Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V Sekolah Dasar - USD Repository

Gratis

0
0
257
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Halimah Dwi Cahyani NIM: 151134113 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini Peneliti persembahkan kepada: 1. Allah SWT, Maha Segala-galanya. 2. Kedua orang tua, Sukardi dan Tumini yang selalu memberikan semua yang terbaik di kehidupan saya. 3. Fajar Dian Wasisti, kakak yang selalu memberikan semangat dan hiburan ketika lelah. 4. Sahabat-sahabatku yang bersama berjuang, sebagai penghibur, pengingat dan penyemangat saya. 5. Universitas Sanata Dharma, almamater yang saya banggakan. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya” Q.S. Al-Baqarah: 286) “Barang siapa yang mengendaki kehidupan dunia, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa meghendaki keduanya maka wajib memiliki ilmu” (HR. Tirmidzi) “Bukan karna kehebatanmu yang akan menjadikanmu sukses, tetapi ingatlah orang-orang yang selalu mendoakanmu dan mendukungmu” v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahawa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam daftar kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 18 Januari 2019 Penulis Halimah Dwi Cahyani vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Halimah Dwi Cahyani Nomor Mahasiswa : 151134113 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR”. Dengan hak demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 18 Januari 2019 Yang menyatakan Halimah Dwi Cahyani vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Halimah Dwi Cahyani Universitas Sanata Dharma 2019 Latar belakang penelitian ini adalah keprihatinan terhadap rendahnya tingkat mutu pendidikan di Indonesia dalam penelitian PISA pada tahun 2012 dan 2015. Pelaksanaan pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri pada siswa kelas V Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan penelitian quasi experimental tipe pretestposttest non-equivalent group desain. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta sebanyak 59 siswa. Sampel penelitiannya terdiri dari 30 siswa kelas V A sebagai kelompok eksperimen dan 29 siswa kelas V B sebagai kelompok kontrol. Treatment yang diterapkan di kelompok eksperimen adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Ada empat langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe TPS yaitu langkah 1 mencari solusi secara individu (think), langkah 2 bertukar pikiran kepada pasangan (pair), langkah 3 memecahkan masalah bersama, langkah 4 kelompok besar (share I), dan berbagi ide dengan kelas (share II/ conclusion). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Selisih skor yang dimiliki kelompok eksperimen (M = 0,5787 ,SE = 0,12266) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,2645, SE = 0,09712). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(57) = -2,00 dan p = 0,05 (p > 0,05). Besarnya pengaruh sebesar r = 0,254 atau setara dengan 6,4% yang termasuk dalam kategori efek kecil. 2) Model pembelajaran kooperatif tipe TPS tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Selisih skor yang dimiliki kelompok eksperimen (M = 0,2557 ,SE = 0,10294) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,0797, SE = 0,11916). Meskipun demikian, perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(57) = -1,115 dan p = 0,27 (p > 0,05) Besarnya pengaruh sebesar r = 0,146 ataus setara dengan 2,1% yang termasuk dalam kategori efek kecil. Kata kunci: Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share, kemampuan mengeksplanasi, kemampuan meregulasi diri. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECT OF THE IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE LEARNING MODEL TYPE THINK PAIR SHARE ON THE ABILITY TO EXPLAIN AND SELF REGULATE FOR THE FIFTH GRADE STUDENTS OF ELEMENTARY SCHOOL Halimah Dwi Cahyani Universitas Sanata Dharma 2019 This research was based on a concern of the low quality of education in Indonesia according to PISA researches in 2013 and 2016. The learning process still uses conventional learning models. The resesrch aimed at finding out the effect in the implementation of Think Pair Share (TPS) on the ability to explain and to do self regulation of grade V elementary school students. The research was quasi experimental research with nonequivalent pretestposttest non-equivalent group design. The subjects of this study were 59 grade V students of a public elementary school in Yogyakarta. The sample included 30 students of V A class as the experimental group and 29 students of V B class as the control group. The treatment for the experiment group was Think Pair Share model. There were four steps in coooperative learning using this type that included: (1) finding solutions individually (think), (2) exchanging the result with a pair (pair), (3) solving problems in small groups, (4) sharing the result with large groups (share I), and lastly sharing with the class (share II/conclusion). The results of the study showed that (1) cooperative learning using TPS type affected students’ ability to explain. There was a significant difference between the score from the experimental group (M= 0,5787 ,SE= 0,12266) as it was significantly higher compared to that from the control group (M= 0,2645, SE= 0,09712). Distinction showed by t(57) = -2,00 and p of 0,05 (p > 0,05) means that Hnull is rejected and Hi is accepted. There was significant difference between the score of the two groups. The effect showed by r = 0,254 equivalent to 6,4% was categorized as having a small effect. (2) cooperative learning using TPS type did not affect the ability do self regulation. There was a difference between score from the experimental group (M = 0,2557 ,SE = 0,10294) which is higher than the control group (M = 0,0797, SE = 0,11916). However, the diference was insignificant. Distinction indicated by t(57) = -1,115 and p of 0,27 (p < 0,05) means that Hnull is accepted and Hi is rejected. There was no significant difference between the score of the two groups. The effect showed by r = 0,146 equivalent to 2,1% was categorized as having small effect. Keyword: Cooperative learning model type Think Piar Share, ability to explain, ability to self regulate. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karuni-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. Selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dengan sabar dan bijaksana. 5. Agnes Herlina Dwi Hadiyanti, S.Si., M.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dengan penuh kesabaran. 6. Tuwartini, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Negeri Nogopuro Yogyakarta yang telah memberikan ijin melakukan penelitian. 7. Novi Andriyani, S.Pd. selaku Guru mitra yang membantu pelaksanaan penelitian sehingga penelitian dapat berjalan dengan lancar. 8. Siswa kelas V A dan V B SD Negeri Nogopuro Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 yang bersedia terlibat dalam penelitian. 9. Seluruh warga sekolah SD Negeri Nogopuro yang sangat menghibur. 10. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma yang telah membantu proses perijinan penelitian skripsi. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. Kedua orang tua, Sukardi dan Tumini yang dengan sabar dan penuh perhatian mendampingi serta memberikan doa yang tulus. 12. Kakakku, Fajar Dian Wasisti yang selalu memberikan arahan dan semangat dalam pengerjaan skripsi. 13. Teman “Kecebong” yang seperjuangan dalam penelitian kolaboratif payung Anggun, Niken, Clara, Herlin, Poppy, Lintang, Agnes, Rani, Melsa, Erine, Felis yang membantu selama melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi. 14. Kelompok PPL “Matahari Bersinar Rasa Jeruk” SD Negeri Nogopuro Niken, Anggun, Monieca, Ampika, Petrus, Pandu, Bagas dan Herdyan yang selalu memberikan semangat serta hiburan. 15. Teman-teman yang memberikan semangat dalam pengerjaan skripsi Ligya, Lestari, Atika, Astri, Wulan, Diyah, Evita, dan Gina. 16. Teman sepermainan sejak SMA Ayu, Anjar, Erryna, Cindy, Maya, Bastari dan Ifah yang tidak lupa memberi dukungan. 17. Teman seperjuangan, Fransiscus Xaverius Herdyan Sudarwanto yang selalu membantu mengkoreksi kesalahan tulis dalam pembuatan skripsi. 18. Teman-teman kelas D angkatan 2015 yang sama-sama berjuang meraih gelar sarjana dan pengalaman drama kehidupan pertemanan kelas yang berwarna. 19. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu dan telah membantu dalam menyelesaikan skripsi. Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna karena keterbatasan kemampuan. Segala kritik dan saran membangun akan penulis terima dengan senang hati. Penulis berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan para pembaca. Penulis xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING Error! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN .............................. Error! Bookmark not defined. HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iii HALAMAN MOTTO ........................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .......................................................... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 6 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 6 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................ 6 1.5 Definisi Operasional ......................................................................................... 7 BAB II LANDASAN TEORI .............................................................................. 9 2.1 Kajian Teori ...................................................................................................... 9 2.1.1 Teori-teori yang Mendukung ......................................................................... 9 2.1.1.1 Teori Perkembangan ................................................................................... 9 2.1.1.2 Pembelajaran Kooperatif ........................................................................... 15 2.1.1.3 Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) ........................... 20 2.1.1.4 Kemampuan Berpikir Kritis ...................................................................... 24 2.1.1.5 Kemampuan Mengeksplanasi ................................................................... 26 2.1.1.6 Kemampuan Meregulasi Diri .................................................................... 26 2.1.1.7 Materi Ilmu Pengetahuan Alam ................................................................ 27 2.1.2 Penelitian yang Relevan ............................................................................... 28 2.1.2.1 Penelitian yang Relevan Mengenai Think Pair Share (TPS) .................... 28 2.1.2.2 Penelitian yang Relevan Mengenai Berpikir Kritis................................... 29 2.1.2.3 Literature Map .......................................................................................... 31 2.2 Kerangka Berpikir .......................................................................................... 32 2.3 Hipotesis Penelitian ........................................................................................ 34 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 35 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.1 Jenis Penelitian ............................................................................................... 35 3.2 Setting Penelitian ............................................................................................ 37 3.2.1 Lokasi Penelitian .......................................................................................... 37 3.2.2 Waktu Penelitian .......................................................................................... 37 3.3 Populasi dan Sampel....................................................................................... 38 3.3.1 Populasi ........................................................................................................ 38 3.3.2 Sampel ..........................................................................................................38 3.4 Variabel Penelitian ......................................................................................... 39 3.4.1 Variabel Independen .................................................................................... 39 3.4.2 Variabel Dependen ....................................................................................... 39 3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................................. 40 3.6 Instrumen Penelitian ....................................................................................... 42 3.7 Teknik Pengujian Instrumen........................................................................... 43 3.7.1 Uji Validitas ................................................................................................. 43 3.7.1.1 Validitas Permukaan ................................................................................. 43 3.7.1.2 Validitas Isi ............................................................................................... 43 3.7.1.3 Validitas Konstruk..................................................................................... 44 3.7.2 Uji Reliabilitas.............................................................................................. 45 3.8 Teknik Analisis Data ....................................................................................... 46 3.8.1 Analisis Pengaruh Perlakuan ........................................................................ 46 3.8.1.1 Uji Asumsi................................................................................................. 46 3.8.1.2 Uji Signifikansi ......................................................................................... 48 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut ................................................................................... 51 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ........................... 51 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan ...................................................................... 52 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I ................................................. 53 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ................................................................ 55 3.9 Ancaman Validitas Internal ............................................................................ 56 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................. 61 4.1 Hasil Penelitian............................................................................................... 61 4.1.1 Hasil Implementasi ....................................................................................... 61 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian...................................................................... 61 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran ...................................................... 62 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data ................................................................................ 69 4.1.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi ................................................................... 69 4.1.2.2 Kemampuan Meregulasi Diri .................................................................... 70 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I ............................................................................. 71 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................................. 72 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................................................ 74 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan................................................................... 78 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut ................................................................................ 78 4.1.4 Hasil Uji Hipoteses Kemampuan II ............................................................. 87 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................................................ 90 4.2 Pembahasan .................................................................................................. 103 4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal ......................................... 103 4.2.2 Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS terhadap Kemampuan Mengeksplanasi ................................................................................................... 108 4.2.3 Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS terhadap Kemampuan Meregulasi Diri ................................................................................................... 112 4.2.4 Analisis Penelitian Terhadap Teori ............................................................ 116 BAB V PENUTUP ............................................................................................ 121 5.1 Kesimpulan ................................................................................................... 121 5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................................ 122 5.3 Saran ............................................................................................................. 122 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 123 LAMPIRAN ....................................................................................................... 127 CURRICULUM VITAE ..................................................................................... 240 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Dimensi Kognitif dalam Kecakapan Berpikir Kritis ............................ 25 Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data ..................................................................... 38 Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen........................................................ 42 Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen Kemampuan Mengeksplanasi dan Meregulasi Diri ..................................................................................................... 45 Tabel 3.4 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ............................................................ 46 Tabel 3.3 Kriteria Pengauh Perlakuan .................................................................. 50 Tabel 3.4 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan ........................................................... 50 Tabel 4.1 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol ......................................... 69 Tabel 4.2 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen .................................. 70 Tabel 4.3 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol ......................................... 70 Tabel 4.4 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen .................................. 71 Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data .................................................... 73 Tabel 4.6 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varian ................................................. 73 Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................... 74 Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data .................................................... 75 Tabel 4.9 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varian ................................................. 76 Tabel 4.10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ......................................... 76 Tabel 4.11 Hasil Uji Effect Size ............................................................................ 78 Tabel 4.12 Hasil Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 ................................ 79 Tabel 4.13 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data .................................................. 81 Tabel 4.14 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 ....... 82 Tabel 4.15 Hasil Uji Korelasi Antara Rerata dari Pretest ke Posttest I ................ 83 Tabel 4.16 Hasil Uji Norrmalitas Distribusi Data ................................................. 84 Tabel 4.17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ................................................ 85 Tabel 4.18 Hasil Uji Signifikansi Skor Pretest ke Posttest II .............................. 87 Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data .................................................. 89 Tabel 4.20 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varian ............................................... 89 Tabel 4.21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................. 90 Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data .................................................. 91 Tanel 4.23 Hasil Uji Homogenitas Varian ............................................................ 92 Tabel 4.24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ......................................... 92 Tabel 4.25 Hasil Uji Effect Size ............................................................................ 94 Tabel 4.26 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 ....... 95 Tabel 4.27 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data .................................................. 97 Tabel 4.28 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 ....... 98 Tabel 4.29 Hasil Uji Korelasi Anara Rerata dari Pretest ke Posttest I ................. 99 Tabel 4.30 Hasil Uji Norrmalitas Distribusi Data ............................................... 100 Tabel 4.31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan .............................................. 101 Tabel 4.32 Hasil Uji Signifikansi Skor Pretest ke Posttest II ............................ 103 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Proses Asimilasi, Akomodasi dan Ekuilibrasi .................................. 11 Gambar 2.2 Desain ZPD menurut Vygotsky. ....................................................... 14 Gambar 2.3 Bagan Langkah-langkah Model Pembelajaran Think Pair Share ..... 23 Gambar 2.3 Literature Map .................................................................................. 31 Gambar 3.1 Rumus Pengaruh Perlakuan .............................................................. 36 Gambar 3.2 Desain Penelitian ............................................................................... 36 Gambar 3.3 Variabel Penelitian ............................................................................ 40 Tabel 3.4 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan ........................................................... 50 Gambar 3.4 Rumus Besar Efek untuk Data Normal ............................................. 50 Gambar 3.5 Rumusan Besar Efek untuk Data Tidak Normal ............................... 51 Gambar 3.6 Rumus Persentase Pengaruh.............................................................. 51 Gambar 3.7 Rumus Besar Persentase Peningkatan Pretest-Posttest I .................. 52 Gambar 3.8 Rumus Gain Score ............................................................................ 52 Gambar 3.9 Rumus Efek untuk Data Normal ....................................................... 53 Gambar 3.10 Rumus Besar Efek untuk Data Tidak Normal ................................. 53 Gambar 3.11 Rumus Persentase Besar Efek Peningkatan .................................... 53 Gambar 4.1 Rerata Skor Pretest dan Posttest I ..................................................... 77 Gambar 4.2 Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I ............................................... 77 Gambar 4.3 Perbandingan Rerata Skor Pretest ke Posttest I ................................ 79 Gambar 4.4 Gain Score ......................................................................................... 80 Gambar 4.5 Perbandingan Pretest, Posttest I, dan Posttest II .............................. 86 Gambar 4.6 Rerata Skor Pretest dan Posttest I ..................................................... 93 Gambar 4.7 Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I ............................................... 94 Gambar 4.8 Perbandingan Rerata Skor Pretest ke Posttest I ................................ 95 Gambar 4.9 Grafik Gain Score ............................................................................. 96 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian ..................................................................... 128 Lampiran 1.2 Surat Izin Validasi Soal ................................................................ 129 Lampiran 2.1 Silabus Kelompok Kontrol ........................................................... 130 Lampiran 2.2 Silabus Kelompok Eksperimen .................................................... 134 Lampiran 2.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol ............. 138 Lampiran 2.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ....... 142 Lampiran 2.5 Lembar Kerja Siswa ..................................................................... 150 Lampiran 3.1 Soal Uraian ................................................................................... 154 Lampiran 3.2 Kunci Jawaban ............................................................................. 160 Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian ........................................................................... 164 Lampiran 3.4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgment ............................................. 174 Lampiran 3.5 Hasil Uji Validitas oleh Expert Judgment .................................... 178 Lampiran 3.5 Tabulasi Hasil Rekapan Data Uji Empiris ................................... 189 Lampiran 3.6 Hasil Analisis Uji Validias setiap Item Soal ................................ 190 Lampiran 3.6 Hasil Analisis SPSS Uji Relisbilitas ............................................ 191 Lampiran 4.1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol dan Eksperimen.......................................................................................................... 192 Lampiran 4.2 Tabulasi Nilai Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol dan Eksperimen.......................................................................................................... 193 Lampiran 4.3 Hasil SPSS Deskriptif Statistik .................................................... 194 Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Normalitas Data .................................................. 200 Lampiran 4.6 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................. 204 Lampiran 4.7 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Skor Kemampuan . 206 Lampiran 4.8 Hasil SPSS Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ........................ 208 Lampiran 4.9 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan .......................... 210 Lampiran 4.10 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Rerata Posttest I .............................................................................................................. 211 Lampiran 4.12 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest ke Posttest I................ 218 Lampiran 4.13 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ....................................... 220 Lampiran 4.14 Pekerjaan Siswa.......................................................................... 225 Lampiran 5.1 Foto-foto Kegiatan Penelitian ...................................................... 237 Lampiran 5.2 Surat Melakukan Penelitian.......................................................... 239 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab I ini berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. Latar belakang masalah berisikan alasan-alasan melakukan penelitian. Rumusan masalah berisikan pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada latar belakang masalah. Manfaat penelitian berisikan mengenai manfaat dari penelitian ini bagi siswa, guru, sekolah, dan peneliti. Definisi operasional berisikan pengertian kata-kata kunci penelitian. Bagian-bagian tersebut akan dielaskan sebagai berikut. 1.1 Latar Belakang Masalah Berpikir kritis adalah suatu kemampuan yang sangat penting untuk dikembangkan dalam pendidikan. Melalui berpikir kritis, siswa mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Berpikir kritis termasuk dalam berpikir tingkat tinggi. Berpikir kritis adalah kemampuan berpikir secara logis, reflektif, dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangnya dan keputusan yang baik (Desmita, 2009: 153). Melalui berpikir kritis, hendaknya siswa peka terhadap berbagai hal yang terjadi di lingkungan, kemudian menganalisis dan memahami menggunakan tahapan kerja ilmiah, sehingga berpikir, berperasaan, dan bertindak secara terkendali sesuai dengan kapasitas potensi dalam perilaku yang sehat, berkualitas, dan terjaga integritasnya (Tawil & Liliasari, 2013: 2). Dalam kemampuan berpikir kritis terdapat beberapa kecakapan di dalamnya, yaitu menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Pada tulisan ini nantinya akan dibahas lebih lanjut mengenai mengeksplanasi dan meregulasi diri (Facione, 1990: 6). Mengeksplanasi merupakan kemampuan dalam menjelaskan sesuatu dengan mempertimbangkan konsep, metode, dan konteks dengan indikator menjelaskan pertanyaan yang tepat dari hasil analisis, menjelaskan alasan mengambil posisi tertentu, dan menjelaskan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Selanjutnya meregulasi diri adalah kemampuan memonitor kemampuan berpikir diri sendiri dengan indikator membuat penilaian diri terhadap 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI gagasan sendiri, menilai kembali data-data yang digunakan, dan menguji pandangan sendiri terhadap suatu permasalahan. Permasalahan yang terjadi di Indonesia mengenai kualitas pendidikan tergolong rendah. Hal ini terlihat dari hasil penelitian oleh Programme for International Student Assessment (PISA). PISA adalah sebuah organisasi yang berada dibawah naungan Organization Economic Cooperation and Development (OECD) yang selalu megadakan survei mengenai sistem pendidikan dan kemampuan siswa setiap tiga tahun sekali. Indonesia sendiri termasuk dalam subjek survei dari PISA, salah satunya pada kemampuan science. Pada tahun 2012, hasil dari PISA menunjukan Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 382 (OECD, 2013: 5). Sedangkan pada hasil PISA tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 403 (OECD, 2016: 5). Dilihat dari hasil tersebut Indonesia mengalami peningkatan dari setiap skor yang didapatkan. Peringkat ini menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia mengalami kesulitan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi karena soal-soal yang digunakan oleh PISA memerlukan penalaran dan pemecahan masalah. Padahal adanya tuntutan dari pemerintah yang di abad ke 21 untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, salah satunya adalah berpikir kritis. Sekolah Dasar merupakan salah satu jejang pendidikan yang paling dasar yang sangat perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Siswa usia SD ratarata berumur 7 sampai 12 tahun. Seperti pada teori perkembnagan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget, anak yang berada di usia 7 sampai 11 tahun (termasuk siswa SD) berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini di mana siswa belajar berdasarkan pengamatan yang konkret atau nyata (Suparno, 2001: 80). Di sini pula masa seorang siswa dalam memecahkan masalah membutuhkan bantuan dari orang yang lebih tua atau teman sebaya yang lebih menguasai. Oleh karena itu, kecenderungan siswa untuk bekerja sama semakin terlihat di masa ini. Hal ini pula yang baik apabila dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa dalam pembelajaran. Selain itu, diperkuat dengan pendapat dari Vygotsky bahwa anak tidak hanya berkembang secara kognitif saja melainkan pada sosialnya (Salkid, 2009: 374). Melalui kerja sama dengan teman anak juga akan dapat 2

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengolah bukan hanya kemampuan kognitif melainkan juga sosialnya. Adanya interaksi dalam kerja sama antar teman akan melatih sosial anak dengan lebih baik. Pengembagan potensi yang ada pada diri siswa dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa berpikir secara individu, berpasangan, dan berkelompok untuk memecahkan masalah. Model pembelajaran tipe ini juga memberikan waktu bagi siswa untuk berpikir dan memberikan respon serta saling membantu antar satu dan yang lain (Shoimin, 2014: 208). Pada model pembelajaran ini terdapat empat tahap dalam penerapannya, mulai dari 1) Think, ini berarti kesempatan siswa untuk memikirkan jawabanya secara individu, 2) Pair, artinya siswa sudah dapat saling bertukar pendapat dengan pasangannya, 3) Share I, ini tahap di mana siswa saling bertukar pemikiran dalam satu kelompok, 4) Share II (Conclusin), di sini siswa berbagi pikiran dengan teman satu kelas dan menarik kesimpulan dari jawaban yang ada. Dengan kata lain model pembelajaran ini akan membawa siswa untuk berpikir dalam menemukan suatu solusi dari permasalahan yang dipecahkan secara bertahap mulai dari diri sendiri, berpasangan hingga berkelompok. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar yang dapat membantu mengembangkan potensi belajar pada siswa. IPA adalah suatu pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya (Darmojo, dalam Samatowa, 2011: 2). Ada empat alasan mengapa IPA perlu diajarkan di Sekolah Dasar (Samatowa, 2011: 4) yaitu, 1) IPA berfaedah bagi suatu bangsa, kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemapuan bangsa itu dalam bidang IPA karena IPA merupakan dasar dari teknologi, 2) IPA diajarkan melalui percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak, maka IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan saja, 3) Mata pelajaran IPA mempunyai nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan, 4) IPA diajarkan menurut cara yang tepat, maka IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kemampuan untuk berpikir kritis. 3

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Peningkatan kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri dalam pembelajaran IPA dapat dilakukan dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Beberapa penelitian menunjukkan hasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Beberapa penelitian terdahulu yang relevan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yaitu Krisnayati dan Andyana (2012) melakukan penelitian dengan jenis dari penelitian ini adalah Quasi Experimental Design (eksperimen semu) dengan menggunakan desain penelitian Nonequivalent Control Group Design. Tujuan dari penelitian yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan prestasi belajar siswa materi cahaya dalam mata pelajaran IPA siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan siswa yang mendapatkan pembelajaran yang konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Letda Made Putra Kecamatan Denpasar Utara Tahun Ajaran 2012/2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Apriana dan Tegeh (2014) dengan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi belajar PKN antara kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dan kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini memiliki hasil yang menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antar kedua kelompok. Bamiro (2015) meneliti variabel mengenai perilaku kognitif pada tingkatan (tinggi, sedang, dan rendah) pelajaran kimia serta dipengaruhi jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) dengan jumlah populasi 242 siswa. Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan model pembelajaran Think Pair Share memperoleh nilai rata-rata posttest lebih tinggi dari kelompok kontrol. Kedua kelompok ditentukan secara random dari populasi yang ada. Nuraini dan Suparman (2017) melaksanakan penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa melalui pendekatan saintifik. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian siswa kelas VII SMP. Lalu teknik pengumpulan data penelitian yang digunakan yaitu wawancara dan observasi. Penelitian yang dilakukan ini memperoleh hasil menunjukkan bahwa dalam pembelajaran, siswa hanya mampu 4

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menerapkan rumus-rumus matematika, tetapi tidak mengetahui asal rumus matematika. Pembelajaran dipaparkan lebih bersifat prosedural, siswa kurang memahami konsep matematika dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran sehingga siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis. Tawi (2014) meneliti tingkat keterampilan berpikir kritis dalam materi calon guru substansi. Metode yang digunakan adalah studi kasus satu perlakuan. Kesimpulan yang didapat dari penelitian yang telah dilakukan adalah melalui penerapan model pembelajaran berbasis portofolio keterampilan berpikir kritis calon guru tergolong sedang. Dianti (2012) meneliti korelasi antara berpikir kritis siswa dan keterampilan membaca kritis. Penelitian dilakukan menggunakan desain penelitian korelasional dengan mengumpulkan data atas dua tes yang dibutuhkan dalam penelitian. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah adanya korelasi yang signifikan dan positif antara berpikir kritis dan keterampilan membaca kritis. Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian tersebut, model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berpengaruh pada kemampuan-kemampuan kognitif siswa. Sayangnya, belum banyak ditemukan penelitian yang mengukur kemampuan berpikir kritis terutama kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Jenis penelitian yang akan digunakan peneliti yaitu quasi experimental tipe pretestposttest nonequivalent group design. Penelitian akan menggunakan satu kelas kontrol dan satu kelas eksperimen yang akan dilakukan di salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta. Sekolah Dasar negeri ini dipilih sebagai tempat penelitian karena memiliki kelas paralel A dan B di semua kelas, sehingga memenuhi untuk dilakukan eksperimen. Kelas yang digunakan yaitu kelas V A dengan jumlah siswa 30 sebagai kelas eksperimen dan kelas V B dengan jumlah siswa 29 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini dibatasi pada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada mata pelajaran IPA terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta. Materi yang digunakan yaitu dari Tema 2 mengenai sistem pernapasan pada hewan. Peneliti akan fokus pada mata pelajaran IPA yang 5

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dibatasi oleh Kompetensi Inti 3. Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati (mendengarkan, melihat, membaca), menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan sekolah, dengan Kompetensi Dasar 3.2 Menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V Sekolah Dasar? 1.2.2 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V Sekolah Dasar? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V Sekolah Dasar. 1.3.2 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V Sekolah Dasar. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa Siswa mendapatkan pengalaman baru dalam belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Thik Pair Share (TPS) sehingga dapat mempengaruhi kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. 1.4.2 Bagi Guru Guru mendapatkan pengalaman dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada pengaruh kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa. 6

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.4.3 Bagi Peneliti Peneliti mendapatkan pengalaman dalam mengujicobakan dan mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa. 1.4.4 Bagi Sekolah Sekolah dapat menambah dan mengembangkan wawasan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada pengaruh kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Model pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang mengutamakan kerja sama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. 1.5.2 Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah model pembelajaran kooperatif berbasis kelompok yang memberikan kesempatan berpikir secara individu, berpasangan, dan berkelompok untuk menyelesaikan masalah, terdiri dari empat langkah yaitu langkah 1 mencari solusi secara individu (think), langkah 2 bertukar pikiran kepada pasangan (pair), langkah 3 memecahkan masalah bersama, langkah 4 kelompok besar (share I), dan berbagi ide dengan kelas (share II/ conclusin). 1.5.3 Kemampuan berpikir kritis adalah kegiatan membuat penilaian mengenai dasar bukti, konsep, kriteria atau konteks tertentu yang digunakan sebagai penilaian untuk tujuan tertentu, yang terdiri dari menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menginferensi, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. 1.5.4 Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan dalam menjelaskan sesuatu dengan mempertimbangkan konsep, metode, dan konteks dengan indikator menjelaskan pertanyaan yang tepat dari hasil analisis, menjelaskan alasan mengambil posisi tertentu, dan menjelaskan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. 1.5.5 Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan memonitor kemampuan berpikir diri sendiri dengan indikator membuat penilaian diri terhadap 7

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI gagasan sendiri, menilai kembali data-data yang digunakan, dan menguji pandangan sendiri terhadap suatu permasalahan. 1.5.6 Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah mata pelajaran yang di dalamnya membahas materi sistem pernapasan pada hewan yang digunakan dalam penelitian. 8

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab II ini berisikan tentang kajian teori, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Kajian teori membahas teori-teori yang mendukung dan beberapa kajian penelitian yang relevan. Kerangka berpikir berisikan tentang kerangka pemikiran dan hipotesis berisikan mengenai dugaan sementara tentang jawaban suatu rumusan masalah penelitian. 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Teori-teori yang Mendukung Penelitian yang dilakukan berkaitan dengan siswa Sekolah Dasar itu penting menggunakan teori perkembangan anak. Pada teori perkembangan yang diambil fokus pada teori perkembangan kognitif menurut Piaget dan Vygotsky. 2.1.1.1 Teori Perkembangan Pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami suatu perubahan dalam hidupnya. Salah satunya adalah melalui perkembangan. Perkembangan adalah pola perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional yang dimulai sejak pembuahan dan selama rentang hidup. Rentang hidup merupakan selama kehidupan manusia itu berlangsung. Pola perkembangan pada anak merupakan suatu hal yang kompleks karena merupakan produk dari proses biologis, kognitif, dan sosioemosional. Proses biologis menghasilkan perubahan pada tubuh yang mendasari perkembangan otak, tinggi, berat, keterampilan motorik, dan hormonal pubertas. Proses sosioemosional melibatkan perubahan dalam hubungan anak dengan orang lain, perubahan emosional dan kepribadian. Sedangkan proses kognitif melibatkan perubahan dalam pemikiran, kecerdasan, dan bahasa anak (Santrock, 2014: 32). Teori perkembangan kognisi merupakan perubahan bertahap dan teratur yang menyebabkan proses mental menjadi lebih rumit dan canggih. Selanjutnya ada anggapan bahwa anak-anak bertumbuh melalui beberapa tahap perkembangan dan yang dapat diprediksi dan tidak berbeda (Slavin, 2008: 41). 9

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jean Piaget (1896-1980) dan Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934) adalah tokoh yang membahas mengenai teori perkembangan anak. Dipilih kedua tokoh tersebut karena keduanya beraliran kontruktivisme. Kontruktivisme artinya proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif perdasarkan pengalaman. Pada teori Piaget menekankan pada perkembangan kognitif anak yang mendahulukan development dari learning. Sedangkan Vygotsky menekankan pada perkembangn kognitif anak dipengaruhi oleh sosialnya. Teori Vygotsky mengatakan bahwa learning bisa mendahului development. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai kedua teori menurut Piaget dan Vygotsky. 1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget Jean Piaget lahir di Neuchatel pada tahun 1896, Swiss dan ayahnya adalah seorang sejarawan spesialis sejarah abad pertengahan. Ketertarikan Piaget kepada alam sudah terlihat sejak kecil, ia gemar mengamati burung, ikan, dan hewan lainnya. Hal itu yang menyebabkan ketertarikannya pada biologi. Pada usia 10 tahun, Piaget sudah menerbitkan artikel tentang burung albino dalam majalah ilmu pengetahuan alam. Piaget menyelesaikan pendidikan sarjana bidang biologi di Universitas Neuchatel pada tahun 1916. Setelah itu ia mendapatkan gelar doktor filsafat dan memutuskan untuk mendalami psikologi. Berangkat dari berbagai pengalamannya Piaget berpendapat bahwa cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Hal tersebut yang mendorong Piaget melakukan penelitian pada kedua anaknya (Slavin, 2011: 42). Berawal dari pengalamannya Piaget menyatakan teori perkembangan kognisi merupakan perkembangan kognisi anak melalui empat tahap yang jelas. Terjadinya suatu perkembangan Piaget percaya bahwa semua anak dilahirkan dengan kecenderungan bawaan untuk berinteraksi dengan lingkungannya dan untuk memahaminya. Seorang anak yang masih muda memperlihatkan pola perilaku atau pemikiran yang disebut skema. Skema digunakan anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa dalam berhadapan dengan objek di dunia. Beberapa istilah yang digunakan Piaget dari teorinya yaitu adaptasi, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Adaptasi adalah proses menyesuaikan skema sebagai tanggapan atas lingkungan melalui asimilasi dan 10

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI akomodasi. Asimilasi sendiri adalah proses memahami objek atau peristiwa baru berdasar skema yang telah ada. Sedangkan akomodasi proses pengubahan skema yang telah ada berdasarkan informasi baru atau pengalaman baru dalam kata lain menyesuaikan dengan situasi baru. Selanjutnya ekuilibrasi adalah proses memulihkan keseimbangan antara pemahaman sekarang dan pengalaman baru (Slavin, 2011: 43). (Sumber:http://m-edukasi.blogspot.co.id/2014/09/teori-konstruktivisme-jeanpiaget.html) Gambar 2.1 Proses Asimilasi, Akomodasi dan Ekuilibrasi Adapun tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal. Berikut ini adalah tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget. a. Tahap Sensorimotor (usia 0-2 tahun) Tahap paling awal adalah sensorimotor karena di usia ini anak akan mengeksplorasi dirinya dengan menggunakan kemampuan indera dan motoriknya. Setiap anak mempunyai keampuan indera maupun motorik yang berbeda, tetapi Piaget yakin setiap anak pasti mempunyai perilaku bawaan gerak reflek (reflex). Perilaku tersebut yang menjadi landasan pembentukan skema pertama bayi tersebut. Skema merupakan tahapan di mana anak memiliki struktur tindakan. Selain itu dijelaskan pada skema selanjutnya bahwa anak akan menggunakan gerak reflek untuk menghasilkan pola perilaku yang lebih menarik dan intensional. Pada tahap 11

