SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

125 

Full text

(1)

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN

PERFORMA BERMAIN SEPAK BOLA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh:

Fx Joko Krisdiyanto

009114140

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

Success is not final, failure is not fatal, it is the courage to

continue that counts….

(Winston

Churchill)

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya

(5)

Skripsi ini aku persembahkan untuk:

Ayah (alm) dan ibuku tercinta,

(6)

Pernyataan Keaslian Karya

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 2007

Penulis

(7)

ABSTRAK

Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Performa Bermain Sepak Bola. Oleh: Fx. Joko Krisdiyanto

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dan performa bermain sepak bola. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan performa bermain sepak bola.

Subyek penelitian ini adalah 53 pemain sepak bola yang bermain di divisi utama PSS Sleman. Variabel dalam penelitian ini adalah kecerdasan emosional sebagai variabel bebas dan performa bermain sepak bola sebagai variabel tergantung. Data yang diperoleh berasal dari skala kecerdasan emosional dan tabel penilaian performa bermain sepak bola yang disususn oleh peneliti. Koefisien reliabilitas skala kecerdasan emosional adalah sebesar 0.955. Validitas skala ditentukan berdasarkan penilaian ahli. Kualitas item ditentukan berdasarkan pada kriteria yang memiliki daya beda item ≥ 0.3.

(8)

ABSTRACT

Correlation Between Emotional Intelligence and Football Performance By: Fx Joko Krisdiyanto

This research aims to find out the correlation between emotional intelligence and football performance. This was correlation research. The hypothesis of this research was “there is a positive correlation between emotional intelligence and football performance.

The subjects of this research were 53 footballer that play in premiere division of PSS Sleman. The variable of this research are emotional intelligence as independent variable and football performance as dependent variable. The data are derived from emotional intelligence scale and form football performance which established by researcher. The reliability of emotional intelligence scale was 0.955. The validity were obtained by professional judgment. Item quality was obtained by criterion which had index discrimination ≥ 0.3.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Bapa dan Yesus juru selamatku, atas

kasih dan kekuatan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dapat selesai tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi, M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Y. Agung Santoso, S.Psi, selaku dosen pembimbing, yang telah memberikan masukan, saran, waktu, dan kesabarannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Sylvia Carolina dan bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi, M.Si, selaku dosen penguji.

4. Agnes Indar Etikawati, S.Psi., M.Si., Dra Tjipto Susana, M.Si., dan Drs. H. Wahyudi, M.Si selaku pembimbing akademik, terima kasih atas bimbingan dan kesabarannya.

5. Ayahku (alm) Y.H. Samiyo dan ibuku TH Tatik S. tercinta yang telah sabar menungguku menyelesaikan skripsi ini, terimakasih juga untuk dana dan dukungan

yang kalian berikan.

(10)

7. Bapak Wahyu Riyanto pelatih timAngkasa Pura 1, bapak Bambang K.W dan Sugiarto selaku pelatih dan manajer tim PIM, pelatih tim BSA, dan Pelatih tim

Argomulyo yang rela diganggu dengan penyebaran angket untuk penelitian ini. 8. Mba Etta yang dengan sabar membantuku menyusun skripsi ini, dan semua dosen

Psikologi yang telah memberikan ilmunya kepadaku.

9. Betharia Meylani yang dengan setia dan selalu mendukungku untuk menyelesaikan skripsi ini.

10.Kedua adikku Aryk dan Mandra yang selalu berbagi susah dan senang bersamaku melawan keterbatasan.

11.Yessi, Dion, Heru, Agung, Wiwied, Ina, Ary dan semua teman-temanku angkatan

2000 terima kasih atas kebersamaan dan pengalaman hidup yang kita peroleh bersama-sama selama berada di Psikologi.

12.Teman-teman yang psikologi yang telah bersamaku bermain sepakbola untuk tim psikologi, semuanya menyenangkan dan semoga tim psikologi bias menjadi tim yang kuat.

13.Mas Muji, Mas Gandung, dan Mbak Naniek yang telah membantu di lab dan sekretariat Psikologi, terima kasih telah membantu urusan administrasi.

14.Maria, Diana, Feny, Nyun, dan Cordel yang setia menemaniku melepaskan penat. 15.Oho, Eko, Acong, dan Adri Parto yang telah menemaniku menjalani hari-hari

susah dan bahagia, senang bisa menimba ilmu dan pengalaman hidup bersama

(11)

16.Anak-anak KBT dari tahun 2000-2005 yang menyemangati dan menemaniku bercanda serta beristirahat sehabis kuliah dan menjelang kuliah.

17.Teman-teman PS Rajawali yang bersamaku menyiksa badan untuk berlatih sepak bola, terima kasih untuk semua pelajaran fisik dan tehnik yang sangat melelahkan tapi sangat menyenangkan.

18.TO Corp dan sekutunya Topig, Singgih “cookie”, Jatee, Kun, Gepenk, Misil, Alit, Pungkas, Bayu ubay, Rendra “bethet”, Sugarden, Ube, Bun, Feby, Danang, dan

(12)

Daftar Isi

Halaman Judul ………... i

Halaman Persetujuan ……… ii

Halaman Pengesahan ……… iii

Halaman motto ……….. iv

Halaman Persembahan ………... v

Halaman Keaslian Karya ……… vi

Abstrak ……… vii

Abstrack ………. viii

Kata Pengantar ……… ix

Daftar Isi ……… xii

Daftar Tabel ……… xv

Daftar Lampiran ………. xvi

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah ………... 1

B. Rumusan Masalah ………. 5

C. Tujuan Penelitian ……….. 5

D. Manfaat Penelitian ……… 5

(13)

2. Performa Pemain Sepak Bola ………. 8

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Performa Pemain Sepak Bola … 11 4. Pengukuran Performa Pemain Sepak Bola ……… 13

B. Kecerdasan Emosi 1. Pengertian Emosi ……… 21

2. Pengertian Kecerdasan Emosi ……… 22

3. Aspek-aspek Kecerdasan Emosi ……… 23

C. Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Performa Bermain Sepak Bola………... 25

D. Hipotesis……… 31

Bab III Metode Penelitian A. Jenis Penelitian ……….. 32

B. Variabel Penelitian ……… 32

C. Definisi Operasional ………... 32

D. Subyek Penelitian ……….. 33

E. Metode dan Tehnuk Pengumpulan Data ……… 34

F. Validitas dan Reliabilitas ………... 40

G. Metode Analisis Data ……… 42

(14)

a. Indeks Daya Diskriminasi Alat Pengumpul Data ………….. 44

b. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpul Data ……… 45

B. Pelaksanaan Penelitian ……….. 46

C. Analisis Data Penelitian 1. Uji Asumsi ………. 47

2. Uji Hipotesis ……….. 48

D. Kategorisasi Subyek Berdasarkan Skor Kecerdasan Emosional dan Performa Bermain Sepak Bola……… 49

E. Pembahasan ……… 51

Bab V Kesimpulam dan Saran A. Kesimpulan ……… 55

B. Saran 1. Bagi Klub Sepak Bola ………... 55

2. Bagi Pemain Sepak Bola ………... 55

3. Bagi Peneliti Lain ……….. 56

(15)

Daftar Tabel

Tabel 1 Data Performa Pemain Sepak Bola 16 Tabel 2 Performa Pemain Penyerang 17 Tabel 3 Performa Pemain Belakang 18

Tabel 4 Performa Pemain Tengah 18 Tabel 5 Pengukuran PerformaPemain Sepak Bola 20

Tabel 6 Penilaian Performa Pemain Sepak Bola 35 Tabel 7 Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional 39 Tabel 8 Blue Print Kecerdasan Emosional Sebelum Uji Coba 41

Tabel 9 Spesifikasi Skala Kecerdasan Emosional Setelah Uji Coba 45 Tabel 10 Spesifikasi Skala Kecerdasan Emosional Untuk Penelitian 46

Tabel 11 Hasil Uji Normalitas Sebaran 48 Tabel 12 Hasil Uji Coba Lineritas Hubungan 48 Tabel 13 Deskripsi Statistik Data Penelitian 50

Tabel 14 Norma Kategorisasi Skor subyek 50 Tabel 15 Norma Kategorisasi Skor Performa Pemain Sepak Bola

(16)

Daftar Lampiran

Lampiran 1 Skala Uji Coba

Lampiran 2 Data Skala Uji Coba

Lampiran 3 Reliabibitas Data Skala Uji Coba

Lampiran 4 Skala Penelitian Lampiran 5 Box Score

Lampiran 6 Data Skala penelitian

Lampiran 7 Reabilitas Data Skala Penelitian

Lampiran 8 Uji Normalitas, Uji Linearitas, Uji Korelasi

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Sepak bola adalah sebuah olah raga yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia bahkan di dunia. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa

kompetisi yang berjenjang seperti kompetisi divisi II sampai Divisi utama, atau juga kompetisi yang mempertemukan beberapa klub amatir yang memperebutkan

piala dan sejumlah hadiah. Kompetisi-kompetisi tersebut menyiratkan betapa tinggi antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola.

