Pengaruh perayaan ekaristi bagi keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki Santa Maria Assumta, Gamping, Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
135
3 months ago
Preview
Full text

  PENGARUH PERAYAAN EKARISTI BAGI KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA DI WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR, PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA, GAMPING, YOGYAKARTA S K R I P S I Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh: Hendrika Fifin Yeni Sunarti

  NIM: 051124037

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2011

  ii iii

  PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada: bapakku, ibuku, saudara-saudariku, pacarku, teman-teman angkatan 2005, dan seluruh kaum muda di Paroki St. Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta. iv v MOTTO

  “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya”.

  (1 Tim 4:10) vi

vii

  

ABSTRAK

Judul skripsi ini adalah PERAYAAN EKARISTI BAGI

  

KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA DI

WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR, PAROKI SANTA

MARIA ASSUMPTA, GAMPING, YOGYAKARTA. Judul ini dipilih

berdasarkan keprihatinan penulis terhadap kaum muda yang kurang terlibat dalam

hidup menggereja di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St. Maria

Assumpta, Gamping, Yogyakarta. Kaum muda kurang terlibat dalam hidup

menggereja karena mereka kurang menyadari pentingnya hidup menggereja dan

mereka kurang mendapat pendampingan.

  Kaum muda selalu berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan

menuju manusia yang lebih dewasa. Untuk menuju kematangan dalam diri,

mereka sering menghadapi berbagai macam persoalan, entah itu datang dari dalam

maupun dari luar dirinya. Hal ini membuat mereka merasa sulit dan bahkan tidak

mampu untuk ke luar dari berbagai macam persoalan yang dialaminya. Meskipun

demikian semua proses pertumbuhan yang nampak dalam diri kaum muda tentu

saja merupakan proses pendewasaan diri yang harus dilalui oleh semua orang.

  Dalam memperkembangkan iman untuk menuju kedewasaan iman, kaum

muda tidak mampu berjalan dan bertindak sendiri tanpa adanya bantuan dan

dorongan dari pihak-pihak lain. Sekarang ini banyak kaum muda yang mulai

mengalami krisis iman dan kepercayaan akan Allah Sang Pencipta. Dengan

keprihatinan tersebut, Gereja berusaha untuk merangkul kembali kaum muda agar

mau terlibat dalam setiap kegiatan hidup menggereja, khususnya dalam Perayaan

Ekaristi. Oleh karena itu kaum muda perlu dipersiapkan secara sungguh-sungguh

agar mereka siap memikul tanggung jawab dalam meneruskan tugas perutusan

Gereja.

  Bagi setiap orang beriman Kristiani, Ekaristi merupakan pusat dan puncak

seluruh kehidupan Kristiani, sebab dalam Perayaan Ekaristi terletak puncak karya

Allah yang menguduskan dunia dan puncak karya manusia yang memuliakan

Bapa melalui Kristus, Putra Allah dalam Roh Kudus. Dalam setiap Perayaan

Ekaristi terjadi kembali kurban Salib Kristus, yakni sengsara dan wafat-Nya.

Tepatlah penegasan Konsili Vatikan II bahwa kurban Ekaristi “adalah sumber dan

puncak kehidupan Kristiani” (LG, art. 11). Ekaristi disebut juga sebagai Sakramen

paling utama yang artinya bahwa Perayaan Ekaristi adalah misteri sengsara dan

kebangkitan Yesus Kristus.

  Dalam mempersiapkan kaum muda untuk terlibat dalam hidup

menggereja, maka diusulkan melalui katekese Shared Charistian Praxis (SCP).

Katekese umat model SCP ini kiranya cocok bagi kaum muda, karena SCP ini

berpangkal dari pengalaman hidup konkrit peserta yang saling dikomunikasikan

diperdalam dan dihubungkan dengan Kitab Suci sehingga peserta semakin dapat

menghayati imannya. Melalui SCP kaum muda dapat dibantu untuk berpartisipasi

secara aktif dalam proses katekese. Penulis menawarkan usulan program kerja

dengan katekese model SCP, dalam rangka meningkatkan keterlibatan kaum

muda dalam hidup menggereja di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur.

viii

  

ABSTRACT

The title of this final paper is THE INFLUENCE OF MASS

CELEBRATION FOR THE YOUTH’S INVOLUEMENT IN THE CHURCH

  

LIVING IN BRAYAT MINULYA, BALECATUR, SAINT MARIA

ASSUMPTA PARISH, GAMPING, YOGYAKARTA. This title is chosen based

on the writer’s concern due to the lack of youth’s involuement in the church living

in Brayat Minulya, Balecatur, St. Maria Assumpta parish, Gamping, Yogyakarta.

This problem occurs because they are not fully aware of how important is the

church living and they do not get enough assistance.

  The youth is in the growth and development process to become a mature

person. To gain the personal’s maturity, they often face many obsta cles from the

outside or inside them selves. This thing makes them difficult to salve all of their

problems. However, all of the process is a part of self maturity that every body

through.

  In the process of faith’s development to be mature in faith, the youth can

not stand and act by them selves without other’s interference. Now a day’s, many

youth have faith and belief crisis toward God. Whit that corcen, the church living,

especially in the mass celebration. That is why the youth needs to be prepared sp

that they are ready to carry the responsibility in continue the church mission.

  For the Christian, mass in the center and peak of all the Christian live,

because in the mass celebration there is Gos’s work which bless the worldand

man’s work which honor Father through Christ, the son of God in the Holy Spirit.

In every mass celebration the Christ’s sacrifation which is his death and misery is

being commemorate. It also been stated in the Vatican churchcouncil part II that

“the mass sacrifice is the source and peak of Christian’s life” (LG, art 11). Mass is

often said to be the most important sacrament which means that the mass

celebration is the mysteri of misery and the awakeness of Jesus Christ.

  In preparing the youth to be involved in the church living, than Shared

Christian Praxis cathecese is being suggested. This cathecese is suitable for the

youth because the basis comes from the youthconcrete life experience which is

being communicate, deepened, and connected with Holy Bible so that the youth

can fully comprehend the is faith. Through SCP, the youth is helped to be actively

participate in the cathecese prosess. The writer is propose the design of work

programme using SCP cathecese, in developing the youth involvement in the

church living in Brayat Minulya region, Balecatur.

ix

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasih-Nya

yang tercurah begitu besar kepada penulis. Dalam kasih dan pendampingan-Nya,

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PENGARUH PERAYAAN

EKARISTI BAGI KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP

MENGGEREJA DI WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR,

PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA, GAMPING, YOGYAKARTA.

  Skripsi ini berhasil disusun tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari

berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka dari itu,

dengan segenap hati menulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:

  

1. Romo Drs. M. Sumarno Ds., S.J., M.A., selaku dosen pembimbing utama

yang dengan penuh perhatian, kesabaran, dan kesetiaan, telah mengarahkan, mendampingi, membimbing, dan memberikan perhatian, serta sumbangan pemikiran kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.

  

2. Ibu Dra. Y. Supriyati, M.Pd., selaku dosen pembimbing akademik dan dosen

penguji II yang telah setia mendampingi penulis dari awal studi di kampus

  IPPAK sampai akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini.

  

3. Bapak Drs. Bambang Hendarto, Y., M.Hum., selaku dosen penguji III yang

telah bersedia meluangkan waktu untuk mencermati isi dari skripsi ini.

  

4. Romo Fransiskus Asisi Suntoro, Pr., selaku Pastor Paroki St. Maria Assumpta

Gamping yang telah bersedia memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.

x xi

  xii DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv MOTTO ........................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi HALAMAN PUBLIKASI ............................................................................... vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT ....................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ..................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xii DAFTAR SINGKATAN ................................................................................. xvii BAB I. PENDAHULUAN ...........................................................................

  1 A. Latar Belakang .................................................................................

  1 B. Rumusan Masalah ............................................................................

  4 C. Tujuan Penulisan ...............................................................................

  4 D. Manfaat Penulisan .............................................................................

  5 E. Metode Penulisan ..............................................................................

  5 F. Sistematika Penulisan ........................................................................

  6 BAB II. GAMBARAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM PERAYAAN EKARISTI SEBAGAI PERWUJUDAN DALAM HIDUP MENGGEREJA DI WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR, PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA, GAMPING, YOGYAKARTA ........................................................

  8 A. Gambaran Umum Situasi Paroki St. Maria Assumpta,Gamping ......

  8 1. Letak dan Geografis Paroki Gamping ........................................

  9 2. Jumlah dan Perkembangan Umat ...............................................

  9 3. Situasi Ekonomi dan Sosial Kemasyarakatan ............................

  12 4. Pendidikan Umat ........................................................................

  13 5. Pendidikan Kaum Muda di Paroki .............................................

  13

  

B. Gambaran Umum Situasi Wilayah Brayat Minulya, Balecatur ........

  13 1. Letak dan Geografis Wilayah Brayat Munulya, Balecatur ..........

  14

  2. Jumlah dan Perkembangan Umat Wilayah Brayat Minulya, Balecatur .......................................................................................

  14 3. Situasi sosial Ekonomi Wilayah Brayat Minulya, Balecatur .......

  14 4. Pendidikan Umat Wilayah Brayat Minulya, Balecatur ................

  15 C. Situasi Pendidikan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya,

Balecatur ...........................................................................................

  15

  

1. Jumlah dan Perkembangan Kaum Muda di Wilayah Brayat

Minulya, Balecatur .....................................................................

  15

  2. Pendidikan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur .....................................................................................

  16

  3. Situasi Pendampingan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur .....................................................................

  16 D. Keterlibatan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

dalam Hidup Menggereja .................................................................

  17

  1. Macam-Macam Keterlibatan Kaum Muda dalam Lingkup Masyarakat ....................................................................................

  17

  2. Macam-Macam Keterlibatan Kaum Muda dalam Lingkup Gereja ............................................................................

  18

  3. Macam-Macam Keterlibatan Kaum Muda dalam Lingkup Ekaristi ...........................................................................

  19 E. Penelitian tentang Pengaruh Perayaan Ekaristi bagi Keterlibatan

Kaum Muda dalam Hidup Menggereja di Wilayah Brayat

Minulya, Balecatur Paroki St. Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta .......................................................................................

  21 1. Tujuan Penelitian .........................................................................

  21 2. Metode Penelitian ........................................................................

  21 3. Responden Penelitian ..................................................................

  22 4. Instrumen Penelitian ....................................................................

  22 5. Variabel Penelitian ......................................................................

  23 6. Waktu Penelitian .........................................................................

  23

  

7. Pembahasan Hasil Penelitian dan Keprihatinan-Keprihatinan

Kaum muda di Paroki St. Maria Assumpta Gamping ................

  23 8. Rangkuman Hasil Penelitian ......................................................

  31

xiii

  BAB III. PERAYAAN EKARISTI KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA ..............................................................................

  33 A. Ekaristi dalam Gereja .....................................................................

  34 1. Perkembangan Ekaristi dalam Tradisi Gereja ............................

  35

a. Dasar Ekaristi dalam Ekaristi ................................................

  35

b. Dasar Ekaristi dalam Gereja Perdana....................................

  39

c. Dasar Ekaristi dalam Konsili Trente .....................................

  40

d. Dasar Ekaristi dalam Konsili Vatikan II ...............................

  41 2. Ekaristi Berdasarkan Dimensi Kristologis ...............................

  41

a. Ekaristi sebagai Kurban .......................................................

  41

b. Ekaristi sebagai Perayaan Kenangan ..................................

  42

c. Ekaristi sebagai Sakramen ...................................................

  44

d. Ekaristi sebagai Perjamuan .................................................

  45 3. Ekaristi Berdasarkan Dimensi Eklesiologis .............................

  46

a. Ekaristi sebagai Perayaan Gereja .......................................

  46

b. Ekaristi sebagai Pusat Liturgi ............................................

  47 4. Ekaristi Berdasarkan Dimensi Eskatologis ..............................

  48 B. Perkembangan Kaum Muda dalam Gereja ....................................

  49 1. Pengertian Umum Kaum Muda ...............................................

  50 2. Aspek-Aspek Pertumbuhan Kum Muda ..................................

  51

a. Pertumbuhan Fisik ..............................................................

  52

b. Perkembangan Mental .........................................................

  52

c. Perkembangan Emosional ..................................................

  53

d. Perkembangan Sosial .........................................................

  54

e. Perkembangan Moral .........................................................

  55

f. Perkembangan Religius ......................................................

  56

g. Perkembangan Kognitif ......................................................

  57 3. Problematika dalam Perkembangan Kaum Muda ....................

  58

a. Problematika dalam Keluarga ............................................

  59

b. Problematika dalam Masyarakat .........................................

  60

c. Problemtika dalam Gereja ..................................................

  61 xiv

  d. Problematika dalam Diri Kaum Muda Sendiri ...................

  62 C. Kaum Muda dalam Hidup Menggereja ...........................................

  64 D. Perwujudan Perayaan Ekaristi dan Kehidupan Kaum Muda .........

  66 1. Ekaristi Sumber Kehidupan Umat Beriman ..............................

  66 2. Ekaristi Sumber Spiritualitas Umat Beriman .............................

  68

  3. Ekaristi Sumber Kehidupan Kaum Muda dalam Hidup Menggereja .................................................................................

  69 BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE BAGI KAUM MUDA DI WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR,

PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA, GAMPING,

YOGYAKARTA MELALUI KATEKESE MODEL

SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ..............................................................................

  70 A. Alasan Pemilihan Katekese Model SCP ........................................

  71 B. Alasan pemilihan Tema dan Tujuan ..............................................

  72 C. Penjabaran Tema ............................................................................

  75 D. Petunjuk Pelaksanaan Program ......................................................

  78 E. Contoh Persiapan Katekese Bagi Kaum Muda Model SCP .......................................................................................

  79 BAB V PENUTUP ....................................................................................... 91 A. Kesimpulan ....................................................................................

  91 B. Saran ................................................................................................

  92 DATAR PUSTAKA ........................................................................................ 93 LAMPIRAN Lampiran 1 : Peta Wilayah Paroki Gamping ......................................... (1) Lampiran 2 : Statistik Paroki 2008 ........................................................ (2) Lampiran 3 : Pedoman Wawancara Tingkat Paroki .............................. (5) Lampiran 4 : Hasil Wawancara Tingkat Paroki .................................... (6) Lampiran 5 : Peta Desa Balecatur ......................................................... (9) Lampiran 6 : Pedoman Wawancara Tingkat Wilayah ........................... (10) Lampiran 7 : Hasil Wawancara Tingkat Wilayah ................................. (11)

xv

  

Lampiran 8 : Daftar Nama Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya,

Balecatur .......................................................................... (16) Lampiran 9 : Formulir Kuesioner .......................................................... (21) Lampiran 10: Gambar Perjamuan Malam Terakhir................................ (22)

xvi

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.

B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja.

  AG : Ad Gentes, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kegiatan Misioner Gereja, diterbitkan pada 7 Desember 1965. DS : Denzinger-Schönmetzer, Kumpulan-Ringkasan Pengakuan Iman

dan Dokumen Gereja, diterbitkan pada 6 April 1969.

DV : Dei Verbum, Konstitusi dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, diterbitkan pada 18 November 1965. GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam dunia Modern, diterbitkan pada 7 Desember 1965. KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II, pada 25 Januari 1983. LG : Lumen Gentium , Konstitusi dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, diterbitkan pada 21 November 1964. PO : Presbyterorum Ordinis, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, diterbitkan pada 7 Desember

  1965. SC : Sacrosanctum Consilium, Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, diterbitkan pada 4 Desember 1965.

xvii

C. Singkatan Lain

  Art : Artikel Bdk : Bandingkan Dll : Dan lain-lain Hal : Halaman HP : Hand phone Kan : Kanon KAS : Keuskupan Agung Semarang Komkat : Komisi Katekatik KWI : Konfrensi Waligereja Indonesia Mudika : Muda-mudi Katolik PNS : Pegawai Negeri Sipil PT : Perguran Tinggi RI : Republik Indonesia SCP : Shared Christian Praxis SMA : Sekolah Menengah Atas SMP : Sekolah Menengah Pertama St : Santo/Santa xviii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menjadi orang Kristiani yang dewasa adalah proses penemuan diri dan

  panggilan Tuhan yang harus ditempuh melalui pengalaman sepanjang hidup. Proses pendewasaan diri sangat dipengaruhi oleh berbagai hal dan situasi. Oleh karena itu, perkembangan iman bagi seluruh umat dan khususnya kaum muda menuntut pengenalan secara lebih mendalam tentang situasi dan kondisi kaum muda.

  Dewasa ini banyak dijumpai kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St. Maria Assumpta, Gamping yang kurang begitu aktif dalam berbagai kegiatan baik, di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan Gereja. Meskipun ada, itu hanya sedikit dan terbatas pada orang-orang tertentu. Dalam setiap Perayaan Ekaristi kaum muda yang hadir jarang yang berani turut ambil bagian sebagai petugas tata perayaan. Mereka lebih suka datang dan tanpa peduli dengan apa yang akan terjadi, yang penting datang untuk Ekaristi dan menyambut komuni.

  Berbagai alasan sering muncul mengapa kaum muda sekarang ini jarang sekali yang berani turut ambil bagian dalam setiap kegiatan hidup menggereja. Bermacam- macam alasan yang muncul antara lain: tidak ada waktu atau terlalu sibuk dengan pekerjaan, kuliah maupun sekolah, tidak punya kenalan, romo galak, malu, banyak tugas, merasa sudah tidak muda lagi, dan masih banyak alasan lain lagi. Alasan- alasan itulah yang membuat kaum muda di Paroki St. Maria Assumpta Gamping, khususnya kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur kurang begitu nampak

  Masalah lain yang sering dihadapi oleh kaum muda adalah masalah kemunduran spritualitas atau bisa dikatakan krisis iman. Di tengah zaman yang begitu pesat disertai dengan proses pencarian identitas diri, mereka mulai mempertanyakan keberadaan dan fungsi agama, bahkan keberadaan Tuhan sendiri. Selain itu kaum muda yang juga sedang mengalami perkembangan fisik dan psikis yang masih labil membuat dinamika hidup mereka sulit untuk ditebak atau diduga.

  Ekaristi merupakan puncak iman bagi umat Kristiani, maka Gereja selalu menganjurkan kepada seluruh umat untuk sesering mungkin merayakan dan menerima komuni sebagai tanda persatuan dengan Tuhan Yesus Kristus sendiri. Konsili Vatikan II juga mengajarkan keikutsertaan kaum beriman dalam misteri Ekaristi: ”Oleh karena itu Gereja dengan susah payah berusaha jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta penuh khidmat dan secara aktif ” (SC, art. 48). Pada bulan Juni 2008 Keuskupan Agung Semarang (KAS) mengadakan acara besar yaitu Kongeres Ekaristi guna mendalami misteri Ekaristi Suci agar Roh Kudus selalu memperbarui hidup umat Kristiani melaui Ekaristi Suci. Ekaristi sebagai perayaan pembaharuan hidup oleh Roh mengajak umat Kristiani untuk mengupayakan pembaharuan hidup yang terus menerus supaya iman Kristiani kita terus berkembang, sehingga kita semakin terlibat dalam setiap kegiatan hidup menggeja.

  Hidup menggereja sendiri memiliki pengertian, menampakkan iman dalam hidup sehari-hari lewat usaha dan tindakan nyata kepada sesama di sekitar kita.

  Dengan kata lain, setiap kegiatan yang bertujuan untuk mewujudkan iman Kristiani

  Pada tahun 2009, Keuskupan Agung Semarang mencanangkan sebagai “Tahun Kaum Muda”. Keuskupan Agung Semarang berarti memberi kesempatan dan dukungan penuh bagi kaum muda untuk lebih aktif dalam setiap kegiatan menggereja sebagai bentuk usaha untuk memperkembangkan imannya agar mereka berkembang menjadi pribadi-pribadi yang penuh tanggungjawab. Untuk mendukung usaha dari KAS tersebut maka Gereja dan orang tua memberi peluang dan dorongan yang sebesar-besarnya untuk kaum muda untuk lebih terlibat dalam kegiatan menggereja terutama untuk berani ambil bagian dalam tugas Perayan Ekaristi Suci.

  Melihat banyaknya masalah yang dihadapi kaum muda Kristiani dalam pendewasaan pribadi dan iman, maka Gereja sadar bahwa sudah saatnya dicari suatu solusi pendampingan yang efektif bagi mereka agar nantinya mereka menjadi kaum muda yang dewasa dalam berbagai segi. Gereja secara tegas mengungkapkan bahwa kaum muda merupakan harapan dan tulang punggung Gereja dan masyarakat dalam setiap aspek kehidupan. Secara khusus Gereja melihat bahwa maju mundurnya Gereja di masa yang akan datang tidak terlepas dari kreativitas dan tanggung jawab kaum muda Kristiani masa kini.

  Charles M. Shelton (1988: 160) menegaskan bahwa ”salah satu ciri khas kaum muda yang dewasa secara Kristiani adalah berkembang dan mendalam hubungannya dengan Yesus Kristus”. Oleh karena itu, Gereja sangat mengharapkan pendampingan bagi kaum muda yang lebih efektif mulai dari keluarga, masyarakat, dan berbagai wadah kegiatan rohani. Menyadari berbagai macam persoalan yang mempengaruhi proses perkembangan diri kaum muda Kristiani menuju iman yang dewasa dan sekaligus melihat keprihatinan yang dirasakan oleh Gereja, maka penulis ingin mencoba, mengetahui dan mengkaji tentang perkembanagn iman kaum muda melalui Perayaan Ekaristi, khususnya kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur. Untuk itu penulis memfokuskan tulisan ini dengan judul: PENGARUH

  

PERAYAAN EKARISTI BAGI KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM

HIDUP MENGGEREJA DI WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR,

PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA, GAMPING, YOGYAKARTA.

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan dibahas dirumuskan sebagai berikut:

  1. Masalah-masalah apa saja yang dihadapi kaum muda berkaitan dengan keterlibatan kaum muda dalam rangka hidup menggereja di Wilayah Brayat Minulya Balecatur, Paroki St. Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta?

  2. Apa yang dimaksud dengan hidup menggereja?

  3. Upaya apa saja yang harus ditempuh untuk memberdayakan kaum muda dalam rangka meningkatkan keterlibatan hidup menggereja?

  C. Tujuan Penulisan

  Skripsi ini ditulis sebagai upaya untuk meningkatkan semangat kaum muda dalam hidup menggereja. Untuk itu tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

  1. Memaparkan permasalahan yang dihadapi kaum muda berkaitan dengan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Wilayah Brayat Minulya,

  2. Memberi pengetahuan bagi pembaca khususnya kaum muda mengenai hidup menggereja, sehingga kaum muda mampu menghayatinya dan mau ikut terlibat langsung dalam kegiatan hidup menggereja.

  3. Memaparkan upaya yang harus ditempuh untuk memberdayakan kaum muda dalam meningkatkan keterlibatan hidup menggereja.

  4. Memenuhi salah satu persyaratan akademik untuk kelulusan sarjana Strata satu (S1) pada Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  D. Manfaat Penulisan

  1. Mendorong penulis untuk memberdayakan kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St. Maria Assumpta, Gamping dalam rangka meningkatkan keterlibatan kuam muda dalam hidup menggereja.

  2. Mendorong kaum muda agar semakin termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.

  E. Metode Penulisan

  Dalam karya tulis ini, penulis menggunakan metode deskriptif-analitis. Metode deskriptif-analisis ini digunakan pada saat mencari data di Paroki dan di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur. Berdasarkan data yang diperoleh, penulis berusaha mendeskripsikan memaparkan dan menguraikan keterlibatan kaum muda dalam rangka hidup menggereja serta mengkaji dan menganalisisnya berdasarkan data-data

F. Sistematika Penulisan

  Judul yang dipilih oleh penulis adalah PENGARUH PERAYAAN

  

EKARISTI BAGI KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP

MENGGEREJA DI WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR,

PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA, GAMPING, YOGYAKARTA. Skripsi

ini akan dibahas dalam lima bab yaitu, sebagai berikut.

Bab I berisikan pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah,

  tujuan penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan yang merangkum keseluruhan penulisan skripsi.

  Bab II memaparkan gambaran umum situasi Paroki St. Maria Assumpta, situasi Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, serta situasi kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur. Dalam bab ini, penulis akan membahas penelitian tentang pengaruh Perayaan Ekaristi bagi keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja yang meliputi: persiapan penelitian, laporan hasil penelitian, dan pembahasan hasil penelitian.

  Bab III membahas seputar teori yang mengupas tentang Ekaristi dalam Gereja, yang meliputi perkembangan Ekaristi dalam Tradisi Gereja, Ekaristi berdasarkan dimensi Kristologis, Ekaristi berdasarkan dimensi Eklesiologis, serta Ekaristi berdasarkan dimensi Eskatologis. Dalam bab ini pula, akan dibahas teori seputar perkembangan kaum muda dalam Gereja serta peranan Ekaristi bagi kaum muda dalam keterlibatan hidup menggereja.

  Bab IV memaparkan usulan program bagi kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St. Maria Assumpta, melalui katekese model Shared

Christian Praxis (SCP) untuk meningkatkan keterlibatan hidup menggereja kaum muda yang meliputi alasan pemilihan katekese model SCP, alasan pemilihan tema dan tujuan, penjabaran tema, petunjuk pelaksanaan program, contoh persiapan program katekese bagi kaum muda model Shared Christian Praxis.

  Bab V adalah penutup yang berisikan saran dan kesimpulan dari penulis. Pada bagian akhir ini, penulis akan mengemukakan kesimpulan dan beberapa saran yang berkaitan dengan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St. Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta.

  

BAB II

GAMBARAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM PERAYAAN

EKARISTI SEBAGAI PERWUJUDAN DALAM HIDUP MENGGEREJA

DI WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR,

PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA, GAMPING, YOGYAKARTA

Keterlibatan dan keikutsertaan seluruh umat dalam setiap kegiatan menggereja

  khususnya dalam Perayaan Ekaristi sangatlah diharapkan demi perkembangan Gereja. Tanpa adanya kesadaran untuk terus mengimani dan untuk terus menghidupkan Gereja dari seluruh umat, khususnya kaum muda Gereja tidak akan dapat berkembang. Situasi dalam Perayaan Ekaristi yang dapat membangkitkan semangat untuk mengimani Yesus Kristus juga sangat diperlukan. Diharapkan seluruh umat, khususnya kaum muda, saling mendukung dalam menciptakan suasana Perayaan Ekaristi yang menarik namun tetap hikmat dan sakral agar semangat keterlibatan umat dapat tumbuh dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

  A. Gambaran Umum Situasi Paroki St. Maria Assumpta, Gamping

  Berdasarkan hasil wawancara dengan Sekretaris Paroki, Dewan Paroki, Ketua Wilayah Brayat Minulya, Sekretaris Wilayah Brayat Minulya, Ketua Lingkungan dan beberapa kaum muda, pada bagian ini akan digambarkan letak geografis Paroki Gamping, jumlah dan perkembangan umat, situasi sosial ekonomi dan kemasyarakatan, pendidikan umat, dan situasi kaum muda di Paroki St. Maria

  1. Letak Georafis Paroki Gamping

  Paroki Gamping berlindung pada St. Maria Assumpta atau St. Maria Diangkat ke Surga, dengan hari raya peringatan setiap tanggal 15 Agustus. Gereja St. Maria Assumpta, Gamping terletak di Dusun Gamping Tengah, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pusat Paroki terletak kurang lebih 5 km sebelah Barat pusat kota Yogyakarta.