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI akhir sensori motor anak-anak telah beranjak dari pendekatan pemecahan masalah yang sebelumnya bersifat uji coba ke pendekatan yang lebih terencana. Tanda periode sensori motor lainnya ialah perkembangan pemahaman tentang keajekan objek (object permanence). Dalam hal ini anak harus belajar bahwa objek adalah stabil secara fisik dan tetap ada sekalipun objek itu tidak ada dihadapan fisik anak tersebut. b. Tahap Pra Operasional (usia 2-7 tahun) Tahap pra operasional adalah tahap di mana anak memiliki kemampuan kogntif dan motorik. Pada tahap pra operasional ini anak mimiliki sifat yang dominan yang egosetris. Di tahap ini pula anak dapat fokus pada beberapa karakteristik seseorang maupun pada suatu benda. Anak akan memperoleh informasi dari pengalaman anak bukan pembicaraan orang lain. Di sini anak hanya akan melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak dapat dan mampu menjelaskan suatu hal dengan menggunakan simbol. Selain itu, pada tahap ini juga dicirikan dengan pemikiran intuisif yang kurang logis (Suparno, 2011: 49). c. Tahap Operasional Konkret (usia 7-11 tahun) Tahap operasional konkret merupakan tahap ke tiga perkembangan kognitif siswa menurut Piaget. Pada tahap ini anak mengganti penalaran intuisif ke dalam situasi konkret artinya sesuai dengan keadaan dunia nyata. Dengan kata lain dunia belajar anak masih terbatas dengan benda-benda yang dapat dilihat dan disentuh secara nyata. Meskipun demikian, pada tahap ini anak masih kesulitan dalam memecahkan permasalahan yang bersifat abstrak (Suparno 2011: 69). d. Tahap Operasional Formal (usia 11 tahun ke atas) Operasional formal ini merupakan tahap keempat dari perkembangan kognitif dari Piaget. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu berpikir secara abstrak dan mulai bekerja secara sistematis. Anak sudah mulai memikirkan berbagai kemungkinan dan memastikan kombinasi dari setiap kemungkinan sebelum bertindak. Pada tahap ini 12

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pemecahan masalah tidak lagi dibatasi oleh keegoisentrisan tetapi lebih ke ideal dan logis. Jadi, dapat diketahui bahwa teori perkembangan Piaget bergantung pada perkembangan baru diiringi dengan belajar. Artinya jika seseorang tumbuh dan berkembang maka perkembangan pada kognitifnya juga akan mengiringi sesuai dengan usianya masing-masing. Dimulai dari tahap sensorimotor (0-2 tahun), dilanjutkan dengan tahap pra operasional (2-7 tahun), lalu tahap operasional konkret (7-11 tahun) dan terakhir tahap operasional formal (> 11 tahun). Dapat sangat terlihat dari teori bahwa anak SD khususnya kelas V masih berada pada tahap perkembangan yaitu tahap operasional konkret pada teori perkembangan Piaget. 2. Teori Perkembangan Sosiohistoris Vygotsky Vygotsky merupakan seorang sosio historis yang berasal dari Rusia. Sejak kecil ia sangat gemar membaca mengenai sejarah, karya sastra dan puisi. Ia lahir dari ayah seorang eksekutif bank dan ibu seorang guru (Wertsch, dalam Crain, 2007: 334-335). Vygotsky berpendapat bahwa anak tidak hanya berkembang secara kognitifnya saja, melainkan juga pada sosialnya. Ada empat ide pokok yang menjadi landasan teori Vygotsky. Anak akan membangun pengetahuannya sendiri, maksudnya ia akan aktif dalam perkembangannya sehari-hari. Pembelajaran bisa berpengaruh pada perkembangan anak. Selain itu bahasa merupakan salah satu hal yang berperan penting dalam perkembangan, karena bahasa merupakan sarana yang memungkinkan pikiran anak tubuh dan memperluas ide-ide (Salkind, 2009: 374-375). Vygotsky berpendapat bahwa ada dua tingkatan perkembangan penting yang alamiah pada manusia yaitu Zone of Actual Development (tingkat perkembangan aktual) yaitu batas bawah dan Zone of Potential Delevopment (tingkat perkembangan potensial) yang merupakan batas atas. Tingkat perkembangan aktual (batas atas) merupakan tingkatan yang dapat dicapai seorang individu secara independen, sedangkan tingkat perkembangan potensial (batas atas) merupakan tingkatan yang dapat dicapai individu dengan bantuan guru atau kolaborasi dengan teman sebaya. 13

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jarak antara Zone of Actual Development dengan Zone of Potential Development adalah Zone of Proximal Development (ZPD). Zone of Proximal Development atau biasa dikenal dengan Zona Perkembangan Proximal ini merupakan tempat di mana anak dan guru beraksi dan ketika tiba waktunya untuk meningkatkan kognitif anak. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang optimal dibutuhkan suatu perancah (scaffolding). Perancah (scaffolding) adalah bantuan sementara yang diberikan kepada anak oleh orang dewasa untuk melompat dari Zone of Actual Development menuju ke Zone of Potential Development. Hal itu dapat dicapai seseorang ketika berinteraksi dengan guru maupun teman sebaya yang lebih kompeten (Vygotsky, dalam Mooney. 2013: 102). (Sumber:https://vygotskyetec512.weebly.com/zone-of-proximal-development.html) Gambar 2.2 Desain ZPD menurut Vygotsky. Jadi, dalam setiap perkembangan anak secara normal pasti akan melewati beberapa tahapan yang disampaikan oleh Piaget dan Vygotsky. Anak kelas V Sekolah Dasar rata-rata berada pada usia 10-11 tahun, yang artinya berada pada tahap operasional konkret di mana anak akan mudah belajar dengan hal-hal yang nyata. Suatu penerapan model pembelajaran yang nyata dirasa sesuai untuk menunjang kegiatan belajar anak usia ini. 14

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.2 Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Secara filosofis, belajar menurut teori konstruktivisme adalah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsepkonsep atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Fathurrohman, 2015: 44). Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ahli lain menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus terlibat aktif dan menjadi pusat kegiatan pembelajaran di kelas. Guru dapat memfasilitasi proses ini dengan mengajar menggunakan cara-cara yang membuat sebuah informasi menjadi bermakna dan relevan bagi siswa. Oleh karena itu, guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk menentukan atau mengaplikasikan ideide mereka sendiri, di samping mengajarkan siswa untuk menyadari dan sadar akan strategi belajar mereka sendiri (Slavin, 2009: 9). Dengan kata lain, pembelajaran kooperatif adalah bentuk pembelajaran yang menggunakan pendekatan melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dan memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Pada belajar kooperatif, siswa tidak hanya mampu dalam memperoleh materi, tetapi juga mampu memberi dampak afektif seperti kepedulian sesama teman dan lapang dada. Sebab, di dalam pembelajaran kooperatif melatih para siswa untuk mendengarkan pendapat orang lain. Tugas kelompok akan dapat memacu siswa untuk bekerja secara bersama-sama dan saling membantu satu sama lain dalam mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimilikinya (Slavin, 2009: 9). Pada dasarnya, pembelajaran kooperatif diartikan sebagai suatu sikap atau perilaku kerja sama dalam bekerja atau membantu antar sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan setiap anggota kelompok itu sendiri. Pembelajaran kooperatif ini 15

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lebih dari sekedar belajar kelompok karena pembelajaran ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota kelompok. Oleh karena itu, dari sini dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik dan juga kompetensi sosial peserta didik (Rusman, 2011: 209). Jadi, model pembelajaran kooperatif dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerja sama atau gotong royong dalam pembelajaran yang menekankan terbentuknya hubungan antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Terbentuknya sikap dan perilaku yang demokratis serta tumbuhnya produktivitas kegiatan belajar siswa. Oleh sebab itu, pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk melatih kompetensi sikap, sosial, dan kepekaan terhadap orang lain, serta juga kolaborasi dengan orang lain. Beberapa unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Ibrahim dalam Fathurrohman, 2015: 52). 1. Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”. 2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri. 3. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama. 4. Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota dan kelompoknya. Sementara itu, ada beberapa ciri-ciri dari model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Ibrahim dalam Fathurrohman, 2015: 52). 1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. 2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memerhatikan kesetaraan gender. 3. Penghargaan lebih menekankan kelompok daripada masing-masing individu. Dalam pembelajaran, dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar 16

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI siswa saling berbagi kemamapuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan, dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Tujuan dari pembelajaran adalah menciptakan situasi ketika keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Hal ini berbeda dengan tujuan pembelajaran konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Oleh kerena itu, strategi pembelajaran kooperatif ini dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting. Ketiga tujuan pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut (Faturrohman, 2015: 48). 1. Hasil Belajar Akademik Meskipun pembelajaran kooperatif ini mencakup tujuan sosial serta memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya, beberapa penelitian dari tokoh pembelajaran kooperatif (Johnson & Johnson, Slavin, Kagan dan sebaginya) membuktikan bahwa model ini lebih unggul dalam membatu peserta didik dalam memahami konsep-konsep yang sulit dan dapat meningkatkan nilai (prestasi) peserta didik pada belajar akademik. Pembelajaran kooperatif juga memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik. 2. Penerimaan terhadap Perbedaan Individu Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kempuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi peserta didik dari berbagai atar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas akademik dan melalui penghargaan kooperatif siswa akan belajar menghargai satu sama lain. 3. Pengembangan Keterampilan Sosial Tujuan ketiga adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki oleh siswa sebagai bekal untuk hidup dalam lingkungan sosialnya. 17

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selanjutnya, pembelajaran kooperatif juga memiliki unsur-unsur yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Berikut adalah beberapaunsur dari pembelajaran kooperatif (Lie, dalam Fathurrohman, 2015: 49). 1. Saling ketergantungan positif (positive interdependence) Ketergantungan positif bukan berarti peserta didik bergantung secara menyeluruh kepada peserta didik lain. Apabila mereka mengandalkan teman lain tanpa dirinya memberi atau menjadi tempat bergantung bagi sesamanya, seperti itu tidak bisa dianggap positif. Oleh karena itu, seharusnya guru dapat menciptakan suasana yang mendorong siswa saling membutuhkan. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui ketergantungan tujuan, tugas, bahan atau sumber belajar, peran, dan hadiah. 2. Akuntabilitas individual (individual accountability) Pembelajaran kooperatif menuntut adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan bahan belajar tiap anggota kelompok, dan diberi umpan balik tentang prestasi belajar anggota dalam kelompok sehingga mereka saling mengetahui rekan yang memerlukan bantuan. Pada pembelajaran kooperatif siswa harus bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepada masingmasing anggota kelompok. 3. Interaksi promatif (promotive interaction) Interaksi promatif menuntut semua anggota dalam kelompok belajar dapat saling tatap muka, sehingga mereka dapat berbicara tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan teman. Interaksi ini memungkinkan peserta didik menjadi sumber belajar bagi sesama teman dan dianggap lebih mudah. 4. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil (interpersonal and small group skill) Pada unsur kepemimpinan ini dibekali (leadership), degan membuat beberapa keputusan keterampilan (decision yaitu making), membangun kepercayaan (trust building), kemampuan berkomunikasi dan keterampilan manajemen konflik. Selain itu, keterampilan interpersonal lain seperti tenggang rasa, sikap sopan kepada teman, mengkritik ide, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi yang lain, mandiri, dan 18

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diucapkanmelainkan secara sengaja diajarkan. 5. Proses kelompok (group processing) Proses ini terjadi ketika setiap anggota kelompok mengevaluasi sejauh mana mereka berinteraksi secara efektif untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok juga perlu membahas perilaku anggota yang kooperatif dan tidak kooperatif serta membuat keputusan perilaku mana yang harus diubah atau dipertahankan. Pemrosesan kelompok ini bisa berlangsung dalam kelompok. Manfaat pembelajaran kooperatif selain untuk meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa, pembelajaran kooperatif juga memberikan manfaatmanfaat lain sebagai berikut (Sadker 1997, dalam Huda, 2012: 66). 1. Siswa yang diajarkan dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi. 2. Siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar. 3. Dengan pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada temantemannya, dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan positif untuk proses belajar mereka nanti. 4. Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap temantemannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda. Salah satu ahli lain Johnson berpendapat bahwa dengan pembelajaran kooperatif akan memberikan manfaat. Berikut ini adalah manfaat pembelajaran kooperatif menurut Johnson (Huda, 2012: 66-67). 1. Hasil pembelajaran lebih tinggi. Hasil ini meliputi produktivitas belajar yang semakin meningkat, daya ingat yang lebih lama, motivasi yang lebih besar, motivasi berprestasi yang semakin tinggi, kedisiplinan yang lebih stabil, dan berpikir dengan lebih kritis. 2. Relasi antar siswa yang lebih positif. Relasi ini meliputi keterampilan bekerja sama yang semakin baik, kepedulian pada orang yang semakin meningkat, dukungan sosial dan akademik yang semakin besar, dan sikap toleran akan perbedaan. 19

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Kesehatan psikologis yang lebih baik. Kesehatan ini meliputi penyesuaian psikologis, perkembangan sosial, kekuatan ego, kompetensi sosial, harga diri, identitas diri, dan kemampuan menghadapi kesulitan dan tekanan Dari beberapa pendapat yang sudah dikemukakan oleh para ahli maka dapat dikerucutkan beberapa manfaat dari pembelajaran kooperatif. Secara garis besar manfaat pembelajaran kooperatif antara lain dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berbagai unsur, baik secara pengetahuan dan keterampilan misalnya bekerja sama dan berpikir kritis. Bukan hanya itu dengan pembelajaran kooperatif juga dapat meningkatkan kesehatan psikologis menjadi lebih baik. Jadi, pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang baik untuk diterapkan di Sekolah Dasar. Model pembelajaran kooperatif sendiri terdiri dari beberapa tipe. Tipe model pembelajaran kooperatif dibagi menjadi tiga kategori yaitu: 1) metodemetode Student Teams Learning meliputi metode Student Team-Achievement (STAD), Teams Games-Tournament (TGT), dan Jigsaw II (JIG II). 2) Metodemetode Supported Cooperative Learning meliputi metode Learning Together (LT) – Circle of Learning (CL), Jigsaw (JIG), Jigsaw III (JIG III), Cooperative Learning Structures (CLS), Group Investigation (GI), Complex Instruction (CI), Team Accelerated Instruction (TAI), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Structured Dyadic Methods (SDM). 3) Metode-metode informal meliputi metode Spontaneous Group Discussion (SGD), Numbered Heads Together (NHT), Team Product (TP), Cooperative Review (CR), Think-Pair-Share (TPS), dan Discussion Group (DG) – Group Project (GP), dan sebagainya (Huda, 2012: 114133). 2.1.1.3 Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Think Pair and Share (TPS), adalah salah satu model dari pembelajaran kooperatif yang mulanya dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Pendekatan ini merupakan cara yang efektif untuk mengubah pola diskusi di dalam kelas, yaitu dengan diskusi di dalam kelompok. Think Pair and Share (TPS) memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit 20

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk memberikan siswa banyak waktu untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Trianto, 2010: 81). Suatu model pembelajaran yang baik, pastilah mempunyai manfaat di dalamnya. Think Pair Share (TPS) mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut (Hartina, 2008: 12). 1. Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah. 2. Siswa dapat meningkatkan keberaniannya untuk berpendapat karena siswa diberi kesempatan untuk mencari pendapatnya sendiri sebelum mendiskusikannya dengan teman. 3. Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, sehingga pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru. 4. Siswa mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya dengan seluruh kelas sehingga seluruh kelas mendapatkan informasi yang beragam dari kegiatan yang telah dilakukan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan pada Think Pair and Share adalah sebagai berikut (Huda, 2013: 132). 1. Tahap 1: Thinking (berpikir), guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat. 2. Tahap 2: Pairing, guru meminta siswa untuk berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat saling berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau ide, jika suatu persoalan khusus telah teridentifikasi. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan. 3. Tahap 3: Sharing, guru meminta kepada pasangan siswa untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan dari seluruh jumlah pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan hasil diskusi atau temuannya. 21

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selain itu ada pendapat lain yang mengatakan bahwa langkah-langkah dari (Shoimin, 2014: 211). 1. Think (berpikir) Pada tahap ini, guru memberikan pertanyaan yang terkait dengan materi pembelajaran. Prosesnya dimulai dengan guru mengemukakan pertanyaan yang menggalakkan kegiatan berpikir ke seluruh kelas. Pertanyaan ini hendaknya berupa pertanyaan terbuka yang memungkinkan untuk dijawab dengan berbagai macam jawaban. 2. Pair (berpasangan) Pada tahap ini, siswa berpikir secara individu. Guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mulai memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru dalam waktu tertentu. Lamanya waktu ditetapkan berdasarkan pemahaman guru terhadap siswanya, sifat pertanyaan yang diberikan, dan jadwal pembelajaran. Siswa disarankan untuk menuliskan jawaban atau pemecahan masalah dari hasil pemikirannya. 3. Share (berbagai) Pada tahap ini, siswa secara individu mewakili kelompok, maju bersama untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas. Pada tahap terakhir ini seluruh kelas akan memperoleh keuntungan dalam bentuk mendengarkan berbagai ungkapan mengenai konsep yang sama, tetapi dinyatakan dengan cara yang berbeda-beda oleh individu yang berbeda. Dari beberapa langkah yang dituliskan sebelumnya, pada penelitian ini peneliti menentukan langkah dari pembelajaran yang akan dilakukan sebagai berikut. 1. Think Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 siswa. Setiap siswa diberikan waktu yang sama sekitar 4 sampai 5 menit untuk memikirkan jawaban yang diberikan oleh guru (lihat Gambar 2.3 bagian I). 2. Pair Setiap siswa diminta untuk mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing siswa bersama pasangan yang ada disampingnya. Setiap siswa disarankan untuk menuliskan hasil dari diskusi yang dilakukan (lihat Gambar 2.3 bagian II). 22

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Share I Dalam kelompok kecil masing-masing pasangan membagikan hasil diskusinya pada pasangan yang lain. Setiap kelompok diminta untuk merekontruksi ide yang terkait dengan hasil pemikiran sehingga menghasilkan ide yang baru (lihat Gambar 2.3 bagian III). 4. Share II/ Conclusion Setiap kelompok berbagi pemikiran depan kelas dengan presentasi kelompok. Kelompok lain terbuka dapat memberikan tanggapan atau masukan kepada kelompok penyaji presentasi (lihat Gambar 2.3 bagian IV). Berikut ini adalah bagan dari gambaran proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooopertaif tipe Think Pair Share yang dimaksud oleh peneliti. I IV II III Gambar 2.3 Bagan Langkah-langkah Model Pembelajaran Think Pair Share 23

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.4 Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir kritis adalah kegiatan membuat penilaian yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan sebagai penilaian untuk tujuan tertentu (Facione, 1990: 2). Selanjutnya, berpikir kritis juga didefinisikan sebagai berpikir yang memiliki maksud, masuk akal, dan berorientasi kepada tujuan serta kecakapan untuk menganalisis suatu informasu dan ide secara hati-hati dan logis dari berbagai macam prespektif (Tawil & Liliasari, 2013: 8). Ada lagi, berpikir kritis merupakan kemampuan untuk berpikir secara logis, reflektif, dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik (Desmita, 2009: 153). Salah satu tujuan untuk bersekolah ialah meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis, agar dapat mengambil keputusan rasional tentang apa yang harus dilakukan atau apa yang harus diyakini (Marzano dalam Slavin, 2011: 37). Contoh pemikiran kritis (critical thinking) meliputi upaya mengidentifikasi iklan yang menyesatkan, menimbang-nimbang bukti yang berlawanan, dan mengidentifikasi asumsi atau kekeliruan argumen. Seperti pada setiap tujuan lain, pembelajaran berpikir kritis memerlukan latihan, siswa dapat diberi banyak dilema, argumen logis dan tidak logis, iklan yang sah dan menyesatkan, dan seterusnya. Pembelajaran pemikiran kritis yang efektif bergantung pada penentuan susunan ruang kelas yang mendorong permainan sudut pandang berlainan dan diskusi bebas. Kemammpuan berpikir kritis paling baik dipelajari memulai pengaitan dengan topik yang tidak asing bagi siswa. Hal terpenting, sasaran mengajarkan pemikiran kritis ialah menciptakan semangat kritis, yang mendorong siswa mempertanyakan apa yang mereka dengan dan memeriksa pemikiran mereka sendiri untuk melihat ketidakkonsistenan atau kekeliruan logika. Bayer (1988) mengidentifikasi 10 kemampuan berpikir kritis yang dapat digunakan siswa dalam menilai keabsahan pandangan atau argumen memahami iklan, dan seterusnya (Slavin, 2011: 39). 1. Membedakan antara fakta yang dapat dibuktikan dan klaim atas nilai tertentu. 2. Membedakan informasi, pandangan, atau alasan yang relevan dari yang tidak relevan. 24

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Menentukan ketepatan fakta suatu pernyataan. 4. Menentukan kredibilitas sumber. 5. Mengidentifikasi pandangan atau argumen yang ambigu. 6. Mengidentifikasi asumsi yang tidak dinyatakan. 7. Mendeteksi prasangka. 8. Mengidentifikasi kekeliruan logika. 9. Mengenali ketidakkonsistenan logika dalam urutan penalaran. 10. Menentukan kekuatan argumen atau pandangan. Bayer mencatat bahwa 10 kemampuan bukanlah tahap-tahap, melainkan daftar kemungkinan cara yang dapat digunakan siswa untuk mendekati informasi guna mengevaluasi apakah hal itu benar atau masuk akal. Tugas utama pengajaran pemikiran kritis kepada siswa ialah membantu mereka mempelajari bukan hanya cara menggunakan masing-masing strategi tetapi juga menentukan kapan masingmasing digunakan. Berdasarkan ulasan di atas dapat ditarik benang merah bahwa berpikir kritis adalah kegiatan menganalisis informasi secara logis yang berorientasi pada tujuan untuk menghasilkan kesimpulan atas dasar bukti tertentu sehingga dapat digunakan dalam pembuatan pertimbangan atau suatu keputusan tertentu. Kemampuan berpikir kritis mencakup dua dimensi, yaitu dimensi kognitif dan disposisi afektif. Berikut ini tabel yang berisi dimensi kognitif dari kecakapan berpikir kritis (Facione, 1990: 6). Tabel 2.1 Dimensi Kognitif dalam Kecakapan Berpikir Kritis Skills No 1. Interpretasi 2. Analisis 3. Evaluasi 4. Kesimpulan 5. Eksplanasi 6. Regulasi-diri Sub-skills Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menguji gagasan-gagasan Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menguji bukti-bukti Menerka alternatif-alternatif Menarik kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Refleksi diri Koreksi diri 25

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.5 Kemampuan Mengeksplanasi Kemampuan mengeksplanasi adalah suatu kemampuan menguraikan dasardasar suatu penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual. Adapun mengeksplanasi mencakup 3 subkecakapan, yaitu menjelaskan hasil penalaran, membenarkan prosedur yang digunakan, dan memaparkan argumen yang digunakan. Sub kecakapan yang pertama adalah menjelaskan hasil penalaran seperti dilakukan dengan menjelaskan alasan ketika memegang suatu keyakinan, menyampaikan penerapan suatu gagasan, menjelaskan temuan-temuan dari hasil penelitian, menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan, dan merumuskan pernyataan atau deskripsi yang tepat dari hasil analisis, evaluasi, serta kesimpulan. Kedua yaitu membenarkan prosedur yang digunakan seperti dilakukan dengan menguraikan suatu permasalahan, menjelaskan pilihan penggunaan alat ukur tertentu untuk analisis data, menjelaskan standar yang digunakan untuk menilai sumber informasi, menjelaskan konsep yang berguna untuk penelitian lebih lanjut, menunjukkan bahwa syarat-syarat metodologis tertentu sudah terpenuhi, memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional, dan memaparkan grafik yang menunjukkan penggunaan bukti kuantitatif. Sub ketiga memaparkan argumen-argumen yang digunakan misalnya dilakukan dengan menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu, mengantisipasi dan menjawab kemungkinan-kemungkinan kritik yang akan muncul dan dilontarkan, memaparkan argumen-argumen yang pro maupun kontra terhadap pemikiran sendiri sebagai cara berpikir dialektis, memberikan alasanalasan terhadap metode, konsep, kriteria, maupun bukti yang digunakan dalam menganalisis, menyimpulkan dan mengevaluasi suatu argumen (Facione, 1990: 10). 2.1.1.6 Kemampuan Meregulasi Diri Kemampuan meregulasi diri adalah suatu kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas itu, dan hasil-hasil dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara 26

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berpikirnya sendiri (Facione, 2007: 5-8). Pada meregulasi diri terbagi menjadi dua sub-kecakapan yaitu refleksi diri dan koreksi diri. Refleksi diri misalnya dilakukan dengan menguji pandangan sendiri terhadap masalah-masalah yang kontroversial untuk mengetahui apakah posisi yang dipegangnya itu mengandung bias pribadi, menilai apakah ada kesalahan dalam cara berpikir sendiri, menilai kembali datadata yang digunakan apakah ada yang terlalui ditonjolkan sehingga berat sebelah dan tidak seimbang, menguji kembali apakah fakta, opini, atau asumsi yang digunakan untuk mendukung sudut pandang tertentu sungguh dapat diterima, menilai kembali proses penalaran yang digunakan untuk mengambil kesimpulan, merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverifikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir, membuat penilaian diri yang objektif terhadap gagasan sendiri, melihat apakah ada ketimpangan-ketimpangan berpikir yang berasal dari prasangka, emosi yang tidak rasional, dan menilai motivasi, nilai, sikap, atau minat apakah objektif, sesuai kebenaran, dan rasional. Kedua yaitu koreksi diri misalnya dilakukan dengan berani mengoreksi kelemahan-kelemahan metodologi atau data-data yang digunakan, merencanakan prosedur yang masuk akal atau datadata yang digunakan, merencanakan prosedur yang masuk akal untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan, dan memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya (Facione, 1990: 10). 2.1.1.7 Materi Ilmu Pengetahuan Alam Sistem pernapasan pada hewan adalah salah satu materi pembelajaran IPA di kelas V. Materi pembelajaran ini berdasarkan pada kompetensi dasar 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Tercantum pada Tema 2 yaitu “Udara Bersih Bagi Kesehatan” dengan subtema “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih”. Sistem pernapasan pada hewan yaitu seperti manusia, hewan juga bernapas untuk mengambil oksigen dan membuang karbondoksida. Sistem pernapasan pada hewan berbeda dengan manusia. Bahkan, sistem pernapasan pada hewan pun berbeda-beda sesuai jenisnya. Beberapa sistem pernapasan pada hewan yang akan dibahas antara lain pada cacing, serangga, ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia. 27

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Masing-masing hewan yang telah disebutkan mempunyai alat dan sistem pernapasan yang berbeda pula. Cacing bernapas melalui permukaan kulit, maka kulit cacing selalu basah dan berlendir untuk memudahkan penyerapan oksigen dan udara. Serangga (Insecta) menggunakan alat pernapasan berupa trakea, yaitu sistem tabung yang memiliki banyak percabangan di dalam tubuh. Ikan (Pisces) hidup di air, sehingga menggunakan alat pernapasan berupa insang. Hewan amfibi yaitu hewan yang hidup di darat dan di air. Ketika masih muda bernapas menggunakan insang, setelah dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. Hewan reptil bernapas menggunakan paru-pary yang terletak di dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Burung (Aves) bernapas menggunkan sepasang paru-paru. Burung menghirup udara sebanyak-banyaknya saat tidak terbang. Sebaliknya, saat terbang, burung tidak menghirup udara. Udara diembuskan dari kantong udara ke paru-paru. Kantong udara burung berfungsi sebagai menyimpan udara. Saat tidak terbang, burung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Hewan mamalia ada dua jenis yaitu mamalia hidup di darat dan hidup di air. Keduanya bernapas menggunakan paru-paru (Kemendikbud, 2017: 1-12). 2.1.2 Penelitian yang Relevan 2.1.2.1 Penelitian yang Relevan Mengenai Think Pair Share (TPS) Krisnayati dan Adnyana (2012) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan atara prestasi belajar siswa materi cahaya dalam mata pelajaran IPA siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Letda Made Putra Kecamatan Denpasar Utara Tahun Ajara 2012/2013. Jenis dari penelitian ini adalah Quasi Experimental Design (eksperimen semu) dengan menggunakan desain penelitian Nonequimental Control Group Design. Jumlah populasi adalah 444 siswa dan diambil sampel dengan teknik random samling berjumlah 38 siswa. instrumen yang digunakan berupa instrumen tes pilihan ganda dan dianalisis dengan uji T. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa dengan taraf signifikansi 5%. 28

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Apriana dan Tegeh (2014) melaksanakan penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi belajar PKN antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan kelompok siswa yang dibelajakan dengan model pembelajaran konvensional. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu. Populasi daru penelitian ini adalah siswa kelas V SD di Gugus III Kecamatan Kubu yang terdiri dari 160 siswa dengan sampel siswa kelas V SDN 1 Tianyar sebagai kelompok ekspeimen dan siswa kelas V SDN 6 Tianyar sebagai kelompok kontrol. Data dianalisis dengan teknik statistik deskriptif dan statistik inferensial yaitu uji T. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya perbedaan antar dua kelompok. Bamiro (2015) melakukan penelitian dengan variabel mengenai perilaku kognitif pada tingkatan (tinggi, sedang, dan rendah) pelajaran kimia serta dipengaruhi oleh jenis kelamin (laku-laki dan perempuan). Ada 242 siswa menengah dari enam sekolah yang ada di Fiebu Ode dan Odogbolu area Pemerintah Daerah Ogun Sate. Sampel dipilih secara acak dari populasi yang ada dijadikan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Penelitian ini menggunakan tiga instrumen yang dikembangkan dan digunakan untuk mengumpulkan data siswa selama penelitian delapan minggu. Hasil dari penelitian diperoleh bahwa siswa yang belajar dengan model pembelajaran Think Pair Share memperoleh nilai ratara posttest yang lebih tinggi dari kelpok kontrol secara signifikan. Oleh karena itu, dari penelitian disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share memiliki potensi besar untuk meningkatkan pencapaian belajar siswa pada mata pelajaran kimia secara umum. 2.1.2.2 Penelitian yang Relevan Mengenai Berpikir Kritis Tawil (2011) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keterampilan berpikir kritis dalam materi calon guru substansi. Metode yang digunakan adalah studi kasus satu perlakuan. Hasil dari penelitian yang dilakukan maka mendapatkan beberapa hal antara lain (1) skor rata-rata keterampilan berpikir kritis materi sains prospektif dan energi pada materi termasuk dalam kategori sedang, (2) skor rata-rata keterampilan berpikir kritis dalam materi sains calon guru substansi dan bentuknya dimasukkandalam kategori sedang, dan (3) pada materi 29

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan bentuknya interpretasi skor rata-rata dan indikator evaluasi termasuk dalam analisis indikator kategori menengah. Berdasarkan ketiga hal tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui penerapan model pembelajaran berbasis portofolio keterampilan berpikir kritis calon guru tergolong sedang. Dianti (2012) melakukan penelitian dengan tujuan untuk megetahui apakah ada korelasi yang signifikan antara berpikir kritis siswa dan keterampilam membaca kritis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional dengan mengumpulkan data atas dua tes yang dikelola dalam penelitian. Sampel penelitian ini yaitu 114 dari 170 mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sriwijaya Bukit Besar. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah adanya korelasi yang signifikan dan positif antara berpikir kritis dan keterampilan membaca kritis dengan r-nilai 0,713. Nuraini dan Suparman (2017) melaksanakan penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa melalui pendekatan saintifik. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian siswa kelas VII SMP Negeri 3 Semanu. Lalu teknik pengumpulan data penelitian yang digunakan yaitu wawancara dan observasi. Penelitian yang dilakukan ini memperoleh hasil menunjukkan bahwa dalam pembelajaran, siswa hanya mampu menerapkan rumus-rumus matematika, tetapi tidak mengetahui asal rumus matematika. Pembelajaran dipaparkan lebih bersifat prosedural, siswa kurang memahami konsep matematika dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran sehingga siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu yang telah dibahas, penelitian yang akan dilakukan peneliti mempunyai kesamaan dan perbedaannya. Penelitian ini akan sama-sama mengangkat variabel berupa model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan kemampuan berpikir kritis. Perbedaan dari penelitian ini yaitu pada kemampuan berpikir kritis yang diambil untuk variabel dependen. Kemampuan berpikir kritis dari Facione yang membagi menjadi enam kecakapan, dua di antaranya adalah mengeksplanasi dan meregulasi diri. Selain itu penelitian lebih dikhususkan untuk siswa kelas V Sekolah Dasar. 30

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.3 Literature Map Berikut ini adalah literature map dari penelitian relevan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kemampuan berpikir kritis (mengeksplanasi dan meregulasi diri) Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) Krisnayati &Adnyana (2012) Prestasi belajar-Pemblajaran kooperatif tipe TPS Nuraini & Suparman (2017) Pendekatan saintifik-Berpikir kritis Apriana & Tegeh (2014) Motivasi belajar-Pembelajaran kooperatif tipe TPS Tawil (2011) Pembelajaran berbasis portofolio-Berpikir kritis Bamiro (2015) Pencapaian belajarPembelajaran kooperatif tipe TPS Dianti (2012) Berpikir kritis-membaca kritis Yang akan diteliti: Halimah Dwi Cahyani (2019) Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)-Kemampuan berpikir kritis (mengeksplanasi, meregulasi diri) Gambar 2.3 Literature Map 31

