SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
2
125
11 months ago
Preview
Full text

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERFORMA BERMAIN SEPAK BOLA

  

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  Program Studi Psikologi Disusun oleh:

  Fx Joko Krisdiyanto 009114140

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2007

  

Success is not final, failure is not fatal, it is the courage to

continue that counts….

  

(Winston Churchill)

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkotbah 3: 11)

  

Skripsi ini aku persembahkan untuk:

Ayah (alm) dan ibuku tercinta,

kedua adikku dan kekasihku tercinta,

serta semua orang yang mengenalku

  v Pernyataan Keaslian Karya Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 2007 Penulis

  Fx. Joko Krisdiyanto vi

  

ABSTRAK

Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Performa Bermain Sepak Bola.

  Oleh: Fx. Joko Krisdiyanto Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dan performa bermain sepak bola. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan performa bermain sepak bola.

  Subyek penelitian ini adalah 53 pemain sepak bola yang bermain di divisi utama PSS Sleman. Variabel dalam penelitian ini adalah kecerdasan emosional sebagai variabel bebas dan performa bermain sepak bola sebagai variabel tergantung. Data yang diperoleh berasal dari skala kecerdasan emosional dan tabel penilaian performa bermain sepak bola yang disususn oleh peneliti. Koefisien reliabilitas skala kecerdasan emosional adalah sebesar 0.955. Validitas skala ditentukan berdasarkan penilaian ahli. Kualitas item ditentukan berdasarkan pada kriteria yang memiliki daya beda item

  ≥ 0.3. Hipotesis penelitian ini diuji dengan korelasi Pearson’s Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi sebesar r = 0.443 dengan tingkat signifikansi p <

  0.01. Hipotesis penelitian ini diterima. Hal ini berarti ada hubungan positif antara kecerdasan emosional dan performa bermain sepak bola. vii

  

ABSTRACT

  Correlation Between Emotional Intelligence and Football Performance By: Fx Joko Krisdiyanto

  This research aims to find out the correlation between emotional intelligence and football performance. This was correlation research. The hypothesis of this research was “there is a positive correlation between emotional intelligence and football performance.

  The subjects of this research were 53 footballer that play in premiere division of PSS Sleman. The variable of this research are emotional intelligence as independent variable and football performance as dependent variable. The data are derived from emotional intelligence scale and form football performance which established by researcher. The reliability of emotional intelligence scale was 0.955. The validity were obtained by professional judgment. Item quality was obtained by criterion which had index discrimination ≥ 0.3.

  The hypothesis of this research was analyzed by using Pearson’s Product Moment Correlations. The result of this research shows the correlations r = 0.443 with the significant level p = 0.01. The hypothesis of this research was accepted. It means that there is a positive correlation between emotional intelligence and football performance. viii

  KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Bapa dan Yesus juru selamatku, atas kasih dan kekuatan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Penulisan skripsi ini dapat selesai tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi, M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  2. Bapak Y. Agung Santoso, S.Psi, selaku dosen pembimbing, yang telah memberikan masukan, saran, waktu, dan kesabarannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  3. Ibu Sylvia Carolina dan bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi, M.Si, selaku dosen penguji.

4. Agnes Indar Etikawati, S.Psi., M.Si., Dra Tjipto Susana, M.Si., dan Drs. H.

  Wahyudi, M.Si selaku pembimbing akademik, terima kasih atas bimbingan dan kesabarannya.

  5. Ayahku (alm) Y.H. Samiyo dan ibuku TH Tatik S. tercinta yang telah sabar menungguku menyelesaikan skripsi ini, terimakasih juga untuk dana dan dukungan yang kalian berikan.

  6. Bapak Suparlan, selaku sekretaris PSSI cabang Sleman yang membantuku dalamurusan perijinan penelitian ini. ix

  7. Bapak Wahyu Riyanto pelatih timAngkasa Pura 1, bapak Bambang K.W dan Sugiarto selaku pelatih dan manajer tim PIM, pelatih tim BSA, dan Pelatih tim Argomulyo yang rela diganggu dengan penyebaran angket untuk penelitian ini.

  8. Mba Etta yang dengan sabar membantuku menyusun skripsi ini, dan semua dosen Psikologi yang telah memberikan ilmunya kepadaku.

  9. Betharia Meylani yang dengan setia dan selalu mendukungku untuk menyelesaikan skripsi ini.

  10. Kedua adikku Aryk dan Mandra yang selalu berbagi susah dan senang bersamaku melawan keterbatasan.

  11. Yessi, Dion, Heru, Agung, Wiwied, Ina, Ary dan semua teman-temanku angkatan 2000 terima kasih atas kebersamaan dan pengalaman hidup yang kita peroleh bersama-sama selama berada di Psikologi.

  12. Teman-teman yang psikologi yang telah bersamaku bermain sepakbola untuk tim psikologi, semuanya menyenangkan dan semoga tim psikologi bias menjadi tim yang kuat.

  13. Mas Muji, Mas Gandung, dan Mbak Naniek yang telah membantu di lab dan sekretariat Psikologi, terima kasih telah membantu urusan administrasi.

  14. Maria, Diana, Feny, Nyun, dan Cordel yang setia menemaniku melepaskan penat.

  15. Oho, Eko, Acong, dan Adri Parto yang telah menemaniku menjalani hari-hari susah dan bahagia, senang bisa menimba ilmu dan pengalaman hidup bersama kalian. x

  16. Anak-anak KBT dari tahun 2000-2005 yang menyemangati dan menemaniku bercanda serta beristirahat sehabis kuliah dan menjelang kuliah.

  17. Teman-teman PS Rajawali yang bersamaku menyiksa badan untuk berlatih sepak bola, terima kasih untuk semua pelajaran fisik dan tehnik yang sangat melelahkan tapi sangat menyenangkan.

  18. TO Corp dan sekutunya Topig, Singgih “cookie”, Jatee, Kun, Gepenk, Misil, Alit, Pungkas, Bayu ubay, Rendra “bethet”, Sugarden, Ube, Bun, Feby, Danang, dan Adi yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. xi

  Daftar Isi Halaman Judul …………………………………………………………....... i Halaman Persetujuan ……………………………………………………… ii Halaman Pengesahan ……………………………………………………… iii Halaman motto …………………………………………………………….. iv Halaman Persembahan ……………………………………………………... v Halaman Keaslian Karya …………………………………………………… vi Abstrak ……………………………………………………………………… vii Abstrack ……………………………………………………………………. viii Kata Pengantar ……………………………………………………………… ix Daftar Isi …………………………………………………………………… xii Daftar Tabel ………………………………………………………………… xv Daftar Lampiran ……………………………………………………………. xvi

  Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah ………………………………………….......

  1 B. Rumusan Masalah …………………………………………………….

  5 C. Tujuan Penelitian ……………………………………………………..

  5 D. Manfaat Penelitian ……………………………………………………

  5 Bab II Landasan Teori

  A. Performa Bermain Sepak Bola 1. Sepak Bola ………………………………………………………......

  7 xii

  2. Performa Pemain Sepak Bola ……………………………………….

  Bab III Metode Penelitian A. Jenis Penelitian ………………………………………………………..

  43

  1. Uji Coba Alat Ukur …………………………………………………

  A. Persiapan Penelitian

  42 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

  40 G. Metode Analisis Data …………………………………………………

  34 F. Validitas dan Reliabilitas …………………………………………......

  33 E. Metode dan Tehnuk Pengumpulan Data ………………………………

  32 D. Subyek Penelitian ……………………………………………………..

  32 C. Definisi Operasional ……………………………………………….....

  32 B. Variabel Penelitian ……………………………………………………

  D. Hipotesis……………………………………………………………… 31

  8

  Bola………………………………………………………………..... 25

  23 C. Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Performa Bermain Sepak

  3. Aspek-aspek Kecerdasan Emosi ……………………………………

  22

  2. Pengertian Kecerdasan Emosi ………………………………………

  21

  1. Pengertian Emosi ……………………………………………………

  13 B. Kecerdasan Emosi

  11 4. Pengukuran Performa Pemain Sepak Bola …………………………

  3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Performa Pemain Sepak Bola …

  2. Hasil Uji Coba Alat Ukur xiii a. Indeks Daya Diskriminasi Alat Pengumpul Data …………..

  44

  b. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpul Data ……………

  45 B.

  46 Pelaksanaan Penelitian ………………………………………………..

  C. Analisis Data Penelitian 1. Uji Asumsi ………………………………………………………….

  47 2. Uji Hipotesis ………………………………………………………..

  48 D. Kategorisasi Subyek Berdasarkan Skor Kecerdasan Emosional dan Performa Bermain Sepak Bola………………………………………

  49 E. Pembahasan ……………………………………………………………

  51 Bab V Kesimpulam dan Saran

  A. Kesimpulan ……………………………………………………………

  55 B. Saran 1.

  55 Bagi Klub Sepak Bola …………………………………………........

  2. Bagi Pemain Sepak Bola ………………………………………........

  55 3. Bagi Peneliti Lain …………………………………………………..

  56 Daftar Pustaka ………………………………………………………………

  57 xiv Daftar Tabel Tabel 1 Data Performa Pemain Sepak Bola

  16 Tabel

  45 Tabel 10 Spesifikasi Skala Kecerdasan Emosional Untuk Penelitian

  50 Tabel 16 Kategorisasi subyek Berdasarkan Model Distribusi Normal

  50 Tabel 15 Norma Kategorisasi Skor Performa Pemain Sepak Bola dan Skala Kecerdasan Emosional

  50 Tabel 14 Norma Kategorisasi Skor subyek

  13 Deskripsi Statistik Data Penelitian

  48 Tabel

  48 Tabel 12 Hasil Uji Coba Lineritas Hubungan

  11 Hasil Uji Normalitas Sebaran

  46 Tabel

  41 Tabel 9 Spesifikasi Skala Kecerdasan Emosional Setelah Uji Coba

  2 Performa Pemain Penyerang

  39 Tabel 8 Blue Print Kecerdasan Emosional Sebelum Uji Coba

  35 Tabel 7 Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional

  20 Tabel 6 Penilaian Performa Pemain Sepak Bola

  5 Pengukuran PerformaPemain Sepak Bola

  18 Tabel

  4 Performa Pemain Tengah

  18 Tabel

  3 Performa Pemain Belakang

  17 Tabel

  51 xv

  Daftar Lampiran

  Lampiran 1 Skala Uji Coba Lampiran 2 Data Skala Uji Coba Lampiran 3 Reliabibitas Data Skala Uji Coba Lampiran 4 Skala Penelitian Lampiran 5 Box Score Lampiran 6 Data Skala penelitian Lampiran 7 Reabilitas Data Skala Penelitian Lampiran 8 Uji Normalitas, Uji Linearitas, Uji Korelasi Lampiran 9 Surat-surat Penelitian xvi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah A. Sepak bola adalah sebuah olah raga yang sangat populer di kalangan

  masyarakat Indonesia bahkan di dunia. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa kompetisi yang berjenjang seperti kompetisi divisi II sampai Divisi utama, atau juga kompetisi yang mempertemukan beberapa klub amatir yang memperebutkan piala dan sejumlah hadiah. Kompetisi-kompetisi tersebut menyiratkan betapa tinggi antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola.

  Kompetisi-kompetisi yang ada pada akhirnya akan memunculkan sebuah tim sebagai juara. Posisi sebagai juara adalah posisi yang ingin dicapai oleh setiap tim ketika bertanding dalam sebuah kompetisi. Sebuah kompetisi tentu hanya akan memunculkan satu tim sebagai juara karena tidak semua tim dapat secara bersama- sama menjadi juara dalam satu kompetisi. Hasil yang dicapai sebuah tim dalam suatu kompetisi adalah prestasi tim tersebut. Departemen Pemuda dan Olahraga (1990) mendefinisikan prestasi sebagai hasil yang telah dicapai.

  Prestasi adalah sebuah tolak ukur yang mutlak untuk seorang olahragawan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prestasi seorang olahragawan ditentukan oleh performanya dalam pertandingan (Gunarsa, dkk., 2000). Pele mencapai performa puncak pada akhir 1970-an bersama Brasil ia menjuarai 3 kali juara dunia. Diego Armando Maradona mencapai performa puncak pada tahun1986- 1990 ia berhasil menjuari piala dunia bersama Argentina dan merajai kompetisi Serie A Itali bersama klubnya Napoli. Pada awal 1990-an Frank Rijkaard, Marco Van Basten, Franco Baresi, dan Paolo Maldini bersama-sama di AC Milan mencapai performa puncak dan berhasil merajai Eropa dengan menjuarai piala Champion

  Dewazien (2001) mengungkapkan bahwa penguasaan tehnik, stamina yang prima, tingkat IQ, faktor strategi, relasi sosial pemain sepak bola, dan tekanan media akan mempengaruhi performa seorang pemain sepak bola di lapangan. Secara garis besar performa seorang pemain sepak bola ditentukan 4 faktor yaitu faktor kognitif (IQ, kemampuan tehnik, dan strategi), faktor fisik (stamina, postur tubuh, dan kecepatan berlari), faktor psikis (motivasi, kepercayaaan diri, dan emosi), dan faktor sosial (relasi sosial pemain sepak bola dan tekanan media, hubungan dengan manajemen klub, gaji dan bonus).

  Kemampuan-kemampuan tersebut saling mendukung dan menentukan performa seorang pemain sepak bola. Kemampuan tehnik dan IQ (faktor kognitif) didukung dengan kemampuan fisik seperti daya tahan tubuh, kelenturan tubuh,

  postur tubuh dan kecepatan berlari (faktor fisik) serta dengan pemilihan strategi

  yang tepat untuk menghadapi lawan secara nyata menentukan performa pemain sepak bola di lapangan. Faktor psikis (seperti motivasi, percaya diri, dan emosi) juga berpengaruh terhadap performa seorang pemain sepak bola karena adanya beberapa kondisi di lapangan yang akan mempengaruhi kondisi psikis seorang pemain sepak bola.

  Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi kondisi psikis di lapangan antara lain adalah teriakan penonton baik yang bersifat mendukung ataupun menghina, hinaan dari pemain lawan, tertinggal atau membuat angka lebih dahulu, dan benturan-benturan fisik dengan pemain lawan seperti tackle-tackle keras dari lawan, siku yang mengenai wajah ketika berebut bola diudara, dan tabrakan keras yang bisa mengakibatkan cidera. Kondisi-kondisi tersebut secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi keadaan emosi seorang pemain sepak bola. Baars (1979) berpendapat bahwa ketika kita mengenali sesuatu sebagai hal yang baik dan menyenangkan bagi diri sendiri hal itu akan merangsang emosi dasar dan kita akan merasakan suatu pengalaman emosi kegembiraaan. Perlakuan-perlakuan yang menyenangkan seperti dukungan penonton, membuat angka lebih dahulu, pujian dari teman karena umpan atau pergerakan yang baik akan menimbulkan kondisi emosi yang menyenangkan.

