PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA KEPING PECAHAN TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV SLB B KARNNAMANOHARA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pend

Gratis

0
0
363
4 months ago
Preview
Full text

  

PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA KEPING PECAHAN

TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK

BAHASAN PECAHAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI

KELAS IV SLB B KARNNAMANOHARA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Matematika

Disusun oleh :

Theresia Riza Setiyarini

  

NIM : 071414065

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2011

  

PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA KEPING PECAHAN

TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK

BAHASAN PECAHAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI

KELAS IV SLB B KARNNAMANOHARA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Matematika

Disusun oleh :

Theresia Riza Setiyarini

  

NIM : 071414065

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2011

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

  Pen gk er di l an t erk ejam adal ah m em bi ar k an otak yan g cem er lan g m en jadi bu dak t ubu h yan g m alas, yan g m en dah ul u k an isti r ah at sebelu m lel ah .

  • M ari o T egu h - Sk r ipsi in i kuper sem bahkan un tuk : Yesus Kr istus dan Bun da M ar ia Kedua or an gtuak u M ar kus H er iyam ton o d an Lucia Supr ihatini Kak ak, Ad ik, Saudar a, Sahabat dan A lm am ater ku

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Theresia Riza Setiyarini NIM : 071414065

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:

  PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA KEPING PECAHAN TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV SLB B KARNNAMANOHARA.

  Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Yogyakarta, 15 Agustus 2011

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas sentuhan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat akhir dalam menempuh ujian sarjana pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA, Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu:

  1. Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

  2. Drs. Aufridus Atmadi, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan

  IPA Universiatas Sanata Dharma

  3. Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd selaku Ketua Program Studi pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma.

  4. Prof. Dr. St. Suwarsono selaku dosen pembimbing, terima kasih atas segala kesabaran, bimbingan, masukan, dan perhatian yang diberikan kepada penulis.

  5. Terima kasih kepada kedua orangtua yang telah berjuang untuk membiayai pendidikanku, serta memberikan segala arti hidup, kesabaran dan kasih sayang yang tak henti-hentinya dicurahkan kepada penulis.

  6. Bu Watik, selaku kepala sekolah SLB B Karnnamanohara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di SLB B Karnnamanohara.

  7. Y. Retnoningsih, S.Pd. selaku guru kelas dasar 4 SLB B Karnnamanohara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengajar di kelas, serta segala masukannya.

  8. Thomas Sugiharto, M.T. sebagai dosen pembimbing akademik, terima kasih atas segala pendampingannya selama penulis menempuh kuliah di Universitas Sanata Dharma.

  9. Drs. A. Sardjana dan Dr. Susento yang telah memeberikan masukan bagi terselesaikannya tugas akhir ini.

  10. I Gede Andrie Wicaksana atas segala pendampingan, motivasi dan bantuannya.

  11. Segenap dosen dan karyawan di Prodi Pendidikan Matematika yang telah mendukung proses studiku di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  12. Terima kasih untuk kakakku Gregorius Rinto Setyanto yang selalu mendukung studiku, mendampingi langkah hidupku, dan memberikan makna- makna kehidupan bagiku.

  13. Adikku Agustinus Rian Setyanto, kakakku Nanang Widiatmoko dan Fransiska Rita Setyorini serta keponakanku Bernadeta Narika Rosari yang selalu memberi warna dalam hidupku.

  14. Siswa kelas dasar 4 SLBB Karnnamanohara tahun 2010/2011, yang telah mendukung pelaksanaan penelitian serta memberikan pengalaman yang sangat berguna bagi penulis.

  15. Gregorius Kriswan dan Sisil sahabat serta patner dalam penelitian yang telah bekerjasama dengan penuh kesabaran demi teraksanya penelitian.

  16. Untuk sahabat-sahabat seperjuanganku Riska, Aca, Erna, Yeni, Ika, Kanis, Dian, Zu terimakasih untuk semua semangat dan kebersamaan kita selama ini.

  17. Seluruh teman-teman P.Mat 07 yang sudah memberikan warna dalam menyelesaikan studi di pendidikan matematika.

  18. Segenap dosen dan karyawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Pengembangan dari skripsi ini akan lebih menyempurnakan dan memajukan dunia pendidikan matematika. Penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi pembaca.

  Penulis

  

ABSTRAK

Riza, Theresia. 2011. Pengaruh Penggunaan Alat Peraga Keping Pecahan

Terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Pecahan Dalam Pembelajaran Matematika di Kelas IV SLB B Karnnamanohara .

  Skripsi STRATA 1 (S-1). Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh penggunaan alat peraga keping pecahan terhadap minat siswa pada pokok bahasan pecahan dalam pembelajaran matematika di kelas IV SLB B Karnnamanohara. Pengaruh yang akan dilihat dibatasi pada minat dan hasil belajar siswa pada pokok bahasan pecahan.

  Subyek yang dipilih dalam penelitian ini adalah 6 siswa kelas dasar IV SLB B Karnnamanohara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksploratif dengan paradigma kualitatif. Metode eksporatif dilakukan untuk menggali dan mengembangkan alat peraga keping pecahan yang diterapkan pada pembelajaran di kelas. Paradigma kualitatif digunakan untuk menganalisis data. Data dikumpulkan melalui tiga cara yaitu (1)pengamatan(pengamatan dilakukan untuk melihat aktivitas yang menunjukkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran);(2)pengisian angket(siswa diminta mengisi angket yang berisi pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan minat siswa);(3)dokumentasi(pembelajaran didokumentasikan dengan video dan foto, hasil rekaman yang diperoleh digunakan untuk membantu menganalisis data pengamatan dan data angket). Instrumen yang digunakan meliputi lembar pengamat, angket minat, dan soal pretes dan postes. Sebelum digunakan untuk penelitian, seluruh instrumen divalidasi dengan teknik expert judgment.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga keping pecahan memberikan pengaruh(1) meningkatkan minat belajar siswa;(2)menciptakan antusiasme belajar siswa;(3)meningkatkan keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Hasil belajar siswa yang dilihat dari tes sebelum dan sesudah pembelajaran dengan alat peraga keping pecahan menunjukkan peningkatan. Saran yang dapat diberikan bagi penelitian serupa adalah (1)melakukan observasi terhadap karakteristik dari masing-masing siswa;(2)mempelajari dengan sungguh-sungguh cara berkomunikasi siswa dan membuat siswa beradaptasi dengan cara berbicara peneiti. Kata kunci : alat peraga keping pecahan, minat, hasil belajar.

  ABSTRACT

Riza, Theresia. 2011. Implementing Fraction Tiles Visual Aids to Increase the

  Learning Interest and Learning Outcomes of the Fourth-Grade Students of Karnnamanohara Handicapped School on the Fraction Learning Topic in the Mathematics Subject. Thesis. Strata I (S-1). Yogyakarta: Mathematics Education Study Program, Department Mathematics and Science Education, Teachers Training and Education Faculty, Sanata Dharma University.

  This research aimed to observe the implementation of fraction tiles visual aids fraction learning topic in the subject of Mathematics fourth grade students of Karnnamanohara Handicapped School. The influences were restrieted on the student s interest and learning outcomes on the topic of fraction .

  The research subject used six fourth-grade students of SLB B Karnamanohara. This research used an explorative method with a qualitative paradigm in order to investigate and develop the fraction tiles visual aids applied in the classroom. The qualitative paradigm was applied for the data analyses. The data were collected through three methods, 1) an observation (to observe the activities showing the interest in the learning process), 2) questionnaires, (which involved

  ), 3) a documentation with photos and videos ( to analyze the data from the observation and questionnaires). The research instruments were field notes, questionnaires, and pre-test and post-test. Expert Judgment was applied to validate the instruments before being applied.

  The research results showed that the implementation of Fraction Tiles Visual in the learning process. The researcher also recommended two suggestions for similar research; 1) a researcher should observe every researcher should really understand how the students communicate and how to help the students adapt to the way the researcher speaks.

  Keyword: fraction tiles visual aid, learning interest, learning outcomes.

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ............................................................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................... iii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................ vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ............................................................................................................................... vii KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii ABSTRAK ............................................................................................................. xi

  

ABSTRACT ............................................................................................................ xii

  DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiii DAFTAR TABEL ................................................................................................ xix DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xxi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xxviii

  BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 5 C. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 5 D. Pembatasan Masalah ......................................................................................... 6

  E. Pembatasan Istilah ............................................................................................. 6

  F. Manfaat penelitian ............................................................................................. 8

  BAB II KAJIAN TEORI ......................................................................................... 9 A. Minat ................................................................................................................. 9

  1. Pengertian Minat ......................................................................................... 9

  2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat ............................................... 10

  B. Pengertian Belajar ........................................................................................... 13

  C. Matematika ...................................................................................................... 13

  D. Belajar Matematika ......................................................................................... 14

  E. Pecahan .......................................................................................................... 14

  1. Pengertian Pecahan ..................................................................................... 14

  2. Mengenal Konsep Pecahan .......................................................................... 16

  3. Membandingkan Pecahan ............................................................................ 17

  4. Operasi pada pecahan ................................................................................... 18

  F. Alat Peraga ...................................................................................................... 18 G. Alat Peraga Keping Pecahan .......................................................

  1. Operasional Alat Peraga Keping Pecahan untuk Pemahaman Konsep ..... 21

  2. Operasional Alat Peraga Keping Pecahan untuk Membandingkan Pecahan ......................................................................... 21

  3. Operasional Alat Peraga Keping Pecahan untuk

  Penjumlahan Pecahan................................................................................ 22

  4. Operasional Alat Peraga Keping Pecahan untuk Pengurangan Pecahan................................................................................ 22

  5. Operasional Alat Peraga Keping Pecahan untuk Perkalian Pecahan ..................................................................................... 23

  6. Operasional Alat Peraga Keping Pecahan untuk Pembagian Pecahan ................................................................................... 24

  H. Anak Berkelainan ........................................................................................... 24

  I. Prinsip Pendidikan Anak Berkelainan ............................................................ 25

  1. Prinsip Kasih Sayang ................................................................................ 25

  2. Prinsip Layanan Individual ....................................................................... 26

  3. Prinsip Kesiapan ....................................................................................... 26

  4. Prinsip Keperagaan ................................................................................... 26

  5. Prinsip Motivasi ........................................................................................ 27

  6. Prinsip Belajar dan Bekerja Dalam kelompok .......................................... 27

  7. Prinsip Ketrampilan .................................................................................. 27

  8. Prinsip Penanaman dan Penyempurnaan Sikap ........................................ 28 J. Anak Berkelainan Pendengaran ...................................................................... 28

  1. Pengertian Tunarungu ............................................................................... 28

  2. Klasifikasi Tunarungu ............................................................................... 29

  3. Dampak Ketunarunguan............................................................................ 31

  4. Kemampuan Bicara dan Bahasa Anak Tunarungu ................................... 32

  5. Karakteristik Kecerdasan Anak Tunarungu .............................................. 34 K. Hasil Belajar .................................................................................................... 35 L. Kerangka Berpikir ........................................................................................... 36

  BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 37 A. Jenis Penelitian ................................................................................................ 37 B. Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................................... 37 C. Subyek Penelitian ............................................................................................ 37 D. Variabel Penelitian .......................................................................................... 38

  1. Variabel Bebas .......................................................................................... 38

  2. Variabel Terikat ........................................................................................ 38

  E. Jenis Data ........................................................................................................ 38

  1. Data Proses Pembelajaran ......................................................................... 39

  2. Data Hasil Belajar Siswa ........................................................................... 39

  3. Data Minat Siswa ...................................................................................... 39

  F. Metode Pengumpulan Data ............................................................................. 39

  1. Pengamatan .............................................................................................. 40

  2. Pengisian Angket Oleh Siswa ................................................................... 40

  3. Dokumentasi ............................................................................................. 40

  G. Instrumen Penelitian........................................................................................ 41

  1. Instrumen Pembelajaran ............................................................................ 41

  2. Instrument Penelitian ................................................................................ 41

  H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ..................................................................... 45

  1. Tahap Persiapan ........................................................................................ 45

  2. Tahap Pelaksanaan .................................................................................... 46

  3. Tahap Analisis Data .................................................................................. 46

  I. Rencana Kegiatan............................................................................................ 46 J. Alat Peraga yang Digunakan ........................................................................... 46 K. Evaluasi Pembelajaran .................................................................................... 47 L. Analisis Data dan Penarikan Kesimpulan ....................................................... 47

  1. Analisis Data ............................................................................................. 47

  2. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen dan Tes ............................. 47

  3. Analisis Proses Pembelajaran ................................................................... 48

  4. Analisis Data Hasil Belajar ....................................................................... 49

  5. Analisis Data Minat Siswa ........................................................................ 49

  BAB IV. PELAKSANAAN PENELITIAN, HASIL PENELITIAN, dan ANALISIS DATA dan PEMBAHASAN ............................................. 51 A. Pelaksanaan Penelitian .................................................................................... 51

  1. Sebelum Penelitian .................................................................................. 51

  2. Selama Penelitian .................................................................................... 56

  3. Sesudah Penelitian ................................................................................... 59

  B. Hasil Penelitian ............................................................................................... 59

  1. Hasil Video Pembelajaran ....................................................................... 59

  2. Hasil Pretes Dan Postes ........................................................................... 63

  3. Hasil Pengamatan Minat Siswa ............................................................... 69

  4. Hasil Angket Minat Siswa ....................................................................... 71

  C. Analisis Data Dan Pembahasan ...................................................................... 73

  1. Data Minat Siswa..................................................................................... 73

  2. Data Hasil Belajar Siswa ....................................................................... 165

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 186 A. Kesimpulan .................................................................................................. 186 B. Saran .............................................................................................................. 187 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 189 LAMPIRAN ........................................................................................................ 191

  DAFTAR TABEL Tabel 01. Lembar pengamatan minat siswa .................................................

  42 Tabel 02. Format angket minat yang diisi siswa ...........................................

  44 Tabel 03. Penggolongan nilai pernyataan pada angket .................................

  45 Tabel 04. Kategori minat siswa berdasarkan skor yang diperoleh dari pengisisan angket .......................................................................... 50 Tabel 05. Jawaban pretes dan postes siswa ...................................................

  63 Tabel 06. Nilai pretes dan postes siswa ........................................................

  68 Tabel 07. Hasil pengisian lembar pengamatan minat siswa hari 1 ...............

  69 Tabel 08. Hasil pengisian lembar pengamatan minat siswa hari 2 ...............

  69 Tabel 09. Hasil pengisian lembar pengamatan minat siswa hari 3 ...............

  70 Tabel 10. Hasil pengisian lembar pengamatan minat siswa hari 4 ...............

  71 Tabel 11. Hasil pengisian angket minat siswa ..............................................

  71 Tabel 12. Persentase skor minat siswa ..........................................................

  73 Tabel 14. Minat siswa dari pertemuan 1-4 .................................................... 155 Tabel 14. Patokan klasifikasi minat siswa .................................................... 163 Tabel 16. Jawaban pretes siswa bagian soal pilihan ganda ........................... 166 Tabel 17. Jawaban pretes siswa bagian soal isian ......................................... 166 Tabel 18. Niai pretes siswa dan kategorinya ................................................. 176 Tabel 19. Jawaban postes siswa bagian soal PG ........................................... 176 Tabel 20. Jawaban postes siswa bagian soal isian ........................................ 177

  Tabel 21. Niai postes siswa dan kategorinya ................................................ 182 Tabel 22. Akumulasi jumlah nilai jawaban pretes dan postes per sub pokok bahasan ........................................................................ 183

  DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Keping pecahan yang menunjukkan setengah .........................

  77 Gambar 12. Siswa aktif menyampaikan pendapat .......................................

  83 Gambar 19. Arya menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan soal dalam LKS ........................................................................

  82 Gambar 18. Arya menyampaikan ide untuk memotong apel ........................

  81 Gambar 17. Tata angkat tangan untuk menjawab pertanyaan ......................

  81 Gambar 16. Tata mengerjakan LKS ............................................................

  80 Gambar 15. Tata memperhatikan penjelasan peneliti ..................................

  79 Gambar 14. Guru membantu siswa memahami perintah pada LKS ...........

  78 Gambar 13. Guru membantu memberi penjelasan pada siswa ....................

  77 Gambar 11. Siswa memperhatikan penjelasan peneliti ...............................

  17 Gambar 2. Keping pecahan yang menunjukkan bukan setengah ..............

  76 Gambar 10. Siswa mengitung jumlah potongan apel ..................................

  73 Gambar 9. Siswa menyampaikan ide dalam menggunakan alat peraga ....

  24 Gambar 8. Seting pelaksanaan pembelajaran di kelas ...............................

  23 Gambar 7. Peragaan keping pecahan dalam pembagian pecahan .............

  23 Gambar 6. Peragaan keping pecahan dalam perkalian pecahan ................

  22 Gambar 5. Peragaan keping pecahan dalam pengurangan pecahan ..........

  21 Gambar 4. Peragaan keping pecahan dalam menjumlahkan pecahan .......

  21 Gambar 3. Peragaan keping pecahan dalam membandingkan pecahan ....

  84

  Gambar 20. Arya memperhatikan penjelasan peneliti ..................................

  89 Gabmar 30. Putri menggunakan alat peraga keping pecahan untuk mengerjakan LKS ....................................................................

  98 Gambar 36. Siswa fokus dalam mengikuti pelajaran ....................................

  97 Gabmar 35. Siswa berebut menjawab pertanyaan dari peneliti ....................

  96 Gambar 34. Tika menjawab pertanyaan dari peneliti ...................................

  93 Gambar 33. Guru membantu menjelaskan pada Tika ...................................

  92 Gambar 32. Putri menjawab pertanyaan .......................................................

  92 Gambar 31. Putri memperhatikan penjelasan peneliti ..................................

  89 Gambar 29. Dela menjawab pertanyaan .......................................................

  84 Gambar 21. Arya menjawab pertanyaan dari peneliti ...................................

  89 Gambar 28. Dela menjawab pertanyaan .......................................................

  89 Gambar 27. Dela memperhatikan penjelasan peneliti ...................................

  88 Gambar 26. Sikap dela dalam mengikuti pelajaran ......................................

  88 Gambar 25. Dela menggunakan keping pecahan saat bekerja dalam kelompok .......................................................................

  87 Gabmar 24. Dela mengutak-atik keping pecahan .........................................

  86 Gambar 23. Dela mengutak-atik keping pecahan ........................................

  85 Gambar 22. Dela maju menghitung potongan apel .......................................

  99 Gambar 37. Tata menghitung bagian pada keping pecahan ......................... 100 Gambar 38. Tata menghitung bagian pada keping pecahan ......................... 101 Gambar 39. Tata maju mengambil keping pecahan ...................................... 101

  Gambar 40. Ekspresi Tata saat menjawab dengan benar .............................. 101 Gambar 41. Ekspresi Tata saat sudah paham ................................................ 101 Gambar 42. Tata berdiskusi dengan teman kelompoknya menggunakan keping pecahan ........................................................................ 102 Gambar 43. Tata memperhatikan penjelasan peneliti ................................... 102 Gambar 44. Tata menjawab pertanyaan dari peneliti.................................... 103 Gambar 45. Tata menunjukkan jawaban pada keping pecahan .................... 103 Gambar 46. Tata bertanya tentang perintah dalam LKS yang belum dipahami ........................................................................ 104 Gambar 47. Ekspresi kecewa Tata ................................................................ 104 Gambar 48. Arya menggunakan keping pecahan ......................................... 106 Gambar 49. Arya mencari jawaban dari pertanyaan peneliti dengan keping pecahan ........................................................................ 106 Gambar 50. Sikap Arya dalam memperhatikan pelajaran ............................ 107 Gambar 51. Arya dan Tata bercanada ketika Dela mengerjakan di depan ... 108 Gambar 52. Arya sedang serius memperhatikan penjelasan pendamping kelompok ............................................................. 108 Gambar 53. Arya angkat tangan untuk menjawab pertanyaan ..................... 109 Gambar 54. Arya mengerjakan soal di papan tulis ....................................... 109 Gambar 55. Dela dan Arya menggunakan keping pecahan .......................... 111 Gambar 56. Dela menjawab pertanyaan dari peneliti ................................... 112 Gambar 57. Dela mengerjakan soal di papan tulis ........................................ 112

  Gambar 58. Dela mengerjakan soal di papan tulis ....................................... 113 Gambar 59. Putri memperhatikan Dela yang sedang mengerjakan di papan tulis ............................................................................ 115 Gambar 60. Putri menjawab pertanyaan dari peneliti ................................... 115 Gambar 61. Putri maju mengerjakan di papan tulis ...................................... 115 Gambar 62. Tika menggunaakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS 117 Gambar 63. Tika menghitung jumlah bagian pada keping pecahan ............. 117 Gambar 64. Tika menghitung jumlah bagian pada keping pecahan ............. 117 Gambar 65. Tika angkat tangan untuk menjwab pertanyaan ........................ 118 Gambar 66. Nana menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS ................................................................... 120 Gambar 67. Nana memperhatikan penjelasan peneliti .................................. 120 Gambar 68. Tata menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS .................................................................... 123 Gambar 69. Tata memeperhatikan penjelasan peneliti dengan serius .......... 124 Gambar 70. Arya asik bermain keping pecahan ketika peneliti menjelaskan ............................................................... 126 Gambar 71. Arya melihat-lihat keluar kelas ................................................. 126 Gambar 72. Arya menggunakan keping pecahan saat bekerja dalam kelompok ....................................................................... 127 Gambar 73. Dela mengambil keping pecahan yang sedang digunakan untuk menjelaskan ................................................................... 129

  Gambar 74. Dela menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS ................................................................... 130 Gambar 75. Dela menjawab pertanyaan dari peneliti ................................... 131 Gambar 76. Putri mengerjakan soal pada LKS tanpa keping pecahan ......... 132 Gambar 77. Putri menghitung banyak bagian pada keping pecahan ............ 133 Gambar 78. Putri berdiskusi dengan Dela mengenai jawaban pertanyaan peneliti ................................................................... 133 Gambar 79. Putri angkat tangan untuk mengerjakan di papan tulis ............ 134 Gambar 80. Tika menggunakan keping pecahan saat bekerja dalam kelompok ................................................................................. 135 Gambar 81. Tika menjawab pertanyaan peneliti........................................... 136 Gambar 82. Tika angkat tangan untuk mengerjakan di papan tulis .............. 136 Gambar 83. Sikap Nana saat teman-teman berebut untuk mengerjakan di papan tulis ............................................................................ 137 Gambar 84. Nana menggunakan keping pecahan saat bekerja dalam kelompok ................................................................................. 138 Gambar 85. Tata maju mengamati keping pecahan yang sedang dipakai peneliti ......................................................................... 140 Gambar 86. Tata berjalan ke tempat duduk Arya untuk mengamati keping pecahan yang sedang dipakai Arya .............................. 140 Gambar 87. Tata menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan

  LKS .......................................................................................... 141

  Gambar 88. Tata tunjuk jari untuk menjawab pertanyaan ............................ 142 Gambar 89. Tata hendak membenarkan jawaban Dela ................................. 142 Gambar 90. Arya menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS . 144 Gambar 91. Arya menggunakan keping pecahan untuk menjawab pertanyaan dari peneliti ............................................................ 144 Gambar 92. Arya menyampaikan idenya untuk memgimpitkan dua keping pecahan yang digunakan ....................................... 144 Gambar 93. Arya maju kedepan untuk mengerjakan soal di papan tulis tanpa diminta oleh guru ........................................................... 144 Gambar 94. Dela mengambil keping pecahan yang dipakai untuk menjelaskan ................................................................... 146 Gambar 95. Dela mengutak-atik keping pecahan untuk menjawab pertnayaan peneliti ................................................................... 146 Gambar 96. Dela menggunkan keping pecahan untuk mengerjakan LKS .................................................................... 146 Gambar 97. Dela memperhatikan peneliti yang sedang menjelaskan ........... 147 Gambar 98. Dela menajawab pertanyaan peneliti......................................... 147 Gambar 99. Putri mengerjakan LKS tanpa keping pecahan ......................... 149 Gambar 100. Putri bersedia maju ke depan mengerjakan soal di papan tulis .................................................................... 150 Gambar 101. Putri menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti................. 150 Gambar 102. Putri memberi ide kepada Dela dalam menggunakan

  keping pecahan ........................................................................ 150 Gambar 103. Tika memperhatikan peneliti dengan sungguh-sungguh ......... 152 Gambar 104. Tika menjawab pertanyaan peneliti......................................... 152 Gambar 105. Tika angkat tangan untuk menjawab pertanyaan .................... 152 Gambar 106. Nana memperhatikan peneliti yang sedang menjelaskan ........ 154

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Angket minat yang diisi Nana .................................................. 191 Lampiran 2. Angket minat yang diisi Putri ................................................... 192 Lampiran 3. Angket minat yang diisi Dela ................................................... 193 Lampiran 4. Angket minat yang diisi Tata ................................................... 194 Lampiran 5. Angket minat yang diisi Arya ................................................... 195 Lampiran 6. Angket minat yang diisi Tika ................................................... 196 Lampiran 7. Lembar pengamatan minat siswa hari pertama ........................ 197 Lampiran 8. Lembar pengamatan minat siswa hari kedua ............................ 200 Lampiran 9. Lembar pengamatan minat siswa hari ketiga ........................... 203 Lampiran 10. Lembar pengamatan minat siswa hari keempat ...................... 206 Lampiran 11. Hasil pretes ............................................................................. 209 Lampiran 12. Hasil postes ............................................................................. 233 Lampiran 13. LKS hari pertama.................................................................... 251 Lampiran 14. LKS hari kedua ....................................................................... 257 Lampiran 15. LKS hari ketiga ....................................................................... 263 Lampiran 16. LKS hari keempat ................................................................... 269 Lampiran 17. Transkrip video hari pertama .................................................. 273 Lampiran 18. Transkrip video hari kedua ..................................................... 286 Lampiran 19. Transkrip video hari ketiga ..................................................... 297 Lampiran 20. Transkrip video hari keempat ................................................. 306

  Lampiran 21. RPP hari pertama .................................................................... 311 Lampiran 22. RPP hari kedua ....................................................................... 317 Lampiran 23. RPP hari ketiga ....................................................................... 323 Lampiran 24. RPP hari keempat ................................................................... 329

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan alat peraga merupakan salah satu inovasi pembelajaran yang

  sedang banyak dikembangkan di dunia pendidikan matematika. Dengan alat peraga, siswa dibantu untuk membawa pemikirannya dari yang konkrit menuju pemikiran yang lebih abstrak. Hal ini sangat diperlukan terutama bagi siswa sekolah dasar. Selain membantu siswa menuju pada pemikiran yang abstrak, pembelajaran dengan alat peraga akan lebih melibatkan siswa dalam prosesnya. Anak dapat mengkonstruksi pengetahuanya berdasarkan kegiatan yang mereka lakukan. Dengan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, pengetahuan yang diperoleh anak akan bersifat lebih lama untuk diingat. Pembelajaran dengan alat peraga juga akan terasa lebih hidup dan menyenangkan sehingga dapat menarik minat siswa untuk belajar matematika.

  Menurut teori perkembangan kognitif yang dikemukakan Jean Piaget, anak usia 7 11 tahun (usia SD) masih pada tahap perkembangan operasional konkrit.

  Siswa SD (termasuk siswa SDLB) belum memasuki tahap berpikir abstrak yang baik, pemikiran siswa masih terikat dengan objek konkrit yang dapat ditangkap oleh panca indra. Pada tahap perkembangan ini, pola berpikir logik anak didasarkan pada

  2

  manipulasi fisik dari obyek-obyek konkrit (Hudojo, 1988). Siswa kelas IV SLB B Karnnamanohara berada dalam tahap perkembangan koperasional konkrit. Mereka membutuhkan alat untuk membantu dalam belajar matematika. Alat peraga juga memenuhi 8 prinsip pendidikan bagi anak berkelainan yang diungkapkan oleh Efendi(2006), yaitu prinsip kasih sayang, layanan individual, kesiapan, keperagaan, motivasi, belajar dan bekerja dalam kelompok, ketrampilan, serta penanaman dan penyempurnaan sikap.

  Salah satu materi metematika yang diajarkan di kelas IV SLB B Karnnamanohara ini adalah pecahan, konsep dari materi ini cukup abstrak dan sulit dimengerti oleh siswa. Siswa dapat menuliskan lambang pecahan, mengetahui langkah yang harus dikerjakan untuk membandingkan atau mengoperasikan pecahan, tetapi sebenarnya pemahaman siswa mengenai konsep pecahan sediri belum kuat.

  Dalam mengajarkan materi pecahan, guru sudah menggunakan media pembelajaran, tetapi hanya sebatas pada gambar di papan tulis saja. Guru belum menggunakan alat peraga konkrit dalam membantu pemahaman siswa. Dengan menggunakan alat peraga, anak akan dibantu dalam mencapai konsep abstrak dari pecahan.

  Banyak alat peraga yang telah dirancang untuk membantu siswa dalam mempelajari pecahan, salah satunya adalah alat peraga keping pecahan. Alat peraga keping pecahan dapat menjadi benda konkrit yang mewakili konsep dari pecahan. Alat peraga keping pecahan terbuat dari mika transparan dan berbentuk persegi, persegi panjang dan lingkaran. Bahan dari alat peraga keping pecahan yang bersifat transparan membuat alat peraga ini dapat dimanipulasi sehingga memperlihatkan

  3

  konsep pecahan serta proses operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Nilai pecahan yang diwakili oleh alat peraga keping pecahan ditunjukkan dengan berapa bagian yang diarsir dari keseluruhan. Konsep penjumlahan dan pengurangan juga dapat diperlihatkan dalam pembelajaran dengan alat peraga keping pecahan.

  Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran di kelas dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

  Dengan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, minat siswa terhadap pembelajaran di kelas akan terbentuk. Minat merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi belajar siswa. Minat yang baik, akan membuat siswa merasa senang dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Dengan demikian, hasil belajar siswa juga akan terpengaruh oleh minat siswa.

  Inovasi-inovasi pembelajaran yang muncul pada umumnya ditujukan untuk pembelajaran matematika di sekolah normal. Padahal di luar sekolah normal, banyak anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dan menjalani pendidikan di sekolah luar biasa. Anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian dan metode pembelajaran untuk membantu mereka dalam belajar. Anak tunarungu adalah satu jenis anak berkebutuhan khusus. Anak tunarungu mengikuti pendidikan di Sekolah Luar Biasa bagian B, atau sering disingkat SLB B. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, anak tunarungu terkadang mengalami kesulitan dalam belajar. Hal ini dikarenakan informasi-informasi yang mereka terima dalam proses pembelajaran kurang begitu jelas. Anak tunarungu akan lebih mengandalkan indra penglihatannya.

  4 Karena itu terkadang mereka sering disebut dengan insan pemata. Jika dilihat dari

  perkembangan kognitifnya, perkembangan kognitif anak tunarungu sama dengan perkembangan anak normal. Jika anak tunarungu mengalami kesulitan belajar, hal itu disebabkan keterbatasan yang mereka miliki. Anak tunarungu mengalami kesulitan jika harus memahami sesuatu yang hanya satu kali diucapkan. Butuh pengulangan agar mereka benar-benar mengerti apa yang disampaikan orang lain. Dalam pembelajaran di kelas, guru harus mengulangi perintah-perintah atau materi yang ingin disampaikan agar anak mengerti.

  Dari hasil observasi di kelas dasar IV SLB B Karnnamanohara, guru belum menggunakan alat peraga dalam pembelajaran di kelas. Dalam mengajarkan matematika di kelas guru menggunakan metode drill dan pendekatan personal. Metode drill adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan mengulang materi yang diajarkan sampai siswa mengerti. Hal ini dilakukan karena anak tunarungu mengalami kesulitan dalam menangkap informasi yang disampaikan secara lisan. Dalam pembelajaran di kelas guru perlu mengulang sampai siswa mengerti. Pendekatan personal adalah bahwa dalam belajar di kelas, guru harus memeperhatikan kemampuan muridnya satu persatu dan anak dapat belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dalam pembelajaran, guru harus pintar memilih cara agar masing-masing anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

  Dengan latar belakang yang telah diuraikan di atas, pembelajaran pada pokok bahasan pecahan pada anak tunarungu di kelas IV SLB B Karnnamanohara akan

  5

  menjadi fokus penelitian. Dalam pembelajaran, akan dipilih alat peraga keping pecahan untuk membantu siswa memahami konsep tentang pecahan. Dengan alat peraga ini, siswa diharapkan dapat lebih memahami dan menggunakan konsep pecahan untuk memecahkan masalah. Penggunaan alat ini juga akan lebih melibatkan aktivitas, imajinasi, intuisi, kreativitas, penemuan, rasa ingin tahu, mencoba-coba dan membuat prediksi. Dengan demikian, siswa akan lebih tertarik dalam mengikuti pembelajaran dan terbangun minat siswa dalam belajar matematika.

  B. Rumusan Masalah

  Dengan latar belakang seperti di atas, peneliti merumuskan masalah yang terkait dengan bidang ini antara lain :

  1. Bagaimana minat siswa kelas IV SDLB B Karnnamanohara dalam belajar metematika pada pokok bahsan pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan?

  2. Bagaimana hasil belajar siswa kelas IV SDLB B Karnnamanohara dalam mempelajari pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan?

  C. Tujuan Penelitian

  Tujuan dalam penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui minat siswa kelas IV SDLB B Karnnamanohara dalam belajar metematika pada pokok bahasan pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan

  6

  2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas IV SDLB B Karnnamanohara dalam mempelajari pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan.

  D. Pembatasan Masalah

  Dalam penelitian ini, masalah yang akan dikaji terbatas pada hal-hal yang dapat menunjukkan pengaruh dari pembelajaran menggunakan alat peraga dalam pembelajaran terhadap minat siswa. Pengaruh yang dimaksud adalah pengaruh terhadap minat siswa yang akan diukur dari observasi saat pembelajaran berlangsung serta dengan cara mengukur hasil belajar siswa.

  E. Pembatasan Istilah

  1. Pengaruh Dampak yang muncul akibat adanya perlakuan tertentu pada suatu objek.

  Dalam penelitian ini pengaruh yang dimaksud adalah dampak yang dapat diamati yang ada pada siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan alat peraga.

  2. Alat peraga Alat peraga adalah alat atau media yang digunakan untuk membantu siswa dalam mempelajari suatu konsep tertentu. Alat peraga biasanya memiliki kriteria menggambarkan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari.

  3. Keping Pecahan

  7 Keping pecahan adalah media berupa lingkaran, persegi dan persegi

  panjang. Keping pecahan terbuat dari plastik transparan dan kertas berwarna. Satu buah keping menunjukkan nilai dari pecahan ditunjukkan dengan mengarsir beberapa bagian dari keseluruhan.

  4. Alat Peraga Keping Pecahan Alat peraga keping pecahan adalah salah satu alat peraga matematika yang digunakan untuk membantu siswa dalam mempelajari materi pecahan. Keping pecahan menggambarkan cirri-ciri konsep dari pecahan terutama konsep bahwa pecahan merupakan sebagian dari keseluruhan.

  5. Minat Suatu aspek psikis yang menimbulkan seseorang tertarik dan memberikan perhatian kepada suatu objek. Minat akan lebih mudah terbangun pada objek yang menarik dan menyenangkan bagi seseorang. Jika minat seseorang telah terbangun, seseorang akan tertarik untuk melibatkan diri dalam aktivitas yang berhubungan dengan objek tersebut. Dalam hal ini, minat yang dilihat adalah ketertarikan dan kehendak siswa dalam melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

  6. Materi pecahan Materi pecahan yang akan diajarkan pada pembelajaran dengan alat peraga hanya mencakup konsep pecahan, membandingkan pecahan, penjumlahan pecahan serta pengurangan pecahaan. Pecahan yang digunakan terbatas pada pecahan biasa.

  8

  7. Pembelajaran matematika Pembelajaran matematika yang dimaksud disini adalah proses siswa belajar matematika di kelas.

  8. Siswa Sekolah Luar Biasa Tunarungu (SLB B) Siswa SLB B adalah anak yang mengalami kelainan pada pendengaran atau biasa disebut dengan tuanarungu dan dengan kondisi yang dialaminya anak membutuhkan pendidikan di sekolah luar biasa. Sekolah luar biasa yang dikhususkan bagi penyandang tunarungu adalah SLB bagian B. Siswa SLB B yang digunakan sebagai subyek adalah siswa SLB B Karnnamanohara kelas IV.

F. Manfaat Penelitian

  Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain adalah:

  1. Bagi pihak sekolah, hasil dari penelitian mengenai pembelajaran dengan alat peraga dapat menjadi salah satu solusi dalam mengajarkan materi matematika.

  2. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menambah pengalaman dan menjadi acuan dalam merancang pembelajaran dengan metode lain yang lebih efektif.

  3. Bagi Program Studi Pendidikan Matematika, penelitian ini dapat menjadi khasanah dalam mengembangkan pendidikan matematika di sekolah luar biasa.

BAB II KAJIAN TEORI A. Minat 1. Pengertian minat. Minat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar dan

  hasil belajar peserta didik yang bearsal dari dalam diri peserta didik. Dalam KBBI minat adalah kecenederungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Menurut Slameto (2010) minat adalah suatu rasa lebih suka pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dan sesuatu di luar diri. Semain kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar miant. Djamarah (2008) mengungkapkan bahwa minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Orang yang berminat terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan dan melakukan hal tersebut dengan rasa senang.

  Minat mempunyai peran penting dalam proses belajar, karena minat merupakan salah satu faktor yang memungkinkan siswa lebih konsentrasi, lebih semangat dan menimbulkan perasaan gembira sehingga siswa tidak mudah bosan, tidak mudah lupa dalam usahanya untuk mempelajari sesuatu (http://www.scribd.com/doc/37575359/1507, diakses tanggal 24 April 2011).

  10 Menurut Loekmono (1994, dalam Susilonuringsih 2006) minat adalah

  kecenderungan untuk merasa tertarik atau terdorong untuk memperhatikan seseorang, suatu barang atau kegiatan dalam bidang-bidang tertentu. Dari uraian diatas, minat adalah suatu ketertarikan atau dorongan dari dalam diri seseorang untuk memperhatikan dan melakukan sesuatu.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat.

