KEPUASAN PERKAWINAN PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISME SKRIPSI

Gratis

0
0
97
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KEPUASAN PERKAWINAN PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISME SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra 149114042 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING KEPUASAN PERKAWINAN PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISME Disusun oleh: Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra 149114042 Telah disetujui oleh: Dosen Pembimbing Tanggal: Prof. A. Supratiknya, Ph.D. ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN KEPUASAN PERKAWINAN PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISME Dipersiapkan dan disusun oleh: Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra 149114042 Telah dipertanggungjawabkan di depan Panitia Penguji Pada tanggal 21 Januari 2019 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji: Nama Lengkap Tanda Tangan 1. Penguji 1: Prof. A. Supratiknya, Ph.D. ........................ 2. Penguji 2: Dr. Tjipto Susana, M.Si. ........................ 3. Penguji 3: Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si. ........................ Yogyakarta, Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Dekan, Dr. Titik Kristiyani, M.Psi. iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO Modal dasar meneliti adalah “teliti” (A. Supratiknya) “Studi itu belajar, belajar itu berproses, berproses itu kesediaan untuk dibentuk, dan bersedia dibentuk itu harus ikhlas, jadi tidak boleh memberontak.” (PS 2) Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi, Keberanian adalah cakrawala, dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. ~ W. S. Rendra ~ Bukan maut yang menggetarkan hatiku, tetapi hidup yang tidak hidup karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya. ~ W. S. Rendra ~ iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini secara khusus saya persembahkan untuk: Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan untuk menikmati keajaiban-keajaiban dalam kehidupan, serta memberkati dan memberi kekuatan dalam setiap langkah saya Ajik dan ibu yang luar biasa hebat, serta mbokgek dan adik tersayang yang memberikan dukungan dan doa tiada henti, serta selalu menjadi tempat ternyaman untuk “pulang” Dosen pembimbing yang tidak pernah lelah memberikan arahan dan bimbingan Para sahabat dan teman sebagai keluarga kedua atas segala partisipasi dalam dinamika kehidupan saya Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah menjadi “rumah kedua” Para orang tua dengan anak autisme yang telah menginspirasi saya dengan cerita pengalaman berharganya v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Yogyakarta, 21 Januari 2019 Penulis Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra NIM : 149114042 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: KEPUASAN PERKAWINAN PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISME beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Yogyakarta Pada tanggal : 21 Januari 2019 Yang menyatakan, (Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra) vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KEPUASAN PERKAWINANPADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISME Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mengenai kepuasan perkawinan secara utuh dan menyeluruh pada orang tua yang memiliki anak autisme.Partisipan dalam penelitian ini adalah 6 orang tua dengan taraf pendidikan minimal Sekolah Menengah Atas (SMA), tinggal di wilayah Yogyakarta, dan memiliki satu anak autisme.Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah wawancara semi terstruktur.Analisis data dilakukan menggunakan metode Analisis Isi Kualitatif (AIK) dengan pendekatan deduktif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dari enam orang tua yang memiliki anak autisme dapat dikatakan puas terhadap kehidupan perkawinannya.Hal ini ditunjukkan oleh ungkapan perasaan positif berupa senang, bahagia, dan puas berkaitan dengan aspek-aspek kepuasan perkawinan, serta terdapat peningkatan kehidupan beragama pada aspek orientasi keagamaan yang dirasakan oleh seluruh partisipan.Meskipun demikian, terdapat aspek yang relatif paling berpotensi mengalami permasalahan, yaitu aspek komunikasi serta aspek anak-anak dan pengasuhan. Kata kunci: kepuasan perkawinan, orang tua, autisme viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MARITAL SATISFACTION ON PARENTS WHO HAVE CHILDREN WITH AUTISM Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra ABSTRACT This study aimed to gain an understanding of marital satisfaction as a whole and thoroughly in parents who have children with autism. The participants in this study were 6 parents with a minimum level of education in high school, living in the Yogyakarta area, and having one child with autism. The method used in data collection is a semi-structured interview. Data analysis was performed using the qualitative content analysis with deductive approach. The results showed that four of six parents who have children with autism can be said to be satisfied with their marital life. This is indicated by the expression of positive feelings like pleasure, happiness, and satisfaction related to aspects of marital satisfaction, and there is an increase in religious life in the aspect of religious orientation. Nevertheless, there are aspects that are relatively the most potential to experience problems, namely the communication aspects and aspects of children and parenting. Keywords: marital satisfaction, parents,autism ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan segala kenikmatan dalam berproses. Berbagai tantangan menghampiri penulis agar tetap teguh untuk berjuang dan mendapatkan pelajaran sebagai pengembangan diri. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucap syukur dan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis selama proses penyusunan skripsi ini. 1. Tuhan Yang Maha Esa atas segala proses berharga dalam hidup penulis dan berkat di setiap langkah penulis. 2. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Romo Dr. A. Priyono Marwan, S. J. dan Bapak P. Eddy Suhartanto, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberikan motivasi dan dukungan selama menjalani proses perkuliahan. 4. Bapak Prof. A. Supratiknya, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Skripsi sekaligus orang tua yang selalu mendidik, serta memberikan dukungan dan arahan kepada penulis dengan penuh kesabaran. Terima kasih sudah memberikan kekuatan untuk terus berproses dalam segala situasi, sehingga penulis bisa menunjukkan kemampuan terbaik selama berjuang dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga Bapak sehat selalu dan dilimpahkan berkat oleh Tuhan yang Maha Esa. 5. Ibu P. Henrietta P. D. A. D. S., S. Psi., M. A., selaku dosen sekaligus orang tua yang selalu menguatkan dan mendukung penulis, serta setia menanyakan kemajuan proses penyelesaian skripsi penulis dan memberikan motivasi. Terima kasih atas dinamika kerjasama, diskusi, dan sharing yang sangat bermanfaat untuk pengembangan diri penulis. Semoga Ibu selalu dilimpahkan berkat oleh Tuhan yang Maha Esa. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Bapak Prof. A. Supratiknya, Ph.D., Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si., dan Ibu Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si., selaku dosen penguji yang telah membantu menyempurnakan skripsi ini. 7. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan pengetahuan dan pengalaman yang sangat bermanfaat kepada penulis selama proses perkuliahan. 8. Staf karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, khususnya Mas Gandung, Mas Sidiq, Bu Nanik, dan Mas Muji yang selalu membantu penulis dengan keramahan terkait berbagai hal selama perkuliahan. 9. Para orang tua yang dengan ketulusan hati bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini dan rela menjalani proses wawancara. Tanpa beliau-beliau, maka skripsi ini tidak dapat terselesaikan. 10. Ratu Kakiang yang selalu hadir di setiap duka dan titik terendah hidup penulis dengan senyuman yang menyejukkan dan memberikan energi yang luar biasa. 11. Ratu Niang, Ninik, Pekak, dan kedua orang tua penulis tercinta (DS. Putra dan Ibu kesabaran) yang selalu setia memberikan doa dan semangat, serta segala pengertian, perhatian, kasih sayang, dan dukungan dalam berbagai bentuk. Semoga Niang, Ninik, Pekak, Ajik, dan Ibu selalu dilindungi Sang Hyang Widhi Wasa, diberi kesehatan dan kebahagiaan, dijauhkan dari mara bahaya, dan selalu harmonis. 12. Satu-satunya kakak dan adik penulis yang selalu sabar menghadapi tingkah laku penulis, serta selalu memberikan doa dan dukungan yang tulus. I Love You more than you know. Sukses untuk kita! 13. Seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan penulis dan selalu setia menemani dalam suka dan duka, mendengar setiap keluh kesah penulis, meluangkan waktu, memberikan hal-hal spontan yang membuat bahagia dan nyaman, serta nasihat-nasihat yang menenangkan. Tuhan memberkati setiap langkahmu. 14. My kehat yang selalu siap sedia saat penulis membutuhkan bantuan. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. My cuy yang setia membantu dan menemani penulis saat mulai putus asa mengurus segala kebutuhan untuk mencari partisipan. 16. Saudara tak sekandung Anggun dan Dian yang masih setia di samping penulis, tidak pernah berubah meskipun jarak memisahkan, serta tetap saling mendukung dan mendoakan. Sukses untuk kita! Sampai jumpa dengan segudang cerita. 17. Lia dan Fuji yang selalu ada di saat suka dan duka selama menjadi perantau di kota Jogja yang penuh kenangan. Terima kasih telah bertahan dengan penulis yang tak luput dari berbagai kekurangan dan keterbatasan. Keberadaan dan dukungan kalian sungguh berarti. Semoga kita tetap bertahan meski akan terpisah oleh jarak. God bless you sisters. 18. Rani dan Deo yang telah memberi warna dalam kehidupan penulis. Terima kasih atas canda, tawa, dan air mata yang akan selalu terkenang. 19. Teman-teman kelas E (the one and only kelas E sepanjang sejarah sampai saat ini) yang berdinamika bersama selama 6 semester. Panitia KPU Fakultas Psikologi 2014, Class Meeting 2015, Psychotour 2016, dan Seminar Bedah Skripsi 2016. Teman-teman Puspa Paingan 2015, Volunteer Pendampingan Anak 2016-2017, PKM-M 2017 “LELUCON”, KKN LV Kelompok 64, dan Asisten Penelitian Bu Agnes. Keluarga baru DPMF Psikologi 2014-2015, BEMF Psikologi 2015-2016, dan DPMF Psikologi 2017. 20. Komisi A-ku tersayang (Kak Mitha) yang merangkap menjadi kakak perempuan yang sangat mengayomi; PSDM-ku tercinta (Linda, Rosi, dan Egi) yang membantu proses penulis untuk keluar dari zona nyaman dan berjuang di tengah badai; DPMF-ku (Kevin, Teguh, Dito, Ima, Hannah, Tika, Pev, Pipin, Sita, Rio, Lydia, Dian, Erick, Risty, Dhana, Bambang, dan Novi) yang tetap setia bersama penulis dalam proses belajar menjadi pemimpin dan manusia. 21. Teman-teman Asistensi Tes Kognitif (Bunda Gita Lovers: Tesha, Angel, Cindy, Ella, Tia, Tini, Lydia, Ma) dan Tes Proyektif: TAT & CAT (TAT Ceria: Dianri, Hera, Eva, Ima, Kenan, Novi, Dhisa, Tini) yang mau xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menerima dan bersabar dengan penulis. Terima kasih atas pengertian dan kesediaan kalian untuk berproses bersama. Sukses untuk kalian! 22. “Anak-anak profesor” yang telah meluangkan waktu untuk saling membantu, bertukar pikiran, dan memberi semangat. Ayo terus berjuang! Sukses untuk kita semua. 23. Dan semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu karena segala keterbatasan penulis. Terima kasih sudah memberikan warna dalam hidup penulis. Semoga selalu diberkati Tuhan Yang Maha Segalanya. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kekurangan dan keterbatasan dalam skripsi ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Akhir kata semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Yogyakarta, 21 Januari 2019 Penulis, Ida Ayu Made Gita Prati Sanjiwani Putra xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................iii HALAMAN MOTTO ....................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................. vii ABSTRAK .....................................................................................................viii ABSTRACT ....................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ....................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................. xiv DAFTAR TABEL ........................................................................................ xviii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Pertanyaan Penelitian ............................................................................. 9 C. Tujuan Penelitian ................................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian.................................................................................. 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PERKAWINAN ................................................................................... 10 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. KEPUASAN PERKAWINAN 1. Pengertian Kepuasan Perkawinan ................................................... 11 2. Aspek-aspek Kepuasan Perkawinan ................................................ 11 a. Permasalahan-permasalahan Kepribadian ................................. 12 b. Kesamaan Peran ....................................................................... 12 c. Komunikasi .............................................................................. 12 d. Pemecahan Masalah .................................................................. 12 e. Manajemen Keuangan .............................................................. 12 f. Aktivitas dalam Mengisi Waktu Luang ..................................... 13 g. Hubungan Seksual .................................................................... 13 h. Anak-anak dan Pengasuhan ...................................................... 13 i. Keluarga dan Teman-teman ...................................................... 13 j. Orientasi Keagamaan ................................................................ 14 3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kepuasan Perkawinan ................ 14 C. AUTISME 1. Pengertian Autisme ........................................................................ 15 2. Karakteristik Penderita Autisme ..................................................... 15 3. Beban Orang tua dengan Anak Autisme dan Kepuasan Perkawinan 16 D. KERANGKA KONSEPTUAL ............................................................. 20 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian................................................................... 24 B. Fokus Penelitian ................................................................................... 25 C. Partisipan ............................................................................................. 26 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Peran Peneliti ....................................................................................... 26 E. Metode Pengambilan Data .................................................................... 28 F. Analisis dan Interpretasi Data ............................................................... 32 G. Kredibilitas Data .................................................................................. 34 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian ......................................................................... 35 B. Latar Belakang Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara ................ 35 C. Hasil Penelitian .................................................................................... 43 1. Permasalahan-permasalahan Kepribadian ....................................... 44 2. Kesamaan Peran ............................................................................. 47 3. Komunikasi .................................................................................... 49 4. Pemecahan Masalah ....................................................................... 52 5. Manajemen Keuangan .................................................................... 54 6. Aktivitas dalam Mengisi Waktu Luang ........................................... 55 7. Hubungan Seksual .......................................................................... 57 8. Anak-anak dan Pengasuhan ............................................................ 59 9. Keluarga dan Teman-teman ............................................................ 61 10. Orientasi Keagamaan ...................................................................... 64 D. Pembahasan ......................................................................................... 65 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan .......................................................................................... 70 B. Keterbatasan Penelitian ........................................................................ 71 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. Saran 1. Bagi Peneliti Selanjutnya ................................................................ 71 2. Bagi Praktisi Psikologi ................................................................... 72 3. Bagi Orang Tua yang Memiliki Anak Autisme ............................... 72 DAFTAR ACUAN .......................................................................................... 74 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Kriteria Koding Kepuasan Perkawinan Fowers dan Olson ............... 33 Tabel 2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Wawancara ................................... 35 Tabel 3. Demografi Partisipan ....................................................................... 35 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian .................................................. 23 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seorang laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah dan membangun sebuah keluarga memiliki harapan yang ingin dicapai dalam perkawinannya. Terpenuhinya harapan-harapan dalam perkawinan dapat menimbulkan perasaan senang, bahagia, dan puas. Hal ini biasa dikenal dengan istilah kepuasan perkawinan. Spanier dan Cole (1976) mengungkapkan bahwa kepuasan perkawinan merupakan evaluasi subjektif yang dilakukan oleh seseorang terhadap pasangan, perkawinan, dan hubungan yang terjalin dengan pasangannya. Menurut Fowers dan Olson (1989), aspek-aspek kepuasan perkawinan terdiri dari kepuasan terhadap perilaku dan kepribadian pasangan, perasaan dan sikap dalam menjalankan berbagai peran dalam keluarga dan perkawinan, komunikasi dengan pasangan, pemecahan masalah, manajemen keuangan, aktivitas dalam mengisi waktu luang, hubungan seksual, kehadiran anak dan pengasuhan, keluarga dan teman-teman, serta orientasi keagamaan. Pasangan suami istri yang merasa puas dengan perkawinannya beranggapan bahwa harapan, keinginan, dan tujuan yang ingin dicapai saat menikah terpenuhi, baik sebagian maupun seluruhnya. Berdasarkan hal tersebut, pasangan suami istri merasa hidupnya menjadi lebih berarti dan lebih lengkap dibandingkan sebelum menikah. Sebaliknya, pasangan suami istri yang merasa tidak puas dengan perkawinannya dan mengalami permasalahan-permasalahan yang tidak dapat teratasi dalam perkawinan dapat mengakibatkan depresi (Wright, 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 1993). Hal ini ditandai antara lain dengan adanya ketergantungan yang berlebihan terhadap pasangan, hambatan dalam menjalin komunikasi, menarik diri, memiliki perasaan benci dan marah, konflik, serta perasaan negatif yang cenderung kuat (Coyne, 1984). Hendrick dan Hendrick (1992) mengungkapkan bahwa kepuasan perkawinan dapat dipengaruhi oleh faktor premarital dan postmarital. Faktor premarital terdiri dari latar belakang ekonomi, pendidikan, dan hubungan dengan orang tua. Latar belakang ekonomi menunjukkan status ekonomi pasangan yang apabila dirasakan tidak sesuai dengan harapan dapat menimbulkan konflik dan membahayakan hubungan perkawinan. Pendidikan yang dimiliki pasangan juga dapat memengaruhi kepuasan perkawinan karena pasangan yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah dapat mengakibatkan tingkat kepuasan perkawinan yang lebih rendah karena lebih banyak mengalami stressor seperti pengangguran dan penghasilan yang rendah. Hubungan dengan orang tua dapat memengaruhi sikap terhadap romantisme, perkawinan, dan perceraian. Faktor postmarital terdiri dari lama perkawinan dan kehadiran anak. Lama perkawinan dapat memengaruhi kepuasan perkawinan karena semakin lama usia perkawinan, maka semakin besar kemampuan pasangan suami istri untuk menghadapi konflik yang muncul ketika sedang berjauhan (Gerstel & Gross, 1982). Menurut Bilgin dan Kucuk (2010), kehadiran anak dalam keluarga membuat pasangan suami istri memiliki harapan hidup dan peran yang baru sehingga perlu mempersiapkan diri agar proses adaptasi berjalan dengan optimal, khususnya untuk menghadapi kehadiran anak yang membutuhkan perhatian atau

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 perawatan khusus seperti anak berkebutuhan khusus. Kehadiran anak memiliki pengaruh yang besar terhadap kepuasan perkawinan pada orang tua karena dapat menambah stres yang dirasakan dan mengurangi waktu bersama pasangan. Anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki kelainan atau penyimpangan dari kondisi anak normal pada umumnya baik secara fisik, mental, intelektual, sosial, maupun emosional (Soetjiningsih, 2010). Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 0,53% anak-anak rentang usia 24 sampai dengan 59 bulan umumnya mengalami keterbatasan yang disebabkan oleh penyakit atau trauma dengan kecenderungan keterbatasan tertinggi adalah keterbatasan penglihatan atau tuna netra dengan persentase sebesar 0,17%, dan kecenderungan terendah adalah keterbatasan pendengaran atau tuna runggu dengan persentase sebesar 0,07% (Infodatin, 2014). Salah satu kategori anak berkebutuhan khusus yang tergolong paling sulit ditangani adalah anak autisme. Autisme merupakan istilah yang digunakan untuk anak-anak yang dalam kehidupan sosialnya tidak mau bergaul dan memiliki ketertarikan pada dunianya sendiri (Kanner dalam Suryana, 2004). Pada umumnya, anak dengan autisme memiliki hambatan dalam berkomunikasi, menjalin interaksi sosial, serta memiliki aktivitas dan minat yang terbatas dan selalu berulang (repetitive). Di Indonesia, jumlah penyandang autisme pada tahun 2000 adalah satu per 500 anak dan diperkirakan tahun 2010 berubah menjadi satu per 300 anak. Pada tahun 2015, Indonesia diperkirakan memiliki satu per 250 anak yang mengalami autisme dan terdapat kurang lebih 12.800 anak penyandang autisme (Judarwanto, 2015). Centers for Disease and Prevention (CDC, 2009)