  Perlakuan-perlakuan menyenangkan yang dirasakan oleh jiwa akan dirasakan oleh raga kita, begitu juga sebaliknya pengaruh yang dirasakan oleh raga kita akan dirasakan oleh jiwa kita. Gunarsa, dkk (1996) berpendapat bahwa manusia merupakan suatu kesatuan psikosomatis (psychosomatic unity), manusia adalah kesatuan jiwa dan raga, yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Ketika berada dalam sebuah pertandingan seorang pemain sepak bola akan merasakan perubahan emosi yang disebabkan oleh kondisi fisik yang dihadapinya. Untuk bisa menguasai kondisi emosi dan mengarahkan emosi agar dapat mendukung performanya maka seorang pemain sepak bola harus memiliki kecerdasan emosional yang cukup baik.

  Goleman (2002) berpendapat bahwa kecerdasan emosi terbagi dalam 5 aspek yaitu; mengenali emosi sendiri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan. Seorang pemain sepak bola dapat mengendalikan dan mengarahkan emosinya dengan mengenali perasaan yang ia rasakan sendiri terlebih dahulu. Cara seorang pemain sepak bola mengelola emosi berguna agar tidak berpengaruh buruk terhadap performanya di dalam pertandingan. Seorang pemain sepak bola yang berhasil mengelola emosinya kemudian dapat memotivasi dirinya sendiri dan mampu meningkatkan performanya. Kemampuan seorang pemain sepak bola untuk mengenali emosi orang lain juga dapat berguna karena seorang pemain sepak bola dapat menebak reaksi yang akan dilakukan oleh orang lain tersebut. Sepak bola adalah permainan beregu yang membutuhkan kekompakan antar individu-individu yang berada dalam sebuah tim sepak bola, kemampuan menjalin hubungan dan koordinasi menjadi sangat bermanfaat untuk membuat kekompakan dalam sebuah tim sepak bola dapat terbentuk.

  Darmawan (2006) menyatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan komponen penting dalam sepak bola. Darmawan yang melatih klub Persija di tahun 2006 melihat arti penting kecerdasan emosi sehingga ia bekerja sama dengan sebuah biro pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan kecerdasan emosi para pemainnya. Kecerdasan emosional mampu menentukan kemampuan seseorang dalam pengendalian emosi, dengan mengenali gejolak emosinya sendiri, mengelola emosinya sendiri, memotivasi dirinya sendiri, mengenali emosi orang lain dan dapat menjalin hubungan dengan orang lain maka ia akan dengan mudah mengelola situasi yang terjadi didalam lapangan, terutama situasi-situasi yang dapat membuat keadaan emosi seseorang tidak stabil. Kemampuan mengelola situasi yang terjadi di lapangan membuat seorang pemain sepak bola dapat lebih memainkan sepak bola dengan lebih terfokus dan benar-benar diatur oleh pikiran bukan oleh emosi- emosi negatif yang cendrung destruktif dan membuat permainan sepak bola tidak berkembang.

  Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berkaitan dengan kecerdasan emosional seorang pemain sepak bola dengan performa seorang pemain sepak bola dalam suatu pertandingan.

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka peneliti merumuskan sebuah masalah yaitu “apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan performa pemain sepak bola”.

  C. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan latar belakang dan rumusan permasalahan yang telah diuraikan maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan performa pemain sepak bola.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat teoritis Memberikan sumbangan kepada psikologi khususnya psikologi olah raga berkaitan dengan peran kecerdasan emosional dalam olah raga khususnya olahraga sepak bola.

  2. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan mampu mengungkap apakah Kecerdasan

  Emosional mempunyai peranan yang cukup penting dalam olah raga sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan penggunaaan nilai kecerdasan emosional sebagai aspek yang perlu untuk dikembangkan dalam pengembangan atlet-atlet olahraga khususnya pemain sepak bola.

BAB II. LANDASAN TEORI A. Performa Bermain Sepak Bola.

1. Sepak Bola.

  Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia sepak bola diartikan sebagai permainan beregu yang menggunakan bola sepak dari dua regu yang masing-masing terdiri atas sebelas pemain. Dua tim yang terdiri atas sebelas orang tersebut bertarung untuk memasukkan sebuah bola bundar ke gawang lawan atau disebut juga mencetak gol. Tim yang mencetak lebih banyak gol dalam waktu 2 x 45 menit adalah tim pemenang.

  FIFA (2005) sebagai organisasi tertinggi sepak bola mengeluarkan peraturan-peraturan mengenai pertandingan sepak bola, diantaranya adalah: a. Bola dengan berat 700-800 gram

  b. Lapangan dengan ukuran 75-90 m x 90-120 m

  c. Gawang dengan ukuran tinggi x panjang : 2,7 m x 7,30 m d. Sepatu bola dan pelindung tulang kering.

  e.

  Lama pertandingan untuk waktu normal adalah 2x45 menit dengan perpanjangan waktu 2x15 menit.

  f. Pertandingan sepak bola dipimpin oleh seorang wasit dan dibantu 2 asisten wasit.

  Setiap tim maksimal memiliki sebelas pemain, salah satunya adalah penjaga gawang. Penjaga gawang diperbolehkan untuk mengambil bola dengan tangan atau lengannya di dalam kotak penalti di depan gawangnya. Pemain lainnya dalam kedua tim dilarang untuk memegang bola dengan tangan atau lengan mereka ketika bola masih dalam permainan, namun boleh menggunakan bagian tubuh lainnya. Pengecualian terhadap peraturan ini berlaku ketika bola ditendang keluar melewati garis dan lemparan dalam dilakukan untuk mengembalikan bola ke dalam permainan.

  Sejumlah pemain dapat digantikan oleh pemain cadangan pada masa permainan. Alasan umum digantikannya seorang pemain termasuk cedera, keletihan, kekurang-efektifan, perubahan taktik, atau untuk membuang sedikit waktu pada akhir sebuah pertandingan. Dalam pertandingan resmi, sebuah tim terdiri atas 11 orang pemain inti dan maksimal 6 orang cadangan tetapi maksimal 3 orang yang bisa dimainkan menggantikan pemain inti.

  Pertandingan tidak akan terlaksana bila salah satu tim jumlah pemainnya kurang dari tujuh orang. Pemain yang telah diganti dan mendapatkan kartu merah tidak boleh kembali bermain dalam pertandingan tersebut.

  Sepak bola secara umum dapat diartikan sebagai permainan olahraga beregu yang setiap regunya terdiri dari 11 orang, 2 regu yang bertanding berusaha memasukkan bola kegawang lawan dalam sebuah area permainan yang berbentuk persegi panjang, dalam waktu 2x45 menit.

2. Performa Pemain Sepak Bola.

  Performa dalam kamus terjemahan bahasa Inggris-Indonesia diartikan sebagai sebuah kata kerja yang menunjukkan aktifitas atau kegiatan. Setyobroto (2001) mendefinisikan performa sebagai kegiatan seorang individu untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan cara-cara tertentu pula.

  Tingkah laku yang membuahkan hasil berarti terdapat gerak (motor) yang sebagian besar dipengaruhi oleh kognitif dan skill (Review Jurnal Psikologi, 1990). Gerak atau motor dibagi menjadi 3 kemampuan gerak dasar, yaitu :

  a. Kemampuan Lokomotor Kemampuan lokomotor digunakan untuk memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh ke atas seperti lompat dan loncat, kemampuan gerak lain yang masuk kedalam kategori ini adalah berjalan, berlari, melompat, meluncur, dan berlari seperti kuda berlari (gallop)

  b. Kemampuan Non-lokomotor Kemampuan Non-lokomotor dilakukan di tempat, tanpa adanya ruang gerak yang cukup. Kemampuan Non-lokomotor terdiri menekuk, menegang, mendorong dan menarik, mengangkat dan menurunkan, melipat dan memutar, mengocok, melingkar, melambungkan, dan lain sebagainya.

  c.

  Kemampuan Manipulatif Kemampuan manipulaif dikembangkan ketika seseorang tengah menguasai macam-macam obyek. Kemampuan manipulatif lebih banyak melibatkan organ tangan dan kaki, tetapi bagian tubuh lain juga dapat digunakan. Manipulasi obyek jauh lebih unggul dari pada koordinasi mata-kaki dan tangan-mata. Gerakan manipulaif dapat di lihat dari beberapa gerakan seperti; 1)

  Gerakan mendorong, misalnya melempar, memukul, menendang.

  2) Gerakan menerima obyek. 3) Gerakan menggiring obyek, seperti mendrible bola

  Schimdt (1991) mengungkapkan bahwa Skill atau keterampilan merupakan kemampuan untuk membuat hasil akhir dengan kepastian yang maksimum dan pengeluaran energi serta waktu yang minimum. Singer (1980) menyatakan bahwa keterampilan adalah derajat keberhasilan yang konsisten dalam mencapai suatu tujuan dengan efisien dan efektif.

  Domain (ranah) gerak (motor) dipengaruhi oleh emosi dan faktor situasi. Emosi adalah reaksi kompleks yang mengait satu tingkat kegiatan dan perubahan-perubahan yang disertai keadaan perasaan atau afektif. Seseorang membutuhkan kemampuan untuk mengarahkan dan mengontrol perasaan secara tepat sebelum dan saat melaksanakan tugas agar dapat menguasai gerak. Faktor situasional adalah keadaan lingkungan di sekitar individu melakukan interaksi untuk mendukungnya dalam belajar secara maksimal agar keterampilan yang diinginkan dapat tercapai.

  Secara umum performa dapat diartikan sebagai keterampilan gerak dasar manusia yang dilandasi emosi, interaksi sosial, dan kognitif. Gerakan tersebut dapat dilihat secara nyata dan harus memenuhi syarat-syarat seperti lari, menendang, melompat, menguasai obyek, dan unsur-unsur gerak dalam aspek olahraga.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Performa Pemain Sepak Bola

  Dewazien (2001) mengungkapkan performa pemain sepak bola dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu; faktor kognitif (IQ dan strategi), faktor fisik (stamina, postur tubuh, kecepatan berlari, skill, dan kemampuan teknik), faktor psikologis (motivasi, kepercayaan diri, dan emosi), dan faktor sosial (relasi sosial pemain sepak bola dan tekanan media hubungan dengan manajemen klub, gaji dan bonus).

  Faktor kognitif (IQ dan strategi) berperan dalam pertandingan sepak bola ketika seorang pemain sepak bola melakukan strategi yang telah dipilih untuk sebuah pertandingan. Coerver (1985) menyatakan bahwa sepak bola yang baik tergantung pada ide-ide, improvisasi, dan kreativitas seorang pemain sepak bola. Kreatifitas, ide, dan improvisasi pemain sepak bola bermanfaat untuk menghadapi situasi yang muncul dalam sebuah pertandingan, dengan kreatifitas, ide, dan improvisasi para pemain sepak bola dapat keluar dari sebuah situasi tertekan dan menerapkan strategi yang telah di pilih untuk menghadapi sebuah pertandingan.

  Faktor fisik (stamina, postur tubuh, kecepatan berlari, skill, dan kemampuan tehnik) dengan nyata terlihat dalam sebuah pertandingan sepak bola. Stamina yang baik bagi seorang pemain sepak bola akan mendukung untuk bermain selama 2x45 menit. Selama rentang waktu tersebut seorang pemain sepak bola akan berlari mengolah bola dan mencetak gol. Postur tubuh dan kemampuan teknik yang bagus akan bermanfaat untuk mengungguli lawan dan memenangi pertandingan dengan cara yang baik pula.

  Carling (2001) menyatakan bahwa beberapa faktor seperti tekanan keluarga, teman, penggemar, atau media memberikan dampak negatif pada permainan sepak bola seorang pemain sepakbola. Faktor sosial seperti hubungan dengan keluarga, media, hubungan dengan masyarakat atau penonton dapat berupa tekanan dan semangat yang diberikan oleh media dan penonton dalam sebuah pertandingan. Baik tekanan dan dorongan semangat akan berpengaruh bagi seorang pemain sepak bola. Tekanan yang diberikan terlalu besar membuat seorang pemain sepak bola tidak bisa mengeluarkan kemampuannya sepenuhnya dalam sebuah pertandingan, sedang semangat membantu seorang pemain sepak bola untuk menampilkan kemampuannya dengan lebih baik.

  Faktor psikis (seperti motivasi, percaya diri, dan emosi) juga berpengaruh terhadap performa seorang pemain sepak bola karena adanya beberapa kondisi di lapangan yang akan mempengaruhi kondisi psikis seorang pemain sepak bola. Kondisi seperti kontak fisik yang keras, unggul atau tertinggal dengan selisih gol yang cukup, ejekan atau dukungan penonton perpengaruh terhadap motivasi, kepercayaan diri dan emosi seorang pemain sepak bola. Emosi yang tidak terkendali membuat seorang pemain sepak bola cenderung mudah terpancing untuk membalas ejekan atau tindakan kasar yang diterimanya, perilaku di lapangan menjadi mudah terpengaruh dan mengarah kepelanggaran-pelanggaran yang dapat berbuah kartu kuning atau kartu merah, umpan dan tembakan menjadi tidak akurat dan performa secara keseluruhan menjadi buruk.

  Kemampuan-kemampuan tersebut saling mendukung dan menentukan performa seorang pemain sepak bola. Kemampuan teknik dan IQ (faktor kognitif) di dukung dengan kemampuan fisik seperti daya tahan tubuh, kelenturan tubuh, postur tubuh dan kecepatan berlari (faktor fisik) kemampuan mengelola faktor psikis dan faktor sosial serta dengan pemilihan strategi yang tepat untuk menghadapi lawan menentukan performa pemain sepak bola di lapangan.

4. Pengukuran Performa Pemain Sepak Bola

  Pengukuran performa pemain sepak bola adalah penilaian statistik terhadap performa pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan menilai permainan pemain sepak bola itu sendiri. Permainan sepak bola menampilkan beberapa tehnik yang secara garis besar dapat dikelompokkan kedalam 2 bagian yaitu tehnik dengan bola dan tehnik tanpa bola. Tehnik dengan bola meliputi beberapa tehnik khusus yaitu:

  a. Kontrol bola Kontrol bola adalah teknik untuk menghentikan bola, menguasai bola yang mengarah/datang kearah seorang pemain baik bola umpan dari teman ataupun bola dari lawan. b. Mengumpan (passing) Mengumpan adalah teknik untuk memberikan bola kepada teman, mengoper bola dapat menggunakan kaki lutut, paha, dada, dan kepala.

  c. Menembak (shooting) Menembak adalah teknik menendang kearah gawang untuk mencetak gol.

  d.

  Menggiring (drible) Menggiring adalah teknik mengendalikan bola yang di giring maju agar tetap dalam penguasaan seorang pemain. Menggiring bola dapat menggunakan kaki, paha, dada, dan kepala.

  e. Mentakel (tackling) Mentakel adalah teknik menghentikan bola yang dikuasai lawan dengan menggunakan kaki.

  Teknik tanpa bola meliputi beberapa teknik khusus yaitu berlari sprint, membelokkan arah lari, akslerasi yang baik, menghentikan lari secara cepat, dan keseimbangan yang bagus ketika terjadi benturan bahu.

