimbulkan ketimpangan antara pembelajaran kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa. Kesantunan berbahasa ditunjukkan dari penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, teratur, sistematis, jelas dan lugas sehingga dapat mencerminkan pribadi yang baik dan mampu menempatkan konteks tuturan yang akan disampaikan oleh penuturnya. Ketidaksantunan harus dilihat sebagai penilaian perilaku seseorang dan bukan kualitas intrinsik tuturan (Mills 2003:122). Berdasarkan hal tersebut, baik kesantunan maupun ketidaksantunan dipertimbangkan oleh peran stereotip kelas, gender, dan ras atau etnik dalam menilai ketidaksantunan pada sebuah komunitas praktis tertentu. Bahasa memiliki fungsi kemasyarakatan. Klasifikasi bahasa dibagi menjadi dua, yakni (1) yang berdasarkan ruang lingkup dan (2) yang berdasarkan pemakaiannya. dalam klasifikasi yang kedua dijelaskan bahwa fungsi bahasa berdasarkan pemakaiannya masih diklasifikasikan kembali, yaitu bahasa resmi, bahasa pendidikan, dan bahasa agama (Nababan, 1984:40). Berkaitan dengan klasifikasi tersebut, penelitian ini akan mengkaji penggunaan bahasa, khususnya ketidaksantunan pada ranah agama. Sebelumnya, berkaitan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 antara manusia dan penggunaan bahasa (ketidaksantunan) dalam ranah agama memiliki skema korelasi yang saling berkaitan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai hubungan manusia dengan penggunaan bahasa, telah tersaji secara sekilas. Manusia tidak dapat terpisahkan dari moralitas yang dimiliki oleh agama. Hal tersebut yang menyebabkan agama memiliki peranan penting dalam membangun masyarakat untuk berinteraksi maupun berkomunikasi. Dapat dikatakan bahwa bahasa menempati posisi tengah di antara kedua pihak, baik Tuhan dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan sesamanya sebagai makhluk beragama. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dikarunia akal, perasaan, moralitas, dan memeluk agama yang menjadi landasan manusia untuk bertindak maupun berperilaku, sudah sewajarnya mempergunakan tuturan secara santun. Hal tersebut juga sudah menjadi kaidah tersendiri bagi manusia berkaitan dengan moralitas yang diperintahkan oleh Tuhan. Itulah yang menjadikan salah satu landasan mengapa kesantunan menjadi peran sentral dalam kegiatan berkomunikasi dan berinteraksi. Kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa ini timbul, karena sampai berapa jauh agama dan nilai-nilai keagamaan memainkan peranan dan berpengaruh atas eksistensial dan operasi masyarakat (Hendropuspito, 1983:9). Secara lebih kongkret, sampai berapa jauh agama dan nilai-nilai kepercayaan mempengaruhi pembentukan kepribadiaan pemeluk-pemeluknya dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa sebagai alat berkomunikasi. Perlu kita ketahui bahasa digunakan dalam komunikasi massa (lingkungan masyarakat).

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Bahasa juga digunakan salah satunya dalam lingkungan masyarakat beragama untuk saling berkomunikasi. Komunikasi tersebut dapat terjalin antara pemuka agama dengan sesama pemuka agama, antara pemuka agama dengan umatnya dan antara sesama umat beragama. Komunikasi pun dapat terlaksana saat acara ibadah keagamaan, diskusi, dialog maupun sarasehan sehubungan dengan kegiatan keagamaan. Hal ini menjadi sesuatu yang ironis dalam kehidupan majemuk umat beragama di Indonesia. Dalam fenomena yang dihadapi, masih banyaknya seseorang yang kurang santun dalam konteks beragama, antara satu keyakinan maupun berbeda keyakinan. Ketidaksantunan tersebut terjadi karena berbagai alasan yaitu adanya kedekatan antar seseorang, kebiasaan berbahasa tidak santun, latar belakang keluarga, kurang adanya pengetahuan mengenai bahasa yang santun, bahkan bahasa tidak santun digunakan untuk bersosialisasi antar kelompok tertentu. Dalam meneliti mengenai ketidaksantunan tuturan dalam ranah agama, peneliti mengambil objek kajian agama Budha. Kita mengetahui bahwa agama Budha merupakan agama bukanlah agama baru. Ratusan Tahun yang silam agama ini pernah menjadi pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia tepatnya pada zaman kerajaan Sriwijaya, kerajaan Maratam Purba dan keprabuan Majapahit. Dalam perkembangannya sampai saat ini pasti terdapat berbagai kemungkinan tuturan-tuturan yang muncul antara pemuka agama Budha (Bhikhu/ Bhikshu) atau umatnya. Kaitannya dengan pemuka agama sebagai pusat teladan umatnya, hal tersebut berarti dari segi sikap, perilaku

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 bahkan dari segi berbahasanya, seharusnya seorang pemuka agama memiliki kesantunan, karena pemuka agama akan menjadi sorotan perhatian dan simbol teladan umatnya. Tidak hanya menyoroti cara berbahasa seorang pemuka agama, tetapi sebagai umat beragama yang meyakini adanya nilai-nilai untuk tidak menyakiti orang lain, salah satunya melalui tuturan maka seorang umat yang beragama juga seharusnya memperhatikan cara bertutur dengan santun. Pada fenomena sesungguhnya ditemukan tuturan yang tidak santun oleh umat. Contoh tuturannya “opo yo betah dadi biksu ora tau mangan iwak-iwakan?”, “apa ya betah menjadi biksu tidak pernah makan daging-dagingan” tuturan tersebut diucapkan oleh seorang umat dan hal tersebut terasa kurang santun dalam konteks berkomunikasi secara baik dan benar. Penelitian ini berkaitan dengan ketidaksantunan berbahasa dalam ranah keagamaan. Lebih spesifik penelitian ini mengambil sampel pada ranah agama Budha di lingkup Kotamadya Yogyakarta karena di wilayah Kotamadya Yogyakarta ditemukan keanekaragaman agama yang dianut oleh masyarakatnya. Keanekaragaman agama itulah yang memberikan ruang agar penelitian ini dapat terlaksana. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik pemeluk agama Budha di Kota Yogyakarta pada tahun 20112012 sebesar 0,42 % dari total penduduk Kota Yogyakarta (BPS, 2012:16). Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti mencoba untuk mengkaji mengenai tuturan-tururan ketidaksantunan kebahasaan yang digunakan pemuka agama dan umatnya, khususnya agama Budha di wilayah Kotamadya Yogyakarta.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah seperti di atas, maka permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana manifestasi ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa dalam ranah agama Budha di wilayah Kotamadya Yogyakarta. Selanjutnya secara terperinci masalah-masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini meliputi: a. Wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik apa sajakah yang digunakan antara pemuka agama Budha dengan umatnya, umat Budha dengan pemuka agama Budha, dan antarumat agama Budha di wilayah Kotamadya Yogyakarta? b. Wujud penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa sajakah yang digunakan oleh pemuka agama Budha dengan umatnya, umat Budha dengan pemuka agama Budha, dan antarumat agama Budha di wilayah Kotamadya Yogyakarta? c. Apa maksud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang dimiliki oleh pemuka agama Budha dengan umatnya, umat Budha dengan pemuka agama Budha, dan antarumat agama Budha dalam berkomunikasi di wilayah Kotamadya Yogyakarta? 1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah seperti di atas, maka tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan manifestasi ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa dalam ranah agama Budha di wilayah Kotamadya

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Yogyakarta. Selanjutnya, tujuan penelitian ini secara rinci adalah sebagai berikut: a. Mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan pemuka agama Budha dengan umatnya, umat Budha dengan pemuka agama Budha, dan dan antarumat agama Budha di wilayah Kotamadya Yogyakarta. b. Mendeskripsikan wujud penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan pemuka agama Budha dengan umatnya, umat Budha dengan pemuka agama Budha, dan antarumat agama Budha di wilayah Kotamadya Yogyakarta. c. Mendeskripsikan maksud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang dimiliki oleh pemuka agama Budha dengan umatnya, umat Budha dengan pemuka agama Budha, dan antarumat agama Budha dalam berkomunikasi di wilayah Kotamadya Yogyakarta. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ketidaksantunan berbahasa dalam ranah agama ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pihak yang memerlukan. Terdapat dua manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan penelitian yaitu: a. Manfaat Teoretis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memperluas kajian serta memperkaya khasanah teoretis tentang ketidaksantunan dalam berbahasa sebagai fenomena pragmatik baru.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Penelitian ini dapat dikatakan memiliki kegunaan teroretis karena dengan memahami teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan baru dan referensi untuk menghindari ketidaksantunan berbahasa dalam berkomunikasi. b. Manfaat Praktis Penelitian ketidaksantunan berbahasa ini juga diharapkan dapat memberikan masukan khususnya bagi seseorang dalam berkomunikasi untuk menghindari penggunaan bahasa yang kurang santun. Demikian pula, penelitian ini akan memberikan masukan kepada para praktisi dalam bidang agama terutama bagi seluruh pemeluk agama, untuk mempertimbangkan dalam adanya ketidaksantunan berbahasa komunikasi yang harus dihindari. 1.5 Batasan Istilah a. Ketidaksantunan berbahasa Penggunaan bahasa penutur yang dianggap tidak berkenan oleh mitra tutur. b. Linguistik Ilmu tentang bahasa; telaah bahasa secara ilmiah (Depdiknas, 2008:832). c. Pragmatik Studi perihal ilmu bahasa yang mempelajari relasi-relasi antara bahasa dengan konteks tuturannya (Levinson 1983 dalam Rahardi, 2003:13-14).

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 d. Ketidaksantunan linguistik Ketidaksantunan berbahasa yang dikaji dari aspek-aspek linguistik suatu tuturan. e. Ketidaksantunan pragmatik Ketidaksantunan berbahasa yang dikaji dari konteks situasi yang menyertai suatu tuturan. f. Ranah Lingkungan yg memungkinkan terjadinya percakapan, merupakan kombinasi antara partisipan, topik, dan tempat misal keluarga, pendidikan, tempat kerja, keagamaan, dan sebagainya (Depdiknas 2008:1139). g. Agama Ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia dengan lingkungannya (Depdiknas, 2008:15) h. Buddha Agama yg diajarkan oleh Sidharta Gautama (Depdiknas, 2008:170) 1.6 Sistematika Penyajian Penelitian ini terdiri dari lima bab. Bab I adalah bab pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penelitian. Bab II berisi landasan teori yang akan

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 digunakan untuk menganalisis masalah-masalah yang akan diteliti, yaitu tentang ketidaksantunan berbahasa. Teori-teori yang dikemukakan dalam bab II ini adalah teori tentang (1) penelitian-penelitian yang relevan, (2) fenomena pragmatik, (3) teori pragmatik, (4) teori ketidaksantunan, (5) teori mengenai konteks, (6) unsur segmental, dan (7) unsur suprasegmental. Bab III berisi metode penelitian yang memuat tentang cara dan prosedur yang akan digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data. Dalam bab III akan diuraikan (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) metode dan teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) metode dan teknik analisis data, dan (6) sajian hasil analisis data. Bab IV berisi tentang (1) deskripsi data, (2) analisis data, dan (3) pembahasan hasil penelitian. Bab V berisi tentang kesimpulan penelitian dan saran untuk penelitian selanjutnya berkaitan dengan penelitian ketidaksantunan berbahasa.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini memamparkan penelitian yang relevan, landasan teori, dan kerangka berpikir. Penelitian yang relevan meliputi tinjauan terhadap topiktopik sejenis yang dilakukan oleh peneliti-peneliti lain. Landasan teori meliputi tentang teori-teori yang digunakan sebagai landasan analisis dari penelitian ini yang terdiri atas teori pragmatik, fenomena pragmatik, teori ketidaksantunan, konteks, unsur segmental, dan unsur suprasegmental. Kerangka pikir meliputi acuan teori yang digunakan dalam penelitian ini atas dasar penelitian terdahulu dan teori terdahulu yang relevan yang akan digunakan untuk menjawab rumusan masalah. 2.1 Penelitian Yang Relevan Penelitian yang relevan mengenai ketidaksantunan berbahasa di Indonesia masih jarang ditemukan oleh peneliti. Pengkajian ketidaksantunan merupakan pengkajian topik baru yang belum pernah dijabarkan secara terstruktur dan terperinci oleh para peneliti bahasa. Pada era ini, para peneliti bahasa banyak yang mengkaji mengenai penelitian kesantunan bahasa dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini akan menimbulkan suatu ketimpangan konsep, jika antara kesantunan dan ketidaksantunan tidak ditelaah secara seimbang. Berkenaan mengenai hal tersebut, peneliti menggunakan beberapa 13

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 penelitian sebelumnya yang mengkaji tentang ketidaksantunan berbahasa sebagai penelitian yang relevan. Terdapat empat penelitian terdahulu yang relevan dengan topik kesantunan berbahasa. Keempat penelitian itu adalah penelitian Agustina Galuh Eka Noviyanti (2013), Ceacilia Petra Gading May Widyawari (2013), Valentina Tris Marwanti (2013) dan Katarina Yulita Simanulang (2013). Penelitian yang dilakukan oleh Agustina Galuh Eka Noviyanti (2013) mengambil judul “Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif komunikatif. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode simak dan metode cakap dengan teknik sadap dan teknik pancing, dengan instrumen berupa pedoman atau paduaan wawancara, pancingan dan daftar kasus. Data yang akan dianalisis menggunakan metode kontekstual. Hasil dari penelitian memaparkan beberapa hal, Pertama, wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa tuturan lisan antarsiswa yang telah ditranskripsi, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik berupa uraian konteks yang melingkupi setiap tuturan. Kedua, penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa (1) nada, (2) tekanan, (3) intonasi, dan (4) pilihan kata (diksi). Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan. Konteks tersebut meliputi (1) penutur dan mitra tutur, (2) situasi dan suasana, (3) tindak verbal, dan (4) tindak perlokusi. Ketiga, makna penanda ketidaksantunan dari masing-masing jenis ketidaksantunan meliputi (1) makna

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 penanda ketidaksantunan melecehkan muka adalah penutur menyindir, menghina, dan mengejek mitra tutur sehingga dapat melukai hati mitra tutur, (2) makna penanda ketidaksantunan memainkan muka adalah penutur membuat kesal dan jengkel mitra tutur dengan tingkah laku penutur yang tidak seperti biasanya, (3) makna penanda ketidaksantunan kesembronoan yang disengaja adalah penutur bermaksud untuk bercanda sehingga membuat mitra tutur terhibur, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa candaannya tersebut dapat menimbulkan konflik, (4) makna penanda ketidaksantunan menghilangkan muka adalah penutur membuat mitra tutur benar-benar malu di hadapan banyak orang, dan (5) makna penanda ketidaksantunan mengancam muka adalah penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur yang menyebabkan mitra tutur terpojok dan tidak memberikan pilihan bagi mitra tutur. Penelitian yang dilakukan oleh Caecilia Petra Gading May Widyawari (2013) dengan mengambil judul penelitian “Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009—2011 Universitas Sanata Dharma”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dalam metode pengumpulan data, penelitian ini mengunakan 2 metode. Pertama, metode simak digunakan dengan teknik dasar yang digunakan adalah teknik sadap dan teknik lanjutannya berupa teknik simak libat cakap dan teknik cakap. Kedua, metode cakap dengan mempergunakan teknik dasar berupa teknik pancing dan dua teknik lanjutan berupa teknik cakap semuka dan tansemuka. Hasil penelitian ini hampir sama

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 dengan penelitian yang dilakukan oleh Agustina Galuh Eka (2013), yakni terdapat tiga hasil penelitian ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa PBSID Angkatan 2009—2011 di Universitas Sanata Dharma. Pertama, dari aspek wujud ketidaksantunan linguistik dapat dilihat melalui tuturan antarmahasiswa yang terdiri dari melecehkan muka, sembrono, mengancam muka dan menghilangkan muka. Pada aspek wujud ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks (penutur, mitra tutur, situasi, suasana, tindak verbal, tindak perlokusi dan tujuan tutur). Kedua, penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks tuturan yang berupa penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tindak verbal, tindak perlokusi, dan tujuan tutur. Ketiga, makna ketidaksantunan berbahasa yaitu: (1) melecehkan muka, ejekan penutur kepada mitra tutur dan dapat melukai hati, (2) memain-mainkan muka, membingungkan mitra tutur dan itu menjengkelkan, (3) kesembronoan, bercanda yang menyebabkan konflik, (4) menghilangkan muka, mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang, dan (5) mengancam muka, menyebabkan ancaman pada mitra tutur. Penelitian yang dilaksanakan oleh Valentina Tris Marwani (2013) dengan judul “Ketidaksantunan Lingusitik dan Pragmatik dalam Ranah Keluarga di Lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta.” Penelitian ini merupakan penelitian dekriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan wujud ketidaksantunan, penanda ketidaksantunan, dan maksud tuturan tidak santun

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 yang disampaikan oleh penutur. Data penelitian ini diambil dari berbagai macam cuplikan tuturan yang semuanya diambil secara natural dalam praktikpraktik perbincangan dalam ranah keluarga. Metode pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik dasar berupa teknik rekam dan teknik catat, serta metode cakap dengan teknik dasar berupa teknik pancing. Hasil penelitian ini adalah pertama, wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan tidak santun yang termasuk dalam (1) kategori melanggar norma dengan subkategori subkategori menjanjikan, menolak, dan kesal; (2) kategori mengancam muka sepihak dengan subkategori menyindir, memerintah, menjanjikan, kesal, dan mengejek; (3) kategori melecehkan muka dengan subkategori kesal, memerintah, menyindir, mengejek, dan mengancam; (4) kategori menghilangkan muka dengan subkategori menyindir, mengejek, menyalahkan, dan memerintah; dan (5) kategori menimbulkan konflik dengan subkategori melarang, mengancam, memerintah, mengejek, menolak, dan kesal, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik diketahui berdasarkan cara penyampaian penutur yang menyebabkan suatu tuturan menjadi tidak santun. Kedua, penanda ketidaksantunan linguistik diketahui dari diksi, kata fatis, nada, tekanan, dan intonasi, sedangkan penanda ketidaksantunan pragmatik didasarkan pada uraian konteks yang berupa, penutur dan mitra tutur, situasi saat bertutur, tujuan tutur, waktu dan tempat ketika bertutur, serta tindak verbal dan tindak perlokusi yang menyertai tuturan tersebut. Ketiga, maksud tuturan tidak santun yang disampaikan oleh penutur, yaitu menolak, memprotes, bercanda, memberikan pengertian, memohon, ketidaksenangan, menyindir,

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengejek, kesal, meminta tolong, menegur, memerintah, 18 melarang, menyalahkan, membandingkan, meremehkan, dan menakut-nakuti. Penelitian berkenaan dengan ketidaksatunan berbahasa berikutnya dilakukan oleh Katarina Yulita Simanulang (2013) dengan judul “Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam Ranah Keluarga Pedagang yang Berdagang di Pasar Besar Beringharjo, Yogyakarta”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah keluarga pedagang yang berdagang di Pasar Besar Beringharjo Yogyakarta dengan data berupa tuturan lisan yang tidak santun. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara (daftar pertanyaan,pancingan, dan daftar kasus) dan blangko pengamatan. Metode pengumpulan data yakni, pertama metode simak dengan teknik catat dan rekam dan kedua metode cakap yang disejajarkan dengan metode wawancara yang dilaksanakan dengan teknik pancing. Hasil penelitian ini adalah (1) wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan tidak santun antar anggota keluarga pedagang yang terbagi dalam kategori melanggar norma (subkategori menolak dan menentang), mengancam muka sepihak (subkategori kesal, memerintah, menyindir, memperingatkan, dan mengancam), melecehkan muka (subkategori kesal, menyindir, mengejek, menentang, menolak, dan memperingatkan), menghilangkan muka (subkategori mengejek, memperingatkan, menyindir, kesal, dan meremehkan), dan menimbulkan konflik (subkategori mengancam, mengejek, memperingatkan, dan kesal); wujud ketidaksantunan pragmatik berupa cara penyampaian penutur yang mengikuti setiap tuturan lisan tidak

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 santun, (2) penanda ketidaksantunan linguistik berupa penggunaan diksi, kata fatis, nada, tekanan, dan intonasi; penanda ketidaksantunan pragmatik berupa konteks yang menyertai setiap tuturan, serta (3) maksud ketidaksantunan penutur dalam kategori melanggar norma adalah menunda, protes, dan kesal; mengancam muka sepihak bermaksud kesal, protes, mengusir, basa-basi, memperingatkan, dan bercanda; melecehkan muka bermaksud memerintah, mengelak, kesal, mengomentari, menakut-nakuti, mengejek, basa-basi, menyindir, memperingatkan, dan melarang; menghilangkan muka bermaksud menanggapi, bercanda, melarang, memperingatkan, menyindir, basa-basi, mengomentari, mengusir, kesal, dan protes; serta menimbulkan konflik maksudnya menakut-nakuti, mengejek, protes, melarang, memperingatkan, dan kesal. Keempat penelitian di atas merupakan penelitian yang menelaah mengenai kajian pengunaan ketidaksantunan berbahasa di mana ranah yang diteliti adalah ranah pendidikan. Dalam hasil penelitian tersebut ditemukan pula bentuk penyimpangan kesantunan berbahasa. Hal itulah yang menjadi dasar pijakan dalam mengkaji fenomena ketidaksantunan berbahasa khususnya dalam ranah agama yang selama ini. 2.2 Pragmatik Bahasa merupakan alat utama dalam komunikasi dan memiliki daya ekspresi dan dan informatif yang besar. Bahasa sangat dibutuhkan oleh manusia karena dengan bahasa manusia bisa menemukan kebutuhan mereka

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 dengan cara berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Komunikasi tidak lepas dari suasana maupun konteks. Untuk mengkaji mengenai hal tersebut salah satu caranya adalah melalui sudut pandang pragmatik. Pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari tentang penggunaan bahasa dan selalu terikat dengan konteks (siapa yang diajak berbicara, kapan, di mana, apa, dan dalam keadaan yang bagaimana). Pragmatik umum senntiasa mengupas hal-hal yang bersifat lokal dan situasional serta dapat diatur dalam sosiopragmatik (sociopragmatics). Sosiopragmatik memiliki kesamaan dengan istilah ketepatan isi (appropriateness in meaning), yaitu sejauh mana fungsi komunikasi tertentu, sikap dan gagasan dianggap tepat sesuai dengan situasi yang berlaku. Hal ini berhubungan erat dengan aspek sosiologi. Hal ini dilakukan dalam rangka membangun prinsip-prinsip kerja sama dan sopan santun dalam proses komunikasi, sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai secara efektif dan menghindari kesalahpahaman antara penutur dan lawan tutur. Levinson (1983:21-24) menjelaskan kurang lebih tujuh pengertian pragmatik, antara lain “pragmatics is the study of the relation between language and context that are basic to an account of language understanding”. Pengertian ini menunjukkan bahwa untuk memahami makna bahasa orang seorang penutur dituntut untuk tidak saja mengetahui makna kata dan hubungan gramatikal antar kata tersebut, tetapi juga menarik kesimpulan yang akan menghubungkan apa yang dikatakan dengan apa yang diasumsikan, atau apa yang telah dikatakan sebelumnya. Selanjutnya Levinson (1983)

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 menjabarkan “pragmatics is the study of the ability of language users to pair sentences with the contexts in which they would be appropriate”. Pengertian ini lebih menekankan pada pentingnya kesesuaian antara kalimat-kalimat yang diujarkan oleh pengguna bahasa dengan konteks tuturannya. Yule (2006:3) menelaah tentang 4 definsi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara, (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang mengkaji tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan daripada yang dituturkan, dan (4) bidang yang mengkaji tentang ungkapan dari jarak hubungan. Berdasarkan beberapa ahli di atas, disimpulkan bahwa pragmatik merupakan ilmu kebahasaan yan menelaah maksud sebuah penggunaan bahasa yang didasari oleh keterikatan sebuah konteks. 2.3 Objek Kajian Pragmatik Pragmatik membagi objek kajian ke dalam lima fenomena, yakni praanggapan, tindak tutur, implikatur, deiksis dan kesantunan. Kelima fenomena itu akan dijelaskan sebagai berikut. 2.3.1 Praanggapan Seseorang berkomunikasi memiliki suatu gagasan yang akan dituturkan kepada mitra tutur. Hal tersebut diasumsikan bahwa mitra tutur telah mengetahui sesuatu yang telah dituturkan oleh penutur. Karena informasi telah mendapat anggapan untuk diketahui, maka informasinya biasanya tidak

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 dinyatakan dan dan akibatnya akan menjadi bagian dari apa yang disampaikan tetapi tidak dikatakan. Hal ini didukung oleh pendapat Harimurti (2001:176), yang menyatakan bahwa praanggapan atau presuposisi merupakan syarat yang yang diperlukan bagi benar tidaknya suatu kalimat. Yule (2006:46) membagikan presupposisi menjadi enam jenis, yakni presupposisi eksistensial, presupposisi faktif, presupposisi nonfaktif, presupposisi leksikal, presupposisi struktural, presupposisi faktual tandingan. Presuposisi juga lekat dibicarakan dengan entailment. Entailment merupakan makna yang timbul sebagai akibat yang ada dalam suatu bentuk Harimurti (2001:163), dengan kata lain entailment merupakan penanda dengan penekanan untuk mengintegrasikan secara logis dan tegas suatu tuturan. Jadi, praanggapan atau presuposisi merupakan sesuatu yang dianggap (oleh penutur) sudah diketahui oleh lawan tutur. 2.3.2 Tindak Tutur Tindak tutur merupakan kegiatan bertutur atau mengucapkan sesuatu. Secara khusus, tuturan-tuturan tidak semata-mata hendak mengomunikasikan suatu informasi tetapi meminta suatu tindakan atau perbuatan. Searle melalui buku yang berjudul Speech Acts An Essay in The Philosophy of Language (dalam Wijana, 2011:21) memaparkan bahwa terdapat tiga efek tindak tuturan, yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (ilocutinary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act). Jadi, tindak tutur merupakan suatu ujaran

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 yang mengandung tindakan sebagai suatu fungsional dalam komunikasi yang mempertimbangkan aspek situasi tutur. Searle (1983, dalam Rahardi: Ibid dan Rahardi: 2005:36-37) menbagi tindak tutur menjadi lima bentuk tuturan, yakni: 1. Asertif (assertive) atau representatif, yaitu bentuk tuturan yang mengikat penutur pada kebenaran presposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan (statting), menyarankan (susgeting), membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming). 2. Direktif (direcitives) yakni bentuk tuturan yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitar tutur melakukan tindakan, misalnya memesan (ordering), memerintah (commanding), memohon (requesting), menasehati (advising), dan merekomendasi (recommending). 3. Ekspresif (expressive) yakni bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya berterima kasih (thinking), memberi selamat (congratulating), meminta maaf (paroning), menyalahkan (blaming), memuji (praisting), dan berbelasungkawa (condoling). 4. Komisif (commissives) yaitu bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji (promosing), bersumpah (vowing), dan menawarkan sesuatu (offering). 5. Deklarasi (declarations) yaitu bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataannya, (dismissing), membaptis misalnya berpasrah (christening), (resigning), memberi nama memecat (naming),

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengangkat (appointing), mengucilkan (excommuningcating), 24 dan menghukum (sentencing). 2.3.3 Implikatur Implikatur menerangkan apa yang dimaksudkan penutur, berbeda dengan apa yang dikatakan sebenarnya oleh penutur. Dalam rangka memahami apa yang dimaksudkan oleh penutur lawan tutur harus selalu melakukan interpretasi pada tuturan-tuturannya (Nadar, 2009:60). Pemahaman terhadap implikatur percakapan tidak lepas dari asas kerja sama (cooperative principle) (Grice dalam Yule, 1996:31-32). Grice via Yule (1996) menjabarkan prinsip kerja sama tersebut ke dalam empat maksim percakapan, yakni pertama, maksim kuantitas. Maksim kuantitas menjelaskan mengenai percakapan yang singkat tetapi maknanya padat, tepat dan tidak berbelit-belit. Kedua, maksim kualitas yang menjelaskan mengenai percakapan yang sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi. Ketiga, maksim relevansi merupakan suatu hubungan antara penutur dan mitra tutur yang terjalin secara baik dan membicarakan sesuai permasalahan. Terakhir adalah maksim cara yakni antara penutur dan mitra tutur menghindari tuturan yang tidak jelas, ketakburan ujaran, ketaksaan dan menungkapkan tuturan secara sistematis. Grice membagi implikatur menjadi dua, yakni conventional implikatur (implikatur konvensional), dan (conversation implikatur) implikatur percakapan. Dalam implikatur konvensional, maksud diperoleh langsung dari makna kata dan bukan dari prinsip percakapan. Implikatur ini bersifat secara

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 umum dan konvensial. Berbeda dengan implikatur percakapan, yakni implikatur memiliki variasi karena makna dan pengertian yang dimaksudkan bergantung pada konteks pembicaraan. Implikatur percakapan terjadi karena adanya kenyataan bahwa sebuah ujaran yang mempunyai implikasi berupa proposisi yang sebenarnya bukan bagian dari tuturan tersebut dan tidak pula merupakan konsekuensi yang harus ada dari tuturan itu. Yule (2006:69–80) membedakan implikatur menjadi lima macam: 1. Implikatur percakapan Penutur yang menyampaikan makna lewat implikatur dan pendengarlah yang mengenali makna-makna yang disampaikan lewat inferensi. Kesimpulan yang sudah dipilih ialah kesimpulan yang mempertahankan asumsi kerja sama. 2. Implikatur percakapan umum Jika pengetahuan khusus tidak dipersyaratkan untuk memperhitungkan makna tambahan yang disampaikan, hal ini disebut implikatur percakapan umum. 3. Implikatur berskala Informasi tertentu yang selalu disampaikan dengan memilih sebuah kata yang menyatakan suatu nilai dari suatu skala nilai. Ini secara khusus tampak jelas dalam istilah-istilah untuk mengungkapkan kuantitas, seperti yang ditunjukkan dalam skala (semua, sebagian besar, banyak, beberapa, sedikit) dan (selalu, sering, kadang-kadang), di mana istilah-istilah itu didaftar dari skala nilai tertinggi ke nilai terendah. Dasar implikatur berskala adalah

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 bahwa semua bentuk negatif dari skala yang lebih tinggi dilibatkan apabila bentuk apapun dalam skala itu dinyatakan. 4. Implikatur percakapan khusus Percakapan sering terjadi dalam konteks yang sangat khusus di mana kita mengasumsikan informasi yang kita ketahui secara lokal. Inferensi-inferensi yang sedemikian dipersyaratkan untuk menentukan maksud yang disampaikan menghasilkan amplikatur percakapan khusus. 5. Implikatur konvensional Kebalikan dari seluruh implikatur percakapan yang dibahas sejauh ini, implikatur konvensional tidak didasarkan pada prinsip kerja sama atau maksim-maksim. Implikatur konvensional tidak harus terjadi dalam percakapan, dan tidak bergantung pada konteks khusus untuk menginterpretasikannya. Seperti halnya presupposisi leksikal, implikatur konvensional diasosiasikan dengan kata-kata khusus dan menghasilkan maksud tambahan yang disampaikan apabila kata-kata tersebut digunakan. Kata yang memiliki implikatur konvensional adalah kata ‘bahkan’ dan ‘tetapi’. 2.3.4 Deiksis Deiksis adalah gejala semantik yang terdapat pada kata atau konstruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan mempertimbangkan konteks pembicaraan. Deiksis didefinisikan sebagai ungkapan yang terikat dengan konteksnya. Deiksis juga mengacu pada perbedaan antara ungkapan-ungkapan deiksis ‘dekat penutur (proksimal)’ dan ‘jauh dari penutur (distal)’. Ungkapan

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 yang termasuk dalam deiksis dekat penutur (proksimal) adalah di sini, ini, sekarang, sedangkan deiksis jauh dari penutur (distal) menggunakan ungkapan itu, di sana, pada saat itu. Istilah-istilah proksimal biasanya ditafsirkan sebagai istilah ‘tempat pembicara’, atau ‘pusat deiksis’, sehingga ‘di sini’ umumnya dipahami sebagai acuan terhadap titik atau keadaan pada saat tuturan penutur terjadi di tempatnya. Sementara itu, untuk istilah distal yang menunjukkan ‘jauh dari penutur’, tetapi dapat juga digunakan untuk membedakan antara ‘dekat dengan lawan tutur’ dan ‘jauh dari penutur maupun lawan tutur’ (Yule, 2006:14). Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Deiksis terbagi lima macam yakni deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana, dan deiksis sosial. Hal tersebut akan dipaparkan sebagai berikut : 1. Deiksis Persona, yakni menentukan suatu ujaran yang dipengaruhi oleh peran peserta dalam peristiwa berbahasa. Peran peserta berbahasa terbagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 28 Deiksis Tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia- membedakan antara “yang dekat kepada pembicara” (di sini) dan “yang bukan dekat kepada pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan, 1987: 41). 3. Deiksis Waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. Deiksis waktu juga ditujukan pada partisipan dalam wacana. Dalam banyak bahasa, deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk “kala” (Inggris: tense) (Nababan, 1987: 41). 4. Deiksis Wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan, 1987: 42). Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini, itu, yang terdahulu, yang berikut, yang pertama disebut, begitulah, dan sebagainya. 5. Deiksis Sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan, 1987: 42). 2.3.5 Kesantunan Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut “tata krama”. Kesantunan tercermin antara kesantunan berperilaku dan kesantunan berbahasa. Kesantunan berperilaku merupakan tata cara bertindak atau gerakgerik ketika menghadapi sesuatu atau dalam situasi tertentu. Kesantunan berbahasa dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Bahasa merupakan cermin kepribadian seseorang, yang berarti bahasa (yang digunakan) seseorang atau suatu bangsa dapat diketahui kepribadiaannya (Pranowo, 2009:3). Pranowo (2009:3) menjelaskan bahasa verbal adalah bahasa yang diungkapkan dengan kata-kata dalam bentuk ujaran atau tulisan, sedangkan bahasa nonverbal adalah bahasa yang diungkapkan dalam bentuk mimik, gerak gerik tubuh, sikap atau perilaku. Pemakaian bahasa verbal lebih mudah untuk dilihat atau diamati. Di samping itu terdapat pula bahasa nonverbal yang mendukung pengungkapan kepribadian seseorang, yakni berupa mimik, gerakgerik tubuh, sikap, atau perilaku.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Struktur bahasa yang santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh penutur/penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca (Pranowo, 2009:4). Ketika berkomunikasi, penggunaan bahasa dengan baik dan benar saja belum cukup. Agar dapat membentuk perilaku seseorang menjadi lebih baik hendaknya juga menerapkan penggunaan bahasa yang santun. Pemakaian bahasa seseorang berbeda-beda, dalam masyarakat masih terdapat penggunaan bahasa yang santun maupun tidak santun. Pada kenyataannya, penggunaan bahasa yang tidak santun lebih banyak terjadi dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Pranowo (2009:51) memaparkan beberapa alasan yang mendasari hal tersebut, antara lain (a) tidak semua orang memahami kaidah kesantunan, (b) ada yang memahami kaidah tetapi tidak mahir menggunakan kaidah kesantunan, (c) ada yang mahir menggunakan kaidah kesantunan dalam berbahasa, tetapi tidak mengetahui bahwa yang digunakan adalah kaidah kesantunan, dan (d) tidak memahami kaidah kesantunan dan tidak mahir berbahasa secara santun. Maka dari itu, agar terwujudnya dominasi penggunaan bahasa santun daripada bahasa yang tidak santun perlu melakukan hal berikut (a) kaidah kesantunan berbahasa sudah dideskripsikan dengan baik, (b) kaidah yang sudah dideskripsikan tersebut kemudian disosialisasikan kepada masyarakat, (c) pimbinaan terus menerus melalui berbagai jalur (sekolah, kantor, lembaga-lembaga lain yang menjadi tempat berkumpulnya orang banyak), (d) pengawasan yang sifatnya

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 “sapa senyum” agar masyarakat semakin sadar untuk menggunakan bahasa yang santun terus menerus (Pranowo, 2009:52). Pemakaian bahasa, baik santun maupun tidak dapat dilihat dari dua hal, yaitu pilihan kata (diksi) dan gaya bahasa. Pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian kata untuk mengefektifkan pesan dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pada mitra tutur. Gaya bahasa digunakan untuk memperindah tuturan dan kehalusan budi pekerti penutur. Beberapa gaya bahasa yang dapat digunakan untuk melihat santun tidaknya pemakaian bahasa dalam bertutur, antara lain: majas hiperbola, majas perumpamaan, majas metafora, dan majas eufemisme. Selain hal tersebut, Pranowo (2009:76–79) menjelaskan adanya dua aspek penentu kesantunan, yaitu aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi aspek intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), aspek nada bicara (berkaitan dengan suasana emosi penutur: nada resmi, nada bercanda atau bergurau, nada mengejek, nada menyindir), faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat. Aspek nonkebahasaan berupa pranata sosial budaya masyarakat (misalnya aturan anak kecil yang harus selalu hormat kepada orang yang lebih tua, dan sebagainya), pranata adat (seperti jarak bicara antara penutur dengan mitra tutur, gaya bicara, dan sebagainya). Melihat fenomena-fenomena kebahasaan yang terjadi dalam masyarakat, beberapa ahli mengidentifikasikan indikator kesantunan berbahasa. Indikator adalah penanda yang dapat dijadikan penentu apakah pemakaian bahasa seseorang dapat dikatakan santun atau tidak. Dell Hymes (1978) dalam

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Pranowo (2009:100–101) menyatakan bahwa ketika seseorang berkomunikasi hendaknya memerhatikan beberapa komponen tutur yang meliputi latar, peserta, tujuan komunikasi, pesan yang ingin disampaikan, bagaimana pesan itu disampaikan, segala ilustrasi yang ada di sekitar peristiwa penutur, pranata sosial kemasyarakatan, dan ragam bahasa yang digunakan. Grice (2000) dalam Pranowo (2009:102) lebih menekankan tata cara ketika berkomunikasi. Selanjutnya Leech (1983) via Pranowo (2009:102–103), memaparkan prisnsip kesantunannya sebagai indikator kesantunan berbahasa, yakni: maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim kerendahan hati, maksim kesetujuan, maksim simpati, dan maksim pertimbangan. Pranowo (2009:103– 105) juga mengemukakan indikator kesantunan berupa nilai-nilai luhur yang mendukung kesantunan, yaitu sikap rendah hati. Sikap rendah hati seseorang dapat tumbuh dan berkembang jika seseorang mampu memanifestasikan nilainilai lain, seperti tenggang rasa (angon rasa, adu rasa), angon wayah, mau berkorban, mawas diri, empan papan, dan sebagainya. 2.3.6 Ketidaksantunan Ketidaksantunan berbahasa ini muncul dengan melihat realita di masyarakat dalam menggunakan bahasa atau berkomunikasi. Penggunaan bahasa yang santun dalam berkomunikasi masih jauh dari yang diharapkan. Ketidaksantunan berbahasa merupakan bentuk yang menunjuk pada perilaku kebahasaan yang tidak baik, kasar, dan melanggar tata krama. Selain kelima fenomena di atas, muncul fenomena baru yang belum banyak dikaji oleh para ahli linguistik dan pragmatik, fenomena tersebut merupakan

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 ketidaksantunan berbahasa. Pranowo (2009:68-71) memaparkan gejala penutur yang bertutur secara tidak santun, yaitu penutur menyampaikan kritik secara langsung (menohok mitra tutur) dengan kata atau frasa kasar, penutur didorong rasa emosi yang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan marah kepada mitra tutur, penutur kadang-kadang protektif terhadap pendapatnya (hal demikian dimaksudkan agar tuturan mitra tutur tidak dipercaya oleh pihak lain), penutur sengaja ingin memojokkan mitra tutur dalam bertutur, penutur terkesan menyampaikan kecurigaan terhadap mitra tutur. Atas dasar identifikasi di atas, Pranowo (2009:72-73) menyebutkan empat faktor yang menyebabkan ketidaksantunan pemakaian bahasa. Pertama, ada orang yang memang tidak tahu kaidah kesantunan yang harus dipakai ketika berbicara. Kedua, faktor pemerolehan kesantunan. Ketiga, ada orang yang sulit meninggalkan kebiasaan lama dalam budaya bahasa pertama sehingga masih terbawa dalam kebiasaan baru (interferensi bahasa Indonesia). Keempat, karena sifat bawaan “gawan bayi” memang suka berbicara tidak santun di hadapan mitra tutur. 2.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa Ketidaksantunan berbahasa merupakan suatu tindakan moralitas yang bertolak belakang dengan kesantunan berbahasa. Kesantunan mendasari perilaku sopan santun dan mampu bertata krama secara baik. Sebaliknya, ketidaksantunan menunjuk pada perilaku yang bertentangan pada norma kesantunan yang melekat pada masyarakat. Hal ini juga ditelaah oleh beberapa ahli, yakni dalam buku Impoliteness in Language: Studies on its Interplay with

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Power in Teory and Practice yang disusun oleh Bousfield dan Locher (2008) dan telah dibahasakan oleh Rahardi (2012). 2.4.1 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher Miriam A. Locher (2008) via Rahardi (2012) mempunyai gagasan bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut, ‘Impoliteness is behaviour that is face-aggravating in a particular context.’ Pernyataan menurut Locher tersebut menjelaskan bahwa ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate). Perilaku melecehkan muka itu sesungguhnya lebih dari sekadar ‘mengancam’ muka (face-threaten), seperti yang ditawarkan dalam banyak definisi kesantunan klasik Leech (1983), Brown and Levinson (1987), atau sebelumnya pada tahun 1978, yang cenderung dipengaruhi konsep muka Erving Goffman (cf. Rahardi, 2009). Interpretasi lain yang berkaitan dengan definisi Locher terhadap ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku ‘melecehkan muka’, melainkan perilaku yang ‘memain-mainkan muka’. Jadi, ketidaksantunan berbahasa dalam pemahaman Miriam A. Locher adalah sebagai tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan muka, sebagaimana yang dilambangkan dengan kata ‘aggravate’ itu. Berikut ini disampaikan ketidaksantunan menurut Locher. contoh tuturan yang mengandung

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Latar belakang situasi: Terdapat kedua anak kost yang tidur satu kamar. Mereka merupakan teman yang beragama berbeda Wujud tuturan Ambar : “ Ling, aku nyalain dupa itu buat ngusir nyamuk ya?” Lingling : “Halah gak usah, baunya gak enak, Mbar. Kamu nih kayak mau cari pesugihan aja!” Berdasarkan contoh tersebut dapat dilihat Lingling melecehkan muka Ambar. Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa Lingling bermaksud untuk mengejek Ambar sebagai temannya. Hal tersebut terlihat dari tuturan Lingling ‘mau cari pesugihan aja’ kalimat tersebut menandakan bahwa terdapat tuturan yang tidak santun, walaupun penyampaian tuturan tersebut disampaikan dengan nada guyonan, tetapi tuturan tersebut seharusnya tidak disampaikan karena akan menyinggung perasaan mitra tutur. Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher ini menfokuskan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud untuk melecehkan dan menghina mitra tuturnya. 2.4.2 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield Bousfield (2008) via Rahardi (2012), ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, ‘The issuing of intentionally gratuitous and conflictive facethreatening acts (FTAs) that are purposefully perfomed.’ Bousfield memberikan penekanan pada dimensi ‘kesembronoan’ (gratuitous), dan

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu. Jadi apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan. Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang mengandung ketidaksantunan menurut Bousfield. Latar belakang situasi: Bapak dan Ibu sedang melakukan perjalanan ke luar kota dengan mobil dan sedang berhenti di suatu perempatan lampu merah Wujud tuturan : Pengamen Bapak Ibu Bapak : “Permisi, Pak, Numpang ngamen” (sambil menyanyikan lagu dengan suara fals) : (Memberikan sejumlah uang koin) : “Masih muda kok udah minta-minta, mana suaranya fals lagi” : Bu, Kalo ngomong mbok yang santun ! Gak enak kalo didenger sama pengamen itu. Berdasarkan contoh tersebut dapat dilihat bahwa Ibu menyampaikan tuturan secara ‘sembrono’, hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan ‘konflik’. Hal tersebut terlihat dari tuturan Ibu “Masih muda kok udah minta-minta, mana suaranya fals lagi”, kalimat tersebut menandakan bahwa terdapat tuturan yang tidak santun, walaupun disampaikan bukan dengan maksud yang negatif, tetapi tuturan tersebut seharusnya tidak disampaikan karena jelas disampaikan secara sembrono dan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 mungkin akan menimbulkan konflik. Kemungkinan timbulnya konflik telihat dalam tuturan yang dilontarkan oleh Bapak “Bu, Kalo ngomong mbok yang santun ! Gak enak kalo didenger sama pengamen itu”. Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield (2008) ini lebih menfokuskan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud mengancam muka yang dilakukan secara sembrono dan dapat memungkinkan terjadinya konflik antara penutur dan mitra tutur. 2.4.3 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper Pemahaman Culpeper (2008) via Rahardi (2012) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah ‘Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.’ Dia memberikan penekanan pada fakta ‘face loss’ atau ‘kehilangan muka’, kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu dekat dengan konsep ‘kelangan rai’ (kehilangan muka). Jadi ketidaksantunan dalam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benarbenar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut ‘merasa’ kehilangan muka.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang 38 mengandung ketidaksantunan menurut Culpeper. Latar belakang situasi: Siang hari ketika ada suatu pengajian di rumah seorang Ulama. Wujud tuturan : Om Sandi : “Dek, Mbok ikut pengajian sana !” Jarot : Ah nanti aja, aku juga gak begitu lancar ngaji Om Om Sandi : “Wuu, anak haji kok gak bisa baca Arab!” Jarot ; (Wajahnya merah) Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa Jarot merasa ‘kehilangan muka’ akibat tuturan yang dikeluarkan oleh Om Sandi. Tuturan yang disampaikan Om Sandi yaitu “Wuu, anak haji kok gak bisa baca Arab!” sebenarnya merupakan suatu candaan atau bisa juga berupa sindiran. Candaan atau sindiran tersebut kurang pantas, karena tuturan itu disampaikan tanpa memperhatikan konteks situasinya. Dalam hal ini tuturan tersebut dapat dikatakan sebagai tuturan yang tidak santun. Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper ini lebih menfokuskan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud untuk mempermalukan mitra tuturnya. 2.4.4 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi Terkourafi (2008) via Rahardi (2012) memandang ketidaksantunan sebagai, ‘impoliteness occurs when the expression used is not conventionalized

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 relative to the context of occurrence; it threatens the addressee’s face but no face-threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.’ Jadi perilaku berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya. Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang mengandung ketidaksantunan menurut Terkourafi. Latar belakang situasi : Sekumpulan remaja mudika seusai diadakan misa di suatu Gereja. Wujud tuturan : Bonar Galang Bonar : “Aku pulang dulu ya, temen-temen” : “Wuuu. Mbok pulangnya dari tadi kenapa pulang baru aja sekarang, Hahahaha” : (Terus melakukan keinginannya untuk pulang dari gereja) Berdasarkan tuturan di atas menunjukkan bahwa Bonar berpamitan pulang terlebih dahulu saat sedang berlangsungnya perbincangan para mudika seusai misa. Dari tuturan yang dihasilkan oleh Galang dan teman lainnya menunjukkan bahwa dia merasakan ancaman terhadap kehilangan muka, hal ini terlihat dalam tuturan “Wuuu. Mbok pulangnya dari tadi kenapa pulang baru aja sekarang, Hahahaha”. Kakak tidak merasakan ancaman muka yang dilakukan oleh Galang yang bertutur “Wuuu. Mbok pulangnya dari tadi kenapa pulang baru aja sekarang, Hahahaha”, hal ini terlihat bahwa Bonar

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 tidak merespon ancaman muka yang dilontarkan kepadanya, bahkan Bonar tidak menghiraukannya. Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa menurut pandangan Terkourafi (2008) lebih menfokuskan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan penutur yang membuat mitra tutur merasa mendapat ancaman terhadap kehilangan muka, tetapi penutur tidak menyadari bahwa tuturannya telah memberikan ancaman muka mitra tuturnya. 2.4.5 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts Locher and Watts (2008) via Rahardi (2012) berpandangan bahwa perilaku tidak santun adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif (negatively marked behavior), lantaran melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Para ahli tersebut juga menegaskan bahwa ketidaksantunan merupakan peranti untuk menegosiasikan hubungan antar sesama (a means to negotiate meaning). Selengkapnya pandangan mereka tentang ketidaksantunan tampak berikut ini, ‘…impolite behaviour and faceaggravating behaviour more generally is as much as this negation as polite versions of behavior.’ (cf. Lohcer and Watts, 2008:5).