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 menemukan bahwa pada tahun 2006 terdapat 1 persen atau 40.000 anak-anak usia 8 tahun di Amerika Serikat yang memenuhi kriteria Autism Spectrum Disorder (ASD). Menurut Sastry dan Aguirre (2014), CDC mengestimasi 1 dari 110 anak di Amerika Serikat dapat mengalami ASD dan para ahli mengungkapkan prediksi yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penderita ASD mengalami peningkatan. Orang tua akan mengalami kesedihan dan kebingungan setelah mengetahui bahwa anaknya menderita autisme. Reaksi pertama yang muncul adalah pertanyaan “kenapa saya?” yang disertai dengan perasaan marah, geram, kecewa, sedih, tidak percaya, hingga akhirnya pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa (Puspita, 2004). Menurut Marijani (2003), orang tua akan mengalami perasaan galau antara penerimaan dan penolakan, serta antara rasa syukur dan amarah. Pengasuhan terhadap anak dengan autisme yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan mengasuh anak biasa membuat orang tua harus berjuang merawat anaknya hingga lupa menjaga keseimbangan hidup dan hubungannya dengan pasangan. Orang tua juga mengalami tantangan finansial terkait biaya perawatan untuk anak, tantangan psikologis yang berkaitan dengan stres yang dirasakan, serta tantangan sosial dan praktis (Sastry & Aguirre, 2014). Kehadiran anak ke dalam keluarga menuntut orang tua untuk melakukan perubahan-perubahan tertentu dalam kehidupan perkawinannya, sehingga berdampak pada perubahan pola interaksi yang terjalin bersama pasangan karena harus mulai membagi perhatian dan menjalani peran baru sebagai orang tua (Bird & Melville, 1994). Peran baru untuk merawat anak berdampak pada pengurangan waktu bersama pasangan dan

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 pengurangan energi untuk memelihara hubungan dengan pasangan (Glenn & Weaver dalam Kail & Cavanaugh, 2000). Hal ini menyebabkan adanya tekanan dan berbagai permasalahan dalam perkawinan, sedangkan orang tua memiliki peran penting dalam merawat dan menentukan penanganan yang tepat untuk anak dengan autisme. Orang tua yang memiliki anak autisme juga cenderung memiliki tingkat kepuasan yang lebih rendah dalam hubungan mereka (Sastry & Aguirre, 2014). Menurut Siegel (dalam Cohen & Volkmar, 1997), keretakan dalam rumah tangga sering dipengaruhi oleh munculnya perasaan bersalah, kurangnya penerimaan, perilaku saling menyalahkan satu sama lain, dan perbedaan pandangan dalam merawat anak autisme. Permasalahan-permasalahan perkawinan yang lain terkait dengan pembagian pekerjaan dalam rumah tangga dan penyangkalan pasangan terhadap diagnosis yang diberikan kepada anak (IAN, 2009 dalam Sastry & Aguirre, 2014). Berdasarkan uraian di atas, peneliti meyakini bahwa orang tua mengalami perasaan negatif dan kegalauan setelah mengetahui bahwa anaknya menderita gangguan autis. Peran baru untuk merawat anak berdampak pada berkurangnya waktu dan energi yang dimiliki oleh orang tua untuk memelihara hubungan mereka, sehingga dapat menimbulkan permasalahan dalam perkawinan dan memengaruhi tingkat kepuasan yang dirasakan terhadap hubungan yang dijalani. Berdasarkan hal tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kepuasan perkawinan pada orang tua yang memiliki anak autisme? Beberapa penelitian tentang kepuasan perkawinan yang pernah dilakukan di Indonesia mengaitkan kepuasan perkawinan dengan variabel psikologis lain,

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 yaitu religiusitas (Istiqomah & Mukhlis, 2015) dan kelekatan (Soraiya, Khairani, Rachmatan, Sari & Sulistyani 2016). Penelitian-penelitian tersebut melibatkan sejumlah laki-laki dan perempuan sebagai subjek penelitian dan menunjukkan bahwa kepuasan perkawinan berkorelasi positif terhadap religiusitas (Istiqomah & Mukhlis, 2015) dan kelekatan aman (Soraiya dkk, 2016). Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah kuantitatif dengan instrumen pengumpulan data berupa skala Enrich Marital Satisfaction (EMS) yang dikembangkan oleh Fowers dan Olson (Istiqomah & Mukhlis, 2015; Soraiya dkk, 2016). Meski demikian, ada pula penelitian yang tidak mengaitkan kepuasan perkawinan dengan aspek lain. Penelitian yang dilakukan oleh Larasati (2012) menemukan bahwa kepuasan perkawinan dipengaruhi oleh terpenuhi atau tidaknya aspek-aspek kepuasan perkawinan dan hal tersebut berkaitan dengan dukungan yang diberikan oleh suami dalam membantu perekonomian dan pengerjaan tugas rumah tangga. Habibi (2015) menggali tentang kepuasan perkawinan pada wanita yang dijodohkan dan menunjukkan bahwa terpenuhinya aspek-aspek dalam perkawinan dapat menimbulkan kepuasan perkawinan. Peneliti melibatkan tiga orang wanita sebagai subjek penelitian dengan jenis penelitian kualitatif dan metode wawancara untuk mengumpulkan data. Beberapa penelitian yang dilakukan pada orang tua yang memiliki anak autisme menggunakan metode eksperimen, serta berfokus pada pemberian terapi mindfulness dan menunjukkan bahwa pemberian terapi memberikan efek positif terhadap kepuasan perkawinan (Bluth, Roberson, Billen, & Sams, 2013; Fahimi, 2016). Hartley et al (2011) menemukan bahwa kepuasan perkawinan merupakan

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 prediktor penting dalam pengalaman mengasuh anak, khususnya pada ayah. Penelitian lain menunjukkan bahwa ayah dan ibu tidak memiliki tingkat stres dan depresi yang berbeda, namun ibu memiliki kecemasan yang lebih banyak dibandingkan ayah (Hastings, 2003). Penelitian yang dilakukan oleh Pradana dan Kustanti (2017) menunjukkan bahwa seorang ibu yang memiliki anak autisme akan memiliki psychological well-being yang tinggi ketika memperoleh dukungan sosial yang tinggi dari suaminya, namun penelitian lain menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam perawatan langsung terhadap anak berkebutuhan khusus cenderung berkurang sehingga memengaruhi kepuasan hubungan yang terjalin di antara orang tua (Bristol, Gallagher, & Schopler, 1988; Brobst, Clopton, & Hendrick, 2009; Lee el al, 2008). Penelitian yang dilakukan dengan menerapkan jenis penelitian kualitatif dan metode wawancara oleh Hock, Timm, dan Ramisch (2011) berfokus pada bagaimana pengasuhan terhadap anak dengan autisme dapat menjadi wadah bagi hubungan orang tua karena memberikan tekanan yang besar untuk dapat beradaptasi dengan hubungan mereka. Penelitian lain yang dilakukan di dua negara bagian AS menunjukkan bahwa sebanyak 391 orang tua dari anak-anak autisme menunjukkan adanya permasalahan dalam perkawinan, serta memiliki tingkat perceraian yang lebih tinggi pada rentang usia perkawinan 6 tahunan dan tidak menunjukkan adanya penurunan dalam resiko perceraian (Hartley et al, 2010). Birditt, Brown, Orbuch, dan Mcilvane (2010) menyatakan bahwa perilaku anak dengan autisme dapat menimbulkan konflik dan menurunnya kepuasan

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 perkawinan pada orang tua. Peneliti dalam penelitian tersebut menerapkan studi longitudinal dalam penelitiannya. Berikut ini adalah uraian defisiensi atau celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya mengenai topik kepuasan perkawinan pada orang tua yang memiliki anak autisme. Dari segi variabel yang diteliti, penelitian sebelumnya menghubungkan kepuasan perkawinan dengan variabel atau aspek psikologis lain dan beberapa penelitian cenderung berfokus pada pemberian terapi. Penelitianpenelitian yang khususnya dilakukan di Indonesia juga kurang berfokus pada kepuasan perkawinan orang tua yang memiliki anak autisme. Penelitian lain memberikan penekanan pada adanya permasalahan dalam perkawinan dan tingkat perceraian yang terjadi. Dari segi metode, penelitian sebelumnya menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan instrumen berupa skala untuk mengukur kepuasan perkawinan, serta beberapa penelitian menggunakan metode eksperimen. Penelitian-penelitian yang khususnya dilakukan di Indonesia, menggunakan metode wawancara dengan melibatkan subjek penelitian yang belum berfokus pada orang tua yang memiliki anak autisme. Berdasarkan defisiensi tersebut, maka penelitian ini secara khusus akan mengungkap dan memahami bagaimana kepuasan perkawinan pada orang tua yang memiliki anak autisme. Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif untuk menggali penghayatan partisipan terhadap pengalaman pribadinya. Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah orang tua dengan taraf pendidikan minimal Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mempunyai seorang anak autisme dan tinggal di wilayah Yogyakarta. Prosedur pengambilan data akan

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 dilakukan dengan metode wawancara semi terstruktur pada masing-masing partisipan dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi kualitatif. B. Pertanyaan Penelitian Bagaimana kepuasan perkawinan pada orang tua yang memiliki anak autisme? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah memperoleh pemahaman mengenai kepuasan perkawinan secara utuh dan menyeluruh pada orang tua yang memiliki anak autisme. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan minimal dua manfaat. Pertama, secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan baru bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi klinis dewasa terkait teori relasi pada perkawinan yang berkaitan dengan kepuasan perkawinan pada orang tua yang memiliki anak autisme. Kedua, secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada tenaga profesional mengenai aspek-aspek yang berpotensi dapat menjaga dan membahayakan kepuasan perkawinan pada orang tua yang memiliki anak autisme, serta memberikan pemahaman dan masukan kepada para orang tua yang memiliki anak autisme mengenai aspek-aspek yang perlu dikembangkan agar dapat meningkatkan perasaan puas dan bahagia dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perkawinan Perkawinan merupakan hubungan mutual antara seorang laki-laki dan perempuan yang diakui dan diatur oleh suatu institusi secara sosial dan legal, sehingga memungkinkan dilakukannya hubungan seksual, pembagian peran antara suami dan istri, serta pembagian tugas pengasuhan anak dengan tujuan membentuk serta membina sebuah keluarga (Duvall-Miller, 1985; Levinson, 1995). Undang-undang No. I tahun 1974 tentang perkawinan menyatakan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir dan batin yang terjalin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hubungan tersebut melibatkan peran dan tanggung jawab pasangan suami istri yang di dalamnya terdapat keintiman, komitmen, persahabatan, cinta dan kasih sayang (afeksi), pemenuhan kebutuhan seksual, serta kesempatan untuk pengembangan emosional sebagai sumber baru bagi identitas dan harga diri (Gardiner & Kosmitzki, 2005; Myers, 2000). Berdasarkan definisi-definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perkawinan merupakan sebuah ikatan lahir batin yang terjalin antara seorang lakilaki dan perempuan yang diakui dan diatur secara legal untuk membina sebuah keluarga baru yang bahagia, serta melibatkan hubungan seksual, pembagian peran antara suami dan istri, serta pembagian tugas pengasuhan anak. 10

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 B. Kepuasan Perkawinan 1. Pengertian Kepuasan Perkawinan Kepuasan perkawinan merupakan evaluasi subjektif yang dilakukan oleh suami atau istri atas kualitas hubungan dalam kehidupan perkawinan berdasarkan perasaan senang, bahagia, dan puas (Bird & Melville, 1994). Hal ini terkait dengan pengalaman menyenangkan yang dilalui bersama pasangan dengan mempertimbangkan aspek-aspek dalam perkawinan, khususnya yang berhubungan dengan pasangan (Fower & Olson, 1993). Menurut Bradbury, Fincham, dan Beach (2000), kepuasan perkawinan merupakan suatu kondisi mental yang mencerminkan persepsi individu mengenai kelebihan dan kekurangan perkawinannya, sehingga individu akan merasa puas ketika mendapatkan manfaat dari perkawinan dan begitu pula sebaliknya. Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kepuasan perkawinan adalah evaluasi subjektif yang dilakukan oleh individu berkenaan dengan perasaan positif berupa bahagia, puas, dan senang yang dirasakan terkait seluruh aspek dalam perkawinan untuk menggambarkan kekurangan dan kelebihan yang ada di dalam kehidupan perkawinan yang dijalani. 2. Aspek-aspek Kepuasan Perkawinan Fowers dan Olson (1989) pada ENRICH Marital Inventory mengemukakan bahwa kepuasan perkawinan terdiri dari beberapa aspek yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan penilaian atau evaluasi terhadap kehidupan perkawinan yang dijalani, antara lain:

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 a. Permasalahan-permasalahan kepribadian Aspek ini melihat persepsi individu mengenai pasangannya terkait permasalahan-permasalahan perilaku dan tingkat kepuasan yang dirasakan terhadap permasalahan-permasalahan tersebut. b. Kesamaan peran Aspek ini menilai perasaan senang dan kesediaan individu dalam menjalankan peran yang beragam dalam kehidupan perkawinan dan keluarga yang berfokus pada pekerjaan, tugas rumah tangga, peran sesuai dengan jenis kelamin, dan peran sebagai orang tua. c. Komunikasi Aspek ini berkaitan dengan perasaan senang dan sikap individu terhadap komunikasi di dalam hubungannya dengan pasangan yang berfokus pada tingkat kenyamanan yang dirasakan dalam membagi dan menerima informasi secara emosional dan kognitif kepada pasangan. d. Pemecahan masalah Aspek ini menilai persepsi individu mengenai keberadaan permasalahan dan penyelesaian masalah yang ada di dalam hubungannya bersama pasangan yang berfokus pada keterbukaan untuk mengenali dan menyelesaikan masalah, serta strategi yang digunakan untuk mengakhiri perdebatan yang terjadi bersama pasangan. e. Manajemen keuangan Aspek ini berfokus pada perasaan senang dan sikap individu dalam mengelola masalah ekonomi dalam kehidupan perkawinan dengan menilai

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 pola pengeluaran dan kepedulian terhadap pengambilan keputusan terkait keuangan. f. Aktivitas dalam mengisi waktu luang Aspek ini berfokus pada kecenderungan individu untuk mengisi waktu luang bersama pasangan dan harapan-harapan untuk mengisi waktu luang sebagai pasangan. g. Hubungan seksual Aspek ini menilai perasaan senang yang dirasakan oleh individu terkait afeksional dan hubungan seksual dalam kehidupan perkawinan yang mencerminkan sikap terhadap permasalahan seksual, perilaku seksual, kontrol terhadap kelahiran, dan kesetiaan seksual. h. Anak-anak dan pengasuhan Aspek ini menilai perasaan senang dan sikap individu terkait kehadiran anak dan pengasuhan terhadap anak yang berfokus pada keputusan mengenai disiplin anak, cita-cita untuk anak, dan pengaruh kehadiran anak terhadap hubungan dengan pasangan. i. Keluarga dan teman-teman Aspek ini menilai perasaan senang yang dirasakan oleh individu terkait hubungan dengan kerabat, mertua, dan teman-teman yang mencerminkan harapan dan kenyamanan ketika menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 j. Orientasi keagamaan Aspek ini menilai makna keyakinan beragama bagi individu dan praktik keagamaan di dalam kehidupan perkawinan. 3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kepuasan Perkawinan Menurut Hendrick dan Hendrick (1992) faktor-faktor yang dapat memengaruhi kepuasan perkawinan dapat dibagi menjadi dua. Pertama, premarital factors yang terdiri dari latar belakang atau status ekonomi, pendidikan yang berkaitan dengan pekerjaan dan penghasilan, serta hubungan dengan orang tua terkait sikap romantisme, perkawinan, dan perceraian. Kedua, postmarital factors yang terdiri dari lama perkawinan dan kehadiran anak. Bilgin dan Kucuk (2010) mengungkapkan bahwa kehadiran anak dalam sebuah keluarga memberikan harapan hidup dan peran baru bagi pasangan suami istri, sehingga pasangan suami istri perlu mempersiapkan diri agar dapat menyesuaikan diri dengan optimal terhadap kondisi keluarga yang baru, khususnya ketika anak didiagnosis mengalami autisme. Kehadiran anak autisme dengan berbagai keterbatasan mengharuskan orang tua untuk memberikan perhatian dan perawatan khusus. Hal ini dapat meningkatkan stres pada orang tua serta menambah tugas rumah tangga yang membutuhkan waktu dan energi yang lebih besar, sehingga dapat mengurangi waktu bersama pasangan dan memengaruhi kepuasan terhadap hubungan dengan pasangan (Sastry & Aguiree, 2014).

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 C. Autisme 1. Pengertian Autisme Istilah Autisme pertama kali ditemukan pada tahun 1943 oleh Leo Kanner dan dideskripsikan sebagai sebuah gangguan yang ditandai dengan ketidakmampuan individu untuk berinteraksi dengan orang lain, adanya gangguan dalam berbahasa yang ditunjukkan oleh tertundanya penguasaan bahasa, echolalia, mutism, dan pembalikan kalimat, adanya kegiatan bermain repetitive dan stereotype, rute ingatan yang kuat, serta memiliki keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan lingkungannya (Dawson & Castelloe dalam Widihastuti, 2007). Anak yang mengalami gangguan autis biasanya memiliki penampilan dan pertumbuhan fisik yang normal seperti anak-anak pada umumya, bahkan beberapa memiliki kemampuan dan keterampilan yang unik meskipun mengalami gangguan perkembangan kompleks terkait komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi yang gejalanya mulai tampak pada tiga tahun pertama (Suryana, 2004). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa autisme merupakan gangguan perkembangan kompleks pada anak yang ditandai dengan ketidakmampuan berinteraksi dengan orang lain, adanya gangguan berbahasa, adanya kegiatan bermain repetitive, serta memiliki keinginan untuk mempertahankan keteraturan lingkungan sekitarnya. 2. Karakteristik Penderita Autisme Sastry dan Aguirre (2014) mengungkapkan bahwa karakteristik penderita autisme dapat dilihat dari tiga jenis perbedaan umum dalam autisme

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 yang mengacu pada kelemaham di wilayah-wilayah yang memiliki keterkaitan satu sama lain, yaitu interaksi sosial, komunikasi dan bahasa, serta pola perilaku. Perilaku spesifik terkait wilayah-wilayah tersebut, antara lain: a. Interaksi sosial : Individu dengan spektrum autisme mengalami kesulitan dalam berbagi pengalaman dengan orang lain karena memiliki ketidakmampuan untuk memahami perasaan dan emosi orang lain. b. Komunikasi : Individu dengan spektrum autisme mengalami ketidakmampuan untuk memproduksi kata-kata bermakna, serta memiliki permasalahan dalam memahami dan mengkontekskan perkataan, tulisan, maupun ekspresi non verbal dari orang lain. Individu dengan autisme juga memiliki ketidakmampuan untuk mempertahankan percakapan seperti orang lain pada umumnya. c. Minat dan perilaku : Individu dengan spektrum autisme menunjukkan perilaku yang dianggap tidak biasa oleh orang lain, seperti gerakan tubuh berulang dan gerakan yang menarik perhatian. Individu dengan spektrum autisme juga memiliki minat pada hal-hal tertentu dan terbatas hanya pada hal tersebut. 3. Beban Orang Tua dengan Anak Autisme dan Kepuasan Perkawinan Orang tua akan menunjukkan serangkaian reaksi emosi saat mengetahui kondisi anak dan diagnosis bahwa anaknya mengalami autisme, seperti menangis, merasa tidak berdaya, marah kepada Tuhan, tidak mempercayai diagnosis yang diberikan kepada anak mereka, marah atau mempertanyakan kemampuan pihak profesional yang memberikan diagnosis, dan terkejut setelah