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Sekolah dasar merupakan cerminan untuk sekolah di tahap awal seorang siswa, mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI. Usia anak SD umumnya adalah 7 sampai 11 tahun. Salah satunya adalah siswa kelas V SD berada pada umur 10 sampai 11 tahun. Beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa anak di SD kelas V berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret, seperti pada teori Piaget anak akan lebih mudah belajar dengan hal-hal yang nyata. Sedangkan Vygotsky berpendapat lain bahwa perkembangan kognitif dan sosial anak berjalan secara berdampingan. Dilihat dari keseharian belajar anak di Sekolah Dasar pasti mengalami interaksi dengan orang lain misalnya dengan guru ataupun teman satu kelas. Oleh karena itu, untuk menunjang kognitif dan sosial anak dapat berjalan secara berdampingan maka dibutuhkan model pembelajaran yang mendukung keduanya. Model pembelajaran yang diduga menunjang berjalannya pembelajaran yang berdampingan antara kognitif dan sosialnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa untuk berpikir dan bekerja sama. Model pembelajaran ini memiliki beberapa manfaat, salah satunya adalah siswa akan lebih terlatih untuk berpikir dan bertukar pendapat mengenai pikirannya dengan teman untuk mendapatkan kesepakatan dalam pemecahan masalah. Hal ini sangat sesuai dengan tujuan pendidikan yang menyatakan bahwa siswa diharapkan dapat memiliki keterampilan berpikir kritis. Facione membagi kemampuan berpikir kritis dalam dimensi kognitif menjadi 6 yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, kesimpulan, eksplanasi, dan regulasi diri. Penelitian ini hanya akan difokuskan pada dua kemampuan dalam dimensi berpikir kritis yaitu eksplanasi dan regulasi diri. Kemampuan eksplanasi yaitu kemampuan menguraikan dasar-dasar suatu penalaran dengan pertimbangan konseptual, metodologis, konstekstual yang kuat. Sedangkan kemampuan regulasi diri adalah adalah kemapuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasilnya sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri. 32

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kemampuan berpikir kritis sangat dianjurkan bagi anak usia SD dengan pengembangan melalui pelajaran-pelajaran SD. Salah satu mata pelajaran yang dapat digunakan sebagai sarana pengembangan berpikir kritis yaitu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang alam dan segala isinya, sehingga cakupan materinya luas. Banyak konsep dalam mata pelajaran IPA yang dekat dengan kehidupan anak. Hal itu dapat menjadi pilihan untuk dapat dikritisi salah satunya adalah pada materi sistem pernafasan pada hewan. Penelitian ini akan fokus pada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share pada pembelajaran IPA kelas V pada materi sistem pernafasan pada hewan. Selain itu faktor pendukung lainnya adalah penerapan kurikulum 2013 di SD yang menuntut siswa aktif dalam pembelajaran. Penekanan keaktifan siswa dalam pembelajaran pada penelitian ini ditekankan pada pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Salah satu mata pelajaran yang dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis mengeksplanasi dan meregulasi diri. IPA sendiri diterapkan pada beberapa tingkatan kelas di SD dan salah satunya adalah pada kelas V dengan Tema II yang relevan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah sistem pernafasan pada hewan. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan mempengaruhi cara berpikir siswa. Model pembelajaran TPS menuntut anak untuk melakukan kerjasama dengan teman sebaya. Sesuai tahap perkembangannya siswa di usia Sekolah Dasar berada pada operasional konkret yang mana akan lebih menarik bagi siswa apabila dilakukan dengan hal-hal yang ada di kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu, berawal dari hal sederhana siswa dapat mengolah kemampuan berpikir kritisnya terutama pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Mata pelajaran IPA adalah salah satu mata pelajaran yang dapat mendukungnya. Jika pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) ini diterapkan pada siswa kelas V SD dengan mata pelajaran IPA materi sistem pernafasan pada hewan, 33

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) akan berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa. 2.3 Hipotesis Penelitian 2.3.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V Sekolah Dasar. 2.3.2 Penerapan model penelitian kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V Sekolah Dasar. 34

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini membahas metode penelitian yang digunakan peneliti. Metode penelitian memuat jenis penelitian, setting penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengujian instrumen, dan teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi experimental dengan tipe pretest-posttest non equivalent group design (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Tipe quasi experimental adalah penelitian eksperimental yang tidak menggunakan kontrol secara penuh terhadap variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Jhonson & Christensen, 2008: 319). Penelitian eksperimental ini dilakukan dengan membandingkan hasil dari dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang mendapatkan perlakuan (treatment) dan kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan secara khusus (treatment) (Ari, dalam Sukardi, 2007: 180). Tipe penelitian ini merupakan salah satu tipe yang banyak digunakan dalam dunia pendidikan. Penelitian ini memilih penelitian quasi experimental karena keterbatasan penelitian yang tidak mungkin mengambil sampel secara random di sekolah. Sekolah yang pada dasarnya sudah mempunyai ketentuannya sendiri. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kelas atau rombongan yang telah tersedia di sekolah yang terbentuk sebelumnya. Oleh karena itu, peneliti tidak memiliki kuasa untuk mengacak rombongan belajar tersebut. Penelitian quasi experimental merupakan penelitian yang dikembangkan dari true experimental design, artinya penelitian ini memiliki keterbatasan dalam mengontrol variabel-variabel luar (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 275). Tipe penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pretest-posttest non equivalent group design, dengan melakukan pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 35

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penelitian ini melibatkan dua kelompok, satu kelompok sebagai kelompok kontrol dan kelompok lainnya sebagai kelompok eksperimen. Kedua kelompok mendapatkan soal pretest dan posttest serta unsur lainnya yang sama tetapi dengan perlakuan yang berbeda pada proses pembelajaran. Kelompok eksperimen diberi treatment khusus dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada materi sistem pernapasan pada hewan. Selanjutnya, kelompok kontrol tidak diberi treatment khusus, artinya pembelajaran berlangsung seperti biasanya dengan model ceramah pada materi sistem pernapasan pada hewan. Pengaruh pada perlakuan dapat dihitung melalui tiga tahap, yaitu (I) hasil dari posttest dikurangi hasil pretest pada rombongan eksperimen akan mendapatkan skor 1, (II) hasil dari posttest dikurangi hasil pretest pada rombongan kontrol akan mendapatkan skor 2, (III) pengurangan antara skor 1 dan skor 2 (Champbell & Standley, dalam Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). Berdasarkan pengertian dari Champbell dan Standley di atas, maka pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus: (O2 - O1) - (O4 - O3) Gambar 3.1 Rumus Pengaruh Perlakuan Jika hasil lebih besar dari nol, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan maka ada pengaruh perlakuan. Jika perbedaanya tidak signifikan tidak ada pengaruh. Eksperimen Kontrol O1 X O2 ---------------------O3 O4 Gambar 3.2 Desain Penelitian Keterangan: O1 = Rerata skor pretest kelompok eksperimen O2 = Rerata skor posttest kelompok eksperimen O3 = Rerata skor pretest kelompok kontrol O4 = Rerata skor posttest kelompok kontrol X = Perlakuan dengan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share 36

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Garis putus-putus pada gambar desain penelitian pretest-posttest non equivalent group design bermakna bahwa penentuan kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan tidak secara random (Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 283). 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta yang beralamat di Jalan Nogopuro No 3 Gawok, Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281. Sekolah Dasar ini mempunyai guru dan karyawan sejumlah 19 orang. Jumlah siswa di Sekolah Dasar ini adalah 339 siswa, dari siswa kelas I sampai dengan kelas VI yang masingmasing tingkatan kelas terdapat dua kelas paralel. Ada 187 siswa laki-laki dan 152 siswa perempuan dari 12 kelas. Kurikulum yang diterapkan di sekolah ini adalah Kurikulum 2013. Dipilih Sekolah Dasar negeri ini karena merupakan sekolah dengan kelas paralel sebagai perintis Kurikulum 2013 di Kabupaten Sleman. Sekolah ini juga termasuk lima besar sekolah unggulan Kecamatan Depok, sehingga juga memiliki guru yang perperan sebagai instruktur kurikulum 2013 tingkat nasional. Sekolah ini merupakan sekolah yang mempunyai manajeman dan sistem pembelajaran yang unggul. Selain itu, sekolah ini juga mempunyai beberapa guru yang berprestasi dan baik dalam pembelajaran. Sayangnya, pembelajaran di kelas belum pernah mengimplementasikan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Selama pembelajaran guru hanya menyampaikan materi dengan memberi penjelasan atau ceramah sedangkan siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian di salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta ini dilakukan pada semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Waktu pengambilan data disesuaikan dengan jadwal kalender pendidikan sekolah yang bersangkutan. Penelitian dilaksanakan selama kurun waktu 2 minggu. Penelitian ini dibuat singkat agar dapat mengendalikan ancaman terhadap validasi internal penelitian, yaitu sejarah, difusi treatment, dan maturasi. 37

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data Kelompok Kontrol Eksperimen Tanggal 15 Agustus 2018 27 Agustus 2018 28 Agustus 2018 29 Agustus 2018 30 Agustus 2018 6 September 2018 15 Agustus 2018 20 Agustus 2018 21 Agustus 2018 23 Agustus 2018 24 Agustus 2018 31 Agustus 2018 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Alokasi Waktu 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Kegiatan Preetest Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Posttest I Posttest II Preetest Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Posttest I Posttest II Populasi adalah sekelompok individu yang mempunyai ciri-ciri khusus yang sama (Creswell, 2015: 287). Populasi merupakan sekelompok (murid, guru, atau lainnya) yang mempunyai karakteristik tertentu (Fraenkel, Wellen, & Hyun, 2012: 92). Didapat dari pendapat para ahli di atas, populasi dapat disebut juga sebagai suatu kelompok yang mempunyai kesamaan secara umum yang menjadi perhatian peneliti untuk diteliti. Pada penelitian ini, populasinya adalah siswa kelas V salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta yang berjumlah 59 orang siswa. 3.3.2 Sampel Sampel merupakan subkelompok dari sebuah populasi yang direncanakan oleh peneliti untuk menggeneralisasikan tentang populasi (Creswell, 2015: 288). Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tertentu (Sugiyono, 2016: 81). Sampel juga dikatakan sebagai sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Trianto, 2010: 256). Penelitian ini menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Metode convenience sampling adalah suatu pengambilan sampel dengan menggunakan kelas yang sudah ada karena keterbatasan administrasi untuk memilihnya secara acak (Best & Khan, 2006: 18-19). Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas VA dan VB yang dipilih secara undian, kelas mana yang menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Siswa kelas VA berjumlah 30 orang dan siswa kelas VB berjumlah 29 orang. Hal ini juga dilakukan untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas 38

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI internal penelitian berupa difusi treatment. Pembelajaran di kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan oleh guru yang sama. Pengajaran oleh guru kelas yang sama bertujuan untuk mengurangi bias dalam penelitian. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal berupa implementasi. 3.4 Variabel Penelitian Variabel merupakan kondisi atau karakteistik yang meliputi perlakuan eksperimental, kontrol, ataupun yang akan diobservasi (Best & Khan, 2006: 167). Selanjutnya, variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 39). Pada penelitian ini variabel digolongkan menjadi dua yaitu variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen (variabel terikat). 3.4.1 Variabel Independen Variabel independen atau bebas ini adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen. Variabel independen atau bebas merupakan variabel input yang dapat mempengaruhi sebagian atau keseluruhan dari hasil peneltian (Cohen, Manion, & Morrison, 2015: 504). Variabel independen pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Model pembelajaan kooperatif tipe Think Pair Share memiliki empat langkah pelaksanaan, yaitu Think, Pair, Share I, Share II (Conclusion). 3.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen atau variabel terikat adalah kondisi atau karakteristik yang muncul, hilang, ataupun berubah karena adanya pengaruh dari variabel independen (Best & Khan, 2006: 168). Variabel dependen merupakan variabel hasil yang disebabkan oleh variabel independen (Cohen, Manion, & Morrison, 2015: 504). Pada penelitian ini, variabel dependennya adalah kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri pada siswa kelas V dengan materi sistem pernapasan pada hewan. 39

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Variabel Independen Variabel dependen Kemampuan Mengeksplanasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Kemampuan Meregulasi Diri Gambar 3.3 Variabel Penelitian 3.5 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa tes. Tes merupakan sejumlah pertanyaan atau tugas yang diberikan tanggapan dengan tujuan untuk mengukur tingkat kemampuan seseorang ataupun mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai tes (Widoyoko, 2015: 57). Tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil pelajaran tertentu pada seorang siswa atau kelompok siswa (Arikunto, 1991: 29). Berdasarkan dari pengertian, dapat diperjelas bahwa tes merupakan beberapa pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam suatu pelajaran. Bentuk tes yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data adalah tes essay. Bentuk tes essay merupakan suatu bentuk tes yang pertanyaannya memerlukan jawaban berupa uraian yang relatif panjang (Taniredja & Mustafidah, 2011: 50). Pada bentuk tes ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk menyusun, mengemukakan jawabannya sesuai pemahamannya dalam lingkup yang relatif dibatasi (Tuckman, dalam Nurgiyantoro, 2010: 117). Hal itu yang menyebabkan tes essay juga disebut dengan tes subjektif. Tes subjektif sangat memungkinkan siswa untuk menunjukkan kemampuan yang ada dalam dirinya. Jawaban siswa terhadap tes essay menunjukkan kualitas proses dan cara berpikir peserta didik aktivitas kognitif dalam tingkat tinggi yang tidak semata-mata mengingat dan memahami saja (Nurgiyantoro, 2010: 117). Peneliti menggunakan tes essay pada penelitian ini karena tes essay mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut (Nurgiyantoro, 2010: 118). 1) Tes essay merupakan tes yang tepat untuk menilai proses berpikir tingkat tinggi, 2) Tes 40

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI essay memberikan kesempatan siswa untuk mengemukakan jawabannya dalam bentuk bahasanya sendiri dengan runtut, 3) Bentuk tes ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk mempergunakan daya pikirannya sendiri dan kurang dalam memberikan kesempatan untuk bersikap untung-untungan, 4) Tes essay mudah disusun, sehingga tidak banyak menghabiskan waktu dan pikiran. Selanjutnya, adapun kelemahan dari tes essay sebagai berikut (Nurgiyantoro, 2010: 118). 1) Kadar validasi dan reliabilitas bentuk tes essay rendah, ini yang menjadi kelemahan pokok. Kedua hal tersebut disebabkan karena terbatasnya sampel bahan yang diujikan mewakili seluruh bahan, jawaban bervariasi, penilaian juga bersifat subjektif, 2) Akibat terbatasnya bahan yang diteskan, dapat pula terjadi hal-hal yang bersifat kebetulan, siswa yang sebenarnya kompeten mungkin akan mengalami kegagalan karena yang diteskan kebetulan kurang berkompeten dan sebagainya, 3) Penilaian yang dilakukan terhadap jawaban siswa tidak mudah untuk ditentukan standarnya. Setiap soal akan menghasilkan beberapa jawaban yang menyulitkan guru dalam mempertimbangkan skor, 4) Waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa jawaban siswa relatif lebih lama, pengoreksian harus dilakukan oleh satu orang tidak boleh diwakilkan atau digantikan. Penilaian ini menggunakan pretest dan posttest untuk mengumpulkan data. Instrumen tes yang digunakan dalam pretest dan posttest yang diberikan kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah suatu instrumen yang sama. Bentuk soal yang digunakan adalah soal essay. Pertama, kedua kelompok diberi soal pretest yang digunakan untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri awal siswa. Setelah itu, kelompok kontrol diajarkan dengan model belajar konfensional dan kelompok eksperimen diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Selanjutnya dilakukan posttest I pada kedua kelas untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh model pembelajaran terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Untuk mengetahui retensi pengaruh perlakuan, dilakukan posttest II. Seluruh instrumen yang digunakan disediakan oleh peneliti. 41

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah suatu alat bantu yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian dengan cara melakukan pengukuran (Widoyoko, 2015: 51). Pada penelitian ini peneliti menggunakan instrumen tes dalam bentuk soal essay. Soal essay digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Soal ditujukan untuk siswa kelas V SD pada tema 2 Udara Bersih Bagi Kesehatan, sub tema 1 Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih, pembelajaran 1 bagian IPA mengenai sistem pernapasan pada kompetensi dasar 3.2 Menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Instrumen yang digunakan berupa tes essay dengan jumlah 6 nomor soal dengan 18 item soal yang mewakili kemampuan berpikir kritis menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Penelitian ini difokuskan pada dua kemampuan yaitu kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Kedua kemampuan diwakilkan pada soal nomor 5a, 5b, dan 5c yaitu mengenai mengeksplanasi dan 6a, 6b, dan 6c mengenai meregulasi diri. Indikator kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri adalah sebagai berikut. Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen No Variabel Aspek Indikator No Item Soal 1. Mengeksplanasi Menjelaskan hasil penalaran Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumenargumen yang digunakan Menjelaskan pernyataan yang tepat dari hasil analisis 5a Menjelaskan alasan mengambil posisi tertentu 5b 2. Meregulasi diri Refleksi Koreksi diri mengapa Menjelaskan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan Membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri. Menilai kembali data-data yang digunakan. Menguji pandangan sendiri terhadap pemasalahan mengenai sistem pernapasan pada hewan. 5c 6a 6b 6c 42

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.7 Teknik Pengujian Instrumen Sebuah instrumen penelitian sebelum diberikan kepada subjek dalam hal ini siswa, instrumen perlu untuk diuji terlebih dahulu. Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan instrumen yang valid dan reliabel sehingga layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Berikut ini adalah penjelasan mengenai uji validitas dan reliabilitas. 3.7.1 Uji Validitas Validitas merupakan sejauh mana instrumen yang dibuat mengukur apa yang dimaksud untuk diukur (Suryabrata, 2008: 60). Pada penelitian ini peneliti menggunakan face validity (validitas muka), content vallidity (validitas isi), dan construct validity (validitas kontruk). 3.7.1.1 Validitas Permukaan Validitas permukaan atau muka adalah validitas yang menunjukkan apakah alat pengukuran atau instrumen penelitian dari segi rupannya tampak mengukur yang ingin diukur atau tidak. Validitas ini lebih mengacu pada bentuk dan penampilan instrumen (Siregar, 2013: 46). Validitas muka merupakan kejelasan tampilan suatu soal (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 163). Validitas permukaan ini dilakukan untuk mengetahui kejelasan setiap butir soal. Hal itu dilakukan dengan meminta para ahli atau expert judgement untuk menilai instrumen. Validitas permukaan ini diperoleh dari guru kelas V salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta, guru kelas V salah satu Sekolah Dasar swasta di Muntilan dan seorang dosen Pendidikan Biologi salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Pada instrumen soal nomor 5b masih ada kesalahan tanda baca (lihat Lampiran 3.5). 3.7.1.2 Validitas Isi Validitas isi adalah soal yang diujikan mencakup materi yang dituju (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 162). Validitas isi berkenaan dengan isi dan format dari instrumen. Penelitian ini melibatkan para ahli atau expert judgement untuk menilai. Validitas isi ini diperoleh dari tiga ahli, yaitu seorang dosen Pendidikan Biologi salah satu universitas swasta di Yogyakarta, seorang guru kelas V salah satu Sekolah Dasar swasta di Muntilan dan seorang guru kelas V salah satu guru Sekolah 43

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dasar negeri di Yogyakarta. Pada setiap instrumen terdapat komentar yang berbeda-beda dan perlu ada hal yang diperbaiki mulai dari 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, dan 6c. Instrumen soal nomor 5a mendapatkan rerata skor 3 dengan komentar objek yang digunakan dalam soal dibuat lebih kontekstual dan tingkat kekejaman cerita yang digunakan. Instrumen soal nomor 5b dan 5c memperoleh skor rerata masingmasing 3 dengan tanpa komentar. Instrumen soal nomor 6a dan 6b mendapatkan skor rerata masing-masing 3,7 dengan tanpa komentar. Instrumen soal nomor 6c mendapatkan skor rerata 3,3 dengan komentar inti pertanyaan lebih ditekankan dan diperhatikan fokusnya. Jumlah skor dari validator 1 untuk semua variabel gabungan yaitu 49, jumlah skor dari validator 2 untuk semua variabel gabungan yaitu 67, dan jumlah skor dari validator 3 yaitu 56. Jumlah rerata skor yang didapat dari ketiga validator adalah 57,3 sehingga instrumen ini layak untuk diimplementasikan dengan revisi sedikit (lihat Lampiran 3.4). 3.7.1.3 Validitas Konstruk Validitas konstruk adalah alat untuk menguji apakah alat ukur yang dipakai mengandung satu definisi operasional yang tepat atau tidak, dan suatu konsep teoritis (Margono, 2007: 187). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruk apabila butur-butir soal tes mengukur setiap aspek berpikir (Arikunto, 1991: 83). Validitas konstruk pada penelitian ini diuji dengan menggunakan uji empiris. Uji empiris dilakukan kepada 60 siswa kelas V salah satu Sekolah Dasar swasta di Yogyakarta. Pengujian instrumen dilaksanakan di salah satu Sekolah Dasar swasta di Yogyakarta yang beralamat di Jalan Sorowajan Baru No. 111, Banguntapan, Jaranan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dipilihnya sekolah tersebut untuk uji empiris karena merupakan sekolah yang memiliki kelas paralel. Uji instrumen dilakukan pada hari Selasa, 5 Juni 2017 dengan waktu 2 x 35 menit. Hasil dari uji instrumen soal dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat kepercayaan 95% dengan uji dua ekor (2-tailed). Cara uji korelasi ini adalah dengan mengkorelasikan setiap skor item soal dengan skor total. Dipilihnya rumus tersebut karena data berupa interval yang diberi skor 1 sampai 4. Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut (Field, 2009: 177). 44

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Jika rhitung > rtabel item tersebut dikatakan valid, sedangkan jika rhitung < rtabel item tersebut dikatakan tidak valid. 2. Jika harga p < 0,05 maka item tersebut dikatakan valid, sedangkan jika harga p > 0,05 item tersebut dikatakan tidak valid. Berikut adalah hasil uji validitas instrumen pada variabel mengeksplanasi dan meregulasi diri (lihat Lampiran 3.5) Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen Kemampuan Mengeksplanasi dan Meregulasi Diri Variabel Megeksplanasi Meregulasi Diri Indikator Menjelaskan pernyataan yang tepat dari hasil analisis Menjelaskan alasan mengapa mengambil posisi tertentu Menjelaskan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan Membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri. Menilai kembali datadata yang digunakan. Menguji pandangan sendiri terhadap permasalahan mengenai sistem pernapasan pada hewan. r tabel r hitung p Keterangan 0,361 0,653** 0,000 Valid 0,361 0,705** 0,000 Valid 0,361 0,826** 0,000 Valid 0,361 0,749** 0,000 Valid 0,361 0753** 0,000 Valid 0,361 0,820** 0,000 Valid Keterangan: * artinya tingkat signifikansi 0,05 ** artinya tingkat signifikansi 0,01 3.7.2 Uji Reliabilitas Suatu instrumen memiliki reliabilitas jika memberikan ketepatan hasil atau konsistensi dari waktu ke waktu dan dari responden yang sama (Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 146). Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk (Ghozali, 2006: 45). Penelitian ini menggunakan soal essay sebagai instrumen pengumpulan data. Pemberian skor menggunakan rentang skor 1 sampai dengan 4, sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Untuk melakukan pengujian reliabilitas, peneliti perlu menggunakan 45

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI teknik pengujian dengan Alpha Cronbach > 0,60 (Nunnally, dalam Ghozali, 2006: 46). Tabel 3.4 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Uji Reliabilitas Instrumen Alpha Cronbanch 0,876 N 6 Keterangan Reliabel Hasil uji reliabilitas instrumen tersebut memiliki nilai Alpha Cronbach > 0,60 yaitu sebesar 0,876. Dengan demikian, instrumen soal dikatakan reliabel dan layak untuk diterapkan dalam penelitian. 3.8 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan untuk menghitung suatu data agar dapat disajikan secara sistematis dan dapat digunakan interpretasi (Priyatno, 2012: 1). Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis data merupakan suatu kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber lain terkumpul. 3.8.1 Analisis Pengaruh Perlakuan Sebelum melaksanakan langkah-langkah analisis statistik untuk menguji hipotesis dari penelitian, diperlukan langkah-langkah pengujian awal untuk memastikan syarat-syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk menentukan jenis-jenis uji statistik yang sesuai untuk pengujian selanjutnya. Oleh karena itu, dilakukanlah uji asumsi berupa uji normalitas distribusi data dan uji homogenitas varian. 3.8.1.1 Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data tersebut normal atau tidak. Uji normalitas ini juga digunakan untuk menentukan jenis statistik yang digunakan dalam menganalisis data untuk menentukan jenis statistik mana yang digunakan dalam menganalisis data 46

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI selanjutnya (Field, 2009: 144). Berikut adalah hipotesis statistik uji normalitas distribusi data. Hi : ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas. Hnull : tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas. Kriteria untuk mengambil keputusan sebagai berikut (Field, 2009: 144). a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak Hi diterima, artinya data berdistribusi tidak normal. Teknik analisis selanjutnya menggunakan statsistik non parametrik. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya data berdistribusi normal. Teknik analisis selanjutnya menggunakan statsistik parametrik. Uji normalitas distribusi data menggunakan data dari skor pretest, posttest I, posttest II, dan selisih skor pretest-posttest I pada kedua kelompok. 2. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas varian dilakukan guna mengetahui apakah skor pretest dan selisih skor posttest dan posttest I pada kedua kelompok memiliki varian yang homogen. Kondisi dikatakan ideal jika variannya homogen. Uji homogenitas menggunakan Levene’s test. Jika data berdistribusi normal maka data yang digunakan adalah data pada baris pertama dari output SPSS Independent Samples t-test dengan keterangan equal variances assumed (Field, 2009: 340). Berikut hipotesis statistik uji homogenitas varian. Hi : ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata skor. Hnull : tidak ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata skor. Kriteria untuk mengambil keputusan sebagai berikut (Field, 2009: 150). a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Uji homogenitas varian menggunakan data skor pretest dan selisih skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok. 47

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.1.2 Uji Signifikansi 1. Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal digunakan untuk mengukur kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan agar diketahui apakah kemampuan dari kelompok kontrol dan eksperimen berbeda atau sama sehingga dapat dibandingkan hasilnya. Uji ini dilakukan dengan menghitung rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika keduanya memiliki kemampuan awal setara, maka kemungkinan biasnya kecil (Neuman, 2013: 238). Jika data terdistribusi normal, analisis menggunakan Independent sample t-test, apabila jika data tidak terdistribusi normal analisis menggunakan Mann-Whitney U-test (Field, 2009: 345). Analisis statistik menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis data uji perbedaan kemampuan awal menggunakan hipotesis statistik sebagai berikut. Hi : Ada perbedaan rerata pretest yang signifikan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hnull : Tidak ada perbedaan rerata pretest yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan, sebagai berikut. a. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya, tidak ada perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. b. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya, ada perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang berbeda. Uji perbedaan kemampuan awal ini data diambil dari skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 48

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Sesudah dilakukan uji asumsi, teknik statistik selanjutnya yang dilakukan adalah menguji signifikansi pengaruh perlakuan sebagai inti dari penelitian. Pengujian dimaksudkan untuk memastikan penerapan variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan pada variabel dependen yang diteliti. Sesuai dengan desain penelitian dan perhitungan untuk mencari pengaruh, jika hasil lebih besar dari 0, ada perbedaan. Uji signifikan pada uji statistik ini membantu untuk memastikan pengaruhnya signifikan atau tidak. Digunakanlah program IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed). Jika distribusi data normal, digunakan independent samples t-test dan jika distribusi data tidak normal, digunakan Mann-Whitney U-test. Berikut ini adalah hipotesis statistiknya. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor petest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Selanjutnya, kriteria yang digunakan untuk memenuhi pengaruh perlakuan yaitu sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya, ada perbedaan yang signifikan. Dengan kata lain penerapan variabel independen berpengaruh terhadap kemampuan dalam variabel dependen. b. Jika harga p > 0,05, Hnull ditolak. Artinya, tidak ada perbedaan yang signifikan. Dengan kata lain penerapan variabel independen tidak berpengaruh terhadap kemampuan dalam variabel dependen. Untuk uji signifikasi pengaruh perlakuan, data diambil dari skor selisih pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan desain penelitian. 49

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui apakah pengaruh suatu perlakuan secara statistik signifikan tidak dengan sendirinya menunjukkan apakah pengaruh tersebut substantif atau penting (Field, 2009: 56). Besar pengaruh suatu perlakuan diketahui melalui effect size. Effect size yaitu suatu ukuran objektif dan terstandarisasi untuk mengetahui seberapa besar efek yang dihasilkan dari perlakuan (Field, 2009: 56-57). Teknik yang banyak digunakan merupakan teknik koefisien korelasi Pearson (r) yang ,menggunakan skala 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Berikut ini adalah kriteria uji pengaruh perlakuan (Cohen dalam Field, 2009: 57). Tabel 3.3 Kriteria Pengauh Perlakuan r (effect size) 0,10 0,30 0,50 Kategori Kecil Menengah Besar Persentase Persentasenya setara dengan 1% pengaruh perlakuan Persentasenya setara dengan 9% pengaruh perlakuan Persentasenya setara dengan 25% pengaruh perlakuan Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria uji pengaruh perlakuan (Fraenkel, Wallen, dan Hyun, 2012: 253) Tabel 3.4 Kriteria Uji Pengaruh Perlakuan No Harga r 1 0,00 – 0,40 2 0,41 – 0,60 3 0,61 – 0,80 4 0,81 – 1,00 Interpretasi Efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masalah penting secara teoretis untuk membuat prediksi Cukup besar secara praktis dan teoretis Efek sangat penting, tetapi jarang dicapai dalam penelitian pendidikan Mungkin terjadi kesalahan dalam penghitungan; jika tidak efeknya memang sangat besar Untuk teknik pengujian besar pengaruh, jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 332). Gambar 3.4 Rumus Besar Efek untuk Data Normal 50

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS dengan independent samples t-test) df : derajat kebebasan (degree of freedom) yaitu (N-2 atau kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dikurangi 2) Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 550). Gambar 3.5 Rumusan Besar Efek untuk Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS dengan Mann Whitney U-test) N : jumlah seluruh responden dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dalam mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan dengan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3.6 Rumus Persentase Pengaruh 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji persesntase peningkatan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan menggunakan rumus sebagai berikut. 51

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 − 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) × 100% 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 Gambar 3.7 Rumus Besar Persentase𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 Peningkatan Pretest-Posttest I Persentase peningkatan = Berikut ini adalah cara untuk mengetahui persentase selisih skor pretest – posttest I (gain score) 𝐺𝑎𝑖𝑛 𝑆𝑐𝑜𝑟𝑒 = frekuensi × 100% jumlah siswa Gambar 3.8 Rumus Gain Score Untuk mengetahui peningkatan tersebut signifikan, digunakan paired samples t-test jika data distribusi dengan normal atau Wilcoxon signed rank test jika data terdistribusi tidak normal. Uji statistik menggunakan SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed). Hipotesis statistiknya sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I. Kriteria yang digunakan mungkin mengetahui peningkatan adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima. Jika rerata posttest > pretest, terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. b. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak. Jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang tidak signifikan dan pretest ke posttest I. Untuk uji persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I, data diambil dari skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan Uji statistik ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar efek peningkatan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Rumus yang digunakan sama dengan rumus korelasi Person pada 52

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bagian sebelumnya dengan sedikit memodifikasi. Jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 332). Gambar 3.9 Rumus Efek untuk Data Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS dengan paired samples t test) df : derajat kebebasan (dagree of freedom) yaitu (n-1) Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 550). Gambar 3.10 Rumus Besar Efek untuk Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS dengan Wilcoxon signed rank test) N : 2 x jumlah reponden dalam satu kelompok yang sama Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3.11 Rumus Persentase Besar Efek Peningkatan 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji statistik ini dimaksudkan untuk mengetahui ada bias regresi statistik yang bisa mengancam validitas internal penelitian (Frankel, Wallen, & Hyun, 2012, 2012: 283). Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa bias regresi statistik ini bisa dijelaskan. Kecenderungan umum bahwa partisipan dengan hasil 53

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI skor pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi merupakan ancaman regresi statistik. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung turun mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Jika perubahan yang terjadi pada posttest diklaim sebagai hasil treatment, kesimpulan penelitian tersebut bias diragukan karena efek regresi statistik ini. Hasilnya bias diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). Ancaman ini akan lebih besar terjadi pada penelitian terhadap kelompok yang di dalamnya ada siswa-siswa yang berkebutuhan khusus slow learner dan talented. Korelasi antara rerata pretest dan posttest I positif apaila semakin tinggi pretest maka semakin tinggi pula posttest. Sedangkan korelasinya signifikan jika hasil korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Untuk itu digunakan program SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed) dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Uji korelasi skor pretest dan posttest I menggunakan rumus Pearson. Jika data terdistribusi normal maka menggunakan Pearson’s correlation (Field, 2009: 177). Jika data berdistribusi tidak normal maka menggunakan Spearaman’s correalation (Fied, 2009: 179). Baik ada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen, skor pretest dikorelasikan dengan skor posttest I. Korelasi positif berarti: jika skor pretest tinggi, tinggi juga skor posttestnya; jika skor pretestnya rendah, rendah juga skor posttestnya. Korelasi negatif berarti jika skor pretest tinggi, skor posttestnya rendah; dan jika skor pretest rendah, skor posttestnya tinggi. Kondisi dikatakan ideal jika korelasinya positif. Korelasi negatif merupakan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut (Field, 2009: 181). Hnull : Tidak ada perbedaan hasil korelasi pretest dan posttest I dengan P dan Q (P = Q) Hi : Ada perbedaan hasil koelasi pretest dan posttest I dengan P dan Q (P ≠ Q) 54

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan: P : Jika harga p < 0,05 Q : Jika r negatif Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan sebagai berikut. a. Jika hasilnya P dan Q, maka Hnull diterima. Artinya, ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak bisa dikendalikan dengan baik. b. Jika hasilnya bukan P dan Q, maka Hnull ditolak. Artinya, ancaman terhadap validitas internal berupa regresi statistik bisa dikendalikan dengan baik. 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Apabila suatu posttest II yang dilakukan beberapa waktu sesudah posttest I bisa digunakan untuk memastikan dengan lebih akurat kekuatan pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Dalam banyak kasus posttest I yang dilakukan langsung sesudah treatment sering kurang akurat menggambarkan hasil yang sesungguhnya karena efek emosi positif (euforia) yang timbul terhadap treatment yang bisa jadi merupakan metode yang baru sama sekali yang belum pernah dialami responden. Untuk itu dilakukan posttest II seminggu sesudah posttest I sehingga ada jeda waktu yang cukup dapat menetralisasi efek emosi yang mungkin timbul. Teknik statistik yang digunakan adalah SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor baik untuk kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Jika data terdistribusi normal digunakan paired samples ttest dan jika data terdistribusi tidak normal, digunakan Wilcoxon signed rank test. Hipotesis statistik yang digunakan adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II Hi : Ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui apakah retensi perlakuan masih sekuat posttest I adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05 dan rerata posttest I > rerata posttest II, Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya terdapat penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. 55

