PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI

Gratis

0
0
245
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Margaretha Herlin Pratiwi NIM: 151134120 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini peneliti persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang selalu melindungi dan menjadi sumber kekuatanku 2. Orang tuaku yang tak pernah lelah mendoakan dan mendukungku. 3. Kakak dan adikku yang selalu memberikan semangat dan tak bosan mengingatkan. 4. Sahabat-sahabat seperjuangan, teman-teman, dan para penyemangatku yang selalu mengingatkan dikala lelah. 5. Teman-teman KMPKS yang selalu menghiburku disela-sela kebosanan. 6. Almamater kebanggaanku, Universitas Sanata Dharma. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Setiap manusia itu punya keunikan masing-masing, jadikanlah keunikan itu sebagai suatu kelebihanmu untuk berkarya” “Ia yang mengerjakan lebih dari apa yang dibayar pada suatu saat akan dibayar lebih dari apa yang ia kerjakan” (Napoleon Hill) “Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau” (Amsal 2: 11) Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3: 23) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam / kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 24 Januari 2019 Peneliti Margaretha Herlin Pratiwi vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Margaretha Herlin Pratiwi Nomor Mahasiswa :151134120 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD”. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 24 Januari 2019 Yang menyatakan Margaretha Herlin Pratiwi vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD Margaretha Herlin Pratiwi Universitas Sanata Dharma 2019 Latar belakang penelitian ini adalah adanya keprihatinan terhadap rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA. Hal ini dilihat berdasarkan penelitian yang dilakukan PISA pada tahun 2009, 2012, dan 2015 yang menunjukkan bahwa peringkat literasi IPA siswa Indonesia masih berada diperingkat 10 terbawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa kelas V SD. Penelitian ini merupakan penelitian quasi-experimental tipe pretestposttest non-equivalent group design. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V yang berjumlah 73 siswa dari salah satu SD yang ada di Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019. Sampel penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu kelas A sebagai kelompok kontrol dengan jumlah siswa 24 anak, kelas B sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah siswa 24 anak. Treatment yang diterapkan di kelompok eksperimen adalah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang memiliki 7 langkah yaitu menyiapkan kartu, pembagian kartu, memikirkan soal dan jawaban, mencari pasangan, pemberian nilai, pengulangan permainan dan pemberian penghargaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi. Rerata selisih skor yang diperoleh kelompok eksperimen (M = 0,9162;SE = 0,14235) lebih tinggi dibanding kelompok kontrol (M = 0,4579; SE = 0,15133). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(46)= -2,206; p = 0,32 (p < 0,05). Besar pengaruh r = 0,31 termasuk kategori efek menengah atau setara dengan 9,61%. 2) Penerapan model pembelajaran tipe kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Rerata selisih skor yang diperoleh pada kelompok eksperimen (M = 1,013; SE = 0,13548) lebih tinggi dari selisih skor kelompok kontrol (M = 0,986; SE = 0,12761). Meskipun demikian, perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(46)= -0,148; p = 0,883 (p > 0,05). Besar pengaruh r = 0,02 termasuk kategori efek kecil atau setara dengan 0,04%. Kata kunci : pembelajaran kooperatif, Make a Match, kemampuan berpikir kritis, kemampuan menginterpretasi, kemampuan menganalisis, mata pelajaran IPA. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECT OF IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE LEARNING “MAKE A MATCH TYPE” ON STUDENTS’ ABILITY IN INTERPRETING AND ANALYZING OF FIFTH GRADERS OF ELEMENTARY SCHOOL Margaretha Herlin Pratiwi University of Sanata Dharma 2019 The background of this research was the concern on the students’ low critical thinking skill in Science. It was based on the researches conducted by PISA in 2009, 2012, and 2015 which showed that Indonesian students’ literacy rating on Science was still at the bottom 10. This research aimed to know the influence of implementation of cooperative learning type “Make a Match” to the student’s interpreting and analyzing abilities of fifth graders of elementary school. This research was a quasi-experimental research type pre-test and posttest non-equivalent group design. The population used in this research were all fifth graders, which were 73 students, of one of private elementary schools in Yogyakarta school year 2018/2019. The sample of this research consisted of two groups, which were group A as the control group which was consisted of 24 students, while group B as the experiment group which was consisted of 24 students. The treatment applied on the experiment group was model of cooperative learning type “Make a Match”. The model of cooperative learning type “Make a Match” has 7 steps which were preparing cards, distributing cards, thinking questions and answers, finding partner, giving score, repeating the game, and giving rewards. The result of this research showed that 1) model of cooperative learning type “Make a Match influenced students’ interpreting skill. The average difference score of experiment group was (M = 0,9162;SE = 0,14235) higher than control group (M = 0,4579; SE = 0,15133). The differences was significant with t (46)= -2,206; p = 0,32 (p < 0,05). The effect of r= 0,31 which was categorized as middle effect or equal to 9,61%. 2) The implementation of model of cooperative learning type “Make a Match” had no influences to students’ analyzing skill. The average difference score of experiment group was (M = 1,013; SE = 0,13548) higher than control group (M = 0,986; SE = 0,12761). The differences was not significant with t (46)= -0,148; p = 0,883 (p > 0,05). The effect of r = 0,22 which was categorized as small effect or equal to 0,04 %. Keywords: Cooperative learning, Make a Match, critical thinking skill, interpreting skill, analyzing skill, Science. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd,. M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dengan sabar dan bijaksana. 5. Agnes Herlina Dwi Hadiyanti, S.Si., M.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dengan penuh kesabaran. 6. Eny Winarti M.Hum., Ph.D. selaku dosen Penguji III yang telah memberikan masukan pada penelitian ini. 7. Tarcicius Tri Indartanta, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SD penelitian. 8. Putri El Pareka, S.Pd. selaku guru mitra yang membantu pelaksanaan penelitian hingga penelitian dapat berjalan dengan lancar. 9. Roberta Imma Dyas, S.Pd. selaku guru kelas V A yang telah memberi izin untuk melakukan penelitian di kelas tersebut. 10. Siswa kelas V A dan V B SD penelitian yang bersedia terlibat dalam penelitian. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma yang telah membantu proses perizinan penelitian skripsi. 12. Kedua orang tua, Lukas Rustamsi dan Ceicilia Sularni yang selalu mendampingi, memberi semangat, dan menyertai perjuanganku lewat doa dan nasihat. 13. Kakakku Maria Vianney dan adikku Valensia Anggia putri yang selalu mendampingi, membantu dan memberi semangat. 14. Sahabatku, Fr. Yuvens SCJ yang selalu mengingatkan, mendoakan dan memberi semangat untukku. 15. Sahabatku, Melsa, Tika, Marcel, Ella, Intan, Nila, Dinda, Agatha, Danang yang selalu memberikan semangat dan penghiburan di kala bosan. 16. Temanku Poppy dan Clara, Mbak Atri dan kakakku Mbak Pipin yang bersedia untuk mengoreksi tata bahasa dan tulisan salah ketikku dengan teliti. 17. Teman-teman PPL JB, Dom, Bronto, Cindy, Cici, Clara, Agatha, Poppy atas kerja sama serta dukungan selama penelitian di sekolah. 18. Teman-teman 7C yang selalu memberi semangat dan menghibur di kala bosan. 19. Sahabat penelitian kolaboratif, Agnes, Lintang, Rani, Melsa, Felis, Erien, Halimah, Niken, Anggun, Clara, dan Poppy yang telah memberi bantuan selama melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi. 20. Sahabat-sahabat ku sejak SMA yang selalu memberi semangat dan doa. 21. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu namun telah banyak membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna karena keterbatasan kemampuan peneliti. Segala kritik dan saran yang membangun akan peneliti terima dengan senang hati. Peneliti berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan pembaca. Peneliti xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS......................................................... vii ABSTRAK....................................................................................................... viii ABSTRACT........................................................................................................ ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI .................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 6 1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................... 7 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 7 1.5 Definisi Operasional ..................................................................................... 8 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 9 2.1 Kajian Pustaka .............................................................................................. 9 2.1.1 Teori yang Mendukung ............................................................................... 9 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak ....................................................................... 9 2.1.1.2 Teori Perkembangan Kognitif menurut Piaget ........................................ 10 2.1.1.3 Teori Pembelajaran Sosial Vygotsky ...................................................... 14 2.1.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif ............................................................. 16 2.1.1.5 Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match ......................................... 20 2.1.1.6 Kemampuan Berpikir Kritis .................................................................... 23 2.1.1.7 Kemampuan Menginterpretasi ................................................................ 24 2.1.1.8 Kemampuan Menganalisis ...................................................................... 25 2.1.1.9 Pembelajaran Tematik-Integratif............................................................. 26 2.1.1.10 Materi Sistem Pernapasan pada Hewan .............................................. 27 2.1.2 Penelitian yang Relevan ............................................................................ 28 2.2 Kerangka Berpikir ....................................................................................... 32 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.3 Hipotesis Penelitian..................................................................................... 34 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 35 3.1 Jenis Penelitian ........................................................................................... 35 3.2 Setting Penelitian ........................................................................................ 37 3.2.1 Lokasi Penelitian ...................................................................................... 37 3.2.2 Waktu Penelitian....................................................................................... 37 3.3 Populasi dan Sampel ................................................................................... 38 3.3.1 Populasi .................................................................................................... 38 3.3.2 Sampel...................................................................................................... 38 3.4 Variabel penelitian ...................................................................................... 39 3.4.1 Variabel Independen ................................................................................. 39 3.4.2 Variabel Dependen ................................................................................... 39 3.5 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 40 3.6 Instrumen Penelitian ................................................................................... 42 3.7 Teknik Pengujian Instrumen ........................................................................ 43 3.7.1 Uji Validitas ............................................................................................. 43 3.7.2 Uji Reliabilitas .......................................................................................... 47 3.8 Teknik Analisis data.................................................................................... 47 3.7.3 Analisis Pengaruh Perlakuan ..................................................................... 48 3.7.3.1 Uji Asumsi ............................................................................................. 48 3.7.3.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................................................... 49 3.7.3.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan....................................................... 50 3.7.3.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ................................................................ 51 3.8 Analisis lebih Lanjut ................................................................................... 53 3.8.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ............... 53 3.8.2 Uji Besar Efek Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I .............................. 54 3.8.3 Uji Korelasi antara Rerata Pretest ke Posttest I ......................................... 56 3.8.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ................................................................ 57 3.9 Ancaman Terhadap Validitas Internal ......................................................... 58 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 64 4.1 Hasil Penelitian ........................................................................................... 64 4.1.1 Implementasi Pembelajaran ...................................................................... 64 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian ................................................................... 64 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran .................................................... 65 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data ............................................................................. 74 4.1.2.1 Kemampuan Menginterpretasi................................................................ 74 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2.2 Kemampuan Menganalisis...................................................................... 76 4.1.3 Hasil Uji Hipotesis Penelitian I ................................................................. 78 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................................................... 78 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan....................................................... 80 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ................................................................ 84 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut ............................................................................. 85 4.1.4 Hasil Uji Hipotesis Penelitian II ................................................................ 92 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................................................... 93 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan....................................................... 95 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ................................................................ 98 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut ............................................................................. 99 4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian ....................... 107 4.2.2 Pembahasan Hipotesis ............................................................................ 110 4.2.2.1 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Terhadap Kemampuan Menginterpretasi ......................................................... 110 4.2.2.2 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Terhadap Kemampuan Menganalisis ............................................................... 114 4.2.3 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori ................................................ 117 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 121 5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 121 5.2 Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 122 5.3 Saran......................................................................................................... 122 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 123 LAMPIRAN ................................................................................................... 128 CURRICULUM VITAE ................................................................................ 227 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2. 1 Kecakapan Berpikir kritis .................................................................. 23 Tabel 3. 1 Jadwal Pengambilan Data .................................................................. 38 Tabel 3. 2 Matriks Perkembangan Instrumen ..................................................... 43 Tabel 3. 3 Hasil Uji Validitas Instrumen Kemampuan Menginterpretasi dan Menganalis ........................................................................................................ 46 Tabel 3. 4 Uji Reliabilitas .................................................................................. 47 Tabel 3. 5 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan ........................................................ 53 Tabel 3. 6 Kriteria Uji Pengaruh perlakuan ........................................................ 53 Tabel 4. 1 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Menginterpretasi................................................................................................ 74 Tabel 4. 2 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Menginterpretasi................................................................................................ 75 Tabel 4. 3 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Menganalisis .......................................................................................................................... 76 Tabel 4. 4 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Menganalisis...................................................................................................... 77 Tabel 4. 5 Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest ........................... 79 Tabel 4. 6 Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest kemampuan Menginterpretasi................................................................................................ 79 Tabel 4. 7 Uji Statistik Perbedaan Kemampuan Awal pada kemampuan Menginterpretasi................................................................................................ 80 Tabel 4. 8 Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 81 Tabel 4. 9 Uji Homogenitas Varian Rerata Selisih Skor Pretest- Posttest I Kemampuan Menginterpretasi ........................................................................... 82 Tabel 4. 10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan....................................... 82 Tabel 4. 11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan ................................................ 84 Tabel 4. 12 Hasil Uji Normalitas Distribusi Dara Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Menginterpretasi ......................................................................... 85 Tabel 4. 13 Peningkatan rerata Pretest ke Posttest I ........................................... 85 Tabel 4. 14 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I kemampuan Menginterpretasi ............................................................................ 88 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2. 1 Tahapan Belajar Menurut Piaget .................................................... 11 Gambar 2. 2 Zona Perkembangan Proximal ....................................................... 15 Gambar 2. 3 Denah Kelas Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match ............ 22 Gambar 2. 4 Literature Map Penelitian yang Relevan ......................................... 31 Gambar 3. 1 Rumus Pengaruh Perlakuan ........................................................... 36 Gambar 3. 2 Desain Penelitian ........................................................................... 36 Gambar 3. 3 Variabel Penelitian......................................................................... 40 Gambar 3. 4 Rumus Besar Efek Distribusi Normal ............................................ 52 Gambar 3. 5 Rumus Besar Efek Distribusi Tidak Normal................................... 52 Gambar 3. 6 Rumus Persentase Pengaruh ........................................................... 52 Gambar 3. 7 Rumus Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest 1 ........... 53 Gambar 3. 8 Rumus Gain Score ......................................................................... 54 Gambar 3. 9 Rumus Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Distribusi Data Normal ...................................................................................... 55 Gambar 3. 10 Rumus Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Distribusi Data Tidak Normal ............................................................................ 55 Gambar 3. 11 Rumus Persentase Besar Pengaruh ............................................... 55 Gambar 3. 12 Skema ancaman sejarah (history) ................................................. 59 Gambar 4. 1 Grafik Rerata Skor Pretest dan Posttest I ....................................... 83 Gambar 4. 2 Diagram Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I ............................ 84 Gambar 4. 3 Grafik Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I.............................. 86 Gambar 4. 4 Grafik Gain Score Kemampuan Menginterpretasi .......................... 87 Gambar 4. 5 Grafik Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan menginterpretasi ........................................................................... 91 Gambar 4. 6 Grafik Rerata skor Pretest-Posttest I .............................................. 97 Gambar 4. 7 Grafik Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I ............................... 98 Gambar 4. 8 Grafik Perbandingan Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ...... 100 Gambar 4. 9 Grafik Gain Score Kemampuan menganalisis .............................. 101 Gambar 4. 10 Grafik Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan Menganalisis ............................................................................... 105 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. 1 Surat Ijin Penelitian ................................................................... 129 Lampiran 1. 2 Surat Ijin Validasi Soal.............................................................. 130 Lampiran 2. 1 Silabus Kelompok Kontrol ........................................................ 131 Lampiran 2. 2 Silabus Kelompok Eksperimen .................................................. 135 Lampiran 2. 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol ............ 139 Lampiran 2. 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ...... 145 Lampiran 3. 1 Soal Uraian ............................................................................... 158 Lampiran 3. 2 Kunci Jawaban .......................................................................... 163 Lampiran 3. 3 Rubrik Penilaian........................................................................ 167 Lampiran 3. 4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgement ......................................... 173 Lampiran 3. 5 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas .............................................. 185 Lampiran 3. 6 Tabulasi Nilai Validitas ............................................................. 188 Lampiran 3. 7 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas .......................................... 190 Lampiran 3. 8 Sampel Jawaban Siswa .............................................................. 191 Lampiran 4. 1 Tabulasi Nilai Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen .............................................................................. 201 Lampiran 4. 2 Tabulasi Nilai Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ..................................................................................... 201 Lampiran 4. 3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data ................................ 203 Lampiran 4. 4 Hasil SPSS Homogenitas Varian Kemampuan Awal ................ 204 Lampiran 4. 5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal ........................... 205 Lampiran 4. 6 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest ke Posttest I ........................................................................................................................ 207 Lampiran 4. 7 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ................................ 208 Lampiran 4. 8 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan ......................... 210 Lampiran 4. 9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I211 Lampiran 4. 10 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I .... 216 Lampiran 4. 11 Hasil Uji Retensi Perlakuan ..................................................... 218 Lampiran 5. 1 Lampiran Foto ........................................................................... 224 Lampiran 5. 2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian ............................... 226 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab I ini akan dikemukakan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, penelitian, manfaat penelitian dan definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam dunia pendidikan, kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran. Berpikir kritis melibatkan pemahaman lebih mendalam arti dari masalah-masalah, menunjukkan pemikiran yang terbuka tentang perbedaan pendekatan dan sudut pandang, tidak menerima secara mentahmentah apa yang dijelaskan orang lain dan apa yang ada dalam buku, dan berpikir secara reflektif (Santrock dalam Desmita 2011: 153). Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai (Facione, 1990: 6). Dalam pembelajaran, berpikir kritis merupakan suatu bagian dari kecakapan praktis yang dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah. Pendapat lain mengungkapkan bahwa berpikir kritis berarti proses mental yang efektif dan handal, digunakan dalam mengejar pengetahuan yang relevan dan benar (Jensen 2011: 195). Kemampuan berpikir kritis dapat mendorong siswa memunculkan ide-ide atau pemikiran baru terhadap masalah yang dihadapi. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis penting dimiliki oleh anak-anak sejak dini sehingga mereka dapat menganalisis suatu permasalahan dan mencoba mengembangkan kemungkinan-kemungkinan jawaban lain berdasarkan analisis dan informasi yang telah didapatkan. Facione membagi kemampuan berpikir kritis dalam dimensi kognitif menjadi enam unsur, yaitu kemampuan menginterpretasi, kemampuan menganalisis, kemampuan evaluasi, kemampuan menyimpulkan, kemampuan eksplanasi dan kemampuan regulasi diri (Facione 1990: 3). Anak diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis untuk mengatasi masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri berdasarkan informasi dan pengalaman yang didapatkan selama proses belajar, dan dapat mengkaitkan masalah-masalah secara logis, sehingga dapat diselesaikan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kemampuan yang dibutuhkan antara lain yaitu kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan di mana anak mencoba mengerti dan mengungkapkan arti dari pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria (Facione, 1990: 3). Kemampuan menganalisis adalah kemampuan siswa, dimana ia dapat mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, atau opini (Facione, 1990: 7). Kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan sejak usia dini yaitu saat anak berada di Sekolah Dasar (SD). Anak usia Sekolah Dasar berada pada tahap operasional-konkret (usia 7-11 tahun) (Piaget dalam Ibda, 2015: 37). Anak pada tahap ini sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika atau operasi, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada saat ini. Hal ini berarti bahwa anak usia Sekolah Dasar belajar dari hal-hal yang terlihat konkret/nyata dan belum bersifat abstrak. Vygotsky dengan teori pembelajaran sosialnya mengemukakan bahwa anak membutuhkan scaffolding yaitu panduan atau arahan dari orang dewasa atau teman sebayanya yang lebih mampu agar proses pembelajaran yang dia dapatkan menjadi lebih optimal (Santoso, 2010: 131).Tujuan pembelajaran merupakan perilaku yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dengan melakukan aktivitas belajar yang direncanakan. Jenis perilaku yang diharapkan muncul setelah mengikuti sebuah kegiatan pembelajaran yaitu 1) perilaku kognitif, yang berkaitan dengan kemampuan mengingat dan berpikir, 2) perilaku afektif, yang berkaitan dengan nilai, norma, sikap, dan kemauan, serta 3) perilaku psikomotor, yang menyangkut aspek keterampilan atau gerakan (Sani, 2013: 51-52). Salah satu pelajaran yang dapat melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajarannya dan membantu dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis yaitu pelajaran IPA. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peranan penting bagi anak-anak Sekolah Dasar. IPA merupakan mata pelajaran yang memberikan kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu siswa secara alamiah guna membantu mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban berdasarkan bukti yang ada (Samatowa, 2011: 2). IPA merupakan mata pelajaran yang memfasilitasi anak 2

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk bisa berinteraksi langsung dengan alam dan mempelajari fenomenafenomena alam yang tidak lepas dari kehidupannya sehari-hari. Selain itu, dengan berlangsungnya pembelajaran IPA mampu melatih anak untuk berpikir kritis dan objektif yang dimulai dengan tahap-tahap yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami pembelajaran secara langsung, sehingga siswa mempunyai pengalaman secara langsung. Permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia dewasa ini adalah lemahnya pelaksanaan proses pembelajaran yang diimplementasikan guruguru di sekolah. Pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya berfokus pada kemampuan siswa untuk menghafal informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk menghubungkannya dengan situasi dalam kehidupan sehari-hari (Susanto, 2013: 165-166). Pada dasarnya hal yang perlu diutamakan untuk anak usia Sekolah Dasar adalah bagaimana mengembangkan rasa ingin tahu mereka terhadap suatu masalah (Susanto: 2013: 167). Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan sebuah organisasi dalam naungan Organization Economic Cooperation and Development (OECD) yang bernama Program for International Student Assessment (PISA) telah mengadakan sebuah survei mengenai sistem pendidikan dan kemampuan dari siswa yang diadakan tiap 3 tahun sekali. Survei dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan pada kehidupan nyata. Studi ini juga digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam matematika, membaca, dan sains. Pada hasil PISA tahun 2012, Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 382 (OECD, 2013: 5). Pada hasil PISA tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 403 (OECD, 2016: 5). Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hasil skor literasi IPA dari 382 menjadi 403, namun peringkat Indonesia masih berada di 10 besar terbawah dari 70 negara peserta PISA tahun 2015. Peringkat tersebut menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia mengalami kesulitan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan aspek kognitif karena soal-soal yang digunakan pada PISA memerlukan penalaran dan kemampuan dalam pemecahan masalah. Hal ini 3

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diperlukan karena pendidikan di abad ke-21 menuntut berbagai keterampilan yang harus dikuasai seseorang, salah satunya kemampuan berpikir kritis. Pencapain keterampilan abad ke-21 ini dilakukan dengan cara memperbaharui kualitas pembelajaran, mengembangkan pembelajaran student-centered, bersifat kolaboratif, kontekstual dan terintegrasi dengan siswa (Daryanto, 2017: 13). Proses pembelajaran di Indonesia belum terlaksana sesuai dengan harapan. Proses pembelajaran yang dilakukan di lembaga pendidikan formal saat ini masih didominasi oleh model pembelajaran yang masih bersifat konvensional. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di sekolah-sekolah khususnya sekolah di Jawa Tengah, hampir 80% guru masih menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional yaitu model ceramah. Pembelajaran konvensional adalah proses pembelajaran yang didominasi guru sebagai “pentransfer” ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima” ilmu (Agustin, 2011: 81-82). Model pembelajaran yang menyenangkan belum tentu efektif dalam keberhasilan suatu proses pembelajaran. Model pembelajaran dikatakan berhasil jika dalam prosesnya dapat melibatkan siswa, sehingga siswa belajar berdasarkan pengamatan dan praktek secara langsung dan guru bukan menjadi satu-satunya sumber informasi. Dalam kenyataannya, masih banyak guru yang menggunakan model dan metode yang membuat siswa menjadi cepat bosan dan dirasa monoton, sehingga siswa juga tidak begitu antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru perlu mengunakan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajarannya. Salah satu model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajarannya yaitu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat membantu anak bekerja sama dalam menyelesaikan persoalannya apalagi terkait dengan permasalahan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar. Model pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pembelajaran di mana peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar (Huda, 2014: 32). Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yaitu tipe Make a Match. Model Pembelajaran Make a Match adalah model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya tercipta suasana menyenangkan, dimana siswa bekerja 4

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sama dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah yang disajikan dalam bentuk permainan. Model pembelajaran Make a Match memiliki 7 tahap yaitu menyiapkan kartu, pembagian kartu, memikirkan soal dan jawaban, mencari pasangan, pemberian nilai, pengulangan permainan dan pemberian penghargaan. Berbagai jurnal penelitian diterbitkan untuk mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis dan suatu kemampuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Artawa dan Suwatra (2012) meneliti perbedaan prestasi belajar Matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan model pembelajaran konvensional pada kelas V SD N 1 Muncan.. Maula dan Rustopo (2012) meneliti perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan metode konvensional terhadap hasil belajar matematika materi mengenal lambang bilangan romawi siswa kelas IV SDN 03 Sumberejo tahun ajaran 2012/2013. Anggarawati, Kristiantari, dan Asri (2014) meneliti perbedaan hasil belajar antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran Make a Match berbantuan media kartu gambar dengan siswa yang belajar secara konvensional pada mata pelajaran IPS. Coker (2010) bertujuan untuk menguji efek dari satu minggu uji coba, program pembelajaran praktek terhadap penalaran klinis dan kemampuan berpikir kritis dari siswa terapi okupasi. Kurniawati, Wartono, dan Diantoro (2014) meneliti perbedaan penguasaan konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing integrasi peer instruction, pembelajaran inkuiri terbimbing, dan pembelajaran konvensional. Selain itu, peneliti tersebut juga meneliti pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing integrasi peer instruction, pembelajaran inkuiri terbimbing dan pembelajaran konvensional berturut-turut terhadap penguasaan konsep dan kemampuan berpikir kritis fisika. Spijunovic dan Lazic (2016) bertujuan untuk membahas tentang pentingnya perkembangan kemampuan berpikir kritis siswa pada awal proses belajar mengajar Matematika dan menggarisbawahi beberapa masalah yang bersangkutan dengan pelaksanaannya. Penelitian-penelitian tentang model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang sudah dilakukan memiliki kesimpulan yaitu model pembelajaran kooperatif 5

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tipe Make a Match memiliki dampak yang positif bagi siswa. Hal ini menjadi acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Berbagai jurnal juga diterbitkan untuk mendukung kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Ada beberapa hal yang menjadi pembeda dari penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu pada variabel dependennya, kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Dalam hal ini, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan berpikir kritis siswa yaitu kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, peneliti melakukan penelitian di dua kelas sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen. Peneliti menggunakan salah satu SD swasta di Yogyakarta ini karena SD ini merupakan SD paralel dari kelas I –VI , yaitu kelas A, kelas B, dan kelas C. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V yang berjumlah 73 siswa. Kelas yang akan digunakan sebagai kelas kontrol adalah kelas V A dengan jumlah siswa 24 anak dan kelas V B dengan jumlah siswa 24 anak sebagai kelas eksperimen. Konsep penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan konsep dari teori Peter Facione. Penelitian pembelajaran ini hanya kooperatif tipe dibatasi Make pada a pengaruh Match penerapan terhadap model kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa kelas V SD. Materi pembelajaran IPA dibatasi pada Tema 2 kelas V, yaitu tentang Sistem Pernafasan pada Hewan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian quasi experimental design dengan tipe pretest-posttest non-equivalent group design. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes dalam bentuk essay. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan tipe convenience sampling. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi siswa kelas V SD? 6

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.2.2 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis siswa kelas V SD? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi siswa kelas V SD. 1.3.2 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis siswa kelas V SD. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa Siswa memperoleh pengalaman belajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match untuk meningkatkan kemampuan menginterpretasi dan menganalisis dalam pembelajaran IPA khususnya pada materi Sistem Pernafasan pada Hewan. 1.4.2 Bagi Guru Guru memperoleh pengetahuan dan pengalaman langsung dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan mengetahui pengaruhnya terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa SD. 1.4.3 Bagi Sekolah Sekolah memperoleh wawasan baru mengenai pembelajaran inovatif khususnya pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa SD. 1.4.4 Bagi Peneliti Peneliti memperoleh pengalaman langsung dalam merancang dan merencanakan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada mata pelajaran IPA yang dapat menjadi bekal peneliti untuk mengajar di masa yang akan datang. 7

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, di mana siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama, serta setiap pembelajar dari kelompok-kelompok tersebut didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain. 1.5.2 Model pembelajaran Make a Match adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang mengajarkan siswa memahami konsep-konsep secara aktif, kreatif, interaktif, efektif dan menyenangkan bagi siswa sehingga konsep mudah dipahami dan bertahan lama dalam struktur kognitif siswa yang disajikan dalam bentuk permainan dengan 7 langkah yaitu menyiapkan kartu, pembagian kartu, memikirkan soal dan jawaban, mencari pasangan, pemberian nilai, pengulangan permainan dan pemberian penghargaan. 1.5.3 Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan dan kecenderungan untuk membuat dan membuktikan penilaian terhadap kesimpulan berdasarkan bukti yang diharapkan dapat dilakukan dengan tujuan tertentu. 1.5.4 Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan di mana anak dapat mengerti, memahami sesuatu bukan hanya secara teoretis, melainkan juga mengerti arti dari pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria yang telah ia pelajari. 1.5.5 Kemampuan menganalisis adalah kemampuan dimana anak dapat mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang dapat membuat penilaian untuk menyetujui, menilai dan menganalisis suatu gagasan tertentu. 1.5.6 Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari tentang gejalagejala alam dan kebendaan yang diperoleh dengan cara observasi, pengamatan, eksperimen/penelitian, atau uji coba yang berdasarkan pada hasil pengamatan manusia berupa fakta-fakta, aturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip, teori-teori dan sebagainya. 8

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab II ini berisi tentang kajian teori, kerangka berpikir dan hipotesis penelitian. Kajian teori membahas teori-teori yang mendukung dan beberapa kajian penelitian yang relevan. Kerangka berfikir berisikan kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian berisi tentang jawaban suatu rumusan masalah penelitian. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori yang Mendukung Untuk sebuah penelitian yang berkaitan dengan siswa sekolah dasar, pada bab II ini penting untuk menggunakan teori-teori yang mendukung seperti teori perkembangan kognitif oleh Jean Piaget, Teori Sosial oleh Lev Semyonovich Vygotsky, dan teori tentang materi pernafasan pada hewan untuk penelitian ini. 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Perkembangan merujuk kepada bertambah matangnya suatu organ atau sikap manusia baik itu secara sosioemosional, maupun perkembangan kognisi (pemikiran), dan perkembangan bahasa yang tidak dapat diukur dengan alat ukur (kualitatif). Perkembangan adalah pola gerakan atau aktivitas perubahan yang dimulai pada waktu konsepsi dan berlanjut sepanjang siklus hidup seseorang (Santrock, 2003: 23). Perkembangan secara luas merujuk kepada keseluruhan proses perubahan dari kemampuan yang dimiliki oleh seorang individu yang kemudian tampak dalam kualitas, kemampuan, dan ciri-ciri yang menjadi baru. Dalam pembelajaran, perkembangan terjadi apabila siswa secara terus menerus menunjukkan progres atau peningkatan, baik dalam pengetahuan, sikap, maupun keterampilan dalam suatu pembelajaran. Apabila hal atau kesulitan yang dialami siswa tersebut dipelajari terus-menerus, baik dipelajari sendiri maupun dengan bantuan orang lain, maka lambat laun siswa akan mengalami perkembangan yang meningkat dalam pembelajaran. Dalam penelitian ini, teori yang menjadi acuan adalah teori Piaget dan Vygotsky. Kedua ahli ini adalah tokoh yang membahas teori konstruktivisme. Konstruktivisme adalah teori yang membahas bahwa siswa harus menemukan 9

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan memperbaharui kembali apabila aturan-aturan tersebut tidak sesuai lagi (Trianto, 2010: 74). Penelitian ini menggunakan teori perkembangan kognitif menurut Piaget, karena dalam hal ini anak-anak masih dalam tahap perkembangan operasional konkret, di mana anak masih kesulitan untuk memikirkan sesuatu secara abstrak dan konseptual dan teori pembelajaran sosio-historis oleh Vigotsky, karena dalam teori ini dipaparkan tentang pembelajaran sosial. Teori pembelajaran sosial dalam hal ini perlu dibahas, karena peneliti akan melakukan penelitian tentang model pembelajaran kooperatif. Teori-teori Vygotsky mendukung penggunaan model pembelajaran kooperatif dimana anak-anak bekerja sama untuk membantu belajar satu sama lain (Slavin, Hurley & Chamberlain, 2003). 2.1.1.2 Teori Perkembangan Kognitif menurut Piaget Jean Piaget lahir di Neuchatel (1896-1980), sebuah kota Universitas di Swiss pada tahun 1896. Ayahnya adalah sebagai pemikir yang cermat dan sistematis, sedangkan ibunya adalah seorang wanita yang emosional. Sejak kecil ia menunjukkan kemampuan sebagai ilmuan yang sangat menjanjikan di masa depan (Piaget dalam Crain, 2007: 167). Ia adalah pakar psikologi perkembangan yang paling berpengaruh dalam sejarah psikologi. Setelah memperoleh gelar doktor dalam biologi, Piaget lebih tertarik pada psikologi yang mendasarkan teoriteorinya yang paling awal pada pengamatan yang seksama yang ia lakukan pada ketiga anaknya sendiri. Mengapa dan bagaimana kemampuan mental akan berubah lama-kelamaan inilah yang menjadi pengamatan Piaget. Teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa kecerdasan atau kemampuan kognitif anak akan mengalami kemajuan melalui empat tahap yang jelas dan berjalan berurutan (Piaget dalam Slavin, 2011: 42). Masing-masing dari tahap tersebut ditandai dengan kemunculan kemampuan baru atau penambahan informasi baru yang diterima oleh anak-anak pada tahap tersebut melalui tindakan yang mereka lakukan. Karya Piaget ini menjadi dasar penting dalam memahami perkembangan anak. 10

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setiap anak akan lahir dengan membawa skema. Skema adalah pola mental yang menuntun perilaku anak (Piaget dalam Slavin, 2011: 43). Piaget percaya bahwa anak dilahirkan dengan kecenderungan bawaan untuk berinteraksi dengan lingkungannya dan untuk memahami sekitarnya. Anak yang masih muda memperlihatkan pola perilaku atau pemikiran yang disebut skema. Asimilasi adalah proses memahami dan memahami objek atau pengalaman baru berdasarkan skema yang telah ada (Piaget dalam Slavin 2011: 43). Anak akan menggunakan skema-skema yang ada untuk mempelajari benda yang belum mereka kenal tersebut (sumber:http://m-edukasi.blogspot.co.id/2014/09/teori-konstruktivisme-jean-piaget.html) Gambar 2. 1 Tahapan Belajar Menurut Piaget Akomodasi adalah proses mengubah skema yang ada berdasarkan informasi baru atau pengalaman baru (Piaget, dalam Slavin, 2011: 43). Cara ini akan digunakan apabila anak merasa bahwa cara lama untuk menghadapi dunia tidak berhasil. Adaptasi adalah proses penyesuaian skema sebagai tanggapan atas lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi (Piaget, dalam Slavin, 2011: 43). Seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struk dalam (skema) melalui ekuilibrasi. Ekuilibrasi adalah proses pergerakan dari keadaan disekuilibrium ke keadaan ekuilibrium (Suparno, 2012: 23). Ekuilibrium adalah keadaaan di mana asimilasi dan akomodasi dalam keadaaan seimbang. Disekuilibrium adalah kondisi di mana asimilasi dan akomodasi tidak seimbang. 11