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 memahami tingkat keseriusan diagnosis (Sullivian dalam Cohen & Volkmar, 1997). Widihastuti (2007) juga mengungkapkan bahwa orang tua biasanya mengalami stres, kecewa, patah semangat, khawatir terhadap masa depan anaknya, dan berusaha mencari pengobatan kemana-mana, serta menunjukkan berbagai reaksi lainnya. Orang tua mulai mencari alternatif penanganan bagi anak mereka untuk mempersiapkan anak semandiri mungkin agar dapat hidup dengan layak saat orang tuanya beranjak tua atau meninggal dunia. Laura Schieve dan koleganya (2007, dalam Sastry & Aguirre, 2014) menemukan bahwa orang tua yang memiliki anak autisme akan merasa sedih karena menghadapi lebih banyak persoalan dibandingkan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus lainnya saat berusaha untuk mendapatkan perawatan kesehatan, intervensi, dan terapi yang dibutuhkan oleh anak mereka. Sastry dan Arguirre (2014) mengungkapkan bahwa kehadiran anak autisme juga menimbulkan sejumlah tantangan bagi orang tua, yaitu tantangan pada faktor finansial, psikologis, praktis, dan sosial. Tantangan pada faktor finansial berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua untuk mengasuh anak autisme, khususnya untuk biaya kesehatan dan pendidikan yang sekaligus memengaruhi peningkatan biaya hidup keluarga. Tantangan tersebut semakin berat ketika kehadiran anak autisme memberikan efek negatif terhadap karir orang tua yang cenderung meminta libur atau bahkan berhenti dari pekerjaan demi mengasuh anak. Orang tua juga mengalami tantangan pada faktor psikologis terkait stres yang dirasakan karena perilaku anak, serta penanganan yang melelahkan dan

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 mengecewakan. Faktor psikologis berupa kekhawatiran akan masa depan anak, pendapat keluarga besar dan teman-teman, serta dukungan yang akan diperoleh dari pasangan juga menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh orang tua yang memiliki anak autisme. Tantangan terkait stres lain yang umumnya dirasakan oleh orang tua adalah depresi, kecemasan, dan kemarahan. Orang tua dengan anak autisme mengalami stres dengan kadar stres pada ibu lebih tinggi dibandingkan kadar stres yang dialami oleh ayah (Sastry & Aguirre, 2014). Seorang ibu yang memiliki anak autisme juga mengalami stres yang lebih besar dibandingkan dengan ibu yang memiliki anak Down Syndrome (Abbeduto et al, 2004). Menurut Annette Estes dan koleganya (2009, dalam Sastry & Aguirre, 2014) sumber stres pada ibu disebabkan oleh antara lain anak mudah tersinggung, melakukan agitasi, menangis, ujarannya tidak benar, memiliki ketidakmampuan untuk mengikuti aturan dan menunjukkan kesulitan perilaku lainnya, serta tidak pernah merasa membutuhkan bantuan untuk melakukan tugas dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, orang tua dari anak autisme mengungkapkan permasalahan psikologis yang lebih banyak dibandingkan dengan orang tua lainnya dan sering mengalami perasaan terisolasi (Sastry & Aguirre, 2014). Tantangan pada faktor praktis juga dialami oleh orang tua karena harus menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugas sehari-hari dan bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Orang tua juga harus melakukan beberapa perubahan signifikan karena memiliki tugas rumah tangga tambahan yang memerlukan ekstra waktu, perhatian, dan tenaga, serta

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 kerja keras dan adaptasi yang cenderung besar, seperti menyediakan waktu yang lebih banyak untuk mengurus dan mengawasi perilaku anak, memikirkan pengobatan atau terapi yang diperlukan untuk anak, dan lain-lain (Powers, 1989 dalam Powers, 2000). Tantangan lain yang dialami oleh orang tua yang memiliki anak autisme terdapat pada faktor sosial karena orang tua cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih buruk dibandingkan dengan orang tua dengan anak yang tergolong normal. Semua hal tersebut diduga akan berpengaruh secara negatif terhadap kepuasan perkawinan karena mengakibatkan adanya perubahan pola interaksi yang terjalin di antara orang tua terkait aspek-aspek kepuasan perkawinan, yaitu permasalahan-permasalahan kepribadian, kesamaan peran, komunikasi, pemecahan masalah, manajemen keuangan, aktivitas dalam mengisi waktu luang, hubungan seksual, anak-anak dan pengasuhan, keluarga dan temanteman, serta orientasi keagamaan (Fowers & Olson, 1989). Orang tua dengan anak autisme cenderung memiliki pola komunikasi dengan tingkat selfdisclosure yang berbeda dan tidak seimbang antara satu sama lain, sehingga dapat menurunkan kepuasan perkawinan (Allen et al dan Schumm et al, dalam Davidson & Moore, 1996). Para suami juga memiliki kecenderungan untuk mengalah dan menarik diri ketika berada dalam situasi konflik, khususnya jika topik yang menjadi sumber konflik dikemukakan oleh istri (Noller & Fitzpatrick dalam Davidson & Moore, 1996). Pada beberapa kasus, kehadiran anak autisme menjadi sumber konflik bagi orang tua, bahkan dapat mengancam stabilitas perkawinan (Siegel dalam

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Cohen & Volkmar, 1997). Sejumlah besar orang tua yang berjuang keras untuk merawat anak autisme mengungkapkan bahwa terdapat tekanan dalam kehidupan perkawinan yang dijalani dan beberapa diantaranya melaporkan kepuasan yang lebih rendah dalam hubungan bersama pasangan (Sastry & Aguirre, 2014). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki anak autisme memiliki tingkat perceraian yang cenderung lebih tinggi pada rentang usia perkawinan 6 tahunan dan tidak ada penurunan risiko perceraian hingga anak berusia 8 tahunan (Hartley et al, 2010). Papalia, Sterns, Feldman, dan Camp (2002) mengungkapkan bahwa penurunan tingkat kepuasan perkawinan biasanya disebabkan oleh berkurangnya aspek-aspek positif dalam kehidupan perkawinan, antara lain seperti keintiman, ekspresi afeksi, diskusi, kerja sama, dan kegiatan yang bersifat menyenangkan yang dilakukan bersama pasangan. D. Kerangka Konseptual Penelitian ini secara khusus akan berfokus pada orang tua yang memiliki anak autisme. Anak dengan autisme cenderung memiliki keterbatasan atau gangguan perkembangan yang kompleks terkait kemampuan interaksi sosial karena memiliki ketidakmampuan untuk memahami perasaan dan emosi orang lain. Anak juga mengalami hambatan yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi khususnya untuk memproduksi kata-kata bermakna, memahami informasi sesuai konteks, dan mempertahankan percakapan dengan orang lain. Selain itu, anak menunjukkan keterbatasan terkait minat dan perilaku karena anak

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 autisme memiliki kecenderungan untuk menunjukkan perilaku yang tidak lazim dan memiliki minat yang terbatas pada hal-hal tertentu (Sastry & Aguirre, 2014). Keterbatasan yang dimiliki oleh anak autisme menimbulkan berbagai tantangan bagi orang tua pada faktor finansial, psikologis, praktis, dan sosial. Tantangan pada faktor finansial berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua untuk merawat anak dengan autisme. Tantangan lain yang dihadapi oleh orang tua terdapat pada faktor psikologis terkait peningkatan stres yang dirasakan karena kondisi anak yang memiliki berbagai keterbatasan serta membutuhkan perhatian khusus. Selain itu, orang tua juga memiliki tantangan pada faktor praktis berkaitan dengan meningkatnya jumlah tugas dalam rumah tangga yang menuntut ekstra waktu, tenaga, dan perhatian, sehingga mengurangi waktu bersama pasangan. Kemudian tantangan pada faktor sosial terkait hubungan orang tua dengan orang-orang di sekitarnya yang cenderung lebih buruk dibandingkan orang tua lainnya (Sastry & Aguirre, 2014). Tantangan-tantangan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan pola interaksi yang berkaitan dengan aspek-aspek kepuasan perkawinan, antara lain tingkat kepuasan terkait permasalahan-permasalahan kepribadian pasangan, kesamaan peran, tingkat kenyamanan dalam menjalin komunikasi dengan pasangan, pemecahan masalah, manajemen keuangan, aktivitas dalam mengisi waktu luang, perasaan senang terkait hubungan seksual bersama pasangan, anakanak dan pengasuhan, keluarga dan teman-teman, serta orientasi keagamaan (Fowers & Olson, 1989). Hal tersebut berpotensi mengakibatkan timbulnya tekanan dan berbagai permasalahan dalam perkawinan yang dapat membahayakan

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 stabilitas perkawinan. Peneliti menduga berbagai perubahan yang dialami oleh orang tua dapat berpengaruh negatif terhadap tingkat kepuasan perkawinan yang dirasakan. Kepuasan perkawinan yang dimaksud adalah evaluasi subjektif yang dilakukan oleh suami atau istri terhadap kehidupan perkawinan yang dijalani berkenaan dengan perasaan bahagia, puas, dan senang. Oleh karena itu, peneliti berharap dapat mengeksplorasi perubahan-perubahan yang dialami oleh orang tua berkenaan dengan aspek-aspek kepuasan perkawinan serta sejauh mana orang tua merasakan kepuasan terhadap perkawinannya, sehingga pada akhirnya orang tua yang memiliki anak autisme diharapkan dapat mengembangkan sikap dan perasaan terkait aspek-aspek kepuasan perkawinan secara maksimal agar perasaan puas dan bahagia dalam menjalani kehidupan berumah tangga semakin meningkat.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Gangguan interaksi sosial Anak autisme Gangguan komunikasi Gangguan minat dan perilaku Beban orang tua: 1. Tantangan pada faktor finansial (biaya) 2. Tantangan pada faktor psikologis (stres) 3. Tantangan pada faktor praktis (peran dan tugas tambahan) 4. Tantangan pada faktor sosial (relasi dengan orang lain) Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian Perubahan pada aspek-aspek kepuasan perkawinan: 1. Permasalahan permasalahan kepribadian 2. Kesamaan peran 3. Komunikasi 4. Pemecahan masalah 5. Manajemen keuangan 6. Aktivitas dalam mengisi waktu luang 7. Hubungan seksual 8. Anak-anak dan pengasuhan 9. Keluarga dan teman-teman 10. Orientasi keagamaan Kepuasan perkawinan?

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang dilakukan dalam upaya menggali dan menangkap makna mengenai suatu isu dari sudut pandang partisipan, sehingga peneliti diharuskan untuk terjun langsung ke dalam lingkungan atau suasana alamiah partisipan demi mengumpulkan berbagai macam data, melalui proses wawancara, observasi, maupun dokumen-dokumen tertentu. Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif untuk memperoleh gambaran dan pemahaman secara menyeluruh mengenai isu yang diteliti dengan menginterpretasikan apa yang peneliti saksikan, dengar, dan pahami (Creswell, 2009 dalam Supratiknya 2015). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Isi Kualitatif (AIK) dengan pendekatan deduktif, yaitu metode penafsiran secara subjektif terhadap isi data dalam bentuk teks melalui proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengodean dan pengidentifikasian berbagai tema atau pola (Hsieh & Shannon, 2005 dalam Supratiknya, 2015). Menurut Supratiknya (2015), pendekatan deduktif cocok untuk digunakan ketika terdapat teori maupun hasilhasil penelitian terdahulu mengenai suatu fenomena. Dalam penelitian ini, peneliti ingin menguji kepuasan perkawinan dengan melibatkan kelompok partisipan yang baru, yaitu orang tua yang memiliki anak autisme. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman secara utuh dan menyeluruh mengenai kepuasan perkawinan pada orang tua yang memiliki anak autisme berdasarkan sudut 24

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 pandang partisipan. Berdasarkan hal tersebut, peneliti akan menggunakan prosedur pengambilan data berupa wawancara semi terstuktur dengan beberapa pertanyaan yang bersifat terbuka agar partisipan tidak merasa dibatasi (Smith, 2009), serta bersedia mengungkapkan pengalamannya secara personal dan mendalam. B. Fokus Penelitian Penelitian ini berfokus pada kepuasan perkawinan orang tua yang memiliki anak autisme berdasarkan aspek-aspek kepuasan perkawinan yang diungkapkan oleh Fowers dan Olson (1989). Penelitian ini diharapkan dapat mengeksplorasi sejauh mana kepuasan perkawinan yang dirasakan oleh orang tua yang memiliki anak autisme ditinjau dari aspek-aspek kepuasan perkawinan Fowers dan Olson (1989), meliputi: (1) permasalahan-permasalahan kepribadian (tingkat kepuasan terhadap perilaku dan kepribadian pasangan), (2) kesamaan peran (perasaan senang dan kesediaan menjalankan berbagai peran dalam perkawinan dan keluarga), (3) komunikasi (tingkat kenyamanan dalam membagikan dan menerima informasi), (4) pemecahan masalah (keterbukaan dalam mengenali dan menyelesaikan masalah), (5) manajemen keuangan (perasaan senang dan sikap dalam mengatur masalah ekonomi), (6) aktivitas dalam mengisi waktu luang (kecenderungan dalam mengisi waktu luang bersama), (7) hubungan seksual (perasaan senang terkait afeksional dan hubungan seksual), (8) anak-anak dan pengasuhan (perasaan senang dan kesediaan saat memiliki dan merawat anak-anak), (9) keluarga dan temanteman (tingkat kenyamanan dalam menghabiskan waktu bersama keluarga dan

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 teman), serta (10) orientasi keagamaan (makna keyakinan beragama dan mempraktikannya dalam perkawinan). C. Partisipan Partisipan dalam penelitian ini adalah 6 orang tua yang terdiri dari 3 pasangan suami istri dengan taraf pendidikan minimal Sekolah Menengah Atas (SMA), serta memiliki satu orang anak autisme dan tinggal di wilayah Yogyakarta. Peneliti menggunakan teknik criterion sampling dalam pemilihan partisipan agar dapat meninjau dan mempelajari suatu kasus yang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh peneliti, sehingga sesuai dengan tujuan penelitian (Patton, 2002). Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini bersifat homogen karena memiliki karakteristik yang kurang lebih sama terkait permasalahan yang akan diteliti. Pemilihan partisipan dilakukan berdasarkan rekomendasi dari staf Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) Universitas Sanata Dharma dan pengurus Pusat Layanan Autis Yogyakarta karena menyesuaikan kondisi dan kesediaan partisipan untuk melakukan sesi wawancara. D. Peran Peneliti Peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen kunci, sehingga memiliki peran penting dalam pengumpulan dan pengolahan data. Menurut Supratiknya (2015), peneliti harus terjun langsung ke lokasi penelitian dan berhadapan dengan partisipan untuk memeriksa dokumen, mengamati perilaku, maupun mewawancarai partisipan. Berdasarkan hal tersebut, peneliti harus membekali diri dengan suatu protokol berupa instrumen pengumpulan data atau pedoman wawancara dan observasi. Peneliti juga ditekankan untuk

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 memperoleh data yang kredibel dan sesuai sudut pandang partisipan dengan benar-benar berupaya menangkap makna mengenai isu atau permasalahan yang diteliti sesuai dengan apa yang diyakini dan dihayati oleh partisipan (Supratiknya, 2015). Peneliti tidak memiliki keterkaitan apapun dengan lokasi penelitian dan para partisipan. Peneliti merekrut partisipan yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan sebelumnya, kemudian menghubungi partisipan secara langsung untuk menyampaikan maksud dan tujuan peneliti. Setelah itu, peneliti meminta kesediaan partisipan untuk melakukan wawancara, lalu menjelaskan gambaran umum mengenai penelitian yang akan dilakukan dan memberikan lembar informed consent untuk ditandatangani oleh partisipan. Peneliti berperan untuk menjaga kerahasiaan data dan kepercayaan yang telah diberikan oleh partisipan. Pada proses wawancara, peneliti juga melakukan pengamatan terhadap perilaku nonverbal partisipan, lalu melakukan transkripsi terhadap hasil wawancara setelah data terkumpul. Potensi paling buruk yang dapat terjadi dalam penelitian ini adalah munculnya perasaan sedih maupun perasaan lainnya yang dapat membuat partisipan merasa tidak nyaman, sehingga peneliti mengantisipasi hal tersebut dengan mempersilahkan partisipan mengetahui tema penelitian dan prosedur pengambilan data yang akan dilakukan oleh peneliti. Isu sensitif terkait etika yang mungkin terjadi adalah terungkapnya identitas partisipan, sehingga peneliti mengantisipasinya dengan menggunakan inisial PS 1, PI 1, PS 2, PI 2, PS 3, dan PI 3 dalam semua data mengenai identitas.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 E. Metode Pengambilan Data Metode utama yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dengan teknik semi terstruktur agar wawancara dapat berjalan sesuai dengan garis besar wawancara yang telah ditentukan, namun tetap dapat dikembangkan. Penelitian ini dilakukan dengan menggali pengalaman dan perasaan orang tua yang memiliki anak autisme dalam menjalani kehidupan perkawinan. Patton (2002) menyatakan bahwa melalui proses wawancara peneliti dapat menggali pernyataan langsung dari individu mengenai pengalaman, pendapat, perasaan, serta pengetahuan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Teknik wawancara semi terstruktur memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mengubah urutan pertanyaan sesuai dengan respon yang diberikan oleh responden (Smith, 2015). Peneliti juga dapat memberikan probing yang sesuai dengan halhal penting yang muncul atau ketertarikan partisipan. Sebelum wawancara dimulai, peneliti melalui beberapa tahapan yang digunakan agar proses pengambilan data dapat berjalan dengan optimal. Tahapan pelaksanaan wawancara tersebut, antara lain: 1. Mencari partisipan yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan untuk berpartisipasi dalam penelitian. Pencarian partisipan dilakukan dengan cara menghubungi pihak-pihak terkait untuk selanjutnya menjalin kerjasama dengan pihak-pihak tersebut, seperti PSIBK Universitas Sanata Dharma dan Pusat Layanan Autis Yogyakarta. 2. Membangun rapport dengan partisipan untuk menjalin hubungan yang baik serta menyampaikan maksud dan tujuan penelitian yang akan dilakukan.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 Peneliti juga memastikan kesediaan partisipan untuk berpartisipasi dalam penelitian. 3. Menyusun kesepakatan jadwal pelaksanaan wawancara antara peneliti dan partisipan. 4. Melaksanakan wawancara. Pada sesi wawancara, peneliti menggunakan alat bantu perekam (digital recorder) dan mencatat perilaku non-verbal yang ditunjukkan oleh partisipan selama proses wawancara berlangsung. 5. Melakukan transkrip wawancara berdasarkan hasil perekaman data. Sebelum melaksanakan wawancara, peneliti membuat pedoman wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada partisipan berdasarkan rumusan masalah dan teori-teori yang digunakan oleh peneliti. Berikut adalah pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian ini: a. Pertanyaan pembuka 1. Siapakah nama Bapak/Ibu? 2. Berapa usia Bapak/Ibu? 3. Apakah pekerjaan Bapak/Ibu? 4. Apakah pendidikan terakhir Bapak/Ibu? 5. Apa keyakinan yang Bapak/Ibu anut? 6. Berapa usia perkawinan Bapak/Ibu? 7. Berapa jumlah anak Bapak/Ibu? 8. Berapa jumlah anak autisme dalam keluarga Bapak/Ibu? 9. Siapa nama anak Bapak/Ibu yang mengalami autisme? 10. Berapa usia anak autisme yang ada dalam keluarga Bapak/Ibu?