  Wilayah Gamping berada di daerah dataran rendah, berupa daerah pemukiman penduduk, lahan pertanian, dan sebagian perbukitan kapur. Oleh karena itu terdapat usaha pertambang kecil batu kapur di wilayah Gamping. Batas teritorial gereja Paroki St. Maria Assumpta, Gamping: sebelah Utara berbatasan dengan Paroki St.

  Aloysius Gonzaga, Mlati sebelah Timur berbatasan dengan Paroki Hati St. Perawan Maria Tak Bercela, Kumetiran sebelah Selatan berbatasan dengan Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus, Pugeran dan sebelah Barat berbatasan dengan Paroki St.

  Theresia, Sedayu dan Paroki St. Petrus dan Paulus, Klepu. Wilayah Paroki Gamping sebelah Utara berbatasan dengan jalan Godean, sebelah Timur berbatasan dengan sungai Bedog, sebelah Selatan berbatasan dengan jalan Wates, dan sebelah Barat berbatasan dengan sungai Konteng [Lampiran 1: (1)].

  2. Jumlah dan Perkembangan Umat

  Paroki Gamping terdiri dari 7 (tujuh) Wilayah yang terbagi dalam 26 Lingkungan. Perkembanagn jumlah umat selama 3 (tiga) tahun (2006-2008) di Paroki Gamping mengalami penambahan yakni dari tahun 2006-2007 sebanyak 165 jiwa, sedangkan dari tahun 2007-2008 sebanyak 83 jiwa. Berdasarkan data statistik tercatat sebanyak 5.040 jiwa dan pada ahkir tahun 2008 jumlah umat mengalami meningkatan sebanyak 83 jiwa atau sebanyak 1,65%. Jumlah umat terdiri dari laki- laki sebanyak 2387 jiwa atau 46,59% dan perempuan sebanyak 2736 jiwa atau 53,41%. Jumlah umat tersebut tersebar di 7 Wilayah dan 26 Lingkungan dengan rincian sebagai berikut [Lampiran 2: (2)-(4)]:

  a. Jumlah umat di Wilayah St. Petrus, Gamping

  Umat di Wilayah St. Petrus, Gamping berjumlah 601 jiwa yang terbagi dalam:

  • Lingkungan St. Yohanes, Gamping I: 238 jiwa
  • Lingkungan St. Agustinus, Gamping II: 195 jiwa
  • Lingkungan St. Yusuf, Gamping III: 168 jiwa

  b. Jumlah umat di Wilayah St. Paulus, Banyuraden

  Umat di Wilayah St. Paulus, Banyuraden berjumlah 468 jiwa yang terbagi dalam:

  • Lingkungan St. Maria Fatima, Demakijo: 200 jiwa
  • Lingkungan St. Ignasius, Kaliabu: 134 jiwa
  • Lingkungan St. Caecilia, Onggobayan: 131 jiwa

  c. Jumlah umat di Wilayah St. Mikael, Mejing

  Umat di Wilayah St. Mikael, Mejing berjumlah 693 jiwa yang terbagi dalam:

  • Lingkungan St. Antonius,Mejing I: 250 jiwa
  • Lingkungan St. Stefanus, Mejing II: 234 jiwa

  d. Jumlah umat di Wilayah St. Yosef, Sidoarum

  Umat di Wilayah St. Yosef, Sidoarum berjumlah 342 jiwa yang terbagi dalam:

  • Lingkungan St. Paulus, Sidoarum: 127 jiwa
  • Lingkungan St. Thomas Aquinas, Sidoarum: 110 jiwa
  • Lingkungan St. Yustinus Martir, Sidoarum: 105 jiwa

  e. Jumlah umat di Wilayah St. Aloysius Gonzaga, Gesikan

  Umat di Wilayah St. Aloysius Gonzaga, Gesikan berjumlah 660 jiwa yang terbagi dalam:

  • Lingkungan St. Anna, Gesikan I: 143 jiwa
  • Lingkungan St.Brigitta, Gesikan II: 306 jiwa
  • Lingkungan St. Veronica, Gesikan III: 211 jiwa

  f. Jumlah umat di Wilayah St. Maria, Gancahan

  Umat di Wilayah St. Maria, Gancahan berjumlah 1037 jiwa yang terbagi dalam:

  • Lingkungan St. Agustinus, Gancahan I: 205 jiwa
  • Lingkungan St. Petrus, Gancahan II: 338 jiwa
  • Lingkungan St. Maria, Gancahan III: 336 jiwa
  • Lingkungan St. Yohanes Babtista, Sidokarto: 158 jiwa

  g. Jumlah umat di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Umat di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur berjumlah 1239 jiwa yang terbagi

  • Lingkungan St. Fransiskus Xaverius, Sumber Gamol: 143 jiwa
  • Lingkungan St. Yusuf, Gejawan Pasekan: 154 jiwa
  • Lingkungan St. Teoderikus, Jatimas: 153 jiwa
  • Lingkungan St. Antonius,Jatisawit: 224 jiwa
  • Lingkungan St. Margareta, Gejawan Puri: 102 jiwa
  • Lingkungan St. Gregorius, Nyamplung I: 238 jiwa
  • Lingkungan St. Ludovikus, Nyamplung II: 225 jiwa 3.

   Situasi Ekonomi dan Sosial Kemasyarakatan

  Wilayah Paroki Gamping berada di daerah dataran rendah, sebagian besar terdiri dari area persawahan, ladang, dan pemukiman penduduk. Tahun 2008 jumlah umat yang bekerja sebagai PNS sebanyak 376 orang (7,34%), yang bekerja sebagai karyawan swasta sebanyak 2251 (43,94%), sebanyak 1396 orang (48,72%) bekerja sebagai petani, pedagang, tukang parkir dan sebagainya [Lampiran 4: (6)-(8)].

  Umat Paroki Gamping memiliki semangat kekeluargaan dan tradisi gotong royong yang sangat kuat. Hal ini dapat dilihat pada saat acara pernikahan atau ketika ada orang yang meninggal dunia. Umat Katolik di Paroki Gamping dengan suka rela datang untuk membantu tanpa membeda-bedakan agama dan tanpa mengharapkan imbalan atau upah. Selain itu, banyak juga umat Katolik yang dipercaya untuk menjadi pengurus di wilayah lingkungan masyarakat, seperti menjadi ketua RT/RW, sekretaris dusun, ketua dusun, dan pendamping karangtaruna. Hal ini menunjukkan bahwa diantara umat yang beragama Katolik dan non Katolik dapat saling bekerjasama, sehingga umat Katolik di Paroki Gamping dapat hidup berdampingan,

  4. Pendidikan Umat

  Umat Paroki Gamping sangat memperhatikan pendidikan. Hal ini dapat dilihat pada tingkat pendidikan yang ada. Tahun 2008 jumlah umat yang menempuh pendidikan tingkat SD sebanyak 291 (5,68%), yang berada pada tingkat SMP sebanyak 152 (2,97%), yang berada pada tingkat SMA/SMK sebanyak 249 (4,86%), dan yang berada pada jenjang Perguruan Tinggi sebanyak 201 orang (3,92%). Dari tahun sebelumnya (tahun 2007) jumlah umat yang sedang menempuh pendidikan dari tingkat SD sampai PT mengalami peningkatan sebanyak 1,36% [Lampiran 4: (8)].

  5. Pendidikan Kaum Muda di Paroki Gamping

  Jumlah kaum muda di Paroki Gamping pada tahun 2008 kurang lebih sebanyak 531 orang atau 10,36% dari keseluruhan umat, yang tersebar di 7 (tujuh) Wilayah dan 26 Lingkungan. Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara dengan Ketua Mudika, pengurus Mudika, dan beberapa Mudika, sebagian kaum muda di Paroki St.

  Maria Assumpta, Gamping berstatus sebagai pelajar SMA/SMK 4,86%, mahasiswa 3,92%, dan 1,05% sebagai pekerja, baik sebagai karyawan swasta maupun sebagai pegawai pemerintahan atau PNS [Lampiran 4: (8)].

  B. Gambaran Umum Situasi Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil wawancara dengan ketua wilayah, sekretaris wilayah, ketua lingkungan dan beberapa pengurus lingkungan, akan dipaparkan data yang dapat menggambarkan keadaan Wilayah Brayat Minulya. Pada

  bagian ini akan dipaparkan letak geografis wilayah, jumlah dan perkembangan umat,

  1. Letak Geografis Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Wilayah Brayat Minulya adalah bagian dari Paroki Maria Assumpta yang terletak di kelurahan Balecatur, kecamatan Gamping. Wilayah Brayat Minulya sebagian kecil berada di daerah pegunungan dan sebagian lagi berada di daerah dataran rendah [Lampiran 5: (9)].

  Batas-batas Wilayah Brayat Minulya mengacu pada batas-batas kelurahan Balecatur, adalah sebagai berikut [Lampiran 7: (11)] :

  : dusun Prenggan, kelurahan Sidokarto

  • Utara • Timur : dusun Depok, kelurahan Ambarketawang • Selatan : dusun Slarong, kelurahan Bangunjiwo : dusun Berot, kelurahan Argomulyo • Barat 2.

   Jumlah dan Perkembangan Umat Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Umat Wilayah Brayat Minulya Belecatur pada tahun 2008 berjumlah 1239 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 518 jiwa (41,81%), sebanyak 721 jiwa (58,19%) terdiri dari perempuan. Jumlah umat Wilayah Brayat Minulya mengalami peningkatan sekitar 15-21 jiwa/tahun [Lampiran 7: (12)].

  3. Situasi Sosial Ekonomi Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Pada dasarnya umat di daerah pedesaan seperti di Wilayah Brayat Minulya selalu memiliki sifat sosial yang tinggi. Hal ini dapat dilihat pada saat ada orang yang meninggal atau pada saat ada keluarga yang punya hajat atau keperluan. Orang-orang di sini tak sungkan-sungkan untuk saling membantu dan bekerja sama. Namun, dalam hal perkumpulan doa di Lingkungan orang tua lebih aktif dan lebih banyak, sedangkan kaum muda yang mau aktif masih sangat terbatas. Doa bersama di Lingkungan, diatur dan disepakati bersama oleh warga lingkungan masing-masing oleh karena itu, jadwal doa bersama pada setiap Lingkungan berbeda-beda.

  Berdasarkan letak geografis yang berada di daerah dataran rendah dan sebagian berada di daerah pegunungan, umat Wilayah Brayat Minulya yang bekerja sebagai petani sawah dan petani kebun sebanyak 388 jiwa, sebanyak 89 jiwa bekerja sebagai pegawai negeri/PNS, sebanyak 340 jiwa bekerja sebagai karyawan swasta, dan sebanyak 157 jiwa bekerja di bidang lainnya, seperti tukang parkir, pembantu rumah tangga, dan sebagainya [Lampiran 7: (12)].

4. Pendidikan Umat Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Tahun 2008 umat di Wilayah Brayat Minulya yang sedang menempuh pendidikan pada tingkat SD sebanyak 116 jiwa (9,36%), tingkat SMP sebanyak 181 jiwa (14,61%), tingkat SMA/SMK sebanyak 237 jiwa (19,13%), dan pada tingkat Perguruan Tinggi sebanyak 103 jiwa (8,31%) [Lampiran 7: (12)].

C. Situasi Pendidikan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur 1. Jumlah dan Perkembangan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Di Wilayah Brayat Minulya pada tahun 2008 tercatat sebanyak 102 kaum muda yang tersebar di 7 (tujuh) Lingkungan. Dari tahun 2006-2008 kaum muda di Wilayah Brayat Minulya mengalami penurunan yakni pada tahun 2006-2007 banyak kaum muda yang setelah selesai sekolah atau kuliah lalu merantau ke luar kota untuk mencarai pekerjaan [Lampiran 7: (13) – (14)].

  2. Pendidikan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Pendidikan kaum muda di Wilayah Brayat Minulya pada tahun 2008 yang menempuh pendidikan tingkat SMP sebanyak 6 jiwa, tingkat SMK/SMK sebanyak 42 jiwa, tingkat Perguruan Tinggi 40 jiwa dan yang sudah bekerja sebanyak 14 jiwa. Pendidikan kaum muda ini juga mempengaruhi pada tinggat kreatifitas. Di mana banyak kaum muda yang berani menjadi pendamping PIA atau sekolah minggu bagi adik-adiknya [Lampiran 7: (14)]. Kaum muda di Wilayah Brayat Minulya juga sering mendapat kepercayaan untuk terlibat menjadi panitia baik dalam kegiatan masyarakat maupun dalam kegiatan Gereja, seperti: pentas kesenian, acara kemerdekaan RI, pesta Paskah, dan pesta Natal.

  3. Situasi Pendampingan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Pendampingan kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur belum diadakan secara jelas, teratur dan berkesinambungan. Pendampingan diadakan jika kaum muda dipercaya menjadi panitia dalam kegiatan gerejani, seperti menjadi panitia pesta Natal atau Paskah di Wilayah maupun di Lingkungan , namun setelah acaranya selesai pendampingan juga berakhir. Pendampingan yang ada hanya seperti doa lingkungan itupun kurang diminati kaum muda karena selalu menggunakan bahasa Jawa sehingga kaum muda sulit untuk memahaminya dan selain itu sifatnya Wilayah maupun Paroki agar diadakan pendampingan secara teratur dan menarik [Lampiran 7: (14)].

  D.

  

Keterlibatan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur dalam

Hidup Menggereja

  Dalam melaksanakan hidup menggereja kaum muda diharapkan agar mau dan selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada. Keikutsertaan mereka tidak hanya sekedar ”ada”, akan tetapi kaum muda diharapkan mampu memberikan sumbangannya baik berupa tenaga maupun pikiran. Hal ini bertujuan agar kaum muda dapat berlatih untuk berorganisasi, bekerjasama, bersosialisasi serta berlatih untuk menjadi pemimpin yang bijaksana demi kemajuan Gereja dan masyarakat.

  Bentuk-bentuk keterlibatan kaum muda baik dalam lingkup masyarakat, Gereja, maupun bentuk keterlibatan kaum muda dalam Perayaan Ekaristi.

1. Macam-macam Keterlibatan Kaum Muda dalam Lingkup Masyarakat

  Kaum muda di Wilayah Brayat Minulya selama ini banyak yang sudah terlibat dalam setiap kegiatan yang ada, baik di lingkup Lingkungan maupun di lingkup masyarakat luas. Keterlibatan dan keikutsertaan kaum muda dalam berbagai kegiatan, merupakan usaha kaum muda untuk semakin memahami akan arti kebersamaan antar sesama manusia. Keterlibatan kaum muda dalam lingkup masyarakat dapat dilihat pada saat mempersiapkan pesta Kemerdekaan RI serta kegiatan gotong-royong di lingkungan masing-masing.

  a. Persiapan Pesta Kemerdekaan Republik Indonesia

  Kemerdekaan bangsa Indonesia diperingati setiap tanggal 17 Agustus dan diperingati setiap tahun oleh seluruh warga Indonesia tanpa terkecuali. Oleh karena itu setiap memperingati kemerdekaan RI kaum muda selalu diikutsertakan mulai persiapan sampai pelaksanaannya. Sebanyak 4-6 orang anggota Mudika selalu terlibat dalam kepanitiaan hari ulang tahun RI Dalam persiapan pesta kemerdekaan RI kaum muda biasanya sering mendapat bagian menjadi panitia lomba baik lomba bagi anak-anak, kaum muda sendiri, maupun lomba bagi orang tua. Kepercayaan yang diberikan oleh para orang tua biasanya mereka laksanakan dengan penuh tanggungjawab. Hal ini terbukti setiap perlombaan selalu berjalan dengan meriah [Lampiran 7: (15)].

  b. Gotong-royong

  Gotong-royong merupakan kegiatan bersama yang sering melibatkan banyak orang dan tanpa mengharapkan imbalan. Dalam kegiatan gotong-royong tidak sedikit kaum muda yang ikut terlibat, sekitar 5-10 orang terlibat dalam kegiatan gotong royong setiap minggunya di setiap lingkungan masing-masing. Mereka dengan suka rela ikut terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, baik gotong-royong membersihkan selokan, meratakan dan mengecor jalan, maupun kerja bakti bila ada warga yang akan memperbaiki rumahnya [Lampiran 7: (15)].

2. Macam-macam Keterlibatan Kaum Muda dalam Lingkup Gereja

  Mengacu pada tahun 2009 sebagai tahun kaum muda, maka Gereja selalu memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh kaum muda yang akan ikut terlibat dalam setiap kegiatan menggereja terutama dalam berorganisasi. Di tingkat Paroki bidang liturgi, bidang kewirausahaan, bidang pewartaan dipercayakan pada Mudika, dan masing-masing bidang dijabat oleh 2 orang. Di Wilayah sebanyak 4 orang kaum muda menjadi pengurus dalam bidang pewartaan dan liturgi. Di Lingkungan sebanyak 6 orang kaum muda menjadi pengurus dibidang pewartaan, liturgi dan sosial [Lampiran 7: (14)].

  Kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, pada bulan April 2009 mendapat kesempatan untuk menjadi panitia dalam pesta Paskah di Wilayah, sebanyak 30 Mudika terlibat menjadi panitia dalam pesta Paskah tersebut.

  Pada malam Natal 2009 kaum muda di Wilayah Brayat Minulya mendapat kesempatan untuk bertugas sebagai kelompok paduan suara dan pemain gamelan.

  Kaum muda yang terlibat dalam tugas tersebut sebayak 25 orang, sedangkan gamelan dimainkan oleh para orang tua. Temu Mudika Paroki diadakan setiap hari selasa malam. Kaum muda yang hadir dalam pertemuan sekitar 30 orang. Anjangsana tingkat Paroki di adakan sebulan sekali dan diadakan secara bergilir di tiap-tiap Wilayah [Lampiran 7: (14)].

3. Macam-macam Keterlibatan Kaum Muda dalam Lingkup Ekaristi

  Bentuk keterlibatan hidup menggereja kaum muda di Paroki Maria Assumpta, Gamping nampak dalam perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi di Paroki Maria Assumpta diadakan setiap Sabtu dan Minggu sebanyak 4 (empat) kali, umat yang hadir sebanyak 2400 orang sampai 2550 orang. Perayaan Ekaristi di Wilayah diadakan 1 (satu) bulan sekali setiap minggu ke-4. Biasanya Perayaan Ekaristi itu diadakan di Balai desa atau kelurahan, jumlah umat yang hadir sebanyak 250-300 orang. Misa di Lingkungan diadakan 2 (dua) bulan sekali, umat yang hadir sebanyak 50-30 orang. Dalam setiap Perayaan Ekaristi kaum muda ambil bagian dalam tugas koor/paduan suara dan lektor [Lampiran 7: (13) – (14)].

  a. Koor/paduan suara

  Koor/paduan suara adalah bagian dari Ekaristi yang dapat mendukung kemeriahan Perayaan Ekaristi. Tanpa koor/paduan suara maka suasana tidak akan menarik dan hal ini disadari betul oleh seluruh umat terutama kaum muda. Oleh karena itu banyak kaum muda yang mau terlibat dalam tugas koor/paduan suara di gereja. Penjadwalan petugas koor/paduan suara dilakukan oleh tim liturgi, penjadwalan diatur setiap 3 (tiga) bulan sekali, sebayak 10-15 orang Mudika dari setiap Lingkungan, selalu terlibat dalam tugas koor/paduan suara. Anggota koor/paduan suara yang tercatat di Paroki Maria Assumpta sebanyak 60 orang [Lampiran 7: (14)].

  b. Lektor

  Dalam Perayaan Ekaristi, liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi merupakan satu kesatuan yang utuh. Untuk mendukung kelancaran Perayaan Ekaristi liturgi Sabda dibantu oleh petugas lektor. Liturgi sabda adalah untuk menyingkapkan misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan makanan rohani melalui sabda yang diwartakan. Di Paroki St. Maria Assumpta Gamping, anggota paguyuban lektor saat ini berjumlah 32 orang [Lampiran 7: (14)].

  E.

  

Penelitian tentang Perayaan Ekaristi bagi Keterlibatan Kaum Muda dalam

Hidup Menggereja di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur Paroki St. Maria

Assumpta, Gamping, Yogyakarta

  Bagian ini akan menguraikan persiapan penelitian yang membahas mengenai tujuan penelitian, metode penelitian, responden penelitian, instrumen penelitian, variabel penelitian, waktu penelitian, pembahasan hasil penelitian dan keprihatinan- keprihatinan kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, serta rangkuman hasil penelitian.

  1. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian ini adalah untuk:

  • Memotivasi kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur agar semakin terhadap Perayaan Ekaristi.
  • Meningkatkan semangat keterlibatan kaum muda dalam rangka hidup menggereja.
  • Mengetahui bentuk-bentuk keterlibatan kaum muda dalam rangka hidup menggereja.

  2. Metode Penelitian

  Untuk membantu penulis dalam mengumpulkan data yang lengkap dan objektif, dalam penelitian ini menggunakan metode survey dan wawancara. Selain itu, penulis juga menggunakan alat kuesioner dengan mengajukan 20 pertanyaan. Hasil dari jawaban kuesioner tersebut, dianalisis agar menemukan data yang

  3. Responden Penelitian

  Responden dalam penelitian ini adalah kaum muda yang berdomisili di 7 (tujuh) Lingkungan yang berada di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St.

  Maria Assumpta, Gamping. Dari 102 populasi kaum muda yang berada di Wilayah Brayat Minulya. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tehnik

  

quata samping , yakni dengan cara jumlah subyek/sampel yang akan diselidiki

  ditetapkan terlebih dahulu. Selanjutnya penyelidikan segera dilaksanakan jika quantum itu telah dipastikan. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 responden, karena mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dan materi dari pihak penulis. (Sutrisno Hadi, 2004: 186-187).

  4. Instrumen Penelitian

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini adalah kuesioner semi terbuka (open closed), yakni meminta responden untuk memilih salah satu alternatif yang telah disediakan. Sedangkan untuk responden yang tidak setuju dengan jawaban alternatif jawaban yang telah disediakan, maka responden diperkenankan untuk mengisi jawaban sesuai dengan keadaan dan situasi pada lembar jawaban yang telah disediakan. Keuntungan dari menggunakan kuesioner ini adalah tidak memerlukan hadirnya peneliti, dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden dan dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing dan menurut

5. Variabel Penelitian

  Adapun variabel yang ingin diungkap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  

No Variabel No Item Jumlah

  1. Identitas responden 1,2,3,4

  4

  2. Pemahaman kaum muda terhadap Perayaan 5,6,7,8 4 Ekaristi

  3. Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja 9,10,11,12,13,14

  6

  4. Hubungan Ekaristi dalam hidup menggereja kaum 15,16,17,18,19,20 6 muda Jumlah

  20 6.

   Waktu Penelitian

  Penelitian dilaksanakan pada 5 September sampai 11 November 2009 di 7 (tujuh) Lingkungan, di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur. Dalam pelaksanaan pengisian kuesioner, responden diberi kesempatan untuk mengisi kurang lebih 1 (satu) minggu. Namun pada kenyataannya, dalam pengumpulan kuesioner tidak dapat bersamaan, hal ini dikarenakan adanya berbagai kendala yang dihadapi oleh para responden, yakni keterbatasan waktu dan faktor komunikasi dalam proses pengumpulan data tersebut. Namun pada akhirnya dapat diatasi dan dapat berjalan dengan baik.

7. Pembahasan Hasil Penelitian dan Keprihatinan-keprihatinan Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  Data hasil penelitaian dengan menggunakan alat kuesioner akan dipaparkan yang kembali kepada penulis. Data-data yang diperoleh meliputi: identitas responden, pemahaman kaum muda terhadap Perayaan Ekaristi, keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, dan hubungan Ekaristi dalam hidup menggereja kaum muda.

a. Identitas responden

  Tabel 1:Identitas Responden (N= 59)

  No. Aspek yang ingin diungkap Frekuensi Prosentase (%)

  1 2

  3

  4

1. Jenis kelamin:

  a. Laki-laki 22 37,29%

  b. Perempuan 37 62,71%

2. Usia saat ini:

  a. 16- 17 tahun 6 10,17%

  b. 18-19 tahun 17 28,81%

  c. 20-21 tahun 24 40,68%

  d. > 22 tahun 12 20,34%

3. Status pendidikan saat ini:

  a. SMA/SMK 11 18,63%

  b. Mahasiswa 26 44,08%

  c. Bekerja 7 11,86%

  d. Sedang mencari pekerjaan 13 22,04%

  e. Lain-lain 2 3,39%

4. Lingkungan asal:

  a. St. FX. Sumber Gamol 9 15,25%

  b. St. Yusuf Gejawan-Pasekan 9 15,25%

  c. St. Teoderikus Jatimas 8 13,56%

  d. St. Antonius Jatisawit 8 13,56%

  e. St. Margareta Gejawan Puri 8 13,56%

  f. St. Gregorius Nyamplung I 9 15,25%

  g. St. Ludovikus Nyamplung II 8 13,57%

  Pembahasan: Tabel 1 di atas menunjukkan identitas kaum muda di Wilayah Brayat terlibat aktif dalam kegiatan Mudika adalah perempuan yakni sebanyak 37 orang (62,71%). Dari segi usia dan latar belakan pendidikan sangatlah berfariasi, kebanyakan kaum muda yang terkibat berusia 20-21 tahun, yakni sebanyak 24 orang (40,68%), sedangkan yang paling sedikit adalah usia 16-17 tahun yakni hanya 6 orang (10,17%). Dari status pendidikan mereka saat ini, yang paling banyak adalah tingkat mahasiswa yakni sebanyak 26 orang (44,07%).

b. Pemahaman kaum muda terhadap Perayaan Ekaristi

  Tabel 2: Pemahaman kaum muda terhadap Perayaan Ekaristi (N= 59)

  No. Aspek yang ingin diungkap Frekuensi Prosentase (%) 1 2

  3

  4

5. Pemahaman tentang Perayaan Ekaristi:

  a. Peringatan akan kebersamaan dengan Yesus 12 20,35% Kristus b. Ungkapan rasa syukur akan seluruh cinta kasih 15 25, 42% dari Allah c. Puncak perayaan karya Allah menguduskan dunia, 18 30,51% dan puncak karya manusia memuliakan Bapa d. Sakramen paling utama dalam rupa roti dan 9 15,25% anggur e. Lain-lain

  5 8,47%

  6. Angka kehadiran dalam Perayaan Ekaristi dalam satu bulan: a. 2 kali

  7 11,86%

  b. 3 kali 9 15,25%

  c. 4 kali 15 25,42%

  d. > 4 kali 24 40,68%

  e. Lain-lain 4 6,79%

7. Hal yang dianggap menarik dalam Perayaan Ekaristi:

  a. Koor 18 30,51%

  b. Homili/kotbah 7 11,86%

  c. Bacaan Kitab Suci 5 8,47%

  d. Seluruh dari rangkai Perayaan Ekaristi 16 27,12%

  e. Lain-lain 13 22,04%

  1 2

  3

  4

8. Tujuan dalam mengikuti Perayaan Ekaristi

  a. Supaya banyak kenalan 21 35,59%

  b. Ingin membangun rasa kebersamaan dalam Gereja 14 23,73% dalam menanggapi karya Allah c. Untuk memperkembangkan iman Kristiani agar 10 16,95% menjadi manusia yang beriman dewasa d. Memenuhi kewajiban sebagai umat Kristiani 12 20,34%

e. Lain-lain

  2 3,39%

  Pembahasan: Dari data tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa pemahaman kaum muda akan makna Ekaristi dapat dikatakan cukup mendalam di mana yang menjawab Puncak perayaan karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa dipilih sebanyak 18 orang (30,51%). Pada tingkat kehadiran dalam Perayaan Ekaristi selama satu bulan, kaum muda di Brayat Minulya, Balecatur dapat dikatakan masih kurang aktif ke gereja, di mana yang menjawab ke gereja > 4 kali hanya sebanyak 24 orang (40,68%). Hal ini mungkin dikarenakan ada kesibukan atau karena mereka masih kurang ada kesadaran untuk menghadiri Perayaan Ekaristi di gereja.

