Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
136
6 days ago
Preview
Full text

  

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MONTESSORI

UNTUK KETERAMPILAN BERHITUNG MATEMATIKA KELAS IV

SDN TAMANAN 1 YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  Oleh:

  

Esterlita Pratiwi

NIM: 091134058

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

  

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MONTESSORI

UNTUK KETERAMPILAN BERHITUNG MATEMATIKA KELAS IV

SDN TAMANAN 1 YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  Oleh:

  

Esterlita Pratiwi

NIM: 091134058

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

  

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

SKRIPSI

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MONTESSORI

UNTUK KETERAMPILAN BERHITUNG MATEMATIKA KELAS IV

SDN TAMANAN 1 YOGYAKARTA

  Oleh:

  

Esterlita Pratiwi

NIM: 091134058

  Disetujui oleh: Pembimbing I, Gregorius Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. Tanggal: 30 Mei 2013 Ag. Kustulasari 81, S.Pd., M.A. Tanggal: 30 Mei 2013

  

HALAMAN PENGESAHAN

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MONTESSORI

UNTUK KETERAMPILAN BERHITUNG MATEMATIKA KELAS IV

SDN TAMANAN 1 YOGYAKARTA

  Dipersiapkan dan disusun oleh:

  

Esterlita Pratiwi

NIM: 091134058

  Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 07 Juni 2013 dan dinyatakan telah memenuhi syarat

  Susunan Panitia Penguji

  Nama Tanda Tangan Ketua : Gregorius Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. ..............................

  Sekretaris : E. Catur Rismiyati, S.Pd., M.A., Ed.D. .............................. Anggota : Gregorius Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. .............................. Anggota : Ag. Kustulasari 81, S.Pd., M.A. .............................. Anggota : Elisabet Ayunika Permata Sari, M.Sc. ..............................

  Yogyakarta, 07 Juni 2013 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan Rohandi, Ph.D.

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Skripsi ini saya persembahkan kepada:

  

1. Tuhan Yesus yang selalu mencurahkan berkat dan kasih-Nya secara

cuma-cuma, memberikan perlindungan, semangat, dan kesehatan..

  

2. Bapak dan Ibuku tercinta, Prabowo dan Krisminarti Rahayu yang selalu

mendoakan, memberikan kasih sayang, dukungan, semangat, membiayai kuliahku dari semester 1 hingga selesai, dan segala sesuatu yang telah diberikan tanpa pamrih.

  

3. Adik kecilku tersayang, Esterliana Ari Kristia yang selalu membuatku

tertawa ketika mengalami kejenuhan.

  4. Teman-teman PGSD.

  5. Pembaca yang budiman.

HALAMAN MOTTO

  

Bersukacitalah dalam pengharapan,

sabarlah dalam kesesakan,

dan bertekunlah dalam doa.

  

(Roma 12:12)

Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan

menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

  

(Yesaya 40:29)

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

  

(Filipi 4:13)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar referensi, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogkakarta, 30 Mei 2013 Peneliti, Esterlita Pratiwi

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma: Nama : Esterlita Pratiwi Nomor Mahasiswa : 091134058 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:

  

Pengembangan Alat Peraga Montessori untuk Keterampilan Berhitung

Matematika Kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta.

  Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk apa saja, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Yogkakarta, 30 Mei 2013 Esterlita Pratiwi

  

ABSTRAK

  Pratiwi, Esterlita. (2013). Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta .

  Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

  

Kata kunci: metode penelitian dan pengembangan, metode Montessori, alat

peraga Montessori, keterampilan berhitung, Matematika.

  Penerapan metode Montessori pada pengembangan alat peraga dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan alat peraga yang berkualitas sesuai dengan lima ciri alat peraga yang telah ditetapkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat. Empat ciri alat peraga Montessori yang dijadikan dasar pengembangan alat peraga yaitu menarik, bergradasi, auto correction, dan auto

  

education . Peneliti menambahkan kriteria lain pada penelitian ini yaitu

  kontekstual. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 yang berlangsung dari bulan Januari sampai dengan April 2013.

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D). Prosedur penelitian dan pengembangan alat peraga Montessori melalui empat tahap, yaitu (1) kajian standar kompetensi dan materi pembelajaran, (2) analisis kebutuhan pengembangan program pembelajaran, (3) produksi alat peraga Montesori, dan (4) validasi dan revisi produk yang diakhiri dengan uji coba lapangan terbatas. Uji coba lapangan terbatas dilakukan pada lima siswa yang memiliki nilai di bawah KKM. Dari keempat langkah tersebut dihasilkan prototipe produk berupa alat peraga papan bilangan bulat.

  Penilaian kualitas produk yang dikembangkan menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Produk yang dikembangkan memperoleh rerata skor 4,65 dengan kategori “sangat baik” dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, guru kelas, dan sekelompok siswa kelas IVA. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa produk yang dikembangkan mempunyai kualitas yang sangat baik dan sesuai dengan lima ciri alat peraga yang dijadikan dasar pengembangan alat peraga Montessori.

  

ABSTRACT

  Pratiwi, Esterlita. (2013). Developing a set of Montessori integer arithmetic

  th materials for the 4 grade students of Tamanan 1 Primary School, Yogyakarta. A Thesis. Yogyakarta: Primary School Teacher Education

  Study Program, Sanata Dharma University.

  

Keywords: research and development method, the Montessori method,

Montessori materials, numeracy skills, Mathematic.

  The use of Montessori’s learning material improves students’ motivation.

  th

  This research was aimed at developing a set of Montessori materials to help the 4 grade students of Tamanan 1 Primary School, Yogyakarta in learning some basic integer arithmetic. The set of material was designed and developed using the four principals of Montessori materials namely: attractive, gradual, auto-correction, and auto-education. The researcher added another characteristic to it which is

  th

  contextual. This research was conducted through inviting a number of 4 graders of Tamanan 1 Primary School, Yogyakarta during the academic year of 2012/2013.

  This research employed the Research and Development method (R&D). The research and development procedure for developing this set of math Montessori material consists of four steps, namely 1) examining the competency standard and the math concept to learn, 2) analyzing t he students’ needs, (3) producing the math Montessori material, and (4) validating and revising the

  th

  material. The first prototype was then tried on five 4 graders at the primary school who had been previously identified as not having completed the passing score for the intended competence standard. The final prototype was named the Integers Board.

  The product’s quality assessment by a couple of experts in the field showed a very satisfying result. A mean score of 4.65 which falls under the category of “very good” was derived from the scores given by a couple of experts in Math education, the class teacher, and the group of students. It can be concluded, therefore, that the math Montessori material developed from this study has an excellent quality and satisfies the five criteria used as the foundation for developing the Montessori materials.

  

PRAKATA

  Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul Pengembangan alat peraga Montessori untuk

  

keterampilan berhitung Matematika Kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta dapat

  peneliti selesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar.

  Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat adanya bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dengan setulus hati kepada:

  1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

  2. Gregorius Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus dosen pembimbing I yang telah membimbing peneliti dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dari awal penulisan skripsi hingga selesai.

  3. E. Catur Rismiyati, S.Pd., M.A., Ed.D. selaku Wakaprodi PGSD.

  4. Ag. Kustulasari 81, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing peneliti dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dari awal penulisan skripsi.

  5. Srini Supriyanti, S.Pd.SD. selaku Kepala SDN Tamanan 1 Yogyakarta yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di

  6. Suratno, S.Pd. selaku guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama peneliti melakukan penelitian di sekolah.

  7. Veronika Fitri Rianasari, M.Si. selaku pakar pembelajaran matematika yang telah memberikan kontribusi dan bantuan dalam penelitian pengembangan ini.

  8. Andri Anugrahana, M.Pd. selaku pakar alat peraga matematika yang telah memberikan kontribusi dan bantuan dalam penelitian pengembangan ini.

  9. Siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 yang telah bekerja sama dengan baik selama penelitian pengembangan ini berlangsung.

  10. Kedua orang tuaku, Prabowo dan Krisminarti Rahayu yang selalu memberikan semangat dan dukungan kepada peneliti.

  11. Adik kecilku, Esterliana Ari Kristia yang telah bersedia memberikan kesempatan pada peneliti untuk fokus menyelesaikan skripsi ini.

  12. Kakak yang selalu mendukung dan membantu peneliti dalam melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi ini.

  13. Teman-teman payung Montessori Mukti Sari Putri, Theresia Kristi Panca Wijayanti, dan Dian Aprelia Rukmi yang selalu saling mendukung dalam perjuangan bersama peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.

  14. Teman-teman PPL SDN Tamanan 1 tahun 2013 yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama penelitian ini berlangsung.

  15. Teman-teman PGSD angkatan 2009 kelas A yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada peneliti.

  16. Segenap pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, terima kasih atas semua bantuan dan dukungan doanya selama ini.

  Peneliti mengharapkan segala masukan, kritik, dan saran yang membangun demi tercapainya perbaikan skripsi yang lebih sempurna. Semoga skripsi ini bermanfaat secara khusus bagi pembaca dan secara umum bagi perkembangan teknologi pendidikan. Terima kasih.

  Yogkakarta, 30 Mei 2013 Peneliti, Esterlita Pratiwi

  

DAFTAR ISI

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Literature Map dari Penelitian-penelitian Terdahulu ........................... 18Bagan 3.1 Model Penelitian dan Pengembangan Sugiyono................................... 21Bagan 3.2 Model Penelitian dan Pengembangan Borg dan Gall ........................... 22Bagan 3.3 Prosedur Penelitian dan Pengembangan ............................................... 25

  

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

  Menurut Sukardjo .................................................................................. 32

Tabel 4.1 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

  Menurut Sukardjo .................................................................................. 40

Tabel 4.2 Kriteria Skor Skala Lima ....................................................................... 42Tabel 4.3 Komentar Pakar Pembelajaran Matematika dan Tindak Lanjut ............ 42Tabel 4.4 Komentar Guru Matematika dan Tindak Lanjut .................................... 44Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Pretest dan Posttest ................................................. 46Tabel 4.6 Perolehan Skor Validasi Produk ............................................................ 47

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan .......................................................... 56 Lampiran 1.1 Kisi-kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan ......................................... 56 Lampiran 1.2 Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Siswa ................................... 56 Lampiran 1.3 Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Guru ..................................... 58 Lampiran 1.4 Rekapitulasi Hasil Analisis Kebutuhan Siswa................................. 61 Lampiran 2. Instrumen Validasi Ahli..................................................................... 63 Lampiran 2.1 Kisi-kisi Kuesioner untuk Para Ahli ................................................ 63 Lampiran 2.2 Kuesioner untuk Pakar Pembelajaran Matematika .......................... 64 Lampiran 2.3 Kuesioner untuk Pakar Alat Peraga Matematika ............................. 66 Lampiran 2.4 Kuesioner untuk Guru Matematika ................................................. 68 Lampiran 3. Uji Coba Lapangan Terbatas dengan Tes .......................................... 70 Lampiran 3.1 Kisi-kisi Soal Tes Matematika ........................................................ 70 Lampiran 3.2 Soal Pretest dan Posttest ................................................................. 70 Lampiran 3.3 Kunci Jawaban ................................................................................. 70 Lampiran 3.4 Hasil Pretest .................................................................................... 71 Lampiran 3.5 Hasil Posttest ................................................................................... 72 Lampiran 4. Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas ............................................ 73 Lampiran 4.1 Kisi-kisi untuk Uji Coba Lapangan Terbatas .................................. 73 Lampiran 4.2 Kuesioner untuk Siswa .................................................................... 74 Lampiran 4.3 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas .......... 75 Lampiran 6. Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian dari SD ................ 77 Lampiran 7. Dokumentasi Uji Coba Lapangan Terbatas ....................................... 78 Lampiran 8. Album Pembelajaran Montessori ...................................................... 84

BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi uraian (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan

  penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) spesifikasi produk yang dikembangkan, dan (6) definisi operasional.

1.1 Latar Belakang

  Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. Sekolah diberi kebebasan memilih strategi, metode, dan teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif, sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, siswa, guru, dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Secara umum, strategi, metode, teknik pembelajaran dan pengajaran yang berpusat pada siswa (student-centered) lebih mampu memberdayakan pembelajaran. Yang dimaksud dengan pembelajaran berpusat pada siswa adalah pembelajaran yang menekankan keaktifan belajar siswa, bukan pada keaktifan mengajar guru (Rohiat, 2010:65). Menurut Montessori, pembelajaran yang baik tidak hanya menekankan pencapaian prestasi belajar saja melainkan juga memperhatikan kualitas pengalaman yang dialami dan diperoleh siswa (Rathunde, 2003:15). Proses belajar mengajar siswa SD hendaknya didasarkan pada klasifikasi perkembangan anak sesuai dengan umurnya. Siswa SD tergolong pada tahap perkembangan operasional konkret (concrete operation) mulai usia tujuh sampai dua belas tahun. mengelompokkan dan mengurutkan secara sistematis, serta menangani konsep angka. Siswa dapat menyelesaikan masalah dengan bantuan media pembelajaran yang konkret (Hergenhahn, 2009:318). Siswa SD membutuhkan alat peraga primer sebagai alat bantu dalam proses belajarnya (Munadi, 2010:193).

  Mata pelajaran matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. Kemampuan matematika siswa dalam pemecahan masalah dan mengomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, dan diagram perlu dikembangkan (Kurikulum SD 2006:416). Pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah sesuai dengan situasi yang dialami siswa. Untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran matematika diperlukan alat peraga yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari siswa (Rohiat, 2010:66).

  Peneliti telah melakukan observasi terhadap proses pembelajaran matematika pada kelas IVA di SDN Tamanan 1, Kelurahan Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelas IVA di SDN Tamanan 1 berisi 30 siswa yang terdiri dari 14 siswa putra dan 16 siswa putri. Observasi yang dilakukan pada 06 Oktober 2012 difokuskan pada permasalahan kemampuan berhitung siswa dalam pelajaran matematika yang diampu oleh guru kelas Pak Suratno. Gejala pertama yang tampak di kelas IVA adalah siswa tampak bosan mengikuti pelajaran matematika karena pembelajaran hanya mengandalkan LKS yang tersedia. Gejala yang kedua adalah siswa tampak mengalami kesulitan berhitung ketika mengerjakan soal-soal matematika. Hasilnya 50% siswa mendapatkan nilai matematika di bawah KKM. Jika merangkum gejala-gejala permasalahan tersebut, dapat dituliskan pokok permasalahan utama yang menjadi kendala dalam proses belajar dan mengajar yakni rendahnya mutu pembelajaran matematika yang dapat diartikan sebagai tidak efektifnya proses belajar mengajar. Salah satu penyebab utama timbulnya kendala tersebut adalah pembelajaran matematika membutuhkan alat peraga yang relevan untuk membantu siswa melatih kemampuan berhitungnya dan untuk memotivasi siswa dalam memperdalam pemahaman tentang matematika.

  Untuk mengatasi permasalahan di atas diperlukan sebuah alat peraga yaitu alat peraga pembelajaran ala Montessori. Maria Montessori (1870-1952) adalah seorang wanita yang lahir di kota Chiaravalle, provinsi Ancona, Italia pada tahun 1870. Dia menjadi seorang dokter wanita pertama di Italia setelah kelulusannya di fakultas kedokteran pada tahun 1897. Menurut Montessori, jika alat peraga disiapkan untuk proses pembelajaran berarti bahwa lingkungan telah dipersiapkan untuk mendukung konsentrasi siswa dalam mendalami materi (Rathunde, 2003:20). Montessori (2002:81) mengatakan bahwa pembelajaran matematika dengan alat peraga sebaiknya mengandung nilai keindahan (menarik), unsur gradasi, nilai pengendali kesalahan (auto correction), dan nilai kemandirian

  (auto education). Alat peraga yang akan dikembangkan adalah alat peraga matematika Montessori dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di lingkungan sekolah. SDN Tamanan 1 terletak di pinggir jalan dan lokasinya berada dekat dengan area penambangan. Beberapa bahan potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi alat peraga pembelajaran matematika adalah batu, kerikil, dan pasir. Metode Montessori juga menekankan bahwa siswa mempunyai kebebasan untuk belajar sehingga siswa memiliki kemampuan atas dasar kemauannya sendiri (Koh, 2010:1).

  Penelitian ini dibatasi hanya sampai pada pengembangan prototipe produk berupa alat peraga Montessori yang diujicobakan secara terbatas pada sekelompok siswa. Tujuannya untuk melatih kemampuan berhitung matematika kelas IV standar kompetensi menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat, kompetensi dasar melakukan operasi hitung campuran, materi operasi hitung campuran bilangan bulat pada semester genap tahun ajaran 2012/2013 di SDN Tamanan 1 Yogyakarta.

  1.2 Rumusan Masalah

  1.2.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat pada siswa kelas IVA di SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013?