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 b. Pertanyaan pendahuluan 1. Coba ceritakan bagaimana pengalaman Bapak/Ibu terkait kehadiran anak dengan autisme? c. Pertanyaan transisi 1. Apakah kehadiran anak autisme berpengaruh terhadap kehidupan perkawinan Bapak/Ibu? d. Pertanyaan pokok 1. Coba ceritakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan perkawinan Bapak/Ibu setelah kehadiran anak autisme! Probing 1. Permasalahan-permasalahan kepribadian  Bagaimana perasaan Bapak/Ibu terhadap tingkah laku, kebiasaankebiasaan, dan kepribadian pasangan saat ini? 2. Kesamaan peran  Seperti apakah pembagian peran antara Bapak/Ibu dengan pasangan?  Bagaimana perasaan Bapak/Ibu dalam menjalani peran-peran tersebut? 3. Komunikasi  Bagaimana perasaan Bapak/Ibu ketika mengkomunikasikan kebutuhan, keinginan, dan perasaan kepada pasangan? 4. Pemecahan masalah  Apa yang biasanya menjadi sumber konflik dalam rumah tangga Bapak/Ibu?  Bagaimana cara Bapak/Ibu mengatasi konflik yang ada?

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 5. Manajemen keuangan  Bagaimana perasaan Bapak/Ibu terkait cara mengatur keuangan dalam kehidupan berumah tangga? 6. Aktivitas dalam mengisi waktu luang  Bagaimana cara Bapak/Ibu menghabiskan waktu luang? 7. Hubungan seksual  Bagaimana cara Bapak/Ibu menunjukkan perhatian atau kasih sayang kepada pasangan?  Apakah kehadiran anak autisme memengaruhi kehidupan seksual Bapak/Ibu? 8. Anak-anak dan pengasuhan  Bagaimana perasaan dan sikap Bapak/Ibu setelah memiliki anak? 9. Keluarga dan teman-teman  Apakah kegiatan yang Bapak/Ibu lakukan bersama keluarga besar dan teman-teman?  Bagaimana perasaan Bapak/Ibu ketika berkegiatan bersama keluarga besar dan teman-teman? 10. Orientasi keagamaan  Bagaimana perasaan Bapak/Ibu mengenai hal-hal keagamaan dan beribadah? e. Pertanyaan Penutup 1. Apakah masih ada yang ingin Bapak/Ibu ceritakan terkait pengalaman kehidupan perkawinan Bapak/Ibu?

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 F. Analisis dan Interpretasi Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Isi Kualitatif (AIK), yaitu sebuah metode untuk menganalisis pesan-pesan komunikasi secara tertulis, lisan, maupun visual dengan melakukan klasifikasi atau penyaringan terhadap teks atau kata-kata ke dalam sejumlah kategori yang mewakili aneka isi tertentu (Supratiknya, 2015). Hasil wawancara dalam penelitian ini akan ditranskripkan menjadi data tertulis. Metode AIK digunakan untuk menyaring teks atau kata-kata ke dalam sejumlah kategori yang mewakili aneka isi tertentu berdasarkan kesamaan makna agar diperoleh deskripsi yang padat mengenai fenomena yang diteliti (Elo & Kyngas, 2008 dalam Supratiknya, 2015). Analisis isi kualitatif dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dengan proses analisis data yang mengikuti langkah-langkah berikut (Supratiknya, 2018): 1. Membaca corpus data berupa transkripsi verbatim responden yang dikumpulkan melalui proses wawancara semi terstruktur secara berulangulang; 2. Melakukan initial coding atau menemukan kode-kode tertentu yang terdapat di dalam transkripsi verbatim secara induktif baris demi baris (inductive, line-byline approach), serta membandingkannya dengan konsep kepuasan perkawinan pada orang tua dengan anak autisme yang dilibatkan oleh peneliti; 3. Mengelompokkan kode-kode ke dalam sub-subtema/kategori/kriteria, yaitu sejenis konsep besar dengan cakupan isi yang lebih luas dibandingkan kode

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 agar menemukan sejenis narasi analitik yang koheren dari keseluruhan corpus data; 4. Memperhalus atau mempertajam analisis dengan cara menempatkan subtemasubtema dalam suatu susunan hirarkis tertentu menjadi sebuah tema besar; subsubtema tersebut kemudian diberi label atau nama; masing-masing subtema dilengkapi dengan kutipan-kutipan yang diambil dari transkripsi verbatim sebagai bukti pendukung, sehingga diperoleh narasi yang utuh tentang fenomena yang diteliti. Berdasarkan langkah-langkah tersebut, kategori atau kriteria yang digunakan dalam koding (Tabel 1) adalah: Tabel 1 Kriteria Koding Kepuasan Perkawinan Fowers dan Olson a. b. c. d. e. f. g. h. Kepuasan Perkawinan Fowers dan Olson Merasa puas terhadap tingkah laku Permasalahan-permasalahan dan kepribadian pasangan kepribadian Merasa senang menjalani peran Kesamaan peran dalam keluarga Merasa senang terhadap komunikasi Komunikasi bersama pasangan Merasa senang terkait penyelesaian Pemecahan masalah konflik dalam kehidupan perkawinan Merasa senang terhadap pengelolaan Manajemen keuangan masalah ekonomi dalam kehidupan perkawinan dan pembuatan keputusan terkait keuangan Meluangkan waktu untuk pasangan Aktivitas dalam mengisi waktu Merasa senang ketika menghabiskan luang waktu bersama Merasa senang terkait Hubungan seksual pengekspresian kasih sayang dan hubungan seksual dengan pasangan Merasa senang ketika mengasuh dan Anak-anak dan pengasuhan membesarkan anak dengan autisme Merawat anak tanpa beban

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 i. j. Kepuasan Perkawinan Fowers dan Olson Merasa nyaman ketika melakukan Keluarga dan teman-teman sesuatu bersama keluarga atau teman-teman Merasa senang ketika menghabiskan waktu bersama keluarga atau temanteman Merasa senang terkait praktik nilaiOrientasi keagamaan nilai keagamaan dalam perkawinan G. Kredibilitas Data Kredibilitas data dalam penelitian ini diuji dengan beberapa cara, antara lain member checking dan peer debriefing. Menurut Creswell (2009 dalam Supratiknya, 2015), member checking dilaksanakan dengan melaporkan deskripsi dan tema-tema spesifik kepada partisipan untuk memastikan bahwa deskripsi atas tema yang dibuat oleh peneliti telah akurat. Peneliti juga melibatkan rekan sejawat sebagai reviewer (peer debriefing) untuk me-review keseluruhan proyek penelitian dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai penelitian untuk memastikan keakuratan laporan. Konsistensi hasil penelitian diuji dengan menggunakan dua strategi, antara lain memeriksa transkrip-transkrip rekaman hasil wawancara untuk memastikan tidak ada kesalahan-kesalahan serius yang terjadi selama proses transkripsi, serta memastikan tidak ada definisi dan makna yang kurang jelas mengenai kode-kode selama proses koding. Peneliti akan membandingkan data yang diperoleh dengan kode-kode yang telah ditentukan secara terus menerus atau membuat catatan mengenai kode-kode dan definisi-definisinya (Gibbs, 2007 dalam Creswell, 2012).

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 sampai November 2018 dengan menggunakan metode wawancara antara peneliti dan 6 orang tua (3 pasangan suami istri) yang memiliki anak autisme. Wawancara dilakukan di tempat tinggal masing-masing partisipan karena menyesuaikan kegiatan partisipan. Wawancara berlangsung dalam kurun waktu yang bervariasi antara kurang lebih 30 menit sampai dengan 3 jam. Berikut ini merupakan waktu dan tempat pelaksanaan wawancara yang disajikan di Tabel 2: Tabel 2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Wawancara No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Partisipan Orang tua 1 Orang tua 2 Orang tua 3 Orang tua 4 Orang tua 5 Orang tua 6 (PS 1) (PI 1) (PS 2) (PI 2) (PS 3) (PI 3) Waktu Tempat 8 Oktober 2018 8 Oktober 2018 18 November 2018 18 November 2018 25 November 2018 25 November 2018 Rumah partisipan Rumah partisipan Rumah partisipan Rumah partisipan Tempat kos partisipan Tempat kos partisipan B. Latar Belakang Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara Berikut merupakan data demografi partisipan yang disajikan dalam Tabel 3: Tabel 3 Demografi Partisipan No. 1. 2. 3. Keterangan Inisial Jenis Kelamin Usia Orang tua1 PS 1 Orang tua 2 PI 1 Orang tua 3 PS 2 Orang tua 4 PI 2 Orang tua 5 PS 3 Orang tua 6 PI 3 L P L P L P 46 th 44 th 49 th 49 th 36 th 34 th 35

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 No. Keterangan 4. 5. 6. Agama Suku Pendidikan Terakhir Pekerjaan Status Perkawinan Usia Perkawinan Jumlah Anak Jumlah Anak Autisme Urutan Anak Autisme Inisial Anak Autisme Jenis Kelamin Anak Autisme Usia Anak Autisme 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Orang tua1 Kristen Jawa Orang tua 2 Kristen Jawa Orang tua 3 Katolik Jawa Orang tua 4 Katolik Jawa Orang tua 5 Islam Jawa Orang tua 6 Islam Jawa S1 S1 S2 S3 SMU SMK Pendeta Pendeta Dosen Dosen Buruh - Kawin Kawin Kawin Kawin Kawin Kawin 16 th 16 th 25 th 25 th 8 th 8 th 2 2 3 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E E T T J J P P P P P P 9 th 9 th 24 th 24 th 7 th 7 th Secara umum, proses wawancara berjalan dengan cukup baik. Peneliti melaksanakan wawancara dengan bertemu langsung secara personal terhadap setiap partisipan. Sebelum wawancara dimulai, peneliti menyampaikan penjelasan tentang garis besar penelitian dan beberapa hal yang perlu diketahui oleh partisipan. Setiap partisipan telah sepakat untuk berpartisipasi dalam penelitian yang dibuktikan dengan penandatanganan surat pernyataan persetujuan partisipasi penelitian (informed consent) yang mencakup pemberian informasi lengkap

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 mengenai penelitian dan pemberian kesediaan untuk berpartisipasi oleh partisipan sesudah membaca informasi-informasi yang harus diketahui. Orang tua 1 dan Orang tua 2 adalah pasangan suami istri yang berinisial PS 1 dan PI 1. PS 1 dan PI 1 memiliki seorang anak dengan autisme dan dapat menerima kehadiran anak meskipun harus menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan perkawinan terkait faktor finansial, psikologis, praktis, dan sosial. PS 1 mengungkapkan bahwa kehadiran anak dengan autisme meningkatkan pengeluaran keluarga karena anak cenderung membutuhkan anggaran yang lebih besar untuk jajan jika dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya, sehingga perekonomian keluarga terasa berat. PS 1 dan PI 1 juga memiliki kekhawatiran akan masa depan anak dan menyatakan bahwa merawat anak dengan autisme menimbulkan reaksi psikologis berupa stres yang disebabkan oleh perilaku anak yang membutuhkan ekstra tenaga dan kesabaran. Tugas-tugas rumah tangga yang dilakukan oleh PS 1 dan PI 1 juga cenderung bertambah dan menuntut kesiapan setiap waktu. PS 1 yang sebelumnya sedang melanjutkan studi S2 memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya karena mengalami kesulitan mengerjakan tugas dalam kegaduhan. Aktivitas yang harus dilakukan oleh PS 1 juga cenderung terganggu, sehingga memengaruhi mobilitasnya. PS 1 dan PI 1 mengungkapkan bahwa masih ada orang-orang di sekitarnya yang belum bisa menerima kehadiran anak dengan autisme. Selain itu, PS 1 dan PI 1 cenderung merasa tidak enak dan kurang nyaman ketika mengajak anak dengan autisme berkunjung ke suatu tempat karena anak menunjukkan perilaku tertentu yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Wawancara pertama dilaksanakan antara peneliti dan PI 1. PI 1 adalah seorang perempuan berusia 44 tahun dengan pendidikan terakhir sarjana strata 1 dan bekerja sebagai seorang pendeta. Pengambilan data dilakukan satu kali pada malam hari selama kurang lebih 54 menit, bertempat di ruang ibadah rumah PS 1 dan PI 1. Proses wawancara terjeda sebanyak dua kali karena partisipan harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Pada saat wawancara, partisipan mengenakan kaos cokelat dan celana kain keunguan dengan panjang tigaperempat. Selama proses wawancara berlangsung, partisipan duduk di hadapan peneliti dan mampu mempertahankan kontak mata dengan peneliti. Ketika PI 1 bercerita mengenai pengalaman hidupnya, partisipan terlihat duduk dengan posisi bersandar pada kursi dan nada bicara yang cenderung tegas. PI 1 menyampaikan cerita tanpa henti dengan mata yang berkaca-kaca. Selama wawancara, PI 1 berbicara dengan cukup lancar dan runtut, namun beberapa kali melakukan pengulangan pengucapan dan mengatakan “apa ya” ketika mengalami kesulitan dalam mengungkapkan hal-hal yang ingin disampaikan. PI 1 juga cenderung memberikan penekanan ketika menyampaikan bahwa terkadang perilaku anak menimbulkan kelelahan. Selain itu, PI 1 sesekali membutuhkan waktu jeda untuk mengingat pengalamannya dan tertawa saat menyampaikan jawabannya. Wawancara kedua dilaksanakan antara peneliti dan PS 1. PS 1 adalah seorang laki-laki berusia 46 tahun dengan pendidikan terakhir sarjana strata 1 dan bekerja sebagai seorang pendeta. Pengambilan data dilakukan satu kali selama kurang lebih 1 jam 39 menit di ruangan dan hari yang sama dengan PI 1 setelah

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 wawancara dengan PI 1 selesai dilaksanakan. Pada saat wawancara, partisipan mengenakan kaos abu-abu dan celana kain panjang berwarna hitam sambil duduk di hadapan peneliti. Selama wawancara berlangsung, PS 1 dapat mempertahankan kontak mata dengan peneliti. PS 1 terlihat santai dan bercerita tanpa henti saat menyampaikan cerita mengenai pengalaman hidupnya dengan nada bicara yang tidak terlalu tegas dan suara yang cenderung lebih kuat di awal kalimat kemudian melembut. PS 1 berbicara dengan cukup lancar dan runtut, meskipun sesekali membutuhkan waktu jeda untuk mengingat pengalamannya. Selain itu, PS 1 sesekali tertawa sambil menyampaikan jawabannya. Orang tua 3 dan Orang tua 4 adalah pasangan suami istri yang berinisial PS 2 dan PI 2. PS 2 dan PI 2 memiliki seorang anak autisme dan dapat melihat kehadiran anak melalui sisi positif. PS 2 dan PI 2 dapat menerima kehadiran anak, meskipun mengalami tantangan-tantangan terkait faktor fiansial, psikolgis, praktis, dan sosial. PS 2 dan PI 2 sempat merasa kesulitan untuk menerima kondisi anak sehingga berupaya mencari penanganan agar anak bisa sembuh. Hal ini juga memengaruhi aktivitas mereka karena menghabiskan banyak waktu untuk memberikan penanganan kepada anak. PS 2 juga merasa cemas terkait kondisi anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan, sehingga membutuhkan ekstra keberanian dan kesiapan mental ketika mengajak anak keluar rumah. PS 2 dan PI 2 mengungkapkan bahwa pendidikan dan pengobatan untuk anak dengan autisme membutuhkan dana yang tergolong banyak, sehingga mereka mengalami sedikit kesulitan terkait finansial. PI 2 menyatakan bahwa dirinya harus mengajak anak ketika berkegiatan di hari libur dan mengalami kerepotan saat mengajak

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 anak bepergian karena anak membutuhkan persiapan yang lebih. PI 2 juga mengungkapkan dirinya merasa sakit hati ketika mengetahui bahwa anak berkebutuhan khusus kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. PS 2 dan PI 2 memiliki kekhawatiran akan masa depan anak dan pernah merasa malu ketika mengajak anak keluar rumah karena anak menunjukkan perilaku yang tidak biasa dan membuat orang-orang di sekitarnya memberikan penilaian yang cenderung negatif, namun orang-orang yang sudah mengerti kondisi anak dapat mentolerir perilaku yang ditunjukkan oleh anak tersebut. Wawancara pertama dilaksanakan antara peneliti dan PI 2. PI 2 adalah seorang perempuan berusia 49 tahun dengan pendidikan terakhir sarjana strata 3 dan bekerja sebagai seorang dosen. Pengambilan data dilakukan satu kali pada sore hari selama kurang lebih 1 jam 39 menit, bertempat di teras rumah PS 2 dan PI 2. Proses wawancara terjeda sebanyak satu kali karena anak dengan autisme membawakan minuman untuk peneliti dan PI 2. Pada saat wawancara, partisipan mengenakan kaos tank top merah dan celana kain panjang selutut berwarna cokelat. Selama proses wawancara berlangsung, partisipan duduk di hadapan peneliti dan mampu mempertahankan kontak mata dengan peneliti. Ketika PI 2 bercerita mengenai pengalaman hidupnya, partisipan terlihat duduk dengan posisi bersandar pada tembok dan nada bicara yang cenderung tegas, serta menyampaikan cerita tanpa henti. Selama wawancara, PI 2 berbicara dengan cukup lancar dan runtut, serta sesekali tertawa saat menyampaikan jawabannya. Wawancara kedua dilaksanakan antara peneliti dan PS 2. PS 2 adalah seorang laki-laki berusia 49 tahun dengan pendidikan terakhir sarjana strata 2 dan

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 bekerja sebagai seorang dosen. Pengambilan data dilakukan satu kali selama kurang lebih 3 jam 19 menit di tempat dan hari yang sama dengan PI 2 setelah wawancara dengan PI 2 selesai dilaksanakan. Pada saat wawancara, partisipan mengenakan kaos biru dongker dan celana kain pendek berwarna hitam. PS 2 duduk di hadapan peneliti dan dapat mempertahankan kontak mata dengan peneliti selama wawancara berlangsung. Proses wawancara terjeda beberapa kali karena ada tamu yang mengunjungi rumah PS 2 dan PI 2, serta kehadiran anak dengan autisme yang meminta pendapat atas penampilannya. PS 2 terlihat santai dan bercerita tanpa henti saat menyampaikan cerita mengenai pengalaman hidupnya dengan nada bicara yang tidak terlalu tegas. PS 2 berbicara dengan cukup lancar dan runtut, serta sesekali menunjukkan gerakan tangan dan tertawa sambil menyampaikan jawabannya. Orang tua 5 dan Orang tua 6 adalah pasangan suami istri yang berinisial PS 3 dan PI 3. PS 3 dan PI 3 merupakan orang tua yang memiliki seorang anak dengan autisme. Kehadiran anak dengan autisme membuat PS 3 dan PI 3 menghadapi tantangan pada faktor finansial, psikologis, praktis, dan sosial. Meskipun demikian, PS 3 dan PI 3 dapat menerima kehadiran anak tersebut di dalam keluarganya. PS 3 menunjukkan reaksi kaget karena anak memiliki perilaku yang berbeda dibandingkan anak-anak pada umumnya, sedangkan PI 3 belum mengalami ketakutan meskipun anak menunjukkan hambatan dalam perkembangan. Meskipun demikian, PI 3 mengungkapkan bahwa kehadiran anak dengan autisme menimbulkan reaksi psikologis berupa stres karena anak menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Setelah mengetahui bahwa anak