  Menurut Sri Hidayati (2004, dalam Susilonuringsih 2006 ), minat seseorang itu muncul akibat adanya pengaruh dari rangsangan yang paling kuat untuk mendapatkan minat antara lain adalah:

  a. Kualitas rangsang

  b. Obyek yang besar menarik minat

  c. Pengulangan rangsang

  d. Rangsang yang baru

  e. Beberapa rangsang yang sesuai dengan

  f. Rangsang yang berarti

  g. Kebiasaan-kebiasaan emosional Menurut Crow dan Crow (1989, dalam Susilonuringsih 2006), minat seseorang terhadap suatu objek dapat ditimbulkan oleh beberapa factor.

  a. Faktor dorongan dari dalam (the factor of inner urges).

  Faktor ini dititikberatkan dalam usaha individu untuk memenuhi kebutuhan fisik dan jasmaninya. Faktor dorongan dari dalam menimbulkan minat untuk belajar ialah keinginan dan cita- cita serta harapan untuk

  11

  mendapatkan penghargaan atau prestasi. Seseorang yang mempunyai keinginan terhadap sesuatu akan mendorong individu tersebut aktif melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

  b. Faktor motivasi sosial (the factor of social motives).

  Faktor ini adalah motif dalam lingkungan. Faktor ini terbagi menjadi tiga yaitu: lingkungan keluarga (rumah), lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan keluarga (rumah) ikut mempengaruhi minat belajar yaitu suasana rumah, pendidikan orang tua, dan sikap orang tua. Misalnya orang tua yang selalu cekcok aatau kurang perhatian karena sibuk dengan pekerjaannya atau yang lainnya maka akan membuat anak malas belajar dan tidak berminat untuk belajar karena tidak ada yang mengarahkan/memberi semangat untuk belajar. Lingkungan sekolah juga mempengaruhi minat belajar siswa. Minat ini dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya adalah guru, metode belajar mengajar, kurikulum, laboratorium, serta fasilitas lain yang menunjang.

  c. Faktor Emosional (emotional factor) Faktor emosi ini berpengaruh terhadap minat individu. Dalam faktor ini dinyatakan bahwa suatu aktifitas yang dilakukan dengan perasaan senang akan membuahkan hasil yang lebih baik dan sekaligus memperbesar minat terhadap aktifitas tersebut. Faktor emosi yang mempengaruhi minat belajar adalah perasaan senang, perhatian serta keinginan anak untuk belajar.

  12 Menurut Loekmono (1995), ada beberapa faktor yang memengaruhi

  tumbuhnya minat seseorang yaitu:

  a. Suatu hasrat untuk memperoleh nilai-nilai yang lebih baik dalam semua mata pelajaran.

  b. Suatu dorongan batin untuk memuaskan rasa ingin tahu dalam satu atau lain bidang studi.

  c. Hasrat siswa untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

  d. Hasrat siswa untuk menerima pujian dari orang tua, guru atau teman- teman.

  e. Gambaran diri dimasa mendatang untuk meraih sukses dalam suatu bidang khusus tertentu.

  (http://www.scribd.com/doc/21249216/MINAT-BELAJAR, diakses tanggal 24 April 2011).

  Beberapa langkah untuk menimbulkan minat belajar menurut Sudarnoto (1994), yaitu : a. Mengarahkan perhatian pada tujuan yang hendak dicapai.

  b. Memberikan unsur-unsur permainan dalam aktivitas belajar.

  c. Merencanakan aktivitas belajar dan mengikuti rencana itu.

  d. Pastikan tujuan belajar saat itu misalnya menyelesaikan PR atau laporan.

  e. Dapatkan kepuasan setelah menyelesaikan jadwal belajar.

  13 f. Bersikap positif di dalam menghadapi kegiatan belajar.

  g. Melatih kebebasan emosi selama belajar.

  (http://www.scribd.com/doc/21249216/MINAT-BELAJAR, diakses tanggal 24 April 2011).

  B. Pengertian Belajar

  Dalam KBBI, belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

  Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interkasi dengan lingkungannya (Slameto, 2010). Menurut Hudojo (1988) orang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku.

  Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar tidak bersifat instan, perlu proses untuk mencapainya. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dapat diamati dan berlaku relative lama, perubahan ini juga disertai dengan usaha sehingga orang dari tidak mampu menjadi mampu mengerjakan sesuatu (Hudojo, 1988).

  C. Matematika

  Dalam KBBI, matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Menurut Hudojo (1988) matematika adalah ilmu yang berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logik sehingga berkaitan dengan konsep-konsep abstrak.

  14 Menurut Marpaung (1995), matematika adalah suatu ilmu yang objeknya

  bersifat abstrak, tidak dapat diamati dengan indera manusia. Johnson dan Rising (1976, dalam TIM MKPBM JP MIPA UPI) mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan symbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada bunyi.

  D. Belajar Matematika

  Belajar matematika adalah melakukan serangkaian kegiatan yang melibatkan simbol, pola, aturan, serta struktur-struktur yang dihubungkan secara logik.

  E. Pecahan 1. Pengertian Pecahan.

  Pecahan adalah bilangan yang dapat dituliskan dalam bentuk , a dan b adalah bilangan bulat dimana a bukan kelipatan dari b dan . Bilangan pecahan dapat dituliskan dalam berbagai notasi, yaitu pecahan biasa, pecahan campuran, pecahan persen dan pecahan desimal. Menurut Kennedy (1994, dalam Sukayati 2003), pecahan memiliki beberapa makna, yaitu :

a. Pecahan sebagai bagian-bagian yang berukuran sama dari yang utuh atau keseluruhan.

  Pecahan dapat digunakan untuk menyatakan makna dari setiap bagian dari yang utuh. Misalkan dari sebuah roti yang utuh akan dibagi menjadi 3

  15  bagian yang sama besar, maka setiap bagian dinyatakan dalam pecahan .  bagian-bagian yang sama dari keseluruhan atau disebut juga dengan penyebut.

  b. sebagai bagian dari kelompok-kelompok yang Pecahan beranggotakan sama banyak, atau juga menyatakan pembagian.

  Apabila sekumpulan objek dikelompokkan menjadi beberapa bagian yang beranggotakan sama banyak, maka situasi demikian jelas dihubungkan dengan pembagian. Misalkan terdapat sekumpulan objek dengan anggota 12, akan dibagi menjadi 3 kelompok yang beranggotakan sama banyak. Maka

  

  kalimat matematikanya 12 : 3 = 4 atau     . sehingga untuk

   

  mendapatkan dari 12, maka anak harus memikirkan objek yang

  

  dikelompokkan menjadi 3 bagian yang beranggotakan sama. Banyaknya anggota masing-masing kelompok terkait dengan banyaknya objek semula

  

  dalam hal ini adalah dari banyak objek semula

   c. Pecahan sebagai perbandingan atau rasio.

  Hubungan antara sepasang bilangan sering dinyatakan sebagai sebuah perbandingan. Contoh :

  16 Dalam kelompok 10 buku terdapat 3 buku yang disampul biru. Rasio buku

  yang bersampul biru terhadap keseluruhan buku adalah 3 : 10 atau buku

   yang bersampul dari dari keseluruhan buku. 

  Dari ketiga makna dari pecahan di atas, konsep yang ingin ditekankan dalam pembelajaran adalah konsep yang pertama. Yaitu pecahan sebagai sebagian dari keseluruhan, sebagian tersebut harus mempunyai ukuran yang sama dengan bagian-bagian yang lain. Konsep yang pertama menunjukkan makna yang paling dasar dan paling sederhana dari pecahan.

  Untuk menanamkan konsep pecahan yang merupakan sebagian dari keseluruan tersebut, akan digunakan alat peraga berupa keping pecahan. Dengan keping pecahan akan ditunjukkan secara konkrit bentuk yang menunjukkan bagian dari pecahan yang dimaksud dan dapat dilihat dengan jelas perbandingannya dengan satu bagian utuh.

2. Mengenal konsep pecahan.

  Dalam mempelajari sesuatu, anak akan lebih mudah mengerti apabila diawali dengan sesuatu yang sudah mereka ketahui sebelumnya. Begitu juga dalam pembelajaran untuk mengenal pecahan, akan lebih bermakna ketika dimulai dari masalah pada kegiatan sehari-hari yang tidak asing bagi siswa.

  Konsep pecahan muncul dalam kasus membagi kue atau buah menjadi bagian- bagian yang sama besar. Siswa diajak mengidentifikasi cara membagi benda

  17

  konkrit tersebut secara nyata. Setelah itu, siswa diajak masuk pada tahap yang lebih abstrak, bagian-bagian dari buah atau kue selanjutnya diwakili dengan keping-keping pecahan yang berbentuk bagian dari lingkaran atau persegi panjang yang diarsir sebagian yang menunjukkan pecahan yang dimaksud, sehingga didapatkan bentuk seperti dibawah ini: Gambar 1. Keping pecahan yang menunjukkan setengah.

  

  Pecahan

  

  pembilang, menunjukkan banyaknya bagian yang diarsir atau diperhatikan dari jukkan banyaknya bagian yang sama dari keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengulangi dengan pecahan yang lain.

3. Membandingkan pecahan

  Untuk membandingkan pecahan, jika pecahan sudah sama penyebutnya, membandingkan pecahan bisa dilakukan dengan membandingkan pembilangnya saja. Pembilang yang lebih besar memiliki nilai yang lebih besar pula. Sedangkan

  18

  untuk membandingkan pecahan yang penyebutnya berbeda, langkah pertama yang dilakukan untuk membandingkan adalah dengan menyamakan penyebutnya terlebih dahulu. Setelah penyebutnya sama, lalu pembilangnya dibandingkan.

4. Operasi pada pecahan

a. Penjumlahan dan pengurangan

  Penjumlahan dapat diperagakan dengan menggabungkan keping pecahan yang menunjukkan bagian yang akan dijumlahkan.

  1) Penjumlahan dan pengurangan pecahan yang penyebutnya sama.

  Secara teori, menjumlahkan dan mengurangkan pecahan dengan penyebut yang sama dilakukan dengan menjumlahkan pembilangnya sedangkan penyebutnya tetap. 2) Penjumlahan dan pengurangan pecahan yang penyebutnya tidak sama.

  Menjumlahkan dan mengurangkan pecahan yang penyebutnya berbeda dilakukan dengan langkah pertama menyamakan penyebutnya terlebih dahulu.

F. Alat peraga

  Menurut Estiningsih (1994, dalam Sukayati) Alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri konsep yang dipelajari yang fungsi utamanya adalah untuk menurunkan keabstrakan dari konsep, agar anak mampu menangkap arti sebenarnya dari konsep yang dipelajari.

  19 Alat peraga yang baik harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya:

  (1)Dapat menjelaskan konsep secara tepat, (2) Menarik, (3) Tahan lama, (4) Multi fungsi (dapat dipakai untuk menjelaskan berbagai konsep), (5) Ukurannya sesuai dengan ukuran siswa, (6) Murah dan mudah dibuat, dan (7) Mudah digunakan .

  ( http://file.upi.edu/Direktori/ MATEMATIKA.pdf )

  Hasil pembelajaran dengan alat peraga akan lebih maksimal apabila siswa diberi kesempatan pula untuk bekerja dengan alat peraga. Dengan memanipulasi dan bereksplorasi dengan alat peraga, siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Hal ini penting, karena dengan memeperoleh ilmu hasil konstruksi pikirannya sendiri, ilmu yang didapat siswa akan bersifat lebih lama untuk diingat.

  TIM MKPBM JP MIPA UPI mengatakan bahwa manfaat pembelajaran matematika dengan alat peraga adalah :

  1. Proses belajar mengajar termotivasi. Baik murid maupun guru, dan terutama murid, minatnya akan timbul. Ia akan senang, terangsang, tertarik, dan karena itu akan bersikap positif terhadap pengajaran matematika.

  2. Konsep abstrak metematika tersajikan dalam bentuk konkrit karena itu lebih dapat dipahami dan dimengerti, serta dapat ditanamkam pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.

  3. Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda di alam sekitar akan lebih dapat dipahami.

  20

  4. Konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk konkrit yaitu dalam bentuk model matematik yang dapat dipakai sebagai objek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru menjadi bertambah banyak.

G. Alat Peraga Keping Pecahan

  Alat peraga keping pecahan berbentuk lingkaran, persegi dan persegi panjang terbuat dari plastik mika bening. Keping pecahan berupa potongan-potongan dari plastik mika yang menggambarkan nilai dari pecahan sebagai sebagian dari keseluruhan. Penggunaan mika bening dalam alat peraga ini dimaksudkan agar proses penjumlahan dan pengurangan dengan alat peraga dapat diamati. Bahan yang bening juga membantu dalam menunjukkan mengapa penjumlahan, pengurangan, dan membandingkan pecahan dilakukan dengan menyamakan penyebut kedua pecahan terlebih dahulu. Dengan alat peraga ini dapat ditunjukkan secara konkrit bentuk dari pecahan yang dimaksud dan kemudian siswa dapat dihantar menuju konsep abstraknya.

  Sardjana & Sugiarto (2010) mengatakan bahwa model keping pecahan yang lebih tepat digunakan dalam pembelajaran untuk penjumlahan dan pengurangan pecahan adalah model lingkaran, sedangkan untuk perkalian dan pembagian model yang berbentuk persegi panjang lebih cocok. Adapun operasional penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dilakukan sebagai berikut:

  21 1.

   Penggunaan keping pecahan untuk pemahaman konsep pecahan.

  Hal yang penting yang harus ditanamkan dan harus dipahami oleh siswa adalah bahwa besar tiap bagian harus sama. Pecahan dimaknai sebagai perbandingan antara sejumlah bagian yang sama besar terhadap keseluruhan bagian. Untuk itu, siswa perlu diperlihatkan bentuk keping pecahan yang tidak tepat. Seperti contoh berikut: Gambar 2. Keping yang menunjukkan bukan setengah.

2. Penggunaan keping pecahan untuk membandingkan dua pecahan.

  Untuk membandingkan dua pecahan, dilakukan dengan mengimpitkan kedua keping pecahan. Kemudian dilihat pecahan mana yang seluruh bagiannya tertutup oleh bagian dari pecahan yang lain adalah pecahan yang bernilai lebih kecil. Contoh:

   

  , dapat diperagakan sebagai berikut:

    dihimpitkan Gambar 3. Peragaan membandingkan pecahan.

  22 

  Tampak bahwa yang diwakili oleh daerah berwarna hitam tertutup oleh

   

  bagaian yang berwarna abu-abu yang mewakili pecahan . Maka, tanda

    

  pertidaksamaan yang tepat adalah  .

    3. Penggunaan keping pecahan untuk penjumlahan pecahan.

  Operasi penjumlahan dilakukan dengan mengimpitkan kedua keping pecahan

   

  dan menggabungkan dua bagian yang mewakili pecahannya. Contoh :   dapat

   

  diperagakan sebagai berikut:

    

  = +

     Gambar 4. Pergaan menjumlahkan pecahan.

4. Penggunaan keping pecahan untuk pengurangan pecahan.

  Operasi pengurangan dilakukan dengan mengimpitkan kedua keping pecahan, dengan mengimpitkan bagian yang mewakili pecahan pengurang pada pecahan yang dikurangi. Hasil dari pengurangan adalah bagian yang hanya terarsir 1 kali. Contoh :

   

  dapat diperagakan sebagai berikut:

   

  23   

  = -

    

Gambar 5. Peragaan pengurangan pecahan.

  5. Pengguanaankeping pecahan untuk perkalian.

  Operasi perkalian dilakuakan dengan mengimpitkan dua keping pecahan dalam posisi vertical dan horizontal. Bagian yang diarsir dobel merupakan hasil kali

   

  dari dua pecahan tersebut. Contoh:    diperagakan sebagai berikut:

      

   =

     Gambar 6. Peragaan perkalian pecahan.

  24 6. Penggunaan keping pecahan untuk pembagian.

  Operasi pembagian diperagakan dengan cara menghitung berapa kali keping

   

  pambagi dapat menutup bagian keping yang dibagi. Contoh:  diperagakan

   

  sebagai berikut:

    1/ 3

  1 pertigaan setengah pertigaan Gambar 7. Peragaan pembagian pecahan.

H. Anak berkelainan

  Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32, pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti penjaminan bagi anak berkelainan dalam menempuh pendidkan, diharapkan anak- anak berkelainan di Indonesia dapat menempuh pendidikan yang layak sebagimana mestinya. Dengan menempuh pendidikan yang layak, anak berkelainan dapat memiliki ketrampilan, kemandirian, serta prestasi yang kemudian dapat semakin meningkatkan harga diri anak berkelainan.

  Istilah berkelainan dikonotasikan sebagai sebuah kondisi menyimpang dari rata-rata pada umumnya. Penyimpangan dapat dapat bernilai lebih maupun kurang.

  25 Dalam pendidikan luar biasa, penyimpangan secara eksplisit ditujukan kepada anak

  yang dianggap memiliki kelainan penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal umumnya dalam hal fisik, mental, maupun karakteristik perilaku sosialnya (Kirk, 1970;Heward&Orlansky,1988 dalam Efendi, 2006) atau anak yang berbeda dari rata- rata umumnya, dikarenakan ada permasalahan dalam kemampuan berpikir, penglihatan, pendengaran, sosialisasi dan gerak (Hallahan&Kauffman,1991 dalam Efendi, 2006). Berdasarkan kategori diatas, anak dikategorikan memiliki kelainan dalam aspek fisik meliputi kelainan penglihatan (tunanetra), kelainan indra pendengaran (tunarungu), kelainan kemampuan bicara (tunawicara), dan kelainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa).

I. Prinsip Pendidikan Anak Berkelainan.

  Pelaksanaan pendidikan bagi anak berkelainan tentu berbeda dengan pelaksanaan pendidikan bagi anak normal. Anak berkelainan memerlukan penanganan khusus dalam pelaksanaan pendidikannya. Dalam upaya mendidik anak berkelaianan, perlu dikembangkan beberapa prinsip-prinsip pendekatan secara khusus yang dapat menjadi upaya dalam memberikan pendidikan yang baik bagi anak berkelaianan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

1. Prinsip Kasih Sayang

  Prinsip kasih sayang pada dasarnya adalah menerima mereka apa adanya, dan mengupayakan agar mereka dapat menjalani hidup dan kehidupan dengan wajar, seperti layaknya anak normal. Oleh karena itu, upaya yang perlu dilakukan untuk mereka antara lain tidak bersikap memanjakan, tidak bersikap acuh tak

  26

  acuh terhadap kebutuhannya dan, memberikan tugas sesuai dengan kemampuan mereka.

  2. Prinsip Layanan Individual

  Pelayanan individual dalam rangka mendidik anak berkelainan perlu mendapat porsi yang lebih besar, karena setiap anak berkelaian dalam jenis dan derajat yang sama sering kali memiliki keunikan masalah yang berbeda satu sama lain. Upaya yang perlu dilakukan untuk mereka selama pendidikannya antara lain jumlah siswa yang dilayani guru tidak lebih dari 4-6 orang setiap kelasnya, pengaturan kurikulum dan jadwal lebih dapat bersifat fleksibel, penataan kelas dirancang sedemikian sehingga guru dapat dengan mudah menjangkau setiap siswanya, serta adanya modifikasi alat bantu pengajaran.

  3. Prinsip Kesiapan

  Untuk menerima suatu pelajaran tertentu diperlukan kesiapan. Khususnya kesiapan anak untuk mendapatkan pelajaran yang diajarkan, terutama pengetahuan prasyarat, baik prasyarat pengetahuan, mental dan fisik yang diperlukan untuk menunjang pelajaran berikutnya.

  4. Prinsip Keperagaan

  Kelancaran pembelajaran pada anak berkelainan sangat didukung oleh penggunaan alat peraga sebagai medianya. Selain mempermudah guru dalam mengajar, fungsi lain dari penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran pada anak berkelainan yakni mempermudah pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan guru. Alat peraga yang digunakan sebaiknya diupayakan

  27

  menggunakan benda atau situasi aslinya, namun apabila hal itu sulit dilakukan, dapat menggunakan benda tiruan atau minimal gambarnya.

  5. Prinsip Motivasi

  Dalam pembelajaran prinsip motivasi ini lebih menitikberatkan pada cara guru mengajar dan pemberian evaluasi sesuai dengan kondisi anak berkelainan.

  6. Prinsip Belajar dan Bekerja Dalam Kelompok

  Arah menekanan prinsip belajar dan bekerja dalam kelompok sebagai salah satu dasar mendidik anak berkelainan, agar mereka sebagai anggota masyarakat dapat bergaul dengan masyarakat lingkungannya tanpa harus merasa rendah diri atau minder dengan orang normal. Sering bekerjasama dengan orang lain, membuat anak dapat belajar cara bergaul dengan orang lain secara wajar.

  7. Prinsip Keterampilan.

  Pendidikan keterampilan diberikan kepada anak berkelainan untuk memenuhi empat fungsi yaitu selektif, edukatif, rekreatif dan terapi. Selektif berarti untuk mengarahkan minat, bakat, ketrampilan dan perasaan anak berkelainan secara tepat guna. Edukatif berarti membimbing anak berkelainan untuk berpikir logis, berperasaan halus dan kemampuan untuk bekerja. Rekreatif berarti unsur kegiatan yang diperagakan sangat menyenagkan bagi anak berkelainan. Terapi berarti aktivitas ketrampilan yang diberikan dapat menjadi salah satu sarana habilitasi akibat kelainan atau ketunaan yang disandangnya.

  Selain keempat fungsi di atas, pemberian ketrampilan dapat menjadi modal bagi anak untuk kehidupannya kelak.

  28 8.

   Prinsip Penanaman dan Menyempurnakan Sikap Secara fisik ataupun psikis sikap anak berkelainan memang kurang baik.

  Sehingga perlu diupayakan agar mereka mempunyai sikap yang baik serta tidak selalu menjadi perhatian orang lain.

  J. Anak Berkelainan Pendengaran (tunarungu).

1. Pengertian anak tunarungu.

  Dalam KBBI, tunarungu berarti tidak dapat mendengar. Secara medis, anak dikatakan menderita kelainan pendengaran atau tunarungu jika karena sesuatu hal berakibat dalam mekanisme pendengaran, terdapat satu atau lebih organ yang mengalami gangguan atau rusak. Akibatnya, organ tersebut tidak mampu menjalankan fungsinya untuk menghantarkan dan mempersepsi rangsang suara yang ditangkap untuk diubah menjadi tanggapan akustik (Efendi, 2006).

  Secara pedagogis, seorang anak dapat dikategorikan sebagai anak berkelainan pendengaran atau tunarungu, jika dampak dari disfungsinya organ- organ yang berfungsi sebagai penghantar dan persepsi pendengaran mengakibatkan ia tidak mampu mengikuti program pendidikan anak normal sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus untuk meniti perkembangannya (Efendi, 2006).

  Proses pendengaran dikategorikan normal, apibila sumber bunyi di dekat telinga yang memancarkan getaran-getaran suara dan menyebar ke sembarang arah dapat tertangkap dan masuk ke dalam telinga sehingga membuat gendang pendengaran menjadi bergetar. Jika gangguan ada satu atau beberapa organ

  29

  pendengaran mengalami gangguan. Anak yang berada dalam keadaan kelainan pendengaran seperti itu disebut anak berkelainan pendengaran atau anak tunarungu.

  Gangguan fungsi pendengaran yang dialami oleh penyandang tunarungu tidak semuanya pada derajat yang sama. Namun demikian, perlu dipahami bahwa kelainan pendengaran dilihat dari ketajamannya untuk mendengar dapat dikelompokkan dalam beberapa jenjang. Asumsinya, makin berat kelainan pendengaran berarti semakin besar intensitas kekurangan ketajaman pendengarannya (hering loss) (Efendi,2006).

  Krik (1970) dalam Efendi (2006) mengemukakan bahwa anak yang lahir dengan kelainan pendengaran atau kehilangan pendengarannya pada masa kanak- kanak sebelum bahasa dan bicaranya terbentuk disebut dengan anak tunarungau

  

pre-lingual. Jenjang ketunarunguan yang dibawa sejak lahir, atau diperoleh pada

  masa kanak-kanak sebelum bahasa bicaranya terbentuk, ada kecenderungan termasuk dalam kategori tunarungu berat. Sedangkan anak lahir dengan pendengaran normal, namun setelah mencapai usia dimana anak sudah mengalami percakapannya tiba-tiba mengalami kehilangan ketajaman pendengaran, kondisi anak yang demikian disebut anak tunarungu post-lingual. Jenjang ketunarunguan yang diperoleh anak setelah anak memahami percakapan atau bahasa dan bicaranya sudah terbentuk, ada kecenderungan termasuk dalam kategori sedang atau ringan.

  30 2.

   Klasifikasi anak tunarungu.

  Ketajaman pendengaran biasa diukur dengan satuan bunyi deci-Bell (disingkat dB). Dengan disepakatinya menggunakan satuan ini maka dalam mengukur dan mengklasifikasikan ketajaman pendengaran anak tunarungu menjadi lebih mudah dilakukan. Pendengaran manusia dikatakan normal apabila hasil tes pendengaran menunjukkan angka 0 dB. Namun hal ini jarang sekali terjadi dan hampir tidak ada. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam pendengarannya, namun orang yang kehilangan ketajaman pendengaran antara 0- 20 dB masih dianggap normal. Dalam kondisi ini orang masih dapat menerima rangsang bunyi secara normal.

  Menurut Efendi (2006), ditinjau dari kepentingan pendidikannya, secara terinci anak tunarungu dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:

  a.

   Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20 30 dB (slight losses ). Untuk kepentingan pendidikan pada anak tunarungu kelompok ini

  cukup hanya memerlukan latihan membaca bibir untuk pemahaman.

  b.

   Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30 40 dB (mild losses). Kebutuhan layanan pendidikan untuk anak tunarungu kelompok

  ini yaitu membaca bibir, latihan pendengaran, latihan bicara artikulasi, serta latihan kosakata.

  c.

   Anak tunarungu yang kehilangan pendegarannya antara 40 60 dB

  (moderet losses). Kebutuhan layanan pendidikan untuk kelompok anak tunarungu ini meliputi artikulasi, latihan membaca bibir, latihan kosakata,

  31

  serta perlu menggunakan alat bantu dengar untuk membantu ketajaman pendengaran.

  d.

   Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60 75 dB

  (severelosses). Kebutuhan pendidikan kelompok anak tunarungu ini perlu latihan pendengaran intensif, membaca bibir, dan latihan pembentukan kosakata.

  e.

   Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran 75 dB ke atas (profoundly losses ). Kebutuhan layanan pendidikan anak tunarungu kelompok ini

  meliputi membaca bibir, latihan mendengar untuk kesadaran, latihan membentuk dan membaca ujaran dengan menggunakan pengajaran khusus, seperti tactile kinesthetic, visualisasi yang dibantu dengan segenap kemampuan indranya yang tersisa.

3. Dampak Ketunarunguan.

  Anak yang mengalami ketunarunguan akan menanggung dampak yang kompleks dalam hidupnya, terutama berkaitan dengan masalah kejiwaannya.

  Anak akan mengalami guncangan karena tidak mampu mengontrol lingkungannya. Hal tersebut akan lebih terasa ketika anak harus mulai berjuang dalam meniti tugas perkembangannnya. Anak akan mengalami hambatan terutama dalam aspek bahasa, kecerdasan, dan penyesuaian sosialnya. Oleh karena itu, anak penyandang tunarungu memerlukan layanan khusus untuk membimbingnya dalam mengembangkan potensi serta meniti tugas perkembangannya.

  32 Ada dua bagian penting yang mengikuti dampak terjadinya hambatan yang

  muncul akibat ketunarunguan. Pertama, kosekuensi akibat gangguan pendengaran atau tunarungu tersebut bahwa penderitanya akan mengalami kesulitan dalam menerima segala macam rangsang atau peristiwa bunyi yang ada di sekitarnya. Kedua, akibat kesulitan menangkap bunyi tersebut konsekuensinya penderita tunarungu akan mengalami kesulitan pula dalam memproduksi suara atau bunyi bahasa yang ada di sekitarnya (Efendi, 2006).

  Bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, bicara dan pendengaran sangat penting dalam mendukung perkembangan seseorang. Jika salah satu dari ketiga hal tersebut terganggu, maka perkembangan seseorang pun akan ikut terganggu. Apalagi jika lingkungan tempat anak tinggal kurang mendukung perkembangannya. Anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas baik dari sekolah maupun dari lingkungan keluarganya, akan tampak terbelakang serta tampak tidak komunikatif. Namun anak yang berkembang pada lingkungan yang tepat, perkembangannya akan lebih optimal.

4. Kemampuan Bicara dan Bahasa Anak Tunarungu.

  Sebagian besar penderita tunarungu cenderung juga mengalami tunawicara. Hal ini menjadi sulit dipisahkan karena keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan menunjukkan hubungan sebab akibat. Namun tidak semua anak tunarungu juga tunawicara. Terdapat anak tunarungu yang dapat berbicara walaupun kosakata dan artikulasinya terbatas. Dampak dari ketunarunguan yang

  33

  dialami anak secara langsung dapat berpengarauh terhadap kelancaran perkembangan bahasa bicaranya.

  Terhambatnya perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu jelas merupakan masalah utama, karena perkembangan bahasa dan bicara manusia mempunyai peranan yang amat vital. Whors (1956, dalam Efendi, 2006) berpendapat bahwa perkembangan intelektual sangat ditentukan oleh pengalamannya terutama dalam bahasa. Hal ini dikarenakan bahasa dapat digunakan untuk menerima konsep-konsep dalam ilmu pengetahuan. Tanpa bahasa dan bicara, hal- hal yang dilihat anak tunarungu dalam kehidupan sehari- hari hanya seperti pertunjukan film bisu, mereka hanya bisa menangkap secara visual saja. Rata-rata anak mengalami masalah dari aspek kebahasaanya antara lain adalah miskin perbendaharaan kosakata, sulit mengartikan ungkapan bahasa yang mengandung arti kiasan atau sindiran, kesuliatan dalam mengartikan kata- kata abstrak, dan kesuliatan dalam menguasai irama dan gaya bahasa (Sastrawinata, 1979 dalam Efendi 2006).

  Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak tunarungu mengalami gangguan kemampuan bicara. Bagian ini antara lain: a. anak tunarungu mengalami kesukaran dalam penyesuaian volume suara.

  b. anak tunarungu memiliki kualitas suara yang monoton c. anak tunarungu kesulitan dalam melakukan artikulasi bicara secara tepat.

  Pendekatan yang lazim digunakan dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan bicara anak tunarungu adalah oral dan isyarat. Anak tunarungu yang

  34

  dididik menggunakan komunikasi total (kombinasi antara oral dan isyarat) memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding yang dididik menggunakan oral saja atau isyarat saja.

5. Karakteristik Kecerdasan Anak Tunarungu

  Kecerdasan anak tunarungu sebenarnya tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya. Hal ini disebabkan anak tunarungu ada yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata (superior), rata-rata (average), maupun di bawah rata- rata (subnormal). Akibat dari dampak ketunarunguan, maka terkadang anak tunarungu seperti mengalami keterbelakangan dan tingkat kecerdasannya menjadi tampak seperti dibawah anak normal.

  Bagi anak tuna rungu yang tidak disertai dengan kelainan yang lain, ia memiliki intelegensi yang normal. Perkembangan kognitif anak tuna rungu mengalami hambatan jika dibandingkan dengan anak normal. Hal ini dikarenakan ketunaan yang mereka miliki menjadi hambatan dalam hal menerima informasi yang akan mendukung proses belajarnya (Ahmadi, 1991). Akibat yang ditimbulkan oleh kelainan pendengaran adalah kelemahan dalam mengidentifikasi ucapan yang diterimanya speech intellegency dan speech

  

comperehension anak tunarungu yang mempunyai kemampuan bahasa yang

lebih sulit strukturnya.

  35 K.

   Hasil Belajar

  Menurut Sudjana (2010) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa yang luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan/ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban/reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemauan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni gerakan reflek, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan/ketepatan, gerkan ketrampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

  L. Kerangka Berpikir

  Pecahan merupakan salah satu materi matematika yang diajarkan di kelas IV SLB B Karnnamanohara. Konsep dari pecahan yang abstrak dan keterbatasan yang dimiliki siswa kelas SLB B Karnnamanohara menyebabakan siswa mengalami kesulitan dalam belajar, guru juga mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi pecahan. Dengan kondisi yang seperti ini, diharapkan adanya suatu media yang dapat membantu siswa dan guru dalam pembelajaran pecahan di kelas. Media alat peraga dipilih untuk membantu siswa dan guru dalam pembelajaran pecahan. Adapaun alat peraga yang dipilih adalah alat peraga keping pecahan. Alat peraga keping pecahan

  36

  menunjukkan konsep pecahan yang merupakan perbandingan antara beberapa bagian dari keseluruhan bagian yang sama besar selain itu dengan alat peraga keping pecahan proses operasi bilangan pecahan akan lebih terlihat.

  Selain hal di atas, penggunaan alat peraga memenuhi salah satu prinsip keperagaan dalam prinsip pembelajaran anak berkelainan. Dengan alat peraga, pembelajaran akan menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa. Dengan demikian minat siswa dapat meningkat dalam mengikuti pelajaran matematika.

  Dengan minat yang lebih baik diharapkan proses dan hasil belajar juga akan menjadi lebih baik juga. Untuk melihat adanya pengaruh dari penggunaan alat peraga terhadap minat dilakukan pengamatan dan pengisian angket mengenai minat belajar siswa. Sedangkan untuk mengetahui hasil belajar siswa dilakukan pretes dan postes. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif untuk memperoleh kesimpulan.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksploratif

  dengan paradigma kualitatif. Penelitian eksploratif bertujuan untuk menggali dan mengembangkan suatu hal baru yang diterapkan pada suatu situasi. Dalam penelitian ini akan digali mengenai pengaruh penggunaan alat peraga dalam pembelajan, dimana dalam kegiatan pembelajaran masih jarang menggunakan alat peraga. Dengan penelitian ini, akan dilihat pengaruhnya bagi anak terutama minat anak dalam belajar dikelas. Penelitian eksploratif bersifat fleksibel, sampel kecil, tidak representatif dan analisis data menggunakan pendekatan kualitatif. Walaupun analisis data yang utama menggunakan paradigma kualitatif, namun paradigma kuantitatif juga digunakan untuk mendukung dalam menanalisis data berupa bilangan.

  B. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2011. Pada semester genap tahun ajaran 2010/2011 di SLB B Karnnamanohara kelas dasar IV(setara kelas IV SD).

  C. Subjek Penelitian

  Subyek penelitian yang dipilih adalah siswa kelas IV SLB B Karnnamanohara yang beralamat di Jalan Pandean 2, Gang Wulung, Condongcatur, Depok, Sleman

  38 Yogyakarta tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 6 anak. Pemilihan subyek diperhatikan dengan mengkonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak sekolah.

D. Variabel penelitian 1. Variabel Bebas

  Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan alat peraga keping keping pecahan pada materi konsep, perbandingan, penjumlahan, serta pengurangan pecahan.

2. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah minat dan hasil belajar siswa.

E. Jenis data

  Berdasarkan cara memperolehnya data yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti dari pengamatan maupun wawancara terhadap subyek penelitian. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain diluar subyek penelitian.

  

( http://organisasi.org/klasifikasi_jenis_dan_macam_data_pembagian_data_dalam_il

mu_eksak_sains_statistik_statistika , diakses tanggal 21 April 2011 ) Data sekunder

dapat diperoleh dari guru kelas.

  Menurut klasifikasi data berdasarkan jenisnya, jenis data dibagi menjadi dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka, merupaka jumlah atau skor. Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna.

  39

( http://organisasi.org/klasifikasi_jenis_dan_macam_data_pembagian_data_dalam_il

mu_eksak_sains_statistik_statistika , diakses tanggal 21 April 2011 ).

  Data yang diperoleh dari penelitian ini diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Data proses pembelajaran .

  Data yang diperoleh pada saat proses pembelajaran di kelas berupa rekaman video. Rekaman video ini kemudian akan dideskripsikan, sehingga diperoleh data kualitatif.

  2. Data hasil belajar siswa.

  Data yang menunjukkan hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan

  pretest dan posttest. Data hasil belajar siswa berupa nilai dari pretest dan posttest, data ini merupakan data kuantitatif.

  3. Data minat siswa

  Data mengenai minat siswa diperoleh dari hasil pengisian lembar pengamatan dan angket siswa. Data yang diperoleh dari pengisian lembar pengamatan dan angket siswa ini merupakan data kuantitatif. Lembar pengamatan diisi dengan memberikan tanda cek (V) pada kondisi yang sesuai dengan siswa saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain dari lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat, data mengenai minat siswa juga diperoleh dari angket minat yang diisi oleh siswa sendiri . Setiap jawaban yang diberikan akan diberi skor tertentu.

F. Metode pengumpulan data

  Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan beberapa metode, yaitu:

  40 1.

   Pengamatan

  Pengamatan adalah kegiatan mengumpulkan data yang diperoleh dengan cara mengamati kegiatan yang dilakukan subyek lalu pengamat mengisi lembar pengamatan yang telah dipersiapkan. Pengamatan dilakukan dengan tujuan untuk memeperoleh data mengenai keterlibatan siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas, terutama pada mata pelajaran matematika. Pengamatan dilakukan saat peneliti mengujikan penelitiannya, sehingga pengamatan membutuhkan bantuan dari guru kelas atau dari teman peneliti.

  2. Pengisian Angket oleh siswa

  Metode ini dilakukan dengan memberikn angket untu siswa dan meminta siswa mengisi dengan setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan yang ada dalam angket. Dalam mengisi angket, siswa dibantu oleh peneliti untuk membaca dan memahami maksud dari pernyataan yang ada dalam angket. Hasil pengisian angket ini kemudian dihitung skornya dan diklasifikasikan dalam kategori minat yang telah disusun.

  3. Dokumentasi

  Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dokumentasi berupa foto dan video. Dengan dokumentasi yang diadapatkan, peneliti mendapatkan foto dan rekaman video yang kemudian dapat dianalisis untuk mendapatkan data.