  Permainan sepak bola juga didukung beberapa kemampuan lain yang dapat memudahkan pemain sepak bola untuk memainkan permainan sepak bola, yaitu;

  a. Kerjasama team, yaitu kekompakan dalam sebuah team, dalam sebuah team harus terbentuk komunikasi dan pengertian antara tiap pemain, sangat penting mengetahui karakter tiap pemain dalam team kita agar kerjasama dapat tercipta antara sesama pemain dalam satu team.

  b.

  Fisik dan stamina, sepak bola juga merupakan sebuah olah raga yang menuntut kemampuan fisik dan stamina yang kuat, seorang pemain bola harus dapat memainkan permainan ini sepanjang 90 menit dan permainan ini dimainkan dalam sebuah lapangan yang sangat lebar. Fisik dan stamina prima seorang pemain bola dapat bermain secara optimal dalam permainan ini.

  c. Kreativitas dalam bermain, kreativitas seorang pemain sepak bola juga diperlukan kecerdasan intelegensi dapat membantu seseorang untuk menyusun pertahanan dan penyerangan secara cepat. Ide-ide untuk menahan gempuran-gempuran lawan, dan trik-trik dalam membongkar pertahanan lawan akan sangat membutuhkan kreativitas seorang pemain bola.

  d. Pergerakan tanpa bola, dalam permainan bola seorang pemain harus bergerak dinamis. Pemain sepak bola tidak hanya bergerak ketika menguasai atau akan merebut bola, tetapi kita juga harus bergerak untuk mencari tempat kosong sehingga sebuah tim dapat mulai menyusun pertahanan dan penyerangan. Perolehan performa seorang pemain sepak bola di dapat dari hasil data penilaian statistik permainan sepak bola yang ditunjukkan pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan. Seorang pemain sepak bola yang bemain lebih dari 15 menit dalam sebuah pertandingan mendapat skor performa. Skor performa yang diperoleh seorang pemain sepak bola di peroleh dari permainan yang ia tampilkan dalam pertandingan tersebut. Skor performa pemain sepak bola dapat dilihat dari contoh dibawah ini.

  Tabel 1 Data Performa Pemain Sepak Bola (Bola, 27 September 2005)

  Inter Fiorentina 1 0 Minggu (25 september) Skuad (4-4-2) Skuad (4-4-2)

  Julio cesar 6 Frey 8 Cordoba 6.5 Materazzi 6 Samuel 6.5 Favalli 6 Ujfalusi 5.5

  Di Loreto 6 Gamberini 6.5 Pancaro 6 (46” Pasqual 5)

  Figo 7 Cambiaso 6.5 Veron 7 Stankovic 6.5

  Fiore 5.5 (69’ Montolivo 5) Donadel 5.5 Brocchi 6 Jorgensen 6 Adriano 6.5

  Martins 7 (90’ Cruz) Pelatih : Mancini 6.5 Cadangan : Toldo, Ze Maria, Wome, Pizarro, Solari, Recoba

  Bojinov 5 (60’ Pazinni 5.5) Toni 6 Pelatih : Prandelli 6 Cadangan : Cejas, Dainelli, Pazienza, Guigou

  • Wasit : Farina (Novi Ligure) 5
  • Penonton : 56.207 (Giuseppe Meazza)
  • Gol : 1-0 martin 7’
  • Sepak Pojok : 6-3
  • Waktu Ekstra : 1’ dan 5’
  • Kartu Merah : -
  • Kartu Kuning : Veron, Jorgensen, Gamberini,

    Materazzi, Donadel

  Angka-angka dibelakang nama-nama pemain sepak bola adalah nilai dari performa yang mereka tunjukan selama pertandingan, semakin tinggi nilai yang diperoleh seorang pemain sepak bola maka semakin tinggi pula performa yang ia tunjukkan dalam pertandingan tersebut.

  Pemain sepak bola dikelompokkan dalam 3 posisi dasar yaitu pemain bertahan (belakang), pemain tengah dan pemain penyerang (depan). Pemain di setiap posisi mempunyai tugas yang berbeda-beda, pemain belakang bertugas menjaga gawang dari serangan musuh yang akan mencetak gol, pemain tengah berfungsi untuk menyeimbangkan pertahanan dan penyerangan, sedang pemain depan berfungsi untuk mencetak gol. Performa pemain sepak bola dapat dilihat dari beberapa contoh pengukuran performa pemain sepak bola dibawah ini;

  Tabel 2 Performa Pemain Penyerang (http://www.soccerperformance.org/)

  Berlari tanpa bola

  3 Tabel di atas adalah contoh analisa performa seorang pemain dengan posisi sebagai penyerang bernama Heaskey. Heskey berdasarkan tabel diatas berperan sebagai pemain pernyerang yang berfungsi sebagai pertahanan didaerah depan dengan tackle dan tekanan yang ia berikan kepada lawan.

  2 Mengamankan daerah pertahanan

  7

  1 Tackle 4 1 Menggagalkan serangan musuh

  4

  2 Menekan musuh

  kontrol 2 2

  Kategori berhasil gagal Tembakan ke gawang

  2

  10 Drible 9 2 Dilanggar/melanggar 0

  17

  3 Sundulan

  2 Umpan 16

  2 Umpan silang

  1

  Heskey berhasil membuat tendangan yang membuat timnya keluar dari tekanan sebanyak 3 kali dan beberapa kali menahan serangan yang dilakukan pemain musuh. Serangan yang dibangun oleh tim berhasil ketika Heskey berhasil memenangkan pertarungan diudara, dan beberapa umpan yang berhasil mencapai rekan satu tim. Secara keseluruhan Heskey memberikan andil yang besar dalam bertahan dan menyerang bagi timnya.

  Tabel 3 Performa Pemain Belakang (http://www.soccerperformance.org/)

  Kategori Berhasil gagal Tackles 3

  1 Sundulan 1 Menekan musuh

  1 Mengagalkan serangan musuh

  19

  1 Mengamankan daerah pertahanan

  7

  1 Dilanggar/melanggar 0

  1 Tabel di atas adalah analisa performa bermain sepak bola dari Laurent Blanc yang berposisi sebagai pemain belakang. Secara keseluruhan Blanc melakukan tugasnya dengan cukup baik sebagai pemain belakang, tackle dan tendangan yang membuat timnya keluar dari tekanan mempunyai prosentase keberhasilan yang cukup tinggi dan hanya 1 kali melakukan pelanggaran.

  Tabel 4 Performa Pemain Tengah (http://www.soccerperformance.org/)

  Action/Time 1st Half 2nd Half Total Tackles 3

  5

  8 Interceptions/blocks 9

  7

  16 Pressing (menekan pemain lawan)

  2

  1

  3 Headers (sundulan)

  2

  1

  3 Clearances (menyapu bersih bola yang 7 3 10 mengancam pertahanan)

  Fouls Conceded (pelanggaran yang dibuat)

  4

  1

  5 Passes (umpan)

  18

  16

  34 Crosses (umpan silang) Shots (tembakan ke gawang)

  1

  1 Dribbles

  3

  4

  7 Headers (sundulan) Fouls Won (dilanggar pemain lawan)

  2

  2

  4 Tabel di atas adalah analisa dari performa bermain Patrick Viera yang berposisi sebagai pemain tengah. Viera dalam pertandingan tersebut terlihat bahwa ia adalah pemain yang cukup konsisten dalam membantu pertahanan maupun penyerangan yang dilakukan oleh timnya.

  Sky Sport sebuah stasiun televisi terkenal di Eropa membuat standar

  yang digunakan untuk menilai performa seorang pemain sepak bola, standar itu adalah; a.

  Nilai 10, performa yang sangat luar biasa (jarang digunakan)

  b. Nilai 9, baik sekali-permainan kelas tinggi, kemungkinan adalah pemenang pertandingan.

  c. Nilai 8, sangat bagus, permainan yang menonjol, sangat berperan dalam permainan tim.

  d.

  Nilai 7, mengesankan, permainan yang diperlihatkan enak untuk ditonton.

  e. Nilai 6, rata-rata, tidak terlalu banyak kesalahan yang dibuat, tetapi tidak melebihi performa yang mengesankan.

  f. Nilai 5, dibawah rata-rata, beberapa kesalahan yang dilakukan.

  g.

  Nilai 4, sangat buruk, terlalu banyak kesalahan, dan sangat mudah untuk dikritik.

  Berdasarkan beberapa contoh standard pengukuran performa pemain sepak bola yang telah diuraikan diatas, terdapat beberapa gerakan yang selalu dicatat untuk mengetahui performa seorang pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan. Umpan, sundulan, interception, drible, tackling, shooting, assist atau umpan yang menjadi gol, pelanggaran, dan gol adalah beberapa gerakan yang selalu diskor, dari hal tersebut peneliti memperoleh standard pengukuran performa pemain sepak bola yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

  Tabel 5 Pengukuran Performa Pemain Sepak Bola (, diakses bulan Februari 2005)

  Kategori/nama pemain zanetti kovac cambiaso emerson martin piero Total umpan

  56

  26

  28

  34

  30

  35 Umpan berhasil

  35

  24

  21

  27

  23

  28 Total tackle

  6

  1

  9

  1

  1 Tackle berhasil

  5

  8

  1

  1 Total sundulan

  9

  8

  3

  6

  20

  11 Sundulan berhasil

  5

  6

  4

  8

  4 Mengagalkan serangan musuh

  16

  8

  5

  1

  1 Drible melewati musuh

  2

  1

  2

  3 Offside 0

  1 Pelanggaran dilakukan

  1

  3

  1

  4

  1 Dilanggar 0

  

1

  3

  2 Assist 0

  1

  1 Total tembakan

  1

  5

  1 Tembakan mengarah ke gawang

  1

  3

  1 Gol 0

  1

  1 Kartu kuning Kartu merah 5 4.5 3 6 6 7

  Rating

  Standard diatas mencatat gerakan-gerakan dalam permainan sepak bola seperti umpan, sundulan, interception, drible, tackling, shooting, assist atau umpan yang menjadi gol, pelanggaran, dan gol yang berhasil dibuat oleh seorang pemain sepak bola dalam suatu pertandingan. Setiap aspek atau gerakan yang berhasil dibandingkan dengan total suatu gerakan dilakukan, kemudian diprosentasekan dan dimasukkan dalam rating 1-10, rating yang didapat dari setiap aspek kemudian dijumlahkan untuk kemudian daimbil rata- ratanya, rata-rata ini adalah skor performa pemain sepak bola dalam pertandingan yang bersangkutan.

B. Kecerdasan Emosional.

1. Pengertian Emosi.

  Harmoko (2001) berpendapat bahwa emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk melakukan tindakan secara spontan untuk mengatasi masalah yang ditanamkan secara berangsur-angsur yang terkait dengan pengalaman dari waktu ke waktu. Sarwono (dalam Yusuf, 2001) berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan yang ada pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang kuat.

  Goleman (2002) berpendapat lain dan menyatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Hurlock (1976) menyatakan bahwa emosi dapat memberikan kesenangan dalam hidup seseorang dan memotivasi setiap tindakan dalam penyesuaian diri serta lingkungannya, tetapi emosi juga bisa merusak kalau kita tidak dapat mengendalikannnya, kemampuan ini adalah kekuatan yang harus diolah untuk mendapat kualitas hidup yang lebih baik (Wijokongko, 1997).

  Dari asal katanya emosi berasal dari kata kerja bahasa latin ex-movere yang berarti bergerak menjauh, sedang dalam Oxford English Dictionary

  (1995) emosi diartikan sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Kedua arti emosi tersebut menjelaskan bahwa bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman, 2002).

  Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa emosi adalah keadaan di dalam diri individu baik yang berupa perasaan, pikiran, nafsu, keadaam biologis dan fisiologis yang terekspresi dalam bentuk tingkah laku. Jadi emosi melandasi seseorang untuk bertingkah laku.

2. Pengertian Kecerdasan Emosional.

  Kecerdasan emosional menurut pendapat Salovey dan Sluyter (1999) adalah kemampuan seseorang dalam mengindera dan menghasilkan emosi- emosi yang dapat membantu pikiran dalam memahami emosi-emosi dan arti- arti emosional, serta kemampuan untuk mengatur emosi-emosi secara efektif sehingga dapat meningkatkan kemampuan emosi dan kognisi. Patton (1994) menjelaskan kecerdasan emosi sebagai kemampuan menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan, membangun hubungan produktif, dan meraih keberhasilan.

  Goleman (2002) berpendapat bahwa orang yang memiliki tingkat kecerdasan emosi yang tinggi adalah orang yang mampu mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan. Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh pada diri sendiri dan orang lain serta menanggapi dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

  Berdasarkan definisi kecerdasan emosional keempat tokoh diatas terdapat kesamaan; yaitu tentang pengenalan terhadap emosi yang dirasakan seseorang dan pengelolaannya sehingga dapat diarahkan menjadi energi positif untuk bertindak secara tepat dalam kehidupan seseorang. Jadi dapat ditarik kesimpulan umum bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri serta orang lain, dan menggunakan kemampuan tersebut untuk mengelola emosinya dan memotivasi diri sendiri sehingga dapat mengendalikan emosi dalam perilaku dan tindakan seseorang.

  3. Aspek-aspek Kecerdasan Emosional.

  Salovey (dalam Goleman, 2002) menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional ke dalam wilayah utama : a.

  Mengenali emosi diri Kesadaran diri dan mengenali perasaan yang sedang kita alami. keyakinan yang lebih tentang perasaan akan membuat seseorang berhasil dalam kehidupannya karena mereka mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya dalam mengambil keputusan-keputusan masalah pribadi. b. Mengelola emosi Menangani agar perasaan dapat terungkap dengan tepat dalam tindakan dan perilaku. Perasaan tidak terlalu mendominasi tetapi juga tidak terlalu dihilangkan, semuanya tergantung bagaimana kita menyadari perasaan yang sedang kita rasakan.

  c. Memotivasi diri sendiri Menata emosi adalah alat yang efektif untuk mencapai tujuan yang berkaitan dengan memotivasi diri sendiri, penataan emosi dapat dilakukan dengan menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati.

  d. Mengenali emosi orang lain Akan berpengaruh terhadap kemampuan berempati seseorang, meliputi kemampuan untuk menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

  e. Membina hubungan Keunikan dari membina hubungan adalah keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan-keterampilan yang masuk didalamnya adalah keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi.

  Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam setiap wilayah, beberapa orang mungkin terampil dalam menangani kecemasan tapi kurang mampu untuk meredam kemarahan orang lain. Kekurangan-kekurangan dalam keterampilan emosional dapat terus diperbaiki sampai pada tingkat setinggi- tingginya dimana masing-masing wilayah menampilkan bentuk kebiasaan dan respon yang dengan usaha yang tepat dapat dikembangkan.