  Rangkaian Perayaan Ekaristi yang menarik pastilah akan menarik minat kaum muda untuk selalu hadir dalam Perayaan Ekaristi. Namun ternyata sebanyak 18 orang (30,51%) memilih koor atau paduan suara. Mereka beralasan bila koornya bagus dan menarik, maka mereka akan bersemangat untuk mengikuti Perayaan Ekaristi itu. Sedangkan seluruh dari rangkaian perayaan perayaan itu merupakan hal yang menarik hanya dijawab oleh 16 orang (27,12%). Sebanyak 13 orang (22,04%), menjawab dengan jawabannya sendiri. Menurut mereka hal yang menarik dalam

  Tujuan kaum muda dalam mengikuti Perayaan Ekaristi dapat dikatakan masih dangkal, di mana kaum muda yang mengikuti Perayaan Ekaristi dengan tujuan ingin membangun rasa kebersamaan dalam Gereja dalam menanggapi karya Allah hanya dipilih sebanyak 14 orang (23,73%). Sedangkan tujuan untuk mendapatkan banyak kenalan malah lebih banyak dipilih yakni sebanyak 21 orang (35,59%).

c. Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja

  No Aspek yang ingin diungkap Frekuensi Prosentase (%) 1 2

  3

  4

  a. Panggilan bagi umat beriman dalam mewujudkan tanggung jawab dalam Gereja b. Semua kegiatan rohani seperti: doa bersama di Lingkungan, pendalaman iman dan Kitab

  Suci, rekoleksi yang diadakan oleh gereja

  c. Keterlibatan dalam Perayaan Liturgi

  Tabel 3: Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja (N= 59)

9. Pengertiaan hidup menggereja:

  e. Lain-lain

  12

  18

  9

  14

  6 20,34% 30,51% 15,25% 23,73% 10,17%

  d. Keterlibatan dalam semua bidang, baik dalam lingkup Gereja maupun dalam lingkup masyarakat luas

10. Peranan kaum muda:

  d. Sebagai pilar dan jantung Gereja

  11

  a. Sebagai penerus pewarta Kabar Gembira

  b. Sebagai penggerak proses pertumbuhan dan perkembangan Gereja itu sendiri c. Sebagai pendukung dan pelaksana

  3 18,64% 11,86% 35,59% 28,82% 5,09%

  17

  21

  7

  d. Pengen cari pengalaman dan tambah pengetahuan e. Lain-lain

  14

  c. Pengen tambah teman

  b. Karena disuruh orang tua

  11. Alasan keterlibatan kaum muda dalam kegitan Gereja maupun dalam masyarakat: a. Karena diajak teman

  4 23,73% 30,51% 27,12% 11,86% 6,78%

  7

  16

  18

  e. Lain-lain

  1 2

  3

  4

12. Pendapat kaum muda terhadap keterlibatan:

  b. Masih terlalu sedikit kaum muda yang mau terlibat c. Tidak pasti tergantung jenis kegiatan dan acaranya d. Cukup lumayan karena banyak kaum muda yang mau terlibat e. Lain-lain

  4 30,51% 38,98% 13,56% 10,17% 6,78%

  Balecatur mengenai arti hidup menggereja, dapat dikatakan bahwa mereka masih belum begitu memahami akan arti hidup menggereja. Hal ini dapat dilihat dari responden yang menjawab: keterlibatan dalam semua bidang, baik dalam lingkup Gereja maupun dalam lingkup masyarakat luas, hanya dipilih oleh 14 orang (23,73%). Sebanyak 18 orang (30,51%), menjawab sebagai penggerak proses pertumbuhan dan perkembangan Gereja itu sendiri. Hal ini dapat dilihat bahwa kaum

  Pembahasan: Pada tabel 3 di atas, akan dipaparkan mengenai keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Dari segi pemahaman kaum muda di Wilayah Brayat Minulya,

  7 20,34% 28,81% 15,25% 23,73% 11,87%

  14

  9

  17

  12

  e. Lain-lain

  d. Rekoleksi/retret

  c. Doa bersama

  b. Pendalaman iman dan kitab suci

  14. Bentuk kegiatan yang diharapkan kaum muda saat ini: a. Kegiatan anjangsana

  6

  6

  8

  a. Tidak tahu, karena saya sendiri kurang terlibat

  18

  e. Lain-lain

  d. Sangat tidak perlu

  c. Tidak perlu

  b. Perlu

  a. Perlu sekali

  13. Perlunya diadakan pendampingan agar kaum muda semkin terlibat dalm semua kegiatan baik dalam gereja maupun dalam masyarakat:

  8 10,17% 25,43% 32,20% 18,64% 13,56%

  11

  19

  15

  23 Keterlibatan kaum muda dalam berbagai kegiatan memiliki banyak motivasi. Pilihan terbanyak adalah untuk menambah teman, yakni 21 orang (35,59%) memilih jawaban tersebut. Sebanyak 17 orang (28,82%) dengan motivasi ingin mencari pengalaman dan pengetahaun. Sedangkan keterlibatan kaum muda yang aktif dalam kegiatan hanya sebanyak 19 orang (32,20%), hal itupun hanya tergantung pada jenis kegiatan dan acaranya, bila acaranya dirasa cukup menarik dan tidak membosankan maka kaum muda banyak yang datang. Pendampingan kaum muda saat ini juga sangat diperlukan, karena sebanyak 23 orang (38,98%) menginginkan sekali diadakannya pendampingan. Bentuk kegiatan pendampingan yang dipilih kaum muda pun seperti pendalaman iman dan Kitab Suci dipilih oleh 17 orang (28,81%), dan pendampingan yang diadakan diharapkan dapat menarik minat kaum muda untuk selalu hadir.

d. Hubungan Ekaristi dalam hidup menggereja kaum muda

  Tabel 4: Hubungan Ekaristi dalam hidup menggereja kaum muda (N= 59)

  No. Aspek yang ingin diungkap Frekuensi Prosentase (%) 1 2

  3

  4

  a. Tidak. Karena Perayaan Ekaristi sudah cukup 9 15,25% bagi saya.

  b. Lain-lain 4 6,78%

16. Kegiatan hidup menggereja yang diikuti:

  a. Kelompok paduan suara 9 15,25%

  b. Kelompok doa 4 6,78%

  c. Pengurus mudika 29 49,16%

  d. Pengurus karangtaruna 5 8,47%

  e. Lain-lain 12 20,34%

  1 2

  a. Sudah

  a. Melaksanakannya, karena saya bagian dari warga Gereja Katolik b. Melaksanakan dengan sadar, tulus dan penuh tanggungjawab sebagai anggota Gereja, sehingga iman saya akan Yesus Kristus semakin berkembang c. Melaksanakan tapi kadang-kadang saja

  d. Melaksanakannya, agar tidak dibilang pemalas e. Lain-lain

  18

  22

  11

  6

  2 30,51% 37,29% 18,64% 10,17% 3,39%

  20. Sikap kaum muda Katolik yang baik, dapat ditunjukkan dalam sikap hidup menggereja, baik dalam keluarga maupun masyarakat:

  b. Belum

  6 28,82% 35,58% 20,34%

  c. Belum sama sekali

  d. Kadang-kadang

  e. Lain-lain

  16

  12

  6

  19

  6 27,12% 20,34% 10,17% 32,20% 10,17%

  Pembahasan: Pada tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa motivasi kaum muda setelah mengikuti Perayaan Ekaristi, untuk semakin terlibat dalam kehidupan menggereja hanya sebatas pada kegiatan yang besar saja. Hal ini dipilih oleh 18 responden

  5,09% 10,17%

  3

  3

  5

  4

  17. Pengaruh Perayaan Ekaristi dalam memperkembangkan iman dan meningkatkan keterlibatan hidup menggereja: a. Sangat setuju

  b. Setuju

  c. Kurang setuju

  d. Tidak setuju

  e. Lain-lain

  19

  25

  3

  12

  7 32,20% 42,38% 8,47%

  5,09% 11,86%

  18. Keterlibatan dalam keluarga, lingkungan, paroki, maupun dalam masyarakat merupakan bagaian dari penghayatan Ekaristi yang diwujudkan dalam hidup menggereja: a. Ya tentu saja

  b. Mungkin saja

  c. Tidak tahu

  d. Bukan sama sekali

  e. Lain-lain

  17

  21

19. Sikap hidup menggereja sebagi warga Katolik:

  (30,51%). Disusul sebanyak 15 orang yang memilih semakin terlibat dalam semua kegiatan dapat semakin memperkembangkan iman, dilihat dari jawab mereka berarti mereka sudah memiliki motivasi yang lebih mendalam lagi. Kegiatan yang banyak diikuti kaum muda saat ini baru sebatas pada kepengurusan Mudika, karena sebanyak 29 orang (49,16%) memilih hal tersebut. Rutin mengikuti Perayaan Ekaristi juga dapat membantu dalam memperkembangkan iman dan meningkatkan keterlibatan hidup menggereja kaum muda sebanyak 25 (42,38%), menyetujuinya.

  Kaum muda di Wilayah Brayat Minulya ternyata masih belum memahami betul akan pengertian hidup menggereja. Sebanyak 21 orang (35,58%) masih menjawab dengan tidak yakin. Namun mereka sangat sadar sebagai warga Katolik, karena sebanyak 22 orang (37,29%), mau melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada dengan sadar, tulus, dan penuh tanggungjawab. Walaupun begitu ada sebanyak 19 orang (32,30%) kaum muda yang masih bersikap kurang stabil karena mereka masih kadang-kadang saja menunjukkan sikap hidup menggereja. Hal ini dimungkinkan karena mereka belum mengerti betul akan arti dan makna dari hidup menggereja.

8. Rangkuman Hasil Penelitian

  Berdasarkan dari hasil penelitian, pada dasarnya sebanyak 14 orang (23,73%) kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur masih kurang mengerti akan arti pengertian hidup menggereja. Namun melihat kenyataan yang ada, menunjukkan bahwa sebanyak 19 orang (32,20%) semangat dan keterlibatan kaum muda dapat dikatakan cukup aktif dan mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan hidup menggereja. Walaupun masih pada sebatas kegiatan-kegiatan yang besar saja, seperti ulang tahun gereja, tugas Natal, tugas Paskah, atau kegiatan-kegiatan yang mereka anggap dapat Menjadi pengurus Mudika juga merupakan perwujudan dari hidup menggereja yang banyak kaum muda sukai. Sebanyak 21 orang (35,59%) menjawab untuk dapat menambah teman, mereka juga dapat berlatih berorganisasi dan dapat menambah pengetahuan baru. Kegiatan hidup menggereja yang sering kaum muda ikuti adalah Perayaan Ekaristi, hal ini dijawab oleh sebanyak 24 orang (40,68%). Paling tidak setiap seminggu sekali mereka menghadiri Perayaan Ekaristi di gereja. Dengan menghadiri Perayaan Ekaristi, kaum muda merasa imannya dapat semakin berkembang, dengan begitu keikutsertaan dalam kegiatan hidup menggerejapun semakin termotivasi. Selain itu sebanyak 18 orang (30,51%) kaum muda juga semakin sadar akan peranan mereka sebagai penggerak proses pertumbuhan dan perkembangan Gereja.

  Sebanyak 23 orang (38,98%) kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur masih sangat memerlukan adanya suatu pendampingan yang menarik dan berkelanjutan. Salah satu kegiatan pendampingan yang kaum muda harapkan adalah pendalaman iman dan Kitab Suci. Hal ini dikarenakan selama ini pendalam iman bagi kaum muda masih dirasa sangat kurang. Untuk itu pengurus Wilayah dan pihak Gereja dapat memberikan pendampingan seperti yang diharapkan kaum muda selama ini, sehingga pendampingan kaum muda dapat diadakan secara berkesinambungan, terarah dan teratur.

BAB III PERAYAAN EKARISTI KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA Pada zaman sekarang ini banyak umat Katolik merayakan Ekaristi sebagai

  kewajiban atau sebatas formalitas saja. Dalam Perayaan Ekaristi umat banyak yang melamun, berbicara sendiri dengan teman di sampingnya, mengantuk atau malah tertidur, bermain HP, dan lain sebagainya. Semua itu terjadi karena umat belum mampu memberikan tempat istimewa dalam hati dan hidup imannya terhadap Perayaan Ekaristi (Prasetya, 2009: 7).

  Dalam memperkembangkan iman untuk menuju kedewasaan iman, khususnya kaum muda, mereka tidak mampu berjalan maupun bertindak sendiri tanpa bantuan dan dorongan dari orang-orang maupun pihak-pihak lain. Iman kaum muda akhir- akhir ini menjadi sorotan Gereja, karena banyak kaum muda yang mulai mengalami krisis kepercayaan dan iman akan Allah Sang Pencipta. Mereka mulai meninggalkan iman dan mulai mencari kesenangan duniawi. Banyak kaum muda yang berlomba- lomba untuk mencari jalan keselamatannya sendiri, tanpa memperhatikan lagi keselamatan yang telah dijanjikan oleh Yesus Kristus Sang Juru Selamat.

  Dengan keprihatinan tersebut, Gereja berusaha untuk merangkul kembali kaum muda agar mereka mau terlibat dalam setiap kegiatan hidup menggereja khususnya dalam Perayaan Ekaristi. Gereja juga mengadakan pendampingan bagi kaum muda agar mereka semakin memahami akan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, sehingga mereka dengan sadar dan dengan suka rela mau ikut membangun dan menghidupi keberlangsungan hidup menggereja. Dalam rangka Gereja, kaum muda dalam Gereja, kaum muda dalam hidup menggereja, serta perwujudan Perayaan Ekaristi dalam kehidupan umat.

A. Ekaristi dalam Gereja

  Bagi setiap orang beriman Kristiani, Ekaristi merupakan pusat dan puncak seluruh kehidupan Kristiani, sebab dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah yang menguduskan dunia dan puncak karya manusia yang memuliakan Bapa melalui Kristus, Putra Allah dalam Roh Kudus (Martasudjita, 2003: 266-268).

  Dalam perayaan Ekaristi, umat ingin mengungkapkan iman dan kepercayaannya akan Yesus Kristus sebagai Sang Penyelamat. Kebaikan dan cinta Bapa yang besar kepada manusia ditunjukkan dengan mengutus Putera-Nya ke dunia supaya manusia memperoleh keselamatan abadi. Untuk menyambut dan mengenang keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus, maka manusia menyambut-Nya dengan iman dan mengungkapkan-Nya dengan puji syukur melalui sebuah perayaan Ekaristi. Ekaristi mengandung maksud untuk memuji dan bersyukur kepada Allah yang Kudus, karena Perayaan Ekaristi sejak awal mula sudah menjadi ciri khas perayaan iman Kristiani sekaligus menjadi pusat dan pemersatu kehidupan seluruh umat beriman (Martasudjita, 2003: 270). Menurut Joseph A. Grassi (1989: 83), ”Ekaristi adalah pengejawantahan dari iman Perjanjian Baru yang paling mendalam karena memuliakan Tuhan, orang Kristen berkumpul merayakan Ekaristi karena taat kepada Sabda Yesus dan ketaatan itulah yang disebut iman”. Oleh karena itu Perayaan Ekaristi selalu dirayakan secara meriah dan dengan sepenuh iman, karena

1. Perkembangan Ekaristi dalam Tradisi Gereja

  Gereja hidup dari Ekaristi. Kebenaran ini mengungkapkan bukan hanya pengalaman iman sehari-hari tetapi juga menegaskan hakikat misteri Gereja. Dengan berbagai cara Gereja mengalami dengan sukacita pemenuhan terus menerus dari janji Tuhan, “Lihatlah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20).

  Dalam setiap Perayaan Ekaristi terjadi kembali kurban salib Kristus, yakni sengsara dan wafat-Nya. Bedanya kurban salib di Kalvari terlaksana secara jasmaniah dengan penumpahan darah sedangkan kurban salib dalam Ekaristi terlaksana secara sakramental, artinya dalam dan dengan tanda. Tetapi kedua kurban itu sungguh sama yakni terlaksananya karya penebusan Allah bagi manusia.

  Tepatlah penegasan Konsili Vatikan II bahwa kurban Ekaristi “adalah sumber dan puncak kehidupan kristiani” (LG, art. 11). “Sebab dalam Ekaristi Kudus terkandunglah seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri, Roti Paskah yang hidup dan pemberi hidup” (PO, art. 5). Demikianlah Gereja selalu mengarah kepada Tuhan yang hadir dalam Sakramen Ekaristi. Di sanalah Gereja menemukan kepenuhan pernyataan kasih Tuhan yang tak terbatas.

a. Dasar Ekaristi dalam Kitab Suci

  Perayaan Ekaristi sudah ada sejak zaman Yesus dan para Rasul-Nya. Kata ”Ekaristi” sendiri berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji-syukur.

  Kata Eucharistia ini bersama kata Yunani eulogia (= juga puji syukur ) digunakan untuk menterjemahkan kata Ibrani birkat yakni doa berkat dalam perjamuan Yahudi yang merupakan doa puji dan syukur sekaligus doa permohonan akan karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus. Sejak abad V Perayaan Ekaristi disebut misa. Kata “misa” berasal dari bahasa Latin ite missa est yang berarti pembubaran atau perutusan. Istilah ini digunakan untuk menterjemahkan aspek perutusan untuk melayani Tuhan dan sesama serta mewartakan kabar baik kepada segala bangsa (Martasudjita, 2003: 269). Istilah Perayaan Ekaristi dan Misa Kudus boleh sama- sama digunakan. Istilah perayaan Ekaristi menunjuk apa yang dirayakan, yaitu syukur Gereja atas misteri penebusan Tuhan sedangkan Misa Kudus menunjuk segi perutusan kita di tengah dunia.

  Gereja merayakan Ekaristi bukan karena keinginan Paus, Uskup, atau para imam, tetapi karena memang diperintahkan oleh Tuhan Yesus pada perjamuan malam terakhir: ”Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19; 1 Kor 11:24). Ekaristi ditetapkan oleh Tuhan Yesus pada perjamuan malam terakhir, sebab secara khusus Perayaan Ekaristi memiliki dasar dan hubungan dengan peristiwa perjamuan malam terakhir yang diadakan Yesus dengan para murid-murid-Nya. Tetapi, perjamuan malam terakhir sendiri bukan Perayaan Ekaristi Gereja yang pertama. Ekaristi merayakan wafat dan kebangkitan Tuhan. Perayaan Ekaristi dibuat atas dasar perintah Yesus Kristus dan bukan merayakan atas perintah Gereja, maka Ekaristi bersumber pada perjamuan yang dibuat oleh-Nya. Menurut E. Martasudjita, (2003: 271-272), ada tiga hal yang dipandang sebagai akar dari Perayaan Ekaristi, yaitu: Perjamuan Makan Yesus dengan Orang-orang Berdosa, Perjamuan Malam Terakhir, dan Perjamuan dengan Yesus yang Bangkit.

1. Perjamuan Makan Yesus dengan Orang-orang Berdosa (Mrk 2:16-17; Mat 9:10-13; Luk 5:29-32)

  Peristiwa Yesus makan dengan orang-orang berdosa menunjukkan bahwa hidupnya Yesus mewartakan Kerajaan Allah, di dalam karyanya Yesus mewartakan kasih Allah yang begitu besar terhadap seluruh umat manusia sehingga Ia mengundang orang-orang berdosa masuk dalam persaudaraan dan persekutuan-Nya. Yesus, rela menanggung sengsara dan wafat di kayu salib karena begitu besar cinta- Nya terhadap manusia yang penuh dengan dosa. Melalui perjamuan yang dilakukan Yesus dengan orang-orang berdosa, Yesus ingin menyatakan bahwa manusia yang penuh dosa sekalipun tetap akan diterima di Kerajaan Allah (Martasudjita, 2003: 271-272).

  2. Perjamuan Malam Terakhir (Mrk 14:22-25; Mat 26:26-29; Luk 22:15-20;

   1 Kor 11:23-26)

  “Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan” (1 Kor 11: 23) telah menetapkan Kurban Ekaristi bersumber dari tubuh dan darah-Nya sendiri. Perjamuan malam terakhir merupakan perjamuan perpisahan Yesus dengan para murid sebelum Ia menderita sengsara dan wafat di kayu salib. Dalam perjamuan itu Yesus hendak mengungkapkan kepada para murid-Nya bahwa Ia sangat mencintai seluruh umat manusia dan akan memberikan keselamatan dengan mengkorbankan nyawa-Nya. Wafat dan kebangkitan Yesus membawa keselamatan kepada umat manusia. perjamuan malam terakhir ini yang menjadi saat penetapan bagi Perayaan Ekaristi selanjutnya, karena melalui Perayaan Ekaristi umat Kristiani mengenangkan seperti yang diperintahkan oleh Yesus sendiri: ”Perbuatlah ini menjadi peringatan akan

3. Perjamuan dengan Yesus yang bangkit (Luk 24:13-35) Setelah bangkit, Yesus kembali mengadakan makan bersama para murid-Nya.

  Dalam perjalanan ke Emaus, Yesus menampakkan diri kepada dua murid-Nya dan mengadakan makan bersama dengan dua murid tersebut (Luk 24:13-35). Dalam perjamuan itu Yesus ingin mengungkapkan bahwa perayaan Ekaristi merupakan ungkapan kebersamaan dengan Yesus yang bangkit. “Ekaristi adalah tempat di mana kita secara leluasa dapat berada bersama Yesus, untuk saling bertemu, untuk secara bersama-sama mengalami rahasia Allah” (Martasudjita, 2003: 271-272; bdk. Grün, 1998: 45).

  Dari ketiga perjamuan yang diadakan Yesus tersebut perjamuan malam terakhir merupakan yang paling pokok, karena dalam Perayaan Ekaristi umat mengenang kembali perbuatan dan tindakan Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah. Sebelum sengsara dan wafat Yesus mengadakan perjamuan dengan para murid untuk menyatakan bahwa keselamatan akan datang bagi seluruh umat manusia. Keselamatan itu akan ditandai dengan memecah dan membagikan roti serta mengedarkan anggur. Pemberian roti dan anggur merupakan lambang penyerahan diri Yesus kepada Allah yang menyelamatkan umat manusia. Melalui pengajaran para Bapa Gereja, umat dapat mengetahui bahwa sejak abad awal, Gereja percaya dan mengimani bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Itu sebabnya perjamuan malam terakhir merupakan hal pokok dalam Perayaan Ekaristi.

  Dengan demikian, Perayaan Ekaristi tidak hanya untuk mengenang kembali perbuatan dan tindakan Yesus semata, tetapi Perayaan Ekaristi merupakan jaminan dalam Ekaristi seluruh misteri kehidupan bersama dengan Allah dan manusia mengalami kepenuhannya dalam Kristus Yesus, dirayakan dan dihadirkan bagi umat beriman. Itulah sebabnya Perayaan Ekaristi dipandang sebagai puncak seluruh kehidupan umat kristiani (Martasudjita, 2003: 272-276).

b. Dasar Ekaristi dalam Gereja Perdana

  Sejak Gereja abad-abad pertama, bentuk dasar Perayaan Ekaristi tersusun atas Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kepastian bentuk ini dibuktikan pada kesaksian Santo Yustinus Martir pada pertengahan abad ke II. Liturgi sabda adalah untuk menyingkapkan misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan makanan rohani melalui sabda yang diwartakan. Bagian ini disebut sebagai pengajaran akan sabda Tuhan. Lewat liturgi Sabda, umat merasakan kehadiran Tuhan, meresapkan dalam keheningan dan nyanyian dan mengimani dalam syahadat serta mengungkapkan pengharapannya dalam doa. Sedangkan liturgi Ekaristi merupakan bagian untuk menghadirkan korban salib dalam Gereja, menyatakan karya penyelamatan, dan penebusan. Pada liturgi Ekaristi umat mengambil bagian dalam korban salib Kristus dengan menyambut tubuh Kristus.

  Ajaran Ekaristi yang sangat ditekankan oleh bapa-bapa Gereja adalah masalah tentang realis praesentia yakni pandangan mengenai Sabda Kristus yang menyebabkan suatu perubahan (consecratio, mutatio). Dalam teologi, istilah realis

  

praesentia menunjuk kehadiran Yesus Kristus yang real dan nyata dalam Ekaristi,

  yakni dalam rupa roti dan anggur. Pada abad pertengahan Ekaristi terus diperdalam dan diperkaya dengan macam-macam pemikiran. Ajaran tentang realis praesentia disempurnakan lagi oleh Thomas Aquinas. Dalam bukunya Summa Theologiae,

  Thomas memikirkan tiga segi tentang sakramen Ekaristi: Ekaristi sebagai signum yang mengenangkan penderitaan dan wafat Yesus; Ekaristi

  commemorativum

  sebagai signum communionis yang mengungkapkan kesatuan Gereja; dan Ekaristi sebagai signum praefigurativum yang menunjuk makna eskatologis Ekaristi.