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setiap tahap perkembangan kognitif selalu berjalan berurutan. Tahaptahap perkembangan kognitif menurut Piaget dibagi menjadi 4 tahap (Piaget dalam dalam Slavin, 2011: 43) a. Tahap Sensorimotor (usia 0 - 2 tahun) Pada tahap ini, anak akan mulai menjelajahi dunia mereka dengan alat indera mereka dan kemampuan motorik yang mereka miliki. Pada tahap ini, Piaget menggunakan istilah skema untuk membicarakan struktur tindakan yang dilakukan anak (dari bayi). Pada tahap 1 (0-1 bulan), anak mulai menggunakan istilah skema. Sebuah skema bisa menjadi tolak ukur atau pola tindakan apapun untuk menghadapi lingkungan yang berada disekitar bayi, seperti menetap, menggenggam, memukul, merangkak, dan menendang. Pada tahap kedua (1-4 bulan) akan terjadi reaksi sirkuler primer dimana bayi akan menghadapi sebuah pengalaman baru dan berusaha untuk mengulanginya. Pada tahap ketiga (4-10 bulan) bayi akan mengalami reaksi sirkuler sekunder, yaitu terjadi ketika bayi menemukan atau mengulang kejadian atau peristiwa menarik di luar dirinya. Pada tahap keempat dan kelima ini, anak mulai mengembangkan kategorikategori dasar tentang pengalaman dan mereka mulai bereksperimen untuk melakukan tindakan yang berbeda-beda untuk mengamati hasil yang berbedabeda. Pada tahap ke 6 (18 bulan-2 tahun) dapat dilihat sebagai upaya untuk berimitasi. Anak mulai dapat mengikuti serangkaian pemindahan yang tidak tampak. Anak mulai mempunyai kemampuan untuk memvisualisasikan tindakan yang mungkin baru saja ia temui secara internal. Tahap periode sensorimotor lainnya adalah perkembangan pemahaman tentang keajekan objek (objec permanence). Anak-anak harus belajar bahwa objek adalah stabil serta fisik dan tetap ada sekalipun objek itu tidak ada dihadapan fisik anak tersebut (Piaget dalam Slavin, 2011: 46). b. Tahap Pra-Operasional (2-7 tahun) Pada tahap ini anak mulai mempresentasikan dunia mereka dengan katakata dan gambar. Kata-kata dan gambar ini mencerminkan pemikiran simbolik yang semakin maju. Pemikiran pra-operasional dibagi menjadi dua sub-tahap: sub-tahap fungsi simbolik (2-4 tahun) anak melatih kemampuan untuk mewujudkan secara mental sebuah benda yang tidak ada. Yang kedua yaitu 12

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pemikiran intuitif (4-7 tahun) di mana anak mulai menggunakan pemikiran primitif mereka dan mengetahui jawaban untuk semua jenis pertanyaan (Piaget, dalam Slavin 2011: 46). Di sebut sub-tahap “intuitif” karena anak tampak sangat yakin tentang pengetahuan dan pemahaman mereka, namun mereka terkadang mengatakan bahwa mereka mengetahui semua, tetapi mengetahuinya tanpa menggunakan pemikiran rasional. Pada tahap pra-operasional ini anak juga cenderung mengalami egosentris dan animisme. Egosentris merupakan salah satu pemikiran di mana anak kurang mampu dalam membedakan perspektif diri sendiri dan perspektif orang lain. Animisme merupakan karakteristik pemikiran dalam tahap operasional, dimana anak mengandaikan bahwa benda mati juga memiliki sifat seperti makhluk hidup. c. Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun) Anak-anak pada tahap operasional konkret belum bisa berpikir seperti orang dewasa. Mereka masih kesulitan untuk berpikir yang abstrak. Anak-anak pada tahap ini dapat membentuk konsep, melihat hubungan, dan memecahkan masalah, tetapi hanya sejauh jika mereka melibatkan objek dan situasi yang sudah tidak asing lagi. Salah satu tugas penting yang dipelajari selama dalam tahap ini adalah pengurutan (seriation) atau menyusun sesuatu ke deret yang logis. Begitu kemampuan dalam hal pengurutan sudah dikuasai oleh anak, maka anak dapat menguasai kemampuan yang terkait yaitu transitivitas yaitu kemampuan untuk menyimpulkan hubungan hubungan antara dua objek berdasarkan pengetahuan tentang hubungannya masing-masing dengan objek ketiga. Kemampuan terakhir yang diperoleh anak dalam tahap ini adalah penyertaan ke kelompok (class inclusion). Pada tahap ini anak sudah mulai berpikir sekaligus tentang seluruh kelompok objek dan tentang hubungan di antara kelompok-kelompok pada tingkatan yang lebih rendah. d. Tahap Operasional Formal (11 tahun-dewasa) Pada tahap ini anak sudah mulai berpikir secara sistematis berdasarkan tindakan-tindakan mentalnya. Tetapi pada masa ini anak-anak dapat berfikir logis dan sistematis hanya selama mengacu pada objek-objek yang bisa diindra yang tunduk pada aktivitas nyata. Mereka dapat menghasilkan sejumlah hubungan abstrak dari informasi yang tersedia dan kemudian membandingkan hubungan 13

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI abstrak dari informasi satu dengan yang lainnya secara logis. Anak yang duduk di Sekolah Dasar pada umumnya berumur 7 – 12 tahun. Berdasarkan teori perkembangan kognitif yang di kemukakan oleh Jean Piaget, anak kelas V masuk dalam tahap operasional konkret karena masih berumur 10-11 tahun. 2.1.1.3 Teori Pembelajaran Sosial Vygotsky Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934) adalah psikolog Rusia yang hidup sejaman Piaget dan meninggal pada tahun 1934. Vygotsky hidup tumbuh besar di Gomel, sebuah kota pelabuhan di Rusia sebelah barat. Ayahnya adalah seorang eksekutif bank dan ibunya seorang guru. Saat tumbuh remaja, ia dikenal teman-temannya sebagai ‘profesor kecil’, karena ia selalu mengarahkan percakapan mereka pada diskusi, pembantahan, dan perdebatan. Vygotsky banyak membahas tentang teori-teori konstruktvisme. Teori konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Glaserfeld, dalam Anggiamurti, 2009). Teori pembelajaran konstruktivisme merupakan teori pembelajaran kognitif yang baru dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan menstransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan memperbaharuinya apabila aturan tersebut sudah tidak sesuai lagi (Trianto, 2010: 74). Salah satu teori konstruktivisme yaitu teori sosial. Karya Vygotsky didasarkan pada dua gagasan utama, pertama, ia berpendapat bahwa perkembangan intelektual hanya dapat dipahami berdasarkan konteks historis dan budaya yang sudah dialami oleh anak-anak, kedua, ia percaya bahwa perkembangan bergantung pada sistem tanda. Sistem tanda yaitu simbol-simbol yang diciptakan oleh suatu budaya untuk membantu orang dalam berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Hendaknya perkembangan kognitif dan sosial pada anak berjalan seimbang. Konstruktivisme sosial Vygotsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi mereka untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman. Dengan cara ini, pengalaman dalam konteks sosial memberikan mekanisme penting untuk 14

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perkembangan pemikiran peserta didik. Teori Vygotsky mengatakan bahwa terdapat dua tingkat perkembangan yaitu perkembangan aktual dan perkembangan potensial. Teori Vygotsky mengatakan bahwa pembelajaran mendahului perkembangan. Pembelajaran melibatkan tanda-tanda yang diperoleh dari informasi yang didapatkan dari orang lain. Pengaturan diri (self regulation) adalah kemampuan untuk berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Sumbangan terpenting dari teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosio-budaya (Roth & Lee, 2007). Vygotsky percaya bahwa pembelajaran terjadi ketika anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development/ ZPD) yaitu jarak antara perkembangan aktual dan perkembangan potensial. (sumber : http://parklandplayers.com/vygotskys-zone-of-proximal-development-in-earlychildhood-education) Gambar 2. 2 Zona Perkembangan Proximal Perkembangan aktual ini ditandai dengan kemampuan individu memecahkan masalah secara mandiri, dan perkembangan potensial yang ditentukan oleh kemampuan individu memecahkan dengan bantuan orang lain yang lebih dewasa atau dengan berkolaborasi bersama pasangan yang lebih mampu (Vygotsky dalam Huda, 2014: 40). Anak-anak yang mempunyai keunggulan dibanding teman sebayanya dalam hal kemampuan, atau anak yang bekerja dalam zona perkembangan proximal anak lainnya, umumnya akan menjadi contoh bagi anak-anak yang pemikirannya mungkin masih di bawahnya. Selain itu, pembelajaran kooperatif, memungkinkan komunikasi batin yang 15

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terjalin antar anak sehingga mereka dapat memperoleh informasi dan pemahaman tentang proses penalaran satu sama lain. Tugas-tugas dalam zona perkembangan proksimal adalah tugas yang belum dapat diselesaikan sendiri melainkan melibatkan orang lain atau orang yang lebih dewasa untuk membantu menyelesaikannya. Pada zona ini, anak mendapat tugas yang mungkin belum mereka pelajari sebelumnya, tetapi ia dapat menyelesaikan tugas tersebut dalam waktu tertentu dengan optimal. Untuk mencapai taraf optimal, maka dibutuhkan suatu perancahan (scaffolding). Perancahan adalah bantuan sementara yang diberikan oleh teman atau orang dewasa yang lebih kompeten (Vygotsky dalam Slavin, 2008: 61). Scaffolding disebut juga sebagai dukungan atau pembelajaran dan pemecahan masalah yang mungkin saja meliputi petunjuk, sarana yang mengingatkan, dorongan, penguraian persoalan menjadi langkah-langkah, penyediaan contoh, atau semua hal yang memungkinkan siswa menjadi mandiri dalam proses pembelajaran. Melalui Scaffolding, anak dapat mengalami loncatan. Hal itu dapat dilakukan jika anak belajar dalam konteks sosial, baik dengan teman sebaya maupun dengan orang yang lebih dewasa. Agar anak dapat berkembang dalam pembelajaran melalui sudut pandang sosialnya, dibutuhkan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Salah satu model pembelajaran yang menarik dan dapat membangun interaksi sosial antar individu adalah model pembelajaran kooperatif. 2.1.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, dimana siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama, serta setiap pembelajar dari kelompok-kelompok tersebut didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain (Roger dkk, dalam Huda, 2014: 29). Pembelajaran kooperatif mengacu pada model pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar. Pembelajaran kooperatif biasanya melibatkan empat sampai lima orang dalam kelompoknya dengan kemampuan yang berbeda-beda dan ada juga yang menggunakan 16

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok dengan ukuran yang berbeda-beda. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang di dalamnya terdapat kelompok kecil pembelajar/siswa yang bekerja sama dalam satu tim untuk mengatasi suatu masalah, menyelesaikan sebuah tugas, atau mencapai satu tujuan bersama (Art & Newman dalam Huda, 2014: 32). Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, maka Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, di mana siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama, serta setiap pembelajar dari kelompokkelompok tersebut didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain. Dasar-dasar model pembelajaran kooperatif sudah banyak muncul dalam teori-teori belajar saat ini. Teori-teori tersebut umumnya menampilkan satu perspektif tertentu dalam pembelajaran kooperatif yang telah menjadi cara pandang tersendiri. Ada empat perspektif teoritis yang mendasari pembelajaran kooperatif ini (Huda 2014: 33), yaitu : 1. Perspektif motivasional Perspektif motivasional beranggapan bahwa usaha-usaha kooperatif haruslah didasarkan pada penghargaan kelompok dan struktur tujuan menurut perspektif motivasional. Pembelajaran Kooperatif dapat menciptakan kondisi yang di dalamnya setiap anggota kelompok berkeyakinan bahwa mereka akan sukses dalam tujuan kelompoknya apabila teman-teman dalam kelompok lain juga sukses mencapai tujuan tersebut (Huda, 2014: 34). 2. Perspektif Kohesi Sosial Perspektif ini menegaskan bahwa pembelajaran kooperatif akan berpengaruh apabila dalam kelompok tersebut terjalin kerja sama untuk membantu satu sama lain karena mereka merasa peduli pada yang lain dan merasa ingin mencapai tujuan yang sama (Huda 2014: 37). Dalam perspektif motivasional siswa tidak sepenuhnya membantu teman dalam kelompok karena mereka juga mempunyai motivasi intrinsik yang berbeda satu sama lain. Sedangkan 17

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam perspektif kohesi sosial, siswa sepenuhnya membantu temannya karena mereka merasa peduli terhadap kesuksesan kelompok tersebut. 3. Pespektif Kognitif Perspektif ini berfokus pada bagaimana manusia bertindak, berpikir, dan berproses untuk belajar (Huda 2014: 39). Perspektif kognitif berpandangan bahwa interaksi antar siswa akan meningkatkan prestasi belajar selama mereka mampu untuk memproses informasi secara mental (baca; pikiran/kognisi) dari pada motivasional. 4. Perspektif Perkembangan Perspektif perkembangan ini berasal dari pemikiran Piaget dan Vygotsky. Perspektif Piaget menegaskan bahwa ketika siswa bekerja sama, konflik sosiokognitif akan muncul dan melahirkan ketidakseimbangan kognitif (cognitive disequilibrium). Ketidakseimbangan ini yang nantinya dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir, menalar, dan berbicara. Sementara itu, perspektif Vygotsky menyatakan bahwa pengetahuan merupakan produk sosial (Jhonson & Jhonson, dalam Huda, 2014: 40). 5. Perspektif Elaborasi Kognitif Perspektif ini menekankan peran elaborasi dalam pengaruhnya terhadap pembelajaran kooperatif (Huda, 2014: 43). Elaborasi berkaitan erat dengan penambahan informasi baru dan restrukturasi (penataan kembali) informasi yang sudah ada. Salah satu teknik elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan materi pelajaran pada orang lain. Suatu penelitian menunjukkan bahwa siswa bisa belajar lebih banyak dengan memberikan penjelasan kepada orang lain. Pembelajaran kooperatif juga dapat memberikan manfaat untuk siswa (Rusman, 2010: 205) antara lain: 1. Dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial. 2. Menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat oranga lain. 3. Memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. 18

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dalam pembelajaran kooperatif, ada 5 unsur yang harus diterapkan untuk mencapai hasil yang maksimal (Roger & Jhonson, dalam Suprijono 2013: 58), yaitu: 1. Saling Ketergantungan Positif Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang diberikan kepada kelompok. Kedua, memastikan bahwa semua anggota kelompok mempelajari bahan tersebut. Beberapa cara untuk membangun saling ketergantungan positif : (a) Menumbuhkan perasaaan peserta didik bahwa dirinya terintegrasi dalam kelompok, pencapaian tujuan terjadi jika semua anggota kelompok mencapai tujuan, (b) Mengusahakan agar semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan yang sama jika kelompok mereka berhasil mencapai tujuan bersama, (c) Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap peserta dalam kelompok mendapat bagian tugas dari semua tugas yang diberikan kepada kelompok tersebut, (d) Setiap peserta didik diberikan tugas yang saling berhubungan dan saling mendukung, saling melengkapi dan saling terikat dengan peserta lainnya dalam kelompok. 2. Tanggung Jawab Perseorangan Pertanggung jawaban ini akan muncul apabila dilakukan pengukuran terhadap kelompok. Tanggung jawab perorangan adalah kunci untuk menjamin setiap anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama. artinya, setelah mengikuti kelompok belajar, siswa diharapkan dapat menyelesaikan tugas yang sama. 3. Interaksi Promotif Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. Ciri-ciri interaksi promotif adalah: (a) saling membantu secara efektif dan efisien, (b) saling memberikan informasi dan sarana yang diperlukan. (c) memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efisien, (d) saling mengingatkan, (e) saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap masalah yang dihadapi, (f) saling percaya. 19

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Komunikasi Antar Anggota Untuk mengkoordinasikan kegiatan peseta didik dalam pencapaian tujuan peserta didik harus: (a) saling mengenal dan mempercayai, (b) mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius, (c) saling menerima dan saling mendukung, (d) mampu menyelesaikan masalah secara konstruktif. 5. Pemrosesan Kelompok Kegiatan kelompok dan aktivitas kelompok dapat diidentifikasi melalui pemrosesan kelompok. Tujuan pemrosesan kelompok adalah meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok. Terdapat berbagai macam tipe pembelajaran kooperative (Roger & Jhonson, dalam Suprijono 2013) antara lain, Jigsaw, Think-Paor-Share, Numbered Heads Together, Group Investigation, Make a Match, Student Team Achievement Division, Two Stay Teo Stay, inside-Outside Circle, Point-CounterPoint, Cooperative Integrated Reading And Composition, Team-Assisted Individualization, Team Games Tournament, Number Head Together dan sebagainya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. 2.1.1.5 Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Pembelajaran kooperatif tipe Make a Match (mencari pasangan) adalah salah satu pendekatan konseptual yang mengajarkan siswa memahami konsepkonsep secara aktif, kreatif, interaktif, efektif dan menyenangkan bagi siswa sehingga konsep mudah dipahami dan bertahan lama dalam struktur kognitif siswa (Huda, 2012: 135). Model pembelajaran Make a Match adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang mengajarkan siswa memahami konsepkonsep secara aktif, kreatif, interaktif, efektif dan menyenangkan bagi siswa sehingga konsep mudah dipahami dan bertahan lama dalam struktur kognitif siswa yang disajikan dalam bentuk permainan dengan 7 langkah yaitu menyiapkan kartu, pembagian kartu, memikirkan soal dan jawaban, mencari pasangan, pemberian nilai, pengulangan permainan dan pemberian penghargaan. 20

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match mengajak siswa untuk belajar dengan suasana menyenangkan, karena dalam pembelajaran ini, suasana dan kegiatan pembelajarannya dilakukan dengan sistem mencari pasangan dari kartukartu yang di dalamnya berisikan materi pelajaran, sehingga siswa tidak mudah merasa bosan dan pembelajaran dapat berlangsung dengan antusias dan produktif. a. Manfaat Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki beberapa manfaat. Adapun manfaat dari metode pembelajaran ini adalah sebagai berikut. a) suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran, b) kerja sama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis, c) munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa, dan d) melatih ketelitian, ketepatan dan kecepatan (Lie, 2010: 56). b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Tujuan dari pembelajaran kooperatif tipe Make a Match ini adalah untuk melatih peserta didik agar lebih cermat dan lebih kuat pemahamannya terhadap materi. Siswa dilatih berpikir cepat dan menghapal cepat sambil menganalisis dan berinteraksi sosial (Fachrudin, 2009: 169). c. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Model pembelajaran Make a Match memiliki sintaks atau langkah-langkah dalam pembelajaran. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yaitu (Sani, 2013: 196-197): 1. Menyiapkan kartu Pada langkah ini guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep atau topik yang akan dipelajari bersama. Kartu yang dibuat terdiri dari kartu pertanyaan dan kartu jawaban dengan jumlah yang sama pada masing-masing kartu. 2. Pembagian kartu Guru memberikan sebuah kartu kepada masing-masing siswa. Ada siswa yang memperoleh kartu pertanyaan dan ada yang mendapat kartu jawaban. 21

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Memikirkan soal dan jawaban Siswa yang memperoleh kartu pertanyaan memikirkan jawaban dari kartu yang dipegang, sedangkan yang memperoleh kartu jawaban memikirkan soal yang relevan. 4. Mencari pasangan Siswa mencari siswa lain sebagai pasangan yang memiliki kartu yang cocok dengan kartu yang sedang dipegang. 5. Pemberian nilai Guru memberikan nilai (poin) untuk setiap pasangan siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu yang ditentukan. 6. Pengulangan permainan Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapatkan kartu yang berbeda dari sebelumnya. 7. Pemberian penghargaan Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang memiliki nilai tertinggi dan membimbing siswa untuk membuat kesimpulan. Berikut ini adalah bagan dari model pembelajaran Make a Match, gambaran dari teori di atas : Gambar 2. 3 Denah Kelas Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match 22

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.6 Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai (Facione, 1990: 6). Kemampuan berpikir kritis secara logis digunakan sebagai penerapan untuk menilai situasi dan membuat keputusan baik (Dacey & Kenny dalam Desmita, 2011: 153). Dari perndapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan dan kecenderungan untuk membuat dan membuktikan penilaian terhadap kesimpulan berdasarkan bukti yang diharapkan dapat dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam proses pembelajaran, kemampuan ini tidak akan timbul jika guru tidak mengasah dan menerapkan pembelajaran yang dapat mendorong anak untuk mencoba berpikir dan mengeluarkan pendapatnya secara kritis dalam kelompok. Sejumlah ahli mengatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk berpikir kritis. Ciri-ciri ideal dari orang yang memiliki kecakapan berpikir kritis tampak dalam disposisi afektif (lihat bagian bawah). Kecakapan berpikir kritis mencakup dua dimensi, yaitu dimensi kognitif dan disposisi afektif. Kemampuan berpikir kritis dalam dimensi kognitif terdiri dari enam unsur, yaitu kemampuan menginterpretasi, kemampuan menganalisis, kemampuan evaluasi, kemampuan menyimpulkan, kemampuan eksplanasi dan kemampuan regulasi diri. Berikut ini adalah tabel kecakapan berpikir kritis ( Facione, 1990: 6): No 1 Skills Interpretasi 2 Analisis 3 Evaluasi 4 Kesimpulan 5 Eksplanasi 6 Regulasi-diri Tabel 2. 1 Kecakapan Berpikir kritis Sub-skills Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menguji gagasan-gagasan Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menguji bukti-bukti Menerka alternatif-alternatif Menarik kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Refleksi diri Koreksi diri 23

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dari berbagai kecakapan dalam kemampuan berpikir kritis, dalam penelitian ini peneliti mengambil kemampuan menginterpretasi dan menganalisis untuk menjadi variabel yang akan diteliti. 2.1.1.7 Kemampuan Menginterpretasi Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan di mana anak mencoba mengerti dan mengungkapkan arti dari pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria (Facione, 1990: 6). Kemampuan menginterpretasi ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: a. Membuat kategori Misalnya: Mengidentifikasi suatu permasalahan dan mendefinisikan ciri-cirinya; Menentukan kriteria yang berguna untuk membuat klasifikasi; Membuat klasifikasi atas data-data dengan menggunakan skema tertentu. b. Memahami arti Misalnya: Mendeteksi maksud di balik pertanyaan yang diajukan menilai arti bahasa wajah, bahasa tubuh, sikap atau bahasa non verbal lain yang digunakan; Menilai arti penggunaan ironi atau pertanyaanpertanyaan retoris dalam debat; Menginterpretasi data-data, grafik, tabel, gambar, simbol dsm yang dipresentasikan. c. Menjelaskan makna Misalnya: Membahasakan ulang apa yang dikatakan orang lain dengan kata-kata yang berbeda tanpa menghilangkan arti semula; Menggunakan contoh, analogi, lukisan, gambar dan sebagaimana mestinya untuk lebih memperjelas suatu permasalahan; Menjelaskan lebih jauh suatu permasalahan untuk menghindarkan salah paham, kerancuan, ambiguitas, atau multi tafsir. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan di mana anak dapat mengerti, memahami sesuatu bukan hanya secara teoretis, melainkan juga mengerti arti dari 24

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria yang telah ia pelajari. 2.1.1.8 Kemampuan Menganalisis Kemampuan menganalisis adalah kemampuan siswa, dimana ia dapat mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, atau opini (Facione, 1990: 7). Kemampuan menganalisis dibagi menjadi 3 bagian, antara lain: a. Menguji gagasan-gagasan: Misalnya: Melontarkan suatu pernyataan kepada publik untuk melihat reaksi mereka dengan maksud untuk menyetujui gagasan tertentu; Meneliti usulan-usulan yang masuk untuk suatu permasalahan dan melihat kesamaan-kesamaan maupun perbedaan-perbedaannya; Memberikan suatu tugas yang kompleks untuk melihat bagaimana tugas itu dipilah-pilah dalam bagian-bagian yang lebih kecil sehingga bisa ditangani dengan lebih baik; Mendefinisikan istilah-istilah yang abstrak; Membandingkan gagasan, konsep, atau pernyataan yang berbeda-beda; Mengidentifikasi permasalahan utama dan membedakannya dengan permasalahan- permasalahan sekunder. b. Mengidentifikasi argumen-argumen Misalnya: Menilai apakah suatu pernyataan (dari suatu artikel di koran atau suatu paragraf sebuah buku) mendukung atau berlawanan dengan pandangan tertentu. c. Menganalisis argumen-argumen Misalnya: Menganalisis apakah pandangan seorang pengarang (artikel, buku dsm) dengan argumen, premis, informasi, alasan dsm yang dikemukakannya mendukung atau bertentangan dengan pandangan tertentu; Menganalisis rangkaian argumen yang dikembangkan dan yang digunakan pengarang sebagai dasar untuk menarik kesimpulan tertentu. 25

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menganalisis adalah kemampuan dimana anak dapat mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang dapat membuat penilaian untuk menyetujui, menilai dan menganalisis suatu gagasan tertentu. 2.1.1.9 Pembelajaran Tematik-Integratif Pembelajaran tematik-integratif adalah pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam tema-tema (Kemendikbud, 2013: 9). Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam dua hal, yaitu integrasi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam konsep pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Hendaknya tema yang dibuat ini menjadi alat pemersatu materi beragam dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik-integratif hendaknya dikemas dalam tema-tema yang tertentu yang tema-tema tersebut ditinjau dari berbagai mata pelajaran yang ada. Pembelajaran tematik-integratif merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menghubungkan pengalaman dan pengetahuan sehingga peserta didik lebih mudah menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan mereka akan pengetahuan (Huber & Hutchings, 2008: 1) Pembelajaran tematik yang dilaksanakan hendaknya berbasis student center, sehingga dalam hal ini, guru yang berfungsi sebagai fasilitator dan motivator. Siswa diajak untuk menemukan masalah dalam pembelajaran dan bersama teman-temannya yang lain berusaha untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu guru hendaknya juga harus kreatif dan dapat mengkaitkan tema yang satu dengan tema lainnya, agar tidak saling tumpang tindih dan membuat anakanak menjadi bingung. Strategi pembelejaran tematik memiliki karakteristik (Karli, 2007) sebagai berikut : (1) Holistik, yaitu suatu peristiwa atau topik yang menjadi pusat perhatian diamati dan dikaji dari berbagai sudut dan bidang studi sekaligus; (2) Bermakna, yaitu pengkajian suatu topik dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya jalinan-jalinan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Pada gilirannya akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih fungsional; (3) Otentik, yaitu 26

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan prinsip yang akan dipelajari; (4) Aktif, yaitu pembelajaran tematik pada dasarnya dikembangkan berdasarkan pendekatan discovery inquiry. Siswa terlihat aktif, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Kesiapan guru sangat penting karena dalam tujuan Kurikulum 2013, di antaranya mendorong peserta didik agar mampu lebih baik lagi dalam melakukan observasi, bertanya, menalar, dan mengkomunikasikan-mempresentasikan, apa yang mereka peroleh setelah menerima materi pembelajaran. 2.1.1.10 Materi Sistem Pernapasan pada Hewan Pada penelitian ini materi yang digunakan adalah Sistem Pernapasan Pada Hewan, pada Tema 2. Udara Bersih Bagi Kesehatan, Subtema 2. Pentingnya udara bersih bagi pernapasan, dan KD 3.2 Menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia. Pernapasan adalah proses pengambilan udara/oksigen (O2 dan mengeluarkan udara berupa karbondioksida (CO2). Berikut sistem pernapasan pada beberapa jenis hewan (Kusumawati, 2017: 4). Alat dan sistem pernapasan pada cacing tanah (Vermes) yaitu permukaan kulit. Kulit cacing selalu basah dan berlendir untuk memudahkan penyerapan oksigen dari udara. Oleh karena itu, cacing menyukai tempat lembap untuk menjaga supaya kulit tubuhnya selalu basah dan berlendir. Alat dan sistem pernapasan pada serangga (Insecta) berupa trakea, yaitu sistem tabung yang memiliki banyak percabangan di dalam tubuh (Kusumawati, 2017: 5). Percabangan trakea disebut trakeola. Trakea mengedarkan oksigen langsung ke semua sel tubuh dan organ serta menyerap karbon dioksida dari semua sel tubuh untuk dibuang. Ikan bernapas dengan organ khusus mirip saringan yang disebut insang (Kusumawati, 2017: 6). Insang berbentuk lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Insang terdapat tepat di belakang rongga mulut pada kedua sisi kepala ikan. Biasanya insang dilindungi oleh selaput atau rangka yang disebut tutup insang (operkulum). Katak termasuk hewan amfibi, yaitu hewan yang hidup di darat dan di air. Saat masih berupa kecebong, katak hidup di dalam air dan bernapas menggunakan insang (Kusumawati, 2017: 7). 27

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setelah berumur 9 hari, kecebong bernapas menggunakan insang dalam. Katak dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. Di dalam paru-paru terdapat banyak gelembung udara yang sangat kecil, berselaput, dan penuh dengan kapiler darah. Di dalam gelembung udara, oksigen diserap dan karbon dioksida dikeluarkan. Selain dengan paru-paru, katak juga bernapas melalui kulit. Permukaan kulit katak selalu basah agar memudahkan penyerapan oksigen dari udara (Kusumawati, 2017: 7). Reptil bernapas mengunakan paruparu. Udara masuk melalui hidung, lalu ke batang tenggorokan, lalu ke paru-paru (Kusumawati, 2017: 8). Paru-paru reptil terletak di dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Paru-paru reptil sederhana dengan beberapa lipatan dinding yang dapat memperbesar permukaan paru-paru. Burung bernapas dengan sepasang paru-paru. Paru-paru burung terletak di dalam rongga dada. Udara yang mengandung oksigen masuk melalui lubang hidung pada pangkal paruh sebelah atas. Selanjutnya udara masuk ke pembuluh udara yang disebut trakea. Burung menghirup udara sebanyak-banyaknya saat tidak terbang. Sebaliknya, saat terbang, burung tidak menghirup udara. Udara diembuskan dari kantong udara ke paru-paru (Kusumawati, 2017: 9). Kantong udara juga membantu burung saat terbang, membantu mencegah hilangnya panas tubuh yang terlalu besar, dan memperkeras suara. Mamalia adalah jenis hewan yang menyusui anaknya. Ada dua jenis mamalia, yaitu mamalia darat dan mamalia air. Alat pernapasan mamalia darat terdiri atas hidung, pangkal tenggorok, batang tenggorok, dan paru-paru. Pada mamalia air, hidungnya dilengkapi dengan katup. Saat mamalia tersebut menyelam, katup akan menutup. Sebaliknya, saat mamalia tersebut muncul ke permukaan air, katup terbuka. Saat itulah mamalia air tersebut akan menghirup oksigen serta mengeluarkan karbon dioksida dan uap air. 2.1.2 Penelitian yang Relevan 1. Penelitian- Penelitian mengenai Model Pembelajaran Kooperatif tipe Make a Match Artawa dan Suwatra (2012) meneliti perbedaan prestasi belajar Matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan model pembelajaran konvensional pada kelas V. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu 28

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan rancangan post-test only control group design. Sampel penelitian ini yaitu kelas V SD N 1 Muncan yang berjumlah 26 orang dan kelas V SD N 4 Muncan yang berjumlah 28 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a-match lebih baik dibandingkan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Jadi, dapat disampaikan bahwa model pembelajaran kooperetif tipe Make a Match berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Maula dan Rustopo (2012) meneliti perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan metode konvensional terhadap hasil belajar matematika materi mengenal lambang bilangan romawi siswa kelas IV SDN 03 Sumberejo tahun pelajaran 2012/2013. Jenis penelitian ini adalah Eksperimen kuantitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah postest only control design. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa kelompok yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match materi mengenal lambang bilangan romawi lebih berpengaruh terhadap hasil belajar dibandingkan kelompok yang pembelajarannya menggunakan dengan metode konvensional. Anggarawati, Kristiantari, dan Asri (2014) meneliti perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran Make A Match berbantuan media kartu gambar dengan siswa yang belajar secara konvensional pada mata pelajaran IPS. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain the non-equivalent control group design. Populasi penelitian berjumlah 62 siswa. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik statistik uji-t. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran Make A Match berbantuan media kartu gambar dan siswa yang belajar secara konvensional pada mata pelajaran IPS (thit = 3,20 > ttab =2,00). Dengan hasil ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Make A Match berbantuan media kartu gambar berpengaruh terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas VI SD Negeri 26 Dangin Puri Tahun Pelajaran 2013/2014. 29

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Penelitian Mengenai Kemampuan Berpikir Kritis Coker (2010) meneliti efek dari satu minggu uji coba, program pembelajaran praktek terhadap penalaran klinis dan kemampuan berpikir kritis dari siswa terapi okupasi. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimental. prettest dan posttest tidak random digunakan dengan 25 siswa sebagai sampelnya. Para siswa harus menyelesaikan 3 semester mata kuliah didaktif di program S2, program pendidikan OT dalam kuliah praktek untuk anakanak hemiplegic cerebral palsy. Perubahan penalaran klinis dan kemampuan berpikir kritis siswa di evaluasi menggunakan ukuran dependent : SCARR dan CCTST. Perubahan-perubahan nilai pretest dan posttest menggunakan SCARR sangatlah signifikan secara statistik (p < 0,05) mengikuti kelengkapan program praktek pembelajaran. Artinya pembelajaran eksperimental ini berpengaruh terhadap penalaran klinis dan kemampuan berpikir kritis siswa terapi okupasi. Kurniawati, Wartono, dan Diantoro (2014) menelit i perbedaan penguasaan konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing integrasi peer instruction, pembelajaran inkuiri terbimbing, dan pembelajaran konvensional. Selain itu, juga untuk mengetahui pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing integrasi peer instruction, pembelajaran inkuiri terbimbing dan pembelajaran konvensional berturut-turut terhadap penguasaan konsep dan kemampuan berpikir kritis fisika. Rancangan penelitian menggunakan kuasi eksperimen dengan posttest only design. Data analisis dengan analisis multivariant ( manova) satu jalur dan uji lanjut LSD. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan pembelajaran inkuiri terbimbing integrasi peer instruction lebih tinggi daripada pembelajaran inkuiri terbimbing dan pembelajaran konvensional. Spijunovic dan Lazic (2016) meneliti pentingnya perkembangan kemampuan berpikir kritis siswa pada awal proses belajar mengajar Matematika dan menggarisbawahi beberapa masalah yang bersangkutan dengan pelaksanaannya. Sebagian samplenya ada 246 siswa (usia 9,5-10,4 tahun), sebuah uji coba pembelajaran (uji coba dengan kelompok paralel) yang disusun untuk di uji, baik dengan tugas2 yang dipilih, berpikir kritis dalam tahap awal pengajaran 30