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 mengalami autisme, PS 3 dan PI 3 merasa bingung terkait kondisi anak mereka. PS 3 menyatakan bahwa pengalaman pertama memiliki anak dengan autisme membuat dirinya bertanya-tanya mengenai penanganan dan perawatan untuk anak, serta tempat untuk mengkonsultasikan kondisi anak mereka, sedangkan PI 3 mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan anak. Kondisi keuangan keluarga PS 3 dan PI 3 difokuskan kepada pemenuhan kebutuhan dan terapi untuk anak. Kehadiran anak dengan autisme membuat PI 3 memutuskan untuk berhenti bekerja karena merawat anak dengan autisme menuntut PS 3 dan PI 3 membagi waktu untuk mendampingi anak. Orang-orang di sekitar mereka yang belum memahami kondisi anak berkebutuhan khusus cenderung memberikan penilaian negatif, namun sebagian besar orang-orang yang PI 3 temui sudah memahami kondisi anak mereka. PI 3 terkadang merasa tidak enak ketika mengajak anak bertamu karena anak menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan anakanak pada umumnya. Wawancara pertama dilaksanakan antara peneliti dan PI 3. PI 3 merupakan seorang perempuan berusia 34 tahun yang menjadi ibu rumah tangga. Pendidikan terakhir PI 3 adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pengambilan data dilakukan satu kali pada siang hari selama kurang lebih 1 jam 3 menit, bertempat di kamar kos PS 3 dan PI 3. Proses wawancara berlangsung cukup kondusif meskipun PI 3 sekaligus mengawasi anaknya. Pada saat wawancara, partisipan mengenakan kaos hitam dan celana kain hitam panjang dengan kerudung berwarna merah muda. Selama proses wawancara berlangsung, partisipan duduk di hadapan peneliti dan mampu mempertahankan kontak mata dengan peneliti.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Ketika PI 3 bercerita mengenai pengalaman hidupnya, nada bicara yang digunakan cenderung tidak terlalu tegas. PI 3 menyampaikan cerita tanpa henti dengan sesekali menutupi wajah menggunakan kerudung. Selama wawancara, PI 3 berbicara dengan cukup lancar dan runtut, namun beberapa kali mengatakan bahwa dirinya mengalami kesulitan dalam mengungkapkan hal-hal yang ingin disampaikan. PI 3 juga cenderung memberikan penekanan dengan nada tegas ketika menyampaikan bahwa terkadang perilaku anak menimbulkan kelelahan. Selain itu, PI 3 sesekali tertawa saat menyampaikan jawabannya. Wawancara kedua dilaksanakan antara peneliti dan PS 3. PS 3 adalah seorang laki-laki berusia 36 tahun dengan pendidikan terakhir Sekolah Menengah Umum (SMU) dan bekerja sebagai buruh. Pengambilan data dilakukan satu kali selama kurang lebih 31 menit di ruang tamu tempat PS 3 dan PI 3 kos. Pada saat wawancara, partisipan mengenakan kaos hitam dan sarung dengan motif kotakkotak sambil duduk di hadapan peneliti. Selama wawancara berlangsung, PS 3 dapat mempertahankan kontak mata dengan peneliti. PS 3 terlihat santai dan menyampaikan cerita singkatnya tanpa henti. PS 3 menyampaikan cerita mengenai pengalaman hidupnya dengan nada bicara yang tidak terlalu tegas dan suara yang cenderung konsisten. PS 3 berbicara dengan cukup lancar dan runtut, serta sesekali tertawa sambil menyampaikan jawabannya. C. Hasil Penelitian Dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian, peneliti mengeksplorasi kepuasan perkawinan orang tua yang memiliki anak autisme secara menyeluruh berdasarkan aspek-aspek kepuasan perkawinan yang dirumuskan oleh Fowers dan

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Olson (1989). Aspek-aspek kepuasan perkawinan terdiri dari sepuluh aspek, yaitu permasalahan-permasalahan kepribadian, kesamaan peran, komunikasi, pemecahan masalah, manajemen keuangan, aktivitas dalam mengisi waktu luang, hubungan seksual, anak-anak dan pengasuhan, keluarga dan teman-teman, serta orientasi keagamaan. Hasil penelitian ini didasari oleh jawaban para partisipan terhadap satu pertanyaan pokok, yaitu coba ceritakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan perkawinan Bapak/Ibu setelah kehadiran anak autisme! Jawaban-jawaban yang disampaikan oleh para partisipan kemudian dikategorisasikan berdasarkan kriteria koding yang telah dibuat sebelumnya. Adapun hasil yang ditemukan adalah sebagai berikut: 1. Permasalahan-permasalahan Kepribadian Aspek permasalahan-permasalahan kepribadian terdiri dari satu kriteria, yaitu merasa puas terhadap tingkah laku dan kepribadian pasangan. Ketika diminta untuk mendeskripsikan kepribadian pasangan dan perasaan yang dirasakan terkait kepribadian yang dimiliki oleh pasangannya, semua partisipan menyampaikan kriteria tersebut melalui ungkapan mereka. Orang tua yang memiliki anak autisme sama-sama mengungkapkan bahwa mereka merasa puas terhadap tingkah laku dan kepribadian pasangannya. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan partisipan yang bersyukur karena memiliki pasangan yang dapat mengimbangi kepribadiannya dan tidak cuek, sehingga menimbulkan perasaan puas (PI 3) dan merasa bangga (PS 1, PS 2) terhadap pasangan yang apa adanya dan pengertian (PS 1), serta menunjukkan perkembangan untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan (PS 2).

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Partisipan juga merasa senang (PI 1, PS 2) karena pasangan dapat mengatur keluarga dengan lebih baik dan menangani anak dengan autisme (PI 1). Selain itu, PS 3 menunjukkan perasaan bahagia karena pasangan memiliki tekad dan semangat dalam mendidik anak, bahkan PI 2 mengungkapkan bahwa kepribadian pasangan yang dapat saling mengisi dan lebih perhatian membuat dirinya semakin jatuh cinta. Merasa puas PS 1 : “Itu, tapi terus terang saya saya saya bangga dengan kepribadian dia karena dia nggak, salah satu contohnya dia nggak macam-macam, nggak punya keinginan yang macam-macam ya apa adanya seperti itu, orang itu gitu. Dia ngerti kalau kebutuhan E banyak, jadi dia nggak minta macam-macam seperti dulu. Membanggakan dia.” (407-411) PI 1 : “Ee perasaannya ya, ya bahagia aja bahagia, ya senang gitu senang. Suami saya itu apa ya, dia itu apa namanya, apa ya, bisa mengatur keluarga dengan lebih baik, sekarang ada anak, misalnya nangani E, wak itu itu butuh ekstra memang, tapi suami saya itu apa namanya bisa membuat E lebih tenang gitu, kadang juga itu, tegas dia.” (141-145) PS 2 : “Ya kalau ditanya perasaannya bagaimana, ya senang saja. Dia itu sangat maju, apalagi untuk T. Sikapnya selalu membanggakan, karena dia itu ingin mempersiapkan T untuk ke depan. Luar biasa memang perkembangannya setelah ada T.” (675-678) PI 2 : “Kita itu bertolak belakang, jadi saling mengisi. Pas ada T semakin terlihat tingkah laku dia yang membuat saya semakin jatuh cinta. Suami saya juga jadi lebih perhatian sama saya kalau saya capek ngurus T.” (497-500) PS 3 : “Orangnya keras mbak, tapi keras, keras tapi, tapi ya semangatnya untuk mendidik anak, untuk memberi pengetahuan kepada anak itu ya bss luar biasa. Waktunya untuk anak, terus tekadnya untuk biar anak tu seperti teman-teman yang lain, saya akui, ya saya salut sama pasangan saya, bahagia dengan perubahannya.” (71-74) PI 3 : “Perasaannya ya bersyukurlah mbak. Soalnya kan bisa, mengimbangi, saya kan orangnya nggak sabaran mbak, jadi kan bisa ngimbangin kan. Jadi begitu, dia lebih sabar menghadapi tingkah J. Ngajari J, kalau dulu cuek mbak. Dan Alhamdullilah puas, sampai saat ini.” (152-156) Selain itu, beberapa orang tua mengungkapkan bahwa kehadiran anak dengan autisme juga membuat pasangan menunjukkan perubahan-perubahan dalam perilaku. Pasangan berubah PS 1 : “Terus ee, saya rasa kok ee anu mungkin ini sa sa ee perhatiannya mungkin agak sudah berkurang ya. Nah saya mungkin saya juga menyadari perhatian saya dengan istri saya barangkali agak berkurang, kita lebih lebih fokusnya kepada anak gitu, seperti itu.” (439-442)

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 PI 1 : “Berubah sih. Pasti ada. Ee mungkin juga saya juga ini perubahan itu juga karena suami saya sebenernya juga merasakan apa ya, merasakan rasa capek juga kan sama seperti saya gitu ya nanganin E.” (170-172) PS 2 : “Artinya ide-idenya dia untuk membereskan T dan lain sebagainya itu kadangkadang aduh jangan dululah, ini entar T ni bekerjanya seperti apa, walau kita percaya saja.” (639-641) Meskipun demikian, orang tua dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan tingkah laku maupun kebiasaan yang ditunjukkan oleh pasangannya. Hal ini dilakukan dengan mengalah (PS 1) dan membentuk diri (PS 2), sehingga dapat mengimbangi pasangan (PS 2) dan menikmati perubahan (PI 1) yang ditunjukkan oleh pasangan. Menyesuaikan diri PS 1 : “Ngalah. Ya saya ngalah, karena kalau nggak ada yang ngalah nggak akan selesai. Jadi kalau memang ya seperti itu ya sudahlah, gitu aja sudah. Saya nggak mau memperpanjang supaya saya bisa harmonis sama istri saya, dan saya tidak masalah dengan itu.”(455-458) PI 1 : “Enjoy aja gitu, nikmati aja, nggak masalah, tetep seneng, karena ee apa ya, istilahnya banyak hal positif yang harus saya pikirkan gitu, seperti itu.” (185-187) PS 2 : “Artinya saya melihat bahwa ya wah dia sudah terlalu maju, udah maju banget, konfidensinya udah maju banget, sehingga saya yang harus membentuk diri untuk mengikuti dia.” (641-643) Beberapa partipisan lainnya mengungkapkan bahwa kehadiran anak dengan autisme tidak memengaruhi tingkah laku maupun kebiasaan pasangannya. Pasangan tidak berubah PI 2 : “Pasangan. Kayanya kok nggak ya. Ee nggak tahu ya kalau sama suami saya, tapi bagi saya sih biasa aja dia. Dia kalau sama T bisa merasa, bahkan dia merasa kalau aku sakit itu dipijetin T itu sembuh, kaya gitu.” (520-522) PS 3 : “Seb, Alhamdullilah nggak ada mbak. Ssss sebelum ada anak saya sampai sekarang usia 7 tahun, ya Alhamdullilah berjalan seperti, ya seperti kemarinkemarin aja. Maksudnya ya seperti kemarin tu nggak, nggak ada masalah tentang anak kita, nggak ada, anak kita nggak ada.” (82-85) PI 3 : “Nggak ada kaya’e mbak, he’em, he’em. Sama aja.” (159) Walaupun demikian, PS 1 dan PI 1 terkadang merasa bahwa pasangannya cenderung kurang pengertian. Hal ini ditunjukkan oleh cara pandang partisipan yang melihat bahwa pasangan tidak mengerti kondisinya (PI 1) dan menunjukkan sikap yang kurang sesuai dengan harapan (PS 1), sehingga menimbulkan perasaan kesal (PS 1, PI 1).

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Pasangan kurang pengertian PS 1 : “…, tapi kadang saya ada perasaan jengkel, kurang kurang kurang sesuai dengan yang diharapkan.” (412-413) PI 1 : “Nah kalau, kayaknya suami saya tu kadang nggak ngerti kalau saya tu capek gitu ya, nah di situ itu ada rasa, rasa, rasa apa ya, rasa kesal gitu.”(150-151) Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum orang tua yang memiliki anak autisme merasa puas dengan kepribadian pasangannya. Kehadiran anak autisme juga dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku dan kepribadian pada beberapa orang tua, namun pasangan dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Selain itu, beberapa orang tua lainnya mengungkapkan bahwa pasangannya tidak menunjukkan perubahan terkait tingkah laku dan kebiasaan setelah kehadiran anak autisme. Meskipun demikian, PS 1 dan PI 1 merasa bahwa pada situasi tertentu pasangan cenderung kurang pengertian sehingga menimbulkan perasaan kesal. Hal ini menunjukkan bahwa kriteriapada aspek ini terpenuhi, namun terdapat potensi permasalahan terkait tingkah laku dan kepribadian pasangan yang khususnya dirasakan oleh PS 1 dan PI 1. 2. Kesamaan Peran Aspek kesamaan peran mencakup perasaan senang menjalani peran dalam keluarga. Orang tua yang memiliki anak autisme menunjukkan keberadaan kriteria tersebut melalui ungkapan-ungkapan yang disampaikan. Perasaan senang yang dirasakan oleh partisipan ketika menjalani peran dalam keluarga ditunjukkan oleh pernyataan partisipan yang merasa senang karena dapat menikmati peran setelah kehadiran anak autisme (PS 1). Para partisipan juga merasa bahagia menjalani peran baru sebagai seorang orang tua (PI 2), serta

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 dapat menikmati (PI 1, PS 2, PI 3) dan mensyukuri (PI 1) peran-peran dalam kehidupan keluarga dan perkawinannya setelah kehadiran anak autisme. Hal tersebut membuat kehadiran anak autisme tidak menjadi beban (PS 3). Merasa senang PS 1 : “Ya senang, perasaannya senang walaupun capek kesal, senang aja gitu. Saya menikmati peran saya. Seperti yang saya katakan, bahwa terkadang tingkah anak itu bisa membuat gaduh, tapi ini situasi yang tidak mungkin saya dapatkan lagi dan pasti akan sangat saya rindukan di kemudian hari.” (526-529) PI 1 : “Ee enjoy. Merasa enjoy. Bersyukur, enjoy gitu. E ini berkat Tuhan dan Tuhan percayakan kepada saya untuk merawatnya. Ini peran baru memang, tapi saya sangat mensyukurinya.” (209-211) PS 2 : “Enjoy-enjoy saja sih, menurut saya. Enjoy-enjoy saja artinya tu ya ya tidak terbeban ya meskipun ada T, karena ya kami berpikir bahwa ya ini ini kesempatan kita untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dan bertangung jawab.” (818-820) PI 2 : “Ee perasaannya, apakah itu gangguan atau nggak atau apa ya, saya sih ee ya nggak nggak nggak yang nggak yang, apakah berat begitu, menurut saya kok ya kalau peran ibu memang seperti ini. T itu istimewa bagi saya, memang ada peranperan baru, tapi bagi ibu membahagiakan.” (571-574) PS 3 : “Ya biasa aja mbak, dalam arti biasa itu nggak ada bebanlah meskipun punya anak seperti ini, nggak ada beban, nggak ada, istilahnya ya seperti, ya seperti mendidik, mengarahkan anak ya seusia dia, istilahnya ya saya nggak ada beban bahwa anak saya tu punya kebutuhan khusus gitu.” (99-102) PI 3 : “Iya nikmati. Banyak memang yang harus dilakukan, apalagi ada anak seperti ini, tapi semua tetap berjalan lancar dan baik-baik saja.” (177-179) Orang tua juga menjalani berbagai peran dalam kehidupan keluarga dan perkawinannya dengan bekerjasama (PS 1, PI 1), bersinergi (PS 2, PI 2), dan saling membantu (PS 3, PI 3) satu sama lain. Kerja sama PS 1 : “Kita anu apa namanya, ya semacam apa ya istilahnya, kerja sama itu walaupun peran juga masing-masing. Ee saya bisa bisa melakukan tugas yang seperti katakanlah seperti ibu rumah tangga ya, nyuci segala macam, jemur itu, saya bisa lakukan itu. Saya menjaga anak kemana-mana tak gendong waktu itu, saya lakukan itu.” (502-505) PI 1 : “Misalnya kerjasama untuk kalau saya keluar, bapak yang di rumah pokokmen ada yang jaga anak-anak.” (193-194) PS 2 : “Kemudian karena untuk hal yang lain, semua bareng kita lakukan, misalnya untuk mendidik anak-anak, untuk menangani apa ee tugas rumah tangga, nyapu, ngepel, apa segala macam itu, ya kami bersinergi.” (690-692) PI 2 : “…, tapi karena suami saya juga mencoba tetap mengambil peran walaupun cuma kecil, walaupun juga tidak rutin juga setiap hari, tapi saya tahu juga berusaha mencari peran ya akhirnya itu juga menjadi sesuatu yang menurut saya bukan sesuatu yang berat. Karena memang kami bersinergi.” (578-582) PS 3 : “Pas ad ada waktu luang, saya membantu istri untuk ya mengantarkan anak ke tempat terapi atau ke dokter.” (94-95)

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 PI 3 : “Pembagiannya kalau dia ya nek pas di rumah, paling nek pagi itu, harus sekolah jam 7 harus berangkat itu ikut mandiin. Kadang ikut apa ini suka main air kan nunggin mbak, saya pergi itu cari makan sarapan, ya udah sama bapaknya, gitu. Ya udah itu. Kalau paling malam, nek pulang itu, pulang kerja, udah sama bapaknya. Ya gantian saya kegiatan apa, bersih-bersih malam-malam.” (164-168) Meskipun demikian, sebagian besar istri terkadang merasa bahwa pada waktu tertentu pasangan kurang bisa diajak bekerjasama. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan partisipan bahwa pasangan tidak mau membantu (PI 1) dan kurang sigap ketika dimintai bantuan karena lelah setelah bekerja (PI 3). Tidak membantu PI 1 : “Misalnya pi tolong ambilin E makan gitu ya, atau minum gitu. Kadang suami saya nggak mau gitu sih, jadi suami gitu.” (237-238) PI 3 : “Kadang bantu ini bantuin ini, kadang suami pulang kerja capek, jadi kadang suruh bantuin ini nggak langsung berangkat gitu.” (221-222) Uraian di atas menunjukkan bahwa secara umum para partisipan merasa senang menjalani berbagai peran dalam kehidupan keluarga dan perkawinannya. Orang tua juga bekerjasama dalam menjalankan peran-peran tersebut. Walaupun demikian, PI 1 dan PI 3 merasa bahwa pada situasi tertentu pasangan cenderung tidak bisa diajak bekerjasama. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki anak autisme cenderung merasa senang dengan cara yang diterapkan dalam menjalani tanggung jawab peran dalam kehidupan perkawinannya, namun terdapat potensi permasalahan yang khususnya dirasakan oleh PI 1 dan PI 3. 3. Komunikasi Aspek komunikasi terdiri dari satu kriteria, yaitu merasa senang terhadap komunikasi bersama pasangan. Semua partisipan mengungkapkan kriteria tersebut melalui ungkapan mereka. Orang tua yang memiliki anak autisme cenderung merasa senang terhadap komunikasi bersama pasangan. Hal ini terlihat dari ungkapan partisipan yang merasa senang (PS 2, PI 2, PS 3) dan mensyukuri (PS