  1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat pada siswa kelas IVA di SDN

  1.3 Tujuan Penelitian

  1.3.1 Mengembangkan alat peraga Montessori sesuai dengan ciri-ciri yang ditetapkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat pada siswa kelas IVA di SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

  1.3.2 Mengembangkan alat peraga Montessori yang berkualitas untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat pada siswa kelas IVA di SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

  1.4 Manfaat Penelitian

  1.4.1 Bagi sekolah Merupakan upaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Hasil penelitian ini juga bisa digunakan sebagai bahan acuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SDN Tamanan 1.

  1.4.2 Bagi guru Hasil penelitian ini merupakan upaya untuk memberikan inspirasi pada guru dalam mengolah dan mengembangkan alat peraga Montessori di kelas dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia.

  1.4.3 Bagi siswa Mendapatkan pengalaman belajar matematika menggunakan alat peraga Montessori. Hasil penelitian ini juga dapat membantu siswa dalam melatih kemampuan berhitungnya.

  1.4.4 Bagi peneliti Mendapatkan pengalaman berharga dalam mengolah dan mengembangkan alat peraga Montessori dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia.

  1.5 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan

  Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah alat peraga matematika Montessori dengan menggunakan prinsip-prinsip pengembangan alat peraga. Alat peraga Montessori dibuat berdasarkan empat kriteria alat peraga Montessori dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada di lingkungan sekolah.

  Montessori. Alat peraga matematika yang akan dibuat be rnama “Papan Bilangan Bulat ”.

  Pengolahan batu menjadi alat peraga Montessori meliputi tiga proses yaitu pemilahan, pembersihan, dan pengecatan. Proses pemilahan batu didasarkan pada bentuk dan ukurannya. Peneliti menggunakan batu yang memiliki permukaan halus dan rata sehingga tidak akan melukai tangan siswa. Ukuran batu dipilih berdasarkan besaran tangan siswa dengan diameter kurang lebih 2cm. Proses yang kedua adalah pembersihan. Pembersihan batu bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada batu seperti tanah dan debu sehingga aman bagi siswa. Setelah batu-batu dibersihkan, proses yang ketiga adalah pewarnaan. Pewarnaan batu dilakukan dengan membagi batu menjadi dua kelompok dan memberi warna merah pada kelompok pertama dan warna putih pada kelompok kedua. Tujuannya untuk membuat alat peraga menjadi menarik dan indah bagi siswa. Warna merah menunjukkan nilai positif dan warna putih menunjukkan nilai negatif pada bilangan bulat. Pemilihan warna dilakukan berdasarkan keinginan siswa.

  Batu positif dan batu negatif digunakan sebagai alat peraga pembelajaran matematika kelas IVA standar kompetensi menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat, kompetensi dasar melakukan operasi hitung campuran, materi operasi hitung campuran bilangan bulat pada semester genap tahun ajaran 2012/2013 di SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Alat peraga papan bilangan bulat dilengkapi dengan papan bilangan, album pembelajaran yang berisi materi, manual penggunaan alat peraga, dan kartu soal yang mengandung pengendali kesalahan. Papan bilangan akan dibuat menggunakan bahan dasar kayu dengan ukuran 33cm×33cm dan diberi 100 lubang. Lubang pada papan dibuat dengan diameter 2cm sesuai dengan ukuran batu yang sudah diseleksi sehingga setiap lubang bisa ditempati oleh satu batu. Kartu soal dibuat dengan menggunakan kertas jenis ivory. Peneliti akan membuat 60 kartu soal berdasarkan sembilan indikator pembelajaran. Kartu soal dibuat dengan ukuran panjang 7,5cm dan lebar 7cm. Alat peraga papan bilangan bulat serta manual penggunaan alat peraga dan kartu soal akan dikemas dalam kotak yang memungkinkan untuk dibawa seorang

1.6 Definisi Operasional

  1.6.1 Pembelajaran Montessori adalah pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip Maria Montessori.

  1.6.2 Alat peraga Montessori adalah media pembelajaran yang digunakan dengan menerapkan metode Montessori.

  1.6.3 Album pembelajaran Montessori adalah seperangkat rencana pembelajaran yang komponennya terdiri dari tujuan langsung, syarat, usia, alat peraga, dan presentasi.

  1.6.4 Keterampilan berhitung kelas IV adalah keterampilan siswa kelas IVA semester genap SDN Tamanan 1 dalam melakukan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat.

  1.6.5 Mata pelajaran matematika adalah pelajaran yang mengembangkan kompetensi berhitung siswa kelas IVA semester genap SDN Tamanan 1 kompetensi dasar melakukan operasi hitung campuran bilangan bulat.

  1.6.6 Siswa SD adalah siswa kelas IVA semester genap tahun ajaran 2012/2013 yang sedang menempuh pendidikan di SDN Tamanan 1, kelurahan Tamanmartani, kecamatan Kalasan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

  1.6.7 Kontekstual adalah pengembangan alat peraga yang memanfaatkan potensi lokal di lingkungan sekolah.

BAB II LANDASAN TEORI Dalam bab ini, pembahasan tentang landasan teori dibagi menjadi empat bagian, yaitu (1) kajian pustaka, (2) kerangka berpikir, dan (3) hipotesis.

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Metode Pembelajaran Montessori

2.1.1.1 Pengertian Metode Pembelajaran Montessori

  Menurut Holt (2008:xi), metode pembelajaran Maria Montessori merupakan salah satu metode yang menerapkan konsep Learning by playing (belajar sambil bermain) pada pendidikan anak usia dini. Anak-anak akan menganggap kegiatan belajar yang mereka lakukan tak ubahnya seperti bermain, bahkan berbentuk permainan. Montessori sendiri mengungkapkan bahwa metode pembelajaran yang ia miliki merupakan metode yang mengembangkan kebebasan berkarakter dengan cara yang mengagumkan dan luar biasa (Montessori, 2002:33).

  Montessori mengajarkan anak-anak kebenaran yang mendasar tentang tata bahasa, matematika, biologi, dan sebagainya. Anak-anak belajar dengan baik melalui nomenclature dan hasil perkerjaan mereka sangat terstruktur. Meskipun demikian, anak-anak Montessori juga bebas untuk memilih apa yang akan mereka kerjakan dan kapan mereka akan mengerjakannya, mereka sering bekerja secara untuk semakin dapat mandiri dalam hidup dengan mengembangkan seluruh kemampuannya secara maksimal. Karena itu, Montessori menggunakan kemerdekaan masing-masing anak untuk beraktivitas sebagai basis untuk membentuk sikap disiplin dalam diri anak, karena sikap disiplin datang dari kemerdekaan itu (Montessori, 2002:90). Metode Montessori memberikan kesempatan pada anak untuk (1) bekerja dengan dirinya sendiri (2) bekerja tanpa mengandalkan bantuan atau pun interupsi, (3) bekerja dengan penuh konsentrasi, (4) bekerja dengan kelompok atau lingkungan yang telah disiapkan, dan (5) menggali potensi diri dengan kemauannya sendiri (Lillard, 1996:98).

2.1.1.2 Tahap-tahap Perkembangan Anak

  Montessori membagi tahap-tahap perkembangan anak menjadi umur 0-6, 6-12, dan 12-18 (Holt, 2008:xii).

  1. Tahap Pertama (umur 0-6 tahun) Seorang anak dikaruniai potensi kemampuan yang luar biasa besar.

  Montessori membagi tahap-tahap perkembangan anak menjadi umur 0

  • –6 saat inteligensi mengalami pembentukan. Keberhasilan perkembangan tahap pertama ini sangat menentukan keberhasilan tahap-tahap selanjutnya. Menurut Montessori manusia lahir dianugerahi kemampuan untuk mempelajari bahasa apa pun, yaitu bahasa lingkungannya. Karena itu ia meyebutnya periode awal umur 0
  • –6 adalah periode sensitif, masa peka, atau usia emas, saat pikiran anak mudah sekali menyerap apa pun dari lingkungannya.

  2. Tahap Kedua (umur 6-12 tahun) Anak yang berkembang dengan baik pada tahap perkembangan pertama (umur 0-6 tahun) akan berkembang secara normal pada tahap perkembangan kedua umur 6-12 tahun. Menurut Montessori, setiap cacat karakter diakibatkan oleh perlakuan salah yang dialami anak pada tahun- tahun sebelumnya. Semakin baik perkembangan anak pada fase pertama, yaitu umur 0-6 tahun, maka semakin baik pula perkembangannya di fase kedua ini. Berikut ini merupakan karakteristik perkembangan anak umur 6-12 tahun: pertanyaa n “mengapa”)

  b. Periode sensitif untuk perkembangan imajinasi (dengan bantuan media nyata/konkret) c. Periode sensitif untuk perkembangan moral dan mental yang luas

  d. Periode sensitif untuk perkembangan rasa berkelompok

  e. Periode sensitif untuk pengenalan budaya

  f. Periode sensitif untuk menampilkan kekuatan fisik

  3. Tahap Ketiga (umur 12-18 tahun) Karakteristik anak pada tahap ketiga adalah

  a. Perkembangan tubuh mengarah pada kematangan fisik

  b. Pencarian identitas seksual

  c. Pencarian model ideal yang akan diikuti

  d. Pencarian posisi dalam lingkup sosial (mementingkan klik)

  e. Bebas dan mandiri dari keluarga

  f. Pencarian nilai-nilai spiritual Anak-anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda sesuai dengan umur yang dimilikinya. Tahap perkembangan itulah yang membedakan kebutuhan dan kewajiban anak, begitu pula pada siswa SD. Siswa SD tergolong pada tahap kedua dengan periode sensitif untuk tumbuh dan berkembang. Siswa telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (Riyanto, 2009:125). Perkembangan logika yang masih sederhana, perkembangan moral dan mental yang luas, serta perkembangan imajinasi yang membutuhkan media konkret menjadi ciri utama siswa SD.

2.1.2 Alat Peraga Matematika Montessori

  Berikut ini diuraikan tentang pengertian alat peraga, alat peraga Montessori, ciri-ciri alat peraga Montessori, dan kelebihan alat peraga Montessori.

2.1.2.1 Pengertian Alat Peraga

  Pengertian alat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tertentu, sedangkan peraga merupakan alat media pengajaran untuk meragakan sajian pelajaran (KBBI, 2008). Dengan demikian alat peraga merupakan media pengajaran yang memeragakan pelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut Smaldino (2011:14), alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran. Media adalah semua sarana untuk memperlancar proses pembelajaran, sedangkan alat peraga adalah alat yang memeragakan konsep materi pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Alat peraga sebaiknya digunakan apabila alat peraga tersebut mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan (Anitah, 2010:83)

  2.1.2.2 Pengertian Alat Peraga Montessori

  Menurut Montessori, alat peraga adalah material untuk siswa dalam belajar yang didesain secara sederhana, menarik, memungkinkan untuk diekplorasi, memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara mandiri, dan memperbaiki kesalahan mereka sendiri (Lillard, 1997:11).

  Alat peraga matematika menurut Montessori adalah material yang dirancang dengan konsep dan desain yang unggul berdasarkan cakupan pemahaman matematika yang akan dicapai (Lillard, 1997:137). Alat peraga matematika Montessori tidak dirancang untuk “mengajar matematika” tetapi untuk membantu siswa mengembangkan pikiran matematikanya: memahami perintah, urutan, abstraksi, dan memiliki kemampuan untuk mengonstruksikan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru.

  2.1.2.3 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori

  Pada metode Montessori, alat peraga mempunyai peranan yang penting dalam tahap perkembangan siswa. Montessori merumuskan empat ciri utama alat peraga yang baik (Montessori, 2002:81), yaitu:

  1. Memiliki unsur keindahan (menarik) Setiap alat dan media pembelajaran harus memiliki nilai keindahan baik dari segi warna yang menarik maupun kecerahannya. Alat tersebut harus mampu mengundang minat siswa untuk menyentuh, melihat, dan mempelajarinya.

  Alat peraga yang baik seharusnya bergradasi. Ada dua jenis gradasi menurut Montessori yakni gradasi umur dan gradasi rangsangan yang rasional. Gradasi umur dapat ditunjukkan dari penggunaan alat untuk jenjang kelas sebelumnya maupun untuk jenjang kelas selanjutnya. Gradasi rangsangan yang rasional tampak pada penggunaan alat yang melibatkan beberapa indera.

  3. Memiliki nilai pengendali kesalahan (auto correction) Tidak hanya pada alat peraga dan media pembelajaran melainkan juga lingkungan yang dipersiapkan harus selalu memiliki nilai pengendali kesalahan. Misalnya kursi atau meja yang diperuntukkan siswa. Apabila mereka melakukan gerakan salah bisa menimbulkan suara berderit, siswa menjadi tahu bahwa ada gerakan yang mereka lakukan secara tidak tepat. Warna-warna yang dipakai haruslah lembut, terang, dan menampakkan langsung apabila ada kesalahan seperti adanya coretan atau noda. Pengendali kesalahan pada alat peraga bisa berupa pembanding, misalnya dengan gambar atau tabel. Dengan demikian alat yang memiliki sistem pengendali kesalahan dapat berfungsi sebagai pendidik bagi siswa.

  4. Memiliki nilai kemandirian (auto education) Berdasarkan umur siswa dan tahap perkembangan yang sedang dialaminya, maka alat peraga dan media pembelajaran harus dibuat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Alat-alat yang ada di dalam kelas haruslah mudah dibawa dan dipindahkan oleh siswa. Hal tersebut akan membantu siswa dalam bersikap mandiri. Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung bilangan bulat matematika mengandung empat ciri alat peraga menurut

  Montessori dan juga mengandung satu ciri tambahan yakni kontekstual dalam arti memanfaatkan pontensi lokal di lingkungan sekolah. Nilai keindahan tampak pada warna-warna yang digunakan pada alat peraga papan bilangan bulat yaitu warna merah untuk batu positif dan merah putih untuk batu negatif. Unsur gradasi terdapat pada penggunaan alat yang melibatkan indera peraba dan indera penglihatan serta alat yang dapat digunakan pada jenjang kelas I sampai VI. Nilai satu batu dan kartu soal yang memuat kunci jawaban. Nilai kemandirian terdapat pada alat peraga papan bilangan bulat yang dapat digunakan siswa secara mandiri serta dapat melatih kemampuan siswa untuk berhitung bilangan bulat. Nilai kontekstual terdapat pada pemanfaatan potensi lokal di lingkungan sekolah sebagai bahan dasar pembuatan alat peraga yaitu batu dan papan kayu jati.

2.1.2.4 Tujuan Penggunaan Alat Peraga

  Alat peraga dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak, interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkungannya, dan kemungkinan untuk belajar sendiri sesuai kemampuan dan minatnya (Kustandi, 2011:26). Menurut Sukayati (2009:7), alat peraga digunakan untuk mencapai empat tujuan, yaitu (1) memberikan kemampuan berpikir matematika dengan kreatif, (2) mengembangkan sikap percaya diri dalam pembelajaran matematika, (3) meningkatkan keterampilan siswa dalam menerapkan pembelajaran matematika pada kehidupan sehari-hari, dan (4) meningkatkan motivasi belajar siswa.

  1. Pembelajaran matematika mencakup dalil-dalil dan simbol-simbol yang saling berhubungan. Penggunaan alat peraga akan meningkatkan kreativitas siswa dalam memahami hubungan-hubungan dalam pembelajaran matematika.

  2. Suasana pembelajaran matematika akan menjadi kondusif dengan tersedianya alat peraga. Dengan demikian siswa akan memperoleh kepercayaan diri akan kemampuannya dalam belajar matematika melalui pengalaman-pengalaman yang akrab dengan kehidupannya.

  3. Penggunaan alat peraga yang kontekstual akan membantu siswa menghubungkan pengalaman belajarnya dengan pengalaman-pengalaman pada kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan keterampilan masing- masing mereka dapat menyelidiki dan mengamati benda-benda di sekitarnya, kemudian mengorganisasinya untuk memecahkan suatu masalah.

  4. Dengan penggunaan alat peraga diharapkan siswa memperoleh meningkatkan motivasi belajar matematika.

2.1.3 Keterampilan Berhitung

  Matematika adalah ilmu tentang sesuatu yang memiliki pola keteraturan dan urutan yang logis (Walle, 2008:13). Pada pembelajaran matematika SD, keterampilan berhitung merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Berhitung merupakan aktivitas mengerjakan hitungan seperti menjumlahkan, mengurangi, mengalikan, dan membagi (KBBI, 2008:527). Dalam arti luas, keterampilan berhitung merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan seseorang dalam kehidupan sehari-hari, artinya semua aktivitas manusia membutuhkan kemampuan ini (Aisyah, 2007:6). Berdasarkan pengertian- pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa keterampilan berhitung sangat penting bagi siswa SD. Proses pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan berhitung dapat dilakukan dengan beberapa cara, misal membilang, menjumlahkan, mengurangkan, mengalikan, dan membagi.

  Keterampilan berhitung dikembangkan dengan tujuan agar siswa dapat memiliki kemampuan (1) berpikir logis dan sistematis sejak dini, (2) menyesuaikan dan melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat, (3) memiliki ketelitian dan konsentrasi tinggi, serta (4) memiliki kreativitas dan imajinasi dalam menciptakan sesuatu secara spontan.