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Jika harga p > 0,05 dan rerata posttest I > rerata posttest II, Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak terdapat penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Untuk uji retensi penaruh perlakuan, data diambil dari skor posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.9 Ancaman Validitas Internal Sesuadah data dianalisis dengan menggunakan teknik pengujian statistik dan diperoleh kesimpulan-kesimpulannya, sebelum menarik kesimpulan penelitian secara final perlu diperiksa terlebih dahulu apakah sungguh terdapat hubungan kausalitas antara variabel independen dan variabel dependen sebagaimana ditunjukkan oleh data yang diperoleh dari instrumen penelitian, atau ada faktorfaktor di luar variabel independen yang turut mempengaruhi variabel dependen. Pada perilaku eksperimen, sejumlah variabel luar dihasilkan oleh rancangan atau prosedur eksperimental. Variabel ini akan mempengaruhi hasil eksperimen (Best & Kahn, 2006: 172). Peneliti tidak dimungkinkan mengacak subjek penelitian, maka menggunakan quasi-experimental design. Ketika menggunakan quasi-experimental design, harus berhati-hati terhadap pengaruh variabel luar yang dapat mengacaukan hasilnya (Johnson & Christensen, 2012: 339). Terdapat variabel-variabel lain di luar treatment yang ikut berpengaruh terhadap hasil penelitian sehingga memunculkan keraguan terhadap hubungan sebab-akibat yang ditarik pada kesimpulan penelitian. Variabel lain di luar treatment dapat menjadi ancaman terhadap validitas penelitian. Campbell dan Stanley (1963), Bracht dan Glass (1968), dan Lewis-Beck (1993), dalam Cohen, Manion, & Morrison, (2007: 155) menyatakan bahwa ancaman terjadi lebih besar pada penelitian kuasieksperimental dibandingkan eksperimental murni karena dalam eksperimental murni seleksi sampel dilakukan secara random dan lebih terkontrol. Terdapat 11 jenis ancaman penelitian kuasi-eksperimental sebagai berikut. 1. Sejarah (history) Setiap perlakuan terhadap kelompok yang sedang diteliti yang terjadi di antara pretest dan posttest di luar treatment penelitian dapat mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 155). 56

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pengaruh sejarah dapat terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama (Neuman, 2013: 328). Perubahan hasil yang terjadi pada salah satu kelompok dapat dipengaruhi oleh faktor di luar treatment misalnya acara TV, workshop, dan sebagainya. Apabila kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mengikuti acara tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang, sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal rendah. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 2. Difusi treatment atau kontaminasi (treatment diffusion or contamination) Difusi treatment terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diam-diam saling berkomunikasi dan sama-sama mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen. Solusinya adalah kedua kelompok betul-betul dipisahkan dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian adalah rendah sampai menengah (Neuman, 2013: 330). 3. Perilaku Kompensatoris Ancaman ini terjadi jika kelompok kontrol mengetahui treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen dirasa sangat berharga (Neuman, 2013: 330). Solusinya adalah kelompok kontrol diberi pengertian bahwa sesudah penelitian, mereka juga akan mendapatkan treatment yang sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 4. Maturasi (Maturation) Perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian dapat berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2012: 251). Solusinya, saat pretest dan posttest sama pada kelompok kontrol dan eksperimen. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 57

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Regresi Statistik Ancaman regresi statistik yaitu kecenderungan umum bahwa partisipan dengan hasil skor pretest yang tinggi biasanya mendapat skor posttest yang sangat rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Ancaman ini dapat dikontrol dengan menggunakan uji korelasi (Cohen, Manion, & Morisson, 2007: 155). Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 6. Mortalitas Perbedaan jumlah partisipan pada saat pretest dan posttest akibat tidak mengikuti pretest dan posttest sehingga dapat berpengaruh terhadap validitas penelitian. Ancaman mortalitas tidak terjadi karena partisipan selalu hadir saat pretest atau posttest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya menengah (Fraenkel, Wallen & Hyun, 2012: 282). 7. Pengujian (testing) Pretest pada awal penelitian dapat mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tinggi dari jika tanpa ada pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Ancaman ini dapat dikontrol dengan melakukan uji perbedaan kemampuan awal yaitu pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Solusinya, kelompok kontrol sama-sama mengerjakan pretest. Solusi tersebut akan mengurangi ancaman terhadap validitas internal ini karena kedua kelompok sama-sama mendapatkan pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 8. Instrumentasi (Instrumentation) Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap hasil penelitian. Terdapat tiga kategori terjadinya ancaman instrumentasi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). a. Instrumen yang digunakan untuk mengukur mengalami kerusakan. Solusinya dilakukan pengecekan ulang dan perbaikan setiap ada perubahan sehingga antara pretest dan posttest sama. 58

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Karakteristik alat pengumpul data yang digunakan berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau untuk pretest dan posttest. Solusinya adalah alat pengumpul data yang digunakan harus sama. c. Alat pengumpul data dapat bias apabila menggunakan teknik observasi. Solusinya adalah dilakukan training yang sungguh-sungguh terhadap observer atau observer tidak diberi tahu sama sekali mana kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama. Penelitian ini merupakan penelitian payung, sehingga instrumen terdiri dari 18 soal uraian, yang masing-masing mewakili tingkat kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. 9. Lokasi (Location) Perbedaan lokasi (misalnya ukuran ruang, kenyamanan ruang, dan sebagainya) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen saat dilakukannya treatment. Lokasi yang berbeda dapat menghasilkan skor pretest yang berbeda. Solusinya adalah lokasi atau ruangan yang digunakan untuk treatment kurang lebih sama pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya menengah sampai tinggi (Fraenkel, Walen, & Hyun, 2012: 282). 10. Karakteristik subjek (Subject characteristics) Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian. Terdapat dua bagian dari ancaman ini (Fraenkel, Wallen, Hyun, 2012: 238). a. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest. Solusinya adalah pemilihan kelompok kontrol dan eksperimen dilakukan secara random (Neuman, 2013: 238). b. Jumlah jenis kelamin yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat berpengaruh terhadap posttest. Solusinya adalah 59

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penyetaraan antara laki-laki dan perempuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 11. Implementasi Perbedaan guru mitra pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat berpengaruh pada hasil posttest. Solusinya adalah guru mitra yang digunakan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen harus sama (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 60

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini merupakan hasil penelitian dan hasil analisis data. Hasil penelitian berisi implementasi penelitian yang meliputi deskripsi sampel dan deskripsi implementasi pembelajaran. Hasil analisis data berisi uji hipotesis penelitian I dan II yang meliputi analisis pengaruh perlakuan dan analisis lebih lanjut. Pada pembahasan diuraikan pengaruh perlakuan beserta dampaknya. 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Hasil Implementasi Penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas kontrol dan kelas eksperimen ditentukan dengan cara mengundi bersama dengan guru mitra. Teknik pengambilan sampel menggunakan desain non probability sampling tipe convenience sampling. Teknik ini biasanya untuk penelitian di bidang pendidikan yaitu menggunakan kelas yang sudah ada kerena keterbatasan peneliti untuk memilih secara acara (Best & Kahn, 2006: 18-19). Hasil pengundian menunjukkan bahwa kelas V A sebagai kelas eksperimen dan kelas V B sebagai kelas kontrol. Selanjutnya akan dideskripsikan sampel penelitian dan pembelajaran yang berlangsung pada kedua kelompok. 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian Populasi dan penelitian ini adalah siswa kelas V salah satu Seklah Dasar Negeri di Yogyakarta yang berjumlah 59 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelas V A dan kelas V B. Kelas V A sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 30 siswa yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan, sedangkan kelas V B sebagai kelas kontrol dengan jumlah 29 siswa yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Sampel pertama adalah kelas V B sebagai kelompok kontrol. Siswa kelompok kontrol ini berasal dari berbagai latar belakang , sebagian besar berasal dari ekonomi menengah hingga menengah ke atas. Data menunjukkan bahwa pekerjaan orang tua siswa antara lain wiraswasta, PNS, tani dan buruh. Ketika 61

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pelaksanaan pretest, perlakuan (treatment) dan posttest I maupun posttest II semua siswa hadir dan mengikutinya. Oleh karena itu, hal tersebut tidak menimbulkan ancaman berupa validitas internal jenis mortalitas. Mortalitas adalah perbedaan jumlah responden pada waktu pretest dan posttest karena sejumlah alasan (Creswell, 2015: 596-597). Sampel kedua adalah kelas V A yang berperan sebagai kelompok eksperimen. Siswa pada kelompok ini juga terdiri dari latar belakang yang berbeda satu sama lain. Sebagian besar berasal dari keluarga ekonomi menengah sampai menengah atas. Pekerjaan orang tua siswa antara lain buruh, wiraswasta dan PNS. Ketika pelaksanaan pretest, perlakuan (treatment), maupun posttest I dan posttest II semua siswa hadir di kelas dan mengikutinya dengan baik. 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran Pelaksanaan penelitian dimulai dengan melakukan pretest kepada kelompok eksperimen maupun kelas kontrol. Diadakannya pretest bertujuan untuk mengukur kemampuan awal siswa. Pretest dilakukan kepada kelas eksperimen pada hari Rabu, 15 Agustus 2018 selama 2 jam pelajaran (2 x 35 menit) di jam pertama pelajaran. Pretest kelas kontrol dilakukan pada hari Rabu, 15 Agustus 2018 selama 2 jam pelajaran (2 x 35 menit) di jam pertama pelajaran. Peran peneliti pada pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai pengamat dan membantu mempersiapkan saat pelaksanaan serta mendokumentasikan kegiatan pembelajaran. Kedua kelompok sama-sama mengerjakan 18 item soal dari 6 nomor soal dengan jangka waktu yang sama. Sebelum mengerjakan keduanya diarahkan tentang cara mengerjakan soal yang diberikan. Sesekali siswa diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai soal yang kerang jelas dipahaminya. Pembelajaran di kelompok kontrol menggunakan model ceramah sedangkan di kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Lama pembelajaran di kedua kelompok adalah 2 x 35 menit dengan tiga kali peretemuan di setiap kelompok. Guru yang berperan di setiap pelaksanaan kegiatan ini adalah guru yang sama di kedua kelompok. Penggunaan guru yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu implementasi (implementation). Perbedaan guru yang mengajar kelompok kontrol 62

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan kelompok eksperimen dapat berpengaruh pada hasil skor posttest (Fraenkel, Wellen, & Hyun, 2012: 283). Berikut ini deskripsi implementasi pembelajaran di kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Kontrol Model pembelajaran yang digunakan pada kelas kontrol adalah model pembelajaran metode ceramah. Alokasi waktu yang digunakan pada setiap pembelajaran adalah 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Pembelajaran dilaksanakan selama tiga kali pertemuan dengan fokus kemampuan yang berbeda pada setiap pertemuannya. Materi pokok yang dipelajari adalah sistem pernapasan pada hewan. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Senin, 27 Agustus 2018 pada pukul 07.00-08.10 WIB dengan materi pengenalan alat pernapasan pada hewan dan fungsinya. Kegiatan diawali dengan berdoa secara bersama-sama dan absensi kehadiran siswa. Kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai materi pernapasan pada hewan yang diketahui oleh siswa (apersepsi). Guru mengajak siswa untuk tepuk semangat (motivasi) kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan (orientasi). Kegiatan ini dilakukan oleh guru mitra secara lisan tentang pengenalan alat pernapasan pada hewan dan fungsinya. Guru menggunakan buku pegangan siswa sebagai pembantu proses pembelajaran dan sesekali menuliskan hal-hal yang dianggap penting di papan tulis, sedangkan siswa mencatatnya di buku tulis masing-masing. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari bersama dan memberikan umpan balik kepada siswa. Pertemuan kedua dilaksanakan Selasa, 28 Agustus 2018, pada jam pertama dan kedua yaitu pukul 07.00-08.10 WIB dengan fokus materi mengenai pengelompokan hewan berdasarkan alat pernapasan. Kegiatan diawali dengan berdoa bersama dan absensi kehadiran siswa, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai alat pernapasan pada hewan yang sudah diketahui oleh siswa (apersepsi). Dilanjutkan dengan tepuk semangat bersama (motivasi) kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini (orientasi). Kegiatan inti pembelajaran mengenai pengelompokan hewan berdasarkan alat pernapasannya disampaikan guru secara lisan dengan pegangan buku paket 63

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI siswa. Sesekali guru menuliskan hal-hal yang dianggap penting di papan tulis kemudian siswa turut mencatatnya di buku catatan mereka. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari secara bersamasama dan memberikan umpan balik terhadap siswa. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Rabu, 29 Agustus 2018, pada jam pertama pembelajaran di sekolah yaitu pulul 07.00-08.10 WIB dengan materi permasalahan mengenai pernapasan hewan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan awal dimulai dengan berdoa dan absensi kehadiran siswa, dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai meteri yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya (apersepsi). Guru dan siswa melakukan tepuk semangat untuk menambah semangat belajar (motivasi), kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran ini (orientasi). Seperti pembelajaran sebelumnya, guru memberikan penjelasan kepada siswa secara lisan mengenai permasalahan mengenai pernapasan hewan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu guru membacakan hal-hal yang dianggap penting lalu mencatatnya di papan tulis. Siswa mencatat penjelasan guru di buku masing-masing. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari dan memberikan umpan balik terhadap siswa. Selanjutnya ditambahkan dengan menyimpulkan pembelajaran secara keseluruhan selama tiga kali pembelajaran. Kamis, 30 Agustus 2018 siswa di kelompok kontrol mengerjakan soal posttest I untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran dengan model pembelajaran ceramah. Siswa mengerjakan enam soal uraian dalam waktu 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Seminggu setelah pelaksanaan posttest I, siswa kembali megerjakan soal posttest II tepatnya pada Kamis, 6 September 2018. Posttest II bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa seminggu setelah menerima pembelajaran dengan model pembelajaran ceramah. Kali ini siswa mengerjakan 18 item soal dalam 6 soal uraian dalam waktu 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Soal yang dikerjakan siswa mulai dari pretest, posttest I dan posttest II merupakan soal yang sama. Penggunaan instrumen soal yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu instrumen (instrumentation). Jika suatu penelitian 64

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan instrumen yang berbeda baik pada pretest dan posttest untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman validitas internal penelitian (Johnson & Chridtensen, 2008: 262). Peneliti hanya menggunakan nomor soal 5 untuk meneliti variabel mengeksplanasi dan soal nomor 6 untuk meneliti soal meregulasi diri. 2. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Eksperimen Pembelajaran pada kelompok eksperimen ini menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Model ini meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan awal berisikan doa, absensi, apersepsi, motivasi dan orientasi. Pada kegiatan inti digunakan empat langkah pembelajaran kooperatif tipe TPS yaitu a) think – membentuk kelompok beranggotakan 4 siswa kemudian setiap siswa diberikan kesempatan untuk berpikir terkait pertanyaan atau masalah untuk menentukan solusi secara individu, b) pair – bertukar pikiran mengenai gagasan individu dengan pasangan yang telah ditentukan, c) share I – setiap gagasan berbagai ide pada kelompok besar dari pasangan unuk memecahkan masalah, d) share II – setiap kelompok menyampaikan hasil kerja di depan kelas. Kegiatan penutup dilakukan dengan penyimpulan, refleksi, dan tindak lanjut. Sekali pembelajaran membutuhkan waktu 2 jam pelajaran yang berarti 2 x 35 menit. Pembelajaran dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan dengan materi pokok sistem pernapasan pada hewan. Pada setiap pertemuan pembelajaran membahas pada fokus sub materi yang berbeda. Guru yang mengajar di kelompok eksperimen sama dengan guru yang mengajar di kelompok kontrol. Sebelum pembelajaran, guru membagi kelas menjadi 7 kelompok yang beranggotakan 4 siswa. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Senin, 20 Agustus 2018 di jam pertama dan kedua yaitu pukul 07.00-08.10 WIB. Materi yang dibahas adalah pengenalan alat pernapasan pada hewan dan fungsinya dengan menggunakan model pembelajaran TPS. Kegiatan diawali dengan berdoa bersama dan absensi kehadiran siswa, selanjutnya guru melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai cara hewan bernapas dan alat pernapasan pada hewan yang diketahui siswa (apersepsi). Guru mengajak siswa untuk tepuk semangat dan bermain 65

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI game sebut nama hewan yang diketahui oleh siswa. Permainan dilakukan secara bergilir sesuai dengan urutan yang ditentukan sebelumnya, serta siswa tidak boleh menyebutkan nama yang sudah disebutkan siswa tidak boleh menyebutkan kembali. Setiap siswa hanya diberikan waktu tiga detik untuk berpikir (motivasi). Kemudian guru menyampaikan tujuan dari kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti, guru memberikan pengantar mengenai materi yang akan dibahas pada pertemuan pertama ini, baru selanjutnya mengajak siswa membagi dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. Langkah pertama, setiap anggota kelompok diberikan lembar kerja yang sama untuk mencari solusi dari suatu permasalahan yang ada. Guru menyajikan video untuk menunjang penyelesaian suatu kasus dalam lembar kerja (think). Selanjutnya langkah kedua, siswa diberikan waktu untuk mendiskusikan hasil pemikiran mereka secara berpasangan untuk menyatukan pemikiran. Pada langkah ini setiap pasangan menuliskan hasil diskusinya pada LKS yang telah disediakan (pair). Langkah ketiga, setiap pasangan kemudian saling berbagi dengan kelompok kecilnya untuk menyatukan pendapat yang didapat masing-masing untuk menentukan kesimpulan. Kesimpulan yang didapat digambarkan sesuai dengan kesepakatan kelompok (share I). Langkah keempat, setiap kelompok akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbagi dan mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas. Tidak ada pengecualian bagi semua kelompok unutuk memberikan komentar maupun masukan bagi kelompok yang memaparkan hasilnya (share II). Pada kegiatan penutup, guru memberikan umpan balik terhadap kelompok siswa yang telah mempresentasikan hasil kerja mereka. Selanjutnya guru dan siswa membuat kesimpulan dari pembelajaran. Pada pertemuan kedua dan seterusnya, tidak dilakukan pembagian kelompok. Siswa belajar dengan kelompok yang sama seperti pertemuan pertama. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Agustus 2018 pada jam pertama dan kedua pembelajaran yaitu pukul 07.00-08.10 WIB. Materi pokok yang dibahas dalam pembelajaran kali ini adalah mengenai pengelompokan hewan berdasarkan alat pernapasannya. Kegiatan diawali dengan berdoa dan absensi kehadiran sisswa, selanjutnya guru dan siswa 66

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melakukan tanya jawab mengenai macam-macam alat pernapasan yang sudah dipelajari sebelumnya (apersepsi). Guru dan siswa melakukan tepuk semangat dan bercerita mengenai pentingnya alat pernapasan bagi makhluk hidup (motivasi). Kemudian guru menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran (orientasi). Kegiatan inti langkah pertama, setiap siswa duduk bersama dengan kelompok dan masing-masing dibagikan LKS dan langkah kerja percobaan. Setiap siswa diminta untuk menentukan hipotesis secara mandiri dan menuliskannya pada LKS yang di sediakan (think). Langkah kedua, siswa mendiskusikan hasil hipotesis percobaan yang telah dibuat bersama dengan pasangan untuk melaksanakan langkah selanjutnya. Siswa tidak lupa untuk menuliskan hasil diskusi mereka ke lembar yang sudah disediakan (pair). Langkah ketiga, semua siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk melaksanakan percobaan untuk membuktikan alat pernapasan pada salah satu hewan yang nantinya siswa dapat mengelompokkan hewan berdasarkan alat pernapasannya. Kemudian dalam kelompok, menuliskan laporan sederhana yang membuktikan hipotesis yang sebelumnya telah didiskusikan (share I). Selanjutnya langkah keempat, setiap kelompok mempunyai hak yang sama untuk mempresentasikan hasil percobaan mereka di depan kelas dengan memperoleh masukan dari kelompok lain (share II). Guru tidak lupa memberikan umpan balik terhadap hasil presentasi setiap kelompok. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan dan refleksi bersama mengenai kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan hari ini. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Kamis, 23 Agustus 2018 pada jam pertama dan kedua pembelajaran yaitu pukul 07.00-08.10 WIB. Fokus materi yang dibahas adalah mengenai permasalahan mengenai pernapasan hewan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan diawali dengan berdoa bersama dan absensi kehadiran siswa, serta dilanjutkan dengan tanya jawab tentang pengalaman dengan hewan yang berhubungan dengan sistem pernapasan (apersepsi). Guru dan siswa melakukan tepuk cinta dan game menyebutkan nama hewan dan alat pernapasan yang digunakan (motivasi), kemudian guru menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran (orientasi). Kegiatan inti langkah pertama, siswa berkumpul dalam kelompok dan dibagikan gambaran 67

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perlakuan manusia terhadap hewan. Setiap siswa dibagikan LKS dan diminta untuk menentukan sikap yang tepat dalam mengatasi permasalahan yang terlihat pada gambar (think). Langkah kedua, siswa bersama pasangan mendiskusikan solusi yang paling tepat dari gambar kasus yang diberikan. Hasil kesepakatan yang didapat keduanya tidak lupa untuk dituliskan dalam lembar yang disediakan agar tidak lupa (pair). Langkah ketiga, setiap pasangan membagikan pendapatnya ke dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan kembali dan meyakinkan solusi yang didapat. Selain itu, mereka juga memikirkan bersama mengenai sikap yang paling tepat dalam memperlakukan binatang pada kehidupan sehari-hari (share I). Langkah keempat, semua kelompok mendapatkan kesempatan yang sama untuk mempresentasikan hasil diskusi dalam kelompok kecil di depan kelas (share II). Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan dan refleksi bersama mengenai kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan hari ini. Tidak lupa guru merangkum secara keseluruhan materi yang telah disampaikan dalam tiga pertemuan secara singkat. Kelompok eksperimen pada Jumat, 24 Agustus 2018 pukul 07.00-08.10 WIB, mengerjakan soal posttest I. Posttest I bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Satu minggu setelah posttest I tepatnya pada Jumat, 31 Agustus 2018, siswa mengerjakan soal posttest II. Posttest II bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa satu minggu setelah menerima pembelajaran dengan model pembelajaraan kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Soal yang dikerjakan siswa pada posttest I dan posttest II sama seperti yang dikerjakan ketika pretest. Selainn itu, alokasi waktu yang digunakan untuk mengerjakan antara pretest, posttest I, dan posttest II sama yaitu dua jam pelajaran tepatnya 2 x 35 menit. Peneliti hanya menggunakan soal nomor 5 untuk meneliti variabel mengeksplanasi dan soal nomor 6 untuk meneliti variabel meregulasi diri. 68

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data Pada deskripsi sebaran data, peneliti memperlihatkan perbedaan data yang diperoleh pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk setiap indikator. Hasil dari sebaran data dapat dilihat pada tabel tersebut. 4.1.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi 1. Kelompok Kontrol Tabel 4.1 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol No 1. 2. 3. Indikator Menjelaskan pernyataan yang tepat dari hasil analisis. Menjelaskan alasan mengapa mengambil posisi tertentu. Menjelaskan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Jumlah Frekuensi 1 Skor Pretest 2 3 4 Total Skor Posttest I 1 2 3 4 Total 14 14 1 - 29 8 14 6 1 29 15 10 4 - 29 11 14 4 - 29 16 11 2 - 29 10 17 2 45 35 7 - 87 29 45 12 29 1 87 Tabel 4.1 menunjukkan bahwa hasil pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator diketahui skor yang paling banyak adalah skor 1 sebanyak 45 siswa, sedangkan skor paling sedikit adalah 4 dengan tidak ada satupun siswa yang mendapat skor 4 pada kemampuan mengeksplanasi. Hasil posttest I diketahui skor 2 adalah skor yang paling banyak jumlahnya yaitu 45 siswa, sedangkan perolehan skor 4 yaitu yang paling sedikit dengan jumlah siswa hanya 1siswa. Skor 1 adalah yang paling banyak muncul pada pretest sebanyak 45 siswa, sedangkan pada posttest I adalah skor 2 yang paling banyak sejumlah 45 siswa. Skor lain yang mengalami peningkatan jumlah siswanya adalah skor 2, skor 3, dan skor 4. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4.2 menunjukkan bahwa hasil pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator diketahui skor yang paling banyak adalah skor 1 dan 2 dengan jumlah siswa masing-masing sama sebanyak 39 siswa, sedangkan skor paling sedikit adalah 4 dengan jumlah 1 siswa pada kemampuan mengeksplanasi. Hasil posttest I diketahui skor 2 adalah skor yang paling banyak jumlahnya yaitu 37 siswa, sedangkan perolehan skor 4 yaitu yang paling sedikit dengan jumlah siswa 69

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hanya 5 siswa. Skor 1 dan skor 2 adalah yang paling banyak muncul pada pretest masing-masing sebanyak 39 siswa, sedangkan pada posttest I adalah skor 2 yang paling banyak sejumlah 37 siswa. Skor lain yang mengalami peningkatan jumlah siswanya adalah skor 3 dan skor 4, sedangkan jumlah siswa yang mendapatkan skor 1 dan 2 menurun. Tabel 4.2 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen No 1. 2. 3. Indikator Menjelaskan pernyataan yang tepat dari hasil analisis. Menjelaskan alasan mengapa mengambil posisi tertentu. Menjelaskan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Jumlah Frekuensi Skor Pretest 2 3 4 1 Total Skor Posttest I 1 2 3 4 Total 8 18 3 1 30 6 13 10 1 30 17 12 1 - 30 5 13 10 2 30 14 9 7 - 30 3 14 11 2 30 39 39 11 1 90 14 37 31 5 90 4.1.2.2 Kemampuan Meregulasi Diri 1. Kelompok Kontrol Tabel 4.3 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Kontrol No Indikator 1. Membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri. Menilai kembali data-data yang digunakan. Menguji pandangan sendiri terhadap pemasalahan menganai sistem pernapasan pada hewan Jumlah Frekuensi 2. 3. 1 Skor Pretest 2 3 4 Total Skor Posttest I 1 2 3 4 Total 6 19 4 - 29 11 11 7 - 29 13 14 2 - 29 13 5 11 - 29 7 18 4 - 29 9 14 6 - 29 36 51 10 - 87 33 30 24 - 87 Tabel 4.3 menunjukkan bahwa hasil pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator diketahui skor yang paling banyak adalah skor 2 sebanyak 51 siswa, sedangkan skor paling sedikit adalah 4 dengan tidak ada satupun siswa yang mendapat skor 4 pada kemampuan meregulasi diri. Hasil posttest I diketahui skor 1 adalah skor yang paling banyak jumlahnya yaitu 33 siswa, sedangkan perolehan skor 4 yaitu skor yang paling sedikit diperoleh siswa karena tidak ada sama sekali. 70

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Skor 2 adalah yang paling banyak muncul pada pretest sebanyak 51 siswa, sedangkan pada posttest I adalah skor 1 yang paling banyak sejumlah 33 siswa. Skor lain yang mengalami peningkatan jumlah siswanya adalah skor 3, sedangkan siswa yang mendapatkan skor 1 dan 2 menurun, lalu untuk skor 4 tidak mengalami perubahan. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4.4 Frekuensi Sebaran Data Kelompok Eksperimen No Indikator 1. Membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri. Menilai kembali data-data yang digunakan. Menguji pandangan sendiri terhadap pemasalahan menganai sistem pernapasan pada hewan Jumlah Frekuensi 2. 3. 1 Skor Pretest 2 3 4 Skor Posttest I 1 2 3 4 Total Total 7 16 6 1 30 3 16 9 2 30 9 13 8 - 30 9 12 8 1 30 9 17 4 - 30 4 17 7 2 30 25 46 18 1 90 16 45 24 5 90 Tabel 4.4 menunjukkan bahwa hasil pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator diketahui skor yang paling banyak adalah skor 2 sebanyak 46 siswa, sedangkan skor paling sedikit adalah 4 dengan jumlah 1 pada kemampuan meregulasi diri. Hasil posttest I diketahui skor 2 adalah skor yang paling banyak jumlahnya yaitu 45 siswa, sedangkan perolehan skor 4 yaitu skor yang paling sedikit dengan jumlah 5 siswa. Skor 2 adalah yang paling banyak muncul pada pretest sebanyak 46 siswa, sedangkan pada posttest I adalah skor 2 yang paling banyak sejumlah 45 siswa. Skor lain yang mengalami peningkatan jumlah siswanya adalah skor 3 dan 4, sedangkan siswa yang mendapatkan skor 1 dan 2 menurun. 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V Sekolah Dasar. Variabel dependen pada hipotesis tersebut yaitu kemampuan mengeksplanasi, sedangkan variabel independennya yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen yaitu 3 item soal uraian pada nomor 5a, 5b dan 5c. Setiap satu soal mengandung satu indikator tertentu, menjelaskan pernyataan yang tepat dari 71

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hasil analisis, menjelaskan alasan mengapa mengambil posisi tertentu, menjelaskan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengnan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) Uji normalitas distribusi data untuk mengetahui nomal tidaknya distribusi data. Hasil distribusi data menentukan analisis statistik parametrik atau non-parametrik tahap selanjutnya, 2) Uji kemampuan awal pada kedua kelompok, 3) Uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) Uji besar pengaruh. Selanjutnya akan dilakukan analisis lebih lanjut terdiri dari 1) Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, 2) Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, 3) Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan 4) Uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan mengeksplanasi. Uji ini dilakukan untuk memastikan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama, sehingga kedua kelompok dapat dibandingkan. Uji ini juga dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest. Oleh karena itu, data yang diujikan adalah skor pretest kedua kelompok. Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. 1. Uji Asumsi Sebelum melakukan uji statistik pada uji perbedaan kemampuan awal ini, maka dilakukan dahulu uji asumsi. Ada dua uji asumsi yang dihitung terlebih dahulu yaitu uju asumsi normalitas distribusi data dan uji asumsi homogenitas varian. a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya akan digunakan untuk 72

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 326). Jika data berdistribusi tidak normal maka analisis statistik menggunakan Mann-Whitney U-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 345). Berikut ini uji normalitas data pretest kontrol dan pretest eksperimen dari kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.4.1) Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Kelompok Aspek Kontrol Eksperimen Pretest Pretest Kolmogorov-Smirnov p Kesimpulan 0,088 Normal 0,086 Normal Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p > 0,05 pada pretest kelompok kontrol dan pretest kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal. Data menunjukkan distribusi normal sehingga dapat dilakukan uji statistik dengan menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda. b. Uji Asumsi Homogenitas Varian Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang telah dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil dari uji homogenitas varian untuk kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.5.1). Tabel 4.6 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varian Uji Statistik Lenene’s Statistic F 3,18 df 1 1 df 2 57 p 0,080 Keputusan Homogen 73

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil analisis menunjukkan harga F(1,57) = 3,18 dan harga p = 0,080 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. 2. Uji Statistik Berdasarkan data di atas pada kemampuan mengeksplanasi pada aspek kelompok kontrol dan eksperimen berdistribusi normal dan homogen, maka uji statistik menggunakan Independent samples t-test. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut ini hasil uji perbedaan kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.6.1) Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji Statistik Indenpendent Samples t-test p 0,284 Keputusan Tidak Berbeda Hasil uji statistik parametrik Independent samples t-test menunjukkan bahwa skor rerata kelompok eksperimen (M = 1,7110, SE = 0,10926 ) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 1,5631, SE = 0,08121) perbedaan tersebut tidak berbeda secara signifikan dari yang ditunjukan dengan harga t(57) = -1,081 dengan harga p sebesar 0,284 (p > 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan kemampuan awal signifikan antara rerata skor pretest kontrol dan pretest eksperimen, sehingga kedua kelompok dikatakan mempunyai kemampuan awal yang sama. 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan mengeksplanasi. Peneliti menggunakan rumus (O2 – O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan rerata selisish skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Marisson 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Berikut perhitungannya (2,3 – 1,71) – (1,82 – 1,56) = 0,59 – 0,26 = 0,33. Hasil perhitungan adalah 0,33 di mana hasil tersebut lebih dari 0 yang artinya ada perbedaan. Untuk 74

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengetahui apakah perbedaannya signifikan akan dilakukan uji statistik. Sebelum pengujian tersebut, dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. Data yang akan digunakan dalam pengujian adalah data selisih posttest I – pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Uji Asumsi Sebelum melakukan uji statistik pada uji signifikansi pengaruh perlakuan ini, maka dilakukan dahulu uji asumsi. Ada dua uji asumsi yang dihitung terlebih dahulu yaitu uju asumsi normalitas distribusi data dan uji asumsi homogenitas varian. a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji asumsi normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu selisih pretest dan posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang (Field, 2009: 326). Jika data berdistribusi tidak normal maka analisis statistik menggunakan MannWhitney U-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 345). Berikut ini uji normalitas data pretest kontrol dan pretest eksperimen dari kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.4.1) Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Kelompok Aspek Kontrol Eksperimen Selisih Selisih Kolmogorov-Smirnov p Kesimpulan 0,154 Normal 0,097 Normal Hasil pada tabel 4.8 menunjukan bahwa aspek dengan harga p > 0,05 pada selisih pretest dan posttest I kelompok kontrol dan pretest dan posttest I kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal. Data menunjukkan distribusi normal sehingga dapat 75