  Thomas juga menegaskan ajaran transsubstantiatio, bahwa sesudah konsekrasi terjadi perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Istilah

  

transsubstantiatio diajarkan secara resmi pertama kali oleh Konsili Lateran IV tahun

1215 (Martasudjita, 2003: 280-287 ).

c. Dasar Ekaristi dalam Konsili Trente

  Konsili Trente diadakan untuk menanggapi ajaran reformasi yang berkejolak pada abad XVI, di mana pada masa itu para kaum reformator menekankan sifat simbolis dari kehadiran Kristus dalam Ekaristi, sifat perjamuan dalam Ekaristi dan menolak sifat korban dari misa kudus. Sidang ke-13 tahun 1551 Konsili Trente mengesahkan dekrit mengenai praesentia (DS 1635-1661), yang berisi tentang ajaran kehadiran Kristus yang sungguh-sungguh real dan nyata dalam Ekaristi, dan juga ajaran mengenai transsubstantiatio. Sidang ke-21 tahun 1562 mengajarkan tentang komuni dua rupa (DS 1725-1734). Dalam sidang tersebut Konsili Trente menyatakan bahwa penerimaan komuni walaupun hanya dalam satu rupa, sudah merupakan penerimaan seluruh diri Kristus secara tak terbagi dalam sakramen yang benar.

  Sidang ke-22 tahun 1562 membahas dan mengajarkan secara rinci tentang kurban misa (DS 1738-1759). Konsili Trente menegaskan keyakinan tradisi mengenai misa dilaksanakan oleh Gereja, namun di lain pihak bukan kurban lain di samping kurban salib Kristus (Martasudjita, 2003: 290-291).

d. Dasar Ekaristi dalam Konsili Vatikan II

  Ajaran tentang Ekaristi tersebar diberbagai dokumen Konsili Vatikan II, meskipun Konsili Vatikan II tidak memberikan dogma baru mengenai Ekaristi namun berbagi ajaran Konsili Vatikan II tentang Ekaristi disatu pihak menegaskan ajaran tradisional Gereja dan di lain pihak membicarakannya secara baru. Konsili Vatikan II banyak memberikan refleksi baru mengenai Ekaristi, pada hakekatnya Konsili Vatikan II menempatkan ajaran sakramen dan Ekaristi dalam konteks trinitas-kristologi, eskatologi, eklesiologi, dan antropologi.

2. Ekaristi berdasarkan Dimensi Kristologis

  Dalam ajaran Konsili Vatikan II dimensi kristologi menggambarkan tentang Perayaan Ekaristi yang erat hubungannya dengan Yesus Kristus. Menurut E.

  Martasudjita (2003: 293), ”Ekaristi ditetapkan Yesus sebagai kenangan akan diri- Nya, yakni Dia dan karya penyelamatan-Nya yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya”. Pada Perayaan Ekaristi, Gereja secara bersama-sama mengadakan suatu pesta atau perayaan yang intinya untuk mengenang kembali karya penyelamatan Tuhan kita Yesus Kristus dalam aspek kurban, kenangan, sakramen, dan perjamuan.

a. Ekaristi sebagai Kurban

  Kata kurban mengandung arti harus ada ”sembelihan”, namun dalam Konsili Vatikan II menjelaskan bahwa: ”Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya” (SC, art. 47). Dalam LG, art. 3 menegaskan pula bahwa: Setiap kali di altar dirayakan kurban salib, tempat Anak Domba Paska kita, yakni Kristus telah dikurbankan (1 Kor 5:7), dilaksanakanlah karya penebusan kita. Dengan roti dan anggur dalam Perayaan Ekaristi sekaligus dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan umat beriman, yang merupakan satu tubuh dalam Kristus (1 Kor 10: 17).

  Namun Yesus menggantikan ”sembelihan” itu dengan diri-Nya sendiri. Di kayu salib Yesus mempersembahkan diri kepada Bapa. Dengan kurban-Nya itu Yesus memulihkan kehancuran manusia karena dosa (Wibowo Ardhi, 1993: 20-23). Menurut konsili Trente konsekrasi dibedakan dari kurban, maka timbul kesan bahwa kurban ini adalah pengurbanan oleh iman atau Gereja. Kurban rupanya pertama-tama mengenai realita manusiawi: korban. Konsili Trente menyatakan Kristus ”mempersembahkan” (kurban) yang sungguh-sungguh dalam arti yang sebenarnya.

  Ia meninggalkan (sesuai dengan kodrat manusia) kurban yang melambangkan (repraesentare) kurban berdarah yang hanya satu kali akan dijalankan disalaib (DS 1740). Dalam hal ini Trente menekankan kehadiran real kurban Kristus dalam Ekaristi (Martasudjita, 2003: 293-294; bdk. Wibowo Ardhi, 1993: 20-23).

b. Ekaristi sebagai Perayaan Kenangan

  Dalam Perayaan Ekaristi umat mengenangkan karya keselamatan Allah. Karya penyelamatan sudah sampai kepenuhanya pada Yesus Kristus yang menyerahkan diri di kayu salib. Karya penyelamatan itu berpuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya yang selalu dikenang oleh umat pada masa Paskah. Pada perjamuan malam terakhir setelah mengucap berkat atas roti dan anggur kemudian membagi-bagikannya kepada

  22:19-20; 1 Kor 11:23-25). Konsili Vatikan II menjelaskan lebih lanjut, sebagai berikut: Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan Korban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan Korban Salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja Mempelai-Nya yang terkasih kenangan Wafat dan Kebangkitan-Nya: sakramen cintakasih, lambang kesatuan, ikatan cintakasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang (SC, art. 47).

  Dalam Sakramen Ekaristi yang Mahakudus secara sungguh-sungguh, real dan substansialada tubuh dan darah Yesus Kristus, bersama jiwa dan keallahan-Nya menjadi seutuhnya Kristus (DS 1651). Hal itu selanjutnya ditegaskan secara lebih khusus yakni bahwa: Kehadiran Kristus dalam Ekaristi disebabkan oleh perubahan seluruh substansi roti menjadi tubuh dan seluruh substansi anggur menjadi darah, sehingga yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur. Perubahan ini oleh Gereja Katolik disebut transsubstantiatio (DS 1652). Kata ”transsubstansiasi” adalah suatu kesimpulan dari realis proesentia (Banawiratma, 1989:115). Dalam teologi, istilah

  

realis praesentia menunjuk kehadiran real Tuhan Yesus Kristus dalam Ekaristi,

  dalam rupa roti dan anggur. Perubahan hakiki roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus disebut transsubstantiatio. Maksudnya adalah bahwa Perayaan Ekaristi dirayakan supaya manusia belajar menjunjung tinggi kesatuan Tubuh Mistik Kristus, yang ditandai dengan kesatuan umat dengan para pemimpin Gereja, yaitu uskup, imam dan diakon.

  Oleh karena itu ”kenangan” diungkapkan karya penyelamatan Allah yang berarti keselamatan bagi manusia. Menurut Tom Jacobs (1996: 87), ”Dengan mengenang wafat dan kebangkitan Kristus, umat mengambil bagian dalam penyerahan Kristus kepada Bapa dan mengharapkan kebangkitan dan hidup abadi seperti Kristus”.

c. Ekaristi sebagai Sakramen

  Berkat pembaruan liturgi dan teologi Gereja sejak awal abad XX, kini kata “sakramen” tidak lagi disempitkan hanya berarti 7 (tujuh) buah. Kata sakramen dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Latin yakni dari kata sacramentum. Kata

  

sacramentum berakar pada kata sacr, sacer yang berati: kudus, suci, lingkungan

  orang kudus atau bidang yang suci. Kata Latin sacrare berarti menyucikan, menguduskan, atau mengkhususkan sesuatu atau seseorang bagi bidang yang suci atau kudus. Dalam masyarakat Romawi kuno, sacramentum menunjuk sumpah prajurit, dan menunjuk pada uang jaminan atau denda yang ditaruh dalam suatu kuil dewa oleh orang-orang atau pihak-pihak yang berperkara dalam pengadilan (Martasudjita, 2003: 59-62).

  Pada saat ini istilah “sakramen” tidak lagi langsung dipakai sebagai ritus atau upacara dari ketujuh sakramen, tetapi pertama-tama istilah sakramen menunjuk Yesus Kristus sendiri. Kristus adalah sakramen induk atau pokok, sebab Allah Sang Penyelamat yang tidak tampak, hadir dan kelihatan dalam diri Yesus Kristus. Pada tempat kedua istilah sakramen menunjuk Gereja sendiri. Gereja disebut sakramen dasar sejauh ada hubungannya dengan Kristus, Sang Sakramen Induk dan Pokok. Gereja sebagai sakramen berarti apa yang tampak dalam Gereja menjadi simbol real, yaitu simbol yang yang efektif dan menghadirkan keselamatan Allah yang terlaksana dalam Kristus bagi dunia, sedangkan ketujuh sakramen sebagai konkretisasi Gereja sebagai sakramen dasar dalam kehidupan konkret manusia (Martasudjita, 2003: 67- 69).

  Ekaristi disebut sebagai sakramen paling utama artinya bahwa isi perayaannya adalah misteri sengsara dan kebangkitan Yesus Kristus. Misteri Paskah yang berarti misteri pembebasan kita dari belenggu dosa, misteri penyelamatan atau penebusan. Misteri pengudusan yang merasuki seluruh aspek kehidupan manusia secara langsung dirayakan dalam Ekaristi. Misteri Paskah yang menjadi inti Perayaan Ekaristi sekaligus mendasari semua perayaan sakramen lainnya dalam segala bentuk peribadatan Gereja.

  Ekaristi selalu menghadirkan Kristus maka di manapun umat berkumpul untuk mengenangkan misteri iman, Kristus selalu hadir di tengah-tengah umat beriman.

  Kehadiran Kristus tidak langsung dalam bentuk raga, tetapi dalam bentuk tanda dan sarana yang digunakan dalam Ekaristi. Hal ini ditegaskan pula dalam KHK, kan. 899 sebagai berikut:

  Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di dalam Kristus Tuhan, melalui pelayanan iman mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Bapa dengan kehadiran-Nya secara substansial dalam rupa roti dan anggur, serta memberikan diri-Nya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya.

d. Ekaristi sebagai Perjamuan

  Dalam tradisi Yahudi dikenal adanya Perayaan Perjamuan. Perjamuan itu diadakan untuk merayakan Paskah bagi bangsa Yahudi. Menurut Wibowo Ardhi, (1993: 12) bentuk perjamuan Yahudi pada waktu itu adalah doa sebelum makan

  Perayaan Ekaristi disebut sebagai perjamuan, karena dalam perjamuan terakhir bersama para murid-Nya, Yesus memberikan diri-Nya untuk dimakan dan diminum.

  Perjamuan dalam Perayaan Ekaristi yang dibuat oleh Yesus berpangkal dari bentuk perjamuan Yahudi (Luk 22:15-20). Menurut Konsili Vatikan II, ”Ekaristi adalah perjamuan Paskah. Ekaristi merupakan perayaan kenangan dan karya keselamatan Allah yang memuncak dalam misteri Paskah Kristus dalam bentuk perjamuan” (SC, art. 47). Ekaristi dalam Gereja yang terjadi bukan hanya wujud dari kesatuan antara umat beriman, namun yang lebih penting adalah kesatuan antara Allah melalui Putra- Nya Yesus Kristus dengan manusia. Dengan demikian, menyantap roti dan anggur dalam perjamuan Ekaristi berarti umat mengungkapkan dan menghayati kesatuan hidup dengan Kristus dan sesama (Yoh 6:56).

3. Ekaristi berdasarkan Dimensi Eklesiologis Dimensi eklesiologi adalah suatu ajaran teologi yang berkaitan dengan Gereja.

  Umat Katolik mengimani Gereja sebagai karya Roh Kudus yang menjadi perantara umat dengan Yesus Kristus. Gereja melaksanakan perintah Yesus Kristus dalam Ekaristi sehingga umat dapat mengungkapkan imannya melalui Perayaan Ekaristi itu. Sebagai perantara umat dengan Tuhan Yesus Kristus dalam Perayaan Ekaristi, dimensi eklesiologi meliputi Ekaristi sebagai Perayaan Gereja, dan Ekaristi sebagai pusat liturgi (Martasudjita, 2003: 296-297).

a. Ekaristi sebagai Perayaan Gereja

  Ekaristi berasal dari bahasa Yunani ”eucharistia” yang berarti ”doa puji dan syukur”. Perayaan Ekaristi bukanlah perayaan sembarangan. Perayaan Ekaristi adalah Perayaan Syukur. Syukur tidak berarti berterimakasih, tetapi merupakan pernyataan rasa kagum, hormat, kegembiraan dan kebahagiaan. Syukur pertama- tama bukan karena anugrah yang telah diterima, tetapi karena kebaikan Tuhan yang selalu tercurah bagi umat-Nya.

  Perayaan Ekaristi adalah bagian dari perayaan Gereja yang sangat diagungkan oleh umat Kristiani karena Perayaan Ekaristi dalam Gereja merupakan Perayaan Suci yang telah diperintahkan oleh Yesus sendiri untuk mengenang karya penebusan-Nya. Konsili Vatikan II, menegaskan: ”Sebab melalui Liturgilah, terutama dalam Korban Ilahi Ekaristi terlaksana karya penebusan kita” (SC, art. 2). Dengan merayakan Ekaristi, Gereja mengungkapkan dan melaksanakan dirinya sebagai sakramen keselamatan Allah karena Gereja menghadirkan Kristus, Sang Sakramen Induk (SC, art. 5.26; bdk. LG, art. 48; GS, art. 42.45; AG, art. 1.5).

b. Ekaristi sebagai Pusat Liturgi

  Kata Liturgi berasal dari bahasa Yunani leitorgia, yang terbentuk dari kata ergon yang berati ”karya” dan leitos, yang merupakan kata sifat dari laos yang berarti ”bangsa”. Maka leitourgia berarti karya pelayanan atau karya bakti bagi masyarakat. Ungkapan iman Gereja terwujud dalam kegiatan-kegiatan liturgi.

  Kegiatan liturgi bukanlah kegiatan perseorangan, tetapi perayaan Gereja yang utuh. Setiap anggota dituntut berperan aktif menurut tugas dan peransertanya masing- masing. Jadi masing-masing orang beriman dalam liturgi, menyatakan kesatuannya dengan iman Gereja.

  Para Bapa konsili Vatikan II melalui Konstitusi Liturgi menyerukan

  Hendaknya para gembala jiwa dengan tekun dan sabar mengusahakan pembinaan liturgi kaum beriman serta keikut sertaan mereka secara aktif, baik corak hidup dan taraf perkembangan religius mereka. Dengan demikian mereka menunaikan salah satu tugas utama pembagi misteri-misteri Allah yang setia. Dalam hal ini hendaklah mereka membimbing kawanan mereka bukan saja dengan kata-kata, melainkan juga dengan teladan (SC, art. 19).

  Sebagai pelayanan kehidupan, liturgi tidak dapat dipisahkan dari Ekaristi sebab Ekaristi merupakan pusat dan puncak dari perayaan Gereja. E. Martasudjita, (2003: 297), mengatakan bahwa: ”Segala macam bidang perayaan liturgi mengalir dan tertuju kepada Perayaan Ekaristi sebagai pusat dan puncaknya”. Konsili Vatikan II menegaskan pula bahwa ”misteri Ekaristi pusat seluruh hidup liturgi” (SC, art. 6).

4. Ekaristi berdasarkan Dimensi Eskatologis

  Dalam persekutuan umat Kristiani, sejak dahulu berkembang harapan akan datangnya akhir zaman (eskaton), yakni suatu zaman yang ditandai dengan kedatanagn kembali Kristus untuk yang kedua kalinya (parousia). Dimensi eskatologis mengambarkan bahwa Perayaan Ekaristi bukan hanya merupakan perayaan akan peringatan sejarah karya keselamatan Allah. Tetapi juga menggambarkan kepada seluruh umat manusia bahwa Perayaan Ekaristi berhubungan dengan akhir zaman, yakni janji akan keselamatan yang datang dari Yesus Kristus di akahir zaman. Konsili Vatikan II, menegaskan bahwa Ekaristi merupakan ”Jaminan kemulian yang akan datang” (SC, art. 47). Sejarah keselamatan yang dijanjikan kepada seluruh umat manusia akan datang kembali pada akhir zaman. Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Banawiratma (1989: 188-189), sebagai berikut:

  Dengan menempatkan Ekaristi dalam kerangka sejarah keselamatan, yang secara hakiki bersifat eskatologis, maka dinyatakan tidak hanya realita historisnya, baik sebagai kejadian sakramental maupun sebagai realita keselamatan yang dipertandakan oleh-Nya, tetapi juga hubungannya dengan kepenuhan akhir, yang dilaksanakan dalam kebangkitan Kristus.

  Dengan begitu jelas secara nyata bahwa Allah telah memberikan diri-Nya kepada seluruh umat manusia melalui perantaraan Putera-Nya yang terkasih Yesus Kristus demi keselamatan manusia sampai akhir zaman. Dengan demikian Perayaan Ekaristi menghantar umat manusia agar semakin mampu menghayati imannya serta semakin setia kepada Yesus Kristus yang telah memberikan keselamatan kepada seluruh manusia yang percaya kepada-Nya.

B. Perkembangan Kaum Muda dalam Gereja

  Kaum Muda Katolik adalah pilar Gereja dan merupakan Gereja masa depan, sebab di tangan kaum muda Katolik, Gereja dapat terus hidup dan berjalan. Paus Benediktus XVI dalam kotbahnya pada hari Kaum Muda Katolik sedunia di C

  őlogne-Jerman meminta Kaum Muda untuk bijak menggunakan kebebasan yang telah dianugerahkan Tuhan. Kebebasan bukan berarti hidup dengan otonomi total atau mutlak. Namun kehidupan dalam kebenaran dan kebaikan sehingga tiap pribadi tumbuh menjadi sosok yang benar. Dalam arti ini maka yang diharapkan dari Kaum Muda sebagai musim semi Gereja adalah mengaktualisasikan berbagai usulan dan program yang telah disusun oleh kaum muda sendiri dan melaksanakanya dalam sebuah tindakan konkrit.

  Istilah kaum, golongan, atau kelompok muda mempunyai arti yang berbeda- beda tergantung dari sudut pandang dan konteks penggunaannya. Oleh karena itu terdapat berbagai macam batasan pendapat menurut para ahli mengenai ”kaum muda”. Dalam perkembangan Gereja, kaum muda sebenarnya mendapat tempat yang penting. Oleh sebab itu Gereja sering mengadakan pendampingan atau pembinaan bagi kaum muda yang bertujuan untuk membantu dan membimbing kaum muda agar semakin memahami akan pentingnya keterlibatan dan peran mereka dalam Gereja, maupun dalam hidup bermasyarakat.

1. Pengertian Umum Kaum Muda

  Menurut Undang-undang Perkawinan Republik Indonesia tahun 1974 Bab II

  pasal 1 ayat 1, ”kaum muda meliputi para muda-mudi yang sudah melewati umur kanak-kanak, bagi pemuda umur 19 tahun, dan bagi pemudi berumur 16 tahun yang menurut undang-undang sudah diperbolehkan untuk menikah”.

  Shelton (1988: 10) memberikan batasan tentang kaum muda mengutup dari para psykiater Amerika dalam ”Psychiatric Glossary” sebagai berikut: ”kaum muda adalah suatu periode kronologis yang dimulai dengan proses psikis dan emosional yang membawanya kematangan seksual dan psykososial, diakhiri dengan terbentuknya seorang individu yang telah mencapai kebebasan dan produktivitas sosial”.

  Mangunhardjana (1986: 11), mengungkapkan bahwa ”kaum muda adalah mencakup anak-anak manusia dari umur 15 tahun sampai dengan 24 tahun”.

  Menurut Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda ”kaum muda adalah mereka yang berusia 13 sampai dengan 35 tahun dan belum menikah, sambil tetap memperhatikan

  Dari batasan-batasan tentang kaum muda di atas, penulis mempunyai gambaran tentang kaum muda, yaitu seseorang baik pemuda maupun pemudi yang sudah berumur 16-26 tahun dan dapat menentukan atau mengambil suatu keputusan serta sudah dapat mempertanggungjawabkannya.

2. Aspek-aspek Pertumbuhan Kaum Muda

  Masa muda merupakan masa di mana mereka dihadapkan pada segala pembalikan orientasi berpikir mereka. Pembalikan dari berakhirnya masa anak-anak dan awal mereka melangkah kepada sebuah realitas hidup. Biasanya dalam masa muda ini terjadi pembalikan struktur berpikir, mereka mulai terlibat dalam kehidupan orang lain, dalam diri kaum muda berkembang suatu kemampuan yang semakin besar untuk menghargai pandangan orang lain. Persahabatan dan loyalitas menjadi faktor yang penting dalam berhubungan dengan orang lain. Relasi persahabatan yang mesra (relationship), yaitu pengalaman persahabatan yang sangat mengesankan di luar lingkungan keluarga. Hal ini dapat membebaskan kaum muda dari segala tekanan dan ketidakmampuan mengungkapkan diri.

  Kaum muda selalu berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan sebagai manusia menuju manusia yang lebih dewasa. Mereka mengalami pertumbuhan fisik serta perkembangan mental, emosional, sosial, moral, dan religius. Meskipun demikian kaum muda juga sering mengalami permasalahan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Berikut ini penjelasan mengenai berbagai macam permasalahan yang sering dihadapi pada diri kaum muda dalam masa

  a. Pertumbuhan Fisik

  Pertumbuhan fisik merupakan gejala yang paling nampak dari luar dalam perkembangan kaum muda. Dengan pertumbuhan fisik, setiap kaum muda semakin mengenal akan dirinya, baik itu sebagi laki-laki dimana anak laki-laki semakin menampakkan dirinya sebagai seorang pria maupun anak perempuan menampakkan diri sebagai wanita, dengan berbagai karakter yang dimilikinya (Mangunhardjana, 1986: 12). Namun berkaitan dengan pertumbuhan fisik itu, mereka sering mempermasalahkan tentang cepat-lambatnya pertumbuhan yang dialaminya itu.

  Entah itu karena tidak ideal, karena terlalu lambat atau tidak cepat besar, atau karena terlalu cepat bahkan tiba-tiba menjadi besar dan lain-lain. Mereka juga mempersoalkan baik buruknya hasil pertumbuhan fisik mereka. Bersamaan dengan pertumbuhan fisik kaum muda juga mulai menghadapi masalah yang berhubungan dengan seks dan pergaulan dengan lawan jenis. Pada umur muda mereka sudah merasa cukup besar, tetapi belum siap benar untuk memasuki pergaulan dengan lawan jenis dan belum mampu mengambil prilaku yang sesuai dalam mengatasi problem-problem dalam pergaulan. Secara biologis mereka sudah cukup masak untuk mengalami seksual, tetapi mereka belum sanggup bertanggung jawab atas hidup perkawinan. Maka banyak kita jumpai kaum muda yang terjebak dalam pergaulan.

  b. Perkembangan Mental

  Selain perkembangan dan perubahan dalam bentuk fisik, perkembangan mental juga dialami oleh kaum muda. Hal ini nampak dalam perkembangan intelektual yakni dalam cara atau pola berfikir. Dengan meninggalkan masa kanak-kanak cara dewasa, di mana mereka tidak lagi memikirkan hal-hal konkrit melainkan berfikir hal-hal yang abstrak. Hal ini dapat dilihat pada kata-kata yang mereka ucapkan dan kosakata yang mereka gunakan. Dalam proses tersebut kaum muda mulai berfikir kritis terhadap permasalahan dan hal-hal yang mungkin akan dihadapi dalam bersikap dan bertindak (Mangunhardjana, 1986: 13).

  Dengan kecakapan berfikir, kaum muda mengerti tentang dirinya, membentuk gambaran tentang dirinya, peranan yang diharapkan dari mereka, panggilan hidup dan masa depan mereka. Semua ini adalah masalah yang tidak ringan yang harus mereka hadapi. Oleh karena itu kaum muda kerap nampak resah, suka menyendiri dan melamun.

  Semua proses pertumbuhan yang nampak dalam diri kaum muda tentu saja merupakan proses pendewasaan diri yang harus dilalui oleh semua orang. Berbagai cara seringkali dilakukan oleh kaum muda dalam mengatasi dan menghadapi persoalan-persoalan yang ada, namun persoalan yang mereka hadapi kadangkala sulit bagi mereka untuk menghadapinya. Pendekatan khusus bagi kaum muda untuk membantu menyelesaikan atau memecahkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, karena perkembangan zaman sangatlah diperlukan. Oleh karena itu salah satu cara yang dapat ditempuh yakni dengan cara mengadakan pendampingan bagi kaum muda (Mangunhardjana, 1986: 13).

c. Perkembangan Emosional

  Perkembangan emosional kaum muda ada hubungannya dengan perkembangan hormon-hormon dalam tubuh mereka. Dengan demikian sering muncul sikap masa bodoh atau cuek, keras kepala, perpindahan gejolak hati yang cepat, bahkan kadangkala muncul sikap yang tidak wajar. Dengan munculnya berbagai macam luapan hati itu, mereka lama-lama dapat menangkap berbagai emosi dan memahami arti kata-kata yang berhubungan dengan perasaan positif seperti: bahagia, senang, bersemangat, puas, berani cinta, percaya diri, bangga, optimis, merasa diterima; dan perasaan-perasaan negatif seperti: marah, malu, tidak bersemangat, cemas, bingung, takut, sepi, pesimis, jemu. Hal ini merupakan wujud meluapnya isi hati akibat perubahan dan perkembangan emosional dalam diri kaum muda.

  Masalah yang dihadapi kaum muda seputar perkembangan emosional adalah bagaimana menilai baik buruknya emosi, bagaimana menguasai, dan bagaimana mengarahkannya. Salah satu cara yang kadang diambil atau dilakukan oleh kaum muda yakni, mencoba untuk mengatasinya atau mencoba untuk melupakan apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada diri mereka. Oleh karena itu, dalam mengatasi persoalan yang terjadi pada diri kaum muda, mereka membutuhkan bantuan dan dorongan dari luar untuk keluar dari berbagai persoalan yang muncul akibat perkembangan emosional mereka (Mangunhardjana, 1986: 13).

d. Perkembangan Sosial

  Manusia bukanlah makhluk individu, manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan, perhatian dan dorongan dari orang lain dalam perkembangan hidupnya, termasuk juga kaum muda. Sebagai pribadi yang sedang berkembang, kaum muda memerlukan bantuan dan dorongan dari orang lain yang ada di sekitarnya dalam berinteraksi maupun memperkembangkan pengalaman yang dimilikinya maupun yang dialaminya dalam kehidupannya (Mangunhardjana, 1986: 14).