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 1, PI 1, PI 3) komunikasi yang terjalin bersama pasangannya. Partisipan merasa bersyukur karena tetap memiliki waktu untuk saling bertukar informasi bersama pasangan (PS 1, PI 1) dan memiliki frekuensi komunikasi yang meningkat (PI 3). Orang tua juga beranggapan bahwa kegiatan saling bertukar pikiran bersama pasangan merupakan hal yang menyenangkan (PS 2, PI 2, PS 3) karena dapat saling mendukung dan memberikan semangat kepada satu sama lain (PS 3). Merasa senang PS 1 : “Saya bersyukur ya. Maksudnya saya masih bisa menyampaikan keinginankeinginan atau perasaan saya kepada istri, istri juga gitu. Padahal E ini membutuhkan ekstra waktu dan tenaga, tapi tetap bisa sharing. Ada waktunya.” (543-545) PI 1 : “Bersyukur ya bersyukur, karena apa namanya, istilahnya masih ada ee kesempatan untuk ngobrol. Walaupun kita sudah ribet gitu ee dengan E gitu, tetep bisa itu, apa namanya, ngomong.” (219-221) PS 2 : “Sehingga menyenangkan bisa sharing sama PI 2 itu, apalagi tentang T. Wah semakin banyak yang bisa kami bahas dan angan-angankan untuk ke depannya.” (837-839) PI 2 : “Macam-macamlah yang kami lakukan untuk berkomunikasi tergantung situasi dan kondisinya. Karena komunikasi itu penting dan seneng aja kalau bisa bertukar pikiran bahas anak-anak, bahas T.” (628-630) PS 3 : “Ya komunikasinya ya kita saling mendukung, men-support, dan mengasih semangat. Jadi seneng aja gitu. Soalnya kasarnya kita tu malu, kita istilahnya tidak, mengeluh pun ya nggak bermanfaat untuk perkembangan anak kita.” (106108) PI 3 :“Pas ada J itu malah sering ngobrol, jadi bersyukur saya.” (199) Kehadiran anak dengan autisme juga memengaruhi komunikasi yang terjalin di antara orang tua karena partisipan lebih banyak membicarakan (PS 1, PI 1, PI 3) hal-hal yang berkaitan dengan anak dan memiliki komunikasi yang lebih intens dan berkualitas (PS 2). Banyak membicarakan anak PS 1 : “Dengan adanya E, lebih banyak juga yang bisa kami bahas berdua.” (545-546) PI 1 : “Jadi lebih banyak apa ya, lebih banyak komunikasi untuk E, seperti itu.” (135136) PS 2 : “Tapi perubahannya itu sebenanrnya perubahan baik ya karena ada T, karena ee ya pola komunikasinya tu lama-lama lebih intens, menjadi lebih intens begitu, lebih berkualitas begitu,…” (1030-1032) PI 3 :“Saya lebih banyak sekarang membicarakan sesuatu bersama suami karena waktunya juga kan, apalagi tentang J.” (197-199)

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Selain itu, orang tua yang memiliki anak autisme cenderung terbuka kepada pasangan mengenai pikiran dan perasaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan anak. Hal ini terlihat dari kebiasaan partisipan untuk berterus terang dalam menyampaikan keinginan maupun perasaan mereka. Terbuka PS 1 : “Kalau E ada apa-apa ya saya pasti sampaikan kepada pasangan saya, karena dia lebih banyak waktu dengan E.” (536-537) PI 1 : “Kalau E kenapa pasti ngomong. Kan itu, apa namanya, hanya suami yang bisa saya ajak anu, istilahnya ngobrol, diskusi gitu.” (225-227) PS 2 :“Saya punya mimpi tentang T, PI 2 juga begitu. Kita pasti bicarakan agar bisa merealisasikannya, karena bagaimanapun T tidak bisa kami bebankan pada adikadiknya suatu hari nanti.” (839-841) PI 2 : “Kalau pas capek abis kerja terus ngurus T gitu ya saya juga ngomong, biar dia tahu lalu ngerti harus gimana gitu.” (630-632) PS 3 : “Iya langsung saya sampaikan aja. Karena kita memang harus berfokus pada halhal yang dapat mendukung pekembangan anak kita.Kalau ada sesuatu harus dibicarakan.” (109-111) PI 3 : “Kalau itu kan ya gimana ya mbak, biasalah nek nyampaikan mbak, menyampaikan langsung. Yang penting anak, jadi yo harus diomongin biar tau harus gimana gitu lo mbak.” (187-189) Walaupun demikian, secara tidak langsung orang tua merasa perlu memperbaiki pola komunikasi yang terjalin di antara mereka karena terkadang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Hal ini dapat dilihat dari sudut pandang partisipan yang terkadang tidak bersedia mengungkapkan pikiran maupun perasaannya kepada pasangan dengan berbagai alasan (PS 1, PS 2, PI 2, PI 3), serta berkurangnya frekuensi komunikasi mengenai hal-hal pribadi (PI 1). Tidak berterus terang PS 1 : “Jadi walaupun mungkin ada perasaan atau apa, tapi ya itu kadang saya nggak mau mengungkapkan gitu aja.” (550-551) PI 1 : “…, tapi sekarang mungkin capek itu ya komunikasinya, misalnya hal-hal apa ya ee misalnya masalah pribadi saya gitu nggak. Maksudnya nggak, nggak, nggak banyak gitu lo.” (180-182) PS 2 : “Cuma ya bagi saya PI 2 nggak usah tahu, karena dia mungkin lalu akan beban dengan itu.” (1204-1205) PI 2 : “Justru terkadang kalau masalah ekonomi karena saya tahu memang tidak mungkin suami saya me mampu me menyelesaikan itu,…” (636-638) PI 3 : “Saya pernah pengen sama suami gitu, pernah juga. Nek kaya gitu sih apa, nggak pernah sih mbak saya ungkapin gitu,…” (260-262)

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Beberapa partisipan juga terkadang merasa pasangan kurang bisa memahami pesan yang disampaikan, sehingga mereka menjadi tidak sepemahaman (PS 1) dan pembicaraan yang terjadi keluar dari konteks yang sedang dibahas (PI 2). Pasangan kurang memahami PS 1 : “Ee dia tidak bisa memahami apa yang saya inginkan gitu,…” (556-557) PI 2 : “Ketika mungkin saya merasa kok saya nggak didengar, saya curhat ini malah ‘lho tadi tu masalahnya tu ini bukan masalah yang lain, kok jadi masalah yang lain’.” (658-660) Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kehadiran anak dengan autisme memengaruhi pola komunikasi orang tua menjadi lebih intens dan berkualitas karena banyak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan anak. Orang tua juga memiliki keterbukaan antara satu sama lain, sehingga merasa senang terhadap komunikasi yang terjalin bersama pasangannya. Meskipun demikian, terdapat beberapa hal yang tidak bisa disampaikan oleh partisipan kepada pasangan dan terkadang pasangan juga cenderung kurang memahami informasi yang diterima. Berdasarkan hal tersebut kriteria pada aspek ini terpenuhi, namun orang tua tetap mengalami permasalahan terkait komunikasi sehingga ada yang perlu diperbaiki untuk mengoptimalkan komunikasi yang terjalin. 4. Pemecahan Masalah Pemecahan masalah mencakup perasaan senang terkait penyelesaian masalah dalam kehidupan perkawinan. Orang tua yang memiliki anak autisme mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan adanya kriteria tersebut di dalam dinamika kehidupan perkawinan mereka. Orang tua sepakat mengungkapkan bahwa terdapat perdebatan dan konflik di dalam kehidupan perkawinan dengan sumber konflik yang berbeda-beda. Orang tua yang memiliki anak autisme mengetahui sumber-sumber yang biasa memicu terjadinya konflik

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 dan memiliki berbagai strategi untuk menyelesaikannya. Berdasarkan hal tersebut, orang tua merasa senang terkait penyelesaian masalah dalam kehidupan perkawinannya. Hal ini ditunjukkan oleh ungkapan partisipan bahwa mereka bersyukur karena memiliki strategi yang dapat meminimalisir terjadinya konflik berkepanjangan (PS 1, PI 1, PS 2, PI 2). Cara penyelesaian masalah yang diterapkan oleh partisipan adalah mengalah (PS 1), bertemu Tuhan (PI 1, PI 2), serta memberikan waktu kepada pasangan, kemudian mencari solusi untuk permasalahan bersama-sama (PS 2). Merasa senang PS 1 : “Nah tapi kami juga nggak ingin ini juga menjadi bertambah runcing terus menjadi masalah besar gitu, nggak baik untuk anak. Maka saya akan mengalah agar tidak ada masalah berkepanjangan, dan saya bersyukur karena hal itu bisa mendewasakan saya dan membantu saya mengatasi perdebatan dengan istri.” (476-479) PI 1 : “Lha ini jadi beda pendapat lalu cek cok gitu to, ya sudah saya diam, ngalah, lalu bertemu Tuhan supaya tenang, jadi anak nggak kena. Ini biasa saya lakukan setiap ada beda pendapat gitu, maka saya bersyukur karena saya menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan masalah itu ga berlarut-larut.” (362-365) PS 2 : “…, sehingga ya saya berprinsip ya udahlah kalau memang masih agak buntu saya tunggu sebentar, masih agak buntu saya tunggu sebentar agar anak tidak terkena imbas. Kalau sudah, kami selesaikan masalahnya bersama, clear, dan ini saya terapkan terus karena hasilnya ada, saya bersyukur dengan itu.” (928-932) PI 2 : “Kami juga pernah berkonflik dan kami selesaikan itu dengan baik-baik untuk menjaga hubungan kami dan anak, dalam artian baik itu ke Kedono untuk berserah pada Tuhan, mendatangkan orang tua, itu kami lakukan itu, dan saya bersyukur karena hal itu membantu kami sehingga masalahnya terselesaikan.” (864-867) Uraian di atas menunjukkan bahwa 4 dari 6 partisipan (PS 1, PI 1, PS 2, PI 2) merasa senang terkait penyelesaian masalah dalam kehidupan perkawinannya. Hal ini didukung oleh berbagai strategi yang mengakibatkan konflik dapat teratasi dan tidak berlangsung lama. Berdasarkan hal tersebut, kriteria dalam aspek ini telah terpenuhi. Meskipun demikian, PS 3 dan PI 3 belum menunjukkan hasil evaluasi dari penyelesaian masalah dalam kehidupan perkawinannya karena kekurangan data yang memadai untuk dianalisis.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 5. Manajemen Keuangan Aspek manajemen keuangan terdiri dari satu kriteria, yaitu merasa senang terhadap pengelolaan masalah ekonomi dalam kehidupan perkawinan dan pembuatan keputusan terkait keuangan. Para partisipan mengungkapkan kriteria ini melalui pernyataan-pernyataannya. Orang tua yang memiliki anak autisme sepakat bahwa mereka merasa senang terhadap pengelolaan masalah ekonomi dalam kehidupan perkawinan dan pembuatan keputusan terkait keuangan. Hal ini dapat dilihat dari cara pandang partisipan yang merasa bersyukur karena dapat mengatasi tantangan terkait finansial dalam kehidupan berumah tangga. Para partisipan memiliki berbagai strategi dalam mengelola keuangan, yaitu dengan mengutamakan kebutuhan mendasar (PS 1) dan penting (PI 1), pasrah terhadap kondisi perekonomian yang dihadapi (PS 2), serta mengutamakan kebutuhan anak (PI 2, PI 3). Bersyukur PS 1 : “Karena hadirnya E juga cukup memberatkan kami dari segi ekonomi, maka kami me-manage keuangan dengan memprioritaskan kebutuhan mendasar itu, dan kami bersyukur masih bisa mengatasi masalah ekonomi itu sampai saat ini.” (397-400) PI 1 : “Terus masalahnya ya untuk keuangan terkait E ya nggak, nggak begitu, nggak begitu masalah. Iya.Syukurlah semua masih bisa kami hadapi.Kami alokasikan itu untuk yang penting dulu mbak.” (53-56) PS 2 : “Jadi ya kami melihat bahwa T tidak berbeda dengan adik-adiknya, sehingga ya ya apa ya nggak tahu, kalau berlebihan mungkin tidak juga, tapi ya ee kalau orang Jawa falsafah orang Jawa itu ya “pas butuh, pas ono”, gitu. Jadi bersyukur sekali tantangannya bisa diatasi.” (102-105) PI 2 :“…, he’e T ada lalu harus sekolah, kemudian pengobatan itu memang itu membutuhkan dana yang banyak. Maka ee yaa kami harus sedikit kesulitan, iya itu karena itu kan kebeneran sekolah swasta banget dan dan biayanya memang waktu itu luar biasa banget. Karena prioritas kami anak, maka kami fokuskan uang ke sana sehingga syukur kepada Tuhan itu dapat kami lalui.” (136-140) PI 3 : “Maksudnya mau ini, tapi kebutuhan kan pokok yang terpenting mbak itu, saya sama suami mikirnya gitu, kalau nggak kayanya nggak. Biasa mau, yang penting biasane buat anak nek saya mbak, gitu. Alhamdullilah mbak, syukur kebutuhan itu terpenuhi.” (189-192)

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Uraian di atas menunjukkan bahwa 5 dari 6 partisipan merasa senang terhadap pengelolaan masalah ekonomi dan pembuatan keputusan terkait keuangan di dalam kehidupan perkawinannya. Hal ini ditunjukkan oleh rasa syukur yang diungkapkan para partisipan karena memiliki berbagai strategi untuk mengelola perekonomian keluarga. Berdasarkan hal tersebut, kriteria dalam aspek ini telah terpenuhi. Meskipun demikian, PS 3 belum menunjukkan hasil evaluasi terhadap pengelolaan masalah ekonomi dalam kehidupan perkawinan dan pembuatan keputusan terkait keuangan karena kekurangan data yang memadai untuk dianalisis. 6. Aktivitas dalam Mengisi Waktu Luang Aktivitas dalam mengisi waktu luang mencakup dua kriteria, yaitu meluangkan waktu untuk pasangan serta merasa senang ketika menghabiskan waktu bersama. Orang tua menunjukkan keberadaan dua kriteria tersebut berdasarkan ungkapan-ungkapan yang disampaikan. Pada saat memiliki waktu luang, orang tua memanfaatkannya untuk melakukan kegiatan bersama pasangan. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan partisipan yang akan memanfaatkan waktu luang bersama pasangan (PS 1, PI 1, PS 2, PI 2, PS 3, dan PI 3) dengan aktivitas yang berbeda-beda. Orang tua juga melibatkan anak dalam beraktivitas (PS 1, PI 1, PS 2, PS 3, PI 3). Beraktivitas bersama PS 1 : “Ya cuma kadang ngobrol bareng istri, dengan anak-anak juga, dengan keluarga gitu sambil apa ya kalau kalau kalau nggak gitu kadang tidur-tiduran sambil ngobrol, gitu aja.” (570-572) PI 1 : “Menghabiskan lihat tv sama-sama gitu, atau kumpul sama anak-anak gitu, seperti itu.” (297-298) PS 2 : “Iya kalau luang itu memang kami berlibur, ya sama pasangan, ya bersama anakanak. Kadang kami manfaatkan waktu untuk bekerja di luar kota untuk apa istilahnya, couple time.” (1275-1277) PI 2 : “Lalu kami sering kok pergi-pergi wisata saat luang, saya dan suami.” (349)

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 PS 3 : “Waktu luang untuk mengajak ya, sekedar keluar, kita ya mencari suasana yang lain aja dari pada di ini, istilahnya suasana lain, saya ajak keluar, saya ajak jalan aja sama anak dan pasangan saya.” (147-149) PI 3 : “Pernah mbak nek libur itu semua di rumah, suami libur kan di rumah, ya nggak ngapa-ngapain, cuma santai gini. Kadang beli apa toh, kadang main kemana gitu ajak J.” (252-254) Selain itu, orang tua merasa senang ketika dapat menghabiskan waktu bersama pasangan karena dapat saling meluangkan waktu di tengah kesibukan masing-masing (PI 1, PS 2, PS 3, PI 3) dan menikmati waktu luang yang dimiliki (PS 1, PI 1, PI 2). Merasa senang PS 1 : “Menikmati waktu luang aja mbak, soalnya saya kerja, istri kerja, belum lagi ngurus E.” (572-573) PI 1 : “Enjoy aja, karena sudah seharian kerja to.” (298) PS 2 : “Dan hal itu menyenangkan karena saya dan PI 2 itu masih bisa jalan-jalan atau sekedar menimati suasana setelah semua pekerjaan sudah selesai.” (1277-1279) PI 2 : “Jadi sebenarnya kami sering pergi wisata itu juga menjadi bagian dari supaya kami tetep bisa menjaga semangat gitu ya, menikmati suasana bersama pasangan.” (350-351) PS 3 : “Biar bisa menikmati suasana. Kan saya kerja mbak, istri juga cuma ngurus J, jadi mereka seneng gitu, saya juga seneng bisa sama-sama.” (149-151) PI 3 : “Kan sehari-hari suami kerja to, jadi seneng kalau libur gitu, bisa kemana gitu sama suami, sama J juga.” (255-256) Walaupun demikian, para istri memiliki harapan terkait mengisi waktu luang bersama pasangan yang ditunjukkan oleh keinginan partisipan agar pasangan dapat meluangkan waktu lebih banyak untuk dirinya (PI 1, PI 2, PI 3) dan pergi bersama ke suatu tempat (PI 2). PI 1 : “Jadi lebih banyak menyediakan waktulah buat saya. Diingetin, seperti itu.” (473474) PI 2 : “Kami punya keinginan untuk pergi berdua ke tempat di Spanyol untuk jalan bareng 25 hari atau pergi ke Yerusalem. Dan saya anu, ingin mewujudkannya, supaya dia luangkan waktu untuk itu.” (891-893) PI 3 : “Saya itu pengen kalau pas libur itu mbok suami itu di rumah nemenin saya, nggak pergi-pergi sendiri.Luangkan buat saya.” (262-264) Hal ini menunjukkan bahwa secara umum orang tua yang memiliki anak autisme cenderung mengisi waktu luang mereka untuk beraktivitas bersama pasangan dan anak. Selain itu, orang tua merasa senang karena bisa meluangkan

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 waktu bersama pasangan di tengah kesibukan masing-masing. Meskipun demikian, para istri memiliki harapan untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama pasangan. Berdasarkan hal tersebut, kriteria dalam aspek ini terpenuhi, namun terdapat potensi permasalahan yang khususnya dirasakan oleh para istri. 7. Hubungan Seksual Aspek hubungan seksual mencakup perasaan senang terkait pengekspresian kasih sayang dan hubungan seksual dengan pasangan. Orang tua yang memiliki anak autisme sama-sama mengungkapkan bahwa mereka merasa senang terkait pengekspresian kasih sayang dan hubungan seksual dengan pasangannya. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan partisipan yang merasa bersyukur (PS 1, PI 1, PI 2) dan mengungkapkan perasaan senang secara eksplisit (PS 2, PS 3,PI 3). Partisipan merasa bersyukur karena tetap dapat mencurahkan kasih sayang kepada pasangan setelah kehadiran anak autisme (PS 1, PI 1), serta menjalani kehidupan normal sebagai ibu dan istri (PI 2). Partisipan juga merasa senang terkait hal tersebut dan merasa dapat memberikan sesuatu yang berarti kepada pasangannya (PS 3). Merasa senang PS 1 : “Saya bersyukur ya, dalam artian di kondisi seperti ini, saat kami memiliki E, kami tetap memiliki waktu untuk bisa saling apa, mencurahkan kasih sayang satu sama lain.” (614-615) PI 1 : “Saya bersyukur di saat saya apa namanya, memiliki E, saya tetap bisa me me me apa ee me mengungkapkan kasih sayang ke suami, mengekspresikan gitu tadi.” (347-349) PS 2 : “Kehadiran T mungkin membatasi kami di awal terkait hubungan suami istri, tapi saya pribadi senang karena saya tetap bisa menunjukkan kasih sayang kepada PI 2 dan kami juga tetap punya privasi dalam hubungan itu.” (1431-1433) PI 2 : “Ya bersyukurlah, bersyukurlah, bersyukur. Menurut saya, saya melewati kehidupan yang normal sebagai seorang ibu dan istri setelah kehadiran T, jadi tetap bisa ada hubungan yang personal dengan suami, itu privasi.” (829-831)