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI matematika dapat dikembangkan. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan isi pembelajaran matematika yang telah dipilih dengan baik, kemampuan berpikir kritis siswa, sebagaimana dapat dilihat secara keseluruhan, dapat dikembangkan dan bahwa, dalam prosesnya, kita dapat secara siknifikan mempengaruhi perkembangan dari tiap-tiap kemampuan tersebut (rumusan permasalahan, rumusan ulang permasalahan, evaluasi, masalah-masalah terkait). Berdasarkan penelitian yang sudah pernah dilakukan, belum banyak yang melakukan penelitian untuk mengukur kemampuan menginterpretasi dan menganalisis dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Berikut ini adalah literature map berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu: Gambar 2. 4 Literature Map Penelitian yang Relevan 31

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Piaget menjelaskan teori perkembangan kognitif anak, yang dibagi menjadi 4 tahap, yaitu tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun), tahap pra operasional (umur 2–7 tahun), tahap operasional konkrit (umur 7–11 tahun) dan operasional formal (umur 11- dewasa). Anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, karena mereka mulai mempresentasikan dunia mereka dengan kata-kata dan gambar. Oleh karena itu, dibutuhkan hal-hal atau benda yang bersifat konkret untuk menjelaskan dan membuat anak-anak menjadi paham. Teori Vygotsky mengatakan bahwa pembelajaran mendahului perkembangan. Teori sosial Vygotsky menyatakan bahwa pembelajaran dapat terjadi karena aktivitas sosial yang dilakukan oleh siswa. Pembelajaran melibatkan tanda-tanda yang diperoleh dari informasi yang didapatkan dari orang lain, orang tua, bahkan teman sebaya. Untuk memperoleh informasi dari lingkungan sosialnya, maka dibutuhkan model pembelajaran yang mendukung. Salah satu model pembelajaran yang mendukung terjadinya perkembangan anak secara kognitif dan sosial yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah model pembelajaran dimana dalam proses kegiatannya mengajak siswa untuk belajar sambil bermain. Model pembelajaran Make a Match adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang mengajarkan siswa memahami konsep-konsep secara aktif, kreatif, interaktif, efektif dan menyenangkan bagi siswa sehingga konsep mudah dipahami dan bertahan lama dalam struktur kognitif siswa yang disajikan dalam bentuk permainan. Bermain disini dalam arti siswa bersama teman mencari pasangan sambil mempelajari suatu konsep atau materi yang dikemas dalam suasana yang menyenangkan. Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match ini memiliki tujuh langkah pembelajaran yaitu menyiapkan kartu, pembagian kartu, memikirkan soal dan jawaban, mencari pasangan, pemberian nilai, pengulangan permainan, dan pemberian penghargaan. Keunggulan dari tipe Make a Match ini adalah mendorong siswa untuk lebih kritis dalam belajar, menciptakan suasana menyenangkan dalam pembelajaran, kerja sama individu dapat berjalan secara dinamis, munculnya dinamika gotong-royong yang 32

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyeluruh kepada seluruh siswa, melatih ketepatan, ketelitian dan kecepatan siswa. Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai (Facione, 1990: 6). Facione membagi kemampuan berpikir kritis menjadi beberapa skill, yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, kesimpulan, eksplanasi, dan regulasi diri. Penelitian ini berfokus pada dua skill yaitu kemampuan menginterpretasi dan kemampuan mengananalisis. Kemampuan menginterpretasi yaitu kemampuan untuk mengerti dan menangkapkan arti dari pengalaman dan situasi kejadian. Dimensi interpretasi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu membuat kategori, memahami arti, dan menjelaskan makna. Sedangkan kemampuan menganalisis yaitu kemampauan mengidentifikasi relasirelasi logis dari berbagai pertanyaan atau konsep yang mengungkapkan informasi. Kemampuan menganalisis mencangkup 3 hal, yaitu menguji gagasan-gagasan, mengidentifikasi argumen-argumen dan menganalisis argumen-argumen. Pembelajaran yang disajikan dalam Kurikulum 2013 hendaknya juga harus bersifat inovatif dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan dan menarik yang ditekankan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatof tipe Make a Match. Salah satu mata pelajaran dalam pembelajaran tematik yang relevan dengan tipe pembelajaran Make a Match yaitu pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam . Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mata pelajaran yang mengembangkan kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis. Hal ini dapat dibuktikan dari proses pelaksanaan pembelajarannya yang dapat melibatkan siswa secara langsung dalam kegiatan praktek atau mengamati dan menghubungkannya dengan situasi dan kehidupannya sehari-hari. Salah satu materi IPA kelas V SD yang mengembangkan kemampuan menginterpretasi dan menganalisis dan sesuai dengan model pembelajran kooperatif tipe Make a Match yaitu pada tema II subtema I yaitu materi Sistem Pernapasan pada Hewan. Jika model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match ini diterapkan pada siswa kelas V SD dengan mata 33

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pelajaran IPA materi Sistem Pernapasan pada Hewan, penerapan ini akan berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis siswa. 2.3 Hipotesis Penelitian 2.3.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi siswa kelas V SD. 2.3.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis siswa kelas V SD. 34

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada Bab III ini berisi metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Metode penelitian membahas jenis penelitian, setting penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik pengujian instrumen, dan teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuasi eksperimental dengan tipe pretest-posttest non equivalent group design (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Penelitan eksperimental adalah satu-satunya metode penelitian yang dapat menguji hipotesis menyangkut hubungan kausal atau hubungan sebab akibat (Gay dalam Emzie, 2009: 64). Penelitian eksperimental dapat menentukan apakah suatu treatment mempengaruhi hasil sebuah penelitian (Creswell 2009: 19). Metode penelitian eksperimental merupakan salah satu metode dalam penelitian kuantatif. Metode ini digunakan untuk meneliti pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap variabel independen dengan cara membandingkan 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dalam penugasan yang dilakukan adalah menentukan saja dari sejumlah kelompok yang ada, yaitu ditugaskan sebagai kelompok eksperimen dan ada yang menjadi kelompok kontrol (Ali & Asrori, 2011: 91). Kelompok eksperimen merupakan kelompok yang diberi perlakuan (treatment) dan kelompok kontrol merupakan kelompok yang tidak mendapat perlakuan khusus. Dalam penelitian eksperimental memiliki tiga karakteristik, yaitu memanipulasi, mengontrol variabel, dan melakukan pengamatan (Ari, dalam Sukardi, 2007: 180). Dalam kuasi eksperimental penelitian, subjek dilakukan dengan cara memilih kelompok subjek yang sudah ada dan tidak pula dilakukan penugasan random. Penelitian quasi experimental merupakan penelitian yang dikembangkan dari true experimental design, di mana penelitian memiliki keterbatasan dalam mengontrol variabel-variabel dari luar (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 275). Tipe penelitian yang digunakan adalah pretest-posttest non- 35

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI equivalent group design, yaitu dengan melakukan pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada penelitian ini, kedua kelompok mendapatkan pretest dan posttest. Pretest dilakukan untuk mengetahui pemahaman awal sebelum pembelajaran untuk mengetahui bahwa pemahaman awal siswa seimbang. Setelah pemahaman awal diketahui, kelompok eksperimen akan mendapatkan perlakuan menggunakan Metode Pembelajaran Make a Match dan kelompok kontrol melakukan pembelajaran seperti biasa dengan menggunakan metode ceramah, tanpa adanya perlakuan khusus. Kemudian kedua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mendapatkan posttest untuk mengetahui ada tidaknya atau perbedaan pengaruh yang telah diberikan kepada kedua kelompok. Pengaruh perlakuan dapat dihitung melalui tiga tahap, yaitu (1) hasil dari posttest dikurangi hasil pretest pada kelompok eksperimen akan mendapatkan skor 1, (2) hasil dari posttest dikurangi hasil pretest pada kelompok kontrol akan mendapatkan skor 2, (3) pengurangan antara skor 1 dan skor 2 (Champbell & Standley, dalam Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). Berdasarkan pengertian dari Champbell dan Standley di atas, maka pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus: (𝑂2 − 𝑂1 ) − (𝑂4 − 𝑂3 ) Gambar 3. 1 Rumus Pengaruh Perlakuan Jika hasilnya lebih besar dari nol, ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, ada pengaruh perlakuan. Jika perbedaannya tidak signifikan, tidak ada pengaruh. Gambar desain dari penelitian ini adalah sebagai berikut (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Eksperimen O1 X O2 ...................................... Kontrol O3 O4 Gambar 3. 2 Desain Penelitian 36

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan: O1 = Rerata skor pretest kelompok eksperimen O2 = Rerata skor posttest kelompok eksperimen O3 = Rerata skor pretest kelompok kontrol O4 = Rerata skor posttest kelompok kontrol X = Perlakuan dengan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match Garis putus-putus pada gambar desain penelitian pretest-posttest nonequivalent group design mempunyai arti bahwa penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Garis putus-putus tersebut juga memiliki fungsi untuk memisahkan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD Swasta yang terletak di Kota Yogyakarta, Provinsi D.I.Y. Yogyakarta. Sekolah ini memiliki guru sebanyak 24 orang. Jumlah murid di SD ini yaitu sebanyak 414 siswa yang terdiri dari 221 siswa laki-laki dan 197 siswa perempuan. Sekolah ini memiliki 18 kelas dari kelas I hingga kelas VI yang masing-masing kelas terdiri dari 3 kelas paralel. Kurikulum yang digunakan di sekolah SD ini yaitu kurikulum 2013 untuk semua kelas. Peneliti menggunakan SD ini sebagai tempat penelitian karena merupakan salah satu SD Swasta yang sudah menggunakan kurikulum 2013 untuk semua kelas dan merupakan salah satu SD Swasta yang menjadi contoh untuk sekolah lain. Selain itu, guru juga belum pernah menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Banyaknya siswa yang ada di kelas V juga dapat menjadi salah satu pendukung untuk menyajikan pembelajaran yang lebih menarik dan inovatif agar siswa juga tidak cepat bosan. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian di salah satu SD swasta ini dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Waktu pengambilan data disesuaikan dengan jadwal kalender pendidikan SD. Penelitian dilakukan selama kurun waktu 2 minggu. 37

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Kontrol Eksperimen Tabel 3. 1 Jadwal Pengambilan Data Hari, tanggal Alokasi waktu Senin, 3 September 2018 2 x 35 menit Rabu, 5 September 2018 2 x 35 menit Jumat, 7 September 2018 2 x 35 menit Selasa, 11 September 2018 2 x 35 menit Kamis 13 September 2018 2 x 35 menit Senin, 17 September 2018 2 x 35 menit Selasa, 25 September 2018 2 x 35 menit Kegiatan Pretest Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Pertemuan IV Postest I Postest II Senin, 3 September 2018 Rabu, 5 September 2018 Jumat, 7 September 2018 Selasa, 11 September 2018 Kamis 13 September 2018 Senin, 17 September 2018 Kamis, 27 September 2018 Pretest Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Pertemuan IV Postest I Postest II 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah seluruh data yang kita ambil yang nantinya akan menjadi fokus perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang telah ditentukan (Margono, 2007: 118). Pengertian lain menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewanhewan, tumbuhan, gejala, nilai, tes, atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian (Handari dalam Margono, 2007: 118). Dari pengertian menurut dua ahli di atas dapat disimpulkan bahwa populasi yaitu objek penelitian yang akan menjadi perhatian atau fokus peneliti yang akan dipelajari. Populasi pada penelitian kali ini yaitu seluruh siswa kelas V SD yang menjadi tempat penelitian yang berjumlah 73 siswa. 3.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi. Sampel merupakan contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu (Margono, 2007: 121). Sampel juga merupakan sebagian dari populasi yang diambil dan dijadikan sebagai sumber data. Penelitian ini menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Metode convenience sampling merupakan pengambilan sampel menggunakan kelas yang sudah tersedia karena keterbatasan administrasi untuk memilih secara acak (Best & Kahn, 2006: 18-19). Teknik 38

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI convenience sampling dipilih karena dalam beberapa jenis studi deskriptif, penggunaan teknik ini dapat membatasi generalisasi untuk populasi yang sama (Best & Kahn, 2006: 19). Penentuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan cara acak yaitu melalui pengundian yang disaksikan juga oleh kepala sekolah dan guru mitra. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V A dan siswa kelas V B. Kelas V A sebagai kelompok kontrol dengan jumlah siswa 24 yang teridiri dari siswa laki-laki 13 orang dan siswa perempuan 11 siswa dan kelas V B sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah siswa 24 orang yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Pembelajaran yang dilakukan melalui penggunaan metode pelajaran kooperatif ini dilakukan oleh guru yang sama untuk kedua kelompok tersebut. Penggunaan guru yang sama dilakukan untuk mengendalikan ancaman terhadap validasi internal penelitian yaitu implementasi. 3.4 Variabel penelitian Variabel merupakan segala sesuatu yang merupakan penghubung antara konstrak yang abstrak dengan fenomena yang nyata, dapat diberi berbagai macam nilai (Sumanto, 2014: 72). Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai atau pengelompokan yang logis dari dua atribut atau lebih (Margono, 2010: 133). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel independen dan dependen. 3.4.1 Variabel Independen Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel input yang dapat mempengaruhi sebagian atau keseluruhan hasil (Cohen, Manion, & Morrison, 2015: 504). Variabel independen dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki 7 langkah yaitu menyiapkan kartu, pembagian kartu, memikirkan soal dan jawaban, mencari pasangan, pemberian nilai, pengulangan permainan, pemberian penghargaan. 3.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel hasil yang disebabkan oleh variabel independen (Cohen, Manion, & Morrison, 2015: 504). 39

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Variabel dependen juga merupakan variabel yang merupakan variabel hasil, baik sebagian atau total oleh input ( variabel antisenden) yang menjadi efek konsekuensi atau respon terhadap variabel independen (Cohen, Manion, & Morrison, 2015: 504). Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis. Gambar 3. 3 Variabel Penelitian 3.5 Teknik Pengumpulan Data Pada penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara tes. Tes adalah seperangkat rangsangan (stimulus) yang berupa soal yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka (Margono, 2010: 170). Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes essay. Tes essay merupakan suatu bentuk tes yang terdiri dari pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang (Nurkancana & Sumartana, dalam Purwanto, 2009: 70). Peneliti menggunakan tes essay karena tes essay mempunyai kelebihan sebagai berikut (Nurgiyantoro, 2010: 118-119). 1. Tes essay merupakan tes yang tepat untuk menilai proses berpikir tingkat tinggi. Peserta didik juga diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan, menganalisis, menghubungkan, menilai, dan memecahkan permasalahan sesuai dengan kemampuan cara berpikirnya. 2. Tes essay memberi kesempatan peserta didik untuk mengemukakan jawabannya ke dalam bahasa yang runtut sesuai dengan gaya peserta didik sendiri. keruntutan bahasa ini penting karena hal itu akan mencerminkan kualitas cara berpikir peserta didik. Proses berpikir yang jelas, runtut, dan 40

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menguasai masalah akan dapat memanifestasikan ke dalam bahasa yang jelas dan runtut pula. 3. Tes essay memberi kesempatan peserta didik untuk mempergunakan pikirannya sendiri dan kurang memberikan kesempatan untuk bersikap untung-untungan. Hal yang demikian merupakan suatu hal yang mungkin sekali dilakukan dalam tes objektif. Itulah sebabnya bentuk tes essay disebut juga tes subjektif karena jawaban pertanyaan akan bervariasi pada tiap peserta didik bergantung pada proses dan cara berpikirnya. 4. Bentuk tes ini mudah disusun, sehingga tidak banyak menghabiskan waktu. Selain kelebihan, tes essay juga memiliki kelemahan sebagai berikut. 1. Kadar validitas dan reliabilitas bentuk tes ini rendah. Rendahnya kadar validitas dan reliabilitas itu disebabkan (a) Terbatasnya sampel bahan yang diteskan yang mewakili seluruh bahan, (b) Jawaban yang diberikan peserta didik satu dengan yang lain bervariasi, (c) Penilaian yang dilakukan bersifat subjektif. 2. Akibat terbatasnya bahan yang diteskan, dapat terjadi hal-hal yang juga bersifat kebetulan. Seorang peserta didik yang sebenarnya tergolong kompeten, mungkin mengalami kegagalan karena bahan yang diteskan kebetulan kurang berkompeten, mungkin justru memperoleh hasil yang baik karena bahan yang diteskan kebetulan saja banyak dipelajarinya. 3. Penilaian yang dilakukan terhadap jawaban peserta didik tidak mudah ditentukan standarnya. Tiap butir tentunya tidak sama persis bobotnya sehingga skor terhadapnya harus juga tidak sama. Di samping itu adanya variasi jawaban peserta didik menyulitkan guru untuk memberikan skor secara tepat dan memerlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Selain itu, penyekoran yang dilakukan guru juga sulit untuk konsisten dan objektif. 4. Waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa pekerjaan peserta didik relatif lama, apalagi jika jumlah peserta didik cukup banyak, sehingga terasa kurang 41

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penelitian ini menggunakan pretest dan posttest untuk mengumpulkan data. Instrumen yang diberikan kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah instrumen yang sama. Soal pretest diberikan di awal kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk mengetahui seberapa besar kemampuan awal siswa. Selanjutnya, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberikan perlakuan. Perlakuan yang diberikan kepada kelompok kontol dan kelompok eksperimen berbeda. Kelompok kontrol diberi perlakuan dengan metode ceramah, sedangkan kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Setelah pemberian perlakuan, kemudian kelas kontrol dan kelompok eksperimen diberikan soal posttest I untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan siswa terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Kemudian untuk mengetahui retensi pengaruh perlakuan, peneliti melakukan posttest II. Seluruh instrumen disediakan oleh penelitian. 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini menggunakan tes essay. Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar menjadi sistematis (Arikunto, dalam Sudaryono, Margono, & Rahayu, 2013: 30). Penelitian ini menggunakan mata pelajaran IPA dengan materi Sistem Pernapasan pada Hewan kelas V. Instrumen penelitian berisikan tes essay yang terdiri dari 18 nomor. Setiap soal mewakili indikator atau aspek dalam kemampuan berpikir kritis menurut Facione. Instrumen ini adalah instrumen dalam penelitian payung. Instrumen penelitian ini digunakan oleh tiga peneliti yang masing-masing peneliti meneliti dua kemampuan. Pembagian instrumen penelitian adalah sebagai berikut. (1) Soal nomor 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, dan 2c merupakan instrumen soal untuk kemampuan menginterpretasi dan menganalisis, (2) Soal nomor 3a, 3b, 4a, 4b, dan 4c merupakan instrumen soal untuk kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menyimpulkan. (3) Soal nomor 5a, 5b, 6a, 6b, dan 6c merupakan instrumen soal untuk kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Instrumen penelitian yang digunakan peneliti terdiri dari dua tingkat kemampuan, yaitu kemampuan menginterpretasi 42

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan menganalisis. Indikator kemampuan menginterpretasi dan menganalisis dapat di lihat pada tabel berikut: Tabel 3. 2 Matriks Perkembangan Instrumen No Variabel Elemen Indikator Membuat kategori Mengelompokkan hewan di kebun binatang tersebut berdasarkan alat pernapasannya Menjelaskan fungsi trakea pada serangga Menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ pernapasan dan proses pernapasannya Menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung Menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air Menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak mengganggu sistem parnapasannya Memahami arti 1 Menginterpretasi Menjelaskan makna Menguji gagasan-gagasan 2 Menganalisis Mengidentifikasi argumenargumen Menganalisis argumenargumen No. Item soal 1a 1b 1c 2a 2b 2c 3.7 Teknik Pengujian Instrumen Pengujian instrumen dilakukan untuk mendapatkan instrumen yang valid dan reliabel. Teknik yang digunakan adalah menggunakan uji validitas dan reliabilitas. 3.7.1 Uji Validitas Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2008: 5-6). Suatu tes atau instrumen dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Validitas berdasarkan garis besar dibagi menjadi dua yaitu validitas internal dan validitas eksternal (Yusuf, 2014: 174). Validitas internal mengacu kepada kadar kesahihan, ketepatan, ataupun keakuratan kesimpulan hasil penelitian sebagai akibat perlakuan (treatment), sedangkan validitas eksternal mengacu kepada kadar ketepatan kepada siapa penelitian dapat digeneralisasikan baik kepada kelompok maupun lingkungan di luar setting penelitian. Pada validitas internal harus memenuhi validitas isi 43

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (content validity) validitas muka (face validity) dan validitas konstrak (construct validity). a. Validitas Muka Validitas muka merujuk pada segi “rupa sebuah alat ukur”, suatu alat pengukur tampak mengukur apa yang akan diukur (Martono, 2014: 101). Validitas ini lebih mengacu pada penampilan dan juga bentuk dari instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Validitas muka merupakan penilaian terhadap formal penampilan tes, apabila penampilan tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi (Azwar, 2008: 46). Cara mengujikan validitas muka dengan memperlihatkan soal kepada siswa untuk menilai kejelasan dari soal yang dibuat peneliti. Validitas muka diperoleh dengan mengujicobakan soal pada 30 siswa kelas V di salah satu SD Negeri di Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018. Pengerjaan soal dilakukan pada Sabtu, 02 Juni 2018 dengan waktu 2 x 30 menit. 30 siswa tersebut dipilih dengan rekomendasi dari guru kelas dan sesuai dengan tingkat kemampuan kognitif tinggi, sedang, dan rendah. Dari ujicoba ini beberapa siswa masih belum paham dengan kata “adaptasi”, “pernapasan” dan “identifikasi”. Pada instrumen nomor 1b dan 1c peneliti mengganti soal supaya lebih mudah dipahami oleh siswa. Meskipun demikian, setiap pertanyaan atau kalimat perintah sudah mampu dipahami dengan baik oleh siswa. b. Validitas isi Validitas isi merupakan suatu alat ukur yang dipandang valid apabila sesuai dengan isi yang hendak diukur (Surapranata, 2004: 51). Validitas isi merupakan sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur atau sejauh mana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur. Cara yang dilakukan peneliti untuk melakukan validitas isi yaitu dengan memberikan instrumen kepada para ahli (expert judgement) (Azwar, 2008: 45). Peneliti memberikan instrumen kepada para ahli yaitu dosen Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma, dan 2 guru SD. Para ahli memberi komentar dan masukkan terhadap intrumen yang dibuat peneliti layak atau tidak untuk diujikan. Pada soal nomer 1a mendapat skor rerata 3,00 dengan komentar bahwa isi atau maksud pertanyaan sudah mudah dipahami, tinggal membetulkan struktur 44

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kalimat saja. Soal nomer 1b mendapat rerata sebesar 3,00 dengan komentar bahwa efektivitas penggunaan kata diperbaiki. Soal nomer 1c mendapat rerata 2,33 dengan komentar bahwa apa kaitannya antara berjalan, menempelkan perut dan pernapasan, sehingga struktur dan maksud dari soal diperbaiki kembali. Pada soal nomer 2a, mendapat skor rerata 4,00 dengan komentar baik, soal nomer 2b mendapat rerata 3,67 dengan komentar sudah baik, nomer 2c mendapat skor rerata 2,00 dengan komentar bahwa cek kunci kembali, bahasa harus lebih di perjelas lagi supaya anak dapat memahami kalimat dengan mudah, dan kalimat harus diperbaiki. Sesudah melakukan expert judgement selanjutnya validitas isi juga dilakukan dengan validitas konstruk (construct validity). Jumlah skor dari validator 1 untuk semua variabel penelitian gabungan yaitu 65 yang berarti bahwa instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan, validator 2 yaitu 67 yang berarti bahwa instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan, dan skor dari validator 3 yaitu 57 yang berarti instrumen layak diimplementasikan dengan sedikit revisi. (lihat Lampiran 3.4). c. Validitas Konstruk Selanjutnya peneliti menggunakan validitas konstruk. Validitas konstruk lebih menekankan pada seberapa jauh instrumen yang disusun itu terkait secara teoretis mengukur konsep yang telah disusun oleh peneliti atau seberapa jauhkan konstruk atau trait psikologis itu diwakili secara nyata dalam instrumen (Azwar, 2011: 48). Validitas konstruk adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau konstruk teoretik yang hendak diukurnya (Allen & Yen dalam Azwar, 2011: 48). Validitas konstruk ini diberikan untuk melihat apakah setiap item pertanyaan dalam soal memiliki korelasi yang kuat terhadap konsep kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Validitas konstruk diberikan pada siswa kelas V SD, akan tetapi tidak diberikan di SD yang dijadikan sebagai tempat penelitian. Sekolah yang dipilih untuk melakukan validitas konstruk yaitu salah satu SD Negeri yang ada di Yogyakarta. Peneliti memberikan soal kepada 30 siswa di salah satu SD Negeri di Yogyakarta. Peneliti memilih SD tersebut karena dianggap memiliki kemampuan yang setara dengan SD yang menjadi menjadi tempat penelitian. Perhitungan validitas menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. 45

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil perhitungan uji validitas menggunakan rumus korelasi Pearson terhadap 6 soal essay untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil dari uji instrumen soal dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat kepercayaan 95% dengan uji dua ekor (2-tailed). Rumus tersebut digunakan, karena data berupa interval yang diberi skor 1 sampai 4 (Field, 2009: 177). Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut (Field, 2009: 177-178). 1. Jika rhitung > rtabel item tersebut dikatakan valid, sedangkan jika rhitung < rtabel item tersebut dikatakan tidak valid. 2. Jika harga p < 0,05 maka item tersebut dikatakan valid, sedangkan jika harga p > 0,05 item tersebut dikatakan tidak valid. Berikut ini adalah tabel hasil uji validitas instrumen penelitian: (lihat Lampiran 3.6). Tabel 3. 3 Hasil Uji Validitas Instrumen Kemampuan Menginterpretasi dan Menganalis Variabel Indikator r tabel r hitung p Keterangan Menginterpretasi Menganalisis Mengelompokkan hewan di kebun binatang tersebut berdasarkan alat pernapasannya 0,2960 0.570** 0,000 Valid Menjelaskan fungsi trakea pada serangga 0,2960 0.432* 0,000 Valid Menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ pernapasan dan proses pernapasannya 0,2960 0,588** 0,000 Valid Menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung 0,2960 0.599** 0,000 Valid Menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air 0,2960 0,536** 0,000 Valid Menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak mengganggu sistem parnapasannya 0,2960 0,546** 0,000 Valid 46

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan: * artinya tingkat signifikansi 0,05 ** artinya tingkat signifikansi 0,01 3.7.2 Uji Reliabilitas Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu, walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan (Sugiyono, 2013: 174). Penelitian ini menggunakan soal berbentuk uraian sebagai instrumen pengumpulan data. Pemberian skor pada jawaban soal uraian dengan menggunakan rentang skor 1 hingga 4, dengan didasarkan pada kriteria yang sudah ditentukan. Suatu konstruk dikatakan reliabel jika harga Alpha Cronbach > 0,60 (Nunnally dalam Ghozali, 2007: 42) (lihat Lampiran 3.6). N 30 Tabel 3. 4 Uji Reliabilitas Alpa Cronbach 0,893 Keterangan Reliabel 3.8 Teknik Analisis data Teknik analisis data digunakan untuk menghitung data agar dapat disajikan secara sistematis dan dapat dilakukan interpretasi (Priyatno, 2012: 1). Analisis data pada penelitian kuantitatif dapat dilakukan secara manual dengan menghitung menggunakan rumus statistik atau menggunakan program bantu statistik. Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul (Sugiyono, 2013: 207). Kegiatan dalam analisis data adalah: mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Untuk penelitian yang tidak merumuskan hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan. Analisis data menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Dalam teknik analisis data ini terdapat beberapa langkah pengujian data yang dilakukan sebagai berikut. 47

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.7.3 Analisis Pengaruh Perlakuan 3.7.3.1 Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas data dilakukan setelah mendapatkan hasil tes dari siswa. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak, hal ini sebagai syarat digunakannya analisis parametrik (Priyatno, 2012: 132). Data dianalisis menggunakan analisis non parametrik yang mempertimbangkan distribusi data untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2012: 11). Jika distribusi data normal, teknik uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent Samples t-test (Field, 2009: 326). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan adalah: a. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada deviasi dari normalitas maka distribusi data normal. b. Jika harga Sig p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada deviasi dari normalitas maka distribusi data tidak normal. Uji normalitas distribusi data dihitung dengan mengambil data dari seluruh skor pretest, posttest I, posttest II, dan selisih pretest-posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen digunakan untuk uji normalitas distribusi data. 2. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah skor pretest, dan selisih skor pretest dan posttest 1 pada dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Kondisi dikatakan ideal jika data varian dari dua kelompok homogen. Uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Jika data berdistribusi normal maka data yang digunakan adalah data pada baris pertama dari output SPSS Independent Samples t-test dengan keterangan Equal Variances Assumed (Field, 2009: 340). Jika varian tidak homogen maka data yang digunakan adalah data pada baris kedua dengan keterangan equal variances non assumed. Uji statistik menggunakan Test of Homogeneity of Variance untuk data 48

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berdistribusi tidak normal (Field, 2009: 150). Data yang digunakan baris Based on Median dan yang p pada sebuah variabel. Berikut keterangan statistik uji homogenitas varian. Hnull : selisih tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan skor pretest-posttest I) kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan selisih skor pretest-posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 150) sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Uji homogenitas varian menggunakan data skor pretest dan selisih skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok. 3.7.3.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan dengan mengujikan perbedaan skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji ini dilakukan untuk memastikan kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama, sehingga kedua kelompok dapat dibandingkan. Uji kemampuan awal perlu dilakukan untuk mengontrol ancaman validitas penelitian berupa karakteristik subjek. Jika kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang setara, maka kemungkinan bias kecil (Neuman, 2013: 238). Uji ini dilakukan dengan menguji rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji ini menggunakan uji statistik: 1) statistik parametrik Independent samples t-test, jika distribusi data normal, 2) statistik non parametrik Mann Whitney U-test, jika distribusi data tidak normal (Priyatno, 2012: 137). Pengujian yang dilakukan sebelum analisis Independent Samples t-test adalah uji Levene’s (uji asumsi varian) yaitu untuk mengetahui apakah varian data sama atau berbeda, jika varian data sama maka uji-t menggunakan Equal Variance Assumed dan jika varian data berbeda maka menggunakan Equal Variance not Assumed. Jika harga 49

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sig. Levene’s test > 0,05 maka kelompok data memiliki varian yang sama, sehingga Independent Samples t-test menggunakan nilai pada Equal Variance Assumed (Priyatno, 2012: 22-23). Analisis statistik dilakukan dengan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis data uji perbedaan kemampuan awal (pretest) menggunakan hipotesis statistik berikut ini. a. Hnull : Tidak ada perbedaan skor pretest yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain kemampuan awal kedua kelompok tersebut sama. b. Hi : Ada perbedaan skor pretest yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain kemampuan awal kedua kelompok tersebut tidak sama. Kriteria yang digunakan adalah: 1. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan antara rerata skor pretest yang signifikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 2. Jika harga p < 0,05, Hnull dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan antara rerata skor pretest yang signifikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Teknik analisis data menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Kondisi yang ideal untuk dilakukan penelitian eksperimen adalah jika kedua kelompok baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol memiliki kemampuan awal yang sama. 3.7.3.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan model Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat diketahui dengan membandingkan selisih rerata pretest-posttest I kelompok kontrol dengan selisih rerata pretest-posttest I kelompok eksperimen. Uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus (O2-O1) – (O4-O3) (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). Jika hasilnya lebih dari nol, maka ada 50

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perbedaan. Uji signifikansi pengaruh perlakuan dihitung dengan cara sebagai berikut (Field, 2009: 325): 1)Jika data berdistribusi normal, maka uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik Independent Samples ttest; 2)Jika data berdistribusi tidak normal, maka uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik non-parametrik Mann Whitney U test (Field, 2009: 345). Analisis data uji signifikansi menggunakan hipotesis statistik sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rerata pretestposttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih rerata pretestposttest I kelompok kontrol dan rerata pretest–postest I kelompok eksperimen. Pengambilan keputusan untuk uji signifikansi pengaruh perlakuan (Priyatno, 2012: 24), yakni: a. Jika p > 0,05 Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rerata pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis. b. Jika p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya, ada perbedaan yang signifikan antara selisih rerata pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan kemampuan menganalisis. 3.7.3.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh model Make a Match dapat dilihat dengan mencari effect size. Effect size adalah ukuran yang objektif dan standar untuk mengetahui dari besarnya efek yang dihasilkan (Field: 2009: 56-57). 51

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika distribusi data normal, harga t diubah menjadi harga r dengan rumus sebagai berikut (Field, 2009: 332) : Gambar 3. 4 Rumus Besar Efek Distribusi Normal Keterangan: R = besarnya efek yang menggunakan koefisien korelasi Pearson (effect size) t = harga uji-t df = harga derajat kebebasan (degree of freedom) Jika distribusi data tidak normal digunakan rumus sebagai berikut (Field, 2009: 550): Gambar 3. 5 Rumus Besar Efek Distribusi Tidak Normal Keterangan: r = besarnya efek yang menggunakan koefisien korelasi Pearson Z = harga konveksi dari Standar Deviasi dari uji statistik Wilcoxon signed rank test. N = jumlah total observasi (2 x jumlah siswa). Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (𝑅2 ) dikalikan 100% (Field, 2009: 179) Persentasi pengaruh = 𝑅2 𝑥 100% Gambar 3. 6 Rumus Persentase Pengaruh 52

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Rumus effect size akan diperoleh nilai yang menunjukkan seberapa besar pengaruh efek penerapan model pembelajaran Make a Match. Kriteria untuk menentukan besar efek yaitu (Field, 2009: 57). Tabel 3. 5 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan Kriteria r 0,10 Efek kecil atau setara dengan 1% 0,30 Efek menengah atau setara dengan 9% 0,50 Efek besar atau setara dengan 25% Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria uji pengaruh perlakuan ( Fraenkel, Wallen, dan Hyun, 2012: 253). Tabel 3. 6 Kriteria Uji Pengaruh perlakuan 3.8 No Harga r 1 0,00-0,40 2 0,41-0,60 3 0,61-0,80 4 0,81-1,00 Interpretasi Efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih teoretis untuk membuat prediksi Efek cukup besar secara praktis dan teoretis Efek sangat penting, tapi jarang dicapai dalam penelitian pendidikan Mungkin terjadi kesalahan dalam perhitungan; jika tidak, efeknya memang sangat besar Analisis lebih Lanjut 3.8.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui persentase besar pengaruh model Make a Match yang dilihat dari peningkatan rerata dari pretest ke posttest I. Analisis perhitungan dilakukan dengan mengambil data rerata skor pretest dan posttest I pada uji normalitas distribusi data menggunakan Kolmogorov-Smirnov test. Besar persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dapat dihitung dengan rumus berikut (Gunawan, 2006: 575). (lihat Lampiran 4.9) = Persentase peningkatan = (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 1−𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑟𝑒𝑟𝑒𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 x 100% Gambar 3. 7 Rumus Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest 1 53

