LaPORAN PKL

Gratis

0
2
56
3 months ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN

  1.1. Latar Belakang Praktek Kerja Lapangan (PKL)

  Perguruan tinggi merupakan lembaga yang bertanggung jawab dalam mendidik anak bangsa menjadi pelaku pembangunan dimasa mendatang. Namun dengan berbagai keterbatasannya Perguruan tinggi hanya memprioritaskan pada pembekalan anak didiknya dengan ilmu dan sedikit keterampilan selama proses perkuliahan. Ilmu yang diberikan lebih banyak bertumpu pada teori-teori yang tentunya tidak selalu ideal dilapangan. Untuk mengurangi kesenjangan ini, maka kepada mahasiswa tingkat akhir diwajibkan mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL).

  Praktek Kerja Lapangan (PKL) wajib dilaksanakan oleh Mahasiswa karena didalamnya banyak didapat pengalaman-pengalaman lapangan sehingga akan menambah wawasan dan pengetahuan yang mungkin tidak didapat dalam perkuliahan di Kampus. Selain itu, Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan bentuk kuliah dimana Mahasiswa terjun langsung dilapangan. Diharapkan dengan melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Mahasiswa akan lebih banyak mengetahui seluk beluk proyek dan ilmu-ilmu lain di lapangan.

  1.2. Maksud dan Tujuan

  Praktek Kerja Lapangan (PKL) dimaksudkan agar Mahasiswa mampu menerapkan secara nyata dan jelas dari proses pelaksanaan konstruksi di lapangan dengan penerapan-penerapan teori-teori yang diperoleh pada bangku perkuliahan, sedangkan tujuannya adalah agar lulusan Perguruan tinggi khususnya sarjana Teknik Sipil mempunyai bekal lapangan yang cukup dalam memahami serta memecahkan persoalan yang dihadapi sesuai dengan disiplin ilmu yang diketahui. Adapun tujuan Khusus dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) di antaranya adalah sebagai berikut : 1) Sebagai persyaratan kurikulum perkuliahan yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa Fakultas Teknik Unram. 2) Mempersiapkan Sarjana Teknik Sipil yang siap pakai dalam melaksanakan

  Pembangunan Nasional di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. 3) Mengenalkan kepada Mahasiswa mengenai sistem pelaksanaan suatu proyek konstruksi di lapangan.

  1.3. Lingkup Bahasan

  Karena banyaknya pekerjaan yang ada di lapangan dan terbatasnya waktu yang tersedia, adapun materi Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang wajib dipahami dan dipelajari serta dilaporkan adalah sebagai berikut :

  a. Pekerjaan Pondasi

  b. Pekerjaan Kolom dan Balok

  c. Review Design dan Anggaran Biaya untuk Struktur

  d. Rencana Kerja

  1.4. Deskipsi Proyek

  Data-data lengkap pembangunan perumahan griya kebon sajiq sebagai berikut : Nama Proyek : Pembangunan Perumahan Griya Kebon Sajiq Lokasi Proyek : Jln. AA Gede Ngurah No. 140 Blok B. 10 Pemilik Proyek : I Gusti Nyoman Artha S.H. Biaya Proyek (keseluruhan) : Rp. 1.100.000.000,00

1.5. Lokasi Proyek

  Proyek Pembangunan Perumahan Griya Kebon Sajiq bertempat di Jln. AA Gede Ngurah No. 140 Blok B.10 Abian Tubuh NTB.

Gambar 1.1 Denah Lokasi Praktek Kerja Lapangan

BAB II ORGANISASI PELAKSANAAN PROYEK

2.1. Unsur-unsur Proyek

  Di dalam pelaksanaan pekerjaan agar dapat tercapainya sasaran yang efektif dalam pelaksanaan, diperlukan suatu organisasi yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan proyek tersebut. Organisasi proyek tersebut mempunyai fungsi dan peranan yang saling melengkapi di dalam penyelesaian proyek tersebut.

  Keuntungan yang didapat dengan adanya organisasi yang dibentuk, antara lain : a. Dapat membagi tugas antara masing-masing pelaksana.

  b. Koordinasi masing-masing unit kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

  c. Dapat menempatkan seseorang atau tenaga ahli sesuai dengan bidangnya.

  d. Sebagai sarana yang dapat digunakan pemimpin untuk mengawasi bawahannya.

  Organisasi adalah berupa kegiatan yang mengatur dan menyusun pelaksanaan pekerjaan termasuk mengatur dan menyusun hubungan kerja organisasi yang melibatkan unsur-unsur pembangunan yang terdiri dari : a. Pemilik Proyek.

  b. Konsultan perencana.

  c. Konsultan pengawas.

  d. Kontraktor.

PEMILIK PROYEK KONTRAKTOR KONSULTAN

Gambar 2.1. Hubungan Antar Unsur-unsur Proyek Pada sistem ini pemilik pada tahap perekayasan dan perancangan

  (Engineering Design) mengadakan ikatan kontrak dengan Konsultan

  Perencana. Pada tahap pelaksanaan (Construction) Pemilik mengadakan ikatan kontrak dengan pihak Kontraktor. Pada sistem ini Kontraktor seakan- akan bekerja sendiri- sendiri secara independen. Perencana menyelesaikan tugas-tugas perencanaanya sebelum Pemilik memilih Kontraktor Pelaksana. Setelah penentuan Kontraktor biasanya pemilik meminta perencana menjadi pengawas pelaksanaan peroyek atas nama pemilik.

  1. Hubungan kerja antara Pemberi tugas dan Kontraktor adalah hubungan kontraktual yang dituangkan dalam surat perjanjian kerja.

  2. Hubungan kerja antara Pemberi tugas dengan Konsultan adalah hubungan kontraktual yang dituangkan dalam surat perjanjian kerja.

  3. Hubungan kerja antara Konsultan dengan Kontraktor adalah hubungan fungsional dalam menjalankan ketentuan tugas dan tanggung jawab masing-masing sebagaimana telah tertuang dalam dokumen pelaksanaan.

2.2 Hubungan Kerja Unsur-unsur Proyek

   Pemilik Proyek Pemilik Proyek adalah badan atau pejabat yang memberikan suatu pekerjaan dan menanggung semua biaya dari pekerjaan tersebut. Pemilik proyek dapat berupa perorangan maupun instansi baik pemerintah maupun swasta. Pada pekerjaan Pembangunan Perumahan Griya Kebon Sajiq.

  Pemilik proyek memiliki kewajiban antara lain :

  1. Bertanggung jawab atas tercapainya seluruh sasaran proyek yang dikelolanya.

  2. Memimpin seluruh staf proyek dan bersama–sama melaksanakan kegiatan sesuai dengan ketentuan, prosedur dan jadwal yang telah ditetapkan.

  3. Bersama bendahara menyediakan, mengelola dan bertanggung jawab terhadap keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

  4. Menyetujui berita acara lainnya yang dibuat oleh Konsultan Pengawas.

  5. Mengadakan koordinasi dan memberikan pengarahan terhadap pelaksanaan proyek dalam kegiatan sehari–hari.

  6. Menyampaikan informasi mengenai hambatan yang dihadapi melalui jalur utusan langsung guna mendapatkan petunjuk penyelesaian masalah. Wewenang Pemilik Proyek adalah :

  1. Mengambil tindakan yang menyebabkan pengeluaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan untuk masing – masing tolak ukur dan dalam batas – batas yang sesuai dengan jenis pengeluaran dan pedoman pelaksanaan kegiatan.

  2. Mengadakan hubungan kerja dan kerjasama dengan instansi – instansi lainnya baik pusat maupun daerah menurut keperluannya, termasuk pembuatan kontrak kerja.

  3. Mengatur tata kerja proyek yang terperinci dalam suatu pedoman kerja sebagai petunjuk dalam pelaksanaan tugas sehari – hari dengan memperhatikan petunjuk yang ditetapkan Departemen atau Lembaga yang berada diatasnya.

   Konsultan Konsultan adalah badan hukum yang diserahkan tugas oleh pimpinan pelaksana kegiatan untuk melaksanakan pekerjaan pengawasan, antara lain :

  Kegiatan Konsultan selama kontrak berjalan adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan pengawasan kualitas dan kuantitas pada pelaksanaan kontruksi.

  2. Inspeksi ke lapangan dapat diadakan bersama atau sendiri – sendiri.

  3. Rapat bulanan/rapat koordinasi untuk evaluasi program diadakan secara berkala oleh tiga pihak dan dibuatkan berita acaranya.

  4. Surat menyurat dari Pimpinan Pelaksana Kegiatan ke kontraktor maupun sebaliknya, melakukan perhitungan perubahan nilai kontrak (Amandemen Contract) dan eskalasi kontak berupa berita acara yang ditandatangani oleh tiga pihak, bila diperlukan.

  5. Setiap tagihan (termyn) kontraktor berdasarkan kemajuan fisik lapangan setiap bulannya yang telah disetujui dan ditandatangani oleh tiga pihak.  Kontraktor

  Kontraktor adalah suatu badan hukum yang berbentuk perusahaan baik umum maupun perorangan yang bergerak dalam bidang pelaksanaan pembangunan fisik dari suatu kontruksi. Dalam melaksanakan tugasnya kontaktor selaku pelaksana fisik harus mendapatkan persetujuan dari Tim Konsultan/Pengawas dan berkewajiban membuat laporan harian, mingguan, bulanan, dan laporan lainnya, guna dapat mengetahui kemajuan fisik konstruksi dan digunakan sebagai evaluasi baik Konsultan Pengawas maupun oleh Pemberi Tugas/owner . Kewajiban dari Kontraktor, adalah sebagai berikut :

  1. Memahami dan menaati seluruh ketentuan yang tercantum dalam surat kontrak kerja.

  2. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar–gambar serta persyaratan (Spesifikasi Teknis) yang telah ditentukan.

  3. Menyerahkan pekerjaan bila telah selesai dan disetujui oleh pengawas.

  4. Mengadakan pengujian- pengujian untuk contoh-contoh bahan konstruksi yang akan dipakai.

  5. Melaksanakan seluruh perintah dari pemberi tugas selama tidak menyimpang dari persyaratan yang telah ditetapkan dalam kontrak kerja.

  6. Membuat Laporan peningkatan kegiatan dalam bentuk Kurva S/ Bar Chat.

  Hak Kontraktor, adalah :

  1. Mengikuti proses pelelangan, setelah mendapatkan undangan dari Pimpinan Proyek melalui pengumuman atau edaran.

  2. Berhak mendapatkan imbalan jasa yang besarnya sesuai dengan bobot atau persentasi pekerjaan yang telah dicapai di lapangan.

  3. Mengadakan perhitungan ulang apabila terjadi penyimpangan atas gambar kerja dengan pelaksanaan atas perintah Pemilik Proyek.

  4. Mendapatkan penambahan biaya berdasarkan harga yang telah disepakati, apabila terjadi penambahan pekerjaan atas perintah Pemilik Proyek. Tanggung jawab kontraktor, adalah :

  1. Bertanggung jawab terhadap keselamatan pekerjaan selama pelaksanaan.

  2. Bertanggung jawab atas kekeliruan yang terjadi oleh karena kelalaian pelaksana.

  3. Bertanggung jawab atas kekuatan dan kekokohan hasil pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.

  4. Bertanggung jawab atas keselamatan bangunan selama masa pemeliharaan.

   Jasa Konsultan Pengawas Konsultan pengawas adalah badan hukum yang diserahi tugas oleh pemberi tugas untuk melaksanakan pengawasan pada suatu proyek.

