Evaluasi penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008 - USD Repository

Gratis

0
0
171
10 months ago
Preview
Full text

  

EVALUASI PENGGUNAAN ANALGETIK DAN ANTIBIOTIK

PADA PASIEN KANKER SERVIKS DI INSTALASI RAWAT INAP

RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

PERIODE OKTOBER-DESEMBER TAHUN 2008

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

  

Oleh :

Flora Srisusanti

NIM : 068114042

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

Or a n g- or a n g ya n g m en a bu r d en ga n m en cu cu r k a n

a i r m a t a , a k a n m en u a i d en g a n sor a k sor a i ( M a z m u r

1 2 6 :5 )

Ka r en a Al l a h l a h ya n g m en g er ja k a n d i d a l a m ka m u

ba i k k em a u a n m a u pu n peker ja a n m en u r u t ker el a a n - Nya

( Fi l i pi 2 :1 3 ) ; Ser a h k a n l a h per bu a t a n m u kepa d a Tu h a n ,

m a ka t er l a ksa n a l a h seg a l a r en ca n a m u ( Am sa l 1 6 :3 ) .

AM EN.

  D a l a m kesen d i r i a n k u ku tem u k a n h a d i r - MU

D a l a m d i a m ku ku t em u ka n Ka si h - M U

D a n ………………

d a l a m su ka ci t a ku a ku m er a sa k a n En g k a u sem a k i n

n ya ta d a l a m H i d u pku ( Fl or a )

  

“H I D U P AD ALAH SEBU AH PI LI H AN”

Ku per sem b a h k a n u n t u k :

  

Yesu s yang selalu menc int aiku

Bapak d an M amak yang menjadi inspirasiku

Eka, A dek, L eo, Paman yang mengasihiku

T homas yang menyayangiku

  

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Bapa di surga karena berkat

kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “EVALUASI

  

PENGGUNAAN ANALGETIK DAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN

KANKER SERVIKS DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP DR. SARDJITO

YOGYAKARTA PERIODE OKTOBER-DESEMBER TAHUN 2008”

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi pada program

studi Ilmu Farmasi, Jurusan Farmasi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

memberikan motivasi, dukungan, bantuan, kritik dan saran sampai

terselesaikannya skripsi ini, terutama kepada:

  

1. Direktur Rumah Sakit RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang telah bersedia

memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di RSUP Dr.

  Sardjito Yogyakarta.

  

2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakata yang telah

membantu dalam proses perijinan untuk melakukan penelitian di RSUP Dr.

  Sardjito Yogyakarta.

  

3. Dosen pembimbing akademik yang telah memberikan waktu, tenaga, kritik

dan saran dalam proses belajar hingga peneliti menyelesaikan studi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  

4. Drs. Mulyono, Apt., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan

bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyusunan skripsi hingga skripsi ini dapat diselesaikan.

  

5. Maria Wisnu Donowati, M.Si, Apt selaku dosen penguji yang telah bersedia

membantu dengan meluangkan waktu, tenaga, kritik dan saran dalam proses penyusunan skripsi ini.

6. dr. Fenty, M.Kes., Sp.PK selaku dosen penguji yang telah memberikan waktu,

kritik dan saran dalam proses penyusunan skripsi ini.

  

7. Para dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang

telah memberikan bekal kepada penulis untuk praktik kefarmasiannya kelak.

  

8. Staf administrasi dan ICM RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, terimakasih atas

kerjasamanya dalam penelitian.

  

9. Keluarga besarku, Bapak dan Mamak, terimakasih atas semua cinta, doa,

nasehat dan dukungannya hingga aku bisa seperti sekarang. Tiada tempat senyaman berada di pangkuan kalian berdua. Kalian adalah inspirasiku.

  

10. Kakakku Eka dan adikku Elisius Chandra, terima kasih untuk cinta,

kebersamaan dan motivasi yang telah diberikan.

  

11. Pamanku, Pastor K. Pius, cp., terimakasih untuk bimbingan, doa, liburan yang

menyenangkan dan dukungannya.

  

12. Abangku Leo, terimakasih telah mengingat adik-adikmu (Eka, Shanty dan

Eli), kami tahu suatu saat kamu akan menyadari bahwa kami menyayangimu.

  

13. Sahabat terbaikku Mega, terimakasih untuk kebersamaan dan motivasinya.

  Terimakasih juga mau menjagaku waktu sakit. Kamu telah mengembalikan kepercayaanku kepada seorang sahabat dan teman.

  

14. Teman sekaligus sahabatku Andin dan Nita, terimakasih atas kebersamaan,

motivasi dan dukungan yang telah diberikan. Kalian membuat hidupku lebih berwarna.

  15. Kekasihku Thomas, terimakasih untuk motivasi, saran dan dukungannya.

  

16. Temanku Erma, terima kasih telah menyempatkan diri untuk berenang

bersama di DSC.

  

17. Komsel dan teman-teman area STTNas, Mba Flowra, Kak Nana, Kak Denok,

Mba Angel, Kak Kila, Kak Dewi, Tia, Ratna, Yuni, Ita, Mba Phie dan para brothers, terimakasih untuk kebersamaanya selama ini.

  

18. Mba Suci dan Mba Fetri, terimakasih untuk kebersamaan dan diskusi selama

mengikuti kuliah.

  

19. Teman-temanku di Biara Novisiat St. Gabriel Batu, Malang, Biara Pasionis

Malang, Biara Pasionis Tanjung Hulu, Pontianak dan Biara Pasionis Jakarta, terimakasih atas kebersamaan selama liburan Natal dan Paskahnya. Aku merasa seperti di rumah.

  20. Abangku Fr. Niko, cp, terimakasih untuk nasehatnya.

  21. Mba Yos, terimakasih telah mengajariku bermain piano.

  

22. Guru-guru SMPK dan SMAK, khususnya Bu Yasinta, terimakasih untuk

motivasi dan dukungannya.

  

23. Jamal, Ali, Joni, Yofikus, Ahin, Siska dan Teo, terimakasih untuk

kebersamaan selama SMA.

  

24. Teman-temanku di Asrama Putri St. Maria Goreti Sekadau terutama Unit

Odilia dan Angelica. Terima kasih untuk kebersamaannya selama SMP dan SMA.

  

25. Sr. Anas, cp., Sr. Yohana, cp., Sr. Narti, cp., Sr. Jaymud,cp., dll. Terimakasih

untuk bimbingannya selama tinggal di asrama.

  

26. Teman-temanku selama kursus di LIA; Ms. Seko, Ms. Hanna, Ms. Ririn,

Andin, Mukti, A’ang, Dinda, Mba Lina, Mba Indri, Shanty, Rosyid, Rena, Dini, Mba Erlin, Putra dan Anna terima kasih atas kebersamaannya.

  

27. Teman-temanku kelas A dan FKK’A, terimakasih untuk proses yang telah

dilalui bersama.

  28. Semua orang yang telah membuat hidupku menjadi lebih hidup.

  

Intisari

Kanker serviks merupakan penyebab keganasan paling sering kedua dan

penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia terutama di negara dunia

ketiga. Pasien kanker serviks yang mendapat obat sitotoksik ataupun

imunosupresan akan rentan terkena infeksi akibat dari penurunan produksi sel

darah sehingga diperlukan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Sekitar 96% pasien

kanker serviks mengalami nyeri dengan berbagai intensitas. Penanganan nyeri

dapat dilakukan dengan pemberian analgetik berdasarkan pada prosedur standar

dari WHO.

  Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan

deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Jumlah pasien yang dianalisis

sebanyak 20. Karakteristik pasien kanker serviks berdasarkan kelompok usia

terbanyak pada usia 35-44 dan 45-54 (35%), dengan stadium terbanyak yaitu

stadium IIIB (35%) dan dengan skala nyeri terbanyak pada skala nyeri 5 (37,5%).

Pada penelitian digunakan 3 golongan analgetik dan 6 golongan antibiotik, dengan

penggunaan golongan analgetik terbanyak analgetik non-opioid 92,31% dengan

jenis analgetik terbanyak Ketorolac 25,64% dan penggunaan golongan antibiotik

terbanyak Sefalosporin 72% dengan jenis antibiotik terbanyak Cefotaxime 32%.

Berdasarkan tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO, sebanyak 62,5%

penggunaan analgetik tidak sesuai. Jenis DRP (Drug Related Problems) pada

penggunaan analgetik sebagai berikut membutuhkan terapi analgetik 2 kasus

(16,67%), tidak membutuhkan terapi analgetik 1 kasus (8,33%), terapi analgetik

tidak tepat 4 kasus (33,33%), dosis analgetik berlebih 3 kasus (25%), efek

samping analgetik aktual 1 kasus (8,33%) dan potensial efek samping analgetik 1

kasus (8,33%). Jenis DRP (Drug Related Problems) pada penggunaan antibiotik

adalah membutuhkan terapi antibiotik 7 kasus (87,5%) dan penggunaan dosis

antibiotik berlebih 1 kasus (12,5%).

  

Kata kunci: analgetik, antibiotik, kanker serviks, tangga analgetik berjenjang tiga,

Drug Related Problems

  

Abstract

Cervical cancer is second cause of neoplasia and death in the world

especially third world states. Cervical cancer patients who receive the cytotoxic

drugs or immunossuppresants is easy to get infection because degradation produce

of blood cells. Therefore, antibiotics are needed to overcome the infections.

Around 96% cervical cancer patients experience of the pain with varieties of

intensities. Pain’s handling can be done with analgesics according to the standard

procedures of WHO.

  This study is a non experimental research through descriptive evaluative

design with retrospective characteristic. There are 20 patients analyzed. The

characteristics of most patients are 35-44 and 45-54 years old (35%), the most

stage of cervical cancer is IIIB (35%) and the most pain scale is 5 (37,5%). This

study is used 3 classes of analgesic and 6 of classes antibiotics, in which the

biggest class of analgesics is non-opioid analgesic (92,31%) with ketorolac

analgesic (25,64) and then the biggest class from antibiotics is Cephalosporin

(72%) with Cefotaxime antibiotic (32%). Based on the three-step analgesic ladder

from WHO, there were 62,5% inaccurate use of analgesics. The type of Drug

Related Problems of analgesics that happened which is needs additional drug

therapy are 2 cases (16,67%), unnecessary drug therapy are 1 case (8,33%),

ineffective drug are 4 cases (33,33%), dosage too high are 3 cases (25%), actual

adverse drug reaction is 1 case (8,33%) and potential adverse drug reaction are 1

case (8,33%). The type of Drug Related Problems of antibiotics that happened

which is needs additional drug therapy are 7 cases (87,5%) and dosage too high is

1 case (12,5%).

  

Key words: analgesics, antibiotics, cervical cancer, the three step analgesic

ladder , Drug Related Problems

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iv

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................. v

PRAKATA ......................................................................................................... vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. xi

  

INTISARI .......................................................................................................... xii

ABSTRACT ....................................................................................................... xiii

DAFTAR ISI .................................................................................................... xiv

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xviii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xxi

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xxii

  

BAB I. PENGANTAR ........................................................................................ 1

A. Latar Belakang ........................................................................................ 1

  1. Perumusan masalah ........................................................................... 3

  2. Keaslian penelitian ............................................................................ 4

  3. Manfaat penelitian............................................................................. 5

  B. Tujuan Penelitian .................................................................................... 6

  2. Tujuan Khusus .................................................................................. 6

  

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA ............................................................... 8

A. Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita .................................. 8 B. Kanker Serviks .................................................................................... 10

  1. Human Papilomavirus (HPV) ....................................................... 12

  2. Epidemiologi ................................................................................ 13

  3. Etiologi .......................................................................................... 14

  4. Patogenesis .................................................................................... 15

  5. Penyebaran Kanker Serviks ........................................................... 16

  6. Penampakan klinis kanker serviks.................................................. 17

  7. Diagnosis ....................................................................................... 17

  8. Stadium kanker serviks .................................................................. 20

  9. Prognosis ....................................................................................... 20

  C. Nyeri ................................................................................................... 21

  1. Definisi ......................................................................................... 21

  2. Alat pengukur nyeri ....................................................................... 23

  3. Analgetika ..................................................................................... 24

  D. Infeksi ................................................................................................. 30

  E. Antibiotika .......................................................................................... 32

  1. Definisi .......................................................................................... 32

  2. Prinsip penggunaan antibiotik ........................................................ 32

  4. Kombinasi antibiotik ..................................................................... 34

  5. Resistensi antibiotik ....................................................................... 35

  F. Drug Related Problem ......................................................................... 35

  G. Keterangan Empiris ............................................................................. 37

  

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 38

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ........................................................... 38 B. Definisi Operasional ............................................................................ 38 C. Subyek Penelitian ................................................................................ 41 D. Bahan Penelitian .................................................................................. 42 E. Lokasi Penelitian ................................................................................. 42 F. Tata Cara Penelitian ............................................................................ 43

  1. Perencanaan .................................................................................. 43

  2. Pengambilan data........................................................................... 43

  3. Pengolahan data ............................................................................. 44

  4. Evaluasi data ................................................................................. 45

  G. Tata Cara Analisis Hasil ...................................................................... 46

  H. Kesulitan Penelitian ............................................................................. 48

  

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 49

A. Karakteristik Pasien Kanker Serviks ....................................................... 49

  1. Persentase kelompok usia pasien kanker serviks ............................... 49

  3. Persentase skala nyeri pasien kanker serviks ..................................... 52

  B. Persentase Penggunaan Analgetik ........................................................... 53

  1. Persentase penggunaan analgetik ...................................................... 53

  2. Kesesuaian pemberian analgetik berdasarkan pada standar dari WHO ......................................................................................................... 55 C. Persentase Penggunaan Antibiotik .......................................................... 57

  D. Kajian Drug Related Problem ................................................................ 59

  1. Evaluasi penggunaan analgetik ......................................................... 59

  a. Analgetik tidak tepat ................................................................... 60

  b. Analgetik diperlukan dalam terapi............................................... 61

  c. Analgetik yang tidak diperlukan dalam terapi ............................. 61

  d. Dosis analgetik berlebihan .......................................................... 62

  e. Efek samping analgetik ............................................................... 62

  2. Evaluasi penggunaan antibiotik ........................................................ 63

  a. Antibiotik diperlukan dalam terapi .............................................. 64

  b. Dosis antibiotik berlebihan ......................................................... 65

  

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 66

A. Kesimpulan ........................................................................................ 66 B. Saran ................................................................................................. 67

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 69

LAMPIRAN ...................................................................................................... 73

  

DAFTAR TABEL

Tabel I Klasifikasi Sitologi Tes Pap menurut WHO ................................ 18

Tabel II Stadium kanker serviks menurut FIGO ....................................... 20

Tabel III Rentang Skala Nyeri ................................................................... 23

Tabel IV Permasalahan umum terapi obat dan penyebabnya ...................... 36

Tabel V Persentase Stadium Pasien Kanker Serviks yang Menggunakan

Analgetik dan Antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

  Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ................ 51

Tabel VI Persentase Skala Nyeri Pasien Kanker Serviks yang Menggunakan

Analgetik dan Antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ................ 53

Tabel VII Persentase Penggunaan Analgetik pada Pasien Kanker Serviks di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................................................. 54

  

Tabel VIII Kesesuaian Terapi Analgetik berdasarkan Tangga Analgetik

Berjenjang Tiga dari WHO pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober- Desember 2008 ........................................................................... 56

  

Tabel IX Persentase Penggunaan Antibiotik pada Pasien Kanker Serviks di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................................................. 58

  

Tabel X Kasus DRP Penggunaan Analgetik pada Pasien Kanker Serviks di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................................................. 59

Tabel XI Kasus DRP Penggunaan Analgetik yang tidak tepat pada Pasien

Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................. 60

  

Tabel XII Kasus DRP Membutuhkan Terapi Analgetik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ................................................ 61

Tabel XIII Kasus DRP Tidak Membutuhkan Terapi Analgetik pada Pasien

Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................. 61

  

Tabel XIV Kasus DRP Penggunaan Analgetik dengan Dosis berlebih pada

Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................. 62

Tabel XV Kasus DRP Potensial Efek Samping Analgetik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ................................................ 62

  

Tabel XVI Kasus DRP Efek Samping Aktual Analgetik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ................................................ 63

  

Tabel XVII Kasus DRP Penggunaan Antibiotik pada Pasien Kanker Serviks di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................................................. 63

Tabel XVIII Kasus DRP Membutuhkan Terapi Antibiotik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ................................................ 64

  

Tabel XIX Kasus DRP Penggunaan Antibiotik dengan Dosis berlebih pada

Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................. 65

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Organ Reproduksi Wanita .................................................................. 8

Gambar 2 Skema Patofisiologi Nyeri pada Kanker Serviks ............................. 22

Gambar 3 Skala nyeri 0-10 ............................................................................... 23

Gambar 4 Tangga Analgetik berjenjang tiga .................................................... 25

Gambar 5 Persentase Kelompok Usia Pasien Kanker Serviks yang Menggunakan

Analgetik dan Antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito

  Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 .................................. 50

  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pernyataan Peneliti ....................................................................... v

Lampiran 2 Analisis DRP Penggunaan Analgetik dan Antibiotik pada Pasien

  Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 ............................ 73

Lampiran 3 Petunjuk Penanganan Infeksi Pada Kanker Menurut NCCN ...... 112

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Sampai saat ini, kanker mulut rahim masih merupakan masalah kesehatan

  

perempuan di Indonesia sehubungan dengan angka kejadian dan angka

kematiannya yang tinggi. Setiap tahun, di dunia terdapat 500.000 kasus baru

kanker serviks dan lebih dari 250.000 kematian. Di Indonesia, menurut data

kanker berbasis patologi di 13 pusat laboratorium patologi kanker serviks

merupakan penyakit kanker yang memiliki jumlah penderita terbanyak di

Indonesia, yaitu lebih kurang 36% (Rasjidi, 2009).

  Pasien dengan penyakit keganasan atau mendapat obat sitotoksik atau

imunosupresan rentan terhadap infeksi berat yang sering kali disebabkan oleh

organisme yang tidak lazim, misalnya bakteri komensal, beberapa virus, ragi,

jamur dan protozoa. Berdasarkan fakta, granulositopenia dengan hitung granulosit

  6

kurang dari 500 x 10 /l akan disertai resiko tinggi terjadinya septikemia. Demam

pada pasien semacam ini harus dianggap memiliki etiologi infeksi dan harus

diobati secara agresif sebelum memperoleh informasi bakteriologik yang pasti

(Reid, Rubin & Whiting, 2007).

  Infeksi merupakan penyebab kematian utama pada pasien kanker di

samping perdarahan. Sekitar 90 % pasien kanker meninggal akibat infeksi,

perdarahan, atau infeksi bersama-sama dengan perdarahan (Sudoyo, Setiyohadi,

  

Simodibrata & Setiati, 2006). Maka sangat diperlukan pemilihan antibiotik yang

tepat untuk mengurangi resiko kematian akibat terjadinya infeksi pada pasien

kanker. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa pemberian antibiotik oral

sebagai profilaksis awal periode netropeni pada pasien resiko tinggi afebril dapat

mengurangi kejadian febril dan resiko infeksi pada pasien (Koda-Kimble, 2009).

Oleh karena itu, evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien kanker serviks perlu

dilakukan.

  Nyeri sering terjadi pada penyakit kanker serviks, sekitar 96% pasien

kanker serviks mengalami nyeri dengan berbagai intensitas dari ringan, sedang

sampai berat. Banyak pasien yang tidak menerima penanganan nyeri yang tepat.

Penanganan nyeri yang kurang tepat dapat menyebabkan penderitaan bagi pasien.

Pendekatan utama dalam penanganan nyeri kanker dengan cara pemberian

analgetik, analgetik sering memperbaiki secara nyata kemampuan pasien.

  

Pemberian analgetik perlu disesuaikan dengan prosedur standar yang dianjurkan

oleh WHO (tangga analgetik berjenjang tiga). Tangga analgetik berjenjang tiga

dari WHO telah digunakan di negara maju dan negara berkembang dengan

keberhasilan terapi mencapai 80% (Levy, 1996). Maka evaluasi penggunaan

analgetik berdasarkan pada prosedur standar yang dianjurkan oleh WHO pada

pasien kanker serviks perlu dilakukan.

  Adapun pemilihan RSUP Dr. Sardjito yang digunakan sebagai tempat

penelitian karena merupakan Rumah Sakit Pendidikan Kelas A dan Rumah Sakit

rujukan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah bagian

  

Selatan. Rumah Sakit ini terdiri dari 23 SMF (Staf Medis Fungsional) dan 29

Instalasi (Anonim, 2010 a ).

1. Perumusan Masalah

  Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya dapat dirumuskan beberapa permasalahan pada pasien kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yaitu sebagai berikut:

  a. Bagaimanakah karakteristik pasien kanker serviks yang menerima analgetik dan antibiotik di Instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta?

  b. Berapa persentase penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks? c. Apakah penggunaan analgetik pada pasien kanker serviks telah sesuai dengan tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO? d. Bagaimana potensi dan aktual DRP (Drug Related Problem) yang terjadi pada penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks yang meliputi: 1) additional drug therapy (terapi obat tambahan)

  

2) unnecessary drug therapy ( tidak membutuhkan obat)

3) wrong drug (obat tidak tepat) 4) dosage too low (dosis kurang)

  6) dosage too high (dosis berlebih) 7) compliance (ketaatan pasien)

2. Keaslian Penelitian

  Berdasarkan hasil penelusuran penulis, penelitian mengenai evaluasi penggunaan analgetik dan antibiotik pada pada pasien kanker serviks sudah pernah dilakukan. Beberapa penelitian serupa yang pernah dilakukan oleh peneliti lain mengenai evaluasi penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks, yaitu sebagai berikut:

a. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus Kanker Leher Rahim di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2004 (Mexitalia, 2005).

  b. Evaluasi Penggunaan Analgetik Opioid pada Penanganan Nyeri Kanker Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta selama September sampai November 2006 (Guswita, 2007) .

  c. Efektivitas Penggunaan Analgetik dan Antiemetik pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Periode Juli-Oktober tahun 2008 (Mahargyani, 2009)

  d. Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Kanker Leher Rahim yang Menjalani Kemoterapi di RSUP. DR. Sardjito Yogyakara periode Agustus 2004-Agustus 2008 (Marlinah, 2009).

  Adapun perbedaan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Mexitalia dan Guswita terletak pada subjek, lokasi dan periode penelitian.