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Untuk mengetahui apakah peningkatan tersebut signifikan, digunakan paired samples t-test jika data terdistribusi normal atau menggunakan Wilcoxon signed rank jika data terdistribusi tidak normal. Uji statistik menggunakan IBM SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed). Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui peningkatan adalah sebagai berikut. 1. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima. Jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest 1. 2. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak. Jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang tidak signifikan dari pretest ke posttest I. Untuk mengetahui besar persentase dari selisih skor pretest-posttest I (gain score) dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut. Gain Score = 𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% Gambar 3. 8 Rumus Gain Score Frekuensi gain score yang diambil kurang lebih 50% dari skor tertinggi selisih pretest - posttest I kedua kelompok. Grafik poligon pada gain score menunjukkan perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 250-251). 3.8.2 Uji Besar Efek Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I Uji statistik ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa besar efek peningkatan dari pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol maupun 54

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok eksperimen. Rumus yang digunakan kurang lebih sama dengan rumus korelasi Pearson pada bagian sebelumnya dengan sedikit modifikasi. Jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 332). Gambar 3. 9 Rumus Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Distribusi Data Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS dengan Paired Samples t-test) df : derajat kebebasan (degree of freedom) yaitu (n-1). Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 550). Gambar 3. 10 Rumus Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Distribusi Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS dengan Wilcoxon signed rank test) N : 2 x jumlah responden dalam 1 kelompok yang sama Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentasi pengaruh = 𝑅2 𝑥 100% Gambar 3. 11 Rumus Persentase Besar Pengaruh 55

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.3 Uji Korelasi antara Rerata Pretest ke Posttest I Uji korelasi ini dilakukan untuk memeriksa apakah ada ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Terdapat regresi statistik jika korelasinya negatif dan signidikan. Tujuan uji korelasi untuk mengetahui apakah para siswa yang memperoleh skor tinggi pada pretest apakah juga memperoleh skor tertinggi pada posttest I, dan sebaliknya apakah siswa yang memperoleh skor rendah pada pretest juga memperoleh skor rendah pada posttest I. Uji korelasi dilakukan untuk memastikan sejauh mana validitas penelitian yang terkait karakteristik subjek dapat terkontrol dengan baik atau tidak. Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I dilakukan dengan menggunakan rumus bivariate correlation coefficients yaitu Pearson’s correlation coefficient apabila data terdistribusi dengan normal (Field, 2009: 177). Korelasi positif berarti: jika skor pretest tinggi, tinggi juga skor posttestnya; jika skor pretestnya rendah, rendah juga skor posttestnya. Korelasi negatif berarti: jika skor pretest tinggi, skor posttestnya rendah; dan jika skor pretest rendah, skor posttestnya tinggi. Kondisi dikatakan ideal jika korelasinya positif. Korelasi negatif merupakan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Signifikan berarti hasil korelasi tersebut bisa digeneralisasi pada populasi. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan hasil korelasi pretest-posttest I dengan P dan Q ( P = Q) Hi : Ada perbedaan hasil korelasi pretest-posttest I dengan P dan Q (P ≠ Q) Keterangan: P : jika harga p < 0,05 Q : jika r negatif Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut. a. Jika hasilnya P dan Q, Hnull diterima. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik. b. Jika hasilnya bukan P dan Q, Hnull ditolak. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. 56

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Untuk uji korelasi ini, data diambil dari skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.8.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan memiliki pengaruh yang masih kuat atau memiliki efek yang sama sesudah selang beberapa waktu dilakukan treatment. Uji retensi pengaruh perlakuan menggunakan data dari skor posttest I dan posttest II dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dalam banyak kasus, posstest I yang diberikan sesudah treatment kurang akurat menggambarkan perubahan yang sesungguhnya karena efek emosi positif (euforia) yang timbul terhadap treatment yang bisa jadi merupakan metode yang baru sama sekali belum pernah diterima oleh responden. Untuk itu dilakukan posttest II dengan rentang waktu seminggu sesudah posttest I sehingga jeda waktu cukup untuk menetralisasi efek emosi yang timbul dari responden. Teknik statistik yang digunakan IBM SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed) baik untuk kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Jika data distribusi normal digunakan Paired Samples t-test dan Wilcoxon jika data terdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Hi : Ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui apakah retensi perlakuan masih sekuat posttest I adalah sebagai berikut. c. Jika harga p < 0,05 dan rerata posttest I > rerata posttest II, Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya terdapat penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. d. Jika harga p > 0,05 dan rerata posttest I > rerata posttest II, Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak terdapat penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Untuk uji retensi pengaruh perlakuan, data diambil dari skor posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 57

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.9 Ancaman Terhadap Validitas Internal Setelah data diuji menggunakan statistik lalu diperoleh kesimpulan. Sebelum kesimpulan akhir ditarik, maka perlu periksa kembali, apakah ancaman terhadap validitas internal dapat dikendalikan dengan baik. Dalam penelitian kuantitatif sering dibedakan pengertian validitas internal dan validitas eksternal penelitian. Dalam merencanakan studi eksperimental atau dalam mengevaluasi hasil studi yang dilaporkan adalah kemungkinan ancaman terhadap validitas internal. Validitas internal mengacu pada pengertian apakah sebuah efek yang muncul pada variabel dependen itu sungguh disebabkan oleh variabel independen, dan bukan oleh faktor-faktor lain di luar variabel independen. Dengan kata lain memang ada hubungan sebab akibat antara variabel independen dan variabel dependen. Bisa jadi terdapat variabel lain di luar perlakuan yang turut mempengaruhi hasil penelitian sehingga memunculkan keraguan terhadap hubungan sebab-akibat yang ditarik dalam kesimpulan penelitian. Validitas internal penelitian bisa ditingkatkan dengan mengontrol faktorfaktor di luar variabel independen yang potensial ikut mempengaruhi variabel dependen. Faktor-faktor ini yang sering disebut sebagai ancaman terhadap validitas internal penelitian. Validitas eksternal mengacu pada tujuan penelitian yang nantinya dapat digeneralisasikan pada populasi yang lebih besar dengan subjek penelitian yang berbeda (population validity), setting penelitian yang berbeda (ecological validity), dan waktu penelitian yang berbeda (historical validity). Ancaman-ancaman terhadap validitas penelitian sudah diidentifikasi oleh Campbell dan Stanley (1963), Bracht dan Glass (1968), dan Lewis-Beck (1993). Ancaman terjadi lebih besar pada penelitian quasi-eksperimental dibandingkan eksperimental murni karena dalam eksperimental murni seleksi sampel dilakukan secara random dan lebih terkontrol. Berikut ini jenis-jenis ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. 1. Sejarah Setiap kejadian/perlakuan terhadap kelompok yang sedang diteliti yang terjadi di antara pretest dan posttest di luar treatment penelitian yang bisa mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 260, Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 155). 58

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pengaruh sejarah bisa terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama (beberapa bulan/tahun). Perubahan hasil yang terjadi pada salah satu kelompok dapat dipengaruhi oleh faktor di luar treatment misalnya acara TV, workshop, dan sebagainya. Apabila kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mengikuti acara tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang, sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal rendah. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Kejadian lain diluar treatment penelitian Pretest Posttest I Gambar 3. 12 Skema ancaman sejarah (history) 2. Difusi treatment atau kontaminasi (treatment diffusion or contamination) Difusi treatment terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diam-diam saling berkomunikasi dan sama-sama mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen. Solusinya adalah kedua kelompok betul-betul dipisahkan, berjanji untuk tidak melakukan komunikasi dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian adalah rendah sampai menengah (Neuman, 2013: 330). Pada penelitian ini, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen betul-betul dipisahkan saat kelompok eksperimen diberikan treatment. 3. Perilaku kompensatoris Ancaman ini terjadi jika kelompok kontrol mengetahui treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen dirasa sangat berharga (Neuman, 2013: 330). Karena merasa didevaluasi, kelompok kontrol bisa jadi 1) berusaha menandingi kelompok eksperimen dengan belajar ekstra keras atau 2) mengalami demoralisasi sehingga marah dan tidak kooperatif (Neuman, 2013: 330). Solusinya adalah kelompok kontrol diberi 59

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pengertian bahwa sesudah penelitian, mereka juga akan mendapatkan treatment yang sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 4. Maturasi (maturation) Setiap perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian bisa berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 261). Contoh dari kasus tersebut seperti perubahan yang terjadi karena kebosanan, rasa lapar, rasa haus, kelelahan, atau tambahan pengalaman belajar di luar penelitian. Ancaman akan semakin berbahaya, jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama atau dalam beberapa tahun. Maka untuk mengendalikan terhadap ancaman validitas internal berupa maturasi yaitu melaksanakan penelitian dalam rentang waktu singkat kurang lebih 2 minggu. Penelitian jenis eksperimental dilakukan dalam waktu yang relatif singkat untuk menghindari ancaman terhadap validitas internal penelitian akibat history, mortality, selection, dan maturation. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 5. Regresi statistik (statistical regression) Regresi statistik adalah kecenderungan responden memperoleh skor pretest tinggi biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah, jika skor pretest rendah biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Ancaman ini akan lebih besar terjadi jika ada siswa berkebutuhan khusus yaitu, slow learner dan talented. Pada pretest kelompok slow learner akan mendapat skor yang sangat rendah. Sesudah treatment, mereka akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Sementara yang talented biasanya langsung mendapat skor yang sangat tinggi pada pretest, tetapi turun pada posttest. Jika perubahan yang terjadi pada posttest dijadikan sebagai hasil treatment maka kesimpulan tersebut bisa diragukan karena efek regresi statistik. Hasilnya bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 60

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 263). Maka untuk mengantisipasi, perlu kecermatan dalam mengamati responden dengan skor pretest yang sangat tinggi atau sangat rendah dan membandingkannya dengan hasil posttest. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 6. Mortalistas (mortality) Mortalitas adalah perbedaan jumlah partisipan pada waktu pretest dan posttest akibat mengundurkan diri dalam penelitian sehingga tidak ikut posttest dapat berpengaruh terhadap validitas penelitian. Ancaman akan semakin berbahaya, jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama dalam beberapa bulan hingga tahun. Hasil posttest dari responden yang tersisa bisa berbeda jika dikerjakan oleh seluruh responden yang sama pada saat pretest. Maka solusinya adalah menggunakan skor rerata untuk siswa yang tidak berangkat. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 7. Pengujian (testing) Pengujian pada awal penelitian bisa mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tinggi daripada jika tanpa pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Dengan mengerjakan pretest, kelompok yang diteliti akan tahu apa yang ditargetkan dan sudah memiliki pengalaman awal sehingga jika akan dilakukan posttest akan lebih fokus. Sesudah mengerjakan pretest, siswa dapat menyadari kesalahan-kesalahan terdahulu dan mengantisipasi untuk mengerjakan posttest lebih baik lagi. Dengan demikian, skor posttest yang lebih tinggi belum tentu sepenuhnya disebabkan oleh treatment, jika penelitian hanya menggunakan satu kelompok eksperimen saja sehingga ancaman terhadap validitas internal akan lebih tinggi (Johnson & Christensen, 2008: 262). Maka solusi untuk mengurangi ancaman validitas internal tersebut adalah menggunakan kelompok kontrol yang sama-sama mengerjakan pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 61

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Instrumentasi (instrumentation) Setiap perubahan atau perbedaan instrumen pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman terhadap validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap hasil penelitian. Berikut kategori ancaman validitas internal berupa instrumentasi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). a. Instrumen yang digunakan untuk mengukur mengalami kerusakan. Solusinya yaitu dilakukan pemeriksaan instrumen sehingga kondisi instrumen saat posttest sama dengan saat pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah. b. Karakteristik alat pengumpul data yang digunakan berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau untuk pretest dan posttest. Solusinya karakteristik alat pengumpul data yang digunakan harus sama untuk kedua kelompok dan untuk pretest dan posttest. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah. c. Bias alat pengumpul data dapat terjadi terutama jika menggunakan teknik observasi. Observer dapat memiliki pandangan yang berbeda atau bias ketika mengamati kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tingkat kelelahan dapat saat observasi bisa berpengaruh juga. Solusinya yaitu melakukan pelatihan terhadap observer atau tidak diberi tahu mana kelompok kontrol dan mana kelompok eksperimen sehingga lebih objektif. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi. 9. Lokasi ( location) Ancaman validasi internal berupa lokasi dapat terjadi bila lokasi dilakukan pretest, posttest, dan treatment di tempat yang berbeda (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). Maka solusinya adalah menggunakan lokasi yang sama, hanya saja kelas yang digunakan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berbeda ruangan. Meskipun demikian, sarana dan prasarana kelas kurang lebih sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman 62

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terhadap validitas internal penelitian menengah sampai tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 10. Karakteristik Subjek (subject characteristics) Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian. Ancaman ini bisa dikelompokkan dalam dua bagian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). a. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mempengaruhi hasil posttest. Untuk mengendalikan ancaman ini, perlu adanya pemilihan sampel secara random. Apabila pengambilan sampel tidak dilakukan secara random, perlu dicek dengan pretest apakah kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang setara. Jika dalam pretest kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang tidak berbeda, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian ini termasuk kategori yang tinggi. b. Jumlah kelompok gender yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh terhadap posttest. Untuk mengendalikan ancaman ini, perlu dilakukan penyetaraan jumlah lakilaki dan perempuan pada kedua kelompok (matching). Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian ini adalah menengah. 11. Implementasi (implementation) Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada skor posttest karena berbedanya gaya mengajar (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). Maka solusinya adalah menggunakan guru yang sama ketika menerapkan pembelajaran di kedua kelompok. Pemilihan guru mitra telah disetujui oleh wali kelas baik dari kelas VA dan VB. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 63

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini memaparkan hasil penelitian dan hasil analisis data. Hasil penelitian berisi implementasi penelitian. Hasil analisis data berisi uji hipotesis penelitian I dan II yang meliputi analisis pengaruh perlakuan dan analisis lebih lanjut. Pada pembahasan diuraikan pengaruh perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis pada materi Pernapasan pada Hewan. 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Implementasi Pembelajaran Penelitian ini menggunakan 2 kelas sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen. Pemilihan kelas kontrol dan kelas eksperimen ditentukan oleh peneliti yang dilakukan secara acak dan disaksikan oleh guru mitra dan wali kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan tipe convenience sampling. Metode convenience sampling merupakan pengambilan sampel menggunakan kelas yang sudah tersedia karena keterbatasan administrasi untuk memilih secara acak (Best & Kahn, 2006: 18-19). Berdasarkan hasil pengundian, ditentukan kelas A sebagai kelas kontrol dan kelas B sebagai kelas eksperimen. Selanjutnya akan dideskripsikan populasi penelitian dan pembelajaran pada kedua kelompok. 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD dari salah satu sekolah swasta di Yogyakarta tahun 2018/2019. Populasi penelitian ini terdiri dari 73 siswa. Sampel penelitian ini adalah kelas V A dan kelas V B. Kelas V A sebagai kelas kontrol dan kelas V B sebagai kelas eksperimen. Sampel pertama adalah kelas VA sebagai kelas kontrol. Jumlah siswa dalam kelas kontrol yaitu 24 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Kelompok kontrol berasal dari berbagai latar belakang, sebagian besar berasal dari ekonomi menengah hingga menengah ke atas. Data menunjukkan pekerjaan orang tua siswa antara lain karyawan swasta, PNS, buruh, dosen, TNI, guru, dan dokter. Latar pendidikan orang tua siswa yaitu SMA, D3, 64

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI S1 dan S2. Pada pertemuan pertama, terdapat dua siswa tidak hadir, dan pada pertemuan kedua terdapat satu siswa yang tidak hadir. Ketika pretest, implementasi (treatment) dan posttest semua siswa hadir di dalam kelas. Sampel kedua adalah kelas VB sebagai kelas eksperimen. Jumlah siswa kelas VB adalah 24 siswa terdiri dari 12 laki-laki dan 12 perempuan. Siswa kelompok eksperimen berasal dari berbagai latar belakang, dari ekonomi menengah hingga menengah ke atas. Data menunjukkan pekerjaan orang tua siswa antara lain guru, PNS, dosen, Karyawan swasta, guru, dan wiraswasta. Latar pendidikan orang tua siswa yaitu SMA, D3, S1 dan S2. Saat pertemuan pertama terdapat satu siswa yang tidak hadir dan pada pertemuan keempat terdapat satu siswa yang tidak hadir. Ketika pelaksanaan pretest, perlakuan treatment dan posttest II semua siswa berada di kelas. 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran Penelitian diawali dengan pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest bertujuan untuk melihat kemampuan awal siswa pada kedua kelompok. Pretest dilaksanakan pada hari Senin, 03 September 2018. Siswa mengerjakan 6 soal uraian yang setiap nomer soalnya terdiri dari sub soal a, b, c yang dilakukan selama 2 jam pelajaran atau 2 x 35 menit dengan pendampingan guru mitra. Sebelum mengerjakan, guru memberitahu prosedur pengerjaan soal dan mengarahkan siswa untuk mengerjakan soal. Siswa dapat menanyakan soal yang kurang dipahami. Peneliti dalam hal ini berperan sebagai pengamat sehingga tidak sedikit pun mengambil peran dalam kegiatan pretest. Peran peneliti dalam hal ini adalah menyiapkan bahan dan alat sebelum pelaksanaan pembelajaran dan mendokumentasikan kegiatan pembelajaran. Berikut deskripsi implementasi kegiatan pembelajaran pada kelompok eksperimen dan kontrol. 1. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Kontrol Pelaksanaan pembelajaran pada kelompok kontrol menggunakan metode ceramah dan tetap berpedoman dengan Kurikulum 2013. Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembelajaran pada setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Pembelajaran dilaksanakan dalam empat kali pertemuan yang di 65

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI setiap minggunya dengan sub materi yang berbeda yang disampaikan oleh guru mitra. Materi pokok yang dipelajari adalah Sistem Pernapasan pada Hewan. Pembelajaran dilaksanakan selama empat kali pertemuan dengan fokus kemampuan yang sama di setiap pertemuannya. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 05 September 2018 pada pukul 09.25-10.35 WIB. dengan materi pokok yaitu pengertian pernapasan pada hewan secara umum, pengenalan organ pernapasan pada hewan dan fungsi pernapasan pada hewan secara umum. Pembelajaran berlangsung selama 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan pembelajaran dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, isi dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan guru melakukan tanya jawab mengenai pernapasan hewan beserta organnya (apersepsi), kemudian guru mengajak siswa untuk melakukan tepuk semangat (motivasi) dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada hari itu (orientasi). Kegiatan inti, siswa mendengarkan penjelasan mengenai materi pengertian pernapasan secara umum dan fungsi organ pernapasan pada hewan. Kemudian peserta didik mengerjakan LKS. Pada kegiatan akhir, siswa diajak untuk menarik kesimpulan mengenai materi yang disampaikan pada hari itu (kesimpulan), siswa mengerjakan soal evaluasi dan melakukan refleksi, siswa dan mendapat umpan balik dari guru. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Jumat, 07 September 2018 pada pukul 09.25-10.35 WIB. Materi pokok yang disampaikan pada pertemuan kedua ini adalah macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan cacing (Vermes), serangga (Insecta),dan ikan (Pisces) yang dilaksanakan dengan waktu 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan diawali dengan tanya jawab mengenai hewan-hewan apa saja yang termasuk dalam hewan cacing (Vermes), serangga (Insecta), dan ikan (Pisces) (apersepsi). Siswa diajak untuk melakukan tepuk semangat (motivasi), dan guru menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Pada kegiatan inti siswa mendengarkan penjelasan mengenai sistem organ pernapasan pada hewan cacing (Vermes), serangga (Insecta),dan ikan (Pisces) serta fungsinya. Kemudian siswa mengerjakan LKS. Kegiatan akhir, siswa diajak untuk menyimpulkan materi pembelajaran pada hari itu, kemudian mengerjakan soal evaluasi dan mengisi lembar refleksi. Kemudian siswa diberi tugas rumah. 66

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pertemuan ketiga berlangsung pada hari Selasa, 11 September 2018 pada pukul 09.25-10.35 WIB. Materi pokok yang dipelajari yaitu macam-macam organ dan pernapasan pada hewan katak (Amphibi), Reptil burung (Aves), dan Mamalia, dengan waktu 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan diawali dengan tanya jawab seputar siklus hidup katak, bagaimana cara katak bernapas. Kemudian guru menjelaskan tentang sistem pernapasan pada hewan katak (Amphibi), Reptil burung (Aves), dan Mamalia. Siswa menyimak penjelasan dari guru kemudian mencatat hal-hal penting yang disampaikan guru. Kemudian siswa mengerjakan LKS yang diberikan. Pembelajaran ditutup dengan memberikan kesimpulan dari materi dan memberikan tindak lanjut kepada siswa. Pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Kamis, 13 September 2018, pada pukul 09.25-10.35 WIB dengan materi mengulas kembali tentang sistem pernapasan pada hewan secara keseluruhan dan tindakan yang dapat menganggu sistem pernapasan pada hewan yang berlangsung selama 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan diawali dengan apersepsi oleh guru. Siswa diajak untuk bertanya jawab tentang sistem pernapasan pada hewan secara keseluruhan. Kegiatan inti dilaksanakan dengan memberikan penjelasan kepada siswa tentang sistem pernapasan hewan secara keseluruhan dan tindakan yang dapat mengganggu sistem pernapasan hewan. Kemudian siswa mengerjakan LKS. Penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang dipelajari pada pertemuan tersebut dan memberikan umpan balik kepada siswa. Pada hari Senin 17 September 2018, siswa kelompok kontrol mengerjakan soal posttest I. Tujuan diberikan posttest I adalah untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran dengan metode ceramah pada materi Pernapasan pada Hewan. Posttest II diberikan pada hari Selasa, 25 September 2018. Posttest II diadakan tujuh hari setelah diadakan posttest I, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui kembali pemahaman siswa dalam selang waktu tujuh hari setelah menerima pembelajaran dengan metode ceramah. Soal yang dikerjakan pada posttest I dan posttest II sama seperti soal pretest, yaitu 6 soal essay. 67

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Eksperimen Pembelajaran kelompok eksperimen menggunakan treatment atau perlakuan, yaitu dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Pelaksanaan pembelajaran berpedoman pada Kurikulum 2013. Waktu pelaksanaan pembelajaran pada setiap pertemuan adalah 2 x 5 menit atau dua jam pelajaran. Pembelajaran dilakukan selama empat kali pertemuan dengan kemampuan yang diajarkan pada setiap pertemuan adalah sama, yaitu kemampuan mengmenginterpretasi, kemampuan menganalisis, kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan, kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri. Materi yang disampaikan di setiap pertemuan berbeda. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas. Pelaksanaan pembelajaran pada kelompok eksperimen dilakukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang meliputi tiga kegiatan yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan berisi salam, doa, apersepsi, orientasi, dan motivasi. Kegiatan inti berisi tujuh langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yaitu menyiapkan kartu, pembagian kartu, memikirkan soal dan jawaban, mencari pasangan, pemberian nilai, pengulangan permainan dan pemberian penghargaan. Kegiatan penutup berisi kesimpulan, evaluasi, refleksi, tindak lanjut, doa, dan salam penutup. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin, 03 September 2018 pada pukul 07.20-08.30 WIB. Materi yang dipelajari yaitu tentang pengertian pernapasan pada hewan secara umum, pengenalan organ pernapasan pada hewan dan fungsi pernapasan pada hewan secara umum. Pada kegiatan awal, guru melakukan tanya jawab dengan siswa terkait dengan pernapasan hewan beserta organnya (apersepsi) kemudian dilanjutkan dengan permainan sederhana “Siapa Aku?” (motivasi), dan menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Sebelum melaksanakan kegiatan inti, siswa diajak untuk melihat video tentang “Atraksi Lumba-Lumba” dan kemudian diberikan LKS terkait video yang sudah dilihat. Kemudian guru memberikan sedikit penjelasan materi. Kemudian guru menjelaskan peraturan permainan kartu Make a Match yang akan dilakukan dalam 2 kelompok. Langkah I dalam pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah tahap menyiapkan kartu, yaitu guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi 68

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konsep atau topik (kartu soal dan kartu jawaban) yang akan digunakan dalam permainan “Mencari Pasangan”. Sembari guru mempersiapkan kartu, siswa belajar kembali materi yang telah disampaikan guru. Langkah II dalam model pembelajaran Make a Match adalah tahap pembagian kartu. Siswa dibagi menjadi dua kelompok secara heterogen, yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban. Dalam hal ini guru adalah sebagai penilai. Langkah III dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap memikirkan soal dan jawaban. Siswa diberi waktu selama satu menit untuk memikirkan kartu pasangan yang relevan dengan kartu yang dipegang. Langkah IV dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap mencari pasangan. Siswa mencari pasangan dari kartu yang cocok dengan kartu yang dipegangnya (kartu soal/kartu jawaban). Siswa yang sudah mendapat pasangan melapor pada penilai. Tugas dari penilai adalah mengecek dan membacakan kedua kartu tersebut apakah sudah cocok atau belum. Langkah V dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap pemberian nilai. Siswa yang sudah mendapatkan pasangan kartu dan melaporkan kepada penilai dengan cepat dan tepat akan mendapatkan skor lebih dulu. Langkah VI adalah pengulangan permainan. Pengulangan permainan ini dilakukan dengan cara penukaran dari 2 kelompok. Kelompok pemegang kartu soal menjadi kelompok pemegang kartu jawaban, dan sebaliknya. Kemudian permainan diulang dari awal. Langkah VII dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap pemberian penghargaan. Siswa yang diberi reward dalam hal ini adalah 2 pasangan tercepat yang berhasil memasangkan kartu soal dan kartu jawaban dan benar dalam memasangkannnya. Pada kegiatan penutup, siswa bersama guru menyimpulkan dari pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan tersebut, kemudian guru memberikan penguatan dan melakukan refleksi dari pembelajaran yang telah berlangsung. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 05 September 2018 pada pukul 07.20-08.30 WIB. Materi yang dipelajari pada pertemuan ini adalah macam-macam organ dan sistem pernapasan pada hewan (Vermes, Insecta, Pisces). Pada kegiatan awal siswa diajak untuk melakukan tanya jawab mengenai organ pernapasan pada hewan (apersepsi) kemudian melakukan permainan 69

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sederhana “Bola Api” (motivasi) dan menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Pada kegiatan inti, siswa diajak untuk melihat dan mengamati ikan yang diletakkan pada dua tempat yang memiliki volume air yang berbeda. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui akibat dari perlakuan pemberian volume air dalam dua ukuran wadah yang berbeda terhadap pernapasan pada ikan. Kemudian siswa diberikan LKS. Guru memberikan sedikit penjelasan materi. Kemudian guru menjelaskan peraturan permainan kartu Make a Match yang akan dilakukan dalam 2 kelompok dengan materi yang disesuaikan pada pertemuan tersebut. Langkah I dalam pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah tahap menyiapkan kartu, yaitu guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep atau topik (kartu soal dan kartu jawaban) yang akan digunakan dalam permainan “Mencari Pasangan”. Sembari guru mempersiapkan kartu, siswa belajar kembali materi yang telah disampaikan guru. Langkah II dalam model pembelajaran Make a Match adalah tahap pembagian kartu. Siswa dibagi menjadi dua kelompok secara heterogen, yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban. Dalam hal ini guru adalah sebagai penilai. Langkah III dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap memikirkan soal dan jawaban. Siswa diberi waktu selama satu menit untuk memikirkan kartu pasangan yang relevan dengan kartu yang dipegang. Langkah IV dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap mencari pasangan. Siswa mencari pasangan dari kartu yang cocok dengan kartu yang dipegangnya (kartu soal/kartu jawaban). Siswa yang sudah mendapat pasangan melapor pada penilai. Tugas dari penilai adalah mengecek dan membacakan kedua kartu tersebut apakah sudah cocok atau belum. Langkah V dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap pemberian nilai. Siswa yang sudah mendapatkan pasangan kartu dan melaporkan kepada penilai dengan cepat dan tepat akan mendapatkan skor lebih dulu. Langkah VI adalah pengulangan permainan. Pengulangan permainan ini dilakukan dengan cara penukaran dari 2 kelompok. Kelompok pemegang kartu soal menjadi kelompok pemegang kartu jawaban, dan sebaliknya. Kemudian permainan diulang dari awal. Langkah VII dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap pemberian penghargaan. Siswa yang diberi reward dalam hal ini 70

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adalah 2 pasangan tercepat yang berhasil memasangkan kartu soal dan kartu jawaban dan benar dalam memasangkannnya. Pada kegiatan penutup, siswa bersama guru menyimpulkan dari pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan tersebut, kemudian guru memberikan penguatan dan melakukan refleksi dari pembelajaran yang telah berlangsung. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Jumat, 07 September 2018 pada pukul 07.20-08.30 WIB. Materi pokok macam-macam organ dan pernapasan pada hewan (Amphibi, Reptil, Aves, dan Mamalia ) dengan waktu 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan awal dilakukan dengan aktivitas tanya jawab mengenai pernapasan hewan beserta organnya untuk mengingat pelajaran kemarin (apersepsi). Kemudian siswa diajak melakukan permainan sederhana (motivasi), dan guru menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Pada kegiatan inti, siswa diajak untuk melihat video tentang katak dan tempat hidupnya. Siswa diberikan LKS. Kemudian guru menjelaskan sedikit tentang materi pembelajaran. Kemudian guru menjelaskan peraturan permainan kartu Make a Match yang materinya disesuaikan dengan materi yang diterima pada pertemuan tersebut. Langkah I dalam pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah tahap menyiapkan kartu, yaitu guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep atau topik (kartu soal dan kartu jawaban) yang akan digunakan dalam permainan “Mencari Pasangan”. Sembari guru mempersiapkan kartu, siswa belajar kembali materi yang telah disampaikan guru. Langkah II dalam model pembelajaran Make a Match adalah tahap pembagian kartu. Siswa dibagi menjadi dua kelompok secara heterogen, yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban. Dalam hal ini guru adalah sebagai penilai. Langkah III dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap memikirkan soal dan jawaban. Siswa diberi waktu selama satu menit untuk memikirkan kartu pasangan yang relevan dengan kartu yang dipegang. Langkah IV dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap mencari pasangan. Siswa mencari pasangan dari kartu yang cocok dengan kartu yang dipegangnya (kartu soal/kartu jawaban). Siswa yang sudah mendapat pasangan melapor pada penilai. Tugas dari penilai adalah mengecek dan membacakan kedua kartu tersebut apakah sudah cocok atau belum. Langkah V dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap pemberian nilai. Siswa yang sudah mendapatkan pasangan kartu dan 71

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melaporkan kepada penilai dengan cepat dan tepat akan mendapatkan skor lebih dulu. Langkah VI adalah pengulangan permainan. Pengulangan permainan ini dilakukan dengan cara penukaran dari 2 kelompok. Kelompok pemegang kartu soal menjadi kelompok pemegang kartu jawaban, dan sebaliknya. Kemudian permainan diulang dari awal. Langkah VII dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap pemberian penghargaan. Siswa yang diberi reward dalam hal ini adalah 2 pasangan tercepat yang berhasil memasangkan kartu soal dan kartu jawaban dan benar dalam memasangkannnya. Pada kegiatan penutup, siswa bersama guru menyimpulkan dari pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan tersebut, kemudian guru memberikan penguatan dan melakukan refleksi dari pembelajaran yang telah berlangsung. Pertemuan keempat, dilaksanakan pada hari Kamis, 13 September 2018 pada pukul 07.20-08.30 WIB dengan materi mengulas kembali tentang sistem pernapasan pada hewan secara keseluruhan dan tindakan yang dapat menganggu sistem pernapasan pada hewan yang berlangsung selama 2 x 35 menit (2 jam pelajaran). Pada kegiatan awal siswa diajak untuk bertanya jawab tentang sistem pernapasan hewan untuk mengingat kembali pembelajaran sebelumnya (apersepsi) kemudian siswa diajak untuk melakukan permainan sederhana dan guru menyampaikan tujuan pembelajaran (orientasi). Pada kegiatan inti siswa diajak untuk menyaksikan video tentang katak dan katak dan tempat hidupnya. Kemudian siswa mengerjakan LKS. Guru memberikan sedikit penjelasan materi. Kemudian guru menjelaskan peraturan permainan kartu Make a Match yang akan dilakukan dalam 2 kelompok dengan materi yang disesuaikan pada pertemuan tersebut. Langkah I dalam pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah tahap menyiapkan kartu, yaitu guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep atau topik (kartu soal dan kartu jawaban) yang akan digunakan dalam permainan “Mencari Pasangan”. Sembari guru mempersiapkan kartu, siswa belajar kembali materi yang telah disampaikan guru. Langkah II dalam model pembelajaran Make a Match adalah tahap pembagian kartu. Siswa dibagi menjadi dua kelompok secara heterogen, yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban. Dalam hal ini guru 72

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adalah sebagai penilai. Langkah III dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap memikirkan soal dan jawaban. Siswa diberi waktu selama satu menit untuk memikirkan kartu pasangan yang relevan dengan kartu yang dipegang. Langkah IV dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap mencari pasangan. Siswa mencari pasangan dari kartu yang cocok dengan kartu yang dipegangnya (kartu soal/kartu jawaban). Siswa yang sudah mendapat pasangan melapor pada penilai. Tugas dari penilai adalah mengecek dan membacakan kedua kartu tersebut apakah sudah cocok atau belum. Langkah V dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap pemberian nilai. Siswa yang sudah mendapatkan pasangan kartu dan melaporkan kepada penilai dengan cepat dan tepat akan mendapatkan skor lebih dulu. Langkah VI adalah pengulangan permainan. Pengulangan permainan ini dilakukan dengan cara penukaran dari 2 kelompok. Kelompok pemegang kartu soal menjadi kelompok pemegang kartu jawaban, dan sebaliknya. Kemudian permainan diulang dari awal. Langkah VII dalam model pembelajaran kooperatif adalah tahap pemberian penghargaan. Siswa yang diberi reward dalam hal ini adalah 2 pasangan tercepat yang berhasil memasangkan kartu soal dan kartu jawaban dan benar dalam memasangkannnya. Pada kegiatan penutup, siswa bersama guru menyimpulkan dari pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan tersebut, kemudian guru memberikan penguatan dan melakukan refleksi dari pembelajaran yang telah berlangsung. Pada hari Senin, 17 September 2018, siswa pada kelompok eksperimen mengerjakan soal posttest I. Posttest I bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif learning tipe Make a Match. Pada hari Kamis, 27 September 2018, tepatnya 10 hari setelah posttest I, siswa diberikan posttest II yang bertujuan untuk mengetahui kembali pemahaman siswa selama beberapa hari setelah menerima pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Soal untuk posttest I dan posttest II yang dikerjakan oleh siswa sama seperti soal pretest. 73