  41 G.

   Instrumen Penelitian 1. . Instrumen pembelajaran a. Rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP).

  RPP disusun berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dicapai dari pembelajaran yang akan dilakukan. Satu RPP disusun untuk satu kompetensi dasar, RPP merupakan panduan pengorganisasian kegiatan di kelas sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

  b. Lembar kerja siswa (LKS).

  Lembar kerja siswa berisi soal-soal yang harus dikerjakan siswa saat kegiatan pembelajaran. LKS diberikan kepada siswa untuk membantu siswa dalam membangun pengetahuannya, selain itu kemapuan siswa juga akan lebih terlatih.

  2. . Instrumen penelitian

  Instrument penelitian terdiri dari 3 bagian yaitu tes, angket pengamatan minat, dan pedoman wawancara. Sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen-instrumen ini diukur validitas dan reliabilitasnya dengan menggunakan teknik valisdasi berupa judgment pakar.

  42

  a. Tes Tes dilakukan dua kali, pertama sebelum dilakukan pembelajaran pada materi pecahan dengan alat peraga keping pecahan(pretest) dan yang kedua dilaksanakan diakhir pembelajaran dengan pada materi pecahan dengan alat peraga keping pecahan(postest). Soal yand diujikan pada pretes dan postes sama.

  b. Lembar pengamatan minat siswa.

  Lembar pengamatan ini berfungsi untuk melihat hal-hal yang dilakukan siswa selama penelitian berlangsung. Hal-hal yang diamati disini adalah aktifitas siswa yang menunjukkan minat siswa terhadap pembelajaran metematika pada pokok bahasan pecahan dengan alat peraga keping pecahan.

  Lembar pengamatan ini diisi oleh 3 orang pengamat.

  Tabel 01. Lembar pengamatan minat siswa

No Nama Siswa tertarik dengan Siswa Siswa mau Kategori minat

Siswa alat peraga keping memperhatikan bertanya atau siswa dalam pecahan yang digunakan penjelasan guru menyampaikan mengikuti dalam mempelajari dengan pendapat saat pembelajaran konsep pecahan, seperti sungguh- pembelajaran. dengan alat peraga tampak dari kemauan sungguh. keping pecahan. siswa menggunakan alat peraga

  1 A

  2 B

  3 C

  4 D

  5 E

  6 F

  Pengamat memberikan tanda cek (V) pada kolom yang menunjukkan aktivitas siswa saat pembelajaran berlangsung. Kolom kategori siswa diisi

  43

  dengan memperhitungkan jumlah kolom yang sesuai dengan kondisi siswa, KM (kurang berminat) jika terdapat 0-1 tanda (  untuk masing-masing siswa, CM (cukup berminat) jika terdapat 2 tanda (  untuk masing-masing siswa, serta SM (sangat berminat) jika terdapat 3 tanda (  untuk masing- masing siswa.

  c. Angket minat yang diisi oleh siswa.

  Angket ini dianggap lebih sesuai dengan kondisi minat siswa, karena angket ini diisi sendiri olah siswa. Instrumen ini diberikan pada siswa untuk mendapat informasi tentang minat siswa dalam belajar matematika khususnya pada pokok bahasan pecahan dengan alat peraga keping pecahan. Slameto (1991, dalam Djamarah 2008) menyatakan bahwa minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Anak didik memiliki minat terhadap subjek tertentu akan cenderung memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut. Berdasarkan teori tersebut, maka disusun indiktor yang menunjukkan minat anak yaitu: 1) Perhatian siswa pada proses pembelajaran.

  2) Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. 3) Siswa mengajukan pertanyaan atau penyampaikan pendapat. 4) Antusiasme siswa saat proses pembelajaran.

  44 Angket minat ini disusun mengacu pada beberapa indikator di atas dan

  kemudian dikembangkan dan dibuat lebih spesifik terbatas pada minat siswa dalam belajar matematika mengenai pecahan dengan alat peraga keping pecahan. Berikut angket minat yang harus diisi siswa.

  Tabel 02. Format angket minat yang diisi siswa. Tidak No Pertanyaan Setuju Setuju

  1. Belajar pecahan dengan alat peraga keping pecahan lebih menarik dibanding tanpa alat peraga.

  2 Mempelajari pecahan dengan alat peraga keping pecahan membuat saya bersemangat dalam mengikuti pelajaran dikelas.

  3 Saya tidak mau bertanya kepada guru saat proses belajar dikelas mengenai pecahan dengan alat peraga keping pecahan, walaupun saya tidak mengerti.

  4 Saya mengerjakan setiap LKS dengan sungguh-sungguh.

  5 Kegiatan pembelajaran dengan alat peraga keping pecahan terasa membosankan.

  6 Saya mau mencoba dan menggunakan alat peraga keping pecahan dalam kegiatan belajar di kelas.

  7 Saya suka bercanda dan mengobrol dengan teman saat pelajaran berlangsung.

  8 Saya senang melakukan percobaan dengan alat peraga keping pecahan.

  9 Saya tidak mau bertanya kepada teman jika saya tidak mengerti.

  10 Saya mau mengerjakan tugas yang diberikan guru saat pemebelajaran di kelas.

  11 Saya mau mengemukakan pendapat dan ide dalam proses pembelajaran dengan keping pecahan di kelas.

  12 Alat peraga keping pecahan membuat saya bingung dalam mempelajari operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan.

  13 Saya senang mengikuti pelajaran matematika pada pokok bahasan pecahan dengan alat peraga keping pecahan.

  14 Saya lebih suka sibuk dengan kegiatan lain saat guru menjelaskan di depan.

  Indikator yang ada pada angket diatas digolongkan menjadi dua, yaitu pernyataan yang bernilai positif dan pernyataan yang bernilai negatif. Berikut tabel penggolongan pernyataan dalam angket minat yang diisi oleh siswa:

  45 Tabel.03. Penggolongan nilai pernyataan pada angket

Penggolongan Nomor Pernyataan

  Pernyataan positif 1,2,4,6,8,10,11,13 Pernyataan negatif 3,5,7,9,12,14

H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 1. Tahap Persiapan

  Sebelum melaksanakan penelitian, ada beberapa hal yang dilakukan sebagai persiapan, yaitu : a. Menghubungi kepala sekolah SLB B Karnna Manohara, meminta ijin untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.

  b. Diskusi mengenai subjek yang akan dipilih dengan kepala sekolah.

  c. Observasi sebelum membuat proposal penelitian, observasi dilakukan untuk mencari masalah dan materi yang akan diteliti.

  d. Menentukan materi yang akan dipakai dalam penelitian.

  e. Mencari alat peraga yang sesuai dengan materi pecahan yang akan digunakan dalam penelitan.

  f. Diskusi dengan guru kelas dan dosen mengenai alat peraga yang akan digunakan dalam penelitian.

  g. Merancang instrumen penelitian.

  h. Mempelajari cara berkomunikasi siswa SLB B Karnnamanohara di sekolah.

2. Tahap pelaksanaan a. Menguji validitas dan reliabilitas instrumen.

  46

  b. Memberikan pretest untuk melihat kemampuan awal siswa dalam mengerjakan soal mengenai pecahan.

  c. Melakukan pembelajaran untuk sub pokok bahasan kosep pecahan.

  d. Melakukan pembelajaran untuk sub pokok bahasan pecahan senilai dan membandingkan pecahan.

  e. Melakukan pembelajaran untuk sub pokok bahasan penjumlahan pecahan.

  f. Melakukan pembelajaran untuk sub pokok bahasan pengurangan pecahan.

  g. Melaksanakan posttest.

3. Tahap Analisis Data a. Mengolah data nilai pretest dan posttest.

  b. Menganalisis hasil pengamatan minat siswa.

  c. Menganalisis angket siswa mengenai minat siswa.

  d. Mengambil kesimpulan.

I. Rencana Kegiatan Dalam penelitian ini, peneliti akan berkolaborasi dengan teman peneliti lain.

  Bentuk kolaborasi yang digunakan adalah dalam hal penyusunan rancangan pembelajaran dan dalam pengambilan data berupa pengamatan kegiatan pembelajaran di kelas. Guru juga akan membantu, terutama dalam hal berkomunikasi dengan siswa.

  J. Alat Peraga yang Digunakan

  Alat peraga yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah keping-keping pecahan. Alat peraga berbentuk lingkaran, persegi dan persegi panjang yang terbuat dari mika bening. Keping pecahan dibuat dengan nilai yang bermacam-macam.

  47 Keping-keping yang telah dibuat kemudian dibagi menjadi beberapa bagian sesuai

  dengan nilai pecahan yang akan dibuat. Nilai dari setiap keping pecahan ditunjukkan dengan luas bagian yang diarsir.

  K. Evaluasi pembelajaran

  Akan ada dua evaluasi yang dilakukan setelah kegiatan pembelajaran dikelas, yang pertama adalah evaluasi terhadap pemahaman siswa. Evaluasi ini dilakukan dengan memberikan tes dan soal-soal latihan pada siswa. Yang kedua adalah evaluasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di kelas. Evaluasi dilakukan dengan berdiskusi dengan teman peneniliti dan dengan guru kelas.

  L. Analisis data dan penarikan kesimpulan 1. Analisis data.

  Analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif deskriptif. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengolah data yang berupa angka. Sedangkan analisis kualitatif deskriptif digunakan untuk mengolah data berupa kata-kata. Data berupa kata-kata diperoleh dengan mentranskripsi video yang diperoleh saat pembelajaran di kelas. Analisis komparatif juga diguanakan untuk membandingkan minat belajar matematika siswa yang tidak menggunakan alat peraga dan yang mengguanakan alat peraga.

2. Analisis validitas dan reliabilitas instrumen dan tes.

  Sebelum diberikan kepada siswa, soal pretest, posttest, serta instrumen- instrumen yang akan digunakan dalam penelitian diuji terlebih dahulu validitas

  48

  dan reliabilitasnya. Dalam penelitian ini, analisis validitas dan reliabilitas menjadi satu. Validitas dan reliabilitas instrumen diuji dengan menggunakan teknik expert

  

judgment. Dalam penelitian ini, pakar yang dipilih adalah dosen pembimbing dan

guru kelas.

  Dalam analisis validitas, akan ditentukan bukti validitas berdasarkan isi, tuntutan kognitif, bahasa, serta kesesuaian jumlah item dengan waktu yang disediakan. Bukti validitas berdasarkan isi dapat diperoleh dari suatu analisis hubungan antara isi tes dan konstrak yang ingin diukur (Mardapi, 2008). Untuk instrumen pembelajaran seperti RPP dan LKS bukti validitas isi diperoleh dengan menganalisis kesesuaian instrumen dengan silabus dan kurikulum. Bukti validitas berdasarkan tuntutan kognitif diperoleh dengan menganalisis kesesuaian antara tes dengan tuntutan hasil belajar yang ingin dicapai, dalam penelitian ini hasil belajar yang diukur sebatas pada hasil belajar kognitif yang meliputi ingatan dan pemahaan. Bukti validitas berdasarkan bahasa yang digunakan dapat diperoleh dengan menganalisis bahasa yang digunakan dalam instrumen, apakah sudah mengunakan bahasa yang baik dan benar, mudah dimengerti bagi anak dan tidak menimbulkan penafsiran ganda. Bukti berdasarkan kesesuaian jumlah item dengan waktu yang tersedia dianalisis untuk melihat apakah waktu yang diberikan untuk mengerjakan tes sudah sesuai.

3. Analisis proses pembelajaran

  Analisis proses pembelajaran dilakukan dengan menganalisis rekaman video saat proses pembelajaran. Tahap awal dalam analisis ini adalah dengan

  49

  mentranskripsikan hasil video. Kemudian dianalisis makna dari data yang diperoleh, analisis dilakukan secara kualitatif deskriptif.

  4. Analisis data hasil belajar.

  Data mengenai hasil belajar siswa dilihat dengan menganalisis hasil tes siswa dan menganalisis jawaban dari masing-masing siswa. Selain dari indikator dan nilai siswa, hasil pengamatan dikelas juga menjadi data yang penting dalam menarik kesimpulan.

  5. Analisis data minat siswa a) Analisis lembar pengamatan.

  Lembar pengamatan dianalisis dengan melihat jumlah tanda cek untuk masing-masing indikator yang diamati. Siswa diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu KM (kurang berminat) jika terdapat 0-1 tanda (  untuk masing-masing siswa, CM (cukup berminat) jika terdapat 2 tanda (  untuk masing-masing siswa, serta SM (sangat berminat) jika terdapat 3 tanda (  untuk masing-masing siswa.

  b) Analisis data angket minat siswa.

  Anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam memahami pernyataan yang tidak biasa dia jumpai, hal ini dikarenakan mereka mengalami kesulitan dalam menerima informasi lisan sehingga perbendaharaan kata menjadi terbatas. Dengan menyesuaikan dengan kondisi anak tunarungu, angket yang disusun dibuat sederhana, bahasa mudah dimengerti oleh anak, skala pilihan

  50

  dibuat lebih sedikit, serta jumlah item tidak terlalu banyak. ` Pilihan : Jawaban : Positif Negatif Poin :

  1 Angket yang telah diisi dicari skor keseluruhannya untuk masing- masing siswa. Selanjutnya dicari skor rata-rata keseluruhan siswa dalam kelas dan simpangan bakunya. Kategorisasi hasil pengukuran menggunakan aturan patokan, dengan klasifikasi sebagai berikut:

  Tabel.04. Kategori minat siswa berdasarkan skor yang diperoleh dari pengisian pangket. No Skor siswa Kategori Minat Siswa 1.   Sangat rendah 2.    Rendah 3.    Tinggi

  4. Sangat tinggi 

  Keterangan  persentase skor siswa

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN, HASIL PENELITIAN, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian 1. Sebelum Penelitian

  a. Observasi Kegiatan observasi sekolah dilaksanakan sebanyak 3 kali pada tanggal

  22, 26, dan 29 April 2011. Observasi yang pertama dilakukan untuk mengenal karakteristik sekolah. Didapatkan keterangan bahwa SLB B Karnnamanohara merupakan sekolah khusus bagi anak-anak yang mengalami kelainan pendengaran atau sering disebut dengan tunarungu. SLB B Karnnamanohara memiliki kelas mulai dari play grup, taman(TK), dasar(SD) dan lanjutan(SLTP). Walaupun siswa menderita tunarungu dan kesulitan dalam berbicara, namun komunikasi yang digunakan antara guru dan murid tetap dengan komunikasi verbal, penggunaan bahasa isyarat lebih diminumumkan.

  Hal ini bertujuan supaya kelak jika siswa berada pada lingkungan yang tidak mengenal bahasa isyarat, siswa dapat tetap berkomunikasi dengan baik.

  Dalam kegiatan belajar di kelas, guru menjelaskan materi dengan komunikasi verbal biasa seperti menjelaskan pada anak normal. Yang perlu

  52

  diperhatikan adalah kecepatan berbicara dan pemilihan kosakata sederhana yang sudah biasa digunakan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang pengulangan perintah atau pertanyaan bagi siswa perlu dilakukan agar siswa lebih paham. Kemampuan kognitif siswa SLB B Karnnamanohara sebagian besar tidak jauh berbeda dengan anak normal. Jika ada perbedaan dalam hal kemampuan belajar dan daya tangkap, hal itu terjadi karena perbendaharaan kata yang dimiliki siswa SLB B Karnnamanohara terbatas. Dalam menyampaikan materi di kelas, guru harus bisa bertatap muka secara langsung dengan siswa. Selain itu guru juga perlu memperhatikan murinya satu persatu. Kurikulum dan buka pedoman yang digunakan juga sama dengan yang digunakan pada sekolah dasar biasa.

  Setelah mengobservasi beberapa kelas dasar, akhirnya diputuskan untuk memilih kelas D4 sebagai objek penelitian. Kelas D4 terdiri dari 6 siswa, 5putri dan 1putra dengan karakteristik sebagai berikut:

  1) Tata Tata adalah anak yang ceria, percaya diri dan mudah bergaul dengan orang baru. Dia selalu antusias dan aktif dalam kegiatan pembelajaran.

  Mau bertanya, mengutarakan ide dan menjawab pertanyaan tanpa diminta oleg guru. Tata memiliki kemampuan verbal dan matematika yang bagus, percaya diri, dan cepat paham terhdap penjelasan guru.

  53

  2) Tika Tika memiliki sifat agak cuek dengan lingkungannya. Kurang percaya diri, tetapi memiliki kemampuan verbal yang bagus. Tika termasuk anak yang antusias dalam mengikuti pelajaran di kelas, dia juga aktif, mau bertanya, menyampaikan, ide, serta menjawab pertanyaan guru tanpa diminta. Pemahaman terhadap materi yang diberikan di kelas bagus blank -tengah pelajaran.

  3) Dela Dela termasuk anak yang ramah, ceria dan mudah bergaul dengan orang baru. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan memiliki kemampuan verbal yang bagus. Dela termasuk anak yang antusias dalam mengikuti pelajaran di kelas, dia juga aktif, mau bertanya, menyampaikan, ide, serta menjawab pertanyaan guru tanpa diminta. Pemahaman terhadap materi yang disampaikan bagus, hanya saja dalam mengikuti pelajaran Dela harus di kontrol agar tetap fokus dan tidak berbicara dengan teman yang lain.

  4) Putri Putri adalah anak yang pendiam, dia cenderung asik dengan kegiatannya sendiri dibanding bersama teman-temannya, Putri cenderung cuek dengan sekitarnya. Kemampuan verbal yang dimiliki kurang bagus,

  54

  tetapi pemahamannya terhadap matematika sangat bagus, cepat menangkap apa yang diajarkan di kelas. Dalam mengikuti pelajaran di kelas kurang aktif perlu ditunjuk agar dia mau menjawab atau menyampaikan idenya. Putri mempunyai hobi dan kemampuan menggambar yang sangat baik. 5) Arya

  Arya adalah satu-satunya siswa putra di kelas dasar 4, cukup baik dalam bersosialisasi dengan temannya. Arya memiliki kemampuan verbal yang bagus. Dia termasuk anak yang aktif, antusias dalam mengikuti pelajaran di kelas, mau mengutarakan ide dan menjawab pertanyaan dengan kemauannya sendiri. Pemahamn terhadap matematika bagus, agak sulit untuk fokus terhadap sesuatu, untuk itu dalam mengikuti pelajaran di kelas harus diperhatikan agar tetap fokus terhadap pelajaran. 6) Nana

  Nana berumur lebih tua dari teman yang lain, kemampuan bersosialisasi dengan orang disekitarnya bagus. Kemampuan verbal yang dimiliki Nana cukup bagus, tetapi kurang aktif dalam mengikuti pelajaran, perlu ditunjuk agar mau menyampaikan ide dan menjawab pertanyaan.

  Pemahamannya terhadap matematika bagus, cepat paham terhadap materi yang diberikan.

  55 Kemampuan kognitif yang dimiliki anak satu dengan yang lain tidak

  jauh berbeda. Dalam belajar di kelas, guru menggunakan metode ceramah dan pendekatan individual. Penggunaan alat peraga belum digunakan dalam pembelajaran matematika. Untuk membantu menjelaskan, maksimal guru hanya menggunakan gambar. Pelajaran matematika merupakan salah satu pelajaran yang dirasa sulit oleh siswa, salah satunya adalah materi tentang pecahan. Guru mengalami kesulitan untuk menanamkan konsep pecahan bagi siswa.

  b. Penyusunan Instrumen Instrumen yang disusun meliputi instrumen pembelajaran dan instrumen penelitian. Instrumen pembelajaran meliputi RPP dan LKS. Instrumen penelitian terdiri dari soal pretes dan potes, lembar pengamatan minat yang diisi oleh pengamat dan angket minat yang diisi oleh siswa. Dalam menyusunan instrumen, penelti berkonsultasi dengan guru dan dosen pembimbing. Untuk instrumen yang diisi oleh siswa, pemilihan kosa kata yang digunakan harus diperhatikan agar dapat dipahami oleh siswa.

  c. Validitas dan reliabilitas instrumen Validitas dan reliabilitas instrumen diuji dengan teknik expert

  judgment. Pakar yang dipilih dalam hal ini adalah guru dan dosen

  pembimbing. Guru dan dosen pembimbing melihat apakah instrumen yang dirancang sudah sesuai dengan standar-standar validitas dan reliabilitas yang

  56

  ditetapkan. Persetujuan validitas dan reliabilitas instrumen ditunjukkan dengan mengisi lembar pernyataan validitas instrumen, dapat dilihat pada lampiran.

2. Selama Penelitian

  a. Pelaksanaan pretes Pretes dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2011, materi yang diujikan meliputi konsep pecahan, perbandingan pecahan, penjumlahan pecahan, serta pengurangan pecahan dengan durasi waktu 2 jam pelajaran. Tes terdiri dari 19 soal, dibagi dalam dua bagian, bagian A terdiri dari 10 soal pilihan ganda dan bagian B terdiri dari 9 soal isian singkat. Dalam mengerjakan soal, guru membantu siswa untuk lebih memahami maksud pertanyaan dalam soal.

  b. Pertemuan pertama Pertemuan pertama dilaksanakan pada 20 Mei 2011, dengan jumlah siswa 5anak. Pada pertemuan pertama ini Nana tidak masuk sekolah karena sakit. Materi yang dibahas adalah mengenai konsep pecahan dengan durasi waktu 2 jam pelajaran. Kegiatan dimulai dengan memotong apel dan roti menjadi beberapa bagian sama besar. Setelah menggunakan apel dan roti lalu siswa diajak untuk menggunakan alat peraga keping pecahan. Pertama, peneliti menjelaskan di depan kemudian siswa dapat mencoba mengerjakan LKS dengan menggunakan alat peraga yang ada. Dalam kegiatan ini peneliti sebagai guru, sedangkan guru menjadi pengamat terhadap minat siswa selama

  57

  mengikuti pelajaran bersama satu teman pengamat yang lain. Selain sebagai pengamat, guru juga membantu peneliti dalam berkomunikasi dengan siswa.

  c. Pertemuan kedua Pertemuan kedua dilaksanakan pada 24 Mei 2011 dengan jumlah siswa ada 6anak. Hari kedua Nana sudah masuk sekolah. Materi yang dibahas adalah perbandingan pecahan dengan durasi waktu 2 jam pelajaran. Kegiatan dimulai dengan menggunakan alat peraga keping pecahan. Pertama membahas mengenai perbandingan pecahan yang penyebutnya sama, peneliti berperan sebagai guru. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan pancingan kepada siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa menyampaikan idenya bagaimana menggunakan alat peraga untuk membandingkan pecahan. Setelah perbandingan pecahan dengan penyebut yang sama selesai, siswa mengerjakan LKS dan dilanjutkan dengan membandingkan pecahan yang penyebutnya berbeda lalu mengerjakan LKS lagi. Kegiatan ditutup dengan mebuat kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilaksanakan.

  d. Pertemuan ketiga Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Kamis, 26 Mei 2011 dengan jumlah siswa 6anak. Materi yang dibahas adalah mengenai penjumlahan pecahan. Kegiatan dimulai dengan mengguanakan alat peraga keping pecahan. Peneliti sebagai guru menuntun siswa agar siswa menemukan ide

  58

  dalam menggunakan keping pecahan untuk penjumlahan. Kegiatan yang pertama mengenai penjumlahan pecahan yang penyebutnya sama, kemudian siswa mengerjakan LKS lalu dilanjutkan dengan penjumlahan yang berbeda penyebut serta mengerjakan LKSnya. Kegiatan ditutup dengan membuat kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan.

  e. Pertemuan keempat Pertemuan keempat dilaksanakan pada Jumat, 27 Mei 2011 dengan jumlah siswa 6anak. Pertemuan keempat membahas mengenai pengurangan pecahan baik yang berpenyebut sama maupun penyebut berbeda. Seperti pertemuan sebelumnya, kegiatan dimulai dengan menggunakan alat peraga.

  Peneliti mengarahkan siswa agar dapat menemukan cara menggunakan alat peraga keping pecahan untuk pengurangan pecahan. Dalam menyampaikan materi dan mendampingi siswa, peneliti dibantu oleh guru kelas untuk berkomunikasi dengan siswa. Setelah penjelasan selesai siswa mengerjakan LKS.

  f. Pelaksanaan post test Potes dilaksanakan pada 31 Mei 2011 dengan peserta sebanyak 6anak.

  Soal dan durasi waktu yang diberikan dalam postes sama dengan soal yang diujikan dalam pretes. Peneliti dan guru membantu siswa dalam memahami perintah maupun pertanyaan dalam soal postes.

  59 3.

   Sesudah penelitian

  Setelah penelitan selesai, yang dilakukan adalah mulai mengelompokkan data dan menganalisis data. Melihat apakah ada perbedaan nilai pretes dan postes serta ada tidaknya pengaruh penggunaan alat peraga terhadap minat siswa. Selain itu juga dilihat apakah ada pengaruh penggunaan alat peraga keping pecahan terhadap minat siswa dalam belajar pecahan.

B. Hasil penelitian 1. Hasil video pembelajaran

  a. Video hari pertama Pelaksanaan pembelajaran pada hari pertama berlangsung lancar. Siswa tampak antusias dengan alat peraga yang digunakan, hal ini dapat dilihat pada saat alat belum digunakan siswa sudah penasaran dan bertanya-tanya. Selain itu, siswa juga tampak senang dalam menggunakan alat peraga untuk mengerjakan LKS. Semua siswa mau terlibat aktif dalam proses pembelajaran, mereka menjawab setiap pertanyaan yang diajukan tanpa diminta, serta bertanya apabila kurang paham. Siswa tidak tampak mengalami kesulitan. Sedikit kendala yang terjadi adalah cara berbicara peneliti yang masih asing bagi siswa, sehingga siswa agak lama dalam mengerti dan sesekali melihat gurunya untuk memperoleh penjelasan. Namun hal ini dapat diatasi dengan menurunkan tempo berbicara dan diulang-ulang sampai siswa paham.

  60 Untuk dapat menentukan nilai dari bagian yang diarsir dari keseluruhan

  siswa tidak mengalami kesulitan. Tetapi untuk paham bahwa satu bagian utuh dibagi menjadi beberapa bagian yang sama besar siswa agak bingung, sebenarnya siswa bisa cepat paham, hanya pemilihan kata harus tepat agar siswa dapat cepat memahami. Perlu bantuan guru dalam menyampaikan materi, agar pemilihan kata tepat.

  b. Video hari kedua Hari kedua mengulas materi tentang perbandingan dua pecahan.

  Perbandingan dua pecahan yang dibahas meliputi pecahan yang berpenyebut sama dan pecahan yang berpenyebut berbeda. Untuk pecahan yang penyebutnya sama, siswa tidak begitu mengalami kesulitan, tetapi untuk pecahan yang berbeda penyebut siswa mengalami kesulitan. Jika mengerjakan soal dengan bantuan alat peraga siswa dapat mengerjakan tanpa mengalami kesulitan, tetapi jika alat peraga tidak digunakan, siswa bingung. Kemampuan siswa untuk menarik hubungan antara kejadian satu dengan yang lain masih kurang. Siswa masih perlu tuntunan untuk dapat melihat bahwa untuk membandingkan pecahan yang berbeda penyebut pertama perlu disamakan dahulu penyebutnya. Siswa sudah mengamati beberapa kali bagaimana jika dua keping pecahan yang mewakili nilai yang berbeda penyebut jika dihimpitkan akan menjadi bagian pecahan baru dengan penyebut merupakan kelipatan dari penyebut-penyebut yang sebelumnya, tetapi untuk membawa pada kesimpulan siswa masih mengalami kesulitan. Keterbatasan kemampuan

  61

  verbal membuat siswa sulit dalam menarik sebuah kesimpulan. Sehingga perlu peran guru untuk mengarahkan siswa dalam menyusun sebuah rumusan kalimat.

  Walaupun mengalami kesulitan, siswa tetap terlihat antusias dan senang menggunakan alat peraga keping pecahan dalam pembelajaran. Keaktifan siswa tetap terlihat, siswa mau terlibat dalam proses pembelajaran. Siswa dapat bekerjasama dengan baik saat mengerjakan LKS dalam kelompok.

  c. Video hari ketiga Hari ketiga mempelajari tentang operasi penjumlahan bilangan pecahan.

  Materi penjumlahan juga dibagi dua yang melibatkan pecahan yang berpenyebut sama dan pecahan yang berpenyebut berbeda. Setelah melakukan percobaan dengan alat peraga keping pecahan, siswa tampak sudah lebih paham mengenai penjumlahan dua bilangan pecahan yang penyebutnya sama.

  Tetapi untuk penjumlahan dua pecahan yang penyebutnya berbeda, siswa mengalami sedikit kesulitan. Langkah untuk menyamakan penyebut agak sulit disampaikan kepada siswa. Penggunaan alat peraga keping pecahan menjadi sulit, karena siswa sulit untuk menarik hubungan antara yang terjadi pada alat peraga dengan langkah penjumlahan bilangan pecahan yang berbeda penyebutnya. Dalam mencari pecahan senilai agar penyebuntnya sama, siswa cenderung menggunakan ingatan yang dimilikinya. Dalam menjumlahkan pecahan, siswa memberikan ide untuk menggabungkan daerah-daerah yang diarsir pada keping pecahan. Untuk penjumlahan pada pecahan yang

  62

  penyebutnya berbeda, jika dilakukan dengan menggunakan keping pecahan siswa dapat mengerti berapa hasil penjumlahannya, tetapi ketika tidak menggunakan alat peraga siswa mengalami kesulitan. Untuk membantu siswa, peneliti dan guru menunjukkan sedikit-sedikit hal yang dapat digunakan dalam mecari pola untuk menjumlahkan pecahan yang penyebutnya berbeda.

  Pada hari ketiga antusiasme siswa dalam menggunakan alat peraga mulai berkurang. Konsentrasi siswa harus dikontrol, namun keaktifan dan keterlibatan siswa cukup baik.

  d. Video hari keempat Hari keempat mempelajari tentang pengurangan pecahan, pengurangan pecahan juga dibagi menjadi dua bagian yaitu pngurangan pecahan yang sama penyebutnya dan berbeda penyebutnya. Untuk pengurangan pecahan, siswa tidak begitu mengalami keulitan. Hal ini dikarenakan pada perbandingan dan penjumlahan pecahan proses-prosesnya sudah dipelajari, hanya penekanan lebih pada operasi pengurangan saja. Siswa memberikan ide bagaimana menggunakan alat peraga keping pecahan dalam pengurangan pecahan, namun idenya masih salah dan terbawa pada proses penjumlahan. Konsep pengurangan dengan mengambil bagain yang dikurangkan diingatkan kembali pada siswa. Setelah siswa mengingat konsep pengurangan, siswa paham dan dapat menganalogikan pada operasi pengurangan bilangan pecahan. Pada pecahan yang berbeda penyebut, siswa tidak terlalu mengalami kesulitan karena proses penyamaan penyebut sudah dibahas pada perbandingan dan

  63

  penjumlahan pecahan yang berbeda penyebut. Pada pertemuan keempat ini, antusias dan kektifan siswa tinggi. Siswa senang menggunakan alat peraga keping pecahan, beberapa siswa jika sudah paham langkahnya cenderung tidak menggunakan alat lagi.

2. Hasil pretes dan potes Jika dilihat secara keseluruhan nilai pretes siswa masih jauh dari ketuntasan.

  Nilai pretes tertinggi dicapai oleh Arya dengan nilai 47,6 sedangkan nilai yang terendah dicapai oleh Dela dengan nilai 1,7. Untuk nilai postes cenderung lebih baik jika dibanding nilai pretes, nilai tertinggi 8,6 dicapai oleh Putri dan Tata sedangkan nilai terendah 6,9 dicapai oleh Dela. Jawaban pretes dan postes siswa dapat dilihat pada tabel 06.

  Tabel.05. Jawaban pretes dan postes siswa No Soal

Kunci

jawaban

  Nama Jawaban Pretes Postes

A. Pilihan Ganda

  1 Gambar yang berwarna

 

  Putri d d Dela d d Nana d d Tata d d Tika d d Arya a d

  2 Gambar yang berwarna

 

  Putri d d Dela b d Nana b c Tata d d

  64 Tika d d Arya d d

  3 Pecahan  

  

  Putri c c Dela d d Nana b c Tata b c Tika c c Arya d c

  4 Pecahan  

  

  Putri c c Dela d b Nana d b Tata b b Tika b b Arya d c

  5 Hasil dari  

     

  

 

  Putri b a Dela d a Nana b a Tata b a Tika b a Arya b a

  6 Hasil dari    

     

    Putri a b Dela c b Nana a b Tata a b Tika a b Arya b b

  7 Hasil dari

 

  Putri a a Dela d d

  65  

    Putri a b Dela a b Nana c b Tata c c Tika c c Arya a a

   

   Tata  

  Nana   

     

     Dela

    Putri 

  1 Daerah yang berwarna biru  

 

     

      

  10 Hasil dari   

    Putri a d Dela c b Nana a d Tata a b Tika a b Arya a a

     

  9 Hasil dari    

    Putri a a Dela a a Nana b a Tata a a Tika d a Arya a a

     

  8 Hasil dari   

  Nana b a Tata a a Tika a a Arya b a

B. Isian

  66 Tika  

     

   Putri  

  

 

      

  3   

  Dela   Nana   Tata   Tika   Arya  

  

 

  Putri  

     

    

  Dela   Nana   Tata   Tika   Arya   d.

  

 

  Putri  

    

    Arya 

   Putri   Dela   Nana   Tata   Tika   Arya   c.

   

     

  Tika   Arya   b.

  Dela   Nana   Tata  

  

 

  Putri  

     

    

  a.

  2 Beriah tanda lebih dari (>),kurang dari (<), atau sama dengan (=).

    

   

  67    Dela

  

     Nana

      Tata  

    Tika    

  Arya        

  4 Putri            

  Dela      

  Nana     Tata    

  Tika     Arya        

  5 Putri            

  Dela  

 

    Nana    

  Tata     Tika

      Arya  

       

  6 Putri       

  68    Dela

  

     Nana    

  Tata     Tika    

  Arya  

  Nilai hasil pretes dan postes dapat dilihat pada tabel 06:

  Tabel.06. Nialai pretes dan postes siswa Nama Nilai Pretes Nilai Postes

  Tata 45,2 85,7 Arya 47,6 83,3

  Dela 16,7

  69 Putri 33,3 80,1 Tika 38 71,4

  Nana 28,5 71,4 3.

   Hasil pengamatan minat siswa

  Selama pelajaran berlangsung, ada 3 pengamat yang mengamati minat siswa. Hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel 07 sampai tabel 10 berikut: Keterangan: SM : sangat berminat

  CM : cukup berminat KM : kurang berminat

  69

  a. Pertemuan pertama Tabel.07. Hasil pengisian lembar pengamatan minat siswa hari pertama.

  Nama siswa Pengamat Hasil pengamatan Kategori minat Tata Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM

  Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Arya Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM

  Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Dela Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) SM

  Putri Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) CM Tika Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) SM

  Nana Pengamat 1 (guru) - Pengamat 2 (peneliti) - Pengamat 3 (rekan peneliti) -

  b. Pertemuan kedua

Tabel.08. Hasil pengisian lembar pengamatan minat siswa hari kedua.

  Nama siswa Pengamat Hasil pengamatan Kategori minat Tata Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM

  Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Arya Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) SM

  Dela Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Putri Pengamat 1 (guru) CM SM

  70

  c. Pertemuan ketiga Tabel.09. Hasil pengisian lembar pengamatan minat siswa hari ketiga.

  Nama siswa Pengamat Hasil pengamatan Kategori minat Tata Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM

  Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Arya Pengamat 1 (guru) SM CM Pengamat 2 (peneliti) CM Pengamat 3 (rekan peneliti) CM

  Dela Pengamat 1 (guru) SM CM Pengamat 2 (peneliti) CM Pengamat 3 (rekan peneliti) CM Putri Pengamat 1 (guru) SM

  SM Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) CM Tika Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM

  Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Nana Pengamat 1 (guru) CM CM Pengamat 2 (peneliti) CM Pengamat 3 (rekan peneliti) CM

  Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Tika Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM

  Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Nana Pengamat 1 (guru) CM CM

  Pengamat 2 (peneliti) CM Pengamat 3 (rekan peneliti)

  CM

  71

  d. Pertemuan keempat Tabel.10. Hasil pengisian lembar pengamatan minat siswa hari keempat.

  Nama siswa Pengamat Hasil pengamatan Kategori minat Tata Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM

  Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Arya Pengamat 1 (guru) SM CM Pengamat 2 (peneliti) CM Pengamat 3 (rekan peneliti) CM

  Dela Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Putri Pengamat 1 (guru) SM

  SM Pengamat 2 (peneliti) SM Pengamat 3 (rekan peneliti) CM Tika Pengamat 1 (guru) SM SM Pengamat 2 (peneliti) SM

  Pengamat 3 (rekan peneliti) SM Nana Pengamat 1 (guru) SM CM Pengamat 2 (peneliti) CM Pengamat 3 (rekan peneliti) CM

4. Hasil angket minat siswa

  No Pertanyaan Tata Arya Tika Dela Putri Nana 1.

  Belajar pecahan dengan alat peraga keping pecahan lebih menarik dibanding tanpa alat peraga.

  1

  1

  Secara keseluruhan hasil pengisian angket minat yang diisi oleh siswa menunjukkan minat siswa yang tinggi dalam mempelajari pecahan dengan alat peraga keping pecahan. Berikut data yang diperoleh dari siswa: Tabel.11. Hasil pengisian angket minat siswa.