  Sedangkan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahargyani penelitian yang dilakukan oleh Marlinah adalah pada periode penelitian. Subyek yang digunakan pada penelitian ini lebih spesifik yaitu pasien kanker serviks yang mendapatkan terapi analgetik dan antibiotik atau salah satu dari kedua obat ini.

3. Manfaat Penelitian

  a. Manfaat praktis 1) Penelitian ini dapat digunakan sebagai evaluasi dan bahan masukan dalam meningkatkan mutu pengobatan pada pengobatan nyeri dan infeksi pasien kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

  2) Dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penggunaan analgetik dan antibiotika pada pasien kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

  b. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai persentase penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, total kesesuaian penggunaan analgetik dengan tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO dan dapat digunakan sebagai pedoman bagi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta untuk meningkatkan pelayanannya terutama kepada pasien kanker serviks.

B. Tujuan Penelitian

  1. Tujuan Umum Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi penggunaan analgetik dan antibiotik pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember 2008.

2. Tujuan Khusus

  a. untuk mengetahui karakteristik pasien kanker serviks yang menerima analgetik dan antibiotik b. untuk mengetahui persentase penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks c. untuk mengetahui total kesesuaian penggunaan analgetik pada pasien

kanker serviks dengan tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO

d. untuk mengetahui potensi dan aktual DRP (Drug Related Problem) yang terjadi pada penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks yang meliputi: 1) mengetahui adanya kasus nyeri kanker serviks yang tidak diberikan terapi analgetik dan kasus infeksi pada pasien kanker serviks tidak diberikan terapi antibiotik (additional drug therapy)

  2) mengetahui apakah ada obat analgetik dan antibiotik yang tidak

dibutuhkan dalam terapi (unnecessary drug therapy)

3) mengetahui penggunaan obat analgetik dan antibiotik yang tidak tepat (wrong drug)

  

4) mengetahui penggunaan dosis obat analgetik dan antibiotik yang

kurang (dosage too low)

5) mengetahui adanya efek samping potensial dan aktual yang dapat

timbul pada terapi analgetik dan antibiotik yang diberikan (adverse drug reactions)

  

6) mengetahui adanya penggunaan obat analgetik dan antibiotik

dengan dosis berlebih (dosage too high).

  

7) mengetahui tingkat ketaatan pasien dalam meminum obat

analgetik dan antibiotik (compliance)

  

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita

Gambar 1. Organ Reproduksi Wanita (Anonim, 2009)

Sistem reproduksi wanita terdiri dari ovarium, tuba fallopii, uterus, serviks, vagina dan vulva. Serviks sebagian besar terdiri atas jaringan ikat yang kuat dan biasanya

berukuran 4 cm, sekitar 2 cm serviks menonjol ke vagina, sedangkan sisanya tetap berada pada intraperitoneal. Serviks membuka ke arah uterus melalui ostium interna dan ke arah vagina

melalui ostium eksterna. Struktur ini dilapisi oleh satu lapis epitel kelenjar

penghasil mukus di bagian dalam kanalis servikalis (endoserviks) dan epitel

skuamosa berlapis pada bagian serviks yang terlihat dalam vagina (ekstoserviks).

  

Transisi antarepitel kelenjar dan skumosa dikenal sebagai zona transformasi. Zona

transformasi secara tipikal terdapat sedikit di dalam ostium eksterna (mulut luar)

dari serviks. Zona ini penting karena merupakan lokasi yang sering mengalami

perubahan displastik yang dapat menjadi keganasan (Heffner & Schust, 2008).

  Serviks mempunyai 2 jenis epitel yaitu epitel kolumner dan epitel skuamosa

yang disatukan oleh sambungan skuamo-kolumnar (SSK). Epitel kolumnar akan

digantikan oleh epitel skuamosa baru sehingga SSK sudah ada akan menjadi

sambungan skuamosa-skuamosa (SSS) di samping terjadinya SSK baru. Proses

pergantian epitel kolumnar oleh epitel skuamosa seperti di atas disebut proses

metaplasia (Harahap, 1982).

  Metaplasia diperkirakan terjadi pada pH rendah karena proliferasi sel

cadangan epitel subkolumnar dan proliferasi sel basal epitel skuamosa terdekat.

  

Proses metaplasia dapat dibagi menjadi dua periode yaitu masa dinamik dan masa maturasi. Masa dinamik terjadi dalam tiga tahap, yaitu: a. Tahap I, sel menjadi kuboidal dan mukusnya berkurang; epitel kolumnar yang menyusun villi menjadi kurang translusen dan pembuluh darah terlihat lebih nyata; biasanya hal itu terjadi pada puncak villi (Harahap, 1984).

  b. Tahap II, sela-sela villi mulai diisi berlapis-lapis sel dan terlihat fusi villi dan beberapa tonjolan villi tersebut (Harahap, 1984).

  c. Tahap III, epitel berlapis telah mengisi semua sela-sela villi sehingga permukaannya terlihat licin (Harahap, 1984).

  Sel-sel yang sudah berada pada tahap III (6-8 lapis) akan mengalami

diferensiasi sehingga menjadi matang (proses maturasi). Masa dinamik proses

metaplasia sangat aktif pada awal pubertas terutama jika terdapat keaktifan

seks, pada fetus, dan pada kehamilan pertama (Harahap, 1984).

  B.

  

Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim)

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, kanker merupakan

penyebab kematian ketujuh di Indonesia dengan proporsi 5,7% setelah stroke,

  

TB Paru, hipertensi, cedera, perinatal, dan diabetes mellitus. Terdapat sepuluh

jenis kanker yang menyebabkan kematian terbanyak di Indonesia salah satu

diantaranya adalah kanker serviks. Kanker serviks merupakan penyebab

kematian terbesar pada wanita di Indonesia. Setiap tahun tercatat terdapat 90-

c 100 kasus kanker serviks per 100.000 penduduk (Anonim, 2010 ).

  Kanker serviks biasanya berkembang dari lesi prekursor, yaitu

neoplasma serviks intraepitel (cervical intraephitelial neoplasia, CIN). CIN

bersifat asimtomatik dan tampaknya terjadi 5-15 tahun sebelum berkembangnya

  

zona transformasi serviks (sambungan skuamokolumnar) (Heffner & Schust,

2008).

  Penyebab kanker serviks yang paling sering ditemukan adalah human

papillomavirus (HPV). HPV merupakan virus DNA yang menyebabkan lesi

epitel di dalam saluran gastrointestinal, kulit, serviks, dan vulva. Lebih dari 100

jenis HPV telah diidentifikasi sampai saat ini. Sel serviks dengan kelainan

sitologis dan sel-sel dari kanker serviks sebagian besar mengandung urutan-

urutan dari HPV 6, HPV 11, HPV 16 dan HPV 18. HPV 6 dan 11 berhubungan

dengan risiko keganasan yang rendah. Sebaliknya, 85% kanker serviks

mengandung HPV 16 dan 18 (Heffner & Schust, 2008).

  Karsinoma planoselular dari serviks muncul pertama kali setelah menarke,

dan relatif lebih sedikit hingga usia 35 tahun. Dan kemudian terjadi kenaikan

frekuensi yang jelas terlihat hingga usia 55-60 tahun dan kemudian terjadi

penurunan lagi, yang mencerminkan penurunan total jumlah wanita kelompok

usia ini. Frekuensi tertinggi karsinoma serviks terdapat antara 50-55 tahun

dengan umur rata-rata 53,2 tahun; penyebaran umur mulai dari 18-95 tahun

(Van De Velde, Bosman & Wagener, 1999).

  Terdapat tiga tipe umum kanker serviks. Tipe yang paling sering ditandai

oleh adanya lesi eksofitik yang besar dan meluas ke vagina dan terjadi

perdarahan hebat saat disentuh. Tumor lainnya menginfiltrasi stroma serviks dan

membentuk lesi ‘barrel shape’ tanpa disertai tanda-tanda pertumbuhan ke arah

luar. Lesi ‘barrel shape’ ini dapat baru tampak pertama kali ketika penyebaran

  

Kelompok terakhir dari kanker serviks adalah tumor ulseratif yang sering

mengubah serviks dan vagina bagian atas dengan lubang purulen yang besar

(Heffner & Schust, 2008).

  Pada pasien kanker serviks, terapi kuratif dapat dilakukan yaitu dengan

cara bedah (operasi), radioterapi, kemoterapi atau kombinasi. Di samping

pengobatan kuratif, terdapat pengobatan suportif yang dapat menunjang

pengobatan kanker. Pengobatan suportif bertujuan untuk meningkatkan dan

mempertahankan kondisi kesehatan pasien sehingga pasien dapat menerima

pengobatan kuratif (bedah, radiasi, kemoterapi atau kombinasi) tanpa terjadi

efek samping. Pengobatan suportif tidak hanya diperlukan pada pasien yang

menjalani pengobatan kuratif, tetapi juga pada pasien yang menjalani

pengobatan paliatif. Pengobatan suportif meliputi semua aspek kesehatan baik

fisik maupun psikis beberapa di antaranya adalah nyeri, infeksi dan neutropenia.

  

Adanya kejadian nyeri dan infeksi menyebabkan pasien akan menerima

pengobatan berupa analgetik dan antibiotik untuk mengatasi nyeri dan infeksi

yang menyertai penyakitnya (Sudoyo, Setiyohadi, Simodibrata & Setiati, 2006).

1. Human Papillomavirus (HPV)

  Virus papiloma berdiameter 55 nm dan mengandung genom yang

  6 berbentuk bulat dengan berat molekul (BM) 45 x 10 . Sebagian besar kanker serviks, penis dan vulva membawa DNA HPV. Paling sering, ditemukan HPV-16 atau HPV-18 (Jawetz, Melnick, & Adelberg, 1996). Tipe HPV karsinogenik lain adalah tipe 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 66, 68, 73

  6 dan 11 mempunyai efek karsinogenik rendah, dan merupakan penyebab a pada > 90% kondiloma akuminata (Anonim, 2007 ).

  HPV tipe 16 merupakan tipe HPV karsinogenik yang paling sering ditemukan, dan dideteksi pada 7-12% perempuan yang aktif secara seksual dengan sitologi normal, sekitar 25% pada lesi intraepithelial skuamosa derajat rendah, dan sekitar 50% pada derajat tinggi dan kanker serviks invasif a (Anonim, 2007 ).

  HPV tipe 18 terutama dideteksi pada jenis adenokarsinoma, dibanding karsinoma sel skuamosa serviks. Tipe ini ditemukan pada 2,5-4,5% perempuan yang aktif secara seksual dengan sitologi normal, dan 10-20% a pada kanker serviks invasif (Anonim, 2007 ).

2. Epidemiologi

  Frekuensi karsinoma uteri terbanyak dijumpai di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia, India, Bangladesh, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Di Amerika Latin dan Afrika Selatan frekuensi karsinoma serviks uteri juga merupakan terbanyak dari penyakit keganasan yang ada. Di Indonesia karsinoma serviks uteri menduduki tempat teratas dari urutan penyakit keganasan yang ada (Tambunan, 1995).

  Insidensi penyakit ini lebih tinggi ada wanita berpenghasilan rendah namun pengaruh dari faktor ini tidak terlepas dari aktivitas seksual yang dimulai saat usia dini dan pasangan seksual multipel. Tanda-tanda dari pria risiko tinggi telah diketahui; pria yang memiliki pasangan seksual sebelumnya meningkatkan risiko pasangan seksual mereka (Heffner & Schust, 2008). Insidens yang tinggi pada wanita menikah dan jarang pada perawan dan biarawati memberi kesan adanya transmisi seksual suatu agen onkogenik dari pria ke wanita pada usia muda (Robbin, 1999).

  Insidensi (tahunan), di Amerika : 10.370 kasus baru dan 3.710 kematian; Inggris: 2.991 kasus baru dan 1.123 kematian. Kanker serviks merupakan kanker yang paling sering menyebabkan kematian di negara-negara di dunia

ketiga akibat kurangnya skrining yang efektif (Norwitz & Schorge, 2008).

3. Etiologi

  Penyebab karsinoma serviks uteri belum jelas diketahui. Namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol; a. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual. Penelitian para pakar menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar resiko mendapat karsinoma serviks uteri.

  b. Jumlah kehamilan dan partus. Karsinoma serviks uteri terbanyak dijumpai wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin semakin besar resiko mendapat karsinoma serviks uteri. Kategori partus sering belum ada keseragaman, menurut beberapa pakar berkisar 3-5 kali.

  c. Jumlah perkawinan. Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan sering berganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap tumor ini. Pada penelitian sitologi tes Pap sekelompok wanita tuna susila dan wanita biasa ternyata jumlah kasus prakarsinoma lebih banyak (lebih bermakna) pada wanita tuna susila.

  d. Infeksi virus. Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai faktor penyebab.

  Adanya infeksi virus dapat dideteksi dari perubahan sel epitel serviks uteri pada tes Pap. Pada infeksi virus sering dijumpai sitologi abnormal.

  e. Sosial ekonomi. Karsinoma serviks uteri banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang dan hal ini dapat mempengaruhi imunitas tubuh.

  f. Higiene dan sirkumsisi (Tambunan, 1995).

  g. Merokok (Rasjidi, 2009).

4. Patogenesis

  Karsinoma serviks uteri 95% terdiri dari karsinoma sel skuamous dan sisanya merupakan adenokarsinoma dan jenis kanker lain (Tambunan, 1995).

  Kanker serviks biasanya didahului oleh displasia serviks (neoplasia intraepithelial serviks/NIS ). Insidens punsak NIS III (karsinoma in situ) adalah pada usia 30 tahun (Robbin, 1999).

  Kanker ini tumbuh dari lesi prekursor. Lesi pre-kanker diklasifikasikan menurut derajat maturasi epitel dan distribusi atipia sitologis.

  a. NIS I (termasuk kandiloma), bila atipia mendominasi sel superficial (koilositosis), dengan dipertahankannya maturasi epitel b. NIS II, bila atipia mendominasi lapisan superficial dan lapisan sel basal, tetapi dengan berkurangnya maturasi c. NIS III, bila atipia terdapat di seluruh lapisan sel, tetapi dengan maturasi minimal atau tanpa maturasi (karsinoma in situ) (Robbin,

  1999). Terjadi perubahan derajat sel epitel displasia dan karsinoma in situ memerlukan waktu yang relatif lama. Demikian juga perubahan karsinoma in situ menjadi karsinoma invasif terjadi setelah bertahun-tahun. Salah satu bukti yang menyokong teori ini adalah perbedaan umur yang bermakna antara penderita prakarsinoma dan karsinoma invasif. Umur penderita prakarsinoma 10-15 tahun lebih muda daripada penderita karsinoma invasif. Perilaku biologis sel tumor dalam proses pertumbuhan memungkinkan neplasma ini dapat dideteksi pada tingkat pertumbuhan awal (Tambunan, 1995).

5. Penyebaran Kanker Serviks

  Kanker serviks dapat menyebar melalui salah satu dari empat cara berikut, yaitu: a. secara langsung mengenai mukosa vagina

  b. langsung mengenai miometrium segmen bawah uterus

  c. melalui aliran limfatik paraserviks kemudian ke kelenjar-kelenjar limfe obturator, hipogastrik, dan iliaka ekterna d. langsung mengenai struktur di dekatnya seperti kandung kemih di anterior, rektum di posterior, atau ke jaringan parametrium dan dinding samping

  Invasi melalui saluran limfe bahkan dapat terjadi ketika tumor masih berukuran kecil. Penyebaran hematogen dan metastasis jauh biasanya

merupakan manifestasi akhir dari penyakit ini (Heffner & Schust, 2008).

  6. Penampakan Klinis Kanker Serviks Simptom karsinoma serviks uteri tergantung pada tingkat pertumbuhan (stadium tumor). Prakarsinoma biasanya asimtomatik dan hanya ditemukan pada waktu pemeriksaan skrining kanker tes pap atau ditemukan berketepatan pada histerektomi karena penyakit lain. Simptom penyakit ini tidak ada yang spesifik, yaitu:

  a. perdarahan per vaginam Perdarahan di luar siklus haid, ataupun haid yang lama sering merupakan keluhan permulaan penderita. Keluhan contact bleeding yang terjadi sesudah senggama sering ditemukan. Vaginal discharge berwarna kuning atau merah seperti cucian daging

  b. nyeri

  c. gangguan miksi d. konstipasi (Tambunan, 1995).

  7. Diagnosis a. Anamnesis Penderita karsinoma serviks sering mengeluhkan adanya perdarahan per vaginam abnormal yang bervariasi antara lain:

  1) contact bleeding yaitu perdarahan yang terjadi sesudah hubungan

  2) haid yang berkepanjangan, lebih dari 7 hari atau perdarahan terjadi di antara 2 masa haid 3) perdarahan sesudah 2 tahun postmenopause 4) perdarahan yang mirip dengan cairan cucian daging, berbau amis, biasanya dijumpai pada stadium lanjut (Tambunan, 1995). Keluhan low back pain, sakit pinggul yang persisten, konstipasi, gangguan miksi dan berat badan yang semakin menurun, sering menjadi keluhan penderita karsinoma serviks uteri stadium lanjut (Tambunan, 1995).

b. Pemeriksaan Fisik 1) Tes Pap

  Apusan sitologi Pap atau tes Pap diterima secara universal sebagai alat skrining karsinoma serviks uteri. Metode ini peka terhadap pemantauan derajat perubahan pertumbuhan epitel serviks termasuk displasia dan karsinoma in situ, sehingga pertumbuhan lebih lanjut dapat dicegah (Tambunan, 1995).

  Tabel I. Klasifikasi Sitologi Tes Pap menurut WHO (Tambunan, 1995)

  Klasifikasi Menurut WHO Negatif Tidak ada sel maligna Displasia Kecurigaan maligna Positif Terdapat sel maligna Inkonklusif Sediaan tidak dapat diintepretasi

2) Kolposkopi

  Kolposkopi adalah alat ginekologi yang dipergunakan untuk melihat perubahan stadium dan luas permukaan abnormal epitel serviks uteri. diagnostik yang tinggi. Namun demikian kolposkopi tidak lazim dipergunakan untuk skrining karsinoma leher rahim karena biayanya mahal, pemeriksaan memerlukan waktu dan prosedur yang kurang parktis dibanding dengan tes Pap (Tambunan, 1995).

3) Biopsi

  Biopsi merupakan prosedur diagnostik yang penting sekalipun sitologi usapan serviks menunjukkan karsinoma. Spesimen diambil dari daerah tumor yang berbatasan dengan jaringan normal (Tambunan, 1995).

8. Stadium Kanker Serviks

  

Tabel II. Stadium kanker serviks menurut FIGO (Federation Of Gynaecology and

a

  

Obstetrics) (Anonim, 2005 )

  Stadium Keterangan Stadium 0 pra invasif karsinoma Stadium I karsinoma terbatas pada serviks

  Ia mikro invasif karsinoma Ib klinikal invasif karsinoma

  Stadium II karsinoma meluas ke luar serviks, tetapi tidak sampai pada panggul dan atau meluas ke vagina tidak melebihi 1/3 total

  IIa karsinoma belum infiltrasi ke parametrium

  IIb karsinoma telah infiltrasi ke parametrium Stadium III karsinoma meluas lebih dari 1/3 bagian distal vagina dan atau meluas ke panggul

  (tak ada ruang bebas antara tumor dengan dinding pelvis)

  IIIa karsinoma melebihi 1/3 distal vagina

  IIIb karsinoma meluas sampai dinding pelvis dan atau hidronefrosis atau tak berfungsinya ginjal oleh karena ureterostenosis sebab tumor.

  Stadium IV Proses keganasan sudah keluar dari panggul kecil atau secara klinis sudah didapatkan invasi ke dinding mukosa kandung kemih atau rektum. Stadium IVa Pertumbuhan menembus organ-organ di sekelilingnya Stadium IVb metastase jauh 9.

   Prognosis Faktor-faktor yang menentukan prognosis adalah: umur penderita, keadaan umum penderita, stadium penyakit, ciri-ciri histologik sel tumor, kemampuan ahli atau tim ahli yang menanganinya, dan sarana pengobatan

  Berikut ini angka kelangsungan hidup penderita selama lima tahun adalah sebagai berikut : stadium 0 : 100%; stadium 1: 80-90%; stadium 2: 75%; stadium 3: 35%; stadium 4: 10%-15% (Robbin, 1999).

C. Nyeri 1. Definisi

  Nyeri adalah perasaan yang tidak menyenangkan, dengan berbagai derajat keparahan gejala yang terjadi akibat cedera, atau suatu penyakit atau suatu emosi (Anonim, 2009). Nyeri timbul jika rangsang mekanik, termal, kimia atau listrik melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri) dan karena itu menyebabkan kerusakan jaringan dengan pembebasan yang disebut senyawa nyeri (Mutschler, 1991). Banyak faktor yang menambah nyeri, termasuk faktor psikologis misalnya kecemasan, rasa takut, dan kepercayaan kultural. Faktor sosial dan hubungan interpersonal mempengaruhi sensasi nyeri secara positif atau negatif. Faktor yang sangat penting adalah kualitas dan kuantitas tidur, rasa lelah dapat menjadikan nyeri bertambah berat (Davey, 2005).

  Berdasarkan laporan WHO 25% pasien kanker akan mengalami rasa nyeri dari nyeri ringan sampai nyeri berat pada berbagai stadium penyakit kanker sekitar 51% dan bertambah sekitar 74% pada stadium lanjut/terminal. Dalam penanganan nyeri kanker harus mendapat prioritas utama. Laporan dari negara maju 50-80% nyeri kanker tidak mendapat pengelolaan yang adekuat

  

Mekanisme yang mendasari nyeri pada keganasan termasuk:

  a. penyebab langsung: nyeri neuropatik (kerusakan saraf), nyeri tulang (infiltrasi keganasan), nyeri visceral dan jaringan lunak (efek tekanan dan obstruksi langsung)

  b. nyeri yang berkaitan dengan terapi: akibat efek samping radioterapi, bedah dan obat c. nyeri yang berkaitan dengan kanker: pasien dengan kanker lanjut biasanya sangat lemah dan tidak banyak bergerak.

  d. penyebab nyeri yang tidak berhubungan dengan kanker: pasien kanker rentan terhadap semua penyakit yang dialami manusia tanpa kanker, misalnya arthritis (Davey, 2005). Penderita dengan nyeri kanker bisa mengalami nyeri akut, intermiten, atau

kronik pada berbagai stadium penyakitnya. Terbanyak adalah nyeri yang

berhubungan dengan kanker yang bersifat kronik (Suwiyoga, 2005).