  Pada penelitian pengembangan ini, keterampilan berhitung difokuskan pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat mempunyai lima sifat, yaitu (1) sifat tertutup yang berarti selalu menghasilkan bilangan bulat, (2) sifat komutatif atau sifat pertukaran, (3) unsur identitas bilangan nol, (4) sifat asosiatif atau sifat pengelompokkan, dan (5) mempunyai invers.

2.1.4 Kajian Penelitian yang Relevan

2.1.4.1 Penelitian tentang Metode Montessori

  Penelitian tentang metode Montessori dilakukan oleh Rathunde (2003), Manner (2006), dan Lillard (2006) yang dipaparkan sebagai berikut.

  Montessori dengan tradisional dalam hal motivasi, kualitas pengalaman, dan konteks sosial. Ada tiga hubungan penting antara pendidikan Montessori dengan teori pengalaman yang optimal: (1) orientasi terhadap pengalaman, (2) konteks pengalaman yang diperhatikan, dan (3) sikap alamiah manusia yang merayakan motivasi intrinsik anak. Siswa di sekolah menengah Montessori memperlihatkan adanya pengalaman dan motivasi yang lebih positif dibandingkan dengan siswa dari sekolah menengah tradisional. Kecenderungan kebijakan pendidikan saat ini hanya menekankan prestasi belajar siswa tanpa banyak memperhatikan kualitas pengalaman yang diperoleh siswa. Gangguan konsistensi siswa di sekolah menengah sebenarnya merupakan penurunan motivasi intrinsik siswa untuk belajar. Sebagian besar peneliti sekarang ini percaya bahwa perubahan negatif yang sering terjadi di sekolah menengah merupakan hasil dari ketidaksesuaian antara lingkungan belajar yang disiapkan tersedia di sekolah dengan kebutuhan perkembangan seorang remaja. Larut dalam suasana belajar merupakan bentuk nyata motivasi intrinsik siswa, fokus pada tugas menyatakan karakteristik siswa yang mempunyai konsentrasi penuh, dan merasakan bahwa waktu berlalu dengan cepat. Montessori percaya bahwa konsentrasi spontan anak merupakan sifat alamiah manusia. Anak-anak tidak hanya dapat bekerja dengan serius, namun mereka juga memiliki kekuatan konsentrasi yang besar. Konsentrasi menyerap semua energi psikis sehingga anak benar-benar dapat mengabaikan semua yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Untuk itu, sekolah harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung terciptanya konsentrasi siswa. Dengan demikian, siswa bisa belajar dengan serius dan menyenangkan pada saat yang sama.

  Manner (2006) membandingkan pencapaian akademis sekolah Montessori dengan sekolah tradisional. Dia menguji hubungan antara pendidikan berbasis Montessori yang ditunjukkan dengan pencapaian skor tes Stanford dalam aspek membaca dan matematika jika dibandingkan dengan skor yang sama di sekolah tradisional. Pengukuran dilakukan secara berulang dengan desain yang tetap selama periode waktu tiga tahun. Hasil dari penelitian ini, pada tahun yang pertama tentu saja tidak ada perbedaan antara kelompok Montessori dengan ketiga yang menunjukkan bahwa program Montessori memberikan hasil yang unggul untuk aspek membaca. Pada aspek matematika merupakan sebuah tantangan dalam interpretasi, walaupun rata-rata kelompok Montessori jauh mengungguli rata-rata kelompok tradisional pada tahun kedua dan ketiga dengan kesenjangan yang meningkat. Penelitian ini memberikan kontribusi dasar tentang pencapaian akademis dalam pendidikan Montessori jika dibandingkan dengan program tradisional karena menegaskan bahwa prestasi membaca meningkat seperti yang telah ditemukan oleh penulis yang lain pada penelitian terdahulu. Dalam penelitian ini, siswa Montessori memperlihatkan peningkatan aspek matematika ketika dibandingkan dengan kelompok tradisional lebih banyak sehingga pendapat mungkin dibuat dalam rangka mendukung kelanjutan pengumpulan data untuk mengobservasi apakah kenaikan akan mencerminkan perbedaan yang signifikan dalam pengamatan selanjutnya.

  Lillard (2006) menganalisis perbandingan kemampuan akademis dan sosial antara sekolah Montessori dengan program pendidikan dasar pada sekolah lainnya. Lillard mengevaluasi efek sosial dan akademis pendidikan Montessori. Anak yang diamati terdiri dari rentangan umur 3-6 tahun dan 6-9 tahun. Sekolah Montessori yang menjadi objek penelitian berlokasi di Milwaukee, Wisconsin yang merupakan lokasi pinggiran bagi anak-anak. Kelompok kontrol diambil dari 27 sekolah negeri dan 12 sekolah swasta yang terdiri 53 siswa. Mayoritas dari sekolah negeri telah menetapkan program khusus, seperti kurikulum akselerasi, pendalaman bahasa, seni, dan studi penemuan. Anak dari kedua kelompok tersebut mendapatkan tes untuk kemampuan kognitif dan sosial. hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya keuntungan yang signifikan untuk kelompok montessori dibandingkan dengan kelompok kontrol sesuai dengan pembagian kelompok usia. Berdasarkan hasil analisis rerata perbandingan kemampuan akademis dan sosial pada kelompok usia 5 tahun dengan z-score, kelompok montessori mempunyai kemampuan akademis di atas rata-rata mengungguli kelompok kontrol, sedangkan kelompok kontrol mempunyai kemampuan akademis di bawah rata-rata. Pada aspek kekerasan dalam permainan, kelompok montessori mempunyai nilai yang sangat rendah dibandingkan dengan kelompok kelompok usia 12 tahun dengan z-score menunjukkan bahwa kelompok montessori mempunyai kemampuan struktur yang baik, penulisan cerita yang kreatif, dan strategi yang baik di atas rata-rata mengungguli kelompok kontrol.

  

2.1.4.2 Penelitian tentang Alat Peraga Matematika untuk Keterampilan

Berhitung

  Penelitian tentang alat peraga matematika untuk keterampilan berhitung dilakukan oleh Aripiyah (2005), Miyarso (2011), dan Sugiarni (2012) yang dipaparkan sebagai berikut.

  Aripiyah (2005) meneliti peningkatan prestasi belajar matematika dengan bantuan alat peraga benda konkret. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas III semester I SD Bulakpacing 02 Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal khususnya dalam materi pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret, agar nilai yang dihasilkan dapat memenuhi syarat ketuntasan belajar. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: Pada siklus I siswa yang tuntas belajar sejumlah 14 siswa (58,3%) dan yang tidak tuntas belajar sejumlah 10 siswa (41,7%) dengan nilai rata-rata kelas 6,2 dan daya serap 61,7%. Hasil pada siklus II siswa yang tuntas belajar sejumlah 17 siswa (70,8%) dan yang tidak tuntas belajar sejumlah 7 siswa (29,2%) dengan nilai rata-rata kelas 7,3 dan daya serap 73,3%. Sedangkan hasil pada siklus

  III jumlah siswa yang tuntas belajar 21 siswa (87,5%) dan yang tidak tuntas belajar sejumlah 3 (12,5%) siswa dengan nilai rata-rata kelas 8,8 dengan daya serap 87,9%. Karena sudah memenuhi indikator keberhasilan bahkan sampai melebihi dari nilai yang peneliti targetkan, maka penelitian ini dihentikan pada siklus III. Simpulan yang dapat diambil adalah bahwa penggunaan alat peraga benda konkret dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi pecahan pada kelas III SD Negeri Bulakpacing 02 semester I Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal tahun pelajaran 2005/2006 dengan tingkat partisipasi siswa yang cukup menggembirakan serta memacu guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan model pembelajaran.

  Miyarso (2011) meneliti pengembangan alat peraga timbangan untuk mengembangkan alat peraga timbangan matematis guna mengoptimalkan belajar operasi hitung pada siswa kelas rendah di SD Ndaleman, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Hasil dari penelitian pengembangan ini adalah prototipe produk timbangan matematis dengan kelebihan desain tampilan yang menarik dan sederhana. Produk ini memungkinkan guru menggunakan alat peraga dengan memadukan pelajaran lain yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam melaksanakan pembelajaran terpadu secara tematis.

  Sugiarni (2012) meneliti peningkatan proses dan hasil belajar matematika dengan memanfaatkan media dan alat peraga materi operasi hitung campuran. Penelitian ini memanfaatkan media dan alat peraga dalam pembelajaran Matematika pada materi operasi hitung campuran. Simpulan pada penelitian ini pertama pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan cukup baik, dengan nilai 3,6 (skala 1-5) pada siklus I dan meningkat menjadi baik, dengan nilai 4,4 (skala 1-5) pada siklus II. Kedua prestasi belajar siswa meningkat dari kurang (nilai 50,70) sebelum perbaikan pembelajaran menjadi sedang (nilai 60,50) pada perbaikan siklus I dan baik (nilai 83,50) pada siklus II. Ketiga prestasi belajar meningkat melalui aktivitas –aktivitas pemberian apersepsi yang menarik melalui tanya jawab interaktif, pelibatan siswa dalam demonstrasi, pengaktifan siswa dalam tanya jawab, pengaktifan siswa dalam latihan pengerjaan soal, dan pemanfaatan alat peraga yang memadai.

  Sejauh eksplorasi literatur yang relevan dengan penelitian ini, belum ada satu pun yang memuat penelitian dan pengembangan alat peraga Montessori untuk pelajaran Matematika SD. Selama ini penelitian yang dilakukan hanya bersifat kuantitatif dengan menekankan aspek peningkatan hasil belajar siswa, sedangkan penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang sama dengan penelitian ini yakni penggunaan metode Montessori dalam pembelajaran dan penggunaan alat peraga untuk kemampuan berhitung matematika. Jadi, penelitian ini memberikan kontribusi baru yang penting untuk pendidikan di SD tentang penelitian dan pengembangan alat peraga Montessori untuk melatih kemampuan berhitung matematika.

  

Metode pembelajaran Maria Alat peraga matematika untuk

Montessori keterampilan berhitung

Rathunde (2003) Aripiyah (2005)

Metode Montessori, motivasi, Hasil belajar dan alat peraga benda pengalaman, dan konteks sosial konkret

Manner (2006) Miyarso (2011)

  

Metode Montessori, pendidikan Alat peraga dan keterampilan

tradisional, dan prestasi akademis berhitung

Lillard (2006) Sugiyarni (2012)

Metode Montessori, kemampuan Proses, hasil belajar, media dan alat

sosial, dan kemampuan akademis peraga operasi hitung campuran

Yang diteliti

  

Pengembangan alat peraga

Montessori untuk keterampilan

berhitung bilangan bulat

Matematika

Bagan 2.1 Literature Map dari Penelitian-penelitian Terdahulu

2.2 Kerangka Berpikir

  Guru sebagai pendidik mempunyai kewajiban untuk mendidik siswa dan menyiapkan perangkat pembelajaran dengan lengkap. Perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan guru antara lain silabus, RPP, dan alat peraga pembelajaran. Guru harus kreatif dalam menyusun perangkat pembelajaran agar mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Metode pembelajaran Montessori menawarkan penggunaan alat peraga pembelajaran yang konkret untuk menumbuhkan minat siswa dalam belajar. Alat peraga Montessori memiliki ciri (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto education, (4) auto education, dan (5) kontekstual dalam arti selalu disesuaikan dengan potensi lokal di lingkungan sekolah.

  Pembelajaran matematika membutuhkan alat peraga yang konkret dan kontekstual untuk membantu siswa melatih kemampuan berhitungnya serta untuk memotivasi siswa dalam memperdalam pemahaman tentang matematika. Pembelajaran matematika yang hanya mengandalkan buku pegangan dan diajarkan dengan teknik ceramah bisa membuat siswa menjadi jenuh. Kejenuhan siswa dapat berdampak pada menurunnya semangat siswa untuk belajar matematika yang pada akhirnya akan mengakibatkan turunnya prestasi belajar siswa. Sebaliknya, pembelajaran matematika yang menggunakan alat peraga kontekstual akan menumbuhkan semangat dan motivasi siswa untuk belajar matematika.

  Berdasarkan alasan tersebut, perlu adanya pengembangan alat peraga pembelajaran yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Peneliti berasumsi bahwa alat peraga matematika SD untuk melatih keterampilan berhitung bilangan bulat masih kurang. Karena itu, perlu dikembangkan alat peraga Montessori untuk melatih keterampilan berhitung bilangan bulat matematika kelas IV SD. Jadi, dengan alat peraga Montessori akan menumbuhkan semangat dan motivasi siswa untuk belajar matematika. Pengembangan alat peraga Montessori yang berkualitas disesuaikan dengan lima ciri alat peraga yang telah dipaparkan dan memanfaatkan potensi lokal di lingkungan SDN Tamanan 1 Yogyakarta berupa batu dan kayu jati.

2.3 Hipotesis

  2.3.1 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat pada siswa kelas IVA di SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mengandung lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual.

  2.3.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat pada siswa kelas IVA di SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mempunyai kualitas yang “baik”.

BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisi uraian (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) prosedur

  pengembangan, (4) uji coba produk, (5) instrumen penelitian, (6) teknik pengumpulan data, dan (7) teknik analisis data.

3.1 Jenis Penelitian Peneliti menggunakan jenis penelitian Research and Development (R&D).

  Penelitian R&D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan (Sukmadinata, 2008:164). Menurut Sugiyono (2010:407), metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji efektivitas produk tersebut. R&D merupakan model pengembangan yang digunakan untuk merancang produk dan prosedur baru yang diuji, dievaluasi, dan direvisi secara sistematis sampai menemukan produk yang efektif dan berkualitas (Borg dan Gall, 2007:589). Penelitian ini mengembangkan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Produk yang dihasilkan adalah prototipe alat peraga matematika Montessori berupa papan bilangan bulat.

   Setting Penelitian

  3.2.1 Objek Penelitian

  Objek penelitian ini adalah alat peraga matematika Montessori yang berupa papan bilangan bulat.

  3.2.2 Subjek Penelitian

  Subjek uji coba prototipe alat peraga pada penelitian ini adalah sekelompok siswa dan seorang guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2012/2013. Peneliti memilih sekelompok siswa berjumlah lima anak yang memiliki nilai ulangan harian matematika di bawah KKM dan guru kelas IVA yang menjadi subjek penelitian adalah Pak Suratno.

  3.2.3 Lokasi Penelitian

  Penelitian dilaksanakan di SDN Tamanan 1, Kelurahan Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 55571.

  3.2.4 Jadwal Penelitian

  Waktu penelitian berlangsung empat bulan mulai dari bulan Januari sampai dengan April tahun 2013.

3.3 Prosedur Pengembangan

  Prosedur penelitian dan pengembangan mengadaptasi model Sugiyono serta Borg dan Gall yang terdiri dari sepuluh tahap. Berikut ini dipaparkan dua model penelitian pengembangan. Pertama, Sugiyono (2010:409) menyebutkan sepuluh langkah dalam penelitian pengembangan sebagai berikut.

  Potensi dan Pengumpulan Desain Produk Validasi Desain Masalah Data Uji Coba

  Revisi Produk Uji Coba Produk Revisi Desain Pemakaian Revisi Produk Produksi Massal

Bagan 3.1 Langkah-langkah Penelitian dan Pengembangan Sugiyono

  Kedua, Borg dan Gall (2007:590) memaparkan prosedur penelitian pengembangan yang dimodifikasi dari model Dick, Carey, dan Carey dalam sepuluh tahap sebagai berikut.

  Tahap 1 Identifikasi tujuan

  Tahap 2 Tahap 3 Identifikasi keterampilan Analisis kebutuhan dan tugas belajar

  Tahap 4 Pengolahan data hasil analisis kebutuhan

  Tahap 5 Tahap 9 Pengembangan instrumen Revisi Produk penilaian Tahap 6

  Pengembangan strategi Tahap 7

  Pemilihan bahan dan pengembangan produk Tahap 8

  Perancangan evaluasi formatif Tahap 10

  Perancangan evaluasi sumatif

Bagan 3.2 Model Penelitian dan Pengembangan Borg dan Gall

  Model penelitian dan pengembangan yang diadaptasi memiliki karakteristik yang berbeda. Model penelitian dan pengembangan menurut Sugiyono dimulai dari tahap analisis masalah, dilanjutkan dengan pengembangan produk melalui proses validasi, revisi, dan uji coba lapangan sampai tahap produksi secara masal. Sedangkan model penelitian dan pengembangan menurut Borg dan Gall dimulai dari penetapan tujuan. Model Borg dan Gall mengembangkan perangkat pembelajaran secara utuh meliputi materi, bahan, dan alat evaluasi berdasarkan tugas belajar dan kebutuhan siswa. Pada model Borg dan Gall juga terdapat tahap revisi produk sama seperti model Sugiyono untuk mengembangkan produk yang berkualitas.