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 PS 3 : “Perasaan saya senang ya mungkin meski ada J saya bisa mengasih sesuatu sama istri saya, ya walaupun hanya sekedar cipika cipiki, mungkin sangat berarti untuk pasangan saya.” (199-201) PI 3 : “Gimana ya, sama aja ya mbak kayanya, he’em senang. Senang karena tetep sempat aja gitu mbak nunjukkin sayang gitu, walaupun ada J tetep bisa.” (390391) Selain itu, orang tua menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada pasangan melalui sentuhan fisik, seperti belaian (PS 1), pijitan (PI 1), pelukan (PS 2, PI 2, PI 3), dan ciuman (PI 2, PS 3, PI 3). Kontak fisik PS 1 : “Ya dengan apa ya, sentuhan kali ya. Dengan sentuhan, terus belaian, yaudah gitu aja, biasa depan anak. Kalau hubungan suami istri itu ada, itu privasi.” (583-584) PI 1 : “Jadi biasa jam segini gitu anak-anak sudah pada mau tidur dan tenang to, nah kita pijit-pijitan kaki.” (336-337) PS 2 : “Jadi ee iya saya tidak ragu-ragu tanpa alasan memeluk dia. Ee dia juga tidak ragu-ragu tanpa alasan memeluk saya. Dan iya mungkin malu di depan anakanak, tapi kadang-kadag anak-anak memergoki,…” (1350-1352) PI 2 :“… jadi ya kita cukup berpelukan, kemudian cium pipi kiri kanan, cium bibir, sudah. Itu, nonton tv ya deket-deketan gitu.” (805-807) PS 3 : “Selayaknya seorang suami istri kadang ya saya, saya cium istri saya.” (187-188) PI 3 : “Nggak mesti sih mbak, ya mungkin nyiumlah mbak, nyium to, atau meluk gitu, kadang malah suami yang gitu.” (371-372) Meskipun demikian, orang tua mengungkapkan permasalahan dalam hubungan seksual mereka, yaitu keintiman dan kehidupan seksual yang cenderung berkurang (PS 1, PS 2, PI 3). Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan partisian bahwa hubungan suami istri tidak berjalan seperti awal perkawinan setelah kehadiran anak autisme (PS 1). Partisipan juga membatasi diri untuk melakukannya (PS 2, PI 3). Keintiman berkurang PS 1 : “Cuma kalau keintiman itu dikonotasikan dalam hubungan layaknya suami istri, nah terus terang hubungan suami istri kami tidak berjalan seperti awal-awalnya, setelah ada E, memang gitu ya.” (576-578) PS 2 : “Kehadiran T mungkin membatasi kami di awal terkait hubungan suami istri,…” (1431-1432) PI 3 : “Cuma kami membatasi karena belum memikirkan untuk punya anak lagi, masih fokus untuk J.” (394-395) Uraian di atas menunjukkan bahwa secara umum orang tua anak autisme merasa senang terkait pengekspresian kasih sayang dan hubungan seksual dengan

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 pasangannya, serta dapat mengekspresikan perhatian dan kasih sayang secara fisik. Meskipun demikian, kehadiran anak dengan autisme dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi berkurangnya keintimaman dan kehidupan seksual pada orang tua. Hal ini secara khusus dirasakan oleh PS 1, PS 2, dan PI 3. Berdasarkan hal tersebut, kriteria dalam aspek ini dapat terpenuhi, namun kehadiran anak autisme berpotensi menjadi salah satu pemicu permasalahan terkait berkurangnya keintiman dan frekuensi hubungan seksual yang dilakukan oleh orang tua, khususnya PS 1, PS 2, dan PI 3. 8. Anak-Anak dan Pengasuhan Aspek anak-anak dan pengasuhan terdiri dari dua kriteria, yaitu merasa senang ketika mengasuh dan membesarkan anak dengan autisme serta merawat anak tanpa beban. Kedua kriteria tersebut muncul di dalam ungkapan-ungkapan partisipan. Orang tua mengungkapkan bahwa kehadiran anak autisme di dalam kehidupan perkawinan mereka adalah suatu anugerah dari Tuhan. Anak adalah anugerah PS 1 : “Jadi ee karena kita sudah sudah sepakat sudah komitmen bahwa apa yang Tuhan kasih itu adalah anugerah, itu adalah berkat Tuhan.” (80-81) PI 1 : “Suka ya, yang pertama sih ee apa ya artinya kehadiran E itu buat saya tu anugerah.” (3-4) PS 2 : “Nah beruntung kami mendapatkan kata sepakat bahwa ee ini bukan salah kita, tapi ini ini memang anugerah dari Tuhan.” (20-22) PI 3 : “Namanya juga ini kan rizki. ” (86) Orang tua juga merasa senang ketika mengasuh dan membesarkan anak dengan autisme. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan partisipan yang merasa bersyukur (PI 1) dan bahagia (PS 3), serta tidak melihat kehadiran anak dengan autisme sebagai beban (PI 2), bahkan PS 1, PS 2, dan PI 3 secara eksplisit mengungkapkan perasaan senang yang dirasakan.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Merasa senang PS 1 : “Perasaan saya, yang jelas saya senang.” (620) PI 1 : “Iya, jadi saya bersyukur sama E gitu,…” (68) PS 2 : “Ya kalau mau dibilang, aduh gimana ya, karena ya ah ya menurut saya masalah ada sih, tapi saya senang, kita senang.” (1449-1450) PI 2 :“Karena semua seputar saya itu bisa menerima kehadiran T, maka ya bagi saya tidak masalah, T tidak menjadi beban, itu aja.” (748-749) PS 3 : “Ya bahagia mbak, namanya rumah tangga di karuniai seorang anak, bahagia.” (156) PI 3 : “Senang ya, senang, ya biasa.” (296) Kriteria lain yang muncul adalah merawat anak tanpa beban. Hal ini ditunjukkan dari sikap partisipan yang menikmati perannya sebagai orang tua (PS 1, PS 2) dengan merawat anak sepenuh hati (PI 1), memprioritaskan anak (PS 2), menyayangi anak (PI 2), mendidik anak (PS 3), dan mendampingi anak (PI 3). Seluruh partisipan sepakat bahwa tidak ada beban ketika merawat anak dengan autisme. Tidak terbebani PS 1 : “…apa yang Tuhan percayakan, itu yang saya, itu yang saya ee lakukan, itu yang saya kerjakan semampu saya gitu iya, sehingga ini bukan beban dan saya menikmatinya.” (627-629) PI 1 : “E itu bagian dalam hidup saya yang harus saya jaga dengan sepenuh hati saya, dan saya tidak terbebani dengan itu, dan dan dan saya menyayangi dia dengan hati saya.” (357-359) PS 2 : “Jadi T itu termasuk prioritas, sehingga saya berupaya untuk memberikan yang terbaik untuk dia, untuk perkembangannya. Dan saya sangat menikmati ini, dalam artian tidak ada beban.” (100-102) PI 2 :“…ya sayang selayaknya ibu yang apa yang bisa memberi, mengingatkan, me menemani T, karena dia juga biasa aja, bukan masalah, bukan beban.” (774-775) PS 3 : “… ya seperti mendidik, mengarahkan anak ya seusia dia, istilahnya ya saya nggak ada beban bahwa anak saya tu punya kebutuhan khusus gitu.” (100-102) PI 3 : “Saya mengawasi dia terus, selalu ada di dekatnya, jadi kalau ada apa-apa saya langsung bisa, nggak ada masalah sih mbak, nggak ada beban gitu.” (306-307) Walaupun demikian, orang tua terkadang merasa lelah ketika mengasuh dan membesarkan anak autisme, baik secara fisik maupun psikologis yang berkaitan dengan tantangan praktis dan psikologis. Lelah PS 1 : “Karena terus terang baik saya maupun istri kadang kala ee capek dalam capek secara psikologis secara fisik menghadapi E, anak ini.” (333-334) PI 1 : “Walaupun kadang rasa capek itu ada, rasa lelah itu ada, tapi tetap ya hadapi gitu, kerjakan, seperti itu.” (353-354)

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 PS 2 : “Mungkin pernah merasa lelah fisik, psikis juga, tapi tetap berjalan dengan baik.” (1607-1608) PI 2 : “Kadang-kadang capek itu biasa, lalu ngomel-ngomel.” (775-776) PS 3 : “…, kadang ya capek karena habis kerja harus menemai anak.” (160) PI 3 : “… tapi namanya juga orang, kadang capek, kadang lagi nggak mood, kadang pekerjaan di rumah lebih banyak dari pada di luaran, kadang bisa ya itu kesabarannya hilang.” (51-53) Uraian di atas menunjukkan bahwa kehadiran anak autisme di dalam sebuah keluarga merupakan anugerah bagi orang tua. Secara umum, orang tua merasa senang dalam menyambut kehadiran anak dan mengasuhnya, sehingga tidak merasa terbebani. Meskipun demikian, pada situasi tertentu orang tua merasa kelelahan secara fisik maupun psikologis karena harus menghadapi perilaku anak. Hal ini berkaitan dengan tantangan praktis dan psikologis yang dihadapi selama merawat anak dengan autisme. Berdasarkan hal tersebut orang tua menunjukkan terpenuhinya kriteria-kriteria dalam aspek ini, meskipun terdapat potensi permasalahan karena orang tua merasa lelah saat menghadapi perilaku anak. 9. Keluarga dan Teman-teman Aspek keluarga dan teman-teman mencakup perasaan nyaman ketika melakukan sesuatu bersama keluarga dan teman-teman, serta merasa senang ketika menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman. Partisipan menyampaikan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan munculnya kedua kriteria tersebut. Orang tua yang memiliki anak autisme merasa nyaman ketika melakukan sesuatu bersama keluarga. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan partisipan yang mengajak anak saat berkumpul bersama keluarga (PS 1, PI 2, PI

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 3), tidak merasa malu (PI 1), dan dapat berbagi cerita mengenai kondisi anak (PS 2, PS 3). Nyaman PS 1 : “Ee mereka baik, tidak ada masalah dan mereka menyayangi E dengan apa adanya, seperti itu, maka saya pasti mengajak E juga saat kumpul keluarga.” (649-650) PI 1 : “Dan perasaan saya sama E nggak, nggak malu sama mereka, istilahnya ya ini E gitu.” (373-374) PS 2 : “Pada sisi yang lain yaa saya bisa memperkenalkan T kepada mereka sih, terus menunjukkan perkembangan T kepada mereka,…” (1624-1626) PI 2 : “Kami sudah biasa mengajak T kumpul sama keluarga, bahkan T dekat dengan neneknya.” (123-124) PS 3 : “Bertemu ya kita, kami ya ngobrol, ya bicara, ya tentang keluarga, tentang J, namanya jarang ketemu.” (165-167) PI 3 : “Kami biasa mengajak J ke kampung saat liburan untuk bertemu dengan keluarga dan saudara.” (316-317) Orang tua juga merasa nyaman ketika melakukan sesuatu bersama temanteman. Hal ini terlihat dari sikap partisipan yang mengajak anak dengan autisme bertemu dengan teman-temannya (PS 1) dan menceritakan hal-hal mengenai anak (PI 1, PS 2, PS 3, PI 3). Nyaman PS 1 : “… bahkan ee beberapa kali saya ajak dia walaupun dalam pertemuan itu saya paling ribet dewe,…” (661-662) PI 1 : “Saya juga cerita tentang E, dan ee udah itu aja.” (410-411) PS 2 : “Misalnya misalnya ada teman yang anaknya tu seperti itu misalnya, ya saya cerita dulu.” (1658-1659) PI 2 : “…, temen-temen saya ya, ngobrol aja, tentang apa gitu, T misalnya, kerjaan, atau apa gitu.” (431-432) PS 3 : “Ya sama aja ngobrol, tentang ini, tentang anak, tentang kabar keluarga, tentang kerjaan, tentang kesehatan juga, cuma itu.” (169-170) PI 3 : “Ngobrol-ngobrol gitu, cerita J, cerita apa gitu.” (350-351) Kriteria lain yang muncul adalah merasa senang ketika menghabiskan waktu bersama keluarga. Hal ini ditunjukkan secara eksplisit dari pernyataan partisipan yang merasa senang ketika bisa berkumpul bersama keluarga besar. Merasa senang PS 1 : “Walaupun bisanya kumpul di rumah, tetap senang gitu.” (654-655) PI 1 : “Ya senang. He’em, senang.” (406) PS 2 : “Senang yaa, apalagi udah, udah ya itu, itu kalau udah kumpul.” (1622) PI 2 : “…,kebutuhan untuk menjenguk orang tua itu menjadi kebutuhan, jadi saya senang, bisa ajak T.” (407-408)

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 PS 3 : “Kalau ketemu senang mbak.” (175-176) PI 3 : “Senangnya bisa ngumpul.” (334) Orang tua juga merasa senang ketika menghabiskan waktu bersama temanteman. Hal ini dapat dilihat dari cara pandang partisipan yang merasa bahagia (PS 3) dan dapat menikmati (PS 1, PI 1) waktu bersama teman-teman, bahkan PS 2, PI 2, dan PI 3 menyatakan perasaan senangnya secara eksplisit. Merasa senang PS 1 : “Saya enjoy kalau sama teman juga.” (659) PI 1 : “Oh, sama teman-teman, sama teman-teman enjoy-enjoy aja.” (409) PS 2 : “Saya merasa senang sih, kalau bisa bersama teman-teman itu.” (1687-1688) PI 2 : “Jadi ya happy-happy ajalah, gitu mbak.” (472) PS 3 : “Bahagianya bisa meluangkan waktu untuk sekedar bertemu saja.” (173) PI 3 : “Ya sama kaya tadi mbak sih, ya senang.” (353) Walaupun demikian, orang tua juga terkadang merasa kurang nyaman bersama keluarga atau teman-teman karena anak menunjukkan perilaku tertentu yang tidak biasa. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan partisipan yang membatasi waktu kebersamaan (PI 1), serta merasa tidak nyaman (PS 1) dan tidak enak (PI 3). Tidak nyaman PS 1 : “Karena apa, tidak nyaman, E tidak bisa stand by di tempat.” (644) PI 1 : “Jadi kalau kesana itu saya nggak bisa lama-lama karena saya ngerti mereka pasti repot dengan E, gitu.” (381-382) PI 3 : “Susahnya ini kalau aktifnya lari-lari, dipegang, dipegang, perasaannya kan nggak enak, gitu” (334-335) Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara umum orang tua merasa nyaman dan senang ketika melakukan sesuatu bersama keluarga dan teman-temannya. Hal ini ditunjukkan oleh perilaku orang tua yang memperkenalkan anak dengan autisme kepada keluarga maupun teman-temannya. Orang tua juga tidak merasa malu dan bisa menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan anak. Meskipun demikian, orang tua terkadang merasa kurang nyaman dan tidak enak ketika anak menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Hal ini

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 khususnya dirasakan oleh PS 1, PI 1, dan PI 3. Uraian tersebut menunjukkan bahwa kriteria-kriteria dalam aspek ini terpenuhi, namun terdapat potensi permasalahan yang berkaitan perilaku anak ketika bersama keluarga atau temanteman orangtuanya. 10. Orientasi Keagamaan Orientasi keagamaan terdiri dari satu kriteria, yaitu merasa senang terkait praktik nilai-nilai keagamaan dalam perkawinan. Para partisipan menunjukkan keberadaan kriteria tersebut berdasarkan ungkapan-ungkapan mereka. Perasaan senang terkait praktik nilai-nilai keagamaan dalam perkawinan ditunjukkan oleh ungkapan partisipan yang merasa bersyukur (PS 1, PS 2, PI 2, PS 3), bahkan PI 1 dan PI 3 mengungkapkan perasaan senangnya secara eksplisit. Orang tua yang memiliki anak autisme merasa bersyukur karena semakin dekat dengan Tuhan (PS 1, PS 2), dan menunjukkan peningkatan frekuensi pertemuan dengan Tuhan (PI 1). Kehadiran anak juga membuat orang tua lebih dewasa dalam beriman (PI 2) dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan amal ibadah (PS 3). Selain itu, orang tua dapat lebih mendalami pemahaman terkait keagamaan (PI 3). Merasa senang PS 1 : “Tapi kalau perubahan ke arah semakin meningkat iya. Kami bersyukur karena kami menjadi lebih dekat dengan Tuhan sejak kehadiran E.” (688-689) PI 1 : “Apalagi sejak kehadiran E, jadi yang bisa menetralisir saya, yang bisa menghibur saya, yang bisa membuat saya semangat gitu, Tuhan, hanya Tuhan, maka saya lebih sering bertemu Tuhan. Hal itu menenangkan sekaligus menyenangkan bagi saya.” (429-432) PS 2 : “Itu nggak, ya pertama sih begini, pertama ya menurut saya, saya harus menghargai hari Minggu begitu, tapi kebutuhan kebutuhan kebutuhan itu bergeser manakala kami menghadapi T, kami jadi semakin dekat dengan Tuhan, maka saya bersyukur.” (1699-1702) PI 2 : “Kehadiran T membuat kami menjadi lebih dewasa juga dalam beriman kayanya, begitu baik saya sama suami saya. Saya sangat mensyukuri hal itu.” (855-857) PS 3 : “Saya bersyukur. Kehadiran J memberikan saya jalan untuk bisa meningkatkan amal saya dalam menjalani segala perintah yang di atas.” (207-209)

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 PI 3 : “Ya mungkin lebih, saya senang bisa lebih memahami ke agamalah dari pada sebelumnya, sejak ada J.” (404-405) Uraian di atas menunjukkan bahwa secara umum orang tua yang memiliki anak autisme menunjukkan adanya peningkatan dalam kehidupan beragama. Selain itu, orang tua merasa senang dan mensyukuri perilakunya terkait praktikpraktik keagamaan dalam kehidupan perkawinan. Berdasarkan uraian tersebut, kriteria dalam aspek ini telah terpenuhi. Para partisipan cenderung mengungkapkan perasaan positif yang dirasakan berkaitan dengan aspek-aspek kepuasan perkawinan berupa perasaan senang, bahagia, dan puas. PS 1, PI 1, PS 2, dan PI 2 menunjukkan perasaan positif pada seluruh aspek kepuasan perkawinan, sedangkan PS 3 dan PI 3 belum menunjukkan evaluasi pada seluruh aspek. Orang tua juga menunjukkan bahwa terdapat peningkatan penghayatan pada aspek orientasi keagamaan. Meskipun demikian, kehadiran anak autisme juga berpotensi menimbulkan permasalahan pada beberapa aspek kepuasan perkawinan yang dapat mengganggu relasi antara orang tua. Aspek-aspek yang cenderung paling berpotensi mengalami permasalahan adalah aspek komunikasi, serta aspek anak-anak dan pengasuhan. Para partisipan memberikan penekanan bahwa kehadiran anak membuat orang tua terkadang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, serta merasa lelah secara fisik dan psikologis saat merawat anak autisme. D. Pembahasan Kepuasan perkawinan adalah evaluasi subjektif yang dilakukan oleh individu atas kehidupan pekawinannya berdasarkan perasaan senang, bahagia, dan puas (Bird & Melville, 1994) yang berkaitan dengan pengalaman menyenangkan