2. Alat Pengukur Nyeri

  Alat pengukur nyeri membantu pasien mendeskripsikan nyeri yang dialami. Skala nyeri adalah satu alat yang umum digunakan untuk mendeskripsikan intensitas nyeri yang dirasakan. Skala nyeri meliputi skala numerik, skala analog visual, skala kategori dan skala nyeri dengan wajah b

  (Anonim, 2007 ) Pada skala numerik, seorang diminta untuk mengidentifikasikan berapa nyeri yang dialami dengan memilih angka dari 0 (tidak merasakan b nyeri) sampai 10 (paling nyeri) (Anonim, 2007 ). Dalam skala numerik, skala nyeri 1-3 nyeri ringan, 4-6 nyeri sedang, dan 7-10 nyeri berat (Wallace & Staats, 2005).

  

Gambar 3. Skala nyeri 0-10 (Anonim, 2003)

Skala nyeri numerik biasanya digunakan untuk mengukur intensitas nyeri yang

dirasakan pada pasien usia dewasa dan anak ( > 9 tahun) (Anonim, 2009).

  Tabel III. Rentang skala Nyeri (Wallace & Staats, 2005)

  Rentang skala nyeri Keterangan tidak merasakan nyeri 1-3 nyeri rendah/ringan

  4–6 nyeri sedang 7-10 nyeri berat

3. Analgetika

  Analgetika adalah senyawa yang dalam dosis terapeutik meringankan atau menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum. Berdasarkan potensi kerja, mekanisme kerja, dan efek samping analgetika dapat dibedakan dalam dua kelompok: a. Analgetika yang berkhasiat kuat, bekerja pada pusat (hipoanalgetika, kelompok opiat) b. Analgetika yang berkhasiat lemah (sampai sedang), bekerja terutama pada perifer dengan sifat antipiretika dan kebanyakan juga mempunyai sifat antiinflamsi dan antireumatik (Mutschler, 1991).

  Pada tahun 1986 WHO mempublikasikan petunjuk dalam memberikan analgetik pada pasien nyeri kanker yang berisi tentang konsep tangga analgetik (tangga analgetik berjenjang tiga). Tangga analgetik ini telah digunakan di negara maju dan negara berkembang dengan keberhasilan terapi mencapai 80% (Levy, 1996).

  

Gambar 4. Tangga Analgetik berjenjang tiga (Levy, 1996)

Runtunan penggunaan tangga analgetik berjenjang tiga menurut WHO

adalah sebagai berikut: tahap pertama adalah menggunakan analgetik non-opioid.

  

Jika ini tidak dapat meredakan rasa nyeri, harus ditambahkan suatu opioid untuk

nyeri ringan sampai sedang. Apabila gabungan opioid untuk nyeri ringan sampai

sedang dengan suatu non-opioid tidak dapat meredakan nyeri, maka harus diganti

dengan opioid untuk nyeri sedang sampai nyeri berat. Hanya satu dari masing-

masing kelompok yang boleh digunakan pada saat yang sama. Obat penunjang

harus diberikan pada indikasi spesifik. Obat penunjang (adjuvan) yang digunakan

adalah antiemetik, laksansia, kortikosteroid, antidepresan trisiklik, antikonvulsan a. Analgetik non-opioid (ANO) 1) Obat-obat asam asetil salisilat serta antiinflamasi nonsteroid (NSAID) Obat-obat ini mempunyai efek analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi. Efek samping yang dapat timbul ialah reaksi hipersensitif, perpanjangan dari waktu perdarahan iritasi lambung serta gangguan faal ginjal. Efek antipiretika serta efek antitrombosit merupakan kendala bila diberikan pada penderita netropeni atau trombositopeni. Kolin magnesium trisalisilat tidak mempengaruhi waktu perdarahan. NSAID sangat baik untuk pengobatan nyeri akibat metastase tulang. Pada nyeri tulang yang sedang dan berat kombinasi antara NSAID dan opioid sering efektif 2) Asetaminofen Mempunyai efek analgetik dan antipiretik tetapi tidak mempunyai efek antiinflamasi. Efek samping pada hati dapat terjadi pada penderita a alkoholisme atau dosis yang berlebihan (Anonim, 1996 ).

  3) Biposponat Biposponat dapat digunakan sebagai pengganti dalam terapi nyeri tulang metastasis. Bisposponat berikatan dengan sisi aktif pembentuk tulang. Dengan menghambat fungsi osteoclast, bisposponat memelihara sel tulang dan mengurangi resiko patah tulang (Anonim, b 2005 ). b. Analgetik opioid Analgetik opioid adalah analgetika utama dalam menangani nyeri sedang-berat. Opioid berikatan dengan reseptor spesifik dan permukaan luar sistem saraf pusat (CNS) yang memproduksi analgesia. Analgetik opioid dikategorikan sebagai agonis, kombinasi agonis-antagonis atau agonis parsial, tergantung pada afinitas ikatan dengan reseptor, reseptor b spesifik dan aktivitas pada reseptor (Anonim, 2005 ) 1) Opioid Agonis: Morfin sulfat, Oksicodon HCl, Hidromorfon HCl,

  Fentanil, Meperidin HCl, Metadon, Kodein, Levorfanol Tartrat (Anonim, 2005) (a) Morfin sulfat Merupakan obat pilihan untuk nyeri kanker berat. Lama kerjanya

  3-4 jam baik diberikan secara p.o (per oral) maupun parenteral (p.e). Morfin lepas lambat mempunyai lama kerja 8-12 jam. Obat ini tak boleh dipecah atau digerus. Pemberiannya tidak boleh a kurang dari 8 jam (Anonim, 1996 ).

  (b) Oksikodon HCl Oksikodon merupakan senyawa buatan turunan tebaina, dan strukturnya menyerupai kodein. Oksikodon HCl mempunyai ketersediaan hayati sebagai obat oral yang baik sekitar 50-70% (WHO, 1996). Kekuatan dan lama kerjanya sama dengan morfin

  (c) Hidromorfon HCl (Dilaudid Hydrochloride) Obat ini sama dengan morfin jalur pemberian oral lebih disukai dengan lama kerja 3-4 jam, tetapi dalam jumlah miligram yang sama mempunyai efek yang lebih poten. Perbandingan rute pemberian oral-parenteral 5:1. (d) Fentanil Merupakan opioid semisintetik, formulasiya tersedia dalam bentuk transdermal, parenteral, neuraxial dan transmukosa biasanya digunakan untuk menangani nyeri kanker berat pada pasien yang toleran terhadap opioid (Wallace & Staats, 2005) (e) Meperidin HCl Tidak dianjurkan pada nyeri kanker yang kronik, sebab lama kerjanya hanya 2-3 jam dan pada pemberian berulang dapat menimbulkan gangguan saraf berupa tremor, gelisah dan kejang. a (Anonim, 1996 ).

  (f) Metadon Dosis tunggal mempunyai lama kerja yang sama dengan morfin.

  Dengan pemberian berulang dapat bekerja 6-8 jam, tetapi efek a samping juga dapat berlangsung lama (Anonim, 1996 ).

  (g) Kodein Lebih lemah daripada morfin tetapi lama kerjanya sama. Umumnya digunakan dalam kombinasi dengan asam asetil salisilat atau asetaminofen (Anonim, 1996

a

).

  (h) Levorfanol tartrat Merupakan opioid kuat dengan durasi 4-6 jam. Levorfanol tartrat mempunyai aktivitas analgetik dan waktu paruh yang panjang, namun tidak sepanjang metadon serta bersifat lipofilik.

  

Perbandingan rute oral-parenteral adalah 2:1 (Anonim, 2005

b

  ) 2) Kombinasi agonis-antagonis Dalam kombinasi ini lebih didominasi oleh agonis opioid, namun secara klinik aktivitas antagonis opioid juga signifikan. Golongan ini meliputi: pentazosin, nalbupin dan butorfanol. Ketika kombinasi agonis-antagonis opioid diberikan bersamaan dengan agonis opioid, reaksi ketergantungan dari agonis kemungkinan muncul mirip dengan efek ketergantungan dari nalokson hidroklorida. Akibatnya nyeri akan bertambah berat (Anonim, 2005 b

  

) 3) Agonis parsial Obat ini berikatan dengan reseptor opioid dan menghasilkan efek lebih lemah dibandingkan dengan agonis murni. Buprenorfin mempunyai efek analgesia yang tinggi. Penggunaan bersamaan dengan agonis opioid dapat menimbulkan efek ketergantungan. Parsial agonis tidak direkomendasikan untuk terapi nyeri kanker (Anonim, 2005 b ).

  Selain menggunakan terapi farmakologis, nyeri dapat ditanggulangi dengan menggunakan terapi non farmakologis seperti tindakan operasi, radiasi, psikoterapi, tindakan rehabilitasi medik dan sebagainya; antara lain bisa dilakukan teknik distraksi dan teknik relaksasi (Sudoyo, Setiyohadi, Simodibrata & Setiati, 2006) 1) distraksi distraksi merupakan metode nyeri dengan cara mengalihkan perhatian pasien pada hal-hal lain sehingga pasien akan lupa terhadap nyeri yang dialami 2) relaksasi relaksasi adalah pembebasan mental dan fisikal dari ketegangan (Istichomah, 2007).

D. Infeksi

  Infeksi adalah masuknya mikroba ke dalam tubuh disertai

berkembangbiaknya mikroba tersebut di dalam tubuh (Kuntaman, 2007).

  

Kebanyakan pasien dengan penyakit keganasan dapat mengalami komplikasi

infeksi dan menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada pasien-pasien

ini. Faktor resiko infeksi; pasien yang mempunyai respon imun yang lemah

(imunocompromised) akan mengalami gangguan atau defisiensi satu atau lebih

sistem pertahanan tubuh yang disebabkan oleh penyakit dan kemoterapi yang

  

kulit dan pertahanan mukosa dan kegagalan imunitas humoral (antibodi dan

komplemen) dan imunitas seluler (pertahanan sistem imun yang diperantarai oleh

sel) (Koda-Kimble, 2009).

  Netropenia adalah pengurangan jumlah granulosit atau netrofil dalam

sirkulasi yang menjadi faktor predisposisi infeksi pada inang. Telah diamati

bahwa resiko infeksi pada pasien netropeni sebanding dengan keparahan dan

durasi netropenia. Pada umumnya resiko infeksi akan rendah ketika ANC melebihi

  3

  3

1.000 sel/mm . Jika ANC berkurang menjadi <500 sel/mm , resiko infeksi akan

meningkat cepat. Resiko infeksi selanjutnya akan berkembang jika terjadi

  

3

penurunan ANC menjadi <100 sel/mm . Selain itu, efek samping penggunaan

terapi radiasi pada kanker (mukositis, kulit pecah, pengurangan jumlah darah)

dapat menjadi predisposisi infeksi pada pasien netropeni (Koda-Kimble, 2009).

  Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa pemberian antibiotik oral

sebagai profilaksis awal periode netropeni pada pasien resiko tinggi afebril dapat

mengurangi kejadian febril dan resiko infeksi pada pasien. Tindakan profilaksis

ini pada umumnya diberikan pada pasien dengan resiko tinggi dengan netropeni

  3 berat (< 100 sel/mm ) (Koda-Kimble, 2009).

  3 Pasien febril dengan ANC <500 sel/mm atau < 1000 dan diprediksi

  3

menurun menjadi <500 sel/mm selama dua hari dapat berpotensi mengalami

infeksi. Pasien netropeni afebril dengan tanda dan gejala infeksi harus diberikan

terapi antibiotik. Jika telah diperoleh kultur darah dan kultur dari sumber infeksi

yang dicurigai maka pasien ini harus diberikan terapi yang tepat dimulai dengan

  E.

  

Antibiotika

1. Definisi

  Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain (Anonim, 2000).

2. Prinsip Penggunaan Antibiotika

  Prinsip penggunaan antibiotik didasarkan pada dua pertimbangan utama, yaitu: a. Penyebab Infeksi Pemberian antibiotik paling ideal adalah berdasarkan pada hasil pemeriksaan mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun dalam praktek sehari-hari, tidak mungkin melakukan pemeriksaan mikrobiologis untuk setiap pasien yang dicurigai menderita suatu infeksi. Pemberian antibiotik tanpa pemeriksaan mikrobiologis dapat didasarkan pada educated guess (Anonim, 2000).

  b. Faktor pasien Faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotik antara lain fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi (status imunologis), daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, wanita hamil dan menyusui (Anonim, 2000).

3. Klasifikasi Antibiotika

  Antibiotik dapat diklasifikasikan berdasarkan spektrum atau kisaran kerja, mekanisme aksi, strain penghasil, cara biosintesis maupun berdasarkan struktur biokimianya. Berdasarkan spektrum atau kisaran kerjanya antibiotik, dapat dibedakan menjadi antibiotik berspektrum sempit (narrow spectrum) dan antibiotik berspektrum luas (broad spectrum) (Pratiwi, 2008).

  Berdasarkan mekanisme aksinya, antibiotik dibedakan menjadi lima, yaitu dengan mekanisme penghambatan sintesis dinding sel, perusakan membran plasma, penghambatan sintesis protein, penghambatan sintesis asam nukleat, dan penghambatan sintesis metabolit esensial (Pratiwi, 2008).

  a. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel, antibiotik yang merusak lapisan peptidoglikan yang menyusun dinding sel bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Contohnya: sefalosporin, karbapenem, basitrasin, vankomisin, dan isoniazid (INH) b. Antibiotik yang merusak membran plasma, terdapat pada antibiotik golongan polipeptida yang bekerja dengan mengubah permeabilitas membran plasma sel bakteri. Contohnya adalah polimiksin B, amfoterisin B, mikonazol, dan ketokonazol.

  c. Antibiotik yang menghambat sintesis protein, mekanisme antibiotik, berikatan pada 30S ribosom bakteri (beberapa terikat juga pada subunit

  50S ribosom) dan menghambat translokasi peptidil-tRNA dari situs A ke situs P, dan menyebabkan kesalahan pembacaan m-RNA dan mengakibatkan bakteri tidak mampu mensintesis protein vital untuk pertumbuhannya. Contohnya adalah antibiotik golongan aminoglikosida.

d. Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat, dengan cara penghambatan terhadap transkripsi dan replikasi mikroorganisme.

  Contohnya adalah antibiotik golongan kuinolon dan rifampin.

  e. Antibiotik yang menghambat sintesis metabolit esensial, dengan adanya kompetitor berupa antimetabolit, yaitu substansi yang secara kompetitif menghambat metabolit mikroorganisme, karena memiliki struktur yang mirip dengan substrat normal bagi enzim metabolisme. Contohnya adalah antimetabolit sulfanilamid dan para benzoic acid (PABA) (Pratiwi, 2008).

4. Kombinasi Antibiotik

  Penggunaan antibiotik secara kombinasi (dua antibiotik yang digunakan secara bersama-sama) dapat saling mempengaruhi kerja dari masing-masing antibiotik. Kombinasi antibiotik tersebut dapat bersifat antagonis, di mana antibiotik yang satu bersifat mengurangi atau meniadakan khasiat antibiotik kedua yang memiliki khasiat farmakologi bertentangan. Contohnya penggunaan penisilin dan tetrasiklin secara bersamaan. Pada antagonis kompetitif, dua antibiotik bersaing secara reversibel demi reseptor yang sama (Pratiwi, 2008).

  Kombinasi antibiotik dapat pula bersifat sinergis, yaitu penggunaan antibiotik secara kombinasi yang menyebabkan timbulnya efek terapetik yang lebih besar dibandingkan bila antibiotik tersebut diberikan sendiri-sendiri

  (tunggal). Contohnya kombinasi antara penisilin dan streptomisin (Pratiwi, 2008)

5. Resistensi Antibiotik

  Ada berbagai mekanisme yang menyebabkan suatu populasi kuman menjadi resisten terhadap antibiotika. Mekanisme tersebut antara lain adalah: a. Mikroorganisme memproduksi enzim yang merusak daya kerja obat

  b. Terjadinya perubahan permeabilitas kuman terhadap obat tertentu

  c. Terjadinya perubahan pada tempat/lokus tertentu di dalam sel sekelompok mikroorganisme tertentu yang menjadi target obat.

  d. Terjadinya perubahan pada metabolic pathway yang terjadi pada target obat e. Terjadinya perubahan enzimatik sehingga kuman meskipun masih dapat hidup dengan baik tetapi kurang sensitif terhadap antibiotik (Anonim,

  1994) F.

   Drug Related Problem (DRP) Permasalahan dalam farmasi klinis terutama muncul karena pemakaian obat.

  

Drug related problem (DRP) atau sering diistilahkan dengan drug therapy

problem (DTP) adalah kejadian atau efek yang tidak diharapkan yang dialami

pasien dalam proses terapi dengan obat dan secara aktual atau potensial

bersamaan dengan outcome yang diharapkan pada saat mendapat perawatan

akibat dari suatu penyakit (Cipolle, 2004).

  

Tabel IV. Permasalahan umum terapi obat dan penyebabnya (Jones, 2008)

  Permasalahan terapi obat Kemungkinan penyebab Terapi obat yang tidak diperlukan Tidak ada indikasi

  Terapi dobel/duplikasi Kesalahan obat Adanya kontraindikasi

  Obat tidak diindikasikan untuk kondisi Pengobatan yang lebih efektif tersedia Interaksi obat Indikasi yang sukar disembuhkan obat Bentuk sediaan yang tidak tepat

  Dosis terlalu rendah Kesalahan dosis Frekuensi yang tidak tepat Durasi yang tidak tepat Penyimpanan yang salah Cara pemberian yang salah Interaksi obat

  Dosis terlalu tinggi Kesalahan dosis Frekuensi yang tidak tepat Durasi yang tidak tepat Cara pemberian yang salah Interaksi obat

  Reaksi obat yang berlawanan Efek samping obat yang tidak diinginkan Reaksi alergi Interaksi Obat Cara pemberian yang salah Perubahan dosis yang terlalu cepat Obat tidak aman untuk pasien

  Ketidakpatuhan Harga obat tidak terjangkau Tidak mengerti petunjuk untuk menggunakan obat Tidak dapat menelan/mengadministrasi obat Memilih untuk tidak menggunakan obat Obat tidak tersedia

  Terapi obat tambahan Kondisi tidak dirawat Terapi profilaksis Terapi sinergis Diadaptasi dari Cipolle J, Strand LM, Morley PC. Drug Therapy Problem.

  nd

Dalam: Pharmaceutical Care Practise: The Clinician’s Guide, 2 ed. New York:

McGraw-Hill, 2004: 171-198. Tomochko MA, Strand LM, Morley PC, et al. Q

and A from the pharmaceutical care project in Minnesota. Am Pharm 1995;

NS35(4):30-39.

G. Keterangan empiris

  Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi Penggunaan Analgetik dan

Antibiotik pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito

Yogyakarta Periode Oktober-Desember tahun 2008, terkait dengan permasalahan

dalam terapi obat yaitu; tidak membutuhkan terapi obat, ketepatan dosis (dosis

terlalu tinggi atau dosis terlalu rendah), adanya kesalahan obat, reaksi obat yang

berlawanan, adanya terapi obat tambahan dan ketaatan pasien.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian mengenai evaluasi penggunaan analgetik dan antibiotik pada

  pasien kanker serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito periode Oktober-Desember tahun 2008 merupakan jenis penelitian non-eksperimental dengan rancangan penelitian deskriptif-evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental karena tidak ada perlakuan secara langsung pada subjek uji.

  Penelitian merupakan rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif dikarenakan data diperoleh dari dokumen terdahulu berupa lembar rekam medis pasien kanker serviks yang menggunakan analgetik dan antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008 kemudian dievaluasi berdasarkan studi pustaka, dan dideskripsikan dengan memaparkan fenomena yang terjadi, yang kemudian dibuat dalam bentuk gambar dan tabel.

B. Definisi Operasional

  1. Evaluasi penggunaan obat analgetik dan antibiotik adalah pemeriksaaan kembali terhadap data rekam medik penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks untuk mengevaluasi penggunaan obat analgetik dan antibiotik atau salah satu dari kedua obat ini pada pasien kanker

  

2. Pasien kanker serviks adalah pasien yang terdiagnosis mengidap kanker

serviks pada semua stadium yang menerima pengobatan analgetik dan antibiotik atau salah satu dari kedua obat ini serta menjalani perawatan di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober- Desember 2008.

  

3. Analgetika adalah semua golongan obat analgetik yang digunakan untuk

mengatasi nyeri pada pasien kanker serviks.

  

4. Antibiotika adalah semua golongan obat antibiotik yang digunakan untuk

mengatasi infeksi yang terjadi pada pasien kanker serviks.

  

5. Lembar rekam medis adalah catatan pengobatan dan perawatan pasien

yang memuat data mengenai karakteristik pasien meliputi identitas, diagnosis, anamnesis, pemeriksaan jasmani, hasil laboratorium, daftar pemberian obat, rencana pengelolaan dan catatan perkembangan, rekam catatan keperawatan serta ringkasan pemeriksaan pada kasus kanker serviks yang dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008

  

6. Drug Related Problems (DRPs) merupakan suatu permasalahan atau kejadian yang tidak diharapkan baik secara aktual atau potensial yang dialami pasien kanker serviks dalam proses terapi menggunakan obat analgetik dan antibiotik yang meliputi: a. additional drug therapy (membutuhkan terapi obat tambahan) meliputi : membutuhkan terapi obat tambahan berupa analgetik dan antibiotik dosis tunggal atau kombinasi karena adanya indikasi yang tidak diberikan terapi analgetik dan antibiotik.

  

b. unnecessary drug therapy (tidak membutuhkan obat) meliputi :

penggunaan analgetik pada pasien kanker serviks yang tidak mengalami nyeri dan penggunaan antibiotik pada pasien kanker serviks yang tidak mengalami infeksi, pemakaian obat analgetik ataupun antibiotik dengan indikasi yang sama (terapi duplikasi) pada pasien kanker serviks.

  

c. wrong drug (obat tidak tepat) meliputi : penggunaan analgetik dan

antibiotik yang dikontraindikasikan, penggunaan antibiotika yang

resisten terhadap infeksi yang terjadi pada pasien kanker serviks.