  Kelima aspek yang dikemukakan oleh Salovey tersebut menujukkan hubungan yang erat antara satu aspek dengan aspek yang lain. Keseimbangan secara menyeluruh melingkupi kelima aspek tersebut membentuk suatu kemampuan yang utuh dan unik yang kemudian disebut sebagai kecerdasan emosional.

C. Hubungan Antara Performa Pemain Sepak Bola dengan Kecerdasan Emosional.

  Performa seorang pemain sepak bola ditentukan berdasarkan baik atau buruknya permainan mereka dalam sebuah pertandingan. Penilaian terhadap baik dan buruknya penampilan seorang pemain sepak bola adalah berdasarkan keberhasilannya melakukan suatu gerakan yang bermanfaat bagi timnya, semakin baik seorang pemain sepak bola menampilkan permainan maka semakin baik performa yang dapat dicapai seorang pemain sepak bola.

  Dewazien (2001) mengungkapkan bahwa performa seorang pemain sepak bola ditentukan 4 faktor yaitu faktor kognitif (IQ, kemampuan teknik, dan strategi), faktor fisik (stamina, postur tubuh, dan kecepatan berlari), faktor psikis (motivasi, kepercayaaan diri, dan emosi), dan faktor sosial (relasi sosial pemain sepak bola dan tekanan media). Performa pemain sepak bola dapat dilihat secara nyata melalui permainan sepak bola yang ditampilkan pemain yang bersangkutan,

  Kemampuan-kemampuan tersebut saling mendukung dan menentukan performa seorang pemain sepak bola. Kemampuan teknik dan IQ (faktor kognitif) didukung dengan kemampuan fisik seperti daya tahan tubuh, kelenturan tubuh,

  

postur tubuh dan kecepatan berlari (faktor fisik) serta dengan pemilihan strategi

  yang tepat untuk menghadapi lawan secara nyata menentukan performa pemain sepak bola di lapangan. Faktor psikis (seperti motivasi, percaya diri, dan emosi) juga berpengaruh terhadap performa seorang pemain sepak bola karena adanya beberapa kondisi di lapangan yang akan mempengaruhi kondisi psikis seorang pemain sepak bola.

  Pemain sepak bola selalu menghadapi keadaan yang mempengaruhi keadaan emosinya dalam sebuah pertandingan seperti kontak fisik, keunggulan dramatis, kekalahan telak, tekanan penonton, dll. Baars (1979) berpendapat bahwa ketika kita mengenali sesuatu sebagai hal yang baik dan menyenangkan bagi diri sendiri hal itu akan merangsang emosi dasar dan kita akan merasakan suatu pengalaman emosi kegembiraaan. Perlakuan-perlakuan yang menyenangkan seperti dukungan penonton, mencetak gol lebih dahulu, pujian dari teman karena umpan atau pergerakan yang baik akan menimbulkan kondisi emosi yang menyenangkan.

  Perlakuan perlakuan yang kurang menyenangkan dan tekanan dalam pertandingan dapat menimbulkan tekanan emosi yang berlebihan, yang dapat mengganggu pelaksanaan pertandingan serta mempengaruhi performa (Gunarsa, 1989). Sebagai seorang manusia pemain sepak bola juga merupakan yaitu kesatuan jiwa dan raga, yang satu dengan yang lain

  psychosomatic unity saling mempengaruhi. Pengaruh yang dirasakan oleh jiwa akan dirasakan oleh raga, begitu juga sebaliknya (Gunarsa, 1996). Kondisi-kondisi di lapangan yang mempengaruhi stabilitas emosi seorang pemain sepak bola akan mempengaruhi kinerja kognitif dan keterampilan fisiknya, dengan kata lain performa bermain sepak bola juga akan terpengaruh.

  Goleman (2002) berpendapat bahwa kemampuan seseorang untuk menghasilkan kinerja yang cemerlang dipengaruhi oleh kecerdasan emosionalnya, namun tidak semua orang memiliki kecerdasan emosional yang cukup baik. McCown (dalam Goleman, 2002) menyatakan bahwa setiap orang memiliki pilihan masing-masing dalam menanggapi emosi. Seorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menanggapi emosi.

  Seorang pemain sepak bola dengan kecerdasan emosional yang baik mempunyai kesadaran tinggi terhadap emosi yang sedang dihadapinya. Pemain sepak bola yang mempunyai kesadaran akan emosinya mampu mengendalikan emosinya tersebut dan kemudian menata emosinya menjadi sebuah motivasi yang mendorongnya memperoleh performa tinggi. Meyer (dalam Goleman, 2002) mengungkapkan bahwa kesadaran, waspada terhadap suasana hati dan pikiran yang jernih membantu seseorang dalam mengatur emosi.

  Goleman (2002) menyatakan bahwa seseorang dengan kecerdasan emosional yang baik tidak mudah menyerah atau bingung ketika mereka tertekan.

  Pemain sepak bola yang memiliki kecerdasan emosional tinggi tidak akan menyerah dan terlarut dalam emosi yang ia rasakan dalam sebuah pertandingan.

  Pemain berkecerdasan emosional tinggi mampu berpikir dengan jernih dan mempunyai kepercayaan diri tinggi untuk keluar dari emosi yang meliputi dirinya dan mampu untuk tetap menjaga motivasi dan semangat untuk menampilkan performa yang terbaik. Goleman (2002) berpendapat bahwa seorang berkecerdasan emosional baik mampu menguasai emosinya kemudian menata dan mengelola emosinya menjadi sesuatu yang mendukung dan memberikan tenaga, dan selaras dengan tugas yang sedang dihadapinya. Pemain berkecerdasan emosional tinggi mampu menguasai dan menata emosinya menjadi sesuatu yang mendukung dan memberikan tenaga ketika ia bermain sepak bola.

  Suryobroto (2001) berpendapat bahwa stabilitas emosional diperlukan seorang atlet agar perhatiannya tidak mudah terpecah, karena dalam sebuah pertandingan sepak bola seorang pemain sepak bola harus menjalankan beberapa tugas yang menuntut konsentrasi dan dengan kemampuan kognitif yang memadai agar seorang pemain sepak bola dapat melakukannya. Kognitif pemain sepak bola yang terjaga dengan baik tanpa gangguan keadaan emosi memungkinkan seorang pemain sepak bola untuk merencanakan gerakan sehinga ia dapat menata dan menggunakan stamina, kemampuan tehnik serta postur tubuh yang ia miliki untuk bisa bermain secara optimal selama 90 menit. Pemain sepak bola juga dapat berpikir positif tentang tekanan dan ejekan sehingga dapat mengubah tekanan dan ejekan media atau penonton sebagai motivasi untuk memacunya mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam sebuah pertandingan.

  Kinerja secara keseluruhan dari seorang pemain sepak bola secara keseluruhan yaitu kemampuan kognitif yang baik dalam menjalankan strategi dan mengatasi situasi yang dihadapi dalam pertandingan, kondisi fisik yang prima, dan kemampuan mengelola faktor psikis dan sosial yang baik membuat performa pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan menjadi lebih tinggi.

  Pemain sepak bola berkecerdasan emosional rendah memiliki respon yang berbeda dalam menghadapi emosinya. Pemain berkecerdasan emosional buruk cenderung bertindak karena pengaruh emosi yang sedang ia rasakan. Pemain sepak bola berkecerdasan emosional rendah tidak menyadari emosi yang sedang ia rasakan dan emosinya menentukan apa yang akan ia lakukan. Pemain berkecerdasan emosional rendah melampiaskan amarahnya ketika mereka mengalami emosi negatif, akibatnya emosinya bukan mereda malah semakin lebih kuat. Tice (dalam Goleman, 2002) menyatakan bahwa melampiaskan amarah adalah cara terburuk meredakan emosi karena ledakan amarah malah memicu otak emosional sehingga seseorang menjadi lebih marah. Seorang pemain sepak bola yang telah dikuasai oleh emosinya menjadi tidak mampu menjaga motivasi, semangat dan staminanya terkuras oleh ledakan amarahnya

  Pemain sepak bola yang telah dikuasai oleh emosinya memiliki kesadaran diri yang kurang, sehingga tindakannya lebih ditentukan oleh emosinya dari pada kognitif dan kesadaran dirinya. Goleman (2002) bependapat bahwa kemampuan kita menguasai emosi menentukan kemampuan-kemampuan seseorang dalam berpikir, berencana, dan menyelesaikan masalah. Pemain sepak bola berkecerdasan emosional rendah dikuasai oleh emosinya, kemampuan berpikir dan merencananya dibatasi oleh keadaan emosinya.

  Kemampuan kognitif dan kesadaran diri yang kurang membuat seorang pemain sepak bola menjadi tumpul, sehingga ia tidak dapat menjalankan strategi dan mengatasi situasi yang dihadapi dalam pertandingan, kondisi fisiknya terkuras karena habis untuk melampiaskan emosinya, dan kemampuan mengelola faktor psikis dan sosial yang buruk membuat performa pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan menjadi menurun.

  Dari uraian di atas terlihat bahwa kecerdasan emosional dapat mempengaruhi performa pemain sepak bola karena dengan mengenali emosinya dan mengelolanya seorang pemain sepak bola dapat memotivasi dirinya sendiri untuk bermain lebih tenang dan berpikir menggunakan kognitifnya dengan lebih jernih. Seorang pemain sepak bola juga dapat menjalin kerjasama dengan mengenali emosi orang lain, sehingga strategi dan pola permainan yang telah dipilih dapat berjalan lancar, dengan kata lain seorang pemain sepak bola membutuhkan kecerdasan emosional dalam bermain sepak bola, sehingga ia dapat mengelola emosi dengan baik agar tidak menghambat dan menggunakan energi positif dalam bermain sepak bola. Seorang pemain sepak bola yang dapat mengelola emosinya dengan baik diasumsikan dapat bermain sepak bola dengan baik. Kesimpulan dari uraian di atas adalah kecerdasan emosional seorang pemain sepak bola memiliki hubungan positif dengan performanya dalam bermain sepak bola. Semakin tinggi kecerdasan emosional seorang pemain sepak bola semakin tinggi pula performa yang dapat dicapai dalam bermain sepak bola.

  Hubungan antara kecerdasan emosional dengan performa pemain sepak bola dapat dilihat pada bagan berikut. Bagan : Hubungan kecerdasan emosional dengan performa sepak bola

  Pemain sepak bola Kecerdasan emosi baik Performa buruk atau rendah

  Kinerja keseluruhan buruk Pengelolaan emosi buruk Performa baikatau tinggi

  Kinerja keseluruhan baik Pengelolaan emosi baik Kecerdasan

  Emosi buruk

  D. Hipotesis.

  Berdasarkan kajian teori sebagaimana diuraikan dimuka, dapat dirumuskan hipotesa penelitian ini sebagai berikut, ada hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan performa pemain sepak bola, semakin tinggi kecerdasan emosional seorang pemain sepak bola semakin tinggi pula peforma yang dapat ia capai dalam sebuah pertandingan.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional. Penelitian

  korelasional bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain berdasarkan koefisien korelasi.

  B. Variabel Penelitian

  Variabel dalam penelitian ini adalah : 1. variabel tergantung = performa bermain sepak bola.

  2. variabel bebas = kecerdasan emosional.

  C. Definisi Operasional

  1. Performa bermain sepak bola Performa bermain sepak bola adalah keterampilan gerak dasar manusia yang dilandasi emosi, interaksi sosial, dan kognitif dalam bermain sepak bola.

  Performa bermain sepak bola dapat dilihat dari skor yang diperoleh pemain sepak bola melalui gerak (motor) untuk mencapai suatu hasil yang menurut standar tertentu, dimana gerak (motor) kesemuanya bertujuan untuk memenangkan pertandingan.

  Performa bermain sepak bola akan diukur melalui hasil penilaian statistik permainan sepak bola selama pemain sepak bola bertanding dengan menggunakan tabel pengukuran performa. Skor yang diperoleh berupa data statistik yang menunjukkan tinggi rendahnya performa bermain sepak bola.

  Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi performanya. Semakin rendah skor yang diperoleh semakin rendah performanya. Data diambil dari klub-klub yang berlaga di kompetisi divisi utama PSS Sleman musim 2006.

  2. Kecerdasan emosional Kecerdasan emosional adalah kemampuan pemain sepak bola untuk menyadari perasaan dan keadaannya saat ini yang sebenarnya, untuk mengatur/menangani emosinya selama bertanding, untuk memotivasi dirinya dan menjalin relasi yang baik dengan teman dalam satu tim. Kecerdasan emosional pemain sepak bola nampak dalam skor total yang dihasilkan dari skala kecerdasan emosional. Semakin tinggi skor kecerdasan emosional maka semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang dan semakin rendah skor kecerdasan emosional maka semakin rendah kcerdasan emosional seseorang.

D. Subyek Penelitian

  Penelitian ini akan dilaksanakan saat adanya turnamen sepak bola divisi utama PSS Sleman Yogyakarta. Subyek penelitian berumur diatas 18 tahun. Hal ini disebabkan karena mulai umur 18 tahun seseorang secara umum mendekati puncak potensi fisiknya dalam olahraga, tahun-tahun ini perkembangan fisik seseorang dalam olahraga mengalami masa paling produktif dalam proses belajarnya untuk menjadi seorang atlet. Subyek penelitian adalah pemain dari klub divisi utama liga PSS Sleman Yogyakarta yang bermain minimal selama 15 menit dalam sebuah pertandingan.

  Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian Purposive Sampling atau sampel bertujuan, yaitu pengambilan subyek bukan didasarkan pada strata, kelompok, wilayah atau random, melainkan atas adanya tujuan tertentu.

E. Metode dan Tehnik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data untuk performa pemain sepak bola, yaitu dengan menggunakan tabel penilaian performa pemain sepak bola yang dilakukan oleh 3 orang pengawas pertandingan yaitu Bapak Suparlan. Bapak Suyono dan Bapak Joko yang telah ditunjuk panitia pertandingan untuk mengawasi sebuah pertandingan.

  Tehnik pengumpulan data untuk kecerdasan emosional pemain sepak bola adalah dengan menggunakan Skala Kecerdasan Emosional. Skala ini menggunakan skala tipe Likert, dengan jawaban : SS, S , TS, dan STS.