  Pengembangan alat peraga matematika Montessori yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari empat tahapan yang dimodifikasi dari model penelitian dan pengembangan menurut Sugiyono serta Borg dan Gall yang disesuaikan dengan kebutuhan. Peneliti melakukan modifikasi karena terbatasnya waktu penelitian dan menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kalender akademik di SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Empat tahapan penelitian dan pengembangan ini adalah (1) mengkaji standar kompetensi dan materi pembelajaran, (2) menganalisis kebutuhan pengembangan program pembelajaran, (3) memproduksi alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika, (4) validasi produk dan revisi produk, hingga menghasilkan produk berupa alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika materi operasi hitung campuran pada bilangan bulat. Bagan pengembangan alat peraga Montessori dapat dilihat di bagan 3.3.

  Langkah pertama, peneliti mengkaji standar kompetensi untuk menentukan kompetensi dasar dan dilanjutkan dengan memilih materi pembelajaran yang akan mengurangkan bilangan bulat, kompetensi dasar 5.3 Melakukan operasi hitung campuran, materi pembelajaran yang akan dikembangkan adalah operasi hitung campuran meliputi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat.

  Langkah kedua, peneliti melakukan analisis kebutuhan untuk pengembangan program pembelajaran pada siswa kelas IVA dan guru pengampu matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Analisis kebutuhan ini dilakukan dengan tujuan agar peneliti mengetahui karakteristik dan kebutuhan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran matematika untuk keterampilan berhitung pada bilangan bulat. Setelah peneliti melakukan analisis kebutuhan, peneliti mengembangkan program pembelajaran meliputi pengembangan perangkat album dan evaluasi pembelajaran. Langkah ini memberikan pertimbangan pada peneliti dalam menentukan langkah selanjutnya.

  Langkah ketiga, peneliti memproduksi alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika. Langkah ini dimulai dengan membuat desain alat peraga dan dilanjutkan dengan mengumpulkan bahan untuk pembuatan produk pengembangan penelitian. Bahan-bahan yang telah terkumpul kemudian akan diproses dan dikembangkan sesuai dengan desain yang telah peneliti rencanakan. Produksi alat peraga Montessori dilengkapi dengan album pembelajaran yang berisi manual penggunaan alat peraga dan kartu soal.

  Langkah keempat adalah validasi dan revisi produk. Proses validasi oleh para ahli dilakukan satu kali. Validasi produk dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika. Hasil dari validasi oleh para ahli digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh peneliti dalam merevisi produk. Tahap selanjutnya adalah uji coba lapangan terbatas yang dilakukan pada sekelompok siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Peneliti melakukan analisis terhadap hasil uji coba lapangan terbatas. Dari langkah tersebut akan dihasilkan prototipe produk penelitian pengembangan berupa alat peraga papan bilangan bulat.

Bagan 3.3 Prosedur Penelitian dan Pengembangan

  

Tahap I

Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran

Prototipe Produk Alat Peraga Montessori

untuk Keterampilan Berhitung Bilangan Bulat Matematika SD

  

Kelas IV Semester Genap

Tahap III

Produksi Alat Peraga Montessori untuk Keterampilan Berhitung Matematika

  Konsep Album Pembelajaran Kerangka Desain Alat Peraga

  Montessori Pengumpulan Bahan Pembuatan

  

Tahap IV

Validasi dan Revisi Produk

Revisi Produk

Uji Coba

  Lapangan Terbatas Analisis II Validasi Pakar Pembelajaran

  Pakar Alat Peraga Analisis

  I Guru Matematika

Tahap II

Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran

  Analisis Karakteristik Siswa Analisis Standar

  Kompetensi Analisis Sumber Belajar Penetapan Kompetensi Dasar dan Materi

  Pengembangan Perangkat Pembelajaran

3.4 Uji Validasi Produk

  Uji validasi produk dilakukan untuk mengumpulkan data dalam menentukan kualitas produk yang telah dikembangkan oleh peneliti. Data yang diperoleh dari validasi produk kepada pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika digunakan untuk memperbaiki produk. Setelah divalidasi dan diperbaiki, produk diujicobakan kepada sekelompok siswa kelas

  IVA SDN Tamanan Yogyakarta semester genap tahun ajaran 2012/2013. Uji coba tersebut dilakukan untuk mengetahui kualitas produk jika digunakan dalam proses pembelajaran.

  3.4.1 Uji Validasi Ahli

  Tahap pertama uji validasi produk pengembangan dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Masukan yang diperoleh dari hasil penilaian pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk merevisi produk pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IVA semester genap sebelum dilakukan uji coba lapangan terbatas.

  3.4.2 Uji Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas

  Tahap kedua uji validasi produk pengembangan dilakukan dengan uji coba lapangan terbatas pada sekelompok siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Sekelompok siswa dipilih berdasarkan nilai ulangan harian untuk mendapatkan tanggapan dan penilaian dari siswa. Tanggapan dan penilaian siswa memberikan umpan balik tentang kelayakan produk yang dikembangkan ketika digunakan dalam pembelajaran matematika keterampilan berhitung dengan kompetensi dasar melakukan operasi hitung campuran pada bilangan bulat.

3.5 Instrumen Penelitian

3.5.1 Jenis Data

  Data yang didapatkan dari penelitian pengembangan ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa masukan dari penilaian pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, guru matematika, dan siswa kelas

  IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Data kuantitatif diperoleh dari hasil analisis kebutuhan siswa yang berupa kuesioner dan wawancara, hasil analisis validasi ahli berupa kuesioner, serta hasil analisis uji coba lapangan terbatas berupa tes dan kuesioner.

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen merupakan alat ukur dalam penelitian (Sugiyono, 2010:148).

  Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini dibagi berdasarkan sumber perolehan data antara lain instrumen analisis kebutuhan, instrumen validasi ahli, dan instrumen validasi dengan uji coba lapangan terbatas.

3.5.2.1 Instrumen Analisis Kebutuhan

  Dalam melakukan analisis terhadap kebutuhan siswa dan guru, peneliti menggunakan instrumen jenis non tes, yaitu kusioner dan wawancara.

  1. Kuesioner

  Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2010:199). Bentuk kuesioner untuk siswa yang digunakan pada tahapan ini adalah kuesioner tertutup dan bentuk kuesioner untuk guru adalah kuesioner terbuka. Tujuan penggunaan kuesioner pada tahap ini adalah untuk melakukan analisis terhadap kebutuhan siswa. Penyusunan kuesioner didasarkan pada indikator-indikator sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Responden pada kuesioner analisis kebutuhan adalah semua siswa kelas IVA dan memberikan pertimbangan dalam merancang produk pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika. Kisi-kisi dan lembar kuesioner analisis kebutuhan dapat dilihat pada lampiran 1.1, 1.2, dan 1.3 halaman 56-60.

  2. Wawancara

  Wawancara merupakan salah satu bentuk evaluasi jenis non-tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta didik (Arifin, 2009:157). Peneliti menggunakan jenis wawancara semi-terstruktur dengan pertanyaan dan jawaban yang sudah ditentukan sesuai tujuan yang akan dicapai, namun ketika wawancara berlangsung narasumber bisa memberikan jawaban lebih dari satu dan alasan-alasan tertentu. Peneliti melakukan wawancara jika siswa atau guru kurang tepat dalam mengisi kuesioner. Wawancara dilakukan oleh peneliti sebagai bentuk follow up terhadap hasil analisis kuesioner siswa dan guru.

3.5.2.2 Instrumen Validasi Ahli

  Para ahli yang akan memberikan validasi pada penelitian pengembangan ini antara lain pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Peneliti menggunakan instrumen presentasi dan kuesioner untuk mengumpulkan data dari validasi produk oleh para ahli.

  1. Presentasi

  Presentasi produk dilakukan setelah peneliti selesai mengembangkan alat peraga. Presentasi produk disampaikan kepada para ahli yaitu pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika kelas IVA. Tujuan presentasi adalah untuk mendapatkan hasil validasi dari para ahli.

  2. Kuesioner

  Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini mengadopsi model skala Likert (1-5). Peneliti mengeliminasi skala 3 pada kuesioner ini karena skala 3 menunjukkan kriteria “ragu-ragu” dengan artian bahwa skala ini tidak bisa dimasukkan dalam kriteria persetujuan maupun ketidaksetujuan. Tujuan yang ditujukan pada pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Penyusunan kuesioner didasarkan pada indikator-indikator sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Sebelum didistribusikan, kuesioner ini dikonsultasikan kepada dua dosen pembimbing. Kisi-kisi dan lembar kuesioner uji validasi ahli dapat dilihat pada lampiran 2.1, 2.2, 2.3, dan 2.4 halaman 63-69.

3.5.2.3 Instrumen Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas

  Instrumen yang digunakan terdiri dari dua jenis penilaian yaitu jenis tes berupa ulangan harian dan jenis non tes berupa kuesioner.

  1. Tes

  Tes digunakan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi (Arikunto, 2010:266). Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes bentuk objektif dengan jawaban singkat (short answer). Tes objektif jenis jawaban singkat sangat cocok untuk menilai kemampuan yang menuntut proses mental yang tinggi, seperti mengingat, mengenal, dan menerapkan prinsip- prinsip (Arifin, 2009:135). Tes disusun oleh peneliti dalam bentuk kartu soal yang memuat soal-soal operasi hitung pada bilangan bulat. Penyusunan soal tes didasarkan pada kisi-kisi. Peneliti menggunakan pretest dan posttest untuk mengetahui kualitas alat peraga yang dikembangkan. Kisi-kisi, butir soal, dan kunci jawaban dapat dilihat pada lampiran 3.1, 3.2, dan 3.3 halaman 70.

  2. Kuesioner

  Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini mengadopsi model skala Likert (1-5). Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini adalah kuesioner tertutup. Tujuan penggunaan kuesioner pada tahap ini adalah untuk melakukan validasi produk dengan uji coba lapangan terbatas yang ditujukan pada sekelompok siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Penyusunan kuesioner didasarkan pada indikator-indikator sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Sebelum didistribusikan, kuesioner ini dikonsultasikan kepada dua dosen dapat dilihat pada lampiran 4.1 dan 4.2 halaman 73-74.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

3.6.1 Analisis Kebutuhan

3.6.1.1 Kuesioner

  Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini adalah kuesioner terbuka. Siswa diberi kesempatan untuk memilih jawaban lebih dari satu dan memberikan alasan tertentu. Kuesioner diujikan pada semua siswa dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Hasil kuesioner ini selanjutnya akan diolah dalam bentuk tabel rekapitulasi untuk mengetahui hasil analisis kebutuhan dan karakteristik siswa.

3.6.1.2 Wawancara Semi-Terstruktur

  Wawancara semi-terstruktur menggunakan pertanyaan yang menuntut jawaban campuran, ada yang berstruktur ada pula yang bebas (Arifin, 2009:158). Peneliti menggunakan wawancara terhadap siswa dan guru kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Wawancara dilakukan sebagai bentuk follow up terhadap hasil analisis kebutuhan siswa melalui kuesioner.

3.6.2 Validasi Ahli

  3.6.2.1 Presentasi

  Presentasi produk dilakukan dengan cara mengundang para ahli yaitu pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika kelas

  IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Tujuan pelaksanaan presentasi adalah untuk mendapatkan hasil validasi tentang kelayakan alat peraga. Hasil validasi digunakan sebagai bahan revisi pengembangan alat peraga.

  3.6.2.2 Kuesioner

  Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini mengadopsi model skala Likert (1-5). Tujuan penggunaan kuesioner pada tahap ini adalah untuk melakukan uji validasi produk yang ditujukan pada pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1

3.6.3 Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan

3.6.3.1 Tes

  Bentuk tes yang digunakan pada penelitian pengembangan ini adalah tes bentuk objektif dengan jawaban singkat (short answer). Penyusunan soal tes didasarkan pada kisi-kisi yang memuat indikator-indikator sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes digunakan untuk mengetahui kualitas alat peraga Montessori terkait dengan prestasi belajar siswa. Peneliti membagi tes menjadi dua tahap. Tahap yang pertama, siswa diberi pretest untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi bilangan bulat sebelum menggunakan alat peraga papan bilangan bulat. Tahap yang kedua, siswa diberi

  

posttest setelah melalui serangkaian latihan menggunakan alat peraga papan

bilangan bulat.

3.6.3.2 Kuesioner

  Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini adalah kuesioner yang mengadopsi skala Likert (1-5). Kuesioner diujikan kepada sekelompok siswa yang memiliki nilai di bawah KKM pada materi operasi hitung campuran bilangan bulat. Siswa memberikan penilaian dengan memilih satu skala berdasarkan pengalaman yang mereka alami. Pengisian kuesioner dilakukan setelah proses pembelajaran dengan alat peraga selesai dilakukan.

3.7 Teknik Analisis Data

3.7.1 Analisis Kebutuhan

3.7.1.1 Kuesioner

  Teknik analisis kebutuhan siswa melalui pengisian kuesioner didasarkan pada tiga indikator yang dijabarkan dalam sepuluh item pertanyaan. Pada item pertanyaan nomor 1 sampai dengan 3, peneliti menganalisis kebutuhan siswa berdasarkan penggunaan alat peraga pembelajaran selama ini di SDN Tamanan 1, Yogyakarta. Pada item pertanyaan nomor 5 dan 6, peneliti menganalisis karakteristik alat peraga yang digunakan. Pada item pertanyaan nomor 7 sampai dengan 10, peneliti menganalisis hubungan antara penggunaan alat peraga dengan tabel yang dapat dilihat pada lampiran 1.4 halaman 61. Skor yang diperoleh ditunjukkan dalam satuan persentase berdasarkan jumlah jawaban dan responden. Selanjutnya, hasil analisis kebutuhan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan produk berupa alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika dan album pembelajaran.

3.7.2 Teknik Analisis Validasi Produk

  3.7.2.1 Kuesioner

  Skor yang diperoleh dari uji validasi produk menggunakan kuesioner akan dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima berdasarkan acuan menurut Sukardjo (2008:101). Selanjutnya, skor yang masuk disimpulkan dengan satuan persentase.

Tabel 3.1 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

  Menurut Sukardjo

  Interval Skor Kategori Sangat baik ̅ Baik ̅ ̅ Cukup ̅ ̅ Kurang ̅ ̅ Sangat kurang ̅

  Keterangan: Rerata ideal ( ̅ ) : Simpangan baku ideal ( ) :

  : Skor aktual Skala penilaian terdiri dari lima pilihan untuk menilai alat peraga papan bilangan bulat yang dikembangkan, yaitu sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), dan sangat kurang baik (1).

  3.7.2.2 Tes

  Langkah-langkah analisis pretest dan posttest: 1. Penyekoran per item soal. Benar: 1 Salah: 0 2. Menjumlahkan skor yang didapatkan.

  3. Menghitung nilai tes setiap siswa dengan rumus:

  4. Menghitung rata-rata nilai tes semua siswa dengan rumus:

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian (1) kajian standar kompetensi dan materi

  pembelajaran, (2) data analisis kebutuhan dan perangkat pembelajaran, (3) produksi alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung, dan (4) data validasi dan revisi produk.

  4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran

  Pada langkah awal penelitian, peneliti melakukan wawancara dengan guru matematika kelas IVA. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kesulitan yang dialami oleh siswa ketika mengikuti pembelajaran matematika. Berdasarkan hasil wawancara, dapat diketahui bahwa siswa kelas IVA mengalami kesulitan dalam berhitung bilangan bulat. Untuk itu, peneliti memilih standar kompetensi 5. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat, kompetensi dasar 5.3 Melakukan operasi hitung campuran. Materi pembelajaran yang akan dikembangkan adalah operasi hitung campuran meliputi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat. Berdasarkan materi tersebut ada sembilan indikator pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa. Indikator pembelajaran dapat dilihat pada album pembelajaran.

  4.2 Data Analisis Kebutuhan dan Perangkat Pembelajaran

  indikator untuk mengetahui penggunaan alat peraga pembelajaran selama ini, karakteristik alat peraga yang digunakan, dan hubungan antara penggunaan alat peraga dengan konsep matematika. Sebelum diujikan, kuesioner analisis kebutuhan divalidasi oleh dua ahli. Setelah divalidasi, peneliti melakukan revisi kuesioner kemudian diujikan di kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Data analisis kebutuhan diperoleh berdasarkan pengisian kuesioner oleh 30 siswa kelas

  IVA dan satu guru matematika kelas IVA yaitu Bapak Suratno, S.Pd. Pengisian kuesioner dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 13 Februari 2013. Peneliti menggunakan data hasil analisis kebutuhan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan produk berupa alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika dan album pembelajaran.