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan uji statistik dengan menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda. b. Uji Asumsi Homogenitas Varian Sebelum dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan, dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang telah dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil dari uji homogenitas varian untuk kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.7.1) Tabel 4.9 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varian Uji Statistik Lenene Statistic F 2,704 df 1 1 df 2 57 p 0,106 Keputusan Homogen Hasil analisis menunjukkan harga F(1,57) = 2,704 dan harga p = 0,106 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. 2. Uji Statistik Berdasarkan data di atas pada kemampuan mengeksplanasi pada aspek kelompok kontrol dan eksperimen berdistribusi normal dan homogen, maka uji statistik menggunakan Independent samples t-test. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut hasil uji perbedaan kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sebagai berikut (lihat Lampiran 4.8.1) Tabel 4.10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Statistik Indenpendent Samples t-test p 0,050 Keputusan Signifikan Hasil uji statistik parametrik Independent samples t-test menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I kelompok eksperimen (M = 0,5787, SE = 0,12266) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,2645, SE = 0,09712) perbedaan tersebut signifikan dengan harga t(57) = -2,00 dan p = 0,05 (p < 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Berikut adalah grafik yang menunjukkan rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2,2893 2,5 Mean 2 1,711 1,8269 1,5 1,5631 1 0,5 0 Pretest Kontrol Posttest 1 Eksperimen Gambar 4.1 Rerata Skor Pretest dan Posttest I Gambar tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaaan peningkatan skor pada kedua kelompok. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Setelah kedua kelompok melaksanakan pembelajaran diketahui kelompok eksperimen memperoleh skor posttest I sebesar 2,2893 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 1,829. Mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,5787 lebih tinggi daripada kelompok kontrol sebesar 0,2645. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest dan posttest I antara kedua kelompok. Gambar 4.2 Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 77

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap kemampuan mengeksplanasi. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan didapat dengan menghitung koefisien determinasi (R2) dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.9) Tabel 4.11 Hasil Uji Effect Size Variabel Mengeksplanasi t -2,00 t2 4,00 df 57 r (effect size) 0,256 R2 0,065 % 6,5 Kategori efek Kecil Hasil analisis menunjukkan besar r = 0,256 setara dengan 6,5%. Besar r = 0,256 masuk kategori kecil (Field, 2009: 57), sedangkan besar r = 0,26 masuk kategori efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masalah penting secara teoretis untuk membuat prediksi (Fraenkel, Wallen, Hyun, 2012: 14). 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I bertujuan untuk mengetahui persentase peningkatan skor rerata dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dengan mengambil data rerata skor pretest ke posttest I pada uji normalitas distribusi data yang menggunakan Kolmogorov-Smirnov test. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih rerata pretest-posttest I dengan rerata pretest, selanjutnya dikalikan 100%. Untuk mengetahui apakah peningkatan tersebut signifikan, digunakan Paired samples t-test karena hasil analisis distribusi data normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan dalam uji ini adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 (Field, 2009: 78

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 558). Sebelum dilakukan perhitungan persentase rerata pretest ke posttest I, maka dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut (lihat Lampiran 4.10.1) Tabel 4.12 Hasil Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Pretest 1,5631 1,7110 Rerata Posttest I 1,8269 2,3003 Peningkatan % 16,92 33,82 Signifikansi Signifikan Signifikan Hasil analisis menunjukkan rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol sebesar 1,5631 dan 1,8269. Persentase peningkatannya sebesar 16,92%. Rerata pretest dan posttest I paada kelompok eksperimen sebesar 1,7119 dan 2,3003 dengan Persentase peningkatannya sebesar 33,82%. Persentase peningkatan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS meningkatkan kemampuan mengeksplanasi lebih besar daripada model pembelajaran ceramah. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan mengeksplanasi. 2,5 2,3003 1,8269 2 1,711 Mean 1,5631 1,5 1 0,5 0 Kontrol Pretest Eksperimen Posttest 1 Gambar 4.3 Perbandingan Rerata Skor Pretest ke Posttest I Dilihat dari gambar di atas bahwa dapat diketahui adanya peningkatan pada kedua kelompok, baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. 79

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Peningkatan yang terjadi pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari peningkatan kelompok kontrol pada skor pretest ke posttest I. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok dapat dilihat pada gambar 4.3. Berikut grafik yang frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score) pada kedua kelompok terhadap kemampuan Frekuensi mengeksplanasi. 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 8 7 6 5 4 6 3 4 4 3 3 2 2 1 1 0 -0,67 -0,33 0 Kontrol 0,33 0,67 1 1,33 1,67 Eksperimen Gambar 4.4 Gain Score Berdasarkan gambar di atas menunjukkan, gain terendah pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama yaitu sebesar -0,67. Gain tertinggi dari kedua kelompok juga sama yaitu 1,67. Meskipun begitu, kelompok eksperimen memiliki frekuensi lebih tinggi sebanyak 3 dan kelompok kontrol hanya 1. Nilai tengah dari gain score diperoleh dari 50% skor selisih tertinggi dikurangkan skor selisih terendah. Gain score diperoleh 0,67 dengan frekuensi siswa yang memperoleh nilai ≥ 0,67 pada kelompok kontrol 9 siswa dan pada kelompok eksperimen 18 siswa. Besar persentase gain score ≥ 0,67 pada kelompok kontrol 31%, sedangkan pada kelompok eksperimen adalah 60%. Hal tersebut menunjukkan bahwa 60% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS, sedangkan 31% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran ceramah. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS memiliki persentase lebih besar daripada penerapan model pembelajaran ceramah. 80

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sebelum melakukan uji besar efek peningkatan rerata pretest dan posttest I maka dilakukan terlebih dahulu uji asumsi. Sebelum melakukan uji statistik pada uji besar efek peningkatan rerata pretest dan posttest I ini, maka dilakukan dahulu uji asumsi. Uji asumsi yang digunakan adalah uji asumsi normalitas distribusi data. Uji asumsi normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu pretest dan posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Paired samples t-test untuk kelompok sama (Field, 2009: 326). Jika data berdistribusi tidak normal maka analisis statistik menggunakan Wilcoxon Signed ranks test untuk kelompok yang sama (Field, 2009: 345). Berikut ini uji normalitas data pretest kontrol dan pretest eksperimen dari kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.4.1) Tabel 4.13 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Kelompok Aspek Kontrol Kontrol Eksperimen Eksperimen Pretest Posttest I Pretest Posttest I Kolmogorov-Smirnov p Kesimpulan 0,088 Normal 0,062 Normal 0,086 Normal 0,108 Normal Hasil pada tabel 4.13 menunjukan bahwa aspek dengan harga p > 0,05 pada selisih pretest dan posttest I kelompok kontrol dan pretest dan posttest I kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal. Data menunjukkan distribusi normal sehingga dapat 81

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan uji statistik dengan menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda atau Paired samples t-test untuk kelompok sama. Uji statistik pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen meggunakan Paired Samples t-test karena kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal (Field, 2009: 325). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dan pretest ke posttest I (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.11.1) Tabel 4.14 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 t t2 df 2,725 4,731 7,425 22,382 28 29 Kelompok Kontrol Eksperimen r (effect size) 0,45 0,659 R2 % 0,2025 0,434 20,25 43,4 Kategori efek Kecil Menengah Tabel 4.14 menunjukkan bahwa peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen, pada saat posttest I (M = 2,3) lebih besar daripada pretest (M = 1,711) dengan harga t = 4,731, r = 0,659 atau setara dengan efek besar. Peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol, pada saat posttest I (M = 1,8269) lebih besar dari pretest (M = 1,5631) dengan harga t= 2,725, r = 0,45 atau setara dengan efek kecil. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol 20,25% dengan kategori efek kecil dan pada kelompok eksperimen sebesar 43,4% dengan kategori efek besar. 3. Uji Korelasi Antara Rerata dari Pretest ke Posttest I Uji korelasi ini dilakukan untuk mengontrol validitas internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika koefisiennya negatif dan signifikan. Siswa yang mendapat skor pretest tinggi akan mendapatkan skor posttest yang lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor prestest rendah akan mendapat skor posttest lehih tinggi (Cohen, Manion, & Marisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan skor rerata posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis data menggunakan 82

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI rumus Pearson Correlation karena data yang digunakan berdistribusi normal (Field, 2009: 176). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada korelasi yang signifikan antara rerata pretest dan posttest I (Priyatno, 2012: 45 & Santoso, 2015: 331-336). Berikut ini hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.12.1) Tabel 4.15 Hasil Uji Korelasi Antara Rerata dari Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen r 0,389 0,243 p 0,037 0,195 Keputusan Korelasi postif dan signifikan Korelasi positif dan tidak signifikan Tabel 4.15 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji korelasi menunjukkan harga p pada kelompok kontrol 0,037 (p < 0,05) dan r berharga positif, maka Hnull ditolak. Hal ini berarti ada korelasi yang positif dan signifikan antara rerata pretest dan posttest I pada kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol. Hasil pada kelompok kontrol menunjukkan nilai positif artinya jika rerata skor siswa pada pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa pada posttest I tinggi, begitu juga sebaliknya jika rerata skor siswa pada pretest rendah maka hasil rerata skor siswa pada posttest I rendah. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,195 (p > 0,05) dan harga r bernilai positif, artinya korelasi positif dan tidak signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I siswa pada kemampuan mengeksplanasi di kelompok eksperimen. Hasil pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai positif artinya rerata skor siswa pada pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa pada posttest I tinggi, begitu juga sebaliknya jika rerata skor siswa pada pretest rendah maka hasil rerata skor siswa pada posttest I rendah. Dengan demikian, ancaman validitas internal yaitu regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik dalam penelitian ini di kedua kelompoknya. 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan masih memiliki efek yang sama setelah beberapa 83

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dengan memberikan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen setelah beberapa minggu pelaksanaan posttest I. Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. Sebelum melakukan uji statistik pada uji retensi pengaruh perlakuan ini, maka dilakukan dahulu uji asumsi. Uji asumsi yang digunakan adalah uji normalitas distribusi data. Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Paired samples t-test untuk kelompok yang sama (Field, 2009: 326). Jika data berdistribusi tidak normal maka analisis statistik menggunakan Wilcoxon Signed ranks test untuk kelompok yang sama (Field, 2009: 345). Berikut ini uji normalitas data pretest, postest I, posttest II kelompok kontrol dan pretest, posttest I, posttest II kelompok eksperimen dari kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.4.1) Tabel 4.16 Hasil Uji Norrmalitas Distribusi Data Kelompok Aspek Kontrol Kontrol Kontrol Eksperimen Eksperimen Eksperimen Pretest Posttest I Posttest II Pretest Posttest I Posttest II Kolmogorov-Smirnov p Kesimpulan 0,088 Normal 0,062 Normal 0,006 Tidak Normal 0,086 Normal 0,108 Normal 0,001 Tidak Normal Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p > 0,05 pada pretest dan posttest I kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal. Data menunjukkan distribusi normal sehingga dapat dilakukan uji statistik dengan menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda atau Paired samples t-test untuk kelompok sama. Sedangkan, hasil analisis menunjukkan aspek 84

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan p < 0,05 pada posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull ditolak artinya data berdistribusi tidak normal. Data menunjukkan distribusi tidak normal sehingga digunakan uji statistik dengan menggunakan Wilcoxon Signed ranks test untuk kelompok yang sama. Berdasarkan uji asumsi normalitas distribusi data di atas maka dapat dilakukan perhitungan uji retensi pengaruh perlakuan. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah sebagai berikut (lihat Lampiran 4.13.1) Tabel 4.17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Rerata Posttest Posttest I II 1,8269 1,6431 2,3003 2,2770 Peningkatan (%) p Keputusan -10,06 -1,01 0,103 0,549 Tidak signifikan Tidak signifikan Tabel 4.17 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi. Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,103 (p > 0,05) dan rerata posttest I > rerata posttest II, maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehingga dikatakan terdapat penurunan yang tidak signifikan terhadap skor posttest I ke posttest II. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan skor yang tidak signifikan dari skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol terhadap kemampuan mengeksplanasi. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,549 (p > 0,05) dan rerata skor posttest I > rerata skor posttest II, maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehingga terdapat penurunan yang tidak signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan skor yang tidak signifikan dari skor posttest I dan posttest II kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi. Persentase penurunan rerata posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. Hal ini ditunjukkan dengan persentase peningkatan kontrol sebesar -10,06%, sedangkan pada kelompok eksperimen -1,01%. Peningkatan skor pretest, posttest I, dan posttest II terhadap 85

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada grafik berikut. 2,5 2,3003 Mean 2 1,5 2,277 1,711 1,8269 1,6431 1,5631 1 0,5 0 Pretest Posttest I Kontrol Posttest II Eksperimen Gambar 4.5 Perbandingan Pretest, Posttest I, dan Posttest II Gambar perbandingan pretest, posttest I, dan posttest II menunjukkan bahwa rerata pretest kelompok kontrol adalah 1,5631 sedangkan kelompok eksperimen adalah 1,711. Rerata posttest I pada kelompok kontrol adalah 1,8269 sedangkan kelompok eksperimen adalah 2,3003. Rerata posttest II kelompok kontrol adalah 1,6431 sedangkan kelompok eksperimen adalah 2,277. Rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami peningkatan, sedangkan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami penurunan. Untuk memastikan apakah capaian skor rerata posttest II sama atau berbeda dengan pretest maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor pretest dan posttst II dengan menggunakan Wilcoxon signed-rank test karena daya yang diuji adalah data berdistribusi tidak normal. tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 (Field, 2009: 552). Berikut adalah hasil uji signifikansi skor pretest dan posttest II pada kemampuan mengekplanasi (lihat Lampiran 4.13.2) 86

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.18 Hasil Uji Signifikansi Skor Pretest ke Posttest II No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Rerata Pretest Posttest II 1,5631 1,6431 1,7110 2,2770 Peningkatan (%) 5,11 33,08 p Keputusan 0,397 0,000 Tidak Signifikan Signifikan Berdasarkan tabel 4.18 diketahui bahwa hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II pada kelompok kontrol terhadap kemampuan mengeksplanasi menunjukkan harga p sebesar 0,397 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest II. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak Hi diterima sehingga ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini berarti pada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih efektif untuk meningkatan kemampuan mengeksplanasi daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. 4.1.4 Hasil Uji Hipoteses Kemampuan II Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V Sekolah Dasar. Variabel dependen pada hipotesis tersebut yaitu kemampuan meregulasi diri, sedangkan variabel independennya yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Instrumen yang digunakan untuk menukur variabel dependen yaitu 3 item soal uraian pada nomor 6a, 6b dan 6c. Setiap satu soal mengandung satu indikator tertentu, membuat penilaian diri terhadap gagasan sendiri, menilai kembali datadata yang digunakan, menguji pandangan sendiri terhadap permasalahan mengenai sistem pernapasan pada hewan. Analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengnan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) Uji normalitas distribusi data untuk mengetahui nomal tidaknya distribusi data. Hasil distribusi data menentukan analisis statistik parametrik atau non-parametrik tahap selanjutnya, 2) Uji kemampuan mengeksplanasi pada kedua kelompok, 3) Uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) Uji besar pengaruh. Selanjutnya akan dilakukan analisis lebih 87

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lanjut terdiri dari 1) Uji Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, 2) Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, 3) Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan 4) Uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan meregulasi diri. Uji ini dilakukan untuk memastikan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama, sehingga kedua kelompok dapat dibandingkan. Uji ini juga dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest. Oleh karena itu, data yang diujikan adalah skor pretest kedua kelompok. Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. 1. Uji Asumsi Sebelum melakukan uji statistik pada uji perbedaan kemampuan awal ini, maka dilakukan dahulu uji asumsi. Ada dua uji asumsi yang dihitung terlebih dahulu yaitu uji asumsi normalitas distribusi data dan uji asumsi homogenitas varian. a. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 326). Jika data berdistribusi tidak normal maka analisis statistik menggunakan Mann-Whitney U-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 345). Berikut ini uji normalitas data 88

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest kontrol dan pretest eksperimen dari kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.4.2) Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Kelompok Aspek Kontrol Eksperimen Pretest Pretest Kolmogorov-Smirnov p Kesimpulan 0,133 Normal 0,054 Normal Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p > 0,05 pada pretest kelompok kontrol dan pretest kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal. Data menunjukkan distribusi normal sehingga dapat dilakukan uji statistik dengan menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda atau Paired samples t-test untuk kelompok sama. b. Uji Homogenitas Varian Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang telah dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil dari uji homogenitas varian untuk kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.5.2). Tabel 4.20 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varian Uji Statistik Lenene’s Statistic F 1,266 df 1 1 df 2 57 p 0,265 Keputusan Homogen Hasil analisis menunjukkan harga F(1,57) = 3,18 dan harga p = 0,265 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. 2. Uji Statistik Berdasarkan data di atas pada kemampuan meregulasi diri pada aspek kelompok kontrol dan eksperimen berdistribusi normal dan homogen, maka uji 89

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI statistik menggunakan Independent samples t-test. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut hasil uji perbedaan kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sebagai berikut (lihat Lampiran 4.6.2). Tabel 4.21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji Statistik Indenpendent Samples t-test p 0,266 Keputusan Tidak Berbeda Hasil uji statistik parametrik Independent samples t-test menunjukkan bahwa skor rerata kelompok eksperimen (M = 1,944, SE = 0,07147) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 1,8166, SE = 0,08853) perbedaan tersebut tidak berbeda secara signifikan dari yang ditunjukkan dengan harga t(57) = -1,124 dengan harga p sebesar 0,266 (p > 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan kemampuan awal signifikan antara rerata skor pretest kontrol dan pretest eksperimen, sehingga kedua kelompok dikatakan mempunyai kemampuan awal yang sama. 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan meregulasi diri. Peneliti mengguanakan rumus (O2 – O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan rerata selisish skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Marisson 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Berikut perhitungannya (2,2 – 1,94) – (1,89 – 1,81) = 0,26 – 0,08 = 0,18. Hasil perhitungan adalah 0,18 di mana hasil tersebut lebih dari 0 yang artinya ada perbedaan. Untuk mengetahui apakah perbedaannya signifikan akan dilakukan uji statistik. Sebelum pengujian tersebut, dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. Data yang akan digunakan dalam pengujian adalah data selisih posttest I – pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 90

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Uji Asumsi Sebelum melakukan uji statistik pada uji signifikansi pengaruh perlakuan, maka dilakukan dahulu uji asumsi. Ada dua uji asumsi yang dihitung yaitu uji asumsi normalitas distribusi data dan uji asumsi homogenitas varian. a. Uji Asumsi Normalitas Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu selisih pretest dan posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 326). Jika data berdistribusi tidak normal maka analisis statistik menggunakan MannWhitney U-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 345). Berikut ini uji normalitas data pretest kontrol dan pretest eksperimen dari kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.4.2) Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Kelompok Aspek Kontrol Eksperimen Selisih Selisih Kolmogorov-Smirnov p Kesimpulan 0,066 Normal 0,073 Normal Hasil pada tabel 4.22 menunjukkan bahwa aspek dengan harga p > 0,05 pada selisih pretest dan posttest I kelompok kontrol dan pretest dan posttest I kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal. Data menunjukkan distribusi normal sehingga dapat dilakukan uji statistik dengan menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda. b. Uji Homogenitas Varian Sebelum dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan, dilakukan uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull 91

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adalah jika harga p < 0,05, maka tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang telah dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil dari uji homogenitas varian untuk kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.7.2) Tanel 4.23 Hasil Uji Homogenitas Varian Uji Statistik Lenene Statistic F 1,172 df 1 1 df 2 57 p 0,284 Keputusan Homogen Hasil analisis menunjukkan harga F(1,57) = 1,266 dan harga p = 0,284 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. 2. Uji Statistik Berdasarkan data di atas pada kemampuan meregulasi diri pada aspek kelompok kontrol dan eksperimen berdistribusi normal dan homogen, maka uji statistik menggunakan Independent samples t-test. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut ini adalah hasil uji perbedaan kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.8.2) Tabel 4.24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Statistik Indenpendent Sample t-test p 0,270 Keputusan Tidak signifikan Hasil uji statistik parametrik Independent samples t-test menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I kelompok eksperimen (M = 0,2557, SE = 0,10294) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,0797, SE = 0,11916) perbedaan tersebut tidak signifikan dengan harga t(57) = -1,115 dan p = 0,27 (p > 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. 92

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikut adalah grafik yang menunjukkan rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2,5 2,2 1,944 Mean 2 1,8959 1,8166 1,5 1 0,5 0 Pretest Kontrol Posttest 1 Eksperimen Gambar 4.6 Rerata Skor Pretest dan Posttest I Gambar tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaaan peningkatan skor pada kedua kelompok. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Setelah kedua kelompok melaksanakan pembelajaran diketahui kelompok eksperimen memperoleh skor posttest I sebesar 2,2 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 1,944. Mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,2557 lebih tinggi daripada kelompok kontrol sebesar 0,0797. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest dan posttest I antara kedua kelompok. 93

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.7 Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap kemampuan meregulasi diri. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan didapat dengan menghitung koefisien determinasi (R2) dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.9) Tabel 4.25 Hasil Uji Effect Size Variabel Meregulasi diri t -1,115 t2 1,243 df 57 r (effect size) 0,146 R2 0,021 % 2,1 Kategori efek Kecil Hasil analisis menunjukkan besar r = 0,146 setara dengan 2,1%. Besar r = 0,146 masuk kategori kecil (Field, 2009: 57), sedangkan besar r = 0,146 masuk kategori efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masalah penting secara teoretis untuk membuat prediksi (Fraenkel, Wallen & Hyun, 2012: 14). 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I bertujuan untuk mengetahui persentase peningkatan skor rerata dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dengan mengambil data rerata skor pretest ke posttest I pada uji normalitas distribusi data yang menggunakan Kolmogorov-Smirnov test. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih rerata pretest-posttest I dengan rerata pretest, selanjutnya dikalikan 100%. Untuk mengetahui apakah peningkatan tersebut signifikan, digunakan Paired samples t-test karena hasil analisis 94

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI distribusi data normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan dalam uji ini adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 (Field, 2009: 558). Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I dapat dilihat pada tabel 4.26 berikut (lihat Lampiran 4.10.2) Tabel 4.26 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Pretest 1,8166 1,9440 Rerata Posttest I 1,8959 2,2000 Peningkatan % 4,38 13,15 Signifikansi Tidak Signifikan Signifikan Hasil analisis menunjukkan rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol sebesar 1,8166 dan 1,8959. Persentase peningkatannya sebesar 4,38%. Rerata pretest dan posttest I paada kelompok eksperimen sebesar 1,944 dan 2,2 dengan persentase peningkatannya sebesar 13,15%. Persentase peningkatan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS meningkatkan kemampuan meregulasi diri lebih besar daripada model pembelajaran ceramah. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan meregulasi diri. 2,5 Mean 2 2,2 1,8959 1,8166 1,944 1,5 1 0,5 0 Kontrol Eksperimen Pretest Posttest 1 Gambar 4.8 Perbandingan Rerata Skor Pretest ke Posttest I Dilihat dari gambar di atas bahwa dapat diketahui adanya peningkatan pada kedua kelompok, baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. 95

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Peningkatan yang terjadi pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari peningkatan kelompok kontrol pada skor pretest ke posttest I. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok dapat dilihat pada gambar 4.3. Berikut grafik yang frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score) pada kedua kelompok terhadap kemampuan meregulasi diri. Frekuensi 9 8 8 7 7 6 6 5 6 5 5 4 4 3 3 2 2 1 3 3 2 1 1 0 0 -1 -0,67 -0,33 Kontrol 0 0,33 0,67 1 1,33 Eksperimen Gambar 4.9 Grafik Gain Score Berdasarkan gambar di atas menunjukkan, gain terendah pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama yaitu sebesar -1,00. Gain tertinggi kelompok kontrol adalah 1,00 sedangkan kelompok eksperimen adalah 1,33. Dengan demikian, frekuensi tertinggi pada kelompok kontrol di 1,33 sebanyak 0 dan kelompok eksperimen sebanyak 2 siswa. Nilai tengah dari gain score diperoleh dari 50% skor selisih tertinggi dikurangkan skor selisih terendah. Gain score diperoleh 0 dengan frekuensi siswa yang memperoleh nilai ≥ 0 pada kelompok kontrol 20 siswa dan pada kelompok eksperimen 22 siswa. Besar persentase gain score ≥ 0 pada kelompok kontrol 68,9%, sedangkan pada kelompok eksperimen adalah 70%. Hal tersebut menunjukkan bahwa 73% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS, sedangkan 68,9% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran ceramah dengan kata lain tidak ada yang diuntungkan pada 96

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok kontrol. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS memiliki persentase lebih besar daripada penerapan model pembelajaran ceramah. 2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sebelum melakukan uji besar efek peningkatan rerata pretest dan posttest I maka dilakukan terlebih dahulu uji asumsi. Uji asumsi yang digunakan adalah uji asumsi normalitas distribusi data. Uji asumsi normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu pretest dan posttest I dari kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Paired samples t-test untuk kelompok sama (Field, 2009: 326). Jika data berdistribusi tidak normal maka analisis statistik menggunakan Wilcoxon Signed-ranks test untuk kelompok yang sama (Field, 2009: 345). Berikut ini uji normalitas data pretest dan postest I kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen dari kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.4.2) Tabel 4.27 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Kelompok Aspek Kontrol Kontrol Eksperimen Eksperimen Pretest Posttest I Pretest Posttest I Kolmogorov-Smirnov p Kesimpulan 0,133 Normal 0,078 Normal 0,054 Normal 0,106 Normla Hasil pada tabel 4.27 menunjukan bahwa aspek dengan harga p > 0,05 pada selisih pretest dan posttest I kelompok kontrol dan pretest dan posttest I kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal. Data menunjukkan distribusi normal sehingga dapat 97

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan uji statistik dengan menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda atau Paired samples t-test untuk kelompok sama. Uji statistik pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen meggunakan Paired Samples t-test karena kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal (Field, 2009: 325). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dan pretest ke posttest I (Field, 2009: 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.11.2) Tabel 4.28 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest dan Posttest 1 Kelompok Kontrol Eksperimen t 0,772 2,148 t2 0,595 4,613 df 28 29 r (effect size) 0,144 0,37 R2 0,0207 0,136 % 2,07 13,6 Kategori efek Kecil Kecil Tabel 4.28 menunjukkan bahwa peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen, pada saat posttest I (M = 2,2) lebih besar daripada pretest (M = 1,944) dengan harga t = 2,148, r = 0,37 atau setara dengan efek kecil. Peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol, pada saat posttest I (M = 1,8859) lebih besar dari pretest (M = 1,8166) dengan harga t= 0,772, r = 0,144 atau setara dengan efek kecil. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol 2,07% dengan kategori efek kecil dan pada kelompok eksperimen sebesar 13,6% dengan kategori efek kecil. 3. Uji Korelasi Antara Rerata dari Pretest ke Posttest I Uji korelasi ini dilakukan untuk mengontrol validitas internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika koefisiennya negatif dan signifikan. Siswa yang mendapat skor pretest tinggi akan mendapatkan skor posttest yang lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor prestest rendah akan mendapat skor posttest lehih tinggi (Cohen, Manion, & Marisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan skor rerata posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis data menggunakan rumus Pearson Correlation karena data yang digunakan berdistribusi normal 98

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Field, 2009: 176). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada korelasi yang signifikan antara rerata pretest dan posttest I (Priyatno, 2012: 45 & Santoso, 2015: 331-336). Berikut ini hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.12.2) Tabel 4.29 Hasil Uji Korelasi Anara Rerata dari Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen r 0,242 0,035 p 0,205 0,854 Keputusan Korelasi postif dan tidak signifikan Korelasi positif dan tidak signifikan Tabel 4.29 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji korelasi menunjukkan harga p pada kelompok kontrol 0,205 (p < 0,05) dan r berharga positif, maka Hnull ditolak. Hal ini berarti ada korelasi yang positif dan tidak signifikan antara rerata pretest dan posttest I pada kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol. Hasil pada kelompok kontrol menunjukkan nilai positif artinya jika rerata skor siswa pada pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa pada posttest I tinggi, begitu juga sebaliknya jila rerata skor siswa pada pretest rendah maka hasil rerata skor siswa pada posttest I rendah. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,854 (p > 0,05) dan harga r bernilai positif, artinya korelasi positif dan tidak signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I siswa pada kemampuan meregulasi diri di kelompok eksperimen. Hasil pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai positif artinya rerata skor siswa pada pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa pada posttest I tinggi, begitu juga sebaliknya jika rerata skor siswa pada pretest rendah maka hasil rerata skor siswa pada posttest I rendah. Dengan demikian, ancaman validitas internal yaitu regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik dalam penelitian ini di kedua kelompoknya. 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan masih memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dengan memberikan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen setelah beberapa minggu 99

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pelaksanaan posttest I. Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. Uji asumsi yang digunakan adalah uji normalitas distribusi data. Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak yang nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Paired samples t-test untuk kelompok yang sama (Field, 2009: 326). Jika data berdistribusi tidak normal maka analisis statistik menggunakan Wilcoxon Signed-ranks test untuk kelompok yang sama (Field, 2009: 345). Berikut ini uji normalitas data pretest, postest I, posttest II kontrol dan pretest, posttest I, posttest II eksperimen dari kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.4.2) Tabel 4.30 Hasil Uji Norrmalitas Distribusi Data Kelompok Aspek Kontrol Kontrol Kontrol Eksperimen Eksperimen Eksperimen Pretest Posttest I Posttest II Pretest Posttest I Posttest II Kolmogorov-Smirnov p Kesimpulan 0,133 Normal 0,078 Normal 0,110 Normal 0,054 Normal 0,106 Normal 0,003 Tidak Normal Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p > 0,05 pada pretest, posttest I dan posttest II kelompok kontrol sedangkan harga p > 0,05 pada pretest dan posttest I kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull diterima artinya data berdistribusi normal. Data menunjukkan distribusi normal sehingga dapat dilakukan uji statistik dengan menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda atau Paired samples t-test untuk kelompok sama. Sedangkan, hasil analisis menunjukkan aspek dengan p < 0,05 pada posttest II kelompok eksperimen. Dengan demikian, Hnull ditolak artinya data berdistribusi tidak normal. Data menunjukkan distribusi tidak normal sehingga digunakan uji 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI statistik dengan menggunakan Wilcoxon Signed ranks test untuk kelompok yang sama. Statistik parametrik Paired samples t-test digunakan dalam uji retensi pengaruh perlakuan kelompok kontrol karena berdistribusi normal, sedangkan statistik non parametrik yang digunakan dalam uji retensi pengaruh perlakuan adalah Wilcoxon signed-rank test karena data yang diujikan adalah data berdistribusi tidak normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 (Field, 2009: 552). Hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah sebagai berikut (lihat Lampiran 4.13.1) Tabel 4.31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Rerata Posttest I Posttest II 1,8959 1,6090 2,2000 2,1783 Peningkatan (%) -15,12 -0,9 p Keputusan 0,020 0,922 Signifikan Tidak SIginifikan Tabel 4.31 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan meregulasi diri. Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,020 (p < 0,05) dan rerata posttest I > rerata posttest II, maka Hnull ditolak dan Hi diterima sehingga dikatakan terdapat penurunan yang signifikan terhadap skor posttest I ke posttest II. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan skor yang signifikan dari skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol terhadap kemampuan meregulasi diri. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,922 (p > 0,05) dan rerata skor posttest I > rerata skor posttest II, maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehingga terdapat penurunan yang tidak signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan skor yang tidak signifikan dari skor posttest I dan posttest II kelompok eksperimen terhadap kemampuan meregulasi diri. Persentase penurunan rerata posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. Hal ini ditunjukkan dengan persentase peningkatan kontrol sebesar -15,12%, sedangkan pada kelompok 101

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eksperimen -0,9%. Kedua kelompok mempunyai persentase yang negatif artinya kedua kelompok yaitu kelompok konrol dan kelompok eksperimen mengalami penurunan dari posttest I ke posttest II. Peningkatan skor pretest, posttest I, dan posttest II terhadap kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada grafik berikut. 2,5 2,2 2,1783 1,944 Mean 2 1,5 1,8166 1,8959 1,609 1 0,5 0 Pretest Posttest I Kontrol Posttest II Eksperimen Gambar 4.10 Perbandingan Pretest, Posttest I dan Posttest II Gambar perbandingan pretest, posttest I, dan posttest II menunjukkan bahwa rerata pretest kelompok kontrol adalah 1,8166 sedangkan kelompok eksperimen adalah 1,944. Rerata posttest I pada kelompok kontrol adalah 1,8959 sedangkan kelompok eksperimen adalah 2,2. Rerata posttest II kelompok kontrol adalah 1,609 sedangkan kelompok eksperimen adalah 2,1783. Rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami peningkatan, sedangkan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami penurunan. Untuk memastikan apakah capaian skor rerata posttest II sama atau berbeda degan pretest maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor pretest dan posttst II dengan menggunakan Paired samples t-test pada kelompok kontrol karena data berdistribusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan dalam uji ini adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 (Field, 2009: 558). Sedangkan untuk kelompok eksperimen dilakukan analisis perbedaan skor pretest dan posttst II dengan menggunakan Wilcoxon 102

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI signed-rank test karena data yang diuji adalah data berdistribusi tidak normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 (Field, 2009: 552). Berikut adalah hasil uji signifikansi skor pretest dan posttest II yang dapat dilihat pada kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.13.2) Tabel 4.32 Hasil Uji Signifikansi Skor Pretest ke Posttest II No Kelompok 1 2 Kontrol Eksperimen Rerata Pretest Posttest II 1,8166 1,609 1,9440 2,1783 Peningkatan (%) -11,4 12,05 p Keputusan 0,031 0,069 Signifikan Tidak Signifikan Berdasarkan tabel 4.32 diketahui bahwa hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II pada kelompok kontrol terhadap kemampuan meregulasi diri menunjukkan harga p sebesar 0,031 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima sehingga ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest II. Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,069 (p > 0,05), maka Hnull dierima Hi ditolak sehingga ada perbedaan yang tidak signifikan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini berarti pada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih efektif untuk meningkatan kemampuan meregulasi diri daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. 4.2 Pembahasan Dalam menarik kesimpulan diperlukan ketelitian dan kewaspadaan. Bisa jadi terdapat variabel di luar treatment yang turut mempengaruhi perubahan variabel dependen yang mengancam validitas internal penelitian. Maka sebelum menarik kesimpulan, peneliti memaparkan ancaman validitas internal penelitian disertai solusi yang digunakan. Selanjutnya, dilakukan analisis antara hasil penelitian terhadap teori. 4.2.1 Analisis Terhadap Ancaman Validitas Internal Sesudah data dianalisis dengan menggunakan teknik pengujian statistik dan diperoleh kesimpulan-kesimpulannya, sebelum menarik kesimpulan penelitian secara final perlu diperiksa terlebih dahulu apakah sungguh terdapat hubungan 103