  1. Performa Pemain Sepak Bola Performa pemain sepak bola didapatkan dari penilaian 3 orang panitia pengawas pertandingan dengan menggunakan acuan dari tabel penilaian performa pemain sepak bola, selain itu peneliti juga merekam jalannya sebuah pertandingan berkaitan dengan aspek-aspek yang diukur dalam penilaian performa pemain sepak bola. Rekaman ini beraguna untuk melakukan cross

  check data yang dibuat oleh pengawas pertandingan. Penilaian performa pemain sepak bola menggunakan standar penilaian seperti pada tabel dibawah ini : Tabel 6

  Penilaian performa pelan Februari 2005)

  Kategori/nama pemain zanetti kovac cambiaso emerson martin piero Total umpan

  56

  26

  28

  34

  30

  35 Umpan berhasil

  35

  24

  21

  27

  23

  28 Total tackle

  6

  1

  9

  1

  1 Tackle berhasil

  5

  8

  1

  1 Total sundulan

  9

  8

  3

  6

  20

  11 Sundulan berhasil

  5

  6

  4

  8

  4 Mengagalkan serangan musuh

  16

  8

  5

  1

  1 Drible melewati musuh

  2

  1

  2

  3 Offside 0

  1 Pelanggaran dilakukan

  1

  3

  1

  4

  1 Dilanggar 0

  

1

  3

  2 Assist 0

  1

  1 Total tembakan

  1

  5

  1 Tembakan mengarah ke gawang

  1

  3

  1 Gol 0

  1

  1 Kartu kuning Kartu merah Rating 5 4.5 3 6 6 7

  Standard diatas mencatat gerakan-gerakan dalam permainan sepak bola seperti umpan, sundulan, interception, drible, tackling, shooting, assist atau umpan yang menjadi gol, pelanggaran, dan gol yang berhasil dibuat oleh seorang pemain sepak bola dalam suatu pertandingan. Standard tersebut terdiri dari 5 akategori penting yaitu kategori umpan, kategori tackle, kategori sundulan, kategori pelanggaran, dan kategori tembakan, selain itu juga terdapat beberapa kategori pendukung seperti gol (poin +2), assit (poin +1),

  interception (poin +1), dribel (poin +1), offside (poin -1), kartu merah (poin -

  2), dan kartu kuning (poin-1). Gerakan yang berhasil dilakukan seorang pemain dalam kategori umpan tackle, sundulan, pelanggaran dan tembakan dibandingkan dengan jumlah total gerakan tiap kategori, jika gerakan yang berhasil dilakukan lebih dari 50% diberi skor 1, jika gerakan berhasil = 50% makan diberi skor 0,5, dan jika gerakan berhasil kurang dari 50% maka diberi skor 0. Total skor kelima kategori ditambah dengan kategori pendukung sesuai dengan gerakan yang dilakukan dan poinnya.

  Kategori umpan, gerakan berhasil / jumlah gerakan umpan x 100%, jika prosentase lebih dari 50% nilai 1, jika prosentase sama dengan 50% nilainya adalah 0.5, dan jika prosentase kurang dari 50% maka nilainya adalah 0.

  Kategori tacle, gerakan berhasil / jumlah gerakan tacle x 100%, jika prosentase lebih dari 50% nilai 1, jika prosentase sama dengan 50% nilainya adalah 0.5, dan jika prosentase kurang dari 50% maka nilainya adalah 0.

  Kategori sundulan, gerakan berhasil / jumlah gerakan sundulan x 100%, jika prosentase lebih dari 50% nilai 1, jika prosentase sama dengan 50% nilainya adalah 0.5, dan jika prosentase kurang dari 50% maka nilainya adalah

  0. Kategori tembakan, gerakan berhasil / jumlah gerakan tembakan x 100%, jika prosentase lebih dari 50% nilai 1, jika prosentase sama dengan 50% nilainya adalah 0.5, dan jika prosentase kurang dari 50% maka nilainya adalah

  0. Kategori pelanggaran, jumlah seorang pemain dilanggar dibandingkan dengan jumlah seorang pemain melanggar, jika seorang pemain lebih sering dilanggar nilai 1, jika jumlah melanggar dan dilanggar sama nilainya adalah 0.5, dan jika seorang pemain lebih sering melanggar maka nilainya adalah 0.

  Untuk kategori dribel jika seorang pemain melakukan dribel maka ia mendapat skor +1 dan jika tidak maka skor 0, untuk kategori interception jika seorang pemain melakukan interception maka ia mendapat skor +1 dan jika tidak maka skor 0, untuk kategori assist jika seorang pemain melakukan assist maka ia mendapat skor +1 dan jika tidak maka skor 0, untuk pemain yang mencetak gol maka pemain yang bersangkutan mendapat poin tambahan +2.

  Untuk kategori offside jika seorang terperangkap offside maka mendapat pengurangan poin -1. Kategori kartu, jika seorang pemain mendapatkan kartu kuning maka ia mendapatkan pengurangan poin -1, sedangkan untuk kartu merah seorang pemain mendapat pengurangan poin -2.

  Contoh penghitungan skor performa seorang pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan adalah: Zanneti : Kategori umpan : 35/56 (gerakan berhasil/total gerakan) x 100% = 62,5% -- skor 1 Kategori tacle : 5/6 x 100% = 83.334% ---- skor 1 Kategori sundulan : 5/9 x 100% = 55.556% ---- skor 1 Kategori tembakan : 0/0 x 100% = - ---- skor 0 Kategori pelanggaran : 0/0 = - ---- skor 0 Skor total kategori pendukung : 1 + 1 + 0 + 0 + 0 + 0 + 0 (poin dribel + poin

  • poin gol + poin offside + poin kartu kuning + poin kartu merah)

  interception

  Skor akhirnya menjadi 3 + 2 = 5 (ini adalah skor performa Zanneti dalam pertandingan yang bersangkutan)

2. Kecerdasan Emosional

  Skala kecerdasan emosional disusun berdasarkan 5 aspek kecerdasan emosional dari Goleman (2002) sebagai berikut : a. Kesadaran diri : kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu terjadi atau mengetahui apa yang dirasakan dan menggunakan perasaan tersebut untuk mengambil keputusan, kesadaran akan diri atau ukuran atas kemampuan diri serta kepercayaan diri yang kuat.

  b. Pengaturan diri : kemampuan untuk menangani perasaan sehingga dapat terungkapkan atau tersalurkan dengan tepat, pengendalian diri sesuai kata hati, kesanggupan mengontrol hasrat atau kenikmatan dan kemampuan untuk pulih dari tekanan emosi.

  c. Motivasi : kemampuan menggunakan pertimbangan yang paling dalam untuk mengerakkan dan menuntun kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.

  d.

  Empati : kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan termasuk kebutuhan dan keinginan mereka, memahami reaksi dan arti dari ekspresi seseorang serta memahami perspektif orang lain yang berbeda-beda.

  e. Keterampilan sosial : kemampuan membaca situasi, menyesuaikan diri dengan bermacam-macam orang, berinteraksi dengan baik, mengelola emosi orang lain, membina hubungan saling percaya, bekerjasama dengan orang lain, bernegosiasi, dan menyelesaikan masalah. Skala ini menggunakan tipe Likert, dengan jawaban S, SS, TS, dan

  STS. Peneliti sengaja hanya menggunakan empat pilihan jawaban untuk menghindarkan bias yang terjadi apabila peneliti memberikan lima jawaban atau dengan jumlah jawaban ganjil. Hadi (2004) berpendapat bahwa subyek memiliki kecenderungan untuk memilih jawaban yang ada ditengah atau yang disebut juga dengan central tendency effect. Kecenderungan tersebut dapat dihindari dengan tidak memberikan jawaban tengah yaitu dengan hanya memberikan empat pilihan jawaban.

  9, 19, 29, 31, 40, 47, 65

  35

  14 TOTAL 35

  4, 23, 33, 46, 51, 57, 64

  5 Keterampilan Sosial 3, 5, 11, 18, 28, 37, 54

  14

  8, 24, 38, 52, 59, 62, 68

  4 Empati 2, 15, 21, 30, 36, 42, 48

  14

  3 Motivasi 6, 25, 39, 44, 56, 63, 69

  Item berjumlah 70 pertanyaan dengan komposisi seimbang pada tiap aspeknya. Pembagian antara item yang favorabel dengan item yang unfavorabel juga seimbang. Distribusi atau penyebaran item dapat dilihat pada tabel berikut:

  14

  13, 16, 35, 43, 49, 55, 61

  2 Pengaturan Diri 10, 12, 26, 32, 53, 60, 66

  14

  7, 17, 22, 45, 50, 58, 70

  1 Kesadaran Diri 1, 14, 20, 27, 34, 41, 67

  Jumlah Total

  No Item No Aspek Kecerdasan Emosional Favorabel Unfavorabel

  Tabel 7 Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional

  70

F. Validitas dan Reliabilitas

  Suatu skala dapat dikatakan representatif, fungsional, dan akurat apabila skala tersebut dikenakan pada subyek penelitian yang sesungguhnya, dilakukan uji coba untuk memperoleh validitas dan reliabilitas.

  1. Validitas Validitas adalah tingkat kemampuan suatu alat ukur untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur tersebut (Azwar, 1999). Validitas dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga cara yaitu : a. Validitas Isi

  Validitas isi akan menunjukkan sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur, artinya tes itu bukan saja harus komprehensif tetapi isinya harus tetap relevan dan tidak keluar dari penelitian (Azwar, 1996). Validitas isi dari skala ini diselidiki melalui analisis rasional terhadap isi tes atau melalui professional

  judgement , yaitu dengan cara melihat apakah item-item dalam tes telah

  ditulis sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan semula dan memeriksa apakah masing-masing item telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkapkan.

  Tabel 8. Blue print Kecerdasan Emosional sebelum Uji Coba

  No Aspek Kecerdasan Jumlah Total Emosional Favorabel Unfavorabel

  1 Kesadaran Diri

  7

  7

  14

  2 Pengaturan Diri

  7

  7

  14

  3 Motivasi

  7

  7

  14

  4 Empati

  7

  7

  14

  5 Keterampilan Sosial

  7

  7

  14 TOTAL 35

  35

  70

  b. Validitas Tampang Validitas tampang adalah validitas yang didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan (Supratiknya, 1998). Validitas tampang diselidiki dengan tehnik professional judgement, yaitu dengan cara meminta sesorang memeriksa sebuah tes, bisa seorang pakar atau subyek tes itu sendiri, dan menyimpulkan apakah tes tersebut memberi kesan mengukur sifat yang akan diukur.

  2. Indeks Diskriminasi Item Indeks diskriminasi item dicari dengan tujuan melihat kemampuan item untuk membedakan antara item yang memiliki skor tinggi dengan skor rendah.

  Indeks daya diskriminasi item total dihitung dengan cara mengkorelasikan skor item dengan skor item total. Pengkorelasian antara skor item dengan skor item total akan menghasilkan koefisien korelasi item total (r ) atau indeks daya beda

  ix

  item (indeks diskriminasi item). Harga indeks diskriminasi item yang baik adalah ≥ 0.3 (Ebel dalam Supratiknya, 1998). Item yang mencapai indeks diskriminasi item minimal 0.30 memiliki indeks daya beda item yang dianggap memuaskan (Azwar, 2000)

  3. Reliabilitas Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.

  Tinggi rendahnya reliabilitas secara empiris ditunjukan oleh koefisien reliabilitas. Reliabilitas tes ini diukur dengan pendekatan konsistensi internal yang didasarkan pada data dari sekali pengenaan skala pada sekelompok subyek (single trial administration). Penghitungan koefisien reliabilitas dilakukan dengan menggunakan tehnik Alpha Cronbach, karena akan memberikan harga yang sama besar dengan harga reliabilitas yang sebenar-benarnya. Penghitungan ini memungkinkan timbulnya reliabilitas yang sebenarnya lebih tinggi dari pada koefisien yang didapatkan (Azwar, 1996).

G. Metode Analisis Data

  Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kecerdasan emosional dengan performa bermain sepak bola dalam penelitian ini digunakan uji hipotesis.

  Uji hipotesis yang digunakan peneliti pada penelitian ini adalah korelasi Product

  

Moment Pearson , digunakan untuk melihat tinggi rendahnya koefisien korelasi

  yang dihasilkan dari korelasi skor total antara dua variabel, yaitu kecerdasan emosional dan performa bermain sepak bola.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Penelitian

1. Uji Coba Alat Ukur

  Peneliti melakukan uji coba alat ukur terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian. Uji coba tersebut untuk melihat validitas dan reliabilitas alat penelitian sebelum digunakan dalam penelitian yang sesungguhnya.

  Alat penelitian yang akan diuji coba adalah skala kecerdasan emosional. Skala kecerdasan emosional ini berisi 70 item. 70 item tersebut terdiri atas 14 item aspek Kesadaran Diri, 14 item aspek Pengaturan Diri, 14 item aspek Empati, 14 item aspek Motivasi, dan 14 item aspek Keterampilan Sosial

  Uji coba alat penelitian dilakukan pada tanggal 20-30 Agustus 2006 di Sleman Yogyakarta. Penyebaran dilakukan di klub-klub sepak bola yang berada di Sleman Yogyakarta dan bermain dalam kompetisi divisi satu PSS Sleman. Alat ukur ini diujicobakan pada kelompok subyek yang memiliki karakteristik sama dengan kelompok subyek penelitian yang sesungguhnya.

  Subyek dalam uji coba alat ukur ini sebanyak 80 orang pemain sepak bola yang berasal dari divisi satu PSS Sleman yang berusia lebih dari 18 tahun. Hal ini disebabkan karena mulai umur 18 tahun seseorang secara umum mendekati puncak potensi fisiknya dalam olahraga, tahun-tahun ini perkembangan fisik seseorang dalam olahraga mengalami masa paling produktif dalam proses belajarnya untuk menjadi seorang atlet.

2. Hasil Uji Coba Alat Ukur

  Peneliti menyebar 90 eksemplar pada uji coba ini, dari 90 eksemplar yang disebar 90, eksemplar kembali dan hanya 80 yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Hasil uji coba dianalisis dengan menggunakan program SPSS 13 for windows.

  versi a.

   Indeks Diskriminasi Item Alat Pengumpul Data

  Jumlah item skala kecerdasan emosional sebayak 70,terdiri dari 14 item untuk aspek pengaturan diri, 14 item untuk aspek kesadaran diri, 14 item untuk aspek motivasi, 14 item untuk aspek empati dan,14 item untuk aspek keterampilan sosial. Dari hasil analisis diperoleh koefisien korelasi item total (rix) antara 0,0965 sampai 6.6770. peneliti kemudian melakukan seleksi dengan memilih item-item yang memiliki daya diskriminasi

  ≥0,3 dan memperoleh 56 item yang lolos seleksi dan 14 item yang gugur.

  Setelah dipilih, koefisien korelasi item total (rix) bergerak dari 0.338 sampai 0.687.

  Berikut ini item-item skala kecerdasan emosional yang gugur setelah uji coba yang dapat dilihat pada table berikut :

  Tabel 9 Spesifikasi Skala Kecerdasan Emosional Setelah Uji Coba

  8, 24, 38, 52*, 59, 62, 68

  Distribusi item-item pada skala kecerdasan emosional dalam susunan penomoran yang baru dapat dilihat pada tabel berikut:

  Windows , diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0.955, yang berarti skala ini reliabel.

  Estimasi reliabilitas skala kecerdasan emosionl menggunakan tehnik Alpha Cronbach dengan menggunakan program SPSS 13 for

  Validitas skala kecerdasan emosional dilakukan dengan menggunakan tehnik professional judgement, peneliti meminta seorang ahli untuk menilai skala kecerdasan emosional, dalam penelititan ini peneliti meminta penilaian dari dosen pembimbing.

  70 *) item-item yang gugur setelah uji coba.