  Dengan lewatnya masa kanak-kanak dan berkat pertumbuhan fisik, pergaulan kaum muda tidak hanya terbatas pada kelurga saja, tetapi meluas kepada teman- teman sebaya, lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal mereka serta masyarakat luas. Oleh sebab itu kaum muda sering menghadapi masalah-masalah dalam pergaulannya. Masalah-masalah yang sering dihadapi kaum muda seputar perkembangan sosial seperti: cara masuk dalam kelompok, cara bergaul dalam kelompok, sikap serta cara menghadapi pengaruh-pengaruh kelompok, serta peranan mereka dalam kelompok seperti: penerimaan diri oleh kelompok, penghargaan dirinya dari kelompok, dan kontribusi mereka dalam kelompok.

e. Perkembangan Moral

  Perkembangan moral membawa kaum muda ke dalam tingkat hidup yang lain dari masa sebelumnya. Ketika masih kanak-kanak, hidup itu terasa sangat sederhana.

  Ada hal-hal yang jelas-jelas baik dan hal-hal yang jelas-jelas buruk. Ada tindakan yang jelas-jelas benar dan salah. Dan semuanya itu ada jaminannya yaitu orang tua, guru, atau tokoh lain seperti tokoh masyarakat dan tokoh agama. Dengan pertambahan umur, perkembangan fisik dan mental, kaum muda mengalami perubahan sikap. Mereka mulai mempertanyakan dan mencari kebenaran dasar-dasar mengapa hal-hal dan tindakan-tindakan itu termasuk baik atau buruk. Mereka ingin mendapat kejelasan mengapa tokoh-tokoh itu mempunyai kewibawaan untuk dilakukannyapun berbeda-beda dalam menghadapi dan mengatasi baik buruk dalam kehidupan yang dialaminya (Mangunhardjana, 1986: 14).

  Dengan melihat berbagai pandangan yang diterima dalam kehidupan mereka, kaum muda mulai dihadapkan pada masalah pencarian patokan moral yang dapat dipergunakan mereka sebagai patokan dalam pergaulan mereka bersama orang lain dalam menentukan baik dan buruk. Masalah-masalah itu tidak hanya terbatas dalam diri mereka, melainkan meluas dalam hidup bermasyarakat, misalnya: ketidakadilan, kejahatan, hak-hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan peranan yang diharapkan dari mereka dalam hidup bermasyarakat. Di sinilah muncul panggilan hidup. Hal tersebut merupakan solusi bagi mereka dalam memperkembangkan apa yang dimilikinya dan menyadari akan perubahan-perubahan tersebut sebagai perubahan moral bagi mereka (Mangunhardjana, 1986: 14).

f. Perkembangan Religius

  Perkembangan religius menyangkut hubungan antara pribadi dengan Yang Maha Kuasa. Ketika masa kanak-kanak, segala sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan, dilakukan karena meneladan atau diperintah oleh tokoh-tokoh tertentu.

  Namun pada masa menjelang dewasa, segala yang berkaitan dengan Yang Maha Kuasa mulai dipertanyakan. Hal ini dilakukan oleh kaum muda, karena mereka ingin mendapat kejelasan dan pemahaman yang lebih dalam tentang Yang Maha Kuasa.

  Bukan hanya tentang praktek-prateknya saja, tetapi semua ini dilakukan karena mereka ingin belajar menjadi orang religius sejati (Mangunhardjana, 1986: 15).

  Banyak kaum muda menanyakan pengalaman religius dalam kaitannya dengan agama mereka. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul searah dengan kenyataan bahwa setiap orang ingin menjadi lebih religius. Tetapi yang mendukung penghayatan religius bukanlah pengalaman akan apa saja, melainkan pengalaman dengan Allah sendiri.

  Iman merupakan hubungan yang sangat pribadi antara manusia dengan Allah. Hubungan tersebut baru menjadi nyata bila manusia menanggapi tawaran dari Allah untuk terlibat dalam karya Allah dan berusaha untuk mewujudkannya lewat tindakan dalam kehidupannya sehari-hari. Kaum muda sebagai pribadi yang sedang berkembang perlu mengerti dan memahami akan makna tawaran Allah dalam hidupnya. Berbagai usaha sering kali dilakukan oleh kaum muda dalam mengembangkan iman dan dalam menanggapi tawaran Allah serta mereka ingin lebih mengenal akan Allah Yang Kuasa, namun tidak jarang dari mereka sering kali terbentur dengan berbagai persoalan-persoalan baik dari luar maupun dari dalam dirinya.

g. Perkembangan Kognitif

  Pada dasarnya kaum muda selalu berkembang sesuai dengan situasi dan keadaan yang dihadapi dalam kehidupannya. Perkembangan kognitif menyertai setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya, dimana kaum muda mampu berpikir secara lebih abstrak dan komplek mengenai berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat maupun dalam dirinya. Dengan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan, menunjukkan bahwa kaum muda semakin memahami dan sungguh terlibat dalam permasalahan-permasalahan yang kompleks (Shelton, 1988: 135).

  Secara bertahap kaum muda akan memahami bahwa Allah adalah kekuatan utama dalam kehidupannya. Dengan demikian muncullah kesadaran yang lebih nyata tentang Allah sebagai dasar bagi kesadaran sosial yang ingin dibangunnya kehidupannya untuk berinteraksi dengan sesamanya. Hubungan yang erat antara kaum muda dengan Sang Pencipta memungkinkan kesadaran dan kepekaan yang lebih besar dalam diri mereka untuk memahami dan menilai kekeliruan dalam masyarakat serta mampu bertindak untuk mengatasinya atau bahkan mampu untuk mengadakan perubahan ke yang lebih baik.

3. Problematika dalam Perkembangan Kaum Muda

  Untuk menuju suatu kematangan dalam diri, kaum muda sering menghadapi berbagai macam persoalan, entah itu datang dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Namun terkadang mereka merasa sulit dan bahkan tidak mampu untuk keluar dari berbagai macam persoalan yang dialaminya.

  Dalam kehidupan sehari-hari masalah yang sering dihadapi oleh kaum muda yakni seputar iman yang dihayatinya kurang mendalam dan pribadi yang belum mantap. Sebenarnya masih banyak permasalahan yang sering dihadapi oleh kaum muda pada jaman sekarang, di mana zaman modern yang selalu menggerus nilai- nilai religius kaum muda bila tidak dibentengi dengan agama yang kuat. Permasalahan ini sungguh menjadi keprihatinan oleh banyak pihak, terutama oleh kaum muda sendiri yang sangat membutuhkan bantuan, bimbingan dan pendampingan khusus dalam memecahkan persoalan-persoalan yang bagi mereka sulit untuk mencari dan menemukan jalan keluarnya. Hal ini perlu dimaklumi karena dalam situasi perkembangan dalam menentukan jati diri, perlu menuntut setiap pribadi untuk bertindak dan diharapkan mampu menanggapi permasalahan tersebut

a. Problematika dalam Keluarga

  Perbedaan pandangan tentang nilai dan norma sering terjadi antara anak dan orang tua, tak jarang hal mengakibatkan kesenjangan di dalam keluarga. Orang tua sering memakai ukuran atau patokan tempo dulu (past oriented), sementara sang anak lebih cenderung mengikuti perkembangan zaman dan melihat ke depan (futur

  oriented).

  Konflik antara anak dan orang tua tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja, tetapi di kota-kota kecil dan di pedesaanpun sering terjadi. Di kota-kota konfik antara anak dan orang tua terjadi karena orang tua lebih sibuk untuk bekerja, untuk mengejar prestise dan status sosial yang lebih tinggi. Waktu dan tenaga, dan bahkan anak sekalipun sering mereka korbankan. Hal ini membuat kurangnya komunikasi dan kasih sayang di antara orang tua dan anak. Selain itu perkembangan anakpun kurang mendapat perhatian dari orang tua. Sedangkan di daerah pedesaan konflik terjadi karena perbedaan tingkat pendidikan antara orang tua dan anak yang mengakibatkan kesulitan dalam berdialog di antara mereka.

  Konflik-konflik antara orang tua dan anak khususnya anak yang sudah dewasa sering terjadi dikarenakan orang tua merasa dirinya yang paling benar dari segi pengalaman hidup, di mana hal ini membuat orang tua menjadi gagal dalam membantu anak-anaknya untuk menyimak dan menyadari nilai-nilai yang terkandung dalam pengalaman yang cenderung normatif dan disampaikan dalam nada yang imperatif. Kesenjangan ini akan menjadi masalah, manakala berkembang

b. Problematika dalam Masyarakat

  Kaum muda sering mendapat predikat sebagai pendobrak dan pembaharu, kaum muda ingin mendobrak kelambanan transisi, membrantas berbagai praktek yang tidak sehat, serta ingin merombak berbagai sistem tertentu yang melambangkan ketidak adilan dalam masyarakat. Walaupun tak jarang kaum muda tidak diberi kesempatan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Dan tidak jarang pula kaum muda di pojokkan hanya karena untuk kepentingan-kepentingan organisasi atau golongan tertentu yang mengatasnamakan kaum muda.

  Dalam bermasyarakat, kaum muda sering mendapat perlakuan yang bersifat menyamaratakan, misalnya: karena sebagian kaum muda melakukan tindakan- tindakan yang tidak baik, maka semua kaum muda mendapat predikat yang tidak baik pula dari masyarakat. Dalam masa transisi di dalam masyarakat, tata nilai dan norma lama menjadi standart dalam bertingkah laku mengalami gocangan dan terjadi pergeseran. Nilai-nilai lama diragukan dan cenderung ditinggalkan, sedangkan nilai- nilai baru belum dipegang sepenuhnya. Proses transisi sering terjadi secara mendadak, sehingga menimbulkan kejutan, ketegangan dan kebingungan pada diri kaum muda (Tangdilintin, 1984: 29).

  Sementara itu lapangan pekerjaan yang tersedia masih belum mampu mengatasi angka pengangguran yang semakin membengkak, karena banyak kaum muda yang mencari pekerjaan, namun banyak yang tidak mempunyai ketrampilan atau keahlian yang memadai. Daya tarik kota-kota besar, mengakibatkan kaum muda pedesaan melakukan urbanisasi yang hanya akan membawa masalah-masalah sosial

c. Problematika dalam Gereja

  Kaum muda merupakan pilar atau penyangga kelangsungan tumbuh dan berdirinya Gereja. Gereja tidak hanya digerakkan oleh para religius, melainkan di dalamnya melibatkan umat, dan khususnya para kaum muda. Sering para orang tua kurang menyadari bahwa kaum muda juga merupakan bagian dari Gereja, mereka juga mempunyai hak dan tanggung jawab dalam ikut menentukan perkembangan Gereja selanjutnya.

  Berbicara tentang kaum muda dalam Gereja maka kaum muda adalah salah satu komponen dari Gereja yang tidak boleh dinomor duakan tetapi harus diperhatikan sama seperti komponen pelayanan lainnya. Gereja sering kali tidak terlalu perduli terhadap pelayanan kaum muda karena ada banyak program yang lebih difokuskan pada orang-orang dewasa sehingga akhirnya pelayanan kaum muda dianggap sebagai pelayanan kelas dua. Pendampingan kaum muda Katolik dewasa ini yang terjadi biasanya bersifat parsial (sebagian) dan kurang di dalam pengelolaannya secara berkelanjutan. Pendampingan hanya memikirkan aspek moment, atau aspek gebyar, maka seakan terkesan seperti sebuah panggung pertunjukan yang hanya memikirkan prosesnya secara sesaat. Kaum muda yang hidup antara transisi atau masa peralihan dengan segala akibatnya, seringkali belum bahkan tidak diperhitungkan dalam Gereja, hal ini mengakibatkan tidak jarang kaum muda mengambil jarak dan bahkan acuh tak acuh. Bahkan ada anggapan, Gereja sebagai ”urusan orang tua” dan kurang memberi perhatian kepada kaum muda bahkan menjadikan kaum muda sebagai partner dalam perkembangan Gereja (Bons-

  Ada anggapan dari para orang tua bahwa kaum muda masih dalam proses persiapan, iman mereka belum mantap untuk menjadi anggota Gereja sepenuhnya.

  Kaum muda dapat dianggap sepenuhnya anggota Gereja jika mereka sudah benar- benar dewasa. Hal ini mengakibatkan tidak adanya tempat bagi kaum muda, maka dalam perkembangan Gereja selanjutnya, kaum muda lebih suka memilih sikap pasif, masa bodoh dan enggan untuk terlibat dalam Gereja. Permasalahan ini disadari atau tidak, dapat menciptakan iklim yang tidak sehat bagi kaum muda, di mana kaum muda merasa tidak diterima, asing, tersingkir, dan bahkan merasa tidak dihargai dalam Gereja. Tak jarang, banyak kaum muda yang tidak krasan menjadi anggota Gereja.

  Tangdilintin (1984: 34) menuliskan: Timbul keluhan beberapa anak muda; mengapa orang tua sekarang ini selalu mendominir, memonopoli dan memperbudak kaum muda? Kaum muda dimohon kerjasama dengan kaum tua, itu memang baik. Tetapi mengapa kaum muda hanya seakan-akan sebagai alat dalam kerjasama tersebut, sedangkan orang tualah yang selalu menjadi penentunya.

d. Problematika dalam Diri Kaum Muda Sendiri

  Dinamika kehidupan kaum muda sulit untuk dimengerti dan dipahami, pendirian dan kondisi emosionalnya cepat berubah dan belum stabil. Kemampuan yang ada dalam dirinya bisa menjadi potensi sekaligus problematika bagi kaum muda sendiri.

  Dari segi fisik maupun psikis, masalah perkembangan kaum muda ditandai oleh dua dorongan, yakni dorongan kelamin (nafsu sex) dan dorongan ”aku” (nafsu sex masih sering dianggap tabu oleh para orang tua, hal ini dapat mengakibatkan kaum muda berusaha mencari tahu sendiri tentang semua itu. Sehingga tidak jarang menimbulkan kegelisahan dan keingin tahuan yang disalurkan melalui berbagai cara atau bahkan melalui eksperimen yang pada gilirannya menimbulkan permasalahan baru (Tangdilintin, 1984: 47).

  ”Dorongan aku” menggejala dalam berbagai prilaku, dengan harapan mendapat perhatian, dihargai, dan diterima seperti apa adanya. Permasalahan timbul apabila orang lain tidak menerima dan menghargai apa adanya seseorang. Sikap egois dapat diartikan kebebasan, tidak terikat oleh apa dan siapapun dalam memilih dan menentukan tindakan. Kaum muda tidak suka didikte orang tua maupun otoritas lain. Hal ini mengakibatkan orang tua menjadi otoriter dan suka mengatur, dan hal ini dapat menimbulkan konflik.

  Kaum muda memiliki jiwa yang tidak stabil dan mudah goyah terhadap berbagai situasi yang dialaminya sehingga menyebabkan mereka mencari pelarian- pelarian yang sifatnya negatif. Kaum muda memiliki rasa kesetiakawanan atau solidaritas yang tinggi sehingga dalam lingkungan pergaulan dengan sesama komunitasnya, ia cenderung melakukan apa yang dilakukan oleh komunitasnya demi sebuah solidaritas sekalipun hal tersebut bersifat negatif. Kaum muda mengalami kesepian dan kekosongan karena peralihan dari masa anak-anak yang bergantung kepada orang tua kepada sebuah tuntutan kemandirian sehingga kaum muda mencari figur, tokoh, teman, dan pacar yang dapat diajak untuk berbagi rasa. Kesepian yang dialami oleh kaum muda juga menyebabkan kaum muda mencari hiburan-hiburan yang dapat menghibur dirinya seperti mengunjungi beragam konser musik yang di selenggarakan di berbagai tempat (stasiun televisi, mall, lapangan terbuka, dll) serta memadati bioskop-bioskop (nonton film), diskotik-diskotik dan kafe-kafe (Tangdilintin, 1984: 48).

  Selain itu kaum muda juga pernah atau sering merasakan perasaan minder. Perasaan minder merupakan faktor penghambat utama bagi perkembangan seseorang, karena dapat menyulitkan seseorang untuk berkenalan, bergaul, bersosialisasi dengan orang lain, dan bahkan tak jarang lebih suka memilih untuk menutup diri. Adanya rasa kurang yakin pada diri sendiri dan orang lain, dapat membatasi ruang gerak untuk berinisiatif dan berkreasi. Perasaan-perasaan seperti ini sering dialami para kaum muda, maka tak jarang ada yang enggan untuk bergaul atau malah memilih untuk menutup diri dari pergaulan. Kurang percaya diri juga sering menjadi masalah utama bagi kaum muda, terlebih ketika mereka tidak dapat tampil seperti yang diharapkan kelompok. Misalnya, jika mereka tidak bisa mengikuti mode, memiliki keterbatasan fisik, atau kurang yakin pada kemampuan yang mereka miliki, kaum muda yang seperti ini hanya cenderung mengejar popularitas daripada berani tampil apa adanya.

C. Kaum Muda dalam Hidup Menggereja

  Hidup menggereja adalah hidup menampakkan iman, jadi setiap kegiatan menampakkan iman merupakan perwujudan dari hidup menggereja. Batasan sempit hidup menggereja adalah dalam lingkup parokial yang terbatas pada teritorial. Sedangkan pengertian hidup menggereja secara lebih luas adalah pengungkapan iman dalam hidup sehari-hari, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup masyarakat (Suhardiyanto, 2006).

  Kenyataan sekarang ini membuktikan bahwa kaum muda sedang mengalami kemrosotan atau penurunan semangat dalam hidup menggereja. Banyak alasan mengapa kaum muda mengalami keterpurukan dalam hidup menggereja. Salah satu alasan yang sering terjadi adalah bahwa kaum muda sering terpasung oleh berbagai macam aturan dari hirarki Gereja. Kaum muda sering mengalami kesulitan dalam mengekspresikan daya kreativitas dan hasil pemikirannya, sehingga mereka merasa bahwa kebebasan mereka berkreasi dibatasi dan tak jarang kaum muda merasa tidak dianggap atau dikesampingkan. Berbagai macam permasalahan kaum muda tersebut sekarang menjadi sorotan dan keprihatinan pihak Gereja Katolik. Untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan kaum muda memanglah tidak mudah, sebab semua itu membutuhkan proses yang panjang dan perhatian yang lebih dari seluruh warga Gereja.

  Untuk mahamami mengenai pengertian hidup menggereja yang konteksnya lebih luas, maka hendaknya setiap kegiatan yang dilakukan baik pribadi maupun bersama dapat menampakkan iman Yesus Kristus yang berkarya, sehingga dapat menjadi karya perwujudan hidup menggereja yang konkrit. Dengan adanya pemahaman tersebut, maka hendaknya kaum muda turut bertanggungjawab akan tugasnya sebagai warga Gereja yang beriman dewasa. Adapun bukti tanggungjawab kaum muda dalam hidup menggereja di antaranya mereka dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada dalam jalur hirarkis-teritorial baik di Paroki, maupun di Keuskupan. Selain itu mereka juga dapat terlibat dalam kegiatan kategorial seperti dalam keluarga, sekolah, perguruan tinggi, organisasi-organisasi, atau jalur lain yang non Katolik maupun kerjasama lintas batas antar organisasi kuam muda (Komisi

D. Perwujudan Perayaan Ekaristi dalam Kehidupan Kaum Muda

  Perayaan Ekaristi bagi umat Kristiani merupakan pusat dan puncak seluruh kehudupan Kristiani, sebab dalam Perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah yang menguduskan dunia dan puncak karya manusia yang memuliakan Bapa memelalui Kristus (Martasudjita, 2003: 266-268).

  Gereja hidup dari Ekaristi, hal ini mengungkapkan bukan hanya pengalaman iman sehari-hari tetapi juga menegaskan hakekat misteri Gereja. Untuk memperkembangkan iman khususnya kaum muda, kaum muda diharapakan untuk selalu aktif turut serta ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi, sehingga iman mereka terus dapat berkembang menjadi iman yang dewasa. Iman kaum muda yang dewasa diharapkan pula dapat diwujud nyatakan dalam kehidup konkrit sehari-hari, terutama dalam kehidupan menggereja.

1. Ekaristi Sumber Kehidupan Umat Beriman

  Iman merupakan pertemuan antara Allah dengan manusia, di mana umat manusia atas dasar iman berkomunikasi dengan Allah secara pribadi untuk memuji atas seluruh keagungan Allah, bersyukur atas semua rahmat yang telah dilimpahkan- Nya, dan memohon dari segala kemurahan hati-Nya. Dalam Konsili Vatikan II ditegaskan bahwa:

  Kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib menyampaikan ketaatan iman. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan dan dengan suka Sebagai sumber perayaan iman, dalam Perayaan Ekaristi umat dapat mengungkapkan imannya, baik secara pribadi maupun secara kelompok serta bersama-sama seluruh anggota Gereja. Umat Kristiani yang percaya akan Yesus Kristus memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan membuktikan ketaatan imannya. Mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penuh keyakinan, umat diajak untuk mewujudkan ketaatan iman akan karya keselamatan Allah. Kebersamaan dengan Allah dapat dirasakan melalui penghayatan umat terhadap Perayaan Ekaristi dan dengan penghayatan iman akan Yesus Kristus umat dapat mewujudkan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Tom Jacobs (1996: 132), ”Menghayati Ekaristi dengan saleh, berarti mengikuti Ekaristi dengan suasana doa dengan khusyuk dan penuh perhatian. Menghayati Ekaristi secara aktif berarti tidak hanya sekedar hadir, melainkan benar-benar terlibat di dalamnya”.

  Kebersamaan umat dengan Allah terlaksana dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai kegiatan yang dilakukan dalam setiap harinya, baik secara pribadi maupun dengan orang lain, Allah selalu hadir bersama umat manusia. Oleh karena itu, penghayatan dalam Perayaan Ekaristi sangat perlu untuk dipahami dan dimengerti dengan begitu umat akan mampu merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya. Dengan demikian, umat Kristiani diharapkan mampu menghayati Perayaan Ekaristi secara mantap dan jelas serta mampu memahami makna Ekaristi yang akan menghantarkan umat sampai pada perjumpaan dengan Allah dan sampai pada kepenuhan Kerajaan Allah. Dalam Ekaristi terkandung seluruh harta rohani Gereja

2. Ekaristi Sumber Spiritualitas Umat Beriman

  Kata spiritualitas berasala dari bahasa Latin, yakni dari kata ”Spiritus” atau ”Roh” yang berarti hidup menurut Roh Kudus. Spiritualitas merupakan daya atau kekuatan yang menghidupkan dan menggerakkan seseorang untuk mempertahankan, memperkembangkan, dan mewujudkan kehidupan. Spiritualitas kesadaran, kekuatan dan sikap hidup seseorang untuk mampu bertahan dalam mewujudkan tujuan dan harapan dalam hidupnya.

  Kebersamaan dengan Allah dapat diwujudkan melalui Perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi Roh Kudus senantiasa hadir di tengah-tengah umat. Menurut E.

  Martasudjita (1998: 82), ”Gerak hidup menurut Roh Kudus merupakan gerak hidup yang selalu membawa orang pada kepenuhan kebersamaan dengan Allah”. Dengan demikian penting sekali bagi umat Kristiani untuk selalu mengungkapkan kebersamaan dengan Allah itu, yakni melalui Perayaan Ekaristi.

  Ekaristi dan spiritualitas tidak dapat dipisahkan, karena spiritualitas merupakan Roh yang telah dianugrahkan oleh Allah dalam setiap pribadi manusia untuk selalu memberi daya dan kekuatan pada manusia tersebut. Sedangkan Ekaristi merupakan perayaan iman di mana dalam perayaan tersebut setiap pribadi bebas untuk mengungkapkan rasa syukur atas semua yang telah dianugrahkan kepadanya dari Allah. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa ”Sebagai kaum beriman liturgi merupakan sumber utama yang tidak tergantikan, untuk menimba masyarakat Kristiani yang sejati” (SC, art. 14). Dengan begitu secara pribadi sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus hendaknya seluruh umat Kristiani menyadari bahwa perlunya menanamkan semangat kidup Kristiani yang tinggi, karena semangat itu

3. Ekaristi sebagai Sumber Kehidupan Kaum Muda dalam Hidup Menggereja

  Beragama Kritiani bagi seseorang belum menjamin apakah dia sungguh beriman Kristiani. Beriman Kristiani adalah suatu proses untuk semakin ”menjadi” dan semakin mendekati agar serupa dengan Yesus Kristus sendiri (Gal 2:2). Menjadi serupa dengan Yesus Kristus yakni berarti berani untuk mencontoh dan meniru sikap dan tindakan Yesus sendiri. Salah satu tindakan nyata untuk mengikuti Yesus Kristus adalah dengan mengikuti Perayaan Ekaristi. Sebab Perayaan Ekaristi merupakan pusat dan puncak iman Kristiani (Martasudjita: 266-268).

  Kaum muda sebagai pilar dan penerus Gereja haruslah memahami betul akan makna dari Perayaan Ekaristi. Hal ini bertujuan agar iman kaum muda semakin dewasa dan semakin mendalam. Kaum muda sebagai pribadi yang sedang berkembang perlu mengerti dan memahami akan makna Allah Sang Penyelamat dalam hidupnya. Berbagai usaha sering kali dilakukan oleh kaum muda dalam mengembangkan iman dan dalam menanggapi tawaran Allah serta mereka ingin lebih mengenal akan Allah Yang Kuasa, namun tidak jarang dari mereka sering kali terbentur dengan berbagai persoalan-persoalan baik dari luar maupun dari dalam dirinya.