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang 41 mengandung ketidaksantunan menurut Locher and Watts. Latar belakang situasi : Sekumpulan remaja masjid yang sedang berbincang di serambi Masjid Wujud tuturan : Darto dan kawannya (mereka sedang berbincang dengan seru mengenai final bola di Liga Champion). Hj. Solihawah Darto Hj. Solihawah : “Mas-masnya semua mbok yo dihargai ada orang di dalam sedang pada dzikir, malah ribut-ribut gak jelas” : (kaget) “ Owh menganggu ya Bu, tapi kan kami ngobrolnya di serambi Masjid kan?” : “Gimana sih kalian semua. Sudah sana pada ambil air wudhu setelah itu sholat terawih berjamaah” Tindakan yang dilakukan oleh Darto dan teman-temannya merupakan tindakan yang tidak santun yakni melanggar norma-norma sosial dalam masyarakat sehingga membuat Hj. Solihawah marah. Percakapan di atas dapat diketahui bahwa Darto dan teman-temannya sebenarnya tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang tidak santun dengan melanggar normanorma sosial yang berada dalam masyarakat. Selain itu, Darto menanggapi hal tersebut dengan tuturan yang bernada tanpa rasa bersalah. Hal ini terlihat dari tuturan yang dihasilkan oleh Darto “ Owh menganggu ya Bu, tapi kan kami ngobrolnya di serambi Masjid kan?”. Tuturan tersebut merupakan tuturan yang tidak sopan karena telah mengacuhkan dan melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa 42 teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts (2008) ini lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif dianggap negatif, karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu). Sebagai rangkuman dari teori yang telah dikemukakan di atas, dapat ditegaskan bahwa, (1) dalam pandangan Miriam A. Locher, ketidaksantunan berbahasa adalah tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan muka mitra tutur atau bisa dikatakan menyinggung perasaan mitra tutur. (2) Ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield adalah perilaku berbahasa yang mengancam muka dilakukan secara sembrono, hingga mendatangkan konflik. (3) Ketidaksantunan menurut pandangan Culpeper adalah perilaku berbahasa untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka, atau setidaknya orang tersebut ‘merasa’ kehilangan muka. (4) ketidaksantunan berbahasa menurut pandangan Terkourafi adalah perilaku berbahasa yang bilamana mitra tutur merasakan ancaman terhadap kehilangan muka, dan penutur tidak mendapat maksud ancaman muka tersebut dari mitra tutur. (5) Ketidaksantunan menurut pandangan Locher and Watts adalah perilaku berbahasa yang secara normatif dianggap negatif, karena melanggar normanorma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Kelima teori ketidaksantunan tersebut akan digunakan sebagai landasan untuk melihat kenyataan berbahasa yang tidak santun dalam ranah agama, khususnya agama Budha di Kotamadya Yogyakarta.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.5 43 Konteks Kajian pragmatik tidak lepas dari konteks situasi dan lingkungan sosial tertentu untuk menyampaikan makna tertentu dari penutur ke mitra tutur. Levison (1983:21-24 via Nugroho 2009;199), “Pragmatics is the study of the ability of language users to pair sentences with the contexts in which they would be appropriate”. Pengertian kedua dari tujuh tinjauan prgmatik ini lebih menekankan pada pentingnya kesesuaian antara kalimat-kalimat yang diujarkan oleh pengguna bahasa dengan konteks tuturannya. (Rahardi 2003:8) memaparkan bahwa konteks situasi tuturan yang dimaksud menunjuk pada aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan yang muncul dan dimiliki bersama-sama baik oleh si penutur maupun oleh mitra tutur, serta aspek-aspek non-kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadahi, serta melatarbelakangi hadirnya sebuah tuturan. Sejalan mengenai apa yang dipaparkan oleh Malinowsky (1923), Verschueren (1998) dalam Rahardi (2012) mengatakan bahwa ‘utterer’ (penutur) dan ‘interpreter’ (mitra tutur) menjadi titik utama dalam pragmatik. Verschueren (1998:76) via Rahardi (2012) menyebutkan empat dimensi konteks yang sangat mendasar dalam memahami makna sebuah tuturan. Pertama adalah ‘The utterer’ dan ‘The interpreter’ adalah dimensi yang paling signifikan dalam pragmatik. Jadi, penutur dan mitra tutur menjadi titik fokus dalam pragmatik. Penutur atau utterer memiliki banyak suara (many voice) atau memiliki banyak kemungkinan kata, sedangkan mitra tutur atau interpreter memiliki banyak peran. Bahkan seorang penutur atau utterer ada

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 kalanya berperan sebagai mitra tutur atau interpreter. Jadi, selain penutur berperan sebagai penutur atau pembicara, tetapi juga sekaligus sebagai pengintepretasi atas apa yang sedang diucapkannya. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam kaitan dengan penutur dan mitra tutur selain apa yang telah dipaparkan sebelumnya adalah jenis kelamin, adat-kebiasaan, dan semacamnya. Hal tersebut adalah mengenai ‘the influence of numbers’ alias ‘pengaruh dari jumlah’ orang yang hadir dalam sebuah pertutursapaan. Jadi, memang akan menjadi sangat berbeda makna kebahasaan yang muncul bilamana sebuah pertutursapaan dihadiri orang dalam jumlah banyak, dan bilamana hanya dihadiri dua pihak saja, yakni penutur (utterer) dan mitra tutur (interpreter). Seorang penutur tunggal akan sedikit banyak memiliki beban psikologis jika berhadapan dengan publik yang jumlahnya tidak sedikit. Sebaliknya, apabila mitra tutur hanya berjumlah satu, sedangkan penutur jumlahnya jauh lebih banyak, mitra tutur itu akan cenderung menginterpretasi dengan hasil yang berbeda daripada juka penutur itu hanya satu orang saja jumlahnya. Jadi, kehadiran penutur yang banyak, cenderung akan mempengaruhi proses interpretasi makna oleh mitra tutur. Demikian juga sebaliknya, jika jumlah penutur itu banyak, interpretasi kebahasaan yang akan dilakukan mitra tutur pasti sedikit banyak terpengaruh. Dimensi kedua yang dipaparkan oleh Verschueren (1998) adalah mengenai aspek-aspek mental ‘language users’ (pengguna bahasa). Language users sesungguhnya dapat menunjuk dua pihak, yakni utterer (penutur) dan interpreter (mitra tutur). Selain hadirnya pihak ke-1 dan pihak ke-2 dalam

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 suatu pertuturan, kadang hadir juga pihak-pihak lain yang perlu sekali dicermati peran dan pengaruhnya terhadap bentuk kebahasaan yang muncul. Kehadiran mereka semua dalam pertutursapaan, akan berpengaruh besar pada dimensi ‘mental’ penutur atau ‘the utterer’. Dengan kata lain harus juga dinyatakan bahwa dimensi-dimensi mental ‘language users’ dalam peristiwa pertuturan itu berubah. Jadi jelas sekali, bahwa dimensi-dimensi mental penutur dan mitra tutur benar-benar sangat penting dalam kerangka perbincangan konteks pragmatik itu. Sehubungan dengan konteks pragmatik, aspek kepribadian atau ‘personality’ dari penutur dan mitra tutur, ‘utterer’ dan ‘interpreter’, ternyata mengambil peranan yang sangat dominan. Aspek lain yang harus diperhatikan dalam kaitan dengan komponen penutur dan mitra tutur ini adalah aspek warna emosinya (emotions). Selain dimensi ‘personality’ dan ‘emotions’, terdapat pula dimensi ‘desires’ atau ‘wishes’, dimensi ‘motivations’ atau ‘intentions’, serta dimensi kepercayaan atau ‘beliefs’ yang juga harus diperhatikan dalam kerangka perbicangan konteks pragmatik ini. Dimensi-dimensi mental ‘language users’ yang telah disebutkan sebelumnya, semuanya berpengaruh besar terhadap dimensi kognisi dan emosi penutur dan mitra tutur dalam pertuturan sebenarnya. Dimensi yang ketiga adalah aspek-aspek sosial ‘language users’ adalah dimensi-dimensi yang berkaitan dengan keberadaannya sebagai warga masyarakat dan kultur atau budaya tertentu. Kajian pragmatik sama sekali tidak dapat lepas dari fakta-fakta sosial-kultural. Aspek-aspek sosial, atau dapat pula diistilahkan sebagai ‘social setting’ alias setting sosial atau oleh Verschueren

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 (1998) disebut ‘ingredient of the communicative context’ harus diperhatikan dengan benar-benar baik dalam analisis pragmatik. Aspek kultur juga merupakan satu hal yang sangat penting sebagai penentu makna dalam pragmatik, khususnya yang berkaitan dengan aspek ‘norms and values of culture’ dari masyarakat bersangkutan. Dimensi keempat atau yang terakhir dijelaskan oleh Verschueren (1998) adalah mengenai aspek-aspek fisik ‘language users’. Fenomena deiksis (deixis phenomenon), baik yang berciri persona (personal deixis), deiksis perilaku (attitudinal deixis), deiksis waktu (temporal deixis), maupun deiksis tempat (spatial deixis) menjadi dimensi-dimensi fisik yang menarik perhatian para pakar linguistik dan pragmatik. Verschueren (1998) telah menegaskan, ‘…phenomena have exerted a strong fascination on linguists, from long before ‘pragmatics’ became a common notion’, yang artinya bahwa fenomena deiksis telah menjadi perhatian linguis, bahkan sejak jauh sebelum pragmatik terlahir. Deiksis persona, lazimnya menunjuk pada penggunaan kata ganti orang, misalnya penggunaan kata ‘saya’, ‘kami’, ‘kita’, dan sebagainya. Selanjutnya masih berkaitan dengan persoalan deiksis, tetapi yang sifatnya temporal, misalnya saja kapan harus digunakan ucapan ‘selamat pagi’ atau ‘pagi’ saja dalam bahasa Indonesia. Dalam konteks waktu pula, kapan orang harus berhati-hati, kapan harus menggunakan ‘event time’ seperti ‘pada Senin’ atau ‘pada 2012’, kapan harus menggunakan ‘time of utterence’ seperti ‘kemarin’, ‘sekarang’, ‘besok’, dan kapan pula harus menggunakan ‘reference time’ seperti pada ‘ketika, pada saat, manakala’ dan seterusnya. Aspek-aspek fisik

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 konteks lain di luar apa yang disebutkan di depan itu adalah ihwal jarak spasial atau ‘space distance’. Ketika orang sedang bertutur sapa, jarak spasial yang demikian ini sangat menentukan maksud, juga persepsi terhadap makna yang disampaikan oleh ‘interpreter’. Leech (1983) via Rahardi (2012) menggunakan istilah ‘speech situations’ atau situasi tutur dalam pemahamannya tentang konteks. Sehubungan dengan bermacam-macamnya maksud yang dikomunikasikan oleh penuturan sebuah tuturan, Leech (1983) dalam Wijana (1996:10−13) mengemukakan sejumlah aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka studi pragmatik. Aspek-aspek itu adalah sebagai berikut. 1) Penutur dan lawan tutur Konsep penutur dan lawan tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulisan. Aspekaspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya. 2) Konteks tuturan Konteks tuturan penelitian linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau setting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan. Konteks yang bersifat fisik lazim disebut koteks (cotext), sedangkan konteks setting sosial disebut konteks. Di dalam pragmatik konteks itu pada hakikatnya adalah semua latar belakang pengetahuan (back ground knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 3) Tujuan penutur Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Atau sebaliknya, berbagai macam maksud dapat diutarakan dengan tuturan yang sama. Di dalam pragmatik, berbicara merupakan aktivitas yang berorientasi pada tujuan (goal oriented activities). Ada perbedaan yang mendasar antara pandangan pragmatik yang bersifat fungsional dengan pandangan gramatika yang bersifat formal. Di dalam pandangan yang bersifat formal, setiap bentuk lingual yang berbeda tentu memiliki makna yang berbeda. 4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas Bila gramatika menangani unsur-unsur kebahasaan sebagai entitas yang abstrak, seperti kalimat dalam studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik, dan sebagainya, pragmatik berhubungan dengan tindak verbal (verbal act) yang terjadi dalam situasi tertentu. Dalam hubungan ini, pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret dibanding dengan tata bahasa. Tuturan sebagai entitas yang konkret jelas penutur dan lawan tuturnya, serta waktu dan tempat pengutaraannya.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 5) Tuturan sebagai produk tindak verbal Tuturan yang digunakan di dalam rangka pragmatik, seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur. Oleh karenanya, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Sebagai contoh, kalimat Apakah rambutmu tidak terlalu panjang? Dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan atau perintah. Dalam hubungan ini, dapat ditegaskan ada perbedaan yang mendasar antara kalimat (sentence) dengan tuturan (utturance). Kalimat adalah entitas gramatikal sebagai hasil kebahasaan yang diidentifikasikan lewat penggunaannya dalam situasi tertentu. Levinson (1983:22−23) via Nugroho (2009:119) menjelaskan bahwa untuk mengetahui konteks, seseorang harus membedakan antara situasi aktual sebuah tuturan dalam semua keserbaragaman ciri-ciri tuturan mereka, dan pemilihan ciri-ciri tuturan tersebut secara budaya dan linguistis yang berhubungan dengan produksi dan penafsiran tuturan. Hymes melalui (Nugroho, 2009:119) mengatakan bahwa konteks terdiri dari latar fisik dan latar psikologis (setting dan scene), peserta tutur (participants), tujuan tutur (ends), urutan tindak (acts), nada tutur (keys), saluran tutur (instruments), norma tutur (norms), dan jenis tutur (genres). Berdasarkan penjelasan tersebut, dimasukkannya konteks dalam memahami dan menghasilkan ujaran dimaksudkan untuk membangun prinsip-prinsip kerjasama dan sopan santun dalam proses komunikasi, sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai secara efektif. Konteks itu sendiri terkait erat dengan

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 budaya, yang berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Secara terperinci kehadiran konteks berhubungan dengan produksi dan penafsiran dari tuturan. 2.6 Unsur Segmental Unsur segmental merupakan unsur yang berkenaan dengan wujud tuturan. Unsur ini terdapat hanya pada bahasa tulisan, tidak pada bahasa lisan. Unsur segmental meliputi dari diksi, dan kategori fatis yang terdapat dalam tuturan. Berikut merupakan pemaparan dari setiap unsur tersebut. 2.6.1 Diksi Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya bahasa mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Keraf (1986:24) mendefinisikan pilihan kata atau diksi sebagai kemampuan membedakan secara tepat bentuk-bentuk makna dari gagasan yang disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sebaliknya, yang dimaksud dengan perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa. Penggunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok, yaitu pertama, ketepatan

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 pemilihan kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan, hal atau barang yang akan diamanatkan, dan kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata tadi. Keraf (1986:87−101) menjelaskan bahwa, pendayagunaan kata pada dasarnya dibagi menjadi dua persoalan pokok, yakni pertama, ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis dan pembicara. Beberapa butir perhatian dan persoalan berikut hendaknya diperhatikan setiap orang agar bisa mencapai ketepatan pilihan kata itu. Berikut persyaratan ketepatan diksi. 1. Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi. Dari dua kata yang mempunyai makna yang mirip satu sama lain, harus menetapkan mana yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan. Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan disebut denotasi, sedangkan makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu, nilai rasa tertentu di samping arti yang umum, dinamakan konotasi 2. Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim. Kata-kata yang bersinonim tidak selalu memiliki distribusi yang saling melengkapi. Sebab itu, penulis atau pembicara harus berhati-hati memilih kata dari sekian sinonim yang ada untuk menyampaikan apa yang diinginkannya, sehingga tidak timbul interpretasi yang berlainan

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. 52 Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya. Bila penulis atau penutur tidak mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya itu, maka akan membawa akibat yang tidak diinginkan, yaitu salah paham. 4. Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat. Perkembangan bahasa pertama-tama tampak dari pertambahan jumlah kata baru. Hal itu tidak berarti bahwa setiap orang boleh menciptakan kata baru seenaknya. Kata baru biasanya muncul untuk pertama kali karena dipakai oleh orang-orang terkenal atau pengarang terkenal. Bila anggota masyarakat lainnya menerima kata itu, maka kata itu lama-kelamaan akan menjadi milik masyarakat. Neologisme atau kata baru atau penggunaan sebuah kata lama dengan makna dan fungsi yang baru termasuk dalam kelompok ini. 5. Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata-kata asing yang mengandung akhiran asing tersebut. 6. Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis. 7. Untuk menjamin ketepatan diksi, penulis atau pembicara harus membedakan kata umum dan kata khusus. Kata khusus lebih tepat menggambarkan sesuatu daripada kata umum. Dengan demikian, semakin khusus sebuah kata atau istilah, semakin dekat dengan titik persamaan atau pertemuan yang dapat dicapai antara penulis dan pembaca. Sebaliknya, semakin umum sebuah istilah, semakin jauh pula titik pertemuan antara

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 penulis dan pembaca. Sebuah istilah atau kata yang umum dapat mencakup sejumlah istilah yang khusus. 8. Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus. Suatu jenis pengkhususan dalam memilih kata-kata yang tepat adalah penggunaan istilah-istilah yang menyatakan pengalaman- pengalaman yang diserap oleh pancaindria (serapan indria pengelihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Karena kata-kata indria melukiskan suatu sifat yang khas dari penserapan pancaindria, maka pemakaiannya pun harus tepat. 9. Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal. Kenyataan yang dihadapi oleh setiap pemakai bahasa adalah bahwa makna kata tidak selalu bersifat statis. Dari waktu ke waktu, makna kata-kata dapat mengalami perubahan sehingga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru pemakain yang terlalu bersifat konservatif. Sebab itu, untuk menjaga agar pilihan kata selalu tepat, maka setiap penutur bahasa harus selalu memperhatikan perubahan-perubahan makna yang terjadi. Perubahan-perubahan makna yang penting diketahui oleh pemakai bahasa adalah perluasan arti, penyempitan arti, ameliorasi, peyorasi, metafora, dan metonimi. 10. Memperhatikan kelangsungan pilihan kata. Kalangsungan pilihan kata adalah teknik memilih kata yang sedemikian rupa, sehingga maksud atau pikiran seseorang dapat disampaikan secara tepat dan ekonomis. Kelangsungan dapat terganggu bila seorang pembicara atau pengarang

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 mempergunakan terlalu banyak kata untuk suatu maksud yang dapat diungkapkan secara singkat, atau mempergunakan kata-kata yang kabur, yang bisa menimbulkan ambiguitas (makna ganda). Persoalan kedua dalam penggunaan kata-kata adalah kecocokan atau kesesuaian. Terdapat beberapa hal yang perlu diketahui setiap penulis atau pembicara, agar kata-kata yang dipergunakan tidak akan mengganggu suasana, dan tidak akan menimbulkan ketegangan antara penulis atau pembicara dengan para hadirin atau para pembaca. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut (Keraf, 1986:102−111). 1. Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi yang formal. Bahasa substandar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya bahasa ini hanya digunakan untuk pergaulan biasa, tidak dipakai pada tulisan-tulisan, bersenda-gurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Dengan demikian, dalam suasana formal, harus dipergunakan unsur-unsur bahasa standar, harus dijaga agar unsur-unsur nonstandar tidak boleh menyelinap ke dalam tutur seseorang. 2. Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata populer. Kata-kata populer adalah kata-kata yang dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Kata-kata ilmiah adalah kata-kata yg

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 biasa dipakai oleh kaum terpelajar, dalam pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus, teristimewa dalam diskusi ilmiah. 3. Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum. Jargon merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum. 4. Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang. Kata-kata slang adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau murni. Kata slang adalah kata nonstandar yang informal, yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer; atau katakata kiasan yang khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadangkala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadangkala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. 5. Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan. Kata percakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang-orang yang terdidik. Kata-kata percakapan mencakup kata-kata populer, kata-kata idiomatis, kata-kata ilmiah, dan kata-kata yang tidak umum (slang) yang biasa dipakai oleh golongan terpelajar saja. 6. Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati). Idiom adalah pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna katakata yang membentuknya.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. 56 Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial. Bahasa artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannya untuk menyatakan suatu maksud. Bahasa standar dan bahasa nonstandar digunakan dalam pemilihan kata, penulis atau pembicara harus dapat membedakan kedua bentuk bahasa tersebut. Keraf (1986:104) memaparkan pengertian bahasa standar dan bahasa nonstandar tersebut. Bahasa standar adalah semacam dialek kelas dan dapat dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Secara kasar kelas ini dianggap sebagai kelas terpelajar. Kelas ini meliputi pejabat-pejabat pemerintah, ahli-ahli bahasa, ahli-ahli hukum, dokter, pedagang, guru, penulis, penerbit, seniman, insinyur, serta semua ahli lainnya, bersama keluarganya. Bahasa nonstandar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalam tulisan-tulisan. Kadang-kadang unsur nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersendagurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Bahasa nonstandar dapat juga berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah bahasa standar tadi.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 2.6.2 Kategori Fatis Dalam Kridalaksana (1986:111) mendefinisikan kategori fatis sebagai kategori yang bertugas melalui, mempertahankan, atau mengkukuhkan pembicaraan antara pembicara dan lawan bicara. Sebagian besar kategori fatis ada dan digunakan pada ragam bahasa lisan. Ragam bahasa lisan pada umumnya merupakan bahasa non-standar, maka kebanyakan kategori fatis terdapat dalam kalimat-kalimat non-standar yang masih kental akan unsur daerah atau dialek regional. Berikut adalah bentuk-bentuk dari kata fatis (Kridalaksana, 1986:113–116). 1. ah menekankan rasa penolakan atau acuh tak acuh. 2. ayo menekankan ajakan. 3. deh menekankan pemksaan dengan membujuk, pemberian persetujuan, pemberian garansi, sekedar penekanan. 4. dong digunakan untuk menghaluskan perintah, menekankan kesalahan kawan bicara. 5. ding menekankan pengakuan kesalahan pembicara. 6. halo digunakan untuk memulai dan mengukuhkan pembicaraan di telepon, serta menyalami kawan bicara yang dianggap akrab. 7. kan apabila terletak pada akhir kalimat atau awal kalimat, maka kan merupakan kependekan dari kata bukan atau bukanlah, dan tugasnya ialah menekankan pembuktian. Apabila kan terletak di tengah kalimat maka kan juga bersifat menekankan pembuktian atau bantahan.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. 58 kek mempunyai tugas menekankan pemerincian, menekankan perintah, dan menggantikan kata saja. 9. kok menekankan alasan dan pengingkaran. Kok dapat juga bertugas sebagai pengganti kata tanya mengapa atau kenapa bila diletakkan di awal kalimat. 10. -lah menekankan kalimat imperatif dan penguat sebutan dalam kalimat. 11. lho bila terletak di awal kalimat bersifat seperti interjeksi yang menyatakan kekagetan. Bila terletak di tengah atau di akhir kalimat, maka lho bertugas menekankan kepastian. 12. mari menekankan ajakan. 13. nah selalu terletak pada awal kalimat dan bertugas untuk minta supaya kawan bicara mengalihkan perhatian ke hal lain. 14. pun selalu terletak pada ujung konstituen pertama kalimat dan bertugas menonjolkan bagian tersebut. 15. selamat diucapkan kepada kawan bicara yang mendapatkan atau mengalami sesuatu yang baik. 16. sih memiliki tugas menggantikan tugas –tah dan –kah, sebagai makna ‘memang’ atau ‘sebenarnya’, dan menekankan alasan. 17. toh bertugas menguatkan maksud; adakalanya memiliki arti yang sama dengan tetapi. 18. ya bertugas mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan kawan bicara, bila dipakai pada awal ujaran dan meminta persetujuan atau pendapat kawan bicara bila dipakai pada akhir ujaran.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 19. yah digunakan pada awal atau di tengah-tengah ujaran, tetapi tidak pernah pada akhir ujaran, untuk mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan oleh kawan bicara atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya, bila dipakai pada awal ujaran; atau keragu-raguan atau ketidakpastian atas isi konstituen ujaran yang mendahuluinya, bila di tengah ujaran. 2.7 Unsur Suprasegmental Bahasa tulisan, tanda baca memiliki peranan penting. Bahasa lisan tidak akan didapati tanda baca tersebut. Inilah peranan unsur suprasegmental. Unsur suprasegmental hanya akan didapati pada bahasa lisan, unsur ini adalah tekanan, intonasi, nada, jeda. Berikut akan dipaparkan unsur-unsur suprasegmental tersebut. 2.7.1 Tekanan Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak. Tekanan ini mungkin terjadi secara sporadis, mungkin juga telah berpola, mungkin juga bersifat distingtif, dapat membedakan makna, mungkin juga tidak distingtif (Achmad & Alek, 2013:33−34).

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 2.7.2 Intonasi Intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat. Bahkan, dengan dasar kajian pola-pola intonasi ini, kalimat bahasa Indonesia dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun. Kalimat tanya (interogatif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun. Kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar-tinggi (Muslich, 2009:115−117). Keraf (1991:208) menambahkan kalimat seru ke dalam kalimat bahasa Indonesia. Kalimat seru adalah kalimat yang menyatakan perasaan hati, atau keheranan terhadap suatu hal. Kalimat seru ditandai dengan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi. 2.7.3 Nada Dalam penuturan bahasa Indonesia, tinggi-rendahnya (nada) suara tidak fungsional atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan makna, nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Sebaliknya, ketidakfonemisan ini tidak berarti nada tidak ada dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara ketika bunyi itu diucapkan. Makin tegang pita suara, yang disebabkan oleh arus udara dari paru-paru, makin tinggi pula nada bunyi tersebut. Begitu juga posisi pita suara. Pita suara yang bergetar lebih cepat akan menentukan tinggi nada suara ketika berfonasi (Muslich, 2009:112).

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah. Achmad & Alek (2013:33−34) membedakan empat macam nada, yaitu: 1) Nada yang paling tinggi, diberi tanda dengan angka 4 2) Nada tinggi, diberi tanda dengan angka 3 3) Nada sedang atau biasa, diberi tanda dengan angka 2 4) Nada rendah, diberi tanda dengan angka 1 2.8 Maksud Tuturan Ilmu pragmatik sesungguhnya mengkaji maksud penutur di dalam konteks situasi dan sosial budaya tertentu. Karena yang dikaji dalam ilmu pragmatik adalah maksud penutur dalam menyampaikan tuturannya, maka dapat dikatakan pragmatik ilmu yang sejajar dengan semantik (Rahardi, 2003:16-17). Semantik yang mengkaji makna bahasa, tetapi makna bahasa yang dikaji secara internal. Jadi sesungguhnya perbedaan yang mendasar antar keduanya adalah pragmatik mengkaji makna satuan lingual tertentu secara eksternal, semantik mengkaji makna satuan lingual tersebut secara internal. Unsur ini ada dalam bahasa, makna berbeda dengan maksud. Maksud adalah elemen di luar bahasa yang bersumber dari pembicara. Maksud bersifat subyektif.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Maksud dilihat dari segi si pengujar, orang yang berbicara, atau pihak subjeknya. Penutur mengujarkan suatu ujaran yang berupa kalimat maupun frasa, tetapi maksudnya tidak sama dengan makna ujaran itu sendiri. Maksud banyak digunakan dalam bentuk-bentuk ujaran yang berbagai bentuk-bentuk gaya bahasa. “Selama masih menyangkut segi bahasa, maka maksud itu masih dapat disebut sebagai persoalan bahasa. Ketika sudah terlalu jauh dan tidak berkaitan lagi dengan bahasa, maka tidak dapat lagi disebut sebagai persoalan bahasa” (Chaer, 1995:36). Jadi, setiap kata yang digunakan pasti mengandung maksud, asal saja lambang-lambang yang digunakan masih berbentuk lingual.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.9 63 Kerangka Berpikir FENOMENA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA DI RANAH AGAMA BUDHA DI WILAYAH KOTAMADYA YOGYAKARTA TEORI KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA LOCHER (2008) BOUSFIELD (2008) TERKOURAFI (2008) LOCHER AND WATTS (2008) CULPEPER (2008) METODE PENELITIAN DESKRIPTIF KUALITATIF METODE PENGUMPULAN DATA: METODE SIMAK DAN METODE CAKAP METODE DAN TEKNIK ANALISIS DATA: KONTEKSTUAL HASIL PENELITIAN WUJUD LINGUISTIS DAN PRAGMATIS BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI WILAYAH KOTAMADYA YOGYAKARTA PENANDA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI WILAYAH KOTAMADYA YOGYAKARTA MAKSUD KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI WILAYAH KOTAMADYA YOGYAKARTA Ketidaksantunan dalam berbahasa dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Penelitian ini memiliki kerangka berpikir sebagai berikut, langkah pertama dilakukan adalah pengambilan data atau tuturan yang tidak

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 santun yang digunakan oleh pemuka agama dan umatnya dalam ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Langkah kedua, penggolongan tuturan yang tidak santun ke dalam teoriteori ketidaksantunan berbahasa. Terdapat lima teori ketidaksantunan berbahasa yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama, teori ketidaksantunan menurut Miriam A Locher (2008), yakni tindak berbahasa yang melecehkan (face-aggravate) dan memain-mainkan muka. Kedua, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Bousfield (2008), yakni apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman tersebut dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian mendatangkan konflik (conflictive), atau bahkan pertengakaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful). Ketiga, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Culpeper (2008), yakni perilaku komunikasi yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benarbenar kehilangan muka (face lose), atau setidaknya orang tersebut merasa kehilangan muka. Keempat, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Terkourafi (2008), yakni apabila ketidaksantunan tuturan penutur yang membuat mitra tutur merasa mendapat ancaman (addressee) terhadap kehilangan muka, tetapi penutur tidak menyadari bahwa tuturannnya telah memberikan ancaman muka mitra tuturnya. Kelima, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Locher and Watts, yakni lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 dianggap negatif, karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu). Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan fenomena ketidaksantunan berbahasa dalam ranah agama, khususnya agama Budha di Kota Yogyakarta. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Artinya, penelitian ini bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian (perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan sebagainya), secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2007:6). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode cakap. Peneliti mengumpulkan tuturan ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta dalam berbagai situasi yang terjadi di dalam keluarga tersebut. Tuturan ini diperoleh dengan memerantikan metode simak, yakni menyimak pertutuan langsung maupun tidak langsung di dalam ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Teknik yang digunakan dalam penerapan metode simak ini adalah teknik catat dan teknik rekam, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan secara terbuka maupun tersembunyi. Metode cakap adalah metode penyediaan data yang dilakukan dengan cara mengadakan percakapan. Teknik yang digunakan dalam menerapkan metode cakap ini adalah teknik pancing. Teknik pancing merupakan teknik dasar yang digunakan dalam metode cakap, karena dimungkinkan muncul jika peneliti

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 memberi stimulus (pancingan) pada informan untuk memunculkan gejala kebahasaan yang diharapkan oleh peneliti (Mahsun, 2007:95). Metode dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini secara kontekstual, yakni dengan memerantikan dimensi-dimensi konteks dalam menginterpretasi data yang telah berhasil diidentifikasi, diklasifikasi, dan ditipifikasikan. Konteks yang diperantikan adalah metode analisis kontekstual, yang artinya adalah cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan dan mengaitkan konteks (cf. Rahardi, 2004; Rahardi, 2006 dalam Rahardi, 2009:36). Hasil penelitian ini berupa wujud-wujud atau bentuk ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, dan maksud ketidaksantunan penutur dalam ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisi uraian tentang jenis penelitian, subjek penelitian, metode dan teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, metode dan teknik analisis data, serta sajian hasil analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal-hal lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian (Arikunto, 2010:3). Penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu (Zuriah 2006:47). Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data (Narbuko dan Achmadi 2007:44). Penelitian ini mendeskripsikan fenomena kebahasaan yang berkaitan dengan seluk-beluk ketidaksantunan berbahasa dalam ranah agama, khususnya agama Budha, di Kota Yogyakarta. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Moleong (2007:6) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan 67

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 bahasa, pada konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Pernyataan itu juga didukung dengan pernyataan (Denzin dan Lincoln 1994) via (Suwandi dan Basrowi 2008:20) Qualitative research is many thing to many people. Jadi penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan berdasarkan pradigma dan strategi, dan implementasi model secara kualitatif. 3.2 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah umat beragama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Agama Budha merupakan salah satu dari agama yang dianut oleh penduduk di Indonesia. Kotamadya Yogyakarta adalah suatu pengantian kota di provinsi Yogyakarta dengan tingkat kotamadya. 3.3 Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Lofland dan Lofland (1984:47) via Basrowi dan Suwandi (2008:169). Sumber data penelitian ini berasal dari berbagai macam cuplikan tuturan yang semuanya diambil secara natural dalam praktik-praktik perbincangan dalam kegiatan kerohanian seperti, dakwah ataupun khobah dalam ranah agama, khususnya umat beragama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Sumber data penelitian ketidaksantunan berbahasa ini juga dapat berupa rekaman hasil simakan tuturan antara pemuka agama maupun umat agama Budha yang

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 diperoleh baik secara terbuka maupun tersembunyi, sehingga diharapkan data penelitian yang diperoleh dari sumber termaksud bersifat natural, andal, dan terpercaya. Wujud data penelitian ini berupa bermacam-macam wujud tuturan yang diperoleh secara natural dalam ranah agama, khususnya agama Budha yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk kebahasaan yang secara linguistik maupun nonlinguistik mengandung maksud yang tidak santun. Objek sasaran penelitian dan konteksnya berupa bentuk-bentuk kebahasaan yang bermakna tidak santun baik secara linguistik maupun nonlinguistik tersebut merupakan objek sasaran penelitiannya dan sisa bentuk kebahasaan yang ada merupakan konteksnya. Data dari penelitian ini berupa gabungan keduanya, yakni objek sasaran penelitian yang berupa bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun bersama entitas kebahasaan yang mengikuti dan mengawalinya 3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang menghasilkan terkumpulnya data merupakan tahapan strategi pertama dalam linguistik menangani bahasa (Sudaryanto, 1988:57). Tujuan dari tahapan ini adalah tertulisnya dan tertatanya data secara sistematis dalam transkripsi tertentu dan pada kartu data tertentu. Penelitian ini menggunakan dua metode, yaitu metode simak dan metode cakap. Peneliti mengumpulkan tuturan umat beragama Budha dalam berbagai situasi yang terjadi dalam kegiatan keagamaan yang dilakukan. Tuturan ini

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 diperoleh dengan memerantikan metode simak, yakni menyimak pertuturan langsung di dalam khotbah yang diberikan dalam ritual keagamaan baik secara langsung maupun tidak langsung, yang dipresumsikan di dalamnya terdapat bentuk-bentuk kebahasaan yang mengandung makna linguistis maupun nonlinguistis. Metode penyediaan data ini diberi nama metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Mahsun, 2007:92). Teknik yang digunakan untuk melaksanakan metode simak ini adalah teknik catat dan teknik rekam baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi. Dari catatan dan rekaman pertuturan itulah tuturan-tuturan kebahasaan yang di dalamnya mengandung wujud ketidaksantunan diperoleh sebagai bahan jadi penelitian ketidaksantunan berbahasa ini. Metode cakap adalah metode penyediaan data yang dilakukan dengan cara mengadakan percakapan. Metode cakap dapat pula disejajarkan dengan metode wawancara (Rahardi, 2009:34). Teknik yang digunakan dalam menerapkan metode cakap adalah teknik pancing. Mahsun (2007:95) mengartikan teknik pancing sebagai teknik dasar dari metode cakap, karena dimungkinkan muncul jika peneliti memberi stimululasi (pancingan) pada informan untuk memunculkan gejala kebahasaan yang diharapkan oleh peneliti. Sejalan dengan Mahsun, Rahardi (2009:34) mengemukakan bahwa teknik pancing merupakan teknik dasar dari metode cakap yang dilakukan dengan cara memancing seseorang atau beberapa orang agar mereka berbicara.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 3.5 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data (Zuriah 2006:168). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ketidaksantunan berbahasa ini adalah pedoman atau panduan wawancara (daftar pertanyaan), pancingan, dan daftar kasus dengan berbekal teori ketidaksantunan berbahasa. Teori-teori tersebut akan digunakan untuk menganalisis bentuk tuturan yang digunakan umat Budha dalam kegiatan kerohanian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ketidaksantunan berbahasa ini adalah pedoman atau panduan wawancara (daftar pertanyaan, pancingan, dan daftar kasus) dengan berbekal teori ketidaksantunan berbahasa. Teori-teori tersebut akan digunakan untuk menganalisis bentuk tuturan yang digunakan umat agama Budha. Data-data yang didapat akan dicatat untuk kemudian dianalisis lebih lanjut selanjutnya. Data-data yang didapat akan dicatat untuk kemudian dianalisis lebih lanjut. Data tersebut akan dimasukkan ke dalam blangko yang telah dipersiapkan seperti di bawah ini: No: Tuturan: Wujud ketidaksantunan: Penanda ketidaksantunan: Maksud tuturan:

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.6 72 Metode dan Teknik Analisis Data Analisis data merupakan upaya yang dilakukan untuk mengklasifikasi atau mengelompokkan data. Analisis data dalam penelitian kualitatif adalah proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat diinterpretasikan temuannya terhadap orang lain (Bogdan & Biklen, 1982 via Zuriah 2006:217). Sugiyono (2012:244) menyimpulkan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Dalam tahap ini, Zuriah (2006:198) analisis data dalam penelitian merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dan memerlukan ketelitian serta kekritisan dari peneliti. Menurut Bogdan dan Taylor (1975) via Suwandi dan Basrowi (2008:91) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. Analisis dilakukan secara kontekstual, yakni dengan memerantikan dimensi-dimensi konteks dalam menginterpretasi data yang telah berhasil diidentifikasi, diklasifikasi, dan diidentifikasikan. Adapun konteks yang

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 diperantikan adalah metode analisis kontekstual, yang artinya adalah cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan dan mengaitkan konteks (cf. Rahardi, 2004; Rahardi, 2006 dalam Rahardi, 2009:36). Secara garis besar metode kontekstual ini sejalan dengan metode padan. Terdapat dua metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini, yakni metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual. 3.6.1 Metode dan Teknik Analisis Data secara Linguistik Metode dalam analisis data secara linguistik menggunakan metode padan intralingual. Metode padan intralingual adalah metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda (Mahsun, 2007:118). Teknik yang digunakan dalam pelaksanaan metode ini adalah teknik dasar teknik hubung banding yang bersifat lingual. 3.6.2 Metode dan Teknik Analisis Data secara Pragmatik Metode dalam analisis data secara pragmatik menggunakan metode padan ekstralingual. Metode padan ekstralingual adalah metode analisis yang digunakan untuk menganalisis unsur yang bersifat ekstralingual, seperti menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang berada di luar bahasa (Mahsun, 2007:120). Teknik yang digunakan dalam pelaksanaan metode ini adalah teknik dasar teknik hubung banding yang bersifat ekstralingual.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Peneliti menganalisis data dalam penelitian ini dengan tahapan sebagai berikut. 1) Peneliti mengumpulkan dan mentranskripsi data (tuturan ketidaksantunan). 2) Peneliti mengelompokkan data ke dalam teori-teori ketidaksantunan berbahasa. 3) Peneliti memasukkan dan mengklasifikasi data ke dalam tabulasi yang berisi tuturan, penanda ketidaksantunan (penanda lingual dan nonlingual), dan presepsi ketidaksantunan. 4) Peneliti menganalisis data yang telah dikelompokkan secara linguistik dan pragmatik dengan mengacu pada tabulasi yang telah disusun. Peneliti mendeskripsikan dan menyimpulkan hasil analisis data dan pembahasan ke dalam teori-teori ketidaksantunan berbahasa dalam bentuk sajian hasil analisis. 3.7 Sajian Hasil Analisis Data Sajian hasil analisis data dalam penelitian ini menggunakan pengolahan data secara pascakerja lapangan. Menurut Bogdan dan Taylor (1992) via Suwandi dan Basrowi (2008:223) proses analisis data adalah teknik-teknik yang dapat digunakan untuk memberikan arti kepada beratus-ratus atau bahkan beribu-ribu, lembar catatan lapangan, transkrip wawancara, dan komentar peneliti. Tujuan akhir analisis data kualitatif adalah untuk memperoleh makna, menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep serta mengembangkan hipotesis atau teori baru. Data yang telah diinterpretasi dalam tahapan analisis

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 data itu kemudian hasilnya disajikan secara tidak formal, dalam arti bahwa hasil analisis data itu dirumuskan dengan kata-kata biasa, bukan dengan simbol-simbol tertentu karena memang hasil penelitian ini tidak menuntut model sajian demikian itu. 3.8 Triangulasi Data Menurut Lexy J. Moleong (1989:195), trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. Dalam penelitian ini, peneliti membuat trianggulasi dengan tujuan untuk melakukan pengecekan terhadap validitas dan keterpercayaan hasil temuan. Trianggulasi dalam penelitian ini meliputi dua hal, yaitu trianggulasi teori dan trianggulasi logis. Trianggulasi teori peneliti gunakan untuk membandingkan beberapa teori ketidaksantunan berbahasa dari beberapa ahli bahasa dengan tujuan untuk melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing. Peneliti juga melakukan trianggulasi logis, yaitu dengan melakukan bimbingan bersama dosen pembimbing yaitu Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. sebagai pembimbing I dan Dr. Yuliana Setiyaningsih sebagai pembimbing II.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini akan memaparkan deskripsi data dan analisis data yang disertai dengan pembahasan. Deskripsi data merupakan sajian data yang diperoleh peneliti dan berupa pengklasifikasikan data secara rinci telah diperoleh dalam penelitian. Analisis data dan pembahasan berupa pengolahan data berdasarkan teori kajian yang berhubungan erat dengan data yang diperoleh dan telah diklasifikasikan. 4.1 Deskripsi Data Data penelitian yang diambil berupa tuturan lisan para umat Budha di kota Yogyakarta pada bulan September 2013 sampai bulan Oktober 2013. Data diambil berdasarkan fenomena kebahasaan yang berwujud tidak santun. Jumlah data yang terkumpul untuk dianalisis adalah 45 tuturan. Jumlah data yang terkumpul diidentifikasi atau dikategorikan menurut kategori ketidaksantunannya. Jumlah data yang terkumpul adalah sebagai berikut. Tabel 1: Jumlah Data Tuturan Berdasarkan Kategori Ketidaksantunan No 1 2 3 4 5 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka Menghilangkan Muka Melanggar Norma Menimbulkan Konflik/ Kesembronoan yang Disengaja Mengancam Muka Sepihak JUMLAH Jumlah Data 24 5 4 2 10 45 Berikut merupakan tuturan tidak santun yang tergolong ke dalam kategori melecehkan muka. Jumlah tuturan yang terkumpul dari kategori 76

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 ketidaksantunan melecehkan muka adalah 22 tuturan. Tuturan melecehkan muka memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat mengarahkan pada rasa sakit hati mitra tutur. Tuturan tersebut menyebabkan rasa tersinggung karena mitra tutur merasa dihina oleh tuturan penutur. Table 2: Data Tuturan Ketidaksantunan Kategori Melecehkan Muka No Tuturan Kode Makna 1 Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu A1 Menegur 2 Wo kowe kie berarti ra positif, mbok yo poso! A21 3 Nuwun sewu, punapa panjenengan badhe nggantosi kulo ceramah wonten mriki? A2 Memperingatkan 4 Sakjane sing leno itu kowe! Kowe sing kurang kontrol ! Apa kowe sing akeh ngutike A3 Menasehati 5 Ssst, omong wae, ngerti gek donga ra,to! Umeryek wae cangkeme! A22 6 Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi A4 7 Kowe kie opo nek sembayang gak iso? A11 8 Yoe melu, emang kowe menyang, nek dong bolong wudele A12 9 Wes jan payah tenan kowe kie, Kuwi lak istilah dasar ning agama dewe. Seko cilik kan wes diajari to, Ehipassiko kuwi ajaran sing mbedake agama Buddha karo agama liyane, yaiku tentang datang, lihat dan buktikan kebenarannya. A23 10 La pekok tenan kok kowe ki! Ngerti acara penting koyo ngene malah gak teko. Duwe agama opo ora he? A24 Mengejek

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Dadi wong Budha kuwi mbok sing laras, ojo sak penake dewe nek ngetoke pendapat A5 12 Jika belajar agama masih ada yang dirahasiakan, bagaimana jika kita berbuat kejahatan?” A6 13 Halah belgedes, ngono kuwi angel lan tergantung tindak tandhuk awake dewe A7 14 Gak iso nafas, Banthe A9 15 Lha mau sukses kok suruh kungkum A8 16 itu pertanyaan mudah, dan bisa dilakukan oleh semua orang, tinggal buka aja ktp anda, gitu aja kok repot A10 17 Ngono, kok arep urip mulya lan arep entuk Dharma, mustahil! A13 18 Mbok gak usah, paling bertanya pada hal yang enggak-enggak, Hahahaha bercanda! Yo entuklah, sini tanya tentang apa A14 19 Mau berbuat baik kok pamrih, Piye? A15 20 Oh ya, Tapi pernahkah anda merasa terpuaskan mengenai semua kebutuhan Anda? Saya yakin anda, pasti tak akan pernah merasa puas, karena saya melihat tingkah anda seperti ini A16 21 Oalah, bocah pengung, Mangsane wong kabeh do neng Vihara malah turu A17 22 Mulane ruangan sing arep dinggo khootbah kae diresiki sek ben mlebu surga, hahaha A18 23 Piye kok malah diem. Jangan sungkan ayo bertanya, lawong bertanya juga gak bayar to? A19 24 Wo jelas, karma kuwi ono merga seko tindaktanduk sing ora jelas lan bertentangan karo A20 Menegaskan Menyindir Memerintah Berprasangka 78

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 ajaran agamane dewe. Hayo kowe bar ngopo kok pitakonmu ra koyo biasane? Berikut merupakan tuturan tidak santun yang dimasukan ke dalam kategori menghilangkan muka. Jumlah tuturan yang terkumpul untuk kategori ketidaksantunan menghilangkan muka adalah 3 tuturan. Tuturan ketidaksantunan kategori menghilangkan muka mempunyai maksud mengenai tuturan yang dapat menimbulkan rasa tersinggung dan membuat mitra tutur merasa benar-benar malu karena tuturan yang dikatakan oleh penutur dihadapan orang banyak. Tabel 3: Data Tuturan Ketidaksantunan Kategori Menghilangkan Muka No Tuturan Kode Makna 1 Heh tak kandani, nek wong Budha kuwi yo nduwe dino bakda bedane nek dino bakda Budha koyo ngene kie malah susah. Kowe ngerti gek repot ngene kie malah senengseneng wae B1 Memperingatkan 2 Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha B2 Mengejek 3 Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh B3 4 Kowe mbok ning wektu ceramah ro Banthe mbok ojo omong dewe. Ribut karepe dewe! Sesuk maneh ojo ngono kuwi! B5 Menasehati 5 Jika Budha adalah agama yang berpandangan pada sikap berpikir bebas. Kok bisa berpikir B6 Membantah

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 bebas dikatakan sebagai agama! Saya masih bingung dengan pemikiran anda yang ambigu Berikut merupakan tuturan tidak santun yang termasuk ke dalam kategori melanggar norma. Jumlah tuturan yang terkumpul untuk kategori melanggar norma adalah 4 tuturan. Tuturan melanggar norma memiliki maksud tuturan yang bersifat normatif dianggap negatif, dikarenakan melanggar norma-norma atau aturan yang berlaku dalam masyarakat. Tabel 4: Data Tuturan Ketidaksantunan Kategori Melanggar Norma No Tuturan Kode Makna 1 Mbok, biar to Buk! Paling Banthe juga gak marahi aku C1 Menegaskan 2 Ngopo kowe telat? Udan po? Telat nemen maneh! C2 Menyinggung 3 Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe C3 Mengejek 4 Iyo Bu, ngandani wong sing dolanan HP kuwi koyo ngandani wong sing tandus akale” C4 Menasehati Berikut adalah tuturan tidak santun yang telah didapatkan dan termasuk dalam kategori menimbulkan konflik/ kesembronoan yang disengaja. Jumlah tuturan yang terkumpul untuk kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik adalah 2 tuturan. Tuturan menimbulkan konflik mempunyai maksud bahwa tuturan tersebut dapat menyebabkan rasa tersinggung mitra tutur, sehingga

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 tuturan tersebut menimbulkan konflik antara penutur dan mitra tutur karena tuturan dikatakan secara sembrono dan disengaja oleh penutur Tabel 5: Data Tuturan Ketidakasantunan Kategori Menimbulkan Konflik/ Kesembronoan yang Disengaja No Tuturan Kode Makna Memerintah 1 Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik. D1 2 Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi! D2 Berikut merupakan tuturan tidak santun yang telah didapatkan dan dikategorikan ke dalam mengancam muka sepihak/ kesembroan yang disengaja. Jumlah tuturan yang terkumpul untuk kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak adalah 8 tuturan. Tuturan mengancam muka sepihak memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat memberikan ancaman pada mitra tutur sehingga mitra tutur merasa malu dan tersinggung. Penutur tidak menyadari bahwa tuturan yang telah dituturkannya membuat mitra tutur mersa tersinggung dan malu. Tabel 6: Data Ketidaksantunan Kategori Mengancam Muka Sepihak No 1 Tuturan Kode Makna Nuwun sewu, Mbak nek omong mbek saya gak opo, tapi nek karo koncomu utowo wong liyo kok koyo kurang pas lan kuwi urung mesti bener E1 Menyindir

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Bapake sing lungguh mburi pisan kae, sajake ngerti opo ora sing mau aku omongno, koyo kok mung clingak-clinguk tanpa sebab E5 3 Kulo gadah cerita mengenai bab bebojoan. Umat kulo duwe bojone niku dikei rejeki pinten mawon mesti kurang, jan mboten nrimo saget syukur babar blas. Bojo njenengan geh ngonten niku, Pak? Santai mawon duwe ingon-ingon koyo ngoten niku disabari mangkih kan mati kiyambak. E9 4 Opo yo sing dipikir ro Banthe-Banthe mau? Koyone urip ning donya kuwi rak muk gagas babar blas, sing dipikir mung mlebu surga wae! E10 5 Karang nek masalah duit ono nek urusan agama dianggep sepele, yo? E2 6 Kowe moco Karaniyametta Sutta bola-bali kok ra apal-apal, koyo umat amatiran, wuuuu. E7 7 Berarti gawean Bapak penjahat E8 8 Ya ampun, arep kebaktian wae iseh wae pada ngomong karepe dewe E3 Menggerutu 9 Iyo, nandi panggone ceramah gawe ngantuk, Padune kowe yo ngantuk to? E4 Menegaskan 10 Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati E6 82 Mengejek Data diklasifikasikan menjadi 5 kategori ketidaksantunan, yaitu melecehkan muka, menghilangkan muka, melanggar norma, menimbulkan konflik, dan mengancam muka sepihak. Kategori ketidaksantunan tersebut diklasifikasikan lagi menurut makna tuturan. Dari data yang terkumpul terdapat

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 makna tuturan yang cukup bervariasi, karena setiap tuturan memiliki makna masing-masing. Jumlah data terbanyak yang terkumpul adalah tuturan dengan kategori ketidaksantunan melecehkan muka yaitu 24 tuturan, kemudian tuturan dengan kategori ketidaksantunan menghilangkan muka terdapat 5 tuturan. Tuturan ketidaksantunan kategori melanggar norma terdapat 4 tuturan, sedangkan untuk kategori menimbulkan konflik/ kesembronoan yang disengaja terdapat 2 tuturan. Terakhir adalah kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak yaitu 10 tuturan. Jumlah makna tuturan yang teridentifikasi untuk dianalisis adalah 11 makna tuturan, yakni mengejek, menyindir, menegaskan, memerintah, menasehati, memperingatkan, menegur, berprasangka, membantah, menggerutu dan menyinggung. Jumlah subkategori terbanyak yang terkumpul adalah subkategori mengejek dan menyindir masing-masing terdapat 11 tuturan, kemudian diikuti oleh subkategori menegaskan yaitu 7 tuturan, subkategori memerintah dan menasehati masing-masing memiliki 4 tuturan, kemudian pada subkategori memperingatkan dan menegur masing-masing subkategori memiliki 2 tuturan. Terakhir subkategori berprasangka, membantah, mengerutu dan menyinggung dengan masing-masing subkategori mempunyai 1 tuturan. 4.2 Analisis Data Data atau tuturan yang telah terkumpul diidentifikasi, dikategorisasi, dan dikodifikasi berdasarkan lima kategori ketidaksantunan, yakni melecehkan muka, menghilangkan muka, melanggar norma, menimbulkan konflik/

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kesembronoan yang disengaja, 84 dan mengancam muka sepihak. Aspek-aspek yang diidentifikasi yakni kategori ketidaksantunan, penanda ketidaksantunan, dan konteks tuturan. Aspek-aspek tersebut dimasukkan ke dalam tabulasi. Wujud laporan ini berupa hasil analisis data berdasarkan makna ketidaksantunan yang meliputi 3 hal berikut, yaitu (1) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, (2) penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, dan (3) maksud ketidaksantunan. 4.2.1 Wujud, Penanda dan Maksud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik. Wujud ketidaksantunan dianalisis atas wujud ketidaksantunan linguistik dan wujud ketidaksantunan pragmatik. Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun yang ditemukan dalam ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Wujud ketidaksantunan pragmatik berupa cara yang menyertai tuturan lisan tidak santun yang disampaikan oleh penutur. Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari unsur segmental dan suprasegmental dalam setiap tuturan. Penanda ketidaksantunan pragmatik dipaparkan berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan. Konteks yang meliputi tuturan meliputi penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan tutur, tindak verbal, dan tindak perlokusi. Berikut merupakan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang tersaji dengan 5 kategori ketidaksantunan, yakni (1) melecehkan muka; (2) menghilangkan muka; (3)

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 melanggar norma; (4) menimbulkan konflik; dan (5) mengancam muka sepihak/ kesembroan yang disengaja. 4.2.1.1 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka Berikut ini adalah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka yang disajikan berdasarkan subkategori ketidaksantunan dan disajikan dengan (1) wujud linguistik, (2) wujud linguistik, (4) penanda pragmatik (konteks pragmatik, (3) penanda tuturan), dan maksud ketidaksantunan. 1. Subkategori Menyindir Subkategori menyindir terjadi dan disampaikan oleh penutur secara sengaja atau tidak sengaja mengkritik mitra tutur karena mengalami kejadian yang kurang berkenan di dalam benak penutur. Cuplikan tuturan A8 P: “Guru, saya sembayang sudah, berusaha sudah, tapi kok belum sukses-sukses, kurang apa saya?” MT: “Sini kamu! Kamu coba bermeditasi di dalam kolam ini, untuk mencari ketenangan” P: “Lha mau sukses kok suruh kungkum” Konteks tuturan : tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang laki-laki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. Penutur bertanya kepada MT mengenai permasalahan peribadahan yang berhubungan dengan kesuksesannya. Penutur menanyakan tentang cara mencapai kesuksesan pada MT. MT meminta penutur untuk bermeditasi di dalam kolam. Penutur menyatakan keraguan untuk mematuhi permintaan MT.

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Lha mau sukses kok suruh kungkum” b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara yang ketus. Penutur berbicara pada orang yang lebih tua. Penutur berbicara dengan pemimpin umat dengan kesan tidak menghormati/ sembrono. c) Penanda Linguistik Intonasi dalam tuturan ini mengunakan intonasi berita. Penutur menggunakan nada yang keras. Tekanan yang digunakan keras. Kategori fatis lha dan kok dalam tuturan. Diksi yang digunakan menggunakan bahasa popular atau kata-kata yang dikenal masyarakat. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang lakilaki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. Penutur bertanya kepada MT mengenai permasalahan peribadahan yang berhubungan dengan kesuksesannya. Penutur menanyakan tentang cara mencapai kesuksesan pada MT. MT meminta penutur untuk bermeditasi di dalam kolam. Penutur menyatakan keraguan untuk mematuhi

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 permintaan MT Tujuan adalah MT berupaya agar penutur dapat menemukan dengan cara untuk menemukan kesuksesan itu sendiri. Tindak verbal yang diguankan representatif. Tindak perlokusi dari tuturan adalah penutur menjalankan perintah dari gurunya. e) Maksud Penutur bermaksud protes karena perintah mitra tutur terkesan kurang jelas. Cuplikan tuturan A10 MT: “Bhikhu, tahun demi tahun telah berganti, tapi dalam benak saya sering timbul sebuah pertanyaan, siapakah sebenernya diri saya?” P: itu pertanyaan mudah, dan bisa dilakukan oleh semua orang, tinggal buka aja KTP anda, gitu aja kok repot? (MT tertawa) (Konteks tuturan : Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. MT perempuan berusia 29 tahun dan seorang umat, sedangkan penutur seorang laki-laki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. MT bertanya mengenai pertanyaan yang sering timbul di benaknya. MT bertanya tentang mengenali dirinya secara lebih dalam. Penutur menanggapi pertanyaan MT dengan jawaban yang bercanda) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dapat diperinci sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “itu pertanyaan mudah, dan bisa dilakukan oleh semua orang, tinggal buka aja KTP anda, gitu aja kok repot?”