Kompetisi-kompetisi yang ada pada akhirnya akan memunculkan sebuah

tim sebagai juara. Posisi sebagai juara adalah posisi yang ingin dicapai oleh setiap tim ketika bertanding dalam sebuah kompetisi. Sebuah kompetisi tentu hanya akan

memunculkan satu tim sebagai juara karena tidak semua tim dapat secara bersama-sama menjadi juara dalam satu kompetisi. Hasil yang dicapai sebuah tim dalam suatu kompetisi adalah prestasi tim tersebut. Departemen Pemuda dan Olahraga

(1990) mendefinisikan prestasi sebagai hasil yang telah dicapai.

Prestasi adalah sebuah tolak ukur yang mutlak untuk seorang olahragawan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prestasi seorang olahragawan ditentukan oleh performanya dalam pertandingan (Gunarsa, dkk., 2000). Pele mencapai performa puncak pada akhir 1970-an bersama Brasil ia menjuarai 3 kali juara

(18)

Serie A Itali bersama klubnya Napoli. Pada awal 1990-an Frank Rijkaard, Marco Van Basten, Franco Baresi, dan Paolo Maldini bersama-sama di AC Milan

mencapai performa puncak dan berhasil merajai Eropa dengan menjuarai piala Champion

Dewazien (http://www.soccerperformance.org/, 2001) mengungkapkan

bahwa penguasaan tehnik, stamina yang prima, tingkat IQ, faktor strategi, relasi sosial pemain sepak bola, dan tekanan media akan mempengaruhi performa

seorang pemain sepak bola di lapangan. Secara garis besar performa seorang pemain sepak bola ditentukan 4 faktor yaitu faktor kognitif (IQ, kemampuan tehnik, dan strategi), faktor fisik (stamina, postur tubuh, dan kecepatan berlari),

faktor psikis (motivasi, kepercayaaan diri, dan emosi), dan faktor sosial (relasi sosial pemain sepak bola dan tekanan media, hubungan dengan manajemen klub,

gaji dan bonus).

Kemampuan-kemampuan tersebut saling mendukung dan menentukan performa seorang pemain sepak bola. Kemampuan tehnik dan IQ (faktor kognitif)

didukung dengan kemampuan fisik seperti daya tahan tubuh, kelenturan tubuh,

postur tubuh dan kecepatan berlari (faktor fisik) serta dengan pemilihan strategi

yang tepat untuk menghadapi lawan secara nyata menentukan performa pemain sepak bola di lapangan. Faktor psikis (seperti motivasi, percaya diri, dan emosi) juga berpengaruh terhadap performa seorang pemain sepak bola karena adanya

(19)

Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi kondisi psikis di lapangan antara lain adalah teriakan penonton baik yang bersifat mendukung ataupun

menghina, hinaan dari pemain lawan, tertinggal atau membuat angka lebih dahulu, dan benturan-benturan fisik dengan pemain lawan seperti tackle-tackle keras dari lawan, siku yang mengenai wajah ketika berebut bola diudara, dan tabrakan keras

yang bisa mengakibatkan cidera. Kondisi-kondisi tersebut secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi keadaan emosi seorang pemain sepak bola.

Baars (1979) berpendapat bahwa ketika kita mengenali sesuatu sebagai hal yang baik dan menyenangkan bagi diri sendiri hal itu akan merangsang emosi dasar dan kita akan merasakan suatu pengalaman emosi kegembiraaan. Perlakuan-perlakuan

yang menyenangkan seperti dukungan penonton, membuat angka lebih dahulu, pujian dari teman karena umpan atau pergerakan yang baik akan menimbulkan

kondisi emosi yang menyenangkan.

Perlakuan-perlakuan menyenangkan yang dirasakan oleh jiwa akan dirasakan oleh raga kita, begitu juga sebaliknya pengaruh yang dirasakan oleh raga

kita akan dirasakan oleh jiwa kita. Gunarsa, dkk (1996) berpendapat bahwa manusia merupakan suatu kesatuan psikosomatis (psychosomatic unity), manusia

adalah kesatuan jiwa dan raga, yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Ketika berada dalam sebuah pertandingan seorang pemain sepak bola akan merasakan perubahan emosi yang disebabkan oleh kondisi fisik yang

dihadapinya. Untuk bisa menguasai kondisi emosi dan mengarahkan emosi agar dapat mendukung performanya maka seorang pemain sepak bola harus memiliki

(20)

Goleman (2002) berpendapat bahwa kecerdasan emosi terbagi dalam 5 aspek yaitu; mengenali emosi sendiri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri,

mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan. Seorang pemain sepak bola dapat mengendalikan dan mengarahkan emosinya dengan mengenali perasaan yang ia rasakan sendiri terlebih dahulu. Cara seorang pemain sepak bola

mengelola emosi berguna agar tidak berpengaruh buruk terhadap performanya di dalam pertandingan. Seorang pemain sepak bola yang berhasil mengelola

emosinya kemudian dapat memotivasi dirinya sendiri dan mampu meningkatkan performanya. Kemampuan seorang pemain sepak bola untuk mengenali emosi orang lain juga dapat berguna karena seorang pemain sepak bola dapat menebak

reaksi yang akan dilakukan oleh orang lain tersebut. Sepak bola adalah permainan beregu yang membutuhkan kekompakan antar individu-individu yang berada

dalam sebuah tim sepak bola, kemampuan menjalin hubungan dan koordinasi menjadi sangat bermanfaat untuk membuat kekompakan dalam sebuah tim sepak bola dapat terbentuk.

Darmawan (2006) menyatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan komponen penting dalam sepak bola. Darmawan yang melatih klub Persija di

tahun 2006 melihat arti penting kecerdasan emosi sehingga ia bekerja sama dengan sebuah biro pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan kecerdasan emosi para pemainnya. Kecerdasan emosional mampu menentukan kemampuan

seseorang dalam pengendalian emosi, dengan mengenali gejolak emosinya sendiri, mengelola emosinya sendiri, memotivasi dirinya sendiri, mengenali emosi orang

(21)

mengelola situasi yang terjadi didalam lapangan, terutama situasi-situasi yang dapat membuat keadaan emosi seseorang tidak stabil. Kemampuan mengelola

situasi yang terjadi di lapangan membuat seorang pemain sepak bola dapat lebih memainkan sepak bola dengan lebih terfokus dan benar-benar diatur oleh pikiran bukan oleh emosi- emosi negatif yang cendrung destruktif dan membuat

permainan sepak bola tidak berkembang.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

berkaitan dengan kecerdasan emosional seorang pemain sepak bola dengan performa seorang pemain sepak bola dalam suatu pertandingan.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka peneliti

merumuskan sebuah masalah yaitu “apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan performa pemain sepak bola”.

C.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan permasalahan yang telah diuraikan maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan performa pemain sepak bola.

D.

Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

(22)

2. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan mampu mengungkap apakah Kecerdasan

Emosional mempunyai peranan yang cukup penting dalam olah raga sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan penggunaaan nilai kecerdasan emosional sebagai aspek yang perlu untuk dikembangkan dalam pengembangan atlet-atlet

(23)

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Performa Bermain Sepak Bola. 1. Sepak Bola.

Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia sepak bola diartikan sebagai permainan beregu yang menggunakan bola sepak dari dua regu yang

masing-masing terdiri atas sebelas pemain. Dua tim yang terdiri atas sebelas orang tersebut bertarung untuk memasukkan sebuah bola bundar ke gawang lawan atau disebut juga mencetak gol. Tim yang mencetak lebih banyak gol

dalam waktu 2 x 45 menit adalah tim pemenang.

FIFA (2005) sebagai organisasi tertinggi sepak bola mengeluarkan

peraturan-peraturan mengenai pertandingan sepak bola, diantaranya adalah: a. Bola dengan berat 700-800 gram

b. Lapangan dengan ukuran 75-90 m x 90-120 m

c. Gawang dengan ukuran tinggi x panjang : 2,7 m x 7,30 m d. Sepatu bola dan pelindung tulang kering.

e. Lama pertandingan untuk waktu normal adalah 2x45 menit dengan perpanjangan waktu 2x15 menit.

f. Pertandingan sepak bola dipimpin oleh seorang wasit dan dibantu 2

asisten wasit.

Setiap tim maksimal memiliki sebelas pemain, salah satunya adalah

(24)

dengan tangan atau lengannya di dalam kotak penalti di depan gawangnya. Pemain lainnya dalam kedua tim dilarang untuk memegang bola dengan

tangan atau lengan mereka ketika bola masih dalam permainan, namun boleh menggunakan bagian tubuh lainnya. Pengecualian terhadap peraturan ini berlaku ketika bola ditendang keluar melewati garis dan lemparan dalam

dilakukan untuk mengembalikan bola ke dalam permainan.

Sejumlah pemain dapat digantikan oleh pemain cadangan pada masa

permainan. Alasan umum digantikannya seorang pemain termasuk cedera, keletihan, kekurang-efektifan, perubahan taktik, atau untuk membuang sedikit waktu pada akhir sebuah pertandingan. Dalam pertandingan resmi, sebuah tim

terdiri atas 11 orang pemain inti dan maksimal 6 orang cadangan tetapi maksimal 3 orang yang bisa dimainkan menggantikan pemain inti.

