Peranan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo - USD Repository

Gratis

0
0
139
2 months ago
Preview
Full text

  

PERANAN DOA LINGKUNGAN TERHADAP KETERLIBATAN UMAT DALAM

HIDUP BERMASYARAKAT DI LINGKUNGAN KISIK TLAGAN, PAROKI BORO,

KULONPROGO

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

  

Tri Hesti Irmawati

NIM: 081124019

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada: Kedua Orang Tuaku Tercinta Saudaraku Kakak Yekti Ambar Wati, Kakak Dwi Yono Estu Widodo.

  

MOTTO

  Biarlah biduk hidup kecil ini berlayar Walaupun badai dan taufan menghalang jalan

  Dengan pusaka iman semua akan aku kukalahkan Satu pada-Mu kepercayaan ini tertuju Akan kubiarkan kuncup bunga mekar

  Dan kembali rontok bersama untaian waktu Dalam kesejukan embun pagi

  Menuju kasih abadi (Antonia Sri Hartuti)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 16 Juni 2014 Penulis, Tri Hesti Irmawati

  

LEMBARAN PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Tri Hesti Irmawati Nomor Mahasiswa : 081124019 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

  

PERANAN DOA LINGKUNGAN TERHADAP KETERLIBATAN UMAT DALAM

HIDUP BERMASYARAKAT DI LINGKUNGAN KISIK TLAGAN, PAROKI BORO,

KULONPROGO, beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya

  memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal, 16 Juni 2014 Yang menyatakan, (Tri Hesti Irmawati)

  ABSTRAK Judul skripsi PERANAN DOA LINGKUNGAN TERHADAP KETERLIBATAN

  UMAT DALAM HIDUP BERMASYARAKAT DI LINGKUNGAN KISIK TLAGAN, PAROKI BORO, KULONPROGO penulis memilih judul ini berdasarkan fakta yang ada di lingkungan Kisik Tlagan bahwa tidak banyak orang yang benar-benar peduli dengan kehidupan orang lain, tidak ada yang mau dan membantu orang lain. Begitu juga yang ada di lingkungan Kisik Tlagan walaupun tergolong desa mereka tidak melihat keadaan disekitarnya. Padahal paguyuban di desa itu seharusnya sangat kuat tetapi hal itu tidak luput dengan kesibukan mereka, sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang mereka geluti entah itu sebagai PNS, petani, pedagang, dan sebagainya untuk mencukupi segala kebutuhan dalam kesehariannya sehingga mereka tidak melihat dunia sekitarnya ataupun kehidupan orang lain disekitarnya. Dengan adanya doa lingkungan ini saya berharap umat dapat selalu melibatkan hidupnya dengan membantu orang lain disekitarnya yang notabennya tidak memiliki penghasilan tetap. Dengan begitu banyak umat yang akan selalu tertolong serta mendapatkan kehidupan yang layak.

  Persoalan pokok dalam skrispi ini adalah seberapa besar peranan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo, Yogyakarta. Hasil wawancara tentang peranan doa lingkungan bahwa peranan doa lingkungan dapat membawa umat lebih aktif dan bertanggungjawab terhadap imannya sebagai umat beriman dan kita perlu berdoa setiap saat, karena dengan berdoa dapat membuat umat semakin menyadari bahwa Tuhan sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan umat lewat peranan atau saling tolong menolong antar warga lingkungan maupun warga yang lainnya, serta menambah rasa keimanan umat lebih dalam dan mempererat hubungan antar umat satu dengan yang lainnya. Namun umat hanya terlibat aktif dalam lingkup umat Katolik saja, keterlibatan dalam hidup bermasyarakat sangat kurang.

  Mengingat peranan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Telagan sangat penting, maka penulis menyumbangkan suatu program doa lingkungan dengan bentuk katekese sosial dengan model Shared Christian Praxis. Katekese sosial ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran umat lingkungan akan pentingnya doa bersama di lingkungan bagi keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat.

  ABSTRACT

  The title of the research is the ROLE OF COMMUNITY PRAYER ON THE

  INVOLVEMENT OF THE BELIEVERS IN COMMUNITY LIFE IN KISIK TLAGAN NEIGHBORHOOD, BORO PARISH, KULONPROGO, YOGYAKARTA. The researcher chose this title based on the fact that there were some people in Kisik Tlagan neighborhood who did not really care about other people's lives. Some of them were not willing to help others including those in Kisik Tlagan. Although they lived in a place that was classified as a village, they did not notice their surrounding condition. Whereas, people who live in a village are supposed to be strong in socialization no matter how busy they are to fulfill their daily necessities as civil, farmers, or traders, etc. So they did not care about the life of others around them. By having a community prayer the researcher hopes that they can always involve in helping others around them especially those who did not have a fixed income. Therefore, there will be many people who can be helped and live a better life.

  The problem of the research is to identify how far the role of the community prayer to the involvement of the believers in community life in Kisik Tlagan neighborhood, Parish Boro, Kulon Progo, Yogyakarta. The result of the interviews about the role of the community prayer was it could bring the people to be more active and responsible for their faith as believers and they needed to pray all the time, because the prayer made them be more aware that God is truly present in their lives through the mutual help among them as well as increasing a deeper sense of faith in them, and strengthening the relationship among them. However, they only actively involved in the scope of the Catholics alone and less involvement in broad community life.

  Because the role of the community prayer in Kisik Tlagan neighborhood is very important, the researcher contributes a prayer program with form of social catechesis with model of Shared Christian Praxis. The social catechesis aims to increase community awareness of the importance of praying together in the community to the involvement of the believers in community life.

KATA PENGANTAR

  Penulis mengambil judul “Peran doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Telagan, Paroki Boro, Kulonprogo ”. Pengolahan tentang peran doa lingkungan terhadap keterlibatan umat di lingkungan merupakan usaha penulis untuk menambah wawasan serta sebagai bentuk mendalami iman serta semakin melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan. Peranan doa lingkungan dalam keterlibatan umat bagi penulis merupakan usaha untuk melatih diri dan lebih melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat, hal itu berguna ketika penulis melaksanakan tugasnya sebagai kateikis serta terjun di lingkungan dimanapun penulis berada. Sebagai seorang katekis dalam melaksanakan tugasnya mendidik dan membina iman umat, lebih terlibat di lingkungan, dan membantu umat yang sedang mengalami kesulitan yakni melalui Katekese Umat maupun doa lingkungan.

  Penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan bantuan yang telah diberikan oleh beberapa pihak. Penulis dengan tulus hati ingin mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Romo Dr. Bernardus Agus Rukiyanto, SJ. Selaku dosen pembimbing utama sekaligus dosen pendamping akademik yang begitu serius, sabar, setia dan murah hati telah mendampingi dan membimbing penulis dari awal hingga penulisan skripsi ini selsesai.

  2. Ibu Dra. Yulia Supriyati, M.Pd. Selaku dosen penguji kedua yang mengarahkan dan membimbing dengan sabar dalam penulisan skripsi ini.

  3. Romo Dr. C. Putranto, SJ. Selaku dosen penguji ketiga yang mengarahkan dan membimbing dengan sabar dalam penulisan skripsi ini.

  4. Seluruh dosen, staf dan karyawan IPPAK, yang telah banyak membantu penulis selama studi di IPPAK.

  5. Bapak dan ibu, S. Waliman dan C. Sri Narti serta kakak-kakak Yekti Ambar Wati dan Dwi Yono Estu Widodo sebagai keluarga yang membiayai, menyemangati dan mendukung penulis selama studi di IPPAK.

  6. Mbak Yuyuk Hupepy yang selalu membantu dan mendukung dalam penulisan kripsi ini.

  7. Seluruh angkatan 2008, Valentina Wuri Widawati, Bernadheta Suparti, Anang Rujito, selaku teman satu angkatan yang mendukung dan membantu dalam penulisan skripsi ini.

  8. Teman-teman mahasiswa IPPAK khususnya angkatan 2008 yang senantiasa memberikan semangat kepada penulis dari awal perjumpaan hingga selesainya skripsi ini.

  9. Staf perpustakaan Kolose St. Ignatius Kotabaru, Perpustakaan Prodi IPPAK, dan Perpustakaan USD yang telah membantu dan mengizinkan penulis untuk menggunakan berbagai buku yang diperlukan selama menyelesaikan penulisan skripsi.

10. Semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini yang tidak dapat disebut.

  Atas segala kebaikan dan perhatian mereka, tidak ada kata yang lebih tepat yang dapat diungkapkan oleh penulis selain “terima kasih dan terima kasih”.

  Akhirnya penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna bagi siapa saja yang mempunyai minat dan perhatian terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat. Penulis juga menyadari skripsi ini belumlah sempurna, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan saran-saran dari pembaca demi kesempurnaan.

  Yogyakarta, 16 Juni 2014 Penulis

  Tri Hesti Irmawati

  DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING..................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN .............................................................................. iv

MOTTO .................................................................................................................... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.................................................................. vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ............................... vii

ABSTRAK ................................................................................................................ viii

ABSTRACT ............................................................................................................... ix

KATA PENGANTAR ............................................................................................. x

DAFTAR ISI ............................................................................................................. xiii

DAFTAR SINGKATAN .......................................................................................... xvi

BAB I: PENDAHULUAN........................................................................................

  1 A.

  1 Latar Belakang……………………………………………………………… B.

  6 Rumusan Masalah........…………………………....…...................................

  C.

  6 Tujuan Penulisan…..………..….........…........................................................

  D.

  7 Manfaat Penulisan…………………...............................................................

  E.

  7 Jenis Penulisan….....………............................................................................

  F.

  8 Sistematika Penulisan.……………………………….....................................

  BAB II: DOA BERSAMA DI LINGKUNGAN DAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP BERMASYARAKAT..................................................................

  10 A.

  11 Doa Bersama di Lingkungan...........................................................................

  1.

  11 Doa…………...............................................................................................

  a.

  12 Pengertian Doa………………………………………………………….

  b.

  13 Sumber Doa…………………………………………………………....

  c.

  14 Pengertian Doa Menurut Kitab Suci…………………………………...

  d.

  15 Isi Doa………………………………………………………………….

  e.

  16 Bentuk Doa…………………………………………………………….

  f.

  18 Syarat-Syarat Utama Doa……………………………………………...

  2.

  19 Doa yang Mencerminkan Kehidupan...........................................................

  a.

  19 Jiwa yang Jernih dan Murni....................................................................

  b.

  19 Peristiwa Hidup dan Pengamatannya….................................................

  c.

  19 Peristiwa Membekas dalam Pribadi Manusia.........................................

  d.

  20 Tercermin dalam Doa.............................................................................

  3.

  20 Pengertian Lingkungan………………….....................................................

  a.

  21 Doa Lingkungan………………………………………………………. 1)

  24 Doa Bersama ……………………………………………………... 2)

  25 Isi Doa Bersama…………………………………………………... 3)

  25 Macam-Macam Doa Bersama…………………………..................

  b.

  26 Peranan Doa Lingkungan…………………………………...................

  c.

  29 Rencana Struktur Doa Lingkungan…………………………………… d.

  31 Kegiatan Lingkungan…………………………………………………. 1)

  31 Communio………………………………………………………… 2)

  32 Menggereja………………………………………………………... 3)

  32 Memasyarakat……………………………………………………..

  B.

  33 Keterlibatan Umat………………………………….........................................

  1.

  36 Dasar Keterlibatan Umat………………………….....................................

  a.

  36 Dasar Kitabiah Keprihatinan dan Keterlibatan Sosial………………… b.

  37 Yesus Kristus Beserta Injil-Nya bagi Kaum Miskin………….............

  c.

  38 Cintakasih yang Mengutamakan Kaum Miskin……………….............

  d.

  40 Orang Miskin dalam Kerajaan Allah………………………………… e.

  41 Kabar Gembira bagi Kaum Miskin…………………………………....

  f.

  42 Siapakah Orang Miskin dalam Kerajaan Allah……………….............

  g.

  44 Mendengarkan Sabda Allah…………………………………………..

  2.

  45 Unsur-unsur dalam Keterlibatan Umat…………………………………… a.

  45 Kepedulian Umat akan Masalah-masalah Masyarakat………………..

  c.

  47 Dialog antara Sabda Allah dengan Realitas Hidup Konkrit Manusia… d.

  48 Keterlibatan Sosial Gereja demi Manusia dan Dunia………………… 1)

  49 Keterlibatan dalam Dunia demi Kepentingan Manusia…………… 2)

  49 Keterlibatan Gereja dalam Soal-soal Sosial……………………….. 3)

  49 Keterlibatan Gereja dalam Perjuangan Sosial……………………... 4)

  50 Keterlibatan Sosial Gereja adalah Praktis………………………….

  3.

  50 Bentuk-bentuk Masalah Umat......................................................................

  a.

  51 Saling Tolong Menolong……………………………………………… b.

  52 Masalah Keluarga……………………………………………..............

  c.

  52 Masalah Ekonomi……………………………………………..............

  d.

  53 Masalah Pendidikan…………………………………………..............

  e.

  54 Masalah Remaja……………………………………………………… f.

  54 Berbohong atau Dusta………………………………………………..

  BAB III: PERAN DOA LINGKUNGAN TERHADAP KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP BERMASYARAKAT DI LINGKUNGAN KISIK TLAGAN, PAROKI BORO, KULONPROGO

  56 ……….........................................

  A.

  56 Gambaran Umum Paroki St. Theresia Lisieux Boro.......................................

  1. Jumlah Umat Di Lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan Paroki St. Theresia

  57 Lisieux Boro…………………………………..........................................

  B.

  58 Situasi Umum Wilayah IX, Lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan...............

  1.

  58 Situasi Umat Katolik Lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan....................

  a.

  Jumlah dan Pembagian Blok dalam Lingkungan St. Theresia Kisik

  58 Tlagan………………………………………………………………… b. Jumlah dan Susunan Umat Lingkungan St. Theresia Kisik

  58 Tlagan………………………………………………………………… c. Kekhasan Umat dan Keluarga-Keluarga Katolik Lingkungan St. Theresia

  59 Kisik Tlagan…………………………………………………………..

  d.

  Situasi Umat Katolik Lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan dengan

  C.

  60 Metodologi Penelitian.....................................................................................

  1.

  60 Manfaat Penelitian……………………………………………………….

  2.

  61 Jenis Penelitian…………………………………………………………..

  3.

  61 Metode Penelitian………………………………………………………..

  4.

  62 Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………………… 5.

  62 Responden Penelitian…………………………………………………….

  6.

  63 Instrumen Penelitian……………………………………………………..

  7.

  64 Variabel Penelitian……………………………………………………….

  8.

  65 Hasil Wawancara dan Pembahasan……………………………………… A.

  65 Laporan Hasil Wawancara 1.

  65 Hasil Wawancara………………………………………………… 2. Pembahasan Hasil Wawancara di Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki

  69 St. Theresia Lisieux Boro………………………………………… 3.

  76 Keterbatasan Penelitian…………………………………………..

  BAB IV: USULAN PROGRAM UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP BERMASYARAKAT DI LINGKUNGAN KISIK TLAGAN, PAROKI BORO, KULONPROGO.....................................................

  77 A.

  82 Pengertian Katekese Sosial………………………………………………….

  B.

  82 Latar Belakang Pemilihan Program……........................................................

  C.

  83 Tema dan Tujuan…………………………………………………………… D.

  85 Penjabaran Tema…………………………………………………………… E.

  96 Petunjuk Pelaksanaan Program……………………………………………...

  F.

  Contoh Persiapan Katekese Umat Model Shared Christian Praxis (SCP)...................................................................................................

  98 BAB V: PENUTUP 110 ………………………………………………………………..

  A.

  110 Kesimpulan………………………………………………………………….

  B.

  112 Saran-Saran…………………………………………………………………. 114 DAFTAR PUSTAKA …………………………………….…...................................

  Lampiran 1: Surat Keterangan Penelitian.............................................................. Lampiran 2: foto- foto Panti Wreda……………………………………………… Lampiran 3: cerita SCP…………………………………………………………..

  (1) (2) (5)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Dokumen Resmi

  DV : Dei Verbum, “Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan tentang Wahyu Ilahi”, II,18 November 1965.

  FC : Familiaris Consortio, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II Pasca-Sinode, 22 November 1981.

  LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964.

  PO :Presbyterorum Ordinis, Dekrit Konsili Vatikan II tentang pelayanan dan Kehidupan para Iman, 7 Desember 1965 B.

   Singkatan Kitab Suci

  Rm : Roma Flp : Filipi Mzm : Mazmur Kej : Kejadian Ul :Ulangan Sam : Samuel Luk : Lukas Mat : Matius Yes : Yesaya Kol : Kolose

  Mrk : Markus Yoh : Yohanes Ef : Efesus C.

   Singkatan Lain

  SCP : Shared Christian Praxis Lih : Lihat OMK : Orang Muda Katolik PIR : Pendamping Iman Remaja HP : Handphone WKRI : Wanita katolik Republik Indonesia PIA : Pendampingan Iman Anak WK : Wanita Katolik Bdk : Bandingkan.

  Dst : Dan Seterusnya Dll : Dan Lain-lain MUDIKA : Muda Mudi Katolik KWI : Konferensi Waligereja Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari manusia diwarnai dengan berbagai

  masalah-masalah yang tidak kunjung selesai bahkan masalah-masalah yang mereka hadapi bertambah besar dan sulit untuk mendapatkan jalan keluar dalam memyelesaikannya. Umat manusia mengalami perubahan pandangan mengenai seluruh kenyataan hidup yang begitu sangat sulit. Dari situlah muncul rangkaian masalah-masalah baru, penghayatan iman kristiani yang terjadi dalam rangkaian kenyataan sosial yang terus berkembang. Pencemaran dan kerusakan lingkungan, penderitaan karena kemelaratan, penindasan terhadap orang-orang kecil dan lemah, angkatan muda yang menghadapai masa depan yang tidak pasti mengingat kurangnya lapangan pekerjaan, sikap acuh tak acuh terhadap nasib orang banyak. Sekalipun ada usaha pembangunan di mana- mana, namun manfaatnya hanya menguntungkan beberapa orang kaya saja, sedangkan jurang antara kaya dan yang miskin semakin melebar, dalam kenyataannya orang kaya tidak memandang orang miskin padahal yang miskin juga mendapatkan hak yang sama untuk memperbaiki kehidupannya. Oleh karena itu kurban ketidakadilan ini adalah berjuta-juta manusia dengan wajah dan nama orang kecil dan lemah yang tidak mampu bersuara dan tidak berdaya

  (Muller, 1992:43). Situasi semacam itu terjadi hampir di semua negara di dunia ini, terlebih di dunia yang sedang berkembang seperti di Negara Indonesia ini.

  Keterlibatan Gereja akan permasalahan sosial saat ini, lebih-lebih didasari misi Yesus Kristus sendiri yaitu mewartakan kerajaan Allah. Kerajaan Allah akan semakin terwujud jika kaum miskin senantiasa menjadi yang lebih diutamakan dalam segala karya dan pewartaannya. Maka Gereja dalam rangka mewujudkan kehadiran Kerajaan Allah senantiasa mendahulukan kaum miskin. Perhatian Gereja tersebut tampak dalam berbagai bidang karya, warta dan lembaga. Hal itu tak lepas dari peranan dan keterlibatan seluruh umat: para imam, biarawan dan biarawati serta awam yang dengan gigih memperjuangkan keadilan dengan berbagai cara sesuai dengan kharisma masing-masing.

  Melihat situasi yang ada saat ini dimana kebanyakan rakyat kecil mengalami ketidakpastian, kecemasan karena mau digusur, tidak memiliki harga diri, ditindas martabatnya sebagai manusia, maka penulis merasa tergerak hatinya untuk turut serta ambil bagian didalamnya. Keprihatinan itu tertuju pada lingkup yang kecil yaitu umat di lingkungan Kisik Telagan yang sebagian besar mata pencaharian mereka adalah bertani. Umat lingkungan Kisik Telagan juga merupakan sebagian kecil masyarakat yang mengalami berbagai macam persoalan hidup antara lain: sebagai umat yang sudah tidak baru lagi dalam menghadapi kenyataan hidup yang semakin hari semakin berat, pekerjaan mereka hanya sebagai seorang petani dan pedagang saja. Memperjuangkan hidup dan masa depan anak-anaknya. Sebagian umat saja yang mampu sungguh membutuhkan bantuan yang bukan hanya semata-mata berbentuk kebutuhan hidup sehari-hari (sandang, pangan), akan tetapi kiranya yang jauh lebih mendesak adalah bagaimana mereka ini akhirnya sebagai orang yang mampu mempertahankan hidupnya tanpa menggantungkan uluran kasih dari orang lain, mampu berjuang mengatasi kesulitan hidupnya, mencari jalan keluar bersama rekan seperjuangannya, sehingga sebagai manusia mampu merasakan sama martabatnya di hadapan sesamanya tanpa minder berani berjuang dalam hidupnya.

  Dalam kenyataannya banyak orang yang tidak benar-benar peduli dengan kehidupan orang lain, tidak ada yang mau dan membantu orang lain.

  Begitu juga yang ada di lingkungan Kisik Tlagan walaupun tergolong desa mereka tidak melihat keadaan disekitarnya. Padahal kata orang paguyuban di desa itu sangat kuat tetapi hal itu tidak luput dengan kesibukan mereka, sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang mereka geluti entah itu sebagai PNS, petani, pedagang, dsb. Untuk mencukupi segala kebutuhan dalam kesehariannya. Sehingga umat setempat tidak peduli atau tidak memperhatikan orang lain di lingkungan Kisik Tlagan. Dengan adanya doa lingkungan ini saya berharap umat dapat selalu melibatkan hidupnya dengan membantu orang lain disekitarnya yang notabennya tidak memiliki penghasilan tetap.

  Doa lingkungan yang selalu dibicarakan tidak pernah menyangkut kehidupan yang ada di sekitar umat lingkungan Kisik Tlagan, bahwa masih banyak orang yang masih membutuhkan bantuan, dukungan, hiburan. Pemandu kehidupan masyarakat disekitar kita, hanya memperingati perayaan setiap bulannya. Bulan ini memperingati hari apa hanya itu yang mereka sampaikan, padahal keterlibatan umat yang diharapkan tidak pernah ada, harapannya dapat terjun langsung membantu umat-umat yang membutuhkan. Walaupun dikatakan desa namun hal itu sangat kurang, ada yang hidupnya berkecukupan ada pula yang hidupnya sedang-sedang saja penghasilannya habis hanya untuk makan saja bahkan ada yang kurang mampu dan tidak memiliki penghasilan apa-apa hanya bisa mengandalkan pemberian orang lain saja dan menyuruhnya untuk mengerjakan sawah saja padahal penghasilan dari menggarap sawah hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

  Paguyuban di desa itu dangat kuat, rasa bermasyarakatnya sangat kental namun hal itu jauh dari pikiran saya, walaupun kehidupan menggereja mereka sangat antusias sangat kental namun mereka tidak melihat kehidupan disekitarnya bahwa masih ada orang yang sangat membutuhkan bantuan kita walaupun hanya sedikit. Kebanyakan yang ada di lingkungan ini hanya orang dewasa dan oang tua saja karena kaum mudanya pergi keluar untuk bekerja, kuliah, dsb. Namun dalam kenyataannya doa lingkungan tidak selalu membawa umat untuk saling hidup bermasyarakat, hal itu di pengaruhi banyak faktor kepribadiannya dengan alasan malas untuk ikut doa lingkungan, capek karena baru pulang kerja, cuaca yang tidak mendukung, tidak ada teman di jalan.