  35

  14 TOTAL 35

  4, 23*, 33, 46, 51*, 57, 64

  5 Keterampilan Sosial 3, 5, 11, 18, 28, 37, 54

  14

  4 Empati 2, 15, 21, 30, 36*, 42, 48

  No Item No Aspek Kecerdasan Emosional Favorabel Unfavorabel

  14

  9, 19, 29, 31, 40*, 47, 65*

  3 Motivasi 6, 25*, 39, 44, 56, 63, 69

  14

  13*, 16*, 35, 43, 49, 55*, 61*

  2 Pengaturan Diri 10, 12*, 26, 32, 53, 60, 66

  14

  7, 17, 22*, 45, 50, 58, 70

  1 Kesadaran Diri 1*, 14, 20, 27, 34, 41, 67

  Jumlah Total

b. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpul Data

  Tabel 10 Spesifikasi Skala Kecerdasan Emosional Untuk Penelitian

  No Aspek Kecerdasan No Item Jumlah Emosional Favorabel Unfavorabel Total

  1 Kesadaran Diri 11, 16, 20, 27, 6, 13, 36, 41, 46,

  12 32, 53

  56

  2 Pengaturan Diri 9, 19, 25, 42, 48, 28, 34, 40,

  9

  52

  3 Motivasi 5, 31, 35, 44, 50, 8, 15, 22, 24, 28

  11

  55

  4 Empati 1, 12, 17, 23, 33, 7, 18, 30, 47, 49,

  12 39,

  54

  5 Keterampilan Sosial 2, 4, 10, 14, 21, 3, 26, 37, 45, 51,

  12 29, 43,

  TOTAL 31

  25

  56 B.

   Pelaksanaan Penelitian

  Penelitian ini dilakukan pada hari sabtu-minggu 7-8 Oktober 2006 dan hari kamis 12 Oktober 2006 dengan menyebar skala pada subyek penelitian secara langsung dan mengambil hasilnya pada saat itu juga. Skor performa didapat dari pengawas pertandingan yang telah menerima form penilaian performa pemain sepak bola dari peneliti. Peneliti sebelum pengambilan data telah memberikan form penilaian performa bermain sepak bola kepada panitia pertandingan. Form akan diisi oleh pengawas pertandinga, dimana didalam sebuah pertandingan terdapat 3 orang pengawas pertandingan. Pengawas pertandingan kemudian membagi pemain mana yang akan diawasi dan dinilai performanya.

  Skala kecerdasan emosi disebar langsung kepada pemain sepak bola yang bertanding. Pada proses pengambilan data ada 56 orang yang dinilai performanya tetapi karena 3 orang menolak untuk mengisi angket maka skor performanya digugurkan dengan melihat nomor punggung pemain yang bersangkutan.

  Peneliti juga merekam aspek yang diukur untuk menilai performa seorang pemain seperti kategori umpan, kategori tackle, kategori sundulan, kategori pelanggaran, dan kategori tembakan, selain itu juga terdapat beberapa kategori pendukung seperti gol, assit, interception, dribel, offside, kartu merah, dan kartu kuning dalam pertandingan yang bersangkutan. Alat perekam yang digunakan adalah tape recorder yang digunakan untuk merekam suara peneliti berkaitan dengan gerakan gagal atau berhasil dari sebuah kategori, hasil rekaman digunakan sebagai interater reability. Dari cross check yang dilakukan antara data aspek- aspek yang akan digunakan untuk menghitung skor performa yang diberikan oleh pengawas pertandingan dan hasil rekaman peneliti tidak ada perbedaan yang mencolok.

C. Analisis Data Penelitian

  1. Uji Asumsi Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi untuk melihat apakah data yang diperoleh memenuhi syarat untuk dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi. Uji asumsi meliputi uji normalitas dan uji linearitas.

  a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran variabel bebas dan variabel tergantung dalam penelitian ini normal atau tidak. Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan tehnik Sample

  Kolmogorov-Smirnov Test dalam program SPSS for Windows versi 13.

  hasilnya dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 11

  Hasil Uji Normalitas Sebaran Skor Kecerdasan Skor Performa

  Emosional Pemain SB Kolmogorov-Smirnov Z 1.132 0.652 Asymp.Significant 0.154 0.789

  Berdasarkan hasil uji normalitas, didapatkan bahwa distribusi sebaran variabel kecerdasan emosional dan variabel performa pemain sepak bola bersifat normal karena signifikansi kedua variabel lebih besar daripada 0.05 (p>0.05).

  b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel kecerdasan emosional dan skor variabel performa pemain sepak bola merupakan garis lurus atau tidak. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan test for linearity dari program SPSS for Windows

  versi 13 , hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

  Tabel 12 Hasil Uji Linearitas Hubungan

  F Sig Skor KE * Skor (combined) 1.505 0.216 Performa Pemain

  Linearity 14.071 0.002 SB

  Deviation from linearity 1.175 0.393 Berdasarkan hasil uji linearitas, didapatkan bahwa taraf signifikansi untuk lineritas lebih kecil dari pada 0,05 (p < 0,05), dengan kata lain hubungan antara skor variabel kecerdasan emosional dan variabel performa pemain sepak bola mengikuti fungsi linear.

  2. Uji Hipotesis Analisis data menggunakan tehnik korelasi produc moment Pearson dalam program SPSS for Windows versi 13. Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi untuk variabel kecerdasan emosional dan variabel performa bermain sepak bola adalah 0.443 dengan taraf signifikansi 0.01 (p<0.01).

  Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara kecerdasan emosional dengan performa bermain sepak bola.

  Sumbangan Kecerdasan emosional terhadap performa pemain sepak 2 bola dapat dilihat dari koefisien determinasinya (r ), yaitu sebesar 0.1962. koefisien determinasi sebesar 0.1962 berarti kecerdasan emosional pemain sepak bola menyumbang sebesar 19.62% terhadap performa pemain sepak bola. Sumbangan sebesar 80.38% terhadap performa pemain sepak bola diperoleh dari faktor lain.

  D.

  

Kategorisasi Subyek Berdasarkan Skor Skala Kecerdasan Emosional dan

Performa Bermain Sepak Bola

  Kategorisasi subyek penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan subyek ke jenjang tertentu berdasarkan aspek yang hendak diukur. Kategori ini dibuat mengikuti distribusi normal dengan batasan kategori berdasarkan standar deviasi dengan rentang angka minimum dan maksimum hipotetiknya.

  Tabel 13 Deskripsi Statistik Data Penelitian.

  VAR N Minimum Maximum Mean SD Hip Emp Hip Emp Hip Emp

  Skor KE

  53

  56 63 224 200 112 133.717 34.536 Skor 53 0 3

  10 8 5 5.387 1.104 PPSB

  Kategorisasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kategorisasi jenjang, yaitu menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok berjenjang kontinum mulai dari jenjang sangat tinggi sampai ke jenjang sangat rendah. Norma kategorisasi skor dapat dilihat pada tabel berikut :

  Tabel 14 Norma Kategorisasi Skor Subyek

  ( Sangat tinggi μ + 1.5σ) < X

  ( μ + 0.5σ) < X ≤ (μ + 1.5σ) Tinggi

  ( μ - 0.5σ) < X ≤ (μ + 0.5σ) Sedang

  ( μ - 1.5σ) < X ≤ (μ - 0.5σ) Rendah

  X Rendah ≤ (μ - 1.5σ) Sangat

  Berdasarkan data empiris yang ada, maka kategorisasi kedua skala penelitian adalah sebagai berikut: Tabel 15

  Norma Kategorisasi Skor Performa Pemain Sepak Bola dan Skala kecerdasan Emosional Perfoma Pemain Sepak Bola Kategori Kecerdasan Emosional

  7.5 < X Sangat Tinggi 154 < X 5.834 < X Tinggi 126 < X

  ≤ 7.5 ≤ 154

  4.167 < X Sedang 98 < X ≤ 5.834

  ≤ 126 2.5 < X Rendah 70 < X

  ≤ 4.167 ≤ 98

  X < 2.5 Sangat Rendah X < 70 Berdasarkan data pnelitian yang ada, maka kategori subyek berdasarkan norma kategorisasi pada kedua skala adalah sebagai berikut : Tabel 16

  Kategori Subyek Berdasarkan Model Distribusi Normal Performa Pemain Sepak Bola Kategori Kecerdasan Emosional Prosentase Jumlah Subyek Prosentase Jumlah Subyek

  3.774% 2 Sangat Tinggi 50.943%

  27 33.962% 18 Tinggi 18.868% 10 47.169% 25 Sedang 35.809% 19

  15.38% 8 Rendah 9.434% 5 0% 0 Sangat Rendah 3.774%

  2 E. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis menggunakan tehnik korelasi product moment

  Pearson dalam program SPSS for Windows versi 13, didapatkan koefisien korelasi

  sebesar 0.443. korelasi tersebut signifikan pada level 0.01. hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan performa bermain sepak bola pada pemain-pemain sepak bola klub divisi utama PSS Sleman.

  Kecerdasan emosional pemain sepak bola dalam penelitian ini menyumbang sebesar 19,62 % terhadap performa bermain sepak bola, hal ini dapat diartikan bahwa ada faktor lain sebesar 80,38 % yang mempengaruhi performa bermain sepak bola. Faktor lain yang dapat mempengaruhi performa pemain sepak bola adalah faktor kognitif, faktor fisik, faktor psikologis, dan faktor sosial, seperti yang telah diungkapkan Dewazien (2001).

  Faktor sosial misalnya, besarnya gaji dan bonus yang diberikan oleh pihak manajemen klub akan mempengaruhi morivasi bermain seorang pemain sepak bola, semakin layak gaji dan bonus yang ia terima maka motivasi bermainnya juga akan semakin tinggi. Hubungan dengan rekan satu tim dan dengan manajemen juga mempengaruhi kondisi pemain sepak bola semakin nyaman hubungan rekan satu tim dan dengan manajemen maka semakin nyaman pula seorang pemain sepak bola menjalani sebuah pertandingan.

  Dewazien (2001) mengungkapkan bahwa performa seorang pemain sepak bola ditentukan 4 faktor, salah satunya adalah faktor psikis (motivasi, kepercayaaan diri, dan emosi). Pemain sepak bola yang tenang dan dapat bekerjasama dengan teman dalam satu timnya akan dapat memberikan umpan- umpan yang baik dan memanfaatkan peluang menjadi gol. Ketenangan dan kemampuan menjalin kerjasama dengan teman dalam satu tim adalah aspek dari kecerdasan emosional, sedang umpan yang baik dan kemampuan mencetak gol adalah kriteria untuk menentukan performa pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan.

  Pemain sepak bola yang mempunyai kecerdasan emosi yang baik terlihat dari kesadaran diri yang tinggi, pengaturan diri yang baik, dapat memotivasi dirinya sendiri, lebih mampu untuk berempati, dan mempunyai keterampilan sosial yang baik. Pemain sepak bola yang mempunyai kecerdasan emosi tinggi dapat mengelola emosinya dengan baik, ia dapat memotivasi dirinya, menjaga semangatnya, dan menjaga staminanya tetap stabil sehingga bisa menampilkan performa terbaiknya untuk memenangi pertandingan. Pemain sepak bola berkecerdasan emosi tinggi dapat mengendalikan dirinya ketika diejek atau diprovokasi lawan sehingga perilakunya dilapangan tidak terpengaruh yang mengarah ke pelanggaran-pelanggaran untuk membalas provokasi tersebut dan tetap dapat mengumpan yang baik, mentekel dengan bersih, memenangkan bola diudara, melakukan tembakan kegawang yang akurat, mencetak gol yang baik, sedikit melakukan pelanggaran, dan tidak menerima kartu kuning ataupun kartu merah.

  Pemain sepak bola dalam penelitian ini memiliki skor performa sedang. Dari jumlah total 55 pemain sepak bola, 8 pemain sepak bola masuk dalam kategori rendah, 25 pemain sepak bola masuk dalam kategori sedang, 18 pemain sepak bola masuk dalam kategori tinggi dan 2 pemain sepak bola masuk dalam kategori sangat tinggi.

  Data dari statistik deskriptif menunjukkan bahwa pada skala kecerdasan emosional rata-rata empirik yaitu 133.717 lebih besar dari rata-rata teoritik yaitu 112, hal ini menunjukan bahwa kecerdasan emosional para pemain sepak bola di divisi utama PSS Sleman cenderung tinggi.

  Performa subyek penelitian yang masuk dalam kategori sedang mungkin terjadi karena beberapa hal, yaitu : pertama untuk berkompetisi di divisi utama PSS Sleman setiap klub menyeleksi pemain-pemain yang akan dipakai dalam kompetisi tersebut sehingga pemain yang berkompetisi di divisi Utama PSS Sleman memiliki dasar bermain sepak bola yang cukup baik

  Kedua, setelah sebuah tim menjalani sebuah pertandingan selalu diadakan evaluasi untuk melihat kekurangan dan kelebihan sebuah tim secara keseluruhan.

  Seorang pemain sepak bola yang merasa kurang maksimal dalam sebuah pertandingan akan berusaha meningkatkan performanya, sehingga posisinya dalam tim inti tidak digantikan oleh pemain cadangan.

  Suryobroto (2001) berpendapat bahwa stabilitas emosional diperlukan seorang atlet agar perhatiannya tidak mudah terpecah, karena banyaknya kondisi yang harus dihadapi dalam sebuah pertandingan maka pemain sepak bola harus dapat berkonsentrasi dan berpikir positif tentang situasi yang sedang dihadapi.

  Tice (dalam Goleman, 2002) menyatakan bahwa melampiaskan amarah adalah cara terburuk meredakan emosi karena ledakan amarah malah memicu otak emosional sehingga seseorang menjadi lebih marah. Dengan kata lain hanya pemain sepak bola berkecerdasan emosi tinggi yang dapat menjaga stabilitas emosi kognitifnya sehingga dapat menjaga kesadaran diri dan motivasinya untuk mencapai kinerja atau performa bermain sepak bola yang terbaik.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan positif antara

  kecerdasan emosional dengan performa bermain sepak bola. Semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin tinggi pula performa bermain sepak bola, sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosional maka semakin rendah performa bermain sepak bola. Dalam penelitian ini kecerdasan emosional memberikan sumbangan sebesar 19.62% terhadap performa pemain sepak bola. Sumbangan sebesar 80.38% terhadap performa pemain sepak bola diperoleh dari faktor lain.

B. SARAN 1. Bagi Klub Sepak Bola.

  Klub sepak bola hendaknya dapat meningkatkan kecerdasan emosional pemain sepak bola dengan pelatihan-pelatihan yang bermanfaat sehingga akan berguna untuk lebih memperbaiki performa para pemain yang dimilikinya.

  2. Bagi Pemain Sepak Bola Seorang pemain sepak bola hendaknya dapat mengetahui seberapa tinggi kecerdasan emosionalnya, dengan mengetahui tingkat kecerdasan emosionalnya mereka dapat memperbaiki kekurangan dengan pelatihan dan bertukar pikiran baik dengan rekan satu tim atau dengan pelatih sehingga dapat meningkatkan kecerdasan emosinya dan dapat lebih memperbaiki performanya.