  Kegiatan pengawasan bertujuan agar hasil pekerjaan konstruksi sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Konsultan Pengawas memiliki tugas utama pengawasan yang sangat penting dalam pengarahan di lapangan. a. Kewajiban Konsultan Pengawas 1) Mengawasi pelaksanaan pekerjaan lapangan.

  2) Menilai hasil pelaksanaan pekerjaan dan membuat berita acara penyerahan pekerjaan. 3) Mengadakan pemeriksaan terhadap bahan material yang akan digunakan dan berhak memberikan teguran atau penolakan bahan material yang digunakan jika tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan standar perencanaan. 4) Mengambil kebijaksanaan pemecahan masalah lapangan bila ada kesulitan teknis di lapangan.

  b. Hak Konsultan Pengawas 1) Merupakan wakil pemberi tugas dalam hal pengawasan pelaksanaan pekerjaan.

  2) Berhak menolak pekerjaan dari kontraktor berdasarkan penilaian- penilaian yang diberikan.

2.3. Proses Administrasi Proyek

  Setiap pimpinan proyek menerima Daftar Isian Proyek ( DIP ), maka mulai dilakukan design dan detailed engineering atau fase membuat gambar- gambar rencana dan gambar - gambar kerja serta RKS dan estimasi harga. Hasil kerja yang diproduksikan dalam tahap ini dinamakan dokumen pelelangan yang pada prinsipnya merupakan resep dan aturan permainan dalam membangun dan mendirikan sebuah proyek.

  Dalam kontrak engineering khususnya dalam pekerjaan sipil maka tiap - tiap proyek kekhususan yang mandiri dan ini semua diuraikan dalam uraian teknis maupun uraian khusus. Untuk proyek - proyek konstruksi, dokumen kontrak mengandung :

  1. Dokumen pelelangan, meliputi :

  a. Gambar – gambar bestek

  b. Rencana kerja dan syarat – syarat ( RKS )

  c. Lampiran – lampiran

  d. Risalah Aanwijzing

  2. Dokumen kontrak, meliputi :

  a. Gambar – gambar bestek

  b. Rencana kerja dan syarat – syarat ( RKS )

  c. Lampiran – lampiran

  d. Risalah Aanwijzing

  e. Surat–surat klarifikasi

  f. Estimasi biaya proyek

  2.3.1. Gambar bestek

  Gambar bestek merupakan penjelasan secara visual dari proyek yang akan didirikan yang memperlihatkan lingkup dan bentuk pekerjaan yang harus dibuat. Gambar bestek terbagi dalam beberapa macam gambar pekerjaan konstruksi, antara lain :

  1). Gambar prarencana ( Preliminary Drawing ) 2). Gambar informasi ( Information Drawing ) 3). Gambar proyek ( Site Drawing ) 4). Gambar kerja ( Detailed Working Drawing ) 5). Gambar hasil pelaksanaan ( As Built Drawing )

2.3.2. Rencana kerja dan syarat-syarat ( RKS )

  Untuk penyusunan kerja dan syarat-syarat perlu diperhatikan dalam hal job descriptions harus sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.29/Kepres/1984, yang memuat : 1). Syarat umum :

   Keterangan mengenai pemberian tugas,  Keterangan mengenai perencana,  Keterangan mengenai direksi,  Syarat-syarat peserta pelelangan,  Bentuk surat penawaran dan cara penyampaiannya.

  2). Syarat administrasi :

   Jangka waktu pelaksanaan,  Tanggal penyerahan pekerjaan,  Denda atas keterlambatan,  Besarnya jaminan pelelangan,  Besarnya jaminan pelaksanaan.

  3). Syarat teknis terdiri dari :  Jenis dan uraian pekerjaan yang harus dilaksanakan,  Jenis dan mutu bahan,  Gambar detail, gambar konstruksi dan lain sebagainya.

  Syarat teknis merupakan ketentuan teknis alat, bahan tenaga kerja dan prosedur pelaksanaan/uraian pekerjaan yang secara umum meliputi :

  1. Pekerjaan persiapan,

  2. Bangunan prasarana proyek,

  3. Penetapan evaluasi di lapangan,

  4. Pekerjaan galian tanah,

  5. Pekerjaan urugan tanah urug dan pasir urug,

  6. Pekerjaan pondasi,

  7. Pekerjaan konstruksi beton bertulang,

  8. Pekerjaan konstruksi batu bata,

  9. Pekerjaan plesteran dan spesi,

  10. Pekerjaan kayu kuda – kuda,

  11. Pekerjaan konstruksi atap dan penutup atap,

  12. Pekerjaan finishing cat,

  13. Pekerjaan instalasi listrik,

  14. Pekerjaan instalasi air kotor,

  15. Pekerjaan pelapis lantai dan pekerjaan finishing, 16. Dan lain – lain. Dalam hal ini pembahasan dibatasi pada pengawasan mutu beton pada pekerjaan Sloof, Balok, Pelat dan Kolom.

  2.3.3 Lampiran - lampiran ( Appendices )

  Pada bagian akhir dari dokumen tender ini diadakan lampiran- lampiran yang merupakan keterangan tambahan, seperti :  Daftar kuantitas pekerjaan ( bill of quality ),  Tabel harga bahan dan ongkos pekerjaan,  Surat jaminan tender ( tender bond ),  Surat jaminan pelaksanaan ( performance bond ),  Bentuk kontrak perjanjian pemborong,  Pembuatan surat penawaran.

  2.3.4 Risalah Aanwijzing

  Penjelasan lelang di lakukan di tempat dan waktu yang ditentukan di hadiri oleh para penyedia barang dan jasa yang terdaftar dalam daftar calon peserta lelang. Bila dipandang perlu panitia dapat memberikan penjelasan lanjutan dengan cara melakukan peninjaun langsung lapangan.

  Pemberian penjelasan mengenai dokumen lelang yang berupa pertanyaan dari peserta dan jawaban dari panitia peserta dan jawaban dari panitia serta keterangan lain termasuk perubahannya dari peninjaun lapangan harus di tuangkan dalam berita acara penjelasan yang di tanda tangani oleh panitia pengadaan dan sekurang-sekurangya dua wakil dari peserta yang hadir.

  2.3.5 Surat-surat klarifikasi

  Surat-surat klarifikasi ini dikerjakan secara tertulis kepada pemborong yang memenangkan pekerjaan, dan surat-surat klarifikasi tersebut merupakan bagian dari dokumen kontrak yang mengikat. Surat- surat klarifikasi ini sangat mempengaruhi lamanya proses evaluasi tender yang dibuat apabila :  Ada kesalahan kalkulasi,  Ada pernyataan yang tidak jelas dalam surat penawaran pemborong,

   Ada hal yang lupa dan lain-lain.

2.3.6 Estimasi Biaya Proyek

  Estimasi biaya merupakan biaya perkiraan yang digunakan untuk memperkirakan jumlah biaya yang diperlukan/disiapkan bagi pembangunan suatu konstruksi. Estimasi biaya proyek secara umum dapat dibagi empat, yaitu :  Estimasi kasar untuk pemilik

  Estimasi ini dibutuhkan oleh pemilik proyek untuk melaksanakan ide untuk membangun proyek tersebut.  Estimasi pendahuluan oleh perencana

  Estimasi ini dilakukan lebih teliti dan dilakukan setelah estimasi terdahulu/sudah ada gambar.  Estimasi detail oleh kontraktor Estimasi ini berbentuk penawaran dan disebut juga fixed price.  Biaya sesungguhnya setelah proyek selesai.

  Biaya yang dibayarkan setelah proyek selesai merupakan biaya langsung ( direct cost ) yang berhubungan dengan konstruksi atau bangunan. Biaya langsung terdiri dari dari :  Biaya inti ( Overhead )

  Biaya overhead merupakan biaya penunjang pelaksanaan konstruksi baik di lapangan maupun di kantor.  Biaya tak terduga ( cotigencies )

  Biaya tak terduga merupakan suatu biaya yang disiapkan sebagai akibat dari suatu bencana alam yang besarnya berkisar antara 0,5% sampai dengan 5% dari biaya total.  Keuntungan ( Profit )

  Keuntungan merupakan hasil jerih payah dari keahlian ditambah dari faktor resiko yang besarnya relatif masing-masing proyek.

2.4 Sistem Kontrak ( Contructions Contract )

  Dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan perlu diperhatikan macam dan jenis kontrak dengan variasinya yang dikenal dan diterapkan dalam dunia bisnis konstruksi.

  Berhubungan dengan banyaknya keanekaragaman pekerjaan proyek konstruksi maupun engineering dan pengaruh-pengaruh berbagai faktor, misalnya :  Urgensi,  Penyiapan dan sumber dananya,  Pola pemanfaatan,  Pengaturan jadwal,  Situasi dan kondisi setempat.

  Untuk mengatasi pengaruh faktor-faktor di atas maka dikembangkan jenis-jenis kontrak yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan antara yang memiliki pekerjaan dengan yang mengerjakan. Sistem kontak ( Contructions Contracts ) terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Fixed Price Contract

  Kontrak dengan harga tetap mewajibkan kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan hingga selesai sesuai dengan yang diisyaratkan dalam kontrak atas resikonya sendiri terhadap jumlah total biaya yang dikeluarkan dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.

a. Lump Sum Contract

  Pekerjaan yang dilakukan dibawah kontrak semacam ini memerlukan gambar - gambar kerja yang jelas, spesifikasi dan bestek yang akurat dimana kedua belah pihak mempunyai satu interpretasi yang sama terhadap isi dan maksud dari dokumen tender tersebut. Oleh karena itu, pemilik proyek tahu jelas dari awal berapa biaya yang harus dikeluarkan, dan dari pihak kontraktor juga dapat menghitung biayanya dengan tepat.

  b. Kontrak “Jadwal Harga satuan” (Shedule of rates contract)

  Pada kontrak ini kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan berbagai jenis pekerjaan dimana masing-masing pekerjaan mempunyai harga satuan yang tetap dengan volume sesuai dengan dengan yang dikerjakan.Karena itu,jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan maupun kualitas yang diinginkan harus ditentukan secara jelas.jumlah sebenarnya dari tiap pekerjaan tidak perlu ditetapkan lebih dahulu (hanya berupa taksiran).

  c. Kontrak “Daftar Volume” (Bill of Quantity Contract)

  Dengan kontak ini kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan berbagai jenis pekerjaan dengan masing-masing jenis pekerjaan mempunyai harga satuan yang tetap dan volume pekerjaan berdasarkan gambar rencana.

2. Prime Cost Contract

  Pemilik proyek pada sistem kontrak ini mengganti ongkos yang dikeluarkan kontrak untuk melaksanakan pekerjaannya, ditambah dengan satu bentuk tambahan ongkos untuk biaya kerja pemborong. Kontrak semacam ini dapat juga dipakai untuk pekerjaan desain, pengadaan barang/peralatan, pekerjaan konstruksi, pelayanan manajemen ataupun kombinasi dari pekerjaan tersebut.