Pertandingan tidak akan terlaksana bila salah satu tim jumlah pemainnya kurang dari tujuh orang. Pemain yang telah diganti dan mendapatkan kartu merah tidak boleh kembali bermain dalam pertandingan tersebut.

Sepak bola secara umum dapat diartikan sebagai permainan olahraga beregu yang setiap regunya terdiri dari 11 orang, 2 regu yang bertanding

berusaha memasukkan bola kegawang lawan dalam sebuah area permainan yang berbentuk persegi panjang, dalam waktu 2x45 menit.

2. Performa Pemain Sepak Bola.

Performa dalam kamus terjemahan bahasa Inggris-Indonesia diartikan

(25)

Setyobroto (2001) mendefinisikan performa sebagai kegiatan seorang individu untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan cara-cara tertentu pula.

Tingkah laku yang membuahkan hasil berarti terdapat gerak (motor) yang sebagian besar dipengaruhi oleh kognitif dan skill (Review Jurnal Psikologi, 1990). Gerak atau motor dibagi menjadi 3 kemampuan gerak dasar, yaitu :

a. Kemampuan Lokomotor

Kemampuan lokomotor digunakan untuk memindahkan tubuh

dari satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh ke atas seperti lompat dan loncat, kemampuan gerak lain yang masuk kedalam kategori ini adalah berjalan, berlari, melompat, meluncur,

dan berlari seperti kuda berlari (gallop) b. Kemampuan Non-lokomotor

Kemampuan Non-lokomotor dilakukan di tempat, tanpa adanya ruang gerak yang cukup. Kemampuan Non-lokomotor terdiri menekuk, menegang, mendorong dan menarik, mengangkat dan

menurunkan, melipat dan memutar, mengocok, melingkar, melambungkan, dan lain sebagainya.

c. Kemampuan Manipulatif

Kemampuan manipulaif dikembangkan ketika seseorang tengah menguasai macam-macam obyek. Kemampuan manipulatif

(26)

pada koordinasi mata-kaki dan tangan-mata. Gerakan manipulaif dapat di lihat dari beberapa gerakan seperti;

1) Gerakan mendorong, misalnya melempar, memukul, menendang.

2) Gerakan menerima obyek.

3) Gerakan menggiring obyek, seperti mendrible bola

Schimdt (1991) mengungkapkan bahwa Skill atau keterampilan

merupakan kemampuan untuk membuat hasil akhir dengan kepastian yang maksimum dan pengeluaran energi serta waktu yang minimum. Singer (1980) menyatakan bahwa keterampilan adalah derajat keberhasilan yang konsisten

dalam mencapai suatu tujuan dengan efisien dan efektif.

Domain (ranah) gerak (motor) dipengaruhi oleh emosi dan faktor

situasi. Emosi adalah reaksi kompleks yang mengait satu tingkat kegiatan dan perubahan-perubahan yang disertai keadaan perasaan atau afektif. Seseorang membutuhkan kemampuan untuk mengarahkan dan mengontrol perasaan

secara tepat sebelum dan saat melaksanakan tugas agar dapat menguasai gerak. Faktor situasional adalah keadaan lingkungan di sekitar individu melakukan

interaksi untuk mendukungnya dalam belajar secara maksimal agar keterampilan yang diinginkan dapat tercapai.

Secara umum performa dapat diartikan sebagai keterampilan gerak

(27)

lari, menendang, melompat, menguasai obyek, dan unsur-unsur gerak dalam aspek olahraga.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Performa Pemain Sepak Bola

Dewazien (2001) mengungkapkan performa pemain sepak bola

dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu; faktor kognitif (IQ dan strategi), faktor fisik (stamina, postur tubuh, kecepatan berlari, skill, dan kemampuan teknik), faktor

psikologis (motivasi, kepercayaan diri, dan emosi), dan faktor sosial (relasi sosial pemain sepak bola dan tekanan media hubungan dengan manajemen klub, gaji dan bonus).

Faktor kognitif (IQ dan strategi) berperan dalam pertandingan sepak bola ketika seorang pemain sepak bola melakukan strategi yang telah dipilih

untuk sebuah pertandingan. Coerver (1985) menyatakan bahwa sepak bola yang baik tergantung pada ide-ide, improvisasi, dan kreativitas seorang pemain sepak bola. Kreatifitas, ide, dan improvisasi pemain sepak bola bermanfaat

untuk menghadapi situasi yang muncul dalam sebuah pertandingan, dengan kreatifitas, ide, dan improvisasi para pemain sepak bola dapat keluar dari

sebuah situasi tertekan dan menerapkan strategi yang telah di pilih untuk menghadapi sebuah pertandingan.

Faktor fisik (stamina, postur tubuh, kecepatan berlari, skill, dan

kemampuan tehnik) dengan nyata terlihat dalam sebuah pertandingan sepak bola. Stamina yang baik bagi seorang pemain sepak bola akan mendukung

(28)

pemain sepak bola akan berlari mengolah bola dan mencetak gol. Postur tubuh dan kemampuan teknik yang bagus akan bermanfaat untuk mengungguli lawan

dan memenangi pertandingan dengan cara yang baik pula.

Carling (http://www.soccer4fun.org/2001) menyatakan bahwa beberapa faktor seperti tekanan keluarga, teman, penggemar, atau media memberikan

dampak negatif pada permainan sepak bola seorang pemain sepakbola. Faktor sosial seperti hubungan dengan keluarga, media, hubungan dengan masyarakat

atau penonton dapat berupa tekanan dan semangat yang diberikan oleh media dan penonton dalam sebuah pertandingan. Baik tekanan dan dorongan semangat akan berpengaruh bagi seorang pemain sepak bola. Tekanan yang

diberikan terlalu besar membuat seorang pemain sepak bola tidak bisa mengeluarkan kemampuannya sepenuhnya dalam sebuah pertandingan, sedang

semangat membantu seorang pemain sepak bola untuk menampilkan kemampuannya dengan lebih baik.

Faktor psikis (seperti motivasi, percaya diri, dan emosi) juga

berpengaruh terhadap performa seorang pemain sepak bola karena adanya beberapa kondisi di lapangan yang akan mempengaruhi kondisi psikis seorang

pemain sepak bola. Kondisi seperti kontak fisik yang keras, unggul atau tertinggal dengan selisih gol yang cukup, ejekan atau dukungan penonton perpengaruh terhadap motivasi, kepercayaan diri dan emosi seorang pemain

sepak bola. Emosi yang tidak terkendali membuat seorang pemain sepak bola cenderung mudah terpancing untuk membalas ejekan atau tindakan kasar yang

(29)

kepelanggaran-pelanggaran yang dapat berbuah kartu kuning atau kartu merah, umpan dan tembakan menjadi tidak akurat dan performa secara keseluruhan

menjadi buruk.

Kemampuan-kemampuan tersebut saling mendukung dan menentukan performa seorang pemain sepak bola. Kemampuan teknik dan IQ (faktor

kognitif) di dukung dengan kemampuan fisik seperti daya tahan tubuh, kelenturan tubuh, postur tubuh dan kecepatan berlari (faktor fisik) kemampuan

mengelola faktor psikis dan faktor sosial serta dengan pemilihan strategi yang tepat untuk menghadapi lawan menentukan performa pemain sepak bola di lapangan.

4. Pengukuran Performa Pemain Sepak Bola

Pengukuran performa pemain sepak bola adalah penilaian statistik terhadap performa pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan menilai permainan pemain sepak bola itu sendiri.

Permainan sepak bola menampilkan beberapa tehnik yang secara garis besar dapat dikelompokkan kedalam 2 bagian yaitu tehnik dengan bola dan tehnik

tanpa bola. Tehnik dengan bola meliputi beberapa tehnik khusus yaitu: a. Kontrol bola

Kontrol bola adalah teknik untuk menghentikan bola,

(30)

b. Mengumpan (passing)

Mengumpan adalah teknik untuk memberikan bola kepada

teman, mengoper bola dapat menggunakan kaki lutut, paha, dada, dan kepala.

c. Menembak (shooting)

Menembak adalah teknik menendang kearah gawang untuk mencetak gol.

d. Menggiring (drible)

Menggiring adalah teknik mengendalikan bola yang di giring maju agar tetap dalam penguasaan seorang pemain. Menggiring bola

dapat menggunakan kaki, paha, dada, dan kepala. e. Mentakel (tackling)

Mentakel adalah teknik menghentikan bola yang dikuasai lawan dengan menggunakan kaki.

Teknik tanpa bola meliputi beberapa teknik khusus yaitu berlari sprint,

membelokkan arah lari, akslerasi yang baik, menghentikan lari secara cepat, dan keseimbangan yang bagus ketika terjadi benturan bahu.