  

d. dosage too low (dosis kurang) meliputi: pemakaian dosis analgetik

dan antibiotik yang kurang dari dosis terapi, frekuensi pemberian analgetik dan antibiotik yang tidak tepat/kurang, cara pemberian obat analgetik dan antibiotik yang salah pada pasien kanker serviks.

  

e. dosage too high (dosis berlebih) meliputi: pemberian dosis analgetik dan antibiotik terlalu tinggi, dosis analgetik dan antibiotik terlalu cepat dinaikkan, frekuensi pemberian analgetik dan antibiotik yang tidak tepat/berlebihan, cara pemberian obat analgetik dan antibiotik yang salah pada pasien kanker serviks, dosis analgetik dan antibiotik yang tidak disesuaikan dengan kondisi pasien misalnya pasien f. adverse drug reactions (efek samping obat) meliputi: terjadi efek samping pada penggunaan obat analgetik dan antibiotik, terjadi reaksi alergi pada penggunaan analgetik dan antibiotik, terjadi interaksi obat antara analgetik-analgetik, antibiotik-antibiotik, analgetik-antibiotik pada pasien kanker serviks.

  g. compliance (ketaatan pasien) meliputi: obat analgetik dan antibiotik tidak terjangkau oleh pasien, pasien tidak mengerti petunjuk untuk menggunakan obat analgetik dan antibiotik, pasien memilih untuk tidak menggunakan analgetik dan antibiotik.

C. Subyek Penelitian

  Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien kanker serviks yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008. Kriteria inklusi subyek adalah pasien yang didiagnosa menderita kanker serviks pada semua stadium kanker serviks, menerima terapi berupa obat analgetik dan antibiotik atau salah satu dari kedua obat ini dan menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008.

  Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi sehingga dapat dijadikan sebagai subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak 20 pasien.

  Untuk memperoleh sampel representatif, pemilihan sampel dalam

  sampling dengan menggunakan tabel bilangan random. Tabel bilangan random merupakan suatu tabel yang terdiri dari bilangan-bilangan yang disajikan dengan sangat tidak berurutan. Prinsip pemakaiannya adalah pertama-tama memberi nomor pada setiap anggota populasi. Lalu gunakan jumlah digit pada tabel acak dengan digit populasi (Umar, 2007).

  Pengambilan sampel secara acak adalah suatu metode pemilihan ukuran sampel di mana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk di pilih menjadi anggota sampel, sehingga metode ini sering disebut sebagai prosedur yang terbaik (Umar, 2007).

  D. Bahan Penelitian Bahan penelitian yang digunakan adalah lembar rekam medis pasien kanker serviks yang menggunakan analgetik dan antibiotik atau salah satu dari kedua obat ini di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008.

  E. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Instalasi Catatan Medis RSUP Dr. Sardjito, Jalan Kesehatan No. 1 Sekip Yogyakarta

F. Tata Cara Penelitian

  Tata cara penelitian dilakukan secara bertahap yaitu sebagai berikut:

  1. Perencanaan Penelitian dimulai dengan menentukan analisis masalah yang akan djadikan sebagai bahan penelitian kemudian analisis situasi yaitu dengan mencari informasi mengenai distribusi penyakit kanker serviks di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008. Dan selanjutnya mengurus perijinan di bagian Pendidikan dan Pelatihan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Kemudian mengajukan kelaikan etik (Ethical Clearance) di Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sebagai syarat untuk melakukan penelitian menggunakan subjek manusia.

  2. Pengambilan Data Tahap pengambilan data yaitu sebagai berikut :

a. Penelusuran data, dilakukan di Instalasi Catatan Medis RSUP Dr.

  Sardjito Yogyakarta kemudian didapatkan data print out mengenai jumlah pasien, nomor rekam medis, usia, jenis kelamin, alamat, lama perawatan, unit perawatan, diagnosis utama, diagnosis lain ataupun komplikasi yang dialami pasien kanker serviks pada periode Oktober- Desember 2008. Dari data rekam medik dalam bentuk print out penelitian ini satu pasien dihitung satu kasus. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik randomisasi, dalam teknik randomisasi semua subjek mendapat kesempatan yang sama untuk dijadikan sebagai subjek dalam penelitian (Umar, 2007). Dari hasil sampling diperoleh 20 pasien yang memenuhi kriteria inklusi sehingga dapat dijadikan sebagai subjek dalam penelitian ini.

  b. Proses pengambilan data, dilakukan pada 20 pasien kanker serviks dimulai pada tanggal 03 Agustus 2009 sampai dengan 28 Oktober 2009 di Instalasi Catatan Medis RSUP Dr. Sardjito periode Oktober- Desember 2008.

  c. Pencatatan data. Data rekam medik masing-masing pasien ditulis pada lembar pencatatan yang telah peneliti sediakan. Data yang dikumpulkan dari rekam medik masing-masing pasien tersebut adalah sebagai berikut: identititas, tanggal masuk dan tanggal keluar, cara bayar, diagnosis, outcome, anamnesis, pemeriksaan jasmani, data hasil laboratorium, data non laboratorium, daftar pemberian obat, dosis obat, jumlah obat, cara pemberian, lama pemberian, bentuk sediaan, rencana pengelolaan dan catatan perkembangan, rekam catatan keperawatan dan ringkasan pemeriksaan.

  3. Pengolahan Data Data kualitatif yang telah diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan gambar yang disertai dengan keterangan. Tabel tersebut berisi profil yang digunakan, outcome, data laboratorium (WBC dan netrofil) dan nonlaboratorium (N dan T). Kemudian data tersebut diidentifikasi DRP (Drug Related Problem) dengan menggunakan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan) .

  4. Evaluasi Data Data yang telah dikumpulkan kemudian dievaluasi dimulai dengan pasien per pasien yang berdasarkan pada DRP (Drug Related Problem) dengan menggunakan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan).

  Kelas terapi obat dikelompokkan berdasarkan pada literatur Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 (IONI) dan MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 8 2008/2009. Literatur yang digunakan sebagai acuan dalam analisis Drug Related Problem adalah Protokol Onkologi RSUP Dr.

  Sardjito (Pengelolaan Nyeri Kanker), NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Prevention and Treatment of Cancer-Related Infections , th

  Drug Information Handbook (DIH) 14 Edition, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 (IONI), MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 8 2008/2009, Informasi Spesialite Obat Indonesia volume 43-2008, British National Formulary (BNF), Buku Saku Mengenal Penyakit melalui th Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Cancer Pain Relief 2 Edition.

G. Tata Cara Analisis Hasil

  Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan cara melihat karakteristik

pasien yang meliputi usia pasien pada waktu didiagnosis menderita kanker

serviks, skala nyeri kanker serviks, stadium kanker serviks; golongan dan jenis

obat antibiotik; golongan dan jenis obat analgetik, kesesuaian pemberian analgetik

berdasarkan pada tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO dan kajian DRP

dengan menggunakan metode SOAP.

  Tata cara analisis hasil adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik pasien

  a. Perhitungan persentase kelompok usia pasien kanker serviks dibagi menjadi enam kelompok usia, yaitu 25-34, 35-44, 45-54, 55-64, 65-74, dan 75-84 (Yatim, 2005), cara perhitungannya sebagai berikut :

x

  %   100 %

n

  Keterangan: x : jumlah pasien kanker serviks pada kelompok usia tertentu n : jumlah keseluruhan kelompok usia pasien kanker serviks

  b. Skala nyeri kanker serviks dikelompokan menjadi 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,

10; perhitungan skala nyeri pada pasien kanker serviks dengan cara:

x

  %   100 %

n Keterangan : x : jumlah kelompok pasien yang menderita kanker serviks pada skala nyeri tertentu (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10) n : jumlah keseluruhan kelompok pasien kanker serviks pada semua skala nyeri

c. Stadium kanker serviks dikelompokan menjadi 4 stadium yaitu stadium I,

  II, III, IV; cara perhitungannya adalah sebagai berikut: x

  %   100 % n

  Keterangan : x : jumlah kelompok pasien yang menderita kanker serviks pada stadium tertentu (I, II, III, IV) n : jumlah keseluruhan kelompok pasien kanker serviks pada semua stadium

  

2. Golongan obat dan jenis antibiotik, dihitung dengan cara membagi jumlah

kelompok pasien kanker serviks yang menggunakan jenis antibiotik dari

golongan antibiotik tertentu dengan jumlah keseluruhan jenis antibiotika

semua golongan yang digunakan oleh pasien kanker serviks.

  

3. Golongan dan jenis obat analgetik, cara perhitungannya yaitu membagi jumlah

kelompok pasien kanker serviks yang menggunakan jenis analgetik dari

golongan analgetik tertentu dengan jumlah keseluruhan jenis analgetik semua

golongan yang digunakan oleh pasien kanker serviks.

4. Kajian DRP dengan menggunakan metode SOAP, yaitu dengan cara

  kemudian diberi penilaian terkait penggunaan obat dan rekomendasi yang harus diberikan pada pasien dengan menggunakan metode SOAP (Subject, Objective, Assesment, Plan) yang selanjutnya dibuat dalam bentuk tabel dan gambar.

H. Kesulitan Penelitian

  Dalam penelitian ini, peneliti menemui beberapa kesulitan antara lain dalam

proses analisis data dan evaluasi data rekam medik karena data laboratorium

pasien tidak lengkap, waktu pemberian obat yang tidak selalu ditulis dalam data

rekam medik pasien. Kelemahan penelitian ini adalah jumlah subjek yang

dianalisis tidak dapat menggambarkan kasus kanker serviks yang menggunakan

analgetik dan antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

pada periode Oktober-Desember tahun 2008 karena jumlah sampel yang

digunakan adalah minimal.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan dengan cara menelusuri data rekam medik pasien

  

yang diagnosis utamanya adalah kanker serviks pada semua stadium. Data rekam

medik pasien kanker serviks yang menggunakan analgetik dan antibiotik atau

salah satu dari kedua obat ini sebanyak 20 pasien.

A. Karakteristik Pasien Kanker Serviks

  

Dari hasil penelitian karakteristik pasien kanker serviks yang akan dibahas

mencakup usia pasien pada waktu didiagnosis menderita kanker serviks, stadium

kanker serviks dan skala nyeri kanker serviks.

1. Persentase Usia Pasien Kanker Serviks

  Pendistribusian usia pasien kanker serviks digunakan untuk mengetahui jumlah kelompok usia terbanyak pasien kanker serviks di Instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober sampai Desember tahun 2008. Distribusi usia pasien kanker serviks yang mendapatkan terapi analgetik dan antibiotik dibagi ke dalam enam kelompok usia, yaitu 25-34, 35-44, 45-54, 55- 64, 65-74, dan 75-84.

  Pengelompokan usia pasien kanker serviks ini berdasarkan pada insiden yang meningkat sejak usia 25-34 tahun dan menunjukkan puncaknya pada kelompok umur 35-44 tahun di RSCM dan kelompok umur 45-54 tahun untuk seluruh Indonesia (Yatim, 2005). Karsinoma planoselular dari serviks muncul pertama kali setelah menarke, dan relatif lebih sedikit hingga usia 35 tahun.

  50 tahun dan kemudian terjadi penurunan lagi, yang mencerminkan penurunan total jumlah wanita kelompok usia ini. Frekuensi tertinggi karsinoma serviks terdapat atara 50-55 tahun dengan umur rata-rata 53,2 tahun; penyebaran umur mulai dari 18-95 tahun (Van De Velde, Bosman & Wagener, 1999).

  Persentase pasien kanker serviks berdasarkan usia (n=20 pasien) 35% 30% 25% 20% 15% 10%

  5% 0% 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75-84

  Gambar 5. Persentase Kelompok Usia Pasien Kanker Serviks yang Menggunakan Analgetik dan Antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kelompok usia yang paling banyak dijumpai yaitu pada kelompok usia 35-44 dan 45-54 sebesar 35% kemudian terjadi penurunan lagi pada kelompok usia 65-74 (0%). Data persentase kelompok usia pasien kanker serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta telah sesuai dengan teori di atas.

2. Persentase Stadium Pasien Kanker Serviks Sebelum memberikan terapi, terlebih dahulu ditentukan stadium tumor.

  Stadium dapat menggambarkan mekanisme penyebaran tumor sehingga dapat derajat histologis, merupakan penentu yang paling penting untuk hasil terapi (Davey, 2005). Stadium tumor dapat ditentukan berdasarkan pada beberapa pemeriksaan: pemeriksaan fisik misalnya inspeksi dan palpasi, kolposkopi, histopatologi biopsi atau konisasi, kerokan endoserviks, urografi dan survei metastasis (Tambunan, 1995).

  Stadium kanker serviks menurut FIGO (Federation Of Gynaecology and Obstetrics) dibagi ke dalam 13 stadium yaitu 0, I, IA, IB, II, IIA, IIB, III, IIIA,

  IIIB, IV, IVA dan IV B.

  

Tabel V. Persentase Stadium Pasien Kanker Serviks yang Menggunakan Analgetik

dan Antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode

Oktober-Desember 2008

  Stadium Jumlah Pasien Persentase (%)

  IB 1 5%

  IIA 5 25%

  II B 5 25%

  IIIA 1 5%

  IIIB 7 35%

  IV 1 5%

  Dari hasil penelitian, stadium yang paling banyak diderita oleh pasien kanker serviks yang mendapatkan terapi analgetik dan antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember tahun 2008 adalah pada stadium IIIB yaitu sebesar 35%. Kanker serviks pada masa prakarsinoma sampai karsinoma in situ tidak menunjukkan gejala yang jelas, kanker serviks baru menunjukkan gejala pada stadium lanjut sehingga penderita kanker serviks akan datang memeriksakan dirinya setelah terjadi gejala pada stadium lanjut. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa pada stadium lanjut (stadium IIIB) pasien kanker serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember tahun 2008 akan rentan terhadap resiko nyeri dan infeksi karena sekitar 70% pasien kanker stadium lanjut akan mengalami nyeri kanker.

3. Persentase Skala Nyeri Pasien Kanker Serviks

  Terapi analgetik dapat efektif bila diawali dengan dengan pengukuran nyeri yang tepat pada pasien dengan menggunakan skala nyeri. Skala nyeri merupakan alat yang digunakan untuk mendeskripsikan intensitas nyeri dan sebagai dasar dalam pemilihan terapi untuk menangani nyeri yang dirasakan oleh pasien. Pengukuran skala nyeri harus berdasarkan pada kemampuan pasien untuk berkomunikasi misalnya jika ingin mengukur skala nyeri pada pasien anak-anak maka dapat digunakan skala nyeri dengan raut wajah (Koda- Kimble, 2009). Pada penelitian ini, perawat menggunakan skala numerik dalam melakukan pengukuran skala nyeri pada pasien. Skala numerik mempunyai rentang skala nyeri dari 0-10, di mana 0 tidak merasakan nyeri, skala nyeri 1-3 mengalami nyeri ringan, 4-6 mengalami nyeri sedang, dan 7- 10 pasien mengalami nyeri hebat.

  Dari 20 pasien, 16 pasien mengalami nyeri dan hanya 8 pasien yang dilakukan pengukuran skala nyeri. Persentase skala nyeri terbanyak pada pasien yaitu skala nyeri 5 sebesar 37,5%. Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel VI.

  Sebagian besar pasien kanker serviks dengan skala nyeri di atas merasakan nyeri kronis yang berlangsung terus menerus dan lama (pasien dengan nomor 01, 04, 10, 15, 16). Sedangkan pasien dengan nomor 02, 03 dan kronis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dengan terapi yang tepat sesuai dengan derajat nyeri yang dirasakan oleh pasien.

  

Tabel VI. Persentase Skala Nyeri Pasien Kanker Serviks yang Menggunakan

Analgetik dan Antibiotik di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Periode Oktober-Desember 2008

  Skala Jumlah pasien Persentase (%) nyeri 1 1 12,5%

  4 1 12,5%

  5 3 37,5%

  8 2 25%

  10 1 12,5% B.

   Persentase Penggunaan Analgetik 1. Persentase Penggunaan Analgetik Pada stadium lanjut, kanker serviks akan menyebar ke struktur yang berada di sekitarnya dan organ viscera. Hal ini dapat menimbulkan beberapa gejala antara lain, nyeri yang sering kali hebat dan sulit ditangani yang disebabkan oleh penekanan tumor pada saraf simpatikus yang ada di parametrium dan penekanan tumor pada ureter (Suwiyoga, 2005). Selain itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan rasa nyeri yaitu faktor psikologis misalnya kecemasan, rasa takut, dan kepercayaan kultural. Faktor yang sangat penting adalah kualitas dan kuantitas tidur, rasa lelah dapat menjadikan nyeri bertambah berat (Davey, 2005). Untuk meredakan nyeri kanker ini diperlukan analgetik yang diberikan sesuai dengan derajat nyeri yang dirasakan oleh pasien.

  Analgetik dapat dijadikan sebagai pendekatan utama dalam penanganan

  

sehingga dapat diberikan pada saat penyebab nyeri sedang ditentukan (WHO,

1996).

  10

  Morfin+Ketorolac 1 2,56%

  Kombinasi analgetik non-opioid dengan analgetik opioid

  1 2,56% 2,56%

  1

  Analgetika opioid Petidin Morfin sulfat

  1 23,08 % 7,69% 17,95% 10,26% 25,64% 5,13% 2,56%

  2

  4

  Pada penelitian ini terdapat 16 pasien yang mengalami nyeri, 2 pasien

mengalami demam. Dari 16 pasien yang mengalami nyeri, hanya 14 pasien

(87,5%) yang telah mendapatkan terapi analgetik untuk meredakan nyeri

sedangkan 2 pasien (12,5%) kanker serviks tidak mendapatkan terapi

analgetik.

  7

  3

  9

  Parasetamol Sistenol Asam mefenamat Tramadol Ketorolac Meloxicam Metampiron

  Persentase (%) Analgetika non- opioid

  Golongan obat Jenis obat Jumlah kasus (n=39)

  

Tabel VII. Persentase Penggunaan Analgetik pada Pasien Kanker Serviks di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember

2008

  Persentase penggunaan golongan analgetik pada nyeri kanker serviks di

Instalasi Rawat Inap Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember

tahun 2008 dengan persentase tertinggi yaitu penggunaan golongan analgetik

non-opioid sebesar 92,31% dengan penggunaan jenis analgetik terbanyak

yaitu Ketorolac (25,64%) dan Parasetamol (23,08%) kemudian diikuti

analgetik opioid yaitu sebesar 5,12% dan terakhir kombinasi analgetik non-

opioid dengan analgetik opioid yaitu 2,56%.

  Analgetik non-opioid yang terdiri dari asam asetil salisilat serta antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan asetaminofen sering digunakan sebagai terapi awal pada nyeri kanker ringan (skala nyeri 1-3) untuk meredakan nyeri yang dirasakan oleh pasien. Analgetik antiinflamasi nonsteroid berguna untuk pengobatan pasien berpenyakit kronis yang disertai nyeri dan inflamasi dan nyeri akibat metastase tulang tetapi parasetamol lebih disukai pada lanjut usia karena diabsorpsi lebih baik secara oral dan kurang menyebabkan iritasi pada lambung.

2. Kesesuaian Pemberian Analgetik Berdasarkan pada Standar dari WHO

  Metode penanganan nyeri kanker menurut WHO yaitu menggunakan tangga analgetik berjenjang tiga. Runtunan penggunaan tangga analgetik berjenjang tiga menurut WHO adalah sebagai berikut: tahap pertama adalah menggunakan analgetik non-opioid seperti Parasetamol dan Asetosal pada nyeri ringan. Jika ini tidak dapat meredakan rasa nyeri, harus ditambahkan suatu opioid untuk nyeri ringan sampai sedang contohnya Kodein. Apabila gabungan opioid untuk nyeri ringan sampai sedang dengan suatu non-opioid tidak dapat meredakan nyeri, maka harus diganti dengan opioid untuk nyeri sedang sampai nyeri berat seperti Morfin (WHO, 1996).

  Untuk mengetahui kesesuaian pemberian analgetik pada penelitian dengan Prosedur Standar yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu dengan cara menyesuaikan pemberian analgetik berdasarkan skala nyeri yang di alami pasien dari nyeri ringan (1-3), nyeri sedang/menengah (4-6) dan nyeri hebat kanker serviks, 16 pasien mengalami nyeri dan hanya 8 pasien yang dilakukan pengukuran skala nyeri sehingga hanya delapan pasien kanker serviks yang dapat dievaluasi kesesuaian penggunaan analgetik berdasarkan pada skala nyeri yang dialami oleh pasien dengan standar Analgetik Berjenjang Tiga dari WHO.

  Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, total kesesuaian penggunaan analgetik pada pasien kanker serviks berdasarkan pada tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO sebesar 37,5% dengan nomor pasien 01, 03, dan 16. Sedangkan total ketidaksesuaian penggunaan analgetik pada pasien kanker serviks yaitu sebesar 62,5% dengan nomor pasien 02, 06, 10, 15 dan 18. Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel VIII.

  

Tabel VIII. Kesesuaian Terapi Analgetik berdasarkan Tangga Analgetik Berjenjang

Tiga dari WHO pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr.

  

Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008

  No Skala Analgetik yang Standar WHO % pasien diberikan Sesuai Tidak Sesuai Tidak sesuai sesuai

  1

  1 Ketorolac 12,5% √

  2

  10 Asam mefenamat, 12,5% √

  Ketorolac, Parasetamol, Tramadol

  3

  8 Morfin+Ketorolac, 12,5% √

  Meloxicam

  6

  4 Ketorolac, Asam 12,5% √

  Mefenamat

  10

  5 Parasetamol, Asam 12,5% √

  Mefenamat

  15

  5 Asam Mefenamat 12,5% √

  16

  8 Metamizole Na, 12,5% √

  Petidin

  18

  5 Ketorolac, Meloxicam 12,5% √

  Total 37,5% 62,5%

  Tingginya persentase ketidaksesuaian pemberian analgetik pada pasien kanker serviks dengan skala nyeri tertentu bisa disebabkan karena kekhawatiran para tenaga kesehatan dan tenaga medis bahwa penggunaan opiod dalam pengobatan dapat menyebabkan efek ketergantungan kejiwaan dan penyalahgunaan obat (WHO, 1996).