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data Pada deskripsi sebaran data, peneliti memperlihatkan perbedaan data yang diperoleh pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk setiap indikator. 4.1.2.1 Kemampuan Menginterpretasi Hasil dari sebaran data pada kemampuan Menginterpretasi dapat dilihat pada tabel berikut. 1. Kelompok Kontrol No Tabel 4. 1 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Menginterpretasi Indikator Skor Pretest Skor Posttest I 1 1 2 3 Mengelompokkan hewan di kebun binatang tersebut berdasarkan alat pernapasannya Menjelaskan fungsi trakea pada serangga Menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ pernapasan dan proses pernapasannya Jumlah Frekuensi 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total 3 4 13 4 24 3 6 6 9 24 6 12 6 - 24 2 12 6 4 24 14 7 3 - 24 7 9 5 3 24 23 23 22 4 72 12 27 17 16 72 Tabel 4.1 menunjukkan hasil pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator dari kemampuan menginterpretasi, siswa yang mendapatkan skor 1 sebanyak 23 anak, siswa yang mendapat skor 2 sebanyak 23 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 22 anak dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 4 anak. Skor yang sering muncul dari hasil pretest 24 siswa tersebut yaitu skor 1 dan skor 2 yaitu sebayak 23 siswa. Hasil posttest I pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator dari kemampuan menginterpretasi yaitu sebanyak 12 siswa mendapat skor 1, siswa yang mendapat skor 2 sebanyak 27 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 17 anak dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 16 anak. Skor yang sering muncul dari hasil posttest I yaitu skor 2 yaitu sebanyak 27 74

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI anak. Skor yang mengalami peningkatan dari hasil pretest ke posttest I adalah skor 2 dan skor 4, sedangkan skor 1 dan skor 3 mengalami penurunan. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4. 2 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Menginterpretasi No 1 2 3 Skor Pretest Indikator 1 Mengelompokkan hewan di kebun binatang tersebut berdasarkan alat pernapasannya Menjelaskan fungsi trakea pada serangga Menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ pernapasan dan proses pernapasannya Jumlah Frekuensi 2 3 Skor Posttest I 4 Total 1 2 3 4 Total - 8 9 7 24 - - 5 19 24 3 10 10 1 24 1 4 7 12 24 8 10 6 - 24 4 8 2 10 24 11 28 25 8 72 5 12 14 41 72 Berdasarkan tabel 4.2 di atas, terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan menginterpretasi, siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 11 anak, siswa yang mendapat skor 2 sebanyak 28 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 25 anak dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 8 anak. Skor yang sering muncul dari 24 siswa yang mengerjakan skor pretest yaitu skor 2 sebanyak 28 anak. Skor yang paling sedikit yaitu pada skor 4 sebanyak 8 anak. Hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan menginterpretasi, siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 5 anak, siswa yang mendapat skor 2 sebanyak 12 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 14 dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 41 anak. Skor yang paling banyak muncul dari hasil posttest I yang dikerjakan 24 siswa adalah skor 4 yaitu sebanyak 41 anak. Dari hasil posttest I diketahui skor 1, 2, dan 3 mengalami penurunan sedangkan skor 4 mengalami peningkatan jumlah siswanya. 75

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2.2 Kemampuan Menganalisis Hasil dari sebaran data pada kemampuan menganalisis dapat dilihat pada tabel berikut. 1. Kelompok Kontrol Tabel 4. 3 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Menganalisis No 1 2 3 Skor Pretest Indikator Menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung Menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air Menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak mengganggu sistem parnapasannya Jumlah Frekuensi 1 2 3 Skor Posttest I 4 Total 1 2 3 4 Total 12 7 4 1 24 2 6 6 10 24 12 11 1 - 24 4 7 5 8 24 8 10 6 - 24 3 10 8 3 24 9 23 19 32 28 11 1 72 21 72 Tabel 4.3 menunjukkan hasil pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator dari kemampuan menganalisis, siswa yang mendapatkan skor 1 sebanyak 32 anak, siswa yang mendapat skor 2 sebanyak 28 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 11 anak dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 1 anak. Skor yang sering muncul dari hasil pretest 24 siswa tersebut yaitu skor 1 yaitu sebayak 32 siswa. Hasil posttest I pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator dari kemampuan Analisis yaitu sebanyak 9 siswa mendapat skor 1, siswa yang mendapat skor 2 sebanyak 23 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 19 anak dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 21 anak. Skor yang sering muncul dari hasil posttest I yaitu skor 2 yaitu sebanyak 23 anak. Skor yang mengalami peningkatan dari hasil pretest ke posttest I adalah skor 3 dan skor 4, sedangkan skor 1 dan skor 2 mengalami penurunan. 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4. 4 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Menganalisis No 1 2 3 Indikator Menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung Menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air Menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak mengganggu sistem parnapasannya Jumlah Frekuensi Skor Pretest 1 2 13 2 11 3 Skor Posttest I 4 Total 1 2 3 4 Total 2 7 24 - 2 7 15 24 9 3 1 24 2 7 12 3 24 10 7 5 2 24 4 5 10 5 24 34 18 10 10 72 6 14 29 23 72 Berdasarkan tabel 4.4 di atas, terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan menganalisis, siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 34 anak, siswa yang mendapat skor 2 sebanyak 18 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 10 anak dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 10 anak. Skor yang sering muncul dari 24 siswa yang mengerjakan skor pretest yaitu skor 1 sebanyak 34 anak. Skor yang paling sedikit dan sama banyak yaitu pada skor 3 dan skor 4 yaitu 10 anak untuk setiap indikatornya. Hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan menganalisis, siswa yang mendapat skor 1 sebanyak 6 anak, siswa yang mendapat skor 2 sebanyak 14 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 29 anak dan siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 23 anak. Skor yang paling banyak muncul dari hasil posttest I yang dikerjakan 24 siswa adalah skor 3 yaitu sebanyak 29 anak. Dari hasil posttest I diketahui skor 1 dan 2 mengalami penurunan sedangkan skor 3 dan 4 mengalami peningkatan jumlah siswanya. 77

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3 Hasil Uji Hipotesis Penelitian I Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe I Make a Match berpengaruh terhadap kemampuana menginterpretasi pada materi Pernapasan pada Hewan siswa kelas V SD salah satu sekolah swasta di Yogyakarta semester Gasal tahun ajaran 2018/2019. Variabel dependen pada hipotesis di atas adalah kemampuan menginterpretasi, sedangkan variabel independen yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen terdiri dari 2 soal uraian yaitu item 1 yang mengandung indikator mengelompokkan hewan di kebun binatang tersebut berdasarkan alat pernapasannya, menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ pernapasan dan proses pernapasannya, dan menjelaskan fungsi trakea pada serangga. Hasil analisis statistik keseluruhan dihitung dengan menggunakan program statistik yaitu IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) Uji normalitas distribusi data untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data. Hasil distribusi data menentukan analisis statistik parametrik atau non-parametrik tahap selanjutnya, 2) Uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal terhadap kemampuan menginterpretasi pada kedua kelompok, 3) Uji signifikansi pengaruh perlakuan dan, 4) Uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari a) Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, b) Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, c) Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan d) Uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan menginterpretasi. Data yang diuji adalah skor pretest kedua kelompok. Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji normalitas distribusi data homogenitas varian menggunakan Levene’s test. 78

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak, hal ini sebagai syarat digunakannya analisis parametrik (Priyatno, 2012: 132). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Data diuji menggunakan One Samples Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan adalah data dari seluruh skor pretest dari kedua kelompok. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345) (Lampiran 4.3). Tabel 4. 5 Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest Kelompok p Keputusan 0,76 Kontrol Normal 0,161 Eksperimen Normal Hasil analisis menunjukkan harga p = 0,76, 0,061 (p > 0,05) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan demikian, H null diterima artinya data berdistribusi normal. Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 326) b. Uji Homogenitas Varian Data Uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian dari kedua kelompok yang dibandingkan ( Field, 2009: 340). Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan mengmenginterpretasi dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4). Tabel 4. 6 Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest kemampuan Menginterpretasi Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test 0,017 1 46 0,896 Homogen Tabel 4.6 menunjukkan harga F (1, 46) = 0,017 dan p = 0,896 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika terdapat homogentitas varians, data uji statistik yang 79

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan adalah Independent samples t-test. Data yang diambil adalah data pada baris pertama dalam analisis output IBM SPSS Statistics 22 for Windows (Field, 2009: 340). 2. Uji Statistik Setelah dilakukan uji homogenitas varian, dilakukan uji statistik untuk melihat ada tidaknya perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Jika data homogen, maka data yang digunakan adalah Equal Variences Assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 maka ada perbedaan kemampuan awal pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 50) . Berikut hasil uji statistik perbedaan kemampuan awal (lihat Lampiran 4.5). Tabel 4. 7 Uji Statistik Perbedaan Kemampuan Awal pada kemampuan Menginterpretasi Uji Statistik p Keterangan Independent samples t-test 0,64 Tidak ada perbedaan Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rerata skor pretest kelompok eksperimen (M = 2,3471; SE = 0,09308) lebih tinggi dari pada skor pretest pada kelompok kontrol (M = 2,0979; SE = 0,09289). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(46)= -1,895; p = 0,64 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kedua kelompok. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok yang dibandingkan, atau kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang sama. 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk melihat dan mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan mengmenginterpretasi, dengan melihat rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan menggunakan rumus : (O2-O1) – ( O4-O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada pengaruh. Jika perbedaannya signifikan, maka ada pengaruh. Berikut perhitungannya : (3,26 – 80

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 0.34) – (2,51 – 2,09) = 0,92 – 0,42 = 0,5. Hasil dari perhitungan diperoleh angka 0,5 atau lebih besar dari 0 yang artinya ada pengaruh perlakuan. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi. Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak, maka dilakukan uji statistik. Sebelum uji statistik dilakukan, uji normalitas distribusi data menggunakan One Samples Kolmogorov-Smirnov test, kemudian dilakukan dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test karena data berdistribusi normal. Data yang digunakan adalah data pada baris pertama dari output SPSS Independent Samples t-test dengan keterangan Equal Variances Assumed. 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak, hal ini sebagai syarat digunakannya analisis parametrik (Priyatno, 2012: 132). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan adalah data dari rerata selisih skor posttest I – pretest dari kedua kelompok. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345) (Lampiran 4.3). Tabel 4. 8 Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I Kelompok p Keputusan Kontrol 0,200 Normal Eksperimen 0,200 Normal Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p = 0,200 dan 0,200 (p > 0,05) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan demikian, H null artinya data rerata selisih skor pretest – posttest I berdistribusi normal. Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent Samples ttest untuk kelompok yang (Field, 2009: 326). 81

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Uji Homogenitas Varian Data Uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian dari kedua kelompok yang dibandingkan ( Field, 2009: 340). Hasil uji homogenitas varian untuk selisih skor pretest- posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan mengmenginterpretasi dapat dilihat dalam taibel berikut (lihat Lampiran 4.6). Tabel 4. 9 Uji Homogenitas Varian Rerata Selisih Skor Pretest- Posttest I Kemampuan Menginterpretasi Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test 0,311 1 46 0.580 Homogen Berdasarkan tabel 4.9, diketahui bahwa F (1,46) = 0,311 dan p = 0,580 (p > 0,05) maka Hnull diterima, artinya terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika terdapat homogentitas varians, data uji statistik yang digunakan adalah Independent samples t-test. Data yang diambil adalah data pada baris pertama dalam analisis output IBM SPSS Statistics 22 for Windows (Field, 2009: 340). 2. Uji Statistik Setelah dilakukan uji homogenitas varian, dilakukan uji statistik untuk melihat ada tidaknya pengaruh perlakuan kedua kelompok setelah diberi treatment. Jika data homogen, maka data dihitung menggunakan Independence Samples t-test dan data yang digunakan yang digunakan adalah Equal Variences Assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 150). Berikut hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan (Lampiran 4.7). Tabel 4. 10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Statistik p Keterangan Independent samples t-test 0.32 Signifikan 82

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata selisih skor posttest I dan pretest pada kelompok eksperimen (M = 0,9162; SE = 0,14235) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,4579; SE = 0,15133). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(46)= -2,206; p = 0,32 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya, ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kedua kelompok. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh pada kemampuan mengmenginterpretasi. Berikut grafik peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kedua kelompok. 3.2638 3.5 3 Mean 2.5 2.3471 2.5133 2 1.5 2.0979 1 0.5 0 Pretest Kontrol Posttest 1 Eksperimen Gambar 4. 1 Grafik Rerata Skor Pretest dan Posttest I Grafik tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan selisih skor antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Skor pretest pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan skor kelompok kontrol. Perolehan skor posttest I pada kelompok eksperimen pun lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan skor pada kelompok kontrol. Dengan kata lain, skor pretest-posttest I pada kelompok eksperimen selalu lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol baik sebelum maupun sesudah treatment. Mean pada kelompok kontrol sebesar 0,4579, sedangkan mean kelompok eksperimen 0,9162. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest- posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 83

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4. 2 Diagram Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi. Kriteria untuk menentukan besar efek dapat dilihat pada bab III (halaman 20). peneliti menghitung koefisien determinasi (R2) dengan dikuadratkan harga r kemudian dikalikan dengan 100% (Field, 2009: 179). Data yang digunakan untuk untuk menghitung besar pengaruh perlakuan adalah selisih skor pretest–posttest I pada kedua kelompok. Data diuji menggunakan Independent Samples t-test karena data berdistribusi normal (Field, 2009: 345). Berikut hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan menginterpretasi (lihat Lampiran 4.8). Variabel Menginterpretasi Tabel 4. 11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan t t2 df r (effect size) R2 % -2,206 4,867 46 0,31 0,096 9,61 Kategori efek Menengah Hasil analisis menunjukkan besar r = 0,31 setara dengan 9,6%. Menurut Field (2009: 57) r= 0,31 masuk dalam kategori efek menengah, sedangkan menurut Fraenkel, Wallen, dan Hyun (2012: 14) r= 0,31 masuk kategori efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoretis untuk membuat predisksi. 84

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan pada rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan menginterpretasi. Data yang digunakan yaitu skor pretest dan posttest I yang diambil dari data rerata skor pretest dan posttest I pada uji normalitas distribusi data yang menggunakan Kolmogorov-Smirnov test. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih rerata pretest–posttest I dengan rerata pretest, selanjutnya dikalikan 100%. Hasil uji normalitas selisih skor pretest dan posttest I kemampuan menginterpretasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4. 12 Hasil Uji Normalitas Distribusi Dara Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Aspek p Keputusan Pretest 0,076 Normal Kontrol Posttest I 0,072 Normal Pretest 0,161 Normal Eksperimen Posttest I 0,200 Normal Tabel 4.12 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada data pretest dan posttest I pada kedua kelompok. Dengan demikian, uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan dengan uji Paired Samples t-test karena data berdistribusi normal. Berikut ini hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.9.2). No Kelompok 1 2 Tabel 4. 13 Peningkatan rerata Pretest ke Posttest I Rerata Peningkatan Uji Pretest Posttest I (%) statistik Kontrol 2,097 2,513 20 Eksperimen 2,347 3,263 39 Paired Samples t-test p Keterangan 0,020 Signifikan 0,000 Signifikan Tabel 4.13 menunjukkan bahwa rerata pretest pada kelompok kontrol sebesar 2,097 dan rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 2,347 serta rerata posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,513 dan rerata skor posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 3,263. Hasil perhitungan persentase 85

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 20% sedangkan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 39%. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan menginterpretasi. Hasil uji signifikansi pada kelompok kontrol menunjukkan harga p = 0,020 (p < 0,05), sedangkan hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memperoleh hasil harga p= 0,000 (p < 0,05). Kedua kelompok sama-sama memiliki p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menginterpretasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan metode ceramah meningkatkan kemampuan menginterpretasi pada kelompok kontrol dan eksperimen. 3.2638 3.5 3 Rerata 2.5 2.5133 2.3471 2.0979 2 1.5 1 0.5 0 Kel. Kontrol Pretest Kel. Eksperimen Posttest I Gambar 4. 3 Grafik Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol lebih rendah dibandingkan dengan kelompok eksperimen yaitu 20%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 39%. Hasil tersebut diperjelas pada gambar 4.3 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut adalah grafik yang menunjukkan frekuensi selisih pretest-posttest I (gain score) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.9.3). 86

(104) Frekuensi PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 6 5 4 3 2 1 0 6 5 5 3 1 2 1 -0.33 -0.67 3 0 -1 2 3 3 2 0 1.33 1.67 2 4 1 1 3 3 0 0 0.33 0.67 1 Gain Score Kontrol Eksperimen Gambar 4. 4 Grafik Gain Score Kemampuan Menginterpretasi Berdasarkan grafik di atas menunjukkan, gain terendah pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sebesar -0,33. Gain terttingggi dari kelompok kontrol yaitu 1,67 dan kelompok eksperimen sebesar 2,00. Nilai tengah gain score diperoleh dari 50% dari skor tertinggi. Gain score diperoleh 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh nilai ≥ 0,33 pada kelompok kontrol ada 15 anak, dan pada kelompok eksperimen ada 22 anak. Besar persentase gain score ≥ 0,33 pada kelompok kontrol yaitu 62,5% sedangkan kelompok eksperimen 91,7%. Hal tersebut menunjukkan bahwa 91,7% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, sedangkan 62,5% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki persentase lebih tinggi daripada persentase daripada penerapan metode ceramah. 2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I. Uji ini dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Pearson karena kedua data kelompok berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p <0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.10). 87

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 14 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I kemampuan Menginterpretasi r (effect Kategori Variabel Kelompok t t2 df R2 % size) efek Kontrol 2,504 6,27 23 0,462 0,211 21 Menengah Menginterpretasi Eksperimen 6,445 41,5 23 0,802 0,64 64 Besar Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kemampuan pada kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = 0,415; SD = 0,812; SE = 0,165; df = 23 dan p = 0,020 (p < 0,05) maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Hasil uji statistik pada kelompok eksperimen M = 0,916; SD = 0,696; SE = 0,142; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05) maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang signifikan dari skor dari pretest ke posttest I. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen lebih besar daripada persentase besar pengaruh metode ceramah pada kelompok kontrol. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif pada kelompok eksperimen r = 0,80 setara dengan 64% yang masuk dalam kategori efek besar dan pada kelompok kontrol r = 0,462 setara dengan 21% yang termasuk dalam kategoti efek menengah. 3. Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi ini dilakukan untuk mengontrol validitas internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika korelasinya negatif dan signifikan. Siswa yang mendapat skor pretest tinggi akan mendapat skor posttest yang lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor pretest rendah akan mendapat skor posttest lebih tinggi (Cohen, Manion, & Morisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan rerata posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Analisis data menggunakan uji Pearson Correlation karena kedua data pada kedua kelompok berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak H null adalah jika harga p < 0,05, maka ada korelasi yang signifikan antara rerata pretest dan posttest I (Priyatno, 2012: 45 & Santoso, 2015: 88

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 331-336). Berikut hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan menginterpretasi ( lihat Lampiran 4.11). Kelompok Kontrol Eksperimen Tabel 4. 15 Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Rumus r p Keputusan Pearson Negatif dan tidak -0,195 0,361 Correlation signifikan Pearson Negatif dan tidak -0,36 0,869 Correlation signifikan Tabel 4.15 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. hasil uji korelasi menunjukkan harga p pada kelompok kontrol 0,361 (p > 0,05) dan r berharga negatif, maka Hnull ditolak. Hal ini berarti ada korelasi negatif dan tidak signifikan antara hasil pretest dan posttest I pada kemampuan menginterpretasi kelompok kontrol. Hasil Pearson Correlation pada kelompok kontrol menunjukkan nilai negatif, artinya jika rerata skor siswa pada pretest tinggi, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I tinggi, begitu juga sebaliknya, jika rerata skor pretest rendah, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I rendah. Jika hasil rerata Pearson Correlation menunjukkan nilai positif, skor siswa pada pretest tinggi, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi begitu juga sebaliknya. Jika hasil p > 0,05 dan r negatif, berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,869 (p > 0,05) dan harga r bernilai positif, artinya ada korelasi positif dan tidak signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan menginterpretasi kelompok eksperimen. Hasil Pearson Correlation pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai negatif artinya jika rerata skor siswa pada pretest tinggi, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I tinggi, begitu pula sebaliknya. Jika hasil rerata Pearson Correlation menunjukkan nilai positif, skor siswa pada pretest tinggi, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi. Hasil p > 0,05 dan r negatif berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. 89

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk megetahui apakah perlakuan yang diberikan masih kuat dalam jangka waktu tertentu setelah treatment dan memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan memberikan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan, maka dilakukan pengujian distribusi data skor posttest I dan posttest II. Hasil uji normalitas rerata skor posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4. 16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Aspek p Keputusan Posttest I 0,072 Normal Kontrol Posttest II 0,171 Normal Posttest I 0,200 Normal Eksperimen Posttest II 0,183 Normal Tabel 4.16 menunjukkan harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II pada kedua kelompok, artinya distribusi data pada kedua kelompok normal. Dengan demikian uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test karena data berasal dari kelompok yang sama. Data yang digunakan yaitu skor posttest II yang dilakukan kurang lebih 1 minggu setelah dilakukan posttest I. Hasil posttest II dibandingkan dengan posttest I untuk melihat apakah ada peningkatan skor. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II (Priyatno 2012: 31). Berikut hasil uji Paired Samples ttest pada tabel 4.17 (lihat Lampiran 4.12). No 1 2 Tabel 4. 17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Menginterpretasi Mean Peningkatan Uji Kelompok p Keputusan (%) Statistik Posttest I Posttest II Tidak Kontrol 2,513 2,847 13% 0,093 Paired Signifikan Samples tTidak test Eksperimen 3,263 3,097 -6% 0,275 Signifikan Hasil analisis pada tabel di atas menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol mengalami peningkatan, sedangkan pada kelompok eksperimen 90

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengalami penurunan. Pada kelompok kontrol diperoleh M = 0,334; SD = 0,934; SE = 0,190; df = 23 dan p = 0,093 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor dari posttest II ke posttest I. Pada kelompok eksperimen diperoleh M = -0,116; SD = 0,728; SE = 0,148; df = 23 dan p = 0,275 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan antara posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen tidak terjadi penurunan skor dari posttest I ke posttest II. Untuk memperjelas besar peningkatan dapat dilihat pada grafik berikut. 3.2638 3.5 3.0975 3 2.3471 2.8479 Mean 2.5 2.5133 2 1.5 Kontrol 2.0979 Eksperimen 1 0.5 0 Pretest Posttest I Posttest II Gambar 4. 5 Grafik Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan menginterpretasi Untuk memastikan apakah pencapaian skor posttest II berbeda dengan kondisi awal pretest maka dilakukan analisis statistik terhadap perbedaan skor pretest dan posttest II. Analisis statistik menggunakan Paired Samples t-test karena data berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama. (Field, 2009; 345). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan antara pretest ke posttest II. Berikut hasil uji perbandingan skor pretest ke posttest II (lihat Lampiran 4.12). No 1 2 Tabel 4. 18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II Rerata Kelompok Uji Statistik p Keterangan Pretest Posttest II Ada Kontrol 2.097 2,847 0,000 perbedaan Paired Samples t-test Ada Eksperimen 2,347 3.097 0,000 perbedaan Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kelompok kontrol diperoleh M = 0,750; SD = 0,639; SE = 0,130; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull 91

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ditolak, artinya ada perbedaan skor yang signifikan antara pretest ke posttest II. Dengan demikian, kelompok kontrol mengalami perubahan skor dari pretest ke posttest II. Pada kelompok eksperimen diperoleh M = 0,750; SD = 0,689; SE = 0,140; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan antara skor pretest ke posttest II pada kelompok eksperimen. Perbedaan skor yang signifikan antara skor pretest ke posttest II pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode ceramah pada kelompok kontrol, dapat membuat materi dapat bertahan lama untuk siswa, sedangkan dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen, membuat materi lebih bertahan lama pada ingatan siswa. 4.1.4 Hasil Uji Hipotesis Penelitian II Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis pada materi Pernapasan pada Hewan siswa kelas V SD salah sekolah swasta di Yogyakarta semester Gasal tahun ajaran 2018/2019. Variabel dependen pada hipotesis di atas adalah kemampuan menganalisis, sedangkan variabel independen yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen terdiri dari 2 soal uraian yaitu item 1 yang mengandung indikator menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung, item 2 menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air, dan item 3 menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak mengganggu sistem parnapasannya. Hasil analisis statistik keseluruhan dihitung dengan menggunakan program statistik yaitu IBM SPSS Statictics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) Uji normalitas distribusi data untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data. Hasil distribusi data menentukan analisis statistik parametrik atau non-parametrik tahap selanjutnya, 2) Uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal terhadap 92

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan menganalisis pada kedua kelompok, 3) Uji signifikansi pengaruh perlakuan dan, 4) Uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya, dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari a) Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, b) Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, c) Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan d) Uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan menganalisis. Data yang diuji adalah skor pretest kedua kelompok. Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji normalitas distribusi data homogenitas varian menggunakan Levene’s test. 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak, hal ini sebagai syarat digunakannya analisis parametrik (Priyatno, 2012: 132). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan adalah data dari seluruh skor pretest dari kedua kelompok. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4. 19 Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest Kelompok p Keputusan Kontrol 0,136 Normal Eksperimen 0,066 Normal Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p = 0,136, 0,066 (p > 0,05) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan demikian, H null artinya data berdistribusi normal. Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda atau Paired Samples t-test untuk kelompok yang sama (Field, 2009: 326). 93

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Uji Homogenitas Varian Data Uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian dari kedua kelompok yang dibandingkan ( Field, 2009: 340). Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan menganalisis dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4). Tabel 4. 20 Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest kemampuan Menganalisis Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test 4,647 1 46 0,036 Tidak Homogen Tabel 4.20 menunjukkan harga F (1, 46) = 4,647 dan p = 0,036 (p < 0,05), maka Hnull gagal diterima, artinya tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika tidak terdapat homogentitas varians, data uji statistik yang digunakan adalah Independence Samples t-test. Data yang diambil adalah data pada baris kedua dalam analisis output IBM SPSS Statistics 22 for Windows (Field, 2009: 340). 2. Uji Statistik Setelah dilakukan uji homogenitas varian, dilakukan Uji statistik untuk melihat ada tidaknya perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Jika data tidak homogen, maka data yang digunakan adalah Equal Variences not Assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 maka ada perbedaan kemampuan awal pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 50) . Berikut hasil uji statistik perbedaan kemampuan awal ( lihat Lampiran 4.5). Tabel 4. 21 Uji Statistik Perbedaan Kemampuan Awal pada kemampuan Menganalisis Uji Statistik p Keterangan Independent samples t-test 0,265 Tidak ada perbedaan Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rerata skor pretest pada kelompok kontrol (M = 1,735; SE = 0,104) lebih rendah daripada skor pretest kelompok eksperimen (M = 1,9433; SE = 0,15102). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t (40,850)= -1,131; p = 0,265 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak 94

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kedua kelompok. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok yang dibandingkan. 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk melihat dan mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis, dengan melihat rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan menggunakan rumus : (O2-O1) – ( O4-O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, maka ada pengaruh. Berikut perhitungannya : (2,95 – 1,94) – (2,72 – 1,73) = 1,01 – 0,98 = 0,03 . Hasil dari perhitungan diperoleh angka 0,03 atau lebih besar dari 0 yang artinya ada pengaruh perlakuan, tetapi tidak terlalu signifikan. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak, maka dilakukan uji statistik. Sebelum uji statistik dilakukan uji normalitas distribusi data menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test, kemudian dilakukan dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test karena data berdistribusi normal. Apabila data homogen, maka data yang digunakan adalah data pada baris pertama, dari output SPSS Independent Samples t-test dengan keterangan Equal Variances Assumed. 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak, hal ini sebagai syarat digunakannya analisis parametrik (Priyatno, 2012: 132). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan 95

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adalah data dari rerata selisih skor posttest I – pretest dari kedua kelompok. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Tabel 4. 22 Uji Normalitas Distribusi Data Rerata selisih skor Posttest- Pretest Kelompok p Keputusan Kontrol 0,125 Normal Eksperimen 0,123 Normal Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p = 0,125 dan 0,123 (p >0,05) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan demikian, H null artinya data rerata selisih skor posttest I – pretest berdistribusi normal. Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples ttest untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 326). b. Uji Homogenitas Varian Data Uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian dari kedua kelompok yang dibandingkan ( Field, 2009: 340). Hasil uji homogenitas varian untuk selisih skor posttest-pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan menganalisis dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.6). Tabel 4. 23 Uji Homogenitas Varian Rerata selisih skor Pretest-Posttest I kemampuan Menganalisis Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test 0,78 1 46 0.781 Homogen Berdasarkan tabel 4.23 diketahui bahwa F (1,46) = 0,78 dan p = 0,781 (p > 0,05) maka Hnull diterima, artinya terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika terdapat homogentitas varians, data uji statistik yang digunakan adalah Independent Samples t-test. Data yang diambil adalah data pada baris pertama dalam analisis output IBM SPSS Statistics 22 for Windows (Field, 2009: 340). 96

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Uji Statistik Setelah dilakukan uji homogenitas varian, dilakukan Uji statistik untuk melihat ada tidaknya perbedaan signifikan antara selisih skor posttest I- pretest pada kedua kelompok. Jika data homogen, maka data dihitung menggunakan Independence Samples t-test dan data yang digunakan yang digunakan adalah Equal Variences Assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 150). Berikut hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan ( lihat Lampiran 4.7). Tabel 4. 24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Statistik p Keterangan Independent samples t-test 0.883 Tidak Signifikan Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata selisih skor posttest I dan pretest pada kelompok eksperimen ( M = 1,013; SE = 0,13548) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,986; SE = 0,12761). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(46)= -0,148; p = 0,883 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak, artinya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest I- pretest pada kedua kelompok. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif learning tipe Make a Match tidak berpengaruh pada kemampuan menganalisis. Mean Berikut grafik peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kedua kelompok. 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 2.9588 1.9433 2.7217 1.7348 Pretest Kontrol Posttest I Eksperimen Gambar 4. 6 Grafik Rerata skor Pretest-Posttest I Grafik tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan selisih skor antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Skor pretest pada kelompok kontrol lebih rendah dibandingkan dengan skor kelompok eksperimen. Perolehan 97

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI skor posttest I pada kelompok kontrol pun lebih rendah dibandingkan dengan perolehan skor pada kelompok eksperimen. Dengan kata lain, skor pretest-posttest I pada kelompok eksperimen selalu lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol baik sebelum maupun sesudah treatment meskipun tidak signifikan. Mean pada kelompok kontrol sebesar 0,0,986, sedangkan mean kelompok eksperimen 1,013. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Gambar 4. 7 Grafik Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis. Kriteria untuk menentukan besar efek dapat dilihat pada bab III ( halaman 20). Peneliti menghitung koefisien determinasi (R2) dengan dikuadratkan harga r kemudian dikalikan dengan 100% (Field, 2009: 179). Data yang digunakan untuk untuk menghitung besar pengaruh perlakuan adalah selisih skor posttest I-pretest pada kedua kelompok. Data diuji menggunakan Independent Samples t-test karena data berdistribusi normal (Field, 2009: 345). Berikut hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.8). 98

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 25 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Variabel t t2 df r (effect size) R2 Menginterpretasi -0,148 0,021 46 0,02 0,0004 % Kategori efek 0,04% kecil Hasil analisis menunjukkan besar r = 0,02 setara dengan 0,04%. Menurut Field (2009: 57) r = 0,02 masuk dalam kategori efek kecil, sedangkan menurut Fraenkel, Wallen, dan Hyun (2012: 14) r = 0,02 masuk kategori efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih teoritis untuk membuat prediksi. 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan pada rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan menganalisis. Data yang digunakan yaitu skor pretest dan posttest I yang diambil dari data rerata skor pretest dan posttest I pada uji normalitas distribusi data yang menggunakan Kolmogorov-Smirnov test. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih rerata posttest I – pretest dengan rerata pretest, selanjutnya dikalikan 100%. Normalitas distribusi data skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah normal, sehingga untuk menguji seberapa besar peningkatan skor pretest-posttest I menggunakan analisis statistik yaitu Paired Samples t-test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 53). Berikut ini hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.9). No Kelompok 1 Kontrol 2 Eksperimen Tabel 4. 26 Peningkatan rerata Pretest ke Posttest I Rerata Peningkatan Uji p (%) statistik Pretest Posttest I 1,735 2,721 56% Paired 0,000 Samples 1,943 2,958 52% 0,000 t-test Keterangan Signifikan Signifikan Tabel 4.26 menunjukkan bahwa rerata pretest pada kelompok kontrol sebesar 1,735 dan rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,943 serta rerata posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,721 dan rerata skor posttest I 99

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada kelompok eksperimen sebesar 2,958. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 56% sedangkan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 52%. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan menganalisis. Hasil uji signifikansi pada kelompok kontrol menunjukkan harga p = 0,000 (p < 0,05), sedangkan hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memperoleh hasil harga p= 0,000 (p < 0,05). Kedua kelompok sama-sama memiliki p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menganalisis pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan metode ceramah meningkatkan kemampuan menganalisis pada kelompok kontrol dan eksperimen. 3.5 2.9588 2.7217 3 Rerata 2.5 2 1.9433 1.7348 1.5 1 0.5 0 Kontrol Pretest Eksperimen Posttest I Gambar 4. 8 Grafik Perbandingan Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok eksperimen yaitu 56%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 52%. Hasil tersebut diperjelas pada gambar 4.3 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut adalah grafik yang 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menunjukkan frekuensi selisih pretest-posttest I (gain score) pada kelompok Frekuensi kontrol dan kelompok eksperimen. (lihat Lampiran 4.9.3). 8 7 6 5 4 3 2 1 0 7 6 5 5 3 2 4 3 3 2 2 1 0 0.33 0.67 1 1.33 1.67 2 1 1 2 2.33 Gain Score Kontrol Eksperimen Gambar 4. 9 Grafik Gain Score Kemampuan menganalisis Berdasarkan grafik di atas menunjukkan, gain terendah pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sebesar 0. Gain terttingggi dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama, yaitu sebesar 2,33. Nilai tengah gain score diperoleh dari 50% dari skor tertinggi. Gain score diperoleh 1. Frekuensi siswa yang memperoleh nilai ≥ 1pada kelompok kontrol ada 13 anak, dan pada kelompok ekssperimen ada 16 anak. Besar persentase gain score ≥ 13 pada kelompok kontrol yaitu 54% sedangkan kelompok eksperimen 66%. Hal tersebut menunjukkan bahwa 66% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, sedangkan 54% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki persentase lebih besar daripada persentase daripada penerapan metode ceramah. 2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I. Uji ini dilakukan dengan menggunakan rumus Pearson Correlation karena kedua data kelompok berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field, 2009: 101