Permainan sepak bola juga didukung beberapa kemampuan lain yang dapat memudahkan pemain sepak bola untuk memainkan permainan sepak bola, yaitu;

a. Kerjasama team, yaitu kekompakan dalam sebuah team, dalam sebuah team harus terbentuk komunikasi dan pengertian antara tiap

(31)

team kita agar kerjasama dapat tercipta antara sesama pemain dalam satu team.

b. Fisik dan stamina, sepak bola juga merupakan sebuah olah raga yang menuntut kemampuan fisik dan stamina yang kuat, seorang pemain bola harus dapat memainkan permainan ini sepanjang 90

menit dan permainan ini dimainkan dalam sebuah lapangan yang sangat lebar. Fisik dan stamina prima seorang pemain bola dapat

bermain secara optimal dalam permainan ini.

c. Kreativitas dalam bermain, kreativitas seorang pemain sepak bola juga diperlukan kecerdasan intelegensi dapat membantu seseorang

untuk menyusun pertahanan dan penyerangan secara cepat. Ide-ide untuk menahan gempuran-gempuran lawan, dan trik-trik dalam

membongkar pertahanan lawan akan sangat membutuhkan kreativitas seorang pemain bola.

d. Pergerakan tanpa bola, dalam permainan bola seorang pemain harus

bergerak dinamis. Pemain sepak bola tidak hanya bergerak ketika menguasai atau akan merebut bola, tetapi kita juga harus bergerak

untuk mencari tempat kosong sehingga sebuah tim dapat mulai menyusun pertahanan dan penyerangan.

Perolehan performa seorang pemain sepak bola di dapat dari hasil data

penilaian statistik permainan sepak bola yang ditunjukkan pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan. Seorang pemain sepak bola yang bemain lebih

(32)

performa yang diperoleh seorang pemain sepak bola di peroleh dari permainan yang ia tampilkan dalam pertandingan tersebut. Skor performa pemain sepak

bola dapat dilihat dari contoh dibawah ini. Tabel 1

Data Performa Pemain Sepak Bola (Bola, 27 September 2005)

Inter Fiorentina

Penonton : 56.207 (Giuseppe Meazza)

Gol : 1-0 martin 7’

Sepak Pojok :6-3

Waktu Ekstra : 1’ dan 5’

Kartu Merah : -

Kartu Kuning : Veron, Jorgensen, Gamberini, Materazzi, Donadel

Angka-angka dibelakang nama-nama pemain sepak bola adalah nilai dari performa yang mereka tunjukan selama pertandingan, semakin tinggi nilai

yang diperoleh seorang pemain sepak bola maka semakin tinggi pula performa yang ia tunjukkan dalam pertandingan tersebut.

(33)

menjaga gawang dari serangan musuh yang akan mencetak gol, pemain tengah berfungsi untuk menyeimbangkan pertahanan dan penyerangan, sedang

pemain depan berfungsi untuk mencetak gol. Performa pemain sepak bola dapat dilihat dari beberapa contoh pengukuran performa pemain sepak bola dibawah ini;

Tabel 2

Performa Pemain Penyerang (http://www.soccerperformance.org/)

Kategori berhasil gagal

Tembakan ke gawang 1 2 Umpan silang 0 2

Umpan 16 3

Sundulan 17 10

Drible 9 2

Dilanggar/melanggar 0 2

kontrol 2 2

Berlari tanpa bola 2 0 Menekan musuh 4 1

Tackle 4 1

Menggagalkan serangan musuh 7 2 Mengamankan daerah pertahanan 3 0

Tabel di atas adalah contoh analisa performa seorang pemain dengan posisi sebagai penyerang bernama Heaskey. Heskey berdasarkan tabel diatas berperan sebagai pemain pernyerang yang berfungsi sebagai pertahanan

didaerah depan dengan tackle dan tekanan yang ia berikan kepada lawan. Heskey berhasil membuat tendangan yang membuat timnya keluar dari

(34)

berhasil mencapai rekan satu tim. Secara keseluruhan Heskey memberikan andil yang besar dalam bertahan dan menyerang bagi timnya.

Tabel 3

Performa Pemain Belakang (http://www.soccerperformance.org/)

Kategori Berhasil gagal

Tackles 3 1

Sundulan 1 0

Menekan musuh 1 0 Mengagalkan serangan musuh 19 1 Mengamankan daerah pertahanan 7 1

Dilanggar/melanggar 0 1

Tabel di atas adalah analisa performa bermain sepak bola dari Laurent Blanc yang berposisi sebagai pemain belakang. Secara keseluruhan Blanc

melakukan tugasnya dengan cukup baik sebagai pemain belakang, tackle dan tendangan yang membuat timnya keluar dari tekanan mempunyai prosentase

keberhasilan yang cukup tinggi dan hanya 1 kali melakukan pelanggaran. Tabel 4

Performa Pemain Tengah (http://www.soccerperformance.org/)

Action/Time 1st Half 2nd Half Total

Tackles 3 5 8

Interceptions/blocks 9 7 16

Pressing (menekan pemain lawan) 2 1 3 Headers (sundulan) 2 1 3 Clearances (menyapu bersih bola yang

mengancam pertahanan) 7 3 10 Fouls Conceded (pelanggaran yang dibuat) 4 1 5

(35)

Tabel di atas adalah analisa dari performa bermain Patrick Viera yang berposisi sebagai pemain tengah. Viera dalam pertandingan tersebut terlihat

bahwa ia adalah pemain yang cukup konsisten dalam membantu pertahanan maupun penyerangan yang dilakukan oleh timnya.

Sky Sport sebuah stasiun televisi terkenal di Eropa membuat standar yang digunakan untuk menilai performa seorang pemain sepak bola, standar itu adalah;

a. Nilai 10, performa yang sangat luar biasa (jarang digunakan)

b. Nilai 9, baik sekali-permainan kelas tinggi, kemungkinan adalah pemenang pertandingan.

c. Nilai 8, sangat bagus, permainan yang menonjol, sangat berperan dalam permainan tim.

d. Nilai 7, mengesankan, permainan yang diperlihatkan enak untuk ditonton.

e. Nilai 6, rata-rata, tidak terlalu banyak kesalahan yang dibuat, tetapi

tidak melebihi performa yang mengesankan.

f. Nilai 5, dibawah rata-rata, beberapa kesalahan yang dilakukan.

g. Nilai 4, sangat buruk, terlalu banyak kesalahan, dan sangat mudah untuk dikritik.

Berdasarkan beberapa contoh standard pengukuran performa pemain

sepak bola yang telah diuraikan diatas, terdapat beberapa gerakan yang selalu dicatat untuk mengetahui performa seorang pemain sepak bola dalam sebuah

(36)

atau umpan yang menjadi gol, pelanggaran, dan gol adalah beberapa gerakan yang selalu diskor, dari hal tersebut peneliti memperoleh standard pengukuran

performa pemain sepak bola yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Tabel 5

Pengukuran Performa Pemain Sepak Bola (www.sigames.com, diakses bulan Februari 2005)

Kategori/nama pemain zanetti kovac cambiaso emerson martin piero

Total umpan 56 26 28 34 30 35

Standard diatas mencatat gerakan-gerakan dalam permainan sepak bola seperti umpan, sundulan, interception, drible, tackling, shooting, assist atau

umpan yang menjadi gol, pelanggaran, dan gol yang berhasil dibuat oleh seorang pemain sepak bola dalam suatu pertandingan. Setiap aspek atau

(37)

rata-ratanya, rata-rata ini adalah skor performa pemain sepak bola dalam pertandingan yang bersangkutan.

B. Kecerdasan Emosional. 1. Pengertian Emosi.

Harmoko (2001) berpendapat bahwa emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk melakukan tindakan secara spontan untuk mengatasi

masalah yang ditanamkan secara berangsur-angsur yang terkait dengan pengalaman dari waktu ke waktu. Sarwono (dalam Yusuf, 2001) berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan yang ada pada diri seseorang yang

disertai warna afektif baik pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang kuat.

Goleman (2002) berpendapat lain dan menyatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk

bertindak. Hurlock (1976) menyatakan bahwa emosi dapat memberikan kesenangan dalam hidup seseorang dan memotivasi setiap tindakan dalam

penyesuaian diri serta lingkungannya, tetapi emosi juga bisa merusak kalau kita tidak dapat mengendalikannnya, kemampuan ini adalah kekuatan yang harus diolah untuk mendapat kualitas hidup yang lebih baik (Wijokongko,

1997).

Dari asal katanya emosi berasal dari kata kerja bahasa latin ex-movere

(38)

(1995) emosi diartikan sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Kedua

arti emosi tersebut menjelaskan bahwa bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman, 2002).

Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa emosi adalah

keadaan di dalam diri individu baik yang berupa perasaan, pikiran, nafsu, keadaam biologis dan fisiologis yang terekspresi dalam bentuk tingkah laku.

Jadi emosi melandasi seseorang untuk bertingkah laku.

2. Pengertian Kecerdasan Emosional.

Kecerdasan emosional menurut pendapat Salovey dan Sluyter (1999) adalah kemampuan seseorang dalam mengindera dan menghasilkan

emosi-emosi yang dapat membantu pikiran dalam memahami emosi-emosi-emosi-emosi dan arti-arti emosional, serta kemampuan untuk mengatur emosi-emosi secara efektif sehingga dapat meningkatkan kemampuan emosi dan kognisi. Patton (1994)

menjelaskan kecerdasan emosi sebagai kemampuan menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan, membangun hubungan produktif, dan

meraih keberhasilan.