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kausalitas antara variabel independen dan variabel dependen sebagaimana ditunjukkan oleh data yang diperoleh dari instrumen penelitian, atau ada faktorfaktor di luar variabel independen yang turut mempengaruhi variabel dependen. Pada perilaku eksperimen, sejumlah variabel luar dihasilkan oleh rancangan atau prosedur eksperimental. Variabel ini akan mempengaruhi hasil eksperimen (Best & Kahn, 2006: 172). Peneliti tidak dimungkinkan mengacak subjek penelitian, maka menggunakan quasi-experimental design. Ketika menggunakan quasi-experimental design, harus berhati-hati terhadap pengaruh variabel luar yang dapat mengacaukan hasilnya (Johnson & Christensen, 2012: 339). Terdapat variabel-variabel lain di luar treatment yang ikut berpengaruh terhadap hasil penelitian sehingga memunculkan keraguan terhadap hubungan sebab-akibat yang ditarik pada kesimpulan penelitian. Variabel lain di luar treatment dapat menjadi ancaman terhadap validitas penelitian. Adapun sebelas ancaman terhadap validitas internal dalam penelitian antara lain sejarah, difusi treatment, perilaku kompensatoris, maturasi, regrresi statistik, mortalitas, pengujian (testing), instrumentasi, lokasi, karakteristik subjek dan implementasi. Peneliti dalam penelitian ini sudah mempersiapkan dan melakukan pengendalian sebelas ancaman terhadap validitas tersebut. Sebagian besar dari ancaman dapat dikendalikan dengan baik dalam penelitian, walaupun tetap ada ancaman yang belum bisa di kendalikan dengan baik. Penelitian dilakukan kepada siswa kelas V di salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta dengan melibatkan dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol yaitu kelas V B dan kelompok eksperimen yaitu kelas V A. Sejarah merupakan salah satu ancaman terhadap validitas pada penelitian ini, biasanya terjadi karena pelaksanaan dalam kurun waktu yang cukup lama. Penelitian ini dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, selama dua minggu sehingga ancaman terhadap validitas internal terkait dengan sejarah dapat terkendalikan dengan baik. Ancaman lain yang masih berhubungan dengan pembagian kelompok yaitu mengenai difusi treatment. Pengendalian dalam penelitian dilakukan dengan betul-betul memisahkan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ketika diberikan threatment sehingga dapat dikendalikan dengan baik. 104

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perilaku kompensatoris berupa kelompok kontrol mengetahui threatment yang diberikan kepada kelompok eksperimen adalah ahl yang istimewa. Penelitian ini tidak dapat meengendalikannya dengan baik, karena hanya kelompok eksperimen yang mendapatkan model treatment dengan model pembeljaran kooperatif tipe TPS dan kelompok kontrol tidak. Maturasi pada penelitian dapat dikendalikan dengan baik, karena pelaksanaan pretest dan posttest I setiap kelompok baik kelompok kontrol maupun eksperimen pada waktu yang hampir sama. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap validitas internal berupa maturasi dapat terkendali dengan baik. Ancaman terhadap validitas internal berupa regresi statistik dapat diketahui setelah dilakukan uji korelasi. Hasil uji korelasi pada penelitian menunjukkan bahwa pada kemampuan mengeksplanasi, korelasi rerata pretest dan posttest I kelompok kontrol adalah positif dan signifikan, lalu pada kelompok eksperimen adalah positif dan tidak signifikan. Pada kemampuan meregulasi diri, korelasi rerata pretest dan posttest I kelompok kontrol adalah positif dan tidak signifikan, demikian juga pada kelompok eksperimen adalah positif dan tidak signifikan. Kondisi ideal jika korelasinya positif. Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. Mortalitas merupakan perbedaan jumlah partisipan atau peserta pada saat mengukuti pretest maupun posttest. Ancaman terhadap validitas berupa mortalitas pada penelitian ini terkendali dengan baik karena seluruh siswa hadir ketika pelaksanaan pretest maupun posttest. Hal itu menunjukkan tidak adanya perbedaan jumlah partisipan dalam pelaksanaan penelitian. Pengujian yang dilakukan kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan perlakuan yang sama pada setiap tes. Artinya dilakukan pretest dan posttest pada kedua kelompok. Ancaman terhadap validitas internal berupa pengujian (testing) dalam penelitian dapat terkendali dengan baik, karena kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mendapatkan pretest di hari yang sama untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelompok. Instrumen yang digunakan dalam penelitian baik untuk kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen adalah sama. Penelitian ini merupakan penelitian payung, sehingga instrumen terdiri dari 18 soal uraian, yang masing-masing 105

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mewakili tingkat kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Siswa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mengerjakan instrumen yang sama, sehingga ancaman terhadap validitas internal berupa instrumentasi dapat dikendalikan dengan baik. Selanjutnya, lokasi pelaksanaan penelitian kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kurang lebih dalam keadaan yang sama. Letak ruangan yang berdekatan, kesamaan fasilitas yang ada di dalam kelas maupun suasana sekitarnya dalam keadaan yang hampir sama. Penelitian ini dapat mengendalikan dengan bail ancaman terhdap validitas internal berupa lokasi dengan baik. Kemampuan awal pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat diketahui melalui hasil pretest untuk kedua kelompok. Hasil uji perbedaan kemampuan awal menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Oleh karena itu, ancaman validitas internal penelitian berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dengan baik. Pada penelitian ini, proses pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilaksanakan oleh guru mitra yang sama, sehingga ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa implementasi dapat dikendalikan dengan baik. Berikut ini tabel yang menunjukkan pengendalian ancaman terhadap validitas internal dalam penelitian. Penelitian yang telah dilakukan dikatakan dapat mengendalikan kesebelas ancaman terhadap validitas tergolong cukup baik. Ada sepuluh ancaman terhadap validitas yang dapat dikendalikan dengan baik dan hanya satu ancaman terhadap validitas internal yang belum terkendali dengan baik. Penelitian sudah dirancang sedemikian rupa untuk meminimalisir terjadinya ancaman terhadap validitas internal ini. Berikut ini tabel yang menunjukkan rangkuman pengendalian ancaman terhadap validitas internal dalam penelitian. Berdasarkan tabel 4.33 dan penjelasannya, dapat diketahui bahwa jenis ancaman terhadap validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan dengan baik, sedangkan ancaman terhdap validitas internal berupa sejarah, difusi treatmen, maturasi, regresi statistik, mortalitas, pengujian, 106

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI instrumentasi, lokasi, karakteristik subjek, dan implementasi dapat dikendalikan dengan baik. Tabel 4.33 Pengendalian Ancaman Terhadap Validitas Internal No Ancaman Validitas Tingkat Ancaman Kerkendali (ya/tidak) 1 Sejarah Rendah Ya 2 Difusi treatment Rendahmenengah Ya 3 Perilaku kompensatoris Rendahmenengah Tidak 4 Maturasi Rendah Ya 5 Regresi statsitik Rendah Ya 6 Mortalitas Rendah Ya 7 Pengujian (testing) Rendah Ya 8 Instrumentasi Rendahmenengah-tinggi Ya 9 Lokasi Menegah-tinggi Ya 10 Karakteristik subjek Menegah-tinggi Ya 11 Implementasi Tinggi Ya Keterangan Penelitian dilakukan dalam waktu yang sinngkat yaitu selama dua minggu Tidak ada komunikasi tentang model pembelajran kooperatif tipe TPS ke kelompok kontrol secara sistematis Kelompok kotrol tidak diberikan model pembelajaran kooperatif tipe TPS sesudah penelitian selesai Penggunaan pretest dan posttest yang sama untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Hasil uji korelasi pretestposttest I tidak negatif, signifikan Semua siswa hadir ketika pretest dan posttest Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama diberikan pretest Digunakan instrumen yang sama untuk pretest dan posttest Lingkungan dan kondisi ruang kelas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kurang lebih sama Hasil pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama Pembelajaran diimplementasikan oleh guru yang sama untuk kelompok kontrol dan kelompok ekspeimen 107

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.2 Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS terhadap Kemampuan Mengeksplanasi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V Sekolah Dasar. Pada sebaran data untuk kelompok kontrol dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran ceramah dari pretest ke posttest I mengalami peningkatan. Sebaran data kelompok kontrol yang melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran ceramah dari pretest ke posttest I mengalami peningkatan nilai. Terlihat dari skor terbanyak yang diperoleh siswa pada indikator pertama mengeksplanasi dengan soal “Apakah tindakan yang dilakukan Caca merupakan tindakan yang sesuai dilakukan pada kucing? Sebut dan jelaskan dua alasanmu!” ada 14 siswa dengan skor 1, sedangkan pada posttest I skor terbanyak adalah 2 dengan jumlah 14 siswa. Hal ini menunjukakkan adanya peningkatan nilai siswa dari pretest ke posttest I. Pada indikator kedua mengeksplanasi dengan soal “Sebutkan tiga cara yang harus dilakukan Caca agar kucingnya tetap hidup?” saat pretest paling banyak siswa mendapat skor 1 dengan jumlah 15 siswa, sedangkan saat posttest I paling banyak siswa mendapat skor 2 dengan jumlah 14 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada indikator kedua mengeksplanasi. Indikator ketiga mengeksplanasi dengan soal “Mengapa kucing tidak dapat bernapas di air? Tuliskan dua alasanmu!” saat pretest siswa paling banyak mendapatkan skor 1 dengan jumlah 16 siswa, sedangkan saat posttest I siswa paling banyak mendapatkan skor 2 dengan jumlah 17 siswa. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada indikator ketiga mengeksplanasi. Sebaran data pada kelompok eksperimen yang melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran TPS juga mengalami peningkatan pada setiap indikatornya. Pada indikator pertama kemampuan mengeksplanasi dengan soal “Apakah tindakan yang dilakukan Caca merupakan tindakan yang sesuai dilakukan pada kucing? Sebut dan jelaskan dua alasanmu!” menunjukkan pada nilai pretest siswa paling banyak mendapatkan skor 2 dengan jumlah 18 lalu mengalami penurunan pada posttest I dengan jumlah 13 siswa. Siswa paling banyak pada posttest I juga pada skor 2 tetapi pada skor 3 dan 4 mengalami peningkatan. Hal itu 108

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menunjukkan bahwa adanya peningkatan skor pretest ke posttest I. Indikator ke dua pada kemampuan mengeksplanasi dengan soal “Sebutkan tiga cara yang harus dilakukan Caca agar kucingnya tetap hidup?” menunjukkan peningkatan. Terlihat dari perolehan nilai pretest, skor terbanyak yaitu 1 dengan jumlah 17 siswa kemudian pada posttest I skor 2 dengan jumlah 12 siswa. Perolehan untuk skor 1 menurun pada posttest I dan skor 3 dan 4 mengalami peningkatan. Hal itu menunjukkan bahwa adanya peningkatan nilai siswa pada skor pretest ke posttest I. Indikator ke tiga pada kemampuan mengeksplanasi dengan soal “Mengapa kucing tidak dapat bernapas di air? Tuliskan dua alasanmu!” menunjukkan peningkatan. Terlihat dari perolehan nilai pretest dan posttest I. Skor terbanyak saat pretest adalah skor 1 dengan jumlah 14 siswa, sedangkan pada posttest I skor terbanyak adalah 2 dengan jumlah 14 siswa. Hal ini jelas menunjukkan bahwa adanya peningkatan nilai siswa pada skor pretest ke posttest I kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran koopertaif tipe TPS. Data hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS ada perbedaan secara signifikan pada selisih pretest dan posttest I kemampuan mengeksplanasi. Hal ini dibuktikan dengan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang menunjukkan p sebesar 0,05 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara selisish skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya penerapan model kooperatif tipe TPS berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi. Hasil temuan penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Krisnayati dan Adnyana (2012) bahwa model pembelajaran TPS menunjukkan adanya perbedaaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Begitu juga dengan penelitian Apriana dan Tegeh (2014) menunjukkan adanya perbedaan antar kedua kelompok yang diujikan dengan model pembelajaran TPS dan model pembelajaran konvensional pada motivasi belajar PKN pada siswa. Kemudian penelitian dari Bamiro (2015) menunjukkan bahwa model pembelajaran TPS mempunyai potensi besar untuk meningkatkan pencapaian belajar siswa pada mata pelajaran kimia secara umum. 109

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selain itu, Tawil (2011) melakukan penelitian mengenai berpikir kritis untuk calon guru substansi dengan model pembelajaran berbasis portofolio. Hasil yang didapat bahwa penerapan model pembelajaran berbasis portofolio menjadikan keterampilan berpikir kritis calon guru tergolong sedang. Rahma Dianti (2012) melakukan penelitian mengenai korelasi berpikir kritis siswa dengan membaca kritis. Hasilnya adalah adanya korelasi yang signifikan dan positif antara berpikir kritis dan membaca kritis. Penelitian tersebut hampir serupa dengan penelitian yang dilakukan peneliti hanya saja peneliti meneliti pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan berpikir kritis. Pada uji besar pengaruh perlakuan menunjukkan bahwa pengaruh yang diakibatkan oleh variabel dependen yaitu kemampuan mengeksplanasi adalah sebesar 6,4% yang dikategorikan dalam efek kecil. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan pengaruh 6,4% terhadap kemampuan mengeksplanasi, sedangkan 93,6% lainnya merupakan pengaruh yang disebabkan oleh variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain tersebut dari diri siswa seperti konsentrasi, minat, intelegensi, kesehatan tubuh, dan motivasi. Selain itu terdapat variabel yang berasal dari lingkungan seperti kondisi latar belakang keluarga dan lingkungan sekitar. Perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terlihat pada gambar 4.2. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan rerata skor pretest ke posttest I lebih besar daripada kelompok kontrol, selain itu persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen juga lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal ini berarti terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol yang menggunakan model pembelajaran ceramah maupun pada kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan mengeksplanasi. Pada uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih besar daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen 110

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memiliki besar pengaruh yang setara dengan efek menengah dan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol memiliki besar pengaruh yang setara dengan efek kecil. Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttestI pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi sama-sama memiliki harga p < 0,05. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Artinya terdapat peningkatan skor pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang signifikan dari skor pretest ke posttest I. Uji korelasi rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahawa pada kelompok kontrol ada korelasi yang signifikan antara hasil rerata skor pretest dan posttest I pada kemampuan mengeksplanasi dan hubungannya menunjukkan hasil positif. Kelompok eksperimen pada uji korelasi rerata skor pretst dan posttest I menunjukkan adanya korelasi atau hubungan yang tidak signifikan pada kemampuan mengeksplanasi dengan hubungan yang menunjukkan nilai positif. Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS tidak sekuat pada posttest I karena terjadi penurunan skor rerata posttest II terhadap kemampuan mengeksplanasi. Penurunan terjadi secara tidak signifikan pada kelompok eksperimen, dan juga kelompok kontrol yang menggunakan model pembelajaran ceramah. Hal ini ditunjukan dengan harga p < 0,103 pada kelompok kontrol dan harga p < 0,549 pada kelompok eksperimen. Persentasae penurunan rerata posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. Persentase penurunan kelompok kontrol sebesar -10,06%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar -1,01%. Kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berbeda. Pada kelompok kontrol, kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran ceramah sedangkan pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Siswa pada kelompok kontrol menerima pembelajaran melalui penjelasan-penjelasan dari guru mitra. Siswa hanya duduk mendengarkan penjelasan materi dari guru saja. Hasil posttest I pada kelompok kontrol juga tidak sebaik kelompok eksperimen. Rerata skor posttest I pada 111

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok eksperimen lebih besar daripada rerata skor posttest I pada kelompok kontrol. Siswa pada kelompok eksperimen lebih aktif dalam menerima pembelajaran di kelas. Seluruh siswa berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan bersama dengan guru mitra. Siswa kelompok eksperimen mengembangkan kemampuan mengeksplanasi dalam aspek menjelaskan hasil penalaran, membenarkan prosedur yang digunakan, dan memaparkan argumen yang digunakan. 4.2.3 Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS terhadap Kemampuan Meregulasi Diri Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V Sekolah Dasar. Pada sebaran data untuk kelompok kontrol dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran ceramah dari pretest ke posttest I mengalami peningkatan. Sebaran data kelompok kontrol yang melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran ceramah dari pretset ke posttest I mengalami peningkatan nilai. Terlihat dari skor terbanyak yang diperoleh siswa pada indikator pertama meregulasi diri dengan soal “Apabila kamu mengalami hal seperti yang dialami Didi, lalu apakah yang harus kamu lakukan agar capung tetap hidup? Jelaskan dua alasanmu!” ada 19 siswa dengan skor 2, sedangkan pada posttest I skor terbanyak adalah 2 dengan jumlah 11 siswa. Terjadinya penurunan pada perolehan skor 2 siswa dalam soal pertama, tetapi terjadi peningkatan pada skor 3. Hal itu menunjukkan adanya peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada indikator ini. Pada indikator kedua meregulasi diri dengan soal “Sebutkan tiga cara menjaga agar hewan tetap bernapas dan hidup!” saat pretest paling banyak siswa mendapat skor 2 dengan jumlah 14 siswa, sedangkan saat posttest I paling banyak siswa mendapat skor 1 dengan jumlah 13 siswa. Penurunan pada skor terbanyak yang dialami siswa diiringi dengan peningkatan skor lain yaitu 3 dengan jumlah 11 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa tetap adanya peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada indikator ke dua meregulasi diri. Indikator ketiga meregulasi diri dengan soal “Apa yang akan kamu lakukan, ketika berada di posisi Didi? Jelaskan 112

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dua alasanmu!” saat pretest siswa paling banyak mendapatkan skor 2 dengan jumlah 18 siswa, sedangkan saat posttest I siswa paling banyak mendapatkan skor 2 dengan jumlah 14 siswa. Terlihat terjadi penurunan pada perolehan skor terbanyak siswa yaitu 2, tetapi terjadi peningkatan pada skor lain yaitu 3. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada indikator ketiga meregulasi diri. Sebaran data pada kelompok eksperimen yang melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran TPS juga mengalami peningkatan pada setiap indikatornya. Pada indikator pertama kemampuan meregulasi diri dengan soal “Apabila kamu mengalami hal seperti yang dialami Didi, lalu apakah yang harus kamu lakukan agar capung tetap hidup? Jelaskan dua alasanmu!” menunjukkan pada nilai pretest siswa paling banyak mendapatkan skor 2 dengan jumlah 16 dan berjumlah tetap di posttest I. Siswa paling banyak pada posttest I juga pada skor 2 tetapi pada skor 3 dan 4 mengalami peningkatan. Hal itu menunjukkan bahwa adanya peningkatan skor pretest ke posttest I. Indikator ke dua pada kemampuan meregulasi diri dengan soal “Sebutkan tiga cara menjaga agar hewan tetap bernapas dan hidup!” menunjukkan peningkatan. Terlihat dari perolehan nilai pretest, skor terbanyak yaitu 2 dengan jumlah 13 siswa kemudian pada posttest I skor 2 dengan jumlah 12 siswa. Perolehan untuk skor 1 menurun pada posttest I dan skor 3 dan 4 mengalami peningkatan. Hal itu menunjukkan bahwa adanya peningkatan nilai siswa pada skor pretest ke posttest I. Indikator ke tiga pada kemampuan meregulasi diri dengan soal “Apa yang akan kamu lakukan, ketika berada di posisi Didi? Jelaskan dua alasanmu!” menunjukkan peningkatan. Terlihat dari perolehan nilai pretest dan posttest I. Skor terbanyak saat pretest adalah skor 2 dengan jumlah 17 siswa, da di posttest I keadaan masih sama. Peningkatan terlihat dari kenaikan jumlah skor 3 dan 4 yang mengalami peningkatan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa adanya peningkatan nilai siswa pada skor pretest ke posttest I kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran koopertaif tipe TPS. Data hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS tidak ada perbedaan yang signifikan pada selisih pretest dan posttest I kemampuan meregulasi diri. Hal ini dibuktikan dengan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang menunjukkan p sebesar 0,27 (p > 0,05), maka Hnull 113

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisish skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya penerapan model kooperatif tipe TPS berpengaruh secara tidak signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri. Model pembelaajaran TPS tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri karena dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, seperti motivasi siswa, minat belajar, kecerdasan siswa, psikologi siswa atau faktor lainnya. Hasil temuan penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Krisnayati dan Adnyana (2012) bahwa model pembelajaran TPS menunjukkan adanya perbedaaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Begitu juga dengan penelitian Apriana dan Tegeh (2014) menunjukkan adanya perbedaan antar kedua kelompok yang diujikan dengan model pembelajaran TPS dan model pembelajaran konvensional pada motivasi belajar PKN pada siswa. Kemudian penelitian dari Bamiro (2015) menunjukkan bahwa model pembelajaran TPS mempunyai potensi besar untuk meningkatkan pencapaian belajar siswa pada mata pelajaran kimia secara umum. Selain itu, Tawil (2011) melakukan penelitian mengenai berpikir kritis untuk calon guru substansi dengan model pembelajaran berbasis portofolio. Hasil yang didapat bahwa penerapan model pembelajaran berbasis portofolio menjadikan keterampilan berpikir kritis calon guru tergolong sedang. Rahma Dianti (2012) melakukan penelitian mengenai korelasi berpikir kritis siswa dengan membaca kritis. Hasilnya adalah adanaya korelasi yang signifikan dan positif antara berpikir kritis dan membaca kritis. Penelitian tersebut hampir serupa dengan penelitian yang dilakukan peneliti hanya saja meneliti pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan berpikir kritis. Pada uji besar pengaruh perlakuan menunjukkan bahwa pengaruh yang diakibatkan oleh variabel dependen yaitu kemampuan meregulasi diri adalah sebesar 2,1% yang dikategorikan dalam efek kecil. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan pengaruh 2,1% terhadap kemampuan meregulasi diri, sedangkan 97,9% lainnya merupakan pengaruh yang disebabkan oleh variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain tersebut dari diri siswa seperti konsentrasi, minat, intelegensi, kesehatan tubuh, dan 114

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI motivasi. Selain itu terdapat variabel yang berasal dari lingkungan seperti kondisi latar belakang keluarga dan lingkungan sekitar. Perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terlihat pada gambar 4.7. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan rerata skor pretest ke posttest I lebih besar daripada kelompok kontrol, selain itu persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen juga lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal ini berarti terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol yang menggunakan model pembelajaran ceramah maupun pada kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan meregulasi diri. Pada uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih besar daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki besar pengaruh yang setara dengan efek kecil dan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol memiliki besar pengaruh yang setara dengan efek kecil. Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttestI pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan meregulasi diri sama-sama memiliki harga p < 0,05. Hal in berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya terdapat peningkatan skor pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang signifikan dari skor pretest ke posttest I. Uji korelasi rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahawa pada kelompok kontrol ada korelasi yang tidak signifikan antara hasil rerata skor pretest dan posttest I pada kemampuan meregulasi diri dan hubungannya menunjukkan hasil positif. Kelompok eksperimen pada uji korelasi rerata skor pretst dan posttest I menunjukkan adanya korelasi atau hubungan yang tidak signifikan pada kemampuan meregulasi diri dengan hubungan yang menunjukkan nilai positif. Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS tidak sekuat pada posttest I 115

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI karena terjadi penurunan skor rerata posttest II terhadap kemampuan meregulasi diri. Penurunan terjadi secara tidak signifikan pada kelompok eksperimen, dan penurunan secara signifikan pada kelompok kontrol yang menggunakan model pembelajaran ceramah. Hal ini ditunjukkan dengan harga p < 0,022 pada kelompok kontrol dan harga p < 0,376 pada kelompok eksperimen. Persentasae penurunan rerata posttest I ke posttest I pada kelompok kontrol lebih tunggi daripada kelompok eksperimen. Persentase penurunan kelompok kontrol sebesar -11,1%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar -0,9%. Kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berbeda. Pada kelompok kontrol, kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran ceramah sedangkan pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Siswa pada kelompok kontrol menerima pembelajaran melalui penjelasan-penjelasan dari guru mitra. Siswa hanya duduk mendengarkan penjelasan materi dari guru saja. Hasil posttest I pada kelompok kontrol juga tidak sebagus kelompok eksperimen. Rerata skor posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada rerata skor posttest I pada kelompok kontrol. Siswa pada kelompok eksperimen lebih aktif dalam menerima pembelajaran di kelas. Seluruh siswa berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan bersama dengan guru mitra. Siswa kelompok eksperimen mengembangkan kemampuan meregulasi diri dalam aspek refleksi diri dan koreksi diri. 4.2.4 Analisis Penelitian Terhadap Teori Penelitian ini menunjukkan dua hasil yang berbeda pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Hasil yang pertama adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi. Hasil kedua adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh tidak signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri. Meskipun demikian penelitian TPS tetap efektif digunakan dalam pembelajaran karena skor peningkatan pada kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol. Sama halnya dengan penelitian lain Tawil (2011) melakukan 116

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penelitian mengenai berpikir kritis untuk cakin guru substansi dengan model pembelajaran berbasis portofolio. Hasil yang didapat bahwa penerapan model pembelajaran berbasis portofolio menjadikan keterampilan berpikir kritis calon guru tergolong sedang. Rahma Dianti (2012) melakukan penelitian mengenai korelasi berpikir kritis siswa dengan membaca kritis. Hasilnya adalah adanaya korelasi yang signifikan dan positif antara berpikir kritis dan membaca kritis. Dari hasil tersebut, model pembelajaran kooperatif tipe TPS bisa dikatakan cocok digunakan dalam pendidikan di SD. Hal ini dikarenakan model pembelajaran yang dilaksanakan berdasarkan permasalahan yang konkret di SD. Model pembelajaran ini lebih mengarah pada permasalahan konkret yang harus didikusikan bersama kelompok untuk menemukan solusinya. Hal ini sependapat dengan apa yang dikemukakan Jean Piaget bahwa anak usia 7-11 tahun termasuk ke dalam operasional konkret (Suparno, 2001: 24). Perkembangan sistem pemikiran pada tahap ini berdasarkan pada atyran-aturan yang logis. Tahap ini ditandai dengan sistem operasi berdasarkan apa yang kelihatan nyata atau konkret. Teori lain yang mendukung penelitian ini adalah teori perkembangan Vygotsky. Pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, tetapi tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan mereka atau bisa disebut dnegna zona perkembangan proksimal (Trianto, 2007: 27). Zona perkembangan proksimal adalah jarak antara tingkat perkembangan aktual yang ditentukan oleh pemecahan masalah secara independen dan tingkat perkembangan potensial yang ditentukan lewat pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau dalam kolaborasi dengan rekan-rekan yang lebih mampu (Vygotsky dalam Crain, 2007: 371). Penelitian ini menggunakan model yang sesuai dengan apa yang sudah dikemukakan oleh Vygotsky karena salah satu ciri utamanya adalah berkelompok atau berkolaborasi bersama dengan temannya, sehingga anak lebih mudah dalam memecahkan masalah terutama masalah yang ada di sekitar lingkungannya. Model pembelajaran ini menjadi salah satu solusi untuk menjawab permasalahan pendidikan di Indonesia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada thun 2015 Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor 403 (OECD, 2016: 5). Hal tersebut terlihat bahwa 117

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terancamnya posisi pendidikan di Indonesia. Penggunaan model pembelajaran ceramah yang masih sering digunakan di Indonesia menjadi salah satu penyebab kurang efektifnya pembelajaran di sekolah. Keterlibatan siswa menjadi lebih terbatas sehingga kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Perlunya penerapan model pembelajaran lain yang menuntut keterlibatan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pembelajaran berbasis kelompok dan diskusi seperti model pembelajaran kooperatif menjadi solusinya. Pembelajaran kooperatif lebih memudahkan siswa dalam menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya (Trianto, 2007: 41). Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran adalah tipe Think Pair Share (TPS). TPS adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berpikir dan memberikan respon serta saling membantu satu sama lain (Shoimin, 2014: 208). Model pembelajaran ini lebih memberikan banyak waktu kepada siswa untuk berdiskusi bersama dengan satu temannya maupun bersama dengan beberapa temannya. Pembelajaran kooperatif lebih memudahkan siswa dalam menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya (Trianto, 2007: 41). Model pembelajaran ini lebih mendorong siswa untuk memahami materi yang diberikan karena mereka dihadapkan dengan suatu permasalahan lalu permasalahan tersebut diselesaikan dengan cara berdiskusi berpasangan dan berdiskusi kelompok. Kemampuan berpikir kritis adalah kegiatan membuat penilaian yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, metode, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan sebagai penilaian unutuk tujuan tertentu (Facione, 1990: 2). Mengeksplansi dan meregulasi diri termasuk dalam kemampuan berpikir kritis menurut Facione. Kemampuan mengeksplanasi adalah suatu kemampuan menguraikan dasar-dasar suatu penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual. Adapun mengeksplanasi mencakup 3 sub-kecakapan, yaitu menjelaskan hasil penalaran, membenarkan prosedur yang digunakan, dan memaparkan argumen yang digunakan. Kemampuan meregulasi diri adalah suatu kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur- 118

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI unsur yang digunakan dalam aktivitas itu, dan hasil-hasil dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri (Facione, 2007: 5-8). Pada meregulasi diri terbagi menjadi dua sub-kecakapan yaitu refleksi dari dan koreksi diri. Mata pelajaran IPA pada materi sistem pernapasan pada hewan merupakan materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, sehingga akan mempermudah siswa dalam mempelajarinya dalam diskusi kelompok. Mulai dari alat pernapasan yang digunakan, cara memperlakukan hewan agar tetap bernapas dengan baik dan cara mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi. Pembelajaran dilakukan dengan berdiskusi mengenai peristiwa yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar. Jadi, pembelajaran ini bersifat aktif dan diharapkan siswa dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan dengan ketajaman dalam kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Pelaksanaan penelitian menggunakan sistem pretest dan posttest. Kecenderungan yang biasa terjadi adalah ketika partisipan mendapatkan skor pretest yang sangat tinggi maka biasanya mendapatkan skor yang lebih rendah saat posttest, sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi merupakan ancaman regresi statistik. Jika ancaman ini diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Penelitian ini tidak hanya dilakukan satu kali posttest melainkan dua kali dengan maksud untuk mengetahui perlakuan yang diberikan masih kuat atau memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan skor lebih banyak dialami pada kelompok eksperimen. Rentang waktu pengerjaan dari posttest I ke posttest II antara kelompok kontrol dan eksperimen bisa menjadi sebab dari penurunan skor yang lebih besar di kelompok eksperimen. Rentang waktu pada kedua kelompok adalah 7 hari. Meskipun demikian, penurunan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Jadi perlakuan yang diberikan masih memiliki efek setelah beberapa waktu pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. 119

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penelitian tetap berlandaskan pada teori-teori yang digunakan. Oleh karena itu, efek yang kecil tetap diberikan oleh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS ini. Model pembelajaran TPS tetap berkontribusi terhadap kemampuan memngeksplanasi dan meregulasi diri hanya saja pada kemampuan meregulasi diri hasilnya tidak bisa diterapkan pada populasi. 120

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. Kesimpulan berisi hasil penelitian dan mnejawab hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisikan kekurangan yang ada selama penelitian dilaksanakan. saran berisi masukan dari peneliti untuk penelitian selanjutnya. 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi pada siswa kelas V Sekolah Dasar. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test menunjukkan bahwa kemampuan yang dimiliki kelompok eksperimen (M = 0,5787 ,SE = 0,12266) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,2645, SE= 0,09712). Perbedaan tersebut berbeda secara signifikan dengan t(57) = -2,00 dan harga p = 0,05 (p > 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Besarnya pengaruh sebesar r = 0,254 atau setara dengan 6,4% yang termasuk dalam kategori efek kecil. 5.1.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) tidak berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri pada siswa kelas V Sekolah Dasar. Hasil analisis terhadap penelitian menolak hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test menunjukkan bahwa kemampuan yang dimiliki kelompok eksperimen (M = 0,2557, SE = 0,10294) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,0797, SE = 0,11916). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(57) = -1,115 dan harga p = 0,27 (p > 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Besarnya pengaruh sebesar r = 0,146 atau setara dengan 2,1% yang terdalam kategori efek kecil. 121

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Hasil pada penelitian ini terbatas pada salah satu Sekolah Dasar negeri di Yogyakarta, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan pada Sekolah Dasar lainnya. 5.2.2 Kelompok kontrol tidak mendapatkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS setelah berakhirnya penelitian. 5.3 Saran 5.3.1 Peneliti sebaikya perlu melakukan uji coba ke Sekolah Dasar lainnya dengan penelitian yang serupa. 5.3.2 Peneliti sebaiknya memberikan latihan kepada guru mitra dengan lebih lama supaya model pembelajaran kooperatif yang digunakan dapat terlaksana sesuai dengan rencana. 122

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Apriana & Tegeh. (2014). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) terhadap motivasi belajar PKN siswa kelas V semester genap SD di gugus III Kecamatan Kubu tahun pelajaran 2014/2015. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha (2) 1. Diakses pada 25 Maret 2018, dari http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/kimia/issue/view/406. Arikunto. (2008). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Bumi Aksara. Bamiro. (2015). Effects of guided discovery and think pair share strategies on secondary school students achievement in chemistry. Sage Open. Diakses pada 2018, dari http://www.researchgate.net/publication/276254907. Best, J . W. & Kahn, J. V. (2006). Research in education (tenth edition). Boston: Pearson Education Inc. Cohen, L., Manion, L., & Marrison, K. (2007). Reasearch methods I education (6thed). London and New York: Routledge. Crain, W. (2007). Teori perkembangan konsep dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Creswell, J. (2015). Riset pendidikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif & kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Desmita. (2009). Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dianti. (2012). Hubungan antara berpikir kritis dan membaca kritis mahasiswa program studi bahasa inggris Universitas Sriwijaya. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. Diakses pada 18 Maret 2018, dari http://digilib.unila.ac.id/30890/3/TESIS%20TANPA%20BAB%20PEMBA HASAN.pdf. Facione, P. A. (1990). Critical thinking: A statement of expert consensus for purposes of educational assessment and instruction. The Delphi Report, diakses tanggal 7 Maret 2009, dari www.insightassessment.com/pdf_files/DEXadobe.PDF. Fathurrohman. (2015). Model-model pembelajaran inovatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS, third edition. Los Angeles: Sage. 123