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.10). Tabel 4. 27 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I kemampuan Menganalisis r (effect Kategori Variabel Kelompok t t2 df R2 % size) efek Kontrol 7,728 59,72 23 0,849 0,722 72% Besar Analisis Eksperimen 7,501 56,26 23 0,842 0,705 70% Besar Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kemampuan pada kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = 0,985; SD = 0,624; SE = 0,127; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05) maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Hasil uji statistik pada kelompok eksperimen M = 1,015; SD = 0,663; SE = 0,135; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05) maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang signifikan dari skor dari pretest ke posttest I. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen lebih rendah daripada persentase besar pengaruh metode ceramah pada kelompok kontrol. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif pada kelompok kontrol r = 0,85 setara dengan 72% yang masuk dalam kategori efek besar dan pada kelompok kontrol r = 0,84 setara dengan 70% yang termasuk dalam kategoti efek besar. 3. Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah korelasi rerata pretest dan posttest I positif dan signifikan. Positif artinya semakin tinggi pretest semakin tinggi pula posttest I, sedangkan signifikan artinya hasil skor korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Uji korelasi ini dilakukan untuk mengontrol validitas internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika siswa yang mendapat skor pretest tinggi akan mendapat skor posttest yang lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor 102

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest rendah akan mendapat skor posttest lebih tinggi (Cohen, Manion, & Morisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan rerata posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Analisis data menggunakan uji Pearson Correlation karena kedua data pada kedua kelompok berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada korelasi yang signifikan antara rerata pretest dan posttest I (Priyatno, 2012: 45 & Santoso, 2015: 331-336). Berikut hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan menginterpretasi ( lihat Lampiran 4.11). Kelompok Kontrol Eksperimen Tabel 4. 28 Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Rumus r p Keputusan Pearson Positif dan tidak 0,232 0,275 Correlation Signifikan Pearson Positif dan 0,445 0,029 Correlation Signifikan Tabel 4.28 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. hasil uji korelasi menunjukkan harga p pada kelompok kontrol 0,275 (p > 0,05) dan r berharga positif, maka Hnull ditolak. Hal ini berarti ada korelasi positif dan tidak signifikan antara hasil pretest dan posttest I pada kemampuan menganalisis kelompok kontrol. Hasil rerata Pearson Correlation menunjukkan nilai positif, jika skor siswa pada pretest tinggi, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi begitu juga sebaliknya. Jika hasil p > 0,05 dan r negatif, berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0, 029 (p < 0,05) dan harga r bernilai positif, artinya ada korelasi positif dan signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan menganalisis kelompok eksperimen. Hasil rerata Pearson Correlation menunjukkan nilai positif, jika skor siswa pada pretest tinggi, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi begitu juga sebaliknya. Jika hasil p < 0,05 dan r positif, berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. 103

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk megetahui apakah perlakuan yang diberikan masih kuat dalam jangka waktu tertentu setelah treatment dan memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan memberikan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan, maka dilakukan pengujian distribusi data skor posttest I dan posttest II. Hasil uji normalitas rerata skor posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3). Tabel 4. 29 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Eksperimen Kemampuan Menganalisis Aspek p Posttest I 0,70 Posttest II 0,54 Posttest I 0,68 Posttest II 0,194 Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.29 menunjukkan harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II pada kedua kelompok, artinya distribusi data pada kedua kelompok normal. Dengan demikian uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test karena data berasal dari kelompok yang sama. Data yang digunakan yaitu skor posttest II yang dilakukan kurang lebih 1 minggu setelah dilakukan posttest I. Hasil posttest II dibandingkan dengan posttest I untuk melihat apakah ada peningkatan skor. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II (Priyatno 2012: 31). Berikut hasil uji Paired Samples ttest pada tabel 4.30 (lihat Lampiran 4.12) No 1 2 Tabel 4. 30 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Menganalisis Uji Mean Peningkatan Statistik Kelompok Posttest Posttest p Keputusan (%) I II Tidak Paired Kontrol 2,721 2,625 -3,5% 0,559 signifikan Samples ttest Eksperimen 2.958 2,236 -24% 0,000 Signifikan Hasil analisis pada tabel di atas menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mengalami penurunan. Pada kelompok kontrol diperoleh M =-0,096 ; SD = 0,794; SE = 0162; df = 23 dan p = 0,559 (p > 0,05), 104

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor dari posttest II ke posttest I. Pada kelompok eksperimen diperoleh M = -0,722; SD = 0,641; SE = 0,130; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan antara posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi penurunan yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II. Untuk memperjelas besar peningkatan dapat dilihat pada grafik berikut. 3.5 2.9588 3 Rerata 2.5 2 1.5 1.9433 2.6254 2.7217 2.2362 Kontrol 1.7358 Eksperimen 1 0.5 0 pretest Posttest 1 Posttest 2 Gambar 4. 10 Grafik Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan Menganalisis Untuk memastikan apakah pencapaian skor posttes II berbeda dengan kondisi awal pretest maka dilakukan analisis statistik terhadap perbedaan skor pretest dan posttest II. Analisis statistik menggunakan Paired Samples t-test karena data berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama. (Field, 2009; 345). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan antara pretest ke posttest II. Berikut hasil uji perbandingan skor pretest ke posttest II (lihat Lampiran 4.12). No 1 2 Tabel 4. 31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II Rerata Kelompok Uji Statistik p Keterangan Pretest Posttest II Ada Kontrol 1,735 2,625 0,000 perbedaan Paired Samples t-test Tidak ada Eksperimen 1,943 2,236 0,82 perbedaan Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kelompok kontrol diperoleh M = 0,889; SD = 0,732; SE = 0,149; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya ada perbedaan skor yang signifikan antara pretest ke posttest II. Dengan demikian, kelompok kontrol mengalami perubahan skor dari pretest ke 105

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI posttest II. Pada kelompok eksperimen diperoleh M = 0,292; SD = 0,787; SE = 0,160; df = 23 dan p = 0,82 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak dan, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan antara skor pretest ke posttest II pada kelompok eksperimen. Dapat tegaskan bahwa dengan menggunakan metode ceramah pada kelompok kontrol, materi yang diberikan tidak bertahan lama dalam ingatan siswa, sedangkan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen dapat membuat materi bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. 4.2 Pembahasan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif learning tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi dan menganalisis pada siswa kelas V SD salah satu swasta di Yogyakarta semester Gasal tahun ajaran 2018/2019 pada mata pelajaran IPA dengan materi Sistem Pernapasan pada Hewan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan model Quasi Experimental dengan tipe nonequivalent group design yang dilakukan dengan menerapkan model ceramah pada kelompok kontrol dan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen. Perlakuan yang diberikan pada kelompok kontrol dan eksperimen berbeda. Siswa pada kelompok kontrol hanya mendengarkan penjelasan dan ceramah yang dilakukan oleh guru pada kegiatan pembelajarannya. Pada kelompok eksperimen, siswa mengikuti pembelajaran dengan sangat aktif dan antusias, hal ini terlihat dari kegiatan pembelajaran yaitu mencari pasangan pada kartu soal dan kartu jawaban yang sesuai dan tepat, dengan didampingi oleh guru. Dalam kegiatan pembelajaran, siswa pada kelompok eksperimen menjadi lebih aktif, terutama untuk mengembangkan kemampuan menginterpretasi dan menganalisis pada diri setiap siswanya. Siswa pada kelompok eksperimen dapat bertanya dan membuktikan langsung apa alat pernapasan pada hewan, bagaimana sistem pernapasannya. Siswa mencoba untuk membuat hipotesis terhadap pengamatan terhadap hewan yang telah mereka lakukan, setelah itu mereka mencoba memberikan jawaban terhadap hipotesis yang telah mereka buat dengan melakukan diskusi dan mencari pasangan kartu. Semua siswa dalam kelompok 106

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang telah mendapatkan pasangan, guru akan memandu mengoreksi jawaban antara kelompok pemegang kartu, soal, kartu jawaban, dan kartu kunci jawaban. 4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal Penelitian Berikut merupakan jenis-jenis ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. No 1 2 3 4 Tabel 4. 32 Pengendalian Terhadap Ancaman Validitas Internal Terkendali Ancaman Tingkat Keterangan Validitas Internal Ancaman Ya / Tidak 4.2.3 Penelitian dilaksanakan dalam Sejarah (history) Rendah Ya waktu singkat atau selama ± 2 minggu. 4.2.4 Kedua kelompok tidak ada komunikasi terkait model pembelajaran Difusi treatment kooperatif tipe Make atau kontaminasi Rendaha Match secara (diffusion of Ya menengah sistematis dan treatment or berjanji agar tidak contamination) saling mempelajari treatment pada kelompok eksperimen. 4.2.5 Kelompok kontrol tidak diberikan Perilaku treatment yang sama Rendahkompensatoris Tidak dengan kelompok menengah eksperimen, setelah penelitian selesai. 4.2.6 Penelitian dilaksanakan selama ± 2 minggu. 4.2.7 Penggunaan pretest dan posttest yang Maturasi Rendah Ya sama untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 5 Regresi statistik Rendah Ya 6 Mortalitas (mortality) Menengah Ya 4.2.8 Hasil uji korelasi pretest-posttest I negative dan tidak signifikan. 4.2.9 Penelitian dilaksanakan dalam waktu singkat atau selama ± 2 minggu. 4.2.10 Selama pretestposttest I hingga 107

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Pengujian(testing) Rendah Ya 8 Instrumentasi (instrumentation) Rendahmenengahtinggi Ya 9 Lokasi (location) Menengahtinggi Ya 10 Karakteristik subjek (subjek characteristics) Menengahtinggi Ya 11 Implementasi (implementation) Tinggi Ya posttest II semua siswa hadir. 4.2.11 Kelompok kontrol dan eksperimen sama-sama diberi pretest. 4.2.12 Memeriksa kelayakan instrumen. 4.2.13 Menggunakan instrumen yang sama saat pretest dan posttest. 4.2.14 Lingkungan dan kondisi ruang kelas kelompok kontrol dan eksperimen kurang lebih sama. 4.2.15 Kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. 4.2.16 Perbandingan gender pada kedua kelompok sama. 4.2.17 Pembelajaran di kedua kelompok menggunakan guru yang sama. Berdasarkan tabel 4.32 menunjukkan ancaman yang dapat dikendalikan pada penelitian ini adalah sejarah, difusi treatment, maturasi, regresi statistik, mortalitas, pengujian, instrumentasi, lokasi, karakteristik subjek, dan implementasi. Ancaman validitas internal yang tidak dapat dikendalikan yaitu perilaku kompensatoris dengan tingkat ancaman rendah-menengah. Dari tabel tersebut, 10 dari 11 jenis ancaman dapat dikendalikan dengan baik dan tidak ada temuan data yang menunjukkan ancaman yang berdampak sistemik. Maka kredibilitas kesimpulan penelitian dapat dipercaya. Berikut penjelasan ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. Selama penelitian yang dilakukan di SD salah satu sekolah swasta di Yogyakarta, banyak peristiwa / hal-hal yang dapat mengancam validitas internal penelitian. Setiap ancaman dikendalikan dengan solusi yang ada. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan pertemuan selama empat kali pertemuan yaitu, 03 September 2018 hingga 17 September 2017 (selama dua minggu) di SD salah satu sekolah swasta di Yogyakarta. Hal tersebut untuk 108

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mencegah terjadinya ancaman validitas internal berupa sejarah. Dalam penelitian ini ancaman validitas berupa sejarah dapat dikendalikan dengan baik. Selama penelitian setiap kelompok menggunakan kelas yang digunakan untuk kegiatan belajar seperti biasanya. Dalam penelitian ini kelas A sebagai kelompok kontrol dan kelas B sebagai kelas eksperimen. Ruangan yang digunakan untuk belajar berbeda, tetapi seluruh sarana prasana yang digunakan untuk belajar sama, maka ancaman validitas berupa lokasi dapat dikendalikan dengan baik. Pemilihan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan cara random dan disaksikan oleh kepala sekolah dan guru mitra. Agar tidak bias, pembelajaran pada kedua kelompok dilakukan oleh guru yang sama, yang dibedakan hanya model pembelajarannya saja. Hal tersebut untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa implementasi. Perbedaan cara mengajar guru dapat mempengaruhi hasil posttest. Instrumen yang digunakan pada kedua kelompok juga sama. Instrumen berupa soal essay yang terdiri dari 6 nomor soal dan setiap soalnya memiliki subsoal a,b, dan c. Instrumen ini digunakan dari pretest hingga posttest II. Instumen diperiksa terlebih dahulu untuk mencegah ancaman validitas internal berupa instrumentasi. Namun, ada beberapa siswa yang mengalami kebosanan dalam mengerjakan soal yang sama, terutama saat posttest II. Peneliti mengantisipasi dengan cara memotivasi siswa dalam bentuk apresiasi diakhir penelitian. Selain itu, pretest yang berlaku untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen juga mengurangi ancaman terhadap validitas internal berupa pengujian. Dalam hal ini, ancaman validitas internal berupa instrumentasi dan pengujian dapat dikendalikan dengan baik. Saat pelaksanaan pretest hingga posttest II semua siswa hadir, sehingga ancaman validitas internal berupa mortalitas dapat dikendalikan dengan baik. Siswa dari kedua kelompok penelitian tidak melakukan komunikasi secara sistematis selama penelitian berlangsung, sehingga ancaman validitas berupa difusi treatment dapat dikendalikan dengan baik. Perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan dengan baik karena pada penelitian ini, siswa pada kelompok kontrol tidak diberikan treatment yang sama dengan kelompok eksperimen. Ancaman tersebut tidak berdampak secara praktis terhadap kredibilitas kesimpulan yang diambil. Secara etika, solusinya yaitu dengan memberikan 109

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran dengan model yang sama dengan kelompok eksperimen setelah selesai penelitian, tetapi keterbatasan waktu guru mitra yang tidak memungkinkan untuk melakukan pembelajaran yang sama di kelas kelompok kontrol. Saat akan melakukan penelitian, kedua kelompok diberikan pretest yang sama untuk melihat apakah kedua kelompok mempunyai kemampuan awal yang sama. Setelah pertemuan keempat, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberikan soal posttest I yang sama, untuk mencegah maturasi. Dalam penelitian ini ancaman validitas internal berupa maturasi dapat dikendalikan dengan baik. Tujuan lain dari pretest yaitu mengetahui karakter siswa pada kelompok kontrol dan eksperimen, apakah kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama atau tidak. Selain itu, untuk melihat besar pengaruh perlakuan dengan melihat selisih skor pretest dan posttest. Semua siswa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pun mempunyai perbandingan jumlah siswa laki-laki dan jumlah siswa perempuan yang sama. Dalam hal ini ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan. 4.2.2 Pembahasan Hipotesis 4.2.2.1 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Terhadap Kemampuan Menginterpretasi Hipotesis I pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi pada materi sistem pernapasan pada hewan kelas V SD salah satu sekolah swasta di Yogyakarta. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menginterpretasi. Indikator pertama mengelompokkan hewan di kebun binatang berdasarkan alat pernapasan, pada kelompok kontrol perolehan skor 2 meningkat sebanyak 2 siswa dan skor 4 sebanyak 5 siswa, pada kelompok eksperimen perolehan skor 4 meningkat sebanyak 12 siswa. Indikator kedua yaitu menjelaskan fungsi trakea pada serangga, pada kelompok kontrol skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 4 siswa, sedangkan 110

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang lain menurun, sedangkan pada kelompok eksperimen, skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 11 siswa. Indikator ketiga yaitu menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular (reptil) dan cacing (vermes) berdasarkan organ pernapasannya dan proses pernapasannya, pada kelompok kontrol skor 2 mengalami peningkatan 2 siswa, skor 3 mengalami peningkatan 2 siswa, dan skor 4 mengalami peningkatan 3 siswa. Sedangkan pada kelompok eksperimen skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 10 siswa, dan yang lain menurun. Pada uji perbedaan kemampuan awal, siswa pada kelompok eksperimen memiliki nilai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada rerata pretest kelompok eksperimen sebesar 2,3471 dan kelompok kontrol sebesar 2,0979. Perbedaan tersebut signifikan dilihat dari harga p sebesar 0,64 (p > 0,05) artinya Hnull diterima. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kedua kelompok sehingga kedua kelompok layak untuk dibandingkan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap validitas internal pada karakteristik subjek dapat terkendali dengan baik. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi. Hal tersebut dilihat dari harga p sebesar 0,32 (p < 0,05), artinya Hnull ditolak dan Hi diterima artinya ada perbedaan signifikan antara selisih skor pretest dam posttest I pada kelompok eksperimen. dengan kata lain, model pembelajaran Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi. Besar pengaruh (effect size) yang diberi oleh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi sebesar 9,61% atau dalam kategori menengah (Field, 2009: 57). Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan dengan r = 0,31 setara dengan 9,61%. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan sebesar 9,61%, sedangkan 90,39% merupakan pengaruh daru variabel lain diluar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain dapat berasal dari hal seperti motivasi, konsentrasi, intelegensi, minat, dan kondisi tubuh. 111

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perbedaan peningkatan skor pretest ke posttest I kedua kelompok dapat dilihat dari Grafik 4.1. peningkatan rerata skor pada kelompok kontrol sebesar 0,457, sedangkan pada kelompok eksperimen 0,916. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 39% sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 20%. Kedua kelompok mengalami peningkatan skor namun peningkatan kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah. Kelompok eksperimen memiliki harga r = 0,80 atau setara dengan 64%, masuk dalam kategori efek besar dan efek cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Kelompok kontrol memiliki harga r = 0,46 setara dengan 21%, masuk dalam kategori efek menengah dan cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Dengan demikian, persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar dibandingkan dengan metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen sebesar 64% dan 21% pada kelompok kontrol. Hasil diperkuat dengan hasil signifikansi peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan harga p = 0,000 (p < 0,05). Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen memiliki korelasi negatif dan tidak signifikan terhadap kemampuan menginterpretasi. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,896 ( p > 0,05) dan r = -0,36. Pada kelompok kontrol harga p = 0,361 (p > 0,05) dan r = -0,195. Berkorelasi negatif, artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest dan sebaliknya. Tidak signifikan artinya, hasil penelitian yang dilakukan belum dapat digeneralisasikan untuk populasi yang lebih luas. Hal ini berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. Setelah kurang lebih satu dari posttest I, kedua kelompok mengerjakan soal posttest II. Tujuannya untuk mengetahui apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah beberapa waktu dilakukan posttes I. Hasil posttest I ke posttest II diuji menggunakan uji statistik parametrik, karena data berdistribusi normal. 112

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p = 0,093 ( p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan mengalami kenaikan sebesar 13%. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,275 ( p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan -6%. Maka terjadi penurunan skor posttes II ke posttest I pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan menginterpretasi. Meskipun kelompok eksperimen mengalami penurunan skor posttest II, akan tetapi skor posttest II tetap lebih tinggi dari pada skor pretest. Demikian juga pada kelompok kontrol, skor posttest II lebih tinggi dari skor pretest dan posttest I. Meskipun begitu persentase penurunan dari posttest II ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih kecil dibandingkan dengan kelompok kontrol. Maka, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih efektif dari pada metode ceramah. Hal ini terbukti dengan hasil uji mean skor pretest ke posttest II kelompok kontrol 2,09 dan 2.84 dan kelompok eksperimen 2,34 dan 3,09. Hasil perhitungan gain score pada kemampuan menginterpretasi diperoleh skor ≥ 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,33 dengan penerapan metode ceramah diperoleh siswa sebanyak 15 anak, sedangkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sebanyak 22 siswa. Dengan demikian 91,7% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, sedangkan 62,5% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah. Keuntungan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Keuntungan lainnya dari model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sehingga dapat mengembangkan kemampuan menginterpretasi dapat dilihat saat pelaksanaan implementasi yaitu ketika siswa secara berpasangan mempresentasikan hasil diskusi mereka terkait kartu soal dan kartu jawaban. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih mampu mengembangkan kemampuan menginterpretasi. 113

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.2.2 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Terhadap Kemampuan Menganalisis Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis pada materi sistem pernapasan pada hewan kelas V SD salag satu sekolah swasta di Yogyakarta semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menganalisis. Indikator pertama menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung, pada kelompok kontrol perolehan skor 3 meningkat sebanyak 2 siswa dan skor 4 sebanyak 9 siswa, pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 5 siswa dan skor 4 meningkat sebanyak 8 siswa. Indikator kedua yaitu menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air, pada kelompok kontrol skor 3 mengalami peningkatan sebanyak 4 siswa, skor 4 mengalami kenaikan sebanyak 8 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen, skor 3 mengalami peningkatan sebanyak 9 siswa, dan skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 2 siswa. Indikator ketiga yaitu menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacaing agar tidak mengganggu sistem pernapasannya, pada kelompok kontrol skor 3 mengalami peningkatan 2 siswa, skor 4 mengalami peningkatan 3 siswa, dan sedangkan pada kelompok eksperimen skor 3 mengalami peningkatan sebanyak 5 siswa, dan skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 3 siswa. Pada uji perbedaan kemampuan awal, siswa pada kelompok eksperimen memiliki nilai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada rerata pretest kelompok eksperimen sebesar 1,943 dan kelompok kontrol sebesar 1,735. Perbedaan tersebut signifikan dilihat dari harga p sebesar 0,265 (p > 0,05) artinya Hnull diterima. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kedua kelompok sehingga kedua kelompok layak untuk dibandingkan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap validitas internal pada karakteristik subjek dapat terkendali dengan baik. 114

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Hal tersebut dilihat dari harga p sebesar 0, 883 (p < 0,05), artinya Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan signifikan antara selisih skor pretest dam posttest I pada kelompok eksperimen. dengan kata lain, model pembelajaran Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Besar pengaruh (effect size) yang diberi oleh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis sebesar 0,04% atau dalam kategori sangat kecil (Field, 2009: 57). Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan dengan r = 0,021 setara dengan 0,04%. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan sebesar 0,04%, sedangkan 99,96% merupakan pengaruh dari variabel lain diluar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain dapat berasal dari hal seperti motivasi, konsentrasi, intelegensi, minat, dan kondisi tubuh. Selain itu, terdapat variabel yang berasal dari lingkungan seperti kondisi latar belakang keluarga dan lingkungan di sekitar yang ramai Perbedaan peningkatan skor pretest ke posttest I kedua kelompok dapat dilihat dari Grafik 4.6. Peningkatan rerata skor pada kelompok kontrol sebesar 0,9863, sedangkan pada kelompok eksperimen 1,0138. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 52%, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 56%. Kedua kelompok mengalami peningkatan skor namun peningkatan kelompok kontrol lebih besar daripada kelompok eksperimen. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah. Kelompok eksperimen memiliki harga r = 0,842 atau setara dengan 70%, masuk dalam kategori efek sangat penting tapi jarang dicapai dalam penelitian pendidikan dan efek cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Kelompok kontrol memiliki harga r = 0,849 setara dengan 72%, masuk dalam kategori efek sangat penting tapi jarang dicapai dalam penelitian pendidikan dan cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Dengan demikian, 115

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih kecil dibandingkan dengan metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen sebesar 50% dan 72% pada kelompok kontrol. Hasil diperkuat dengan hasil signifikansi peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan harga p = 0,000 (p < 0,05). Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen memiliki korelasi negatif dan tidak signifikan terhadap kemampuan menganalisis. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,029 ( p < 0,05) dan r = 0,445. Pada kelompok kontrol harga p = 0,275 (p > 0,05) dan r = 0,232 . Berkorelasi positif, artinya semakin semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest dan sebaliknya. Tidak signifikan artinya, hasil penelitian yang dilakukan belum dapat digeneralisasikan untuk populasi yang lebih luas. Hal ini berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. Setelah kurang lebih satu dari posttest I, kedua kelompok mengerjakan soal posttest II. Tujuannya untuk mengetahui apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah beberapa waktu dilakukan posttes I. Hasil posttest I ke posttest II diuji menggunakan uji statistik parametrik, karena data berdistribusi normal. Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p = 0,559 ( p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II, tetapi mengalami penurunan -3,5%. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,000 ( p < 0,05) artinya ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan -24%. Maka terjadi penurunan skor posttes II ke posttest I pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan menganalisis. Meskipun kelompok eksperimen mengalami penurunan skor posttest II, akan tetapi skor posttest II tetap lebih tinggi dari pada skor pretest. Demikian juga pada kelompok kontrol, skor posttest II lebih tinggi dari skor pretest dan posttest I. Meskipun begitu persentase penurunan dari posttest II ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Maka, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match kurang efektif dari pada metode ceramah terhadap kemampuan menganalisis. Hal tersebut dapat terjadi karena saat kelas kontrol 116

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hendak mengerjakan, siswa kelas kontrol hendak menghadapi ulangan Bahasa Inggris, sehingga mereka lebih fokus pada ulangan yang akan mereka hadapi. Hal ini terbukti dengan hasil uji mean skor pretest ke posttest II kelompok kontrol 1,73 dan 2,62 dan kelompok eksperimen 1,94 dan 2,23. Hal lain yang menyebabkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis adalah karena faktor yang tidak diteliti oleh peneiti seperti kemampuan yang dimiliki anak, lingkungan, tingkat kerjasama, motivasi, kondisi kesehatan dan minat siswa. Hasil perhitungan gain score pada kemampuan menganalisis diperoleh skor ≥ 1. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 1 dengan penerapan metode ceramah diperoleh siswa sebanyak 13 anak, sedangkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sebanyak 16 siswa. Dengan demikian 66% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Sedangkan 54% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah. Keuntungan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih mampu mengembangkan kemampuan menganalisis. 4.2.3 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan berpengaruh secara tidak signifikan terhadap kemampuan menganalisis. Hal tersebut dilihat dari harga p sebesar 0,32 (p < 0,05) untuk kemampuan menginterpretasi dan harga p sebesar 0,883 (p > 0,05) untuk kemampuan menganalisis. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang relevan dengan penelitian ini yang menunjukkan bahwa 1) model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap prestasi belajar Matematika kelas V dibandingkan dengan pembelajaran yang dilakukan dengan model pembelajaran konvensional (Artawa & Suwatra, 2012). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match menggunakan media bergambar lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS (Anggarawati, Kristiantari, Asri, 2014). 117

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selain itu sebuah penelitian juga berhasil menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap hasil belajar siswa tentang materi lambang bilangan romawi kelas IV dibandingkan dengan metode konvensional (Maula & Rustopo, 2012). Dari penelitian-peneitian sebelumnya, variabel independen yang digunakan sama, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang mempengaruhi variabel dependen. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu pada variabel dependen, yaitu kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Pada hasil PISA tahun 2012, Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 382 (OECD, 2013: 5). Pada hasil PISA tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 403 (OECD, 2016: 5). Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hasil skor literasi IPA dari 382 menjadi 403, namun peringkat Indonesia masih berada di 10 besar terbawah dari 70 negara peserta PISA tahun 2015. Peringkat tersebut menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia mengalami kesulitan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan aspek kognitif karena soal-soal yang digunakan pada PISA memerlukan penalaran dan pemecahan masalah. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena faktor tertentu, diantaranya penerapan metode ceramah khususnya di SD, dimana guru menjadi satu-satunya sumber informasi dan pusat dalam pembelajaran. Menurut Piaget, siswa kelas V atau anak usia 10-11 tahun berada pada tahap operasional konkret, dimana anak dapat bernalar secara logis tentang kejadian yang konkret dan mengklasifikasikan objek yang sudah ia lihat kedalam kelompok yang berbeda (Santrock, 2003: 51). Anak pada tahap ini sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika atau operasi, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada saat ini. Hal ini berarti bahwa anak usia Sekolah Dasar belajar dari hal-hal yang terlihat konkret/nyata dan belum bersifat abstrak. Dalam mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match siswa berusaha memahami pelajaran melalui pengalaman langsung dengan objek saat pembelajaran. Hal ini sejalan dengan teori Piaget yang menyatakan bahwa individu mengonstruksi pengetahuan ketika beri interaksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapi (Suparno, dalam Suprijono, 2009: 32). 118

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vygotsky juga berpendapat bahwa interaksi sosial berperan penting dalam perkembangan kognisi (Salkind, 2009: 371). Pembelajaran terjadi ketika anakanak bekerja dalam zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development/ ZPD) yaitu jarak antara perkembangan aktual dan perkembangan potensial. Perkembangan aktual ini ditandai dengan kemampuan individu memecahkan masalah secara mandiri, dan perkembangan potensial yang ditentukan oleh kemampuan individu memecahkan dengan bantuan orang lain yang lebih dewasa atau dengan berkolaborasi bersama pasangan yang lebih mampu (Vygotsky dalam Huda, 2014: 40). Perkembangan kognitif siswa juga dipengaruhi oleh adanya interaksi dengan orang lain, baik dengan guru maupun teman sebaya. Guru berperan bagi perkembangan siswa, memberikan informasi, dan memberikan dukungan yang dibutuhkan agar siswa mampu membangun pemahaman. Vygotsky juga menyatakan bahwa dalam proses belajar, terjadi perkembangan dari pengertian spontan, yaitu dimana siswa mempelajari pengetahuan dari pengalaman sehari-hari, menuju ke pengertian ilmiah, yaitu dimana siswa mendapat pengetahuan dari kelas (Suprijono, 2011: 32-33). Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan di mana anak mencoba mengerti dan mengungkapkan arti dari pengalaman, situasi, data kejadian, penilaian, kesepakatan, kepercayaan, aturan, prosedur, atau kriteria (Facione, 1990: 7). Tujuan yang berkaitan dengan proses menginterpretasi adalah dimana siswa mampu untuk memahami dan mengerti, serta dapat menjelaskan kembali pengetahuan yang telah ia pelajari secara langsung. Hal ini dapat dilihat dari saat kegiatan pembelajaran khususnya saat siswa memikirkan soal dan jawaban dan berusaha mencocokkan kartu jawaban dan kartu soal yang sesuai. Kemudian saat siswa mempresentasikan hasil dari mencari pasangan tersebut, dalam hal ini siswa dituntut untuk mengungkapkan kembali materi yang telah ia peroleh dengan bahasanya sendiri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi siswa kelas V SD yang menjadi tempat penelitian. Kemampuan menganalisis adalah kemampuan siswa, dimana ia dapat mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, 119

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI informasi, atau opini (Facione, 1990: 7). Hal ini dapat dilihat saat siswa memikirkan jawaban dan soal, saat itu siswa mengidentifikasi soal atau jawaban dan menghubungkannya dengan pengalaman yang pernah dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian saat siswa mencari pasangan, dalam hal ini siswa juga mengembangkan kemampuan menganalisnya, yaitu dengan cara menjadi jawaban atau soal yang logis dan relevan. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match siswa dapat mencari, menemukan, menyimpulkan, dan meniliti informasi berdasarkan pembelajaran secara langsung. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesi khususnya dalam bidang SAINS, berdasarkan hasil studi pisa 2012 dan 2015. Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan efek menengah terhadap kemampuan menginterpretasi dengan r = 0,31 atau setara dengan 9,61%. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan efek sangat kecil terhadap kemampuan menganalisis dengan r = 0,02 atau setara dengan 0,04%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi dan tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Meskipun dalam penelitian ini model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi siswa, tetapi model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tetap menguntungkan kelompok eksperimen. 120

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan penutup yang membahas, kesimpulan, keterbatasan, dan saran. Kesimpulan menunjukkan hasil penelitian dan menjawab hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisi kekurangan yang ada selama pelaksanaan penelitian. Saran berisi masukkan dari peneliti untuk penelitian selanjutnya. 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi pada materi sistem pernapasan pada hewan siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi penaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent Sample t-test yang menunjukkan rerata selisih skor pretest-posttest I kelompok eksperimen (M = 0,9162;SE = 0,14235) lebih tinggi dari rerata selisih skor pretestposttest I kelompok kontrol (M = 0,4579; SE = 0,15133). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(46)= -2,206; p = 0,32 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya, ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretestposttest I terhadap kemampuan menginterpretasi. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi adalah r = 0,31 atau 9,61% setara dengan efek menengah. 5.1.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis pada materi sistem pernapasan pada hewan siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian menolak hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent Samples t-test yang menunjukkan Hnull tidak ditolak (failed to reject Hnull). Rerata selisih skor pretest-posttest I kelompok eksperimen (M = 1,0138; SE = 0,13548) lebih tinggi dari rerata selisih skor pretest-posttest I kelompok 121

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kontrol (M = 0,9863; SE = 0,12761). Meskipun demikian perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(46)= -0,148; p = 0,883 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak, artinya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest I - pretest pada kemampuan menganalisis. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis adalah r = 0,02 atau 0,04% setara dengan efek sangat kecil. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.1.3 Pengerjaan soal Posttest II pada kelompok eksperimen dilakukan pada saat akan melaksanakan remidial pekan ulangan, sedangkan pada kelompok kontrol dilakukan saat siswa akan melakukan ulangan mata pelajaran lain, sehingga siswa kurang fokus dalam pengerjaan posttest II 5.1.4 Ancaman validitas internal penelitian pada perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan dengan baik. 5.1.5 Hasil penelitian ini terbatas pada SD yang menjadi tempat penelitian, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan pada SD lainnya. 5.3 Saran 5.3.1 Peneliti perlu melakukan koordinasi dengan guru selain guru mitra, agar pada saat pengerjaan Posttest II tidak memberatkan siswa dan mengganggu jadwal mata pelajaran lainnya. 5.3.2 Kelompok kontrol diberikan treatment yang sama setelah penelitian selesai. 5.3.3 Penelitian ini dapat diujicobakan ke Sekolah Dasar lainnya dengan penelitian yang mirip dengan SD yang menjadi tempat penelitian. 122

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Agustin, M. (2011). Permasalahan belajar dan inovasi pembelajaran: Panduan untuk guru, konselor, psikolog, orang tua, dan tenaga keguruan. Bandung: Refika Aditama. Ali, A. (2011). Psikologi remaja: Perkembangan peserta didik. Cetakan ketujuh. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Anderson, L. W. & Krathwol, D. R. (2010). Kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran, dan asesmen. Cetakan 1. Diterjemahkan oleh: Agung Prihantoro.Yogyakarta: Pustaka Belajar. Anggarawati, M. G. Kristiantari, I. G. A. Agung Sri Asri. ( 2014). Pengaruh make a match berbantuan media kartu gambar terhadap hasil belajar IPS SD. Jurnal mimbar pgsd universitas pendidikan ganesha. Volume 2.Nomer 1. 2014. Diakses pada tanggal 18 Maret 2018 dari https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/view/2146/1865 Artawa, S. (2012). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas V SD di gugus 1 kecamatan selat. Jurnal pendidikan. Diakses pada tanggal 17 Maret 2018 dari https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/view/837/710 Azwar, S. (2012). Validitas dan reliabilitas. Jakarta: Pustaka Pelajar. Best, J. W., & Kahn, J.V. (2006). Research in education (tenth edition). Boston: Pearson Education Inc. Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2007). Research methods in education. New York: Routledge. Coker (2010). Effects of an experiential learning program on the clinical reasoning and critical thinking skills of occupational therapy students. Vol. 39. Number 4.2010. Jurnal of allied health. Diakses pada tanggal 18 Maret 2018 dari: http://www.ingentaconnect.com/content/asahp/jah/2010/00000039/000 0004/art0005 Crain, W. (2007). Teori perkembangan: Konsep dan aplikasi.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Creswell, J. (2015). Riset pendidikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif & kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Daryanto. (2017). Pembelajaran abad 21. Yogyakarta: Gava Media. 123