Goleman (2002) berpendapat bahwa orang yang memiliki tingkat kecerdasan emosi yang tinggi adalah orang yang mampu mengetahui dan

menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, memiliki keuntungan dalam

(39)

kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan

pengaruh pada diri sendiri dan orang lain serta menanggapi dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan definisi kecerdasan emosional keempat tokoh diatas

terdapat kesamaan; yaitu tentang pengenalan terhadap emosi yang dirasakan seseorang dan pengelolaannya sehingga dapat diarahkan menjadi energi positif

untuk bertindak secara tepat dalam kehidupan seseorang. Jadi dapat ditarik kesimpulan umum bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri serta orang lain, dan menggunakan kemampuan

tersebut untuk mengelola emosinya dan memotivasi diri sendiri sehingga dapat mengendalikan emosi dalam perilaku dan tindakan seseorang.

3. Aspek-aspek Kecerdasan Emosional.

Salovey (dalam Goleman, 2002) menempatkan kecerdasan pribadi

Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional ke dalam wilayah utama :

a. Mengenali emosi diri

Kesadaran diri dan mengenali perasaan yang sedang kita alami. keyakinan yang lebih tentang perasaan akan membuat

seseorang berhasil dalam kehidupannya karena mereka mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya

(40)

b. Mengelolaemosi

Menangani agar perasaan dapat terungkap dengan tepat

dalam tindakan dan perilaku. Perasaan tidak terlalu mendominasi tetapi juga tidak terlalu dihilangkan, semuanya tergantung bagaimana kita menyadari perasaan yang sedang kita rasakan.

c. Memotivasi diri sendiri

Menata emosi adalah alat yang efektif untuk mencapai

tujuan yang berkaitan dengan memotivasi diri sendiri, penataan emosi dapat dilakukan dengan menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati.

d. Mengenali emosi orang lain

Akan berpengaruh terhadap kemampuan berempati

seseorang, meliputi kemampuan untuk menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

e. Membina hubungan

Keunikan dari membina hubungan adalah keterampilan

mengelola emosi orang lain. Keterampilan-keterampilan yang masuk didalamnya adalah keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam setiap wilayah, beberapa orang mungkin terampil dalam menangani kecemasan tapi kurang

(41)

keterampilan emosional dapat terus diperbaiki sampai pada tingkat setinggi-tingginya dimana masing-masing wilayah menampilkan bentuk kebiasaan dan

respon yang dengan usaha yang tepat dapat dikembangkan.

Kelima aspek yang dikemukakan oleh Salovey tersebut menujukkan hubungan yang erat antara satu aspek dengan aspek yang lain. Keseimbangan

secara menyeluruh melingkupi kelima aspek tersebut membentuk suatu kemampuan yang utuh dan unik yang kemudian disebut sebagai kecerdasan

emosional.

C. Hubungan Antara Performa Pemain Sepak Bola dengan Kecerdasan Emosional.

Performa seorang pemain sepak bola ditentukan berdasarkan baik atau

buruknya permainan mereka dalam sebuah pertandingan. Penilaian terhadap baik dan buruknya penampilan seorang pemain sepak bola adalah berdasarkan keberhasilannya melakukan suatu gerakan yang bermanfaat bagi timnya, semakin

baik seorang pemain sepak bola menampilkan permainan maka semakin baik performa yang dapat dicapai seorang pemain sepak bola.

Dewazien (2001) mengungkapkan bahwa performa seorang pemain sepak bola ditentukan 4 faktor yaitu faktor kognitif (IQ, kemampuan teknik, dan strategi), faktor fisik (stamina, postur tubuh, dan kecepatan berlari), faktor psikis

(motivasi, kepercayaaan diri, dan emosi), dan faktor sosial (relasi sosial pemain sepak bola dan tekanan media). Performa pemain sepak bola dapat dilihat secara

(42)

Kemampuan-kemampuan tersebut saling mendukung dan menentukan performa seorang pemain sepak bola. Kemampuan teknik dan IQ (faktor kognitif)

didukung dengan kemampuan fisik seperti daya tahan tubuh, kelenturan tubuh,

postur tubuh dan kecepatan berlari (faktor fisik) serta dengan pemilihan strategi yang tepat untuk menghadapi lawan secara nyata menentukan performa pemain

sepak bola di lapangan. Faktor psikis (seperti motivasi, percaya diri, dan emosi) juga berpengaruh terhadap performa seorang pemain sepak bola karena adanya

beberapa kondisi di lapangan yang akan mempengaruhi kondisi psikis seorang pemain sepak bola.

Pemain sepak bola selalu menghadapi keadaan yang mempengaruhi

keadaan emosinya dalam sebuah pertandingan seperti kontak fisik, keunggulan dramatis, kekalahan telak, tekanan penonton, dll. Baars (1979) berpendapat bahwa

ketika kita mengenali sesuatu sebagai hal yang baik dan menyenangkan bagi diri sendiri hal itu akan merangsang emosi dasar dan kita akan merasakan suatu pengalaman emosi kegembiraaan. Perlakuan-perlakuan yang menyenangkan

seperti dukungan penonton, mencetak gol lebih dahulu, pujian dari teman karena umpan atau pergerakan yang baik akan menimbulkan kondisi emosi yang

menyenangkan.

Perlakuan perlakuan yang kurang menyenangkan dan tekanan dalam pertandingan dapat menimbulkan tekanan emosi yang berlebihan, yang dapat

mengganggu pelaksanaan pertandingan serta mempengaruhi performa (Gunarsa, 1989). Sebagai seorang manusia pemain sepak bola juga merupakan

(43)

saling mempengaruhi. Pengaruh yang dirasakan oleh jiwa akan dirasakan oleh raga, begitu juga sebaliknya (Gunarsa, 1996). Kondisi-kondisi di lapangan yang

mempengaruhi stabilitas emosi seorang pemain sepak bola akan mempengaruhi kinerja kognitif dan keterampilan fisiknya, dengan kata lain performa bermain sepak bola juga akan terpengaruh.

Goleman (2002) berpendapat bahwa kemampuan seseorang untuk menghasilkan kinerja yang cemerlang dipengaruhi oleh kecerdasan emosionalnya,

namun tidak semua orang memiliki kecerdasan emosional yang cukup baik. McCown (dalam Goleman, 2002) menyatakan bahwa setiap orang memiliki pilihan masing-masing dalam menanggapi emosi. Seorang yang memiliki

kecerdasan emosional yang baik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menanggapi emosi.

Seorang pemain sepak bola dengan kecerdasan emosional yang baik mempunyai kesadaran tinggi terhadap emosi yang sedang dihadapinya. Pemain sepak bola yang mempunyai kesadaran akan emosinya mampu mengendalikan

emosinya tersebut dan kemudian menata emosinya menjadi sebuah motivasi yang mendorongnya memperoleh performa tinggi. Meyer (dalam Goleman, 2002)

mengungkapkan bahwa kesadaran, waspada terhadap suasana hati dan pikiran yang jernih membantu seseorang dalam mengatur emosi.

Goleman (2002) menyatakan bahwa seseorang dengan kecerdasan

emosional yang baik tidak mudah menyerah atau bingung ketika mereka tertekan. Pemain sepak bola yang memiliki kecerdasan emosional tinggi tidak akan

(44)

Pemain berkecerdasan emosional tinggi mampu berpikir dengan jernih dan mempunyai kepercayaan diri tinggi untuk keluar dari emosi yang meliputi dirinya

dan mampu untuk tetap menjaga motivasi dan semangat untuk menampilkan performa yang terbaik. Goleman (2002) berpendapat bahwa seorang berkecerdasan emosional baik mampu menguasai emosinya kemudian menata dan mengelola

emosinya menjadi sesuatu yang mendukung dan memberikan tenaga, dan selaras dengan tugas yang sedang dihadapinya. Pemain berkecerdasan emosional tinggi

mampu menguasai dan menata emosinya menjadi sesuatu yang mendukung dan memberikan tenaga ketika ia bermain sepak bola.

Suryobroto (2001) berpendapat bahwa stabilitas emosional diperlukan

seorang atlet agar perhatiannya tidak mudah terpecah, karena dalam sebuah pertandingan sepak bola seorang pemain sepak bola harus menjalankan beberapa

tugas yang menuntut konsentrasi dan dengan kemampuan kognitif yang memadai agar seorang pemain sepak bola dapat melakukannya. Kognitif pemain sepak bola yang terjaga dengan baik tanpa gangguan keadaan emosi memungkinkan seorang

pemain sepak bola untuk merencanakan gerakan sehinga ia dapat menata dan menggunakan stamina, kemampuan tehnik serta postur tubuh yang ia miliki untuk

bisa bermain secara optimal selama 90 menit. Pemain sepak bola juga dapat berpikir positif tentang tekanan dan ejekan sehingga dapat mengubah tekanan dan ejekan media atau penonton sebagai motivasi untuk memacunya mengeluarkan

kemampuan terbaiknya dalam sebuah pertandingan.