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 b) Wujud Pragmatik Tuturan yang disampaikan dengan cara yang ketus. Penutur terkesean menyepelekan pertanyaan yang diajukan mitra tutur. c) Penanda Linguistik Intonasi dalam tuturan ini menggunakan intonasi seru. Penutur mengunakan nada yang sedang. Kategori fatis adalah kok. Tekanan yang digunakan lunak. Diksi yang dipakai bahasa popular atau kata yang selah dikenal masyarakat. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. MT perempuan berusia 29 tahun dan seorang umat, sedangkan penutur seorang laki-laki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. MT bertanya mengenai pertanyaan yang sering timbul di benaknya. MT bertanya tentang mengenali dirinya secara lebih dalam. Penutur menanggapi pertanyaan MT dengan jawaban yang bercanda. Tujuan dari penutur membuat intermezzo dalam forum agar jalannya diskusi mendapat perhatian baik dari responden. Tindak verbal tuturan adalah direksif. Tindak perlokusi dari tuturan MT tetawa mendengar pernyataan penutur. e) Maksud Penutur bermaksud asal bicara dengan tujuan mengalihkan perhatian para perbincangan. pendengar sebagai bahan candaan dalam

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Cuplikan tuturan A13 MT: Jarene Banthe mau, nek arep entuk dharma kuwi kudu mendalami kitab Tipitaka lan ngerti kudu nindakno opo sing ning jerone. Nanging ngelakoni kabeh kuwi kok aras-arasen, yo?, gowo bahasa Pali, neh P: Ngono, kok arep urip mulya lan arep entuk Dharma, mustahil! (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar Vihara Buddha Prabha, usai diadakan acara keagamaan. Penutur laki-laki, umat berusia 27 tahun, MT perempuan, umat berusia 30 tahun. MT bertutur pada penutur membahas mengenai hal yang telah didapat dari acara keagamaan MT berpendapat bahwa untuk memperoleh dharma harus mengerti dan mendalami kitap Tipitaka, tetapi untuk pelaksanaannya terasa berat. Penutur menanggapi MT dengan acuh dan menggunakan sindiran) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Ngono, kok arep urip mulya lan arep entuk Dharma, mustahil!” (seperti itu, kok mau hidup mulia dan dapat Dharma, mustahil!) b) Wujud Pragmatik Penutur tidak menghargai pernyataan apresiasi berupa pertanyaan dari mitra tutur. Penutur menggunakan cara yang ketus dalam mengungkapkan tuturannya. Penutur memberi jawaban yang mengganggu perasaan MT c) Penanda Linguistik Intonasi mempergunakan intonasi berita. Penutur berbicara dengan nada yang keras. Tekanan keras pada kata mustahil!. Kategori fatis

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 yang terdapat dalam tuturan adalah kok. Diksi mempergunakan bahasa nonstandar dengan mempergunakan istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di sekitar Vihara, usai diadakan acara keagamaan. Penutur laki-laki, umat berusia 27 tahun, MT perempuan, umat berusia 30 tahun. MT bertutur pada penutur membahas mengenai hal yang telah didapat dari acara keagamaan MT berpendapat bahwa untuk memperoleh dharma harus mengerti dan mendalami kitap Tipitaka, tetapi untuk pelaksanaannya terasa berat. Penutur menanggapi MT dengan acuh dan menggunakan sindiran. Tujuan: Penutur memberitahu MT tentang filosofi hidup yang telah diterangkan oleh pemuka agama. Tindak verbal: representatif. Tindak perlokusi: Penutur dan MT mengenakan jaket yang terletak di atas motor dan bersiap untuk berboncengan pulang. e) Maksud Penutur bermaksud memotivasi yakni dengan mengkritik mitra tutur yang malas membaca dan mendalami kitap suci. Cuplikan tuturan A14 MT: Banthe, apakah saya boleh bertanya? P: Mbok gak usah, paling bertanya pada hal yang enggak-enggak, Hahahaha bercanda! Yo entuklah, sini tanya tentang apa? (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar Vihara Buddha Prabha, usai diadakan acara keagamaan. Penutur laki-laki, umat berusia 27 tahun, MT perempuan, umat berusia 30 tahun. MT bertutur pada penutur membahas mengenai hal yang telah didapat dari acara keagamaan MT berpendapat bahwa untuk memperoleh

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 dharma harus mengerti dan mendalami kitap Tipitaka, tetapi untuk pelaksanaannya terasa berat. Penutur menanggapi MT dengan acuh dan menggunakan sindiran) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Mbok gak usah, paling bertanya pada hal yang enggak-enggak, Hahahaha bercanda! Yo entuklah, sini tanya tentang apa?”(mbok tidak perlu, paling bertanya pada hal yang tidaktidak, hahahaha bercanda! Ya bolehlah, sin tanya tentang apa?) b) Wujud Pragmatik Tuturan yang disampaikan kurang menghargai apreasiasi yang diberikan mitra tutur. Tutuan yang disampaikan dengan cara ketus. c) Penanda Linguistik Intonasi mempergunakan intonasi berita. Penutur berbicara dengan nada yang sedang. Tekanan yang digunakan adalah lunak. Kategori fatis yang ada yakni yo. Diksi yang dipergunakan bahasa nonstandar dengan mempergunakan istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. MT ingin mengutarakan pertanyaan pada seorang Bhikhu dengan meminta

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 izin terlebih dahulu. Penutur berusaha menolak izin bertanya dari MT dengan maksud bercanda. Tujuan tuturan adalah penutur berusaha mencairkan keadaan memakai konteks bercanda. Tindak verbalnya adalah representatif. Tindak perlokusi tuturan berupa MT tertawa dan menanyakan hal yang ingin ditanyakan. e) Maksud Penutur bermaksud bercanda yakni dengan menolak izin bertanya yang diungkapkan oleh mitra tutur. Cuplikan tuturan A15 MT: Begini Banthe, pertanyaan saya, jika kita berbuat baik tapi dengan pamrih, apa kita juga bisa dapat karma baiknya? P: Mau berbuat baik kok pamrih, Piye? Sebenarnya begini adapun perbuatan yang berpamrih, dapat digolongkan sebagai perbuatan baik yang mampu memberikan kebahagiaan untuk banyak pihak, maka si pelaku masih tetap dianggap menanam kamma baik yang pada suatu saat nanti akan ia rasakan buah kebahagiaannya. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. MT ingin mengutarakan pertanyaan pada seorang Bhikhu tentang berbuat kebaikan tapi mengharapkan pamrih. Penutur meremehkan hal yang ditanyakan MT. Penutur menjelaskan mengenai hal yang ditanyakan oleh MT) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dapat diperinci sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Mau berbuat baik kok pamrih, Piye?”

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara sindiran karena mengenai perbedaan pandangan yang dimiliki antara penutur dan mitra tutur. Penutur menyampaikan dengan cara yang ketus. Sebelum menjawab pertanyaan penutur bertanya balik pada mitra tutur. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah berita. Penutur berbicara dengan nada yang keras. Tekanan tuturan keras pada kata piye? Kategori fatis dalam tuturan adalah kok. Diksi mempergunakan kata-kata popular. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. MT ingin mengutarakan pertanyaan pada seorang Bhikhu tentang berbuat kebaikan tapi mengharapkan pamrih. Penutur meremehkan hal yang ditanyakan MT. Penutur menjelaskan mengenai hal yang ditanyakan oleh MT. Tujuannya penutur menyinggung hal yang dituturkan MT dengan maksud untuk menegaskan ketika berbuat baik seseorang harus ikhlas. Tindak verbal tuturan adalah direktif. Tindak perlokusi tuturan adalah MT merasa lega atas penjelasan yang dituturkan penutur

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 e) Maksud Penutur bermaksud tidak setuju dengan mitra tutur yakni dengan kurang sepahamnya persepsi mengenai berbuat kebaikan yang mengharapkan pamrih. Cuplikan tuturan A16 P: Sebenarnya sibuk mana, anda sama pejabat yang ditengah kesibukannya masih dapat melaksanakan ibadahnya lima kali secara khusuk. Padahal dalam agama kita sehari hanya beribadah sekali di Vihara. MT: Tapikan, saya sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan saya dan keluarga kami, Banthe? P: Oh ya, Tapi pernahkah anda merasa terpuaskan mengenai semua kebutuhan Anda? Saya yakin anda, pasti tak akan pernah merasa puas, karena saya melihat tingkah anda seperti ini. MT: Iya, Banthe, selalu aja masih banyak yang kurang. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. MT ingin mengutarakan pertanyaan pada seorang Bhikhu tentang berbuat kebaikan tapi mengharapkan pamrih. Penutur meremehkan hal yang ditanyakan MT. Penutur menjelaskan mengenai hal yang ditanyakan oleh MT) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Oh ya, Tapi pernahkah anda merasa terpuaskan mengenai semua kebutuhan Anda? Saya yakin anda, pasti tak akan pernah merasa puas, karena saya melihat tingkah anda seperti ini”

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara yang sinis dan ketus. Penutur menuduh tanpa bukti yang cukup jelas. Penutur memberi penjelasan menyinggung perasaan mitra tutur. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah berita. Penutur berbicara dengan nada yang sedang. Tekanan tuturan keras pada frasa oh ya? Diksi mempergunakan kata-kata popular. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. Penutur sedang menasehati MT tentang kesibukan MT yang mengalahkan semua bidang termasuk ibadah. MT beralasan dia sibuk bekerja hanya untuk kebutuhan keluarga. Penutur menegaskan bahwa kebutuhan manusia tidak akan pernah terpuaskan. Penutur melihat perilaku MT yang tidak rajin beribadah. Tujuan tuturan adalah penutur berusaha menyuruh MT untuk sibuk bekerja tanpa lupa beribadah. Tindak verbal tuturan berupa direktif. Tindak perlokusi berupa MT berterima kasih pada penutur karena telah diingatkan e) Maksud Penutur bermaksud memotivasi pada mitra tutur mengenai pemenuhan kebutuhan lahir dan batin.

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Cuplikan tuturan A17 MT: Rasane gelo tenan wingi pas Magma Puja malah ono alangan P: Lah, alanganmu opo? MT: Alangane gur keturon tekan awan. Hahaha P: Oalah, bocah pengung, Mangsane wong kabeh do neng Vihara malah turu. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara Buddha Prabha, 26 November 2013. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 23 tahun, sedangkan MT perempuan, seorang umat berusia 25 tahun dan teman Vihara dari penutur. MT merasa tidak enak hati karena tidak mengikuti upacara Magma Puja. Penutur menanyakan alasan tidak hadirnya MT. MT beralasan tidak hadir karena ketiduran sampai siang. Penutur menganggap MT tidak memberikan alasan yang pantas atas ketidakhadirannya. Penutur mengejek MT dengan tuturan cemoohan) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Oalah, bocah pengung, Mangsane wong kabeh do neng Vihara malah turu” b) Wujud Pragmatik Penutur menanggapi pernyataan dengan sepele. Tuturan yang disampaikan kurang pantas, karena dapat menyinggung perasaan mitra tutur. Tuturan disampaikan dengan cara yang ketus atau sinis. c) Penanda Linguistik Tuturan menggunakan intonasi berita. Penutur menggunakan nada yang keras. Tekanan keras pada frasa oalah, bocah pengung. Diksi

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 yang dipakai adalah bahasa nonstandar yang memakai istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara Buddha Prabha, 26 November 2013. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 23 tahun, sedangkan MT perempuan, seorang umat berusia 25 tahun dan teman Vihara dari penutur. MT merasa tidak enak hati karena tidak mengikuti upacara Magma Puja. Penutur menanyakan alasan tidak hadirnya MT. MT beralasan tidak hadir karena ketiduran sampai siang. Penutur menganggap MT tidak memberikan alasan yang pantas atas ketidakhadirannya. Penutur mengejek MT dengan tuturan cemoohan. Tujuan penutur memberi penilaian atas perilaku MT. Tindak verbal tuturan adalah ekspresif. Tindak perlokusi tuturan berupa MT tertawa mendengar ejekan dari penutur e) Maksud Penutur bermaksud kesal melihat tindakan yang dilakukannya 2. Subkategori Menegaskan. Tuturan dalam kategori melecehkan muka yang diklasifikasi dalam subkategori menegaskan terdapat empat tuturan, yakni tuturan A5, A6, A7, dan A9. Subkategori menegaskan ditandai dengan suatu tuturan yang mengatakan secara jelas, pasti maupun tidak ragu-ragu.

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Cuplikan tuturan A5 (MT1&MT2 sedang berdebat) P: “Dadi wong Budha kuwi mbok sing laras, ojo sak penake dewe nek ngetokne pendapat!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di suatu perkumpulan forum Budha. Penutur adalah seorang tokoh agama, laki-laki, berusia 67 tahun. MT1 & MT2 adalah umat, laki-laki, berusia 37 & 46 tahun. MT1 & MT2 sedang berdebat dan perdebatan karena terjadi perbedaan pendapat. Penutur sebagai pihak penengah yang akan melerai (MT1&MT2). Penutur menyindir kedua MT dengan alasan berdiskusi secara lebih santun. Penutur menyindir kedua MT dengan alasan mencari solusi dengan jalan lebih baik dari permasalahan mereka) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dipaparkan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Dadi wong Budha kuwi mbok sing laras, ojo sak penake dewe nek ngetokne pendapat!” (jadi orang Budha sebaiknya laras hati, jangan bertindak sesuai kehendak sendiri ketika memberikan pendapat) b) Wujud Pragmatik Tuturan yang disampaikan dengan cara yang keras dan ketus. Penutur menyampaikan tuturan yang menyinggung perasaan mitra tutur. Tuturan merupakan cara penyimpulan suatu hal. c) Penanda Linguistik Tuturan ini mempergunakan tuturan seru. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan yang dipakai adalah lunak. Diksinya

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 memakai bahasa nonstandar yang mempergunakan istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di suatu perkumpulan forum Budha. Penutur adalah seorang tokoh agama, laki-laki, berusia 67 tahun. MT1 & MT2 adalah umat, laki-laki, berusia 37 & 46 tahun. MT1 & MT2 sedang berdebat dan perdebatan karena terjadi perbedaan pendapat. Penutur sebagai pihak penengah yang akan melerai (MT1&MT2). Penutur menyindir kedua MT dengan alasan berdiskusi secara lebih santun. Tujuan penutur menyindir MT dengan maksud menasehati. Tindak verbalnya adalah deklaratif. Tindak perlokusi berupa MT1 dan MT2 mematuhi saran yang diberikan penutur. e) Maksud Penutur bermaksud menyarankan cara berpendapat yang baik pada mitra tutur. Cuplikan tuturan A6 P: “Kenapa manusia diciptakan lain-lain?” MT: “Itukan sudah menjadi rahasia Sang pencipta” P: “Jika belajar agama masih ada yang dirahasiakan, bagaimana jika kita berbuat kejahatan?” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di suatu perkumpulan forum diskusi seputar agama Budha. Penutur adalah seorang umat, laki-laki, berusia 48 tahun. MT seorang pemuka agama, laki-laki, berusia 57 tahun. Tuturan ini terjadi ketika pihak moderator melakukan sesi pertanyaan. Penutur merasa terkesan dengan tema diskusi yang diterangkan oleh MT. Penutur memberikan pertanyaan untuk MT. MT memberikan tanggapan atas pertanyaan MT yang diajukan. Penutur

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 menegaskan mengenai jawaban MT yang tidak sesuai apa yang diharapkannya) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dipaparkan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Jika belajar agama masih ada yang dirahasiakan, bagaimana jika kita berbuat kejahatan?” b) Wujud Pragmatik Penutur berbicara pada orang yang lebih tua. Penutur menyinggung mitra tutur untuk menjelaskan lebih spesifik mengenai pertanyaan yang telah diajukan. Penutur berbicara dengan cara yang ketus c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah tanya. Penutur berbicara menggunakan nada sedang, begitu pula tekanan yang dipakai adalah lunak. Diksi yang digunakan adalah kata-kata popular. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di suatu perkumpulan forum diskusi seputar agama Budha. Penutur adalah seorang umat, laki-laki, berusia 48 tahun. MT seorang pemuka agama, laki-laki, berusia 57 tahun. Tuturan ini terjadi ketika pihak moderator melakukan sesi pertanyaan. Penutur merasa terkesan dengan tema diskusi yang diterangkan oleh MT. Penutur memberikan pertanyaan untuk MT.

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 MT memberikan tanggapan atas pertanyaan MT yang diajukan. Penutur menegaskan mengenai jawaban MT yang tidak sesuai apa yang diharapkannya. Tujuan dari penutur menyindir MT dengan maksud jawaban MT belum pas seperti yang diinginkan penutur. Tindak verbal tuturan representatif. Tindak perlokusi berupa MT memperdalam gagasan yang telah dijelaskan. e) Maksud Penutur bermaksud protes terhadap pernyataan mitra tutur yang memberikan jawaban secara umum. Cuplikan tuturan A7 MT: “Koyone dadi Bhikhu kuwi gak bakal keno karma elek, yo?” P: “Halah belgedes, ngono kuwi angel lan tergantung tindak tandhuk awake dewe” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara Buddha Prabha, saat sembayangan akan dimulai. Penutur adalah seorang laki-laki, umat berusia 18 tahun, MT adalah seorang laki-laki, sesama umat dan berusia 20 tahun, teman kebaktian dari penutur. MT berandai-andai menjadi seorang Bhikhu akan selalu jauh dari dosa atau karma. Penutur menjawab dengan tuturan yang sengaja membuat MT tersinggung) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Halah belgedes, ngono kuwi angel lan tergantung tindak tandhuk awake dewe”

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara yang ketus dan sinis. Penutur juga berbicara pada orang yang lebih tua. Penutur menyimpulkan pernyataan secara benar tetapi dengan kesan sembrono. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah intonasi seru. Penutur berbicara dengan nada keras. Partikel yang terdapat dalam tuturan adalah halah. Tekanan keras terdapat pada frasa halah belgedes. Diksi menggunakan bahasa nonstandar, di mana istilah bahasa Jawa kental dipergunakan. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara, saat sembayangan akan dimulai. Penutur adalah seorang laki-laki, umat berusia 18 tahun, MT adalah seorang laki-laki, sesama umat dan berusia 20 tahun, teman kebaktian dari penutur. MT berandai-andai menjadi seorang Bhikhu akan selalu jauh dari dosa atau karma. Penutur menjawab dengan tuturan yang sengaja membuat MT tersinggung. Tujuan penutur menasehati MT bahwa untuk menjadi seorang Budha itu tergantung dari perbuatan diri sendiri. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: MT menyetujui nasehat yang diberikan oleh penutur.

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 e) Maksud Penutur bermaksud ketidaksetujuan terhadap pernyataan mitra tutur karena hanya menjawab pertanyaan secara umum. Cuplikan tuturan A9 MT: “Misal kamu bermeditasi dengan tenggelamkan kepala kamu, dan kepalamu aku blebekno! Apa yang kamu rasakan?” P: Gak iso nafas, Banthe! MT: (sambil tersenyum) ya itu, ketika kamu pengen sukses kamu harus berjuang untuk mencapainya dalam arti kamu harus bagaimana caranya biar bisa bernafas, to? (Konteks tuturan : Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang laki-laki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. MT bercerita mengenai filosofi mencari kesuksesan. MT menyuruh penutur untuk membayangkan bermeditasi sambil menenggelamkan kepala ke dalam kolam yang penuh dengan air. MT bertanya tentang yang dirasakan penutur. Penutur menyatakan jawabannya dengan bertutur dengan cara yang kurang pas terhadap MT. MT memberikan penjelasannya dari filosofi kesuksesan pada penutur) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Gak iso nafas, Banthe!” (tidak bisa nafas, Banthe!) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan pada orang yang lebih tua sekaligus pemimpin umat. Penutur terkesan tidak menghormati pemimpin umat.

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi seru. Penutur berbicara dengan nada yang keras. Tekanan yang digunakan keras. Diksi yang dipakai adalah katakata popular. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang laki-laki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. MT bercerita mengenai filosofi mencari kesuksesan. MT menyuruh penutur untuk membayangkan bermeditasi sambil menenggelamkan kepala ke dalam kolam yang penuh dengan air. MT bertanya tentang yang dirasakan penutur. Penutur menyatakan jawabannya dengan bertutur dengan cara yang kurang pas terhadap MT. MT memberikan penjelasannya dari filosofi kesuksesan pada penutur. Tujuan penutur mengerti tentang filosofi kesuksesan. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: penutur mengerti hal yang diucapkan oleh Bhikhu e) Maksud Penutur mempunyai maksud asal bicara karena menjawab secara spontan dan dengan kesan sembrono pertanyaan dari mitra tutur.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. 105 Subkategori Mengejek. Subkategori mengejek merupakan perkataan dari penutur untuk menyindir, menghina serta menertawakan tindakan ataupun perilaku mitra tutur. Dalam kategori melecehkan muka, subkategori ini terdapat tiga tuturan yang merendahkan dan membuat mitra tutur merasa tersinggung dan merasa sakit hati. Cuplikan tuturan A4 P: “Darimana kamu,bro?” MT: “Dari Vihara, dong! Biasa absen dulu” P: “Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha setelah acara kebaktian selesai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 22 tahun. MT adalah sesama umat berusia 23 tahun. MT baru akan berjalan pulang setelah usai kebaktian di Vihara. Penutur menyapa kepada MT. Penutur membalas sapaan tetapi menggunakan ejekan) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi!” (Halah, biasanya tidak pernah berangkat aja, doamu paling juga tidak bakal manjur!)

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b) 106 Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara yang sinis. Penutur terkesan iri hati karena hal yang dilakukan mitra tutur. Tuturan yang disampaikan terkesan sembrono dan tidak pantas. c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi tanya. Penutur berbicara dengan nada keras. Tekanan keras pada kata halah. Partikel yang digunakan adalah halah. Diksi yang dipakai menggunakan bahasa nonstandar yang memakai istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha setelah acara kebaktian selesai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 22 tahun. MT adalah sesama umat berusia 23 tahun. MT baru akan berjalan pulang setelah usai kebaktian di Vihara. Penutur menyapa kepada MT. Penutur membalas sapaan tetapi menggunakan ejekan. Tujuan penutur mengejek MT dengan alasan bercanda. Tindak verbal: representatif. Tindak perlokusi: Penutur berusaha mengejek MT karena jarang berangkat ke Vihara. e) Maksud Penutur bermaksud bercanda sebagai membuka bahan pembicaraan, walaupun dengan kesan ejekan. Cuplikan tuturan A11 P: Kowe kie opo nek sembayang gak iso? MT: La, pie toe?

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 P: Puja Bakti, kie dupa sing muk enggo kuwi golek sing dowone 4 meter ben kabeh panjalukanmu kabul. MT: kabeh kie tergantung usahane dewe. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras sebuah Vihara setelah melakukan Puja Bakti. Penutur laki-laki, umat berusia 21 tahun, sedangkan MT laki-laki, umat berusia 23 tahun. Penutur menyinggung MT dengan bertutur tentang cara beribadah MT. MT menuturkan sebab penutur berkata demikian. Tuturan dari penutur berisi tentang hal bercanda. MT merasa kecewa dengan tuturan penutur dan bertutur cuek dengan bertutur “Kabeh kie tergantung usahane dewe” {semua itu tergantung usaha dari diri sendiri}) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Kowe kie opo nek sembayang gak iso?” (Kamu ini kalau sembayang apa tidak bisa?) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan pada orang yang lebih tua. Penutur mengejek dengan menggunakan ungkapkan yang meremehkan. Penutur menggunakan cara yang ketus. c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi tanya. Nada yang dipergunakan penutur menggunakan nada yang keras. Partikel atau kata fatis yang digunakan adalah kie. Tekanan keras pada frasa gak iso? Diksi menggunakan bahasa nonstandar, di mana istilah bahasa Jawa lebih kental digunakan.

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di teras sebuah Vihara Buddha Prabha setelah melakukan Puja Bakti. Penutur laki-laki, umat berusia 21 tahun, sedangkan MT laki-laki, umat berusia 23 tahun. Penutur menyinggung MT dengan bertutur tentang cara beribadah MT. MT menuturkan sebab penutur berkata demikian. Tuturan dari penutur berisi tentang hal bercanda. MT merasa kecewa dengan tuturan penutur dan bertutur cuek dengan bertutur “Kabeh kie tergantung usahane dewe (semua itu tergantung usaha dari diri sendiri)”. Tujuan: penutur ingin mengajak mengobrol dengan MT. Tindak verbal: komisif. Tindak perlokusi: Penutur dan MT melanjutkan mengobrol di depan serambi Vihara. e) Maksud Penutur mempunyai maksud bercanda karena ia meremehkan cara mitra tutur beribadah dengan tujuan membuka bahan obrolan. Cuplikan tuturan A12 MT: Wingi kowe, dak kowe melu pas sarasehan ro Banthe? P: Yoe melu, emang kowe menyang, nek dong bolong wudele. MT: Malah aku lali nek ono sarasehan, gek kelingan dino iki. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara Buddha Prabha 26 November 2013. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 18 tahun, sedangkan MT perempuan, seorang umat berusia 25 tahun dan teman Vihara dari penutur. MT menanyakan kehadiran penutur mengenai acara saresehan keagamaan yang diadakan tempo hari lalu. Penutur bertutur mengenai kedatangannya dan menambahkan tuturan cemoohan pada MT. MT mempunyai alasan bahwa dia lupa akan acara sarasehan tempo hari)

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Yoe melu, emang kowe menyang, nek dong bolong wudele.” (Ya ikut memang kamu, ikut seenaknya sendiri) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara yang ketus, tuturan merupakan ejekan dengan kesan merendahkan mitra tutur. Penutur juga terlihat kurang menghargai pertanyaan/ perhatian dari mitra tutur. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah berita. Penutur berbicara dengan nada yang keras. Tekanan keras pada frasa emang kowe. Kategori fatis yo dalam tuturan. Diksi dalam tuturan mempergunakan bahasa nonstandar. di mana istilah bahasa Jawa lebih kental digunakan. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara Budha Prabha 26 November 2013. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 18 tahun, sedangkan MT perempuan, seorang umat berusia 25 tahun dan teman Vihara dari penutur. MT menanyakan kehadiran penutur mengenai acara saresehan keagamaan yang diadakan tempo hari lalu. Penutur bertutur mengenai kedatangannya dan menambahkan tuturan cemoohan pada MT. MT mempunyai alasan bahwa dia lupa akan

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 acara sarasehan tempo hari. Tujuan penutur bertutur untuk menyinggung MT dengan maksud menasehati menggunakan tuturan ejekan. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: Penutur dan MT berjalan untuk masuk ke dalam Vihara. e) Maksud Penutur bermaksud menyombongkan diri atau bangga terhadap diri sendiri. Hal ini dikarenakan penutur merasa bangga mengikuti saresehan dan membandingkan dirinya terhadap mitra tutur yang tidak mengikuti acara keagamaan itu. Cuplikan tuturan A23 MT : Kang kowe ngerti istilah ehipassiko sing mau diomongke karo Banthe mau? P : Wes jan payah tenan kowe kie, Kuwi lak istilah dasar ning agama dewe. Seko cilik kan wes diajari to! Ehipassiko kuwi ajaran sing mbedake agama Buddha karo agama liyane, yaiku tentang datang, lihat dan buktikan kebenarannya. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi setelah diadakan kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 16 tahun, sedangkan mitra tutur juga seorang umat berusia 17 tahun. Mitra tutur memperbincangkan mengenai bahan kebaktian yang telah selesai dilaksanakan. Mitra tutur menanyakan istilah ehipassiko pada penutur. Penutur mengejek mitra tutur karena istilah tersebut merupakan dasar ajaran yang dianut oleh sebagian besar umat Budha) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 a) Wujud Linguistik ”Wes jan payah tenan kowe kie, Kuwi lak istilah dasar ning agama dewe. Seko cilik kan wes diajari to! Ehipassiko kuwi ajaran sing mbedake agama Buddha karo agama liyane, yaiku tentang datang, lihat dan buktikan kebenarannya” b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara sinis. Penutur juga menyampaikan rasa kesalnya pada mitra tutur tentang pertanyaan yang diajukan kepadanya. Penutur menyampaikan penjelasan dengan kesan menyepelekan c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan dalam tuturan berita, partikel ki, to, nada tutur keras, tekanan keras pada frasa payah tenan, dan diksi yang dipakai bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa secara utuh. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi setelah diadakan kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 16 tahun, sedangkan mitra tutur juga seorang umat berusia 17 tahun. Mitra tutur memperbincangkan mengenai bahan kebaktian yang telah selesai dilaksanakan. Mitra tutur menanyakan istilah ehipassiko pada penutur. Penutur mengejek mitra tutur karena istilah tersebut merupakan dasar ajaran yang dianut oleh sebagian besar umat Budha. Tujuan penutur

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 adalah menjawab pertanyaan dari MT, dengan alasan pertanyaan yang diajukan dari pihak MT merupakan pertanyaan yang sederhana dan seharusnya dimengerti sejak awal olek pemeluk agama Budha. Tindak verbal : representatif. Tindak perlokusi : MT merasa malu setelah menerima penjelasan dari penutur. e) Maksud Penutur mempunyai maksud kesal terhadap MT mengenai istilah sederhana yang dianut oleh pemeluk agama Budha. Cuplikan tuturan A24 MT : Eh, wingi acarane kebaktian Mahayana melu ora? Aku wingi menyang sek terus menggok ora tekan panggone, bablas dolan, hahaha P : La pekok tenan kok kowe ki! Ngerti acara penting koyo ngene malah gak teko. Duwe agama opo ora he? MT : Lha males, je. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Buddha Prabha. Penutur seorang laki-laki dengan usia 20 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki adalah seorang umat dengan usia 21 tahun. Mitra tutur tidak menghadiri upacara kebaktian Mahayana tempo hari lalu dengan alasan malas. Mitra tutur menyapa penutur dengan menanyakan kehadiran penutur dalam upacara Mahayana. Penutur mengejek mitra tutur dengan cara yang kasar, karena penutur merasa kesal pada mitra tutur yang sering mengabaikan kegiatan keagamaan) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik ”La pekok tenan kok kowe ki! Ngerti acara penting koyo ngene malah gak teko. Duwe agama opo ora he?”

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan kesan yang marah atau jengkel. Penutur juga kesal mendengar pernyataan dari mitra tutur. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan dalam tuturan adalah intonasi seru. Partikel yang ada berupa la, kok, he. Tekanan keras pada frasa la pekok dan diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa secara utuh. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di Vihara Buddha Prabha. Penutur seorang laki-laki dengan usia 20 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki adalah seorang umat dengan usia 21 tahun. Mitra tutur tidak menghadiri upacara kebaktian Mahayana tempo hari lalu dengan alasan malas. Mitra tutur menyapa penutur dengan menanyakan kehadiran penutur dalam upacara Mahayana. Penutur mengejek mitra tutur dengan cara yang kasar, karena penutur merasa kesal pada mitra tutur yang sering mengabaikan kegiatan keagamaan. Tujuan penutur memberikan tanggapan mengenai pernyataan dari mitra tutur yang tidak datang dalam upacara Mahayana tempo hari. Tindak verbal : ekspresif. Tindak perlokusi : Mitra tutur merasa malu dan salah tingkah mendengar tanggapan dari penutur

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 e) Maksud Penutur kesal terhadap tingkah laku mitra tutur yang sering menyepelekan masalah keagamaan 4. Subkategori Memperingatkan. Subkategori memperingatkan merupakan sikap penutur untuk memberikan nasehat pada mitra tutur agar melakukan kegiatan yang sesuai dengan kaidah agama. Cuplikan tuturan A2 MT1&MT2: (Sedang berbincang dan menganggu jalannya upacara keagamaan). P: ”Nuwun sewu, punapa panjenengan badhe nggantosi kulo ceramah wonten mriki?” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi pada waktu acara forum diskusi intern keagamaan. Penutur laki-laki, seorang pemuka agama yang berusia 67 tahun. Terdapat MT1 dan MT2 yang asyik mengbrol tanpa menghiraukan ceramah yang sedang dibawakan penutur. Dalam kondisi sebenarnya MT1 dan MT2 sedang memperhatikan ceramah secara seksama. MT1 dan MT2 merupakan umat yang menghadiri upacara keagamaan. Penutur berusaha mendapatkan perhatian dengan menunjuk MT1 dan MT2 untuk mengantinya agar ceramah di depan mimbar dengan alasan bercanda) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 a) Wujud Linguistik ”Nuwun sewu, punapa panjenengan badhe nggantosi kulo ceramah wonten mriki?” (Permisi, Apakah anda mau mengantikan saya ceramah disini?) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara yang sinis walaupun dengan maksud bercanda. Penutur membuat mitra tutur malu di hadapan orang banyak. c) Penanda Linguistik Intonasi tuturan adalah tanya. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanannya adalah lunak. Diksi yang dipergunakan adalah bahasa nonstandar yang memakai istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi pada waktu acara forum diskusi intern keagamaan. Penutur laki-laki, seorang pemuka agama yang berusia 67 tahun. Terdapat MT1 dan MT2 yang asyik mengobrol tanpa menghiraukan ceramah yang sedang dibawakan penutur. Dalam kondisi sebenarnya MT1 dan MT2 sedang memperhatikan ceramah secara seksama. MT1 dan MT2 merupakan umat yang menghadiri upacara keagamaan. Penutur berusaha mendapatkan perhatian dengan menunjuk MT1 dan MT2 untuk mengantinya agar ceramah di depan mimbar dengan alasan bercanda. Tujuan penutur berusaha menarik perhatian khalayak

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 dengan menunjuk secara sembarang mitra tutur yang sedang berbincang dengan alasan bercanda dan agar ceramahnya diperhatikan. Tindak verbal: representatif. Tindak perlokusi: MT merasa malu dan mengkondisikan sikapnya pada acara yang sedang berlangsung. e) Maksud Penutur bermaksud bercanda dengan tujuan untuk menarik simpati dari pendengar. 5. Subkategori Menegur. Subkategori menegur merupakan suatu peringatan yang disampaikan penutur pada mitra tutur. Hal ini dilakukan karena penutur merasa kesal akibat perbuatan mitra tutur. Cuplikan tuturan A1 P : “HPmu kuwi muk geletakno! Lagian gek ngrungoke ceramah seko Bhikhu” MT : “Sek to, buk penting iki”. P : “Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Budha Prabha saat khotbah berlangsung. Penutur perempuan, Ibu berusia 46 tahun. MT perempuan, anak dari MT, berusia 18 tahun. MT sedang asyik menggunakan ponselnya ketika banyak orang sedang mendengarkan khotbah. Penutur merasa kesal dan malu dengan tindakan MT karena tindakanya menarik perhatian orang lain)

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu” (Menasehati anda itu seperti menasehati batu) b) Wujud Pragmatik Tuturan membuat mitra tutur malu di depan orang banyak. Penutur menyampaikan tuturannya dengan menggunakan cara yang keras dan ketus. Tuturan dapat menyinggung perasaan mitra tutur. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah perintah. Penutur berbicara dengan nada keras. Tekanan keras pada kata oalah. Partikel yang terdapat dalam tuturan adalah oalah. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar yang mengunakan istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di Vihara Budha Prabha saat khotbah berlangsung. Penutur perempuan, Ibu berusia 46 tahun. MT perempuan, anak dari MT, berusia 18 tahun. MT sedang asyik menggunakan ponselnya ketika banyak orang sedang mendengarkan khotbah. Penutur merasa kesal dan malu dengan tindakan MT karena tindakannya menarik perhatian orang lain. Tujuan penutur kesal terhadap MT karena tidak

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 menghargai perintahnya. Tindak verbal: direktif. Tindak perlokusi: MT melakukan meletakan ponselnya ke dalam saku. e) Maksud Penutur bermaksud kesal terhadap mitra tutur yang tidak menuruti perintahnya. Cuplikan tuturan A21 MT : Dul dino iki kan dino Upasatha, kowe poso ora? P : Nek aku tertib bro, Wo kowe ki berarti ra positif mbok yo poso. MT : Ora, aku ngerti nek dino Upasatha gur mau diandani ibukku. Emang kowe poso? P : Hahaha, poso, opo-opo kerso. (Konteks: Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka saat upacara hari Upasatha. Penutur dan mitra tutur adalah seorang umat, penutur seorang laki-laki dengan usia 16 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang perempuan dengan usia 17 tahun. Mitra tutur menegur penutur disaat upacara akan berlangsung. Mitra tutur menanyakan pada penutur mengenai menjalankan puasa ketika hari Upasatha. Penutur membohongi mitra tutur dengan menyampaikan alasan dia berpuasa, padahal tidak. Hal itu ditandai pada frasa nek aku tertib. Penutur juga menyuruh mitra tutur untuk berpuasa, padahal dia tidak menjalankan puasa) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik ”Nek aku tertib, bro. Wo kowe ki berarti ra positif. Mbok yo poso!” (Kalau aku tertib, bro. Wo kamu berarti tidak positif. Mbok ya puasa!)

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan ketus. Penutur membohongi mitra tutur. Penutur menyuruh mitra tutur disertai ungkapan yang kurang pas. c) Penanda Linguistik Intonasi yang dipakai dalam tuturan adalah tuturan perintah, partikel yang tampak pada tuturan nek, wo, ki. Tekanan keras pada frasa nek aku tertib bro. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa yang kental. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka saat upacara hari Upasatha. Penutur dan mitra tutur adalah seorang umat, penutur seorang laki-laki dengan usia 16 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang perempuan dengan usia 17 tahun. Mitra tutur menegur penutur disaat upacara akan berlangsung. Mitra tutur menanyakan pada penutur mengenai menjalankan puasa ketika hari Upasatha. Penutur membohongi mitra tutur dengan menyampaikan alasan dia berpuasa, padahal tidak. Hal itu ditandai pada frasa nek aku tertib. Penutur juga menyuruh mitra tutur untuk berpuasa, padahal dia tidak menjalankan puasa. Tujuan penutur adalah memberi penegasan tentang berpuasa di hari Upasatha pada mitra tutur, namun penutur telah berbohong pada mitra tutur karena dia juga tidak berpuasa pada hari tersebut. Tindak verbal : ekspresif. Tindak perlokusi : penutur berusaha menambahkan

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 joke agar dia tidak malu atas pernyataan yang sebelumnya telah disampaikan. e) Maksud Penutur bermaksud menyombongkan diri dengan alasan ingin membohongi mitra tutur mengenai puasa di hari Upasatha. 6. Subkategori Menasehati Subkategori menasehati berbeda dengan subkategori memperingatkan. Menasehati memberikan nasehat dengan memberikan saran atau solusi tentang masalah yang sedang dihadapi (masalah sudah atau sedang dihadapi), sedangkan memperingatkan adalah memberi ingatan pada seseorang untuk tidak melakukan suatu hal yang dapat merugikan dirinya sendiri bahkan orang lain (masalah belum dihadapi). Cuplikan tuturan A3 MT: Pak,saya nek meditasi kok gak pernah bisa fokus, ya? P: “Sakjane sing leno itu kowe! Kowe sing kurang kontrol ! Apa kowe sing akeh ngutike?” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras Vihara saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi. Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi)

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik. “Sakjane sing leno itu kowe! Kowe sing kurang kontrol! Apa kowe sing akeh ngutike?” (Kelihatannya yang kurang peka itu, Anda! Apa kamu yang banyak tingkahnya?) b) Wujud Pragmatik. Tuturan disampaikan dengan cara ketus. Pertanyaan penutur membuat mitra tutur malu. Penutur tidak member jawaban pasti pada mitra tutur. Penutur menanyakan yang terkesan ambigu. c) Penanda Linguistik. Tuturan ini memakai intonasi tanya. Nada tutur yang digunakan adalah nada sedang. Tekanan yang digunakan adalah sedang. Bahasa slang ada pada kata ngutike Diksi yang digunakan bahasa nonstandar, di mana istilah bahasa Jawa masih kental dipergunakan. d) Penanda Pragmatik. Tuturan ini terjadi di teras Vihara saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi.

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi. Tujuan: penutur menanyakan tentang kondisi yang sedang dialami oleh MT. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: Penutur menasehati MT agar selalu bersikap mengontrol diri terhadap persoalan yang dimlikinya. e) Maksud. Penutur bermaksud memberikan motivasi terhadap mitra tutur karena melihat masalah yang sedang dihadapi oleh mitra tutur. Cuplikan tuturan A22 MT : Dupane sing gawe sembayang dino iki kok ambune aneh yo? Ambune kie malah mirip walang sangit. P : Ssst, omong wae, ngerti gek donga ra,to! Umeryek wae cangkeme! (Konteks: tuturan ini terjadi saat diadakan kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur dan mitra tutur adalah seorang umat sekaligus mereka adalah kakak-beradik, penutur laki-laki berusia 15 tahun, sedangkan mitra tutur seorang laki-laki dengan usia 10 tahun. Ketika mereka berdoa di altar sebuah Vihara dengan menggunakan dupa, mitra tutur bergumam mengenai bau dupa yang tidak seperti biasanya. Ucapan mitra tutur menganggu konsentrasi dari penutur. Penutur memberi peringatan terhadap mitra tutur menggunakan kata-kata yang kasar). Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut.

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a) 123 Wujud Linguistik “Ssst, omong wae, ngerti gek donga ra,to! Umeryek wae cangkeme!” (Ssst, ngomong saja, tahu lagi berdoa tidak? Berisik saja mulutmu!) b) Wujud Pragmatik Penutur menyampaikan dengan cara yang sinis. Tuturan juga bersifat kasar. Tuturan membuat mitra tutur kehilangan muka bahkan sampai kesal dan kecewa. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah seru, partikel yang terdapat dalam tuturan adalah to. Tekanan keras pada frasa umreyek wae cangkeme. Diksi yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa yang kental dan digunakan secara penuh. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat diadakan kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur dan mitra tutur adalah seorang umat sekaligus mereka adalah kakak-beradik, penutur laki-laki berusia 15 tahun, sedangkan mitra tutur seorang laki-laki dengan usia 10 tahun. Ketika mereka berdoa di altar sebuah Vihara dengan menggunakan dupa, mitra tutur bergumam mengenai bau dupa yang tidak seperti biasanya. Ucapan mitra tutur menganggu konsentrasi dari penutur.

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 Penutur memberi peringatan terhadap mitra tutur menggunakan kata-kata yang kasar. Tujuan penutur : penutur merasa terganggu dengan gumaman dari mitra tutur dan mengganggu jalannya berdoa yang sedang dilakukannya. Tindak verbal : direktif. Tindak perlokusi : Mitra tutur merasa jengkel dan kecewa mendengar tuturan dari penutur, namun hanya diam saja karena sedang melakukan proses doa. e) Maksud Penutur bermaksud kesal pada ucapan yang mitra tutur sehingga menganggu jalannya beribadah. 7. Subkategori Memerintah Subkategori memerintah ditandai dengan tuturan yang bersifat menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu dengan beragam maksud ataupun tujuan. Berkaitan dengan kategori melecehkan muka perintah tersebut dianggap oleh pihak mitra tutur sebagai tuturan yang disengaja sehingga dapat menyinggung perasaan mitra tutur. Cuplikan tuturan A18 MT : Banthe kulo ajeng takon, nek wonten agama Budha niku ndak geh wonten Surga lan Neraka,koyo teng agama liyane?, maklum kulo wong anyar mlebu agama niki. P : Woh yoe jelas ono, kabeh wong arep mlebu surga. Surgane wong Budha diarani Nibbana. Kowe yo pengen mlebu surga, to? MT : Nggih jelas to, Banthe. P: Mulane ruangan sing arep dinggo khootbah kae diresiki sek ben mlebu surga, hahaha

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 (Konteks: Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka. Penutur adalah seorang pemuka agama, laki-laki dengan usia 58 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 28 tahun. Tuturan ini terjadi saat persiapan akan dilakukannya upacara kebaktian di Vihara. Mitra tutur adalah pengelola Vihara dan bertugas menyiapkan segala kebutuhan ketika upacara kebaktian akan diadakan. Mitra tutur menyapa penutur dan menyampaikan suatu pertanyaan mengenai surga dan neraka. Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur secara singkat dan jelas. Kemudian penutur menyuruh mitra tutur untuk membersihkan ruangan khotbah dan dihubungkan dengan pertanyaan yang disampaikan oleh mitra tutur yakni, dengan alasan agar mitra tutur bisa naik surga) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Mulane ruangan sing arep dinggo khootbah kae diresiki sek ben mlebu surga, hahaha” (Maka dari itu ruangan yang akan digunakan untuk khotbah itu dibersihkan terlebih dahulu agar masuk surga, hahaha) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan ketus, penutur menyampaikan tuturannya secara bercanda. Mitra tutur merasa kecewa akan pertanyaannya yang sepenuhnya belum dijawab secara terperinci oleh penutur. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah perintah, tekanan sedang pada uturan walaupun menggunakan intonasi perintah Diksi yang

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa yang kental dan digunakan secara penuh. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka. Penutur adalah seorang pemuka agama, laki-laki dengan usia 58 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 28 tahun. Tuturan ini terjadi saat persiapan akan dilakukannya upacara kebaktian di Vihara. Mitra tutur adalah pengelola Vihara dan bertugas menyiapkan segala kebutuhan ketika upacara kebaktian akan diadakan. Mitra tutur menyapa penutur dan menyampaikan suatu pertanyaan mengenai surga dan neraka. Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur secara singkat dan jelas. Kemudian penutur menyuruh mitra tutur untuk membersihkan ruangan khotbah dan dihubungkan dengan pertanyaan yang disampaikan oleh mitra tutur yakni, dengan alasan agar mitra tutur bisa naik surga. Tujuan penutur adalah ingin menyuruh mitra tutur membantu membersihkan ruangan khotbah, karena akan lama ketika dia membersihkannya seorang diri. Tindak verbal : direktif. Tindak perlokusi : Mitra tutur melakukan tugas dari penutur. e) Maksud Penutur bermaksud bercanda pada mitra tutur, dengan menghadiahkan surga ketika dia membersihkan ruangan khotbah.

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 Cuplikan tuturan A19 P : Ada yang ingin ditanyakan mengenai ceramah saya tadi mengenai “Nasib” MT : (hanya terdiam) P : Piye kok malah diem. Jangan sungkan ayo bertanya, lawong bertanya juga gak bayar to? (Konteks: tuturan ini terjadi saat khotbah saat diskusi interaktif intern umat Buddha di Vihara Vidyaloka. Penutur seorang pemuka agama, laki-laki dengan usia 58 tahun, sedangkan mitra tutur adalah peserta diskusi. Penutur menyampaikan bahan diskusi dan telah selesai memberikan ceramah mengenai ‘nasib’. Penutur memberikan kesempatan peserta diskusi untuk bertanya mengenai bahan diskusi yang telah diterangkannya, namun tidak ada seorangpun yang ingin menanggapi. Penutur kemudian memotivasi peserta diskusi agar bertanya dengan alasan tidak mengeluarkan biaya ketika mengungkapkan pendapat, tanggapan atau pertanyaan) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Piye kok malah diem. Jangan sungkan ayo bertanya, lawong bertanya juga gak bayar to?” b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan penutur secara ketus. Penutur menyampaikan tuturannya dengan alasan untuk khotbahnya agar memperoleh apresiasi dari pendengar/ mitra tutur. Tuturan juga menarik pendengar agar termotivasi untuk bertanya. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah perintah, tekanan keras pada frasa piye kok malah diem. Partikel yang digunakan kok, to Diksi yang

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 digunakan adalah bahasa popular yakni bahasa yang telah digunakan oleh masyarakat umum. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat khotbah saat diskusi interaktif intern umat Buddha di Vihara Vidyaloka. Penutur seorang pemuka agama, lakilaki dengan usia 58 tahun, sedangkan mitra tutur adalah peserta diskusi. Penutur menyampaikan bahan diskusi dan telah selesai memberikan ceramah mengenai ‘nasib’. Penutur memberikan kesempatan peserta diskusi untuk bertanya mengenai bahan diskusi yang telah diterangkannya, namun tidak ada seorangpun yang ingin menanggapi. Penutur kemudian memotivasi peserta diskusi agar bertanya dengan alasan tidak mengeluarkan biaya ketika mengungkapkan pendapat, tanggapan atau pertanyaan Tujuan penutur adalah ingin memotivasi mitra tutur agar bertanya pada renungan yang telah penutur sampaikan Tindak verbal : direktif. Tindak perlokusi : terdapat beberapa pendengar yang mengajukan pertanyaan untuk penutur. e) Maksud Penutur bermaksud memotivasi para pendengar agar memiliki antusias bertanya pada acara diskusi tersebut. 8. Subkategori Berprasangka Subkategori berprasangka merupakan subkategori yang menyatakan anggapan yang kurang baik maupun tidak kesepahaman mengenai suatu

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 pendapat yang sedang atau telah disampaikan. Berkaitan dengan kategori ini, maka penyampaian anggapan atau pendapat disampaikan secara sengaja dan membuat mitra tutur tersinggung. Cuplikan tuturan A20 MT : Banthe, nek wong oleh karma niku nopo penyebabe? P : Wo yo jelas, mosok kowe gak ngerti? Karma kuwi ono mergo seko tindak-tanduk sing ora jelas lan bertentangan karo ajaran agamane dewe. Hayo kowe bar ngopo kok pitakonmu ra koyo biasane? (Konteks: Tuturan ini terjadi saat diskusi intern umat di Vihara Vidyaloka. Penutur seorang pemuka agama, laki-laki dengan usia 58 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat, perempuan dengan usia 23 tahun. Mitra tutur menanyakan mengenai karma yang diterima seseoarang dan mencari tahu penyebabnya Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur secara singkat, dan berusaha bertanya balik mengenai tingkah laku yang sebelumnya dilakukan oleh mitra tutur karena pertanyaan tidak seperti biasanya) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Wo yo jelas, mosok kowe gak ngerti? Karma kuwi ono mergo seko tindak-tanduk sing ora jelas lan bertentangan karo ajaran agamane dewe. Hayo kowe bar ngopo kok pitakonmu ra koyo biasane?” (Ya jelas, masa kamu tidak tahu? Karma itu ada karena dari tingkah laku yang tidak jelas dan bertentangan degan ajaran

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 agamanya kita. Hayo, kamu barusan ngapain kok pertanyaanmu tidak seperti biasanya?) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan penutur secara sinis. Penutur terkesan mencurigai mitra tutur berbuat sesuatu yang melanggar agama. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah tanya, tekanan keras pada frasa wo yo jelas, mosok kowe gak ngerti. Partikel yang digunakan wo, yo, kok Diksi yang digunakan adalah bahasa nonstandar yakni bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat diskusi intern umat di Vihara Vidyaloka. Penutur seorang pemuka agama, laki-laki dengan usia 58 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat, perempuan dengan usia 23 tahun. Mitra tutur menanyakan mengenai karma yang diterima seseoarang dan mencari tahu penyebabnya Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur secara singkat, dan berusaha bertanya balik mengenai tingkah laku yang sebelumnya dilakukan oleh mitra tutur karena pertanyaan tidak seperti biasanya. Tujuan penutur adalah mencurigai mitra tutur melakukan sesuatu setelah mitra tutur bertanya pada penutur. Tindak verbal : ekspresif. Tindak perlokusi : mitra tutur hanya tersenyum malu mendengar pertanyaan dari penutur.