  1

  1

  1

  2 Mempelajari pecahan dengan alat peraga keping pecahan membuat saya bersemangat dalam mengikuti pelajaran dikelas.

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  72 Saya tidak mau kepada guru saat proses belajar dikelas 3 mengenai pecahan dengan alat

  1

  1

  1

  1

  1

  1 peraga keping pecahan, walaupun saya tidak mengerti. Saya mengerjakan setiap LKS

  4

  1

  1

  1

  1

  1

  1 dengan sungguh-sungguh. Kegiatan pembelajaran dengan 5 alat peraga keping pecahan

  1

  1

  1

  1

  1

  1 terasa membosankan. Saya mau mencoba dan menggunakan alat peraga

  6

  1

  1

  1

  1

  1

  1 keping pecahan dalam kegiatan belajar di kelas. Saya suka bercanda dan 7 mengobrol dengan teman saat

  1

  1

  1

  1

  1 pelajaran berlangsung. Saya senang melakukan 8 percobaan dengan alat peraga

  1

  1

  1

  1

  1

  1 keping pecahan Saya tidak mau bertanya pada

  9

  1

  1

  1

  1

  1

  1 teman jika tidak mengerti. Saya mau mengerjakan tugas 10 yang diberikan guru saat

  1

  1

  1

  1

  1

  1 pemebelajaran di kelas. Saya mau mengemukakan pendapat dan ide dalam proses

  11

  1

  1

  1

  1 pembelajaran dengan keping pecahan di kelas. Alat peraga keping pecahan membuat saya bingung dalam

  12 mempelajari operasi

  1

  1

  1

  1

  1 penjumlahan dan pengurangan pecahan. Saya senang mengikuti pelajaran matematika pada

  13

  1

  1

  1

  1

  1

  1 pokok bahasan pecahan dengan alat peraga keping pecahan. Saya lebih suka sibuk dengan 14 kegiatan lain saat guru

  1

  1

  1

  1

  1

  1 menjelaskan di depan. Skor

  14

  13

  14

  13

  13

  13 Persentase skor dari angket minat siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

  73 Tabel.12. Persentase skor angket minat siswa.

  Persentase Nama siswa skor (%) Putri 92,86 Dela 92,86 Tata 100 Tika 100 Arya 92,86 Nana 92,86

C. Analisis Data dan Pembahasan 1. Data minat siswa a. Data yang diperoleh dari pengamat.

  Data ini diperoleh dari observasi pengamat terhadap siswa saat pelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan setiap pertemuan dengan 3 orang pengamat. Pengamat 1 adalah guru kelas, pengamat 2 adalah peneliti sendiri dan pengamat 3 adalah rekan peneliti. Dalam penelitian ini, walaupun peneliti berperan sebagai peneliti peneliliti juga berperan sebagai pengamat siswa. Hal ini memungkinkan karena siswa dikelas hanya 6 orang, pembelajaran juga dilaksanakan dengan seting peneliti harus dapat bertatap muka langsung dengan siswa. Seting pelaksanaan pelajaran dikelas dapat dilihat pada gambar 36 : Gambar 8. Seting pelaksanaan pembelajaran di kelas.

  74 Selain seting dan jumlah, kegiatan pembelajaran yang tidak seluruhnya

  berpusat pada peneliti juga membuat peneliti dapat sekaligus menjadi pengamat dalam proses pembelajaran di kelas. Kegiatan pembelajaran dibagi menjadi dua, yaitu penjelasan klasikal dan bekerja kelompok dengan LKS.

  Ada tiga aspek yang diamati pada saat siswa mengikuti pelajaran di kelas. Aspek yang diamati meliputi ketertarikan siswa dalam menggunakan alat peraga keping pecahan, perhatian siswa terhadap penjelasan guru, serta kemauan siswa dalam menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide saat pembelajaran. Ketiga aspek tersebut masing-masing adalah beberapa hal yang dapat mencerminkan minat siswa terhadap suatu pembelajaran yaitu antusias, perhatian, dan keterlibatan. Pengisian lembar pengamatan siswa ini berdasarkan pada sesuatu yang dapat terlihat dengan indra penglihatan oleh pengamat. Misalnya ketertarikan siswa terhadap alat peraga dapat dilihat bahwa siswa mau menggunakan alat peraga keping pecahan, serta kemauan siswa untuk bertanya atau memberikan ide dalam menggunakan alat peraga. Perhatian siswa dapat dilihat pada sikap siswa saat mengikuti pelajaran, apakah siswa diam mendengarkan atau sibuk dengan kegiatan lain yang lebih menarik. Sedangkan kemauan siswa bertanya dan menyampaikan pendapat dapat dilihat dari keterlibatan siswa selama pelajaran berlangsung, apakah siswa mau menjawab pertanyaan tanpa diminta oleh guru, serta apakah siswa mau menyampaikan idenya untuk memecahkan masalah. Dari aspek yang

  75

  diamati pengamat, siswa dikatakan sangat berminat apabila ketiga kriteria yang apa pada lembar pengamatan dipenuhi oleh siswa, siswa dikatakan cukup berminat apabila terdapat dua kriteria yang dipenuhi oleh siswa, sedangkan jika kriteria yang dipenuhi kurang dari dua maka siswa daikategorikan kurang berminat.

  Pengamat sudah sepakat dengan acuan pengisian lembar pengamatan seperti diatas, namun hasil pengisian tergantung pada pandangan masing- masing pengamat. Hal ini yang menjadikan tidak menutup kemungkinan bahwa hasil pengisian lembar pengamat satu dengan yang lain berbeda(perbedaan pengisian lembar pengamatan dapat dilihat pada tabel 07 sampai tabel 10). Dari hasil pengamatan ketiga pengamat, kategori minat siswa yang dianggap representatif adalah hasil yang terbanyak. Kategori minat siswa ditentukan berdasarkan dua atau lebih hasil pengisian dari pengamat yang sama. Minat siswa diamati setiap pertemuan, adapun pembahsannya sebagai berikut:

  1) Minat siswa hari pertama.

  Pada tebel 07 rakapan kategori minat siswa hasil pengisian angket minat oleh pengamat pada pertemuan pertama tampak bahwa semua siswa masuk dalam kategori sangat berminat. Secara keseluruhan, dalam mengikuti pelajaran pada hari pertama semua siswa tempak senang dalam menggunakan alat peraga, tampak memperhatikan penjelasan peneliti

  76

  dengan baik, serta mengikuti pelajaran dengan aktif. Saat peneliti masuk ke kelas dan mempersiapkan alat yang akan digunakan dalam pembelajaran, siswa tampak penasaran dengan alat peraga yang akan digunakan. Beberapa siswa bertanya-tanya tentang kegunaan alat peraga yang akan dipakai, beberapa siswa yang lain menawarkan untuk membantu mempersiapkan alat yang akan digunakan.

  Pada awal pembelajaran dengan benda konkrit berupa apel dan roti, siswa tampak tertarik. Ketika peneliti menawarkan tentang bagaimana akan menggunakan media yang dipilih, siswa tampak berebut untuk menyampaikan idenya. Hali ini tampak pada gambar 9.

  Gambar 9. Siswa menyampaikan ide dalam menggunakan alat peraga

  Gambar 9 menunjukkan anak-anak yang sedang memberikan ide untuk memotong apel dan roti. Penggunaan alat peraga juga membuat siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran. Siswa tampak tidak sabar untuk

  77

  menggunakan alat peraga, hal ini tampak pada saat peneliti menjelaskan dengan alat peraga siswa berjalan maju untuk melihat lebih dekat dan maju untuk mencoba menggunakan alat peraga keping pecahan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 10:

  Gambar 10. Siswa Gambar 11. Siswa mengitung jumlah potongan memperhatikan penjelasan peneliti apel

  Siswa memperhatikan penjelasan yang dilakukan oleh guru dengan sungguh sungguh, hal ini tampak pada gambar 11: Gambar 11 menunjukkan sikap siswa saat memperhatikan penjelasan peneliti. Siswa tampak tenang dan serius dalam mengikuti pelajaran. Siswa memperhatikan setiap langkah yang dilakukan peneliti dalam menggunakan apel dan roti dalam mempelajari pecahan. Saat peneliti memperkenalkan alat peraga keping pecahan yang akan digunakan, siswa juga memperhatikan dengan baik. Siswa fokus terhadap penjelasan peneliti, ini merupakan salah satu tugas peneliti untuk membuat siswa

  78

  tetap fokus pada pembelajaran. Apabila siswa tidak fokus, akan sulit untuk menyampaikan informasi kepada siswa. Siswa sulit juga untuk menerima sesuatu yang diajarkan di kelas. Siswa tidak dapat melakukan dua kegiatan sekaligus, harus satu per satu, oleh sebab itu pelaksanaan pembelajaran dirancang menjadi dua bagian yaitu saat siswa harus mendengarkan penjelasan guru dan saat siswa harus mengerjakan LKS dalam kelompok.

  Pembelajaran pada pertemuan pertama berlangsung aktif. Semua siswa bersemangat dalam menjawab pertanyaan yang diberikan guru walaupun tidak diminta menjawab, hal ini tampak pada gambar 12.

  Gambar 12. Siswa aktif menyampaikan pendapat.

  Siswa berebut dalam manjawab pertanyaan walaupun tidak semua jawaban yang diberikan siswa benar. Jika jawaban yang diberikan kurang tepat, peneliti akan mengulangi pertanyaan karena terkadang kalimat pertanyaan yang diberikan kurang bisa dipahami oleh siswa. Dalam menyampaikan materi, perlu dipilih kata-kata yang mudah dipahami dan

  79

  sering digunakan oleh siswa sehari-hari. Hal ini dikarenakan perbendaharaan kata yang dimiliki anak terbatas, tidak sepert anak normal biasa. Disini peran guru kelas dibutuhkan, karena peneliti adalah orang baru bagi mereka beberapa kali siswa tidak mengerti akan apa yang disampaikan peneliti sehingga perlu bantuan guru kelas untuk menyampaikan kepada siswa sampai siswa memahami. Hal ini tampak pada gambar 13: Gambar 13. Guru membantu member penjelasan pada siswa.

  Begitu pula saat pengisian LKS, beberapa siswa bertanya maksud dari apa yang tertulis pada LKS namun penjelasan yang diberikan peneliti kurang bisa dimengerti akhirnya mereka bertanya kepada guru kelas. Hal ini tampak pada gambar 14:

  80 Gambar 14. Guru membantu siswa memahami perintah pada LKS.

  Kategori minat masing-masing siswa ditentukan berdasarkan sikap yang dapat diamati oleh pengamat saat pelajaran berlangsung. Adapun penjelasan untuk masing-masing anak adalah sebagai berikut:

  a) Tata Pertemuan pertama Tata memenuhi ketiga kriteria yang terdapat pada lembar pengamat. Masing-masing pengamat mengkategorikan

  Tata ke dalam kategori sangat berminat, dapat dilihat pada Tabel 07. Hal ini memang sesuai, karena pada saat pembelajaran di kelas Tata sangat senang menggunakan alat peraga keping pecahan. Beberapa kali ketika peneliti menjelaskan dengan alat peraga Tata maju ke depan untuk melihat agar lebih jelas dan meminjam alat peraga untuk diutak-atik agar lebih memahami apa yang diajarkan. Selain itu, saat mengerjakan LKS dalam kelompok Tata juga bersemangat dalam menggunakan alat peraga. Terkadang Tata berebut dengan teman

  81

  sekelompoknya untuk menggunakan alat peraga keping pecahan yang telah disiapkan.

  Ketika guru menjelaskan Tata akan diam memperhatikan dengan sungguh-sungguh, terkadang Tata mengingatkan teman-temannya untuk diam jika ada teman yang mengobrolkan hal lain di luar pelajaran. Hal ini tampak pada gambar 15.

  Gambar 16. Tata mengerjakan LKS Gambar 15. Tata memperhatikan penjelasan peneliti

  Tata mengikuti setiap perintah atau instruksi dari peneliti. Dia juga selalu serius dalam mengerjakan LKS maupun soal-soal yang diberikan saat pelajaran. Hal ini dapat dilihat pada gambar 16:

  Tata juga termasuk anak yang aktif dalam mengikuti pelajaran di kelas. Pada pertemuan pertama ini, sepanjang pelajaran Tata aktif menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh peneliti tanpa perlu diminta. Hal ini tampak pada gambar 17.

  82 Gambar 17. Tata angkat tangan untuk menjawab pertanyaan.

  Dalam gambar 17, tampak Tata sedang mengangkat tangan untuk meminta ijin menjawab pertanyaan. Dalam trakskripsi video hari pertama juga dapat dilihat bahwa Tata sangat sering menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti.

  Hal-hal yang dapat diamati dari Tata selama pembelajaran menjadi dasar pengamat untuk menentukan kategori minat Tata dalam mengikuti pembelajaran dengan alat peraga keping pecahan. Pertemuan pertama Tata masuk dalam kategori sangat berminat.

  b) Arya Pertemuan pertama Arya memenuhi ketiga kriteria yang terdapat pada lembar pengamat. Masing-masing pengamat mengkategorikan

  Arya ke dalam kategori sangat berminat, dapat dilihat pada Tabel 07. Hal ini memang sesuai karena pada saat pelajaran dengan alat peraga keping pecahan, Arya terlihat sangat tertarik dengan alat yang digunakan. Hal ini terlihat, pada hari pertama saat peneliti sedang

  83

  mempersiapkan benda konkrit berupa roti dan apel Arya bertanya- tanya keguanannya. Hal yang sama juga dilakukan saat peneliti sedang mempersiapkan alat peraga keping pecahan, Arya bertanya-tanya sambil membantu mengkalsifikasikan keping pecahan yang ada dan mencoba-coba mengamati keping-keping pecahan yang ada. Saat pembelajaran pun demikian, Arya beebrapa kali menyampaikan ide dalam menggunakan alat peraga yang digunakan. Saat pembelajaran dengan apel dan roti Arya memberikan ide untuk memotong-motong apel menjadi beberapa bagian setalah guru bertanya akan diapakan apel dan roti jika kita akan belajar pecahan. Hal ini tampak pada gambar 18.

  Gambar 18. Arya menyampaikan ide untuk memotong apel.

  Saat peneliti menjelaskan dengan alat peraga keping pecahan, Arya memperhatikan dengan baik, sesekali dia meminjam alat peraga keping pecahan yang sedang digunakan untuk mengamati lebih dekat. Saat bekerja dalam kelompok pun Arya sering menggunakan alat

  84

  peraga keping pecahan, dengan serius dia mengutak-atik untuk membantu dia mengerjakan LKS. Hal in tampak pada gambar 19.

  Gambar 19. Arya menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan soal dalam LKS.

  Pada pertemuan pertama Arya mengikuti pelajaran dengan serius, dia memperhatikan penjelasan peneliti dengan sungguh- sungguh. Arya juga selalu mengikuti setiap langkah pembelajaran dengan baik sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh peneliti. Hal ini dapat dilihat pada gambar 20 yang menunjukkan salah satu sikap Arya saat mengikuti pelajaran di kelas.

  Gambar 20. Arya memperhatikan penjelasan peneliti.

  Arya selalu menanggapi pertanyaan dari peneliti dengan aktif. Selalu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti selama

  85

  pelajaran berlangsung, walaupun jawaban yang diberikan tidak selalu benar. Terkadang perlu pengulangan perintah atau pertanyaan yang diberikan kepada Arya agar benar-benar memahami apa maksud dari pertanyaan yang diberikan. Arya juga sering meyampaikan idenya tentang bagaimana alat peraga keping pecahan akan digunakan. Salah satu gambar saat Arya bertanya atau menjawab pertanyaan guru tampak pada gambar 21: Gambar 21. Arya menjawab pertanyaan dari peneliti.

  Selain tampak pada gambar 21, keaktifan Arya dalam menjawab pertanyaan juga tampak pada transkrip video hari pertama. Dari percakapan yang terjadi, terlihat bahwa hampir setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti dijawab oleh Arya.

  Sikap Arya dalam mengikuti pelajaran hari pertama ini menjadi dasar pengamat dalam menentukan kategori minat siswa. Karena tiga ketiga pengamat memasukkan Arya dalam kategori sangat berminat, maka pada pertemuan pertama ini Arya termasuk dalam kategori

  86

  sangat berminat dalam mengukuti pembelajaran dengan alat peraga keping pecahan.

  c) Dela Pada pertmuan pertama, setiap pengamat memandang Dela memenuhi tiga kriteria yang dianggap dapat menunjukkan minat siswa saat mengikuti pelajaran, dapat dilihat pada Tabel 07. Masing-masing pengamat memasukkan Dela dalam kategori sangat berminat. Hal ini menang sesuai jika dianalisis kembali, baik dari video, foto maupun dari hasil transkrip video yang ada, tampak bahwa Dela mengikuti pelajaran dengan baik.

  Pada hari pertama, terlihat Dela begitu tertarik dengan alat peraga yang dibawa, baik apel dan roti maupun keping pecahan.

  Ketika peneliti menjelaskan mengenai konsep pecahan dengan apel dan roti, beberapa kali Dela maju kedepan untuk menghitung bagian- bagian yang menunjukkan pecahan tertentu. Dela adalah anak yang maju pertama kali jika berhubungan dengan alat peraga. Hal ini dapat dilihat dari gambar 22.

  Gambar 22. Dela maju menghitung potongan apel.

  87 Saat peneliti memotong menjadi beberapa bagian yang relatif banyak,

  lalu peneliti bertanya nilainya. Dela langsung maju kedepan untuk menghitung dan mengutak-atik apel yang sudah dipotong-potong begitu juga ketika pembelajaran dengan roti. Saat masuk pada bagian yang menggunakan alat peraga keping pecahan, pada saat peneliti menjelaskan dengan keping pecahan, beberapa kali Dela maju untuk merebut keping pecahan yang sedang digunakan lalu diotak-atik. Hal ini dapat diamati dari gambar 23: Gambar 23. Dela mengutak-atik keping pecahan.

  Setelah mengambil keping pecahan dari peneliti, Dela menbawa keping pecahan dan mencoba-coba menghitung jumlah bagian yang sama besar dan jumlah bagian yang diberi warna. Begitu juga saat mengerjakan LKS dalam kelompok, Dela bersemangat dalam menggunakan alat peraga keping pecahan untuk menyelesaikan soal

  88

  yang ada dan berdiskusi dengan teman sekelompoknya. Hal ini bisa dilihat pada gambar 24 dan gambar 25.

  Gambar 24. Dela Gambar 25. Dela menggunakan keping mengutak-atik pecahan saat bekerja dalam kelompok. keping pecahan.

  Dalam mengikuti pelajaran pada hari pertama ini, Dela tampak mengikuti dengan sungguh-sungguh. Dela memperhatikan penjelasan peneliti dengan baik. Saat pelajaran klasikal dengan peneliti menjelaskan di depan, Dela memperhatikan dengan serius. Dalam bekerja dikelompoknya, Dela juga selalu mengikuti petunjuk yang diberikan oleh peneliti, hal-hal seperti mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, bagaimana teknis mengerjakannya serta instruksi apakah mengerjakannya harus menggunakan alat atau tidak. Semua perintah, keterangan, dan penjelasan peneliti semua diperhatikan oleh Dela dengan baik. Gambar 26 dan gambar 27 menujukkan sikap Dela dalam mengikuti pelajaran di kelas pada pertemuan pertama.

  89 Gambar 26. Sikap Gambar 27. Dela memperhatikan dela dalam penjelasan peneliti. mengikuti pelajaran

  Dela adalah anak yang aktif dan penuh percaya diri, sehingga dalam mengikuti pelajaran pun Dela juga menunjukkan keaktifannya.

  Dia aktif menjawab sebagian besar pertanyaan yang diajukan oleh peneliti walaupun tidak semua jawabannya benar. Beberapa kali dia juga menyampaikan ide untuk mengoperasikan alat peraga baik apel dan roti maupun keping pecahan. Jika dalam mengikuti pelajaran ada yang dia rasa kurang jelas, dia tidak segan-segan untuk bertanya sampai dia mengerti, baik bertanya pada peneliti, guru kelas maupun dengan temannya. Salah satu keaktifan Dela dalam mengikuti pelajaran dapat dilihat dalam gambar 28 dan gambar 29.

  Gambar 28. Dela Gambar 29. Dela menjawab menjawab pertanyaan. pertanyaan

  90 Berdasarkan kondisi yang telah diuraian di atas, pengamat

  mengkategorikan Dela ke dalam kategori sangat berminat. Hal ini memang sesuai karena Dela memang memenuhi semua kriteria yang dianggap menunjukkan minatnya dalam mengkuti pelajaran dengan alat peraga keping pecahan.

  d) Putri Pada pertemuan pertama, Putri masuk dalam kategori sangat minat. Tetapi tidak semua pengamat memasukkan Putri pada kategori sangat berminat, dapat dilihat pada Tabel 07.. Pengamat 3 mengkategorikan Putri pada cukup berminat saja. Namun demikian, pengambilan kesimpulan mengenai minat tetap memperhatikan suara terbanyak. Karena 2 pengamat lainnya mengkategorikan pada sangat berminat, maka putri tetap berada pada kategori sangat berminat. Pada

  Tabel 07 dapat dilihat bahwa pengamat 3 mengamati bahwa Putri

  tidak memenuhi kriteria pertama yaitu tertarik untuk menggunakan alat peraga keping pecahan.

  Pengamat satu dan dua lebih milihat Putri dalam mengikuti pelajaran pada saat pembelajaran klasikal dengan peneliti. Dari situ tampak bahwa Putri sesekali menggunakan alat peraga. Namun demikian, setelah diamati lagi dalam menggunakan alat peraga lebih banyak atas perintah peneliti bukan inisiatif sendiri. Namun ada

  91

  beberapa kali yang juga merupakan inisiatif Putri sendiri. Saat bekerja dalam kelompok, pada awalnya Putri mau menggunakan alat peraga keping pecahan tetapi setelah itu Putri lebih menggunakan kemampuannya sendiri tanpa bantuan alat. Putri memang tergolong anak yang pintar dalam pelajaran matematika jika dibandingkan dengan teman yang lain. Menurut pengamat satu dan pengamat dua, Putri sedikit menggunakan alat peraga dikarenakan dengan sedikit itu dia sudah paham mengenai konsep pecahan, dia juga sudah dapat mengerjakan soal-soal tanpa menggunakan alat peraga keping pecahan lagi. Oleh sebab itu, pengamat satu dan dua menganggap bahwa Putri ada ketertarikan dalam menggunakan alat peraga, tetapi karena kemampuan yang dimilikinya bagus maka penggunaan alat peraga dapat diminimalkan. Sedangkan menurut pengamat tiga, intensitas dan cara Putri menggunakan alat peraga tidak menunjukkan ketertarikan Putri terhadap alat peraga keping pecahan. Intensitas yang relative lebih sedikit jika dibanding teman-temannya serta cara penggunaan yang hanya sekedar dilihat dan di bolak-balik membuat pengamat tiga memasukkan Putri pada kategori tidak berminat. Pada gambar 30 tampak Putri menggunakan keping pecahan untuk membantu mengerjakan LKS.

  92 Gambar 30. Putri menggunakan alat peraga keping pecahan untuk mengerjakan LKS.

  Putri adalah anak yang pendiam, dia juga selalau serius dalam mngikuti pelajaran di kelas. Dia selalu memperhatikan peneliti dengan sungguh-sungguh. Setiap penjelasan dan perintah yang diberikan peneliti diperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Putri mengikuti petunjuk yang diberikan peneliti dalam mngerjakan LKS, namun karena kemampuannya yang bagus dia sering mendahului teman- temannya. Dia sering mengerjakan soal-soal yang sebenarnya belum diminta peneliti untuk mengerjakan.

  Gambar 31. Putri memperhatikan penjelasan peneliti.

  93 Gambar 31 menunjukkan salah satu sikap Putri dalam mengikuti

  pelajaran. Putri tampak tenang dan serius dalam memperhatikan peneliti.

  Walaupun Putri termasuk anak yang pendiam, tetapi pada pertemuan pertama ini Putri banyak menjawab pertanyan tanpa diminta, sesekali menyampaikan ide dalam pembelajaran. Namun untuk bertanya atas inisiatifnya sendiri masih sedikit, peneliti harus mengecek pemahaman Putri dengan memberikan pertanyaan yang dapat menunjukkan pemahaman Putri. Dalam transrip video pertemuan pertama dapat dilihat bahwa Putri sering menjawab pertanyaan saat pelajaran berlangsung. Hal ini dapat dilihat dari Gambar 32 yang menunjukkan saat Putri menjawab pertanyaan dari peneliti.

  Gambar 32. Putri menjawab pertanyaan.

  Berdasarkan sikap Putri dalam mengikuti pelajaran mengenai konsep pecahan dengan alat peraga keping pecahanyang telah

  94

  diuraikan di atas, maka dapat dimbil kesimpulan bahwa Putri termasuk dalam kategori sangat berminat.

  e) Tika Pada pertemuan pertama Tika masuk dalam kategori sangat berminat, ketiga pengamat memberikan kategori sangat berminat hal ini dapat dilihat pada Tabel 07. Hal ini memang sesuai, jika diamati kembali video, transkrip dan foto-foto yang diambil saat penelitian, beberapa menunjukkan bahwa Tika mengikuti pelajaran dengan baik dan memenuhi semua kriteria yang ada dalam lembar pengamat.

  Pada pertemuan pertama mengenai konsep pecahan, Tika menunjukkan sikap tertarik dan senang dalam menggunakan alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran, baik media konkrit berupa apel dan roti maupun keping pecahan. Ketika peneliti datang dan mempersiapkan alat, Tika sudah menunjukkan rasa penasarannya. Dia bertanya-tanya serta mengutak-atik apel dan alat peraga keping pecahan yang akan digunakan. Begitu pula saat pelajaran berlangsung, saat peneliti menjelaskan mengenai konsep pecahan dengan alat benda konkrit berupa roti dan apel, Tika memberikan respon yang baik. Tika mau berperan secara aktif, ketika peneliti menggunakan alat di depan untuk menjelaskan beberapa kali Tika merebut dan menggunakannya

  95

  untuk menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti. Tanpa diminta Tika langsung mencari cara agar dapat menemukan jawabannya.

  Begitu pula saat Tika mengerjakan LKS dalam kelompok. Dengan penuh semangat Tika menggunakan alat peraga keping pecahan, mengutak-atik dan mencoba beberapa cara untuk dapat megerjakan LKS dengan baik. Terkadang Tika berebut keping pecahan dengan Tata, tetapi peneliti menjadi penengah dan meminta mereka bekerjasama.

  Dalam mengikuti pelajaran, Tika memperhatikan penjelasan peneliti dengan baik dan sungguh-sungguh. Tika berkonsentrasi dan serius dalam mengikuti pejajaran. Karena Tika mempunyai kelemahan terkadang suka blank pikirannya, walaupun dia sungguh-sungguh memperhatikan kadang dia tidak paham dengan apa yang dijelaskan. Hal ini biasanya terjadi tiba-tiba, bahkan pada beberapa saat sebelumnya Tika paham setelah itu dia seperti bingung. Hal ini terjadi pada saat mengisi LKS, Tika tiba tiba menjadi bingung bahwa apel setengah, jika dipotong menjadi dua nilainya menjadi berapa. Guru kelas ikut menjelaskan untuk membantu agar Tika menjadi fokus lagi dan mengingat kembali pemahamannya.

  96 Gambar 33. Guru membantu menjelaskan pada Tika.

  Pada gambar 33 tampak guru kelas sedang membantu Tika memperoleh kembali pemahamannya. Tampak pula Tika memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Setelah penjelasan dari guru kelas tersebut, Tika memperoleh kembali pemahamnnya.

  Seluruh siswa mengikuti pelajaran hari pertama dengan aktif, tak terkecuali Tika. Tika selalu menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti walaupun jawaban yang diberikan Tika tidak selalu benar. Terkadang Tika sudah menjawab salah dan ketika peneliti mengulangi pertanyaannya Tika sadar dan kemudian meralat jawabanya. Tika juga tak segan untuk bertanya baik kepada peneliti, guru maupun teman sendiri.

  97 Gambar 34. Tika menjawab pertanyaan dari peneliti.

  Gambar 34 memperlihatkan Tika sedang memjawab pertanyaan guru dengan semangat. Dari transkripsi video hari pertama juga dapat dilihat bawha Tika sering sekali melibatkan diri dalam komunikasi saat pelajaran berlangsung.

  Berdasarkan analisis aktifitas Tika yang telah diuraikan di atas, ketiga pengamat sepakat untuk memasukkan Tika dalam kategori sangat berminat dalam mengikuti pelajaran mengenai konsep pecahan dengan alat peraga keping pecahan.

  2) Minat siswa hari kedua.

  Minat siswa hari kedua yang dimaksud di sini adalah minat siswa yang datanya diperoleh dari hasil pengamatan tiga pengamat. Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa terdapat 4 orang siswa dengan kategori sangat berminat (SM) dan 1 orang siswa dengan kategori cukup berminat (CM).

  Pembelajaran pada hari kedua ini tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan pada hari pertaman, siswa juga tampak antusias dengan metode yang

  98

  digunakan peneliti yaitu dengan alat peraga keping pecahan. Perhatian dan keaktifan siswa juga bagus, siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik dan aktif terlibat dalam diskusi klasikal pembelajaran dikelas.

  Gambar 35. Siswa berebut menjawab pertanyaan dari peneliti.

  Jika dilihat dari tiga aspek yang digunakan untuk melihat minat siswa yaitu antusias, perhatian dan keterlibatan, secara umum pembelajaran hari kedua ini memenuhi semua kriteria.

  Dalam mengikuti pelajaran yang menggunakan alat peraga keping pecahan, siswa tampak tertarik dan senang. Siswa senang menggunakan alat peraga keping pecahan baik saat pembelajaran klasikal maupun saat dalam kelompok. Perhatian siswa dalam mengikuti penjelasan yang diberikan guru juga bagus. Selain itu siswa juga aktif dalam mengikuti pelajaran di kelas, hal ini tampak pada gambar 36.

  99 Gambar 36. Siswa fokus dalam mengikuti pelajaran.

  a) Tata Hasil pengamatan pengamat terhadap minat Tata saat pelajaran mengenai perbandingan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 08. Dari Tabel 08, terlihat bahwa masing- masing pengamat memasukkan Tata dalam kategori sangat berminat.

  Jika dilihat dari video yang dibuat saat pelajaran hari kedua, hal tersebut memang sesuai. Pada pertemuan kedua mengenai perbandingan dua pecahan ini, Tata tanpak tertarik dan senang dalam menggunakan alat peraga keping pecahan. Baik pada saat pembelajaran klasikal maupun pada saat bekerja dalam kelompok. Dari video yang diperoleh, dapat dilihat bahawa Tata mau menggunakan alat peraga keping pecahan. Saat peneliti sedang menggunakan alat peraga untuk menjelaskan, beberapa kali Tata merebut atau sekedar maju untuk menghitung dan memperoleh informasi yang lebih tepat dari alat peraga yang dipakai.

  100

  Gambar 37 merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Tata ketika peneliti menjelaskan dengan alat peraga. Tata maju kedepan untuk menghitung dan menentukan nilai pecahan dari bagian yang diarsir pada keping pecahan yang digunakan.

  Gambar 37. Tata menghitung bagian pada keping pecahan.

  Tata termasuk anak yang ekspresif, selain dilihat dari ketertarikannya menggunakan alat peraga saat pembelajaran antusiasme Tata juga tampak dalam ekspresinya saat pelajaran. Gambar 38, gambar 39 menunjukkan ketika Tata awalnya belum mengerti dan Arya menyuruhnya untuk menghitung sendiri bagian pada alat peraga keping pecahan yang digunakan dan Tata melakukannya dengan benar sampai mengerti.

  101 Gambar 38. Tata Gambar 39. Tata maju mengambil

menghitung bagian keping pecahan

pada keping pecahan.

  Ketika Tata sudah paham atau menjawab dengan benar, Tata menunjukkan ekspresi kegirangan, seperti tampak pada gambar 40 dan gambar 41.

  Gambar 40. Ekspresi Gambar 41. Ekspresi Tata saat sudah Tata saat menjawab paham. dengan benar.

  Begitu pula saat bekerja dalam kelompok, dalam mengisi LKS Tata tampak senang dalam mencari keping-keping pecahan yang dibutuhkan untuk mengerjakan soal. Beberapa soal akan dikerjakan dengan alat peraga, setelah itu Tata akan mengandalkan

  102

  kemampuannya untuk menyelesaikan soal dan tidak menggunakan alat peraga lagi. Bahkan bebrapa kali Tata menjelaskan kepada Tika dan Nana mengenai nilai pecahan dari suatu keping pecahan, seperti tampak pada gambar 42.

  Gambar 42. Tata berdiskusi dengan teman kelompoknya menggunakan keping pecahan.

  Selain antusias yang bagus saat mengikuti pelajaran, perhatian Tata saat pelajaran berlangsung juga bagus. Hal ini tampak dari kesungguhan Tata dalam memperhatikan penjelasan yang dilakukan oleh peneliti. Seperti tampak pada gambar 43.

  Gambar 43. Tata memperhatikan penjelasan peneliti.

  103

  Pada saat bekerja dalam kelompok, Tata juga bekerja dengan serius. Jika peneliti menyampaikan perintah atau penjelasan mengenai LKS, Tata memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

  Keaktifan Tata juga tergolong bagus, dalam mengikuti pelajaran di kelas Tata selalu aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan peneliti tanpa diminta. Tata juga tak segan untuk bertanya atau menyatan dirinya belum paham dengan penjelasan pengejar.

  Gambar 44 dan gambar 45 menunjukkan keaktifan Tata saat mengikuti pelajaran. keaktifan tidak hanya terlihat dalam menjawab pertanyaan, tetapi juga bertanya ketika Tata belum paham, yang tampak pada gambar 46.

  Gambar 44. Tata menjawab Gambar 45. Tata menunjukkan jawaban pertanyaan dari peneliti. pada keping pecahan.

  104 Gambar 46. Tata bertanya tentang peintah dalam LKS yang belum dipahami.

  Saat pelajaran, Tata sering sekali menjawab pertanyaan serta menawarkan diri untuk maju dan mengerjakan soal. Bahkan ketika Tata menawarkan diri untuk maju dan malah peneliti meminta Putri yang maju, Tata menunjukkan ekspresi kecewa dan bersungut-sungut.

  Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 47.

  Gambar 47. Ekspresi kecewa Tata.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Tata memang memenuhi tiga kriteria yang dianggap dapat menunjukkan minatnya dalam

  105

  mengikuti pelajaran membandingkan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan.

  b) Arya Dari hasil pengisian lembar pengamatan minat yang dilakukan oleh tiga orang pengamat, hasil minat Arya dapat dilhat pada Tabel

  08. Dari Tabel 08, dapat dilihat bahwa Arya masuk dalam kategori

  sangat berminat dalam mengikuti pelajaran matematika pada sub pokok bahasan perbandingan pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan. Tiga pengamat sama-sama mengkategorikan Arya dalam kategori sangat berminat dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan alat peraga keping pecahan pada sub pokok bahasan perbandingan dua pecahan.

  Pada pertemuan kedua ini, masih sama dengan pertemuan pertama bahwa arya menunjukkan ketertarikannya terhadap alat peraga keping pecahan. Hal ini memang tampak pada saat mengikuti pelajaran di kelas, pada saat penjelasan klasikal Arya sering meminjam alat peraga keping pecahan yang sedang digunakan oleh peneliti untuk mencoba dan memberikan ide dalam pemakaiannya.

  Ketika peneliti meminta ide dari anak-anak bagaimana mengoperasikan keping pecahan untuk membandingkan dua pecahan,

  106

  Arya langsung mengambil keping pecahan dari peneliti dan mencoba- coba. Hal ini dapat tampak pada gambar 48.

  Gambar 48. Arya menggunakan keping pecahan.

  Selain itu, ketika mengajar mengajukan pertanyaan, Arya sering memastikan jawabannya dengan maju dan mengamati keping pecahan secara lebih dekat untuk menjawab dengan benar. Arya selalu punya inisiatif sendiri dalam menggunakan alat peraga keping pecahan. Respon Arya ini dapat dilihat pada gambar 49.

  Gambar 49. Arya mencari jawaban dari pertanyaan peneliti dengan keping pecahan.

  107

  Pada pertemuan kedua ini, Arya mengikuti pelajaran dengan konsentrasi yang cukup baik. Saat peneliti menjelaskan di depan, Arya memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Hal ini dapat dilihat pada gambar 50.

  Gambar 50. Sikap Arya dalam memperhatikan pelajaran.

  Namun pada saat ada teman lain yang maju dan konsentrasi peneliti pada teman yang sedang maju Arya terkadang suka ngobrol dengan teman sebelahnya. Seperti pada saat peneliti sedang mendampingi Dela menyelesaikan soal di papan tulis, Arya bercanda dengan Tata, sperti pada gambar 51.

  108 Gambar 51. Arya dan Tata bercanada ketika Dela mengerjakan di depan.

  Tetapi ketika peneliti mulai penjelasan kepada semua anak lagi, Arya akan kembali fokus pada penjelasan peneliti. Begitu pula saat Arya bekerja dalam kelompok, dia juga serius dalam menngerjakan LKS dan soal-soal, serta memperhatikan dengan sungguh-sungguh pula terhadap penjelasan pendamping kelompoknya. Hal ini tampak pada gambar 52.

  Gambar 52. Arya sedang serius memperhatikan penjelasan pendamping kelompok.

  Arya juga termasuk anak yang aktif dalam mengikuti pelajaran di kelas, Arya selalu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh

  109

  peneliti tanpa diminta. Arya juga sering menyampaikan idenya dalam menyelesaikan masalah dengan alat peraga. Hal ini tampak pada gambar 53.

  Gambar 53. Arya angkat tangan untuk menjawab pertanyaan.

  Bahkan ketika Arya merasa belum jelas, Arya mengatakan kepada peneliti bahwa ia belum paham. Hal ini terjadi ketika peneliti menanyakan apakah anak-anak sudah paham bagaimana tanda yang tepat untuk dua pecahan yang ditanyakan, Arya berkata belum paham.

  Kemudian Arya minta agar disuruh maju mengerjakan soal di depan. Gambar 54 memperlihatkan saat Arya mengerjakan soal di papan tulis.

  Gambar 54. Arya mengerjakan soal di papan tulis.

  110

  Berdasarkan analisis minat yang telah diuraikan di atas, ketiga pengamat sepakat untuk memasukkan Arya dalam kategori sangat berminat dalam mengikuti pelajaran mengenai membandingkan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan.

  c) Dela Dari hasil pengisian lembar pengamatan minat yang dilakukan oleh tiga orang pengamat, hasil minat Dela dapat dilihat pada Tabel

  08. Dari Tabel 08, dapat dilihat bahwa Dela masuk dalam kategori

  sangat berminat dalam mengikuti pelajaran matematika pada sub pokok bahasan perbandingan pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan. Tiga pengamat sama-sama mengkategorikan Dela dalam kategori sangat berminat dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan alat peraga keping pecahan pada sub pokok bahasan perbandingan dua pecahan.