4.2.1 Data Analisis Kebutuhan Siswa

  Kuesioner analisis kebutuhan siswa terdiri dari sepuluh pernyataan dengan beberapa alternatif jawaban. Berdasarkan kuesioner yang sudah diisi, pada item pertama 80% siswa menjawab bahwa guru pernah menggunakan alat peraga matematika dan 20% siswa menjawab bahwa guru tidak pernah menggunakan alat peraga matematika. Meskipun demikian, alat peraga yang digunakan pada item pertama hanya berupa potongan kertas untuk pembelajaran pecahan saja. Pada item kedua, 96,67% siswa lebih menyukai belajar matematika menggunakan alat peraga sedangkan 1% siswa lebih menyukai belajar matematika tanpa menggunakan alat peraga. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga akan membuat siswa menjadi antusias dalam belajar. Pada item ketiga, 93,33% siswa menjawab pernah menggunakan benda-benda yang ada di sekitar untuk belajar matematika dan 6,67% siswa menjawab tidak pernah. Benda di sekitar yang pernah digunakan siswa adalah potongan kertas untuk mempelajari pecahan. Pada item keempat terkait dengan benda di sekitar yang dapat digunakan untuk belajar matematika, 56,67% siswa memilih kayu, 96,67% siswa memilih batu, dan 30% siswa memilih pasir. Pada item ke-5, terkait dengan ciri pertama alat peraga yang menarik 46,67% memilih warna, 33,33% memilih bentuk, dan 20% memilih bahan. Selanjutnya, ciri kedua alat peraga yang menarik 30% memilih warna, 40% memilih bentuk, dan 30% memilih bahan. Kemudian ciri ketiga alat peraga Dengan demikian, urutan ciri alat peraga dari yang paling menarik yaitu warna, bentuk, dan bahan. Pada item ke-6, 96,67% siswa memerlukan alat peraga yang mudah dibawa sedangkan 3,33% siswa memilih tidak perlu. Pada item ke-7, 96,67% siswa merasa alat peraga mempermudah belajar matematika dan 3,33% siswa merasa tidak mempermudah. Pada item ke-8, 86,67% siswa lebih suka mengetahui kesalah sendiri sedangkan 13,33% siswa lebih suka mengetahui kesalahan karena diberitahu guru atau teman. Pada item ke-9, 36,67% siswa dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan orang lain dan 63,33% siswa tidak dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan. Pada item ke-10, terkait dengan penggunaan alat peraga 13,33% siswa memilih secara individu, 80% siswa memilih secara berkelompok, dan 6,67% siswa memilih secara klasikal.

  Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 membutuhkan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika khususnya pada operasi hitung bilangan bulat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan rekapitulasi hasil kuesioner analisis kebutuhan 30 siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 yang dapat dilihat dalam lampiran 1.4 halaman 61.

4.2.2 Data Analisis Kebutuhan Guru

  Kuesioner analisis kebutuhan guru terdiri dari sepuluh pernyataan dengan beberapa alternatif jawaban. Berdasarkan kuesioner yang sudah diisi, pada item pertama guru menyatakan pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika berupa kertas untuk menjelaskan konsep pecahan dan bangun datar serta kelereng untuk menjelaskan konsep penjumlahan dan pengurangan. Pada item ke-2, menurut guru jika menggunakan alat peraga, siswa akan sangat antusias, tertarik, dan berkonsentrasi dalam kegiatan pembelajaran tetapi jika tidak menggunakan alat peraga, siswa akan kurang fokus dalam kegiatan pembelajaran. Pada item ke-3, guru menyatakan pernah berinisiatif untuk menggunakan alat peraga yang berasal dari lingkungan sekitar sekolah berupa potongan-potongan kertas untuk pembelajaran pecahan. Pada item ke-4, benda-benda yang dapat digunakan untuk membuat alat peraga menurut guru adalah batu, pasir, lidi, dan kelereng. Pada item ke-5, guru menyatakan bahwa rentang biaya pengadaan alat 300.000,00. Pada item ke-6 terkait dengan kriteria prioritas untuk membuat alat peraga, guru memilih kriteria mulai dari bentuk, warna, bahan, ukuran, dan berat. Pada item ke-7, guru menyatakan bahwa penggunaan alat peraga dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep matematika. Pada item ke-8 menurut guru, penggunaan alat peraga dapat membantu siswa mengetahui kesalahannya sendiri. Pada item ke-9, guru juga menyatakan bahwa penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsep matematika secara mandiri. Pada item ke-10, guru membutuhkan alat peraga untuk siswa secara perseorangan maupun berkelompok agar konsep dapat terserap secara optimal. Kuesioner analisis kebutuhan yang diisi oleh guru dapat dilihat pada lampiran 1.3 halaman 58-60.

4.2.3 Pengembangan Perangkat Pembelajaran

  Berdasarkan data analisis kebutuhan siswa menurut kuesioner yang diisi oleh siswa dan guru, peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari alat peraga Montessori dan album pembelajaran. Pengembangan perangkat pembelajaran mengandung empat ciri alat peraga menurut Montessori

4.3 Produksi Alat Peraga Montessori untuk Keterampilan Berhitung

  Peneliti membuat desain alat peraga dan album pembelajaran Montessori berdasarkan kajian materi dan data analisis kebutuhan siswa. Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga dan album pembelajaran Montessori. Bahan-bahan yang sudah terkumpul kemudian diproses menjadi produk.

4.3.1 Desain Alat Peraga Montessori

  Alat peraga didesain berdasarkan lima kriteria alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual. Kriteria menarik tampak pada warna-warna yang digunakan pada alat peraga papan bilangan bulat yaitu warna merah untuk batu positif dan merah putih untuk batu negatif. Kriteria gradasi terdapat pada penggunaan alat yang melibatkan indera peraba dan indera penglihatan serta alat yang dapat digunakan papan yang hanya dapat ditempati oleh satu batu dan kartu soal yang memuat kunci jawaban. Kriteria auto education terdapat pada alat peraga papan bilangan bulat yang dapat digunakan siswa secara mandiri serta dapat melatih kemampuan siswa untuk berhitung bilangan bulat. Kriteria kontekstual terdapat pada pemanfaatan potensi lokal di lingkungan sekolah sebagai bahan dasar pembuatan alat peraga yaitu batu dan papan kayu jati. Untuk itu peneliti mengembangkan alat peraga Montessori dari bahan batu dan kayu jati. Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung bilangan bulat terdiri dari beberapa alat, yaitu (1) papan bilangan bulat, (2) batu positif dan batu negatif, (3) kotak batu, dan (4) kartu soal. Proses pengolahan kayu jati menjadi papan bilangan bulat, kotak batu, dan kotak kartu dilakukan oleh tukang kayu sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan oleh peneliti. Biaya yang diperlukan untuk membuat alat peraga papan bilangan bulat adalah Rp 250.000,00.

  4.3.1.1 Papan bilangan bulat

  Papan bilangan bulat dibuat dari bahan kayu jati tua dengan ukuran panjang 33cm, lebar 33cm, dan ketebalan 2cm. Papan bilangan bulat diberi 100 lubang dengan diameter masing-masing lubang + 2cm dan kedalaman + 0,75cm. Pembuatan lubang dilakukan dengan cara mengebor papan kayu dari titik pusat setiap kotak. Ukuran setiap lubang dibuat sedemikian rupa agar muat ditempati oleh satu batu sebagai salah satu pengendali kesalahan dari alat peraga. Setelah melalui proses pengeboran, papan kayu jati dihaluskan permukaannya menggunakan amplas. Selanjutnya, papan kayu diberi cat plitur agar bisa tahan lama lalu dijemur sampai kering.

  4.3.1.2 Batu positif dan batu negatif

  Untuk menjelaskan konsep bilangan bulat peneliti membagi batu menjadi dua macam yakni batu positif dan batu negatif. Ukuran batu disesuaikan dengan ukuran lubang pada papan bilangan. Bentuk batu bervariasi sesuai dengan bentuk alaminya. Pewarnaan batu dilakukan berdasarkan keinginan siswa. Menurut siswa kelas IVA, warna merah cocok untuk batu positif dan warna putih cocok untuk batu negatif. Selanjutnya peneliti memberi cat warna merah untuk batu positif, sedangkan untuk batu negatif peneliti menggunakan jenis batu alam yang berwarna putih alami. Jumlah batu positif ada 100 dan jumlah batu negatif ada 100. Batu positif dan batu negatif ditempatkan pada wadah bernama kotak batu.

  4.3.1.3 Kotak batu

  Kotak batu digunakan sebagai tempat untuk menyimpan batu positif dan batu negatif. Kotak batu dibuat dari bahan kayu jati. Ukuran kotak batu memiliki panjang 20cm, lebar 10cm, dan tinggi 9cm. Bagian dalam kotak batu disekat menjadi dua bagian untuk batu positif dan batu negatif. Untuk pembuatan tutup kotak batu, peneliti juga memanfaatkan bahan kayu jati. Tutup kotak batu dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang dan lebar yang sama dengan kotak sehingga pas ketika dipasangkan. Pada tutup kotak juga diberi papan pengganjal untuk mencegah tutup jatuh ketika diangkat dengan posisi agak miring.

  4.3.1.4 Kartu soal

  Peneliti membuat 60 kartu soal yang dibagi menjadi sepuluh kategori berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai antara lain (1) pengenalan bilangan bulat, (2) penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif, (3) penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif, (4) penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif, (5) penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif, (6) pengurangan bilangan bulat positif dengan positif, (7) pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif, (8) pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif, (9) pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif, dan (10) operasi hitung campuran bilangan bulat. Kartu soal dibuat dengan ukuran panjang 7,5cm dan lebar 7cm. Kertas yang digunakan untuk mencetak kartu soal jenisnya

ivory . Huruf yang digunakan pada kartu soal berjenis Raavi dengan ukuran 28pt.

Pada setiap kartu soal diberi label pada pojok kanan atas mulai dari A.1 sampai bagian belakang kartu soal terdapat kunci jawaban sebagai alat pengendali kesalahan. Kartu soal dikemas dalam sebuah kotak kartu dan diberi kartu sekat dengan label untuk membedakan setiap kategori soal. Kotak kartu terbuat dari bahan kayu jati dengan ukuran panjang 10cm, lebar 8cm, tinggi depan 5cm, dan tinggi belakang 7,5cm. Perbedaan tinggi antara bagian depan dengan belakang kotak kartu bertujuan agar siswa mudah mengambil kartu soal.

  Operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat memiliki lima sifat. Meskipun demikian, produk hasil penelitian pengembangan ini lebih menekankan empat sifat, yaitu (1) tertutup, (2) komutatif, (3) identitas, dan (4) invers. Sifat tertutup tampak pada proses pengerjaan soal menggunakan alat peraga papan bilangan bulat yang selalu menghasilkan bilangan bulat juga. Sifat komutatif tampak pada penjumlahan batu dengan nilai yang berbeda dan jika ditukar maka hasilnya akan tetap sama. Hal tersebut juga bisa ditemui pada kartu soal yang telah disiapkan. Sifat identitas tampak pada penjumlahan dan pengurangan batu dengan bilangan nol (0) akan selalu menghasilkan bilangan itu sendiri. Unsur invers terdapat pada batu positif yang jika dipasangkan dengan batu negatif hasilnya selalu nol (0) dan tidak akan merubah nilai awalnya.

4.3.2 Album Pembelajaran Montessori

  Album pembelajaran Montessori bukanlah album dalam pengertian sehari- hari yang berarti seperangkat map untuk menyimpan foto-foto melainkan bentuk rencana pembelajaran menurut Montessori. Album pembelajaran papan bilangan bulat mencakup sembilan indikator yang telah ditetapkan oleh peneliti sesuai dengan SK dan KD. Peneliti mengembangkan album pembelajaran yang mengandung komponen, yaitu (1) tujuan langsung, (2) syarat, (3) usia, (4) alat peraga, dan (5) presentasi. Tujuan langsung merupakan tujuan pembelajaran yang harus dicapai sesuai dengan indikator yang ditetapkan. Syarat pada album pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa dalam mempelajari materi. Pada album pembelajaran juga disebutkan alat peraga

  • – yang digunakan beserta gambarnya. Bagian presentasi terdiri dari langkah langkah penggunaan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran secara detil beserta gambarnya. Tersedianya gambar pada album pembelajaran dimaksudkan agar album pembelajaran mudah dipahami oleh pembacanya.

  Album pembelajaran papan bilangan bulat terdiri dari sembilan presentasi. Penulisan album pembelajaran menggunakan jenis huruf Arial dengan ukuran 12pt. Album pembelajaran papan bilangan bulat dicetak menggunakan kertas HVS 80gsm dan dijilid sampul buffalo warna merah. Rincian album pembelajaran papan bilangan bulat dapat dilihat di lampiran 8 halaman 84.

4.4 Data Validasi dan Revisi Produk

  Produk awal yang sudah dikemas kemudian dipresentasikan kepada pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1. Peneliti melakukan validasi untuk mengetahui kualitas alat peraga yang dikembangkan. Validasi dilakukan sesuai dengan pedoman penyekoran skala lima menurut Sukardjo (2008:101).

Tabel 4.1 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

  Menurut Sukardjo

  Interval Skor Kategori Sangat baik ̅ Baik ̅ ̅ Cukup ̅ ̅ Kurang ̅ ̅ Sangat kurang ̅

  Keterangan: ̅ )

  Rerata ideal ( : Simpangan baku ideal ( ) :

  : Skor aktual Skala penilaian terdiri dari lima pilihan untuk menilai alat peraga papan bilangan bulat yang dikembangkan, yaitu sangat baik (5), baik (4), cukup (3), kurang baik (2), dan sangat kurang baik (1). Rumus konversi tersebut digunakan untuk mengolah data kuantitatif menjadi data kualitatif dengan ketentuan sebagai berikut. Diketahui: Skor maksimal ideal = 5 Skor minimal ideal = 1

  ̅ ) Rerata ideal ( = Simpangan baku ideal ( ) = Ditanyakan: Interval skor kategori sangat baik, baik, cukup, kurang baik, dan sangat kurang baik.

  Jawaban: Kategori sangat baik =

  ̅ = = =

  Kategori baik = ̅ ̅

  = = =

  Kategori cukup = ̅ ̅

  = = =

  Kategori kurang baik = ̅ ̅

  = = =

  Kategori sangat kurang baik = ̅

  = = =

  Berdasarkan perhitungan tersebut dapat diperoleh konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif skala lima sebagai berikut.

Tabel 4.2 Kriteria Skor Skala Lima

  Interval Skor Kriteria Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang

4.4.1 Deskripsi Data Validasi Pakar Pembelajaran Matematika

  Pakar pembelajaran matematika yang menjadi validator produk penelitian ini adalah Veronika Fitri Rianasari, M.Si. Beliau merupakan salah satu dosen matematika di program studi Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma. Validasi produk dilakukan satu kali oleh pakar pembelajaran matematika pada tanggal 18 Maret 2013. Aspek yang dinilai dari produk penelitian didasarkan pada lima kriteria alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4)

  

auto education , dan (5) kontekstual yang tertuang dalam 10 item pernyataan pada

  kuesioner. Berdasarkan hasil validasi, kualitas produk mendapat skor rata-rata 4,7 dengan kategori “sangat baik” karena produk yang dikembangkan sudah sesuai dengan kriteria menarik, bergradasi, mengandung auto correction, auto education, dan kontekstual. Pakar pembelajaran matematika memberikan beberapa saran terkait dengan pengembangan produk penelitian. Dari hasil validasi, pakar pembelajaran matematika menyatakan bahwa produk yang dikembangkan sudah baik dan layak digunakan untuk uji coba lapangan tanpa revisi. Tabel hasil validasi pakar pembelajaran matematika dapat dilihat pada lampiran 2.2 halaman 64.

Tabel 4.3 Komentar Pakar Pembelajaran Matematika dan Tindak Lanjut

  No Komentar Tindak Lanjut

  1. Pada kartu bilangan, penulisan Ada penambahan tanda kurung pada

bilangan negatif diberi tanda kurung. penulisan bilangan negatif di beberapa

kartu bilangan.

  2. Kotak sebagai wadah batu dapat diberi Pemberian keterangan “positif” dan keterangan “positif” dan “negatif” “negatif” tidak terlalu berpengaruh pada untuk membedakan tanda bilangan pemahaman konsep matematika tentang operasi hitung bilangan bulat sehingga tidak dilakukan revisi pada kotak batu.

  4.4.2 Deskripsi Data Validasi Pakar Alat Peraga Matematika

  Pakar alat peraga matematika yang menjadi validator produk penelitian ini adalah Andri Anugrahana, M.Pd. Beliau merupakan salah satu dosen pengampu matematika di program studi PGSD Universitas Sanata Dharma. Validasi produk dilakukan satu kali oleh pakar alat peraga matematika pada tanggal 22 Maret 2013. Aspek yang dinilai dari produk penelitian didasarkan pada lima kriteria alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual. Berdasarkan hasil validasi, kualitas produk mendapat skor rata- rata 4,3 dengan kategori “sangat baik” karena produk yang dikembangkan sudah sesuai dengan kriteria menarik, bergradasi, mengandung auto correction,

  

auto education, dan kontekstual. Pakar alat peraga matematika tidak memberikan

  saran terkait dengan pengembangan produk penelitian. Dari hasil validasi, pakar alat peraga matematika menyatakan bahwa produk yang dikembangkan sudah baik dan layak digunakan untuk uji coba lapangan tanpa revisi. Tabel hasil validasi pakar alat peraga matematika dapat dilihat pada lampiran 2.3 halaman 66.