  Untuk memperkembangkan iman khususnya kaum muda, kaum muda diharapakan untuk selalu aktif turut serta ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi dan dalam setiap kegiatan-kegiatan yang dapat menampakkan iman khususnya dalam kegiatan hidup menggereja. Sehingga iman mereka terus dapat berkembang menjadi iman yang dewasa. Iman kaum muda yang dewasa diharapkan pula dapat diwujud nyatakan dalam kehidup konkrit sehari-hari, terutama dalam kehidupan menggereja

BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE BAGI KAUM MUDA DI WILAYAH BRAYAT MINULYA, BALECATUR, PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA, GAMPING, YOGYAKARTA MELALUI KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA Berdasarkan hasil penelitian yang diadakan bagi kaum muda di Wilayah Brayat Minulya Balecatur, Paroki St. Maria Assumpta Gamping berkaitan dengan pengaruh Perayaan Ekaristi bagi keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja dan

  permasalahan-permasalahan yang dihadapi kaum muda, maka penulis mengusulkan suatu program pendampingan yang kiranya dapat menjawab kebutuhan maupun permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur. Program pendampingan yang penulis usulkan di sini adalah suatu program katekese yang dapat membantu kaum muda untuk semakin meningkatkan penghayatan mereka terhadap makna Ekaristi, sehingga mereka juga semakin dapat terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

  Untuk meningkatkan hal tersebut, maka hendaknya katekese direncanakan secara matang dengan menyusun suatu program, karena dengan adanya program yang terencana secara sistematis maka tujuan yang hendak dicapai akan lebih dapat terwujud. Dalam karya tulis ini, program diartikan sebagai rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan demi perkembangan iman kaum muda, khususnya dalam keterlibatan hidup menggereja. Dalam program tersebut penulis akan menguraikan mengenai gambaran umum tentang katekese. Model katekese yang digunakan dalam

  (SCP). Dalam pelaksanaan pendampingan model SCP ini ada lima langkah yang harus dilaksanakan yakni: pengungkapan pengalaman hidup faktual peserta, refleksi kritis atas pengungkapan pengalaman hidup faktual, mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani lebih terjangkau, interpretasi/tafsir dialektis antara tradisi dan visi Kristiani dengan tradisi dan visi peserta, serta keterlibatan baru demi makin terwujudnya Kerajaan Allah di dunia (Sumarno Ds, 2006: 18-22).

  Program katekese ini merupakan usulan atau tawaran bagi pelaksanaan pendampingan terhadap kaum muda, sehingga kaum muda semakin memahami akan pentingnya peranan dan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja. Usulan progam ini belum dilaksanakan, namun diharapkan mampu membantu para pendamping dalam upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, terutama dalam Perayaan Ekarsiti. Dalam usulan progarm ini akan dipaparkan pula mengenai: alasan pemilihan program katekese dengan model SCP, alasan pemilihan tema dan tujuan, penjabaran tema, petunjuk pelaksanaan program dan contoh persiapan pelaksanaan pendampingan katekese dengan menggunakan model SCP.

A. Alasan Pemilihan Program Katekese Model SCP

  Dalam rangka membantu kaum muda untuk memahami makna Perayaan Ekaristi, serta meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, maka penulis memilih pendalaman iman dengan model SCP. Pembinaan iman model SCP merupakan suatu pembinaan iman yang menekankan proses ”dialogis partisipasif” yaitu model yang mengusahakan terjadinya dialog antara visi dan tradisi hidup peserta dengan visi dan tradisi Kritiani. Model ini cukup sesuai dengan keadaan dan situasi peserta karena dapat mendorong peserta untuk merefleksikan pengalaman hidupnya (visi pribadi) dan menerapkannya dengan Sabda Allah yang hidup (visi Kristiani).

  Alasan penerapan metode Shared Christiani Praxis adalah agar peserta dapat mengungkapkan, menggali dan menafsirkan pengalaman hidup mereka sehingga mereka dapat menemukan nilai-nilai baru yang nantinya dapat diterapkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam keterlibatan kehidupan menggereja. Selain itu penulis memilih pendalaman iman dengan model SCP, karena tidak bersifat monoton, maksudnya yang berbicara dalam pembinaan iman ini tidak hanya pendampingnya saja, melainkan peserta juga diajak untuk terbuka dan dapat terlibat aktif untuk merefleksikan pengalaman hidup mereka. Pembinaan iman model SCP ini yang paling penting adalah suasana yang diciptakan tidak tegang dan kaku, melainkan santai tapi serius.

B. Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan

  Program merupakan hal yang penting untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan, karena dengan program arah dan tujuan dapat lebih mudah dicapai serta pelaksanaannyapun dapat lebih teratur, terarah, dan efektif. Katekese merupakan kegiatan pendampingan iman yang berkesinambungan, karena itu kegiatan katekese memerlukan urutan tema yang berkesinambungan pula. Dengan demikian, tujuan pembuatan usulan program katekese adalah untuk memperjelas arah dan tujuan, serta mempermudah pelaksanaan katekese dengan tema-tema yang telah disusun sehingga

  Pembuatan program ini juga diharapkan dapat membantu para pendamping, dalam memberikan pendampingan katekese bagi kaum muda. Dengan mampu memahami semangat Ekaristi diharapkan kaum muda semakin mendalami dan menghayati Ekaristi sebagai pusat dan sumber kehidupannya, sehingga merekapun dapat semakin aktif terlibat dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat. Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh penulis dan untuk menanggapi permasalahan yang dihadapi kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St. Maria Assumpta, Gamping maka penulis memilih tema katekese sebagai berikut: Tema umum : Penghayatan Ekaristi untuk Meningkatkan Semangat Keterlibatan

  Kaum Muda dalam Hidup Menggereja Tujuan umum : Bersama-sama pendamping, peserta dapat memahami makna

  Ekaristi sehingga diharapkan mampu semakin meningkatkan semangat keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

  Tema tersebut dipilih, karena penulis merasa sangat cocok dan sesuai dengan kebutuhan kaum muda, di mana kaum muda saat ini masih kurang dalam menghayati makna Ekaristi sehingga merekapun masih sangat terbatas keterlibatannya dalam hidupan menggereja. Berdasarkan tema di atas maka penulis membaginya lagi dalam 4 (empat) tema dan tujuannya sebagai berikut: Tema 1 : Makna Perayaan Ekaristi Tujuan 1 : Membantu kaum muda untuk dapat semakin memahami dan menghayati Perayaan Ekaristi.

  Tema 2 : Melalui Perayaan Ekaristi Allah memanggil umat-Nya untuk

  Tujuan 2 : Membantu kaum muda supaya sungguh-sungguh berpartisipasi dalam perjamuan keselamatan Allah melalui keterlibatan mereka dalam Perayaan Ekaristi. Tema 3 : Kaum Muda dalam Gereja Tujuan 3 : Membantu kaum muda untuk semakin memahami akan tugas dan peranan mereka dalam Gereja, sehingga mereka mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan hidup menggereja. Tema 4 : Keterlibatan dan keikut sertaan kaum muda dalam hidup menggereja Tujuan 4 : Membantu kaum muda untuk semakin memahami akan makna perwujudan iman dalam kehidupan sehari-hari baik dalam hidup menggereja maupun dalam hidup bermasyarakat.

C. Penjabaran Tema Tema Umum : Penghayatan Ekaristi untuk Meningkatkan Semangat Keterlibatan Kaum Muda dalam Hidup Menggereja.

  Tujuan umum : Bersama-sama pendamping, peserta dapat memahami makna Ekaristi sehingga diharapkan mampu semakin meningkatkan semangat keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

  

No Tema Tujuan Tema Judul Pertemuan Tujuan Pertemuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan

1 2 3 4 5 6 7 8 9

  1 Makna Perayaan Ekaristi Membantu kaum muda untuk dapat semakin memahami dan menghayati Perayaan Ekaristi.

  a. Ekaristi sebagai Puncak Perayaan Iman Membantu kaum muda untuk memahami Perayaan Ekaristi sebagai puncak perayaan iman.

  • Ekaristi sebagai perayaan misteri Paskah Yesus Kristus - Ekaristi sebagai perayaan iman
  • Sharing pengalamn
  • Diskusi kelompok
  • Refleksi pribadi
  • Informasi - Tanya j>Kitab Suci - Teks lagu
  • Teks pertanyaan pendalaman
  • Gambar Perjamuan Malam Terakhir - Gitar - Luk 22:1
  • Bergant & Karris, 2002:155
  • Komkat Dioses Ruteng, 1984: 7-
  • >Ekaristi sebagai perjamuan kurban.
  • Ekaristi sebagai pengenangan akan Yesus Kristus - Sharing - Tanya j
  • Informai - Renungan - Peneguhan - Tape recorder
  • Kaset instrumen
  • Teks lagu
  • Kitab Suci - Gambar perjamuan.
  • Kompat Dioses Ruteng, 1984: 3- 41.
  • Yayasan Komunikasi Bina Kasih., 1980: 753-757.
  • Yoh 15:1-17
  • >Menegaskan kehadiran Yesus Kristus dalam Komuni - Roti dan Anggur lambang kehadiran Yesus Kristus - Sharing - Tanya jawab
  • Informa - Refleksi - Peneguhan - Teks >Gitar - Kitab Suci - Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1980: 287- 289.
  • Lukasik, 1991: 111-119
  • KWI, 1996: 406
  • Nouwen, 1996: 35-47 - Yoh 6:32-59.

  20

  b. Perayaan Ekaristi sebagai perjamuan iman Membantu kaum muda untuk menyadari bahwa Perayaan Ekaristi perjamuan Tuhan

  2 Melalui Ekaristi Tuhan memanggil umat-Nya untuk berpartisipa-si dalam perjamuan keselamatan

  Membantu kaum muda supaya sungguh-sungguh berpartisipasi dalam perjamuan keselamatan Allah melalui keterlibatan mereka dalam Perayaan Ekarsiti.

  c. Menyambut Komuni merupakan partisipasi dalam hidup Allah

  Membantu kaum muda untuk dapat menghayati komuni

  1 2 3 4

  5

  6 7 8 9

  d. Yesus Kristus Menyatu dengan sesama Mengajak kaum muda untuk lebih menyadari bahwa Yesus hadir lewat sesama

  • Persaudaraan yang dibangun dalam Ekaristi - Dinamika persaudaraan umat beriman
  • Informasi - Dinamika kelompok
  • Sharing - Tanya jawab
  • Peneguhan - Teks
  • Gitar - Kitab Suci - Teks 1 Kor 11:17-33
  • Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1980:502- 504
  • Martasudjita, 2000: 34-39.
  • 1 Kor 11:17-33
  • >Pengertian kaum muda
  • Aspek-aspek pertumbuhan kaum muda
  • Problematika dalam kehidupan kaum >Sharing pengalaman
  • Diskusi kelompok
  • Refleksi pribadi
  • Informasi - Tanya j>Kitab Suci - Teks lagu
  • Teks pertanyaan pendalaman
  • Film ”Nick”
  • Tape recorder
  • Gitar - Mangunhardjana, 1986: 1
  • Yoh 15:1-17
  • Bergant & Karris, 2002: 190-191
  • >Pentingnya Keterlibatan kaum muda
  • Keterlibatan kaum muda sebagai wujud tanggung jawab sebagai warga Gereja - Informasi - Dinamika kelo
  • Komisi Kepemudaan KWI, 1999: 21
  • LG, art. 34-36
  • Suhardiyanto, 2006: 1-4
  • >Tanaya jawab
  • Kitab Suci - Kertas fiap
  • Spidol - Teks >Keterlibatan dalam bidang Pewartaa - Keterlibatan dalam bidang Pelayana - Keterlibatan dalam Persekutuan - Sharing - Tanya jawab
  • Informasi - Gitar - Kertas
  • Spidol - Suhardiyanto, 2006: 1-4
  • Komisi Kepemudaan KWI, 1999: 19-

  3 Kaum Muda dalam Gereja Membantu kaum muda untuk semakin memahami akan tugas dan peranan mereka dalam Gereja, sehingga mereka mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan hidup menggereja.

  e. Siapakah Kaum Muda? Kaum muda diajak agar semakin mengenal akan dirinya dan aspek- aspek pertumbuhan yang ada pada dirinya, sehingga kaum muda semakin mampu menanggapi persoalan hidupnya.

  f. Peranan Kaum Muda dalam Gereja Kaum muda diarahkan untuk semakin memahami akan peranan mereka dalam Gereja

  4 Keterlibatan dan keikut sertaan kaum muda dalam hidup menggereja

  Membantu kaum muda untuk semakin memahami akan makna perwujudan iman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hidup menggereja, maupun dalam hidup bermasyarakat

  g. keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja

  Kaum muda diarahkan untuk semakin memahami akan keterlibantan dalam Gereja

  21

  1 2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  h. Keterlibatan Kaum muda - Orientasi - Dinamika - kertas flap - Kel 6:1-12 kaum muda semakin memahami kemasyarakatan kelompok - spidol - Bergant & Karris, dalam hidup akan pentingnya - Pendidikan Nilai - Sharing - teks lagu 2002: 88-89 bermasyarakat hidup - Pemberday-aan - Tanya jawab bermasyarakat Pemuda Desa - Informasi

D. Petunjuk Pelaksanaan Program

  Program pendampingan yang diusulkan dalam skripsi ini dilaksanakan selama 8 (delapan) kali pertemuan, dalam jangka waktu 8 bulan karena ada 4 (tema) yang setiap temanya dibagi dalam 2 (dua) kali pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan selama kurang lebih 90 menit.

  Dalam pelaksanaan pendampingan tersebut, pada awal pertemuan para peserta diajak untuk mengolah dan menggali pengalaman hidup mereka maupun berbagi pengalaman yang telah mereka alami dalam keseharian mereka. Pengalaman- pengalaman tersebut tentunya yang berkaitan dan berhubungan dengan tema pertemuan. Penggalian pengalaman dilakukan dengan cara dibagi dalam kelompok- kelompok kecil, selanjutnya akan digabung kembali menjadi kelompok besar untuk bersharing bersama. Pengalaman yang telah disharingkan tersebut bukan untuk ditanggapi melainkan dari sharing tersebut peserta dapat menemukan makna maupun nilai-nilai baru yang dapat dipetik sebagai pengalaman baru. Melalui pengalaman- pengalaman yang diperoleh pada waktu sharing baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok besar, diharapkan mampu menghantarkan peserta sehingga mereka dapat turut aktif dalam pertemuan tersebut.

  Peran pendamping di sini sebagai fasilitator yang berfungsi untuk memperlancar jalannya pertemuan, merangkum semua pengalaman-pengalaman peserta ynag telah disharingkan serta mengajak peserta untuk merefleksikan pengalaman mereka dan memberikan peneguhan. Setelah menggali dan merefleksikan pengalaman, pendamping memberi peneguhan yang berdasarkan Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja. Pada akhir pertemuan pendamping mengajak peserta baik secara pribadi maupun secara bersama-sama menemukan dan membuat niat yang nantinya akan

E. Contoh Persiapan Katekese bagi Kaum Muda Model Shared Christian

  Praxis 1.

   Identitas:

  a. Tema : Ekaristi sebagai puncak perayaan iman

  

b. Tujuan : Membantu kaum muda untuk memahami Perayan Ekaristi

  sebagai puncak perayaan iman

  

c. Peserta : Kaum muda yang ada di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  d. Tempat : Kapel Nyamplung

  e. Tanggal : jum’at, 20 Mei 2011

  f. Waktu : 19.00-20.30 WIB

  g. Metode : - Sharing pengalaman

  • - Diskusi kelo
  • Refleksi pribadi
  • Tanya jawab
  • Informasi

  h. Model : SCP (Shared Christian Praxis) i. Sarana : - Kitab Suci

  • Teks lagu
  • Teks pertanyaan pendalaman
  • Gambar Perjamuan Malam Terakhir - Gitar

  j. Sumber Bahan : - Luk 22:14-20

  • Bergant, dan Karris. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian
  • Komkat Dioses Ruteng. (1984). Sakramen Ekaristi. Ende: Nusa Indah, hal. 7-20.

2. Pemikiran Dasar

  Bagi sebagian kaum muda, kesadaran untuk mengikuti Perayaan Ekaristi dengan hikmat dan tenang belum begitu nampak dalam diri mereka. Banyak kaum muda yang masih suka bercanda, berbicara sendiri, melamun, bermain HP, dan melakukan kegiatan-kegiatan lain yang tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan Perayaan Ekaristi. Banyak kaum muda yang masih suka bersikap demikian karena masih rendahnya pemahaman mereka akan pentingnya dan sakralnya Perayaan Ekaristi yang selama ini diimani oleh umat Kristiani. Sikap-sikap seperti ini juga masih sering dijumpai pada kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St. Maria Assumpta, Gamping.

  Injil Luk 22:14-20 memberi gambaran bahwa Para Rasul dan Gereja sepanjang masa selalu mengenangkan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus dengan apa yang telah dibuat Yesus pada malam Perjamuan Terakhir, yakni dengan merayakan Perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi umat bersyukur kepada Allah Bapa atas cinta kasih-Nya yang telah dicurahkan lewat Yesus Kristus Putra-Nya. Dalam Perayaan Ekaristi Umat Kristiani memperingati Yesus yang menyelamatkan dengan menyerahkan diri-Nya untuk di salib, hingga wafat dan kebangkitan-Nya, dan bersama Dia, umat bersyukur kepada Bapa. Keselamatan yang diberikan kepada Bapa dalam Kristus, diterima dengan cuma-cuma, sehingga keselamatan itu layak diteruskan kepada orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

  Dari pertemuan ini peserta diharapkan untuk semakin memahami misteri Perayaan Ekaristi sebagai puncak perayaan iman, sehingga iman mereka akan Yesus Kristus semakin dapat tumbuh dewasa. Selain itu peserta juga diharapkan dapat semakin mengiman dan mencintai Perayaan Ekaristi. Dengan demikian pada akhirnya kaum muda dapat dengan sungguh-sungguh untuk memahami Perayan Ekaristi sebagai puncak perayaan iman.

3. Pengembangan Langkah-langkah:

a. Pembukaan:

  1) Pengantar: Rekan-rekan mudika yang terkasih dalam Kristus, kita sungguh bahagia karena pada hari ini kita masih bisa berkumpul, untuk saling berbagi pengalaman iman guna meneguhkan iman kita sebagai pengikut Kristus. Pada hari ini kita akan menggali makna Perayaan Ekaristi yang selama ini kita lakukan dan kita imani, agar kita sebagai umat Allah semakin dapat memahami misteri Perayaan Ekaristi sebagai puncak perayaan iman Kristiani. Luk 22:14-20 memberi gambaran bahwa Para Rasul dan Gereja sepanjang masa selalu mengenangkan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus dengan apa yang telah dibuat Yesus pada malam Perjamuan Terakhir, yakni dengan merayakan Perayaan Ekaristi. Kita akan belajar bersama, mengolah pengalaman kita dalam mengikuti Perayaan Ekaristi selama ini. Oleh sebab itu, dalam pertemuan ini diharapkan adanya keterbukaan hati untuk berbagi pengalaman yang kita miliki, sehingga kita semakin memperkaya iman dan kepercayaan kita akan

  2) Lagu pembuka: Kristus Kurban Cinta-Nya (MB: 295). 3) Doa pembukaan:

  Allah Bapa yang Maharahim, terima kasih karena Engkau telah mengumpulkan kami kembali di tempat ini. Saat ini kami akan bersama-sama belajar untuk lebih memahami makna Perayaan Ekaristi sebagai puncak perayaan iman dalam hidup kami. Bangunlah niat dalam diri kami, agar kami dapat lebih memahami dan mengimani Perayaan Ekaristi dengan sungguh-sungguh dan setulus hati kami, sehingga kami pantas mengikuti Yesus Kristus putera-Mu. Amin.

b. Langkah I: Pengungkapan pengalaman hidup faktual peserta

  1) Bersama pendamping, peserta diajak melihat kembali pengalaman mereka dalam mengikuti Perayaan Ekaristi selama ini dengan bantuan gambar-gambar Perjamuan Malam Terakhir [Lampiran 10 : (22) – (23)]. 2) Peserta diberi kesempatan untuk menceritakan kembali pengalaman mereka dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. Dibantu dengan pertanyaan sebagai berikut:

  • Dalam gambar Perjamuan Malam Terakhir Ekaristi dimengerti sebagai apa?
  • Menurut pengetahuan teman-teman makna Perayaan Ekaristi itu apa? 3) Arah rangkuman

  Perjamuan Malam Terakhir merupakan perjamuan perpisahan Yesus Kristus dengan Para Rasul sebelum Ia menderita sengsara dan wafat di salib demi menyelamatkan umat manusia. Dalam perjamuan itu Yesus hendak mengungkapkan kepada Para Rasul, bahwa Ia sangat mencintai seluruh umat manusia. Dengan sengsara dan wafat di salib, Yesus membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Perjamuan malam terakhir inilah yang menjadi titik awal

  Perayaan Ekaristi merupakan perayaan iman bagi umat Kristiani. Mencintai Ekaristi sebagai peristiwa Allah yang datang untuk menjumpai kita dan kita menyambut-Nya dengan puji-syukur dan permohonan, membutuhkan proses pembiasaan terus menerus. Kita perlu membiasakan diri menjumpai Bapa lewat Yesus Kristus. Kita juga harus terbiasa mengindahkan Bapa yang selalu memanggil kita agar kita selalu tekun dalam Perayaan Ekaristi, memuji, dan mendengarkan sabda-Nya. Selain pembiasaan masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak kita seperti, mempersiapkan batin sebelum mengikuti Perayaan Ekaristi dan berusaha mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penuh kesadaran dan aktif.

c. Langkah II: Refleksi kritis atas pengungkapan pengalaman hidup faktual

  1) Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman dengan pertanyaan sebagai berikut:

  • Cara mana yang dipakai Yesus untuk menetapkan Ekaristi?
  • Apakah selama ini teman-teman sudah mengikuti Perayaan Ekaristi dengan sungguh-sungguh?

  2) Rangkuman singkat Pada malam Yesus diserahkan, Ia telah menetapkan Kurban Ekaristi bersumber dari tubuh dan darah-Nya. Sebelum sengsara dan wafat, Yesus mengadakan perjamuan dengan Para Rasul untuk menyatakan bahwa keselamatan akan datang untuk seluruh umat manusia. Keselamatan itu akan ditandai dengan memecah dan membagikan roti serta mengedarkan anggur. Pemberian roti dan anggur merupakan lambang penyerahan diri Yesus kepada Bapa. Gereja percaya dan mengimani bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Allah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Perjamuan malam terakhir inilah yang menjadi penetapan bagi Perayaan Ekaristi selanjutnya, karena melalui Perayaan Ekaristi umat Kristiani mengenangkan seperti yang diperintahkan oleh Yesus: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”.

  Mengikuti atau menghadiri Perayaan Ekaristi tidak cukup dengan kita ada di dalam gereja. Mengikuti Perayaan Ekaristi untuk memuji, bersyukur, dan memohon kepada Bapa berarti kita harus mengikuti-Nya dengan sungguh-sungguh, sadar, dan aktif. Kita tidak boleh semaunya sendiri, sebab dalam Perayaan Ekaristi, Yesus sungguh-sungguh hadir untuk kita. Berusaha membuka hati untuk menyambut Yesus Kristus merupakan hal yang sanagt penting, sebab dengan kesiapan hati untuk menyambut Kristus berati kita telah siap bersatu dengan Bapa. Kita perlu menyadari bahwa lewat Perayaan Ekaristi, kita mengenag kembali Yesus Kristus yang wafat dan bangkit kebali untuk kita. Dengan demikian kita dapat lebih bersyukur dan semakin memahami bahwa Perayaan Ekaristi merupakan pusat dan puncak perayaan iman bagi kita umat Kristiani yang percaya kepada Bapa lewat Yesus Kristus.

  

d. Langkah III: Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi kristiani lebih

terjangkau

  1) Salah seorang peserta diminta untuk membacakan perikop langsung dari Luk 22:14-20, sedangkan peserta lain diminta mengikutinya dengan menyimak dari

  2) Peserta diberi waktu untuk hening dan mendalami kembali isi perikop yang baru saja dibacakan dan mencoba menanggapinya dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut:

  • Ayat mana yang mengungkapkan arti Perayaan Ekaristi dalam perikop itu?
  • Mengapa Ekaristi sebagai puncak perayaan iman? 3) Peserta diajak untuk menemukan sendiri inti pesan dari Injil Luk 22:14-20, dibantu dengan 2 pertanyaan di atas.

  4) Pendamping memberikan tafsir dari Luk 22:14-20 dan dihubungkan dengan tema dan tujuan: Ayat yang mengungkapkan arti Perayaan Ekaristi adalah ayat 19. Pada ayat 19 ini Yesus menyadari bahwa puncak dari perutusan-Nya sudah mendekati. Tindakan-

  Nya mendramatisir pengurbanan diri-Nya sebagai Anak Domba Paskah yang baru. Ia tidak akan memakan perjamuan Paskah lagi, sampai itu terpenuhi dalam Kerajaan Allah.Gereja memahami peristiwa Perjamuan Terakhir yang Ia tetapkan dengan kata-kata-Nya sebagai Ekaristi.

  Ekaristi adalah tempat di mana Umat Kristiani secara leluasa dapat berada bersama Yesus, untuk saling bertemu dan secara bersama mengalami dan menyelami kehadiran Allah Bapa. Dalam Ekaristi, Yesus datang kepada umat manusia untuk membimbing manusia secara baru. Yesus menyertai umat manusia dalam setiap kehidupan sehari-hari. Yesus mengajarkan kepada pengikut-Nya untuk melihat setiap peristiwa dalam terang baru. Yesus memecahkan roti, Dia pun memberikan kepada seluruh umat manusia bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Yesus ada di sisi Bapa namun Dia terus menerus masuk ke dalam hidup setiap manusia untuk memungkinkan umat-Nya mengalami kedamaian dan kehadairan Allah Bapa dalam

  Dalam Perayaan Ekaristi, umat ingin mengungkapkan iman dan kepercayaannya kepada Kristus sebagai Sang Penyelamat yang telah dijanjikan Bapa. Cinta Bapa yang begitu besar kepada seluruh manusia diberikan secara cuma-cuma dan dicurahkan melalui Putera-Nya. Untuk menyambut dan mengenangkan keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus, maka manusia menyambut-Nya dengan iman dan mengungkapkannya dengan puji syukur melalui Perayaan Ekaristi. Bagi umat Kristiani, Ekaristi merupakan pusat dan puncak perayaan iman. Oleh karena itu Perayaan Ekaristi selalu dirayakan secara meriah dan dengan sepenuh iman.

  Gereja merayakan Ekaristi bukan karena keinginan Paus, Uskup atau para Imam, tetapi karena diperintahkan oleh Yesus pada malam perjamuan terakhir. Secara khusus Ekaristi memiliki dasar dan hubungan dengan peristiwa perjamuan malam terakhir. Tetapi, perjamuan malam terakhir sendiri bukan perayaan Ekaristi gereja pertama. Perayaan Ekaristi dibuat atas dasar perintah Yesus Kristus dan bukan merayakan atas perintah gereja, maka Ekaristi bersumber pada perjamuan yang dibuat oleh Yesus Kristus.

  Gereja melaksanakan perintah Yesus Kristus dalam Ekaristi sehingga umat dapat mengungkapkan imannya melalui Perayaan Ekaristi tersebut. Perayaan Ekaristi adalah bagian dari perayaan Gereja yang sangat diagungkan oleh umat Kristiani sebab Perayaan Ekaristi merupakan perayaan suci yang telah diperintahkan oleh Yesus Kristus sendiri untuk mengenangkan karya penebusan-Nya.