  Sebaliknya ada juga umat yang rajin ikut doa lingkungan tetapi tidak selalu mengikuti banyak acara di lingkungannya banyak kerjaan, yang penting ikut

  Selain itu dalam kenyataannya umat yang tidak pernah mengikuti doa lingkungan namun mereka aktif mengikuti kegiatan lingkungan, selalu terjun kelapangan untuk membantu orang lain serta terlibat dalam hidup bermasyarakat. Sebenarnya itu semua tergantung dari pribadinya masing, jika hatinya mudah tergerak, ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain hal itu sangat mudah untuk membantu orang lain yang mengalami kesulitan. Hal itu lebih baik kalo mengikuti doa lingkungan sehingga dapat menyumbangkan suatu pemikiran untuk kegiatan apa selanjutnya yang akan diadakan di lingkungan.

  Umat Kristen semakin menyadari kebersamaannya sebagai komunitas Gereja dalam mengungkapkan imannya. Tidak mengherankan bahwa selain perayaan Ekaristi, umat ingin secara berkala berkumpul dalam kelompok kecil untuk melaksanakan kebaktian bersama. Secara terasa suatu kebutuhan yang mendesak akan sebuah buku penuntun kebaktian tersebut. Sebagai orang beriman tentu saja kita alami suatu hubungan khusus dengan orang se-iman yang tinggal berdekatan dengan kita di suatu desa atau satu bagian kota. Kita pun dapat membantu mereka dan meneguhkan mereka dalam penghayatan iman dan dalam menghadapi berbagai situasi hidupnya. Kita perlu didampingi mereka supaya kita mampu tetap tegak dalam iman dan kepercayaan. Tidak mengherankan bahwa di banyak tempat rasa kebersamaan itu menghasilkan kelompok- kelompok yang lazimnya dinamika “kring” atau “rukun”, “kumpulan”, “lingkungan” atau “rata marga” dan lain sebagainya, bagaikan suatu Gereja dalam ukuran kecil, lengkap dengan pimpinan atau badan pengurusnya dan dipedomi oleh beberapa penetapan atau peraturan sederhana.

B. Rumusan Masalah

  Setelah melihat permasalahan yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan pada beberapa hal, antara lain:

  1. Apa yang dimaksud doa lingkungan? 2.

  Bagaimana keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat? 3. Seberapa besar peran doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo?

  4. Apa yang bisa dilakukan untuk membantu umat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo, dalam mengembangkan umat dalam kehidupan bermasyarakat?

C. Tujuan Penulisan

  Adapun tujuan yang hendak dicapai lewat skripsi ini adalah sebagai berikut:

  1. Memaparkan tentang doa lingkungan.

  2. Menggali keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo.

  3. Menemukan dan menjelaskan peran doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro,

  4. Mengusulkan katekese model SCP sebagai salah satu cara membantu dalam pengaruh doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo.

5. Memenuhi salah satu syarat memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

D. Manfaat Penulisan 1.

  Bagi Lingkungan Meningkatkan peranan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo.

2. Bagi Peneliti

  Dapat mengetahui secara lebih lanjut bahwa katekese dapat digunakan untuk membantu umat.

E. Jenis Penulisan

  Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

kualitatif yaitu dengan memanfaatkan studi pustaka. Penelitian ini mempunyai

tujuan untuk mengungkap keterlibatan umat dalam hidup masyarakat melalui

doa lingkungan, di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo. Penulis

mengadakan penelitian sederhana melalui observasi lapangan dengan

F. Sistematika Penulisan

  Sebagai sebuah gambaran umum tentang hal apa saja yang akan dibahas di dalam penulisan skripsi ini, berikut ini adalah sistematika penulisan skripsi ini:

  BAB I Pendahuluan, berisi gambaran umum tentang isi skripsi yang meliputi: latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

  BAB II Doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan. Bab ini menguraikan dua bagian yaitu pertama menguraikan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat yang meliputi: pengertian doa, doa dalam Kitab Suci, sumber doa, isi doa, bentuk doa, cara berdoa, Syarat-Syarat utama doa dan doa yang mencerminkan kehidupan, jiwa yang jernih dan murni, peristiwa hidup dan pengamatannya, peristiwa membekas dalam pribadi manusia, tercermin dalam doa. Doa lingkungan yang meliputi: pengertian lingkungan, pengertian doa lingkungan, doa bersama, isi doa bersama, macam- macam doa bersama, peran doa lingkungan, rancangan struktur doa lingkungan. Bagian kedua menguraikan keterlibatan umat yang meliputi: Bentuk-bentuk masalah umat, keterlibatan Allah terhadap kaum miskin, unsur-unsur dalam katekese sosial, dasar Kitabiah keprihatinan dan keterlibatan social, kepedulian umat akan msalah-masalah masyarakatnya, martabat dan kodrat sosial manusia, keterlibatan sosial Gereja demi manusia dan dunia.

  BAB III Peranan Doa Lingkungan Terhadap Keterlibatan Umat Dalam Hidup Bermasyarakat Di Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo. Bab ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian pertama tentang situasi umum lingkungan Santa Theresia Kisik Tlagan yang meliputi: Gambaran umum Paroki Santa Theresia Lisieux Boro, jumlah umat di lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan Paroki Santa Theresia Lisieux Boro, situasi umum wilayah IX lingkungan St.

  Theresia Kisik Tlagan, situasi umat katolik lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan. Sedangkan bagian kedua mengenai metodologi penelitian, hasil wawancara dan pembahasan hasil wawancara. Metodologi penelitian mencakup tujuan penelitian, manfaat penelitian, jenis penelitian, metode penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, instrument penelitian, variable penelitian. Tahap berikutnya penulis akan mengkaji hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian dan keterbatasan penelitian.

  BAB IV Usulan Program Meningkatkan Peranan Doa Lingkungan Terhadap Keterlibatan Umat Dalam Hidup Bermasyarakat Di Lingkungan. Bab ini menguraikan peran doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan, katekese, metode katekese, pengertian katekese umat, model dan metode katekese sosial, dan usulan program berupa SCP yang terdiri dari latar belakang pemilihan program, alasan pemilihan tema/ tujuan, rumusan tujuan, penjabaran program, petunjuk pelaksanaan program, contoh persiapan.

  BAB V Penutup, bab ini merupakan kesimpulan dan saran-saran berdasarkan hasil penulisan skripsi.

BAB II DOA BERSAMA DI LINGKUNGAN DAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP BERMASYARAKAT Lingkungan Katolik mengalami kesulitan dalam melaksanakan doa

  bersama dalam lingkungan karena kurang menghayati doa bersama dalam Lingkungan. Ada atau tidak adanya pastor, pertemuan doa lingkungan tetap berlangsung. Doa lingkungan diadakan satu kali dalam seminggu. Pada masa Adven, Prapaskah, Bulan Kitab Suci (sekali seminggu), Mei dan Oktober (hampir setiap hari). Kesulitan yang dialami di lingkungan adalah tidak banyak yang datang, hanya orang dewasa dan tua-tua saja yang datang kaum mudanya sibuk dengan kegiatan sendiri. Dari sharing para anggota, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa mereka sangat sedih karena kaum mudanya tidak ada yang hadir dalam setiap doa lingkungan. Tetapi dengan adanya doa lingkungan mereka juga merasa senang atas usaha pengurus dalam menghidupkan kegiatan lingkungan. Secara pribadi penulis sangat bersyukur bisa mendapatkan siraman rohani dengan mengikuti doa lingkungan.

  Iman penulis semakin dikuatkan. Persaudaraan dengan sesama anggota semakin akrab. Kami dapat saling berbagi suka dan duka, apalagi dalam menghadapi situasi krisis ini. Menurut penulis, yang paling penting dari pertemuan atau doa lingkungan ini adalah suasana persaudaraannya yang begitu kuat, di mana umat dapat saling berbagi pengalaman hidup sehari-hari dan bersama anggota sama-sama menggumuli kehidupan dengan segala permasalahan yang ada. Memang harus diakui bahwa dalam doa lingkungan tidak terlepas dari berbagai kesulitan dan keterbatasan, seperti: kurangnya tenaga pendamping, bahan pertemuan kurang bervariasi termasuk cara penyajiannya, ada anggota yang sungguh pasif meskipun sudah berkali-kali diajak.

A. Doa bersama di Lingkungan

  Doa merupakan salah satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh semua umat beriman, termasuk umat di lingkungan dalam hidup bersama.

1. Doa

  Semua agama mengenal doa. Kebanyakan agama pun tidak melihat doa sebagai kegiatan mendaraskan rumusan-rumusan hafalan. Doa yang utama adalah suatu pernyataan iman dihadapan Allah. Doa dan hidup religius di tanah air kita pada umumnya berakar di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam kebudayaan, pandangan hidup telah menjadi satu dengan agama. Hal ini tidak hanya merupakan warisan sejarah, namun dapat membentuk kehidupan di dalam masyarakat yang selalu terlibat dan membantu masyarkat yang satu dengan yang lain di lingkungannya. Agama telah menjadi bagian dari cara berpikir dan kehidupan bersama dalam masyarakat.

  Dalam agama yang telah bersatu padu degan seluruh hidup, orang menemukan perasaan aman dan ketentraman emosional. Maka tidak Doa tidak dilepaskan dari kehidupan sehari-hari dan dari hidup bersama di dalam masyarakat. Maka ada banyak kebiasaan dan bentuk doa dalam masyarakat yang asal-usulnya bukan hanya dari sejarah agama tertentu, tetapi dari agama sebagaimana hidup di dalam masyarakat (KWI, 1996:193-194).

  Sedangkan pada zaman sekarang ada semacam kehausan untuk mengalami Allah yang terlibat dalam hidup manusia. Segala macam metode dan cara berdoa dipelajari untuk menemukan dan merasakan kehadiran Allah. Manusia mempunyai kerinduan dan kemampuan untuk berdoa yang semakin didorong oleh Allah yang selalu menyapa dan mengajak untuk berwawancara dengan diri-Nya (Darminta, 1981: 7).

a. Pengertian Doa

  Kegiatan berdoa merupakan kegiatan pokok dalam kehidupan manusia serta dalam masyarakat sekitarnya, namun dari pengalaman nampak bahwa doa merupakan kegiatan manusia yang sukar, kendati ada segala macam usaha untuk berdoa. Tanpa doa, hidup rohani tidak akan maju dan berkembang. Doa dapat dilakukan secara pribadi atau secara bersama dan berdoa merupakan kegiatan ikut ambil bagian dalam karya keselamatan yang disampaikan oleh Kristus (Darminta, 1983: 9-10).

  Berdoa berarti berpikir tentang Allah sambil mengasihi-Nya, menghadapi-Nya dengan sikap siap dipakai oleh-nya, berjumpa dengan-Nya, bercakap-cakap dengan-Nya. Berdoa juga berarti melampaui kehidupan fana ini, „mengintip‟ ke dalam surga, „menerobos‟ ke dalam alam yang kekal

  Doa juga dapat diartikan sebagai pertemuan antara pribadi Allah dan manusia yang saling mengasihi, saling mencari dan saling merindukan. Doa adalah bersatu dengan Allah, membangun persahabatan dengan-Nya, menyampaikan permohonan kepada-Nya,. Bagi jiwa, doa mirip dengan doa mirip dengan makanan bagi tubuh. Bagi para pengikut Yesus, doa adalah kehidupan. (Hadrys, 2007:1)

  Doa pada dasaranya berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri anak Allah, mengakui Allah sebagai Bapa. Doa adalah cinta seorang anak kepada Bapanya. Maka doa dapat timbul dari kesusahan hati yang bingung, tetapi juga dari kegembiraan jiwa yang menuju ke masa depan yang bahagia. Doa tidak membutuhkan banyak kata (lih. Mat 6:7), tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau geak-gerik yang khusus, meskipun dapat didukung olehnya (KWI, 1996:194).

b. Sumber Doa

  Menurut agama Kristen, sebetulnya yang berdoa bukan manusia, melainkan Roh Allah sendiri. “Kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita” (Rm 8: 2). Doa hanya mungkin dalam dan oleh Roh Kudus. Kita berdoa bukan berdasarkan jasa-jasa kita tetapi berdasarkan kasih sayang Allah yang berlimpah-limpah (KWI , 1996: 194).

  Sumber doa Katolik lainnya adalah sabda Allah yang memberi kita pengenalan akan Allah (Flp 3: 8). Liturgi Gereja mengajak kita untuk mewartakan, menghadirkan dan mengkomunikasikan misteri keselamatan setiap hari karena di dalamnya kita dapat bertemu dengan Allah (KWI, 2009: 186).

  Berdoa memang bukanlah hal yang mudah tetapi perlu kita sadari bahwa sumber doa adalah Roh Allah sendiri. Sebagai seorang Katolik kita perlu menyadari bahwa dalam doa, Roh Kudus senantiasa memberi kekuatan dan berkarya dalam hidup. Selain Roh Kudus, sumber doa lainnya adalah sabda Allah yang mengajak kita untuk memaknai setiap peristiwa sehingga akan mengalami kasih Allah. Doa hanya mungkin dalam dan oleh Roh Kudus, “Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Itu berarti bahwa kita berdoa bukan berdasarkan jasa-jasa kita, tetapi berdasarkan kasih sayang Allah yang berlimpah-limpah (Lih. Dan 9:18).

c. Pengertian Doa Menurut Kitab Suci

  Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memberikan perhatian besar terhadap doa. Dalam Perjanjian Lama terdapat beberapa sifat doa yang diucapkan oleh umat Israel secara perorangan maupun bersama-sama.

  Si pendoa mengangkat hati dan pikiran kepada Allah (Mzm 25: 1). Doa mengantar orang makin dekat dengan Tuhan (Kej 18: 23). Doa adalah suatu percakapan dengan Allah (Kej 18: 27). Pengungkapan doa lainnya: mendengarkan Allah (Ul 4:1), pencurahan jiwa di hadapan Allah (1 Sam 1: 1- 8). Semua sifat doa ini menunjukkan bahwa doa adalah suatu komunikasi antara manusia dengan Tuhan Allah (Kallor, 1993: 127).

  Dalam Kitab Suci Yesus sendiri mengajarkan doa Bapa Kami kepada para murid-Nya ketika mereka melihat Yesus berdoa dan murid-Nya berkata kepada-

  Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11: 1). Secara aktual, Yesus melaksanakan doa yang terus menerus (Luk 5: 16). Saat-saat penting dalam hidup-Nya disertai dengan doa, misalnya: Yesus berdoa pada pembaptisan-Nya di sungai Yordan (Luk 3: 21). Doa Yesus ditujukan kepada Bapa dalam dialog ketaatan yang memberikan kehidupan bagi perutusan-

  Nya. “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11: 27). Setiap doa kita diangkat kepada Bapa melalui Kristus Tuhan kita (KWI, 2009: 192).

  Apa yang diajarkan Kitab Suci tentang doa telah menjadi milik Gereja sebagaimana diungkapkan oleh Bapa Gereja dan tokoh spiritualitas doa. St.

  Yohanes Damascenus, “doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan”, sedang bagi St. Theresia Avila “doa adalah suatu percakapan persahabatan dengan Allah, yang kita tahu bahwa Ia sangat mencintai kita (Kallor, 1993: 127).

d. Isi Doa

  Doa bukanlah upacara, tetapi sendi kehidupan sehari-hari, nafas jemaat beriman, dan ungkapan umat dalam perjuangan. Doa semacam ini adalah doa asli, timbul dari pengalaman, mewarnai irama hidup. Setiap orang diharap dapat menguraikan jalan doanya dalam hidup sehari-hari seperti Kis 2:42, dan dalam menghadapi peristiwa yang khas dalam percobaan. Orang yang mencari-cari, terlepaskan di dalam doa. Inilah kiranya isi kebanyakan uraian tentang hidup doa, dengan suka duka di dalamnya, di dukung kekuatan, karena setiap kali orang kembali kepada doa. Kalau ada tantangan dan cobaan, orang lari meningkatkan doa (Soenarja, 1984:56)

  Doa permohonan bukanlah minta-minta, puji-syukur berarti memuliakan kebaikan dan keluhuran Allah; dalam permohonan diakui dan dinyatakan kelemahan dan kemiskinan manusia. Maka yang pertama-tama dimohon adalah pengampunan dan belas kasihan Tuhan, sebab dosa manusia merupakan sumber kemalangan yang terbesar. Supaya memberikan kekuataan untuk berjuang terus di dunia ini dengan sebuah pengharapan. “Bertekunlah dalam doa dan berjaga- jagalah sambil mengucap syukur” (Kol 4). Doa dapat dilakukan secara sendiri atau bersama, diucapkan dengan mulut atau direnungkan dalam hati, dan bentuknya tidak mengikat tetapi isi doa yaitu puji syukur dan permohonan (KWI, 1996: 197-199).

e. Bentuk Doa Berdoa berarti berkata jujur menyatakan isi hati di hadapan Tuhan.

  Tradisi Gereja mengenal tiga cara utama mengungkapan kehidupan doa antara lain doa Pemberkatan, doa penyembahan, doa permohonan, doa syafaat, dan doa pujian. Kelima bentuk doa tersebut menuntut ketenangan hati. (KWI,2009:185) mengungkapkan bahwa bentuk doa antara lain: 1) Doa Pemberkatan Jawaban manusia terhadap anugerah Allah: kita memuji Yang Mahakuasa yang

  2) Doa Penyembahan Penyembahan adalah pengakuan yang rendah hati dari pihak manusia bahwa mereka adalah makhluk dari Pencipta yang mahakudus.

  3) Doa Permohonan Dapat berupa permohonan ampun atau juga permohonan yang rendah hati dan penuh percaya untuk semua kebutuhan kita, baik spiritual maupun material. Tetapi, hal pertama yang harus dimohon ialah kedatangan Kerajaan Allah.

  4) Doa Syafaat Doa syafaat adalah doa yang memohon atas nama orang lain. Doa ini menyelaraskan dan mempersatukan kita dengan doa Yesus yang memohon kepada Bapa untuk semua orang, terutama orang berdosa. Bahkan, doa syafaat harus termasuk mendoakan musuh.

  5) Doa Pujian Pujian adalah bentuk doa yang mengakui secara paling langsung bahwa

  Allah adalah Allah. Doa ini sama sekali tanpa kepentingan apapun mengidungkan pujian Allah semata-mata demi kepentingan Allah dan memuliakan Allah melulu karena Dia adalah Allah.

  Semua bentuk doa tersebut baik karena merupakan hasil perjuangan manusia untuk berdoa kepada Tuhan. Bentuk doa tersebut baik adanya sejauh menolong orang untuk menemukan Tuhan.

f. Syarat-Syarat Utama Doa Ada 7 syarat utama dalam doa antara lain: (Hadrys, 2007:4).

  1. Melepaskan diri dari dosa-dosa.

  2. Membebaskan diri dari ikatan-ikatan yang tidak dapat dibenarkan 3.

  Mengontrol pikiran dan imajinasi 4. Mempunyai tujuan yang baik 5. Aku tidak harus percaya bahwa ada satu Allah, tetapi bahwa sekarang ini dalam doa aku bertemu dengan satu Allah itu. Bukan hanya yakin bahwa Tuhan ada, tetapi bahwa tuhan ada di sini, bersama dengan aku.

  6. Maka beriman pada Allah sebagai pribadi yang luhur dan mulai berarti berani berhubungan secara pribadi dengan Allah. Di situ terdapat pokok persoalan mengenai doa: bukankah Allah yang kusapa secara pribadi itu khayalan belaka? Persoalan itu hanya dapat menjadi jelas dalam pertemuan itu sendiri.

  7. Titik pangkal pertemuan dengan Allah bukanlah keinginan dan usahaku sendiri, melainkan panggilan allah. Allah yang bersabda (wahyu), aku hanya menjawab (iman). Setiap kali orang berdoa, ia menempatkan diri dalam proses hubungan Allah dengan manusia, menghadap Allah dalam kerangka perwahyuan.

2. Doa yang Mencerminkan Kehidupan a. Jiwa yang Jernih dan Murni

  Pada taraf bimbingan menuju kemajuan orang yang menghadapi pembimbing itu orang yang jujur, menaruh perhatian pada jiwanya. Ia dalam retret atau persiapan pendahuluan sudah berhasil membebaskan diri dari dosa- dosa yang membebani jiwanya, dan ia berkemauan keras untuk membangun sesuatu di dalam hidupnya, demi kemuliaan Tuhan. Orang itu sendiri menginginkan hati yang bersih. Ia menginginkan sifat-sifat Tuhan tercermin di dalam langkah laku dan tindakannya: ia ingin jiwa jernih memantulkan bayangan sinar rahmat. Ia ingin terang terbuka terhadap setiap gerakan dan sentuhan Tuhan (Soenarja, 1984: 39-40).

  b. Peristiwa Hidup dan Pengamatannya

  Sebagai dasar dapat dikatakan, bahwa dalam bimbingan setiap peristiwa hidup harus dipandang “dalma terang Tuhan”. Jika jiwa sudah jernih, terbuka, langkah-langkah pertama dapat langsung menuju ketinggalan itu. Bila jiwa masih dalam kelekatan akan dosa, pemurnian atau pertobatan seperti didalam retret dulu, untuk melakukan proses pertobatan secara lengkap (Soenarja, 1984: 40).

  c. Peristiwa Membekas dalam Pribadi Manusia

  Orang yang berusaha maju dalam kerohanian, biasa hidup dalam kesadaran tinggi. Ia bukan orang yang digambarkan masih berkubang dalam dosa, hingga ia tidak sadar akan perbuatannya dan gampang diseret dengan suci-suci tuturnya, dan muluk-muluk cita-citanya, dan banyak melibatkan diri pada keaktifan Gereja, yang tetap paling menentukan ialah kepekaan terhadap gerakan-gerakan roh, yang menandai usaha dan kemajuan hidup (Soenarja, 1984: 42).

d. Tercermin dalam Doa

  Pada awalnya doa dikatakan “berpaling kepada Tuhan” mengarahkan hati kepada Tuhan, dalam prosesnya disebut “wawancara dengan Tuhan” dan dalam puncaknya dicapai “persatuan dengan Tuhan”. Hidup manusia yang positif pada hakekatnya, dan dalam keseluruhannya, menjalani proses yang sama, sebaliknya pada segi negatif dan ingkar, ia dapat menjauh, lupa dan menolak Tuhan sampai dalam pengingkaran totap seperti lusifer.

  Doa adalah jalan mengarah kepada Tuhan. Yang masih berdoa, belum meninggalkan jalan Tuhan, betapapun lemah keadaannya. Situasi manusia tercermin dalam doa. Orang yang tak pernah berdoa, tidak pernah bercermin diri (Soenarja, 1984: 43-44).