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 bersama pasangan dengan mempertimbangkan aspek-aspek dalam perkawinan (Fowers & Olson, 1993). Penelitian ini berfokus untuk mencari tahu kepuasan perkawinan orang tua yang memiliki anak autisme yang mencakup aspek-aspek kepuasan perkawinan Fowes dan Olson (1989), yaitu permasalahan-permasalahan kepribadian, kesamaan peran, komunikasi, pemecahan masalah, manajemen keuangan, aktivitas dalam mengisi waktu luang, hubungan seksual, anak-anak dan pengasuhan, keluarga dan teman-teman, serta orientasi keagamaan. Secara umum, hasil penelitian menunjukkan hal menarik bahwa empat dari enam orang tua dapat dikatakan puas terhadap kehidupan perkawinan yang dijalani. Hal ini ditunjukkan oleh keseluruhan paparan hasil wawancara bahwa para partisipan mengungkapkan perasaan positif berupa senang, bahagia, dan puas, serta dapat memenuhi kriteria-kriteria dalam setiap aspek kepuasan perkawinan Fowes dan Olson (1989). Dua orang tua lainnya juga cenderung menunjukkan perasaan positif pada sebagian besar aspek-aspek kepuasan perkawinan, namun belum menunjukkan evaluasi pada aspek pemecahan masalah (PS 3 dan PI 3) dan aspek manajemen keuangan (PS 3). Selain itu, seluruh partisipan dapat menerima kehadiran anak autisme di dalam keluarga sebagai sebuah anugerah dari Tuhan. Berdasarkan hal tersebut, orang tua yang memiliki anak autisme secara sadar maupun tidak sadar mengetahui dengan baik hal-hal yang harus ada dalam dinamika kehidupan perkawinan mereka agar dapat menimbulkan perasaan puas. Orang tua yang memiliki anak autisme menunjukkan adanya peningkatan penghayatan pada aspek orientasi keagamaan. Kehadiran anak autisme

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 memberikan manfaat positif kepada partisipan dan menimbulkan peningkatan dalam kehidupan beragama. PS 1 menyadari peningkatan terkait kehidupan beragama yang ada pada dirinya karena PS 1 menjadi lebih dekat dengan Tuhan setelah kehadiran anak autisme. Hal serupa disampaikan oleh PS 2 yang berpandangan bahwa kebutuhan-kebutuhan terkait keagamaan bukan hanya sekedar untuk menghargai hari Minggu, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. PI 1 mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan frekuensi untuk bertemu Tuhan setelah kehadiran anak autisme karena hanya Tuhan yang dapat memberikan hiburan dan ketenangan. Kehadiran anak dengan autisme juga membuat orang tua lebih dewasa dalam beriman (PI 2), dapat meningkatkan amal ibadah dalam menjalani perintah Tuhan (PS 3), dan lebih mendalami pemahaman terkait keagamaan (PI 3). Selain itu, orang tua cenderung merasa senang terkait praktik yang dilakukan atas nilai-nilai keagamaan yang diyakini dalam kehidupan perkawinannya. Hal ini ditunjukkan oleh rasa syukur dan senang yang diungkapkan seluruh partisipan. Walaupun demikian, orang tua anak autisme menunjukkan kekurangan dalam kehidupan perkawinan mereka. Uraian ini didukung oleh adanya berbagai potensi permasalahan yang berkaitan dengan relasi bersama pasangan karena pasangan kurang pengertian, tidak bisa diajak bekerjasama, sulit diajak berkomunikasi, waktu kebersamaan yang terbatas, dan berkurangnya keintiman. Permasalahan-permasalahan tersebut mengurangi aspek-aspek positif seperti keintiman, ekspresi afeksi, diskusi, kerja sama, dan kegiatan menyenangkan

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 bersama pasangan yang berpotensi menurunkan tingkat kepuasan (Papalia dkk, 2002). Aspek-aspek yang relatif paling berpotensi mengalami permasalahan adalah aspek komunikasi, serta aspek anak-anak dan pengasuhan. Keenam orang tua yang memiliki anak autisme menghadapi permasalahan terkait aspek komunikasi karena terkadang partisipan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan pasangannya. Bentuk dari permasalahan tersebut dapat dilihat dari sikap partisipan yang tidak bersedia mengungkapkan pikiran maupun perasaan tertentu kepada pasangan dengan berbagai alasan, seperti tidak ingin membebani pasangan (PS 2) atau merasa bahwa pasangan tidak dapat mengatasi masalah yang dihadapi (PI 2). Hal ini sesuai dengan pernyataan Allen dan koleganya serta Schumm dan koleganya (dalam Davidson & Moore, 1996) bahwa orang tua dengan anak autisme cenderung memiliki pola komunikasi dengan tingkat self-disclosure yang berbeda dan tidak seimbang antara satu sama lain, sehingga dapat menurunkan kepuasan perkawinan. PI 1 juga mengungkapkan adanya penurunan frekuensi komunikasi mengenai hal-hal yang bersifat pribadi. Bentuk lain dari permasalahan yang dihadapi adalah orang tua tidak sepemahaman dengan pasangannya saat berkomunikasi. PI 2 menambahkan bahwa pasangan membahas hal-hal di luar konteks sehingga dirinya merasa tidak didengarkan. Berdasarkan hal tersebut, secara tidak langsung orang tua anak autisme merasa perlu memperbaiki pola komunikasi yang terjalin di antara mereka. Pada aspek anak-anak dan pengasuhan, semua partisipan terkadang merasa lelah ketika mengasuh dan membesarkan anak dengan autisme, baik

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 secara fisik maupun psikologis. Hal ini berkaitan dengan tantangan praktis karena penambahan tugas rumah tangga dan tantangan psikologis terkait stres. Orang tua yang memiliki anak autisme cenderung menunjukkan perasaan positif terhadap kehidupan perkawinan yang dijalani. Hal ini didukung oleh pernyataan partisipan yang memenuhi kriteria-kriteria dalam setiap aspek kepuasan perkawinan Fowes dan Olson (1989). Orang tua anak autisme juga dapat melihat kehadiran anak melalui sisi positif sehingga dapat menerima keberadaannya, meskipun anak memiliki berbagai keterbatasan yang dapat menimbulkan tantangan-tantangan tertentu. Meskipun demikian, orang tua anak autisme terkadang mengalami berbagai permasalahan yang dapat mengganggu relasi mereka. Hal ini dapat memicu terjadinya konflik, namun orang tua memiliki strategi-strategi untuk mengatasi konflik sehingga tidak ada konflik berkepanjangan. Orang tua anak autisme juga memperoleh manfaat positif dari hal-hal terkait keagamaan yang dapat meningkatkan kehidupan beragama yang dijalani.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal dari penelitian yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman mengenai kepuasan perkawinan secara utuh dan menyeluruh pada orang tua yang memiliki anak autisme. Beberapa kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Secara umum, orang tua tetap merasakan perasaan positif berupa senang, bahagia, dan puas meskipun memiliki anak dengan autisme. Perasaan positif yang dirasakan oleh partisipan terdapat pada aspek permasalahan- permasalahan kepribadian, kesamaan peran, komunikasi, pemecahan masalah, manajemen keuangan, aktivitas dalam mengisi waktu luang, hubungan seksual, anak-anak dan pengasuhan, keluarga dan teman-teman, serta orientasi keagamaan. 2. Empat dari enam orang tua anak autisme dapat dikatakan puas terhadap kehidupan perkawinannya karena menunjukkan perasaan positif dan memenuhi seluruh kriteria pada aspek-aspek kepuasan perkawinan. 3. Orang tua menunjukkan peningkatan penghayatan dalam kehidupan beragama setelah memiliki anak autisme. 4. Beberapa aspek yang relatif paling berpotensi mengalami permasalahan setelah kehadiran anak autisme adalah aspek komunikasi, serta aspek anak-anak dan pengasuhan. 70

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 B. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu: 1. Peneliti kurang melakukan rapport pada para partisipan karena rapport hanya dilakukan sebanyak satu kali sebelum pelaksanaan wawancara. Hal ini dapat membuat partisipan merasa kurang nyaman saat proses pengambilan data. 2. Peneliti kurang memperhatikan situasi dan kondisi saat pelaksanaan wawancara, sehingga menimbulkan beberapa hambatan dalam pelaksanaannya yang dapat membuat fokus partisipan beralih. 3. Peneliti tidak melengkapi proses pengambilan data dengan skala psikologi yang dapat mengukur tingkat kepuasan perkawinan, sehingga data yang dihasilkan belum dapat menunjukkan tingkat kepuasan yang dirasakan oleh orang tua yang memiliki anak autisme. 4. Peneliti tidak menerapkan metode analisis diadik, sehingga data yang dihasilkan belum dapat menunjukkan kepuasan perkawinan yang dirasakan oleh orang tua sebagai pasangan suami istri. C. Saran 1. Bagi Peneliti Selanjutnya a. Penelitian yang melibatkan orang tua yang memiliki anak autisme sangat rentan dalam proses pengambilan data karena terdapat aspek yang bersifat sangat personal terkait hubungan seksual. Maka penelitian selanjutnya diharapkan dapat mempertimbangkan bentuk pertanyaan yang akan disampaikan karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan, sehingga partisipan mengalami kesulitan dalam menyampaikan pengalamannya.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 b. Melakukan rapport lebih dari satu kali kepada partisipan agar partisipan merasa nyaman ketika menyampaikan pengalaman terkait kehidupan perkawinannya. c. Mengusahakan setting tempat dan situasi pelaksanaan wawancara yang lebih kondusif agar partisipan tetap fokus dalam menjalani proses wawancara. d. Melengkapi pengumpulan data dalam penelitian dengan skala psikologi yang dapat mengukur tingkat kepuasan perkawinan orang tua untuk memperkuat dan memperkaya data. e. Menerapkan metode analisis data diadik untuk memperkaya data. 2. Bagi Praktisi Psikologi Melakukan pendampingan untuk orang tua, khususnya yang mengalami permasalahan-permasalahan yang tidak dapat teratasi dalam kehidupan perkawinan agar dapat menemukan solusi dan meningkatkan kepuasan perkawinan yang dirasakan. Beberapa saran praktis yang dapat dilakukan adalah memberikan intervensi kepada orang tua agar dapat memperkuat relasi bersama pasangan, serta memberikan edukasi mengenai cara membangun komunikasi yang baik dan pola mengasuhan yang tepat bagi anak dengan autisme. 3. Bagi Orang Tua yang Memiliki Anak Autisme Orang tua diharapkan dapat berkomitmen dan bekerjasama dengan pasangan dalam menghadapi dinamika kehidupan perkawinan setelah kehadiran anak autisme. Berdasarkan hal tersebut, terdapat beberapa saran praktis untuk

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 mempertahankan atau bahkan meningkatkan kepuasan perkawinan yang dirasakan oleh orang tua yang memiliki anak autisme, antara lain: a. Menjaga dan meningkatkan aspek-aspek positif dalam kehidupan perkawinan yang berkaitan dengan tingkah laku dan kepribadian, kesamaan peran, komunikasi, aktivitas dalam mengisi waktu luang, hubungan seksual atau keintiman, kehadiran anak dan pengasuhan, serta interaksi dengan keluarga dan teman-teman. b. Meluangkan waktu untuk pasangan disela-sela kesibukan. c. Meningkatkan keterbukaan kepada pasangan agar dapat lebih saling mengerti dan memahami, mengembangkan pola komunikasi yang dilandasi dengan rasa empati dan saling menghargai, serta memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang disampaikan oleh pasangan. d. Berinteraksi dengan orang tua yang memiliki kondisi yang sama untuk saling bertukar informasi dan memberikan dukungan satu sama lain.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 DAFTAR ACUAN Abbeduto, L., Seltzer, M. M., Shattuck, P., Krauss, M. W., Orsmond, G., & Murphy, M. M. (2004).Psychological well – being and coping in mothers of youths with autism, down syndrome, or fragile X syndrome.American Journal of Mental Retardation, 109 (3), 237 – 254. Bilgin, H. & Kucuk, L. (2010). Raising an autistic child: Perspectives from turkish mothers. Journal of Child and Adolescent Psychiatric Nursin, 23 (2), 92 – 99. Bird, G. & Melville, K. (1994).Families andintimate relationships.New York: McGraw – Hill, Inc. Birditt, K. S., Brown, E., Orbuch, T. L., & Mcilvane, J. M. (2010).Marital conflict behaviors and implications for divorce over 16 years.Journal of Marriage and Family, 1188 – 1204. Bluth, K., Roberson, P. N. E., Billen, R. M., & Sams, J. M. (2013).A stress model for couples parenting children with autism spectrum disorders and the introduction of a mindfulness intervention.Journal of Family Theory & Review, 5, 194 – 213. Bradbury, T. N., Fincham, F. D., & Beach, S. R. H. (2000).Research on the nature and determinant of marital satisfaction.A Decade in Review.Journal of Marriage and Family, 62, 964 – 980. Bristol, M. M., Gallagher, J. J., & Schopler, E. (1988). Mothers and fathers of young developmentally disabled and nondisabled boys: Adaptation and spousal support. Developmental Psychology, 24 (3), 441 – 451. Brobst, J. B., Clopton, J. R., & Hendrick, S. S. (2009).Parenting children with autism spectrum disorders: The couple’s relationship.Focus on Autism and Other Developmental Disabilities, 24 (1), 38 – 49. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2009). Prevalence of autism spectrum disorders – autism and developmental disabilities monitoring network, united states, 2006. Morbidity and Mortality Weekly Report 58 (SS10), 1 – 20.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Cohen, D. J. & Volkmar, F. R. (1997). Handbook of autism and pervasive development disorders.2nded. New York: John Wiley & Sons, Inc. Coney, J.C. (1984).Strategic therapy with depressed married persons and initial agenda, themes, and intervention.Journal of Marital and Family Therapy, 10 (1), 53 – 56. Creswell, J. W. (2012). Research design: Pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. 2nd ed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Davidson, J. K. & Moore, N. B. (1996).Marriage and family: Change and continuity. Boston: Allyn & Bacon. Duvall, E. M. & Miller, B. C. (1985).Marriage and family development.6thed. New York: Harper & Row. Fahimi, N. (2016). The effectiveness of mindgulness – based cognitive therapy on marital satisfaction of couples with autism children. The Social Sciences, 11 (6), 810 – 814. Fowers, B. J. & Olson, D. H. (1989). ENRICH marital inventory: A discriminant validity and cross – validation assessment. Journal of Marital and Family Therapy, 15 (1), 65 – 79. Fowers, B. J. & Olson, D. H. (1993). ENRICH marital satisfaction scale: A brief research and clinical tool. Journal of Family Psychology,7 (2), 176–185. Gardiner, H. W. & Kosmitzki, C. (2005).Lives across cultures: Cross – cultural human development.Boston: Allyn & Bacon. Gerstel, N. & Gross, H. E. (1982). Commuter marriages: A rivew. JournalMarrige & Family Review, 5 (2), 71 – 93. Habibi, U. R. (2015).Kepuasan pernikahan pada wanita yang dijodohkan.eJournal Psikologi, 3 (2), 579 – 588. Hartley, S. T., Barker, E. T., Seltzer, M. M., Floyd, F., Greenberg, J., Orsmond, G., & Bolt, D. (2010).The relative risk and timing of divorce in families of children with an autism spectrum disorder.Journal of Family Psychology, 24 (4), 449 – 457. Hartley, S. L., Barker, E. T., Seltzer, M. M., & Greenberg, J. S. (2011).Marital satisfaction and parenting experiences of mothers and fathers of

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 adolescents and adults with autism.American Association on Intellectual and Developmental Disabilities, 116 (1), 81 – 95. Hastings, R. P. (2003). Child behaviour problems and partner mental health as correlates of stress in mothers and fathers of children with autism.Journal of Intellectual Disability Research, 47 (4/5), 231 – 237. Hendrick, S & Hendrick, C. (1992).Liking, loving & relating. 2nd ed. California: Books/Cole Publishing Company Pacific Grove. Hock, R. M., Timm, T. M., & Ramisch, J. L. (2011).Parenting children with autism spectrum disorders: A crucible for couple relationships.Child and Family Social Work, 17 (4), 1 – 10. Indonesia, K. D. N. R. (1974). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia. Indonesia, K. K. R. (2014). INFODATIN pusat data dan informasi kementerian kesehatan RI: Penyandang disabilitas pada anak. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Istiqomah, I. & Mukhlis.(2015). Hubungan antara religiusitas dengan kepuasan perkawinan.Jurnal Psikologi, 11 (2), 71 – 78. Judarwanto, W. (2015, September 6). Jumlah penderita autis di Indonesia.Diakses tanggal 15 September 2017 dari www.klinikautis.com: https://klinikautis.com/2015/09/06/jumlah-penderita-autis-di-indonesia/ Kail, R. V. & Cavanaugh, J. C. (2000).Human development: A lifespan view. 2nd ed. Belmont: Wadsworth/Thomsaon Learning. Larasati, A. (2012). Kepuasan perkawinan pada istri ditinjau dari keterlibatan suami dalam menghadapi tuntutan ekonomi dan pembagian peran dalam rumah tangga.Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, 1 (3), 1 – 6. Lee, Li – Ching, Harrington, R. A., Louie, B. B., & Newschaffer, C. J. (2008). Children with autism: Quality of life and parental concerns. Journal Autism Developmental Disorders, 38, 1147 – 1160.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Levinson, D. (1995). Encyclopedia of marriage and the family.New York: Simon & Schuster Macmillan. Marijani, L. (2003). Bunga rampai, seputar autisme dan permasalahannya cetakan 1. Jakarta: Puterakembara Foundation. Myers, D. G. (2000).The funds, friends, and faith of happy people.American Psychologist, 55, 56 – 67. Papalia, D. E., Sterns, H. L., Feldman, R. D., & Camp, C. J. (2002). Adult development and aging.2nd ed. Boston: McGraw Hill. Patton, M. Q. (2002). Qualitative research and evaluation methods.Thousand Oaks, CA: Sage Publication. Pradana, A. P. & Kustanti, E. R. (2017).Hubungan antara dukungan sosial suami dengan psychological well – being pada ibu yang memiliki anak autisme.Jurnal Empati, 6 (2), 83 – 90. Puspita, D. (2004). Untaian duka, taburan mutiara: Hikmah perjuangan ibunda anak autistik. Bandung: Qanita. Powers, M. D. (2000). Children with autism: A parent’s guide. Bethesda, MD: WoodbineHouse. Sastry, A. & Aguirre, B., MD. (2014). Parenting anak dengan autisme: Solusi, strategi, dan saran praktis untuk membantu keluarga anda. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Smith, J. A., Flowers, P., & Larkin, M. (2009).Interpretative phenomenological analysis: Theory, methods, and research. London: Sage Publication. Smith, J. A. (2015). Qualitative psychology: A practival guide to research methods (ed. Ke-3). London: Sage Publication. Soetjiningsih.(2010). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC. Soraiya, P., Khairani, M., Rachmatan, R., Sari, K., & Sulistyani, A. (2016). Kelekatan dan kepuasan pernikahan pada dewasa awal di kota banda aceh. Jurnal Psikologi Undip, 15 (1), 36 – 42. Spanier, G. B. & Cole, C. L. (1976).Toward clarification and investigation of marital adjustment.International Journal of Sociology and the Family, 6 (1), 121 – 146.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Supratiknya, A. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif & kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2018). Penelitian kualitatif dalam psikologi: beberapa pedoman dalam publikasi [Handout]. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suryana, A. (2004). Terapi autisme, anak berbakat dan anak hiperaktif. Jakarta: Progres Jakarta. Widihastuti, S. (2007).Pola pendidikan anak autis. Yogyakarta: FNAC Press. Wrigth, H. N. (1993). Pertanyaan-pertanyaan pribadi yang sering diajukan para wanita. Solo: BADARA Publication.

(98)

Dokumen baru

Download (97 Halaman)
Gratis

Tags