  Hal ini memang sesuai dengan hasil pengamatan pada video hari kedua. Dalam mengikuti pelajaran, Dela menunjukkan ketertarikannya pada alat peraga keping pecahan yang digunakan. Saat pelajaran secara klasikal, Dela selalu menyampaikan idenya dalam menggunakan alat peraga. Ketika peneliti sedang menjelaskan materi dengan alat peraga, sering sekali Dela mengambil keping pecahan dan

  111

  mengutak-atik untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti.

  Gambar 55 Dela dan Arya menggunakan keping pecahan.

  Pada gambar 55 tampak Dela dan Arya yang sedang menggunakan keping saat peneliti sedang menjelaskan mengenai perbandingan pecahan. Dela dan Arya mengimpitkan dua keping pecahan yang akan dibandingkan untuk mencari mana yang lebih besar. Saat bekerja dalam kelompok, Dela juga aktif menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS.

  Dalam mengikuti pelajaran di kelas, Dela juga tampak bersungguh-sungguh dalam memperhatikan penjelasan peneliti. Dela juga serius dalam mengikuti pelajaran, termasuk dalam mengikuti petunjuk yang diberikan oleh peneliti. Selain itu, Dela juga sangat aktif dalam mengikuti pelajaran. Dela sering sekali menyampaikan idenya dalam menyelesaikan soal, baik dalam penjelasan peneliti

  112

  maupun dalam LKS. Setiap peneliti menyampaikan pertanyaan kepada siswa, hampir selalu dijawab oleh Dela tanpa diminta. Ketika peneliti meminta ada siswa yang maju mengerjakan di papan tulis Dela pasti tunjuk jari. Gambar 56 memperlihatkan salah satu keterlibatan Dela dalam menjawab pertanyaan peneliti.

  Gambar 56. Dela menjawab pertanyaan dari peneliti.

  Gambar 57 dan gambar 58 menunjukkan saat Dela menuliskan jawaban di papan tulis, Dela maju atas keinginannya sendiri. Selain dari gambar yang ada ini, keaktifan Dela saat mengikuti pelajaran juga dapat dilihat pada transkrip hari kedua.

  Gambar 57. Dela mengerjakan soal di papan tulis.

  113 Gambar 58. Dela mengerjakan soal di papan tulis.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Dela memang memenuhi tiga kriteria yang dianggap dapat menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran membandingkan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan.

  d) Putri Dari hasil pengisian lembar pengamatan minat yang dilakukan oleh tiga orang pengamat, hasil minat Putri dalam mengikuti pelajaran mengenai perbandingan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilhat pada Tabel 08.

  Dari Tabel 08, dipat dilihat bahwa Putri masuk dalam kategori sangat berminat dalam mengikuti pelajaran matematika pada sub pokok bahasan perbandingan pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan. Pengamat 2 dan pengamat 3 sama-sama mengkategorikan Putri dalam kategori sangat berminat dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan alat peraga keping

  114 pecahan pada sub pokok bahasan perbandingan dua pecahan.

  Sedangkan pengamat 1 mengkategorikan Putri dalam ketegori cukup berminat saja. Namun, kategori minat Putri tetap pada sangat berminat, karena diambil suara terbanyak dari 3 pengamat. Hasil pengamatan dari pengamat 1 mengatakan bahwa Putri tidak memenuhi kriteria ketiga dari indikator minat yang diamati yaitu tentang kemauan siswa dalam bertanya atau menyampakan pendapat.

  Dalam mengikuti pelajaran, Putri tampak tertarik dengan alat peraga keping pecahan yang digunakan. Putri tampak antusias dengan keping pecahan yang dipakai baik saat pembelajaran klasikal maupun saat bekerja dalam kelompok. Putri juga mengikuti pelajaran dengan serius, perhatiannya terhadap penjelasan yang dilakukan peneliti baik. Saat peneliti menjelaskan, Putri memperhatikan setiap petunjuk dan perintah dari peneliti dengan baik. Gambar 59 menunjukkan sikap Putri saat memperhatikan pengajar menuntun Dela untuk mengerjakan soal di papan tulis. Walaupun teman-teman yang lain sibuk mengobrol dengan teman sebelahnya, Putri tampak tetap tenang memperhatikan peneliti di depan.

  115 Gambar 59. Putri memperhatikan Dela yang sedang mengerjakan di papan tulis.

  Pada pelajaran mengenai perbandingan pecahan ini, Putri tampak aktif dalam mengikuti proses belajar di kelas. Saat peneliti memberikan pertanyaan, Putri mau menjawab dengan inisiatif sendiri. Hal ini tampak pada gambar 60. Pada saat peneliti meminta ada anak yang maju, Putri angkat tangan dan bersedia untuk maju. Walaupun pada awalnya peneliti yang meminta Putri untuk maju, namun pada pertengahan sampai akhir pembelajaran Putri sering tunjuk jari untuk maju mengerjakan di papan tulis tanpa perintah dari peneliti. Hal ini tampak pada gambar 61.

  Gambar 60. Putri Gambar 61. Putri maju menjawab pertanyaan mengerjakan di papan tulis. dari peneliti.

  116

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Putri memenuhi tiga kriteria yang dianggap dapat menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran membandingkan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan sehingga Putri masuk dalam ketegori sangat berminat.

  e) Tika Dari hasil pengisian lembar pengamatan minat yang dilakukan oleh tiga orang pengamat, hasil minat Tika dalam mengikuti pelajaran mengenai perbandingan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilhat pada Tabel 08. Dari Tabel 08, dipat dilihat bahwa Tika masuk dalam kategori sangat berminat dalam mengikuti pelajaran matematika pada sub pokok bahasan perbandingan pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan. Tiga pengamat sama-sama mengkategorikan Tika dalam kategori sangat berminat dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan alat peraga keping pecahan pada sub pokok bahasan perbandingan dua pecahan.

  Dalam mengikuti pelajaran, Tika menunjukkan ketertarikannya terhadap alat peraga keping pecahan yang digunakan. Hal ini tampak pada saat pelajaran dengan keping pecahan Tika tidak malas untuk menggunakannya. Saat peneliti menjalaskan dengan keping pecahan, tak jarang Tika maju ke depan untuk melihat keping pecahan secara lebih jelas agar dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Saat bekerja dalam kelompok Tika juga tampak bersemangat dalam

  117

  menggunkan keping pecahan untuk mengerjakan LKS dan soal-soal yang ada. Dalam kelompok, Tika bahkan sering berebut dengan Tata.

  Gambar 62. Tika menggunaakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS.

  Gambar 63 dan gambar 64 menunjukkan saat Tika maju untuk melihat dan menghitung jumlah bagian pada keping pecahan yang digunakan untuk menjelaskan oleh peneliti.

  Gambar 63. Tika Gambar 64. Tika menghitung jumlah menghitung jumlah bagian pada bagian pada keping keping pecahan. pecahan.

  Saat pelajaran berlangsung, perhatian Tika cukup bagus. Pada pertemuan mengenai perbadingan pecahan, Tika tampak memperhatikan peneliti dengan baik dan sungguh-sungguh. Walaupun

  118

  sesekali saat peneliti membimbing anak yang mengerjakan di depan Tika mengobrol dengan Nana tetapi saat peneliti menjelaskan lagi Tika akan memperhatikan dengan baik. Tika juga mengerjakan LKS dan bekerja dengan baik sesuai dengan perintah dan petunjuk dari peneliti.

  Tika tergolong anak yang aktif dalam mengikuti pelajaran di kelas. Hampir setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti dijawab oleh Tika tanpa diminta. Tidak hanya menjawab pertanyaan saja, tetapi dalam pengikuti penjelasan Tika mau bertanya jika belum jelas.

  Ketika temannya salah juga Tika mau membenarkan. Jika peneliti meminta ada anak yang mengerjakan di depan, Tika juga selalu tunjuk jari. Hal ini tampak pada gambar 65.

  Gambar 65. Tika angkat tangan untuk menjwab pertanyaan.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Tika memang memenuhi tiga kriteria yang dianggap dapat menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran membandingkan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan sehingga tika masuk dalam kategori sangat berminat.

  119

  f) Nana Dari hasil pengisian lembar pengamatan minat yang dilakukan oleh tiga orang pengamat, hasil minat Nana dalam mengikuti pelajaran mengenai perbandingan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 08.

  Dari Tabel 08, dapat dilihat bahwa Nana masuk dalam kategori cukup berminat dalam mengikuti pelajaran matematika pada sub pokok bahasan perbandingan pecahan dengan menggunakan alat peraga keping pecahan. Tiga pengamat sama-sama mengkategorikan Nana dalam kategori cukup berminat dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan alat peraga keping pecahan pada sub pokok bahasan perbandingan dua pecahan. Hasil pengamatan dari ketiga pengamat sama-sama melihat bahwa Nana tidak memenuhi kriteria ketiga, yaitu kemauan dalam bertanya dan menyampaikan pendapat.

  Dalam penggunan alat peraga keping pecahan, Nana tampak menunjukkan ketertarikannya. Namun ketertarikan ini baru tampak ketika Nana bekerja dalam kelompok. Pada saat penjelasan secara klasikal, Nana hanya memperhatikan dengan baik penjelasan dari peneliti. Jika ada teman yang meminjam keping pecahan untuk mencari jawaban dari pertanyaan peneliti, Nana hanya melihat aktifitas temannya saja. Tetapi ketika sudah bekerja dalam kelompok, Nana

  120

  dengan semangat menggunakan keping pecahan untuk menyelesaikan LKS dan soal-soal yang deberikan.

  Gambar 66. Nana menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS.

  Perhatian Nana dalam mengikuti pelajaran baik. Nana selalu memperhatikan penjelasan peneliti dengan sungguh-sungguh.

  Walaupun dari video tampak bahwa Nana mengobrol dengan Tika saat peneliti mendampingi Dela untuk mengerjakan di depan, tetapi ketika peneliti masuk dalam penjelasan lagi Nana akan diam dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Begitu pula saat peneliti memberikan penjelasan dan petunjuk untuk Nana dalam bekerja dengan kelompok, Nana pun tampak memperhatikan dengan sungguh- sungguh, tampak pada gambar 67.

  Gambar 67. Nana memperhatikan penjelasan peneliti.

  121

  Kriteria minat yang tidak dipenuhi oleh Nana adalah pada kemauan dalam bertanya dan menyampaikan pendapat. Hal ini memang sesuai kenyataan yang terjadi, bahwa keaktifan Nana memang kurang pada pelajaran mengenai perbandingan pecahan ini.

  Perlu ditunjuk oleh peneliti agar Nana mau maju atau meu menjawab pertanyaan yang diajukan. Hal ini terjadai karena Nana memang tergolong anak yang pendiam.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Nana memang hanya memenuhi dua kriteria yang dianggap dapat menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran membandingkan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan. Sehingga Nana masuk dalam kategori Cukup Berminat saja. 3) Minat siswa hari ketiga.

  Dari hasil pengisian lembar pengamatan oleh tiga orang pengamat terhadap minat siswa dalam mengikuti pelajaran mengenai penjumlahan pecahan, diperoleh hasil 3 anak masuk dalam kategori sangat berminat dan 3 anak masuk dalam kategori cukup berminat saja. Jika dilihat secara keseluruhan, kriteria yang paling tidak dipenuhi pada pembelajaran mengenai penjumlahan pecahan ini adalah perhatian siswa. Hal ini dikarenakan konsentrasi siswa dalam mengikuti pelajaran agak terganggu. Pada pelajaran hari ketiga ini, bersamaan dengan adanya senam di aula

  122

  sekolah yang letaknnya bersebelahan dengan kelas dasar 4. Iringan musik untuk senam tersebut dipasang dengan volume yang sangat keras, sehingga suara peneliti agak tertutup oleh suara musik tersebut. Hal ini menyebabkan perintah dan penjelasan yang diterima siswa menjadi kurang jelas, ada pula siswa yang ikut bergoyang mendengar suara musik tersebut. Walaupun siswa merupakan anak penderita tunarungu, tetapi anak-anak bisa merasakan brisik dan terganggu dengan suara yang keras. Anak menjadi kurang fokus terhadap pembelajaran yang berlangsung.

  Untuk kriteria antusiasme siswa dan keterlibatan siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas, dapat dipenuhi dengan baik oleh siswa.

  Siswa mau menggunakan alat peraga keping pecahan dengan penuh semangat pada pembelajaran klasikal maupun dalam kelompok. Dalam mengikuti pelajaran, siswa menunjukkan keterlibatannya dengan mennyampaikan ide maupun dengan menjawab pertanyaan dari peneliti.

  Namun karena konsentrasi siswa agak terganggu, pertanyaan yang diberikan oleh peneliti menjadi kurang ditangkap dengan baik oleh siswa, sehingga pertanyaan harus diulang dan diperjelas dengan tulisan atau gambar pada papan tulis.

  Masing-masing siswa mengikuti pelajaran dengan cara yang berbeda-beda termasuk minatnya pun berbeda. Minat untuk masing- masing siswa akan dijelaskan sebagai berikut:

  123

  a) Tata Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Tata dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan penjumlahan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 09.

  Ketiga pengamat memasukkan Tata pada kategori yang sama yaitu sangat berminat. Hal ini memang sesuai dengan pengamatan pada video yang dibuat pada pertemuan ketiga. Dalam mengikuti pelajaran mengenai penjumlahan pecahan Tata menunjukkan ketertraikannya, sama seperti pertemuan sebelumnya. Tata selalu aktif menggunakan keping pecahan yang dipakai, saat penjelasan secara klasikal maupun saat bekerja dalam kelompok. Untuk pertemuan ini, aktivitas dengan alat peraga yang dilakukan Tata lebih banyak pada saat bekerja dalam kelompok. Dalam mengerjakan LKS, Tata bekerjasama dengan teman sekelompoknya untuk menyelesaikan soal- soal dengan keping pecahan. Hal ini bisa dapat dilihat pada gambar 68.

  Gambar 68. Tata menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS.

  124

  Gambar 68 merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Tata saat bekerja dalam kelompok.

  Dalam mengikuti pelajaran di kelas, Tata memperhatikan dengan sungguh-sungguh penjelasan dari peneliti. Walaupun keonsentrasi teman-teman yang lain terganggu dan tidak fokus terhadap pelajaran tetapi dalam memperhatikan penjelasan dari peneliti, Tata tetap berkonsentrasi dengan baik. Ada beberapa saat ketika peneliti sibuk mempersiapkan alat atau fokus mendampingi siswa yang sedang mengerjakan di depan, Tata mengobrol dengan teman sebelahnya. Hal ini dapat dilihat pada gambar 69 berkut ini.

  Gambar 69. Tata memeperhatikan penjelasan peneliti dengan serius.

  Keterlibatan Tata dalam mengikuti pelajaran juga baik, ketika peneliti bertanya atau meminta pendapat dari siswa Tata akan menjawab tanpa diminta oleh peneliti. Hal ini dapat dilihat pada transkrip video hari ketiga. Dalam percakapan, tampak sering sekali Tata menjawab pertanyaan dari peneliti dengan inisiatifnya sendiri.

  125

  Tata juga bersedia member petunjuk atau penjelasn kepada temannya jika ada teman yang kurang paham terhadap materi yang diajarkan.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Tata memang memenuhi tiga kriteria yang dianggap dapat menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran penjumlahan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan sehingga Tata masuk dalam kategori sangat berminat.

  b) Arya Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Arya dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan penjumlahan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 09.

  Pada Tabel 09 tampak bahwa Arya termasuk dalam ketegori cukup berminat saja. Pengamat 2 dan pengamat 3 memasukkan Arya dalam kategori cukup berminat. Pengamat 2 dan pengamat 3 melihat bahwa Arya tidak memenuhi kriteria kedua dalam lembar pengamatan, yaitu tentang perhatian siswa terhadap penjelasan peneliti. Dari pengamatan pada video hari ketiga memang tampak bahwa Arya sering asik dengan kegaitannya sendiri. Pada saat ada iringan senam untuk kelas yang sedang olah raga, Arya ikut gerak dan tampak tidak memperhatikan peneliti. Selain itu, hal ini tampak pada beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peneliti pada Arya harus diulang dan peneliti perlu mendekat ke depan tempat duduk Arya. Setelah sadar

  126

  bahwa pertanyaan ditujukan kepadanya, Arya baru akan menjawabnya. Jawaban yang diberikan pun kadang kurang tepat.

  Kondisi ini berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, pada pertemuan sebelumnya Arya cepat menangkap apa yang ditanyakan oleh peneliti.

  Gambar 70. Arya asik bermain keping pecahan ketika peneliti menjelaskan.

  Pada gambar 70, tampak Arya sedang sibuk bermain dengan keping pecahan yang tidak dipakai untuk menjelaskan. Arya tidak sadar jika peneliti memanggilnya dan memberikan pertanyaan kepadanya.

  Gambar 71. Arya melihat-lihat keluar kelas.

  127

  Pada gambar di atas tampak Arya melihat-lihat keluar kelas saat teman-teman sedang memperhatikan penjelasan guru. Hal ini dilakukan Arya beberapa kali, Arya tampak penasaran ingin melihat siswa yang sedang senam di luar kelas.

  Pada pertemuan mengenai penjumlahan pecahan dengan alat peraga keping pecahan, Arya tampak tertarik dengan alat yang dipakai.

  Saat peneliti melakukan penjelasan menggunakan alat peraga keping pecahan, beberapa kali Arya mengambilnya untuk menemukan cara dalam menjumlahkan dua pecahan. Aktifitas Arya dalam menggunakan keping pecahan juga tampak pada saat Arya bekerja dalam kelompok. Dalam menyelesaikan LKS, Arya bekerjasama dengan teman satu kelompoknya untuk mencari keping yang akan dipakai dan mengoperasikannya. Hal ini dapat dilihat pada gambar 72.

  Gambar 72. Arya menggunakan keping pecahan saat bekerja dalam kelompok.

  Dalam mengikuti pelajaran mengenai penjumlahan pecahan, Arya terlibat secara aktif. Arya sering menyampaikan idenya tentang

  128

  bagaimana menggunakan keping pecahan untuk menjumlahkan dua pecahan. Selain itu, Arya juga semangat dalam menjawab peratanyaan yang diajukan oleh peneliti kepada siswa. Dalam mengerjkan LKS dalam kelompok, Arya tak segan untuk bertanya jika ada yang tidak dimengerti olehnya.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Arya memang hanya memenuhi dua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran penjumlahan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan sehingga Arya masuk dalam kategori cukup berminat.

  c) Dela Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Dela dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan penjumlahan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 09.

  Dari Tabel 09, tampak bahwa Dela termasuk dalam ketegori cukup berminat saja. Pengamat 2 dan pengamat 3 memasukkan Dela dalam kategori cukup berminat. Pengamat 2 dan pengamat 3 melihat bahwa Dela tidak memenuhi kriteria kedua dalam lembar pengamatan, yaitu tentang perhatian siswa terhadap penjelasan peneliti. Dari pengamatan pada video hari ketiga memang tampak bahwa Dela

  129

  sering asik dengan katifitasnya sendiri. Salah satunya adalah mengobrol dengan teman sebelahnya. Perhatian Dela yang tidak sungguh-sungguh terhadap penjelasan peneliti tampak pula pada saat peneliti bertanya, Dela tidak langsung menjawab. Dela tampak bengong sesaat seperti tidak memahami maksud dari pertanyaan yang diberikan kepadanya.

  Walaupun perhatiannya terhadap peneliti kurang, tetapi ketertarikannya terhadap keping pecahan tetap terlihat. Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, Dela selalu berinisiatif untuk menggunakan keping pecahan. Beberapa kali Dela mengambil keping pecahan yang sedang dipakai peneliti untuk menjelaskan dengan tujuan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan peneliti. Walaupun Dela belum mengetahui caranya, Dela selalu berusaha mencoba menggunakan keping pecahan untuk menemukan jawaban. Hal ini tampak pada gambar 73.

  Gambar 73. Dela mengambil keping pecahan yang sedang digunakan untuk menjelaskan

  130

  Tidak hanya pada saat penjelasan klasikal Dela aktif menggunakan keping pecahan, tetapi juga pada saat bekerja dalam kelompok. Dalam menyelesaikan LKS, Dela tampak semangat menggunakan keping pecahan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 74.

  Gambar 74. Dela menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS.

  Tidak hanya ketertarikannya terhadap alat peraga yang digunakan, tetapi keaktifan Dela dalam mengikuti pelajaran juga tampak baik. Hampir semua pertanyaan yang diajukan peneliti kepada siswa dijawab oleh Dela dengan inisiatif sendiri. Jarang sekali peneliti harus menunjuk Dela untuk maju mengerjakan soal di papan tulis atau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti karena Dela akan melakukannya dengan inisiatif sendiri. Hal ini dapat dilihat dari gambar 75.

  131 Gambar 75. Dela menjawab pertanyaan dari peneliti

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Dela memang hanya memenuhi dua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran penjumlahan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan sehingga Dela masuk dalam kategori cukup berminat.

  d) Putri Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Putri dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan penjumlahan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 09.

  Dari Tabel 09, tampak bahwa Putri termasuk dalam ketegori sangat berminat. Pengamat 1 dan pengamat 2 memasukkan Putri dalam kategori sangat berminat. Sedangkan pengamat 3 memasukkan Putri pada kategori cukup berminat saja. Namun demikian, kesimpulannya Putri tetap masuk dalam kategori sangat berminat.

  132

  Pengamat 3 melihat bahwa Putri tidak tertarik menggunakan alat peraga keping pecahan. Pengamat 3 lebih banyak mengamati Putri pada saat bekerja dalam kelompok. Dalam kelompok, Putri memang hanya sedikit menggunakan alat peraga keping pecahan untuk menyelesaikan LKS dan soal-soal yang ada di dalamnya. Dari gambar berikut dapat dilihat aktifitas Putri saat bekerja dalam kelompok, Putri lebih suka mengerjakan soal sendiri setelah memeperoleh pemahaman dengan alat peraga.

  Gambar 76. Putri mengerjakan soal pada LKS tanpa keping pecahan.

  Hal ini dikarenakan, kemampuan Putri yang cepat paham dan mengerti tentang hal yang baru saja diajarkan membuat Putri meminimalkan dalam menggunakan alat peraga keping pecahan. Tetapi jika dilihat lebih umum lagi saat pembelajaran secara klsaikal, tampak bahwa Putri senang menggunakan alat peraga keping pecahan.

  .Saat peneliti menggunakan keping pecahan dalam menjelaskan, seringkali Putri menjawab pertanyaan dengan menggunakan alat peraga yang sedang dipakai. Seperti tampak pada gambar 77. Pada

  133

  gambar 78 tampak bahwa Putri sedang berdiskusi dengan Dela mengenai keping pecahan yang digunakan untuk menyampaikan materi.

  Gambar 78. Putri berdiskusi dengan Gambar 77. Putri Dela mengenai jawaban pertanyaan menghitung banyak bagian peneliti. pada keping pecahan

  Karena Putri adalah anak yang tergolong pendiam, maka dalam mengikuti pelajaran pun Putri cenderung diam dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Namun keterlibatannya dalam pembelajaran juga tampak dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan secara langsung tanpa ditunjuk oleh peneliti. Pada pertemuan ketiga ini Putri lebih percaya diri untuk menjawab maupun menyampaikan idenya. Saat peneliti meminta siswa untuk maju, Putri sudah mempunyai keinginan untuk menawarkan diri untuk maju. Salah satu keterlibatan Putri dalam mengikuti pelajaran dapat dilihat pada gambar 79.

  134 Gambar 79. Putri angkat tangan untuk mengerjakan di papan tulis.

  Diasaat teman-temannya tidak ada yang menjawab pertanyaan peneliti, Putri angkat tangan untuk menjawab tanpa diminta.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Putri memang memenuhi semua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran penjumlahan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan sehingga Putri dapat masuk dalam kategori sangat berminat.

  e) Tika Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Tika dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan penjumlahan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 09.

  Ketiga pengamat memasukkan Tika pada kategori yang sama yaitu sangat berminat. Hal ini memang sesuai dengan pengamatan pada video yang dibuat pada pertemuan ketiga. Dalam mengikuti pelajaran mengenai penjumlahan pecahan Tika menunjukkan

  135

  ketertraikannya, sama seperti pertemuan sebelumnya. Dia selalu ikut berpartisipasi dalam menggunakan keping pecahan saat penjelasan peneliti secara klasikal maupun saat bekerja dalam kelompok. Gambar 80 merupakan salah satu gambar yang menunjukkan kegiatan Tika dengan alat peraga keping pecahan:

  Gambar 80. Tika menggunakan keping pecahan saat bekerja dalam kelompok.

  Dalam mengikuti pelajaran di kelas mengenai penjumlahan pecahan, Tika memperhatikan penjelasan peneliti dengan sungguh- sungguh. Walapun terkadang saat peneliti belum mulai menjelaskan, Tika sibuk mengobrol dengan teman sebelahnya. Keterlibatan Tika dalam pembelajaran tidak hanya pada saat penggunaan keping pecahan saja, tetapi selama pelajaran berlangsung Tika aktif dalam menjawab pertanyaan dari peneliti, Tika juga berani untuk menawarkan diri untuk maju tanpa ditunjuk. Salah satu keterlibatan Tika dalam mengikuti pembelajaran tampak pada gambar 81 dan gambar 82.

  136 Gambar 81. Tika Gambar 82. Tika angkat tangan untuk menjawab pertanyaan mengerjakan di papan tulis. peneliti.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Tika memang memenuhi semua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran penjumlahan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan sehingga Tika masuk dalam kategori sangat berminat.

  f) Nana Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Nana dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan penjumlahan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 09.

  Pada Tabel 09 dapat dilihat bahwa pengamat memasukkan Nana pada kategori yang sama yaitu cukup berminat. Hal ini memang sesuai dengan pengamatan pada video yang dibuat pada pertemuan ketiga. Hasil pengamatan ketiga pengamat sama-sama melihat bahwa Nana tidak memenuhi kriteria ketiga dari lembar pengamatan yaitu mengenai kemauan siswa dalam bertanya dan menyampaikan

  137

  pendapat saat pembelajaran. Jika dilihat dari hasil video hari ketiga, memang terlihat bahwa Nana tidak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Untuk maju dan menjawab pertanyaan harus ditunjuk terlebih dahulu oleh peneliti. Bahkan saat teman-temannya berebut menjawab dan berebut untuk maju Nana hanya diaam melihat teman- temanya. Salah satu yang menunjukkan hal tersebut dapat dilihat pada gambar 83.

  Gambar 83. Sikap Nana saat teman-teman berebut untuk mengerjakan di papan tulis.

  Saat teman-temannya sedang menjawab pertanyaan dari peneliti, Nana hanya bertopang dagu, tidak ikut menjawab.

  Dalam mengikuti pelajaran mengenai penjumlahan pecahan, Nana menunjukkan ketertarikannya menggunakan alat peraga. Namun hal ini lebih tampak pada saat Nana bekerja dalam kelompok. Salah satu aktifitas Nana dengan keping pecahan dapat di lihat pada gambar 84.

  138 Gambar 84. Nana menggunakan keping pecahan saat bekerja dalam kelompok.

  Saat penjelasan peneliti secara klasikal, Nana tidak banyak terlibat aktif dalam penggunaan alat peraga keping pecahan.

  Selain ketertarikannya terhadap alat peraga yang baik, perhatian Nana terhadap penjelasan peneliti juga baik. Dalam mengikti kegiatan belajar di kelas, Nana akan duduk tenang dan memperhatikan penjelasan peneliti dengan baik. Walaupun saat peneliti sedang tidak menjelaskan, Nana sering asik mengobrol dengan teman sebelahnya.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Nana memang hanya memenuhi dua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran penjumlahan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan yaitu antusias dan perhatian, untuk itu Nana masuk dalam kategori cukup berminat. 4) Minat siswa hari keempat.

  Dari hasil pengisian lembar pengamatan oleh tiga orang pengamat terhadap minat siswa dalam mengikuti pelajaran mengenai penjumlahan pecahan, diperoleh hasil 4 anak masuk dalam kategori sangat berminat dan

  139

  2 anak masuk dalam kategori cukup berminat. Pada pembelajaran ke empat ini, Arya dan Nana hanya masuk pada kategori cukup berminat saja.

  Pada pertemuan keempat mengenai pengurangan pecahan, antusiasme siswa terhadap keping pecahan tinggi. Siswa mau menggunakan keping pecahan dengan baik pada saat pembelajaran klasikal maupun saat siswa berada dalam kelompok. Siswa semakin percaya diri untuk menyampaikan idenya tentang bagaimana keping pecahan akan digunakan. Selain dari kemauan siswa menggunakan keping pecahan saat pembelajaran, keterlibatan siswa juga tampak pada keaktifan siswa menyampaikan pendapat atau menjawab pertanyaan dari peneliti. Siswa berebut untuk maju mengerjakan di depan, dalam menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti siswa juga tampak selalu berusaha menjawab dengan baik.

  Masing-masing siswa mengikuti pelajaran dengan cara yang berbeda-beda termasuk minatnya pun berbeda. Minat untuk masing-masing siswa akan dijelaskan sebagai berikut:

  a) Tata Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Tata dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan pengurangan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 10.

  140

  Ketiga pengamat memasukkan Tata pada kategori yang sama yaitu sangat berminat. Hal ini memang sesuai dengan pengamatan pada video yang dibuat pada pertemuan keempat. Dalam mengikuti pelajaran mengenai pengurangan pecahan Tata menunjukkan minat yang besar dalam mengikuti pelajaran dengan keping pecahan, sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya.

  Tata selalu menunjukkan ketertarikannya pada alat peraga keping pecahan yang digunakan. Arya tampak senang dan antusias dalam menggunakan keping pecahan baik pada saat penjelasan peneliti secara klasikal maupun pada saat mengerjakan LKS dalam kelompok.

  Saat pengejar menjelaskan dengan keping pecahan dan meminta ide untuk mengoperasikan keping pecahan yang akan digunakan, Tata selalu menunjukkan sikap positif. Keping pecahan yang sedang digunakan untuk menjelaskan tersebut akan dia pinjam untuk menemukan jawaban dari pertanyaan dari peneliti. Hal ini dapat dilihat pada gambar 85 dan 86.

  Gambar 85. Gambar 86. Tata berjalan ke Tata maju mengamati tempat duduk Arya untuk mengamati keping pecahan yang keping pecahan yang sedang dipakai sedang dipakai peneliti. Arya.

  141 Begitu pula saat bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan LKS.

  Tata juga senang menggunakan keping pecahan, Tata bersemangat dalam mencari keping yang akan dipakai sesuai dengan permintaan pada LKS. Hal ini dapat dilihat pada gambar 87 di bawah.

  Gambar 87. Tata menggunakan keping pecahan untuk mengerjakan LKS.

  Dalam mengikuti pelajaran pada pertemuan keempat ini, Tata tampak serius dan memeperhatikan penjelasan peneliti dengan sungguh-sungguh. Selain itu, keterlibatan Tata dalam pembelajaran dengan alat peraga keping juga tapak dari keaktifan Tata dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Dalam menyampaikan ide dan bertanya pun Tata sudah tidak segan lagi.

  142 Gambar 89. Tata hendak membenarkan jawaban Dela. Gambar 88. Tata tunjuk jari untuk menjawab pertanyaan.

  Selain ide dan jawabnnya, keaktifan Tata juga tampak dari keberanian Tata untuk menyanggah jawaban tenannya. Gambar 89 menunjukkan saat Dela mengerjakan soal dengan salah, Tata langsung maju untuk memebenarkan jawaban Dela tanpa diminta oleh peneliti.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Tata memang memenuhi semua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran pengurangan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan yaitu antusia, perhatian, dan keterlibatan yang baik, untuk itu Tata masuk dalam kategori sangat berminat.

  b) Arya Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Arya dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan pengurangan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 10.

  143

  Dari Tabel 10, tampak bahwa Arya termasuk dalam ketegori cukup berminat saja. Pengamat 2 dan pengamat 3 memasukkan Arya dalam kategori cukup berminat. Walaupun sama sama memasukkan dalam kategori cukup berminat, tetapi alasan dari pengamt 2 dan pengamat 3 berbeda. Pengamat 2 melihat bahwa Arya tidak memenuhi kriteria kedua dalam lembar pengamt, yaitu tentang perhatian siswa terhadap peneliti. Menurut pengamat 2, beberapa kali konsentrasi Arya tidak fokus pada pelajaran. Hal ini dapat teramati pada video pertemuan ke empat. Beberapa kali Arya harus dipanggil oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan karena Arya tampak tidak fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung. Namun pengamat 3 melihat bahwa Arya tidak tertarik dalam menggunakan alat peraga keping pecahan dalam selama pelajaran berlangsung. Akan tetapi jika diamati dalam video, tampak bahwa Arya semangat dalam menggunakan alat peraga keping pecahan. Arya senang menggunakan keping pecahan baik pada saat penjelasan klasikal oleh peneliti maupun pada saat bekerja dalam kelompok, walaupun dalam kelompok penggunaan alat peraga lebih sedikit. Hal ini tampak pada gambar 90 dan gambar 91.

  144 Gambar 90. Arya Gambar 91. Arya menggunakan menggunakan keping keping pecahan untuk menjawab pecahan untuk pertanyaan dari peneliti. mengerjakan LKS.

  Dalam hal keaktifan mengikuti pelajaran, Arya tergolong baik. Arya menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti dengan spontan tanpa diminta. Arya juga sering menyampaikan ide untuk penggunaan keping pecahan dalam menyelesaikan masalah pada pengurangan pecahan. keaktifan Selama pelajaran pada pertemuan keempat dapat dilihat pada gamabr 92 dan gambar 93.

  Gambar 93. Arya maju Gambar 92. Arya menyampaikan kedepan untuk mengerjakan soal idenya untuk memgimpitkan dua di papan tulis tanpa diminta oleh keping pecahan yang digunakan. guru.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Arya hanya memenuhi dua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam

  145

  mengikuti pelajaran penjumlahan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan yaitu antusias dan keterlibatan, untuk itu Arya masuk dalam kategori cukup berminat.

  c) Dela Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Dela dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan pengurangan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 10.

  Ketiga pengamat memasukkan Dela pada kategori yang sama yaitu sangat berminat. Hal ini memang sesuai dengan pengamatan pada video yang dibuat pada pertemuan keempat. Dalam mengikuti pelajaran mengenai pengurangan pecahan Dela menunjukkan minat yang besar dalam mengikuti pelajaran dengan keping pecahan.

  Pada pembelajaran hari keempat mengenai pengurangan pecahan, Dela menunjukkan ketertarikannya yang besar terhadap keping pecahan yang digunakan dalam pembelajaran. Hal ini tampak pada saat peneliti akan masuk dalam konsep pengurangan pecahan dan meminta ide dari siswa bagaimana keping pecahan akan dioperasikan, Dela langsung meminta keping pecahan yang sedang digunakan dan mencoba menemukan cara untuk memperoleh cara dalam mengurangkan pecahan. Tidak hanya pada saat itu, saat peneliti menggunakan keping pecahan untuk menjelaskan dan mengajukan

  146

  pertanyaan kepada siswa dengan otomatis Dela langsung mengambil keping pecahan yang digunakan, mengutak-atik sebentar dan menjawab pertanyaan peneliti dengan baik. Hal ini dapat dilihat pada gambar 94 dan gambar 95.

  Gambar 94. Dela Gambar 95. Dela mengutak-atik keping mengambil keping pecahan untuk menjawab pertnayaan pecahan yang dipakai peneliti. untuk menjelaskan.

  Tidak hanya pada saat penjelasan klasikal Dela menunjukkan ketertarikannya menggunakan keping pecahan, pada saat bekerja dalam kelompok pun Dela terlihat senang dalam menggunakan keping pecahan. Gambar 96 merupakan salah satu gambar yang menunjukkan aktifitas Dela dalam kelompok saat mencari keping pecahan yang akan digunakan untuk membantu mengerjakan LKS.

  Gambar 96. Dela menggunkan keping pecahan untuk mengerjakan LKS.

  147

  Selain ketertarikan dalam menggunakan keping pecahan, Dela juga memperhatikan penejelasan peneliti denga sungguh-sungguh.

  Dela juga tampak serius memperhatikan ketika peneliti sedang menjelaskan di depan, dapat dilihat pada gambar :

  Gambar 97. Dela memperhatikan peneliti yang sedang menjelaskan.

  Keterlibatan Dela dalam mengikuti pelajaran dengan keping pecahan juga bagus. Dela sering menyampaikan ide dalam menggunakan keping pecahan, selalu menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti tanpa diminta, sering berebut untuk maju mengerjakan soal di papan tulis dan tak segan pula Dela mengatakan belum paham jika memang dia belum paham. Keaktifan Dela dapat dilihat pada gambar 98.

  Gambar 98. Dela menajawab pertanyaan peneliti.

  148

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Dela memang memenuhi semua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran pengurangan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan yaitu antusia, perhatian, dan keterlibatan yang baik, untuk itu Dela masuk dalam kategori sangat berminat.

  d) Putri Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Putri dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan pengurangan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 10.

  Dari tabel di atas, tampak bahwa Putri termasuk dalam ketegori sangat berminat. Pengamat 1 dan pengamat 2 memasukkan Putri dalam kategori sangat berminat. Sedangkan pengamat 3 memasukkan Putri pada kategori cukup berminat saja. Namun demikian, kesimpulannya Putri tetap masuk dalam kategori sangat berminat.

  Pengamat 3 melihat Putri tidak memenuhi kriteria pertama dari lembar pengamatan mengenai minat siswa yaitu tentang ketertarikan Putri terhadap keping pecahan yang digunakan dalam pembelajaran. Hal ini dilihat pada saat Putri bekerja dalam kelompok, dalam menyelesaikan soal Putri tidak lagi menggunakan keping pecahan.