  Prime Cost Contract mencakup beberapa hal yang meliputi :

  a. Cost Plus Persentage Fee

  b. Cost Plus Fixed Fee Contract

  c. Cost Plus Variable Percentage Contract

  d. Target Estimasi Contract

  e. Guaranteed Maksimum Cost Contract

  f. Convertible Cost Contract

  g. Cost Plus Time and Material Contra

BAB III PELAKSANAAN PEKERJAAN

3.1. Uraian dan Struktur Administrasi Proyek

  Adapun struktur administrasi proyek Pembangunan Perumahan Griya Kebon Sajiq, diuraikan dalam rencana kerja dan syarat-syarat yang terdiri dari : a. Status proyek ditetapkan sebagai berikut :

  1) Judul proyek Proyek : Perusahaan Griya Kebon Sajiq

    Pekerjaan : Pembangunan Perumahan Griya Kebon Sajiq 2) Lokasi proyek adalah di Jln. AA Gede Ngurah No. 140 Blok B. 10

  b. Pejabat Pembuat Komitmen (owner) Adalah badan atau instansi atau orang perorangan yang memberikan tu gas/pekerjaan kepada kontraktor sebagai pelaksananya. Dalam hal ini yang menjadi Pejabat Pembuat Komitmen (owner) adalah Direktur Kepala Proyek.

  c. Kontraktor Pelaksana Adalah kontraktor yang telah mengajukan penawaran dan dinyatakan sebagai pemenang serta terikat dengan kontrak pemborongan pekerjaan.

  Kontraktor berlaku sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan pembangunan konstruksi fisik. (Hanya sebatas kontrak upah tenaga saja, Bahan dan lain – lain disediakan oleh kantor).

3.1.1 Struktur organisasi proyek dan tugas-tugasnya.

  Struktur organisasi proyek kontraktor pelaksana adalah menggambarkan struktur garis komando internal jenjang managerial personil-personil yang bertugas melaksanakan pekerjaan fisik proyek yang terdiri dari : a. Project Manager

  Tugas dan Kewajiban :

  1) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan proyek. 2) Mengadakan pertemuan dengan pihak lain untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi selama melaksanakan proyek.

  3) Mengadakan negosiasi dengan pemilik proyek bila terjadi perubahan pekerjaan.

  b. Site Manager Tugas dan Kewajiban : 1) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan proyek di lapangan.

  2) Memimpin pelaksanaan proyek. 3) Mengatur pelaksanaan proyek di lapangan. 4) Mengadakan negosiasi dengan direktur selaku penanggung jawab proyek bila terjadi perubahan pekerjaan.

  c. Koordinartor Pelaksana 1) Menjadwalkan proyek, manajer bertugas untuk merencanakan pelaksanaan proyek agar proyek dapat selesai tepat waktu.

  2) Mengimplementasikan rencana proyek, setelah membuat perencanaan, tugas manajer selanjutnya adalah mengimplementasikan perencanaan proyek tersebut di lapangan. 3) Mengontrol kerja sampai selesai, Seorang manajer harus dapat mengontrol semua pekerjaan proyek hingga selesai dan menjaga serta mengantisipasi agar proyek berjalan sesuai rencana. 4) Membina hubungan kooperatif, manajer bertanggung jawab untuk membina hubungan kooperatif dengan para pihak yang terlibat baik dalam struktur horizontal maupun vertical. 5) Melakukan inovasi, seorang manajer juga bertugas melakukan inovasi untuk merespon peluang dan ancaman yang tak terduga. 6) Memperkirakan Durasi Tugas, Teknik memperkirakan durasi tugas.

  d. Ahli Struktur Tugas dan tanggung jawab ahli Struktur adalah:

  1) Melakukan penelitian dan kajian mengenai kelayakan rencana bangunan 2) Membuat dan mebantu laporan yang diperlukan team leader. 3) Melaksanakan diskusi dengan anggota tim lainnya agar hasil pekerjaan menjadi komprehensif dan terpadu.

  e. Administrasi Keuangan 1) Mengawasi dan bertanggung jawab terhadap administrasi produksi dan administrasi keuangan.

  2) Membuat catatan laporan pemakaian bahan baku dan penjualan produk. 3) Bertanggung jawab dan mengawasi terhadap proses permintaan barang, penyimpanan dan pengeluaran produk dari gudang. 1) Memberikan laporan kepada kepala unit mengenai administrasi keuangan dan administrasi produk. 2) Menerima laporan dari administrasi keuangan. 3) Menerima laporan harian, bulanan dan tahuan dari administrasi produks i.

  f. Pelaksana Bangunan Tugas dan Kewajiban : 1) Memimpin pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan gambar kerja dan persyaratan kerja.

  2) Mengatur penempatan bahan-bahan konstruksi teknis dan alat kerja agar tercapai efisiensi kerja. 3) Menghitung dan merencanakan kebutuhan bahan konstruksi, teknis dan mengontrol pemakaiannya. 4) Mengatur dan memberi pengarahan kepada pekerja supaya dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan. g. Mandor Tugas dan Kewajiban : 1) Mengawasi jalannya proyek di lapangan.

  2) Memberikan petunjuk kerja kepada pekerja proyek.

3.2 Spesifikasi Teknis

  A. Lingkup Pekerjaan

  1. Persyaratan Teknis Umum ini merupakan persyaratan dari segi teknis yang secara umum berlaku untuk seluruh bagian pekerjaan dimana persyaratan ini bisa diterapkan untuk pelaksanaan kegiatan Pembangunan Perumahan Griya Kebon Sajiq, yang meliputi tipe perumahan :

  Tipe 55 a. Tipe 70 b. Tipe 110 c.

  2. Kecuali disebut secara khusus dalam dokumen-dokumen dimaksud berikut, lingkup pekerjaan yang ditugaskan termasuk tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut: a. Pengadaan tenaga kerja .

  b. Pengadaan Bahan / Material.

  c. Pengadaan peralatan & alat bantu, sesuai dengan kebutuhan lingkup pekerjaan yang ditugaskan.

  d. Koordinasi dengan Penyedia Barang / Jasa pekerja lain yang berhubungan dengan pekerjaan pada bagian pekerjan yang ditugaskan.

  e. Penjagaan kebersihan, kerapian, dan keamanan kerja.

  f. Pembuatan As Built drawing (Gambar terlaksana).

  B. Bahan

  1. Baru / Bekas Kecuali ditetapkan lain secara khusus, maka semua bahan yang dipergunakan untuk pekerjaan ini harus merupakan bahan yang baru, penggunaan barang bekas dalam komponen kecil maupun besar sama sekali tidak diperbolehkan.

  2. Persetujuan Bahan

  a. Untuk menghindarkan penolakan bahan di lapangan, dianjurkan dengan sangat agar sebelum sesuatu bahan/produk akan dibeli/dipesan/ diproduksi, terlebih dahulu dimintakan persetujuan dari Konsultan Pengawas atau kesesuaian dari bahan/Produk tersebut pada Persyaratan Teknis, yang mana akan diberikan dalam bentuk tertulis yang dilampirkan pada contoh/brosur dari bahan/produk yang bersangkutan untuk diserahkan kepada Konsultan Pengawas.

  b. Penolakan bahan di lapangan karena diabaikannya prosedur di atas sepenuhnya merupakan tanggung jawab Penyedia Barang/Jasa/suplier, yang mana tidak dapat diberikan pertimbangan keringanan apapun.

  c. Adanya persetujuan tertulis dengan disertai contoh/brosur seperti tersebut di atas tidak melepaskan tanggung jawab Penyedia Barang/ Jasa/Supplier dari kewajibannya dalam Perjanjian Kerja ini mengadakan bahan/Produk yang sesuai dengan persyaratannya, serta tidak merupakan jaminan akan diterima/ disetujuinya seluruh bahan/ produk yang digunakan sesuai dengan contoh brosur yang telah disetujui.

3.3 Uraian Pekerjaan 3.3.1 Tenaga dan Sarana Kerja.

  1. Alat-alat bantu kerja seperti; Scafolding, Bar Cutter, Waterpass, Alat Transport (Truk) Mesin potong keramik, Molen dan alat lainnya yang disebutkan dalam RKS ini.

  Alat kerja merupakan sarana yang penting dan besar artinya dalam pelaksanan suatu proyek. Dengan alat kerja yang lengkap akan dihasilkan kualitas pekerjaan yang baik, waktu yang singkat dan biaya yang efisien. Alat kerja dapat berupa alat mekanik maupun alat elektrik, tenaga manusia relatif lebih murah dari tenaga mesin, sehingga dari segi ekonomi pemakaian alat harus dipertimbangkan secara teliti. Alat-alat kerja yang dipakai dalam proyek ini sebagai berikut : a. Pesawat Waterpass.

  Digunakan sebagai penyipat datar suatu bidang untuk menentukan beda tinggi/elevasi bangunan pada penentuan tinggi bouwplank, pelaksanaan begisting plat lantai, balok portal dan pekerjaan lain yang mengharuskan suatu bidang harus datar.

  b. Roll meter.

  Digunakan untuk mengukur panjang ukuran.

  c. Mollen (Concrete Mixer) Agar tercapai adukan beton yang baik dan rata maka digunakan mesin pengaduk yaitu mollen dengan kapasitas yang tergantung dari volume yang ditargetkan. Prinsip kerjanya adalah dengan memasukkan bahan kedalam silinder yang berputar karena motor diesel.

  d. Gerobak tuang dorong dan ember Gerobak tuang adalah alat angkut yang menggunakan tenaga manusia untuk mengangkat mortal beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran. Sedangkan ember berfungsi untuk mengangkut adukan beton dan air ketempat pengecoran.

  e. Vibrator Vibrator adalah alat untuk mengecilkan pori pada pekerjaan pengecoran sehingga tidak terjadi penumpukan kerikil ataupun rongga kosong yang menyebabkan kondisinya tidak merata, hal ini akan mengurangi proses pengeroposan.

  f. Cangkul dan Sekop Cangkul dan sekop digunakan dalam berbagai pekerjaan namun dalam pekerjaan ini digunakan untuk memasukkan agregat ke dalam suatu takaran campuran ataupun untuk memindahkan hasil campuran beton ke dalam ember atau gerobak tuang yang akan dibawa ke tempat pekerjaan beton dilakukan. g. Alat pemotong kawat dan besi Alat pemotong besi dan kawat sangat diperlukan untuk memotong besi agar mendapatkan ukuran besi yang diinginkan sesuai dengan perencanaan.

  2. Tenaga Kerja Tenaga yang diperlukan dilapangan sehubungan dengan pelaksanaan

  Pembangunan Perumahan Griya Kebon Sajiq adalah sebagai berikut :

  1. Tenaga pelaksana teknis yang terampil dan pengalaman dalam bidangnya dan pengawas, mandor serta kepala tukang yang cukup dalam melakukan pengawasan yang tepat untuk pekerjaan proyek tersebut.

  2. Tenaga kerja terampil, setengah terampil dan tidak terampil sesuai dengan kebutuhan dan keperluan untuk melaksanakan, penyelesaian dan perbaikan pekerjaan yang sesuai dan tepat pada waktunya.