3. Pengertian Lingkungan

  Lingkungan adalah paguyuban umat beriman yang bersekutu berdasarkan kedekatan tempat tinggal dengan jumlah antara 10-50 kepala keluarga. Maksud dari penjelasan diatas adalah bila jumlah kepala keluarga dalam lingkungan lebih dari 50, lingkungan harap dimekarkan menjadi lebih dapat dibagi dalam persekutuan-persekutuan yang lebih kecil, misalnya dengan nama blok, rukun umat. Dengan demikian lingkungan-lingkungan yang mempunyai jumlah umat lebih dari 50 kepala keluarga, dengan sendirinya harus dimekarkan bukan dipecah. Dimekarkan mempunyai maksud yang lebih positif dan memberi harapan ke depan untuk berkembang daripada memakai istilah

  

dipecah. Kebanyakan lingkungan sulit untuk menampung banyak umay katolik

  berimanyang berkumpul guna melakukan aneka kegiatan lingkungan, yaitu merayakan Ekaristi lingkungan, doa lingkungan, doa rosario, dan sebagainya.

  Ketika umat beriman katolik berjumlah besar atau banyak dan memberikan suasana hangat dan bangga di antara mereka, tanpa disadari muncullah kecenderungan yang berkembang di antara sebagian besar umat beriman, yaitu bersembunyi dan tidak mau terlibat dalam kegiatan lingkungan.

a. Doa Lingkungan

  Salah satu kekhasan Gereja Katolik Indonesia adalah adanya sistem lingkungan/ kring/stasi dalam pelayanan pastoral parokial-teritorial yang memungkinkan semakin banyak kaum beriman awam terlibat dalam pengembangan Gereja seperti yang diharapkan oleh Konsili Vatikan II. Dan yang menarik, cikal-bakal lingkungan ini ternyata sudah ada jauh sebelum Konsili Vatikan II, bahkan sebelum Perang Dunia II. Pada masa itu para imam Jawa, yakni Rm. Hardjosuwondo SJ dan Rm. Sugiyopranoto,SJ, merintis sistem kring di paroki-paroki Wedi-Klaten, Ganjuran, dan Bintaran. Bahkan para mereka dipercaya untuk memimpin ibadat-ibadat, mengajar calon baptis, juga membimbing umat yang mengalami kesulitan (F.X. Didik bagiyowinandi, Pr, http: www. Iman Katolik. Or.id/ kl.html).

  Dalam perkembangan waktu, sistem “bapak pamong kring” ini kemudian berkembang menjadi sistem lingkungan yang kemudian juga dimasukkan dalam struktur dewan pastoral paroki. Dalam semangat kepemimpinan partisip atoris, “salib pelayanan” umat di lingkungan tidak lagi

  “dibebankan” pada pundak ketua lingkungan saja, tetapi menjadi tanggung jawab para pengurus lingkungan. Keterlibatan para pengurus lingkungan sungguh membantu dan melipatgandakan tenaga dan perhatian pastoral Pastor Paroki. Dan menarik untuk dicermati, “sekolah pelayanan dan kerjasama” para pengurus lingkungan ini sekaligus merupakan salah satu wahana dan peluang untuk mempersiapkan kader-kader pengurus Dewan pastoral paroki.

  Doa lingkungan sangat penting diadakan terutama di setiap lingkungan. Karena doa lingkungan membentuk dan membimbing iman umat agar tetap selalu pada jalan yang telah di tujunya. Dengan begitu doa lingkungan juga dapat membantu setiap orang untuk terjun terlibat dalam setiap kegitan- kegiatan entah itu yang diadakan di lingkungan, di paroki atau dimanapun tempatnya. Kita juga dapat membaur dengan siapa saja, berkumpul bersama untuk membantu orang lain, terjalin kerja sama yang begitu akrab, banyak relasi dengan orang lain baik di lingkungan sendiri maupun di lingkungan orang lain, dengan kelompok lain juga dapat berbaur dengan baik. Tetapi tidak semua umat lingkungan dapat mengikuti doa lingkungan bukan karena malas, namun karena ada umat yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing hal itu tidak berpengaruh karena mereka masih tetap terlibat dalam hidup bermasyarakat tergantung dengan kesadaran yang ada dalam diri umat masing-masing.

  Lingkungan juga dapat membentuk karakter kita untuk dapat hidup dan berani menghadapi segala tantangan zaman yang semakin lama semakin berkembang.

  Doa lingkungan bukanlah Ekaristi. Oleh sebab itu strukturnya lebih terbuka untuk variasi menurut situasi umat, peristiwa dan intensi keluarga, Masa liturgis serta Mei dan Oktober. Memang dianjurkan agar struktur Doa hendaknya mirip Liturgi Sabda dalam perayaan Ekaristi tetapi itu pun lebih dimaksudkan untuk ”Ibadat Sabda Hari Minggu tanpa Imam” di stasi-stasi yang jauh.

  Oleh karena itu sebagai ”pertemuan doa” kelompok kecil, doa lingkungan merupakan kesempatan untuk meneladani Umat Gereja perdana yang suka berhimpun bersama untuk berdoa, mendengarkan Sabda Tuhan dan pengajaran ”para rasul”, kadang-kadang ada Misa Lingkungan, saling bersikap solider dalam berbagai persoalan hidup, sekaligus untuk mewujudkan secara lebih intensif program-program paroki. Pemimpin Doa ialah awam baik laki- laki maupun perempuan; bukan imam atau diakon. Tetapi kalau mereka hadir maka pembacaan Injil diserahkan kepada mereka, dan selanjutnya mendengarkan pengajaran/renungan dari mereka.

  Unsur utama dalam setiap penyelenggaraan Doa Lingkungan ialah tuhan kita memuji, memuliakan Tuhan, bersyukur kepada-Nya dalam mazmur dan kidung serta mengungkapkan permohonan-permohonan (Rm. Bosco da Cunha O. Carm. http.blogspot.com). 1) Doa Bersama

  Salah satu kegiatan pokok dalam suatu lingkungan seperti terlukiskan itu ialah pertemuan berkala (biasanya seminggu sekali) untuk mengadakan DOA bersama. Doa itu dapat berbeda coraknya dan maksudnya, antara lain dapat berupa:  Perayaan Sakramen Permandian  Perayaan Ekaristi  Pengurapan Orang Sakit  Doa sekitar kematian dan mengenang arwah  Kebaktian Perdamaian atau Tobat  Pemberkatan Rumah  Acara Doa umum, meliputi beberapa mata acara sebagai berikut: Pembacaan dari Alkitab, Renungan atau amanan keramat, Doa Rosario, Doa- doa Permohonan, Nyanyian Rohani, dll.

  Kitab sederhana yang kami sajikan ini bertujuan untuk sekedar memberi bahan inspirasi dan tuntutan pada melaksanakan ACARA DOA UMUM itu (Nambo, 1980: 4-5).

  2) Isi Doa Bersama

  Hendaknya Kitab Suci ditekankan peranannya dalam pembinaan penghayatan iman. Bersama membaca Alkitab dalam lingkungan keluarga, disertai sekedar penjelasan sesuai dengan adaya tangkap orangtua dan anak- anak, dapat mengungkapkan kekayaannya bagi hidup sehari-hari.

  Kesempatan untuk berdoa bersama cukup banyak. Setiap hari ada baik pagi, sebelum dan sesudah makan, malam hari. Bila seorang anggota keluarga adalah sakit, merayakan ulang tahun, menghadapi peristiwa penting (ujian, melamar kerja, perjalanan jauh, tunangan, operasi). Kehidupan sehari-hari dapat mendorong setiap anggota keluarga untuk mendoakan yang lain (Heuken, 1979: 21).

  3) Macam-macam Doa Bersama

  Menanggapi berbagai kebutuhan serta situasi hidup mereka, yang menghadap Tuhan dalam doa. Kecuali doa pagi dan doa malam, berbagai bentuk doa selayaknya mendapat dukungan yang jelas, misalnya: membaca dan merenungkan sabda Allah, menyiapkan penerimaan sakramen-sakramen, devosi dan persembahan kepada Hati Kudus Yesus, berbagai bentuk kebaktian kepada Santa Perawan Maria, doa sebelum dan sesudah makan, praktek devosi-devosi umat. Paus Yohanes Paulus II, dalam ajuran apostoliknya Rosarium Virginis Mariae, menegaskan bahwa: Diantaranya layak disebutkan doa Rosario: “Untuk melanjutkan gagasan para pendahulu kami, sekarang kami ingin menganjurkan dengan sangat supaya keluarga dipandang termasuk doa bersama yang terbaik dan paling efektif, yang keluarga Kristen dihimbau untuk mendoakan. Kami suka berpikir dan dengan tulus mengharapkan, bahwa bilan pertemuan keluarga menjadi saat doa, Rosario merupakan cara berdoa yang kerap digunakan dan memang disukai (FC art 61).

b. Peranan Doa lingkungan

  Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang suka berkumpul dan tidak dapat hidup sendiri. Manusia berkembang menjadi manusia utuh karena berkomunikasi dengan yang lain. Tanpa interaksi dengan manusia lain, kehidupan seseorang akan menjadi kerdil. Pengetahuannya akan sulit berkembang dan tingkat emosi menjadi tidak dewasa. Akibatnya, ia mudah terombang ambing oleh hal-hal di luar dirinya. Ia tidak bisa menghargai dirinya yang begitu indah dan dicintai Tuhan, dan akan tinggal di dalam istananya yang tertutup dan gersang. Orang seperti itu seringkali mengeluh dengan kebosanan dan rutinitas. Kehidupan yang monoton yang dijalaninya membuat kebosanan dalam hidupnya. Berbeda dengan orang yang membuka diri. Berkomunikasi dengan orang lain akan dilihat sebagai sesuatu yang indah. Ia melihat betapa dirinya tidak sempurna di tengah-tengah tantangan dunia yang begitu kompleks. Orang ini akan mampu menerima dirinya, merasakan keindahan, kedamaian bahkan kebahagiaan. Perasaan saya dibutuhkan di tengah kekurangan, sama halnya saya membutuhkan orang lain yang belum tentu sempurna seperti saya. Perasaan saling membutuhkan ini akan saling mengisi dan membuat diri masing-masing menjadi berharga.

  Sebagai orang beriman, yang dikumpulkan dalam suatu komunitas rayon/ kring/ lingkungan, kita pantas bersyukur sebab telah diberkati Tuhan. Ia menjadikan kita manusia bebas, merdeka, dan bahagia. Rayon adalah salah satu sarana yang begitu penting, di mana kita dapat menggunakan kesempatan untuk mengambil “angin segar” bagi kehidupan rohani. Dalam pertemuan Rayon, kita diajak keluar dari rutinitas yang menghimpit dan membelenggu. Sering kita mendengar keluhan, “Tidak ada waktu”, “Ah, itu-itu saja, bosan”. Itu semua muncul karena egoisme diri yang dalam. Padahal, bila kita meluangkan waktu mengikuti pertemuan rayon, kita bisa bertemu dengan saudara-saudari seiman, dari anak-anak sampai orang tua. Kita dapat melihat ternyata keadaan kita lebih baik, atau justru sebaliknya. Kita akan dapat merasakan orang-orang yang berkekurangan justru rela melayani umat. Dari sana kita lebih memiliki waktu untuk melihat diri sendiri (Salean, 1998: 9). Yang terpenting drai semua kegiatan itu adalah adanya siraman rohani.

  Bila kita sendiri lebih tertarik melihat kekurangan walaupun sebenarnya sudah cukup, kita akan tetap merasa kekurangan. Kita melihat orang lain mempunyai sesuatu yang lebih dari diri kita justru apapun yang kita miliki tidak pernah akan dihargai dan syukuri. Bahkan untuk berdoa pun akan terasa sulit.

  Apalagi untuk membaca dan melaksanakan Firman-Nya oleh sebab itu, betapa besar manfaat pertemuan umat yang walaupun seringkali membosankan, monoton, dan itu ke itu saja. Suasana pertemuan umat, mengingat kita akan hidup rohani, hidup lurus menurut kehendak Ilahi. Apabila mulai dari dini untuk menambah perbendaharaan diri. Mereka bisa belajar keluar dari dirinya sendiri. Mengalami bahwa ada dunia luar dari dunianya. Dari sanalah mereka bisa menangkap nilai kehidupan kerohanian yang lebih berakar untuk menjamin masa depan yang lebih baik. Bagi para remaja atau anak baru gede, bisa melatih diri untuk berkomunikasi dengan manusia lain di tengah masyarakat yang ternyata berbeda dan beragam pribadinya. Mereka dipersiapkan menghadapi masyarakat yang begitu kompleks dan harus pandai-pandai membawa diri bila mau berhasil dalam hidupnya. Bagi para orang tua, mereka akan mempunyai sarana untuk melihat perkembangan pribadi anaknya, dan melihat gaya/ tingkah laku anak-anak lain. Hal ini bisa menyegarkan diri mereka bila menghadapi dengan anak-anaknya sendiri yang ternyata banyak memiliki kekurangan.

  Dengan melihat perbandingan nyata, kita bisa bersyukur, di samping ada kekurangan dari anak sendiri, ada nilai positif yang mereka miliki. Waktu yang barangkali kurang dari 1,5 jam ternyata bisa kita pakai untuk saling memberikan informasi. Bahan-bahan yang disediakan begitu bernilai untuk perkembangan kehidupan rohani, waktu terasa berat dan sering tidak dimengerti, tetapi dalam perjalanan hidup baru nyata berarti. Membangun Gereja, haruslah dimulai dengan membangun diri sendiri dan rayon. Hal itu dapat dicapai, salah satunya dengan melakukan berbagai kegiatan walaupun penuh dengan walaupun penuh dengan kekurangan dan keterbatasan (Salean, 1998: 9).

  c.

  

Rancangan Struktur Doa Lingkungan : (Rm. Bosco da Cunha O. Carm,

  http. Blogspot.com) Dalam doa lingkungan selalu ada rancangan struktur agar doa lingkungan atau ibadat dapat terlaksana dengan baik. Sehingga doa lingkungan ataupun ibadat lingkungan dapat dilaksanakan secara teratur dan seksama. Umat dapat mengikuti dengan baik tanpa ada yang mersa bingung. Dengan urutan atau struktur tersebut umat akan mengetahui jalannya ibadat serta umat mengetahui tugas-tugas yang telah diberikan kepada beberapa orang oleh pemimpin ibadat ataupun doa lingkungan. Dengan begitu doa lingkungan ataupun ibadat dapat berjalan dengan baik dan seksama sampai akhir. Adapun urutan atau struktur ibadat lingkungan sebagai berikut: a) : dari ketua Lingkungan / wakil

  Sapaan Awal

  b) Lagu Pembuka : oleh petugas nyanyian

  : secara singkat tentang bacaan

  Tanda Salib dan kata pembuka bacaan yang akan didengarkan.

  • – c)

  d) Doa Pembuka : oleh pemimpin Doa

  e) Bacaan I : oleh lector. Dapat diambil dari bacaan misa pada hari yang bersangkutan.

  f) Lagu antar bacaan

  g) : dapat diambil dari bacaan misa pada hari yang bersangkutan Injil

  h) Renungan i)

  Mazmur – mazmur dari Puji Syukur Saudara sekalian, dengan ini Ibadat Lingkungan ( pertemuan doa Lingkungan ) sudah selesai.

  U : Syukur kepada Allah. Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal U : Amin (sambil setiap orang membuat tanda salib) k)

  Nyanyian Penutup

  Penjelasan : 1.

  Praktis umat memakai buku Puji Syukur. Hanya pemimpin Doa memakai tambahan buku untuk Doa Pembuka dan Doa Penutup; tetapi lebih spontan lebih baik agar disesuaikan dengan situasi dan kepentingan.

  2. Selama Masa Adven dan Prapaskah dapat ditambahkan pernyataan tobat setelah kata pembuka dan setelah absolusi dilanjutkan dengan Doa Pembuka.

  3. Selama bulan Mei dan Oktober dapat dilanjutkan dengan Rosario setelah ”Renungan” singkat.

  4. Dalam Doa Lingkungan hendaknya tugas-tugas dibagi-bagi kepada beberapa orang. Bahkan kotbah atau renungan boleh juga dalam bentuk sharing beberapa orang lalu dirangkum oleh pemimpin.

  5. Pengumuman – pengumuman hendaknya dilaksanakan sesudah selesai Doa Lingkungan. Jangan pada awal atau pertengahan Doa sebab memecah belah konsentrasi doa.

d. Kegiatan Lingkungan Banyak kegiatan yang selama ini sudah dilakukan di tingkat lingkungan.

  Kegiatan-kegiatan itu juga telah mendinamisir lingkungan. Memang antara lingkungan satu dengan yang lain kadang-kadang berbeda dalam identitas dan kreativitasnya.

  Agar lingkungan bias berkembang menuju cara hidup sebagaimana tampak dalam Jemaat Perdana, beberapa kegiatan lingkungan yang bias dilaksanakan (Sugiyana, 2013: 74-78).

  1) Communio Communio bukanlah cara hidup yang dengan sendirinya terjadi dalam

  sebuah lingkungan. Cara hidup itu diusahakan melalui aneka kegiatan yang bias mempersatukan. Kegiatan itu diantaranya: a)

  Pertemuan-pertemuan lingkungan untuk berbagai aktivitas yang semakin mempersatukan, bias bersifat rohani, social maupun rekreatif.

  b) Kunjungan keluarga dalam Lingkungan, misalnya di hari Natal atau Paskah saling mengunjungi dan memberi salam, kunjungan pada keluarga yang sedang menderita, kunjungan pada keluarga sederhana yang sering kali kurang mendapat perhatian.

  c) Membuat kartu keluarga Katolik atau kontak Lingkungan yang berisi alamat, nomor telepon agar bisa saling menyapa dan memberi informasi.

  2) Menggereja

  Sebagai orang Katolik, kegiatan menggereja di tingkat Lingkungan maupun Paroki perlu diusahakan secara rutin agar terbangun iman yang semakin mendalam dan tangguh. Kegiatan-kegiatan itu di antaranya:

  a) Doa bersama secara rutin, terutama pada bulan Mei dan Oktober. Berdoa Rosario secara bergiliran dari rumah kerumah.

  b) Sarasehan lingkungan yang dipimpin oleh seorang pemandu, terutama pada masa Adven, masa Prapaskah, Bulan Liturgi, Bulan Ajaran Sosial Gereja dan Bulan Kitab Suci.

  c) Pendalaman Kitab Suci, pendalaman pokok-pokok iman Katolik untuk membuka wawasan kekatolikan, misalnya ajaran tentang Aku Percaya,

  Sakramen, Moral Katolik, Hukum Gereja, Doa, Dsb.

  d) Ibadat dan Ekaristi. Ibadat dan perayaan Ekaristi diadakan tidak hanya dalam acara-acara ujud tertentu tetapi secara rutin agar hidup semakin ekaristi, hidup yang dilandasi rasa syukur dan semangat berbagi.

  3) Memasyarakat

  Iman perlu diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata. Keterlibatan konkret pada persoalan-persoalan umat dan masyarakat perlu dilakukan.

  Kegiatan-kegiatan itu membuat kehadiran Gereja di tengah masyarakat sungguh dapat dirasakan sebagai sakramen, tanda kasih Allah bagi manusia. Kegiatan- kegiatan itu diantaranya: a) Kunjungan dan perhatian pada yang sakit, miskin, dan terkena musibah dalam aneka bentuk.

  b) Membuat gerakan yang berarti bagi masyarakat umum: kebersihan masyarakat, pengolahan sampah, pengajuan lingkungan, dll. Ada lingkungan di salah satu Paroki yang membuat gerakan “Rumah Berkat”.

  Gerakan ini aadalah gerakan mengumpulkan rongsokan yang kemudian dijual. Hasil penjualan itu untuk kepentingan pelayanan kepada yang membutuhkan seperti perbaikan rumah bagi keluarga miskin, beasiswa untuk anak yang tidak mampu, santunan kesehatan, dan kematian.

  Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak sebatas umat Katolik. Ada pula Lingkungan yang mengadakan gerakan pengumpulan uang Rp 100,00 secara rutin setiap hari untuk biaya pendidikan anak-anak yang tidak mampu.

  c) Kunjungan ke Panti Asuhan yng tidak mampu, Pantri Wreda atau ke tempat-tempat yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.

B. Keterlibatan Umat

  Keterlibatan sosial adalah soal praktis, supaya iman menjadi praktis dan hidup. Untuk soal-soal sosial seperti: kerja dan penghasilan untuk semua, kerukunan dan perdamaian dalam negeri dan luar negeri, kelangsungan hidup untuk manusia dan alam raya (Kieser, 1987: 7). Salah satu keterlibatan umat beriman katolik adalah menjadi pengurus lingkungan. Keterlibatan mereka katolik yang bersedia menjadi pengurus lingkungan, bahkan selalu bersedia dan sangat bersemangat. Di lain pihak, ada banyak orang beriman katolik yang menolak dijadikan pengurus lingkungan sebab ada anggapan bahwa menjadi pengurus berarti akan mengalami banyak kesulitan, baik yang berasal dari dirinya sendiri, keluarganya, maupun umat beriman katolik di lingkungan sendiri. Mereka juga membayangkan bahwa melayani umat beriman itu sangat sulit sebab banyak tuntutannya. Seandainya bersedia menjadi pengurus, yang terjadi adalah mereka melakukannya dengan terpaksa sehingga mudah mengeluh, tidak melakukan apa-apa, bahkan tidak muncul lagi di kegiatan lingkungan (Prasetya, 2010:3).

  Keberadaan dan keterlibatan umat kaum awam tidak dapat dilepaskan dari maksud Gereja katolik itu sendiri, yaitu mengupayakan agar Gereja Katolik dapat hidup, berkembang, dan menghasilkan buah yang berkelimpahan bagi seluruh umat berimanKatoliknya sendiri. “karena berperan serta dalam tugas Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja, kaum awam berperan aktif dalam kehidupandan kegiatan Gereja. Di dalam jemaat-jemaat grejawi, kegiatan mereka sedemikian perlu sehingga tanpa kegiatan itu kerasulan para gembala sendiri kebanyakan tidak dapat memperbuahkan hasil yang sepenuhnya” (Prasetya, 2010:19).

  Kerja sama antara hierarki dan kaum awam, yang dirumuskan drumuskan dalam LG 37 (bdk. PO 9), diharapkan mampu memberikan banyak manfaat bagi hidup dan perkembangam Gereja Katolik sehinnga dapat awam diteguhkan kesadaran bertanggung jawab dan ditingkatkan semangat. Lagi pula tenaga kaum awam lebih mudah digabungkan dengan karya para Gembala. Sebaliknya, dibantu oleh pengalaman para awam, para Gembala dapat mengadakan penegasan yang lebih jelas dan tepat dalam perkara-perkara rohani maupun jasmani”.