  149 Gambar 99. Putri mengerjakan LKS tanpa keping pecahan.

  Hal ini dikarenakan ketika Putri dalam proses memahami dia akan menggunakan keping pecahan, tetapi ketika paham dia sudah tidak menggunakan lagi. Dia akan mengerjakan dengan kemampuan yang dimilikinya. Karena kemampuan yang dimiliki Putri bagus, dia hanya memerlukan waktu yang singkat dalam menggunakan alat peraga dan kemudian ketika sudah paham dia tidak menggunakannya lagi. Hal ini membuat Putri tampak tidak tertarik dengan keping pecahan, tatapi jika dilihat pada saat penjelasan secara klasikal Putri menunjukkan ketertarikannya terhadap keping pecahan.

  Dalam mengikuti pelajaran, perhatian Putri terhadap penjelasan peneliti sangat baik. Pada saat peneliti menjelaskan mengenai pengurangan pecahan, Putri duduk dengan tenang dan mendengarkan penjelasan dengan baik. Keaktifan Putri dalam mengikuti pelajaran juga bagus. Hal pada saat pelajaran berlangsung dengan aktif dan insisiatif sendiri Putri mau menjawab pertanyaan, maju mengerjakan soal di depan kelas dan memeberikan ide dalam menggunakan keping

  150

  pecahan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 100, gambar 101 dan gambar 102.

  Gambar 100. Putri bersedia maju ke depan mengerjakan soal di papan tulis. Ganbar 101. Putri menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti. Gambar 102. Putri memberi ide kepada Dela dalam menggunakan keping pecahan.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Putri memang memenuhi semua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan

  151

  minatnya dalam mengikuti pelajaran pengurangan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan yaitu antusia, perhatian, dan keterlibatan yang baik, untuk itu Putri masuk dalam kategori sangat berminat.

  e) Tika Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Dela dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan pengurangan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 10.

  Ketiga pengamat memasukkan Tika pada kategori yang sama yaitu sangat berminat. Hal ini memang sesuai dengan pengamatan pada video yang dibuat pada pertemuan keempat. Dalam mengikuti pelajaran mengenai pengurangan pecahan Dela menunjukkan minat yang besar dalam mengikuti pelajaran dengan keping pecahan. Tika menunjukkan minat yang besar dalam mengikuti pelajaran. Dalam mengikuti pelajaran Tika selalu menunjukkan ketertarikannya terhadap penggunaan keping pecahan. Saat peneliti menjelaskan dengan keping pecahan dan melontarkan pertanyaan Tika menunjukkan ketertarikannya dengan sering meminjam keping pecahan yang sedang diapakai dan menggunakan untuk mencari jawaban dari pertanyaan peneliti. Selain itu, Tika juga sering menyampaikan idenya dalam menyelesaikan pengurangan pecahan dengan keping pecahan. Saat bekerja dalam kelompok pun demikian,

  152

  Tika tampak semangat menggunakan keping pechan untuk menyelesaikan LKS.

  Dalam mengikuti pelajaran, Tika memeperhatikan penjelasan peneliti dengan sungguh-sungguh. Hal ini dapat dilaihat pada gambar 103.

  Gambar 103. Tika memperhatikan peneliti dengan sungguh- sungguh.

  Keaktifannya dalam mengikuti pelajaran juga bagus, Tika selalau menjawab pertanyaan dari peneliti, maju mengerjakan soal di papan tulis dan menyampaikan idenya tanpa diminta oleh peneliti. Keaktifan tika dalam mengkuti pelajaran dapat dilihat pada beberapa gambar 104 dan gambar 105.

  Gambar 104. Tika Gambar 105. Tika angkat menjawab pertanyaan tangan untuk menjawab peneliti. pertanyaan. Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Tika memang memenuhi semua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran pengurangan dua pecahan dengan alat peraga keping pecahan yaitu antusia, perhatian, dan keterlibatan yang baik, untuk itu Tika masuk dalam kategori sangat berminat.

  f) Nana Dari hasil pengisian lembar pengamatan yang diisi oleh tiga orang pengamat, minat Dela dalam mengikuti pelajaran pada sub pokok bahasan pengurangan pecahan dengan alat peraga keping pecahan dapat dilihat pada Tabel 10.

  Dari tabel Tabel 10, tampak bahwa Nana termasuk dalam ketegori cukup berminat saja. Pengamat 2 dan pengamat 3 memasukkan Nana dalam kategori cukup berminat. Menurut pengamatan dari pengamat 2 dan pengamat 3, Nana tidak memenuhi kriteria ketiga dari lembar pengamatan yaitu mengenai keterlibatan siswa dalam mengikuti pelajaran. Hal ini memang sesuai dengan video hari keempat, dalam video tampak bahwa Nana sedikit sekali mau melibatkan diri dalam pembelajaran dalam hal menjawab pertanyaan, menyampikan ide, maju mengerjakan soal di depan maupun dalam hal bertanya. Nana tampak diam saja memperhatikan teman-temannya beraktifitas selama pembelajaran. Beberapa kali memang Nana maju mengerjakan di papan tulis atau menjawab pertanyaan, namun hal ini

  154

  dilakukan atas perintah dari peneliti. Sedikit sekali yang dilakukan atas inisiatif sendiri.

  Namun demikian dalam menggunakan alat peraga keping pecahan, Nana tampak antusias. Terutama pada saat bekerja dalam kelompok. Hampir pada setiap pertemuan Nana baru menunjukkan ketertarikannya menggunakan alat peraga keping pecahan pada saat bekerja dalam kelompok. Saat penjelasan dari peneliti Nana terlihat hanya melihat kegiatan yang dilakukan teman-temannya.

  Gambar 106. Nana memperhatikan peneliti yang sedang menjelaskan.

  Karena Nana adalaha anak yang pendiam, dalam mengikuti pelajaran Nana menunjukkan sikap diam ditempat dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

  Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa Nana memang hanya memenuhi dua kriteria yang digunakan untuk menunjukkan minatnya dalam mengikuti pelajaran penjumlahan dua pecahan dengan alat

  155

  peraga keping pecahan yaitu antusias dan perhatian, untuk itu Nana masuk dalam kategori cukup berminat.

b. Minat siswa dari pertemuan 1-4 dari pengamatan.

  Selama pembelajaran dengan keping pecahan sebanyak 4 kali pertemuan, tidak semua siswa berada pada kategori minat yang sama.

  Ketegori minat siswa dari hari pertama sampai hari ke 4 dapat dilihat pada tabel berikut:

  Tabel 14. Minat siswa dari pertemuan 1-4 Nama siswa Kategori Minat Pertemuan

  I Pertemuan

  

II

Pertemuan

  III Pertemuan

  IV Tata SM SM SM SM

  Arya SM SM CM CM Dela SM SM CM SM Putri SM SM SM SM Tika SM SM SM SM Nana - CM CM CM

  1) Tata Dari pertemuan pertama sampai pada pertemuan terakhir, Tata selalu pada kategori sangat berminat. Hal ini memang sesuai dengan hasil yang diperoleh pada video pembelajaran. pada setiap pertemuan Tata selalu menunjukkan keantusiaannya dalam mengikuti pelajaran dengan menggunakan alat peraga keping pecahan. Keaktifan dan perhatian Tata dalam mengikuti pelajaran juga baik. Tata merupakan anak yang percaya diri dan ekspresif, sehingga dalam mengikuti pelajaran dia selalu

  156

  menunjukkan ketertarikan, sanggahan jika dia tidak setuju, sarta pembenaran menurut pemikirannya.

  2) Arya Pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua Arya dalam ketegori sangat berminat, tetapi pada pertemuan tiga dan empat Arya masuk dalam kategori cukup berminat saja. Pda pertemuan ketig akonsentrasi Arya pada pelajaran terganggu, sehingga perhatiannya terhadap peneliti kurang baik.

  Hal yang menyebabkan Arya masuk dalam kategori cukup berminat pada hari keempat berbeda menurut pengamat 2 dan pengamat 3. Seperti yang sudah diuraikan di atas, pengamat 2 melihat bahwa perhatian Arya dalam mengikuti pelajaran kurang. Sedangkan pengamat 3 melihat bahwa Arya kurang tertarik menggunakan alat peraga keping pecahan. Perbedaan kategorisasi seperti ini memang ada kemungkinannya untuk terjadi karena adanya perbedaan pandangan antara pengamat 2 dan pengamat 3. 3) Dela

  Pada pertemuan pertama, kedua dan keempat Dela masuk dalam kategori sangat berminat sedangkan pada pertemuan ketiga pada kategori cukup berminat saja. Hal ini disebabkan oleh perhatian Dela yang kurang baik pada saat pelajaran hari ketiga berlangsung. Dela tampak tidak fokus dalam mengikuti pelajaran.

  157

  4) Putri Dari keempat pertemuan dengan alat peraga keping pecahan, Putri selalu masuk dalam kategori sangat beminat. Ketetarikannya terhadap alat peraga keping pecahan bagus, namun dia tidak banyak menggunakan karena keping pecahan hanya digunakan untuk membantu Putri dalam menemukan cara mengerjakan soal. Jika ia suda paham, alat peraga keping pecahan tidak digunakan lagi. Hal ini memperlihatkan seolah-olah Putri tidak tertarik dengan keping pecahan. Keaktifan dan perhatian Putri dalam mengikuti pelajaran juga bagus. Dalam mengikuti pelajaran, Putri dengan tenang dan sungguh-sungguh memperhatikan peneliti. Putri juga mau menyampaikan pendapat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peneliti. 5) Tika

  Dari pertemuan satu sampai empat, Tika selalu masuk dalam kategori sangat berminat. Hal ini memang sesuai dengan karakter Tika yang aktif. Keaktifan Tika tampak dari keterlibatannya dalam menjawab pertanyaan, bertanya, menyampaikan ide serta dalam menggunakan keping pecahan.

  158

  6) Nana Pertemuan pertama Nana tidak masuk karena sakit, sehingga pengamatan minat terhadap Nana baru dimulai pada pertemuan kedua.

  Dari pertemuan kedua sampai keempat, Nana selalu masuk dalam kategori cukup berminat. Ketgori ini didasarkan pada hasil pengamatan ketiga pengamat yang melihat bahwa ketreliabatan Nana dalam menyampaikan ide, pendapat dan bertanya sedikit. Nana memang tergolong anak yang pendiam.

  Dari pembahasan diatas, dapat dikatakan bahwa pengaruh pengguanan keping pecahan dalam pembelajaran berbeda-beda untuk anak satu dengan yang lain. Pengaruh tersebut juga tergantung pada karakteristik yang dimiliki masing-masing anak. Namun jika dilihat secara keseluruhan, sebagian besar minat siswa tinggi dalam mengikuti pelajaran dengan menggunakan alat peraga keping pecahan. Dalam mengikuti pelajaran dengan alat peraga keping pecahan siswa menjadi aktif terlibat dalam mengikuti pelajaran.

c. Data angket yang diisi siswa.

  Data ini diperoleh dengan memberikan angket sederhana bagi siswa. Pengisian angket ini berdasarkan pada sesuatu yang ada dari dalam diri siswa. Angket ini disusun untuk meliahat minat siswa terhadap pembelajaran dengan keping pecahan. Sama tujuannya dengan lembar pengamat yang diisi oleh pengamat, namun pengisiannya berbeda. Lembar pengamat diisi dengan

  159

  melihat sesuatu yang dapat diamati oleh pengamat berupa tingkah laku atau sikap siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas, sedangkan angket siswa diisi oleh siswa sendiri berdasarkan aktifitas dan sesuatu yang berasal dari dalam diri siswa sendiri. Maka dari itu, hasil minat siswa dari lembar pengamat dengan dari angket siswa dapat berbeda. Seperti terlihat pada data yang telah disajikan diatas, dapat dilihat bahwa beberapa anak beberapa kali masuk dalam ketegori cukup berminat namun angket yang diisi siswa menunjukkan bahwa minat siswa sangat tinggi. Hal ini mungkin saja terjadi, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal ini terjadi, antara lain:

  1) Siswa termasuk dalam anak yang tidak ekspresif, jadi apa yang terdapat dalam dirinya tidak selalu ditampakkan dalam tingkah lakunya atau aktifitasnya. Contohnya dalam mengisi lembar pengamatan yang menunjukkan siswa mau bertanya di kelas, pengamat melihat apakah dalam mengikuti pelajaran siswa sering bertanya atau tidak, jika tidak berarti siswa tidak memenuhi kriteria tersebut. Berbeda halnya dengan pengisian pada angket siswa, walaupun siswa tidak menunjukkan sikap sering bertanya dikelas namun jika dalam dalam hatinya sebenarnya dia mempunyai kemauan yang besar untuk bertanya namun karena suatu hal membuat dia tidak dapat mengeluarkan pertanyaanya, anak tetap akan menjawab setuju. 2) Motivasi anak melakukan aktifitas dikelas yang menunjukkan minat siswa tidak berasal dari diri sendiri. Dalam pelaksanaan pembelajaran

  160

  di kelas, siswa memang menunjukkan sikap mau bertanya, memperatikan, dan menggunakan alat dengan baik tetapi dibalik itu semua anak sebenarnya melakukan atas perintah guru, atau mungkin karena malu dengan temannya jika tidak ikut berperan dalam pembelajaran. Walaupun siswa menunjukkan aktifitas tersebut dan motifnya bukan berasal dari diri sendiri, maka hal ini memungkinkan siswa menyatakan tidak setuju dengan item yang menunjukkan hal-hal tersebut.

  3) Pengamat tidak dapat mengamati sebagian kegiatan siswa. Karena keterbatsan pengamat, ada beberapa hal yang tidak teramati.

  4) Adanya kecenderungan siswa mengisi angket dengan hal yang dianggap baik.

  Hasil pengisian angket minat oleh siswa semua menunjukkan persentase yang sangat tinggi. Semua siswa berada pada interval lebih dari 85%, bahkan ada yang hasil persentasenya 100%. Skor minat yang diperoleh siswa di Hasil perhitungan persentase minat siswa diperoleh dengan rumus:

      

  

  161

  Persentase minat masing-masing anak: 1) Putri

  Dari tabel diatas, dapat dilihat Putri mendapat skor 13, sedangkan skor maksimum adalah 14. Sehinnga diperoleh persentase minat Putri adalah

       

   Persentase ini termasuk dalam kategori minat yang sangat tinggi.

  Walaupun pada hasil pengamatan oleh pengamat beberapa pertemuan Putri berada pada kategori cukup berminat saja tetapi hasil pengisian angket yang diisi oleh dirinya sendiri, Putri masuk dalam kategori minat sangat tinggi. Ada satu item yang dijawab dengan jawaban negatif, yaitu pada item mau mengemukakan pendapat dan ide dalam proses pembelajaran dengan keping pecahan di kelas. Pada item tersebut, Putri menjawab tidak setuju, hal ini memang sesuai dengan pengamatan dari ketiga pengamat. Dalam pembelajaran di kelas, terkadang Putri harus ditunjuk dulu agar mau mengemukakan idenya atau agar Putri mau menyampaikan pendapatnya terhadap sesuatu. Untuk item-item yang berhubungan dengan alat peraga, Putri memberi respon positif semua walaupun pada saat pembelajaran dengan alat peraga Putri tampak hanaya sedikit menggunakan alat peraga keping pecahan. Kalaupun menggunakan

  162

  itu terkadang bukan atas inisiatif sendiri namun karena perintah guru atau sesuai dengan perintah yang ada pada LKS.

  Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara sesuatu yang dapat diamati dari luar dengan sesuatu yang berada dalam diri siswa. Dari luar Nampak seperti tidak tertarik dengan alat peraga, tetapi dari dalam ternyata ketertarikan Putri terhadap alat peraga besar. Perbedaan persepsi ini bisa diakibatkan karena memang karakteristik yang dimiliki Putri adalah pendiam dengan kemampuan matematika yang lebih sehingga dia tidak terlalu banyak menggunakan alat peraga untuk membantu menyelesaikan soal. Dengan sedikit saja menggunakan keping pecahan Putri sudah paham dan ketika sudah paham dia akan meninggalkan keping pecahan dan bekerja dengan mengandalkan otaknya.

  2) Dela Hasil pengisian angket Dela mendapat skor 13, dengan 1 item direspon negatif. Sehingga persentase minat Dela adalah

  

      %

  

  Hasil persentase di atas termasuk dalam kategori minat yang sangat tinggi. Ada 13 jawaban yang mendapat poin 1 dan satu jawaban yang mendapat poin 0. Dela mendapat poin 0 pada item Alat peraga keping pecahan membuat saya bingung dalam mempelajari operasi penjumlahan

  .

  dan pengurangan pecahan Dalam pelaksanaan pembaelajaran di kelas, Dela

  163 tampak selalu menunjukkan ketertarikan dan keaktifan dalam menggunakan alat peraga keping pecahan. Tetapi dari hasil angket ini Dela mengatakan merasa bingung jika menggunakan keping pecahan untuk mempelajari penjumlahan dan pengurangan pecahan.

  3) Tata Dari hasil pengisian angket, Tata mendapat skor sempurna yaitu 14.

  Sehingga persentase minatnya dapat dihitung sebagai berikut:

  

      %

  

  Persentasi minat Tata tergolong sangat tinggi, semua item diberikan respon yang positif. Hal ini memang sesuai dengan hasil pengamatan dari tiga pengamat bahwa Tata memang selalu pada kategori sangan berminat dalam mengikuti pembelajaran dengan alat peraga keping pecahan. Semua kriteria minat yang dikembangkan dalam angket yaitu antusias, perhatian dan keterlibatan memang dipenuhi semua oleh Tata.

  4) Tika Dari hasil pengisian angket, Tika mendapat skor sempurna yaitu 14.

  Sehingga persentase minatnya dapat dihitung sebagai berikut:

  

      %

  

  Persentase minat Tika tersebut masuk dalam kategori sangat tinggi, semua item dalam angket diberikan respon positif. Hal ini memang sesuai dengan hasil pengamatan oleh ketiga pengamat, setiap pertemuan Tika

  164

  masuk dalam kategori sangat berminat. Dalam proses pembelajaran juga tampak bahwa antusias, perhatian dan keterlibatan Tika bagus.

  5) Arya Dari hasil pengisian angket, Arya mendapat poin 13, ada satu item yang mendapat nilai 0. Sehingga persentase minatnya dapat dihitung sebagai berikut:

  

      %

  

  Walaupun ada satu item yang tidak dipenuhi oleh Arya, tetapi minatnya masih pada ketegori sangat tinggi. Item yang diberi respon aya suka bercanda dan mengobrol dengan teman saat pelajaran berlangsung . Arya setuju dengan pernyataan tersebut, sehingga mendapat poin 0 pada item tersebut. Dari data pengamatan yang diberikan oleh tiga pengamat mengenai minat, satu kali pertemuan Arya masuk dalam kategori cukup berminat. Hal ini dikerenaka pada pertemuan keempat perhatian Arya terhadap pelajaran agak kurang, Arya banyak bercerita dan bercanda dengan teman-teman disamping kanan dan kirinya.

  6) Nana Dari hasil pengisian angket, Nana mendapat skor 13, ada satu item yang mendapat nilai 0. Sehingga persentase minatnya dapat dihitung sebagai berikut :

  165

       

   Walaupun ada satu item yang tidak dipenuhi, namun ketegori minat

  Nana tergolong sangat tinggi. Satu item yang mendapat nilai 0 adalah

  saya mau mengemukakan pendapat dan ide dalam proses pembelajaran dengan keping pecahan di kelas . Nana tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Hal ini memang sesuai dengan karkteristik yang dimiliki Nana. Seperti halnya Putri Nana juga mempunyai sifat pendiam. Perlu ditunjuk agar mau menyampaikan idenya atau sekedar menjawab pertanyaan.

2. Data hasil belajar siswa

  a. Pretes Soal pretes dibagi menjadi 2 bagian, yaitu soal pilihan ganda dan soal isian singkat. Terdapat 10 soal pilihan ganda dan 9 soal isian singkat. Untuk soal pilihan ganda, jawaban benar diberi skor 1 sedangkan jawaban salan mendapat 0. Skor untuk soal isian singkat diberikan berdasarkan pada bobot soal, untuk soal dengan menggunakan pecahan yang berpenyebut sama diberikan skor 1 sedangkan untuk pecahan dengan penyebut berbeda skor yang diberikan 1,5. Hal ini dilakukan karena soal dengan pecahan yang penyebutnya berbeda memiliki tingkat kesulitan yang lebih dibanding dengan pecahan yang penyebutnya sama. Skor maksimum untuk soal pilihan ganda 10 dan skor maksimum untuk soal isian singkat 11, sehingga diperoleh skor

  5

     

  6 Skor Kunci jawaban < > > >

  11 Tata  

  < > < <   

    

    5,5 Arya

    < < > > 

    

     

  7 Dela  

  > < > <   

   1,5 Putri

  4

   

     

   

  1 Tika  

  > < > >   

     

  

  4 Nana  

  < > > <  

     

   

  5

  3

  166

  5

  total maksimum adalah 21. Untuk memperoleh nilai pretes digunakan perhitungan dengan rumus sebagai berikut.

       

    

  Jawban soal pilihan ganda pada pretes siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

  

Tabel 16. Jawaban pretes siswa pada bagian soal pilihan ganda.

  No soal

  1

  2

  3

  

4

  6

  No soal 1 2a 2b 2c 2d

  7

  8

  9

  10 Skor Kunci jawaban D D C C A B A A D B

  10 Tata D D B B B A A A A C

  4 Arya A D D D B B B A A A

  3 Dela D B D D D C D A C A

  2 Putri D D C C B A A A A A

  6 Tika D D C B B A A D A C

  4 Nana D B B D B A B B A C

  1 Jawaban soal isian pada pretes siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 17. Jawaban pretes siswa pada bagian soal isian.

  •  

  167

  Dari jawaban siswa dalam tabel di atas, dapat dihitung nilai dari masing- masing siswa adalah: 1) Tata

  Dari hasil pretes, skor pilihan ganda yang diperoleh Tata adalah 4, sedangkan skor pada isian 5,5 sehingga nilai yang diperoleh Tata: 

           

   Nilai yang diperoleh Tata termasuk dalam kategori kurang. Pada bagian pilihan ganda ada 6 item soal yang salah. Pada soal mengenai pecahan senilai nomor 3 dan 4 jawaban Tata masih salah, penjumlahan pecahan baik yang berpenyebut sama maupun yang berpenyebut beda juga masih salah. Dapat dilihat pada jawaban soal nomor 5 dan 6, dalam menjumlahkan yang dilakukan Tata adalah menjumlahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Jawaban soal nomor 9 dan 10 mengenai penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berpenyebut berbeda juga masih salah. Untuk penjumlahan pecahan yang penyebutnya berbeda, cara Tata dalam menyelesaikan sama dengan pada pecahan yang penyebutnya sama yaitu dengan menjumlahkan antara pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Misalnya

    

  untuk soal nomor 5pilihan ganda    dijawab oleh Tata. Operasi

    

  168

  bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda tidak dilakukan dengan menyamakan penyebutnya terlebih dahulu.

  Untuk soal isian, skor yang diperoleh Tata adalah 5.5. Terdapat 4 item soal yang dijawab dengan salah yaitu soal nomor 1 mengenai konsep pecahan, nomor 2c dan 2d mengenai perbandingan dua pecahan dengan penyebut yang berbeda, dan soal nomor 5 mengenai penjumlahan pecahan yang penyebutnya berbeda. Jika diamati secara keseluruhan,hampir semua soal yang menggunakan pecahan penyebut berbeda dijawab dengan salah.

  2) Arya Pada pretes skor pilihan ganda yang diperoleh Arya adalah 3 dan skor pada isian adalah 7, sehingga nilai pretes Arya dapat diperoleh sebagai berikut:

          

   Nilai yang diperoleh Arya pada pretes ini masih dibawah ketuntasan dengan kategori kurang. Pada bagian pilihan ganda, terdapat 7 item soal yang jawabannya salah. Jawaban Arya menunjukkan ketidak konsistenan, pada soal nomor 1 dan 2 mengenai konsep pecahan jawaban arya nomor 1 salah tetapi untuk nomor 2 benar. Begitu juga pada soal nomor 5 dan 6 mengenai penjumlahan pecahan dengan penyebut yang sama, nomor 5 jawabannya salah sedangkan nomor 6 jawaban Arya benar. Pengurangan

  169

  pecahan yang penyebutnya sama yaitu soal nomor 7 dan 8, jawaban nomor 7 salah sedangkan jawaban nomor 8 benar. Untuk pecahan senilai nomor 3 dan 4 jawaban yang diberikan salah serta operasi penjumlahan dan pengurangan dengan penyebut berbeda nomor 9 dan 10 juga masih salah.

  Pada soal isian terdapat 3 item soal yang dijawab dengan salah, yaitu soal nomor 2b mengenai perbandingan pecahn dengan penyebut yang sama, padahal jika dilihat jawabn soal 2a mengenai pecahan dengan penyebut yang sama sudah dijawab dengan benar. Selain itu soal nomor 5 dan 6 mengenai penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan penyebut yang berbeda juga masih salah. Kesalahan yang terjadi pada penjumlahan baik yang penyebutnya sama maupun berbeda adalah dengan menjumahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Hal ini tampak pada soal pilihan ganda dan soal isian.

  Ada beberapa kemungkinan penyebab ketidakkonsistenan jawaban Arya pada pretes ini, kemungkinan pertama adalah terjadi kesalahan menghitung atau kurang teliti. Hal ini bisa dikatakan karena pada soal pilihan ganda nomor 7, awalnya jawaban Arya sudah benar tetapi kemudian diganti dan malah menjadi salah. Kemungkinan yang kedua adalah bahwa sebenarnya pemahaman terhadap konsep dan meteri tentang pecahan yang dimiliki Arya kurang mentap, sehingga untuk masalah yang sama dengan angka yang berbeda Arya sudah bingung dalam menjawab.

  170

  3) Dela Hasil pretes yang diperoleh Dela, pada bagian pilihan ganda mendapat skor 2 dan pada isian mendapat skor 1.5. Sehingga nilai yang diperoleh Dela adalah

          

   Nilai yang diperoleh Dela masih jauh dibawah ketuntasan dengan kategori kurang. Pada bagian pilihan ganda, terdapat 8 jawaban salah. Soal nomor 2 mengenai konsep pecahan dijawab dengan salah, kesalahan ini terjadai kemungkinan karena Dela kurang teliti dalam membaca soal. Hal tersebut dapat dikatakan karena pada soal nomor 1 mengenai materi yang sama dengan nomor 2 Dela dapat menjawab dengan benar. Selain itu, pertanyaan soal nomor 2 adalah Dela diminta mencari nilai dari bagian

  

  yang berwarna kuning harusnya jawabannya , namun jawaban Dela

   

  adalah malah menunjukkan nilai dari bagian yang berwarna putih. Soal

  

  nomor 3 dan 4 mengenai pecahan senilai juga masih salah. Mengenai penjumlahan pecahan dengan penyebut yang sama yaitu soal nomor 5 dan 6 jawaban Dela masih salah. Kesalahan yang terjadi adalah pada saat menjumlahkan kedua pecahan yang dilakukan adalah menggabungkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Misalnya

  171    pada soal pilihan ganda nomor 5,    jawaban Dela adalah .   

  Kesalahan yang sama juga terjadi untuk soal nomor 6. Mengenai pengurangan pecahan nomor 7 juga salah. Penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda nomor 9 juga dilakukan dengan cara seperti di atas. Pengurangan pecahan yang penyebutnya berbeda yaitu untuk soal nomor 10 masih dijawab dengan salah oleh Dela.

  Untuk soal isian, hanya terdapat satu jawaban benar yaitu nomor 2c. Soal nomor 1 mengenai konsep pecahan masih salah, perbandingan pecahan nomor 2a,2b,2d juga salah. Penjumlahan pecahan baik yang berpenyebut sama maupun yang berbeda, soal nomor 3 dan 5 dijawab dengan cara yang sama dengan jawaban pada pilihan ganda. Nomor 4 dan 6 mengenai pengurangan pecahan baik penyebut berbeda maupun sama masih salah.

  4) Putri Hasil pretes yang diperoleh Putri adalah skor 6 untuk pilihan ganda dan skor 1 untuk isian. Sehingga nilai yang diperoleh Putri adalah:

          

   Nilai ini masih berada dibawah ketuntasan dengan kategori kurang.

  Untuk bagian pilihan ganda, terdapat 4 jawaban salah yaitu nomor 5, 6, 9 dan 10. Nomor 5 dan 6 adalah soal mengenai penjumlahan pecahan dengan penyebut yang sama. Kesalahan yang terjadi adalah dalam

  172

  menjumlahkan pecahan yang dilakukan Putri adalah menjumlahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Untuk soal

    

  nomor 5 yaitu    jawaban Putri adalah , kesalahan yang sama juga

     terjadi pada jawaban nomor 6 dan 9.

  Pada soal isian hanya ada satu jawaban yang benar, yaitu nomor 4 mengenai pengurangan pecahan yang berbeda penyebutnya. Jawaban soal nomor 1 mengenai konsep pecahan masih salah, walaupun pada soal pilihan ganda jawabannya sudah benar. Soal nomor 2a,2b,2c,2d juga masih salah. Kesalahan disebabakan karena Putri tidak memahami maksud dari soal. Hal tersebut dapat dikatakan karena pada titik-titik yang harusnya diisi dengan tanda perbandingan (< atau >) namun yang yang sama dengan pada soal pilihan ganda mengenai penjumlahan pecahan yaitu dengan menjumlahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Untuk soal nomor 6 mengenai pengurangan pecahan yang penyebutnya berbeda juga masih salah. 5) Tika

  Hasil pretes yang diperoleh Tika untuk pilihan ganda adalah 4 untuk skor pilihan ganda dan 4 untuk skor pada isian. Sehingga nilai pretes yang diperoleh Tika adalah:

          

  

  173

  Nilai yang diperoleh Tika masih berada di bawah ketuntasan dengan kategori kurang. Pada bagian pilihan ganda terdapat 6 jawaban salah, yaitu soal nomor 4, 5, 6, 8, 9, dan 10. Soal nomor 4 adalah mengenai pecahan senilai jawaban untuk nomor 4 salah, padahal untuk soal nomor 3 yang serupa dengan nomor 4 Tika dapat menjawab dengan benar. Soal mengenai penjumlahan pecahan baik yang berpenyebut sama yaitu nomor 5 dan 6 maupun yang penyebut berbeda yaitu soal nomor 9 dikerjakan dengan cara yang sama yaitu dengan menjumahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Walaupun Tika menjawab soal nomor 7 mengenai pengurangan pecahan berpenyebut sama dengan benar, tetapi untuk nomor 8 soal yang serupa dengan nomor 7 jawabannya salah. Begitu juga untuk soal nomor 10 mengenai pengurangan pecahan berpenyebut berbeda juga dijawab dengan salah.

  Pada bagian isian, terdapat 6 jawaban yang salah yaitu untuk soal nomor 2a,2b,3,4,5, dan 6. Soal yang dijawab dengan benar hanya nomor 1,2c, dan 2d. Jawaban Tika untuk soal nomor 2a dan 2b mengenai perbandingan pecahan berpenyebut sama salah. Soal nomor 3 dan 5 mengenai penjumlahan pecahan baik yang berpenyebut sama maupun yang berpenyebut berbeda dijawab dengan cara seperti pada soal pilihan ganda yaitu menjumlahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Untuk soal nomor 4 dan 6 mengenai pengurangan

  174

  pecahan juga belum dikuasai oleh Tika, jawaban yang diberikan masih salah.

  6) Nana Hasil pretes yang diperoleh Nana untuk pilihan ganda mendapat skor 1 dan untuk isian mendapat skor 5. Sehingga dapat dihitung nilai yang diperoleh Nana adalah:

          

   Nilai yang diperoleh Nana masih jauh di bawah ketuntasan yang ditentukan dan termasuk dalam kategori kurang. Pada bagian pilihan ganda hanya terdapat satu jawaban yang benar yaitu soal nomor satu saja mengenai nilai dari sebuah bagian yang berwarna. Soal nomor 2 serupa dengan soal nomor 1, tetapi jawaban Nana salah. Kesalahan terjadi karena kurang teliti dalam membaca perintah, yang diminta adalah bagian yang berwarna kuning tetapi Nana menjawab untuk bagian yang berwarna putih. Nomor 3 dan 4 mengenai pecahan senilai juga masih salah.

  Jawaban soal nomor 5 dan 6 mengenai penjumlahan pecahan berpenyebut sama salah, kesalah yang terjadi serupa dengan teman-teman yang lain yaitu menjumlahkan pembilang dengan pembilang dna penyebut dengan penyebut. Jawaban salah juga terjadi pada soal nomor 7 dan 8 mengenai pengurangan pecahan berpenyebut berbeda, untuk kesalahan pada pengurangan pecahan kurang dapat dilihat alsanya karena jawaban yang

  175

  satu dengan yang lain tidak menunjukkan pola tertentu. Untuk soal nomor 9 mengenai penjumlahan pecahan yang berpenyebut berbeda juga masih salah, kesalahan yang dilakukan sama dengan pada nomor 5 dan 6. Nomor 10 mengenai pengurangan pecahan berpenyebut berbeda juga salah, namun tidak ditemukan pola kealahan yang dilakukan oleh Nana.

  Pada bagian isian terdapat 5 jawaban yang salah, yaitu soal nomor 1,2d,3,4 dan 5. Soal nomor 1 mengenai nilai pecahan dari bagian yang

  

  diarsir, jawaban Nana masih belum tepat. Jawaban yang benar adalah

   

  tetapi Nana menjawab , tiga soal mengenai hal serupa dijawab dengan

  

  kesalahan yang berbeda-beda hal ini menujukkan bahwa Nana belum menguasai konsep pecahan sederhana. Soal nomor 2d mengenai perbandingan pecahan berpenyebut berbeda juga masih salah. Soal nomor 3 dan 5 mengenai penjumlahan pecahan dijawab dengan kesalahan yang sama dengan soal pada pilihan ganda yaitu dengan menjumlahkan pembilang dengan pemilang dan penyebut dengan penyebut. Sedangkan untuk soal nomor 4 mengenai pengurangan pecahan juga masih salah.

  Nilai kategorisasi hasil pretes yang diperoleh siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini:

  176 Tabel 18. Nilai siswa dan kategorinya.

  7

  7 Nana D C C B A B A A D B

  10 Tika D D C B A B A A B C

  6 Putri D D C C A B A A D B

  8 Dela D D D B A B D A B B

  7 Arya D D C C A B A A A A

  10 Tata D D C B A B A A B C

  10 Skor Kunci jawaban D D C C A B A A D B

  9

  8

  6

  Nama Siswa Nilai Pretes Kategori Nilai Tata 45,2 Kurang Arya 47,6 Kurang Dela 16,7 Kurang Putri 33,3 Kurang Tika

  5

  

4

  3

  2

  1

  No soal

  

Tabel 19. Jawaban postes siswa pada bagian soal pilihan ganda.

  Jawban soal pilihan ganda pada postes siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

  b. Postes Soal yang diberikan kepada siswa untuk pretes dan postes sama, sehingga untuk analisis dan penilaiannya juga sama dengan pretes.

  38 Kurang Nana 28,5 Kurang

  8

  177

    8,5 Putri

      

      

  Hasil postes yang diperoleh Tata pada pilihan ganda adalah 7 sedangkan untuk isian 11. Sehingga nilai postes Tata dapat dihitung sebagai berikut:

  masing-masing siswa adalah: 1) Tata

  7 Dari rekapan jawaban siswa di atas, dapat dihitung nilai postes dari

     

     

  8 Nana   < > < <

     

     

  7 Tika   < < > <

    

     

    < > < < 

     

  Jawaban soal isian pada postes siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini

  > < > >  

  9,5 Dela  

     

     

  11 Arya   < < > <

  

     

  < > > >   

  11 Tata  

  6 Skor Kunci jawaban < < > >

  5

  4

  3

  Tabel 20. Jawaban postes siswa pada bagian soal pilihan ganda. No soal

1 2a 2b 2c 2d

  Nilai postes yang diperoleh Tata sudah di atas ketuntasan dan masuk dalam kategori sangat baik. Pada bagian pilihan ganda hanya terdapat 3 jawaban yang salah yaitu nomor 4, 9, dan 10. Soal nomor 4 mengenai

  178

  pecahan senilai sedangkan nomor 9 dan 10 adalah penjumlahan dan pengurangan pada pecahan yang berbeda penyebut. Pada bagian isian, Tata menjawab semua soal dengan benar. 2) Arya

  Skor postes yang diperoleh Arya pada bagian pilihan ganda 8 dan pada isian 9,5. Sehingga nilai Arya dapat dihitung sebagai berikut:   

        

  Nilai yang diperoleh Arya pada postes sudah bagus, berada di atas ketuntasan dan masuk dalam kategori sangat baik. Pada bagian pilihan ganda hanya terdapat 2 jawaban yang salah yaitu nomor 9 dan 10. Soal nomor 9 adalah penjumlahan pecahan yang berbeda penyebut. Kesalahan yang dilakukan sama dengan kesalahan yang dilakukan saat pretes yaitu dengan menjumlahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Sedangkan untuk nomor 10 adalah mengenai pengurangan pecahan berbeda penyebut juga masih salah dengan jawaban yang sama dengan jawaban saat pretes. Sedangkan untuk isian hanya terdapat satu soal yang salah yaitu nomor 2d mengenai perbandingan pecahan berbeda penyebut. 3) Dela

  179

  Skor pilihan ganda yang diperoleh Dela dalam postes adalah 6 sedangkan isian mendapat skor 8,5. Sehingga nilai yang diperoleh dela dapat dihitung sebagai berikut:

          

   Nilai yang diperoleh Dela pada postes sudah berada diatas ketuntasan dengan kategori cukup. Pada bagian pilihan ganda Dela mendapat skor 6, dengan 4 jawaban yang salah yaitu nomor 3,4,7, dan 9. Nomor 3 dan 4 adalah soal mengenai pecahan senilai sedangkan nomor 7 adalah pengurangan pecahan yang berpenyebut sama. Kesalahan yang dilakukan sudah berbeda dengan saat pretes, jika dilihat dari jawaban yang dipilih Dela kemungkinan kesalahan terjadi karena kurang teliti dalam menghitung. Hal ini dapat dikatakan karena 3 dikurangi 1 Dela menjawab

  1. Sedangkan untuk soal nomor 9 mengenai penjumlahan pecahan yang berbeda penyebut, kesalahan yang dilakukan adalah menjumlahkan pembilangnya saja tanpa menyamakan penyebut. Untuk bagian isian, hanya terdapat 2 jawaban yang salah yaitu nomor 2a dan 6. Soal nomor 2 mengenai perbandingan pecahan berpenyebut sama dan nomor 6 adalah pengurangan pecahan yang berbeda penyebut. Kesalahan yang dilakukan sama dengan pada penjumlahan pengurangan pecahan berbeda penyebut yaitu mengurangkan pembilang tanpa menyamakan penyebut.