Kinerja secara keseluruhan dari seorang pemain sepak bola secara

(45)

mengatasi situasi yang dihadapi dalam pertandingan, kondisi fisik yang prima, dan kemampuan mengelola faktor psikis dan sosial yang baik membuat performa

pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan menjadi lebih tinggi.

Pemain sepak bola berkecerdasan emosional rendah memiliki respon yang berbeda dalam menghadapi emosinya. Pemain berkecerdasan emosional buruk

cenderung bertindak karena pengaruh emosi yang sedang ia rasakan. Pemain sepak bola berkecerdasan emosional rendah tidak menyadari emosi yang sedang ia

rasakan dan emosinya menentukan apa yang akan ia lakukan. Pemain berkecerdasan emosional rendah melampiaskan amarahnya ketika mereka mengalami emosi negatif, akibatnya emosinya bukan mereda malah semakin lebih

kuat. Tice (dalam Goleman, 2002) menyatakan bahwa melampiaskan amarah adalah cara terburuk meredakan emosi karena ledakan amarah malah memicu otak

emosional sehingga seseorang menjadi lebih marah. Seorang pemain sepak bola yang telah dikuasai oleh emosinya menjadi tidak mampu menjaga motivasi, semangat dan staminanya terkuras oleh ledakan amarahnya

Pemain sepak bola yang telah dikuasai oleh emosinya memiliki kesadaran diri yang kurang, sehingga tindakannya lebih ditentukan oleh emosinya dari pada

kognitif dan kesadaran dirinya. Goleman (2002) bependapat bahwa kemampuan kita menguasai emosi menentukan kemampuan-kemampuan seseorang dalam berpikir, berencana, dan menyelesaikan masalah. Pemain sepak bola

(46)

Kemampuan kognitif dan kesadaran diri yang kurang membuat seorang pemain sepak bola menjadi tumpul, sehingga ia tidak dapat menjalankan strategi

dan mengatasi situasi yang dihadapi dalam pertandingan, kondisi fisiknya terkuras karena habis untuk melampiaskan emosinya, dan kemampuan mengelola faktor psikis dan sosial yang buruk membuat performa pemain sepak bola dalam sebuah

pertandingan menjadi menurun.

Dari uraian di atas terlihat bahwa kecerdasan emosional dapat

mempengaruhi performa pemain sepak bola karena dengan mengenali emosinya dan mengelolanya seorang pemain sepak bola dapat memotivasi dirinya sendiri untuk bermain lebih tenang dan berpikir menggunakan kognitifnya dengan lebih

jernih. Seorang pemain sepak bola juga dapat menjalin kerjasama dengan mengenali emosi orang lain, sehingga strategi dan pola permainan yang telah

dipilih dapat berjalan lancar, dengan kata lain seorang pemain sepak bola membutuhkan kecerdasan emosional dalam bermain sepak bola, sehingga ia dapat mengelola emosi dengan baik agar tidak menghambat dan menggunakan energi

positif dalam bermain sepak bola. Seorang pemain sepak bola yang dapat mengelola emosinya dengan baik diasumsikan dapat bermain sepak bola dengan

baik. Kesimpulan dari uraian di atas adalah kecerdasan emosional seorang pemain sepak bola memiliki hubungan positif dengan performanya dalam bermain sepak bola. Semakin tinggi kecerdasan emosional seorang pemain sepak bola semakin

tinggi pula performa yang dapat dicapai dalam bermain sepak bola.

Hubungan antara kecerdasan emosional dengan performa pemain sepak

(47)

Bagan : Hubungan kecerdasan emosional dengan performa sepak bola

Berdasarkan kajian teori sebagaimana diuraikan dimuka, dapat dirumuskan hipotesa penelitian ini sebagai berikut, ada hubungan positif antara kecerdasan

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional. Penelitian

korelasional bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada variabel lain berdasarkan koefisien korelasi.

B. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah :

1. variabel tergantung = performa bermain sepak bola. 2. variabel bebas = kecerdasan emosional.

C. Definisi Operasional

1. Performa bermain sepak bola

Performa bermain sepak bola adalah keterampilan gerak dasar manusia yang dilandasi emosi, interaksi sosial, dan kognitif dalam bermain sepak bola.

Performa bermain sepak bola dapat dilihat dari skor yang diperoleh pemain sepak bola melalui gerak (motor) untuk mencapai suatu hasil yang menurut standar tertentu, dimana gerak (motor) kesemuanya bertujuan untuk

memenangkan pertandingan.

Performa bermain sepak bola akan diukur melalui hasil penilaian statistik

(49)

menggunakan tabel pengukuran performa. Skor yang diperoleh berupa data statistik yang menunjukkan tinggi rendahnya performa bermain sepak bola.

Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi performanya. Semakin rendah skor yang diperoleh semakin rendah performanya. Data diambil dari klub-klub yang berlaga di kompetisi divisi utama PSS Sleman musim 2006.

2. Kecerdasan emosional

Kecerdasan emosional adalah kemampuan pemain sepak bola untuk

menyadari perasaan dan keadaannya saat ini yang sebenarnya, untuk mengatur/menangani emosinya selama bertanding, untuk memotivasi dirinya dan menjalin relasi yang baik dengan teman dalam satu tim. Kecerdasan

emosional pemain sepak bola nampak dalam skor total yang dihasilkan dari skala kecerdasan emosional. Semakin tinggi skor kecerdasan emosional maka

semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang dan semakin rendah skor kecerdasan emosional maka semakin rendah kcerdasan emosional seseorang.

D. Subyek Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan saat adanya turnamen sepak bola divisi

utama PSS Sleman Yogyakarta. Subyek penelitian berumur diatas 18 tahun. Hal ini disebabkan karena mulai umur 18 tahun seseorang secara umum mendekati puncak potensi fisiknya dalam olahraga, tahun-tahun ini perkembangan fisik

(50)

divisi utama liga PSS Sleman Yogyakarta yang bermain minimal selama 15 menit dalam sebuah pertandingan.

Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian Purposive Sampling atau sampel bertujuan, yaitu pengambilan subyek bukan didasarkan pada strata, kelompok, wilayah atau random, melainkan atas adanya tujuan tertentu.

E. Metode dan Tehnik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data untuk performa pemain sepak bola, yaitu dengan menggunakan tabel penilaian performa pemain sepak bola yang dilakukan oleh 3 orang pengawas pertandingan yaitu Bapak Suparlan. Bapak Suyono dan Bapak

Joko yang telah ditunjuk panitia pertandingan untuk mengawasi sebuah pertandingan.

Tehnik pengumpulan data untuk kecerdasan emosional pemain sepak bola adalah dengan menggunakan Skala Kecerdasan Emosional. Skala ini menggunakan skala tipe Likert, dengan jawaban : SS, S , TS, dan STS.

1. Performa Pemain Sepak Bola

Performa pemain sepak bola didapatkan dari penilaian 3 orang panitia

pengawas pertandingan dengan menggunakan acuan dari tabel penilaian performa pemain sepak bola, selain itu peneliti juga merekam jalannya sebuah pertandingan berkaitan dengan aspek-aspek yang diukur dalam penilaian

(51)

pemain sepak bola menggunakan standar penilaian seperti pada tabel dibawah ini :

Tabel 6

Penilaian performa pemain sepak bola (www.sigames.com, diakses bulan Februari 2005)

Kategori/nama pemain zanetti kovac cambiaso emerson martin piero

Total umpan 56 26 28 34 30 35

Standard diatas mencatat gerakan-gerakan dalam permainan sepak bola seperti umpan, sundulan, interception, drible, tackling, shooting, assist atau umpan yang menjadi gol, pelanggaran, dan gol yang berhasil dibuat oleh

seorang pemain sepak bola dalam suatu pertandingan. Standard tersebut terdiri dari 5 akategori penting yaitu kategori umpan, kategori tackle, kategori

sundulan, kategori pelanggaran, dan kategori tembakan, selain itu juga terdapat beberapa kategori pendukung seperti gol (poin +2), assit (poin +1),

(52)

dibandingkan dengan jumlah total gerakan tiap kategori, jika gerakan yang berhasil dilakukan lebih dari 50% diberi skor 1, jika gerakan berhasil = 50%

makan diberi skor 0,5, dan jika gerakan berhasil kurang dari 50% maka diberi skor 0. Total skor kelima kategori ditambah dengan kategori pendukung sesuai dengan gerakan yang dilakukan dan poinnya.

Kategori umpan, gerakan berhasil / jumlah gerakan umpan x 100%, jika prosentase lebih dari 50% nilai 1, jika prosentase sama dengan 50%

nilainya adalah 0.5, dan jika prosentase kurang dari 50% maka nilainya adalah 0.

Kategori tacle, gerakan berhasil / jumlah gerakan tacle x 100%, jika

prosentase lebih dari 50% nilai 1, jika prosentase sama dengan 50% nilainya adalah 0.5, dan jika prosentase kurang dari 50% maka nilainya adalah 0.