3. Bagi Peneliti lain

  Peneliti lain dapat mengontrol variabel-variabel lain yang mungkin akan mempengaruhi performa bermain sepak bola seperti tingkat IQ, postur tubuh, tinggkat kebugaran, dll. Peneliti lain juga dapat memperbaiki aturan skoring untuk lebih memperhatikan kualitas sebuah aspek yang akan diskor daripada kuantitasnya.

  

Daftar Pustaka

  Azwar, S. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

  Azwar, S. (1997). Reabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Baars, C. W. (1979). Feeling and Healing Your Emotion. New Jersey: Logos International Plainfield.

  Bilton,J. (2001). Parent/Player Guide. November 2003.

  Carling, C. (2001). Motivation and Soccer Performance. .

  Diakses bulan februari 2005. Clark, M. S. (1992). Emotion: Rewiew of Personality and Social Psychology.

  California: Sage Publication, Inc Coerver, W & Yusuf, K. (1985). Sepak Bola: Program Pembinaan Pemain Ideal.

  Jakarta: PT.Gramedia. Cooper, R. K & Sawaf, D. A. (2000). Kecerdasan Emosi dalam Kepemimpinan dan Organisasi . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

  Dasa, A. W. (2004). Performa Puncak Pebola Basket Berdasarkan Tingkat

  Kecemasan Sebelum Bertanding Pada Kompetisi Indonesian Basketball League (IBL) Tahun 2003 . Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas

  Sanata Dharma (skripsi, tidak diterbitkan). Dewazien, K. (2001). How To Become A More Effective Player. mber 2003 Dietrich, K. (1981). Sepak Bola: Aturan dan Latihan. Jakrta: Gramedia. FIFA. (2007). Laws Of The Game. Fuchs, E., Fruber, D., Jansen, G. (1981). Sepak Bola: Pembinaan Tehnik dan Kondisi . Jakarta: Gramedia.

  Goleman, D. (1997). Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

  Gunarsa, S. D. , dkk (1989). Psikologi Olahraga. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Gunarsa, S. D., Satiadarma, M. P., Hardjolukito, R., Myrna. (1996). Psikologi Olahraga . Jakarta: Gunung Mulia.

  Hadi. (2004). Statistik 2. Jilid dua. Yogyakarta: penerbit Andi Yogyakarta. Henrietta, P. D. A. D. S. (2002). Hubungan Kecerdasan Emotional dengan Mutu Pelayanan Perawatan di Bagian Rawat Inap RS. Bethesda Yogyakarta .

  Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (skripsi, tidak diterbitkan).

  O’keefe, E. (2001). Soccer Psychology. November 2003 Patton, P. (1998). EQ (Emotional ) ditempat Kerja. Jakarta: Pustaka Delapratasa.

  Satiadarma, M. P. (2000). Dasar-Dasar Psikologi Olahraga. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

  Setyobroto, S. (1989). Psikologi Olahraga. Jakarta: PT Anem Kosong Anem. Setyobroto, S. (2001). Mental Training. Jakarta: Percetakan “Solo”. Supratiknya, A. (1998). Statistik Psikologi. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Penerbitan Sumber Belajar.

  • . (2005). Bola: Tabloid Olah Raga (bulan februari-juni). Jakarta. PT.

  Tunas Bola.

  • . (2006). Kompas Cyber Media: Rachmad Darmawan Bertekad Bawa Persija Juara (11 Januari 2006). 2007
  • . (2005). Screenshots. . Diakses bulan Februari 2005

  60 SKALA KECERDASAN EMOSIONAL

  Sebelum mengerjakan, tulislah identitas diri anda dengan lengkap dan bacalah petunjuk pengerjaanya sebagai berikut: Identitas :

  Nama : Usia :

  Posisi : No Punggung :

  Lama bermain di klub : Petunjuk khusus :

  Dalam skala ini terdapat 70 penyataan mengenai perasaan, pikiran dan perilaku seseorang dalam bermain sepak bola maupun dalam kehidupan sehari- hari. Pilihlah jawaban dengan memberi tanda silang (x) pada kolom jawaban yang telah disediakan. Jawablah seluruh pernyataan, dalam skala ini tidak ada jawaban yang salah, semua pilihan jawaban adalah benar. Oleh karena itu pilihlah jawaban yang sesuai dengan diri anda.

  Pilihan jawabannya adalah : SS : Sangat setuju bila pernyataan sangat sesuai dengan keadaan diri anda.

  S : Setuju bila pernyataan sesuai dengan keadaan diri anda. TS : Tidak setuju bila pernyataan tidak sesuai dengan diri anda. STS : Sangat tidak setuju bila pernyataan sangat tidak sesuai dengan keadaan diri anda.

  Terima kasih atas perhatian dan kesediaannya mengerjakan skala ini.

  SELAMAT MENGERJAKAN!

  61

  No. Pernyataan S SS TS STS

  1. Saya dapat mengartikan apa yang saya rasakan pada saat ini

  2 Saya mengerti apa yang orang lain rasakan, ketika menghadapi permasalahan berat.

  3 Bagi saya, bekerjasama dengan orang lain adalah saling meringankan beban tugas yang sedang dikerjakan.

  4 Saya yakin akan kemampuan saya untuk melakukan sebuah tugas, oleh karena itu saya tidak butuh bantuan orang lain.

  5 Saya cepat menyesuaikan diri bila keadaan berubah.

  6 Saya yakin bahwa saya mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik.

  7 Saya sering bingung harus berbuat sesuatu ketika menghadapi masalah

  8 Saya tidak peduli bagaimana ekspresi orang lain ketika saya sedang berbicara.

  9 Saya lebih sering dipengaruhi perasaan takut gagal dari pada pengharapan untuk sukses..

  10 Menurut saya, tidak masalah menunda kesenangan demi kesempatan yang baik.

  11 Walaupun berbicara dengan orang yang baru saya kenal, saya tetap tenang dan tidak canggung.

  12 Saya tetap tenang bahkan dalam situasi yang terkadang membuat orang lain marah.

  13 Saya sulit menahan keinginan yang muncul secara tiba- tiba.

  14 Saya sadar bahwa saya mampu mendapatkan apa yang saya inginkan

  15 Saya dengan senang hati bertukar pengalaman dengan orang lain, karena dapat saling meringankan beban

  62 masalah.

  16 Saya membutuhkan waktu yang lama untuk meredam kemarahan saya.

  17 Saya sulit memahami perasaan yang saya alami.

  18 Saya berusaha menghibur orang yang sedang sedih dengan berbagai cara agar ia gembira.

  19 Saya mudah frustasi bila menghadapi tekanan yang saya rasa berat.

  20 Saya tidak pernah meragukan kemampuan yang saya miliki untuk menyadari apa yang saya rasakan saat ini.

  21 Saya dapat memahami ketakutan seseorang ketika menghadapi masalah besar.

  22 Ketika saya sedih saya tidak tahu apa yang membuat saya sedih.

  23 Saya hanya diam ketika topik pembicaraan berubah menjadi tidak menarik lagi.

  24 Saya malas untuk berbicara dengan seseorang yang terlalu mudah kuatir.

  25 Saya tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan karena pasti ada jalan keluarnya.

  26 Saya mampu mengekpresikan perasaan saya dengan tepat.

  27 Saya tidak pernah mencemaskan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri saya

  28 Saya merasa mudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain.

  29 Saya sering merasa melakukan pekerjaan yang sia-sia dan membuang waktu.

  30 Saya mengetahui ketika perasaan seseorang berubah secara tiba-tiba.

  63

  31 Saya mengakhiri usaha saya ketika mengalami kegagalan.

  32 Saya memikirkan apa yang saya inginkan sebelum bertindak.

  33 Saya merasa panik bila berhadapan dengan orang yang mudah marah.

  34 Saya mampu membedakan suasana hati saya ( sedih, bahagia, kecewa, marah).

  35 Saya merasa sulit mengatasi kesedihan yang saya rasakan..

  36 Saya dapat mengetahui perasaan orang lain, meskipun mereka tidak membicarakannya.

  37 Dalam lingkungan yang baru, saya mudah menemukan seseorang yang dapat diajak bergaul.

  38 Saya tidak tahu perasaan orang lain terhadap saya.

  39 Saya berusaha memaksimalkan kemampuan saya dan tidak takut gagal.

  40 Saya merasa tidak mampu merubah kegagalan-kegagalan menjadi peluang-peluang yang harus dicapai.

  41 Saya menyadari setiap perubahan perasaan saya.

  42 Ketika seseorang sedang bersedih, saya dapat menempatkan diri pada posisinya untuk memahami persoalan yang dialaminya.

  43 Saya selalu bersenang-senang karena saya pikir kesempatan tidak akan datang 2 kali.

  44 Saya selalu tekun melaksanakan tugas kendati banyak rintangan.

  45 Ketika menghadapi masalah, saya bingung apa yang harus saya lakukan.

  46 Saya merasa sulit mengembangkan topik pembicaraan dengan orang lain.

  64

  47 Saya malas mempelajari hal-hal baru yang menurut saya hanya menyita waktu.

  48 Saya mengerti bahwa setiap orang memiliki keinginan yang berbeda-beda.

  49 Ketika mendapat masalah, saya melampiaskan kemarahan pada orang-orang di sekitar saya.

  50 Terkadang saya tidak dapat mengartikan apa yang saya rasakan.

  51 Saya tidak senang orang lain mencampuri urusan pribadi saya.

  52 Saya merasa sulit memahami arti dari gerak-gerik seseoang.

  53 Saya mampu menahan keinginan saya hingga saat yang tepat.

  54 Bekerjasama dengan orang lain adalah menambah pengetahuan saya.

  55 Saya jarang memperhatikan kata hati saya.

  56 Ketika menghadapi masalah, saya tetap tegar dan mencari jalan keluar yang terbaik.

  57 Bagi saya bekerja sama dengan orang lain hanya menambah masalah.

  58 Ketika melaksanakan tugas, saya kuatir tidak dapat menyelesaikannya.

  59 Saya merasa tidak perlu memahami perasaan orang lain ketika berbicara dengannya.

  60 Saya berusaha mencari penyebab dan penyelesaian saat marah.

  61 Bila saya gagal dalam melakukan suatu tugas, saya mudah putus asa.

  65

  62 Saya merasa sulit memahami pandangan orang lain yang berbeda.

  63 Walaupun tugas yang saya emban sulit, saya berusaha menikmatinya.

  64 Bekerja dengan banyak orang akan memperlambat tugas yang saya embank.

  65 Saya melaksanakan tugas atau kegiatan berdasarkan suasana hati saya.

  66 Saya mengerjakan tugas-tugas terlebih dahulu sebelum bersantai-santai.

  67 Saya menyadari ketika tiba-tiba marah pada saat-saat tertentu.

  68 Saya tidak tahu apa yang orang lain butuhkan ketika ia sedang sedih.

  69 Walaupun menggerjakan tugas yang sulit, saya selalu menikmatinya.

  70 Saya merasa sulit untuk memutuskan mana yang lebih baik bagi saya diantara banyak pilihan.

  Reliability Case Processing Summary 80 100.0

.0

80 100.0 Valid

  Excluded a

  Total Cases N % Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  a.

  Reliability Statistics .946

  70 Cronbach's Alpha N of Items Item-Total Statistics

  162.00 1213.038 .124 .946 163.18 1189.083 .423 .945 163.24 1185.373 .487 .945 162.78 1198.075 .344 .945 162.80 1196.744 .352 .945 163.15 1169.218 .664 .944 162.69 1174.648 .665 .944 162.99 1187.481 .507 .945 162.39 1165.759 .677 .944 162.79 1181.207 .578 .944 161.98 1198.582 .319 .946 162.64 1210.842 .170 .946 162.96 1207.707 .210 .946 162.11 1197.595 .317 .946 162.83 1193.311 .417 .945 162.06 1215.300 .096 .947 162.69 1174.648 .665 .944 162.99 1187.481 .507 .945 162.39 1165.759 .677 .944 162.79 1181.207 .578 .944 161.98 1198.582 .319 .946 162.64 1210.842 .170 .946 162.96 1207.707 .210 .946 162.11 1197.595 .317 .946 162.00 1213.038 .124 .946 163.18 1189.083 .423 .945 163.24 1185.373 .487 .945 aitem1 aitem2 aitem3 aitem4 aitem5 aitem6 aitem7 aitem8 aitem9 aitem10 aitem11 aitem12 aitem13 aitem14 aitem15 aitem16 aitem17 aitem18 aitem19 aitem20 aitem21 aitem22 aitem23 aitem24 aitem25 aitem26 aitem27

  Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted

  76

  Item-Total Statistics 162.78 1198.075 .344 .945 162.80 1196.744 .352 .945 163.15 1169.218 .664 .944 162.69 1174.648 .665 .944 162.99 1187.481 .507 .945 162.39 1165.759 .677 .944 162.79 1181.207 .578 .944 161.98 1198.582 .319 .946 162.64 1210.842 .170 .946 162.99 1187.481 .507 .945 162.39 1165.759 .677 .944 162.79 1181.207 .578 .944 162.00 1213.038 .124 .946 163.18 1189.083 .423 .945 163.24 1185.373 .487 .945 162.78 1198.075 .344 .945 162.80 1196.744 .352 .945 163.15 1169.218 .664 .944 162.69 1174.648 .665 .944 162.99 1187.481 .507 .945 162.39 1165.759 .677 .944 162.79 1181.207 .578 .944 161.98 1198.582 .319 .946 162.64 1210.842 .170 .946 162.96 1207.707 .210 .946 162.11 1197.595 .317 .946 162.83 1193.311 .417 .945 162.06 1215.300 .096 .947 162.69 1174.648 .665 .944 162.99 1187.481 .507 .945 162.39 1165.759 .677 .944 162.79 1181.207 .578 .944 161.98 1198.582 .319 .946 162.64 1210.842 .170 .946 162.99 1187.481 .507 .945 162.39 1165.759 .677 .944 162.79 1181.207 .578 .944 162.00 1213.038 .124 .946 163.18 1189.083 .423 .945 163.24 1185.373 .487 .945 162.78 1198.075 .344 .945 162.80 1196.744 .352 .945 162.69 1174.648 .665 .944 aitem28 aitem29 aitem30 aitem31 aitem32 aitem33 aitem34 aitem35 aitem36 aitem37 aitem38 aitem39 aitem40 aitem41 aitem42 aitem43 aitem44 aitem45 aitem46 aitem47 aitem48 aitem49 aitem50 aitem51 aitem52 aitem53 aitem54 aitem55 aitem56 aitem57 aitem58 aitem59 aitem60 aitem61 aitem62 aitem63 aitem64 aitem65 aitem66 aitem67 aitem68 aitem69 aitem70

  Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted

  77

ANGKET PENELITIAN

  • IDENTITAS RESPONDEN NAMA RESPONDEN :………………………….