  4.4.3 Deskripsi Data Validasi Guru Matematika

  Guru matematika yang menjadi validator dalam produk penelitian ini adalah Suratno, S.Pd. Beliau adalah guru yang mengampu mata pelajaran matematika di kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Produk divalidasi oleh guru matematika pada tanggal 21 Maret 2013. Aspek yang dinilai dari produk penelitian didasarkan pada lima kriteria alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) Berdasarkan hasil validasi, kualitas produk mendapat skor rata-rata 4,7 dengan kategori “sangat baik” karena produk yang dikembangkan sudah sesuai dengan kriteria menarik, bergradasi, mengandung auto correction, auto education, dan kontekstual. Beliau memberikan beberapa komentar terkait dengan pengembangan produk penelitian. Dari hasil validasi, guru matematika menyatakan bahwa produk yang dikembangkan layak digunakan untuk uji coba lapangan tanpa revisi. Tabel hasil validasi pakar pembelajaran matematika dapat dilihat pada lampiran 2.4 halaman 68.

Tabel 4.4 Komentar Guru Matematika dan Tindak Lanjut

  No Komentar Tindak Lanjut

  1. Bagaimana kalau papan diganti Papan bilangan bulat dibuat dengan

dengan bahan yang lain? memanfaatkan potensi lokal yang masih

banyak terdapat tanaman pohon jati. Papan kayu jati dipilih karena tidak akan rusak ketika melalui proses pengeboran lubang. Dengan demikian, papan tidak bisa diganti dengan bahan yang lain.

  2. Bagaimana kalau batu diganti Ukuran kerikil lebih kecil dan tidak sesuai

dengan kerikil disesuaikan dengan dengan ukuran lubang pada papan. Jika

lingkungan sekitar anak? dilakukan penggantian batu menjadi kerikil, maka aspek pengendali kesalahan pada papan akan hilang. Dengan demikian, tidak dilakukan revisi.

  4.4.4 Revisi Produk

  Berdasarkan validasi lapangan yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran dari ahli pembelajaran matematika dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Montessori menekankan perlunya memahami kejiwaan anak sebagai dasar bagi pendidikan yang tepat dengan cara memberi kesempatan anak untuk mengekspresikan diri mereka secara merdeka (Montessori, 2002:10). Montessori selalu mengembangkan alat peraga dengan metode eksperimental yang menekankan kemerdekaan anak untuk memilih alat peraga yang ditawarkan. Untuk itu, peneliti mengumpulkan semua saran dan mengkonfrontasikan saran- saran tersebut kepada siswa kelas IVA SDN Tamanan 1. Jawaban dari siswa merupakan langkah yang harus dilakukan oleh peneliti. Hasilnya adalah siswa lebih memilih alat peraga papan bilangan bulat apa adanya seperti semula karena sejak awal alat peraga tersebut sudah dibuat sesuai dengan keinginan siswa. Dengan demikian, peneliti tidak banyak melakukan revisi. Peneliti hanya memperbaiki beberapa kesalahan tulisan pada kartu soal saja.

  4.4.5 Data Uji Coba Lapangan Terbatas

  Setelah produk divalidasi oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, dan guru matematika kelas IVA, selanjutnya dilakukan uji coba lapangan secara langsung pada lima siswa yang memiliki nilai di bawah KKM. Uji coba lapangan terbatas dilaksanakan selama empat kali pertemuan pada tanggal 4, 5, 6, dan 8 April 2013 di kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Durasi waktu uji coba lapangan setiap pertemuan adalah 60 menit. Pelaksanaan uji coba lapangan dengan alat peraga dilakukan setelah pelajaran selesai atau sepulang sekolah. Pada pertemuan sebelumnya, peneliti telah memberikan pretest pada siswa. Pembelajaran setiap pertemuan selalu dimulai dengan pengenalan materi oleh peneliti yang bertindak sebagai direktris. Selanjutnya, setiap siswa melakukan latihan menggunakan alat peraga secara mandiri dan siswa yang lainnya bertindak sebagai pengamat. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengamati hal-hal menarik yang terjadi. Pertama, peneliti mendapati adanya perbedaan tingkat pemahaman siswa, ada yang bisa memahami materi dengan satu kali latihan dan ada pula yang harus melakukan latihan berulang kali sampai paham. Sadar akan perbedaan itu, peneliti pun mengambil langkah untuk membantu siswa tersebut dengan cara meminta teman yang sudah bisa untuk menjadi tutor sebayanya. Siswa memerlukan latihan berkali-kali untuk mengembangkan potensinya dalam rangka memperluas pengetahuannya atas dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya (Montessori, 2002:352). Kedua, ketika siswa sedang berlatih dengan alat peraga, peran peneliti sebagai direktris pun perlahan mulai “hilang”. Siswa “asyik” belajar sendiri tanpa menghiraukan keberadaan peneliti. Hal ini menurut Montessori menunjukkan bahwa siswa sedang memusatkan perhatiannya untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru dari lingkungan sekitarnya (Montessori, 2002:346). Ketiga, peneliti melihat bahwa siswa termotivasi untuk terus belajar. Hal tersebut tampak ketika siswa menginginkan tambahan soal untuk latihan. Setelah pembelajaran dengan alat Dokumentasi uji coba lapangan terbatas menggunakan alat peraga papan bilangan bulat dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 78.

4.4.5.1 Data Hasil Kuesioner

  Bentuk kuesioner uji coba lapangan terbatas mengadopsi skala Likert (1-5) dan terdiri dari sepuluh pernyataan. Pengisian kuesioner dilaksanakan setelah empat kali pembelajaran dengan alat peraga papan bilangan bulat. Beberapa aspek yang dinilai adalah (1) kemenarikan alat peraga, (2) gradasi alat peraga, (3) auto

  , (4) auto education, dan (5) kontekstual. Berdasarkan kuesioner yang

  correction telah diisi oleh siswa, produk pengembangan berupa alat peraga papan bilangan bulat memperoleh skor 4,9 dengan kategori “sangat baik” dengan alasan alat peraga yang dikembangkan sesuai dengan kriteria menarik, bergradasi, mengandung auto correction, auto education, dan kontekstual. Rekapitulasi hasil kuesioner uji coba lapangan terbatas dapat dilihat pada lampiran 4.3 halaman 75.

4.4.5.2 Data Hasil Tes

  Selain melakukan validasi produk, peneliti juga memberikan tes terhadap lima siswa yang mempunyai nilai di bawah KKM. Peneliti membagi tes berdasarkan waktu pelaksanaannya yaitu pretest dan posttest. Bentuk soal tes adalah isian singkat dengan jumlah soal sebanyak 20. Penyusunan soal tes sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Soal untuk tes berbeda dengan soal yang terdapat pada kartu dan tidak dilatihkan pada siswa ketika pembelajaran dengan alat peraga papan bilangan bulat berlangsung. Penggunaan tes dalam penelitian ini bertujuan agar peneliti dapat mengetahui pengaruh alat peraga Montessori terhadap hasil posttest siswa setelah mengikuti uji coba. Selama posttest berlangsung, peneliti mendapati bahwa siswa memiliki pola berpikir sesuai dengan alur ketika melakukan uji coba dengan menggunakan alat peraga. Misalnya pada soal 12

  • – (-6) analoginya siswa membayangkan ada 12 batu positif di papan, tetapi tidak ada batu negatif yang bisa dikurangi, jadi harus ditambahkan lawannya sebagai pasangan. Setelah itu siswa baru bisa melakukan pengurangan. Hal tersebut tampak pada kertas buram yang digunakan siswa untuk menulis cara 3.5 halaman 71 dan 72.

Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Pretest dan Posttest

  No Nama Siswa Pretest Posttest 1.

  V 30 100

  2. Y 35 100

  3. C 60 100

  4. D 25 100

  5. A 35 100 Rata-rata

  37 100 Persentase Kenaikan 170,27% Berdasarkan hasil validasi produk oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, dan guru matematika kelas IVA serta hasil uji coba lapangan terbatas pada lima siswa kelas IVA SDN Tamanan 1, dapat disimpulkan bahwa produk alat peraga Montessori dan album pembelajaran dinilai sudah memenuhi kriteria kelayakan. Produk penelitian memperoleh rata-rata skor 4,65 dengan kategori “sangat baik” digunakan dalam pembelajaran matematika khususnya untuk operasi hitung pada bilangan bulat. Berikut ini adalah tabel perolehan skor validasi produk.

Tabel 4.6 Perolehan Skor Validasi Produk

  No Penilaian Skor Kategori

  

1. Pakar pembelajaran matematika 4,7 “Sangat Baik”

  2. Pakar alat peraga matematika 4,3 “Sangat Baik”

  

3. Guru matematika kelas IVA 4,7 “Sangat Baik”

  4. Siswa kelas IVA 4,9 “Sangat Baik” Jumlah skor 18,6 Rerata skor 4,65

  Kategori “Sangat Baik”

  Pada validasi produk, pakar pembelajaran matematika memberikan skor 4,7 dengan kategori “sangat baik”. Pakar alat peraga matematika memberikan skor 4,3 dengan kategori “sangat baik”. Guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 memberikan skor 4,7 dengan katego ri “sangat baik”. Pada uji coba lapangan terbatas untuk lima siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 diperoleh skor 4,9 dengan kategori “sangat baik” untuk penilaian produk. Berdasarkan hasil validasi secara keseluruhan, diperoleh rerata skor 4,65 dengan kategori “sangat baik”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang sangat baik dan layak digunakan dalam pembelajaran matematika keterampilan berhitung bilangan bulat kelas IV SD semester genap.

4.4.6 Penilaian Akhir

  Penilaian akhir dilakukan dengan teknik triangulasi pendapat yang berasal dari guru, siswa, dan peneliti untuk mengonfirmasi klaim perolehan skor validasi produk yang termasuk dalam kategori “sangat baik”. Rangkuman pendapat guru, siswa, dan peneliti setelah uji coba lapangan terbatas menggunakan alat peraga akan dipaparkan sebagai berikut.

4.4.6.1 Guru Matematika Kelas IVA

  Selama empat kali pertemuan uji coba lapangan terbatas, guru turut serta mendampingi pelaksanaan uji coba di kelas. Peneliti memperoleh beberapa pendapat guru terkait dengan pelaksanaan uji coba menggunakan alat peraga papan bilangan bulat. Pertama, guru tampak heran pada minat siswa yang sangat antusias melakukan pembelajaran menggunakan alat peraga papan bilangan bulat. Hal tersebut sangat berbeda dengan kondisi pembelajaran selama jam sekolah berlangsung. Kecenderungan pembelajaran selama ini, siswa tampak bosan dan tidak berminat mengikuti pelajaran di kelas. Kedua, guru memberikan komentar signifikan. Menurut beliau, penggunaan alat peraga yang sesuai dengan kebutuhan siswa harus dipertahankan dan jika perlu ditingkatkan tidak hanya pada satu materi saja mengingat efektivitas alat peraga terhadap prestasi belajar siswa. Ketiga, guru juga menyatakan keheranannya pada konsentrasi siswa yang tinggi dan kedisiplinan siswa ketiga melakukan uji coba menggunakan alat peraga papan bilangan bulat. Ketika uji coba dilaksanakan, siswa tidak mempedulikan peneliti dan guru maupun situasi di sekitarnya. Siswa “asyik” belajar dan tampak menunjukkan aktivitas-aktivitas yang positif. Hal tersebut berlawanan dengan realita pembelajaran di kelas yang menunjukkan bahwa siswa cenderung tidak bisa berkonsentrasi lebih lama dan mempunyai kedisiplinan yang lebih rendah.

  4.4.6.2 Siswa Kelas IVA

  Peneliti telah melakukan wawancara kepada siswa sesudah posttest dilaksanakan. Siswa mengungkapkan perasaannya setelah belajar menggunakan alat peraga papan bilangan bulat. Pertama, siswa merasa senang karena dapat belajar menggunakan alat peraga yang dibuat berdasarkan keinginan dan kebutuhan mereka. Hal tersebut berarti bahwa pengembangan alat peraga haruslah didasarkan pada kebutuhan siswa. Kedua, siswa juga merasa senang karena dapat menggunakan alat peraga seperti sedang melakukan permainan dengan teman sekelompoknya. Mereka mengatakan bahwa pembelajaran menggunakan alat peraga papan bilangan bulat membuat mereka lupa waktu. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa mempunyai konsentrasi yang tinggi ketika belajar menggunakan alat peraga. Ketiga, siswa merasa senang ketika mereka bisa menunjukkan cara mengerjakan soal dengan benar menggunakan alat peraga.

  4.4.6.3 Peneliti

  Setelah melakukan uji coba lapangan terbatas, memperhatikan pendapat guru, dan siswa kelas IVA, peneliti menilai produk yang dikembangkan mempunyai kualitas yang “sangat baik” untuk pembelajaran. Meski alat peraga papan bilangan bulat baru diuji cobakan secara terbatas, produk ini tidak hanya memiliki kualitas yang sangat baik tetapi juga efektif untuk pembelajaran. Alat peraga yang dikembangkan terbukti dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dalam

  

posttest siswa. Dengan demikian, alat peraga papan bilangan bulat sangat

  potensial untuk dikembangkan lebih lanjut secara massal melalui uji coba yang lebih luas.

BAB V PENUTUP Bab ini berisi uraian (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran.

  5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut.

  5.1.1 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat pada siswa kelas IVA di SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mengandung lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual.

  5.1.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat pada siswa kelas IVA di SDN Tamanan 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mempunyai kualitas yang “sangat baik”. Hal tersebut ditunjukkan dengan skor rerata validasi produk dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, guru matematika kelas IVA, dan siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta.

  Alat peraga papan bilangan bulat memperoleh skor rerata 4,65 dan termasuk kategori “sangat baik” ditinjau dari lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, Alat peraga yang dikembangkan terbukti dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dalam berhitung bilangan bulat. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan peningkatan skor posttest siswa.

  5.2 Keterbatasan Penelitian

  Alat peraga papan bilangan bulat telah siap diujicobakan dalam skala yang lebih luas. Meskipun demikian, penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan sebagai berikut.

  5.2.1 Validasi produk hanya dilakukan satu kali.

  5.2.2 Produk hanya divalidasi oleh dosen matematika, seharusnya produk divalidasi oleh dosen ahli pembelajaran Montessori yang sudah mempunyai pengalaman bertahun-tahun.

  5.2.3 Tujuan penelitian pengembangan ini belum sampai pada uji efektivitas melalui penelitian eksperimental dengan kelompok kontrol dan kelompok eksperimental pada sampel yang lebih luas.

  5.2.4 Penelitian ini hanya sampai tahap uji coba lapangan terbatas pada sekelompok siswa yang memiliki nilai di bawah KKM.

5.3 Saran

  Saran untuk peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan alat peraga Montessori untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat adalah sebagai berikut.

  5.3.1 Validasi produk yang dikembangkan sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali.

  5.3.2 Produk seharusnya divalidasi oleh pakar ahli pembelajaran Montessori yang sudah mempunyai pengalaman bertahun-tahun. Ahli dilengkapi agar menjadi beragam, misal pakar alat peraga Montessori, pakar kurikulum Montessori, dan guru Montessori.

  5.3.3 Jika tujuan penelitian pengembangan sampai pada tahap uji efektivitas produk sebaiknya soal pretest dan posttest lebih dicermati dan dilakukan uji validitas. lebih luas.

DAFTAR REFERENSI

  Aisyah, N., dkk. (2007). Pengembangan pembelajaran Matematika SD. Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional. Anitah, S. (2010). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka. Arifin, Z. (2009). Evaluasi pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Aripiyah, N. (2005). Upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN

  Bulakpacing 02 kecamatan Dukuhwaru kabupaten Tegal dalam materi pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret. Skripsi. Tidak

  dipublikasikan. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Frick, T. W., & Joyce Hwee Ling Koh. (2010). Implementing autonomy support: insights from a Montessori classroom. International Journal of Education

  2.2. Gale Education, Religion and Humanities Lite Package. Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA246254348&v=2.1&u=k pt05011&it=r&p=GPS&sw=w Hergenhahn, B. R. & Olson, M. H. (2009). Theories of learning (teori belajar).

  Jakarta: Kencana. Holt, H. (2008). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Kustandi, C., Sutjipto, B. (2011). Media pembelajaran manual dan digital. Bogor: Ghalia Indonesia.

  • – The science behind the genius. New York: Oxford University Press, Inc.

  Lillard, A. S. (2006). Evaluating Montessori education. AAAS Journal. Education Forum 313.

  Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari www.sciencemag.org/cgi/content/full/313/5795/1893/DC1 Lillard, P. P. (1996). Montessori today. New York: Schocken Books. Lillard, P. P. (1997). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books. Manner, J. C. (2007). Montessori vs. traditional education in the public sector: seeking appropriate comparisons of academic achievement. Forum on

  Public Policy: A Journal of the Oxford Round Table . Gale Education, Religion and Humanities Lite Package .

  Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA191817971&v=2.1&u=k pt05011&it=r&p=GPS&sw=w

  Meredith, D. G., Joyce P. G., Walter R. B. (2007). Educational research: an

  th introduction (8 edition) . Boston: Pearson Education, Inc.

  Miyarso, E. (2012).

  Pengembangan alat peraga timbangan untuk mengoptimalkan belajar hitung bagi siswa SD . Skripsi. Tidak

  dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Montessori, M. (2002). The Montessori method. New York: Schocken Books. Munadi, Y. (2010). Media pembelajaran

  • –Sebuah pendekatan baru. Jakarta: Gaung Persada Press.

  Rathunde, K. (2003). A comparison of Montessori and traditional middle schools: motivation, quality of experience, and social context. The NAMTA Journal 28.3:15-20. Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari

  Risjayanti. (2008). Peningkatan motivasi dan minat belajar siswa dalam

  pembelajaran matematika melalui metode Montessori dengan menggunakan alat peraga. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Surakarta:

  Universitas Muhammadiyah Surakarta. Riyanto, Y. (2009). Paradigma baru pembelajaran. Jakarta: Kencana.

  Aditama. Smaldino, S.E., Lowter, D.L., Russell, J.D. (2011). Instructional Technology and

  th media for learning (9 edition). (Arif Rahman, Trans.). New Jersey: Pearson Education Inc.

  Sugiarni, S. (2012). Peningkatan proses dan hasil belajar matematika dengan memanfaatkan media dan alat peraga materi operasi hitung campuran.

  Dinamika, Jurnal Praktik Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Dasar dan Menengah Vol.3 ISSN: 0854-2172:57-58.

  Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari http://i-rpp.com/index.php/dinamika/article/view/13/13 Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sukardjo. (2008). Kumpulan materi evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Sukayati. (2009). Modul matematika SD program BERMUTU: Pemanfaatan alat

  peraga matematika dalam pembelajaran di SD. Yogyakarta: Pusat

  Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika. Sukmadinata, N. S. (2008). Metode penelitian pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Tim Penyusun. (2006). Kurikulum Sekolah Dasar. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.

  • – Tim Penyusun. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

  Walle, J. A. (2008). Matematika Sekolah Dasar dan menengah. Jakarta: Erlangga. Wulandari, E. (2007). Kegiatan dan hasil belajar siswa kelas 1 SD dengan

  metode Montessori pada pokok bahasan membaca dan menulis lambang . Skripsi. Tidak dipublikasikan. bilangan dengan bantuan papan seguin Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  

LAMPIRAN

  Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan

  1.1 Kisi-kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan Indikator Nomor Item Menunjukkan adanya penggunaan alat peraga pembelajaran selama ini. 1, 2, 3, 4 Adanya karakteristik alat peraga yang digunakan. 5, 6 Menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan alat peraga dengan 7, 8, 9, 10 konsep matematika.

  1.2 Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Siswa

1.3 Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Guru

1.4 Rekapitulasi Hasil Analisis Kebutuhan Siswa No.

  Jumlah Pertanyaan Persentase Item Responden

  1 Apakah gurumu pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika?

a. Pernah

  24 80%

  b. Tidak pernah 6 20%

2 Manakah yang lebih kamu sukai?

  a. Belajar matematika menggunakan alat peraga 29 96,67%

  b. Belajar matematika tanpa menggunakan alat 1 3,33% peraga

  3 Apakah kamu pernah menggunakan benda-benda yang ada di sekitarmu untuk belajar matematika? a. Pernah

  28 93,33%

  b. Tidak pernah 2 6,67%

  4 Menurutmu, manakah benda di sekitar yang dapat digunakan untuk belajar matematika? a. Kayu

  17 56,67%

  b. Batu 29 96,67%

  c. Pasir 9 30%

  d. Lainnya: penggaris, buku, kertas, lidi, kelereng

  5 Urutkan ciri-ciri alat peraga dari yang paling menarik sesuai dengam kesukaanmu! Berilah nomor 1 sampai 3 pada tempat yang disediakan, 1 untuk ciri yang paling kamu sukai.

  a. Warna 14 46,67% Bentuk 10 33,33% Bahan

  6 20%

  b. Warna 9 30% Bentuk

  12 40% Bahan 9 30%

  c. Warna 8 26,67% Bentuk 7 23,33% Bahan

  15 50%

  6 Apakah kamu memerlukan alat peraga yang mudah dibawa? a. Perlu

  29 96,67%

  b. Tidak perlu 1 3,33%

  7 Menurutmu, apakah alat peraga memudahkanmu belajar matematika? a. Ya

  29 96,67%

  b. Tidak 1 3,33%

  8 Manakah yang lebih kamu suka saat belajar matematika? a. Mengetahui kesalahanmu sendiri dari alat peraga 26 86,67% saat belajar matematika

  b. Mengetahui kesalahanmu karena diberitahu guru 4 13,33% atau teman ketika belajar matematika

  No.

  Jumlah Pertanyaan Persentase Item Responden menggunakan alat peraga.

  9 Apakah kamu dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan guru atau teman untuk belajar matematika?

a. Dapat

  11 36,67%

  b. Tidak dapat 19 63,33%

10 Manakah yang lebih kamu sukai?

  a. Menggunakan alat peraga secara individu untuk 4 13,33% belajar matematika

  b. Menggunakan alat peraga secara berkelompok 24 80% untuk belajar matematika

  c. Menggunakan alat peraga secara klasikal untuk 2 6,67% belajar matematika

  Lampiran 2. Instrumen Validasi Ahli

2.1 Kisi-kisi Kuesioner untuk Para Ahli Kakakteristik Alat

  Nomor Indikator Peraga Item

  Menarik Menunjukkan bahwa warna alat peraga menarik

  1 bagi siswa. Menunjukkan bahwa bentuk alat peraga menarik

  2 bagi siswa. Bergradasi Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera.

  3 Menunjukkan bahwa alat peraga dapat digunakan

  4 pada jenjang kelas yang berbeda.

  Auto correction Menunjukkan bahwa siswa mampu mengetahui

  5 kesalahannya sendiri. Menunjukkan bahwa siswa mampu membetulkan

  6 kesalahannya sendiri.

  Auto education Menunjukkan bahwa siswa dapat menggunakan alat

  7 peraga secara mandiri. Menunjukkan bahwa siswa dapat melatih

  8 kemampuan berhitungnya secara mandiri. Kontekstual Menunjukkan adanya pemanfaatan potensi daerah.

  9 Menunjukkan adanya kemungkinan pengembangan

  10

alat peraga di lingkungan masyarakat.

2.2 Kuesioner untuk Pakar Pembelajaran Matematika

2.3 Kuesioner untuk Pakar Alat Peraga Matematika

2.4 Kuesioner untuk Guru Matematika

OPERASI HITUNG PADA BILANGAN BULAT

  • – (-19) = … 17) 2 + 3 – (-4) = … 18) -15 + 7
  • – 20 = … 19)

  14) = … 9) 26 – 9 = … 10)

  12 – (-4) + (-18) = … 20) -11

  Lampiran 3. Uji Coba Lapangan Terbatas dengan Tes

  3.1 Kisi-kisi Soal Tes Matematika Indikator Nomor Item Menyelesaikan soal penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif 1, 2 Menyelesaikan soal penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif 3, 4 Menyelesaikan soal penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif 5, 6 Menyelesaikan soal penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif

  7, 8 Menyelesaikan soal pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif

  9, 10 Menyelesaikan soal pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif 11, 12 Menyelesaikan soal pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif 13, 14 Menyelesaikan soal pengurangan bilangan bulat positif dengan positif 15, 16 Menyelesaikan soal yang berkaitan dengan operasi hitung campuran pada bilangan bulat

  17, 18, 19, 20

  3.2 Soal Pretest dan Posttest

  Nama : No. Presensi : Hari/tanggal : 1) 11 + 5 = … 2) 7 + 14 = … 3) 8 + (- 3) = … 4) 19 + (-

  • – (-14) = … 13) -11 – 5 = … 14) -7
  • – 14 = … 15) -3 – (-8) = … 16) -32
  •   32) = … 5) - 3 + 8 = … 6) - 32 + 19 = … 7) -11 + (- 5) = … 8) -7 + (-

      13

      11 – (-5) = … 12)

      7

    • – 16 = … 11)
    • – (-9) + 20 = …

    3.3 Kunci Jawaban

      1) 11 + 5 = 16 2) 7 + 14 = 21 3) 8 + (-3) = 5 4) 19 + (-32) = -13 5) -3 + 8 = 3 6) -32 + 19 = -13 7) -11 + (-5) = -16 8) -7 + (-14) = -21 9) 26 – 9 = 17 10)

      13

      11 – (-5) = 16 12)

      7

    • – (-14) = 21 13) -11 – 5 = -16 14) -7
    • – 14 = -21 15) -3 – (-8) = 5 16)
    • – (-19) = -13 17) 2 + 3 – (-4) = 9 18) -15 + 7
    • – 20 = -28 19)

      12 – (-4) + (-18) = -2 20) -11

    • – 16 = -3 11)
    • – (-9) + 20 = 18

    3.4 Hasil Pretest

    3.5 Hasil Posttest

      Lampiran 4. Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas

    4.1 Kisi-kisi Kuesioner untuk Uji Coba Lapangan Terbatas Kakakteristik Alat

      Nomor Indikator Peraga Item

      Menarik Menunjukkan bahwa warna alat peraga menarik

      1 bagi siswa. Menunjukkan bahwa bentuk alat peraga menarik

      2 bagi siswa. Bergradasi Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera.

      3 Menunjukkan bahwa alat peraga dapat digunakan

      4 pada jenjang kelas yang berbeda.

      Auto correction Menunjukkan bahwa siswa mampu mengetahui

      5 kesalahannya sendiri. Menunjukkan bahwa siswa mampu membetulkan

      6 kesalahannya sendiri.

      Auto education Menunjukkan bahwa siswa dapat menggunakan alat

      7 peraga secara mandiri. Menunjukkan bahwa siswa dapat melatih

      8 kemampuan berhitungnya secara mandiri. Kontekstual Menunjukkan adanya pemanfaatan potensi daerah.

      9 Menunjukkan adanya kemungkinan pengembangan

      10

    alat peraga di lingkungan masyarakat.

    4.2 Kuesioner untuk Siswa

    4.3 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas Penilaian No Pernyataan

      1

      2

      4

      5 1. Warna papan bilangan bulat menarik.

      5 2. Bentuk papan bilangan bulat menarik.

      1

      4

      3. Saya menggunakan indera penglihatan dan peraba saat

      5 berlatih dengan papan bilangan bulat.

      4. Saya dapat menggunakan papan bilangan bulat untuk

      5 belajar operasi hitung bilangan bulat sampai ratusan.

      5. Saya dapat mengetahui kesalahan yang saya lakukan

      1

      4 tanpa bantuan orang lain.

      6. Saya dapat membetulkan kesalahan yang saya lakukan

      1

      4 tanpa bantuan orang lain.

      7. Saya dapat menggunakan papan bilangan bulat secara

      2

      3 mandiri.

      8. Saya dapat berhitung bilangan bulat menggunakan papan

      5 bilangan bulat tanpa bantuan guru atau teman.

      9. Saya mudah menemukan bahwa batu untuk pembuatan

      5 alat peraga ada di lingkungan sekitar sekolah.

      10. Saya mudah menemukan kayu untuk pembuatan alat

      5 peraga ada di lingkungan sekitar sekolah.

      Skor siswa per skala 20 225

      Jumlah skor 245 Rerata Skor 4,9 Kategori “Sangat Baik”

      Lampiran 5. Surat Permohonan Ijin Penelitian ke SD

      Lampiran 6. Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian dari SD

      Lampiran 7. Dokumentasi Uji Coba Lapangan Terbatas

    Gambar 1. Desain alat peraga papan bilangan

      Papan : panjang = 33cm lebar = 33cm tinggi = 2cm

      Lubang : diameter = 2cm kedalaman = + 0,75cm jumlah = 100 lubang

      Bahan : papan kayu jati

      

    Gambar 2. Desain kotak batu

      Kotak : panjang = 20cm lebar = 10cm tinggi = 8cm

      Bahan : kayu jati

      

    Gambar 3. Desain kotak kartu soal

      Panjang : 8cm Lebar : 6cm T.depan : 4cm T.belakang : 6cm Bahan : kayu jati

      Batu positif (warna merah) Batu negatif (warna putih) tampak depan tampak samping

      

    Gambar 4. Batu positif dan batu negatif

    Gambar 5. Batu positif dan batu negatif

      

    Gambar 6. Kartu soal

      

    Gambar 7. Siswa sedang mengerjakan soal pretest secara individu tanpa

    menggunakan alat peraga (Sabtu, 30 Maret 2013)

    Gambar 8. Peneliti sedang mengenalkan alat peraga papan bilangan bulat

    kepada siswa (Kamis, 4 April 2013)

      

    Gambar 9. Siswa sedang melakukan operasi hitung penjumlahan pada

    bilangan bulat menggunakan alat peraga (Jumat, 5 April 2013)

    Gambar 10. Siswa sedang melakukan operasi hitung pengurangan pada

    bilangan bulat menggunakan alat peraga (Sabtu, 6 April 2013)

      

    Gambar 11. Siswa sedang melakukan operasi hitung campuran pada

    bilangan bulat menggunakan alat peraga (Senin, 8 April 2013)

    Gambar 12. Siswa sedang mengerjakan soal posttest secara individu tanpa

    menggunakan alat peraga (Selasa, 9 April 2013)

      Lampiran 8. Album Pembelajaran Montessori

    ALBUM PEMBELAJARAN MONTESSORI

    “PAPAN BILANGAN BULAT”

      A. Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar

      B. Kelas/Semester : IV/Genap

      C. Mata Pelajaran : Matematika

      D. Standar Kompetensi :

      5. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat

      E. Kompetensi Dasar :

      5.3 Melakukan operasi hitung campuran

      F. Indikator :

      5.3.1 Menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif

      5.3.2 Menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif

      5.3.3 Menjumlahkan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif

      5.3.4 Menjumlahkan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif

      5.3.5 Mengurangkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif

      5.3.6 Mengurangkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif

      5.3.7 Mengurangkan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif

      5.3.8 Mengurangkan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif

      5.3.9 Melakukan operasi hitung campuran

    OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT:

      (F.1-F.5)

      negatif (I.1-I.5)  Operasi hitung campuran bilangan bulat (J.1-J.10)

      o Pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat

      positif (H.1-H.5)

      o Pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat

      negatif (G.1-G.5)

      o Pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat

       Pengantar bilangan bulat (A.1-A.10)  Penjumlahan bilangan bulat

      o

    Penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif

      negatif (E.1-E.5)  Pengurangan bilangan bulat

      o Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat

      (D.1-D.5)

      o

    Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif

      (C.1-C.5)

      o

    Penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif

      (B.1-B.5)

      o

    Pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif

      

    PENGANTAR

    A. Pengantar bilangan bulat (A.1-A.10)

      

    Tujuan langsung : Mengenalkan nilai bilangan bulat positif dan

      bilangan bulat negatif kepada anak

      Syarat : Anak sudah mengenal macam-macam bilangan

      bulat

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengenalkan alat peraga yang akan digunakan.

      6. Direktris mengambil kartu soal A.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan 1 dengan batu”.

      7. Anak mengambil 1 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      8. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      9. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      10. Direktris mengambil kartu soal A.2, meletakkan di atas karpet dan berkata , “Tunjukkan bilangan -1 dengan batu”.

      11. Anak mengambil 1 batu negatif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      12. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      13. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      14. Direktris mengambil kartu soal A.3, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan 10 dengan batu”.

      15. Anak mengambil 10 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      16. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      17. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      18. Direktris mengambil kartu soal A.4, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan -10 dengan batu”.

      19. Anak mengambil 10 batu negatif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      20. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      21. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      22. Direktris mengambil kartu soal A.5, meletakkan di atas karpet dan menunjukkan bilangan 1 pada papan menggunakan batu, “Ini satu”.

      23. Direktris menambahkan 1 batu negatif (dibawah batu positif) pada papan bilangan sambil berkata, “Satu ditambah negatif satu”

      24. Direktris berkata, “Jika batu positif dapat diletakkan berpasangan dengan batu negatif, maka hasilnya adalah nol”.

      “Jadi, satu ditambah negatif satu sama dengan nol” (direktris mengambil batu yang berpasangan dari papan dan meletakkannya pada kotak).

      25. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      26. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya.

      27. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan dengan kartu soal A.6

      28. Direktris mengambil kartu soal A.7, meletakkan di atas karpet dan menunjukkan bilangan 1 pada papan menggunakan batu, “Ini satu”.