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 e) Maksud Penutur bermaksud bercanda dalam menyampaikan gagasan untuk pertanyaan yang dilontarkan mitra tutur. 4.2.1.2 Kategori Ketidaksantunan Menghilangkan Muka Berikut ini adalah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka yang disajikan berdasarkan subkategori ketidaksantunan dan disajikan dengan (1) wujud linguistik, (2) wujud pragmatik, (3) penanda linguistik, (4) penanda pragmatik (konteks tuturan), dan maksud ketidaksantunan.. 1. Subkategori Mengejek Subkategori mengejek pada kategori menghilangkan muka berbeda dengan subkategori mengejek pada katagori melecehkan muka. Subkategori mengejek pada kategori ini lebih menitikberatkan pada tuturan yang memiliki sifat umpatan dan berdampak merendahkan mitra tutur (merasa kehilangan muka). Berbeda dengan tuturan yang diklasifikasikan pada subkategori mengejek di kategori melecehkan muka, yang berdampak kecil bagi mitra tutur (tidak sampai merasa kehilangan muka), seperti hanya dihiraukan/ tidak dipedulikan oleh mitra tutur, dan sebagainya. Cuplikan tuturan B2 MT: “Wis jan, aku mumet karo tingkahe bojoku dewe, pak. Muk dikon ning Vihara sedelo wae angel banget” P: “Lha piye toe, pak? MT : Arep tak jeki sembayang wae alasan akeh banget, puyeng sirahku... P: Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras Vihara Vidyaloka saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi. Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan halhal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha” (Mbok dicoba dikelitiki, siapa tahu kalau mau) b) Wujud Pragmatik Penutur menyampaikan candaan tapi dengan kesan mengejek. Tuturan membuat malu mitra tutur karena disampaikan di banyak orang. Penutur menyampaikan dengan cara yang sinis. c) Penanda Linguistik Intonasi yang dituturkan adalah berita. Penutur mempergunakan nada sedang. Tekanan tuturan lunak. Diksi yang digunakan adalah bahasa nonstandar, di mana penggunaan istilah bahasa Jawa sangat kental. Kategori fatis yang ada dalam tuturan mbok. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi di lingkungan Vihara, ketika MT dan penutur sedang sharing mengenai permasalahan kehidupan berumah tangga MT.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 Penutur laki-laki, berusia 58 tahun, MT laki-laki berusia 47 tahun. MT sedang sharing mengenai permasalahan kehidupannya dengan istrinya pada seorang pendakwah di Vihara tersebut. Penutur menilai suami MT dengan tuturan yang merendahkan. MT meminta saran terhadap penutur tapi penutur hanya memberikan tuturan yang merendahkan istri dari MT. Tujuan penutur memberikan gambaran singkat mengenai suami dari MT. Tindak verbal: direktif. Tindak perlokusi: MT tertawa mendengar argumen dari penutur e) Maksud Penutur bermaksud bercanda terhadap mitra tutur karena melihat masalah yang sedang dihadapi oleh mitra tutur, namun hal itu disampaikan di depan banyak orang. Cuplikan tuturan B3 MT: “Sugeng enjang, Bhante”. P: “Weh kowe, gek wae ngetok kowe”. MT: ”Nggih Banthe, wingi sek wonten kasus” P: ”Kasus opo maneh?” MT: “Pokoke wonten, Banhe”(sambil tersenyum malu) P : “ Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh” MT: “Nggih paling niki,” *Kewan telu (tiga hewan): symbol dari ajaran pada agama Budha, yakni babi yang berarti bodoh, ayam yang berarti nafsu, dan ular yang berarti kemungkaran/ kejahatan. (Konteks tuturan : Tuturan terjadi pada waktu acara kebaktian akan belangsung di Vihara Vidyaloka. Penutur merupakan seorang pemuka umat yang berusia 67 tahun sedangkan, MT adalah seorang umat dan narapidana berusia 48 tahun. Penutur menyampaikan pada MT mengenai keberadaannya (tidak pernah kelihatan pada waktu kebaktian). MT menyampaikan alasannya. Penutur memberitahu dengan intonasi yang menyindir MT)

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh” (Ketika masuk penjara 3 kali, kamu baru mengakui kalau punya Budha, kemana saja kamu kemarin? Paling tempo hari hewan tiga itu baru datang padamu semua) b) Wujud Pragmatik Penutur menyampaikan di depan banyak orang dan membuat malu mitra tutur. Tuturan secara tidak langsung merendahkan status mitra tutur di depan banyak orang. Tuturan akan menyinggung perasaan mitra tutur. c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah berita. Penutur berbicara menggunakan nada yang sedang. Tekanan tuturan lunak. Diksi tuturan adalah bahasa nonstandar dengan istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi pada waktu acara kebaktian akan berlangsung di Vihara. Penutur merupakan seorang pemuka umat yang berusia 67 tahun sedangkan, MT adalah seorang umat dan narapidana berusia 48

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 tahun. Penutur menyampaikan pada MT mengenai keberadaannya (tidak pernah kelihatan pada waktu kebaktian). MT menyampaikan alasannya. Penutur memberitahu dengan intonasi yang menyindir MT. Tujuan: penutur menyindir MT dengan alasan menasehati agar lebih rajin beribadah. Tindak verbal: deklarasi. Tindak perlokusi: MT merasa malu mendengar ucapan penutur e) Maksud Penutur bermaksud menuduh terhadap mitra tutur mengenai filosofi dasar ajaran agama Budha karena melihat masalah yang sedang dihadapi oleh mitra tutur, namun hal itu disampaikan di depan banyak orang. Penutur juga menegaskan bahwa mitra tutur adalah seorang mantan narapidana yang membuat mitra tutur sangat malu. 2. Subkategori Memperingatkan. Subkategori memperingatkan juga mempunyai perbedaan yang jelas antara subkategori memperingatkan dalam kategori melecehkan muka dan kategori menghilangkan muka. Perbedaannya sama pada subkategori sebelumnya, yakni pada efek atau dampak tuturan yang disampaikan penutur pada mitra tutur. Cuplikan tuturan B1 MT1 & MT2: (sedang bersenda gurau pada waktu persiapan kebaktian sembayangan di lingkungan Vihara) P: “ Heh tak kandani, nek wong Budha kuwi yo nduwe dino bakda, bedane nek dino bakda Budha koyo ngene kie malah susah. Kowe ngerti gek repot ngene kie malah seneng-seneng wae”

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha, yang sedang melakukan persiapan kebaktian sembayangan. Penutur laki-laki, berusia 37 tahun. MT laki-laki, MT1&2 berusia 18 & 20 tahun. MT sedang bersenda gurau ketika para umat sedang melakukan persiapan menyambut upacara keagamaan. Penutur menasehati kedua MT agar melakukan sepantasnya) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Heh tak kandani, nek wong Budha kuwi yo nduwe dino bakda, bedane nek dino bakda Budha koyo ngene kie malah susah. Kowe ngerti gek repot ngene kie malah seneng-seneng wae” (Heh tak bilangin, kalau orang Budha itu ya punya Hari Besar, bedanya kalau Hari Besar seperti ini malah susah. Kamu tahu sedang repot seperti ini malah senang-senang saja) b) Wujud Pragmatik Tuturan menyinggung perasaan mitra tutur. Mitra tutur merasa malu karena tuturan tersebut. Tuturan disampaikan dengan cara yang sinis dan ketus c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi seru. Penutur berbicara dengan nada yang keras. Tekanan keras pada frasa heh tak kandani. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar karena menggunakan istilah bahasa Jawa. Partikel atau kategori fatis yang ada pada tuturan adalah kie, dan heh.

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha, yang sedang melakukan persiapan kebaktian sembayangan. Penutur laki-laki, berusia 37 tahun. MT laki-laki, MT1&2 berusia 18 & 20 tahun. MT sedang bersenda gurau ketika para umat sedang melakukan persiapan menyambut upacara keagamaan. Penutur menasehati kedua MT agar melakukan sepantasnya. Tujuan penutur memberitahu MT bahwa seharusnya mereka ikut berpartisipasi. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: MT merasa malu banyak orang lain dan meminta maaf pada penutur. e) Maksud Penutur bermaksud kesal terhadap mitra tutur mengenai tindakan mitra tutur dalam menyambut hari besar. Tuturan ini berdampak pada mitra tutur yang sangat malu karena hal itu disampaikan di depan banyak orang. 3. Subkategori Menasehati Subkategori menasehati merupakan anjuran atau suruhan yang dituturkan oleh penutur agar mengikuti apa yang menjadi kehendak atau ajarannya. Berkaitan dengan kategori menghilangkan muka, dalam tindakan bertutur kata penutur menyampaikannya secara sengaja sampai membuat mitra tutur sangat kehilangan muka.

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 Cuplikan tuturan B4 P : Kowe mbok ning wektu ceramah ro Banthe mbok ojo omong dewe. Ribut karepe dewe! Sesuk maneh ojo ngono kuwi! MT : Nggih Pak, nuwun ngampunten. (Konteks: tuturan ini terjadi setelah berlangsungnya kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 55 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 16 tahun. Mitra tutur dan teman-temannya menganggu jalannya kekhusyukan ibadah karena mereka malah sibuk mengobrol ketika kebaktian telah berlangsung. Penutur merasa terganggu oleh tingkah mitra tutur dan memberikan nasehat pada mitra tutur agar merasa jera akan tindakannya) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Kowe mbok ning wektu ceramah ro Banthe mbok ojo omong dewe. Ribut karepe dewe! Sesuk maneh ojo ngono kuwi!” (Kamu kalau pada waktu ceramah yang dipimpin oleh Banthe jangan ribut semaunya sendiri. Ribut saja! Besok lagi jangan seperti itu!) b) Wujud Pragmatik Tuturan menyinggung perasaan mitra tutur. Mitra tutur merasa malu karena tuturan tersebut. Tuturan disampaikan dengan cara yang sinis dan ketus c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi seru. Penutur berbicara dengan nada yang keras. Tekanan keras pada frasa ribut karepe dewe! Diksi yang

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 dipakai adalah bahasa nonstandar karena menggunakan istilah bahasa Jawa. Partikel atau kategori fatis yang ada pada tuturan adalah mbok. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi setelah berlangsungnya kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 55 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 16 tahun. Mitra tutur dan teman-temannya menganggu jalannya kekhusyukan ibadah karena mereka malah sibuk mengobrol ketika kebaktian telah berlangsung. Penutur merasa terganggu oleh tingkah mitra tutur dan memberikan nasehat pada mitra tutur agar merasa jera akan tindakannya. Tujuan penutur memberitahu mitra tutur agar tidak menganggu jalannya ceramah. Tindak verbal: direktif. Tindak perlokusi: MT merasa malu banyak orang lain dan meminta maaf pada penutur. e) Maksud Penutur bermaksud kesal terhadap mitra tutur mengenai tindakan mitra tutur dalam ceramah. Tuturan ini berdampak pada mitra tutur yang sangat malu karena hal itu disampaikan di depan banyak orang. 4. Subkategori Membantah Subkategori membantah ditandai tuturan mengenai pertentangan atau perbedaan kesepahaman yang tersampaikan secara disengaja dan membuat mitra tutur merasa kehilangan muka.

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 Cuplikan tuturan B5 MT : Bagi saya Buddha bukanlah sekedar agama. Agama Buddha adalah ajaran untuk berpikir bebas . P : Maaf Banthe menyela sedikit ungkapan yang Anda utarakan. Jika Buddha adalah untuk berpikir bebas dan hal tersebut merupakan sebuah agama, maka dapat disimpulkan bahwa berpikir adalah sebuah agama. Hal seperti itu kok disebut agama! Saya masih bingung dengan pemikiran anda yang ambigu. MT : Tentu saja bukan seperti itu pemahaman yang akan saya berikan dan akan saya sampaikan. Dalam ajaran Kalamasutta terdapat 10 hal yang harus ditinjau secara seksama. Acuan saya hanya pada ajaran tersebut. (Konteks: Tuturan ini terjadi saat pertemuan forum Mahayana. Penutur dan mitra tutur merupakan pemuka umat. Penutur laki-laki dengan usia 63 tahun, sedangkan mitra tutur seorang laki-laki dengan usia 59 tahun. Terjadi perbedaan pendapat mengenai pembinaan umat Buddha, mitra tutur menyampaikan argumen yang menyatakan Buddha adalah ajaran untuk berpikir bebas. Pendapat tersebut dipotong dan dibantah oleh penutur yang menyatakan bahwa bukan sekedar berpikir untuk memperoleh Dharma Buddha. Mitra tutur mencoba memperdalam pernyataan yang telah disampaikan sebelumnya dengan berlandaskan ajaran Kalamasutta) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Maaf Banthe menyela sedikit ungkapan yang Anda utarakan. Jika Buddha adalah untuk berpikir bebas dan hal tersebut merupakan sebuah agama, maka dapat disimpulkan bahwa berpikir adalah sebuah agama. Hal seperti itu kok disebut agama! Saya masih bingung dengan pemikiran anda yang ambigu”

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 b) Wujud Pragmatik Tuturan menyinggung perasaan mitra tutur. Mitra tutur merasa pernyataan yang dia berikan belum lengkap, namun dibantah oleh penutur. Tuturan disampaikan dengan cara yang sinis dan ketus c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi seru. Penutur berbicara dengan nada yang keras. Tekanan keras pada frasa hal seperti itu kok disebut agama. Diksi yang dipakai adalah bahasa populer karena telah digunakan oleh masyarakat. Partikel atau kategori fatis yang ada pada tuturan adalah kok. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat pertemuan forum Mahayana. Penutur dan mitra tutur merupakan pemuka umat. Penutur laki-laki dengan usia 63 tahun, sedangkan mitra tutur seorang laki-laki dengan usia 59 tahun. Terjadi perbedaan pendapat mengenai pembinaan umat Buddha, mitra tutur menyampaikan argumen yang menyatakan Buddha adalah ajaran untuk berpikir bebas. Pendapat tersebut dipotong dan dibantah oleh penutur yang menyatakan bahwa bukan sekedar berpikir untuk memperoleh Dharma Buddha. Mitra tutur mencoba memperdalam pernyataan yang telah disampaikan sebelumnya dengan berlandaskan ajaran Kalamasutta. Tujuan penutur ingin membantah pendapat yang diutarakan oleh mitra tutur. Tindak verbal: ekspresif. Tindak

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 perlokusi: penutur mengakui dan menyetujui pendapat yang diungkapkan oleh mitra tutur. e) Maksud Penutur bermaksud mengungkapakan ketidaksetujuan terhadap mitra tutur mengenai tindakan mitra tutur dalam ceramah. Tuturan ini berdampak pada mitra tutur yang sangat malu karena hal itu disampaikan di depan banyak orang. 4.2.1.3. Kategori Ketidaksantunan Melanggar Norma Berikut ini adalah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan melanggar norma yang disajikan berdasarkan subkategori ketidaksantunan dan disajikan dengan (1) wujud linguistik, (2) wujud pragmatik, (3) penanda linguistik, (4) penanda pragmatik (konteks tuturan), dan maksud ketidaksantunan. 1. Subkategori Menegaskan Subkategori menegaskan pada kategori melanggar norma menitikberatkan penegasan pada tuturan yang negatif dan bertolak belakang pada norma yang mengikat suatu kalangan mengenai kesepakatan yang telah disetujui bersama. Cuplikan tuturan C1 MT: “kamu nih mau ketemu Bhikhu pakaianmu sak enake aja, pake kaos lagi!” P: “mbok, biar to Buk! Paling Banthe juga gak marahi aku”

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi pada pagi hari saat akan upacara kebaktian. Penutur perempuan, anak berusia 21 tahun. MT laki-laki berusia 57 tahun, bapak dari penutur. Penutur melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur tidak diperbolehkan mempergunakan kaos oblong ketika upacara kebaktian. MT melanggar aturannya sendiri dengan menggunakan kaos oblong pada upacara kebaktian) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Mbok, biar to Buk! Paling Banthe juga gak marahi aku” b) Wujud Pragmatik Penutur merasa bangga memakai pakaian yang dikenakannya. Penutur tidak menuruti perintah dari mitra tutur. Tuturan disampaikan dengan cara ketus. Tuturan yang disampaikan terkesan sembrono karena berbicara pada orang yang lebih tua. Penutur melanggar norma tentang cara peribadahan yang baik c) Penanda Linguistik Intonasi mengunakan seru. Penutur berbicara dengan nada keras. Tekanan keras pada frasa mbok biar to buk. Diksi dalam tuturan memakai kata-kata popular yang dikenal di masyarakat. Kategori fatis yang terdapat dalam tuturan adalah mbok dan to.

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi pada pagi hari saat akan upacara kebaktian. Penutur perempuan, anak berusia 21 tahun. MT laki-laki berusia 57 tahun, bapak dari penutur. Penutur melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur tidak diperbolehkan mempergunakan kaos oblong ketika upacara kebaktian. MT melanggar aturannya sendiri dengan menggunakan kaos oblong pada upacara kebaktian. Tujuan penutur menasehati MT bahwa tidak sopan memakai kaos ke Vihara. Tindak verbal: representatif. Tindak perlokusi: MT merasa kecewa dan malu atas tindakan penutur. e) Maksud Penutur mempunyai maksud ketidaksetujuan dengan perintah mitra tutur. Penutur merasa pakaian yang telah dikenakannya terasa nyaman, walaupun tidak tepat saat digunakan dalam acara keagamaan tersebut. 2. Subkategori Mengejek Subkategori mengejek dalam kategori ini memiliki karakteristik menyinggung perasaan mitra tutur agar sadar akan perbuatan yang melanggar kesepakatan yang telah disepakati bersama. Ejekan yang disampaikan adalah untuk memotivasi mitra tutur agar selalu ingat terhadap kesepakatan tersebut.

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 Cuplikan tuturan C2 MT: (datang terlambat pada kebaktian). “Nyuwun ngapunten, Pak, kulo telat!” P: Ngopo kowe telat? Udan po? Telat nemen maneh! (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka pada jam 2 siang. Ketika kebaktian akan dimulai. Penutur laki-laki, pemuka agama berusia 58 tahun. MT laki-laki, seorang pengurus vihara berusia 27 tahun. Terdapat aturan yang telah disepakati bersama mengenai waktu persiapan suatu kebaktian. MT melanggar aturan mengenai waktu persiapan kebaktian. Penutur menanyakan alasan keterlambatandengan sangat kesal) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Ngopo kowe telat? Udan po? Telat nemen maneh!” (Mengapa kamu terlambat? Hujan ya? Terlambatnya keterlaluan, lagi!) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara ketus. Penutur terkesan jengkel karena tindakan mitra tutur. Penutur membuat malu mitra tutur dan merasa direndahkan c) Penanda Linguistik Intonasi yang digunakan adalah seru. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa telat nemen maneh! Diksi yang dipakai dalam tuturan adalah bahasa nonstandar karena menggunakan istilah bahasa Jawa. Partikel yang digunakan dalam tuturan adalah po.

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka pada jam 2 siang. Ketika kebaktian akan dimulai. Penutur laki-laki, pemuka agama berusia 58 tahun. MT laki-laki, seorang pengurus vihara berusia 27 tahun. Terdapat aturan yang telah disepakati bersama mengenai waktu persiapan suatu kebaktian. MT melanggar aturan mengenai waktu persiapan kebaktian. Penutur menanyakan alasan keterlambatan Tujuan penutur beralasan untuk mencari tahu keterlambatan MT. Tindak verbal: representatif. Tindak perlokusi: MT menerangkan alasan keterlambatannya. e) Maksud Penutur mempunyai maksud kesal dengan mitra tutur. Hal tersebut dikarenakan mitra tutur sering terlambat dan menganggu dalam mempersiapkan jalannya peribadahan, secara mitra tutur bekerja sebagai pengurus penting dalam Vihara tersebut. Cuplikan tuturan C3 MT: Arep menyang kebaktian kok males, bali wae yo? P: “Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe” *Dalam ajaran Budha, babi adalah simbol dari sifat dasar manusia yaitu bodoh (Konteks tuturan : Tuturan terjadi saat pagi hari akan diadakan kebaktian sembayangan di Vihara. Penutur laki-laki, bapak berusia 49 tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 21 tahun. Penutur dan MT telah sepakat tentang hari dan waktu diadakan kebaktian. Penutur melanggar aturan tersebut, yakni asik menonton televisi dan secara

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147 sengaja mengabaikan ibadahnya. Penutur menyuruh MT untuk tidak malas berangkat kebaktian) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe” (Wo babinya yang muncul, orang mau beribadah kok senaknya sendiri) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan dengan cara yang ketus. Penutur mengumpamakan mitra tutur memiliki sifat sama dengan babi. Penutur merendahkan mitra tutur c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi berita. Penutur berbicara dengan nada keras. Tekanan kerasa pada frasa wo babine sing nyedul. Diksi tuturan mempergunakan bahasa nonstandar, karena mempergunakan istilah bahasa Jawa. Partikel yang digunakan wo dan kok. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi saat pagi hari akan diadakan kebaktian sembayangan di Vihara. Penutur laki-laki, bapak berusia 49 tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 21 tahun. Penutur dan MT telah sepakat tentang hari dan waktu diadakan kebaktian. Penutur melanggar aturan

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tersebut, yakni asyik menonton televisi dan 148 secara sengaja mengabaikan ibadahnya. Penutur menyuruh MT untuk tidak malas berangkat kebaktian. Tujuan penutur ingin meminta MT berangkat kebaktian. Tindak verbal: direktif. Tindak perlokusi: MT datang kebaktian dengan setengah hati. e) Maksud Penutur mempunyai maksud memotivasi mitra tutur. Hal tersebut dikarenakan mitra tutur malas untuk pergi beribadah. Penutur menyamakan sikap mitra tutur dengan sifat binatang yang memiliki sikap pemalas yakni babi. 3. Subkategori Menyinggung Subkategori menyinggung merupakan klasifikasi pengolongan tuturan yang bersifat menyakiti perasaan lawan tutur baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Cuplikan tuturan C4 (Kebaktian sedang berlangsung) MT: “Kae bocah isone tuk dolanan HP wae ning endi panggon” P: “Iyo Bu, ngandani wong sing dolanan HP kuwi koyo ngandani wong sing tandus akale (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi, saat berlangsungnya kebaktian di Vihara Vidyaloka. Penutur perempuan, berusia 36 tahun. MT perempuan, berusia 48 tahun. Penutur dan MT sepakat bahwa ketika kebaktian tidak mempergunakan alat komunikasi. Tujuan penutur dan MT sepakat bahwa seseorang yang sedang menggunakan HP tersebut menganggu jalannya kebaktian)

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149 Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Iyo Bu, ngandani wong sing dolanan HP kuwi koyo ngandani wong sing tandus akale” (Iya itu, Bu, memberitahu anak yang mainan HP itu seperti menasehati orang yang tandus pikirannya) b) Wujud Pragmatik Penutur berbicara pada orang yang lebih tua. Tuturan dapat menyinggung perasaan. Tuturan terkesan datar dan membuat penutur tidak merasa bersalah. Tuturan disampaikan dengan cara mengerutu. c) Penanda Linguistik Tuturan menggunakan intonasi berita. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan tuturan lunak. Diksi pada tuturan mempergunakan bahasa nonstandar, karena mempergunakan istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi, saat berlangsungnya kebaktian di Vihara Vidyaloka. Penutur perempuan, berusia 36 tahun. MT perempuan, berusia 48 tahun. Penutur dan MT sepakat bahwa ketika kebaktian tidak mempergunakan alat komunikasi. Tujuan penutur dan MT sepakat bahwa seseorang yang sedang menggunakan HP tersebut menganggu jalannya kebaktian. Tindak verbal: ekspresif. Tindak

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150 perlokusi: Penutur membiarkan seseorang tersebut menggunakan HP walaupun dia dan MT merasa terganggu. e) Maksud Penutur merasa kesal terhadap seseorang yang sibuk menggunakan alat komunikasi dengan tidak mengindahkan kebaktian yang sedang berlangsung. Kondisi tersebut dialaminya bersama mitra tutur. 4.2.1.4 Kategori Ketidaksantunan Menimbulkan Konflik/ Kesembronoan yang Disengaja Berikut ini adalah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik/ kesembronoan yang disajikan berdasarkan subkategori ketidaksantunan dan disajikan dengan (1) wujud linguistik, (2) wujud pragmatik, (3) penanda linguistik, (4) penanda pragmatik (konteks tuturan), dan maksud ketidaksantunan. 1. Subkategori Memerintah Subkategori memerintah pada kategori menimbulkan konflik memiliki perbedaan dengan kategori-kategori lainnya. Perbedaan tersebut terjadi dalam dampak yang timbul dari tuturan yang disampaikan secara tegas dan menyinggung perasaan mitra tutur maupun penutur. Hal tersebut juga menjadi latar belakang untuk timbulnya suatu konflik internal pada kedua belah pihak.

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151 Cuplikan tuturan D1 P: “Kalo ada Puja Bhakti, alangkah baiknya dateng to, mas!” MT: “Iya. Iya besok wae aku masih banyak urusan” (sambil bermuka masam) P: “Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik...” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. MT menjemput penutur ketika sembayangan selesai. MT melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur dan mitra tutur untuk berangkat Puja Bhakti bersama tapi MT ingkar janji. MT mengetahui bahwa penutur telah melanggar aturannya untuk rajin berangkat Puja Bhakti) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik...” (Aku hanya memberitahu yang benar, seperti itu saja marah) b) Wujud Pragmatik Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Tuturan disampaikan dengan cara ketus. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan sengaja c) Penanda Linguistik Tuturan mengunakan intonasi seru. Penutur berbicara dengan nada keras. Tekanan keras pada frasa ngono wae serik. Diksi dalam tuturan adalah bahasa nonstandar, di mana istilah bahasa Jawa dipakai secara utuh.

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. MT menjemput penutur ketika sembayangan selesai. MT melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur dan mitra tutur untuk berangkat Puja Bhakti bersama tapi MT ingkar janji. MT mengetahui bahwa penutur telah melanggar aturannya untuk rajin berangkat Puja Bhakti. Tujuan penutur menasehati MT agar berangkat sembayangan. Tindak verbal: direktif. Tindak perlokusi: penutur dan MT pergi pulang meninggalkan Vihara. e) Maksud Penutur merasa kesal terhadap mitra tutur yang menjawab perintahnya dengan muka yang masam dan terkesan mengabaikan perintah dari mitra tutur. Cuplikan tuturan D2 MT: “Kabeh kuwi kan mengko entuk karma seko tindakane utowo perilakune dewe-dewe, sopo nandur becik mesti enthuk becik” P: “Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi” MT: “La, aku kie ngandani kowe gek, malah muk balikno ning aku maneh” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. Penutur menjemput MT ketika sembayangan selesai. MT tidak berangkat beribadah dan telah diperingatkan oleh penutur. Penutur mengetahui bahwa MT telah melanggar aturannya. Penutur juga menasehati MT

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153 agar hal yang dikatakan oleh MT, harus direnungkan terlebih dahulu oleh MT. Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi” (Kamu bisa menasehati dirimu sendiri, renungkanlah sendiri omonganmu itu) b) Wujud Pragmatik Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Tuturan disampaikan dengan cara ketus. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan sengaja. Penutur berbicara dengan suaminya sendiri. Penutur terkesan tidak hormat dengan mitra tutur c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi seru. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa gene kowe iso ngandani awakmu dewe. Diksi pada tuturan menggunakan bahasa nonstandar yang memakai istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. Penutur

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154 menjemput MT ketika sembayangan selesai. MT tidak berangkat beribadah dan telah diperingatkan oleh penutur. Penutur mengetahui bahwa MT telah melanggar aturannya. Penutur juga menasehati MT agar hal yang dikatakan oleh MT, harus direnungkan terlebih dahulu oleh MT. Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur. Tujuan: penutur menasehati MT agar tuturan penutur direnungkan terlebih dulu oleh penutur. Tindak verbal: direktif. Tindak perlokusi: penutur dan MT pergi pulang meninggalkan Vihara. e) Maksud Penutur merasa kesal dan bosan terhadap nasehat monoton yang diberikan oleh mitra tutur. 4.2.1.5 Kategori Ketidaksantunan Mengancam Muka Sepihak Berikut ini adalah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak yang disajikan berdasarkan subkategori ketidaksantunan dan disajikan dengan (1) wujud linguistik, (2) wujud pragmatik, (3) penanda linguistik, (4) penanda pragmatik (konteks tuturan), dan maksud ketidaksantunan. 1. Subkategori Mengejek Subkategori mengejek dalam kategori mengancam muka sepihak/ kesembroan yang disengaja ditandai dengan tuturan dari penutur yang

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155 disampaikan secara tidak sadar menyinggung mitra tutur, namun hal tersebut telah merendahkan mitra tutur. Cuplikan tuturan E2 P: “Akhir-akhir iki, kok ra tau ketok neng Vihara, Neng endi wae?” MT: “Wah aku sibuk tenan, labuh terus gawe butuhan ra cukup..” P: Karang nek masalah duit ono nek urusan agama dianggep sepele, yo? (Konteks tuturan : Tuturan terjadi pada siang hari di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki usia 67 tahun, MT laki-laki usia 40 tahun. Penutur menanyakan keberadaan MT yang jarang kelihatan pada kebaktian di Vihara. MT sibuk dengan usaha yang dimilikinya sehingga jarang mengikuti kebaktian) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Karang nek masalah duit ono nek urusan agama dianggep sepele, yo?” (Kalau masalah uang dibandingkan masalah agama dianggap hal sepele, ya?) b) Wujud Pragmatik Tuturan membuat malu mitra tutur. Tuturan bersifat menyinggung mitra tutur tetapi tidak menyadari bahwa tuturan telah mengancam muka mitra tutur. Tuturan disampaikan dengan ketus/ sembrono. c) Penanda Linguistik Tuturan menggunakan intonasi tanya. Penutur berbicara menggunakan nada sedang. Tuturan disampaikan dengan tekanan yang lunak.

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156 Kategori fatis yo dalam tuturan. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar, dengan memakai istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi pada siang hari di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki usia 67 tahun, MT laki-laki usia 40 tahun. Penutur menanyakan keberadaan MT yang jarang kelihatan pada kebaktian di Vihara. MT sibuk dengan usaha yang dimilikinya sehingga jarang mengikuti kebaktian. Tujuan penutur menyuruh MT untuk rajin beribadah. Tindak verbal: representatif. Tindak perlokusi: MT akan berangkat kebaktian di waktu akan datang e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud asal bicara, yakni dengan menyimpulkan keadaan sekitar secara umum saja. Cuplikan tuturan E7 P: Kowe moco Karaniyametta Sutta bola-bali kok ra apal-apal, koyo umat amatiran, wuuuu… MT: Saknajan moco koyo ngene iki awak dewe kudu ngerti lan iso ngelakoni isi seko khotbah Buddha iki. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat Puja Bakti selesai dilakukan. Penutur laki-laki, umat berusia 25 tahun, MT laki-laki, umat berusia 27 tahun. Penutur mencemooh MT karena membaca Karaniyametta Sutta masih mengunakan buku tuntunan. MT menjelaskan bahwa untuk memahami bacaan seperti ini harus mengerti dan bisa melakukan khotbah dari Budha)

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 157 Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Kowe moco Karaniyametta Sutta bola-bali kok ra apal-apal, koyo umat amatiran” (Kamu membaca Karaniyametta Sutta bolak-balik kok tidak hafal-hafal, seperti umat amatiran saja) b) Wujud Pragmatik Penutur tidak menyadari bahwa ia berbicara pada orang yang lebih tua dari dirinya. Penutur membuat mitra tutur merasa direndahkan dalam agama. Tuturan disampaikan dengan cara yang sembrono. c) Penanda Linguistik Tuturan menggunakan intonasi tanya. Penutur berbicara menggunakan nada sedang. Tuturan disampaikan dengan tekanan yang lunak. Kategori fatis yo dalam tuturan. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar, dengan memakai istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat Puja Bakti selesai dilakukan. Penutur laki-laki, umat berusia 25 tahun, MT laki-laki, umat berusia 27 tahun. Penutur mencemooh MT karena membaca Karaniyametta Sutta masih mengunakan menjelaskan buku tuntunan. MT bahwa untuk memahami bacaan seperti ini harus mengerti dan bisa melakukan

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 khotbah dari Budha. Tujuan penutur menyindir cara MT membaca mantra yang terkesan amatiran. Tindak verbal: representatif. Tindak perlokusi: penutur hanya terdiam mendengar tuturan dari MT. e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud asal bicara, yakni dengan menyimpulkan keadaan sekitar secara umum saja. Cuplikan tuturan E8 P: Dalam ajaran agama Budha dikenal adanya perenungan hukum sebab akibat, maka harus dibuka dengan perenungan kemudian dilanjutkan dengan harapan, Kados mekaten bapak. MT: Berarti menawi kulo nindaki gawean kejahatan sakpanungalane tapi dinggo kesejahteraan keluarga niku becik nopo mboten, Banthe? Nuwun sewu radi sembrono P: Berarti gawean Bapak penjahat, hahaha. Geh koyo nggoten niku mboten diajari ting agama pundhi mawon, nafkahi anak bojo niku kedah rejeki ingkang berkah (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat diadakan ceramah sekaligus tanya jawab seputar agama Budha. Penutur laki-laki, penceramah berusia 57 tahun, MT laki-laki, umat berusia 38 tahun. Ceramah ini penutur sedang berceramah tentang adanya karma dalam setiap perbuatan. MT bertanya mengenai seseorang yang berbuat kejahatan. Penutur menuduh MT sebagai penjahat dengan dalih bercanda dan sebagai selingan dalam jalannya ceramah) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut.

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 a) Wujud Linguistik “Berarti gawean Bapak penjahat, hahaha. Geh koyo nggoten niku mboten diajari ting agama pundhi mawon, nafkahi anak bojo niku kedah rejeki ingkang berkah” b) Wujud Pragmatik Penutur membuat mitra tutur merasa malu di depan umum. Tuturan yang disampaikan bersifat ketus. Penutur tidak menyadari bahwa tuturannya telah mengancam mitra tutur. c) Penanda Linguistik Tuturan menggunakan intonasi berita. Penutur berbicara menggunakan nada sedang. Tuturan disampaikan dengan tekanan yang lunak. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar, dengan memakai istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat diadakan ceramah sekaligus tanya jawab seputar agama Budha. Penutur laki-laki, penceramah berusia 57 tahun, MT laki-laki, umat berusia 38 tahun. Ceramah ini penutur sedang berceramah tentang adanya karma dalam setiap perbuatan. MT bertanya mengenai seseorang yang berbuat kejahatan. Penutur menuduh MT sebagai penjahat dengan dalih bercanda dan sebagai selingan dalam jalannya ceramah. Tujuan: penutur mengejek berdasarkan pertanyaan yang diajukan MT dan digunakan sebagai

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 selingan candaan dalam ceramah tersebut. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: MT tertawa malu mendengar ucapan penutur. e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud asal bicara, yakni dengan menyimpulkan keadaan sekitar secara umum saja. 2. Subkategori Menyindir Subkategori menyindir pada kategori mengancam muka sepihak bersifat mengkritik mengenai tuturan yang disampaikan oleh mitra tutur. Berkaitan dengan kategori ini tuturan disampaikan dengan tidak sengaja, namun hal tersebut telah merendahkan mitra tutur. Cuplikan tuturan E1 MT (sedang berkomunkasi pada penutur mengosipkan seseorang) P : “Nuwun sewu, Mbak nek omong mbek saya gak opo, tapi nek karo koncomu utowo wong liyo kok koyo kurang pas lan kuwi urung mesti bener” MT (bermuka malu) (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki, pemuka agama 67 tahun, MT perempuan berusia 36 tahun. MT sedang membahas mengenai sesorang yang menjadi perhatiannya. Penutur merasa bergunjing adalah tindakan tidak sopan, maka penutur bermaksud untuk memperingatkan MT) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut.

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161 a) Wujud Linguistik “Nuwun sewu, Mbak nek omong mbek saya gak opo, tapi nek karo koncomu utowo wong liyo kok koyo kurang pas lan kuwi urung mesti bener” (Permisi, mbak. Kalau berbicara sama saya tidak apa-apa, tapi jika berbicara pada orang lain kok seperttinya kurang pas dan belum tentu benar) b) Wujud Pragmatik Tuturan membuat mitra tutur merasa malu. Tuturan disampaikan dengan cara ketus walaupun bersifat untuk menasehati. Tuturan tidak secara sengaja namun penutur merasa bahan pembicaraan tidak cocok dibahas c) Penanda Linguistik Tuturan menggunakan intonasi berita. Penutur berbicara menggunakan nada sedang. Tekanan pada tuturan lunak. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar dengan istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki, pemuka agama 67 tahun, MT perempuan berusia 36 tahun. MT sedang membahas mengenai sesorang yang menjadi perhatiannya. Penutur merasa bergunjing adalah tindakan tidak sopan, maka penutur bermaksud untuk memperingatkan MT. Tujuan penutur tidak memiliki maksud tertentu, penutur hanya memperingatkan MT untuk tidak memperbincangkan seseorang tersebut. Tindak verbal: ekspresif.

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162 Tindak perlokusi: MT memohon maaf pada penutur mengenai perkataannya yang kurang pas. e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud ketidaksetujuan, karena penutur juga merasa malas untuk membicarakan bahan pembicaraan yang kurang pas di benaknya. Cuplikan tuturan E5 P: Bapake sing lungguh mburi pisan kae, sajake ngerti opo ora sing mau aku omongno, koyo kok mung clingak-clinguk tanpa sebab, MT: (MT kaget) P:Mung guyon loe pak, ojo digowo nesu (Konteks tuturan : Tuturan terjadi saat ceramah keagamaan. Penutur laki-laki 47 tahun seorang umat dan penceramah, MT laki-laki seorang umat berusia 39 tahun. Penutur menunjuk MT yang duduk di belakang. Penutur menyindir MT yang hanya duduk dan sambil ngobrol pada teman disebelahnya. Penutur merasa tersinggung karena ceramahnya tidak diperhatikan. Penutur menuturkan situasi seperti itu dengan alasan bercanda) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Bapake sing lungguh mburi pisan kae, sajake ngerti opo ora sing mau aku omongno, koyo kok mung clingak-clinguk tanpa sebab” (Bapak yang duduk belkang sendiri itu, kelihatannya tdak mengerti apa yang saya bicarakan, kok cuma clingak-clinguk sendiri tanpa sebab)

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163 b) Wujud Pragmatik Tuturan ditujukan untuk intermezzo bercanda dalam kegiatan yang sedang dilaksanakan. Tuturan membuat mitra tutur merasa kaget dan malu. Tuturan juga tidak jelas menunjuk mitra tutur yang duduk di belakang karena ada beberapa orang yang duduk di belakang c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi berita. Penutur berbicara dengan nada keras. Tekanan keras pada frasa bapak sing lungguh mburi pisan kae. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar, dengan istilah bahasa Jawa. Paritikel yang tampak pada tuturan adalah kok. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi saat ceramah keagamaan. Penutur laki-laki 47 tahun seorang umat dan penceramah, MT laki-laki seorang umat berusia 39 tahun. Penutur menunjuk MT yang duduk di belakang. Penutur menyindir MT yang hanya duduk dan sambil ngobrol pada teman disebelahnya. Penutur merasa tersinggung karena ceramahnya tidak diperhatikan. Penutur menuturkan situasi seperti itu dengan alasan bercanda. Tujuan penutur bermaksud untuk mendapatkan perhatian akan ceramahnya dan menggunakan tuturan itu sebagai selingan candaan. Tindak verbal: direktif. Tindak tutur : MT merasa malu dan ceramah kembali dilanjutkan.

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud bercanda, karena penutur mengunakan joke dalam ceramah keagamaan yang sedang dia pimpin. Cuplikan tuturan E9 P : Kulo gadah cerita mengenai bab bebojoan. Umat kulo duwe bojone niku dikei rejeki pinten mawon mesti kurang, jan mboten nrimo saget syukur babar blas. Bojo njenengan geh ngonten niku, Pak? Santai mawon duwe ingon-ingon koyo ngoten niku disabari mangkih kan mati kiyambak. MT : (tertawa mendengar khotbah yang disampaikan) (Konteks: tuturan ini terjadi saat berlangsungnya khotbah keagamaan di Vihara Vidyaloka. Penutur seorang pemuka agama, laki-laki dengan usia 64 tahun, sedangkan mitra tutur adalah umat yang hadir dalam acara khotbah tersebut. Dalam khotbah yang disampaikan penutur bercerita tentang kehidupan berkeluarga, di mana seorang istri yang tidak dapat mensyukuri rejeki yang telah diberikan oleh suami untuk memenuhi kebutuhan. Penutur menunjuk seseorang secara sembarang untuk disamakan dengan ilustrasi persoalan khotbah. Penutur memberikan motivasi pada seseorang tersebut agar sabar karena mempunyai peliharaan seperti itu. Penutur mengukapkan pernyataan tersebut dengan maksud mendapatkan perhatian pendengar tentang khotbahnya) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Kulo gadah cerita mengenai bab bebojoan. Umat kulo duwe bojone niku dikei rejeki pinten mawon mesti kurang, jan mboten nrimo saget syukur babar blas. Bojo njenengan geh ngonten niku, Pak? Santai mawon duwe ingon-ingon koyo ngoten niku disabari mangkih kan mati kiyambak.” (Saya punya cerita mengenai bab

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165 suami-istri. Umat saya mempunyai istro yang diberi rejeki berapapun selalu kurang, tidak bisa mensyukuri apapun. Istri anda juga seperti itu, Pak? Santai saja punya peliharaan seperti itu disabari saja, nanti akan mati sendiri ) b) Wujud Pragmatik Tuturan ditujukan untuk intermezzo bercanda dalam kegiatan yang sedang dilaksanakan. Tuturan membuat mitra tutur merasa kaget dan malu. Tuturan juga tidak jelas menunjuk mitra tutur secara pasti, karena hanya mengumpamakan/ belum tentu benar. c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi berita. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa Santai mawon pak. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar, dengan istilah bahasa Jawa. Partikel yang tampak pada tuturan adalah blas. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat berlangsungnya khotbah keagamaan di Vihara Vidyaloka. Penutur seorang pemuka agama, laki-laki dengan usia 64 tahun, sedangkan mitra tutur adalah umat yang hadir dalam acara khotbah tersebut. Dalam khotbah yang disampaikan penutur bercerita tentang kehidupan berkeluarga, di mana seorang istri yang tidak dapat mensyukuri rejeki yang telah diberikan oleh suami untuk memenuhi kebutuhan. Penutur menunjuk seseorang secara sembarang untuk disamakan dengan ilustrasi persoalan khotbah. Penutur memberikan

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166 motivasi pada seseorang tersebut agar sabar karena mempunyai peliharaan seperti itu. Penutur mengukapkan pernyataan tersebut dengan maksud mendapatkan perhatian pendengar tentang khotbahnya Tujuan penutur bermaksud untuk mendapatkan perhatian akan ceramahnya dan menggunakan tuturan itu sebagai selingan candaan. Tindak verbal: ekspresif. Tindak tutur : MT merasa malu dan ceramah kembali dilanjutkan. e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud bercanda, karena penutur mengunakan joke dalam ceramah keagamaan yang sedang dia pimpin. Cuplikan tuturan E10 P : Opo yo sing dipikir ro Banthe-Banthe mau? Koyone urip ning donya kuwi rak muk gagas babar blas, sing dipikir mung mlebu surga wae! MT : Heh omonganmu lo, nek krungu sing dirasani malah wirang dewe (Konteks: tuturan ini terjadi saat ceramah keagamaan di Vihara Vidyaloka. Penutur adalah seorang umat laki-laki berusia 38 tahun, sedangkan mitra tutur seorang perempuan berusia 36 tahun. Penutur dan mitra tutur adalah pasangan suami-istri. Penutur berpendapat mengenai kehidupan yang dialami oleh seorang pemuka agama. Penutur bergumam mengenai pemuka agama yang hanya memikirkan kehidupan surgawi saja dan tidak begitu mementingkan kehidupan duniawi. Mendengar pernyataan tersebut mitra tutur merasa malu dan berusaha memberitahu penutur) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut.

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167 a) Wujud Linguistik “Opo yo sing dipikir ro Banthe-Banthe mau? Koyone urip ning donya kuwi rak muk gagas babar blas, sing dipikir mung mlebu surga wae!” (Apa ya yang dipikir sama Banthe-Banthe tadi? Sepertinya hidup di dunia itu tidak terlalu dipikir berlebih, dan hanya memikirkan kehidupan surga saja) b) Wujud Pragmatik Tuturan disampaikan secara ketus. Penutur hanya bertujuan untuk mengungkapkan yang dia rasakan mengenai kehidupan yang dialami Banthe pada mitra tutur. Penutur juga tidak ingin tuturannya diperdengarkan orang lain, selain mitra tutur. c) Penanda Linguistik Tuturan memakai intonasi berita. Penutur berbicara dengan nada rendah. Tekanan lunak. Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar, dengan istilah bahasa Jawa. Paritikel yang tampak pada tuturan adalah yo. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat ceramah keagamaan di Vihara Vidyaloka. Penutur adalah seorang umat laki-laki berusia 38 tahun, sedangkan mitra tutur seorang perempuan berusia 36 tahun. Penutur dan mitra tutur adalah pasangan suami-istri. Penutur berpendapat mengenai kehidupan yang dialami oleh seorang pemuka agama. Penutur bergumam mengenai pemuka agama yang hanya memikirkan

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 168 kehidupan surgawi saja dan tidak begitu mementingkan kehidupan duniawi. Mendengar pernyataan tersebut mitra tutur merasa malu dan berusaha memberitahu penutur. Tujuan penutur adalah untuk membagi pemikirannya mengenai kehidupan para Banthe. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi : penutur diam dan merasa malu karena teguran dari mitra tutur e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud asal bicara dan tidak memikirkan akibat yang dia sampaikan jika tuturan tersebut terdengar oleh orang lain. 3. Subkategori Menegaskan Subkategori menegaskan pada kategori mengancam muka sepihak ini ditandai dengan menerangkan suatu ungkapan atau tuturan yang dialami oleh penutur secara tegas tapi tidak disengaja. Hal tersebut dapat berdampak menyinggung maupun merendahkan orang lain. Cuplikan tuturan E4 (situasi sedang diadakan ceramah keagamaan) MT: “Ngantuk, dab?” P: “Iyo, nandi panggone ceramah gawe ngantuk. Padune kowe yo ngantuk to?” MT: “Omonganmu lo! Kowe ngono!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi pada berlangsungnya ceramah keagamaan di Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki berusia 23 tahun, MT laki-laki berusia 24 tahun. MT menanyakan kondisi penutur yang sedang mengantuk. Penutur menjawabnya dengan tuturan yang bersifat menegaskan jika ada ceramah di mana saja pasti membuat ngantuk)

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 169 Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Iyo, nandi panggone ceramah gawe ngantuk. Padune kowe yo ngantuk to?” (Iya, ceramah manapun selalu mebuat mengantuk. Kamu juga mengantuk, bukan?) b) Wujud Pragmatik Penutur tidak sadar bahwa mitra tutur lebih tua dari dirinya. Tuturan disampaikan dengan cara yang ketus. Penutur juga menyamakan kondisi yang sedang dialaminya pada mitra tutur. c) Penanda Linguistik Tuturan menggunakan intonasi berita. Nada tutur penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan tuturan lunak. Diksi menggunakan bahasa nonstandar yang memakai istilah bahasa Jawa. Partikel yang tampak pada tuturan adalah to d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi pada berlangsungnya ceramah keagamaan di Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki berusia 23 tahun, MT laki-laki berusia 24 tahun. MT menanyakan kondisi penutur yang sedang mengantuk. Penutur menjawabnya dengan tuturan yang bersifat menegaskan jika ada ceramah di mana saja pasti membuat ngantuk. Tujuan penutur menegaskan bahwa ceramah membuat dia mengantuk.

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: penutur 170 tetap mendengarkan ceramah dengan kondisi yang mengantuk. e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud asal bicara, karena penutur merasa bosan dan mengantuk pada ceramah yang dia dengarkan. Cuplikan tuturan E6 MT1: Ojo ngasi omonganmu gawe nyerik lan ngerendahke wong liyo, iku biso dadi petenge bebrayan P: Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati MT2: La, malah sing keno aku. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan di Vihara Buddha Prabha. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati” (Itu Pak, renungkan yang Banthe ucapkan, kalau sama orang lain dalam berbicara harus laras dan hati-hati)

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 171 b) Wujud Pragmatik Tuturan menuduh mitra tutur 2 sering melakukan hal yang dituduhkan penutur. Penutur tidak mau disalahkan dalam situasi tersebut. Penutur berbicara pada orang yang lebih tua yaitu suaminya ‘MT2’. Tuturan membuat mitra tutur 2 merasa kaget dan malu dihadapan mitra tutur 1. c) Penanda Linguistik Tuturan menggunakan intonasi seru. Penutur berbicara dengan nada keras. Tuturan keras pada frasa kuwi pak. Diksi tuturan memakai bahasa nonstandar. d) Penanda Pragmatik Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan di Vihara Buddha Prabha. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur. Tujuan penutur menegaskan untuk ingat dan menjalankan apa yang diucapkan MT1. Tindak verbal: direktif. Tindak perlokusi: MT2 menuduh istrinya juga sering melakukan perbuatan yang diucapkan. e) Maksud Penutur menyampaikan dengan maksud membalikkan keadaan, karena penutur merasa tidak ingin dipersalahkan dalam obrolan yang sedang terjadi.

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. 172 Subkategori Menyinggung Subkategori menyinggung dalam kategori mengancam muka ditandai dengan tuturan yang diucapkan secara tidak sengaja, namun telah melukai hati mitra tutur atau orang lain disekitarnya. Cuplikan tuturan E3 (situasi sedang akan mulai kebaktian di Vihara) P: Ya ampun, arep kebaktian wae iseh wae pada ngomong karepe dewe. MT: Mbok kari dinengno wae, Bu! (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur) Analisis wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur dijelaskan sebagai berikut. a) Wujud Linguistik “Ya ampun, arep kebaktian wae iseh wae pada ngomong karepe dewe.” (Ya ampun, mau kebaktian saja masih pada ngomong sendiri) b) Wujud Pragmatik Penutur menyampaikan tuturan dengan ketus. Tuturan yang telah disampaikan membuat mitra tutur merasa jengkel, sama dengan kondisi yang dialami penutur.

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 173 c) Penanda Linguistik Tuturan disampaikan dengan intonasi berita. Penutur berbicara dengan nada keras. Tekanan tuturan terdapat pada frasa ya ampun. Diksi menggunakan bahasa nonstandar, dengan istilah bahasa Jawa. d) Penanda Pragmatik Tuturan terjadi di pagi hari saat acara kebaktian akan dimulai di Vihara Vidyaloka. Penutur perempuan usia 26 tahun, MT 27 tahun, perempuan merupakan teman dari penutur. Penutur mengeluh pada MT mengenai situasi yang sangat riuh saat akan berlangsungnya kebaktian. MT juga mengeluhkan hal yang dirasakan oleh penutur. Tujuan penutur menyindir suasana dimulainya kebaktian. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: sebagian orang melihat penutur dengan terkejut dan bermuka masam. e) Maksud Penutur bermaksud kesal karena melihat kondisi akan dimulainya ceramah keagamaan yang belum kondusif. 4.3 Pembahasan Pembahasan dalam penelitian ini meliputi tentang (1) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, (2) penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, dan (3) maksud ketidaksantunan dari tuturan yang disampaikan.

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.3.1 174 Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Tuturan terlihat dari santun tidaknya akan tampak dari wujud tuturannya itu sendiri. Wujud ketidaksantunan suatu tuturan dapat dilihat dari tuturan lisan yang dianalisis menggunakan segi linguistik dan pragamatik. Wujud ketidaksantunan linguistik adalah hasil transkrip dari tuturan lisan yang tidak santun, sedangkan wujud pragmatik adalah keterkaitan antara cara penyampaian tuturan yang tidak santun oleh penutur. Peneliti menemukan 45 tuturan tidak santun dari ranah agama Budha yang terdapat di Kotamadya Yogyakarta. Tuturan lisan yang diperoleh merupakan hasil transkrip dan hal tersebut yang disebut dengan wujud linguistik. Tuturan lisan yang diperoleh tersebut diklasifikasi dalam lima kategori ketidaksantunan, yaitu melecehkan muka, menghilangkan muka, melanggar norma, menimbulkan konflik, dan mengancam muka sepihak/ kesembroan yang disengaja. Berikut merupakan wujud ketidaksantunan ditinjau dari aspek pragmatik. Setiap kategori ketidaksantunan memiliki wujud yang berbeda dengan satu sama lain sebagai ciri khas dari masing-masing kategori ketidaksantunan tersebut. Kategori melecehkan muka terdapat 24 tuturan yang tidak santun. Kategori melecehkan muka merupakan tuturan yang disengaja sehingga membuat mitra tutur merasa tersinggung, kecewa dan malu. Wujud ketidaksantunan pragmatik diperlihatkan dengan posisi penutur mengenai

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 175 posisinya dan mitra tutur. Tuturan tersebut pada umumnya disampaikan dengan cara yang sinis, sembrono maupun ketus. Cuplikan tuturan A1 P : “HPmu kuwi muk geletakno! Lagian gek ngrungoke ceramah seko Bhikhu” MT : “Sek to, buk penting iki”. P : “Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Budha Prabha saat khotbah berlangsung. Penutur perempuan, Ibu berusia 46 tahun. MT perempuan, anak dari MT, berusia 18 tahun. MT sedang asyik menggunakan ponselnya ketika banyak orang sedang mendengarkan khotbah. Penutur merasa kesal dan malu dengan tindakan MT karena tindakanya menarik perhatian orang lain) Cuplikan tuturan A4 P: “Darimana kamu,bro?” MT: “Dari Vihara, dong! Biasa absen dulu” P: “Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha setelah acara kebaktian selesai. Penutur adalah seorang umat, lakilaki berusia 22 tahun. MT adalah sesama umat berusia 23 tahun. MT baru akan berjalan pulang setelah usai kebaktian di Vihara. Penutur menyapa kepada MT. Penutur membalas sapaan tetapi menggunakan ejekan) Tuturan A1 dan A4 dapat dijadikan contoh dari wujud pragmatik kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Tuturan A1 menunjukan bahwa penutur menyampaikan dengan sinis dan ketus pada mitra tutur. Penutur juga berbicara dengan anaknya. Penutur juga membuat mitra tutur merasa malu karena disampaikan di depan banyak orang. Tuturan tersebut menyinggung mitra tutur. Untuk tuturan A4 tidak jauh berbeda dengan tuturan A1. Wujud pragmatik dari tuturan ini juga disampaikan dengan cara yang sinis atau ketus.