  3. Tenaga kerja inti yang ditugaskan di lapangan terdiri dari :

  • Kepala proyek/site manager
  • Konsultan Pengawas  Site engineer
  • Logistik proyek Dalam penggunaan tenaga kerja harus sesuai dengan volume pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan, sehingga pemborosan terhadap tenaga kerja yang mengakibatkan kerugian dapat ditekan serendah- rendahnya. Apabila seorang pekerja sehubungan dengan pelaksanaaan, penyelesaian dan perbaikan pekerjaan yang menurut direksi pekerjaan berprilaku tidak baik, tidak cakap, atau ceroboh dalam melaksanakan tugasnya atau yang menurut pertimbangan direksi pekerjaan orang tersebut tidak patut dipekerjakan. Dan orang tersebut tidak boleh dipekerjakan lagi tanpa ijin tertulis dari direksi pekerjaan. Orang yang diberhentikan secara demikian dari pekerjaan, harus diganti secepatnya dengan seorang pengganti yang cakap yang disetujui oleh direksi pekerjaan

  3. Bahan bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap pekerjaan yang akan dilaksanakan agar pelaksanaan pekerjaan dapat selesai pada waktunya

3.3.2 Pengukuran (Uizet )

  Pengerjaan Pengukuran adalah pekerjaan pengukuran lokasi proyek untuk menentukan luasan, batas-batas kerja, ketinggian dan level eksisting lokasi proyek hingga menghasilkan akurasi data berupa gambar kerja (shop

  drawing) yang lengkap. Pekerjaan pengukuran dilakukan termasuk

  pengukuran dan penggambaran kembali lokasi pelaksanaan yang dilengkapi dengan keterangan-keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak bangunan eksisting yang ada dan akan di bongkar dengan memakai alat-alat yang sudah ditera kebenarannya. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut dilakukan dengan memakai alat-alat waterpass/theodolit yang ketepatannya dapat dipertanggungjawabkan. Pengukuran sudut menyiku dengan prisma atau benang secara azas segitiga phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil.

3.3.3 Pekerjaan Galian Dan Urugan A.Pekerjaan Galian

  1. Segala pekerjaan galian dilaksanakan sesuai dengan panjang, dalam, kemiringan dan lengkungan sesuai dengan kebutuhan konstruksinya atau sebagaimana ditunjukkan dalam gambar.

  2. Bilamana tanah yang digali ternyata baik untuk digunakan sebagai lapisan permukaan atau pembatas maka tanah ini perlu diamankan dahulu untuk penggunaan tersebut di atas.

  3. Tanah/galian yang tidak berguna harus disingkirkan dan diangkut ke luar dari halaman, dibuang dilingkungan sekitar.

  4. Penyingkiran dan pengangkutan di atas merupakan tanggung jawab Penyedia Barang/Jasa atau bilamana perlu memindahkan tanah-tanah atau bahan yang tidak dipakai atau kelebihan-kelebihan tanah yang digunakan untuk urugan atau sebagaimana yang diinstruksikan oleh Pengawas.

  B.Lingkup Pekerjaan

  Lingkup pekerjaan galian dan urugan meliputi :

  1. Galian pondasi batu kali

  2. Galian pondasi tangga

  3. Urugan kembali galian pondasi

  4. Urugan tanah peninggian peil bangunan

  5. Urugan tanah peninggian lingkungan

  6. Urugan pasir sesuai gambar kerja

  C.Pengurugan

  1. Semua bahan-bahan yang akan digunakan untuk urugan atau urugan kembali dengan sirtu harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas dan user.

  2. Pengurugan harus dilakukan sampai diperoleh peil-peil yang di kehendaki, sebagaimana dibutuhkan konstruksi, elevasi bangunan atau sesuai dengan yang tertera dalam gambar kerja.

D. Pemadatan

  1. Hanya bahan-bahan yang telah disetujui yang dapat digunakan untuk pengurugan dan harus dilakukan lapis demi lapis dengan tebal sebesar- besarnya 20 cm.

  2. Setiap lapis harus ditimbris dan dipadatkan, dan sedapat-dapatnya dilakukan dengan mesin giling (tumbuk) atau stamper dengan menambahkan air dan disetujui Konsultan Pengawas. Penyedia Barang Jasa harus menyediakan stamper minimal 10 unit dan dimasukkan dalam dokumen penawaran data teknis.

3.3.4 Pekerjaan Pasangan

  A. Lingkup Pekerjaan

  Lingkup pekerjaan pasangan adalah sebagai berikut :

  1. Pasangan pondasi batu kali

  2. Pasangan dinding ½ bata

  3. Pasangan dinding trasram ½ bata

  4. Pasangan batu alam

  5. Pasangan Roster

  B. Bahan

  1. Batu kali Batu kali harus memiliki sisi terpanjang maksimal 150 cm, dan memiliki minimal 3 bidang kotak, batu kali bulat tidak boleh digunakan untuk pasangan. Batu kali harus keras, bersifat kekal dan tidak boleh mengandung bahan yang dapat merusak.

  2. Batu bata Bahan batu harus memenuhi syarat-syarat.

  a. Bermutu, matang, keras, ukuran-ukuran sama rata, seragam dan saling tegak lurus, tidak retak-retak tidak mengandung batu dan tidak berlubang-lubang.

  b. Ukuran : panjang : 22 cm - atau disesuaikan dengan ukuran di daerah setempat. lebar : 11 cm - atau disesuaikan dengan ukuran di daerah setempat. tebal : 5 cm - atau disesuaikan dengan ukuran di daerah setempat.

  c. Penyedia Barang/Jasa harus menyerahkan sample daripada bata yang akan dipakai untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas. Batu bata yang ternyata tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari site. d. Bata bata merah yang digunakan mempunyai toleransi ukuran sesuai dengan tabel 27-1 dan 27-2 PUBI tahun 1982 dan tabel 27-3 PUBI tahun 1982 (tentang kuat tekan) sedang bagian yang pecah tidak boleh lebih dari 10%

  3. Pasir Pasir yang digunakan harus berbutir tajam dan keras warna kehitaman, bersih dari campuran kotoran kadar lumpur maksimum 5% diambil dari sungai, pasir harus tidak mengandung zat-zat organik dan angka kehalusan lolos ayakan 0,3 mm sehingga dapat memenuhi persyaratan PUBI 1982

  4. Semen Semen yang digunakan untuk pekerjaan pondasi batu kali dan pasangan dinding bata harus memenuhi persyaratan yang sama digunakan untuk pembuatan beton.

  5. Roster Roster yang digunakan terbuat dari beton dan tanah liat, ukuran dan ketebalan sama. Ukuran dan jenis/model/bentuk sesuai dengan gambar kerja.

C. Pelaksanaan Pekerjaan

  1. Pekerjaan pasangan batu kali Pelaksanaan pasangan batu kali yang dilakukan di lapangan sesuai dengan ketentuan-ketentuan pekerjaan dan sesuai dengan gambar kerja yang ada.

  2. Pekerjaan pasangan dinding batu bata Pelaksanaan dari pasangan dinding di lapangan telah sesuai dengan aturan yang berlaku dan gambra kerja dari proyek tersebut.

3.3.5. Pekerjaan Beton Praktis

  A. Lingkup Pekerjaan

  Lingkup pekerjaan ini meliputi pekerjaan :

  1. Pekerjaan sloof praktis

  2. Pekerjaan kolom praktis

  3. Pekerjaan ring praktis

  4. Pekerjaan kolom, ring latieu praktis kusen alumunium

  B. Pengendalian Pekerjaan

  Kecuali ditentukan lain, maka semua pekerjaan beton harus mengikuti ketentuan-ketentuan seperti tertera dalam : ASTM C 150, ASTM C 33, SII- 0051- 74-, SII- 0013- 81, dan SII- 0136- 84.

  C. Bahan-bahan

  Bahan-bahan / material yang digunakan berupa agregat kasar, agregat halus, PC, dan sebagainya sesuai dengan yang dipakai pada beton konstruksi. Demikian juga mengenai cara penyimpanan. Perbandingan campuran untuk beton praktis adalah 1pc : 3ps : 5kr Semua bahan baja tulangan pada beton praktis sesuai lingkup pekerjaan diatas menggunakan besi diameter P12 mm polos berisi 4 (empat) untuk tulangan pokok , dan sengkang/begel diameter P8 mm jarak dengan 150 mm dengan tegangan tarik minimal dan regangan.

3.3.6 Pekerjaan Beton Struktur

A. Ketentuan Umum

  1. Persyaratan-persyaratan konstruksi beton, istilah teknik dan atau syarat- syarat pelaksanaan pekerjaan beton secara umum menjadi satu kesatuan dalam persyaratan teknis ini. Di dalam segala hal yang menyangkut pekerjaan beton dan struktur beton harus sesuai dengan standard-standard yang berlaku, yaitu : a. SNI - 3 (1970) Peraturan Umum Untuk Bahan Bangunan Di Indonesia.

  b. SNI - 8 Peraturan Semen Portland Indonesia c. Standard Industri Indonesia (SII).

  d. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung, 1983.

  e. Tata Cara Pembebanan Rumah dan Gedung.

  f. American Society of Testing Material (ASTM).

  B. Lingkup Pekerjaan

  Lingkup pekerjaan yang diatur di dalam persyaratan teknis ini meliputi seluruh pekerjaan beton/struktur beton yang sesuai dengan gambar rencana :

  1. Pekerjaan beton/struktur beton yang sesuai dengan gambar rencana, termasuk di dalamnya pengadaan bahan, upah, pengujian dan peralatan- bantu yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut.

  2. Pengadaan, detail, fabrikasi dan pemasangan semua penulangan (reinforcement) dan bagian-bagian dari pekerjaan lain yang tertanam di dalam beton.

  3. Perancangan, pelaksanaan dan pembongkaran acuan beton, penyelesaian dan perawatan beton dan semua jenis pekerjaan lain yang menunjang pekerjaan beton.

  C. Bahan-bahan

  1. Semen Semen yang digunakan adalah Semen Multi Mortal yaitu semen instan.

  2. Agregat Kasar Agregat kasar yang digunakan untuk beton struktur adalah batu pecah dengan persyaratan sebagai berikut : a. Batu pecah adalah butiran mineral hasil pecahan batu alam yang dapat melalui ayakan berlubang persegi 76 mm dan tertinggal di atas ayakan berlubang persegi 20 mm b. Kerikil dan batu pecah harus keras, bersih serta besar butirannya dan gradasinya tergantung pada penggunaannya c. Kerikil dan batu pecah tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %

  3. Agregat Halus Pasir untuk pekerjaan beton harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam PBI-1971/NI-3 diantaranya yang paling penting : a. Butir-butir harus tajam, keras tidak dapat dihancurkan dengan jari dan pengaruh cuaca.

  b. Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5%

  c. Pasir harus terdiri dari butiran-butiran yang beraneka ragam besarnya, apabila diayak dengan ayakan 150, maka sisa butiran di atas 4 mm, minimal 2 % dari berat sisa butiran-butiran di atas ayakan 1 mm minimal 10 % dari berat sisa butiran-butiran di atas ayakan 0,25 mm, berkisar antara 80 % sampai 90 % dari berat.

  d. Pasir laut tidak boleh digunakan

  4. Air Air yang digunakan untuk campuran beton harus memenuhi ketentuan- ketentuan berikut ini: a. Harus bersih, tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang dapat dilihat secara visual.

  b. Tidak mengandung benda-benda tersuspensi lebih dari 2 gram/ liter.

  c. Tidak mengandung garam-garam yang dapat larut dan dapat merusak beton (asam-asam, zat organic, dan sebagainya) lebih dari 15 gram/ liter. Kandungan clorida (Cl) tidak lebih dari 500 ppm dan senyawa sulfat (sebagai SO

  3 ) tidak lebih dari 100 ppm.

  5. Besi tulangan waremash Besi tulangan waremash yang digunakan adalah M – 8 Ketentuan baja tulangan menyesuaikan dengan baja tulangan struktur.