  Kerja sama dalam Gereja Katolik tidak hanya terjadi antara hierarki dan kaum awam, tetapi juga harus diupayakanbersama di antara kaum awam itu sendiri. Sebagai sesame kaum awam, mereka diharapkanmampu menumbuhkembangkan suasana hidup yang saling mendukung dan meneguhkan perjuangan bersama dalam mengupayakan perkembangan dan kemajuan Gereja Katolik. Mereka diharapkan dapat saling bekerja sama satu sama lain. Ketika mereka mampu bekerja sama, ada keyakinan bahwa Gereja Katolik sungguh berkembang sebagai paguyuban umat beriman katolik, baik di tingkat lingkungan, wilayah, stasi, maupun paroki. Bentuk kerja sama mereka secara nyata dapat dilihat dalam aneka kepengurusan di Gereja katolik, baik kepengurusan lingkungan, kepengurusan wilayah (bila ada), kepengurusan dewan stasi, maupun kepengurusan dewan paroki. Semua bentuk kerja sama ini, yang didasarkan pada sikap dan semangat kemitraan, hendaknya dipahami dalam upaya untuk mengikutsertakan, mengembangkan, memberdayakan, dan mencerdaskan umat beriman Katolik, khususnya di lingkungan (Prasetya, 2010:21).

1. Dasar Keterlibatan Umat

  Dasar keterlibatan umat itu sendiri adalah Allah. Keterlibatan Allah terhadap kaum miskin, karena masalah kemiskinan bukan hanya masalah dunia ketiga, atau masalah Utara Selatan, tetapi sudah menjadi masalah mondial, masalah dunia. Bagaimana kemiskinan itu dipahami, sudah menjadi masalah tersendiri. Dalam pengertian biasa kemiskinan berarti ketergantungan pada orang lain baik dalam kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani sehari-hari.

  Bagaimanapun juga masalah kemiskinan adalah masalah kehidupan. Oleh karena itu setiap orang bisa merenungkannya dari aneka segi keprihatinan.

  Usaha memahami keterlibatan Allah terhadap kaum miskin ini dipusatkan dalam Kitab Suci, khususnya Perjanjian Lama (Darmawijaya,1991:5).

a. Dasar Kitabiah Keprihatinan dan Keterlibatan Sosial

  Memang masalah-masalah yang sekarang ini aktual, kebanyakan belum terbayangkan ketika Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru muncul dalam sejarah Perwahyuan Ilahi. Tetapi, Kitab Suci tetap menjadi norma bagi penghayatan dan pewartaan iman kristiani. Maka sambil menafsiran tanda- tanda zaman sekarang di Indonesia, Katekese Umat perlu menggali amanat Allah, terutama yang turun dalam Pribadi Yesus Kristuus, serta reaksi umat Allah terhadap amanat itu, seperti terendapkan dalam Kitab Suci, untuk menemukan pedoman yang andal dalam menentukan sikap dan langkah- langkah nyata sebagai perwujudan iman kristiani.

  Katekese umat di masa mendatang diharapkan mendukung perlaksanaan fungsi solider kritis umat terhadap masyarakat dan bangsa. Maka sesudah martabat manusia, yang dalam masa pembangunan ini menjadi taruhan pokok, mendapat sorotan sejenak, perhatian akan difokuskan pada pribadi Yesus Kristus dan sikap-Nya terhadap kaum miskin, terhadap tata masyarakat pada zaman-Ny, dan terhadap para penguasa. Kemudian pengalaman jemaah perdana akan sekedar diketengahkan, untuk menemukan inspirasi bagi cara-cara Gereja sekarang seharusnya bersikap di bidang sosial-ekonomi dan politik.

  (Hardawiryana, 1995: 23) b.

   Yesus Kristus Beserta Injil-Nya bagi Kaum Miskin

  Yesus Kristus mewartakan Injil tentang Kerajaan Allah, pembebasan dari dosa dan dari apa pun yang mencegah manusia untuk menikmati kepenuhan hidup seturut martabatnya. Dalam pengajaran maupun pelayanan- Nya Yesus sendiri secara konsekuen mencurahkan perhatian-Nya terhadap orang perorangan maupun kelompok-kelompok dari segala lapisan beserta latar belakang sosial mereka, terutama mereka yang miskin dan menderita, kaum wanita dan anak-anak, orang-orang Yahudi maupun dari suku bangsa lain.

  Kalau pada awal karya perutusan-Nya di tengah masyarakat Ia mengenakan nubuat Yesaya pada diri-Nya sendiri, itu dapat dianggap sebagai

  

“Mukadimah” hidup-Nya di muka umum. Ketika dua orang murid utusan

  Yohanes Pembabtis datang untuk menanyakan jatidiri-Nya, Ia memang juga dari roh-roh jahat, dan ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta” (Bdk. Luk 7:20-21; lih Luk 4:40-41). Sering Ia mengajak mereka yang mempunyai harta-harta kekayaan, supaya menggunakannya bagi kaum miskin. Ia meminta para murid-Nya menemukan cara-cara, yang memungkinkan kaum miskin ikut serta sepenuhnya dalam kehidupan jemaah (Bdk. Luk 14:12-14).

  Yesus peka sekali terhadap situasi sosio-politik penindasan dan ketidakadilan pada zaman-Nya. Kritik-Nya yang pedas terhadap mereka yang menelan rumah janda-janda, dan protes-Nya yang gencar terhadap orang-orang yang menodai kekudusan Kenisah dengan penindasan keagamaan maupun ekonomis (Bdk. Luk 20:45-46) merupakan contoh-contoh yang jelas. Oleh karena itu jemaah yang beriman akan Warta Gembira tentang Kerajaan Allah, yang mengemban perutusan untuk mewartakan-Nya, tidak boleh bersikap tak acuh terhadap situasi sosio-ekonomi dan politik masyarakat. Melainkan umat wajib melibatkan diri secara sendiri. Khususnya itu berlaku bagi situasi di Asia, yang mayoritas rakyatnya hidup dalam kondisi-kondisi sosio-ekonomi yang tidak layak manusiawi, termasuk juga Indonesia yang rakyatnya masih menghadapi banyak kendala kemiskinan (Hardawiryana, 1995:24-25).

c. Cintakasih yang Mengutamakan Kaum Miskin

  Tetapi zaman sekarang ini, kasih Injili itu membutuhkan cinta yang mengutamakan mereka yang miskin, serba kekurangan, dan tertindas. Itu termasuk tuntutan Injil bukan hanya kasih terhadap semua orang, tetapi cinta Kasih preferensial itu meminta lebih dari sekedar usaha-usaha pengembangan demi dan bersama dengan kaum miskin saja. Supaya sungguh efektif, cinta preferensial itu harus mengusahakan perombakan struktur-struktur yang tercemar oleh dosa maupun ketidakadilan, yang menghalang-halangi kaum miskin untuk mencapai pengembangan kemanusiaan mereka yang otentik. Memang keadilan hanya akan terwujudkan, bila masyarakat diperbarui secaramenyeluruh: dengan mengubah sistem hidup bersama dan dengan mengubah moral, supaya semua warga masyarakat melibatkan diri dalam kepentingan bersama (Bdk. Ensiklik Quadragesimo Anno, 132-135). Tetapi sekali Gereja mencoba menimbulkan perubahan struktur-struktur sosial, Gereja harus memasuki gelanggang sosial-politik juga.

  Misalnya di banyak daerah di Asia, sekarang Gereja perlu mendukung perombakan agraris yang sesungguhnya, pembagian harta kekayaan yang lebih baik, sistem perpajakan yang lebih adil. Gereja diundang untuk ikut menyuarakan perlunya upah yang adil, keamanan sosial, penegakan keadilan yang cekatan, dan jaminan yang sungguh-sungguh bagi hak-hak manusia. Dukungan semacam itu tidak menjadikan Gereja saingan di daerah sosio- politik, melainkan menjadikannya suara profetis bagi massa yang bersuara, dan pembela manusia. Gereja harus siap untuk menunjang upaya-upaya semacam itu, juga dengan menanggung resiko tidak disukai oleh kelompok yang sudah serba mapan (vested interest).

  Dalam hal itu misi Gereja mencakup lima tugas konkret, yang perlu

  1) Mewartakan tata nilai Injil yang harus melandasi pembangunan setiap bentuk rukun hidup manusiawi.

  2) segala situasi ketidakadilan, penindasan, Menelanjangi penghisapan,manipulasi dan dominasi, sambil menyorotinya dengan cahaya

  Injil, khasnya dari sudut norma-norma moral. 3)

  Mendukung segala sesuatu yang membantu pribadi manusia dan masyarakat untuk berkembang, sesudah mengenali karya Roh Kudus dalam kenyataan-kenyataan sosial-politik melalui penegasan rohani. 4)

  Memberi kesaksian selaku persekutuan umat, yang dengan bimbingan Roh Kudus melayani sesama warganegara dan anggota masyarakat.

  5) Menyelenggarakan pendidikan dan katekese untuk keadilan, dengan membangkitkan suara hati orang-orang, umat beriman khususnya, untuk menyelami situasi konkret, dan dengan membina mereka ke arah tindakan sosial yang nyata.

d. Orang Miskin dalam Kerajaan Allah

  Dari awal karya-Nya Yesus senantiasa mendahulukan kaum miskin (Nolan,1991: 66). Kenyataan itu nampak jelas dalam program Yesus ketika menampilkan diri pertama kali di depan umum. Dalam Injil Lukas 4:18-19 digambarkan begitu menarik:

  Roh Tuhan ada di padaKu, oleh sebab itu Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan Kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberikan pembebasan bagi orang-orang tahanan, dan penglihatan bagi orang buta, untuk membebaskan orang- orang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang. Dari kutipan di atas tampak bahwa orang miskin mendapat prioritas dalam pewartaan Yesus, merekalah alamat utama Kerajaan Allah, kepada merekalah Kerajaan Allah diwartakan. Lukas menggambarkan bahwa pokok karya Yesus adalah menyampaikan kabar Gembira terutama kepada kaum miskin (Luk 6:20).

e. Kabar Gembira bagi Kaum Miskin

  Kabar Gembira yang dibawa oleh Yesus kepada orang-orang miskin adalah merupakan suatu nubuat, karena menubuatkan suatu peristiwa di masa depan yang akan menjadi berkat bagi orang-orang miskin (Alberts,1991: 66).

  Peristiwa ini bukan hanya datangnya Kerajaan Allah, tetapi datangnya Kerajaan Allah bagi orang- orang miskin. Yesus mengatakan “kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 6:20). Sabda Yesus yang paling mendasar tersebut termuat dalam Injil yang sering dengan Sabda bahagia: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis karena kamu akan tertawa (Luk 6:20-21).

  Kata “Berbahagialah” di atas merupakan kata Yesus kepada orang miskin ini; “bersukacitalah, bergembiralah” Mengapa? Karena kamu mempunyai Kerajaan Allah; karena kamu akan tertawa”, karena kamu akan Allah menyatakan diri. Kaum miskin bukan lagi kaum tertindas, yang tidak mempunyai kedudukan dan hak suara dalam masyarakat. Dengan demikian Kerajaan Allah berarti pengakhiran kemiskinan, penghapusan kemalangan (Jacobs, 1988: 95)

  Kabar Gembira bagi kaum miskin itu juga tidak banyak tampak dalam Sabda Yesus, tetapi juga tampak dalam tanda-tanda dan karya Yesus. Dalam Injil Lukas 14:21 digambarkan bahwa mereka datang berbondong-bondong yaitu “orang-orang miskin dan orang-orang cacat, orang-orang buta dan orang- orang lumpuh”. Dan Yesus menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata dan yang lumpuh dijadikan-Nya berjalan, orang mati dibangkitkan (lih. Lukas 7:22).

  Dengan demikian sangat nampak bahwa karya dan Sabda Yesus sungguh merupakan suatu kabar yang menggembirakan, lebih-lebih bagi kaum miskin dan tertindas. Karena dengan kabar yang dibawa bagi kaum miskin dan tertindas. Karena dengan kabar yang dibawa oleh Yesus itu, membangunkan harapan besar akan masa depan dalam diri orang-orang miskin, dimana sebenarnya Kerajaan Allah sudah hadir atau ada diantara mereka (bdk. Luk 17:21).

f. Siapakah Orang Miskin dalam Kerajaan Allah

  Sejak awal, dalam Injil Lukas ditunjukkan bahwa Kabar baik yaitu Kerajaan Allah ditujukan terutama bagi Kaum miskin (Luk 4:18). Siapakah dengan kata lain, siapakah menurut pandangan Yesus yang dimaksudkan orang miskin itu?. Kaum miskin yang mendapat pokok perhatian Yesus dalam pewartaan-Nya, disebut dengan berbagai macam istilah (Albert, 1991: 35-45).

  Mereka disebut, misalnya sebagai pengemis buta (Mrk 10:46), orang lumpuh (Mrk 2:3), orang sakit kusta (Mrk 1:40), orang lapar (Luk 6:21a), orang menangis dan sengsara (6:21b), pelacur (bdk. Yoh 7:3), pemungut cukai dan orang berdosa (Mrk 2:32), kerasukan setan atau roh jahat (Mrk 1:23:15), teraniaya (Mat 5:15), terpenjara (bdk. Luk 4:19a), tertindas (Luk 4:19b), yang berbeban berat (Mat 11:28), dan orang kecil, yang terkecil, yang terakhir (Mat 19:30). Itulah gambaran ringkas mengenai kaum miskin yang menjadi perhatian utama Yesus dalam pewartaan-Nya.

  Mereka itu adalah yang miskin secara spiritual, mental, fisik, politik, ekonomis dan sepenuhnya tergantung pada belaskasihan orang lain (Albert, 1991: 37). Orang-orang inilah yang berada di tempat yang paling bawah pada tangga hidup sosial, ia tidak punya kehormatan atau nama dan hampir-hampir dianggap bukan manusia lagi, hidupnya tak berarti atau dengan kata lain orang- orang semacam ini telah kehilangan martabat kemanusiaannya. Itulah sebabnya pula orang-orang ini sampai dikatakan orang-orang yang sepenuhnya hanya dapat menggantungkan pada belas kasih Allah. Lebih jauh lagi orang-orang ini disebut orang yang miskin dalam Roh ( Mat 5:3).

  Memang, Yesus datang dan memanggil sapapun untuk masuk dalam Kerajaan Allah yang Dia wartakan, namun Yesus lebih mengutamakan mereka

g. Mendengarkan Sabda Allah

  Sumber iman yang paling utama adalah Kitab Suci. Selain menjadi sumber, Kitab Suci juga menjadi tolok ukur keotentikan iman, tradisi dan ajaran Gereja. Inti dari Kitab Suci adalah kesaksian iman yang terkait dengan peristiwa historis. Karena itu iman kepada Allah dalam diri Yesus Kristus tidak bisa dilepaskan dari hidup manusia. Kesaksian iman yang tertulis dalam Kitab Suci berkaitan dengan historis pada waktu itu. Oleh karena itu kitab suci tidak boleh ditafsirkan secara harafiah. Dalam setiap kutipan perlu dicari pesan pokoknya, sehingga sabda Allah menjadi sungguh hidup. Hal ini selayaknya disadari sebab melalui Kitab Suci Allah menyampaikan Sabda-Nya dan Allah menggunakan manusia untuk menyampaikan kehendak-Nya, maka supaya dapat dimengerti untuk zaman sekarang ini perlu ditafsirkan secara aktual sehingga mempunyai makna bagi orang-orang zaman sekarang (bdk. DV, art. 12) Selain itu supaya dapat berdaya guna, teks Kitab Suci yang dipilih hendaknya juga setara atau sekurang-kurangnya mendekati masalah-masalah yang sedang dihadapi. Sedangkan pemilihan teks diserahkan kepada peserta dengan bantuan pendamping. Melalui Kitab Suci tersebut umat diajak untuk mendengarkan Allah disini yang sekarang bersabda kepada mereka di tengah- tengah masalah-masalah yang sedang dihadapi. Umat perlu diajak dan diberi kesempatan serta waktu untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan merenungkan Sabda Allah tersebut (Adisusanto, 1989: 4-5).

  Dalam perjalanan sejarahnya Gereja menafsirkan warta Kitab Suci Gereja. Dengan demikian meskipun sumber utama dalam katekese sosial adalah Kitab Suci, namun tidak menutup kemungkinan dengan menggunakan sumber lain tersebut dalam rangka analisis tradisi gereja. Banyak sumber lain yang dapat diambil dari ajaran Gereja yang relevan dengan permasalahan ekonomi.

2. Unsur-Unsur dalam Keterlibatan Umat

  Berdasarkan keprihatinan pokok dalam keterlibatan umat yaitu pelayanan akan Kerajaan Allah, maka dalam keterlibatan umat harus memperhatikan tiga hal: keperdulian umat akan masalah-masalah masyarakatnya, mendengarkan Sabda Allah, dan dialog antara Sabda Allah dan permasalahan masyarakat (Adisusanto, 1989: 4-5).

a. Kepedulian Umat Akan Masalah-masalah Masyarakatnya

  Allah besabda bukan secara anonim, tetapi Allah selalu menyapa manusia dalam situasinya yang konkrit, yakni manusia yang hidup dalam konteks sosio-budaya tertentu. Maka supaya dapat mendengar dan menghayati sabda Allah dengan baik, orang perlu menghadirkan diri dalam konteks sosio- budaya, ditengah-tengah dimana ia hidup. Hal ini berarti bahwa dalam katekese sosial, umat perlu ditolong agar memiliki kepedulian akan masalah-masalah yang dihadapi masyarakatnya, mencoba memperoleh gambaran tentang masalah-masalah masyarakat dan menemukan akar permasalahan tersebut.

  Untuk mencapai tujuan tersebut, analisis sosial merupakan salah satu alat tolak dari katekese sosial, yang akan memacu umat untuk mendengarkan Allah yang bersabda ditengah-tengah masyarakat guna menyadari apa arti keselamatan bagi masyarakat dan apa yang perlu ia lakukan agar dapat menghayati iman yang terlibat dalam masyarakat. Analisis sosial dapat diartikan sebagai usaha untuk memahami realitas hidup konkrit masyarakat (permasalahan sosial) secara mendalam dan obyektif. Keprihatinan hidup dalam masyarakat diselidiki dengan teliti untuk memperoleh suatu gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kenyataan tersebut. Dengan analisis sosial akan ditemukan fakta-fakta yang menjadi penyebab permasalahan itu. Sebagai media, analisis sosial hanya memberi masukan tentang apa yang terjadi dalam masyarakat serta faktor-faktor tertentu yang menjadi akar penyebabnya.

  Masukan itu menjadi bahan dalam proses selanjutnya (Adisusanto,1989: 4-5).

b. Martabat dan Kodrat Sosial Manusia

  Kitab Suci menyajikan dasar yang kuat bagi tanggapan umat beriman kristiani terhadap kenyataan-kenyataan sisial-ekonomi dan politik. Martabat pribadi manusia bertumpu pada kenyataa n penciptaannya: “Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya. Menurut citra-Nyalah Ia menciptakan manusia. Ia menciptakan mereka pria dan wanita” (Kej 1:27. Bdk. Paus Yohanes Paulus II).

  Nafas Allah sendirilah yang menjadikan manusia makhlukyang hidup. Seluruh bumi dan segenap isinya diciptakan demi manusia (Bdk. Ef. 1:3-10). Dalam Kristus umat manusia diangkat dan ditetapkan untuk menjadi putra-putri Martabat putra-putri Allah menjadi sumber segala hak maupun kewajiban mereka, baik yang rohani maupun yang menyangkut masyarakat duniawi. Sejak saat penciptaan digarisbawahi kodrat sosial manusia, dan ia dipanggil untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama manusia, serta dalam keselarasan dengan Alam tercipta (Bdk. Kej 1-2).

  Manusia perlu mengasihi dan mengabdi sesama untuk bertumbuh menuju kepenuhan hidupnya dan mencapai tujuan akhirnya. Tetapi cintakasih dan pengabdian itu tidak berlangsung dalam suatu “vakuum”, melainkan dalam konteks situasi sosial-ekonomi dan politik serta segenap alam ciptaan. Maka martabat dan kodrat sosial manusia mengundang segenap umat beriman, untuk secara pisitif menanggapi semua kenyataan itu (Hardawiryana, 1995:23-24).

c. Dialog antara Sabda Allah dengan realitas hidup konkrit manusia

  Kitab suci menjadi sarana bagi Allah untuk menyampaikan Sabda-Nya yang aktual secara terus menerus sesuai dengan situasi hidup yang dialami manusia. Usaha mengungkapkannya adalah dengan mempertemukan kutipan Kitab Suci dengan situasi hidup manusia. Perjumpaan itu memungkinkan umat beriman menemukan rencana Allah saat ini dalam kaitannya dengan peristiwa yang terjadi. Perjumpaan itu merupakan tahap dialog dalam katekese sosial. Dengan demikian tahap dialog adalah tahap untuk menemukan Sabda Allah dari Kitab Suci atas situasi yang terjadi dalam masyarakat. Tujuannya yaitu menemukan Sabda Allah yang aktual. Sabda allah yang berisi rencana

  Dalam renungan dan tafsiran teks Kitab Suci diharapkan umat dapat menemukan dan memahami kepedulian Allah tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya. Dengan kata lain renungan Sabda Allah tersebut diharapkan dapat membantu umat untuk mengerti serta meresapkan pandangan dan sikap allah atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Dalam renungan tersebut umat diajak untuk membayangkan apa yang akan dikatakan atau dilakukan oleh Yesus, seandainya sekarang Ia hadir dan hidup di tengah- tengah masyarakatnya. Dengan demikian umat diajak untuk memikirkan apa arti keselamatan “hic et nunc” (disini dan sekarang) bagi masyarakatnya dan apa yang perlu mereka perbuat agar keselamatan tersebut sungguh terjadi untuk masyarakatnya (Adisusanto,1989: 4-5).

d. Keterlibatan Sosial Gereja demi Manusia dan Dunia

  Iman Gereja baru memperoleh wujud dan menjadi kenyataan jika meninggalkan ruang Gereja dan menggemakan jawaban manusia akan panggilan Allah justru berhadapan dengan tantangan hidup sehari-hari, terutama juga dalam tantangan sosial dan politis. Dalam keterlibatan sosial yang didorong oleh Gereja itu dibina dan didukung iman yang secular. Keterlibatan sosial yang didorong oleh Gereja itu terarah kepada masa depan. Gereja mendorong keterlibatan dalam hidup secular manusia bukan agar ajarannya diterapkan atau agar tradisi dilanjutkan dengan murni. Sebaliknya: supaya iman Gereja yang dari zaman ke zaman itu mendapat wujud nyata demi kepentingan dunia dan manusia. Oleh sebab itu keterlibatan sosial yang didorong oleh Gereja itu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Kieser, 1987: 22): 1) Keterlibatan Dalam Dunia demi Kepentingan Manusia

  Dalam keterlibatan sosial dan juga dalam keterlibatan secular masalah tidak ditentukan oleh kepentingan Gereja melainkan oleh harapan dan penderitaan manusia. Iman tidak menentukan manakah masalahnya yang ingin dihadapinya, iman dihayati di tengah-tengah persoalan hidup dan dengan demikian iman menanggapi soal-soal hidup manusia. 2) Keterlibatan Gereja dalam Soal-soal Sosial

  Demi perwujudan iman dan demi kepentingan dunia hanya mungkin dilaksanakan sebagai kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik.