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Fraenkel, J. R, Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education (8thed). New York: McGraw Hill. Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro. Hartina. (2008). Pengaruh model pebelajaraan kooperatif tipe TPS terhadap hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA SMA Negeri 5 Makasar (studi pada materi pokok laju reaksi). Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA, UNM. Huda, M. (2012). Coopertaive learning: Metode, teknik, struktur dan model terapan. Yogyakarta: Pustaka PelajaR. Johnson, B. & Christensen, L. (2008). Educational research: Quantitative, qualitative, and mixed approaches (3rd. Ed.). California: Sage Publications. Kemendikbud. (2017). Buku Siswa Tema 2 Kelas V: Udara Bersih Bagi Kehidupan. Jakarta: Kemendikbud. Krathwohl, D. R. (2004). Methods of educational and social science research, an integrated approach, second edition. Illinois: Waveland Press. Krisnayati & Adnayana. (2012). Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share berpengaruh terhadap prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Gugus Letda Made Putra. Jurnal Pendidikan MIPA (15) 1. Diakses pada 25 Maret 2018, dari http://ojs.upg.ac.id/JDM/article/download/2449/pdf_22 Lie, A. (2010). Cooperative learning: Mempraktikkan cooperative learning di ruang kelas. Jakarta: PT Grasindo. Margono, S. (2007). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mooney, C. G. (2013). Theories of childhood: An introduction to Dewey, Montessori, Ericson, Piaget, and Vygotsky. US: Redleaf Press. Neuman, W. L. (2013). Metodologi penelitian sosial: Pendekatan kualitatif & kuantitatif (Ed. 7). Jakarta: PT. Indeks. Nuraini & Suparman. (2017). Deskripsi kemapuan berpikir kritis dan kreatif siswa melalui penerapan pendekatan saintifik. Jurnall Prosiding Seminar Nasional Etnomatnesia. Diakses pada 22 Maret 2018, dari http://digilib.uinsby.ac.id/15540/31/Bab%203.pdf Nurgiyantoro, B. (2010). Penilaian pembelajaran bahasa. Yogyakarta: UNY. OECD. (2013). PISA 2012 result in focus. Diakses pada tanggal 3 April 2017, dari https://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf. 124

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI OECD. (2016). PISA 2015 result in focus. Diakses pada tanggal 3 April 2017, dari https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf. Priyatno, D. (2012). Belajar praktis analisis paramterik dan nonparametrik dengan SPSS dan prediksi pertanyaan pendadaran skripsi dan tesis: Simple, praktis, dan mudah dipahami untuk tingkat pemula dan menengah. Yogyakarta: Gava Media. Rusman. (2011). Model-model pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Salkind, N. J. (2009). Teori-teori perkembangan manusia. Bandung: Nusa Media. Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA di sekolah dasar. Jakarta: Indeks. Santrock J.W. (2014). Psikologi pendidikan. Jakarta Selatan: Salemba. Shoimin, A. (2014). 68 model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Siregar, S. (2013). Metode penelitian kuantitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Slavin. (2008). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Indeks. Slavin. (2009). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Indeks. Slavin. (2011). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Indeks. Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta. Sukardi. (2013). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Suparno. (2011). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Pustaka Pelajar. Suryabrata, S. (2008). Metodologi penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Taniredja & Hidayati. (2012). Penelitian kuantitatif sebuah pengantar. Bandung: Alfabeta. Tawill. (2011). Pengembangan pembelajaran berbasis simulasi komputer pada perkuliahan gelombang dan optika untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis calon guru. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (14) 75. Diakses pada 18 Maret 2018, dari http://scholar.google.co.id/citations?user=TiATBQkAAAAJ&hl=id. Tawil & Liliasari (2014). Berpikir kompleks dan implementasinya dalam pembelajaran IPA. Makasar: Badan Penerbit UNM. 125

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Trianto. (2010). Pengantar penelitian pendidikan bagi pengembangan profesi pendidikan dan tenaga kependidikan. Jakarta: Kencana Perdana Media Group. Trianto. (2011). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Widoyoko, S. E. P. (2015). Teknik penyusunan instrumen penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 127

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian 128

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.2 Surat Izin Validasi Soal 129

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.1 Silabus Kelompok Kontrol 130

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.2 Silabus Kelompok Eksperimen 134

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 138

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 142

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.5 Lembar Kerja Siswa Nama : Nomor: Lembar Kerja Siswa Pertemuan 1 A. Lengkapi peta pikiran alat pernapasan pada hewan dibawah ini! cacing kupu-kupu alat pernapasan pada hewan lele ayam B. Diskusikanlah jawaban diatas bersama pasanganmu! C. Berkumpullah bersama kelompok. 1. Diskusikan peta pikiran diatas dan buatlah bagan pernapasan pada hewan-hewan tersebut beserta keterangannya! 2. Jelaskan tahap-tahap pernapasan dari bagan yang sudah kalian buat. 150

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jawab:………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… 3. Apakah semua hewan memiliki alat pernapasan yang sama? Jelaskan! Jawab:………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… 151

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Nama : Nomor: Lembar Kerja Siswa Pertemuan 2 A. Tulislah “benar” atau “salah” pada kotak kosong di bawah ini sesuai dengan pernyataanya! 1. Ikan bernapas menggunakan sirip. 2. Insang pada ikan terdapat di belakang rongga mulut. 3. Mulut ikan dan insang tidak bekerja bersama-sama pada saat proses pernapasan. 4. Pada proses pernapasan ikan, rongga mulut ikan menyempit dan mulut ikan menutup. Secara bersamaan tutup insang menutup. 5. Oksigen terserap pada saat air keluar dari mulut dan melewati insang. B. Diskusikan jawaban di atas dengan pasanganmu! C. Apakah ada perbedaan jawaban? Tuliskan alasanmu di bawah ini! Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… D. Berkumpullah bersama teman sekelompokmu. Diskusikan tahapan proses bernapas pada ikan! Tulislah kesimpulan yang kamu dapatkan mengenai tahapan proses bernapas pada ikan! Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… E. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas! 152

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Nama Kelompok: Lembar Kerja Siswa Pertemuan 3 1. 3. 2. 4 1. Saat bermain di taman Ana dan Ani melihat seekor kupu-kupu yang cantik. Mereka berlarian mengejar kupu-kupu tersebut, tak lama kemudian Ani berhasil menangkap kupu-kupu itu dan langsung memasukkannya ke dalam toples agar tidak terbang. a. Apakah kamu setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh Ana dan Ani? Jelaskan alasanmu! Jawab:………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… 2. Saat pulang bermain, kamu dan teman-temanmu melihat seekor anak kucing tercebur di dalam kolam ikan. Apa yang akan kamu lakukan? andaikan kamu masih punya banyak waktu. Apakah: a. Tetap menyelamatkan anak kucing yang tercebur di kolam. b. Mengikuti temanmu pergi. c. Jelaskan alasanmu! Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 153

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.1 Soal Uraian Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Bacalah kasus di bawah ini: Pada hari Minggu, Dayu dan keluarganya mengunjungi kebun binatang Ragunan. Di sana ia menjumpai berbagai jenis hewan. Dayu ingin mengetahui hewan mana saja yang bernapas dengan menggunakan paru-paru, insang, trakea, dan permukaan kulit. Berdasarkan cerita di atas, jawablah pertanyaanpertanyaan di bawah ini! a. Berdasarkan kasus di atas, bantulah Dayu untuk mengelompokkan cara bernapas hewan dengan mengisi tabel berikut. Hewan yang Hewan yang Hewan yang Hewan yang bernapas bernapas bernapas bernapas dengan dengan dengan dengan menggunakan menggunakan menggunakan menggunakan paru-paru insang trakea permukaan kulit 1. …… 1. …… 1. …… 1. …… 2. …… 2. …… 2. …… 2. …… 3. …… 3. …… 3. …… 3. …… 4. …… 4. …… 4. …… 4. …… b. Amatilah gambar di bawah ini! Berilah nama pada setiap bagian organ pernapasan yang ditunjuk! 154

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ c. Jelaskan dua tahap pernapasan pada ikan dengan bahasamu sendiri! ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ 2. a. Kupu-kupu merupakan salah satu hewan insekta, sedangkan kelinci merupakan hewan mamalia. Identifikasilah tiga organ pernapasan pada kupukupu dan kelinci! Organ pernapasan kupu-kupu Organ pernapasan kelinci 1. 1. 2. 2. 3. 3. b. Apakah benar cacing menyukai tempat yang lembap untuk menjaga supaya kulit tubuhnya selalu basah dan berlendir? Jelaskan dua alasanmu! .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. c. Burung mengambil udara sebanyak-banyaknya pada saat tidak terbang, udara tersebut kemudian disimpan pada kantung udara. Sebaliknya, pada saat terbang burung tidak menghirup udara. Selain itu, pada saat terbang kantung burung dapat membesar dan mengecil untuk mengatur berat jenis (meringankan) tubuh pada saat terbang. Dari pernyataan di atas tulislah dua fungsi kantung udara pada burung! .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. 155

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Tentukan benar atau salah pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang tepat! Tuliskan dua alasannya! a. Ayam, elang, bebek, merpati, dan gagak merupakan hewan unggas. Semua unggas bernapas menggunakan permukaan kulit (Benar/Salah) Alasan: ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ b. Sistem pernapasan pada burung pada umumnya melalui tiga alat pernapasan (Benar/Salah) Alasan: ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ c. Fungsi paru-paru pada burung adalah membantu mencegah hilangnya panas tubuh dan memperkeras suara (Benar/Salah) Alasan: ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ 4. Jawablah pertanyaan dibawah ini! a. Pada suatu hari Kana mengunjungi tempat rekreasi untuk melihat pertunjukkan lumba-lumba. Kana kagum melihat lumba-lumba menyelam ke dalam air, kemudian beberapa saat muncul ke permukaan air. Ternyata dengan cara itulah lumba-lumba bernapas. Pernyataan manakah yang paling tepat untuk menunjukkan bagaimana proses lumba-lumba bernapas? Tuliskan alasanmu! 1) Saat lumba-lumba menyelam katup pada hidungnya akan menutup, kemudian saat muncul ke permukaan air katup akan terbuka. 2) Saat lumba-lumba menyelam katup pada hidungnya akan terbuka, kemudian saat muncul ke permukaan air katup akan menutup. 156

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3) Saat lumba-lumba menyelam katup pada hidungnya akan membuka dan menutup, kemudian saat muncul ke permukaan air katup akan terbuka. ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ Kasus Rana mendapatkan tugas untuk mempelajari tentang sistem pernapasan pada ikan. Rana berpendapat bahwa ikan bernapas menggunakan insang. Untuk mendukung pendapat Rana tersebut, Rana diminta untuk melakukan percobaan menggunakan tiga alat yaitu akuarium, pisau, dan gelas. b. Berdasarkan cerita di atas jawablah pertanyaan di bawah ini! Sebutkan tiga cara menggunakan alat yang disediakan untuk mendukung pernyataan bahwa ikan bernapas melalui insang! Jelaskan masing-masing alasanmu. ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ c. Dari tiga cara yang kamu tuliskan, cara manakah yang paling tepat untuk membuktikan bahwa ikan bernapas menggunakan insang? Jelaskan dua alasanmu memilih cara ini. ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ 5. Kucing hewan darat yang bernapas menggunakan paru-paru. Pada suatu hari Caca marah dengan kucingnya karena menggambil ikan di meja makan. Dimasukkanlah kucing peliharaanya ke kolam samping rumahnya. Kucing itu terlihat tersengal-sengal dan kesulitan untuk bernapas. Kucing itu berusaha menampakkan diri ke permukaan air beberapa kali. Tidak lama, akhirnya kucing lemas dan mati. 157

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Apakah tindakan yang dilakukan Caca merupakan tindakan yang sesuai dilakukan pada kucing? Sebut dan jelaskan dua alasanmu! .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... .......................................................................................................................... ......................................................... b. Sebutkan tiga cara yang harus dilakukan Caca agar kucingnya tetap hidup? ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ......................................................... c. Mengapa kucing tidak dapat bernapas di air? Tuliskan dua alasanmu! ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ......................................................... 6. Sewaktu perjalanan pulang sekolah Didi menemukan capung yang indah. Ia ingin membawa capung itu pulang dan memeliharanya, tetapi Didi membawanya menggunakan kantung plastik yang diikat rapat. Kantong plastik itu diikatnya agar capung tidak terbang pergi. a. Apabila kamu mengalami hal seperti yang dialami Didi, lalu apakah yang harus kamu lakukan agar capung tetap hidup? Jelaskan dua alasanmu! ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ b. Sebutkan tiga cara menjaga agar hewan tetap bernapas dan hidup! ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ 158

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Apa yang akan kamu lakukan, ketika berada di posisi Didi? Jelaskan dua alasanmu! ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ 159

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.2 Kunci Jawaban 1. Jawaban: a. Hewan yang Hewan yang Hewan yang Hewan yang bernapas bernapas dengan bernapas bernapas dengan menggunakan dengan dengan menggunakan insang menggunakan menggunakan trakea permukaan paru-paru kulit 1) Burung 1) Ikan (lele, 1) Jangkrik 2) Kuda nila, bawal, 2) Lebah 3) Jerapah salmon, 3) Kupu-kupu 4) Kelinci tengiri, dll) 4) Belalang 5) Monyet 2) Hiu 6) Orangutan 3) Katak kecil 6) Rayap 7) Keledai (kecebong) 1) Cacing 2) Ular laut 5) Semut 7) Tawon 8) Harimau 4) Kuda laut 8) Capung 9) Singa 5) Udang 9) Lalat 10) Badak 6) Kepiting 11) Kangguru 7) Cumi-cumi 12) Gajah 8) Gurita 13) Rusa 14) Buaya 15) Lumbalumba b. Jawaban: 1) Hidung 2) Trakea 3) Paru-paru 4) Kantung udara anterior 5) Kantung udara posterior 160

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Dua tahap pernapasan pada ikan sebagai berikut. Tahap 1: Menutupnya tutup insang, secara bersamaan mulut terbuka dan dinding mulut mengembang. Saat itulah air terisap masuk. Tahap 2: Rongga mulut menyempit dan mulut menutup. Secara bersamaan tutup insang terbuka. Akibatnya air keluar dari mulut dan melewati insang. Saat itulah oksigen dari dalam air terserap dan karbon dioksida dikeluarkan. 2. Jawaban: a. Organ pernapasan kupu-kupu Organ pernapasan kelinci Trakeola Hidung Spirakel Tenggorokan Pembuluh udara kecil Paru-paru b. Benar cacing menyukai tempat yang lembap untuk menjaga supaya kulit tubuhnya selalu basah dan berlendir, karena cacing bernapas menggunakan permukaan kulit, selain itu untuk memudahkan cacing dalam meenyerap oksigen dari udara. c. Dua fungsi kantung udara pada burung adalah: 1) Untuk menyimpan udara. 2) Mengatur berat jenis (meringankan) tubuh pada saat terbang. 3. Jawaban: a. Salah Alasan: 1) Hewan unggas bernapas menggunakan paru-paru. 2) Unggas termasuk ke dalam aves. b. Benar Alasan: 1) Sistem pernapasan burung terdiri dari bagian yang disebut dengan trakea, kantong udara, dan paru-paru. 161

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2) Dari trakea udara sebagian masuk ke paru-paru dan sebagian masuk ke kantong udara. c. Salah Alasan: 1) Paru-paru pada burung berfungsi sebagai alat pernapasan pada burung. 2) Bagian yang berfungsi untuk membantu mencegah hilangnya panas tubuh dan memperkeras suara adalah kantong udara. 4. Jawaban: a. Pernyataan yang paling tepat untuk menunjukkan bagaimana proses lumbalumba bernapas adalah nomor satu. Alasannya Pada saat katup terbuka lumba-lumba akan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida dan uap air. b. Tiga cara yang dapat dilakukan untuk mendukung pernyataan bahwa ikan bernapas menggunakan insang sebagai berikut. 1) Ikan dimasukkan ke dalam akuarium yang berisi air, kemudian melihat gerakan mulut ikan membuka dan menutup. 2) Ikan dibedah untuk mencari alat pernapasannya. 3) Ikan digelontori air untuk melihat pergerakan air tersebut. c. Dari tiga cara yang kamu tuliskan, cara manakah yang paling tepat untuk membuktikan bahwa ikan bernapas menggunakan insang adalah cara nomor tiga yaitu Ikan digelontori air untuk melihat pergerakan air tersebut, pada saat ikan digelontori air melewati mulutnya air akan keluar melalui samping, kemudian akan terlihat pergerakan air tersebut menunjukkan adanya insang yang digunakan dalam proses pernapasan. 5.Jawaban: a. Perbuatan Caca bukanlah perbuatan yang sesuai, karena: 1) Kucing merupakan hewan darat yang bernapas menggunakan paruparu. 2) Kucing tidak dapat bertahan hidup di air, maka ia akan kesulitan untuk bernapas. b. Tiga cara yang tepat yang harus dilakukan untuk kucingnya bertahan hidup 162

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1) Memindahkan kucing keluar dari bak. 2) Keringkan bulu kucing dengan handuk. 3) Letakkan kucing di tempat yang hangat atau kering. c. Kucing tidak dapat bernapas di air karena 1) Kucing merupakan hewan darat yang bernapas dengan paru-paru. 2) Air akan masuk ke dalam sistem pernapasan kucing dan akan mengakibatkan kematian bagi kucing. 6. Jawaban: a. Hal yang dilakukan agar capung tetap hidup: 1) Menikmati keindahan capung tanpa menangkapnya, karena dengan capung tetap bebas ia akan terus bernapas tanpa batasan dan tidak mudah mati. 2) Jika menngkapnya memberikan ruang yang lebih luas, artinya sirkulasi oksigennya terpenuhi dengan baik. b. Cara menjaga hewan tetap bernapas dan hidup 1) Memberikannya ruang bebas untuk bernapas. 2) Tidak membunuhnya dengan sengaja. 3) Menjaga kelestarian lingkungan agar oksigen tetap tersedia. c. Jika saya berada di posisi Didi maka saya tidak akan menangkap capung tersebut, karena supaya capung tetap hidup bebas terbang kesana kemari dan terus beranak pinak. Tidak perlu menangkap dan memilikinya untuk selalu menikmati keindahan capung itu, tetapi melihatnya terbang bebas juga tetap bernapas akan lebih indah. 163

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian Rubrik penilaian: 164

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menjelaskan Jika menjelaskan 3 makna tahap dengan tepat Jika menjelaskan 2 tahap dengan tepat Jika menjelaskan 1 tahap dengan tepat 4 3 2 1c Jika menjelaskan 1 tahap dengan 1 kurang tepat 2. Analisis Menguji gagasan Jika menyebutkan 1 persamaan dan 2 perbedaan dengan 4 tepat Jika menyebutkan 1 persamaan dan 1 perbedaan dengan 3 tepat 2a Jika menyebutkan 2 perbedaan dengan 2 tepat Jika menyebutkan 1 persamaan atau perbedaan 1 dengan 1 tepat Mengidentifiikasi Jika menjelaskan 2 argumen alasan dengan tepat 4 2b Jika menjelaskan 2 alasan dengan 3 kurang tepat 165

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika menjelaskan 1 alasan dengan tepat 2 Jika menjelaskan 1 alasan dengan 1 kurang tepat Menganalisis Jika menyebutkan 2 argumen fungsi dengan tepat 4 Jika menyebutkan 2 fungsi dengan 3 kurang tepat Jika menyebutkan 1 fungsi dengan tepat 2c 2 Jika menyebutkan 1 fungsi dengan 1 kurang tepat 3. Mengevaluasi Menilai Jika memilih kebenaran jawaban tentang benar pernyaataan memberikan dengan dan 4 2 mengenai sistem alasan yang tepat pernapasan pada Jika aves memilih jawaban dengan benar dan memberikan 3 1 3a alasan yang tepat Jika memilih jawaban dengan benar namun alasan 2 tidak tepat Jika memilih jawaban salah dengan dan 1 tidak 166

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memberikan alasan yang tepat Menilai Jika kebenaran jawaban memilih dengan mengenai bagian- benar bagian dan pada memberikan 4 2 sistem alasan yang tepat pernapasan Jika burung jawaban memilih dengan benar dan memberikan 3 1 alasan yang tepat Jika 3b memilih jawaban dengan benar namun alasan 2 tidak tepat Jika memilih jawaban salah dengan dan tidak 1 memberikan alasan yang tepat Menilai Jika kebenaran jawaban pernyataan benar memilih dengan dan mengenai sistem memberikan 4 2 pernapasan pada alasan yang tepat burung Jika 3c memilih jawaban benar dengan dan memberikan 3 1 alasan yang tepat 167

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika memilih jawaban dengan benar namun alasan 2 tidak tepat Jika memilih jawaban salah dengan dan tidak 1 memberikan alasan yang tepat 4. Menarik Menguji kesimpulan pandangan dalam cara benar dengan 2 menentukan Jika memilih satu 4 alasan yang tepat solusi pemecahan Jika memilih satu masalah cara benar dengan 1 3 mengenai sistem alasan yang tepat pernapasan Jika memilih satu hewan cara benar dengan alasan yang kurang 4a 2 tepat Jika memilih satu cara salah dengan alasan yang tidak 1 tepat Memperkirakan Jika memperkirakan konsekuensi dari konsekuensi pemilihan menyebutkan tiga alternatif cara benar dengan 2 jawaban alasan yang tepat mengenai sistem Jika menyebutkan pernapasan dua cara benar hewan dengan 1 alasan 4 4b 3 yang tepat 168

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika menyebutkan satu cara benar dengan alasan yang 2 tidak tepat Jika tidak menyebutkan cara yang dan tepat 1 alasan tidak tepat Membuat Jika menuliskan satu kesimpulan kesimpulan dengan tentang 4 sistem 2 alasan yang tepat pernapasan Jika menuliskan satu hewan kesimpulan dengan 3 1 alasan yang tepat 4c Jika menuliskan satu kesimpulan dengan alasan yang tidak 2 tepat Tidak menuliskan jawaban dengan 1 benar 5. Mengeksplanasi Menjelaskan Jika menentukan pernyataan yang jawaban dengan tepat dari hasil benar analisis dan memberikan 4 2 alasan yang tepat Jika 5a menentukan jawaban benar dengan dan memberikan 3 1 alasan yang tepat 169

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika menentukan jawaban dengan benar namun alasan tidak tepat dan/ atau 2 memberikan jawaban tidak menuliskan jawaban hanya memberikan alasan singkat. Jika menentukan jawaban salah dengan dan tidak memberikan alasan 1 yang tepat atau tidak menuliskan jawaban. Menjelaskan Jika dapat alasan mengapa menyebutkan 3 cara mengambil dengan tepat. posisi/keputusan Jika tertentu menyebutkan 2 cara 4 dapat 3 dengan tepat. Jika dapat menyebutkan 1 cara 2 5b dengan tepat. Jika menyebutkan cara dengan tidak tepat atau tidak 1 menuliskan jawaban. Menjelaskan cara Jika yang dapat jawaban menentukan dengan 4 5c 170

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan untuk benar dan menyelesaikan memberikan 2 suatu alasan yang tepat permaslahan Jika menentukan jawaban dengan benar dan memberikan 3 1 alasan yang tepat Jika menentukan jawaban dengan benar namun alasan tidak tepat dan/ atau memberikan 2 jawaban tidak menuliskan jawaban hanya memberikan alasan singkat. Jika menentukan jawaban salah dengan dan tidak memberikan alasan 1 yang tepat atau tidak menuliskan jawaban. 6. Meregulasi Diri Membuat Jika menentukan penilaian diri jawaban terhadap gagasan benar sendiri. memberikan dengan dan 4 2 6a alasan yang tepat Jika jawaban benar menentukan dengan 3 dan 171

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memberikan 1 alasan yang tepat Jika menentukan jawaban dengan benar namun alasan tidak tepat dan/ atau memberikan 2 jawaban tidak menuliskan jawaban hanya memberikan alasan singkat. Jika menentukan jawaban salah dengan dan tidak memberikan alasan 1 yang tepat atau tidak menuliskan jawaban. Menilai kembali Jika dapat data-data yang menyebutkan 3 cara digunakan. dengan tepat. Jika 4 dapat menyebutkan 2 cara 3 dengan tepat. Jika 6b dapat menyebutkan 1 cara 2 dengan tepat. Jika menyebutkan cara dengan tidak 1 tepat. Menguji Jika pandangan jawaban menentukan dengan 4 6c 172

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sendiri terhadap benar dan pemasalahan memberikan menganai sistem alasan yang tepat pernapasan pada Jika hewan. jawaban 2 menentukan dengan benar dan memberikan 3 1 alasan yang tepat Jika menentukan jawaban dengan benar namun alasan tidak tepat dan/ atau memberikan 2 jawaban tidak menuliskan jawaban hanya memberikan alasan singkat. Jika menentukan jawaban salah dengan dan tidak 1 memberikan alasan yang tepat 173

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgment Variabel Interpretasi No Validator Saran Soal 1 2 3 Rerata 1a 3 3 3 3 Validator 1: Validator 2: Soal terlalu panjang, mungkin bisa dipermudah dengan tabel (Berdasarkan kasus disamping, bantulah Dayu untuk cara mengelompokkan bernapas dengan berikut). hewan mengisi Kata tabel tersebut dihilangkan saja karena sebelumnya tidak ada data nama-nama hewannya Validator 3: Mungkin lebih baik jika perintah disederhanakan dengan mengisi tabel 1b 3 4 4 3,7 Validator 1: Validator 2: Sudah baik Validator 3: - 1c 2 4 3 3 Validator 1: Validator 2: Sudah baik Validator 3: Kalau dengan bahasa sendiri itu kalimat perintahnya “jelaskan” bukan “sebutkan” Analisis 2a 3 4 1 2,7 Validator 1: Validator 2: Sudah baik 174

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Validator 3: Belum sesuai indikator, dalam indikator tertulis alat pernapasan pada kuda dan lumbalumba 2b 3 4 4 3,7 Validator 1: Validator 2: Sudah baik Validator 3: - 2c 3 3 4 3,3 Validator 1: Validator 2: Sudah baik, mungkin lebih baik setelah kata sebaliknya dan selain itu diberi koma Validator 3: - Mengevaluasi 3a 3 3 3 3 Validator 1: Validator 2: Sudah baik, masalah penulisan sebelum dan diberi koma. Kata bernapas setelah unggas dihilangkan Validator 3: 3b 2 4 3 3 Validator salah/benar 1: Jika kemudian jelaskan alasanmu Validator 2: Sudah baik Validator 3: Kata organ sebaiknya diganti alat 3c 2 4 4 3,3 Validator 1: Buat kalimat soal yang lebih efektif Validator 2: Sudah baik Validator 3: - 4a 3 4 4 3,7 Validator 1: - 175

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menarik Validator 2: Sudah baik kesimpulan Validator 3: 4b 2 3 2 2,3 Validator 1: Soal masih membingungkan Validator 2: Sudah baik, masalah penulisan kata menggunakan setelah insang bisa diganti melalui Validator 3: Bisakah perintahnya disederhanakan, supaya lebih mudah dipahami anak 4c 2 4 3 3 Validator 1: Overlap dengan soal 4b Validator 2: Sudah baik Validator 3: Mengeksplanasi 5a 3 4 2 3 Validator 1: Validator 2: Sudah baik, mungkin supaya lebih kontekstual kata danau diganti dengan kolam saja Validator 3: Carikan ilustrasi cerita yang lain, yang tidak terlalu kejam. Misal tidak sengaja menjatuhkan akuarium, sehingga ikan yang terjatuh lemas dan mati 5b 3 4 2 3 Validator 1: Validator 2: Sudah baik, tanda baca seru di akhir 176

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Validator 3: 5c 3 4 2 3 Validator 1: Validator 2: Sudah baik Validator 3: - Meregulasi diri 6a 3 4 4 3,7 Validator 1: Validator 2: Sudah baik Validator 3: - 6b 3 4 4 3,7 Validator 1: Validator 2: Sudah baik Validator 3: - 6c 3 3 4 3,3 Validator 1: Validator 2: Baik tetapi intinya sama dengan pertanyaan 6a Validator 3: Jumlah 49 67 56 57,3 Layak untuk diimplementasikan dengan revisi sedikit. 177

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.5 Hasil Uji Validitas oleh Expert Judgment 3.5.1 Hasil Uji Validitas oleh Dosen 178

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.2 Hasil Uji Validitas oleh Guru 1 181

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.3 Hasil Uji Validitas oleh Guru 2 185

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.5 Tabulasi Hasil Rekapan Data Uji Empiris Total 16 20 11 21 13 15 19 12 13 8 13 14 15 12 14 10 10 11 11 13 19 15 6 19 6 8 10 10 6 6 12 12 7 8 14 6 6 15 12 6 12 22 12 9 6 14 14 14 14 11 11 18 19 11 13 22 14 11 18 7 a 3 2 1 4 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 3 1 3 3 2 1 3 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 2 4 1 2 1 4 4 4 1 2 1 2 3 2 2 4 2 3 4 2 5 b 4 4 2 2 3 3 4 2 3 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 1 3 1 1 2 3 1 1 2 2 2 1 3 1 1 3 2 1 2 4 2 2 1 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 4 2 3 3 1 c 2 3 2 4 2 2 3 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 3 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 2 4 2 1 1 2 2 2 2 3 2 4 4 2 2 3 1 2 4 1 a 3 4 2 4 1 4 2 2 2 1 1 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 1 4 1 2 3 1 1 1 2 2 1 2 3 1 1 2 2 1 2 4 2 2 1 2 2 2 3 2 1 2 3 1 2 4 4 1 2 1 6 b 3 4 2 4 2 1 4 1 3 1 3 2 2 2 3 2 2 2 2 3 4 2 1 3 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 3 1 1 3 2 1 2 3 3 1 1 2 2 2 4 1 3 3 4 2 3 4 3 1 2 1 c 1 3 2 3 2 2 3 2 1 1 2 2 3 1 2 1 1 1 2 1 4 3 1 3 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 3 2 1 2 3 2 1 1 2 2 2 2 1 2 4 2 2 2 3 2 1 3 1 189

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.6 Hasil Analisis Uji Validias setiap Item Soal Correlations Total Total Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item5a Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item5b Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item5c Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item6a Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item6b Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item6c Pearson Correlation Sig. (2tailed) N item5a item5b item5c item6a item6b item6c ,653** ,705** ,826** ,749** ,753** ,820** ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 62 62 62 62 62 62 60 ,653** 1 ,542** ,589** ,401** ,365** ,456** ,000 ,000 ,001 ,003 ,000 1 ,000 62 62 62 62 62 62 60 ,705** ,542** 1 ,629** ,551** ,595** ,572** ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 62 62 62 62 62 62 60 ,826** ,589** ,629** 1 ,518** ,633** ,695** ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 62 62 62 62 62 62 60 ,749** ,401** ,551** ,518** 1 ,590** ,548** ,000 ,001 ,000 ,000 ,000 ,000 62 62 62 62 62 62 60 ,753** ,365** ,595** ,633** ,590** 1 ,660** ,000 ,003 ,000 ,000 ,000 62 62 62 62 62 62 60 ,820** ,456** ,572** ,695** ,548** ,660** 1 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 60 60 60 60 60 60 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). ,000 60 190

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.6 Hasil Analisis SPSS Uji Relisbilitas Case Processing Summary N Cases Valid Excluded a Total % 60 96,8 2 3,2 62 100,0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,876 6 191

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol dan Eksperimen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 x̅ Pretest Indikator 1 2 3 1 3 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 2 1 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 1 1 1 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 1 2 1 1 1 2 2 2 2 3 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 1 3 x̅ 1,67 1,33 1,33 1,00 1,67 1,33 1,00 1,33 1,67 1,33 1,00 1,00 1,67 1,67 2,00 1,33 2,00 1,00 2,33 2,33 2,33 1,67 1,00 2,00 2,00 1,67 1,00 2,00 1,67 1,56 Kelompok Kontrol Posttest1 Posttest2 Selisih Indikator Indikator x̅ x̅ 1 2 3 1 2 3 1 2 2 1,67 0,00 1 2 2 1,67 3 1 2 2,00 0,67 2 2 3 2,33 2 1 1 1,33 0,00 1 1 1 1,00 1 1 1 1,00 0,00 1 1 1 1,00 2 1 3 2,00 0,33 2 3 2 2,33 2 2 2 2,00 0,67 1 1 1 1,00 1 1 2 1,33 0,33 1 1 1 1,00 2 2 1 1,67 0,33 1 2 2 1,67 2 2 2 2,00 0,33 3 2 2 2,33 2 1 1 1,33 0,00 2 2 2 2,00 2 2 2 2,00 1,00 2 1 2 1,67 1 2 1 1,33 0,33 1 1 1 1,00 2 2 1 1,67 0,00 1 1 1 1,00 2 3 2 2,33 0,67 3 2 2 2,33 1 2 2 1,67 -0,33 2 3 2 2,33 1 1 2 1,33 0,00 1 1 1 1,00 3 2 2 2,33 0,33 2 2 2 2,00 2 2 1 1,67 0,67 1 2 1 1,33 3 1 2 2,00 -0,33 1 3 2 2,00 3 3 2 2,67 0,33 2 3 2 2,33 2 2 2 2,00 -0,33 1 1 1 1,00 4 3 3 3,33 1,67 2 1 2 1,67 2 1 1 1,33 0,33 1 1 1 1,00 2 1 2 1,67 -0,33 3 1 2 2,00 1 2 1 1,33 -0,67 1 2 1 1,33 3 2 2 2,33 0,67 2 2 2 2,00 3 1 2 2,00 1,00 3 2 2 2,33 1 2 1 1,33 -0,67 2 1 2 1,67 2 3 2 2,33 0,67 1 1 2 1,33 1,80 0,24 1,61 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Pretest Indikator 1 2 3 2 1 2 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 3 2 1 1 2 2 3 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 3 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 2 2 2 4 2 3 2 1 2 1 1 1 3 1 3 2 3 2 Kelompok Eksperimen Posttest1 Posttest2 Selisih Indikator Indikator x̅ x̅ x̅ 1 2 3 1 2 3 1,67 2 3 1 2,00 0,33 2 3 2 2,33 1,33 3 2 3 2,67 1,33 3 1 2 2,00 1,67 1 3 2 2,00 0,33 1 2 2 1,67 1,67 1 1 2 1,33 -0,33 3 1 2 2,00 1,00 2 2 1 1,67 0,67 1 3 2 2,00 1,00 1 1 3 1,67 0,67 2 1 2 1,67 1,00 1 2 2 1,67 0,67 1 1 1 1,00 1,33 2 4 3 3,00 1,67 3 2 2 2,33 1,00 2 2 3 2,33 1,33 3 2 2 2,33 1,00 3 2 2 2,33 1,33 3 3 1 2,33 2,00 2 2 2 2,00 0,00 2 3 2 2,33 1,33 3 1 2 2,00 0,67 3 1 2 2,00 2,00 3 3 3 3,00 1,00 3 2 2 2,33 2,33 3 2 2 2,33 0,00 3 2 2 2,33 1,33 3 4 2 3,00 1,67 2 2 2 2,00 2,33 1 2 3 2,00 -0,33 2 2 4 2,67 1,67 3 1 4 2,67 1,00 2 4 3 3,00 1,67 2 3 3 2,67 1,00 2 3 3 2,67 1,00 2 2 1 1,67 0,67 2 2 3 2,33 1,00 3 3 2 2,67 1,67 3 1 3 2,33 2,67 2 2 3 2,33 -0,33 3 3 2 2,67 2,00 4 2 3 3,00 1,00 3 3 3 3,00 2,33 2 1 2 1,67 -0,67 3 2 2 2,33 2,67 1 3 4 2,67 0,00 2 4 4 3,33 2,00 2 3 2 2,33 0,33 2 2 2 2,00 3,00 2 3 3 2,67 -0,33 2 2 2 2,00 1,67 3 2 2 2,33 0,67 2 2 2 2,00 1,00 2 3 2 2,33 1,33 2 3 3 2,67 2,33 2 2 2 2,00 -0,33 3 2 2 2,33 2,33 3 3 3 3,00 0,67 3 2 2 2,33 1,64 2,27 0,63 2,28 192