Kategori sundulan, gerakan berhasil / jumlah gerakan sundulan x 100%, jika prosentase lebih dari 50% nilai 1, jika prosentase sama dengan 50% nilainya adalah 0.5, dan jika prosentase kurang dari 50% maka nilainya adalah

0.

Kategori tembakan, gerakan berhasil / jumlah gerakan tembakan x

100%, jika prosentase lebih dari 50% nilai 1, jika prosentase sama dengan 50% nilainya adalah 0.5, dan jika prosentase kurang dari 50% maka nilainya adalah 0.

(53)

dilanggar nilai 1, jika jumlah melanggar dan dilanggar sama nilainya adalah 0.5, dan jika seorang pemain lebih sering melanggar maka nilainya adalah 0.

Untuk kategori dribel jika seorang pemain melakukan dribel maka ia mendapat skor +1 dan jika tidak maka skor 0, untuk kategori interception jika seorang pemain melakukan interception maka ia mendapat skor +1 dan jika

tidak maka skor 0, untuk kategori assist jika seorang pemain melakukan assist

maka ia mendapat skor +1 dan jika tidak maka skor 0, untuk pemain yang

mencetak gol maka pemain yang bersangkutan mendapat poin tambahan +2. Untuk kategori offside jika seorang terperangkap offside maka mendapat pengurangan poin -1. Kategori kartu, jika seorang pemain

mendapatkan kartu kuning maka ia mendapatkan pengurangan poin -1, sedangkan untuk kartu merah seorang pemain mendapat pengurangan poin -2.

Contoh penghitungan skor performa seorang pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan adalah:

Zanneti :

Kategori umpan : 35/56 (gerakan berhasil/total gerakan) x 100% = 62,5% --skor 1

Kategori tacle : 5/6 x 100% = 83.334% ---- skor 1 Kategori sundulan : 5/9 x 100% = 55.556% ---- skor 1 Kategori tembakan : 0/0 x 100% = - ---- skor 0

Kategori pelanggaran : 0/0 = - ---- skor 0

Skor total kategori pendukung : 1 + 1 + 0 + 0 + 0 + 0 + 0 (poin dribel + poin

(54)

Skor akhirnya menjadi 3 + 2 = 5 (ini adalah skor performa Zanneti dalam pertandingan yang bersangkutan)

2. Kecerdasan Emosional

Skala kecerdasan emosional disusun berdasarkan 5 aspek kecerdasan emosional dari Goleman (2002) sebagai berikut :

a. Kesadaran diri : kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu terjadi atau mengetahui apa yang dirasakan dan menggunakan

perasaan tersebut untuk mengambil keputusan, kesadaran akan diri atau ukuran atas kemampuan diri serta kepercayaan diri yang kuat. b. Pengaturan diri : kemampuan untuk menangani perasaan sehingga

dapat terungkapkan atau tersalurkan dengan tepat, pengendalian diri sesuai kata hati, kesanggupan mengontrol hasrat atau kenikmatan

dan kemampuan untuk pulih dari tekanan emosi.

c. Motivasi : kemampuan menggunakan pertimbangan yang paling dalam untuk mengerakkan dan menuntun kita menuju sasaran,

membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.

d. Empati : kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan termasuk kebutuhan dan keinginan mereka, memahami reaksi dan arti dari ekspresi seseorang serta memahami perspektif orang lain

yang berbeda-beda.

e. Keterampilan sosial : kemampuan membaca situasi, menyesuaikan

(55)

mengelola emosi orang lain, membina hubungan saling percaya, bekerjasama dengan orang lain, bernegosiasi, dan menyelesaikan

masalah.

Skala ini menggunakan tipe Likert, dengan jawaban S, SS, TS, dan STS. Peneliti sengaja hanya menggunakan empat pilihan jawaban untuk

menghindarkan bias yang terjadi apabila peneliti memberikan lima jawaban atau dengan jumlah jawaban ganjil. Hadi (2004) berpendapat bahwa subyek

memiliki kecenderungan untuk memilih jawaban yang ada ditengah atau yang disebut juga dengan central tendency effect. Kecenderungan tersebut dapat dihindari dengan tidak memberikan jawaban tengah yaitu dengan hanya

memberikan empat pilihan jawaban.

Item berjumlah 70 pertanyaan dengan komposisi seimbang pada tiap

aspeknya. Pembagian antara item yang favorabel dengan item yang unfavorabel juga seimbang. Distribusi atau penyebaran item dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 7

Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional No Item

No Aspek Kecerdasan

Emosional Favorabel Unfavorabel

(56)

F. Validitas dan Reliabilitas

Suatu skala dapat dikatakan representatif, fungsional, dan akurat apabila

skala tersebut dikenakan pada subyek penelitian yang sesungguhnya, dilakukan uji coba untuk memperoleh validitas dan reliabilitas.

1. Validitas

Validitas adalah tingkat kemampuan suatu alat ukur untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang

dilakukan dengan alat ukur tersebut (Azwar, 1999). Validitas dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga cara yaitu :

a. Validitas Isi

Validitas isi akan menunjukkan sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur, artinya tes itu

bukan saja harus komprehensif tetapi isinya harus tetap relevan dan tidak keluar dari penelitian (Azwar, 1996). Validitas isi dari skala ini diselidiki melalui analisis rasional terhadap isi tes atau melalui professional

judgement, yaitu dengan cara melihat apakah item-item dalam tes telah ditulis sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan semula dan memeriksa

(57)

Tabel 8.

Blue print Kecerdasan Emosional sebelum Uji Coba

No Aspek Kecerdasan

Emosional Favorabel Unfavorabel

Jumlah Total

Validitas tampang adalah validitas yang didasarkan pada penilaian

terhadap format penampilan (Supratiknya, 1998). Validitas tampang diselidiki dengan tehnik professional judgement, yaitu dengan cara meminta sesorang

memeriksa sebuah tes, bisa seorang pakar atau subyek tes itu sendiri, dan menyimpulkan apakah tes tersebut memberi kesan mengukur sifat yang akan diukur.

2. Indeks Diskriminasi Item

Indeks diskriminasi item dicari dengan tujuan melihat kemampuan item

untuk membedakan antara item yang memiliki skor tinggi dengan skor rendah. Indeks daya diskriminasi item total dihitung dengan cara mengkorelasikan skor item dengan skor item total. Pengkorelasian antara skor item dengan skor item

total akan menghasilkan koefisien korelasi item total (rix) atau indeks daya beda

item (indeks diskriminasi item). Harga indeks diskriminasi item yang baik

(58)

3. Reliabilitas

Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.

Tinggi rendahnya reliabilitas secara empiris ditunjukan oleh koefisien reliabilitas. Reliabilitas tes ini diukur dengan pendekatan konsistensi internal yang didasarkan pada data dari sekali pengenaan skala pada sekelompok subyek

(single trial administration). Penghitungan koefisien reliabilitas dilakukan dengan menggunakan tehnik Alpha Cronbach, karena akan memberikan harga

yang sama besar dengan harga reliabilitas yang sebenar-benarnya. Penghitungan ini memungkinkan timbulnya reliabilitas yang sebenarnya lebih tinggi dari pada koefisien yang didapatkan (Azwar, 1996).

G. Metode Analisis Data

Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kecerdasan emosional dengan performa bermain sepak bola dalam penelitian ini digunakan uji hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan peneliti pada penelitian ini adalah korelasi Product

Moment Pearson, digunakan untuk melihat tinggi rendahnya koefisien korelasi yang dihasilkan dari korelasi skor total antara dua variabel, yaitu kecerdasan

(59)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Persiapan Penelitian 1. Uji Coba Alat Ukur

Peneliti melakukan uji coba alat ukur terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian. Uji coba tersebut untuk melihat validitas dan reliabilitas

alat penelitian sebelum digunakan dalam penelitian yang sesungguhnya.

Alat penelitian yang akan diuji coba adalah skala kecerdasan emosional. Skala kecerdasan emosional ini berisi 70 item. 70 item tersebut

terdiri atas 14 item aspek Kesadaran Diri, 14 item aspek Pengaturan Diri, 14 item aspek Empati, 14 item aspek Motivasi, dan 14 item aspek Keterampilan

Sosial

Uji coba alat penelitian dilakukan pada tanggal 20-30 Agustus 2006 di Sleman Yogyakarta. Penyebaran dilakukan di klub-klub sepak bola yang

berada di Sleman Yogyakarta dan bermain dalam kompetisi divisi satu PSS Sleman. Alat ukur ini diujicobakan pada kelompok subyek yang memiliki

karakteristik sama dengan kelompok subyek penelitian yang sesungguhnya. Subyek dalam uji coba alat ukur ini sebanyak 80 orang pemain sepak bola yang berasal dari divisi satu PSS Sleman yang berusia lebih dari 18 tahun. Hal

(60)

seseorang dalam olahraga mengalami masa paling produktif dalam proses belajarnya untuk menjadi seorang atlet.