  Sebab kebanyakan masalah sosial melampaui tugas wewenang, kepentingan, kedewasaan ini tidak mungkin ditanggapi oleh Gereja bagaikan dengan perbuatan amal oleh seorang kaya bagi seorang pengemis. Persoalan sosial yang dihadapi oleh orang Kristen bersama dengan orang lain zaman sekarang ini diselesaikan hanya orangnya sendiri. Dalam usaha hidup bersama dan jerih payah berhadapan dengan masalah bersama, kebebasan serta hidup dan iman orang sebenarnya terwujud. 3) Keterlibatan Gereja dalam Perjuangan Sosial Keterlibatan Gereja dalam perjuangan sosial adalah keterlibatan praktis.

  Mengemukakan berbagai pandangan normative belum berarti “terlibat”. Untuk dengan soal-soal besar, sebanyak mungkin orang dapat menghayati hidupnya dan kebebasannya menurut martabat manusia. Dengan begitu ajaran Gereja pada umumnya merupakan dorongan untuk berbuat. Keterlibatan sosial tanpa pamrih demi martabat dan kepentingan manusia, melalui pengajaran dan praktis Gereja adalah demi perwujudan iman. 4) Keterlibatan Sosial Gereja adalah Praktis

  Orang-orang beriman bersama-sama dengan orang yang berkehendak baik mencari suatu penyelesaian kemudian lagi harus ditinjau kembali secara kritis. Bagi orang yang terlibat, sejarah keselamatan Allah dengan manusia tidak lagi mungkin dipahami sebagai suatu lakon yang secara misterius didalangi oleh Allah yang mahakuasa, seakan-akan Allah telah menentukan agenda hidup manusia sebelum orang mulai hidup.

3. Bentuk-bentuk Masalah Umat

  Masalah sosial adalah suatu ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.

  Jika terjadi benterokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya. Setiap manusia didunia ini memiliki masalah, baik masalah besar maupun masalah kecil, serius ataupun sederhana, banyak maupun sedikit, berat maupun ringan. Adakalanya seseorang akan sangat peka mengadapi atau menangani setiap masalah, walaupun masalah itu sangat ringan sekalipun, tetapi sebaiknya ada sesorang yang masih tetap tabah walaupun sedang mengalami masalah yang berat dan serius. Maka seberapa berat penderitaan individu dalam mengalami masalah tergantung sekali kepada individu itu sendiri dalam menanggapi masalah yang diderita atau dialami sehingga masalah sifatnya amat relative, tidak sama bagi individu yang satu dengan yang lain(Sitti Hartinah, 2008: 103-104).

  a.

  Saling Tolong-menolong Tolong menolong merupakan kelanjutan dan isi berbuat baik terhadap orang lain. Secara naluri, orang yang pernah ditolong oleh orang lain di saat ia tertimpa kesulitan, diam- diam ia berjanji “suatu saat akan membalas budi baik yang sedang diterima”. Terlebih dalam setiap lingkungan masyarakat, masyarakat tidak bisa lepas dari setiap bantuan orang lain jika mengalami banyak kesulitan. Disaat kita sakit, disaat kita mengalami cobaan yang begitu sulit kita tidak lepas dari bantuan orang lain. Apalagi kita hidup ditengah- tengah masyarakat desa, kerja sama dan saling menolong antar masyarakat sangat kental sekali. Misalnya kegiatan kerjabakti, menjenguk orang sakit, orang meninggal dunia, gotongroyong, musyawarah. Contohnya: musyawarah dalam memilih kepanitiaan suatu acara di lingkungan RT hal tersebut tidak akan lepas dari kehidupan masyarakat di lingkungan maupun di tempat tinggal kita, partisipasi kita sangat diutamakan untuk tetap terlibat dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dalam lingkungan masyarakat.

  b.

  Masalah Keluarga masalah keluarga adalah masalah kesulitan atau masalah yang diderita dalam keluarga dan akibat dari masalah itu menjadi penyebab kegoncangan hidup keluarga ittu dan mengakibatkan keluarga itu tidak mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Dengan demikian kita dapat membedakan masalah keluarga adalah suatu masalah yang cukup dapat menggoncangkan ketentraman kehidupan suatu keluarga, keluarga akan terganggu ketenangannya, keluarga tidak bahagia, demikianlah baru disebut masalah keluarga. Masalah keluarga adakalanya disebabkan karena keadaan-keadaan lingkungan, keadaan tetangga, keadaan pekerjaan dan lain-lain (Sitti Hartinah, 2008: 103-104).

  c.

  Masalah Ekonomi (sandang, pangan, papan) Penduduk miskin adalah penduduk yang tidak mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupan yang layak, baik kebutuhan dasar makanan maupun bukan makanan. Ini merupakan suatu masalah sosial yang berangsur-angsur hingga sekarang dan pemerintah pun menimpa bangsa Indonesia ini. Masalah ini merupakan masalah terbesar terjadinya masalah sosial. Apalagi setelah terjadinya krisis global PHK mulai terjadi di mana-mana dan bisa memicu tindak kriminal karena orang sudah sulit mencari pekerjaan. Keadaan ekonomi yang lemah sering sangat mencemaskan bagi kehidupan keluarga. Maka besarnya keluarga perlu disesuaikan dengan keadaan ekonomi dari keluarga tersebut (Sitti Hartinah, 2008: 103-104).

  d.

  Masalah Pendidikan bahwa pendidikan , khususnya di Indonesia, menghasilkan “manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang. Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berfikir. Sebab ketika orang sedang belajar, maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan sebagainya. Hal yang sering disinyalir ialah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar- gemborkan sebagai “pendidikan yang menciptakan manusia siap pakai. Dan “siap pakai” di sini berarti menghasilkan tenaga- tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dalam hal ini manusia dipandang sama seperti bahan atau komponen pendukung industri. Itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dituntut pasar. Kenyataan ini nampaknya justru disambut dengan antusias oleh banyak lembaga pendidikan (Sitti Hartinah, 2008: 103- 104).

  e.

  Masalah remaja Kenakalan remaja menjadi masalah sosial yang sampai saat ini sulit dihilangkan karena remaja sekarang suka mencoba hal-hal baru yang berdampak negatif seperti narkoba, padahal remaja adalah aset terbesar suatu bangsa merekalah yang meneruskan perjuangan yang telah dibangun sejak dahulu.

  f.

  Berbohong/dusta Berbohong merupakan perbuatan pemalsuan yang sengaja dilakukan dengan tujuan memperdayakan. Gejala berbohong yang sebenarnya, yakni yang mengandung arti tipu daya sengaja, jarang terlihat pada anak-anak yang berumur kurang dari lima tahun. Anak yang umurnya kurang dari lima tahun sering berbicara tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya, akan tetapi tanpa tujuan menipu orang lain. Walaupun demikian gejala ini memerlukan perhatian khusus orangtua, guru para pendidik pada umumnya. Apabila gejala ini tidak membohong dapat mendarah daging, bertahan dan menjadi suatu kebiasaan menetap dan terwujud dalam sifat kepribadian orang tersebut kelak pada masadewasanya (Singgih Gunarsa, 2001: 23).

BAB III PERAN DOA LINGKUNGAN TERHADAP KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP BERMASYARAKAT DI LINGKUNGAN KISIK TLAGAN, PAROKI BORO, KULONPROGO Bab ini akan menguraikan empat bagian pokok, yaitu gambaran umum Lingkungan Kisik Tlagan, Banjar Asri, Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta,

  penelitian doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo, hasil penelitian dan pembahasan. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data tentang doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo sehingga akan menemukan permasalahan yang akan dianalisa lebih lanjut.

  A. Gambaran Umum Paroki St. Theresia Lisieux Boro

  Paroki St. Theresia Lisieux Boro merupakan salah satu dari 85 paroki yang ada di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Paroki St. Theresia Lisieux Boro secara administratif dalam konteks Keuskupan Agung Semarang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Paroki St.

  Maria Laurdes Promasan, sebelah timur berbatasan dengan Santo Petrus dan Paulus Klepu, sebelah barat berbatasan dengan Paroki St. Maria Purworejo, Keuskupan Purwokerto, sebelah selatan berbatasan dengan Paroki Santa Maria Tak Bercela Nanggulan.

  Sementara secara administatif dalam konteks wilayah pemerintahan, paroki ini mencakup 4 kelurahan yaitu; Banjarasri, Banjararum, Banjarharjo dan Banjaroyo. Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut: sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Banyuasin, kabupaten Purworejo, sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Kembang dan Girimulyo Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Sendangagung, kecamatan Minggir Kabupaten Sleman, dan sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Banjarharjo, kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo.

1. Jumlah umat di Lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan Paroki St. Theresia Lisieux Boro.

  Lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan termasuk dalam Paroki St. Theresia Liseux Boro. St. Theresia Lisieux Boro adalah paroki yang sangat luas, mencakup 14 wilayah dan 57 lingkungan. Namun peneliti hanya mengambil satu lingkungan saja untuk diteliti yaitu Lingkungan St. Theresia Kisik Tlagan termasuk dalam wilayah IX dengan jumlah umat 90 umat, namun peneliti hanya mengambil 20 umat yang di ambil sebagai sampel penelitian.

  B.

  

SITUASI UMUM WILAYAH IX, LINGKUNGAN ST. TERESIA

KISIK TLAGAN

1. Situasi Umat Katolik Lingkungan St.Theresia Kisik Tlagan Lingkungan St. Teresia Kisik Tlagan termasuk dalam Paroki St.

  Theresia Lisieux Boro, Kulon Progo yang terletak di kecamatan Kalibawang. Pusat lingkungan terletak di desa Kisik Tlagan. Jarak antara Gereja St. Theresia Lisieux Boro dengan desa Kisik Telagan kurang lebih 2 km dan memakan waktu kurang lebih 10 menit menggunakan sepeda motor. Lingkungan Kisik Tlagan terletak di wilayah XI.

  a.

  

Jumlah dan Pembagian Blok dalam Lingkungan Santa Theresia Kisik

Tlagan.

  2 Luas Lingkungan Santa Theresia Kisik Tlagan ± sekitar 120 km yang sebagian besar terdiri dari perbukitan, sawah dan ladang. Lingkungan St.

  Teresia Kisik Telagan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu daerah desa Paras, desa Kisik dan desa Telagan. Dari ketiga daerah tersebut memiliki satu kepengurusan yaitu lingkungan Santa teresia Kisik Telagan, masing-masing kelompok memiliki jumlah umat yang berbeda sesuai dengan tempat tinggal mereka masing-masing.

  b.

  

Jumlah dan Susunan Umat Lingkungan Santa Theresia Kisik Tlagan

  Jumlah Umat Katolik di Lingkungan Santa Teresia Kisik Tlagan kurang lebih 38 KK dengan jumlah 140an jiwa. Hampir semua dari KK tersebut masih yang tinggal menjadi satu dengan orang tuanya. Adapun susunan pengurus Lingkungan Santa Theresia Kisik Tlagan sebagai berikut : 1) : Petrus Ngatimin

  Ketua Lingkungan 2) : Petrus Paidi

  Wakil ketua 3)

  Sekretaris Lingkungan : 1. Agustina Dwi Krismayati

  2. Rita Sri Mahanani 4)

  Bendahara Lingkungan : 1. Ana Wagimin

  2. Andaryati 5) : 1. Trianto

  Prodiakon 2.

  MP. Agustinus Wintono 3. Sudarso

  6) : Beny Ketua OMK

  7) : Tiwi Koordinator PIAR c.

  

Kekhasan Umat dan Keluarga-Keluarga Katolik Lingkungan Santa

Theresia Kisik Tlagan.

  Umat Lingkungan Santa Theresia Kisik mayoritas adalah Suku Jawa. Di Lingkungan ini, kegiatan untuk memelihara iman umat cukup tampak terutama dalam hal pendalaman iman dan doa bersama. Umat dilingkungan ini menyediakan waktu khusus yaitu setiap malam Jumat untuk mengadakan pertemuan dan mengadakan pendalaman iman atau doa bersama dan mengadakan misa lingkungan setiap malam Sabtu Kliwon. Walaupun hanya ini tetap berjalan terus. Misa lingkungan dan doa lingkungan selalu bergiliran dari rumah kerumah sehingga memungkinkan semua umat dapat tersapa dan dikunjungi oleh pastor paroki.

  d.

  

Situasi Umat Katolik Lingkungan Santa Theresia Kisik Tlagan dengan

Agama-Agama Lain.

  Umat di lingkungan ini berdampingan dengan rukun, walaupun perbandingan umat katolik dan non Katolik di Lingkungan Santa Theresia Kisik Tlagan tidak sebanding yaitu lebih banyak beragama Muslim, namun umat disini sangat peduli dengan kerukunan umat beragama, hal ini tampak dalam keterlibatan umat yang berlainan agama dalam kegiatan keagamaan umat Katolik itu sendiri, misalnya saat ada misa atau doa arwah, banyak umat yang berlainan agama saling membantu meskipun hanya terlibat sebagai pramusaji atau menjaga parkir.

C. Metodologi Penelitian

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, paroki Boro, Kulonprogo.

1. Manfaat Penelitian

  Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian yang dilaksanakan di a.

  Meningkatkan kesadaran umat untuk melaksanakan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo.

  b.

  Menindaklanjuti pandangan umat dalam keterlibatan doa umat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo.

  c.

  Umat lingkungan semakin memiliki pengalaman dan mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah-masalah yang dihadapi umat dalam melibatkan diri dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo.

  d.

  Meningkatkan peran doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo.

  2. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian ex post facto.

  Sugiyono dalam Riduwan (2008: 50) menyatakan penelitian ex post facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian melihat ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.

  3. Metode Penelitian

  Metode penelitian dalam skripsi ini adalah metode survai. Menurut Kerlinger (2008: 49) mengatakan bahwa penelitian survai adalah penelitian adalah data sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relative, distribusi, dan hubungan antar variable sosiologis maupun psikologis.

  4. Tempat dan Waktu Penelitian

  Tempat atau lokasi penelitian perlu dilengkapi dengan jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan (Riduwan, 2010: 69). Penelitian ini akan dilaksanakan di Lingkungan Kisik Tlagan, Banjarasri, Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta, Paroki Boro. Penelitian ini akan dijadwalkan pada bulan Januari 2014.

  5. Responden Penelitian

  Populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian (Riduwan 2010:3). Teknik pengambilan sampel atau teknik sampling adalah suatu cara mengambil sampel yang representative dari populasi (Riduwan, 2010: 57). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling yaitu purposive sampling. Purposive sampling dikenal juga dengan sampling pertimbangan ialah teknik sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk tujuan tertentu (Riduwan, 2010: 63). Jumlah populasi yang ada di Lingkungan ini ada 90 orang. Dari 90 orang peneliti hanya mengambil 20 orang dari usia 30 tahun sampai 60 tahun sebagai sampel penelitian. Sampel ini dipilih berdasarkan umat yang aktif dalam mengikuti doa lingkungan.

6. Instrumen Penelitian

  Instrumen dalam penelitian ini menggunakan wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, peneliti mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang diperoleh. Dalam melakukan wawancara peneliti telah menyiapkan instrumen peneliti berupa pedoman pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif. Dengan wawancara ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan peneliti mencatatnya (Sugiyono, 2010:319).

  Hasil wawancara akan direkam dengan Handphone (HP) sebagai alat bantu pada saat wawancara agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tanpa harus berhenti mencatat jawaban-jawaban dari subyek. Hasil rekaman kemudian ditulis kembali dalam bentuk print out sebagai dokumen. Instrumen penelitian ini adalah pedoman pertanyaan wawancara dan lembaran observasi.

  Adapun pedoman wawancara adalah sebagai berikut: 1. Menurut bapak/ibu pengertian dari doa itu apa? 2. Menurut bapak/ibu pengertian dari doa lingkungan itu apa? 3.

  Apakah bapak/ibu mengetahui tentang bentuk-bentuk doa, jelaskan! 4. Apakah peranan doa lingkungan bagi keterlibatan anda sebagai warga lingkungan Kisik Tlagan?

  5. Sebutkan dan jelaskan salah satu bentuk keterlibatan anda dalam lingkungan!

7. Variabel Penelitian

  Variabel adalah gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam jenis maupun dalam tingkatan (Sutrisno, 2007: 250). Aspek-aspek yang akan diteliti sehubungan dengan peran doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan Kisik Telagan, Paroki Boro, Kulonprogo. Maka dari itu, penulis mengelompokkan variabel dalam penelitian ke dalam tabel sebagai berikut:

  Tabel 1. Variabel penelitian NO Variabel yang Item Jumlah diungkap

  Item (1) (2) (3) (4) 1 Doa Lingkungan 1.

  3

  1. Pengertian doa 2.

  2. Pengertian doa lingkungan 3.

  3. Bentuk-bentuk doa dalam lingkungan

  2 Keterlibatan 1.

  2 Peranan doa lingkungan sebagai sarana Umat dalam keterlibatan umat.

2. Bentuk keterlibatan umat

8. Hasil Penelitian Dan Pembahasan

  Pada bab ini diuraikan pembahasan penelitian yang dibagi dalam laporan penelitian yang meliputi: laporan hasil wawancara, pembahasan hasil wawancara, keterbatasan penelitian.

A. Laporan Hasil Penelitian 1. Hasil Wawancara

  Berikut ini akan dipaparkan laporan hasil wawancara berdasarkan pertanyaan yang diajukan peneliti kepada responden (Umat lingkungan Kisik Tlagan) mengenai beberapa hal yang diuraikan dibawah ini.

  Tabel 2: Hasil Wawancara Jawaban Responden (N: 20) No Hasil Responden Jawaban Responden Wawancara

  1 Pengertian R1, R2, R3, Doa sebagai komunikasi kita kepada Tuhan tentang doa R4, R5, R6, untuk menyampaikan terima kasih dan R7, R8, R9, permohonan-permohonan kita kepada R10, R11, Tuhan kita Yesus Kristus. Karena segala R13, R14, berkatNya sudah dilimpahkan pada kita. R15, R16, R20 R17

  “Hubunganane manungso kalih seng Maha Kuasa niku ngliwati sembayangan. Sembayangan iku intine cara kangge panyuwunan lan ugi cara atur panuwun

  ”. (hubungan manusia dengan sang Maha Kuasa itu melewati doa. Doa itu intinya cara buat permohonan dan cara untuk menyampaikan permintaan)

  R18 Sebuah jembatan penghubung antara kita umat manusia dengan Tuhan R19 Tempat kita untuk bertemu, memohon setiap keinginan kita kepada Tuhan, serta tempat kita untuk bercerita dalam keluh kesah kita terhadap keadaan yang kita alami, serta meminta jalan terang kepada Tuhan.

  2 Pengertian R14, R1, Doa Lingkungan adalah doa yang tentang doa R16, R3, dilakukan bersama-sama umat lingkungan R4, R5, R6, lingkungan untuk meneladani, mewartakan

  R7, R8, R9, tentang injil dan juga kita dapat R10, R11, merasakan kebersamaan atau mempererat R12, R15, persaudaraan dengan umat lingkungan R16, R20, yang membahagiakan dan dapat R19 meneguhkan iman kita kepada Tuhan Allah.

  R2 Doa bersama Umat beriman di suatu paguyuban yang ada di dalam wilayah atau paroki tertentu. R13 Doa dalam komunitas yang bernama lingkungan, persekutuan dalam Kristus dalam suatu wilayah tertentu. R17 dan

  “Cara kangge pertama ketemuan umat R18 katolik di lingkungan yo kangge panyuwunan lan atur panyuwun, na ten mriku niku panunggalane manungso tegese umat sak lingkungan, seng kaping kalih nandakake antarane ngetokake kerukunan umat beragama geh tenmriku niku ten sembayangan lingkungan ketok rukun, ketok guyub, niku pantese seng diketokake pumane ketoro nek wong ra tau ketok ra tau ngumpul niku jur umat lainnya ngerti (kok ratau mangkat, ra tau ngumpul, ra tau ketok)

  ”. (cara buat yang pertama bertemu umat katolik di lingkungan ya buat permohonan dan menyampaikan permintaan, dan disitu menyatunya manusia artinya umat lingkungan. Yang kedua menandakan antara kelihatan rukun umat beragama nah disitu maksudnya di doa lingkungan kelihatan rukun, kelihatan guyub, itu pantesnya yang dilihatkan misalnya orang yang tidak pernah kelihatan, tidak pernah berkumpul sehingga umat yang lain tahu

  (kok tidak pernah kelihatan, tidak pernah berkumpul, tidak pernah berangkat)).

  3 Bentuk- R1, R2, R9, Doa pribadi: suatu doa supaya permohonan bentuk R10, R11, dan apa yang saya inginkan dikabulkan tentang doa R13 oleh Tuhan.

  R6, R15 Doa tobat adalah: Penyesalan atau mengakui kesalahan kita kepada Tuhan dari kesadaran diri sendiri. R4, R18, Doa bersama artinya umat di lingkungan R7, R16 berkumpul disuatu tempat, dan mengadakan doa bersama begitu juga doa bersama dengan keluarga. Doa arwah adalah doa untuk mendoakan arwah saudara kita semoga di terima disisinya dan mendapatkan ampunan.

  4 Peranan doa R10, R5, Saya merasa lebih aktif dan lingkungan bertanggungjawab terhadap iman saya terhadap sebagai, umat beriman kita perlu berdoa, keterlibatan karena dengan berdoa dapat membuat saya umat semakin menyadari bahwa Tuhan sungguh- sungguh hadir dalam kehidupan saya lewat peranan atau saling tolong menolong antar warga lingkungan maupun warga yang lainnya. R16, R4, Menambah rasa keimanan kita lebih dalam, R1, R15, mempererat hubungan antar umat satu R9, R19, dengan yang lainnya, berdoa lebih dari satu R12, R18, orang, Tuhan akan di tengah-tengah kita. R3, R20 R2, R7, R8 Peranannya bisa sebagai sarana bersyukur dan memohon bersama seluruh umat beriman selingkungan setempat, memperkuat atau teguh dalam iman, didoakan supaya rajin. R11, R17, Sebagai sarana untuk menjalin R6 kebersamaan bersama umat lingkungan lain, perwujudan iman yang nyata dalam hal berbagi peduli sesama, bias membentuk diri, menambah wawasan. R14 Peranan doa bagi saya sangat penting bagi perkembangan imanku, aku boleh semakin dekat dengan Allah yang menyapa dan mencintai serta mengalami kebersamaan dengan orang lain sebagai saudara seiman di lingkungan. R13 D oa lingkungan tidak “memaksa” untuk terlibat. Doa lingkungan adalah kebutuhan bersekutu dengan umat selingkungan.

  Dengan berdoa bersama dapat saling menguatkan, menghibur, mempertebal iman, karena di dalam doa bersama ada interaksi, sharing, dan itu disatukan dalam doa, jadi kebutuhan akan “doa bersama” itu yang membuat kita terlibat. Kebutuhan akan Kristus yang hadir dalam sesama di lingkungan.