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 176 Penutur merasa iri dengan mitra tutur yang akan berangkat sembayang. Penutur juga mengungkapkan hal yang tidak pantas dalam beribadah. Ini dapat mengakibatkan mitra tutur merasa jengkel dan kecewa atas tuturan mitra tutur. Kategori ketidaksantunan selanjutnya adalah kategori menghilangkan muka. Kategori menghilangkan muka mengolongkan tuturan yang disengaja dan membuat mitra tutur merasa tersinggung sampai mitra tutur merasa kehilangan muka. Kategori ini terdapat 5 tuturan yang tidak santun. Tuturan tidak santun yang disengaja ditujukan kepada mitra tutur sangat menyinggung perasaannya. Mitra tutur akan merasa tersinggung, bahkan sangat malu akan tuturan yang disampaikan kepadanya. Wujud pragmatik dalam kategori ini dapat dicontohkan B2 dan B3. Cuplikan tuturan B2 MT: “Wis jan, aku mumet karo tingkahe bojoku dewe, pak. Muk dikon ning Vihara sedelo wae angel banget” P: “Lha piye toe, pak? MT : Arep tak jeki sembayang wae alasan akeh banget, puyeng sirahku... P: Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras Vihara Vidyaloka saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi. Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi) Cuplikan tuturan B3 MT: “Sugeng enjang, Bhante”. P: “Weh kowe, gek wae ngetok kowe”. MT: ”Nggih Banthe, wingi sek wonten kasus” P: ”Kasus opo maneh?” MT: “Pokoke wonten, Banhe”(sambil tersenyum malu)

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 177 P : “ Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh” MT: “Nggih paling niki,” *Kewan telu (tiga hewan): symbol dari ajaran pada agama Budha, yakni babi yang berarti bodoh, ayam yang berarti nafsu, dan ular yang berarti kemungkaran/ kejahatan. (Konteks tuturan : Tuturan terjadi pada waktu acara kebaktian akan belangsung di Vihara Vidyaloka. Penutur merupakan seorang pemuka umat yang berusia 67 tahun sedangkan, MT adalah seorang umat dan narapidana berusia 48 tahun. Penutur menyampaikan pada MT mengenai keberadaannya (tidak pernah kelihatan pada waktu kebaktian). MT menyampaikan alasannya. Penutur memberitahu dengan intonasi yang menyindir MT) Wujud pragmatik dari tuturan B2, yakni penutur menyampaikan candaan tapi dengan kesan mengejek. Tuturan membuat malu mitra tutur karena disampaikan di banyak orang. Penutur menyampaikan dengan cara yang sinis. Berbeda dengan tuturan B3, penutur menyampaikan di depan banyak orang dan membuat malu mitra tutur. Tuturan secara tidak langsung merendahkan status mitra tutur di depan banyak orang. Tuturan akan menyinggung perasaan mitra tutur. Kategori ketidaksantunan melanggar norma terdapat empat tuturan yang terdapat dalam ranah ini. Kategori melanggar norma merupakan kategori tuturan yang secara normatif dianggap negatif, karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu). Tuturan tersebut diwujudkan dengan cara bertutur secara ketus dan sinis sehingga membuat mitra tutur merasa malu dan merasa direndahkan. Penutur yang merasa tidak bersalah meski telah melanggar kesepakatan yang ada.

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 178 Contoh tuturan yang terdapat pada kategori ini adalah tuturan C2 dan C3. Cuplikan tuturan C2 MT: (datang terlambat pada kebaktian). “Nyuwun ngapunten, Pak, kulo telat!” P: Ngopo kowe telat? Udan po? Telat nemen maneh! (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka pada jam 2 siang. Ketika kebaktian akan dimulai. Penutur laki-laki, pemuka agama berusia 58 tahun. MT laki-laki, seorang pengurus vihara berusia 27 tahun. Terdapat aturan yang telah disepakati bersama mengenai waktu persiapan suatu kebaktian. MT melanggar aturan mengenai waktu persiapan kebaktian. Penutur menanyakan alasan keterlambatandengan sangat kesal) Cuplikan tuturan C3 MT: Arep menyang kebaktian kok males, bali wae yo? P: “Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe” *Dalam ajaran Budha, babi adalah simbol dari sifat dasar manusia yaitu bodoh (Konteks tuturan : Tuturan terjadi saat pagi hari akan diadakan kebaktian sembayangan di Vihara. Penutur laki-laki, bapak berusia 49 tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 21 tahun. Penutur dan MT telah sepakat tentang hari dan waktu diadakan kebaktian. Penutur melanggar aturan tersebut, yakni asik menonton televisi dan secara sengaja mengabaikan ibadahnya. Penutur menyuruh MT untuk tidak malas berangkat kebaktian) Tuturan C2 memperlihatkan kekecewaan penutur pada mitra tutur mengenai keterlambatan mitra tutur dalam mengikuti kebaktian yang telah diadakan. Mitra tutur tidak mengindahkan kesepakatan yang ada yaitu untuk tidak terlambat dalam mengikuti kebaktian. Dalam kondisi ini, mitra tutur sudah meminta maaf mengenai keterlambatannya dalam mengikuti kebaktian, tetapi penutur menanggapi mitra tutur dengan cara yang ketus dan menanyakan

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 179 alasan mitra tutur sering terlambat dalam mengikuti kebaktian. Hal ini juga membuat mitra tutur merasa malu. Hal ini juga tampak pada tuturan C3. Wujud ketidaksantunan yang diperlihatkan adalah tuturan disampaikan dengan cara yang ketus. Tuturan ini juga membuat mitra tutur merasa malu, karena dalam mengikuti kebaktian dalam agama sifatnya adalah wajib. Penutur juga menuduh mitra tutur , sehingga mitra tutur merasa malu dan direndahkan. Kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik merupakan kategori di mana tuturan yang disengaja dan dilakukan secara sembrono hingga tuturan tersebut menimbulkan konflik. Wujud ketidaksantunan yang terdapat dalam kategori ini adalah penutur yang berbicara pada orang yang lebih tua. Tuturan disampaikan dengan cara ketus bahkan dengan nada yang keras. Kategori ini terdapat 2 tuturan yang tidak santun. Tuturan itu yakni tuturan D1 dan D2. Cuplikan tuturan D1 P: “Kalo ada Puja Bhakti, alangkah baiknya dateng to, mas!” MT: “Iya. Iya besok wae aku masih banyak urusan” (sambil bermuka masam) P: “Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik...” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. MT menjemput penutur ketika sembayangan selesai. MT melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur dan mitra tutur untuk berangkat Puja Bhakti bersama tapi MT ingkar janji. MT mengetahui bahwa penutur telah melanggar aturannya untuk rajin berangkat Puja Bhakti) Cuplikan tuturan D2 MT: “Kabeh kuwi kan mengko entuk karma seko tindakane utowo perilakune dewe-dewe, sopo nandur becik mesti enthuk becik”

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 180 P: “Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi” MT: “La, aku kie ngandani kowe gek, malah muk balikno ning aku maneh” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. Penutur menjemput MT ketika sembayangan selesai. MT tidak berangkat beribadah dan telah diperingatkan oleh penutur. Penutur mengetahui bahwa MT telah melanggar aturannya. Penutur juga menasehati MT agar hal yang dikatakan oleh MT, harus direnungkan terlebih dahulu oleh MT. Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur) Tuturan D1 wujud ketidaksantunan yang tampak adalah tuturan disampaikan pada lawan tutur yang lebih tua dari penutur. Penutur juga mempergunakan cara ketus dan keras dalam menyatakan tuturannya. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan sengaja. Hal ini menyebabkan mitra tutur merasa jengkel atau marah. Tuturan D2 juga tidak jauh berbeda dengan tuturan D1. Wujud ketidaksantunan tuturan D2 yang diperlihatkan adalah penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Tuturan disampaikan dengan cara ketus. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan sengaja. Penutur berbicara dengan suaminya sendiri. Penutur terkesan tidak hormat dengan mitra tutur Kategori yang terakhir adalah ketidaksantunan mengancam muka sepihak. Tuturan yang ditemukan adalah 10 tuturan. Wujud ketidaksantunan pragmatik ini mengarah pada sikap penutur yang berbicara tanpa memperhatikan keadaan mitra tutur ketika komunikasi sedang dilakukan. Dell Hymes (1978) menyatakan bahwa ketika seorang berkomunikasi hendaknya memerhatikan indikator kesantunan yang diakronimkan dengan istilah SPEAKING. Setting and scene serta paricipants merupakan dua hal yang perlu

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 181 diperhatikan pada kategori ketidaksantunan ini. Setting and secene mengacu pada latar terjadinya komunikasi, sedangkan participant mengacu pada orang yang terlibat dalam komunikasi (Pranowo, 2009:100–101). Kategori ini, penutur tidak disengaja sehingga menyinggung mitra tutur, tetapi penutur tidak menyadari bahwa tuturannya sudah menyinggung mitra tutur. Contoh dari tuturan ini ada pada tuturan E1 dan E6. Cuplikan tuturan E1 MT (sedang berkomunkasi pada penutur mengosipkan seseorang) P : “Nuwun sewu, Mbak nek omong mbek saya gak opo, tapi nek karo koncomu utowo wong liyo kok koyo kurang pas lan kuwi urung mesti bener” MT (bermuka malu) (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki, pemuka agama 67 tahun, MT perempuan berusia 36 tahun. MT sedang membahas mengenai sesorang yang menjadi perhatiannya. Penutur merasa bergunjing adalah tindakan tidak sopan, maka penutur bermaksud untuk memperingatkan MT) Cuplikan tuturan E6 MT1: Ojo ngasi omonganmu gawe nyerik lan ngerendahke wong liyo, iku biso dadi petenge bebrayan P: Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati MT2: La, malah sing keno aku. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan di Vihara Buddha Prabha. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur) Wujud ketidaksantunan yang tampak pada tuturan E1 diutarakan dengan cara ketus walaupun bersifat untuk menasehati mitra tutur. Penutur tidak bermaksud menyinggung perasaan mitra tutur namun pernyataan yang

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 182 diungkapkan oleh penutur mematahkan melanjutkan bahan pembicaraan. Mitra tutur juga merasa malu akibat tuturan itu. Wujud ketidaksantunan pragmatik pada tuturan E6 adalah penutur menyatakan tuturan dengan ketus. Tuturan juga disampaikan penutur yang berbicara pada suaminya, di mana suami penutur lebih tua darinya. Tuturan juga bersifat menegaskan pernyataan dari Banthe. Tuturan tersebut dituduhkan secara semena-mena pada mitra tutur. Hal ini membuat mitra tutur merasa malu di depan Banthe sebagai pemimpin umat. 4.3.2 Penanda Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berikut merupakan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang tersajikan menggunakan lima jenis ketidaksantunan. 4.3.2.1 Kategori Melecehkan Muka Berikut ini adalah contoh tuturan yang termasuk dalam kategori melecehkan muka. a) Subkategori Menyindir Cuplikan tuturan A8 P: “Guru, saya sembayang sudah, berusaha sudah, tapi kok belum suksessukses, kurang apa saya?” MT: “Sini kamu! Kamu coba bermeditasi di dalam kolam ini, untuk mencari ketenangan” P: “Lha mau sukses kok suruh kungkum” (Konteks tuturan : tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang lakilaki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. Penutur bertanya kepada MT mengenai

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 183 permasalahan peribadahan yang berhubungan dengan kesuksesannya. Penutur menanyakan tentang cara mencapai kesuksesan pada MT. MT meminta penutur untuk bermeditasi di dalam kolam. Penutur menyatakan keraguan untuk mematuhi permintaan MT) Cuplikan tuturan A13 MT: Jarene Banthe mau, nek arep entuk dharma kuwi kudu mendalami kitab Tipitaka lan ngerti kudu nindakno opo sing ning jerone. Nanging ngelakoni kabeh kuwi kok aras-arasen, yo?, gowo bahasa Pali, neh P: Ngono, kok arep urip mulya lan arep entuk Dharma, mustahil! (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar Vihara Buddha Prabha, usai diadakan acara keagamaan. Penutur laki-laki, umat berusia 27 tahun, MT perempuan, umat berusia 30 tahun. MT bertutur pada penutur membahas mengenai hal yang telah didapat dari acara keagamaan MT berpendapat bahwa untuk memperoleh dharma harus mengerti dan mendalami kitap Tipitaka, tetapi untuk pelaksanaannya terasa berat. Penutur menanggapi MT dengan acuh dan menggunakan sindiran) b) Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan A5 (MT1&MT2 sedang berdebat) P: “Dadi wong Budha kuwi mbok sing laras, ojo sak penake dewe nek ngetokne pendapat!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di suatu perkumpulan forum Budha. Penutur adalah seorang tokoh agama, laki-laki, berusia 67 tahun. MT1 & MT2 adalah umat, laki-laki, berusia 37 & 46 tahun. MT1 & MT2 sedang berdebat dan perdebatan karena terjadi perbedaan pendapat. Penutur sebagai pihak penengah yang akan melerai (MT1&MT2). Penutur menyindir kedua MT dengan alasan berdiskusi secara lebih santun) Cuplikan tuturan A9 MT: “Misal kamu bermeditasi dengan tenggelamkan kepala kamu, dan kepalamu aku blebekno! Apa yang kamu rasakan?” P: Gak iso nafas, Banthe! MT: (sambil tersenyum) ya itu, ketika kamu pengen sukses kamu harus berjuang untuk mencapainya dalam arti kamu harus bagaimana caranya biar bisa bernafas, to? (Konteks tuturan : Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang laki-

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 184 laki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. MT bercerita mengenai filosofi mencari kesuksesan. MT menyuruh penutur untuk membayangkan bermeditasi sambil menenggelamkan kepala ke dalam kolam yang penuh dengan air. MT bertanya tentang yang dirasakan penutur. Penutur menyatakan jawabannya dengan bertutur dengan cara yang kurang pas terhadap MT. MT memberikan penjelasannya dari filosofi kesuksesan pada penutur) Cuplikan tuturan A10 MT: “Bhikhu, tahun demi tahun telah berganti, tapi dalam benak saya sering timbul sebuah pertanyaan, siapakah sebenernya diri saya?” P: itu pertanyaan mudah, dan bisa dilakukan oleh semua orang, tinggal buka aja ktp anda, gitu aja kok repot? (MT tertawa) (Konteks tuturan : Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. MT perempuan berusia 29 tahun dan seorang umat, sedangkan penutur seorang laki-laki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. MT bertanya mengenai pertanyaan yang sering timbul di benaknya. MT bertanya tentang mengenali dirinya secara lebih dalam. Penutur menanggapi pertanyaan MT dengan jawaban yang bercanda) Cuplikan tuturan A14 MT: Banthe, apakah saya boleh bertanya? P: Mbok gak usah, paling bertanya pada hal yang enggak-enggak, Hahahaha bercanda! Yo entuklah, sini tanya tentang apa? (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar Vihara Buddha Prabha, usai diadakan acara keagamaan. Penutur laki-laki, umat berusia 27 tahun, MT perempuan, umat berusia 30 tahun. MT bertutur pada penutur membahas mengenai hal yang telah didapat dari acara keagamaan MT berpendapat bahwa untuk memperoleh dharma harus mengerti dan mendalami kitap Tipitaka, tetapi untuk pelaksanaannya terasa berat. Penutur menanggapi MT dengan acuh dan menggunakan sindiran) c) Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan A4 P: “Darimana kamu,bro?” MT: “Dari Vihara, dong! Biasa absen dulu” P: “Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha setelah acara kebaktian selesai. Penutur adalah seorang umat, laki-

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 185 laki berusia 22 tahun. MT adalah sesama umat berusia 23 tahun. MT baru akan berjalan pulang setelah usai kebaktian di Vihara. Penutur menyapa kepada MT. Penutur membalas sapaan tetapi menggunakan ejekan) Cuplikan tuturan A11 P: Kowe kie opo nek sembayang gak iso? MT: La, pie toe? P: Puja Bakti, kie dupa sing muk enggo kuwi golek sing dowone 4 meter ben kabeh panjalukanmu kabul. MT: kabeh kie tergantung usahane dewe. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras sebuah Vihara setelah melakukan Puja Bakti. Penutur laki-laki, umat berusia 21 tahun, sedangkan MT laki-laki, umat berusia 23 tahun. Penutur menyinggung MT dengan bertutur tentang cara beribadah MT. MT menuturkan sebab penutur berkata demikian. Tuturan dari penutur berisi tentang hal bercanda. MT merasa kecewa dengan tuturan penutur dan bertutur cuek dengan bertutur “Kabeh kie tergantung usahane dewe (semua itu tergantung usaha dari diri sendiri)”) Cuplikan tuturan A12 MT: Wingi kowe, dak kowe melu pas sarasehan ro Banthe? P: Yoe melu, emang kowe menyang, nek dong bolong wudele. MT: Malah aku lali nek ono sarasehan, gek kelingan dino iki. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara Buddha Prabha 26 November 2013. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 18 tahun, sedangkan MT perempuan, seorang umat berusia 25 tahun dan teman Vihara dari penutur. MT menanyakan kehadiran penutur mengenai acara saresehan keagamaan yang diadakan tempo hari lalu. Penutur bertutur mengenai kedatangannya dan menambahkan tuturan cemoohan pada MT. MT mempunyai alasan bahwa dia lupa akan acara sarasehan tempo hari)

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 186 d) Subkategori Memperingatkan Cuplikan tuturan A2 MT1&MT2: (Sedang berbincang dan menganggu jalannya upacara keagamaan). P: ”Nuwun sewu, punapa panjenengan badhe nggantosi kulo ceramah wonten mriki?” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi pada waktu acara forum diskusi intern keagamaan. Penutur laki-laki, seorang pemuka agama yang berusia 67 tahun. Terdapat MT1 dan MT2 yang asyik mengbrol tanpa menghiraukan ceramah yang sedang dibawakan penutur. Dalam kondisi sebenarnya MT1 dan MT2 sedang memperhatikan ceramah secara seksama. MT1 dan MT2 merupakan umat yang menghadiri upacara keagamaan. Penutur berusaha mendapatkan perhatian dengan menunjuk MT1 dan MT2 untuk mengantinya agar ceramah di depan mimbar dengan alasan bercanda) e) Subkategori Menegur Cuplikan tuturan A1 P : “HPmu kuwi muk geletakno! Lagian gek ngrungoke ceramah seko Bhikhu” MT : “Sek to, buk penting iki”. P : “Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Budha Prabha saat khotbah berlangsung. Penutur perempuan, Ibu berusia 46 tahun. MT perempuan, anak dari MT, berusia 18 tahun. MT sedang asyik menggunakan ponselnya ketika banyak orang sedang mendengarkan khotbah. Penutur merasa kesal dan malu dengan tindakan MT karena tindakanya menarik perhatian orang lain)

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 187 f) Subkategori Menasehati Cuplikan tuturan A3 MT: Pak,saya nek meditasi kok gak pernah bisa fokus, ya? P: “Sakjane sing leno itu kowe! Kowe sing kurang kontrol ! Apa kowe sing akeh ngutike?” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras Vihara saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi. Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan halhal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi) Transkripsi tuturan-tuturan diatas merupakan bentuk tuturan yang termasuk dalam kategori melecehkan muka. Penanda ketidaksantunan linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu unsur segmental dan unsur supra segmental. Unsur segmental sebagai penanda ketidaksantunan linguistik terdiri dari partikel atau kata fatis, dan diksi. Bunyi suprasegmental ialah bunyi yang menyertai bunyi segmental (Marsono, 2008:115). Unsur suprasegmental terdiri dari intonasi, tekanan dan nada. Berikut merupakan pembahasan dari masingmasing unsur segmental dan suprasegmental. Intonasi dikenal juga sebagai panjang atau kuantitas lamanya bunyi diucapkan. Intonasi juga berperan dalam pembedaan maksud kalimat. Dasar dari pola-pola intonasi dalam kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun. Kalimat

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 188 tanya (interogatif) ditandai dengan pola intonasi datar-naik. Kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar-tinggi (Muslich, 2009:115−117). Keraf juga menambahkan kalimat seru dalam pola intonasi kalimat. Kalimat seru merupakan kalimat yang menyatakan perasaan hati, kekaguman, atau keheran terhadap suatu hal. Kalimat ini biasanya ditandai oleh kata-kata atau ungkapan-ungkapan tertentu: sungguh, alangkah, betapa, dan dapat juga dinyatakan dengan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi (Keraf, 1991:208). Berikut merupakan pembahasan selanjutnya mengenai penanda ketidaksantunan linguistik yang dipaparkan berdasarkan intonasinya. Intonasi berita, penanda linguistik ini terdapat pada kategori ketidaksantunan melecehkan muka, yaitu tuturan A4, A8, A12, A13, dan A14. Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar turun. Tuturan A4, A13 dan A12 memiliki maksud mengejek mitra tutur dengan maksud bercanda. Penanda selanjutnya adalah kalimat tanya (interogatif) ditandai dengan pola intonasi datar-naik terdapat dalam kategori melecehkan muka dan mengancam muka sepihak. Tuturan tersebut terdapat pada tuturan A2, A3, dan A11. Tuturan A3 dan A11 yang disampaikan penutur memiliki maksud untuk sindiran yang diberikan mitra tutur agar lebih fokus dalam melakukan meditasi, sedangkan A11 bermaksud mengejek mitra tutur sebagai bahan candaan. Intonasi perintah hanya terdapat pada tuturan A1. Intonasi perintah pada tuturan A1 dengan maksud menunjukan rasa kesal terhadap mitra tutur. Intonasi yang terakhir adalah kalimat seru. Tuturan A5 dan A9 memiliki

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 189 maksud menyindir mitra tutur agar mitra tutur bersikap seperti yang dikehendaki oleh penutur. Perbedaan dari tuturan tersebut adalah tuturan A5 bermaksud menyindir dengan sifat untuk menasehati mitra tutur, sedangkan tuturan A9 menyindir mitra tutur dengan alasan bercanda untuk menolak hal yang ingin dijelaskan oleh penutur. Tuturan ini bermaksud teguran untuk mitra tutur agar sadar dalam tindakan yang dilakukannya dan bergegas menyesuaikan kegiatan yang sedang dialaminya. Dalam penuturan bahasa Indonesia, tinggi-rendahnya (nada) suara tidak fungsional atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan makna, nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Achmad & Alek (2013:33−34), ada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran rendah,tentu akan disertai juga dengan nada rendah. Dalam hal ini biasanya dibedakan adanya empat macam nada, yaitu: (1) Nada yang paling tinggi, diberi tanda dengan angka 4; (2) Nada tinggi, diberi tanda dengan angka 3; (3) Nada sedang atau biasa, diberi tanda dengan angka 2; dan (4) Nada rendah, diberi tanda dengan angka 1. Tuturan yang bernada sedang yang berada pada kategori ketidaksantunan melecehkan muka (A2, A3, A5, A10, dan A14), sedangkan tuturan yang bernada tinggi pada kategori melecehkan muka terdapat di A1, A4, A8, A11, A12, dan A13. Tekanan merupakan hal yang menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 190 yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak. Tekanan ini mungkin terjadi secara sporadis, mungkin juga telah berpola, mungkin juga bersifat distingtif, dapat membedakan makna, mungkin juga tidak distingtif (Achmad & Alek, 2013:33−34). Tekanan keras yang menandakan suatu tuturan tidak santun terdapat pada kategori melecehkan muka (A8, A9, A11, A12 A13, dan A1). Tekanan pada tuturan A1 terdapat pada frasa oalah. Berbeda dengan tekanan pada tuturan A11 terdapat pada frasa kowe kie. Selain tekanan keras, peneliti juga menemukan tuturan yang memiliki tuturan lunak yang dianggap kurang santun untuk diucapkan. Tekanan pada tuturan itu juga terdapat dalam empat kategori ketidaksantunan. Tekanan tuturan lunak pada kategori melecehkan muka (A2, A3, A5, A10, dan A14). Kridalaksana (1986:113) mengelompokkan partikel di dalam kategori fatis. Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau megkukuhkan pembicaraan antara pembicara dan kawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam lisan. Karena ragam lisan pada umumnya merupakan ragam non-standar, maka kebanyakan kategori fatis terhadap dalam kalimat-kalimat non-standar yang banyak mengandung unsurunsur daerah atau dialek regional. Partikel yang tergolong dalam kategori fatis hampir dimiliki oleh seluruh tuturan yang diperoleh. Kategori fatis itu antara lain kok, lho, sih, lah, lha, yo, ih, nah , ah, dan kan. Peneliti menemukan

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 191 tuturan yang mengandung partikel kok pada tuturan A13. Lalu kategori fatis lha terdapat pada tuturan A8. Selanjutnya pada kategori fatis yo terdapat pada tuturan A12, dan A14. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya bahasa mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa. Penggunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok, yaitu pertama, ketepatan pemilihan kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan, hal atau barang yang akan diamanatkan, dan kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata tadi. Pranowo (2009:77) menjelaskan bahwa diksi atau pilihan kata merupakan salah satu penentu kesantunan dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. Ketika seorang sedang bertutur, kata-kata yang digunakan, dipilih sesuai dengan topik yang dibicarakan, konteks pembicaraan, suasana mitra tutur, pesan yang disampaikan dan sebagainya. Penelitian ini menggunakan diksi untuk mempertegas santun tidaknya maksud suatu tuturan. Berdasarkan tuturan yang ada pada ranah agama adalah bahasa nonstandar dan bahasa populer. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalam tulisan. Kadang-

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 192 kadang unsur nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam sendagurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Hampir seluruh kategori ketidaksantunan menggunakan bahasa nonstandar dalam tuturannya. Penggunaan bahasa nonstandar ini dipengaruhi oleh identitas masyarakat yang semuanya merupakan masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, dalam komunikasi sehari-hari dalam pelaksanaan aktifitas beragama, bahasa Jawa kental digunakan secara utuh. Bahasa populer disebut juga bahasa gaul dan merupakan variasi dari bahasa nonresmi yang memiliki karakteristik dikenal publik dan digunakan oleh golongan atau kalangan saja. Dapat disimpulkan bahwa bahasa populer variasi bahasa yang senantiasa berkembang, bersifat sementara, dan digunakan oleh beberapa kalangan saja. Tuturan yang berbahasa nonstandar untuk kategori melecehkan muka, yakni tuturan A1, A2, A3, A4, A5, A11, A13, dan A14. Tuturan A2, A4, dan A11 merupakan tuturan yang memiliki diksi nonstandar karena menggunakan bahasa Jawa. Tuturan A2 tampak dari seluruh tuturan yang menggunakan bahasa Jawa krama alus. Lalu pada tuturan A4 “dongamu kuwi paling gak bakal mandi!” dalam bahasa Indonesia berarti “doamu itu paling tidak bakal dikabulkan”. Berbeda dengan tuturan A11 seluruh tuturan yang menggunakan bahasa Jawa secara utuh. Pemamparan konteks situasi pertuturan menjadi lima bagian, yaitu (1) penutur dan lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tutur, (4) tuturan sebagai bentuk tindakan, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Tuturan tidak santun yang dilihat dari segi pragmatik, penandanya didasarkan pada

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 193 konteks tuturan itu sendiri. Leech (dalam Rahardi, 2007:19-22). Ranah agama mengkaji penanda pragmatik berdasarkan tuturan-tuturan yang ditemukan dan dituturkan oleh pemimpin umat dengan pemimpin umat, pemimpin umat dengan umat, maupun umat dengan umat. Santun tidaknya sebuah tuturan akan tampak dengan memandang konteks yang melingkupinya. Hal ini akan menjadikan sudut pandang yang mempermudah penilaian ketidaksantunan suatu tuturan. Penanda pragmatik pada kategori melecehkan muka ditandai dengan tuturan A12. Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara tanggal 26 November 2013. Penutur adalah seorang umat laki-laki berusia 18 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat perempuan dengan usia 25 tahun. Konteks situasi yang tampak pada tuturan ini adalah sebagai berikut. Mitra tutur menanyakan mengenai partisipasi penutur ketika acara sarasehan keagamaan tempo hari yang lalu. Penutur ikut serta dalam kegiatan sarasehan agama. Dalam tuturan tersebut, penutur tampak menyombongkan diri dan merendahkan mitra tutur karena tidak dapat hadir dalam acara keagamaan tersebut. Mitra tutur tidak sadar bahwa tuturan yang disampaikan penutur membuat dirinya merasa dilecehkan. Hal ini ditanggapi mitra tutur secara dingin dan lupa jika ada acara saresehan. Tujuan tuturan ini adalah untuk menyindir dan sebagai bahan untuk memperolok mitra tutur. Tindak verbal yang terjadi pada tuturan adalah tindak ekspresif, yakni hal yang dirasakan oleh penutur. Tindak perlokusi atas tuturan itu adalah penutur dan mitra tutur berjalan beriringan masuk ke dalam Vihara sambil melanjutkan obrolan mereka.

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 194 Tuturan A10 ditinjau dari penanda pragmatiknya adalah sebagai berikut. Konteks situasi yang terdapat dalam tuturan tersebut adalah pertanyaan pada penutur tentang objek permasalahan yang sedang dialami mitra tutur. Mitra tutur menganggap pertanyaan sesuai dengan tema yang sedang dibahas. Tema pada forum diskusi tersebut adalah “Mengenali Diri Sendiri dengan Dharma”. Pertanyaan mitra tutur bertanya “siapakah diri saya?” dengan dalih pertanyaan tersebut sering timbul di dalam benaknya. Penutur menanggapi mitra tutur dengan sikap sepele, yakni menyuruh mitra tutur untuk membuka KTP masing-masing. Tuturan disampaikan secara sepele namun dengan alasan bercanda untuk mencairkan suasana. Tuturan terjadi di forum diskusi seputar agama Budha. Penutur merupakan seorang laki-laki dan bertindak sebagi pemuka umat agama, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat berusia 29 tahun. Tujuan penutur menyampaikan tuturan adalah menciptakan situasi pembicaraan yang hangat dalam acara diskusi tersebut dengan membuat celoteh-celoteh candaan. Tindak verbal tuturan merupakan tindak direktif, yaitu tuturan yang disampaikan untuk melakukan sesuatu. Pada tuturan A8 dan A9 dipandang dari penutur dan mitra tutur, penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat. Mitra tutur adalah seorang pemuka umat yang berusia 47 tahun. Tuturan juga terjadi dalam forum diskusi agama Budha. Konteks situasi yang melingkupi tuturan A8 sebagai berikut. Penutur bertanya kepada mitra tutur tentang permasalahan ibadah yang kaitannya dengan kesuksesan yang akan diraihnya. Pentur menanyakan tentang bagaimana cara meraih kesuksesan secara benar. Mitra tutur mengungkapkan

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 195 penjelasan dengan pengambaran suatu filosofi tentang situasi ketika kita tenggelam di dalam air. Mitra tutur menyuruh penutur untuk meditasi di dalam sebuah kolam dengan menenggelamkan diri. Penutur menganggap secara sepele perintah dari mitra tutur dengan cara yang ketus. Penutur juga menyatakan keraguaan untuk melaksanakan perintah dari mitra tutur. Sepaham dengan konteks tuturan A8, tuturan A9 mmerupakan lanjutan peristiwa dari tuturan sebelumnya. Konteks tuturan A9, mitra tutur menanyakan pada penutur tentang kondisi yang dirasakan seseorang ketika tenggelam di dalam air. Penutur menyampaikan gagasannya secara singkat dengan kesan kurang menghargai penjelasan dari mitra tutur. Penutur kurang tepat dan tidak santun dalam memberikan gagasannya secara mitra tutur adalah pemuka umat. Tuturan A8 memiliki tujuan untuk memberitahu mengenai meraih kesuksesan berdasarkan kajian filosofis, sedangkan pada tuturan A9 bertujuan memberi gambaran yang singkat mengenai cara meraih kesuksesan. Kedua tuturan ini memiliki tindak verbal yang berbeda. Tindak verbal representatif untuk tuturan A8, sedangkan tuturan A9 adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi dari kedua tuturan adalah penutur memahami secara penuh penjelasan yang disampaikan secara singkat dari mitra tutur. Tuturan A4 penanda pragmatiknya terjadi di lingkungan Vihara setelah acara kebaktiaan selesai. Tinjauan menurut penutur dan mitra tutur, penutur adala seorang umat, laki-laki dengan usia 22 tahun. Mitra tutur seorang lakilaki dengan usia 23 tahun. Konteks situasi yang ada dalam kondisi tersebut adalah sebagai berikut. Mitra tutur sedang berjalan pulang setelah kebaktian

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI telah selesai. Penutur menyapa mitra tutur. 196 Mitra tutur membalas sapaan penutur mengenai tempat yang baru saja didatangi, yakni Vihara. Penutur mengejek mitra tutur yang tidak selalu tampak dalam kegitan peribadahan di Vihara. Tuturan penutur membuat kecewa dan malu mitra tutur. Tujuan tuturan adalah menyingung mitra tutur yang jarang berangkat beribadah di Vihara. Tindak verbal yang ditemukan berdasarkan tuturan adalah tindak representatif, karena tuturan itu diyakini oleh penutur. Tindak perlokusi dari tuturan ini adalah mitra tutur diam saja mendengar ucapan dari penutur, karena ucapan itu merupakan bahan bercanda. Berdasarkan uraian diatas, 12 tuturan yang tidak santun di atas termasuk ke dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka, seperti yang telah dikemukakan oleh Miriam A Locher mengenai teori ketidaksantunan berbahasa melechkan muka. Menurutnya ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut, “behaviour that is face-aggravating in a particular context”. Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku melecehkan muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari sekadar mengancam muka (face-threaten). Perilaku melecehkan muka tersebut lebih mengarah pada sebuah tuturan yang melukai hati orang lain (mitra tutur). Dilihat dari penggunaan nadanya sebagian besar tuturan-tuturan diatas menggunakan nada sedang (menyindir) dan nada tinggi (kesal). Penggunaan tekanan pada tuturan tuturan tidak santun di atas dengan tekanan lemah, tekanan sedang, dan tekanan keras. Intonasi yang terdapat dalam tuturantuturan di atas adalah intonasi tanya, intonasi seru dan intonasi berita.

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 197 Diksi atau pilihan kata yang secara dominan digunakan adalah bahasa nonstandar. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang banyak ditemukan dalam sebagian tuturan, dan umat Budha (penutur dan mitra tutur) yang melakukan tindak tutur merupakan bagian dari masyarakat Jawa. Tindak verbal yang ada dalam kategori ini, yakni tindak verbal representatif, ekspresif, asertif, dan komisif 4.3.2.2. Kategori Menghilangkan Muka Berikut ini adalah contoh tuturan yang termasuk dalam kategori menghilangkan muka. a) Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan B2 MT: “Wis jan, aku mumet karo tingkahe bojoku dewe, pak. Muk dikon ning Vihara sedelo wae angel banget” P: “Lha piye toe, pak? MT : Arep tak jeki sembayang wae alasan akeh banget, puyeng sirahku... P: Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras Vihara Vidyaloka saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi. Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan halhal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi)

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 198 Cuplikan tuturan B3 MT: “Sugeng enjang, Bhante”. P: “Weh kowe, gek wae ngetok kowe”. MT: ”Nggih Banthe, wingi sek wonten kasus” P: ”Kasus opo maneh?” MT: “Pokoke wonten, Banhe”(sambil tersenyum malu) P : “ Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh” MT: “Nggih paling niki,” *Kewan telu (tiga hewan): symbol dari ajaran pada agama Budha, yakni babi yang berarti bodoh, ayam yang berarti nafsu, dan ular yang berarti kemungkaran/ kejahatan. (Konteks tuturan : Tuturan terjadi pada waktu acara kebaktian akan belangsung di Vihara Vidyaloka. Penutur merupakan seorang pemuka umat yang berusia 67 tahun sedangkan, MT adalah seorang umat dan narapidana berusia 48 tahun. Penutur menyampaikan pada MT mengenai keberadaannya (tidak pernah kelihatan pada waktu kebaktian). MT menyampaikan alasannya. Penutur memberitahu dengan intonasi yang menyindir MT) b) Subkategori Memperingatkan Cuplikan tuturan B1 MT1 & MT2: (sedang bersenda gurau pada waktu persiapan kebaktian sembayangan di lingkungan Vihara) P: “ Heh tak kandani, nek wong Budha kuwi yo nduwe dino bakda, bedane nek dino bakda Budha koyo ngene kie malah susah. Kowe ngerti gek repot ngene kie malah seneng-seneng wae”

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 199 (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha, yang sedang melakukan persiapan kebaktian sembayangan. Penutur laki-laki, berusia 37 tahun. MT laki-laki, MT1&2 berusia 18 & 20 tahun. MT sedang bersenda gurau ketika para umat sedang melakukan persiapan menyambut upacara keagamaan. Penutur menasehati kedua MT agar melakukan sepantasnya) Tuturan yang mengandung intonasi berita yang terdapat dalam kategori menghilangkan muka, yaitu tuturan B2 dan B3. Tuturan B2 memiliki maksud memberi saran kepada mitra tutur dengan situasi bercanda, sedangkan tuturan B3 memiliki maksud memperingatkan dengan menyindir tentang tingkah laku mitra tutur. Tuturan B1 memiliki intonasi seru, di mana tuturan tersebut bermaksud untuk mitra tutur agar sadar dalam tindakan yang dilakukannya dan bergegas menyesuaikan kegiatan yang sedang dialaminya. Tuturan B1, B2, dan B3 diklasifikasikan dalam nada sedang. Tekanan keras ditunjukan pada tuturan B1 dalam frasa heh tak kandani, sedangkan tuturan B2 dan B3 memiliki tekanan lunak, yakni sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit (Achmad & Alek, 2013:33−34). Kategori fatis atau partikel yang digunakan dalam kategori ini, terdapat dalam tuturan B1 dengan yo, nek, dan kie. Pada tuturan B3 terdapat partikel mbok, nek, dan si. Diksi yang dipakai ketiga tuturan dalam kategori menghilangkan muka ini sama-sama menggunakan bahasa nonstandar, di mana penggunaan istilah bahasa Jawa sangat kental dituturkan oleh penutur. Pada tuturan B3 ditinjau dari penutur dan mitra tutur, penutur adalah seorang pemuka agama dengan usia 67 tahun , sedangkan mitra tutur seorang

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 200 umat dan mantan narapidana dengan usia 48 tahun. Konteks situasi yang melingkupi terjadi berupa, penutur yang menyampaikan mengenai tidak pernah hadirnya mitra tutur pada waktu kebaktian sebelumnya. Mitra tutur menyampaikan alasan ketidakhadirannya karena mendapat suatu ujian kehidupan yang amatlah pahit. Mitra tutur beralasan bahwa dia masuk penjara karena kasus kriminal. Tuturan yang disampaikan untuk menanggapi hal yang dituturkan mitra tutur berupa tuturan yang menyindir perasaan. Penutur bermaksud menasehati tetapi dengan intonasi menyindir. Penutur juga menghubungkan nasehatnya dengan simbol keburukan manusia dalam ajaran agama Budha. Tujuan dari tuturan, yakni penutur menyindir mitra tutur agar kembali ke jalan yang benar atau jalan taubat maksiat, dan tidak melakukannya kejahatan kembali. Tindak verbal dari tuturan berupa deklaratif, yakni tindak tuturan yang bersifat untuk mengubah dunia. Tindak perlokusi yang timbul atas tuturan tersebut berupa mitra tutur merasa malu dan berterima kasih karena mendengar ucapan dari penutur. Tuturan B1 terjadi di lingkungan Vihara, yang sedang melakukan persiapan kebaktian sembayangan. Penutur adalah seorang laki-laki dengan usia 37 tahun. Terdapat dua orang mitra tutur, mitra tutur pertama berusia 18 tahun dan mitra tutur kedua berusia 20 tahun. Kedua mitra tutur ini sedang bersenda gurau ketika para umat sedang melakukan persiapan menyambut upacara keagamaan. Hal tersebut menyebabkan kegaduhan yang dirasa mengganggu jalannya ibadah oleh penutur. Penutur menasehati kedua MT agar melakukan sepantasnya. Penutur berusaha menasehati kedua mitra tutur agar

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 201 mampu memposisikan diri di manapun dia berada dan merasa malu mengenai umur mereka yang sudah cukup dewasa. Tujuan penutur memberitahu MT bahwa seharusnya mereka ikut berpartisipasi. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: MT merasa malu banyak orang lain dan meminta maaf pada penutur. 4.3.2.3. Kategori Melanggar Norma Berikut ini adalah contoh tuturan yang termasuk dalam kategori melecehkan muka. a) Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan C1 MT: “kamu nih mau ketemu Bhikhu pakaianmu sak enake aja, pake kaos lagi!” P: “mbok, biar to Buk! Paling Banthe juga gak marahi aku” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi pada pagi hari saat akan upacara kebaktian. Penutur perempuan, anak berusia 21 tahun. MT laki-laki berusia 57 tahun, bapak dari penutur. Penutur melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur tidak diperbolehkan mempergunakan kaos oblong ketika upacara kebaktian. MT melanggar aturannya sendiri dengan menggunakan kaos oblong pada upacara kebaktian) b) Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan C2 MT: (datang terlambat pada kebaktian). “Nyuwun ngapunten, Pak, kulo telat!” P: Ngopo kowe telat? Udan po? Telat nemen maneh!

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 202 (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka pada jam 2 siang. Ketika kebaktian akan dimulai. Penutur laki-laki, pemuka agama berusia 58 tahun. MT laki-laki, seorang pengurus vihara berusia 27 tahun. Terdapat aturan yang telah disepakati bersama mengenai waktu persiapan suatu kebaktian. MT melanggar aturan mengenai waktu persiapan kebaktian. Penutur menanyakan alasan keterlambatandengan sangat kesal) Cuplikan tuturan C3 MT: Arep menyang kebaktian kok males, bali wae yo? P: “Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe” *Dalam ajaran Budha, babi adalah simbol dari sifat dasar manusia yaitu bodoh (Konteks tuturan : Tuturan terjadi saat pagi hari akan diadakan kebaktian sembayangan di Vihara. Penutur laki-laki, bapak berusia 49 tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 21 tahun. Penutur dan MT telah sepakat tentang hari dan waktu diadakan kebaktian. Penutur melanggar aturan tersebut, yakni asik menonton televisi dan secara sengaja mengabaikan ibadahnya. Penutur menyuruh MT untuk tidak malas berangkat kebaktian) c) Subkategori Menyinggung Cuplikan tuturan C4 (Kebaktian sedang berlangsung) MT: “Kae bocah isone tuk dolanan HP wae ning endi panggon” P: “Iyo Bu, ngandani wong sing dolanan HP kuwi koyo ngandani wong sing tandus akale” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi, saat berlangsungnya kebaktian di Vihara Vidyaloka. Penutur perempuan, berusia 36 tahun. MT perempuan, berusia 48 tahun. Penutur dan MT sepakat bahwa ketika kebaktian tidak mempergunakan alat komunikasi. Tujuan penutur dan MT sepakat bahwa seseorang yang sedang menggunakan HP tersebut menganggu jalannya kebaktian) Kategori melanggar norma dilihat berdasarkan penanda linguistik dan pragmatik tampak pada tuturan C1, dan C2, yakni diklasifikasikan ke dalam

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 203 intonasi seru. Tuturan C1 bermaksud untuk memberi penegasan mengenai penolakan perintah memakai pakaian yang sopan ketika akan berangkat kebaktian. Berbeda dengan tuturan C2 yang mempunyai maksud untuk menyindir mitra tutur yang selalu terlambat dalam menghadiri kebaktian sedangkan tuturan C3 dan C4 mempunyai intonasi berita, yakni tuturan C3 mengkritik seorang umat yang malas untuk menunaikan ibadah. Tuturan C4 mempunyai maksud mensharingkan kepada umat lain mengenai kegaduhan yang sedang terjadi saat acara peribadahan yang akan dimulai. Penanda linguistik yang mencangkup mengenai nada, tekanan, partikel dan diksi pada kategori ketidaksantunan melanggar norma tampak pada tuturan C2 dan C4 dengan nada sedang, sedangkan tuturan C1 dan C3 bernada tinggi. Tekanan merupakan unsur segmental yang menyangkut mengenai keras lunaknya bunyi. Pada kategori ini tekanan keras terdapat pada tuturan C1, C2, dan C3. Tekanan pada tuturan C1 terdapat pada frasa mbok biar to buk. Tekanan pada tuturan C2 terdapat pada frasa telat memen maneh! Selanjutnya, tekanan pada tuturan C3 terdapat pada frasa wo babine sing nyedul. Tuturan C4 memiliki tekanan lunak karena dalam penyampaian tuturan tersebut hanya diperuntukan mitra tutur atau dilakukan dengan bergumam/ berbisik. Partikel yang ada pada tuturan terjadi pada tuturan C1, yakni mbok, dan tuturan C3, yakni wo. Diksi yang dipakai pada kategori melanggar norma adalah bahasa nonstandar. Keseluruhan tuturan dalam mengunakan bahasa Jawa, dan digunakan oleh masyarakat Jawa dengan adat-istiadat yang cukup kental.

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 204 Penanda pragmatik dalam kategori melanggar norma ditandai dengan (1) penutur dan lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tutur, (4) tuturan sebagai bentuk tindakan, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. penanda pragmatik yang tampak pada kategori melanggar norma. Tuturan C2 ditinjau dari penutur dan mitra tutur, penutur seorang umat laki-laki berusia 58 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki berusia 27 tahun. Mitra tutur adalah seseorang yang bertugas dalam pengelolaan rumah ibadah. Konteks situasi yang timbul dari tuturan ini sebagai berikut. Terdapat aturan yang telah menjadi kesepakatan dalam persiapan waktu kebaktian akan dilaksanakan. Mitra tutur melangggar kesepakatan mengenai waktu kehadiran yang lebih awal ketika tugasnya menyediakan segala perlengkapan alat-alat peribadahan secara cermat. Tuturan yang disampaikan oleh penutur adalah menyinggung perasaan mitra tutur. Penutur menyampaikan hal yang menjadi keterlambatan mitra tutur. tuturan disampaikan secara sengaja dan bermaksud untuk menyindir mitra tutur. Mitra merasa malu dan bersalah mengenai perilakunya. Tujuan tuturan adalah penutur beralasan mencari tahu keterlambatan mitra tutur. Tindak tutur yang ada pada tuturan adalah representatif. Tindak perlokusi yang tampak ketika tuturan telah disampaikan berupa penjelasan mitra tutur mengenai keterlambatannya. Tuturan C3 terjadi saat pagi hari akan dilaksanakannya kebaktian. Berdasarkan segi penutur dan mitra tutur, penutur adalah seorang ayah berusia 49 tahun. Mitra tutur adalah seorang anak berusia 21 tahun. Tuturan ini diposisikan antara umat dengan umat. Berdasarkan konteks situasi dalam

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 205 tuturan berupa kesepakatan bahwa menghadiri kebaktiaan di Vihara adalah bersifat wajib dalam aturan yang telah disepakati di lingkungan keluarga penutur. Mitra tutur berbicara mengenai kemalasannya untuk mengikuti kebaktian karena sedang sibuk dengan acara televisi yang sedang ditontonnya. Penutur menasehati mitra tutur dengan umpatan “wo babine sing nyedul” yang berarti “nanti babinya yang tampak”. Penutur menggunakan simbol dalam ajaran agama Budha, sifat babi yang berarti pemalas. Berdasarkan tuturan tersebut tujuan penutur menyampaikan tuturan tersebut adalah menyuruh anaknya untuk berangkat kebaktiaan, dan tidak malas karena menghadiri kebaktian sudah menjadi kesepakatan dalam keluarganya. Tuturan memiliki tindak verbal direktif, yakni tuturan untuk menyuruh mitra tutur melakukan sesuatu. Tindak perlokusi yang terlihat setelah tuturan itu berupa mitra tutur melakukan perintah dari penutur dengan setengah hati untuk menghadiri kebaktian. Tuturan C1 terjadi saat pagi hari dan dimulainya upacara keagamaan di Vihara Buddha Prabha. Penutur dan mitra tutur adalah umat Budha, penutur perempuan, anak berusia 21 tahun. Mitra tutur perempuan berusia 57 tahun, Ibu dari penutur. Konteks situasi yang terjadi penutur dan mitra tutur telah mencapai kesepakatan bahwa dalam beribadah harus menggunakan pakaian sopan dan rapi. Penutur yang telah mengetahui dan berusaha melanggar kesepakatan tersebut dengan menggunakan kaos oblong yakni dengan alasan panas. Hal tersebut membuat mitra tutur untuk berusaha memperingatkan mitra tutur. Penutur tidak mempedulikan perintah dari mitra tutur dan mencoba

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 206 mencari alasan mengenai tindakannya. Tujuan dari tuturan ini adalah mitra tutur menasehati MT bahwa tidak sopan memakai kaos ke Vihara. Tindak verbal, yakni tindak verbal representatif, tindak verbal yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, berupa suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut, yakni penutur merasa malu karena tuturan tersebut secara langsung didengar oleh teman-teman dari mitra tutur Tuturan C4 terjadi saat berlangsungnya kebaktian. Penutur perempuan, berusia 36 tahun. MT perempuan, berusia 48 tahun. Penutur dan MT sepakat bahwa ketika kebaktian tidak mempergunakan alat komunikasi. Mitra tutur menegur anaknya untuk tidak menggunakan alat komunikasi saat berlangsungnya kebaktian, namun hal tersebut tidak dihiraukan oleh si anak. Mitra tutur merasa kesal dan menceritakan tentang apa yang dialaminya pada mitra tutur. Penutur mengerti dan paham mengenai kondisi yang dialami mitra tutur dan juga merasa kesal tentang anak dari mitra tutur. Tujuan penutur dan MT sepakat bahwa seseorang yang sedang menggunakan HP tersebut menganggu jalannya kebaktian. Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: Penutur membiarkan seseorang tersebut menggunakan HP walaupun dia dan MT merasa terganggu.