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.2 Tabulasi Nilai Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol dan Eksperimen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 x̅ Pretest Indikator 1 2 3 1 1 1 2 1 1 1 1 3 1 1 1 3 2 3 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 1 1 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 2 1 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 1 1 2 2 1 2 x̅ 1,00 1,33 1,67 1,00 2,67 1,33 1,33 2,00 2,00 1,67 1,67 1,67 1,00 1,67 2,00 2,00 2,33 2,00 2,67 2,00 1,67 2,67 1,67 2,33 2,00 2,33 2,00 1,33 1,67 1,81 Kelompok Kontrol Posttest1 Posttest2 Selisih Indikator Indikator x̅ x̅ 1 2 3 1 2 3 1 2 1 1,33 0,33 2 1 1 1,33 2 1 3 2,00 0,67 2 2 2 2,00 3 3 1 2,33 0,67 1 1 1 1,00 1 1 2 1,33 0,33 1 1 1 1,00 1 3 1 1,67 -1,00 2 2 2 2,00 1 1 2 1,33 0,00 2 1 1 1,33 3 1 3 2,33 1,00 1 1 1 1,00 1 3 1 1,67 -0,33 2 1 2 1,67 1 2 3 2,00 0,00 1 1 2 1,33 2 1 2 1,67 0,00 2 1 2 1,67 3 3 1 2,33 0,67 1 2 2 1,67 1 1 3 1,67 0,00 1 1 1 1,00 3 1 2 2,00 1,00 1 1 1 1,00 2 3 1 2,00 0,33 2 2 3 2,33 1 1 2 1,33 -0,67 2 2 1 1,67 2 2 2 2,00 0,00 2 2 2 2,00 2 1 2 1,67 -0,67 2 2 2 2,00 3 1 3 2,33 0,33 2 2 2 2,00 3 3 3 3,00 0,33 1 1 1 1,00 2 3 2 2,33 0,33 2 2 2 2,00 2 1 2 1,67 0,00 1 1 1 1,00 2 3 2 2,33 -0,33 3 2 2 2,33 1 3 2 2,00 0,33 1 1 2 1,33 2 2 1 1,67 -0,67 1 2 1 1,33 1 1 2 1,33 -0,67 2 1 2 1,67 2 3 1 2,00 -0,33 2 2 3 2,33 1 1 2 1,33 -0,67 2 3 2 2,33 3 2 2 2,33 1,00 2 2 1 1,67 2 3 1 2,00 0,33 1 2 2 1,67 1,89 0,08 1,55 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Pretest Indikator 1 2 3 2 2 2 2 3 2 1 3 1 1 1 3 1 2 2 2 3 2 1 1 2 2 1 2 1 2 3 1 2 1 2 2 3 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 3 2 1 3 2 2 1 3 2 2 1 2 2 2 2 2 3 2 2 1 2 4 3 2 2 2 1 3 1 2 2 1 1 3 1 2 3 3 1 2 2 3 3 3 1 Kelompok Eksperimen Posttest1 Posttest2 Selisih Indikator Indikator x̅ x̅ x̅ 1 2 3 1 2 3 2,00 2 1 2 1,67 -0,33 2 2 2 2,00 2,33 1 1 2 1,33 -1,00 1 2 2 1,67 1,67 2 4 2 2,67 1,00 2 2 2 2,00 1,67 2 1 2 1,67 0,00 2 1 2 1,67 1,67 2 3 1 2,00 0,33 1 1 1 1,00 2,33 2 1 2 1,67 -0,67 2 1 1 1,33 1,33 3 1 1 1,67 0,33 2 2 2 2,00 1,67 2 3 2 2,33 0,67 3 2 2 2,33 2,00 4 2 3 3,00 1,00 3 2 3 2,67 1,33 3 2 3 2,67 1,33 2 1 2 1,67 2,33 2 2 2 2,00 -0,33 3 3 2 2,67 1,67 2 1 1 1,33 -0,33 1 2 2 1,67 2,00 4 2 3 3,00 1,00 2 2 3 2,33 2,00 2 2 2 2,00 0,00 2 2 2 2,00 1,33 2 1 2 1,67 0,33 2 2 2 2,00 2,00 3 3 4 3,33 1,33 2 2 2 2,00 2,33 2 2 3 2,33 0,00 3 3 3 3,00 2,00 2 2 2 2,00 0,00 2 2 2 2,00 1,67 2 2 1 1,67 0,00 3 2 3 2,67 2,00 3 3 3 3,00 1,00 1 2 3 2,00 2,33 3 2 2 2,33 0,00 2 4 3 3,00 1,67 1 3 4 2,67 1,00 3 2 3 2,67 3,00 2 2 2 2,00 -1,00 1 3 2 2,00 1,67 3 2 2 2,33 0,67 3 2 4 3,00 2,00 2 3 2 2,33 0,33 2 2 3 2,33 1,33 3 1 3 2,33 1,00 3 3 3 3,00 2,00 2 1 2 1,67 -0,33 2 2 2 2,00 2,33 1 3 2 2,00 -0,33 1 2 2 1,67 2,33 3 2 2 2,33 0,00 3 3 1 2,33 2,33 3 3 3 3,00 0,67 3 3 2 2,67 1,92 2,19 0,27 2,15 193

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.3 Hasil SPSS Deskriptif Statistik 4.3.1 Kemampuan Mengeksplanasi Descriptives PlanKonPre Statistic 1,5631 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 1,3967 Upper Bound 1,7295 5% Trimmed Mean 1,5518 Median 1,6700 Variance ,191 Std. Deviation PlanKonPost1 ,43735 Minimum 1,00 Maximum 2,33 Range 1,33 Interquartile Range ,84 Skewness ,208 ,434 Kurtosis -1,001 ,845 Mean 1,8269 ,09304 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 1,6363 Upper Bound 2,0175 5% Trimmed Mean 1,7950 Median 1,6700 Variance ,251 Std. Deviation PlanKonSel Std. Error ,08121 ,50104 Minimum 1,00 Maximum 3,33 Range 2,33 Interquartile Range ,67 Skewness ,908 Kurtosis 1,448 ,845 Mean ,2645 ,09712 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound ,0656 Upper Bound ,4634 5% Trimmed Mean ,2499 Median ,3300 Variance ,274 Std. Deviation ,434 ,52298 Minimum -,67 Maximum 1,67 Range 2,34 Interquartile Range ,67 Skewness ,373 ,434 194

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kurtosis PlanKonPost2 Mean 95% Confidence Interval for Mean 1,4403 Upper Bound 1,8459 5% Trimmed Mean 1,6407 Median 1,6700 Variance ,284 ,53317 Minimum 1,00 Maximum 2,33 Range 1,33 Interquartile Range 1,17 Skewness ,003 ,434 Kurtosis -1,593 ,845 1,6897 ,11091 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 1,4625 Upper Bound 1,9169 5% Trimmed Mean 1,6609 Median 1,6700 Variance ,357 Std. Deviation PlanEksPost1 ,59729 Minimum 1,00 Maximum 3,00 Range 2,00 Interquartile Range 1,17 Skewness ,449 ,434 Kurtosis -,783 ,845 2,2648 ,08813 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 2,0843 Upper Bound 2,4453 5% Trimmed Mean 2,2701 Median 2,3300 Variance ,225 Std. Deviation PlanEksSel ,845 ,09901 Lower Bound Std. Deviation PlanEksPre ,616 1,6431 ,47458 Minimum 1,33 Maximum 3,00 Range 1,67 Interquartile Range ,67 Skewness -,003 ,434 Kurtosis -,947 ,845 ,5755 ,12693 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound ,3155 Upper Bound ,8355 195

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5% Trimmed Mean ,5780 Median ,6700 Variance ,467 Std. Deviation PlanEksPost2 ,68352 Minimum -,67 Maximum 1,67 Range 2,34 Interquartile Range 1,00 Skewness -,078 ,434 Kurtosis -1,009 ,845 Mean 2,3559 ,10580 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 2,1391 Upper Bound 2,5726 5% Trimmed Mean 2,3398 Median 2,3300 Variance ,325 Std. Deviation ,56977 Minimum 1,00 Maximum 4,00 Range 3,00 Interquartile Range ,67 Skewness ,580 ,434 Kurtosis 1,989 ,845 196

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.3.2 Kemampuan Meregulasi Diri Descriptives RegKonPre Mean 95% Confidence Interval for Mean ,08853 1,6352 Upper Bound 1,9979 1,8145 Median 1,6700 Variance ,227 ,47675 Minimum 1,00 Maximum 2,67 Range 1,67 Interquartile Range ,50 Skewness ,071 ,434 Kurtosis -,463 ,845 1,8959 ,07771 Mean Lower Bound 1,7367 Upper Bound 2,0550 5% Trimmed Mean 1,8775 Median 2,0000 Variance ,175 Std. Deviation ,41848 Minimum 1,33 Maximum 3,00 Range 1,67 Interquartile Range ,66 Skewness ,398 ,434 Kurtosis ,069 ,845 ,0797 ,10294 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound -,1312 Upper Bound ,2905 5% Trimmed Mean ,0828 Median 0,0000 Variance ,307 Std. Deviation RegKonPost2 1,8166 5% Trimmed Mean 95% Confidence Interval for Mean RegKonSel Std. Error Lower Bound Std. Deviation RegKonPost1 Statistic ,55437 Minimum -1,00 Maximum 1,00 Range 2,00 Interquartile Range ,66 Skewness -,111 ,434 Kurtosis -,740 ,845 1,6090 ,08602 Mean 197

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 1,4328 Upper Bound 1,7852 5% Trimmed Mean 1,6027 Median 1,6700 Variance ,215 Std. Deviation RegEksPre ,46322 Minimum 1,00 Maximum 2,33 Range 1,33 Interquartile Range ,84 Skewness ,066 ,434 Kurtosis -1,222 ,845 1,9307 ,07268 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 1,7818 Upper Bound 2,0796 5% Trimmed Mean 1,9162 Median 2,0000 Variance ,153 Std. Deviation RegEksPost1 ,39142 Minimum 1,33 Maximum 3,00 Range 1,67 Interquartile Range ,66 Skewness ,424 ,434 Kurtosis ,503 ,845 2,1724 ,09723 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 1,9733 Upper Bound 2,3716 5% Trimmed Mean 2,1606 Median 2,0000 Variance ,274 Std. Deviation RegEksSel ,52358 Minimum 1,33 Maximum 3,33 Range 2,00 Interquartile Range ,83 Skewness ,410 ,434 Kurtosis -,494 ,845 ,2414 ,12245 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound -,0094 Upper Bound ,4922 5% Trimmed Mean ,2499 Median 0,0000 198

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Variance ,435 Std. Deviation RegEksPost2 ,65941 Minimum -1,00 Maximum 1,33 Range 2,33 Interquartile Range 1,33 Skewness -,034 ,434 Kurtosis -,808 ,845 2,2876 ,10684 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 2,0687 Upper Bound 2,5064 5% Trimmed Mean 2,2955 Median 2,0000 Variance ,331 Std. Deviation ,57534 Minimum 1,00 Maximum 3,33 Range 2,33 Interquartile Range ,67 Skewness ,045 ,434 Kurtosis -,336 ,845 199

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Normalitas Data 4.4.1 Kemampuan Mengeksplanasi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test PlanKonPre N Normal Mean Parameters a,b Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed) PlanKonPost1 PlanKonSel PlanKonPost2 PlanEksPre PlanEksPost1 PlanEksSel PlanEksPo st2 29 29 29 29 30 30 30 30 1,5631 1,8269 ,2645 1,6431 1,7110 2,3003 ,5897 2,2770 ,43735 ,50104 ,52298 ,53317 ,59844 ,48220 ,68162 ,44672 ,151 ,158 ,140 ,196 ,149 ,145 ,147 ,219 ,151 ,158 ,140 ,196 ,149 ,133 ,111 ,219 -,148 -,126 -,136 -,162 -,117 -,145 -,147 -,181 ,151 ,158 ,140 ,196 ,149 ,145 ,147 ,219 c c c c c c c ,001c ,088 ,062 ,154 ,006 ,086 ,108 ,097 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. 200

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.2 Kemampuan Meregulasi Diri One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test RegKonPre RegKonPost1 RegKonSel RegKonPost2 RegEksPre N Normal Mean Parameters a,b Std. Deviation Most Absolute Extreme Positive Differences Negative RegEksPost1 RegEksSel RegEksPost2 29 29 29 29 30 30 30 30 1,8166 1,8959 ,0797 1,6090 1,9440 2,2000 ,2557 2,1783 ,47675 ,41848 ,55437 ,46322 ,39146 ,53621 ,65265 ,51593 ,143 ,154 ,157 ,147 ,158 ,145 ,152 ,202 ,143 ,154 ,119 ,147 ,158 ,145 ,152 ,202 -,138 -,150 -,157 -,146 -,157 -,099 -,140 -,131 Test Statistic ,143 ,154 ,157 ,147 ,158 ,145 ,152 ,202 Asymp. Sig. (2-tailed) ,133c ,078c ,066c ,110c ,054c ,106c ,073c ,003c a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. 201

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.5 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Perbedaan Kemampuan Awal 4.5.1 Kemampuan Mengeksplanasi Group Statistics Kelompok PlanKonEksPre N Mean Eksplanasi Kontrol Pretest 29 1,5631 ,43735 ,08121 Eksplanasi Kontrol Pretest 30 1,7110 ,59844 ,10926 Levene's Test for Equality of Variances PlanKonEk Equal sPre variances assumed Equal variances not assumed Std. Error Mean Std. Deviation Independent Samples Test t-test for Equality of Means Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper F Sig. t df Sig. (2tailed) 3,180 ,080 -1,081 57 ,284 -,14790 ,13685 -,42194 ,12615 -1,086 53,108 ,282 -,14790 ,13614 -,42094 ,12515 202

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.5.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics Kelompok RegKonEksPre N Mean Regulasi Kontrol Pretest 29 1,8166 ,47675 ,08853 REgulasi Eksperimen Pretest 30 1,9440 ,39146 ,07147 Levene's Test for Equality of Variances F RegKonEk Equal sPre variances assumed Equal variances not assumed 1,266 Std. Error Mean Std. Deviation Sig. ,265 Independent Samples Test t-test for Equality of Means t Sig. (2tailed) df Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper -1,124 57 ,266 -,12745 ,11340 -,35452 ,09963 -1,120 54,173 ,268 -,12745 ,11378 -,35555 ,10065 203

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.6 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal 4.6.1 Kemampuan Mengeksplanasi Group Statistics Kelompok PlanKonEksPre N Mean Eksplanasi Kontrol Pretest 29 1,5631 ,43735 ,08121 Eksplanasi Kontrol Pretest 30 1,7110 ,59844 ,10926 Levene's Test for Equality of Variances PlanKonEk Equal sPre variances assumed Equal variances not assumed Std. Error Mean Std. Deviation Independent Samples Test t-test for Equality of Means Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper F Sig. t df Sig. (2tailed) 3,180 ,080 -1,081 57 ,284 -,14790 ,13685 -,42194 ,12615 -1,086 53,108 ,282 -,14790 ,13614 -,42094 ,12515 204

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.6.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics Kelompok RegKonEksPre N Mean Regulasi Kontrol Pretest 29 1,8166 ,47675 ,08853 REgulasi Eksperimen Pretest 30 1,9440 ,39146 ,07147 Levene's Test for Equality of Variances F RegKonEk Equal sPre variances assumed Equal variances not assumed 1,266 Std. Error Mean Std. Deviation Sig. ,265 Independent Samples Test t-test for Equality of Means t Sig. (2tailed) df Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper -1,124 57 ,266 -,12745 ,11340 -,35452 ,09963 -1,120 54,173 ,268 -,12745 ,11378 -,35555 ,10065 205

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.7 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Skor Kemampuan 4.7.1 Kemempuan Mengeksplanasi Group Statistics Kelompok PlanKonEk Eksplanasi sSel Kontrol Selisih Eksplanasi Eksperime n Selisih N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 29 ,2645 ,52298 ,09712 30 ,5787 ,67185 ,12266 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances PlanKonEk Equal sSel variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper F Sig. t df Sig. (2tailed) 2,704 ,106 -2,000 57 ,050 -,31418 ,15712 -,62880 ,00044 -2,008 54,551 ,050 -,31418 ,15645 -,62778 -,00059 206

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics Kelompok RegKonEk Regulasi sSel Kontrol Selisih Regulasi Eksperime n Selisih N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 29 ,0797 ,55437 ,10294 30 ,2557 ,65265 ,11916 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances RegKonEk Equal sSel variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper F Sig. t df Sig. (2tailed) 1,172 ,284 -1,115 57 ,270 -,17601 ,15791 -,49221 ,14019 -1,118 56,085 ,268 -,17601 ,15747 -,49144 ,13942 207

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.8 Hasil SPSS Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 4.8.1 Kemampuan Mengeksplanasi Group Statistics Kelompok PlanKonEk Eksplanasi sSel Kontrol Selisih Eksplanasi Eksperime n Selisih N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 29 ,2645 ,52298 ,09712 30 ,5787 ,67185 ,12266 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances PlanKonEk Equal sSel variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper F Sig. t df Sig. (2tailed) 2,704 ,106 -2,000 57 ,050 -,31418 ,15712 -,62880 ,00044 -2,008 54,551 ,050 -,31418 ,15645 -,62778 -,00059 208

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.8.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics Kelompok RegKonEk Regulasi sSel Kontrol Selisih Regulasi Eksperime n Selisih N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 29 ,0797 ,55437 ,10294 30 ,2557 ,65265 ,11916 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances RegKonEk Equal sSel variances assumed Equal variances not assumed t-test for Equality of Means Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper F Sig. t df Sig. (2tailed) 1,172 ,284 -1,115 57 ,270 -,17601 ,15791 -,49221 ,14019 -1,118 56,085 ,268 -,17601 ,15747 -,49144 ,13942 209

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.9 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan Effect size kemampuan Effect size kemampuan meregulasi diri mengeksplanasi adalah 𝑡2 r = √𝑡 2 +𝑑𝑓 r= √ r= √ −2,002 −2,002 +57 4,00 61,00 r = √0,06557377 r = 0,256 adalah 𝑡2 r = √𝑡 2 +𝑑𝑓 r= √ r= √ −1,1152 −1,1152 +57 1,243 58,243 r = √0,02134162 r = 0,146 Persentase pengaruh penerapan model Persentase pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS pembelajaran kooperatif tipe TPS untuk kemampuan mengeksplanasi: 𝑅2 = 𝑟 2 𝑅 2 = 0,2562 = 0,065 Persentase = 𝑅 2 x 100% = 0,065 x 100% = 6,5% untuk kemampuan meregulasi diri: 𝑅2 = 𝑟 2 𝑅 2 = 0,1462 = 0,021 Persentase = 𝑅 2 x 100% = 0,021 x 100% = 2,1% 210

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.10 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.10.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol Persentase = = = Persentase (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 −𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 (1,8269 −1,5631) 1,5631 0,2645 1,5631 Kelompok Eksperimen x 100% x 100% x 100% = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 −𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) = (2,2893 −1,7110) = 0,5787 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 1,7110 1,7110 x 100% x 100% x 100% = 0,1692 x 100% = 0,3382 x 100% = 16,95 % = 33,82 % Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol Persentase Persentase = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 −𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) = (1,8959 −1,8166) = 0,0797 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 1,8166 1,8166 Kelompok Eksperimen x 100% x 100% x 100% = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 −𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) = (2,2000 −1,9440) = 0,2557 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 1,9440 1,9440 x 100% x 100% x 100% = 0,0438 x 100% = 0,1315 x 100% = 4,38 % = 13,15 % 211

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2 Hasil SPSS Uji Signifikansi Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.10.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi Paired Samples Statistics Pair 1 Pair 2 PlanKonP ost1 PlanKonPr e PlanEksPo st1 PlanEksPre Mean N Std. Deviation Std. Error Mean 1,8269 29 ,50104 ,09304 1,5631 29 ,43735 ,08121 2,2893 30 ,48526 ,08860 1,7110 30 ,59844 ,10926 Paired Samples Correlations Pair 2 Correlation Sig. Pair 1 PlanKonPost1 & PlanKonPre 29 ,389 ,037 Pair 2 PlanEksPost1 & PlanEksPre 30 ,243 ,195 Mean Pair 1 N PlanKonPost1 PlanKonPre PlanEksPost1 PlanEksPre Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Std. Std. Error Interval of the Deviation Mean Lower Upper t df Sig. (2tailed) ,26379 ,52130 ,09680 ,06550 ,46208 2,725 28 ,011 ,57833 ,67249 ,12278 ,32722 ,82945 4,710 29 ,000 212

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2.2 Kemamapuan Meregulasi Diri Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean RegKonPost1 1,8959 29 ,41848 ,07771 RgKonPre 1,8166 29 ,47675 ,08853 RegEksPost1 2,2000 30 ,53621 ,09790 RegEksPre 1,9440 30 ,39146 ,07147 Pair 1 Pair 2 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 RegKonPost1 & RgKonPre 29 ,242 ,205 Pair 2 RegEksPost1 & RegEksPre 30 ,035 ,854 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 Pair 2 RegKonPo st1 RgKonPre RegEksPo st1 RegEksPre t df Sig. (2tailed) ,28963 ,772 28 ,446 ,49972 2,148 29 ,040 95% Confidence Interval of the Lower Upper Mean Std. Deviation Std. Error Mean ,07931 ,55292 ,10267 -,13101 ,25600 ,65270 ,11917 ,01228 213

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.3 Perhitungan Persentase Gain Score 4.10.3.1 Tabulasi dan Perhitungan Persentase Gain Score Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Gain Score f Gain Score f -0,67 2 -0,67 1 -0,33 4 -0,33 5 0 6 0 3 0,33 8 0,33 3 0,67 6 0,67 7 1 2 1 4 1,67 1 1,33 4 1,67 3 Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥ 0,67 adalah 9 siswa Frekuensi gain score ≥ 0,67 adalah 18 siswa Persentase Persentase 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% 9 = 29 x 100% = 0,3103448276 x 100% 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% = 18 30 x 100% = 0,6x 100% = 31,03442876% = 31% = 60% 214

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.3.2 Tabulasi dan Perhitungan Persentase Gain Score Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Eksperimen Gain Score f Kelompok Kontrol Gain Score f -1 1 -0,67 5 -0,33 3 0 6 0,33 8 0,67 3 1 3 -1 2 -0,67 1 -0,33 5 0 7 0,33 4 0,67 3 1 6 1,33 2 Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥ 0 adalah 20 siswa Frekuensi gain score ≥ 0 adalah 22 siswa Persentase Persentase = 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% 20 = 29 x 100% = 0,68965517 x 100% = 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% 22 = 30 x 100% = 0,73333x 100% = 68,965517% = 68,9% = 73% 215

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.11 Perhitungan Manual Besar Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol dan Eksperimen 4.11.1 Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol 𝑡2 r= √ 𝑡 2 +𝑑𝑓 r= √ 2,7252 2,7252 +28 r= √ 7,425 35,425 r = √0,209 Kelompok Eksperimen 𝑡2 r= √ 𝑡 2 +𝑑𝑓 r= √ 4,7312 4,7312 +29 r= √ 22,382 51,382 r = √0,435 r = 0,45 r = 0,659 R2= 20,25% R2= 43,4% R2 = 0,45 x 0,45 x 100% R2 = 0,659 x 0,659 x 100% 216

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.11.2 Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol 𝑡2 r = √𝑡 2 +𝑑𝑓 r= √ 0,7722 0,7722 +28 r= √ 0,595 28,595 r = √0,0208 Kelompok Eksperimen 𝑡2 r = √𝑡 2 +𝑑𝑓 r= √ 2,1482 2,1482 +29 r= √ 4,613 33,613 r = √0,137 r = 0,144 r = 0,37 R2= 2,07% R2= 13,6% R2 = 0,144 x 0,144 x 100% R2 = 0,37 x 0,37 x 100% 217

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.12 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest ke Posttest I 4.12.1 Kemampuan Mengeksplanasi Correlations PlanKonPre Pearson Correlation PlanKonPre PlanKonPost1 PlanEksPre PlanEksPost1 ,389* ,057 ,018 ,037 ,768 ,928 29 29 29 27 ,389* 1 ,145 ,091 ,452 ,652 1 Sig. (2-tailed) N PlanKonPost1 Pearson Correlation PlanEksPre Sig. (2-tailed) ,037 N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 29 29 29 27 ,057 ,145 1 -,127 ,768 ,452 29 29 30 27 ,018 ,091 -,127 1 ,928 ,652 ,529 N PlanEksPost1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 27 27 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). ,529 27 27 218

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2 Kemampuan Meregulasi Diri Correlations RegKonPre Pearson Correlation RegKonPre RegKonPost1 RegEksPre RegEksPost1 1 ,242 -,259 ,227 ,205 ,174 ,237 29 29 29 29 ,242 1 ,028 ,212 ,886 ,269 Sig. (2-tailed) N RegKonPost1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N RegEksPre Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N RegEksPost1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N ,205 29 29 29 29 -,259 ,028 1 ,035 ,174 ,886 29 29 30 30 ,227 ,212 ,035 1 ,237 ,269 ,854 29 29 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). ,854 30 30 219

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.13 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan 4.13.1 Posttest I ke Posttest II 4.13.1.1 Kemampuan Mengeksplanasi 1. Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II Ranks Negative Ranks PlanKonPos1 - Positive Ranks PlanKonPost2 Ties N Mean Rank Sum of Ranks 8a 10,69 85,50 15b 12,70 190,50 12d 9,88 118,50 11e 14,32 157,50 c 6 29 Total Negative Ranks PlanEksPost1 - Positive Ranks PlanEksPost2 Ties f 7 30 Total Test Statistics a PlanKonPos1 - PlanKonPost2 PlanEksPost1 - PlanEksPost2 -1,632b -,599b ,103 ,549 Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on negative ranks. 2. Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Persentase Penurunan Rerata Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Persentase Persentase = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 −𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) = (1,6431 −1,8269) = 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 1,8269 −0,1838 1,8269 Kelompok Eksperimen x 100% x 100% x 100% = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 −𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) = (2,2770 −23003) = 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 2,3003 −0,0233 2,3003 x 100% x 100% x 100% = -0,1006 x 100% = -0,0101 x 100% = -10,06 % = -1,01 % 220

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.1.2 Kemampuan Meregulasi Diri 1. Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II a. Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics RegKonPost2 Pair 1 RegKonPost1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean 1,6090 29 ,46322 ,08602 1,8959 29 ,41848 ,07771 Paired Samples Correlations RegKonPost2 & RegKonPost1 Pair 1 N Correlation Sig. 29 -,011 ,953 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 RegKonPost2 RegKonPost1 Mean Std. Deviation Std. Error Mean -,28690 ,62780 ,11658 95% Confidence Interval of the Lower Upper -,52570 -,04810 t df Sig. (2tailed) -2,461 28 ,020 b. Kelompok Eksperimen Ranks 12a Mean Rank 10,29 Sum of Ranks 123,50 10b 12,95 129,50 N RegEksPost1 - Negative Ranks RegEksPost2 Positive Ranks Ties c 8 30 Total a. RegEksPost1 < RegEksPost2 b. RegEksPost1 > RegEksPost2 c. RegEksPost1 = RegEksPost2 Test Statistics a RegEksPost1 RegEksPost2 Z Asymp. Sig. (2-tailed) -,098b ,922 a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on negative ranks. 221

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Persentase Penurunan Rerata Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Persentase = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 −𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) = (1,6090 −1,8959) = 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 1,8959 −0,1512 1,8959 x 100% x 100% x 100% Kelompok Eksperimen Persentase = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 −𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) = (2,1783 −2,2000) = 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 2,2000 −0,0217 2,2000 x 100% x 100% x 100% = -0,1512 x 100% = -0,009 x 100% = -15,12 % = -0,9 % 222

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.13.2 Pretest dan Posttest II 4.13.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi 1. Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II a. Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics RegKonPost2 Pair 1 RegKonPre Mean N Std. Deviation Std. Error Mean 1,6090 29 ,46322 ,08602 1,8166 29 ,47675 ,08853 Paired Samples Correlations Pair 1 RegKonPost2 & RegKonPre N Correlation Sig. 29 ,452 ,014 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 RegKonPost2 RegKonPre Mean Std. Deviation Std. Error Mean -,20759 ,49198 ,09136 95% Confidence Interval of the Lower Upper -,39473 -,02045 t df Sig. (2tailed) -2,272 28 ,031 b. Kelompok Eksperimen Ranks RegEksPre RegEksPost2 Negative Ranks Positive Ranks Ties N Mean Rank Sum of Ranks 16a 10,47 167,50 5b 12,70 63,50 9c 30 Total a. RegEksPre < RegEksPost2 b. RegEksPre > RegEksPost2 c. RegEksPre = RegEksPost2 Test Statistics a RegEksPre RegEksPost2 Z -1,815b Asymp. Sig. (2-tailed) ,069 a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on positive ranks. 223

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Pretest ke Posttest II Persentase Penurunan Rerata Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Persentase = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 −𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) = (1,6090 −1,8166) = 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 1,8166 −0,2076 1,8166 x 100% x 100% x 100% Kelompok Eksperimen Persentase = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼 −𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼) = (2,1783 −1,9440) = 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 1,9440 0,1843 1,9440 x 100% x 100% x 100% = -0,1142 x 100% = 0,0924 x 100% = -11,42 % = 9,24% 224

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.14 Pekerjaan Siswa 4.14.1 Pretest Siswa 225

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 226

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 227

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 228

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 229

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 230

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.14.2 Posttest Siswa 231

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 232

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 233

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 234

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 235

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 236

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.1 Foto-foto Kegiatan Penelitian Kelas Kontrol Kelas Eksperimen 237

(255) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 238

(256) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.2 Surat Melakukan Penelitian 239

(257) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Halimah Dwi Cahyani merupakan anak kedua dari pasangan suami istri Sukardi dan Tumini. Lahir di Kulon Progo pada tanggal 8 Desember 1996. Pendidikan dimulai dari TK ABA Boro pada tahun 2000 sampai dengan 2003 kemudian pendidikan dilanjutkan di Sekolah Dasar Muhammadiyah Bedoyo pada tahun 2003 sampai dengan 2009. Peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Srandakan pada tahun 2009 sampai dengan 2012. Peneliti kemudian menempuh pendidikan di Sekolah Menegah Atas Negeri 2 Wates pada tahun 2012-2015. Peneliti melanjutkan pendidikan di Universitas Sanata Dharma pada jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar tahun 2015. Selama menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma, banyak kegiatan kemahasiswaan yang telah diikuti. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya sebagai berikut. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Kegiatan Inisiasi Universitas Sanata Dharma (Insadha) Inisiasi Fakultas (Infisa) Inisiasi Program Studi (Insipro) Kursus Mahir Dasar (KMD) Weekend Moral English Club Program Pelatihan Pengembangan Kepribadian I (PPKM I) Pelatihan Pengembangan Kepribadian II (PPKM II) Kuliah Umum PGSD “Masa Depan Toleransi di Tangan Guru” Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) Tahun Peran 2015 Peserta 2015 2015 2015 2016 2015-2016 Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta 2015 Peserta 2016 Peserta 2016 Peserta 2017 Peserta 11 Inisiasi Program Studi (Insipro) 2016 12 Inisiasi Program Studi (Insipro) 2017 13 Komisi Pemilihan Umum PGSD Pelatihan Model-model Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Sama dan Kemampuan Berpikir sesuai Taksonomi Bloom. Penguasaan Bahasa Inggris Aktif 2017 Koordinator Divisi Dampok Koordinator Divisi Usaha Dana Bendahara 2018 Pembicara 2018 Peserta 14 15 240

(258)

Dokumen baru

Download (257 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe FSLC (Formulate-Share-Listen-Create) terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa
14
26
186
Peningkatan kemampuan membaca permulaan Melalui model pembelajaran kooperatif Pada siswa kelas 1 Sekolah Dasar
0
2
88
Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas viii mts negeri kisaran t.a 2016 2017 - Repository UIN Sumatera Utara
0
1
198
Analisis model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)pada materi sistem pencernaan terhadap siswa kelas VIII SMPN-2 Kahayan Kuala Kabupaten Pulang Pisau - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
19
Analisis model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)pada materi sistem pencernaan terhadap siswa kelas VIII SMPN-2 Kahayan Kuala Kabupaten Pulang Pisau - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
1
25
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
0
250
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
0
193
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II - USD Repository
0
0
206
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
0
258
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV SD atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II - USD Repository
0
0
215
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II - USD Repository
0
0
260
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II - USD Repository
0
0
215
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
0
204
Perbedaan prestasi belajar siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
0
273
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II - USD Repository
0
0
249
Show more