C. Persentase Penggunaan Antibiotik

  Pasien dengan penyakit keganasan atau mendapat obat sitotoksik atau

imunosupresan rentan terhadap infeksi berat yang sering kali disebabkan oleh

organisme yang tidak lazim, misalnya bakteri komensal, beberapa virus, ragi,

jamur dan protozoa (Reid, Rubin & Whiting, 2007). Infeksi terjadi karena

berkurangnya produksi sel darah putih sehingga menyebabkan leukupenia dan

neutropenia. Hal ini akan menyebabkan defisiensi sistem imun atau penekanan

respon imun dan mengakibatkan pasien rentan terhadap infeksi. Selain itu,

defisiensi sistem imun yang terjadi akibat proses penuaan, malnutrisi dan kakeksia

kanker juga berpengaruh terhadap kejadian dan beratnya infeksi pada pasien

kanker (Sudoyo, Setiyohadi, Simodibrata & Setiati, 2006).

  Berdasarkan hasil penelitian, pasien kanker serviks yang menjalani

pemeriksaan klinis dan laboratorium menunjukkan adanya peningkatan nilai

WBC dan netrofil pada 15 pasien kanker serviks. Peningkatan jumlah WBC dan

netrofil pada umumnya diamati sebagai infeksi bakteri. Peningkatan jumlah WBC

dan netrofil pada pasien dengan infeksi bakteri menunjukkan adanya suatu

  

terhadap adanya infeksi. Namun lekositosis tidak selalu berhubungan dengan

infeksi tetapi ditemui pula pada infeksi virus dan kerusakan jaringan. Hal ini

menunjukkan bahwa 15 pasien kanker serviks yang menjalani Rawat Inap di

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008 mengalami

infeksi. Oleh karena itu untuk mengatasi terjadinya infeksi lebih lanjut pada

pasien kanker serviks ini diperlukan pemberian antibiotik. Penggunaan antibiotik

pada kasus ini yaitu sebagai terapi antibiotik profilaksis, empirik dan kuratif.

  

Tabel IX. Persentase Penggunaan Antibiotik pada Pasien Kanker Serviks di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember

2008

  Golongan obat Jenis obat Jumlah kasus (n=25)

  Persentase (%) Penisilin Amoxicillin 2 8% Sefalosporin Cefixime

  Cefotaxime Ceftazidime Ceftriaxone Cefpirome

  3

  8

  1

  4

  2 12% 32% 4% 16% 8%

  Kuinolon Ciprofloxacin 2 8% Lain-lain Metronidazole 1 4% Kombinasi antimikroba

  Sulbactam Na 500 mg+Cefoperazone Na 500 mg 2 8%

  Pada tabel di atas menunjukkan bahwa Persentase Penggunaan Golongan

Antibiotik terbanyak pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap Dr.

  

Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008 adalah Golongan

Sefalosporin sebesar 72% dengan jenis antibiotik terbanyak yaitu Cefotaxime

sebesar 32%.

  Antibiotik golongan Sefalosporin lebih banyak digunakan karena

mempunyai spektrum antibiotik yang luas yang digunakan dalam pengobatan

  

saluran kemih (Anonim, 2004). Antibiotik ini mempunyai mekanisme kerja mirip

dengan penisilin dengan merusak lapisan peptidoglikan yang menyusun dinding

sel bakteri gram positif maupun gram negatif (Pratiwi, 2008).

B. Kajian Drug Related Problem (DRP)

  Kajian Drug Related Problem dilakukan dengan cara mengevaluasi

permasalahan yang terjadi pada penggunaan Analgetik dan Antibiotik pada Pasien

Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode

Oktober-Desember 2008 dengan menggunakan metode SOAP.

1. Evaluasi Penggunaan Analgetik Evaluasi penggunaan Analgetik dilakukan pada 20 pasien kanker serviks.

  Dari 20 pasien, 11 pasien kanker serviks mengalami kejadian DRP sebanyak 5 kasus yaitu membutuhkan terapi analgetik, tidak membutuhkan terapi analgetik, dosis analgetik berlebihan, penggunaan analgetik yang tidak tepat dan kejadian efek samping analgetik aktual dan potensial.

  

Tabel X. Kasus DRP Penggunaan Analgetik pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi

Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008

  No Jenis DRP Nomor Kasus Jumlah kasus Persentase n=12 (%)

  1 Membutuhkan terapi 05, 11 2 16,67% Analgetik

  2 Tidak membutuhkan

  9 1 8,33% terapi Analgetik

  3 Penggunaan Analgetik 1, 2, 4 4 33,33% tidak tepat

  4 Dosis berlebih 03, 08, 18 3 25%

  5 Efek samping analgetik

  15 1 8,33% Potensial terjadinya

  16 1 8,33% efek samping analgetik Pengelompokan DRP penggunaan analgetik pada pasien kanker serviks periode Oktober-Desember tahun 2008 adalah sebagai berikut:

a) Penggunaan analgetik tidak tepat

  

Tabel XI. Kasus DRP Penggunaan Analgetik yang tidak tepat pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-

Desember 2008

  Kasus Jenis Analgetik Penilaian Rekomendasi

  1 Ketorolac

  • Ketorolac dikontraindikasikan untuk pasien yang mengalami gagal ginjal
  • Hentikan penggunaan Ketorolac. Berikan ibuprofen 3x400 mg dan monitor nyeri pada pasien dengan melakukan pemeriksaan skala nyeri. Hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  2 Ketorolac Ketorolac dikontraindikasikan untuk pasien yang mengalami gagal ginjal

  Penggunaan Ketorolac telah dihentikan. Kemudian diberikan Tramadol 2x50 mg dan Parasetamol. Asam mefenamat Asam mefenamat dikontraindikasikan untuk pasien yang mengalami gagal ginjal.

  Penggunaan asam mefenamat telah dihentikan dan telah diganti dengan Tramadol 2x50 mg iv

  4 Ketorolac Ketorolac dikontraindikasikan untuk pasien yang mengalami gagal ginjal

  Pemberian Ketorolac telah dihentikan kemudian pasien diberikan terapi Tramadol 1x50 mg.

  Analgetik yang tidak tepat pada terapi nyeri pasien kanker serviks terdapat

2 jenis analgetik yaitu Ketorolac dan Asam mefenamat yang terjadi pada 4 kasus

dengan nomor pasien 01, 02 dan 04.

  b) Membutuhkan terapi analgetik

Tabel XII. Kasus DRP Membutuhkan Terapi Analgetik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-

  

Desember 2008

  Kasus Indikasi Penyakit Penilaian Rekomendasi

  05 Bila buang air kecil Membutuhkan terapi Berikan terasa nyeri dan nyeri analgetik untuk parasetamol 3x500 pinggang mengatasi nyeri yang mg. Hentikan dirasakan oleh pasien terapi jika pasien

  11 Nyeri tekan pada sudah tidak abdomen, nyeri merasakan nyeri pinggang, nyeri otot/tulang jika beraktivitas, buang air besar nyeri

  Penggunaan analgetik yang diperlukan dalam terapi terjadi pada 2 kasus dengan no pasien 05 dan 11.

  c) Tidak membutuhkan terapi analgetik

Tabel XIII. Kasus DRP Tidak Membutuhkan Terapi Analgetik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-

  

Desember 2008

  Kasus Jenis Analgetik Penilaian Rekomendasi

  09 Parasetamol 3x500 mg Parasetamol diberikan Hentikan pada waktu pasien tidak penggunaan menunjukkan adanya Parasetamol. tanda dan gejala Monitor tanda vital demam dan nyeri pasien. ringan,

  Analgetik yang tidak diperlukan dalam terapi terjadi pada 1 kasus yaitu pada penggunaan Parasetamol yang terjadi pada pasien dengan nomor 09.

  d) Dosis analgetik berlebihan

Tabel XIV. Kasus DRP Penggunaan Analgetik dengan Dosis berlebih pada Pasien

Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode

  

Oktober-Desember 2008

  Kasus Jenis Analgetik Penilaian Rekomendasi

  03 Movix 3x7,5 mg Frekuensi pemberian Movix 3x7,5 mg berlebihan

  Kurangi frekuensi pemberian menjadi 2x7,5 mg

  08 Parasetamol 3x500 mg Dosis parasetamol 3x500 mg melebihi dosis yang diberikan pada pasien yang menderita penyakit hepatitis

  Terapi obat ini telah diganti dengan sistenol 3x1

  18 Movix 3x7,5 mg Frekuensi pemberian Movix 3x7,5 mg berlebihan

  Kurangi frekuensi pemberian menjadi 2x7,5 mg

  Penggunaan analgetik dengan dosis berlebih pada pasien terjadi karena

frekuensi pemberian ditingkatkan. Penggunaan analgetik dengan dosis berlebih

terjadi pada 3 kasus dengan jenis analgetik yaitu Meloxicam dan Parasetamol

dengan nomor pasien 03, 08 dan 18.

  e) Efek samping analgetik (1) Potensial efek samping analgetik

Tabel XV. Kasus DRP Potensial Efek Samping Analgetik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-

  

Desember 2008

  Kasus Jenis Analgetik Penilaian Rekomendasi

  16 Petidin 1x1 Petidin 1x1 berpotensial menimbulkan efek samping mual, muntah, kram perut

  Pemberian Petidin 1x1 telah digunakan bersamaan antimual- antimuntah

  (2) Efek samping analgetik aktual

Tabel XVI. Kasus DRP Aktual Efek Samping Analgetik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-

  

Desember 2008

  Kasus Jenis Analgetik

  Penilaian Rekomendasi

  15 Asam Mefenamat 3x500 mg

  Asam Mefenamat 3x500 mg menimbulkan efek samping perdarahan pada pasien.

  Penggunaan Asam Mefenamat 3x500 mg telah dihentikan. Berikan terapi nonfarmakologis pada pasien dengan teknik relaksasi dan distraksi

  Potensial efek samping penggunaan analgetik yang terjadi pada pasien kanker serviks terdapat 1 kasus dengan jenis analgetik yaitu Petidin dengan nomor pasien 16. Sedangkan efek samping yang terjadi pada penggunaan analgetik terdapat 1 kasus dengan jenis analgetik Asam mefenamat dengan nomor pasien 15.

2. Evaluasi Penggunaan Antibiotik Evaluasi penggunaan antibiotik dilakukan pada 20 pasien kanker serviks.

  

Tabel XVII. Kasus DRP Penggunaan Antibiotik pada Pasien Kanker Serviks di

Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember

2008

  No Jenis DRP Nomor Kasus (n=20)

  Jumlah kasus n=8 Persentase (%)

  1 Membutuhkan terapi antibiotik 2, 8, 12, 14, 16, 17, 19 7 87, 5%

  3 Dosis antibiotik berlebih

  2 1 12,5%

  Pengelompokan masing-masing DRP penggunaan Antibiotik pada pasien

  Dari 20 pasien, 8 pasien kanker serviks mengalami kejadian DRP sebanyak 2 kasus yaitu membutuhkan terapi antibiotik dan dosis antibiotik berlebih.

a) Membutuhkan terapi Antibiotik

  

Tabel XVIII. Kasus DRP Membutuhkan Terapi Antibiotik pada Pasien Kanker

Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-

Desember 2008

  Kasus Indikasi Penyakit Penilaian Rekomendasi

  02 Terjadi kenaikan Membutuhkan Berikan terapi ceftriaxone jumlah lekosit dan terapi antibiotik 1x1 gram dan lakukan netrofil untuk mengatasi pemeriksaan ulang tanda- infeksi yang terjadi. tanda infeksi (WBC, netrofil, suhu tubuh, nadi)

  08 Terjadi kenaikan diperlukan terapi Pasien telah diberikan jumlah lekosit dan antibiotik untuk Cefotaxim untuk mengatasi netrofil mengatasi infeksi infeksi. yang terjadi.

  12 Terjadi kenaikan diperlukan terapi Berikan antibiotik ceftrixone jumlah lekosit dan antibiotik untuk 2x1 gram netrofil mengatasi infeksi yang terjadi.

  14 Terjadi kenaikan diperlukan terapi Pasien telah menerima terapi jumlah lekosit dan antibiotik untuk Ceftriaxone inj 2x1 gram netrofil mengatasi infeksi yang terjadi.

  16 Terjadi kenaikan Membutuhkan Pasien telah diberikan terapi suhu tubuh dan terapi antibiotik Ferotam 2x1 gram frekuensi nadi pada profillaksis pasien

  17 Terjadi kenaikan Membutuhkan Berikan terapi ceftriaxone iv jumlah lekosit dan terapi antibiotik 2x1 gram 19 netrofil untuk mengatasi Pasien telah mendapatkan infeksi yang terjadi. terapi Cefotaxim 2x1 gram.

  Terapi obat tambahan diperlukan karena adanya indikasi yang tidak

diberikan terapi. Dalam penelitian ini ditemukan sebanyak 7 kasus pasien

yang menunjukkan kenaikan nilai WBC dan netrofil tetapi tidak diberikan

antibiotik yaitu pasien dengan nomor 02, 08, 12, 14, 16, 17 dan 19.

b) Dosis antibiotik berlebihan

  

Tabel XIX. Kasus DRP Penggunaan Antibiotik dengan Dosis berlebih pada Pasien

Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode

Oktober-Desember 2008

  Kasus Jenis Antibiotik Penilaian Rekomendasi

  02 Amoksisilin cap Frekuensi Pemakaian 3x500 mg pemberian Amoksisilin cap amoksisilin 3x500 mg telah berlebihan pada dihentikan. pasien kanker serviks dengan gangguan ginjal

  Penggunaan dosis antibiotik yang berlebihan terjadi apabila dosis yang

diberikan pada pasien dosis tidak disesuaikan dengan kondisi pasien. Pada

penelitian ini ditemukan sebanyak 1 kasus dengan nomor pasien 02 yang

menggunakan antibiotik tidak disesuaikan dengan kondisi pasien kanker

serviks dengan gangguan ginjal.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Evaluasi Penggunaan Analgetik dan Antibiotik pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember Tahun 2008 maka

  dapat diperoleh kesimpulan yaitu sebagai berikut:

  

1. Kelompok usia yang paling banyak dijumpai pasien kanker serviks yaitu

kelompok usia 35-44 dan 45-54 (35%), berdasarkan stadium terbanyak pada kelompok stadium IIIB yaitu (35%) dan skala nyeri terbanyak yaitu skala nyeri 5 (37,5%).

  

2. Persentase penggunaan golongan analgetik terbanyak pada pasien kanker

serviks yaitu golongan analgetik non-opioid 92,31% dengan penggunaan jenis analgetik terbanyak yaitu Ketorolac 25,64% dan persentase golongan antibiotik terbanyak yaitu golongan Sefalosporin 72% dengan jenis antibiotik terbanyak yaitu Cefotaxime sebesar 32%.

  

3. Berdasarkan pada tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO, penggunaan analgetik pada pasien kanker serviks belum sepenuhnya sesuai, dengan total kesesuaian penggunaan analgetik sebesar 37,5% sedangkan total ketidaksesuaian yaitu sebesar 62,5%.

  

4. Kajian DRP (Drug Related Problem) penggunaan analgetik dan antibiotik

pada pasien kanker serviks adalah sebagai berikut: membutuhkan terapi analgetik 2 kasus (16,67%), tidak membutuhkan terapi analgetik 1 kasus (8,33%), penggunaan analgetik tidak tepat terjadi pada 4 kasus (33,33%), dosis analgetik berlebih ditemui sebanyak 3 kasus (25%), efek samping analgetik yang sudah terjadi pada 1 kasus (8,33%) dan efek samping analgetik yang berpotensial terjadi sebanyak 1 kasus (8,33%); membutuhkan terapi

antibiotik 7 kasus (87,5%) dan dosis antibiotik berlebih 1 kasus (12,5%).

  B.

  

Saran

Saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan

sebagai berikut:

1. Bagi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

a. Perlu disusun pengembangan Standar Pelayanan Medis untuk penanganan nyeri dan infeksi yang terjadi pada pasien kanker serviks.

  b. Perlu dilakukan uji kultur mikroba untuk mengetahui mikroba penginfeksi sehingga dapat diberikan terapi antibiotik yang tepat sesuai dengan hasil uji kultur mikroba.

2. Untuk penelitian berikutnya perlu dilakukan:

  a. Penelitian mengenai kesesuaian penggunaan analgetik pada pasien kanker serviks berdasarkan pada tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO di

Rumah Sakit pemerintah maupun swasta lainnya secara prospektif.

  b. Penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien kanker serviks secara prospektif di rumah sakit pemerintah maupun swasta lainnya secara prospektif.

  69 DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1994, Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, Edisi Revisi, 34-35,

Binarupa Aksara, Jakarta a

  

Anonim, 1996 , Protokol Onkologi RSUP Dr. Sardjito Cetakan I, 10-11, Komite

Medis RSUP Dr. Sardjito dengan MMR Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta b

  

Anonim, 1996 , Standar Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito, Cetakan I, 153-

154, Komite Medis RSUP Dr. Sardjito dengan MMR Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 199, BPOM Depertemen

Kesehatan Republik Iindonesia, Jakarta

Anonim, 2003, Pain Intensity Instruments, National Institute of Health Warren

Grant Magnuson Clinical Center

Anonim, 2004, British National Formulary, 275, British Medical Association,

Royal Pharmaceutical Society of Great Britain a

  

Anonim, 2005 , Standar Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito Jilid 3, Edisi III,

Cetakan I, 303, Komite Medis RSUP Dr. Sardjito dengan MMR Universitas Gajah Mada, Yogyakarta b

  

Anonim, 2005 , Guidelines For Treatment of Cancer Pain, Texas Cancer Council,

Texas, http: //www.tcc.state.tx.us, 8 September 2007 a

  

Anonim, 2007 , Medical Update: Vaksin Baru Memberi Proteksi Lebih Besar

pada Kanker Serviks , 58, Karimata Medika Komunita, Jakarta b

  

Anonim, 2007 , Treatment Guidelines For Patients, Cancer Pain, Version III,

National comprehensive Cancer Network, USA, http://www.nccn.org,

22 April 2008

  a

Anonim, 2008 , Management of Cervical Cancer a National Clinical Guideline,

4, www.sign.ac.uk, Scottish Intercollegiate Guidelines Network,

  Edinburgh Anonim, 2009, The cervix, www.cancerhelp.uk , 28 Mei 2009 a b

Anonim, 2010 , NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Prevention and

  Treatment of Cancer-Related Infections, 4-39, www.nccn.org, 10 Juni 2010 c

  Anonim, 2010 , Chapter I, 1-2, http://repository.usu.ac.id //, 1 November 2010

Cipolle, R.J. dan Strand, L.M., 2004, Pharmaceutical Care Practice The

nd

  

Clinician’s Guide, 2 Edition, 172-173, McGraw-Hill, New York

Das, S., Jeba, J., George, R., 2005, Cancer and Treatment Related Pains in

  Patients with Cervical Carcinoma, Volume 11, No.2, 74-75, Palliative Care Unit, Christian Medical College, Vellore-632004, India

Davey, P., 2005, At a Glance Medicine, alih bahasa oleh Anisa Rahmalia dan Cut

Novianty, 348, Erlangga, Jakarta

Guswita, 2007, Evaluasi Penggunaan Analgetik Opioid Pada Penanganan Nyeri

Kanker Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta selama September sampai Nopember 2006, Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Harahap, R.E., 1982, Tumor Ganas pada Alat-Alat Genital, dalam

  , 47, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta Prawirohardjo, S., Ilmu Kandungan

  

Heffner, L.J., Schust, D.J., 2008, At a Glance Sistem Reproduksi, Edisi II, 94-95,

Erlangga, Jakarta

Istichomah, N.S,. 2007, Pengaruh Teknik Pemberian Kompres terhadap

  Perubahan Skala Nyeri pada Klien Kontusio di RSUD Sleman , 3, STIKES Surya Global, Yogyakarta

Jawetz, E., Melnick, J., Adelberg, E., 1996, Mikrobiologi Kedokteran, alih bahasa

Edi Nugroho & R.F Maulany, Edisi 20, 583-584, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

  

Jones, R. M., 2008, Pengkajian Pasien dan Peran Farmasis dalam Perawatan

Pasien, terjemahan Benediktus Yohan dan D. Lyrawati, 09 Maret 2010 th

  

Koda-Kimble, M. A., 2009, Applied Therapeutics: the Clinical Use of Drugs, 9

Edition, 8-7, 56-2 Lippicount Williams & Wilkins, Philadhelphia

Kuntaman, 2007, Aspek Mikrobiologi dari Infeksi dan Sepsis, 229, Airlangga

University Press, Surabaya

  

Levy, M.H., 1996, The New England Journal of Medicine : Pharmacologic

Treatment of cancer Pain , 1125, http:// www.nejm.org

Lubis, Y. M., Nasution, R. H., 1993, Pengantar Farmakologi, Edisi II, 80-81, PT.