      29. Direktris menambahkan 5 batu negatif (dibawah batu positif) pada papan bilangan sambil berkata, “Satu ditambah negatif lima”

      30. Direktris mengambil batu yang berpasangan dari papan dan meletakkannya pada kotak kemudian berkata, “Jadi, satu ditambah negatif lima sama dengan negatif empat” (direktris menunjuk 4 batu negatif pada papan).

      31. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      32. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya.

      33. Direktris mengambil kartu soal A.8, meletakkan di atas karpet dan menunjukkan bilangan 1 pada papan menggunakan batu, “Ini satu”.

      34. Direktris menunjuk pada papan sambil berkata, “Lihat, tidak ada batu negatif pada papan, jadi kita tidak bisa mengurangi batu negatif dari papan”.

      35. Direktris berkata, “Kita harus membawa 1 pasang batu agar bisa melakukan pengurangan”.

      36. Direktris mengambil 1 batu negatif dari papan, “Jadi, 1 – (-1) = 2”. Direktris menunjuk 2 batu positif yang tersisa.

      37. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      38. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya.

      39. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan dengan kartu soal A.9

      40. Direktris mengambil kartu soal A.10, meletakkan di atas karpet dan menunjukkan bilangan 1 pada papan menggunakan batu, “Ini satu”.

      41. Direktris menunjuk pada papan sambil berkata, “Lihat, tidak ada batu negatif pada papan, jadi kita tidak bisa mengurangi batu negatif dari papan”.

      42. Direktris berkata, “Kita harus menambahkan 5 batu positif dan 5 bat u negatif agar bisa melakukan pengurangan”.

      43. Direktris mengambil 5 batu negatif dari papan, “Jadi, 1 – (-5) = 6”. Direktris menunjuk 6 batu positif yang tersisa.

      44. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      45. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya.

      46. Direktris dapat meminta anak melakukan pengulangan mulai dari A.1 dan membiarkan anak mengetahui kesalahannya dengan melihat kunci jawaban di balik kartu soal.

      47. Jika anak sudah mengenal nilai bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    PENJUMLAHAN BILANGAN BULAT

    A. Penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif (B.1-B.5)

      

    Tujuan langsung : Mengenalkan konsep penjumlahan antar

      bilangan bulat positif

      Syarat : Anak sudah mengetahui nilai bilangan bulat

      positif dan bilangan bulat negatif

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal B.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan 13 dengan batu”.

      6. Anak mengambil 13 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Direktris berkata, “Kita akan melakukan penjumlahan 13 + 6”.

      Direktris meminta anak untuk mengambil 6 batu positif dan meletakkannya pada papan.

      8. Direktris meminta anak menghitung jumlah batu pada papan.

      9. Jadi, 13 + 6 = 19 10. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      11. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      12. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan sampai kartu soal B.5 dan membiarkan anak mengetahui kesalahannya dengan melihat kunci jawaban di balik kartu soal.

      13. Jika anak sudah mengetahui konsep penjumlahan antar bilangan bulat positif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    B. Penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif (C.1-C.5)

      

    Tujuan langsung : Mengenalkan konsep penjumlahan bilangan

      bulat positif dengan bilangan bulat negatif

      

    Syarat : Anak sudah mengetahui konsep penjumlahan

      antar bilangan bulat positif

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari melakukan latihan penjumlahan bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal C.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan 9 dengan batu”.

      6. Anak mengambil 9 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Direktris berkata, “Kita akan melakukan penjumlahan 9 + (-4)”.

      Direktris meminta anak untuk mengambil 4 batu negatif dan meletakkannya di bawah baris batu positif pada papan.

      8. Direktris menunjuk batu yang berpasangan sambil berkata, “Ambillah batu yang berpasangan dan letakkan pada kotak”.

      9. Direktris meminta anak menghitung jumlah batu pada papan.

      10. Jadi, 9 + (-4) = 5 11. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      12. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      13. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan sampai kartu soal C.5 dan membiarkan anak mengetahui kesalahannya dengan melihat kunci jawaban di balik kartu soal.

      14. Jika anak sudah mengetahui konsep penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    C. Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif (D.1-D.5)

      

    Tujuan langsung : Mengenalkan konsep penjumlahan bilangan

      bulat negatif dengan bilangan bulat positif

      Syarat : Anak sudah mengetahui konsep penjumlahan

      bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari melakukan latihan penjumlahan bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal D.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan -4 dengan batu”.

      6. Anak mengambil 4 batu negatif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Direktris berkata, “Kita akan melakukan penjumlahan -4 + 9”.

      Direktris meminta anak untuk mengambil 9 batu positif dan meletakkannya di bawah baris batu negatif pada papan.

      8. Direktris menunjuk batu yang berpasangan sambil berkata, “Ambillah batu yang berpasangan dan letakkan pada kotak”.

      9. Direktris meminta anak menghitung jumlah batu pada papan.

      10. Jadi, -4 + 9 = 5 11. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      12. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      13. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan sampai kartu soal D.5 dan membiarkan anak mengetahui kesalahannya dengan melihat kunci jawaban di balik kartu soal.

      14. Jika anak sudah mengetahui konsep penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    D. Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif (E.1-E.5)

      Tujuan langsung : Mengenalkan konsep penjumlahan antar

      bilangan bulat negatif

      Syarat : Anak sudah mengetahui konsep penjumlahan

      bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif maupun sebaliknya

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari melakukan latihan penjumlahan bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal E.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan -5 dengan batu”.

      6. Anak mengambil 5 batu negatif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Direktris berkata, “Kita akan melakukan penjumlahan -5 + (-7)”.

      Direktris meminta anak untuk mengambil 7 batu negatif dan meletakkannya pada papan.

      8. Direktris meminta anak menghitung jumlah batu pada papan.

      9. Jadi, -5 + (-7) = -12 10. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      11. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      12. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan sampai kartu soal E.5 dan membiarkan anak mengetahui kesalahannya dengan melihat kunci jawaban di balik kartu soal.

      13. Jika anak sudah mengetahui konsep penjumlahan antar bilangan bulat negatif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    PENGURANGAN BILANGAN BULAT

    A. Pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif (F.1-F.5)

      Tujuan langsung : Mengenalkan konsep pengurangan antar

      bilangan bulat positif

      Syarat : Anak sudah mengetahui konsep penjumlahan

      bilangan bulat

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari melakukan latihan pengurangan bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal F.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan 13 dengan batu”.

      6. Anak mengambil 13 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Direktris berkata, “Kita akan melakukan pengurangan 13 - 6”.

      Direktris meminta anak untuk mengurangi 6 batu positif dari papan dan meletakkannya pada kotak.

      8. Direktris meminta anak menghitung sisa batu pada papan.

      9. Jadi, 13 - 6 = 7 10. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      11. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      12. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan dengan kartu soal F.2 dan F.3

      13. Direktris mengambil kartu soal F.4, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan 10 dengan batu”.

      14. Anak mengambil 10 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      15. Direktris berkata, “Kita akan melakukan pengurangan 10 – 15.

      Lihat! Hanya ada 10 batu positif, masih kurang 5 batu positif lagi. Kita harus membawa 5 pasang batu agar bisa melakukan pengurangan”. Direktris meminta anak untuk membawa 5 pasang batu lalu meletakkannya pada papan.

      16. Direktris berkata, “Sekarang lakukan pengurangan sesuai soal”.

      Anak mengurangi 15 batu positif dari papan dan meletakkannya pada kotak.

      17. Direktris meminta anak menghitung sisa batu pada papan.

      18. Jadi, 10 - 15 = -5 19. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

    20. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      21. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan dengan kartu soal F.5

      22. Jika anak sudah mengetahui konsep pengurangan antar bilangan bulat positif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    B. Pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif (G.1-G.5)

      

    Tujuan langsung : Mengenalkan konsep pengurangan bilangan

      bulat positif dengan bilangan bulat negatif

      Syarat : Anak sudah mengetahui konsep pengurangan

      antar bilangan bulat positif

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari melakukan latihan pengurangan bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal G.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan 13 dengan batu”.

      6. Anak mengambil 13 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Direktris berkata, “Kita akan melakukan pengurangan 13 - (-6).

      Lihat! Tidak ada batu negatif, hanya ada batu positif di papan. Kita harus membawa 6 pasang batu agar bisa melakukan pengurangan”. Direktris meminta anak untuk membawa 6 pasang batu lalu meletakkannya pada papan.

      8. Direktris berkata, “Sekarang lakukan pengurangan sesuai soal”.

      Anak mengurangi 6 batu negatif dari papan dan meletakkannya pada kotak.

      9. Direktris meminta anak menghitung sisa batu pada papan.

      10. Jadi, 13 – (-6) = 19 11. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

    12. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      13. Direktris dapat meminta anak untuk melakukan latihan sampai kartu soal G.5 dan membiarkan anak mengetahui kesalahannya dengan melihat kunci jawaban di balik kartu soal.

      14. Jika anak sudah mengetahui konsep pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    C. Pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif (H.1-H.5)

      

    Tujuan langsung : Mengenalkan konsep pengurangan bilangan

      bulat negatif dengan bilangan bulat positif

      Syarat : Anak sudah mengetahui konsep pengurangan

      bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari melakukan latihan pengurangan bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal H.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan -5 dengan batu”.

      6. Anak mengambil 5 batu negatif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Direktris berkata, “Kita akan melakukan pengurangan -5 – 7.

      Lihat! Tidak ada batu positif, hanya ada batu negatif di papan. Kita harus membawa 7 pasang batu agar bisa melakukan pengurangan”. Direktris meminta anak untuk membawa 7 pasang batu lalu meletakkannya pada papan.

      8. Direktris berkata, “Sekarang lakukan pengurangan sesuai soal”.

      Anak mengurangi 7 batu positif dari papan dan meletakkannya pada kotak.

      9. Direktris meminta anak menghitung sisa batu pada papan.

      10. Jadi, -5

    • – 7 = -12 11. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

    12. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      13. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan sampai kartu soal H.5 dan membiarkan anak mengetahui kesalahannya dengan melihat kunci jawaban di balik kartu soal.

      14. Jika anak sudah mengetahui konsep pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    D. Pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif (I.1-I.5)

      Tujuan langsung : Mengenalkan konsep pengurangan antar

      bilangan bulat negatif

      Syarat : Anak sudah mengetahui konsep pengurangan

      bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif maupun sebaliknya.

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari melakukan latihan pengurangan bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal I.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan -4 dengan batu”.

      6. Anak mengambil 4 batu negatif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Direktris berkata, “Kita akan melakukan pengurangan -4 – (-9).

      Lihat! Hanya ada 4 batu negatif di papan, masih kurang 5 batu negatif lagi. Kita harus membawa 5 pasang batu agar bisa melakukan pengurangan”. Direktris meminta anak untuk membawa 5 pasang batu lalu meletakkannya pada papan.

      8. Direktris berkata, “Sekarang lakukan pengurangan sesuai soal”.

      Anak mengurangi 9 batu negatif dari papan dan meletakkannya pada kotak.

      9. Direktris meminta anak menghitung sisa batu pada papan.

      10. Jadi, -4

    • – (-9) = 5 11. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      12. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      13. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan dengan kartu soal I.2 dan I.3

      14. Direktris mengambil kartu soal I.4, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Tunjukkan bilangan -25 dengan batu”.

      15. Anak mengambil 25 batu negatif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      16. Direktris berkata, “Kita akan melakukan pengurangan -25 – (- 7)”.

      17. Anak mengurangi 7 batu negatif dari papan lalu meletakkannya pada kotak.

      18. Direktris meminta anak menghitung sisa batu pada papan.

      19. Jadi, -25

    • – (-7) = -18 20. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

    21. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      22. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan dengan kartu soal I.5

      23. Jika anak sudah mengetahui konsep pengurangan antar bilangan bulat negatif, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    OPERASI HITUNG CAMPURAN BILANGAN BULAT

    A. Operasi hitung campuran pada bilangan bulat (J.1-J.10)

      Tujuan langsung : Mengenalkan konsep operasi hitung campuran

      pada bilangan bulat

      Syarat : Anak sudah mengetahui konsep penjumlahan

      dan pengurangan pada bilangan bulat

      Usia : 9-10 tahun Alat :

      1. Papan bilangan 2. 1 set batu positif dan batu negatif 3. 1 set kartu soal

      4. Kertas dan alat tulis

      Presentasi : 1. Direktris menyiapkan lokasi kerja dengan membuka karpet.

      2. Direktris membawa alat dan diletakkan di atas karpet.

      3. Direktris mengundang anak sambil berkata “Mari melakukan latihan operasi hitung campuran bilangan bulat bersama Ibu”.

      4. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris.

      5. Direktris mengambil kartu soal J.1, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Hitunglah 1 + 1 – (-1)”.

      6. Anak mengambil 1 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      7. Anak mengambil 1 batu positif lagi dan meletakkannya pada papan bilangan.

      8. Di papan hanya ada batu positif. Anak membawa 1 pasang batu lalu meletakkannya di papan agar bisa melakukan pengurangan. Anak mengurangi 1 batu negatif dari papan.

      9. Jadi, 1 + 1 – (-1) = 3 10. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      11. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      12. Direktris mengambil kartu soal J.2, meletakkan di atas karpet dan berkata, “Hitunglah 6 + (-3) – 5”.

      13. Anak mengambil 6 batu positif dan meletakkannya pada papan bilangan mulai dari kiri atas.

      14. Anak mengambil 3 batu negatif dan meletakkannya pada papan bilangan.

      15. Anak mengambil setiap batu yang berpasangan dan meletakkannya pada kotak.

      16. Di papan hanya ada 3 batu positif, masing kurang 2 batu positif.

      Anak membawa 2 pasang batu dan meletakkannya di papan agar bisa melakukan pengurangan. Anak mengurangi 5 batu positif dari papan.

      17. Jadi, 6 + (-3) – 5 = -2 18. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya.

      19. Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian meminta anak mengembalikan batu ke kotak semula.

      20. Direktris dapat meminta anak melakukan latihan untuk kartu soal J.3

    • – J.10 dan membiarkan anak mengetahui kesalahannya dengan melihat kunci jawaban di balik kartu soal.

      21. Jika anak sudah menguasau konsep operasi hitung campuran pada bilangan bulat, direktris meminta anak mengembalikan alat dan karpet ke tempat semula.

    CURRICULUM VITAE

      Esterlita Pratiwi lahir di Gunungkidul, 3 Mei 1992. Pada tahun 1997-2003, peneliti memperoleh pendidikan dasar di SD Negeri Banjarharjo Sleman. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP Negeri I Ngemplak Sleman, tamat pada tahun 2006. Pendidikan menengah atas diperoleh di SMA Negeri I Kalasan Sleman, tamat pada tahun 2009. Pada tahun 2009, peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

      Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti berbagai macam kegiatan di luar perkuliahan. Pada tahun 2009, peneliti mengikuti kegiatan Parade Gamelan Anak Se DIY-Jateng sebagai panitia. Pada tahun 2010, peneliti mendapatkan peran sebagai sekretaris dalam kegiatan Maria Montessori

      

    Workshop dan kegiatan Inisiasi Prodi, peran moderator dalam kegiatan lomba

      debat mahasiswa, devisi humas pada kegiatan Parade Gamelan Anak, dan peserta dalam workshop Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. Pada tahun 2011, peneliti berpartisipasi dalam pelatihan pembuatan administrasi pembelajaran tematik sebagai peserta, kegiatan workshop dongeng sebagai panitia ini, kegiatan P4MRI-USD sebagai peserta, kegiatan lomba Public Speaking sebagai finalis, dan berperan sebagai sekretaris dalam kegiatan Parade Gamelan Anak Se-Jawa. Pada tahun 2012, peneliti berperan sebagai Co-Fasilitator PPKM I, peran Peer Tutor pada perkuliahan PBPD sesi metode pembelajaran Montessori, ketua pada kegiatan Maria Montessori Workshop, peserta pada National Education Training, dan bendahara pada kegiatan UNA Seminar and Workshop on Anti Bias

      Curriculum and Teaching .

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (136 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD.
0
33
299
Implementasi alat peraga pembagian berbasis metode Montessori pada pembelajaran matematika materi pembagian kelas II SD Kanisius Kenalan Magelang.
4
13
253
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta.
1
15
138
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta.
1
26
135
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta.
3
38
152
Pengembangan alat peraga matematika materi perkalian untuk siswa dengan lambat belajar di SD Muhammadiyah Sagan Yogyakarta
0
2
200
Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD
0
6
297
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan berbicara bahasa Indonesia kelas V SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta - USD Repository
0
0
178
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan menyimak unsur-unsur cerita bahasa Indonesia kelas V SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta - USD Repository
0
0
200
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan membaca bahasa Indonesia kelas V SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta - USD Repository
0
0
135
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan membaca sekilas bahasa Indonesia kelas V SD Kanisius Gayam Yogyakarta - USD Repository
0
0
199
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
0
0
150
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan berbicara bahasa Indonesia kelas V SD Kristen Kalam Kudus Yogyakarta - USD Repository
0
0
168
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
0
0
133
Pengembangan alat peraga ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta - USD Repository
0
0
132
Show more