  Dengan merayakan Ekaristi, gereja mengungkapkan dan melaksanakan dirinya sebagai sakramen keselamatan Allah karena gereja menghadirkan Kristus, Sang Sakramen Induk. Namun perlu disadari bahwa keselamatan datang bukan hanya karena mengikuti Perayaan Ekaristi, tetapi dengan menjalankan hidup sehari-hari

  

e. Langkah IV: Interpretasi/tafsir dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani

dengan tradisi dan visi peserta

  1) Pengantar: Dalam pembicaraan tadi, kita sudah menemukan sikap-sikap yang dibuat Yesus

  Kristus dalam penghayatan-Nya sebagai Sang Penyelamat sejati. Sikap Yesus tersebut diterapkan dalam situasi peserta sebagai kaum muda Katolik yang mempunyai semangat berkurban demi kepentingan dan kemajuan gereja. Sebagai kaum muda dan sebagai pengikut Yesus Kristus, kita haruslah selalu menjalankan apa yang telah dipesankan Yesus kepada kita dengan kesungguhan hati. Selalu mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penuh kesadaran, keterbukaan hati, dan aktif terlibat dalam Perayaan Ekaristi merupakan perwujudan diri untuk selalu mendewasakan iman kita akan Yesus Kristus. Pertemuan kali ini merupakan saat yang penuh rahmat bagi kita, sebab Allah menyadarkan kita sebagai kaum muda agar selalu tekun dalam mengimani Yesus Kristus.

  2) Sebagai bahan refleksi bagi teman-teman, marilah kita merenungkan pertanyaan- pertanyaan berikut ini:

  • Sikap-sikap seperti apakah yang ingin teman-teman perjuangkan dalam mengikuti Perayaan Ekaristi agar kita semakin memahami Perayaan Ekaristi sebagai puncak iman?
  • Apakah teman-teman semakin memahami, diteguhkan dan dikuatkan imannya setiap kali mengikuti Perayaan Ekaristi?

  3) Rangkuman Penerapan Yesus berpesan kepada para pengikut-Nya, agar peristiwa Perjamuan Terakhir

  Ekaristi. Mengikuti Perayaan Ekaristi dengan sikap hikmat, tulus, sadar, dan terbuka untuk aktif, merupakan sikap yang harus selalu kita tanamkan dalan diri kita, sebab Perayaan Ekaristi merupakan perayaan Suci yang untuk selalu mengenang cinta kasih Bapa yang tercurah lewat Yesus Kristus. Perayaan Ekaristi merupakan pusat dan puncak perayaan iman Kristianai. Oleh sebab itu, kita dapat selau berharap kepada Kristus sendiri agar iman kita semakin diteguhkan dan dikuatkan.

  

f. Langkah V: Keterlibatan baru demi makin terwujudnya Kerajaan Allah

di dunia

  1) Pengantar: Teman-teman yang terkasih dalam Yesus Kristus, setelah kita bersama-sama menggali pengalaman kita sebagai kaum muda Katolik lewat gambar-gambar

  Perjamuan Malam Terakhir. Kita juga telah bersama-sama saling menguatkan dengan saling merefleksikan pengalaman hidup iman kita dalam Perayaan Ekaristi.

  Gereja memahami peristiwa Perjamuan Malam Terakhir sebagai dasar Perayaan Ekaristi. Dalam Ekaristi, Yesus datang kepada manusia untuk membimbing manusia secara baru. Dari pengalaman iman Lukas dalam Injilnya kita dapat memahami siapakah Yesus sebagai Sang Juru Selamat yang wajib selalu kita kenangkan. Oleh karena itu, kita sebagai manusia baru kita juga telah memunculkan sikap-sikap yang akan kita perjuangkan untuk semakin memahami Perayaan Ekaristi sebagai puncak perayaan iman.

  Untuk itu agar iman kita semakin dikuatkan dan semakin dewasa, maka marilah

  • Niat-niat apa yang ingin teman-teman lakukan untuk semakin memahami

  Perayaan Ekaristi?

  • Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan niat-niat tersebut?

  Selanjutnya peserta diberi kesempatan untuk memikirkan niat-niat pribadi yang akan dilakukan, kemudian niat-niat kelompok didiskusikan bersama dan akan diungkapkan sebelum doa penutup.

g. Penutup

  1) Pengantar Teman-teman kaum muda yang terkasih pertemuan kita kali ini sudah selesai kiranya pertemuan kita kali ini semakin menambah pemahaman kita akan perayaan

  Ekaristi sebagai puncak perayaan iman, sehingga kita semakin mencintai Ekaristi dalam hidup kita. Maka marilah sebelum kita mengakhiri pertemuan kita ini, kita persembahkan segala niat-niat kita tadi dan dilanjutkan dengan doa penutup. (Peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan niat-niatnya tersebut).

  2) Doa Penutup Tuhan Yesus Kristus Sang Juru Selamat, kami mengucapkan syukur atas cinta kasih-Mu yang telah Engkau curahkan kepada kami. Engkau telah memberikan kepada kami agar kami dapat selalu mengenang-Mu dengan cara merayakan Ekaristi. Engkau telah membimbing kami dalam menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan kami sebagai kaum muda baik di keluarga, Lingkungan, Wilayah maupun di Paroki. Tanpa bantuan dan bimbingan-Mu, kami orang lemah ini sering itu, buatlah kami agar kami semakin menyadari tugas dan tanggungjawab kami sebagai kaum muda, sehingga kami mampu memberi kesaksian iman dalam hidup kami sehari-hari, khususnya dalam tugas-tugas kami dalam Gereja dan masyarakat sekitar. Ajarilah kami agar kami semakin dapat memahami, menghayati, dan mencintai Ekaristi dalam kehidupan kami sehingga iman kami akan Yesus Kristus semakin Engkau kuatkan. Bapa doa yang jauh dari sempurna ini kami panjatkan dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus. Amin.

  3) Lagu Penutup: Hidup Cerah MB 230

BAB V PENUTUP Pada akhir skripsi ini, penulis akan mengemukakan kesimpulan dan saran

  berkaitan dengan keterlibatan hidup menggereja kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki St, Maria Assumpta Gamping.

  Berdasarkan situasi konkrit yang terjadi di Lingkungan. Penulis memberikan beberapa saran yang kiranya dapat berguna untuk meningkatkan semangat keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

A. Kesimpulan

  Dalam kegiatan hidup menggereja keterlibatan kaum muda mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya kesadaran diri dari kaum muda. Selain itu masih kurangnya pendampingan, dukungan, dan perhatian dari pihak Gereja maupun umat dari Wilayah setempat.

  Keterlibatan dan keikut sertaan kaum muda dalam hidup menggereja sangat diharapkan oleh seluruh umat. Kaum muda diharapkan dapat terlibat aktif, baik dalam lingkup Gereja maupun dalam lingkup masyarakat. Namun keterlibatan kaum muda itu tidak akan dapat terjadi dan berjalan dengan sendirinya. Oleh karen itu diharapkan adanya dukungan dari berbagai pihak, serta diadakannya pendampingan yang berkesinambungan.

  Dalam karya tulis ini, penulis menawarkan suatu bentuk pendampingan yang kiranya dapat berguna dalam medampingi dan memperkembangkan kaum muda sebagai upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. sekiranya mampu membantu dalam meningkatkan semangat kaum muda dalam menampakkan iman Kristianinya terutama dalam hidup menggereja dalam kehidupan sehari-hari. Dengan rahmat dan kasih Kristus, penulis percaya bahwa rencana dan niat-niat yang akan diupayakan dapat berjalan dengan baik.

B. Saran

  Berdasarkan kesimpulan di atas, menulis mengungkapkan beberapa saran untuk membantu kaum muda, agar mereka dapat semakin sadar dan aktif untuk dalam kegiatan hidup menggereja baik di lingkungan keluarga, maupun dalam lingkungan masyarakat luas. Beberapa saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut:

  1. Pendampingan bagi kaum muda seharusnya diadakan secara terprogram dan secara berkesinambungan. Oleh karena itu para pendamping kaum muda hendaknya merencanakan dan membuat program pendampingan bagi kaum muda dengan jangka waktu tertentu.

  2. Untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, di antaranya dari Pastor Paroki, para Dewan Paroki, pengurus Wilayah maupun Lingkungan, para katekis, guru agama, serta dari para orang tua sehingga pendampingan bagi kaum muda dapat berjalan secara optimal.

  3. Berkaitan dengan tema, materi, metode, maupun sarana yang akan digunakan dalam pertemuan pendalaman iman/pendampingan perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi oleh kaum muda, sehingga yang akan disampaikan sungguh-sungguh berguna bagi kaum muda dalam mengenal kehidupan mereka, sehingga mereka semakin termotivasi untuk semakin terlibat

DAFTAR PUSTAKA

  Adisusanto. (2000). Katekese Sebagai Pendidikan Iman. Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat.

  Alkitab Deuterokanonika . (2004). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

  Banawiratma, J. B. (1989). Baptis, Krisma, Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. Bergant, dkk. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Bons-Storm, M. (2003). Pastoral Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. Grassi, Joseph A. (1989). Perwujudan Ekaristi: Praksis Keadilan dalam Kehidupan Sosial . Yogyakarta: Kanisius.

  Grün, Anselm. (1998). Ekaristi dan Perwujudan Diri. Ende: Nusa Indah Jacobs, Tom. (1996). Misteri Perayaan Ekaristi: Umat Bertanya Tom Jacobs Menjawab . Yogyakarta: Kanisius.

  Keuskupan Agung Semarang. (2008). Berbagi Dua Roti dan Dua Ikan. Yogyakarta: Kanisius.

  

Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici). (2006). Edisi Resmi Bahasa

  Indonesia. (V. Kartosiswoyo, dkk. Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1983). Komisi Kepemudaan KWI. (1997). Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda

Konferensi Wali gereja Indonesia. Jakarta: Komisi Kepemudaan KWI.

____________________ . (1999). Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda (PKPKM).

  Jakarta: Komisi Kepemudaan KWI. Komkat Diosesan Ruteng. (1984). Sakramen Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi . Yogyakarta: Kanisius.

  Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). Lukasik, A. (1991). Memahami Perayaan Ekaristi: Buku Informasi dan Refrensi.

  Yogyakarta: Kanisius. Mangunhardjana, A. M. (1986). Pendampingan Kaum Muda: Sebuah Pengantar.

  Yogyakarta: Kanisius. Martasudjita, E. (1998). Makna Ekaristi bagi Kehidupan Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius.

  _____________________ . (2003). Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgi dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius. _____________________ , dkk. (2009). Bersama Kaum Muda Berdevosi Ekaristi dan Berbagi . Semarang: Komisi Liturgi KAS. Nouwen, Hendri J.M. (1996). Hati Penuh Syukur, Jiwa dan Semangat Ekaristi.

  Yogyakarta: Kanisius.

  

Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Santa Maria Assumpta Gamping. (2008).

  Manuskrip Dewan Paroki Gamping untuk Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Santa Maria, Assumpta, Gamping tahun 2008. Prasetya, L. (2009). Umat Mencintai Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. Shelton, Charles M. (1988). Spiritualitas Kaum Muda: Bagaimana Mengenal dan Mengembangkannya. Yogyakarta: Kanisius.

  Pendidikan Hidup Menggereja untuk Mahasiswa Semester II, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Suharsimi Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Sumarno Ds., M. (2006). Praktek Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik

  Paroki. Diktat Mata Kuliah Pengalaman Lapangan, Pendidikan Agama

  Katolik untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Sutrisno Hadi. (2004). Metodologi Research. Yogyakarta: Andi. Tangdilintin, Phili. (1984). Pembinaan Gereja Muda Visi dan Latihan. Jakarta: Obor. Wibowo Ardhi. (1993). Sakramen Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. Yayasan Komunikasi Bina Kasih.(1980). Tafsir Akitab Masa Kini 3, Matius-Wahyu:

Berdasarkan Fakta-fakta Sejarah Ilmiah dan Alkitabiah . Jakarta: Medio.

  (1) Lampiran 1: Peta Wilayah Paroki Gamping

  33

  6

h. Jumlah umat Katolik pada tanggal 31 Desember 2008 5.123

  ٭ Memiliki surat pernyataan keluar dari Gereja yang dibuat sendiri oleh yang bersangkutan atau oleh otoritas gerejawi.

  GAMPING, YOGYAKARTA Kode Pos : 55295 Telepone : (0274) 798748 Faximile : - E-mail : - 1.

   Perkembangan jumlah umat Katolik selama tahun 2008

  a. Umat Katolik pada tanggal 1 Januari 2008 (sesuai data statistik akhir 2007) 5.040 Penambahan b. Orang yang dibaptis (berdasarkan LB)

  61

  

c. Diterima resmi dari Gereja Kristen (berdasarkan LB) -

  d. Umat yang pindah ke paroki ini

  61 Pengurangan

  e. Umat yang meninggal dunia

  g. Umat yang pindah agama lain secara resmi ٭ -

  f. Umat yang pindah ke paroki lain

2. Perkumpulan pembinaan berbasis paroki Jenis perkumpulan Jumlah kelompok Jumlah anggota Paroki Lingkungan Paroki Lingkungan

  • - - - -
  • - - - -

  (2) Lampiran 2: Statistik Paroki 2008 Keuskupan Agung : Semarang (02) Nama Paroki : ST. MARIA ASSUMPTA GAMPING SLEMAN Tahun berdirinya paroki : 1961 Perkembangan dari paroki : SPM. TAK BERNODA KUMETIRAN Alamat Lengkap : GEREJA ST. MARIA ASSUMPTA, GAMPING RT/RW. 03/15 AMBARKETAWANG POS

  a. Legio Maria - - - -

  b. Kelompok Kitab Suci (KKS) - - - -

  c. Persekutuan Doa (Karismatik, Taize, Kerahiman Ilahi)

  • - - - -

  d. Komunitas Hidup Kristiani (KHK/CLC)

  e. Pembinaan Keluarga (ME, CFC, Pasutri, Pasukris)

  • - - - -

  f. Kelompok Janda (Monika, Worosemedi, dll)

g. Kelompok Lansia - - - -

  h. Koor 2 21 60 420

i. Lektor 1 - 32 -

j. Muda-mudi katolik (Mudika) 1 21 40 315

k. KKMK - - - -

l. Pembinaan Iman Remaja - - - -

m. Pembinaan Iman Anak (PIA)1

  1 4 200 80

n. Putera Altar (PA) 1 - 80 -

o. Lainnya:

  • Jumlah 6 46 412 815

3. Pengelompokan Umat di Paroki St. Maria Assumpta, Gamping

  a. Jumlah umat di Wilayah St. Petrus, Gamping terdiri dari 601 jiwa meliputi: 1) Lingkungan St. Yohanes, Gamping I: 238 jiwa 2) Lingkungan St. Agustinus, Gamping II: 195 jiwa 3) Lingkungan St. Yusuf, Gamping III: 168 jiwa b.

  

Jumlah Umat di Wilayah St. Paulus, Banyuraden terdiri dari 468 jiwa

meliputi: 1) Lingkungan St. Maria Fatima, Demakijo: 200 jiwa 2) Lingkungan St. Ignasius, Kaliabu: 134 jiwa

  3) Lingkungan St. Caecilia, Onggobayan: 131 jiwa

  c. Jumlah Umat di Wilayah St. Mikael, Mejing terdiri dari 693 jiwa meliputi: 1) Lingkungan St. Antonius, Mejing I: 250 jiwa 2) Lingkungan St. Stefanus, Mejing II: 234 jiwa 3) Lingkungan St. Mateus, Mejing III: 208 jiwa d.

  

Jumlah Umat di Wilayah St. Yosef, Sidoarum terdiri dari 342 jiwa meliputi:

1) Lingkungan St. Paulus, Sidoarum: 127 jiwa 2) Lingkungan St. Thomas Aquinas, Sidoarum: 110 jiwa 3) Lingkungan St. Yustinus Martir, Sidoarum: 105 jiwa e.

  

Jumlah Umat di Wilayah St. Aloysius Gonzaga, Gesikan terdiri dari 660 jiwa

meliputi: 1) Lingkungan St. Anna, Gesikan I: 143 jiwa 2) Lingkungan St.Brigitta, Gesikan II: 306 jiwa 3) Lingkungan St. Veronica, Gesikan III: 211 jiwa (3)

  f. Jumlah Umat di Wilayah St. Maria, Gancahan terdiri dari 1037 jiwa meliputi: 1) Lingkungan St. Agustinus, Gancahan I: 205 jiwa 2) Lingkungan St. Petrus, Gancahan II: 338 jiwa 3) Lingkungan St. Maria, Gancahan III: 336 jiwa 4) Lingkungan St. Yohanes Babtista, Sidokarto: 158 jiwa g. Jumlah Umat di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur terdiri dari 1239 jiwa, meliputi:

  1) Lingkungan St. Fransiskus Xaverius, Sumber Gamol: 143 jiwa 2) Lingkungan St. Yusuf, Gejawan Pasekan: 154 jiwa 3) Lingkungan St. Teoderikus, Jatimas: 153 jiwa 4) Lingkungan St. Antonius, Jatisawit: 224 jiwa 5) Lingkungan St. Margareta, Gejawan Puri: 102 jiwa 6) Lingkungan St. Gregorius, Nyamplung I: 238 jiwa

7) Lingkungan St. Ludovikus, Nyamplung II: 225 jiwa

  

(4)

  

(5)

Lampiran 3: Pedoman Wawacara Tingkat Paroki

  

1. Secara geografis Paroki St. Maria Assumpta, Gamping terletak di Wilayah mana?

  2. Batas-batas Wilayahnya mana saja yang mengelilinginya?

  

3. Secara keseluruhan berapa luas Wilayah Paroki St. Maria Assumpta, Gamping?

  

4. Berdasarkan luas yang ada, Paroki St. Maria, Assumpta dibagi dalam berapa

Wilayah dan berapa lingkungan?

  

5. Berapa jumlah keseluruhan umat Paroki St. Maria Assumpta dan bagaimana

perkembangan jumlah umat 3 (tiga) tahun terakhir (2006-2008)? Berapa prosentasi pria, wanita, dan kaum muda dari jumlah umat yang ada?

  

6. Berapa prosen jumlah umat yang bekerja sebagai petani, PNS, pegawai/karyawan

swasta, dll?

  

7. Berapa prosentase jumlah umat yang berpendidikan tingkat SD, SMP,

SMA/SMK, PT?

  

8. Berapa jumlah kaum muda di Paroki St. Maria Assumpta, Gamping yang tercatat

dari tahun 2008?

  

9. Apakah kaum muda di Paroki St. Maria Assumpta, Gamping mendapat

pendampingan dari pihak gereja?

  

10. Pendampingan apa saja yang sudah diberikan dari pihak Gereja kepada kaum

muda selama ini? Dan pendampingan itu dilaksanakan sebulan berapa kali pertemuan?

  Lampiran 4: Hasil Wawancara Tingkat Paroki

A. Rangkuman Hasil Wawancara

  1. Responden: ¾ Romo Paroki sekaligus Ketua Dewan Paroki St. Maria Assumpta, Fransiskus Asisi Suntoro, Pr. ¾ Sekretaris Paroki, Bapak Mursito. ¾ Anggota Dewan Paroki, Bapak FX. Supriyadi

  2. Waktu Pelaksanaan: 20 September sampai 11 November 2009

  3. Tempat Pelaksanaan: gereja, sekretariat Paroki

B. Pokok-pokok Pertanyaan dan Rangkuman Hasil Jawaban 1.

   Secara geografis paroki St. Maria Assumpta, Gamping terletak di Wilayah mana? Jawab: Gereja Paroki St. Maria Assumpta Gamping terletak di Dusun Gamping Tengah, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten

  Sleman, DIY. Terletak ±5 km sebelah barat pusat kota Yogyakarta.

  2. Batas-batas Wilayah mana saja yang mengelilinginya? Jawab:

  • Batas-batas teritorial Paroki St. Maria Assumpta Gamping meliputi: sebelah Utara : Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati sebelah Timur : Paroki Hati St. Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran sebelah Selatan : Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran sebelah Barat : Paroki St. Theresia Sedayu dan Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu.
  • Batas-batas Wilayah Paroki Gamping meliputi: sebelah Utara : jalan Godean sebelah Timur : sungai Bedog sebelah Selatan : jalan Wates sebelah Barat : sungai Konteng.

  3. Secara keseluruhan berapa luas Wilayah paroki St. Maria Assumpta, Gamping? Jawab: luas Wilayah Paroki St. Maria Assumpta, Gamping mengacu pada wilayah kecamatan Gamping yakni seluas 29,709,000 Ha. Luas lahan gereja seperti saat ini, yaitu tanah seluas 3050 m2, berbentuk segitiga siku-siku, dengan jalan raya depan gereja pada sisi miringnya.

  4. Berdasarkan luas yang ada, Paroki St. Maria Assumpta dibagi dalam berapa Wilayah dan berapa Lingkungan? Jawab: berdasarkan luas Wilayah Gereja saat ini, maka Paroki St. Maria Assumpta Gamping di bagi dalam 7 Wilayah dan 26 Lingkungan.

  Pembagian itu berdasarkan letak daerah.

  

(6)

  5. Berapa jumlah keseluruhan umat Paroki St. Maria Assumpta dan bagaimana perkembangan jumlah umat 3 (tiga) tahun terakhir (2006-2008)? Berapa prosentasi laki-laki dan perempuan, dari jumlah umat yang ada?

  Jawab: Sekretaris Paroki memberikan table data seperti di bawah ini Tahun Laki- Prosentase Perempuan Prosentase Jumlah laki (%) (%) keseluruhan

  

2006 1.755 36% 3.120 64% 4.875

2007 2.056 40,79% 2.984 59,21% 5.040

2008 2.387 46,59% 2.736 53,41% 5.123

  Dari table data di atas dapat disimpulkan bahwa penambahan jumlah umat dari tahun 2006-2007 sebanyak 165 jiwa, sedangkan dari tahun dari tahun 2007-2008 sebanyak 83 jiwa.

  6. Berapa prosentase jumlah umat yang bekerja sebagai petani, PNS, pegawai/karyawan swasta, dll? Jawab: sekretaris Paroki memberikan table data seperti di bawah ini

  Tahun 2006 Prosentase 2007 Prosentase 2008 Prosentase Pekerjaan (%) (%) (%) PNS 268 5,5% 271 5,38% 376 7,34%

Karyawan 1979 40,59% 1907 37,84% 2251 43,94%

swasta

Lain-lain 1310 26,87% 1662 32,98% 1396 27,25%

Jumlah 3557 68,01% 3840 76,20% 4023 78,53%

7.

   Berapa prosentase jumlah umat yang berpendidikan tingkat SD, SMP, SMA/SMK, PT? Jawab: Sekretaris Paroki memberikan table data seperti di bawah ini

  Tahun 2006 Prosentase 2007 Prosentase 2008 Prosentase Pendidikan (%) (%) (%) SD 336 6,89% 313 6,21% 291 5,68% SMP

  83 1,70% 136 2,7% 152 2,97% SMA/SMK 219 4,49% 227 4,50% 249 4,86% PT 107 2,19% 134 2,66% 201 3,92% Jumlah 745 15,27% 810 16,07% 893 17,43%

  

(7)

  8. Berapa jumlah kaum muda di Paroki St. Maria Assumpta, Gamping yang tercatat pada 2008?

Jawab: Jumlah kaum muda tahun 2008 yang tercatat sebanyak ± 531 orang.

  9. Apakah kaum muda di Paroki St. Maria Assumpta, Gamping mendapat pendampingan dari pihak Gereja? Jawab: Kaum muda di Paroki St. Maria Assumpta, Gamping mendapat pendampingan dari pihak Gereja tetapi peminatnya belum begitu besar.

  Pendampingan yang di adakan oleh pihak Gereja antara lain seperti koor dan lektor.

  10. Pendampingan apa saja yang sudah diberikan dari pihak Gereja kepada kaum muda selama ini? Dan pendampingan itu dilaksanakan sebulan berapa kali pertemuan?

  Jawab: Pendampingan yang diberikan oleh pihak Gereja selama ini seperti koor/mazmur dan lektor. Pendampingan diadakan seminggu sekali, koor/mazmur setiap hari Selasa pukul 16.00-18.00 WIB, lektor setiap hari Kamis pukul 19.00-21.00.

  

(8)

  (9) Lampiran 5: Peta Desa Balecatur

  Lampiran 6: Pedoman Wawancara Tingkat Wilayah

  A. Gambaran Umum Situasi Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  1. Secara geografis Wilayah Brayat Minulya terletak di kelurahan mana?

  2. Batas-batas Wilayahnya mana saja yang mengelilinginya?

  

3. Berdasarkan luas yang ada, Wilayah Brayat Minulya dibagi dalam berapa

Lingkungan?

  

4. Berapa jumlah keseluruhan umat di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur dan

bagaimana perkembangan jumlah umat 3 (tiga) tahun terakhir (2006-2008)? Berapa prosentasi pria, wanita, dan kaum muda dari jumlah umat yang ada?

  

5. Berapa prosentase jumlah umat yang bekerja sebagai petani, PNS,

pegawai/karyawan swasta, dan lain-lain 3 (tiga) tahun terakhir (2006-2008)?

  

6. Berapa prosentase jumlah umat yang berpendidikan tingkat SD, SMP,

SMA/SMK, PT 3 (tiga) tahun terakhir (2006-2008)?

B. Situasi Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  

1. Berapa jumlah kaum muda yang ada di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur dari

tahun 2006-2008?

2. Bagaimana prosentasi perkembangan jumlah kaum muda dari tahun 2006-2008?

  

3. Berapa jumlah kaum muda yang tingkat pendidikannya SMP, SMA/SMK dan PT

dari tahun 2006-2008?

  

4. Berapa jumlah kaum muda yang sudah bekerja sebagai PNS, pegawai/karyawan

swasta, lain-lain dari tahun 2006-2008?

  

5. Apakah kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur sudah mendapatkan

pendampingan? Bagaimana bentuk pendampingan itu?

C. Bentuk-bentuk Keterlibatan Kaum Muda dalam Hidup Menggereja 1. Dalam 1 (satu) minggu berapa kali Perayaan Ekaristi diadakan di Paroki St.

  Maria Assumpta, Gamping?

  

2. Dalam 1 (satu) bulan berapa kali Perayaan Ekaristi diadakan di Wilayah dan di

Lingkungan?

  

3. Berapa jumlah umat yang hadir dalam setiap kali Perayaan Ekaristi baik di

Paroki maupun di Wilayah/Lingkungan?

  

4. Dalam Perayaan Ekaristi berapa jumlah kaum muda yang terlibat (seperti

menjadi petugas koor, lektor, dan petugas-petugas lainnya)?

  

5. Apakah kaum muda yang ada di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur ada yang

terlibat sebagai pengurus baik di Paroki maupun di Wilayah/Lingkungan? Bila ada, sebagi pengurus dalam bidang apa dan tingkat mana? Mengapa mau terlibat sebagai pengurus?