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Desmita. (2011). Psikologi perkembangan siswa. Bandung: Remaja Rosdakarya. Emzie. (2009). Metodologi penelitian pendidikan: Kuantitatif dan kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Fachrudin, I. (2009). Desain penelitian. Malang: Universitas Islam Negeri. Facione, N. C. & Facione, P.A. (1996). Externalizing the critical thinking in knowledge development and clinical judgment. San Francisco: University of California San Francisco. Diakses tanggal 7 Maret 2009, dari www.insightassessment.com/pdf_files/Exernalizing%20CT_%20Nsg%2 Otlk%201 96.PDF Facione, P. A. (1990). Critical thinking: A statement of expert consensus for purposes of educational assessment and instruction, the delphi report. Diakses tanggal 7 Maret 2009, dari www.insightassessment.com/pdf_files/DEXadobe.PDF Facione, P. A. (2007). Critical thinking: What it is and why it counts. San francisco: insight assessment. Diakses tanggal 7 Maret 2009, dari www.insightassessment.com/pdf_files/what&why2006.pdf Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS (third edition). Los Angles: Sage. Fogarty, R. (1991). How to integrate the curricula. Palatine: Skylight Publising Inc. Fraenkel, R., & Wallen, E. (2012). How to design and evaluate research in education 8th edition. Boston: McGraw-Hill Higher Education. Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: UNDIP. Huber & Hutchings. (2008). Integrative learning: Mapping the terrain international. Journal for The Scholarship Of The Teaching & Learning Vol 2. No 1. Diakses pada 23 Maret 2018 dari : https://www.researchgate.net/publication/254325229_Integrative _Learning_Mapping_the_Terrain. Huda, M. (2014). Cooperative learning: metode, teknik, struktur, dan model penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Huda. (2012). Cooperative learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jensen, E. (2011). Pembelajaran berbasis-otak. Paradigma pengajaran baru. Jakarta: PT Indeks 124

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Johnson, B., & Christensen, L. (2008). Educational research, quantitative, qualitative, and mixed approaches, third edition. California: Sage Publications. Karli, H. (2017). Implementasi KTSP dalam model-model pembelajaran. Jakarta: Generasi Info Media. Karli, H. (2007). Kurikulum tingkat satuan pendidikan: Bagaimana mengimplementasikannya di kelas. Bandung: Generasi Info Media. Kemendikbud. (2013). Kompetensi Dasar SD/MI Versi maret 1. Diakses pada 23 Maret 2018. Kurniawati, Wartono, & Diantoro. (2014). Pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing integrasi peer instruction terhadap penguasaan konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa. Vol 10. 2014. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. Diakses pada 18 Maret 2018 dari https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JPFI/article/view/3049/3110 Kusumawati, H. (2017). Udara bersih bagi kesehatan (buku guru). Jakarta: Kementrian Pendidikan & Kebudayaan. Lie, A. (2010). COOPERATIVE LEARNING: Mempraktikkan cooperative learning di ruang-ruang kelas. Jakarta: Grasindo. Margono. (2007). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Maricic, S, Krstivoje, Bojan. (2016). The influence of content on the development of students’ critical thinking in the initial teaching of mathematics. Vo.18.No.1.2016. Croatian journal of education. Diakses pada 18 Maret 2018 dari: file:///C:/Users/Mas%20Teguh%20Tercinta/Downloads/CJE_Vol_18_No 1_2016_1 25_Sanja_Maricic.pdf Martono, N. (2014). Metode penelitian kuantitatif: Analisis isi dan analisis data sekunder. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Maula. (2012). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV SD. Vol.2, Nomer.2, Desember 2012. Diakses pada 17 Maret 2018 dari: http://journal.upgris.ac.id/index.php/malihpeddas/article/view/500/453 Neuman, W. L. (2013). Metodologi penelitian sosial: pendekatan kualitatif dan kuantitatif, edisi ketujuh.Jakarta: PT Indeks. Nurgiantoro, B. (2010). Penilaian pembelajaran bahasa. Yogyakarta: BPFE. 125

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI OECD. (2013). PISA 2012 result: What students know and can do: Students performance in reading, mathematics, and science. Diakses pada tanggal 15 Juli 2018 dari www.oecd.ord/pisa/keyfindings/PISA-2012 resultsoverview.pdf OECD. (2016). PISA 2015 Result in focus. Diakses pada tanggal 15 Juli 2018 dari www.oecd.ord/pisa/pisa2015-results-in-focus.pdf Priyatno, D. (2012). Belajar praktis analisis parametrik dan non parametrik dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media. Purwanto. (2009). Evaluasi hasil belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rohmah, N. (2012). Psikologi pendidikan.Yogyakarta: Teras. Rusman. (2010). Model-model pembelajaran. Bandung: Rajagrafindo Persada. Rusman. (2013). Model-model pembelajaran: Mengembangkan profesionalitas guru. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA di sekolah dasar. Jakarta: Indeks. Sani, R. A. (2013). Inovasi pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Santrock, J. (2003). Adolescence: Perkembangan remaja. Jakarta: Erlangga. Santrock, J. (2009). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika. Slavin R. (2005). Cooperative learning: Teori, riset, dan praktik (narulita yusron). Bandung: Nusa Media. Slavin R. (2008). Psikologi pendidikan: Teori dan praktek (edisi kedelapan). Jakarta: Indeks. Slavin R. (2011). Psikologi pendidikan: Teori dan praktek : jilid 1 (M.Samosir). Jakarta: Indeks. Sudaryono, Margono & Rahayu, W. (2013). Pengembangan instrumen penelitian pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sugiyono. (2013). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2007). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Sumanto. (2014). Teori dan aplikasi metode penelitian. Yogyakarta: CAPS (Center Of Academic Service). 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Suparno, P. (2012). KANISIUS. Teori perkembangan kognitif piaget. Yogyakarta: Suprijono, A. (2013). Cooperative learning: teori dan aplikasi paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Surapranata, S. (2009). Analisis, validitas, reliabilitas, dan interpretasi hasil tes. Bandung: Remaja Rosdakarya. Susanto, A. (2013). Teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar. Jakarta: Kencana Predana Media Group. Trianto. (2010). Model pembelajaran terpadu: Konsep, strategi, dan implementasi dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Yusuf, M. (2014). Metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif & penelitian gabungan. Jakarta: Prenadamedia Grup. 127

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 128

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. 1 Surat Ijin Penelitian 129

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. 2 Surat Ijin Validasi Soal 130

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 1 Silabus Kelompok Kontrol 131

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 2 Silabus Kelompok Eksperimen 135

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 139

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 145

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.4.1 Lembar Kerja Siswa Lembar Kerja Siswa (LKS) PERTEMUAN 1 Nama : No. Absen : 1. Perhatikan gambar dibawah ini! Sebutkan tiga perbedaan antara makhluk hidup pada gambar tersebut! a. ............................. Organ Pernapasannya ......................... b. ............................. Organ Pernapasannya ......................... c. ............................. Organ Pernapasannya ......................... 2. Manusia dan hewan juga bernapas untuk bertahan hidup. Bernapas adalah............................................................................................................ ....................................................................................................................... ........... 3. Tentukan benar atau salahnya pernyataan di bawah ini dengan melingkari B untuk jawaban BENAR dan S untuk jawaban SALAH! 1. 2. 3. 4. Pernapasan adalah proses menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Alat-alat yang secara berurutan diperlukan agar proses pernapasan dapat berlangsung disebut organ pernapasan. Alat pernapasan pada hewan sama dengan alat pernapasan pada manusia. Maria menangkap seekor kupu-kupu. Ia memasukkan kupukupu tersebut ke dalam toples dan menutup nya dengan rapat tanpa diberi lubang udara. Tindakan yang dilakukan oleh Maria sudah benar. B S B S B S B S 153

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lembar Kerja Siswa (LKS) PERTEMUAN 2 Nama : No. Absen : Langkah kegiatan : 1. Amatilah dua toples (toples A dan toples B) yang di bawa oleh gurumu! 2. Bandingkan toples A dan toples B, kemudian catat yang dapat kamu amati. 3. Setelah 60 menit, bandingkan kembali toples A dan toples B tersebut, kemudian catat perubahannya. Tabel Pengamatan Awal Pengamatan Toples A Toples B Perbandingan Tinggi Air Kondisi ikan Ukuran toples Setelah 60 menit Toples A Toples B Perbandingan Tinggi Air Kondisi ikan Ukuran toples 154

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Bagaimana kondisi ikan pada toples B setelah 60 menit? ............................................................................................................................. 2. Mengapa kondisi ikan pada toples B berubah setelah 60 menit? ............................................................................................................................. 3. Bagaimana seharusnya agar kondisi ikan pada toples A dan toples B tetap sama setelah 60 menit? .............................................................................................................................. ............................................................................................................................ 155

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lembar Kerja Siswa (LKS) PERTEMUAN 3 Nama : No. Absen : Tentukan benar atau salahnya pernyataan di bawah ini dengan melingkari B untuk jawaban BENAR dan S untuk jawaban SALAH! 1. Cacing termasuk jenis hewan vermes, sehingga bernapas menggunakan paru-paru. 2. Trakea merupakan alat pernapasan pada belalang. 3. Gurame bernapas mengggunakan insang karena termasuk jenis hewan pisces. 4. Insang dapat berfungsi dengan baik meskipun ikan tidak berada di dalam air. 5. Percabangan pada trakea disebut trakeola. 6. Mulut ikan akan membuka dan menutup untuk membuat gelembung. 7. Organ pernapasan cacing sama dengan organ pernapasan lintah. 8. Mulut dan insang pada ikan akan membuka secara bersamaan. 9. Jika air tercemar, maka kandungan oksigen pada air berkurang sehingga menyebabkan ikan mati. 10. Pak Banu memiliki ternak cacing. Ia meletakkan cacing-cacingnya di sebuah kotak yang sudah diisi tanah kering. Tindakan tersebut tidak akan menyebabkan pernapasan cacing terganggu. B S B B S S B S B B S S B S B S B S B S 156

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lembar Kerja Siswa (LKS) PERTEMUAN 4 Nama : No. Absen : Isilah teka-teki silang (TTS) berikut ini dengan benar! 1 2 4 3 6 10 5 8 9 7 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Diserap oleh hewan ketika bernapas. (Mendatar) Hewan mamalia darat yang bertubuh besar dan memiliki belalai. (Menurun) Organ pernapasan pada hewan mamalia air seperti lumba-lumba. (Mendatar) Contoh hewan amfibi. (Menurun) Organ pernapasan pada hewan insecta. (Mendatar) Hewan yang biasanya memiliki tubuh berwarna hijau atau coklat dan bernapas menggunakan trakea. (Menurun) Hewan mamalia yang dapat terbang dan disebut sebagai hewan nocturnal. (Mendatar) Organ pernapasan yang selalu basah pada hewan katak. (Menurun) Contoh hewan reptil yang memiliki tubuh panjang dan kulit bersisik. (Mendatar) Jika Okta menangkap seekor belalang kemudian di masukkan ke dalam plastik tanpa diberi lubang, maka belalang tersebut akan mati karena kesulitan.... (Menurun) 157

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 1 Soal Uraian Nama : No. Absen : Skor : Bacalah cerita singkat di bawah ini dengan teliti untuk mengerjakan nomer 1-6! Pada suatu hari, siswa kelas V melakukan kunjungan ke kebun binatang Gembira Loka. Setibanya di sana, Budi, Ani, dan Danu melihat berbagai macam hewan seperti: buaya, burung, ikan, kupu-kupu, katak, gajah, unta, ular, belalang, cacing, kuda nil, rusa, komodo, kera, harimau, jerapah, dan kura-kura. Selain itu, mereka juga melihat sebuah pertunjukan lumba-lumba. Setelah selesai mengamati, Budi, Ani, dan Danu mendapatkan pengetahuan baru bahwa hewan-hewan yang mereka lihat memiliki alat pernapasan yang berbeda-beda. 3. a. Berdasarkan cerita di atas, kelompokkanlah hewan-hewan yang ada di kebun binatang Gembira Loka sesuai dengan alat pernapasannya ke dalam tabel di bawah ini! Paru-paru Alat Pernapasan Insang Kulit Trakea 158

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Sebutkan dua fungsi trakea pada serangga! 1) .................................................................................................................. 2) .................................................................................................................. c. Tuliskan dua perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ dan proses pernapasannya! 1) .................................................................................................................. .................................................................................................................. .................................................................................................................. 2) .................................................................................................................. .................................................................................................................. .................................................................................................................. 4. a. (1) Burung bernapas menggunakan paru-paru. (2) Burung bernapas menggunakan kantong udara. Apa yang membedakan 2 pernyataan di atas? Sebutkan minimal 2 perbedaannya! 1) .............................................................................................................. .............................................................................................................. .............................................................................................................. 2) .............................................................................................................. .............................................................................................................. .............................................................................................................. b. Apakah benar ketika berada dalam air, katak bernapas menggunakan kulit? Jelaskan 3 alasanmu! .................................................................................................................... .................................................................................................................... .................................................................................................................... c. Di siang hari yang terik, Budi tidak sengaja menginjak cacing. Kemudian ia membuang cacing tersebut ke jalanan beraspal. Apakah tindakan Budi tersebut menganggu alat pernapasan pada cacing? Jelaskan dua alasanmu! .................................................................................................................... Karena : 1) .............................................................................................................. 2) .............................................................................................................. 5. Tentukan Benar atau Salah pernyataan di bawah ini dengan melingkari jawaban yang tepat! a. Burung mengambil udara dari kantong udara saat terbang. (Benar/Salah). Sebutkan dua alasannya ! Jawab: ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... 159

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Alasan: 1) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 2) ................................................................................................................. ................................................................................................................. b. Belalang bernapas menggunakan trakea (Benar/Salah). Sebutkan tiga alasannya! Jawab: ....................................................................................................................... Alasan: 1) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 2) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 3) ................................................................................................................. ................................................................................................................. c. Kura-kura bernapas menggunakan insang (Benar/Salah). Sebutkan dua alasannya! Jawab: ....................................................................................................................... Alasan: 1) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 2) ................................................................................................................. ................................................................................................................. 6. Jawablah pertanyaan di bawah ini! a. Manakah yang paling sesuai dengan cara bernapas berudu? Tuliskan dua alasanmu! 1) Berudu bernapas menggunakan permukaan kulit karena hidup di tempat yang lembap. 2)Berudu bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit sama seperti katak dewasa. 3) Berudu bernapas menggunakan insang karena hidup di air. Jawab: ......................................................................................................................... Alasan: 160

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1) ..................................................................................................................... ..................................................................................................................... 2) ..................................................................................................................... ..................................................................................................................... b. Danu melihat pertunjukkan lumba-lumba di kebun binatang Gembira Loka. Setiap beberapa menit lumba-lumba muncul ke permukaan air. Sebutkan dua alasan mengapa lumba-lumba sering muncul ke permukaan air! Jawab: 1) ................................................................................................................... ................................................................................................................... 2) ................................................................................................................... ................................................................................................................... c. Dari kedua alasan yang sudah kamu tuliskan di atas, cara manakah yang paling tepat untuk membuktikan bahwa lumba-lumba merupakan hewan mamalia? Jelaskan alasanmu! Jawab: ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... Alasan: ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... 7. a. Perhatikan gambar di bawah ini! Mengapa ikan tersebut membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus? Jelaskan dua alasanmu! ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ b. Akuarium sebuah ikan mas akan dibersihkan oleh petugas kebun binatang, tetapi petugas tersebut memindahkan ikan mas ke dalam wadah yang lebih kecil dibandingkan tubuh ikan mas dengan air yang sedikit. 161

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setujukah kamu dengan tindakan yang dilakukan oleh petugas tersebut? Jelaskan dua alasanmu! ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... c. Sebutkan tiga cara yang dapat dilakukan ketika hendak memindahkan ikan mas dari akuarium ke dalam wadah agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas! ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... ....................................................................................................................... 8. a. Berdasarkan tiga cara yang telah kamu tuliskan ketika kamu hendak memindahkan ikan mas dari akuarium ke dalam wadah agar ikan mas tidak kekurangan oksigen saat bernapas, apakah menurut mu ketiga cara tersebut sudah benar? Jelaskan dua alasanmu! ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... b. Danu menemukan seekor burung gereja, kemudian ia ingin membawa pulang. Kemudian ia memasukkannya ke dalam kantong plastik tanpa diberi lubang dan diikat dngan kencang. Apakah tindakan terhadap burung gereja tersebut sudah benar? Jelaskan alasanmu! ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... c. Berdasarkan soal di atas, jika kamu menjadi Danu maka apa yang seharusnya kamu lakukan? Tuliskan dua cara yang dapat dilakukan! ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... 162

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 2 Kunci Jawaban 1. a. Tabel hewan berdasarkan alat pernapasannya yang ada di Gembira Loka. Paru-paru 1. Buaya 2. Rusa 3. Burung 4. Gajah 5. Katak 6. Unta 7. Kura-kura 8. Lumbalumba 9. Kuda Nil 10. Kera 11. Harimau 12. Komodo 13. Jerapah 14. Ular Alat Pernapasan Insang Kulit 1. Ikan 1. Cacing 2. Katak Trakea 1. Kupu-kupu 2. Belalang b. Dua fungsi trakea : 1. Mengedarkan oksigen ke semua sel tubuh. 2. Menyerap karbondioksida dari semua sel untuk dibuang, mengedarkan sari-sari makanan yang dibawa bersama dengan oksigen ke seluruh tubuh. c. Perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing:  Organ pernapasan : Ular bernapas menggunakan paru-paru, sedangkan cacing menggunakan kulit.  Proses Pernapasan : 1. Ular : hidung anak tekaktrakeabronkusparuparuseluruh tubuhparu-parubronkustrakeaanak tekakhidung 2. Cacing: kulitseluruh tubuhkulit. 2. a. Perbedaan : 1. Paru-paru sebagai tempat untuk pertukaran gas, sedangkan kantong udara sebagai tempat untuk menyimpan cadangan udara. 2. Jika paru-paru digunakan untuk bernapas, sedangkan kantong udara selain untuk menyimpan cadangan udara, juga digunakan 163

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk menjaga keseimbangan tubuh ketika terbang, memperkeras suara dan menjaga suhu. b. Benar, karena : 1. Katak adalah hewan amphibi, maka benar jika kulit digunakan untuk bernapas di air. 2. Kulit katak selalu basah agar dapat berfungsi sebagai alat pernapasan 3. Kulit katak sangat tipis, dan mengandung kapiler-kapiler darah c. Tidak tepat, karena : 1. Cacing akan mati karena kekurangan oksigen, karena cacing bernapas dengan kulit. 2. Kulit cacing menjadi kering/ tidak lembab sehingga bisa mati 3. a. Pernyataan tersebut benar. Alasan: 1. Kantong udara pada burung berfungsi sebagai tempat menyimpan udara. 2. Saat terbang, burung tidak menghirup udara melainkan mengambil dari kantong udara. b. Pernyataan tersebut benar. Alasan: 1. Belalang merupakan jenis hewan serangga. 2. Alat pernapasan serangga berupa trakea, yaitu sistem tabung yang memiliki banyak percabangan di dalam tubuh. 3. Trakea berguna untuk menyalurkan udara pada serangga, menjaga kualitas udara yang masuk dalam tubuh serangga, menyerap karbon dioksida dari semua sel untuk dibuang, mengedarkan sari-sari makanan yang akan diedarkan ke seluruh tubuh. c. Pernyataan tersebut salah. Alasan: 1. Meskipun kura-kura dapat hidup di dua tempat yaitu di air dan di darat, namun kura-kura merupakan jenis hewan reptil. 2. Karena kura-kura merupakan jenis hewan reptil, maka kura-kura bernapas menggunakan paru-paru. 4. a. 3) Berudu bernapas menggunakan insang karena hidup di air. Alasan: 1. Berudu adalah katak yang masih kecil atau anak katak yang biasanya hidup di air. 2. Saat masih berupa berudu, katak hidup di dalam air dan bernapas menggunakan insang. 164

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. 1. Lumba-lumba merupakan jenis hewan mamalia yang hidup di air. 2. Lumba-lumba ketika berada di dalam air sering muncul ke permukaan air untuk mengambil oksigen agar dapat bernapas di dalam air. c. Alasan yang tepat untuk membuktikan bahwa lumba-lumba merupakan hewan mamalia yaitu ketika lumba-lumba sering muncul ke permukaan air. Hal tersebut bertujuan untuk mengambil oksigen agar tetap dapat bernapas di dalam air. 5. a. Ikan membuka dan menutup mulutnya secara terus menerus karena : 1. Membuka dan menutup mulut bertujuan untuk memompa air agar masuk ke dalam mulut ikan. 2. Setelah air masuk ke dalam mulut ikan, kemudian air masuk ke dalam insang dan oksigen dalam air disaring oleh insang untuk diedarkan ke seluruh tubuh ikan. b. Tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh petugas, karena : 1. Wadah yang digunakan terlalu kecil atau tidak sesuai dengan tubuh ikan mas. 2. Air yang diisikan petugas ke dalam wadah terlalu sedikit, sehingga akan membuat ikan yang ada di dalam wadah kehabisan oksigen yang pada akhirnya lemas dan mati. c. Tiga cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium dengan menggunakan gayung agar ikan mas tidak kekurangan oksigen saat bernapas yaitu : 1. Mengambil wadah yang lebih besar dari tubuh ikan mas. 2. Mengisi wadah dengan air yang lebih tinggi sehingga seluruh tubuh ikan mas terendam air. Tujuannya agar ikan tidak kekurangan oksigen. 3. Menggunakan jaring 6. a. Sudah benar, karena ketika memindahkan ikan dari akuarium ke wadah yang dilakukan yaitu : 1. Menggunakan wadah yang lebih besar dari tubuh ikan mas. 2. Mengisi wadah dengan air yang lebih tinggi dari tubuh ikan sehingga seluruh tubuh ikan terendam air. 3. Memindahkan ikan ke dalam wadah dengan segera sehingga ikan tidak mati karena kekurangan oksigen. b. Belum benar, karena burung tersebut dimasukkan ke dalam plastik yang tidak diberi lubang udara akan menyebabkan tidak ada udara yang masuk sehingga lama-lama burung akan mati akibat kekurangan oksigen. 165

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Dua cara yang seharusnya dilakukan yaitu : 1. Memasukkan burung ke dalam plastik yang berukuran lebih besar dari tubuh burung agar burung dapat bergerak. 2. Plastik yang digunakan diberi lubang-lubang kecil agar udara dapat masuk ke dalam kantong plastik sehingga burung tidak kehabisan oksigen dan tetap dapat bernapas dengan baik. 166

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 3 Rubrik Penilaian No Kemampuan No Soal 1. Interpretasi 1a 1b 1c Aspek Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Indikator Soal Kriteria Skor Mengelompokkan hewan di kebun binatang tersebut berdasarkan alat pernapasannya Dapat mengelompokkan hewan lebih dari 15 sesuai dengan alat pernapasannya 4 Dapat mengelompokkan 10-14 hewan sesuai dengan alat pernapasannya 3 Dapat mengelompokkan 5-9 hewan sesuai dengan alat pernapasannya 2 Dapat mengelompokkan kurang dari 5 hewan sesuai dengan alat pernapasannya 1 Jika menyebutkan 2 jawaban dengan benar 4 Jika menyebutkan 2 jawaban tapi kurang tepat 3 Jika hanya menyebutkan 1 jawaban 2 Jika semua jawaban salah 1 Jika menyebutkan 2 perbedaan pernapasan pada hewan dengan benar dan lengkap 4 Jika menyebutkan 2 perbedaan pernapasan pada hewan dengan benar tetapi tidak lengkap 3 Jika menyebutkan 2 perbedaan pernapasan pada hewan kurang 2 Menjelaskan fungsi trakea pada serangga Menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ pernapasan dan proses pernapasannya 167

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Kemampuan No Soal Aspek Indikator Soal Kriteria Skor benar dan tidak lengkap 2. Menganalisis 2a Menguji gagasan-gagasan Menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung 2b Mengidentifikasi argumenargumen Menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air 2c Menganalisis argumenargumen Menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak mengganggu sistem parnapasannya Jika menyebutkan 1 perbedaan pernapasan pada hewan kurang benar dan tidak lengkap 1 Jika menyebutkan 2 jawaban dengan benar 4 Jika menyebutkan 2 jawaban, tetapi keduanya kurang tepat 3 Jika menyebutkan 2 jawaban, tetapi salah satu jawaban salah 2 Jika semua jawaban salah 1 Jika menyebutkan 3 jawaban dengan benar dan lengkap 4 Jika menyebutkan kurang dari 3 jawaban, tetapi tetapi benar dan bahasanya tepat 3 Jika menyebutkan kurang dari 3 jawaban, dan kurang lengkap 2 Jika semua jawaban salah 1 Jika menyebutkan 3 jawaban dengan benar dan lengkap 4 Jika menyebutkan kurang dari 3 jawaban, tetapi tetapi benar dan bahasanya tepat 3 Jika menyebutkan kurang dari 3 jawaban, dan kurang lengkap 2 168

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Kemampuan No Soal Aspek Indikator Soal Kriteria Jika semua jawaban salah 3 Evaluasi 3a 3b Menilai sah tidaknya klaimklaim Menilai sah tidaknya klaimklaim Menilai kebenaran tentang fungsi kantong udara pada burung saat terbang dengan menyebutkan alasannya. Menilai sah tidaknya argumenargumen. 1 Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 2 alasan yang tepat. 4 Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 1 alasan yang tepat. 3 Jika memilih jawaban dengan tepat, namun alasan kurang tepat 2 Jika memilih jawaban tidak tepat dengan alasan yang tidak tepat. 1 Jika memilih jawaban Menilai dengan tepat dan kebenaran atas menyebutkan 3 alasan alat pernapasan yang tepat. 4 Jika memilih jawaban dengan tepat 2 alasan yang tepat. 3 Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 1 alasan yang tepat. 2 Jika memilih jawaban yang tidak tepat dengan alasan yang tidak tepat. 1 Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 2 alasan yang tepat 4 belalang dengan menyebutkan alasannya. 3c Skor Menilai kebenaran argumen untuk menarik kesimpulan 169

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 4 Kemampuan Menarik kesimpulan No Soal 4a Aspek Menguji bukti 4b Menerka alternatifalternatif bukti- Indikator Soal Kriteria Skor mengenai kurakura bernapas menggunakan insang dengan menyebutkan alasannya. Jika memilih jawaban dengan tepat dan menyebutkan 1 alasan yang tepat 3 Jika memilih jawaban dengan tepat dan namun alasan yang tidak tepat 2 Jika memilih jawaban yang tidak tepat dengan alasan yang tidak tepat. 1 Jika dapat menyebutkan 3 jawaban dengan tepat dan memberikan alasan yang tepat. 4 Jika dapat menyebutkan 2 jawaban dengan tepat dan memberikan alasan yang kurang tepat atau tidak memberikan alasan. 3 Jika tidak dapat menyebutkan 1 jawaban yang tepat dan memberikan alasan yang kurang tepat 2 Jika tidak menjawab sama sekali 1 Jika mengemukakan 2 alternatif pemecahan masalah dengan alasan yang tepat 4 Menguji pandangan dalam menentukan alat pernapasan pada berudu. Mengemukakan alternatifalternatif untuk membuktikan bahwa lumbalumba bernapas 170

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Kemampuan No Soal Aspek Indikator Soal mengunakan paru-paru. 4c 5. Eksplanasi 5a Menarik kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran. Tepat menentukan alternatif untuk membuktikan bahwa lumbalumba bernapas mengunakan paru-paru. Menjelaskan 2 alasan mengenai ikan yang membuka dan menutup Kriteria Skor Jika mengemukakan 1 alternatif pemecahan masalah dengan alasan yang tepat 3 Jika mengemukakan 1 alternatif pemecahan masalah dengan alasan yang tidak tepat 2 Jika tidak mengemukakan alternatif pemecahan masalah atau tidak menjawab sama sekali 1 Jika menentukan alternatif yang paling tepat dan alasan yang tepat. 4 Jika menentukan alternatif yang paling tepat dengan alasan yang kurang tepat 3 Jika hanya menentukan solusi yang paling kuat tanpa diberi alasan 2 Jika tidak menentukan solusi yang paling kuat atau tidak ada jawaban benar 1 Jika menjelaskan dua alasan dengan benar. 4 Jika menjelaskan dua alasan kurang benar. 3 171

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Kemampuan No Soal Aspek Indikator Soal mulutnya secara terus menerus. 5b 5c 6. Regulasi Diri 6a Memaparkan argumenargumen yang digunakan. Membenarkan prosedur yang digunakan. Refleksi Diri Kriteria Skor Jika menjelaskan satu alasan dengan benar. 2 Jika menjelaskan satu alasan dengan kurang benar. 1 Jika menjelaskan dua tanggapan dengan benar. 4 Jika menjelaskan dua tanggapan dengan kurang benar. 3 Jika menjelaskan satu tanggapan dengan benar. 2 Jika menjelaskan satu tanggapan kurang benar. 1 Menyebutkan 3 cara yang dapat dilakukan ketika hendak menguras akuarium agar ikan tidak kekurangan oksigen saat bernapas. Jika menyebutkan tiga cara dengan benar. 4 Jika menyebutkan dua cara dengan benar. 3 Jika menyebutkan satu cara dengan benar. 2 Jika menyebutkan satu cara dengan kurang benar. 1 Membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri Jika menjawab dan memberikan 2 alasan dengan benar. 4 Jika menjawab dan memberikan 2 alasan dengan kurang benar. 3 Jika menjawab dan memberikan 1 alasan dengan benar. 2 Menjelaskan 2 tanggapan terhadap tindakan seseorang terhadap hewan yang mengganggu pernapasan hewan. 172

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Kemampuan No Soal 6b 6c Aspek Indikator Soal Refleksi Diri Menilai kembali tindakan diri Koreksi Diri Menguji pandangan sendiri dalam memperlakukan hewan agar tidak menganggu sistem pernapasannya. Kriteria Skor Jika menjawab dan memberikan 1 alasan dengan kurang benar. 1 Menjelaskan jawaban dengan benar dan lengkap. 4 Menjelaskan jawaban dengan benar dan kurang lengkap. 3 Menjelaskan jawaban dengan kurang benar dan kurang lengkap. 2 Menjelaskan jawaban dengan kurang benar dan tidak lengkap. 1 Menjelaskan 2 alasan pandangan pribadi dengan benar. 4 Menjelaskan 2 alasan pandangan pribadi dengan kurang benar. 3 Menjelaskan 1 alasan pandangan pribadi dengan benar. 2 Menjelaskan 1 alasan pandangan pribadi dengan kurang benar. 1 Lampiran 3. 4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgement Variabel No. Soal Validator 1 2 3 Rerata Komentar (Saran Perbaikan) 173

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menginterpretasi 1a 2 3 4 3,00 1b 4 3 2 3,00 1c 3 3 1 2,33 2a 4 4 4 4,00 2b 4 4 3 3,67 2c 2 3 1 2,00 3a 4 3 3 3,33 3b 4 4 3 3,67 Menganalisis Mengevaluasi Menarik Kesimpulan 3c 4 4 3 3,67 4a 4 4 4 4,00 4b 4 3 4 3,67 4c 4 4 3 3,67 Validator 1 : Kalimat perintah kurang tepat. Validator 2 : Isi atau maksud pertanyaan sudah mudah dipahami tinggal membetulkan struktur kalimat. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Efektivitas penggunaan kata. Validator 3 : Kata perintah jelaskan diganti dengan sebutkan. Validator 1 : Kalimat lebih disederhanakan. Validator 2 : Efektivitas penggunaan kata. Validator 3 : Kaitannya apa antara berjalan, menempelkan perut dan pernapasan? Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Bahasa sulit dimengerti. Validator 2 : Cek kunci jawaban. Validator 3 : Di soal, tentang etika atau biologi? Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Cek kunci jawaban, kunci no 2 menjelaskan saat hinggap. Validator 3 : Kata perintah jelaskan diganti dengan sebutkan. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Cek kunci jawaban. Validator 3 : Kata perintah jelaskan diganti dengan sebutkan. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Kata perintah jelaskan diganti dengan sebutkan. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Sudah baik. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. 174

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mengeksplanasi Meregulasi Diri Total Skor Rerata 5a 4 4 4 4,00 5b 4 4 2 3,33 5c 4 4 4 4,00 6a 4 4 4 4,00 6b 2 4 4 3,33 6c 4 4 4 4,00 65 66 57 3,61 3,67 3,17 Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Lihat aspek rubrik penilaian. Validator 3 : Ukuran ikan dan wadah dijelaskan. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Lihat aspek rubrik penilaian. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : OK. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Kalimat perlu disederhanakan. Validator 2 : Cek indikator. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sudah baik. Validator 2 : Cek bahasa pada indikator. Validator 3 : Sudah baik. Validator 1 : Sangat layak untuk diimplementasikan. Validator 2 : Sangat layak untuk diimplemntasikan. Validator 3 : Layak untuk diimplemntasikan dengan sedikit revisi. 175

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.1 Validasi Expert Judgement I 176

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.2 Validasi Expert Judgement II 179

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.3 Validasi Expert Judgement III 182

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 5 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas 3.5.1 Hasil Uji Validitas Semua Variabel Total Aspek Total Item 1a Item 1b Menginterpretasi Item1c Item2a Item2b Menganalisis Item2c Item3a Mengevaluasi Item3b Item3c Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 1 N 30 Pearson Correlation .570** Sig. (2-tailed) .001 N 30 Pearson Correlation .432* Sig. (2-tailed) .017 N 30 Pearson Correlation .588** Sig. (2-tailed) .001 N 30 Pearson Correlation .599** Sig. (2-tailed) .000 N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 30 N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 30 N 30 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .465** N 30 Perason Correlation .624** Sig. (2-tailed) .000 N Pearson Correlation 30 .536** .002 .546** .002 .010 .822** 185