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 207 4.3.2.4. Kategori Menimbulkan Konflik/ Kesembronoan yang Disengaja Berikut ini adalah contoh tuturan yang termasuk dalam kategori menimbulkan konflik. a) Subkategori Memerintah Cuplikan tuturan D1 P: “Kalo ada Puja Bhakti, alangkah baiknya dateng to, mas!” MT: “Iya. Iya besok wae aku masih banyak urusan” (sambil bermuka masam) P: “Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik...” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. MT menjemput penutur ketika sembayangan selesai. MT melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur dan mitra tutur untuk berangkat Puja Bhakti bersama tapi MT ingkar janji. MT mengetahui bahwa penutur telah melanggar aturannya untuk rajin berangkat Puja Bhakti) Cuplikan tuturan D2 MT: “Kabeh kuwi kan mengko entuk karma seko tindakane utowo perilakune dewe-dewe, sopo nandur becik mesti enthuk becik” P: “Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi” MT: “La, aku kie ngandani kowe gek, malah muk balikno ning aku maneh” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. Penutur menjemput MT ketika sembayangan selesai. MT tidak berangkat beribadah dan telah diperingatkan oleh penutur. Penutur mengetahui bahwa MT telah melanggar aturannya. Penutur juga menasehati MT agar hal yang dikatakan oleh MT, harus direnungkan terlebih dahulu oleh MT. Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur)

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 208 Penanda linguistik pada tuturan D1 dan D2 yang ada pada kategori menimbulkan konflik sama-sama mengunakan diksi nonstandar dengan maksud memperingatkan mitra tutur agar memiliki kesamaan tujuan dengan hal yang diucapkan penutur. Masing-masing tuturan juga memiliki kesamaan aspek intonasi, yakni intonasi seru. Penutur juga berbicara dengan nada yang tinggi atau keras. Hal ini sangat tidak santun karena diucapkan pada mitra tutur yang berperan sebagi suami dari penutur. Tekanan keras pada tuturan D1 dalam frasa “ngono wae serik”, sedangkan tuturan D2 terlihat dalam frasa “gene kowe iso ngandani awakmu dewe”. Kategori menimbulkan konflik atau kesembronoan yang disengaja, dalam kategori ini akan ditinjau berdasarkan aspek penanda pragmatik yang melingkupi tuturan tersebut. Penanda pragmatik pada tuturan D1. Ditinjau dari penutur dan mitra tutur, penutur seorang perempuan dengan usia 27 tahun, mitra tutur adalah seorang laki-laki berusia 30 tahun. Hubungan antara penutur dan mitra tutur adalah suami-istri, tetapi dalam kaitan dengan ranah ini hubungan mereka adalah umat dengan umat. Konteks tuturan yang timbul dari situasi yang melingkupi tuturan ini berupa penutur yang menjemput mitra tutur ke Vihara, ketika kebaktian selesai. Pada situasi tersebut hanya penutur yang menghadiri kebaktian tersebut, sedangkan mitra tutur sibuk dengan pekerjaan yang dimilikinya. Penutur memperingatkan mitra tutur untuk tidak melupakan kebutuhan rohaninya, tetapi mitra tutur menyatakan ketidaksetujuan dengan pernyataan yang disampaikan penutur. Penutur merasa kecewa karena pernyataannya tidak dihiraukan. Kemudian penutur memberi penegasan

(228) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 209 dengan kesan jengkel. Tujuan penutur adalah menasehati penutur agar tidak menghiraukan kebutuhan rohaninya. Tindak verbal yang ada pada tuturan adalah tindak direktif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah penutur dan mitra tutur pergi pulang meninggalkan Vihara. Tuturan D2 merupakan lanjutan dari peristiwa tuturan D1. Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Ditinjau dari segi penutur dan mitra tutur, penutur perempuan dengan usia 27 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki 30 tahun. Mereka berdua adalah suami-istri, namun berkaitan dengan ranah ini, hubungan mereka adalah umat dengan umat. Ditinjau dari segi konteks situasi yang timbul sebagai berikut. Penutur menjemput mitra tutur ketika kebaktian selesai dilaksanakan. Mitra tutur tidak berangkat kebaktian dan telah diperingatkan oleh mitra tutur. Mitra tutur merasa direndahkan kemudian dia mengembalikan nasehat yang diberikan penutur. Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur. Penutur tidak mau disalahkan dan menyuruh mitra tutur untuk menerima nasehatnya untuk dipahami sendiri olehnya. Mitra tutur merasa nasehatnya tidak diindahkan dan mengutarakan maksudnya yaitu menasehati penutur. Tujuan dari tuturan ini adalah penutur tidak mau dipersalahkan atau tidak mau menerima nasehat dari mitra tutur sehingga penutur mengembalikan nasehat dari mitra tutur untuk dipahami sendiri oleh mitra tutur. tindak verbal yang timbul atas tuturan tersebut adalah tindak verbal direktif. Tindak perlokusi berupa penutur dan mitra tutur yang pulang meninggalkan Vihara.

(229) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 210 4.3.2.5. Kategori Mengancam Muka Sepihak Berikut ini adalah contoh tuturan yang termasuk dalam kategori mengancam muka sepihak a) Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan E2 P: “Akhir-akhir iki, kok ra tau ketok neng Vihara, Neng endi wae?” MT: “Wah aku sibuk tenan, labuh terus gawe butuhan ra cukup..” P: Karang nek masalah duit ono nek urusan agama dianggep sepele, yo? (Konteks tuturan : Tuturan terjadi pada siang hari di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki usia 67 tahun, MT laki-laki usia 40 tahun. Penutur menanyakan keberadaan MT yang jarang kelihatan pada kebaktian di Vihara. MT sibuk dengan usaha yang dimilikinya sehingga jarang mengikuti kebaktian) Cuplikan tuturan E7 P: Kowe moco Karaniyametta Sutta bola-bali kok ra apal-apal, koyo umat amatiran, wuuuu… MT: Saknajan moco koyo ngene iki awak dewe kudu ngerti lan iso ngelakoni isi seko khotbah Buddha iki. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat Puja Bakti selesai dilakukan. Penutur laki-laki, umat berusia 25 tahun, MT laki-laki, umat berusia 27 tahun. Penutur mencemooh MT karena membaca Karaniyametta Sutta masih mengunakan buku tuntunan. MT menjelaskan bahwa untuk memahami bacaan seperti ini harus mengerti dan bisa melakukan khotbah dari Budha) Cuplikan tuturan E8 P: Dalam ajaran agama Budha dikenal adanya perenungan hukum sebab akibat, maka harus dibuka dengan perenungan kemudian dilanjutkan dengan harapan, Kados mekaten bapak. MT: Berarti menawi kulo nindaki gawean kejahatan sakpanungalane tapi dinggo kesejahteraan keluarga niku becik nopo mboten, Banthe? Nuwun sewu radi sembrono

(230) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 211 P: Berarti gawean Bapak penjahat, hahaha. Geh koyo nggoten niku mboten diajari ting agama pundhi mawon, nafkahi anak bojo niku kedah rejeki ingkang berkah (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat Puja Bakti selesai dilakukan. Penutur laki-laki, umat berusia 25 tahun, MT laki-laki, umat berusia 27 tahun. Penutur mencemooh MT karena membaca Karaniyametta Sutta masih mengunakan buku tuntunan. MT menjelaskan bahwa untuk memahami bacaan seperti ini harus mengerti dan bisa melakukan khotbah dari Budha) b) Subkategori Menyindir Cuplikan tuturan E5 P: Bapake sing lungguh mburi pisan kae, sajake ngerti opo ora sing mau aku omongno, koyo kok mung clingak-clinguk tanpa sebab, MT: (MT kaget) P:Mung guyon loe pak, ojo digowo nesu (Konteks tuturan : Tuturan terjadi saat ceramah keagamaan. Penutur lakilaki 47 tahun seorang umat dan penceramah, MT laki-laki seorang umat berusia 39 tahun. Penutur menunjuk MT yang duduk di belakang. Penutur menyindir MT yang hanya duduk dan sambil ngobrol pada teman disebelahnya. Penutur merasa tersinggung karena ceramahnya tidak diperhatikan. Penutur menuturkan situasi seperti itu dengan alasan bercanda) c) Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan E4 (situasi sedang diadakan ceramah keagamaan) MT: “Ngantuk, dab?” P: “Iyo, nandi panggone ceramah gawe ngantuk. Padune kowe yo ngantuk to?” MT: “Omonganmu lo! Kowe ngono!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi pada berlangsungnya ceramah keagamaan di Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki berusia 23 tahun, MT laki-laki berusia 24 tahun. MT menanyakan kondisi penutur yang sedang

(231) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 212 mengantuk. Penutur menjawabnya dengan tuturan yang bersifat menegaskan jika ada ceramah di mana saja pasti membuat ngantuk) Cuplikan tuturan E6 MT1: Ojo ngasi omonganmu gawe nyerik lan ngerendahke wong liyo, iku biso dadi petenge bebrayan P: Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati MT2: La, malah sing keno aku. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan di Vihara Buddha Prabha. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur.) d) Subkategori Menyinggung Cuplikan tuturan E3 (situasi sedang akan mulai kebaktian di Vihara) P: Ya ampun, arep kebaktian wae iseh wae pada ngomong karepe dewe. MT: Mbok kari dinengno wae, Bu! (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur) Kategori yang terakhir adalah kategori mengancam muka sepihak. Deskripsi data mengenai penanda ketidaksantunan linguistik pada kategori ini ditandai oleh tuturan E2, E4, dan E8 dengan nada sedang. Nada tinggi pada kategori mengancam muka sepihak ini terdapat pada tuturan E3, E5, E6 dan

(232) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 213 E7. Berdasarkan intonasi tuturan, tuturan E2 dan E4 digolongkan ke dalam intonasi tanya (interogatif). Tuturan E2 mempunyai tujuan untuk menyindir seorang umat dalam kelalaiannya untuk menjalankan ibadah, sedangkan tuturan E4 bertujuan sebagai bentuk penegasan mengenai gagasan yang dialami oleh penutur. Tuturan E7, E8, E5, dan E3 memiliki pola intonasi yang sama, yakni intonasi berita, sedangkan tuturan E6 memiliki pola intonasi seru/ perintah. Pada kategori ini, tekanan keras ada pada tuturan E3, E5, E6, dan E7. Tekanan pada tuturan E3 terdapat pada frasa ya ampun. Tekanan pada tuturan E5 terdapat pada frasa bapak sing lungguh mburi pisan kae. Tekanan pada tuturan E6 terdapat pada frasa kuwi pak. Terakhir adalah tekanan pada tuturan E7 yang terdapat dalam frasa kuwi koyo umat amatiran. Tekanan lunak adalah sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit (Achmad & Alek, 2013:33−34). Kategori ini terdapat dalam tuturan E2, E4, dan E8. Ditinjau menurut partikel ataupun kategori fatis yang dalam kategori ini, tuturan E2 terdapat partikel nek, dan yo. Tuturan E4 terdapat partikel yo, dan to. Diksi yang digunakan dalam tujuh tuturan kategori mengancam muka sepihak pada deskripsi data diatas, yakni mengunakan bahasa nonstandar. Hal tersebut dipengaruhi oleh budaya masyarakat Jawa dan istilah bahasa Jawa. Hal ini tampak pada tuturan E8, yakni “berarti gawean bapak penjahat” kata gawean dalam bahasa Indonesia berarti “pekerjaan”. Tuturan E7 juga dapat dijadikan contoh untuk pengolongan diksi pada kategori ini. Tuturan E7 kata “moco” berarti

(233) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 214 “membaca”, “ra apal-apal” berarti “tidak hafal-hafal”. Pada tuturan E4 terdapat frasa “iyo, nandi panggone, ceramah gawe ngantuk” yang bearti “iya, di manapun tempatnya, ceramah membuat mengantuk”. Pada tuturan E3 penanda pragmatik ditandai berdasarkan konteks tuturannya adalah sebagai berikut. Penutur merasa situasi jalannya kebaktian keagamaan kurang kondusif karena banyak orang sibuk sendiri dengan pembicaraan dan dirasa sangat menganggu jalannya kebaktian. Hal tersebut dikeluhkan penutur kepada mitra tutur yang sepaham dengan situasi saat itu. Tuturan ini tidak santun karena penutur menyampaikan dengan sangat keras, sehingga tuturan tersebut terdengar oleh sebagian orang yang berada di Vihara. Tuturan mempunyai maksud agar seluruh orang tersindir dan dapat menkondisikan kegiatan kebaktian dengan wajar dan pantas. Tuturan ini terjadi pagi hari saat acara kebaktian akan berlangsung. Penutur dan mitra tutur adalah seorang umat dengan usia 26 tahun untuk penutur dan mitra tutur berusia 27 tahun. Tindak verbal yang terdapat dalam tuturan ini adalah ekspresif, yakni tuturan yang menyatakan sesuatu yang dirasakan penutur. Tujuan dari tuturan adalah sindiran penutur pada seluruh orang yang akan melaksanakan kebaktian dengan kondisi yang kondusif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut, yakni sebagian orang melihat penutur dengan terkejut dan bermuka masam. Penanda pragmatik tuturan E8, penutur seorang laki-laki dengan usia 57 tahun dan seorang penceramah, sedangkan dengan mitra tutur seorang laki-laki dengan usia 38 tahun. Konteks tuturan yang timbul pada situasi tersebut adalah sedang berlangsungnya suatu ceramah dan tanya jawab seputar pendalaman

(234) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 215 kerohanian keagamaan. Topik ceramah pada kegiatan tersebut mengenai karma yang akan didapatkan ketika melakukan suatu perilaku. Penutur membuka pertanyaan atas kesimpulan ceramah yang telah disampaikan. Mitra tutur menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan perilaku kejahatan yang berhubungan dengan kebutuhan materinya. Penutur menuduh MT sebagai penjahat dengan dalih bercanda dan sebagai selingan dalam jalannya ceramah. Tujuan dari tuturan adalah penutur mengejek mitra tutur bukan berdasarkan hal yang dituduhkan, tuturan hanya sebagai selingan candaan dalam jalannya ceramah. Berdasarkan tuturan tersebut, tindak verbal yang tampak adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi atas tuturan yang terjadi adalah mitra tutur merasa malu, lantas tertawa mendengar tuduhan dari penutur. Berbeda konteks situasi tuturan pada tuturan E7. Penanda pragmatik tuturan ini terjadi saat upacara Puja Bakti selasai dilakukan. Penutur adalah seorang laki-laki dengan usia 25 tahun dan mitra tutur merupakan laki-laki dengan umur 27 tahun. Tuturan mempunyai konteks yang mengandung hal merendahkan terhadap mitra tutur. Penutur mengejek mitra tutur dengan cemoohan yang membuat mitra tutur merasa jengkel. Penutur mencemooh mitra tutur karena membaca Karaniyametta Sutta masih menggunakan buku tuntunan. Mitra tutur menanggapi dan menjelaskan bahwa untuk memahami bacaan seperti ini harus mengerti dan bisa melakukan khotbah dari Budha. Tujuan dari tuturan adalah penutur menyindir cara mitra tutur membaca mantra yang terkesan amatiran. Tindak perlokusi atas tuturan yang disampaikan adalah penutur hanya diam mendenggar tanggapan dari mitra tutur. Tindak verbal

(235) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 216 yang tampak dari tuturan ini adalah representatif, di mana tuturan tersebut menyatakan suatu penegasan yang diyakini oleh penutur. 4.3.3 Maksud Ketidaksantunan Maksud dalam KBBI (Depdiknas, 2005) dapat diartikan sebagai yang dikehendaki; tujuan; niat; arti; makna (dari suatu perbuatan, perkataan, peristiwa, dsb). Jelas bahwa maksud ketidaksantunan berarti sesuatu yang dikehendaki atau yang menjadi niatan suatu perbuatan, perkataan, yang ada dalam diri penutur kepada mitra tuturnya. Maksud penutur melekat pada diri penutur itu sendiri. Dengan demikian, perlu adanya konfirmasi langsung dari penutur mengenai maksud atau tujuan yang terkandung dalam tuturannya. Maksud tersebut bisa bernilai positif maupun negatif. Meskipun maksud dari penutur bersifar positif, namun tidak menutup kemungkinan bahwa tuturan yang dihasilkan berupa tuturan tidak santun. Terdapat sepuluh maksud ketidaksantunan penutur yang ditemukan oleh peneliti. Berikut merupakan pemamparan maksud tuturan yang mengungkapkan ketidaksantunan berbahasa. 4.3.3.1 Maksud Bercanda Tuturan tidak santun digunakan penutur dengan maksud bercanda tampak pada tuturan A2, A4, A11, dan B2. Tuturan A2 : ”Nuwun sewu, punapa panjenengan badhe nggantosi kulo ceramah wonten mriki?”

(236) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 217 (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi pada waktu acara forum diskusi intern keagamaan. Penutur laki-laki, seorang pemuka agama yang berusia 67 tahun. Terdapat MT1 dan MT2 yang asyik mengbrol tanpa menghiraukan ceramah yang sedang dibawakan penutur. Dalam kondisi sebenarnya MT1 dan MT2 sedang memperhatikan ceramah secara seksama. MT1 dan MT2 merupakan umat yang menghadiri upacara keagamaan. Penutur berusaha mendapatkan perhatian dengan menunjuk MT1 dan MT2 untuk mengantinya agar ceramah di depan mimbar dengan alasan bercanda) : “Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha setelah acara kebaktian selesai. Penutur adalah seorang umat, lakilaki berusia 22 tahun. MT adalah sesama umat berusia 23 tahun. MT baru akan berjalan pulang setelah usai kebaktian di Vihara. Penutur menyapa kepada MT. Penutur membalas sapaan tetapi menggunakan ejekan) Tuturan A4 Tuturan A11 : “Kowe kie opo nek sembayang gak iso?” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras sebuah Vihara setelah melakukan Puja Bakti. Penutur laki-laki, umat berusia 21 tahun, sedangkan MT laki-laki, umat berusia 23 tahun. Penutur menyinggung MT dengan bertutur tentang cara beribadah MT. MT menuturkan sebab penutur berkata demikian. Tuturan dari penutur berisi tentang hal bercanda. MT merasa kecewa dengan tuturan penutur dan bertutur cuek dengan bertutur “Kabeh kie tergantung usahane dewe” (semua itu tergantung usaha dari diri sendiri)) Tuturan B2 : “Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras Vihara Vidyaloka saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi. Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan halhal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi)

(237) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 218 Tuturan B2 yang digolongkan ke dalam kategori menghilangkan muka, penutur memiliki maksud bercanda karena tuturan merupakan saran yang diminta oleh mitra tutur. Hal ini ditandai pada frasa ‘mbok jajal dikelitiki barang’ (mbok dicoba dikelitiki). Penutur mengungkapkan hal tersebut dengan bercanda agar mencairkan situasi perbincangan. Pada kategori melecehkan muka terdapat 4 tuturan tidak santun yang mempunyai maksud bercanda. Tuturan tersebut antara lain tuturan A11 yang berupa meragukan cara beribadah mitra tutur. Hal tersebut bermaksud candaan karena sebagai bahan untuk mengobrol. Tuturan ini mempunyai maksud bercanda pada kalimat tanya ‘kowe kie nek sembayang gak iso?’ (kamu kalau sembayang apa tidak bisa?). Tuturan dengan maksud bercanda pada tuturan A11 memiliki kesamaan maksud pada tuturan A2, di mana maksudnya adalah sebagai pencair suasana dalam ceramah dan penarik perhatian agar ceramahnya berjalan secara baik. Tuturan A2 bermaksud bercanda karena ditandai frasa ‘punapa panjengan badhe ngantosi ceramah wonten mriki’ (apakah kamu mau menganti ceramah di sini). Pada tuturan A4 maksud bercanda pada frasa ‘paling dongamu gak bakal mandi’ (paling doamu tidakakan terkabul). Tuturan tersebut mengatakan bahwa mengejek mitra tutur yang tidak pernah berangkat kebaktian dan menghubungkan mengenai doa yang tidak akan pernah terkabul. Hal itu digunakan penutur dengan bercanda agar mendapatkan respon candaan juga dari mitra tutur.

(238) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 219 4.2.3.2 Maksud Memotivasi Maksud memotivasi berupa maksud yang menginginkan seseorang untuk mampu bangkit dari kondisi sebelumnya. Tuturan yang mengandung maksud ini terdapat pada tuturan A3, A16, dan C3. : “Sakjane sing leno itu kowe! Kowe sing kurang kontrol! Apa kowe sing akeh ngutike?” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di teras Vihara saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun. MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat. MT mengutarakan cara agar dalam bermeditasi lebih khusyuk pada penutur. MT masih merasa belum fokus benar dalam bermeditasi. Penutur merespon pertanyaan MT dengan menuduh MT yang kurang berkonsentrasi dalam bermeditasi. Penutur juga beranggapan bahwa MT masih memikirkan halhal lain yang mengganggu konsentrasi dalam bermeditasi) Tuturan A3 Tuturan A16 : Oh ya, Tapi pernahkah anda merasa terpuaskan mengenai semua kebutuhan Anda? Saya yakin anda, pasti tak akan pernah merasa puas, karena saya melihat tingkah anda seperti ini. (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. MT ingin mengutarakan pertanyaan pada seorang Bhikhu tentang berbuat kebaikan tapi mengharapkan pamrih. Penutur meremehkan hal yang ditanyakan MT. Penutur menjelaskan mengenai hal yang ditanyakan oleh MT) Tuturan C3 : “Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe” (Konteks tuturan : Tuturan terjadi saat pagi hari akan diadakan kebaktian sembayangan di Vihara Buddha Prabha. Penutur laki-laki, bapak berusia 49 tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 21 tahun. Penutur dan MT telah sepakat tentang hari dan waktu diadakan kebaktian. Penutur melanggar aturan tersebut, yakni asik menonton televisi dan secara sengaja mengabaikan ibadahnya. Penutur menyuruh MT untuk tidak malas berangkat kebaktian) Tuturan C3 pada kategori melanggar norma memiliki maksud memotivasi karena di dalamnya terdapat ungkapan suruhan secara tidak

(239) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 220 langsung. Tuturan ini mempunyai maksud memotivasi ditandai pada frasa ‘wong arep ngibadah kok sakkarepe dewe’ (mau beribadah kok semaunya sendiri). Ungkapan tersebut berisi tentang pemahaman filosofi simbol dari sifat dasar manusia dalam ajaran agama Budha. Dalam kategori melecehkan muka juga terdapat tuturan A16 yang mempunyai maksud memotivasi. Hal ini ditunjukan pada frasa ‘tapi pernahkah anda merasa terpuaskan mengenai semua kebutuhan Anda?’. Tuturan tersebut mengatakan bahwa keyakinan seseorang yang tidak pernah merasa puas mengenai berbagai kebutuhan. Tujuan khusus dari tuturan A16 adalah untuk tidak melupakan kebutuhan rohani, disamping memenuhi kebutuhan materi. Berbeda pada tuturan A3 memiliki maksud memotivasi ditandai pada frasa ‘apa kowe sing akeh ngutike?’ (apa kamu yang banyak tingkah?). Tuturan ini memotivasi mitra tutur untuk selalu konsentrasi dalam menjalan ibadah. 4.2.3.3 Maksud Kesal Sikap kesal dalam bertutur sering diperlihatkan oleh seseorang yang mempunyai suatu kehendak, namun kehendak tersebut tidak tercapai karena alasan tertentu. Berkaitan dengan tuturan yang mempunyai suatu maksud, maka tuturan yang mempunyai maksud kesal dalam penelitian ini ada pada tuturan A1, B1, C4, D1, dan E3. Tuturan A1 : “Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di Vihara Budha Prabha saat khotbah berlangsung. Penutur perempuan, Ibu berusia 46 tahun. MT perempuan, anak dari MT, berusia 18 tahun. MT sedang asyik menggunakan ponselnya ketika banyak orang sedang mendengarkan

(240) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 221 khotbah. Penutur merasa kesal dan malu dengan tindakan MT karena tindakanya menarik perhatian orang lain) Tuturan B1 : “ Heh tak kandani, nek wong Budha kuwi yo nduwe dino bakda, bedane nek dino bakda Budha koyo ngene kie malah susah. Kowe ngerti gek repot ngene kie malah seneng-seneng wae” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha, yang sedang melakukan persiapan kebaktian sembayangan. Penutur laki-laki, berusia 37 tahun. MT laki-laki, MT1&2 berusia 18 & 20 tahun. MT sedang bersenda gurau ketika para umat sedang melakukan persiapan menyambut upacara keagamaan. Penutur menasehati kedua MT agar melakukan sepantasnya) Tuturan C4 : “Iyo Bu, ngandani wong sing dolanan HP kuwi koyo ngandani wong sing tandus akale” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi, saat berlangsungnya kebaktian di Vihara Vidyaloka. Penutur perempuan, berusia 36 tahun. MT perempuan, berusia 48 tahun. Penutur dan MT sepakat bahwa ketika kebaktian tidak mempergunakan alat komunikasi. Tujuan penutur dan MT sepakat bahwa seseorang yang sedang menggunakan HP tersebut menganggu jalannya kebaktian) Tuturan D1 : “Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik...” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. MT menjemput penutur ketika sembayangan selesai. MT melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur dan mitra tutur untuk berangkat Puja Bhakti bersama tapi MT ingkar janji. MT mengetahui bahwa penutur telah melanggar aturannya untuk rajin berangkat Puja Bhakti) Tuturan E3 : “Ya ampun, arep kebaktian wae iseh wae pada ngomong karepe dewe” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur)

(241) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 222 Setiap kategori ketidaksantunan memiliki wakil tuturan yang bermaksud kesal. Pada tuturan A1 dalam kategori melecehkan muka memiliki maksud kesal karena mitra tutur tidak mengindahkan perintah dari penutur untuk meletakan alat komunikasi saat khotbah berlangsung. Penutur mengungkapkan maksud kesal ditandai dengan frasa ‘ngandani kowe kie koyo ngandani watu’ (menasehati kamu itu seperti menasehati batu). Berbeda konteks pada tuturan B1 pada kategori menghilangkan muka. Tuturan ini menyatakan maksud kesal dalam frasa ‘kowe kie gek repot ngene malah seneng-seneng wae’ (kamu itu tahu sedang repot malah cuma senang-senang). Dalam tuturan ini mengatakan bahwa mitra tutur yang tidak sadar mengenai tindakan bergurau menganggu jalannya persiapan kebaktian yang akan dilaksanakan. Hal tersebut membuat penutur merasa kesal dan menasehati mitra tutur secara ketus. Tuturan C4 pada kategori melanggar norma juga memiliki maksud kesal. Tuturan ini memiliki maksud kesal pada frasa ‘koyo ngandani wong sing tandus akale’ (seperti menasehati orang yang tandus akalnya). Maksud kesal ditandai dengan tuturan yang mengatakan kesamaan pemahaman antara mitra tutur dan penutur mengenai sesorang yang mengunakan handphone saat kebaktian berlangsung yang dirasa mengganggu. Tuturan D1 yang ada pada kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik juga mempunyai maksud kesal. Frasa yang mengungkapkan mengenai maksud kesal, yakni ‘ngono wae serik’ (seperti itu saja marah). Maksud kesal dalam tuturan ditandai dengan tanggapan mitra tutur yang kurang sepaham dengan peringatan dari penutur. Penutur merasa kesal karena melihat mitra

(242) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 223 tutur yang menyampaikan tuturan dengan muka yang masam. Tuturan selanjutnya adalah tuturan E3 pada kategori mengancam muka sepihak. Tuturan E3 memiliki maksud kesal ditandai pada frasa ‘iseh do ngomong karepe dewe’ (masih pada ngomong semaunya sendiri). Maksud kesal pada tuturan ini tampak sama dengan tuturan C4 yang menyatakan kesepahaman pendapat antara penutur dan mitra tutur mengenai situasi yang riuh saat kebaktian akan berlangsung. 4.2.3.4 Maksud Asal Bicara Maksud asal bicara merupakan maksud yang berada pada tuturan A9, E2, dan E8. Tuturan A9 : “Gak iso nafas, Banthe!” (Konteks tuturan : Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang lakilaki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. MT bercerita mengenai filosofi mencari kesuksesan. MT menyuruh penutur untuk membayangkan bermeditasi sambil menenggelamkan kepala ke dalam kolam yang penuh dengan air. MT bertanya tentang yang dirasakan penutur. Penutur menyatakan jawabannya dengan bertutur dengan cara yang kurang pas terhadap MT. MT memberikan penjelasannya dari filosofi kesuksesan pada penutur) Tuturan A10 : ”itu pertanyaan mudah, dan bisa dilakukan oleh semua orang, tinggal buka aja ktp anda, gitu aja kok repot?” (Konteks tuturan : Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. MT perempuan berusia 29 tahun dan seorang umat, sedangkan penutur seorang laki-laki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. MT bertanya mengenai pertanyaan yang sering timbul di benaknya. MT bertanya tentang mengenali dirinya secara lebih dalam. Penutur menanggapi pertanyaan MT dengan jawaban yang bercanda) Tuturan E2 : Karang nek masalah duit ono nek urusan agama dianggep sepele, yo?

(243) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 224 (Konteks tuturan : Tuturan terjadi pada siang hari di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki usia 67 tahun, MT laki-laki usia 40 tahun. Penutur menanyakan keberadaan MT yang jarang kelihatan pada kebaktian di Vihara. MT sibuk dengan usaha yang dimilikinya sehingga jarang mengikuti kebaktian) Tuturan E8 : Berarti gawean Bapak penjahat, hahaha. Geh koyo nggoten niku mboten diajari ting agama pundhi mawon, nafkahi anak bojo niku kedah rejeki ingkang berkah (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat Puja Bakti selesai dilakukan. Penutur laki-laki, umat berusia 25 tahun, MT laki-laki, umat berusia 27 tahun. Penutur mencemooh MT karena membaca Karaniyametta Sutta masih mengunakan buku tuntunan. MT menjelaskan bahwa untuk memahami bacaan seperti ini harus mengerti dan bisa melakukan khotbah dari Budha) Pada tuturan E8 yang memiki maksud asal berbicara dinyatakan dengan menuduh mitra tutur yang profesinya sebagai penjahat secara asal. Tuturan ini bermaksud asal bicara pada kalimat ‘berarti gawean Bapak penjahat’ (berarti pekerjaan Bapak penjahat). Pada tuturan ini, penutur menggunakannya dengan konsep bercanda agar ceramah yang dia sampaikan terkesan hangat bagi khalayak. Tuturan E2 juga memiliki maksud asal bicara karena penutur merasakan kondisi mengantuk saat mitra tutur bertanya tentang kondisi penutur. Tuturan ini bermaksud asal bicara dan ditandai frasa ‘nek masalah agama dianggap sepele’ (kalau masalah agama dianggap sepele). Penutur membuat pernyataan bahwa ceramah di manapun tempatnya membuat mengantuk. Pada tuturan A9 yang ada dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka bermaksud asal bicara karena mitra tutur menyuruh penutur membayangkan dan merasakan kondisi ketika mitra tutur sedang bermeditasi

(244) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 225 di dalam air. Tuturan itu bermaksud asal bicara ditandai pada frasa ‘gak iso nafas’ (tidak bisa bernafas). Penutur asal bicara dan tidak memperhatikan lawan bicara (Bhanthe) yang sedang menerangkan secara runtut pertanyaan penutur. Penutur terkesan kurang menghargai mitra tutur dan berbicara secara asal saja. 4.2.3.5 Maksud Ketidaksetujuan Maksud ketidaksetujuan merupakan maksud yang menyatakan perbedaan pandangan dalam penilaian suatu hal. Kaitan dengan hal ini, tuturan yang mempunyai maksud ketidaksetujuan ada pada tuturan A7, A15, C1, dan E1. Tuturan A7 : “Halah belgedes, ngono kuwi angel lan tergantung tindak tandhuk awake dewe” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara Buddha Prabha, saat sembayangan akan dimulai. Penutur adalah seorang laki-laki, umat berusia 18 tahun, MT adalah seorang laki-laki, sesama umat dan berusia 20 tahun, teman kebaktian dari penutur. MT berandai-andai menjadi seorang Bhikhu akan selalu jauh dari dosa atau karma. Penutur menjawab dengan tuturan yang sengaja membuat MT tersinggung) Tuturan A15 : ”Mau berbuat baik kok pamrih, Piye? Sebenarnya begini adapun perbuatan yang berpamrih, dapat digolongkan sebagai perbuatan baik yang mampu memberikan kebahagiaan untuk banyak pihak, maka si pelaku masih tetap dianggap menanam kamma baik yang pada suatu saat nanti akan ia rasakan buah kebahagiaannya” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. MT ingin mengutarakan pertanyaan pada seorang Bhikhu tentang berbuat kebaikan tapi mengharapkan pamrih. Penutur meremehkan hal yang ditanyakan MT. Penutur menjelaskan mengenai hal yang ditanyakan oleh MT)

(245) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 226 Tuturan C1 : “mbok, biar to Buk! Paling Banthe juga gak marahi aku” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi pada pagi hari saat akan upacara kebaktian. Penutur perempuan, anak berusia 21 tahun. MT laki-laki berusia 57 tahun, bapak dari penutur. Penutur melanggar aturan atau janji yang telah disepakati. Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur tidak diperbolehkan mempergunakan kaos oblong ketika upacara kebaktian. MT melanggar aturannya sendiri dengan menggunakan kaos oblong pada upacara kebaktian) Tuturan E1 : “Nuwun sewu, Mbak nek omong mbek saya gak opo, tapi nek karo koncomu utowo wong liyo kok koyo kurang pas lan kuwi urung mesti bener” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Vidyaloka. Penutur laki-laki, pemuka agama 67 tahun, MT perempuan berusia 36 tahun. MT sedang membahas mengenai sesorang yang menjadi perhatiannya. Penutur merasa bergunjing adalah tindakan tidak sopan, maka penutur bermaksud untuk memperingatkan MT) Tuturan A15 menyatakan ketidaksetujuan penutur tentang pemahaman mitra tutur berkenaan dengan perbuatan baik yang mengharapkan pamrih dari orang lain. Kalimat yang mempunyai maksud ketidaksetujuan, yakni ‘mau berbuat baik kok pamrih, piye?’ (mau berbuat baik kok pamrih, bagaimana?). Berbeda dengan maksud ketidaksetujuan untuk tuturan A7 yang menyatakan tidak setujunya penutur mengenai pandangan mitra tutur yang menyatakan bahwa pemuka umat tidak akan pernah menerima karma buruk. Hal ini ditunjukkan pada frasa ‘halah belgedes’ (halah omong kosong). Tuturan C1 menyatakan maksud ketidaksetujuan karena penutur merasa pakaian yang dia kenakan telah memenuhi syarat digunakan ke dalam acara kebaktian, namun hal tersebut bertolak belakang dengan pendapat mitra tutur yang menganggap pakaian yang dikenakan mitra tutur kurang sopan. Maksud ketidaksetujuan

(246) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 227 yang terakhir terdapat pada tuturan E1 yang mengatakan bahwa adanya ketidakcocokan mengenai bahan pembicaraan yang sedang mitra tutur ungkapkan. Maksud ketidaksetujuan pada tuturan E1 terletak pada frasa ‘mbok biar to buk’. Mitra tutur sedang membicarakan mengenai keburukan seseorang dihadapan penutur. Penutur merasa kegiatan membicarakan keburukan seseorang merupakan perbuatan yang dilarang dalam agama dan jenis perbuatan yang tidak baik untuk kehidupannya kelak. Berdasarkan konteks tersebut penutur menolak melanjutkan pembicaraan pada mitra tutur. Alasan penutur menolak melanjutkan perbincangan adalah membandingkan dirinya dengan orang lain yang berkaitan dengan hal dibicarakan oleh mitra tutur. 4.2.3.6 Maksud Protes Maksud protes terdapat dalam tuturan A6 dan A8 pada kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Tuturan A6 : “Jika belajar agama masih ada yang dirahasiakan, bagaimana jika kita berbuat kejahatan?” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di suatu perkumpulan forum diskusi seputar agama Budha. Penutur adalah seorang umat, laki-laki, berusia 48 tahun. MT seorang pemuka agama, laki-laki, berusia 57 tahun. Tuturan ini terjadi ketika pihak moderator melakukan sesi pertanyaan. Penutur merasa terkesan dengan tema diskusi yang diterangkan oleh MT. Penutur memberikan pertanyaan untuk MT. MT memberikan tanggapan atas pertanyaan MT yang diajukan. Penutur menegaskan mengenai jawaban MT yang tidak sesuai apa yang diharapkannya) Tuturan A8 : P: “Lha mau sukses kok suruh kungkum” (Konteks tuturan : tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang lakilaki, dan Bhikhu berusia 47 tahun. Penutur bertanya kepada MT mengenai

(247) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 228 permasalahan peribadahan yang berhubungan dengan kesuksesannya. Penutur menanyakan tentang cara mencapai kesuksesan pada MT. MT meminta penutur untuk bermeditasi di dalam kolam. Penutur menyatakan keraguan untuk mematuhi permintaan MT) Tuturan A8 menyatakan protes karena mitra tutur merasa penjelasan yang disampaikan penutur masih kurang jelas. Mitra tutur menjelaskan mengenai kajian filosofi meraih kesuksesan. Mitra tutur menyuruh penutur bermeditasi di dalam air guna meraih kesuksesan yang diinginkan. Penutur memprotes penjelasan dari mitra tutur tanpa mendengarkan lebih lanjut penjelasan selanjutnya. Penutur memprotes dengan mengatakan “lha mau sukses kok suruh kungkum” yang berarti “ingin sukses kok di suruh berendam”. Selanjutnya pada tuturan A6 maksud protes disampaikan penutur dengan pertanyaan yang diajukan penutur kurang mendapat jawaban yang belum sesuai dengan yang dia inginkan. Tuturan A6 bermaksud protes ditunjukkan pada frasa ‘bagaimana jika berbuat kejahatan?’. Pertanyaan ditujukan mitra tutur yang berperan sebagai pemuka agama. Pertanyaan yang dibuat adalah seputar agama berkenaan dengan manusia yang diciptakan lainlain oleh Sang pencipta. Pertanyaan tersebut kurang mendapat jawaban yang tepat dari pihak mitra tutur. Selanjutnya penutur membuat pertanyaan yang lebih spesifik untuk membuat jawaban yang dia inginkan. Pertanyaan tersebut bersifat memprotes jawaban mitra tutur yang masih dianggap terlalu luas. Penutur berharap agar memperoleh penjelasan yang lebih spesifik dari pertanyaan yang telah diajukan.

(248) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 229 4.2.3.7 Maksud Membalikkan Keadaan Maksud membalikkan keadaan merupakan maksud dari penutur untuk tidak ingin ditunjuk atau dipersalahkan dalam suatu konteks tuturan. maksud membalikkan keadaan terjadi pada tuturan D2 dan E6. Tuturan D2 : “Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. Penutur menjemput MT ketika sembayangan selesai. MT tidak berangkat beribadah dan telah diperingatkan oleh penutur. Penutur mengetahui bahwa MT telah melanggar aturannya. Penutur juga menasehati MT agar hal yang dikatakan oleh MT, harus direnungkan terlebih dahulu oleh MT. Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur) Tuturan E6 : ”Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan di Vihara Buddha Prabha. Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur. Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1. MT kebingungan karena merasa dipersalahkan oleh penutur.) Pada tuturan D2, penutur merasa dirinya tidak perlu dinasehati oleh mitra tutur. Hal tersebut disebabkan karena penutur sudah terlalu sering mendengar nasehat mitra tutur yang statis atau hanya nasehat-nasehat itu saja yang diberikan. Tuturan D2 bermaksud membalikkan keadaan ditunjukkan pada frasa ‘renungkan omonganmu kuwi’ (renungkanlah omonganmu itu). Penutur merasa bosan dan membalikkan keadaan dengan menyuruh mitra tutur untuk merenungkan sendiri nasehat yang telah diberikannya.

(249) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 230 Berikutnya adalah tuturan E6 yang memiliki maksud membalikkan keadaan. Tuturan ini hampir sama dengan tuturan D2. Tuturan E6 bermaksud protes ditunjukkan pada frasa ‘kuwi cakno ngendikane Banthe’ (itu perhatikan apa yang diucapkan oleh Banthe). Penutur tidak ingin ditunjuk oleh mitra tutur pertama, sehingga dia melimpahkannya ke mitra tutur kedua, yakni suaminya. Padahal mitra tutur pertama menasehati penutur. 4.2.3.8 Maksud Menuduh Maksud menuduh terdapat dalam tuturan B3 dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka. Tuturan B3: “Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh” (Konteks tuturan : Tuturan terjadi pada waktu acara kebaktian akan belangsung di Vihara Vidyaloka. Penutur merupakan seorang pemuka umat yang berusia 67 tahun sedangkan, MT adalah seorang umat dan narapidana berusia 48 tahun. Penutur menyampaikan pada MT mengenai keberadaannya (tidak pernah kelihatan pada waktu kebaktian). MT menyampaikan alasannya. Penutur memberitahu dengan intonasi yang menyindir MT) Tuturan B3 mempunyai maksud menuduh karena mitra tutur jarang terlihat dalam kebaktian karena mempunyai kehidupan yang kelam. Mitra tutur adalah seorang mantan narapidana. Kasus mitra tutur sudah diketahui oleh banyak pihak. Kalimat yang menunjukkan maksud menuduh, yakni ‘paling kewan telu gek teko neng nggonmu kabeh’ (paling ketiga hewan itu sedang berada pada kamu semua). Penutur mengungkapkan rasa keprihatinannya dengan membahas perilaku mitra tutur yang masih dibelenggu sifat tercela

(250) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 231 manusia dalam agama Budha. Penutur juga menuduh mitra tutur masih terpengaruh oleh tiga hewan yang dijadikan simbol keburukan manusia oleh umat Budha. 4.2.3.9 Maksud Menyombongkan Diri Maksud menyombongkan diri merupakan maksud seseorang untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Tuturan yang memiliki maksud menyombongkan diri ada pada tuturan A12 dalam kategori melecehkan muka. Tuturan A12 : “Yoe melu, emang kowe menyang, nek dong bolong wudele” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan Vihara Buddha Prabha 26 November 2013. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 18 tahun, sedangkan MT perempuan, seorang umat berusia 25 tahun dan teman Vihara dari penutur. MT menanyakan kehadiran penutur mengenai acara saresehan keagamaan yang diadakan tempo hari lalu. Penutur bertutur mengenai kedatangannya dan menambahkan tuturan cemoohan pada MT. MT mempunyai alasan bahwa dia lupa akan acara sarasehan tempo hari) Frasa yang menunjukkan maksud menyombongkan diri pada tuturan A12, yakni ‘yoe melu emang kowe’ (ya ikut memang kamu). Penutur merasa bangga terhadap dirinya karena menghadiri sarasehan yang diadakan di Vihara. Penutur juga meremehkan mitra tutur yang tidak dapat menghadiri acara tersebut karena mitra tutur lupa akan acara itu.

(251) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 232 4.2.3.10 Maksud Menyarankan Maksud menyarankan terdapat pada tuturan A5 dalam kategori menlecehkan muka. Tuturan A5 : “Dadi wong Budha kuwi mbok sing laras, ojo sak penake dewe nek ngetokne pendapat!” (Konteks tuturan : Tuturan ini terjadi di suatu perkumpulan forum Budha. Penutur adalah seorang tokoh agama, laki-laki, berusia 67 tahun. MT1 & MT2 adalah umat, laki-laki, berusia 37 & 46 tahun. MT1 & MT2 sedang berdebat dan perdebatan karena terjadi perbedaan pendapat. Penutur sebagai pihak penengah yang akan melerai (MT1&MT2). Penutur menyindir kedua MT dengan alasan berdiskusi secara lebih santun) Frasa yang menunjukkan maksud menuduh, yakni ‘ojo sakkepnake dewe nek ngetoke pendapat’ (jangan seenaknya sendiri, ketika mengemukakan pendapat). Tuturan pada kategori melecehkan muka ini mempunyai maksud menyarankan karena penutur merasa kesal terhadap perdebatan antara mitra tutur pertama dan kedua yang diiringi dengan menggunakan nada yang tinggi dan pendapat-pendapat yang bersifat frontal. Sebagai pihak penengah, penutur berupaya menyarankan mitra tutur pertama maupun kedua untuk lebih santun dan lebih laras dalam mengemukakan pendapat. 4.4 Karakteristik Subkategori (Pembeda Makna Tuturan) Penelitian ini memperoleh 45 tuturan lisan yang digolongkan dalam ketidaksantunan berbahasa baik secara linguistik dan pragmatik dalam ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Tuturan tersebut diklasifikasikan dalam lima kategori ketidaksantunan, yakni: 1) melecehkan muka; 2) menghilangkan muka; 3) melanggar norma; 4) menimbulkan konflik/

(252) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 233 kesembronoan yang disengaja; dan 5) mengancam muka sepihak. Klasifikasi kategori tuturan tidak santun juga diklasifikasi dalam 12 subkategori ketidaksantunan, yakni 1) mengejek; 2) menyindir; 3) menegaskan; 4) menasehati; 5) memerintah; 6) memperingatkan; 7) menegur; 8) berprasangka; 9) membantah; 10) menyinggung; 11) menegaskan; dan 12) menggerutu. Setiap subkategori dalam kategori ketidaksantunan memiliki karakteristik tertentu, dan terdapat unsur yang melekat sehingga menjadi pembeda antara tuturan tidak santun satu dengan yang lainnya. Pembeda makna tuturan atau karakteristik subkategori ditandai dengan teori ketidaksantunan, konteks tuturan, dan tindak perlokusi, misal subkategori mengejek di dalam kategori mengancam muka sepihak dengan subkategori mengejek di dalam kategori melecehkan muka pasti memiliki perbedaan. Berikut pembahasan mengenai pembeda makna dalam setiap kategori ketidaksantunannya. 1. Subkategori Mengejek a. Kategori Melecehkan Muka Tuturan A4 : “Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut ditinjau dari teorinya merupakan kategori ketidaksantunan melecehkan muka, menurut Miriam A. Locher (2008)

(253) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 234 dalam Rahardi (2012), ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut, “behaviour that is face-aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari sekadar “mengancam‟ muka (face-threaten). Perilaku melecehkan muka tersebut lebih mengarah pada sebuah tuturan yang melukai hati orang lain (mitra tutur). Berdasarkan teori tersebut berkaitan dengan cara penyampaian tuturan oleh penutur. Penutur menyampaikan tuturannya dengan Penutur berbicara dengan ketus ke mitra tutur. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara kesal kerena kurang puas dengan jawaban mitra tutur. Penutur sengaja menyinggung dan menegur mitra tutur.  Konteks Dipandang dari segi konteksnya, tuturan tersebut disampaikan di lingkungan Vihara Buddha Prabha setelah acara kebaktian selesai. Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 22 tahun. MT adalah sesama umat berusia 23 tahun. MT baru akan berjalan pulang setelah usai kebaktian di Vihara. Penutur menyapa kepada MT. Penutur membalas sapaan tetapi menggunakan ejekan.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur merasa jengkel mendengar tuturan penutur dan mengacuhkan penutur.

(254) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 235 b. Kategori Menghilangkan Muka Tuturan B3 : “Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi?” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut digolongkan dalam kategori menghilangkan muka karena penutur secara sengaja bertindak tutur (penambahan kata-kata ejekan) dengan dampak mitra tutur merasa kehilangan muka. Hal ini ditunjukkan Culpeper (2008) dalam Rahardi (2012) memberikan penekanan pada fakta ‘face loss’ atau ‘kehilangan muka’, kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu dekat dengan konsep ‘kelangan rai’ (kehilangan muka). Jadi, ketidaksantunan dalam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut ‘merasa’ kehilangan muka.  Konteks Tuturan terjadi pada waktu acara kebaktian akan belangsung di Vihara Vidyaloka. Penutur merupakan seorang pemuka umat yang berusia 67 tahun sedangkan, MT adalah seorang umat dan narapidana berusia 48 tahun. Penutur menyampaikan pada MT mengenai keberadaannya

(255) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 236 (tidak pernah kelihatan pada waktu kebaktian). MT menyampaikan alasannya. Penutur memberitahu dengan intonasi yang menyindir MT.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi yang tampak dari tuturan tersebut adalah MT merasa sangat malu, dan menyadari perbuatan yang selama ini dilakukan. Mitra tutur juga membalas ungkapan penutur dengan ketus. c. Kategori Melanggar Norma Tuturan C3 : “Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut digolongkan dalam kategori melanggar muka karena tuturan yang secara normatif dianggap negatif, karena melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Agama juga mengajarkan suatu norma yang mengikat umatnya menjalankan untuk beribadah sesuai waktu yang telah ditentukan secara wajib. Hal ini sejalan dengan Locher and Watts (2008) dalam Rahardi (2012), lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif dianggap negatif (negatively

(256) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 237 marked behavior), karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu).  Konteks Tuturan terjadi saat pagi hari akan diadakan kebaktian sembayangan di Vihara Buddha Prabha. Penutur laki-laki, bapak berusia 49 tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 21 tahun. Penutur dan MT telah sepakat tentang hari dan waktu diadakan kebaktian. Penutur melanggar aturan tersebut, yakni asik menonton televisi dan secara sengaja mengabaikan ibadahnya. Penutur menyuruh MT untuk tidak malas berangkat kebaktian.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan adalah MT menuruti saran dari penutur dengan datang kebaktian secara setengah hati. d. Kategori Mengancam Muka Sepihak Tuturan E7 : “Kowe moco Karaniyametta Sutta bola-bali kok ra apalapal, koyo umat amatiran, wuuuu.” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan.

(257) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 238  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut ditinjau dari teori ketidaksantunan tergolong dalam kategori mengancam muka sepihak. Pada tuturan tersebut tampak tidak santun karena tidak adanya unsur kesengajaan penutur dan mitra tutur merasakan ancaman kehilangan muka (face threaten). Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan Terkourafi (2008) dalam Rahardi (2012) perilaku berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya.  Konteks Tuturan ini terjadi saat Puja Bakti selesai dilakukan. Penutur laki-laki, umat berusia 25 tahun, MT laki-laki, umat berusia 27 tahun. Penutur mencemooh MT karena membaca Karaniyametta Sutta masih mengunakan menjelaskan buku tuntunan. MT bahwa untuk memahami bacaan seperti ini harus mengerti dan bisa melakukan khotbah dari Budha.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah penutur hanya terdiam mendengar tuturan dari mitra tutur.

(258) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 239 2. Subkategori Menyindir a. Kategori Melecehkan Muka Tuturan A15 : “Mau berbuat baik kok pamrih, Piye?” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut ditinjau dari teorinya Kategori ketidaksantunan melecehkan muka, menurut Miriam A Locher (2008) via Rahardi (2012), ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,,“behaviour that is face-aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari sekadar “mengancam‟ muka (face-threaten). Perilaku melecehkan muka tersebut lebih mengarah pada sebuah tuturan yang melukai hati orang lain (mitra tutur). Berdasarkan teori tersebut berkaitan dengan cara penyampaian tuturan oleh penutur. Penutur berbicara dengan keras di depan umat pada umumnya. Penutur dengan terang-terangan menunjuk mitra tutur. Penutur sengaja dengan tegas menyampaikan nasihat untuk umat pada umumnya, dan secara khusus untuk menyinggung mitra tutur.

(259) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 240  Konteks Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. MT ingin mengutarakan pertanyaan pada seorang Bhikhu tentang berbuat kebaikan tapi mengharapkan pamrih. Penutur meremehkan hal yang ditanyakan MT. Penutur menjelaskan mengenai hal yang ditanyakan oleh MT.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT mengerti dan merasa lega atas penjelasan yang dituturkan penutur. b. Kategori Mengancam Muka Sepihak Tuturan E5 : “Bapake sing lungguh mburi pisan kae, sajake ngerti opo ora sing mau aku omongno, koyo kok mung clingakclinguk tanpa sebab” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut kesembronoan termasuk yang dalam disengaja, kategori Menurut ketidaksantunan Bousfield (2008:3), ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, “The issuing of intentionally gratuitous and conflictive face-threatening acts (FTAS) that are purposefully perfomed.‟ Bousfield memberikan penekanan

(260) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pada dimensi “kesembronoan” (gratuitous), dan 241 konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu. Jadi apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan. kaitannya dengan teori tersebut adalah mengenai cara penutur menyampaikan tuturannya. Penutur menyampaikan tuturannya dengan Penutur berbicara dengan sinis ke mitra tutur. Penutur menyindir mitra tutur dengan mengklaim bahwa mitra tutur sama seperti anak muda yang penutur keluhkan. Penutur tadinya hanya menggoda mitra tutur, akhirnya membuat mitra tutur tersinggung dan membela diri.  Konteks Tuturan terjadi saat ceramah keagamaan. Penutur laki-laki 47 tahun seorang umat dan penceramah, MT laki-laki seorang umat berusia 39 tahun. Penutur menunjuk MT yang duduk di belakang. Penutur menyindir MT yang hanya duduk dan sambil ngobrol pada teman disebelahnya. Penutur merasa tersinggung karena ceramahnya tidak diperhatikan. Penutur menuturkan situasi seperti itu dengan alasan bercanda.

(261) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 242  Tindak Perlokusi Mitra tutur merasa kaget dan malu sehingga dia kembali mendengarkan ceramah dari penutur 3. Subkategori Menegaskan a. Kategori Melecehkan Muka Tuturan A5 : “Dadi wong Budha kuwi mbok sing laras, ojo sak penake dewe nek ngetoke pendapat” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut ditinjau dari teorinya Kategori ketidaksantunan melecehkan muka, menurut Miriam A Locher (2008) via Rahardi (2012), ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,,“behaviour that is face-aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari sekadar “mengancam‟ muka (face-threaten). Perilaku melecehkan muka tersebut lebih mengarah pada sebuah tuturan yang melukai hati orang lain (mitra tutur).