  6. Baja Tulangan Baja tulangan yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut ini : a. Tidak boleh mengandung serpih-serpih, lipatan-lipatan, retak-retak, gelombang-gelombang, cerna-cerna yang dalam, atau berlapis-lapis.

  b. Untuk tulangan utama (tarik / tekan lentur) harus digunakan baja

  tulangan deform (BJTD), dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70 % diameter nominalnya, dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5 % diameter nominalnya.

  c. Tulangan dengan Ø ≤12 mm dipakai BJTP 24 (polos), dan untuk tulangan dengan Ø > 16 mm memakai BJTD 40 (deform) bentuk ulir.

D. Beton dan Adukan Beton Struktur

  1. Benda uji harus adalah silinder beton dengan diameter 150 mm dan tinggi

  3

  300 mm, yang untuk setiap 10 m produksi adukan beton harus diwakili minimal dua buah benda uji. Tata cara pembuatan benda uji tersebut harus mengikuti ketentuan yang terdapat di dalam standar Metoda Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium (SK SNI M-62-1990-03).

  3

  2. Untuk kekentalan adukan, setiap 5 m adukan beton harus dibuat pengujian slump

  3. Apabila ada hal-hal yang belum tercakup di dalam persyaratan teknis ini, Pelaksana harus mengacu pada seluruh ketentuan yang tercakup di dalam

  Bab 5, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal (SK SNI T-15-1990-03). E. Cetakan Beton Acuan yang dibuat dari kayu balok dan multipleks tebal minimum 9 mm dan harus memenuhi syarat-syarat kekuatan, daya tahan dan mempunyai permukaan yang baik untuk pekerjaan finishing. Penyedia Barang/Jasa harus memberikan contoh (sample) bahan yang akan dipergunakan sabagai acuan untuk disetujui Konsultan Pengawas.

3.3.7 Pekerjaan Rangka Atap

A. Lingkup Pekerjaan

  Penyediaan bahan, peralatan dan tenaga untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :

  1. Pengadaan dan fabrikasi konstruksi baja (kolom, balok, bracing kolom

  dan bracing atap untuk dudukan mahkota, gording, sambungan seperti plat sambung, baut sambung, angkur, connector untuk encase balok).

  2. Pembersihan seluruh permukaan konstruksi baja dan pengecatan awal (Protective coat).

  3. Pengangkutan konstruksi baja ketempat pekerjaan (lokasi).

  4. Penyimpanan sementara konstruksi baja di lokasi.

  5. Pemasangan (erection) kontruksi baja di lokasi sampai seluruh komponen terpasang sesuai dengan gambar perencanaan dan spesifikasi teknis.

  6. Pengecatan akhir sesuai persyaratan.

B. Bahan Baja

  Rangka atap : ½ IWF 300x150x6.5x9 : L 60x60x6

  Gording : CNP 150x50x20x3.2 Zagrot : Besi Ø 12 mm Tierod : Besi Ø 12 mm Trekstang : Besi Ø 16 mm dengan mur dan turn buckle Plat besi : plat tebal 8, 10, 12 mm Angkur : Tanam Ø 16 mm – M16

  b. Mutu baja profil yang digunakan adalah baja ST37 dengan tegangan leleh σ

  1 = 2.400 kg/cm

  2

  c. Toleransi ukuran penampang baja profil adalah 0,50 mm untuk lebarnya dan 0,20 mm untuk tebalnya.

  1. Baja Profil

  a. Profil dan Plat baja yang digunakan pada pekerjaan ini adalah : 1) Untuk Bentang 5 m : d. Untuk baja profil, gording dan sambungan dipergunakan material cat pelindung yang terdiri dari 3 tahapan pengecatan yaitu :

  1) Lapisan dasar (prime coat) epoxy digunakan cat produksi Nippon, atau tipe dari merk lain yang setara. 2) Lapisan pengikat (tie coat) di gunakan bahan cat produksi Nippon , atau tipe dari merk lain yang setara. 3) Lapisan teratas (top coat) digunakan bahan cat produksi Nippon , atau tipe dari merk lain yang setara.

  2. Las dan tenaga ahli

  a. Pekerjaan pengelasan listrik harus dilaksanakan oleh tukang las yang berpengalaman dan bersertifikat serta diawasi/dibawah kendali ahli las dalam pelaksanaan konstruksi baja. Penyedia Barang / Jasa harus menyediakan tenaga ahli las yang bersertifikat dan dimasukkan dalam personil usulan teknis.

  b. Pekerjaan kuda-kuda baja disubkonkan kepada subkon yang berpengalaman.

  c. Elektroda las menggunakan E70 dengan kuat minimum 70 ksi (49,0 MPa).

  d. Ukuran las sudut tebal (a) minimum 3,5 mm.

  3. Baut

  a. Baut yang digunakan harus hitam dengan tegangan leleh minimal

  2

  3100 kg/cm (HTB jenis “non full-drat”). Mur yang digunakan sekualitas dengan bautnya, barus digunakan galvanized ring, murdan baut High Tension (HTB) A-325.

  b. Mur baut digunakan diameter 16 mm dari baja tegangaan tinggi atau High Tension Bolt (HTB) seperti pada Gambar Rencana.

  c. Sebelum pemasangan angkur pihak Penyedia Barang / Jasa Pemborongan menentukan titik-titik anchor yang akan dipasang pada kolom dan balok struktur.

  d. Pemasangan angkur dilakukan setelah 14 hari umur beton kolom dan balok struktur e. Beton dibor untuk mendapatkan kedalaman dan diameter yang cukup sesuai dengan panjang dari angkur, kemudian hasil bor dibersihkan dan dimasukkan capsule anchor.

  f. Angkur dimasukkan dalam capsule anchor sampai ketemu permukaan beton.

3.3.8 Pekerjaan Penutup Atap

A. Lingkup Pekerjaan

B. Bahan

  1. Penutup atap Galvallum tebal 0.7 mm warna Natural sekualitas Kencana Deck.

  1. Sumur peresapan air hujan

  Lingkup pekerjaan ini mencakup semua pengadaan bahan, tenaga kerja, pembuatan dan pemasangan sumur resapan yang lengkap seperti ditentukan dan / atau ditunjukkan dalam Gambar Kerja. Lingkup pekerjaan adalah sebagai berikut :

  3. Pemasangan talang stainless steel.

  2. Pemasangan lisplang galvalum.

  Lingkup pekerjaan penutup atap ini meliputi :

  g. Pengencangan baut tidak boleh lebih dari 1.400 kg/cm

  3. Pemasangan talang stainless steel

  2. Pemasangan lisplang galvalum

  sekualitas Kencana Deck

  1. Pemasangan penutup atap Galvallum tebal 0.7 mm warna Natural

  Lingkup pekerjaan penutup atap ini meliputi :

  h. Pemasangan baut harus benar-benar kokoh serta mempunyai kerapatan /kekokohan yang merata antara satu dengan yang lainnya.

  dengan kunci momen.

  2

3.3.9 Pekerjaan Sumur Peresapan

A. Lingkup Pekerjaan

  2. Sumur peresapan air bekas

  3. Sumur peresapan air kotor Pekerjaan sumur resapan meliputi hal – hal berikut, tetapi tidak dibatasi pada:

  1. Pekerjaan pengukuran

  2. Galian, urugan kembali dan pemadatan

  3. Pemasangan sumur resapan dan pemipaan

B. Prosedur Umum 1. Contoh Bahan.

  a. Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan semua produk yang akan

  digunakan, untuk diperiksa dan disetujui Pengawas Lapangan sebelum mendatangkannya ke lokasi proyek.

  b. Semua biaya untuk pengadaan contoh bahan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

  2. Gambar Detail Pelaksanaan Kontraktor harus menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan kepada Konsultan Pengawas Lapangan sebelum melaksanakan pekerjaan. Gambar Detail Pelaksanaan harus dibuat dengan mengacu pada bentuk, ukuran dan detail lainnya yang dibutuhkan seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

  3. Pengiriman dan Penyimpanan Setiap bahan dan setiap pipa (satu panjang utuh), sambungan dan a. perlengkapan lain yang digunakan dalam pemipaan utilitas hanya mempunyai tanda / merek yang jelas dari pabrik pembuatnya dan kelas produk bila ditentukan oleh standar yang berlaku. Semua bahan harus disimpan di tempat yang aman dan terlindung dari b. segala jenis kerusakan.

  4. Ketidaksesuaian

  a. Kontraktor wajib memeriksa Gambar Kerja yang ada terhadap

  kemungkinan kesalahan / ketidaksesuaian, baik dari segi dimensi, kapasitas, jumlah maupun pemasangan dan lain – lain.

b. Semua perlengkapan pemipaan yang didatangkan atau dipasang tanpa

  tanda / merek harus disingkirkan dan diganti dengan yang sesuai tanpa tambahan biaya kepada Pemilik Proyek.

C. Bahan - Bahan

  1. Sumur Resapan Sumur resapan harus dikonstruksi dari batu bata atau pipa beton perforasi yang memiliki diameter minimal sesuai kebutuhan desain dengan kedalaman antara 1500 mm sampai 5000 mm (tergantung kondisi tanah di mana sumur resapan akan ditempatkan), lengkap dengan penutup yang dibuat beton tebal 100 mm. Penutup harus dilengkapi penutup lubang periksa yang dibuat dari beton dalam ukuran yang memadai.

  2. Bahan Pengisi Bahan pengisi untuk sumur resapan harus terdiri dari batu kerikil atau batu pecah atau pecahan atap keramik dengan ukuran 30 mm sampai dengan 50 mm dengan kedalaman sekitar 400 mm.

  3. Bahan Penyaring Bahan penyaring untuk keliling luar sepanjang dinding sumur harus dari ijuk dengan ketebalan sesuai desain.

  4. Pemipaan Pipa dan sambungan harus dari pipa PVC dengan sambungan tipe solvent cement, memiliki tegangan kerja 8 kg/cm2 yang memenuhi ketentuan Diameter yang dibutuhkan harus sesuai dengan gambar kerja.

  5. Adukan Adukan, bila dibutuhkan, harus memenuhi ketentuan bahan pada pasangan dan plesteran

  6. Bahan Urugan Bahan urugan harus memenuhi ketentuan bahan galian dan urugan

3.3.10 Pekerjaan Plesteran Dan Acian

  1.1.1 Lingkup Pekerjaan

  Bagian ini meliputi plesteran dan acian untuk :

  1. Seluruh permukaan dinding bata

  2. Kolom beton,

  3. Balok beton,

  4. Lispang beton,

  5. Beton expose 6. dan lain-lain seperti yang dijelaskan dalam gambar kerja.

  1.1.2 Material

1. Semen

  Semen yang dipakai untuk pekerjaan plesteran ini harus mempunyai kualitas yang sama seperti semen untuk pekerjaan beton, atau harus memenuhi PUBB - NI. 8.

  a. Semen yang dipakai adalah semen jenis PC sekualitas Gresik dan Prime Mortar PM – 210 plesteran PM – 310 acian

  b. 1 (satu) merk semen untuk seluruh pekerjaan

  c. Semen harus didatangkan dalam zak/kemasan yang tidak pecah / utuh, tidak terdapat kekurangan berat dari apa yang tercantum pada zak/ kemasan.

  d. Semen masih harus dalam keadaan fresh (belum mulai mengeras).