  Pustaka Widyasarana, Medan

Mahargyani, 2009, Efektivitas Penggunaan Analgetik dan Antiemetik pada Pasien

Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Periode Juli- Oktober tahun 2008 , Skripsi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

  

Marlinah, I., 2009, Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Kanker Leher

Rahim yang Menjalani Kemoterapi di RSUP. DR. Sardjito Yogyakara periode Agustus 2004-Agustus 2008 , Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Mexitalia, M., 2005, Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Kasus Kanker Leher

Rahim di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2004 , Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Murtedjo, U., 2006, Filosofi dan Tata Cara Pengelolaan Nyeri Kanker Vol. 1,

No. 31, 28, Media IDI, Surabaya Mutschler, E., 1991, Dinamika Obat, Edisi kelima, Penerbit ITB, Bandung

  

Norwitz, E., Schorge, J.O., 2008, At a Glance, Obstetri dan Ginekologi, 63,

Erlangga, Jakarta Pratiwi, S. T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, 154-161, 164, Erlangga, Jakarta

Rasjidi, I., 2009, Epidemiologi Kanker Serviks,103, Indonesian Journal of Cancer

  Vol. III, No.3, Pusat Kanker Nasional RS. Kanker Dharmais, Jakarta

Reid, Jhon L., Rubin, P.C., Whiting, B., 2007, Catatan Kuliah Farmakologi

Klinis , alih bahasa Sugiarto Komala, 121, 123-124, 226, 318, Erlangga, Jakarta

Robbins, S.L., dan Kumar V, 1995, Patologi II, 381-383, Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Jakarta

Robbin, S. L., Cotran, Ramzi, S., Kumar, Vinay, 1999, Buku Saku Dasar Patologi

th

  Penyakit , 5 Edition , 624-626, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simodibrata, K. M., Setiati, S., 2006,

  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Edisi IV , 874, 886, 895-896,

  

Suwiyoga, Ketut. I., 2005, Penanganan Nyeri pada Kanker Serviks Stadium

Lanjut, 4-5, Lab Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar

Tambunan, G. W., 1995, Diagnosis dan Tatalaksana Sepuluh Jenis Kanker

Terbanyak di Indonesia, 2-5, 9-11, 17-18, 19, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Umar, H., 2003, Metode Riset Bisnis; Panduan Mahasiswa untuk Melaksanakan

Riset dilengkapi Contoh Proposal Bidang Manajemen dan Akuntansi , Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Velde, V. D., Bosman, FT., Wagener, D.J.Th., 1999, Onkologi, diterjemahkan

oleh Panitia Kanker RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Edisi Kelima, 495, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

  

Walace, M. S., dan Staats, P. S., 2005, Pain Medicine and Management, Just the

Fact , 184, 186, McGraw-Hill Companies, Inc, USA

  

Walsh, T. D., 1997, Kapita Selekta Penyakit dan Terapi (Symptom Control), alih

bahasa oleh dr. Caroline Wijaya, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

WHO, 1996, Pereda Nyeri Kanker, Edisi kedua, diterjemahkan oleh Amir

Musadad, 13, 18, Penerbit ITB, Bandung nd

  

WHO, 1998, Cancer Pain Relief: Choice of Analgesic 2 Edition with a Guide to

Opioid Availability, 17, 19, A.I.T.B.S. Publisher & Distributors, Delhi

  

Yatim, F., 2005, Penyakit Kandungan. Myoma, Kanker Rahim/Leher Rahim dan

Indung Telur, Kista, serta Ganggunan Lainnya , 51, Pustaka Populer Obor, Jakarta

  73 Lampiran 1. Analisis DRP Penggunaan Analgetik dan Antibiotik pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Rawat Inap RSUP

  

Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Oktober-Desember 2008

Kasus 01. Pasien 01

  

Kasus 01. NO RM 01.30.65.25 (17/12/2008-19/12/2008)

Subyektif

  Perempuan: 52 tahun DU: Malignant Neoplasm of Cervix Uteri IIB Diagnosis Lain: Abdominal Pain & Pelvic Pain, Anemia in Neoplastic Disease, Renal failure (insuficiency) Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien merupakan penderita CA Cervix IIB, pada saat ini pasien mengeluh sakit pada vagina, keputihan, keluar darah, nyeri kronis pada perut karena pertumbuhan massa tumor dengan skala 1, buang air kecil lancar, warna kuning keruh, BAB lancar, warna kuning, tidak kembung; sistem Reproduksi: tidak gatal, tidak berwarna merah, keluar cairan kotor & berbau Keadaan keluar Rumah Sakit : belum sembuh, pulang paksa.

  Obyektif

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai normal 17/12

  3 WBC 4,8-10,8 (10

  25,24  /µL) Neutrofil  43,0-65,0 %

  93,2% Pemeriksaan non- Tanggal Pemeriksaan Nilai Normal laboratorium

  Tanda vital 17/12 18/12

  o o

  Suhu Afebris Afebris

  36 C-37,4 C Nadi

  90 84 50-100 kali/menit

  74 Penatalaksanaan

  Cefotaxim inj 2x1 gram/12 jam (17/12/08-18/12/08) Ketorolac inj 3x1 ampul (10 mg) (17/12/08-18/12/08) Extra Lasix 40 mg (17/12/08)

  Penilaian

  1. Ketorolac 3x1 ampul dikontraindikasikan untuk pasien yang mengalami gagal ginjal. DRP : obat tidak

  tepat (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006) 2. Pemberian cefotaxim tepat pada waktu pasien menunjukkan tanda-tanda infeksi. Lanjutkan terapi. Rekomendasi

  1. Lanjutkan terapi cefotaxim 2x1 gram, lakukan pemeriksaan ulang tanda-tanda infeksi seperti WBC, netrofil, suhu tubuh, nadi pada pasien untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi jika tanda-tanda infeksi telah kembali menjadi normal.

  2. Hentikan penggunaan ketorolac. Berikan ibuprofen 3x400 mg dan monitor nyeri pada pasien dengan melakukan pemeriksaan skala nyeri. Hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  75 Kasus 02. Pasien 02.

  

Kasus 02. NO RM 01.32.97.02 (18/10/2008-08/11/2008)

Subyektif

  Perempuan : 54 tahun DU : Malignant Neoplasm Of Cervix Uteri IIB Diagnosis Lain : Anemia in Neoplastic Disease, Acute Renal Failure, Hypertensive Renal Disease with Renal Failure, Uropathy Reflux and Obstructive Unspesific Riwayat Penyakit & Keluhan : pasien merupakan penderita CA Cervix IIB, pada saat ini pasien mengeluh perdarahan vagina, mengalami nyeri akut dengan skala nyeri 10, buang air kecil tidak lancar, warna urin kemerahan, buang air besar tidak teratur, konsistensinya keras, warna feses kuning kehitaman, tidak mengalami kembung, mengalami nyeri tekan dengan lokasi perut dan vagina, pasien mengalami kecemasan Keadaan keluar rumah sakit : Belum sembuh, pulang paksa

  Obyektif

  Pemeriksaa Tanggal Pemeriksaan Nilai normal n Angka (Oktober-November 2008) laboratoriu

  18/1 19/ 23/ 24/1 30/10 31/10 06/ 07/1 m

  10

  10

  11

  3 WBC 7,7 7,7 7,2 9,57 10,7 12,0 15, 14, 4,8-10,8 (10

  /µL)

  6

  2  6  1 

  Neutrofil 75,5 75, 6,5 6,90 8,72 13, 43,0-65,0 %/2.0-7,5 (%) % 5 %

  9

  12 

    

  76

  Pemeriksaa Tanggal Pemeriksaan n non- aboratoriu m

  Tanda Vital 18/1 19/1 20/ 21/1 22/10 23/10 24/1 26/1 27/ 28/1 29/1 30/ 31/1 01/1 02/ 03/1 04/ 05/11 06/1 07/1 08/1 Nilai

  10

  10

  10

  1

  11

  1

  11

  1

  1

  1 Normal

  o

  Suhu (T) afeb afe afeb afeb afebr Afebr afe afe 36 afe 36, afe afeb afe 36, afe 36 36,3 afeb afeb afe

  36 C-

  o

  ris bris ris ris is is bris bris ,5 bris 5 bri ris bri

  2 C bri ,2 C ris ris bris 37,4 C C C s s s C

  Nadi

  88

  98 86 100

  84

  88

  88

  78

  80

  92

  80 80 120

  60

  78

  80

  84

  78

  88

  82 80 50-100 kali/men it

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal Pemberian Obat (Oktober-November 2008)

  18/ 19/1 20/ 21/1 22/1 23/ 24/1 25/ 26/ 27/ 28/ 29/ 30/ 31/ 01/ 02/ 03/ 04/ 05/ 06/ 07/ 08/

  10

  10

  10

  10

  10

  10

  10

  10

  10

  10

  11

  11

  11

  11

  11

  11

  11

  11 Valsartan 1 x √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 160 mg

  Adalat oros √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

  1x30 mg HCT 1-0-0

  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ CaCO 3x1 (

  3 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

  Asam Folat √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

  3x1

  2 SF 2x1 √ √ √ √ √ √ √

  Amoxicillin √ √ √ √ √ √ cap 3x500 mg Asam

  √ √ √ √ √ √ √ √ √ mefenamat 3x500 mg Viliron 2x1

  √ √ √ √ √ √ Kalnex inj 3x1

  √ √ √ √ √ √ √ √ √

  77

  ampul Ketorolac inj 1x30 mg 1 ampul

  √ √ √ √ √ Tramadol inj 2x50 mg

  √ √ √ √ √

  Parasetamol 3x500 mg

  √ Ceftriaxone iv 1x1 gram

  √ √ √ √

  Penilaian

  1. Amoksisilin cap 3x500 mg diberikan tepat pada waktu pasien menunjukkan tanda-tanda infeksi. Terapi Amoxicillin cap 3x500 mg berpotensial menimbulkan efek samping berupa anemia. Namun, penggunaan Amoksisilin cap 3x500 mg pada pasien ini telah diberikan bersama dengan antianemia yaitu asam folat dan viliron. Frekuensi pemberian amoksisilin berlebihan pada pasien kanker serviks dengan gangguan ginjal. DRP: dosis terlalu tinggi. (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006). Terapi amoksisilin telah dihentikan.

  2. Ceftriaxone 1x1 gram diberikan pada tanggal 24/10 digunakan untuk profilaksis. Memerlukan terapi antibiotik pada tanggal 30/10 untuk mengatasi infeksi yang terjadi. DRP: membutuhkan terapi antibiotik

  3. Asam mefenamat dikontraindikasikan untuk pasien yang mengalami gagal ginjal. DRP: obat tidak tepat; terapi asam mefenamat telah dihentikan. Ketorolac dikontraindikasikan pada pasien gagal ginjal. DRP : obat tidak tepat. (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006). Terapi ketorolac dan asam mefenamat telah dihentikan.

  3. Pemberian Tramadol inj 2x50 mg dan Parasetamol 3x500 mg dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien.

  Rekomendasi

  1. Berikan terapi ceftriaxone 1x1 gram dan lakukan pemeriksaan ulang tanda-tanda infeksi (WBC, netrofil, suhu tubuh, nadi) pada pasien untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi jika tanda-tanda infeksi telah kembali menjadi normal.

  2. Lanjutkan pemberian Tramadol inj 2x50 mg (dosis dewasa untuk nyeri sedang 50-100 mg tiap 4-6 jam, tidak melebihi 400 mg; (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006)) dan monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri pada pasien. hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  √ √ √ √

  o

  √ √ √ Fixiphar caps 2x100 mg

  √ √ √ Cernevit iv/2hari

  √ √ √ Alin-F 2x1

  √ √ √ OMZ 2x1

  √ √ √ √ Ketrobat inj 2x1

  24/10 25/10 26/10 27/10 28/10 29/10 30/10 Sopirom inj 2x1 g

  Nama Obat Tanggal Pemberian Obat (23/12/2008-30/12/2008)

  Penatalaksanaan

  88 kali 50-100 kali/menit

  C Frekuensi nadi 84 kali

  o

  C-37,4

  C

  78 Kasus 03. Pasien 03

  o

  24/12 Suhu tubuh 36,5

  Pemeriksaan nonlaboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai Normal Tanda Vital 23/12

  71,4 %  43,0-65,0 %/

  83,6 % 

  /µL) Neutrofil 33,5% ↓

  3

  WBC 5,84 9,3 6,7 4,8-10,8 (10

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai normal 22/12 24/12 25/12

  Obyektif

  Perempuan: 63 tahun DU: Ca-Cervix std I B Diagnosis Lain: - Riwayat Penyakit & Keluhan : Pasien adalah penderita CA Cervix std. IB datang ke rumah sakit untuk operasi Wertheim, saat ini pasien tidak mengalami demam, mengalami kecemasan, sistem reproduksi (tidak gatal, tidak kotor dan tidak berbau), buang air kecil lancar, BAB 1x/hari, tidak mengalami perdarahan, mengalami bising usus, tidak mengalami nyeri tekan. nyeri akut post operasi Weirtheim dengan skala nyeri 8 (24/12) pasien mengalami perdarahan (25/12) Keadaan keluar rumah sakit : Sembuh

  

Kasus 03. NO RM 01.36.63.60 (23/12/2008-30/12/2008)

Subyektif

  • 36

  79

  Biobran 2x1 √ √ √ √

  Q 10 DS 2x1 √ √ √ √

  Movix 3x7,5 mg √ √ √ √

  Rl+Morphin+Ketorolac 1 √ ampul

  Penilaian

  1. Pemberian sopirom tepat pada waktu pasien menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi. Terapi antibiotik ini telah dihentikan kemudian telah dilanjutkan dengan terapi antibiotik fixiphar oral. Terapi fixiphar oral tepat dosis. Lanjutkan terapi.

  2. Kombinasi antara morfin dan ketorolac sesuai dengan penanganan nyeri berat (skala nyeri 8), apabila nyeri berkurang hentikan terapi. Terapi ini telah dihentikan karena nyeri yang dirasakan pasien telah berkurang kemudian dilanjutkan dengan terapi Movix (Meloxicam) oral 3x7,5 mg. Frekuensi pemberian Movix oral 3x7,5 mg berlebihan. Dosis Meloxicam 7,5 mg/hari atau bisa ditambah jadi 15 mg/hari, tidak boleh melebihi 15 mg/hari. (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006). Analgesik golongan non opioid mempunyai efek yang terbatas yaitu pemberian di atas dosis terapi tidak akan meningkatkan peredaan nyeri kanker (WHO, 1998). DRP: dosis obat terlalu berlebihan

  Rekomendasi

  1. Lanjutkan terapi fixiphar. Kemudian lakukan pemeriksaan ulang tanda-tanda infeksi pada pasien untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi jika tanda-tanda infeksi telah kembali menjadi normal.

  2. Lanjutkan terapi Movix 3x7,5 mg dengan mengurangi frekuensi pemberian menjadi 2x7,5 mg, hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri. Konsultasikan kepada dokter apakah frekuensi pemberian Movix telah diganti menjadi 2x7,5 mg.

  80 Kasus 04. Pasien 04

  

Kasus 04. NO RM 01.37.80.50 (11/11/2008-21/11/2008)

Subyektif

  Perempuan: 56 tahun DU: Malignant Neoplasm of Cervix Uteri IIIB Diagnosis Lain: Anemia in Neoplastic Disease, Disorder of Plasma Protein Metabolism Not Elsewhere Classified, Hidronefrosis With Ureter Pelvic Junction Obstructive, Obs. Deep Icteric cc Susp Cholestasis Extrahepatal dd Metastase Hepar (17/11) Riwayat Penyakit & Keluhan : perdarahan dari vagina disangkal, keluar cairan putih dan berbau (-), perdarahan kontak (-), mual (-), muntah (-), demam(-), pasien tidak pernah melakukan kontrol penyakitnya, buang air kecil tidak lancar, nyeri akut pada bagian perut kanan atas, nyeri pinggang (+), badan dan mata kuning (14/11), BAB lancar, mengalami kaku sendi, perasaan cemas, tidak terjadi pengeluaran cairan lewat vagina. Keadaan keluar Rumah Sakit: Membaik, pulang paksa

  Obyektif

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai Normal 11/11 15/11

  3 WBC

  4,8-10,8 (10 11,60  11,0  /µL)

  Neutrofil 43,0-65,0 %

  83,9%  92,3%  Pemeriksaan

  Tanggal Pemeriksaan Nilai non-laboratorium normal

  Tanda Vital 11/11 12/11 13/11 14/11 15/11 16/11 17/11 18/11 19/11 20/11 21/11

  o o o o o o o

  Suhu (T) 36,8 C afebris

  37 C

  37 C afebris afebris

  37 C 36,7 C afebris afebris febris

  36 C-37,4 C

  Frekuensi Nadi

  70

  68

  84

  75

  90

  88

  86

  84

  80

  80 80 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal pemberian

  11/11 12/11 13/11 14/11 15/11 16/11 17/11 18/11 19/11 20/11 21/11 Cefotaxim inj √ 2x1 gram Lasix inj 1

  √ ampul

  81

  Curcuma 3x1 √ tablet

  Parasetamol √

  3x500 mg Sistenol 3x1 √ tablet Ceftriaxone

  √ inj 2x1 gram Ketorolac 1x

  √ 30 mg (1 ampul) Tramadol drip

  √ 1 ampul (1x50 mg) Vitamin BC/C

  √ √ √ √ √ √ √ √ √ SF 1 tablet

  Penilaian

  1. Cefotaxim diberikan tepat pada waktu tanda-tanda infeksi pada pasien muncul. Terapi Cefotaxim telah dihentikan dan dilanjutkan dengan terapi antibiotik Ceftriaxone. Pemberian Ceftriaxone sudah tepat karena diberikan pada waktu tanda-tanda infeksi pada pasien muncul.

  2. Ketorolac dikontraindikasikan untuk pasien dengan gangguan ginjal. DRP: obat tidak tepat. Penggunaan obat ini telah dihentikan (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006).

  3. Parasetamol, Sistenol, Tramadol sudah tepat dosis dapat mengurangi nyeri pada pasien. Penggunaan obat ini telah dihentikan karena pasien merasa sudah tidak merasakan nyeri.

  Rekomendasi

  1. Lanjutkan terapi ceftriaxone 2x1 gram. Lakukan pemeriksaan ulang tanda-tanda infeksi seperti WBC, neutrofil, suhu tubuh dan nadi pada pasien untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi apabila tanda-tanda infeksi kembali menjadi normal.

  2. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri untuk memantau perkembangan terapi. Jika pasien mengalami rasa nyeri, berikan terapi analgetik sesuai dengan tingkat skala nyeri yang dirasakan oleh pasien berdasarkan pada tangga analgetik WHO.

  • Ca cervix post Chemotherapy - Hidronefrosis Bilateral - Cysitis Riwayat Penyakit & Keluhan: mual (-), muntah (-), perdarahan (-), saat ini pasien mengeluh susah buang air kecil bila buang air kecil terasa nyeri, nyeri pinggang, buang air besar lancar Keadaan keluar Rumah Sakit: Membaik, dijinkan

  o

  √ √ √ Dulcolax sup 2x1

  √ √ √ √ Sopirom inj 2x1 gram

  28/11 29/11 30/11 01/12 02/12 Asthin Force 2x1

  Nama Obat Tanggal Pemberian

  Penatalaksanaan

  80 80 50-100 kali/menit

  C Frekuensi Nadi

  o

  C-37,4

  36

  82 Kasus 05. Pasien 05

  Suhu (T) 36,8 C 36,4 C

  Tanda Vital Tanggal Pemeriksaan Nilai normal 28/11 02/12

  78,4%  43,0-65,0 %

  /µL) Neutrofil

  3

  WBC 8,9 4,8-10,8 (10

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai Normal 28/11

  Obyektif

  Perempuan: 60 tahun DU: Malignant Neoplasm of Cervix Uteri IIIB Diagnosis Lain:

  

Kasus 05. NO RM 01.26.09.97 (28/11/2008-02/12/2008)

Subyektif

  √ √

  83 Penilaian

  1. Sopirom 2x1 gram diberikan tepat pada waktu tanda-tanda infeksi muncul pada pasien. Lanjutkan terapi

  2. Memerlukan terapi analgetik untuk mengatasi nyeri yang dirasakan oleh pasien. DRP: membutuhkan terapi analgetik

  Rekomendasi

  1. Lanjutkan terapi Sopirom 2x1 gram. Lakukan pemeriksaan ulang terhadap tanda-tanda infeksi seperti WBC, neutrofil, nadi, dan suhu tubuh untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi antibiotik jika tanda-tanda infeksi telah kembali menjadi normal.

  2. Berikan parasetamol 3x500 mg dan monitor respon nyeri pada pasien dengan melakukan pengukuran skala nyeri untuk memantau perkembangan terapi dan hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  Kasus 06. Pasien 06

Kasus 06. NO RM 00.67.20.68 (29/10/2008-12/11/2008)

Subyektif

  Perempuan : 44 tahun DU : Malignant Neoplasm of Cervix Uteri II A Diagnosis Lain:

  Anemia unspecified - Riwayat Penyakit & Keluhan : post CA Cervix IIA pro Wertheim, saat ini pasien mengeluh perdarahan kontak, buang air kecil keluar lendir kehitaman, nyeri di perut bagian bawah seperti ditusuk-tusuk dengan skala nyeri 4, buang air besar lancar, pasien mengalami kecemasan. Keadaan keluar Rumah Sakit : Membaik, diijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaan Tanggal Pemeriksaan laboratorium 29/10 08/11 Nilai Normal

  3 WBC 8,43

  4,8-10,8 (10 14,36  /µL)

  84

  Neutrofil 55,9% 43,0-65,0 %

  72,4%  Pemeriksaan non-

  Tanggal Pemeriksaan laboratorium Tanda vital 29/10 30/10 31/10 01/11 04/11 05/11 06/11 07/11 08/11 09/11 10/11 Nilai

  Normal

  o

  Suhu (T) afebris afebris afebris afebris 36,1 C 34,5 C 36,3 C afebris afebris afebris afebris

  36 C-

  o

  37,4 C Frekuensi nadi

  80

  83

  68

  80

  80

  80

  96

  65

  80

  80 80 50-100 kali/meni t

  Penatalaksanaan

  Nama Obat Tanggal Pemberian Obat

  29/10 30/10 31/10 01/11 02/11 03/11 04/11 05/1 06/1 07/11 08/11 09/ 10/ 11/ 12/11

  1

  1

  11

  11

  11 Cisplatin 2x50 √ mg

  Asam √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Mefenamat 3x500 mg Vitamin BC/C

  √ √ √ √ 3x1 tablet SF 2x1

  √ √ √ √ SF/BC/C 2x1

  √ Diazepam 1x5

  √ ml Cefotaxim iv

  √ 2x1 gram Alinamin F iv

  √ 2x1 gram Ketorolac inj

  √

  85

  3x30 mg Ciprofloxacin

  √ √ √ 2x500 mg Viliron 1x1

  √ √ √

  Penilaian

  1. Asam mefenamat 3x500 mg dan Ketorolac inj 3x30 mg dosisnya sudah tepat untuk mengatasi nyeri pada pasien. Namun pemberian kedua obat ini belum bisa meredakan nyeri yang dirasakan oleh pasien. Pasien merasakan nyeri yang dirasakannya berkurang setelah diberikan terapi Diazepam 1x5 ml.

  2. Cefotaxim iv 2x1 gram diberikan sebagai terapi profilaksis. Terapi obat ini kemudian dilanjutkan dengan terapi Ciprofloxacin 2x500 mg tepat dosis, lanjutkan terapi.

  Rekomendasi

  1. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri untuk apabila pasien mengalami rasa nyeri, berikan terapi analgetik sesuai dengan

  tingkat skala nyeri yang dirasakan oleh pasien berdasarkan pada tangga analgetik WHO

  2. Lanjutkan terapi ciprofloxacin 2x500 mg, lakukan pemeriksaan ulang tanda-tanda infeksi pada pasien untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi apabila tanda-tanda infeksi telah kembali normal.