(262) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 243  Konteks Tuturan ini terjadi di suatu perkumpulan forum Budha. Penutur adalah seorang tokoh agama, laki-laki, berusia 67 tahun. MT1 & MT2 adalah umat, laki-laki, berusia 37 & 46 tahun. MT1 & MT2 sedang berdebat dan perdebatan karena terjadi perbedaan pendapat. Penutur sebagai pihak penengah yang akan melerai (MT1&MT2). Penutur menyindir kedua MT dengan alasan berdiskusi secara lebih santun. Penutur menyindir kedua MT dengan alasan mencari solusi dengan jalan lebih baik dari permasalahan mereka.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT1 dan MT2 mempertahankan pendapat yang mereka pandang lebih baik dengan menghiraukan saran/ solusi dari penutur b. Kategori Mengancam Muka Sepihak Tuturan E5 : “Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.  Teori Ketidaksantunan Terkourafi (2008) via Rahardi (2012) memandang ketidaksantunan sebagai, ‘impoliteness occurs when the expression used is not conventionalized relative to the context of occurrence; it threatens the

(263) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 244 addressee’s face but no face-threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.’ Jadi perilaku berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya. Berdasarkan teori tersebut, penutur menyindir mitra tutur karena ceramahnya tidak diperhatikan. Penutur berbicara dengan sinis terhadap mitra tutur. Penutur hanya mengoda mitra tutur dan menambahkan alasan pembelaan diri.  Konteks Tuturan terjadi saat ceramah keagamaan. Penutur laki-laki 47 tahun seorang umat dan penceramah, MT laki-laki seorang umat berusia 39 tahun. Penutur menunjuk MT yang duduk di belakang. Penutur menyindir MT yang hanya duduk dan sambil ngobrol pada teman disebelahnya. Penutur merasa tersinggung karena ceramahnya tidak diperhatikan. Penutur menuturkan situasi seperti itu dengan alasan bercanda  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur merasa kaget dan malu karena ucapan penutur

(264) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 245 4. Subkategori Menasehati a. Kategori Melecehkan Muka Tuturan A22: “Ssst, omong wae, ngerti gek donga ra,to! Umeryek wae cangkeme!” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut ditinjau dari teorinya Kategori ketidaksantunan melecehkan muka, menurut Miriam A Locher (2008) via Rahardi (2012), ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,,“behaviour that is face-aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari sekadar “mengancam‟ muka (face-threaten). Perilaku melecehkan muka tersebut lebih mengarah pada sebuah tuturan yang melukai hati orang lain (mitra tutur). Penutur menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya dituturkan. Penutur terkesan jengkel melihat tingkah laku yang dilakukan mitra tutur. Penutur beralasan mengucapkan tuturan tersebut karena menganggu konsentrasinya dalam berdoa.  Konteks Tuturan ini terjadi saat diadakan kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur dan mitra tutur adalah seorang umat sekaligus mereka adalah

(265) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 246 kakak-beradik, penutur laki-laki berusia 15 tahun, sedangkan mitra tutur seorang laki-laki dengan usia 10 tahun. Ketika mereka berdoa di altar sebuah Vihara dengan menggunakan dupa, mitra tutur bergumam mengenai bau dupa yang tidak seperti biasanya. Ucapan mitra tutur menganggu konsentrasi dari penutur. Penutur memberi peringatan terhadap mitra tutur menggunakan kata-kata yang kasar  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur mematuhi peringatan dari penutur, sebab usia mitra tutur lebih muda dari penutur. b. Kategori Menghilangkan Muka Tuturan B4 : “Kowe mbok ning wektu ceramah ro Banthe mbok ojo omong dewe. Ribut karepe dewe! Sesuk maneh ojo ngono kuwi!” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.  Teori Ketidaksantunan Berdasarkan teori ketidaksantunannya, tuturan tersebut termasuk dalam kategori menghilangkan muka, Pemahaman Culpeper (2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah, “Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.‟ Dia

(266) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 247 memberikan penekanan pada fakta “face loss” atau “kehilangan muka” kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu dekat dengan konsep “kelangan rai‟ (kehilangan muka). Culpeper memberikan penekanan pada fakta “face loss‟ atau fakta ‘kehilangan muka’ untuk menjelaskan konsep ketidaksantunan dalam berbahasa itu. Sebuah tuturan akan dianggap sebagai tuturan yang tidak santun jika tuturan itu menjadikan muka seseorang hilang. Setidaknya tuturan yang menghilangkan muka itu dirasakan oleh sang mitra tutur sendiri. Penutur berusaha menasehati mitra tutur dengan alasan agar mitra tutur merasa jera mengenai tindakan yang menganggu jalanya ibadah. Penutur mengucapkan tuturannya dengan cara sinis.  Konteks Tuturan ini terjadi setelah berlangsungnya kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 55 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 16 tahun. Mitra tutur dan teman-temannya menganggu jalannya kekhusyukan ibadah karena mereka malah sibuk mengobrol ketika kebaktian telah berlangsung. Penutur merasa terganggu oleh tingkah mitra tutur dan memberikan nasehat pada mitra tutur agar merasa jera akan tindakannya.

(267) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 248  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan tersebut mitra tutur menyanggupi apa yang telah diperingatkan oleh penutur dan pergi keluar meninggalkan Vihara. c. Kategori Melanggar Norma Tuturan C4 : “Iyo Bu, ngandani wong sing dolanan HP kuwi koyo ngandani wong sing tandus akale” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.  Teori Ketidaksantunan Locher and Watts (2008) via Rahardi (2012) berpandangan bahwa perilaku tidak santun adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif (negatively marked behavior), lantaran melanggar normanorma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Juga mereka menegaskan bahwa ketidaksantunan merupakan peranti untuk menegosiasikan hubungan antarsesama (a means to negotiate meaning). Penutur dan mitra tutur merasa sepaham mengenai larangan menggunakan alat komunikasi saat berlangsungnya ceramah keagamaan. Penutur berbicara dengan nada yang tinggi dan keras agar tuturan terdengar oleh orang tersebut.

(268) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 249  Konteks Tuturan ini terjadi, saat berlangsungnya kebaktian di Vihara Vidyaloka. Penutur perempuan, berusia 36 tahun. MT perempuan, berusia 48 tahun. Penutur dan MT sepakat bahwa ketika kebaktian tidak mempergunakan alat komunikasi. Penutur dan MT sepakat bahwa seseorang yang sedang menggunakan HP tersebut menganggu jalannya kebaktian.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah penutur dan mitra tutur membiarkan orang tersebut, dan mendengarkan khotbah lagi. 5. Subkategori Memerintah a. Kategori Melecehkan Muka Tuturan A19 : “Piye kok malah diem. Jangan sungkan ayo bertanya, lawong bertanya juga gak bayar to?.” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut ditinjau dari teorinya kategori ketidaksantunan melecehkan muka, menurut Miriam A Locher (2008) via Rahardi (2012), ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,,“behaviour that is face-aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku

(269) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 250 ‘melecehkan’ muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari sekadar “mengancam‟ muka (face-threaten). Perilaku melecehkan muka tersebut lebih mengarah pada sebuah tuturan yang melukai hati orang lain (mitra tutur). Penutur mengungkapkan tuturannya secara ketus. Penutur terkesan memberikan pemaksaan pada mitra tutur untuk menanggapi pernyataannya.  Konteks Tuturan ini terjadi saat khotbah saat diskusi interaktif intern umat Buddha di Vihara Vidyaloka. Penutur seorang pemuka agama, lakilaki dengan usia 58 tahun, sedangkan mitra tutur adalah peserta diskusi. Penutur menyampaikan bahan diskusi dan telah selesai memberikan ceramah mengenai ‘nasib’. Penutur memberikan kesempatan peserta diskusi untuk bertanya mengenai bahan diskusi yang telah diterangkannya, namun tidak ada seorangpun yang ingin menanggapi. Penutur kemudian memotivasi peserta diskusi agar bertanya dengan alasan tidak mengeluarkan biaya ketika mengungkapkan pendapat, tanggapan atau pertanyaan  Tindak Perlokusi Penutur memberikan beberapa jeda waktu untuk mitra tutur yang ingin bertanya, namun banyak yang sudah dimengerti oleh seluruh mitra tutur, sehingga diskusi mengenai keagamaan dilanjutkan kembali.

(270) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 251 b. Kategori Menimbulkan Konflik/ Kesembronoan yang Disengaja Tuturan D2 : “Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi! Pembahasan mengenai pembeda ” makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut kesembronoan termasuk yang dalam disengaja, kategori Menurut ketidaksantunan Bousfield (2008:3), ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, “The issuing of intentionally gratuitous and conflictive face-threatening acts (FTAS) that are purposefully perfomed.‟ Bousfield memberikan penekanan pada dimensi “kesembronoan” (gratuitous), dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu. Jadi apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan. kaitannya dengan teori tersebut adalah mengenai cara penutur menyampaikan tuturannya. Penutur mengungkapkan pernyataan tersebut karena penutur memandang mitra tutur sering melakukan tindakan yang tidak

(271) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 252 mau dipersalahkan akan gagasannya. Penutur merasa kesal terhadap kebiasaan mitra tutur dan mengungkapkan tuturan tersebut.  Konteks Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha ketika sembayangan selesai dilaksanakan. Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami dari penutur. Penutur merasa kesal karena mitra tutur selalu menganggap dirinya bertindak benar. MT tidak berangkat beribadah dan telah diperingatkan oleh penutur. Mitra tutur beralasan mengenai ketidakhadirannya dalam beribadah. Penutur mengetahui bahwa MT telah melanggar aturannya. Penutur juga menasehati MT agar hal yang dikatakan oleh MT, harus direnungkan terlebih dahulu oleh MT. Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan di atas adalah penutur bersikap diam saja mendengar pernyataan mitra tutur yang tidak mau dipersalahkan. 6. Subkategori Memperingatkan a. Kategori Melecehkan Muka Tuturan A2: “Nuwun sewu, punapa panjenengan badhe nggantosi kulo ceramah wonten mriki?” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.

(272) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 253  Teori Ketidaksantunan Tuturan tersebut ditinjau dari teorinya Kategori ketidaksantunan melecehkan muka, menurut Miriam A Locher (2008) via Rahardi (2012), ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,,“behaviour that is face-aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari sekadar “mengancam‟ muka (face-threaten). Perilaku melecehkan muka tersebut lebih mengarah pada sebuah tuturan yang melukai hati orang lain (mitra tutur).  Konteks Tuturan ini terjadi pada waktu acara forum diskusi intern keagamaan. Penutur laki-laki, seorang pemuka agama yang berusia 67 tahun. Terdapat MT1 dan MT2 yang asyik mengobrol tanpa menghiraukan ceramah yang sedang dibawakan penutur. Dalam kondisi sebenarnya MT1 dan MT2 sedang memperhatikan ceramah secara seksama. MT1 dan MT2 merupakan umat yang menghadiri upacara keagamaan. Penutur berusaha mendapatkan perhatian dengan menunjuk MT1 dan MT2 untuk mengantinya agar ceramah di depan mimbar dengan alasan bercanda.  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan A2 adalah kedua mitra tutur merasa malu karena diperhatikan oleh semua orang yang hadir dalam diskusi

(273) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 254 tersebut. Penutur segera melanjutkan ceramah dengan mengalihkan metode ceramah menggunakan video interaktif. b. Kategori Menghilangkan Muka Tuturan B1 : “Heh tak kandani, nek wong Budha kuwi yo nduwe dino bakda bedane nek dino bakda Budha koyo ngene kie malah susah. Kowe ngerti gek repot ngene kie malah seneng-seneng wae” Pembahasan mengenai pembeda makna mencangkup teori ketidaksantunan, konteks, dan tindak perlokusi. Berikut pembahasan dari tuturan di atas.  Teori Ketidaksantunan Berdasarkan teori ketidaksantunannya, tuturan tersebut termasuk dalam kategori menghilangkan muka, Pemahaman Culpeper (2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah, “Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.‟ Dia memberikan penekanan pada fakta “face loss” atau “kehilangan muka” kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu dekat dengan konsep “kelangan rai‟ (kehilangan muka). Culpeper memberikan penekanan pada fakta “face loss‟ atau fakta ‘kehilangan muka’ untuk menjelaskan konsep ketidaksantunan dalam berbahasa itu. Sebuah tuturan akan dianggap sebagai tuturan yang tidak santun jika tuturan

(274) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 255 itu menjadikan muka seseorang hilang. Setidaknya tuturan yang menghilangkan muka itu dirasakan oleh sang mitra tutur sendiri.  Konteks Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha, yang sedang melakukan persiapan kebaktian sembayangan. Penutur laki-laki, berusia 37 tahun. MT laki-laki, MT1&2 berusia 18 & 20 tahun. MT sedang bersenda gurau ketika para umat sedang melakukan persiapan menyambut upacara keagamaan. Penutur menasehati kedua MT agar melakukan sepantasnya  Tindak Perlokusi Tindak perlokusi dari tuturan B1 adalah MT merasa malu banyak orang lain dan meminta maaf pada penutur.

(275) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP Bab ini akan menguraikan (1) kesimpulan, dan (2) saran. Simpulan merupakan rangkuman keseluruhan penelitian ini. Saran meliputi hal-hal relevan yang kiranya perlu diperhatikan, baik untuk mahasiswa jurusan pendidikan bahasa maupun penelitian lanjutan. 5.1 Simpulan Dari hasil data ditemukan tuturan yang tidak santun dalam interaksi sosial antar umat beragama dalam ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta. Simpulan hasil analisis dipaparkan sebagai berikut. 5.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan dalam ranah agama Budha di Kotamadya Yogyakarta berupa tuturan lisan yang tidak santun dan telah ditranskrip. Tuturan-tuturan tersebut digolongkan ke dalam lima kategori tuturan dan sembilan subkategori. Kelima kategori tersebut, yakni melecehkan muka, menghilangkan muka, melanggar norma, menimbulkan konflik, dan mengancam muka sepihak. Subkategori yang terdapat dalam kategori melechkan muka adalah menegaskan, mengejek, menyindir, memperingatkan, mengupat, menegur, dan menasehati. Subkategori yang terdapat dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka, yakni subkategori mengejek dan memperingatkan. Subkategori menegaskan, mengejek, mengupat dan menasehati terdapat dalam kategori melanggar norma. Kemudian dalam 256

(276) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 257 kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik hanya terdapat subkategori memerintah. Terakhir dalam kategori mengancam muka sepihak terdapat subkategori menegaskan, mengejek, menyindir, dan menyinggung. Penelitian ini juga memaparkan wujud ketidaksantunan pragmatik yang berupa cara penutur dalam menyampaikan tuturan-tuturan tidak santun secara lisan. Wujud ketidaksantunan pragmatik yang terdapat dalam setiap kategori adalah 1. Wujud ketidaksantunan pragmatik dalam kategori melecehkan muka berupa tuturan yang disampaikan dengan cara yang ketus. Penutur berbicara pada orang yang lebih tua. Penutur berbicara dengan pemimpin umat dengan kesan tidak menghormati. Penutur menyepelekan pertanyaan yang diajukan mitra tutur. Penutur memberikan pernyataan yang menganggu perasaan mitra tutur. Tuturan yang disampaikan kurang menghargai apresiasi yang disampaikan mitra tutur. 2. Wujud ketidaksantunan pragmatik dalam kategori menghilangkan muka berupa tuturan yang disampaikan dengan kesan candaaan tetapi kesan mengejek lebih ditonjolkan. Tuturan membuat mitra tutur malu karena disampaikan di depan banyak orang. Penutur menyampaikan dengan cara yang sinis. Tuturan yang disampaikan merendahkan status mitra tutur 3. Wujud ketidaksantunan pragmatik dalam kategori melanggar norma berupa penutur yang menyampaikan cara ketus. Penutur sembrono karena berbicara pada orang yang lebih tua. Penutur melanggar norma mengenai adat-istiadat peribadahan yang telah menjadi kesepakatan

(277) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 258 bersama. Penutur tidak menuruti perintah dari mitra tutur. Penutur merendahkan status sosial mitra tutur. 4. Wujud ketidaksantunan pragmatik dalam kategori menimbulkan konflik terlihat dari penutur yang berbicara dengan cara ketus dan kecewa karena nasehat yang diberikan diabaikan oleh mitra tutur. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan sengaja. Penutur berbicara pada orang yang lebih tua. Penutur menyampaikan tuturannya dengan tidak menghormati mitra tutur. 5. Wujud ketidaksantunan pragmatik kategori menghilangkan muka sepihak berupa tuturan yang membuat mitra tutur sangat malu. Tuturan disampaikan dengan cara ketus dan sembrono. Penutur membuat mitra tutur merasa direndahkan dalam agama. Penutur tidak menyadari bahwa ia berbicara pada orang yang lebih tua dari dirinya. Penutur menuduh mitra tutur pada kondisi yang tidak sebenarnya. 5.1.2 Penanda Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Penanda ketidaksantunan baik linguistik maupun pragmatik, sama halnya dengan wujud ketidaksantunan. Penanda linguistik ditandai berdasarkan unsur segmental dan unsur suprasegmental suatu tuturan, sedangkan, penanda ketidaksantunan pragmatik diketahui berdasarkan konteks yang mencangkupi terbentuknya tuturan.

(278) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 259 Penanda linguistik yang ditemukan dalam penelitian ini berupa diksi, kategori fatis/ partikel, nada, tekanan, dan intonasi yang dipaparkan dalam kelima kategori ketidaksantunan, yakni sebagai berikut. 1. Kategori melecehkan muka Kategori melecehkan muka dilihat menggunakan diksi bahasa popular, dan bahasa nonstandar. Sebagian besar pada tuturan tidak santun yang terdapat dalam kategori ini adalah tekanan keras dan nada yang tinggi. Partikel yang digunakan berupa lha, kok, yo, oalah, piye, oh ya, halah. Bahasa slang yang terdapat kategori ini ngutike. Kategori ini tuturan mempergunakan intonasi tanya, berita, dan seru. 2. Kategori menghilangkan muka Kategori menghilangkan muka tampak tuturan mempergunakan intonasi berita dan seru. Diksi yang digunakan dalam kategori ini adalah bahasa nonstandar dengan istilah bahasa Jawa yang digunakan secara utuh. Kata fatis yang terdapat heh. Penutur berbicara dengan nada yang keras atau tinggi. 3. Kategori melanggar norma Kategori melanggar norma, dalam intonasi yang digunakan adalah seru dan berita. Diksi yang digunakan bahasa nonstandar karena menggunakan istilah bahasa Jawa. Tekanan yang dipakai keras dan nada sedang, begitu pula dengan nada yang meliputi tuturan tinggi dan sedang.

(279) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. 260 Kategori menimbulkan konflik Dalam kategori ini, diksi yang digunakan adalah diksi bahasa nonstandar. Tekanan dan nada yang digunakan kedua tuturan ini, dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik, yakni tekanan keras dan nada tinggi. Intonasi yang digunakan adalah intonasi seru. 5. Kategori mengancam muka sepihak Kategori mengancam muka sepihak, beberapa tuturan berintonasikan yang digunakan berita, sedangkan beberapa lainnya berintonasi tanya dan seru. Lalu, diksi yang digunakan dalam kategori ini bahasa populer dan bahasa nonstandar. Tekanan yang digunakan berupa tekanan lunak/ sedang dan keras/ tinggi. Nada yang digunakan penutur adalah nada sedangdan nada tinggi. Penanda ketidaksantunan pragmatik yang tampak dari konteks antara penutur dan mitra tutur, situasi ketika berlangsungnya tuturan, tujuan tuturan, tindak verbal, serta tindak perlokusi yang meliputi tuturan tersebut disampaikan. Penanda ketidaksantuan pragmatik tersebut diuraikan dalam masing-masing kategori ketidaksantunan berbahasa sebagai berikut. 1. Kategori melecehkan muka Tuturan melibatkan penutur dan mitra tutur yang berkaitan dengan ranah agama Budha. Berdasarkan hal tersebut, hubungan tuturan yang terjadi antara penutur dan mitra tutur adalah sebagai umat dengan umat dan umat dengan pemuka agama. Tuturan terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha. Tindak verbal dalam tuturan melecehkan muka berupa

(280) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 261 tindak verbal ekspresif, representatif, komisif, direktif. Tindak perlokusi berupa mitar tutur merasa malu, mitra tutur memasukan handphone ke dalam saku, mitra tutur merasa kesal, penutur dan mitra tutur berbincang sambil berjlan masuk Vihara. 2. Kategori menghilangkan muka Tuturan melibatkan penutur dan mitra tutur yang berkaitan dengan ranah agama Budha. Berdasarkan hal tersebut, hubungan tuturan yang terjadi antara penutur dan mitra tutur adalah sebagai umat dengan umat dan umat dengan pemuka agama. Tuturan terjadi di lingkungan Vihara Vidyaloka. Tindak verbal dalam tuturan melecehkan muka berupa tindak verbal deklaratif, ekspresif dan direktif. Tindak perlokusi berupa mitar tutur merasa malu, mitra tutur tertawa mendengar ucapan mitra tutur, mitra tutur merasa kesal 3. Kategori melanggar norma Tuturan melibatkan penutur dan mitra tutur yang berkaitan dengan ranah agama Budha. Berdasarkan hal tersebut, hubungan tuturan yang terjadi antara penutur dan mitra tutur adalah sebagai umat dengan umat dan umat dengan pemuka agama. Tuturan terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha dan Vihara Vidyaloka. Tindak verbal dalam tuturan melecehkan muka berupa tindak verbal representatif, dan direktif. Tindak perlokusi berupa mitra tutur datang kebaktian dengan setengah hati, mitra tutur menjelaskan alasan keterlambatannya, kekecewaan mitra tutur tentang tindakan penutur.

(281) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. 262 Kategori menimbulkan konflik Tuturan melibatkan penutur dan mitra tutur yang berkaitan dengan ranah agama Budha. Berdasarkan hal tersebut, hubungan tuturan yang terjadi antara penutur dan mitra tutur adalah sebagai umat dengan umat dan umat dengan pemuka agama. Tuturan terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha. Tindak verbal dalam tuturan melecehkan muka berupa tindak verbal ekspresif, representatif, komisif, direktif. Tindak perlokusi mitra tutur dan penutur yang pergi pulang meninggalkan Vihara sambil bercekcok mengenai perbedaan pemahaman yang mereka milki. 5. Kategori mengancam muka sepihak Tuturan melibatkan penutur dan mitra tutur yang berkaitan dengan ranah agama Budha. Berdasarkan hal tersebut, hubungan tuturan yang terjadi antara penutur dan mitra tutur adalah sebagai umat dengan umat dan umat dengan pemuka agama. Tuturan terjadi di lingkungan Vihara Buddha Prabha dan Vihara Vidyaloka. Tindak verbal dalam tuturan melecehkan muka berupa tindak verbal ekspresif, representatif, komisif, direktif. Tindak perlokusi berupa mitar tutur merasa malu, mitra tutur tertawa mendengar ucapan mitra tutur, tuduhan penutur yang membuat mitra tutur merasa kesal 5.1.3 Maksud Ketidaksantunan Penutur Suatu tuturan hanya diketahui dimiliki oleh penutur. Hal ini dikarenakan dalam setiap tuturan, penutur memilki kehendak tertentu dalam menyampaikan

(282) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 263 suatu tuturan pada mitra tutur. Dalam kategori melecehkan muka, penutur mempunyai beragam maksud diantaranya maksud bercanda, memotivasi, kesal, asal bicara, ketidaksetujuan, menyombongkan diri, dan menyarankan. Kategori menghilangkan muka terdapat tuturan yang bermaksud kesal, bercanda, dan menuduh. Kemudian dalam kategori melanggar norma terdapat maksud ketidaksetujuan, memotivasi, dan kesal. Pada kategori menimbulkan konflik terdapat maksud membalikkan keadaan dan kesal. Kategori yang terakhir adalah mengancam muka sepihak yang mempunyai maksud ketidaksetujuan, asal bicara, kesal, dan membalikkan keadaan. 5.2 Saran Berdasarkan dari fenomena-fenomena pemakaian kebahasaan dalam tuturan pada ranah agama Budha dan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah ditemukan, peneliti memberikan beberapa saran mengenai peneltianpenelitian lain yang serupa dengan peneltian ini. Berikut adalah saran penelti untuk penelitian lanjutan dan bagi pemeluk agama. 5.2.1 Bagi Penelitian Lanjutan 1) Peneltian ini hanya mengkaji mengenai ketidaksantunan berbahasa secara linguistik dan pragmatik dalam ranah agama. Bagi penelitian lain, penelitian ini dapat ditindak lanjuti dengan subjek ranah yang berbeda seperti ketidaksantunan berbahasa ranah elit politik, kebudayaan, kehidupan kaum sosialita dan lain sebagainya.

(283) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 264 2) Penelitian menemukan lima kategori ketidaksantunan dan delapan subkategori. Peneliti mengharapkan penelti berikutnya dapat menemukan kategori beserta subkategori lainnya sehingga penelitiaan mengenai ketidaksantunan berbahasa menjadi lebih baik dan lebih lengkap guna pembelajaran maupun penerapan berbahasa secara santun. 3) Penelitian lain diharapkan mengkaji lebih dalam tentang maksud penutur, sehingga pembaca dapat memahami secara utuh dan baik mengenai suatu tuturan yang disampaikan dan diketahui oleh penutur. 4) Peneltian ini memaparkan mengenai ragam pembelajaran bahasa berdasarkan kajian pragmatik. Penelitian lain diharapkan mengkaji lebih dalam dan menambahkan fenomena-fenomena baru yang muncul dalam bidang pragmatik, sehingga penelitian yang berdasarkan ilmu pragmatik menjadi lebih lengkap dan variatif. 5.2.2 Bagi Pemeluk Agama (Umat dan Pemuka Agama) Ketidaksantunan berbahasa merupakan fenomena yang telah menjadi kebiasaan dan selalu melingkupi komunikasi sesorang dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini menjadi fenomena baru karena dikaji dan ditelaah menggunakan unsur pragmatik. Berdasarkan hasil peneltian yang telah ditemukan, sebagai anggota masyarakat, khususnya dalam tataran pemeluk agama Budha pada lingkungan yang masih menjunjung tinggi adat budaya Jawa, setiap pemeluk agama Budha perlu menghindari penggunaan bahasa yang tidak santun. Hasil peneltian ini dapat digunakan sebagai acuan maupun

(284) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 265 gambaran secara umum mengenai perilaku bertutur secara tidak santun dalam ranah agama Budha. Hal ini bertujuan agar seseorang mampu mengendalikan diri serta menghindari tuturan dan perilaku tidak santun yang dapat menyinggung orang lain.

(285) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Basrowi, ddk. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta. Bousfield, Derek dan Miriam A. Locher. 2008. Impoliteness in Language: Studies on its Interplay with Power in Theory and Pratice. New York: Mouton de Gruyter. BPS. 2012. Kota Yogyakarta dalam Angka. Yogyakarta: BPS Kota Yogyakarta. Buddhadasa. 2005. Pesan-pesan Kebenaran. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya. Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Cholid, Narbuko dan Abu Achmadi. 2006. Metodelogi Penelitian. Jakarta: Bumi Angkasa. ___________. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Hendropuspito.1983. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Leech, Geoffrey. 1983. Principles of Pragmatics. London: Longman. Levinson. Stephen C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Mahsun. 2007. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan tekniknya. Edisi Revisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Marwanti, Valentina Tris. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam Ranah Keluarga di Lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Musclich, Masnur. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Nababan. 1984. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia. Narbuko, Cholid, dkk. 2007. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara. 266

(286) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Noviyanti, Agustina Galuh. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. Pateda, Mansoer. 2010. Sematik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta. Pranowo. 2009. Berbahasa secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rahardi, Kunjana. 2003. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Dioma. _______________. 2005. Pragmatik: Ketidaksantunan Imperatif Indonesia. Jakarta: Erlangga. Bahasa _______________. 2009. Sosiopragmatik. Jakarta: Erlangga. _______________. 2011. Intrepretasi Konteks Pragmatik dalam Pembelajaran Bahasa. Jurnal. _______________. 2012. Reinterpretasi Konteks Pragmatik. Jurnal. Simanulang, Katarina Yulita. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam Ranah Keluarga Pedagang yang Berdagang di Pasar Besar Beringharjo, Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. Sudaryanto. 1988. Metode Linguistik: Bagian Pertama, ke Arah Memahami Metide Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif-Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sumarsono. 2004. Filsafat Bahasa. Jakarta: Grasindo. Widyawari, Caecilia Petra Gading May. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma. Skripsi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD. Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik, Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Yuma Pustaka. Wijana, I Dewa Putu. 2011. Semantik Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press. ___________. 1996. Pragmatik (terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 267

(287) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Zuriah, Nurul. 2006. Metodelogi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Angkasa. 268

(288) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(289) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTAMADYA YOGYAKARTA KATEGORI MELECEHKAN MUKA NO. KODE 1. A1 TUTURAN Cuplikan tuturan 1 P : “HPmu kuwi muk geletakno! Lagian gek ngrungoke ceramah seko bhikhu” MT : “Sek to, buk penting iki”. P : “Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu” 2. A2 Cuplikan tuturan 2 MT1&MT2: (Sedang berbincang dan menganggu jalannya upacara keagamaan).        PENANDA KETIDAKSANTUNAN NONLINGUAL LINGUAL (Topik dan Situasi) Intonasi perintah.  Tuturan ini terjadi di Vihara saat khotbah berlangsung Nada tutur: penutur berbicara dengan nada  Penutur perempuan, Ibu berusia 46 keras. tahun. MT perempuan, anak dari MT, berusia 18 tahun. Tekanan: keras  MT sedang asyik menggunakan Diksi: nonstandar ponselnya ketika banyak orang sedang mendengarkan khotbah.  Penutur merasa kesal dan malu dengan tindakan MT karena tindakanya menarik perhatian orang lain.  Tujuan: penutur kesal terhadap MT karena tidak menghargai perintahnya  Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: MT melakukan meletakan ponselnya ke dalam saku. Intonasi tanya.  Tuturan ini terjadi pada waktu acara forum diskusi intern keagamaan. Nada tutur: penutur berbicara dengan nada  Penutur laki-laki, seorang pemuka sedang. agama yang berusia 67 tahun. Tekanan: lunak  Terdapat MT1 dan MT2. PRESEPSI KETIDAKSANTUNAN  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menegur  Wujud ketidaksantunan:  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus.  Penutur melecehkan muka dengan membuat malu MT di depan banyak orang  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: memperingatkan.  Wujud ketidaksantunan:  Penutur secara langsung

(290) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. A3 P: ”Nuwun sewu, punapa panjenengan badhe nggantosi kulo ceramah wonten mriki?”  Diksi: bahasa nonstandar  MT1 dan MT2 merupakan umat yang mengahadiri upacara keagamaan.  Tujuan: penutur menegur kedua MT yang sedang asyik berbincang tanpa mempedulikan ceramah oleh pemuka agama.  Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: kedua mitra tutur merasa malu karena diperhatikan oleh semua orang yang hadir dalam diskusi tersebut. Penutur segera melanjutkan ceramah dengan mengalihkan metode ceramah menggunakan video interaktif. Cuplikan tuturan 3  Intonasi tanya.  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada sedang.  Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa nonstandar  Tuturan ini terjadi di teras Vihara pada saat pagi hari, ketika kebaktian akan dimulai.  Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 46 tahun . MT laki-laki, berusia 28 tahun adalah sesama umat.  Tujuan: penutur menanyakan tentang kondisi yang sedang dialami oleh MT  Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT agar selalu bersikap mengontrol diri terhadap persoalan yang dimlikinya  Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara setelah acara kebaktian selesai.  Penutur adalah seorang umat, laki-laki berusia 22 tahun. MT adalah sesama umat berusia 23 tahun. MT: Pak,saya nek meditasi kok gak pernah bisa fokus, ya? P: “Sakjane sing leno itu kowe! Kowe sing kurang kontrol ! Apa kowe sing akeh ngutike?” 4. A4 Cuplikan tuturan 4 P: “Darimana kamu,bro?” MT: “Dari Vihara, dong!  Intonasi berita  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada keras.  Tekanan: keras. menyindir kedua MT.  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara sinis.  Penutur membuat malu MT di depan banyak orang  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menasehati  Wujud ketidaksantunan:  Penutur menyindir MT dengan ketus  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek  Wujud ketidaksantunan:

(291) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 A5 Biasa absen dulu” P: “Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi!”  Diksi: nonstandar Cuplikan tuturan 5  Intonasi seru  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada sedang.  Tekanan: lunak.  Diksi: nonstandar (MT1&MT2 sedang berdebat) P: “Dadi wong Budha kuwi mbok sing laras, ojo sak penake dewe nek ngetokne pendapat!”  Penutur mengeluarkan kata MT baru akan berjalan pulang setelah kata cemoohan pada MT. usai kebaktian di Vihara .  Penutur menyampaikan  Penutur menyapa kepada MT tuturannya dengan cara  Penutur membalas sapaan tetapi ketus. menggunakan ejekan  Tujuan: penutur mengejek MT dengan alasan bercanda  Tindak verbal: representatif  Tindak perlokusi: Mitra tutur merasa jengkel mendengar tuturan penutur dan mengacuhkan penutur  Tuturan ini terjadi di suatu  Jenis ketidaksantunan: perkumpulan forum Budha. melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan:  Penutur adalah seorang tokoh agama, menegaskan laki-laki, berusia 67 tahun. MT1 & MT2 adalah umat, laki-laki, berusia 37  Wujud ketidaksantunan: & 46 tahun.  Penutur menyindir MT.  Penutur menyampaikan  MT1 & MT2 sedang berdebat dan tuturannya dengan cara perdebatan karena terjadi perbedaan ketus.dan keras pendapat .  Penutur sebagai pihak penengah yang akan melerai (MT1&MT2)  Penutur menyindir kedua MT dengan alasan mencari solusi dengan lebih baik dari permasalahan mereka.  Tujuan: penutur menyindir MT dengan maksud menasehati  Tindak verbal: deklaratif  Tindak perlokusi: MT1 dan MT2 mempertahankan pendapat yang mereka pandang lebih baik dengan

(292) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 A6 Cuplikan tuturan 6 P: “Kenapa manusia diciptakan lain-lain?” MT: “Itukan sudah menjadi rahasia Sang pencipta” P: “Jika belajar agama masih ada yang dirahasiakan, bagaimana jika kita berbuat kejahatan?”  Intonasi: tanya  Nada penutur: penutur berbicara dengan nada sedang.  Tekanan: sedang  Diksi: bahasa populer           7 A7 Cuplikan tuturan 7 MT: “Koyone dadi Bhikhu kuwi gak bakal keno karma elek, yo?” P: “Halah belgedes,  Intonasi: seru  Nada penutur: penutur berbicara dengan nada keras  Tekanan: keras pada kata Halah   menghiraukan sarn dari penutur. Tuturan ini terjadi di suatu  Jenis ketidaksantunan: perkumpulan forum diskusi seputar melecehkan muka. agama Budha.  Makna ketidaksantunan: menegaskan Penutur adalah seorang umat, laki-laki, berusia 48 tahun. MT seorang pemuka  Wujud ketidaksantunan: agama, laki-laki, berusia 57 tahun.  Penutur berbicara pada orang yang lebih tua Tuturan ini terjadi ketika pihak  Penutur menyinggung MT. moderator melakukan sesi pertanyaan  Penutur menyampaikan Penutur merasa terkesan dengan tema tuturannya dengan cara diskusi yang diterangkan oleh MT ketus. Penutur memberikan pertanyaan untuk MT MT memberikan tanggapan atas pertanyaan MT yang diajukan Penutur menegaskan mengenai jawaban MT yang tidak sesuai apa yang diharapkannya. Tujuan: penutur menyindir MT dengan maksud jawaban MT belum pas seperti yang diinginkan penutur Tindak verbal: representatif Tindak perlokusi: MT memperdalam gagasan yang telah dijelaskan Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan  Jenis ketidaksantunan: Vihara, saat sembayangan akan melecehkan muka. dimulai.  Makna ketidaksantunan: menegaskan Penutur adalah seorang laki-laki, umat berusia 18 tahun, MT adalah seorang  Wujud ketidaksantunan: laki-laki, sesama umat dan berusia 20  Penutur berbicara pada

(293) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ngono kuwi angel lan tergantung tindak tandhuk awake dewe”  Diksi: nonstandar      8 A8 Cuplikan tuturan 8 P: “Guru, saya sembayang sudah, berusaha sudah, tapi kok belum sukses-sukses, kurang apa saya?” MT: “Sini kamu! Kamu coba bermeditasi di dalam kolam ini, untuk mencari ketenangan” P: “Lha mau sukses kok suruh kungkum”  Intonasi: berita  Nada penutur: penutur berbicara dengan nada yang keras.  Tekanan: keras  Diksi: bahasa populer          tahun, teman kebaktian dari penutur. orang yang lebih tua  Penutur menyinggung MT. MT berandai-andai menjadi seorang  Penutur menyampaikan bhikhu akan selalu jauh dari dosa atau tuturannya dengan cara karma. sinis. Penutur menjawab dengan tuturan yang sengaja membuat MT tersinggung. Tujuan: Penutur menasehati MT bahwa untuk menjadi seorang Budha itu tergantung dari perbuatan diri sendiri. Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: MT menyetujui nasehat yang diberikan oleh penutur Tuturan terjadi di forum diskusi agama  Jenis ketidaksantunan: Budha. melecehkan muka. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan  Makna ketidaksantunan: seorang umat, sedangkan MT seorang Menyindir laki-laki, dan bhikhu berusia 47 tahun.  Wujud ketidaksantunan: Penutur bertanya kepada MT mengenai  Penutur berbicara pada permasalahan peribadahan yang orang yang lebih tua berhubungan dengan kesuksesannya.  Penutur menyinggung MT.  Penutur menyampaikan Penutur menanyakan tentang cara tuturannya dengan cara mencapai kesuksesan pada MT. ketus MT meminta penutur untuk bermeditasi  Penutur terkesan tidak di dalam kolam. menghormati Bhikhu Penutur menyatakan keraguan untuk sebagai pemimpin umat mematuhi permintaan MT (kurang ajar) Tujuan: MT berupaya agar penutur dapat menemukan dengan cara untuk menemukan kesuksesan itu sendiri. Tindak verbal: representatif Tindak perlokusi: penutur menjalankan

(294) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 A9 Cuplikan tuturan 9 MT: “Misal kamu bermeditasi dengan tenggelamkan kepala kamu, dan kepalamu aku blebekno! Apa yang kamu rasakan?” P: Gak iso nafas, Banthe! MT: (sambil tersenyum) ya itu, ketika kamu pengen sukses kamu harus berjuang untuk mencapainya dalam arti kamu harus bagaimana caranya biar bisa bernafas, to?  Intonasi: seru  Nada penutur: penutur berbicara dengan nada yang keras.  Tekanan: keras  Diksi: bahasa populer           10 A10 Cuplikan tuturan 10 MT: “Bhikhu, tahun demi tahun telah berganti, tapi dalam benak saya sering timbul sebuah pertanyaan,  Intonasi: seru  Nada penutur: penutur berbicara dengan nada yang sedang.  Tekanan: lunak  Diksi: bahasa popular    perintah dari gurunya Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. Penutur laki-laki berusia 38 tahun dan seorang umat, sedangkan MT seorang laki-laki, dan bhikhu berusia 47 tahun. MT bercerita mengenai filosofi mencari kesuksesan MT menyuruh penutur untuk membayangkan bermeditasi sambil menenggelamkan kepala ke dalam kolam yang penuh dengan air MT bertanya tentang yang dirasakan penutur Penutur menyatakan jawabannya dengan bertutur dengan cara yang kurang pas terhadap MT MT memberikan penjelasannya dari filosofi kesuksesan pada penutur. Tujuan: penutur mengerti tentang filosofi kesuksesan. Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: penutur mengerti hal yang diucapakan oleh Bhikhu Tuturan terjadi di forum diskusi agama Budha. MT perempuan berusia 29 tahun dan seorang umat, sedangkan penutur seorang laki-laki, dan bhikhu berusia 47 tahun. MT bertanya mengenai pertanyaan  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menegaskan.  Wujud ketidaksantunan:  Penutur berbicara pada orang yang lebih tua  Penutur menyinggung MT.  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus  Penutur terkesan tidak menghormati Bhikhu sebagai pemimpin umat (kurang ajar)  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir  Wujud ketidaksantunan:  Penutur terkesan menyepelekan pertanyaan

(295) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siapakah sebenernya diri saya?” P: itu pertanyaan mudah, dan bisa dilakukan oleh semua orang, tinggal buka aja ktp anda, gitu aja kok repot? (MT tertawa) 11 A11 Cuplikan tuturan 11 P: Kowe kie opo nek sembayang gak iso? MT: La, pie toe? P: Puja bakti, kie dupa sing muk enggo kuwi golek sing dowone 4 meter ben kabeh panjalukanmu kabul. MT: kabeh kie tergantung usahane dewe       Intonasi: tanya  Nada penutur: Penutur berbicara dengan nada yang keras .  Tekanan: keras  Diksi: bahasa nonstandar          12 A12 Cuplikan tuturan 12  Intonasi: berita  yang sering timbul di benaknya. MT bertanya tentang mengenali dirinya secara lebih dalam Penutur menanggapi pertanyaan MT dengan jawaban yang bercanda Tujuan: penutur menciptakan suatu intermezzo dalam forum tersebut Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: MT tertawa mendengar pernyataan penutur Tuturan ini terjadi di teras sebuah Vihara setelah melakukan puja bakti Penutur laki-laki, umat berusia 21 tahun, sedangkan MT laki-laki, umat berusia 23 tahun. Penutur menyinggung MT dengan bertutur tentang cara beribadah MT MT menuturkan sebab penutur berkata demikian Tuturan dari penutur berisi tentang hal bercanda MT bertutur cuek dengan bertutur “semua itu tergantung usaha dari diri sendiri” Tujuan: penutur ingin mengajak mengobrol dengan MT Tindak verbal: komisif Tindak perlokusi: Penutur dan MT melanjutkan mengobrol di depan serambi Vihara Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan MT.  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek  Wujud ketidaksantunan:  Penutur berbicara pada orang lebih tua  Penutur terkesan mengejek MT dengan tuturan yang tidak kurang pantas  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus  Jenis ketidaksantunan:

(296) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MT: Wingi kowe, dak kowe melu pas sarasehan ro Banthe? P: Yoe melu, emang kowe menyang, nek dong bolong wudele. MT: Malah aku lali nek ono sarasehan, gek kelingan dino iki  Nada penutur: Penutur berbicara dengan nada yang keras  Tekanan: keras pada frasa emang kowe.  Diksi: bahasa nonstandar        13 A13 Cuplikan tuturan 13 MT: Jarene Banthe mau, nek arep entuk dharma kuwi kudu mendalami kitab Tipitaka lan ngerti kudu nindakno opo sing ning jerone. Nanging ngelakoni kabeh kuwi kok aras-arasen, yo?, gowo bahasa Pali, neh  Intonasi: berita  Nada penutur: Penutur berbicara dengan nada yang keras  Tekanan: keras pada kata mustahil!  Kategori fatis: kok  Diksi: bahasa nonstandar     Vihara 26 November 2013 Penutur laki-laki, seorang umat berusia 18 tahun, sedangkan MT perempuan, seorang umat berusia 25 tahun dan teman Vihara dari penutur. MT menanyakan kehadiran penutur mengenai acara saresehan keagamaan yang diadakan tempo hari lalu. Penutur bertutur mengenai kedatangannya dan menambahkan tuturan cemoohan pada MT MT mempunyai alasan bahwa dia lupa akan acara sarasehan tempo hari Tujuan: penutur bertutur untuk menyinggung MT dengan maksud menasehati menggunakan tuturan ejekan Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: Penutur dan MT berjalan untuk masuk ke dalam Vihara Tuturan ini terjadi di sekitar Vihara, usai diadakan acara keagamaan. Penutur laki-laki, umat berusia 27 tahun, MT perempuan, umat berusia 30 tahun MT bertutur pada penutur membahas mengenai hal yang telah didapat dari acara keagamaan MT berpendapat bahwa untuk memperoleh dharma harus mengerti dan mendalami kitap Tipitaka, tetapi melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek  Wujud ketidaksantunan:  Penutur terlihat kurang menghargai pertanyaan dari MT  Penutur mengejek MT dengan tuturan yang tidak kurang pantas  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir  Wujud ketidaksantunan:  Penutur terlihat kurang menghargai pertanyaan dari MT  Penutur menyindir MT dengan tuturan yang tidak kurang pantas

(297) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI P: Ngono, kok arep urip mulya lan arep entuk Dharma, mustahil!     14 A14 Cuplikan tuturan 14 MT: Banthe, apakah saya boleh bertanya? P: Mbok gak usah, paling bertanya pada hal yang enggakenggak, Hahahaha bercanda! Yo entuklah, sini tanya tentang apa?  Intonasi: berita  Nada penutur: penutur berbicara dengan nada yang sedang  Tekanan: lunak  Diksi: bahasa nonstandar        15 A15 Cuplikan tuturan 15 MT: Begini Banthe, pertanyaan saya, jika kita  Intonasi: berita  Nada penutur: penutur berbicara dengan nada yang keras   untuk pelaksanaannya terasa berat. Penutur menanggapi MT dengan acuh dan menggunakan sindiran Tujuan: Penutur memberitahu MT tentang filosofi hidup yang telah diterangkan oleh pemuka agama. Tindak verbal: representatif Tindak perlokusi: Penutur dan MT mengenakan jaket yang terletak di atas motor dan bersiap untuk berboncengan pulang Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan seorang umat berusia 30 tahun. MT ingin mengutarakan pertanyaan pada seorang Bhikhu dengan meminta izin terlebih dahulu. Penutur berusaha menolak izin bertanya dari MT dengan maksud sebagai bahan bercanda Tujuan: penutur berusaha mencairkan keadaan memakai konteks bercanda Tindak verbal: representatif Tindak perlokusi: MT tertawa dan menanyakan hal yang ingin ditanyakan Tuturan ini terjadi di sebuah acara diskusi forum intern umat Budha. Penutur laki-laki, seorang pemimpin umat berusia 48 tahun. MT perempuan  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir  Wujud ketidaksantunan:  Penutur kurang menghargai apresiasi dari MT  Penutur bermaksud untuk bercanda tetapi menggunakan sindiran  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus  Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir

(298) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 A16 berbuat baik tapi dengan pamrih, apa kita juga bisa dapat karma baiknya? P: Mau berbuat baik kok pamrih, Piye? (terdiam sejenak) Sebenarnya begini adapun perbuatan yang berpamrih, dapat digolongkan sebagai perbuatan baik yang mampu memberikan kebahagiaan untuk banyak pihak, maka si pelaku masih tetap dianggap menanam kamma baik yang pada suatu saat nanti akan ia rasakan buah kebahagiaannya. Cuplikan tuturan 16 P: Sebenarnya sibuk mana, anda sama pejabat yang ditengah kesibukannya masih dapat melaksanakan ibadahnya lima kali secara khusuk. Padahal dalam agama kita sehari hanya beribadah sekali di Vihara.  Tekanan: keras pada frasa piye?  Diksi: bahasa populer        Intonasi: berita  Nada penutur: penutur menggunakan nada yang sedang  Tekanan: keras pada frasa Oh ya  Diksi: bahasa populer      seorang umat berusia 30 tahun.  Wujud ketidaksantunan:  Penutur menyindir MT ingin mengutarakan pertanyaan mengenai tuturan yang pada seorang Bhikhu tentang berbuat bertolak belakang dengan kebaikan tapi mengharapkan pamrih MT Penutur meremehkan hal yang  Penutur bertanya balik pada ditanyakan MT MT Penutur menjelaskan mengenai hal  Penutur menyampaikan yang ditanyakan oleh MT tuturannya dengan cara Tujuan: penutur menyinggung hal yang ketus dituturkan MT dengan maksud untuk menegaskan ketika berbuat baik seseorang harus ikhlas. Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: MT mengerti dan merasa lega atas penjelasan yang dituturkan penutur Tuturan ini terjadi di sebuah acara  Jenis ketidaksantunan: diskusi forum intern umat Budha. melecehkan muka. Penutur laki-laki, seorang pemimpin  Makna ketidaksantunan: umat berusia 48 tahun. MT perempuan menyindir seorang umat berusia 30 tahun.  Wujud ketidaksantunan: Penutur sedang menasehati MT tentang  Penutur menegaskan kesibukan MT yang mengalahkan mengenai tuturan yang semua bidang termasuk ibadah. bertolak belakang dengan MT MT beralasan dia sibuk bekerja hanya  Penutur bertanya balik pada untuk kebutuhan keluarga MT Penutur menegaskan bahwa kebutuhan  Penutur menyampaikan

(299) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MT: Tapikan, saya sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan saya dan keluarga kami, Banthe? P: Oh ya, Tapi pernahkah anda merasa terpuaskan mengenai semua kebutuhan Anda? Saya yakin anda, pasti tak akan pernah merasa puas, karena saya melihat tingkah anda seperti ini. MT: Iya, Banthe, selalu aja masih banyak yang kurang. 17 A17 Cuplikan tuturan 17 MT: Rasane gelo tenan wingi pas Magma Puja malah ono alangan P: Lah, alanganmu opo? MT: Alangane gur keturon tekan awan. Hahaha P: Oalah, bocah pengung, Mangsane wong kabeh do neng Vihara malah turu.      Intonasi: berita  Nada penutur: penutur menggunakan nada yang keras  Tekanan: keras pada frasa Oalah, bocah pengung  Diksi: Bahasa nonstandar       manusia tidak akan pernah terpuaskan Penutur melihat perilaku MT yang tidak rajin beribadah Tujuan: penutur berusaha menyuruh MT untuk sibuk bekerja tanpa lupa beribadah Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: MT berterima kasih pada penutur karena telah diingatkan tuturannya dengan cara ketus Tuturan ini terjadi di sekitar lingkungan  Jenis ketidaksantunan: Vihara 26 November 2013 melecehkan muka. Penutur laki-laki, seorang umat berusia  Makna ketidaksantunan: 23 tahun, sedangkan MT perempuan, menyindir seorang umat berusia 25 tahun dan  Wujud ketidaksantunan: teman Vihara dari penutur.  Penutur menanggapi MT MT merasa tidak enak hati karena tidak dengan sepele. mengikuti upacara Magma Puja  Penutur mengejek MT dengan tuturan yang tidak Penutur menanyakan alasan tidak kurang pantas hadirnya MT  Penutur menyampaikan MT beralasan tidak hadir karena tuturannya dengan cara ketiduran sampai siang ketus Penutur mengejek MT dengan tuturan

(300) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI    18 A18 Cuplikan Tuturan A18 MT : Banthe kulo ajeng takon, nek wonten agama Budha niku ndak geh wonten Surga lan Neraka,koyo teng agama liyane?, maklum kulo wong anyar mlebu agama niki. P : Woh yoe jelas ono, kabeh wong arep mlebu surga. Surgane wong Budha diarani Nibbana. Kowe yo pengen mlebu surga, to? MT : Nggih jelas to, Banthe. P: Mulane ruangan sing arep dinggo khootbah kae diresiki sek ben mlebu surga, hahaha  Intonasi yang digunakan adalah perintah,  tekanan sedang pada uturan walaupun menggunakan intonasi perintah  Diksi yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa yang kental dan digunakan         cemoohan Tujuan: Penutur memberi penilaian atas perilaku MT Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: MT tertawa mendengar ejekan dari penutur Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka.  Jenis ketidaksantunan : Melecehkan Muka Penutur adalah seorang pemuka agama, laki-laki dengan usia 58 tahun,  Makna : memerintah sedangkan mitra tutur adalah seorang  Maksud :bercanda umat, laki-laki dengan usia 28 tahun.  Wujud Ketidaksantunan: Tuturan ini terjadi saat persiapan akan  Tuturan disampaikan dilakukannya upacara kebaktian di dengan ketus, penutur Vihara. menyampaikan tuturannya secara Mitra tutur adalah pengelola Vihara bercanda. dan bertugas menyiapkan segala  Mitra tutur merasa kebutuhan ketika upacara kebaktian kecewa akan akan diadakan. pertanyaannya yang Mitra tutur menyapa penutur dan sepenuhnya belum menyampaikan suatu pertanyaan dijawab secara mengenai surga dan neraka. terperinci oleh penutur. Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur secara singkat dan jelas. Kemudian penutur menyuruh mitra tutur untuk membersihkan ruangan khotbah dan dihubungkan dengan pertanyaan yang disampaikan oleh mitra tutur yakni, dengan alasan agar mitra tutur bisa naik surga. Tujuan penutur adalah ingin menyuruh mitra tutur membantu membersihkan

(301) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI   19 A19 Cuplikan tuturan A19 P : Ada yang ingin ditanyakan mengenai ceramah saya tadi mengenai “Nasib” MT : (hanya terdiam) P : Piye kok malah diem. Jangan sungkan ayo bertanya, lawong bertanya juga gak bayar to?  Intonasi yang digunakan adalah perintah,  tekanan keras pada frasa piye kok malah diem.  Partikel yang digunakan kok, to  Diksi yang digunakan adalah bahasa popular yakni bahasa yang telah digunakan oleh masyarakat umum.        ruangan khotbah, karena akan lama ketika dia membersihkannya seorang diri. Tindak verbal : direktif. Tindak perlokusi : Mitra tutur melakukan tugas dari penutur. Tuturan ini terjadi saat khotbah saat  Jenis ketidaksantunan : diskusi interaktif intern umat Buddha di Melecehkan Muka Vihara Vidyaloka.  Makna : memerintah Penutur seorang pemuka agama, laki Maksud : memotivasi laki dengan usia 58 tahun, sedangkan  Wujud Ketidaksantunan: mitra tutur adalah peserta diskusi.  Tuturan disampaikan Penutur menyampaikan bahan diskusi penutur secara ketus. dan telah selesai memberikan ceramah  Penutur menyampaikan mengenai ‘nasib’. tuturannya dengan alasan untuk Penutur memberikan kesempatan pesrta khotbahnya agar diskusi untuk bertanya mengenai bahan memperoleh apresiasi diskusi yang telah diterangkannya, dari pendengar/ mitra namun tidak ada seorangpun yang ingin tutur. menanggapi.  Tuturan juga menarik Penutur kemudian memotivasi peserta pendengar agar diskusi agar bertanya dengan alasan termotivasi untuk tidak mengeluarkan biaya ketika bertanya. mengungkapkan pendapat, tanggapan atau pertanyaan Tujuan penutur adalah ingin memotivasi mitra tutur agar bertanya pada renungan yang telah penutur sampaikan Tindak verbal : direktif.