  180

  4) Putri Skor pilihan ganda yang diperoleh Putri adalah 10 dan isian 8.

  Sehingga nila postes Putri dapat dihitung sebagai berikut:   

        

  Nilai yang diperoleh Putri pada postes sudah bagus, diatas batas ketuntasan dan termasuk dalam ketegori baik. Pada pilihan ganda semua soal dijawab dengan benar. Sedangkan pada isian terdapat tiga jawaban yang salah yaitu soal nomor 2b,2c,dan 2d ketiganya adalah soal mengenai perbandingan pecahan. 5) Tika

  Skor pilihan ganda yang diperoleh Tika adalah 7 dan skor isiannya

  8. Sehingga dapat dihitung nilai yang diperoleh Tika adalah:   

        

  Nilai yang diperoleh Tika pada postes sudah bagus, berada di atas batas ketuntasan dan termasuk dalam kategori baik. Pada bagian pilihan ganda terdapat 3 jawaban salah yaitu untuk nomor 4,9 dan 10. Soal nomor 4 adalah mengenai pecahan senilai sedangkan nomor 9 dan 10 penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berbeda penyebut.

  6) Nana

  181

  Skor pilihan ganda yang diperoleh Nana dalam postes adalah 8 dan skor pada isian adalah 7. Sehingga nilai postes yang diperoleh Nana dapat dihitung sebagai berikut:

          

   Nilai yang diperoleh Nana sudah bagus, berada di atas ketuntasan dan termasuk dalam kategori baik. Pada bagian pilihan ganda terdapat dua jawaban yang salah yaitu soal nomor 2 dan 4. Soal nomor 2 mengenai konsep pecahan, soal nomor 2 ini serupa dengan soal nomor 1 tetapi jawaban sola nomor 1 sudah benar. Jawaban yang dipilh Nana sama dengan jawabannya pada pretes. Nana memilih nilai pecahan yang mewakili bagian yang putih bukan yang menunjukkan daerah berwarna kuning. Nomor 4 adalah mengenai pecahan senilai juga masih salah, walaupun nomor 3 untuk soal serupa sudah dijawab dengan benar. Pada

  bagian isian terdapat tiga jawaban salah yaitu nomor 2b,2c,dan 2d. Ketiga soal tersebut mengenai perbandingan dua pecahanyang berbeda penyebutnya. Nilai kategorisasi hasil postes yang diperoleh siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini:

  182 Tabel 21. Nilai postes siswa dan ketegorinya.

  Nama Siswa Nilai Postes Kategori Nilai Tata 85,7 Sangat Baik Arya 83,3 Sangat Baik Dela

  69 Baik Putri 80,1 Baik Tika 71,4 Baik Nana 71,4 Baik

  c. Perbandingan hasil pretes dan hasil postes secara keseluruhan.

  Jika dilihat dari nilai yang diperoleh siswa pada pretes dan postes, nilai postes siswa relatif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai pretes. Semua siswa mengalami peningkatan nilai, hal ini dapat dilihat pada tabel di atas. Banyak kesalahan-kesalahan dalam menjawab soal yang dilakukan siswa pada saat menjawab pretes sudah tidak dilakukan lagi pada saat siswa menjawab soal yang sama pada postes. Tetapi ada pula beberapa siswa yang masih melakukan kesalahan yang sama. Seperti pada bagian penjumlahan pecahan baik dengan penyebut maupun yang penyebutnya berbeda dalam pretes, hampir semua anak menjawab dengan menjumlahkan pembilang dengan pembilang penyebut dengan penyebut, ada pula yang mengerjakan dengan menggabungkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Bahkan dalam pretes untuk penjumlahan pecahan dengan penyebut yang berbeda tidak ada satupun anak yang menjawab dengan benar. Pada sub pokok bahasan mengenai pengurangan pecahan yang penyebutnya sama pun dalam pretes hanya setengah kelas yang menjawab dengan benar. Pada

  183

  pengurangan pecahan tidak terlihat pola dari alasan jawaban siswa. Demikian juga pada perbandingan pecahan, tidak dapat terlihat pola alasan anak dalam menjawab.

  Dalam soal pretes dan postes terdapat 8 sub pokok bahasan yang ditanyakan yaitu konsep pecahan, pecahan senilai, penjumlahan dua pecahan dengan penyebut sama, pengurangan pecahan dengan penyebut sama, penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda, pengurangan dua pecahan dengan penyebut sama dan berbeda serta perbandingan dua pecahan dengan penyebut sama maupun berbeda. Jika dilihat dari hasil pretes dan postes, kemampuan siswa pada setiap sub pokok bahasan yang diujikan mengalami perkembangan dari pretes ke postes. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

  Tabel 22. Akumulasi jumlah nilai jawaban pretes dan postes per sub pokok bahasan Persentase Jumlah Jumlah jawaban(jumlah jawaban Jumlah jawaban benar Sub Pokok Bahasan soal tiap pokok soal benar bahasan x (%) jumlah anak) Pretes Postes Pretes Postes

  Konsep pecahan

  3

  18

  11

  17

  61

  94 Pecahan senilai

  2

  12

  3

  7

  25

  58 Penjumlahan pecahan

  3

  18

  3

  18 17 100 berpenyebut sama Penjumlahan pecahan

  2

  12

  7

  58 penyebut berbeda Pengurangan pecahan

  3

  18

  10

  17

  56

  94 penyebut sama Pengurangan pecahan

  2

  12

  2

  8

  17

  67 penyebut berbeda Perbandingan pecahan

  2

  12

  5

  9

  41

  75 penyebut sama Perbandingan pecahan

  2

  12

  6

  6

  50

  50 penyebut berbeda

  184

  Jika dilihat pada tabel di atas, kebenaran jawaban siswa pada masing- masing sub pokok bahasan yang diujikan pada tes sebelum dilakukan pembelajaran (pretes) dan setelah pembelajaran (postes) mengalami peningkatan. Hanya satu sub pokok bahasan yang tidak mengalami peningkatan yaitu pada sub pokok bahasan perbandingan pecahan yang berbeda penyebut. Hal ini dikarenakan pada saat pembelajaran (pertemuan 2), konsep mengenai perbandingan pecahan agak sulit dipahami oleh siswa. Dalam mempelajari perbandingan pecahan yang berpenyebut sama memakan waktu yang panjang, akibatnya untuk perbandingan pecahan yang penyebutnya berbeda waktu yang tersedia menjadi relative lebih pendek. Sehingga pembelajaran mengenai perbandingan pecahan berbeda penyebut penjadi kurang maksimal.

  Jika dilihat secara keselurhan, nilai pretes dan nilai postes seluruh siswa mengalami peningkatan. Walaupun peningkatannya berbeda-beda. Hal ini dapat diamati pada Tabel 06

  Jika dilihat dari Tabel 06 pretes dan postes siswa di atas, semua siswa mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Namun kenaikan nilai pretes dan postes ini tidak semata-mata hanya dipengaruhi oleh penggunaan alat peraga keping pecahan dalam pembelajaran pada pokok bahasan pecahan. Ada beberapa hal lain yang dapat menjadi penyebab kenaikan nilai siswa pada tes sebelum dan sesudah dilakukannya pembelajaran dengan alat peraga keping pecahan, beberapa penyebab tersebut antara lain adalah :

  185

  1) Materi pecahan adalah materi yang sudah diajarkan sebelumnya. Hal ini dapat menjadi penyebab terjadinya kenaikan nilai postes dibandingkan dengan nilai pretes. Suatu materi yang dipelajari satu kali kemungkinan memberikan hasil yang berbeda jika hal itu dipelajari dua kali. 2) Pretes dilakukan secara mendadak tanpa ada persiapan yang dilakukan oleh siswa, sedangkan postes dilakukan dalam jarak waktu yang tidak terlalu jauh dari pembelajaran dikelas mengenai pecahan. Dalam pembelajaran terdapat soal-soal dalam LKS yang diberikan kepada siswa, hal ini dapat menjadikan siswa lebih terbiasa mengerjakan soal walaupun tanpa keping pecahan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  1. Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan minat belajar siswa dalam pembelajaran dengan alat peraga keping pecahan. Sehingga dapat diatarik kesimpulan secara keseluruhan yang dapat diambil dari penelitian mengenai pengaruh penggunaan alat peraga keping pecahan pada pokok bahasan pecahan terhadap minat siswa kelas IV SDLB B Karnnamanohara adalah:

  a. Penggunaan alat peraga keping pecahan dalam pembelajaran pecahan dapat meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika khususnya pada pokok bahasan pecahan.

  b. Dengan menggunakan alat peraga keping pecahan dalam pembelajaran, siswa tampak antusias, ceria dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran matematika dengan alat peraga keping pecahan.

  c. Dengan menggunakan alat peraga keping pecahan siswa aktif dan mau terlibat dalam proses pembelajaran.

  2. Penggunaan alat peraga keping pecahan dalam pembelajaran matematika dapat menngkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan pecahan. Terjadi

  187

  peningkatan nilai tes yang dilaksanakan sebelum dan sesudah pembelajaran dengan keeping pecahan.

  Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian mengenai pengaruh penggunaan alat peraga keping pecahan pada pokok bahasan pecahan terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDLB B Karnnamanohara adalah: a. Terjadi peningkatan hasil belajar siswa dilihat dari nilai pretes dan postes.

  b. Siswa menjadi lebih paham mengenai konsep pecahan, perbandingan dan operasi pecahanyang berbeda penyebut.

B. Saran

  Saran yang dapat diberikan penulis terhadap pembaca maupun peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian mengenai Pengaruh Penggunaan Alat Peraga

  

Keping Pecahan Terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran

Matematika Pada Materi Pecahan adalah:

  1. Jika ingin melakukan penelitian sejenis materi dapat dikembangkan lagi sampai pada operasi perkalian dan pembagian pecahan.

  2. Jika ingin menggunakan anak tunarungu sebagai obyek penelitian, hendaknya observasi dan adaptasi terhadap lingkungan sekolah dan siswa lebih banyak.

  Supaya masalah komunikasi tidak menjadi kendala.

  188 3.

  Untuk penelitian kualitatif, sebaiknya kualitas video lebih bagus dan diusahakan agar ada pihak lain selain peneliti yang bertugas mengambil gambar dengan video agar memeperoleh data yang lengkap.

4. Sebelum melakukan pembelajaran, hedaknya dalam observasi peneliti harus

  mengetahui karekter dari masing-masing anak. Agar kontrol pemahaman dapat lebih dimaksimalkan.

  189

DAFTAR PUSTAKA

  Abu Ahmadi., & Supriyono Widodo. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta Syaiful Bahri Djamarah. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Reneka Cipta.

  Djemari Mardapi. 2008. Teknik Penyususnan Instrumen Tes dan Non Tes. Jogjakarta: Mitra Cendikia Offset. Herman Hudojo. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. Kukuh Susilonuringsih. 2006. Pengaruh Faktor Intern Dan Faktor Eksternterhadap

  Minat Belajar Siswa Kelas I Di Smk Yayasan Pendidikan Ekonomi (Yapek)

Gombong Tahun Diklat 2005/2006. Malang: Universitas Negri Malang.

  Marpaung. Yanssen. 1995. Representasi dan Internalisasi Konsep Matematika:Fungsinya Dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Mohamad Efendi. 2006. Pengantar Pedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: Erlangga Nana Sudjana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

  Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta. Sugiharto, Thomas. & Sardjana, A. Pengembangan Media Pembelajaran Topik

  Pecahan di Sekolah Dasar Yang Mendukung Pembelajaran Dengan Pendekatan CTL . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Sukayati. 2003. Pelatihan Supervisi Pengajaran untuk Sekolah Dasar di PPPG Matematika . Yogyakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

  190

  TIM MKPBM Jurusan Pendidikan Matematika. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer . Bandung: JICA-Universitas Pendidikan Indonesia.

  ________, 2006 . Klasifikasi, Jenis dan Macam Data - Pembagian Data Dalam Ilmu

  Eksak Sains Statistik / Statistika, http://organisasi.org/klasifikasi_jenis_dan_macam_data_pembagian_data_dala m_ilmu_eksak_sains_statistik_statistika, diakses tanggal 21 April 2011.

  ________. 2006. Pedoman-Pedoman Pendidikan Luar Biasa . Jakarta: Direktorat Pendidikan Luar Biasa. http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=15, diakses tanggal 21 April 2011.

  

________. 2011. http://www.scribd.com/doc/21249216/MINAT-BELAJAR. diakses

tanggal 24 April 2011.

  ________. 2011. http://www.scribd.com/doc/37575359 , diakses tanggal 24 April 2011.

  191 Lampiran 1. Angket minat yang diisi Nana

  192 Lampiran 2. Angket minat yang diisi Putri

  193 Lampiran 3. Angket minat yang diisi Dela

  194 Lampiran 4. Angket minat yang diisi Tata

  195 Lampiran 5. Angket minat yang diisi Arya

  196 Lampiran 6. Angket minat yang diisi Tika

  197 Lampiran 7. Lembar pengamatan minat siswa pertemuan pertama a.

   Pengamat 1

  198 b.

   Pengamat 2

  199 c.

   Pengamat 3

  200 Lampiran 8. Lembar pengamatan minat siswa pertemuan kedua.

  a.

   Pengamat 1

  201 b.

   Pengamat 2

  202 c.

   Pengamat 3

  203 Lampiran 9. Lembar pengamatan minat siswa pertemuan ketiga a.

   Pengamat 1

  204 b.

   Pengamat 2

  205 c.

   Pengamat 3

  206 Lampiran 10. Lembar pengamatan minat siswa pertemuan keempat a.

   Pengamat 1

  207 b.

   Pengamat 2

  208 c.

   Pengamat 3

  209 Lampiran 11. Hasil Pretes 1.

   Arya

  210

  211

  212

  213 2.

   Dela

  214

  215

  216

  217 3.

   Tata

  218

  219

  220

  221 4.

   Putri

  222

  223

  224

  225 5.

   Tika

  226

  227

  228

  229 6.

   Nana

  230

  231

  232

  233 Lampiran 12. Hasil Postes 1.

   Arya

  234

  235

  236 2.

   Dela

  237

  238

  239 3.

   Tata

  240

  241

  242 4.

   Putri

  243

  244

  245 5.

   Tika

  246

  247

  248 6.

   Nana

  249

  250

  251 Lampiran 13. LKS hari pertama

1. Dela

  252

  253

  254

2. Tat a

  255

  256

  257 Lampiran 14. LKS hari kedua.

1. Arya

  258

  259

  260

2. Put ri

  261

  262

  263 Lampiran 15. LKS hari ketiga

1. Put ri

  264

  265

2. Tika

  266

  267

3. Nana

  268

  269 Lampiran 16. LKS hari keempat.

1. Arya

  270

  271 2.

   Tika

  272

  273 Lampiran 17. Transkripsi video hari pertama.

  Peneliti : anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang pecahan, sekarang akan belajar pecahan pake apa ini? Arya: apel Dela :saya mau.

  Peneliti :mau? Nanti ya.., kalau akan membagi diapakan? Arya :dipotong.

  Peneliti : ya dipotong, ini apelnya berapa?(menunjukkan satu apel yang masih utuh) Arya & Putri :satu. Peneliti :ya apelnya satu, untuk kak riza. Kalau mau dibagi dengan tika dipotong jadi berapa? Tata, Putri, Dela :empat. Tata :lima. Peneliti :dibagi 5? kita bagi 2 dulu ya. Ini akan dibagi berapa? Dela :satu Putri :dua Arya :satu per dua Tata :2 Peneliti : ya satu ini nilainya berapa arya(sambil menunjukkan potongan apel)? Arya :satu Tata :satu per dua

  274

  Tika :satu per dua Peneliti :setengah ya.

  Dela :ya Peneliti :kalau ini??(menunjukkan potongan apel yang kedua) Dela : satu per dua Peneliti :kalau semuanya ini??(potongan apel digabungkan) Tika :satu Peneliti :ya satu ya.

  Peneliti : Ini setengah(potongan yang pertama). Tata :satu per dua Arya :satu per dua Peneliti :ini juga setengah(potongan yang kedua).

  Tata :satu perdua. Peneliti :ya,ini satu perdua, ini satu perdua, (digabungkan) jadi? Tika :empat.

  Tata,Dela,Arya,Putri :satu(mengacungkan telunjuknya). Peneliti :skrg kalau ini dibagi 2 lagi,,dipotongg ya. Yang ini dibagi lagi ya.

  Peneliti :ini berapa?(potongan yang pertama) Arya : satu perdua.

  Peneliti :ini??(menunjukkan apel yang sudah dibagi lagi) Tika :satu per tiga.

  Arya :satu per tiga

  275 Dela :satu per empat.

  Tata :satu per empat. Peneliti :ini berpa?(sperempt digabungkan) Dela :satu per dua.

  Peneliti :satu per dua. Kalau ini(potngan apel speremptan)? Dela,Arya,Tata :satu per empat.

  Peneliti :ya satu per empat. Peneliti :sekarang ditulis dulu di Lks ya. Ini diisi nomor satu. Lihat nomor satu, membaca, diisi.

  Putri,Dela,Arya,Tata,Tika mengerjakan LKs Peneliti :(membawa apel uth)berapa ini?? Tika & tata :satu.

  Peneliti :ya tulis.berapa? Arya :satu.

  Peneliti :ya betul. Yuk liat lagi. Dibagi 2,ini berapa?(menunjukkan potongan setengahan). Dela,Putri,Arya,Tata,Tika :satu per dua. Peneliti : ya tulis. Yuk nomor tiga. Ini dipotong lagi, jadi? Tata,Arya : satu per empat Tika :satu Peneliti :ini berapa? Tika :satu Peneliti :dipotong, berapa?(dipotong jadi 2) Tika :satu per dua.

  276

  Peneliti :dipotong lagi,berapa?(jadi satu per empat) Tika :satu per dua.

  Peneliti :ini dilihat lagi, berapa ini besarnya? Ditulis. Peneliti :cepat,,cepat,cepat. Peneliti :sudah? Peneliti :sudah? Peneliti : jadi tadi ini berapa?(apel utuh) Putri :satu Peneliti :satu, dipotong jadi 2,jadi? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :satu per dua Peneliti :satu per dua. Dipotong lagi. Jadi? Tata :satu per empat Peneliti : berapa tika? Tika :satu per empat.

  Peneliti :satu per empat,bagus, sudah tw?tau? tau atau belum? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :tau.

  Peneliti :ini berapa? Putri :satu per sepiluh Arya :satu persepuluh.

  Peneliti :hayo coba dihitung dulu berapa ini besarnya? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata menghitung bnayak potongan apel.

  Tata :1/8 Peneliti :ya, 1/8

  277

  Dela :1/8 Peneliti : nah ini belum paham mbak, arya belum tau.

  Peneliti :berapa arya? Arya :ya? Peneliti :berapa ini?(mnjjkna ptongan 1/8an) Arya :satu per 8 Peneliti :ya satu per 8 Peneliti :ini(menunjuk tika) Peneliti :tika, berapa ini tika?( mnjjkna ptongan 1/8an).

  Tika :satu per delapan. Peneliti :satu per delapan. Putri, berapa ini?( mnjjkna ptongan 1/8an) Satu per? Putri :satu per sembilan.

  Peneliti :lhoh,8 atu Sembilan?coba dihitung lagi. Putri :(mengitung banyak potongan apel),satu per delapan. Peneliti :satu per delapan, 1/8 digabungkan dengan 1/8 jadi ini berapa? Arya,Tika :2 Peneliti : dua per? Dela :dua per delapan.

  Peneliti :berapa putri? Putri :dua perdelapan.

  Peneliti : Arya? Arya :2/8.

  278

  Peneliti :ditambah satu potong lagi(membawa satu bagian perdelapanan), jadi berapa? Arya,Tata,Dela :3/8 Peneliti :ya,3/8 Peneliti :kalau ditambah satu potong lgi? Dela,Arya,Tika,Tata :empat per delapan.

  Peneliti : 4/8 ya. Ditambah satu potong lagi? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :5/8 Peneliti : Ditambah satu potong lagi? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :6/8 Peneliti :Ditambah satu potong lagi? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :7/8 Peneliti : Ditambah satu potong lagi? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :8/8 Peneliti :ya, 8/8 sama dengan? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :satu.

  Peneliti :mengerti?tau?? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :tau.

  Peneliti :jadi, 8/8 itu sama dengan? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :satu.

  Peneliti :sekarang kita memakai,apa ini? Dela,Arya,Tika :roti Peneliti :roti tawar,bentuknya apa?

  279

  Dela,Arya :kotak, Peneliti :per..

  Tata :persegi. Peneliti memotong roti menjadi 2 sama besar. Peneliti :ini untuk tika(potongan 1)ini untuk putri(ptgan2). Tika dapat berapa bagian? Arya,Dela :1/2 Peneliti :putri dpt berapa? Tata : ½ Peneliti :brp arya? Arya,Dela :satu per dua.

  Peneliti membagi lagi menjadi 4. Peneliti :nah, skrg untk ti,ta,de,arya,masing-masing dapat berapa? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :1/4 Peneliti :semua mau dapat?ada berapa anak ini? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :5 Peneliti :kalau gitu roti dibagi berapa?dibagi 5 ya? Ini untuk tika,ini untuk tata,ini utk dela,in untk arya dan untuk putrid. Masing-masing dapet berapa? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :satu per lima.

  Peneliti :jadi ini nilainya berapa? Arya,Tata,Putri :satu per lima.

  Tika :satu per lima.

  280

  Peneliti :putri, ini berapa? Putri :satu per lima.

  Peneliti :kalau ini(peneliti menunjukkan 3/5) Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :3/5 Peneliti :kalau ini(peneliti menunjukkan 4/5) Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :4/5 Peneliti :kalau ini(peneliti menunjukkan 5/5) Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :5/5 Peneliti :5/5 sama dengan berapa? Dela,Arya,Putri,Tika,Tata :1 Peneliti :sekarang rotinya mau untuk tika dan tata. Ini untuk

  Tika, ini Tata.(peneliti membagi roti menjadi 2 tapi tidak sama besar). Ini berapa? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :satu per dua. Peneliti :satu per dua?satu per dua tidak? Dela :ya.

  Peneliti :besarnya sama tidak? Dela,Putri :tidak.

  Peneliti :adil tidak? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :tidak.

  Peneliti :jadi ini setengah atau bukan? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :(menggeleng).bukan.

  Peneliti :bukan,tidak boleh ya. Coba klau suruh memilih,tata memilih yang man?

  281 Tata :yang besar.

  Peneliti :coba dilihat, ini sama besar atau tidak? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :tidak.

  Peneliti :jadi ini setengah? Arya :setengah.

  Dela :bukan. Peneliti :kalau ini dengan ini sama?(menunjukkan roti yang dibagi 2 sama besar).

  Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :ya. Peneliti :ini setengah bukan? Peneliti :kalau ini?sama? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :tidak.

  Peneliti :kalau begitu ini setengah? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :bukan.

  Peneliti :nah, kalau begitu membaginya harus? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata bingung Peneliti :coba yang mana yang betul? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :(menunjuk roti yang dibagi 2 sama besar).

  Peneliti :nah kalau gitu membaginya harus? Dela :sama.

  Arya,Tika,Putri,Tata :sama. Peneliti :ya, membaginya harus sama besar.gt. untuk apel juga.

  Ini mau untuk arya dan putrid tapi membaginya seperti ini.

  282 Putri :aku mau yang besar.

  Peneliti :nah tidak sama kan, kalau begitu betul ini setengah? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :tidak.

  Peneliti :ya,membaginya harus sama besar. Tau? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata manggut-manggut.

  Peneliti :sekarang dilihat LKSnya. Peneliti membantu siswa memahami LKS. Peneliti :sekarang apelnya diganti dengan keping ini, lingkaran.

  Ini berapa?(keping pecahan yang tidak di arsir). Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :satu. Peneliti :Warnyanay?biru ya. Satu. Kalau ini(keping pecahan yang mewakili setengah? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :satu per dua. Peneliti :yang mana yang menunjukkan satu per dua? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :menunjuk pada bagian yang berwarna saja.

  Peneliti :yang ini saja? Lalu yang ini berapa(menunjuk pada bagian yang tidak berwarna). Sama atau tidak? Arya :tidak Tata :sama.

  Peneliti :kalo gi ini juga? Tata,Putri : satu per dua.

  Peneliti : arya ini berapa? Arya Peneliti :ya satu per dua. Yng ini?(menunjuk bagian lain)

  283

  Putri,Arya Peneliti : jadi yang diarsir dengan yang tidak di arsir sama tidak? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :sama. Peneliti :jadi nilainya sama-sama berapa? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :satu per dua.

  Peneliti :ya,ini satu per dua(yang diarsir)ini satu per dua(yang tidak diarsir). Peneliti :oke, sekarang ini menunjukkan berapa?? Tata : satu per tiga, (yang lain bingung) Peneliti :ini lingkaranyya dibagi menjadi berapa? Tata :tiga Putri :tiga.

  Tika :(menhitung bgaian yang sama besar). Tiga, Peneliti :kalau begitu yang ini brp nilainya?(menunjuk bagian yang diarsir) Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :satu per tiga. Peneliti :kalau yang tidak diarsir berapa?(menunjuk bagan yang tidak diarsir).

  Arya,Dela,Tata,Putri Peneliti :ya, dua per tiga. Oke ganti ya.

  Dela,Arya,Tika,Putri,Tata : itu satu per empat. Peneliti :yang mana? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata menunjuk pada bagian yang diarsir.

  284

  Peneliti :ya,ini satu per empat. Yang ini(menunjuk bagian yang tidak di arsir). Dela,Arya,Tika,Putri,Tata Peneliti menunjukkan keping yang menunjukkan pecahan satu per lima.

  Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :satu per lima. Peneliti :yang tidak diarsir? Dela,Arya,Tika,Putri,Tata :empat perlima.

  Peneliti Arya Semua siswa mengitung bnayaknya bagian yang sama besar.

  Tata :tiga per enam. Arya :tiga per enam Peneliti :yang tidak berwarna: Tika,Putri :tiga per enam.

  Peneliti :sama atau tidak? Dela,Aarya,Tika,Putri,Tata :sama.

  Peneliti :oke, kalau yang ini brp? Dela :waw,, Tika,Tata :dua per sepuluh.

  Peneliti :kalau yang tidak berwarna berapa arya? Arya : delapan per sepuluh.

  Tata :( menghitung ke depan) delapan per sepuluh. Dela :(meminjam)keping pecahannya,dihitung) delapan per sepuluh.

  285

  Peneliti :berapa ini?(membawa keping yang dibagi 4 tetapi tidak sama besar. Satu per empat? Arya :tidak bisa. Tata :bukan Tika :satu per tiga.

  Dela,Putri : tidak sama. Peneliti :bukan ya, tidak sama. Satu per empat atau bukan?? Dela,Aarya,Tika,Putri,Tata :bukan.

  Peneliti : ini?(membawa keping yang dibagi 2 tetapi tidak sama besar. Satu per empat? Tata :tidak sama. Peneliti :ini setengah atau bukan? Dela,Aarya,Tika,Putri,Tata :bukan.

  Peneliti :bukan,kenapa? Dela,Tata : tidak sama.

  Peneliti :ya, karena membaginya tidak sama, jd ini bkn setengah. Tau? Dela,Aarya,Tika,Putri,Tata mengangguk.

  Peneliti :sekarang dilihat kegiatan dua, yang ini. (menunjukkn LKS). Dilihat. Dela,Aarya,Tika,Putri,Tata melihat LKS. Peneliti :ini berapa?diisi yang a. Peneliti :ayo cpt yang a diisi. Peneliti :yang b, ini.(menunjukkan pecahan ½) Peneliti :nomor dua.

  Selanjutnya siswa masuk dalam kelompok dan bekerja dengan alat peraga.

  286 Lampiran 18. Transkrip Video Hari Kedua.

  Keterangan : A : Arya D:Dela Ta:Tata Ti:Tika N:Nana P:Putri

  Peneliti :masih ingat kemarin belajar apa? D,A,Ti,P,Ta : pe..ca..han.

  Penetiti :ya pe..ca..ha ya, bagus masih ingat yya. kemarin kita ngapain aja? D :memotong. Peneliti :memotong apa aja? D : apel.

  Peneliti :apel dan apa? A,P :roti.

  Peneliti :masih ingat?ini berapa?(menunjukkan keping pecahan yang bernilai 2/4) Ta :2/4 D,A,Ti,P,N :2/4 Peneliti :2/4 yg mana?

  287 D,A,Ti,P,Ta,N semua menunjuk bagian yang mewakili 2/4.

  Peneliti :kalau yang ini?(mnunjukkan pecahan 2/4 dengan bentuk yang lain) A,P :2/4 Peneliti :ya, 2/4 juga ya.

  Peneliti :oke,masih ingat ya. Kalo ini berapa tata?(menunjukkan pecahan 2/6). Ta :2/6 A,N,P,D :2/6 Ti :2/5 Peneliti :berapa tika? Ti :2/5. Oh,(menghitung banyak bagian yang sama) 2/6.

  Peneliti :ya, klo yg tdk diarsir berapa? A :4/6 Peneliti :ya, berpa tata? Ta :4/6 Ti :4/6 Peneliti :yang mana yang menunjukkan 4/6? Arya menunjuk bagian yang tidak di arsir, kemudian meminta tata untuk menunjuk juga.

  Peneliti :oke,sekarang berapa ini? Ta, ti :4/8.

  Peneliti :ya, 4/8 Ta :yee benar

  288 Peneliti : ya bagus.

  Peneliti menggambar dipapan tulis lingkaran dengan beberapa bagian diarsir yang menunjukkan pecahan 4/8. Peneliti :yang diarsir berapa nilainya?? Ta,Ti,N,P,A,D : 4/8.

  Peneliti menggambar lagi pecahan yang menunjukkan pecahan 2/6. Peneliti : kalau ini berapa?siapa yang mau maju?? Ta,Ti,N,P,A,D : semua siswa tunjuk jari, Dela langsung maju ke depan mengambil kapur dan menuliskan 2/6 di sebelah gambar.

  Peneliti : ya betul, satu lagi. Peneliti menggambar lagi pecahan yang mewakili ¾. Peneliti :sapa yang mau maju? Ta,Ti,N,P,A,D semua tunjuk jari.

  Peneliti : Putri mau maju? Putri ke depan lalu menuliskan ¾ , Tata yang juga tunjuk jari menunjukkan ekspresi kecewa karena buka dia ynag maju.

  Peneliti : pecahan 4/8, yang diatas ini disebut apa?masih ingat tidak? Ta,Ti,N,P,A,D diam sambil mengingat-ingat.

  Peneliti Ta,Ti,N,P,A,D :pembilang.

  Peneliti :kalau yang bawah apa? Ta,Ti,N,P,A,D mengingat-ingat.

  Peneliti A

  289

  T :penyebut Peneliti :ya penyebut.

  Ta,Ti,N,P,A,D : penyebut. Peneliti menanyakan lagi mana pembilang dan mana penyebut dari pecahan yang lain.

  Peneliti menuliskan pecahan 2/10. Peneliti : kalau untuk pecahan ini, berapa pembilangnya? D :yang atas.

  Ta : 2 Peneliti :ya pembilangnya 2.

  Tata maju Peneliti :penyebutnya berapa? A :10 Peneliti : ya betul,ini pembilang(melingkari angka2) dan ini..

  Ta,Ti,N,P,A,D :penyebut. Peneliti : sudah paham? Ta,Ti,N,P,A,D : sudah.

  Peneliti mulai menggnakan alat peraga keping pecahan lagi. Peneliti : ini berapa? Ti :2/10 Tata maju kedepan menghitung jumlah bagian yang sama besar. Lalu dela maju kedepan untuk menunjuk pecahan 2/10 dipapan tulis.

  Ta,D : 2/10 Peneliti :ya 2/10, pembilagnya berapa?

  290

  Ta,a,Ti :2 Peneliti :penyebutnya? Ta,N :10 Peneliti :ulangi, putri ini pembilangnya berapa kalau ditulis? P :2 Peneliti : 2, penyebutnya? P ;10 Peneliti :begitu, sudah tau?? D :sudah tau Peneliti akan masuk kepada perbandingan pecahan, peneliti membagikan LKS siswa menjadi ribut. Mereka cepat-cepat hendak mengerjakan LKS.

  Peneliti : nanti mengerjakannya, LKS nya diletakkan dulu. Duduk dulu, lihat dulu kedepan. Siswa masih berjalan-jalan mau masuk dalam kelompok. Peneliti :nanti mngerjakannya, hadap sini dulu. Peneliti :naaaannnttiii,lihat mbak riza dulu.. Peneliti : diletakan dulu kertasnya, Semua anak diam, tidak ada yang mengikuti perintah.

  Peneliti :taruh. Peneliti :taruh dulu. Anak-anak baru meletakkan LKSnya di meja. Peneliti menuliskan judul yang akan dipelajari, anak-anak membacanya Peneliti :apa tika yang akan kita pelajari?

  291

  Ti : membandingkan pecaahan Peneliti :membandingkan pecahan, membandingkan itu yang seperti apa?? Anak-anak diam, Peneliti : coba Nana berdiri disini Nana, Tata sebelahnya.

  Nana dan tata maju dan berdiri di depan berjejer. Peneliti :siapa yang lebih besar badanya? D,A :nana Peneliti :yang lebih kecil siapa? P : tata Peneliti :tata lebih kecil dari ..

  D :nana Peneliti :sebaliknya nana lebih..? D :besar G :besar dari..

  P,D :tata Peneliti : ya begitu yya,,kita kan membandingkan..

  Peneliti : kita akan mencari mana yang lebih besar,,mana yang lebih kecil. Peneliti :ini berapa? Masih ingat? Sambil menunjukkan keping pecahan yang menunjukkan 2/4.

  Tika : 2/4 D,N,T :2/4 Peneliti : ya 2/4, yang ini berapa?

  292

  D,Ti,Ta : 1/4 Peneliti :1/4, ini berapa? Ta,D,Ti :tiga per empat.

  Peneliti :ini tadi berapa? Anak-anak : 2/4 Peneliti : yang ini? Anak-anak : ¼.

  Peneliti : ini ¼ ini dua 2/4. Mana yang lebih besar? D :dihimpitkan,sambil memperagakan mengimpitkan 2 keping pecahan.

  Ta :menunjuk 2/4. Na,P : 2/4 Peneliti :mana yang lebih besar? Tika hanya menunjuk tapi tidak jelas mana yang ditunjuk.

  Arya memperagakan mengimpitkan dua keping pecahan tersebut. Peneliti :yang mana yang lebih besar arya? A,D mengambil dua keping pecahan yang dipakai dan mengimpitkan kedua keping pecahan tersebut.

  Peneliti :Mana yang lebih besar? A :2/4 Dela masih mengutak atik kedua keping becahan.

  D :2/4 Peneliti :daerah ¼ tertutup oleh daerah 2/4.kalau begitu yang lebih besar yang mana?

  293

  Ta,D,Ti,P,N semua mununjuk pada keping 2/4an Peneliti :arya,mana yang lebih besar arya? A :menunjuk 2/4 Peneliti :yang ini yya,,sambil menunjukkan keping 2/4.

  Peneliti : yang lebih kecil yang mana?? Ta :maju menunjuk keping ¼.

  Peneliti :jadi mana yang lebih kecil?? Semua anak diam.

  Peneliti :ditulis aja mbak. Tulis dulu kalimatnya lalu tandanya. Peneliti :baik buk Peneliti :tadi Anak-anak masih bingung Peneliti Anak-anak tidak fokus, seperti sedang berdiskusi. Tidak ada yang menjawab pertanyaan.

  Peneliti : lebih apa? Lebih besar yya.. Ta : lebih besar. Peneliti : tandanya.. Ta :hadap sana(menunjuk kearah 2/4) A,P membuat tanda lebih besar untuk 2/4.

  Peneliti :naahh.. A :betul Peneliti : sudah mengerti?

  294 Anak-anak mengangguk.

  Peneliti :coba..coba lagi.. Peneliti :coba ya.. Peneliti : ini berapa? Sambil menunjukkan keping pecahan ¾ Anak-anak :3/4 Peneliti :2/4,mana yang lebih besar? Ta,Ti menunjuk keping ¾ D,A megambil keping pecahannya dan mengimpitkan kedua keping pecahan.

  Peneliti menuliskan ¾ dan 2/4. Peneliti :gimana tandanya? Anak-anak menjawab ¾ Peneliti :tandanya? Peneliti :suruh maju mbak..

  Peneliti :yuk sapa yang akan maju? Tata langsung mengangkat tangan.

  Peneliti :tandanya gimana tandanya? Peneliti :ya sudah? Peneliti :sekarang dibalik mbak tndanya..

  Peneliti Peneliti :gimana tandanya? Putri langsung maju kedepan, lalu menuliskan tandanya.

  Peneliti :ya, sudah mengerti?tau atau belum.

  295

  A :belum Peneliti : ooo,,arya belum tau? Ta :sudah.

  Peneliti menuliskan pecahan .. dan .. Peneliti :yuk arya.. A maju ked Peneliti : nah,,itu sudah tau Peneliti :sudah tau? Tata, nana,arya, tika: sudah D ;belum(sambil menggeleng kepala) Peneliti : dela belum? Peneliti menuliskan soal untuk Dela dan meminta dela maju.