  

6. Selain sebagai pengurus di Paroki maupun di Wilayah/Lingkungan, apakah ada

juga yang terlibat dalam lingkup masyarakat luas? Bila ada, berperan sebagai apa? Mengapa mau terlibat dalam masyarakat?

(10)

  • Utara : dusun Prenggan, kelurahan Sidokarto • Timur : dusun Depok, kelurahan Ambarketawang • Selatan : dusun Slarong, kelurahan Bangunjiwo • Barat : dusun Berot, kelurahan Argomulyo 3.

  

(11)

Lampiran 7: Hasil Wawancara Tingkat Wilayah Pelaksanaan:

  1. Responden: ¾ Ketua Wilayah Brayat Minulya, Bapak Riyadi ¾ Wakil Ketua Brayat Minulya, Bapak FX. Supriyadi ¾ Sekretaris Wilayah Brayat Minulya, Bapak Agus

  2. Waktu Pelaksanaan: 25 September, 15 Oktober dan 11 November 2009

  3. Tempat Pelaksanaan: Kediaman masing-masing responden

  A. Gambaran Umum Situasi Wilayah Brayat Minulya, Balecatur 1.

   Secara geografis Wilayah Brayat Minulya terletak di kelurahan mana? Jawab: Wilayah Brayat Minulya adalah bagian dari Gereja Maria Assumpta yang terletak di kelurahan Balecatur, kecamatan Gamping, kabupaten Sleman.

2. Batas-batas wilayah mana saja yang mengelilinginya?

  Jawab: batas-batas kelurahan Balecatur adalah sebagai berikut:

   Berdasarkan luas yang ada, Wilayah Brayat Minulya dibagi dalam berapa Lingkungan? Jawab: Wilayah Brayat Minulya terbagi ke dalam 7 Lingkungan yakni: Lingkungan St. Fransiskus Xaverius, Sumber Gamol: 143 jiwa;

  Lingkungan St. Yusuf, Gejawan Pasekan: 154 jiwa; Lingkungan St. Teoderikus, Jatimas: 153 jiwa; Lingkungan St. Antonius, Jatisawit: 224 jiwa; Lingkungan St. Margareta, Gejawan Puri: 102 jiwa; Lingkungan St.

  Gregorius, Nyamplung I: 238 jiwa; Lingkungan St. Ludovikus, Nyamplung II: 225 jiwa.

  4. Berapa jumlah keseluruhan umat di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur, dan bagaimana perkembangan jumlah umat 3 (tiga) tahun terakhir (2006-2008)? Berapa prosentasi laki-laki dan perempuan dari jumlah umat yang ada? Jawab: Ketua dan sekretaris Wilayah memberikan tabel data di bawah ini

  Tahun Laki- laki Prosentase (%)

  Perempuan Prosentase (%) Jumlah keseluruhan

  2006 485 40,32% 718 59,68% 1203 2007 502 41,22% 716 58,78% 1218 2008 518 41,81% 721 58,19% 1239 Jumlah keseluruhan umat di Wilayah Brayat Minulya sebanyak 1239 umat.

  5. Berapa prosentase jumlah umat yang bekerja sebagai petani, PNS, pegawai/karyawan swasta, dan lain-lain, dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun terakhir (2006-2008)? Jawab: Ketua dan sekretaris Wilayah memberikan tabel data di bawah ini

  Tahun 2006 Prosentase 2007 Prosentase 2008 Prosentase Pekerjaan (%) (%) (%)

Petani 421 34,99% 402 33,00% 388 31,32%

PNS 86 7,06% 86 7,06% 89 7,18%

  Karyawan 308 25,60% 327 26,85% 340 27,44% swasta

Lain-lain 152 12,64% 163 13,38% 157 12,67%

Jumlah 967 57,25% 981 80,29% 974 78,61%

  6. Berapa prosentase jumlah umat yang berpendidikan tingkat SD, SMP, SMA/SMK, PT selama 3 (tiga) tahun terakhir (2006-2008) ? Jawab: Ketua dan sekretaris Wilayah memberikan tabel data di bawah ini

  

Tahun 2006 Prosentase 2007 Prosentase 2008 Prosentase

Pendidikan (%) (%) (%) SD 127 10,56% 111 9,11% 116 9,36% SMP 169 14,05% 172 14,12% 181 14,61%

SMA/SMK 208 17,29% 221 18,14% 237 19,13%

PT 84 6,98% 93 7,64% 103 8,31% Jumlah 588 48,88% 597 49,01% 637 51,41%

B. Situasi Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur 1.

   Berapa jumlah kaum muda yang ada di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur dari tahun 2006-2008? Jawab: Ketua dan sekretaris Wilayah memberikan tabel data di bawah ini

  Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah 2006 48 81 129 2007 57 61 118 2008 50 52 102

  2. Bagaimana prosentasi perkembangan jumlah kaum muda dari tahun 2006-2008? Jawab: Jumlah kaum muda di wilayah Brayat Minulya mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penurunan kaum muda dari tahun 2006-

2007 mencapai 12,98%, dan dari tahun 2007-2008 mencapai 16,32%.

  (12) Hal ini disebabkan karena banyak kaum muda yang setelah lulus sekolah pergi merantau ke luar kota/daerah. Salain itu disebabkan juga ada beberapa kaum muda yang setelah lulus SMA lalu melanjutkan studi ke luar kota, misalnya Jakarta, Malang, dan lain-lain.

  3. Berapa jumlah kaum muda yang tingkat pendidikannya SMP, SMA/SMK dan PT dari tahun 2006-2008? Jawab: Ketua dan sekretaris Wilayah memberikan tabel data di bawah ini

  Tahun 2006 2007 2008 Pendidikan SMP 11

  9

  6 SMA/SMK 53

  55

  42 PT 22

  35

  40 Jumlah 86 99 88 4.

   Berapa jumlah kaum muda yang sudah bekerja sebagai PNS, karyawan swasta, dan lain-lain dari tahun 2006-2008? Jawab: Ketua dan sekretaris Wilayah memberikan tabel data di bawah ini

  Tahun 2006 2007 2008 Pekerjaan PNS 2

  3

  3 Karyawan swasta

  53

  12

  8 Lain-lain 31 4

  3 Jumlah 86 19 14 5.

   Apakah kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur sudah mendapatkan pendampingan? Bagaimana bentuk pendampingan itu?

Jawab: Kaum muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur belum diadakan

secara teratur dan kesinambungan. Pendampingan bagi kam muda di adakan bila kaum muda dipercaya menjadi panitia kegiatan gerejani, seperti menjadi panitia pesta Natal atau Paskah di Wilayah maupun di Lingkungan, namun setelah acaranya selesai maka pendampingan juga berakhir. Pendampingan yang ada seperti doa bersama di Lingkungan kurang begitu diminati kaum muda karena selalu memakai bahasa Jawa dan sifatnya yang monoton.

C. Bentuk-bentuk Keterlibatan Kaum Muda dalam Hidup Menggereja 1.

   Dalam 1 (satu) minggu berapa kali Perayaan Ekaristi diadakan di Paroki St.

  Maria Assumpta, Gamping? Jawab: Perayaan Ekaristi di Paroki St. Maria Assumpta, Gamping diadakan sebanyak 4 kali dalam seminggu:

  (13)

  • Sabtu sore pkl 17.00-18.30 WIB
  • Minggu I : 05.30-06.45 WIB
  • Minggu II: 07.30-09.00 WIB
  • Minggu III: 17.30-18.45 WIB Dan ditambah dengan misa harian, kecuali hari Sabtu misa harian libur.
  • Pertemuan mudika di adakan seminggu sekali setiap hari selasa malam di gereja, rata-rata setiap kali pertemuan yang hadir 30 orang.
  • • Anjangsana diadakan sebulan sekali, bergilir di tiap-tiap Wilayah.

  

(14)

  2. Dalam 1 (satu) bulan berapa kali Perayaan Ekaristi diadakan di Wilayah/di Lingkungan? Jawab: Perayaan Ekaristi di Wilayah diadakan sebulan sekali, setiap Minggu ke 4 sedangkan yang di Lingkungan diadakan 2 bulan sekali.

  3. Berapa jumlah umat yang hadir dalam setiap kali Perayaan Ekaristi, baik di Paroki maupun di Wilayah/Lingkungan? Jawab: Umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi di Paroki 4 kali misa sebanyak ± 2400-2550 orang. Perayaan Ekaristi di Wilayah diadakan di Balai Desa

  Umat yang hadir sebanyak ± 250-300 orang,. Jumlah umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi di Lingkungan sebanyak ± 50-75 orang.

  4. Dalam Perayaan Ekaristi berapa jumlah kaum muda yang terlibat (koor, lektor, dan petugas-petugas lainnya)? Jawab: Kaum muda yang terlibat dalam Perayaan Ekaristi: Koor: 5-15 orang, tiap Lingkungan.

  Anggota koor Paroki berjumlah 60 orang. Lektor: 32 orang (dlm bentuk paguyuban)

  5. Apakah kaum muda yang ada di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur ada yang terlibat sebagai pengurus, baik di Paroki maupun di Wilayah/Lingkungan? Bila ada, sebagai pengurus dalam bidang apa dan tingkat mana? Mengapa mau terlibat sebagai pengurus? Jawab: Kaum muda di Wilayah Brayat Minulya ada beberapa yang terlibat sebagai pengurus di Paroki dalam bidang liturgi, bidang kewirausahaan, bidang pewartaan (masing-masing bidang dipegang oleh 2 orang). Di tingkat Wilayah kaum muda menjadi pengurus dalam bidang

pewartaan dan liturgi, masing-masing dipegang oleh 2 orang.

Di tingkat Lingkungan sebanyak 6 orang kaum muda menjadi pengurus dalam bidang pewartaan, liturgi, dan sosial. April 2009 sebanyak 30 orang mudika menjadi panitia pesta Paskah.

  Pada Malam Natal 2009 sebanyak 25 orang mudika menjadi petugas koor. Kaum muda rela terlibat dalam kepengurusan tersebut, karena mereka mempunyai rasa dan semangat untuk ikut memajukan Paroki, Wilayah maupun Lingkungannya, selain itu mereka juga ingin mencari pengalaman baru dan sekaligus ingin berlatih bekerjasama dalam tim, dan berlatih berorganisasi.

  6. Selain sebagai pengurus di Paroki maupun di Wilayah/Lingkungan, apakah kaum muda ada juga yang terlibat dalam lingkup masyarakat luas? Bila ada, berperan sebagai apa? Mengapa mau terlibat dalam masyarakat? Jawab: Selain sebagai pengurus di Paroki maupun di Wilayah/Lingkungan kaum muda ada juga yang terlibat sebagai anggota/pengurus karangtaruna.

  Dalam masyarakat, kaum muda selalu diikutsertakan dalam mempersiapkan acara peringatan kemerdekaan RI, dan acara kegiatan gotong royong di lingkungan. Kaum muda yang terlibat dalam gotong royong sebanyak 5-10 orang. Kaum muda yang mau terlibat dalam lingkup masyarakat luas karena kaum muda memiliki kesadaran bahwa mereka juga merupakan bagaian dari masyarakat, sehingga mereka mempunyai kewajiban untuk turut terlibat dalam masyarakat tersebut.

  

(15)

  (16)

Lampiran 8: Daftar nama Kaum Muda di Wilayah Brayat Minulya, Balecatur

  11. Frater 14-04-1994 SMA

  5. Tias SMA

  6. Rita Perguruan Tinggi

  7. Riyan 09-05-1989 Perguruan Tinggi

  8. Retno 20-09-1989 Perguruan Tinggi

  9. Wisnu SMP

  10. Nova 04-07-1994 SMA

  12. Adi 01-01-1996 SMP

  3. Dian 04-07-1992 SMA

  13. Denny SMA

  14. Martha Suli Winarsih SMA

  15. Arin 17-11-1991 SMA

  16. Bangkit Saputro SMA

  C. LINGKUNGAN: FX. SUBER GAMOL No Nama/nama panggilan Tgl. Lahir Pendidikan

  1. Maria Eka Dewi Natalia 30-12-1984 Kerja

  2. Hayuning Dwi Wulansari 05-02-1988 Perguruan Tinggi

  4. Dita SMA

  2. Bowo 19-02-1992 SMA

  A. LINGKUNGAN: NYAMPLUNG I & II No Nama/nama panggilan Tgl. Lahir Pendidikan

  7. Ofia Chris 20-10-1987 Kerja

  1. Bernard Agus. P 18-08-1991 SMA

  2. Monica Novia. K 18-11-1992 SMK

  3. Indriyanto Nugroho 11-06-1988 Kerja

  4. Roswita Purwani Astuti 30-03-1987 Perguruan Tinggi

  5. Matheus Prima 17-09-1992 SMK

  6. Fransiska Jenny Mawar 20-08-1992 SMK

  8. Laurentius Dimas Perguruan Tinggi

  1. Satrio Charis Prasojo 04-07-1988 Kerja

  9. Maria Putri Eka Herawati Perguruan Tinggi

  10. Agustinus Dwi. H 27-07-1987 Perguruan Tinggi

  11. Sugih Manungku SMA

  12. Veronica Sephia Perguruan Tinggi

  13. Ari Wibowo 15-07-1987 Perguruan Tinggi

  14. T. Oktaviana Dwi 10-10-1994 SMA

  B. LINGKUNGAN: ST. MARGARETHA, GEJAWAN PURI No Nama/nama panggilan Tgl. Lahir Pendidikan

  3. Diani Tri Ambarwati 17-02-1991 Perguruan Tinggi

V. Dianta Nugraha P 13-01-1990 Perguruan Tinggi

B. Realino Cresendo 03-07-1991 Perguruan Tinggi

  6. Adhi Setiawan 13-06-1989 Perguruan Tinggi

  29. Puri Kerja

  D. LINGKUNGAN: ST. YUSUF, GEJAWAN-PASEKAN No Nama/nama panggilan Tgl. Lahir Pendidikan

  1. Cherstandi Yuana Perguruan Tinggi

  2. Desi Astuti 01-12-1991 SMA

  3. Reza Hariguesia 20-05-1994 SMA

  4. Ririn Endah 25-03-1992 SMA

  5. Agatha Ratna .W 22-02-1992 SMA

  7. Y. Widiyanto Nugroho 19-01-1984 Perguruan Tinggi

  27. Martinus Eka Noviawan 08-10-1988 Perguruan Tinggi

  8. FX. Okky Sulistyawan 15-02-1989 Kerja

  9. Hendrika Fifin 19-07-1985 Perguruan Tinggi

  10. Krisnamurti 06-04-1985 Kerja

  11. Sigit Zainuddin 02-09-1987 Kerja

  12. Joko SMK

  13. Rosa de Marielex 26-12-1992 SMK

  14. FX. Tri Haryanto 04-05-1986 Kerja

  28. Sari Perguruan Tinggi

  (17)

  4. Catur Priyanto 05-04-1989 Kerja

  13. Natalia Riza Putri. A 18-06-1988 Perguruan Tinggi

  5. Bison Febrianto 20-02-1991 Kerja

  6. Natalia Eka Ratnasari 31-12-1984 Kerja

  7. Asteria Desi Kartikasari SMA

  8. Agus SMP

  9. Ari SMP 10.

  11. R. Cahya Nugroho Jati 05-01-1992 SMA

  12. Felix Teguh Nugroho Jati 16-02-1994 SMA

  14. Teodorus Septiandhito 25-09-1989 Perguruan Tinggi

  25. Hari Perguruan Tinggi

  15. Agnes Riantika. D 15-02-1989 Perguruan Tinggi

  16. Felix Krisma Argiyanto 25-03-1992 SMA

  17. M. Fitria Nurcahyanti 03-03-1995 SMA

  18. Evi SMA

  19. Caecilia Galuh Permani 28-09-1992 SMA

  20. Ch. Kinanthi Ariningsih 12-07-1994 SMA

  22. Martinus Bintang Agung 13-04-1989 Perguruan Tinggi 23.

  24. Caecilia Santi Praharsiwi 22-08-1993 SMA

  26. Dewan SMP

  (18)

  15. Yohana Fransiska Desy Perguruan Tinggi

  13. Lian Perguruan Tinggi

  12. Fika Perguruan Tinggi

  11. Pudhi Perguruan Tinggi

  10. Deby SMA

  9. Fando SMA

  8. Nita SMA

  7. Sinta Perguruan Tinggi

  6. Lisa Perguruan Tinggi

  5. Andri Perguruan Tinggi

  4. Agal SMA

  3. K. Sidha Malirang Perguruan Tinggi

  2. Antonius Sigit Tulus P. 05-09-1990 Perguruan Tinggi

  16. Sylvia Nungky Rorong SMA F.LINGKUNGAN: ST. TEODERIKUS, JATIMAS No Nama/nama panggilan Tgl. Lahir Pendidikan 1.

  14. Apridamai Sagita. C Kerja

  E. LINGKUNGAN: ST. ANTONIUS, JATISAWIT No Nama/nama panggilan Tgl. Lahir Pendidikan

  13. Elisabeth Meda Canti Perguruan Tinggi

  12. Fransiska Inda. L Kerja

  11. Bernadeta Vivina. S Kerja

  10. Angela Destiati SMA

  9. Agnes Lintang SMA

  8. Valentina Karisma SMA

  7. Al. Ganis Indra Kumara Perguruan Tinggi

  6. Catharina Dwi. H Perguruan Tinggi

  5. Adreas Tyto Octa. P SMA

  4. Maximillianus Alvinindra Perguruan Tinggi

  3. Ig. Dicky Kurniawan SMA

  2. M. Dwi Herpri Yogi. B Perguruan Tinggi

  1. Immanuel Thea Garendra Perguruan Tinggi

A. J. Windra Wardana 12-06-1984 Perguruan Tinggi

  Lampiran 9: Formulir Kuesioner

KUESIONER PENELITIAN

PENGARUH PERAYAAN EKARISTI

BAGI KETERLIBATAN KAUM MUDA

DI WILAYAH BRAYAT MINUYA BALECATUR PAROKI SANTA MARIA

ASSUMPTA GAMPING YOGYAKARTA

  Petunjuk Pengisian:

Bacalah dulu pertanyaan dengan teliti dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah

ini dengan jujur sesuai dengan keadaan Anda saat ini.

  A. IDENTITAS RESPONDEN

  1. Jenis kelamin: L/P

  2. Usia saat ini:

  a. 16-17 tahun

  b. 18-19 tahun

  c. 20-21 tahun

  d. > 22 tahun

  3. Status Pendidikan saat ini:

  a. SMA/SMK

  c. Bekerja

  b. Mahasiswa

  d. sedang mencari pekerjaan e. ....................

  4. Lingkungan asal: St. FX. Sumber Gamol, St. Yusuf, Gejawan-Pasekan; St. Teoderikus, Jatimas; St. Antonius, Jatisawit; St. Margareta, Gejawan Puri; St. Gregorius, Nyamplung I; St. Ludovikus, Nyamplung II B. PEMAHAMAN KAUM MUDA TERHADAP PERAYAAN EKARISTI

  5. Menurut Anda apa yang dimaksud dengan Perayaan Ekaristi itu?

  a. Peringatan akan kebersamaan dengan Yesus Kristus

  b. Ungkapan rasa syukur akan seluruh cinta kasih dari Allah

  c. Puncak perayaan karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa d. Sakramen paling utama dalam rupa roti dan anggur

e. .......................................................................................................................

  6. Berapa kali Anda mengikuti Perayaan Ekaristi dalam satu bulan?

  a. 2 kali

  b. 3 kali

  c. 4 kali

  d. > 4 kali e. ................

  7. Menurut Anda apa yang paling menarik dalam mengikuti Perayaan Ekaristi?

  a. Koor

  b. Homili / Kotbah

  c. Bacaan Kitab Suci

  d. Seluruh dari rangkaian Perayaan Ekaristi itu e. ............................................................................................................................

  8. Tujuan apa yang ingin Anda peroleh dengan mengikuti Perayaan Ekaristi?

  a. Supaya banyak kenalan

  b. Ingin membangun rasa kebersamaan dalam Gereja dalam menanggapi karya Allah c. Untuk memperkembangkan iman Kristiani agar menjadi manusia yang beriman dewasa d. Memenuhi kewajiban sebagai umat Kristiani

e. ........................................................................................................................

  

(19)

  C. KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA

  9. Menurut Anda, apa yang dimaksud dengan hidup menggereja?

  a. Panggilan bagi umat beriman dalam mewujudkan tanggungjawab dalam Gereja b. Semua kegiatan rohani seperti: doa bersama di lingkungan, Pendalaman Iman dan Kitab Suci, Rekoleksi yang diadakan oleh Gereja c. Keterlibatan dalam Perayaan Liturgi

  d. Keterlibatan dalam semua bidang, baik dalam lingkup Gereja muapun dalam lingkup masyarakat luas

e. ........................................................................................................................

  10. Berdasarkan pengalaman Anda, apa peranan kaum muda dalam Gereja?

  a. Sebagai generasi penerus pewarta Kabar Gembira

  

b. Sebagai penggerak proses pertumbuhan dan perkembangan Gereja itu sendiri

  c. Sebagai pendukung dan pelaksana setiap kegiatan menggereja

  d. Sebagai pilar dan jantung Gereja

e. ........................................................................................................................

  

11. Mengapa Anda mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan baik dalam lingkup Gereja

maupun dalam masyarakat? a. Karena diajak teman

  b. Karena disuruh orang tua

  c. Pengen tambah teman

  d. Pengen cari pengalaman dan tambah pengetahuan

e. ........................................................................................................................

  12. Bagaimana pandangan Anda tentang keterlibatan kaum muda selama ini?

  a. Tidak tahu, karena saya sendiri kurang terlibat

  b. Masih terlalu sedikit kaum muda yang mau terlibat

  c. Tidak pasti tergantung jenis kegiatan dan acaranya

  d. Cukup lumayan karena banyak kaum muda yang mau terlibat

e. .......................................................................................................................

  

13. Menurut Anda, apakah perlu diadakan pendampingan agar kaum muda semakin

mau terlibat dalam semua kegiatan baik dalam gereja maupun dalam masyarakat?

  a. Perlu

  b. Perlu sekali c. Terserah d. Tidak Perlu e. ............

  14. Bentuk kegiatan macam apa yang diharapkan oleh kaum muda saat ini?

  a. Kegiatan anjangsana

  b. Pendalaman iman dan Kitab Suci

  c. Doa bersama

  d. Rekoleksi/Retret

e. ........................................................................................................................

  

D. HUBUNGAN EKARISTI DALAM HIDUP MENGGEREJA KAUM MUDA

  

15. Apakah setelah Anda mengikuti Ekaristi, Anda semakin termotivasi untuk

semakin terlibat dalam kehidupan menggereja?

(20)

  

(21)

  a. Ya tentu saja

  c. Belum sama sekali

  b. Belum

  

20. Sebagai kaum muda Katolik yang baik, apakah Anda sudah menunjukkan sikap

hidup menggereja, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat? a. Sudah

  d. Melaksanakannya, agar tidak dibilang pemalas

e. ……………………………………………………………………………..

  b. Melaksanakannya dengan sadar, tulus, dan penuh tanggungjawab sebagai anggota Gereja, sehingga iman saya akan Yesus Kristus semakin berkembang c. Melaksanakannya, tapi kadang-kadang saja

  a. Melaksanakannya, karena saya bagian dari warga Gereja Katolik

  

19. Bagaimana sikap Anda terhadap hidup menggereja sebagai kaum muda Katolik?

  d. Bukan sama sekali e. ......................

  c. Tidak tahu

  b. Mungkin saja

  

18. Menurut pendapat Anda, apakah keterlibatan dalam keluarga, lingkungan, paroki,

maupun dalam masyarakat merupakan bagian dari penghayatan Ekaristi yang diwujudkan dalam hidup menggereja?

  a. Ya tentu saja, karena hidup menggereja merupakan bagian dari tugas umat beriman b. Ya ikut terlibat tapi bila ada kegiatan yang besar saja

  d. Tidak setuju e. .................

  c. Kurang setuju

  b. Setuju

  a. Sangat setuju

  

17. Melaksanakan Perayaan Ekaristi secara rutin, dapat membantu kaum muda dalam

memperkembangkan iman dan meningkatkan keterlibatan hidup menggereja.

  d. Pengurus KarangtarunA

e. .......................................................................................................................

  c. Pengurus Mudika/OMK

  b. Kelompok doa

  a. Kelompok paduan suara

  16. Kegiatan hidup menggereja apa yang ada ikuti saat ini?

  c. Ya tentu saja, karena semakin terlibat dalam semua kegiatan dapat semakin memperkembangkan iman kita d. Tidak, karena Perayaan Ekaristi sudah cukup bagi saya

e. ........................................................................................................................

  d. Kadang-kadang e. .....................

  Lampiran 10 : Perjamuan Malam Terakhir    

       

Dokumen baru

Download (135 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh perayaan ekaristi terhadap keterlibatan umat dalam hidup menggereja di stasi pusat Paroki Salib Suci Nanga Tebidah Kalimantan Barat.
2
16
124
Peranan pendampingan sakramen penguatan bagi kaum muda dalam keterlibatan hidup menggereja di Paroki Santa Lidwina Bandar Jaya Lampung Tengah.
3
38
161
Peranan lagu rohani ekaristi dalam meningkatkan pemaknaan perayaan ekaristi bagi kaum muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru.
0
3
146
Penghayatan spiritualitas keterlibatan umat berinspirasi pada Santa Maria dalam hidup menggereja di Paroki Santa Maria Kota Bukit Indah Purwakarta.
0
0
189
Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Petrus Sungai Kayan Keuskupan Tanjung Selor Kalimantan Utara.
1
43
171
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.
0
3
159
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda.
6
31
156
Pendampingan iman orang muda sebagai upaya meningkatkan keterlibatan hidup menggereja orang muda Katolik Paroki Kristus Raja Barong Tongkok, Kalimantan Timur
1
1
111
Pengaruh perayaan ekaristi terhadap keterlibatan umat dalam hidup menggereja di stasi pusat Paroki Salib Suci Nanga Tebidah Kalimantan Barat
1
1
122
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari
2
17
157
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda
2
2
154
Upaya inovasi pelaksanaan liturgi perayaan ekaristi di Paroki ST. Fransiskus Xaverius Kidul Loji Yogyakarta demi keterlibatan kaum muda - USD Repository
0
0
123
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Antonius, Bade, Keuskupan Agung Merauke melalui shared christian praxis - USD Repository
0
0
141
Pengaruh iringan gamelan Jawa terhadap penghayatan iman umat dalam perayaan ekaristi di Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran Yogyakarta - USD Repository
0
0
156
Peranan ekaristi dalam meningkatkan hidup rohani bagi para Suster PRR di wilayah Jawa - USD Repository
0
0
139
Show more