  86 Kasus 07. Pasien 07

  72

  C- 37,4

  o

  C Frekuensi Nadi

  80

  88

  80

  64

  36

  84

  80

  88

  92

  80

  88

  o

  36 C 37,2 C afebri s afebris afebri s afebris

  

Kasus 07. NO RM 01.36.89.06 (28/10/2008-10/11/2008)

Subyektif

  8,31 4,8-10,8 (10

  Perempuan: 63 tahun DU: Malignant Neoplasm of Cervix II A Diagnosis Lain : Anemia Unspecified Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien adalah penderita CA Cervix std. IIA, pada saat ini mengeluh perdarahan kontak, sistem reproduksi: perdarahan per vaginal (-), tidak gatal, tidak merah, buang air kecil lancar, nyeri post operasi, pasien mengalami kecemasan.

  Keadaan keluar Rumah Sakit: Sembuh, diijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Nilai normal 04/11 06/11 09/11

  WBC 8,7 12,2 

  3

  36,4 C afebri s

  /µL) Neutrofil 59,4% -

  74,1%  43,0-65,0 %

  Pemeriksaaan non- laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Tanda Vital

  28/10 29/10 30/10 31/10 01/11 02/11 03/11 04/11 05/11 06/11 07/11 08/11 09/11 Nilai Norm al

  Suhu (T) afebri s afebri s afebris afebris afebri s

  80 84 50- 100 kali/m

  87

  enit

  Penatalaksanaan

  Nama Obat Tanggal Pemberian

  28/10 29/10 30/10 31/10 01/11 02/11 03/11 04/11 05/11 06/11 07/11 08/11 09/11 10/11 Asam

  √ mefenamat

  3x500 mg Cefotaxim inj

  √ √ √ √ √ 2x1 gram Ketorolac inj

  √ 3x30 mg Alinamin F

  √ 2x1 tab Ciprofloxacin

  √ 2x500 mg Bevisil 1x1

  √ √ √ √ √ √

  Prenamia 1x1 √ √ √ √

  √ √ Diazepam 1x5

  √ √ mg inj Dexametason

  √ √ inj 1 ampul (5 mg/ml) Kalnex 1

  √ ampul Transamin inj

  √ 1 ampul

  Penilaian

  1. Asam mefenamat 3x500 mg sudah tepat untuk mengatasi nyeri pada pasien. Pemberian Ketorolac inj 3x30 mg dapat mengurangi nyeri yang dialami oleh pasien ini.

  2. Cefotaxim 2x1 gram diberikan sebagai terapi profilaksis pasca Wertheim. Terapi Cefotaxim 2x1 gram dihentikan kemudian dilanjutkan dengan Ciprofloxacin 2x500 mg.

  88 Rekomendasi

  1. Lanjutkan terapi asam mefenamat 3x500 mg. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri pada pasien untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  2. Lanjutkan terapi Ciprofloxacin 2x500 mg kemudian lakukan pemeriksaan ulang terhadap tanda-tanda infeksi pada pasien.

  Kasus 08. Pasien 08.

  

Kasus 8. NO RM 01.36.82.88 (06/10/2008-23/10/2008)

Subyektif

  Perempuan : 39 tahun DU : Malignant Neoplasm of Cervix Uteri II B Diagnosis Lain:

  Chemotherapy Session For Neoplasm I - Anemia in Neoplastic Disease - Hepatitis Infections - Hipertensi esensial -

  Riwayat Penyakit & Keluhan : perdarahan dari vagina, adanya flek, nyeri perut kadang bersamaan keluar darah, tangan kanan sakit dan kaku, buang air besar lancar, buang air kecil lancar, pasien mengalami kecemasan, Keadaan keluar Rumah Sakit : membaik, diijinkan

  Objektif

  Pemeriksaan Tanggal Pemeriksaan Nilai Normal laboratorium

  04/10 11/10 13/10

  3 WBC 9,4 10,7

  4,8-10,8 (10 12,8  /µL)

  • Netrofil

  43,0-65,0 %

  89

  Pemeriksaan non- laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Tanda vital 06/10 07/10 09/10 10/1 11/1 12/10 15/1 16/10 17/1 18/10 19/ 20/10 21/1 22/10 23/1 Nilai

  10 Norm al

  o

  Suhu (T) afebris

  36 C afebris afebr afebr 38,4 afebr 39,8 39,8

  39 C afe

  38 C afebr Afebri afebr

  36 C-

  o

  is is C is C C bris iss s is 37,4 C

  Frekuensi Nadi - 100

  84 90 100 100 100

  80

  84

  80

  80

  88

  88

  80 80 50- 100 kali/ menit

  Penatalaksanaan

  Nama Obat Tanggal Pemberian

  06/10 07/1 08/1 09/1 10/1 11/1 12/1 13/1 14/1 15/1 16/1 17/1 18/1 19/1 20/ 21/ 22/1 23/1

  10

  10 Radin inj 2x1 √ √ √ √ √ √ √ ampul

  Ketorolac inj 2x1 √ √ √ ampul Curcuma 3x1

  √ √ √ Captopril 3x25

  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ mg Captopril 1x35

  √ √ mg HCT 1x1

  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Cisplatin 70 mg

  √ Pamol 3x500 mg

  √ √ √ Cefotaxim inj 2x1

  √ √ √ √ √ √ √ gram

  90

  Sistenol 3x500 √ √ √ √ mg

  Adalat oros 1x30 √ √ mg

  Penilaian

  1. Ketorolac inj 2x1 ampul dosis yang digunakan sudah tepat untuk mengatasi nyeri yang dirasakan oleh pasien. Dosis parasetamol 3x500 mg melebihi dosis yang diberikan pada pasien yang menderita penyakit hepatitis. DRP: dosis terlalu besar. Terapi pamol 3x500 mg telah diganti dengan sistenol yang lebih aman untuk pasien kanker serviks dengan komplikasi penyakit hepatitis. Sistenol 3x500 mg diberikan untuk mengatasi demam dan nyeri yang dialami pada pasien, terapi obat ini tepat diberikan pada pasien kanker serviks komplikasi hepatitis infection. Terapi obat ini telah dihentikan pada tanggal 21/11 karena pasien sudah tidak mengalami demam dan rasa nyeri.

  2. Memerlukan terapi antibiotik untuk mengatasi infeksi pada tanggal 13/10. DRP: membutuhkan terapi antibiotik. Namun cefotaxim telah diberikan pada tanggal 15 Oktober

  Rekomendasi 1. Lanjutkan terapi cefotaxim 2x1 gram. Lakukan pemeriksaan ulang terhadap tanda-tanda infeksi untuk memantau perkembangan terapi.

  2. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri. Jika pasien mengalami rasa nyeri mulai dari nyeri ringan, sedang sampai berat, berikan terapi analgetik sesuai dengan hasil pengukuran skala nyeri pada pasien berdasarkan pada tangga analgetik WHO.

  91 Kasus 09. Pasien 09

  

Kasus 09. NO RM 01.36.38.29 (28/10/2008-29/10/2008)

Subyektif

  Perempuan : 40 tahun DU: CA Cervix std. IIIB Diagnosis Lain: - Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien CA Cervix IIIB post ss V Cisplatin 40 mg pro Kemoterapi ss III, saat ini pasien tidak ada keluhan, buang air kecil lancar, buang air besar lancer, Keadaan keluar Rumah Sakit: belum sembuh

  Obyektif

  Pemeriksaaan laboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai normal 18/10

  3 WBC 8,5

  4,8-10,8 (10 /µL)

  • Netrofil

  43,0-65,0 % Pemeriksaaan non-laboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai Normal

  Tanda vital 28/10 29/10

  o o

  Suhu (T) afebris afebris

  36 C-37,4 C Frekuensi nadi

  80 80 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama Obat Tanggal pemberian

  28/10 29/10 Vitamin SF/BC/C

  √ Deksametason inj 2 ampul iv

  √ Ondansentron inj 8 mg iv

  √ Cisplatin 50 mg+5 Fu 50 mg

  √ Parasetamol 3x500 mg

  √ Delladryl inj 2 ampul

  √

  92 Penilaian

  1. Parasetamol 3x500 mg diberikan pada waktu pasien tidak menunjukkan adanya tanda dan gejala demam. DRP: tidak membutuhkan terapi

  analgetik. Hentikan terapi parasetamol 3x500 mg Rekomendasi

  1. Hentikan terapi parasetamol 3x500 mg. Monitor tanda vital pada pasien.

  Kasus 10. Pasien 10

Kasus 10. NO RM 01.30.82.02 (22/10/2008-07/11/2008)

Subyektif

  Perempuan : 38 tahun DU : Malignant Neoplasm of Cervix Uteri II A Diagnosis Lain: Anemia in Neoplastic Disease Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien adalah penderita CA Cervix II A dengan bulky tumor, pernah menjalani kemoterapi 1 kali setahun yang lalu tetapi tidak dilanjutkan karena merasa sudah membaik, pasien mengeluh haid tidak teratur, keputihan (+) berupa lendir, putih, bau (-), mual (-), muntah (-), nafsu makan menurun, nyeri perut bagian bawah dan pinggang kanan dengan skala nyeri 5 (+), susah buang air besar, lemas, mengalami perdarahan per vagina (23/10 dan 31/10) dan merasa pusing.

  Keadaan keluar Rumah Sakit: membaik, diijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaan Tanggal Pemeriksaan laboratorium 22/10 29/10 30/10 03/11 Nilai Normal

  3 WBC 7,3 4,14 4,66 5,3 4,8-10,8 (10

  ↓ /µL)

  Neutrofil 59,7% 43,0-65,0 % -

  67,3%  68,6% 

  93

  11 05/11 06/11 07/11

  Nama Obat Tanggal Pemberian

  22/

  10 23/

  10 24/1 25/

  10 26/

  10 27/

  10 28/1 29/1 30/1 31/1 01/1

  1 02/1

  1 03/1

  1 04/

  Cisplatin 50 mg √

  80 85 50-100 kali/menit

  Asam Mefenamat

  3x500 mg √ √

  Kalnex 3x1 ampul √

  √ Amoxcycilin

  3x500 mg √ √ √

  Viliron 2x1 tablet √ √

  SF/BC/C √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

  Asam folat 3x1 mg

  √ √ Parasetamol

  3x500 mg √ √ √ √

  Radin inj 1 ampul √

  

Penatalaksanaan

  80

  Pemeriksaan nonlaboratoriu m

  C-37,4

  Tanggal Pemeriksaan Tanda vital 22/10 23/10 24/10 25/10 26/10 27/10 29/10 30/10 31/10 01/11 02/

  11 03/11 04/1

  1 05/1

  1 Nilai Normal

  Suhu (T) afebris afebri s afebris 37,8 C afebris 36,7

  C afebri s afebri s

  Afebri s 36,9 C afe bris

  37,2 C afeb ris

  36,5 C

  36

  o

  o

  68

  C Frekuensi nadi

  84

  94

  76

  76

  68

  84

  80

  88

  88

  88

  Dexametason inj 1 ampul √

  94 Penilaian

  1. Pemberian asam mefenamat 3x500 mg sudah tepat untuk mengatasi nyeri yang dirasakan oleh pasien. Pemberian Parasetamol 3x500 mg yang disertai dengan terapi nonfarmakologis dengan teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien yang ditunjukkan dengan penurunan skala nyeri menjadi 2. Terapi Parasetamol 3x500 mg telah dihentikan karena pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  2. Amoksisilin diberikan pada waktu pasien menunjukkan adanya gejala dan tanda infeksi. Penggunaan Amoksisilin pada pasien ini berpotensial menimbulkan efek samping anemia (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006). Namun, penggunaan amoksisilin telah dikombinasi dengan Viliron 2x1. Terapi antibiotik ini telah dihentikan.

  Rekomendasi

  1. Lakukan monitoring terhadap respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri. Berikan terapi analgetik sesuai dengan tingkat skala nyeri pada pasien yang berdasarkan pada tangga analgetik berjenjang tiga dari WHO.

  2. Lakukan pemeriksaan ulang terhadap tanda-tanda infeksi pada pasien.

  Kasus 11. Pasien 11 Kajian

Kasus 11. NO RM 01.37.03.04 (22/10/2008-23/10/2008)

Subyektif

  Perempuan: 49 tahun DU: Malignant Neoplasm Of Cervix Uteri IIIB Diagnosis Lain: - Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien menikah usia 17 tahun, pasien mengalami perdarahan sejak bulan Juni 2008 diselingi dengan keputihan. Darah banyak, kehitaman, sejak perdarahan perut bagian bawah terasa nyeri. Saat ini pasien mengeluh haid tidak teratur, perdarahan, nyeri tekan pada abdomen, nyeri pinggang, nyeri otot/tulang jika beraktivitas, buang air besar nyeri, kadang-kadang batuk, mual (-), muntah (-), kembung (+), pasien mengalami kecemasan. Keadaan keluar Rumah Sakit: belum sembuh, diijinkan

  95 Obyektif

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal pemeriksaan Nilai Normal 21/10

  3 WBC

  4,8-10,8 (10 17,8  /µL)

  • Netrofil

  43,0-65,0 % Pemeriksaan non-laboratorium Tanggal pemeriksaan Nilai Normal

  Tanda vital 22/10 23/10

  o o

  Suhu (T) afebris afebris

  36 C-37,4 C Frekuensi Nadi

  84 80 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama Obat Tanggal Pemberian 22/10 23/10

  Cisplatin 50 mg √

  Cefotaxim inj 2x1 gram √

  Penilaian 1. Cefotaxim diberikan tepat pada waktu tanda infeksi pasien muncul. Lanjutkan terapi.

  2. Memerlukan terapi obat analgetik untuk mengatasi nyeri. DRP: membutuhkan terapi analgetik

  Rekomendasi

  1. Lanjutkan terapi cefotaxim inj 2x1 gram. Lakukan pemeriksaan ulang terhadap tanda-tanda infeksi untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi antibiotik jika tanda-tanda infeksi telah kembali menjadi.

  2. Berikan terapi parasetamol 3x500 mg untuk mengatasi nyeri pada pasien. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri. Hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri. Konsultasikan kepada dokter apakah parasetamol telah diberikan pada pasien.

  96 Kasus 12. Pasien 12

  

Kasus 12. NO RM 01.30.48.10 (21/10/2008-07/11/2008)

Subyektif

  Perempuan : 49 tahun DU : Malignant Neoplasm Of Cervix Uteri II B Diagnosis Lain:

  Anemia in Neoplastic Disease - Disorder of Plasma Protein Metabolism not Elsewhere Classified -

  Riwayat Penyakit & Keluhan : pada saat ini pasien mengeluh nyeri pinggang seperti habis dipukul, nyeri pada jaringan intra cervical, buang air besar sakit, buang air kecil lancar; sistem reproduksi: kotor dan berbau, tidak gatal, tidak merah, tidak ada keluar cairan, pasien mengalami rasa tegang, cemas, sedih, takut, dan kehilangan harapan. Keadaan keluar Rumah Sakit: membaik, diijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai normal 13/10 24/10 27/10

  3 WBC

  4,8-10,8 (10 14,0  12,57  15,2  /µL)

  Neutrofil 43,0-65,0 %/2.0-7,5

  • 10,91 88,5%

   

  (%) Pemeriksaa

  Nilai n Norma nonlaborat l orium

  Tanggal Pemeriksaan Tanda vital 21/1 22/1 23/1 24/1 25/1 26/10 27/10 28/1 29/1 30/1 31/1 01/1 02/1 03/1 04/ 05/ 06/ 07/

  1

  1

  1

  11

  11

  11

  11

  o

  Suhu (T) afeb afeb afeb

  37

  38 C afeb afeb afeb afeb afeb 36,8 afeb afe afe - afebri

  • afeb

  36 C-

  o

  ris ris ris ris C s ris ris ris ris ris C ris bris bris 37,4 C Frekuensi

  84

  84

  80

  76

  76

  80

  88

  80

  88

  84

  92

  72

  88

  82

  82 82 50-100 - -

  97

  nadi kali/m enit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal Pemberian 21/ 22/1 23/ 24/1 25/ 26/1 27/1 28/1 29/ 30/1 31/ 01/1 02/ 03/1 04/ 05/ 06/ 07/

  10

  10

  10

  10

  10

  1

  11

  1

  11

  11

  11

  11 SF/BC/C 1x1 tablet √

  Ketorolac inj 1x30 √ √ √ √ √ √ √ √ √ mg

  Radin inj 2x1 ampul √ √ √ √ √ √ √ Parasetamol 1x500 √ √ √ mg Aspar K 3x1

  √ Paxus 80

  √ mg+Plastosin 50 mg Tramadol inj 1x50

  √ √ √ √ √ √ mg

  Asam Mefenamat √ √

  1x500 mg Asam Traksenamat

  √ 500 mg Ranitidin

  √ √ Remopain 1x30 mg

  √ Kalnex

  √ Asam Folat

  √ SF a 3x1

  √ √ √ √ √ √ √ Vitamin BC/C 3x1

  √ √ √ √ √ √ √ SF a 2x1

  √ √ √ √ √ √ SF a 1x1

  √ √ √ √ Vitamin BC/C 2x1

  √ √ √ √ √ √ Vitamin BC/C 2x1

  √ √ √ √

  98 Penilaian

  1. Pemberian Paracetamol 1x500 mg dan Asam Mefenamat 1x500 mg yang dikombinasi dengan terapi nonfarmakologis teknik distraksi dan relaksasi belum dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien. Pemberian Ketorolac inj 1x30 mg dan Tramadol 3x50 mg dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien. Lanjutkan terapi.

  2. Memerlukan terapi antibiotik untuk mengatasi infeksi yang terjadi pada pasien. DRP: membutuhkan terapi antibiotik

  Rekomendasi

  1. Berikan antibiotik Ceftrixone 2x1 gram. Monitor tanda-tanda infeksi yang terjadi pada pasien untuk mengetahui perkembangan terapi. Konsultasikan kepada dokter apakah antibiotik telah diberikan. Kemudian, hentikan terapi antibiotik ini, jika tanda-tanda infeksi pada pasien telah kembali menjadi normal.

  2. Lanjutkan terapi tramadol kapsul 3x50 mg dan hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri pada pasien.

  Kasus 13. Pasien 13

Kasus 13. NO RM 01.35.85.86 (12/12/2008-17/12/2008)

Subyektif

  Perempuan : 63 tahun DU : CA Cervix Uteri std III B Diagnosis Lain:

  Stroke non Haemoragik -

  ISK - Riwayat Penyakit & Keluhan : pasien CA Cervix std. IIIB datang untuk Brachytherapy Cervix I, pada saat ini pasien merasakan buang air kecil lancar, buang air besar lancar, nyeri otot/tulang (-), sistem reproduksi: tidak merah, tidak gatal, tidak ada cairan yang keluar; pasien mengalami kecemasan. Keadaan keluar Rumah Sakit : membaik, diijinkan

  99 Obyektif

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal pemeriksaan Nilai normal 12/12 13/12

  3 WBC

  4,8-10,8 (10 15,3  15,3  /µL)

  Neutrofil 56,4 % 56,40 % 43,0-65,0 % Pemeriksaan nonlaboratorium Tanggal pemeriksaan Nilai normal Tanda Vital 12/12 13/12 14/12 15/12 16/12 17/12

  o o o o o o o o

  Suhu tubuh

  36 C

  38 C

  36 C

  38 C

  36 C

  36 C

  36 C-37,4 C Frekuensi nadi

  80

  88

  96

  88

  80 80 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal pemberian 12/12 13/12 14/12 15/12 16/12 17/12

  Biogesic p.o 3x1 √ √ √ √

  Comsporin p.o √ √ √ √

  2x100 mg Fepiram inj 4x3

  √ √ √ √ gram Fepiram 1x3

  √ gram Neulin inj 2x1

  √ √ √ √ √ gram Sistenol 3x1

  √

  Penilaian 1. Penggunaan Biogesic 3x1 dan Sistenol 3x1 sudah tepat digunakan untuk mengatasi demam yang terjadi pada pasien.

  2. Terapi Comsporin (Sefiksim) tepat diberikan pada waktu tanda-tanda infeksi muncul, pemberian dosis Comsporin (Sefiksim) sudah tepat. Lanjutkan terapi.

  100 Rekomendasi

  1. Lanjutkan terapi Comsporin. Lakukan pemeriksaan ulang terhadap tanda-tanda infeksi pada pasien. Hentikan terapi antibiotik jika tanda infeksi telah kembali menjadi normal.