  Jika ada bagian yang mulai mengeras, bagian tersebut masih harus dapat ditekan hancur dengan tangan bebas (tanpa alat) dan jumlah tidak lebih dari 10 % berat. Jika ada bagian yang tidak dapat ditekan hancur dengan tangan bebas, maka jumlahnya tidak boleh melebihi 5 % berat dan kepada campuran tersebut diberi tambahan semen baik dalam jumlah yang sama.

  e. Semen yang sudah disimpan lebih dari 6 bulan sejak dibuat atau semen dalam kantong dipenyimpanan lokal (di penyalur) lebih dari 3 bulan perlu diuji sebelum digunakan, jika sudah rusak harus ditolak

  2. Pasir

  A. Lingkup Pekerjaan

  C. Prosedur Umum 1. Contoh Bahan dan Data Teknis Bahan.

  4. British Standard (BS) 5. American National Standard Institute (ANSI).

  3. Australian Standard (AS)

  2. Standar Nasional Indonesia (SNI) SNI 03-4062-1996

  1. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982)

  B. Standar / Rujukan

  Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan dan pemasangan ubin keramik dan penutup lantai pada tempat-tempat sesuai petunjuk Gambar Kerja.

  d. Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter.

  Untuk pekerjaan plesteran ini harus memenuhi persyaratan PUBB-N.I.3

  c. Tidak mengandung khlorida (CI) lebih dari 0,5 gram/liter.

  b. Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik lainnya) lebih dari 15 gram/liter.

  a. Tidak mengandung lumpur atau benda melayang lainnya lebih dari 2 gram/liter.

  3. A i r

  c. Mempunyai variasi besar butir (gradasi) yang baik dengan ditunjukkan dengan nilai Modulus halus butir antara 1,50-3,80 d. Pasir harus dalam keadaan jenuh kering muka

  b. Bebas dari bahan-bahan organis, lumpur, tanah lempung dan sebagainya, jumlah kandungan bahan ini maksimal 5 % dan tidak mengandung garam

  a. Pasir harus terdiri dari butir-butir yang tajam, kuat dan bersudut

3.3.11 Pekerjaan Lantai

  Contoh bahan dan teknis/brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan untuk disetujui terlebih dahulu sebelum dikirim ke lokasi proyek. Contoh bahan ubin harus diserahkan sebanyak 3 (tiga) set masing-masing dengan 4 (empat) gradasi warna untuk setiap set. Biaya pengadaan contoh bahan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

  2. Pengiriman dan Penyimpanan.

  Pengiriman ubin ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang belum dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas. Kontraktor wajib menyediakan cadangan sebanyak 2,5% dari keseluruhan bahan terpasang untuk diserahkan kepada Pemilik Proyek.

3.4.12 Pekerjaan Plafond

  A. Lingkup Pekerjaan

  Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan, tenaga kerja, peralatan bantu dan pemasangan papan gipsum dan aksesori pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.

  B. Standar / Rujukan

  1. Australian Standard (AS) 2. American Standard for Testing and Materials (ASTM).

  C. Prosedur Umum 1. Contoh Bahan dan Data Teknis Bahan.

  Contoh dan data teknis/brosur bahan yang akan diguanakan harus diserahkan terlebih dahulu kepada Konsultan Pengawas untuk disetujui sebelum dikirimkan ke lokasi proyek.

  2. Gambar Detail Pelaksanaan.

  Kontraktor harus menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan sabelum pekerjaan dimulai, untuk disetujui oleh Konsultan Pengawas.

  Gambar Detail Pelaksanaan harus mencakup penjelasan mengenai jenis/ data bahan, dimensi bahan, ukuran-ukuran, jumlah bahan, cara penyambungan, cara febrikasi, cara pemasangan dan detail lain yang diperlukan.

  3. Pengiriman dan Penyimpanan.

  a. Papan gipsum dan aksesori harus didatangkan ke lokasi sesaat sebelum pemasangan untuk mengurangi resiko kerusakan.

  b. Papan gipsum harus ditumpuk dengan rapi dan kuat diatas penumpu yang ditempatkan pada setiap jarak 450mm, dengan penumpu bagian ujung berjarak tidak lebih dari 150mm terhadap ujung tumpukan.

  c. Papan gipsum dan aksesori harus disimpan ditempat terlindung, lepas dari muka tanah, diatas permukaan yang rata dan dihindarkan dari pengaruh cuaca.

  4. Ketidaksesuaian.

  a. Kontraktor wajib memeriksa Gambar Kerja yang ada terhadap kemungkinan kesalahan/ketidaksesuaian, baik dari segi dimensi jumlah maupun pemasangan dan lainnya.

  b. Bila bahan-bahan yang didatangkan atau difabrikasi ternyata menyimpang atau tidak sesuai yang telah disetujui, maka akan ditolak dan Kontraktor wajib menggantinya dengan yang sesuai.

  c. Biaya yang ditimbulkan karena hal diatas menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya dan tanpa tambahan waktu.

D. Bahan - Bahan Pemasangan Gipsum.

a. Papan Gypsum.

  1) Papan gipsum harus dari produk yang memiliki teknologi yang sesuai untuk daerah tropis dan memliki ketebalan minimal 9 mm untuk plafond dan 12 mm untuk dinding dan ukuran modul sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja, dari produk sekualitas Jayaboard, Knauff atau yang setara.

2) Papan gipsum harus dari tipe standar yang memenuhi ketentuan AS 2588, BS 1230 atau ASTM C 36.

  b. Semen Penyambung.

  Semen penyambung papan gipsum harus sesuai dengan rekomendasi dari pabrik pembuat papan gipsum.

  c. Rangka.

  Rangka untuk pemasangan dan penumpu papan gipsum harus dibuat dari bahan baja ringan lapis seng dan alumunium dalam bentuk dan ukuran yang dibuat khusus untuk pemasangan papan gipsum.

  d. Alat Pengencang.

  Alat pengencang berupa sekrup dengan tipe sesuai jenis pemasangan harus sesuai rekomendasi dari pabrik pembuat papan gipsum yang memenuhi ketentuan AS 2589.

BAB IV PELAKSANAAN LAPANGAN

4.1 Pekerjaan Persiapan

  Ada beberapa tahapan-tahapan dalam pelaksanaan perencanaan suatu rumah. Tahapan pelaksanaan proyek ini harus disusun sedemikian rupa mulai dari pengerjaan awal hingga finishing (jika pengerjaan proyek hingga finishing). Semuanya ini disusun didalam Time Schedule. Tahapan-tahapan dan berapa lama pengerjaan proyek tersebut disusun dahulu sebelum pelaksanaan, sehingga proyek tersebut dapat berjalan sesuai rencana dan tepat waktu.

  Pekerjaan persiapan sangat diperlukan sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan karena mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kelancaran proyek. Pekerjaan persiapan meliputi :

  4.1.1 Membuat direksi keet

  Direksi keet merupakan sarana yang sangat penting dalam menunjang pelaksanaan proyek yang berfungsi sebagai kantor untuk mengelola, mengkoordinasikan dan mengawasi pekerjaan lapangan sehari–hari dan sebagai tempat untuk menerima tamu yang berkunjung ke lokasi proyek. Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu direksi keet, ruang administrasi dan gudang

  2 perlengkapan proyek. Ukuran direksi keet sendiri adalah 3 x 6 m .

  4.1.2 Penyediaan Material dan Alat Kerja

   Material Adapun material-material yang digunakan dalam pelaksanaan proyek ini, sehingga perlu disiapkan dengan segera guna kelancaran kegiatan pembangunan, yaitu:

  • Agregat Kasar dan Halus Agregat (pasir dan kerikil) merupakan bahan pengisi sehingga dalam struktur beton agregat biasanya menempati kurang lebih 70 sampai 75 % dari volume massa yang telah mengeras. Untuk beton yang ekonomis, campuran harus dibuat sebanyak mungkin agregatnya. Agregat yang baik adalah yang tidak bereaksi kimia dengan unsur-unsur semen. Agregat harus mempunyai distribusi ukuran sedemikian rupa, sehingga ukuran rongga-rongga antara agregat menjadi minimum. Ini berarti dalam pembuatan beton jumlah pasta semen yang perlu mengisi rongga-rongga minimum pula.

  Ukuran pasir adalah harus dapat melalui ayakan 5 mm dan tertinggal di atas ayakan 0.075 mm (maksimum  4 mm) dengan syarat sebagai berikut :

   Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % terhadap berat kering, jika ini tidak terpenuhi maka pasir tersebut harus dicuci.

   Tidak boleh mengandung bahan oraganis terlalu banyak.

  Menurut peraturan di Inggris (British Standard) yang juga dipakai di Indonesia saat ini (dalam SK SNI T-15-1990-03) kekasaran pasir dapat dibagi menjadi empat kelompok menurut gradasinya, yaitu pasir halus, agak halus, agak kasar dan pasir kasar. Sedangkan kerikil mempunyai ukuran lebih dari 5 mm tetapi maksimumnya adalah 7.5 cm. Agregat ini mempunyai syarat, yaitu:

  1. Terdiri dari butiran keras dan tidak berpori, dengan butiran pipih tidak boleh lebih dari 20 %.

  2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % terhadap berat kering.

  3. Besar butiran kerikil maksimum harus memenuhi ketentuan ;  Tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antara selimut beton  ¾ lebih kecil atau sama dari jarak bersih tulangan, berkas tulangan1/3 lebih kecil atau sama dengan tebal pelat lantai.

  Agregat halus juga dipergunakan sebagai bahan campuran untuk plesteran dinding, lantai dan penggunaan lainnya.

  • Semen Material semen merupakan material yang mempunyai sifat- sifat adhesif dan kohesif yang diperlukan untuk mengikat agregat- agregat menjadi suatu massa yang dapat mempunyai kekuatan yang cukup. Semen portland merupakan bubuk yang sangat halus, berwarna abu-abu yang terdiri dari kalsium dan aluminium silikat. Beton yang dibuat dari semen portland biasanya membutuhkan
waktu kurang lebih dua minggu untuk mencapai kekuatan yang cukup.

  Semen yang dipakai dalam konstruksi terdapat beberapa jenis, yaitu :

  1. Tipe I (semen biasa / normal cement) digunakan untuk pembuatan beton bagi konstruksi yang tidak ipengaruhi oleh sifat-sifat lingkungan yang mengandung bahan-bahan sulfat dan perbedaan temperatur yang ekstrim.

  2. Tipe II digunakan untuk pencegahan serangan sulfat.

  3. Tipe III digunakan untuk mendapatkan beton yang mengeras dalam waktu cepat (High Early Strength Portland Cement), umumnya kurang dari seminggu.

  4. Semen putih untuk pekerjaan-pekerjaan arsitektural.

  • Air Air diperlukan untuk melarutkan semen agar terjadi reaksi kimiawi, untuk membasahi agregat dan untuk melumas campuran agar mudah pengerjaannya. Air yang digunakan untuk pembuatan dan perawatan beton harus bersih, tawar dan bebas dari segala macam campuran minyak, asam basa, garam dan bahan-bahan oraganik lainnya yang merusak beton atau tulangannya dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. Penggunaan suatu sumber air diperkenankan untuk digunakan asal ada bukti tes laboratorium yang menyatakan bahwa air tersebut memenuhi syarat untuk campuran beton.
  • Besi beton dan kawat tulangan.

  1. Besi penulangan beton harus disimpan dengan cara-cara sedemikian rupa sehingga bebas dari hubungan langsung dengan tanah lembab atau basah. Baik besi penulangan rata (Round Bars) maupun besi-besi penulangan bergelombang (Deformed Bars) harus disimpan berkelompok berdasarkan ukurannya masing-masing dan sesuai dengan persyaratan dalam NI-2 pasal 3.7

  2. Besi penulangan yang dipakai harus sesuai dengan persyaratan sebagai berikut:

  • Penulangan dengan diameter sampai dengan 12 mm, menggunakan baja mutu BJTP 24 (Round Bars)
  • Penulangan dengan diameter lebih besar dari 12 mm, menggunakan baja mutu BJTD 40 (Deform Bars).