  5 Bentuk R5, R11, Doa lingkungan setiap malam jum’at, keterlibatan R9, R15, latihan koor setiap satu minggu sekali anda di R1, R4, (setiap ada tugas), koor di Gereja setiap lingkungan R16, R19, mendapat tugas di Gereja, arisan wanita

  R12, R6, Katolik (WK) setiap minggu pon, sekretaris R13 wanita katolik, bendahara II lingkungan laporan keuangan setiap 6 bln sekali, Tugas kebersihan dan menghias Gereja (setiap dapat tugas), rapat setiap minggu I setiap bulan (wanita Katolik Republik Indonesia, (WKRI) di Paroki, menjenguk atau mengunjungi orang sakit, lansia dan mendoakan bersama-sama, kegiatan sosial. R14 Membantu menjadi prodiakon, mendampingi calon komuni pertama, PIA /

  PIR, koordinasi seksi pangrukti loyo, menjaga keamanan Gereja dengan ronda malam. R8 Ketua lingkungan, ikut ambil dalam latihan koor, jaga ronda Gereja, bersih Gereja, ikut jaga parkir di Gereja. R17, R2 Sebagai prodiakon, ngajabsih (bagi para orang tua yang memiliki anak biarawan atau biarawati). R7 Sebagai prodiakon, bendahara di Wanita

  Katolik, Pengajar krisma/ katekis lingkungan, sekolah minggu / PIA. R10, R18, Keterlibatan saya dalam lingkungan R3, R20 menjadi pendamping PIA lingkungan, aktif dalam kegiatan MUDIKA serta aktif mengikuti kegiatan lingkungan lainnya seperti tugas koor dan lektor. Dengan mengikuti kegiatan tersebut saya dapat belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang lain dan juga saya belajar menjalin hubungan yang baik dengan orang yang lebih tua, ikut parkir dan jaga menjual teks di Gereja.

  2. Pembahasan Hasil Wawancara di Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Santa Theresia Lisieux Boro

  

1. Dari hasil wawancara ditemukan beberapa pendapat yang sama akan

  tetapi ada juga yang berbeda. Penulis menggabungkan pendapat yang sama dari hasil wawancara tersebut, pada soal no.1 sebanyak 16 responden yang diwawancarai mengatakan bahwa pengertian doa adalah sebagai komunikasi kita kepada Tuhan untuk menyampaikan terima kasih dan permohonan- permohonan kita kepada Tuhan kita Yesus Kristus, karena segala berkatNya sudah dilimpahkan pada kita (lihat tabel II). Selain itu ada responden yang memaparkan bahwa pengertian doa adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan, dimana manusia menyampaikan permohonan kepada Tuhan lewat sebuah doa. Sedangkan dari doa itu sendiri intinya adalah cara umat manusia untuk menyampaikan suatu permintaan kepada Tuhan dan juga sebagai jembatan penghubung antara umat manusia dengan Tuhan. Selain itu juga dilengkapi tempat kita untuk bertemu, memohon setiap keinginan kepada Tuhan, serta tempat untuk bercerita dalam keluh kesah terhadap keadaan yang dialami, serta meminta jalan terang kepada Tuhan.

  Dengan demikian inti dari pengertian doa adalah meminta, memohon dan berbicara kepada Tuhan sehingga hubungan kita dengan Tuhan dapat terjalin dengan baik. Berdoa berarti berpikir tentang Allah sambil mengasihi- Nya, menghadapi-Nya dengan sikap siap dipakai oleh-Nya, berjumpa dengan- Nya, bercakap-cakap dengan-Nya.

2. Pada saat peneliti melakukan wawancara tentang pengertian doa

  lingkungan ada 17 responden yang mengatakan bahwa doa lingkungan adalah doa yang dilakukan bersama-sama umat lingkungan untuk meneladani, mewartakan tentang Injil dan juga dapat merasakan kebersamaan atau mempererat persaudaraan dengan umat lingkungan yang membahagiakan dan dapat meneguhkan iman umat kepada Tuhan Allah (lihat tabel II). Dari jawaban responden diatas ada satu responden yang mengatakan bahwa doa lingkungan adalah Doa bersama Umat beriman di suatu paguyuban yang ada di dalam wilayah atau paroki tertentu. Selain itu responden lain mengatakan bahwa Doa dalam komunitas yang bernama lingkungan, dalam suatu wilayah tertentu dan tempat untuk bertemu serta memohon sesuatu yang dilakukan secara bebersamaan umat satu lingkungan.

  Dengan adanya doa di lingkungan dapat memperlihatkan kerukunan umat beragama dalam persekutuan dengan Kristus. Doa lingkungan merupakan kesempatan untuk meneladani umat Gereja perdana yang suka berhimpun bersama untuk berdoa, mendengarkan Sabda Allah dan pengajaran para rasul yang tergambarkan dalam misa lingkungan, saling bersikap solider dalam berbagai persoalan hidup, sekaligus untuk mewujudkan secara lebih intensif program-program paroki.

3. Setelah peneliti mewawancarai tentang pengertian doa lingkungan

  peneliti juga mewawancarai tentang bentuk-bentuk doa, dengan begitu peneliti mengerti apakah umat mengetahui serta memahami bentuk-bentuk doa yang umat ketahui. Hasil wawancara tentang bentuk-bentuk doa peneliti menemukan ada 6 responden yang menjawab bentuk-bentuk doa sebagai berikut: a.

  Doa pribadi: suatu doa supaya permohonan dan apa yang diinginkan dikabulkan oleh Tuhan.

  b.

  Doa Tobat adalah penyesalan atau mengakui kesalahan kita kepada Tuhan dari kesadaran diri sendiri.

  c.

  Doa bersama artinya umat di lingkungan berkumpul di suatu tempat, dan mengadakan doa bersama begitu juga doa bersama dengan keluarga.

  d.

  Doa arwah adalah doa untuk mendoakan arwah saudara kita semoga di terima disisinya dan mendapatkan ampunan.

  Dari jawaban yang disampaikan oleh responden di atas, maka kesimpulan dari bentuk-bentuk doa adalah doa lisan, doa renung, dan doa batin.

  Dari ketiga bentuk doa tersebut menuntut umat pada ketenangan hati. Doa bisa disesuaikan dengan kebutuhan umat, dimana dengan doa tersebut diharapkan umat lingkungan Kisik Tlagan dapat menumbuh kembangkan iman mereka sehingga mereka semakin terlibat dalam kehidupan bermasyarakat.

4. Peranan doa lingkungan bagi keterlibatan umat lingkungan Kisik Tlagan

  merupakan inti dari semua wawancara yang peneliti sampaikan dan tanyakan kepada responden. Dari hasil wawancara tentang peranan doa lingkungan ada 2 responden yang menjawab bahwa peranan doa lingkungan dapat membawa umat lebih aktif dan bertanggungjawab terhadap imannya sebagai umat beriman dan kita perlu berdoa setiap saat, karena dengan berdoa dapat membuat umat semakin menyadari bahwa Tuhan sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan umat lewat peranan atau saling tolong menolong antar warga lingkungan maupun warga yang lainnya, serta menambah rasa keimanan umat lebih dalam, mempererat hubungan antar umat satu dengan yang lainnya. Dengan berdoa lebih dari satu orang maka, Tuhan akan hadir di tengah-tengah umat. Hadirnya Tuhan di tengah-tengah umat berperan sebagai sarana untuk bersyukur dan memohon bersama seluruh umat beriman lingkungan setempat, dapat memperkuat dalam iman, sebagai sarana untuk menjalin kebersamaan umat lingkungan lain, perwujudan iman yang nyata dalam hal peduli sesama, bisa membentuk diri, menambah wawasan. Peranan doa sangat penting bagi perkembangan iman, karena boleh semakin dekat dengan Allah yang menyapa dan mencintai serta mengalami kebersamaan dengan orang lain sebagai saudara seiman di lingkungan. Ada juga responden yang menjawab doa lingkungan tid ak “memaksa” untuk terlibat, namun umat hanya terlibat dalam lingkup umat katolik saja untuk keterlibatan bersama anggota masyarakat sangat kurang.

  Doa lingkungan adalah kebutuhan untuk bersekutu dengan umat mempertebal iman, karena di dalam doa bersama ada interaksi, sharing, yang disatukan dalam doa, jadi kebutuhan akan “doa bersama” itu yang membuat kita terlibat dalam kebutuhan akan Kristus yang hadir dalam sesama di lingkungan. Kesimpulan yang dapat peneliti ambil dari jawaban para responden tersebut yaitu, peranan doa lingkungan itu sendiri sangat penting bagi kehidupan umat lingkungan di manapun mereka berada karena dari doa lingkungan tersebut dapat membentuk dan membimbing iman umat agar selalu mengarah pada jalan yang ditujunya. Dengan begitu doa lingkungan juga dapat membantu setiap orang untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di lingkungan, di paroki atau di tempat lainnya.

5. Peneliti melihat dari hasil wawancara tentang peranan doa lingkungan

  bagi keterlibatan umat ada 11 responden yang menjawab keterlibatannya yang biasa dilakukan di lingkungan seperti berikut ini: ada umat yang mengikuti doa lingkungan setiap malam J um’at, latihan koor setiap satu minggu sekali (setiap ada tugas), koor di Gereja setiap mendapat tugas di Gereja, arisan Wanita Katolik (WK) setiap Minggu Pon, sekretaris Wanita Katolik (WK), bendahara

  II lingkungan yang berfungsi untuk mengerjakan laporan keuangan setiap 6 bulan sekali, Tugas kebersihan dan menghias Gereja (setiap dapat tugas), rapat Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) pada minggu I setiap bulan di Paroki, menjenguk atau mengunjungi orang sakit, lansia dan mendoakan bersama-sama, kegiatan sosial. Selain itu banyak umat yang aktif dengan membantu menjadi prodiakon, ngajabsih, mendampingi calon komuni pertama, ronda malam, hal ini sebagai pengurus lingkungan. Untuk yang menjabat sebagai ketua lingkungan, ikut ambil dalam latihan koor, jaga ronda Gereja, bersih Gereja, ikut jaga parkir di Gereja. Ada juga responden yang menjawab sebagai prodiakon, bendahara di Wanita Katolik, Pengajar krisma/ katekis lingkungan, sekolah minggu / PIA, ini menjabat sebagai ibu prodiakon.

  Responden lain menjawab bahwa keterlibatannya di lingkungan menjadi pendamping PIA lingkungan, aktif dalam kegiatan MUDIKA serta aktif mengikuti kegiatan lingkungan lainnya seperti ikut parkir, jaga teks di Gereja, tugas koor dan lektor. Dengan mengikuti kegiatan tersebut maka dapat belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang lain dan juga bisa belajar menjalin hubungan yang baik dengan orang yang lebih tua. Dari jawaban-jawaban responden di atas dengan pertanyaan yang peneliti sampaikan ini peneliti menjadi tahu bahwa tidak sedikit umat yang aktif dan ikut ambil dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan. Banyak umat yang hadir dan memegang peran penting untuk kelancaran dan mempersatukan umat serta kelancaran setiap kegiatan yang ada di lingkungan.

  Dari hasil wawancara di atas peneliti menyimpulkan bahwa peranan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan yaitu, dengan adanya doa lingkungan umat mampu mengikuti dan aktif dalam pelayanan yang mereka lakukan sehingga dapat menumbuhkan dampak positif bagi perkembangan iman dan sikap umat yang mereka layani. Hal ini bisa di lihat dari hasil wawancara yang penulis lakukan di lingkungan lingkungan dan pelayanan ini bermanfaat bagi kehidupan umat baik dalam keluarga, lingkungan, stasi maupun masyarakat sekitar.

  Dari pengamatan peneliti di lapangan umat yang hadir dalam mengikuti kegiatan doa lingkuangan ternyata cukup banyak dan bahkan bervariasi.

  Terkadang umat yang hadir kurang lebih 20-50 orang. Maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini banyak diminati oleh umat. Selain itu tema, ujud doa disesuaikan dengan kebutuhan umat, karena kegiatan ini mementingkan perkembangan umat sekitar dengan mendengarkan kebutuhan mereka melalui doa lingkungan dan pelayanan umat.

  Tempat dan hambatan tidak menjadi persoalan bagi umat lingkungan Kisik Tlagan, walaupun cuaca tidak menentu misalnya hujan, baru pulang kerja, mereka tetap mengikuti dan berangkat doa lingkungan. Hal ini dikarenakan umat yakin bahwa dibalik itu semua Tuhan berkarya melalui diri mereka. Peneliti juga melihat dari hasil wawancara, bahwa mereka sangat antusias dan merasakan kehadiran Tuhan dalam diri mereka ketika melakukan pelayanan bagi sesamanya. Ini terlihat dari banyaknya umat yang terbantu dalam pengolahan iman, sehingga kehidupan menggereja semakin kokoh dan kuat. Selain itu umat juga dapat menjalin hubungan yang baik dalam kehidupan mereka baik di dalam diri sendiri, keluarga, komunitas, maupun dalam hidup bermasyarakat.

  Dengan adanya kegiatan lingkungan seperti doa lingkungan dan pelayanan sangat membantu bagi sebagian umat yang berada di lingkungan dekat dengan Tuhan dan menjadikan Tuhan pegangan hidupnya dalam keadaan apapun. Dalam doa lingkungan, kita memupuk kesadaran bersama untuk menyatukan perasaan hati, pikiran dan kehendak. Dengan demikian doa lingkungan yang dilakukan setiap minggunya dapat membwa umat kepada Tuhan untuk bias bergema menjadi dasyat, mendalam dan sempurna dalam iman. Atas kebersamaan dan kesadaran bersama inilah orang tidak hanya berdoa untuk diri sendiri dan kelompok, tetapi berdoa untuk dunia.

3. Keterbatasan Penelitian

  Dalam melakukan penelitian ini, penulis mengalami beberapa keterbatasan, kekurangan dan hambatan sebagai berikut: a.

  Keterbatasan waktu untuk melakukan wawancara dengan responden karena mengingat para responden bisa ditemukan pada malam hari, karena pada siang hari mereka bekerja baik di kantor maupun di ladang, jadi saat melakukan wawancara mereka sudah lelah dan mau beristirahat..

  b.

  Keterbatasan dalam mendapatkan dokumen dan foto/gambar yang dapat digunakan untuk mendukung dan melengkapi data penelitian.

  c.

  Keterbatasan dan kekurangan dari segi pengetahuan, kemampuan dalam membuat pertanyaan, dan menjelaskan semua indikator sesuai dengan bahasa

BAB IV USULAN PROGRAM UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN UMAT DALAM HIDUP BERMASYARAKAT DI LINGKUNGAN KISIK TLAGAN, PAROKI BORO, KULONPROGO. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap umat Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo dan mengetahui kebutuhan

  umat di sana, saya akan mengusulkan program katekese sosial dengan bentuk (SCP) sebagai salah satu bentuk doa lingkungan yang

  Shared Christian Praxis

  kiranya sesuai dengan situasi umat. Program ini sebatas usulan berdasarkan hasil pengamatan, berarti program ini belum dicoba atau diuji di lapangan.

A. Pengertian Katekese Sosial

  Gagasan tentang Katekese Sosial atau yang sering juga disebut dengan katekese kontekstual muncul dalam pertemuan Kateketik antar Keuskupan se- Indonesia (PKKI) ke empat tanggal 23-28 Oktober 1988 di Bali. Bukan berarti materi yang baru saat pertemuan itu muncul, katekese yang dimaksud adalah merupakan penegasan dari katekese umat yang sudah dibicarakan dalam pertemuan Kateketik antar Keuskupan se Indonesia (PKKI) yang kedua, tanggal 29 Juni-5 Juli 1980 di Klender, Jakarta. Istilah katekese sosial dimaksudkan untuk memberi penekanan untuk katekese supaya lebih memasyarakat, sehingga iman yang dihayati akan lebih mengarah keterlibatan

  Katekese disini diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan) antara anggota jemaat atau kelompok, para peserta saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna (Huber, 1995:11). Katekese kontekstual dapat diartikan sebagai komunikasi iman para anggota jemaat atau kelompok dalam usaha menanggapi secara konkrit sapaan Allah yang tersirat dalam realitas hidup bermasyarakat, sehingga iman mereka berkembang semakin sempurna. Realita hidup itu sifatnya aktual dan mendesak untuk segera diatasi. Mengingat pentingnya dan tekanan pada kesadaran akan permasalahan sosial seperti: kemiskinan, ketidakadilan, dan pengangguran. Dalam katekese umat yang mencoba membina iman yang terlibat dalam masyarakat, maka katekese sosial ini sangat cocok untuk umat di lingkungan Kisik Tlagan.

  Berdasarkan situasi umat di lingkungan penulis mengusulkan program katekese sosial dengan model Shared Christian Praxis (SCP) karena dengan menggunakan model Shared Christian Praxis (SCP) sangat cocok dengan keadaan umat yang sangat mudah dipahami oleh umat. Umat Lingkungan Kisik Tlagan memiliki harapan terhadap pelaksanaan doa lingkungan yang dilaksanakan setiap minggunya. Umat mengharapkan penghayatan iman mereka dapat ditingkatkan. Semangat dan spiritualitas hidup sebagai seorang kristiani diharapkan dapat berkembang oleh umat.

  Umat mengharapkan agar penghayatan iman dan keterlibatan umat di lingkungan semakin ditingkatkan dengan terang iman yang menyinari perjalanan hidup umat diperoleh dengan mempertemukan pengalaman sehari- hari. Kitab Suci sangat bereperan penting dalam meningkatkan penghayatan iman. Dengan model Shared Christian Praxis (SCP) umat semakin dapat menghayati hidup dan menghayati isi Kitab yang menjadi kebutuhan dalam peningkatan penghayatan iman.

  Berikut ini penulis akan mencoba membuat usulan program katekese dalam bentuk Shared Christian Praxis (SCP). Model Shared Christian Praxis (SCP) dapat membantu umat untuk saling berbagi pengalaman hidup antar umat yang satu dengan umat yang lain.

  Metode Shared Christian Praxis Sebagai suatu pendekatan, model Shared Christian Praxis (SCP) menekankan proses berkatekese. Model ini bermula dari pengalaman hidup peserta yang selanjutnya dorefleksikan secara kritis dan dikonfrontasikan dengan pengalaman hidup iman dan visi kristiani supaya muncul pemahaman, sikap, dan kesadaran baru yang memberi motivasi pada keterlibatan baru. Dengan kata lain sejak awal orientasi pendekatan ini adalah praktis.

  Langkah 0: Pemusatan Aktivitas Pokok ini bertujuan untuk mendorong peserta agar betul-betul bertolak pada kehidupan konkrit mereka yang menjadi sumber utama untuk menentukan topik berkatekese. Untuk membantu agar peserta bertitik tolak pada praksis factual, pendampingan dapat mengawalinya dengan suat simbol, keyakinan, cerita, dan sarana yang lain. Dengan sarana tersebut diharapkan peserta dapat menemukan salah satu aspek yang menjadi topik dasar.

  Langkah 1: Mengungkapkan Praksis Faktual Langkah pertama pada pokoknya berdasar tema dasar, mengajak peserta untuk mengungkapkan praksis factual disamping menyampaikan pengalamannya sendiri, peserta dapat mengungkapkan praksis masyarakatnya atau kombinasi keduanya. Isinya yaitu bagaimana dalam hidup peserta menanggapi tema dasar itu, apa, siapa, intuisi. Nilai dan keyakinan macam apa yang menggerakkan mereka dan yang mereka sadari. Bentuknya dapat bermacam-macam yang penting dapat dimengerti oleh peserta lain dan betul-betul mengungkapkan praksis factual mereka seperti dapat berupa lambang, tarian, nyanyian, puisi, pantomime, dll. Pengalaman konkrit peserta diharapkan dapat melahirkan tema- tema dasar yang akan direfleksikan secara kritis pada langkah berikutnya.

  Langkah 2: Refleksi Kritis dan Praksis Faktual Langkah kedua mendorong peserta supaya mengadakan refleksi kritis pada praksis yang telah mereka kodifikasi dan mereka ungkapkan pada langjah pertama. Di da;am refleksi kritis, peserta diajak untuk menggunakan unsur pemahaman, kenangan, imajinasi sosial analitis dan kreatif. Tujuan pokok langkah kedua adalah memperdalam reflektif dan mengantar peserta pada kesadaran kritis akan praksis faktual yang meliputi alasan, minat, asumsu, dibayangkan. Langkah ini juga bermaksud membantu peserta untuk pempribadian praksis mereka agar dengan proses ini peserta sampai pada “tradisi” dan visi hidup mereka sendiri.

  Langkah 3: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Terjangkau Langkah ini bermaksud mengkomunikasikan nilai-nilai tradisi dan visi agar lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang kontekstual dan latar belakang kebudayaannya yang berlainan. Baik tradisi maupun visi kristiani dapat menjadi medan yang mengungkapkan pewahyuan diri dan kehendak ilahi yang memuncak dalam misteri hidup dan karya Yesus Kristus serta mengungkapkan tanggapan manusia atas pewahyuan tersebut, yang bersifat dialogal dan menyejarah. Supaya tradisi dan visi kristiani lebih terjangkau bagi kehidupan peserta, maka perlu ditafsir.

  Langkah 4: Interpretasi Dialektis antara Praksis dan Visi Hidup Peserta dengan Tradisi dan Visi Kristiani.

  Pada langkah ini peserta menempatkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dalam hubungan yang bersifat dealektis dengan isi pokok langkah ketiga. Pada pokoknya langkah ini mau mengajak peserta untuk menemukan bagi dirinya sendiri tanggapan macam apa yang hendak digarisbawahi, untuk menyadari pikiran, kesadaran serta sikap baru yang muncul sebagai hasil dari interpretasi yang dialektis tersebut. Pendamping perlu membesarkan hati peserta, mengundang refleksi kritis mereka dan mendorong mereka supaya mengkomunikasikan dialog tersebut.

  Langkah 5: Keterlibatan Baru demi makin Terwujudnya Kerajaan Allah Di Dunia Langkah ini secara eksplisit mengajak pesertaagar sampai pada keputusan praktis, bagaimana menghidupi secara baru iman kristiani. Keputusan itu dapat beraneka ragam bentuk dan sifatnya, ada yang lebih menekankan aspek kognitif, afektif, tingkah laku. Sifatnya pun dapat lebih menyangkut level personal, atau interpersonal, atau sosio politis dan subyeknya dapat bersifat aktifitas pribadi atau tindakan bersama seluruh peserta serta arahnya dapat lebih intern atau ekstern (demi kepentingan di luar kelompok). Sebagai penutupan dari langkah ini, peserta diajak untuk mengadakan liturgy sederhana atau mendoakan secara bersama keputusan mereka. Doa atau liturgy dapat menjadi inspirasi yang ampuh bagi peserta yang mendorong mereka agar konsisten dengan keputusan yang telah diambil.