  Kasus 14. Pasien 14

Kasus 14. NO RM 01.37.71.16 (03/11/2008-19/12/2008)

Subyektif

  Perempuan : 47 tahun DU: Malignant Neoplasm of Cervix Uteri IIIB Diagnosis Lain:

  Anemia in Neoplastic Disease - Chronic Renal Failure -

  Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien dari rawat UPD ke CA Cervix IIIB, CKD gr II, saat ini pasien mengeluh contact bleeding (+), buang air besar lancar, buang air kecil terganggu, batuk (+), dahak warna kekuningan (+), sesak napas, sistem reproduksi: tidak merah, tidak gatal, tidak terjadi pengeluaran cairan, pasien mengalami kecemasan. Pasien mengalami nyeri pada bagian suprabupik-periumbilikus (13/11) Keadaan keluar Rumah Sakit : belum sembuh, pulang paksa

  Obyektif

  Pemeriksaa Tanggal Pemeriksaan

  Nilai n normal

  03/11 09/11 11/11 14/11 18/11 22/11 26/11 29/11 10/12 15/12 16/12 18/12 laboratoriu m

  WBC 4,8-10,8

  22,4  29,6  13,50  16,07 13,62  18,44  18,44  22,8  31,88  48,65  32,60  34,05

  3

  (10 /µL)

  76,1 87,7% - Neutrofil

  43,0-65,0 % 89,7%  - 75,4%  73,5% 73,6%  81,0% 85,5%  90,2%  90,2% 

  %  

  Pemeriksaa Tanggal pemeriksaan

  101

  n nonlaborato rium

  Tanda vital 03/11 04/1 05- 13/11 14- 21/ 22- 27/1 28/ 01/1 02/12 03/ 04- 13/1 14/ 15/1 16- 18/ 19/12 Nilai 1 12/ 20/11 11 26/11

  1

  11

  2 12 12/12

  2

  12 2 17/12 12 norm

  1 al

  1

  o

  Suhu tubuh afebr 37,6 afeb 37,4 afebri 37, afebri 36,5 36, 37,1

  36 C 39, Afebri 36,6 38, 38,4 afebri 36,

  36 C

  36 C-

  o

  is C r C s

  7 C s C

  8 C C 9 s C

  4 C C s

  5 C 37,4 is C

  C

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  1

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9 N 9

  1

  8

  6

  7

  7

  1

  9

  9

  6

  1

  9

  8

  1

  8

  8

  8

  8

  8

  8

  9

  8

  9

  9

  8 8 -

  8

  8

  8 9 - 8 -

  9

  8

  9

  8

  7

  4

  4

  2

  2

  1

  6

  6

  4

  6

  8

  6

  2

  6

  4

  6

  4

  6

  2

  4

  6

  8

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9 N 7

  8

  7

  9

  9

  1

  8

  8

  8

  8

  8

  6

  4

  4 Penatalaksanaan Ceftriaxone 2x1 gram iv (05/11-24/11, 10/12-15/12, 17/12/2008) Asam folat 3x1 (16/11-03/12/2008) Lasix 2x1 ampul iv (05/11-02/12/2008) Valsartan 1x80 mg (13,15,1619/11-03/12/2008) Ceftazidim 1x1 gram iv (25/11-26/11/2008) Vitamin BC/C (05/12-09/12/2008) Cefotaxim 2x1 gram iv (25/11-03/12/2008) SF a 3x1 (05/12-09/12/2008) Metronidazole 3x500 mg (10/11-15/11/2008) Difenhidramin inj 1x1 ampul (17/11-18/11) Allopurinol (10/11-15/11/2008)

  Pamol 3x500 mg (04,09,27,29/11,06/12) CaCO 3x1 (16/11-03/12/2008)

3 Tramadol 3x1 ampul iv (19/11-24//11, 06/12, 15/12)

  102 Penilaian

  1. Memerlukan terapi antibiotik untuk mengobati infeksi yang terjadi (03/11). DRP: membutuhkan terapi antibiotik. Antibiotik Ceftriaxone inj 2x1 gram telah diberikan pada tanggal 05/11/2008.

  2. Pemberian Pamol 3x500 mg dan Tramadol 2x1 gram iv dapat mengurangi nyeri yang dialami oleh pasien. Terapi obat ini telah dihentikan pada tanggal 6/12.

  Rekomendasi

  1. Hentikan terapi antibiotik Ceftriaxone 2x1. Lakukan pemeriksaan ulang terhadap tanda-tanda infeksi pada pasien untuk memantau perkembangan terapi dan lakukan uji kultur bakteri serta uji sensitivitas antimikroba untuk memastikan jenis bakteri penginfeksi sehingga dapat memastikan terapi antibiotik yang tepat untuk membasmi bakteri penginfeksi.

  Kasus 15. Pasien 15 Kasus 15. NO RM 01.29.00.41 (16/10/2008-23/10/2008) Subyektif

  Perempuan: 53 tahun DU: Malignant Neoplasm of Cervix Uteri III A Diagnosis Lain: Anemia in Neoplastic Disease Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien adalah penderita CA Cervix IIIA post ss V Cisplatin 100 mg/3 mingguan. Pada saat ini pasien mengeluh perdarahan (+), keputihan (+),organ kemaluan gatal (+), kotor dan berbau amis (+), nafsu makan menurun, buang air kecil lancar, buang air besar tidak lancar, dada sakit dan terasa panas, pusing, tangan kesemutan, organ kemaluan nyeri menjalar sampai paha dengan skala nyeri 5, tenggorokan terasa kering, sistem pernafasan:banyak lendir (+), pasien mengalami perasaan takut, sedih, cemas, pasien mengalami insomnia dan gelisah.

  Pasien mengalami nyeri yang terjadi kadang-kadang kemudian diberikan Asam Mefenamat 1x500 mg, nyeri dapat berkurang namun BAB pasien bercampur darah (17/10). Keadaan keluar Rumah Sakit : membaik, diijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaan Tanggal pemerikasaan Nilai laboratorium 15/10 20/10 normal WBC 4,3 6,3 4,8-10,8

  3

  (10 /µL)

  103

  • Neutrofil 43,0-65,0

  % Pemeriksaan

  Tanggal pemeriksaan Nilai normal nonlaboratorium

  Tanda vital 16/10 17/10 18/10 19/10 20/10 21/10 22/10 23/10

  o o o

  Suhu tubuh afebris afebris afebris afebris afebris afebris afebris

  36 C

  36 C-37,4 C Frekuensi nadi

  90

  90

  82

  88

  88

  80

  80 88 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal Pemberian

  16/10 17/10 18/10 19/10 20/10 21/10 22/10 23/10 Cisplatin 100 √ √ √ mg Asam

  √ Mefenamat 1x500 mg SF/BC/C 1x1

  √ √ √ √ √ √ √ √ tablet Ondansetron inj

  √ 1 ampul Kalnex 3x1

  √ √ √ √ √ √ √ √

  Penilaian

  1. Penggunaan Asam Mefenamat 3x500 mg menimbulkan efek samping perdarahan pada pasien (setelah minum asam mefenamat buang air besar bercampur dengan darah). DRP: efek samping obat. Pemberian asam mefenamat 3x500 mg telah dihentikan (18/10). Pada tanggal 18-20 Oktober pasien masih merasakan nyeri tetapi hanya kadang-kadang, berikan terapi nonfarmakologis pada pasien dengan teknik relaksasi dan distraksi.

  Rekomendasi 1. Berikan terapi nonfarmakologis pada pasien dengan teknik relaksasi dan distraksi. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri.

  104 Kasus 16. Pasien 16

  

Kasus 16. NO RM 01.30.33.52 (14/10/2008-21/10/2008)

Subyektif

  Perempuan: 58 tahun DU: Malignant Neoplasma of Cervix Uteri II B Diagnosis Lain: Cancer Pain, Sepsis Severe.

  Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien mengeluh sakit perut sejak tiga hari yang lalu, buang air besar agak sulit, buang air kecil lancar, ketika pasien hendak BAB dirasakan nyeri perut hebat di sekitar pusar menjalar sampai ke perut bawah dengan skala nyeri 8, nyeri ulu hati (+), demam (-), mual (+), muntah satu kali (+), pusing (-), nyeri kepala (+), nyeri tekan di semua region abdomen (+), pasien mengalami kecemasan dan rasa takut. Urin berwarna merah (15/11) Hematemesis melena, severe sepsis (20/10) Pasien muntah kehitaman ±300 cc, apnea (21/10 pukul 18.30) Keadaan keluar Rumah Sakit: meninggal, diijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal Pemeriksaan Nilai normal 14/10 16/10

  3 WBC 1,4

  4,8-10,8 (10 ↓ 13, 5 

  /µL) Neutrofil

  • 57,5%

  43,0-65,0 % Tanda vital 14/10 15/10 16/10 17/10 18/10 19/10 20/10 21/10 Nilai Normal

  o o

  Suhu (T)

  37 C afebris 37,4 C afebris afebris afebris

  40 C afebris

  36 C-37,4 C Frekuensi nadi 100 100

  96

  88

  96 94 120 92 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal pemberian 14/10 15/10 16/10 17/10 18/10 19/10 20/10 21/10

  Bevizil 1x1 √ Prenamia 1x1 √ Petidin inj 1x1 √ (5 mg) Lasix inj 1

  √ ampul Invomit iv 3x8

  √

  105

  mg Ferotam inj 2x1

  √ gram Pantozol 1 ampul

  √ iv Novalgin inj 1 √ √ √ √ ampul (500 mg/ml)

  Penilaian

  1. Memerlukan terapi untuk mengatasi infeksi yang terjadi (14 Oktober 2008). DRP: membutuhkan terapi antibiotik. Terapi antibiotik ini telah diberikan pada tanggal 17 Oktober 2008. Dosis ferotam 2x1 gram sudah tepat pada pasien dengan infeksi berat.

  2. Penggunaan Novalgin 1 ampul (500 mg/ml) tidak cukup untuk menghilangkan nyeri berat pada pasien, sehingga perlu dikombinasi dengan analgetik opioid. Terapi kombinasi telah diberikan pada tanggal 15 Oktober 2008. Petidin 1x1 tepat diberikan untuk mengatasi nyeri hebat dan dapat mengurangi nyeri pada pasien. Namun, Petidin 1x1 berpotensial menimbulkan efek samping mual, muntah (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006). DRP: efek samping obat. Pemberian Petidin 1x1 telah digunakan bersamaan antimual-antimuntah (Invomit iv 3x8 mg) pada tanggal 17/10.

  Rekomendasi 1. Terapi telah dihentikan karena pasien telah meninggal.

  106 Kasus 17. Pasien 17

  

Kasus 17. NO RM 01.37.11.82 (05/10/2008-07/10/2008)

Subyektif

  Perempuan: 36 tahun DU: Malignant Neoplasm of Cervix Uteri IIIB Diagnosis Lain: Anemia in Nepolastic Disease, Cancer Pain Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien mengeluh nyeri perut bawah, 3 bulan smrs pasien mengalami perdarahan dari jalan lahir (vagina), kemudian berobat ke RS Kariadi Semarang, telah menjalani radiasi dua puluh enam kali dan dinyatakan selesai, pasien mengalami perdarahan selama 6 bulan. Pada saat ini pasien mengeluh haid tidak teratur terakhir haid enam bulan yang lalu, darah haid banyak, perdarahan dari organ kemaluan, nafsu makan menurun, mengalami kesemutan (+), nyeri pada waktu buang air kecil, retensi urin, buang air besar tidak teratur, nyeri kronis terletak pada perut bagian bawah akibat dari metastase kanker (pasien sering menjerit dan mengerang kesakitan), pasien mengalami perasaan gelisah, takut dan cemas Keadaan keluar Rumah Sakit: belum sembuh, pulang paksa

  Obyektif

  Pemeriksaan laboratorium Tanggal pemeriksaan Nilai normal

  05/10

3 WBC  4,8-10,8 (10 /µL)

  27,5 Neutrofil  43,0-65,0 %

  95,9 % Pemeriksaan nonlaboratorium Tanggal pemeriksaan Nilai normal

  Tanda vital 05/10 06/10 07/10

  o o o o o

  Suhu tubuh 36,5 C

  36 C

  37 C

  36 C-37,4 C Frekuensi nadi

  90

  84 84 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal pemberian

  05/10 06/10 07/10 SF/BC/C

  √ Kalnex inj 1x1 ampul

  √ Ketorolac inj 3x1 ampul

  √ √ Morfin Sulfat 3x10 mg

  √

  107 Penilaian

  1. Memerlukan terapi antibiotik untuk mengobati infeksi yang terjadi. DRP: membutuhkan terapi antibiotik

  2. Ketorolac inj 3x1 ampul dosisnya sudah tepat untuk mengatasi nyeri yang dirasakan oleh pasien. Morfin Sulfat 3x10 sudah tepat diberikan untuk meredakan nyeri berat yang dirasakan oleh pasien. Lanjutkan terapi. Hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  Rekomendasi

  1. Berikan terapi ceftriaxone iv 2x1 gram. Lakukan pemeriksaan ulang terhadap tanda-tanda infeksi pada pasien untuk mengetahui perkembangan terapi antibiotik dan menghentikan terapi jika tanda-tanda infeksi kembali menjadi normal. Konsultasikan kepada dokter apakah antibiotik telah diberikan

  2. Lanjutkan terapi Morfin Sulfat 3x10 mg. Hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri untuk mengetahui perkembangan terapi.

  Kasus 18. Pasien 18

Kasus 18. NO RM 01.37.15.25 (09/10/2008-14/10/2008)

Subyektif

  Perempuan: 36 tahun DU: CA Cervix II A Diagnosis Lain: - Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien mengeluh haid tidak teratur, gatal (-), perdarahan, nyeri post operasi dengan skala nyeri 5, nyeri pinggang (+),kembung (-), buang air kecil lancar, buang air besar lancar, pasien mengalami rasa cemas Keadaan keluar Rumah Sakit: membaik, dijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaan Tanggal pemeriksaan Nilai normal laboratorium 08/10 10/10 12/10 13/10

  3 WBC 9,1 22,7  10,5 10,1 4,8-10,8 (10 /µL)

  • 88,6% 

  43,0-65,0 % - - Neutrofil

  108

  Pemeriksaan Tanggal pemeriksaan Nilai nonlaboratorium normal

  Tanda vital 09/10 10/10 11/10 12/10 13/10 14/10

  o o o o o o o

  Suhu tubuh 36,5 C 36,4 C 36,2 C

  36 C

  36 C 36,5 C

  36 C-

  o

  37,4 C Frekuensi nadi

  80

  84

  80 - - 88 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal pemberia

  09/10 10/10 11/10 12/10 13/10 14/10 Ferotam inj 2x1 √ √ √ √ gram Ketrobat inj 2x1

  √ √ √ OMZ inj 2x1

  √ √ √ Cernevit inj 1x1

  √ √ drip Alinamin inj 2x1

  √ √ √ Rolac inj 1x1 ampul

  √ √ √ Lanfix 2x200 mg

  √ √ Movix 3x7,5 mg

  √ √ Fucoidan 2x2

  √ √ Biobran 2x2

  √ √

  Penilaian

  1. Ferotam 2x1 gram diberikan tepat pada waktu tanda-tanda infeksi pada pasien muncul, penggunaan obat ini dapat mengatasi infeksi yang terjadi pada pasien ditandai dengan adanya penurunan kadar WBC menjadi normal. Pemberian Ferotam telah dihentikan kemudian pasien diberikan terapi Lanfix 2x200 mg. Penggunaan dosis Lanfix 2x200 mg sudah tepat. Lanjutkan terapi.

  2. Penggunaan Rolac 1x1 dengan dosis yang sudah tepat untuk mengatasi nyeri yang dirasakan oleh pasien. Frekuensi pemberian Movix 3x7,5 mg berlebihan; dosis Meloxicam 7,5 mg/hari atau bisa ditambah jadi 15 mg/hari, tidak boleh melebihi 15 mg/hari. (Lacy, C.F, Armstrong, L.L, Goldman, M.P and Lance, L.L, 2006). Analgesik golongan non opioid mempunyai efek yang terbatas yaitu pemberian di atas dosis terapi tidak akan meningkatkan peredaan nyeri kanker (WHO, 1998).. DRP: dosis terlalu berlebihan

  109 Rekomendasi 1. Lanjutkan penggunaan Lanfix 2x200 mg. Lakukan pemeriksaan ulang tanda-tanda infeksi pada pasien untuk mengetahui perkembangan terapi.

  Hentikan terapi antibiotik ini jika tanda-tanda infeksi telah kembali menjadi normal 2. Lanjutkan terapi Movix dengan mengurangi frekuensi pemberian menjadi 2x7,5 mg. Monitor respon nyeri dengan melakukan pengukuran skala nyeri. Hentikan terapi jika pasien sudah tidak merasakan nyeri.

  Kasus 19. Pasien 19

Kasus 19. NO RM 01.02.15.04 (23/12/2008-29/12/2008)

Subyektif

  Perempuan: 36 tahun DU: CA Cervix std IV Diagnosis Lain: - Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien CA Cervix Uteri advanced meta parna tulang panggul/pelvis telah mengalami operasi delapan tahun yang lalu, telah dilakukan kemoterapi untuk paru sebanyak delapan kali, terakhir tiga bulan yang lalu, mual (-), muntah (-), demam (-), sesak napas (-) , saat ini pasien perdarahan (-),nyeri pinggang (-), tanggal 26&27 pasien demam, tanggal 24-28 pasien mual (+), buang air besar lancar, sistem reproduksi: kemerahan (-), gatal (-), pengeluaran cairan (-), kotor dan berbau (-), pasien mengalami rasa cemas.

  Keadaan keluar Rumah Sakit: membaik, diijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaan Tanggal pemeriksaan Nilai normal laboratorium 23/12

  3 WBC

  8,7 4,8-10,8 (10 /µL)

  Neutrofil 43,0-65,0 %

  75,8%  Pemeriksaan Tanggal pemeriksaan Nilai nonlaboratorium normal

  Tanda vital 23/12 24/12 25/12 26/12 27/12 28/12 29/12

  o o o o o o o

  Suhu tubuh afebris 36, C

  36 C 36,5 C 36,4 C

  36 C

  36 C

  36 C-

  o

  37,4 C Frekuensi nadi

  98

  82

  80

  80

  88

  80 80 50-100

  110

  kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal pemberian

  23/12 24/12 25/12 26/12 27/12 28/12 29/12 Cefotaxim inj 2x1 gram

  √ √ √ √ Narfoz inj 1x8 mg

  √ √ √ √ Carboplatin

  √

  5 Fu √

  Dexamethason √

  Penilaian

  Memerlukan terapi antibiotik untuk mengobati infeksi yang terjadi (23/12). DRP: membutuhkan terapi antibiotik. Cefotaxim 2x1 gram telah diberikan pada tanggal 25/12. Hentikan penggunaan antibiotik jika tanda-tanda infeksi telah kembali menjadi normal.

  Rekomendasi

  Lanjutkan terapi Cefotaxim 2x1 gram dan lakukan pemeriksaan laboratorium ulang kadar WBC, netrofil pada pasien untuk memantau perkembangan terapi dan menghentikan terapi jika tanda-tanda infeksi telah hilang

  111 Kasus 20. Pasien 20

  

Kasus 20. NO RM 01.21.49.57 (10/11/2008-20/11/2008)

Subyektif

  Perempuan: 45 tahun DU: Malignant Neoplasm of Cervix Uteri II A Diagnosis Lain: - Riwayat Penyakit & Keluhan: pasien datang pro Wertheim dengan CA Cervix std. II A dengan bulky tumor, post neoadjuvant VI cisplatin 70 mg, saat ini pasien mengeluh keputihan jernih (tidak berbau, tidak terasa gatal), nyeri pinggang (-), buang air kecil lancar, buang air besar lancar, mual (-), muntah (-).

  Keadaan keluar Rumah Sakit: membaik, diijinkan

  Obyektif

  Pemeriksaan Tanggal pemeriksaan Nilai normal laboratorium 11/11

  3 WBC

  7,4 4,8-10,8 (10 /µL)

  • Neutrofil

  43,0-65,0 % Pemeriksaan nonlaboratorium Tanggal pemeriksaan Tanda vital 10/11 12/11 20/11 Nilai normal

  o o o o o

  Suhu tubuh

  36 C 38,5 C 36,8 C

  36 C-37,4 C Frekuensi nadi -

  68 82 50-100 kali/menit

  Penatalaksanaan

  Nama obat Tanggal pemberian

  10/11 11/11 12/11 13/11 14/11 15/11 16/11 17/11 18/11 19/11 20/11 Asam

  √ √ mefenamat 3x500 mg Pamol 3x500 mg √ √

  √ Bevisil 1x1

  √ √ √ Prenamia 1x1

  √ √ √ Vomceron inj 8

  √ mg iv

  112

  Cisplatin 70 mg dalam NaCl 500 ml

  √ New diatab

  √ SF/BC/C 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

  Penilaian

  Penggunaan Asam mefenamat 3x500 mg dan Pamol 3x500 mg tepat diberikan pada waktu pasien pasien mengalami demam. Pemberian kedua obat ini telah dihentikan karena suhu tubuh pasien sudah kembali menjadi normal.

  Rekomendasi 1. Monitor tanda vital pada pasien.

  2. Monitor tanda-tanda infeksi pada pasien.

LAMPIRAN 2. PETUNJUK PENANGANAN INFEKSI PADA KANKER MENURUT NCCN

  113

  114

  115

  116

  117

  118

  119

  120

  121

  122

  123

  124

  125

  126

  127

  128

  129

  130

  131

  132

  133

  134

  135

  136

  137

  138

  139

  140

  141

  142

  143

  144

  145

  146

  147

  148

BIOGRAFI PENULIS

  Nama : Flora Srisusanti Tempat & Tanggal Lahir: Landau Apin, Kec. Nanga Mahap, Kab. Sekadau, Kalimantan Barat; pada tanggal

  27 November 1988 Posisi dalam keluarga: anak ketiga dari empat bersaudara pasangan dari : Nama Ayah : Paulus Dabon

  Nama ibu : Katarina Silvia Riwayat Pendidikan: SD Sekolah Dasar Negeri No. VII Landau Apin 1995-2000 SMP Sekolah Menengah Pertama Katolik St. Gabriel Sekadau 2000-2003 SMA Sekolah Menengah Umum Katolik Karya Sekadau 2003-2006

S1 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma tahun 2006 dan

menyelesaikan masa studi pada tahun 2010.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi Drug Related Problems (DRPS) pada pasien Autoimmune Hemolytic anemia (AIHA) dengan komplikasi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di instalasi rawat inap RSUP dr. Sardjito Yogyakarta periode tahun 2009-2014.
1
11
117
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien lansia dengan diagnosis Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2009-2014.
1
17
110
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) anak rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2009-2014.
1
9
161
Evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan metode Prescribed Daily Dose (PDD) pada pasien anak rawat inap di Bangsal INSKA II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari - Juni 2013.
0
3
77
Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien kaker prostat yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
0
2
147
Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005.
0
3
115
Evaluasi penatalaksanaan kelainan hematologi pasca kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 - USD Repository
0
2
171
Evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotika pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 - USD Repository
0
0
113
Pola peresepan obat kardiovaskuler berdasarkan tinjauan dosis, interaksi, kontradiksi, dan efek samping obat pada pasien gagal jantung di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito periode Januari-Desember tahun 2003 - USD Repository
0
0
112
Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien kaker prostat yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 - USD Repository
0
2
145
Evaluasi drug related problems [DRPs] pada pengobatan pasien kanker prostat yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 - USD Repository
0
0
150
Evaluasi drug related problems (DRPs) pada pasien anak dengue shock syndrome (DSS) di instalasi rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository
1
1
98
Evaluasi peresepan pada pasien hepatitis B kronis di instalasi rawat inap RSUP DR. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 - USD Repository
0
0
102
Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien kanker leher rahim yang menjalani kemoterapi di RSUP. DR. Sardjito Yogyakara periode Agustus 2004-Agustus 2008 - USD Repository
0
1
102
Evaluasi drug therapy problems pada pasien anak dengue haemorrhagic fever non komplikasi di instalasi rawat inap RSUP. DR. Sardjito Yogyakarta periode semester 1 tahun 2008 - USD Repository
0
2
119
Show more