  3. Tulangan besi beton yang digunakan harus bebas dari minyak, kotoran, cat, karat lepas dan lain-lain yang dapat merusak. Apabila terdapat karat pada permukaan besi, maka besi harus dibersihkan dengan cara disikat atau digosok tanpa mengurangi diameter penampang besi.

  4. Pengawas dapat memerintahkan untuk diadakan pengujian terhadap benda uji yang diambil dari besi yang akan digunakan.

  • Bata merah

  Bata merah yang digunakan adalah bata merah yang bermutu baik (sesuai dengan mutu standar yang telah ditetapkan), pembakaran sempuran, bebas dari cacat dan retak. Minimum belah menjadi dua bagian, produk lokal dan memenuhi persyaratan.

  • Kayu Bahan kayu yang digunakan untuk bagian struktural adalah kayu kelas kuat II dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :

  1. Semua pekerjaan kayu yang tampak seperti kusen, konsol, listplank dan lainnya harus terserut rata dan licin.

  2. Semua kayu yang digunakan harus kering, berumur tua, tidak retak dan tidak bengkok serta memenuhi persyaratan yang tercantum.

  3. Semua kayu yang digunakan harus terlebih dahulu diawetkan dengan bahan anti rayap.

  Sedangkan kayu yang digunakan untuk perancah dan begisting adalah kayu kelas kuat III dan IV.

  • Plamir, Kapur dan Cat Merupakan bahan – bahan untuk finising dari bangunan yang bertujuan untuk memperindah tampilan dari bangunan.

   Alat Kerja Disamping penyiapan material dan bahan bangunan untuk melaksanakan pembangunan, alat-alat kerja yang akan mendukung kelancaran pekerjaan juga perlu diperhatikan.

  Alat kerja merupakan sarana yang besar dan penting artinya dalam suatu pelaksanaan proyek. Dengan alat kerja yang lengkap, maka akan dihasilkan kualitas pelaksanaan yang baik, waktu penyelesaian yang tepat waktu dan biaya yang efisien. Alat kerja dapat berupa alat kerja mekanik atau alat kerja elektrik. Tenaga manusia relatif lebih murah dibandingkan dengan tenaga mesin, maka dari itu segi ekonomis pemakaian alat harus diperhatikan dengan teliti. Alat – alat kerja yang digunakan dalam pelaksanaan proyek pembangunan perumahan Griya Kebon Sajiq ini antara lain:

  • Alat Ukur Beberapa alat ukur yang digunakan dalam pelaksanaan proyek ini, yaitu:

  1. Theodolit, digunakan untuk meratakan kedudukan pososi kolom terhadap bangunan disampingnya.

  2. Waterpass, digunakan untuk menentukan kedataran suatu bidang dalam pemasangan begisting pelat lantai, kolom, balok dan pekerjaan lain yang mengharuskan suatu bidang datar.

  3. Rollmeter, untuk mengukur panjang.

  4. Benang dan Lood, untuk menentukan ketetapan penyetelan begisting, kolom dan pasangan bata.

  • Mollen Agar tercapainya adukan beton yang baik dan merata digunakan suatu mesin pengaduk. Caranya dengan memasukkan bahan kedalam mesin silinder yang berputar karena motor diesel. Alat tersebut adalah mollen dengan kapasitas yang tergantung dari volume yang ditargetkan.
  • Vibrator Vibrator adalah alat kerja yang menghasilkan getaran dengan frekuensi tertentu yang digunakan untuk mengecilkan pori adukan beton, sehingga tidak terjadi rongga kosong yang menyebabkan keroposnya beton. Pemadatan ini dilakukan dengan menusuk - nusuk beton. Penggunaan alat ini dapat memastikan terjadinya kontak yang baik antara material beton dengan tulangan.

  Alat vibrator ini dapat berupa internal vibrator yang digunakan dengan mencelupkannya ke dalam beton atau jenis external vibrator dengan menempelkannya pada cetakan beton.

  • Gerobak Tuang Dorong Gerobak tuang dorong adalah alat angkut yang didorong oleh tenaga manusia yang digunakan untuk mengangkut mortal beton dari tempat pengadukan menuju tempat pengecoran.
  • Selang Air

  Selang air digunakan untuk menyalurkan air dari sumber air ke lokasi pengadukan beton.

  • Alat Pembengkok Tulangan Alat ini terdiri dari dua bagian, yaitu :

  1. Meja kerja Meja kerja terdiri pelat besi dimana di atasnya ditempatkan potongan besi setinggi 5 cm sebanyak dua buah, dimana yang satu membentuk sudut 45 letaknya terhadap yang lain.

  2. Tangkai Pembengkok Merupakan batang yang terbuat dari besi yang panjangnya bervariasi tergantung besar baja yang akan dibengkokkan.

  • Alat Pemotong Tulangan (Cutter)

  Digunakan untuk memotong tulangan. Dalam pelaksanaan proyek penggunaan cutter cukup dilakukan oleh dua orang.

  4.2 Penggalian Tanah

  Pada pekerjaan ini, galian harus mencapai ukuran yang sesuai dengan gambar rencana yang ada, tetapi bila diperlukan dapat berubah atau bertambah sampai permukaan tanah keras. Galian tanah meliputi galian tanah pondasi, septictank, pump room dan lain-lain. Penggalian tanah dilakukan dengan memobilisasi tenaga kerja dengan pertimbangan efisiensi biaya jika dibandingkan dengan menggunakan exavator. Sedangkan tanah galian yang memenuhi syarat spesifikasi dapat digunakan untuk penimbunan atau peninggian lantai dasar bangunan.

  4.3 Pekerjaan Struktural

  Pada proyek pembangunan perumahan Griya Kebon Sajiq ini digunakan beton bertulang mutu K-250. Mutu ini mempunyai kekuatan tekan

  25 Mpa. Kekuatan mutu beton yang dimaksud akan tercapai setelah umur beton mencapai empat minggu atau 28 hari.

  Campuran adukan beton menggunakan perbandingan volume yang telah diuji spesifikasinya di laboratorium, yaitu dengan uji tekan silinder (pra konstruksi) dan dengan uji tekan kubus (pada saat konstruksi).

  Perbandingan campuran yang direncanakan yaitu 1 pc : 2 Pasir : 3 kerikil alam. Campuran yang direncanakan tersebut harus dibuktikan dengan data otentik dan dari percobaan bahwa kekuatan karakteristik yang disyaratkan dapat dicapai. Sedangkan kekentalan adukan diperiksa dengan uji slump.

  Berikut adalah beberapa bagian struktural pembangunan perumahan Griya Kebon Sajiq yang dapat dipantau :

  4.3.1 Pekerjaan pembuatan lantai kerja

  Menumpuk batu pecah pada dasar galian tanah. Setelah diratakan, pada bagian atasnya diberikan urugan pasir sampai memenuhi level dasar foot plate.

  4.3.2 Pekerjaan fabrikasi footplate

  Merakit rangka foot plate sesuai dengan gambar renana struktur. Perakitan dilakukan tidak pada galian fondasi melainkan dilakukan ditempat lain karena membutuhkan ruang gerak yang cukup besar untuk pembuatannya.

  Lantai kerja yang sudah kering dibersihkan terlebih dahulu dari tanah dan kotoran. Setelah itu poor (rangka foot plat) yang sudah selesai diletakkan diatas lantai kerja.

  Pada waktu meletakan poor diatas lantai kerja, dipasangkan juga beton decking/kon decking atau batu pecah.tujuannya adalah agar rangka foot plat tidak menyentuh lantai kerja dan apabila di cor akan tertutup secara sempurna.

  Kemudian dilakukan pengukuran kembali dengan cara menarik benang adari as vertikal dan horizontal. hal ini dilahukan karena kadang kala as footplat tidak sama dengan as kolom. Cara meluruskan as adalah dengan lot, lot adalah alat untuk meluruskan as yang ditentukan dengan benang. Dengan lot ini akan didapatkan garis lurus menyiku kebawah, karena benang yang di bentangkan berada di atas tanah, apabila diukur langsung dengan meteran akan tidak akurat karena meteran tidak tegak lurus atau menyiku dengan benang.

  Setelah didapatkan jarak yang sesuai, untuk menandai as kolom dipasangkan sekang atau begel pada footplat. Lalu besi kolom dirakit langsung diatas foot plat ditempat galian. Untuk menahan besi kolom supaya dapat berdiri dipasangan kress. Kress adalah besi tulangan yang dipasang miring dengan sudut tertentu yang fungsinya untuk menahan tulangan kolom agar dapat berdiri.

  Kemudian diikatkan sekang pada besi kolom tersebut dan diikat dengan kawat bendrat . sengkang diberi jarak sesuai dengan gambar kerja.

  4.3.3 Pekerjaan pengecoran Semen, pasir, krikil,dan air dicampur dengan mesin molen.

  Setelah tercampur dengan baik adonan beton kemudian dibawa ke lokasi dengan gerobak dorong (arco).. Kemudian adonan tersebut diratakan dengan menggunakan vibrator.sampai didapatkan tebal footplate sesuai gambar rencana.

  Apabila terjadi hujan, foot plat yang belum kering harus ditutupi dengan terpal dan pekerjaan pengecoran harus dihentikan .

  4.3.4 Pekerjaan Kolom Tendensal

   Pembekistingan kolom Cetakan harus menghasilkan struktur akhir yang memenuhi

   bentuk, garis, dan dimensi komponen struktur seperti yang di syaratkan pada gambar rencana dan spesifikasi. Cetakan harus mantap dan cukup rapat untuk mencegah

   kebocoran mortar Cetakan harus diperkaku dan diikat dengan baik untuk  mempertahankan posisi dan bentuknya.

  Cetakan dan tumpuannya harus di rencanakan sedemikian  hingga tidak merusak struktur yang dipasang sebelumnya. Perencanaan cetakan harus menyertakan pertimbangan factor –

   factor berikut:

  • Kecepatan dan metode pengecoran beton
  • Beban selama konstruksi, termasuk beban – beban vertical, horizontal, dan tumbukan.
  • Persyaratan – persyaratan cetakan khusus untuk konstruksi cangkang, pelat lipat, kubah, beton arsitektural atau elemen – elemen sejenis.

  Cetakan untuk elemen struktur beton prategang harus di rancang dan dibuat sedemikian hingga elemen sruktur dapat bergerak tampa menimbulkan kerusakan pada saat gaya prategang diaplikasikan.

   Pengecoran kolom Mix design beton mutu K 

  250

  Pengujian dilakukan dari pengujian standar untuk mendapatkan karakteristik material antara lain, kadar lumpur pasir, sieve analisis, kadar air kering permukaan, berat spesifik pasir dan kerikil, Mix design mutu K 250 . Standar yang dipakai yaitu SK SNI T-15-1990-03 “Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal”. Teknis pengerjaan  Pembesian 

  • Kolom yang digunakan adalah kolom ikat yang mempunyai tulangan-tulangan yang diperkuat atau diikat pada jarak tertentu dengan lilitan tertutup yang umum disebut sengkang.
  • Untuk penyetaraan dan pemasangan besi tulangan dipasang pada posisi yang tidak dapat digeser, sedangkan untuk
pembengkokan tulangan harus dilakukan dengan gerakan perlahan dan teratur.