  Ta : mbak riza, tika belum maju. Putri dan arya berdiskusi mengenai jawaban dela. Peneliti :betul atau salah? Anak-anak : betul Peneliti :sudah tau sekarang? Anak-anak:sudah Peneliti menggunakan keping 1/6 dan 3/6.

  Peneliti :mana yang lebih bsar. Dela dan arya kembali meminjam keping pecahan dan membandingkan dengn acra mengimpitkan. Lalu mununjukkan 3/6 ini yang lebih besar.

  Anak-anak yang lain juga menunjuk keping 3/6

  296 Peneliti :kelompok tiga tiga lagi yya..

  Peneliti : pertama ada tika, tata dan nana. Yang kedua ada dela,putrid dan arya. Anak-anak bekerja dalam kelompok mengerjakan LKS. Dalam kelompok anak didampingi oleh peneliti dan rekan peneliti. Siswa tampak serius dan semangat dalam mencari keping-keping yang akan digunakan.

  Saat tika tidak mengerti perintah dari LKS, Tata membantu menjelaskan.

  297 Lampran 19. Transkrip video pertemuan ketiga.

  Keterangan : A : Arya D : Dela P : Putri N : Nana Ta : Tata Ti : Tika

  Tata : selamat pagi mbak riza Peneliti :selamat pagi tata, selamat pagi semua..

  Peneliti :hari ini kita belajar lagi ya, belajar tentang apa?masih pecahan ya. Peneliti :oke,hari ini kita belajar menjumlahkan, kalau menjumlahkan bagaimana? Menjumlahkan di..?? Anak-anak tidak ada yang menjawab. Peneliti : digabung ya..ditambah. Peneliti mengambil keping pecahan. Peneliti :masih ingat ini pecahan berapa?(menunjukkan keping 2/4) Tika,Dela,tata :2/4 Peneliti :kalau ini berapa?(menunjukkan pecahan ¼) Tata,Dela,Tika,Nana : ¼ Peneliti :kalau menjumlahkan bagaimana?di??

  298 Semua siswa menunjuk pada keping 2/4.

  Peneliti :menjumlahkan, bagaimana? Anak-anak menunjuk pecahan 2/4.

  Peneliti Peneliti menghimpitkan kedua keping pecahan.

  Tika,Putri : oo..3/4. Peneliti :ini berapa tadi? Tata :2/4 Peneliti :ini? Anak-anak : ¼ Peneliti :ya, kalau digabungkan menjadi? Tata,tika :3/4 Peneliti menggambarkan dipapan tulis.

  Saat peneliti menulis dipapan tulis, dela dan arya malah asik memainkan keping pecahan yang tidak digunakan. Peneliti :lihat, ini ¼ ini 2/4. Klo digabungjan menjadi? Peneliti :mana yang diarsir??yang diarsir mana?? Tika dan putri angkat tangan ingin maju.

  Peneliti :ya tika. Tika maju dan membuat arsiran ¾ Peneliti : ya, begitu. Sudah tau? Arya sudah tahu? Arya : sudah.

  Peneliti :oke, lagi ya. Ini menunjukkan pecahan berapa?

  299

  Tata,tika,Putri dan Dela menghitung banyak bagian pada keping pecahan. Arya asik berjoget-joget sendiri. Tata,tika,Putri,Dela : 5/8 Peneliti :ya, arya ini berapa? Arya menghitung.

  Arya :5/8 Peneliti menunjukkan keping 1/8 Tata,Putri,Nana,Tika,Dela:1/8 G:kalau dijumlah gimana?? Tata, Tika dan Nana meminjam keping pecahan yang sedang dipakai dan mengimpitkan kedua keping pecahan. Dibolak-balik, diputar-putar mencoba sampai pada posisi yang tepat. Lalu menghitung bagian yang terarsir. Arya asik goyang- goyang badannya mendengar musik senam yang sedang diputar untuk kelas lain.

  Putri:6/8 Tika,nana,tika:6/8 Peneliti menggambarkan keping pecahan dipapan tulis. Ketika peneliti menulis di papan tulis, Dela dan Arya asik main-main dengan keping pecahan yang tidak dipakai. Sedangkan Tika, Nana dan Tata sibuk ngobrol sendiri. G:ada yang mau membantu? Tika:saya..

  G:gantian ya.yuk putri kerjakan didepn. Betul gak? Tika, Dela: betul.

  G: Nana, ini betul tidak menurut kamu? Nana mengangguk.

  G: lagi yya..

  300

  Peneliti a. Peneliti: bagaimana jika ini dijumlah? Semua anak melihat pada keping pecahan yang ditunjukkan dan meminta Nana untuk maju mengerjakan menggunakan gambar di papan tulis.

  Peneliti : betul tidak? Sudah betul?? Dela, Arya mengacungkan jempolnya.

  Peneliti : ya, sekarang kita mengerjakan LKS dalam kelompok ya. Siswa mengerjakan LKS dalam kelompok dengan alat peraga keping pecahan. Setelah siswa selesai bekerja dalam kelompok, pelajaran dilanjutkan unutk penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda.

  Peneliti : sekarang coba dilihat ini pecahan berapa?(sambil menunjukkan n keping satu per dua) Tika : ½, Peneliti : ini?(sambil menunjukkan keping 2/4) Tata : ¼.

  Peneliti : ya ini satu per dua, ini satu per empat, kalau dijumlah menjadi? Anak-anak diam.

  Peneliti : ½ ditambah ¼. Gimana? Dela langsung mengambil keping pecahan yang sedang digunakan oleh pengajar dan memperagakan menjumlahkan dua pecahan. Kemudian peneliti menulisakan soal di papan tulis. Dela berdiskusi dengan Putri. Peneliti :berapa? Tika Peneliti : begini ya, sambil menunjukkan dua keping pecahan yang telah dihimpitkan oleh Dela.

  Peneliti : lihat, ini jadi berapa? Dibagi berapa?

  301 Anak-anak seperti tidak fokus, tidak ada yang menjawab.

  G:coba dihitung, satu..,dua..,tiga..,empat.., Tampak anak-anak belum paham dengan yang dimaksud peneliti. Lalu peneliti mengambil keping 2/4 ddan ½.

  G: ini berapa? Tika:1/2.

  G:yang ini? Tika:2/4.

  G:coba klo ini dihimpitkan, bagaimana?sama tidak? Tika,Dela: sama.(menjawab dengan ragu-ragu) Lalu peneliti

  G: ½ = 2/4, kalau dijumlahkan menjadi? Tika,tata: tiga per empat.

  G:arya coba berapa arya? Arya:3/4

  G: ya, coba ini masih ingat tidak? Yang dibawah ini disebut apa? Pembilang? Tika: pembilang..

  G: yang dibwah pembilang, betul? Tata: bukan, bukan, atas.. G:ya, pembilang yang di atas,,lalu yang ini apa? Tika: penyebut..

  G: dua pecahan ini penyebutnya sama atau tidak? ½ dengan ¼ sama atau tidak penyebutnya?

  302 Tata :sama.

  Tika : tidak sama.. Peneliti menunjuk pada ¼ dan ½ yang sudah disamakan penyebutnya. Peneliti : kalau yang ini sudah sama belum? Tata,Nana, Putri : sama..

  Peneliti : sama ya..kalau begitu untuk menjumlahkan, penyebutnya dibuat?? Tika :sama Peneliti :penyebutnya dibuat sama dulu ya.

  Peneliti :oke ini berapa? Arya, ini berapa? Arya : ½.

  Peneliti : ya, 1/2,.. ini berapa? Arya : ¼.

  Peneliti :kalau dijumlah? Peneliti menulis dipapan tulis,1/2+1/4=..

  Peneliti meminta siswa memberikan jawaban dan menulisnya lalu mengeksekusi bersama-sama sudah betul atau belum. Peneliti : bagaimana ini?sudah benar? Anak-anak diam.

  Peneliti : apakah penyebutnya sudah sama? Ta, Ti :belum.

  Peneliti : ya, harus diapakan dulu?disamakan dulu ya? Peneliti : ayo lihat ini berapa?

  303 Dela :1/2.

  Peneliti menuliskan di papan tulis 1/2. Peneliti menunjukkan keping pecahan 1/6. Tika :1/6 Peneliti : satu per..enam ya..

  Lalu peneneliti menggambar dua keping pecahan tersebut. Kemudian mengimpitkannya. Peneliti :jadi berapa? Yuk Nana tolong maju. Nana maju mengerjakan di depan. Ketika Nana mengerjakan didepan didampingi oleh peneliti, Arya, Dela dan Putri asik bermain keping pecahan yang tidak sedang digunakan. Sedangkan Tika dan Tata asik mengobrol. Peneliti : Tika, ini betul? Tika : betul.

  Peneliti : Dela..dela..ini sudah betul? Dela :betul Peneliti : penyebutnya sama tidak?penyebutnya tidak sama, dibuat sama dulu.

  Tika :2/4 Peneliti memberikan tanda sama dengan lagi.

  Putri : 3/6 Lalu peneliti membuat tanda sama dengan lagi, Nana : 4/8.

  Peneliti : oke kita pilih yang mana?

  304

  Tika :3/6 Peneliti : ya, apakah sekarang penyebutnya saudah sama? Tika : sama Peneliti : ya, kalau begitu berapa hasilnya? Putri : 4/6.

  Peneliti : tau? Sudah tau? Anak-anak mengangguk.

  Peneliti : coba lagi ya. Lalu peneliti menuliskan lagi soal kemudian dikerjakan bersama-sama. Peneliti Peneliti : apakah penyebutnya sudah sama? Anak-anak menggeleng.

  Peneliti Dela : 2/4 Tika : 2/4, 3/6, 4/8, 5/10 Peneliti Tika : 2/10, 3/15 Peneliti : oke, kalau gitu mana yang sama? Dela maju menunjuk 5/10 dan 2/10.

  Peneliti : ya, ½ diganti dengan? Tika : 2/10.

  Peneliti : 1/5 diganti dengan? Tika :2/10

  305

  Peneliti :ya 2/10, jadinya berapa? Putri : 7/10.

  Peneliti : berapa arya? Arya diam.

  Peneliti : 7/20? Bener? Tata, Nana, Tika menggeleng.

  Peneliti : lalu berapa? Arya :7/10 Peneliti Anak-anak mengangguk.

  Peneliti lalu membuat kesimpulan. Peneliti Tata :sama Peneliti : ya, sekarang kita kerjakan lagi LKS nya.

  Anak-anak masuk dalam kelompok dan bekerja dalam kelompok dalam bimbingan peneliti.

  306 Lampran 20. Transkrip video Pertemuan keempat.

  Keterangan : A : Arya D : Dela P : Putri N : Nana Ta : Tata Ti : Tika

  Pada pertemuan ini peneliti memulai pelajaran dengan menanyakan kepada siswa tentang materi yang telah diajarkan sebelumnya berikut ini merupakan transkripsi percakapan hasil video

  Peneliti : sekarang kita mau belajar apa? Ta : matematika Peneliti : tentang apa? Ta dan Ti : pecahan Peneliti : kita kemarin sudah belajar apa saja? A : membandingkan (dengan dibantu peneliti) Peneliti : terus apa lagi? Penjumlahan sudah? D,A,Ti,Ta,P,N : sudah Peneliti : lebih besar dan lebih kecil sudah ? D,A,Ti,Ta,P,N : iya (sambil mengangguk)

  Peneliti : sekarang mau belajar apa? (peneliti menyebutkan materi yang akan dipelajari hari itu yakni pengurangan) Peneliti : ini pecahan berapa? (peneliti membawa pecahan

   

  ) D,A,Ti,Ta,P,N :

   

  (sambil dengan memperagakan tanganya) Peneliti : ini pecahan berapa? (peneliti membawa pecahan

   

  ) D,A,Ti,Ta,P,N :

   

  Peneliti : hasilnya yang mana A? (sambil menyodorkan keping pecahannya) A : ini (dengan menunjuk ke arsiran pada keping pecahan) Peneliti : bukan, (kemudian peneliti menggambar dalam papan tulis) Peneliti : mana hasilnya? Ti : (menuliskan jawabannya di papan tulis) Peneliti : betul atau tidak? A : betul Peneliti : jadi hasilnya yang diarsir berapa? (sambil menunjukan dengan keping pecahan) D,A,Ti,Ta,P,N : yang diarsir satu kali (dengan bantuan peneliti) Kemudian peneliti mengambil keping pecahan yang lain Peneliti : Nana ini berapa? N :

   

  ? (sambil menuliskan di papan tulis) Ti :

   

  

   

  Peneliti : sekarang

   

  Peneliti : kalau ini berapa? D,A,Ti,Ta,P,N :

   

   

  307

  ? (sambil menunjuk A) A :

   

  (sambil memperagakan dengan tanganya) Peneliti : berapa hasilnya

   

  Ti :

   

  (sambil memperlihatkan kepada siswa dengan keping pecahan) Peneliti : bagaimana caranya, ada yang mmempunyai ide ? D : digabungkan (menjawab dengan peragaan tangannya) Peneliti : kalo ini ditambah atau dikurang? P : ditambah (dengan sedikit ragu-ragu menjawab) Peneliti : ya kalo ini ditambah, terus bagaimana kalau dikurang? (peneliti menyodorkan alat peraga keping pecahan dan menawarkan siapa yang mau menjawab) D : (langsung mengambil dan menggabungkanya)

     

  Peneliti : sekarang kita lihat

  Peneliti : kalau Arya berapa ?

  (dengan menggunakan alat peraga yang dihimpitkan) Peneliti : Nana, betul apa salah? N : betul (dengan acungan jempol) Peneliti : oke, jadi apa yang dikurang? Kemarin ini disebut apa?(peneliti sambil menunjuk di papan tulis) D,A,Ti,Ta,P,N : pembilang Peneliti : kalau yang bawah? D,A,Ti,Ta,P,N : penyebut Peneliti : ini penyebutnya sama? D,A,Ti,Ta,P,N : sama Peneliti : pembilangnya dikurangi? D : tidak (dengan isyarat tangan) Peneliti : jadi penyebutnya tetap dan pembilangnya dikurangi Peneliti : coba Ta tulis ?(sambil memberikan kapur) Kemudian Tata menuliskan kesimpulan di papan tulis tetapi masih kurang tepat

  . Dan sisanya

   

  berapa? D : saya (langsung menuliskan jawabannya di papan tulis) Ta :

   

  Peneliti : Gambarnya bagaimana? Kemudian Arya maju kedepan untuk menuliskan jawaban Peneliti : benar apa salah Tika? Ti : benar Peneliti : sekarang

   

  berapa hasilnya ? Siswa :

   

  (peneliti sambil menunjukan gambar arsiran di papan tulis) Peneliti : sudah mengerti? D,A,Ti,Ta,P,N : ya (mengangguk) Peneliti : sekarang

   

   

  terus dipotong

  

  , ya ini

   

  (dengan memperagakan keping pecahan) Peneliti : bagus, tolong tuliskan Nana? Kemudian Nana menuliskan dan menggambarkan dipapan tulis Peneliti : jadi

   

  Peneliti : darimana? Kalau dengan alat peraga bagaimana? D : digabungkan tinggal sisanya

   

  A :

  308

  •  

  •  
  •  

  309

  (setelah melihat peragaan dari N) Peneliti : jadi bagaimana,

  Peneliti : bagus. Sekarang ni berapa? Siswa :

   

  . hasilnya berapa? D,A,Ti,Ta,P,N :

   

  

   

  sama saja

   

  

   

  Peneliti : jadi

   

  sama dengan? (sambil menuliskan di papan tulis) Ta :

   

   

  Peneliti : betul tidak? A : tidak (kemudian menuliskan jawabannya) Peneliti : betul apa salah? D,A,Ti,Ta,P,N : salah Kemudian Dela maju kedepan untuk membetulkan Peneliti : coba Ti sekarang,

  Peneliti : penyebutnya sama tidak? Siswa : tidak Peneliti : sekarang kalau dikurang bagaimana (peneliti memberikan keping pecahannya kepada N) P dan Ti :

   

  dan

   

  (sambil menuliskan jawaban di depan) Peneliti : betul A? A : betul Peneliti : ini berapa?(peneliti menunjukan keping pecahan) Siswa :

   

  (sambil menuliskan jawaban di depan) Peneliti : P berapa hasilnya?(sambil memberikan 2 keping pecahan kepada P) P :

   

  Peneliti : berapa hasilnya? N :

  Kemudian Ti menuliskan jawabannya di papan tulis dengan dibantu peneliti Peneliti : sekarang Ta, tulis (sambil memberikan 2 keping pecahan) Kemudian Ta menuliskan ke depan Selanjutnya peneliti mengambil 2 keping pecahan yang lain diberikan kepada Nana.

  (sambil menyodorkan kapur kepada Ti)

   

  

  

   

  310

  Peneliti : ini berapa ?

  

  Siswa :

    

  Peneliti : P,

   

  Kemudian P menuliskan ke depan Peneliti : betul tidak? A : tidak, (kemudian maju ke depan untuk menuliskana jawabannya tetapi malah salah) Selanjutnya temen yang lain membenarkanya Peneliti : sekarang A, berapa hasilnya?

  

  A : sambil menuliskan jawaban di papan tulis

   Kemudian peneliti berssama murid menuliskan kesimpulan.

  Selanjutnya siswa dijadikan 2 kelompok masing-masing kelompok berjumlah 3 orang. Anak diminta untuk mengerjakan LKS yang sudah disiapkan.

  311 Lampiran 20. RPP pertemuan pertama

  

RENCANA PELAKSANAAN PEM BELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah : SDLB B KARNNAM ANOHARA M ata Pelajaran : M at em at ika

  : Dasar IV / 2 Kelas / Sem ester

  :

1 Pertemuan ke - Standar Kompetensi : 1. M enggunakan pecahan dalam pemecahan m asalah.

  Kom petensi Dasar : 1.1 M enjelaskan art i pecahan dan urut annya. Indikator :

M enent ukan nilai pecahan dari bagian yang diar sir pada keping pecahan.

  M enent ukan bent uk keping pecahan yang sesuai dengan nilai sebuah pecahan. M enent ukan nilai pecahan dari gam bar bagian yang diarsir dari sat u bagian ut uh. M enggam barkan bent uk bagian yang diarsir dari sat u bagian ut uh yang m ew akili nilai dari sebuah pecahan.

  Alokasi W aktu :

2 JP

A. Tujuan pembelajaran

  Sisw a dapat : M enent ukan nilai pecahan dari bagian yang diar sir pada keping pecahan.

  M enent ukan bent uk keping pecahan yang sesuai dengan nilai sebuah pecahan.

  312 M enent ukan nilai pecahan dari gam bar bagian yang diarsir dari sat u bagian ut uh. M enggam barkan bent uk bagian yang diarsir dari sat u bagian ut uh yang m ew akili nilai dari sebuah pecahan.

B. M ateri Ajar

1. M engenal Pecahan

a. M engenal Pecahan Sederhana (misal: setengah, seperem pat, sepertiga, dan seperenam ) b. M embaca, M embilanng dan m enulis lam bang pecahan.

  313

  C. M etode Pembelajaran M et ode pem belajaran yang dipakai adalah m et ode demonst rasi. Guru akan m enunjukkan bagaim ana kait an ant ara m at eri pecahan dengan alat peraga yang ada. Kem udian sisw a dimint a m enggunakan alat peraga keping pecahan unt uk m em bent uk penget ahuannya m engenai pecahan.

  D. Langkah-langkah Kegiatan Kegiatan aw al Apersepsi : M enanyakan kepada sisw a t ent ang pecahan yang ada dalam kehidupan

sehari-hari sepert i mem bagi kue, m em belah apel dan sebagainya.

  Kegiatan inti

1. Kegiat an 1 a. Guru m em baw a apel dan m enunjukkan bahw a apel akan dibagi dua.

  Kemudian guru m em belah apel it u menjadi dua sam a besar lalu m enunjukkan pada sisw a bagian-bagian yang diperoleh.

  b. Guru bert anya pada sisw a berapa bagian pot ongan jika dibandingkan sat u apel yang ut uh.

  c. Guru m em bagi set engah bagian apel m enjadi dua bagian sam a besar dan m enunjukkan hasil pot ongan apel.

  314

e. Guru m engarahkan sisw a unt uk dapat m enjaw ab

2. Kegiat an 2

  3. Kegiat an 3 Sisw a diajak m engam bil kesim pulan m engenai nilai pecahan jika diket ahui gambarnya.

  c. Sisw a m engerjakan soal di LKS.

  b. Unt uk m enguji pem ahaman sisw a, dapat diberi pengecoh berupa bent uk keping yang dibagi dua t et api t idak sam a besar.

  a. Unt uk m enguji pem ahaman sisw a, sisw a dim int a m engam bil keping pecahan yang menunjukkan nilai dari pecahan yang dim int a oleh guru.

  Penutup

  d. Kegiat an diulangi dengan m enggunakan keping pecahan yang bernilai lain.

  d. Guru bert anya pada sisw a berapa bagian apel t ersebut jika dibandingkan dengan set engah bagian apel dan berapa bagian jika dibandingkan sat u apel.

  c. Guru bert anya pada sisw a m engenai nilai dari keping pecahan yang dit unjukkan oleh guru.

  .

     

  b. Guru m engam bil sat u buah keping pecahan yang bernilai  

  a. Guru m enggunakan keping pecahan, guru m engajak sisw a m em bayangkan keping pecahan yang berbent uk lingkaran adalah apel dan keping yang berbent uk persegi sebagai sebuah kue.

    .

     

E. Alat dan Sum ber Belajar

  315 Sumber :

  Nur Fajariyah dan Defi Trirant naw at i (2008), Cerdas Berhit ung M at em at ika unt uk SD/ M I, BSE, Pusat Perbukuan Depart em en Pendidikan Nasional, Jakart a.

  Alat : Alat peraga keping pecahan.

  • Papan t ulis dan alat t ulis.
  • Lem bar Kerja Siaw a (t erlam pir).

E. Penilaian Teknik : t ugas individu.

  Bent uk Inst rum en : t es uraian t ert ulis Yogyakart a, M ei 2011 Penelit i Ther esia Riza Set yarini

  316 KERJ A KA N DEN GA N T ELI T I ! 1. Tulis nilai dari gam bar bagian yang berw arna jika menunjukkan suat u pecahan.

2. Gam barlah bagian dari bagian yang diarsir yang m ew akili pecahan dibaw ah ini.

   a.   b.

    c.

    d.

    e.

  

  317 Lampiran 22. RPP pertemuan kedua

  

RENCANA PELAKSANAAN PEM BELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah : SDLB B KARNNAM ANOHARA M ata Pelajaran : M at em at ika Kelas / Sem ester : Dasar IV / 2 Pertemuan ke - :

4 Standar Kompetensi : 1. M enggunakan pecahan dalam pem ecahan m asalah.

  Kom petensi Dasar : 1.2 M em bandingkan dua pecahan. Indikator : M em bandingkan pecahan yang mem punyai penyebut yang sam a.

  M em bandingkan pecahan yang mem punyai penyebut yang berbeda.

  :

2 JP

  Alokasi W aktu

  A. Tujuan pembelajaran Sisw a dapat : M em bandingkan pecahan yang mem punyai penyebut yang sam a.

  M em bandingkan pecahan yang mem punyai penyebut yang berbeda.

  B. M ateri Ajar a. M embandingkan pecahan yang berpenyebut sama.

  Unt uk m em bandingkan dua pecahan yang m em punyai penyebut yang sam a, dapat dilakukan dengan m em bandingkan pem bilangnya saja.

  318 Cont oh :     

               

          b.

  M embandingkan pecahan yang berpenyebut berbeda.

  Jika pecahan yang akan dibandingkan berpenyebut berbeda, maka langkah pert am a yang dilakukan adalah m engubah bent uk pecahan yang akan dibandingkan sehingga penyebut nya sam a. Cont oh. Tent ukan hasil pengurangan berikut ini :

    

      

    Jaw ab :

      Bent uk yang senilai dengan     

         

Bent uk yang senilai dengan     

        Pecahan yang senilai dengan   dan berpenyebut sam a

      adalah    .

    Jika penyebut nya sudah sam a, unt uk m em bandingkan kedua pecahan cukup dengan m em bandingkan pem bilangnya.

    3 > 2, m aka .

       

  Jadi ,    

  Bent uk pecahan yang senilai dengan        

                         Bent uk pecahan yang senilai dengan       

       

  319  

  Pecahan yang senilai dengan   dan berpenyebut sam a     adalah    .

      21 > 10, maka

       

  Jadi,    

  C. M etode Pembelajaran M et ode pem belajaran yang dipakai adalah m et ode demonst rasi. Guru akan m enunjukkan bagaim ana kait an ant ara m at eri pecahan dengan alat peraga yang ada. Kem udian sisw a dimint a m enggunakan alat peraga keping pecahan unt uk m em bent uk penget ahuannya m engenai pecahan.

  D. Langkah-langkah Kegiatan Kegiatan aw al Apersepsi : Konsep pecahan senilai.

  .

  Kegiatan inti

  4. Kegiat an 1 Guru m engam bil dua keping pecahan yang nilainya m em punyai penyebut yang sam a. Guru m enanyakan pada sisw a berapa nilai dari m asing-m asing keping pecahan yang diam bil. Sisw a diajak m em perhat ikan daerah yang diarsir dan menent ukan m ana yang lebih luas. Kegiat an ini bisa diulangi dengan m enggunakan keping pecahan yang bernilai lain.

  320 Set elah diulangi beberapa kali, sisw a diajak m enganalisis bahw a dalam m em bandingkan pecahan dengan penyebut yang sam a dilakukan dengan m em bandingkan pem bilangnya saja. Sisw a dimint a m encoba m engerjakan soal dengan alat yang disediakan.

  5. Kegiat an 2 Guru m engam bil dua keping pecahan yang m enunjukkan pecahan yang berbeda penyebut nya. Lalu m em peragakan mem bandingkan pecahan dengan keping pecahan. Sisw a m asuk kelom pok dengan anggot a 3anak set iap kelom pok. Sisw a diajak m em bandingkan luas daerah yang diarsir. Kedua keping pecahan dihim pit kan lalu akan t erlihat bahw a keping pecahan akan t erlihat m enjadi dibagi oleh hasil kali penyebut nya. Sisw a diajak m enganalisis bagaim ana m enent ukan banyak bagian yang baru yait u dengan m encari kpk dari keduanya. Set elah penyebut nya sam a, selanjut nya adalah m em bandingkan pem bilangnya. Sisw a diberi lat ihan.

  Penutup d. M enarik kesim pulan dari kegiat an yang sudah dilaksanakan.

e. Sisw a m engerjakan soal di LKS.

E. Alat dan Sum ber Belajar Sumber :

  Nur Fajariyah dan Defi Trirant naw at i (2008), Cerdas Berhit ung M at em at ika unt uk SD/ M I, BSE, Pusat Perbukuan Depart em en Pendidikan Nasional, Jakart a.

  Alat : Alat peraga keping pecahan.

  321 - Papan t ulis dan alat t ulis.

  • Lem bar Kerja Siaw a (t erlam pir).

E. Penilaian Teknik : t ugas individu.

  Bent uk Inst rum en : t es uraian t ert ulis Yogyakart a, M ei 2011 Penelit i Ther esia Riza Set yarini

  322 KERJ A KA N DEN GA N T ELI T I !

    

    

    j.

    

    i.

    

    h.

    

    g.

    f.

  1. Kerjakan soal berikut , boleh m enggunakan alat per aga at au m em buat gam bar sendiri! a.

    

      e.

    d.

    

    c.

    

    b.

    

   

  326 Lampiran 23. RPP Pertemuan Ketiga

  

RENCANA PELAKSANAAN PEM BELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah : SDLB B KARNNAM ANOHARA M ata Pelajaran : M at em at ika Kelas / Sem ester : Dasar IV / 2 Pertemuan ke - :

3 Standar Kompetensi : 1. M enggunakan pecahan dalam pemecahan m asalah.

  Kom petensi Dasar :

1.3 M enjum lahkan Pecahan

  Indikator : M enjum lahkan pecahan yang m em punyai penyebut yang sam a.

  M enjum lahkan pecahan dengan penyebut yang berbeda.

  :

2 JP

  Alokasi W aktu

  A. Tujuan pembelajaran Sisw a dapat : M enjum lahkan pecahan yang m em punyai penyebut yang sam a.

  M enjum lahkan pecahan dengan penyebut yang berbeda.

  B. M ateri Ajar a. M enjumlahkan pecahan dengan penyebut sama.

  327 Unt uk m enjum lahkan dua pecahan yang mem punyai penyebut yang sam a, dapat dilakukan dengan m enjum lahkan pem bilangnya saja sedangkan penyebut nya t idak dijum lahkan. Cont oh :    

               

            b. M enjumlahkan pecahan dengan penyebut berbeda.

  Jika pecahan yang akan dijum lahkan berpenyebut berbeda, m aka langkah pert am a yang dilakukan adalah mengubah bent uk pecahan yang akan dijumlahkan sehingga penyebut nya sam a. Cont oh: Tent ukan hasil penjum lahan berikut ini :

      

        

    Jaw ab :

      Bent uk yang senilai dengan     

         

Bent uk yang senilai dengan     

        Pecahan yang senilai dengan   dan berpenyebut sam a

      adalah    .

    M aka :                           

     Jadi ,    

     Bent uk pecahan yang senilai dengan        

                  

  328 Bent uk pecahan yang senilai dengan  

      

  Kegiatan inti

  Konsep penjum lahan. .

  D. Langkah-langkah Kegiatan Kegiatan aw al Apersepsi : Konsep pecahan.

  C. M etode Pembelajaran M et ode pem belajaran yang dipakai adalah m et ode demonst rasi. Guru akan m enunjukkan bagaim ana kait an ant ara m at eri pecahan dengan alat peraga yang ada. Kem udian sisw a dimint a m enggunakan alat peraga keping pecahan unt uk m em bent uk penget ahuannya m engenai pecahan.

    

      

  Jadi,  

    

        

       

     

  M aka :  

     .

     

    dan berpenyebut sam a adalah

     

   Pecahan yang senilai dengan

    

    

    

    

  6. Kegiat an 1 Guru m engam bil dua keping pecahan yang nilainya m em punyai penyebut yang sam a. Guru m enanyakan pada sisw a berapa nilai dari m asing-m asing keping pecahan yang diam bil.

  329 Guru bert anya pada sisw a bagaim ana jika kedua pecahan it u dijum lahkan.

  Guru m em peragakan proses menjum lahkan dengan m enggabungkan kedua keping pecahan yang diam bil.

      Kedua lingkaran diim pit kan

    Kegiat an ini bisa diulangi dengan m enggunakan keping pecahan yang bernilai lain.

  Set elah diulangi beberapa kali, sisw a diajak m enganalisis bahw a dalam m enjum lahkan pecahan dengan penyebut yang sam a dilakukan dengan m enjum lahkan pem bilangnya saja. Dan sisw a dim int a m encoba m engerjakan soal dengan alat yang disediakan.

  7. Kegiat an 2 Guru m engam bil dua keping pecahan yang m enunjukkan pecahan yang berbeda penyebut nya. Lalu m em peragakan penjum lahan dengan m engim pit kan kedua keping dan m elihat gabungan dari bagian yang diarsir. Dicoba unt uk sisw a yang melakukan penjum lahan dengan keping pecahan.

  330 Sisw a diajak m enganalisis bahw a unt uk m enjum lahkan pecahan yang penyebut nya berbeda, kit a perlu m enyam akan penyebut nya t erlebih dahulu. Sisw a diberi lat ihan.

  Penutup f. M enarik kesim pulan dari kegiat an yang sudah dilaksanakan.

g. Sisw a m engerjakan soal di LKS.

  E. Alat dan Sum ber Belajar Sumber : Nur Fajariyah dan Defi Trirant naw at i (2008), Cerdas Berhit ung M at em at ika unt uk SD/ M I, BSE, Pusat Perbukuan Depart em en Pendidikan Nasional, Jakart a.

  Alat : - Alat peraga keping pecahan.

  • Papan t ulis dan alat t ulis.
  • Lem bar Kerja Siaw a (t erlam pir).

  E. Penilaian Teknik : t ugas individu.

  Bent uk Inst rum en : t es uraian t ert ulis Yogyakart a, M ei 2011 Penelit i Ther esia Riza Set yarini

  331 KERJ A KA N DEN GA N T ELI T I !

     

     

     j.

     

     i.

     

     h.

     

     g.

     f.

  1. Kerjakan soal berikut , boleh m enggunakan alat per aga at au m em buat gam bar sendiri! a.

     

     e.

     

     d.

     

     c.

     

     b.

     

    

  332 Lampiran 24. RPP Pertemuan Keempat

RENCANA PELAKSANAAN PEM BELAJARAN

  

(RPP)

Nama Sekolah : SDLB B KARNNAM ANOHARA M ata Pelajaran : M at em at ika Kelas / Sem ester : Dasar IV / 2 Pertemuan ke - :

4 Standar Kompetensi : 1. M enggunakan pecahan dalam pemecahan m asalah.

  Kom petensi Dasar : 1.4 M engurangkan Pecahan Indikator : M engurangkan pecahan yang m em punyai penyebut yang sam a. M engurangkan pecahan yang m em punyai penyebut yang berbeda.

  :

2 JP

  Alokasi W aktu

  A. Tujuan pembelajaran Sisw a dapat : M engurangkan pecahan yang m em punyai penyebut yang sam a.

  M engurangkan pecahan yang m em punyai penyebut yang berbeda.

  B. M ateri Ajar a. M engurangi pecahan yang berpenyebut sam a.

  333 Unt uk m enjum lahkan dua pecahan yang m em punyai penyebut yang sam a, dapat dilakukan dengan m engurangkan pem bilangnya saja sedangkan penyebut nya t idak dikurangkan. Cont oh :     

               

          b. M engurangkan pecahan yang berpenyebut berbeda.

  Jika pecahan yang akan dikurangkan berpenyebut berbeda, m aka langkah pert am a yang dilakukan adalah m engubah bent uk pecahan yang akan dikurangkan sehingga penyebut nya sam a. Cont oh. Tent ukan hasil pengurangan berikut ini :

     

       

    Jaw ab :

      Bent uk yang senilai dengan     

         

Bent uk yang senilai dengan     

        Pecahan yang senilai dengan   dan berpenyebut sam a

      adalah    .

    M aka :                      

     Jadi ,   

     Bent uk pecahan yang senilai dengan        

                         Bent uk pecahan yang senilai dengan       

       

  334 Pecahan yang senilai dengan  

      dan berpenyebut sam a adalah

     

     .

  M aka :  

      

      

      

   Jadi,  

     

    C. M etode Pembelajaran

  M et ode pem belajaran yang dipakai adalah m et ode demonst rasi. Guru akan m enunjukkan bagaim ana kait an ant ara m at eri pecahan dengan alat peraga yang ada. Kem udian sisw a dimint a m enggunakan alat peraga keping pecahan unt uk m em bent uk penget ahuannya m engenai pecahan.

  D. Langkah-langkah Kegiatan Kegiatan aw al Apersepsi : Konsep pecahan.

  Konsep pengurangan. .Kegiatan inti

  1. Kegiat an 1 Guru m engam bil dua keping pecahan yang nilainya m em punyai penyebut yang sam a. Guru m enanyakan pada sisw a berapa nilai dari m asing-m asing keping pecahan yang diam bil. Guru bert anya pada sisw a bagaim ana jika pecahan yang lebih besar dikurangi yang lebih kecil.

  335 Guru m em peragakan proses m engurangkan dengan m enggunakan keping pecahan.

Guru m enhim pit kan kedua keping pecahan yang t elah diam bil.

Guru m engajak sisw a m engam at i seberapa bangian yang t erarsir dobel.

Hasil pengurangan adalah bagian yang hanya t erar sir sat u kali.

Kegiat an ini bisa diulangi dengan m enggunakan keping pecahan yang bernilai lain. Set elah diulangi beberapa kali, sisw a diajak m enganalisis bahw a dalam m engurangkan pecahan dengan penyebut yang sam a dilakukan dengan m enguram gi pem bilangnya saja. Sisw a dimint a m encoba m engerjakan soal dengan alat yang disediakan.

  2. Kegiat an 2 Guru m engam bil dua keping pecahan yang m enunjukkan pecahan yang berbeda penyebut nya. Lalu m em peragakan pengurangan dengan dengan keping pecahan. Sisw a m asuk dalam kelom pok beranggot akan 3anak. Dicoba unt uk sisw a m elakukan pengur angan dengan keping pecahan. Langkah yang dilakukan dengan alat peraga sam a dengan pada pengurangan pecahan berpenyebut sam a. Sisw a diajak m enganalisis bahw a unt uk m engurangkan pecahan yang penyebut nya berbeda, kit a perlu m enyam akan penyebut nya t erlebih dahulu. Sisw a diberi lat ihan.

  Penutup a. M enarik kesim pulan dari kegiat an yang sudah dilaksanakan.

b. Sisw a m engerjakan soal di LKS.

E. Alat dan Sum ber Belajar

  336 Sumber :

  Nur Fajariyah dan Defi Trirant naw at i (2008), Cerdas Berhit ung M at em at ika unt uk SD/ M I, BSE, Pusat Perbukuan Depart em en Pendidikan Nasional, Jakart a.

  Alat : Alat peraga keping pecahan.

  • Papan t ulis dan alat t ulis.
  • Lem bar Kerja Siaw a (t erlam pir).

E. Penilaian Teknik : t ugas individu.

  Bent uk Inst rum en : t es uraian t ert ulis.

  Yogyakart a, M ei 2011 Penelit i Ther esia Riza Set yarini

  337 KERJ A KA N DEN GA N T ELI T I !

    

    

     j.

    

     i.

    

     h.

    

     g.

     f.

  1. Kerjakan soal berikut , boleh m enggunakan alat per aga at au m em buat gam bar sendiri! a.

    

   e.

     

     d.

    

     c.

    

     b.

    

    

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
15
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
102
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika
0
0
176
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MATERI PENGUKURAN DAN PENGGUNAAN ALAT UKUR PANJANG PADA SISWA SLB B (TUNARUNGU) KELAS D2 (SETARA KELAS 2 SD) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
0
0
208
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
0
0
97
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
160
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
100
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
92
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
187
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
148
Show more