2. Hasil Uji Coba Alat Ukur

Peneliti menyebar 90 eksemplar pada uji coba ini, dari 90 eksemplar

yang disebar 90, eksemplar kembali dan hanya 80 yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Hasil uji coba dianalisis dengan menggunakan program SPSS

versi 13 for windows.

a. Indeks Diskriminasi Item Alat Pengumpul Data

Jumlah item skala kecerdasan emosional sebayak 70,terdiri dari 14

item untuk aspek pengaturan diri, 14 item untuk aspek kesadaran diri, 14 item untuk aspek motivasi, 14 item untuk aspek empati dan,14 item untuk

aspek keterampilan sosial. Dari hasil analisis diperoleh koefisien korelasi item total (rix) antara 0,0965 sampai 6.6770. peneliti kemudian melakukan seleksi dengan memilih item-item yang memiliki daya diskriminasi ≥0,3

dan memperoleh 56 item yang lolos seleksi dan 14 item yang gugur. Setelah dipilih, koefisien korelasi item total (rix) bergerak dari 0.338

sampai 0.687.

(61)

Tabel 9

Spesifikasi Skala Kecerdasan Emosional Setelah Uji Coba

No Item No Aspek Kecerdasan

Emosional Favorabel Unfavorabel Jumlah

*) item-item yang gugur setelah uji coba.

b. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpul Data

Validitas skala kecerdasan emosional dilakukan dengan

menggunakan tehnik professional judgement, peneliti meminta seorang ahli untuk menilai skala kecerdasan emosional, dalam penelititan ini peneliti meminta penilaian dari dosen pembimbing.

Estimasi reliabilitas skala kecerdasan emosionl menggunakan tehnik Alpha Cronbach dengan menggunakan program SPSS 13 for

Windows, diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0.955, yang berarti skala ini reliabel.

Distribusi item-item pada skala kecerdasan emosional dalam

(62)

Tabel 10

Spesifikasi Skala Kecerdasan Emosional Untuk Penelitian No Item

No Aspek Kecerdasan

Emosional Favorabel Unfavorabel Jumlah

B. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada hari sabtu-minggu 7-8 Oktober 2006 dan hari kamis 12 Oktober 2006 dengan menyebar skala pada subyek penelitian secara langsung dan mengambil hasilnya pada saat itu juga. Skor performa didapat dari

pengawas pertandingan yang telah menerima form penilaian performa pemain sepak bola dari peneliti. Peneliti sebelum pengambilan data telah memberikan

form penilaian performa bermain sepak bola kepada panitia pertandingan. Form akan diisi oleh pengawas pertandinga, dimana didalam sebuah pertandingan terdapat 3 orang pengawas pertandingan. Pengawas pertandingan kemudian

membagi pemain mana yang akan diawasi dan dinilai performanya.

Skala kecerdasan emosi disebar langsung kepada pemain sepak bola yang

(63)

Peneliti juga merekam aspek yang diukur untuk menilai performa seorang pemain seperti kategori umpan, kategori tackle, kategori sundulan, kategori

pelanggaran, dan kategori tembakan, selain itu juga terdapat beberapa kategori pendukung seperti gol, assit, interception, dribel, offside, kartu merah, dan kartu kuning dalam pertandingan yang bersangkutan. Alat perekam yang digunakan

adalah tape recorder yang digunakan untuk merekam suara peneliti berkaitan dengan gerakan gagal atau berhasil dari sebuah kategori, hasil rekaman digunakan

sebagai interater reability. Dari cross check yang dilakukan antara data aspek-aspek yang akan digunakan untuk menghitung skor performa yang diberikan oleh pengawas pertandingan dan hasil rekaman peneliti tidak ada perbedaan yang

mencolok.

C. Analisis Data Penelitian

1. Uji Asumsi

Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi

untuk melihat apakah data yang diperoleh memenuhi syarat untuk dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi. Uji asumsi meliputi uji normalitas dan

uji linearitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran

(64)

Kolmogorov-Smirnov Test dalam program SPSS for Windows versi 13. hasilnya dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 11

Hasil Uji Normalitas Sebaran

Skor Kecerdasan

Emosional

Skor Performa Pemain SB

Kolmogorov-Smirnov Z 1.132 0.652

Asymp.Significant 0.154 0.789

Berdasarkan hasil uji normalitas, didapatkan bahwa distribusi sebaran variabel kecerdasan emosional dan variabel performa pemain sepak bola bersifat normal karena signifikansi kedua variabel lebih besar

daripada 0.05 (p>0.05). b. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel kecerdasan emosional dan skor variabel performa pemain sepak bola merupakan garis lurus atau tidak. Pengujian ini dilakukan

dengan menggunakan test for linearity dari program SPSS for Windows versi 13, hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 12

Hasil Uji Linearitas Hubungan

F Sig

(combined) 1.505 0.216 Linearity 14.071 0.002 Skor KE * Skor

Performa Pemain

(65)

Berdasarkan hasil uji linearitas, didapatkan bahwa taraf signifikansi untuk lineritas lebih kecil dari pada 0,05 (p < 0,05), dengan

kata lain hubungan antara skor variabel kecerdasan emosional dan variabel performa pemain sepak bola mengikuti fungsi linear.

2. Uji Hipotesis

Analisis data menggunakan tehnik korelasi produc moment Pearson

dalam program SPSS for Windows versi 13. Hasil analisis menunjukkan

koefisien korelasi untuk variabel kecerdasan emosional dan variabel performa bermain sepak bola adalah 0.443 dengan taraf signifikansi 0.01 (p<0.01). Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif

antara kecerdasan emosional dengan performa bermain sepak bola.

Sumbangan Kecerdasan emosional terhadap performa pemain sepak

bola dapat dilihat dari koefisien determinasinya (r2), yaitu sebesar 0.1962.

koefisien determinasi sebesar 0.1962 berarti kecerdasan emosional pemain sepak bola menyumbang sebesar 19.62% terhadap performa pemain sepak

bola. Sumbangan sebesar 80.38% terhadap performa pemain sepak bola diperoleh dari faktor lain.

D. Kategorisasi Subyek Berdasarkan Skor Skala Kecerdasan Emosional dan

Performa Bermain Sepak Bola

(66)

dibuat mengikuti distribusi normal dengan batasan kategori berdasarkan standar deviasi dengan rentang angka minimum dan maksimum hipotetiknya.

Tabel 13

Deskripsi Statistik Data Penelitian.

N Minimum Maximum Mean

Kategorisasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kategorisasi jenjang, yaitu menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok berjenjang

kontinum mulai dari jenjang sangat tinggi sampai ke jenjang sangat rendah. Norma kategorisasi skor dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 14

Norma Kategorisasi Skor Subyek (μ + 1.5σ) < X Sangat tinggi

(μ + 0.5σ) < X ≤ (μ + 1.5σ) Tinggi (μ - 0.5σ) < X ≤ (μ + 0.5σ) Sedang (μ - 1.5σ) < X ≤ (μ - 0.5σ) Rendah

X ≤ (μ - 1.5σ) Sangat Rendah Berdasarkan data empiris yang ada, maka kategorisasi kedua skala

penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 15

Norma Kategorisasi Skor Performa Pemain Sepak Bola dan Skala kecerdasan Emosional

Perfoma Pemain Sepak Bola Kategori Kecerdasan Emosional 7.5 < X Sangat Tinggi 154 < X

5.834 < X ≤ 7.5 Tinggi 126 < X ≤ 154 4.167 < X ≤ 5.834 Sedang 98 < X ≤ 126

Gambar

Figo                           7
Figo 7 . View in document p.32
Tabel 2
Tabel 2 . View in document p.33
Tabel di atas adalah contoh analisa performa seorang pemain dengan
Tabel di atas adalah contoh analisa performa seorang pemain dengan . View in document p.33
Tabel 3  Performa Pemain Belakang (http://www.soccerperformance.org/)
Tabel 3 Performa Pemain Belakang http www soccerperformance org . View in document p.34
Tabel di atas adalah analisa performa bermain sepak bola dari Laurent
Tabel di atas adalah analisa performa bermain sepak bola dari Laurent . View in document p.34
Tabel 4
Tabel 4 . View in document p.34
Tabel 5  Pengukuran Performa Pemain Sepak Bola (www.sigames.com, diakses
Tabel 5 Pengukuran Performa Pemain Sepak Bola www sigames com diakses . View in document p.36
Tabel 6
Tabel 6 . View in document p.51
Tabel 7
Tabel 7 . View in document p.55
Tabel 8.
Tabel 8 . View in document p.57
Tabel 9
Tabel 9 . View in document p.61
Tabel 10
Tabel 10 . View in document p.62
Tabel 11  Hasil Uji Normalitas Sebaran
Tabel 11 Hasil Uji Normalitas Sebaran . View in document p.64
Tabel 12 Hasil Uji Linearitas Hubungan
Tabel 12 Hasil Uji Linearitas Hubungan . View in document p.64
Tabel 13 Deskripsi Statistik Data Penelitian.
Tabel 13 Deskripsi Statistik Data Penelitian . View in document p.66
Tabel 14
Tabel 14 . View in document p.66

Referensi

Memperbarui...

Download now (125 pages)