(302) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 A20 Cuplikan Tuturan A20 MT : Banthe, nek wong oleh karma niku nopo penyebabe? P : Wo yo jelas, mosok kowe gak ngerti? Karma kuwi ono mergo seko tindak-tanduk sing ora jelas lan bertentangan karo ajaran agamane dewe. Hayo kowe bar ngopo kok pitakonmu ra koyo biasane?  Intonasi yang digunakan adalah tanya,  tekanan keras pada frasa wo yo jelas, mosok kowe gak ngerti.  Partikel yang digunakan wo, yo, kok  Diksi yang digunakan adalah bahasa nonstandar yakni bahasa Jawa.  Tindak perlokusi : terdapat beberapa pendengar yang mengajukan pertanyaan untuk penutur.  Tuturan ini terjadi saat diskusi intern umat di Vihara Vidyaloka. Penutur seorang pemuka agama, lakilaki dengan usia 58 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang umat, perempuan dengan usia 23 tahun. Mitra tutur menanyakan mengenai karma yang diterima seseoarang dan mencaritahu penyebabnya. Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur secara singkat, dan berusaha bertanya balik mengenai tingkah laku yang sebelumnya dilakukan oleh mitra tutur karena pertanyaan tidak seperti biasanya. Tujuan penutur adalah mencurigai mitra tutur melakukan sesuatu setelah mitra tutur bertanya pada penutur. Tindak verbal : ekspresif. Tindak perlokusi : mitra tutur hanya tersenyum malu mendengar pertanyaan dari penutur.  Jenis ketidaksantunan : Melecehkan Muka  Makna : berprasangka  Maksud : bercanda  Wujud Ketidaksantunan:  Tuturan disampaikan penutur secara sinis.  Penutur terkesan mencurigai mitra tutur berbuat sesuatu yang melanggar agama. Tuturan ini terjadi di Vihara Vidyaloka saat upacara hari Upasatha. Penutur dan mitra tutur adalah seorang umat, penutur seorang laki-laki dengan  Jenis ketidaksantunan : Melecehkan Muka  Makna : Menegur  Maksud : Menyombongkan       21 A21 Cuplikan Tuturan A21 MT : Dul dino iki kan dino Upasatha, kowe poso ora? P : Nek aku tertib bro, Wo  Intonasi yang dipakai dalam tuturan adalah tuturan perintah  partikel yang tampak pada  

(303) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kowe ki berarti ra positif mbok yo poso. MT : Ora, aku ngerti nek dino Upasatha gur mau diandani ibukku. Emang kowe poso? P : Hahaha, poso, opo-opo kerso. tuturan nek, wo, ki.  Tekanan keras pada frasa nek aku tertib bro.  Diksi yang dipakai adalah  Bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa yang kental.        usia 16 tahun, sedangkan mitra tutur adalah seorang perempuan dengan usia 17 tahun. Mitra tutur menegur penutur disaat upacara akan berlangsung. Mitra tutur menanyakan pada penutur mengenai menjalankan puasa ketika hari Upasatha. Penutur membohongi mitra tutur dengan menyampaikan alasan dia berpuasa, padahal tidak. Hal itu ditandai pada frasa nek aku tertib. Penutur juga menyuruh mitra tutur untuk berpuasa, padahal dia tidak menjalankan puasa. Tujuan penutur adalah memberi penegasan tentang berpuasa di hari Upasatha pada mitra tutur, namun penutur telah berbohong pada mitra tutur karena dia juga tidak berpuasa pada hari tersebut. Tindak verbal : ekspresif. Tindak perlokusi : penutur berusaha menambahkan joke agar dia tidak malu atas pernyataan yang sebelumnya telah disampaikan. diri  Wujud Ketidaksantunan:  Tuturan membuat mitra tutur malu di depan orang banyak.  Penutur menyampaikan tuturannya dengan menggunakan cara yang keras dan ketus.  Tuturan dapat menyinggung perasaan mitra tutur.

(304) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 A22 Cuplikan tuturan A22 MT : Dupane sing gawe sembayang dino iki kok ambune aneh yo? Ambune kie malah mirip walang sangit. P : Ssst, omong wae, ngerti gek donga ra,to! Umeryek wae cangkeme!  Intonasi yang digunakan adalah seru,  partikel yang terdapat dalam tuturan adalah to.  Tekanan keras pada frasa umreyek wae cangkeme.  Diksi yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa yang kental dan digunakan secara penuh.         Tuturan ini terjadi saat diadakan kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur dan mitra tutur adalah seorang umat sekaligus mereka adalah kakakberadik, penutur laki-laki berusia 15 tahun, sedangkan mitra tutur seorang laki-laki dengan usia 10 tahun. Ketika mereka berdoa di altar sebuah Vihara dengan menggunakan dupa, mitra tutur bergumam mengenai bau dupa yang tidak seperti biasanya. Ucapan mitra tutur menganggu konsentrasi dari penutur. Penutur memberi peringatan terhadap mitra tutur menggunakan kata-kata yang kasar. Tujuan penutur : penutur merasa terganggu dengan gumaman dari mitra tutur dan mengganggu jalannya berdoa yang sedang dilakukannya. Tindak verbal : direktif. Tindak perlokusi : Mitra tutur merasa jengkel dan kecewa mendengar tuturan dari penutur, namun hanya diam saja karena sedang melakukan proses doa.  Jenis ketidaksantunan : Melecehkan Muka  Makna : menasehati  Maksud : kesal  Wujud Ketidaksantunan:  Penutur menyampaikan dengan cara yang sinis.  Tuturan juga bersifat kasar.  Tuturan membuat mitra tutur kehilangan muka bahkan sampai kesal dan kecewa.

(305) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 A23 Cuplikan tuturan A23 MT : Kang kowe ngerti istilah ehipassiko sing mau diomongke karo Banthe mau? P : Wes jan payah tenan kowe kie, Kuwi lak istilah dasar ning agama dewe. Seko cilik kan wes diajari to! Ehipassiko kuwi ajaran sing mbedake agama Buddha karo agama liyane, yaiku tentang datang, lihat dan buktikan kebenarannya.  Intonasi yang digunakan dalam tuturan berita, partikel ki, to,  nada tutur keras,  tekanan keras pada frasa payah tenan,  dan diksi yang dipakai bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa secara utuh.         24 A24 Cuplikan tuturan 24 MT : Eh, wingi acarane kebaktian Mahayana melu ora? Aku wingi menyang sek terus menggok ora tekan panggone, bablas dolan, hahaha  Intonasi yang digunakan dalam tuturan adalah intonasi seru.  Partikel yang ada berupa la, kok, he.tekanan keras pada frasa la pekok dan  diksi yang dipakai adalah    Tuturan ini terjadi setelah diadakan kebaktian di Vihara Buddha Prabha. Penutur laki-laki, seorang umat berusia 16 tahun, sedangkan mitra tutur juga seorang umat berusia 17 tahun. Mitra tutur memperbincangkan mengenai bahan kebaktian yang telah selesai dilaksanakan. Mitra tutur menanyakan istilah ehipassiko pasa penutur. Penutur mengejek mitra tutur karena istilah tersebut merupakan dasar ajaran yang dianut oleh sebagian besar umat Budha Tujuan : menjawab pertanyaan dari MT, dengan alasan pertanyaan yang diajukan dari pihak MT merupakan pertanyaan yang sederhana dan seharusnya dimengerti sejak awal olek pemeluk agama Budha. Tindak verbal : representatif. Tindak perlokusi : MT merasa malu setelah menerima penjelasan dari penutur. Tuturan ini terjadi di Vihara Buddha Prabha. Penutur seorang laki-laki dengan usia 20 tahun, sedangkan mitra tutur lakilaki adalah seorang umat dengan usia 21 tahun. Mitra tutur tidak menghadiri upacara  Jenis ketidaksantunan : Melecehkan Muka  Makna : Mengejek  Maksud : Kesal  Wujud Ketidaksantunan:  Tuturan disampaikan dengan cara sinis.  Penutur juga menyampaikan rasa kesalnya pada mitra tutur tentang pertanyaan yang diajukan kepadanya.  Penutur menyampaikan penjelasan dengan kesan menyepelekan  Jenis ketidaksantunan : Melecehkan Muka  Makna : Mengejek  Maksud : Kesal  Wujud Ketidaksantunan :  Tuturan disampaikan dengan kesan yang

(306) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI P : La pekok tenan kok kowe ki! Ngerti acara penting koyo ngene malah gak teko. Duwe agama opo ora he? MT : Lha males, je.  bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa secara utuh.      kebaktian Mahayana tempo hari lalu dengan alasan malas. Mitra tutur menyapa penutur dengan menanyakan kehadiaran penutur dalam upacara Mahayana. Penutur mengejek mitra tutur dengan cara yang kasar, karena penutur merasa kesal pada mitra tutur yang sering mengabaikan kegiatan keagamaan. Tujuan penutur memberikan tanggapan mengenai pernyataan dari mitra tutur yang tidak datang dalam upacara Mahayana tempo hari. Tindak verbal : ekspresif. Tindak perlokusi : Mitra tutur merasa malu dan salah tingkah mendengar tanggapan dari penutur marah atau jengkel.  Penutur juga kesal mendengar pernytaan dari mitra tutur.

(307) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA KATEGORI MENGHILANGKAN MUKA NO. KODE TUTURAN 1. B1 Cuplikan tuturan 18 B2 MT1 & MT2: (sedang bersenda gurau pada waktu persiapan kebaktian sembayangan di lingkungan Vihara) P: “ Heh tak kandani, nek wong Budha kuwi yo nduwe dino bakda, bedane nek dino bakda Budha koyo ngene kie malah susah. Kowe ngerti gek repot ngene kie malah seneng-seneng wae” Cuplikan tuturan 19 2 MT: “Wis jan, aku mumet karo tingkahe bojoku dewe, pak.     PENANDA KETIDAKSANTUNAN NONLINGUAL LINGUAL (Topik dan Situasi) Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara, yang sedang melakukan Nada tutur: penutur persiapan kebaktian sembayangan. berbicara dengan nada keras.  Penutur laki-laki, berusia 37 tahun. MT laki-laki, MT1&2 berusia 18 & 20 Tekanan: keras. tahun . Diksi: bahasa  MT sedang bersenda gurau ketika para nonstandar. umat sedang melakukan persiapan menyambut upacara keagamaan  Penutur menasehati kedua MT agar melakukan sepantasnya  Tujuan: penutur memberitahu MT bahwa seharusnya mereka ikut berpartisipasi  Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT merasa malu banyak orang lain dan meminta maaf pada penutur.  Intonasi berita  Nada tutur: Penutur berbicara dengan nada keras.  Tuturan terjadi di lingkungan Vihara, ketika MT dan penutur sedang sharing mengenai permasalahan kehidupan berumah tangga MT.  Penutur laki-laki, berusia 58 tahun, MT PRESEPSI KETIDAKSANTUNAN  Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir.  Wujud ketidaksantunan:  Penutur menyindir MT di depan banyak orang.  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara sinis.  Penutur membuat MT malu.  Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek

(308) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 B3 Muk dikon ning Vihara sedelo wae angel banget” P: “Lha piye toe, pak? MT : Arep tak jeki sembayang wae alasan akeh banget, puyeng sirahku... P: Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha  Tekanan: keras.  Diksi: bahasa nonstandar Cuplikan tuturan 20  Intonasi: berita  Nada tutur: Penutur berbicara dengan nada yang sedang  Tekanan: keras  Diksi: bahasa nonstandar MT: “Sugeng enjang, Bhante”. P: “Weh kowe, gek wae ngetok kowe”. MT: ”Nggih Banthe, wingi sek wonten kasus” P: ”Kasus opo maneh?” MT: “Pokoke wonten, Banhe”(sambil tersenyum malu) P : “ Mbasan mlebu laki-laki berusia 47 tahun.  MT sedang sharing mengenai permasalahan kehidupannya dengan istrinya pada seorang pendakwah di Vihara tersebut.  Penutur menilai suami MT dengan tuturan yang merendahkan  MT meminta saran terhadap penutur tapi penutur hanya memberikan tuturan yang merendahkan istri dari MT  Tujuan: penutur memberikan gambaran singkat mengenai suami dari MT  Tindak verbal: Representatif  Tindak perlokusi: penutur memberikan saran pada MT tentang masalah rumah tangganya  Tuturan terjadi pada waktu acara kebaktian akan belangsung di Vihara  Penutur merupakan seorang pemuka umat yang berusia 67 tahun sedangkan, MT adalah seorang umat dan narapidana berusia 48 tahun  Penutur menyampaikan pada MT mengenai keberadaannya (tidak pernah kelihatan pada waktu kebaktian)  MT menyampaikan alasannya  Penutur memberitahu dengan intonasi yang menyindir MT  Tujuan: penutur menyindir MT dengan alasan menasehati agar selalu rajin beribadah  Wujud ketidaksantunan:  Penutur menyindir MT di depan banyak orang.  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus.  Penutur membuat MT malu  Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek  Wujud ketidaksantunan:  Penutur menyindir MT di depan banyak orang.  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus.  Penutur membuat MT malu

(309) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  Tindak verbal: deklarasi  Tindak perlokusi: MT merasa sangat malu, sangat kesal, dan menyadari perbuatan yang selama ini dilakukan. Mitra tutur juga membalas ungkapan penutur dengan ketus. bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh” MT: “Nggih paling niki,” *Kewan telu (tiga hewan): symbol dari ajaran pada agama Budha, yakni babi yang berarti bodoh, ayam yang berarti nafsu, dan ular yang berarti kemungkaran/ kejahatan. 4 B4 P: Kowe mbok ning wektu ceramah ro Banthe mbok ojo omong dewe. Ribut karepe dewe! Sesuk maneh ojo ngono kuwi!  Tuturan memakai intonasi seru.  Penutur berbicara dengan nada yang keras.  Tekanan keras pada frasa ribut karepe dewe!  Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar karena  Tuturan ini terjadi setelah berlangsungnya kebaktian di Vihara Buddha Prabha.  Penutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 55 tahun, sedangkan mitar tutur adalah seorang umat, laki-laki dengan usia 16 tahun.  Mitra tutur dan teman-temannya menganggu jalannya kekhusyukan ibadah karena mereka malah sibuk mengobrol ketika kebaktian telah berlangsung.  Jenis Ketidaksantunan : menghilangkan muka  Makna : menasehati  Maksud : kesal  Wujud ketidaksantunan :  Tuturan menyinggung perasaan mitra tutur.  Mitra tutur merasa malu karena tuturan tersebut.  Tuturan disampaikan

(310) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menggunakan istilah bahasa Jawa.  Partikel atau kategori fatis yang ada pada tuturan adalah mbok.  Penutur merasa terganggu oleh tingkah mitra tutur dan memberikan nasehat pada mitra tutur agar merasa jera akan tindakannya  Tujuan penutur memberitahu mitra tutur agar tidak menganggu jalannya ceramah.  Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: MT merasa malu banyak orang lain dan meminta maaf pada penutur. dengan cara yang sinis dan ketus

(311) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA KATEGORI MELANGGAR NORMA NO. KODE 1. C1 TUTURAN Cuplikan tuturan 21 MT: “kamu nih mau ketemu Bhikhu pakaianmu sak enake aja, pake kaos lagi!” P: “mbok, biar to Buk! Paling Banthe juga gak marahi aku” 2. C2 Cuplikan tuturan 22 MT: (datang terlambat pada kebaktian).       PENANDA KETIDAKSANTUNAN NONLINGUAL LINGUAL (Topik dan Situasi) Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi pada pagi hari saat akan upacara kebaktian. Nada tutur: penutur berbicara dengan  Penutur perempuan, anak berusia 21 nada sedang. tahun. MT laki-laki berusia 57 tahun, bapak dari penutur. Tekanan: keras pada kata “mbok biar to  Penutur melanggar aturan atau janji buk”. yang telah disepakati. Diksi: bahasa  Penutur dan MT telah sepakat bahwa populer. penutur tidak diperbolehkan mempergunakan kaos oblong ketika upacara kebaktian  MT melanggar aturannya sendiri dengan menggunakan kaos oblong pada upacara kebaktian.  Tujuan: penutur menasehati MT bahwa tidak sopan memakai kaos ke Vihara  Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT memakai pakaian sopan ketika akan menghadiri upacara kebaktian. Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di Vihara pada jam 2 siang. Ketika kebaktian akan dimulai. Nada tutur: MT berbicara dengan  Penutur laki-laki, pemuka agama PRESEPSI KETIDAKSANTUNAN  Jenis ketidaksantunan: melanggar norma.  Makna ketidaksantunan: menegaskan.  Wujud ketidaksantunan:  Penutur berbicara dengan kesan menyombongkan diri.  Tuturan disampaikan dengan cara ketus  Jenis ketidaksantunan: melanggar norma.  Makna ketidaksantunan: mengejek

(312) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Nyuwun ngapunten, Pak, kulo telat!” P: Ngopo kowe telat? Udan po? Telat nemen maneh! nada sedang.  Tekanan: keras frasa telat nemen maneh!  Diksi: nonstandar       3. C3 Cuplikan tuturan 23 MT: Arep menyang kebaktian kok males, bali wae yo? P: “Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe” *Dalam ajaran Budha, babi adalah simbol dari sifat dasar manusia yaitu bodoh  Intonasi berita.  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada sedang.  Tekanan: keras.  Diksi: nonstandar       berusia 58 tahun. MT laki-laki, seorang pengurus vihara berusia 27 tahun. Terdapat aturan yang telah disepakati bersama mengenai waktu persiapan suatu kebaktian MT melanggar aturan mengenai waktu persiapan kebaktian Penutur menanyakan alasan keterlambatan MT tetapi dengan menggunakan intonasi yang keras pada frasa telat nemen maneh! Tujuan: penutur beralasan untuk mencaritahu keterlambatan MT Tindak verbal: representatif. Tindak perlokusi: MT menerangkan alasan keterlambatanya Tuturan terjadi pada saat pagi hari akan diadakan kebaktian sembayangan di Vihara Budha Prabha. Penutur laki-laki, bapak berusia 49 tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 21 tahun. Penutur dan MT telah sepakat tentang hari dan waktu diadakan kebaktian . Penutur melanggar aturan tersebut, yakni asik menonton televisi pada waktu kebaktian akan dimulai. Penutur menyuruh MT untuk tidak malas berangkat kebaktian. Tujuan: penutur ingin meminta MT berangkat kebaktian  Wujud ketidaksantunan:  Tuturan disampaikan dengan cara ketus.  Penutur melanggar aturan (menggunakan intonasi yang keras pada frasa telat nemen maneh!).  Jenis ketidaksantunan: melanggar norma.  Makna ketidaksantunan: mengupat  Wujud ketidaksantunan:  Tuturan ini disampaikan dengan cara ketus.  Penutur melanggar aturan (menggunakan tuturan yang tidak sewajarnya). .

(313) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. C4 Cuplikan tuturan 24 (Kebaktian sedang berlangsung) MT: “Kae bocah isone tuk dolanan HP wae ning endi panggon” P: “Iyo Bu, ngandani wong sing dolanan HP kuwi koyo ngandani wong sing tandus akale”  Intonasi berita.  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada sedang.  Tekanan: lunak  Diksi: nonstandar  Tindak verbal: direktif  Tindak perlokusi: MT menuruti saran dari penutur dengan datang kebaktian secara setengah hati  Tuturan ini terjadi, saat berlangsungnya  Jenis ketidaksantunan: melanggar norma. kebaktian  Makna ketidaksantunan:  Penutur perempuan, berusia 36 tahun. menyinggung MT perempuan, berusia 48 tahun  Penutur dan MT sepakat bahwa ketika  Wujud ketidaksantunan:  Penutur berbicara dengan kebaktian tidak mempergunakan alat orang yang lebih tua. komunikasi.  Tuturan disampaikan dengan  Tujuan: penutur dan MT sepakat bahwa cara ketus. seseorang yang sedang menggunakan HP tersebut menganggu jalannya kebaktian  Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: Penutur membiarkan seseorang tersebut menggunakan HP walaupun dia dan MT merasa terganggu

(314) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA KATEGORI MENIMBULKAN KONFLIK/ KESEMBRONOAN YANG DISENGAJA NO. KODE TUTURAN 1. D1 Cuplikan tuturan 25 2 D2   P: “Kalo ada Puja Bhakti, alangkah baiknya dateng to, mas!” MT: “Iya. Iya besok wae aku masih banyak urusan” (sambil bermuka masam) P: “Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik...”  Cuplikan tuturan 26   PENANDA KETIDAKSANTUNAN NONLINGUAL LINGUAL (Topik dan Situasi) Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara ketika sembayangan selesai Nada tutur: penutur dilaksanakan. berbicara dengan nada sedang.  Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami Tekanan: keras pada dari penutur. kata “ngono wae serik”.  MT menjemput penutur ketika sembayangan selesai Diksi: nonstandar  MT melanggar aturan atau janji yang telah disepakati.  Penutur dan MT telah sepakat bahwa penutur dan mitra tutur untuk berangkat Puja Bhakti bersama tapi MT ingkar janji.  MT mengetahui bahwa penutur telah melanggar aturannya.  Tujuan: penutur menasehati MT agar berangkat sembayangan  Tindak verbal: direktif  Tindak perlokusi: penutur dan MT pergi pulang meninggalkan Vihara Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara PRESEPSI KETIDAKSANTUNAN  Jenis ketidaksantunan: menimbulkan konflik  Makna ketidaksantunan: memperingatkan  Wujud ketidaksantunan:  Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.  Tuturan disampaikan dengan cara ketus  Jenis ketidaksantunan:

(315) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MT: “Kabeh kuwi kan mengko entuk karma seko tindakane utowo perilakune dewedewe, sopo nandur becik mesti enthuk becik” P: “Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi” MT: “La, aku kie ngandani kowe gek, malah muk balikno ning aku maneh”  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada sedang.  Tekanan: keras  Diksi: nonstandar           ketika sembayangan selesai menimbulkan konflik dilaksanakan.  Makna ketidaksantunan: menasehati Penutur perempuan, istri berusia 27 tahun. MT laki-laki, berusia 30 suami  Wujud ketidaksantunan: dari penutur  Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua Penutur merasa kesal karena mitra tutur selalu menganggap dirinya bertnidak  Tuturan disampaikan dengan benar. cara ketus MT tidak berangkat beribadah dan telah diperingatkan oleh penutur. MT beralasan mengenai ketidakhadirannya beribadah Penutur mengetahui bahwa MT telah melanggar aturannya. Penutur juga menasehati MT agar hal yang dikatakan oleh MT, harus direnungkan terlebih dahulu oleh MT Peringatan penutur membuat MT terusik dan menasehati balik penutur Tujuan: penutur menasehati MT agar tuturan penutur direnungkan terlebih dulu oleh penutur Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: Penutur bersikap diam saja mendengar pernyataan mitra tutur yang tidak mau dipersalahkan

(316) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA DALAM RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA KATEGORI MENGANCAM MUKA SEPIHAK NO. KODE 1. E1 Cuplikan tuturan 27 E2 MT (sedang berkomunkasi pada penutur mengosipkan seseorang) P : “Nuwun sewu, Mbak nek omong mbek saya gak opo, tapi nek karo koncomu utowo wong liyo kok koyo kurang pas lan kuwi urung mesti bener” MT (bermuka malu) Cupilikan tuturan 28 2 TUTURAN P: “Akhir-akhir iki, kok ra tau ketok neng Vihara, Neng endi wae?” MT: “Wah aku sibuk     PENANDA KETIDAKSANTUNAN PRESEPSI NONLINGUAL KETIDAKSANTUNAN LINGUAL (Topik dan Situasi) Intonasi berita.  Tuturan ini terjadi di lingkungan Vihara  Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak. Nada tutur: penutur  Penutur laki-laki, pemuka agama 67 berbicara dengan tahun, MT perempuan berusia 36 tahun.  Makna ketidaksantunan: nada sedang. mengejek.  MT sedang membahas mengenai sesorang yang menjadi perhatiannya Tekanan: lunak  Wujud ketidaksantunan:  Penutur membuat malu MT. Diksi: nonstandar  Tujuan: penutur tidak memiliki maksud  Penutur menyampaikan dan populer. tertentu, penutur hanya tuturannya dengan ketus. memperingatkan MT untuk tidak  Penutur tidak menyadari memperbincangkan seseorang tersebut. bahwa dirinya telah  Tindak verbal: ekspresif mengancam muka MT.  Tindak perlokusi: MT memohon maaf pada penutur mengenai perkataannya yang kurang pas.  Intonasi tanya  Nada tutur : penutur berbicara dengan nada sedang.  Tekanan: lunak  Diksi: nonstandar  Tuturan terjadi pada siang hari di  Jenis ketidaksantunan: lingkungan Vihara mengancam muka sepihak.  Penutur laki-laki usia 67 tahun, MT  Makna ketidaksantunan: laki-laki usia 40 tahun. mengejek  Penutur menanyakan keberadaan MT  Wujud ketidaksantunan: yang jarang kelihatan pada kebaktian di  Penutur membuat malu MT. Vihara  Penutur menyampaikan

(317) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tenan, labuh terus gawe butuhan ra cukup..” P: Karang nek masalah duit ono nek urusan agama dianggep sepele, yo? 3 E3 Cuplikan tuturan 29 (situasi sedang akan mulai kebaktian di Vihara) P: Ya ampun, arep kebaktian wae iseh wae pada ngomong karepe dewe. MT: iyo kae! 4 E4 Cuplikan tuturan 30 (situasi sedang diadakan ceramah keagamaan) MT: “Ngantuk, dab?”  Intonasi: berita  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada keras  Tekanan: keras pada frasa ya ampun.  Diksi: nonstandar  Intonasi: berita  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada yang sedang  Tekanan: lunak  Diksi: nonstandar  MT sibuk dengan usaha yang dimilikinya sehingga jarang mengikuti kebaktian  Penutur menyindir MT dengan nada yang sinis  Tujuan: Penutur menyuruh MT untuk rajin beribadah  Tindak verbal: representative  Tindak perlokusi: MT akan berangkat kebaktian di waktu akan datang  Tuturan terjadi di pagi hari saat acara kebaktian akan dimulai.  Penutur perempuan usia 26 tahun, MT 27 tahun, perempuan merupakan teman dari penutur.  Penutur mengeluh pada MT mengenai situasi yang sangat riuh saat akan berlangsungnya kebaktian  MT juga mengeluhkan hal yang dirasakan oleh penutur  Tujuan: menyindir suasana dimulainya kebaktian  Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: penutur dan MT diam melihat kondisi tersebut  Tuturan ini terjadi pada berlangsungnya ceramah keagamaan.  Penutur laki-laki berusia 23 tahun, MT laki-laki berusia 24 tahun.  MT menanyakan kondisi penutur yang sedang mengantuk tuturannya dengan ketus.  Penutur tidak menyadari bahwa dirinya telah mengancam muka MT  Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak.  Makna ketidaksantunan: menyinggung  Wujud ketidaksantunan:.  Penutur menyampaikan tuturannya dengan ketus.  Penutur tidak menyadari bahwa dirinya telah mengancam muka MT  Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak.  Makna ketidaksantunan: menegaskan.  Wujud ketidaksantunan:.  Penutur berbicara pada orang

(318) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI P: “Iyo, nandi panggone ceramah gawe ngantuk” MT: “Kowe ngono” 5 E5 Cuplikan tuturan 31 P: Bapake sing lungguh mburi pisan kae, sajake ngerti opo ora sing mau aku omongno, koyo kok mung clingak-clinguk tanpa sebab, MT: (MT kaget) P:Mung guyon loe pak, ojo digowo nesu  Intonasi: berita  Nada tutur: penutur berbicara dengan nada yang keras  Tekanan: keras  Diksi; nonstandard yang lebih tua  Penutur menjawabnya dengan tuturan  Penutur menyampaikan yang bersifat menegaskan bahwa tuturannya dengan ketus. dimana saja jika ada ceramah pasti  Penutur tidak menyadari membuat ngantuk bahwa dirinya telah  Tujuan: penutur menegaskan bahwa mengancam muka MT ceramah membuat dia mengantuk  Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: penutur tetap mendengarkan ceramah dengan kondisi yang mengantuk  Tuturan terjadi saat ceramah  Jenis ketidaksantunan: keagamaan mengancam muka sepihak.  Penutur laki-laki 47 tahun seorang umat  Makna ketidaksantunan: dan penceramah, MT laki-laki seorang menyindir. umat berusia 39 tahun.  Wujud ketidaksantunan:.  Penutur membuat MT kaget  Penutur menunjuk MT yang duduk di belakang  Penutur menyampaikan tuturannya dengan ketus.  Penutur menyindir MT yang hanya  Penutur tidak menyadari duduk dan sambil ngobrol pada teman bahwa dirinya telah disebelahnya mengancam muka MT  Penutur merasa tersinggung karena  Penutur juga mengejek MT ceramahnya tidak diperhatikan  Penutur menuturkan situasi seperti itu dengan alasan bercanda  Tujuan: penutur bermaksud untuk mendapatkan perhatian akan ceramahnya dan menggunakan tuturan itu sebagai selingan candaan  Tindak verbal: direktif  Tindak perlokusi: Mitra tutur merasa kaget dan malu karena ucapan penutur

(319) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 E6 Cuplikan tuturan 32 MT1: Ojo ngasi omonganmu gawe nyerik lan ngerendahke wong liyo, iku biso dadi petenge bebrayan P: Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati MT2: La, malah sing keno aku 7 E7 Cuplikan tuturan 33 P: Kowe moco Karaniyametta Sutta bola-bali kok ra apalapal, koyo umat amatiran, wuuuu… MT: Saknajan moco koyo ngene iki awak dewe kudu ngerti lan iso ngelakoni isi seko khotbah Buddha iki.  Intonasi: seru  Nada: penutur berbicara dengan nada yang keras  Tekanan: keras pada frasa Kuwi pak  Diksi: nonstandar  Intonasi: berita  Nada: penutur berbicara dengan nada keras  Tekanan: keras  Diksi: nonstandard  Tuturan ini terjadi saat ceramah agama dilakukan  Penutur perempuan, umat usia 46 tahun, MT1 laki-laki, seorang pemuka agama usia 58 tahun, MT2 laki-laki, umat usia 50 tahun suami dari penutur.  Penutur menyuruh MT2 untuk memahami ceramah yang diberikan MT1  Tujuan: penutur menegaskan untuk ingat dan menjalankan apa yang diucapkan MT1  Tindak verbal: direktif  Tindak perlokusi: MT2 menuduh istrinya juga sering melakukan perbuatan yang diucapkan banthe  Tuturan ini terjadi saat Puja Bakti selesai dilakukan  Penutur laki-laki, umat berusia 25 tahun, MT laki-laki, umat berusia 27 tahun.  Penutur mencemooh MT karena membaca Karaniyametta Sutta masih mengunakan buku tuntunan  MT menjelaskan bahwa untuk memahami bacaan seperti ini harus mengerti dan bisa melakukan khotbah dari Budha  Tujuan: penutur menyindir cara MT membaca mantra yang terkesan amatiran  Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak.  Makna ketidaksantunan: menyindir.  Wujud ketidaksantunan:.  Penutur berbicara pada orang yang lebih tua  Penutur membuat MT2 kaget  Penutur menyampaikan tuturannya dengan ketus.  Penutur tidak menyadari bahwa dirinya telah mengancam muka MT  Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak.  Makna ketidaksantunan: mengejek  Wujud ketidaksantunan:.  Penutur berbicara pada orang yang lebih tua  Penutur membuat MT merasa direndahkan dalam agama  Penutur menyampaikan tuturannya dengan ketus.  Penutur tidak menyadari bahwa dirinya telah mengancam muka MT

(320) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  Tindak verbal: representative  Tindak perlokusi: penutur hanya terdiam mendengar tuturan dari MT 8 E8 Cuplikan tuturan 34 P: Dalam ajaran agama Budha dikenal adanya perenungan hukum sebab akibat, maka harus dibuka dengan perenungan kemudian dilanjutkan dengan harapan, Kados mekaten bapak. MT: Berarti menawi kulo nindaki gawean kejahatan sakpanungalane tapi dinggo kesejahteraan keluarga niku becik nopo mboten, Banthe? Nuwun sewu radi sembrono P: Berarti gawean Bapak penjahat, hahaha. Geh koyo nggoten niku mboten diajari ting agama pundhi mawon, nafkahi anak bojo niku kedah rejeki  Intonasi: berita  Nada: penutur berbicara dengan nada sedang  Tekanan: lunak  Diksi: nonstandard  Tuturan ini terjadi saat diadakan  Jenis ketidaksantunan: ceramah sekaligus tanya jawab seputar mengancam muka sepihak. agama Budha  Makna ketidaksantunan: mengejek  Penutur laki-laki, penceramah berusia 57 tahun, MT laki-laki, umat berusia 38  Wujud ketidaksantunan:. tahun.  Penutur membuat MT merasa malu di depan umum  Dalam ceramah ini penutur sedang berceramah tentang adanya karma  Penutur menyampaikan dalam setiap perbuatan tuturannya dengan ketus.  Penutur tidak menyadari  MT bertanya mengenai seseorang yang bahwa dirinya telah berbuat kejahatan mengancam muka MT  Penutur menuduh MT sebagai penjahat dengan dalih bercanda dan sebagai selingan dalam jalannya ceramah  Tujuan: penutur mengejek berdasarkan pertanyaan yang diajukan MT dan digunakan sebagai selingan candaan dalam ceramah tersebut  Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: MT tertawa malu mendengar ucapan penutur.

(321) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 E9 ingkang berkah Cuplikan tuturan E9 P : Kulo gadah cerita mengenai bab bebojoan. Umat kulo duwe bojone niku dikei rejeki pinten mawon mesti kurang, jan mboten nrimo saget syukur babar blas. Bojo njenengan geh ngonten niku, Pak? Santai mawon duwe ingon-ingon koyo ngoten niku disabari mangkih kan mati kiyambak. MT : (tertawa mendengar khotbah yang disampaikan)  Tuturan memakai intonasi berita.  Penutur berbicara dengan nada sedang.  Tekanan keras pada frasa Santai mawon pak.  Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar, dengan istilah bahasa Jawa.  Partikel yang tampak pada tuturan adalah blas.  Tuturan ini terjadi saat berlangsungnya khotbah keagamaan di Vihara Vidyaloka.  Penutur seorang pemuka agama, lakilaki dengan usia 64 tahun, sedangkan mitra tutur adalah umat yang hadir dalam acara khotbah tersebut.  Dalam khotbah yang disampaikan penutur bercerita tentang kehidupan berkeluarga, dimana seorang istri yang tidak dapat mensyukuri rejeki yang telah diberikan oleh suami untuk memenuhi kebutuhan.  Penutur menunjuk seseorang secara sembarang untuk disamakan dengan ilustrasi persoalan khotbah.  Penutur memberikan motivasi pada seseorang tersebut agar sabar karena mempunyai peliharaan seperti itu.  Penutur mengukapkan pernyataan tersebut dengan maksud mendapatkan perhatian pendengar tentang khotbahnya  Tujuan penutur bermaksud untuk mendapatkan perhatian akan ceramahnya dan menggunakan tuturan itu sebagai selingan candaan.  Tindak verbal: ekspresif.  Tindak tutur : MT merasa malu dan ceramah kembali dilanjutkan.  Jenis Ketidaksantunan : Mengancam muka sepihak  Makna : menyindir  Maksud : bercanda  Wujud Ketidaksantunan :  Tuturan ditujukan untuk intermezzo bercanda dalam kegiatan yang sedang dilaksanakan.  Tuturan membuat mitra tutur merasa kaget dan malu.  Tuturan juga tidak jelas menunjuk mitra tutur secara pasti, karena hanya mengumpamakan/ belum tentu benar.

(322) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 E10 Cuplikan tuturan E10 P : Opo yo sing dipikir ro Banthe-Banthe mau? Koyone urip ning donya kuwi rak muk gagas babar blas, sing dipikir mung mlebu surga wae! MT : Heh omonganmu lo, nek krungu sing dirasani malah wirang dewe  Tuturan memakai intonasi berita.  Penutur berbicara dengan nada rendah.  Tekanan lunak.  Diksi yang dipakai adalah bahasa nonstandar, dengan istilah bahasa Jawa.  Paritikel yang tampak pada tuturan adalah yo.  Tuturan ini terjadi saat ceramah keagamaan di Vihara Vidyaloka.  Penutur adalah seorang umat laki-laki berusia 38 tahun, sedangkan mitra tutur seorang perempuan berusia 36 tahun.  Penutur dan mitra tutur adalah pasangan suami-istri.  Penutur berpendapat mengenai kehidupan yang dialami oleh seorang pemuka agama.  Penutur bergumam mengenai pemuka agama yang hanya memikirkan kehidupan surgawi saja dan tidak begitu mementingkan kehidupan duniawi.  Mendengar pernyataan tersebut mitra tutur merasa malu dan berusaha memberitahu penutur.  Tujuan penutur adalah untuk membagi pemikirannya mengenai kehidupan para Banthe.  Tindak verbal: ekspresif  Tindak tutur : penutur diam dan merasa malu karena teguran dari mitra tutur  Jenis Ketidaksantunan : Mengancam muka sepihak  Makna : menyindir  Maksud : asal bicara  Wujud Ketidaksantunan :  Tuturan disampaikan secara ketus.  Penutur hanya bertujuan untuk mengungkapkan yang dia rasakan mengenai kehidupan yang dialami Banthe pada mitra tutur.  Penutur juga tidak ingin tuturannya diperdengarkan orang lain, selain mitra tutur.

(323) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI SUBKATEGORI MELECEHKAN MUKA WUJUD KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA No. Kategori Kode Wujud tuturan 1 M E L E C E H K A N A1 M U K A A6 Oalah,ngandani kowe kie koyo ngandani watu Nuwun sewu, punapa panjenengan badhe nggantosi kulo ceramah wonten mriki? Sakjane sing leno itu kowe! Kowe sing kurang kontrol ! Apa kowe sing akeh ngutike Halah biasane ora taune mangkat wae, dongamu kuwi paling gak bakal mandi Dadi wong Budha kuwi mbok sing laras, ojo sak penake dewe nek ngetoke pendapat Jika belajar agama masih ada yang dirahasiakan, bagaimana jika kita berbuat kejahatan?” Halah belgedes, ngono kuwi angel lan tergantung tindak tandhuk awake dewe Lha mau sukses kok suruh kungkum Gak iso nafas, Banthe itu pertanyaan mudah, dan bisa dilakukan oleh semua orang, tinggal buka aja ktp anda, gitu aja kok repot Kowe kie opo nek sembayang gak iso? Yoe melu, emang kowe menyang, nek dong bolong wudele Ngono, kok arep urip mulya lan arep entuk Dharma, mustahil! 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 M E L E C E H K A2 A3 A4 A5 A7 A8 A9 A10 A11 A12 A13 Subkategori Makna tuturan Maksud penutur Menegur Kesal Memperingatkan Bercanda Menasehati Memotivasi Mengejek Bercanda Menegaskan Menyarankan Menegaskan Protes Menegaskan Ketidaksetujuan Menyindir Menegaskan Menyindir Protes Asal Bicara Asal Bicara Mengejek Mengejek Bercanda Menyombongkan Diri Menyindir Memotivasi

(324) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 A N A14 15 16 M U K A A15 A16 17 A17 18 19 20 21 22 23 24 A18 M E L E C E H K A N M U K A A19 A20 A21 A22 A23 A24 Mbok gak usah, paling bertanya pada hal yang enggak-enggak, Hahahaha bercanda! Yo entuklah, sini tanya tentang apa Mau berbuat baik kok pamrih, Piye? Oh ya, Tapi pernahkah anda merasa terpuaskan mengenai semua kebutuhan Anda? Saya yakin anda, pasti tak akan pernah merasa puas, karena saya melihat tingkah anda seperti ini Oalah, bocah pengung, Mangsane wong kabeh do neng Vihara malah turu Mulane ruangan sing arep dinggo khootbah kae diresiki sek ben mlebu surga, hahaha Piye kok malah diem. Jangan sungkan ayo bertanya, lawong bertanya juga gak bayar to? Wo yo jelas, mosok kowe gak ngerti? Karma kuwi ono mergo seko tindak-tanduk sing ora jelas lan bertentangan karo ajaran agamane dewe. Hayo kowe bar ngopo kok pitakonmu ra koyo biasane? Nek aku tertib bro, Wo kowe ki berarti ra positif mbok yo poso. Ssst, omong wae, ngerti gek donga ra,to! Umeryek wae cangkeme! Wes jan payah tenan kowe kie, Kuwi lak istilah dasar ning agama dewe. Seko cilik kan wes diajari to! La pekok tenan kok kowe ki! Ngerti acara penting koyo ngene malah gak teko. Duwe agama opo ora he? Menyindir Bercanda Menyindir Menyindir Ketidaksetujuan Memotivasi Menyindir Kesal Memerintah Bercanda Memerintah Memotivasi Berprasangka Bercanda Menegur Menyombongkan Diri Menasehati Kesal Mengejek Kesal Mengejek Kesal

(325) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI SUBKATEGORI MENGHILANGKAN MUKA WUJUD KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA No. Kategori 1 2 MENGHILANGKAN MUKA Kode Wujud tuturan B1 Heh tak kandani, nek wong Budha kuwi yo nduwe dino bakda bedane nek dino bakda Budha koyo ngene kie malah susah. Kowe ngerti gek repot ngene kie malah senengseneng wae Mbok jajal dikelitiki barang, nek si gelem mengko, hahaha Mbasan mlebu bui ping 3, kowe gek ngaku nek duwe Budha, neng endi wae kowe wingi? Paling wingi-wingi kewan telu kuwi gek teko neng nggonmu kabeh Kowe mbok ning wektu ceramah ro Banthe mbok ojo omong dewe. Ribut karepe dewe! Sesuk maneh ojo ngono kuwi! B2 3 B3 4 B4 Subkategori Makna tuturan Maksud penutur Memperingatkan Kesal Mengejek Bercanda Mengejek Menuduh Menasehati Kesal

(326) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI SUBKATEGORI MELANGGAR NORMA WUJUD KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA No. Kategori Kode Wujud tuturan 1 C1 2 C2 mbok, biar to Buk! Paling Banthe juga gak marahi aku Ngopo kowe telat? Udan po? Telat nemen maneh! Wo babine sing nyedul, wong arep ngibadah kok sakpenake wudel dewe Iyo Bu, ngandani wong sing dolanan HP kuwi koyo ngandani wong sing tandus akale” 3 4 C3 MELANGGAR NORMA C4 Subkategori Makna tuturan Maksud penutur Menegaskan Ketidaksetujuan Menyinggung Kecewa Mengejek Memotivasi Mengupat Kesal

(327) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI SUBKATEGORI MENIMBULKAN KONFLIK WUJUD KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA No. Kategori 1 2 MENIMBULKAN KONFLIK Kode Wujud tuturan D1 Aku mung ngandani sing bener, ngono wae serik. Gene, kowe iso ngandani awakmu dewe, renungno dewe omonganmu kuwi! D2 Subkategori Makna tuturan Maksud penutur Memerintah Kesal Memerintah Membalikkan Keadaan

(328) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TABULASI SUBKATEGORI MENGANCAM MUKA SEPIHAK WUJUD KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK RANAH AGAMA BUDHA DI KOTA YOGYAKARTA No. Kategori Kode Wujud tuturan 1 M E N G A N C A M E1 Nuwun sewu, Mbak nek omong mbek saya gak opo, tapi nek karo koncomu utowo wong liyo kok koyo kurang pas lan kuwi urung mesti bener Karang nek masalah duit ono nek urusan agama dianggep sepele, yo? Ya ampun, arep kebaktian wae iseh wae pada ngomong karepe dewe Iyo, nandi panggone ceramah gawe ngantuk Bapake sing lungguh mburi pisan kae, sajake ngerti opo ora sing mau aku omongno, koyo kok mung clingak-clinguk tanpa sebab Kuwi Pak, cakno ngendikane Banthe, nek karo wong liyo sing ngendikanan sing laras tur ngati-ati Kowe moco Karaniyametta Sutta bola-bali kok ra apal-apal, koyo umat amatiran, wuuuu… 2 3 4 5 6 7 8 9 M U K A S E P I H A K E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 Berarti gawean Bapak penjahat Bojo njenengan geh ngonten niku, Pak? Santai mawon duwe ingon-ingon koyo ngoten niku disabari mangkih kan mati kiyambak Subkategori Makna tuturan Maksud penutur Menyindir Ketidaksetujuan Mengejek Asal Bicara Menyinggung Kesal Menegaskan Menyindir Asal Bicara Bercanda Menegaskan Membalikkan Keadaan Mengejek Bercanda Mengejek Menyindir Asal bicara Bercanda

(329) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 E10 Opo yo sing dipikir ro Banthe-Banthe mau? Koyone urip ning donya kuwi rak muk gagas babar blas, sing dipikir mung mlebu surga wae! Menyindir Asal bicara

(330) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Instrumen Penelitian Tipe C: Wawancara Metode: Cakap Teknik: Catat/Rekam A. Daftar Pertanyaan untuk Pemimpin Umat dalam Relasi dengan Umat PETUNJUK: Gunakan daftar pertanyaan berikut untuk mewawancarai informan, kemudian tulislah atau rekamlah bentuk kebahasaan yang disampaikan oleh informan! 1. Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada umat Anda yang jarang sekali berangkat beribadah di vihara dan jarang sekali terlihat ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan vihara? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 2. Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada umat Anda yang terkesan cuek terhadap sesama yang membutuhkan, misalnya umat yang tergolong mampu tetapi pelit sekali dalam memberi sumbangan kolekte, atau sumbangan vihara lainnya? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 3. Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada umat Anda ketika mereka sering sekali datang terlambat saat sembayangan, kegiatan lingkungan atau kegiatan vihara lainnya (situasinya sedang kumpul bersama)? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 1

(331) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada umat Anda yang anda amati selalu sibuk berbicara dangan umat lainnya atau sibuk bermain-main hp ketika kegiatan ibadah berlangsung? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 5. Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada umat Anda yang sama sekali tidak ada yang mau bertugas menjadi mesdinar, lector saat akan diadakan padahal sudah menjadi sesuatu kesepakatan kalau acara misa harus ada yang bertugas? Penjelasan Informan: ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- 2

(332) PLAGIAT TERPUJI PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKInstrumen TERPUJI Penelitian Tipe C: Wawancara Metode: Cakap Teknik: Catat/Rekam B. Daftar Pertanyaan untuk Umat dalam Relasi dengan Pemimpin Umat PETUNJUK: Gunakan daftar pertanyaan berikut untuk mewawancarai informan, kemudian tulislah atau rekamlah bentuk kebahasaan yang disampaikan oleh informan! 1. Bagaimana respon Anda jika anda merasakan bahwa Bhikhu di vihara yang sering memimpin sembayangan ternyata kalau kotbah itu sangat membosankan (kotbahnya lama, cara penyampaian kaku dan serius, penyampaian isinya tidak jelas dan terkesan suka menyindir)? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------2. Bagaimana respon Anda ketika Bhikhu yang biasanya memimpin sembayangan di vihara tiba-tiba menegur anda karena sibuk berbicara dengan umat lain atau bermain-main hp ketika sembayangan sedang dilakukan? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------3. Bagaimana respon Anda ketika mengetahui Bhikhu yang biasanya memimpin sembayangan di vihara selalu membanding-bandingkan umat yang rajin beribadah, rajin mengikuti semua kegiatan vihara, dan banyak dalam memberikan sumbangan ke vihara dengan umat yang malas berangkat ke vihara dan hanya memberi sumbangan ke vihara semampunya? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------- 3

(333) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Bagaimana respon anda ketika mengetahui Bhikhu yang biasa memimpin sembayangan di lingkungan anda tiba-tiba menegur dan menyebutkan nama anda karena anda melakuan kesalahan dalam bertugas di Vihara? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------5. Bagaiana respon Anda ketika mengetahui bahwa Bhikhu yang sering memimpin misa di tempat anda, sering sekali mangkir atau tidak hadir untuk memimpin misa di lingkungan anda sehingga harus digantikan oleh prodiakon? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------6. Bagaimana respon Anda ketika mendengarkan disaat kotbah Bhikhu yang biasanya memimpin misa berkata dengan sedikit menyindir “iya kalau di vihara pada rajin berdoa, ndak tau kalau dirumah pasti juga pada malas! Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------7. Bagaimana respon anda ketika mendengarkan disaat kotbah Bhikhu yang biasanya memimpin sembayangan berkata dengan sedikit menyindir ”kalau di Vihara itu anakanak ga bisa diam (kemrecek) dan orang tuanya pun ikut-ikutan ribut tidak bisa menenangkan anaknya!” Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------- 4

(334) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Bagaimana respon anda ketika mendengarkan disaat kotbah Bhikhu yang biasanya memimpin sembayangan berkata dan terkadang terkesan membanding-bandingkan kinerja Bhikhu yang satu dengan Bhikhu yang lain? Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 9. Bagaimana respon anda ketika mendengarkan disaat kotbah Bhikhu yang biasanya memimpin sembayang berkata “apakah saudara yakin saudara itu murid Budha?yakin? dan apakan saudara yakin anda akan naik ke surga?Bhikhu karo umat duluan siapa yang naik ke surga?” Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------10. Bagaimana respon anda ketika mendengarkan disaat kotbah Bhikhu yang biasanya memimpin sembayang berkata ”umat itu aneh kalau pengakuan dosa, dosanya hanya ituitu terus lah mbok ya ada pembaharuan atau perubahan gitu loh!” Penjelasan Informan: ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 5

(335) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INSTRUMEN PENELITIAN MAKSUD PENUTUR A. Format bercakap-cakap pemuka agama dengan menciptakan kondisi tertentu untuk menghasilkan maksud tuturan. Tuturan 1. Lokasi : 2. Suasana : 3. Keadaan emosi : 4. Identitas penutur : a. Gender : b. Umur : c. Pekerjaan : d. Domisili : e. Daerah Asal : f. Bahasa yang dipakai sehari-hari : 5. Tanggal percakapan : 6. Waktu percakapan : Tuturan: .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ...................................................... Maksud Tuturan: .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ......................................................

(336) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Fakultas Keguruan dan llmu pendidikan UNIVERSITAS SANATA DHARMA Mrican, Tromol Pos 29 Yogyakarta 55002. Telp. (0274) 513301 ,5I535Z,Fax (0274) 5623g3 Nomor : 1 04/Pnit/Kajur/JPBS/V 120t3 Hal : Permohonan Ijin Penelitian I(epada Yth. Walikota Yogyakarta Cq. Ka. Dinas Perijinan Kota Yogyakarta Dengan hormat, ' Dengan ini kami memohonkan ijin bagi mahasiswa kami, Nama Yudha Hening Pinandhito No. Mahasiswa 491224032 Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Jumsan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas I(eguruan dan Ilmu Pendidikan Semester 8 (Delapan) pen Untuk melaksanakant penelitian otnt""un dalam rangka persiapan penyusunan Skripsi / Makalah, fakalah, dengan d.ngun ketentuan k.t. sebagai berikut: Lokasi : I(ota Yogyakarta Waktu : Juni Topik/Judul : Ketidaksantunan Pragmatik dan - Agustus Linguistik Berbahasa dalam Ranah Agama Buclha di Wilayah l(ota Yogyakarta Atas perhatian dan ijin yang diberikan, kami ucapkan terima kasih. Yogyakar1a,27 Mei 2013 u.b. Dekan, a Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni NPP: i680

(337) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(338) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BIOGRAFI PENULIS Yudha Hening Pinandhito lahir di Temanggung, 21 Juli 1991. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri 2 Traji, Parakan, Temanggung pada tahun 1997-2003. Tahun 2003-2006 dilanjutkan di SMP Remaja Parakan, Temanggung. Sekolah menengah atas ditempuh di SMA Negeri 1 Parakan, Temanggung. Setelah menempuh pendidikan kalas atas, tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2009. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis tugas akhir dengan judul Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa dalam Ranah Agama Budha di Kotamadya Yogyakarta.

(339)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
1
147
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan daerah
0
4
167
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
224
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
0
0
225
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
0
0
185
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
190
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Program Studi Pendidikan Fisika
0
0
90
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Indonesia
0
0
153
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
130
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
135
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
0
0
187
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
0
5
180
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
0
2
114
Show more