  NAMA KLUB :…………………………. NOMOR PUNGGUNG :………………………….

POSISI :………………………….

USIA :………………………….

LAMA BERMAIN DI KLUB :…………………………. TANGGAL PENGISIAN :…………………………. (Mohon diisi dengan lengkap, kecuali untuk nama boleh tidak dicantumkan)

  Jogjakarta, Juli 2006 Kepada Yth: Pemain sepak bola Di tempat Dengan hormat, Bersamaan dengan surat ini saya bermaksud

untuk mengajukan permohonan kerjasama dari Saudara.

Sekiranya saudara bersedia meluangkan waktu sejenak untuk

mengisi angket yang saya berikan ini. Saya sangat

mengharapkan kerjasama dari Saudara sekalian dalam rangka

pelaksanaan riset untuk menyelesaikan studi S1 di fakultas

Psikologi, Universitas Sanata Dharma-Jogjakarta.

  Angket ini mencoba mengamati bagaimana

pendapat Saudara kecerdasan emosional. Apabila saya dapat

menampung pendapat-pendapat Saudara saya akan

memperoleh keterangan-keterangan penting yang sekiranya

berguna untuk mengetahui apakah kecerdasan emosional

berhubungan dengan performa bermain sepak bola.

  Saya menjamin terjaganya kerahasiaan informasi

ataupun pendapat yang Saudara berikan selama informasi

tersebut sesuai dengan keadaan saudara yang sesungguhnya.

Saudara dimohon untuk mencantumkan identitas secara

lengkap. Apabila Saudara berkeberatan untuk mencantumkan

nama yang sesungguhnya maka saudara diperkenankan untuk

tidak mencantumkannya atau menyamarkan nama saudara.

Dengan demikian identitas saudara tetap terjaga

kerahasiaannya

  Atas kerjasamanya, kesediaan dan perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

  Hormat saya, Fx. Joko Krisdiyanto PETUNJUK PENGISIAN : Dalam skala ini terdapat 56 penyataan mengenai

perasaan, pikiran dan perilaku seseorang dalam bermain

sepak bola maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pilihlah

jawaban dengan memberi tanda silang (x) pada kolom

jawaban yang telah disediakan. Jawablah seluruh

pernyataan, dalam skala karena skala ini bukan suatu

TEST sehinga tidak ada jawaban yang salah, semua

pilihan jawaban adalah benar. Oleh karena itu pilihlah jawaban yang sesuai dengan diri anda. Pilihan jawabannya adalah :

SS : Sangat setuju bila pernyataan sangat sesuai dengan

keadaan diri anda.

S : Setuju bila pernyataan sesuai dengan keadaan diri

anda. TS : Tidak setuju bila pernyataan tidak sesuai dengan diri anda. STS : Sangat tidak setuju bila pernyataan sangat tidak sesuai dengan keadaan diri anda. Contoh pernyataan dan cara pengisian :

no Pernyataan Tanggapan

  1 Saya dapat mengartikan (SS) (S) (TS) (STS) apa yang saya rasakan pada saat ini

  

Bagi kamu disediakan waktu ± 55 menit untuk menjawab

semua pernyataan yang ada.

  No. Pernyataan Tanggapan

  (SS) (S) (TS) (STS)

  27 Saya mampu membedakan suasana hati saya ( sedih, bahagia, kecewa, marah). (SS) (S) (TS) (STS)

  26 Saya merasa panik bila berhadapan dengan orang yang mudah marah. (SS) (S) (TS) (STS)

  25 Saya memikirkan apa yang saya inginkan sebelum bertindak. (SS) (S) (TS) (STS)

  (SS) (S) (TS) (STS)

  24 Saya mengakhiri usaha saya ketika mengalami kegagalan.

  23 Saya mengetahui ketika perasaan seseorang berubah secara tiba-tiba. (SS) (S) (TS) (STS)

  22 Saya sering merasa melakukan pekerjaan yang sia-sia dan membuang waktu. (SS) (S) (TS) (STS)

  21 Saya merasa mudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain. (SS) (S) (TS) (STS)

  20 Saya tidak pernah mencemaskan kekurangan- kekurangan yang ada pada diri saya (SS) (S) (TS) (STS)

  19 Saya mampu mengekpresikan perasaan saya dengan tepat. (SS) (S) (TS) (STS)

  18 Saya malas untuk berbicara dengan seseorang yang terlalu mudah kuatir. (SS) (S) (TS) (STS)

  17 Saya dapat memahami ketakutan seseorang ketika menghadapi masalah besar. (SS) (S) (TS) (STS)

  16 Saya tidak pernah meragukan kemampuan yang saya miliki untuk menyadari apa yang saya rasakan saat ini. (SS) (S) (TS) (STS)

  15 Saya mudah frustasi bila menghadapi tekanan yang saya rasa berat. (SS) (S) (TS) (STS)

  14 Saya berusaha menghibur orang yang sedang sedih dengan berbagai cara agar ia gembira.

  1 Saya mengerti apa yang orang lain rasakan, ketika menghadapi permasalahan berat. (SS) (S) (TS) (STS)

  6 Saya sering bingung harus berbuat sesuatu ketika menghadapi masalah (SS) (S) (TS) (STS)

  2 Bagi saya, bekerjasama dengan orang lain adalah saling meringankan beban tugas yang sedang dikerjakan.

  (SS) (S) (TS) (STS)

  3 Saya yakin akan kemampuan saya untuk melakukan sebuah tugas, oleh karena itu saya tidak butuh bantuan orang lain.

  (SS) (S) (TS) (STS)

  4 Saya cepat menyesuaikan diri bila keadaan berubah. (SS) (S) (TS) (STS)

  5 Saya yakin bahwa saya mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik. (SS) (S) (TS) (STS)

  7 Saya tidak peduli bagaimana ekspresi orang lain ketika saya sedang berbicara. (SS) (S) (TS) (STS)

  13 Saya sulit memahami perasaan yang saya alami. (SS) (S) (TS) (STS)

  8 Saya lebih sering dipengaruhi perasaan takut gagal dari pada pengharapan untuk sukses.. (SS) (S) (TS) (STS)

  9 Menurut saya, tidak masalah menunda kesenangan demi kesempatan yang baik. (SS) (S) (TS) (STS)

  10 Walaupun berbicara dengan orang yang baru saya kenal, saya tetap tenang dan tidak canggung. (SS) (S) (TS) (STS)

  11 Saya sadar bahwa saya mampu mendapatkan apa yang saya inginkan (SS) (S) (TS) (STS)

  12 Saya dengan senang hati bertukar pengalaman dengan orang lain, karena dapat saling meringankan beban masalah.

  (SS) (S) (TS) (STS)

  28 Saya merasa sulit mengatasi kesedihan yang saya rasakan.. (SS) (S) (TS) (STS)

  29 Dalam lingkungan yang baru, saya mudah menemukan seseorang yang dapat diajak bergaul. (SS) (S) (TS) (STS)

  (SS) (S) (TS) (STS)

  55 Walaupun menggerjakan tugas yang sulit, saya selalu menikmatinya. (SS) (S) (TS) (STS)

  54 Saya tidak tahu apa yang orang lain butuhkan ketika ia sedang sedih. (SS) (S) (TS) (STS)

  53 Saya menyadari ketika tiba-tiba marah pada saat-saat tertentu. (SS) (S) (TS) (STS)

  52 Saya mengerjakan tugas-tugas terlebih dahulu sebelum bersantai-santai. (SS) (S) (TS) (STS)

  51 Bekerja dengan banyak orang akan memperlambat tugas yang saya embank. (SS) (S) (TS) (STS)

  50 Walaupun tugas yang saya emban sulit, saya berusaha menikmatinya. (SS) (S) (TS) (STS)

  49 Saya merasa sulit memahami pandangan orang lain yang berbeda. (SS) (S) (TS) (STS)

  48 Saya berusaha mencari penyebab dan penyelesaian saat marah. (SS) (S) (TS) (STS)

  47 Saya merasa tidak perlu memahami perasaan orang lain ketika berbicara dengannya. (SS) (S) (TS) (STS)

  46 Ketika melaksanakan tugas, saya kuatir tidak dapat menyelesaikannya. (SS) (S) (TS) (STS)

  45 Bagi saya bekerja sama dengan orang lain hanya menambah masalah. (SS) (S) (TS) (STS)

  44 Ketika menghadapi masalah, saya tetap tegar dan mencari jalan keluar yang terbaik. (SS) (S) (TS) (STS)

  43 Bekerjasama dengan orang lain adalah menambah pengetahuan saya.

  30 Saya tidak tahu perasaan orang lain terhadap saya. (SS) (S) (TS) (STS)

  42 Saya mampu menahan keinginan saya hingga saat yang tepat. (SS) (S) (TS) (STS)

  41 Terkadang saya tidak dapat mengartikan apa yang saya rasakan. (SS) (S) (TS) (STS)

  40 Ketika mendapat masalah, saya melampiaskan kemarahan pada orang-orang di sekitar saya. (SS) (S) (TS) (STS)

  39 Saya mengerti bahwa setiap orang memiliki keinginan yang berbeda-beda. (SS) (S) (TS) (STS)

  38 Saya malas mempelajari hal-hal baru yang menurut saya hanya menyita waktu. (SS) (S) (TS) (STS)

  37 Saya merasa sulit mengembangkan topik pembicaraan dengan orang lain. (SS) (S) (TS) (STS)

  36 Ketika menghadapi masalah, saya bingung apa yang harus saya lakukan. (SS) (S) (TS) (STS)

  35 Saya selalu tekun melaksanakan tugas kendati banyak rintangan. (SS) (S) (TS) (STS)

  34 Saya selalu bersenang-senang karena saya pikir kesempatan tidak akan datang 2 kali. (SS) (S) (TS) (STS)

  33 Ketika seseorang sedang bersedih, saya dapat menempatkan diri pada posisinya untuk memahami persoalan yang dialaminya. (SS) (S) (TS) (STS)

  32 Saya menyadari setiap perubahan perasaan saya. (SS) (S) (TS) (STS)

  31 Saya berusaha memaksimalkan kemampuan saya dan tidak takut gagal. (SS) (S) (TS) (STS)

  56 Saya merasa sulit untuk memutuskan mana yang lebih baik bagi saya diantara banyak pilihan. (SS) (S) (TS) (STS)

  Reliability Case Processing Summary 53 100.0

.0

53 100.0 Valid

  Excluded a

  Total Cases N % Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  a.

  Reliability Statistics .957

  56 Cronbach's Alpha N of Items Item-Total Statistics

  131.58 1162.517 .470 .957 131.68 1167.107 .439 .957 131.36 1170.350 .455 .957 131.25 1170.843 .391 .957 131.53 1144.523 .669 .956 131.08 1142.533 .770 .955 131.36 1168.465 .473 .956 130.68 1141.107 .707 .955 131.15 1160.823 .601 .956 130.57 1172.443 .379 .957 130.58 1170.555 .372 .957 131.15 1175.015 .391 .957 131.11 1145.756 .717 .955 131.32 1165.414 .493 .956 130.68 1142.914 .694 .956 131.17 1161.759 .577 .956 130.57 1172.443 .379 .957 130.58 1170.555 .372 .957 131.74 1174.775 .335 .957 131.70 1167.984 .426 .957 131.30 1171.176 .435 .957 131.21 1165.514 .450 .957 131.53 1144.523 .669 .956 131.11 1145.756 .717 .955 131.32 1165.414 .493 .956 130.68 1142.914 .694 .956 131.17 1161.759 .577 .956 item1 item2 item3 item4 item5 item6 item7 item8 item9 item10 item11 item12 item13 item14 item15 item16 item17 item18 item19 item20 item21 item22 item23 item24 item25 item26 item27

  Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted

  89

  Item-Total Statistics 130.57 1172.443 .379 .957 131.32 1165.414 .493 .956 130.68 1142.914 .694 .956 131.17 1161.759 .577 .956 131.74 1174.775 .335 .957 131.70 1167.984 .426 .957 131.30 1171.176 .435 .957 131.21 1165.514 .450 .957 131.53 1144.523 .669 .956 131.11 1145.756 .717 .955 131.32 1165.414 .493 .956 130.68 1142.914 .694 .956 131.17 1161.759 .577 .956 130.57 1172.443 .379 .957 130.58 1170.555 .372 .957 131.19 1177.502 .349 .957 131.11 1145.756 .717 .955 131.32 1165.414 .493 .956 130.68 1142.914 .694 .956 131.17 1161.759 .577 .956 130.57 1172.443 .379 .957 131.32 1165.414 .493 .956 130.68 1142.914 .694 .956 131.17 1161.759 .577 .956 131.74 1174.775 .335 .957 131.70 1167.984 .426 .957 131.30 1171.176 .435 .957 131.21 1165.514 .450 .957 131.11 1145.756 .717 .955 item28 item29 item30 item31 item32 item33 item34 item35 item36 item37 item38 item39 item40 item41 item42 item43 item44 item45 item46 item47 item48 item49 item50 item51 item52 item53 item54 item55 item56

  Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted

  90

  NPar Tests One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

  53

  53 5.3868 133.7170 1.10350 34.53559 .155 .090

  .138 .085

  a,b Absolute Positive Negative Most Extreme

  Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) performa emotioninte legence

  • .155 -.090 1.132 .652 .154 .789 N Mean Std. Deviation Normal Parameters

  Test distribution is Normal.

  a.

  Calculated from data.

  b.

  91

  Means Case Processing Summary 53 100.0% .0% 53 100.0% performa * emotionintelegence N Percent N Percent N Percent

  Included Excluded Total Cases ANOVA Table

  51.842 39 1.329 1.505 .216 12.424 1 12.424 14.070 .002 39.418

  38 1.037 1.175 .393 11.479 13 .883 63.321 52 (Combined)

  Linearity Deviation from Linearity Between Groups Within Groups Total performa * emotionintelegence

  

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

  Measures of Association .443 .196 .905 .819 performa * emotionintelegence R R Squared Eta Eta Squared

  92

  93 Correlations Correlations emotioninte performa legence performa Pearson Correlation 1 .443**

  Sig. (1-tailed) .000 N

  53

  53 emotionintelegence Pearson Correlation .443**

  1 Sig. (1-tailed) .000 N

  53

  53 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PEMBERIAN PELATIHAN REGULASI EMOSI TERHADAP PERILAKU AGRESIF REMAJA PADA SISWA KELAS X SMK PANCASILA SURAKARTA Skripsi Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Pendidikan Strata I Psikologi
0
0
19
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP HAPPINESS AT WORK SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
0
0
13
SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Dalam Bidang Antropologi
0
0
13
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
0
0
16
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan RIZKI DWI JAYANTI NIM 20101112035
0
1
15
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
15
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
17
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
26
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan WAHYU ALAM SARI NIM: 20131111032
0
0
21
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
102
Karya: K.H Bisri Mustofa SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
0
2
147
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Hukum Islam Jurusan Peradilan Agama
0
0
75
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Hukum Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum
0
0
80
Show more