A. LATAR BELAKANG PEMILIHAN PROGRAM

  Usulan program yang penulis sampaikan adalah Shared Christian Praxis (SCP). Berdasarkan kenyataan usulan program bentuk Shared Christian Praxis (SCP) sangat cocok dengan situasi umat, penulis mengamati selama ini kegiatan doa lingkungan yang terjadi lebih bersifat liturgis, karena isi dari doa lingkungan sebagai doa bersama dan berkumpul bersama. Umat sebagai peserta yang berproses cenderung pasif dan hanya ikut-ikutan. Model Shared Christian

  

Praxis (SCP) membuat peserta aktif dan mengkomunikasikan pengalaman

  imannya, tidak hanya pasif mendengarkan kotbah, sehingga penulis mencoba mengusulkan bentuk Shared Christian Praxis (SCP). Dalam Shared Christian

  

Praxis (SCP) perencanaan itu diwujudkan ke dalam program, selama ini

  pemandu tidak pernah membuat program dalam memandu doa lingkungan, program katekese dengan bentuk Shared Christian Praxis (SCP) yang disampaikan mengandaikan harus menggunakan sarana-sarana yang dapat membantu dalam pelaksanaan doa lingkungan.

  Program Shared Christian Praxis (SCP) yang dibuat ini dijadikan acuan untuk menentukan tujuan, isi dan urutan dalam Shared Christian Praxis (SCP) di Lingkungan Kisik Tlagan, yang menyangkut pendekatan dan metode yang dibuat menekankan unsur pengalaman umat dalam melibatkan diri untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan. Hal ini menjadi demikian karena peran umat yang jarang sekali digali dan keterlibatan umat dirasa sangat kurang, juga penekanan pada keterlibatan umat sesuai dengan cita-cita dalam doa lingkungan.

B. TEMA DAN TUJUAN

  Berdasarkan uraian di atas, tema program pendalaman iman yang diusulkan adalah sebagai berikut: Tema Umum: Keterlibatanku sebagai umat beriman Kristiani dalam hidup bermasyarakat di lingkungan.

  Tujuan Umum: Membantu peserta untuk menyadari akan situasi hidup sehingga mampu melibatkan diri dan menjadi orang Kristiani yang tanggap terhadap situasi lingkungan dan hidup bermasyarakat. Dari tema umum di atas, kemudian dijabarkan dalam 4 tema. Dalam program penulis mengusulkan tema tersebut dibagi menjadi 12 sub tema yang memiliki penekanan tersendiri: Tema 1 : Menghayati Hidup Doa Tujuan 1 : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya arti hidup doa sehingga mampu mewujudkannya dalam hidup sehari-hari dengan mau mendoakan orang lain seperti teladan Yesus yang senantiasa berdoa pada Bapa-Nya bagi para murid-Nya. Tema 2 : Saling Mengasihi Tujuan 2 : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya saling mengasihi dalam kehidupan bersama sehingga semakin berani untuk mewujudkan persaudaraan terhadap sesama dalam lingkungan.

  Tema 3 : Membangun solidaritas terhadap sesama. Tujuan 3 : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari makna solidaritas, sehingga semakin mampu meneladani sikap-sikap

  Tema 4 : Bagaimana berbagi terhadap sesama dalam hidup bermasyarakat.

  Tujuan 4 : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari arti berbagi sehingga peduli terhadap sesama, dan terwujud dalam sikap saling berbagi bagi umat yg membutuhkan di lingkungan.

C. PENJABARAN TEMA

  Tema 1 : Menghayati Hidup Doa Tujuan 1 : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya arti hidup doa sehingga mampu mewujudkannya dalam hidup sehari-hari dengan mau mendoakan orang lain seperti teladan Yesus yang senantiasa berdoa pada Bapa-Nya bagi para murid-Nya. No Judul

  Pertemuan Tujuan

  Pertemuan Metode Sarana Sumber

  Bahan

  1 Hidup Doa bersama di lingku- ngan bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari akan arti hidup doa bersama umat lingkungan, sehingga dapat mewujudkanny a dalam hidup sehari-hari demi terciptanya persatuan

  Sharing pengalaman Refleksi Pribadi Informasi Tanya Jawab

  Kitab Suci Alat tulis Cerita Daftar perta- nyaan

  Luk 6:46-49 LBI, (1981). Injil

  dan surat- surat Yohanes .

  Yogyakarta : Kanisius: 57-59 Hadiwijaya, A. S. 2008.

  Tafsir Yohanes .

  Yogyakarta keterlibatan di lingkungan.

  : Kanisius: 48-89 Mihalik Frank, Svd.

  Injil Yoh 17:20-26 Hadiwiyata, A. S.

  dan surat- surat Yohanes .

  Hal 193. LBI, (1981). Injil

  Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

  Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  Hal 240- 243 IM. 2002.

  Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

  Tafsir Injil Yohanes .

  (2008);

  Sapu lidi Buku Madah Bakti Kitab Suci Yoh 17:20-26 Lilin dan Salib

  1986.1500

  Sharing pengala- man Informasi Tanya jawab

  Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya persatuan hidup dalam Yesus, sehingga dapat mewujudkan persatuan tersebut yang terungkap dalam persatuan- persatuannya ke sesama dan konkrit dalam hidup sehari- hari.

  2 Bersatu Dalam Yesus

  Metode Sarana Sumber

  Tujuan Pertemuan

  No Judul Pertemuan

  Bogor: Grafika Mardi Yuana: 64.

  Cerita Bermakna .

  Yogyakarta:

  Kanisius. Hal 121- 122

  No Judul Tujuan Metode Sarana Bahan Pertemua Peretemuan

  3 Saling Bersama Sharing Alkitab Lukas 11: 5 Mendoa- pendamping, kelom-pok Lilin dan

  • – 13 kan Antar peserta Salib Tanya Umat menyadari arti Laptop Harun,

  Jawab doa berelasi Martin dengan Tuhan OFM. 2001.

  Informasis secara pribadi Memberita- Refleksi dan bersama, kan Injil pribadi sehingga

  Kerajaan

  peserta dapat Ulasan Injil tergerak untuk Hari dapat saling Minggu mendoakan Tahun A satu sama lain. Masa Khusus .

  Yogyakarta; Kanisius, Hal 150- 155.

  Hadiwiyata. 2008. Tafsir

  Injil Yohanes .

  Yogyakarta; Kanisius, Hal 234- 240 Sumarya. SJ .09May200 rchive=113 7947485&st art_from=& ucat=16&go =archives.

  Borgias Fra nsis

  Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).20 05-2011

  Film “Facing The Giant”

  Tema 2 : Saling Mengasihi Tujuan 2 : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya saling mengasihi dalam kehidupan bersama sehingga semakin berani untuk mewujudkan persaudaraan terhadap sesama dalam lingkungan.

  No Judul Pertemuan

  Metode Sarana Bahan

  Komkit KAS.

  Yogyakarta: Penerbit Kanisius Multimedia.

  CD bahan sarasehan bulan Kitab Suci 2007.

  Luk 15:1-3, 11-32 Komkit KAS. Video

  Kaset film BKSN “Tetep Sedulur” Teks lagu Teks pertanyaan pendala- man Teks/ Kitab Suci Perjan-jian

  Syukur

  Buku Puji

  Sharing kelompok Nonton bersama Diskusi kelompok Refleksi pribadi Informasi Tanya jawab

  Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari akan pentingnya kasih sayang dan pengampunan dalam hidup bermasyarakat sehingga dapat mewujudkanny a dalam tindakan nyata sehari-hari dengan

  2 Kasih dan pengampu nan: Dasar relasi dalam hidup bermasyar akat.

  No Judul pertemuan Tujuan Pertemuan

  Tujuan Pertemuan

  Jakarta: Obor, 2005

  Renungan dan Catatan Harian .

  Jakarta: Obor, 2004 Agustinus Riyanto SCJ, Ziarah Batin,

  Renungan dan Catatan Harian .

  Agustinus Riyanto SCJ, Ziarah Batin,

  Injil Markus 7:1-8; 14- 15; 21-23.

  Tape dan kaset “Ojo gawe dosa” Teks lagu “Ojo gawe dosa” Teks Kitab Suci Markus 7:1-8; 14- 15; 21-23. Permainan menyusun potongan gambar

  Refleksi Pribadi Diskusi Kelompok Informasi Tanya jawab Permainan

  Pendamping bersama peserta dapat semakin memahami dan menghayati sikap tegas tapi lembut sehingga dapat membawa suasana damai dalam keluarga

  1 Bersikap tegas tapi lembut sebagai ibu dalam keluarga

  Metode Sarana Bahan

  Keluarga Kukuh

  Musa… Musa… Perjalanan

  3 Hati yang lembut digunakan

  A., Y., (2006).

  Hari Kustono,

  Teguh dalam Iman di Tengah Kekerasan

  Kel. 2:1-12 Komisi Kitab Suci KAS (2006).

  Buku Madah bakti Cergam “siapa yang bayar?” Teks lagu: “Kasih Pasti Lemah Lembut” dan “Tiap langkah- ku diatur oleh

  Sharing Refleksi pribadi Informasi Tanya jawab

  Supaya bersama-sama pendamping, peserta memahami dan menyadari situasi konkrit yang terjadi dalam masyarakat yang mengalami kekerasan, sehingga semakin mampu mengambil sikap untuk

  Metode Sarana Bahan

  mengasihi dan mengampuni umat lingkungan.

  Tujuan Pertemuan

  No Judul Pertemuan

  karta: Penerbit Kanisius.Ha l. 143

  Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru. Yogya

  Hal 26-40 Lembaga Biblika Indonesia.

  Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

  Bahan pertemuan lingkungan

  Baru Gereja Tangguh.

  • Nya untuk menyelam atkan
yakarta: Kanisius. Hal 169

  Gereja Mendengar

  No Judul Pertemuan

  1972.

  Lukas 15: 1-3, 11-32 Frisque, J.

  Teks lagu “Anak bungsu hilang” Teks lagu “Kukasihi Kau dengan kasih Tuhan” Teks drama dari

  Sharing Kelompok Diskusi kelompok Refleksi pribadi Informasi Tanya jawab

  Bersama-sama pendamping peserta semakin menyadari kasih Allah kepada kita sehingga kita mampu meneladan sikap Yesus yang penuh kasih dan

  4 Kasih Allah

  Metode Sarana Bahan

  Tujuan Pertemuan

  Pokok- pokok Materi BKSN 2006

  kelembutan hati untuk menyelamatka n banyak orang yang mengalami kekerasan.

  Paroki keluarga Kudus Banteng,.

  Yogyakarta: Kanisius. Hal. 108- 110.

  Pengantar ke dalam Perjanjian Lama .

  2-21. Groenen, C., (1992).

  Komisi Kitab Suci KAS. Hal.

  Ketaatan Seorang Hamba .

  VCD dan kaset suara

  Teks Kitab Suci Perjan-jian Baru Tape,

  • -kan Sabda Tuhan. Yog
mewujudkanN Kitab Suci Alkitab ya dalam Lukas 15: Perjanjian kehidupan 1-3, 11- Baru. sehari-hari,

  32. Yogyakarta baik . Hal 143 Lilin dan dikeluarga, salib masyarakat Leks, ataupun Stefan.

  Laptop Gereja. 2003.

  Tafsir Injil

  Kaset Lukas. instrument

  Yogyakarta al . Kanisius. Film

  Hal 402 “Kasih burung kepada anaknya” Lagu “Janji-Mu Seperti Fajar

  ” dari Nikita Slide “Kasih Ibu

  Tema 3 : Membangun solidaritas terhadap sesama Tujuan 3 : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari makna solidaritas, sehingga semakin mampu memahami umat lingkungan dan peka terhadap penderitaan sesama. No Judul Tujuan Metode Sarana Bahan

  Pertemuan Peretemuan

  1 Menjadi Bersama Sharing Teks kitab Injil Lukas sesama pendamping, Suci 17:7-10 bagi yang peserta Diskusi lain bersama-sama Kutipan Tim (2005). diajak untuk Refleksi berita dari Ziarah menyadari betapa pentingnya menghargai orang lain, sehingga kehidupan sehari-hari dapat berlaku adil dan menghargai sesama.

  Informasi Tanya Jawab

  51 Lilin dan Salib

  Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

  Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  Hal 96-98. TIM. 2002.

  Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

  Tafsir Injil Yohanes .

  (2008);

  Injil Yoh 6:44-51 Hadiwiyata, A. S.

  Kitab Suci Yoh 6:44-

  Koran Teks pertanyaan pendala- man Buku madah bakti Tape dan kaset batin. Jakarta: penerbit obor. Bergant, Dianne, CSA (2002), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: penerbit Kanisius. Hal 146

  Speaker

  Video “Burung Mengorba nkan Diri” Buku Madah Bakti LCD, Laptop,

  Sharing pengalaman Informasi Tanya jawab

  Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari arti sikap rela berkorban sehingga mampu mewujudkanny a dengan rela membantu teman yang membutuhkan seperti teladan Yesus Sang Roti Hidup.

  2 Memba- ngun sikap rela berkorban bagi sesama

  Metode Sarana Bahan

  Tujuan Pertemuan

  No Judul Pertemuan

  Hal 173- 174. No Judul Tujuan Metode Sarana Bahan Pertemuan Pertemuan

  3 Memba-ngun Bersama Sharing Madah Mrk 9 : 38-41 Toleransi pendamping Bakti Dalam Hidup peserta Diskusi Dianne Bermasyarakat menyadari kelom- Teks Cerita Bergant, pentingnya pok CSA, Robert

  “Marieta sikap dan J. Karris, toleransi Refleksi OFM (2002).

  Fatimah” dalam pribadi

  Tafsir Alkitab

  hidup Teks Perjanjian bersama di Informasi pertanyaan Baru . lingkungan, Tanya pendalaman Yogyakarta : sehingga jawab Kanisius. Hal. tercipta Teks Kitab

  99 – 100. kerukunan Suci dalam Perjanjian Darmawijaya, hidup Baru Pr, St (1997). bersama. Inspirasi Hari

  Tape dan

  Minggu

  kaset Tahun B intsrumen Masa Biasa .

  Yogyakarta : Kanisius. Hal. 192 – 194. Bernard Raho, SVD (2006).

  Inspirasi Sabda Masa Biasa Tahun ABC .

  Yogyakarta : Kanisius. Hal. 145

  • – 147 Tema 4 : Bagaimana berbagi terhadap sesama dalam hidup bermasyarakat.
  • – 47 Neuner, J. SJ (1997).

  34

  Tafsir Perjanjian Baru

  Matius 22 :

  Cerita “Pengemis Tua” Foto kopi teks Kitab Suci

  Sharing kelompok Refleksi Pribadi Informasi Tanya jawab

  Bersama-sama pendamping, peserta dapat semakin mampu mewujudkan niat dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam lingkungan maupun di masyarakat, contohnya:

  2 Cinta kepada Allah harus terwujud pada kehidupan sehari- hari.

  Metode Sarana Bahan

  Tujuan Pertemuan

  No Judul Pertemuan

  Jakarta: Obor. Hal 253.

  Tujuan 4 : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari arti berbagi sehingga peduli terhadap sesama, dan terwujud dalam sikap saling berbagi bagi umat yg membutuhkan di lingkungan. No Judul

  Pergi menyertai Dia .

  Kisah Para Rasul 2: 41

  Teks lagu, tape dan Kaset suara Teks Kitab Suci Teks cergam “ Bercerai kita runtuh“ Teks pertanyaan Pendala- man

  Refleksi Pribadi Sharing kelompok Diskusi Kelompok Informasi Tanya Jawab

  Bersama pendamping, umat semakin menyadari pentingnya menghayati hidup iman pribadi sebagai sarana untuk menjadi saksi kabar gembira Tuhan di dalam keluarga, Gereja, dan Masyarakat.

  1 Mengha- yati iman dalam hidup menggere- ja, keluarga, Gereja, dan Masyara- kat.

  Metode Sarana Bahan

  Pertemuan Tujuan Pertemuan

  • – 40
menjenguk umat yang sakit, ikut bergotong royong, bakti sosial.

D. PETUNJUK PELAKSANAAN PROGRAM

  Program katekese bentuk Shared Christian Praxis (SCP) yang diusulkan dalam tulisan ini dilaksanakan selama 1 (satu) tahun dalam 12 (dua belas) kali pertemuan sesuai dengan subtema yang sudah disiapkan. Setiap pertemuan dilaksanakan sebulan sekali, dengan subtema yang berurutan sesuai subtema yang sudah dibuat.

  Setiap pertemuan dilaksanakan selama 1-2 jam. Dalam setiap pertemuan peserta diajak untuk memahami cerita yang sudah disiapkan, bisa dilakukan secara kelompok kecil ataupun kelompok besar kemudian disharingkan kepada umat yang lain sesuai dengan pengalaman yang dihadapinya. Setelah memahami sebuah cerita dan mensharingkan dalam kelompok besar umat diajak untuk menemukan pesan dari teks Kitab Suci kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengungkapkan pengalaman hidup yang berkaitan dengan tema yang sudah disediakan. Peserta kemudian memaknai pengalamannya dalam terang Kitab suci.

  Pengalaman hidup peserta dapat menjadi daya tarik tersendiri yang meneguhkan, menegur atau memperkaya pengalaman peserta yang satu dengan yang lainnya. Pengalaman yang sungguh-sungguh dialami peserta menjadikan peserta merasa bahwa dirinya disapa dan juga diteguhkan oleh Sabda Tuhan, walaupun pengalaman mereka sederhana menjadi berarti dan bermakna karena setiap pengalaman hidup yang mereka alami dapat mereka refleksikan melalui terang Injil, sehingga mereka tidak lagi menerima begitu saja pengalaman yang mereka alami ini sebagai pengalaman yang biasa saja namun mereka bisa memaknai pengalaman ini sebagai anugerah yang diberikan dari Tuhan lewat setiap tindakan yang mereka lakukan sehari-hari.

  Peranan pendamping adalah merangkum pesan teks yang ditemukan oleh peserta. Pendamping kemudian memberikan masukan pesan teks yang sudah dirangkum, pesan teks Kitab Suci diterapkan dalam kehidupan peserta. Pendamping berperan membantu dalam menemukan pesan atau makna teks Kitab Suci bagi pengalam hidupnya. Sehingga teks kitab Suci yang sudah dibacakan serta menemukan makna isi teks dapat menjadi tuntunan dalam kehidupan peserta.

  Program ini berfungsi sebagai contoh pelaksanaan doa lingkungan bagi pemandu di Lingkungan. Doa lingkungan yang selama ini berjalan tanpa program, dengan program ini pemandu dapat membuat program katekese debgan bentuk Shared Christian Praxis (SCP). Maka dengan demikian kegiatan doa lingkungan dapat berjalan dengan baik dan lancar serta perencanaan yang matang.

  : Orang Tua 4. Tempat

  Tema : Menghayati Hidup Doa 2.

  Tujuan :Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya arti hidup doa sehingga mampu mewujudkannya dalam hidup sehari-hari dengan mau mendoakan orang lain seperti teladan Yesus yang senantiasa berdoa pada Bapa- Nya bagi para murid-Nya.

  E.

  

CONTOH PERSIAPAN KATEKESE UMAT MODEL SHARED

CHRISTIAN PRAXIS (SCP).

  A.

   Identitas 1.

3. Peserta

  : Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo 5. Hari/tanggal

  : Jum’at, 11 April 2014 6.

  Waktu : 19.00-20.00 7.

  Model : Shared Christian Praxis 8.

  Metode : - Sharing pengalaman

  • Informasi -

  Tanya jawab 9. Sarana

  : - Teks Cerita “Berdoa dan Bekerja”

  • Buku Madah Bakti -

  Kitab Suci Yoh 17:1-11a

  • Lilin dan Salib
  • Yohanes. Yogyakarta: Kanisius.

  Darmawijaya, St. (1986). Pesan Injil

  • . Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Hal

  Hadiwiyata, A. S. (2008); Tafsir Injil

  Yohanes

  234-238 TIM. 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  • Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Hal 192-193.
  • Hal. 308-309.

  Inspirasi Batin (2006), Yogyakarta: Kanisius.

  • Hal 300-301.

  Inspirasi Batin (2004), Yogyakarta: Kanisius.

  • Bermakna . Bohor:Grafika Mardi Yuana. Hal.

  Mihalic, Frank SVD. 2005. 1500 Cerita

  94. B.

   Pemikiran Dasar

  Dalam kenyataan hidup sehari-hari, banyak orang kurang menyadari pentingnya arti doa dalam hidup sehari-hari. Orang cenderung memikirkan bahwa jika sudah bekerja dengan keras pasti hasilnya juga akan memuaskan. Doa menjadi nomor kesekian karena kesibukan sehari-hari, entah karena pekerjaan, malas, dianggap tidak ada pengaruhnya, dll. Dengan kenyataan yang seperti ini, orang lupa bersyukur bahwa mereka telah dianugerahi berbagai hal. Menurut mereka, mereka bisa hidup tanpa campur tangan Tuhan. Baru setelah menghadapi kesulitan, orang baru ingat dan mau berdoa. Akibatnya, hidup doa menjadi kering dan kurang hanya dianggap sebagai formalitas atau rutinitas tanpa penghayatan bahwa Allah sungguh hadir di dalam doa dan turut campur dalam setiap peristiwa hidup manusia.

  Injil Yoh 17:1-11a menguraikan bagaimana Yesus tidak pernah melupakan doa dalam berkarya. Dalam doa-Nya, Yesus mempersembahkan kepada Bapa segala yang telah diperbuat-Nya, inilah bukti bahwa Yesus meyakini campur tangan Bapa di dalam setiap karya-Nya. Melalui doa-Nya, Yesus mendapatkan kekuatan untuk mempermuliakan Allah lewat karya-Nya. selain itu, sebelum kepergiaan-Nya untuk kembali kepada Bapa, Ia mendoakan para murid-Nya sebagai bukti tanggung jawab-Nya terhadap para murid dan Allah. ia tidak ingin meninggalkan mereka begitu saja, tetapi memohon agar Allah berkenan menjadikan para murid tetap bersatu, tetap setia kepada iman mereka serta tetap berada dalam naungan Bapa.

  Dari pertemuan ini kita diajak untuk semakin menyadari arti pentingnya doa dalam hidup dengan meneladani sikap dan tindakan Yesus yang senantiasa menyertai setiap karya-Nya dengan doa sebagai wujud kepercayaan bahwa Allah turut campur dalam hidup-Nya. Dengan demikian kita semakin mampu menghayati hidup doa dalam kehidupan sehari-hari dengan mau mendoakan orang lain.