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Item4a Item4b Menarik Kesimpulan Item4c Item5a Item5b Mengeksplanasi Item5c Item6a Item6b Meregulasi Diri Item6c Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .523** N 30 Pearson Correlation .417* Sig. (2-tailed) .022 N 30 Perason Correlation .416* Sig. (2-tailed) .022 N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 30 N 30 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .609** N 30 Pearson Correlation .750** Sig. (2-tailed) .000 N 30 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .786** N 30 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .579** N 30 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .706** N 30 .003 .794** .000 .000 .000 .001 .000 186

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.2 Hasil Uji Validitas Setiap Aspek Kemampuan 3.5.2.1 Kemampuan menginterpretasi Total Aspek Total Item 1a Item 1b Menginterpretasi Item1c Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 30 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) .570** N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 30 .001 .432* .017 30 .588** .001 30 3.5.2.2 Kemampuan menganalisis Total Aspek Total Item2a Item2b Menganalisis Item2c Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 30 .599** .000 30 .536** .002 30 .546** .002 30 187

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 6 Tabulasi Nilai Validitas Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Menginterpretasi a b c 4 2 1 4 2 1 2 2 1 4 2 1 2 2 2 4 2 1 3 2 1 3 2 1 4 2 2 4 2 1 4 2 1 4 2 2 4 3 3 4 1 1 3 2 1 4 2 2 4 4 2 4 2 2 4 2 2 4 2 1 3 1 1 2 1 1 4 2 2 4 2 1 4 2 1 4 2 2 4 2 2 4 2 1 4 2 1 4 3 2 Menganalisis a b c 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 2 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 2 2 2 3 3 3 3 1 1 1 1 1 1 1 2 4 2 2 3 3 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 3 2 1 1 4 2 4 1 2 4 3 1 3 1 1 3 1 1 2 Mengevaluasi a b c 2 2 3 2 1 2 2 2 1 2 2 3 2 3 1 2 3 2 2 2 1 2 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 1 1 1 3 2 3 2 3 2 3 3 3 1 1 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 3 2 3 3 3 3 1 2 3 4 4 4 2 2 3 1 4 4 1 2 3 1 2 3 Menarik Kesimpulan a b c 2 3 2 2 2 1 1 2 1 2 3 2 1 2 1 2 4 1 2 2 1 2 2 4 2 4 4 2 2 1 4 2 1 1 2 1 3 3 2 1 2 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 3 1 1 3 1 2 4 4 2 2 1 1 3 3 4 2 2 3 3 2 3 4 2 2 4 4 4 2 2 4 4 3 2 2 1 3 3 2 Mengeksplanasi a b c 2 4 2 2 2 3 1 1 1 1 3 3 2 2 4 2 1 2 1 1 1 1 1 1 3 3 1 2 2 1 2 2 3 3 4 3 3 3 4 1 3 2 2 3 2 3 4 1 2 3 1 2 4 3 1 3 2 3 3 3 1 1 1 1 1 1 4 4 4 3 3 4 3 2 2 4 3 4 4 4 4 2 2 4 2 2 2 4 4 4 Regulasi Diri a b c Total 1 4 3 42 2 2 1 32 1 4 1 26 2 3 3 41 1 2 4 37 2 4 3 39 1 1 1 25 1 4 1 31 1 3 3 45 1 4 4 36 2 2 3 39 1 4 3 43 4 4 3 57 1 2 1 29 2 2 2 30 1 1 1 39 2 3 3 41 1 4 1 44 1 2 2 33 2 4 3 42 1 1 1 24 1 2 1 26 4 4 4 52 2 4 4 49 1 1 1 36 4 4 3 62 4 3 4 53 4 4 4 54 1 2 2 34 3 3 4 49 188

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 6. 1 Tabulasi Nilai Validitas Kemampuan Menginterpretasi dan Menganalisis No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 x Menginterpretasi (No 1) a b c 4 2 1 4 2 1 2 2 1 4 2 1 2 2 2 4 2 1 3 2 1 3 2 1 4 2 2 4 2 1 4 2 1 4 2 2 4 3 3 4 1 1 3 2 1 4 2 2 4 4 2 4 2 2 4 2 2 4 2 1 3 1 1 2 1 1 4 2 2 4 2 1 4 2 1 4 2 2 4 2 2 4 2 1 4 2 1 4 3 2 3,67 2,03 1,43 No Menganalisis (No 2) Total Total 7 7 5 7 6 7 6 6 8 7 7 8 10 6 6 8 10 8 8 7 5 4 8 7 7 8 8 7 7 9 7,13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 x a 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 3 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 2 4 1 3 1 1 1,47 b 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 3 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1,40 c 2 1 1 3 3 2 1 1 2 2 2 3 3 1 1 4 3 2 2 1 3 1 1 3 1 4 4 3 3 2 2,17 5 3 3 5 6 4 3 3 5 4 5 7 9 3 3 7 7 7 5 3 5 3 4 5 4 10 7 7 5 4 5,03 189

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 7 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas Case Processing Summary N % Valid 30 100 Cases Excludeda 0 0 Total 30 100 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,893 18 190

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 8 Sampel Jawaban Siswa 3.8.1 Pretest 191

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.2 Posttest 196

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 200

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 1 Tabulasi Nilai Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Variabel : Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Pretest Posttest 1 Posttest 2 Pretest Posttest 1 Posttest 2 Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator No Selisih No Selisih 1 2 3 x 1 2 3 x 1 2 3 x 1 2 3 x 1 2 3 x 1 2 3 1 3 2 1 2,00 3 2 1 2,00 0,00 1 2 3 2,00 1 2 1 1 1,33 4 4 2 3,33 2,00 4 2 2 2 2 2 2 2,00 3 2 2 2,33 0,33 4 4 3 3,67 2 3 2 3 2,33 4 3 2 3,00 0,67 2 4 2 3 3 2 1 2,00 4 1 2 2,33 0,33 2 3 2 2,33 3 4 3 2 3,00 4 4 4 4,00 1,00 4 4 4 4 4 2 2 2,67 1 2 1 1,33 -1,00 4 4 3 3,67 4 2 2 1 1,67 3 4 1 2,67 1,00 3 3 3 5 3 1 2 2,00 2 4 3 3,00 1,00 4 3 1 2,67 5 4 2 2 2,67 4 2 3 3,00 0,33 4 3 3 6 4 2 1 2,33 4 2 1 2,33 0,00 3 2 3 2,67 6 3 2 1 2,00 4 4 2 3,33 1,33 2 4 3 7 2 2 3 2,33 2 2 3 2,33 0,00 4 2 2 2,67 7 2 3 2 2,33 4 4 4 4,00 1,67 4 1 4 8 4 2 1 2,33 1 2 1 1,33 -0,33 3 2 3 2,67 8 3 2 2 2,33 4 4 2 3,33 1,00 1 4 2 9 2 1 2 1,67 4 3 1 2,67 1,00 4 3 2 3,00 9 3 3 1 1,67 3 3 4 3,33 1,67 4 3 3 10 3 1 1 1,67 4 2 3 3,00 1,33 4 2 2 2,67 10 3 2 1 2,00 4 4 4 4,00 2,00 1 3 3 11 4 3 2 3,00 2 3 2 2,33 -0,67 4 3 3 3,33 11 2 3 2 2,33 3 4 1 2,67 0,33 4 4 4 12 3 1 1 1,67 3 2 4 3,00 1,33 2 4 4 3,33 12 4 1 3 2,00 4 2 4 3,33 1,33 4 2 4 13 3 3 1 2,33 2 4 2 2,67 0,33 4 3 3 3,33 13 2 3 2 2,33 3 4 2 3,00 0,67 2 2 1 14 1 2 2 1,67 3 2 2 2,33 0,67 4 3 1 2,67 14 4 3 3 3,00 4 2 2 2,67 -0,33 4 3 4 15 3 2 1 2,00 4 3 4 3,67 1,67 3 2 2 2,33 15 3 1 3 3,00 4 4 2 3,33 0,33 4 4 1 16 1 3 1 1,67 1 2 2 1,67 0,00 4 3 4 3,67 16 2 3 2 2,67 4 3 4 3,67 1,00 4 4 3 17 3 1 1 1,67 2 3 2 2,33 0,67 4 2 2 2,67 17 3 2 1 2,00 3 3 1 2,33 0,33 3 2 4 18 2 3 3 2,67 4 1 1 2,00 -0,67 3 2 2 2,33 18 2 2 3 2,67 4 3 4 3,67 1,00 4 3 4 19 3 2 1 2,00 3 4 3 3,33 1,33 2 3 4 3,00 19 4 2 2 2,33 4 2 3 3,00 0,67 2 1 3 20 3 3 2 2,67 2 3 3 2,67 0,00 4 3 4 3,67 20 4 3 2 2,67 4 4 1 3,00 0,33 4 3 4 21 1 1 1 1,00 4 2 2 2,67 1,67 1 1 1 1,00 21 2 4 1 2,33 4 3 4 3,67 1,33 3 3 3 22 3 2 3 2,67 4 4 2 3,33 0,67 3 3 1 2,33 22 3 3 3 3,00 4 1 2 2,33 -0,67 4 2 1 23 3 2 1 2,00 3 2 4 3,00 1,00 4 4 3 3,67 23 4 2 1 2,00 4 4 4 4,00 2,00 4 3 4 24 3 3 1 2,33 4 3 1 2,67 0,33 4 3 2 3,00 24 3 3 2 2,67 4 3 4 3,67 1,00 4 4 4 x 2,68 2,00 1,60 2,10 2,80 2,48 2,20 2,51 0,46 3,20 2,72 2,52 2,85 x 2,96 2,38 1,92 2,35 3,79 3,25 2,75 3,26 0,92 3,29 2,96 3,04 201 x 2,67 2,67 4,00 3,00 3,33 3,00 3,00 2,33 3,33 2,33 4,00 3,33 1,67 3,67 3,00 3,67 3,00 3,67 2,00 3,67 3,00 2,33 3,67 4,00 3,10

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 2 Tabulasi Nilai Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Variabel : Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Pretest Posttest 1 Posttest 2 Pretest Posttest 1 Posttest 2 Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator No Selisih No Selisih 1 2 3 x 1 2 3 x 1 2 3 x 1 2 3 x 1 2 3 x 1 2 3 1 2 1 2 1,67 4 2 2 2,67 1,00 3 2 3 2,67 1 1 1 1 1,00 3 2 1 2,00 1,00 3 1 1 2 1 1 1 1,00 2 2 3 2,33 1,33 4 3 2 3,00 2 1 2 3 2,00 4 2 3 3,00 1,00 2 2 2 3 2 2 1 1,67 4 2 4 3,33 1,67 1 2 3 2,00 3 2 2 3 2,33 3 1 4 2,67 0,33 3 2 3 4 1 1 2 1,33 1 3 2 2,00 0,67 4 4 3 3,67 4 1 1 1 1,00 4 3 3 3,33 2,33 2 1 1 5 2 2 1 1,67 3 3 1 2,33 0,67 3 1 2 2,00 5 4 1 2 2,33 4 3 4 3,67 1,33 2 1 2 6 4 2 3 3,00 4 2 3 3,00 0,00 4 4 2 3,33 6 1 1 1 1,00 2 3 3 2,67 1,67 3 1 2 7 3 1 2 2,00 4 4 1 3,00 1,00 3 2 3 2,67 7 4 2 2 2,67 3 2 4 3,00 0,33 3 2 3 8 1 3 2 2,00 4 2 3 3,00 1,00 2 3 3 2,67 8 1 1 2 1,33 3 4 2 3,00 1,67 4 1 2 9 1 2 3 2,00 2 2 2 2,00 0,00 2 2 2 2,00 9 3 2 1 2,00 3 2 4 3,00 1,00 2 1 2 10 1 1 1 1,00 2 3 3 2,67 1,67 2 1 2 1,67 10 2 2 3 2,33 4 3 1 2,67 0,33 2 1 2 11 1 1 3 1,67 4 1 3 2,67 1,00 3 2 3 2,67 11 4 2 1 2,33 4 3 3 3,33 1,00 3 2 4 12 2 1 3 2,00 3 3 3 3,00 1,00 4 3 1 2,67 12 1 1 1 1,00 2 3 3 2,67 1,67 2 2 1 13 1 1 1 1,00 4 4 1 3,00 2,00 3 4 2 3,00 13 1 1 2 1,33 4 3 2 3,00 1,67 1 1 1 14 2 1 3 2,00 2 3 2 2,33 0,33 4 3 3 3,33 14 4 2 3 3,00 4 4 2 3,33 0,33 3 2 2 15 1 1 2 1,33 4 2 4 3,33 2,00 2 2 2 2,00 15 1 3 2 2,00 4 2 3 3,00 1,00 3 2 4 16 3 2 2 2,33 2 4 2 2,67 0,33 4 3 2 3,00 16 1 2 4 2,33 4 3 3 3,33 1,00 3 3 1 17 2 1 1 1,33 3 1 2 2,00 0,67 2 1 2 1,67 17 1 1 1 1,00 3 2 3 2,67 1,67 3 1 2 18 1 2 2 1,67 2 1 4 2,33 0,67 2 2 2 2,00 18 4 4 1 3,00 4 3 2 3,00 0,00 4 1 2 19 2 2 2 2,00 3 4 3 3,33 1,33 4 3 3 3,33 19 4 1 1 2,00 3 3 2 2,67 0,67 3 2 2 20 3 2 2 2,33 3 4 2 3,00 0,67 4 1 4 3,00 20 3 3 3 3,00 4 4 1 3,00 0,00 2 3 2 21 1 2 3 2,00 1 4 2 2,33 0,33 2 4 4 3,33 21 4 2 4 3,33 4 3 3 3,33 0,00 3 2 3 22 3 2 2 2,33 4 4 3 3,67 1,33 2 2 1 1,67 22 1 1 2 1,33 4 2 4 3,33 2,00 3 4 3 23 1 1 1 1,00 4 4 2 3,33 2,33 4 3 3 3,33 23 1 3 1 1,67 4 3 1 2,67 1,00 3 3 2 24 1 2 1 1,33 3 1 2 2,00 0,67 3 2 2 2,33 24 1 1 2 1,33 4 1 3 2,67 1,33 3 2 4 x 1,72 1,56 1,96 1,74 2,92 2,68 2,48 2,72 0,99 2,88 2,44 2,48 2,63 x 2,08 1,76 2,00 1,94 3,44 2,64 2,68 2,96 1,01 2,64 1,80 2,24 x 1,67 2,00 2,67 1,33 1,67 2,00 2,67 2,33 1,67 1,67 3,00 1,67 1,00 2,33 3,00 2,33 2,00 2,33 2,33 2,33 2,67 3,33 2,67 3,00 2,24 202

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data 4.3.1 Kemampuan Menginterpretasi N Normal Parameter sa,b One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Int InKo InKo InKon InEk InEksP Kon nPost nSel Post2 sPre ost1 Pre 1 24 24 24 24 24 24 2,09 2,513 2,347 ,4579 2,8479 3,2638 79 3 1 Mean Std. ,455 ,5903 ,7413 Deviatio ,64518 09 5 6 n Most Absolut ,169 ,170 ,110 ,150 Extreme e Differenc Positive ,169 ,122 ,110 ,150 es Negativ -,170 -,102 -,141 e ,132 Test Statistic ,169 ,170 ,110 ,150 c, Asymp. Sig. (2,076 ,200 ,072c ,171c d c tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. InEk sSel InEksP ost2 24 24 ,9163 3,0975 ,4559 9 ,51092 ,6973 6 ,64863 ,152 ,135 ,131 ,149 ,140 ,115 ,119 ,101 -,152 -,135 -,131 -,149 ,152 ,135 ,149 ,161c ,200c,d ,131 ,200c, d ,183c 4.3.2 Kemampuan Menganalisis N Normal Parame tersa,b One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test AnaKon AnaK AnaKon AnaE AnaEks Post1 onSel Post2 ksPre Post1 24 24 24 24 24 1,943 1,7358 2,7217 ,9863 2,6254 2,9588 3 AnaK onPre 24 Mean Std. Devi ation Most Abso Extrem lute e Positi Differe ve nces Nega tive Test Statistic AnaE ksSel 24 1,013 8 AnaEks Post2 24 2,2363 ,51041 ,49805 ,62516 ,62297 ,7398 5 ,35708 ,6636 9 ,58502 ,156 ,170 ,158 ,176 ,171 ,171 ,158 ,147 ,136 ,159 ,158 ,176 ,171 ,166 ,140 ,125 -,156 -,170 -,098 -,154 -,116 -,171 -,158 -,147 ,156 ,170 ,158 ,176 ,171 ,171 ,158 ,147 ,070c ,125c ,054c ,066c ,068c ,123c ,194c Asymp. Sig. (2,136c tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. 203

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 4 Hasil SPSS Homogenitas Varian Kemampuan Awal 4.4.1 Kemampuan Menginterpretasi Test of Homogeneity of Variances InKonEksPre Levene Statistic ,017 df1 1 df2 46 Sig. ,896 4.4.2 Kemampuan Menganalisis Test of Homogeneity of Variances AnaKonEksPre Levene Statistic 4,647 df1 1 df2 46 Sig. ,036 204

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal 4.5.1 Kemampuan Menginterpretasi Group Statistics Kelompok InKonEKsPre N Interpretasi Kontrol Pretest InterPretasi Eksperimen Pretest Mean Std. Deviation Std. Error Mean 24 2,0979 ,45509 ,09289 24 2,3471 ,45599 ,09308 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances InKonEKsPre Equal variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means df Sig. (2tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper F Sig. t ,017 ,896 1,895 46 ,064 -,24917 ,13150 ,51387 ,01553 1,895 46,000 ,064 -,24917 ,13150 ,51387 ,01553 205

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.5.2 Kemampuan Menganalisis Group Statistics Kelompok AnKonEksPre N Analisis Kontrol Pretest Analisis Eksperimen Pretest Mean Std. Deviation Std. Error Mean 24 1,7358 ,51041 ,10419 24 1,9433 ,73985 ,15102 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances AnKonEksPre Equal variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means df Sig. (2tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper F Sig. t 4,647 ,036 1,131 46 ,264 -,20750 ,18347 ,57681 ,16181 1,131 40,850 ,265 -,20750 ,18347 ,57807 ,16307 206

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 6 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest ke Posttest I 4.6.1 Kemampuan Menginterpretasi Test of Homogeneity of Variances InKonEksSel Levene Statistic ,311 df1 df2 1 46 Sig. ,580 4.6.2 Kemampuan Menganalisis Test of Homogeneity of Variances InKonEksSel Levene Statistic ,078 df1 df2 1 46 Sig. ,781 207

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 7 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 4.7.1 Kemampuan Menginterpretasi Pengaruh Perlakuan = (O2 – O1) – (O4 – O3) = (3,263 – 2,347) – (2,513 – 2,097) = 0,916 – 0,415 = 0,501 Group Statistics Kelompok InKonEksSel N Std. Deviation Mean Interpretasi Kontrol Selisih Interpretasi Eksperimen Selisih Std. Error Mean 24 ,4579 ,74136 ,15133 24 ,9163 ,69736 ,14235 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances InKonEksSel Equal variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means df Sig. (2tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper F Sig. t ,311 ,580 2,206 46 ,032 -,45833 ,20776 ,87653 ,04014 2,206 45,829 ,032 -,45833 ,20776 ,87657 ,04010 208

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.2 Kemampuan Menganalisis Pengaruh Perlakuan = (O2 – O1) – (O4 – O3) = (2,958 – 1,943) – (2,721 – 1,735) = 1,015 – 0,985 = 0,029 Group Statistics Kelompok AnKonEksSel N Std. Deviation Mean Analisis Kontrol Selisih Analisis Eksperimen Selisih Std. Error Mean 24 ,9863 ,62516 ,12761 24 1,0138 ,66369 ,13548 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances AnKonEksSel Equal variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means df Sig. (2tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper F Sig. t ,078 ,781 ,148 46 ,883 -,02750 ,18611 ,40213 ,34713 ,148 45,836 ,883 -,02750 ,18611 ,40216 ,34716 209

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 8 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan Effect Size kemampuan menginterpretasi adalah sebagai berikut: Effect Size kemampuan menganalisis adalah sebagai berikut: 𝑡2 𝑟= √ 2 𝑡 + 𝑑𝑓 𝑡2 𝑟= √ 2 𝑡 + 𝑑𝑓 −2,2062 𝑟= √ −2,2062 + 46 −0,1482 𝑟= √ −0,1482 + 46 4,866 𝑟= √ 50,866 0,0129 𝑟= √ 46,0219 4,866 𝑟= √ 4,866 + 46 0,0219 𝑟= √ 0,0129 + 46 𝑟 = √0,0956 𝑟 = √4,7594 𝑟 = 0,309 𝑟 = 0,31 𝑟 = 0,021 𝑟 = 0,02 Persentase pengaruh penggunaan model pembelajaran tipe make a match untuk kemampuan menginterpretasi: Persentase pengaruh penggunaan model pembelajaran tipe make a match untuk kemampuan menganalisis: 𝑅2= 𝑟 2 = (0,31)2 𝑅2= 𝑟 2 = 0,0961 = 0,0004 Persentase = 𝑅2 𝑥 100% = 0,0961 x 100% Persentase = 𝑅2 𝑥 100% = 0,0004 x 100% = 9,61% = 0,04% = (0,02)2 210

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol = = = (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑥 100% 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 (2,5133 − 2,0979) 𝑥 100% 2,0979 (0,4154) 𝑥 100% 2,0979 = 0,198 𝑥 100% = 19,8% Kelompok Eksperimen = = = (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑥 100% 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 (3,2638 − 2,3471) 𝑥 100% 2,3471 (0,9167) 𝑥 100% 2,3471 = 0,3905𝑥 100% = 39% Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol = = = (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑥 100% 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 (2,7217 − 1,7358) 𝑥 100% 1,7358 (0,9859) 𝑥 100% 1,7358 = 0,5679 𝑥 100% = 56% Kelompok Eksperimen = = = (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑥 100% 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 (2,9588 − 1,9433) 𝑥 100% 1,9433 (1,0155) 𝑥 100% 1,9433 = 0,5225 𝑥 100% = 52% 211

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.2 Hasil SPSS Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.2.1 Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 Mean 2,5133 2,0979 InKonPost1 InKonPre Paired Samples Correlations N Correlation InKonPost1 & 24 -,195 InKonPre Std. Deviation ,59035 ,45509 N 24 24 Std. Error Mean ,12051 ,09289 Sig. ,361 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 InKonPost1 - InKonPre Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,41542 ,81272 ,16590 ,07223 ,75860 t df Sig. (2tailed) 2,504 23 ,020 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 Mean 3,2638 2,3471 InEksPost1 InEksPre 24 24 Paired Samples Correlations N Correlation InEksPost1 24 -,036 & InEksPre Mean Pair 1 InEksPost1 - InEksPre ,91667 Std. Deviation ,51092 ,45599 N Sig. ,869 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Deviation Mean Lower Upper ,69679 ,14223 Std. Error Mean ,10429 ,09308 ,62244 1,21090 t 6,445 df 23 Sig. (2tailed) ,000 212

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.2.2 Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 Mean 2,7217 1,7358 AnaKonPost1 AnaKonPre 24 24 Paired Samples Correlations N Correlation AnaKonPost1 & 24 ,232 AnaKonPre AnaKonPost1 - AnaKonPre Std. Error Mean ,10166 ,10419 Sig. ,275 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Upper Deviation Mean Lower Mean Pair 1 Std. Deviation ,49805 ,51041 N ,98583 ,62492 ,12756 ,72195 1,24972 t df 7,728 23 Sig. (2tailed) ,000 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 AnaEksPost1 AnaEksPre Pair 1 N 24 Std. Deviation ,35708 Std. Error Mean ,07289 1,9433 24 ,73985 ,15102 Paired Samples Correlations N Correlation AnaEksPost1 & 24 ,445 AnaEksPre Mean Pair 1 Mean 2,9588 AnaEksPost1 - AnaEksPre 1,01542 Sig. ,029 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Deviation Mean Lower Upper ,66322 ,13538 ,73536 1,29547 t 7,501 df 23 Sig. (2tailed) ,000 213

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3 Perhitungan Persentase Gain Score 4.9.3.1 Tabulasi Gain Score Kemampuan Menginterpretasi No Gain Score 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 -0,33 -0,67 -1 0 0,33 0,67 1 1,33 1,67 2 Frekuensi Kontrol Eksperimen 1 2 1 5 4 3 3 3 2 0 1 1 0 0 6 5 3 3 2 3 4.9.3.2 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,33 Kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥ 0,33 sebanyak 15 siswa Frekuensi gain score ≥ 0,33 sebanyak 22 siswa 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 Persentase = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% 15 = 24 x 100% = 62,5% 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 Persentase = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% 22 = 24 x 100% = 91,7% 214

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3.3 Tabulasi Gain Score Kemampuan Menganalisis Frekuensi Kontrol Eksperimen 2 3 No Gain Score 1 0 2 0.33 3 4 3 0.67 6 1 4 1 5 7 5 1,33 3 2 6 1,67 2 5 7 2 2 1 8 2,33 1 1 4.9.3.4 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 1 Kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥ 1 sebanyak 13 siswa Frekuensi gain score ≥ 1sebanyak 16 siswa Persentase = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% Persentase = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 = 13 24 x 100% = 54% 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 = 16 24 x 100% = 66% 215

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 10 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I 4.10.1 Kemampuan Menginterpretasi 4.10.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol IntKonPre InKonPost1 Correlations IntKonPre Pearson 1 Correlation Sig. (2tailed) N 24 Pearson -,195 Correlation Sig. (2,361 tailed) N 24 InKonPost1 -,195 ,361 24 1 24 4.10.1.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations InEksPre InEksPost1 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N Pearson Correlation Sig. (2tailed) N InEksPre InEksPost1 1 -,036 ,869 24 24 -,036 1 ,869 24 24 216

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2 Kemampuan Menganalisis 4.10.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol Correlations AnaKonPre AnaKonPost1 AnaKonPre AnaKonPost1 1 ,232 Pearson Correlation Sig. (2tailed) N Pearson Correlation Sig. (2tailed) N ,275 24 24 ,232 1 ,275 24 24 4.10.2.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen AnaKonPre AnaKonPost1 Correlations AnaKonPre Pearson 1 Correlation Sig. (2tailed) N 24 Pearson 0,232 Correlation Sig. (20,275 tailed) N 24 AnaKonPost1 0,232 0,275 24 1 24 217

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 11 Hasil Uji Retensi Perlakuan 4.11.1 Kemampuan Menginterpretasi 4.11.1.1 Hasil SPSS Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II Paired Samples Statistics Pair 1 Mean 2,8479 2,5133 InKonPost2 InKonPostI Pair 1 N 24 24 Std. Error Mean ,13170 ,12051 Std. Deviation ,64518 ,59035 Paired Samples Correlations N Correlation InKonPost2 & 24 -,142 InKonPostI Sig. ,509 Paired Samples Test Mean Pair 1 InKonPost2 InKonPostI Sig. (2tailed) Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Lower Upper Mean Deviation ,33458 ,93422 ,19070 -,05990 ,72907 t df 1,755 23 ,093 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 Mean 3,0975 3,2638 InEksPost2 InEksPostI N 24 24 Paired Samples Correlations N Correlation InEksPost2 & 24 ,228 InEksPostI Std. Deviation ,64863 ,51092 Std. Error Mean ,13240 ,10429 Sig. ,284 Paired Samples Test Mean Pair 1 InEksPost2 - InEksPostI -,16625 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Mean Deviation Lower Upper ,72855 ,14871 -,47389 ,14139 t df Sig. (2tailed) -1,118 23 ,275 218

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.11.1.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II Persentase Peningkatan Rerata Posttest I ke Posttest II kemampuan Menginterpretasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen = (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) 𝑥 100% = 𝑥 100% 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 = (2,847 − 2,513) 𝑥 100% 2,513 = (0,334) 𝑥 100% 2,513 = 0,133𝑥 100% = 13% = = (3,097 − 3,263) 𝑥 100% 3,263 (−0,166) 𝑥 100% 3,263 = 0,050𝑥 100% = -6% 219

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.11.1.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 Pair 1 InKonPost2 IntKonPre Mean 2,8479 2,0979 N 24 24 Std. Deviation ,64518 ,45509 Std. Error Mean ,13170 ,09289 Paired Samples Correlations N Correlation InKonPost2 & 24 ,365 IntKonPre Mean InKonPost2 - IntKonPre Sig. ,079 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Mean Deviation Lower Upper ,75000 ,63946 ,13053 ,47998 t 1,02002 5,746 df Sig. (2tailed) 23 ,000 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 InEksPost2 InEksPre Mean 3,0975 2,3471 Paired Samples Correlations N Correlation InEksPost2 & 24 ,260 InEksPre Mean Pair 1 N 24 24 Std. Deviation ,64863 ,45599 InEksPost2 - InEksPre ,75042 Std. Error Mean ,13240 ,09308 Sig. ,220 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Deviation Mean Lower Upper ,68907 ,14066 ,45945 1,04139 t df Sig. (2tailed) 5,335 23 ,000 220

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.1 Kemampuan Menganalisis 4.12.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 Mean 2,6254 2,7217 AnaKonPost2 AnaKonPost1 Std. Deviation ,62297 ,49805 Paired Samples Correlations N Correlation AnaKonPost2 & 24 ,007 AnaKonPost1 Mean Pair 1 N 24 24 AnaKonPost2 AnaKonPost1 -,09625 Std. Error Mean ,12716 ,10166 Sig. ,975 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Mean Lower Upper Deviation ,79491 ,16226 -,43191 ,23941 t df Sig. (2tailed) -,593 23 ,559 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 Mean 2,2363 2,9588 AnaEksPost2 AnaEksPost1 N 24 24 Std. Deviation ,58502 ,35708 Paired Samples Correlations N Correlation AnaEksPost2 & 24 ,139 AnaEksPost1 Std. Error Mean ,11942 ,07289 Sig. ,518 Paired Samples Test Sig. (2tailed) Paired Differences Mean Pair 1 AnaEksPost2 AnaEksPost1 -,72250 Std. Deviation ,64174 Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,13099 -,99348 -,45152 t df -5,516 23 221 ,000

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II Persentase Peningkatan Rerata Posttest I ke Posttest II kemampuan Menganalisis Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen = (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) 𝑥 100% = 𝑥 100% 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 = (2,625 − 2,721) 𝑥 100% 2,721 = (−0,096) 𝑥 100% 2,721 = −0,035𝑥 100% = -3,5% = = (2,236 − 2,958) 𝑥 100% 2,958 (−0,722) 𝑥 100% 2,958 = −0,244𝑥 100% = -24% 222

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Pair 1 Mean 2,6254 1,7358 AnaKonPost2 AnaKonPre Paired Samples Correlations N Correlation AnaKonPost2 & 24 ,176 AnaKonPre Pair 1 Mean Pair 1 Std. Deviation ,62297 ,51041 N 24 24 AnaKonPost2 - AnaKonPre Std. Error Mean ,12716 ,10419 Sig. ,411 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Std. Error Deviation Mean Lower Upper ,88958 ,73270 ,14956 ,58019 1,19898 t df Sig. (2tailed) 5,948 23 ,000 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 1 AnaEksPost2 AnaEksPre Mean 2,2363 1,9433 Paired Samples Correlations N Correlation AnaEksPost2 24 ,310 & AnaEksPre Mean Pair 1 N 24 24 Std. Deviation ,58502 ,73985 AnaKonPost2 - AnaKonPre ,88958 Std. Error Mean ,11942 ,15102 Sig. ,140 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Difference Error Std. Deviation Mean Lower Upper ,73270 ,14956 ,58019 1,19898 t df Sig. (2tailed) 5,948 23 ,000 223

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 1 Lampiran Foto Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Siswa kelompok kontrol sedang mendengarkan penyampaian materi Siswa kelompok eksperimen sedang memperhatikan penyampaian materi Siswa kelompok kontrol sedang memperhatikan penyampaian materi Siswa kelompok eksperimen sedang mengamati alat pernapasan hewan Siswa kelompok kontrol sedang mengerjakan LKS Siswa kelompok eksperimen melakukan simulasi permainan kartu 224

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Siswa kelompok kontrol sedang memperhatikan penyampaian materi Siswa kelompok eksperimen mencari pasangan dan mencocokkan kartu 225

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian 226

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Margaretha Herlin Pratiwi adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Gadis yang akrab dipanggil Herlin ini merupakan anak dari pasangan Lukas Rustamsi dan Cicilia Sularni. Lahir di Muara bungo, 06 Juni 1997. Pendidikan dimulai dari SD Negeri Karang Binangun tahun 2003-2009. Pendidikan Menengah Pertama Charitas 04 Karang Binangun pada tahun 2009-2012. Peneliti menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas Xaverius 01 Belitang tahun 2012 hingga lulus pada tahun 2015. Setelah lulus hingga sekarang, peneliti melanjutkan pendidikan di Universitas Sanata Dharma Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Berikut ini kegiatan-kegiatan yang pernah diikuti peneliti selama menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma. No Nama Kegiatan Tahun Peran 1. 2. Inisiasi Universitas Sanata Dharma Inisiasi Fakultas 2015 2015 Peserta Peserta 3. Inisiasi Prodi 2015 Peserta 4. Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa I (PPKMB I) 2015 peserta 5. Seminar “Reinventing Childhood Education” 2015 Peserta 6. Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa II (PPKMB II) 2015 Peserta 7. Weekend Moral 2015 Peserta 8. Kursus Mahir Tingkat Dasar (KMD) 2016 Peserta 9. Parade Gamelan Anak 2016 Anggota Divisi Acara 10. Ujian tari Grisadha 2016 Peserta 11. Dies Natalis 61 Universitas Sanata Dharma 2016 Anggota Divisi Tari 12. Kuliah Umum PGSD 2016 Peserta 227

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. Dialog Dosen dan Mahasiswa 2017 Peserta 14. Dies Natalis Prodi PGSD 2017 Co USDA 15. Pagelaran Sendratari Grisadha 2017 Co Acara 16. Inisiasi Fakultas 2017 17. English Club Program 18 Sport League PGSD Anggota Divisi Siesen 2015-2017 Peserta 2017 Anggota Divisi USDA 228

(246)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA PADA POKOK BAHASAN SISTEM KOLOID.
0
0
23
PENERAPAN METODE KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT PERTANYAAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA.
0
1
17
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS MATERI PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 SANDEN.
0
2
250
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI SUROKARSAN II YOGYAKARTA.
0
1
204
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DALAM MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 3 PALAR, KLATEN.
0
0
237
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI GAYA KELAS V SD 5 DERSALAM KUDUS
0
0
21
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPS KELAS V SD
0
0
12
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD
0
0
8
PENGARUH PENERAPAN TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PEMBELAJARAN IPS KELAS V
0
0
10
PENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH IPS DI KELAS V SD
0
0
13
PENGARUH PENERAPAN MODEL MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA SD
0
0
8
1 PENGARUH PENERAPAN MODEL MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V
0
1
8
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP MINAT BELAJAR MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS V YPS MI MANGGARUPI KABABUPATEN GOWA
0
0
114
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIKA SISWA KELAS VII C SMP MUHAMMADIYAH AJBARANG
0
0
14
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
258
Show more