  • Sesuai dengan pekerjaan pembesian, panjang tulangan bengkokan pada ujung yang lurus adalah 5 cm sedangkan panjang tulangan penyaluran adalah 30 cm, hal ini sesuai dengan SNI-03-2848-2002 pasal 3.16.1 dan 3.16.2.

4.3.5 Pekerjaan pondasi batu kali

   Teknis Pekerjaan Pengukuran as pondasi batu kali dengan cara membentangkan benang dari as vertikal dan horizontal. Kemudian dilakukan pengelotan,utuk menandakannya ditancapkan besi tulangan polos pada ujung-ujung pondasi batukali lalu diikat dengan benang .

  Waterpass dengan menggunaan selang air. Tujuannya adalah agar level pondasi rata dan sejajar dengan level yang direncanakan. Perlunya dilakukan water pass dengan selang air karena permukaan tanah galian pondasi yang satu dengan galian tanah pondasi yang lain tidak rata. Untuk meratakannya, dengan cara membentangkan selang air water pass. Kemudian ukur terlebih dahulu tinggi satu bagian pondasi batukali dan kemudian baru diukur pada bagian pontasi batu kali di tempat lain bila air tersebut tidak berubah posisinya berarti pondasi pertama dan kedua sudah selevel.

  Pembuatan lantai kerja pondasi batu kali, pada proyek ini untuk pondasi batu kali tidak menggunakan lantai kerja yang di cor/ disemen, pada dasar pondasi batukali hanya diberikan urugan pasir setebal 5 cm. Lalu batu kali disusun sedemikian rupa sesuai dengan bentuk pondasi yang direncanakan. Penyusunan batu kali dilakukan dengan dilekakkan satu persatu dan direkatkan dengan adonan semen dan pasir.campurannya 1 : 5. Dan pada bagiantengah pondasi ditancapkan tulangan besi yang nantinya akan diikatkan kepada rangka sloof diatas pondasi.

4.3.6 Pekerjaan Pembuatan rangka sloof

   Teknis Pekerjaan Besi tulangan dipotong berdasarkan panjang bentang + (10- 15%) untuk bengkokannya. Rangka besi yang dipotong lansung dibengkokkan pada ujungnya, kemudian disusun membentuk persegi sesuai gambar dengan cara memasukkan sekang dan pada akhirnya diikatdengan bendrat.

  Sloof yang telah dirakit lalu dibawa ke atas landasannya yaitu pondasi batu kali yang telah dibuatkan begisting sesuai dengan gambar rencana.

  Kemudian dilakukan pengecoran sesuai tinggi gambar rencana,bagian atas sloof diratakan menggunakan cepang. Proses pembuatan beton sampai pengecoran dilakukan sebagai berikut :

  1. Penempatan material beton (Air, Semen, Pasir dan kerikil) dengan perbandingan tertentu ke dalam molen

  2. Pengadukan material dilakukan dalam molen dalam jangka waktu ±5 menit, sehingga diperoleh campuran yang merata.

  3. Pengangkutan beton dari mesin pengaduk ke tempat cetakan atau begisting memakai ember secara estafet.

  4. Adukan beton dituangkan kedalam begisting. Apabila akan dilakukan penyambungan dari pengecoran lama, maka perlu dituangkan adukan semen dengan konsentrasi tertentu dengan tujuan beton yang sudah mengeras dapat menyatu dengan baik dengan adukan beton yang baru dituangkan.

  5. Adukan beton yang sudah di masukkan kedalam cetakan harus diikuti dengan penggetaran dengan internal vibrator atau dengan menusuk-nusuknya menggunakan kayu atau baja untuk mengurangi terjadinya rongga-rongga.

  6. Pekerjaan pengecoran dihentikan setelah diperoleh tinggi sloof yang direncanakan.  Pembongkaran perancah dan begisting

  Pembongkaran begisting dilakukan pada saat beton sudah berumur 5 hari, agar bentuk dari sloof tidak berubah.

4.3.7 Pekerjaan Kolom Lantai 1

  Kolom adalah bagian struktur bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari struktur bagian atasnya (Atap dan Ring balok untuk kolom paling atas) baik itu berupa beban mati maupun beban hidup ke bagian struktur yang berada dibawahnya dan akhirnya adalah di pondasi.

  Pada pekerjaan kolom lantai satu terdapat berbagai ukuran dimensi dan bentuk kolom, diantaranya terdapat bentuk kolom “T”, “L”, dan “I”.

   Teknis pekerjaan 1. Penulangan Kolom.

  Tulangan kolom dipasang dan distel supaya lurus 90 sebelum pemasangan begistingnya, penggunaan tulangan pada kolom ini adalah semuanya menggunakan baja ulir. Pemasangan sengkang atau tulangan geser pada kolom menggunakan jarak sesuai gambar rencana.

  2. Begisting Kolom Begisting pada kolom dipasang setelah tulangannya dipasang dengan benar. Begisting pada kolom ini menggunakan empat buah papan kayu 2 x 20 x 400 cm. Yang di perkuat dengan batangan kayu usuk 5/7 pada jarak tertentu.

   Dalam pekerjaan pembuatan dan pemasangan bekisting kolom alat yang digunakan adalah gergaji kayu, palu dan meteran.

   Kayu usuk dan papan disusun terlebih dahulu sebelum dipasang pada rangka kolom.Setelah papan dipasang diperkuat dengan pengaku dan besi-besi penyangga. Pemasangan harus tepat siku-siku pada sisi tegaknya dan tidak berubah kedudukannya serta tidak terjadi pergeseran.  Antara papan dan rangka kolom diberikan spesi untuk selimut beton.

  3. Pengecoran  Semen, pasir, kerikil dicampur dengan Mix design mutu K 250 , kemudian dicampur dengan air dalam molen.

   Campuran yang sudah jadi diangkut menggunakan gerobak dorong (arco) untuk dibawa ke tempat pengecoran.  Campuran yang sudah jadi ditumpahkan ke dalam bekisting.  Agar campuran pada bagian dalam bekisting tidak berongga, maka setiap ketinggian kira-kira 0,5 m campuran dirojok dengan besi pengrojok dan vibrator.

   Setelah campuran dalam bekisting penuh, kemudian bagian atasnya di ratakan dengan menggunakan cepang.  Setelah diratakan kemudian didiamkan dan setelah 3 hari bekisting dibuka.

  4. Pembongkaran perancah dan begisting Pembongkaran begisting dapat dilakukan pada umur 7 hari setelah pengecoran dilakukan. Karena material beton suduh cukup keras.

4.4 PEMBUATAN RAB

  Rencana anggaran biaya ini di buat berdasarkan standar SNI dan analisa upah, tenaga berdasarkan nilai data survey kondisi di lapangan yang ada. Semua volume pekerjaan dihitung secara cermat dan sesuai dengan kondisi real dilapangan.

  Setelah itu dibuat time scedule, sehingga didapat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun satu unit rumah dan tenaga yang dibutuhkan dalam satuan per-minggu.

  Tetapi disini terjadi permasalahan dimana mandor yang bekerja tidak disiplin, mereka tidak mengikuti rencana time scedule dan peraturan pelaksanaan proyek yang ada, sehingga proses plaksanaan dilapangan tidak tepat waktu. Faktor pengawas dari kantor tidak selalu stanby mengawasi dilapangan juga menjadi penyebab bahwa mandor tersebut tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan benar.

  Dari semua urutan pekerjaan diatas tidak ada terjadi kesalahan yang fatal dilapangan, baik pekerjaan seluruh konstruksi, hanya saja permasalahan terjadi pada kurangnya pengawasan terhadap mandor mengenai waktu dan tenaga dalam menyelesaikan proyek perumahan ini.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Adapun kesimpulan manajemen ini yang sederhana dengan bagan struktur di perumahan Griya Kebon Sajiq :

  1. Pola pembangunan berdasarkan pesanan konsumen (tampak pada bangunan semua hampir sama tetapi tata ruang bebas dan di tentukan oleh konsumen sehingga dalam proses pelaksanaanya relatif lambat).

  2. Skema pekerjaan maksimal 2 lantai : lantai dasar dan lantai 2 dengan tiap - tiap mandor yang bekerja pada masing – masing perumahan kurang maksimal.

  3. Kurangnya tim pengawas dari manajemen proyek, mengakibatkan hasil dari pekerjaan kurang maksimal (sehingga mandor cenderung kurang disiplin).

  4. Dalam proses pengerjaan antara teori dan pelaksanaan dilapangan tidak ada terjadi permasalahan yang fatal.

5.2 Saran

  Pada proyek ini, ada beberapa hal pada beberapa pekerjaan yang perlu diperhatikan atau perlu diperbaiki antara lain :

  1. Perlu tim pengawas yang tetap standby atau memantau proses pengerjaan di tempat proyek, bukan hanya mandor.

  2. Jalan masuk yang kurang memadai (sekitar 4 m), sehingga kendaraan keluar masuk kurang leluasa, perlu di adakannya pelebaran jalan masuk.

  3. Pentingnya manajemen proyek yang jelas dan tegas, agar seluruh pekerja dan mandor selalu mengikuti aturan yang ada, dengan maksud manajemen kantor yang diikuti oleh pekerja dan mandor, bukan pekerja dan mandor yang diikuti oleh manajemen kantor.

Dokumen baru

Download (56 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

ADVOKASI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM) GMBI TERHADAP PKL DALAM IMPLEMENTASI PERDA NO. 08 TAHUN 2006 TENTANG RELOKASI PKL DI KABUPATEN LUMAJANG (ANALISIS MODAL SOSIAL TERHADAP ISSU KEBIJAKAN PUBLIK)
0
18
17
Penggusuran PKL dan Hak Ekosob
0
31
1
EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PENATAAN PKL BERDASARKAN PERATURAN BUPATI NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG PENATAAN PKL KABUPATEN JEMBER (Studi kasus penataan PKL jalan Samanhudi dan jalan Untung Suropati Kabupaten Jember)
0
7
16
HUBUNGAN ANTARA IDENTITAS PKL DENGAN PENATAAN EKONOMI PKL DI KOTA JEMBER
0
7
106
Sistem Informasi Pengolahan Data PKL di PT. INTI (Persero)
0
15
237
Pembangunan Aplikasi Pengelolaan Data PKL pada PT. Inti (Persero) Bandung
0
4
57
Membuat Aplikasi Penerimaan dan Absensi PKL di Centra Car Wash
0
4
50
Laporan Praktek Kerja lapangan PKL Di PT Mangle Panglipur Bandung
6
30
108
Buku Pedoman PKL
0
10
20
Buku Panduan PKL Komunitas DIII Kebidanan 2015
0
1
26
PENATAAN PKL : ANTARA KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN ASPIRASI MASYARAKAT PKL : Studi Tentang Penataan PKL Di Wilayah Pasar Tanjung Kota Mojokerto Repository - UNAIR REPOSITORY
0
0
104
PENATAAN PKL : ANTARA KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN ASPIRASI MASYARAKAT PKL : Studi Tentang Penataan PKL Di Wilayah Pasar Tanjung Kota Mojokerto Repository - UNAIR REPOSITORY
0
0
78
1.1. LATAR BELAKANG - DOCRPIJM 1501488063BAB 1 PENDAHULUAN RPI2JM PKL
0
0
15
Laporan PKL Finish Taniwel SBB
0
1
19
SK Pembimbing dan Panitia PKL IV dan PKL II Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak Tahun Akademik 2012/2013
0
0
6
Show more