C. Pengembangan Langkah-Langkah

1. Pembukaan

  a. Pengantar Bapak-Ibu yang terkasih dalam Yesus Kristus, kita berkumpul di tempat ini karena kasih Allah dalam Yesus yang menjadi teladan kita. Kita berkumpul sebagai satu keluarga untuk menanggapi panggilan Tuhan. Dalam kenyataan hidup sehari-hari banyak orang kurang menyadari arti pentingnya menghayati hidup doa. Akibatnya, hidup doa menjadi kering, doa hanya sekedar rutinitas, formalitas tanpa penghayatan. Orang merasa dirinya mampu sehingga tidak membutuhkan peran Allah di dalam hidupnya. Melalui Injil Yoh 17:1-11a kita akan diajak untuk meneladani bagaimana Yesus dalam berkarya tidak pernah melupakan hidup doanya. Yesus berkarya dan berdoa, karena melalui doa Yesus mendapatkan kekuatan untuk menjalankan karya-Nya. Dengan demikian, Yesus telah melibatkan Allah dalam setiap karya-Nya. Yesus senantiasa berdoa selain berkarya, maka sebagai pengikut Yesus, sudah selayaknya kita pun menyadari arti pentingnya hidup doa serta menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari dengan mau mendoakan orang lain.

  b. Lagu pembukaan “Doakan Kami” (Madah Bakti No. 535)

  c. Doa pembukaan Bapa yang maha baik kami bersyukur dan berterimakasih atas rahmat yang telah Engkau berikan kepada kami sampai saat ini. Secara khusus kami mengucapkan terimakasih karena pada kesempatan ini kami telah Engkau bersama-sama akan menggali, merefleksikan sejauh mana kami sungguh menyadari arti pentingnya menghayati hidup doa, sehingga kami mampu untuk mewujudkannya dengan mendoakan orang lain seperti yang diteladan Yesus yang berkenan mendoakan para murid-Nya kepada Bapa agar para murid tetap bersatu, tetap setia kepada iman mereka serta tetap berada dalam naungan Bapa. Bantulah kami agar Yesus sungguh menjadi teladan, kekuatan, dan sumber hidup kami dalam menghayati hidup doa dalam kehidupan sehari-hari. Kami persembahkan segala pembicaraan kami ini kepada-Mu, semoga Engkau berkenan memberkati dan menyemangati pendalaman iman kami malam hari ini. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

  

2. Langkah I dan II : Mendalami dan Mengungkapkan pengalaman

hidup peserta

  a. Pendamping membagikan teks cerita “Berdoa dan Bekerja” kepada peserta dan memberikan kesempatan untuk membaca dan mendalami cerita tersebut. (cerita terlampir).

  b. Pengungkapan pengalaman; peserta diajak untuk mendalami cerita “Berdoa dan Bekerja” dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: 1.

  Apa yang terjadi ketika dayung yang bertuliskan kata “Doa” itu dilepas dan hanya menggunakan dayung bertuliskan “Kerja”?

  Mengapa? 2. Apa yang Bapak-Ibu alami jika dalam kehidupan sehari-hari tidak c. Intisari cerita “Berdoa dan Bekerja”: Cerita ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang meragukan fungsi doa dalam hidup dan hanya mementingkan bekerja. Sehingga ketika melihat seorang nelayan tua yang menjalankan sampan dengan dayung bertuliskan “Doa” dan “Kerja”, ia mengejeknya. Namun akhirnya ia dapat memahami bahwa jika hanya mengandalkan dayung “Kerja” saja, sampan tidak akan dapat berjalan maju, tapi hanya berputar-putar saja.

  Begitu juga dalam pengalaman hidup yang Bapak-Ibu sharingkan, ketika Bapak Ibu tidak berdoa, maka dalam menjalani suatu pekerjaan menjadi terasa berat, tidak selesai-selesai, hasil dari bekerja tidak maksimal, hidup terasa kering dan tidak bersemangat, menjadi semakin jauh dari Allah, dll. Semua itu terjadi karena kita kurang mensykuri apa yang telah diberikan oleh Allah dalam hidup ini. Kita merasa mampu atau hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri dan tidak melibatkan Allah dalam setiap pekerjaan kita.

3. Langkah III : Menggali pengalaman iman Kristiani

  a. Salah seorang peserta diminta bantuannya untuk membacakan perikop langsung dari kitab suci, Injil Yoh 17:1-11a.

  b. Peserta diminta untuk hening sejenak untuk merenungkan secara pribadi perikop kitap suci dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: 1)

  Ayat-ayat manakah yang menunjukkan sikap Yesus dalam berdoa? Mengapa? c. Peserta diajak untuk mencari dan menemukan pesan inti perikop sehubungan dengan jawaban atas pertanyaan b di atas.

  d. Pendamping memberikan tafsir dari injil Yoh 6:44-51 dan menghubungkan dengan tanggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan sebagai berikut: Injil Yoh 17:1-11a, menguraikan tentang isi dari doa terpanjang Yesus sebelum Ia kembali kepada Bapa. Ayat 1-5 memberikan gambaran doa Yesus bagi diri-Nya sendiri. Yesus telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada-Nya untuk membuat murid-murid-Nya mengerti bahwa Allah adalah benar. Dijelaskan juga bahwa Yesus menengadah ke langit, ini merupakan sikap yang biasa dilakukan orang Yahudi ketika berdoa yang mengisyaratkan bahwa Allah yang Maha Kuasa tinggal di atas dalam kemuliaan dan mengandaikan adanya komunikasi, manusia yang mengharap kepada Allah dan Allah yang memandang manusia. Ayat 4, menunjukkan bahwa tugas Yesus sudah selesai dan segala tugas yang dilakukan-Nya dalah demi memuliakan Bapa. Berarti Yesus melibatkan Bapa dalam karya-Nya dan semuanya karya- Nya demi kemuliaan Bapa. Ayat 9, menunjukkan Yesus yang selalu setia berdoa. Doa Yesus tidak hanya berhenti pada diri sendiri, namun juga bagi orang lain. Dalam perikop, Selain berdoa bagi diri-Nya sendiri Yesus juga mendoakan para muridnya sebelum Ia kembali kepada Bapa. Yesus berdoa agar para murid-Nya juga dipermuliakan seperti Dia. Sesaat lagi Ia akan kembali kepada Bapa, Ia akan meninggalkan murid-murid-Nya, namun Yesus tetap masih akan hidup di dunia. Karena itu, sebelum kembali kepada Bapa, Ia berdoa kepada Bapa bagi para murid-Nya agar para murid tetap bersatu, tetap setia kepada iman mereka dan tetap berada dalam naungan Bapa.

  Melalui perikop ini, Yesus ingin mengajarkan pentingnya arti hidup doa dalam kehidupan sehari-hari. Selain berkarya, Yesus juga berdoa untuk memohon kekuatan Allah dalam setiap karya-Nya. Yesus juga mempersembahkan segala yang dilakukan-Nya demi kemuliaan Allah semata.

  Meskipun Ia sadar bahwa diri-Nya adalah Putera Bapa, namun Yesus tidak merasa diri hebat dan memohon kepada Bapa agar Bapa mempermuliakan-Nya sehingga Ia dapat menyelesaikan tugas-Nya. dalam doa-Nya, tampak pula suatu hubungan yang akrab dan bersatu. Ini ditegaskan dalam ayat 10, “segala milik-

  Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik- Ku” menggambarkan bahwa

  Bapa dan Putera saling memilki. Ini diakibatkan oleh keeratan hubungan di antara kedua-Nya dan karena adanya kesatuan. Jadi doa menggambarkan adanya kesatuan antara manusia dan Allah.

  

4. Langkah IV: Menerapkan iman Kristiani dalam situasi peserta

konkret

  a. Pengantar Bapak-Ibu yang terkasih dalam Yesus Kristus, dalam pembicaraan tadi kita telah mendapatkan sebuah gambaran bagaimana Yesus memberikan contoh kepada kita akan pentingnya arti doa dalam hidup. Lewat Injil Yoh 17:1-11a kita disadarkan akan arti pentingnya arti hidup doa selain berkarya. Selain itu, sendiri namun juga perlu mendoakan orang lain. Setelah kita mendalami ajaran Yesus tersebut, saat ini kita diajak untuk mencoba lebih mendalami lagi dan akhirnya kita dapat menerapkan Iman Kristiani tersebut dalam tindakan nyata kita sehingga kita semakin menyadari pentingnya doa di samping berkarya dan mau mendoakan orang lain.

  b. Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin menghayati dan menyandarkan diri pada Allah satu-satunya pedoman dalam menghayati hidup doa, untuk itu kita akan melihat situasi konkrit dunia yang ada di sekitar hidup kita dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  Apakah Bapak-Ibu semakin disadarkan akan pentingnya menghayati hidup doa dalam kehidupan sehari-hari dengan mau mendoakan orang lain? c. Rangkuman

  Seperti dalam cerita “Berdoa dan Bekerja” tadi, memberikan gambaran bagi kita akan penting menghayati hidup doa yang dapat memberikan kekuatan, arah dan daya bagi setiap usaha kita dalam bekerja. Melalui doa, tercipta kesatuan antara manusia dan Allah sehingga Allah mau terlibat di dalam setiap usaha yang dilakukan manusia sehingga segala upaya manusia bisa mencapai tujuan. Begitu juga dengan Yesus yang senantiasa berdoa kepada Bapa-Nya baik bagi kelancaran karya-Nya maupun bagi kesatuan serta kesetiaan para murid-Nya. melalui itu semua, kita semakin disarkan bahwa doa mempunyai peran penting bagi kelancaran setiap karya kita. Karena melalui doa, tercipta campur dalam setiap usaha manusia. Selain itu juga, doa tidak hanya berhenti pada diri sendir namun juga bagi orang lain.

5. Langkah V : Mengusahakan suatu aksi konkrit

  a. Pengantar Bapak-Ibu yang terkasih, setelah kita menggali pengalaman melalui kisah dari cerita “Berdoa dan Bekerja”, selain dayung “Kerja” kita juga membutuhkan dayung “Doa” untuk menunjang usaha kita dalam mencapai tujuan hidup. Oleh karena itu doa menjadi sumber kekuatan dalam melakukan setiap usaha. Kita juga telah belajar melalui pengalaman hidup sehari-hari dimana kita masih kurang menyadari akan perntingnya arti hidup doa dalam hidup kita sehari-hari. Tetapi di sini kita juga telah disadarkan melalui firman Tuhan dalam Yoh 17:1- 11a, di mana Yesus mengajarkan kepada kita akan pentingnya menghayati hidup doa dalam kehidupan kita sehari-hari dan mau mendoakan orang lain.

  Saat ini marilah kita menyadari akan kasih yang telah diberikan Yesus kepada kita terlebih akan penghayatan hidup doa. Baiklah kita melihat segala kekurangan yang ada di dalam diri kita dengan memeriksa batin kita masing- masing sehingga kita semakin menyadari akan pentingnya arti hidup doa sehingga kita dimampukan untuk menghayati hidup doa dalam hidup sehari- hari serta mau mendoakan orang lain.

  b. Memikirkan niat-niat untuk meningkatkan penghayatan hidup doa seperti yang diteladankan oleh Yesus sendiri. Berikut pertanyaan penuntun untuk

  Niat apa yang hendak kita lakukan sebagai murid Kristus dalam menghayati hidup doa? c. Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan sendiri-sendiri tentang niat-niat pribadi/bersama yang akan dilakukan.

  Saat hening dapat diputarkan lagu intrumen.

  d. Pengungkapan niat-niat pribadi untuk saling meneguhkan.

  e. Membicarakan niat-niat bersama untuk dapat ditindaklanjuti dalam kehidupan sehari-hari

6. Penutup

  a. Memberi kesempatan kepada peserta untuk hening sejenak untuk meresapkan semua rangkaian pendalaman iman. Sementara itu lilin dan salib diletakkan ditengah umat untuk dinyalakan.

  b. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan doa permohonan secara spontan, diawali oleh pendamping dan kemudian disusul oleh peserta. Akhir doa umat ditutup dengan doa penutup.

  c. Doa penutup Tuhan Yesus Kristus, kami memuji dan memuliakan nama-Mu yang senantiasa menjadi teladan hidup kami. Biarlan cerita “Berdoa dan Bekerja”, di mana seorang pemuda mengerti bahwa betapa pengtingnya dayung

  “Doa” dalam perahu, karena dayun g “Kerja” tidak bisa membuat perahu itu bergerak majun sungguh menjadi pelajaran bagi kami. Begitu juga dengan sharing bahwa betapa pengtingnya arti doa dalam hidup. Juga melalui teladan-Mu yang menyadarkan kami akan pentingnya arti hidup doa dalam menjalani kehidupan ini. Engkau memberi teladan bahwa karya tidak bisa diselesaikan tanpa doa, karena melaui doa kita mendapat kekuatan untuk berkarya. Bantulah kami untuk mewujudkan niat-niat yang telah kami bangun bersama sebagai wujud kesadaran diri kami akan pentingnya arti hidup doa. Doa ini kami haturkan kepada-Mu dnegan perantaraan Kristus, Juruselamat kami. Amin.

d. Sesudah doa penutup, pertemuan diakhiri dengan menyanyikan lagu “Hantarkan Doa Kami” (Madah Bakti no. 818).

BAB V PENUTUP Sebagai akhir skripsi ini penulis hendak mengemukakan pokok-pokok

  yang perlu ditegaskan kembali, dipikirkan dan dikembangkan lebih mendalam berkait dengan peranan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di Lingkungan Kisik Tlagan, Paroki Boro, Kulonprogo.

  Berdasarkan situasi umum doa lingkungan di lingkungan Kisik Tlagan, penulis kemudian mengusulkan saran-saran sehubungan dengan berjalannya kegiatan doa lingkungan agar kegiatan tersebut dapat berjalan baik dengan penempatan pengalaman hidup serta teks Kitab Suci di dalamnya.

A. KESIMPULAN

  Doa lingkungan adalah doa yang dilakukan bersama-sama umat lingkungan Kisik Tlagan untuk meneladani, mewartakan tentang Injil dan juga dapat merasakan kebersamaan atau mempererat persaudaraan dengan umat lingkungan Kisik Tlagan yang membahagiakan dan dapat meneguhkan iman umat kepada Tuhan Allah. Melaksanakan doa lingkungan tidaklah mudah mengingat kesibukan setiap orang dengan pekerjaannya karena yang datang hanya sedikit dan hanya itu-itu saja, banyak alasan yang mereka sampaikan untuk tidak mengikuti doa lingkungan. Berdasarkan hasil wawancara, peranan doa lingkungan terhadap keterlibatan umat dalam hidup bermasyarakat di lingkungan sangatlah penting, doa lingkungan perlu diadakan karena dengan adanya doa lingkungan umat Kisik Tlagan menjadi lebih terarah, iman bertambah, umat Kisik Tlagan semakin peka dan terlibat dalam kegiatan- kegiatan yang diadakan di lingkungan serta menambah rasa keimanan umat lebih dalam, mempererat hubungan antar umat satu dengan yang lainnya.

  Dengan berdoa lebih dari satu orang maka, Tuhan akan hadir di tengah-tengah umat. Hadirnya Tuhan di tengah-tengah umat berperan sebagai sarana untuk bersyukur dan memohon bersama seluruh umat beriman lingkungan setempat, dapat memperkuat dalam iman, sebagai sarana untuk menjalin kebersamaan umat dengan lingkungan lain, perwujudan iman yang nyata dalam hal peduli sesama, bisa membentuk diri, menambah wawasan. Peranan doa sangat penting bagi perkembangan iman, karena boleh semakin dekat dengan Allah yang menyapa dan mencintai serta mengalami kebersamaan dengan orang lain sebagai saudara seiman di lingkungan.

  Berdasarkan kenyataan tersebut, doa lingkungan dapat membawa umat lebih aktif dan bertanggungjawab terhadap imannya sebagai umat beriman dan kita perlu berdoa setiap saat, karena doa dapat membuat umat semakin menyadari bahwa Tuhan sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan umat lewat peranan atau saling tolong menolong antar warga lingkungan maupun warga yang lainnya.

  Letak permasalahan dalam pelaksanaan doa lingkungan adalah umat yang cenderung pasif dan hanya mengiyakan saat dimintai pendapat dan usulan bagaimana baiknya dalam mengelola kegiatan yang sudah ada, dari pihak pendamping sendiri tidak ada membuat program tertulis yang terencana, sarana yang digunakan hanya Kitab Suci dan langkah-langkah yang bersifat liturgis.

  Berdasarkan dari kesimpulan di atas, maka peneliti memberikan suatu usulan program berupa katekese dengan bentuk Shared Christian Praxis (SCP).

  Penulis memilih bentuk Shared Christian Praxis (SCP) dikarenakan sangat membantu umat dalam mendalami iman serta umat menjadi lebih aktif dalam mengikti doa lingkungan. Selain itu Shared Christian Praxis (SCP) membuat umat menjadi lebih memahami arti keterlibatan mereka di lingkungan. Dengan menggunakan Shared Christian Praxis (SCP) umat Kisik Tlagan berkesempatan untuk memberikan usulan dan beberapa harapan bagi umat lingkungan Kisik Tlagan yang ingin mereka lakukan dalam kegiatan lingkungan, sehingga banyak umat yang terlibat aktif dalam hidup bermasyarakat serta kegiatan yang diadakan di lingkungan.

B. SARAN-SARAN

  Semua pihak mengharapkan doa lingkungan dapat berjalan dengan baik, agar doa lingkungan dapat dilaksanakan dengan baik serta umat yang aktif dalam mengikuti dan ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan lingkungan. Maka penulis menyarankan hal-hal kepada pihak-pihak tersebut antara lain:

  1. Ketua Lingkungan lebih giat untuk mengajak warganya hadir mengikuti pendalaman iman di Lingkungan maupun doa lingkungan serta kegiatan- kegiatan yang diadakan di Lingkungan.

  2. Seksi pewartaan lingkungan dapat melaksanakan kegiatan doa lingkungan secara terprogram dan terencana, misalnya dengan menggunakan usulan program yang telah disampaikan.

  3. Umat semakin berperan aktif dalam mengikuti doa lingkungan dan melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan serta menyadari untuk membantu umat dan anggota masyarakat yang mengalami kesusahan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Adisusanto, FX. SJ, (1991). Katekese Sosial, dalam Ekawarta, 1/X, (Februari).

  Dalam Skripsi Antonia Sri Hartuti.(1996). Pengembangan Sosial Ekonomi Sebagai Usaha Gereja dalam Menghadirkan Kerajaan Allah . Prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma. Bagiyowinandi Didik, Pr. Menyiapkan dan Memotivasi Pengurus Lingkungan daustus 2013. Darminta, J. (1983). Tuhan Ajarilah Kami Berdoa. Yogyakarta: Kanisius. ________. (1981). Doa Berdoa. Yogyakarta: Kanisius. Darmawijaya, St. (1994). Mutiara Iman Keluarga Kristiani. Yogyakarta: Kanisius. ________. (1991). Keterlibatan Allah Terhadap Kaum Miskin. Yogyakarta: Kanisius. Dedismas. (2011). Seputar Ibadat Sabda Lingkungan. Dalam http. blogspot.com. 22 Agustus 2013

  Hardawiryana, Sj”Dasar-Dasar Teologis Keprihatinan Dan Keterlibatan Sosial Apa yang Perlu Diolah Melalui Katekese Umat Di Indonesia” dalam Komisi Kateketik . (1995). Katekese Umat dan Evangelisasi Baru.

  Yogyakarta: Kanisius. Heuken. (1979). Bangunkanlah Kebahagiaan Keluargamu. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

  Hardrys, Jacek. (2006). 101 Tanya Jawab Tentang Doa. Jakarta. Idei Jacobs, Tom. (2010). Teologi Doa. Yogyakarta: Kanisius. ________.

  “Orang-orang kecil dalam Kerajaan Allah”, dalam Banawiratma, JB, SJ, ed. (1998). Aspek-Aspek Teologi Sosial. Yogyakarta: Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku informasi dan

  Referensi. Yogyakarta: Kanisius

  ________. (2009). Kopendium Katekismus Gereja Katolik. (Susanto Harry, Penerjemah). KWI dan Kanisius. Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). Kieser, Bernhard. (1986). Moral Sosial: Keterlibatan Umat dalam Hidup Bermasyarakat. Yogyakarta: Kanisius. Kallor, Thomas. (1993). Kehidupan Doa dan Mistik Dalam Kesaksian Hidup

  Religius. Majalah Rohani Tahun XL. Yogyakarta: Kanisius Muller, SJ. Dr. J. “Tugas Perutusan Gereja di Tengah Masalah-masalah Sosial”.

  Dalam E. Ratu Dopo,ed. (1992). Keprihatinan Sosial Gereja. Yogyakarta. Kanisius. Nolan, Albert, OP. (1991). Yesus Kristus Sebelum Agama Kristen. Yogyakarta:

  Kanisius Prasetya, Pr. (2010). Menjadi Pengurus Lingkungan Enjoy Aja!!!. Yogyakarta. Kanisius. Riduwan. (2010). Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung. Alfabeta. Salean, Peter. (1998). Mengapa Pertemuan Itu Penting? Dalam Antonius Simatupang, Mengapa Pertemuan Itu Penting. Padang. Gema Soenarja. Sj. (1984). Bimbingan Hidup dari hari ke hari. Yogyakarta. Kanisius.

  Sugiyono. (2010).Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung. Alfabeta Siti Hartinah DS, MM. (2008). Konseling Keluarga. Universitas Pancasakti Tegal.

  Sugiyana, FX. (2013). Lingkungan: Aktualisasi Hidup Jemaat Perdana Di

  Zaman Modern . Yogyakarta: Kanisius

  Singgih D Gunarsa, (2001). Psikologi Anak Bermasalah.Gunung Mulia. Jakarta Sumarno Ds, M. A. (2008). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan

  Agama Katolik Paroki . Diktat Mata Kuliah Program Pengalaman

  Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki. Untuk Mahasiswa Semester VI, IPPAK-FKIP-USD Yogyakarta. Sutrisno Hadi. (2007). Metodologi Research 2. Yogyakarta: Andi.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh perayaan ekaristi terhadap keterlibatan umat dalam hidup menggereja di stasi pusat Paroki Salib Suci Nanga Tebidah Kalimantan Barat.
2
16
124
Upaya meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah melalui katekese umat model shared christian praxis.
22
211
137
Peranan pendampingan sakramen penguatan bagi kaum muda dalam keterlibatan hidup menggereja di Paroki Santa Lidwina Bandar Jaya Lampung Tengah.
3
38
161
Penghayatan spiritualitas keterlibatan umat berinspirasi pada Santa Maria dalam hidup menggereja di Paroki Santa Maria Kota Bukit Indah Purwakarta.
0
0
189
Sumbangan katekese umat sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Mansalong Paroki Maria Bunda Karmel Mansalong Kabupaten Nunukan.
1
13
158
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.
0
3
159
Pengaruh perayaan ekaristi terhadap keterlibatan umat dalam hidup menggereja di stasi pusat Paroki Salib Suci Nanga Tebidah Kalimantan Barat
1
1
122
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari
2
17
157
Belajar dari kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kualitas hidup beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis - Yogyakarta - USD Repository
0
0
144
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Antonius, Bade, Keuskupan Agung Merauke melalui shared christian praxis - USD Repository
0
0
141
Upaya menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan Santa Maria stasi Majenang paroki Santo Stefanus Cilacap melalui katekese umat - USD Repository
0
0
137
Pengaruh iringan gamelan Jawa terhadap penghayatan iman umat dalam perayaan ekaristi di Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran Yogyakarta - USD Repository
0
0
156
Rekoleksi sebagai upaya melibatkan remaja dalam pengembangan umat di lingkungan Santo Martinus Blendung, Paroki Santa Theresia Sedayu, DIY - USD Repository
0
0
137
Pengaruh perayaan ekaristi bagi keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki Santa Maria Assumta, Gamping, Yogyakarta - USD Repository
0
1
135
Peranan kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan ST. Monika Paroki Wates - USD Repository
0
0
145
Show more